Ceritasilat Novel Online

Si Tangan Halilintar 5

Eps 5 Si Tangan Halilintar - Kho Ping Hoo

Baca online Si Tangan Halilintar - Kho Ping Hoo

Cersil Si Tangan Halilintar - Kho Ping Hoo.

Puteri Mayani melompat bangun.

Lee Bun terkejut.

Sama sekali dia tidak mengira gadis Mancu itu demikian lihainya sehingga mampu memukul pedang terbangnya sehingga jatuh.

Cepat dia mengambil pedangnya dan kini Song Kwan yang maklum bahwa gadis berbahaya itu harus dibinasakan, memberi isarat kepada adik-adiknya dan lima orang pendekar itu maju menghadapi Puteri Maya sambil membentuk barisan pedang Ngo-heng Kiam-tin yang dua puluh tahun lalu membuat nama mereka terkenal di dunia kangouw.

Barisan pedang ini bisa bekerja sama seperti lima unsur yang saling menunjang.

Unsur api, air, tanah, logam dan kayu.

Puteri Mayani tadi juga tidak tahu mengapa pedang hitam itu berhenti mengejarnya.

Hatinya merasa lega dan kini ia menghadapi lima orang itu sambil tersenyum mengejek.

"Hemm, inikah Ngo-heng Kiam-tin yang kesohor itu? Lima orang kakek mengeroyok seorang dara remaja? Sungguh lucu! Akan tetapi jangan kira aku takut menghadapi kalian pendekar-pendekar pengecut Majulah!"

Katanya dengan gagah sambil memutar pedang dan sabuk sutera merahnya.

"Basmi orang Mancu penjajah busuk!"

Teriak Song Kwan, mengingatkan adik-adiknya bahwa yang mereka hadapi adalah seorang Mancu yang harus dibasmi seperti tekad mereka puluhan tahun yang lalu ketika mereka berjuang menentang pemerintah Mancu.

yang menjajah tanah air mereka.

Teriakan ini menghapus rasa rikuh bahwa mereka mengeroyok seorang gadis muda belia.

Yang mereka keroyok bukan gadis muda belia, melainkan seorang Mancu yang berbahaya, bukan saja berbahaya bagi mereka berlima, melainkan berbahaya bagi bangsa clan tanah air!

Ngo-heng Kiam-tin memang hebat bukan main.

Lima orang ahli pedang yang amat mahir jtu kini bekerja sarna, saling tunjang saling bantu saling dukung, tentu saja hebat bukan main.

Betapapun lihainya Puteri Mayani, ia adalah seorang dara yang baru berusia delapan belas tahun, belum ban yak pengalaman.

Mana mungkin ia kuat menghadapi penyerangan lima orang yang bersatu dalam barisan pedang yang merupakan ilmu yang sudah teratur rapi dan amat baiknya itu.

Sebentar saja ia terdesak hebat dan ke pedang dari Ngo-heng Kiam-tin terpentat sehingga barisan itu menjadi kacau!

Song Kwan dan adik-adiknya terkejut bukan main melihat dua orang pemuda yang mengamuk dan melindungi Puteri Mayani itu.

Akan tetapi A Siong telah dipesan oleh Siauw Beng sehingga ketika menggerakkan tongkatnya, dia sama sekali tidak menyerang lima orang itu, melainkan semata-mata melindungi sang puteri dari ancaman pedang.

Puteri Mayani sendiri juga heran dan terkejut, akan tetapi juga girang karena ada dua orang menyelamatkannya.

Pada saat itu, tiba-tiba terdengar suitan nyaring dan muncullah belasan orang perajurit Maneu, dipimpin oleh seorang pemuda berpakaian seperti seorang bangsawan Mancu.

Dia juga memegang sebatang pedang bengkok seperti yang dipergunakan Puteri Mayani, akan tetapi pedangnya lebih besar dan lebih panjang.

"Adinda Mayani"

Pemuda bangsawan Mancu itu berseru. Pemuda itu berwajah. tampan dan gagah dan ketika dia menyerbu, gerakannya juga ganas dan dahsyat sekali sehingga lima orang pendekar itu terdesak ke belakang.

"Kanda Dorbai, siapa suruh kau membantu!"

Puteri Mayani berseru, alisnya berkerut.

Akan tetapi pemuda Mancu yang disebut Dorbai itu tidak perduli dan terus membantu Mayani mendesak lima orang pendekar.

Belasan orang perajurit Mancu juga sudah menggunakan golok mereka untuk mengeroyok sehingga lima orang pendekar itu berada dalam keadaan sulit dan gawat.

Melihat ini, Siauw Beng segera berkata kepada A Siong.

"A Siong, mari kita bantu mereka!"

Dan dia sendiri lalu menggerakkan tongkatnya untuk memukul ke arah lengan pemuda bangsawan yang menggunakan pedang bengkoknya menyerang dengan dahsyat ke arah Song Kwan.

Ketika itu Song Kwan sedang menghadapi pengeroyokan tiga orang perajurit, maka serangan dahsyat itu tidak sempat dihindarkannya.

Biarpun pukulan tongkat Siauw Beng membuat pemuda bangsawan itu membalikkan pedangnya, namun tetap saja ujung pedang itu sudah mencium pundak Song Kwan sehingga bajunya robek berikut kulit pundak sehingga berdarah.

Akan tetapi, pemuda bangsawan itu terpaksa melompat jauh ke belakang karena tongkat di tangan Siauw Beng sudah meluncur dan mengancam ulu hatinya.

Pemuda itu terkejut sekali karena dia merasa betapa tongkat yang tidak mengenai dadanya itu masih tetap mendatangkan angin yang membuat dadanya terasa panas.

Dia maklum bahwa pemuda yang tadi dia lihat membantu Mayani dan kini tiba-tiba membalik dan membantu lima orang itu memiliki sin-kang (tenaga sakti) yang amat hebat!

Sementara itu, A Siong juga cepat memutar tongkatnya menghalangi Mayani yang telah berhasil melukai Bhe Kam.

Ujung pedang puteri Mancu itu berhasil melukai paha kiri Bhe Kam sehingga berdarah.

Akan tetapi untung, selagi Mayani mendesak hendak mengirim tusukannya.

Mayani terkejut dan melawan raksasa muda itu.

Namun puteri Mancu itu menghadapi permainan toya yang amat kuat.

Toya atau tongkat itu diputar sedemikian rupa sehingga membentuk payung yang menjadi perisai amat kuatnya.

Ketika Mayani mencoba untuk menyerang dengan pedang dan sabuk sutera merahnya, kedua senjatanya itu terpental keras, terbentur gulungan sinar yang menjadi perisai dari tong kat A Siong!

Kini Siauw Beng menahan serangan pemuda bangsawan yang bernama Dorbai itu, sedangkan A Siong menghadang Mayani.

Dua belas orang perajurit itu kini bertempur mengeroyok lima orang pendekar yang mengamuk hebat walaupun Song Kwan sudah terluka pundaknya dan Bhe Kam terluka pahanya.

Puteri Mayani juga menjadi bingung.

Ketika tadi ia terancam Ngo-heng Kiamtin dan nyawanya terancam, keadaannya gawat sekali, muncul dua orang pemuda dusun itu yang menghalangi lima orang itu membunuhnya.

Mengapa kini mereka berdua berbalik dan membantu lima orang itu?

"Hai!

Gilakah engkau?"

Teriaknya kepada A Siong yang terus menangkisi semua serangannya sehingga kedua tangannya terasa pedas dan kedua senjatanya selalu terpental kembali.

"Tadi engkau membantuku akan tetapi sekarang malah menentangku!"

A Siong sendiri juga bingung. Dia hanya secara taat dan otomatis menurut permintaan Siauw Beng dan pikirannya yang agak lambat itu menjadi bingung juga akan perubahan yang ditentukan Siauw Beng ini.

"Aku... aku membantu yang terancam bahaya maut!"

Katanya ngawur, akan tetapi juga membuktikan kejujurannya karena hanya itulah yang dia ketahui mengapa Siauw Beng kini berbalik membela lima orang itu.

Siauw Beng mendapat kenyataan bahwa lawannya, pemuda bangsawan Mancu itu benar-benar lihai sekali ilmu pedangnya.

Ilmu pedang yang aneh gerakannya, terkadang menyambar-nyambar bagaikan seekor naga mengamuk dari angkasa, terkadang berubah menyerang dari bawah dengan gerakan lenggak-lenggok seperti serangan seekor ular yang berbahaya sekali.

Akan tetapi, Siauw Beng telah mewarisi ilmu Ngo-heng Lian-hoan Kunhoat peninggalan ayahnya, dimatangkan pula oleh penggemblengan Pek In Sanjin yang sakti, maka dia tidak menjadi kerepotan menghadapi semua serangan aneh itu.

Bukan hanyq.

dia mampu menangkis semua itu, bahkan kalau dia mau, dia dapat membalas dengan tidak kalah dahsyatnya.

Hanya saja, dia tidak ingin terlibat dalam perkelahian.

Niatnya hanya menolong Ngo-kiam-hiap, bekas kawan-kawan seperjuangan ayah angkatnya yang tadi terdesak dan terancam bahaya maut.

Seperti juga Siauw Beng, A Siong tidak mau menyerang Puteri Mayani, hanya membendung semua serangannya, membuat puteri itu tidak berdaya dan ingin menangis saking jengkelnya.

Akan tetapi tidak demikian dengan Ngo-kiam-hiap.

Mereka mengamuk dan sudah ada lima orang perajurit terjungkal menjadi korban pedang mereka yang mengamuk ganas.

Melihat keadaan ini, pemuda bangsawan Mancu dan (Mayani maklum bahwa pihaknya akan kalah dan menderita rugi, bahkan mungkin terancam maut kalau perkelahian itu dilanjutkan.

Maka, pemuda Mancu itu lalu membunyikan suitan tanda bahwa mereka semua harus mundur dan melarikan diri.

Mayani juga maklum akan bahaya, maka iapun melompat ke belakang dan.

melarikan diri bersama pemuda bangsawan Mancu itu, disusul tujuh orang perajurit yang menarik tangan lima orang teman mereka yang terluka.

Siauw Beng dan A Siong tidak mengejar, apalagi menyerang, tadipun mereka berdua tidak pernah menyerang lawan.

Lima orang Ngo-kiam-hiap juga tahu diri.

Dua di antara mereka sudah terluka dan mereka tahu benar, tanpa adanya dua orang pemuda dusun itu, mungkin.sekarang mereka berlima telah tewas.

Maka, mereka juga tidak melakukan pengejaran.

Setelah membiarkan pundaknya diobati Ciang Hu Seng yang pandai ilmu pengobatan, yang juga mengobati luka di paha Bhe Kam.

Song Kwan lalu menghampiri Siauw Beng dan A Siong yang masih berdiri melihat ke arah larinya orang-orang Mancu tadi sambi!

memegangi kayu yang tadi mereka pergunakan sebagai senjata.

"Ji-wi eng-hiong (kedua orang pendekar) yang gagah perkasa! Kami berlima berhutang nyawa kepada ji-wi. Kalau tidak ada ji-wi yang membantu, tentu sekarang kami telah tewas di tangan orang-orang Mancu itu."

Kata Song Kwan sambil memberi hormat.

"Bolehkah kami mengetahui nama ji-wi (kalian berdua) yang mulia?"

"Hemm, kalau tidak ada mereka berdua, perempuan iblis Mancu tadi tentu telah dapat kita binasakanl"

Kata Lee Bun si muka tengkorak dengan suara mengandung penyesalan.

Siauw Beng dapat merasakan ketidakpuasan yang terkandung dalam ucapan si muka tengkorak itu dan diapun merasa bahwa dialah yang menjadi penghalang sehingga mereka berlima tidak sempat membunuh Puteri Mayani yang tadi sudah terkepung dan dalam keadaan gawat.

Maka diapun dengan sikap hormat menjura kepada mereka dan berkata.

"Harap Ciong-yang Ngo-tai-hiap suka memberi maaf yang sebesarnya kepada kami berdua. Terus terang saja, ketika kami tadi. melihat seorang gadis remaja ngo-wi keroyok dan, ia terancam bahaya maut, kami berdua tidak dapat membiarkannya saja dan terpaksa kami menghalangi ngowi (anda berlima) melakukan pembunuhan terhadap seorang gadis muda."

"Heh, orang muda Apakah engkau tidak tahu bahwa ia itu seorang Puteri Mancu yang menjajah bangsa kita dan menjadi musuh bersama kita?"

Bentak Song Kui yang juga merasa penasaran karena kalau tidak ada dua orang muda dusun itu yang menghalang, tentu puteri itu sudah dapat dibunuh dan merekapun tidak menjadi terdesak ketika pemuda Mancu dan pasukannya datang menyerbu.

"Paman sekalian, ada dua hal penting yang membuat terpaksa kami tadi menghalangi ngo-wi membunuh gadis itu. Pertama, sudah menjadi kewajiban kami untukmenolong siapa saja yang terancam bahaya dan gadis itu kami pandang sebagai seorang manusia, bukan sebagai gadis bangsa ini atau itu dan yang menjadi musuh bangsa adalah pemerintah Mancu, bukan gadis itu. Kiranya bukan ia yang mempunyai prakarsa menyerang dan menjajah bangsa kita. Dan kedua, kami merasa tidak pantas bagi orang-orang seperti Ciong-yang Ngo-tai-hiap untuk mengeroyok dan membunuh seorang lawan yang hanya merupakan seorang gadis remaja. Hal itu akan memalukan sekali dan menjatuhkan nama dan kehormatan para pendekar sakti seperti paman berlima."

Lima orang pendekar itu saling pandang dan Song Kwan memberi isarat dengan tangannya agar empat orang adiknya tidak berbantahan lagi. Dia memandang kepada Siauw Beng lalu bertanya.

"Pendapatmu itu masuk akal, orang muda. Akan. tetapi kenapa engkau kemudian berbalik dan membantu kami ketika kami diserang oleh pemuda dan gadis Mancu bersama para pengawal mereka itu?"

"Karena kami melihat bahwa keadaannya berbalik. Ngo-wi yang terancam bahaya dan tentu saja kami berdua tidak mungkin membiarkan Ciong-yang Ngotai-hiap yang merupakan orang-orang golongan sendiri terancam bahaya."

"Golongan sendiri? Apa maksudmu? Siapakah namamu, orang muda?"

Song Kwan mendesak.

"Nama saya Lauw Beng dan saudara ini bernama A Siong."

"She Lauw? Engkau she Lauw"?"

Song Kwan bertanya, alisnya berkerut.

"Benar, paman. Dan saya mengenal nama-nama paman berlima. Paman Song Kwan, Song Kui, Ciang Hu Seng, Bhe Kam dan paman Lee Bun, bukan?"

"Hei! Bagaimana engkau dapat mengenal kami?"

Tanya Song Kwan dan yang lain-lain juga terheran dan ingin tahu sekali.

"Paman, yang memberitahu kepada kami adalah ayah angkat saya Ma Giok dan guru say a adalah mendiang Pek In San-jin."

Lima orang itu terkejut.

"Dan kau... kau ini... she Lauw..."

Song Kwan tidak melanjutkan kata-katanya, meragu.

"Ayah kandung saya adalah mendiang Lauw Heng San, dan ibu kandung saya adalah mendiang Bu Kui Siang."

"Ahh...!!"

Seruan ini keluar dari mulut lima orang pendekar itu.

"Su-siok, apa paman tidak melihat jelas siapa mereka ini? Lihat, mereka ini orang-orang begini sederhana, bukan pejabat, bukan bangsawan bukan hartawan, bahkan saudara ini buntung lengan kirinya, dan paman masih tega untuk membajaknya? Ini keterlaluan namanya!."

Orang bermuka hitam yang ternyata adalah Toat-beng Siang-kiam Can Ok tersenyum.

"Ai Yin, engkau tahu apa? Orang-orang ini menyimpan banyak emas dan perak. Karena itulah aku menghadang mereka! Kalau engkau berpihak kepada mereka, engkau hanya akan membuat mereka ini mengadalkan perlindunganmu dan bersembunyi di belakangmu!"

Sejak mendengar bahwa Hui-kiam Lo-mo sudah meninggal dunia dan orang bermuka hitam ini bukan lain adalah Toat-beng Siang-kiam Can Ok, A Siong sudah mengepal tinju dan menyentuh lengan Siauw Beng.

Akan tetapi pemuda buntung ini masih bersabar.

Jadi inikah orang yang dahulu bersama mendiang Hui-kiam Lo-mo telah menyerang Lam-liong (Naga selatan) Ma Giok pada saat ibunya melahirkan dia?

Biarpun tidak secara langsung, orang bermuka hitam ini yang membuat ibunya ketakutan dan kaget, sehingga ibunya meninggal ketika melahirkan dia.

"Nona, terima kasih atas pembelaanmu!"

Kata Siauw Beng kepada gadis itu sambil mengangkat tangan kanannya, di miringkan ke depan dada sebagai tanda penghormatan.

"Akan tetapi biarkan kami menghadapi sendiri Toat-beng Siang-kiam Can Ok dan anak buahnya. Kami tidak takut menghadapi mereka, nona".

"Nah, Ai Yin, kalau yang kau bela tidak mau, apakah engkah berkukuh hendak membela mereka? Minggirlah, biar kami berurusan dengan bocah sombong ini!"

Kata Can Ok. Gadis yang di panggil Ai Yin itu memandang Siauw Beng dengan alis berkerut.

"Benar-benar engkau berani melawan su-siok Toat-beng Siang-kiam? Dia ini datuk Sungai Huang-ho dan lihai sekali kenapa kalian berdua tidak cepat pergi saja dari sini dan aku yang akan melarang mereka mengganggu kalian!."

"Jangan khawatir, Nona. Kami akan berusaha sekuat tenaga".

"Akan tetapi lenganmu...

"Gadis itu memandang kearah lengan baju sebelah kiri Siauw Beng yang tergantung kosong bagian bawahnya.

"Aku tidak takut, Nona. Terima kasih atas kebaikanmu dan maafkan kalau kami menolak pembelaanmu". Gadis itu mengerutkan alisnya dan cuping hidungnya bergerak-gerak, lalu ia mendengus dan berkata.

"Kalau engkau mati jangan bilang bahwa aku tidak membelamu dan membantu paman guruku yang menyeleweng!"

Setelah berkata demikian gadis itu keluar dari kepungan.

"He, bocah sombong! Berani kau melawan aku?"

Can Ok membentak dan memandang ringan.

Dia adalah seorang tokoh besar, menggantikan mendiang gurunya, menjadi datuk Sungai Huangho!

Terkenal sebagai seorang ahli pedang sehingga mendapat julukan Toat-beng Siang-kiam (Sepasang Pedang Pencabut Nyawa), maka tentu saja dia memandang ringan walaupun tadi dua orang pemuda itu telah memperlihatkan kepandaian merobohkan anak buahnya.

"Katakan dulu siapa nama kalian agar jangan menjadi roh penasaran karena sebentar lagi kalian berdua akan mampus!". A Siong mendahului sutenya menjawab dengan suaranya yang lantang.

"Buka telingamu lebar-lebar, kepala bajak sungai! Aku bernama A Siong dan suteku ini yang di kenal sebagai Lui-kong-ciang (Si Tangan Halilintar)!."

Mendengar ini Siauw Beng tersenyum saja karena setiap kali memberi pertolongan kepada orang-orang tertindas dan menentang kejahatan, suhengnya itu selalu memperkenalkan sebutan Lui-kong-ciang itu untuknya.

Dia membiarkan saja karena hal itu sesuai dengan pesan ayahnya, Ma Giok, dalam usahanya untuk membersihkan nama ayah kandungnya yang dulu juga di sebut Si Tangan Halilintar.

Karena nama itu dengan sengaja "diobral "oleh A Siong, maka sebentar saja julukan Lui-kong-ciang menjadi terkenal sebagai pendekar berlengan satu yang baru muncul.

Can Ok belum pernah mendengar julukan Si Tangan Halilintar itu, maka dia tertawa mengejek.

Suhengnya berwajah dan bersikap seperti orang bodoh, dan sutenya itu hanya seorang pemuda yang bertangan satu, sama sekali tidak perlu di takuti.

"Hemm, bocah-bocah kemarin sore macam kalian berani menentangku! Majulah kalian berdua. Sepasang pedangku ini sudah haus untuk minum darah kalian!."

Dia menggerakkan kedua tangan ke belakang dan tampak sinar berkelebat menyilaukan mata ketika sepasang pedang yang berada di kedua tangannya itu tertimpa sinar matahari. Asiong tertawa.

"ha-ha-ha, kami bukan orang-orang yang suka melakukan pengeroyokan seperti pengecut. Engkaulah yang pasti akan mengandalkan pengeroyokan!."

Wajah Can Ok semakin hitam dan matanya mendelik. Baru sekarang tokoh ini tampak galak menyeramkan, padahal tadi ketika menjadi penjual perahu, tampak lemah lembut.

