Eps 2 Pendekar Bego - Can ID
Baca online Pendekar Bego - Can ID
Cersil Pendekar Bego - Can ID.
"Hmmm omong kosong, kenapa aku bisa salah menuduh dirinya ?"
Sangkal sang pemuda.
"Jalan darahnya sudah kau totok, badannya tak mampu berkutik lagi, otomatis dia cuma bisa menengok ke arahku saja"
Ong It Sin lebih terharu lagi setelah mendengar pembelaan dari si nona, dia masih termangu tiba tiba sebutir kerikil menyambit ke atas bahunya, oleh benturan tadi, jalan darahnya yang tertotok segera berjalan lancar kembali.
Begitu merasa dapat bergerak.
dia merangkak bangun dari tanah, lalu serunya.
"Tidak. tidak. sekalipun jalan darah tidak tertotok aku pun .....yaa aku pun akan memperhatikan diri nona, sungguh Aku berbicara sejujurnya, aku tidak berbohong"
Oleh karena dia mendengar gadis tersebut sengaja membelai dirinya, Ong It sin merasa tidak sepantasnya kalau gadis itu sampai berbohong lantaran dia, maka sengaja dia menerangkan keadaannya yang sebenarnya.
Gadis itu tertegun malah diapun berpikir.
"Tolol amat orang ini, manusia segoblok ini tak mungkin bisa berpura-pura, suheng memang telah salah menduga dirinya."
Maka sambil tertawa kembali dia menegur.
"Kenapa kau memperhatikan diriku?"
Baru sepatah kata yang sempat diucapkan ketika anak muda itu tahu tahu maju sambil mendorong gadis tersebut hingga mundur beberapa langkah dari tempat semula.
"Tak usah banyak mulut sumoay, biar aku yang memeriksa bocah keparat ini"
Demikian katanya.
Karena didorong sampai mundur beberapa langkah, gadis itu mencibirkan bibirnya dan membungkam dalam seribu bahasa.
Pada hakekatnya Ong It sin memang tidak menaruh kesan baik terhadap si anak muda, betapa mendongkolnya dia waktu menyaksikan tindakan kasar dari sang pemuda terhadap gadis itu.
Timbul perasaan tidak terimanya, seperti api yang bertemu minyak, amarahnya kontan meluap.
"Eeh ..... apa apaan kamu ini"
Teriaknya dengan mata melotot.
"kalau mau berbicara, bicaralah secara baik baik, kenapa kau main mendorong-dorong segala?"
Ucapan tersebut kedengarannya memang aneh, bukan saja anak muda itu jadi melongo, gadis cantik itu sendiripun ikut tertegun oleh sikap Ong It sin yang luar biasa ini.
Kemudian dengan perasaan, yaa mendongkol yaa geli, pemuda itu menjawab lantang.
"Mau kudorong dia kek. atau ku banting dirinya, apa sangkut pautnya dengan dirimu?"
"Tidak boleh"
Bentak Ong It Sin sambil melompat bangun, gagah nian gayanya, seperti harimau yang siap menerkam mangsanya.
Dengan gampangnya si pemuda maju kemuka dan mencengkeram dada Ong It Sin, lalu diangkatnya keatas, Dengan gelagapan Ong It sin mencoba untuk melawan, tangannya meronta seperti orang sedang menari, kakinya menyepak-nyepak seperti kuda betina sedang birahi, sekalipun dia sudah berusaha dengan segala kemampuan, jangankan melukai lawannya, untuk menyentuh tubuh sianak muda itupun susah.
Dikala pemuda itu maju lima enam langkah, terpaksa Ong It sin terdesak pula lima enam langkah ke belakang.
setelah mundur sampai di depan dinding dia baru berteriak.
"Heeh ... ehhh... salah tak ada jalan mundur lagi bagiku, kenapa kau masih mendorong diriku terus menerus?"
Pemuda itu mendengus, kembali dia mendorong Ong It sin ke belakang sehingga anak muda itu mundur sempoyongan, lalu badannya digoncang goncang pula sehingga kepalanya membentur diatas dinding karang ......."Duukk Duuukk Duukk"
Kepalanya yang menbentur keras diatas dinding menimbulkan suara nyaring.
kontan saja kulit kepalanya berubah menjadi sembab merah lagi bengkak.
saking sakitnya air mata sampai bercucuran membasahi pipi Ong It Sin, untung dia tak sampai borkaok kaok .......
Rupanya pemuda itu tidak puas sampai disitu saja kembali dia hendak mengguncang-guncangkan tubuh lawannya.
untung gadis itu cepat bertindak sambil maju kemuka serunya.
"suko, jangan kau hajar dirinya lagi"
"Hmm Bajingan ini berani kurang ajar kepadaku, apa salahnya kalau kita beri sedikit pelajaran yang setimpal kepadanya?"
"Tapi, bagaimanapun juga dia berbuat demikian kan untuk membelai aku....."
Seru sang nona sambil mencibirkan bibirnya.
"kalau dia kau gebuki lagi, kan sama artinya dengan kau tidak sudi memberi muka kepadaku ?"
Pemuda itu jadi tertegun.
"Eeeh sumoay, buat apa kau ucapkan kata-kata semacam itu? Masa kau hendak membelai dia?"
Tegurnya.
"Aku tidak membelai siapapun, aku hanya ingin memberitahukan kepadamu bahwa ilmu silat yang dimiliki orang ini terlampau rendah sekalipun kau tangkap dia lalu kau gebuki setengah mati, dia juga tak mampu memberikan perlawanan apa-apa, otomatis kau pun tak bisa mempamerkan kehebatanmu itu, lantas apa gunanya?"
Si pemuda tersudut dan tak mampu berkata apa-apa lagi, tapi hawa amarah masih menyelimuti wajahnya, ia mendengus lalu melepaskan cengkeramannya.
Mendingan kalau dia lepas tangan dengan begitu saja, dikala jari-jari tangannya mengendorkan cengkeraman pada tubuh Ong It Sin, secara diam-diam dia kerahkan pula tenaga dalamnya untuk menghajar dada lawan, Ong It sin tak menyangka kalau musuhnya sekeji itu, dia merasa dadanya seperti ditekan oleh tenaga yang maha dahsyat, tubuhnya terjengkang hingga punggungnya menumbuk diatas dinding karang keras keras ......."Bluuuk...."
Saking sakitnya, Ong It sin merasa dadanya sesak sukar untuk bernapas, matanya berkunang kunang dan kepalanya pusing tujuh keliling, tak kuasa lagi ia jatuh terduduk keatas tanah.
Cepat cepat si gadis maju ke depan dan membangunkan Ong It sin dari tanah.
"Kau tidak akan berhasil menangkan suko kau jangan mengacau belo lagi daripada mendatangkan kerugian bagi diri sendiri". demikian katanya Selama hidupnya Ong It sin akan merah padam mukanya bila bertemu dengan gadis cantik, apalagi dengan tampang wajahnya yang jelek serta memuakkan, kebanyakan wanita hanya bermaksud menggoda atau mentertawakan dirinya, belum pernah ada gadis yang begitu baik kepadanya seperti apa yang dialaminya hari ini. Lebih lebih lagi ada gadis yang bersedia berdiri disampingnya dalam jarak sedekat sekarang ini, tak heran kalau Ong It sin rada gelagapan menghadapi gadis cantik yang menghibur serta membimbing bangun dirinya itu...... Pada dasarnya dia memang sudah menaruh kesan baik terhadap gadis itu, maka keadaan demikian ini membuat Ong It sin seakan-akan dalam buaian impian, dia melongo-longo tanpa berbicara. Selang tak lama kemudian, dia baru manggut berulang kali.
"Yaa, yaa.... aku tak akan banyak berbicara lagi"janjinya.
"Sudah dapat berdiri sendiri?"
Kembali si nona bertanya. Setelah ditegur, Ong It sin baru merasa kalau tubuhnya masih berada dalam bimbingan si gadis, paras mukanya berubah semakin merah hingga mirip dengan babi panggang.
"Dapat, dapat"
Sahutnya gelagapan.
"aku bisa berdiri sendiri, aku bisa berdiri sendiri"
Karena sigadis mendengar kalau pemuda tersebut sudah dapat berdiri sendiri, diapun lepas tangan dan mundur dua tiga langkah kebelakang.
Padahal tumbukan terakhir yang diterima Ong It sin barusan cukup berat, bukan saja kepalanya menjadi pusing tujuh keliling, dadanya juga sesak sukar untuk bernapas, sekujur badannya lemas tak bertenaga dan pada hakekatnya dia tak mampu untuk berdiri sendiri Tidak heran kalau badannya menjadi gontai setelah nona itu melepaskan bimbingannya.
baru saja sang nona mundur kebelakang, seluruh tubuhnya roboh keatas tanah keras-keras.
"Blaaang "
Terkapar ditanah, pemuda itu gelengkan kepalanya sambil menyengir kuda. Akhirnya setelah sekian lama berbaring, ia baru menengadah sambil berkata.
"Aku .... aku salah bicara nona, tadinya aku mengira aku bisa berdiri sendiri, tak tahunya ..... memang sialan sepasang kakiku ini, dia tak mau menuruti perintahku, masa aku suruh dia berdiri saja, dia malah roboh .. heeehhh....heeehhh, apa boleh buat, akupun tak mampu berdiri dan ....roboh ke tanah"
Pada mulanya sinona tertegun, tapi menyusul kemudian ia tak bisa menahan rasa gelinya lagi, gadis itu tercekikikan sampai terpingkal-pingkal, nyaris napasnya jadi sesak.
Melihat perkataannya dapat menimbulkan kegembiraan bagi nona itu, Ong It Sin ikut gembira, ia membuka mulutnya lebar-lebar dan tertawa bodoh.
Hanya si anak muda yang berkerut kening, sudah terang ia tak puas dengan keadaan dihadapannya.
Dengan gemas dia maju kemuka, lalu dengan ujung tumitnya menggaet badan Ong It sin kemudian dilontarkan ke atas, disana tangannya sudah bersiap sedia, sekali pelintir tahu-tahu bahunya sudah kena dicengkeram kembali.
"Hei, kamu tak usah berlagak pilon lagi"
Demikian bentaknya.
"hayo jawab sejujurnya, siapa kau?"
"Heeh....heehh... kamu ini kok aneh betul, masa sebelum ku ajukan pertanyaan tersebut kepadamu, kau malah mendahului mengajukan pertanyaan tersebut kepadaku. Kan lucu? Hayo sekarang kau yang musti menjawab lebih dulu, mau apa kalian bersembunyi disekitar lembah Li hu kok?"
"Hmmm ..... Apa maksudmu? Masa kau juga anggota lembah Li hu kok .....?"
Ejek sang pemuda dengan alis mata berkerut.
"Tentu saja, rumahnya memang berada dilembah Li hu kok tepatnya perkampungan keluarga Li, cuma ..... sayang perkampungan keluarga Li sudah ludas dimakan api"
Dengan cepat sang nona ikut maju kedepan, tatkala mendengar kalau perkampungan keluarga Li sudah habis dimakan api, mereka jadi tertegun seperti kaget.
"Aaah Jadi perkampungan keluarga Li sudah ludas termakan api?"
Seru gadis itu tertahan. Dengan rada mendongkol pemuda itu melotot sekejap kearah sumoaynya, kemudian berkata.
"Lebih baik kau tak usah banyak berbicara, segala sesuatunya biar aku sendiri yang mengatasi"
"Tidak boleh yaa tidak boleh, siapa yang kepingin?"
Sahut sang nona jengkel.
Menyaksikan kekasaran pemuda itu, Ong It Sin kembali akan bersilat lidah dengannya, tapi begitu teringat dengan peringatan dari sang nona barusan, ucapan yang sudah hampir meluncur, sebera ditelan kembali ....."Oooh,jadi engkau berdiam di perkampungan keluarga Li"
Kata pemuda itu lagi.
"bagus, bagus sekali, justru kami memang sengaja datang ke mari untuk mencari seorang anggota perkampungan keluarga Li, coba kutanyakan kepadamu, mungkin kau kenal?"
"Siapa yang kau cari, jangan kuatir, dari yang tua sampai yang muda, pokoknya kalau dia adalah anggota perkampungan keluarga Li. aku pasti mengenalinya, coba kau sebutkan saja siapa namanya?"
Ong It sin tak pernah membual apalagi membohongi orang, pada hakekatnya apa yang dia katakan memang benar.
Bayangkan saja, dia begitu ketelol tololan, jadi orang polos lagi jujur, bukan saja orang tua suka menggodanya, bocah berusia tigapun gemar menggangu anak muda ini, ditambah lagi setiap hari kerjanya cuma mondar mandir dalam perkampungan, tak heran kalau setiap anggota perkampungan dikenalinya semua.
Pemuda itu berpikir sebentar, lalu jawabnya.
"Orang yang hendak kami ciri bernama Ong It-sin ,It dari kata "It, ji"
Atau satu dua, sin dari kata sia ciu (baru lama), kau kenal dengan orang itu?"
Ong It sin tertegun dan berdiri terbelalak.
mimpipun dia tak menyangka kalau kedatangan kedua orang itu adalah untuk mencarinya, tapi bukankah dia tidak kenal dengan mereka berdua?
Mau apa mereka datang mencarinya?
Yaa, jika dirinya yang memang dicari, itu berarti tersedia kesempatan yang lebih luas baginya untuk bermesrahan dengan nona itu, tapi kalau bukan dia yang dicari melainkan seseorang yang mempunyai nama dan nama marga yang sama?
Pemuda itu jadi bingung dan tak tahu bagaimana musti menjawab untuk sesaat dia hanya berdiri termangu seperti orang kehilangan ingatan.
Pemuda tersebut menjadi tak sabar karena yang ditunggu-tunggu belum menjawab juga, dia lantas sodok iga orang sambil menegur.
"Hei kenapa kau diam saja?"
Kebetulan Ong It sin jadi orang memang takut geli, karena iganya disodok, ia jadi kegelian dan tertawa terbahak bahak.
"Haaahhh... haaahhh... haaahhh...jangan disodok. jangan disodok. Aku bicara.. Aku bicara"
Sang pemuda itu betul-betul mati kutunya dibikin oleh ketololan orang, dengan perasaan apa boleh buat dia berkata.
"Kalau begitu, cepatlah kau katakan"
"Dalam perkampungan keluarga Li memang terdapat seseorang yang bernama Ong It Sin, cuma kukuatirkan orang itu bukan orang yang sedang kalian cari"
"Sobat dari mana kau bisa tahu kalau Ong It sin yang kau maksudkan bukan orang yang kami cari?"
Tanya sinona tercengang. Ong It sin menyengir kuda.
"Heeehhh .... heeehhh... heeehhh... tak usah kaget yaa nona, sebab akupun bernama Ong It sin, It dari kata situ dua, sin dari kata baru lama.. Coba sekarang, masa orang yang kalian cari adalah aku?"
Baik si anak muda itu matipun sang nona, kedua duanya berseru tertahan setelah mendengar ucapan itu.
"Oooh Jadi kau adalah....."
Cuma kata-kata itu saja yang dapat diucapkan untuk selanjutnya dengan mulut membungkam mereka awasi Ong It sin dari ujung rambut sampan ujung kakinya, seakan-akan mereka tidak percaya kalau orang yang berada dihadapan mereka adalah Ong It sin.
"Eeeh... bagaimana sih kalian ini?"
Teriak Ong It sin kemudian.
"aku inilah Ong It sin yang tulen, cuma ..... yaa siapa tahu kalau orang yang kalian cari memang bukan aku, melainkan orang lain yang kebetulan juga bernama Ong It-sin"
"Kalau begitu, apakah dalam perkampungan keluarga Li masih ada orang lain yang bernama Ong-It sin?"
Tanya pemuda itu selanjutnya.
"Tidak ada Tidak ada Cuma aku si Ong It sia yang tulen doang"
Jawabnya sambil menggeleng.
"Sahabat Ong, boleh aku tahu siapa nama ayah mu?"
Tiba-tiba si nona menyela dari samping.
Ketika nama ayahnya secara tiba tiba disinggung mendadak sepasang mata Ong It Sin jadi merah, rasa sedih melanda seluruh perasaannya, dia menghela napas panjang.
"Aaaai aaaai, lebih baik jangan kita singgung saja, daripada tangisnya meledak-ledak"
"Apakah ayahmu yang telah mati itu bernama Kwang tong tayhiap, Kim to bu koan (golok emas yang tak pernah kalut) ong Tang thian?"
Sambung nona itu lebih jauh. Ong It sin berteriak kaget.
"Heei, nona Darimana kau bisa mengetahui nama mendiang ayahku ?"
Teriaknya. Nona itu tidak menjawab pertanyaan dari Ong It sin, sebaliknya berpaling dan berkata kepada suhengnya.
"Suheng, tak salah bukan, dari ribuan li bersusah payah kita datang kemari ternyata orang yang kita cari-cari tak lain tak bukan adalah Sahabat Ong ini"
"Huuuh .... Tak kusangka kalau keturunan dari Kwang tong ong tayhiap adalah manusia bodoh yang tak ada gunanya seperti ini"
Jengek pemuda tersebut dengan wajah menghina.
"sungguh menggelikan sekali, bersusah payah dari ribuan li jauhnya kita datang kemari, akhirnya perjalanan kita hanya sia sia belaka"
Pada dasarnya Ong It Sin memang tak pernah menganggap dirinya sebagai seorang enghiong hohan, dia tahu betapa bodoh dirinya, jangankan untuk mempelajari ilmu silat tingkat tinggi, gerakan dasar yang paling gampang pun sukar dipahami olehnya.
Karena itu kendatipun dia dicernooh dan dihina habis habisan oleh sipemuda, Ong It sin hanya membungkam diri dengan wajah yang bersemu merah lantaran jengah.
Pemuda itu kembali tertawa dingin tiada hentinya, tiba tiba dia menarik tangan samoaynya sam bil berseru.
"sumoay, mari kita pergi"
"Kita akan pergi ke mana?"
"Tentu saja ke luar perbatasan"
"Suheng, bersusah payah kita menempuh perjalanan sejauh ribuan li datang kemari, tujuannya bukan lain adalah untuk mencari Sahabat Ong, dan kini setelah berjerih payah sekian waktu akhirnya orang itu berhasil kita temukan, kenapa sekarang kita malah akan pergi meninggalkan dirinya sebelum meninggalkan pesan apa apa?"
"Sumoay, masih ingatkah kau dengan pesan suhu sebelum kita pergi?"
Apakah kau sudah melupakannya? "
"Pesan suhu tentu saja tak akan kulupakan, kata suhu, jika keturunan ong tayhiap tidak becus, maka kita harus segera pergi meninggalkan dirinya, sepatah katapun jangan disinggung"
"Dan kini, terbukti sudah kalau bocah keparat ini sama sekali tak ada gunanya"
Kata si pemuda sambil menuding ke arah Ong It Sin.
"kalau kita tidak pulang, lalu apa yang harus kita tunggu lagi?"
Gadis itu memandang sekejap wajah Ong It sin kemudian ujarnya kembali.
"Suko, suhu tidak mengartikan demikian, maksud suhu seandainya watak dan karakter keturunan dari Ong tayhiap tidak baik, maka kita tak boleh mengatakan apa-apa kepadanya "
"Lantas kau anggap wataknya cukup baik?"
Tukas pemuda sebelum sang nona menyelesaikan kata-katanya.
"Yaa, watak sobat Ong memang tidak jelek. dia melulu tak punya kepandaian silat saja"
Selama perdebatan berlangsung, Ong It sin cuma berdiri disamping sambil melongo-ongo, dia tidak tahu apa yang sebenarnya sedang dibicarakan kedua orang itu.
Tapi sewaktu mendengar nora itu memuji-muji dirinya, Ong It sin menjadi sangat gembira, buru buru teriaknya.
"Aaah .... nona memang suka memuji. padahal aku, aku heeehh heeehhh... paling banter yaa cuma begitu saja"
Padahai perdebatan antara muda mudi itu sudah mencapai pada puncaknya, tentu saja tindakan Ong It sin yang menimbrung secara tiba-tiba, apalagi mengucapkan kata kata yang lucu, cukup bikin hati orang menjadi geli.
Hanya sebentar pemuda itu menahan rasa gelinya, dengan cepat paras mukanya telah berubah menjadi serius kembali, katanya.
"Sumoay, suhu berkata persoalan ini luar biasa besarnya, kita tak boleh sekali-kali berbuat keliru, suhupun berpesan agar kau menuruti semua perkataanku kenapa kau melupakan semuanya itu?"
Sang nona segera mencibirkan bibirnya.
"sekalipun urusan ini menyangkut masalah yang luar biasa, tapi benda itu kan sudah merupakan hak milik sobat Ong, kita tidak lebih hanya menyampaikannya belaka. Aku mengatakan dia orangnya baik, tapi kau bersikeras mengatakan orangnya jahat, bagaimana kalau kita membawanya saja menghadap suhu dan biar suhu sendiri yang menentukan apakah dia itu orangnya baik atau jahat, bagaimana?"
"Yaa, sudah, sudahlah ....."akhirnya pemuda itu berseru dengan jengkel.
"siapa yang kesudian melakukan perjalanan bersama-sama seorang bocah busuk seperti dia untuk menempuh jarak sejauh tiga lima ribu li ......"
"Kalau memang begitu, sudah sepantasnya kalau kita sampaikan apa yang harus kita sampaikan kepada sobat Ong ini"
Tampaknya pemuda itu sudah dibuat kehabisan akal oleh adik seperguruannya, setelah melototi kembali Ong It sin beberapa kejap, diapua berkata.
"Bocah busuk. aku rasa engkau juga tak punya rejeki untuk menikmatinya, tapi bagaimanapun juga kita datang dalam rangka melaksanakan perintah suhu, karena itu mau tak mau terpaksa aku harus berbicara sejujurnya dengan dirimu"
Sejak awal sampai akhir Ong It sin cuma melongo-longo saja, dia tak tahu apa yang harus dikatakan, dengan mata terbelalak diamatinya sepasang muda mudi itu, akhirnya diapun berkata. -000-dw-000-
Jilid 4
"EEEH ... EEH ... sebenarnya apa sedang kalian bicarakan? Aku tidak mengerti"
"Sesaat sebelum ayahmu ong tayhiap dicelakai oleh musuh musuh tangguhnya, ia telah mendatangi guru kami dan mohon bantuan dari suhu kami, perlu diketahui guru kami adalah sahabat karib ayahmu, tapi disebabkan pelbagai alasan dan sebab musabab, beliau tak dapat memberikan bantuannya ."
Baru saja sang pemuda barbicara sampai disitu, dengan gusar Ong It sin segera menukas.
"Hmmm"
Ditengah keadaan yang kritis dan berbahaya, bukannya memberi bala bantuan malah berpeluk tangan belaka sahabat karib macam apaan itu?
Huuh .....
Aku rasa suhu kalian tidak lebih cuma seorang siau jin yang tak tahu malu "
Paras muka pemuda itu berubah hebat.
"Kurang ajar"
Teriaknya.
"besar amat nyalimu kau berani mencaci maki aku?"
"Hmmm .... Ayahku mati secara mengerikan ditangan musuh musuhnya, tapi kawanan sahabat telur busuknya semasa hidup, ternyata tak seorangpun yang datang membantu, coba pikirkan sendiri Telur telur busuk semacam itu apa pantas disebut seorang kuncu?"
