Eps 2 Kisah Sepasang Naga - Kho Ping Hoo
Baca online Kisah Sepasang Naga - Kho Ping Hoo
Cersil Kisah Sepasang Naga - Kho Ping Hoo.
"Bukankah aku berhadapan dengan Siauw-San Ngo-Sinto yang terkenal? Kenapa kalian orang-orang pertapa meninggalkan tempat pertapaan dan bersatu dengan anjing-anjing penjilat Kaisar ini? Apakah kalian juga telah diberi makanan lezat? Marahlah Tosu tertua mendengar sindiran ini.
"Bun Gwat Kong! Ajalmu telah berada di depan mata, kau masih berani menghina orang! Kau telah memberontak dan membunuh banyak pembesar-pembesar negeri, mengikuti jejak anak mantumu yang juga menjadi pemberontak! Apakah dosa ini tidak terlalu besar dan kejam sehingga terpaksa kami turun gunung untuk menghajarmu?"
"Sudahlah, sudahlah"
Kalau negeri sedang kacau, memang selalu muncul tikus-tikus seperti kalian. Ternyata hanya namanya Siauw-San Ngo-Sinto besar, tapi orang-orangnya tak berjiwa bersih!"
Kelima Tosu itu dengan marah lalu mencabut golok masing-masing.
Golok mereka kecil dan panjang tapi gemerlapan karena tajamnya.
Kemudian mereka maju mengepung Kang Lam Ciuhiap yang hanya bersenjatakan suling bambu di tangan!
Maka terjadilah pertempuran yang luar biasa serunya!
Dengan suling bambunya Kang Lam Ciuhiap ternyata dapat bertahan dan melindungi dirinya dari serangan-serangan maut yang berpancaran dari golok kelima lawannya.
Melihat betapa orang tua gagah itu dalam berpuluh jurus belum juga dapat dirobohkan, Suma Cianbu sendiri maju dengan sepasang pedang atau siang-kiamnya.
Dan kini Kakek itu mulai sibuk dan terdesak hebat, karena kepandaian kapten ini tidak dibawah seorang dari para Tosu-Tosu itu.
Akan tetapi, Kang Lam Ciuhiap benar-benar meperlihatkan bahwa nama besarnya bukanlah kosong belaka.
Ia mengamuk bagaikan seekor naga terluka.
Beberapa orang anggauta tentara yang mencoba untuk mengeroyoknya dan berusaha mencari pahala telah roboh dibawah totokan sulingnya.
Tapi musuh terlalu banyak dan Kalng-lam Ciuhiap telah mendapat beberapa luka dibadannya.
Kemudian terdengar jerit ngeri dari dalam rumah dan Kakek itu yang mengenal jerit anak perempuannya, segera berseru nyaring dan ia meloncat ke dalam rumah, di kejar oleh lawan-lawannya.
Alangkah kaget Kakek itu ketika melihat betapa anaknya telah roboh mandi darah dan di dekatnya berdiri soerang anak buah rombongan itu sambil memegang goloknya yang berlumuran darah.
Dalam marahnya Kang Lam Ciuhiap mengayun sulingnya dan pembunuh anaknya itu robohlah sambil berteriak ngeri, tapi Kang Lam Ciuhiap masih belum puas.
Ia kerjakan kedua kakinya dan sulingnya untuk memukul dan mendendang sehingga orang itu andaikata mempunyai sepuluh nyawa tentu kesepuluh nyawanya juga akan terbang pergi meninggalkan raganya!
Akan tetapi pada saat itu Suma Cianbu dan kelima Tosu yang lihai telah masuk rumah pula dan dalam keadaan terdesak di tempat sempit itu akhirnya robohlah Kang Lam Ciuhiap Bun Gwat kong, Kakek yang gagah perkasa itu!
Sementara itu, orang-orang kampung yang melihat betapa Bun didatangi penyerbu-penyerbu lalu bersiap dan berusaha membantu.
Akan tetapi mereka bukanlah lawan para anggauta tentara pemerintah asing yang telah terlatih dan sebentar saja belasan orang dapat dirobohkan dan yang lainnya lari bersembunyi.
Maka sebentar saja penuhlah pekarangan rumah keluarga Bun dengan tubuh-tubh luka dan mayat bergelimpangan.
Pemandangan yang mengerikan sekali!
Setelah menjatuhkan malapetaka di kampung itu, rombongan Suma Cianbu segera meninggalkan kampung itu sambil membawa beberapa orang yang telah terbinasa oleh Kang Lam Ciuhiap dalam amukannya tadi.
Biarpun para para penyerbu telah pergi lama, orang-orang yang telah terbinasa oleh Kang Lam Ciuhiap dalam amukannya tadi.
Biarpun para penyerbu telah pergi lama,orang-orang kampung masih belum juga berani keluar dari tempat persembunyian mereka sampai Sin Wan dan Giok Cu datang!
Mendengar betapa lihainya musuh-musuh yang datang, maka Giok Ciu yang cerdik tahu mengapa empek gagah itu sengaja menyuruh Sin Wan pergi, karena kalau pemuda itu berada disitu, tentu takkan terluput dari kematian juga.
Ketika orang-orang masih sibuk mengurus semua jenasah dan berkabung, malam hari itu datanglah Kwie Cu Ek ke kampung itu.
Ia merasa terkejut sekali ketika Giok Ciu dan Sin Wan berlutut sambil menangis dengan sedih.
Orang gagah itu menggertak gigi dan membangunkan kedua anak itu.
"Suma Kan Hu, kau binantang kejam! Dan kalian Siauw-San Ngo-Sinto pertapa-pertapa busuk. Perbuatan kalian ini sungguh keterlaluan. Aku Kwie Cu Ek bersumpah hendak mengadu jiwa dengan kalian!"
Hui-Houw Kwie Cu Ek berseru keras dengan muka merah karena marahnya, dan suaranya yang keras menyeramkan penuh hawa marah itu di selingi isak tangis Sin Wan dan Giok Ciu hingga semua orang yang berada disitu tak dapat menahan turunnya air mata mereka.
Untuk memudahkan pengurusannya, maka semua jenasah yang berjumlah tujuh belas orang itu dikumpulkan di satu rumah dan disitulah semua orang berkumpul dan bersembahyang.
Pada keesokan harinya, dengan iringan ratap tangis mereka yang ditinggalkan, semua jenasah dikebumikan.
"Tia-tia, marilah kita bertiga mencari pembunuh-pembunuh itu dan menghajar mereka!"
Kata Giok Ciu kepada Ayahnya.
"Benar kata-kata Giok Ciu, Kwie Peh-peh. Aku harus mencari mereka dan membikin perhitungan!"
Kata Sin Wan penuh semangat. Tapi Kwie Cu Ek menggeleng-gelengkan kepala.
"Kalian bicara mudah saja. Lawan-lawan ini bukanlah orang lemah. Kita bertiga belum tentu bisa menangkan mereka, apalagi mereka berada di tengah-tengah pahlawan-pahlawan Kaisar yang berkepandaian tinggi. Sekarang belum waktunya membalas denam. Sin Wan, kau ikutlah denga kami ke tempat tinggalku dan disana kau harus berlatih silat lebih lanjut. Kalau kepandaianmu sudah mencukupi barulah kau boleh turun gunung membalas sakit hati, dan percayalah, aku dan Giok Ciu tentu akan menyertaimu. Akupun gatal-gatal tangan untuk menghajar mereka, tapi segala hal lebih baik dilakukan dengan perhitungan masak-masak. Tahukah kau bahwa dengan menyuruh kau pergi hingga terbebas dari kematian adalah hal yang disengaja oleh Kakek dan Ibumu? Dan tahukah kau mengapa mereka lakukan hal itu? Tak lain agar kelas kau dapat membalas dendam ini! Dan kalau kau sekarang pergi membalas dendam lalu tidak berhasil bahkan kau sendiri terbinasa, bukankah itu sama dengan menyia-nyiakan pengharapan dan maksud Ibu dan Kakekmu?"
Sin Wan menundukkan kepala dan ia merasa betapa tepat dan benar sekali omongan orang tua itu. Maka ia mengalah dan hanya berkata.
"Terserah kepadamu, Kwie Peh-peh semenjak sekarang, tidak ada orang lain yang pantas saya taati selain kau orang tua!"
Dengan ujung lengan bajunya Sin Wan menyusut air matanya.
"Nah, begitulah seharusnya, Sin Wan. Nah bersiaplah dan sekarang juga kita pindah ketempatku."
Dengan hati terharu Sin Wan lalu minta diri dari semua orang kampung sambil bertangis-tangisan, dan ia hanya membawa pakaian dan barang seperlunya saja.
Diam-diam ia mencari sepatu kecil yang dipesankan Ibunya itu dan ia memasukkan itu ke dalam buntalannya.
Giok Ciu calon isterinya?
Hanya kedukaan peristiwa hebat itulah yang membuat ia tidak perhatikan kenyataan ini dan membuatnya seakan-akan lupa akan hal itu.
Tapi ini ada baiknya karena sikapnya terhadap Giok Ciu jadi tidak malu-malu lagi.
Barang-barang lainnya ia berikan kepada orang-orang kampung.
Kemudian, ketika mereka hendak berangkat, Sin Wan berkata keras kepada semua orang kampung yang mengantarnya.
"Saudara-saudaraku sekalian. Dengarlah aku janji dan sumpahku. Aku Bun Sin Wan, bersumpah bahwa kelak aku harus pergi mencari pembunuh-pembunuh yang menjatuhkan malapetaka kepada kita ini. Aku berjanji hendak membalaskan sakit hati kalian, maka kalian hendaknya suka menenteramkan hati dan jangan penasaran."
Maka berangkatlah mereka dengan jalan cepat ke atas gunung tempat kediaman Kwie Cu Ek dan anaknya.
Dan semenjak hari itu, Sin Wan dan Giok Ciu mempergiat pelajaran silat mereka dibawah pimpinan Kwie Cu Ek yang dalam kelihaian ilmu silat tidak kalah jika dibandingkan dengan Kang Lam Ciuhiap.
Dan tak terasa lagi dua tahun telah lewat.
Hubungan antara Giok Ciu dan Sin Wan akrab sekali, bagaikan seorang kakak dan adik.
Mereka tidak pernah menyinggung-nyinggung tentang pertunangan mereka karena jika hal ini disinggung, Maka hanya mendatangkan rasa kikuk dan malu dalam hubungan mereka.
Pada waktu itu, kepandaian Sin Wan dan Giok Ciu sudahmendapat banyak kemajuan karena mendapat gemblengan dari Kwie Cu Ek, yang memiliki kepandaian berbeda dengan kepandaian Kakek Sin Wan.
Dengan belajar kepada Kwie Cu Ek, maka Sin Wan telah mempelajari dua macam ilmu silat lihai hingga boleh dibilang ia menang setingkat jika dibanding dengan Giok Ciu.
Tapi dalam hal ginkang atau ilmu meringankan tubuh, ia harus mengakui kalah setingkat oleh gadis yang bertubuh ringan itu, tapi sebaliknya Sin Wan lebih lihai dalam hal ilmu lweekang.
Kwie Cu Ek maklum bahwa kedua anak muda itu telah memiliki ginkang dan lweekang yang luar biasa berkat buah-buah mujijat yang dulu mereka ketemukan dan makan secara kebetulan, Maka ahli silat cabang Kun-Lun ini menggembleng mereka dengan penuh semangat dan tak kenal lelah.
Tujuan satu-satunya dari orang tua ini ialah menurunkan seluruh kepandaian kepada Sin Wan dan Giok Ciu agar kedua anak mua itu dapat bersama-sama pergi dengan dia mencari musuh-musuhnya dan membalas dendam.
Kini boleh dikata kepandaian Sin dan Giok Cu sudah hampir menyusul Kwie Cu Ek, dan usia Sin Wan juga sudah enam belas tahun dan termasuk dewasa.
Pemuda itu bertubuh tinggi sedang, dadanya bidang dengan pinggang kecil.
Wajahnya yang tampan nyata sekali membayangkan keagungan watak dan kehalusan budi, sedangkan lekuk di bawah bibirnya dan sinar mata yang tajam itu menunjukkan sifat ksatria dan gagah berani.
Giok Ciu juga sudah menjadi dewasaa, usianya kurang lebih lima belas tahun.
Gadis ini makin besar makin cantik dan manis.
Sepasang matanya yang bersinar-sinar bagaikan sepasang bintang pagi merupakan bagian yang menarik sekali, sedangkan hidung dan mulu yang kecil dihiasi bibir yang berbentuk indah berwarna merah segar membuat orang takkan dapat bosan menatap wajahnya.
Rambutnya yang gombyok dan hitam dikepang dua merupakan sepasang kuncir itu yang panjang dan hitam dan dua kucir itu bagaikan dua ekor ular melibat-libat dan bergantung di leher dan pundaknya.
Pada suatu sore, seperti biasa Sin Wan berlatih silat dengan Giok Ciu di belakang rumah.
Mereka sedang tekun melatih gerak tipu ilmu pedang yang di sebut Pek-hong-koan-lit atau bianglala Putih Menutup Matahari.
Tipu ini memang sukar digerakkan dan keduanya baru saja menerima pelajaran ini dari Kwie Cu Ek.
Mereka silih berganti gunakan pedang melatih gerakan ini hingga sempurna betul.
"Mari kita berlatih,kau ambilah pedangmu,"
Ajak Sin Wan.
"Baik, kau tunggulah sebentar,"
Jawab Giok Ciu yang lalu pergi ke dalam rumah sambil berlari-lari kecil.
Sin Wan memandang gadis itu dengan gembira.
Ia makin tertarik kepada gadis yang lincah dan gembira ini dan diam-diam ia menaruh rasa asmara yang mesra.
Alangkah bahagianya kalau ia ingat bahwa gadis jelita ini akan menjadi isterinya kelak!
Sering kali pada malam hari, di dalam biliknya ia keluarkan sepatu kecil tanda tali perjodohan dari Giok Ciu itu dan mempermainkannya sambil membelainya penuh rasa kasih sayang.
Darah kedewasaannya membuat ia sering merindukan gadis calon isterinya itu, tapi pada waktu mereka bertemu muka dan bercakap-cakap, dengan kekerasan hati luar biasa Sin Wan dapat menekan perasaannya dan sedikitpun tidak memperlihatkan sikap yang dapat menyinggung perasaan gadis itu.
Sebaliknya Giok Ciu selalu bergembira dan dengan sikapnya yang jenaka membuat hubungan mereka tidak kaku.
Gadis itu seakan-akan tidak perdulikan atau sudah lupa akan peralian jodoh yang mengikat mereka, tapi Sin Wan sedikitpun tidak menduga betapa pada malam hari, terutama di kala sinar bulan menyerbu masuk kamarnya melalui jendela, Gadis itu sering melamun sambil memandang bulan dan tangannya memegang sebatang suling yang telah menjadi licin mengkilap karena sering digosok-gosok dan dibelai-belai!
Ketika Giok Ciu masuk ke dalam kebun itu kembali sambil membawa sebaang pedang tajam, Sin Wan telah sadar dari lamunannya dan keduanya lalu berlatih silat pedang.
Kedua pedang mereka saling sambar demikian cepatnya hingga sebentar saja tubuh mereka lenyap tertutup sinar pedang.
Sungguh permainan mereka selain luar biasa, juga indah dipandang.
Gerakan mereka gesit dan cepat, namun di dalam latihan ini walaupun tampaknya pedang mereka saling sambar seakan-akan mengancam jiwa, sesungguhnya mereka berlaku sangat hati-hati, dan menjaga jangan sampai mereka berlaku salah tangan!
"Bagus!"
Terdengar seruan orang memuji.
Keduanya berhenti dan memberi hormat kepada Kwie Cu Ek yang memandang dengan girang.
Sebetulnya, pujian orang tua ini tadi bukan ditujukan kepada permainan pedang mereka tapi pujian itu dikeluarkan rasa rasa girangnya melihat betapa di dalam latihan pedang itu tanpa disengaja keduanya memperlihatkan suara hati yang saling mencinta dan menyayangi!
Inilah yang membuat Kwie Cu Ek merasa girang dan berseru "Bagus"
Tadi.
"Sin Wan, telah tiba saatnya bagi kita untuk turun gunung dan mencari musuhmu,"
Kata Kwie Cu Ek dengan suara halus. Sin Wan terkejut dan girang sekali. Ia buru-buru berlutut dan berkata.
"Kwie Peh-peh, terima kasih atas keterangan ini. Saat ini telah lama teecu tunggu-tunggu!"
Karena kebiasaan, maka Sin Wan tetap menyebut "Peh-peh"
Atau Uwak kepada Kwie Cu Ek, sedangkan untuk diri sendiri ia menyebut teecu atau murid karena ia merasa menjadi murid orang she Kwie ini!
Seharusnya ia menyebut Gakhu atau "Mertua", tapi ia merasa malu sekali untuk menyebut Ayah mertua, dan bersikap pura-pura belum tahu akan perjodohan itu.
Kwie Cu Ek menghela napas.
"Aku maklum akan ketidaksabaranmu, Sin Wan, tapi segala hal harus dilakukan dengan pertimbangan masak-masak. Apa lagi dalam hal pembalasan sakit hati ini. Karena musuh-musuhmu bukanlah lawan ringan dan mudah dikalahkan. Bahkan sekarang uga aku masih selalu meragukan apakah kita akan sanggup membalas dendam keluargamu."
"Ayah, aku tentu ikut, bukan? Serahkan saja musuh-musuh kak Sin Wan, kepadaku, akan kubasmi seorang demi seorang."
Kata Giok Ciu dengan mata berseri. Kali ini Kwie Cu Ek tak dapat menerima kegembiraan puterinya. Ia menghela napas dan berkata.
"Kalian anak-anak muda memang sudah sepantasnya berhati tabah dan bersemangat besar, tapi hendaknya jangan kau pandang rendah musuh-musuh yang akan kita hadapi. Kalau kiranya aku tidak merasa telah menjadi makin tua dan berkurang tenaga hingga takut kalau-kalau takkan sempat membantumu lagi, barangkali sekarang aku belum mengijinkan kau pergi menemui musuh-musuhmu."
"Kwie Peh-peh, sebenarnya urusan balas dendam ini hanya tanggung jawab teecu seorang. Harap saja Peh-peh dan adik Giok Ciu tidak ikut mencapaikan hati dan membahayakan keselamatan diri. Biarlah teecu sendiri yang pergi melakukan pembalasan. Teecu akan merasa sangat berdosa bila sampai terjadi apa-apa atas diri Peh-peh atau Giok Ciu""
"Sin Wan! Omongan apakah yang kau ucapkan ini?"
Tiba-tiba Kwie Cu Ek membentak marah sambil melototkan matanya yang bundar besar, tapi ia dapat menekan perasaannya dan berkata lagi perlahan.
"Aku mengerti maksudmu yang baik, Sin Wan. Tapi ketahuilah, biarpun tidak untuk membelamu, aku Kwie Cu Ek bukanlah orang yang dapat melihat terjadinya perkara penasaran ini dengan berpeluk tangan saja. Aku telah bersumpah di dalam hati untuk mengadu jiwa dengan binatang-binatang she Suma dan kelima bangsat dari Siauw-San. Mereka ini memang lihai, tapi kurasa kita akan dapat menghadapi mereka."
Sin Wan lalu menghaturkan terima kasih dan menyatakan maaf telah menyinggung kehormatan dan kegagahan orang itu yang sebenarnya bukan menjadi maksudnya.
"Cuma saja,"
Demikian ia melanjutkan.
"Bukan maksud teecu untuk merendahkan adik Giok Ciu, tapi kalau bisa lebih baik adik Giok Ciu jangan ikut melakukan perjalanan dan tugas yang sangat berbahaya ini."
Giok Ciu yang tadinya duduk di atas pot kembang kosong tiba-tiba meloncat berdiri dan sepasang ali matanya bergerak-gerak dan mulutnya ditajamkan sambil menatap wajah Sin Wan.
"Apa?"
Serunya marah.
"Enak saja kau mau meninggalkan orang! Apa kau kira aku takut menghadapi bahaya? Apakah kau merasa takut ketika dulu kita bersama memasuki gua ular itu? Kak Sin Wan, jangan kau bicara seperti itu, aku akan marah kepadamu!"
Kwie Cu Ek tersenyum melihat lagak anaknya.
"Sin Wan, Giok Ciu harus turut, karena betapapun juga ia merupakan tenaga pembantu yang boleh diandalkan. Kurasa, binatang she Suma dan kelima Tosu siluman dari Siauw-San itu takkan sanggup mengalahkan kita bertiga. Asal saja disana tidak terdapat orang-orang kuat lain, pasti mereka itu akan roboh di tangan kita dan sakit hatimu terbalas."
