Eps 5 Bayangan Bidadari - Kho Ping Hoo
Baca online Bayangan Bidadari - Kho Ping Hoo
Cersil Bayangan Bidadari - Kho Ping Hoo.
Mereka berempat mendapat masing-masing sebuah kamar besar di dalam kompleks gedung Jenderal Ouw Gu Cin yang besar dan luas, hidup sebagai tamu-tamu yang dihormati.
In Hong melakukan perjalanan seorang diri.
Tujuannya adalah Pegunungan Beng-San di mana Hek I Kaipang pusat berada.
Hek I Kaipang memiliki banyak cabang di kota-kota besar dan yang berada di Beng-San adalah pusatnya dan sanalah para pemimpin perkumpulan itu berada.
Perpisahannya dari Yo Kang yang baru saja terjadi, pengalamannya bersama pemuda itu, membuat ia melamun dan terkenang kepada pemuda itu.
Terutama sekali ia selalu terkenang akan sikap dan ucapan Yo Kang yang menyatakan cinta kepadanya!
Yo Kang mencintanya sejak pertemuan pertama dahulu.
Ia lalu membayangkan pemuda yang masih saudara misan dengannya itu.
Harus ia akui bahwa Yo Kang yang usianya hanya dua tahun lebih tua darinya adalah seorang pemuda yang berwajah tampan ganteng, tubuhnya tinggi besar.
Dengan pakaiannya yang biasanya berwarna biru itu dia tampak gagah perkasa.
Dan memang pemuda itu gagah perkasa.
Seorang murid Bu-Tong-Pai yang lihai, jauh lebih lihai daripada ketika ia temukan sekitar dua tahun yang lalu karena itu telah memperdalam ilmu dari Ketua Bu-Tong-Pai.
Juga Yo Kang berwatak jujur, pembela kebenaran dan keadilan, sopan dan terbuka.
Dan pemuda itu mencintainya, ingin berjodoh dengannya.
Kalau ia mendapatkan suami seperti Yo Kang, apalagi yang kurang?
Dia benar-benar seorang pemuda pilihan.
Kaya-raya, lihai ilmu silatnya, wataknya sebagai pendekar yang gagah perkasa, tampan dan gagah.
Mau apa lagi?
"Entahlah, tapi rasanya aku hanya kagum dan suka kepadanya, sebagai saudara misan, sebagai sahabat, tidak ada urusan rasa cinta dalam hati ini."
Katanya seorang diri sambil menghela napas panjang.
Selain itu, ada beberapa hal yang membuat In Hong merasa kecewa terhadap Yo Kang, yaitu sikap pemuda itu terhadapKakeknya,Kakek mereka berdua yaituKakek Yo Tang yang berwatak keras, pemarah, pikun dan pelit, juga kejam!
Yo Kang agaknya tidak menentang watakKakek mereka itu,Kakek luar baginya danKakek dalam bagi Yo Kang.
SelainKakek Yo Tang yang membuat In Hong kecewa terhadap Yo Kang juga dulu ia mendengar percakapan antara Yo Hang Tek dan isterinya, orang tua Yo Kang.
Yo Hang Tek yang ingin menjodohkan Yo Kang dengannya, akan tetapi Ibu muda itu tidak setuju karena ia dianggap seorang gadis liar dan ganas!
"Sudahlah, aku tidak berjodoh dengan Yo-Twako."
Akhirnya ia mengambil kesimpulan dan pikirannya melayang-Iayang, membayangkan wajah seorang pemuda lain.
Wajah Tan Siong, putera Hartawan Tan Yu Seng di Lam-Keng.
Seorang pemuda berusia sekitar dua puluh dua tahun, wajah dan sikapnya tidak dapat disebut gagah, namun harus diakui bahwa pemuda itu tampan sekali.
Tampan dan lembut, ditambah dengan watak yang manis budi dan bijaksana, seorang sastrawan yang pandai dan berpemandangan luas!
Seperti juga Yo Kang, Tan Siong merupakan seorang pemuda pilihan!
Bahkan hidupnya tentu akan berbahagia menjadi isteri seorang pria lembut bijaksana seperti Tan Siong, apalagi karena Ayah-Ibu pemuda itu juga suka kepadanya.
"Tidak,"
Ia menghela napas panjang.
"Ia dan mereka belum saling mengenal dengan baik. Bahkan mereka tidak mengetahui namanya yang sebenarnya, hanya mengenalnya sebagai Put Hauw Li, Si Gadis Tidak Berbakti!"
In Hong melangkah sambil terus melamun.
Harus ia akui bahwa ia pun kagum dan suka kepada Tan Siong, seperti ia kagum dan suka kepada Yo Kang, namun dalam hatinya tidak ada perasaan cinta terhadap dua orang pemuda itu.
Tidak ada perasaan cinta seperti yang pernah ia rasakan terhadap Bu Jin Ai, atau nama aselinya Ong Tiang Houw!
Ia merasa heran dan juga terpukul setiap kali ia teringat kepada Ong Tiang Houw.
Baru pertama kali itu dalam hidupnya ia tertarik, kagum, dan juga jatuh cinta kepada seorang pria.
Padahal, mendiang Ong Tiang Houw adalah seorang laki-laki yang sudah berusia empat puluh tahun lebih ketika bertemu dengannya.
Dua kali lebih tua darinya.
Pantas menjadi Ayahnya!
Lebih aneh dan menghancurkan hatinya lagi ketika ia ketahui bahwa laki-laki pertama dalam hidupnya yang ia cinta itu ternyata adalah Ayah tirinya sendiri, suami Ibu kandungnya!
Ini masih belum hebat.
Pukulan yang membuat ia hampir gila adalah kenyataan yang kemudian ia dengar bahwa Ong Tiang Houw itu adalah orang yang telah membunuh Ayah kandungnya!
Musuh besarnya!
Lebih menghancurkan hatinya lagi, ketika musuh besar itu dibunuh oleh putera kandungnya sendiri, Ong Teng San, karena pemuda itu melihat perbuatan Ayahnya yang keji, ia lalu membela Ong Tiang Houw dan membunuh Ong Teng San!
Padahal, pemuda itu adalah seorang pendekar gagah perkasa dan budiman yang juga mencintanya!
In Hong merasa betapa batinnya tertekan sekali oleh perasaan berdosa.
Ia berdosa kepada Ayahnya karena ia tidak membalaskan keMatian Ayahnya yang dibunuh orang tanpa dosa, sebaliknya ia malah mencinta laki-laki yang membunuh Ayahnya itu!
Dan ia berdosa kepada Ong Teng San karena ia bahkan membunuh pemuda itu yang membunuh Ayah kandung sendiri karena melihat perbuatan jahat Ayah kandungnya itu.
la menyesal sekali dan merasa betapa dirinya sungguh berdosa, kotor dan tidak pantas menjadi jodoh para pemuda yang baik seperti Yo Kang dan Tan Siong!
Mereka berdua adalah pemuda-pemuda pilihan, sungguh tidak pantas memiliki isteri seperti ia yang berlumur dosa!
Tiba-tiba In Hong merasa pahit dan marah sekali kepada dirinya sendiri.
Air matanya menetes-netes di pipi dan ia lalu mengerahkan tenaga dan berlari cepat seperti terbang melanjutkan perjalanannya menuju Beng-San.
Pada sore harinya, perjalanan In Hong terhalang sebuah sungai yang cukup lebar.
Gunung Beng-San sudah tampak di kejauhan.
Perjalanan masih panjang dan ia terhalang sungai.
In Hong mencari-cari dengan pandang matanya.
Tidak tampak pedusunan di sekitar tempat itu.
Juga tidak ada perahu yang akan dapat menyeberangkannya.
Tiba-tiba ia mendengar suara orang bernyanyi.
Suara seorang laki-laki, cukup merdu dan lantang, namun nada-nadanya aneh.
Setelah mendengarkan dengan perhatian, In Hong teringat bahwa nyanyian itu seperti lagu dari barat, dari daerah Tibet atau Bhutan.
la lalu melihat sebuah perahu kecil didayung perlahan oleh seorang pemuda.
Pemuda itulah yang bernyanyi sambil mendayung perahunya.
Hati In Hong menjadi girang sekali.
Perahu itu dapat menyeberangkannya ke seberang sana, pikirnya.
"Heei, sobat yang berada di perahu!"
Ia berseru nyaring.
Pemuda itu menoleh kepadanya dan In Hong melihat betapa pemuda itu berwajah tampan gagah, kulit wajahnya putih sehingga sepasang alisnya tampak tebal dan hitam.
Pemuda itu tersenyum kepadanya.
Wajah yang menarik dan ganteng!
"Sobat, tolong seberangkan aku ke sana!"
In Hong berkata sambil menunjuk ke seberang sana.
Pemuda itu tidak menjawab, akan tetapi dia kini mendayung perahunya ke tepi sungai di mana In Hong berdiri.
Setelah perahu menempel di pantai, pemuda itu bertanya.
"Engkau hendak Nona?"
"Aku hendak pergi ke sana, ke gunung itu."
In Hong menunjuk.
"Ke Beng-San? Hemm, masih amat jauh, Nona. Sedikitnya akan makan waktu tiga sampai empat hari."
Kata pemuda itu.
Di dalam hatinya, In Hong mentertawakannya.
Bagi orang lain tiga empat hari, akan tetapi kalau ia menggunakan ilmu berlari cepat, paling lama sehari tentu akan sampai di tempat tujuan.
"Tidak mengapa. Jauh juga kalau dijalani, akan sampai juga."
"Ha-ha, engkau benar sekali, Nona. Dan sungguh mengagumkan seorang gadis muda seperti Nona memiliki semangat besar. Mari, masuklah ke perahuku, akan kuseberangkan ke sana."
"Terima kasih, sobat."
In Hong lalu memasuki perahu kecil dan duduk berhadapan dengan pemuda itu.
la mulai memperhatikan pemuda bertubuh tinggi tegap itu.
Wajahnya yang berkulit putih memang menarik sekali, senyumnya juga ramah dan manis, dan sepasang matanya bersinar-sinar penuh semangat, terkadang mencorong tajam.
Pemuda itu mendayung perahunya ke tengah.
In Hong baru melihat bahwa dayung pemuda itu terbuat dari baja, bukan dari kayu seperti dayung-dayung biasa.
Hal ini membuat ia menduga bahwa pemuda ini agaknya seorang yang pandai ilmu silat.
"Sobat, mengapa dayungmu bukan dayung kayu? Bukankah dayung baja seperti itu berat untuk dipakai mendayung?"
Pertanyaan In Hong ini memancing.
"Memang benar, Nona. Akan tetapi dayungku ini bukan hanya untuk mendayung perahu, melainkan untuk menjaga diri terhadap serangan binatang liar seperti buaya dan ular yang terdapat banyak di tepi sungai ini."
Tiba-tiba dari tikungan sebelah depan muncul dua buah perahu besar bercat hitam yang masing-masing ditumpangi dua belas orang laki-laki yang rata-rata bertubuh tinggi besar dan berwajah bengis!
Karena ketika mendayung perahunya menyeberang, perahu kecil itu terbawa arus yang kuat di tengah sungai, maka perahu kecil yang ditumpangi In Hong itu tiba di tikungan dan ia melihat munculnya dua buah perahu hitam itu.
"Bahaya mengancam, Nona!"
Kata tukang perahu.
"Siapa mereka?"
Tanya In Hong.
"Mereka itu perampok dan bajak sungai yang suka mengganggu di sekitar daerah ini."
"Hemm, jangan takut, sobat. Aku yang akan menghajar mereka kalau mereka berani mengganggu kita!"
Kata In Hong tenang.
Kini dua buah perahu hitam besar itu sudah datang dekat.
Seorang laki-laki tinggi besar yang mukanya penuh brewok, berdiri di kepala sebuah di antara dua perahu itu, mengacungkan goloknya ke atas dan berseru dengan lantang.
"Hee, tukang perahu busuk! Cepat engkau tinggalkan perahu, terjun ke air karena perahu dan Nona cantik itu menjadi milik kami sekarang!"
"Penjahat-penjahat busuk! Kuperingatkan kalian, pergilah dan jangan ganggu kami kalau kalian masih ingin hidup!"
Teriak In Hong marah sambil mencabut Gan-Liong-Kiam dari punggungnya.
Mendengar ucapan In Hong dan melihat gadis cantik jelita itu berdiri di perahu kecil memegang sebatang pedang, kepala bajak sungai itu tertawa bergelak.
"Ha-ha-ha, lucu sekali gadis itu! Ia seperti kuda betina liar dan pantas untuk menjadi isteriku yang kelima! Bukankah begitu kawan-kawan?"
Anak buahnya sebelas orang yang berada di perahunya itu tertawa-tawa, bahkan mereka yang berada di perahu ke dua dan mendengar ucapan ini juga tertawa.
"Cocok sekali, sudah pantas sekali, Twako (Kakak)!"
Terdengar seruan-seruan mereka.
"Jahanam busuk!"
In Hong membentak dan tiba-tiba tubuhnya meloncat dari perahu kecil, bagaikan seekor burung garuda tubuh gadis itu melayang ke arah perahu besar di mana pemimpin bajak sungai yang brewokan itu berada.
Semua bajak terkejut, dan kepala bajak laut itu maklum bahwa gadis itu lihai melihat cara ia melompat, maka dia pun siap siaga.
In Hong sengaja melayang ke arah kepala bajak laut dan dari udara ia sudah menyerang dengan pedangnya, diayun membacok leher kepala bajak laut.
Kepala bajak laut itu cepat menggerakkan golok besarnya menangkis sambil mengerahkan semua tenaga dalamnya.
"Singg... trangggg...!"
Bunga api berpijar dan golok itu patah menjadi dua, sedangkan pedang yang dibacokkan In Hong itu terus meluncur dan tak dapat dihindarkan lagi membacok ke arah leher kepala bajak.
"Crakkk...!"
Leher yang kokoh itu terbabat putus, darah muncrat dan kepala itu menggelinding ke atas Iantai perahu, tubuhnya terlempar ketika terkena tendangan In Hong dari udara!
Para anak buah bajak menjadi geger.
Sebelas orang itu bangkit dan dengan membabi-buta menyerang In Hong dengan golok mereka.
Akan tetapi, In Hong dengan gerakan yang amat cepat, hanya tampak bagaikan sesosok bayangan berkelebatan di antara mereka dan pedangnya bergerak seperti membabati batang gandum saja.
Dalam waktu singkat, tubuh sebelas orang anak buah berandal itu sudah roboh mandi darah dan tewas, sebagian ditendang keluar dari perahu oleh In Hong!
Karena tidak ada lagi yang mendayung dan mengemudi, perahu besar itu oleng dan berputar.
In Hong melihat ke arah tukang perahu yang tadi membawanya menyeberang dan ia terbelalak.
Pemuda pemilik perahu kecil itu sudah meluncurkan perahunya ke arah perahu besar ke dua dan dengan dayung bajanya dia menghantam ke arah tubuh perahu besar.
"Blaarrr...!"
Perahu besar itu pecah berantakan dan tentu saja dua belas orang yang berada di perahu terlempar ke air.
Bukan main!
In Hong terkejut, heran dan kagum.
Tentu saja dibutuhkan tenaga sakti yang amat kuat untuk dapat membuat perahu besar itu pecah berantakan hanya dengan sekali pukul dengan sebatang dayung kecil, walaupun dayung itu terbuat dari baja sekalipun!
Pemuda tukang perahu itu ternyata seorang yang lihai!
Pada saat itu ia mendengar teriakan-teriakan dari para bajak sungai yang berusaha berenang menyelamatkan diri ke tepi sungai.
"Pek-Bin-Houw... dia Pek-Bin-Houw...!"
"Thian-Te-Pangcu (Ketua Thian-Te-Pang)...!!"
Agaknya pemuda itu setelah memukul pecah perahu besar, tidak mempedulikan para bajak yang tercebur di sungai itu lagi.
Dia mendayung perahunya mendekati perahu besar di mana In Hong berada, setelah dekat dia berseru.
"Loncatlah ke sini, Nona!"
Karena perahu besar itu berputar-putar, In Hong lalu melompat ke arah perahu kecil dan hinggap di atas perahu kecil itu tanpa membuat perahu itu terguncang!
Ini membuktikan bahwa In Hong memiliki ginkang (ilmu meringankan tubuh) yang amat tinggi.
Pemuda itu mendayung perahunya menuju ke seberang tanpa bicara.
Setelah tiba di tepi sungai seberang sana, dia melompat ke darat dan menarik perahunya ke darat.
In Hong juga melompat ke darat.
Tidak tampak ada ular atau buaya seperti yang tadi dikatakan pemuda itu, maka In Hong lalu berkata.
"Hemm, kiranya yang kau sebut buaya dan ular adalah para bajak itu?"
Pemuda itu tersenyum dan senyumnya sungguh menawan.
"Masih untung bahwa penumpangku adalah seorang pendekar wanita yang amat lihai. Agaknya engkau yang disebut orang Sian-Li Eng-Cu (Si Bayangan Bidadari)!"
"Ehh? Bagaimana engkau bisa tahu?"
"Namamu sudah terbawa angin sampai ke daerah sini, Nona."
Katanya.
"Dan melihat gerakanmu yang cepat tadi, aku lalu menduga bahwa tentu engkau yang berjuluk Sian-Li Eng-Cu."
"Dan engkau berjuluk Pek-Bin-Houw (Harimau Muka Putih) seperti yang kudengar dikatakan mereka tadi? Juga engkau adalah Thian-Te-Pangcu (Ketua Thian-Te-Pang)?"
In Hong menatap wajah putih itu. Pemuda itu menghela napas panjang.
"Apa boleh buat, biarpun tadinya aku ingin menyembunyikan nama, kini tidak ada gunanya lagi karena engkau sudah mendengar orang-orang menyebutku demikian. Memang benar, Nona. Aku dijuluki orang Pek-Bin-Houw dan aku memang Ketua Thian-Te-Pang (Perkumpulan Langit Bumi) yang berada di dusun Kiok-Lim di kaki Gunung Beng-San. Baru beberapa bulan aku menjadi Ketua Thian-Te-Pang dan mendengar bahwa di daerah ini terdapat gerombolan perampok dan bajak sungai, maka aku sengaja berperahu untuk menyelidiki. Beruntung sekali aku bertemu dengan Sian-Li Eng-Cu yang namanya terkenal dan menyaksikan kelihaianmu ketika engkau membasmi bajak-bajak dalam perahu itu, Nona."
Pemuda itu lalu memberi hormat dengan mengangkat kedua tangan di depan dada dengan sikap hormat, ramah dan sopan.
"Bolehkah aku mengetahui nama Nona yang terhormat?"
In Hong tersenyum.
"Engkau sudah tahu bahwa aku disebut Sian-Li Eng-Cu..."
"Maksudku, aku ingin mengenal nama dan she (marga) Nona yang terhormat."
In Hong tersenyum.
"Sobat, engkau sendiri belum memperkenalkan nama dan she-mu."
Pemuda itu tertawa dan menepuk dahinya.
"Aih, aku sampai lupa! Perkenalkan, Nona. Namaku Gan Bouw."
"Namaku Put Hauw Li."
Gan Bouw mengangkat muka, memandang wajah jelita itu dengan alis berkerut.
"Ah, seorang seperti Nona yang gagah perkasa, seorang pendekar yang julukannya saja Sian-Li Eng-Cu, bagaimana mungkin menggunakan nama Put Hauw Li (Gadis Tidak Berbakti)? Mengapa engkau menggunakan nama palsu, Nona?"
"Sudahlah, jangan bertanya lebih Ianjut. Anggap saja namaku Put Hauw Li atau Sian-Li Eng-Cu, terserah."
Gan Bouw menghela napas panjang.
"Baiklah, kalau begitu yang kau kehendaki. Biarlah aku akan memanggilmu Nona Sian-Li (Bidadari) saja. Nona tadi mengatakan hendak pergi ke Beng-San? Ada urusan apakah Nona hendak berkunjung ke sana, yaitu kalau aku boleh mengetahui?"
Setelah melihat sepak-terjang Gan Bouw ketika menghadapi para bajak sungai tadi, In Hong sudah percaya benar bahwa pemuda itu adalah seorang pendekar yang gagah perkasa.
Apalagi dia adalah Ketua Thian-Te-Pang yang melihat namanya Perkumpulan Langit Bumi tentu-lah perkumpulan orang-orang gagah.
Maka, mendengar pertanyaan itu, ia pun menjawab dengan terus terang.
"Aku hendak pergi ke pusat Hek I Kaipang (Perkumpulan Pengemis Baju Hitam), bertemu dengan para pemimpinnya. Engkau yang menjadi Ketua Thian-Te-Pang dan berpusat di kaki Gunung Beng-San itu, tentu mengenalnya."
Gan Bouw tersenyum dan mengangguk-angguk.
Manis dan menyenangkan wajah pemuda itu kalau tersenyum!
"Tentu saja aku mengenal Hek I Kaipang dengan baik sekali, Nona Sian-Li.
Kami tetangga dan hubungan antara Thian-Te-Pang dan Hek I Kaipang sejak dulu memang erat.
Kami satu tujuan, yaitu menegakkan kebenaran dan keadilan.
Biarpun baru sekitar tiga empat bulan aku menjadi Ketua Thian-Te-Pang, namun aku mengenal baik Ketuanya, yaitu Pat-Jiu Sin-Kai (Pengemis Sakti Delapan Lengan)."
"Pangcu (Ketua)..."
"Eiit, nanti dulu, Nona. Jangan sebut aku Pangcu, pertama karena engkau bukan anak buah perkumpulanku, kedua kita sudah berkenalan dan menjadi sahabat, bukan?"
"Hemm, engkau pun bersungkan-sungkan menyebutku Nona, lalu aku harus menyebut engkau apa?"
In Hong tersenyum, merasa betapa pemuda ini selain halus tutur sapanya, juga ramah dan gembira.
"Baiklah, mulai sekarang, kalau engkau tidak berkeberatan, aku akan menyebutmu Sian-Li yang kuanggap nama aselimu atau cukup kusebut Siauw-moi (Adik Perempuan) saja dan engkau boleh memanggil aku Twako (Kakak Laki-laki). Bagaimana, setujukah engkau?"
In Hong tersenyum. Tentu saja tidak ada salahnya bersahabat dengan seorang seperti Gan Bouw ini, seorang Ketua perkumpulan bersih yang terhormat.
"Baiklah, Gan-Twako (Kakak Gan)."
"Bagus, Siauw-moi! Sekarang, lanjutkanlah. Apa yang hendak kau katakan tadi?"
"Begini, Twako. Aku merasa heran sekali bagaimana engkau yang masih begini muda dapat menjadi Ketua sebuah perkumpulan seperti Thian-Te-Pang itu? Apakah engkau merupakan murid pertama yang menggantikan Gurumu yang menjadi Ketua dan telah meninggal?"
Gan Bouw tersenyum, lalu menghela napas panjang.
"Ceritanya panjang, Siauw-moi. Mari kita duduk dulu dan akan kuceritakan padamu."
Dia duduk di atas sebuah batu besar di tepi sungai dan In Hong juga duduk di depannya.
Cuaca sore itu sejuk.
Matahari mulai condong berat ke barat.
Sinarnya tidak menyengat lagi, melainkan hangat menyamankan.
Silir angin menyejukkan dan gemercik air amat mengasyikkan di tempat yang sunyi itu.
"Aku seorang yatim piatu. Ayahku bernama Gan Cong meninggal dunia sejak aku berusia tiga tahun dan beberapa bulan kemudian Ibuku menyusul Ayahku. Aku tidak ingat lagi bagaimana wajah kedua orang tuaku itu. Sejak berusia tiga tahun aku dipelihara orang lain. Sejak kecil aku suka sekali belajar silat. Hal ini tidak disetujui orang-orang yang memeliharaku, maka setelah berusia belasan tahun aku pergi merantau untuk memperdalam ilmu silatku. Aku mempelajari banyak macam ilmu silat dan yang terakhir aku belajar ilmu-ilmu dari para Pendeta Lama di daerah Tibet."
"Ah, pantas saja tadi aku mendengar engkau bernyanyi lagu Tibet!"
Kata In Hong.