Makin memaki kata kata yang digunakan Ong It sin semakin tak sedap kedengarannya, paras muka si pemuda berubah hebat, sebentar hijau membesi sebentar lagi pucat pasi seperti mayat, keadaannya mengerikan sekali.
"Sumoay"
Tiba tiba ia berpaling sambil tertawa dingin.
"dengarkan sendiri kata kata dari bajingan tersebut, Hmm Apakah kita harus melanjutkan kata katanya lebih lanjut?"
Si nona hanya menghela napas panjang, dia tidak memberikan komentar apa apa.
Terhadap si nona sebenarnya Ong It sin tidak mempunyai kesan jelek, malah dia amat berterima kasih kepadanya karena nona itu selalu membantu dirinya.
Akan tetapi perasaannya kini sedang sedih, kesal dan jengkel, apalagi dia memang orang yang polos, apa yang dipikir segera diutarakan secara berterus terang.
Karenanya ketika nona itu cuma menghela napas saja tanpa berbicara, tak tahan lagi dia berteriak.
"Hei, kenapa kau menghela napas melulu? Kalau kudengar dari nada pembicaraan kalian, tampak tampaknya, guru kalian adalah sahabat karib ayahku, tapi kenapa dikala ayahku berjumpa musuh tangguh, guru kalian malah .....hmmm, hmm... .aku lihat."
Sebelum kata kata yang lebih tak sedap di utarakan keluar, dengan pelan kemarahan pemuda itu telah membentak.
"Tutup mulut"
Bentakan itu ibaratnya halilintar yang membelah bumi ditengah bari bolong, saking kagetnya Ong It sin sampai melompat ke udara, otomatis ucapan yang sudah siap diutarakan juga ikut tertelan kembali.
Hanya sebentar rasa kaget itu menyelimuti benaknya, selang sesaat kemudian dia melanjutkan kembali kata-katanya, sebab ia merasa bila perkataan tersebut tidak diutarakan, maka kata kata tadi terasa seperti tulang yang mengganjal dalam tenggorokannya .
Sebab itulah sesudah tertegun sesaat, ia berkata lagi.
"Aku rasa kalian memang ... ."
Sebetulnya dia ingin mencaci maki kedua orang itu habis habisan, tentu saja dengan menggunakan perkataan yang paling tak sedap, kebetulan sepasang mata sang nona yang jeli sedang menatap ke arahnya, begitu lembut dan halusnya pandangan tersebut membuat Ong It sin menjadi tak tega.
Maki makian yang telah dipersiapkan segera tertelan kembali, sasudah berhenti sebentar dia hanya berkata.
"Aku rasa kalian memang .... bukan... bukan orang baik baik"
"sumoay, hayo kita pergi saja"
Teriak pemuda itu dengan wajah penuh kegusaran.
"apa gunanya kita banyak berbicara dtngan orang gila seperti dia itu?"
Dengan cepat gadiss itu mengulapkan tangannya.
"Tunggu sebentar, aku masih ada perkataan yang hendak kusampaikan kepadanya lebih dulu"
"sumoay"
Bentak pemuda itu semakin marah.
"suhu memerintahkan kepadamu untuk mendengar kan semua perkataanku dalam menghadapi persoalan apapun, dan kini sudah berulang kali aku suruh kau pergi, tapi kau tetap keras kepala, sebetulnya apa maksudmu?"
Nona itu tertegun.
"suko"
Katanya kemudian.
"dalam rangka melaksanakan perintah suhu, sepanjang perjalanan kita harus menempuh perjalanan dengan hati yang berdebar, baik siang ataupun malam kita harus melanjutkan perjalanan dengan cara yang paling hati-hati, aku ingin bertanya kepadamu, buat apa kita berbuat kesemuanya itu? Dengan susah payah akhirnya kita berhasil menemukan orang yang hendak kita cari, tapi sebelum mengucapkan sesuatu kita lantas mau pergi meninggalkannya, lalu apa artinya jerih payah kita selama ini?"
Ong It sin semakin keheranan setelah mendengar perkataan itu, pikirnya kemudian.
"Kalau maksud kedatangan mereka berdua ke perkampungan keluarga Li adalah untuk mencari aku, toh kedatangan mereka bisa dilakukan secara terang-terangan, kenapa harus dilakukan secara sembunyi sembunyi macam pencuri ayam?"
Sementara itu pemuda tadi sudah berkata lagi.
"Perkataan apa lagi yang dapat kita sampaikan kepada orang tolol seperti dia? Hmm Kalau kita utarakan, bukan Kebaikan yang diperoleh malah jiwanya ikut melayang.... Heeehhhh..... heeehhh....heeehhh.... memangnya kau anggap dia mempunyai harapan untuk membalaskan dendam bagi kematian ayahnya?"
Paras muka Ong It sin yang pada dasarnya sudah memerah, seketika itu juga berubah semakin merah padam hingga mirip kepiting rebus.
Dasar mukanya sudah buruk dan jeleknya macam congor babi, ditambah warna merah padam tersebut maka wajah Ong It sin sekarang ibaratnya babi panggang yang siap dijual diwarung Pada hakekatnya Ong It sin itu orangnya cuma polos dan kelewat jujur, bukan berarti dia itu gobloknya sampai segala urusanpun tidak dipahami.
Dia cukup memahami betapa mengenaskannya nasib ayahnya menjelang saat saat kematian, dikala mara bahaya mengancam tiba, tak seorang sahabatnya yang memberi pertolongan, setelah mati tak seorang sahabatpun yang mengenali dirinya lagi, hanya pamannya seorang yang bersedia memeliharanya dalam perkampungan keluarga Li, itupun dengan syarat dia tak boleh menyinggung soal pembalasan dendam, selain itu dia sendiri juga tidak tahu siapa gerangan musuh-musuh besarnya.
Seandainya dia cerdik atau paling tidak berkepandaian silat, mungkin keadaannya masih ada mendingan, apa mau dikata bukan saja otaknya dogol, ilmu silat juga tidak dimiliki, setiap kali teringat akan dendam sakit hati ayahnya yang tenggelam ke dasar samudra, pemuda itu merasa hatinya perih seperti disayat dengan pisau, kalau boleh dia lebih suka mati daripada hidup menanggung derita.
Untungnya anggota perkampungan keluarga Li hanya tahu kalau dia itu seorang pemuda yang ketolol-tololan, sekalipun masih termasuk keponakan sang cengcu tapi tidak begitu disukai oleh sang cengcu sendiri Tentu saja diapun tak ada yang tahu kalau dibalik ketolol-tololon si anak muda itu, sebenarnya tersimpan suatu duka nestapa yang sangat mengenaskan.
Biar orang lain mencemooh atau menggoda bahkan mempermainkan dirinya, Ong It sin yang polos dan jujur tak pernah memperdulikan.
Dan sekarang, secara tiba tiba pemuda itu menghina dirinya yang dikatakan tak mampu membalas dendam, ucapan itu dirasakan sebagai suatu penghinaan yang amat menyentuh perasaan halusnya, kontan saja air muka Ong It sin berubah menjadi merah membara, sepasang matanya melotot keluar diawasinya pemuda itu tanpa berkedip.
Sudah barang tentu pemuda itu cukup mengetahui bahwa Ong It sin pada hakekatnya berilmu biasa saja, kalau mau, sekali jotos saja dia dapat dirobohkan.
Tapi entah apa sebabnya, ketika ia menjumpai keadaan Ong It sin yang menyeringai sangat mengerikan itu timbul suatu perasaan bergidik dihati kecilnya, tanpa disadari dia sudah mundur selangkah ke belakang.
Keadaan Ong It sin ketika itu memang cukup mengerikan, bukan saja mukanya merah padam seperti api yang menganga, otot hijau diatas keningnya pada menongol keluar semua.
"Darimana kau bisa tahu kalian aku tak mampu membalas dendam?"
Terdengar ia berteriak keras.
"hayo jawab, darimana kau bisa tahu kalau aku tak mampu mambalas dendam? Hmm, bila kuketahui dimana musuh musuhku bersembunyi, kalau aku tahu siapa nama nama mereka, aku bersumpah akan mencarinya sampai ketemu dan akan kubalas sakit hati ini"
Pemuda itu tertawa dingin, dengan nada yang amat menghina dia mengejek lagi.
"Monyet goblok juga berani membual Huuuh tak tahu diri Aku tidak percaya kalau gentong nasi seperti kau juga berani mengadu jiwa dengan orang . Hmm, Cuma kalau kau ingin mengetahuinya, apa salahnya kalau kuberitahukan kepadamu? orang yang membinasakan ayahmu tak lain adalah ..... .."
Belum sempat pemuda itu menyinggung nama pembunuhnya, si nona telah menukas.
"Suko, bagaimana sih kamu ini? Apakah saat ini pun boleh kau ocehkan seenaknya sendiri?"
Seperti baru sadar dari kesilafannya, begitu ditegur oleh sang nona, pemuda itu la mas membungkam dan tidak melanjutkan kembali kata-katanya.
"Perasaan Ong It Sin detik itu penuh diliputi rasa sedih marah, mendongkol dan jengkel, tanpa berpikir panjang dia berteriak lagi.
"Hayo cepat katakan, kalau aku tak berani beradu jiwa setelah kau katakan, aku adalah anjing budukan, aku adalah anak jadah. Tapi kalau kau tidak berani mengatakannya, engkaulah anjing budukan, kaulah si anak jadah"
"Kentut busuk bapakmu"
Teriak pemuda itu sangat murka.
"baik, kalau kau sendiri yang pingin menghantarkan nyawamu, jangan sangkut pautlah dengan diriku. Pembunuh ayahmu berada tak jauh lagi dari tempat ini, kenapa tidak kau datangi orang itu dan hantarkan jiwamu?"
"Suko, kau tak boleh mengatakannya, kau tak boleh mengatakannya"
Jerit si nona lagi. Tapi Ong It sin berteriak pula.
"Siapa orangnya? Kalau kau tidak berkata maka kaulah si telur busuk bau anak jadah ....."
Rupanya si anak muda itu sudah tak dapat menggendalikan perasaan marahnya lagi, tiba-tiba ia ikut berteriak.
"Sumoay, kau tak usah mengurusi aku lagi. Bocah busuk, kalau kau ingin menemukan pembunuh ayahmu, kenapa tidak mendatangi saja bukit Tiong lam san?"
Dengan terjadinya percekcokan tersebut, suasana dalam gua itu berubah menjadi ramai sekali, tapi setelah pemuda tersebut mengutarakan kata-katanya yang terakhir, tiba-tiba saja suasana dalam gua itu berubah menjadi hening, sepi dan tak terdengar sedikit suarapun-Ong It sin merasakan telinganya seperti mendengung keras, matanya menjadi berkunang-kunang dan benaknya terasa menjadi kosong tak ada isinya.
dalam keadaan seperti ini dia tak memikirkan soal yang lain lagi, hanya satu ingatan yang memenuhi seluruh benaknya yakni musuh besarnya berada diatas bukit Tiong lam san, itu berarti musuhnya sudah pasti merupakan anggota perguruan itu.
Ong It sin segera mengambil keputusan, dia harus mendatangi bukit Tiong lam san dan beradu jiwa 0odwo0 Partai Tiong lam adalah suatu partai besar yang kedudukannya seimbang dengan partai siam lim, partai Bu tong dam lain-lainnya, bukan saja perguruan itu sangat tersohor, jago-jago silat yang menghuni diatas bukit tersebut juga tak terhitung banyaknya, terutama pemimpin-pemimpin mereka, boleh dikata ilmunya sudah mencapai tingkat kesampurnaan yang luar biasa.
Padahal Ong It sin itu pemuda apa?
Dia cuma seorang pemuda tak berilmu yang rada ketolol tololan, bila manusia seperti dia mau mencari gara-gara di bukit Thong lam san, maka hal ini tak ubahnya seperti belalang yang ingin menahan pedati.jangankan pemimpin mereka, asal pihak Tiong lam pay mengutus seorang muridnya yang paling tak becuspun sudah cukup untuk mengusirnya turun gunung.
Tapi buat Ong It sin, hal ini tak pernah dia bayangkan, dia cuma tahu bahwa musuh besarnya berada dibukit Tiong lam san, itu berarti dia harus mendatangi perguruan tersebut, menemukan pembunuh ayahnya dan membalas dendam.
Keheningan yang mencekam seluruh gua akhirnya dipecahkan oleh helaan napas nona itu..
"sobat Ong"
Demikian dia berkata.
"sekarang kau telah memahami duduknya persoalan, yaa pada hakekatnya kami mempunyai kesulitan yang tak terutarakan dalam kejadian dimasa itu, kesulitan yang membuat kami tak mampu berkutik itu harus kau maklumi, aaai ... aku... aku kuatir kau belum juga mau mengerti."
Sambil berkata nona itu mengawasi wajah Ong It sin tanpa berkedip.
Sementara itu warna merah yang menghiasi wajah Ong It sin sudah makin luntur, dia hanya berdiri kaku sambil menggigit bibir, apa yang diucapkan nona tersebut boleh dibilang tak terdengar sama sekali olehnya, tentu saja ia lebih-lebih tak dapat memahami kesulitan yang dihadapi guru nona itu di masa lampau.
Karena tiada jawaban, nona itu menghampiri oug It sin dan menepuk bahunya.
"Sahabat Ong"
Kembali dia berkata.
"suhengku cuma mengumbar emosinya saja, kau tak perlu mempercayai perkataannya. Berjanjilah, jangan mencari urusan di bukit Tiong lam"
Tiba tiba Ong It sin menengadah lalu tertawa terbahak-bahak, suaranya mengenaskan sekali.
"Haaahhh... haaahh... haaahhh...jangan mencari urusan di bukit Tiang lam san?"
Dengan gemas si nona melotot sekejip kearah sukonya, lalu gerutunya.
"suko, coba lihat, urusan kau bikin kacau sehingga berubah jadi begini rupa, kalau suhu sampai tahu dan menegur kita, bagaimana kita harus mempertanggung jawabkan diri?^ "Aaaai... perduli amat, pokoknya selesai kita menyampaikan apa yang harus disampaikan, kita pergi saja meninggalkan tempat ini, perduli amat apa yang hendak dia lakukan?"
Nona itu memandang sekejap wajah kakak seperguruannya, kemud ian berkata lagi.
"suko, tak pernah kusangka kalau kau..... ternyata kau tidak menaruh perhatian sama sekali terhadap keselamatan orang lain, tahukah kau bahwa perbuatanmu itu berarti telah mencelakai jiwanya "
Pemuda itu masih berdiri dengan wajah gusar, tapi tampaknya dia memang merasa kalau bersalah.
Karenanya sewaktu di tegur, dia tidak membantah atau memperdulikan sumoaynya, sebaliknya berpaling ke arah lain.
Nona itu kembali menghela napas, sebelum dia mengetahui apa yang harus dilakukan, tiba-tiba terlihat olehnya kalau Ong It sin sudah putar badan dan keluar dari gua dengan langkah lebar.
Cepat Cpat nona itu melompat maju dan menghadang dihadapan Ong It sin, teriaknya.
"Sahabat Ong, kau hendak kemana?"
"Pergi ke bukit Tiong lam untuk beradu jiwa"
Jawab Ong It sin dengan suara lantang.
"sobat Ong, kau tak boleh ke sana, sebab kalau ke situ berarti kau cuma menghantar nyawa saja"
"Aku tahu perkataanmu itu benar, tapi sekalipun harus menghantar nyawa aku juga akan pergi."
Nona itu mengetahui kalau Ong It sin adalah seorang pemuda yang keras kepala, sekalipun di nasehati juga tak ada gunanya, terpaksa ia berkata.
"Dengan susah payah kami mencari dirimu, selain memberitahukan rahasia itu, masih ada suatu benda yang hendak kami berikan juga kepadamu. Nah, suko bawa kemari benda itu"
Masih dalam posisi membelakangi gadis itu, pemuda tersebut melemparkan sebuah benda ke belakang. Dengan cepat gadis itu memungutnya dari atas tanah dan diangsurkan kehadapan Ong It sin.
"Terima dulu benda ini"
Katanya.
Ong It sin coba memperhatikan benda apakah itu, ternyata cuma sebuah lencana yang terbuat dari bambu, lencana itu lebarnya beberapa inci dengan panjang tiga inci, pada permukaannya terukir pemandangan alam yang sangat indah.
"Barang mainan apa ini?"
Seru Ong It sin kemudian dengan mata melotot "apa gunanya benda itu bagiku? Aku tidak membutuhkannya"
"sobat Ong, benda ini penting sekali artinya bagimu"
Gadis itu menerangkan.
"sebelum ayahmu beradu jiwa dengan musuh tangguh, ia telah mendatangi guru kami dan menyerahkan lencana bambu ini agar disimpan oleh suhu. Ayahmu berpesan agar delapan tahun kemudian benda ini baru diserahkan kepadamu. Ayahmu pun berpesan agar kau berangkat ke barat setelah mendapatkan lencana bambu ini, kau harus berkunjung kelembah Cong cu kok (lembah penyimpanan mutiara) di gunung Tay soat san"
Ong It sin tidak tahu dimana letak bukit "Tay-Soat san"
Tersebut, apalagi selat yang disebut Cong cu kok, boleh dibilang mendengar namanya belum pernah.
"Tidak. aku tidak akan kesana"
Serunya kemudian sambil gelengkan kepalanga.
"aku tak akan ke Tay soat san, aku hendak mengunjungi bukit Thong lam san"
"Tapi inilah pesan terakhir dari ong tayhiap. masa kau segan untuk menurutinya?"
Teriak gadis itu sambil mendepak-depakkan kakinya ketanah lantaran jengkel.
"pesan terakhir dari ayahku?"
Ong It sin tertegun.
"baik kalau begitu akan kukunjungi bukit Thong lam san lebih dulu, kemudian baru pergi ke mana? Bukit apa? oya bukit Tay soat san lembah Cong cu kok ...."
Sambil ngerocos terus, dia menerima lencana bambu itu dan tanpa diperiksa lagi segera dimasukkan ke dalam saku.
Dari sikapnya itu, boleh dibilang dia tak menaruh perhatian sama sekali terhadap pesan dari mendiang ayahnya.
Gadis tersebut memandang sekejap wajah Ong It sin lalu berkata kembali.
"Sahabat Ong, aku tak bisa membantu apa-apa lagi demi kepentinganntu, sebab kami harus berangkat ke luarperbatasan, baik baiklah menjaga dirimu"
"Jangan berkata begitu nona"
Buru buru Ong It sin berseru.
"terlalu banyak sudah bantuan yang kau berikan kepadaku. sekalipun sukomu rada kasar dan mau menangnya sendiri, tapi aku tetap berterima kasih kepadanya sebab ia bersedia memberitahukan siapakah musuh besar pembunuh ayahku"
Gadis itu mengeluh dihati, pikirnya.
"Aaaai .... tak kusangka didunia ini masih terdapat orang jujur seperti dia, sayang bila ia berani mendatangi bukit Tiong lam san, sebab lebih banyak bahayanya dari pada untung"
Semakin dipikir ia merasa semakin tak tega, dan hatinya semakin tak tenang, akhirnya dia hanya bisa berdiri termangu.
"sumoay"
Tiba tiba pemuda itu menegur "sudah selesai belum persoalanmu? Kita harus berangkat"
Baru sekarang Ong It sin teringat untuk menanyakan nama orang-orang itu, cepat dia berkata.
"Nona siapa nama mu? siapa pula gurumu?"
"Aku bernama Bwe Yau, suko ku bernama Lau Hui, sedang nama guruku tak bisa dikatakan sebab hal ini merupakan rahasia. Tentunya saudara ong bisa memaklumi bukan?"
Ong It-sin seorang pemuda yang tak pandai menggunakan otaknya untuk berpikir, sudah tentu jalan pikiranya tak dapat mencapai sejauh itu, maka dia gelengkan kembali kepalanya.
"Maklum apa? Aku tidak tahu"
Sahutnya. Bwe Yau seperti hendak mengatakan sesuatu lagi, tapi kakak seperguruannya keburu menarik lengannya dan diajak pergi.
"Hayo berangkat, kita jangan memperdulikan orang goblok itu lagi"
Serunya.
Rupanya si gadis tak berani membantah perintah dari kakak seperguruannya lagi, mereka segera berkelebat dari gua, sekejap kemudian tubuh mereka sudah keluar dari dalam gua.
Kembali Ong It sin berdiri termangu selama sesaat dalam gua itu, lalu baru teringat bahwa dia bisa terdorong masuk ke gua itu hiagga berjumpa dengan Bwe Yau serta suhengnya, tak lain karena didesak oleh angin pukulan akibat bentrokan antara pamannya melawan seorang laki laki setengah umur.
Tapi aneh, kenapa suasana diluar gua begitu hening, tak kedengaran sedikit suarapun?
Siapa yang berhasil memenangkan pertarungan itu?
Dengan pcrasaan gelisah buru buru dia keluar dari gua tersebut dengan langkah lebar, dalam waktu singkat dia sudah berada diluar gua, tapi apa yang tertampak kembali membuat anak muda itu tertegun.
Disana tak ada orang, suasana amat sepi, bukan saja si Dewa perak Li Liong dan laki laki setengah umur tak tampak lagi, malah dua orang lelaki berbaju putih dan perempuan berambut panjangpun tak nampak batang hidungnya lagi.
Tadi perempuan berambut panjang terikat diatas sebuah tiang batu karang yang kuat, tapi sekarang tiang batu itu sudah patah menjadi dua bagian.
Suatu firasat tak enak sempat menyelinap dalam hati kecilnya, meskipun ia belum tahu apa yang telah terjadi disitu, tapi secara lamat lamat ia sudah merasa bahwa keadaan pasti tidak menguntungkan bagi pihaknya.
Maka sesudah termangu sejenak.
dia lantas kabur menuju keluar lembah ........
Baru saja ia diluar lembab, tampak dua orang lari menyongsong kedatangannya, ketika bertemu dengan Ong It sin, mereka lantas berseru.
"Beres, beres, sekarang beres sudah, dengan hadirnya Ong It sin, maka akhirnya ada juga orang yang mengiringi pamannya masuk ke liang lahat". Perkataan itu ibaratnya guntur yang membelah bumi disiang hari belong, Ong It sin tertegun dan untuk sesaat lamanya tak mampu mengucap sepatah katapun, kedua orang itu bukannya dia tak kenal, mereka adalah jago jago lihay dari perkampungannya, dihari hari biasa mereka selalu serius dan jarang bergurau, itu berarti perkataannya sekarangpun bukan cuma gurauan belaka. Lantas .... benarkah pamannya telah tiada? benarkah pamannya telah tewas? 0000d.w0000 ONG IT SIN masih berdiri termangu, kedua orang itu sudah menghampirinya, mereka menekan bahunya seorang sebelah dan berkata.
"Perkampungan sudah terbakar habis, cengcu juga sudah pulang ke alam baka, mereka telah bubar, yang mati telah mati, beberapa orang murid cengcu juga sudah mampus semua, hayo cepat memberi hormat untuk jenasah cengcu, kalau mau menangis dulu, kami harus mengebumikan jenasahnya secepat mungkin"
Sekujur badan Ong It sin gemetar keras, sampai dua baris giginya saling bergemerutukan, dia ingin berbicara tapi tak sepatah katapun yang mampu diutarakan keluar....