"Nah, apa kataku?"
Giok Ciu berkata riang, lalu bertanya.
"Kapan kita berangkat Ayah?"
Sin Wan dan Kwie Cu Ek kagum juga melihat ketabahan hati Giok Cu karena sikap gadis kecil itu seakan-akan bukan hendak menjumpai musuh-musuh kuat, tapi bagaikan hendak pergi pelesir dan bertamasya saja!
"Bersiaplah, anak-anak.
Besok pagi-pagi kita berangkat."
Malam hari itu Sin Wan tidak dapat tidur.
Ia meramkan mata dan membayangkan kembali peristiwa pembunuhan besar-besaran di kampungnya dulu.
Terbayanglah Ibu dan Kakeknya yang mandi darah, dan bayangan ini membuat ia menggeretakkan gigi dan ingin sekali segera berhadapan dengan musuh-musuhnya untuk menuntut balas!
Kemudian ia teringat akan Giok Ciu dan Ayahnya.
Alangkah baik mereka itu hingga semenjak pertemuan pertama telah melepas budi yang besar sekali.
Ia bersumpah di dalam hati bahwa ia tentu hendak membahagiakan hidup Giok Ciu, gadis yang ia cinta dan yang telah melepas budi besar kepadanya dan bahkan besok pagi hari bersikukuh hendak ikut ia membalas dendam kepada musuh-musuhnya, dan gadis itu rela ikut menempuh bahaya!
Mengingat ini semua, tak terasa pula kedua mata pemuda itu basah dengan air mata ang terdorong oleh rasa terharu, duka, dan girang.
Pada keesokan harinya, pagi-pagi sekali tampak Kwie Cu Ek, Sin Wan dan Giok Ciu turun gunung dengan mempergunakan ilmu lari cepat.
Kwie Cu Ek memakai pakaian serba biru sedangkan SinWan yang masih berkabung, berpakaian serba putih, bahkan pengikat rambutnya juga putih.
Hanya sepatunya saja berwarna hitam, Giok Ciu mengenakan baju berwarna merah muda dan celana biru,pengikat rambut dan ikat pinggangnya dari sutera warna kuning emas yang berkibar-kibar di belakangnya ketika ia lari cepat.
Sepatunya warna hijau dan potongan pakaiannya serba singset dan ringkas, hingga ia tampak cantik dan gagah.
Pada pinggang sebelah kiri ketiga orang itu tampak pedang tergantung yang menambah kegarangan dan kegagahan mereka.
Kwie Cu Ek si Harimau Terbang mengajak kedua anak muda itu menujuke kota Wie-Kwan, karena mendengar dari hasil penyelidikannya bahwa Suma Cianbu kini telah dipindahkan ke sana dan memimpin pasukan penjaga keamanan di kota.
Pada waktu itu, para durna yang berkali-kali mengalami serangan tiba-tiba dan secara menggelap dari para pendekar gagah dan yang menewaskan banyak juga pembesar-pembesar korup, telah berlaku hati-hati.
Tiap kota yang dicurigai lalu dijaga keras dan siapa saja yang dicurigai lalu ditangkap hingga banyaklah sudah orang-orang tak berdosa terhukum mati karena penangkapan yang dilakukan membabi buta itu.
Tapi sayang, tidak semua orang-orang gagah yang berkepandaian tinggi melakukan perbuatan membasmi kejahatan ini.
Sebagian besar dari orang-orang ahli persilatan bahkan kena terbeli oleh para durna hingga mereka iu suka menghambakan diri.
Oleh karena inilah, maka usaha para pendekar gagah selalu mengalami kegagalan, bahkan orang-orang kang-ouw saling serang dan saling gempur serta tumbuhlah banyak sekali aliran.
Untuk ini pulalah maka Suma Cianbu yang terkenal gagah dan pandai mengatur barisan keamanan, diutus mengamankan daerah Wie-Kwan yang pada akhir-akhir ini sering dikunjungi orang orang gagah.
Kwie Cu Ek dan kedua muridnya tak pernah berhenti, kecuali untuk mekan dan bermalam.
Mereka sengaja mencari jalan-jalan yang sunyi agar dapat leluasa menggunakan ilmu lari cepat.
Demikianlah, pada hari keempatnya, mereka bertiga akhirnya sampai juga di kota Wie-Kwan.
Dan kedatangan mereka kebetulan sekali tepat pada waktu Suma Cianbu sedang menjamu beberapa orang gagah, termasuk Siauw-San Ngo-Sinto.
Dengan demikian, maka lengkaplah orang-orang yang dicari oleh Sin Wan.
Ia selalu menganggap bahwa pembunuh Kakek dan Ibunya adalah Sum-Cianbu dan kelima Tosu itu, maka alangkah girangnya mendengar bahwa keenam musuhnya berkumpul di tempat itu.
Tapi kabar ini tidak menggirangkan hati Kwie Cu Ek, bahkan ia mengerutkan kening ketika diketahui bahwa selain Lima Golok Sakti dari Siauw-San itu, ada pula orang-orang gagah dari utara, diantaranya Phang Bu yang terkenal dengan ilmu tombaknya yang menggemparkan!
Maka ia berpesan kepada Sin Wan dan Giok Ciu yang nampaknya gembira seakan-akan hendak pergi bertemu dan kawan-kawan lama yang telah lama dirindukan!
"SinWan, dan kau juga Giok Ciu.
Kalian tahu bahwa aku bukan seorang penakut, tapi kali ini kita benar-benar menghadapi urusan besar dan kita benar-benar menghadapi urusan besar dan kita harus berlaku hati-hati sekali.
Ternyata di kota ini berkumpul orang-orang kuat yang tak mudah dilawan.
Kebetulan sekali, tadi telah kuselidiki dan pada malam ini Suma Cianbu hendak menjamu para tamunya di gedungnya.
Karena malam ini gelap, maka baik sekali bagi kita untuk menyelidiki keadaan mereka.
Tapi ingat, jangalah turun tangan dulu sebelum aku tahu jelas keadaan mereka.
Aku ingin tahu, siapakah orang-orang yang berada disana agar aku dapat mengukur tenaga kita."
Sin Wan dan Giok Ciu mengangguk-angguk tapi di dalam hati mereka, terutama Sin Wan tidak setuju melihat sikap hati-hati yang agaknya berlebihan ini.
Mereka bertiga dan dengan tenaga mereka bertiga, apalagi yang ditakuti?
Demikian Sin Wan dan Giok Ciu berpikir bagaikan dua ekor anak burung baru belajar terbang dan tidak takut akan apa saja yang dihadapinya!
Malam hari itu, digedung Suma Cianbu ramai sekali.
Di ruang belakang duduk Suma Cianbu yang memakai pakaian kapten hingga tampak gagah sekali.
Pakaian perangnya bersisik dan warnanya putih bagaikan perak, disana-sini terhias ronce-ronce merah.
Pedangnya tergantung di pinggang dan ia tampak girang dan gembira.
Topi pangkatnya di lepas dan ditaruh diatas meja yang penuh arak dan masakan.
Meja yang bundar dan lebar itu dikelilingi kira-kira dua belas orang yang kesemuanya tampak gagah dan garang.
Di antara mereka itu terdapat pula lima orang Tosu, yakni Siauw-San Ngo-Sinto.
Tapi yang paling menarik perhatian Kwie Cu Ek adalah hadirnya seorang Pendeta yang berjubah merah.
Pendeta itu memelihara rambut yang digelungnya keatas dan diikat dengan gelas emas, sedangkan serenteng tasbeh gading tergantung di lehernya.
Orangnya tinggi besar dan matanya bulat menakutkan.
Kwie Cu Ek terkejut dan heran sekali, karena melihat pakaian dan potongan orang, ia dapat menduga bahwa Pendeta ini adalah seorang tokoh kenamaan di kalangan kang-ouw, termasuk seorang cianpwe yang memiliki kepandaian dari tingkat teratas!
Mengapa Pendeta ini juga hadir di tempat para anjing Kaisar berkumpul?
Apakah Pendeta inipun sudah terbujuk?
Kwie Cu Ek dan kedua muridnya dengan hati-hati sekali mengintai dari atas wuwungan rumah dan mendekam di tempat gelap.
Biarpun agak jauh dari tempat duduk orang-orang yang diintainya, mereka dapat melihat jelas.
"Lihatlah baik-baik, Sin Wan dan Giok Ciu", bisiknya.
"Itu yang berpakaian baju perang adalah Kapten Suma, nama lengkapnya adalah Suma Kan Hu! Ia adalah ahli main sepasang pedang yang disebut Hong-Twi Siang-Kiam. Kepandaiannya cukup lihai. Dan lihatlah lima orang Tosu yang berpakaian kuning itu. Merekalah yang disebut Siauw-San Ngo-Sinto. Lima Golok Sakti dari Siauw-San. Kalau maju satu-satu, mereka tidak berbahaya, tapi bila kelimanya maju, mereka merupakan Ngo-Heng-Tin atau Barisan Ngo-Heng yang kuat karena permaianan golok mereka yang disebut Ngo-Heng To-Hwat."
Kedua muridnya mendengar penuh perhatian.
"Yang lain-lain tak perlu dibicarakan, hanya perapa jubah mereha itu harus diperhatikan. Ia""
Tapi pada saat itu Sin Wan sudah tak sanggup menahan kesabarannya lagi.
Melihat betapa musuh-musuhnya dan pembunuh-pembunuh Ibu dan Kakeknya berada disitu, hatinya telah terbakar hebat.
Dengan melupakan segala, pemuda itu mencabut pedangnya dan meloncat ke bawah sambil berseru.
"Pembunuh-pembunuh kejam dan rendah, terimalah pembalasanku!"
Terkejutlah semua orang ketika tiba-tiba dari atas wuwungan melayang turun seorang pemuda dengan pedang di tangan.
Suma Cianbu melihat bahwa yang turun hanya seorang pemuda yang masih hijau dan seorang diri pula, segera memandang rendah dan membentak.
"Bangsat kecil berani mati! Siapa kau dan apa maksudmu mengacau disini?"
Kapten ini dengan wajah keren meloncat menyambut dengan sepasang pedang melintang. Sin Wan memandang musuh-musuhnya dengan mata bernyala.
"Orang she Suma! Jangan kau menjual lagak lagi, malam ini nyawamu akan kukirim ke alam baka untuk menghadap almarhum Kang Lam Ciuhiap!"
Sehabis berkata demikian, Sin Wan maju menubruk dengan pedangnya dan mengirim serangan kilat.
Mendengar kata-kata anak muda itu, Suma Cianbu terkejut dan ia segera menangkis dengan kedua pedangnya membuat gerakan memotong dari kanan kiri dengan maksud merampas senjata lawan dalam sekali gebrakan.
Tapi alangkah terkejutnya ketika bahwa anak muda itu selain bertenaga besar, juga gerakan pedangnya istimewa karena begitu pedangnya terjepit, ia telah membikin pedang itu menyusup ke bawah dan tahu-tahu menusuk perut Suma Cianbu!
Kapten ini cepat meloncat mundur dan membentak untuk menghilangkan rasa kagetnya.
"Eh, binatang kecil! Kau pernah apakah dengan orang she Bun yang telah mampus itu?"
"Kapten pengecut! Lihat mukamu telah memucat. Kau mau tahu aku siapa? Dengarlah, aku Bun Sin Wan malam ini datang membalaskan sakit hati Ibu dan Kakekku yang telah kau bunuh secara kejam! Bersedialah untuk mampus!"
Sebagai penutup kata-katanya ini, kembali Sin Wan meloncat maju dan menyerang dengan pedangnya.
"Saudara-saudara, lihatlah! Ini adalah putera pemberontak dan cucu penjahat besar bernama Bun Gwat Kong yang telah kita bunuh. Penjahat kecil ini agaknya tidak lebih baik daripada Ayah dan Kakeknya. Mari kita tangkap dia."
Sin Wan menggerakkan pedangnya, tapi tiba-tiba dari samping pedang itu tertangkis oleh golok yang digerakkan secara istimewa dan lihai.
Ternyata kelima Tosu yang dulu ikut menjadi pembunuh Kang Lam Ciuhiap, ketika mendengar bahwa Sin Wan datang menuntut balas, segera maju mengeroyok untuk cepat merobohkan musuh ini.
Tapi Sin Wan memutar-mutar pedangnya dengan gerakan hebat sekali sehingga sebentar saja ia berhasil mendesak Suma Cianbu.
Meliha kegagahan pemuda itu, kelima Tosu serempak maju mengepung dengan menggunakan barisan Ngo-Heng mereka yang lihai.
Tapi pada saat itu, dari udara terdengar bentakan merdu.
"Koko Sin Wan, jangan takut aku datang membantu!."
Dan seorang gadis cantik dan gagah memutar-mutar pedangnya sambil meloncat turun dan menerjang para pengeroyok itu.
Gerakannya demikian licah dan cepat hingga untuk sesaat para pengeroyok itu kena terdesak mundur.
Melihat bahwa Giok Ciu sudah terjun ke dalam medan pertempuran.
Sin Wan makin besar hati dan ia mengamuk bagaikan seekor naga muda.
Ilmu pedang sepasang anak muda ini memang bukan sembarang ilmu, hingga gerakan-gerakannya memang hebat.
Apalagi Sin Wan dan Giok Ciu memiliki tenaga lweekang dan ginkang yang mengagumkan, maka tidak heran bahwa mereka dapat mendesak Suma Han dan kelima Tosu yang mengeroyok mereka.
Melihat betapa enam orang itu tak dapat mengalahkan dara dan aruna itu, semua tamu segera mencabut senjata masing-masing dan maju mengepung, kecuali si pertapa jubah mereah yang masih duduk minum arak sambil mementang lebar sepasang matanya.
Agaknya ia tertarik sekali melihat permainan pedang Sin Wan dan Giok Ciu.
Kini dikeroyok belasan orang, Sin Wan dan Giok Ciu merasa sibuk juga.
Pengeroyoknya terdiri dari orang-orang yang memiliki keistimewaan dan kepandaian tinggi, ditambah dengan tekanan-tekanan yang dilancarkan oleh Suma Cianbu dan Siauw-San Ngo-Sinto, kedua anak muda itu terdesak mundur.
"Ha, ha, anak-anak kecil yang masih bau pupuk, kalian hendak lari kemana?"
Sum Cianbu tertawa menyindir. Tapi pada saat itu dari atas menyambar turun seorang tua dengan pedang di tangan sambil membentak keras.
"Anjing-anjing penjilat jangan jual lagak!"
Pedangnya lalu diputar cepat dan segerakan saja seorang pengeroyok kena dirobohkan!
Suma Cianbu mundur dengan kaget karena ilmu silat orang tua ini lihai sekali.
Melihat kedatangan Kwie Cu Ek si Harimau Terbang, pertapa berjubah merah yang semenjak tadi duduk saja, lalu berdiri dan sekali gebrakan tubuh, maka ia telah melayang memapaki Kwie Cu Ek.
"Tidak tahunya Hui-Houw Kwie Cu Ek yang mempeloporinya, pantas saja, anak-anak itu demikian lihai,"
Katanya dengan tersenyum menyindir. Kwie Cu Ek menjura.
"Bukankah siauwte berhadapan dengan Cin Cin Hoatsu dari Tibet?"
Tegurnya hormat.
"Ha, ha, kau juga bermata awas dan dapat mengenal Pinto. Aku pernah kenal dengan gurumu dan dari gerakanmu tadi tahulah aku bahwa kau tentu si Harimau Terbang. Bukankah kau memiliki kepandaian ilmu silat Rajawali Sakti? Hayo keluarkanlah, Pinto ingin melihatnya!"
"Lo-Cianpwe apakah sengaja menggabung kepada mereka yang tersesat ini?"
Tanya Kwie Cu Ek.
"Bukan urusanmu untuk mengetahui hal ini. Kalau aku menggabung, kau mau apa?"
Tantang Cin Cin Hoatsu, bekas Pendeta Lama itu.
"Kalau begitu percuma saja kau mengenakan jubah Pendeta!"
Kata Kwie Cu Ek dengan berani.
"Ah,orang tak tahu diri! Kematian sudah didepan mata masih berani membuka mulut besar."
Dengan memandang rendah sekali Cin Cin Hoatsu maju dan mengebutkan ujung lengan bajunya ke arah Kwie Cu Ek yang terpaksa berkelit mundur dengan cepat karena dari ujung baju itu menyambar keluar angin pukulan yang berbahaya.
(Lanjut ke
Jilid 04) Kisah Sepasang Naga/Ji Liong Jio Cu (Seri ke 02 -Serial Jago Pedang Tak Bernama) Karya . Asmarainan S. Kho Ping Hoo
Jilid 04
"Ha, ha, ha, tak berapa hebat kepandaianmu!"
Cin Cin Hoatsu menyindir dan terus maju menyerang.
Kwie Cu Ek terpaksa melayani dan mengerahkan seluruh kepandaiannya.
Ia mengeluarkan pula Sin-Tiauw Kiam-Sut yakni ilmu pedang Rajawali Sakti, sambil menyerang ia bersuit nyaring bagaikan seekor burung rajawali.
Tapi kini ia berhadapan dengan seorang tokoh besar dari Tibet yang tidak saja tinggi ilmu silatnya, juga memiliki macam-macam ilmu gaib dan ilmu sihir.
Pertapa ini menggunakan ujung lengan bajunya untuk menyerang dan tiada hentinya mengeluarkan suara tertawa aneh dan menyeramkan.
Baru beberapa puluh jurus saja Kwie Cu Ek telah terdesak hebat oleh pukulan-pukulan ujung lengan baju yang mantap dan luar biasa.
Sementara itu, Sin Wan dan Giok Ciu juga terkepung hebat dan berada dalam keadaan berbahaya sekali karena lawan mereka yang berjumlah banyak tidak mau memberi kelonggaran dan terus merangsek hebat.
Kwie Cu Ek menyesal telah berlaku semberono hingga membahayakan jiwa Sin Wan dan Giok Ciu.
Ia menjadi bingung karena pasti mereka bertiga akan segera dirobohkan.
Tiba-tiba ia berteriak keras.
"Sin Wan dan Giok Ciu, larilah! Biar aku menjaga mereka!"
Mendengar perintah ini, Sin Wan dan Giok Ciu menurut.
Segera pedang mereka diputar hebat dalam gerakan ilmu pedang Sin-Tiauw Kiam-Sut hingga mereka dapat menahan desakan senjata-senjata pengeroyok mereka, kemudian dengan cepat tubuh mereka melayang ke atas genteng!
Tapi pada saat itu mereka mendengar suara Kwie Cu Ek berseru keras dengan marah bagaikan seekor harimau terluka dan ketika kedua anak muda itu memandang ke bawah, Tak terasa pula mereka menjerit karena melihat betapa Kwie Cu Ek kena dihantam oleh ujung lengan baju Cin Cin Hoatsu yang hebat gerakannya itu!
Kwie Cu Ek terlempar beberapa kaki jauhnya tapi si Harimau Terbang yang gagah itu biarpun telah mendapat luka hebat di dalam dadanya, pedang di tangannya masih terpegang erat-erat dan ketika tubuhnya jatuh menimpa tanah.
Ia menggerakkan tangannya dan pedang itu secepat kilat meluncur ke arah tenggorokan Cin Cin Hoatsu!
Inilah gerakan yang dinamai Rajawali Sakti Mengejar Maut, gerak tipu terakhir dari Sin-Tiauw Kiam-Sut yang hebat luar biasa itu.
Kalau saja yang diserang bukan Cin Cin Hoatsu, orang berilmu tinggi dari Tibet yang selain berkepandaian tinggi, juga memiliki ketenangan luar biasa, tentu akan putuslah lehernya.
Tapi Cin Cin Hoatsu dalam keadaan berbahaya itu masih sempat menyabet dengan ujung lengan bajunya.
"Sret!"
Putuslah ujung lenngan baju itu, tapi pedang Kwie Cu Ek melayang kesamping dan terus menancap sampai menembus dada pengeroyok yang tidak ada kesempatan berkeliat lagi.
Orang itu berteriak ngeri dan terdengarlah suara Kwie Cu Ek tertawa menyeramkan, menertawakan korbannya dan juga menertawakan Cin Cin Hoatsu yang terpotong ujung lengan bajunya.
Pertapa tua dari Tibet ini merasa gemas dan marah sekali.
Ia meloncat ke tempat Kwie Cu Ek dan dengan sekali tendang saja putuslah nyawa Kwie Cu Ek tanpa dapat berteriak lagi.
Kwie Giok Ciu memekik ngeri dan ia meloncat terjun dengan maksud hendak berkelahi dengan nekad dan mati-matian.
Tapi Sin Wan cepat menyambarnya dan menariknya kembali ke atas genteng.