"Wah, engkau mengenal lagu Tibet? Banyak orang yang mendengar tapi tidak mengenalnya. Aku senang engkau mengenalnya, Sian-Li! Setelah aku tamat belajar, aku lalu keluar dari Tibet, kembali ke timur dan menjadi perantau. Beberapa bulan yang lalu, ketika aku lewat di dusun Kiok-Lim di kaki Gunung Beng-San aku melihat ada keributan di dusun itu. Ketika aku mendatangi tempat keributan terjadi, ternyata Perkumpulan Thian-Te-Pang yang mempunyai anak buah sebanyak seratus orang lebih itu sedang diamuk oleh belasan orang gerombolan perampok yang amat lihai. Belasan orang anak buah Thian-Te-Pang sudah roboh, bahkan Ketuanya, yaitu Li Bu Kok atau yang biasa disebut Li Pangcu (Ketua Li) sudah roboh dan tewas. Ketua itu memang sudah lanjut usianya, hampir delapan puluh tahun. Aku segera membantu Thian-Te-Pang dan berhasil merobohkan dan membunuh tiga belas orang perampok yang biasa dikenal sebagai gerombolan Tiga Belas Srigala Gila yang amat kejam tapi juga amat lihai. Nah, setelah peristiwa itu, karena Thian-Te-Pang kehilangan pimpinan dan karena mereka berterima kasih kepadaku dan menganggap aku pantas menjadi pemimpin mereka, mereka lalu mohon dengan sangat agar aku suka memimpin mereka. Aku merasa kasihan dan tidak tega menolaknya, maka mulai hari itu aku menjadi Ketua Thian-Te-Pang."
"Wah engkau hebat sekali, Gan-Twako! Dan bagaimana engkau mendapat julukan Pek-Bin-Houw (Harimau Muka Putih) itu? Kalau julukan Muka Putih, aku mengerti, memang kulit wajahmu amat putih, Twako. Akan tetapi mengapa harimau?"
"Ha-ha-ha, mereka memang lucu. Julukan itu pun kudapat dari para anggauta Thian-Te-Pang dan para penduduk dusun Kiok-Lim yang menonton perkelahianku dikeroyok tiga belas orang perampok. Kata mereka perkelahian itu mengingatkan mereka akan perkelahian antara seekor harimau dikeroyok tiga belas ekor srigala. Karena para perampok itu memang disebut Tiga Belas Srigala Gila maka aku diumpamakan sebagai seekor harimau dan... begitulah, mereka memberiku julukan Harimau Muka Putih kepadaku."
"Hebat, Twako. Engkau memang lebih dari pantas mendapat julukan itu. Dari caramu menghancurkan perahu besar dengan dayungmu itu saja sudah dapat kuketahui betapa hebat tenaga dalammu!"
"Wah, jangan terlalu memujiku, Siauw-moi! Apa kau kira aku tidak melihat betapa hebat ginkangmu (ilmu meringankan tubuhmu) tadi? Gerakanmu seperti berkelebatnya kilat, engkau seperti berubah menjadi bayangan, maka tidak heran engkau disebut Si Bayangan Bidadari! Nah, setelah aku menceritakan riwayatku, kiranya sudah sepatutnya kalau engkau pun suka menceritakan riwayatmu kepadaku, kan?"
"Ah, Twako. Tidak ada yang menarik untuk kuceritakan tentang diriku, dan maaf, agaknya sudah tiba saatnya aku harus melanjutkan perjalananku ke Beng-San."
Kata In Hong sambil bangkit berdiri.
"Siauw-moi, harap jangan tergesa-ge-sa. Percayalah kepadaku, aku mengenal baik daerah ini. Tempat ini jauh dari pedusunan dan perjalanan menuju Beng-San melalui hutan dan rawa yang sepi dan berbahaya. Engkau tentu akan kemalaman di dalam perjalanan dan terpaksa berhenti di dalam hutan atau di daerah rawa. Hari telah mulai senja dan sebentar lagi gelap. Tempat yang paling baik untuk berhenti melewatkan malam adalah di tepi sungai ini. Selain tempat ini bersih, juga kita dekat dengan air dan di sungai ini terdapat banyak ikan yang dapat kita jadikan santapan malam. Nah, bagaimana kalau kita tinggal di sini melewatkan malam ini? Besok pagi-pagi kita dapat melanjutkan perjalanan."
In Hong memandang tajam wajah itu.
"Kita? Apakah engkau tidak melanjutkan naik perahumu?"
Pemuda itu menggelengkan kepalanya.
"Aku juga akan pulang ke dusun Kiok-Lim. Para anggauta Thian-Te-Pang tentu sudah menunggu-nunggu karena sudah belasan hari aku meninggalkan Kiok-Lim. Kebetulan aku bertemu denganmu, maka aku selain mendapatkan teman berjalan, juga dapat menjadi penunjuk jalan bagimu. Tentu saja kalau engkau tidak berkeberatan melakukan perjalanan bersama aku, Sian-Li."
"Tentu saja aku tidak keberatan, malah senang sekali, Twako. Kalau begitu, sebelum gelap benar, aku hendak mandi, bertukar pakaian sekalian mencuci pakaian yang kotor."
"Sebaiknya begitu, Sian-Li. Di sana terdapat batu-batu besar di sebelah pinggir sungai, engkau dapat mandi dan mencuci pakaian di situ dan aku akan mencoba untuk mendapatkan beberapa ekor ikan untuk santapan kita."
Pemuda itu menuding ke kiri, kemudian dia mengambil sebatang pedang yang tadinya dia sembunyikan di dasar perahu, di bawah tempat duduk, lalu memotong sebatang bambu yang ujungnya diruncingkan, lalu pergi ke arah kanan.
In Hong melihat bahwa di sebelah kiri memang terdapat beberapa buah batu besar di mana ia dapat mandi dengan terlindung atau teralingi batu besar dan ia dapat pula duduk di atas batu mencuci pakaian dengan leluasa.
Ke sanalah ia pergi membawa pengganti pakaian.
Sebelum menanggalkan pakaian untuk mandi, ia lebih dulu meneliti keadaan sekeliling.
Tempat itu memang sepi sekali tidak ada orang lain dan ketika ia mengintai dan memandang ke kanan, ia melihat agak jauh di sana pemuda itu sedang mengintai dan menombaki ikan-ikan yang berenang-renang di bawah permukaan air.
Pemuda itu sama sekali tidak melihat atau memperhatikan ke arah tempat ia mandi.
Hatinya merasa lega dan ia teringat kepada Yo Kang.
Pemuda bernama Gan Bouw ini ternyata juga seorang pemuda yang tampan dan jujur seperti Yo Kang dan melihat cara dia memecahkan perahu bajak sungai tadi, ia menimbang-nimbang siapakah kiranya yang lebih lihai antara dua orang pemuda itu.
Setelah mandi, bertukar pakaian bersih dan mencuci pakaian kotor, In Hong kembali ke tempat semula.
Cuaca sudah mulai remang-remang dan ia melihat Gan Bouw sudah membuat api unggun.
Ia mencium bau sedap gurih dan pemuda itu kiranya sedang memanggang empat ekor ikan yang lumayan besarnya, sebesar lengan.
"Aih, sedapnya!"
Kata In Hong gembira, bukan karena ikan itu, melainkan terutama sekali karena ia merasa semakin percaya dan suka kepada pemuda kenalan barunya ini.
Setelah ia menghampiri pemuda yang duduk dekat api unggun sambil memanggang daging ikan, ia mulai melihat pemuda itu sudah berganti pakaian pula dan rambutnya masih basah.
"Hei, engkau juga sudah mandi, Twako?"
"Sudah, setelah mendapatkan ikan-ikan ini, aku langsung berenang lalu berganti pakaian."
"Hemm, sedap dan gurih baunya! Twako, ikan ini tentu diberi bumbu, aku mencium bau bawang. Dari mana engkau memperoleh bumbu masak?"
Gan Bouw tersenyum.
"Seorang yang suka merantau harus membawa perlengkapan bumbu, Sian-Li. Setidaknya, bawang, mrica, dan garam harus punya."
Setelah ikan-ikan itu matang, mereka lalu makan ikan sambil duduk di dekat api unggun.
Bukan main lezatnya makan ikan panggang seperti itu.
Hati senang, badan segar setelah mandi, udara sejuk di tempat terbuka, perut lapar, semua ini merupakan syarat utama untuk dapat menikmati makanan yang betapa sederhana sekalipun.
Setelah selesai makan, membuang sisa makanan dan mencuci tangan dan mulut, kedua orang muda itu duduk di dekat api unggun dan bercakap-cakap.
"Siauw-moi, aku tidak berani mendesakmu untuk menceritakan riwayatmu kaIau engkau memang tidak suka menceritakannya, bahkan nama aselimu pun tidak kau beritahukan kepadaku. Mungkin hal itu karena engkau belum percaya benar kepadaku. Aku tidak merasa kecewa, dan aku menghormati pendirianmu itu. Akan tetap setidaknya mungkin engkau mau menceritakan kepadaku apa hubunganmu dengan Hek I Kaipang dan mengapa engkau hendak berkunjung ke sana."
In Hong menatap tajam wajah itu dan ia merasa diri sendiri agak keterlaluan karena tidak percaya kepada pemuda yang jujur, sopan dan bersikap baik itu.
"Maaf, Twako. Sebetulnya, terus terang saja aku sendiri merasa tidak senang mendengar riwayatku yang hanya akan menggali kenangan-kenangan yang pahit tidak menyenangkan, apalagi harus menceritakan kepada orang lain. Mengenai pertanyaanmu tentang Hek I Kaipang, aku tidak keberatan untuk menjawab, Twako. Begini, dalam perjalananku, aku bertemu seorang murid Bu-Tong-Pai yang diserang oleh orang-orang Hek I Kaipang, dengan tuduhan bahwa ada orang Bu-Tong-Pai yang membunuhi tiga puluh orang Hek I Kaipang dengan pukulan Tong-Sim-Ciang, ilmu pukulan khas dari Bu-Tong-Pai sehingga Hek I Kaipang kini memusuhi semua orang Bu-Tong-Pai. Aku melerai mereka dan mengingatkan pihak Hek I Kaipang bahwa cara membalas dendam kepada semua orang Bu-Tong-Pai itu tidak benar. Seharusnya mereka melaporkan kepada para pimpinan Bu-Tong-Pai agar diselidiki siapa pembunuh itu dan bertanggung jawab kalau benar pembunuhnya murid Bu-Tong-Pai. Mereka menyetujuil maka murid Bu-Tong-Pai itu berjanji akan melaporkan peristiwa pembunuhan itu kepada para Guru di Bu-Tong-Pai, sedangkan aku sendiri akan menemui pimpinan tertinggi Hek I Kaipang untuk membujuk dan menasehatinya agar jangan melanjutkan permusuhannya terhadap Bu-Tong-Pai, melainkan menyelidiki dan mencari pembunuh itu."
Gan Bouw mengangguk-angguk dan mengerutkan alisnya.
"Hemm, begitukah? Kalau begitu, persoalannya amat gawat, Sian-Li. Aku pun sudah mendengar bahwa ilmu Tong-Sim-Ciang merupakan ilmu pukulan andalan Bu-Tong-Pai. Siapa lagi yang mampu menggunakan ilmu itu untuk membunuh orang kecuali murid Bu-Tong-Pai tingkat tinggi? Kabarnya, murid menengah saja belum dapat menguasai ilmu itu. Kiranya tidak dapat disalahkan begitu saja kalau pihak Hek I Kaipang merasa yakin bahwa pembunuhnya adalah murid Bu-Tong-Pai sehingga mereka memusuhi Bu-Tong-Pai."
In Hong menggelengkan kepalanya.
"Memang kalau dipikirkan sepintas lalu memang demikian. Akan tetapi tentu saja ada kemungkinan lain, Twako. Misalnya, ada saja orang lain, bukan murid Bu-Tong-Pai yang melakukan itu dengan menggunakan ilmu dan memakai nama Bu-Tong-Pai yang melakukan itu untuk mengadu domba antara Bu-Tong-Pai dan Hek I Kaipang! Karena itulah, maka Yo-Twako, eh, Yo Kang murid Bu-Tong-Pai itu dan aku membagi tugas. Dia melapor kepada para pemimpin Bu-Tong-Pai dan aku melapor kepada Hek I Kaipang."
Gan Bouw mengangguk-angguk.
"Hemm, begitukah? Mungkin pendapat dan dugaanmu itu benar, Sian-Li. Namun aku tetap sangsi apakah ada orang di luar Bu-Tong-Pai yang menguasai Tong-Sim-Ciang itu."
"Jangan heran, Twako. Hal itu belum aneh benar, akan tetapi apa yang dialami oleh Yo-Twako dan aku malam itu lebih aneh lagi. Ada orang secara menggelap menyerang Yo-Twako, dan orang itu menyerang dengan pukulan Pek-Kong-Ciang (Tangan Sinar Putih) yang menjadi ilmu simpanan ampuh dari Kun-Lun-Pai! Nah, ada murid Kun-Lun-Pai menyerang murid Bu-Tong-Pai dan melihat hebatnya serangan itu, jelas bahwa murid Kun-Lun-Pai itu hendak membunuh Yo Kang murid Bu-Tong-Pai! Untung aku dapat menggagalkan pembunuhan itu!"
"Ehh? Mana mungkin? Kun-Lun-Pai adalah perguruan aliran putih, seperti juga Bu-Tong-Pai. Bagaimana mungkin ada murid Kun-Lun-Pai tingkat tinggi yang sudah memiliki Pek-Kong-Ciang menyerang murid Bu-Tong-Pai? Apakah engkau dan Yo Kang itu berhasil menangkapnya, Siauw-moi?"
"Tidak, Twako. Dia keburu melarikan diri dan menghilang dalam kegelapan."
"Dan engkau tidak dapat mengenal siapa dia?"
"Malam itu gelap dan dia menyerang secara menggelap. Kami berdua tidak dapat melihat mukanya dan kami tidak tahu siapa dia. Akan tetapi, terjadinya beberapa peristiwa aneh ini membuat aku berpikir, Twako. Agaknya ada orang luar yang sengaja hendak mengadu domba, pertama antara Bu-Tong-Pai dan Hek I Kaipang, kemudian antara Bu-Tong-Pai dan Kun-Lun-Pai! Dan orang atau orang-orang itu sengaja menggunakan pukulan rahasia dari Bu-Tong-Pai dan Kun-Lun-Pai. Mereka tentu terdiri dari orang-orang Iihai dan kalau aku tidak salah sangka, amat boleh jadi mereka itu adaIah orang-orang kang-ouw yang diperbudak oleh bangsa Mongol untuk mengadu domba dan melemahkan para pendekar dari berbagai aliran persilatan yang pada umumnya tidak menyukai pemerintah penjajah Mongol."
"Hemm, memang mungkin benar dugaanmu itu, Siauw-moi. Akan tetapi mungkin juga ada murid Bu-Tong-Pai yang secara pribadi mendendam kepada tiga puluh murid Hek I Kaipang itu, dan mungkin juga ada murid Kun-Lun-Pai yang mendendam kepada murid Bu-Tong-Pai yang bernama Yo Kang itu. Tentu saja kita tidak dapat yakin menjamin bahwa tidak ada murid perguruan-perguruan silat terkenal itu yang jahat, bukan? Karena itu, seyogianya kita berhati-hati mengambil kesimpulan."
"Engkau benar, Twako. Karena itu, aku berniat ikut pula melakukan penyelidikan dan kalau mungkin menangkap mereka yang melakukan pembunuhan terhadap orang-orang Hek I Kaipang dan menangkap pula orang yang malam itu menyerang Yo-Twako."
"Memang sebaiknya begitu dan aku siap membantumu, Sian-Li. Akan kukerahkan anak buah Thian-Te-Pang untuk melakukan penyelidikan pula."
"Terima kasih, Gan-Twako. Akan tetapi aku sudah terbiasa bekerja seorang diri."
Mereka melewatkan malam itu dengan melakukan penjagaan secara bergantian.
Dari malam itu sampai tengah malam, In Hong yang melakukan penjagaan sedangkan Gan Bouw tidur di atas batu lebar, kemudian dari tengah malam sampai pagi, In Hong yang mengaso dan pemuda itu menggantikannya berjaga.
Melihat sikap Gan Bouw yang ramah, sopan dan jujur, hati In Hong tertarik dan ia merasa senang dapat berkenalan dengan Ketua Thian-Te-Pang itu.
Pada keesokan harinya, setelah membersihkan badan di tepi sungai, mereka melanjutkan perjalanan.
Gan Bouw menjadi penunjuk jalan.
Mereka berangkat pagi-pagi sekali setelah sarapan pagi dengan daging kelenci yang dapat ditangkap Gan Bouw.
Melakukan perjalanan bersama Gan Bouw, In Hong merasa cocok dan senang sekali.
Bahkan ia harus akui dalam hatinya bahwa dibandingkan dengan Yo Kang, pemuda ini lebih menyenangkan sebagai teman seperjalanan.
Yo Kang baik dan jujur, namun agak kaku, tidak seperti Gan Bouw yang selain baik dan jujur, juga ramah sopan dan pandai bicara.
Juga pengalamannya amat banyak.
Mengasyikkan sekali mendengar pemuda itu bercerita tentang hal-hal aneh dan lucu yang dia alami ketika merantau jauh ke barat sampai di daerah Tibet, bahkan sampai ke Pegunungan Himalaya dan Kerajaan Bhutan.
Lewat tengah hari Gan Bouw dan In Hong tiba di sebuah hutan keciI di daerah perbukitan.
Mereka siang tadi melewati sebuah dusun di mana mereka makan siang di sebuah warung makan.
Siang hari itu panasnya bukan main.
Sinar matahari tidak terhalang apa pun sehingga langsung memanggang permukaan bumi.
Untung bagi mereka bahwa mereka berjalan di dalam hutan, terlindung oleh pohon-pohon besar yang menangkap sebagian sinar matahari yang panas.
Beberapa kali In Hong mengusap keringat dari muka dan lehernya.
Beberapa kali Gan Bouw melirik dan memandang wajah gadis itu dengan sinar mata mencorong penuh kagum.
Alangkah cantik jelitanya wajah yang kemerahan terusik panas itu.
Dan betapa halus kulit wajah dan leher yang berkeringat itu.
Dia beberapa kali seolah terpesona.
Secara kebetulan In Hong beberapa kali bertemu pandang dengan pemuda itu dan perasaan wanitanya dapat menangkap apa yang tersembunyi di dalam sinar mata itu.
Jantungnya berdegup tegang.
Tanpa kata, tanpa pernyataan apa pun, perasaan wanitanya dapat menangkap isyarat cinta yang disinarkan melalui pandang mata itu.
la dapat merasakan bahwa Gan Bouw jatuh cinta, atau setidaknya amat tertarik kepadanya dan pengertian ini membuat hatinya tegang.
Kembali ada seorang pemuda yang pilihan, pemuda yang tampan gagah, berilmu tinggi, Ketua Thian-Te-Pang, seorang pendekar yang jujur dan sopan, jatuh cinta kepadanya!
la mulai membanding-bandingkan dengan dua orang pemuda lain yang juga mencintanya, yaitu Tan Siong dan Yo Kang!
Lalu muncul bayangan Bu Jin Ai, pembunuh Ayah kandungnya yang telah menjatuhkan hatinya.
Harus ia akui bahwa di antara tiga orang pemuda yang sekarang mencintanya, tidak ada seorang pun yang dapat menjatuhkan hatinya seperti mendiang Bu Jin Ai atau Ong Tiang Houw!
Belum pernah ia jatuh cinta seperti cinta pertamanya yang ia berikan kepada Ong Tiang Houw, musuh besarnya itu.
In Hong segera mengusir semua bayangan itu.
Hal ini dapat ia lakukan dengan mudah karena ia melihat dari depan seorang laki-laki setengah tua datang berjalan cepat, pakaiannya seperti seorang Tosu (Pendeta Agama To) namun robek di sana-sini, rambutnya kusut dan wajahnya pucat sikapnya tegang.
"Eng Gi Totiang! Apa yang terjadi? Engkau tampak gelisah."
Gan Bouw segera menghadang dan mengangkat kedua tangan depan dada sebagai penghormatan. (Lanjut ke
Jilid 13) Bayangan Bidadari/Sian Li Eng Cu (Cerita Lepas) Karya. Asmaraman S. Kho Ping Hoo
Jilid 13
"Ah, sukur dapat bertemu denganmu di sini, Gan Pangcu (Ketua Gan). Puluhan orang anak buahmu menyerbu kami dengan tusuhan yang bukan-bukan!"
"Celaka! Mari kita cepat ke sana!"
Seru Gan Bouw dan dia segera melompat dan berlari menuju ke Gunung Beng-San yang sudah tampak dekat.
Maklum ada terjadi peristiwa gawat, In Hong tanpa banyak bertanya segera mengikutinya.
Juga Pendeta Agama To itu mengerahkan ilmu berlari cepat mengejar.
Diam-diam In Hong harus mengagumi kecepatan larinya Gan Bouw.
Pemuda itu ternyata memiliki ginkang (ilmu meringankan tubuh) yang agaknya tidak banyak selisihnya dengan tingkatnya sendiri!
Pemuda itu mampu berlari cepat.
la masih dapat mengimbangi, akan tetapi Tosu itu segera tertinggal.
"Siapakah Tosu itu, Gan-Twako?"
Tanya In Hong yang berlari di dekat Gan Bouw.
Pemuda ini pun terkejut dan kagum.
Tak disangkanya gadis itu mampu berlari cepat mengimbanginya, bahkan masih sempat pula bicara!
"Dia peminipin tingkat tiga dari Beng-San-Pai!"
Jawabnya sambil mempercepat larinya.
Tak lama kemudian mereka tiba di depan perkampungan Perkumpulan Beng-San-Pai yang merupakan sebuah perumahan terdiri dari puluhan rumah dan di depan berdiri sebuah Kuil yang cukup besar.
Mereka melihat puluhan orang saling berkelahi dan walaupun mereka tidak menggunakan senjata, hanya berkelahi dengan tangan dan kaki, Namun seru sekali karena kedua pihak adalah orang-orang yang ahli dalam persilatan.
Ada sekitar tiga puluh orang laki-laki berpakaian ringkas seperti pada umumnya dipakai ahli silat sedang mengamuk melakukan serbuan, dilawan puluhan orang berpakaian longgar dengan jubah lebar dan mereka itu melihat pakaiannya jelas merupakan para anggauta Beng-San-Pai yang beragama To.
Biarpun tidak ada yang menggunakan senjata, namun ada beberapa orang yang sudah tidak mampu berkelahi lagi karena telah terluka dan mengerang kesakitan sambil duduk di luar arena perkelahian.
In Hong mengira bahwa tentu Gan Bouw akan menjadi marah dan tentu saja membela dan membantu anak buahnya.
Akan tetapi sungguh aneh.
Pemuda itu menerjang ke dalam perkelahian itu dan mulai menendangi dan menampari para penyerbu, yaitu anak buahnya sendiri!
Sepak terjangnya hebat, setiap tendangan atau tamparan pasti merobohkan seorang anak buah, membuat para penyerbu kocar-kacir.
Walaupun agaknya dia menyerang tanpa mengerahkan tenaga sakti, namun mereka yang terkena serangannya terlempar dan terguling-guling.
Mereka terkejut, apalagi melihat bahwa yang mengamuk itu adalah Ketua mereka sendiri yang baru!
Anak buah Thian-Te-Pang yang belum terkena serangan menarik diri mundur dan mereka semua kini menjatuhkan diri berlutut menghadap Gan Bouw yang berdiri dengan alis berkerut.
Sedangkan beberapa orang Tosu pimpinan Beng-San-Pai juga memerintahkan para Tosu muda untuk mundur dan menghentikan perkelahian.
"Pangcu (Ketua)...!"
Kata para anggauta Thian-Te-Pang dengan takut, akan tetapi suara mereka mengandung penasaran melihat Ketua mereka marah kepada mereka, bukan membantu.
Mata Gan Bouw mencorong tajam ketika dia melayangkan pandangannya ke arah sekitar tiga puluh orang laki-laki yang berusia dari dua puluh sampai empat puluh tahun itu, yang kini semua berlutut menghadap dia.
"Apa yang kalian lakukan ini? Selagi aku pergi, berani sekali kalian membuat ulah dan mengacau di sini?"
Dia membentak dan suaranya nyaring sekali.
"Maaf, Pangcu. Terpaksa kami melakukan penyerbuan terhadap Beng-San-Pai karena mereka tidak mau menyerahkan seorang anggautanya yang telah melakukan perbuatan keji terhadap seorang gadis puteri anggauta perkumpulan kami."
Jawab seorang di antara para anggauta Thian-Te-Pang yang paling tua.
"Hemm, perbuatan keji bagaimana maksudmu?"
"Gadis puteri kami telah diperkosa seorang anggauta Beng-San-Pai!"
Kata orang itu yang menjadi Ayah dari gadis yang diceritakannya itu.
"Siancai... (damai)...! Itu adalah fitnah belaka! Tidak ada anggauta kami yang berani melakukan kejahatan seperti itu. Kami adalah orang-orang beragama, mana mungkin melakukan perkosaan keji?"
