Bayangan Bidadari 4

Eps 4 Bayangan Bidadari - Kho Ping Hoo

Baca online Bayangan Bidadari - Kho Ping Hoo

Cersil Bayangan Bidadari - Kho Ping Hoo.

In Hong berdiri dengan mata terbuka lebar saking heran dan ngerinya.

Ia memandang pemuda itu yang terhuyung lalu jatuh terduduk.

Darah membanjir dari perutnya, akan tetapi pemuda itu masih dapat memandangnya dengan mulut dipaksa tersenyum sehingga mendatangkan penglihatan yang amat menyeramkan.

"Teng San, kau kenapakah? Mengapa kau sengaja menerima seranganku?"

Tanya In Hong sambil berlutut di depan pemuda itu. Pemuda itu hanya tersenyum dan menggeleng-geleng kepalanya perlahan.

"Teng San, mengapa kau membunuh Bu Jin Ai? Mengapa?"

In Hong mulai menyesal melihat keadaan pemuda ini dan ia bingung sekali. Teng San menggerakkan Bibirnya yang gemetar. Kata lirih keluar dari mulutnya.

"Dia... dia adalah Ayahku... dia harus mati... dia harus mati..."

"Mengapa? Apa dosanya? Teng San, mengapa kau membunuh Ayahmu sendiri?"

Teng San hanya menggeleng kepalanya, wajahnya mulai memucat dan nampaknya berduka sekali.

"Dan mengapa kau membiarkan aku membunuhmu? Kalau kau melawan, aku takkan dapat menang!"

Kembali Teng San mengerahkan tenaga dan berkata lirih.

"Aku... menebus dosa Ayah... juga menerima hukuman... karena telah membunuh Ayah sendiri... In Hong... kalau kau mau tahu... kau pergilah ke dusun Hok-te-chung... sebelah barat kota... Im-goan-kan, disana... disana kau carilah Ibumu..."

Tiba-tiba tubuh Teng San lemas dan ia takkan mempertahankan diri lagi, roboh terguling.

"Teng San, kau bilang Ibuku...??"

Akan tetapi pemuda itu tak dapat menjawab lagi karena nyawanya telah meninggalkan tubuhnya.

In Hong melompat ke dalam gua untuk menghampiri Bu Jin Ai atau Ong Tiang Houw, akan tetapi yang dihampiri juga telah menjadi mayat!

Ayah dan anak keduanya telah tewas dan darah mereka membanjiri tanah di dalam dan di luar gua.

Sungguh mengerikan dan menyedihkan.

In Hong yang kebingungan itu menangis.

Kemudian ia dapat menekan perasaan hatinya dan digalinyalah lubang di dalam gua, sebuah lubang yang cukup lebar untuk mengubur dua mayat.

Sampai sore ia bekerja dan akhirnya ia dapat mengubur mayat Ayah dan anak itu ke dalam lubang.

Pada malam harinya, ia menangis di atas timbunan tanah di dalam gua!

"Lian Hong, anakku, terima kasih kau mau pulang dan kembali kepada Ibumu.

Baiknya kau lekas datang, nak, kalau tidak, kiranya Ibumu takkan tahan lebih lama hidup menderita seperti ini..."

Cui Hwa atau Ibu Lian Hong mendekap kepala putrinya yang berlutut dan memeluk Ibunya.

Lian Hong terharu sekali.

Ibunya telah kelihatan tua dan lemah, wajahnya pucat dan rambutnya kusut.

Padahal ia ingat bahwa Ibunya adalah seorang wanita yang amat cantik, seperti In Hong yang ia lihat belum lama ini.

"Ibu, dimana... Ayah?"

Cui Hwa menarik napas panjang, lalu membetot anaknya supaya duduk di sampingnya. Untuk beberapa lama ia memandang wajah Lian Hong dan kelihatan puas melihat puterinya sehat-sehat saja.