"Koko, lepaskan! Lepaskan aku!!"
Giok Ciu menjerit-jerit dengan air mata bercucuran, tapi Sin Wan tetap tidak mau melepaskannya.
Pada saat itu dari belakang mendatangi tiga bayangan orang yang cepat gerakannya dan terdengar suara orang berkata.
"Jiwi Enghiong, lekas lari, biar kami yang menahan mereka."
Sin Wan melihat wajah seorang setengah tua dan dua orang lain adalah orang-orang tua yang gagah.
Ia tahu itu tentu orang-orang gagah yang sering memusuhi para durna dan kaki tangannya, maka ia segera betot tangan Giok Ciu.
"Moi-moi, hayo kita pergi. Mudah lain kali kita datang membalas sakit hati."
"Tidak! Tidak! Biarkan aku mati bersama Ayah!"
"Giok moi jangan bodoh! Mereka bukan lawan kita."
Tiba-tiba Giok Ciu merenggut tangannya hingga terlepas dari pegangan Sin Wan.
"Kau"
Kau... takut?? Kau hendak membiarkan dan meninggalkan Ayah yang mengorbankan jiwanya untukmu??"
Sin Wan mengertakan gigi dan memandang dengan mata bersinar.
"Giok Ciu, kau anggap aku seorang macam apakah? Aku mengajak kau pergi bukan karena takut, tapi karena memenuhi kehendak dan maksud Ayahmu. Tadi kita telah berlaku sembrono sekali. Musuh terlampau kuat, untuk apa kita korbankan diri dengan sia-sia? Untuk apa kita mati kalau belum dapat membalas dendam? Lebih baik kita mencari daya upaya lain."
"Tapi aah""
"Sudahlah! Kalau kau ingin mati bersama, hayo kita turun lagi!"
Akhirnya Sin Wan berlaku nekad juga dan hendak terjun. Tapi kini datang lebih banyak orang gagah yang mencegah mereka.
"Lie Enghiong, kawanmu ini berkata benar! Pihak mereka kuat sekali, kita bukan lawan mereka. Soal jenasah Ayahmu itu, biarlah kami yang akan mengurusinya dan akan berusaha mengambilnya. Karena sedih, marah, bingung dan tak berdaya, Giok Ciu menjerit keras dan jatuh pingsan dalam pelukan Sin Wan. Pada saat itu dari bawah melayang naik orang-orang dengan senjata di tangan dan sebentar lagi terjadi pertempuran seru di antara mereka dengan para Ho-han yang menyerbu. Tapi karena Cin Cin Hoatsu berada disana, para penyerbu itu terpaksa lari lagi setelah berhasil membawa serta jenasah Kwie Cu Ek. Sin Wan yang memondong tubuh Giok Ciu, lari cepat keluar dari kota itu menuju ke Kam-Hong-San kembali. Setelah sadar, Giok Ciu menangis tersedu-sedu sambil berlutut di atas tanah dan memanggil-manggil nama Ayahnya. Sin Wan hanya dapat menghiburnya, tapi tak terasa ia sendiri mengalirkan air mata. Di samping merasa bersedih ia mengertakan giginya karena gemas dan marahnya. Alangkah besarnya sakit hati ini. Kematian Ibu dan Kakeknya belum juga terbalas, kini ditambah lagi dengan kematian Kwie Cu Ek yang menjadi pembela, guru dan juga calon mertuanya! Dan musuhnya telah bertambah satu orang lagi, yaitu Cin Cin Hoatsu yang konsen dan sakti. Bagaimana juga pada suatu waktu, aku harus dapat membasmi mereka itu, demikian Sin Wan mengambil keputusan.
"Moi-moi, sudahlah jangan kau terlalu bersedih. Mari kita kembali ke tempat tinggal kita untuk memperdalam ilmu silat dan untuk mencari jalan bagaimana kita dapat membalas dendam ini."
Tapi Giok Ciu makin hebat tangisnya.
"Aku"
Aku kini... sebatang kara..."
Karena terharu, Sin Wan tak terasa lagi memegang pundak Giok Ciu dan menghibur.
"Moi-moi, bukankah masih ada aku? Aku juga sebatang kara, hidupku seorang diri di dunia ini, tapi aku masih merasa bahagia karena... Ada engkau, Giok Ciu. Bukankah kita masih bersama-sama...?"
Dalam usahanya menghibur Giok Ciu, Sin Wan berlutut di samping gadis itu dan Giok Ciu memandang wajah Sin Wan melalui air matanya, kemudian tak terasa lagi gadis itu perdengarkan sedu sedan dan menubruk Sin Wan.
Mereka dalam keharuan hati masing-masing lalu saling peluk karena merasa betapa di dalam di dunia ini hanya ada seorang yang dapat diandalkan dan dapat ditumpangi diri, yakni orang yang dipeluknya.
Tapi setelah gelora keharuan hatinya mereda, Giok Ciu teringat bahwa ia sedang saling peluk dengan Sin Wan, maka buru-buru ia dorong tubuh pemuda itu hingga hampir jatuh terjengkang!
Dengan muka merah karena jengah, Giok Ciu memandang wajah Sin Wan dan ketika melihat pandang mata pemuda itu juga menatapnya.
Ia buru-buru tundukkan muka dengan rasa malu sekali.
Kemudian ia mengangkat kaki dan meloncat jauh sambil berkata.
"Hayo kita melanjutkan perjalanan kita."
Sin Wan maklum akan keadaan gadis itu, maka iapun tidak mau mengganggunya lagi, hanya meloncat mengejar dan mereka cepat sekali lari menuju Kam-Hong-San.
Sin Wan mengajak Giok Ciu singgah di kampungnya untuk bersembahyang di depan makam Ibu dan Kakeknya.
Disitu kedua anak muda itu kembali ulangi sumpah mereka untuk berusaha membelas dendam.
Kemudian Sin Wan mengajak Giok Coi menemui orang-orang kampung yang menyambut Sin Wan yang telah menjadi seorang pemuda tampan dan gagah dan mereka makin kagum melihat kawannya yang cantik jelita dan bersikap gagah pula.
Karena merasa senang bertemu dengan kawan-kawan lama, Sin Wan dan Giok Ciu bermalam disitu.
Sin Wan menceritakan tentang usahanya membalas dendam yang gagal bahkan telah kehilangan pula Ayah Giok Ciu.
Orang-orang kampung mendengar penuturannya ini dengan gemas, sementara Giok Ciu menahan-nahan kesedihannya dengan menggigit bibir.
Gadis ini selalu membayangkan keadaannya dan memikirkannya tiada habisnya, dimanakah makam Ayahnya.
Kalau menurutkan kata hatinya, ingin sekali ia menari dan kembali ke kota Wie-Kwan, tapi ia tahu bahwa hal itu tidak ada gunanya, karena selain sia-sia dan belum tentu dapat menemukan apa yang dicarinya, juga sangat berbahaya bagi keselamatan dirinya karena kota itu penuh dengan kaki tangan dan mata-mata Suma-Cianbu yang telah mengenalnya.
Karena itulah maka ia bersabar dan mengambil keputusan untuk mempergiat pelajaran silatnya hingga beberapa lama lagi, setelah mendapat kemajuan pesat, bersama Sin Wan pergi membalas dendam.
Masih banyak ilmu silat yang mereka telah pelajari tapi belum dilatih masak-masak, Bahkan ilmu pedang Sin-Tiauw Kiam-Sut yang belum lama dipelajari juga belum dikuasai baik-baik dan perlu latihan yang lama dan rajin.
Setelah tinggal tiga hari di kampung itu, Sin Wan dan Giok Ciu lalu meninggalkan kampung itu dan menuju ke tempat tinggal Giok Ciu, karena mereka menganggap tempat itu lebih aman dan tersembunyi sehingga mereka dapat melatih silat tanpa menderita gangguan.
Ketika mereka sedang berjalan perlahan mendaki bukit, tiba-tiba terdengar seruan orang dari belakang.
Mereka menahan tindakan kaki mereka dan berpaling.
Alangkah terkejut mereka ketika melihat bahwa dengan cepat sekali, dari bawah bukit lari mengejar Cin Cin Hoatsu, Suma-Cianbu dan Siauw-San Ngo-Sinto!
Mereka itu mengejar sambil berteriak-terik dan Cin Cin Hoatsu telah berada dekat karena Pendeta Tibet ini larinya cepat sekali.
"Celaka, moi-moi. Kita lari saja, percuma melawan. Hayo kita lari cepat."
Kedua anak muda itu lari secepat mungkin ke atas puncak, tetapi karena kepandaian ilmu lari cepat mereka masih kalah jika dibanding dengan Cin Cin Hoatsu, makin lama pengejar itu makin dekat jaraknya.
Karena gugup dan bingung, Sin Wan dan Giok Ciu tanpa sengaja tiba di tempat yang selalu menjadi kenangan mereka, yaitu di dekat Sumur Naga dimana mereka dulu terjatuh.
"Mari kita masuk saja!"
Sin Wan mengajak dan tanpa ragu-ragu lagi keduanya meloncat ke dalam sumur yang tertutup kabut tebal itu!
Mereka turun dengan selamat dan kaki mereka menyentuh pasir.
Ternyata, keadaan sumur itu tidak berubah, dan ketika mereka berpaling, ternyata batu-batu cadas yang berbentuk kepala naga itu masih tetap ada.
Tetapi alangkah terkejut mereka ketika mereka tiba-tiba melihat bahwa di sudut dekat batu naga itu terdapat seorang Kakek yang tua sekali duduk bersila di atas pasir sambil meramkan mata.
Kakek tua itu tubuhnya kurus kering bagaikan tengkorak hidup, rambutnya putih panjang terurai ke belakang punggungnya yang telanjang.
Tubuh bagian bawah tertutup celana pendek yang lebar dan Kakek itu bersila dengan cara yang aneh.
Kaki dan tubuhnya bersila seperti biasa dengan telapak kaki menghadap ke atas dan tertumpang di kedua paha, tetapi anehnya ia tidak duduk seperti biasa.
Tubuhnya tidak terletak di atas tanah, karena tangan kirinya melalui renggang kakinya ditekannya ke atas pasir sehingga mengganjal tubuhnya yang terkatung-katung tidak menempel tanah sedikitpun.
Tangan Kakek itu diletakkan di atas pangkuan.
Dapat dibayangkan kekuatan tangan kirinya yang menahan tubuh itu tanpa bergerak sedikitpun, seakan-akan tangan dan lengan itu berubah menjadi benda mati yang didudukinya.
Karena maklum bahwa mereka sedang berhadapan dengan seorang berilmu tinggi, Sin Wan dan Giok Ciu segera berlutut di hadapan Kakek itu sambil berkata.
"Mohon beribu maaf bahwa tanpa disengaja teecu berdua telah berani mengganggu kepada Lo-Cianpwe."
Tapi Kakek itu sedikitpun tidak bergerak dan tidak menjawab.
Ketika Sin Wan dan Giok Ciu memandang, mereka kaget sekali karena Kakek itu tiada ubahnya seperti patung batu mati.
Bahkan pada perut dan dadanya yang telajang itu tiada tampak tanda-tanda pernapasan!
Sudah mati dan membatukah tubuh Kakek ini?
Pada saat mereka masih ragu-ragu, tiba-tiba dari atas sumur itu terdengar bentakan Cin Cin Hoatsu.
"He, pemberontak-pemberontak muda, masih hidupkah kalian? Kalau masih hidup, naiklah dengan damai dan Pinto takkan membunuhmu!"
Sin Wan dan Giok Ciu terkejut sekali karena tempat persembunyiannya ditemukan oleh pengejar-pengejar mereka, tapi mereka diam saja dan tetap berlutut di depan Kakek itu.
Terdengar makian di atas sumur dan kini terdengar suara Suma-Cianbu.
"Binatang-binatang yang berada di dalam sumur. Lekas keluar, kalau tidak kami akan menghujani batu dan anak panah!"
Sin Wan dan Giok Ciu kuatir sekali kalau-kalau ancaman ini dijalankan.
Tetapi tiba-tiba Kakek yang disangkanya patung mati itu bergerak dan membuka matanya.
Sin Wan dan Giok Ciu makin heran karena ketika terbuka, kedua mata itu hampir seluruhnya putih dan hanya sedikit hitamnya di tengah-tengah.
Kakek itu masih menahan tubuhnya, lalau terdengar ia berkata perlahan.
"Kalian sudah lama datang? Sukur, memang aku telah menantimu."
Pada saat itu dari atas sumur orang melempar batu kebawah yang hampir saja menimpa kepala Sin Wan, tapi pemuda itu menggunakan tangan menyabet sehingga batu itu terlempar disampingnya.
"Ah orang-orang itu sungguh-sungguh tak tahu aturan,"
Kata Kakek itu yang lalu menggerak-gerakkan tangan kanannya ke atas.
Sin Wan dan Giok Ciu kaget sekali dan cepat menggeser tubuh mereka minggir karena dari tangan Kakek itu keluarlah angin pukuan yang berputar-putar naik ke atas sumur!
Tiba-tiba diatas sumur terdengar jeritan ngeri karena batu-batu dan anak-anak panah yang dilepas ke bawah, secara ajaib sekali tiba-tiba terbang kembali dan menghantam mereka yang tidak keburu berkelit!
Beberapa orang anak buah Suma-Cianbu terkena batu dan anak panah mereka sendiri sehingga terluka dan berteriak-teriak kesakitan.
Cin Cin Hoatsu heran melihat keganjilan ini.
Ia lalu menggunakan kedua lengan bajunya mengebut-ngebut ke dalam sumur sambil mengerahkan tenaga lweekangnya yang hebat.
Dulu ketika melatih lweekang, ia menggunakan sumur untuk mencoba kekuatannya dan kalau ia menggerak-gerakkan tangannya ke dalam sumur, maka air di dalam sumur akan berombak dan bergolak makin keras sampai memercik keluar!
Kini menduga bahwa di dalam sumur ada apa-apa yang tidak beres, ia menggunakan tenaga lweekangnya iu untuk memukul ke bawah.
Tetapi hampir saja ia berteriak karena kaget dan heran ketika merasa betapa tenaganya itu sebelum membentur dasar sumur, telah terpental kembali.
Ia menarik kedua tangannya dan meloncat jauh agar tidak menjadi korban pukulannya sendiri!
Wajahnya menjadi pucat, karena ia menyangka bahwa di dalam sumur itu tentu ada setannya karena mana mungkin ada orang yang dapat mengembalikan tenagan pukulannya secara demikian mudah dan luar biasa.
Melihat tiba-tiba Pendeta Tibet itu menjauhi sumur dengan wajah pucat, Suma-Cianbu bertanya.
"Ada apakah, Lo-Suhu?"
Cin Cin Hoatsu malu untuk mengaku, maka ia hanya berkata.
"Mari kita tinggalkan tempat ini. Kedua binatang kecil itu tentu telah mampus, karena sumur ini mengandung hawa beracun!"
Maka semua pengejar itu lalu kembali turun gunung dengan hati puas, karena mereka menyangka bahwa kini semua pengacau dan pemberontak berbahaya telah dapat ditumpas habis, Sin Wan dan Giok Ciu yang berada di dalam sumur dapat mendengar semua percakapan di atas itu sehingga merasa kagum atas kesaktian Kakek aneh ini.
Karena yakin bahwa yang berada di hadapan mereka tentu orang suci yang berilmu tinggi, maka Sin Wan menarik tangan Giok Ciu untuk maju dihadapan Kakek itu dan berlutut sambil mengangguk-angguk kepala.
Tiba-tiba Kakek itu tertawa, suaranya nyaring tinggi seperti suara wanita tertawa tapi ketika ia bicara, suaranya berubah besar dan parau.
"Kalian yang dulu masuk ke sini dan makan buah-buah itu sampai habis, bukan?"
Sin Wan menjawab.
"Betul Lo-Cianpwe, mohon maaf jika teecu berdua mengganggu."
"Kalian dikejar-kejar orang, sedangkan kepandaianmu cukup baik, mengapa tidak kalian lawan saja? Lari pergi tanpa melawan adalah kelakuan pengecut."
"Teecu berdua tidak sanggup melawan mereka, Lo-Cianpwe. Kepandaian teecu masih terlampau rendah. Mohon petunjuk dari Lo-Cianpwe yang mulia,"
Kata Sin Wan.
"Jika Lo-Cianpwe sudi, teecu mohon diterima menjadi murid."
Kata Giok-Ciu dengan langsung karena ia telah yakin benar bahwa Kakek ini memiliki kepandaian yang sangat tinggi.
Kakek itu tertawa lagi dan mengangguk-angguk, tiba-tiba ia meloncat dan tahu-tahu ia sudah berada di dinding batu yang tingginya tidak kurang dari tiga tombak dengan punggung menempel di batu!
"Bagus, bagus memang kalian yang berjodoh dengan aku.
Memang kalian yang berjodoh dengan sepasang naga itu."
Sin Wan terkejut mendengar ucapan ini. Sepasang naga yang mana? Agaknya dari atas, Kakek aneh itu dapat melihat keraguan dan keheranannya, maka ia segera meloncat turun dan berdiri di depan mereka.
"Kalian berdirilah!"
Ketika Sin Wan dan Giok Ciu berdiri, mereka melihat betapa tubuh Kakek itu sebenarnya tinggi besar, hanya karena tubuhnya sama sekali tidak berdaging, maka tampak kurus kering.
Yang mengherankan ialah warna segar kemerah-merahan pada kulit pipinya yang kurus itu dan biarpun manik matanya yang hitam itu kecil sekali, namun kalau bertemu pandang, Sin Wan dan Giok Ciu merasa betapa dari sepasang mata itu memancar dua sinar tajam dan berpengaruh.
"Mari kita masuk,"
Kata Kakek itu.
Berbeda dengan Sin Wan dan Giok Ciu yang dulu membuka pintu batu kepala naga itu dengan memutar-mutar kedua matanya, kini Kakek itu hanya menepuk sekali pada dinding itu.
Tenaga tepukan itu biarpun hanya perlahan saja namun telah membuat dinding itu tergetar sehingga batu yang merupakan kedua mata naga itu bergerak-gerak dan pintu yang merupakan mulut naga itu terbukalah!
Ketika kedua orang muda itu mengikuti dan masuk, ternyata dua rangka ular yang besar itu tidak ada disitu pula, sebaliknya di pinggir dinding terdapat batu-batu yang bentuknya bundar dan licin.
Kakek itu, segera menghampiri sebuah batu terbesar tapi yang paling kasar dan permukaannya tajam-tajam lalu ia duduk di atasnya dengan enak.
Agaknya tubuh yang tak berdaging itu tidak merasa pula tusukan-tusukan batu yang kasar dan runcing.
"Nah, sekarang kalian boleh mengangkat guru padaku!"
Sin dan Giok Ciu saling pandang, kemudian keduanya maju berlutut sambil menyebut.
"Suhu...!"
"Hai, tidak semudah ini! Berdirilah!"
Dan kedua anak muda itu merasa betapa tubuh mereka disendal ke atas sehingga terlempar tinggi, maka terpaka mereka menggunakan kepandaian mereka untuk turun dengan hati-hati dan berdiri memandang Kakek itu dengan terheran.
Mereka lebih heran dan terkejut sekali ketika ternyata bahwa gerakan melempar Kakek tadi telah memberi kesempatan kepadanya untuk mengambil pedang mereka yang tergantung di punggung.
Kini Kakek itu memegang kedua pedang itu di tangannya, melihatnya dengan mulut mengejek dan berkata.
"Pedang buruk, pedang buruk."
Sebelum mengerti harus berbuat apa, Kakek itu berkata kepada mereka.
"Ulur tangan kananmu!"
Sin Wan dan Giok Ciu mengulurkan tangan kanan dengan patuh.
Tiba-tiba Kakek yang luar biasa itu lalu menggunakan pedang di tangan kiri kanannya untuk menusuk tangan Sin Wan dan Giok Ciu yang diulurkan.
Kedua anak muda itu terperanjat sekali, tetapi mereka dapat menetapkan hati dan menaruh kepercayaan penuh kepada calon guru mereka, maka mereka melihat pedang itu dengan mata tak berkedip!
Ujung pedang itu walaupun di tusukkan dengan cepat dan kencang, ternyata hanya menusuk kulit tangan kedua anak muda itu sedikit saja, lalu cepat ditarik kembali.
Di ujung kedua pedang tampak tanda merah yang ternyata adalah darah kedua anak muda itu.
Juga di tangan mereka terdapat luka yang kecil sekali dan mengeluarkan sedikit darah.
Jadi Kakek aneh itu ingin mengambil sedikit darah mereka diujung pedang masing-masing.
