Eps 1 Pendekar Bego - Can ID
Baca online Pendekar Bego - Can ID
Cersil Pendekar Bego - Can ID.
Pendekar Bego Saduran . Can Kontributor . aaa Dimhader Final edit & Ebook pdf oleh . Dewi KZ
Tiraikasih Website
http.//kangzusi.com/
http.//dewi-kz.info/
http.//cerita-silat.co.cc/
http.//kang-zusi.info Catatan . Cerita silat ini setting ceritanya hampir sama dengan cerita silat SI DUNGU yang disadur oleh Chung Sin, tetapi nama -nama lakonnya berbeda.
Jilid 1 HUJAN deras menimpa sebuah jalan pegunungan yang berlumpur, air yang deras membuat jalan jadi becek dan sukar dilewati.
Tanah perbukitan di propinsi Su cusu memang tersohor karena sulitnya untuk dilewati, sebuah jalan kecil yang meliuk liuk terbentang jauh ke depan, menghubungkan tempat itu dengan Kiam bun kwan, selewatnya Kwan bun kwan, orang akan sampai di Kiam khek.
Seorang laki laki bercaping lebar sedang melakukan perjalanan melalui jalan becek itu, hujan sangat deras, cuaca amat berkabut, orang itu menengadah dan memandang sekejap ke depan.
Usianya masih sangat muda, baru dua puluh tahunan sayang tampangnya jelek, mulutnya moncong keluar seperti mulut babi, hidangnya pesek, matanya menongol keluar dengan kening yang sempit.
Cuma, dia mempunyai sepasang mata yang menawan, sinar mata yang jujur membuat orang menaruh kesan baik kepadanya.
Dia mengangkat kepalanya sebentar, disekanya air hujan yang membasahi wajahnya lalu menggeleng kepalanya.
"Tidak keburu, tidak keburu, aai ....tak akan sampai ke tempat tujuan, celaka, bagaimana baiknya"
Berulang kali.
Dengan gelisah ia bergumam sendiri sementara sang kakinya tak pernah berhenti, selangkah demi selangkah berjalan terus ke muka.
Selangkah sesaat kemudian, cahaya api tampak secara lamat lamat di depan sana.
Pemuda itu jadi gembira kembali gumamnya.
"Waah .... untung ada pondokan didepan sana, yaa, toh tak bakal sampai di tempat tujuan, kenapa aku tidak berteduh dulu disitu?"
Langkahnya lantas dipercepat untuk menghampiri tempat itu.
Udara semakin lama semakin gelap.
hujan turun semakin deras, dari kejauhan terdengar suara gemuruh air yang memekikkan hati, bikin orang merasa ngeri.
Kurang lebih setengah li kemudian si pemuda melihat cahaya api didepan sana makin dekat dan nyata.
Selain itu, diapun menemukan sebuah kuil bobrok yang berwarna kelabu.
Dalam dua tiga langkah, sipemuda sudah sampai di depan kuil, lalu mendorong pintu kuil yang bobrok dan masuk ke dalam.
Ruang kuil sangat kotor, suara hujan yang berderai masih terdengar nyaring, toh itu lebih baik daripada kehujanan di luar.
Sambil menghembuskan papas lega sipemuda melepaskan topi lebarnya, ia melihat disudut ruangan ada api unggun, rupanya cahaya api inilah yang terlihat dari tempat kejauhan tadi.
Disekitar api unggun duduk tiga orang sedang menghangatkan badan, ketiga orang itu duduk dengan punggung menghadap ke pintu dan wajah menghadap ke dinding, rupanya kehadiran sipemuda tidak diketahui mereka bertiga, sebab tak seorangpun yang menggerakkan badannya "Heeehhh ....
heeehhh...
heeehhh...
permisi, aku numpang berteduh, boleh kan?"
Pemuda itu cengar cengir sambil tertawa lirih.
Tiada jawaban dari ketiga orang itu, yang terdengar hanya deraian air hujan diluar ruangan.
Baru kali ini pemuda tersebut mengembara, tapi dia tahu watak orang persilatan rata rata memang aneh, diapun mengerti kalau tak ingin mencari penyakit lebih baik jangan banyak bicara.
Maka sewaktu orang membungkam, diapun tidak banyak bicara lagi, sambil mundur kembali ke sudut ruangan matanya mulai celingukan kesana ke mari, dan akhirnya mata itu berhenti pada patung arca yang dipuja dalam kuil itu.
Tiba tiba ia melongo, patung itu tampak seperti hidup, seperti orang hidup duduk dimeja pujaan.
Lama sekali pemuda itu awasi patung tersebut dengan sinar mata ragu, tapi toh gagal untuk mengetahui patung dari tanah liatkah atau orang hidup yang ada disitu.
Dia ingin main ke depan sana dan merabanya, tapi kuatir ditertawakan tiga orang itu, maka yang dapat dilakukan hanya mengawasi saja dengan seksama.
Cuaca waktu itu sudah gelap.
tapi di tengah kuil masih bisa melihat benda lainnya berkat pancaran api dari onggokan api unggun itu, ketika cahaya api meninpa di wajah patung, gelap gelap terasa di wajah itu makin lama semakin hidup, Patung itu adalah patung seorang laki laki berusia empat puluh tahunan, sebuah sarung pedang yang besarnya luar biasa tersoren di pinggangnya.
sarung itu sangat jelek, pedangnya sudah hilang, mungkin sudah dicuri orang.
Beberapa kejap anak muda itu mengawasi sarung rongsokan itu, akhirnya dia yakin kalau patung itu sungguhan, karena sarung pedangnya sudah lapuk.
malah disana sini ada lubang bekas dimakan rayap.
kalau bukan barang kuno tak mungkin jadi begitu rupa.
Keheningan meliputi ruangan itu, hanya suara hujan diluar sana masih kedengaran nyaring, suara lain hampir tak kedengaran.
Api dari onggokan api unggun mulai padam, namun tiga orang yang duduk disampingnya masih belum juga bergerak.
Dengan padamnya api unggun, suasana jadi gelap.
dan hawa dingin mulai merasuk ketulang sumsum.
Beberapa kali si pemuda mengendalikan perasaannya, tapi lama kelamaan ia tak betah maka ujarnya kemudian.
"saudara bertiga, aku she Ong bernama It sin, selewatnya Kiam bun kwan, perkampungan Li-keh ceng yang ada dalam selat Li hu kok adalah milik pamanku, Gin sin (dewa perak) Li Liong."
Begitu berbicara, Ong It sin lantas menyingsung nama "Gin sin"
Li Liong, hal ini bukan karena dia sok pamer atau sok menonjolkan nama besar pamannya.
Yaa, Dewa perak Li Liong selain seorang hartawan di wilayah Cuan-pak.
dia pun terkenal sebagai tokoh persilatan yang di segani dalam wilayah su cuan, boleh dibilang semua orang persilatan yang meliwati Kiam bun kwan, tentu akan masuk ke lembah Li bu kok dan mengunjungi Li keh ceng.
Perduli Dewa perak Li Liong akan menyambut kedatangan mereka atau tidak-semua orang merasa berkewajiban untuk berbuat demikian.
Ong It sin melihat tiga orang itu berpakaian ringkas, dia tahu mereka adalah orang persilatan maka nama pamannya lantas disinggung singgung ....
Tapi apa yang terjadi?
Tiga orang itu masih tetap duduk.
sedikitpun tidak bergerak.
Maka Ong It sin kembali tertawa cengar cengir.
"Aku mendapat perintah pamanku untuk mengajarkan suatu tugas besar, paman suruh aku tiba kembali di perkampungan sebelum lewat malam ini, tapi hujan begini deras, aku tak bakal sampai dirumah, paman tentu akan memaki si tolol lagi kepadaku, heeehh ... .heehh... heeehh... tentunya kalian tak akan ikut mentertawakan bukan?"
Segudang sudah kata-kata yang berhamburan dari mulut si pemuda, ibiratnya berondongan senapan mesin, tapi ketiga orang itu masih duduk tak bergerak. Ong It sin jadi malu sendiri, dia tertawa jengah.
"saudara, coba lihat api sudah padam, aku tambahkan kayu bakar yaa?"
Dalam ruang kuil tidak tersedia kayu maka dia mengambil sebuah meja, mematahkan kakinya dan kayu itu dimasukkan kedalam onggokan api.
Kayu itu masih tergenggam kencang, belum juga kelima jari tangannya melepas kayu tersebut sekujur badannya tiba-tiba jadi kaku.
Seketika itu juga ia merasa tenggorokannya kering, bulu kuduknya pada berdiri, dia ingin berteriak namun tak sepotong suarapun meluncur keluar, dia ingin ambil langkah seribu, tapi kakinya tidak turut perintah lagi, yang bisa lakukan hauya berdiri kaku disitu dengan badan gemetar keras.
Api yang hampir padam membiarkan cahaya berwarna merah membara, tapi justru karana itu, tampang ketiga orang itu tampak lebih mengerikan.
Ong It sin menyangka tiga orang itu hanya duduk saja tanpa berkutik, tapi sekarang dia baru tahu, kalau sudah mati, bukan saja sudah mati bahkan kematiannya mengerikan.
kulit wajahnya sudah disayat orang sehingga yang tertinggal kini hanya daging merah darah yang amat menjijikan, bikin orang jadi ngeri dan mual.
Entah beberapa lama Ong It sin berdiri disitu akhirnya kaki yang lemas mulai bertenaga lagi, cepat cepat dia mundur dua langkah.
Segulung angin berhembus lewat menyingkap pintu kuil hingga terbuka, Ong It sin merasa punggungnya seolah-olah ditumbuk orang, ia menjerit kaget dan nyaris jatuh pingsan, cepat dia berpaling hujan masih berderai dengan derasnya diluar.
Cepat cepat pintu ditutup kembali kemudian di awasinya tiga orang itu sekali lagi, kini ia dapat melihat dandanan mereka dengan jelas, terutama ikat pinggang warna emas yang melilit pinggang mereka, penemuan ini membuat hatinya makin terperanjat.
Sebenarnya, ia tak mengira kalau ketiga orang itu adalah orang orang yang dikenalnya, maka dandanan mereka tidak terlalu diperhatikan, tapi setelah menjumpai ikat pinggang emas sebera dikenalnya sebagai tanda pengenal dari jago jago Li-keh ceng.
Dewa perak Li Liong adalah seorang hartawan, ilmu silatnya juga tinggi, banyak orang persilatan yang sering berkunjung keperkampungan Li keh-ceng, malah ada dua sampai tiga puluh orang jago lihay yang berdiam di perkampungan itu sebagai tamu, karena dipercayai oleh Li Liong, masing-masing diberi hadiah sebuah ikat pinggang emas.
Siapa orang yang pernah menerima hadiah ikat pinggang emas akan merasakan hal itu sebagai kebanggaan mereka selalu mengena-kannya dimanapunjua, sebab itu cukup sekilas pandang Ong It sin telah mengenalinya sebagai jago jago dari Li keh-ceng.
Walaupun Ong It sin adalah keponakan Dewa perak Li Liong, lantaran mukanya jelek, sikapnya ketolol-tololan, kadang kala kalau bicara selalu panjang lebar tak habis habisnya, tak ada orang yang senang bergaul dengannya, lebih-lebih Li Liong, ia sering membentak dan menjadikannya seperti pelayan.
Bisa dibayangkan, kedudukannya dalam keluarga Li tentu saja tak akan lebih tinggi dari dua tiga puluh orang tamu kampung yang memakai ikat pinggang emas itu.
Dan sekarang, tiga orang tamu kampung-nya ditemukan mati dalam kuil bobrok, bahkan kulit muka mereka disayat orang, teringat kalau diapun seorang anggota perkampungan Li keh ceng, rasa ngeri dan seram yang mencekam hatinya sukar di lukiskan lagi.
Lama sekali si pemuda termangu, pelan-pelan keberaniannya terhimpun kembali, dia putar badan dan lari kepintu, lalu pintu dibuka sekuat tenaga dan kaburlah dia keluar.
Dia tahu, kematian dari tiga orang tamu kampungnya di kuil tersebut merupakan suatu kejadian yang maha besar, dia harus pulang kampung dergan menempuh hujan yang bagaimana deraspun, maka tanpa berpikir panjang ia kabur keluar.
Tapi baru selangkah dia keluar dari pintu, anak muda itu kembali tertegun.
Paras mukanya berubah sangat hebat, malah jauh lebih ketakutan daripada sewaktu menemukan kulit muka tiga orang yang tersayat orang.
Kegelapan hampir mencekam seluruh jagad, hari hujan begini, tapi diantara titik titik air hujan yang turun dengan derasnya terbias sebercak cahaya, dengan perantara cahaya itu semua pemandangan disekelilingnya dapat terlihat jelas.
Di depan pintu itulah ia melihat sesuatu, sesosok marusia berdiri kaku tepat dihadapannya, sepintas lalu orang itu kelihatan seperti perempuan karena rambut yang panjang hampir sebatas pinggang, tubuhnya kurus lagi jangkung, sepasang tangannya terjulur ke bawah, dia berdiri kaku disitu tanpa bergerak.
persis separti sesosok mayat hidup, Ong It sin gelagapan setengah mati, maksud hati pingin kabur secara cepatnya dari situ, tapi kakinya terasa lemah badannya jadi gontai, akhirnya dia tak mampu berdiri dan "Bluuuk"
Badannya jatuh terduduk ditanah.
Beberapa kali dia bermaksud untuk berdiri tapi tak bertenaga untuk bangkit dia ingin menegur orang itu manusiakah, Apa setankah?
Tapi hanya bibirnya yang terbuka, air hujan membasahi namun tak sepotong perkataanpun yang melompat keluar.
Bayangan manusia itu mulai bergerak.
sewaktu beranjak sepasang kakinya tidak tampak menempel tanah, pada hakekatnya dia melayang ke dalam hanya sekali berkelebat tahu tahu sudah masuk ke dalam kuil bobrok itu.
Ketika ia lewat disamping Ong It sin, anak muda itu merasakan kedinginan yang merasuk ketulang sumsum, hampir saja tubuhnya membeku.
Tapi agak lega juga hatinya karena bayangan yang manusia bukan manusia, setan bukan.
setan itu tidak melakukan sesuatu terhadapnya sambil menghembuskan napas lega buru buru dia berdiri.
Tiba tiba dari depan sana muncul kembali dua sosok bayangan putih, dengan gerakan yang aneh mereka menghampiri ke arahnya.
Ong It sin mengeluh, kakinya kembali jadi lemas hampir saja ia terjatuh ke tanah.
Dalam waktu singkat kedua sosok bayangan putih itu sudah melintas disamping Ong It sin, ketika lewat disisinya tiba tiba mereka berpencar satu ke kiri yang lain ke kanan masing-masing menekan sebelah bahu pemuda itu.
Sekujur badan Ong It sin gemetar keras, giginya bergemerutukan karena saling beradu, dalam kegelapan ia rasakan betapa tajamnya sepasang mata manusia berbaju putih itu, bukan saja bencana tajam bahkan memancarkan sinar menggidikkan, ibaratnya bola mata setan yang menyambar-nyambar.
Begitu mereka tekan sepasang bahu Ong It sin.
kelima jari tangannya lantas menggenggam, otomatis anak muda itu terangkat keudara.
Dalam keadaan beginilah, tiba-tiba dari dalam ruangan kuil menggema serentetan suara yang menggidikkan hati.
"Orang itu adalah keponakan Li Liong, jangan kalian menyusahkan dirinya, biarkan ia sampaikan berita ini kepada keluarganya agar mereka jangan anggap kita Ciong lay su sha (empat sesat dari Ciong lay) sebagai manusia rendah yang beraninya cuma main sembunyi"
Kedua orang manusia berbaju putih itu mengendorkan cengkeramannya setelah mendengar perkataan itu, kali ini Ong It sin tak mampu berdiri tegak lagi ....."Blam"
Ia jatuh terduduk di tanah.
Sekarang dia sudah tahu, beberapa orang manusia yang aneh dan sakti itu bermaksud mencari gara-gara dengan perkampungan Li keh ceng.
Mereka bernama Ciong lay su shia, tentu saja terdiri dari empat gelintir manusia.
Yang ia temui sekarang baru tiga orang, itu berarti masih ada seorang lagi, tanpa sadar pemuda itu berpikir.
"Aduuh mak .....kalau tidak kabur, memangnya aku tunggu disembelih mereka dulu?"
Cepat-cepat dia berpaling, onggokan api unggun dalam ruang kuil telah padam, yang terlihat hanya kegelapan yang menggidikkan hati.
Ong It sin tak berani berdiam lebih lama lagi, dia mengambil langkah seribu dan melarikan diri terbirit-birit dari sana.
Tiga lima li kemudian, hujan sudah mulai reda, ketegangan yang mencekam perasaannya juga mulai hilang, sementara Kiam bun kwan telah muncul di depan mata.
Ong It sin tak berani berhenti, sesudah melewati Kiam bun kwan, hampir boleh dibilang ia menggelundung turun ke bawah bukit.
Setelah hujan berhenti, awan hitam di angkasapun mulai membuyar, rembulan muncul di balik awan memancarkan sinarnya ke seluruh jagad.
Dimana-mana kelihatan aliran air yang menderas, selokan-selokan kecil muncul disana sini, berliuk liuk dan tersebar dari atas sampai ke bawah bukit, ibaratnya puluhan ekor ular perak yang sedang merambat.
Menelusuri sebuah jalan gunung yang curam dan terjal Ong It sin turun kebawah bukit, baru sampai ditengah jalan, tiba tiba bentakan nyaring menggelegar di udara.
"siapa disitu?"
Ong It sin menghembuskan napas lega setelah mendengar bentakan itu, tangan yang masih memegang rotan hampir saja terlepas.
"Aku... aku adaah Ong It sin"
"cepat sahutnya. Doa sosok bayangan manusia muncul dari belakang batu cadas, kedua orang itu mempunyai perawakan yang tinggi kekar, pakaiannya ringkas, ikat pinggang emas melilit dipinggangnya, delapan belah pisau terbang yang tujuh inci panjangnya serta membiaskan cahaya tajam terselip disekeliling pinggangnya itu. semakin lega hati Ong It sin setelah menjumpai kedua orang itu "Aduh mak. untung nyawaku dapat kurebut kembali .... coba kalau kena dipelintir kepalaku .... wah, wah kabur sudah nyawaku ini"
Demikian pikirnya di hati.
Dengan napas terengah engah dan wajah sepucat ia berdiri termangu-mangu disitu.
Belum sempat ia buka suara, ketika dua orang laki laki kekar itu sudah berkata sambil tertawa.
"oooh... rupanya ong sauya, tadinya kukira ada jago persilatan yang amat lihay telah berkunjung kesini, .....sia sia kalau begitu rasa tegang kami barusan Waab, Ong sauya Hebat betul ilmu silatmu sekarang, terutama ilmu meringankan tubuhmu sewaktu menuruni bukit tadi Haaahh... haaahhh... haaahhh..."
Padahal untuk menuruni bukit tadi Ong It sin boleh dibilang meluncur bebas tanpa bisa ditahan seandainya tangannya tidak cepat-cepat menyambar rotan yang tumbuh disekitar sana, entah tubuhnya akan terlempar sampai berapa jauh lagi.
Maka sudah barang tentu perkataan dari dua orang laki laki itu pada hakekatnya bermaksud mengejek dan menggodanya habis habisan.
Betul juga, selesai mengucapkan kata-kata itu, mereka lantas tertawa berderai derai.
Ong It sin sudah terbiasa diejek dan dipermainkan orang, godaan tersebut dianggap sepi olehnya, malahan sambil goyangkan tangannya berulang kali ia bersuara.
"Aduuh celaka, celaka...."
Memandangi sekujur badan dan wajah Ong It sin yang kotor oleh lumpur, kedua orang laki-laki itu tertawa semakin keras.
"Kalian jangan tertawa dulu"
Teriak Ong It sin lagi.
"cepat cepat beri tahu kepada pamanku, sudah terjadi peristiwa besar, aku... untung aku bisa pulang dengan selamat, cepat beri tahu pamanku "
Karena Ong It sin berbicara dengan wajah cemas dan rasa takutnya masih terpancar dibalik sinar matanya, gelak tertawa dua oraug laki laki itupun segera terhenti.
Dua orang ini dari marga Lu, mereka adalah saudara sekandung, yang tua bernama Giok Kong, yang muda bernama Giok im, lemparan pisau terbang mereka sudah tersohor dimana maka terutama sebagai anak murid dari perguruan Kun lunpay, kedudukannya dalam dunia persilatan amat terhormat.
Suatu hari, Li Liong telah menyelamatkan jiwa mereka, untuk membalas budi kebaikan itu, bergabunglah mereka di perkampungan Li keh-ceng dan menjual tenaganya untuk Li Liong.
Karena asal usul mereka berdua amat besar, lagipula dalam dunia persilatan mempunyai kedudukan yang terhormat, dengan segala kehormatan Li Liong menyambut kedatangan mereka berdua sebagai tamu kehormatannya.
Seperti juga tamu yang lainnya, kedua orang ini suka sekali menggoda Ong It sin, tapi hati mereka baik sekali, tak pernah mempunyai niat jahat walau sedikitpun.
Terkejutlah dua bersaudara ini sesudah menyaksikan keadaan Ong It sin waktu ini, cepat tegurnya.
"Apa yang telah terjadi? Cepat katakan"
Dengan tangan yang masih gemetar, Ong It-sin menuding ke atas puncak bukit.
"Empat... empat orang....tidak. tidak. tiga orang ... tiga orang anggota perkampungan kita sudah dibunuh oleh Ciong lay su-shia, katanya mereka akan mendatangi perkampungan kita ............."
Lu Giok hong dan Lu Giok im saling berpandangan sekejap, rasa tegang yang semula menghiasi wajah mereka seketika tersapu lenyap.
"Kau bilang siapa yang mau datang gara gara?"
Tegurnya kemudian.
"Ciong lay sun shia tentu saja mereka datang dari bukit Ciong lay bukan?"
Jawab Ong It sin. Lu Giok hong dan Lu Giok im kembali saling berpandangan, kemudian tak tahan lagi mereka tertawa terbahak bahak. di tepuknya bahu anak muda itu dan serunya sambil tertawa.
"Tak kusangka setelah dipermainkan orang, kali ini engkau juga akan mempermainkan kami, haaahhh....haaahhh..haaahhh... hayo, pulang ke kampung sana"
Kena di ditepuk bahunya oleh kedua orang itu hampir saja Ong It sin jatuh terjerembab.
"Eeeh... aku tidak bermain main"
Teriaknya kebingungan, aku benar benar tidak bergurau, aku berbicara sunguh sungguh"
Lu Giok im terbahak bahak.
"Haaahhh... haaahhh... haaahhh... kalau orang lain yang kau sebutkan, mungkin kami masih percaya, tapi kalau Ciong lay su shi? Haaahh... haaahhh.... haaaahh. ."
Hampir menangis Ong It sin saking paniknya.
"Kenapa dengan si empat sesat dari Ciong lay itu?"
Serunya dengan suara serak.
"sebentar lagi mereka akan sampai di sini"
"Sekalipun diwaktu waktu biasa kau segan berlatih silat, sepantasnya kalau engkau pahami juga keadaan dalam dunia persilatan selama ada di lingkungan Li keh ceng. si empat sesat dari Ciong lay yang kau maksudkan barusan adalah murid muridnya sin jin mo (manusia iblis berkepala singa)."