Tiba-tiba seorang Tosu berusia sekitar enam puluh tahun berkata.
Dia Baru muncul dari dalam Kuil dan tadi tidak mau ikut berkelahi karena yang menyerbu hanyalah para murid atau anggauta Thian-Te-Pang.
Baru setelah Ketua Thian-Te-Pang muncul, dia juga keluar dari Kuil.
Tosu ini adalah Pang Hok Tosu, Tosu tingkat dua atau wakil Ketua Beng-San-Pai.
Melihat munculnya wakil Ketua itu, Gan Bouw lalu menghadapinya, memberi hormat dengan mengangkat kedua tangan depan dada dan berkata dengan sikap hormat.
"Harap Pang Hok Totiang suka memaafkan. Saya sedang tidak berada di sini, maka saya sama sekali tidak tahu akan adanya perkara ini dan tidak dapat mencegah tindakan yang diambil para anggauta saya. Saya kira urusan ini dapat kita bicarakan sebaiknya dan kita usahakan agar yang bersalah dapat ditangkap."
"Siancai..., ini barulah omongan yang benar dan dapat diterima. Pinto (saya) setuju sekali, Pangcu."
Kata Pang Hok Tosu, wakil Ketua Beng-San-Pai itu. Gan Bouw lalu menoleh kepada anak buahnya dan berkata.
"Sekarang kalian semua pulanglah, rawat yang terluka. nanti kalau aku pulang, siapa biang keladinya yang menggerakkan penyerbuan ini harus bertanggung jawab. Nah, pergilah kalian!"
Para anak buah Thian-Te-Pang itu lalu bangkit dan meninggalkan tempat itu, memapah mereka yang terluka dalam pertempuran tadi. Pang Hok Totiang lalu berkata kepada Gan Bouw.
"Silakan, Pangcu, silakan masuk ke dalam dan kita bicarakan urusan ini. Akan tetapi... siapakah Nona ini?"
Dia memandang kepada In Hong yang berada di sebelah Gan Bouw. In Hong menghadapi Gan Bouw dan berkata.
"Gan-Twako, aku tidak mempunyai urusan apa pun di sini, maka biarlah aku melanjutkan perjalananku ke pusat Hek I Kaipang."
"Ah, nanti dulu, Siauw-moi. Engkau bukan orang luar bagiku. Biarlah engkau temani aku sebentar membicarakan urusan kami ini, kemudian engkau harus singgah di tempat kami dan nanti akan kuantar engkau ke Hek I Kaipang."
"Siancai...! Nona ini masih berhubungan dekat dengan Hek I Kaipang? Nona, apakah engkau murid Pan-Jiu Sin-Kai Gu Liat, Ketua Hek I Kaipang?"
Tanya Pang Hok Tosu. In Hong menggeleng kepalanya.
"Bukan, Totiang (Pak Pendeta). Aku tidak mempunyai hubungan dengan Hek I Kaipang, melainkan ada sedikit urusan dengan mereka."
"Pang Hok Totiang, Nona ini adalah seorang sahabat baikku, ia biasa disebut Sian-Li Eng-Cu, seorang pendekar wanita yang gagah perkasa dan baik budi. Tentu Totiang tidak keberatan kalau ia menemani aku mengadakan perundingan dengan pihak Beng-San-Pai, bukan?"
"Tentu saja kami setuju. Silakan, Pangcu, silakan, Nona."
In Hong tidak dapat membantah lagi karena sesungguhnya ia pun tertarik dan ingin mengetahui siapa yang bersalah dalam urusan itu.
Benarkah ada murid Thian-Te-Pang diperkosa seorang Tosu Beng-San-Pai?
Kalau benar, sungguh aneh sekali.
Bagaimana seorang Pendeta To begitu keji memperkosa wanita?
Mereka lalu memasuki Kuil yang besar itu dan diajak masuk ke ruangan sebelah dalam.
Di dalam ruangan yang ditata bersih dan rapi, ruangan yang cukup luas, terdapat almari-almari besar berderet-deret di dinding, penuh dengan buku-buku yang tampaknya sudah tua.
Dan di tengah ruangan itu terdapat sebuah dipan kecil di mana duduk bersila seorang Tosu (Pendeta Agama To) yang usianya sekitar enam puluh lima tahun, tubuhnya tinggi kurus, wajahnya berseri cerah, matanya bening dan mulutnya tersenyum.
Jenggot dan kumisnya yang panjang sudah berwarna putih, pakaiannya jubah longgar serba putih pula.
Usia Pendeta ini sedikitnya enam puluh lima tahun.
Dia sedang membaca kitab dan di atas dipan, di sampingnya tergeletak sepotong tongkat bambu sederhana.
Pang Hok Tosu berkata sambil memberi hormat dengan menyembah sampai di dada.
"Suheng, saya membawa dua orang tamu datang menghadap Suheng. Dia adalah Gan Bouw Sicu (orang gagah Gan Bouw) Ketua Thian-Te-Pang dan Nona ini adalah Sian-Li Eng-Cu."
Pendeta itu memandang kepada dua orang muda itu sambil tersenyum ramah.
"Silakan duduk, Pangcu dan engkau, Nona."
Katanya sambil menunjuk ke arah kursi-kursi yang berada di depannya.
"Terima kasih, Totiang dan maafkan kalau saya datang mengganggu ketenangan di sini."
Kata Gan Bouw hormat.
Dia baru satu kali pernah bertemu dengan Ketua Beng-Sang-Pai ini sejak diangkat menjadi Ketua Thian-Te-Pang.
In Hong juga duduk di atas kursi sebelah Gan Bouw setelah merangkap kedua tangan depan dada sebagai penghormatan.
Pang Hok Tosu duduk di atas kursi sebelah dipan, menghadapi dua orang tamu muda itu.
Sejenak sepasang mata bening itu mengamati Gan Bouw dan In Hong, lalu U Gi To-jin, Ketua Beng-San-Pai itu menghela napas panjang dan berkata lirih seperti kepada diri sendiri.
"Siancai... di jaman sekarang orang-orang muda memiliki kemajuan yang pesat sekali. Masih begini muda sudah memiliki tingkat kepandaian tinggi."
Dia menoleh kepada Tosu yang duduk di sebelah kanannya.
"Pang Sute (Adik Seperguruan Pang), ada kepentingan apakah kedua orang pemuda yang gagah ini engkau ajak datang menemui Pinto?"
"Saya harap Suheng suka memaafkan saya. Tadi telah terjadi keributan di depan perkampungan kita. Sekitar tiga puluh orang anggauta Thian-Te-Pang datang dan menuduh bahwa seorang anggauta Beng-San-Pai kita telah memperkosa seorang gadis murid Thian-Te-Pang semalam. Mereka menuntut agar pemerkosa itu kami serahkan kepada mereka. Tentu saja kami menolak dan menyangkal. Tak mungkin seorang anggauta kami, seorang Tosu, melakukan perbuatan sejahat itu. Mereka menganggap kami membela dan menyembunyikan pemerkosa itu, lalu mereka menyerang kami."
"Siancai...! Mengapa engkau tidak memberitahu kepada Pinto?"
"Saya tidak ingin mengganggu Suheng yang sedang samadhi. Saya lalu cepat menyuruh Sute Eng Gi Tosu untuk berlari mencari dan memberitahukan hal itu kepada Pangcu Gan Bouw ini. Beruntung dia dapat bertemu dan datang bersama Gan Pangcu sehingga perkelahian dapat dihentikan."
"Semoga Thian mengampuni kita semua!"
U Gi To-jin berdoa.
"Apakah banyak yang tewas dalam perkelahian itu, Sute?"
"Untung tidak ada, Suheng. Yang jatuh hanya menderita luka yang dapat disembuhkan. Ketika mereka menyerbu, dan Sute Eng Gi Tosu pergi mencari Gan Pangcu, saya memimpin murid melakukan perlawanan bela diri dan melarang para murid menggunakan senjata atau membunuh lawan. Hal ini agaknya juga membuat pihak Thian-Te-Pang sungkan untuk menggunakan senjata sehingga yang roboh hanya terluka, tidak sampai tewas."
"Siancai! Itu baik sekali. Nah, sekarang bagaimana, Gan Pangcu? Menurut pendapatmu, bagaimanakah akan diselesaikannya urusan ini? Pinto dan para pembantu Pinto sejak dahulu selalu mengajarkan budi kebaikan kepada para murid agar mereka selalu menjauhkan perbuatan jahat. Akan tetapi ini bukan berarti bahwa Pinto menjamin kebersihan dan kesucian murid-murid kami. Pelajaran agama hanya merupakan ilmu pengetahuan dan ilmu seringkali tidak mampu memberi kekuatan cukup untuk mengekang nafsu diri sendiri."
Diam-diam In Hong kagum terhadap ucapan dua orang Tosu itu.
Mereka adalah orang-orang jujur dan yang tidak mau membenarkan diri sendiri dan jelas bukan orang-orang jahat yang suka mencari permusuhan dan suka berbuat sewenang-wenang.
"Totiang yang budiman, seperti yang saya dengar dari pelaporan anggauta Thian-Te-Pang tadi, ada seorang gadis murid Thian-Te-Pang telah diperkosa oleh seorang murid dad Beng-San-Pai. Saya kira sudah sepatutnya kalau Ayah dan rekan-rekan gadis itu menjadi marah dan menuntut agar pelakunya mendapat hukuman. Akan tetapi saya tidak setuju dengan terjadinya keroyokan tadi. Saya hanya mengharapkan kebajikan para pimpinan Beng-San-Pai agar pelaku itu dihukum sesuai dengan perbuatannya yang keji sehingga murid kami yang menderita penghinaan akan mereda sakit hatinya. Saya kira permintaan ini sudah adil dan pantas, demikian menurut pendapat saya."
Kata Gan Bouw dengan suara tegas namun hormat.
"Siancai...! Pendapatmu memang sudah pantas, Gan Pangcu. Sute, menurut tuduhan mereka itu, bagaimana mereka bisa mengetahui bahwa pelaku perkosaan itu adalah seorang murid kita?"
"Menurut tuduhan mereka, peristiwa terkutuk itu terjadi malam tadi di kamar yang gelap. Gadis itu tidak dapat melihat wajah pemerkosanya dengan jelas, hanya mengatakan bahwa orangnya masih muda, berkumis berjenggot, pakaiannya seperti yang kita pakai dan pemerkosa itu mengaku bahwa dia adalah murid Beng-San-Pai. Itu saja keterangan yang disampaikan kepada saya, Suheng."
Kata Pang Hok Tosu.
"Siancai...! Gan Pangcu, kalau gadis itu tidak melihat wajahnya dengan jelas, bagaimana kita dapat memastikan bahwa pemerkosa itu adalah seorang murid kami? Tentang pakaiannya sebagai Tosu dan pengakuannya sebagai murid Beng-San-Pai, Pinto kira semua orang juga dapat memakai dan mengatakannya."
"Sesungguhnya, Totiang, karena itulah maka tadi aku menegur para anggauta Thian-Te-Pang dan menyuruh mereka pergi. Akan tetapi, saya kira kedudukan sebagai seorang Tosu tidak menjamin seorang menjadi Suci dan tidak dapat melakukan perbuatan sesat!"
"Siancai..., ha-ha-ha..., engkau..., engkau lucu, Gan Pangcu!"
Kata U Gi To-jin sambil tertawa.
"Tentu saja agama tidak menjamin seseorang menjadi Suci. Agama hanya merupakan suatu ilmu, suatu pelajaran. Sudah tentu bukan tergantung kepada pelajarannya, melainkan kepada orangnya. Apa artinya pelajaran bertumpuk dan berjejalan dalam kepala kalau tidak dilaksanakan dalam kehidupan sehari-hari? Seperti pakaian indah bersih yang dipakai menutupi tubuh yang kotor! Kebaikan bukan terletak di dalam pikiran, melainkan keluar dari jiwa yang bersatu dan selalu dibimbing oleh To (Tao atau Kekuasaan TUHAN)."
"Terima kasih, Totiang. Saya telah mendapatkan pelajaran yang amat baik dan berharga dari ucapan Totiang tadi. Dengan demikian kita semua mengetahui bahwa bukan tidak mungkin seorang murid Totiang benar-benar melakukan perbuatan keji dan sesat terhadap murid perkumpulan kami itu. Karena perbuatan jahat itu, baik dilakukan orang yang menggunakan nama Beng-San-Pai ataupun oleh murid Beng-San-Pai sendiri, jelas mencemarkan nama baik Beng-San-Pai, maka saya minta dengan hormat sukalah kiranya para pimpinan Beng-San-Pai menyelidiki dan mencari pelaku itu. Dengan demikian keadilan telah dilakukan dan hubungan antara perkumpulan kita menjadi baik dan bersih kembali."
Kata Gan Bouw. U Gi To-jin mengangguk-angguk.
"Siancai... siancai... permintaanmu itu cukup adil dan beralasan, Gan Pangcu. Akan tetapi sebagai pihak yang dirugikan, kami percaya bahwa Thian-Te-Pang juga tidak akan tinggal diam dan ikut pula berusaha menyelidiki dan menangkap pelaku yang sesungguhnya. Juga Pinto percaya bahwa Pangcu akan mencegah para anggauta Thian-Te-Pang memusuhi kami, karena peristiwa yang terjadi itu bukan merupakan tindakan permusuhan Beng-San-Pai terhadap Thian-Te-Pang, melainkan kejahatan yang dilakukan seseorang."
"Tentu saja, Totiang. Sekarang saya mohon pamit."
Gan Bouw dan In Hong lalu keluar dari Kuil, diantar oleh Pang Hok Tosu sampai keluar pintu gerbang perkampungan.
Peristiwa dan sikap Gan Bouw itu membuat in Hong semakin kagum kepada pemuda kenalan barunya itu.
Ternyata pemuda yang tampan gagah itu bersikap sebagai seorang Ketua Thian-Te-Pang yang bijaksana!
Oleh karena merasa kagum dan suka kepada pemuda itu, ia tidak menolak ketika Gan Bouw mempersilakan ia mampir ke perkampungan Thian-Te-Pang yang berada di kaki Gunung Beng-San.
Dusun Kiok-Lim di kaki Gunung Beng-San merupakan dusun yang cukup besar, dengan penduduk sekitar lima ratus orang yang terdiri dari para petani.
Karena tanah di situ subur, maka hasil sawah ladang mereka melimpah dan membuat kehidupan para petani di situ cukup makmur.
Juga kehidupan rakyat pedusunan aman dengan adanya perkumpulan Thian-Te-Pang karena jarang ada penjahat berani mengganggu dusun itu.
Bahkan beberapa bulan yang lalu, gerombolan penjahat Tiga Belas Srigala Gila yang merupakan gerombolan perampok amat ganas dan terkenal di daerah Beng-San, mencoba untuk mengganggu dusun Kiok-Lim, akhirnya mereka semua tewas di tangan Gan Bouw yang kemudian diangkat menjadi Ketua Thian-Te-Pang.
Perkumpulan Thian-Te-Pang terdiri dari puluhan rumah yang dikelilingi pagan tembok, terletak di ujung selatan dusun Kiok-Lim.
Kurang lebih seratus orang anggautanya tinggal di perkampungan itu bersama keluarga mereka.
Yang terbanyak dari mereka adalah pemuda-pemuda yang belum berumah tangga, akan tetapi ada pula sekitar tiga puluh orang anggauta yang sudah mempunyai anak isteri dan anak-anak mereka yang sudah remaja juga menjadi anggauta perkumpulan itu.
Mereka juga hidup sebagai petani dan pemburu binatang di hutan-hutan yang banyak terdapat di Pegunungan Beng-San.
Setiap hari hanya bekerja dan berlatih silat.
Hidup mereka selama bertahun-tahun tenang saja.
Kegemparan karena serangan Tiga Belas Srigala Gila juga sudah terlupakan setelah Gan Bouw membunuh mereka dan menjadi Ketua baru.
Maka, dapat dibayangkan betapa geger mereka ketika pada suatu pagi, seorang gadis berusia enam belas tahun, puteri dari Thio Sun murid tertua Thian-Te-Pang, menangis dan menceritakan bahwa semalam ia telah diperkosa seorang penjahat yang memakai pakaian para Tosu Beng-San-Pai dan yang mengaku sebagai murid Beng-San-Pai!
Thio Sun yang berusia empat puluh tahun lebih itu tentu saja marah melihat Thio Ci Nio, puterinya yang remaja itu diperkosa orang yang menurut keterangan puterinya adalah seorang murid Beng-San-Pai.
Dan dia lalu bersama saudara-saudara seperguruannya mendatangi Beng-San-Pai sehingga timbul percekcokan yang mengakibatkan perkelahian.
Ketika Gan Bouw dan In Hong memasuki perkampungan Thian-Te-Pang para anggauta menyambut dengan sikap hormat dan mata mereka menunjukkan kekhawatiran.
Tentu saja para anggauta yang pulang dari Beng-San-Pai tadi sudah bercerita kepada para anggauta lain tentang peristiwa yang terjadi di perkampungan Beng-San-Pai dan mereka semua takut kalau-kalau Ketua mereka akan memarahi mereka.
Akan tetapi ternyata Gan Bouw tidak marah.
Ketika beberapa orang anggauta tertua, termasuk Thio Sun, dia hanya mengangguk dan berkata kepada Thio Sun.
"Suruh siapkan hidangan untuk menyambut Nona tamu kita dan setelah kami selesai makan, engkau bawalah anakmu Ci Nio datang menghadapku. Aku ingin bicara."
Thio Sun memberi hormat dan mengangguk.
"Baik, Pangcu."
Gan Bouw mengajak In Hong masuk ke dalam sebuah rumah yang terbesar di antara rumah-rumah di situ.
"Ini tempat tinggalku, Siauw-moi. Mari masuklah."
In Hong ikut masuk. Setelah mereka duduk di ruangan tengah yang terhias cukup rapi, ia berkata.
"Gan-Twako, tidak perlu engkau repot-repot. Sebetulnya aku hanya singgah sebentar dan akan melanjutkan perjalananku mengunjungi Hek I Kaipang."
"Aih, bagaimana aku dapat membiarkan engkau pergi begini saja, Sian-Li? Bukankah kita sudah menjadi sahabat? Hari sudah larut, menuju ke Hek I Kaipang harus mendaki gunung. Sebelum tiba di sana engkau akan kemalaman dan malam ini gelap tiada bulan. Sian-Li, engkau harus bermalam di sini dan melanjutkan perjalanan besok pagi. Pula, engkau harus menerima penghormatanku, menjadi tamu dan menerima hidangan kami sekadarnya. Besok aku akan mengantarmu naik ke Hek I Kaipang karena Ketuanya merupakan kenalan baikku."
In Hong tak dapat menolak.
Jarang dapat ditemukan seorang pemuda seperti Gan Bouw yang mengingatkan ia akan mendiang Ong Teng San dan Yo Kang.
Bahkan Gan Bouw lebih menarik daripada Yo Kang, karena kalau Yo Kang yang tinggi besar itu jujur dan agak kaku, bicaranya terbuka sehingga terkadang kasar, sebaliknya Gan Bouw lembut dan manis tutur sapanya.
la tahu bahwa kini Yo Kang telah memperoleh kemajuan pesat dan ilmu silatnya telah meningkat sehingga menjadi seorang yang lihai sekali.
Biarpun ia belum pernah menguji tingkat kepandaian Gan Bouw, namun ia yakin bahwa tingkat kepandaian Ketua Thian-Te-Pang ini pun amat tinggi, tenaga saktinya sudah terbukti dahsyat ketika dia sekali pukul dengan dayungnya membuat sebuah perahu besar pecah berantakan.
Juga gerakan ilmu silatnya ketika dia menghajar anak buahnya sendiri yang menyerbu Beng-San-Pai, tampak aneh namun gesit bukan main, kokoh seperti ilmu silat aliran Siauw-Lim-Pai.
"Baiklah, Gan-Twako. Aku akan dibilang tidak mengenal budi kalau menolak permintaan menginap di sini semalam."
"Ah, Siauw-moi, engkau ini ada-ada saja! Budi apa yang dapat kuberikan kepadamu! Engkau tidak menerima budi apa pun dariku. Kita hanya bertemu, berkenalan dan bersahabat!"
"Benar, akan tetapi engkau telah menyeberangkan aku, kemudian membantuku menghadapi para bajak sungai dan engkau mau menjadi penunjuk jalan bagiku. Bukankah semua itu merupakan budi kebaikan yang telah kau berikan padaku, Twako?"
"Sama sekali bukan apa-apa, Sian-Li. Engkau yang demikian lihai, tanpa kubantu juga tentu akan dapat membasmi para bajak sungai itu dengan mudah! Kita ini bersahabat, maka harap jangan bicara tentang melepas budi. Nah, sekarang silakan engkau mandi dan menukar pakaian sambil menanti disiapkannya hidangan. Aku akan menyuruh pelayan membersihkan sebuah kamar untukmu."
Dengan ramah Gan Bouw lalu menunjukkan di mana adanya kamar mandi dan dia menyuruh pelayan untuk membersihkan sebuah kamar yang terdapat banyak di situ sebagai persiapan untuk para tamu.
Malam itu mereka berdua makan minum dengan gembira.
Hanya mereka berdua, karena ternyata memang benar pemuda itu hidup sebatang kara dan dalam rumah yang cukup besar itu dia hanya ditemani empat orang pelayan wanita setengah tua dan dua orang pelayan pria yang kesemuanya merupakan anggauta Thian-Te-Pang.
Padahal tadi sore In Hong melihat bahwa di dalam perkampungan para anggauta itu terdapat pula wanita-wanita muda yang cukup cantik.
Agaknya Gan Bouw ini memang benar seorang pendekar muda yang gagah perkasa dan bijaksana!
Setelah selesai makan dan meja dibersihkan, mereka berdua duduk bercakap-cakap dengan santai, dan In Hong merasa seolah ia berhadapan dengan seorang sahabat lama yang sudah dikenalnya baik-baik karena pemuda itu bersikap terbuka dan ramah sekali.
"Siauw-moi, aku menghormati sikapmu yang merahasiakan riwayat dirimu dan tidak mau mendesakmu, akan tetapi kiranya engkau tidak keberatan untuk mengatakan siapa Gurumu. Sejak remaja aku merantau ke daerah Himalaya dan Tibet sehingga tidak mengenal ilmu silat di Tionggoan (daratan Cina)."
Sebetulnya In Hong yang ingin merahasiakan segala sesuatu tentang dirinya tidak ingin menceritakan, akan tetapi melihat sikap yang terbuka, jujur dan demikian ramahnya, merasa sungkan juga.
"Gan-Twako, ceritakan dulu dengan jelas tentang Guru-Gurumu dan aliran silat apa yang kau pelajari, baru aku akan menceritakan tentang Guru-Guruku."
"Baiklah, Sian-Ii. Dulu, sebelum aku merantau ke daerah Barat, aku mempelajari ilmu silat dari para Guru silat yang berada di daerah Lam-Keng. Setiap mendengar ada Guru silat yang pandai, aku lalu datangi dan belajar padanya. Akan tetapi setelah aku remaja, berusia sekitar lima belas tahun, aku merasa tidak puas dengan ilmu-ilmu silat yang kupelajari. Kuanggap ilmu-ilmu mereka itu kasar dan hanya kulitnya saja. Maka aku lalu merantau, di sepanjang jalan aku memperdalam ilmu silatku sampai akhirnya aku berada di Tibet. Di Tibet inilah baru aku benar-benar mempelajari ilmu-ilmu yang memuaskan hatiku dari para Pendeta Lama. Di antara mereka, yang kuakui sebagai Guruku adalah seorang Lama jubah Merah, pemimpin utama bagian ilmu silat dari para Pendeta Lama di bawah Dalai Lama. Dia adalah Dong Hai Lama dan selama tujuh tahun aku menerima gemblengan dari Suhu Dong Hai Lama. Baru setahun yang lalu aku meninggalkan Tibet. Nah, demikianlah riwayatku, Sian-Li."
"Hemm, pantas sekali engkau Iihai, Twako. Aku pernah mendengar bahwa para Pendeta Lama adalah ahli-ahli ilmu silat dan ilmu sihir yang amat tinggi ilmunya. Aku sendiri pernah mempunyai dua orang Guru yang keduanya sudah meninggal dunia. Guruku yang pertama adalah Subo (Ibu Guru) Hek Moli. la baik sekali kepadaku dan sudah kuanggap sebagai Ibuku sendiri. Kemudian aku bertemu dengan Guruku yang kedua. Guruku ini bahkan merupakan suami dari Guruku yang pertama, namanya..."
"Aku tahu, namanya Bhutan Koai-Jin!"