"Nah, sekarang dengan disaksikan oleh darahmu di ujung pedang, kalian harus bersumpah, yaitu jika kalian mempergunakann kepandaian yang kuajarkan untuk kejahatan, kalian akan binasa di ujung pedang!"
Sehabis berkata demikian, Kakek itu menyodorkan kedua pedang kepada Sin Wan dan Giok Ciu yang menerimanya dengan hormat.
Kemudian, kedua anak muda itu sambil memegang pedang dengan kedua tangan dan ujung pedang mengacung ke atas, berlutut dan bersumpah.
Sin Wan mengucapkan sumpah dengan suara nyaring, diikuti oleh Giok Ciu.
"Kami berdua, Bun Sin Wan dan Giok Ciu, hari ini telah diterima menjadi murid dan kami bersumpah jika kelak kami berani menggunakan kepandaian yang kami terima, untuk berbuat jahat kami akan binasa di ujung pedang yang tajam!"
Suara Sin Wan keras dan nyaring sehingga gemanya terdengar di empat penjuru dalam gua yang lebar itu. Kakek itu tertawa girang.
"Nah kau boleh ke sini sekarang, murid-muridku."
Ketika Sin Wan dan Giok Ciu hendak berlutut, Kakek itu berkata.
"Kalian duduklah saja, Sin Wan di sebelah kananku dan Giok Ciu di sebelah kiri. Batu bundar hitam itulah tempat duduk kalian."
Sin Wan dan Giok Ciu duduk di atas batu yang diperuntukkan mereka.
"Nah, sekarang kenalilah gurumu. Aku disebut orang Bu Beng Lojin, si Kakek Tak Bernama. Aku tidak mempunyai riwayat yang perlu diketahui, katakan saja bahwa aku datang dari tiada dan akan kembali kepada tiada pula jika sudah waktuku. Aku bukan ahli dari sesuatu cabang ternama atau tertentu, tapi aku mempunyai semacam permaianan pedang yang kusebut Sin-Liong Kiam-Sut, yakni ilmu Pedang Naga Sakti. Nah, ilmu pedang inilah yang hendak kuajarkan kepada kalian. Sin Wan, coba kau angkat batu di ujung kiri yang berwarna putih itu, di bawahnya ada sebuah peti dalam lubang. Ambillah itu kemari."
Sin Wan melakukan perintah gurunya.
Di sudut ruang itu sebelah kiri terdapat batu putih yang beratnya ratusan kati.
Sin Wan mengerahkan tenaganya dan menggulingkan batu itu.
Benar saja, di bawah batu terdapat lubang dan tampak sebuah peti kayu yang panjang.
Ia mengeluarkan peti itu dan membawanya kepada Suhunya, lalu dengan hormat ia meletakkan peti di depan Suhunya.
"Kau, Giok Ciu, kau ambil peti yang di bawah batu hitam di ujung kanan itu."
Bu Beng Lojin menyuruh murid perempuannya.
Giok Ciu juga melakukan perintah itu seperti yang dikerjakan oleh Sin Wan.
Kini dua buah peti itu telah berada di depan Bu Beng Lojin.
Bu Beng Lojin membuka peti-peti itu dan mengeluarkan dua macam pedang yang luar biasa.
Ketika ia mencabut pedang yang diambil oleh Sin Wan maka di dalam gua itu lalu terlihat sinar putih berkilauan dan kedua anak muda itu merasakan hawa dingin yang menyeramkan keluar dari pedang itu.
Pedang berwarna putih berkilauan bagaikan perak dan gagangnya berukiran kepada naga bersisik putih.
"Inilah pedang pusaka keramat yang disebut Pek Liong Pokiam, Pedang Pusaka Naga Putih. Dan pedang ini berjodoh dengan Sin Wan."
Anak muda itu menerima pemberian Suhunya dengan khidmat dan girang sekali.
Ia cepat berlutut dari tempat duduknya dan menghaturkan terima kasih, lalu memasukkan kembali pedang itu ke dalam sarungnya yang berukiran naga putih indah sekali.
Bu Beng Lojin lalu mencabut pedang kedua dan tiba-tiba dalam kamar itu tampak cahaya kehitam-hitaman yang sangat menyeramkan, juga dari pedang ini memancar hawa yang panas dan aneh.
Pedang ini berwarna hitam mulus dan mengkilap sedangkan gagangnya berukiran kepala naga bersisik hitam.
"Inilah pedang pusaka yang tidak kalah saktinya, yang disebut Ouw Liong Pokiam. Pedang Pusaka Naga Hitam. Pedang ini berjodoh padamu, Giok Ciu."
Gadis itupun menerima hadiah gurunya dengan penuh hormat dan menghaturkan terima kasih pula.
Sin Wan teringat akan dongeng Kakeknya dulu tentang dua ekor naga yang menjelma menjadi sepasang pedang.
Inikah pedang-pedang itu?
Ia ingin sekali bertanya kepada Suhunya, tetapi tidak berani, karena bukankah Kakeknya dulu bilang bahwa itu hanya dongeng belaka.
Bu Beng Lojin dapat melihat keraguan Sin Wan, maka katanya dengan sabar.
"Sin Wan, kau ingin bertanya sesuatu. Katakanlah, tak perlu ragu-ragu karena sudah menjadi hak seorang murid untuk bertanya dan sudah menjadi kewajiban seorang guru untuk menjawabnya."
"Suhu, dulu teecu pernah mendengar dari mendiang engkong tentang dongeng sepasang naga putih dan hitam. Apakah dongeng itu"
Ada hubungannya dengan kedua pedang ini?"
Bu Beng Lojin tersenyum.
"Engkongmu adalah Kang-Lam Ciuhiap Bun Gwat Kong, bukan? Ia orang gagah yang patut dikagumi. Dongeng tinggal dongeng muridku, boleh dipercaya dan boleh juga tidak. Hal ini aku tidak berhak memecahkan. Nah, sekarang mari kita bicarakan hal yang penting. Kalian telah mendapat didikan silat dari orang-orang pandai sehingga aku tak perlu bersusah payah lagi. Juga kalian telah makan buah dewa sehingga tubuhmu cukup bersih dan kuat. Tapi jangan kau kira bahwa sedikit ilmu yang akan kuberikan kepada kalian akan mudah saja kalian pelajari secara mudah dan cepat. Pertama-tama aku akan memberi pelajaran silat pedang yang disebut Sin-Liong Kiam-Sut. Tetapi karena pedang yang kalian pergunakan berbeda sifatnya maka ilmu pedang ini akan kupecah menjadi dua, sesuai dengan keadaanmu masing-masing. Untuk Sin Wan akan kuberi ilmu pedang Pek Liong Kiam-Sut dan untuk Giok Ciu ilmu pedang Ouw Liong Kiam-Sut. Tapi terlebih dulu kalian harus mengetahui dan hafal benar rahasia-rahasia dari Sin-Liong Kiam-Sut."
Kemudian Bu Beng Lojin lalu memberi pelajaran-pelajaran pertama dari Ilmu Pedang naga Sakti yang hebat itu.
Karena dorongan hasrat ingin memiliki kepandaian tinggi dan melakukan balas dendam, ditambah memang berbakat baik dana berotak cerdas, Kedua anak muda itu cepat sekali dapat menguasai pelajaran-pelajaran pertama yang diajarkan oleh Suhu mereka.
Tetapi ketika mereka mulai dengan pelajaran praktek, terasalah kesukarannya.
Gerakan Sin-Liong Kiam-Sut benar-benar ganjil dan sukar, setiap gerakan pedang mempunyai rahasia-rahasia tersendiri yang takkan terduga oleh lawan.
Juga setiap gerakan pedang dari ilmu ini selalu dirangkai dengan keterangan-keterangan bahwa gerakan ini ialah untuk memunahkan serangan senjata pedang dari cabang lain.
Oleh karena ini, tiap kali mempelajari satu macam tipu dari Sin-Liong Kiam sut, maka berarti mereka harus mengetahui pula tiga atau empat macam tipu serangan dari cabang-cabang lain.
Misalnya Kun-Lun-Pai, Go-Bi-Pai, Bu-Tong-Pai, dan Siauw-Lim-Pai!
Untung sekali bahwa sebelum mempelajari Sin-Liong Kiam-Sut yang hebat ini, mereka telah mendapat latihan-latihan teliti dan keras dari Kwie Cu Ek, maka tipu-tipu silat dari lain cabang sudah mereka sudah banyak mengerti.
Tidak saja setiap gerakan dari Sin-Liong Kiam-Sut mempunyai rangkain yang panjang bagaikan mata rantai dengan cabang lain, juga untuk menggerakkan pedag pusaka mereka bukanlah hal yang mudah.
Pedang itu mempunyai ukuran dan timbangan yang tepat dan khusus, sehingga untuk menggerakkan mereka harus menggunakan takaran tenaga yang sempurna pula, untuk tusukan, sabetan, putaran, harus digunakan tenaga yang sesuai, tidak boleh terlalu besar, juga tidak boleh terlalu kecil.
Maka tidak heran bahwa untuk mempelajari satu dua macam gerakan saja membutuhkan waktu sepekan lebih baru dapat dilakukan dengan baik!
Cara yang aneh dari Bu Beng Lojin dalam mengajar murid-muridnya ialah ia jarang sekali menyaksikan murid-muridnya belajar.
Jika Sin Wan dan Giok Ciu menggerak-gerakkan pedang dan melatih gerakan-gerakan baru yang sedang dipejari, Kakek tua itu duduk bersemedhi dengan sikapnya yang aneh itu dan meramkan matanya.
Tetapi yang mengherankan, tiap kali Sin Wan dan Giok Ciu membuat gerakan salah, biarpun hanya salah sedikit saja, Kakek itu tanpa membuka matanya lalu menegur!
Bu Beng Lojin melarang keras kedua muridnya itu keluar dari gua naga dan menyuruh mereka siang dan malam tekun melatih diri.
Untuk makan mereka cukup dengan menangkap binatang-binatang dan burung yang lewat di atas gua, dan cara menangkap binatang inipun merupakan pelajaran yang baik bagi mereka.
Jika ada burung yang terbang, atu ada binatang lewat di atas sumur, biarpun tidak tampak dari bawah, namun gerakan binatang yang meloncati sumur dapat tertangkap oleh telinga mereka yang tajam.
Maka sekali sambit saja dengan batu, binatang itu akan terjungkal dan jatuh masuk ke dalam sumur dan menjadi mangsa mereka!
Sungguh suatu cara mencari makan yang aneh sekali.
Kalau tidak karena dorongan semangat yang membaja, Sin Wan dan terutama Giok Ciu pasti takkan kuat menahan diri hidup seperti itu.
Tetapi mereka heran sekali melihat Suhu mereka, karena orang tua yang aneh jarang sekali mau makan daging binatang tangkapan mereka, hanya kadang-kadang saja, ia minta hati binatang yang masih segar untuk dimakan begitu saja tanpa dibakar api dulu, atau makan buah-buah yang didapat dari balik jurang di mana dulu Sin Wan dan Giok Ciu dulu jatuh.
Memang, ditempat kedua anak muda itu dulu terjatuh, terdapat lereng yang sangat curam menurun dan tak terkira dalamnya, dan di atas lereng tumbuhlah banyak pohon yang menghasilkan buah-buah.
Hanya saja untuk mengambil buah-buah itu bukanlah pekerjaan mudah, karena lereng yang curam itu tak mungkin dituruni begitu saja tanpa bahaya tergelincir mengancam jiwa, dan sekali tergelincir, jangan harap akan tinggal hidup.
Lereng itu tidak tampak dasarnya karena dalam dan panjangnya!
Tapi Sin Wan dan Giok Ciu cerdik dan tabah.
Dari rumput alang-alang yang panjang dan kuat, Giok Ciu berhasil membuat pintalan tambang yang panjang lagi kuat.
Kemudian Sin Wan menggunakan tambang yang dipegang Giok Ciu dari atas, untuk menuruni tebing itu dan memetik buah-buah mana saja yang disukainya.
Dengan cara inilah maka mereka dapat makan buah-buah segar dan lezat setiap hari.
Demikianlah, dengan sangat tekun dan tak kenal lelah di bawah gemblengan Kakek yang luar biasa itu, Sin Wan dan Giok Ciu melatih diri dan mempelajari Sin-Liong Kiam-Sut.
Setelah mempelajari ilmu pedang gaib ini selama dua tahun lebih, barulah mereka pahami seluruhnya!
Kemudian datanglah giliran mempelajari ilmu lweekang yang tinggi dan untuk mempelajari ini, mereka harus tekun bersemedhi dan mempelajari peraturan napas yang berat sekali.
Cara-cara semedhi dan menahan napas seperti yang pernah mereka pelajari di bawah pimpinan Kwie Cu Ek dulu sangatlah ringan dan mudah jika dibandingkan cara-cara yang diberikan oleh Suhu mereka ini.
Ada kalanya mereka diharuskan bersemedhi dengan jungkir balik yakni kepala di atas lantai dan kaki di atas dan mereka harus mempertahankan tubuh dalam keadaan ini sampai setengah hari!
Ada kalanya mereka harus menahan tubuh dengan sebelah tangan di atas tanah dan menggunakan tangan ini mengganjal tubuh sampai setengah hari lamanya.
Dan banyak lagi macam cara bersemedhi yang aneh-aneh juga mereka diajar menahan jalan pernapasan mereka sedemikian rupa sehingga napas yang tersedot itu dapat dijalarkan ke bagian tubuh yang mereka kehendaki sehingga di bagian itu tampak hawa itu bergerak-gerak di bawah kulit seakan-akan ada seekor tikus yang bergerak-gerak dan berjalan di dalam tubuh mereka.
Latihan-latihan ini mendatangkan kemajuan besar sekali, baik dalam lweekang maupun ginkang mereka, juga membuat mereka menjadi tenang dan bersemangat.
Pada suatu hari, ketika Sin Wan dan Giok Ciu asik mengintai lewatnya binatang di atas sumur, tiba-tiba terdengar derap kaki binatang yang ringan sekali mendatang.
"Seekor kijang!"
Sin Wan berkata gembira dan mempersiapkan sebuah batu tajam di tangannya.
Sudah lama sekali ia tidak makan daging kijang yang manis dan sedap.
Ketika binatang itu datang dekat dengan loncatan kilat meloncati sumur itu, Sin Wan mengayunkan tangannya.
Ia menanti jatuhanya korban itu ke dalam sumur.
Tapi alangkah herannya ketika ditunggu-tunggu badan binatang itu tidak juga jatuh ke dalam sumur, padahal ia merasa pasti bahwa sambitannya tadi tentu mengenai sasaran.
"Sungguh heran dan aneh,"
Katanya kepada Giok Ciu.
"Kita harus melihat ke atas,"
Kata Giok Ciu.
Karena terheran dan merasa penasaran, pula karena menyangka bahwa binatang itu tentu mati di pinggir tebing sumur dan perlu diambil, mereka sekali saja menggenjot tubuh, Keduanya melayang ke atas dengan berbareng dan sesaat kemudian mereka telah menembus halimun yang menutup sumur itu dan keduanya berada di atas tanah di pinggir sumur.
Untuk sejenak mereka agak silau melihat dunia luar, tetapi tiba-tiba mereka melihat bahwa di sekeliling sumur itu terdapat belasan orang yang berpakaian seragam dan bertopi runcing.
Tentara Kaisar!
Keduanya segera mengenal mereka dan Sin Wan hendak buru-buru terjun kembali ke dalam sumur, tetapi ia melihat kijang besar dan muda berada di dekat orang-orang itu.
Sementara itu, belasan tentara Kaisar itu ketika tiba-tiba melihat ada seorang pemuda tampan dan seorang gadis jelita melayang keluar dari sumur, menjadi demikian terkejut dan heran hingga mereka memandang kedua anak muda itu dengan mata terbelalak heran.
"Tuan-tuan, harap kalian kembalikan hasil buruanku itu."
Kata Sin Wan dengan tenang sambil menunjuk ke arah bangkai kijang.
Diantara pahlawan Kaisar itu terdapat seorang yang sombong dan suka mengagulkan kegagahannya.
Ia adalah Song Tat Kin, murid dari Cin Cin Hoat-su si Pendeta tibet, maka kepandaiannya memang cukup tinggi.
Apalagi pada saat itu ia bersama tiga belas orang kawannya yang kesemuanya adalah pahlawan-pahlawan dari keraton Kaisar dan kesemuanya memiliki silat yang cukup lihai.
Bahkan diantaranya terdapat Sim Kwie si Walet Terbang yang mempunyai ginkang luar biasa sekali.
Tadipun Sim Kwie telah mendemontrasikan kepandaiannya dan mengejar binatang kijang itu.
Tepat di atas sumur ia dapat mengejar dan pada saat ia hendak meloncati sumur, tiba-tiba ia melihat binatang itu seperti terpukul sesuatu dari bawah dan tubuh binatang itu terpental ke atas.
Tetapi sebelum tubuh binatang itu terjatuh ke dalam sumur, Sin Kwie dengan cepat telah menyautnya dan membawa loncat ke pinggir sumur.
Sambil memeriksa luka di dada binatang itu, Sim Kwie dan kawan-kawannya memandang ke dalam sumur dengan terheran-heran dan saling menduga-duga dan mempercakapkan hal yang ganjil ini.
Kini melihat bahwa yang melukai kijang hanya seorang pemuda dan seorang gadis cantik, Song Tat Kin segera bertindak maju dan bertolak pinggang lalu berkata.
"Kau orang liar dari mana begitu berani mengaku-aku kijang ini? Yang menangkap adalah kami dan dagingnya adalah bagian kami pula. Kau orang hutan hayo pergi jangan mengganggu kami."
Mendengar ucapan orang yang sangat kasar dan menghina ini, Sin Wan masih dapat menahan sabarnya, tetapi Giok Ciu yang lebih keras wataknya segera maju sambil menuding dengan telunjuknya yang runcing dan membentak nyaring.
"Laki-laki kasar yang tidak mengenal aturan! Kau bilang kijang itu kalian yang menangkap, mana buktinya? Tidak tahu malu merampas hak milik orang lain!"
Giok Ciu memang memiliki wajah yang cantik jelita dan potongan tubuh yang langsing berisi.
Bagaikan bunga, dara yang berusia tujuh belas tahun ini, sedang harum-harumnya dan sedang indah menariknya, maka biarpun sederhana sekali pakaiannya, ia bahkan tampak makin jelita dan menarik.
Kini ia sedang marah, sepasang matanya berapi-api dan kedua pipinya kemerah-merahan, maka ia lebih manis pula.
Song Tat Kin melihat dara itu marah-marah sambil menunjuk-nunjuk padanya, tidak menjadi marah bahkan tertawa bergelak lalu berkata kepada kawan-kawannya.
"He, kawan-kawan lihatlah. Kuda betina gunung ini tampaknya liar sekali! Tapi, alangkah indah bentuk badannya. Lihat matanya, jelita dan bersih bagaikan mata burung Hong, dan pipinya itu, ah segar kemerah-merahan."
Kawan-kawannya tersenyum dan ada yang tertawa girang, lalu terdengar ucapan.
"Song Twako, kau penjinak kuda betina liar, agaknya yang seekor ini cukup bagus untuk kau bikin jinak!"
Mendengar kata-kata mereka ini, Giok Ciu yang masih hijau tidak mengerti bahwa yang dimaksudkan kuda betina liar adalah dirinya, maka ia memandang ke kanan-kiri dan mengganggap pembicaraan mereka itu tidak karuan.
Tetapi Sin Wan mengerti maksud kata-kata mereka yang kotor dan sangat menghina itu, maka kini lenyaplah kesabarannya.
Ia maju dengan mata berkilat.
"Tuan-tuan harap jaga mulut dan jangan bicara sembarangan!"
Ia memperingatkan mereka. Orang tinggi besar muka hitam yang tadi memuji-muji Song Tat Kin segera berkata dengan tertawa lebar.
"Song Twako lekas, kau bikin jinak kuda liar ini, biar aku yang mengusir anjing yang pandai menggonggong ini!"
Sehabis berkata demikian, si Tinggi Besar lalu mengayun kepalan tangganya yang sebesar kepala orang biasa itu ke arah dada Sin Wan dalam gerak tipu Pai-San To-Hai atau Dorong Gunung Uruk Laut.
Gerakan ini dilakukan dengan tenaga ratusan kati beratnya karena maksudnya sekali dorong saja membuat Sin Wan terlempar jauh atau kalau mungkin terdorong masuk ke dalam sumur kembali.
Tetapi Sin Wan cepat miringkan tubuh dan berkelit sambil berkata.
"Jangan kalian mendesak, kami tidak mencari permusuhan!"
Tetapi si Tinggi Besar yang merasa terhina karena serangannya tidak mengenai sasaran dan karena kata-kata Sin Wan itu dianggap sebagai pernyataan takut, lalu menyerang makin hebat dengan tipu Hek-Houw To-Sim atau Macan Hitam Sambar Hati.