"Ayahmu telah pergi beberapa hari setelah kau dan Kakakmu pergi, sampai sekarang belum pernah pulang. Ah, ya, dimana adanya Teng San? Mengapa ia tidak turut pulang?"

Dua orang wanita ini lalu menceritakan pengalaman masing-masing.

Cui Hwa mendengarkan penuturan puterinya tentang kedua anak ini yang belajar ilmu silat di Siauw-Lim-pay, dan hatinya girang sekali karena mendengar bahwa Teng San juga sudah memiliki ilmu silat yang tinggi.

"Ibu, aku membawa kabar yang tentu amat menyenangkan hati Ibu."

Ibunya menoleh dan melihat wajah Ibunya yang kurus pucat serta matanya yang sayu seakan-akan telah dekat mati dari pada hidup, Lian Hong tidak tega untuk menyimpan rahasia itu lebih lama lagi.

Ia memeluk Ibunya dan berkata.

"Ibu, aku telah bertemu dengan enci In Hong..."

Di dalam pelukan Ibunya, Lian Hong merasa betapa kedua tangan Ibunya gemetar dan jantung di dalam dada itu berdetak-detak keras.

"In Hong...? Dimana dia? In Hong... aah...!"

Dan Nyonya ini lalu menangis tersedu-sedu sambil mendekap kepala Lian Hong.

Lian Hong sudah besar dan sudah cukup mengerti apa yang mengganggu hati Ibunya.

Tentu Ibunya ingat akan keadaannya yang benar-benar membingungkan itu.

Tentu Ibunya bingung, bagaimana kalau In Hong tahu bahwa pembunuh Kwee Seng adalah Ayah Lian Hong?

"Harap tenangkan pikiran, Ibu.

Mudah-mudahan saja semua urusan ini akan berakhir dengan baik.

Sekarang Teng San-Ko sedang mengikuti perjalanan enci In Hong secara diam-diam, dan aku disuruhnya pulang untuk menemui Ibu disini.

Percayalah, tak lama lagi San-Ko tentu pulang dan mudah-mudahan saja ia datang membawa enci In Hong."

Karena banyak mendapat hiburan dari Liang Hong, Cui Hwa mulai timbul harapannya.

Matahari kini bersinar pula setelah ia berada di dekat puterinya.

Tadinya keadaan Nyonya ini memang menyedihkan.

Ia lebih banyak berbaring menderita sakit daripada sehat.

Barang-barang di rumah sudah mulai menipis, dijual untuk keperluan sehari-hari.

Can Ma sudah meninggal karena usia tua, maka Cui Hwa hanya hidup bersama seorang pelayan wanita lain.

Hidup kesepian dan hampir putus harapan.

Kedatangan Lian Hong merupakan obat penawar yang mustajab dan mulailah terlihat senyum di wajah Cui Hwa.

Mulailah ia membereskan rambut dan pakaian.

Beberapa pekan kemudian, ketika Lian Hong dan Ibunya tengah duduk bercakap-cakap di ruangan depan, mereka mendengar suara orang berjalan masuk di pekarangan.

Mereka menengok dan terlihatlah seorang gadis berpakaian kusut wajah dan rambutnya juga kusut tidak terpelihara, bahkan ada bekas-bekas air mata dikedua pipinya, kelihatan sedih dan bingung.

Di pinggangnya tergantung sebatang pedang.

"Enci In Hong...!"

Lian Hong melompat turun dari bangkunya dan menyambut kedatangan gadis itu.

In Hong tidak merasa heran melihat Lian Hong berada disitu, bahkan ia hanya memandang sejenak kepada gadis muda ini, selanjutnya matanya memandang kepada Cui Hwa yang juga sudah berdiri dari bangkunya dan kini memandang kepada In Hong dengan wajah pucat dan kedua mata mengucurkan airmata yang turun bertitik dikedua pipinya.

"In Hong... benar-benar kau kah ini, anakku...?"

Kata Cui Hwa dengan suara merintih dan Nyonya ini melompat ke depan, menubruk In Hong dan ia tentu akan roboh kalau In Hong tidak cepat-cepat menyambut dan memeluknya.