"Tidak sudi aku melakukan pengeroyokan! Kalau begitu, hayo engkau sendiri yang maju melawanku, satu lawan satu. Yang lain menjadi saksi!."

"He-he-he, siapa percaya saksi seperti anak buahmu ini? Kalian pasti akan bertindak curang". Kata A Siong, sengaja memanaskan hati karena biarpun dia tidak cerdik, namun dia tahu benar bahwa kemarahan membuat seorang ahli silat kurang waspada dalam sebuah pertandingan silat.

"Biar aku yang menjadi saksi!"

Tiba-tiba terdengar suara nyaring dan ternyata yang berteriak itu adalah gadis tadi yang kini sudah duduk di atas sebuah dahan pohon dengan kedua kakinya ongkang-ongkang (tergantung), lagaknya seperti anak kecil yang sedang menonton pertunjukan menarik yang akan dilihatnya di bawah pohon.!

"Bagus sekali kalau engkau suka menjadi saksi, Nona!"

Kata A Siong. Akan tetapi sebelum dia melayani Can Ok bertanding, Siauw Beng yang dapat menduga bahwa orang ini cukup lihai, segera melangkah maju.

"Ha-ha, baiklah, Sute. Kalau kau tidak dapat mengalahkannya, barulah aku yang maju!"

Katanya, sengaja menyombongkan diri untuk membikin gentar hati lawan.

"Aku akan menjaga agar jangan ada yang main curang!."

Can Ok menghadapi Siauw Beng dengan senyum mengejek. Dia melintangkan kedua pedangnya di depan dada dengan bersilang, membentuk gunting, lalu berseru, suaranya mengejek.

"Si Tangan Halilintar, coba keluarkan tangan ampuhmu itu dan bersiaplah untuk mati!"

Dia sudah siap untuk menyerang. Akan tetapi tiba-tiba terdengar suara gadis itu nyaring.

"Tahan! Sebagai saksi aku merasa tidak adil kalau yang seorang menggunakan sepasang pedang, padahal lawannya hanya bertangan satu dan tidak bersenjata! Eh, Tangan Halilintar, kalau kau tidak mempunyai senjata, boleh kau pinjam pedangku ini, agar pertandingan menjadi adil. Kalau tidak adil begini, lebih baik batalkan saja!."

Mendengar ini diam-diam Siauw Beng merasa kagum kepada gadis itu.

Boleh jadi gadis itu berandalan dan liar, sikapnya kasar, bahkan lebih ugal-ugalan dibandingkan Puteri Mayani.

Mendengar ucapan gadis itu, dia lalu menggerakkan tangan kanannya, dan Can Ok terkejut karena dia tidak dapat mengikuti gerakan tangan kanan itu, tahu-tahu tangan itu memegang gagang sebatang pedang tipis yang mengeluarkan suara mengaung ketika tiba-tiba berkelebat menjadi sinar kilat itu.

"Bagus, kiranya engkau memiliki sebatang pedang yang amat baik, buntung.! Nah, sekarang kalian berdua boleh mulai bertanding!"

Gadis itu berseru girang.

"Lihat pedang!"

Can Ok membentak dan dua sinar pedang berkelebat menyambar-nyambar tubuh Siauw Beng.

Akan tetapi dengan lincah pemuda ini bergerak cepat, tubuhnya bagaikan baying-bayang berkelebat di antara kedua sinar pedang itu.

Tentu saja Can Ok terkejut dan dari gerakan yang amat ringan itu saja dia dapat menilai bahwa pemuda buntung yang berjuluk si Tangan Halilintar ini benar-benar lihai.

Maka dia bersikap hati-hati dan mempercepat gerakan sepasang pedang sambil mengerahkan seluruh tenaga saktinya.

datuk Sungai Huangho ini memang lihai sekali mempergunakan sepasang pedangnya.

Gerakannya kini amat cepat.

Sejak dia kalah oleh Ma Giok sekitar dua puluh tahun yang lalu, dia telah memperdalam ilmu pedangnya, di latih gurunya, Hui-kiam Lo-mo yang kini telah meninggal sehingga kini dia jauh lebih lihai daripada dahulu.

Karena serangan sepasang pedang itu menjadi semakin ganas dan berbahaya, Siauw Beng terpaksa menangkis dengan pedangnya sambil mengerahkan tenaga saktinya pula.

"Haiiiitttt... trakk-trakkk"! "Can Ok melompat ke belakang dan matanya terbelalak memandang kedua batang pedangnya yang telah patah ketika bertemu sinar pedang kilat lawan sehingga yang tinggal di tangannya hanya gagang dan sepotong pedang pendek sekali! Sama sekali tidak di sangkanya bahwa hanya dalam pertandingan belasan jurus saja, padahal pemuda itu sama sekali belum balas menyerang, sepasang pedangnya sudah patah-patah! Tentu pokiam (Pedang pusaka) si lengan buntung itu luar biasa ampuhnya, pikirnya. Kalau bertanding tangan kosong tentu dia akan lebih unggul, mengingat lawannya hanya bertangan satu.

"Orang muda,pedangmu amat ampuh sehingga sepasang pedangku patah. Beranikah engkau melanjutkan pertandingan dengan tanngan kosong?."

"Wah, tidak adil!"

Kembali gadis itu berseru setelah tadi bertepuk tangan memuji melihat betapa sepasang pedang paman gurunya patah oleh tangkisan pedang Siauw Beng.

"Kalau mau adil, tangan susiok yang kiri harus di ikat di pinggang dan tidak boleh di gerakkan!."

Can Ok tidak menjawab, hanya memandang Siauw Beng dengan mata mendelik.

"Lui-kong-ciang, bagaimana? Beranikah engkau bertanding dengan tangan kosong melawan aku?."

Siauw Beng melibatkan lagi pedangnya di pinggang.

Biarpun tangannya hanya sebelah, namun dia sudah terlatih dan dapat melibatkan pedang itu.

Mula-mula gagang pedang yang di jepit di pinggang lalu ujung pedang di tarik dengan tangan kanan, dililitkan pinggang dan ujung pedang itu masuk ke sebuah lubang yang berada di belakang gagang pedang.

Setelah melibatkan pedang Lui-kong-kiam, barulah dia menjawab.

"Tentu saja aku berani. Silahkan maju menyerang".

"Hyaaaaaahhh"!!"

Can Ok menyerang dengan ganasnya.

Gerakan kedua tangannya mendatangkan angina dahsyat.

Namun dengan keringanan tubuhnya Siauw Beng dapat mengelak dengan amat mudah.

Can Ok menjadi semakin penasaran.

Kini kedua tangan dan kedua kakinya menyerang sedemikian gencarnya sehingga mau tidak mau Siauw Beng harus menghindarkan diri dengan tangkisan karena kalau hanya mengelak terus, hal itu dapat membahayakan dirinya.

Ketika kaki kanan lawan menyambar kea rah lambung kirinya, lengan bajunya berkelebat menangkis.

"Plaakkk!"

Can Ok terkejut bukan main.

Biarpun lengan baju itu bagian ujungnya kosong karena lengan Siauw Beng hanya sebatas siku, namun lengan baju itu mengandung tenaga yang hebat sehingga kakinya terpental membalik dan terasa panas dan nyeri!

Can Ok merasa terkejut dan penasaran.

Dia mengeluarkan semua ilmu silatnya dan mengerahkan selurruh tenaganya.

Namun semua serangannya sia-sia belaka.

Kalau tidak di elakkan tentu di tangkis pemuda buntung itu.

Tiba-tiba kedua tangan Can Ok bergerak di pinggangnya dan begitu tangannya bergerak ke depan, dua sinar kilat menyambar kea rah tubuh Siauw Beng.

"Curang!!"

Terdengar gadis itu berteriak.

Akan tetapi tentu saja Siauw Beng tidak mudah di serang secara gelap dengan dua buah pisau terbang itu.

Dia melompat ke samping dan menangkis dengan tangan kanannya.

Sebatang pisau terbang meluncur lewat dan yang sebuah lagi dipukulnya runtuh.

Can Ok sudah marah sekali, menubruk maju hendak menggunakan kesempatan selagi Siauw Beng menghindar dari sambaran dua batang pisau terbangnya, dia menyerang dengan ganas sekali.

Siauw Beng miringkan tubuhnya dan ujung lengan baju kirinya menyambar dan membelit lengan kanan Can Ok.

Kemudian dia menarik dengan sentakan sehingga tubuh Can Ok tidak mampu mempertahankan diri dan begitu dia terhuyung ke depan, Siauw Beng menyambar tengkuknya, tangan kanannya menangkap leher baju di bagian tengkuk dan mengerahkan tenaga, tubuh Can Ok sudah terlempar, melayang ke arah sungai.

"Byyuurrr".!!"

Air sungai muncrat ketika tertimpa tubuh Can Ok.

Tujuh belas anak buah Can Ok yang tadinya menonton, kini mencabut senjata golok mereka yang menyerang kea rah Siauw Beng.

Akan tetapi A Siong mengeluarkan teriakan marah dan menyambut mereka dengan amukannya.

"Suheng, jangan membunuh orang!"

Kata Siauw Beng dan dia menjauhkan diri, membiarkan A Siong menghadapi pengeroyokan mereka karena dia maklum bahwa A Siong akan mampu mengalahkan mereka semua.

"Curang! Tidak tahu malu!"

Terdengar teriakan dan tubuh gadis itu melayang dari atas pohon lalu iapun mengamuk dan membantu A Siong.!

Siauw Beng tersenyum menyaksikan sepak terjang A Siong dan gadis itu.

Mereka menghadapi sepak terjang A Siong dan gadis itu.

Mereka menghadapi belasan orang bersenjata golok dengan tangan kosong.

Akan tetapi tamparan dan tendangan kaki mereka membuat para pengeroyok terpelanting ke sungai!

Pertempuran itu tidak memakan waktu lama dan seluruh anak buah Can Ok sudah terlempar ke sungai semua.

Mereka berenang ke tepi yang agak jauh dari situ lalu melarikan diri terlebih dulu.!

Setelah semua lawan pergi, Siauw Beng menghampiri gadis itu dan memberi hormat dengan tangan kanan depan dada sambil membungkuk.

"Nona, kami mengucapkan terima kasih atas kebaikan hati Nona yang telah membantu kami".

"Hemmm, aku tidak membantu kalian. Aku hanya tidak suka melihat sikap paman guruku, maka aku menentang dia dan anak buahnya!"

Lalu ia memandang kepada A Siong kemudian kepada Siauw Beng lagi.

"Aku telah melihat gerakan kalian berdua dan aku merasa heran sekali, mengapa kepandaian sang sute yang buntung lengan kirinya lebih lihai daripada suhengnya?."

"Ha-ha, tidak usah heran, Nona. Sute ku ini berjuluk si Tangan Halilintar, sedangkan aku tidak mempunyai julukan apapun".

"Aku juga merasa heran, Nona. Mengapa seorang keponakan murid berani menentang paman gurunya dan juga memiliki kepandaian yang jauh lebih lihai daripada kepandaian paman gurunya? Bukankah ini lebih aneh lagi?"

Kata Siauw Beng.

"Tangan Halilintar, ku lihat ilmu silat tangan kosong dan silat pedangmu hebat sekali. Aku jadi ingin mencobanya".

"Ah, Nona. Aku tidak ingin berkelahi denganmu!."

"Siapa yang mau berkelahi? Aku hanya ingin menguji sampai dimana hebatnya ilmu silatmu sehingga engkau mendapat julukan Si Tangan Halilintar. Nah, bersiaplah, Tangan Halilintar!."

Gadis itu memasang kuda-kuda, kedua kakinya berjungkit, kedua tangannya dikembangkan dengan jari tangan terbuka menunjuk ke atas.

"Sudahlah, Nona. Biar aku mengaku kalah padamu".

"Tidak bisa! Kalau engkau mengaku kalah sebelum bertanding, berarti engkau pengecut!."

"Sute, nona ini hanya ingin menguji kepandaian, mengapa engkau menolaknya? Tanpa mengenal ilmu masing-masing persahabatan tidak akan menjadi akrab dan dapat saling mencurigai". Mendengar ucapan A Siong itu, Siauw Beng menghela napas panjang. Sebetulnya dia tidak ingin bertanding dengan gadis yang telah membelanya itu. Akan tetapi gadis itu memaksanya, bahkan kini A Siong juga ikut membujuknya. Malah dia akan di anggap pengecut kalau mengaku kalah sebelum bertanding, dia akan melayani dan sekaligus mengobati ketinggian hati gadis liar ini, gadis yang bersikap begitu berani terhadap paman gurunya sendiri yang ugal-ugalan namun agaknya memiliki ilmu kepandian yang tinggi.

"Baiklah kalau engkau memaksa. Nah, maju dan seranglah!."

Melihat Siauw Beng tidak memasang kuda-kuda, hanya berdiri dengan santai, gadis itu memberi peringatan dengan seruang nyaring.

"Lihat seranganku!"

Ia lalu menyerang maju.

Dari kuda-kuda dengan jurus Pek-ho-liang-ci (Bangau Putih Pentang Sayap) ia lalu bergerak maju dan kedua tangannya dengan cepat dan bergantian menotok kea rah jalan darah di tujuh jalan darah terpenting yang terdapat di bagian tubuh Siauw Beng.

Ia menyerang dengan jurus Pek-ho-tok-hu (Bangau Putih Mematuk Ikan).

Gerakannya ringan dan cepat sekali, juga dari angina pukulan yang menyambar mendahului jari-jari mungil yang menotok, Siauw Beng tahu bahwa gadis ini memiliki sin-kang (tenaga sakti) yang kuat, bahkan jauh lebih kuat dibandingkan Can Ok tadi.

Dia cepat mengelak ke kanan kiri, kecepatan gadis itu sehingga totokan bertubi-tubi itu tak pernah mengenai sasaran.

Setelah mengelak terus dan melihat betapa gadis itu mengejarnya dan bahkan mempercepat serangannya yang bertubi-tubi, Siauw Beng menangkis dengan ujung bajunya yang kosong.

"Wuuuttt... plak-plak-plak!"

Tiga kali totokan gadis itu tertangkis ujung lengan baju dan gadis itu merasa betapa tangannya panas dan tergetar hebat oleh lengan baju yang lemas itu.

Ia kagum sekali, maklum bahwa orang yang sudah mampu menyalurkan tenaga ke ujung kain lengan baju itu tentu memiliki tenaga sakti yang amat kuat.

Timbul kegembiraan di hati gadis itu.

Tadi ia sudah menduga bahwa pemuda lengan buntung yang memakai julukan Si Tangan Halilintar ini pasti seorang yang lihai sekali dan ternyata benar.

Ayahnya pernah mengingatkannya bahwa kalau ia berhadapan dengan seorang wanita atau pria tua, seorang pengemis, seorang penderita cacat atau seorang pendeta, ia harus bersikap hati-hati.

Orang-orang yang tampaknya lemah tadk berdaya itu, kalau sudah menguasai ilmu silat, biasanya amat berbahaya.

Orang biasanya condong memandang rendah kepada merak dan karena memandang rendah inilah orang dapat roboh oleh orang-orang yang pada umumnya lemah tak berdaya ini.

Setelah merasa yakin bahwa Si Tangan Halilintar itu benar-benar lihai, gadis itu bersemangat dan kini ia mengeluarkan jurus-jurus ampuhnya untuk menyerang Siauw Beng.

Melihat perubahan ini dan merasakan betapa serangan gadis itu, Siauw Beng membela diri dan selain mengelak dan menangkis, dia juga mulai membalas dengan serangan tamparan dan totokan dengan ujung lengan buju kiri, walaupun dia berhati-hati agar jangan sampai kesalahan memukul atau menotok bagian tubuh yang berbahaya.

Kedua orang itu berkelebatan sehingga tubuh mereka berubah menjadi dua bayangan yang saling serang.

Demikian hebatnya gerakan mereka sehingga daun-daun pohon di sekitar tempat itu bergoyang-goyang tertiup angin pukulan mereka.!

Melihat serunya pertandingan itu, A Siong berulang kali bertepuk tangan sambil berseru memuji.

"Bagus, bagus, hebat!."

Mendengar pujian ini, gadis itu menyerang semakin gencar dan Siauw Beng juga mengimbanginya. Tiba-tiba gadis itu mengubah gerakan silatnya dan berseru nyaring.

"sambut seranganku ini!."

Siauw Beng terkejut karena gadis itu kini berkelebat dan membuat gerakan berputar-putar.

Gerakan kedua lengannya mengeluarkan angina berpusar seperti angina rebut.

Itulah ilmu silat tangan kosong Pat-hong-sin-kun (Silat Sakti Delapan Penjuru Angin).!

"Hyaaattt"!!"

Gadis itu menyerang dengan ganas sekali dengan jurus Hong-cui-pai-hio (Angin Meniup Daun).

Kedua tangan itu menyambar-nyambar dan tubuhnya berkelebat, menyerang Siauw beng dari delapan penjuru!

Siauw beng yang bagaimanapun juga tidak mau kalah, mendorong-dorongkan tangan kanannya.

Dari telapak tangan itu keluar hawa dorongan yang amat kuat.

Pernah gadis itu terserempet dorongan sehingga tubuhnya terhuyung ke belakang.

Tiba-tiba gadis itu mengeluarkan bentakan melengking dan tubuhnya melompat ke atas, lalu dari atas ia turun dengan kedua kaki terlebih dulu, menginjak kearah kepala pemuda itu!

Siauw Beng cepat mengelak lalu menyambut sebelah kaki lawan dan mendorongnya ke atas sehingga tubuh gadis itu melayang ke atas sampai melebihi pohon tingginya!

Akan tetapi ketika ia meluncur turun, tubuhnya seperti melayang dan ia hinggap di atas dahan pohon seperti seekor burung saja.

A Siong bertepuk tangan.

"Bagus sekali! Kalian berdua memang lihai sekali!"

Gadis itu melayang turun ke depan Siauw Beng dan tersenyum.

Manis sekali.!

"Julukanmu Si Tangan Halilintar ternyata bukan omong kosong!

Ciang-hwat-mu (Ilmu Tangan Kosongmu) memang hebat, aku telah mengujinya dan aku mengaku kalah.

Akan tetapi aku ingin sekali menguji Kiam-hwat (ilmu pedang) yang tadi telah engkau perlihatkan ketika melawan susiok Can Ok!."

Setelah berkata demikian, gadis itu mencabut pedangnya yang berkilauan.

"Nah, cabutlah pedangmu, Tangan Halilintar!."

"Nona, kiranya sudah cukup. Mengapa kita harus bertanding lagi? Aku khawatir akan merusak po-kiam (pedang pusaka) yang kau pegang itu. Kalau pedangmu sampai rusak, engkau akan merasa kecewa dan aku akan merasa menyesal sekali".

"Hemm, pedangku ini adalah Liong-cu-kiam ( Pedang Naga ), tidak mungkin akan terbabat putus oleh pedangmu. Mungkin pedangmu yang akan patah oleh pedangku". Kalau begitu lebih berbahaya lagi! Aku tidak ingin pertandingan persahabatan yang main-main ini mengakibatkan pedang kita rusak". Tiba-tiba A Siong menghampiri mereka sambil membawa dua potong ranting kayu sebesar lengan dan panjangnya seukuran pedang.

"Ha-ha, kalian tidak perlu menggunakan pedang pusaka masing-masing. Untuk mengukur ilmu pedang masing-masing, cukup menggunakan ini sebagai pengganti pedang!."

Siauw Beng dan gadis itu agaknya setuju dan mereka berdua menerima sepotong kayu ranting dari tangan A Siong. Gadis itu sudah menyimpan kembali pedangnya.

"Bagus, usul ini baik sekali! Nah, Tangan Halilintar, coba perlihatkan ilmu pedangmu!."

"Engkau yang ingin menguji ilmu pedang, nona, maka engkaulah yang harus membuka serangan".

"Hemm, awas, lihat serangan pedangku!"

Gadis itu membentak dan iapun sudah menggerakkan rantingnya menyerang dengan tusukan kea rah mata Siauw Beng.

Itulah jurus yang amat berbahaya bagi lawan!

Siauw Beng membuat gerakan ke samping untuk mengelak, akan tetapi ranting di tangan gadis itu, begitu tusukannya gagal, sudah di lanjutkan dengan gerakan membabat dari samping kea rah leher lawan.

Siauw Beng kagum.

Ilmu pedang yang dimainkan gadis ini memang hebat dan dahsyat sekali.

Tenaganya kuat dan gerakannya begitu cepat bagaikan angina sehingga dia terpaksa menangkis dengan rantingnya.

"Tukk!"

Dua ranting bertemu dan keduanya mundur dua langkah, lalu gadis itu menyerang lagi.