Perlu diketahul disini, meskipun kejadian yang berlangsungnya secara tiba-tiba ini menimpa diri seorang yang cerdas dan berotak normal, toh orang itu tetap akan kaget, gugup dan kelabakan, apalagipada dasarnya Ong It sin adalah seorang pemuda yang tidak mempunyai pendirian.
Sambil menghela napas panjang, kedua orang itu mendorong Ong It sin maju ke depan.
Kurang lebih lima kaki kemudian, setelah membelok pada suatu tikungan bukit, tampaklah mayat bergelimpangan diatas tanah, mayat-mayat itu jumlahnya mencapai tiga sampai lima puluhan orang, diatas sebuah batu besar berbaring pula sesosok tubuh.
Meskipun masih jauh, Ong It sin dapat mengenali orang yang berbaring diatas batu itu tak lain adalah pamannya, Ong It sin merasa sepssang kakinya bertambah lemas, seandainya ia tidak dipegang secara paksa oleh kedua orang itu, mungkin sebelum tiba didepan batu besar tubuhnya sudah terjerembab.
Ong It sin mencoba untuk mengerling sekejap sekeliling tempat itu, ia lihat kecuali ke dua orang itu, masih ada empat lima orang lagi yang berada disana, cuma mereka terluka semua.
"Aiii pamanku telah mati .... ? Bagaimana...bagaimana matinya...?"
Dengan gelagapan dia bertanya.
"Sudah, kau tak usah banyak bicara lagi"
Tukas seseorang dengan suara keras.
"hayo cepat berlutut dan menyembah beberapa kali, selesai mengubur jenasah cengcu, kamipun akan meninggalkan tempat ini"
Sambil berpegangan pada sisi batu besar, Ong It sin merangkak bangun, ia lihat paras muka Li Liong masih tetap segar, meskipun perasaan kaget, marah dan ngeri masih jelas tertera di atas wajahnya.
Ketika sakujur badannya diperiksa pula, ternyata juga tidak ditemukan tanda luka barang sedikitpun juga, tanpa terasa Ong It sin menjulurkan, tangannya dan menyentuh lengan pamannya .
Tapi dengan cepat la menemukan kalau tangan itu sudah dingin, jelas ia sudah mati lama.
Ong It sin semakin tertegun.
dia tak dapat membayangkan peristiwa apa yang sebenarnya telah berlangsung disitu dikala ia berada di dalam gua tadi.
Bukankah sebelum tubuhnya terlempar masuk kedalam gua oleh angin pukulan pamannya berdua, jelas terlihat kalau posisi Li Liong berada diatas angin?
Mengapa secara tiba tiba ia berubah menjadi begitu?
"Apa .....
apa gerangan yang sebenarnya terjadi?"
Kembali dia bertanya dengan suara gemetar.
"bagaimana mungkin pamanku bisa mati .....? Katakanlah Katakanlah, apa yang menyebabkan kematian pamanku?"
Tapi pertanyaan itu tak pernah dijawab oleh siapapun, malah seorang diantara jago-jago lihay maju menghampirinya dan menekan pemuda itu ketanah.
"Hayo cepat menyembah, kami tak punya waktu banyak"
Bentaknya Tanpa bisa dikuasai lagi Ong It sin berlutut dan menyembah beberapa kali dihadapan jenasah pamannya.
Sambil menyembah, tiada hentinya dia bertanya siapa yang telah membunuh pamannya?
Jago lihay dari mana lagi yang telah berkunjung ke perkampungan itu?
Tapi tak seorangpun yang menjawab pertanyaannya, malah ketika dia selesai menyembah, seseorang segera mendorong tubuhnya ke belakang hingga terlempar beberapa tombak jauhnya dan jatuh terguling.
Dikala ia dapat merangkak bangun lagi, dua orang telah menggotong jenasah Li Liong dan dimasukkan kedalam liang lahat yang sebelumnya telah dipersiapkan, kemudian dengan sebuah batu cadas yang amat besar, liang itu ditutup, Begitu batu sudah menutup liang kuburan, mereka bersama enam tujuh orang lainnya yang terluka sama sama memberi bormat dimuka kuburannya, tak seorang manusiapun yang berbicara, begitu ucapan selesai, mereka pun menggerakkan tubuh masing-masing dan berlalu dari tempat itu .......
Setelah semua orang berlalu dan disitu tinggal dia seorang diri, Ong It sin baru merangkak bangun dan lari kedepan batu cadas itu.
Ia mencoba untuk mendorong batu tersebut, dia ingin bertemu lagi dengan pamannya, tapi batu itu terlampau berat, yang tak mungkin digeserkan dengan kemampuan yang dimilikinya.
sudah beberapa kali dia mencoba tapi hasilnya tetap nihil, akhirnya dia hanya bisa berdiri didepan batu cadas itu dengan termangu.
Yaa, kejadian tersebut memang diluar dugaan siapapun, pamannya yang sehari sebelumnya masih dielu-elukan, masih disanjung sanjung dan dihormati orang, sekarang telah bersemayam untuk selamanya dibawah tindihan sebilah batu cadas, sedang perkampungan keluarga Li yang begitu termashur, begitu mentereng dan kokoh, kini sudah tinggal puing puing yang berserakan.
Hari semakin kelam, angin berhembus kencang memandang mayat yang menggeletak dimana mana Ong It sin mulai bergidik, bulu romanya pada bangun berdiri Akhirnya dia menghela napas dan bergumam.
"Paman oh paman... bukannya aku tak ingin menemanimu, tapi sekarang aku sudah mengetahui siapakah pembunuh ayahku, mau tak mau aku harus pergi beradu jiwa, maka aku minta agar kau jangan menyalahkan diriku ."
Berita kematian dari pamannya hanya ditanggapi dengan perasaan kaget, tertegun dan tindak tanduk yang kaku, boleh dibilang dia tak tahu apa artinya kesedihan.
Tapi sekarang sesudah dia bergumam sekian lama dihadapan kuburan pamannya, rasa sedih baru timbul dari dasar hatinya, ia tak tahan lagi dan menangis tersedu-sedu.
Begitu tangisannya meledak.
segenap perasaan sedih yang selama ini mencekam perasaannya terlampiaskan keluar, begitu sedihnya dia memeras air mata sehingga entah berapa lama sudah dilewatkan tanpa terasa.
Sudah setengah jam lebih pemuda itu menangis terus, tapi tak kunjung hentinya air mata bercucuran.
"Maknya, apa yang telah terjadi?"
Tiba-tiba dari belakang terdengar seseorang berteriak tersebut.
Waktu itu udara sudah gelap gulita, sekeliling tempat penuh dengan mayat manusia, dikala sedang menangis sedih Ong It sin tidak begitu merasa takut.
Tapi setelah ada orang berbicara secara tiba-tiba dari belakangnya, dia jadi amat terkejut hingga badannya menjadi merinding, cepat-cepat dia palingkan kepalanya.
Sesosok bayangan manusia berdiri dibelakangnya, orang itu cukup dikenal olehnya, sebab dia bukan lain adalah manusia aneh berkepala besar berbadan pendek dan berambut emas itu.
Dengan wajah keheranan manusia aneh itu celingukan kesana kemari, lalu serunya lagi tertahan "Heran Heran Apa yang telah terjadi disini?"
Ong It sin tak bisa menjawab, dia cuma dapat memandang manusia aneh itu dengan mata terbelalak.
karena terus terangnya saja, dia sendiri juga tak tahu apa yang telah terjadi detempat itu.
Selangkah demi selangkah manusia aneh itu maju kedepan, setelah tiba dihadapannya diapun menegur.
"Mana Li cengcu?"
"Dia .....dia sudah mati"
Jawab on it sin tergagap.
"Aaah.... Kalau begitu kedatanganku terlambat, kedatangamku sangat terlambat"
"Yaa, pamanku sudah mati, kau mau datang atau tidak juga tak menjadi soal ........"
Pikiran maupun perasaan Ong It sin ketika itu amat kalut, apa yang dibicarakan juga ngawur dan tidak menentu, dia tak mau tahu bagaimanakah reaksi orang lain sesudah mendengar perkataannya .
Orang aneh berkepala besar mendepakkan kakinya ke tanah sambil menghela napas tak hentinya.
"Pamanmu sudah mati, tentunya para jago yang berkumpul dalam perkampungan ini ikut bubar bukan?"
Katanya lagi.
"Yaa, yang mati sudah mati, yang bubar sudah bubar, bahkan aku ..... aku sendiripun tak dapat menemani pamanku"
"Eng kau hendak kemana?"
Tanya manusia aneh itu keheranan Ong It sin adalah pemuda tanpa pendirian, manusia semacam ini paling jujur dan tak bisa menyimpan rahasia.
Baginya apa yang terpikir dalam hati boleh diberitahukan kepada siapapun, sebab baginya tidak berlaku kata yang bernama "rahasia"
Itu.
"Aku hendak kebukit Tiong lam san, aku hendak membalaskan dendam bagi kematian ayahku"
Demikian katanya.
Begitu mendengar nama "Tiong lam san", siluman aneh berkepala besar melompat ke udara saking kagetnya, dia menjerit keras dan berkaok-kaok .......
Ong It sin tak tahu apa sebabnya dia berbuat demikian, pemuda itu hanya bisa memandangnya dengan mata terbelalak lebar.
"Kau hendak pergi ke Tiong lam san?"
Teriak orang aneh itu lagi.
"Benar, ayahku terbunuh oleh anggota perguruan tersebut, maka aku harus membalas dendam, aku harus beradu jiwa dengan bajingan itu"
"siapa nama ayahmu?"
Ong It sin menghela napas panjang.
"Aaaai ... menyinggung dia orang tua, sebetulnya avahku juga seorang ternama, dia adalah Kwan tong tayhiap. Kim to bu tek (golok emas tanpa tandingan) ong Tang thian"
Orang aneh itu manggut manggut berulang kali.
"Ehmmm Memang terhitung mempunyai nama, tapi belum pantas mendapat predikat "tay hiap", apalagi julukannya "Kim to bu tek"
Itu hahaha ....terlalu menggelikan, kalau dia memang tiada tandingan, kenapa bisa mati ditangan orang lain?"
Ong It sin mendongkol sekali, matanya mendelik besar, terutama setelah mendengar bahwa manusia aneh itu memandang rendah kehebatan ayahnya, meski begitu, diapun merasa kalau perkataan orang ada benarnya juga, itu menyebabkan dia tak dapat membantah.
Kembali manusia aneh barkepala besar berkata lagi.
"Huuh .... Ayahmu yang kau katakan lihay saja sudah mampus dibunuh orang, apalagi kau? Masa kau dapat membalaskan dendam bagi kematiannya . ?"
Ong It sin cuma melotot besar, sekali lagi dia tak mampu menjawab perkataan orang.
"Aku lihat misimu untuk membalas dendam jelas akan gagal, percaya tidak? pasti gagal total"
Manusia aneh itu menandaskan. Tiba-tiba paras muka Ong It sin berubah menjadi merah membara, dia berteriak.
"Omong kosong, sekalipun dendam tak dapat kubalas, aku tetap akan pergi beradu jiwa. Kau tak usah menghalangi niatku, sekali aku bilang pergi, sekalipun harus mati juga pergi Hayo menyingkir, hayo cepat menyingkir dari hadapanku.."
Manusia aneh berkepala besar itu tidak berbicara lagi, dia cuma mencibirkan bibirnya sambil mengejek.
"Baik, akan kulihat kau mengantarkan jiwa kerdilmu Hayo sana, kenapa belum juga berangkat?"
Tanpa banyak berbicara lagi, dia putar badan dan berlalu dari tempat itu.
Ong It sin tidak menggubris pula orang aneh itu, dia meninggalkan tempat tersebut dengan langkah lebar, siang malam berjalan terus tiada hentinya, ketika fajar menyingsing keesokan harinya, dia sudah berada lima enam puluh li dari tempat semula.
Selama hidup belum pernah ia mengunjungi bukit Tiong lam san diapun tak tahu bagaimana caranya untuk mencapai tempat itu, ketika fajar telah menyingsing, dia mulai bertanya tanya kepada orang dan melanjutkan perjalanan kembali.
Beberapa hari kemudian, ia sudah tiba disekitar bukit tersebut, banyak pesiarah yang naik ke atas gunung untuk bersembahyang, maka dia membaurkan diri dengan para peziarah untuk meneruskan perjalanan mendaki bukit.
Kurang lebih sepuluh li dari puncak bukit, muncul banyak gardu batu disepanjang jalan.
Diantara gardu gardu batu ada empat buah diantaranya yang paling besar, gardu itu terbuat dari batu cadas yang berwarna putih salju, bangunannya kokoh dan mentereng.
Diatas gardu-gardu batu masing-masing terukir sebuah huruf besar yang terdiri dari susunan batu, tulisan itu dicat merah darah hingga kelihatan menyolok sekali.
Terbaca dari gardu kiri ke kanan, masing-masing tertera sebuah buruf besar yang berbunyi.
"THIAN".
"PEK".
"CIOK"
Dan "TIAN".
Dalam gardu batu lain banyak yang beristirahat disitu, hanya empat buah gardu besar itu saja yang sepi, kecuali dua orang yang duduk.
hanya seorang laki laki berbaju ringkas yang sedang menjura sambil mengucapkan selamat berpisah, laki-laki bercambang menyoren golok emas dipinggangnya, tubuhnya tinggi kekar, siapapun akan tahu kalau dia adalah seorang jago persilatan.
Sudah sekian lama Ong It sin memperhatikan keempat buah gardu besar itu, tapi ia belum tahu juga apa manfaatnya, dia mulai berpikir.
"semua orang beristirahat disini, kenapa aku juga tidak ikut beristirahat? Yaa, mereka suka berdesak-desak menjadi satu dalam gardu kecil, kenapa aku tidak beristirahat dalam gardu besar saja? orang orang itu memang goblok, ada gardu besar yang sedikit orangnya mereka tak mau yang dipilih justru gardu kecil yang pesuh sesak .... Huuh. dasar bego"
Sesudah mengambil keputusan diapun berjalan menuju ke salah satu gardu, baru saja kakinya melangkah naik, dua orang yang duduk dalam gardu tersebut serentak bangkit berdiri dan memberi hormat kepada anak muda itu.
Ong It sin tertegun, segera pikirnya.
"Aneh, sejak kapan aku kenal dengan kedua orang itu? Kenapa dia menyapaku? Waah Jangan ..jangan salah melihat?"
Dua orang itu kembali diperhatikan secara seksama, mereka telah berusia empat puluh tahunan, dan sudah pasti tak dikenalnya.
Tapi lantaran orang sudah memberi hormat, terpaksa diapun harus membalas hormat.
"Ada urusan apa sobat berkunjung ke bukit Tiong lam san ini?"
Tanya salah seorang diantara dua laki-laki tersebut. Ong It sin melangkah masuk kedalam gardu dan duduk disebuah bangku batu, mendengar pertanyaan itu dia menyahut.
"Aku datang ke bukit Tiong lam san ini untuk mencari orang"
Kedua orang itu saling berpandangan sekejap lalu tertawa.
"Engkau sudah naik ke atas gardu ini, tentu saja datang karena ada urusan dengan partai kami. Kami cuma ingin tahu, siapakah yang hendak kau cari ?"
"ooooh, jadi setelah naik ke atas gardu ini berarti aku datang karena ada urusan dengan partai kalian?"
Seru Ong It sin tertegun.
"tolong tanya kalian dari partai mana? Masa kalian adalah orang orang Tiong lam pay?"
Sekali lagi kedua orang itu saling berpandangan sekejap. kemudian dengan membesi serunya.
"Hmmm .... Rupanya engkau adalah seorang bocah kemarin sore yang baru terjun kedalam dunia persilatan, ketahuilah ke empat gardu batu ini khusus disediakan partai Tiong lam pay untuk menyambut tamu tamunya, jika engkau merasa dirimu bukan orang persilatan, lebih baik tinggalkan tempat ini secepat cepatnya"
Hawa amarah Ong It sin segera berkobar begitu mengetahui bahwa kedua orang tersebut adalah anggota partai Tiong lam, pikirnya.
"oooh,jadi mereka adalah orang Tiong lam pay, yaa, siapa tahu kalau diaatara mereka terdapat pembunuh ayahku?"
Maka dengan mata melotot dia berseru.
"Dari mana kau bisa tahu kalau aku bukan orang persilatan?"
"Kalau memang begitu, mau apa kau datang kemari."
Seru kedua orang hampir berbareng.
"Hei, rupanya telinga kalian memang sedikit congek"
Teriak Ong It-sin cepat.
"kan sudah kuterangkan, aku datang kemari untuk mencari orang"
"siapa yang kau cari?"
Di wajah kedua orang, itu terlintas pula hawa amarah yang berkobar 000dw000 YANG kucari adalah musuh besar pembunuh ayahku, aku tidak tahu siapa namanya, pokoknya ayahku.
mati ditangan orang itu dan orang itu adalah anggota Tiong lam pay kalian"
Pada hakekatnya apa yang diucapkan Ong It sin merupakan perkataan yang sejujurnya, tapi bagi pendengaran orang lain, tak ubahnya ucapan tadi seperti ocehan seorang sinting yang sudah tak waras otaknya.
Dua orang itu segera mendengus dan tidak berbicara apa-apa lagi, malah salah seorang diantaranya segera mengebaskan ujung bajunya kemuka.
Segulung hembusan angin tajam langsung menyambar keluar dan menerjang keatas tubuh Ong It sin Termakan oleh pukulan angin tajam yang sangat kuat, tak bisa ditahan lagi badan Ong It siu terhuyung mundur ke luar, bukan begitu saja, bahkan dia baru berhasil menghentikan gerakan badannya setelah berada dalam semak belukar ditepi jalan sana.
Gelak tertawa keras segera, berkumandang dari sekeliling gardu peristirahatan.
rupanya orang orang yang sedang mengasoh disekitar gardu menjadi geli setelah melihat Ong It sin terlempar kebelakang.
Namun Ong It sin tidak jera, begitu ia berhasil menjaga keseimbangan badannya, dengan cepat dia menerjang kembali ke muka sambil berteriak penuh kemarahan.
"Bangsat keparat dari Tiong lam pay setelah membunuh orang kalian masih berani main kasar? Aku akan beradu jiwa dengan dirimu"
Sambil berkata, dia lari ke arah gardu batu itu dan menerjang masak dengan garangnya.
Akan tetapi, baru saja ia berada tujuh delapan depa dari gardu batu, kembali dua orang yang ada dalam gardu tersebut melancarkan dua buah pukulan dahsyat.
Ong It sin segera merasakan timbulnya kembali selapis tenaga pukulan yang sangat kuat menghadang jalan perginya, sedemikian hebatnya kekuatan tersebuat membuat dia tak mampu maju ke depan walau setengah langkahpun.
Tentu saja Ong It sin tidak menyerah dengan begitu saja, sambil berkaok kaok gusar, dia tetap ngotot untuk menerjang ke muka, kaki tangannya bergerak-gerak seperti orang gila, keadaaanya semakin kocak membuat orang orang disekitar sana bertambah geli dan tertawa berderai derai.
Setengah harian lamanya Ong It sin berbuat sepcrti orang gila, akhirnya sewaktu usahanya untuk menerjang ke depan masih tetap mengalami kegagalan, diapun berteriak keras.
"Hei, kalau berani hayo kita bergebrak saja, apa gunanya menggunakan permainan setan untuk menghadapi aku?"
Serba salah kedua orang itu dibuatnya oleh sikap musuhnya yang tolol, keadaan mereka benar benar mengenaskan sekali, sebab mau tertawa tak bisa mau marahpun tak dapat.
"Pergi"
Bentaknya kemudian berbareng, Tiba-tiba mereka memperbesar tenaga serangannya, seketika itu juga tubuh Ong It sin terlempar ke udara oleh sapuan itu lalu menggelinding kearah luar.
Masih mendingan kalau badannya bergulingan ditanah, saat itu Ong It sin bergulingan ditengah udara, bayangkan saja betapa mengerikannya keadaan tersebut.
Saking kaget dan takutnya, untuk beberapa saat lamanya pemuda itu tak mampu mengucapkan sepatah katapun, pikirnya.
"Celaka Aduh celaka ..... kalau aku sampai terbanting ke tanah, sudah pasti badanku akan remuk jadi perkedel"
Karena takut, tak tahan lagi dia berteriak-teriak seperti babi mau disembelih ditengah udara, keadaannya bertambah kocak.
membuat para penonton yang menyaksikan keadaan tersebut semakin tergelak saking lucu dan gelinya.
Setelah melambung setinggi dua tiga kaki ditengah udara, tubuh Ong It sin mulai meluncur ke bawah, begitu cepatnya daya luncur tersebut membuat anak muda itu merasakan angin tajam menyambar lewat dari sisi telinganya, dunia jadi berpusing dan matanya menjadi berkunang kunang.
Pemuda itu mulai membayangkan bagaimana akibatnya bila dia sampai terbanting ke tanah, niscaya, badannya akan menjadi perkedel makin dipikir hatinya makin ketakutan, diapun berteriak-teriak keras.
"Tolong .... tolong aku bisa mampus kalau terbanting"
Diantara sekian banyak orang yang hadir disekitar gardu, bukannya tiada jago persilatan yang ikut berada disana, seandainya salah seorang saja diantara mereka bersedia menyelamatkan jiwanya, untuk menolong Ong It sin bebas dari bencana bukanlah suatu perbuatan yang sulit ......
Tapi tak seorangpun diantara mereka berani berbuat demikian, sebab begitu sampai ditempat sini Ong It sin telah berkaok kaok dengan mengatakan akan membalas dendam bagi kematian ayahnya.
Bayangkan saja kalau dia tidak memiliki ilmu silat yang tinggi, beranikah pemuda itu berkata demikian?
Kalau toh dia memang memiliki ilmu silat yang lihay, masa tubuhnya akan dib iarkan terbanting ke tanah tanpa berusaha menyelamatkan jiwa sendiri?
Sudah barang tentu mereka tidak menduga kalau Ong It sin pada hakekatnya adalah seorang manusia tolol yang sama sekali tidak memiliki ilmu silat apa apa, dia dapat berkunjung ke Tiong lam san tak lain karena terdorong oleh semangat setelah mengetahui babwa ayahnya mati terbunuh oleh anggota perguruan tersebut.
Bagi si pemuda, dia hanya tahu membalaskan dendam bagi ayahnya tiitik, mengenai soal lain seperti mampukah dia melaksanakan keinginannya itu?
Punyakah kepandaian silat sebagai bekal dari misinya itu?
tak pernah dibayangkan sama sekali.
Kelihatan tubuhnya sudah tinggal dua kaki dari permukaan tanah, makin panik dia menggerakkan tubuhnya makin cepat gerak luncurnya ke bawah, menanti badannya sudah tinggal dua tiga depa dari permukaan tanah orang baru merasa bahwa keadaannya sedikit tidak beres.
Tapi keadaan sudah terlampau mendesak.
untuk menyelamatkan jiwa, orang dalam keadaan sepcrti ini bukankah suatu pekerjaan yang terlalu gampang.
Diam diam mereka jadi kaget bercampur tercengang, mereka mulai menduga duga orang gilakah pemuda itu?
Dalam pada itu dua orang jago Tiong lam pay yang berada dalam gardu juga sedang berseru tertahan, mereka merasa tercengang dan tidak habis mengerti mengapa pemuda itu tidak melakukan perlawanan sama sekali setelah tubuhnya terlempar ke udara, bahkan yang lebih aneh lagi tubuhnya langsung meluncur lurus kebawah seperti orang yang sedang terjun bebas ......