Gan Bouw berseru. In Hong terkejut dan memandang heran.
"Bagaimana engkau dapat mengetahuinya, Gan-Twako?"
"Tentu saja aku tahu, Sian-Li. Para Pendeta Lama di Tibet mengenal siapa suami-isteri yang amat lihai itu. Mereka berasal dari Sek-Kim (Bhutan), bukan? Mereka dulu terkenal sebagai suami-isteri yang sakti, akan tetapi setelah mereka meninggalkan Bhutan dan merantau ke Tionggoan, lalu tidak ada beritanya lagi. Kiranya mereka berdua menjadi Gurumu. Wah, tentu ilmu kepandaiannnu hebat bukan main! Akan tetapi, tadi engkau mengatakan bahwa mereka berdua sudah meninggal? Hemm, aneh sekali. Mereka tidaklah begitu tua sekali, mengapa mereka sudah meninggal dunia?"
Ditanya demikian, wajah cantik itu berubah agak kemerahan karena timbul amarah teringat akan kematian Guru-Gurunya.
"Hemm, kalau mereka tidak dikeroyok para pengecut yang menamakan diri mereka sendiri pendekar-pendekar golongan bersih, mana mungkin kedua orang Guruku itu tewas?"
"Ehh? Apa yang telah terjadi, Sian-Li? Ceritakanlah padaku. Kalau ada penasaran, aku selalu siap untuk membantumu membalaskan sakit hatimu. Bagaimanapun juga, mendiang Hek Moli dan mendiang Bhutan Koai-Jin adalah sahabat-sahabat baik para Pendeta Lama di Tibet."
In Hong merasa telah kelepasan bicara maka ia pun tidak ingin merahasiakan lagi urusan yang telah lama terjadi itu.
"Ketika kedua orang Guruku, suami-isteri itu, tiba di Tionggoan, mereka menantang para pimpinan partai-partai persilatan besar seperti Siauw-Lim-Pai, Kun-Lun-Pai, Bu-Tong-Pai, Go-Bi-Pai, dan lain-lain. Dan semua tokoh pimpinan itu dikalahkan! Tentu saja dalam pibu (mengadu ilmu silat) itu, banyak tokoh partai persilatan yang terluka dan tewas. Hal ini membuat mereka sakit hati. Mereka lalu bersekutu dan kedua orang Guruku itu dikeroyok banyak orang! Bhutan Koai-Jin yang dikeroyok banyak orang itu dibuntungi kedua kaki tangannya sebatas lutut dan siku sehingga dia merasa malu kepada isterinya dan menyembunyikan diri sambil diam-diam memperdalam ilmunya walaupun kedua pasang kaki tangannya sudah tidak ada. Hek Moli juga memperdalam ilmunya dan akhirnya ia mengambil aku sebagai murid. Akan tetapi, akhirnya Hek Moli tewas dikeroyok tiga orang San Lojin tokoh-tokoh Kun-Lun-Pai dan Wi Tek Tosu tokoh Go-Bi-Pai. Mereka itu membalas dendam kematian beberapa orang saudara seperguruan mereka yang tewas ketika pibu melawan mendiang Subo (Ibu Guru). Aku mencoba untuk membalas kematian Hek Moli, namun aku kalah. Akhirnya aku bertemu dengan Bhutan Koai-Jin dan digembleng selama setengah tahun. Guruku yang kedua itu meninggal karena tua dan kehabisan tenaga. Aku lalu membuat pembalasan dan berhasil membunuh ketiga San Lojin dari Kun-Lun-Pai. Wi Tek Tosu dari Go-Bi-Pai sudah dihukum selama lima tahun oleh Ketua Go-Bi-Pai. Nah, begitulah, Gan-Twako."
Gan Bouw menghela napas panjang.
"Hemm, aku sendiri belum ada kesempatan untuk bertemu para tokoh besar, pimpinan partai-partai persilatan itu, Sian-Li. Akan tetapi aku juga sudah mendengar bahwa mereka itu adalah orang-orang sakti yang sombong dan merasa paling pandai, paling gagah, dan paling Suci. Sungguh mengherankan. Bukankah mereka itu katanya Pendeta-Pendeta yang menyebarkan pelajaran tentang kebaikan? Mengapa mereka malah menjadi orang-orang sombong, merasa Suci sendiri dan memandang rendah orang lain, menganggap bahwa orang-orang lain itu jahat kotor belaka dan hanya mereka yang Suci dan bersih? Sungguh aku tidak mengerti, Sian-Li."
In Hong menghela napas panjang.
"Sejak kecil aku dididik dan dirawat Subo Hek Moli. Guruku itu selalu bicara tentang kepalsuan para pimpinan partai-partai persilatan besar. Kata Subo, para pimpinan itu menghimpun kekuatan hanya untuk membuat dirinya sendiri menjadi terkenal dan dihormati, dan mereka itu merasa paling lihai, paling pandai, dan itu tadi, paling Suci dan bersih. Sejak dulu aku menjadi tidak suka kepada mereka, akan tetapi..."
"Akan tetapi mengapa, Siauw-moi?"
Beberapa saat lamanya In Hong tidak menjawab.
la termenung dan teringat akan beberapa orang murid dan tokoh para partai persilatan besar yang sama sekali tidak dapat dibilang sombong atau curang.
Pertama tentu saja adalah Ong Tiang Houw yang menjadi murid Bu Sek Tianglo, Suheng dari Bu Kek Tianglo Ketua Siauw-Lim-Pai, berarti Ong Tiang Houw juga seorang tokoh aliran Siauw-Lim-Pai.
Kemudian Ong Teng San juga seorang murid Siauw-Lim-Pai, dia seorang pendekar gagah perkasa yang rendah hati dan baik.
Keduanya sudah meninggal.
Lalu Adik tirinya sendiri, Ong Lian Hong, juga seorang murid Siauw-Lim-Pai.
Kemudian ia teringat akan Siang-Te Lokai, tokoh besar dari Kun-Lun-Pai, yang ternyata amat bijaksana.
Ketika ia dulu menyerbu ke Siauw-Lim-Pai untuk mencuri kitab, lalu menyerbu Kun-Lun-Pai untuk membalas dendam, demikian pula menyerbu Go-Bi-Pai untuk membalas dendam kematian Hek Moli, ia bertemu dengan tokoh-tokoh besar para partai persilatan itu yang sama sekali tidak sombong.
Memang ada beberapa orang yang tinggi hati, namun ia tidak dapat mengatakan bahwa mereka semua sombong.
"Apa yang kau pikirkan, Sian-Li?"
Gan Bouw menegur karena lama gadis itu tidak melanjutkan bicaranya yang terputus tadi.
"Aku hanya teringat bahwa ada beberapa orang tokoh dan murid perguruan-perguruan besar itu yang tidak sombong dan baik."
"Aku percaya itu, Sian-Li, akan tetapi sebagian dari mereka itu tinggi hati dan memandang rendah golongan lain. Ingat saja murid Bu-Tong-Pai yang membunuh tiga puluh orang murid Hek I Kaipang itu, dan baru saja murid Beng-San-Pai yang beragama To, melakukan perkosaan."
"Akan tetapi semua itu belum dapat dibuktikan, Twako, masih merupakan rahasia, apakah benar murid Bu-Tong-Pai yang membunuhi para murid Hek I Kaipang seperti juga belum tentu murid Beng-San-Pai yang melakukan perbuatan keji terhadap gadis anggauta perkumpulanmu."
"Aku membutuhkan bantuanmu, Sian-Li."
"Bantuan? Bantuan apa?"
"Bantulah aku menyelidiki peristiwa ini, Siauw-moi. Kau bantu aku menangkap penjahat yang telah memperkosa Thio Ci Nio, puteri anggauta tertua kami, kemudian aku akan mengantarmu ke Hek I Kaipang dan kita bersama menyelidiki tentang pembunuhan terhadap tiga puluh orang anak buah Hek I Kaipang itu."
In Hong menggeleng kepalanya.
"Maaf, Twako. Kau selidikilah sendiri, aku percaya dan yakin engkau akan mampu menangkap pelakunya. Besok pagi-pagi aku harus pergi mengunjungi Hek I Kaipang dan aku ingin pergi sendiri saja."
Dalam suara gadis itu terkandung nada yang tegas dan pasti, bahkan agak keras karena kalau ia memutuskan sesuatu, biasanya keputusannya itu tidak boleh diubah siapa pun.
Wajah yang tampan itu tampak kecewa dan bersedih.
"Aih, Sian-Li, engkau membuat aku merasa bersedih sekali. Terus terang saja, Adik Sian-Li, aku... aku rasanya berat sekali kalau harus kau tinggalkan, harus berpisah darimu. Aku akan kehilangan sekali, kesepian dan hidup ini akan kehilangan sinarnya. Kehadiranmu bagaikan cahaya yang menerangi hatiku, bagaikan panasnya matahari yang membakar semangat hidupku, bagaikan embun yang membasahi dan menyegarkan dan menyejukkan perasaanku. Siauw-moi... janganlah tergesa-gesa meninggalkan aku..."
In Hong mengerutkan alisnya mendengar pemuda itu kini merengek-rengek, akan tetapi ucapannya itu jelas menyatakan bahwa pemuda itu jatuh cinta padanya!
Begitu cepatnya jatuh cinta!
Rasa kagumnya terhadap Gan Bouw menjadi berkurang karena ia menganggap pemuda ini cengeng dan Iemah!
Bagaimana mungkin pemuda yang demikian gagah perkasa, sopan santun dan baik budi bahasanya bisa begini cengeng?
Merengek-rengek minta agar jangan ditinggalkan?
la menjadi tak senang dan cepat bangkit berdiri.
"Maaf, Twako, aku ingin mengaso."
Melihat sikap gadis itu, Gan Bouw cepat mengubah sikapnya. Dia tersenyum ramah lagi dan berkata dengan lembut.
"Tentu saja, Sian-Li, silakan mengaso Iebih dulu, engkau tentu lelah"
In Hong memasuki kamar yang telah dipersiapkan untuknya.
Sebuah kamar yang bersih dan cukup indah.
In Hong duduk di tepi pembaringannya dan termenung.
Masih terbayang sikap Gan Bouw tadi, dan masih terngiang di telinganya semua ucapannya yang begitu penuh perasaan dan seperti orang mohon dikasihani.
Sebelum merebahkan diri untuk tidur, In Hong memeriksa jendela dan pintu kamar itu.
Jendela itu cukup kuat dan dapat dipalang dari dalam, demikian pula daun pintunya.
Daun jendela atau daun pintu itu tidak mungkin dapat dibuka orang tanpa memaksanya dan kalau ini dilakukan, tentu akan mengeluarkan bunyi gaduh.
Juga langit-langit kamar itu cukup kuat dan akan mengeluarkan bunyi keras kalau dibuka dengan paksa.
Setelah itu ia merebahkan diri, akan tetapi agak gelisah.
la heran mengapa ia memeriksa jendela dan pintu.
Padahal, berada di rumah Gan Bouw ia tidak perlu khawatir apa-apa.
Siapa yang akan berani mengganggunya dalam rumah Ketua Thian-Te-Pang?
Akhirnya ia tertidur juga dengan pulas.
Malam itu tidak terjadi sesuatu sehingga pada keesokan harinya In Hong terbangun pagi-pagi sekali dengan tubuh terasa segar.
la membuka daun jendela dan ternyata cuaca masih remang-remang karena fajar baru menyingsing.
Tak lama kemudian daun pintunya diketuk dan luar.
"Siapa?"
Tanya In Hong tanpa membuka daun pintu karena kalau yang mengetuk pintu itu Gan Bouw, ia tidak mau diganggu sepagi itu dan ia belum juga membersihkan badan mencuci muka.
"Ini saya, Siocia (Nona). Saya melihat jendela kamar Nona sudah dibuka dan saya ingin bertanya apakah Nona memerlukan air hangat untuk mencuci muka? Kalau Nona menghendaki, akan saya antar satu baskom air hangat ke dalam kamar Nona."
Senang hati In Hong mendengar ini.
"Ah, engkau baik sekali, Bibi,"
Katanya sambil membuka daun pintu.
"Tolong ambilkan air hangat dan bawa ke sini."
"Baik, Nona."
Pelayan setengah tua itu pergi dan tidak lama kemudian ia membawa sebuah panci atau baskom besar dan seceret besar air hangat.
Setelah meletakkan baskom itu ke atas meja ia lalu menuangkan air hangat yang masih mengepulkan uap ke dalam baskom.
Setelah itu ia keluar dari kamar dan menutupkan kembali daun pintu.
In Hong lalu mulai mencuci mukanya dengan air hangat itu.
Nyaman sekali rasanya.
Udara sejuk agak dingin, maka ketika muka dan lehernya terkena air hangat, rasanya amat menyenangkan.
la pun mencium bau harum air itu, diam-diam merasa betapa ia dimanja.
Air pencuci muka saja diberi air kembang agaknya, demikian harum baunya.
la menyedot bau harum itu dan tiba-tiba ia merasa kepalanya pening, pandang matanya terputar-putar.
"Celaka...!"
Serunya, akan tetapi ketika ia menghampiri pembaringan untuk mencari pegangan, tubuhnya terguling dan ia roboh pingsan, tubuh bagian atas di pembaringan.
Sesosok tubuh berkelebat masuk ke dalam kamar melalui jendela yang masih terbuka.
Dia adalah seorang laki-laki berusia sekitar tiga puluh tahun, bertubuh tinggi besar dan mukanya brewok, matanya besar dan wajahnya bengis menyeramkan.
Sinar matanya yang mencorong tajam membayangkan kekejaman, dan mulutnya menyeringai seperti mengejek.
Dengan ringan dia memondong tubuh In Hong yang terkulai pingsan lalu membawanya keluar melalui jendela.
Pagi itu masih gelap dan agaknya para penghuni rumah itu baru pelayan wanita tadi yang sudah bangun.
Ketika melihat keadaan yang sunyi, orang itu lalu melompat dan dengan menyusup-nyusup akhirnya dapat melarikan diri keluar dari perkampungan Thian-Te-Pang tanpa ada yang melihatnya.
Setelah membawa lari In Hong sampai ke dalam sebuah hutan yang banyak terdapat di kaki pegunungan itu, In Hong sadar dari pingsannya.
Kepalanya terasa pening sekali akan tetapi ia segera dapat merasakan dan melihat bahwa ia berada dalam pondongan kedua lengan seorang laki-laki!
Tentu saja ia terkejut dan marah bukan main.
ia segera menggerakkan tangan kanannya untuk memukul muka orang itu sambil meronta.
Akan tetapi ia mengeluh.
Tubuhnya lemas dan ia tidak mampu mengerahkan tenaga dalamnya sehingga tamparannya tadi hanya mengenai pipi pemondongnya dengan tenaga biasa yang lemah pula.
"Plak...!"
Akan tetapi rontaannya sempat membuat orang itu terkejut dan ia pun terlepas dari pondongannya, jatuh terguling di atas tanah.
"Ha-ha-ha! Engkau sudah sadar? Bagus, aku tidak suka mendapatkan korban yang tidak mampu bergerak seperti mayat!"
Setelah berkata demikian, orang itu menyeringai menyeramkan dan menubruk seperti seekor singa menerkam domba.
In Hong rebah telentang tidak mampu mengelak atau melawan karena seluruh tubuhnya terasa lemah seolah semua tangannya telah lenyap.
"Desss...!"
Sebelum tubuh laki-laki itu dapat menerkam tubuh In Hong, sebuah tendangan kilat membuat tubuh itu terlempar dan terguling-guling! "Jahanam keparat!!"
Gan Bouw yang tadi menendang orang itu kini melompat menghampiri dengan gerakan cepat sekali.
In Hong tadinya terkejut dan ngeri mendapat kenyataan betapa tenaganya hilang dan ia sama sekali tidak berdaya, kini menjadi lega dan ia mengikuti gerakan Gan Bouw dengan pandang mata kagum.
Laki-laki tinggi besar itu terbelalak ketakutan.
"... Pek... Bin-Houw... a... aku..."
"Prakkk!"
Kaki Gan Bouw menendang dan orang itu terpental, tewas dengan kepala pecah! Gan Bouw tidak mempedulikannya lagi. Dia cepat menghampiri In Hong yang sudah bangkit duduk.
"Siauw-moi... engkau tidak apa-apa...?"
Tanyanya khawatir. Dengan lemas dan sukar In Hong mencoba berdiri. Melihat ini, Gan Bouw segera membantunya berdiri dengan memegang kedua lengannya.
"Aku keracunan, Gan-Twako...!"
Kata In Hong dan ketika ia mencoba untuk melangkah, ia terguling dan tentu roboh kalau saja Gan Bouw tidak cepat menangkapnya.
"Maaf, Siauw-moi. Jangan bergerak dulu, maafkan kalau terpaksa aku memondongmu. Nanti di rumah saja kita bicara."
Pemuda itu lalu memondong tubuh In Hong dan membawanya lari cepat sekali kembali ke dusun Kiok-Lim.
Para anggauta Thian-Te-Pang memandang heran melihat Ketua mereka datang memondong tubuh gadis yang semalam menjadi tamu mereka itu.
"Cepat kalian pergi ke hutan sebelah selatan itu. Lihat siapa mayat yang berada di sana"
Perintahnya kepada beberapa orang anggauta Thian-Te-Pang, lalu dia membawa In Hong masuk ke dalam rumahnya. Pelayan wanita setengah tua menyambutnya dengan tangis.
"Pangcu... celaka... A Him dibunuh orang..."
Katanya sambil memandang In Hong yang sudah direbahkan telentang di atas sebuah pembaringan. In Hong mengenal wanita itu sebagai wanita setengah tua yang menyediakan air hangat pencuci muka pagi tadi.
"Hemm, keparat Ini tentu ada hubungannya dengan peristiwa yang menimpamu, Sian-Li. Biar aku lihat dulu sebentar."
Gan Bouw lalu pergi ke belakang, diikuti pelayan wanita. Tak lama kemudian dia sudah kembali dan duduk di atas dekat pembaringan di mana In Hong rebah.
"Yang tewas itu pelayan pria yang biasa bekerja pagi-pagi. Agaknya dia tewas ketika sedang menjerang air. Agaknya penjahat yang menculikmu tadi yang membunuhnya, akan tetapi aku tidak tahu mengapa dia membunuh pelayan itu?"
"Aku tahu sebabnya, Twako. Tentu dia membunuh pelayan itu agar dia dapat menuangkan racun ke dalam air sehingga ketika Bibi pelayan membawakan air pencuci muka untukku, aku keracunan dan pingsan. Selanjutnya, ketika siuman, aku sudah berada di hutan itu. Untung engkau datang, Twako, kalau tidak... ah, aku berterima kasih sekali padamu, Twako."
"Sudahlah, tidak perlu berterima kasih. Sebaiknya sekarang kuperiksa, apa yang menyebabkan engkau kehilangan tenaga seperti ini!"
Gan Bouw lalu memeriksa denyut nadi In Hong, lalu mendekatkan hidungnya pada dahi gadis itu dan dapat mencium bau harum yang tadi membuat In Hong pingsan.
"Hemm, aku tahu sekarang! Ini adalah keharumah Bunga Pelangi yang hanya terdapat langka di daerah Gurun Gobi! Aku pernah melihatnya dan sari keharuman bunga ini memang dapat melumpuhkan kalau memasuki paru-paru. Akan tetapi jangan khawatir, Siauw-moi. Racun ini tidak berbahaya dan mari kubantu engkau mengusir hawa beracun dari tubuhmu. Silakan duduk dan bersila, Sian-Li."
In Hong segera duduk bersila dan Gan Bouw duduk bersila di belakangnya.
Kemudian pemuda itu menempelkan kedua telapak tangannya di punggung Sian-Li Eng-Cu.
In Hong yang tidak mampu mengerahkan tenaga saktinya, hanya menerima saja.
la merasa betapa getaran kuat muncul dari kedua telapak tangan itu, dan hawa menjalar ke seluruh tubuhnya, berputaran lalu berkumpul di dalam dadanya.
Tak lama kemudian, bau yang harum menerobos keluar dari dadanya, melalui hidung, membuat ia pening.
Akan tetapi lambat laun bau harum itu melemah dan lenyap.
la merasa betapa kedua telapak tangan di punggungnya itu menggetar dan hangat dan tiba-tiba ia menggelinjang karena kulit telapak kedua tangan itu seperti hidup, seolah membelai-belai punggungnya!
Setelah rasa pening dan lemas menghilang, ia mencoba mengerahkan tenaga dalamnya dan ia berhasil!
Segera ia mengerahkan sinkang (tenaga sakti) untuk membantu, membersihkan semua sisa hawa beracun itu keluar dari tubuhnya.
"Ah, sukurlah. Engkau sudah sembuh, Siauw-moi!"
Kata Gan Bouw girang dan dia melepaskan kedua tangannya lalu turun dari pembaringan dan duduk di atas kursi.
Tiba-tiba beberapa orang anggauta Thian-Te-Pang memasuki ruangan itu.
Thio Sun, anggauta tertua, Ayah dari Thio Ci Nio yang menjadi korban perkosaan melapor.
"Pangcu, mayat itu adalah penjahat yang terkenal di bagian timur pegunungan dengan julukan Tok-Coa Mo-Ko (Iblis Ular Beracun). Tidak salah lagi, Pangcu. Tentu jahanam itu yang telah melakukan perbuatan keji terhadap Ci Nio tempo hari. Kami sudah melemparkan mayatnya ke jurang, biar menjadi makanan binatang buas!"
Gan Bouw mengangguk-angguk.
"Sangat boleh jadi. Sekarang, beberapa orang dari kalian pergilah menghadap pimpinan Beng-San-Pai, kabarkan bahwa pelaku perkosaan itu telah ditemukan dan dihukum mati, dan sampaikan maafku kepada mereka atas kesalahan-dugaan kalian tempo hari."
Setelah semua anggauta itu keluar dari ruangan, In Hong berkata, suaranya mengandung keharuan.
"Gan Twako, aku sungguh berhutang budi besar padamu. Aku berterima kasih, Twako, dan budimu ini tidak akan kulupakan. Sekarang aku minta diri, aku akan melanjutkan perjalananku mengunjungi Hek I Kaipang."
Gan Bouw tampak terkejut seolah dia baru ingat bahwa gadis itu akan meninggalkannya.
"Engkau... hendak pergi, Sian-Li? Ah, benar, engkau akan mengunjungi Hek I Kaipang. Biar kuantar engkau, Sian-Li."
"Terima kasih, Twako, tidak perlu. Aku akan pergi sendiri."
"Tapi... tapi..."
Gan Bouw melihat pandang mata yang tajam itu lalu cepat disambungnya.
"Ah, tentu saja. Engkau pergi sendiri. Baiklah, Sian-Li, aku tidak berhak menahanmu..."
"Aku hendak mengambil pakaian dan pedangku, Twako."
In Hong lalu memasuki kamarnya, mengambil buntalan pakaian dan Gan-Liong-Kiam, pedang pusakanya.
Ia pun berganti pakaian bersih.
Ketika ia keluar lagi, Gan Bouw sudah menunggunya.
Wajah pemuda itu tampak kecewa sekali.
"Sian-Li... benar-benar... tegakah engkau meninggalkan aku kesepian di sini seorang diri...?"
In Hong menghela napas panjang.
Pemuda ini tampan, gagah perkasa, baik budi, menjadi Ketua perkumpulan lagi, akan tetapi terkadang bersikap demikian lemah dan cengeng.
Ataukah hal ini terjadi karena pengaruh cinta?
"Gan-Twako, ada waktunya bertemu, ada pula waktunya berpisah.
Dan perpisahan bukanlah selamanya kalau orangnya belum mati.
Di lain waktu kita dapat saja saling berjumpa kembali.
Nah, sekali lagi terima kasih atas segala budi dan kebaikanmu, Twako, maafkan kalau aku mengecewakanmu dan selamat tinggal!"
"Selamat jalan, Sian-Li. Kalau engkau pergi, aku pun tidak betah lagi berdiam di sini, aku pun akan pergi merantau!"
In Hong sudah memberi hormat dan pergi meninggalkan rumah itu, terus meninggalkan perkampungan Thian-Te-Pang.
Kalau ia tidak tegas dan berlama-lama di situ, mungkin saja ia akan memenuhi permintaan Gan Bouw untuk tinggal lebih lama lagi.
Semua sikap, pandang mata, kata-kata dan terutama rabaan kedua telapak tangan pemuda itu ketika mengobatinya tadi, jelas sudah mengutarakan perasaan hati pemuda itu kepadanya.
Gan Bouw jatuh cinta padanya dan mungkin amat mencintanya, lebih dari pada para pemuda lain!