"Ya Thian Yang Mahakuasa, terima kasih... kau benar-benar In Hong!"

Cui Hwa dengan airmata bercucuran menangis dan tertawa seperti orang gila, sambil memegang kepala anaknya dengan kedua tangan, menciumi dan me-nimang-nimang kepala itu.

"Ibu, mengapa Ibu bisa berada disini?"

"Mengapa? Apa maksudmu, In Hong?"

In Hong menoleh ke arah Lian Hong.

"Bagaimana Ibu bisa disini bersama dia?"

Cui Hwa tersenyum di antara tangisnya.

"Aah, benar! Kau belum tahu kiranya. Dia ini adalah Lian Hong, Adikmu!"

In Hong merasa betapa dadanya berdetak keras.

"Ibu, bukankah dia ini Adik dari Ong Teng San?"

"Benar, Teng San itu adalah Kakakmu sendiri..."

Cui Hwa mulai mendapat firasat tidak enak.

In Hong merenggut diri dan melepaskan pelukan Ibunya.

Ia melangkah mundur tiga tindak dan menatap wajah Ibunya dengan penuh ketegangan.

Diam-diam Lian Hong sudah menyiapkan diri untuk turun tangan kalau gadis aneh yang berwatak keras itu hendak mengganggu Ibunya.

"Ibu, apakah artinya semua ini? Anak telah bertemu dengan Yo-supek, diberitahu bahwa Ayah telah tewas dalam tangan penjahat dan Ibu telah hilang, juga Can Ma telah lenyap secara aneh. Bagaimana tahu-tahu Ibu sudah berada disini dan Adik ini..., bagaimana pula Ibu dapat berkata bahwa Ong Teng San adalah Kakakku?"

Cui Hwa benar-benar terdesak oleh pertanyaan In Hong yang bertubi-tubi ini sehingga ia berdiri dengan kaki gemetar dan tak dapat menjawab.

Lian Hong melihat keadaan Ibunya ini, bergerak maju, menarik Ibunya dan menyediakan kursi sehingga Ibunya dapat duduk.

Cui Hwa menggunakan kedua tangan untuk menutupi mukanya, tidak kuasa lagi menentang pandang mata In Hong yang demikian tajam menusuk kalbu.

Lian Hong kini menghadapi In Hong dengan sikap gagah akan tetapi sikapnya cukup menghormat.

"Enci In Hong, karena akupun anak Ibu, biarlah aku yang mewakili Ibu untuk menjawab pertanyaan-pertanyaanmu. Jangan kau merasa heran melihat Ibu berada disini, karena sesungguhnya, Ibu telah menikah dengan Ayah dari Kakak Ong Teng San yang ketika itu telah menjadi duda. Dari pernikahan ini terlahir aku, oleh karena ini maka Teng San-Ko adalah Kakak-tiriku, juga Kakak-tirimu."

Muka In Hong menjadi pucat.

"Siapakah nama Ayahmu yang mengawini Ibuku?"

"Ayah bernama Ong Tiang Houw,"

Jawab Lian Hong singkat.

Gadis cilik ini maklum bahwa ia telah tiba di bagian yang amat berbahaya.

In Hong memandang Ibunya, hatinya tidak karuan rasanya.

Jadi Bu Jin Ai, laki-laki gagah perkasa yang membikin ia jatuh hati itu sebenarnya adalah suami Ibunya?

Akan tetapi mengapa Teng San membunuh Ayahnya sendiri?

Mengapa pula Teng San membiarkan dirinya terbunuh seakan-akan hendak menebus dosa Ayahnya?

Apa yang terjadi?

"Ibu, harap kau suka berterus terang.

Mengapa Ibu menikah, sedangkan musuh besar yang membunuh Ayah belum kita balas?

Juga Ibu tidak berusaha mencariku?"