Agaknya karena ia yakin akan ketangguhan lawan, maka kini ia tidak mencoba-coba lagi, lalu langsung saja mengeluarkan ilmu pedang intinya, yaitu Sin-liong-kiam-sut (Ilmu Pedang Naga Sakti).

Pedangnya bergerak-gerak bergelombang seperti seekor naga melayang-layang dan mengamuk.

Pedang itu, pada saat itu digantikan ranting, menusuk, membabat, membacok atau berputar menyambar-nyambar, masih dibantu dengan gerakan tangan kiri menampar dan dua kakinya bergantian mencuat dengan tendangan-tendangan maut!

Benar-benar seorang gadis ahli pedang yang hebat, pikir Siauw Beng.

Gadis ini tentu saja menjadi seorang ahli pedang yang hebat karena perguruannya juga terkenal dengan ilmu pedangnya.

Buktinya Can Ok itu berjuluk Toat-beng Siang-kiam (Sepasang Pedang Pencabut Nyawa) dan kalau tadi sepasang pedang itu tidak patah oleh Lui-kong Sin-kiam (Pedang Sakti Halilintar) di tangannya, tentu dia tidak dapat memperoleh kemenangan dalam waktu singkat.

Menurut ayah atau gurunya, Ma Giok, Can Ok adalah murid datuk Sungai Huangho yang berjuluk Hui-kiam Lo-mo (Iblis Tua Pedang Terbang).

Kalau Paman gurunya dan kakek gurunya semua ahli pedang, tentu saja gadis ini pun mahir bermain pedang.

Akan tetapi bagaimana ilmu pedang gadis ini jauh lebih lihai dibandingkan ilmu pedang yang dimainkan Can Ok tadi?

Akan tetapi betapa hebatpun permainan "pedang "gadis itu, Siauw Beng yang sudah menguasai ilmu pedang ajaib Lui-kong Sin-kiam, tentu saja tidak merasa terdesak.

Dia juga segera mengerahkan tenaga dan mengeluarkan jurus-jurus ampuh dari Lui-kong Sin-kiam.

Begitu ia mainkan ilmu pedang ini dan membalas, gadis itu mengeluarkan seruan kaget.

Semua serangannya membalik dan ranting di tangan pemuda itu berubah menjadi sinar kilat berwarna kehijauan seperti halilintar menyambar-nyambar!

Juga semua serangan bantuan dengan tangan kiri dan kedua kakinya, sama sekali tidak pernah dapat menyentuh sasaran, bahkan kalau ujung lengan baju kiri pemuda itu menangkis, dara ini merasa tangan atau kakinya yang tertangkis amat panas dan nyeri.

"Wuutttt"!"

Kini ranting di tangan Siauw Beng mendesak dan berputar-putar. Ketika gadis ini menangkis, dia mengerahkan sin-kang menyambut tangkisan itu.

"Wuuuttt"

Kreekkk!"

Ranting di tangan gadis itu patah menjadi dua dan ia melompat ke belakang, wajahnya menjadi pucat akan tetapi hanya sebentar dan ia sudah berdiri tegak menghadapi Siauw Beng dengan wajah berseri dan mulut tersenyum gembira.!

"Hebat sekali ilmu pedangmu.

Senang sekali aku dapat berkenalan denganmu, Tangan Halilintar!."

"Nona, kamilah yang beruntung sekali dapat berkenalan dengan nona yang gagah perkasa dan telah membantu kami menghadapi gerombolan bajak tadi", kata A Siong sambil memandang wajah yang manis itu.

"Nona, harap nona jangan menyebut aku Tangan Halilintar. Aku adalah seorang biasa saja dan namaku Lauw Beng dengan sebutan Siauw Beng (Beng Kecil) dan ini adalah suhengku A Siong".

"Baiklah, mulai sekarang aku akan menyebutmu Siauw Beng dan A Siong", kata gadis itu yang agaknya tidak peduli bahwa dua orang pemuda itu, terutama sekali A Siong, jauh lebih tua daripadanya.

"Dan aku sendiri bernama Wong Ai Yin". Gadis itu lalu duduk di atas sebuah dari empat perahu yang berada di situ, yaitu sebuah perahu kecil milik Siauw Beng dan tiga buah milik para baja sungai tadi.

"Dan jangan kalian menganggap bahwa mereka tadi gerombolan bajak atau perampok. Sesungguhnya mereka adalah segolongan pejuang yang menentang segolongan pejuang yang menentang pemerintah Mancu yang menguasai tanah air kita". Siauw Beng teringat akan cerita ayah angkatnya. Ayahnya juga menceritakan bahwa Hui-kiam Lo-mo dan muridnya Can Ok, adalah orang-orang golongan hitam, akan tetapi mereka itu pembenci Kerajaan Mancu. Bahkan dulu mereka menyerang Lam-liong Ma Giok karena mereka menuduh Ma Giok pengkhianat karena menolong putera pembesar Mancu yang di ganggu perampok. Dia menghela napas panjang. Benarkah orang sesat dapat menjadi pejuang, dapat menjadi pahlawan? Ataukah mereka itu berjuang dengan pamrih untuk menguntungkan diri pribadi? Orang sesat selalu bertindak dengan dasar pamrih untuk keuntungan sendiri, maka yang mereka namakan berjuangan itu sesungguhnya hanya untuk menutupi kejahatan mereka.

"Nona Wong"".

"Husshh!"

Gadis itu memotong ucapan Siauw Beng.

"Kalau aku menyebut kalian Siauw Beng dan A Siong, mengapa engkau menyebut aku pakai nona-nonaan segala? Namaku Wong Ai Yin dan sebutanku Ai Yin begitu saja, tanpa nona-nonaan!."

"Baiklah, Ai Yin. Terus terang saja, kami merasa heran sekali melihat keadaanmu. Bagaimana engkau menyebut Toat-beng Siang-kiam Can Ok tadi sebagai paman gurumu? Dan kalau dia paman gurumu, mengapa aku mendapat kenyataan bahwa ilmu silat tangan kosong maupun pedangmu jauh lebih lihai daripada dia?." (Lanjut ke

Jilid 10) Si Tangan Halilintar (Cerita Lepas) Karya . Asmaraman S. Kho Ping Hoo

Jilid 10 Gadis itu memandang wajah Siauw Beng dengan sinar mata mencorong, wajahnya berseri dan mulutnya tersenyum.

"Siauw Beng, sudah sepatutnya kalau laki-laki memperkenalkan diri lebih dulu kepada perempuan. Karena itu, sebelum aku menceritakan keadaanku, engkau harus lebih dulu menceritakan tentang kalian, darimana kalian datang dan hendak pergi kemana, lalu mengapa kalian sampai bentrok dengan paman guru Can Ok dan anak buahnya di sini". Siauw Beng dan A Siong saling berpandangan. Ai Yin berkata.

"Hayo, duduklah kalian, tidak enak bercakap-cakap sambil berdiri seperti anak wayang!."

Siauw Beng dan A Siong tersenyum. Gadis ini lucu dan ramah. Mereka lalu duduk dalam perahu, berhadapan dengan Ai Yin dan Siauw Beng menceritakan keadaannya secara singkat.

"Aku tidak mempunyai ayah ibu lagi, mereka sudah meninggal dunia ketika aku masih"

Bayi, dan"".

"Aduh, kasihan sekali kau, Siauw Beng", Ai Yin memotong.

"Sejak bayi aku di pelihara ayah angkatku, juga guruku, dan aku menjadi muridnya bersama suhengku A Siong ini. Dia jua sudah yatim piatu. Ayah angkatku itu adalah seorang pejuang pula, mungkin engkau sudah mendengar namanya, Ai Yin".

"Siapa sih namanya?."

"Namanya Ma Giok dan sekarang tinggal di Thai-san.""Aih, kau maksudkan Ma Giok yang berjuluk Lam-liong (Naga Selatan) itu?."

"Benar, kau kenal dia?."

"Aku pernah mendengar namanya di puji-puji ayahku, akan tetapi susiok Can Ok pernah menceritakan bahwa Lam-liong mengkhianati perjuangan dan membela pembesar Mancu". Dari ucapannya ini saja, tahulah Siauw Beng bahwa gadis ini jujur dan terbuka, menceritakan apa adanya tanpa khawatir menyinggung perasaan orang.

"Aku tidak heran mendengar Can Ok bercerita seperti itu kepadamu, Ai Yin. Ketika itu, dua puluh tahun lebih yang lalu, guruku itu melihat rumah seorang pembesar Mancu di serbu segerombolan perampok yang selain merampok juga membunuh orang dan menculik wanita. Putera pembesar itu yang masih pengantin baru di culik oleh segerombolan perampok dan pengantin wanitanya, seorang perempuan Han, akan di perkosa di depan suaminya, Melihat ini, suhu turun tangan menyelamatkan mereka dan mengusir para perampok, walaupun gerombolan itu mengaku sebagai pejuang yang membenci Kerajaan Mancu. Nah, kalau engkau yang melihat peristiwa seperti itu terjadi di depanmu, apakah engkau tidak akan menolong mereka dan menentang para gerombolan itu?."

Ai Yin mengangguk-angguk.

"Sudah ku duga demikian, maka akupun tidak percaya kepada cerita susiok Can Ok. Buktinya, dia tadi juga bermaksud buruk kepada kalian. Aku tidak segan-segan menentang siapapun juga yang melakukan kejahatan".

"Nah, setelah kami berdua selesai belajar ilmu-ilmu dari ayah angkatku dan dari mendiang suhu Pek In San-jin kami lalu di suruh turun gunung oleh ayah angkatku".

"Hemm, Pek In San-jin? Nama itupun pernah ku dengar dari ayahku yang memuji-muji dia sebagai seorang tokoh sakti yang setia kepada Kerajaan Beng yang sudah runtuh oleh orang Mancu". Ai Yin memandang kepada Siauw Beng dengan kagum.

"Pantas engkau lihai, kiranya mendapat gemblengan dari orang sakti itu. Lalu kemana kalian hendak pergi?."

"Kami hendak melihat-lihat keadaan Kota Raja". Kata Siauw Beng yang tidak bercerita tentang ditemukannya Pedang Lui-kong Sin-kiam dan pelajaran ilmu silat di dinding gua.

"Ketika kami tiba di tepi Sungai Huang-ho, kami membeli sebuah perahu kecil ini dari orang yang menawarkannya. Kami lalu melanjutkan perjalanan dengan perahu dan setibanya di sini, kami dihadang gerombolan tadi dan baru kami tahu bahwa yang menjual perahu kepada kami adalah Can Ok tadi. Mungkin dia melihat kantung uang kami ketika kami membayar perahu kecil itu. Nah, sekarang tiba giliranmu, untuk bercerita, Ai Yin. Ceritamu tentu jauh lebih menarik".

"Namaku Wong Ai Yin. Aku tidak mempunyai ibu lagi. Ibu meninggal ketika aku masih kecil. Aku hidup bersama ayahku di dusun besar Po-keng di lereng gunung Beng-san. Ayahku bernama Wong Tat, akan tetapi lebih dikenal dengan julukannya Bu-tek Sin-kiam".

"Aku pernah mendengar nama besar Bu-tek Sin-kiam. Menurut ayah angkatku, Bu-tek Sin-kiam adalah seorang pejuang yang ditakuti Kerajaan Mancu", kata Siauw Beng.

"Memang ayahku dahulu seorang pejuang yang gigih melawan orang-orang Mancu, akan tetapi karena semua perjuangan itu gagal, kini ayah lebih banyak bertapa di lereng Beng-San. Ayah pernah menjadi murid kakek guru Hui-kiam Lo-mo, maka ayahku menjadi suheng ( Kakak seperguruan ) Toat-beng Siang-kiam Can Ok yang kusebut susiok (paman guru)".

"Akan tetapi bagaimana tingkat kepandaianmu dapat lebih tinggi daripada tingkat kepandaian paman gurumu, Ai Yin?"

Tanya A Siong.

"Tingkat kepandaian ayahku jauh lebih tinggi daripada tingkat kepandaian kakek guru Hui-kiam Lo-mo karena setelah tamat belajar pada kakek guru, ayah memperdalam ilmunya dari para pendeta Lama Jubah Merah di Tibet". Siauw Beng dan A Siong mengangguk-angguk maklum.

"Ayah sudah bertahun-tahun mengasingkan diri di gunung Beng-san dan tidak mencampuri urusan dunia ramai. Akan tetapi ayah selalu memesan kepadaku untuk membantu perjuangan para pendekar yang menentang kekuasaan pemerintah penjajah, juga agar aku bersikap dan bertindak sebagai seorang pembela kebenaran dan keadilan, menentang kejahatan. Setelah ayah menganggap aku cukup kuat untuk melindungi diri sendiri, ayah memperkenankan aku pergi turun gunung dan memesan agar aku mengunjungi susiok Can Ok untuk membantunya kalau dia masih melakukan kegiatan melawan Kerajaan Mancu. Akan tetapi, ketika aku melihat dia mengganggu kalian yang bukan orang Mancu, aku menjadi penasaran dan menentangnya. Sekarang aku tidak sudi lagi membantunya karena ternyata perjuangannya hanya menjadi kedok bagi gerombolannya yang sesungguhnya hanyalah gerombolan bajak sungai dan perampok!."

Siauw Beng menghela napas panjang.

"Yah, begitulah keadaannya, Ai Yin. Memang, menurut cerita ayahku, dahulu pemerintah Kerajaan Beng menjadi lemah karena para pemimpinnya hanya mementingkan kesenangan diri pribadi, melakukan koropsi dan kecurangan sehingga Negara menjadi lemah, rakyatnya tidak bersemangat sehingga mudah saja mereka ditaklukan oleh Bang Mancu. Ketika itu, beberapa orang pendekar, termasuk ayahmu itu, berusaha untuk menentang pemerintah penjajah. Akan tetapi semua usaha itu gagal dan pemerintah Kerajaan Mancu menjadi semakin kuat sehingga seluruh wilayah daratan telah mereka kuasai. Kini, tidak ada kesempatan lagi bagi kita untuk melanjutkan perjuangan puluhan tahun yang lalu itu karena kita tidak akan mendapat dukungan rakyat jelata. Pemerintah Mancu ini lebih bijaksana, memperhatikan kesejahteraan rakyat jelata. Juga para pemimpin bangsa Mancu membuka kesempatan besar kepada pribumi Han untuk itu mendorong roda pemerintahan. Bahkan para bangsawan Mancu tidak segan-segan untuk menggunakan nama Han, menerima kebudayaan kita sebagai kebudayaan mereka, kehidupan keluarga mereka juga disesuaikan dengan kehidupan kita. Tidaklah mengherankan kalau rakyat akhirnya dapat menerima kepemimpinan bangsa Mancu, bahkan para pendekar pun banyak yang mulai mendukung usaha pemerintah demi kesejahteraan rakyat. Aku sendiri sudah beberapa kali bertemu orang-orang Mancu yang berwatak baik. Juga ayah angkatku menganjurkan kepadaku agar kami membela kebenaran dan keadilan sebagai pendekar karena sekarang bukan waktunya untuk memberontak terhadap Kerajaan Mancu. Menurut ayahku, pemberontakan menggulingkan pemerintah Mancu bukanlah hal yang mudah karena tidak mungkin kita lakukan tanpa dukungan sepenuhnya dari rakyat jelata. Sekarang kami berdua harus melakukan perantauan dan siap menentang siapa saja yang melakukan kejahatan, tidak peduli apakah dia orang Mancu ataukah orang Han sendiri. Dengan cara itu pun kita sudah membantu memerangi kejahatan dan menentramkan kehidupan rakyat".

"Benar sekali, Siauw Beng. Ayahku juga berpendapat seperti itu. Kau tadi mengatakan bahwa kalian hendak pergi ke kota raja?."

"Ya, akan tetapi sebelum ke Kota raja, kami hendak pergi dulu ke kota Keng-koan. Aku ingin berkunjung ke makam ayah kandungku".

"Ayahmu dimakamkan di sana? O ya, engkau belum mengatakan siapa mendiang ayah kandungmu itu, Siauw Beng".

"Mendiang ayah yang belum pernah ku lihat itu bernama Lauw Heng San".

"Setelah mengunjungi makam ayahmu, engkau lalu pergi ke kota raja?."

"Ya, kami ingin melihat-lihat kota raja dan menyaksikan sendiri apakah benar Kaisar Kang Shi merupakan Kaisar Kerajaan Ceng (Mancu) yang bijaksana dan kabarnya kini sedang berperang melawan bangsa Mongol. Dari keadaan penghidupan rakyat di kota raja kita dapat melihat bagaimana sikap rakyat terhadap kaisar itu".

"Bagus! Kalau begitu, aku akan pergi ke sana bersama kalian!"

Ai Yin tampak gembira sekali, wajahnya berseri.

Siauw Beng dan A Siong saling pandang, agaknya terkejut mendengar ucapan gadis yang mengatakan hendak ikut dengan mereka ke kota raja!

Tentu saja kedua orang pemuda ini terkejut dan ragu karena baru saja mereka mengenal Ai Yin dan tiba-tiba saja gadis itu hendak melakukan perjalanan bersama.!

"Akan tetapi sebelum kita pergi ke sana, aku ingin minta bantuan kalian lebih dulu".

"Bantuan? Tentu saja kami siap membantumu, Ai Yin!"

Kata A Siong.

"Bantuan apakah yang dapat kami berikan kepadamu, Ai Yin?"

Siauw Beng juga bertanya.

"Begini, aku sudah berada di sini, mengikuti kelompok yang di pimpin susiok Can Ok selama hampir tiga bulan. Aku mendengar bahwa di Bukit Menjangan di sana itu terdapat gerombolan jahat yang suka mengganggu penduduk, bukan hanya melakukan perampokan, melainkan juga suka menculik wanita. Semua itu ku dengar dari para nelayan dan sudah kuusulkan kepada susiok untuk menyerbu dan menentang gerombolan itu. Akan tetapi susiok selalu menolak dan mengatakan bahwa gerombolan itu adalah Perkumpulan Hek-houw-pang (Perkumpulan Macan Hitam) yang juga merupakan sekumpulan patriot yang menentang Pemerintahan Mancu. Selama ini aku masih ragu untuk turun tangan sendiri karena menurut keterangan yang ku dapat, gerombolan itu mempunyai anggota sebanyak lima puluh orang lebih dan mereka semua ganas dan kejam, memiliki senjata sepasang cakar harimau dan di pimpin oleh seorang laki-laki tinggi besar berjuluk Hek-houw Mo-ko (Iblis Macan Hitam) yang sakti. Aku khawatir kalau gagal jika pergi sendiri. Akan tetapi aku mendengar laporan dari dusun di kaki bukit itu bahwa kemarin puteri kepala dusun di culik dan lima orang penduduk dusun yang membela gadis itu telah di bunuh. Sekarang aku kebetulan bertemu dengan kalian maka aku minta bantuan kalian untuk menolong penduduk dusun di sekitar dusun itu dan menghajar gerombolan jahat itu".

"Wah, aku siap membantumu, Ai Yin. Biar ku hajar si Harimau Hitam itu!."

Kata A Siong sambil mengepal tinjunya.

"Benar, Ai Yin. Kami berdua siap membantumu". Gadis itu menjadi girang sekali. Ia meloncat berdiri dan berkata.

"kalau begitu, kita tunggu apa lagi? Mari kita berangkat. Kasihan puteri lurah dusun itu yang telah mereka culik kemarin!."

Mereka bertiga lalu berangkat, menumpang perahu kecil milik Siauw Beng.

A Siong mendayung perahu, Ai Yin duduk di tengah dan Siauw Beng duduk di depan.

Perahu meluncur cepat ke hilir dan tak lama kemudian Ai Yin berseru agar A Siong mendayung perahu itu ke tepi sungai sebelah kanan.

Mereka lalu mendarat dan A Siong menambatkan tali perahu ke sabatang pohon.

"Inikah Bukit Menjangan itu?"

Tanya Siauw Beng sambil memandang kea rah sebuah Bukit tak jauh dari situ. Bukit itu penuh dengan hutan lebat sehingga tampak hijau kehitaman, menyeramkan.

"Benar, mari kita cepat mendaki sebelum matahari condong ke barat", kata Ai Yin. Mereka bertiga mempergunakan ginkang (ilmu meringankan tubuh) dengan cepat berlari mendaki bukit itu. Ada jalan setapak mendaki ke atas. A Siong berjalan ke depan sambil memegang dayung perahu. Dengan dayung itu dia siap untuk menjaga diri kalau-kalau ada serangan mendadak. Ai Yin berjalan di belakangnya dan Siauw Beng mengikuti dari belakang. Karena mereka belum pernah datang ke situ dan asing dengan daerah yang penuh hutan di bukit itu, maka tentu saja mereka kini tidak dapat melakukan perjalanan cepat. Hutan-hutan bukit itu ternyata lebat bukan main. Ketika mereka melihat bekas jejak kaki banyak rusa dan setelah tiba di lereng bukit melihat ratusan ekor menjangan yang melarikan diri setelah melihat mereka, tahulah mereka mengapa tempat itu disebut Bukit Menjangan. Kiranya memang terdapat banyak sekali rusa di situ. Saking lebatnya hutan dan jalan setapak itu kini tidak tampak lagi karena banyaknya semak belukar dan rumput tebal tumbuh dengan liar, maka beberapa kali tiga orang itu menjadi bingung karena jalan mereka terhalang jurang yang curam sehingga terpaksa mereka harus mencari jalan lain. Juga berkali-kali mereka menemukan jalan yang tadi pernah mereka lalui sehingga mereka menjadi bingung. Padahal, matahari mulai turun ke barat karena perjalanan mereka yang tersesat dalam hutan itu membuat mereka berputar-putar dan makan waktu yang lama.