Karena sudah terlalu banyak kejahatan yang dilakukan orang-orang itu, suatu hari beberapa tahun berselang seluruh jago lihay dari dunia persilatan telah berkumpul di bukit Ciong lay untuk memerangi mereka, dalam pertarungan itu say siu-jin mo kena dihajar masuk jurang sedalam ratusan kaki dengan mati hidupnya tak ketahuan, sedang empat sesat dari Ciong lay mati dikerubuti kawanan jaga, itupun sedang berlangsung beberapa tahun, coba bayangkan sendiri, kini engkau mau menakut-nakuti orang dengan menggunakan nama Ciong lay su shia, bukankah perbuatan itu kelewatan."
Ong It sin melongo dengan mata terbelalak sesudah mendengar penuturan tersebut ....
Sewaktu masih dipintu kuil, ketika ia dicengkeram dua orang manusia berbaju putih, tiba tiba dari balik ruangan berkumandang suara yang menggidikkan, bukankah waktu itu mereka mengaku sebagai si Empat sesat dari Ciong lay?
Tapi kalau ditinjau dari perkataan Lu Giok hong barusan, agaknya ia bukan lagi membohongi dirinya, lantas mana yang benar?
"Jangan jangan .....jangan-jangan mereka belum mati?"
Katanya kemudian rada sangsi.
"say siu jin mo yang terjatuh dalam jurang sedalam ratusan kaki memang tak ditemukan jenasahnya", Lu Giok hong kembali berkata.
"ada orang memang curiga kalau dia belum mati, tapi belasan tahun sudah lewat, dia toh belum pernah muncul kembali. sebaliknya empat sesat dari Ciong lay yang banyak melakukan kejahatan benar benar sudah dicingcang para jago, bahkan kulit wajah mereka disayat lepas ......"
Setelah berhenti sebentar tambahnya.
"Coba bayangkan sendiri, dalam keadaan sudah tercincang dan kulit wajah mereka tersebut, mungkinkah ke empat sesat dari Ciong lay itu bangkit kembali dari kematiannya?"
Ong It sin cepat melompat bangun.
"Tapi, tiga orang anggota perkampungan kita yang mati dikuil juga disayat kulit mukanya, aku......aku tidak bohong, aku berbicara sesungguhnya"
Sekali lagi dua bersaudara Lu berdiri tertegun. Tapi selang sesaat kemudian, Lu Giok-hong kembali sudah tertawa.
"Kalau toh kulit muka mereka sudah disayat orang, dari mana kau bisa kenali kalau mereka adalah anggota perkampungan kita?"
"Aku dapat mengenali dari ikat pinggang emas yang mereka kenakan"
Begitu ucapan tersebut diutarakan keluar, paras muka dua bersaudara Lu berubah hebat.
Yaa, perlu diketahui bukan manusia sembarangan yang bisa mendapatkan ikat pinggang emas dalam perkampungan Li keh ceng, atau dengan perkataan lain, setiap orang yang berhasil mengenakan ikat pinggang emas berarti memiliki ilmu silat yang tiada taranya didunia ini.
Dua bersaudara Lu sendiri juga seorang tokoh silat kelas satu, tapi tercekat juga perasaan mereka setelah mendengar bahwa ada tiga orang rekan mereka yang mati diluar dengan kulit muka yang tersayat.
"sungguhkah perkataanmu itu ?"
Katanya kemudian.
"Eeeh....eeehh... kau anggap urusan ini boleh dianggap mainan?"
Ong It sin malah menggerutu.
"Kalau tidak sungguhan, masa aku bohong?"
Dua bersaudara itu saling berpandangan sekejap lalu Lu Giok hong berkata lagi.
"saudara, berjaga jagalah disini dengan hati hati, aku bersama dia akan menghadap cengcu lebih dulu"
"Baik"
Lu giok im manggut manggut.
Tapi, baru saja perkataan itu diutarakan keluar, mendadak dari atas tebing kurang lebih beberapa kaki jauhnya dari tempat itu berkumandang suara ejekan yang menggidikkan hati.
"Hmmm ..... Tak perlu berjaga jaga lagi ....". Cepat nian gerakan tubuh Lu giok im, baru saja ucapan itu berkumandang diudara, tubuhnya sudah berputar ke belakang "sreet"
Sebilah pisau terbang dengan membawa desingan angin tajam sudah menyambar ke depan.
Menyusul disambitnya sebilah pisau terbang oleh Lu giok im gelak tertawa seram memecahkan kesunyian, sesosok bayaugan manusia melayang turun dari atas bukit.
Orang itu bertubuh jangkung lagi caking, rambutnya sepanjang pinggang, dia bukan lain adalah perempuan yang ditemui Ong It sin dalam kuil bobrok itu Kini wajah perempuan itu tertutup oleh rambutnya yang panjang, hingga sulit untuk diketahui siapakah dia, tapi sewaktu pisau terbang itu hampir menusuk di dadanya, mendadak tangannya dibabat kedepan, menyusul kemudian jari tangannya menyentil.
"Criiing"
Punggung Pisau terbang itu tahu tahu tersentil dan "sreet"
Membawa desingan angin tajam pisau terbang itu balik menyambar ke tubuh Lu Giok im.
Tercekat Lu Giok im menghadapi ancaman tersebat, tangannya diayun kemuka berulang ulang, dalam sekejap mata kembali ada tiga bilah pisau terbang menyambar ke muka.
Pisau itu meluncur kemuka, dalam formasi segi tiga, salah satu diantaranya meluncur paling depan.
Tapi secara tiba-tiba, gaya luncur dua batang pisau terbang yang berada dibelakang itu bertambah cepat, sedetik kemudian benda-benda itu sudah meluncur dipaling depan, sebaliknya pisau yang semula berada dipaling depan tadi segera saling membentur dengan pisau terbang yang dipukul balik oleh perempuan itu hingga dengan menimbulkan suara nyaring segera rontok jatuh ke tanah.
Membawa hawa serangan yang tajam, ke dua batang pisau terbang itu mengancam dada lambung musuh.
Gelak tertawa aneh kembali berkumandang dari mulut perempuan aneh itu, sepasang tangannya bergetar beberapa kali, tidak tampak gerakan apapun yang digunakan perempuan itu, tahu tahu dua batang pisau terbang tersebut sudah tertangkap olehnya.
Begitu pisau tertangkap.
perempuan itupua melayang turun kebawah.
Hebat sekali perubahan wajih ke dua bersaudara Lu, tapi kejadian yang bikin terkejut hati merek justru masih ada di belakang.
Setelah pisau terbang tadi tertangkap.
perempuan aneh itu tertawa dingin dengan suara yang menge rikan lalu "Plak Plak"
Dua bilah pisau itu sudah dipatah-patahkan jadi dua bagian dan sama-sama rontok ke tanah.
"Aduh mak . Pisaunya patah, pisaunya patah"
Teriak Ong It sin ketakutan.
Sehabis berteriak, dia lantas berpaling ke arah dua bersaudara Lu, ia lihat dua orang jago itu berdiri dengan wajah sepucat mayat, peluh dingin mengucur keluar bagaikan hujan gerimis, ini menandakan kalau kedua orang itupun sedang ketakutan.
Ong It sin masih terperanjat, dalam keadaan demikian ia tak berani banyak bicara lagi.
Dua bersaudara Lu bersama-sama mundur selangkah, lalu dengar suara serak tegurnya.
"sii .....siapa kau? sungguh hebat ilmu silatmu"
"Heeehh .... heeehh....heeehh..."perempuan berambut panjang itu memperdengarkan suara tertawanya yang tak sedap didengar.
"siapa aku? Dengar baik baik, aku adalah salah satu dari empat sesat Ciong lay su shia"
Sekali lagi dua bersaudara Lu mundur selangkah, tangannya serentak meraba ke pinggang, sementara perasaan ngeri dan ketakutan yang semula menyelimuti wajah mereka kini lenyap tak berbekas.
"Heeehh... heeehh... heeehh... Ciong lay su shia adalah kelompok manusia durjana yang di benci setiap orang"
Katanya kemudian sambil tertawa dingin.
"tapi sekarang, engkau telah mencatut nama busuk itu untuk berbuat kejahatan, Hmm Ini membuktikan kalau karaktermu juga sebusuk mereka"
Perempuan berambut panjang itu balas tertawa.
"sebetulnya aku bermaksud untuk mengampuni jiwa kalian berdua, agar kabar ini bisa disampaikan kepada Li Liong si bajingan tua itu, tapi sekarang ..... Hmm, mengingat mulut kalian usil dan tak bisa diampuni niatku itupun terpaksa harus diurungkan, nah bersiap siap untuk menunggu kematianmu"
Dua bersaudara Lu tertawa panjang, lengan mereka serentak digetarkan ke muka.
Mengikuti getaran tersebut, empat bilah pisau terbang mengambil formasi dua diatas dua di bawah berkelebat kemuka dan mengancam perempuan itu, sementara dalam genggaman masing masing tahu-tahu sudah bertambah dengan sebuah ruyung lemas.
Mengikuti tersalurnya hawa murni, ruyung itu menegang keras bagaikas sebuah 'toya' dengan membawa desingan angin tajam langsung menyambar jalan darah Hoa kay dan Wanti ditubuh lawan.
Ong It sin hanya menonton dari samping gelanggang, ilmu silat memang cetek.
tapi beberapa buah jalan darah ditubuh manusia cukup dikenal olehnya.
Lega juga hatinya setelah melihat dua orang jagonya berhasil melepaskan empat bilah pisau terbang dengan kecepatan bagaikan sambaran kilat, dia menghembuskan napas panjang.
"Waaah .... Untung dua bersaudara Lu punya kungfu yang hebat"
Demikian pikirnya.
"Coba kalau tidak. leherku bisa dicekik perempuan itu ..... hiii... tapi sekarang, sudah pasti perempuan itu bukan tandingan mereka."
Ingatan tersebut baru saja melintas dalam benaknya ketika pandangan matanya jadi kabur, ia merasa ada segulung desingan angin dingin yang menggidikkan hati menyambar lewat, tahu-tahu perempuan berambut panjang itu sudah melambung satu kaki tingginya diudara.
Dengan tindakan melejit ke udara ini, maka otomatis serangan ruyung yang dilancarkan dua bersaudara Lu juga mengenai sasaran kosong.
Lu Giok hong menggerakkan lagi sepasang lengannya, dua bilah pisau terbang kembali melayang keudara.
Tapi sayang, ketika dua bilah pisau terbang itu sudah meluncur ke udara, dengan suatu gerakan seribu kali perempuan berambut panjang itu sudah menukik dan meluncur kebawah.
Tatkala tubuhnya menyambar ke bawah, dia mengincar sepasang batok kepala saudara Lu sepasang kakinya dilentangkan lebar lebar kemudian dijejakkan keatas kepala musuhnya.
Sudah banyak tahun dua bersaudara Lu mengembara dalam dunia persilatan, sudah banyak juga jago lihay dari pelbagai perguruan yang mereka temui, tapi belum pernah mereka jumpai jurus serangan aneh ini.
Cepat mereka merendahkan tubuhnya ke bawah untuk menghindarkan diri.
"sialan, rupanya engkau sudah bosan hidup,"
Pikirnya. Serentak pergelangan tangan mereka berputar ke atas, ruyung lemas itu bagaikan ular yang lincah menyusul ke muka lantas menggulung ke atas.
"Plaaak Plaaak"
Secepat sambaran petir, ruyung ruyung itu melilit sepasang kaki perempuan tersebut.
Begitu berhasil, dua orang bersaudara Lu berpekik nyaring sekuat tenaga mereka berpisah kekiri kanan dan membetot masing masing senjata dengan sepenuh tenaga.
Dalam sangkaan mereka, serangan mereka kali ini pasti berhasil dan musuhnya tentu berhasil ditarik badannya hingga tersayat jadi dua bagian.
Tapi apa yang kemudian terjadi?
Peristiwa itu sungguh diluar dugaan mereka berdua, meski mereka sudah membetot masing-masing senjata dengan sekuat tenaga, bahkan ruyung mereka sudah menegang kencang, namun perempuan berambut panjang itu tidak berhasil mereka betot jadi dua bagian, bukan begitu saja bahkan sepasang pahanya juga tak mampu dipentangkan.
Dengan demikian, secara otomatis tubuh si perempuan berambut panjang terhenti di udara.
Baru saja Lu Giok hong dan Lu Giok im tertegun, mendadak perempuan itu jumpalitan di udara, sekarang ia berada dalam posisi kepala di bawah kaki diatas.
Sebenarnya, perempuan itu menyembunyikan raut wajahnya di balik rambut yang panjang, sehingga orang tak dapat melihat bagaimanakah bentuk wajahnya itu.
Tapi sekarang setelah ia jumpalitan dan rambut yang panjang terurai kebelakang, maka terlihatlah tampang mukanya.
Dia dewi sangat cantikz, usianya baru tiga puluh tahunan, cuma sayang begitu pucatnya seperti mayat hingga bikin hati siapapun jadi mengkirik dan ngeri.
Waktu itu, sekulum senyuman yang penuh penderitaan tersungging diujung bibirnya.
Ong It sin mengira perempuan itu menderita kekalahan total sewaktu dilihatnya tubuhnya menukik secara tiba tiba, ia menjerit kaget.
Pada saat itulah, sepasang tangannya dengan cepat menekan permukaan tanah, lalu jumpalitan kembali kebelakang.
Padahal ruyung lemas dua bersaudara Lu masih melilit pada pangkal tumitnya, ketika perempuan itu jumpalitan kebelakang, baik Lu Giok-hong maupun Lu Giok im, segera merasakan munculnya segulung tenaga betotan yang amat dahsyat yang menghantam lengan mereka, nyaris tubuhnya ikut terseret kemuka.
Sekarang mereka baru sadar bahwa musuhnya sangat tangguh dan tak boleh dianggap enteng, cepat mereka lepaskan tangan sambil mundur selangkah, tangan mereka bergerak cepat, yang satu siap melepaskan pisau terbang sedang yang lain bersiap-siap melepaskan tanda bahaya.
Gerakan yang dilakukan dua orang itu boleh di bilang dilakukan dengan kecepatan luar biasa, tapi sayang gerakan perempuan berambut panjang itujauh lebih cepat.
Tubuhnya mendadak jumpalitan ke belakang, tangannya menekan diatas permukaan tanah lalu tubuhnya melintang di lantai, sepasang kakinya menyambar ke muka dengan suatu tendangan berantai, otomatis dua batang ruyung lemas yang masih melilit di pangkal tumitnya ikut menyambar dengan desingan tajam.
Hebat sekali serangan itu, bukan saja dahsyat dalam jurus serangan lagipula cepat dan tepat.
"Plaaak Plaaak"
Kedua bilah ruyung lemas itu tepat menembusi pergelangan tangan, kedua orang laki-laki itu.
Sambil menjerit kesakitan Lu Giok hong dan Lu Giok im mundur ke belakang, tapi lengan kanan mereka sudah terkulai lemas, jelas sambaran ruyung barusan telah menghancurkan tulang lengan kanan mereka.
Ong It sin tertegun, menyaksikan kesemuanya itu dan cuma bisa melongo dengan mata terbelalak.
Bagaikan sambaran angin puyuh gerakan tubuh perempuan itu, kembali tubuhnya melejit keatas.
Dalam pada itu dan bersaudara Lu sudah mundur beberapa langkah, namun belum sempat mereka berganti napas, bayangan hitam yang disertai hembusan dingin tajam kembali sudah menerpa tubuh mereka.
Kontan pandangan mereka jadi gelap.
dadanya terasa sakit bukan kepalang, jerit kesakitan yang menyayatkan hatipun berkumandang memecahkan kesunyian.
Kiranya dada mereka sudah tersambar telak oleh serangan perempuan itu, lotoa Lu Giok hong terhajar sampai mencelat sejauh tujuh delapan depa, tak ampun lagi jiwanya melayang dari raganya.
Semua kejadian itu berlangsung dalam sekejap mata, sejak dua bersaudara Lu menyerang dengan cambuknya sampai mereka mati dalam keadaan mengenaskan, waktu yang digunakan hanya beberapa menit.
Ong It sin baru saja bersorak gembira ketika dan bersaudara Lu berhasil melilit sepasang tumit musuhnya dengan ruyung mereka.
Tapi sedetik kemudian, perempuan itu sudah berdiri dihadapannya dengan wajah bengis, sementara dua bersaudara Lu mati dalam keadaan mengerikan, anak muda itu jadi ketakutan, tubuhnya sampai gemetar keras.
Pelan-pelan perempuan itu berpaling dan memandang sekejap kearah Ong It sin dengan mata menyeramkan, lalu sekali lompat dia sudah berada didepan mayat dua orang itu.
"Hayo kabur .....hayo cepat kabur"
Pekik Ong It-sin dalam hati.
"busyet, kenapa kakiku tak mau kabur ?"
Entah apa sebabnya, sepasang kaki anak muda itu jadi lemas dan gemetar keras, meskipun dia ingin kabur tapi kakinya tidak turut perintah.
Sekali lompat perempuan tadi sudah berada di depan mayat Lu bersaudara, lalu berjongkok dan tak selang sesaat ditangannya sudah bertambah dengan dua lembar kulit manusia yang berlepotan darah.
Ia berpaling, dua lembar kulit manusia yang mengerikan itu ditunjukkan kehadapan Ong It sin kemudian tertawa seram tiada hentinya.
"Kau ... kau... kau..."
Ong It sin hanya bisa menuding perempuan itu dengan tangan gemetar, kecuali kata "kau"
Tak ada kata kedua yang sanggup diucapkan keluar.
Perempuan berambut panjang itu merapihkan rambutnya yang kusut hingga tampak raut wajahnya yang cantik tapi pucat itu, selangkah demi selangkah dan menghampiri Ong It sin.
Pikiran dan perasaan Ong It sin ketika itu kalut tak karuan, dia cuma bisa menuding lawannya tanpa diketahui apa yang harus dilakukan.
"Kau, rupanya tampangmu tidak sejelek setan"
Tiba-tiba serunya sambil menyengir.
"Ciang lay sun shia tak akan membiarkan Li keh-ceng hidup sentausa, sebelum lewat besok malam, kami akan bantai seluruh anggota perkampungan itu."
"Kaa .... kalian berempat mau bunuh semua anggota perkampungan Li keh ceng ... ?"
Ong It sin makin ketakutan.
"Plaak "
Perempuan berambut panjang itu melemparkan sebuah bungkusan kecil ke tanah, lalu ujarnya kembali.
"Bila Li Liong menganggap perkataanmu cuma mengacau balau saja perlihatkan benda yang ada dalam bungkusan itu kepadanya"
Ong It sin makin ketakutan, sepasang kakinya sampai menggigil kencang, untung tidak sampai terkencing-kencing.
"Been .... benda apa yang ada dalam bungkusan itu?"
"Aduuuh .... tolong mak"
Kontan Ong It sin menjerit ketakutan, tubuhnya sampai menggigil.
Mula mula perempuan berambut panjang itu agak tertegun, lalu tergelaklah dia karena geli.
Yaa, pada hakekatnya orang lebih rela kakinya kutung tangannya putus dari pada menjerit ketakutan, bahkan hilang batok kepalanya dianggap sebagai suatu kejadian yang biasa.
Tapi sekarang, Ong It sin yang berilmu rendah, lagipula jujur dan polos kontan menjerit ketakutan setelah mendengar bahwa isi bungkusan adalah kegelian.
Padahal, perempuan berambut panjang itu sepanjang tahun berwajah seram, setahun bisa tertawa sekalipun sudah terhitung kejadian yang aneh, tapi kenyataannya setelah berjumpa dengan Ong It-sin, secara beruntun ia tertawa sebanyak tiga kali.
"Kau memang menyenangkan"
Katanya kemudian..
"karena itu akupun hendak memberitahukan kepadamu. Perkampungan Li keh ceng tak bisa dipertahankan lagi, setelah kau sampaikan kabar ini kepada Li Liong bajingan tua itu, cepat-cepatlah tinggalkan Li keh ceng, sehingga waktu kami basmi perkampungan Li keh ceng menjadi lantan darah, mungkin jiwamu masih dapat diselamatkan"
Ketika mendengar kata kata "membasmi Li keh-ceng jadi lautan darah", Ong It sin cuma bisa melongo dengan mata terbelalak, sepatah katapun tak mampu diutarakan keluar.
Selesai mengucapkan kata kata tadi, perempuan berambut panjaag itu melejit keudara, segulung hawa dingin yang menggidikkan sebera berhembus lewat membuat Ong It sin bersin berulang kali, tahu tahu perempuan itu sudah berada dua kaki jauhnya.
Menanti Ong It sin berpaling kembali, perempuan berambut panjang itu sudah berlalu dengan kecepatan luar biasa, sekejap kemudian tubuhnya sudah lenyap dari pandangan.
Sepeninggal perempuan itu, Ong It sin berpaling kembali untuk memandang sekejap mayat dua bersaudara Lu, tapi ia jadi ngeri dan bergidik setelah menyaksikan raut wajah mereka yang penuh noda darah, kontan saja ia kabur terbirit birit.
Beberapa langkah kemudian, ia baru teringat dengan buntalan kecil itu, cepat disambarnya bungkusan itu kemudian baru kebawah.
Dibawah kaki bukit, kedatangannya disambut oleh dua orang jago, dalam keadaan demikian, Ong It sin hanya bisa menuding ke sana ke kemari sambil aa....uu, tak sepatah katapun sanggup diutarakan keluar.
Tentu saja dua orang itu kenali pemuda tersebut sebagai keponakan cengcunya, mereka juga tahu kalau pemuda itu tadi goblok, maka tak seorangpun yang memperdulikan dirinya.
Melihat kedua orang jago itu tidak menggubris dirinya, lagipula saking ngerinya dia sendiripun tak mampu berkata kata, Ong It sin kabur kembali ke muka.
Tak lama kemudian, ia sudah tiba dipintu gerbang Li keh ceng, tampak sepasang lampu lentera yang amat besar tergantung diatas dua tiang yang besar, dibawah tiang tersebut masing masing berdiri seseorang, yang berada disebelah kiri berbadan gemuk pendek dengan muka penuh tahi lalat, sedang yang disebelah kanan bertubuh tinggi sesampai, berdandan sastrawan dan usia antara tiga puluh tahunan.
Lega hati Ong It sin setelah menjupai kedua orang itu, sebab mereka berdua mempunyai kedudukan yang lebih tinggi daripada beberapa orang tamu kampung, kedua orang itu tak lain adalah dua diantara empat orang murid Dewa perak Li Liong.
Yang gemuk bernama Jin Poo, sedang yang kedua bernama Nyo sin bin.
Oleh karena perkampungan Li keh ceng sering kali dijumpai jago-jago silat dari perbagai daerah, mereka selalu menempatkan dua orang murid Li Liong dipintu gerbang sebagai penerima tamu, maka tidak heran kalau pintu gerbang itu siang malam dijaga orang.
Begitu sampai dipintu gerbang, dengan napas terengah engah Ong It sin lantas berteriak.
"Jin ...Jin toako ... ada orang akan membantai perkampungan Li keh ceng jadi lautan darah ... ..... perkampungan Li keh ceng akan menjadi lautan darah"
Suaranya parau tapi nyaring sampai suara itu berkumandang kemana-mana, ini membuat Jin Poo maupun Nyo sin bin jadi melongo. Tapi sebentar kemudian mereka sudah membentak.