Pada detik-detik terakhir yang mendebarkan itulah, mendadak terjadi suatu perubahan yang berada diluar dugaan Ketika tubuh Ong It sin yang meluncur kebawah tinggal beberapa depa saja dari permukaan tanah dan tampaknya benturan yang segera akan terjadi akan mengakibatkan tulang badan pemuda itu hancur berantakan, tiba-tiba muncul segulung tenaga yang amat besar menggulung lewat dari atas permukaan tanah.
Gulungan tenaga besar itu muncul tepat pada saatnya, dalam waktu singkat kekuatan itu sudah berada tepat dibawah badan Ong It sin.
Dengan tibanya angin pukulan itu, otomatis daya luncur badan Ong It sin yang amat cepat segera tertahan, dari meluncur kini tubuhnya melayang kebawah dengan enteng dan lambat.
Seandainya Ong It sin adalah seorang pemuda yang cekatan, maka ketika badannya tersentuh oleh gulungan tenaga yang amat besar itu dia akan manfaatkan kekuatar tadi untuk melompat turun.
Sayang Ong It sin sudah ketakutan setengah mati sehingga pikirannya menjadi buta, jangankan berpikir sampai ke situ, kekuatan untuk berteriak minta tolongpun sudah tak mampu lagi dilakukan ........
Lantaran itu, ketika secara tiba tiba muncul segulung kekuatan lembek yang menahan badannya, yang mana membuat badannya seperti terjatuh diatas tumpukan kapas yang empuk, Ong It-sin menjadi tertegun dan tak berkutik malah.
Daya luncur badannya ke bawah sudah tertahan oleh kekuatan besar, kini badannya juga tak berkutik, serta merta badannya menjadi terhenti sama sekali ditengah udara, itupun masih selisih beberapa depa dari permukaan tanah.
Baik tangan, kaki maupun badannya sama sekali tidak menyentuh tanah, sedang diantara badan dengan permukaan tanahpun hanya ada lapisan kekuatan besar yang tak bewujud dan tak diketahui oleh siapapun, jadi dengan begitu dalam pandangan orang lain seolah olah pemuda itulah yang secara sengaja telah menghentikan badannya di tengah udara.
Adegan ini luar biasa, dalam waktu singkat semua suara manusia tersirap dari udara, suasana ini begitu hening, begitu sepi, tak kedengaran sedikit suarapun semua orang memandang kearah Ong It sin dengan sinar mata kaget bercampur keheranan Ong It sin masih belum merasa kalau perhatian semua orang tertuju kearahnya, dengan keheranan dan celingukan kesana kemari, lain teriaknya tertahan.
"Wouw . Hening amat tempat ini ."
Yaa, meskipun begitu banyak manusia yang hadir disekitar gardu tersebut, namun suasana menjadi hening, sepi dan tak kedengaran sedikit suarapun .
....
Dengan begitu, yang terdengar sekarang hanya suara dari Ong It sin seorang, setiap manusia yang berada disekitarnya dapat mendengar suara itu dengan jelas.
Tiba tiba Ong It sin merasakan sesuatu yang aneh, dan merasa badannya sedang berbaring disuatu tempat yang lembek.
jelas bukan berbaring di atas permukaan tanah, ini membuat pemuda tersebut lantas berpaling dengan perasaan ingin tahu.
Tapi begitu diketahui kalau badannya masih "melayang"
Ditengah udara, dan selisihnya dengan permukaan tanah masih ada beberapa depa, jantungnya nyaris berhenti berdetak saking terperanjatnya, dia menjerit sejadinya.
Karena dia menjerit sambil meronta.
daya tanah yang menyangga badannya menjadi berlipat lipat kali lebih besar.
Seketika itu juga Ong It sin merasakan munculnya suatu daya kekuatan yang sangat besar mendorong badannya keatas, badan yang pada dasarnya memang melayang diudara itu segera melambung tiga empat depa lebih keatas.
Dengan terjadinya peristiwa ini, bukan saja Ong It sin sendiri menjadi terkejut, seluruh penonton yang hadir disekitar sana juga ikut menjadi gempar.
sebagaimana diketahui, sebagian besar manusia yang berada dibukit itu adalah para peziarah yang datang ke Tiong lam san untuk bersembahyang, mereka merupakan kelompok rakyat biasa yang belum pernah menyaksikan ilmu "melayang diudara"
Seperti apa yang disaksikan sekarang.
Serta merta mereka semua pada berlutut sambil menyembah-nyembah, malah ada pula yang berteriak dengan menyebut pemuda itu sebagai pou sat hidup, dewa hidup dan lain sebagainya ......
Sementara itu Ong It sin yang terlempar kembali keudara setinggi tiga empat depa, dengan gugup dan gelagapan meronta ke sana kemari untunglah ia berhasil mencapai tanah dengan selamat.
Dengan tibanya pemuda itu diatas tanah, tenaga yang menyangga tubuhnya pun ikut menjadi lenyap tak berbekas.
Kemudian dengan sikap yang ketolol tololan dan celingukan kesana kemari, dan ikut mencari dimanakah dewa hidup yang dimaksudkan orang orang itu berada, tentu saja tak pernah disangka olehnya bahwa dialah yang telah dianggap dewa hidup oleh orang-orang itu.
Suatu demonstrasi kepandaian yang luar biasa, paras muka orang orang Tiong-lam pay yang berada dalam keempat buah gardu kontan berubah hebat.
Mereka semua terhitung jago jago persilatan kelas satu, baik pengetahuan maupun kepandaian silat yang mereka miliki terhitung sangat hebat, sudah tentu mereka tidak akan berpandangan seperti orang-orang lain yang mengangggap pemuda itu sebagai dewa hidup, Tapi kenyataan telah tertera didepan mata, dari ketinggian tiga kaki bukan saja pemuda itu tak sampai terbanting ke tanah, bahkan sebelum mencapai permukaan tanah tubuhnya dapat melambung kembali tinggi ke atas, sejak terjun ke dunia persilatan, belum pernah mereka saksikan ataupun mendengar tentang kepandaian sehebat ini.
Sekarang mereka baru mulai berpikir bahwa Ong It sin, pemuda kebodoh bodohan yang berada dihadapan mereka pada hakekatnya adalah seorang jago persilatan yang berilmu sangat lihai.
Paras muka mereka berubah semakln hebat.
Terutama dua jago yang melemparkan tubuh Ong It sin ke udara tadi, perubahan wajah mereka amat mengenaskan, setelah saling berpandangan sekejap, dua orang itu buru-buru memberi hormat.
"Saudara"
Demiklan katanya.
"kehebatan tenaga dalammu serta kesempurnaan ilmu meringankan tubuh mu sungguh luar biasa sekali, baru kali ini sepasang mata kami benar benar terbuka lebar"
Agaknya dua orang itu tak bisa melukiskan kepandaian apakah yang telah didemonstrasikan Ong It sin tadi, maka mereka berdua hanya bisa mengatakan sebagai tenaga dalam yang hebat dan ilmu meringankan tubuh yang sempurna.
Ong It sin masih berdebar jantungnya setelah kejadian barusan, rasa kaget dan ngeri yang mencekam perasaannya belum hilang, ketika mendengar pujian itu, dia malah menjadi tertegun.
"Tenaga dalam yang hebat, ilmu meringankan tubuh yang sempurna? Kepandaian apa yang telah kugunakan barusan?"
Sambil berkata selangkah demi selangkah dia maju kedepan menghampiri lagi gardu itu.
Padahal apa yang dikatakan pemuda itu sangat jujur, sepotongpun tak ada yang merupakan kata-kata bohong, akan tetapi justru ucapan tersebut dinilai lain oleh orang orang dalam keadaan seperti ini, mereka semakin yakin kalau ilmu silat yang dimiliki Ong It sin benar benar sudah mencapai tingkatan yang tak terhingga.
Suasana menjadi tegang kembali ketika orang-orang dalam gardu menyaksikan Ong It sin menghampiri mereka, dengan cekatan mereka memisahkan diri ke kiri dan ke kanan lalu sepasang telapak tangannya disilangkan didepan dada.
mereka telah bersiap sedia merghadapi segala kemungkinan yang tidak diinginkan.
Ong It sin yang tolol masih belum merasakan betapa seriusnya keadaan waktu itu, dia masih saja menerjang masuk ke dalam gardu dengan langkah lebar.
"Hei, aku ingin bertanya"
Demikian teriaknya.
"sebetulnya antara Tiong lam pay dengan diriku mempunyai dendam apa? Kenapa kalian bunuh ayahku? Hayo sekarang kalian musti membayar kerugian atas tewasnya ayahku ditangan kalian semua"
Orang orang Tiong lam pay menyangka Ong It sin sedang menantang mereka untuk bertempur, karena mengira musuhnya berilmu tinggi, orang-orang tak berani gegabah, serentak enam orang yang berada di gardu-gardu lain ikut memburu ke gelanggang.
Dengan demikian, jumlah mereka menjadi delapan orang.
Dengan kepungan yang ketat mereka melingkari gelanggang dan mengepung Ong It sin di tengahnya, meski demikian, tak seorangpun yang berani turun tangan lebih dahulu.
Sementara itu, seorang laki-laki berusia lima puluh tahunan telah tampil kedepan, lalu katanya dengan wajah serius.
"saudara, sebenarnya siapa yang kau cari dari partai Tiong lam pay kami? Tidak mungkln bukan kalau kami semua anggota Tiong lam pay adalah musuh besar pembunuh ayahmu? Hmmm, Hmmm, aku lihat rupanya kau memang sengaja datang untuk mencari gara-gara"
Ong It sin kembali celingukan kesana kemari seperti oraag kebingungan, sedang dalam hatinya dia berpikir.
"Waah ..... aku tidak tahu siapa nama pembunuh itu, Bwe yau berdua juga tidak menerangkan sampai disitu, mereka cuma bilang pembunuh ayahku adalah orang Tiong lam pay, yaa, gimana sekarang? Apa yang orang itu katakan barusan juga masuk diakal, kalau aku tak bisa menyebutkan namanya. akankah dendam sakit hati ayahku tak dapat dibalas?"
Berpikir sampai disitu, saking cemas dan gelisahnya hampir saja dia menangis. Tapi ingatan lain dengan cepat melintas dalam benaknya, dla berpikir begini.
"orang bilang, ilmu silat yang ayahku lihay sekali, berarti hanya orang yang berilmu tinggi saja yang dapat membinasakan ayahku...,.yaa, benar Pasti jago paling lihay dari Tiong lam pay yang melakukan perbuatan itu"
Dengan mata melotot besar dia lantas bertanya.
"Aku ingintanya, siapakah diantara jago jago dalam Tiong lam pay yang memiliki ilmu silat paling tinggi?"
"Empat jago lihay dari Tiong lam pay sudah termashur dimana mana, tentu saja mereka yang paling hebat"
Jawab orang itu.
"Mereka adalah It lwe sangjin, ketua partai kami, lalu Ho hoa siancu (dewi bunga teratai) Liok Lui, Tui im kiam kek (jago pedang pengejar angin) Gi Hui serta Toa tue (si bungkuk) Go lang"
Ong It sin yang berdaya ingat rendah tak mampu menghapalkan semua nama itu sekaligus, dia berteriak kembali.
"Lantas, siapa kah diantara keempat orang itu yang memiliki ilmu silat paling tinggi?"
"Tentu saji ciangbunjin kami yang mempunyai ilmu silat paling paling tinggi ?"
Ong It sin segera tertawa terbahak bahak.
"Haaahhh... haaahhh... haaahhh... nah, itulah dia"
Serunya.
"orang yang hendak kucari adalah ciangbunjin kalian"
Sekali lagi paras muka kedelapan orang itu berubah hebat, kali ini mereka malah menunjukkan sikap yang kurang sabar.
"Jadi kau hendak bertemu dengan ciangbunjin kami It lwe sangjin?"
Tanya orang itu.
"Betul"
Ong It sin mengangguk.
"aku hendak bertemu dengannya untuk membalaskan dendam bagi kematian ayahku, hayo cepat bawa aku untuk menjumpainya"
Perlu diterangkan disini bahwasanya kedelapan orang itu terhitung jago yang sangat lihay lantaran mereka adalah murid murid kesayangan dari ke empat tokoh paling sakti dari Tiong lam pay.
Dan keempat orang tokoh yang menjadi guru mereka merupakan jago jago yang sudah top dalam dunia persilatan, mereka sudah lama tak pernah mengembara atau munculkan diri dihadapan umum.
Maka ketika delapan orang jago yang termashur pula namanya dalam dunia persilatan mendengar bahwa Ong It sin hendak bertemu dengan ketuanya, serta merta mereka mengalihkan perhatiannya ke wajah pemuda itu ......
Dalam pandangan mereka, Ong It sin pada hakekatnya adalah seorang pemuda yang tolol dan tak punya kemampuan apa apa, mereka sangat meragukan kemampuan lawannya dalam soal ilmu silat.
Tapi prasangkanya terpaksa harus dihapus dari dalam benaknya dengan begitu saja, karena dengan mata kepala sendiri mereka menyaksikan bagaimana Ong It sin menahan tubuhnya yang sedang meluncur ke bawah setelah terlempar ke udara, untuk kemudian melejit kembali ke angkasa dengan gerakan yang indah.
Mereka percaya kalau musuhnya tidak memiliki tenaga dalam yang sempurna serta ilmu meringankan tubuh yang sempurna, tak mungkin dan bisa mendemonstrasikan kehebatan tersebut.
Atas pertimbangan alasan, meski beberapa kali mereka hendak turun tangan, niat tersebut dengan cepat ditekan kembali secara paksa ......."Baik"
Kata orang itu kemudian dengan suara dalam.
"jika engkau hendak bertemu dengan ciangbunjin kami, mari ikutilah kami berdua". Sehabis berkata, bersama seorang lelaki jangkung dan berkelebat keluar dari gardu dan melayang hampir tiga kaki jauhnya dari tempat semula ......."Berhenti"
Cepat cepat oag It sin membentak nyaring. Karena dibentak, kedua orang itu segera menghentikan gerakan tubuhnya sambil berpaling.
"Bukankah saudara hendak bertemu dengan ciangbunjin kami?"
Katanya berbareng.
"kenapa tidak ikuti kami berdua?"
Ong It sin segera mendengus dingin.
"Hmmm ... Jika engkau memang bermaksud untuk mengajak aku menemui ketua kalian, kenapa begitu cepat kalian berlarian? Yaa, kalau kalian berjalan begitu cepat aku pasti tak bisa menyusul, oooh atau mungkin kamu berdua hendak mempersiapkan siasat busuk untuk mencelakai ?"
Bahwasanya Ong It sin itu goblok bisa terlihat dari gerak-gerik maupun caranya berbicara, tapi justru sekarang dia pura pura berlagak pintar, dan menyangka rencana busuk lawannya berhasil dibongkar olehnya, maka sehabis berkata, dengan bangganya dia melangkah keluar dari dalam gardu dengan tindakan lebar.
Dua orang jago Thong lam pay itu cuma bisa melongo, sikap maupun tindakan dari Ong It sin telah membuat mereka menangis tak bisa tertawapun sungkan.
Dalam sangkaan mereka, ilmu silat yang dimiliki Ong It sinjauh diatas kemampuan mereka, dan perbuatannya tersebut adalah suatu kesengajaan untuk mempermainkan mereka, maka dua orang jago itu tak berani banyak berbicara lagi.
"Jika saudara merasa perjalanan kami terlampau cepat, baiklah, maka kita berjalan pelan pelan saja "
Demikian katanya .
Dengan langkah yang lebih lambat tapi tetap gagah, kedua orang itu meneruskan langkahnya menuju keatas bukit.
Ong It sin kuatir kedua orang itu menggunakan siasat lagi untuk menjebaknya, cepat cepat dia mengikuti di belakangnya.
Selama berada dalam perkampungan keluarga Li, dia memang sudah terbiasa melakukan perjalanan gunung yang sukar dan banyak naik turunnya.
tapi sekarang setelah harus melakukan perjalanan dengan cepat, tak urung terengah-engah juga napasnya, dengan demikian terlihatlah dengan jelas bahwa pemuda itu sebetulnya tidak memiliki kepandaian apa-apa .......
Setelah berjalan sejauh dua li melalui jalanan yang lebar, tiba-tiba kedua orang itu berbelok memasuki sebuah jalan kecil yang kedua belah sisinya penuh dengan pepohonan besar.
Jalan kecil itu lebarnya cuma tiga empat depa dan paling banter hanya bisa dilewati oleh dua orang yang berjalan bersanding.
Dimulut lorong kecil itu terpancang sebuah tugu batu besar.
diatas tugu batu itu tertera beberapa huruf yang berbunyi demikian.
"Dengan ilmu silat mencari kawan, dengan kebajikan mengatur dunia". Ditinjau dari arti tulisannya, dapat diketabui bahwa selewatnya jalan kecil itu merupakan daerah terlarang partai Tiong lam, bila para peziarah biasa yang membaca tulisan itu, tentu saja mereka akan segera mengundurkan diri. Demikianlah, setelah Ong It sin masuk kedalam jalan kecil mengikuti dua orang jaga tersebut, suasana menjadi sepi dan hening, kecUali kicaUan burung dan hembusan angin, hampir tak kedengaran sedikit suarapun ..... Beberapa li kemudian, sampailah mereka disebuah tanah lapang yang sangat luas, diatas tanah lapang terdapat empat buah lonceng tembaga yang amat besar, keempat lonceng itu masing-masing digantung diatas sebuah pohon, dua orang jago duduk dibawah setiap pohon. Ketika Ong It sin bertiga tiba ditanah lapang, serentak delapan orang yang duduk dibawah pohon bangkit berdiri Dua orang yang mengiringi kedatangan Ong It sin tersebut, segera berseru dengan lantang.
"Ada tamu dari jauh yang sengaja datang untuk menjumpai ciangbunjin, harap saudara bersedia membunyikan lonceng untuk memberitahukan kepada dia orang tua atas kedatangannya "
Dua diantara delapan orang maju kedepan, lalu mengamati sekejap wajah Ong It sin, setelah itu katanya.
"sudah lama ciangbunjin tidak menerima tamu, ada urusan apa saudara kemari? Harap diutarakan saja agar diselesaikan ditempat ini juga...."
Dari nada perkataan tersebut, sudah terang mereka tak pandang sebelah matapun terhadap Ong It sin, mereka anggap kedatangan sipemuda paling-paling juga hendak memohon sesuatu dari Tiong lam pay.
maka dalam anggapan mereka, kalau cuma permintaan saja maka merekapun dapat memberi keputusan.
Betapa gusarnya Ong It sin mendengar perkataannya, segera bentaknya.
"Ngaco belo siapa yang memohon sesuatu? Aku datang untuk membalaskan dendam bagi kematian ayahku, Pokoknya aku tak mau urusanku diselesaikan disini, aku harus bertemu sendiri dengan ketua kalian Baiklah,jika kau merasa keberatan untuk membunyikan lonceng, biar aku yang membunyikan sendiri"
Sambil mengomel tangannya menuding kesana kemari seperti orang edan, malah badannya ikut menerjang kemuka.
Pada saat itulah, empat buah lonceng besar yang tergantung diatas pohon berbunyi dengan sendirinya.
"Taang ... Taaang... Taaang... Taaang"
Sedemikian keras dan nyaringnya suara dentingan itu membuat telinga menjadi sakit bukan Ong It sin saja yang kaget, malah semua orang yang hadir disitu ikut terperanjat.
Sudah barang tentu Ong It in tidak akan bisa menjawab bila ditanyai kenapa lonceng itu bisa berbunyi dengan sendirinya, tapi kecuali dia, orang lain mengira berbunyinya loceng lonceng itu adalah hasil perbuatan dari Ong It sin.
Mereka menyangka ketika Ong It sin menggerakkan tangannya untuk menuding kesana kemari tadi secara diam diam ia telah mengerahkan hawa murninya untuk membunyikan ke empat buah lonceng tersebut, maka empat buah lonceng itu dapat berbunyi sendiri Empat buah lonceng mempunyai bobot yang berbeda, dengan bobot yang tak sama serta merta menghasilkan pula suara yang tak sama, karena itu dari bunyi suara lonceng yang bergema dibawah bukit, orang yang ada di atas gunung akan mengetahui siapakah yang dicari oleh pendatang tersebut.
-000dw000-
Jilid 5 KENDATIPUN demikian, diantara ke empat buah lonceng, yang paling entengpun mencapai bobot tiga ratus tujuh puluh kati, bila seseorang tidak memiliki tenaga dalam yang sempurna, tak mungkin lonceng itu bisa dibunyikan tanpa menggunakan alat pemukul.
Tapi sekarang, Lonceng itu dapat berbunyi sedemikian nyaringnya, jauh lebih nyaring daripada dipukul dengan alat pemukul, kontan saja beberapa orang jago Tiong lam pay itu merasa terperanjat mereka tak berani lagi memandang enteng Ong It sin.
Dengan air muka berubah hebat mereka berkata.
"Kalau toh kau sudah membunyikan sendiri lonceng tersebut, baiklah hayo ikut kami, empat jago dari Tiong lam pasti akan menyambut kedatanganmu"
Ong It sin tertegun.
"Empat jago dari Tiong lam akan menyambut kedatanganku?"
Pikirnya keheranan.
Pemuda itu tak menyangka kalau bunyi lonceng itu menandakan salah satu dari ke empat jago lihay tersebut, dan sekarang empat buah lonceng berbunyi berbareng, tentu saja ke empat orang jago dari Tiong lam pay itu akan menyambut bersama.
sesudah termenung beberapa saat anak muda itu berpikir kembali.
"Walaupun It lwe sangjin terhitung jago paling lihay dalam Tiong lam pay, belum tentu dia adalah pembunuh ayahku, memang lebih baik kalau ke empat orang itu menemui aku bersama, sebab toh salah seorang diantara mereka berempat adalah musuh besarku"
Pemuda ini terlalu polos pikirannya, dia tidak memikirkan bahwa Tiong lam pay bisa mempunyai sejarah selama puluhun tahun dalam dunia persilatan tentu, saja kepandaian yang mereka miliki cukup tangguh.
"Itu lebih bagus lagi jika mereka mau muncul bersama"
Serunya kegirangan malah.
Dengan demikian maka dari dua orang yang membawa jalan, sekarang berubah menjadi sepuluh orang yang mengiringi si pemuda, Ong It sin mengikuti sendirian di belakang.
Tak lama kemudian mereka sudah tiba didepan sebuah bukit, sebuah jalan bukit membujur jauh ke atas, dari atas bukit itulah kedengaran suara manusia yang bersahut sahutan.
Diantara suara suara yang terdengar, ada yang bernada tinggi, ada yang bernada rendah, ada yang bernada tajam dan ada pula yang bernada berat dan penuh bertenaga.
Ucapannya sama semua yakni.
"Bila kedatangan saudara tak bisa disambut dari jauh, harap sudi dimaafkan"
Ucapan itu datang dari atas bukit dan mendengung keempat penjuru, untuk sesaat Ong It sin merasa telinganya mendengung keras, hampir saja kemampuan untuk berdiripun tak ada, apa lagi untuk membalas ucapan tersebut.