Lian Hong tidak berani menjawab pertanyaan ini dan sekarang Cui Hwa sudah menguasai perasaan hatinya, maka Nyonya ini berkata dengan suara tenang.

"Dengarlah, In Hong. Sesungguhnya, baru kurang lebih lima tahun yang lalu aku ketahui bahwa pembunuh dari Ayahmu adalah Ong Tiang Houw sendiri. Teng San dan Lian Hong mendengar ini menjadi marah dan melarikan diri, adapun Tiang Houw sendiri seperti gila dan pergi tak pernah pulang. Adapun aku... aku hanya dapat menangis dan bersedih. Kalau aku tahu bahwa dia pembunuh Kwee Seng Ayahmu, sudah tentu aku takkan sudi menjadi isterinya..."

Setelah berkata demikian dan melihat betapa wajah Lian Hong yang tersinggung hatinya menjadi pucat dan berduka, Cui Hwa menangis sambil memeluk Lian Hong.

Mendengar penuturan itu, makin lama wajah In Hong menjadi makin pucat.

Ia berdiri seperti patung, memandang kepada Ibunya dengan mata sayu dan Bibir gemetar.

Kemudian terdengar ia merintih perlahan, membalikkan tubuh dan hendak pergi dari situ.

Akan tetapi, baru saja tiga langkah ia bertindak, tubuhnya terguling dan ia roboh pingsan!

Dapat dibayangkan betapa hancur dan pedihnya hati In Hong.

Ia telah mencurahkan kasih sayang dan kasihan kepada Bu Jin Ai, dan tidak disangkanya sama sekali bahwa Bu Jin Ai itu adalah suami Ibunya, bahkan pembunuh Ayahnya!

Orang satu-satunya di dunia ini yang dikasihinya, ternyata adalah orang satu-satunya yang menjadi musuh besarnya, yang seharusnya ia bunuh dan ia cincang hancur tubuhnya!

Baru sekarang terbuka matanya, dan tahulah ia mengapa Teng San membunuh Ayahnya sendiri.

Pemuda itu tentu merasa terhina sekali melihat Ayahnya yang setelah membunuh Kwee Seng lalu mengawini Nyonya Kwee, kini bahkan hendak memikat In Hong, puteri dari Kwee Seng.

In Hong tahu bahwa Tiang Houw atau Bu Jin Ai melakukan hal ini tanpa disadarinya.

Orang itu telah ditinggal pergi oleh anak-anaknya dan dibenci oleh isterinya, menjadi patah hati dan seperti gila.

Kemudian bertemu dengan dia yang mempunyai wajah seperti Cui Hwa dan Lian Hong, tidak mengherankan apabila Bu Jin Ai jatuh hati kepadanya.

Ketika siuman kembali, In Hong mendapatkan dirinya telah berada diatas pembaringan dalam kamar, Ibunya duduk di tepi pembaringan sambil menangis dan mengguncang-guncang pundaknya.

Lian Hong juga duduk di atas kursi dekat pembaringan.

Keduanya tampak sedih sekali.

In Hong bangkit duduk, menghela napas panjang beberapa kali, membiarkan Ibunya merangkulnya.

Kemudian ia berkata dengan nada suara berduka.

"Ibu, aku telah berdosa besar. Tidak pantas lagi aku mendekati Ibu. Biarlah aku pergi se-karang juga, merantau seperti yang dila-kukan Guruku."

Ibunya menangis.

"In Hong, Anakku, mengapa engkau berkata begitu? Akulah, Ibumu ini yang bersalah dan engkau harus dapat memaafkan Ibumu. Mari kita hidup berkumpul lagi, In Hong. Tidak kasihankah engkau kepada Ibumu?"

Melihat Ibunya menangis sedih, Lian Hong lalu berkata.

"Ibu, aku tahu kemana Enci In Hong hendak pergi. Ia tentu ingin mencari Ayah untuk membalas sakit hatinya karena Ayah telah membunuh Ayahnya. Bukankah begitu, Enci In Hong?"