"Tutup mulut, jangan sembarangan ngaco balo"
Saklng cemasnya hampir saja Ong It sin menangis.
"Perkumpulan Li keh ceng akan menjadi lautan darah ..... ada orang hendak menjadikan perkumpulan Li keh ceng lautan darah .....cee... cepat beritahu paman, Cee .....cepat sedikit, kalau terlambat nanti tak keburu lagi"
Dengan jengkel Jin Poo menyambar bahu Ong It sin lalu dicengkeramnya erat erat.
Cengkeraman itu dilakukan dengan sepenuh tenaga, sudah barang tentu membuat Ong It sin kesakitan, ia menjerit jerit seperti babi mau disembelih.
"Eei....kebanyakan minum arak diluaran?"
Bentak Jin Poo sambil menggoncang-goncangkan tubuhnya.
"jangan sembarangan berteriak di sini, mengerti?"
"Tidak Tidak Aku tidak mabok Aku tidak mabok"
Sambil berteriak Ong It sin berusaha meronta dari cengkaramannya.
Berapa kali sudah dia meronta, tapi tidak berhasil melepaskan diri, maka buntalan yang berada dikempitannya lantas dibuang ke tanah sambil berteriak lagi.
"Jika kalian tidak percaya, periksalah bungkusan itu"
Nyio sin bin melangkah di depan dan menyambar bungkusan itu, tapi begitu bungkusan dibuka, kotan saja ia menjerit kaget dan sama sekali tak mampu berkata kata.
Mendengar jerit kaget rekannya Jin Poo ikut berpaling, tapi begitu melihat kelima lembar kulit muka tadi dia ikut menjerit keras otomatis cengkeramannya pada tubuh Ong It sin juga terlepas, kontan saja pemuda itu terjatuh ke tanah.
Tapi anak muda itu cepat depat merangkak bangun lalu kabur masuk kedalam perkampungan.
Perkampungan Li keh ceng dibangun dalam lembah Li hu kok sebagaimana nama lembah itu di sana sini tampak begitu banyak batu batu cadas yang mencuat kesana kemari.
Seluruh lembah Li hu kok boleh dibilang ditempati sebagai perkampungan Li keh ceng maka tampaklah dibalik bebatuan yang bermunculan disana sini tampak bayangan manusia berkeliaran.
Sambil berlarian masuk ke dalam perkampungan, Ong It sin berteriak tiada hentinya.
"Perkampungan Li keh ceng akan menjadi lautan darah Perkampunga Li keh ceng akan berubah jadi lautan darah "
Lantara kabar itu dianggap terlalu mengejutkan hati, lagipula dengan mata kepala sendiri ia saksikan betapa lihaynya ilmu silat si perempuan berambut panjang itu, maka begitu tiba dalam perkampungan dia lantas berkaok-kaok dengan lantangnya.
Dalam anggapan anak muda itu, dia berbuat demikian adalah bermaksud baik, agar semua ikut mengetahui kabar itu serta bersiap sedia menghadapi kejadian tersebut.
Tapi dia lupa tentang sesuatu, dia lupa kalau orang persilatan kehidupannya memang bergelimpangan diujung golok.
pada hakekatnya perkataan.
"Perkampungan Li keh ceng akan berubah jadi lautan darah"
Adalah kata kata yang tak sedap di dengar, ucapan itu sangat menusuk perasaan setiap orang yang ada di perkampungan Li keh ceng.
Sebab itu, baru dua kali dia berteriak Jin Poo sudah melompat ke muka sambil mendorong bahu anak muda itu keras-keras.
Terdorong oleh tenaga Jin Poo yang sangat besar itu, Ong It sin terdorong maju beberapa langkah kemuka, lalu menubruk diatas sebuah batu cadas yang mencuat keluar.
Untung giginya tak sampai rontok meski rasa sakitnya bukan kepalang.
"Hei apa yang kau kaok kaokkan?"
Tegur Jin Poo dergan gusarnya.
Bibir Ong It sin yang pada dasarnya memang tebal seperti cungur babi, sekarang makin menebal karena menumbuk batu, otomatis kata-katanya sudah semakin kabur tak jelas, walaupun demikian toh dia masih berteriak juga.
"Perkampungan ....Li keh ceng akan berubah jadi lautan darah"
Saking mendongkolnya kalau bolehJin Poo ingin menggaplok pemuda itu sepuas-puasnya. Tapi ia tak berani berbuat kelewat batas, jelek-jelek begitu Ong It sin juga keponakan gurunya.
"Tak usah banyak bicara"
Bentaknya kemudian "tunggu sampai bertemu dengan suhu Hmm, kalau engkau berani berkaok kaok lagi ... .jangan salah kan kalau kujagal dulu dirimu"
Ong It sin betul betul tak berani berbicara, dia lantas membungkam danJin Poopun segera menggusurnya masuk ke kampung.
Walaupun begitu, teriakan teriakan Ong It sin tadi sudah terlanjur mengejutkan sejumlah orang yang berada disana, serentak mereka maju berkerumun sambil menanyakan apa yang telah terjadi.
Ong It sin ingin memberitahukan mereka, apa mau di kata tengkuknya dicengkeram Jin Poo erat-erat, tak sepatah katapun sanggup diutarakan keluar.
Melihat kejadian itu, semua orang lantas mengira Ong It sin sudah mabok dan bikin urusan, sekarang kena ditangkap Jin Poo untuk digiring masuk ke dalam perkampungan, maka merekapun hanya tertawa terbahak bahak sambil menuding ke arah anak muda itu, tak seorangpun diantara mereka yang merasa kalau bencana besar sudah diambang pintu.
Ong It sin betul betul mati kutunya, dia tak berkutik dan membiarkan dirinya digusurJin Poo masuk ke dalam sebuah bangunan yang sangat megah.
Didepan pintu, dua orang menyongsong ke datangan mereka sambil menegur lirih.
"Apa yang terjadi?"
"suhu apa ada didalam? Ada urusan yang sangat penting hendak kulaporkan kepada orang tua"
Sahut Jin Poo dengan suara yang berat.
"Kalau begitu masuklah sendiri, cengcu belum tidur, sekarang ada dipesanggrahan Bing lam sian"
Sambil menggurus Ong It sin, masuklahJin Poo ke dalam ruangan, setelah melewati ruang tengah dan menelusuri jalan serambi yang berliku liku, sampailah mereka ditepi sebuah telaga.
Telaga itu amat tenang, tapi ditengah kegelapan permukaan air itu ibaratnya sebuah batu kemala hijau yang sangat besar.
Ditengah telaga terdapat sebuah batu besar yang luasnya beberapa kaki, diatas batu dibangun sebuah bangunan pesanggrahan, ketika itu suasana terang benderang bermandikan cahaya lampu.
Dari tepi telaga sampai batu besar itu jaraknya ada dua kaki lebih lima enam depa, tiada jembatan penyeberang pun tiada perahu yang menghubungkan kedua belah tempat itu, berarti untuk mencapai pesanggrahan tersebut hanya ada satu cara yang bisa ditempuh yakni melayang dengan ilmu meringankan tubuh.Jin Poo berhenti ditepi telaga, dia lantas berteriak.
"suhu suhu"
"Jin Poo kah disitu?"
Serentak suara yang penuh berwibawa berkumandang dari pesanggrahan tersebut.
"sungguh kebetulan sekali kedatanganmu, hayo cepat kemari"
Jin Poo tidak tahu apa maksud gurunya berkata demikian, baginya seorang dia sudah tentu bisa melompati telaga tersebut, tapi kalau suruh dia membawa serta Ong It sin, hal ini tak mungkin bisa dilaksanakan...
Selain itu diapun kuatir, jika Ong It sin dilepaskan maka pemuda itu akan berkaok kaok mengucapkan kata kata yang tak senonoh hingga mengacaukan pikiran orang.
Karenanya, sesudah berpikir sebentar dia baru berkata.
"Suhu, aku membawa serta It sin lote, apakah dia juga ikut kesana?"
"Buat apa aku membawa serta orang itu?"
Bentak suara yang keren itu lagi.
"sampai sekarang dia baru pulang kekampung? Hmm .... suruh dia pergi dari sini"
"It sin lote ada berita yang amat luar biasa hendak dilaporkan kepada kau orang tua"Jin Poo cepat menerangkan. Ong It sin merasa dari tenggorokannya berkumandang suara gemurutuk yang sangat aneh, dia ingin sekali berbicara, tapi tak sepotong perkataanpun dapat diutarakan. suara yang keren tadi kembali berkumandang.
"Ada tamu agung ditempat ini, manusia goblok seperti dia tak pantas menjumpai tamu agung ada persoalan apapun ditunda dulu sampai nanti, kemari dulu kau"
Ketika mengetahui kalau disana ada tamu Jin Poo segera menelan kembali perkataan yang hendak diucapkan keluar.
"Baik"
Buru-buru katanya.
Cengkeramannya pada tengkuk Ong It sin pun segera dikendorkan, lalu dia menjejak permukaan tanah dan siap melayang ke depan.
Sudah sejak tadi Ong It sin harus menanan rasa sabarnya.
dia menelan kembali semua perkataan yang hendak disampaikan, begitu Jin Poo lepas tangan, langsung saja dia berteriak.
"Paman, mereka hendak menjadikan perkampungan Li keh ceng sebagai lautan darah"
Dengan terperanjat buru-buru Jin Poo putar badannya, tapi teriakan Ong It sin sudah terlanjur di utarakan.
Keheningan menyelimuti pesanggrahan tersebut untuk beberapa sat lamanya, kemudian terdengarlah seseorang bertanya dengan suara yang tenang dan lembut.
"siapakah dia? Mengapa mengucapkan kata-kata seperti itu?"
"Dia adalah keponakanku"
Suara yang kereng kedengaran tadi rikuh dan jengah.
"dasarnya memang goblok dan tolol, entah apa yang sedang ia katakan"
"saudara Li, bila kedengaran dari nada teriakan keponakanmu barusan, jelas kedengaran kalau suara itu membawa kemantapan yang kuat, ini membuktikan kalau bakatnya untuk belajar silat sangat bagus, hebat bukan kungfunya"
Li Liong tertawa getir.
"Dia? Heehhh....heehhh... heehhh....serangkaian Li keh kun yang sederhana saja tak bisa dimainkan dengan baik, apalagi kepandaian silat lainnya"
"sambil bercakap cakap. dua orang itu munculkan diri dari balik pintu pesanggrahan.Jin Poo dan Ong It sin angkat kepalanya dan menengok kedepan sana. orang yang berjalan dipaling depan adalah seorang laki-laki tinggi kekar yang berwajah keren, dia tak lain adalah ketua kampung Li keh ceng, si Dewa perak Li Liong. Dibela kang Li Liong mengikuti seorang sasterawan berusia pertengahan, mukanya bersih dan kalem, membuat siapapun merasa simpatik terhadap dirinya. Ia mengenakan sebuah jubah panjang berwarna hijaupupus, diatasnya malah ada beberapa tambalan, namun bersih dan rajin. Begitu tampilkan diri, Li Liong segera membentak nyaring.
"It sin, apa yang kau kaok-kaokkan?"
Jin Poo tidak mengetahui siapa gerangan sastrawan berusia pertengahan itu, diapun kuatir Ong It sin bicara sembarangan, buru buru selanya dari samping.
"suhu, persoalan ini maha besar pentingnya, lebih baik aku saja yang menyampaikan kepada kau orang tua"
Sambil berkata sepasang matanya lantas melirik sekejap ke arah sastrawan berusia pertengahan itu.
Tentu saja Li Liong memahami maksud muridnya, sambil menuding kearah sastrawan berusia pertengahan itu dia perkenalkan.
"Dia adalah Long tiong tayhiap (Pendekar besar dari su cuan) Coa Thian tam, baru-baru ini ia mengembara sampai diwilayah see ih dan belum lama kembali ke daratan. Tentunya engkau mengetahui bukan betapa termashurnya nama Coa tayhiap? Nah, ada persoalan penting apapun jua, katakan saja secara terus terang"
Sungguh tak terkirakan rasa girang Jin Poo setelah mengetahui bahwa sastrawan berusia pertengahan itu adalah Long tiong tayhiap Coa Thian-tam.
Ketika ia menyaksikan dari sebagai seorang jago kawakan Jin Poo juga menyadari bahwa peristiwa ini bukan peristiwa biasa, dia kuatir sekali kalau jago-jago dalam perkampungan mereka tidak mampu menghadapi serbuan lawan, tapi sekarang legalah hatinya, apalagi setelah mengetahui kalau Coa Thian tam, berada pula dalam perkampungan mereka.
Betapa tidak, bukan saja Coa Thian tam memiliki ilmu silat yang sangat lihay, lagipula dia mempunyai juga tiga orang saudara angkat yang kesemuanya memiliki ilmu silat yang maha dahsyat.
Ih lwe su eng (empat orang gagah dari kolong langit) yang amat termashur dalam dunia persilatan bukan lain adalah mereka berempat.
Sekali melompat, Jin Poo sudah melayang diatas permukaan air menuju kebatu cadas itu, tiba tiba badannya melambung tiga depa ke udara lalu hinggap diatas batu besar itu dengan lembut.
Ketika Jin Poo melayang ke muka tadi, sebenarnya Ong It sin ingin menyusul dari belakang tapi bagaimanapun juga dia masih tahu diri, dia mengerti bila ia mengikuti jejak Jin Poo dengan meloncat kebatu besar itu, niscaya badannya akan tercebur ke dalam air.
Sebab itu, dia cuma bisa garuk garuk kepalanya yang tidak gatal ditepi telaga, untuk sesaat tak diketahui olehnya apa yang harus dilakukan.
Coa Thian tam sambil berkata.
"sudah lama boanwpe mengagumi nama besar Coa tayhiap yang termashur sampai dimana-mana terimalah hormat boanwpe ini"
Coa Thian tam ulapkan tangannya, segulung tenaga lembut segera menahan tubuh Jin Poo yang sedang berlutut itu hingga tertahan ditengah udara ............
Jin Poo tahu, itulah akibat dari pancaran tenaga dalam yang sangat kuat dari tamunya ia tak berani gegabah, dan buru buru bangkit berdiri.
"Suhu, peristiwa ini rada mencurigakan"
Ujarnya kemudian.
"ada empat orang yang mengaku bernama Ciong lay sushia hendak menyatroni perkampungan kita"
"Yaa, katanya mereka hendak menjadikan perkampungan Li keh ceng sebagai lautan darah"
Teriak Ong It sin dari tepi telaga.
Li Liong sudah tertegun setelah mendengar perkataan dari Jin Poo barusan apalagi mendengar teriakan Ong It sin, pada dasarnya dia memang tak suka dengan keponakan ini, maka dengan marah hardiknya keras keras.
"Kalau engkau berani cerewet lagi, ku usir kau dari perkampungan ini"
Ong It sin betul betul tak berani bersuara lagi tapi ia menggerutu tiada habisnya dengan suara lirih, jelas pemuda itu merasa tak puas dengan perlakuan pamannya.
Sejak awal sampai akhir Coa Thiau tam hanya mengamati diri Ong It sin, rupanya dia merasa tertarik sekali dengan pemuda itu, cuma Ong It sin tak pernah menggubris perhatiannya itu.
"Bukankah empat sesat dari Ciong lay telah mati."
Kata Li Liong keheranan.
"masa ada orang yang mencatut nama mereka? Hmm, kalau benar demikian itu, berarti mereka bukan manusia baik baik dalam dunia persilatan ..................."
"suhu, akan rasa persoalan tidak sesederhana yang suhu kira, kita sudah kehilangan lima orang jago tangguh "
"Apa?"
Begitu Jin Peo berseru, dengan amat terkejut Li Liong berteriak keras. Jin Poo ambil keluar buntalan kecil itu dan di lempar ketanah hingga buntalan itu terbuka, katanya.
"suhu, periksalah sendiri"
Li Liong segera tundukkan kepalanya, tampaklah selembar kulit manusia yang masih bernoda darah tercecer ketanah, ia masih bisa mengenali kulit kulit manusia itu, apalagi yang berada dipaling atas adalah kulit mukanya Lu Giok hong "Bagaimanakah potongan muka pendatang-pendatang tak diundang itu?"
Tanya Li Liong kemudian dengan paras muka berubah.
"soal ini harus ditanyakan kepada It sin lote, sebab hanya It sin lote seorang yang menyaksikan kejadian itu"
Li Liong sebera alihkan pandangan matanya kearah Ong Itsin.
"Cepat katakan"
Bentaknya. Ong It sin rada sangsi sebentar.
"Kaa....kalau kukatakan .... aku tidak kau usir dari perkampungan ini bukan?"
Serunya kemudian. Li Liong betul-betul dibuat menangis tak bisa tertawa tak dapat oleh tingkah laku keponakannya .
"Hayo cepat katakan"
Terpaksa ia membentak lagi.
"macam apakah potongan wajah ke empat orang itu"
"Dikatakan empat sesat, tapi yang kujumpai hanya tiga orang, seorang perempuan berambut panjang yang telah membinasakan dua bersaudara Lu, meskipun gerak geriknya menyeramkan tapi waktu tertawa....aduh mak cantiknya .... masih ada dua orang lagi konconya, mereka adalah dua orang laki laki berbaju putih, sebenarnya mereka juga hendak bunuh diriku, tapi lantas aku pandai berbicara dan lagi kata kataku pandai menyenangkan hati orang, maka jadi tidak dibunuh"
Hawa amarah yang menggelora dalam dada Li Liong sungguh meluap. tegasnya dengan mata melotot.
"Tak usah membicarakan kata kata yang tak penting, apa lagi yang mereka katakan?"
"Kata mereka, sebelum tengah malam besok di dunia ini tak akan terdapat perkampungan Li keh ceng lagi, mereka suruh aku .... suruh aku cepat-cepat tinggalkan perkampungan ini daripada setelah mereka lakukan pembantaian dalam Li keh ceng itu aku ikut mati konyol."
Li Liong benar-benar tak tahan mendengar perkataan semacam itu, sebelum Ong It sin menyelesaikan kata-katanya, dia sudah membentak.
"Tutup mulutmu"
Ong It sin tertegun, sekalipun dia lantas membungkam toh bisiknya kembali.
"bukankah engkau yang suruh aku berbicara?"
Li Liong hanya bisa tertawa getir menghadapi ketololannya keponakannya, kepada rekannya dia lantas berseru.
"saudara Coa, harap jangan kau tertawakan ketololannya"
"Tidak"sahut Coa Thian tam.
"dia polos dan lagi jujur. Inilah bakat yang bagus untuk belajar silat. saudara cilik Bersediakah engkau menjadi muridnya seorang tokoh sakti?"
"Menjadi murid seorang tokoh sakti?"
Ulang Ong It sin dengan wajah termangu. Coa Thian-tam segera berpaling kearah Li Liong sambil berkata.
"Ada seorang tokoh sakti dari golongan Buddha telah berpesan kepadaku untuk mencarikan seorang murid ....."
Belum habis dia berkata, ketika Ong It sin sudah gelengkan kepalanya berulang kali.
"ogah ogah Aku ogah jadi hwesio Aku pingin kawin nantinya, aku tak mau digunduli kepalaku"
Sebenarnya Li Liong bermaksud menegur dirinya lagi sebab pemuda itu ikut sembarangan menimbrung dihadapan coa tayhiap.
tapi setelah dipikir kembali ia merasa tak ada gunanya menegur pemuda tolol itu, maka laki-laki tersebutpun hanya membungkam belaka.
"Tokoh sakti dari golongan Buddha itu belum tentu akan memaksa muridnya ikut jadi hwesio"
Coa Thiat tam kembali menerangkan sambil tertawa.
"kau bisa kawin dikemudian hari, kaupun tak perlu hidup dalam biara. Yang penting harus jujur, polos dan memiliki bakat yang baik untuk belajar ilmu silat"
"seandainya binatang itu bisa memperoleh kesempatan sebaik ini, pada hakekatnya kejadian ini ibaratnya sekali melangkah sudah mencapai di langit"
Kata Li Liong.
"sayang gobloknya sudah tak ketolongan lagi, aku kuatir dia tak akan mampu mewujudkan keinginan tokoh sakti itu"
"Aaah. Belum tentu demikian"
Yaa, meskipun suasana sudah diliputi ketegangan, meski mara bahaya telah mengancam ternyata kedua orang itu tidak memperdulikan kelima lembar kulit manusia yang tergeletak ditanah itu, sebaliknya malah membicarakan persoalan lain.
Jin Poo berusaha menahan diri, tapi lama kelamaan dia tak tahan juga, tiba-tiba dia berseru.
"Suhu, empat sesat dari Ciong lay ....."
Sebelum perkataan itu dilanjutkan, Li Liong sudah menukas lebih dulu "Aaah .....
sekumpulan manusia bangsa kurcaci buat apa musti dipikirkan dalam hati?
Lakukan perondaan seperti biasa, dan buang jauh jauh kelima lembar kulit manusia itu"
Jin Poo buru-buru mengiakan, dia lantas memungut kembali buntalan itu dari lantai seraya pikirnya.
"Aaah... Tak mungkin kalau yang datang cuma manusia sebangsa kurcaci, dua bersaudara Lu bukan manusia tempe yang tak berdaya apa-apa, toh mereka mampus secara mengerikan ....?Aaai... entah apa yang dipikirkan suhu?"
Akan tetapi Li Liong telah memerintahkan demikian, tentu saja dia tak berani banyak bicara lagi.
Sambil memutar badan dia melayang kembali ke tepi telaga, kemudian sambil melotot sekejap ke arah Ong It sin hardiknya.
"Hayo kita pergi dari sini"
Apa yang dipikirkan Ong It sin pada waktu itu justru merupakan kebalikan daripada yang dipikirkan Jin Poo, ketika dilihatnya Li Liong sama sekali tidak terpengaruh oleh berita tersebut, segera disangkanya ilmu silat yang dimiliki pamannya amat lihay, sehingga peristiwa itu tak dipikirkan dalam hatinya.
Dengan penuh kegembiraan buru buru katanya.
"Jin toako, andaikata orang itu benar benar datang kesini, mungkinkah paman takut kepada mereka?"
Mula mula Jin Poo agak tertegun, menyusul kemudianjawabnya.
"Aku kira suhu tak bakal ketakutan"
Mendengar itu, Ong It sin lantas berteriak.
"Paman, surat yang kau suruh aku sampaikan ke Thian siong peng telah kusampaikan, seandainya waktu pulang tidak ketimpa hujan deras, sejak tadi tadi aku sudah tiba dikampung"
"Pergi Pergi Pergi"
Tukas Li Liong tak sabar seraya ulapkan tangannya berulang kali.
Ong It sin benar benar merasa tersinggung, tapi tak berani berbuat apa-apa, maka dengan mulut membungkam pemuda itu berlalu dari sana.
Sepeninggal Ong It sin sekalian, coa Thian tam dan Li Liong baru saling berpandangan sekejap.
tiba tiba paras muka mereka berubah jadi amat serius, tanpa mengucapkan sepatah katapun kedua orang itu segera kembali ke dalam pesanggrahan.