Perkataan itu dipancarkan oleh empat orang jago Tiong lam pay, waktu itu mereka masih berada dipunggung bukit, jadi masih jauh sekali jaraknya dari tempat Ong It sin berada sekarang.
Ketika empat buah lonceng berbunyi berbareng tadi, empat orang jago tersebut mengira ada jago persilatan yang sangat lihay telah berkunjung ke bukit mereka, maka begitu muncul, mereka lantas mengirim beberapa patah katanya dengan hawa sakti Than gi cin khi.
Dalam anggapan mereka, bila perkataan tersebut sudah diutarakan, maka baik kawan atau lawan yang datang, mereka pasti akan memberi jawaban, dan dari jawaban itulah mereka ingin mengetahui lebih dahulu siapa gerangan yang telah datang.
Sayang mereka harus menghadapi Ong It sin yang tolol.
jangankan memberi jawaban, sewaktu menangkap ucapan yang dipancarkan dengan hawa murni Thian gi cin khi saja ia sudah hampir tertelungkup.
Semisalnya pemuda itu masih sanggup untuk memberi jawaban, walau tenggorokannya sampai pecah, suaranya belum tentu bisa mencapai ke punggung bukit, apa lagi mencapai pendengaran ke empat orang jago lihay tersebut ......
Karena itu ketika empat jago Tiong lam pay yang menunggu jawaban belum juga mendengar sesuatu mereka mulai keheranan, tak tahu siapa yang telah datang, merekapun tidak mengerti apa sebabnya orang itu tidak bersuara.
Bukan keempat jago lihay itu saja yang tercengang, sepuluh orang yang mengiringi Ong It sin naik gunung juga tertegun oleb sikap tamunya, mereka saling berpandangan sekejap dengan perasaan tanda tanya, kejadian itu benar benar diluar dugaan siapapun.
Ketika mereka mencoba untuk berpaling ke belakang terlihat Ong It sin masih mengikuti dibelakang mereka dengan tenang.
Lama kemudian mereka sudah tiba diujung dari undak undak batu setelah melewati sebuah batu besar, didepan mata, terbentanglah sebuah tanah lapang yang luas.
Diatas tanah datar hanya terdapat tujuh delapan batang pohon siong tua dibawah pohon siong yang penuh berakar besar itu terdapat batu batu persegi yang merupakan bangku alam.
Setibanya diatas tanah datar itu, Ong It sin segera melibat ada empat orang duduk dibawah pohon siong Itu.
Serentak ke sepuluh orang yang mengiringi Ong It sin memberi hormat kepada empat orang tadi, setelah itu mereka mundur ke belakang dan berdiri disamping dengan sikap yang amat menghormat.
Dari sikap orang-orang itu, Ong It sin pun lantas menduga bahwa ke empat orang yang berada di hadapannya sekarang tak lain adalah empat jago paling lihay dari Tiong lam pay.
Setelah berdiri tegak.
dengan matanya yang jeli dia memeriksa orang-orang itu, diujung paling kiri adalah seorang kakek berambut putih yang mempunyai perawakan tinggi besar, orangnya gagah seperti malaikat, terutama sepasang matanya yang memancarkan sinar bagaikan sembilu.
Disamping sang kakek adalah seorang perempuan yang berusia lima puluh tahunan, mukanya pucat kekuning-kuningan, tapi keren dan berwibawa, membuat siapapun enggan untuk terlalu lama melihatnya.
Disamping perempuan itu adalah seorang lelaki setengah umur yang berdandan sebagai seorang sastrawan, dia menyoreng pedang dan berjubah amat sederhana.
Akhirnya disamping sastrawan tadi ada seorang lelaki setengah umur yang gemuk pendek.
kepalanya botak dan wajahnya kocak.
membuat siapapun menjadi geli setelah melihat wajahnya.
Setelah berada diatas tanah lapang, Ong It sin mengawasi empat orang lawannya tanpa berkedip.
sebaliknya keempat orang itu juga mengawasi Ong It sin tanpa berkedip.
Empat jago lihay dari Tiong lam pay bukan manusia sembarangan, kalau Ong It sin dapat mengelabuhi jago-jago lain.
Dengan peristiwa yang dia sendiripun tidak memahami, maka tak mungkin baginya untuk mengelabuhi keempat orang jago ini.
Hanya cukup dalam sekali pandangan saja, It-lwe sangjin sekalian sudah tahu kalau ilmu silat yang dimiliki Ong It sin hanya biasa-biasa saja, kalau tidak dikatakan hampir tak ada artinya.
Pada mulanya mereka masih belum percaya, keempat orang itu mengira mereka sudah salah melihat, sebab tak mungkin seseorang yang tak memiliki ilmu silat dapat membunyikan lonceng sekaligus tanpa dihalangi oleh murid-muridnya.
Akan tetapi walaupun mereka berempat sudah memperhatikan sekian lama.
hasilnya toh tetap sama.
Ong It sin sama sekali tak mempunyai dasar silat yang kuat, itu berarti juga bahwa pemuda itu tak mungkin bisa melakukan hal hal yang luar biasa.
Akhirnya dengan perasaan tercengang ke empat orang mengalihkan sinar matanya ke arah sepuluh orang muridnya.
Dewi bunga teratai Liok Lui yang paling berangasan segera menegur dengan suara dingin.
"Apa apaan kalian ini?"
Salah seorang diantara sepuluh jago itu segera menjawab.
"Ji susiok, ilmu silat yang dimiliki sahabat ini lihay sekali, beberapa macam kepandaian yang dia demonstrasikan tak sanggup kami atasi, bahkan tecu sekalian tak tahu namanya, maka ketika dia bersikeras hendak menghadap susiok berempat, terpaksa kami harus menuruti keinginannya"
Liok Lui si Dewi bunga teratai malah tertegun dibuatnya, cepat dia berpikir.
"oh, apa yang terjadi? Kenapa bisa begitu?"
Ong It sin sendiri juga termangu mangu, dia tak menyangka kalau dirinya dianggap lihay oleh orang orang itu. Lama lama sekali, ahkirnya diapun barteriak keras.
"Hei, diantara kalian berempat, siapakah yang merupakan ciangbunjin dari Tiong lam pay?"
"Lohu lah orangnya"
Jawab It lwe sangjin "Kau ......."
Hanya sepotong kata yang sempat meluncur ke luar, cepat pemuda itu membungkam kembali, sebab sulit baginya untuk melanjutkan kata katanya.
Rupanya ketika mengucapkan kata-katanya, tanpa sadar dia telah menatap wajah It lwe sangjin tapi begitu matanya saling membentur sorot mata orang yang tajam seperti pisau, dia menjadi terkejut tanpa sadar badannya terhuyung mundur dan apa yang hendak diucapkan ikut tertelan kembali keperut.
Lima langkah kemudian Ong It sin baru dapat berdiri kembali dengan tegap.
walau begitu mukanya sempat berubah menjadi pucat.
It lwe sangjin segera tertawa katanya.
"saudara, kalau toh engkau sudah tiba disini apa lagi yang harus ditakuti? Hayolah, utarakan apa yang ingin kau katakan?"
Selembar wajah Ong It sin berubah menjadi merah padam dan terasa agak panas, jengah sekali rupanya. setelah menarik napas panjang, dia bertanya.
"Benarkah kau telah membunuh ayahku?"
"Apa maksud dengan perkataan tersebut?"
Tegur It lwe sangjin sambil mengernyitkan alis matanya yang putih.
Menyinggung tentang kematian ayahnya, hawa amarah kembali berkobar didada Ong It sin, nyalinya juga ikut bertambah besar, dengan suara yang jauh lebih keras dia berseru.
"Ayahku telah mati ditangan orang orang Tiong lam pay, maka kali ini aku datang untuk mencari musuh besar serta membalaskan dendam bagi kematian ayahku itu"
Setelah mendengar perkataannya, suara It lwe sangjin malah berubah semakin lembut dan halus.
"Siapakah ayahmu?"
Tanyanya kemudian.
"Ayahku adalah Kwan gwa tayhiap"
Jawab Ong It sin sambil membusungkan dada.
"dia lebih dikenal orang sebagai Kim to bu tek. Golok emas tanpa tandingan ong Tang thian"
Begitu nama tersebut diutarakan, tiba-tiba terdengar dewi bunga teratai Liok Lui membentak keras, suaranya tinggi melengking dan amat menusuk pendengaran.
Ong It sin merasakan telinganya mendengung keras, matanya menjadi berkunang-kunang dan kepalanya menjadi pusing.
Setelah membentak nyaring, Dewi bunga teratai Liok Lui melompat bangun, ujung bajunya segera dikebutkan ke depan ........"Weeess "
Segulung tenaga serangan yang amat dahsyat menyapu tubuh Ong It sin dan membuatnya terlempar ke tengah udara.
Pada hakekatnya Ong It sin masib belum mengetahui apa yang telah menimpa dirinya, tahu tahu dia sudah terlempar ketengah udara dan tampaknya tubuh itu akan terjatuh kedalam jurang "
"Ji moay jangan"
Mendadak It lwe sangjin membentak.
Tubuhnya ikut melayang ke depan dan menerjang ketubuh anak muda itu .....
Hampir pada saat yang bersamaan, Tui im kiam khek (jago pedang pengejar angin) Gi Hui yang berdandan sastrawan ikut melayang pula ketengah udara Sungguh cepat gerakan tubuh dua orang itu, yang satu dari kiri yang lain dari kanan, dalam waktu singkat mereka sudah tiba disisi tubuh Ong It-sin lalu masing masing mencengkeram sebuah lengannya.
Waktu itu tubuh Ong It sin sudah jauh meninggalkan tanah lapang dan sedang melucur ke dalam jurang yang dalamnya ratusan kaki itu, untung It lwe sangjin dan Hui im kiam khek bertindak cepat, sehingga selebar jiwanya dapat diselamatkan dari cengkeraman maut.
Begitu tangan Ong It sin berhasil dicengkeram, mereka segera melemparkan tubuh anak muda itu kearah tanah daratan, setelah itu kedua orang tersebut baru menarik napas dan melambung lima enam depa di udara, kemudian sesudah berjumpalitan, dengan entengnya mereka melayang balik ke atas tanah berbatu itu.
Ong It sin sendiri cuma merasakan tubuhnya digulung oleh sebuah tenaga yang maha besar, menyusul kemudian badannya kena dicengkeram dan dilempar keatas tanah, ketika kakinya dapat menyentuh bumi kembali, mimpipun tak pernah terlintas dalam benaknya bahwa nyawanya baru saja lolos dari pintu neraka.
Buru buru dia celingukan kesana kemari, ditemukan disamping kiri maupun kanannya masing-masing berdiri seorang.
Kedua orang itu bukan lain adalah It lwe Sangjin dan Tui im kiam khek Gi Hui yang baru saja menyelamatkan jiwanya.
Ong It sin, bocah dungu yang tak tahu diri, sekalipun nyawanya sudah diselamatkan, dia masih tidak mengerti, malah dengan suara yang lantang dia berteriak.
"Eeh .. ... sebenarnya siapakah diantara kalian yang telah membinasakan ayahku?"
Dewi bunga teratai Liok Lui yang berangasan segera menjawab.
"Anak jadah cilik, akulah yang membunub ayahmu, kau mau apa?"
Merah membara sepasang mata Ong It sin sesudah mendengar perkataan itu, seperti harimau yang terluka dia membentak.
sepasang kakinya menutul tanah dan langsung menerkam ke depan.
Dewi bunga teratai Liok Lui tak berkutik barang sedikitpun juga, ditunggunya setelah Ong It-sin berada lima enam depa dari hadapannya, dia baru bertindak.
Anak muda itu segera merasakan badannya seperti membentur selapis dinding baja yang sangat kuat,jangankan melukai perempuan itu, untuk menjawil ujung bajunya saja tak mampu.
Ong It sin berkaok kaok makin gusar, dia menerjang semakin nekad, segenap tenaga yang dimilikinya dikerahkan.
Semakin besar dia mendesak ke muka, semakin besar pula tenaga yang menggetar balik badannya, setelah adu otot sekian lama, akhirnya untuk kedua kalinya Ong It sin terpental ke udara.
Untungnya kali ini dia tak sampai terlempar kearah jurang, beberapa kaki dilingkaran tanah lapang badannya meluncur jatuh kembali, dasar pemuda itu berotak kuda, bagitu kakinya menyentuh bumi, sekali lagi dia menubruk perempuan itu.
It lwe sangjin segera bertindak, dia menghalangi gerak maju sang pemuda lalu katanya dengan suara dalam.
"sobat, dibalik kematian Ong tayhiap sebenarnya terkandung banyak liku-liku yang tak mudah dimengerti, sebelum mengetahui duduk persoalan yang sebenarnya, kenapa kau bertindak ngawur seenaknya sendiri"
"Apa ....apa? Mau mungkir? Mau mungkir?"
Teriak Ong It sin semakin kalap.
"Hmm Aku datang untuk mencari musuh besar pembunuh ayahku, dan ... .dan nenek bajingan ini sudah mengakui, apa lagi yang harus kupikirkan? Liku-liku apa lagi yang harus kuperdulikan? "
"Tutup mulut"
Bentak It lwe sangjin.
"kau tak boleh ngaco belo dan bicara tak karuan"
Ong It sin tidak puas, dia ikutan membentak.
"Kamu siapa? Jangan kau anggap setelah membentak bentak lantas aku menjadi takut kepadamu"
"Ngaco belo Kamu harus tahu, dengan kepandaian yang kau miliki sekarang masih belum pantas untuk mencari gara gara disini. Hayo cepat turun gunung, kami tak mau bersitegang dengan dirimu, jika masih juga tak tahu diri Hmm Jangan salahkan kalau kami akan memberi pelajaran yang setimpal untukmu"
Perasaan Ong It sin sekarang yaa gelisah yaa marah, tiba tiba ia menundukkan kepalanya dan menumbuk tubuh It Lwe sangjin "Blaang ....."
Tumbukan itu mengena telak didada It lwe sangjin, tapi bukan badan yang empuk yang diterjang kepala Ong it sin, melainkan sebuah tubuh yang lebih keras diri pada batu cadas Kontan saja pandangan matanya menjadi gelap.
seluruh bumi terasa berputar dan..."Bluk"
Badannya terkapar di tanah tak sadarkan diri..
Entah betapa lama sudah lewat, pelan pelan dia sadar kembali dari pingsannya.
Ketika matanya dapat melihat lagi keadaan disekelilingnya, yang terlihat hanya kegelapan yang mencekam, lamat lamat kepalanya masih terasa sakit sekali.
Dengan cepat dia berusaha menenangkan perasaannya dan mengenang kembali kejadian yang dialaminya sebelumjatuh pingsan........
Akhirnya dia dapat memastikan dimanakah dia berada, yaa, tak salah lagi dia sedang berada di sebuah kereta kuda yang lagi melakukan perjalanan 0000d0w0000 SETELAH yakin bahwa dugaannya tak keliru, pemuda itu melompat bangun dan berteriak keras.
"Hei, berhenti Berhenti siapa yang sedang melarikan kereta ini? Hayo cepat berhenti"
Tidak berteriak saja, kakinya juga mulai menyepak pintu kereta itu serta bersusah untuk menjebolnya.
Langit diluar kereta gelap gulita, rupanya tengah malam sudah tiba, dia berusaha mengamati pula si kusir kereta itu, ternyata dia adalah seorang laki laki yang berperawakan pendek.
sampai serak dia berteriak orang itu tetap tidak ambil perduli.
Akhirnya Ong It sin mendengus.
"Hmm ....Jangan kira tanpa menghentikan kereta, aku lantas tak berani keluar dari kereta ini. Lihat saja, aku berani melompat ke bawah atau tidak? "
Sambil memegangi kepalanya dia bangkit berdiri dan melompat turun dari kereta itu, kemudian sesudah berguling beberapa kali ditanah, kembati dia melompat bangun.
Begitu dia melompat turun dari kereta, begitu pula kereta itu berhenti berlalu.
Sang kusir lantas pusing kepalanya memandang ke arah Ong It sin, melihat tampang orang itu, pemuda kita menjali tertegun.
Ditengab kegelapan, dia menyaksikan selembar wajah yang hijau menyeramkan, tampaknya mengerikan sekali dan yang pasti semenjak keluar dari rahim ibunya, belum pernah dia menjumpai orang seseram itu.
"Wah pasti orang ini adalah anteknya Tiong lam pay"
Demikian dia berpikir.
"pastilah aku sedang diboyong turun dari bukit mereka setelah aku dibikin pingsan oleh manusia yang It lwe Sangjin tersebut ......"
Karena berpendapat demikian, dia lantas menuding orang itu dan memakinya.
"Bajingan, orang orang Tiong lam pay memang keterlaluan, jangan dianggap aku bisa dipermainkan seenaknya, kalau bisa kugigit hidungmu nanti ......."
"Hmm. Siapa yang merupakan orang Tiong-lam pay?"
Tukas orang ketus.
"hayo tak usah banyak cerewet, cepat naik keatas kereta"
"Lhoo ... jadi kamu bukan orang Tiong lam-pay?"
Ong It sin malah tertegun.
"kalau begiitu aku sudah salah memaki dirimu. Lantas siapa kamu? Kenapa membawa aku naik kereta?"
"Aaah, kamu tak usah cerewet terus"
Ong It sin melototkan matanya lalu mencoba untuk memandang sekitar sana, tapi yang tampak hanya kegelapan yang mendekam, dia sendiripun tak tahu berada dimanakah dirinya sekarang dan berapa jauh jaraknya dengan bukit Tiong lam.
Sekarang dia sudah tahu bahwa musuh besar pembunuh ayahnya adalah salah seorang diantara empat tokoh bukit Tiong lam, si dewi bunga teratai Liok Lui, hal semakin membesar niatnya untuk membalas dendam, maka kembali tanyanya.
"Hei, sebetuinya aku ini berada dimana? Masih berapa jauh letaknya dengan bukit Tiong-Lam"? "Aaah, aku toh suruh kau jangan cerewet, siapa suruh kau ngoceh terus?"
Teriak, orang itu tak sabar.
"kalau berani banyak bicara lagi, kutotok jalan darahmu dan kuseret kau keatas kereta Hayo cepat naik"
"Ngaco belo"
Teriak Ong It sin.
"siapa kau.."
Belum sampai habis perkataan itu diucapkan orang itu secara tiba-tiba menerkam datang, lalu tangannya diayun ke depan untuk mencengkeram erat anak muda itu.
Dengan ketakutan cepat cepat Ong It sin menyusutkan badanya ke belakang, kemudian berkelit menyembunyikan diri ke belakang.
Siapa tau orang itu memang lihay sekali, tiba-tiba persendian tulangnya berbunyi gemerutukan yang nyaring, dan tahu tahu seperti terbuat dari karet saja, tangan itu memanjang beberapa inci dari keadaan semula.
Sesungguhnya dalam anggapan Ong It sin asal dia jempalitan ke belakang maka orang itu jangan mimpi bisa membekuknya, siapa yang menduga kalau tangan itu secara tiba tiba bisa mulur makin panjang dari keadaan semula?
Ketika tangan itu mulur lebih panjang, Ong It sin menjadi tertegun dan pada saat ia termangu itulah dadanya menjadi kencang dan tahu tahu dia sudah diangkat ke atas dan seperti burung elang yang menyambar anak ayam, tubuhnya langsung di lempar ke dalam kereta.
"Bluuk ...."
Pantatnya beradu dengan lantai kereta menyebabkan pemuda itu berkaok kaok kesakitan. Tak terlukiskan rasa marah Ong It sin diperlakukan sekasar itu oleh orang lain, kontan saja ia mencaci maki.
"Bajingan dari Tiong lam pay, jangan kau anggap setelah menganiaya diriku lantas kuanggap kalian sebagai jagoan ? Huuh..Jagoan brengsek. muka kadal Hati hati kalian, suatu hari pasti akan kusikat kamu semua sehingga remuk macam perkedel "
"Heeh....heeehhh....heeehhh....merdu benar nyanyianmu "
Ejek orang itu sambil tertawa terkekeh-kekeh.
"ayo maki terus....ayo nyanyi terus, maki sampai tua"
Sekalipun orang itu telah menyangkal bahwa dia bukan orang dari Tiong lam pay, tapi Ong It sin masih belum percaya, maka dia berusaha untuk mencaci maki habis habisan.
Tapi kenyataannya, bukan saja orang itu tidak marah, bahkan malah terkekeh-kekeh kesenangan, Segoblok-goblokan Ong It sin, akhirnya dia menyadari juga kalau orang bukan anggota Tiong lam pay.
Terpaksa ia musti mengerem caci makinya, sesudah termenung sebentar kembali tanyanya.
"Lantas siapakah kau? "Taarr"
Orang itu mengayun cambuknya ke udara, kereta itupun melanjutkan kembali perjalanannya ke depan. Diantara suara derap kaki kuda yang beraturan kedengaran orang itu berkata.
"siapakah aku lebih baik tak usah kau gubris, sebab walaupun kukatakan kepadamu, belum tentu kau akan mengerti."
"Lantas kautemukan aku dimana? sekarang mau bawa aku pergi kemana....?"
"Kau dipukul pingsan oleh tenaga dalam yang dipancarkan it lwe sangjin, ketua dari Tiong lam pay, dan aku yang menarikmu masuk ke dalam kereta ini, sekarang hendak kubawa dirimu untuk menjumpai nenekmu"
Begitu habis ucapan tersebut, kontan saja Ong It sin meras akan sekujur tubuhnya menggigil keras, sebab perkataan mengantarmu menjumpai nenekmu"
Bagi orang persilatan sama artinya dengan mengantar nyawanya pulang kealam baka. Tertegun Ong It sin untuk sesaat lamanya, lalu dengan wajah kaget dan marah teriaknya.
"Hei, aku tak punya dendam apa apa denganmu, akupun tak pernah hutang apa apa kepadamu bahkan klta tak pernah saling mengenal, kenapa nyawaku hendak kau renggut dari tubuh ku?"
"Apa kau bilang"
Teriaknya kemudian. Tapi sejenak kemudian sambil tertawa terbahak-bahak katanya lagi.
"Haaahhh .... haaahhh... haaahhh ... semua orang mengatakan kau bodoh sekali, tampaknya bodoh mu memang sudah kelewat batas, sampai tai kerbau pun dianggap kueh lapis ....haaahhh....haaahh..haaahhh.... sungguh lucu sungguh menyenangkan"
"Bukankah kau sendiri yaug mengatakan hendak mengantarkan menemui nenek . ?"
Seru Ong It sin dengan gelisah.
"kenapa kau katakan pula aku goblok?"
Sekalipun pemuda ini gubloknya tak ketulungan, dia paling pantang mendengar orang memakinya si bego, maka setiap kali ada yang mengejeknya goblok, ia pasti akan bersitegang dengan orang itu, bahkan bila perlu adu ototpun jadilah.
Maka keadaannya pada saat inipun tak jauh berbeda.
Siapa tahu, justru Ong It sin mencak mencak marah, orang itu semakin kegirangan dan gelak tertawanya pun semakin menjadi.
Dengan muka merah karena mendongkol, Ong It sin melompat keluar dari ruang kereta, lalu sambil bertolak pinggang bentaknya.
"Mengapa yang kau tertawakan kunyuk? Bukankah kau sendiri yang berkata demikian". saking gelinya orang itu tertawa, sampai sampai air matapun ikut jatuh bercucuran.