Pada waktu itu, Bu-Tong-Pai yang berpusat di pegunungan Bu-Tong-San, merupakan sebuah perguruan silat yang besar dan terkenal, yang kedudukannya sejajar dengan perguruan-perguruan Siauw-Lim-Pai, Kun-Lun-Pai dan Go-Bi-Pai.
Yang menjadi Ketua Bu-Tong-Pai adalah Tiong Li Seng-jin, seorang Tosu (Pendeta Agama To) yang berusia tujuh puluh tahun lebih.
Tosu tua ini bertubuh tinggi kurus, rambut, kumis dan jenggot panjangnya sudah putih semua seperti benang perak.
Rambutnya digelung ke atas.
Wajahnya yang kurus masih membekaskan ketampanan, dan wajah yang penuh senyum itu memiliki sepasang mata yang penuh wibawa.
Gerak-geriknya lembut seperti seorang sastrawan dan memang sesungguhnya, Ketua Bu-Tong-Pai ini seorang sastrawan yang memiliki ilmu silat tinggi.
Karena sudah merasa tua, maka semua urusan perguruan dia serahkan kepada wakilnya, yaitu beberapa orang Tosu yang menjadi Adik-adik seperguruannya.
Tiong Li Seng-jin sendiri lebih suka bersamadhi di dalam ruangan samadhinya.
Yang menjadi wakil Ketua Bu-Tong-Pai adalah Tiong Hak Tosu, Sute (adik seperguruan) dari Tiong Li Seng-jin.
Tiong Hak Tosu ini bertubuh tinggi besar, mukanya penuh brewok dan berkulit hitam seperti Thio Hwi, tokoh dalam cerita Sam Kok yang terkenal.
Sepasang matanya bundar dan mengandung kejujuran namun juga tajam menembus seperti dapat menjenguk isi hati orang.
Tosu ini berusia sekitar enam puluh tahun dan dia terkenal sebagai seorang ahli ilmu golok Bu-Tong To-Hwat yang lihai.
Inilah Guru dari Yo Kang, putera Yo Hang Tek yang tinggal di See-Ciu, pendekar yang terkenal dengan julukan But-Tong Kiam-Hoat (Golok Emas dari Bu-Tong) itu.
Masih ada tiga orang pembantu utama lagi di Bu-Tong-Pai yang menangani semua urusan, membantu pekerjaan Tiong Hak Tosu, yaitu tiga orang Tosu yang merupakan Adik-adik seperguruan termuda dari Ketua dan wakil Ketua itu.
Mereka bertiga ini di dunia persilatan dikenal sebagai Bu-Tong Sam-Lo (Tiga Orang Tua Bu-Tong).
Mereka adalah Tiong Gi Tosu yang bertubuh sedang, Tiong Jin Tosu yang bertubuh gendut, dan Tiong Sim Tosu yang bertubuh tinggi.
Usia mereka kurang lebih lima puluh lima tahun.
Mereka bertiga selain menangani urusan luar dan dalam, juga mereka melatih para murid yang tingkatnya masih permulaan dan pertengahan.
Murid yang tingkatnya sudah tinggi seperti Yo Kang dilatih oleh Tiong Hak Tosu.
Tiong Li Seng-jin hanya kadang-kadang saja melihat sampai di mana kemajuan para murid dan memberi petunjuk-petunjuk.
Ada belasan orang murid yang menjadi Tosu dan mereka ini adalah murid-murid golongan tua yang sudah menetap di perumahan Bu-Tong-Pai dan bertugas sebagai pembantu-pembantu Bu-Tong Sam-Lo.
Akan tetapi para murid Bu-Tong-Pai tidak diharuskan menjadi Tosu, walaupun tentu saja mereka mendapat pelajaran kerohanian menurut Agama To.
Pada waktu itu, jumlah murid yang belajar di Bu-Tong-Pai terdapat sekitar seratus orang, belasan orang di antaranya adalah murid-murid wanita yang belajar dan tinggal di perumahan Bu-Tong-Pai di bawah pengawasan seorang Tokauw (Pendeta wanita).
Bu-Tong-Pai terkenal sebagai perguruan silat besar yang menghasilkan banyak pendekar-pendekar gagah perkasa yang juga berjiwa patriot.
Memang, setelah tanah air dikuasai penjajah Mongol yang memiliki bala-tentara kuat, seperti perguruan silat aliran lain, Bu-Tong-Pai tidak berani menentang Kerajaan Goan (Mongol) secara berterang.
Kalau mereka terang-terangan menentang, tentu laksaan pasukan Mongol akan menghancurkan mereka dan tentu saja mereka bukan lawan pasukan yang besar itu.
Akan tetapi sudah jelas, sikap mereka tidak mau tunduk, tidak mau membantu pemerintah penjajah.
Seperti perkumpulan para pendekar lain, mereka semua menanti datangnya saat yang tepat di mana rakyat mendapat pimpinan seorang yang tangguh untuk memberontak.
Kalau rakyat sudah memberontak, pasti Bu-Tong-Pai akan membantu sepenuhnya.
Hanya dengan adanya pasukan rakyat yang besar jumlahnya mereka akan dapat dan berani menentang Kerajaan Mongol secara terang-terangan.
Kini, para pimpinan Bu-Tong-Pai hanya menganjurkan para murid untuk berlatih dengan tekun.
Malam itu cuaca gelap.
Langit tertutup mendung hitam tebal sehingga bulan yang mestinya muncul sepotong dan beberapa buah bintang sama sekali tidak tampak dan tidak dapat memberi penerangan karena sinar mereka yang lemah tidak mampu menembus mendung tebal.
Sesosok bayangan berkelebat cepat sekali, melompati dinding tembok yang mengelilingi markas Bu-Tong-Pai itu bagaikan seekor burung terbang saja.
Pakaian orang itu serba hitam sehingga kalau dia tidak bergerak, sukar untuk dapat melihatnya.
Tubuhnya sedang saja, tampak agak besar dalam pakaian yang longgar itu, pakaian yang bentuknya seperti jubah Pendeta, sederhana sekali.
Sukar untuk dapat melihat wajahnya di kegelapan itu, hanya dapat diduga bahwa kepalanya gundul.
Agaknya dia mengenal betul daerah itu karena tanpa ragu dia berkelebat dan menyelinap di antara pohon-pohon dan semak dalam kebun, lalu menghampiri bangunan induk yang juga menjadi Kuil.
Di Kuil atau bangunan induk ini selain terdapat ruang sembahyang, juga menjadi tempat tinggal para pimpinan Bu-Tong-Pai, yaitu Tiong Li Seng-jin yang malam itu sudah bersamadhi dalam kamarnya, Tiong Hak Tosu yang rebah di atas pembaringan dalam kamarnya, dan Bu-Tong Sam-Lo, tiga orang Tosu itu yang masih duduk bercakap-cakap dalam kamar bersama mereka yang besar.
"Jin-Sute dan Sim-Sute, malam ini aku ingin sekali mempelajari dan membahas tentang pelajaran dari Guru Agung kita Lo-Cu (Lao Ce) yang tersusun dalam Kitab Suci kita To-Tik-Keng (Tao-Te-Cing)."
Kata Tiong Gi Tosu kepada dua orang Adik seperguruannya, yaitu Tiong Jin Tosu dan Tiong Sim Tosu.
Mereka bertiga duduk mengelilingi sebuah meja bundar dan masing-masing memegang sebuah kitab To-Tik-Keng.
"Gi-Suheng, puluhan tahun kita sudah membaca kitab Suci kita ini, dan dahulu mendiang Suhu sudah menjelaskan. Memang ayat-ayat dalam kitab Suci kita ini amat sukar dipahami, namun bukankah kita pernah mendapat bimbingan mendiang Suhu untuk mengerti akan isinya dan artinya?"
Kata Tiong Jin Tosu.
"Benar, Jin-Sute, akan tetapi ayat-ayat itu tidak tepat kalau hanya ditafsirkan menurut pendapat seorang dua orang saja. Maknanya terlalu dalam dan perlu bagi kita untuk sering membacanya dan mencoba untuk menelaah arti isinya."
Kata pula Tiong Gi Tosu.
"Jin-Suheng, kurasa Gi-Suheng benar. Nah, marilah kita mulai menelaahnya, setiap kali cukup satu ayat saja. Gi-Suheng, ayat manakah yang ingin kau bahas dan bicarakan dengan kami?"
Kata Tiong Sim Tosu.
"Malam ini aku ingin agar kita bertiga membahas dan menafsirkan bunyi ayat ke tujuh. Mari kita baca, begini bunyinya .
"Langit dan Bumi itu abadi, karena mereka tidak hidup untuk diri sendiri maka Langit dan Bumi itu abadi. Inilah sebabnya orang budiman meniadakan keakuannya oleh karena itu dirinya penuh manfaat. Karena dia tidak diperbudak keinginan-keinginannya maka pribadinya dapat disempurnakan."
"Wah, ayat ini mengandung makna yang amat dalam, Gin-Suheng. Coba Suheng katakan bagaimana menurut perkiraan Suheng."
Kata Tiong Jin Tosu.
"Siancai...!"
Tiong Gi Tosu berdoa sambil merangkap kedua tangan depan dada, lalu memandang kedua orang Adik seperguruannya sambil tersenyum.
"Kalau menurut perkiraanku yang masih bodoh, Langit dan Bumi serta sekalian isinya, mereka semua itu ada manfaatnya. Hanya manusia yang selalu mementingkan diri sendiri banyak yang tidak ada manfaatnya, tidak ada gunanya bahkan merusak lingkungannya, merusak sesama manusia, merusak alam. Lihat saja segala macam binatang, bahkan segala macam tumbuh-tumbuhan, segala mahluk yang bergerak maupun yang tidak bergerak, mereka semua itu ada manfaatnya bagi orang atau mahluk lain. Setiap batang pohon yang tidak bergerak, tidak mempunyai keinginan demi diri sendiri sehingga seluruh keadaan dirinya berguna sekali bagi mahluk lain. Pertumbuhannya memberi kesejukan, kesegaran dan kesuburan tanah, daun-daunnya memberi makanan kepada binatang, bunga-bunganya memberi keindahan kepada pandang mata manusia, buah-buahnya juga memberi makanan kepada manusia, bahkan setelah tua dan mati sekalipun, kayunya masih dapat dimanfaatkan manusia. Bahkan rumput saja keadaan hidupnya bermanfaat bagi mahluk lain. Apalagi binatang-binatang yang memberi makanan penahan hidup bagi manusia. Apapun juga yang berada di alam mayapada ini, semua tanpa mementingkan diri sendiri bermanfaat bagi mahluk lain. Inilah pelajaran yang terkandung dalam ayat ini agar manusia merasa malu melihat diri sendiri yang selalu hanya mengejar untuk memenuhi keinginan sendiri sehingga bukan saja tidak ada manfaatnya bagi orang atau mahluk lain, bahkan sepak-terjangnya menimbulkan kerusakan dan kebinasaan. Berbahagialah orang yang tidak mementingkan dirinya sendiri karena dengan demikian dia pun menjadi seorang manusia, seorang mahluk yang keadaan hidupnya bermanfaat bagi Langit dan Bumi serta sekalian isinya."
"Siancai!"
Kata Tiong Jin Tosu.
"Alangkah indahnya apa yang engkau katakan tadi, Suheng. Aku makin menyadari bahwa meniadakan keakuan, tidak mementingkan diri sendiri berarti hidup yang wajar sesuai dengan Hukum Alam yang ditentukan oleh TUHAN Maha Pencipta. Bahkan daun-daun yang membusuk saja masih bermanfaat untuk menjadi pupuk menyuburkan tanah."
"Siancai!"
Kata Tiong Sim Tosu.
"Setiap bintang di langit mempunyai kegunaan, setiap tetes air mengandung penyegaran, setiap hembusan udara memberi kehidupan. Apapun juga, yang tampak maupun yang tidak tampak, hidup sesuai dengan To (Kekuasaan TUHAN), kosong dari keinginan nafsu daya rendah, maka bermanfaat keadaan hidupnya! Akan tetapi manusia? Hidup tidak menurut To, melainkan menuruti keinginan nafsu daya rendah mengejar kesenangan jasmani, karena itu seringkali berlawanan dengan To dan meninggalkan kerusakan dan kesengsaraan di dunia."
Tiba-tiba tiga orang Tosu itu terkejut mendengar suara gaduh dari arah belakang.
Sebagal ahli-ahli silat, mereka dapat menangkap suara tak wajar dan tanpa dikomando mereka bertiga seperti berlumba berlompatan keluar dari kamar mereka menuju ke belakang ke arah ruangan perpustakaan karena dari sanalah datangnya suara ribut yang mereka dengar sebagai suara orang-orang berkelahi.
(Lanjut ke
Jilid 14) Bayangan Bidadari/Sian Li Eng Cu (Cerita Lepas) Karya. Asmaraman S. Kho Ping Hoo
Jilid 14 Ketika mereka tiba di ruangan perpustakaan yang luas dan remang-remang itu, mereka melihat lima orang murid Bu-Tong-Pai sudah menggeletak di atas lantai dan ada lima orang murid lain sedang mengeroyok seorang laki-laki berkepala gundul dan berjubah hitam yang amat lihai.
Biarpun lima orang murid itu semua menggunakan pedang atau golok, dan laki-laki itu bertangan kosong, namun mereka berlima malah terdesak.
Gerakan laki-laki itu seperti seekor burung garuda menyambar-nyambar dan dua orang murid lagi terpelanting roboh.
Melihat ini, Tiong Gi Tosu yang maklum bahwa kalau dilanjutkan, murid yang lain pasti akan roboh juga, berteriak.
"Kalian mundurlah, biar kami yang menghadapinya!"
Tiga orang murid Bu-Tong-Pai yang mendengar teriakan ini, segera mundur.
Akan tetapi laki-laki gundul yang hanya tampak bayangannya saja karena cuaca di situ hanya remang-remang, tiba-tiba melompat keluar dari jendela dan menghilang.
"Manusia jahat, hendak bari ke mana kau?"
Bu-Tong Sam-Lo cepat melompat mengejarnya.
Mendengar ribut-ribut itu, belasan orang murid memasuki ruangan itu dan ada yang menyalakan lampu.
Mereka terkejut melihat enam orang murid telah menggeletak tewas dan seorang lagi luka berat.
Mereka segera menolong dan sebagian lagi ikut melakukan pengejaran.
Bayangan hitam berkepala gundul itu bagaikan seekor burung saja ringan dan cepatnya, telah melompat ke atas genteng.
Bu-Tong Sam-Lo mengejar.
Ketika mereka tiba di genteng, bayangan hitam itu telah berdiri di wuwungan sambil bertolak pinggang.
Di atas wuwungan masih dapat dicapai sinar lampu-lampu penerangan dari bawah sehingga biarpun Bu-Tong Sam-Lo tidak dapat melihat wajah orang itu, namun mereka dapat melihat bayangan hitam itu.
Karena tadi ketika mengejar keluar dari kamar mereka, Bu-Tong Sam-Lo tergesa-gesa, maka mereka tidak membawa senjata mereka.
Juga tiga orang tokoh Bu-Tong-Pai ini bukanlah orang-orang yang mudah di pengaruhi perasaan, sehingga biarpun tadi mereka melihat tujuh orang murid mereka dirobohkan bayangan ini, mereka masih dapat bersikap sabar.
"Hei! Siapakah engkau dan mengapa engkau begitu kejam membunuh murid-murid Bu-Tong-Pai?"
Tiong Gi Tosu membentak setelah mereka bertiga berhadapan dengan bayangan itu, dalam jarak tiga tombak.
Bayangan hitam berkepala gundul itu tertawa.
Suara tawanya tidak wajar, dan ketika dia bicara, suaranya juga seperti suara orang yang mulutnya terganjal sesuatu.
"He-he-he, Bu-Tong Sam-Lo. Kalian mengejar, berarti kalian mencari kematian!"
Setelah berkata demikian, bayangan itu terkekeh lagi. Tiong Sim Tosu, yang termuda di antara Bu-Tong Sam-Lo, tak mampu menahan kesabarannya lagi.
"Jahanam, engkau harus mempertanggung-jawabkan kekejamanmu!"
Langsung dia menerjang ke arah bayangan itu sambil menyerang dengan pukulan dahsyat ke arah dada orang itu.
"Omitohud...!"
Bayangan hitam i tu menangkis dengan memutar lengannya dari samping.
"Wuuuttt... dukkkk!!"
Tubuh Tiong Tosu terpelanting, dan sebelum dia dapat mengembalikan keseimbangannya, bayangan hitam itu sudah menyerangnya dengan tendangan yang menyambar tinggi ke arah muka Tiong Sim Tosu.
Hebat sekali tendangan itu dan sebagai ahli-ahli silat tingkat tinggi, Bu-Tong Sam-Lo mengenal tendangan gaya ini.
Tendangan ini hanya dapat dilakukan seorang tokoh Siauw-Lim-Pai aliran Utara!
Tiong Gi Tosu melompat dan dialah yang menolong Sutenya dengan menangkis tendangan itu.
"Bresss...!"
Lengan Tiong Gi Tosu terasa nyeri dan dia pun terdorong ke belakang.
"Engkau... dari Siauw-Lim-Pai...?"
Tanya Tiong Gi Tosu dengan terkejut dan juga terheran-heran.
Sulit untuk dipercaya bahwa Siauw-Lim-Pai memusuhi Bu-Tong-Pai yang masih merupakan satu sumber.
Memang, bayangan gundul ini agaknya seorang Hwesio (Pendeta Buddha), akan tetapi bukan semua Hwesio orang Siauw-Lim-Pai.
Akan tetapi tendangan tadi itu!
Jelas merupakan ilmu tendang Siauw-Cu-Twi dari Siauw-Lim-Pai!
Bu-Tong Sam-Lo yang maklum mereka menghadapi seorang yang amat lihai yang menggunakan ilmu-ilmu Siauw-Lim-Pai dengan serangan maut untuk membunuh, segera maju mengeroyok sambil mengerahkan seluruh sinkang (tenaga sakti) mereka.
Pertempuran itu seru bukan main.
Tingkat kepandaian Bu-Tong Sam-Lo sudah mencapai tingkat tiga dalam jajaran para pimpinan Bu-Tong-Pai, apalagi mereka maju bertiga, maka tentu saja mereka itu amat kuat.
Namun, lawan mereka itu ternyata sakti bukan main, mampu mengimbangi kecepatah gerakan mereka, bahkan jelas bahwa dia memiliki tenaga sakti yang lebih kuat daripada tiga tokoh Bu-Tong-Pai itu!
Berkelahi di tempat gelap dan di atas wuwungan yang tidak rata dan licin, membutuhkan kepandaian tinggi.
Mereka harus memiliki kepekaan yang istimewa, baik pada mata, telinga dan perasaan mereka.
Sedikit saja terpeleset atau tersandung, tentu akan berakibat gawat.
Belasan orang murid Bu-Tong-Pai yang sudah naik pula ke wuwungan, hanya menonton karena mereka maklum bahwa kalau mereka membantu, sama dengan membunuh diri.
Juga bantuan mereka itu mungkin bahkan akan mengacaukan gerakan tiga orang Guru mereka yang mengeroyok Si Bayangan Hitam.
Ditambah lagi, mereka bukan hanya menerima gemblengan ilmu silat, akan tetapi terutama sekali gemblengan batin sehingga mereka memiliki watak pendekar yang merasa malu untuk mengandalkan jumlah banyak mengeroyok lawan.
Kini, Bu-Tong Sam-Lo mulai memainkan Thai-Kek-Sin-Kun dan ilmu silat yang tampaknya lemah dan lentur ini sesungguhnya mengandung tenaga dalam yang dahsyat.
Menggunakan kelenturan melawan kekerasan, mengandalkan kelemahan meminjam tenaga kuat melawan, itulah inti ilmu silat ini.
Mereka bertiga menggunakan ilmu silat ini dapat saling menunjang, saling melindungi dan menghadapi tiga tokoh Bu-Tong-Pai yang menggunakan ilmu silat istimewa ini, bayangan hitam itu menjadi kewalahan juga.
Akan tetapi tiba-tiba dia mengeluarkan pekik yang melengking, tubuhnya bergerak secepat kilat.
Pekik melengking itu seolah mengguncang jantung Bu-Tong Sam-Lo karena pekik itu mengandung sinkang yang amat kuat, menggetar dan penuh wibawa, membuat mereka agak terhuyung.
Dalam keadaan ini, Si Bayangan Hitam bergerak cepat sudah menyerang dengan ilmu menotok yang khas dari aliran Siauw-Lim-Pai, yaitu Toat-Beng Tiam-Hiat-Hoat (Totok Jalan Darah Pencabut Nyawa).
Terdengar tiga orang tokoh Bu-Tong-Pai itu mengeluh dan mereka pun roboh dari atas wuwungan, menggelinding di atas genteng menuju ke bawah.
Para murid Bu-Tong-Pai yang berada di situ cepat berlari dan menangkap tubuh tiga orang Guru mereka yang terancam jatuh ke bawah.
"He-he-he, begini saja kepandaian orang Bu-Tong-Pai!"
Si Bayangan Hitam itu berkelebat dan lenyap ditelan kegelapan.
Akan tetapi tiba-tiba dia berhadapan dengan seorang Tosu tinggi besar yang mukanya penuh brewok.
Tiong Hak Tosu, wakil Ketua Bu-Tong-Pai telah menghadangnya dengan golok besar di tangan.
Senjata ini adalah andalan Tiong Hak Tosu dan telah mengangkat namanya selama puluhan tahun.
"Berhenti! Menyerah atau mati!"
Bentak Tiong Hak Tosu sambil melintangkan pedangnya.
Akan tetapi bayangan hitam itu malah menerjangnya dengan totokan yang amat lihai dan yang telah merobohkan Bu-Tong Sam-Lo tadi.
Melihat serangan dahsyat ini, Tiong Hak Tosu cepat mengelebatkan golok menangkis.
"Trikkk!"
Tiong Hak Tosu terkejut karena goloknya yang bertemu dengan jari tangan orang itu terpental dan tangannya yang memegang gagang goloknya tergetar hebat dan ada hawa dingin yang menjalar ke tangannya itu.
Cepat dia mengerahkan lweekang (tenaga dalam) untuk menolak desakan hawa dingin itu.
"Toat-Beng Tiam-Hiat-Hoat!"
Serunya kaget dan heran, lalu dia cepat siap siaga untuk melawan Si Bayangan Hitam yang amat lihai itu.
Akan tetapi bayangan hitam itu agaknya juga maklum bahwa kini dia menghadapi seorang lawan yang amat tangguh, maka dia melompat dan lenyap dalam kegelapan.
Tiong Hak Tosu di dalam cuaca yang demikian gelapnya, tidak berani melakukan pengejaran dan dia cepat berlari sambil kembali ke Kuil untuk melihat keadaan para murid Bu-Tong-Pai.
Bu-Tong-Pai geger!
Bu-Tong Sam-Lo ternyata tewas, juga lima orang murid tewas dan seorang terluka berat oleh Si Bayangan Hawn berkepala gundul yang tidak tampak jelas mukanya karena cuaca gelap itu.
Tiong Hak Tosu bahkan tidak merasa sungkan untuk mengganggu Suhengnya, Tiong Li Seng-jin, dari samadhinya dan melaporkan peristiwa hebat itu.
Berkat kepandaian Tiong Li Seng-jin dalam ilmu pengobatan, dia berhasil menyelamatkan murid yang terluka dalam peristiwa tadi.
Setelah keadaannya pulih dan kuat kembali, murid itu menceritakan betapa dia dan empat orang saudaranya bertugas menjaga ruangan perpustakaan malam itu, tiba-tiba ada bayangan hitam berkelebat memasuki ruangan perpustakaan.
Menduga bahwa bayangan itu tentu seorang yang hendak mencuri kitab Bu-Tong-Pai, lima orang itu lalu mengepung dan hendak menangkapnya.
Akan tetapi bayangan itu lihai bukan main.
Sebentar saja mereka berlima terpelanting, terkena serangannya yang dahsyat.
Juga lima orang murid lain yang datang karena mendengar suara gaduh, bukan lawan Si Bayangan Hitam.
Sebentar saja dua orang di antara mereka roboh dan pada saat itu muncul Bu-Tong Sam-Lo yang melakukan pengejaran terhadap bayangan hitam yang melarikan diri.
"Siancai...! Setelah kami memeriksa, tidak sebuah pun kitab yang dicuri. Agaknya orang itu sengaja datang untuk mengacau dan melakukan pembunuhan."
Kata Tiong Li Seng-jin danKakek yang sikapnya tetap tenang ini lalu bertanya kepada para murid yang berkumpul dalam ruangan di mana sembilan mayat itu direbahkan di atas bangku berjajar.