Dalam pesanggrahan itu masih hadir pula seorang yang lain, orang itu bertubuh kurus kering dan lagi pendek.
sepasang matanya cekung, sepintas lalu mirip seseorang yang sudah tiga tahun menderita sakit parah potongannya mengenaskan sekali.
-000d-w000-
Jilid 2 MESKI demikian, sepasang matanya memancarkan cahaya yang menggidikkan hati, membuat siapapun sadar bahwa mereka sedang berhadapan dengan seorang jago silat yang memiliki tenaga dalam amat sempurna.
Orang itu tersohor sekali namanya dalam dunia persilatan, dia adalah adik seperguruan dari ketua Tiong lampay, jago nomor dua dalam partai Tiong lam yang disebut orang Ping sin (Dewa penyakitan) Ou Wi Hi.
Ketika dilihatnya kedua orang itu masuk kedalam, dia lantas berseru dengan lembut.
"Bagaimana? Dari sini terbuktilah sudah bahwa kabar yang kudengar bukan cuma kabar isapan jempol belaka"
"Tapi sungguh mengherankan. Mengapa mereka pilih perkampungan Li keh ceng sebagai korban yang pertama?"
Ujar coa Thian tam.
"Yaa, sudah barang tentu hal ini dikarenakan Li keh ceng mempunyai nama besar tersohor dalam dunia persilatan andaikata mereka berhasil menghancurkan perkampungan Li keh ceng, bukankah seluruh dunia akan ikut mengetahui peristiwa ini?"
Si dewa perak Li Liong merenung sebentar lalu berkata.
"Jadi menurut pendapat saudara ou, say siu-jin mo si mahluk tua itu bukan saja tidak mampus setelah jatuh kedalam jurang tempo hari, bahkan ilmu silat yang dimiliki sekarang jauh lebih lihay daripada tempo dulu? Waah..... kalau benar begitu, peristiwa ini betul betul merupakan suatu malapetaka bagi dunia persilatan kita. Tapi yang aneh lagi para pendatang itu mengakui Ciong lay su shia. Padahal ke empat manusia sesat dari Ciong lay kan sudah mati tercincang puluhan tahun berselang? Masa mereka bisa bangkit kembali dari liang kubur."
Ou Wi Hi manggut manggut.
"Yaa, empat sesat dari Ciong lay yang dulu memang sudah mati tercincang, tak mungkin mereka akan bangkit kembali dari liang kubur, tapi siapa tahu kalau belakangan ini say siau sin mo telah menerima empat orang murid lagi yang dinamakan juga Ciong lay su shia? Hal ini kan bisa terjadi bukan?"
Mendengar perkataan itu baik Li Liong maupun coa Thia-tam sama sama mengangguk.
"Kalau begitu, say sin lo koay terlalu pandang remeh perkampungan Li keh ceng ku ini"
Kata Li Liong kemudian dengan ramah.
"hmm, buktinya dia tidak tampil sendiri dihadapanku. sebaliknya cuma mengutus murid-muridnya saja."
"Aku dengar makhluk tua itu tersohor karena licik dan banyak tipu muslihatnya"
Kata Coa Tay-tam.
"siapa tahu kalau ia sengaja berbuat demikian agar kita semua tidak mempersiapkan diri? saudara Ou, mengirim berita dengan burung cui nip dari perguruanmu terkenal karena cepatnya bagai mana kalau kita kabarkan dulu berita ini kepada suhengmu dan mengundang kedatangannya ke perkampungan Li keh ceng?"
"Baik"
Ou Wi Hi menganguk tanda setuju.
"andaikata ia segera berangkat, sebelum senja besok hari dia sudah akan sampai disini. Menurut perkataan yang disampaikan si empat sesat, rupanya mereka bersiap sedia melakukan pengacauan pada esok malam"
Sembari berkata, tangannya lantas digerakkan ke depan ......"Ciit ciit"
Kicauan burung memecahkan kesunyian, seekor burung kecil, bewarna hijau pupus terbang keluar dari balik ujung bajunya setelah berputar satu kali dari ruangan itu, dengan kecepatan yang luar biasa burung itu menerobos jendela dan lenyap ditengah kegelapan.
Sepeninggal burung itu, Ou Wi Hi berkata lagi.
"Seandainya mereka berempat sudah datang ada baiknya jika Li cengcu menyambut kedatangan mereka dengan tata cara persilatan baru dirundingkan kembali tindakan selanjutnya."
Dengan wajah yang murung Li Liong berjalan untuk balik diruang itu, ancaman yang disampaikan Ciong lay sushia sungguh bikin pikirannya jadi kusut.
Begitulah, setelah berunding sekali lagi cara cara menghadapi musuh tangguh, ketiga orang itu mengambil kesimpulan bahwa andai kata say siu jin mo si mahluk tua itu belum mati, bahkan ilmu silat yang dimiliki beberapa kali lipat lebih dahsyat dari kepandaiannya sebelum terjatuh ke dalam jurang, peristiwa itu benar benar merupakan suatu bencana besar yang mengancam keselamatan jiwa seluruh umat persilatan pada umumnya dan kesempatan jago jago yang tinggal dalam perkampungan Li keh ceng pada khususnya.
Sementara itu, sepeninggalnya dari telaga tadi buru-buru Ong It sin kembali ke kamarnya untuk ganti pakaian dan naik ke pembaringan untuk beristirahat.
Setelah mengalami pelbagai kejadian yang menegangkan hati, anak muda itu merasa terlampau penat, hingga begitu menempel di tempat pembaringan, ia lantas tertidur lelap.
Entah berapa lama ia sudah tertidur, tiba tiba suara pekikan nyaring dan jeritan kaget menyadarkan kembali dari tidurnya, pemuda itu mula mula masih segan antuk membuka matanya dan cuma menggeliat saja.
Mendadak tubuhnya terasa panas sekali, lagi pula diantara jeritan-jeritan manusia itu diiringi pula suara gemerutuk yang nyaring.
Dengan keheranan Ong It sin segera membuka matanya.
Tapi begitu matanya terbuka, pemuda itu menjerit kaget, ternyata kobaran api telah menjilat-jilat dari empat penjuru, sebagian besar ruang kamar yang ditempatinya telah terjilat oleh bola api.
Tak terkirakan rasa kaget Ong It sin, buru buru ia melompat bangun seraya berteriak.
"Kebakaran Kebakaran"
Beberapa teriakan kemudian, ia menangkap pula teriakan orang lain yang senada, dari luar ruangan, jelas semua orang sudah tahu kalau telah terjadi kebakaran, hanya dia sendiri yang mengetahui paling belakang.
Waktu itu pintu kamar sudah terjilat api, dia lari ke samping jendela dan membukanya dengan paksa.
Ketika jendela itu terbuka, asap hitam yang tebal segera menyusup masuk ke dalam ruangan udara jadi sesak.
matanya jadi pedas hingga mengucsrkan air mata, tak tahan lagi dia terbatuk-batuk.
Sekuat tenaga ia menekan bingkai jendela dan melompat keluar, lalu bergelinding di tanah sebelum melompat bangun.
Menunggu ia sudah berdiri kembali, apa yang kemudian terlihat membuat dia jadi melongo.
Sejauh pandangannya memandang, kecuali asap tebal dan kobaran api yang terlihat, hampir boleh dibilang tidak tampak sesuatu apapun.
Ong It sin lari terbirit ke depan, dari sana muncul pula beberapa orang yang sedang menyelamatkan diri dari kobaran api.
"Hei, apa yang terjadi? Apa yang terjadi?"
Tanya Ong It sin ingin tahu.
Tapi beberapa orang itu tidak menggubris pertanyaannya, mereka malah meneruskan larinya kedepan.
Dalam keadaan begini terpaksa Ong It sin hanya bisa ikut kabur dibelakang mereka.
Beberapa langkah kemudian, dari balik asap tebal tiba tiba terdengar suara Li Liong yang nyaring bagaikan geledek berkuman-dang datang.
"Mulut lembah belum tertutup kobaran api, jangan terlampau pikiran soal harta, cepat kabur ke sana"
Sekalipun berada dibalik hiruk pikuknya suara teriakan orang dan kobaran api, ternyata seruan Li Liong masih kedengaran nyaring. Mendengar teriak itu Ong It sin jadi terperanjat.
"Aduh celaka"
Serunya.
"jangan jangan seluruh perkampungan sudah dimakan api?"
Dalam keadaan demikian, tak seorangpun yang menggubris seruan itu, sekalipun ada yang mendengar, belum tentu ada yang menjawab pertanyaannya tadi.
Akhirnya dengan membawa luka terbakar di beberapa bagian tubuhnya, pemuda itu sampai juga dimulut lembah dengan selamat.
Ditengah tanah lapang yang luar di depan mulut lembah, telah berkumpul beratus ratus orang mereka semua adalah anggota keluarga perkampungan Li keh ceng.
Ong It sin coba berpaling ke belakang ia lihat kobaran api dalam lembah masih menjilat-jilat dengan dahsyatnya, asap hitam yang telah membumbung tinggi ke angkasa, malahan dari atas dinding tebing di sekeliling lembah itu tiada hentinya melayang turun gumpalan gumpalan api yang membara.
Pemuda itu coba untuk mengamatinya dengan lebih seksama, akhirnya ia melihat secara lamat lamat ada sesosok bayangan manusia yang sedang melemparkan gumpalan api dari tiap penjuru tebing itu.
Seperti telah diketahui, perkampungan Li keh-ceng dibangun di dalam sebuah lembah yang dikelilingi bukit curam, dengan demikian, apabila ada orang yang melemparkan api dari atas tebing otomatis api itu terjatuh ke dasar lembah, padahal disekitar tempat itu tidak banyak terdapat sumber air, dengan sendirinya begitu terjadi kebakaran, api sukar dikendalikan dan perkampungan Li keh ceng pun sukar pula diselamatkan dari bahaya kebakaran.
Waktu itu, meski orang yang berkumpul dimulut lembah Li hu kok berjumlah banyak.
akan tetapi tak seorangpun yang buka suara, ditengah keheningan yang mencekam sekeliling tempat itu hanya gelak tertawa seram berkumandang dari atas tebing, suara itu mengerikan membuat bulu kuduk orang pada bangun berdiri.
Tiba-tiba dari puncak tebing sebelah timur menggema suara bentakan nyaring dari Li Liong.
"Kurcaci dari mana yang berani mencari gara-gara disini?"
Sekalipun bentakan tersebut berkumandang dari atas tebing yang tinggi, namun suaranya tetap menggelegar bagaikan guntur yang membelah bumi, membuat telinga merasa amat sakit.
"Waaahh....waaahh....rupanya memang betul betul mereka yang memusnahkan perkumpulan Li keh ceng"
Gumam Ong It sin kemudian.
Sementara itu, manusia masih mengalir keluar tiada habisnya dari kubangan api, sedangkan keempat orang murid Li Liong sedang memimpin kawanan manusia itu mengungsi dari tempat bencana.
Ong It sin membaurkan dirinya diantara para pengungsi, tak seorangpun yang menaruh perhatian khusus kepadanya.
Setelah mengikuti beberapa li jauhnya, pemuda itu kembali berpaling kebelakang, ia lihat asap hitam yang mengepul dari dalam lembah telah menciptakan gumpalan awan hitam yang membeku di langit, segera pikirnya.
"Aaaai .... Entah bagaimana nasib paman sekarang? Beliau sedang bertempur melawan orang orang jahat itu di tebing sebelah timur . Eeeeh, kenapa aku tidak kesana?"
Ia tak berpikir betapa rendahnya ilmu silat yang dimilikinya, diapun tak mau tahu apakah tebing curam itu dapat didaki atau tidak, malahan tak pernah terlintas dalam benaknya apa gunanya ia menuju kesitu dengan dasar ilmu silat yang begitu rendah?
Tapi pada dasarnya pemuda itu memang tolol, apa yang dipikirkan segera dilakukan dengan cepat, tanpa banyak berbicara lagi ia tinggalkan rombongan pengungsi itu dan kabur keatas tebing.
Selang sesaat kemudian, ia sudah berada dibawah tebing sebelah timur, ketika pemuda itu menengok ke atas, terlihatlah pamannya si Dewa Perak Li Liong sedang melangsungkan pertarungan seru melawan perempuan berambut panjang itu Dilihat dari keadaan yang tertera didepan mata, agaknya perempuan berambut panjang itu sudah terdesak di bawah angin, terbukti sambil bertempur ia mundur terus tiada hentinya.
Sementara Li Liong, sambil membentak penuh kemarahan, bagaikan hembusan angin topan dia mengejar terus dari belakangnya.
-00000d-w00000-ONG IT SIN merasa sangat tegang, dengan sepasang mata yang terbelalak lebar dia awasi terus jalannya pertarungan itu Tiba-tiba ia merasa tubuhnya ditepuk orang, tapi Ong It sin sedang memandang terpesona jalannya pertarungan, cepat dia mengigos kesamping sambil mengomel.
"Hei, jangan tepuk tepuk aku, sana menyingkir jauh-jauh ......"
Baru selesai perkataan itu ketika kakinya mendadak ditangkap orang lantas ditarik kebelakang.
"Bluuuk...."
Tak ampun lagi tubuhnya terjerembab keatas tanah.
Ong It sin memang sudah terbiasa dipermainkan orang, sekalipun terjerembab ketanah, ternyata ia tidak ambil perduli, cepat-cepat pemuda itu merangkak bangun.
Entah sejak kapan munculkan diri, tahu tahu di hadapannya telah berdiri seorang manusia yang aneh sekali.
Orang itu mempunyai kepala yang besar, badannya cebol dan rambutnya bewarna kuning berombak.
rambut itu panjang dan terurai sebahu, hidungnya besar mulutnya lebar, cambang yang memenuhi mukanya juga bewarna kuning, sehingga tak bisa di tebak berapa umurnya.
"Hei....siapa kau?"
Tegur Ong It sin sambil meraba pantatnya yang sakit.
Pada saat itulah Li Liong dan perempuan berambut panjang yang sedang bertarung telah turun dari puncak tebing.
Begitu tiba dibawah tebing, dengan kecepatan bagaikan sambaran kilat perempuan berambut panjang itu berkelebat mendekat.
Manusia aneh berkepala besar itu segera menarik tangan Ong It sin, kena disambar tangannya tak bisa dicegah lagi anak muda itu melayang diudara dan terjatuh kedalam semak belukar lima kaki di sampingnya.
Begitu mencium tanah, badannya tak bisa bergerak lagi, Ong It Sin tahu bahwa jalan darahnya sudah tertotok.
Dia mencoba untuk menyalurkan tenaga dalamnya untuk membebaskan jalan yang tertotok itu, sayang ilmu silatnya terlampau cetek.
tentu saja hawa murni yang dimilikinya terlampau lemah, dalam keadaan demikian jangankan melepaskan diri dari pengaruh totokan, untuk berkutikpun tak mampu.
Ong It sin amat gelisah, dia ingin meronta tapi tak mampu, saat itulah manusia aneh berkepala besar berambut kuning itu munculkan diri disampingnya, lalu menyeringai aneh..Sekujur badan Ong It sin gemetar keras, bulu kuduknya pada bangun berdiri, ia tak tahu siapa gerangan manusia aneh berambut kuning itu, dan dari mana ia datang.
Sementara itu bentakan bentakan nyaring makin menggema semakin dekat perempuan berambut panjang itu didepan dan si dewa perak Li Liong berada di belakang kedua orang itu melintas lewat dengan cepatnya.
Bila ditinjau dari keadaan tersebut jelaslah sudah kalau Li Liong berada diatas angin sebab dia lah yang mengejar perempuan berambut panjang itu.
Dengan membawa hembusan angin tajam orang itu berkelebat lewat dari atas semak dimana Ong It sin bersembunyi, selisih jarak antara kedua orang waktu itu adalah satu kaki lima enam depa.
Suatu ketika, tiba-tiba Li Liong berpekik nyaring, tubuhnya menyusup maju beberapa depa lebih cepat, kemudian sepasang lengannya dibentangkan, bajunya yang mentereng segera memancarkan kilat dan cahaya perak yang menyilaukan mata, benar-benar tak malu dia disebut si Dewa Perak.
Bersamaan dengan menggelegarnya sepasang tangan, hembusan angin puyuh menderu-deru, ketika telapak tangan kirinya didorong ke muka, angin pukulan yang tajam segera menyambar lewat.
Buru-buru perempuan berambut panjang itu berpaling, betapa terperanjatnya ketika melihat Li-Liong sudah berada di udara.
Dalam keadaan demikian, cepat-cepat dia menggelinding kesamping untuk menghindarkan Dengan menghindarnya perempuan itu, serta merta pukulan tangan kiri Li Liong bersarang di sasaran yang kosong "....Blaang..."sebuah liang yang sangat dalam segera muncul di permukaan tanah.
Cepat perempuan berambut panjang itu berpaling kembali, hatinya semakin tercekat ketika dilihatnya Li Liong telah semakin perpendek selisih jaraknya menjadi lima enam depa belaka, ia semakin tancap gas, perempuan itu berusaha keras meloloskan diri dari cengkeraman musuh.
Paras muka Li Liong tampak angker dan penuh kegusaran, tiba-tiba bentaknya lagi.
"Bajingan pelepas api, mau kabur kemana kau?"
Sepuluh jari tangannya dipentangkan lebar-lebar, desingan tajam memekikkan teliaga, dengan membawa deruan angin puyuh serangan itu menyambar keatas bahu perempuan itu Kebetulan waktu itu mereka hanya barada empat lima kaki dari tempat persembunyian Ong It-sin dan manusia aneh berkepala besar itu, maka semua peristiwa itu dapat diikuti pemuda tersebut dengan jelas.
Meskipun kungfu yang dimiliki Ong It sin cetek sekali, sebodoh bodohnya dia toh mengetahui juga bahwa pamannya si dewa perak Li Liong sedang berada diatas ingin, sungguh gembira hatinya.
Akan tetapi, dikala sepasang tangan Li Liong sudah hampir menyentuh bahu perempuan berambut panjang itu, tiba tiba perempuan itu berdiri kaku.
Padahal serangan yang dilancarkan si dewa perak sudah hampir menempel di atas bahunya, bisa di bayangkan apa yang akan terjadi jika serangan itu bersarang telak.
Namun Li Liong tak berani gegabah sebab belum pernah ia jumpai cara bertarung yang digunakan perempuan itu, dia kuatir dibalik kekakuan badannya terdapat serangan serentak serangannya di batalkan ditengah jalan.
Menyaksikan kejadian itu, Ong It-sin jadi melongo, dia tak tahu kenapa perempuan berambut panjang itu mandah diserang.
Bukan Ong It sin sendiri yang heran, sekalipun Li Liong juga dibuat termangu-mangu saking tercengangnya.
Sejak kedudukannya meningkat dalam dunia persilatan, Li Liong sudah jarang sekali berkelahi dengan orang, meski demikian pengalamannya dalam pertarungan dengan musuh cukup matang.
Tapi sepanjang pengalamannya, belum pernah ia jumpai musuh yang mandah diserang dikala ancaman sudah menempel dibajunya seketika itu juga pelbagai ingatan lantas berkecamuk dalam benakaya.
"Mungkinkah dia mengenakan pakaian pelindung badan yang tak mempan diserang? Atau mungkinkah dia sengaja berbuat demikian agar rekan-rekannya yang bersembunyi disekiarnya tempat itu mempunyai kesempatan untuk menyergap diriku?"demikian pikirnya dihati. Makin dipikir ia makin curiga, akhirnya diputuskan untuk membatalkan serangannya itu, sekalipun ujung jarinya sudah menempel diatas bahu lawannya yang kaku. Untung tenaga dalamnya sudah mencapai taraf menyerang dan menarik kembali kekuatannya menurut jalan pikiran. Bukan saja serangan yang meoggunakan tenaga sebesar tujuh bagian itu bisa ditarik kembali, bahkan bersamaan itu pula badannya menghindar kesamping, lalu setelah berputar setengah lingkaran dia menyelinap ke hadapan perempuan itu. Tapi begitu sampai dihadapan perempuan itu, kembali Li Liong tertegun, sebab perompuan itu masih juga berdiri kaku, bahkan dari mimik wajahnya yang diliputi kemarahan serta sinar matanya yang memancarkan kebuasan mencerminkan perasaan apa boleh buat. Jangankan Li Liong adalah seorang tokoh sakti sekalipun seorang bocah yang baru belajar silatpun akan mengetahui bahwa perempuan berambut panjang itu telah tertotok jalan darahnya setelah meninjau mimik wajahnya tersebut. Si dewa perak Li Liong makin tertegun, rasa heran yang menggelitik perasaannya sungguh sukar dilukiskan dengan kata-kata. Selama ini perempuan tersebut dikejarnya dengan ketat, ketika badannya melambung sambil melancarkan serangan dengan jurus sing seng sui tek (sepasang bintang rontok ke tanah) itulah tiba-tiba perempuan berambut panjang itu berdiri kaku. Dari sini bisa diketahui bahwa perempuan itu bila benar-benar tertotok jalan darahnya, maka ia pasti tertotok pada keadaan demikian. Li Liong cukup yakin kalau ketajaman pendengarannya boleh diandalkan, tapi untuk kali ini dia merasa terkecoh, sebab bukan saja ia tak tahu kalau disekeliling sana ada orang malah diapun tak tahu serangan itu sejak kapan di lancarkan. Seharusnya ia merasa gembira sebab perempuan itu sudah tertotok dan mati hidupnya berada ditangannya. Akan tetapi Li Liong tidak gembira, malah justru murung dan kesal sekali. Ia tahu orang yang menotok jalan darah perempuan berambut panjang itu berilmu tinggi, padahal sampai sekarang belum diketahui bagaimanakah tampang wajahnya. Mendingan kalau dia seorang sahabat sebaliknya kalau orang itu adalah musuhnya? Bukankah akibat yang bakal terjadi sukar dibayangkan .? Begitulah, dengan perasaan cemas bercampur was-was si Dewa perak menjura ka empat penjuru seraya berkata.
"Sobat dari manakah yang telah membantu diriku? Aku sangat terimakasih sekali. Bersediakah engkau menampakkan diri?"
Perkataan itu sudah diulangi sampai dua kali, tapi suasana disekeling tempat itu tetap hening, sedikit suarapun tak kedengaran.
Akhirrya setelah mengetahui babwa penantiannya hanya sia-sia belaka, Li Liong menghela napas panjang.
"Aaai.... aku tahu bahwa engkau adalah seorang tokoh sakti dari dunia persilatan, akupun tahu gerak gerikmu ibaratnya Naga sakti yang kelihatan kepala tak kelihatan ekornya, aku merasa kagum dan berterima kasih sekali atas bantuan yang kau berikan. Yaa, bila sobat tak sudi menampakkan diri, akupun cuma bisa menahan rasa kecewa dalam hati"
Habis berkata kembali ia menunggu beberapa saat lamanya, tapi setelah dilihatnya suasana disekeliling sana tetap hening, maka ia lantas mencengkeram tubuh perempuan berambut panjang itu dan berlalu dari situ.
Cepat sekali gerakan tubuh si dewa perak Li Liong, sekejap kemudian bayangan tubuhnya sudah lenyap dari pandangan.
Baru saja Li Liong lenyap dari pandangan mata, manusia aneh berkepala besar itu segera melompat bangun dan menyepak tubuh Ong It sin keras-keras.
Sebenarnya Ong It sin hanya bisa berbaring dalam semak belukar tanpa bisa bergerak atau pun bersuara.