"Benar. Aku memang berkata demikian, aku bilang hendak menghantarmu untuk menjumpai nenekmu, tapi yang kumaksudkan nenekmu adalah nenekmu yang masih hidup, bukan nenekmu yang ada di sorga "
Dengan sinar mata keheranan Ong It-sin mengamati orang itu dari atas kepala sampai ke ujung kakinya, lalu sambil gelengkan kepalanya berulang kali ia bergumam.
"ciss .... anggap saja aku lagi sial tujuh bekas keturunan, sehingga tanpa angin tanpa hujan harus bertemu dergan orang sinting macam kau ..... orang segar dibilang edan, tak punya nenek dibilang punya nenek. kenapa tidak katakan saja kalau aku hendak diajak menjumpai nenekmu ....? sialan "
Rupanya orang itu dibuat naik darah juga oleh perkataan tersebut, kontan saja makinya.
"Tutup mulumu, sampai kapan kau haru berhenti memaki orang? Aku she Li bernama Ji, panggil aku dengan sebutan paman Li Ji siok juga masih pantas, hmmm... tak kusangka kalau kau begitu bernyali untuk mencaci makiku .... anak kunyuk cucu kura kura."
"cucu kura kura"
Adalah makian khas dari orang orang Zunchuan. Ong It sin cukup lama berdiam di wilayah Zuchuan tentu saja diapun memahami kata-kata makian tersebut. Dengan mata melotot besar segera katanya.
"Aku mau bertanya lagi padamu, kenapa kau maki aku tolol? Kenapa kau bilang aku punya nenek? Darimana datangnya nenek itu bagiku? Dan sejak kapan aku punya nenek?"
Orang itu tertawa terbahak bahak.
"Haaahhh ....haaahhh....haaahhh....bagus, anggap saja kau memang tak punya nenek, tapi aku ingin tahu tanpa nenek dari mana datangnya ibumu? Tanpa ibumu darimana pula kau menongol keluar? "
Ong It sin terbelalak lebar, saking tertegunnya sepatah katapun tak sanggup dijawab.
Memang sangat masuk diakal perkataan itu, siapapun di dunia ini pasti mempunyai nenek, tapi sayangnya dihati Ong It sin jangankan kesan tentang neneknya bahkan kesan tentang ibunyapun dia tak punya.
Semenjak ia tahu urusan, ia hanya tahu kalau ibunya sudah lama meninggal.
Dikala ayahnya ketimpa bencana dan tewas orang baru mengantarnya ke Zuchuan, saat itulah dia baru tahu kalau masih mempunyi seorang paman yang tinggal disana.
Kalau dihitung kembali, maka ibunya seharusnya adalah adik perempuin Gin sin (si dewa perak ) Li Liong, diapun berulang kali menanyakan soal ibunya kepada Li Liong, tapi sayangnya setiap kali ia bertanya, Li Liong melototkan matanya sambil marah marah, karena itulah ia tak berani banyak bertanya lagi.
Tak heran kalau ia menjadi tertegun dan berdiri keheranan setelah mendengar perkataan orang itu.
"Hei, goblok jangan melamun terus hayo cepat naik kedalam kereta .....?"
Seru Li Ji kemudian sambil mengayunkan Cambuknya "Goblok ....?
Siapa yang Goblok?
Bukankah nenekku yang kau maksudkan adalah ibu dari pamanku?
bantah Ong It sin cepat meski pelbagai kecurigaan masih menyelimuti benaknya.
"Anak manis... Pintar benar kau ini, anak siapa kamu?"
Goda orang itu sambil tertawa tergelak.
"tak kusangka kalau kau tahu bila nenekmu itu adalah ibunya pamanmu?"
Merah padam selembar wajah Ong It sin karena jengah.
"Hei, tahukah kau kalau pamanku juga sudah mati?"
Katanya tiba tiba. Sejak tadi sampai sekarang Li Ji tergelak terus tiada hentlnya, akan tetapi setelah mendengar perkataan itu paras mukanya mendadak berubah menjadi suram, ia menghela napas panjang.
"Yaa, aku tahu ...."
Sahutnya.
"aku terlambat satu langkah ketika sampai di perkampungan Li keh ceng, seluruh perkampungan itu sudah porak poranda tinggal puing puing yang berserakan, kalau aku tidak bertemu dengan dua orang muridnya Seng hong tianglo, aku masih tidak tahu kalau kau telah mendatangi bukit Tiong lam san untuk menghantar kematian"
Ong It sin mendengarkan perkataan itu dengan pandangan terbodoh bodoh, menunggu Li Ji telah menyelesaikan pekataannya, ia baru berkata dengan nada keheranan.
"Kedua orang muridnya Seng hong Tianglo?"
Sambil berbisik, tanpa terasa dalam benaknya terbayang kembali wajah Lau Hui serta Bwe Yau dua orang bersaudara seperguruan itu.
Bila bayangan Lau Hui melintas dalam sekejap mata, maka raut wajah Bwe Yau dengan sepasang matanya yang jeli, mukanya yang bulat telur serta kecantikan wajahnya yang masih membawa sifat kekanak kanakan itu selalu terbayang didepan matanya, sehingga apa yang diucapkan Li Ji selanjutnya tidak terdengar olehnya..
sampai Li Ji membentak keras, ia baru mendongakkan kepalanya dengan kaget.
"Haah....? Seng hong tianglo ....? Apakah kau maksudkan manusia nomor wahid dari luar perbatasan"
"Kau keliru besar kalau mengatakan dia adalah jago nomor wahid dari luar perbatasan, sebab seng hong Tianglo hanya terhitung manusia nomor dua saja di luar perbatasan"
Buru baru Ong It sin menganggukan kepalanya.
"Yaa, memang Dia memang cuma nomor dua di luar perbatasan, sebab manusia nomor wahid di dunia ini adalah ayahku, Kim toa bu tek si golok emas tanpa tandingan" .
"Haaahhh .... haaahhh ... haaahhh ...... ayahmu? dia cuma bica dianggap sebagai jagoan nomer tiga"
Kata Li Ji sembil tertawa terbahak-bahak.
"Lantas siapa yarg kau anggap sebagai jago nomer wahit di luar perbatasan? "
Tanya Ong It sin kemudian.
"Goblok. Dungu, dari tadi sampai sekarang jadi kau masih belum juga mengerti? Tentu saja manusia nomer wahid di luar perbatasan adalah paman Li Ji siok mu"
Mula-mula Ong It sin agak tertegun, kemudia sambil menengadah ia tertawa terbahak bahak.
Selama masih mengikuti ayahnya diluar perbatasan lalu, entah sudah berapa kali ia mendengar orang menyebut nama besar seng hong tianglo, tapi Li Ji yang berada dihadapannya sekarang, jangan kata dibicarakan orang, disinggung satu kalipun tak pernah, namun ia bersikeras mengatakan bahwa adalah manusia nomer wahid diluar perbatasan, sudah barang tentu pemuda itu kegelian.
Melihat ia ditertawakan, Li Ji membentak keras suaranya nyaring seperti sambaran geledek, menyusul kemudian cambuk kudanya diayun ke depan, cambuk yang semula lemas itu dalam getarannya mendadak berubah menjadi kaku dan tegak seperti sebatang toya.
Digunakannya cambuk yang mengeras itu bagaikan sebatang tombak, tiba-toba ia menusuk sebatang pohon besar didepannya.
"Craaaass"
Cambuk itu menembus batang pohon dan menimbulkan sebuah lubang yang besar sekali.
Terbelalak lebar, sepasang mata Ong It sin, selain kaget dia pun tercengang, sampai-sampai dia lupa untuk mengedipkan matanya.
"Hayo bilang sudah, kau lihat belum kepandaianku ini?"
Teriak Li Ji dengan penasaran. Ong It sin membungkam, dia lupa untuk memberi jawaban. Menyaksikan sikap anak muda, itu kembali Li Ji berkata.
"Coba kau bilang, apakah tenaga dalam yang dimiliki ayahmu semasa hidupnya sudah mencapai taraf sedemikian tinggi?"
Cambuk adalah sebuah benda lunak, akan tetapi Li Ji dapat mempergunakan benda selunak itu untuk menembusi batang pohon dan menciptakan sebuah lubang besar, bila dihilang tenaga dalamnya belum mencapai taraf yang amat sempurna, mustahil ia dapat melakukan perbuatan seperti itu.
Ong It sin masih juga berdiri tertegun ......"Hei, kenapa diam saja?"
Tegur Li Ji.
"Hayo cepat jawab, apakah semasa hidup ayahmu, kepandaian silatnya telah mencapai taraf setinggi ini . ?"
"Tentu saja tidak ...."
Sambut Ong It sin segera . Tapi dengan cepat dia membungkam, kemudian selang sesaat kemudian katanya lagi.
"Kau adalah manusia nomor wahid di luar perbatasan, tentunya kenal bukan dengan ayahku?"
Tiba tiba Li Ji menghela napas panjang.
"Aaaai....bukan kenal saja"
Katanya.
"kita adalah sepasang sahabat karib"
Paras muka Ong It sin berubah menjadi amat tak sedap. katanya kemudian setelah membungkam sejenak.
"Kalau kau memang sahabat karib ayahku, lantas kenapa tidak kau bantu dirinya ketika ayahku dikejar kejar oleh musuh besarnya?"
Li Ji tidak menyangka kalau bocah yang ketolol-tololan itu bisa mengajukan pertanyaan semaCam ini untuk sesaat ia menjadi tertegun dan tak tahu bagaimana harus menjawab.
Ketika Li Ji mendemonstrasikan kelihayan ilmu silatnya dengan menembusi batang pohon memakai cambuk kuda, sesungguhnya Ong It sin merasa kagum sekali atas kelihayannya itu.
Tapi sekarang, setelah ditegur oleh Ong It sin ternyata ia membungkam dalam seribu basa dengan wajah merah padam, sikap memandang hina muncul diatas wajahnya bahkan pemuda itu tertawa dingin.
Selang beberapa saat kemudian, Li Ji dengan wajah yang masih merah pedam berkata dengan gelagapan.
"Waktu itu...waktu itu... aku sedang melakukan perjalanan jauh, ketika aku kembali peristiwa itu sudah berlangsung, yaaa .....apa boleh buat? Aku pun tak bisa berbuat banyak?"
Jangan dilihat Ong It sin itu bodoh orangnya.
padahal dia mengetahui kalau Li Ji sedang berbohong, cuma kebohongan tersebut tak sampai dia umbar-umbarkan.
Agaknya Li Ji tak ingin terlalu banyak membicarakan itu buru-buru katanya lagi.
"Hayo cepat naik kereta, nenekmu memberi batas waktu kepadaku untuk membawamu menjumpainya kalau sampai terlambat dia tentu marah besar "Jadi kalau begitu, ilmu silat yang dimiliki nenekku jauh diatas kepandaianmu sendiri?"
Tanya Ong It sin tercengang.
Li Ji tidak menjawab pertanyaan itu, dia hanya mendesak Ong It sin agar cepat-cepat naik kereta.
Meskipun Ong It sin, orangnya bodoh akan tetapi ketika ia mengetahui bahwa didunia lebar ini masih terdapat seorang sanak yang bisa dijumpai, pemuda itu menjadi amat bernapsu ingin cepat-cepat menjumpainya karena itu dia pun tidak berbicara lagi dan segera naik kedalam kereta .....
Derap kaki kuda berkumandang memecahkan kesunyian, kereta itu melanjutkan kembali perjalanannya dengan lebih cepat lagi.
Sepanjang jalan, Ong It sin tak pernah bertanya kepada Li Ji dimanakah neneknya berdiam, ia pasrah dan membiarkan orang itu mengangkutnya pergi.
Kereta bergerak menuju kearah barat semakin jauh keadaan semakin sunyi dan gersang, yang ditemui hanya batu batu yang berserakan, jangankan manusia, tumbuhanpun tak tampak.
Dua puluh hari kemudian Ong It sin mulai curiga, berulangkali ia bertanya kepada Li Ji dimana kediaman neneknya, tapi Li Ji selalu membungkam seribu bahasa.
Diam diam Ong It sin mengeluh, ia mulai menyadari bahwa kemungkinan besar dirinya sudah tertipu oleh orang itu.
Tapi sesudah dipikir lebih lanjut, ia merasa hal ini tak mungkin, sebab dengan kepandaian silat yang dimiliki Li Ji, apabila ingin mencelakai jiwanya hal ini bisa dilakukan dengan secara mudah, buat apa diboyongrya dia ke tempat sejauh ini?
Karena itu, tak mungkin kalau ia sedang diculik untuk dibunuh.
Suatu senja, ketika kereta mereka sedang lewat disebuah selat sempit, Ong It sin yang berada dalam ruang kereta tiba tiba seperti tidak mendengar suara apapun, suasana begitu hening dan sepi hingga terasa sedikit mengerikan.
Ia mencoba untuk melongok keluar, angin dingin terasa berhembus kencang, bunga salju turun dengan derasnya melapisi permukaan tanah dengan lapisan es berwarna putih, belum sampai setengah jam hujan salju berderai, permukaan sudah dilapisi salju yang tebal.
Bukan saja semua benda telah tertutup oleh salju, bahkan suara roda yang berputar serta derap kaki kuda kedengaran lebih lirih karena diserap oleh salju yang lebat.
Tiba-tiba Li Ji menayunkan cambuknya ke udara ....."Taaar"
Kuda yang sedang lari itupun berhenti secara mendadak.
Menanti kereta itu sudah sama sekali berhenti, suasana di sekeliling mereka menjadi bertambah sepi.
sehingga setitik suara pun tak ada.
Dengan tenang Li Ji duduk diatas keretanya tanpa bergerak barang sedikitpun juga, kalau dilihat dari keadaannya itu seakan akan dia sedang menikmati pemandangan salju yang terbentang di hadapannya.
Tentu saja sikap itu sangat mencengangkan hati Ong It sin, tiba tiba tanyanya.
"Li Ji siok, bukankah kau mengatakan kalau nenekku memberi batas waktu kepadamu? Kenapa kau berhenti secara mendadak?"
Li Ji tetap membungkam tanpa menjawab. Setelah Ong It-sin mengulangi pertanyaannya sampai beberapa kali Li Ji baru menghela napas.
"saudara Tang thian wahai saudara Tang thian ketika kau terbunuh waktunya juga senja seperti ini, salju turun dengan derasnya......"
Ong It sin tertegun, dia tak tahu apa secara tiba-tiba Li Ji memanggil nama ayahnya sambil mengucapkan kata kata semacam itu.
Untuk sesaat lamanya, seolah-olah menyaksikan ayahnya Kim to bu tek (golok emas tanpa tandingan) ong Tang thian dengan menggunakan golok emasnya sedang melangsungkan pertarungan berdarah ditengah hujan salju, akan tetapi lantaran dia hanya seorang diri akhirnya ayahnya roboh di atas permukaan tanah dengan bermandikan darah segar.
permukaan salju yang putihpun berubah menjadi merah, suatu pandangan yang mengenaskan.
Tiba tiba Ong It sin memejamkan matanya sambil beteriak keras.
"Tutup mulut Tutup mulut"
Pada saat itulah ia merasa bahunya amat sakit, ketika ia membuka matanya kembali tampaklah tangan Li Ji yang kuat seperti japitan besi sedang mencengkeram bahunya.
Raut wajah Li Ji yang menyeramkan hanya terpaut setengah depa dari hadapan mukanya, yang lebih menyeramkan lagi adalah sepasang matanya yang merah membara.
"Li Ji siok, mau apa kau?"
Teriak Ong It sin dengan perasaan terperanjat.
Raut wajah Li Ji mengejang keras dan tampak sedikit gemetar, ketika bunga bunga salju menimpa diatas kepala dan bahunya salju itu mencair menjadi air dan membasahi wajahnya.
"Hei, Li Ji siok Kenapa mencengkeram diriku"
Teriak Ong It sin lagi dengan wajah penasaran.
"Aku sedang berbohong, aku sedang menipu dirimu, ketika ayahmu terbunuh aku tidak berada ditempatjauh, aku ... aku berada sangat dekat dengannya...."
Justru karena perkataannya itu pandang hina yang semula tertanam dihati Ong It sin malah jauh lebih tawar, sebaliknya ia menjadi iba dan kasihan oleh keadaan orang itu.
"Tidak apa apa Li Ji siok"
Katanya kemudian sambil tertawa tawa.
"bukankah sahabat ayahku hanya kau seorang yang setiap orang tak ada yang berani menampilkan diri, tapi hanya kau seorang bermain mendampinginya, ini sudah lebih dari cukup sebab aku tahu sekalipun kau membantu ayahku, paling paling cuma mengantar nyawa dengan percuma "peluh sebesar kacang kedelai telah membasahi jidat Li Ji, tapi ia masih membungkam seribu basa. Waktu itu salju turun dengan derasnya, udara terasa sangat dingin, peluh yang bercucuran keluar dari jidatnya itu ketika menetes di wajahnya segera membeku menjadi butiran salju rontok ke tanah, kemudian ia mencengkeram lagi tubuh Ong It sin, akhirnya cengkeraman itu dilepaskan tanpa mengucapkan sepatah katapun ia memutar tubuhnya. Bagaimanapun juga Ong It sin, adalah seorang yang berhati baik, ia tak tega melihat keadaan orang itu, kembali katanya.
"Li Ji siok, Kau benar benar jangan bersedih hati, sebab hanya kau seorang yang tak mau membantu ayahku "
"Tapi hanya aku seorang yang menyaksikan ia melangsungkan pertarungan sengit dan mati terkapar di atas permukaan salju"
Jerit Li Ji dengan suara yang aneh.
Ong It sin merasakan darah panas dalam dadanya bergolok keras.
hampir saja ia tak dapat menguasai diri Napas Li Ji terengah-engah, suaranya yang semula keras kini berubah menjadi lemah tak bertenaga, katanya.
"Walaupun sahabat ayahmu sangat banyak, tapi sahabat yang sehidup semati hanya aku seorang, tapi aku ternyata tak berani menampilkan diri .. Aku tak berani ......."
Berbicara sampai disitu, tak tahan lagi dia menghantam kepala sendiri keras keras, sambil memukul teriaknya lagi.
"Aku tidak berani ... aku penakut... aku adalah setan bernyali kerdil, aku ada biruang busuk, aku adalah pengecut nomor satu dari luar perbatasan."
Ong It sin hanya membungkam diri, menanti ia sudah menyelesaikan teriakannya, barulah katanya.
"Kalau memang demikian keadaannya, maka kaulah yang salah, padahal berbicara dari ilmu silat yang kau miliki, sekalipun ke empat jago tangguh dari Tiong lam pay itu bersatu padu, tidak seharusnya kau merasa begitu ketakutan". Mendengar perkataan itu, tiba tiba Li Ji memutar badannya.
"Apa? Empat jago tangguh dari Tiong lam pay? Apa maksudmu?"
"Akupun tahu, pembunuh ayahku adalah Liok Lui salah satu dari empat jago Tiong lam-pai, tentu saja akupun tahu paling banter hanya mereka ber empat yang telah mendatangi luar perbatasan bersama sama."
Sekali lagi Li Ji tertegun dibuatnya, mendadak ia mendongakkan kepalanya dan tertawa lengking.
"Haaahhh... haaahhh... haaahhh... benar, aku adalah setan bernyali kecil, tapi jangan terlalu rendah kau nilai diriku, bila empat jago dari Tiong lam pay yang datang, tak mungkin aku mendekam diatas permukaan tanah tanpa berani berkutik"
Pucat pias wajah Ong It sin.
"Jadi kalau begitu, mereka berempat telah mengundang jago-jago lihay yang lebih banyak lagi?"
Katanya.
"Tidak. bukan keempat orang itu, peristiwa ini tak ada sangkut pautnya dengan mereka."
"siapa bilang? Kau jangan memutar balikkan keadaan yang sebenarnya ...."
Teriak Ong It sin sambil marah marah. Mungkin saking marahnya, sehingga pemuda itu hanya dapat mengucapkan kata-kata itu saja.
"Aku katakan, urusan ini sama sekali tak ada sangkut pautnya dengan ke empat jago dari Tiong lam pay"
"omong kosong"
Teriak Ong It sing semakin marah.
"Ho hoa siancu Liok Lui telah mengaku sendiri, buat apa kau menutup, nutupi perbuatannya itu?"
Li Ji menghela napas panjang.
"Aaaai... seluk beluk yang sesungguhnya bukan apa yang kau ketahui sekarang."
Tapi sebelum ia menyelesaikan kata katanya Ong It sin telah melompat turun dari kereta nya dan berdiri diatas permukaan salju dengan wajah merah membara, teriaknya.
"Kentut busuk Kentut busuk Kau sedang terkentut-kentut."
Li Ji berpaling dan menatap Ong It sin tajam tajam, ia seperti hendak mengucapkan sesuatu kepada anak muda ini tapi secara tiba tiba paras mukanya menjadi berubah hebat, sinar matanya memancarkan cahaya ngeri dan ketakutan yang luar biasa.
Ong It sin segera mendengus dingin.
"Hmm Permainan setan apa lagi yang hendak kau lakukan? Mau menutup, nutupi perbuatan dari Tiong lampay bukan Hmm..bilangnya saja tidak takut dengan keempat jago tangguh dari Tiong lampay huuuh .....sungguh menggelikan"
Tapi Li Ji tidak menggubris bahkan seakan akan tidak mendengar sindiran tersebut, malah sebaliknya rasa takutnya kian lama kian menjadi, akhirnya sambil memutar badannya dia ayun cambuknya.
Kuda penghela kereta itu menjadi amat terkejut, sambil meringkik panjang binatang itu segera kabur ke depan dengan cepatnya.
Beberapa kaki kemudian, Li Ji melayang ke tempat kusir dan hinggap dipunggung kuda bersamaan itu pula cambuknya diayun ke belakang tali-tali yang mengikat kereta dengan kudapun putus menjadi dua.
Dengan terlepasnya dari beban kereta, kuda itu dengan membawa Li Ji kabur semakin cepat, dalam sekejap mata ia sudah lenyap dari pandangan mata.
Perubahan ini terjadi diluar dugaan semua orang untuk sesaat lamanya Ong It sin menjadi tertegun dan berdiri menjublak dengan mata terbelalak.
Ong It sin baru tersentak kaget ketika kereta yang meluncur diatas permukaan salju tanpa kemudi itu terbalik dan menimbulkan suara nyaring, segera teriaknya.
"Paman Li Ji siok. kemana kaupergi? oh, tunggu sebentar"
Tentu saja teriakan tersebut tak ada gunanya, sebab pada saat itu Li Ji beserta kudanya sudah berada sangat jauh dari sana.
Perasaan gelisah dan marah menyelimuti benak Ong It sin, ia tak tahu berada dimanakah dia saat ini, ketika menyaksikan cuaca makin gelap dan salju turun dengan derasnya pemuda itu mulai bingung kemana kah dan harus pergi.
Lama sekali pemuda itu berdiri termangu mangu, sampai akhirnya hari benar-benar sudah gelap dan suasana disekelilingnya sukar dilihat dengan jelas lagi, sementara bunga salju memenuhi tubuhnya, ia baru menghela napas dan membersihkan tubuhnya dari timbunan bunga salju.
Pikirnya kemudian.