"Apakah yang dapat kalian ceritakan ketika kalian melihat perkelahian antara bayangan hitam itu dan Bu-Tong Sam-Lo?"
"Teecu (murid) mendengar Suhu Tiong Jin Tosu berseru bahwa bayangan hitam itu orang Siauw-Lim-Pai!"
Kata seorang murid.
"Teecu mendengar bayangan hitam itu menyebut Bu-Tong Sam-Lo, berarti dia mengenal ketiga Suhu!"
Kata yang lain.
"Dan Teecu mendengar dia menyebut omitohud yang membuktikan bahwa dia seorang Hwesio. Apalagi kepalanya memang gundul dan jubahnya seperti jubah seorang Hwesio."
Kata yang lain.
Ketika di tanya apakah ada yang mengenal wajah Si Bayangan Hitam dan bagaimana bentuk tubuhnya, semua orang mengatakan bahwa cuaca yang gelap membuat wajah bayangan itu tidak dapat dilihat jelas.
Dan tentang bentuk badannya, terdapat bermacam pendapat.
Ada yang mengatakan kecil, ada yang mengatakan sedang, dan ada pula yang mengatakan tinggi besar.
Hal ini karena gerakan bayangan itu amat cepat, pula jubah yang longgar itu menyembunyikan bentuk tubuh yang sesungguhnya.
"Kalau Teecu tidak salah duga, dia mempergunakan tendangan Siauw-Cu-Twi sehingga Suhu Tiong Jin Tosu menduga dia dari Siauw-Lim-Pai."
Kata seorang murid yang sudah lebih tinggi tingkatnya daripada yang lain.
"Siancai...!"
Tiong Hak Tosu berseru.
"Suheng, saya kira tidak salah lagi. Bayangan hitam yang kejam itu pastilah murid Siauw-Lim-Pai yang sudah tinggi tingkatnya!"
"Hemm, Tiong Hak Sute, bagaimana engkau dapat begitu yakin bahwa dia orang Siauw-Lim-Pai?"
Tanya Sang Ketua, tetap tenang.
"Bukti-bukti menunjukkan dengan jelas, Suheng. Pertama, dia seorang yang berkepala gundul dan berjubah Hwesio, biarpun warna jubahnya hitam, ini menandakan bahwa dia seorang Hwesio. Ke dua, dia mengenal Bu-Tong Sam-Lo, dia pandai menggunakan ilmu tendangan Siauw-Cu-Twi dari Siauw-Lim-Pai, dan ketika saya melawannya, saya yakin bahwa dia mempergunakan ilmu Toat-Beng Tiam-Hiat-Hoat, ilmu andalan Siauw-Lim-Pai yang hanya dikuasai mereka yang telah memiliki tingkat tinggi. Dengan bukti-bukti itu, saya tidak ragu lagi bahwa orang itu tentulah seorang murid tingkat tinggi dari Siauw-Lim-Pai, Suheng!"
Kata Tiong Hak Tosu yang berwatak jujur dan keras.
Mendengar ini, para murid Bin-tong-pal mengangguk dan menjadi gaduh karena menyatakan setuju.
Ada pula yang marah-marah dan mengepal tinju, mendendam kepada Siauw-Lim-Pai.
Tiong Li Seng-jin mengangkat tangan kiri ke atas dan semua anggauta Bu-Tong-Pai diam.
Suasana menjadi sunyi karena semua tidak berani bersuara, siap mendengarkan apa yang akan dikatakan Ketua mereka.
"Siancai...! Dalam hal seperti ini, jangan sekali-kali membiarkan nafsu amarah menguasai hati kita, karena nafsu amarah akan membutakan mata mengacaukan akal budi dan pertimbangan kita. Kepala kita harus dingin agar kita dapat berpikir sehat dan bertindak bijaksana."
Tiong Hak Tosu segera menyadari kesalahannya.
"Harap Suheng maafkan saya. Menurut pendapat Suheng, bagaimana?"
"Sute, semua dugaanmu tadi memang menunjukkan bahwa Si Bayangan Hitam adalah seorang Hwesio Siauw-Lim-Pai. Akan tetapi yang perlu kita pikirkan, siapakah dia? Kita mengenal semua tokoh Siauw-Lim-Pai yang tingkatnya sudah setinggi itu! Dan andaikata benar dia itu seorang tokoh Siauw-Lim-Pai, mungkinkah dia melakukan pembunuhan-pembunuhan ini? Kita mengenal baik para pimpinan Siauw-Lim-Pai, bahkan mereka adalah saudara-saudara kita dengan aliran sesumber dan sama-sama golongan yang menentang kejahatan. Nah, kalau dia benar tokoh Siauw-Lim-Pai, lalu apa yang menyebabkan dia menyerang dan membunuh murid-murid Bu-Tong-Pai?"
Tiong Hak Tosu mengangguk-angguk dan menghela napas panjang.
"Sesungguhnya, Suheng, kalau kupikir secara mendalam, rasanya mustahil kalau ada tokoh Siauw-Lim-Pai yang demikian kejam melakukan pembunuhan terhadap murid-murid Bu-Tong-Pai. Akan tetapi, karena bukti-bukti menunjukkan bahwa pelakunya orang Siauw-Lim-Pai, lalu kita harus berbuat bagaimana? Saya dan semua murid tentu saja menyerahkan kepada Suheng untuk mengambil kebijaksanaan dan keputusan."
Tiong Li Seng-jin diam sejenak, menghela napas panjang lalu berkata.
"Sekarang, yang terpenting adalah mengurus pemakaman para korban. Malapetaka yang menimpa kita ini memang besar sekali, ketiga Sute Bu-Tong Sam-Lo dan enam orang murid tewas. Akan tetapi malapetaka itu tidak boleh menggoyahkan batin kita. Biarlah Pinto akan merenungkan peristiwa ini dan setelah semua upacara pemakaman selesai, baru kita bicarakan apa tindakan yang harus kita ambil."
Bu-Tong-Pai berkabung dan sembilan jenazah itu diurus sebagaimana lajimnya.
Semenjak hari itu, para murid Bu-Tong-Pai ditugaskan untuk siap siaga dan melakukan penjagaan ketat untuk menjaga agar jangan sampai mereka lengah lagi.
Belasan hari kemudian, sebelum Tiong Li Seng-jin mengambil keputusan, datanglah Yo Kang di markas Bu-Tong-Pai.
Bu-Tong Sin-To (Golok Sakti Bu-Tong) Yo Kang yang menjadi tokoh Bu-Tong-Pai setelah memperdalam ilmu goloknya di bawah gemblengan Tiong Li Seng-jin sendiri merupakan tokoh atau pendekar muda Bu-Tong-Pai yang diharapkan akan dapat mengangkat nama besar Bu-Tong-Pai.
Maka kedatangannya disambut dengan gembira oleh para murid Bu-Tong-Pai.
Dapat dibayangkan betapa kaget hati Yo Kang mendengar akan malapetaka yang menimpa, perguruannya.
Bu-Tong Sam-Lo dan enam orang murid Bu-Tong-Pai tewas dibunuh seorang yang diduga adalah seorang tokoh Siauw-Lim-Pai yang amat lihai!
Segera dia menghadap Tiong Li Seng-jin dan Tiong Hak Tosu di ruangan dalam Kuil itu.
"Suhu, banyak terjadi hal-hal yang aneh sekali, sama anehnya dengan peristiwa pembunuhan yang terjadi di sini. Teecu pernah diserang dan dikeroyok para anggauta Hek I Kaipang yang berpusat di Beng-San ketika mereka mengetahui bahwa Teecu adalah murid Bu-Tong-Pai. Mereka memusuhi Bu-Tong-Pai karena menurut cerita mereka, ada murid Bu-Tong-Pai yang telah membunuh tiga puluh orang anggauta Hek I Kaipang di An-Hui."
"Siancai...!"
Tiong Hak Tosu berseru kaget.
"Murid kita yang mana telah melakukan pembunuhan seperti itu?"
"Mereka juga tidak dapat menggambarkan orang yang membunuhnya, akan tetapi mereka merasa yakin bahwa pembunuhnya seorang murid Bu-Tong-Pai karena tiga puluh orang anggauta Hek I Kaipang yang tewas itu terbunuh dengan pukulan Tong-Sim-Ciang."
"Siancai...!"
Tiong Li Seng-jin berseru heran.
"Murid Bu-Tong-Pai yang menguasai Tong-Sim-Ciang dapat dihitung dengan jari! Selain Pinto dan Sute Tiong Hak Tosu dan mendiang Bu-Tong Sam-Lo, hanya engkau, Yo Kang, dan empat lima orang murid Bu-tong yang sudah lama meninggalkan Bu-Tong-San dan sekarang tinggal berpencar di mana-mana. Akan tetapi Pinto yakin bahwa mereka adalah murid-murid yang patuh dan setia kepada Bu-Tong-Pai, berjiwa pendekar dan tidak mungkin melakukan pembunuhan semena-mena itu. Lalu bagaimana, Yo Kang?"
Yo Kang lalu menceritakan betapa dia bersama In Hong mengadakan usaha untuk berunding dengan pihak Hek I Kaipang, dengan alasan bahwa pembunuh tiga puluh orang anggauta Hek I Kaipang itu mungkin saja orang lain yang hendak mengadu domba, mengusulkan agar pimpinan tertinggi Hek I Kaipang mengadakan pertemuan dengan pimpinan Bu-Tong-Pai untuk membicarakan urusan itu untuk berusaha bersama menangkap pembunuhnya.
"Siancai...! Usaha itu baik sekali, Yo Kang. Siapa In Hong itu?"
Tanya Tiong Hak Tosu.
"Kwee In Hong adalah Adik misan Teecu, Suhu. la dikenal dengan julukan Sian-Li Eng-Cu dan ia adalah murid... mendiang Hek Moli dan Bhutan Koai-jin."
"Siancai... suami-isteri liar itu...?"
Tiong Flak Tosu berseru kaget.
"Akan tetapi In Hong bukan seorang gadis liar, Suhu. Sebaliknya, walaupun wataknya keras, namun membela keadilan dan kebenaran."
Yo Kang membela Adik misan yang dicintainya.
"Yo Kang, lanjutkan ceritamu."
Kata Tiong Li Seng-jin yang tetap tenang mendengar semua keterangan Yo Kang.
"Masih terjadi hal yang lebih aneh lagi, Suhu. Ketika Teecu dan In Hong bermalam di sebuah hutan, Teecu mendapat serangan gelap dari seorang bersembunyi. Teecu nyaris celaka, akan tetapi In Hong menolong dan membantu Teecu. Penyerang itu melarikan diri dan anehnya, penyerang itu ketika menyerang Teecu menggunakan ilmu pukulan Pek-Kong-Ciang."
"Ah, Pek-Kong-Ciang dari Kun-Lun-Pai?"
Tiong Hak Tosu berseru heran.
"Benar, Suhu. Penyerang itu mahir menggunakan Pek-Kong-Ciang dari Kun-Lun-Pai."
Kata Yo Kang.
"Hemm, banyak hal yang aneh terjadi! Murid Bu-Tong-Pai dituduh membunuh tiga puluh orang anggauta Hek I Kaipang, lalu ada orang menyerangmu dengan pukulan Pek-Kong-Ciang dari Kun-Lun-Pai, dan yang terjadi di sini, pembunuh menggunakan ilmu Siauw-Lim-Pai menewaskan sembilan orang murid Bu-Tong-Pai! Gejala apa ini? Seolah ada usaha untuk menyalakan permusuhan antara Bu-Tong-Pai dengan Hek I Kaipang, Siauw-Lim-Pai, dan Kun-Lun-Pai!"
Kata Tiong Li Seng-jin.
"Semua itu tidak masuk akal. Mustahil ada murid Bu-Tong-Pai membunuh tiga puluh orang Hek I Kaipang yang terkenal bersih, tidak mungkin pula ada murid Kun-Lun-Pai menyerang dan hendak membunuh murid Bu-Tong-Pai secara menggelap, dan lebih tidak mungkin lagi ada tokoh Siauw-Lim-Pai membunuhi murid-murid Bu-Tong-Pai! Pinto mengira ada permainan kotor di sini."
Kata pula Ketua Bu-Tong-Pai itu.
"Akan tetapi, Suheng. Semua ini telah terjadi! Pihak Hek I Kaipang pasti tidak mau sudah begitu saja. Tiga puluh orang anggautanya dibunuh orang yang menyamar sebagai anggauta Bu-Tong-Pai. Mereka pasti minta pertangung-jawaban kita. Kita harus melakukan penyelidikan sungguh-sungguh, siapa tahu ada murid kita yang tersesat. Sementara itu, sembilan orang kita, bahkan ketiga Sute Bu-Tong Sam-Lo juga mati penasaran. Sudah sepantasnya kita minta pertanggung-jawaban Siauw-Lim-Pai. Semua ini demi keadilan, Suheng!"
Kata Tiong Hak Tosu dengan suara mengandung kedukaan dan penasaran.
"Siancai... memang tidak semestinya kita tinggal diam, Sute. Yo Kang, karena ketiga orang Susiokmu (Paman Gurumu) Bu-Tong Sam-Lo sudah tidak ada, maka Pinto menyerahkan tugas ini kepadamu. Engkau pergilah ke Siauw-Lim-Si (Kuil Siauw-Lim) di kaki Pegunungan Sung-San di Propinsi Ho-Nan, jumpai Ketuanya, Bu Kek Tianglo dan serahkan surat Pinto kepadanya. Engkau boleh ceritakan semua yang terjadi. Dalam surat Pinto itu, Pinto minta pertanggungan jawabnya dan memberi waktu tiga bulan. Kalau dalam tiga bulan Siauw-Lim-Pai tidak dapat menyerahkan pembunuh sembilan orang murid Bu-Tong-Pai, Pinto sendiri akan membuat perhitungan dengan para pimpinan Siauw-Lim-Pai."
Dalam ucapan Tosu yang biasanya lembut itu kini terdengar suara yang tegas.
"Baik, Suhu. Teecu akan melaksanakan perintah Suhu!"
Jawab Yo Kang.
"Dan engkau, Tiong Hak Sute, engkau kerahkan murid membuat penjagaan. Engkau Pinto tugaskan untuk menghadapi pihak Hek I Kaipang kalau mereka datang dan rundingkan urusan yang menyangkut nama Bu-Tong-Pai itu dengan baik dan hati-hati."
"Baik, Suheng."
Kata Tiong Hak Tosu.
Pada keesokan harinya, Yo Kang meninggalkan Bu-Tong-Pai untuk pergi ke Siauw-Lim-Si.
Sebelum ia tiba di Bu-Tong-San, dia sudah lebih dulu mengunjungi Bibinya, Yo Cui Hwa Ibu kandung In Hong di dusun Hok-Te-Cung.
la mendapatkan Bibinya seorang diri di rumah itu.
Seperti juga In Hong, Yo Cui Hwa merasa malu untuk menceritakan kepada Yo Kang bahwa ia telah menjadi isteri mendiang Ong Tiang Houw, pembunuh Kwee Seng, suaminya yang pertama.
Biarpun ia menjadi isteri Ong Tiang Houw tanpa mengetahui bahwa dia itu pembunuh suaminya, namun ia tetap merasa malu untuk menceritakan hal itu kepada keponakannya ini.
Apalagi ketika itu, Lian Hong sudah meninggalkan rumah karena Ceng Seng Hwesio, wakil Ketua Siauw-Lim-Pai datang sendiri dan mengajak Lian Hong untuk memperdalam ilmunya di Siauw-Lim-Pai, mengingat bahwa gadis berusia empat belas tahun itu dianggap memiliki bakat yang amat baik.
Lian Hong senang sekali dengan niat Ceng Seng Hwesio, dan Yo Cui Hwa juga tidak keberatan.
Maka ketika Yo Kang datang, dia mendapatkan Bibinya itu hidup seorang diri.
Mendengar bahwa Pamannya, Yo Tang yang tua itu sakit-sakitan dan selalu menanyakannya, Yo Cui Hwa mau dibawa keponakannya pindah ke See-Ciu, ke rumah Pamannya dan Kakak misannya, Yo Hang Tek.
Demikianlah, dengan membawa surat Tiong Li Seng-jin untuk Bu Kek Tianglo, Yo Kang melakukan perjalanan secepatnya menuju Siauw-Lim-Pai di kaki Pegunungan Sung-San.
Biarpun bangsa Mongol bukan bangsa pribumi Tiongkok, melainkan merupakan bangsa nomad berkuda yang pindah clan satu ke lain daerah di bagian utara, berpindah-pindah memilih daerah yang subur, Namun harus diakui bahwa tidak ada bangsa sehebat bangsa Mongol yang pernah menguasai seluruh daratan Cina.
Bangsa yang tidak berapa besar jumlahnya ini ternyata merupakan bangsa yang amat gigih dan pandai berperang.
Tidak ada seorang pun di antara mereka yang tidak memiliki kegagahan dan keahlian bertempur.
Kuat, ahli menunggang kuda, semangatnya berkobar-kobar, dan terutama sekali liar dan ganas, tidak pernah memberi ampun kepada musuh-musuhnya sehingga kehebatan bala-tentara Mongol ini tercatat dalam sejarah bangsa-bangsa dari Asia sampai ke Europa!
Tadinya bangsa Mongol tidak begitu terkenal, bahkan sebagian besar Tanah Mongol dikuasai oleh dua suku nomad lain, yaitu suku Naiman dan Kerait.
Bangsa Mongol juga tunduk kepada suku bangsa Kerait.
Akan tetapi sekitar tahun 1170 terjadilah keajaiban yang membawa perubahan besar pada bangsa Mongol.
Dengan munculnya seorang pemuda Mongol berusia lima belas tahun yang gagah perkasa dan memiliki keberanian seperti seekor singa jantan.
Pemuda Mongol ini bernama Temucin dan dia segera dipilih dan diangkat oleh bangsa Mongol menjadi pemimpin mereka karena keberaniannya yang amat hebat.
Tahun demi tahun dilalui pemuda Temucin dengan perjuangan mengembangkan dan memperkuat bangsanya.
Satu demi satu para suku nomad lain diperangi dan ditalukkan, bahkan dua suku besar, yaitu suku Naiman dan terutama suku Kerait, diserang dan ditalukkan.
Setelah berjuang selama tiga puluh tahun lebih, akhirnya seluruh Mongol mengakui kekuasaan Temucin dan pada tahun 1206 Temucin diangkat menjadi raja seluruh Mongol dengan gelar Jenghis Khan, nama yang sampai kini termashur di seluruh sejarah dunia.
Mulailah dia membawa dan memimpin sendiri bala-tentaranya menyerbu ke selatan.
Pada tahun 1213 dia menduduki Shantung dan Peking yang ketika itu menjadi Ibukota Kerajaan Cin, dengan nama Yen-Cing.
Setelah memporak-porandakan Kerajaan Cin, Jenghis Khan tidak melanjutkan serangannya ke selatan, melainkan mengalihkan perhatiannya ke Barat.
Bagaikan air bah atau gelombang samudera, bala-tentara Mongol yang dipimpin sendiri oleh Jenghis Khan yang usianya sudah hampir enam puluh tahun namun masih gagah perkasa itu membanjir ke Barat dengan dahsyat dan tidak dapat terbendung oleh apa pun.
Sejarah mencatat betapa bala-tentara Mongol di bawah pimpinan Jenghis Khan ini menyerbu Sin-Kiang, Iran, dan Afganistan, melumatkan kota-kota Bukhara, Samarkhand, baikh dan membunuh berpuluh-puluh ribu orang.
Sebagian dari pasukan Mongol menyerang Iran Utara, lalu terus melewati pegunungan Kaukasia menyerbu Rusia Selatan.
Pada tahun 1223, ketika Jenghis Khan berusia enam puluh lima tahun, pasukannya menghancurkan tentara Rusia yang melawan di sebelah utara Laut Azov.
Setelah sekian lamanya bertualang dalam peperangan dan selalu mencapai kemenangan, menghancurkan kota-kota besar dan membinasakan banyak sekali orang, Jenghis Khan memimpin pasukannya kembali ke Timur.
Dia mengambil jalan melalui Pegunungan Ural di sebelah utara Laut Kaspia dan menggabungkan diri dengan induk pasukan yang bermarkas di Sin-Kiang.
Dari situ bala-tentaranya dipimpin pulang ke Mongol dan tiba di Mongolia pada tahun 1225.
Biarpun pada waktu itu usia Jenghis Khan sudah tujuh puluh tahun, namun semangatnya masih besar dan wataknya masih keras bagaikan seekor singa!
Ketika pasukannya mengadakan penyerbuan ke Barat, bangsa Hsi-Shia yang dia tundukkan enam belas tahun yang lalu (tahun 1209) tidak memperlihatkan kesetiaan mereka sebagai bangsa taklukan, dan tidak mau banyak membantu.
Hal ini membuat Jenghis Khan marah dan sekali lagi dia membawa pasukan menyerbu daerah suku bangsa Hsi-Shia.
Akan tetapi di dalam peperangan ini, sebelum Ibukota Hsi-Shia dapat direbut, Jenghis Khan yang sudah berusia tujuh puluh dua tahun (tahun 1227) meninggal dunia karena usia tua dan kelelahan.
Akan tetapi oleh para putera dan pembantunya, penyerangan itu dilanjutkan dan beberapa hari kemudian Ibukota Hsi-Shia dapat direbut, dan semua penduduknya yang pria dibunuh!
Hebat bukan main sepak-terjang Jenghis Khan yang di waktu mudanya bernama Temucin itu.
Puluhan tahun dia mengamuk dengan pasukannya, menyerbu ke barat dan tidak pernah ada pasukan musuh yang dapat menandinginya.
Semua dipukul hancur, kota-kota dibasmi dan dibakar, dan jutaan orang, menurut perkiraan tidak kurang dari sebelas juta orang, dibunuh secara kejam dan tanpa mengenal ampun!
Dunia Barat menjadi geger dan gentar, pasukan Mongol dianggap sebagai pasukan setan.
Daerah yang direbut dan dikuasai Jenghis Khan membentang dari Laut Hitam sampai ke Lautan Pasifik!
Setelah Jenghis Khan meninggal dunia, tidak berarti bahwa kegiatan bala-tentara Mongol yang merajalela itu terhenti.
Puteranya yang bernama Ogudai yang menggantikannya menjadi Raja di Ibukota Kerajaan Mongol, yaitu Kotaraja Karakorum di Mongolia, melanjutkan politik mendiang Ayahnya, yaitu memperluas wilayah kekuasaan Kerajaan Mongol.
Biarpun dia tidak seganas dan sekejam Jenghis Khan, namun Ogudai juga seorang, ahli perang yang mewarisi bakat Ayahnya.
Diserbunya Kerajaan Cin pada tahun 1231.
Perang terjadi selama tiga tahun dan akhirnya pada tahun 1234, Kerajaan Cin jatuh ke tangan Kerajaan Mongol.
Mulailah Cina bagian utara menjadi wilayah Kerajaan Mongolia, adapun Cina Selatan tetap berada di bawah kekuasaan Kerajaan Sung yang mengungsi ke selatan.
Agaknya Ogudai tidak mau kalah oleh sepak terjang mendiang Ayahnya.
Setelah Kerajaan Cin jatuh dan Cina bagian utara menjadi wilayah Mongolia, dia menghimpun lagi kekuatan.
Pasukannya diperbesar dengan perajurit-perajurit dari bangsa Cina Utara yang telah dikuasai.
Kemudian dengan bala-tentara yang besar dia lalu mengadakan lagi penyerbuan ke barat!
Pada tahun 1236 pasukan Mongol menyerbu ke barat, di sepanjang jalan, seperti dulu, kota-kota ditundukkan.
Yang tidak melawan tidak diganggu, akan tetapi yang melakukan perlawanan dihancurkan dan kembali pembunuhan-pembunuhan terjadi.
Kerajaan-Kerajaan Rusia Selatan ditundukkan.
Kota-kota Kiev dan Moskwa direbut dan dibakar dalam tahun 1240.
Lalu barisan terus menyerbu ke Polandia, mengarungi Sungai Weichsel, membakar kota Kra-Kau.
Setelah itu, bala-tentara Mongolia yang oleh orang Europa dinamakan Pasukan Setan itu memasuki Silesia dan merebut Breslau.
Para Raja di Jerman bersatu untuk mengadakan perlawanan, namun tentara gabungan ini pun tidak mampu menandingi bala-tentara Mongolia yang bertempur bagaikan setan.
Tentara gabungan Jerman ini dibinasakan dalam pertempuran di Liegnitz pada tahun 1241!