"Ah, mengapa aku begini bodoh? Kalian tunggu sebentar, aku akan meneliti keadaan dari atas", kata Ai Yin, lalu tubuhnya melayang ke atas seperti seekor burung terbang. Ia hinggap di atas cabang sebatang pohon besar, lalu memanjat naik sampai ke puncak pohon yang tinggi itu. Dari tempat tinggi itu Ai Yin memandang ke sekeliling. Tak lama kemudian ia sudah melayang turun.

"Nah, sudah tahu aku dimana sarang mereka", katanya.

"Mari ikut aku!"

Ia lalu menjadi penunjuk jalan menuju kea rah tertentu.

Matahari yang sudah condong ke barat menjadi penentu arah sehingga mereka menuju ke arah yang benar, yaitu menuju sebuah perkampungan kecil yang terlihat dari puncak pohon oleh Ai Yin tadi.

Akan tetapi karena mereka tidak dapat menemukan jalan rahasia yang dibuat perkumpulan Hek-houw-pang untuk keperluan mereka sendiri, dan terpaksa harus mengambil jalan pintas yang harus melalui daerah sukar yang penuh dengan semak belukar dan berduri, maka setelah senja barulah mereka tiba di depan sebuah perkampungan.

Cuaca mulai agak gelap dan ketika mereka bertiga berdiri di depan pintu gerbang yang amat kokoh itu, tiba-tiba pintu gerbang itu terbuka dan dari dalam bermunculan puluhan orang dengan pakaian serba hitam!

Dan sambil berlari-lari mereka membuat lingkaran mengepung tiga orang itu.

Tiga orang muda itu tampak tenang-tenang saja menghadapi pengepungan sekitar empat puluh orang itu, bahkan Ai Yin tersenyum-senyum mengejek.

Gadis yang pemberani ini menyapu para pengepung dengan pandang matanya yang tajam, lalu setelah memutar tubuhnya satu kali berkata dengan suara nyaring.

"Heeiii! Macan-macan kecil, kami datang untuk bicara dengan pemimpin kalian. Mana dia Hek-houw Mo-ko? Apakah dia tidak berani keluar menemui kami?."

Tiba-tiba, seolah menyambut seruan Ai Yin tadi, terdengar auman harimau dari dalam perkampungan, gerengan suaranya menggetarkan keadaan sekeliling tempat itu.

Tiga orang muda itu maklum bahwa orang yang mengeluarkan gerengan sehebat itu tentu menggunakan sin-kang (tenaga sakti) sehingga suaranya mengandung getaran yang amat kuat.

Lalu dari dalam gapura itu muncul seorang laki-laki berusia sekitar empat puluh lima tahun.

Pakaiannya dari sutera hitam.

Tubuhnya tinggi besar dan kokoh kuat, mukanya penuh brewok dan matanya yang lebar mencorong penuh wibawa.

Kedua tangan orang ini disambung cakar harimau, tidak seperti para anak buah yang kedua tangan mereka memegang sepasang cakar harimau yang bergagang sepanjang lengan.

Dengan langkah perlahan namun tegap bagaikan langkah seekor harimau, laki-laki itu berjalan dan para pengepung di bagian gapura memberi jalan dengan sikap hormat, dia maju terus sampai berhadapan dengan tiga orang muda itu.

Dengan matanya mencorong dia mengamati tiga orang itu, pandang matanya berhenti pada Ai Yin dan gadis itu merasa seoalh pandang mata laki-laki tinggi besar itu menggerayangi tubuhnya dari kepala sampai ke kakinya sehingga mukanya berubah merah dan matanya mencorong merah.

"Jahanam busuk, apakah engkau yang berjuluk Hek-houw Mo-ko dan menjadi pemimpin gerombolan Hek-houw-pang yang suka mengganggu penduduk, merampok barang dan ternak, juga menculik gadis-gadis itu?."

Hek-houw Mo-ko mendengus, matanya seolah hendak menelan gadis itu hidup-hidup dan jelas tampak bahwa dia terpesona oleh kecantikan Ai Yin.

"Nona, engkau tinggallah di sini menjadi biniku dan dua orang pemuda ini boleh pergi dari sini dengan aman dan tidak akan kami ganggu". Ai Yin membelalakkan matanya. Beraninya orang itu! Mukanya serasa di bakar oleh api kemarahan yang berkobar dihatinya.

"Keparat bermulut busuk!"

Bentaknya dan Ai Yin sudah mengunus pedangnya lalu tanpa banyak cakap lagi karena saking marahnya gadis itu tidak mampu mengeluarkan kata-kata lagi, ia sudah menerjang Hek-houw Mo-ko dengan dahsyat sekali.

Hek-houw Mo-ko terkejut bukan main.

Sebagai orang yang banyak pengalaman dia segera mengenal serangan yang luar biasa hebatnya dan tahulah dia bahwa gadis cantik itu sama sekali tidak boleh dipandang ringan!

Dia cepat mengelak sambil menggerakkan kedua tangannya yang disambung cakar harimau terbuat dari baja yang sudah di rendam racun.

Segera Ai Yin sudah bertanding seru melawan ketua Hek-houw-pang dan laki-laki tinggi besar brewok ini diam-diam memberi tanda kepada anak buahnya untuk bergerak.

Empat puluh orang lebih itu segera mengepung dan mengeroyok Siauw Beng dan A Siong.

Mereka bermaksud membunuh dulu dua orang pemuda itu, baru mereka akan membantu ketua mereka menangkap gadis yang cantik itu.

Akan tetapi, mereka disambut dengan kejutan hebat.

Begitu kedua orang pemuda itu menggerakkan tubuh mereka, dalam beberapa detik saja delapan orang pengeroyok sudah roboh dan tidak mampu bangkit kembali karena tulang patah atau terluka dalam.

Tamparan dan tendangan Siauw Beng dan A Siong terlalu kuat bagi mereka sehingga mereka mengeroyok dengan hati gentar dan kacau.

Akan tetapi hal ini justeru membuat pengeroyok mereka semakin lemah dan kembali delapan orang berpelanting.!

"Hyaattt"!"

Ai Yin menyerang dengan hebat.

Kebenciannya terhadap kepala gerombolan yang berani kurang ajar kepadanya itu membuat ia menyerang dengan dahyat untuk membunuh.

Hek-houw Mo-ko melihat serangan yang amat ganas itu, segera menggerakkan tangan menangkis.

Cakar harimau baja itu bertemu dengan pedang.

"Criinggg"!"

Tampak bunga api berpijar dan Hek-houw Mo-ko terhuyung ke belakang.

Dia semakin terkejut dan mulai merasa gentar.

Cakar harimaunya dari baja itu kuat sekali dan biasanya kalau bertemu dengan lawan yang bersenjata cakarnya mampu mematahkan pedang atau golok lawan.

Akan tetapi sekali ini, cakarnya tidak mampu mematahkan Liong-cu-kiam, sebaliknya malah sebuah jari cakar itu patah!

Maka dia mulai panic, apalagi ketika di liriknya dan dia melihat betapa belasan anak buahnya sudah roboh dan tidak mampu bangkit kembali, hanya duduk dan merintih-rintih sambil memegangi bagian tubuh yang patah tulangnya.

Dia mulai takut dan cepat dia menyelinap dan menyusup kedalam kelompok anak buahnya yang banyak.

Melihat kepala gerombolan itu menghilang di antara anak buahnya, Ai Yin menjadi marah sekali.

Pedangnya berkelebatan menyambar-nyambar, menjadi gulungan sinar terang dan berturut-turut terdengar teriakan dan tubuh bergelimpangan mandi darah di sambar sinar pedang itu.

Sementara itu, ketika A Siong sedang mengamuk, dia melihat Hek-houw Mo-ko melarikan diri memasuki pintu gerbang perkampungan.

Melihat Ai Yin mengamuk dengan pedangnya dan Siauw Beng masih menggunakan kaki dan tangan kanannya untuk merobohkan para pengeroyok yang kini sudah berkumpul semua di situ, A Siong lalu melakukan pengejaran kepada kepala gerombolan itu.

Dengan gerakan ringan ia melewati kepala para pengeroyok di depannya dan mengejar ke dalam perkampungan yang sunyi karena semua anggota gerombolan telah berkumpul di depan pintu gapura untuk mengeroyok.

A Siong masih sempat melihat Hek-houw Mo-ko melompat dan memasuki sebuah bangunan yang paling besar di perkampungan itu.

Karena malam mulai tiba, maka cuaca sudah remah-remang.

Namun dalam rumah besar itu terdapat penerangan.

Dia melompat ke serambi rumah dan melihat di situ sunyi, dengan hati-hati dia lalu memasuki ruangan depan.

Dia harus waspada dan hati-hati karena amat berbahaya mengejar seorang penjahat kejam yang memasuki rumahnya.

Dia dapat di serang dengan tiba-tiba, bahkan ada kemungkinan rumah itu di pasangi alat-alat rahasia untuk menjebaknya.

Ruangan depan itupun kosong tidak nampak seorangpun manusia.

Berindap-indap A Siong mencari orang yang dikejarnya.

Agaknya rumah itu telah ditinggalkan semua penghuninya karena sepi sekali.

Namun di ruangan dalam terdapat lampu penerangan.

Dengan berani dia memasuki ruangan yang sebelah dalam.

Di sini pun sunyi dan dari ruangan ini dia dapat melihat melalui pintu bahwa ada pula ruangan sebelah belakang.

Akan tetapi menembus ruangan dalam itu terdapat pintu-pintu kasar yang daun pintunya tertutup.

Selagi dia bingung tidak tahu harus mencari kemana, tiba-tiba dia mendengar suara orang bicara di ruangan belakang.

Cepat dia melangkah ke ruangan itu dan suara itu datang dari sebuah kamar besar yang pintunya tertutup.

Dia menghampiri pintu dan mendengarkan suara laki-laki dan wanita yang terdengar berbantahan.

"Aku tidak sudi! Bunuh saja aku, aku tidak sudi ikut denganmu!"

Terdengar suara wanita itu.

Lalu A Siong mendengar suara laki-laki yang sudah dikenalnya, suara Hek-houw Mo-ko.!

"Gadis bodoh tak mengenal budi!

Kalau aku tidak benar-benar cinta kepadamu, sejak kemarin engkau tentu telah ku paksa, ku perkosa seperti para gadis lain, lalu ku berikan kepada anak buahku.

Akan tetapi aku tidak mau melakukan itu terhadap dirimu karena aku sungguh cinta padamu dan aku ingin engkau menjadi isteriku.

Maka, sekali lagi, menurutlah.

Mari ku ajak engkau pergi dari sini dan kita hidup berbahagia di tempat lain.

Engkau dapat hidup mewah dan terhormat di sana.

Marilah manis".

"Tidak, aku tidak sudi ikut denganmu. kalau engkau memaksaku, aku akan bunuh diri, daripada menjadi isterimu. Terkutuk engkau, laki-laki jahanam yang jahat dan kejam!."

"Hemmm, kalau begitu aku akan memaksamu ikut denganku, mau atau tidak mau engkau harus menjadi isteriku!."

Asiong mendengar suara gedebukan dan kain robek. Maka dia lalu menendang daun pintu kamar itu.

"Braakkkk"!"

Daun pintu jebol dan A Siong melompat masuk.

Dia melihat Hek-houw Mo-ko hendak memaksa dan meringkus seorang gadis bertubuh tinggi tegap.

Akan tetapi gadis itu meronta dan bajunya yang di cengkram Hek-houw Mo-ko menjadi robek dari leher sampai pinggang, sehingga tubuh bagian atasnya kini hanya tertutup pakaian dalam berwarna merah muda yang tipis dan tembus pandang.

Mendengar suara pintu jebol, Hek-houw Mo-ko terkejut sekali.

Cepat dia melepaskan gadis yang meronta-ronta dengan gigih itu dan menghadapi A Siong dengan marah.

Dia tadi gentar menghadapi Ai Yin dan dia tahu bahwa dia tidak akan menang melawan dara perkasa itu.

Akan tetapi kini melihat A Siong yang tidak membawa senjata, dia memandang rendah.

Dia marah sekali.

A Siong merupakan seorang di antara tiga orang muda yang mengacaukan perkampungannya, maka tanpa bicara apa-apa lagi dia sudah menerkam dengan kedua cakarnya ke arah A Siong.

A Siong yang sudah waspada sejak tadi, maklum bahwa kedua tangan yang di sambung cakar harimau itu berbahaya sekali, maka dia cepat mengelak ke samping, lalu membalas serangan lawan dengan sebuah tendangan.

Akan tetapi Hek-houw Mo-ko juga mampu mengelak dengan cepat.

Maka bertandinglah dua orang laki-laki yang sama tinggi besarnya itu dalam kamar.

Untung bahwa kamar itu cukup luas sehingga mereka dapat bertanding dengan leluasa.

Akan tetapi segera ternyata bahwa A Siong masih lebih unggul walaupun lawannya memiliki sepasang cakar berbisa yang menyambung kedua tangannya dan A Siong sendiri bertangan kosong.

Selain tingkat kepandaian A Siong memang agak lebih tinggi dan dia memiliki tenaga sakti yang jauh lebih kuat karena dia telah makan daging ular kembang merah, juga pada saat itu hati Hek-houw Mo-ko sudah terlanda panic dan ketakutan.

Setelah dia mendapat kenyataan bahwa lawannya inipun lihai sekali, hatinya merasa gelisah dan dia mulai mencari kesempatan untuk melarikan diri.

Tadinya dia ingin memaksa gadis yang kemarin di culik, puteri lurah itu, untuk menemaninya karena dia jatuh cinta kepada gadis itu.

Akan tetapi sekarang yang terpenting baginya adalah menyelamatkan diri.

Maka dia lalu menyerang dengan nekat, mencakar dengan tangan kanannya kea rah muka A Siong sambil menggereng bagaikan seekor harimau terluka.

A Siong sudah waspada.

Melihat serangan nekat itu, dia cepat miringkan tubuhnya dan setelah memutar tubuh ke kanan dia menangkap lengan kanan lawan dan dengan pengerahan tenaga sakti dia memutar lengan itu ke belakang tubuh lawan.

Sekali dia mendorong lengan itu ke atas, terdengar bunyi berkretekkk dan sambungan tulang pundak kanan Hek-houw Mo-ko terlepas!

Kepala perampok itu mengeluh karena rasa nyeri seperti menusuk jantungnya dan dia membungkuk untuk menahan rasa nyeri.

A Siong menggunakan kesempatan itu untuk menangkap kedua pergelangan kaki kepala perampok itu dengan kedua tangannya dan sekali angkat dan tarik, tubuh kepala gerombolan itu telah tergantung dan dia lalu memutar-mutar tubuh itu, kemudian dia lemparkan keluar kamar melalui pintu yang jebol.

Tubuh itu meluncur dan kepalanya menghantam dinding.

"Praakkk".!"

Tubuh itu terbanting dan kepalanya retak.

Hek-houw Mo-ko tewas seketika.

A Siong menghampiri gadis yang berlutut sambil memegangi bagian depan bajunya yang robek.

Ia tadi menonton perkelhaian itu dengan muka pucat, mata terbelalak dan tubuh gemetaran.

Kini, melihat A Siong menghampirinya ia memandang wajah pemuda tinggi besar itu.

A Siong melihat betapa sepasang mata yang lebar dan jeli itu terbelalak seperti mata kelinci yang ketakutan.

maka dia tersenyum dan berkata lembut.

"Nona, jangan takut. Aku datang untuk menolongmu dan membawamu pulang pulang ke rumah orang tuamu". Mendengar ucapan itu dan bertemu pandang mata dengan sepasang mata pemuda tinggi besar yang membayangkan kejujuran itu, gadis agaknya baru yakin bahwa pemuda ini benar-benar datang untuk menolongnya. Maka kalau tadi ia sama sekali tidak menangis, kini ia mengeluh dan menubruk kedua kaki A Siong dan terkulai pingsan.! Melihat gadis itu kini rebah telentang di atas lantai dengan tubuh bagian atas depan hanya tertutup pakaian dalam yang tipis sehingga lekuk lengkung dadanya membayang, jantung A Siong berdebar tegang. Belum pernah selama hidupnya dia melihat pemandangan seperti ini. Dan wajah gadis itu mendatangkan kesan mendalam di hatinya. Gadis yang tabah, berani mati dan lebih baik mati daripada menyerahkan diri kepada kepala perampok, seperti yang di dengarnya tadi ketika gadis itu berbantahan dengan Hek-houw Mo-ko. Dan wajah gadis yang bertubuh tinggi tegap ini begitu memelas, dan begitu manis menimbulkan rasa suka dan iba di hatinya yang belum pernah tersentuh oleh seorang wanita. Dengan jari-jari gemetar dia mencoba untuk menutupkan baju luar yang robek, akan tetapi karena dada yang membusung itu membuat bajunya menjadi ketat, maka begitu dia melepaskan tangan, baju itu terbuka kembali.! Dia menjadi gugup dan bingung, lalu dia melepas baju luarnya sendiri dan mengenakan bajunya itu pada tubuh atas gadis itu dia harus merangkul dan memasukkan lengan gadis dengan mengangkat tubuh itu dan mendudukannya lalu menyangganya. Bajunya terlalu besar, akan tetapi dapat menutup dan menyembunyikan dada yang setengah telanjang itu. hatinya merasa lega dan dia lalu memondong tubuh gadis itu, membawanya keluar dari rumah. Setelah tiba di pintu gapura, A Siong melihat bahwa perkelahian telah berakhir. Siauw Beng dan Ai Yin pada saat itu keluar dari rumah, memasuki perkampungan itu.

"Suheng, siapa yang kau pondong itu?"

Tanya Siauw Beng, heran melihat A Siong memondong tubuh seorang gadis.

Mereka berhenti di depan sebuah rumah dimana tergantung lampu penerangan sehingga birapun remang-remang, Siauw Beng dan Ai Yin dapat melihat bahwa gadis itu seperti orang tertidur.

Jantung A Siong berdebar dan dia merasa malu sekali.

"Ia"

Ia"

Adalah puteri kepala dusun yang kemarin di culik.

Ia gadis yang tabah dan gagah berani mempertahankan kehormatannya.

Ketika ia hendak di paksa pergi oleh Hek-how Mo-ko, aku datang dan aku berhasil menewaskan kepala gerombolan itu.

Gadis ini jatuh pingsan dank u bawa keluar".

Pada saat itu, gadis itu bergerak dalam pondongan A Siong sehingga pemuda ini cepat menurunkannya dengan hati-hati seketika ia teringat akan peristiwa tadi dan kembali ia menjatuhkan diri berlutut merangkul kedua kaki A Siong.

"In-kong telah menyelamatkan saya dari malapetaka yang lebih mengerikan daripada maut. Tidak ada yang dapat saya lakukan untuk membalas budi kebaikan in-kong (tuang penolong) kecuali menyerahkan jiwa raga saya kepada in-kong".

"Eh, apa"

Apa maksudmu, Nona? Nanti"

Atau besok pagi kami akan mengantarmu pulang ke rumah orang tuamu".

"Tidak, in-kong"

Tidak"

Saya tidak mau pulang""gadis itu kini menangis lirih.

"Sudahlah, A Siong, soal ini kita bicarakan nanti, perlahan-lahan kita bujuk. Sekarang yang penting kita perlu memeriksa keadaan dalam kampung untuk mengumpulkan barang-barang yang mereka rampas dari penduduk dan menemukan kembali para gadis lain".

"Benar, suheng. Kau temani saja nona ini, aku dan Ai Yin akanmemeriksa keadaan dalam perkampungan", kata Siauw Beng.

"Baik, sute". Setelah Siauw Beng dan Ai Yin mulai memeriksa ke dalam rumah-rumah di perkampungan gerombolan itu, A Siong mengajak gadis itu keluar pintu gerbang karena dia tidak mau menganggur di situ.

"Mau apa kita keluar, in-kong?."

"Kita lihat keadaan para penjahat itu. Aku harus mengerahkan tenaga mereka untuk membantu mengangkut kembali barang-barang dan ternak yang di rampok oleh gerombolan. Enak saja kalau dia dibiarkan pergi tanpa harus bertanggung jawab atas semua perbuatan mereka yang jahat. Mari". Eh, siapakah namamu, Nona?."