Tapi setelah disepak oleh manusia aneh berkepala besar itu, sambil berseru tertahan dia lantas melompat bangun dari atas tanah.
Sesudah berdiri, pemuda itu hanya bisa memandang manusia aneh berkepala besar itu dengan termangu, ia tak tahu apa yang harus dilakukan, dia pun tak ada maksud untuk melarikan diri.
Menyaksikan keadaan anak muda itu, manusia aneh berkepala besar tersebut segera tertawa cekikikan.
"Heeehhh....heeehhh....heeehhh....bocah bandel, kau tidak merasa takut kepadaku ?"
"Takut sih takut"
Jawab Ong It sin kemudian sambil garuk garuk kepalanya yang tak gatal.
"cuma setelah kupikir kembali rasanya tak ada sesuatu yang patut kutakuti"
"Kenapa tidak takut? Engkau tahu nyawamu berada dalam cengkeremanku."
Seperti diketahui Ong It sin itu ketolol tololan tapi jujur polos dan lugu apa yang dipikirkan dalam benaknya kadang kala justru berlawanan dengan jalan pikiran manusia pada umumnya.
Bagi sementara orang yang berotak waras mungkin perkataan dari manusia aneh itu mendatangkan perasaan menggidikkan bagi yang mendengar, tapi bagi pendengaran Ong It sin, bukan saja dia tak takut malahan perkataan itu mendatangkan rasa geli baginya tergelaklah dia ketolol-tololan.
"Hei, apa yang kau ketawakan?"
Tegur manusia aneh berkepala besar itu setelah tertegun sebentar.
"Aku geli karena kau adalah orang tolol yang pernah kujumpai selama ini, coba bayangkan mati hidup manusia berada di tangan Thian, dari mana kau bisa mengatakan kalau nyawaku berada di tanganmu? Hopo tumon? Hiiiihh .....hiiihhh....hiiihhh."
Manusia aneh itu mendengus dingin.
"Hmm Coba kau lihat batang pohon besar itu"
Serunya. Seraya berkata, telapak tangannya lantas melakukan gerakan seperti membacok .
"Ceees"
Segulung desingan angin tajam segera menyambar ke muka.
"Blaaamm..."
Sedetik kemudian, pohon besar yang batangnya sebesar pelukan itu roboh dengan membawa suara keras.
Memang pohon itu tumbuh ditepi semak belukar, tapi jaraknya paling sedikit juga masih ada dua tiga kaki, sekalipun masih banyak jago lihay yang pernah dijumpai Ong It sin selama berada di Li keh ceng, tapi kepandaian silat sedahsyat itu boleh dibilang belum pernah ditemuinya .
"sudah kau lihat belum?"
Tegur manusia aneh itu "Lihatnya sih sudah lihat, aaa yaa, kungfu mu memang lihay sekali "
Dia tak tahu bagaimana harus memuji kelihayan ilmu silat lawannya, maka diucapkannya kata kata tinggi sekali untuk menunjukkan betapa kagumnya dia.
"Nah, kalau sudah tahu itu lebih baik lagi"
Ujar manusia aneh itu.
"bila kau ingin kubunuh, maka perbuatan itu bisa kulakukan seperti kubunuh seekor semut, bukankah hal ini menunjukkan pula kalau nyawamu berada di tanganku"
Setelah menyaksikan kelihayan ilmu silat musuhnya, Ong It sin berdiri kaku tanpa berkutik bukan lantaran terkejut oleh kehebatan musubnya tapi karena terpesona dan kagum.
Tiba tiba ia jadi sangat gembira setelah mendengar perkataan akhir dari manusia aneh itu, ia tertawa terbahak bahak.
"Hei, apa lagi yang kau tertawakan?"
Seru manusia aneh itu sambil molotot besar.
"Tadi kukatakan kau ini tolol, ternyata kau memang betul-betul tolol, coba bayangkan, dendam sakit hati apakah yang terikat antara kau dengan aku? Meski ilmu silatmu tinggi, dapatkah kau binasakan diriku?"
"Kalau toh kau tak bisa bunuh aku, bagaimana mungkin nyawaku bisa berada ditanganmu?"
Mendengar jawaban dari anak muda itu, manusia aneh berambut kuning tersebut hanya bisa berdiri termangu-mangu karena tertegun, ditatapnya Ong It sin dengan sinar mata tajam, sesaat kemudian ia baru menghela napas panjang.
Ong It sin tidak tahu apa sebabnya manusia aneh itu menghela napas, disangkanya orang itu merasa tersinggung karena berulang kali ia maki dirinya sebagai orang tolol.
Maka hatinya jadi tak tega, cepat-cepat serunya lagi.
"Padahal engkau tidak terlalu tolol, masih banyak orang yang lebih tolol darimu, cuma ........ heeehh....heeehhh... heeehhh....tentu saja ketololanmu juga termasuk lumayan"
Sebetulnya dia bermaksud untuk menghibur manusia aneh itu, dasar memang tolol ternyata bicara pulang pergi tetap menuduh pihak lawan sebagai orang goblok, tak heran kalau manusia aneh itu tertawa terbahak-bahak karena gelinya.
Ia lantas menepuk-nepuk bahu Ong It sin, kemudian didorongnya dengan sepenuh tenaga.
Termakan oleh dorongan manusia aneh itu, Ong It sin tak mampu berdiri tegak lagi, tak ampun tubuhnya melayang ke udara dan bergerak ke depan seperti terbang.
Beberapa saat kemudian, tiba-tiba tubuhnya berhenti sendiri Begitu dapat berdiri, pemuda itu segera berpaling, tapi manusia aneh berambat kuning itu sudah lenyap tak berbekas.
Setelah termenung beberapa saat lamanya, Ong It sin teringat kembali kalau perkampungannya kebakaran dan semua anggota perkampungan sedang mengungsi, dia segera berpikir.
"suasana dikampung tentu kalut sekali, buat apa aku berdiri melongo disini? sedikit banyak harus kubantu mereka agar lolos semua dari mara bahaya"
Memang begitulah watak Ong It Sin, dia tak pernah mengangan angankan sesuatu, tapi setiap ada ingatan melintas dalam benaknya, maka apa yang dipikir itu segera dilaksanakan.
Demikianlah, ketika ingatan tersebut melintas dalam benaknya, anak muda itu segera berangkat.
Kurang lebih setengah li kemudian, disuatu persimpangan jalan tiba tiba muncul seseorang dengan gerakan yang amat cepat, orang itu berlarian sambil mengempit dua sosok manusia.
Begitu berhadapan, Ong It sin segera kenal orang itu sebagai Long tiong tayhiap Coa Thian-tam salah seorang dari It lwesu eng yang pernah dijumpainya dipesanggrahan kemarin malam.
Dua orang yang berada dalam kempitan coa Thian tam itu mengenakan baju serba putih muka, rambut serta alis matanya berwarna kelabu hingga tampangnya kelihatan sangat mengerikan.
Ong It sin juga kenal dengan kedua orang itu, sebab mereka bukan lain adalah dua orang manusia putih yang pernah ditemui dalam kuil bobrok kemarin malam.
Sungguh gembira hatinya setelah mengetahui kalau dua orang manusia berbaju putih itu tertawa, ia maju menyongsong seraya berseru.
"Coa tayhiap. kedua orang ini adalah anggota Ciong lay sushia, rupanya mereka berhasil kau tangkap"
Perkataan itu tiba-tiba terhenti ditengah jalan, karena ia saksikan pakaian coa Thian tam pada bagian bahu kirinya tercabik-cabik tak karuan hingga terlibat bahunya, bahkan diatas bahunya itu dengan jelas tertera sebuah bekas telapak tangan yang berwarna putih kelabu.
Air muka Coa Thian tam juga tidak kelihatan berseri karena berhasil menangkan pertarungan, malah sebaliknya dia tampak layu, mukanya pucat bahkan penuh diliputi perasaan heran dan tidak habis mengerti.
Melihat kesemuanya itu, Ong It sin termangu.
"Coa tayhiap.."
Katanya kemudian.
"ilmu silatmu sungguh hebat, kedua orang ini memang pantas dijatuhkan hukuman mati"
Sementara itu, Coa Thian tam telah menghentikan pula gerakan tubuhnya ketika berjumpa dengan Ong It sin.
Tapi anehnya, selama Ong It sin merangkaikan sejumlah kalimat yang bertele-tele, Coa Thian-tam hanya berdiri termangu, seakan-akan semua perkataan itu tak pernah didengar olehnya.
Menunggu Ong It sin telah menyelesaikan kata-katanya, dia baru berkata.
"Ong lote, ketika aku bertarung melawan mereka berdua, tanpa disengaja bahuku terkena pukulan beracun yang amat jahat, jika luka itu tidak cepat dirawat maka bisa mengakibatkan bibit bencana yang amat besar dikemudian hari"
"Yaa, memang musti dirawat"
Ong It sin manggut-manggut seperti memahami keadaan orang itu. Coa Thian tam lantas melepaskan kempitannya dan ....."Bluuk...Bluuks"
Dua orang manusia berbaju putih itu terbanting ke tanah. Sambil menuding dua orang itu berkatalah Coa Thian tam.
"Ong lote, tolong sampaikan kepada Li cengcu, katakanlah berhubung aku terluka dan buru-buru musti merawat lukaku itu, maka tak sempat aku mohon diri kepadanya, harap ia jangan marah. Kedua orang ini bukan aku yang taklukkan, tapi aku yakin dari tubuh mereka dapat kita ungkap banyak persoalan tolong lote suka menghantar mereka berdua untuk diserahkan kepada Li cengcu"
Mendengar keterangan itu, Ong It sin merasa terkejut bercampur gembira, selama hidup belum pernah ada orang yang mempercayai dirinya dengan menyerahkan tugas sebesar ini kepadanya, detik itu juga Ong It sin merasa dirinya seolah olah sudah menjadi seorang manusia "Vip"
Seorang manusia nomor satu di dunia ini "Aku .... aaah... aku... baiklah"
Katanya kemudian agak gugup "merawat luka memang paling penting, serahkan saja kedua oraag itu kepadaku"
Sementara dan masih gelagapan, Coa Thian-tam telah menjejakkan kakinya ke tanah lalu melayang pergi dari situ.
Menunggu Ong It sin mengutarakan kata kata yang terakhir, Coa Thian tam sudah lenyap dari pandangan mata, dalam keadaan begini terpaksa anak muda itu membungkam sambil garuk garuk kepalanya.
Tiba tiba dan teringat sesuatu, cepat matanya mengerling sekejap dua orang manusia baju putih yang tergeletak di tanah itu, kemudian sambil menuding ke arah mereka makinya "Kamu berdua memang kurang ajar, tak tahu diri, tidak punya aturan Hmm, coba bayangkan, berapa banyak uang dan tenaga yang harus dikeluarkan untuk membangun perkampungan Li keh ceng itu, tapi kalian ....Huuuh.
Perkampungan semegah itu kalian bakar sampai habis.
Perbuatan semacam ini memang pantas dijatuhi hukuman mati, memang pantas dibunuh sampai mati"
Ong It sin itu orangnya jujur dan polos, manusia seperti dia memang tidak pandai memaki orang, setelah dia maki kedua orang itu "pantas dibunuh sampai mati"
Tiba tiba dirasakan kalau makian itu terlalu berlebihan, maka buru-buru tambahnya lagi.
"Kalau sampai ada yang mati terbakar, perbuatan kalian baru pantas dibunuh mati, tapi kalau tidak . heehm, hukuman apa yang pantas yaa ? oh iya kalau tidak sampai ada yang mati, maka kalian pantas digebuk . yaa..yaa... memang pantas digebuk"
Seraya berkata dia awasi dua orang manusia bar baju putih itu tajam-tajam.
Dalam pada itu, dua orang manusia berbaju putih yang tertotok itu cuma bisa memutar mutar biji matanya yang kelabu sambil mengawasi gerak gerik Ong It sin, mereka tak bisa bergerak juga tak bisa berbicara.
Dalam keadan demikian, keadaan dari dua orang manusia berbaju putih itu jadi kelihatan aneh dan menyeramkan.
sebetulnya Ong It sin agak ngeri berhadapan dengan mereka, tapi begitu teringat kalau Coa tayhiap telah menyerahkan tanggung jawab yang barat kepadanya, rasa takut segera itu lenyap.
"Hayo jawab Mengapa kalian bakar perkampungan Li keh ceng sampai menjadi abu?"
Coa Thian tam sebenarnya hanya memerintahkan pemuda itu untuk serahkan kedua orang manusia berbaju putih itu kepada si dewa perak Li Liong tapi Ong It sin sekarang berlagak sok pintar, dia mulai membentak-bentak kepada kedua orang itu.
Berulang kali dia ulangi bentakannya itu namun tiada jawaban, tentu saja kedua orang manusia berbaju putih itu tak bisa menjawab, sebab jalan darah mereka masih tertotok.
Terutama Ong It sin makin lama semakin keras tapi akhirnya ia segera mengerti, cepat diketuknya kepala sendiri lalu bergumam.
"Aku ini memang pikun, kalau jalan darah mereka tertotok, tentu saja ke dua orang itu tak dapat bersuara baiklah, akan kucoba untuk membebaskan dulu jalan darahnya"
Setelah maju selangkah, dia lantas berjongkok disamping kedua orang itu, tapi anak muda itu kembali garuk garuk kepalanya sambil termenung.
Sekarang dia baru ingat kalau kepandaiannya amat cetek.
dengan kemampuan yang dimilikinya sekarang, mana mungkin bisa membebaskan jalan darah orang lain?
Untuk sesaat dia jadi termangu dan tak tahu apa yang musti dilakukan.
Tangannya sebentar menepuk ke kanan sebentar menabok kekiri, mula mula dengan tenaga yang enteng, akan tetapi ketika dilihatnya orang berbaju putih itu sama sekali tidak berkutik, Ong It-sin segera menambahi tenaganya jadi berlipat lipat kali lebih besar, tapi hasilnya .....?
sekalipun sudah berusaha dengan sekuat tenaga, jalan darah yang tertotok itu belum juga terbebaskan.
Melihat hasilnya mengenaskan, pemuda itu bukannya mengomel diri sendiri sebaliknya malah menegur orang berbaju putih itu.
Tiba-tiba ia menuding ujung hidung orang berbaju putih itu sambil memaki.
"Hei, kamu ini Kenapa tidak kau buka jalan darahmu yang tertotok? kau toh sudah tahu semua badanmu sudah kutaboki? oh .Jangan-jangan kau takut kuhajar dirimu sampai babak belur, maka sekarang pura pura berbaring seperti orang mati."
Sambil memaki, ujung hidung orang berbaju putih itu dipencetnya keras keras.
Ketika perkampungan Li keh ceng terbakar dengan hebatnya tadi, si Dewa perak Li Liong dan Coa Thian tam masing masing tampilkan diri untuk menyambut kedatangan musuh.
Bila Li Liong berhadapan dengan perempuan berambut panjang maka Coa Thian tam berhadapan dengan dua orang manusia berbaju putih itu.
Tapi nyatanya, tenaga dalam yang dimiliki dua orang manusia berbaju putih itu betul-betul sangat hebat, ditambah pula jurus serangan yang mereka gunakan sangat tangguh dan kerja sama mereka luar biasa ketatnya.
Dalam keadaan begini sekalipun Coa Thian tam berilmu tinggi, lama kelamaan ia jadi kewalahan juga sehingga akhirnya terdesak dibawah angin.
Keadaan bertambah runyam setelah bahu Coa Thian tam terhajar telak oleh pukulan beracun yang dilepaskan dua orang musuhnya.
Dengan susah payah ia memperhatikan diri, keadaannya kini bertambah gawat untunglah disaat yang paling berbahaya tiba-tiba dua orang manusia berbaju putih itu berdiri tak berkutik.
Coa Thian tam sangat kaget dan tercengang, setelah diteliti kemudian, barulah diketahui olehnya, kalau dua orang manusia berbaju putih itu sudah tertotok jalan darahnya.
Kejadian itu sangat mencengangkan Coa Thian tam, seperti juga rasa cengang yang dialami Li Liong ketika musuhnya tiba-tiba tertotok.
Waktu itu dia mengucapkan juga kata-kata yang bernada terima kasih, tapi tak ada yang memperdulikan, akhbirnya dengan membawa pelbagai kecurigaan dia mengempit dua orang menusia berbaju putih itu kembali ke perkampungan Li keh ceng, dimana ia telah berjumpa dengan Ong It sin ditengah jalan.
Ditinjau dari segala sesuatunya yang serba misterius, dapat diketahui bahwa orang yang menotok jalan darah mereka adalah seorang tokoh sakti yang maha tangguh, dan jalan darah mereka yang tertotok pasti jalan darah yang istimewa.
Andai kata Ong It sin saat itu merupakan seorang ahli jalan darah, belum tentu dia akan tahu jalan darah apakah yang sudah tertotok pada diri manusia berbaju putih itu.
Siapa tahu, justru ketika kena ujung hidung orang berbaju putih itu secara kebetulan jari tangannya menyentuh jalan darah yang membebaskan pengaruh totokannya, kontan saja sambil mendengar orang berbaju putih itu bangun terduduk.
Berada dalam kendaan begitu, ternyata Ong It sin masib belum tahu kalau bahaya telah mengancam keselamatan jiwanya, malahan sambil menuding orang itu, dia tertawa terbahak-bahak.
"Haaahhh....haaahhh .... haaahhh....coba kau lihat, bukankah perbuatanmu itu arak kehormatan kau tampik arak hukuman kau terima? begitu kumaki kau pura pura mampus, kini kau lantas bangun ....."
Sebelum ucapan itu selesai diutarakan keluar, orang berbaju putih itu sambil tetap duduk ditanah segera mengebaskan ujung bajunya kedepan..."sreeet...."
Segulung desingan angin tajam yang sangat kuat segera menyapu ke tubuh Ong It sin.
Kedatipun ujung bajunya tidak menyentuh tubuh si anak muda itu, tapi begitu termakan oleh deruan angin tajam itu Ong It sig segera terpental sejauh satu kaki lebih dan terjerembab diatas tanah, untuk beberapa saat lamanya ia tak sanggup merangkak bangun.
Orang berbaju putih itu jadi melongo, agaknya ia tak menyangka kalau musuhnya begitu tak becus hingga sebuah sapuan saja cukup menbuat badannya terpental.
Tiba tiba ia melompat bangun lalu menghampiri rekannya, secara beruntun dia tepuk tubuh rekannya sebanyak tiga kali, maksudnya dengan tepukan itu dia hendak membebaskan jalan darahnya yang tertotok, tapi apa hasilnya?
orang berbaju putih yang satu itu masih tetap berbaring di tanah tanpa berkutik, Orang berbaju putih itu semakin tertegun, secara beruntun dia tepuk kembali beberapa buah jalan darah ditubuh rekannya, malah kali ini dia sudah menepuk sebanyak tujuh delapan kali, tapi hasilnya tetap nihil, orang berbaju putih itu tetap tidak berkutik.
Dalam keadaan begini, tiba-tiba orang itu seperti teringat akan sesuatu, paras mukanya yang berwarna kelabu menjadi berseri, ia berpaling dan menatap ke arah Ong It sin.
Waktu itu Ong It sin baru saja dapat bangkit berdiri, ia merasa kepalanya masih pusing tujuh keliling dengan mata yang berkunang kunang.
Siapa tahu begitu dia berdiri tegak.
matanya jadi kabur dan orang berbaja putih itu sudah berdiri dihadapannya.
Ong It sin tertegun, tahu tahu dadanya terasa sakit sekali, ternyata didanya sudah dicengkeram oleh orang berbaju putih iiu.
"Hei, lepaskan tanganmu lepaskan aku"
Teriak Ong It sin gelagapan.
"aku toh tidak hutang uang kepadamu, kenapa kau tangkap diriku?"
"Cepat bebaskan jalan darah saudaraku yang masih tertotok"
Hardik orang berbaju cutih itu dengan suaranya yang dingin menggidikkan hati.
"Yaaa....yaaa....tapi lepaskan dulu diriku"
Teriak Ong It sin lagi.
"kalau aku tidak kau lepas bagaimana mungkin aku bisa membebaskan jalan darah?"
Orang berbaju putih itu hanya tertawa dingin tiada hentinya, begitu seramnya suara itu membuat Ong It sin bergidik hingga bulu kuduknya pada berdiri Tangannya lantas digetarkan, tubuh Ong It sin diangkatnya seperti burung elang mencengkeram anak ayam lalu setibanya dihadapan orang berbaju putih yang lain, dia membentak.
"Cepat bebaskan jalan darahnya"
Walaupun Ong It sin sudah berdiri ditanah, tapi dadanya secara lapat lapat masih terasa amat sakit gerutunya.
"Sialan Kamu toh membutuhkan tenaga untuk membebaskan jalan darahnya, kalau orang membutuhkan bantuan orang lain maka tidak seharusnya bersikap begitu bengis. Hmm tentu kau bukan orang baik, yaa pasti kau bukan orang baik"
Sambil mengerut, tangannya lantas digerakkan untuk menghajar sekujur badan orang berbaju putih itu, tapi walaupun sudah diusahakan sekian lama toh tidak mendatangkan hasil apapun jua.
Orang berbaju putih itu jadi sangat marah.
"Bocah busuk,"
Teriaknya.
"kalau kau tidak bebaskan jalan darah saudaraku, Hmm Tubuhmu akan kucincang menjadi beberapa bagian"
Sekali lagi mengkirik sekujur badan Ong It sin setelah mendengar ancaman tersebut.
"Jangan keburu napsu jangan keburu napsu entah bagaimana, ternyata kali ini aku ....aku tidak berhasil membebaskan jalan darahnya."
"Hmmm. .... hmmm... tak usah berlagak pilon, bagaimana caramu tadi untuk membebaskan jalan darahku?"
Ong It sin mengerdipkan matanya berulang kali, lalu serunya.
"ohh .... kau maksudkan itu? Tadi aku memaki dirimu, maki kau pura pura mampus, maki kau malas dan tak mau bangun, tiba tiba saja kau melompat bangun dari tanah"
"Aaaah ..... Kentut busuknya makmur maki orang berbaju putih itu dengan mata melotot.
"Mana? Mana ada kentut busuk? Tapi kenyataannya memang begitu, masa aku disuruh mengatakan lainnya?"
Bantah Ong It Sin.
"tapi kalau kau tak percaya juga, aku punya akal untuk membuat kau percaya, coba kumaki juga orang itu, mari kita lihat apakah dia akan melompat bangun atau tidak ?"
Sudah tentu orang berbaju putih itu tidak percaya kalau totokan jalan darah bisa dibebaskan hanya dengan makian belaka, akan tetapi iapun tak berani memastikan kalau perkataan Ong It sin yang ketolol tololan itu bukan suatu kenyataan.
Untuk sesaat dia jadi tertegun dan membungkam diri dalam seribu bahasa.
Dalam pada itu, Ong It sin sudah menghampiri orang berbaju putih yang lain dan menuding ujung hidungnya sambil memaki.