Pukulannya berat dan keras, tanda bahwa ia adalah seorang ahli gwakang yang pandai, juga ilmu silatnya tidak lemah dan gerakkannya tetap.
Sekali lagi Sin Wan berkelit lincah.
Sementara itu, Song Tat Kin yang melihat betapa kawannya telah menyeran Sin Wan yang agaknya jerih, lalu maju ke arah Giok Ciu dengan sikap yang sangat menjemukan.
"Nona, jangan kau marah-marah. Marilah ikut aku ke kota, untuk apa tinggal di tempat seperti ini? Di kota kau akan hidup mewah dan senang!"
Ia melihat betapa kulit muka Giok-Ciu yang halus lemas itu perlahan-lahan berubah merah dan menganggap bahwa gadis itu malu-malu, sama sekali ia tidak menyangka bahwa hawa marah Giok Ciu sedang berkobar dan seakan-akan mulai membakar gadis itu.
Setelah Song Tat Kin menutup mulutnya, Giok Ciu berseru keras untuk melepas hawa marah yang mendesak dadanya, dan sebelum semua orang tahu apa yang telah terjadi, tahu-tahu Giok Ciu lenyap dan berubah bayangan putih berkelebat cepat ke arah Song Tat Kin dan tahu-tahu orang she Song itu terlempar jauh sekali dan roboh dengan pingsan dan mata terbalik!
Ternyata dara itu karena marahnya yang tak dapat ditahan lagi telah mempergunakan Tipu Cio-Po Thian-Keng atau Batu Meledak Langit Gempar dibarengi ginkangnya yang luar biasa, sekali menyerang tepat menghantam dada Song Tat Kin sehingga mendapat luka di dalam!
Kini terkejutlah semua orang, terutama Sim Kwie si Walet Terbang, karena barusan ia telah menyaksikan sendiri bahwa ginkang gadis itu jauh lebih hebat dari ginkangnya sendiri yang telah cukup tinggi dan membuat ia dijuluki si Walet Terbang!
Maklumlah ia menghadapi orang berilmu tinggi dan ia tahu bahwa kepandaian Song Tat Kin setingkat dengan kepandaiannya, maka tidak mungkin bisa menang kalau melawan gadis itu seorang diri.
Ia lalu berseru.
"Kawan-kawan, serbu!"
Maka belasan orang itu lalu menyerang Giok Ciu!
Mereka menyangka bahwa yang tinggi ilmu kepandaiannya hanyalah Giok Ciu saja, sedangkan Sin Wan cukuplah dilawan oleh si tinggi besar itu.
Tidak tahunya, ketika melihat betapa Giok Ciu timbul marahnya dan kini dikeroyok oleh belasan pahlawan Kaisar itu, Sin Wan lalu berseru.
"Pergilah kau!"
Dan tahu tahu si tinggi besar yang bermuka hitam itu terlempar jauh dan tak dapat bangun lagi.
Paniklah kini para penyerbu dan sebagian lari mengeroyok Sin Wan.
Enam orang termasuk Sin Kwie yang lihai mengeroyok Giok Ciu dan enam orang pula mengeroyok Sin Wan.
Dan karena ternyata bahwa kedua anak muda itu benar-benar sangat lihai, mereka tidak sungkan-sungkan lagi dan semua mencabut senjata masing-masing.
Dua belas orang yang mengeroyok Sin Wan dan Giok Ciu adalah pahlawan-pahlawan Kaisar kelas tiga yang memiliki kepandaian tinggi juga, maka setelah semua menggunakan senjata, mau tidak mau Sin Wan dan Giok Ciu menjadi terdesak.
Baiknya kedua anak muda ini memiliki ginkang yang sempurna, sehingga mereka dapat menghindarkan diri dari semua serangan senjata tajam yang menghujani mereka.
Kalau saja pada saat itu mereka memegang pedang pusaka mereka, tentu sebentar saja semua lawannya akan mudah dirobohkan tetapi justru pada saat itu mereka tidak membawa pedang.
Tiba-tiba Sin Wan teringat ajaran Kakeknya untuk menggunakan suara suling membikin kalut musuh, maka ia segera berkata kepada Giok Ciu sambil berkelit.
"Masih adakah suling kecilku dulu padamu?"
Mendengar ini, Giok Ciu diam-diam mengomel. Mengapa dalam keadaan terdesak dan berbahaya seperti ini tiba-tiba membicarakan tentang hal itu? Tetapi ia menjawab juga.
"Tentu saja ada. Ada apakah?"
"Kau dapat mengeluarkan itu? Coba beri aku pinjam sebentar!"
Kini tahulah Giok Ciu akan maksud pemuda itu.
Ia menggunakan kepandaiannya meringankan tubuh untuk meloncat jauh dari musuh-musuhnya, lalu cepat sekali merogoh ke dalam bajunya untuk mengambil suling kecil yang ia selipkan di ikat pinggangnya sebelah dalam.
Sebenarnya suling itu ia telah memberi ikatan dan selalu diikatkan dengan pinggang sehinnga suling itu takkan terlepas jatuh, maka karena keadaan mendesak, ia mencabut saja suling itu hingga tali ikatannya putus.
Ia meloncat lagi ke dekat Sin Wan dan melempar suling itu padanya.
"Nah, terimalah ini!"
Teriaknya.
Sin Wan lalu cepat menyambut benda hitam yang melayang ke arahnya itu.
Ia heran ketika menerima suling itu, karena merasa betapa benda itu makin mengkilap dan terasa hangat!
Ia tidak tahu bahwa tunangannya itu sering kali menggosok-gosok sulingnya dan setiap saat suling itu tidak terpisah dari tubuhnya.
Setelah menerima suling itu, Sin Wan lalu menempelkan peniupnya di mulut, lalu sambil bersuling ia bersilat dengan kedua kakinya menghindar semua serangan.
Para pengeroyoknya tadinya menduga bahwa pemuda itu hendak menggunakan sulingnya sebagai senjata, tetapi setelah melihat dan mendengar pemuda itu meniup sulingnya, mereka terheran sekali!
Tetapi keheranan mereka itu terganti dengan kebingungan karena tiba-tiba suara suling yang merayu-rayu dan tinggi rendah mengalun itu seakan-akan merupakan pisau tajam yang mengiris jantung dan menusuk-nusuk perasaan mereka sehingga permaianan silat mereka kacau balau!
Sebentar saja Sin Wan telah berhasil menendang dua orang pengeroyok!
Tiba-tiba, melihat hasil baik kawannya, Giok Ciu juga mengeluarkan ilmu simpanan pemberian Ayahnya, dan terdengarlah suara pekik dan suitan nyaring keluar dari mulut dan dada dari gadis jelita itu.
Karena suara ini dikeluarkan dengan tenaga Tian-tan dan seperti suara suling Sin Wan, mengandung tenaga hawa lweekang yang tinggi, maka para pengeroyok segera merasa kehebatan pengaruh suara itu.
Mereka merasa ngeri dan menggigil tubuh mereka sehingga serangan mereka yang tadinya teratur baik menjadi kacau balau.
Hanya Sim Kwie seorang yang memiliki lweekang lumayan, masih dapat mengerahkan tenaga lweekang untuk menolak pengaruh mujijat ini, tetapi kelima kawannya semua menjadi kacau permainannya.
Dengan gunakan kelincahannya, Giok Ciu akhirnya dapat juga memukul seorang pengeroyok dan sekalian merampas pedangnya!
Kini dengan pedang di tangan, walaupun pedang itu hanya sebatang pedang biasa, Giok Ciu berubah seakan-akan dari seekor domba menjadi seekor harimau betina!
Ia berseru keras.
Tubuhnya lenyap dan terkurung oleh sinar pedangnya yang berkilauan ketika ia mainkan Sin-Liong Kiam-Sut!
Terkejutlah semua pengeroyoknya, apalagi setelah beberapa jurus saja dua orang telah dirobohkan oleh gadis itu!
Sim Kwie kaget sekali dan ia mengeluh mengapa hari ini mereka bertemu dengan dua setan muda yang lihai itu!
Sementara itu, Sin Wan yang hanya menghadapi empat orang pengeroyok, lalu menyimpan sulingnya dan bersilat seenaknya saja, seakan-akan mempermainkan para pengeroyoknya yang sudah bernapas empas-empis!
Pada saat itu, terdengar teriakan Sim Kwie.
"Cuwi, tahan!"
Karena mengenal tingkat para pahlawan itu, yang berada dibawah Son Tat Kin hanya Sim Kwie, maka para pahlawan itu tentu saja mendengar perintah dan taat, karena Son Tat Kin sendiri telah roboh, mereka lalu meloncat mundur dengan hati lega, karena memang keadaan mereka berbahaya sekali.
"Jiwi Enghiong, harap maafkan kami."
Sim Kwie mengangkat kedua tangan memberi hormat kepada Sin Wan dan Giok Ciu.
"Agaknya telah ada salah paham yang besar. Kami sama sekali tidak tahu berhadapan dengan orang-orang gagah dan beberapa orang kawan kami telah berlaku kurang ajar! Harap maafkan kami. Boleh kami mengetahui nama jiwi yang mulia?"
Giok Ciu tersenyum menyindir.
"Hm, baru sekarang kalian merasakan kelihaian kami, ya? Sungguh tak tahu diri!"
Sin Wan juga mencela.
"Kalau tadi tuan-tuan menggunakan kata-kata halus tidak nanti akan timbul korban-korban di antara tuan-tuan. Kami tidak perlu kenalkan nama, juga tidak perlu mengetahui nama kalian. Sekarang lebih baik kalian bawa saja kawan-kawanmu yang luka dan tinggalkan tempat ini."
Sim Kwie mendongkol sekali karena terang sekali ia tidak dipandang sebelah mata oleh kedua pemuda itu, padahal oleh kalangan kang-ouw, nama si Walet Terbang bukanlah nama kecil-kecilan.
Ia segera berkata dengan bersungut-sungut.
"Hm, biarlah jiwi boleh merasa bangga akan kemenangan ini. Biarpun jiwi tidak memberi tahukan nama tapi tiupan suling tadi mengingatkan aku akan seseorang!"
Mendengar ini, sekali loncat saja, Giok Ciu telah berada di depannya dan mengancam dengan pedang rampasannya!
"Apa katamu?
Mengingatkan kau akan seseorang?
Hayo, katakan, siapa orang yang kau maksudkan itu!"
Sim Kwie mundur dengan muka pucat. Ia telah tahu kelihaian nona muda ini dan percuma kalau ia melawan juga. Sin Wan membujuk Giok Ciu.
"Sudahlah, moi-moi jangan membikin takut dia. Lihat mukanya menjadi biru karena ketakutan. He, pahlawan Raja dengarlah. Memang aku adalah cucu dari Kang-Lam Ciuhiap, si Peniup Suling!"
Sim Kwie mengangkat tangan menjura.
"Memang sudah kuduga! Terima kasih atas kejujuranmu."
Ia lalu perintahkan kawan-kawannya untuk mengangkat para korban dan meninggalkan tempat itu cepat-cepat.
Sin Wan dan Giok Ciu saling pandang kemudian mereka tersenyum puas karena kemenangan tadi.
Sin Wan menghela napas, lalu memandang suling itu.
"Untung ada suling ini hingga kita teringat akan ilmu Kakekku dan Ayahmu."
Ia lalu menyerahkan suling itu kembali kepada Giok Ciu yang menerimanya dengan muka berubah merah.
"Ternyata kau"
Kau selalu simpan suling ini baik-baik..."
Katanya menggoda Giok Ciu. Giok Ciu menundukkan kepala, mengerling tajam dan menggigit bibirnya. Ia merasa gemas sekali digoda dan hendak membalas dendam.
"Koko, apakah dulu kau tidak menerima sesuatu dari Ibumu?"
"Menerima sesuatu? Apakah itu aku tidak ingat lagi."
Jawab Sin Wan, Giok Ciu kewalahan.
"Menerima sesuatu yang berasal dari... dari... Eh, sebagai... pengganti suling ini""
"Sesuatu sebagai pengganti suling ini? Ah, aku tidak ingat lagi. Coba kau katakan barang apa itu, tentu aku ingat."
Sin Wan sengaja dan berpura-pura lupa sehingga Giok Ciu makin gemas dan kewalahan.
"Barang"
Barang kecil..."
Katanya dengan muka merah.
"Kecil?"
Sin Wan pura-pura memandang ke arah awan sambil mengerutkan jidat berpikir keras.
"Eh, barang kecil apa, ya? Sebagaimana kecilnya? Ada segini?"
Ia menggunakan kedua tangannya membuat ukuran.
"Lebih kecil lagi..."
Giok Ciu berkata yang menduga bahwa Sin Wan betul-betul lupa.
"Seperti ini?"
Sin Wan memperkecil ukuran dengan tangannya.
"Lebih kecil sedikit lagi,"
Kata Giok Ciu yang menjadi gemas.
"Sebeginikah?"
"Ya, sebegitulah kecilnya. Ah"
Sudahlah, maka kau perhatikan barang tak berharga itu. Mungkin telah kau buang jauh-jauh!"
Tiba-tiba Giok Ciu tampak menyesal dan marah, bahkan kedua matanya tiba-tiba menjadi merah! Sin Wan melihat betapa gadis itu seperti yang hendak menangis, lalu timbul kasihannya.
"O, barang itukah yang kau masudkkan? Ada, ada... ada kusimpan!"
Giok Ciu cepat menengok dan memandang ia dengan mata bersinar.
"Betulkan kau simpan barang itu?"
Sin Wan mengangguk kuat.
"Ada kusimpan baik-baik."
"Betulkah? Di mana kau simpan barang itu?"
"Di... Dimana ? Ah, di tempat yang baik."
"Betulkah itu? Hati-hati jangan disimpan sembarangan takut hilang."
"Tidak tidak mungkin hilang. Bukankah sulingku juga kau simpan baik-baik dan tidak hilang?"
Kata Sin Wan sambil memandang suling hitam yang dipegang gadis itu.
"Ah, kalau sulingmu ini lain lagi"
Barang ini... ku simpan di... dipakaianku selalu,"
Jawab Giok Ciu malu-malu.
"Barang itupun... sudah kusimpan baik-baik, janga kau takut, takkan hilang."
"Apakah... apakah di saku bajumu selalu?"
Tanya Giok Ciu sambil memandang wajah Sin Wan dengan tajam, Sin Wan balas memandang.
"Mengapa harus dimasukkan saku?"
"Habis di manakah?"
Sin Wan tetap tidak mau mengaku. Tiba-tiba Giok Ciu berkata sambil tersenyum.
"Ah, tidak mengaku juga tidak apa, aku pernah melihat barang itu tersembul keluar."
Terkejutlah Sin Wan.
"He? Apa katamu? Tersembul keluar?"
Dan diam-diam pemuda itu melirik ke arah dadanya.
Pancingan gadis cerdik itu berhasil dan lirikan mata Sin Wan ke arah dadanya memperkuat dugaannya.
Giok Ciu bangkit dari duduknya lalu tiba-tiba suling itu terlepas dari tangannya, menggelinding di atas tanah.
"Tolong, Koko, sulingku jatuh..."
Sin Wan buru-buru membungkuk dan mengambil barang itu, tetapi pada saat ia membungkuk ia merasa sesuatu bergerak di lehernya.
Ia terkejut dan segera berdiri dan...
Ia melihat Giok Ciu tertawa girang sambil menunjuk ke arah dada pemuda itu.
Kini Sin Wan tundukkan muka untuk memandang, ternyata sepasang sepatu kecil yang tadinya tergantung di dada dengan sutera biru yang dikalungkan dileher, ternyata telah keluar dan bergerak-gerak di luar bajunya!
Ternyata ketika ia membungkuk tadi, Giok Ciu telah menyambar pita sutera itu dan membetotnya sehingga sepatunya terbetot keluar!
Sin Wan tak dapat berkata apa-apa hanya memandang wajah Giok Ciu dengan mulut tersenyum lebar dan muka kemerah-merahan.
"Bukankah kataku tadi telah kusimpan baik-baik? Kau sungguh kurang percaya."
"Sekarang aku percaya dan puas, terimakasih Koko,"
Jawab Giok Ciu dengan manis.
"Hayo kita kembali, telah terlampau lama kita keluar, nanti Suhu marah,"
Tiba-tiba Sin Wan berkata.
Ucapan ini mengingatkan Giok Ciu dan mereka segera meloncat masuk ke dalam sumur itu dengan khawatir kalau-kalau gurunya akan marah.
Betul saja, baru kaki mereka menginjak pasir di dalam sumur itu, telah terdengar suara Suhu mereka memanggil dari dalam gua ular.
Mereka segera masuk dan mendapatkan Bu Beng Lojin duduk bersemedhi dan menghadap ke dalam.
Tanpa menengok lagi, orang tua aneh itu berkata, suaranya tetap dan keras.
"Sin Wan dan Giok Ciu! Kalian telah melanggar laranganku dan keluar dari tempat ini sebelum waktunya!"
Sin Wan dan Giok Ciu segera menjatuhkan diri berlutut.
"Ampunkan teecu berdua Suhu. Kami tidak sengaja keluar dan..."
"Cukup! Aku sudah tahu semua. Pelanggaranmu tidak kusesalkan sekali, tetapi yang paling kusesalkan ialah karena kalian melanggar maka kalian bertemu dengan kaki tangan Kaisar itu! Dan kalian tentu tahu akan akibat pertempuran tadi. Sekarang terpaksa kalian harus keluar dari sini!"
Terkejut sekali kedua murid itu mendengar ini. Dengan khidmad mereka berlutut dan memohon ampun.
"Muridku, jangan menganggap aku terlampau kejam kepada kalian. Aku suruh kalian keluar dan pergi bukanlah dengan maksud mengusir karena kemarahanku. Aku suruh kau pergi untuk mendahului mereka dan memukul dulu sebelum mereka menyerbu dan mencari kalian kesini! Bukankah kalian hendak menuntut balas? Nah, sekarang waktunya! Berangkatlah dan bawalah pedangmu. Tetapi, berhati-hatilah, lawan-lawanmu bukan orang lemah!"
Kalau tadinya kedua murid itu merasa bingung dan takut, kini mereka merasa girang sekali.
Mereka menghaturkan terima kasih kepada Suhu mereka yang agaknya tidak memperdulikan mereka karena duduknya membelakangi mereka itu.
Kemudian mereka berpamit tanpa dijawab oleh Bu Beng Lojin, Sin Wan dan Giok Ciu mengambil kedua pokiam mereka dan meloncat keluar dari sumur itu.
Mereka merasa seakan-akan baru sadar dari mimpi dan seakan-akan baru terbebas dari kurungan.
Hati mereka gembira sekali dan mereka berjalan turun gunung sambil bergandeng tangan seperti lakunya dua orang kanak-kanak nakal.
Sin Wan seperti biasa mengenakan pakaian warna putih yang menjadi kesukaannya semenjak kecil, sedangkan Giok Ciu mengenakan pakaiannya yang berwarna gelap kehitam-hitaman.
Memang menurut nasihat dari Suhu mereka, warna pakaian yang paling cocok dan tepat bagi Sin Wan ialah putih dan bagi Giok Ciu warna hitam!
"Karena kalian memiliki pedang pusaka yang ampuh dan keramat, maka kalian juga seberapa bisa harus menyesuaikan keadaanmu dengan pedang itu sehingga pedang pusaka itu akan lebih besar faedahnya,"
Demikianlah Kakek yang luar biasa itu berkata ketika mereka baru berlatih pedang. Karena pemandangan alam yang indah dan hawa gunung yang segar, Giok Ciu timbul gembiranya dan berkata.
"Koko, hawa begini bagus. Marilah kita berlatih pedang. Sekarang kita berada di luar dan bebas merdeka, aku ingin sekali mencoba pokiamku."
Sehabis berkata demikian, ia mencabut Ouw Liong Pokiam sehingga tampak sinar hitam menyambar.
"Hush, Giok Ciu, jangan kita main-main dengan pokiam kita. Kalau mau berlatih, mari kita gunakan ranting kayu seperti biasa,"
Berkata Sin Wan.
"Selalu berlatih menggunakan sepotong ranting, aku bosan, Koko. Kita diberi pedang, untuk apa kalau tidak digunakan?"
"Kita hanya menggunakan di mana perlu, Giok Ciu." (Lanjut ke
Jilid 05) Kisah Sepasang Naga/Ji Liong Jio Cu (Seri ke 02 -Serial Jago Pedang Tak Bernama) Karya . Asmarainan S. Kho Ping Hoo
Jilid 05
"Koko, jangan kau terlalu kukuh. Kita belajar ilmu pedang dan telah bertahun-tahun kita pegang dan mainkan pedang kita, tetapi tidak sekali pedang kita boleh kita pakai latihan bersama. Mengapakah? Bukankah kedua pedang kita sama kuatnya? Nah, marilah kita mencobanya sekalian melihat pedang siapa lebih hebat!"