Suara gadis remaja ini mengandung penuh kegetiran. In Hong menggeleng kepalanya.

"Engkau keliru, Lian Hong. Memang menurut patut seharusnya demikian, seharusnya aku membunuh dia yang telah membunuh Ayah kandungku. Akan tetapi nasib menentukan lain. Agaknya memang Ayahmu telah melakukan banyak dosa make dia harus menebusnya dengan tewas di tangan puteranya sendiri."

"Apa...?"

Cui Hwa dan Lin Hong terkejut sekali mendengar ucapan itu dan keduanya memandang kepada In Hong terkejut sekali mendengar ucapan itu dan keduanya memandang kepada In Hong dengan mata terbelalak.

"Sesungguhnya, Teng San telah membunuh Ayahnya dan untuk perbuatannya itu... untuk perbuatan itu aku telah menyerang dan membunuh Ong Teng an..."

Ibu dan anak itu terkejut bukan main.

Sukar dapat mempercayai apa yang diceritakan In Hong kepada mereka itu.

Sungguh tidak masuk akal dan mengherankan.

Bagaimana mungkin anak membunuh Ayah kandungnya sendiri?

"Benarkah itu, In Hong?"

Tanya Ibunya.

"Aku tidak berbohong, Ibu. Jenazah keduanya telah kurawat dan kukubur baik-baik di dalam gua di kaki Gunung Kun-Lun-San. Ibu, sekarang aku harus melanjutkan perantauanku."

"In Hong, jangan..."

"Ibu, aku harus pergi. Setidaknya, untuk sementara ini aku harus menjauhkan diri agar perasaan hatiku yang terguncang ini dapat tenteram kembali. Kelak, kalau hatiku sudah tenteram, aku akan mengunjungi Ibu. Adik Lian Hong, engkau seorang anak yang baik dan berbakti. Aku titip Ibu kepadamu dan jagalah ia baik-baik."

Setelah berkata demikian, In Hong segera keluar dari rumah itu, membiarkan Ibunya menangisi kepergiannya.

Lewat tengah malam, bulan tampak bercahaya terang.

Langit bersih dari awan.

Bulan cerah berseri menyuramkan cahaya beberapa buah bintang yang berkelap-kelip di barat.

Puncak bukit itu sunyi dan indah bagaikan dalam dongeng.

Sinar bulan mendatangkan pemandangan seperti dalam mimpi.

Yang terdengar hanya dendang suara binatang-binatang kecil seperti jangkerik, belalang dan serangga lain.

Perpaduan suara yang tiada putusnya.

Namun, suara itu terkadang diseling suara isak tangis wanita.

Kalau kebetulan ada orang lewat di situ, dia tentu akan lari ketakutan, mengira suara itu adalah suara tangis siluman.

Suara tangis itu terkadang berhenti, lalu muncul lagi.

Demikian sampai fajar menjelang.

Matahari yang masih bersembunyi di balik gunung di ufuk timur, telah mengirim cahayanya kuning kemerahan, mengecat langit dengan warna merah, kunin Indah sekali.

Kokok ayam mulai terdengar bersahut-sahutan.

Kegaduhan mereka menggugah yang tidur berkelompok di pepohonan dan mulai ramailah suasana oleh kicau mereka.

Di antara semak belukar dan batang pepohonan, tikus hutan dan kelinci mulai bergerak mencari makan.

Burung-burung pun mulai meninggalkan pohon, siap berangkat kerja mencari makan.

Semua mahluk harus bekerja mencari makan kalau ingin bertahan hidup.

Dari semut terkecil sampai gajah terbesar, semua harus bekerja mencari makan, tanpa kecuali.

Bahkan pepohonan juga tiada hentinya mencari makan, melalui akar-akar dan daun-daunnya.

Wanita yang semalam menangis kini tidak menangis lagi.

la duduk di atas sebuah batu besar yang menghadap ke tebing.