"Hei, kalau engkau masih juga berpura pura mampus, aku yang bakal jadi korban kau dengar tidak? Kakakmu barusan bilang bila kau tak mau bangun lagi maka tubuhku akan dicincang jadi dua bagian ... aduh mak Bayangkan sendiri kalau badanku sampai terbelah jadi dua satu bagian mendapat sebuah tangan dan sebuah kaki, mau ambil sumpit tak bisa, mau ambil mangkuk tak dapat, mana mungkin aku bisa bersantap? Lagipula kalau badan ikut dibelahjadi dua, semua isi perut akan berhamburan keluar . aduh mak. aku bisa konyol Hayo cepat bangun Hayo cepat bangun"
Membayangkan betapa ngerinya kalau badan sampai dibelah jadi dua bagian, tanpa sadar Ong It-sin menekan pula ujung hidung orang berbaju putih itu.
Ketika ujung hidungnya tertekan beberapa kali, otomatis jalan darah yang tertotokpun bebas dengan sendirinya, orang berbaju putih itu segera melompat bangun.
Ong It sin jadi girang sekali menyaksikan kejadian itu cepat-cepat ia putar badannya sambil berteriak.
"Coba lihat, coba lihat, begitu kumaki dirinya dia ....."
Belum habis kata-kata itu diucapkap.
tiba-tiba orang berbaju putih yang lain melompat ke belakangnya dan sekali dia tendang, tepat diatas pantat pemuda itu.
Ong It sin menjerit aneh, termakan oleh tendangan itu tubuhnya mencelat keudara, begitu tinggi tubuhnya melambung hingga mencapai dua kaki lebih.
Dari atas memandang kebawah, pemuda itu merasa segala sesuatunya berubah jadi kecil, dia jadi ngeri sampai-sampai sukmanya terasa melayang tinggalkan raganya.
Pada dasarnya memang dia tak pandai ilmu meringankan tubuh, ketika tubuhnya mulai meluncur kebawah, hatinya semakin gugup hingga menjeritlah anak muda itu seperti babi mau disembelih.
Tiba-tiba dua orang berbaju putih itu bergerak ke bawahnya, ketika tubuh Ong It Sin sudah berada tujuh delapan kaki dari permukaan tanah, kedua orang itu masing masing menyambar sebuah kaki anak muda itu.
Dari balik mata kedua orang itu masing-masing memancarkan sinar buas yang menyeramkan, begitu kaki Ong It sin tertangkap.
masing-masing lantas bergerak ke arah yang berlawanan.
Seandainya hal ini sampai terjadi, niscaya tubuh si anak muda itu akan terbelah jadi dua bagian.
Tapi..
baru saja kedua orang itu bergerak mundur kearah yang berlawanan tiba-tiba mereka merasakan dibawah iga kirinya kesemutan.
Keadaan tersebut persis seperti keadaan yang mereka alami ketika bertarung melawan Coa Thian-tam, waktu kemenangan sudah di depan mata, tahu-tahu iganya jadi kesemutan.
Dengan perasaan yang kaget dan gusar cepat kedua orang itu mengerahkan hawa murninya, sayang keadaan sudah terlambat, tahu-tahu badannya sudah menjadi kaku dan tak mampu berkutik lagi.
dw DENGAN kakunya tubuh kedua orang itu, maka Ong It sin jadi tergantung diudara dengan kepala dibawah kaki diatas.
Cepat-cepat tangannya menekan permukaan tanah, lalu sepasang kakinya meronta dengan sekuat tenaga.
Begitu terlepas dari cengkeraman dia segera jumpalitan diudara dan turun keatas bumi.
"Alhamdullilah, untung kalian menyambut badanku dari bawah"
Serunya sambil menghembuskan napas lega,"Kalau tidak. waah Pasti tubuhku akan terjatuh ke tanah dan kepalaku paling sedikit akan bertambah dengan beberapa bisul besar"
Yaa, dasar tolol, ternyata pemuda itu tidak mengetahui kalau sedetik sebelumnya ia sudah berada di ambang kematian.
Ketika pemuda itu menengadah kembali dan dilihatnya kedua orang itu masih berdiri kaku dihadapannya, dia jadi keheran heranan.
"Hei. permainan apa lagi yang sedang kalian lakukan?"
Tegurnya kemudian.
Rasa gusar yang berkobar dalam dada dua orang berbaju putih itu sukar dilukiskan dengan kata-kata, sayang mereka tak bisa bersuara, maka matanya saja yang mendelik besar.
Ong It sin berjalan kehadapan mereka berdua, setelah diamatinya sekejap kedua orang itu, dia lantas berseru.
"Hei, apakah kamu berdua berpura-pura mampus lagi?"
Ia dorong bahu kedua orang itu.
"Bluukk Bluuukk"
Tahu-tahu dua orang itu roboh terjengkang ke tanah dengan posisi tetap kaku, bukan saja tidak berkutik, merekapun tidak bersuara. Ong It sin sebera tertawa terbahak bahak.
"Haaaahhh... .haaahhh....haaahhh... .tampaknya kalian memang sengaja menyerahkan diri untuk diberi hukuman?"
Jari tangannya sudah hampir menekan ujung hidung kedua orang berbaju putih itu ketika secara tiba-tiba ia teringat akan sesuatu.
"Tidak. mereka tidak bisa dilepaskan Waktu kubebaskan jalau darah mereka tadi, yang satu telah menendang pantatku dan yang lain mengebutkan ujung bajunya mengakibatkan aku terlempar jauh. Kalau sekarang kubebaskan pula totokan mereka, padahal mereka dalam posisi duduk. waah ....penderitaan yang kualami pasti lebih hebat lagi. Lebih baik tunggu sampai bertemu dulu dengan paman"
Begitu keputusan diambil, dia lantas mengempit kedua orang itu dan meneruskan perjalanannya ke depan.
Meskipun ilmu silatnya cetek.
tenaga kasar masih dimilikinya, maka tanpa membuang banyak tenaga kedua orang itu dapat diangkut pergi.
Beberapa li kemudian, tibalah anak muda itu di sebuah tikungan bukit, dari kejauhan tampak asap hitam yang tebal masih membumbung ke angkasa, sementara para anggota perkampungan sudah tercerai berai kemana-mana, ada yang menyelamatkan diri ada pula yang mengungsi ketempat lain Yang masih tetap tinggal diperkampungan Li-keh ceng saat itu rata-rata adalah jagoan berilmu tinggi, mereka semua dengan wajah marah sedang memperbincangkan kebakaran tersebut, malah ada pula yang masih mencaci maki tiada habisnya.
Tentu saja tak seorangpun yang memperhatikan Ong It sin, ketika anak muda itu muncul sambil membawa dua orang.
Melihat semua orang tidak menggubris dirinya, Ong It sin segera berteriak keras.
"Hei, pamanku ada dimana? Kalian tahu tidak. pamanku sekarang berada dimana?"
Sambil berteriak, ia berkeliaran diantara kerumunan orang banyak. Seorang laki-laki bercambang segera mendorong pemuda itu sambil menegur.
"Heh .... apa yang kau kaok-kaokkan? Hati-hati kalau dimaki oleh cengcu ... ."
Kena didorong oleh laki laki bercambang itu, Ong It sin maju dengan sempoyongan, hampir saja ia jatuh terjerembab.
Cepat-cepat ia menjaga keseimbangan badannya, begitu dapat berdiri tegak segera sahutnya.
"Paman tidak akan memaki aku lagi, coba kau lihat, siapakah dua orang yang kubawa ini?"
Sekarang semua orang baru memperhatikan dua orang manusia yang dibawa oleh Ong It sin itu, dari potongan badan mareka yang berbaju putih, tentu saja semua orang tahu bahwa kedua orang itu bukan manusia sembarangan.
Tapi semua orang juga tahu hebatnya kungfu pemuda itu, pikir mereka jika dua orang berbijuputih itupun bisa jatuh ke tangan Ong It Sin, berarti juga kalau kedua orang itu bukan manusia lihay seperti yang disangka semula.
Sebab itu, paras muka semua orang tidak menunjukan rasa heran, malah sebiliknya sambil menyengir sinis mereka balik bertanya.
"siapa sih kedua orang itu"
"Aku bukan sedang menakuti, tapi terus terang nya saja mereka adalah dua diantara empat manusia sesaat dari Ciong lay"
Begitu perkataan itu diutarakan, gelak tertawa yang amat riuh berkumandang dari segala penjuru tempat.
"Hei, apa yang kalian tertawakan?"
Seru Ong It sin keheranan.
"Tak usah melepaskan kentut anjing disini"sela laki laki bercabang itu.
"barusan ceng cu sendiri berhasil menawan seorang diantara Ciong lay sushia setelah melangsungkan pertarungan yang sengit sekarang kau mengaku menangkap dua orang....... Huuuh Memangnya ilmu silatmu jauh lebih hebat daripada cengcu?"
Ong It sin jadi orang paling jujur, selama hidup boleh dibilang tak pernah bohong, diapun paling benci terhadap orang yang suka berbohong, maka ketika dilihatnya semua orang tidak percaya dengan perkataannya, ia jadi sangat gelisah.
Dengan muka yang bewarna merah membara teriaknya.
"Hei, mereka benar benar adalah dua orang di antara empat sesat Ciong lay su shia Kalau kalian tidak percaya akupun tak akan banyak berbicara, segera kutemui paman untuk menyerahkan sendiri kedua orang ini kepadanya."
Sambil berkata ia lantas putar badan dan siap siap berlalu dari sana .......
Gelak tertawa kembali berkumandang memecahkan keheningan, tiba tiba seorang laki laki bermuka segi tiga tampil ke muka, lalu kakinya dilintangkan ke muka untuk menggaet kaki Ong It sin yang sedang melangkah.
Ong It sin tak menyangka kalau kakinya bakal di gaet orang, ia sedang maju dengan langkah lebar ketika kakinya tergaet tak ampun lagi keseimbangan badannya jadi hilang dan ....."Bluuuk"
Ia terjerembab keatas tanah dengan muka mencium tanah.
Melihat pemuda itu tak dapat menghindarkan diri dari gaetan orang hingga ia jatuh mencium tanah, tapi mulutnya berani bicara sesumbar dengan mengatakan dia berhasil menangkap dua orang diantara Ciong lay su shia, tak tahan lagi semua orang kembali tertawa terbahak bahak.
Tapi gelak tertawa itu hanya berlangsung tengah jalan, lalu secara tiba-tiba berhenti dan suasana diliputi keheningan yang menyeramkan ......
Apa yang terjadi?
Ternyata pada saat itulah dalam gelanggang telah terjadi suatu perubahan yang sama sekali diluar dugaan.
Kiranya sewaktu Ong It sin terjerembab jatuh ketanah tadi, gerakan pertama yang dia lakukan adalah menahan permukaan tanah dengan sepasang tangannya.
Ketika tangannya menahan permukaan tanah, secara otomatis lengannya terpentang lebar dan dua orang manusia berbaju putih yang ada dalam kempitanpun terjatuh ketanah.
"Bluuuk Bluuuk"
Ketika jatuh ketanah, secara kebetulan pula muka kedua orang manusia berbaju putih itu menghadap ke bawah dengan punggung menghadap keatas, maka sewaktu mencium tanah, ujung hidungnya itu menumbuk permukaan tanah pula keras-keras.
Dengan demikian, jalan darah mereka yang tertotok pun segera menjadi bebas kembali.
Seperti telah diketahui, dua orang manusia berbaju putih itu berwatak buas, hati mereka sudah dibikin gusar setelah dua kali berturut turut jalan darah mereka tertotok tanpa sebab.
Maka dikala hawa murni mereka dapat mengalir kembali dengan lancar, mendengar pula gelak tertawa orang banyak disekelilingnya, kegusaran mereka semakin memuncak.
Sambil meraung keras, tiba-tiba dua orang itu melompat bangun, yang seorang segera menyambar kaki laki laki bercambang itu, sedang yang lain menyambar kaki si laki laki bermuka segi tiga yang menjegal kaki Ong It sin tadi.
Padahal waktu itu semua orang sedang bertepuk.
tangan sambil tertawa tergelak.
sudah tentu tak ada yang akan menduga kaluu secara tiba-tiba mereka bakal disergap orang.
Menanti kedua orang itu merasa kalau kakinya di tangkap orang dan menyadari kalau gelagat tidak menguntungkan, keadaan sudah terlambat.
Bersamaan dengan berdirinya dua orang manusia berbaju putih itu, lengan mereka segera digetarkan untuk mengangkat tubuh ke dua orang itu ke udara.
"Praaak"
Batok kepala dua orang laki laki itu segera beradu dengan kerasnya di udara.
Ketika dua orang manusia berbaju putih itu mengangkat korbannya ke udara tadi, gelak tertawa semua orang sudah terhenti.
Menyusul kemudian, sewaktu batok kepala dua orang itu saling beradu jerit kaget berkumandang silih berganti.
Tapi keadaan kembali sudah berubah, diiringi suara benturan keras.
Dua orang itu bisa jadi jagoan lihay dalam perkampungan Li keh ceng tentu saja ilmu silat mereka tidak masuk golongan yang berilmu rendah, tapi peristiwa itu benar benar terjadi diluar dugaan siapapun, jangankan untuk menghindarkan diri, untuk mengeluarkan ilmu silat mereka yang lihaypun tak sempat, tahu tahu nyawa mereka sudah keluar lenyap.
semua orang yang hadir disana tak ada yang berkutik semua orang berhenti tertawa.
Mereka tak tahu apa yang harus dilakukan, semua orang hanya berdiri dengan mulut melongo.
Dua orang manusia berbaju putih itu tertawa seram, mereka putar badan dan berbareng meleset ke arah muka.
Sambil menerjang maju ke depan, sepasang tangan mereka sama sekali tidak berdiam diri dan ...."Plak Plak Plak Plak"
Empat orang jago yang kebetulan berada disekitar mereka segera termakan oleh pukulan yang maha dahsyat itu hingga terpental kebelakang Pukulan itu betut-betul disertai dengan tenaga serangan yang maha dahayat, ketika keempat orang itu terhajar hingga mencelat ke udara, mereka menjerit kesakitan, darah kental muncrat keluar dari mulutnya, hal ini menunjukkan babwa ke empat orang itu kalau bukan mati, paling sedikit juga sudah menderita luka yang parah.
Seandainya pada waktu itu si Dewa perak Li Liong berada disana, maka dibawah komandonya keadaan pasti tak akan sekalut itu, tapi sekarang Li Liong tidak berada disitu, meskipun jumlah jago lihay yang berkumpul disatu banyak sekali, ular yang tak berkepala tak bisa jalan, demikian pula keadaannya dengan jago-jago itu.
Kecuali itu, yang jelas semua orang sudah dibikin keder lebih dulu oleh perbuatan dua orang manusia berbaju putih itu, melihat dua orang rekannya sudah terbunuh dan empat orang rekan lainnya terluka parah, nyali semua orang jadi ciut.
Mereka bukan saja tak berani maju untuk mengurung dua orang manusia berbaju putih itu, malah sebaliknya dengan wajah ketakutan masing-masing mengundurkan diri untuk mencari selamatnya sendiri Diantara sekian banyak orang yang mundur ke belakang, tiba-tiba muncul sesosok bayangan manusia yang justru menyerbu kedepan dan langsung menghampiri dua orang manusia berbaju putih itu.
Orang itu bukan lain adalah Ong It-sin Ketika anak muda itu berhasil merangkak bangun dari tanah, peristiwa telah berlangsung lebih jauh, bukan saja dua orang jago mati terbunuh, empat jago terluka parah, semua orang malah mundur dengan ketakutan.
Pemuda yang tolol ini masih belum menyadari kalau keadaan sudah berubah jadi gawat, ketika dilihatnya dua orang manusia berbaju putih itu berusaha lari ke depan menjauhinya, dia lantas menyangka kalau tawanannya itu hendak kabur menggunakan kesempatan itu.
Dengan hati yang gelisah cepat cepat dia menerobos keluar dari kerumunan orang banyak, lalu sambil menyongsong ke dua orang itu teriaknya keras keras.
"Hei, kalian berdua jangan kabur dulu. ayoh ikut aku menghadap pamanku ."
Sebenarnya suasana pada saat itu diliputi jeritan kaget yang ramai, tapi setelah Ong It sin tampil ke depan, seketika itu juga suasana berubah jadi hening, semua orang dibuat tertegun saking kaget dan herannya .......
Ong It sin sering kali bergaul dengan kawanan jago yang berdiam di perkampungan Li keh ceng tersebut, boleh dibilang semua orang tahu kalau ilmu silatnya cetek sekali.
Dan kini, semua orang juga tahu kalau kepandaian silat yang dimiliki dua orang manusia berbaju putih itu hebatnya bukan kepalang, bahkan mereka merupakan manusia buas yang tak berperikemanusiaan.
Maka ketika semua Oraug melihat Ong It sin menampilkan diri untuk menyongsong dua orang tersebut, rata-rata semua orang menyumpah dalam hati kecilnya.
"Sialan bocah dungu itu, kami saja takut untuk menghadapi kedua orang itu, kau malah maju menghampirinya. Hmm Bukankah keadaan ini ibaratnya domba yang menyongsong harimau? Menghantar kematian sendiri dengan cuma-cuma?"
Ong It sin meski dungu, semua jago dari Li keh ceng meski gemar menggodanya.
tapi kebanyakan tidak menaruh perasaan jahat kepadanya, maka ketika mereka saksikan pemuda itu menghantarkan diri kemulut harimau, seketika itu juga ada tujuh delapan orang diantaranya berteriak dengan perasaan kuatir.
"Hei cepat kembali Cepat kembali"
Ong It sin sama sekali tidak menggubris teriakan itu, selangkah demi selangkah dia maju terus hingga sampai tepat dihadapan dua orang manusia berbaju putih itu.
Selama anak muda itu maju ke depan, dua orang manusia berbaju putih itupun tidak melakukan gerakan apa-apa, mereka hanya mengawasi pemuda itu dengan pandangan dingin.
Begitu sampai dihadapan musuhnya, Ong It sin segera berteriak keras.
"Hmm ..... Belum cukup membakar perkampungan Li keh ceng, kalian bunuh orang lagi disini, perbuatan semacam ini betul-betul berbuatan yang pantas dijatuhi hukuman mati Hayo cepat menyerahkan diri dan ikut aku menghadappaman. Perbuatan kalian hanya bisa ditebus setelah dijatuhi hukuman yang setimpal oleh paman"
Dikala Ong It sin mengucapkan kata-kata tersebat, kawanan jago lihay perkampungan Li keh-ceng yang berada dibelakangnya cuma bisa saling berpandangan, hampir saja mereka anggap si anak muda itu sudah sinting, maka ia dapat mengucapkan kata-kata sinting seperti itu.
Dua orang manusia berbaju putih itu juga tak tahu asal usul dari Ong It sin, sekalipun dengan sangat mudah anak muda itu berhasil mereka robohkan, tapi dihadapannya juga jalan darahnya berulang kali kena ditotok .......
Dalam keadaan demikian, sulitlah bagi kedua orang manusia berbaju putih itu untuk menentukan apakah musuhnya itu betul betul tolol atau cuma pura pura tolol belaka.
Hening sesaat kemudian, mereka saling berpandangan sekejap kemudian tegurnya.
"Siapa pamanmu?"
"Kamu belum kenal dengan pamanku? Dia tak lain adalah Gan sin Li Liong, cengcu dari perkampungan Li keh ceng yang amat tersohor itu"
Mendengar jawaban tersebut, dua orang manusia berbaju putih itu terkesiap.
"oooh...jadi orang iri keponakannya Li Liong"
Pikir mereka kemudian.
"wah, kalau begitu ilmu silatnya tentu hebat sekali, dan lagaknya yang ketolol totolan itupun cuma lagak yang disengaja"
Berpendapat demikian, serentak mereka membentak keras, sambil menerjang ke muka, lengan mereka menyambar kemuka mencengkeram bahu si anak muda itu.
Ong It sin berseru tertahan, tubuhnya bergerak kebelakang siap menghindarkan diri.
Tapi gerakan tubuh orang itu sesungguhnya cepat luar biasa, baru saja pemuda itu bergerak mundur ujung jari tengah mereka sudah menempel di atas bahunya dan menyentil satu kali.
Termakan oleh sentilan tajam tadi, sekujur badan Ong It sin jadi kaku dan kesemutan, jangankan berkelit, untuk bergerakpun sukar rasanya.
Menyusul kemudian, dua orang manusia berbaju putih itu menerjang maju makin kedepan, lima jari mereka yang terpentang lebar langsung mencengkeram bahu anak muda itu.
Ong It sin menjerit keras.
"Hei, kamu berdua ...."
Teriakan itu baru diutarakan sampai tengah jalan, ketika secara tiba-tiba ia saksikan paras muka kedua orang musuhnya berubah hebat, sambil melepaskan cengkeramannya buru-buru mereka mundur ke belakang.
Begitu merasakan bahunya dilepaskan dan melihat juga kedua orang itu memandang kearahnya sambil mundur kebelakang berulang kali, Ong It-sin merasa punya kesempatan untuk menyerang balik, sepasang tangannya laptas diayun ke depan balas mencengkeram bahu kedua orang laki-laki itu.
Seandainya bukan manusia setolol Ong It sin yang menghadapi keadaan seperti itu, mereka pasti tahu kalau dua orang manusia berbaju putih itu sudah tertotok jalan darahnya, karena sepasang mata mereka terbelalak lebar dengan tubuh yang kaku.
Tapi sayang yang menghadapi keadaan itu justru adalah manusia setolol Ong It sin, dengan dasar ilmu silatnya yang amat cetek, sudah barang tentu ia tak tahu kalau kedua orang itu sudah tertotok dia malah mengira musuhnya takut ditangkap olehnya maka mundur dengan ketakutan.
Dengan muka yang sengaja dibengis bengiskan dia menyerobot maju ke depan kemudian dengan menggunakan segenap tenaga yang dimilikinya, ia cengkeram bahu mereka berdua.
Dalam keadaan tertotok jalan darahnya, sudah tentu dua orang manusia berbaju putih itu tak mampu menghindarkan diri dari cengkeraman Ong It sin, tak ampun lagi dada mereka sudah cengkeram erat erat.
"Hmm ... Akan kulihat kamu berdua mau kabur ke mana lagi"
Bentaknya keras keras.
Sejak Ong It sin menerobos keluar dari kerumunan orang banyak.
sampai ia berhasil menangkap dua orang manusia berbaju putih itu, waktu yang digunakan hanya sekejap mata.
Menanti anak muda itu berhasil mencengkeram dada ke dua orang musuhnya, lalu berpaling kawanan jago yang berada disekeliling tempat itu hanya bisa membelalakkan matanya lebar lebar dengan mulut melongo, semua orang merasa baru saja sadar dari suatu impian yang aneh.
Ong It sin yang tolol sudah tentu tidak mengerti apa sebabnya itu, bahkan ia tak pernah berpikir sampai kesitu, dengan suara yang keras dia segera berteriak lantang.
"Hei, pamanku berada dimana? Aku hendak membawa dua orang manusia sesat ini menjumpai pamanku" 00000dw00000
Jilid 3 SEKARANG tak ada orang yang merasa sangsi lagi kalau ada orang manusia berbaju putih itu adalah dua diantara empat manusia sesat dari Ciong lay, karena begitu turun tangan tadi, dua orang manusia berbaju putih itu sanggup melukai empat orang dan membunuh dua orang dalam waktu singkat.
Semua orang mengakui bahwa ilmu silat yang dimiliki dua orang manusia sesat itu luar biasa sekali dan kepandaian mereka tak mungkin bisa menandingi mereka.