"Nama saya Lu Bi Hwa, anak tunggal puteri lurah dusun Ki-Cun di kaki bukit ini sebelah utara". Mereka tiba di luar pintu gerbang atau gapura perkampungan itu dan di sana masih ada belasan orang yang mengeluh dan saling menolong. Yang lain mungkin telah pergi sambil membawa mayat kawan-kawan mereka yang tewas. Ketika tujuh belas orang itu melihat A Siong muncul bersama Bi Hwa, mereka terkejut dan nampak ketakutan, bahkan ada yang siap melarikan diri. Bulan telah muncul sejak senja tadi, bulan sepotong yang masih redup sinarnya namun lumayan dapat memberi sedikit penerangan sehingga keadaan di situ remang-remang.

"Jangan ada yang berani melarikan diri. Aku akan membunuh mereka yang mencoba untuk melarikan diri!"

A Siong membentak.

Belasan orang itu semakin ketakutan.

Mereka tadi sudah melihat kehebatan sepak terjang pemuda tinggi besar ini, yang dengan tangan kosong dapat merobohkan banyak orang yang bersenjata sepasang cakar harimau.

Mereka serentak berlutut menghadap A Siong dan berseru.

"Ampunkan kami, taihiap (Pendekar besar)".

"Hayo kalian semua masuk ke perkampungan dan berkumpul di rumah besar tempat tinggal ketua kalian. Urus dan kuburkan mayat ketua kalian yang berada di sana dan tunggulah perintah kami selanjutnya.

"Hayo jalan!"

Semua orang itu sudah mati kutu.

Mereka takut kalau melarikan diri akan benar-benar di bunuh pendekar tinggi besar itu.

Maka mereka semua lalu memasuki perkampungan itu, di iringkan A Siong dan Bi Hwa.

Diam-diam Bi Hwa merasa kagum bukan main melihat sepak terjang penolongnya.

Belum pernah selama hidupnya ia bertemu dengan seorang yang demikian gagah perkasa, tegar dan berwibawa.

sampai berusia dua puluh tahun Bi Hwa ini belum menikah karena ia selalu menolak pinangan para pemuda dari dusunnya atau dusun-dusun lain karena ia merasa tidak cocok dengan mereka.

Sudah banyak ia melihat gadis yang menikah lalu hidup bagaikan bujang bagi suaminya.

Melayani semua kebutuhan suami, emngurus anak-anak, mencuci, masak, membersihkan rumah dan pekarangan, masih di tambah membantu pekerjaan di sawah lading kalau sang suami terlalu sibuk.

Pendeknya, tenaga wanita diperas habis-habisan.

Kawan-kawannya sedusun yang sudah menikah, rata-rata bertubuh kurus dan wajahnya cepat tua!

Ketika ia berada dalam ancaman malapetaka yang hebat, akan di paksa menjadi isteri kepala gerombolan dan akan di perkosa, ketika ia sudah putus asa dan pasti akanmembunuh diri kalau di perkosa, tiba-tiba muncul pemuda gagah perkasa ini yang menyelamatkannya!

Maka ia sudah mengambil keputusan bulat dalam hatinya.

Ia akan menjadi isteri pemuda ini, akan menyerahkan jiwa raganya.

Ia akan sanggup bekerja keras seperti para isteri lain.

Ia akan melakukan semua itu dengan senang hati, tidak seperti kawan-kawannya, karena ia melakukannya untuk membalas budi kebaikan pemuda itu.

Setelah mereka tiba di rumah kepala gerombolan, ternyata Siauw Beng dan Ai Yin juga sudah selesai memeriksa semua rumah di perkampungan itu.

Mereka menemukan barang-barang rampasan, juga hewan ternak yang di kumpulkan di belakang perumahan.

Selain itu, mereka juga menemukan lima orang gadis dusun yang keadaanya amat menyedihkan.

Wajah mereka pucat, sikap mereka ketakutan dan tubuh mereka kurus.

Lima orang gadis itu adalah korban penculikan yang sudah berbulan-bulan berada di situ dan menjadi korban keganasan kepala gerombolan dan anak buahnya.

Mereka berlima itu menangis sedih, mengingat nasib mereka walaupun mereka kini telah terbebas dari cengkraman para penjahat.

Mereka melihat batapa suramnya masa depan mereka.

Akan sukar mendapatkan pria yang mau memperistri gadis yang pernah menjadi permainan para penjahat keji itu.

Lu Bi Hwa segera menghampiri lima orang gadis itu dan ia menghibur mereka sehingga akhirnya mereka berhenti menangis.

Para anak buah gerombolan itu lalu mengubur jenazah Hek-houw Mo-ko dan malam itu mereka di haruskan berkumpul di ruangan depan rumah besar itu.

Siauw Beng dan Ai Yin mengambil keputusan bahwa besok pagi para anggota gerombolan itu di haruskan mengangkat barang-barang rampokan itu kembali ke dusun.

Mereka bertiga akan mengawal para gadis kembali ke rumah orang tua masing-masing.

"Ai Yin, engkau malam ini mengaso dan tidurlah. Biar aku dan suheng yang melakukan penjagaan agar mereka tidak melarikan diri dan untuk berjaga-jaga kalau ada teman-teman mereka yang berani masuk perkampungan ini ", kata Siauw Beng setelah mereka semua makan hidangan yang dimasak oleh Lui Bi Hwa dan lima orang gadis itu. Di rumah kepala gerombolan itu tersedia bahan makanan yang cukup banyak. Malam itu Ai Yin tidur di senuah kamar rumah besar itu. Kamar yang bersih dan Ai Yin yang sudah kecapaian itu dengan mudah tertidur pulas. Siauw Beng duduk di serambi depan, bersila di atas lantai yang di gelari tikar tebal. Para gadis juga tidur di sebuah kamar besar. Mereka berlima baru malam ini dapat tidur nyenyak dengan hati tentram. Akan tetapi Bi Hwa tidak mau tidur dan ia duduk menemani A Siong yang juga duduk di serambi depan bersama Siauw Beng. Di serambi ini, A Siong membuat api unggun, bukan untuk mendapatkan penerangan karena di situ juga ada sebuah lampu gantung, akan tetapi untuk mengusir nyamuk yang terdapat banyak di tempat itu. Dari serambi mereka dapat melihat ke luar. Bulan sepotong sudah naik tinggi dan cahayanya mulai agak tering sehingga cuaca di luar rumah itu remang-remang namun masih dapat di tembus pandang mata. Siauw Beng memejamkan matanya seperti orang tidur. Sebetulnya dia hanya duduk diam seperti sedang siu-lian ( samadhi ), akan tetapi dia menyadari keadaan di luar dirinya sehingga dia dapat mendengar ketika Bi Hwa dan A Siong bercakap-cakap.

"In-kong, saya sudah mengambil keputusan tetap. Saya tidak akan kembali ke rumah orang tua saya. Saya akan ikut denganmu ke manapun engkau pergi, In-kong".

"Akan tetapi aku seorang perantau miskin, bahkan rumah tinggalpun tidak punya!."

"Tidak mengapa, In-kong. Saya sanggup hidup bagaimanapun juga bersamamu. Saya akan melayanimu, mengerjakan semua keperluanmu, mencuci, memasak dan engkau suruh apapun akan saya lakukan dengan senang hati dan rela". A Siong menghela napas panjang lalu menengok kea rah Siauw Beng. Kemudian dia berkata lirih.

"Mari kita bicara di sana saja". Dia menambahkan kayu kepada api unggun, lalu bangkit mengajak Bi Hwa pergi ke pekarangan agar dapat bicara dengan leluasa tanpa di dengar orang lain. Setelah cukup jauh mereka duduk di atas dua buah batu besar, berhadapan. Bahkan A Siong sendiri tidak tahu bahwa Siauw Beng membayangi mereka, lalu bersembunyi di balik batu-batu bukit dan mendengarkan percakapan mereka.

"Bi Hwa, keputusanmu itu keliru. Tidak mungkin engkau ikut bersamaku terus. Engkau akan hidup serba kekurangan, sengsara dan terkadang di ancam bahaya. Aku adalah seorang petualang yang tidak memiliki apa-apa, tiada keluarga, tiada rumah tinggal, tiada harta benda. Aku tidak dapat menerima engkau ikut bersamaku, Bi Hwa". Gadis itu menundukkan mukanya menangis perlahan.

"Inkong, apakah engkau tidak kasihan kepadaku?"

Tanyanya di sela isaknya.

"Tentu saja aku kasihan padamu, Bi Hwa. Engkau seorang gadis yang baik, tabah, teguh mempertahankan kehormatanmu, engkau pantas di hormati. Aku kagum kepadamu, Bi Hwa".

"Kalau begitu, mengapa engkau tidak mau menerima saya, In-kong?"

Tanyanya dengan suara memelas.

"Sudah ku katakana bahwa aku seorang perantau miskin. Engkau akan hidup serba kekurangan dan sengsara, sekali waktu mungkin sehari tidak dapat makan".

"Aku rela, in-kong. Biar hidup sebagai pengemis gelandangan sekalipun, saya rela. Saya rela menjadi pelayanmu, in-kong". Hening sejenak,hanya terdengar beberapa kali A Siong menghela napas panjang, berulang-ulang. Kemudian dia berkata dengan suara sedih.

"Percayalah Bi Hwa seandainya aku ini seorang pemuda biasa yang memiliki tempat tinggal, memiliki kebebasan dan harapan masa dengan, sungguh mati aku akan menerima permintaan mu ini dengan senang hati. Akan tetapi, dalam keadaanku seperti sekarang ini, hal itu tidak mungkin ku lakukan. Aku harus membantu sute Siauw Beng, aku sudah berjanji kepada guruku untuk menemani sute, untuk membantunya, bahkan untuk melayaninya. Tidak mungkin aku menerimamu, Bi Hwa".

"Apakah". Apakah". Tidak ada jalan keluarnya"

In-kong"?."

A Siong menghela napas berat, lalu terdengar suaranya lirih.

"maaf, Bi Hwa, ku rasa tidak ada"."

Isak tangis itu semakin kuat dan tiba-tiba Bi Hwa melompat turun dari atas batu.

Ia terguling roboh, akan tetapi bangkit lagi dan berlari sambil menangis ke arah jurang yang berada tak jauh dari situ.

Perkampungan itu berada di lereng dekat puncak bukit Menjangan, maka terdapat banyak jurang di sekitar perkampungan.

Dengan nekat Bi Hwa setelah tiba di tepi jurang, hendak meloncat ke dalamnya.

Akan tetapi tiba-tiba dua buah lengan yang kuat merangkul pinggalnya.

Ia meronta-ronta, namun tidak dapat terlepas dari rangkulan A Siong.

"Bi Hwa, apa yang hendak kau lakukan ini?"

A Siong memaksa, mearik tubuh gadis itu menjauhi jurang.

"Lepaskan, In-kong, lepaskan. Biarkan saya mati saja! Tiada gunanya hidup lebih lama kalau in-kong tidak mau menerima saya"

"Gadis itu menangis sesunggukan.

"Akan tetapi mengapa, Bi Hwa? Mengapa engkau menjadi nekat begini? Engkau masih mempunyai keluarga, bahkan ayahmu adalah seorang kepala dusun yang hidupnya serba kecukupan!"

Bujuk A Siong tanpa melepaskan rangkulannya karena gadis itu masih meronta, berusaha melepaskan dekapan A Siong.

"Tidak, tidak! Nama saya sudah tercemar, semua orang akan membicarakan saya, semua orang akan mencemooh dan memandang hina! Bahkan orang tuaku juga akan menderita karena aib. Biarkan saya mati, In-kong!."

"Husshhh! Mengapa engkau berkata demikian? Aku mendengar sendiri ketika engkau bicara dengan kepala perampok itu. Engkau belum ternoda atau"

Sudahkah tercemar maka sekarang menjadi putus asa?."

"Tidak, In-kong! Kalau saya sudah ternoda, tentu saya sudah tidak hidup lagi. Tentu saya sudah membunuh diri".

"Kalau begitu, mengapa engkau merasa namamu tercemar?."

In-kong tidak tahu, semua gadis yang sudah di culik oelh iblis itu telah ternoda.

Siapa yang akan percaya bahwa saya belum tersentuh?

Tidak akan ada yang percaya dan orang sekampung akan mencemooh".

Ia berhenti sebentar sambil terisak.

"Bahkan ayah ibuku tidak akan percaya kalau saya mengatakan bahwa saya belum ternoda. Ah, malu sekali, In-kong. Mati jauh lebih baik daripada hidup menghadapi itu semua!."

"Bi Hwa, biarlah aku yang akan bicara dengan orang tuamu.Aku yang akan menyakinkan mereka bahwa engkau masih bersih, belum ternoda. dan kalau ada orang di dusunmu yang tidak percaya dan mengejekmu, dia akan ku hajar!."

"Saya tidak menginginkan itu, In-kong. Saya hanya menginginkan agar diperbolehkan ikut dengan mu, kemana pun In-kong pergi".

"Akan tetapi aku tidak mungkin dapat menerimamu, betapa pun berat rasa hatiku. Aku tidak enak kepada sute, kepada suhu dan"""engkau keliru, suheng!"

Tiba-tiba ucapan A Siong itu terputus oleh suara ini dan muncullah Siauw Beng bersama Ai Yin di tempat itu.

Ternyata tadi ketika Siauw Beng mendengarkan percakapan A Siong dan Bi Hwa sambil bersembunyi di belakang batu besar, datang Ai Yin menyusulnya dan gadis inipun ikut mendengarkan.

"Sute"! Ai Yin"! Kalian"

Kalian di sini"?

"A Siong bertanya gagap sehingga dia lupa bahwa kedua lengannya masih mendekap pinggang ramping Bi Hwa!

Adapun gadis itu yang melepaskan rangkulan lengan A Siong dengan kedua tangannya.

Baru A Siong menyadari dan cepat dia melepaskan rangkulannya dan mundur dua langkah.

Suheng, Bi Hwa, Mari kita bicara di serambi", kata Siauw Beng dengan suara serius.

Mereka berempat lalu pergi ke rumah besar itu.

Api unggun di serambi itu masih menyala dan Siauw Beng segera menambahkan kayu sehingga api unggunnya bernya semakin besar, mengusir hawa dingin dan nyamuk.

Mereka duduk dekat api unggun, A Siong menundukkan mukanya yang menjadi merah, sedangkan Bi Hwa mengambil tempat duduk di atas lantai dekat pemuda itu, memandang kepada Siauw Beng dan Ai Yin dengan harap-harap cemas.

"maaf, suheng. Tadi aku telah melihat dan mendengar semua tentang keadaan kalian berdua. Engkau keliru kalau merasa tidak enak kepadaku dan kepada ayahku. Suheng, engkau berhak menentukkan jalan hidupmu sendiri. Apalagi mengenai perjodohan. Ayah tentu akan menyetujui dan merestui kalau engkau berjodoh dengan nona ini. Aku juga rela sepenuhnya, suheng. Hanya engkau yang dapat menolong Bi Hwa dan kalau kalian sudah saling mencinta, mengapa mesti ragu-ragu lagi?."

"Siauw Beng berkata benar, A Siong. Tidak ada aib menimpa dari Bi Hwa dan keluarganya kalau ia menikah denganmu. Biarlah aku yang akan membicarakan dengan orang tua Bi Hwa, melamarnya untukmu agar kalian berdua dapat menikah dengan sah".

"Tepat sekali, suheng. Jangan pikirkan tentang diriku. Aku bukan anak kecil lagi yang perlu kau bantu dan lincungi terus menerus. Engkau dapat menjadi suami Bi Hwa dan tinggal di sini, membantu usaha kepala dusun agar menyejahterakan kehidupan rakyat". Di hujan desakan Siauw Beng dan Ai Yin itu, A Siong tak mampu berkata apa-apa lagi dan tiba-tiba Bi Hwa berlutut menyembah kepada Siauw Beng dan Ai Yin.

"Ih, jangan begitu, Bi Hwa!"

Kata Ai Yin dan cepat ia memegang kedua pundak Bi Hwa untuk di paksa bangkit dan duduk kembali.

Setelah Siauw Beng menyakinkan hati A Siong bahwa dia tidak keberatan bahkan girang kalau A Siong berjodoh dengan Lu Bi Hwa dan tinggal di dusun tempat tinggal gadis itu, dan menyakinkannya pula bahwa Ma Giok, ayah angkatnya, juga guru mereka pasti tidak akan merasa keberatan atau marah, akhirnya A Siong menerima juga.

Memang hatinya sudah tertarik kepada Bi Hwa.

Dia merasa kasihan dan juga jatuh cinta karena selain dalam penglihatannya tidak ada wanita yang lebih cantik menarik daripada Bi Hwa, juga dia merasa kagum akan watak gadis itu.

Pada keesokan harinya, tiga orang pendekar itu, sambil mengajak Bi Hwa, mengiringkan lima orang gadis korban para penjahat dan memerintahkan belasan orang anggota Hek-houw-pang untuk mengakut semua barang rampokan dan menggiringkan beberapa ekor kerbau dan kambing, menuruni bukit itu menuju ke dusun Ki-cung.

Rombongan ini di sambut oleh seluruh penduduk dusun yang sudah mendengar akan turunnya rombongan ini dari Bukit Menjangan.

Para gadis itu di sambut dengan tangisan oleh keluarga mereka.

Kepala dusun Lu dan keluarganya juga menyambut Bi Hwa dengan girang.

Ketika penduduk melihat bahwa yang mengangkut barang rampokan dan menggiring ternak adalah para anggota gerombolan, mereka menjadi marah dan tentu belasan orang anggota perampok itu akan di keroyok dan di bunuh kalau saja A Siong, Siauw Beng dan Ai Yin tidak melarang mereka.

Semua penduduk bergembira ria mendengar bahwa gerombolan perampok itu telah terbasmi dan pemimpin mereka yang di takuti telah tewas.

Setelah semua barang rampokan dan ternak di terima oleh penduduk dan di kembalikan kepada pemilik masing-masing, belasan orang bekas anggota Hek-houw-pang itu lalu diperkenankan pergi setelah diberi ancaman keras oleh Siauw Beng.

Mereka mengucapkan terima kasih dan meninggalkan dusun itu.

Mereka inilah yang menyebarkan berita tentang munculnya seorang pendekar baru berjuluk si Tangan Halilintar, pendekar yang buntung lengan kirinya akan tetapi amat lihai.

Sebentar saja julukan itu tersebar sampai luas.

Siauw Beng, A Siong dan Ai Yin di jamu pesta makan oleh Lurah Lu, kepala dusun ayah Lu Bi Hwa beserta beberapa orang yang di anggap sebagai tua-tua dusun Ki-cung.

Mereka makan minum dengan gembira dan dalam kesempatan ini, Ai Yin berkata kepada Lurah Lu dan isterinya.

"Paman dan bibi berdua, kami tadi telah menceritakan tentang puteri kalian Bi Hwa yang nyaris celaka akan tetapi dapat di selamatkan oleh A Siong. Sekarang kami akan memperkenalkan keadaan A Siong kepada paman berdua sekeluarga. Ketahuilah bahwa A Siong ini telah yatim piatu dan tidak mempunyai keluarga lain kecuali kami berdua sebagai sahabat baiknya dan gurunya yang tinggal jauh di Thai-san. A Siong sahabat kami ini adalah seorang pendekar yang gagah perkasa dan bijaksana, usianya sekarang sudah". Eh, berapa usiamu, A Siong?."

Dengan kedua pipi kemerahan A Siong menjawab sambil menundukkan mukanya.

"Tiga puluh tiga tahun".

"Ya, tiga puluh tiga tahun. Akan tetapi dia masih perjaka tulen, belum pernah menikah, belum pernah berpacaran. Setelah dia menyelamatkan kehormatan dan bahkan nyawa Bi Hwa, maka terdapat hubungan kasih di antara mereka berdua. Karena A Siong tidak mempunyai keluarga, maka kami berdua sebagai sahabat baiknya menjadi wakil keluarganya untuk meminang puteri kalian Lu Bi Hwa untuk menjadi jodoh A Siong! Bagaimana pendapat Paman berdua dan keluarga?."

Siauw Beng mendengarkan dengan kagum.

Bukan main gadis ini.

Dapat bicara tentang pinangan sedemikian lancarnya.

Padahal kalau dia di suruh mewakili dan mengajukan pinangan seperti itu, dia pasti tidak akan mampu bicara.!

A Siong menundukkan mukanya.

Dia merasa malu dan juga hatinya berdebar tegang.

Mungkinkah kepala dusun dan keluarganya dapat menerima dia yang tidak mempunyai apa-apa itu sebagai jodoh Lu Bi Hwa?