Pasukan Mongol bagaikan banjir terus menyerbu dan memasuki Hongaria, menghancur-leburkan tentara Hongaria dan membakar habis kota Pest.
Masih saja pasukan Mongolia maju terus sampai ke depan pintu gerbang kota Wien, di daerah Venezia dan sekitar Laut Adria.
Seluruh Europa menggigil ketakutan.
Pasukan Mongol itu datang menyerbu secara tiba-tiba dan cepat sekali.
Orang-orang Europa menamakannya Pasukan Setan, Pasukan Liar, Pasukan Biadab dan sebagainya.
Kekuatan mereka tidak tertandingi di mana-mana.
Kekacauan dan ketakutan melanda semua bangsa Europa.
Akan tetapi, dalam puncak kejayaannya itu, dalam tahun 1241, secara tiba-tiba Raja Ogudai meninggal dunia.
Otomatis semua pasukan ditarik kembali ke timur dan menghilang begitu saja dari Europa.
Pasukan Mongol tidak meninggalkan tentara untuk tetap menguasai daerah-daerah yang telah ditundukkan itu.
Europa terlalu jauh bagi mereka.
Mereka menyerbu agaknya hanya untuk pamer kekuatan dan untuk menjarah-rayah.
Setelah Ogudai meninggal, para penggantinya, beberapa orang pemimpin agaknya tidak begitu bersemangat sehingga Kerajaan Mongol tidak banyak melakukan gerakan.
Namun pada tahun 1250, sembilan tahun setelah Ogudai meninggal, pemimpin Kerajaan Mongolia jatuh ke tangan Raja Mongka, seorang cucu Jenghis Khan.
Di bawah pimpinan Mongka, kembali bala-tentara Mongolia memperlihatkan keganasannya.
Seolah-olah perang merupakan cara hidup bangsa ini.
Mongka kembali memimpin bala-tentara Mongol ke Barat.
Kembali mereka berpesta pora, membunuh dan merampok.
Pada tahun 1258 bala-tentara Mongol membinasakan Khalifah Abassiyah di Bagdad.
Adik Mongka yang bernama Kubilai membawa sebagian pasukan Mongol menyerang Kerajaan Sung di Cina Selatan.
Kubilai memimpin pasukan melanda Cina Selatan dan semua daerah selatan direbut.
Bahkan pasukan Mongolia terus menyerang sampai ke lndo Cina dan merampok Hanoi habis-habisan!
Lagi-lagi semua kegiatan yang dahsyat itu terhenti ketika pada tahun 1259 Raja Mongka meninggal.
Kubilai menarik pasukannya kembali ke Mongolia dan pada tahun 1260 Kubilai diangkat menjadi Raja atau yang disebut menjadi Khan sehingga gelarnya menjadi Kubilai Khan.
Kubilai Khan agaknya tidaklah sehaus darah dan segila perang seperti Jenghis Khan dan Mongka Khan.
Dia mulai memperhatikan keadaan dalam negeri, berusaha untuk membangun daerah yang sudah dikuasainya.
Yang mutlak berada dalam kekuasaannya di mana kekuasaan itu dapat dipertahankan dan bangsa Mongol dapat disebar dan membentuk pemerintahan yang teratur adalah Mongol, Cina dan Tibet.
Pada tahun 1264 Kubilai Khan memindahkan Ibukotanya ke Peking dan mendirikan wangsa Cina baru, yang Wangsa Goan (Yuan).
Dari tahun 1264 itulah Wangsa Goan mulai dihitung dan ternyata Kerajaan Goan ini mampu bertahan sampai seratus tahun lebih (1264-1368).
Akan tetapi Kerajaan Goan belum lengkap ketika didirikan karena di selatan masih ada Kerajaan Sung.
Oleh karena itu, Kubilai Khan lalu mengadakan serangan ke selatan.
Namun, Kerajaan Sung di selatan Sungai Yang-Ce, mengadakan perlawanan gigih, dibantu oleh para pendekar yang berjiwa patriot.
Maka pertahanan mereka cukup kuat sehingga terjadi perang berkepanjangan.
Baru pada tahun 1279, setelah berperang selama belasan tahun, Kerajaan Sung dapat dihancurkan seluruhnya.
Tahun 1276 Kotaraja Hang-Couw direbut, Kaisar Kerajaan Sung ditawan dan dibawa ke Peking.
Beberapa orang panglima Sung tidak juga mau tunduk dan mengangkat seorang keluarga Kaisar menjadi Kaisar baru dan bertahan di Kanton.
Akhirnya, pada tahun 1279 itulah Kanton jatuh pula.
Kaisarnya yang masih kecil dilarikan seorang panglima dan setelah dikejar-kejar akhirnya digendong panglima itu lalu terjun ke laut dan tenggelam.
Maka pada tahun 1279 itu berakhirlah Kerajaan Sung dan seluruh daratan Cina menjadi wilayah Kerajaan Goan.
Kaisar Kubilai Khan mengalihkan perhatiannya kepada pembangunan.
Banyak kekayaan diperoleh dari negara-negara barat yang pernah diserbu dan dirampok.
Kaisar ini pun membersihkan semua pemberontakan dan perlawanan rakyat Han, membangun perdagangan sehingga keadaan mulai tenang kembali.
Bahkan pemerintahannya mengambil sikap lunak.
Tibet diperlakukan sebagai pembantu yang baik.
Para Pendeta Lama dirangkul sehingga para Pendeta Lama yang berkuasa di Tibet dengan senang mau membantu Kerajaan Goan ketika dimintai bantuan untuk mengamankan keadaan di daratan Cina, di mana dinilai masih banyak pendekar berjiwa patriot yang diam-diam membenci dan memusuhi pemerintah Mongol.
Juga pemerintah Kubilai Khan mengulurkan tangan kepada para tokoh kang-ouw di Tionggoan (Tiongkok), memberi kedudukan tinggi dan terhormat kepada orang-orang Han yang pandai asalkan mereka itu mau membantu pemerintah.
Banyak para pendekar dan orang pandai bangsa Han yang terpikat dan mau membantu.
Sebagian adalah orang-orang yang memang tergila-gila oleh kedudukan, harta dan kesenangan.
Sebagian lagi adalah mereka yang sebetulnya berjiwa pendekar dan patriot, namun mereka merasa percuma untuk dapat melawan dengan kekerasan karena pemerintah Mongol kuat sekali.
Maka dengan menjadi seorang pembesar yang jujur, setidaknya mereka dapat melindungi rakyat jelata dan menggunakan kekuasaan yang mereka dapat untuk menyejahterakan rakyat.
Demikianlah sekelumit tentang riwayat kebangkitan bangsa Mongol yang hebat itu.
Kisah "BAYANGAN BIDADARI"
Ini terjadi pada masa pemerintahan Kubilai Khan.
Pada waktu itu (sekitar tahun 1290) Kubilai Khan sudah tiga puluh tahun menjadi Kaisar, dan usianya sudah lebih dari tujuh puluh tahun.
Memang, seperti tercatat dalam sejarah, Kubilai Khan tidaklah sebesar ambisinya untuk merajalela menyerang negara-negara tetangga sepertiKakeknya.
Pernah memang dia mencoba untuk menyerang Jepang (tahun 1281) namun gagal sama sekali.
Kemudian pada tahun 1283 pasukannya menyerang Champa, walaupun berhasil menduduki namun tidak dapat lama dipertahankan.
Kerajaan Annam juga dicobanya untuk diserang antara tahun 1285 dan 1287, namun gagal pula.
Pada tahun itu juga, Birma juga diserbu, namun juga tidak dapat mendudukinya secara sempurna.
Setelah semua kegagalan ini, Kubilai Khan terpaksa harus mencurahkan perhatian keamanan dalam negeri karena masih ada saja rakyat yang dipimpin para pendekar terkadang melakukan pemberontakan kecil-kecilan namun yang cukup mengganggu.
Oleh karena itu, untuk dapat menumpas para pendekar yang menentang Kerajaan Goan secara rahasia itu, Kubilai Khan lalu mengangkat dan menugaskan beberapa orang jenderal untuk memberantas dan menanggulangi gangguan ini.
Di antara para panglima yang diberi tugas itu, yang paling terkenal dan pandai adalah Ogucin yang menggunakan nama pribumi Ouw Gu Cin atau yang dikenal sebagai Ouw Goanswe (Jenderal Ouw) dan yang tinggal di Kotaraja.
Seperti telah diceritakan di bagian depan, usaha-usaha membasmi para pejuang rakyat itu antara lain Jenderal Ouw mendatangkan dan mempergunakan tenaga bantuan Empat Datuk Besar, yaitu Datuk Utara Pak Lo-Kui, Datuk Timur Tung Giam-Lo, Datuk Selatan Lam Sin, dan Datuk Barat See Te-Tok.
Peristiwa terbantainya tiga puluh orang anggauta Hek I Kaipang di An-Hui yang dikabarkan dilakukan oleh tokoh Bu-Tong-Pai, merupakan berita yang amat menggemparkan dunia kang-ouw.
Para pendekar dan para tokoh kang-ouw (sungai telaga atau dunia persilatan) terkejut, heran dan bertanya-tanya mengapa ada tokoh Bu-Tong-Pai membunuhi begitu banyak anggauta Hek I Kaipang secara kejam.
Padahal Hek I Kaipang juga terkenal sebagai sebuah perkumpulan pengemis yang tergolong bersih, anti kejahatan bahkan juga patriottik, diam-diam tidak suka dengan pemerintah penjajah Mongol.
Selagi peristiwa itu masih menjadi bahan percakapan di dunia kang-ouw, kembali terdengar berita yang lebih menggemparkan lagi.
Sembilan orang anggauta Bu-Tong-Pai, termasuk Bu-Tong Sam-Lo yang termasuk tokoh besar Bu-Tong-Pai, tewas dibunuh seorang tokoh Siauw-Lim-Pai!
Seluruh dunia kang-ouw geger dan panik.
Mereka semua maklum bahwa peristiwa ini merupakan malapetaka dan sudah pasti berekor panjang.
Semua orang yakin bahwa Bu-Tong-Pai pasti tidak akan tinggal diam dan kalau terjadi perang antara Bu-Tong-Pai dan Siauw-Lim-Pai, akan hebatlah akibatnya.
Ataukah perbuatan tokoh Siauw-Lim-Pai ini ada hubungan dengan berita bahwa ada tokoh Bu-Tong-Pai membantai tiga puluh orang anggauta Hek I Kaipang?
Semua orang bertanya-tanya namun tidak ada yang dapat memberi jawaban.
Orang hanya menduga-duga, mereka-reka tanpa pegangan yang pasti.
Sementara itu, di Kuil Siauw-Lim-Si sendiri, perguruan silat yang juga menjadi pusat penyebaran Agama Buddha yang dihebohkan dan menjadi bahan pembicaraan orang, keadaannya tenang dan tenteram.
Belum ada seorang pun murid atau anggauta Siauw-Lim-Pai yang mendengar akan peristiwa hebat yang terjadi di Bu-Tong-Pai itu.
Kuil Siauw-Lim-Si yang menjadi pusat dari perguruan silat Siauw-Lim-Pai merupakan sebuah perumahan besar dan luas dengan berbagai bangunan kuno.
Kuilnya juga besar, berdiri paling depan.
Pusat Siauw-Lim-Pai ini berdiri di kaki Pegunungan Sung-San, di Propinsi Honan, Cina Tengah.
Selain menjadi perguruan silat aliran Siauw-Lim-Pai yang merupakan dasar dari banyak aliran persilatan, juga Siauw-Lim-Si menjadi pusat penyebaran Agama Buddha.
Maka yang menjadi pimpinan dan Guru-Guru agama maupun silat di situ semua adalah para Hwesio (Pendeta Buddha).
Siauw-Lim-Si merupakan Kuil kuno sekali.
Bangunannya masih kuno, tentu saja mengalami beberapa kali perbaikan karena Kuil itu didirikan pada jaman Dinasti Liang (502-556).
Seorang Pendeta Buddha yang terkenal dengan julukan Tat Mo Couwsu atau dikenal sebagai Budhi Dharma, Pendeta Buddhis Zen dari India yang arif bijaksana dan sakti, pernah tinggal di Kuil ini.
Tat Mo Couwsu ini yang mula-mula mengajarkan semacam senam yang berdasarkan Yoga kepada para Pendeta.
Senam ini dimaksudkan untuk menjaga kesehatan tubuh para Pendeta Buddha yang lemah.
Senam yang diajarkan Tat Mo Couwsu ini bukan sembarang senam, bukan semata untuk menyehatkan jasmani, melainkan terutama sekali untuk menyehatkan dan memperkuat rohani.
Dari ilmu inilah kemudian berkembang menjadi ilmu silat, ilmu bela diri yang makin lama semakin dikembangkan.
Pada mulanya, ilmu-ilmu silat Siauw-Lim-Pai dirangkai oleh para Pendeta Buddha (Hwesio) yang pandai dan yang mendapat petunjuk atau bimbingan langsung dari Thian (TUHAN) dengan melihat gerakan hewan yang hendak membela diri tanpa menggunakan akal, melainkan digerakkan oleh naluri untuk bertahan hidup.
Mula-mula ilmu silat itu mencontoh gerakan dari Panca Hewan, yaitu gerakan Naga, Harimau, Macan Tutul, Ular dan Bangau.
Bersama jalannya Sang Waktu, ilmu ini terus dikembangkan sehingga muncul sebagai aliran, disesuaikan dengan silat manusia setempat, tradisi dan kebudayaan masing-masing.
Namun di antara para aliran perguruan silat, yang paling terkenal adalah aliran Siauw-Lim-Pai yang dapat dikatakan sebagai induk para aliran yang lain.
Pusat Siauw-Lim-Pai di kaki Pegunungan Sung-San ini terletak di tempat yang amat indah pemandangannya, subur tanahnya, dan sejuk segar hawanya.
Lingkungan di hutan-hutan pegunungan itu belum dirusak dan dikotori manusia.
Hawa udaranya jernih dan bersih sehingga tidak mengherankan kalau para Hwesio dan para murid Siauw-Lim-Pai yang berada di situ tampak sehat-sehat, pipi mereka kemerahan, sinar mata mereka bening dan wajah mereka cerah.
Tampak benar bahwa mereka itu sehat jasmani dan rohani.
Pada waktu itu, Ketua Siauw-Lim-Pai masih tetap dipegang oleh Bu Kek Tianglo yang usianya sudah lebih dari delapan puluh tahun.
Tadinya, Siauw-Lim-Pai dipimpin oleh tiga orang bersaudara seperguruan.
Yang tertua adalah mendiang Bu Sek Tianglo, Hwesio yang suka merantau dan kini telah meninggal dunia, kedua adalah Bu Kek Tianglo yang kini menjadi Ketua Siauw-Lim-Pai dan yang ke tiga adalah Thian Beng Siansu yang juga merupakan seorang perantau setelah tertarik kepada Agama To dan dari seorang Hwesio (Pendeta Buddha) kini menjadi seorang Tosu (Pendeta Agama To)...
Maka, kini hanya Bu Kek Tianglo seorang diri yang memimpin Siauw-Lim-Pai.
Ketua ini dibantu oleh murid tertua, yaitu Ceng Seng Hwesio yang berusia sekitar lima puluh tiga tahun, yang mewakili Gurunya untuk melatih ilmu silat kepada para murid yang sudah tinggi tingkatnya.
Tentu saja Ceng Seng Hwesio mempunyai pembantu-pembantu dan di antara para pembantunya yang terpenting dan menduduki tingkat tinggi adalah Coan Sim Hwesio, dan yang terkenal dengan sebutan Ngo-Heng-Tin (Pasukan Lima Unsur).
Pasukan yang terdiri dari lima orang Hwesio berusia sekitar empat puluh tahun dan lima puluh tahun ini memiliki nama julukan yang disesuaikan dengan sebutan lima unsur itu.
Mereka adalah Kim Hwesio, Bhok Hwesio, Sui Hwesio, Ho Hwesio, dan Thou Hwesio, tepat dengan sebutan Lima Unsur, yaitu Kim (Emas, Logam), Bhok (Kayu, Pohon), Sui (Air), Ho (Api), dan Thou (Tanah)!
Kalau lima orang Hwesio ini maju satu demi satu, tentu saja tingkat kepandaian silat mereka masih kalah setingkat dibandingkan tingkat Ceng Seng Hwesio sebagai murid tertua.
Akan tetapi kalau lima orang Hwesio itu maju bersama membentuk Ngo-Heng-Tin, biar Ceng Seng Hwesio sendiri tidak akan mampu menandingi mereka.
Perumahan Siauw-Lim-Pai merupakan bangunan-bangunan yang kokoh kuat, dan di situ terdapat pula tempat-tempat rahasia dan jebakan yang berbahaya.
Para murid dididik secara keras dan ketat sehingga setiap orang murid baru dinyatakan lulus kalau sudah mampu keluar melampaui lorong-lorong rahasia di mana terdapat alat-alat yang menguji kemampuan mereka.
Alat-alat ini amat berbahaya dan hanya murid yang sudah benar-benar lihai saja yang akan mampu lolos.
Bahkan pemerintah Kerajaan Mongol saja tidak berani secara kasar mengganggu Siauw-Lim-Pai karena perguruan ini merupakan pusat penyebaran agama dan tidak tampak memberontak terhadap pemerintah penjajah.
Akan tetapi para Panglima Mongol tentu saja tahu bahwa para murid Siauw-Lim-Pai yang berjiwa pendekar itu tentu saja membenci pemerintah penjajah sehingga Siauw-Lim-Pai tetap saja merupakan bahaya yang sewaktu-waktu dapat meletus, seperti api dalam sekam, tampaknya saja dingin, namun di sebelah dalamnya panas dan sewaktu-waktu dapat menimbulkan kebakaran.
Pagi hari itu udara dingin sekali.
Matahari baru saja muncul sehingga cahayanya masih lemah, belum cukup panas untuk mengusir hawa udara yang dingin.
Seperti biasa, para Hwesio di Kuil Siauw-Lim-Si sejak pagi sekali sudah bangun.
Ada yang sedang Liam-Keng (membaca doa), ada yang mengerjakan pembersihan atau menyapu, ada pula yang sibuk di dapur, memotong kayu bakar, memikul air, mempersiapkan makanan pagi, menjerang air, dan sebagainya.
Para murid juga sibuk membantu para Hwesio, ada pula yang belajar membaca kitab agama, ada yang berlatih silat.
Jauh di tengah kebun yang luas di belakang perumahan Siauw-Lim-Pai yang dikelilingi dinding tembok tebal dan tinggi, kebun yang penuh tanaman bunga, sayur-sayuan, dan pohon-pohon buah, tampak seorang gadis yang berlatih silat seorang diri.
Gadis itu berusia sekitar enam belas tahun, tubuhnya sedang dan ramping, tubuhnya bagaikan kembang sedang mulai mekar, wajahnya cantik manis.
Yang mengagumkan adalah gerakannya ketika bersilat tangan kosong di bawah pohon besar itu.
Demikian tangkas dan gesit.
Sepasang matanya yang bening tajam itu seolah tak pernah berkedip, mata seorang ahli silat yang sudah matang.
Yang hebat adalah ketika ia memainkan ilmu silat Ngo-Heng Sin-Kun.
Padahal ilmu silat ini amatlah sulit, berubah-ubah sesuai dengan silat lima unsur.
Terkadang ganas dan penuh semangat seperti api, terkadang tenang namun menyembunyikan tenaga seperti air, terkadang kokoh seperti logam, lentur seperti batang kayu hidup, dan ada kalanya lamban tenang namun kokoh seperti tanah.
Juga setiap gerakan kaki atau tangan yang menampar atau menendang, mengeluarkan bunyi angin dahsyat, tanda bahwa ia memiliki sinkang (tenaga sakti) yang sudah mencapai tingkat tinggi.
Setelah bersilat beberapa lamanya, dahi dan lehernya mulai basah oleh keringat padahal hawa udaranya dingin sekali.
Namun pernapasannya masih biasa saja.
Tiba-tiba ia menggerakkan kedua tangan ke belakang punggung dan tampak dua sinar berkelebat ketika kedua tangannya sudah mencabut keluar sepasang pedang yang tadinya berada di sarung pedang yang tergantung di punggungnya.
Mula-mula gadis itu bergerak lambat dengan gerakan indah, tidak ubahnya seorang penari yang mahir.
Gerakannya lentur, lembut dan sama sekali bukan seperti gerakan silat yang melakukan serangan maut dan kasar, lebih mirip tarian indah sekali.
Gerakan tubuhnya, kaki, tangan, leher, semua itu begitu serasi, harmonis, indah bagaikan seorang bidadari turun dari kahyangan dan menari-nari dengan kedua ujung selendangnya.
Akan tetapi makin lama gerakan itu menjadi semakin cepat.
Kini kedua batang pedang itu bergerak-gerak cepat sehingga makin lama bentuk pedangnya semakin kabur dan akhirnya yang tampak hanya dua gulungan sinar pedang menari-nari.
Tubuhnya yang ramping juga semakin cepat bergerak sehingga akhirnya hanya tampak bayangan yang dibungkus dua gulungan sinar pedang!
Tiba-tiba terdengar tepuk tangan dan gadis itu segera menghentikan silat pedangnya.
Di Siauw-Lim-Si terdapat banyak peraturan keras, di antaranya, murid tidak boleh memuji orang secara berlebihan, dengan sorakan atau tepuk tangan karena pujian berlebihan itu dapat membuat seorang murid menjadi lupa diri dan sombong, merasa hebat sehingga ketinggian hati ini bahkan mendatangkan kelengahan!
Kini ada yang bertepuk tangan, berarti ada murid yang melanggar larangan itu, maka ia menghentikan permainannya dan cepat memutar tubuh menghadap ke arah orang yang bertepuk tangan.
Akan tetapi ketika ia memutar tubuh, ia tidak melihat ada seorang pun di situ!
ia merasa heran sekali.
Tidak mungkin ada orang dapat bergerak sedemikian cepatnya menghilang sehingga ia tidak sempat melihatnya!
Setankah yang bertepuk tangan tadi?
Tidak mungkin.
Mana ada setan muncul di waktu matahari sudah bersinar?
"Ciang-Hoat (silat tangan) yang hebat!
Kiam-Hoat (silat pedang) yang mengagumkan!"
Tiba-tiba terdengar suara orang memuji.
Gadis itu menengadah karena suara itu datangnya dari atas dan ia melihat seorang pemuda duduk di atas cabang pohon dengan kedua kaki bergantungan dan digerak-gerakkan dengan sikap lucu dan ugal-ugalan, seperti seorang kanak-kanak yang nakal.
"Hei! Engkau bukan murid Siauw-Lim-Pai! sungguh berani mati masuk ke tempat ini seperti maling! Kau maling, ya?"
Gadis itu membentak marah.
Pemuda itu tersenyum lebar dan sekali tubuhnya bergerak, dia sudah melayang turun dan kedua kakinya berdiri di atas tanah depan gadis itu dengan ringan seperti sepasang kaki burung yang hinggap di cabang saja.
Mereka saling pandang dan dua pasang mata itu menyinarkan kekaguman.
Kalau gadis itu merupakan seorang dara remaja enam belas tahun yang amat cantik jelita, pemuda itu berusia sekitar dua puluh tiga tahun, tubuhnya tinggi tegap, wajahnya amat tampan gagah, kulitnya tidak putih benar, agak gelap seperti kulit yang biasa mandi cahaya matahari.
Ketika tersenyum wajah itu tampak manis dan sepasang mata tajam itu penuh pengertian, namun senyumnya, membayangkan bahwa dia berwatak jenaka dan gembira.
Pakaiannya sederhana namun bersih.
"He-heh, Nona!"
Dia tersenyum lebar sehingga tampak giginya yang putih berkilau.
"kalau aku maling tentu tidak mau memperlihatkan diri. Mana ada maling pada pagi yang cerah begini menemui yang punya rumah?"
"Kalau engkau tidak berniat jahat, hayo katakan siapa engkau, mengapa berada di sini dan tidak masuk sebagai tamu melalui pintu gerbang!"
"Aku orang baik-baik, Nona. Namaku Si Han Lin, dan kalau aku sampai terpaksa masuk ke sini adalah karena ternyata para murid Siauw-Lim-Si adalah orang-orang yang tidak percaya dan berprasangka buruk kepada orang lain..."
"Si Han Lin! Kamu sudah melanggar peraturan malah sekarang menjelek-jelekkan murid Siauw-Lim-Pai! Beraninya kamu!"
"Uh, sabarlah, Nona. Engkau sendiri masih hutang padaku belum juga mau bayar, sudah marah-marah..."
"Hutang apa? Gila kamu barangkali!"