Ong It sin sudah mengulangi pertanyaan-nya sampai beberapa kali, tapi suasana tetap hening, tak seorangpun diantara kawanan jago itu yang menjawab pertanyaannya.
Yaa, pada hakekatnya kawan jago itu sudah di buat tertegun, bahkan tercengang oleh kehebatan Ong It sin siapapun tak menyangka kalau pemuda yang selama ini dianggap tolol dan tak berilmu itu sanggup menaklukkan dua orang manusia sesat yang begitu lihay, bahkan dua orang sesat itu kelihatan ketakutan ketika pemuda tersebut menghampirinya.
Sudah tentu mereka tak tahu kalau kedua orang berbaju putih sudah tertotok lebih dulu jalan darahnya sebelum kena ditangkap oleh Ong It sin, mereka malah menyangka Ong It sin yang ketolol tololan itu sebetulnya adalah seorang jago silat yang berilmu tinggi.
Untuk sesaat lamanya, semua orang jadi teringat kembali akan perbuatan-perbuatan mereka diwaktu lampau dimana mereka sering kali mempermainkan pemuda itu.
Bagi mereka yang menggoda saja, saat ini hanya merasakan hatinya bingung dan tak tahu apa yang musti diperbuat, tapi bagi mereka yang pernah bersikap keras dan berbuat jahat kepada pemuda itu sekarang jadi ketakutan setengah mati sampai sampai peluh dinginpun mengucur keluar membasahi tubuhnya.
Selang sesaat kemudian, dua orang laki-laki berusia lima puluh tahunan munculkan diri dengan sikap ketakut-takutan, begitu sampai dihadapan Ong It sin, dengan munduk munduk mereka berkata.
"Ong kongcu, kau betul-betul seorang jago lihay yang pandai menyimpan diri, sehingga kami sekawanan jago silat kasaran pun kena di kelabuhi semua"
Selama hidup diperkampungan Li keh ceng, Ong It sin sudah terbiasa dipanggil dengan sebutan "bocah kunyuk"
Atau "si tolol"
Kalau tidak juga dipanggil tanpa sebutan nama tapi hanya "has haa hei hei"
Belaka, belum pernah ia dipanggil orang dengan sebutan "kongcu". Dan sekarang, muncul dua orang yang membahasai dirinya dengan sebutan "ong kongcu"
Ong It sin lantas mengira kalau mereka bukan sedang berbicara dengan dirinya, maka diapun ikut berpaling ke belakang.
Tapi ketika matanya memandang ke belakang, ternyata disitu tak ada orang lain, ini membuat anak muda itu jadi keheranan.
Sementara itu dua orang yang mengajak dia berbicara itu segera berprasangka kalau Ong It sin tak senang hati dan tak sudi memaafkan perbuatan mereka dimasa lalu, maka dia pura pura berpaling kebelakang.
Paras muka mereka berubah hebat, cepat serunya lagi.
"Ong kongcu, dahulu meski kami sering menggoda engkau, itupun cuma bersifat gurauan belaka, masa engkau tak sudi memaafkan kekhilafan kami semua?"
Ong It sin berpaling kembali, sekarang dia baru tahu kalau dua orang laki lak berusia lima puluh tahunan itu sedang mengajak dia berbicara, tapi pemuda itu tidak terlalu memperhatikan isi pembicaraan lawan, hanya dengan wajah kaget bercampur keheranan dia bertanya.
"Kalian....kalian sebut aku dengan panggilan apa?"
Dua orang itu semakin tersipu sipu.
"Ong kongcu bagaimanapun juga engkau adalah sanak keluarga dari Li cengcu, sekali pun kami membahasai engkau dengan sebutan kongcu, rasanya hal itu juga pantas, apa lagi yang perlu kau herankan?"
"Kongcu ... ? Kongcu ... ?"
Ulang Ong It sin sampai beberapa kali, tiba tiba wajahnya berseri.
"Aaaah Kalian semua memang terlalu sungkan sungkan, oya pamanku sekarang ada dimana?"
"Cengcu berada didalam lembah kecil sebelah depan sana"
Buru-buru semua orang berebut memberi keterangan.
"ia sedang memeriksa perempuan berambut panjang itu, harap kongcu segera kesitu"
Malah ada juga yang segera berseru.
"Biar kami yang membawa jalan untuk kongcu"
Untuk sesaat suasana jadi kacau hiruk pikuk penuh suara manusia, semua orang berusaha membaiki Ong It sin, semua orang berusaha mencari muka, melihat ini membuat si anak muda itujadi gelagapan sendiri "Eeehh eeh...
kalian tak usah repot-repot, biar aku pergi sendiri saja Biar aku pergi sendiri saja"
Sambil mengempit dua orang tawanannya, pemuda itu sebagai seorang jagoan yang berilmu sangat tinggi maka dikala Ong It sin menolak semua orang mengikuti di belakangnya maka tak seorang pun yang mengikutinya.
Kurang lebih sepuluh kaki kemudian, pemuda itu mendengar suara bentakan bentakan dari Li Liong berkumandang datang diri depan sana.
Cepat cepat Ong It sin menuju ke tempat berasalnya suara itu, setelah menikung disebuah selat yang sempit, akhirnya pemuda itu saksikan perempuan berambut panjang tadi diikat disebuah batu cadas dengan rotan-rotan yang berduri.
Sementara Li Liong serta beberapa orang jago andalannya sedang membentak-bentak dihadapannya, tapi perempuan berambut panjang itu cuma membungkam dalam seribu bahasa.
Begitu masuk kedalam lembah, Ong It sin segera berteriak keras.
"Paman Paman, aku telah datang"
Tanpa berpaling Li Liong membentak marah.
"Mau apa kamu kesini Enyah cepat-cepat dari hadapanku"
Ong It sin rada tertegun, tapi dengan cepat serunya kembali.
"Tapi Coa tayhiap suruh aku membawa kedua orang ini ke sini, kedua orang itu adalah orang orang dari Ciong Lay su-shia"
Li Liong melengak lalu berpaling, diliriknya sekejap dua orang manusia yang ada dikempitan Ong It sin, kemudian sekali lompat kedepan, dua orang itu sudah dirampasnya.
"Coa tayhiap ada dimana?"
Tegurnya lagi.
"Coa tayhiap terkena pukulan beracun yang di lepaskan dua orang itu, dia sudah pergi merawat lukanya"
"Ehmm Cepat kau pergi dari sini, jangan pergi ke sembarangan tempat"
"Tapi kedua orang itu. ..."
Belum hasil dia berkata, Li Liong kembali sudah membentak.
"Tak usah banyak bicara, cepat pergi dari sini. Di tempat ini sudah tak ada urusanmu"
Ong It sin sangat tersinggung oleh bentakan pamannya, ia makan hati, tapi tak berani berkata apa apa terpaksa dengan wajah murung dia mengundurkan diri ke depan mulut lembah sempit tersebut.
Sementara itu Li Liong sudah membentak dengan suara lantang.
"Aku harap satu diantara kalian bertiga mau buka untuk berbicara terus terang kau tidak .... Hmm Jangan salahkan kalau kukubur kalian begitu dalam keadaan hidup hidup,"
Begitu mendengar bentakan dari pamannya itu tiba tiba Ong It Sin berhenti, kemudian sambil berpaling ia berseru.
"Paman, kau tak bisa menyalahkan mereka bertiga"
Kemarahan yang berkorban dalam benak Li Liong ketika itu sudah hampir tak terkendalikan, ia jadi semakin naik darah begitu mendengar Ong It sin ikut menimbrung dari samping.
"Enyah kau dari sini"
Jeritnya.
"kalau tidak. jangan salahkan kalau kutendang dirimu sampai ke luar kuning telurnya"
Seandainya Ong It Sin agak pintar, waktu itu dia pasti sudah mengambil langkah seribu.
Tapi pada dasarnya ia memang goblok lagipula tololnya tak ketulungan, pemuda itu merasa kalau ucapan yang tersimpan dalam hatinya tidak di utarakan keluar maka rasanya kata-kata tersebut merupakan tulang yang mengganjal dalam tenggorokkan, tak enak rasanya sebelum diutarakan keluar.
Maka sekalipun badannya mundur lagi beberapa langkah dari situ, mulutnya tetap berseru.
"Paman, kalau jalan darah mereka belum dibebaskan, bagaimana mungkin mereka bisa berbicara? Dan mana boleh kau salahkan ketiga orang itu?"
Sewaktu dilihatnya Ong It Sin masih juga ngebacot tiada habisnya, dengan penuh kemarahan Li Liong benar-benar hendak mengejar pemuda itu untuk menyepaknya keluar dari selat tersebut.
Tapi setelah mendengar seruan tersebut dan ia merasa perkataan itu ada benarnya juga, serta merta jagoan dari Li keh ceng ini jadi termangu.
Sejak perkampungan Li keh ceng yang dibangunnya dengan susah payah dibakar orang, kemarahan yang berkobar dalam dada Li Liong hampir saja membuat jago itu jadi kalap.
Untung dia adalah seorang jago kawakan yang berpengalaman luas, kemarahan tersebut sedikit demi sedikit dapat dikendalikan kembali, hingga pikirnya juga sampaijadi kalut.
Sejak membelenggu perempuan berambut panjang itu diatas batu cadas, ia telah menggunakan pelbagai cara untuk membebaskan jalan darah si perempuan berambut panjang yang tertotok itu dia ingin mengorek pelbagai keterangan dari perempuan itu agar mengetahui siapa dalang yang berada dibelakang mereka.
Tapi hasilnya ternyata nihil, perempuan berambut panjang itu tetap membungkam dalam seribu bahasa.
Sudah tentu Li Liong juga dapat menduga kalau hal ini kemungkinan besar disebabkan jalan darahnya belum dibebaskan, tapi setelah berpikir lebih jauh, ia merasa hal ini hanya disebabkan oleh satu alasan yakni pihak lawan pura pura berlagak mampus.
Maka ketika mendengar perkataan dari Ong It Sin itu, hatinya jadi tergerak.
dengan mata melotot segera bentaknya.
"Darimana kau bisa tahu?"
Ong It Sin sudah terbiasa dibuat ketakutan menghadapi pamannya, melihat Li Liong mendelik, saking takutnya dia malah tak mampu mengucapkan sepatah katapun.
"Hayo bicara"
Bentak Li Liong lagi.
"Eeh... eeh... untuk untuk membebaskan jalan darah kedua orang ini, kita harus menuding hidungnya sambil memaki maki, kalau dia sudah kenyang kita maki, tentu jalan darahnya akan bebas dengan sendirinya ......."
Sudah puluhan tahun Li Liong berkelana dalam dunia persilatan, pelbagai kejadian aneh dan berita aneh pernah dia alami, tapi belum pernah menjumpai kejadian seaneh yang dialaminya hari ini.
"Kentut busuk bapakmu"
Kontan saja dia memaki dengan dahi yang berkerut kencang.
"Tidak paman, benar benar bukan kentut busuk bapakku, kalau tidak percaya boleh dicoba"
Ngotot Ong It sin.
Sekali lagi Li Liong terbelalak keheranan.
Yaa terlalu banyak kejadian aneh yang dialaminya hari ini.
Pertama, tiga orang yang mengaku bernama Ciong Lay su shia mencatut nama empat iblis sesat yang telah mati lama.
Kedua, tanpa sebab musabab yang jelas mereka membakar perkampungan keluarga Li.
Dan ketiga, dalam usaha pengejarannya atas perempuan berambut panjang, tiba tiba jalan darahnya ditotok orang, meski dia sudah berusaha dengan segala kemampuan yang dimilikinya bukan saja tidak diketahui siapa pembantunya itu, diapun gagal membebaskan jalan darahnya.
Atas dasar beberapa kejadian aneh itu, siapa duga kalau perkataan dari Ong It Sin bukan cuma bualan belaka?
Berpikir sampai disitu, dia lantas mengangkat si laki laki baja putih yang berada ditangan kanannya.
"Kalau begitu, kau boleh membebaskan dulu jalan darah orang ini"
Perintahnya kemudian. Ong It sin tak berani membantah, dia maju ke muka, lalu sambil menuding ujung hidung orang berbaju putih, dia, mulai melontarkan kata kata makiannya.
"Monyet jelek. kalau cuma membakar perkampungan keluarga Li mah terhitung dosa yang enteng, barusan ketika ada dilembah keluarga Li, kenapa kau bunuh Thio samya dan Hi toako, Kenapa kau lukai juga empat orang jago lihay dan perkampungan kami? Monyet jelek. dosamu sudah bertumpuk tumpuk, jiwamu tak boleh diampuni lagi"
Sementara itu Li Liong agak tertegun ketika mendengar ucapan tersebut.
"Peristiwa itu kapan terjadinya?"
Dia lantas bertanya.
"Barusan saja"
Kembali Li Liong menengok sekejap pada dua orang manusia berbaju putih itu, dia lihat bukan saja sinar matanya tajam, lagi pula kedua keningnya menonjol ini membuktikan kalau mereka adalah jago jago lihay yang mempunyai tenaga dalam amat sempurna.
Tentu saja dengan dasar tenaga dalam sesempurna itu, bukan mustahil jika jago-jago perkampungannya dibantai mereka, tapi segera timbul pula suata kecurigaan dihati kecil Li Liong.
"Andaikata jago jago perkampungannya benar-benar dibantai mereka, lantas siapa pula yang berhasil membekuk kembali dua orang manusia berbaju putih ini?"
Dengan perasaan ingin tahu dia lantas bertanya.
"Lalu siapa yang kemudian membekuk mereka lagi?", Ong It sin tertawa jengah.
"Heeehhh ..... .heeehhh... heeehhh... siapa lagi paman? sudah tentu aku. Begitu aku maju ke depan, mereka lantas kubekuk batang lehernya."
Mendengar jawaban itu, Li Liong merasa yaa geli, yaa dongkol, dia cuma bisa gelengkan kepalhanya sambil mengeluh.
"Ong-It sin... wahai Ong It sin ... sebetulnya kau tidak terhitung orarg yang sama sekali tak berguna, sebab jelek jelek begini kau masih termasuk orang yang jujur. Tapi sekarang, ....oh, rupanya kau mulai pandai membual, mendingan kalau bualannya masuk diakal, ibaratnya tong kosong bunyinya nyaring, kau memang mirip sekali dengan katak buduk dalam sumur, tak tahu diri"
"Paman, Aku tidak bohong"
Teriak Ong It sin sambil mencak mencak karena gelisah.
"sungguh, Aku tidak bohong, pokoknya kalau aku sampai bohong, biar anak keturunanku ditumpas"
"Telur busuk bapakmu"
Bentak Li Llong jengkel. Ong It Sin makin gelisah, apalagi ketika mengetahui kalau pamannya tidak percaya, maka kepada orang berbaju putih itu dia berteriak.
"Hei, katakan kepada pamanku, bukankah aku yang menangkap kalian, berdua ....."
Sambil berkata ditonjoknya ujung hidung orang berbaju putih itu keras keras.
Dengan ditonjoknya ujung hidung tersebut, secara otomatis jalan darah si laki laki baju putih yang tertotokpun menjadi bebas kembali, bagitu merasa aliran darahnya berjalan lancar kembali, serta merta orang itu meronta dengan sepenuh tenaga.
Waktu itu Li Liong baru saja akan mencaci maki kebodohan Ong It sin, ketika merasakan timbulnya tenaga yang amat besar menerjang telapak tangan kirinya, dia jadi kaget, apalagi tenaga rontaan itu sedemikian kuatnya sehingga hampir saja kelima jari tangannya terlepas dari cengkeraman.
Sambil membantak keras Li Liong memperkencang cengkeramannya, lalu lututnya disodok keatas tepat menghantam jalan darah Wi kiu hiat di tubuh lawan.
Padahal waktu meronta dari cekalan orang tadi laki laki berbaju putih sudah menyiapkan sebuah pukulan dahsyat, untung sodokan Li Liong menghantam jalan darah Wi kiu hiatnya lebih dahulu, sehingga dengan begitu hawa murninya kembali menjadi buyar, meski akhirnya pukulan itu sempat mampir dibadan Li Liong, pukulan itu sudah tidak berarti lagi .....
Kejut dan kagum Li Liong melihat kelihayan lawannya, dan tak menyangka kalau orang masih sanggup melepaskan serangan dahsyat kendatipun bahunya sudah dicengkeram.
Setelah musuh tak berkutik, dia membaringkan pula laki laki berbaju putih itu yang ada ditangan kirinya, lalu punggung orang itu diinjak dengan kaki.
Bersamaan itu juga dan melepaskan kembali sebuah totokan yang tepat menghantam dijalan darah Leng tay hiat.
Dalam keadaan begini, orang berbaju putih itu benar benar mati kutunya, dan tak mampu berkutik lagi.
"Bajingan keparat"
Hardik Li Liong kemudian "siapakah kalian? Siapa yang menitahkan kalian membuat keonaran disini?"
"Heeehhh ..... heeehhh... hheeehhh... kami adalah Ciong lay su shia, empat manusia sesat dari bukit Ciong lay ....... Li cengcu Masa kau tidak tahu?"
Seru laki laki berbaju putih sambil memperdengarkan suara tertawanya yang menggidikkan hati.
"Huuh, Ciong lay su shia sudah mampus sejak dulu, dari mana munculaya Ciong lay su shia lagi?"
Meski sudah terjatuh ditangan lawan, ternyata orang berbaju putih tak mau kalah bersilat lidah, kembali dia berkata.
"Yang mampus memang tak bisa bangkit lagi dari liang kuburnya, tapi kau jangan salah sangka, Ciong-Lay su shia yang kau hadapi sekarang adalah Ciong lay su-shia kelompok baru, ilmu silat kami justru jauh lebih hebat dari pada Ciong lay su-ahia yang sudah koit, tahukah kau?"
Li Liong tertawa dingin.
"Heee... heeehhh... heeehhh... apa gunanya ilmu silat yang hebat? Toh akhirnya jatuh pula ke tanganku"
Ejeknya.
"Memangnya kau yang berhasil menangkap kami?"
Dengus orang berbaju putih itu.
Tertegun Li Liong setelah mendengar perkataan itu, yaa, jangankan dua orang manusia berbaju putih itu, bahkan si perempuan berambut panjangpun bukan hasil tangkapannya sendiri.
Li Liong masih termangu, manusia berbaju putih itu telah berkata lagi.
"Lebih baik lepaskanlah kami bertiga selekas mungkin, dengan begitu selembar jiwamu akan selamat, kalau sampai guruku mendapat tahu dan menyusul kemari, aku kuatir kau sendiripun akan turut mampus"
Kembali Li Liong merasakan hatinya tergetar keras.
"Siapakah guru kalian?"
Ia bertanya kemudian Manusia berbaju putih itu tertawa seram.
"Heeehhh....heeehhh... heeehhh....siapakah gurunya Ciong lay su shia? Li cengcu, kau toh bukan anak kemarin sore yang tak punya pengetahuan apa apa, masa soal ini saja tidak tahu dan harus ditanyakan kepada kami?"
"Jadi say siujin mo (manusia iblis berkepala singa) si makhluk tua itu masih hidup didunia ini?"
Pekik Li Liong saking terkejutnya. Sekali lagi manusia aneh berbaju putih memperdengarkan suara tertawa anehnya yang menggidikkan hati.
"Heeehhh... heeeehhh... heeehhhh... kecuali dia, siapa lagi yang pantas menjadi guru kami?"
Perasaan bergidik gelombang menerpa perasaan jago tua dari perkampungan keluarga Li ini, kendatipun ilmu silat yang dimilikinya cukup lihay, kedudukannya terhormat, pergaulannya luas dan dia bukan seorang manusia yang takut urusan, tetapi mendengar nama say siujin mo disinggung, entah apa sebabnya perasaan takut yang luar biasa hebatnya menyelimuti seluruh benak dan perasaannya.
Tentu saja hal ini sebagian besar disebabkan karena kepandaian silat dari Say siu jin-mo terlampau tinggi, tindak tanduknya terlampau buas dan cara kerjanya demikian menakutkan.
Yaa, meskipun pada beberapa tahun berselang say siu jin mo sudah dikerubuti begitu banyak jago lihay dari pelbagai perguruan sehingga tubuhnya terjatuh ke dalam jurang, meskipun lebih banyak nasib buruk daripada nasib baik, tapi mayatnya tak pernah ditemukan oleh siapapun, dan peristiwa itu membuat banyak orang persilatan tidak tenang.
Selama beberapa tahun belakangan ini, orang masih berusaha menemukan mayat say siu jin mo di sekitar jurang, semua orang ingin membuktikan apakah dia benar benar sudah mati atau belum.
Tapi kini, jawabannya sudah muncul dengan sendirinya, bukan saja say-siujin mo belum mati malah sudah menerima empat orang murid untuk mengacau dunia persilatan.
Lama sekali Li Liong berdiri tertegun, dia tak tahu bagaimana harus menyelesaikan persoalan ini, melepaskan manusia manusia baju putih itukah?
Atau tidak melepaskan mereka.
Dengan perasaan bimbang dia lantas, bertanya lagi.
"Mengapa kalian memilih perkampungan keluarga Li sebagai sasaran yang pertama?"
Manusia berbaju putih itu tertawa dingin.
"Heeehhh.... heeehhh.. heeehhh... nama besar perkampungan keluarga Li sudah tersohor sampai dimana mana, kalau kita basmi perkampungan ini, maka tidak sampai tiga lima hari kemunculan suhu kami dalam dunia persilatan pasti akan diketahui oleh setiap umat persilatan di dunia ini ...."
Keadaan Li Liong ketika itu sungguh amat sulit, bukan saja ia merasa serba salah, pikirannya juga teramat kalut.
Seandainya dia hendak membinasakan ketiga orang itu, pada hakekatnya hal tersebut bisa dilakukan segampang membalikkan telapak tangan ......
Tapi jika ketiga orang itu dibunuh, niscaya say siujin mo tak akan berpeluk tangan, iblis itu pasti akan berdaya upaya untuk membalaskan dendam bagi kematian murid-muridn Hingga kini jago-jago persilatan masih belum tahu akan kemunculan makhluk tua itu, tentu saja Li Liong tidak tahu bagaimanakah sikap khalayak ramai terhadap makhluk tua tersebut.
Seandainya semua orang berhasrat untuk bekerja sama guna melenyapkan makhluk tua itu, sudah barang tentu Li Liong juga tak akan takut untuk membinasakan ketiga orang itu.
Tapi hati manusia lebih dalam dari samudra, siapa tahu Kalau jiwa orang persilatan jaman sekarang adalah jiwa tempe, kalau mereka pada takut terhadap iblis tua itu lantas mengambil sikap mencuci tangan dari urusan orang lain?
Yaa, kalau semua orang mencari selamatnya buat diri sendiri, sudah tentu dia harus bertarung sendiri melawan iblis lihay tersebut Dan inilah yang paling dikuatirkan Li Liong.
Rupanya maausia berbaju putih itu dapat menebak suara hati Li Liong, dia berkata.
"Li cengcu, kemunculan suhuku pada kali ini berbeda jauh dengan keadaannya dulu, sebab beliau telah berhasil menguasahi ilmu Kiu thian to-sou kang (ilmu sembilan langit kekuatan sakti) suatu kepandaian kaum sesat yang paling tinggi"
"Kiu thian to sou kang? Bukankah ..... bukankah....ilmu sesat itu sudah lama lenyap dari peredaran dunia persilatan?"