Sambil tunduk dia melirik kea rah Bi Hwa yang juga duduk di situ, di sebelah ibunya dan dia melihat gadis itu juga menundukkan muka.

Mendengar ucapan Ai Yin, Lurah Lu dan isterinya saling pandang.

Sungguh pinangan itu sama sekali tidak mereka sangka-sangka!

Puteri mereka yang telah di culik perampok, kini di lamar seorang di antara tiga pendekar yang telah menyelamatkan, bukan saja puteri mereka, bahkan seluruh penduduk dusun itu dari gangguan gerombolan perampok?

Hampir mereka tidak dapat percaya.!

"Bi Hwa, bagaimana pendapatmu?"

Tanya ayah dan ibu itu kepada puteri mereka hamper berbareng. Bi Hwa yang tadinya menunduk malu, kini mengangkat muka dan pandang matanya penuh keberanian dan kepastian.

"Ayah dan ibu, In-kong A Siong telah menyelamatkan nyawa dan kehormatanku. Aku sudah mengambil keputusan bulat untuk ikut dengannya dan menjadi pelayannya. Kalau hal itu tidak dapat terlaksana, aku akan bunuh diri saya karena hidup hanya akan mendatangkan aib bagiku". Lurah Lu dan isterinya tertegun mendengar ucapan putrinya itu. Telah banyak pinangan di ajukan orang terhadap Bi Hwa, namun gadis mereka itu selalu menolak keras dan sekarang Bi Hwa telah begitu pasrah kepada penolongnya, A Siong yang bertubuh tinggi besar dan gagah itu. Terdengar suara tawa dari seorang kakek yang rambutnya sudah putih semua. Kakek ini adalah paman dari Lurah Lu.

"ha-ha-ha, kalian ini termangu-mangu mempertimbangkan apa lagi?"

Katanya kepada Lurah Lu dan istrinya.

"Bi Hwa sudah berusia dua puluh tahun dan selama ini selalu menolak pinangan yang datang sehingga meresahkan hati keluarga kita. Sekarang dia menemukan jodoh yang begini baik! Mereka sudah saling cocok dan dengan adanya pendekar"

A Siong, eh siapakah nama keluarganya"?"

Siauw Beng menjawab.

"Nama keluarga suheng adalah Tan, akan tetapi dia sudah terbiasa di sebut A Siong".

"Ya, dengan adanya Pendekar Tan Siong sebagai cucu mantuku di sini, bukan saja keluarga kita akan terjamin keselamatannya, bahkan keselamatan seluruh dusun dapat di lindungi. Dimana lagi Bi Hwa bisa mendapatkan seorang suami seperti dia?."

Lurah Lu dan istrinya tertawa dan mereka memandang kakek yangmenjadi paman mereka itu.

"Aih, Paman, siapa yang termangu-mangu dan ragu? Kami hanya terheran-heran mendengar pinangan itu! Bagaimana mungkin seorang pendekar besar seperti Taihiap ini sudi jodoh dengan anak kami"?"

A Siong yang memang berwatak jujur dan terbuka, merasa lega melihat gelagat keluarga Bi Hwa menyetujui ikatan perjodohan itu sehingga kini dia berani mengangkat muka dan dia berkata dengan suara lantang.

"Ah, harap paman jangan berkata begitu. Saya yang merasa takut, kalau-kalau di tolak karena saya hanyalah seorang yatim piatu yang miskin".

"Hai, A Siong! Mengapa engkau menyebut paman kepada calon ayah mertuamu?"

Ai Yin menegur sehingga kembali A Siong tersipu dan semua orang tertawa.

Bi Hwa merasa begitu girang sehingga ia merangkul ibunya yang duduk di sebelahnya, mencium pipi ibunya lalu saking malunya ia berlari ke belakang meninggalkan ruangan itu dimana mereka berpesta tadi.

Kembali semua orang tertawa.

"A Siong, sebaiknya engkau kejar Bi Hwa, ia pasti berada di taman belakang dan kalian rundingkan berdua kapan perayaan pernikahan akan di langsungkan", kata Lurah Lu.

"Sebaiknya secepat mungkin, suheng!"

Kata Siauw Beng.

Dengan muka kemerahan A Siong bangkit lalu mengejar Bi Hwa ke belakang, di ikuti suara tawa gembira semua orang yang berada dalam ruangan itu.

Demikianlah, karena Siauw Beng dan Ai Yin akan melangsungkan pernikahan antara A Siong dan Lu Bi Hwa di langsungkan dua hari kemudian.

Pernikahan itu berlangsung meriah, di hadiri oleh seluruh penduduk dusun Ki-Cung dan para lurah dan sesepuh dusun tetangga yang semua merasa gembira mendengar gerombolan jahat di Bukit Menjangan itu telah di basmi oleh Pendekar Si Tangan Halilintar bersama dua orang temannya.

Lebih gembira lagi ketika mereka mendengar bahwa puteri Lurah Lu di Ki-cung kini menjadi suami istri seorang di antara para pendekar itu sehingga semua orang di sekitar daerah itu akan merasa tentram.

Setelah perayaan pernikahan selesai, pada keesokan harinya, pagi-pagi sekali Siauw Beng dan Ai Yin berpamit untuk melanjutkan perjalanan mereka ke kota raja.

A Siong dan istrinya mengantar Siauw Beng dan Ai Yin menuju ke Sungai Huang-Ho, meninggalkan para penduduk yang mengantar sampai ke pintu gerbang dusun.

Setelah tiba di pantai dimana Siauw Beng meninggalkan perahu kecilnya, A Siong memegang kedua tangan sutenya dan berkata dengan suara parau karena terharu.

"Sute, tolong sampaikan kepada suhu tentang keadaanku di sini dan sampaikan permohonan maafku".

"Tentu saja, suheng. Jangan khawatir akan hal itu", kata Siauw Beng yang merasa terharu pula. Selama ini, sejak kecil sampai sekarang, dia tidak pernah berpisah dari A Siong. Berlatih, bermain, makan dan tidur selalu berdua dan kini mereka harus berpisah.! "Sute, yakinkah engkau bahwa aku tidak harus menemami perjalanmu?"

Tanya A Siong dengan suara gemetar.

Siauw Beng merasa terharu dan dia mempererat pegangan tangannya,lalu menggeleng kepala, tidak berani bicara karena dia tahu bahwa suaranya pasti terdengar gemetar pula.

Apalagi ketika dia mengangkat muka memandang wajah suhengnya yang merah dan sepasang mata A Siong basah dan berlinang air mata.

Siauw Beng tak dapat menahan keharuan hatinya dan diapun menundukkan mukanya agar tidak nampak bahwa kedua matanya juga basah, bahkan kini ada air mata menetes dari pelupuk mata mereka.

"Hai, hai! Apa-apaan ini? Kalian ini pendekar-pendekar gagah perkasa kini bertangisan seperti nenek-nenek cengeng saja!"

Terdengar Ai Yin berseru dengan suara mencela.

Dua orang pemuda itu cepat-cepat mengusap dua titik air mata dan mereka tersenyum.

Untung ada Ai Yin di situ, kalau tidak ada, tentu mereka akan hanyut oleh keharuan yang akan membuat perpisahan itu menjadi terlalu berat bagi mereka.

Keduanya memaksa senyum dan saling melepaskan tangan.

Siauw Beng dan Ai Yin lalu mendorong perahu ke air setelah talinya di lepas dari batang pohon oleh A Siong.

Dua orang laki-laki itu tidak bicara lagi sampai Siauw Beng dan Ai Yin masuk ke dalam perahu.

"Sute, jaga dirimu baik-baik", kata Asiong.

"Engkau juga, suheng. Berbahagialah engkau bersama isterimu. Selamat tinggal, suheng, aku akan selalu mengenangmu".

"Aku juga, sute. Selamat jalan". Perahu meluncur menurut arus air. Siauw Beng yang duduk di perahu menoleh memandang suhengnya sambil melambaikan tangan. A Siong juga mengikuti kepergian sutenya dan melambaikan tangannya sampai perahu itu lenyap di sebuah tikungan. Baru dia berhenti melambai dan kembali beberapa tetes air mata keluar dari mata dan membasahi pipi. Tiba-tiba Lu Bi Hwa berlutut dan merangkul kedua kakinya.

"Aduh, ampunkan aku suamiku, akulah yang telah membuat engkau terpaksa berpisah dari sutemu itu"". Lu Bi Hwa meratap sambil menangis terharu. A Siong membungkuk, memegang kedua pundak istrinya, mengangkatnya bangkit berdiri. Mereka berpandangan, keduanya dengan mata basah, lalu A Siong mendekap Bi Hwa ke dadanya, menekan kepala istrinya itu ke dadanya.

"Bi Hwa, istriku. Engkau tidak bersalah, akulah yang lemah. Marilah, istriku, mari kita pulang. Kita songsong kehidupan baru bersama". Dia mencium isterinya dan mereka berjalan pulang sambil saling rangkul. Suami itu merangkul pundak istrinya dan si isteri merangkul pinggang suaminya.

"Siauw Beng, engkau menyesal membujuk suhengmu menikah sehingga sekarang terpaksa engkau berpisah darinya?"

Tanya Ai Yin ketika ia melihat pemuda itu termenung di kepala perahu sehingga pemuda itu lupa bahwa sejak tadi ia yang mendayung perahu itu.

Mendengar pertanyaan ini, barulah Siauw Beng seolah terseret kembali ke dunia nyata.

Cepat dia berkata,"

Ah, maaf Ai Yin. Sini biar aku yang mendayung perahu ini".

"Biarlah, Siauw Beng. Biar aku dulu yang mendayung, nanti kau gantikan kalau aku sudah lelah. Kau duduklah dan tenangkan dulu hatimu, aku tahu betapa berat hatimu harus berpisah dengan A Siong. Akan tetapi engkau harus ingat bahwa kini A Siong telah menemukan jodoh dan rumah tinggal keluarga baik-baik. Bi Hwa amat mencintainya dan dia juga menyayang gadis itu. Mereka akan hidup sebagai suami isteri yang berbahagia. Tentu keadaannya jauh lebih baik daripada kalau dia selalu mengikutimu sebagai seorang kelana yang tidak mempunyai tempat tinggal dan tidak mempunyai keluarga". Siauw Beng menarik napas panjang.

"Engkau benar Ai Yin. Aku berharap dan bahkan yakin bahwa dia tentu akan hidup berbahagia. Aku juga ikut merasa senang kalau suheng hidup bahagia. Akan tetapi engkau tentu dapat mengerti, Ai Yin. Hubunganku dengan suheng A Siong bukanlah hubungan kakak dan adik seperguruan belaka. Jauh daripada sekedar saudara seperguruan! Sejak aku kecil dan mulai dapat berpikir, dialah orang yang selalu menemaniku. Bahkan dia yang mengasuhku, mengajak aku bermain, menghiburku kalau aku menangis, menggendongku. Kemudian setelah aku mulai belajar silat, dia pula yang selalu menemaniku berlatih. Dia itu seolah segala-galanya bagiku, satu-satunya orang yang paling dekat dengan aku, latihan bersama, makan bersama, tidur bersama. dan ini terjadi selama hidupku sampai sekarang". Ai Yin mengangguk.

"Aku mengerti betapa beratnya berpisah Dari orang yang paling kau sayang. Akan tetapi aku pernah mendengar ayahku berkata bahwa kehidupan di dunia ini tidak ada yang abadi. Ada pertemuan dan hidup bersama, pasti akan di susul dengan perpisahan karena itu jangan ada kemelekatan karena kemelekatan itulah yang mendatangkan rasa sakit kalau harus berpisah". Mendengar ucapan gadis itu, Siauw Beng tersenyum. Lucu rasanya mendengar gadis ugal-ugalan itu mengucapkan kata-kata yang biasanya di ucapkan seorang pendeta atau setidaknya seorang guru yang sudah tua. Diapun pernah mendengar ucapan itu dari mendiang Pek In San-jin.

"Akan tetapi, Ai Yin. Segala macam pelajaran seperti itu amat mudah di dengar dan dimengerti, akan tetapi untuk melaksanakannya, teramat sukar. Manusia manakah yang mampu membebaskan diri dari kemelekatan? Seluruh anggota tubuh kita ini, berikut hati akal pikiran kita, dapat mendatangkan kesenangan dan justru kesenangan itulah yang melahirkan kemelekatan".

"Tepat sekali, Siauw Beng. Memang kesenangan itulah yang menyebabkan adanya kemelekatan, dan tidak mungkin manusia selagi hidup di dunia ini menghindarkan diri dan menolak segala hal yang mendatangkan kesenangan. Pelajaran itu hanya boleh di ajarkan kepada orang yang tidak suka hidup lagi atau orang yang hendak mengasingkan dirinya dari dunia ramai untuk menjadi pertapa atau pendeta, tidak hidup sebagai manusia biasa. Aku pun sudah membantah hal ini kepada ayahku, akan tetapi dia hanya menertawakan aku saja". Siauw Beng mengerutkan alisnya mendengar ucapan gadis itu. Kiranya gadis itu belum mengerti benar akan pelajaran yang mendalam tentang kehidupan dan kebijaksanaan yang tadi di tiru dari ayahnya hanya di kenal kulitnya saja tanpa mengenal benar artinya atau isinya.

"Ai Yin, ayahmu benar sekali dan engkau perlu mengetahui bahwa apa yang dimaksudkan dengan semua ajaran tentang kebajikan dan kehidupan. Segala macam tentang hidup itu tentu saja tidak mungkin di taati secara sempurna karena hal itu tidak mungkin bagi manusia selagi dia masih hidup di dunia ini. Akan tetapi pelajaran itu sedikitnya membuat kita mengerti akan sebab akbibat, mengerti pula dengan jelas apa yang baik dan apa yang buruk, apa yang patut kita lakukan dan apa yang semestinya tidak kita lakukan. Pengertian ini yang membedakan kita dari mahluk lain, membedakan kita dari binatang. Kita mengerti bahwa duka akibat perpisahan itu timbul karena adanya kemelekatan yang lahir pula dari kesenangan. Akan tetapi untuk kesenangan dalam kehidupan kita adalah tidak mungkin selama kita masih ingin hidup lumrah sebagaimana manusia biasa. Akan tetapi, pengertian tentang timbulnya duka karena kesenangan itu sedikitnya membuat kita sadar sehingga tidak terlalu larut atau tidak sampai mabuk dalam kesenangan. Membuat kita waspada sehingga andaikata ada kemelekatan pun tidaklah terlalu kuat."

Ai Yin tertawa.

"he-he-he, aku melihat engkaupun sudah dapat tersenyum. Itu tandanya bahwa kedukaanmu karena harus berpisah dari orang yang kau kasihi itu tidaklah terlalu mendalam. Aku sendiri tidak mungkin bebas dari senang susah, gembira sedih, puas kecewa, cinta benci dan sebagainya karena aku masih hanyut oleh perasaanku dan aku belum mau menjadi pertapa atau pendeta!."

Siauw Beng tersenyum.

Senang hatinya bicara dengan gadis ini yang ternyata selain lihai ilmu silatnya, pemberani, gagah, cerdik dan di tambah lagi jujur mengakui kelemahannya dan agaknya dapat mengerti percakapan mengenai kehidupan.

"Hemmm, biar seorang pertapa atau pendeta sekalipun selagi masih hidup mereka tidak mungkin terbebas sama sekali dari kesenangan. Mata mereka masih suka memandang apa yang menyenangkan, juga telinga mereka suka mendengarkan suara yang menyenangkan, hidung mereka suka mencium bau yang menyenangkan dan segala anggota tubuh mereka suka akan sesuatu yang menyenangkan. Ini sudah merupakan sesuatu yang alami, yang terbawa sejak lahir. Biarpun mereka itu sudah lebih kuat dari orang biasa yang mengalami kesenangan tanpa kesan mendalam, namun tetap saja mereka masih dapat terpengaruh segala yang menyenangkan. Bahkan tujuan dan harapan mereka juga ingin mencapai hasil yang menyenangkan bagi mereka, walaupun hasil itu tidak sama dengan kesenangan lahir bagi manusia biasa".

"Akan tetapi, Siauw Beng, aku menjadi bingung. Bukan kah para pertapa dan pendeta itu sudah tidak lagi memperdulikan kesenangan duniawi dan hanya mengharapkan surga atau nirwana atau yang di sebut mencapai dan bersatu kembali dengan Sang Sumber atau Thian (Tuhan)?."

"Benar, Ai Yin. Akan tetapi kalau mereka mau bicara sejujurnya, apa yang dinamakan surga atau nirwana atau persatuan dengan Thian itu pun merupakan hal yang mereka anggap menyenangkan! Kesenangan yang terselubung kehalusan, seolah berbeda dengan kesenangan badani atau duniawi. Mereka katakan keindahan, kedamaian, ketentraman dan sebagainya. Akan tetapi bukankah semua itu juga menyenangkan? Kembali kepada rasa senang juga dan dimana ada rasa senang, di situ pasti ada rasa kemelekatan tadi, hanya kadarnya saja yang berbeda, tebal dan tipis".

"Wah, wah! Aku menjadi pusing, Siauw Beng. Engkau bicara seperti kakek-kakek dan aku yang mendengarkan dan memikirkan merasa seperti nenek-nenek. Otakku menjadi puyeng!"

Kata Ai Yin sambil tertawa.

Cantiknya gadis itu kalau tertawa.!

"Sudahlah, Ai Yin tidak perlu berpusing-pusing memikirkan tentang filsafat.

Filsafat itu hanya permainan kata-kata tingkat tinggi.

Kembali saja kepada keadaan kita sendiri.

Kita ini hidup ada Yang Menghidupkan, mati ada Yang Mematikan.

Segala macam perasaan inipun bukan buatan kita, melainkan ada Yang Memberi kepada kita.

Kita berhak mempergunakan semua bagian tubuh dan hati akal pikiran kita, asal saja tidak menyimpang dari kebenaran".

"Nah, sulit lagi! Kebenaran itu apa dan bagaimana?""Bukan lagi kebenaran kalau diperebutkan atau diperdebatkan. Kebenaran sudah di ajarkan oleh semua agama. Kebenaran sudah di ajarkan oleh semua orang tua dan guru yang tidak sesat. Kebenaran sudah dikenal oleh setiap orang manusia di bagian dunia masing-masing sejak dia mampu mengerti kata-kata. Semua orang yang melakukan kejahatan di dunia ini tahu bahwa perbuatan mereka itu tidak benar. Jadi kebenaran tidak perlu di perbincangkan lagi. Pendeknya kebenaran itu membangun, memelihara, tidak merusak, kebenaran itu juga dapat dinamakan Kasih".

"Ya, sudahlah, kalau kau lanjutkan aku bisa jatuh pulas karena otakku lelah memikirkan itu semua. Sekarang engkau hendak langsung ke kota raja?."

"Tidak, Ai Yin. Aku ingin pergi ke Kota Keng-koan dulu yang letaknya tidak jauh dari kota raja. Aku ingin mencari dan mengunjungi Makam ayah kandungku".

"Ah, aku senang dapat melakukan perjalanan ini, Siauw Beng. Aku juga ingin sekali melihat Kota Raja yang kabarnya amat ramai dan indah".

"Engkau juga belum pernah ke sana?"

"belum. Ketika aku meninggalkan ayah di pegunungan Beng-san, aku langsung saja mencari susiok Can Ok di lembah sungai Huangho. Siauw Beng engkau belum pernah cerita tentang mendiang orang tuamu. Ceritakanlah, Siauw Beng, aku ingin sekali mengetahui segala tentang dirimu". Siauw Beng menghela napas panjang.

"Sudah ku katakana bahwa aku terlahir dan tak pernah mengenal ayah ibuku. Aku hanya mengetahui tentang mereka dari ayah angkatku, Lam-liong Ma Giok. Ceritanya tentang ayah dan ibuku amat menyedihkan Ai Yin".

"Nah, nah! Bukankah orang bijaksana tidak boleh terlalu terpengaruh kesenangan dan kesusahan? Ceritakanlah, Siauw Beng. Biar aku yang mendayung terus dan engkau yang bercerita.

"Jangan seperti ayahku, Siauw Beng".

"Kenapa ayahmu?."

"Pendiam dan pelit sekali kalau di minta bercerita tentang mendiang ibuku, tentang masa mudanya dan sebagainya. Karena pelit bercerita itu aku sampai tidak menduga sama sekali bahwa (Lanjut ke

Jilid 11) Si Tangan Halilintar (Cerita Lepas) Karya . Asmaraman S. Kho Ping Hoo

Jilid 11 susiok Can Ok ternyata seorang yang jahat! Nah, berceritalah tentang ayah ibumu".