"sewaktu naik gunug tadi, aku melihat ada sebuah gua disebelah sana, kenapa aku tidak mencari sebuah gua untuk berteduh dulu ? Bila fajar telah menyingsing besok dan salju telah berhenti, aku baru berusaha lagi untuk meninggalkan tempat ini?"
Berpikir sampai disitu dia lantas memutar badan untuk siap siap berlalu dari sana.
Entah sedari kapan kurang lebih beberapa tombak dihadapannya telah berdiri sesosok manusia.
Sebetulnya Ong It sin mengira matanya sudah kabur sehingga salah melihat, karena ditempat terpencil ini dan lagi salju sedang jatuh dengan derasnya, kecuali dia sendiri siapa lagi yang mau datang ke tempat seperti itu .
Buru buru ia mengucak-ucak matanya lalu diperhatikan kembali bayangan tersebut, ternyata benar, dan memang seorang manusia yang memakai baju hitam, tak heran kalau ditengah kegelapan cuaca sulit baginya untuk membedakan dengan jelas.
Yang mengejutkan hati Ong It sin adalah orang itu tak berkutik sama sekali, tapi yang aneh meski bunga salju membasahi tubuhnya diatas tubuh manusia berbaju hitam itu sedikitpun tidak dijumpai noda-noda salju.
Sayang Ong It sin tak dapat melihat jelas raut wajah orang itu, karena cuacaa mat gelap dan tiada sinar di sekitarnya.
sesungguhnya dia ingin maju beberapa langkah ke depau dan melihat jelas raut wajah orang itu, tapi lantaran orang tersebut berdiri diatas permukaan salju dengan sikap yang sangat aneh, hal ini membuat si anak muda itu tak berani berjalan mendekatinya.
"si .... siapakah kau? "
Akhirnya dia berteriak. Begitu ia menegur, orang itupun ikut buka suara dengan nadanya yang aneh dan tak sedap didengar.
"Kau adalah putranya ong Tang thian?"
Ia bertanya dengan suara yang rendah, berat dan sangat aneh. Ong It sin dapat membedakan suara seorang nenek tua, cepat pikirnya..
"Jangan jangan orang ini adalah nenekku ?"
Mungkin karena berpendapat demikian, iapun mengangguk.
"Betul, aku bemama Ong It sin dan kau ..... .."
Perkataan itu belum habis diucapkan ketika orang itu beranjak dari tempatnya semula, bagaikan sesosok bayangan yang sedang melayang diatas permukaan salju, tanpa menimbulkan sedikit suarapun tahu-tahu ia sudah tiba dihadapannya.
sekarang Ong It sin sudah dapat melihat raut wajah orang itu.
Betul juga dugaannya semula, orang itu adalah nenek tua yang berambut ubanan dan berwajah penuh keriput, sepintas lalu wajahnya tampak ramah dan baik hati sedikitpun tidak mirip orang jahat yang berhati busuk.
Setibanya dihadapan Ong It sin, nenek itu mengamati pemuda tersebut dari atas sampai ke bawah, kemudian katanya.
"Mau kemana kau sekarang? Bukankah kusir yang mengendalikan kudamu tadi adalah Li Ji si manusia busuk itu?"
"Betul dia memang paman Li Ji siok, dia ...."
Tiba tiba satu ingatan melintas didalam benaknya, ia berpikir.
"Aaah .... jangan-jangan semenjak tadi nenek tua ini memang sudah berdiri dibelakangku? Kalau dilihat dari gerakan tubuhnya yang cepat dan sama sekali tidak menimbulkan suara, sekalipun ia sudah tahu semenjak tadi belum tentu aku tahu .... ?"
Kemudian ia berpikip lebih jauh.
"Paman Li Ji siok pasti mengetahui akan hal ini, sebab paman Li Ji siok berdiri dihadapanku, tentu saja ia tahu pula akan kehadiran nenek ini, aaah... jangan-jangan ia lari ketakutan karena takut dengan nenek tua ini? Wah, kalau begitu sudah jelas nenek ini bukan nenekku"
Ong It sin adalah seorang pemuda dengan pikiran yang sederhana, ketika berpikir sampai disitu ia sudah merasakan kepalanya pusing tujuh keliling dan tak sanggup berpikir lebih lanjut.
Terpaksa setelah termenung sebentar tanyanya lagi.
"Kalau kau bukan nenekku, lantas siapa?"
Tiba tiba nenek itu tertawa terkekeh.
"Heeehhh.. .. heeehhh... heeehh...jadi kau akan pergi menjumpai nenekmu?"
Teriaknya.
"Eeeh.. lihay betul kau "
Jerit Ong It sin agak tertegun.
"aku tak pernah memberitahukan soal ini kepadamu, darimana kau bisa tahu?"
Kembali nenek itu tertawa, malah wajahnya kelih atan sangat ramah dan, baik katanya.
"Kalau begitu ikutlah aku, ada banyak persoalan yang hendak kubicarakan dengan mu"
Pada waktu itu Ong It sin sedang murung karena tak tahu mesti kemana, dengan perasaan apa boleh buat ia pun bertanya.
"Kau tinggal dimana nyonya tua?"
"Itu Didepan sana"
Kata nenek itu sambil menuding ke bukit sebelah depannya.
Kemudian tanpa menunggu jawaban orang, disambarnya tangan Ong It sin kemudian ditariknya meninggalkan tempat itu.
oood0wooo ONG IT SIN merasa angin dingin yang amat tajam menerpa diatas wajahnya, saking cepatnya gerakan tubuh nenek itu, ia merasa bunga salju yang menampar wajahnya meninggalkan bekas-bekas yang linu dan sakit.
Beberapa kali dia ingin menjerit, tapi setiap kali mulutnya dipentangkan angin dingin segera memenuhi mulutnya membuat ia tak sanggup mengeluarkan sedikit suarapun, diapun tak sanggup menyaksikan pemandangan di sekelilingnya.
hal ini membuat pemuda itu tak tahu sedang berada dimana.
Ketika dadanya mulai sesak dan kepalanya mulai pening, tiba-tiba pandangan matanya serasa terang, angin dingin sirap dan lenyap menyusul kemudian tubuhnya ikut berhenti.
Buru-buru Ong It sin membuka matanya, ia saksikan dirinya sudah berada dalam sebuah ruangan batu, segala perabot dalam ruangan itu amat sederhana kecuali beberapa bangku terbuat dari batu..hanya sebuah meja besar, ketika itu ada dua orang duduk disana.
Tercengang Ong It sin setelah mengetahui siapakah kedua orang itu, ternyata mereka tak lain adalah kedua orang murid Seng hong Tianglo, yakni Lau Hui dan Bwe Yau yang jauh jauh dari luar perbatasan masuk ke wilayah Zuchuan untuk mencarinya.
Paras muka Bwe Yau dan Lau Hui tak sedap dilihat, mereka hanya duduk tanpa berkutik.
Ong It sin yang bego sudah barang tentu tak tahu kenapa mereka cuma duduk melulu, tapi diapun tidak menggubris Lau Hui, kepada Bwe Yau sapanya sambil tertawa.
"Hei nona Bwe, rupanya kaupun berada disini, kenapa tidak pulang ke luar perbatasan?"
Bwe Yau tidak menjawab, bahkan tubuhnya bergerak sedikitpun tidak hanya sepasang matanya yang berkedip-kedip.
Ong It sin semakin keheranan, baru saja dia akan bertanya, nenek itu sudah berseru lebih dulu.
"Kalau ingin bercakap cakap. duduklah lebih dulu"
Ong It sin tidak hanya berbicara, ia melangkah maju dan duduk disebuah kursi batu. Nenek itu ikut duduk. lalu tangannya diayupkan ke arah Bwe Yau dan Lau Hui yang masih mematung itu.
"criiit ."
Diantara desiran angin tajam, dua orang muda muda itu masing-masing menghembuskan napas panjang.
Dari kejadian yang berlangsung di depan matanya, Ong It sin baru menyadari atas apa yang telah terjadi serunya tertahan.
"oooh....rupanya jalan darah kalian berdua telah ditotok"
"Hmm ... apalagi kalau bukan gara gara kau"
Teriak Lau Hui dengan marah.
"kini kau sudah datang, itu berarti kami sudah tak ada urusan lagi..."
Gerutuan yang datangnya tanpa ujung pangkal ini membuat Ong It sin tertegun, ia tak tahu bagaimana baiknya, maka sesudah termangu beberapa saat lamanya ia berkata.
"Nona Bwe, apa gerangan yang telah terjadi? Kesalahan apa yang telah kulakukan terhadap kalian?"
Bwe Yau tidak menjawab dia hanya menghela napas panjang.
"Kedua orang ini adalah muridnya Seng hong Tianglo"
Kata nenek bersuara dalam.
"dari luar perbatasan mereka mencarimu, bukankah ada sesuatu benda yang telah mereka serahkan kepadamu?"
Ong It sin tidak melihat kalau Bwe Yau sedang mengerling dan memberi tanda kepadanya, karena ia pernah merasa menerima benda tersebut maka jawabnya sejujurnya.
"Yaa, betul "
"Bagus. kau mau mengakui berarti kau memang orang jujur, nah sekarang serahkan benda itu kepadaku"
Sekalipun Ong It sin tidak tahu apa kegunaan kotak kemala yang diserahkan Bwe Yau kepadanya, diapun tak tahu apa akibatnya bila ia membawa kotak kemala itu menuju ke bukit Toa soat san dan menjumpai seorang di Lembah Cing cu kok, akan tetapi ia merasa tak sudi menyeramkan kotak kemala itu kepada siapapun juga.
Sebab kotak kemala itu adalah barang peninggalan ayahnya, bahkan boleh dibilang itulah satu-satunya benda yang ditinggalkan ayahnya ......
Sudah barang tentu Ong It sing tak dapat memberikan benda milik ayahnya kepada orang lain Maka dengan cepat dia menggelengkan kepalanya.
"Aku tidak pernah merasa kenal denganmu, apa lagi benda ini milik ayahku, kenapa harus kuserahkan kepadamu?"
Mendengar perkataan tersebut, paras muka si nenek berubah hebat, bahkan wajahnya nampak menjadi bengis. Namun sebelum ia sempat mengucapkan sesuatu Lau Hui telah melompat bangun sambil berkata.
"cianpwe, kotak kumala itu berada dalam sakunya, bila ia tak mau menyerahkan benda itu kepadamu, lebih baik cianwpe menghadiahkan sedikit kelihayan buatnya"
"suko, kenapa kau mengucapkan kata kata itu?"
Seru Bwe Yau dengan perasaan tidak puas, jelas ia tak senang dengan sikap dari kakak seperguruannya. Dengan mata melotot buas nenek itu berpaling dan hardiknya kepada Lau Hui.
"Kau tak usah cerewet, duduk disana "
Karena ketanggor batunya, dengan wajah tersipu-sipu Lau Hui duduk kembali ditempatnya semula. Setelah pemuda itu duduk kembali, si nenek baru berkata lebih jauh.
"Memang benar, benda itu milik ayahmu, tapi lantaran benda inilah ayahmu harus mengorbankan selembar jiwanya, mengertikah kau akan kejadian ini?"
Ketika ayah Ong It sin meninggal dunia, usia anak muda itu masih sangat kecil, apalagi dia memang sudah goblok semenjak dulu, sudah barang tentu dia tak tahu apa sebabnya ayahnya sampai tewas dibunuh orang.
Tak heran kalau ia menjadi tertegun setelah mendengar perkataan dari nenek itu, tanpa sadar dia merogoh kesakunya dan meraba kotak kemala tersebut.
"Kenapa ayahku tewas lantaran benda ini?"
Tanyanya tercengang.
"Tentang soal ini kau tak perlu banyak bertanya, tapi bila kau bisa tidak ingin mengikuti jejak ayahmu, lebih baik serahkan saja kotak kemala itu kepadaku"
Ong It sin tertegun, tapi kembali ia gelengkan kepalanya.
"Tidak. bagaimanapun juga kotak ini adalah benda waris ayahku tak akan memberikannya kepada orang lain"
Serunya.
"Kau ngotot tak mau menyerahkan kepadaku?"
Bentak si nenek sambil tertawa dingin-"Tidak "
Pelan pelan nenek itu menganyunkan telapak tangannya siap melancarkan serangan. Tiba tiba Bwe Yau menjerit lengking.
"Sahabat Ong serahkan dulu kotak tersebut kepada locianpwe ini"
Ketika mengucapkan kata kata tersebut wajahnya tampak menunjukkan sinar ngeri dan ketakutan. Ayunan telapak tangan nenek itupun berhenti ditengah jalan, sambil menatap pemuda itu kembali tanyanya.
"Bagaimana?"
"Tidak sekali sudah kukatakan tidak. selamanya tetap tidak. buat apa kau banyak bertanya ?"
Seru Ong It sin dengan perasaan tak sabar.
Dengan geramnya nenek itu mengayunkan telapak tangannya ke udara.
kelima jari tangannya dipentangkan lebar-lebar, dalam sekejap mata desingan angin tajam memenuhi seluruh ruangan-Ong It sin merasaka munculnya desingan angin tajam yang menerpa tubuhnya, sedemikian dahsyatnya daya tekanan tersebut membuatnya hampir tak bisa bernapas.
Sementara ia masih tertegun, mendadak dari samping tubuhnya berkumandang suara desingan tajam yang disertai dengan ledakan dahsyat, apa yang terjadi?
Ternyata bangku yang barusan didudukinya itu sudah terhajar hingga hancur berkeping-keping.
Saking ngerinya untuk sesaat Ong It sin tak mampu berkata-kata, apa lagi memandang hancuran bangku terbuat dari batu yang berserakan ditanah, peluh sebesar kacang kedelai membasahi seluruh jidatnya, hampir saja ia tak percaya kalau didunia, ini terdapat orang yang memiliki kepandaian silat setinggi itu.
"Bagaimana bocah muda?"
Bentak nenek itu.
"sudah kau saksikan bukan kehebatanku? serahkan tidak kotak itu kepadaku?"
Ong It sin masih memandang hancuran bangku itu dengan wajah termangu, jangankan menjawab apa yang diucapkan nenek itupun tak terdengar sama sekali olehnya, sudah barang tentu diapun tak mampu menjawab.
Dalam hati kecilnya ia sedang berpikir dengan kesengsem, dia pikir, andaikata suatu hari kepandaian silatnya dapat mencapai ke tingkat setinggi itu, niscaya ia tak perlu takut lagi terhadap empat jagoan dari Tiong lam pay.
Tapi, mungkinkah kepandaian silatnya masih mempunyai harapan untuk mencapai ketingkat seperti itu.
Terbayang sampai disini, dia hanya dapat menggelengkan kepalanya berulang kali, ia merasa pada hakekatnya hal ini tak mungkin terjadi.
Ketika ia sedang menggeleng karena berpikir akan ketidak mampuannya itu maka secara kebetulan nenek itu sedang mempernatikan ke arahnya, salah sangkalah si nenek tadi, dia mengira pemuda itu tak bersedia menyerahkan kotak itu kepadanya.
Sehebat hebatnya nenek itu dalam hal ilmu silat, dia bukan dewa yang bisa menebak jalan pikiran manusia ketika dilihatnya Ong It-sin menggeleng, gelengan tersebut dianggap sebagai suatu penolakan Dengan geramnya nenek itu melancarkan kembali sebuah pukulan dahsyat, sedemikian dahsyatnya pukulan itu membuat bangku batu yang lain ikut terhajar hancur.
Lau Hui dan Bwe Yau menjadi terkejut, untuk sesaat mereka hanya bisa terbelalak dengan wajah memucat.
Semula mereka mengira Ong It sin pasti akan menyerahkan kotak tersebut kepada si nenek, maka dikala pemuda itu menggelengkan kepalanya, muda mudi itupun ikut tertegun.
"Kurang ajar"
Teriak nenek itu sambil tertawa dingin.
"Tampaknya watakmu memang tak jauh berbeda dengan bapakmu yang telah mampus "
"Kau ....kau... kenal dengan ayahku?"
Tanya Ong It sin tercengang, seakan akan ia tidak percaya kalau nenek itu bisa kenal dengan ayahnya. Nenek itu mendongakkan kepalanya dan tertawa tergelak.
"Hmmm... bukan cuma kenal, kami adalah ... ."
Kata-kata itu tidak dilanjutkan, sebab secara tiba tiba ia seperti teringat akan sesuatu. Setelah terhenti sejenak, tiba-tiba katanya lagi.
"Bocah keparat, camkan kata kataku ini, pokoknya kalau kotak kemala itu tidak kau serahkan kepadaku jangan menyesal bila nyawamu ikut melayang disini"
"Sebelum membicarakan soal lain, beritahu kepadaku apakah ke empat jago tangguh dari Tiong lam pay yang berusaha merampas kotak tersebut dari tangan ayahku dulu?"
Desak si pemuda. Setajam Sembilu pancaran Sinar mata si nenek, paras mukanya berubah hijau membesi dengan sikap yang menggidikkan hati ia menukas.
"Kau tak usah banyak bicara, jawab secara singkat kotak itu hendak kauserahkan kepadaku atau tidak?"
Ong It sin hanya termenung tidak menjawab setelah mengalami pelbagai peristiwa, ia dapat menarik kesimpulan aneh yang dihadapinya sekarang.
Berbicara dari kepandaian silat yang dimiliki nenek itu, untuk merampas sebuah kotak kemala dari sakunya hampir boleh dibilang gampang seperti membalikkan telapak tangan sendiri, padahal nenek itupun tahu jika kotak mustika itu berada dalam sakunya, tapi anehnya kenapa ia tidak merampasnya sendiri ?
Tapi minta kepadanya untuk menyerahkan benda tersebut kepadanya?
Ia mencoba untuk mengerdipkan matanya lalu berkata.
"Tak mungkin kuserahkan benda itu kepadanya, sebab kotak itu barang peninggalan ayahku, untuk melindungi benda ini ayahku telah mempertaruhkan jiwa raganya, itu berarti tak ternilai harga dari kotak ini, kenapa aku harus menyerahkannya kepadamu? Paras muka si nenek kembali mengalami perubahan hebat malah akhirnya paras mukanya berubah menjadi hijau membesi hingga tampak mengerikan sekali. Pada saat itulah Lau Hui melompat bangun, lalu katanya.
"Locianpwe, apa yang kau tanyakan kepada kami telah kami jawab sejujurnya, sekarang aku boleh mohon diri bukan?"
Nenek itu masih tidak menjawab bahkan menggubrispun tidak, sepasang matanya yang memancarkan sinar tajam mengamati wajah Ong It sin tanpa berkedip.
Karena tidak memperoleh jawaban, Lau Hui merasa tidak puas, meskipun demikian diapun tak berani pergi meninggalkan tempat itu, Bwe Yau seperti merasa tidak setuju untuk meninggalkan tempat tersebut dalam keadaan seperti ini, namun ia tak berani memberi komentar apa-apa, hanya ditatapnya kakak seperguruannya itu dengan sorot mata mendongkol dan tak puas.
Ong It sin yang menyaksikan nenek itu marah-marah segera goyangkan tangannya berulang kali.
"Nenek tua, kau tak usah marah-marah, aku tahu ilmu silatmu sangat tinggi, sedang kotak kemala itu berada dalam sakuku, kenapa kau tidak merampasnya sendiri? Aku tak punya ilmu apa apa, tak mungkin aku bisa menandingi ilmumu, asal kau mau merampasnya sendiri, aku paling banter cuma bisa melihat benda itu kau rampas dengan begitu saja, hayo, kenapa tidak kau coba?"
Beberapa patah kata itu diucapkan dengan suara yang penuh kepedihan, seakan-akan ia memang tak bisa berbuat lain kecuali pasrah.
Mula mula nenek itu agak tertegun, muncul kemudian sekulum senyuman menyungging diujung bibirnya.
Ketika Lau Hui menyaksikan nenek itu sudah, tersenyum, buru buru katanya pula.
"cianpwe, kita boleh pergi dari sini bukan?"
Nenek itu berpaling dan mengangguk kearah Lau Hui.
"Asal kau bersedia melakukan sebuah pekerjaan untukku, kau boleh segera tinggalkan tempat ini"
Katanya.
"cianpwe suruh aku berbuat apa? Semua perintahmu akan kulakukan tanpa membantah"
Cepat cepat Lau Hui menimpali.
"Hmm... kau tak usah menjilat pantat"
Jengek si nenek sambil mendengus.
"aku tak akan menyuruh kau melakukan sesuatu yang membahayakan jiwamu, aku hanya suruh kau merampas kotak yang berada dalam saku bajingan cilik itu ... bisa kau lakukan?"
Kena disindir dengan kata katanya tadi, Lau Hui merasa malu sekali sehingga wajahnya berubah jadi merah padam, akan tetapi setelah mengetahui bahwa tugas yang diperintahkan sang nenek kepadanya hanya suatu tugas yang kecil, ia merasa hatinya menjadi lega.
"Bisa bisa...."
Jawab terburu buru. sambil berkata dia lantas melangkah maju ke depan Tapi baru beberapa langkah dia maju Bwe Yau telah menyambar ujung bajunya sambil berseru.
"suko kotak kemala itu adalah benda yang kita bawa dari ribuan li jauhnya untuk diserahkan kepadanya, tidak sepantasnya kalau kita merampasnya kembali dari tangannya"
"Aaaah... kamu ini tahu apa?"
Teriak Lau Hui dengan suara.
"bila tidak kuturuti perintahnya mana mungkin kita bisa meloloskan diri dari tempat ini?"
"sekalipun tak bisa lolos tidak sepantasnya kalau kita lakukan perbuatan seperti ini"
"Kentut busuk"
Bentak Lau Hui dengan gusar.
Tiba-tiba ia mengebaskan lengannya keras keras sehingga terlepas dari genggaman gadis itu Bwe Yau tidak menyangka kalau Lau Hui akan berbuat sekasar itu kepadanya, karena tidak menduga badannya terjerembab ke depan, untung di situ ada Ong It sin sehingga badannya tak sampai terlempar mencium tanah.
Cepat Cepat gadis itu memutar badannya melindungi Ong It sin, lalu katanya.
"suko, sekalipun suhu berada disini, tak nanti beliau akan mengijinkan dirimu untuk melakukan perbuatan yang tidak menguntungkan bagi Sahabat Ong"
"omong kosong"
Bentak Lau Hui dengan wajah membesi.
"kau ini tahu apa ? sebelum berangkat bukankah suhu telah berpesan bahwa semua urusan akulah yang berhak memutuskannya? "
Merah padam selembar wajah Bwe Yau..
"Yaa.... karena ... karena....dia masih belum mengetahui watakmu yang sesungguhnya."
"Cepat kau menyingkir"
Bentak Lau Hui.
"siapa benar siapa salah, setelah sampai dirumah baru kita bicarakan lagi dengan suhu...."
Sepasang mata Bwe Yau berkaca-kaca, butiran air mata menembang dalam kelopak matanya dan hampir saja menetes keluar, tampaknya ia merasa amat tersiksa oleh keadaan kakak seperguruannya itu.
Betapa terharunya Ong It sin setelah menyaksikan keadaan gadis itu, apa lagi setelah mengetahui bahwa dara itu selalu berusaha untuk membelainya.
O000dw000O
Jilid 6 DILIRIKNYA sekejap kearah nenek itu ia jumpai nenek itu meski berdiri dengan sekulum senyuman menghiasi bibirnya, namun senyuman itu kelihatan sangat aneh, membuat siapapun yang menyaksikan hal ini merasakan bulu kuduknya pada bangun berdiri.