Bisik Li Liong setelah tertegun sejenak. Manusia berbaju putih itu tertawa dingin.
"Mau percaya atau tidak terserah kepadamu sendiri, pokoknya kami hanya ingin tahu, sebenarnya kau hendak melepaskan kami atau tidak? Jawab saja terus terang"
Li Liong menjadi ragu ragu, untuk sesaat lamanya dia tak tahu bagaimana harus mengatasi keadaan tersebut. Ong It Sin kembali berlagak sok pintar, tiba tiba, ia menyela dari samping.
"Paman, siperempuan rambut panjang dan dua orang manusia berbaju putih itu sudah membantai orang orang kita, bagaimanapun juga mereka tak boleh dilepaskan, sebab kalau sampai mereka dibiarkan pergi, jago jago dalam perkampungan keluarga Li kita tentu akan ikut ludas"
Jangan dianggap Ong It sin itu bodoh, ternyata apa yang diucapkan memang cukup beralasan.
Seperti yang dia katakan barusan, seandainya Li Liong sampai melepaskan ketiga orang itu, bukan saja nama baik perkampungan keluarga Li akan ternoda dan tak sanggup tancapkan kaki lagi dalam dunia persilatan, sekalipun para jagonya juga bakal buyar dan tak sudi mengikuti dirinya lagi.
Li Liong menjadi semakin tertegun, akhirnya sambil menggigit bibir dia menyahut.
"Apa yang kau ucapkan memang benar"
Selama berhadapan dengan pamannya, Ong It-sin hanya tahu dimaki dan disalahkan belum pernah ia mendengar kata-kata semacam ini, maka setelah mendengar perkataannya saking gembiranya ia sampai mencak mencak seperti orang edan.
Tiba tiba dari arah belakang berkumandang suara langkah kaki manusia yang berat.
Ong It sin segera berpaling, dijumpainya seseorang sedang memasuki lembah tersebut dengan langkah yang lambat.
Tapi begitu diketahui siapa gerangan orang itu, kontan saja Ong It sin berdiri terbelalak.
untuk sesaat lamanya hampir saja ia tidak percaya dengan pandangan mata sendiri, sedang orang itu lambat laun semakin mendekat kehadapannya.
Kekagetan dan ketertegunan Ong It sin bukan lantaran orang itu mempunyai bentuk wajah yang aneh, bukan orang itu malah memiliki muka yang cukup keren, berwibawa dan masih setengah umur lagi.
Akan tetapi Ong It sin masih teringat cukup jelas, ia pernah berjumpa dengan orang itu jadi kali ini adalah untuk kedua kalinya mereka bertemu.
Hanya, pertemuan yang pertama kali dulu, pemuda itu merasa orang bukan manusia sungguhan, dia menganggapnya sebagai si patung pemujaan dalam kuil bobrok.
Yaa, tak salah lagi orang itu memang patung pemujaan dalam kuil bobrok yang pernah digunakan untuk berteduh dari curahan hujan ketika dia dalam perjalanan, pulang ke perkampungan keluarga Li belum lama berselang .........
Waktu itu, ketika dia bertemu dengan patung pemujaan tersebut, memang pernah timbul perasaan heran pada Ong It Sin, dia merasa patung itu mirip manusia hidup, akan tetapi, oleh karena patung itu sama sekali tak bergerak.
anak muda itupun tidak melakukan pameriksaan dengan lebih seksama.
Dan kini, secara tiba-tiba ia berhadapan dengan sesosok "patung"
Yang secara mendadak berubah menjadi manusia hidup, malah berjalan menuju kearahnya pula, bagaimana mungkin hatinya tidak kaget?
Bagaimana mungkin hatinya tidak tercekat?
Kalau Ong It sin melulu heran saja karena menganggap patung pemujaan dapat berjalan sendiri, maka lain halnya dengan Li Liong, ia terkejut bercampur ngeri, ditatapnya kemunculan orang itu dengan mata melotot.
Bayangkan saja, langkah orang itu kendatipun tampaknya sangat lambat dalam kenyataan enteng dan penuh berisi kekuatan, siapapun sebagai ahli silat akan segera mengetahui bahwa orang itu adalah seorang jago tangguh yang memiliki tenaga luar maupun tenaga dalam yang sempurna, apalagi Li Liong memang memperhatikan secara bersungguh-sungguh.
Selain daripada itu, raut wajah laki laki setengah baya itu cukup keren dan berwibawa, sama sekali tidak mengandung hawa kesesatan, timbul kesan baik Li Liong terhadapnya.
Maka sambil memberi hormat dia menyapa.
"siapa saudara?"
Waktu Li Liong menyapa, laki-laki setengah umur itu sudah berhenti kurang lebih beberapa kaki dihadapan lawannya, lalu menjawab.
"Namaku tiada artinya bagimu, lebih baik tak usah disinggung"
"Kalau begitu apa maksud kedatangan saudara ...."
"Aku datang dengan membawa satu pengharapan dari saudara"
Tukas laki laki itu sebelum pihak lawan menyelesaikan kata katanya.
Li Liong agak tertegun, ia masih belum paham maksud kedatangan laki laki setengah umur itu, maka tergelaklah jago dari keluarga Li ini.
"Haaahhh... haaahhh... haaahhh... kalau memang mempunyai suatu pengharapan, apa salahnya kalau diutarakan keluar?"
"Ketiga orang ini adalah sahabat sahabatku"
Kata laki-laki setengah umur itu kemudian sambil menuding ke arah dua orang lelaki berbaju putih dan perempuan berambut panjang itu.
"sekalipun mereka telah berbuat kesalahan hingga di tangkap Li cengcu, toh kesalahan yang mereka lakukan tidak terlampau berat, karena itu aku minta agar Li cengcu bersedia membebaskan mereka"
Sekalipun nadanya bersifat mintakan ampun, tapi cara mengungkapkan kata katanya cukup ketus dan kasar, sedikitpun tidak berniat untuk minta secara baik baik, Dikala laki-laki itu menyinggung tentang "ke tiga orang itu", paras muka dewa perak Li Liong yang putih keperak perakan sudah agak berubah, apalagi setelah mendengar perkataan yang sifatnya setengah memaksa kontan saja ia tertawa dingin tiada hentinya.
"oooh..Jadi kalau begitu, engkaupun salah seorang diantara Ciong lay su shia?"
Ejeknya.
"Benar"
Orang itu mengangguk.
"Dengan cara yang brutal kalian berempat telah membakar perkampungan keluarga Li hingga hancur berantakan, Heeehhh ....heeeehhh...heeehh... memangnya kau anggap peristiwa tersebut dapat kusudahi dengan begitu saja hanya berdasarkan beberapa patah katamu itu?"
Dalam perkiraan Li Liong dampratan yang cukup pedas dan terang-terangan ini paling sedikit akan membuat pihak tawan gelagapan dan tak mampu menjawab, siapa tahu laki-laki setengah umur itu malah tertawa tergelak.
"Haaahhh .... haahhh... haaahhh... Li cengcu"
Demikian serunya.
"kendatipun kami telah membakar perkampungan keluarga Li, toh nyawamu telah kami ampuni, hal ini sudah merupakan suatu kehormatan bagimu .......apalagi yang kau harapkan .....?"
Sebaik-baiknya watak Li Liong, setebal-tebalnya iman jago tersebut, meledak juga hawa amarahnya sesudah mendengar perkataannya, dia membentak keras, sepasang telapak tangangnya segera ditepukkan satu sama lainnya keras keras ......"Criiiing "
Bagaikan ada dua batang besi baja yang saling membentur, serentetan suara nyaring berkumandang memekikkan telinga, menyusul kemudian telapak tangannya didorong berbareng ke depan.
Gulungan angin pukulan yang maha dahsyat segera, menyapu ke tubuh lawan ibaratnya amukan ombak samudra dilanda angin puyuh.
Pada dasarnya kaki Li Llong memang menginjak diatas dada dua orang laki laki berbaju putih itu, dengan dikerahkannya tenaga untuk melancarkan serangan tersebut, secara otomatis tenaga injakannya pada dada kedua orang itupun bertambah berat.
Padahal kedua orang lelaki berbaju putih itu tergeletak dengan jalan darah yang masih tertotok.
untuk saja mereka tak sanggup untuk membendung datangnya daya tekanan yang maha dahsyat itu dengan mengerahkan tenaga dalamnya, tak ampun, lagi isi perut mereka terluka dan darah kental segera menyembur keluar dari mulutnya.
Rasa dendam Li Liong terhadap keempat orang ita sudah merasuk hingga ketulang sumsum, meskipun dia tahu bahwa injakan yang berkelanjutan akan mengakibatkan hilangnya nyawa dua orang lelaki berbaju putih itu, tapi dalam keadaan seperti ini, tak sempat lagi si Dewa perak Li Liong untuk memikirkan soal ikatan dendam itu, apa yang dipikirkan kini hanya bagaimana caranya menaklukkan lawan.
Setelah serangan yang pertama dilancarkan, secara beruntun dia melancarkan kembali tiga buah pukulan berantai, pukulan demi pukulan dilancarkan dengan kekuatan yang besar.
Berubah hebat paras muka laki-laki setengah umur itu ketika dilihatnya dua orang lelaki berbaju putih muntah darah, dengan tubuh yang tetap menegak mendadak dia melambung keatas udara.
Tubuhnya meluncur setinggi tujuh delapan depa ke udara, dengan gerakan itu terhindarlah dia dari serangan gelombang pertama yang dilancarkan Li Liong.
Tapi jagoan dari perkampungan keluarga Li ini bukan orang bodoh, serentak serangannya gelombang kedua diarahkan ke atas.
Padahal tubuh laki laki setengah umur itu masih berada ditengah udara, dengan tibanya gulungan angin pukulan yang maha dahsyat dari Li Liong ini, semestinya sulit bagi orang itu untuk menghindarkan diri Li Liong lantas beranggapan bahwa serangan ke dua yang dilancarkan ini niscaya akan berhasil mendesak turun musuhnya, atau paling sedikit memaksanya berada di bawah angin.
Laki laki setengah timur itu memang teramat hebat, bukan saja gerakan tubuhnya secepat sambaran petir, anehnya bukan kepalang, d ika la pukulan dari Li Liong menghantam ke atas, mendadak ia menarik hawa murninya sambil memberosot turun, seperti batu yang dijatuhkan dari tengah udara, tubuhnya langsung meluncur ke bawah.
Waktu melambung ke udara gerakannya sudah terhitung cepat, apalagi waktu meluncur ke bawah kecepatannya semakin luar biasa.
"Blaaaaaang....."
Tahu-tahu tubuhnya sudah mencapai permukaan tanah, dengan demikian serangan gelombang kedua dari Li Liong kembali mengenai sasaran yang kosong.
Perubahan tersebut sungguh diluar dugaan Li Liong, cepat-cepat arah serangannya dirubah kembaki ke bawah, sayang gerakannya terlambat satu tindak.
Laki-laki setengah umur itu tidak berpeluk tangan belaka, begitu badannya mencapai permukaan tanah, kedua jari tangan kanannya serentak menyentil kedepan melancarkan dua totokan udara kosong.
"sreeet sreeet "
Setajam bacokan golok, desingan angin jari itu menyerang jalan darah Wi tiong hiat.
Berada dalam posisi yang sulit, apalagi ancaman musuh berada didepan mata, mau tak mau terpaksa Li Liong harus mundur ke belakang, begitu tubuhnya berkelit kesamping, ia menggeser dua langkah, dengan demikian semakin jauhlah dia tinggalkan dua orang lelaki berbaju putih.
Tampaknya serangan maut yang dilancarkan lelaki berusia setengah umur itu cuma bermaksud untuk memaksa mundur Li Liong dan menyelamatkan jiwa kedua orang rekannya dapat dilihat dari gerakan selanjutnya yang dilakukan orang itu.
Dikala Li Liong mundur, dia maju sambil mengebutkan ujung bajunya, segulung tenaga pukulan yang lembut segera menyapu tubuh laki laki berbaju putih dan melemparkan mereka beberapa kaki jauhnya dari tempat semula.
Begitu selesai mengebaskan pukulannya, sambil sedikit miringkan badan dia melancarkan kembali sebuah pukulan untuk menyambut datangnya ancaman.
Kebetulan pada waktu itu Li Liong sedang melepaskan pukulan dahsyat gelombang ke tiganya.
Dengan selisih jarak tujuh sampai delapan depa antara dua orang yang sedang bermusuhan itu, tak mungkin sepasang telapak mereka saling beradu satu sama lainnya.
Tapi kekuatan serangan yang dilakukan kedua orang itu memang terlampau dahsyat, buktinya ketika kedua gulung angin pukulan itu mencapai tengah jalan, suatu benturan dahsyat tak terhindarkan lagi .
"Blaang"
Diiringi ledakan keras yang memekikkan telinga, himpunan tenaga pukulan membuyarjadi beberapa jalur serangan, seketika itu juga timbul sapuan angin taupan yang menyebar ke delapan penjuru.
Baik Dewa Li Liong maupun lelaki setengah umur, kedua-duanya merupakan tokoh persilatan kelas satu dalam dunia persilatan, tentu saja tenaga pukulan yang dilakukan mereka dalam bentrokan tersebut tak kalah hebatnya.
Pertama-tama Ong It sin yang tak tahan, dengan sempoyongan dia mundur sampai beberapa langkah, bahkan delapan belas langkah kemudian belum juga henti, sebaliknya Li Liong maupun lelaki setengah umur cuma tergetar sedikit saja untuk kemudian masing-masing pihak terlibat kembali dalam pertarungan yang seru.
Dalam pada itu Ong It sin sudah mundur dua tiga puluh langkah lebih, ia sudah berada didalam sebuah gua sebelum gerakan mundurnya betul betul terhenti.
Tapi sebelum berdiri tegak.
badannya kembali menjadi gontai, dan "Bluuk"
Ia jatuh terduduk. Ong It Sin melongo, kemudian pikirnya.
"Aduuh mak, hebat benar pukulan itu ....."
Dia berusaha untuk merangkak bangun, sebelum maksudnya kesampaian, tiba-tiba dari belakang terdengar seseorang tertawa cekikikan.
"Waduh, ada emas lantakan segede gajah"
Serunya dengan suara yang lembut dan merdu, jelas suara seorang gadis.
Sekalipun sudah biasa digoda dan dipermainkan orang, tak urung merah padam juga wajah Ong It sin karena jengah, buru-buru dia merangkak bangun sambil berpaling ke belakang.
Tapi setelah dia menoleh kebalik gua tersebut, kembali sianak muda tertegun.
Barusan dengan jelasnya dia mendengar ada orang mentertawakan dirinya, malah mencemooh lagi, tapi setelah dia berpaling kearah berasalnya suara itu, ternyata tak kelihatan seorang manusia pun.
Gua itu memang sangat dalam, gelap gulita lagi, sudah tentu bagi manusia semacam Ong It sin yang berilmu cetek tak dapat melihat jauh lebih ke dalam, jadi adakah seseorang dibalik gua, dia sendiripun tidak tahu.
Dalam keadaan begini, Ong It sin cuma bisa meringis simbil menyengir kuda.
"sobat, jangan mentertawakan aku dong"
Keluhnya.
"sekalipun aku jatuh terduduk. tapi .......heeehhh....heeehhh... heeehhh....pantatku kan tidak sampai sakit"
Sekali tolol selamanya tetap tolol, demikian halnya dengan Ong It sin.
Seandainya dia tidak memberi pembelaan, keadaannya masih mendingan, tapi begitu dia membela diri ketahuanlah ketolol tololannya.
Kontan saja gelak tertawa cekikikan kembali berkumandang dari balik gua.
Menyusul tertawa cekkikan tadi, kedengaran seorang gadis berkata dengan suara yang lembut.
"suko, coba lihat orang itu, menarik sekali Haaahhh .... hhhaaahhh....haaahhh... rupanya sebelum pohon besi dapat berbunga, dia tak akan merasa puas"
"Huuuh. Apanya yang menarik dengan orang tolol seperti itu?"
Jengek laki laki muda lainnya setengah menghina.
"lebih baik tak usah gubris" 0-dw-0
"SUKO, coba kau lihat mimik wajahnya, Hiiihhh... hiiihhh... hiiihhh..."
Tiba-tiba gadis itu tertawa cekikikan lagi sebingga perkataannya kembali terpotong.
Ong It sin melongo seperti orang tolot, dia mencoba untuk meraba wajahnya, meraba bibirnya yang tebal, hidungnya yang "mekar", lalu melongo-longo lagi, dia tak tahu keanehan apakah yang terdapat diatas wajahnya sehingga menimbulkan gelak tertawa si nona.
Makin panik anak muda itu makin keras gelak tertawa si nona, sebab tingkah laku Ong It sin ketika itu tak ubahnya seperti monyet kena terasi, yaa, bayangkan sendiri kalau seseorang bertampang jelek tiba-tiba panik dihadapan anak muda, keadaannya pasti runyam.
Akan tetapi, Ong It sin tidak merasakan gelak tertawanya itu sebagai suatu cemoohan atau penghinaan haginya, sebab tertawa si nona begitu merdu, begitu menawan hati, ibaratnya keliningan berbunyi nyaring.
Akhirnya anak muda itu malah tertawa sendiri sapanya.
"Eeeh, siapa kalian? Kenapa bersembunyi di dalam gua?"
Baru saja ia menyelesaikan kata katanya, tiba-tiba gelak tertawa si nona berhenti, menyusul kemudian Ong It-sin merasakan tibanya segulung hembusan angin tajam yang menerpa wajahnya, tahu-tahu dihadapannya telah bertambah dengau sesosok manusia.
Ong It sin kaget sebab secara tiba-tiba muncul seseorang yang berdiri sedemikian dekat dengan dirinya, tanpa sadar serta merta dia mundur ke belakang.
Tapi, baru saja tubuhnya akan bergerak mundur, tahu-tahu bagian dadanya sudah dicengkeram orang.
Padahal Ong It sin belum sempat menyaksikan bagaimanakah raut wajah orang itu, merasa dadanya dicengkeram orang, dia berkaok-kaok sambil mencaci maki.
Baru sampai ditengah jalan caci makinya, kembali bahunya terasa kaku, ternyata jalan darah Ciao keng hiatnya sudah tertotok pula.
Dengan tertotoknya jalan darah itu, praktis 0ng It sin tak mampu berkutik, apa yang bisa di lakukan sekarang hanya pasrah, pasrah pada nasib dan membiarkan badannya diseret orang masuk ke dalam gua.
Beberapa kaki setelah berada dibalik gua, sipemuda merasakan pandangan matanya menjadi gelap.
jangankan benda di sekelilingnya untuk melihat kelima jari, tangan sendiri saja sukarnya bukan kepalang.
Di tengah kegelapan, tiba-tiba ia mendengar suara gadis itu berkumandang lagi.
"suko, buat apa kau bekuk sitolol itu?"
"Hmmm."
Pemuda itu mendengus.
"tempat persembunyian kita sudah diketahui si tolol ini, kalau tidak kita bekuk batang lehernya, rahasia ini pasti dia uarkan ditempat luaran"
Mendengar perkataan itu, Ong It Sin lantas membatin.
"Oooh ..... rupanya kalian berdua takut tempat persembunyiannya ketahuan orang, yaa, kata paman siapa yang suka bermain sembunyi-sembunyian dia pasti bukan orang baik"
Waktu dia masih melamun, kembali kedengaran si nona berkata lagi.
"suko, aku lihat orang ini cukup jujur, asal kita minta kepadanya agar jangan menguarkan rahasia kepada orang lain, dan dia bersedia mengabulkannya niscaya rahasia kita tak akan diberitahukan olehnya kepada siapapun"
Bungah juga hati Ong It sin sehabis mendengar perkataan itu, rasa gembiraya bukan kepalang tanggung sampai sampai rasa sakit ditubuhnya yang membentur sudut guapun tidak dirasakan lagi, segera pikirnya.
"Nona itu baik sekali, dia dapat mendalami perasaanku, itu berarti dia memang cocok dengan jiwaku, bagaimanapun juga aku harus berkenalan dengannya, bila perlu akupun harus bersahabat karib dengannya."
Sepanjang hidupnya baru pertama ini terlintas dalam benaknya niat untuk bersahabat dengan seorang nona, seketika itu juga muncullah suatu perasaan yang aneh dalam hatinya.
Dalam pada itu pemuda tadi sudah berkata lagi.
"sumoay, kau itu tahu apa? Ketahuilah orang persilatan paling licik dan berbahaya, banyak diantara mereka yang berpura pura sok jujur, padahal dia adalah manusia munafik yang buas, licik dan banyak tipu muslihatnya, jadi kita tak boleh terlalu mempercayai orang dengan begitu saja"
Perasaan antipati segera timbul dihati kecil Ong It sin, pikirnya.
"sialan orang ini dia terlalu menghina diriku, tapi sayang dia mempunyai seorang sumoay yang begitu manis dan menawan hati"
Padahal suasana dalam gua gelap gulita, darimana Ong It sin bisa membayangkan bentuk rupa si nona?
Bulatkah?
Gepengkah?
Cantikkah?
Buruk kah?
Dia tak dapat membayangkan.
Tiba-tiba sebercak sinar obor memancar dibalik gua, suasana disekeliling tempat itu jadi terang benderang, dan dia saksikan seorang pemuda tampan yang bertubuh jangkung beralis mata lentik, bermata jeli dengan pakaian ringkas serta pedang tersoreng dipinggang berdiri dihadapannya dengan muka gusar.
Seorang nona cantik berbaju kuning telur dengan rambut yang dikepang menjadi dua berdiri dibelakangnya dia membawa sebuah obor.
Ong It sin sangat berharap agar si nona berpaling kearahnya sehingga dia dapat menyaksikan raut wajah yang sebenarnya.
Waktu yang sesungguhnya dibutuhkan untuk membakar sampai habis sebuah obor pada hakekatnya relatif singkat, tapi dalam perasaan Ong It Sin ketika itu rasanya lama sekali, bahkan dia mulai gelisah, dia mengira si nona tak bakal palingkan wajahnya.
Ketika dia masih gelisah, kedengaran sianak muda itu berkata kembali.
"Huuuh ..... sumoay, bisa-bisanya kau mengatakan bocah keparat itu adalah pemuda yang jujur, coba lihat sepasang mata bangsatnya melotot kearahmu tanpa berkedip barang sedikitpun"
Gadis itu putar badannya, ketika menyaksikan paras muka sinona, untuk kesekian kalinya Ong It sin termangu.
Sejak jebrol dari rahim ibunya sampai segede ini belum pernah ia jumpai gadis muda seayu ini, sekalipun dia tidak bergincu, tidak memakai bedak dandanannya sederhana.
tapi dibawah pancaran sinar obor kelihatan betapa menawannya sepasang pipinya yang merah seperti buah apel itu, terutama matanya yang bulat jeli, hidungnya yang mancung, bibirnya yang kecil mungil dan senyumannya yang menawan hati, kecantikannya sanggup merontokkan sukma orang.
Nona itu melirik sekejap ke arah Ong It sin, lalu tersenyum lagi.
"suko, kau telah salah menuduh orang"
Katanya.
Baca Juga: Lembah Selaksa Bunga Kho Ping Hoo
Baca Juga: Bayangan Bidadari 5