"Di waktu mudanya, ayah bernama Lauw Heng San dan sejak muda dia bertindak sebagai seorang pendekar, menolong siapa saja tanpa membedakan orang karena dia tidak terpengaruh oleh gerakan para pendekar yang berjuang menentang pemerintah Kerajaan Mancu. Siapa saja yang perlu di tolong, dia tolong dan siapa saja yang melakukan kejahatan dia tentang.""Wah, itu benar sekali. Aku pun dalam dua tiga bulan ini sering menentang susiok kalau dia merampok rombongan orang Mancu dan hendak membunuh mereka yang tidak berdosa.""Karena sama sekali tidak tahu akan perjuangan menentang Kerajaan Mancu, ayah terbujuk seorang pembesar Mancu, yang di serang gerombolan. Pembesar Mancu itu memakai nama pribumi Thio Ci Gan, padahal sebenarnya dia seorang pangeran Kerajaan Mancu. Thio-ciangkun (panglima Thio) bersikap baik kepada ayah dan memberi kedudukan sebagai seorang perwira, bahkan ayah di ambil sebagai mantu, di nikahkan dengan puteri tiri Thio-ciangkun atau Pangeran Mancu itu. Kemudian ayah mendapat tugas untuk membasmi gerombolan-gerombolan penjahat yang sebetulnya adalah para pejuang yang menentang Kerajaan Mancu. Ayah tidak tahu akan hal itu sehingga banyak pendekar yang tewas di tangannya!."

Siauw Beng berhenti dan menghela napas, menyesal dan kasihan kepada ayah yang tidak pernah dilihatnya itu.

"ayahmu tidak bersalah. Pangeran Mancu itulah yang jahat"

Eh, maaf, bukankah mendiang ibumu itu puteri dari pangeran itu?."

"Ya, akan tetapi hanya anak tiri. Kakek ku bermarga Bu dan sudah meninggal dalam perjuangan ketika tentara Mancu menyerbu ke selatan. Nenekku, Nyonya Bu, menjadi istri Thio-ciangkun dan membawa seorang anak, yaitu ibuku yang bernama Bu Kui Siang. Ketika ibuku mengandung aku, ayahku bertemu gurunya dan baru menyadari bahwa dia telah tertipu dan membunuh banyak pendekar patriot yang berjuang menentang pemerintah penjajah Mancu. Ayah menjadi marah sekali lalu memberontak, terjadi pertempuran hebat dan ayahku di keroyok para jagoan Thio-ciangkun itu. Akhirnya, ayah dapat membunuh Thio-ciangkun akan tetapi dia juga tewas".

"Ah, sungguh sayang. dan bagaimana dengan ibumu?."

"Ah, ketika aku ingat akan cerita ayah angkatku tentang ibu kandungku,aku menjadi sedih sekali, Ai Yin. Ketika ayah kandungku memberontak sehingga terjadi perkelahian hebat, ayahku di bantu oleh para pendekar pejuang termasuk Lam-liong Ma Giok, ibuku melarikan diri, di tolong ayah angkatku itu. Ketika ibu di ajak lari oleh Lam-liong Ma Giok, ia dalam keadaan hamil. Mereka berdua melakukan perjalanan ke Thai-san. Perjalanan itu amat jauh dan ibu dalam keadaan mengandung sehingga perjalanan lambat sekali. Berbulan-bulan mereka melakukan perjalanan. Sebelum tiba di Thai-san mereka melihat pengantin baru di culik gerombolan penjahat. Pengantin prianya putera seorang penjahat Mancu, dan yang wanita seorang wanita Han. lam-liong Ma Giok menolong mereka lalu melanjutkan perjalanan. Ketika itu kandungan ibuku sudah sembilan bulan. Kemudian muncul"

Toat-beng Siang-kiam Can Ok dan anak buahnya menghadang dan menuduh ayah angkatku sebagai pengkhianat dan membela orang Mancu. Mereka bertanding dan Can Ok melarikan diri".

"Hemmm, kiranya sejak mudanya susion Can Ok sudah menjadi kepala gerombolan penjahat!"

Kata Ai Yin penasaran dan ia merasa malu mempunyai paman guru seperti itu.

"Can Ok dan anak buahnya dapat di usir, akan tetapi ibuku di culik dua orang anak buah Can Ok. Lam-liong Ma Giok melakukan pengejaran dan berhasil membunuh dua orang penculik dan menyelamatkan ibu. Perjalanan di lanjutkan dan sudah tiba saatnya ibu melahirkan. Di sebuah dusun ibu di tolong seorang bidan. Akan tetapi ketika ibu sedang berjuang hendak melahirkan aku, muncul Can Ok yang di bantu oleh Hui-kiam Lo-mo menyerang!."

"Wahhh, memalukan sekali! Susiok dan sukong ( kakek guru ) jahat sekali!"

Teriak Ai Yin.

"Lalu bagaimana, Siauw Beng?."

"Lam-liong Ma Giok melawan mati-matian di luar kamar sedangkan di dalam kamar, di bantu bidan yang ketakutan, ibu kandungku juga berjuang mati-matian. Tubuhnya yang lemah karena perjalanan jauh dan kedukaan membuat kelahiranku itu sukar sekali. Akhirnya ayah angkatku berhasil mengusir Can Ok dan Hui-kiam Lo-mo, akan tetapi pada saat dia bertanding itu, ibuku telah melahirkan aku. Aku di lahirkan selamat, akan tetapi ibuku"", suara Siauw Beng tersendat.

"Ibumu bagaimana? Bagaimana, Siauw Beng?"

Ai Yin memegang lengan Siauw Beng dengan kuat sehingga dia lupa mengemudikan perahu dengan dayung sehingga perahu melintang.

"Ibu"

Meninggal dunia"".

"Keparat! Busuk sekali mereka! Aku akan melaporkan kepada ayah tentang kejahatan Can Ok!"

Teriak Ai Yin marah. Akan tetapi melihat perahu melintang ia lalu menggerakkan dayungnya sehingga perahu itu meluncur kembali.

"Siauw Beng, kenapa engkau tidak membunuh Can Ok ketika mendapat kesempatan bertanding dengan dia?."

Siauw Beng menggeleng kepalanya.

"Tidak, Ai Yin. Suhu Pek-in San-jin, juga ayah angkatku melarang aku melakukan pembunuhan dengan semena-mena. Biarpun Can Ok menyerang ayah angkatku, namun dia menyerang dengan tuduhan bahwa Ma Giok menjadi pengkhianat. Dia tidak langsung membunuh ibuku, walaupun munhkin penyerangan itu yang menyebabkan ibuku mati ketika melahirkan".

"Hemm, aku tidak setuju dengan pendapat itu, Kalau aku menjadi engkau tentu sudah ku bunuh Can Ok itu! Lalu bagaimana ceritamu selanjutnya, Siauw Beng?."

"Sejak lahir aku di pelihara oleh ayah angkatku itu. Dapat engkau bayangkan betapa sukarnya bagi seorang laki-laki untuk merawat dan memelihara seorang bayi yang baru lahir, padahal dia sedang melakukan perjalanan ke Thai-san. Setelah dia tiba di Thai-san, ayah angkatku itu tinggal di sana dan memelihara aku sampai aku berusia sepuluh tahun, baru aku di serahkan kepada suhu Pek In San-jin untuk di latih lebih lanjut. Dan sejak kecil aku selalu di temani suheng A Siong yang baik dan setia. Demikianlah riwayatku, Ai Yin sampai aku dan suheng di suruh turun gunung".

"Wah, sungguh amat bijaksana Lam-liong Ma Giok. Akan tetapi engkau belum bercerita tentang nenekmu, nyonya Bu yang menjadi isteri Pangeran Mancu itu. Bagaimana dengan ia?"

"Entah, ayah angkatku tidak tahu tentang nenekku. Karena itu, di Keng-koan nanti aku akan mencari keterangan tentang nenekku itu".

"Sebuah pertanyaan lagi, Siauw Beng. Akan tetapi janji dulu, engkau tidak akan marah oleh pertanyaanku ini".

"Siuaw Beng tersenyum. Bagaimana mungkin dia bisa marah terhadap gadis yang lincah, jujur dan terbuka ini?.

"Aku tidak akan marah. Bertanyalah, Ai Yin". Gadis itu memandang kearah lengan kiri Siauw Beng yang buntung.

"Apa yang terjadi dengan lengan kirimu? Aku tidak percaya kalau lengan kirimu buntung sejak engkau lahir". Siauw Beng menghela napas panjang. Dia sudah khawatir akan di Tanya tentang lengan kirinya yang buntung. Kepada orang lain mungkin dia tidak akan menceritakan tentang ini, akan tetapi dia merasa bahwa terhadap Ai Yin dia tidak dapat merahasiakannya. Kalau dia tidak mau menceritakan, tentu Ai Yin akan menganggap dia tidak percaya kepadanya. Padahal gadis itu juga sudah bercerita tentang dirinya tanpa ada yang di rahasiakan, bahkan mengaku terus terang bahwa Can Ok yang jahat adalah paman gurunya.

"Ini semua terjadi karena kesalahpahaman belaka, Ai Yin. Aku pernah menolong seorang wanita Mancu dan hal ini di anggap sebagai pengkhianatan terhadap para pejuang. Bahkan ayah angkatku, Lam-liong Ma Giok sendiri terkena hasutan itu dan percaya bahwa aku berkhianat. Aku di serang dan"

Ketika menangkis bacokan pedang, lengan kiriku buntung"".

"Apa? "Ai Yin membelalakkan matanya.

"Ayah angkatmu Lam-liong Ma Giok itu, yang aku kagumi karena kebijaksanaannya, dia sendiri yang membuntungi lengan kirimu?."

Siauw Beng menggeleng kepalanya dan menghela napas panjang.

Kalau dia teringat akan peristiwa itu, bukan dibuntungi lengannya yang menyakitkan hatinya benar, melainkan sikap Lam-liong Ma Giok yang membencinya karena ayah angkatnya itu percaya akan tuduhan yang di lontarkan kepadanya oleh Song Cun.

"Bukan, karena ayah angkatku yang membuntungi, Ai Yin. Orang lain yang melakukan. Akan tetapi aku merasa sedih sekali, bukan kerena buntungnya lengan kiriku, melainkan karena ayah angkatku juga percaya bahwa aku telah berkhianat dan menjadi pembela orang Mancu".

"Hemmm, wanita Mancu yang kau tolong itu, mengapa engkau menolongnya? Apa yang terjadi dengannya?."

"Ia hendak di bunuh tanpa dosa, maka aku mencegah pembunuhan itu". Siauw Beng tidak mau menceritakan tentang perkosaan terhadap Puteri Mayani itu.

"Dua orang pendekar Song, orang pertama dan kedua dari Ciong-yang Ngo-taihiap telah di serbu pasukan Manchu dan terbunuh. Wanita Manchu itu di tuduh menjadi penggerak dari penyerbuan itu, padahal dia bukan. Para pendekar pejuang menangkapnya dan hendak di bunuh. Aku yang tahu betul bahwa dia bukan penggerak penyerbuan, lalu menolongnya. Akibatnya aku di tuduh pengkhianat". Gadis itu mengangguk-angguk, sampai lama mereka tidak bicara. Ai Yin termenung dan alisnya berkerut.

"Siauw Beng!."

Pemuda itu terkejut karena dia pun sedang melamun ketika gadis itu memanggilnya secara tiba-tiba.

"Ada apa, Ai Yin?."

"Wanita Manchu itu sudah tuakah ia atau masih muda?."

"Masih muda, seorang gadis sebaya dengan engkau".

"Cantik?."

"Yaahhh", sama dengan engkau". Sepasang alis yang hitam kecil melengkung itu berkerut dan sepasang mata itu mengamati wajah Siauw Beng penuh selidik.

"Cantik tidak, tanyaku tadi!."

"Hemmm, cantik sekali", kata Siauw Beng jujur. Wajah Ai Yin berubah kemerahan. Hatinya merasa senang, akan tetapi juga iri. Senang karena gadis itu cantik sekali dan sama dengannya, berarti pemuda itu juga mengatakan bahwa ia cantik sekali! Dan ia pun iri mendengar Siauw Beng memuji gadis Mancu itu dan menolongnya dengan pengorbanan lengan kirinya sebagai akibat pertolongan itu.

"Siapa namanya?."

"Nama Siapa?"

"Nama gadis Manchu itu tentu saja!."

"Ooo, namanya Puteri Mayani".

"Puteri?."

"Ya, dia puteri seorang pangeran Mancu, ibunya wanita Han".

"Hemmm"

Mayani"".

"Eh, Ai Yin, mengapa engkau tertarik tentang Puteri Mayani?."

"Aku ingin melihat seperti apa gadis Mancu itu sehingga engkau rela mengorbankan lengan kirimu untuknya".

"Aih, aku tidak mengorbankan lenganku untuknya! Aku hanya menolong ia karena ia hendak di bunuh Song Cun""Siauw Beng tiba-tiba menahan bicaranya karena dia tidak ingin bicara tentang peristiwa itu.

"Song Cun? Siapa dia?"

"Ah, dia itu putera pendekar ke dua dari Ciong-yang Ngo-taihiap yang terbunuh oleh pasukan Manchu. Karena menuduh Puteri Mayani sebagai penggerak penyerbuan itu, maka untuk membalas dendam kematian ayahnya dia hendak membunuh gadis itu". Ai Yin mengangguk-angguk.

"Hemmm, dan engkau mencegah pembunuhan itu maka engkau lalu di anggap sebagai pengkhianat dan pembela gadis Manchu?."

"Sudahlah, Ai Yin. Tidak ada gunanya kita membicarakan soal itu yang sudah terjadi lebih dari setahun yang lalu. Aku tidak ingin lagi mengenang peristiwa yang pahit itu". Melihat Ai Yin masih mengerutkan alis seperti orang berpikir dia berkata.

"Mari ku gantikan mendayung!."

Tanpa menjawab Ai Yin menyerahkan dayung dan mereka bertukar tempat.

Siauw Beng duduk di tengah mendayung atau lebih tepat mengemudikan perahu karena perahu itu meluncur terbawa arus sungai yang mulai kuat, dan Ai Yin duduk di depannya.

Gadis itu duduk membelakanginya seperti menikmati pemandangan yang cukup indah di sepanjang sungai.

Setelah lama bersunyi diri, tiba-tiba Ai Yin tanpa menoleh bertanya.

"Siauw Beng engkau ingin pergi ke kota raja untuk menemui Puteri Mayani?."

"Ah, tidak. Sudah ku katakana, aku ingin melihat-lihat kota raja". Ai Yin diam sampai lama. Akan tetapi akhirnya kegembiraannya muncul kembali dan ia bersikap lincah dan ramah kepada Siauw Beng sehingga pemuda itu... (Halaman 59 -62 Hilang) Sehingga kami terpaksa melarikan diri dan banyak anak buahku yang roboh. Anak buahku cerai-berai dan aku terpaksa membentuk kelompok baru yang sekarang baru ada belasan orang".

"Si Tangan Halilintar? Siapakah dia itu?."

"Orangnya masih muda dan tampaknya lemah, bahkan lengan kirinya juga buntung tinggal sepotong sebatas siku. Akan tetapi dia lihai bukan main. Kawannya pemuda tinggi besar itu juga amat lihai, namanya A Siong". Cun Song mengangguk-angguk. Dia dapat menduga siapa yang dimaksudkan Can Ok. Tentu Siauw Beng yang kini agaknya menlanjutkan julukan ayahnya dahulu, yaitu si Tangan Halilintar. Dan A Siong itu tentu murid Lam-liong Ma Giok yang selalu menemani Siauw Beng.

"Aku mengenal mereka, twako. Akan tetapi siapakah keponakan muridmu itu?."

"Ia Wong Ai Yin, puteri suheng Bu-tek Sin-kiam".

"Ah, seorang gadis?."

"Ya, seorang gadis cantik. Akan tetapi iapun lihai bukan main. Ketahuilah suheng Bu-tek Sin-kiam itu memiliki tingkat kepandaian yang bahkan lebih tinggi daripada tingkat mendiang suhu Hui-kiam Lo-mo".

"Akan tetapi bagaimana keponakan muridmu malah membantu dua orang pemuda yang menjadi lawanmu itu?."

"Begitulah wataknya, sama dengan watak suheng Bu-tek Sin-kiam. Ia hanya mau membantu kalau kami merampok orang-orang Mancu, itupun ia selalu melarang kalau kami hendak membunuh seorang Mancu dan melarang kami mengganggu wanita Mancu. Menjengkelkan sekali! Akan tetapi Wong Ai Yin, puteri suheng Bu-tek Sin-kiam itu sudah pergi dan aku tidak mau berhubungan dengannya lagi!."

"Can-twako, selama setahu aku berada di Hek-kwi-san memperdalam ilmu sehingga aku tidak pernah mendengar akan keadaan di dunia ramai. Bagaimana sekarang keadaan penjajah Mancu? Bagaimana pula perjuangan para patriot menentang Kerajaaan Ceng?."

"Ah, berat sekali bagi kita untuk menentang Kerajaan Ceng, Cun Song, Kerajaan Mancu kini sudah menjadi kuat sekali dan mereka pandai mengambil hati para pendekar dan pejuang sehingga banyak para tokoh yang tadinya berjuang dengan gigih menentang penjajah, kini malah membantu pemerintah Kerajaan Ceng".

"Hemmm, keparat para pengkhianat itu", kata Cun Song mengepal tinju. Apa yang di katakan Can Ok itu memang benar. Pemerintah Kerajaan Ceng, di bawah bimbingan Kaisar Kang His, pandai menyesuaikan diri dan mengambil hati rakyat pribumi Han. Selain banyak di antara mereka menikah dengan gadis Han, juga mereka menyesuaikan diri dengan kebudayaan bangsa pribumi. Kaisar Kang His memperhatikan kesejahteraan rakyat jelata sehingga sikap yang baik dari Pemerintah mancu ini menarik hati banyak orang, baik para ahli sastra mau pun ahli silat. Apalagi mereka melihat betapa pasukan Mancu amat kuat sehingga tidak ada gunanya melakukan pemberontakan karena sudah banyak para pemberontak terbasmi.

"Memang tidak ada artinya kalau kita melakukan perjuangan menentang kekuasaan Mancu yang semakin kuat dengan mengandalkan kekuatan kita sendiri, Cun Song. Akan tetapi sekarang terbuka bagi kita untuk memukul bahkan menghancurkan penjajah Mancu".

"Eh, bagaimana caranya, twako?."

Ketahuilah bahwa kini bangsa Mongol sedang melakukan gerakan untuk menundukkan Pemerintah Mancu dan merampas kerajaan.

Mereka di pimpin oleh seorang tokoh Mongol yang gagah perkasa dan hebat bernama Galdan.

Mereka mulai menyerbu ke selatan dan kalau kita dapat bergabung dengan mereka dan membantu gerakan mereka, tentu gerakan menentang Pemerintah Mancu akan berhasil!."

Cun Song mengerutkan alisnya.

"Akan tetapi itu berarti bahwa tanah air kita akan tetap di jajah bangsa Mongol kembali seperti dahulu kalau Pemerintah Mancu kalah. Lalu apa bedanya? kita tetap saja di jajah bangsa asing!."

"Bukan begitu, Cun Song. Kita bergabung dengan orang Mongol hanya untuk menjatuhkan Pemerintahan Mancu. Kalau hal itu sudah terjadi, kiranya akan lebih mudah untuk membalik dan mengusir orang-orang Mongol sebelum mereka menyusun kekuatan di sini". Cun Song mengangguk-angguk mengerti dan setuju."Lalu, bagaimana untuk dapat mengadakan kontak dengan mereka, twako?."

"Aku sudah mencari keterangan tentang cara itu, Cun Song. Menurut keterangan yang kami dapat, kini Pangeran Galdan, demikian dia menyebut dirinya, katanya dia masih keturunan Kaisar Jenghis Khan dahulu, mempunyai beberapa tempat persembunyian di perbatasan utara".

"Baiklah, ku harap engkau akan melanjutkan usahamu untuk mengadakan hubungan dengan mereka. Aku sendiri masih mempunyai urusan penting".

"Urusan penting apakah, Cun Song? Kami akan membantumu".

"Tidak, twako, ini merupakan urusan pribadiku. Akan ku selesaikan sendiri. Ku harap engkau melanjutkan usahamu mengadakan kontak dengan Pangeran Galdan. Setelah nanti ada hubungan, aku akan mencarimu".

"Baiklah, Cun Song. Kelak ku harap kita akan dapat selalu bekerja sama dan menikmati hasilnya bersama pula. Akan tetapi dimana aku dapat menemuimu. Setelah aku berhasil mengadakan hubungan dengan Pangeran Galdan?."

"Bukan engkau yang menghubungi aku, twako. Akan tetapi aku yang akan mencarimu di daerah lembah Huang-ho".

"Baiklah, Cun Song. Ada lagi sesuatu yang amat penting untuk kau ketahui".

"Apakah itu, twako?."