Mendengar desakan dan bujukan nona itu, Sin Wan tertarik juga.
Memang Suhunya orang aneh dan kukuh sehingga belum pernah mereka berlatih pedang bersama dengan menggunakan pedang tulen.
Pedang itu hanya boleh dipakai sendiri saja.
Karena itu, iapun ingin sekali mengukur kelihaian permainan Ouw Liong Kiam-Sut dari gadis itu dengan menggunakan pedng mereka yang asli.
Ketika Sin Wan mencabut Pek Liong Pokiam dan mereka mulai berlatih, maka tampaklah dua sinar hitam dan putih bergulung-gulung saling sambar dan saling belit, Bagaikan sepasang naga hitam dan putih sedang bersenda gurau dan berterbangan di antara mega-mega di angkasa.
Keduanya merasa kagum sekali karena setiap serangan selalu menemui tangkisan yang tepat sekali sehingga keduanya merasa tidak berdaya!
Sungguh-sungguh Suhu mereka lihai sekali dalam memecah Sin-Liong Kiam-Sut menjadi dua macam ilmu pedang itu, karena jika dimainkan sendiri-sendiri kedua ilmu pedang Pek Liong Kiam-Sut dan Ouw Liong Kiam-Sut itu tampaknya berbeda sekali kembangannya dan mempunyai keistimewaan berbeda pula.
Pek Liong Kiam-Sut gerakannya gagah dan kuat, tetapi gerakan-gerakan yang lurus itu mengandung bermacam-macam tenaga dan tipu gerak tak terduga.
Sebaliknya Ouw Liong Kiam-Sut gerakannya lincah dan gesit sekali, membingungkan lawan karena banyak sekali pecahan dan gerak tipunya.
Sinar pedangnya tajam pendek-pendek tetapi berubah-ubah mengacaukan pertahanan lawan.
Akan tetapi, kedua sifat ilmu pedang ini setelah kini dimainkan bersama dan dipakai untuk saling serang, ternyata kedua duanya gagal dan tak berdaya, seakan-akan keduanya telah saling kenal baik gerakan masing-masing!
Kalau Pek Liong Kiam-Sut diumpamakan senjata tajamnya maka Ouw Liong Kiam-Sut adalah sarungnya!
Giok Ciu penasaran sekali dan ia mengeluarkan gerakan terhebat dari Ouw Liong Kiam-Sut, namun sia-sia, karena Sin Wan tahu belaka kemana dan bagaimana ia hendak menyerang.
Memang hal ini tidak aneh kalau dipikirkan bahwa kedua ilmu pedang ini berasal dari satu cabang, yakni Sin-Liong Kiam-Sut, dan mereka telah mempelajari Sin-Liong Kiam-Sut sampai hafal benar.
Sedangkan Pek Liong Kiam-Sut dan Ouw Liong Kiam-Sut sebenarnya belum mereka kuasai seluruhnya, Karena sebetulnya mereka belum tamat mempelajari kedua ilmu pedang ini, dan sebelum mereka dapat menguasai dengan sempurna, keburu datang perisitiwa di luar sumur sehingga mereka disuruh turun gunung!
Setelah lelah berlatih, keduanya berhenti dan menyimpan pedang masing-masing, lalu duduk beristirahat di aas rumput sambil menikmati angin gunung yang sejuk.
Dan aneh sekali, karena latihan itu, di dalam lubuk hati masing-masing timbul rasa tidak puas karena terhadap masing-masing mereka merasa tidak berdaya.
Lebih-lebih Giok Ciu, gadis ini merasa mengapa kepandaian yang dimilikinya menjadi tidak berarti kalau melayani Sin Wan.
Kalau saja ia kalah atas menang, ia akan merasa puas, tetapi ia kini menjadi penasaran dan tidak puas.
Kalah tidak, menangpun bukan!
Juga ia tidak dapat menentukan, pedang mana yang lebih baik atau lebih ampuh!
"Koko, aku merasa heran sekali, Agaknya ilmu pedang yang kita pelajari ini tidak seberapa hebat."
Sin Wan memandang jauh dengan termenung, lalu menjawab.
"Aneh, moi-moi, akupun merasa mempunyai perasaan begitu. Tapi tidak ingatkah kau ketika terjadi pengeroyokan itu? Kau menggunakan pedang dan sebentar saja kau dapat merobohkan lawanmu.!"
Giok Ciu teringat dan kekecewaannya agak berkurang.
"Kau benar, Koko. Tapi anehnya, menghadapi ilmu pedangmu, kepandaianku tiada gunanya sama sekali!"
Sin Wan melirik sambil tersenyum.
"Kau ini aneh, moi-moi. Kau kan tidak mempelajari Ouw Liong Kiam-Sut untuk digunakan menyerang aku? Ketahuilah, aku sendiri merasa betapa pedangku sama sekali tak dapat menembus pertahanan ilmu pedangmu!"
Setelah beristirahat dan makan buah-buahan yang mereka petik di dalam hutan di lereng bukit, mereka lalu melanjutkan perjalanan mereka dengan cepat.
"Koko, apakah kita pergi ke gedung Suma-Cianbu?"
"Ya, kita langsung menuju ke sana dan membasmi bangsat she Suma lebih dulu!"
Jawab Sin Wan sambil mengertak gigi karena gemas teringat akan musuh besarnya.
Karena mereka menggunakan ilmu lari cepat, maka dua hari saja mereka telah tiba dikota tempat tinggal Suma-Cianbu.
Hari telah menjadi gelap ketika mereka berdua memasuki kota.
Maka mereka menanti sebentar sebelum menyerbu ke gedung Suma-Cianbu itu.
Setelah hari menjadi gelap, keduanya lagi loncat keatas genteng dan sambil berlari-lari cepat di atas genteng merupakan dua bayangan putih dan hitam, mereka menuju ke gedung yang tinggi dan besar itu.
Tetapi mereka terheran mendapat kenyataan betapa gedung itu sunyi saja dan yang menjaga keamanan hanya empat orang anggauta keamanan yang berjalan mondar-mandir di belakag tembok yang mengurung gedung itu.
Didalam gedung sendiri sunyi senyap, hanya dibagian belakang tampak lampu bernyala dan ada suara orang bercakap-cakap.
Bagaikan dua ekor kucing mereka meloncat turun dengan ringan sekali sehingga tidak menerbitkan suara.
Ketika dua orang penjaga lewat ditempat mereka bersembunyi, mereka menerjang dan tanpa dapat mengeluarkan teriakan kedua penjaga itu kena tertotok dan roboh pingsan.
Demikianlah nasib ke dua penjaga lainnya.
Kemudian Sin Wan Giok Ciu meloncat masuk ke dalam gedung.
Alangkah kecewa mereka ketika mendapat kenyataan bahwa gedung itu betul-betul kosong dan tidak ada orangnya, dan yang sedang bercakap-cakap di bagian belakang hanyalah beberapa orang pelayan saja.
Para nelayan itu, empat orang tua dan dua orang laki-laki terkejut sekali ketika tiba-tiba tampak dua orang muda yang telah berada dihadapan mereka.
"Jangan taku, kami takkan mengganggu!"
Kata Sin Wan kepada mereka yang berlutut, sambil menggigil ketakutan.
"Asal saja kalian terangkan di mana adanya Sum-Cianbu dan keluarganya."
"Taijin, Hujin dan Siocia beserta beberapa orang pelayan dan pengawal telah tiga hari pergi ke kota raja."
Jawab seorang pelayan yag agak tabah.
"Awas, jangan membohong!"
Giok Ciu membentak sambil menendang sebuah meja sehingga meja itu terpental dan semua barang di atas meja itu beterbangan. Mereka takut sekali dan makin pucat wajah mereka.
"Tidak"
Tidak, Lihiap... Kami ti"
Tidak berani membohong."
"Bukan main rasa kecewa hati Sin Wan dan Giok Ciu. Mereka lalu meninggalkan gedung itu, setelah terjadi pula sedikit pertentangan faham antara Sin Wan dan Giok Ciu. Karena kecewa dan marah, Giok Ciu hampir saja mengangkat tangan dan membunuh semua isi gedung Suma-Cianbu, tetapi Sin Wan segera mencegahnya.
"Moi-moi tak perlu membunuh mereka ini. Mereka tiada sangkut pautnya dengan kedosaan Suma-Cianbu."
"Tetapi orang-orang yang bekerja kepadanya dan menjadi kaki tangannya bukankah orang baik-baik!"
Giok Ciu bersikeras.
"Jangan begitu, moi-moi. Mereka hanyalah orang-orang kecil yang bekerja hanya untuk mencari sesuap nasi. Kalau mereka tidak mengganggu kita, tak perlu kita berlaku kejam terhadap mereka."
Giok Ciu mendongkol sekali dan mulutnya cemberut, tapi ia tidak membantah lagi, lalu mendahului meloncat ke atas genteng, diikut oleh Sin Wan dari belakang.
Malam itu juga mereka meninggalkan kota Wie-Kwan untuk mengejar Suma-Cianbu yang sedang pergi ke kota raja.
Jarak antara Wie-Kwan dan kota raja bukanlah dekat dan jika mereka berjalan cepat, maka mereka sedikitnya membutuhkan waktu tiga hari.
"Moi-moi, di kota raja kita harus berlaku hati-hati, karena disana adalah pusat para pahlawan Kaisar yang berkepandaian tinggi."
Giok Ciu menahan tindakan kakinya dan menengok.
"Ah, jadi kau tiba-tiba merasa jerih dan takut, Koko?"
Katanya mengandung suara sindiran. Sin Wan mengerutkan jidatnya dan berkata.
"Tidak takut, moi-moi, tapi berhati-hati. Kau kann juga ingin agar pekerjaan kita membalas dendam kali ini jangan sampai gagal, bukan?"
Giok Ciu berkata jumawa.
"Hah, apa yang dikuatirkan? Aku tidak takut segala pahlawan anjing itu. Paling-paling kita akan berhadapan dengan Tosu siluman Cin Cin Hoatsu, dan aku seujung rambutpun tidak takut padanya!"
Sin Wan makin heran melihat sikap dan kejumawaan Giok Ciu, karena tidak disangkanya gadis itu akan menjadi sesombong itu.
Ia tidak tahu bahwa semenjak dapat mengalahkan para pahlawan yang mengeroyok mereka diluar sumur, didalam hati gadis muda itu timbullah sifat bangga yang besar sehingga membuat ia menjadi jumawa dan menganggap bahwa kepandaiannya telah sampai di puncak kesempurnaan!
Karena inilah maka ketika berlatih mengadu pedang dengan Sin Wan, ia menjadi penasaran dan kecewa karena tak dapat menangkan pemuda itu!
Dua hari kemudian mereka tiba di kota Kiong-Kwan yang besar.
Kota ini cukup ramai karena letaknya dekat kota raja dan di sini banyak pula tinggal orang-orang berpangkat pangeran.
Ketika Sin Wan dan Giok Ciu berjalan perlahan memasuki pintu kota, tiba-tiba dari belakang terdengar suara kaki kuda dan ketika mereka berdiri di pinggir jalan memandang, ternyata yang datang adalah tiga orang tinggi besar yang pandai sekali menunggang kuda.
Ketika tiga orang itu lewat di depan mereka, ketiganya menengok dan memandang dengan tajam.
Tapi Sin Wan dan Giok Ciu tidak ambil perduli sama sekali dan melanjutkan perjalan mereka memasuki kota.
Giok Ciu tertarik oleh sebuah rumah penginapan yang daun pintu dan tiang-tiangnya di cat merah sehingga nampak indah sekali, maka ia lalu mengajak Sin Wan bermalam di situ saja.
Sin Wan tersenyum melihat kegembiraan gadis itu dan menurut saja.
Kepada seorang pelayan ia lalu minta disediakan dua kamar.
"Dua kamar ukuran kecil, atau satu saja kamar ukuran besar?"
Pelayan yang berlidah tajam dan jenaka itu bertanya sambil melirik ke arah Giok Ciu. Gadis itu timbul marahnya dan ia membentak.
"Tulikah kau? Kami minta dua kamar dan jangan kau banyak cerewet lagi!"
Pelayan itu memandang dengan terkejut dan buru-buru ia menyediakan kamar yang diminta.
"Sabarlah, moi-moi untuk apa meladeni segala macam orang seperti dia?"
"Apa? Justeru orang-orang macam dia itu kalau tidak diberi hajaran tentu selalu akan mengganggu orang!"
Sin Wan hanya tersenyum melihat kegalakan nona ini, karena betapapun juga, jika Giok Ciu sedang marah seperti itu matanya bersinar-sinar, kedua pipinya kemerah-merahan, kulit hidunganya yang tipis kembang-kempis dan bibirnya yang bagus bentuknya itu merengut dan meruncing tetapi menambah manisnya!
Pada saat itu, tiba-tiba dari luar terdengar suara orang berkata-kata dan Sin Wan lalu memberi isarat kepada Giok Ciu.
Ketika mereka memandang, ternyata yang datang adalah tiga orang yang berkuda yang tadi bertemu dengan mereka di pintu gerbang kota.
Ketika orang itupun memandang kepada mereka dengan tajam, tetapi lalu mereka membuang muka dan memasuki kamar pengurus rumah penginapan.
Sin Wan lalu mengajak Giok Ciu memasuki kamarnya dan ia berkata.
"Moi-moi, kurasa tiga orang itu bukanlah orang-orang baik. Mereka agaknya mengikuti kita."
"Apa? Biar kuhajar mereka sekarang juga!"
"E, e! Sabar, Giok Ciu. Dengan alasan apa kita harus mencari perkara? Biarkan sajalah, tetapi malam ini kita harus berjaga-jaga dan berhati-hati."
"Menghadapi tiga ekor tikus busuk itu saja mengapa begitu ribut-ribut? Aku malam ini ingin melihat-lihat kota, Koko."
Sin Wan menyatakan setuju.
"Baiklah, kita pergi mencari tempat makan yang paling besar."
Setelah membersihkan tubuh Sin Wan dan Giok Ciu keluar dari rumah penginapan dan berjalan melihat-lihat kota yang indah dan besar itu.
Giok Ciu kagum melihat bangunan-bangunan yang besar dan tinggi.
Sungguhpun kedua anak muda itu tampaknya berjalan-jalan dan mengagumi pemandangan kota namun sebenarnya mereka tahu bahwa ada seorang diantara ketiga penunggang kuda sedang mengikuti mereka!
Orang itu tinggi dan kurus dan kaki kirinya agak pincang, tapi dipinggang tergantung sebatang pedang yang memakai ronce kuning.
"Kita sikat dia, Koko?"
Kata Giok Ciu.
Mereka lalu masuk ke dalam sebuah restoran besar dan memesan masakan.
Dan alangkah mendongkolnya dan marahnya Giok Ciu ketika melihat betapa si pincang itupun memasuki restoran dan duduk di meja yang dekat dengan meja mereka.
Alangkah kurang ajar dan beraninya!
Kalau ia tidak duduk bersama Sin Wan, tentu ia melemparkan meja di depannya kepada orang tinggi kurus itu!
Tetapi Sin Wan berkejab kepadanya untuk mencegah gadis itu melakukan sesuatu yang mengacaukan.Untuk melampiaskan marahnya, Giok Ciu berkata.
"Tak kusangka, tiga bangkai tikus yang terserak di sanan tadi tahu-tahu yang seekor terdampar kesini!"
Sambil berkata demikian, ia sengaja memandang si pincang itu dengan mata marah!
Tentu saja, kata-katanya ini membuat para tamu restoran memandang heran, sedangkan si pincang itu yang merasa dirinya disindir, tampak jelas menahan-nahan diri untuk tidak memperlihatkan marahnya.
Ia hanya balas memandang tajam, lalu menundukkan kepala dan maka hidangan yang dipesannya.
Setelah makan kenyang, Sin Wan dan Gio Ciu sengaja mengambil jalan memutar, melalui jalan yang sunyi.
Dan betul saja, si tinggi pincang itu tetap mengikuti mereka.
Sin Wan dan Giok Ciu lalu menggunakan ilmu lari cepat, tetapi orang itupun pandai dalam ilmu ini!
Hanya saja, kedua anak itu maklum bahwa kepandaian orang itu tidak berapa tinggi.
"Giok Ciu, tentu ada apa-apa yang tidak beres. Mari kita pulang dengan diam-diam kita lihat, mereka itu sebetulnya orang-orang apa dan sedang melakukan apa."
"Dan tikus ini bagaimana? Aku ingin memberi rasa padanya."
Sin Wan tersenyum.
"Sesukamulah asal jangan terlalu lama."
Giok Ciu lalu membungkuk untuk memungut sepotong batu, lalu ia berhenti dan berteriak.
"He, tikus pincang, jalanmu tidak sedap dipandang karena kakimu pincang sebelah. Biarlah aku tolong kau dan bikin pincang kakimu yang sebelah lagi!"
Tangannya lalu diayun dan batu kecil itu meluncur cepat ke arah pengejar.
Si tinggi kurus itu berlaku waspada, tetapi ternyata batu yang menyerangnya lebih cepat lagi.
Ia tak sempat berkelit dan tahu-tahu tulang keringnya berbunyi.
"Pletak!"
Dan ia roboh karena kaki kanannya tiba-tiba lemas dan sakit sekali.
Ketika ia merabanya, ternyata tulangnya telah pecah!
Ia meringis kesakitan dan diam-diam terkejut sekali melihat kelihaian kedua anak muda itu.
"Masih baik mereka tidak menghendaki jiwaku,"
Ia berpikir dan merangkak maju untuk minta pertolongan orang.
Sin Wan dan Giok Ciu lalu meloncat ke atas genteng dan mereka menggunakan kepandaian untuk meloncati rumah-rumah dan cepat menuju ke rumah penginapan.
Ginkang mereka sudah demikian sempurna sehingga yang tampak berkelebat hanya dua bayangan putih dan hitam.
Setibanya di atas rumah penginapan, mereka bersembunyi di balik wuwungan yang tinggi dan mengintai.
Tiba-tiba tampak bayangan beberapa orang bergerak di atas genteng dan meloncat ke bawah dengan gerakan cukup gesit.
Mereka berdua lalu meloncat mendekati dan dengan hati-hati mereka membuka genteng kamar para penunggang kuda itu.
Ternyata di dalam kamar yang besar itu telah berkumpul banyak orang dan langkah terkejut mereka melihat bahwa diantara mereka terdapat juga pahlawan-pahlawan Kaisar yang dulu mengeroyok mereka di atas sumur!
Mereka mendengarkan dengan teliti.
"Benarkah mereka mengejar Suma-Cianbu?"
Terdengar seorang berkata.
"Kalau begitu, kita harus dapat menangkap mereka sebelum kabur."
"Tetapi mereka lihai sekali,"
Berkata seorang yanng dulu mengeroyok Sin Wan.
"Jangan takut, Hek Twako dan Mo Susiok ada disini. Pula, mereka tadi telah diikuti oleh Liu sute. Kita nanti mengepung mereka, masak tak dapat merobohkan dua orang anak muda saja?"
Maka tahulah Sin Wan dan Giok Ciu bahwa kedatangan mereka di gedung Suma-Cianbu telah diketahui oleh orang-orang ini dan tahu pula bahwa orang-orang ini bukan lain ialah para pengawal dan pahlawan kerajaan!
Maka Giok Ciu menjadi hilang sabar dan ia tertawa nyaring di atas genteng, sambil memaki.
"Bangsat anjing penjilat Kaisar! Kalau kalian sudah bosan hidup, naiklah ke sini kutunggu!"
Sin Wan terpaksa juga meloncat dan bersiap menanti kedatangan para lawan itu, ia merasa geli tercampur "Bohwat"
Atau tak berdaya menghadapi gadis yang pemberani sekali ini.
Mendengar kata-kata Giok Ciu, tiba-tiba api lilin di dalam kamar itu ditiup pada tak lama kemudian dari empat penjuru berloncatan naiklah orang-orang dengan senjata tajam di tangan!
Sin Wan melihat bahwa yang naik lebih dari dua puluh orang dan yang terdepan sekali adalah seorang tua yang gerakannya gesit dan seorang pemuda gagah dan bersenjata tombak.
Orang tua itu bersenjata sepasang pedang yang tergantung di punggungnya.
"Bangsat pemberontak yang berani mati. Menyerahlah hidup-hidup dari pada mati tertembus pedang,"
Orang tua itu membentak garang. Giok Ciu tertawa dan menunjuk ke arah orang tua itu sambil berkata kepada Sin Wan.