Dari tempat ia duduk, terbentang bumi dari sebagian permukaan bukit sampai ke tanah ladang di kaki bukit, membentang luas seolah tanpa batas.

la seorang gadis berusia sekitar sembilan belas tahun.

Sesungguhnya ia berwajah cantik jelita dan memiliki bentuk tubuh yang sintal dan ramping padat, dengan lekuk-lengkung yang sempurna bagaikan setangkai bunga sedang mekarnya.

Namun wajah yang cantik manis itu.........

================== Hal.

49 dan 50 hilang ================== narnya mulai menghangatkan badan, tidak pula merasakan hembusan angin bukit yang semilir menggerakkan rambut dan ujung bajunya.

la kini memikirkan Ibu kandungnya.

Salahkah Ibunya menikah dengan pembunuh suaminya?

Tidak, Ibunya tidak bersalah.

Ibunya sama sekali tidak tahu bahwa Ong Tiang Houw adalah pembunuh suaminya, Kwee Seng.

Ibunya menganggap Ong Tiang Houw sebagai penolongnya, sebagai seorang duda beranak satu yang perkasa dan rupawan.

Ibunya sama kali tidak bersalah, dan ia bahkan merasa amat iba kepada Ibu kandungnya, Yo Cui Hwa.

Kalau begitu, Ong Tiang Houw yang jahat?

Seperti yang disangka oleh Ong Teng San sehingga pemuda itu tega membunuh Ayah sendiri?

Tidak!

setelah ia mengetahui persoalannya, ia yakin bahwa Ong Tiang Houw, laki-laki pertama yang dicintainya itu juga ak bersalah.

Isteri pertama Ong Tiang Houw, Ibu kandung Ong Teng San, membunuh diri karena dipaksa akan diperisteri oleh seorang hartawan yang sewenang-wenang.

Ayah-Ibunya meninggal dunia karena berduka dan anaknya, Ong Teng San yang masih kecil, hilang!

Semua ini membuat Ong Tiang Houw mendendam kepada para penguasa yang korup dan tidak adil, juga kepada para hartawan yang suka bertindak sewenang-wenang, bersekongkol dengan para pembesar mengandalkan harta kekayaan mereka.

Dengan orang-orang yang senasib dia lalu membentuk sebuah perkumpulan Kai-Sin-Tin yang menentang penindasan dan kesewenang-wenangan para penguasa dan hartawan jahat.

Gerakan Kai-Sin-Tin inilah yang kemudian mengakibatkan Ayah kandungnya, Kwee Seng, menjadi korban.

Ong Tiang Houw membunuh Kwee Seng bukan karena permusuhan pribadi, apalagi untuk merampas isterinya.

Kemudian ia malah menolong Yo Cui Hwa, isteri Kwee Seng, jatuh cinta padanya dan sebagai seorang duda lalu menikah dengan Yo Cui Hwa yang telah menjadi seorang janda.

Jadi, Ong Tiang Houw membunuh Kwee Seng bukan karena permusuhan pribadi, kemudian menikahi Yo Cui Hwa karena mencinta dan Ibu kandungnya itu juga bersedia, bukan dengan paksaan.

Kemudian Ong Tiang Houw jatuh cinta padanya.

Hal ini pun tidak dapat disalahkan.

Ketika Ong Tiang Houw menceritakan bahwa dia yang dulu membunuh Kwee Seng, seluruh keluarganya membencinya.

Puteranya dari isteri pertamanya, Ong Teng San, dan puterinya dari Yo Cui Hwa, Ong Lian Hong, bahkan minggat!

Juga Yo Cui Hwa membencinya.

Hal ini membuat Ong Tiang Houw menjadi seperti gila, merantau dan merubah namanya menjadi Bu Jin Ai (tidak Ada Orang Menyukainya)!

Kemudian bertemu dengannya lalu jatuh cinta.

Ini pun tidak aneh.

Wajahnya mirip Ibunya, tentu saja hal ini menarik hati Bu Jin Ai atau Ong Tiang Houw.

Tidak!

Ong Tiang Houw tidak bersalah!