"Hutang nama. Engkau sudah tanya namaku dan sudah kuberitahu, akan tetapi engkau belum membalas memberitahukan namamu. Bukankah itu hutang namanya?"
"Baik, namaku Ong Lian Hong! Nah, sekarang cepat beri penjelasan mengapa engkau muncul di sini seperti maling. Kalau bohong aku akan menangkap kamu seperti maling!"
"Hemm, Nona Ong Lian Hong yang terhormat! Dengarlah baik-baik. Tadi pagi-pagi sekali aku sudah berada di depan pintu gerbang, minta kepada para murid yang berjaga di sana agar aku diantarkan menghadap Ketua Siauw-Lim-Pai yang bernama Bu Kek Tianglo. Akan tetapi apa kata mereka? Mereka memaki aku gila dan bilang bahwa orang seperti aku tidak mungkin dapat bertemu dengan Bu Kek Tianglo dan akan membawaku menghadap Ceng Seng Hwesio atau seorang di antara para Hwesio pembantu. Tentu saja aku tidak mau karena aku perlu bertemu sendiri dengan Bu Kek Tianglo. Eh, mereka marah-marah dan aku diusir! Nah, terpaksa aku lalu masuk melalui dinding tembok dan tiba di kebun ini karena aku hendak mencari Bu Kek Tianglo! Sekarang begini, karena kita sudah saling berkenalan dan menjadi sahabat, kita baik-baikan saja dan engkau antarkan aku menghadap beliau, bagaimana?"
"Hidungmu!"
Lian Hong memaki, karena di situ para murid dilarang keras memaki, dengan kata kotor, maka ia pun memaki dengan menyebut hidung dan anggauta badan lain yang sifatnya tidak menghina.
"Siapa yang menjadi sahabat?"
Si Han Lin, pemuda itu, meraba hidungnya.
"Hidungku kenapa sih?"
Dia memandang ke arah hidung dara itu.
"Tentu saja tidak seindah hidungmu, akan tetapi hidungku tidak cacat, bukan? Atau barangkali kotor karena debu?"
Dia menggosok-gosok hidungnya.
"Nah, sekarang sudah bersih, bukan?"
Geli juga hati Lian Hong, akan tetapi ia tetap cemberut.
"Tolol kamu. Maksudku, kita bukan sahabat."
"Lho! Lian Hong, bukankah kita sudah saling mengenal nama? Aku senang lho bersahabat dengan kamu. Hayolah, sahabatku, tolong antarkan aku bertemu dengan Bu Kek Tianglo. Aku harus bertemu dan bicara dengan beliau."
"Enak saja! Orang-orang yang amat penting, yang berkedudukan tinggi saja masih tidak berani sembarangan minta bertemu dengan Suhuku. Apalagi kamu!"
Han Lin terbelalak.
"Suhu? Jadi beliau itu Suhumu (Gurumu)? Tidak mungkin!"
"Heh? Kamu tidak percaya? Bu Kek Tianglo adalah Suhuku, tahukah kamu?"
"Kalau Ceng Seng Hwesio atau ke lima Ngo-Heng-Tin, memang murid beliau. Akan tetapi engkau? Seorang bocah perempuan? Jangan ngawur! Paling-paling engkau ini cucu murid atau buyut murid beliau!"
"Tolol kamu! Kamu telah melanggar, masuk tanpa ijin. Kamu harus kutangkap dan kuhadapkan Suheng (Kakak Seperguruan) Ceng Seng Hwesio!"
"Mau tangkap aku? Nah, silakan kalau engkau ingin nanti dimaki-maki Bu Kek Tianglo!"
Kata Han Lin dan dia menyodorkan kedua lengannya, menyerah untuk diikat.
Lian Hong marah sekali, terutama karena dianggap bocah perempuan yang menjadi cucu atau buyut murid Bu Kek Tianglo.
Ia menganggap pemuda itu amat menghinanya.
Maka ia cepat mengambil tali dari bambu yang amat kuat dan berada di situ dan mengikat kedua pergelangan tangan itu, disatukan dan dibelit tali bambu lalu diikat sambil mengerahkan tenaganya sehingga ikatan itu kuat sekali.
"Nah, sekarang engkau akan kuhadapkan para Suheng! Hayo jalan!"
Bentak Lian Hong. Han Lin tersenyum.
"Tali bambu ini menyakitkan lenganku. Kau ikat begini kuat, apakah engkau tak kasihan padaku?"
"Kasihan apa? Kamu melanggar dan harus dihukum!"
"Ah, aku tidak mau kalau diikat dengan ini. Aku minta diikat dengan sabuk pinggangmu itu!"
Kata Han Lin dan sekali dia menggerakkan tangan, ikatan tali bambu Itu pun putus-putus! Lian Hong terbelalak, kedua pipinya yang putih menjadi kemerahan karena marahnya.
"Setan kamu! Anjing, Babi..."
"Ssstt! Aku dengar murid Siauw-Lim-Pai dilarang keras untuk memaki-maki seperti itu!"
Kata Han Lin. Lian Hong menggunakan tangan menutup mulutnya dengan kaget.
"Ohhh... aku lupa...! Si Han Lin, jangan main-main, apakah kamu hendak memberontak dan melawanku?"
Ia siap untuk menyerang.
"Tidak, aku tidak melawan. Aku tidak bersalah, aku hanya ingin bertemu dan bicara dengan Bu Kek Tianglo!"
"Kamu melanggar! Kamu harus ditangkap dan kuhadapkan para Suhengku!"
"Ya, boleh saja. Akan tetapi jangan diikat pakai tali kasar itu! Kalau pakai ikat pinggangmu dari Sutera itu, baru aku mau."
"Sialan!"
Lian Hong berseru.
Kalau ia melepaskan ikat pinggangnya, bukankah berarti celananya akan merosot turun?
Akan tetapi ikat pinggangnya dari Sutera itu panjang sekali, ujungnya saja sudah cukup untuk membelenggu kedua pergelangan tangan itu.
Maka tanpa bicara lagi, ia melepaskan sebagian ikat pinggangnya, mengikatkan kembali bagian tengahnya dan sebagian ujungnya yang cukup panjang ia ikatkan pada kedua pergelangan tangan Han Lin yang menurut saja sambil tersenyum.
Kini pemuda itu terikat oleh ujung ikat pinggang yang masih mengikat pinggang ramping itu!
"Hayo jalan!"
Bentaknya.
Han Lin tersenyum dan berjalan.
Karena kedua tangannya diikat sabuk yang masih mengikat pinggang Lian Hong, Tentu saja mereka harus berjalan berdampingan!
Han Lin berjalan melenggang sambil tersenyum geli, sebaliknya Lian Hong berjalan dan berusaha menjauh sedapat mungkin dengan mulut cemberut!
Tiba-tiba mereka bertemu dengan seorang Hwesio bertubuh tinggi besar yang mukanya merah.
Inilah Ho Hwesio yang berusia empat puluh tahun.
Di jubah Hwesio ini bagian dada terdapat huruf HO (Api) dan Ho Hwesio ini merupakan orang yang paling keras wataknya dibandingkan empat orang lainnya dari Ngo-Heng-Tin (Pasukan Lima Unsur).
Alis Hwesio ini berkerut dan matanya memandang marah ketika dia melihat Lian Hong berjalan berdampingan rapat dengan seorang pemuda tampan yang asing, sama sekali bukan murid Siauw-Lim-Pai.
Karena kini Ong Lian Hong menjadi murid Bu Kek Tianglo, berarti gadis remaja itu termasuk Adik seperguruannya!
"Sumoi, apa yang terjadi?
Siapa pemuda ini?"
Ho Hwesio berseru dengan sikap penasaran. Lian Hong juga memiliki watak yang lincah, manja, dan galak pula. Melihat Ho Hwesio bertanya dengan nada yang keras, ia pun menjawab dengan cemberut pula.
"Ho Suheng, dia ini bernama Si Han Lin, memasuki kebun kita tanpa ijin, katanya hendak bertemu dengan Suhu, maka dia kutangkap untuk kuhadapkan Suheng Ceng Seng Hwesio!"
"Omitohud! Enak saja! Orang begini kurang ajar masih kau perlakukan dengan begitu lunak, Sumoi! Lepaskan dia, biar Pinceng (aku) yang membawanya ke dalam!"
Bentak Ho Hwesio. (Lanjut ke
Jilid 15) Bayangan Bidadari/Sian Li Eng Cu (Cerita Lepas) Karya. Asmaraman S. Kho Ping Hoo
Jilid 15 Karena merasa tidak enak kalau harus "memperebutkan"
Tawanan itu, Lian Hong tanpa bicara apa pun ingin melepaskan belenggu ujung sabuknya pada kedua pergelangan tangan Han Lin, akan tetapi ia terkejut melihat betapa kedua pergelangan tangan itu ternyata telah terlepas dari ikatan tanpa merusak ujung sabuk Suteranya.
Cepat ia melibatkan lagi ujung sabuk itu pada pinggangnya yang ramping.
Kemudian Ho Hwesio dengan alis berkerut menghampiri Han Lin dan berkata dengan suara keren.
"Hai, orang muda bernama Si Han Lin! Engkau telah berani sekali menghina Siauw-Lim-Pai!"
Han Lin memandang kepada Hwesio tinggi besar itu dengan mata terbelalak heran.
"Menghina? Aku menghina Siauw-Lim-Pai?"
Dia memandang ke arah huruf Ho pada dada jubah Hwesio itu dan maklum bahwa yang berdiri di depannya adalah seorang anggauta dari Ngo-Heng-Tin.
"Ho Hwesio, dalam hal apakah aku menghina Siauw-Lim-Pai?"
"Engkau telah menghina dua kali! Pertama, engkau masuk tanpa ijin berarti melanggar kedaulatan kami, dan ke dua engkau memaksa hendak bertemu dengan Suhu Bu Kek Tianglo, Ketua kami. Itu penghinaan namanya!"
"Wah, Ho Hwesio yang terhormat dan baik! Ucapanmu itu menyatakan kebenaran kata-kata bahwa kesalahan orang lain sekecil semut pun tampak nyata, akan tetapi kesalahan sendiri sebesar gajah tetap tidak kelihatan! Dengarlah baik-baik. Aku masuk ke sini karena aku telah ditolak dan diusir penjaga pintu gerbang biarpun aku minta ijin untuk masuk secara baik-baik! Kemudian, apa salahnya aku bertemu dengan Bu Kek Tianglo? Apakah di Siauw-Lim-Pai masih ada aturan membeda-bedakan manusia diukur dari golongan, kedudukan, kekayaan, atau kepandaian? Apakah Ketua Siauw-Lim-Pai itu bukan manusia dan terlalu Suci sedangkan aku hanya orang biasa yang kotor dan hina?"
Mendengar ini, wajah Ho Hwesio menjadi semakin marah, kini bukan hanya karena marah, melainkan lebih karena merasa ditegur dan malu.
"Orang muda, tidak perlu engkau banyak bicara. Kami di sini mempunyai peraturan sendiri yang tidak boleh dilanggar siapapun juga. Kalau engkau mempunyai urusan dengan Siauw-Lim-Pai, engkau cukup bicara dengan kami sebagai para pengurus Siauw-Lim-Pai. Kalau persoalannya penting, baru kami akan melaporkan kepada Toa-Suheng (Kakak Seperguruan Tertua) Ceng Seng Hwesio."
"Tidak bisa, aku hanya mau bicara dengan Bu Kek Tianglo sendiri dan tidak bisa diwakilkan orang lain!"
Kata Han Lin dengan tegas.
"Omitohud! Kiranya engkau bocah yang besar kepala dan nekat!"
Ho Hwesio marah sekali.
"Engkau nekat hendak berjumpa dengan Suhu Bu Kek Tianglo? Baik, untuk dapat bertemu engkau harus dapat melewati Ngo-Heng-Thia (Ruangan Lima Unsur) lebih dulu. Di sana ruangan itu, silakan masuk dan coba ingin kami melihat apakah engkau mampu melewatinya!"
Ho Hwesio menuding ke arah sebuah bangunan yang pintunya lebar dan tertutup. Han Lin tersenyum memandang ke arah bangunan itu dan mengangguk.
"Kebetulan sekali. Sudah lama aku mendengar akan hebatnya Ngo-Heng-Thia yang merupakan ujian terakhir bagi para murid Siauw-Lim-Pai. Aku ingin mencoba sampai di mana kehebatannya!"
Setelah berkata demikian, dengan langkah lebar dia menghampiri bangunan itu, diikuti oleh Ho Hwesio dan juga oleh Lian Hong yang merasa khawatir.
Murid Siauw-Lim-Pai yang sudah lulus saja masih harus berhati-hati melewati lorong ruangan itu yang amat berbahaya.
la sendiri memang sudah dapat melewatinya.
Akan tetapi pemuda ini yang tidak tahu sedikit pun tentang Ngo-Heng-Thia, merasa tenang saja dan berani hendak mencoba melewatinya!
Padahal, bukan saja hal itu amat sukar, bahkan juga amat berbahaya dan salah-salah dapat merenggut nyawanya!
"Si Han Lin, lebih baik engkau menyerah saja dibawa menghadap Suheng Ceng Seng Hwesio daripada nekat hendak memasuki Ngo-Heng-Thia!"
Kata Lian Hong yang tidak dapat menahan kekhawatirannya. Pemuda yang sudah tiba di depan pintu ruangan berbahaya itu, berhenti dan memutar tubuh menghadapi Lian Hong sambil tersenyum.
"Adik kecil, mengapa engkau menahan aku? Apa engkau khawatir kalau aku tidak mampu melewatinya dan terluka?"
Hati Lian Hong merasa dongkol mendengar dirinya disebut Adik kecil. la cemberut dan menjawab.
"Aku hanya peringatkan padamu karena aku tidak ingin Ngo-Heng-Thia kami dikotori mayatmu yang hancur dan darahmu mengalir ke mana-mana!"
"Hemm, terima kasih atas perhatianmu, Adik Ong Lian Hong. Jangan khawatir, kukira aku akan mampu melewatinya dengan selamat."
Kemudian sambil tersenyum Han Lin melangkah memasuki pintu yang terbuka lebar.
Setelah dia masuk ke ruangan itu, ternyata ruangan itu hanya memiliki sebuah lorong yang lebarnya sekitar dua tombak dan cuacanya remang-remang.
Dia melangkah tenang namun sesungguhnya dia waspada dan seluruh urat syarafnya siap siaga menghadapi bahaya yang bagaimanapun.
Begitu dia melangkah tidak lebih dari tujuh langkah, tiba-tiba terdengar suara keras di belakangnya.
Dia cepat membalik dan melihat betapa pintu di belakangnya tertutup dari atas dengan daun pintu berlapis besi yang kokoh kuat!
Dia terjebak dan tidak dapat kembali atau keluar dari ruangan itu.
Jalan satu-satunya hanya maju terus tanpa diketahuinya apa yang akan menghadangnya dalam perjalanan itu.
Sejenak Han Lin berdiri dan mengerahkan tenaga saktinya, membiasakan pandang matanya sehingga dapat menembus keremangan cuaca di dalam lorong itu.
Kemudian dia melangkah maju perlahan-lahan dengan hati-hati dan waspada.
Baru lima langkah dia berjalan, tiba-tiba ada angin dahsyat menyambar dari sebelah kiri ke arah kepalanya.
Han Lin yang sudah siap dengan pengerahan tenaga sinkang, cepat menangkis dengan tangan kirinya sambil menarik kepalanya ke belakang.
"Dukkk...!!"
Lengan kirinya bertemu dengan sebuah lengan baja yang amat kuat!
Lengan baja itu begitu saja mencuat keluar dari dinding dan memukulnya.
Begitu ditangkis, lengan itu meluncur kembali masuk ke dalam dinding.
Kini dia maklum bahwa tempat yang dijadikan tempat untuk menguji kepandaian para murid Siauw-Lim-Pai yang tamat belajar itu penuh dengan rahasia yang cukup berbahaya.
Dia melangkah terus.
Tiba-tiba terdengar suara dari atas dan meluncurlah bandul besi yang beratnya tentu ratusan kati, menimpa kepalanya.
Kepala akan remuk kalau tertimpa besi seberat itu.
Han Lin cepat mengelak dengan mencondongkan tubuh ke kiri.
Pada saat itu, dari kiri tampak bayangan orang menubruknya dan besi yang menimpa tadi tertarik kembali ke atas dan ternyata besi itu tergantung pada sehelai tali baja yang kuat.
Han Lin cepat mengelak dengan menyusup ke bawah sambil menggerakkan tangan kanannya memukul ke arah perut bayangan yang ternyata merupakan sebuah arca manusia terbuat dari besi.
"Tanggg...!"
Perut orang-orangan itu terpukul dan arca itu terpental ke belakang lalu lenyap kembali ke dalam dinding.
Han Lin melompat bangun dengan sigapnya sambil memperhatikan ke sekelilingnya.
Dia melangkah terus dan lorong itu membelok ke kiri.
Ketika dia melangkah, tiba-tiba saja sebuah arca besi yang tinggi besar menubruknya dan menyerangnya dengan gerakan silat yang amat cepat dan kuat!
Tangan kiri arca itu mencengkeram ke arah kepalanya dan tangan kanannya menjotos ke arah perut.
Han Lin cepat menggerakkan kedua tangan menangkis.
Akan tetapi begitu ditangkis, arca itu merendahkan diri dan tiba-tiba kakinya mencuat dengan tendangan maut yang amat kuat.
"Haiiitt!"
Han Lin berseru, mengelak dan menggeser kaki lalu menggunakan tangan kiri yang dimiringkan membacok ke arah kaki yang menendang itu.
Karena dia mengerahkan sinkang, kalau yang dia bacok dengan tangan miring itu kaki manusia, tentu tulang kakinya akan remuk.
"Tanggg!!"
Kaki itu terpental akan tetapi tidak rusak.
Orang-orangan itu terus menyerangnya dengan gerakan Ilmu Silat Naga.
Han Lin mengenal ilmu silat ini, maka dia dapat melayaninya dengan baik, bahkan beberapa kali sempat memukul tubuh orang-orangan itu.
Kemudian arca besi itu mengubah ilmu silatnya, menjadi ilmu Silat Harimau, lalu berubah-ubah sehingga Ilmu Silat Panca Hewan dia mainkan semua.
Namun Han Lin yang sudah hafal akan semua ilmu silat ini, dapat melawan dengan baik sehingga akhirnya sebuah tendangannya dengan gaya tendangan terbang mengenai muka arca besi itu sehingga arca besi terlempar menabrak dinding, mengeluarkan suara berkerontangan dan lenyap kembali ke dalam dinding!
Ketika Han Lin maju terus, dia harus menghadapi pengeroyokan dua orang-orangan besi yang menyerangnya dengan menggunakan pedang.
Serangan mereka itu bersungguh-sungguh, merupakan serangan maut dan bukan hanya gerakan ngawur, melainkan gerakan ilmu silat pedang Siauw-Lim-Pai yang amat cepat dan kuat.
Namun, Han Lin segera mengerahkan ginkang (ilmu meringankan tubuh), berkelebatan di antara sambaran pedang, kemudian dengan pengerahan tenaga sakti yang amat kuat dia mendorong dua arca besi itu sehingga keduanya terdorong menabrak dinding dan lenyap kembali.
Baru saja dua arca berpedang itu lenyap, muncul tiga arca yang bergolok dan kembali dia menghadapi pengeroyokan dengan ilmu golok yang amat berbahaya.
Namun Han Lin mempercepat gerakannya dan dia berhasil merampas tiga golok mereka, menendangi arca itu sehingga mereka juga menghilang ke dalam dinding.
Lalu muncullah empat area besi yang bersenjata toya.
Barisan empat buah arca ini ternyata paling lihai dan berbahaya.
Ilmu toya dari Siauw-Lim-Pai terkenal di seluruh dunia sebagai ilmu yang amat tangguh.
Namun karena Han Lin sudah mengenal baik ilmu toya Siauw-Lim-Pai, ketika dia dikeroyok empat dan diserang, dia tidaklah amat kerepotan.
Tubuhnya yang dapat bergerak amat lincahnya itu berkelebatan menghindar sambaran empat batang toya.
Yang amat mengagumkan adalah karena pemuda ini sama sekali tidak menggunakan senjata untuk membela diri.
Cukup dengan kedua kaki tangannya saja dia mampu menangkis, bahkan membalas dengan tidak kalah dahsyatnya.
Beberapa kali empat arca besi itu terpental dan terhuyung.
Kemudian, setelah dapat membuat mereka terpental ke kanan kiri menabrak dinding, dia menerobos lewat.
Dia melihat pintu di ujung sana dalam keadaan terbuka.
Hatinya merasa lega karena ternyata empat buah arca besi bertoya ini agaknya merupakan ujian terakhir.
Setelah berhasil menerobos lewat tanpa terbuka sedikit pun, dia melompat ke depan dan...
tiba-tiba kedua kakinya terjeblos ke dalam sebuah lubang yang tiba-tiba saja terbuka di lantai!
Han Lin tidak kehilangan ketenangan dan kewaspadaannya.
Begitu tubuhnya bagian bawah terjerumus ke dalam lubang, cepat kedua tangannya dipentang dan begitu kedua telapak tangannya menyentuh lantai di tepi lubang, dia mengerahkan tenaga bertumpu pada kedua telapak tangannya dan tubuhnya sudah melayang ke atas, lalu dia membuat poksai (salto) meluncur keluar dari pintu lorong ruangan itu!
Namun, ternyata dia belum keluar dari ruangan karena di balik pintu lorong itu terdapat sebuah ruangan yang luas dan terang, dan di sana telah berdiri menghadang lima orang Hwesio yang semua memegang masing-masing sebatang toya besi!
Dan di jubah bagian dada lima orang Hwesio itu masing-masing terdapat huruf KIM, BHOK, SUI, HO, dan THOU!
Tahu lah dia bahwa mereka adalah apa yang disebut Ngo-Heng-Tin (Pasukan Lima Unsur).
Akan tetapi ketika dia mengamati penuh perhatian, mereka berlima itu ternyata bukan manusia, melainkan lima buah arca Hwesio yang buatannya sedemikian halusnya sehingga mirip benar dengan manusia hidup!
Han Lin tersenyum dan menggelengkan kepala kagum.
"Bukan main! Para Hwesio Siauw-Lim-Pai sungguh pandai sekali! Pandai ilmu silat, pandai ilmu agama, pandai pula seni membuat patung, juga ahli alat-alat rahasia. Sungguh pantas disebut sebagai pusat dan sumber semua ilmu silat! Kalau Ngo-Heng-Tin palsu ini merupakan ujian terakhir, aku harus menundukkannya!"
Setelah berkata demikian, dia melangkah maju. Tiba-tiba terdengar suara "klik"
Dan lima arca Ngo-Heng-Tin itu serentak menyerangnya!
Diam-diam Han Lin terkejut juga.
Gerakan lima arca Ngo-Heng-Tin itu sama sekall tidak kaku sepertI gerakan arca-arca yang tadi menyerang dan mengeroyoknya!
Para arca tadi, kalau menyerang dan dapat dia elakkan atau tangkis, otomatis arca itu mundur.
Akan tetapi lima arca Ngo-Heng-Tin ini sama sekali tidak mundur.
Setiap kali gagal menyerang, lalu melanjutkan dengan serangan lain dan semua serangan itu merupakan gerakan jurus silat amat baik, silat Ngo-Heng Sin-Kun yang aseli.
Mereka itu seolah benar-benar hidup, dapat berpikir dan menggunakan akal!
Han Lin terpaksa harus mengerahkan seluruh tenaga saktinya dan mengeluarkan semua ilmunya karena pengeroyokan Ngo-Heng-Tin palsu itu benar-benar hebat dan berbahaya.
Dan semua itu dia hadapi dengan tangan kosong belaka!
Padahal, setiap orang murid tertinggi Siauw-Lim-Pai yang melewati ujian ini, selalu menggunakan senjata andalannya yang boleh dia pilih.
Itu pun jarang ada murid yang mampu lulus tanpa menderita luka.
Han Lin mengimbangi serangan Ngo-Heng-Tin dengan jurus-jurus yang sama, bahkan jurus-jurus Ngo-Heng-Tin pilihan telah berubah ketika dia mainkan, bercampur dengan aliran ilmu silat lain yang membuat gerakannya menjadi ampuh sekali.
Sementara itu, sejak tadi Ho Hwesio dan Lian Hong mengawasi gerak-gerik Han Lin dari luar ruangan, melalui lubang-lubang yang memang diadakan untuk dipergunakan para pelatih mengamati kemajuan murid yang diuji.
Baca Juga: Jodoh Si Naga Langit 1
Baca Juga: Pedang Kayu Harum 3