"Koko, kau lihat baik-baik. Bukankah orang she Mo ini mukanya sama benar dengan tikus tua yang hampir mati kelaparan?"
Sin Wan memandang dan hampir saja ia tertawa geli kalau saja ia tidak ingat bahwa orang tua itu seorang yang berkepandaian tinggi sehingga tidak baik menghinanya, karena sesungguhnya muka yang sempit dan berpotongan tajam, ditambah dengan beberapa lembar kumis dibawah hidunganya itu memang seperti seekor tikus!
Ternyata Giok Ciu menduga tepat, karena memang orang tua itu adalah Mo Hin Cu yang berjuluk Iblis berpedang dua dan termasuk pahlawan Kaisar kelas dua.
Ilmu pedangnya telah terkenal dan kepandaiannya masih lebih tinggi dari semua orang yang kini mengepung Giok Ciu dan Sin Wan.
Sebagai seorng yang memiliki kepandaian dan kedudukan tinggi, tentu saja Mo Hin Cu marah sekali mendengar ejekan Giok Ciu.
Ia mencabut sepasang siang-kiamnya dan menyerang sambil membentak.
"Bangsat pemberontak rendah!"
Sepasang pedang di tangan kiri kanannya bergerak, yang kanan menusuk lengan dan yang kiri menyapu pinggang gadis itu! "Haya...!!"
Giok Ciu berkelit mundur sambil mengejek sehingga Mo Hin Cu makin marah dan menyerang lagi.
Kalau dibandingkan, kepandaian orang she Mo ini setingkat dengan kepandaian Song Tat Kin murid Cin Cin Hoatsu yang pernah dijatuhkan oleh Giok Ciu.
Memang dulu secara mudah sekali Song Tat Kin dapat dirobohkan oleh gadis itu, tapi hal itu terjadi karena Song Tat Kin tak bersenjata dan tidak pernah menyangka bahwa gadis itu demikian lihai.
Sedangkan kini orang she Mo ini telah dapat menduga bahwa lawannya adalah seorang muda yang memilki kepandaian tinggi, dan di kedua tangannya terdapat sepasang pedang yang telah mengangkat namanya tinggi-tinggi, maka setelah diserang terus, Giok Ciu terdesak juga dan menjadi marah.
Sambil berseru keras gadis itu mencabut pokiamnya dan Mo Hin Cu bergidik ketika melihat sinar hitam berkelebat dan menyambarnya dengan mengeluarkan hawa panas mengerikan!
Cepat sekali Mo Hin Cu menggunakan sepasang pedangnya menangkis dengan tipu gerakan Hong-Sauw Pai-Yap atau Angin Sapu Daun Rontok.
Maksudnya hendak menggunakan tenaga untuk menangkis dengan keras agar sekali babat saja membuat senjata lawan yang aneh itu terpental.
Tetapi alangkah terkejutnya ketika ia merasa betapa kedua siang-kiamnya seakan-akan membacok air dan tahu-tahu yang tinggal di dalam kedua tangannya hanya gagang pedang saja, sedangkan pedangnya sendiri entah telah terbang kemana?
Demikianlah hebat dan ketajaman Ouw Liong Pokiam.
Giok Ciu mengeluarkan seruan menghina dan sekali saja ia menyerang, pundak lawannya telah kena terbabat oleh pokiamnya sehingga orang she Mo itu roboh sambil mengeluarkan teriakan ngeri!
Sementara ituo rang muda yang bersenjata tombak menyerang Sin Wan, akan tetapi oleh Sin Wan mudah saja dikelit dan anak muda ini balas menyerang dengan tangan kosong.
Anak muda bersenjata tombak itu hanya pahlawan kelas tiga saja, mana ia dapat melawan Sin Wan?
Dalam beberapa jurus saja, tombaknya telah dapat dirampas dan sekali tekuk dalam tangannya, tombak besi itu menjadi bengkok dan dilemparkan Sin Wan ke bawah genteng.
Melihat betapa lihainya kedua anak muda itu, semua pahlawan maju mengeroyok dengan senjata masing-masing.
Sin Wan terpaksa mencabut Pek-Liong Pokiam dan bersama-sama Giok Ciu ia mainkan pedangnya dengan gerakan bergelombang yang hebat.
Harus dikasihani para pengeroyok itu, seakan-akan rombongan semut mengeroyok api, begitu mendekat segera tubuh mereka bergelimpangan karena sinar hitam dan putih itu saja sudah cukup membuat mereka roboh!
Akhirnya beberapa orang yang masih belum menjadi korban segera meloncat turun dan melarikan diri dari amukan Sin Wan dan Giok Ciu.
Tak lama kemudian datanglah barisan tentara dibawah pimpinan seorang komandan mengurung rumah penginapaan tu.
Sin Wan dan Giok Ciu sudah masuk kembali ke dalam kamar dan berkemas, karena malam ini juga mereka hendak melanjutkan perjalanan.
Ketika Sin Wan melihat keluar, ternyata puluhan tentara penjaga keamanan yang datang membantu telah mengurung rumah itu dan semua tamu yang tidur menginap disitu menjadi ketakutan.
"Pemberontak-pemberontak keluar dengan damai!"
Komandan yang gemuk dan bermuka merah itu berteriak-teriak sambil mengatur barisannya mengurung.
Sin Wan tersenyum melihat ini, kemudian setelah beres membungkus pakaian dan lain-lain, ia dan Giok Ciu keluar dari pintu depan dengan tenang!
Para anggota penjaga itu tidak tahu yang manakah pemberontak-pemberontak yang harus ditangkap, maka ketika melihat Sin Wan dan Giok Ciu keluar mereka diamkan saja.
Baru setelah seorang pengeroyok yang lari dan kini telah ikut mengepung berteriak.
"Inilah pemberontak-pemberotak itu, serbu!"
Mereka segera bergerak dengan mata memandang heran.
Inikah pemberontak-pemberontaknya?
Seorang pemuda tampan dan seorang gadis cantik?
Komandan muka merah memperlihatkan kegagahannya dan sambil palangkan golok besar ia mencegat Sin Wan dan Giok Ciu.
"Menyerahlah!"
Bentaknya dengan suaranya yang tinggi kecil.
"Hm, kalian gentong-gentong kosong ini harus diberi hajaran!"
Giok Ciu berkata gemas, tetapi Sin Wan mendahului membentak kepada komandan muka merah yang gemuk itu.
"Kau menggelindinglah pergi dari sini!"
Dan sebelum si gemuk itu tahu apa yang terjadi, tahu-tahu ia merasa tangan pemuda itu yang kuat sekali mendorongnya demikian keras sehingga tidak ampun lagi tubunya terjengkang ke belakang dan bergulingan, betul-betul seperti bola menggelinding!
"Hayo, moi-moi!
Buat apa mengotorkan tangan melayani segala tikus rendah."
Biarpun belum puas, Giok Ciu mengejar Sin Wan yang meloncat naik ke atas genteng dan mereka pergi tinggalkan Kiong-Kwan menuju ke kota raja.
Menjelang fajar mereka telah tiba di luar tembok besar kota raja dan di sebuah bukit kecil mereka melihat sebuah Kuil kecil yang mungil.
Karena perlu beristirahat sebentar sebelum memulai dengan pekerjaan yang penting itu.
Ternyata itu adalah Kelenteng Kwan-Im-Pouwsat yang dijaga oleh dua orang Pendeta wanita yang telah tua.
Kedua Pendeta itu sangat ramah tamah dan mereka menerima kedatangan Sin Wan dan Giok Ciu dengan girang.
Kedua anak muda itu memberi hormat kepada patung Kwan-Im, lalu mereka mengaso sambil bersamadhi di ruang belakang.
Setelah matahari pagi menerangi permukaan bumi dan kedua anak muda itu makan bubur hidangan Nikouw tadi, mereka lalu meninggalkan bungkusan uang dan pakaian, dan hanya dengan membekal pedang, mereka berangkat menuju ke pintu gerbang kota raja.
Tetapi ternyata bahwa para penjaga yang mereka pukul kucar-kacir di Kiong-Kwan malam tadi, telah cepat memberi kabar ke kota raja pada malam itu juga sehingga Suma-Cianbu telah bersiap menanti kedatangan mereka!
Hal ini Sin Wan dan Giok Ciu tidak menyangkanya, maka ketika mereka tiba di pintu gerbang mereka kaget melihat banyak orang menghadang di jalan masuk pintu itu.
Ketika mereka melihat tegas, ternyata kesemuanya adalah pahlawan Kaisar dan diantaranya terdapat Suma-Cianbu sendiri yang berpakaian perang dengan lengkap!
Selain Suma-Cianbu sendiri, di dekat kapten itu terdiri tiga orang Tosu dan seorang perempuan tua berbaju hijau.
Melihat musuh besarnya berdiri di depannya, Sin Wan timbul marahnya dan segera ia mencabut Pek Liong Pokiam sambil membentak.
"Bangsat Suma sekarang kau hendak lari kemana?"
Sambil berkata begini ia meloncat menerjang Suma-Cianbu yang cepat menangkis dengan pedangnya, tetapi sekali bentur saja pedang itu patah!
Sin Wan melanjutkan pedangnya membabat leher dan Suma-Cianbu berteriak kaget, tetapi pada saat itu, seorang diantara tiga Tosu itu telah maju menolong dengan tongkat bajanya yang berat menusuk perut Sin Wan dengan gerakan Ular Hitam Masuk Lubang!
Terpaksa Sin Wan menarik kembali pedangnya dan meloncat berkelit karena jika ia meneruskan serangannya, maka sukar baginya untuk menghindarkan diri dari sodokan tongkat itu.
"Bangsat muda sabar dulu!"
Tosu itu membentak.
"Siapakah kau berani mengacau ke kota raja? Apakah kau sudah bosan hidup?"
Sin Wan tersenyum dan membalas memaki.
"Hm, hm, kau bangsat berjubah Pendeta. Agaknya kaupun bukan orang baik-baik. Ketahuilah, aku adalah Bun Sin Wan dan kedatanganku hendak membalas dendam orang tuaku kepada bangsat she Suma ini. Kalian tiada permusuhan dengan aku, maka lebih baik mundurlah. Tetapi kalau hendak membela bangsat ini, akupun tidak takut!"
Tiba-tiba terdengar suara perempuan tua baju hijau itu berkata.
"Cianbu, apakah ini anak pemberontak itu?"
Suma-Cianbu mengangguk.
"Benar, Toanio. Inilah anak pemberontak itu."
Wanita itu lalu menunding dan berkata.
"Anak muda, kau lebih baik menyerah saja, mungkin dosa-dosamu dapat diperingan. Kau mengandalkan apakah berani melawan kami?"
Sikap wanita ini jumawa sekali sehingga menimbulkan marahnya Giok Ciu.
"Eh, kau ini siluman perempuan darimakah begitu sombong?"
Bentaknya. Wanita baju hijau itu memandang kepada Giok Ciu dengan tersenyum mengejek.
"Kau anak kemarin sore sudah berani unjuk gigi. Ketahuilah nenekmu ini ialah Liong-San Kui-Bo! Hayo lekas kau berlutut di depanku."
Wanita itu agaknya mengira bahwa Giok Ciu tentu pernah mendengar namanya yang tersohor dan menjadi jerih.
Tidak tahunya, tidak saja Giok Ciu memang belum pernah mendengar julukan yang berarti Biang Hantu dari Liong-San itu, bahkan andaikata sudah mendengarpun, gadis yang bernyali besar sekali pasti takkan merasa takut.
Mendengar kata-kata Liong-San Kui-Bo, ia bahwa tertawa merdu dan nyaring, lalu berkata.
"Jadi kaukah si Biang Hantu? He, anakku, kalau begitu kau harus berlutut tiga kali di depanku. Ketahuilah, aku ini ialah Nenek Moyang Biang Hantu! Hayo kau lekas berlutut!"
Tentu saja Liong-San Kui-Bo menjadi marah sekali. Ia berpaling kepada ketiga Tosu itu lalu berkata.
"Toyu sekalian, mari kita bikin mampus dua anak kurang ajar ini!"
Sehabis berkata demikian, perempuan tua baju hijau itu lalu mencabut keluar sepasang pedangnya dan langsung menyerang Giok Ciu dengan hebat.
Giok Ciu terkejut melihat betapa gerakan perempuan itu ganas dan cepat sekali, tapi ia tidak takut dan sambil berloncatan menyingkiri serangan lawan, ia mencabut Ouw Liong Pokiam.
Kini Liong-San Kui-Bo yang kaget karena tiba-tiba ia merasa sambaran pedang hitam yang ganas itu.
Ia tahu bahwa pedang gadis itu adalah sebuah pokiam yang sangat ampuh, maka ia tidak berani beradu pedang.
Ia hanya menggunakan kiam-hwatnya yang memang indah dan cepat itu untuk mengurung Giok Ciu.
Tapi ia tidak tahu bahwa disamping Kiam-Sutnya, yakni Sin-Eng Kiam-Sut yang lihai, masih banyak ilmu pedang yang lebih hebat lagi, dan diantaranya yang terlihai adalah Ouw Liong Kiam-Sut!
Maka ketika Giok Ciu mulai menjalankan ilmu pedangnya, sebentar saja ia menjadi sibuk menangkis sambil mundur.
Tosu termuda diantara ketiganya, yakni Liang Ging Tosu segera maju membantu, Sedangkan yang dua, Liang Gwat Tosu dan Liang Hun Tosu, maju menyerang Sin Wan dengan tongkat mereka yang berat dan kuat.
Pertempuran makin ramai ketika beberapa orang pahlawan yang memiliki kepandaian tinggi juga mengurung mereka.
Tapi pedang-pedang mustika itu dimainkan oleh Sin Wan dan Giok Ciu demikian hebat sehingga merupakan sepasang naga sedang mengamuk dan membuat jerih mereka yang mengeroyoknya.
Sebentar saja beberapa orang pengeroyok telah roboh dan yang lain-lainnya terdesak.
Sin Wan menggunakan sebagian besar daripada perhatiannya untuk menyerang Suma-Cianbu yang telah berganti pedang sehingga karena beberapa kali hampir saja kapten itu menjadi korban keganasan Pek Liong Pokiam, dan melihat betapa para pembantunya terdesak mundur, Suma-Cianbu lalu meloncat mundur dan lari memasuki pintu gerbang!
"Bangsat jangan lari!"
Sin Wan loncat mengejar, tapi ia dihalang-halangi pengeroyok lain sehingga ia harus merobohkan dua orang dulu baru ia dapat meloncat mengejar.
Karena ia melihat betapa Suma-Cianbu meloncat ke atas genteng, iapun mengayun tubuhnya ke atas dan masih dapat ia melihat bayangan musuhnya itu di atas wuwungan yang tinggi.
Ia segera mengejar tapi kedua Tosu, Liang Gwat Tosu dan Liang Hun Tosu, sudah mengejarnya pula dan menyerangnya dengan tongkat mereka.
Sin Wan memutar pedangnya menangkis lalu setelah melayani mereka beberapa jurus dan mendapat ketika, ia meloncat pula mengejar ke arah bayangan tadi.
Ia mencari-cari dengan matanya dan melihat berkelebatnya bayangan di tempat jauh, di atas sebuah gedung yang jauhnya beberapa belas rumah dari situ.
Ia lalu meloncat lagi dan lari mengejar.
Ia masih sempat melihat betapa Suma-Cianbu yang ketakutan setengah mati itu lari dan meloncat turun dalam pekarang belakang sebuah gedung.
Tapi pada saat itu, Liang Gwat Tosu dan Liang Hun Tosu sudah sampai pula ke situ dan mengirim serangan mereka lagi!
"Pendeta-Pendeta tak tahu diri!
Aku tak ingin membunuhmu, lepaskanlah aku!"
"Bangsat kecil, jangan kau banyak tingkah. Menyerah atau mati."
Maka timbullah marah Sin Wan.
Ia memutar Pokiamnya sedemikian rupa sehingga Pek Liong Pokiam seakan-akan berubah menjadi puluhan dan menyerang ke dua Tosu itu dari segala jurusan.
Tosu-Tosu itu adalah murid Cin Cin Hoatsu tingkat pertama, maka kepandaian silat mereka memang tinggi.
Tapi kini menghadapi Pek Liong Kiam-Sut, mereka tak berdaya.
Mereka masih mencoba untuk memutar-mutar tongkat menangkis, tapi sia-sia, karena pokiam itu telah mendahului mereka dan tiba-tiba Liang Hun Tosu berteriak kesakitan karena lengan tanggannya berikut tongkatnya terbabat putus!
Dengan kaget Liang Gwat Tosu meloncat mundur, dan Sin Wan lalu lari pula ke arah gedung di mana tadi Suma-Cianbu turun.
Liang Gwat Tosu terpaksa hanya bisa menolong Sutenya yang terluka parah.
Sin Wan meloncat turun ke pekarangan gedung besar itu dan ia tiba di taman yang indah.
Ia menengok ke sana ke sini, lari lari ke arah gedung.
Ia mengintai ke dalam dari sebuah jendela, tapi gedung itu sunyi saja.
Setelah mengambil jalan memutar ia mengintai ke jendela lain dan di dalam sebuah kamar ia melihat seorang gadis sedang membaca kitab Tiong Yong, yakni kitab pelajaran Nabi Khong Hu Cu.
Seorang pelayan wanita datang mengantar air teh dan berkata.
"Suma-Siocia, kau rajin sekali sehingga siang malam hanya belajar kitab saja. Apakah Siocia ingin menjadi sasterawan wanita? Ataukah Siocia ingin menjadi gadis suci?"
Pelayan itu menggoda.
Dan gadis itu perdengarkan suara ketawanya yang halus dan merdu.
Tubuhnya yang langsing itu bergoyang-goyang di atas bangku yang didudukinya ketika ia tertawa, lalu terdengar suaranya yang lemah lembut.
"A-bwe, aku adalah seorang wanita terpelajar, kalau tidak membaca kitab yang balik di dalam kamar atau menyulam sulaman yang indah, habis apakah harus pegang pedang main panah?"
A-bwe, pelayan itu tertawa sambil menutup mulutnya dengan ujung lengan baju, lagaknya genit sekali.
"Siocia, apa salahnya kalau kau bermain pedang? Ayahmu seorang pembesar militer yang gagah perkasa."
"Ingat, A-bwe, aku seorang wanita."
"Tapi, Siocia. Bukankah jaman sekarang banyak terdapat wanita-wanita pandai bersilat? Coba saja lihat nyonya tua yang berbaju hijau yang kemarin datang itu, namanya kalau tidak salah Liong-San Toanio, begitulah disebut orang. Ia selalu membawa-bawa pedang dan kabarnya kepandaiannya tidak dibawah Ayahmu sendiri. Bukankah itu hebat dan luar biasa sekali namanya?"
Nona itu menghela napas dan ia memutar tubuhnya perlahan dan menghadap jendela hingga Sin Wan terkejut dan buru-buru bersembunyi, dan mendengar lebih jauh sambil mengagumi wajah gadis yang luar biasa cantiknya itu.
Usia gadis itu paling banyak delapan belas tahun, pakaiannya indah berkembang, tubuhnya tinggi langsing, rambunya hitam panjang dikonde ke belakang dengan manisnya, sedangkan kulit muka yang halus lemas kemerah-merahan itu terhias sepasang mata yang cerdas dan lembut sinarnya, hidung dan mulutnya kecil dan indah bentuknya.
Pendeknya seorang Cian-Kim Siocia yang benar-benar tiada cacad celanya!
Nona itu menghela napas dan berkata.
"A-bwe, biarpun Ayah berpangkat Cianbu dan tiap hari kau melihat orang-orang dari golongan ahli silat, namun sesungguhya aku tidak suka melihat orang-orang yang biasanya hanya bermain dengan senjata tajam untuk membunuh orang lain! Lihatlah betapa permusuhan ditumpuk-tumpuk, orang-orang saling kejar, saling bunuh, dan saling balas sakit hati. Apakah hidup macam demikian itu baik? Ah, aku lebih senang membaca kitab-kitab kuno yang memberi nasehat-nasehat dan petuah tentang hidup yang baik."
"Suma-Siocia, kau memang seorang Ciankim Siocia yang berbudi dan pandai,"
A-bwe memuji.
Sementara itu, kini Sin Wan tidak ragu-ragu lagi bahwa nona cantik di dalam kamar itu adalah puteri musuhnya, anak perempuan dari Suma-Cianbu!
Ia tidak mau mengganggunya, karena yang dibenci dan dicarinya hanya Suma-Cianbu seorang.
Maka ia segera tinggalkan tempat itu dan memeriksa kamar lain.
Tapi Suma-Cianbu tidak tampak bayangannya!