Pemuda itu lantas berpikir.
"Nona Bwe begini baiknya kepadaku, mana boleh kubiarkan dia terkurung dalam ruang batu ini sehingga harus mengalami perasaan kaget dan takut."
Berpikir sampai disitu, buru-buru katanya.
"Nona Bwe, kau sudi membantuku aku merasa amat berterima kasih, tapi akupun tahu tanpa kotak kemala ini tak mungkin kalian bisa meninggalkan ruangan ini, maka aku... aku akan serahkan kotak ini untukmu..."
Sambil berkata ia merogoh sakunya dan mengeluarkan kotak kemala tersebut, Sesungguhnya kesan tentang ayahnya sudah tinggal kenangan, kenangan lama yang menyedihkan hati.
Tapi sekarang setelah diketahuinya bahwa kotak kemala itu benda peninggalan ayahnya, setiap kali memandang kotak itu wajah ayahnya yang gagah perkasa serasa muncul kembali dihadapannya, ia merasa matanya menjadi basah, ia merasa berat hati untuk melepaskan satu-satunya benda peninggalan ayahnya ini.
Tapi kini, demi membalas budinya, kepada Bwe Yau, dia harus menyerahkan kotak itu dengan perasaan berat.
Pelan-pelan kotak itu diambil keluar, kemudian diletakkan diatas meja batu disampingnya .
Sungguh amat gembira hati Lau Hui setelah menyaksikan kotak itu diletakkan keatas meja, cepat-cepat dia mengambilnya.
Tapi ia cepat orang lain jauh lebih cepat lagi kedengaran seseorang tertawa tergelak menyusul kemudian menyambar lewat sesosok bayangan manusia yang membawa desingan angin tajam sedemikian kencangnya angin sambaran itu membuat Lau Hui terlempar sejauh beberapa langkah tempatnya.
Dengan gerakan cepat orang itu menyambar kotak dimeja kemudian dongakkan kepalanya dan tertawa tergelak.
Orang itu bukan lain adalah si nenek tadi Ketika Lau Hui merasa tubuhnya terlempar ke samping tadi ia merasa kuatir apabila kotak itu terjatuh ke tangan orang lain maka betapa lega hatinya setelah mengetahui bahwa orang yang menyambar kotak itu bukan lain adalah si nenek itu.
cepat cepat ia menarik tangan Bwe Yau seraya berseru.
"cianpwe, kami berdua mohon diri lebih dulu"
Nenek itu menjawab dia hanya memegang kotak kemala itu sambil tertawa terbahak bahak?
Lau Hui tak mau membuang kesempatan itu lagi sambil menarik tangan Bwe Yau cepat cepat dia melangkah keluar dari ruangan itu.
Kali ini ternyata nenek itu tidak berusaha untuk menghalangi kepergian mereka.
Bwe Yau mencoba meronta dari cekalan suhengnya.
namun tak berhasil, maka sambil melangkah keluar teriaknya.
"Sahabat Ong, kau..."
Tapi sebelum ia menyelesaikan kata katanya Lau Hui telah menariknya keluar dari ruangan tersebut. Hanya sebentar suara itu tertunda, tiba tiba terdengar gadis tadi berseru lagi.
"Kami sangat berterima kasih kepadamu karena kau telah menggunakan kotak kemala itu untuk membebaskan kami dari kesulitan, tapi dengan perbuatanmu ini kau... kau tak mungkin bisa sampai di bukit Toa soat san lembah Ciong Cu kok lagi..."
Perkataan dari Bwe Yau kali inipun tidak berkelanjutan sebab tiba tiba saja terputus ditengah jalan.
Mungkin hal ini dikarenakan ia sudah ditarik Lau Hui jauh meninggalkan tempat itu maka perkataan selanjutnya tak sampai berkumandang lagi dalam ruangan itu.
Meskipun begitu, ketika Ong It sin mendengar disinggungnya tentang Bukit Tay soat san lembah Ciong cu kok, satu ingatan tiba tiba melintas dalam benaknya.
"Rupanya ia sudah lupa kalau kotak kemala itu ada hubungannya dengan lembah Ciong cu kok dibukit Tay soat san, setelah disinggung kembali ia baru teringat. Sesungguhnya ia memang hendak mengunjungi lembah Ciong cu kok dibukit Tay soat san setelah mendapatkan kotak kemala itu, tapi sampai sekarang ia masih belum mengerti kenapa dia harus pergi ke sana. Karenanya dia cuma berpikir sebentar saja, lalu tidak dipikirkan lebih lanjut. Nenek itu masih tertawa dengan seramnya sambil tertawa ia mencak mencak dan menari nari seperti orang gila, malah jeritnya pula dengan suara yang tinggi melengking.
"Haaah... haaah... haaah... akhirnya aku dapatkan juga benda ini... Akhirnya kudapatkan juga benda ini... haaah... haaah... haaah... Tee leng kun Say siujin mo, Mong huangpat yau, Tee lewsiang mo... haaah... haaah... haaah... apa yang kalian katakan sekarang? Apakah hendak berebut pula kotak ini denganku...? Haaah... haaah... haaah... akhirnya aku yang mendapatkan"
Sebagaimana diketahui Tee leng kun (Kaisar neraka bumi) Say siujin mo (manusia iblis berkepala singa).
Mong huang pat yau (delapan siluman dari tempat liar) serta Tee lui siang mo (sepasang iblis dari jagad) adalah nama dari tokoh silat nomor wahid dalam dunia persilatan waktu itu.
Bila ditinjau dari nada ucapannya itu, agaknya orang orang kenamaan itu semuanya berhasrat hendak memperebutkan kotak kemala itu.
Ong It sin menjadi tertegun kembali ia berkata.
"Heran betul orang orang ini, apa bagusnya kotak sekecil itu? Kenapa begitu banyak orang yang ingin memperolehnya?"
Meskipun pemuda itu sendiri termasuk juga orang orang yang ingin memiliki kotak tersebut namun baginya ia berbuat demikian karena benda tersebut merupakan barang peninggalan dari ayahnya.
Sambil tertawa tergelak nenek itu melompat kesana kemari seperti orang sinting, tiba tiba teriaknya lagi.
"Siapapun jangan harap bisa mendapatkan kotak ini lagi, sekarang kotak ini sudah menjadi milikku..."
Berbareng dengan habisnya perkataan itu, telapak tangannya segera menghantam permukaan meja keras keras, seketika itu juga kotak kemala itu tertembus ke dalam pemukulan baja yang keras.
sekali lagi ia tertawa terbahak bahak.
katanya.
"Haaahh... haaahhh... haaahhh... siapa sekarang yang bisa mendapatkannya? siapa yang dapat merebutnya lagi dari tanganku?"
Tapi sesaat kemudian ia menjadi tertegun, gumamnya lebih lanjut.
"Tidak boleh, tidak boleh, tidak bisa dijamin keselamatannya kalau kusimpan disini"
"Blaaang..."
Kembali ia memukul meja itu keras keras.
Kotak kemala yang sebenarnya sudah tertanam dibalik permukaan batu itu segera mencelat lagi ke udara, disambarnya kotak itu lalu ia celingukan kesana kemari seperti merasa bingung kemana ia musti simpan benda itu...
Geli juga Ong It sin menyaksikan keadaannya itu, tiba-tiba timbul ingatan dalam benaknya untuk menggoda nenek itu, katanya kemudian.
"Kenapa musti bingung bingung mencari tempat untuk menyimpan benda itu? Asal kotak itu kau telan kedalam perut bukankah tak ada orang yang akan merampasnya lagi?"
Seandainya orang lain yang menyaksikan kelihayan ilmu silat dari nenek itu, mungkin sejak tadi ia sudah ketakutan setengah mati, jangankan menggoda, berbicarapun belum tentu berani.
Tapi Ong It sin adalah seorang manusia bodoh tak kenal rasa takut, malahan digodanya nenek itu sambil tertawa geli.
Ketika mendengar ajaran tersebut serta merta nenek itu masukkan kotak kemala tersebut kedalam mulutnya tapi setelah kotak itu membentur giginya ia baru sadar kalau kotak tersebut tak mungkin bisa ditelannya kedalam perut.
Menyaksikan kejadian ini, Ong It sin tak dapat menahan rasa gelinya lagi, ia mendongak dan tertawa terbahak bahak.
"Hei, apa yang kau tertawakan? Kenapa tidak cepat cepat enyah dari hadapanku?"
Bentak nenek itu dengan gusarnya.
Sesungguhnya Ong It sin memang tidak berniat untuk tinggal terlalu lama disana segera sahutnya "Siapa yang kesudian berada terus disini?
Aku memang hendak pergi dari tempat ini"
Dengan langkah lebar dia berjalan keluar dari ruangan itu, setibanya dalam setelah yang sempit dengan bingung ia celingukan kesana kemari, sebab apa yang dilihatnya hanya salju putih.
Ong It sin tertawa getir, pikirnya.
"salju masih turun dengan derasnya, kenapa aku harus pergi? Payah, padahal dimanakah aku berada sekarangpun tak kuketahui..."
Sambil melamun ia berjalan keluar dari selat itu tanpa tujuan, apa lagi setelah keluar dari lembah yang dijumpai cuma pandang salju yang tak berbatasan, ia semakin tak tahu lagi apa yang musti dilakukan.
Pada saat itulah mendadak dari dalam selat itu berkumandang suara jeritan aneh, suara jeritan itu jelas berasal dari nenek itu, cuma suaranya aneh sekali membuat siapapun yang mendengarnya menjadi ngeri dan bergetar perasaannya.
Dengan wajah tertegun Ong It sin berpaling, ia saksikan sesosok bayangan hitam dengan kecepatan luar biasa sedang meluncur keluar dari selat sempit itu dan menerjang kearahnya.
Ketika tiba dihadapannya, bayangan manusia itu segera henti.
Baru saja Ong It sin mengenali orang itu sebagai si nenek tadi, tahu tahu dadanya sudah menjadi kencang dan cengkeraman maut si nenek itu sudah menjambak baju bagian dadanya.
Menyusul kemudian nenek itu menggetarkan tangannya Ong It sin segera menjerit aneh.
Ternyata setelah dadanya dicengkeram oleh nenek itu, badannya segera dilempar ke tengah udara, ketika ia menjerit tadi badannya masih meluncur keatas dengan kecepatan luar biasa.
Tapi menjeritnya sampai ditengah jalan, dan matanya sempat melongok kebawah, kontan saja kepalanya terasa pusing tujuh keliling ternyata ia sudah berada lima enam kaki jauhnya dari permukaan tanah.
si nenek yang berdiri diatas permukaan saljupun kelihatan kian lama kian bertambah kecil.
Tak terlukiskan rasa kaget menyelimuti perasaan Ong It sin ketika itu mementangkan mulutnya ingin berteriak.
tapi bunga salju menyumpal mulutnya membuat ia tak sanggup bersuara lagi.
Sungguh hebat tenaga lemparan nenek itu, tubuh Ong It sin yang meluncur ke atas masih menerjang terus keatas, kurang lebih dua tiga kali kemudian ia baru berhenti meluncur dan mulai merosot kebawah.
"Tolong... tolong... mampus aku sekarang mampus aku sekarang..."
Teriak Ong It sin kemudian dengan ketakutan.
Daya luncur tubuhnya makin lama makin cepat baru saja ia berteriak setengah jalan pandangan matanya sudah menjadi gelap.
lalu berkunang kunang dan tak mampu berteriak lebih lanjut.
Ia cuma merasakan timbulnya sesuatu kekuatan besar yang menerjang keatas punggungnya dikala ia sudah hampir terjatuh kebawah itu begitu kerasnya pukulan itu menghantam pinggangnya membuat tulang-belulangnya seperti mau patah.
Akan tetapi justru karena terjangan itu daya luncur tubuhnya menjadi jauh berkurang dan..."Blaang"
Tubuhnya terjatuh keras-keras diatas permukaan salju.
Sungguh sakitnya luar biasa akibat bantingan itu untuk sesaat ia merasa tak mampu untuk merangkak bangun lagi cuma untungnya tidak ada tulang belulang dalam tubuhnya yang retak atau patah akibat bantingan tersebut.
Sambil merintih kesakitan Ong It sin berusaha merangkak bangun dari atas tanah, tapi baru saja tangannya menahan permukaan tanah, mendadak muncul kembali daya tekanan yang sangat berat dari atas punggungnya, sedemikian beratnya tenaga itu membuat badannya nyaris terbenam semua di atas permukaan salju, akhirnya ia mampu mengangkat wajahnya juga meski harus bersusah payah.
Ia saksikan si nenek itu sedang menginjak punggungnya dengan wajah penuh kegusaran Ong It sin merintih, lalu teriaknya.
"Hei, apa-apaan kamu ini?"
Nenek itu tertawa dingin.
"Bocah keparat, tak kusangka tampangmu yang ketolol-tololan sesungguhnya menyimpan tipu muslihat yang begitu licin?"
Dampratan itu tentu saja sangat membingungkan Ong It sin, dia tak tahu apa maksud si nenek mengucapkan kata-kata semacam itu dengan napas terengah kembali katanya.
"Tipu muslihat apa? Kau jangan sembarangan menuduh... siapa yang menggunakan tipu muslihat untuk membohongi orang dia adalah cucu kura kura..."
"Baiklah, nah cucu kura kura. Kau simpan kemanakah benda yang berada dalam kotak kemala itu?"
Ong It sin hanya merasakan segumpal bunga salju menerpa diatas wajahnya membuat pandangannya menjadi kabur.
Cepat cepat ia gelengkan kepalanya untuk membersihkan bunga salju dari wajahnya, menatapi ia buka kembali matanya maka sebuah kotak kemala telah berada dihadapannya.
Kotak kemala itu adalah kotak peninggalan ayahnya, hanya saja kotak itu sekarang berada dalam keadaan terbuka, dalam kotak hanya berisi sebuah ukiran pemandangan alam, tiada benda lain yang berada disini.
Setelah melihat kotak itu sekejap, Ong It sin berkata lagi.
"Kapan aku pernah melihat benda dalam kotak itu? Sesungguhnya aku tak pernah pikirkan kotak ini didalam hati sebab kau menginginkannya maka kuberikan benda itu kepadamu sekarang kalau kau toh sudah tahu kalau benda ini adalah barang peninggalan saja kepada pemilik yang sebenarnya"
Berbicara sampai disitu dia lantas meronta dan mencoba untuk mengambilnya.
Akan tetapi nenek itu bertindak lebih cepat, kotak itu disambarnya pergi kemudian dengan kakinya dia injak telapak tangan pemuda itu.
"Hayo cepat jawab"
Teriaknya.
"kau simpan di mana benda dalam kotak ini..."
Ong It sin meronta keras, begitu terlepas dari injakan kaki lawan dia lantas duduk sambil terengah engah "Sudah kukatakan sendiri tadi siapa yang mengetahui benda dalam kotak itu dia adalah cucu kura kura"
Dengan tatapan yang tajam nenek itu memperhatikan wajah Ong It sin sekian lama setelah yakin kalau pemuda itu memang tidak ia ketahui, berubah ia berkata lagi.
"Benar kau tidak tahu? Lantas siapa yang memberikan kotak kemala ini kepadamu?"
"Lau Hui dan nona Bwe"
Jawab pemuda itu cepat.
"Siapakah satu diantara kedua orang itu"
Tanya nenek itu lagi.
Waktu itu Ong It sin sama sekali tidak memperhatikan persoalan-persoalan itu didalam hati tentu saja ia menjadi kebingungan setelah menghadapi pertanyaan tersebut...
Sambil garuk-garuk kepalanya yang tidak gatal pemuda itu cuma berdiri melongo karena tak tahu bagaimana harus menjawab rupanya ia sudah melupakan.
Nenek itu segera mendengus dingin.
"Tolol, tak kusangka kau segoblok itu, hayo cepat kau kejar kedua orang itu"
Bentaknya. Ong It sin merasakan sekujur badannya linu dan sakit, untuk berdiripun dia harus berusaha dengan susah payah, baru dua langkah ia berjalan tubuhnya telah terjerembab kembali keatas tanah.
"Kalau ingin kau susul kedua orang itu susullah sendiri katanya... aku sudah tidak kuat."
Dengan gemas nenek itu mendepakkan kakinya keatas tanah, lalu secepat terbang dia meluncur ke depan untuk menyusul Lau Hui berdua yang telah berangkat lebih dulu itu.
Ong It sin bangkit berdiri, sayang ia takpunya tenaga untuk berbuat begitu, terpaksa sambil berbaring diatas tanah ia mengatur napasnya yang terengah engah.
Tidak lama kemudian, secepat sambaran petir nenek itu telah lari kembali menuju kehadapannya Ong It sin mencoba untuk mengamati nenek itu dijumpainya paras muka perempuan tua itu hijau membesi.
jelas dua orang yang hendak dikejarnya itu tak berhasil disusulnya.
"cepat bangun dan ikut aku pergi"
Bentak nenek itu kemudian-"Mau kemana?"
"Lembah Ciong cu kok dibukit Tay soat san"
"Mau apa kita pergi kelembah itu?"
Tanya Ong It sin keheranan. Dengan marah nenek itu berteriak .
"Kau tak usah berlagak pilon, hayo bangun"
Dengan ujung kakinya ia menjungkit tubuh Ong It sin lalu dilemparkan ketengah udara.
^ood-woo^ Setelah terlempar ketengah udara, tampaknya Ong It sin segera akan terbanting lagi ke tanah.
Mendadak nenek itu melancarkan tujuh delapan buah serangan totokan kedepan, desingan angin tajam yang menerjang tubuh anak muda itu segera membuat ia menjadi segar dan semua rasa sakitnya lenyap tak berbekas.
Sambil bersorak kegirangan ia meluruskan tubuhnya dan melayang turun kebawah, meskipun harus berdiri dengan sempoyongan toh tidak sampai jatuh tertelungkup seperti tadi.
Karena senangnya, Ong It sin segera berteriak.
"Eeeh... nenek baik, hayo totoklah beberapa kali lagi diatas tubuhku ini..."
"Hmm... sekarang telah kau ketahui kepandaianku"
Kata sinenek dengan ketus.
"bila kau bersedia menuruti perkataanku,pasti banyak kebaikan yang akan kau dapat dari tanganku siapa tahu ilmu silatmu akan mendapatkan kemajuan yang pesat sehingga dikemudian hari tidak lagi dipermainkan orang"
"Apakah kepandaianku bisa menyamaimu?"
Tanya Ong It sin dengan penuh pengharapan. Ketika mendengar perkataan itu hawa amarah sempat menghiasi wajah nenek itu, tapi hanya sebentar saja telah lenyap tak berbekas.
"Tentu saja"
Jawabnya.
Perlu diterangkan disini, bagi orang persilatan hal yang paling ditakuti sewaktu menerima murid adalah bila kepandaian silat yang dimiliki muridnya melebihi kepandaian gurunya.
Oleh karena itu kecuali antara guru dan muridnya sudah terjalin hubungan yang rapat dan saling ada pengertian jarang sekali ada orang yang mau menurunkan segenap kepandaiannya kepada orang lain dengan demikian perkataan Ong It sin justru telah melanggar pantangan terbesar bagi umat persilatan, andaikata nenek itu tidak mengetahui kalau Ong It sin benar benar bodoh mungkin saking marahnya pemuda itu sudah dibunuhnya.
Betapa girang Ong It sin setelah mendengar kesanggupan sinenek, pikirnya.
"Li ji siok hendak mengajakku menjumpai nenek tapi ia kabur ditengah jalan, padahal aku tak tahu dimanakah nenekku tinggal, ya daripada gelandangan sendiri ditempat seperti ini, lebih baik ikut saja sinenek ini pergi kelembah Ciong cu kok siapa tahu aku betul betul mempelajari ilmu silat yang hebat."
Karena merasa senang, kembali ia berkata.
"Baik, kalau begitu kau musti ajarkan dulu kepandaianmu untuk menghajar hancur bangku batu tadi."
Rupanya Ong It sin merasa amat bangga dan kagum sekali atas kepandaian si nenek dalam ruang batu tadi, maka begitu membua suara dia lantas menuntut ingin mempelajari kepandaian tersebut.
Mula mula nenek itu agak tertegun menyusul kemudian sambil tertawa katanya .
"oooh... itu soal gampang, hayo ikutilah aku"
Nenek itu melangkah kedepan diikuti Ong It sin dengan riang gembira mereka menuju kedepan sebuah pohon yang amat besar.
Pohon pek yang besar itu mempunyai luas batang sepelukan orang sekalipun sudah mati tapi masih tetap kuat dan kokoh.
Secara beruntun nenek itu melancarkan beberapa buah tepukan keras ketubuh Ong It sin berbareng dengan tepukan tersebut, sianak muda segera merasakan munculnya segulung tenaga yang amat dahsyat menyusup kedalam organ tubuhnya, yang mana membuat ia merasakan badannya kuat dan penuh semangat, tak tahan lagi ia melompat sambil berpikir sekeras-kerasnya .
Sementara itu si nenek telah berkata lagi sesudah melancarkan beberapa buah tepukan tadi.
"Nah, sekarang cobalah lancarkan serangan keatas pohon besar itu"
"Menghantam pohon itu?"
Bisik Ong It sin tertegun.
"tapi... tapi... pohon itu begitu besar dan kenapa aku musti menghantamnya?"
"Pokoknya aku suruh engkau memukulnya, kau harus turuti perkataanku"
Hardiksi nenek.
"Yaa, kanapa tidak kuturuti saja perkataannya?"
Demikian Ong It sin berpikir.
"Siapa tahu kalau ucapan si nenek ada benarnya juga ? atau mungkin dengan sebuah pukulanku ini, pohon tersebut bisa kuhantam sampai hancur berkeping keping, Waaah, kalau aku bisa begitu, pasti hebat deh keadaannya"
Berpikir sampai disitu, dia lantas merendahkan tubuhnya, lalu dengan gerakan yang kebodoh bodohan telapak tangannya disodok kemuka melepaskan sebuah pukulan.
Apa yang kemudian terjadi?
Sungguh diluar dugaan Bersamaan dengan gerakan menyodok tersebut, timbullah desingan angin pukulan yang menderu deru, sedemikian dahsyatnya angin pukulan itu membuat tumpukan salju diatas permukaan tanah ikut tergulung semua.
Mimpipun Ong It sin tidak menyangka kalau serangannya disertai tenaga penghancur yang begini dahsyatnya, ia menjadi ketakutan sendiri dan mundur beberapa langkah dengan wajah memucat.
Sekalipun ia mundur ke belakang akantetapi angin pukulan yang dilancarkan api sudah keburu menggulung ke muka dengan dahsyatnya.
"Blaaamm..."
Suatu ledakan keras tak bisa dihindari lagi, ketika termakan pukulan tersebut pohon besar itu segera tumbang dan menerbitkan suara keras.
Bunga salju beterbangan menyelimuti pemandangan disekelilingnya, sampai lama sekali, keadaan baru bisa pulih kembali seperti sedia kala...
Untuk sesaat lamanya Ong It sin cuma bisa berdiri tertegun dengan wajah kebodoh bodohan, ditatapnya sinenek dengan wajah termangun.
Si nenek itu sendiri segera menatap pula sambil tertawa terkekeh kekeh.
Baca Juga: Pendekar Cengeng Kho Ping Hoo
Baca Juga: Si Tangan Halilintar 5