"Begini, Cun Song. Kami mendapat sebuah berita rahasia lagi tentang seorang pengeran keponakan kaisar Mancu bernama Pangeran Dorbai". Cun Song mengerutkan alisnya mendengar ini. Pangeran Dorbai adalah Pangeran Mancu yang memimpin pasukan menyerbu rumah paman tuanya, yaitu mendiang Song Kwan dan penyerbuan itu menyebabkan Song Kwan dan isterinya juga ayah ibunya sendiri tewas.! "Ada apa dengan Pangeran jahanam itu?"

Tanyanya dengan hati mulai merasa panas.

"Eh? Agaknya engkau membencinya, Cun Song?."

"Apakah engkau juga tidak membenci semua keluarga Kaisar Mancu, twako?."

"Ah, benar juga. Akan tetapi ketahuilah, Cun Song, menurut penyelidikan kami, kami mendengar akan suatu rahasia, yaitu bahwa diam-diam Pangeran Dorbai mempunyai hubungan rahasia dengan Pangeran Galdan orang Mongol itu". Cun Song memandang heran.

"Aih, benarkah itu, twako? Bukankah Pangeran Dorbai itu seorang yang sibuk menentang para pejuang?."

"Dulu memang begitu. Akan tetapi kini ia telah di angkat oleh Kaisar sebagai seorang menteri, pejabat tinggi yang mengepalai seluruh pejabat di daerah sehingga dia memiliki kekuasaan yang tinggi. Pengaruhnya besar sekali dan agaknya kekuasaan tinggi itu menyebabkan dia bercita-cita untuk meraih kedudukan yang lebih tinggi lagi".

"Hemmm, memberontak?."

"Ku kira begitulah. Dia hanya keponakan kaisar sehingga tentu saja tidak berhak mewarisi tahta kerajaan. karena itulah agaknya kini dia melihat kesempatan dengan adanya gerakan Pangeran Galdan dari Mongol itu untuk menjatuhkan kekuasaan Kaisar Kang Shi, pamannya sendiri sehingga dia mempunyai kesempatan untuk menggantikan kedudukan kasiar".

"Hemmm, kalau begitu boleh juga engkau mengadakan kontak dengan Pangeran Dorbai itu, twako. Kelak kalau kita berhasil menjatuhkan kekuasaan pemerintah Mancu, aku sendiri yang akan membunuh Pangeran Dorbai sebelum dia mengambil kesempatan menjadi kaisar!."

Pernyataan kebencian yang di lontarkan Cun Song terhadap Pangeran Dorbai ini tidak mengherankan Can Ok sehingga dia tidak menduga bahwa ada sesuatu antara pemuda itu dengan Pangeran Dorbai karena di antara para pejuang yang membenci pemerintah penjajah Mancu, siapa yang tidak membenci seorang pangeran, apalagi kalau pangeran itu dulu selalu sibuk membasmi para pejuang seperti Pangeran Dorbai?.

"Baiklah, Cun Song. Aku akan berusaha sebaik mungkin. Mudah-mudahan saja apa yang kita cita-citakan berhasil". Cun Song tersenyum.

"Cita-cita kita yang bagaimana, Can-twako?."

Can Ok tertawa.

"ha-ha-ha, tentu saja engkau kelak menjadi kaisar dan aku menjadi Perdana menterinya!."

Mendengar ini, Cun Song tertawa bergelak dan Can Ok terbahak-bahak sehingga mereka berdua tertawa dengan gembira membayangkan terlaksananya cita-cita yang muluk itu.

Setelah berbincang-bincang cukup, Cun Song pamit dan meninggalkan tempat itu.

Can Ok lalu bersiap-siap untuk melaksanakan rencananya, yaitu mengadakan hubungan dengan Pangeran Galdan di perbatasan utara.

Untuk mengadakan hubungan dengan Pangeran Dorbai, tentu saja dia belum berani karena hal itu pasti tidak mudah di lakukan.

Pangeran yang berniat memberontak ini pasti tidak berani terang-terangan mengadakan hubungan dengan para pejuang yang selama ini menjadi musuhnya.

Baru mungkin mengadakan kontak dengan Pangeran Dorbai kalau dia sudah menjadi sekutu orang-orang Mongol.

Kota Ci-kian adalah sebuah kota yang cukup ramai karena mempunyai hubungan langsung dengan kota raja.

Perdagangan tumbuh dengan baik karena kota ini menjadi pusat pemasok barang kebutuhan makan sehari-hari bagi penduduk kota raja.

Penduduk kota Ci-kian rata-rata hidup cukup sejahtera dari penghasilan mereka bercocok tanam dan berdagang hasil sawah lading.

Karena itu, biarpun mereka di jajah Kerajaan Ceng pimpinan orang mancu, rakyat merasa cukup sandang pangan papannya sehingga hidup dengan aman tentram.

Akan tetapi, baru beberapa bulan ini kota ini di ganggu seorang penjahat yang amat lihai.

Penjahat itu melakukan perkosaan dan pembunuhan secara kejam sekali.

Hebatnya gerakannya seperti setan karena amat cepatnya sehingga tidak ada seorangpun yang dapat melihat wajahnya dengan jelas.

Yang melihatnya dengan jelas mungkin hanya mereka yang telah di bunuhnya.

Mereka yang tidak terbunuh hanya melihat bayangan seorang laki-laki.

Wajahnya tidak jelas, tubuhnya tegap dan penjahat itu hanya memiliki lengan kanan karena lengan kirinya buntung dan sisanya tersembunyi dalam lengan baju yang kosong.

Ada pula yang mendengar pengakuan penjahat itu yang berjuluk sebagai Si Tangan Halilintar karena semua pembunuhan dilakukan dengan tamparan yang demikian kuatnya sehingga yang di tampar pecah kepalanya atau patah-patah tulang dadanya, juga berguncang remuk isi perut dan dadanya.!

Lebih hebat lagi, apa yang menjadi korbannya hanyalah orang-orang pribumi Han.

Belum pernah dia mengganggu pembesar Mancu.

Dalam waktu tiga bulan saja, sudah ada lima orang gadis di perkosa dan di bunuhnya, dan ada sepuluh orang pribumi Han yang tidak berdosa dibunuhnya.

Maka, kota Ci-kian menjadi gempar dan nama julukan Si Tangan Halilintar tersohor dan di takuti orang.

Ketika pasukan keamanan dan para pendekar mencari dan berusaha menangkapnya, tiba-tiba saja dia menghilang dari Kota Ci-kian.

Beberapa hari kemudian, dia sudah mengamuk lagi di kota lain, membunuh dan memperkosa wanita dengan cara yang sama, yaitu hanya orang pribumi Han yang dia bunuh.

Setelah kejahatan ini berlangsung beberapa pekan, dia menghilang lagi.

Dunia kangouw geger.

Belum pernah ada penjahat seganas itu, apalagi yang dijadikan korban bukan hartawan atau bangsawan Mancu yang kaya, melainkan penduduk pribumi Han biasa yang hidupnya tidak mewah.

Perbuatan penjahat itu membuat bukan saja para pendekar yang marah, akan tetapi juga pemerintah Kerajaan Ceng.

Pemerintah marah karena perbuatan itu dapat mengakibatkan rakyat kembali membenci Pemerintah karena tentu mengira bahwa yang membunuh orang pribumi tentu orang Mancu!

Dan para pendekar tentu saja marah kerena ada penjahat yang kejam terhadap rakyat yang tak berdosa.

Si Tangan Halilintar itu menimbulkan kemarahan kepada Pemerintah Mancu dan juga kepada para pendekar sehingga kedua pihak itu kini mencarinya, berusaha menemukan dan menghukumnya seberat-beratnya.!

Pada suatu malam, di kota Ceng-jun, hujan turun membasahi seluruh kota.

Di jalan-jalan sunyi karena hawa sangat dingin dan dalam cuaca hujan seperti itu, orang-orang lebih suka tinggal di rumah dan kalau tidak terpaksa sekali tidak ada yang mau keluar rumah.

Akan tetapi dalam kegelapan malam yang dingin, ketika hujan kini tinggal rintik-rintik, nampak bayangan berkelebat di atas genteng sebuah rumah besar.

Sinar lampu besar yang menerobos keluar dari ruangan dalam rumah itu menerangi bayangan yang kini mendekam di atas wuwungan rumah yang gentengnya tebal dan kokoh kuat.

dalam keremangan sinar lampu, orang akan dapat melihat bahwa wajah itu wajah seorang laki-laki yang masih muda, akan tetapi bentuk wajah itu tidak jelas.

Gerak-geriknya gesit dan tubuh laki-laki muda itu kokoh.

Kepalanya di tutup sebuah caping lebar.

Lengan baju yang kiri orang itu tergantung kosong.

Malam mulai larut dan dalam cuaca yang gelap dan hawa udara yang dingin itu, agaknya semua penghuni rumah telah tidur.

Bagaikan seekor kucing, orang itu setelah mengintai dan mendapat kenyataan betapa ruangan di bawahnya itu sepi tidak tampak ada orang dan juga tidak terdengar suara apa pun, lalu dia melompat ke bawah.

Ketika kedua kakinya menginjak lantai, sama sekali tidak mengeluarkan suara.

Hal ini menunjukkan bahwa orang itu memiliki ginkang (ilmu meringankan tubuh) yang amat hebat.

Ada tiga buah kamar berdampingan di ruangan lebar itu.

Orang yang jelas buntung lengan kirinya itu mendekati setiap kamar dan menempelkan telinganya pada jendela kamar yang tertutup.

Kemudian seolah dapat mengetahui akan isi kamar melalui pendengarannya, ia telah memilih kamar di sudut kiri.

Dengan jari-jari tangan kanannya, mudah saja baginya untuk mematahkan pengganjal jendela dan membuka jendela tanpa mengeluarkan suara sedikitpun.

Lampu yang menyorot dari dalam kamar tidaklah seterang lampu yang berada di ruangan membuat kamar itu tampak remang-remang.

Namun dalam keremangan itu, orang itu dengan sepasang matanya yang mencorong dapat melihat bahwa yang rebah di pembaringan itu adalah seorang gadis muda, seperti yang di duganya dengan menempelkan telinganya di luar jendela tadi.

Dengan mendengarkan secara itu, dia dapat membedakan siapa yang berada di dalam kamar, dan pernapasan orang yang berada di dalam.!

Kemampuan inipun menunjukkan bahwa dia seorang yang memiliki sin-kang (tenaga sakti) kuat sekali.

Dia tersenyum lalu bagaikan seekor kucing, dia melompat memasuki kamar melalui jendela yang terbuka.

Lalu dia menutupkan kembali daun jendela itu dari sebelah dalam.

Ketika ia menghampiri pembaringan, sebuah kejutan menyambutnya.

Agaknya gadis itu terbangun dan tiba-tiba gadis itu melompat dan menyerangnya dengan pukulan yang cukup dahsyat.

Hal ini membuktikan bahwa gadis itu seorang ahli silat yang sama sekali tidak lemah.!

Akan tetapi ternyata orang berlengan satu yang masuk seperti maling itu bergerak lebih cepat lagi.

Dia bahkan menerima pukulan tangan gadis yang menyambar ke arah dadanya itu.

"Dukkk"!!!"

Pukulan itu tepat mengenai dada, akan tetapi maling itu sama sekali tidak terpengaruh dan pada saat itu, tangan kanannya dua kali meluncur, kea rah pundak lalu kea rah leher.

"Tukk-tukk"! "Gadis itu tidak sempat mengelak dan seketika ia tidak mampu bergerak, tubuhnya lemas, kaki tangannya lumpuh dan ia pun tidak mampu mengeluarkan suara. Maling itu menerima tubuh yang terkulai hendak roboh, memondongnya dan membaringkannya kembali ke tempat tidur. Rumah itu adalah milik seorang tokoh dunia kangouw, seorang murid Siauw-lim-pay bernama Gui Liang. Tokoh Siauw-lim-pai berusia empat puluh lima tahun ini mempunyai seorang anak gadis yang telah berusia sembilan belas tahun bernama Gui Cin. Tentu saja Gui Cin juga mendapat latihan ilmu silat Siauw-lim-pay dari ayahnya. Gui Liang bekerja sebagai seorang piauwsu (pengawal pengiriman barang) dan terkenal di kota Ceng-jun karena selama kiriman yang di kawalnya tentu selamat sampai di tempat tujuan dan dia dapat menghalau gangguan perampok. Gui Liang tinggal dan hidup tenang, bersama isterinya dan puteri mereka, Gui Cin yang cukup cantik. Pada hari itu Keluarga Gui menerima seorang tamu bernama Lu Kiat yang masih sute (adik seperguruan) sendiri dari Gui Liang. Kedatangan Lu Kiat selain mengunjungi keluarga suhengnya (kakak seperguruannya) juga membawa usul perjodohan dengan seorang pemuda masih keponakan sendiri dari Lu Kiat yang bernama Lu Siong. Keponakan ini juga seorang murid Siauw-lim-pay yang pandai dan semuda itu, berusia dua puluh tiga tahun, dia sudah berdagang, memiliki toko hasil bumi yang cukup besar. Pemuda itu pun juga bukan orang asing bagi keluarga Gui, maka usul ini di terima dengan baik. Bahkan Gui Cin sendiri juga tidak menolak karena iapun mengenal Lu Siong yang ganteng dan gagah perkasa. Malam itu, karena hawa udara dingin, maka setelah bercakap-cakap, Gui Liang mempersilahkan sutenya mengaso dan tidur di kamar sebelah kiri. Dia sendiri bersama isterinya tidur di kamar besar yang berada di tengah, sedangkan puterinya tidur di ujung sebelah kanan kamar mereka. Demikian ringan gerakan maling tadi sehingga Gui Liang yang lihaipun tidak mendengar apa-apa, padahal dia belum pulas. Akan tetapi tiba-tiba dia berkata kepada isterinya yang juga belum tidur.

"Aku mendengar suara rintihan. Hemm, agaknya dari kamar anak kita. Ada apakah dengan anak itu? Apakah ia sakit?."

Isterinya sudah bangkit duduk dan turun dari pembaringan, lalu bersama suaminya ia keluar dari kamar mereka langsung menghampiri pintu kamar puteri mereka.

Kini dari depan pintu mereka mendengar suara itu.

Suara seperti rintihan.

"Tok-tok-tok!"

Gui Liang menggedor pintu.

"Gui Cin, engkau mengapakah? Hayo buka pintunya!"

Akan tetapi tidak ada jawaban dan daun pintu juga tidak dibuka dari dalam.

Bahkan suara seperti rintihan di kerongkongan itu menjadi semakin kuat.

Gui Liang menjadi tidak sabar dan karena khawatir terjadi sesuatu dengan puterinya, dia lalu mengerahkan tenaganya dan mendorong dengan kedua tangannya ke arah daun pintu.

"Braakkk"!"

Daun pintu itu jebol dan suami isteri itu melihat seorang laki-laki berdiri dekat pembaringan.

Puteri mereka rebah telentang tak bergerak dan tidak bersuara, dan yang membuat mereka terkejut sekali adalah melihat keadaan puteri mereka itu yang telah bertelanjang bulat!

Sepintas saja Gui Liang yang sudah berpengalaman dapat menduga apa yang terjadi.

Dia melompat ke dalam kamar itu dan membentak.

"Siapa engkau?"

Akan tetapi laki-laki yang hanya tampak bayangannya itu tiba-tiba menerjang dan menyerangnya.

Gui Liang bukan orang yang lemah.

Dia seorang murid Siauw-lim-pay yang tangguh dan sebagai seorang piauwsu dia tentu saja memiliki benyak pengalaman bertanding.

Maka dia yang melihat serangan hebat itu cepat melompat keluar kamar mencari tempat yang lebih luas dan agak terang.

Maling itu mengejarnya dan ketika tiba di luar kamar, Gui Liang dan isterinya melihat betapa orang itu adalah seorang pemuda tampan yang memakai sebuah caping, dan lengan kirinya buntung!

Gui Liang terkejut dan dia teringat akan berita menggegerkan dunia kangouw tentang penjahat besar berjuluk Si Tangan Halilintar.

"Tangan Halilintar!"

Dia berteriak lalu menyerang dengan pedang yang sudah dicabutnya.

Maling itu tertawa bergelak, suara tawanya bergema dan dia melayani serbuan pedang Gui Liang dengan gerakan tubuhnya yang lincah bukan main.

Berkali-kali Gui Liang mengirim serangan bertubi-tubi, namun semua serangannya dapat di hindarkan maling itu dengan elakan dan tangkisan.

Hebatnya, dengan tangan kosong dia berani menangkis pedang yang tajam.!

Suara rebut-ribut itu terdengar oleh Lu Kiat yang tidur di kamar sebelah.

Ketika dia membuka pintu kamar, dia terkejut melihat suhengnya sedang berkelahi melawan seorang laki-laki muda yang lengan kirinya buntung.

Dia pun segera teringat akan nama Si Tangan Halilintar yang tersohor itu dan melihat betapa si lengan buntung itu dapat menghadapi pedang suhengnya dengan lincah sekali, dia cepat memasuki kamarnya kembali untuk mengambil pedangnya.

Ketika dia keluar dia mendengar teriakan suhengnya dan jeritan isteri suhengnya.

Bukan main kagetnya melihat suheng dan isteri suhengnya itu telah terkapar di atas lantai dan si lengan buntung itu sekali menggerakkan tangan kanannya, lampu gantung yang berada di luar kamar itu pecah berantakan sehingga keadaan di situ menjadi remang-remang karena hanya mendapat sinar lampu kecil yang menyorot keluar kamar Gui Cin.

Lu Kiat dapat melihat jelas wajah penjahat itu.

Dengan marah sekali dia melompat menerjang.

"Jahanam! Engkau tentu Si Tangan Halilintar!"

Bentaknya sambil menggerakkan pedangnya menyerang dengan dahsyat.

Tingkat kepandaian Lu Kiat ini masih lebih tinggi daripada tingkat kepandaian Gui Liang karena dia lebih lama tinggal di Siauw-lim-si (Kuil Siauw-lim).

"Ha-ha-ha, kalian para pemberontak Siauw-lim harus di basmi!"

Maling itu tertawa dan berkata mengejek.

Lu Kiat mempercepat serangannya akan tetapi dia merasa terkejut dan juga heran karena orang itu menghadapinya dengan silat tangan kosong Lo-han-kun (Silat Orang Tua) dari Siauw-lim-pai!

Akan tetapi gerakannya lincah bukan main dan yang lebih hebat lagi, orang yang hanya bertangan satu itu berani menangkis pedang dengan tangannya dan setiap kali tangan kanannya itu bertemu pedang, terdengar suara berdencing nyaring seolah tangan itu terbuat dari baja yang kuat!

Orang ini jelas orang Siauw-lim-pai, memiliki ilmu silat Siauw-lim akan tetapi dengan tingkat yang sudah tinggi sekali dan memiliki tenaga sakti yang amat kuat.!

"Keparat busuk!"

Lu Kiat kembali menyerang setelah belasan serangannya selalu dapat di hindarkan lawan.

Kini pedangnya membacok kearah leher.

Namun dengan mudah lawannya mengelak dengan loncatan ke belakang.

Pada saat itu, suara rebut-ribut memancing datangnya sisa penghuni rumah itu, ialah para pembantu rumah tangga dan tiga orang piauwsu pembantu yang tinggal di begian belakang rumah.

Melihat bala bantuan datang dan di antara mereka membawa teng (lampu gantung) Lu Kiat cepat menyerang lagi dengan pedangnya, menusuk ke arah dada maling itu.

Akan tetapi yang di tusuk hanya miringkan tubuh dan begitu tangan kanannya membuat gerakan membacok kearah pedang, pedang itu patah menjadi dua.

Sebuah tendangan menyambar dan tubuh Lu Kiat terlempar, menabrak dinding dan roboh dengan dada terasa nyeri.

Akan tetapi dia tidak terluka amat parah sehingga tidak membahayakan keselamatan nyawanya.

Maling itu tertawa lalu berkelebat lenyap ke atas wuwungan rumah.

Geger rumah keluarga itu ketika orang-orang mengetahui bahwa Gui Liang dan isterinya tewas dan lebih ngeri lagi hati mereka melihat dalam kamar Gui Cing juga tewas dalam keadaan telanjang bulat.!

Lu Kiat tidak tewas dan murid Siauw-lim-pai ini merasa yakin bahwa pelaku pembunuhan dan perkosaan ini adalah Si Tangan Halilintar yang tersohor, penjahat keji yang berlengan satu dan amat lihai itu.

Akan tetapi ada satu hal yang membuat dia merasa sekali yaitu melihat kenyataan bahwa Si Tangan Halilintar itu mahir memainkan ilmu silat Siauw-lim-pai!

Jelas bahwa orang itu adalah seorang murid Siauw-lim-pai yang pandai dan lihai sekali.

Baca Juga: Kisah Para Pendekar Pulau Es 9

Baca Juga: Kisah Sepasang Rajawali 20

Cari Blog Ini

Diberdayakan oleh Blogger.

Parnert