Sin Wan menjadi marah dan timbul gemasnya.
Ia lalu kembali ke atas kamar Suma-Siocia tadi dan cepat meloncat masuk dari jendela!
Suma-Siocia menggunakan saputangan menutup mulutnya yang hendak mengeluarkan jeritan kaget ketika melihat betapa tiba-tiba seorang pemuda yang tampan dan gagah tahu-tahu telah berada di dalam kamarnya!
Kebetulan sekali A-bwe baru saja keluar dari kamar itu karena disuruhnya mengambil benang sulam baru.
"Maaf Siocia. Aku tak hendak mengganggumu, hanya ingin bertanya bukankah Siocia puteri dari Suma-Cianbu?"
Melihat sikap dan kata-kata Sin Wan yang halus, lenyaplah rasa kaget nona itu dan ia mengangguk untuk membenarkan kata-kata Sin Wan.
"Di manakah Ayahmu sekarang, Siocia? Tadi aku melihat ia masuk ke dalam gedung ini, tapi telah lenyap begitu saja. Dimana ia bersembunyi?"
Tiba-tiba Suma-Siocia menjadi berani dan bertanya.
"Ada urusan apakah kau mencari Ayahku?"
"Dia adalah musuh besarku yang harus menebus dosanya!"
Terbelalak sepasang mata yang bening itu mendengar pengakuan ini.
"Apa?? Mengapa begitu? Apakah dosanya terhadapmu?"
Sin Wan kertak gigi ketika menjawab.
"Ayahmu telah membunuh Ibuku dan Kakekku! Hayo katakan, dimana dia?"
"Tidak, tidak! Ayah...!! Kau pergilah... ada orang jahat!!"
Suma-Siocia berteriak-teriak.
Sin Wan cepat maju dan ulurkan tangannya sehingga sekelebat saja Suma-Siocia kenan tertotok dan lemas tak berdaya.
Tiba-tiba timbullah akal pada pikiran Sin Wan.
Musuh besarnya sangat licin dan selain banyak pelindungnya, juga pandai bersembunyi.
Lebih baik kalau ia culik Suma-Siocia saja untuk memancing Suma-Cianbu!
Karena pikiran ini, maka ia berkata kepada gadis itu yang masih dapat mendengarnya walaupun telah menjadi gagu.
"Maaf, Siocia. Kau terpaksa kubawa untuk memancing Ayahmu keluar dari tempat sembunyiannya!"
Pada saat itu A-bwe telah datang dan melihat seorang pemuda berada disitu dan nonanya dalam keadaan lemas dipegang oleh pemuda tampan dan asing itu, segera ia lari keluar kamar dan menjerit-jerit.
Sin Wan tidak buang waktu lagi, segera ia pondong tubuh Suma-Siocia dan meloncat keluar dari jendela, terus saja ia melayang ke atas genteng.
"Bangsat penculik jangan lari!"
Terdengar teriakan orang dan beberapa orang pengawal meloncat naik mengejar. Tapi Sin Wan kecewa sekali karena di antara lima orang pengawal yang mengejarnya itu tidak tampak Suma-Cianbu sendiri.
"Kalian minggirlah dari sini! Aku tidak butuh jiwamu. Suruh bangsat Suma-Cianbu itu keluar sendir!"
Sin Wan berseru marah dan gemas, tapi kelima pahlawan itu segera mengurungnya dan menyerangnya.
Sin Wan hanya berkelit karena ia tiada nafsu untuk melayani orang-orang ini.
Ia segera menggunakan ginkangnya dan sekali loncat saja ia telah keluar dari kepungan itu sambil pondong tubuh Suma-Siocia!
Kemudian ia berlari-lari cepat di atas genteng.
Lima orang pengawal itu mengejarnya, tapi sebentar saja Sin Wan telah lenyap jauh di depan.
Sin Wan kembali ke tempat di mana tadi Giok Ciu dikeroyok, yakni dipintu gerbang kota.
Tapi alangkah terkejutnya ketika ia tidak melihat orang berkelahi di tempat itu lagi.
Apakah Giok ciu telah berhasil memukul mundur semua musuhnya dan menyusulnya?
Tapi kenapa ia tidak bertemu dengan gadis itu?
Atau barangkali Giok Ciu telah kembali lebih dulu di Kelenteng.
memikir demikian, Sin Wan lalu cepat lari menuju ke Kelenteng dimana ia dan Giok Ciu tinggal.
Tapi kembali ia kecewa karena di tempat inipun gadis itu belum pulang!
Dua orang Nikouw tua dari Kwan-Im-Bio heran sekali melihat Sin Wan memondong seorang gadis cantik yang setengah pingsan.
"Bun Taihiap, kalau kau hendak melanggar kesopanan dan melakukan kejahatan, maka terpaksa kami mengusir kau dari sini!"
Nikouw itu berkata dengan sikap keren, karena mereka menyangka keliru pada Sin Wan yang membawa seorang gadis dalam keadaan demikian.
Sin Wan segera lepaskan totokan Suma-Siocia yang segera menjatuhkan diri berlutut di depan kedua Nikouw itu sambil menangis sedih.
"Jangan khawatir, saya tidak melakukan sesuatu yang jahat. Gadis ini sengaja saya culik untuk memaksa Ayahnya keluar dari tempat persembunyiannya, dan Ayahnya ialah musuh besar saya, pembunuh Ibu dan Kakek! Suma-Siocia, ku harap kau suka tinggal di Kelenteng ini untuk sementara waktu sampai Ayahmu sudah bertemu dengan aku. Aku bukanlah orang rendah yang hendak menyusahkan dan mengganggumu, dan percayalah, aku melakukan ini karena sangat terpaksa. Kalau Ayahmu tidak berlaku curang dan pengecut, mungkin kau dan aku selamanya tak pernah bertemu muka. Agaknya memang telah menjadi nasibmu harus ikut merasakan dosa-dosa Ayahmu!"
Sin Wan lalu meninggalkan gadis itu kepada kedua Nikouw yang terheran-heran sekali mendengar kata-katanya.
Gadis itu hanya menangis sedih dan segera dihibur oleh kedua Nikouw itu dan dibawa kekamar mereka.
Sementara itu, Sin Wan dengan hati sangat gelisah menanti-nanti kembalinya Giok Ciu.
Ia duduk dalam kamarnya, lalu keluar untuk melihat apakah gadis itu telah kembali, kemudian kembali ke kamar dan duduk lagi.
Ia gelisah sekali karena setelah ditunggu sampai sore, belum, juga Giok Ciu kembali!
Setelah hari menjadi gelap dan bintang-bintang malam mulai tampak menghias langit hitam, kegelisahan Sin Wan memuncak dan ia tidak sabar untuk untuk menanti lebih lama.
Giok Ciu pasti terkena bencana, pikirnya dengan hati cemas dan tercampur mendongkol.
Pembalasan dendam belum berhasil, telah ditambah lagi dengan lenyapnya Giok Ciu!
Ia segera meninggalkan Kelenteng setelah berpesan kepada kedua Nikouw agar menjaga Suma-Siocia baik-baik, dan langsung menuju ke dalam kota.
Ia berdiri lama sekali di tempat persembunyian siang tadi, tapi di situ sunyi senyap.
"Kemanakah ia harus mencari jejak Giok Ciu?"
Ia lalu meloncat naik ke atas genteng dan menuju ke gedung Suma-Cianbu dari mana tadi ia menculik Suma-Siocia.
Disitupun sunyi saja, bahkan gedung di bawah itu gelap sama sekali, menunjukkan bahwa pada saat itu tidak ada penghuni.
Tentu bangsat tua she Suma itu telah pergi ke lain tempat, pikirnya gemas.
Apakah betul-betul bangsat itu demikian kejam dan tega terhadap puteri sendiri sehingga tidak hendak menolong?
Apakah ia hendak mengorbankan puterinya untuk keselamatan jiwa sendiri?
Pada saat ia berdiri termenung di atas genteng, tiba-tiba dari arah kiri tampak berkelebat bayangan orang dengan gerakan sangat gesit.
Begitu tiba dekat Sin Wan, bayangan itu bertanya.
"Apakah kau mencari Kwie Lihiap?"
Terkejutlah Sin Wan mendengar ini, dan cepat ia mencabut Pek Liong Pokiam dari pinggangnya dan membentak.
"Bangsat rendah, hayo katakan dimana kalian sembunyian Kwie Giok Ciu!"
Bayangan itu yang ternyata seorang pemuda berwajah tampan dan putih, tersenyum.
"Sebelum aku menjawab, marilah kita main-main sebentar!"
Dan ia lalu mencabut keluar sebatang pedang dan menyerang Sin Wan yang menjadi marah sekali dan menangkis dengan pedangnya. Terdengar bunyi "Trang!!"
Dan bunga api bepercikan ketika kedua pedang itu berardu dengan kerasnya.
Sin Wan terkejut karena ternyata bahwa senjata lawannya juga sebatang pedang pusaka yang kuat dan tajam, juga ketika kedua pedang bertemu.
Ia merasakan betapa telapak tangganya tergetar karena tenaga lawannya tidak lemah!
Sebaliknya pemuda muka putih itu mengeluarkan suara kagum karena ia merasa telapak tangannya perih dan hampir saja pokiam yang dipegangnya terpental!
Mereka lalu saling serang dengan hebatnya.
Setelah bertempur puluhan jurus, tahulah Sin Wan bahwa lawannya adalah seorang ahli pedang Bu-Tong-Pai, tapi yang telah memiliki kepandaian aseli hingga gerakan-gerakannya sangat sempurna dan hebat.
Diam-diam ia mengeluh karena kalau fihak musuhnya mempunyai orang-orang yang seperti ini kepandaiannya, maka makin sukarlahnya untuk membalas dendam.
Memang ilmu pedang Bu-Tong mempunyai keistimewaan dalam membela diri, hingga pedang pemuda muka putih itu diputar sedemikian rupa bagaikan benteng baja yang amat kuat.
Akan tetapi kali ini ia menghadapi Sin Wan, pemuda yang telah meyakinkan Sin-Liong Kiam-Sut yang tiada bandingnya di dunia ini, ditambah pula telah mempelajari Pek Liong Kiam-Sut, maka desakan-desakannya membuat pemuda ahli Bu-Tong-Pai itu repot juga.
Sin Wan mainkan gerakan Sin-Liong Kiam-Sut di bagian yang paling sulit dilawan, yakni Sin-Liong Koan-Jit atau Naga Sakti Menutupi Matahari.
Tubuhnya yang memiliki ginkang tinggi itu berkelebat ke atas dan bawah demikian cepatnya, didahului dengan gerakan pedang yang menyambar-nyambar merupakan sinar putih menyilaukan dan setiap saat mengancam hendak menembus dan membobolkan benteng baja dari pedang pemuda muka putih itu!
Kali ini benar-benar pemuda muka putih itu kewalahan dan hampir saja ia tak dapat bertahan lagi, maka cepat ia berseru.
"Bun Taihiap, tahan dulu!"
Lalu ia meloncat ke belakang berjumpalitan dengan gerak tipu Ular Air Menerjang Ombak. Sin Wan menahan serangannya dan memandang dengan mata tajam dan marah di tahan-tahan.
"Kau mau apa?"
Tanyanya dengan ketus. Heran sekali, pemuda itu agaknya tidak mengambil sikap bermusuhan, sebaliknya bahkan tertawa.
"Bun-Taihiap, sungguh hebat Pek Liong Kiam-Sut yang kau mainkan! Setelah bertempur kurang lebih seratus jurus, aku Gak Bin Tong mengaku kalah! Terima kasih atas pelajaran yang kau berikan tadi."
"Eh, apa artinya kata-katamu semua ini? Jangan kau bermain-main didepanku, aku sedang sibuk!"
Sin Wan menegur gemas. Pemuda muka putih itu segera angkat tangan menjura.
"Maaf, Taihiap, sebetulnya aku tadi hanya ingin mencoba kelihaianmu saja. Aku bukan musuhmu, jika kau tidak percaya, hendak kubuktikan sekarang. Bukankah kau sedang mencari-cari kawanmu yang lenyap?"
"Ya, dimanakah dia? Tahukah kau apa yang telah terjadi dengan Kwie Lihiap?"
"Dia telah tertawan,"
Kata Gak Bin Tong. Terkejutlah Sin Wan mendengar ini.
"Tertawan? Ah, rasanya tak mungkin!"
Gak Bin Tong tersenyum mengejek.
"Memang kau dan kawanmu itu sudah cukup pantas untuk bersikap jumawa, tapi ingatlah, di dunia ini masih banyak sekali orang yang terlebih pandai daripada kita. Kwi Kai Hoatsu kebetulan datang dan apa yang tidak mungkin baginya? Sumoimu itu mudah saja tertawan olehnya."
"Kwi Kai Hoatsu, siapakah itu? Dan bagaimana bisa tertawan olehnya?"
Sin Wan bertanya cepat.
"Kwi Kai Hoatsu adalah jago nomor tiga dari Tibet yang memiliki kepandaian hebat dan tinggi sekali. Juga ia pandai ilmu sihir yang sukar sekali dilawan. Aku melihat sendiri tertawannya kawanmu siang tadi. Beginilah..."
Gak Bin Tong lalu menceritakan apa yang telah dilihatnya siang tadi.
Ketika Sin Wan lari mengejar Suma-Cianbu yang melarikan diri, Giok Ciu memutar Ouw Liong Pokiam di tangannya lebih cepat lagi untuk mencegah orang-orang itu mengejar Sin Wan dan membela Suma-Cianbu.
Memang gadis ini lincah sekali gerakannya dan ketika ia memainkan silat pedang di bagian Ouw Liong Ciong-Thian atau Naga Hitam Terjang Langit, sebentar saja dua orang pengeroyoknya telah roboh mandi darah.
Kemudian ia maju terus menghadapi pengeroyoknya yang tinggal empat orang lagi, yakni Liong-San Kui-Bo si wanita baju hijau, dan ketiga pahlawan lain yang berkepandaian tinggi, termasuk Liang Ging Tosu yang bersenjata tongkat baja.
Biarpun dikeroyok empat, namun Giok Ciu masih berada difihak penyerang dan keempat musuhnya hanya dapat menangkis dan berkelit saja!
Tak lama lagi tentu keempatnya akan dapat dirobohkan oleh gadis yang konsen itu.
Tapi pada saat itu, datanglah seorang Pendeta berjubah merah yang tubuhnya tinggi sekali, matanya lebar bundar dan hidungnya seperti pelatuk burung kakatua.
Tosu ini memegang sebatang tongkat aneh, Karena tongkat itu sebetulnya adalah seekor ular cobra yang telah mati dan dikeringkan, dengan bagian lehernya berkembang mengerikan, sedangkan di punggu Tosu itu terselip sebatang hudtim atau kebutan dengan bulu berwarna hitam.
Tosu ini datang dengan tindakan lebar, dan di sebelahnya terdapat seorang laki-laki yang berpakain serba mewah dan bertopi indah terhias permata.
Laki-laki ini usianya paling banyak empat puluh tahun dan dari topinya ternyata bahwa ia adalah seorang pangeran!
Ia datang sambil naik seekor kuda yang tinggi besar dan berbulu putih.
Biarpun kudanya lari cepat, namun Tosu itu yang tampak berjalan seenaknya, ternyata tidak ketinggalan.
Ini saja membuktikan kelihaian Tosu aneh itu.
Melihat betapa seorang gadis dengan hebatnya mengurung keempat pahlawan Kaisar dengan sinar pedangnya yang berwarna hitam, pangeran itu berkata.
"Gadis cilik manakah yang berani main gila disini?"
Tosu itu lalu tertawa besar dan berkata.
"Kalian mundurlah, biarkan Pinto menangkapnya!"
Setelah berkata begini, Tosu itu meloncat dan tahu-tahu telah menghadang di depan Giok Ciu.
Gadis ini terkejut melihat gerakan orang yang demikian cepat, tapi ia tidak jerih dan memutar pokiamnya dengan gerakan Ouw Liong Ciauw-Hai atau Naga Hitam Lintasi Laut, langsung menyerang dengan tusukan maut ke dada Tosu itu.
Tosu itu cepat-cepat berkelit ke kiri dan berbareng ulur tangan kanannya yang berbulu hitam itu untuk menangkap lengan Giok Ciu yang memegang pedang, tapi siapa sangka, begitu tusukannya dapat dikelit, Giok Ciu teruskan serangannya dengan gerakan Naga Hitam Caplok Ekornya.
Pedangnya lalu berbalik dan menablas tangan Tosu yang hendak mencengkeram lengannya itu!
Tosu itu berseru heran dan terkejut.
Tak disangkanya bahwa kiam-hwat gadis ini sedemikian lihainya hingga kalau tidak ia buru-buru meloncat ke belakang dan menarik kembali lengannya, tentu lengan itu telah terbabat putus!
Diam-diam ia mengeluarkan keringat dingin dan kini ia tahu bahwa gadis ini adalah murid seorang sakti yang tidak boleh dibuat main-main lagi.
Ia lalu memindahkan tongkat ular yang tadinya dipegang di tangan kiri, ke tangan kanan, lalu dengan tongkat aneh itu ia melayani Giok Ciu.
Karena kulit ular cobra yang menjadi tongkat itupun berwarna ke hitam-hitaman, maka kini tampak dua sinar hitam saling serang dengan hebatnya!
Betapapun hebat gerakan dan senjata Tosu itu, namun menghadapi Ouw Liong Pokiam yang dimainkan dengan sedemikian luar biasanya oleh Giok Ciu, Tosu itu tidak dapat berbuat banyak.
Bahkan ia harus berlaku hati-hati sekali, karena kalau tidak, banyak kemungkinan tongkat ular senduk itu akan terbabat putus oleh Ouw Liong Pokiam!
Tosu itu adalah Kwi Kai Hoatsu, seorang paderi di Tibet yang telah diusir pergi oleh kaum Lama karena paderi ini ternyata bukanlah orang suci seperti seharusnya seorang Pendeta, dan dalam tingkat kepandaian, Ia boleh dibilang menduduki tingkat ke tiga di seluruh Tibet.
Ia bukan lain ialah Suheng atau kakak seperguruan dari Cin Cin Hoatsu, ialah Pendeta Tibet yang dulu membunuh Kwie Cu Ek, Ayah Giok Ciu!
Tapi dibandingkan dengan Cin Cin Hoatsu, Kwi Kai Hoatsu lebih lihai.
Sebetulnya dalam hal lweekang atau ginkang, Giok Ciu masih belum dapat menyamai Kwi Kai Hoatsu yang lihai, tapi karena gadis itu memegang sebuah pedang keramat yang sangat ampuh, pula memainkan ilmupedang yang benar-benar menjagoi di seluruh kalangan persilatan pedang, maka untuk beberapa lama Tosu itu tidak berdaya.
Sebaliknya Giok Ciu juga merasa lelah karena lawannya ini benar-benar tangguh.
Setelah mereka bertempur hampir seratus jurus dan belum juga dapat merobohkan gadis itu, Kwi Kai Hoatsu merasa penasaran dan malu sekali.
Ia merasa kehilangan muka di depanpara pahlawan, terutama di depan pangeran yang tadi datang bersama-sama dia dan kini masih menonton di atas kudanya, ia merasa betapa nama besarnya dipermainkan oleh gadis cilik ini.
Karena itu maka ia lalu berseru keras dan tiba-tiba dari mulut ular yang telah menjadi tongkat itu menyambar keluar asap hijau ke arah muka Giok Ciu!
Pada saat itu, Kwi Kai Hoatsu sedang menyerang dengan pukulan ke leher Giok Ciu dan Giok Ciu hanya miringkan kepala berkelit maka ketika tiba-tiba mulut ular itu mengeluarkan uap hijau, ia tak dapat berbuat lain kecuali membuang diri kebelakang.
Tapi terlambat, karena ia telah mencium bau yang amis sekali dan tiba-tiba kepalanya menjadi pening, matanya berkunang-kunang.
Kemudian, dengan pekik nyaring, gadis gagah itu roboh pingsan dengan pedang masih terkepal erat di tangannya!
"Nah, demikianlah, Kwie Lihiap tertawan oleh mereka dan dibawa pergi."
Gak Bin Tong mengakhiri ceritanya kepada Sin Wan.
Sin Wan marah sekali, kedua matanya mengeluarkan cahaya api dan giginya berbunyi.
Kemudian ia dapat menekan perasaan cemasnya, lalu ia menjura kepada Gak Bin Tong.
"Maafkan sikapku yang kasar tadi, saudara. Sebetulnya dengan siapakah aku berhadapan? Dan mengapa kau agaknya membela kami?"
Gan Bin Tong membalas hormatnya.
Baca Juga: Pendekar Bodoh 6
Baca Juga: Pendekar Sadis 9