Ia sendiri satu-satunya orang yang bersalah, berdosa besar!

Perasaan penuh penyesalan ini yang membuat In Hong semalam menangis seorang diri.

Kalau dikenang, rasanya baru satu kali dalam hidupnya ia merasa bahagia, yaitu ketika dekat dengan Bu Jin Ai.

Ketika ia dan Bu Jin Ai berada dalam gua dan saling mengobati luka masing-masing.

Getaran cinta kasih yang mendalam pada saat itu menyentuhnya dan ia merasa berbahagia sekali.

Rasanya baru satu kali itu ia merasakan benar getaran cinta seorang pria, cinta yang tulus dan mendalam.

Kemudian la teringat lagl kepada Ong Teng San.

Seorang pemuda yang tinggi ilmunya, gagah perkasa dan budiman.

Dan ia telah membunuh pemuda itu!

Kini In Hong merasa menyesal sekali.

la me-rasa hidupnya menderita tekanan batin yang membuat segala sesuatu tampak buruk, menyebalkan dan menyedihkan.

Kehangatan sinar mataharl terasa panas mengganggu, hembusan semilir angin terasa tidak enak menyesakkan dada, kicau burung terdengar gaduh dan tidak enak bagi telinganya.

Kemarahan menyesak dada, marah kepada diri sendiri, marah kepada keadaan sekelilingnya, marah kepada riwayat hidupnya.

"Jahanam...!"

Tiba-tiba tangannya bergerak memukul batu yang didudukinya.

"Brakkk!"

Bagian tepi batu yang di hantam telapak tangannya berantakan! la lalu melompat ke dekat sebatang pohon, lalu menyerang pohon itu.

"Krakkk...!"

Batang pohon sebesar pinggangnya itu patah dan lalu mengamuk dan merobohkan tujuh batang pohon.

Barulah kemarahannya mereda.

Kemarahan tanpa dasar, tanpa sebab, kemarahan yang timbul dari nyesalan, kekecewaan dan duka.

Setelah merobohkan pohon-pohon itu dengan pukulan Kang-Jiu Sin-Ciang (Silat Sakti Tangan Baja) yang dipelajari dariKakek sakti buntung kaki tangannya, yaitu mendiang Bhutan Koai-Jin In Hong baru merasa lega.

Semua kesedihannya bagaikan larut oleh gelombang kemarahan yang dimuntahkan keluar melalui pukulan-pukulannya yang merobohkan pohon tadi.

Wajahnya yang biasanya memang cerah itu kini seolah ditinggalkan awan dan ia pun segera berlari menuruni bukit.

Pada suatu siang ketika In Hong berjalan santai dan tiba di luar kota Hak-Ciu, tiba-tiba melihat seorang laki-laki berusia enam puluh tahun dan berpakaian sebagai seorang ahli silat, tergesa-gesa berjalan setengah berlari dari depan.

Ketika laki-kaki itu lewat di dekatnya, pandang mata In Hong yang tajam dapat melihat bahwa orang itu telah menderita luka dalam yang cukup parah.

Hal ini tampak pada mukanya yang pucat kebiruan dan napasnya yang terengah-engah.

In Hong tentu tidak akan mempedulikan orang itu karena ia tidak mengenalnya dan tidak ada urusan dengannya, kalau saja ia tidak melihat lima orang laki-laki berusia antara tiga puluh sampai empat puluh tahun berlari-lari mengejar laki-laki tadi!

Karena laki-laki tadi sudah menderita luka dalam, maka dia tidak dapat berlari cepat dan sebentar saja dia sudah dapat disusul lima orang yang wajahnya tampak menyeramkan, tubuh mereka semua kokoh kuat itu.

Tanpa banyak cakap lima orang itu kini mengurung laki-laki itu lalu menyerang dan mengeroyoknya dengan menggunakan golok di tangan!

In Hong membalikkan tubuhnya dan menonton perkelahian itu, Banyak orang yang sedang berjalan diatas jalan umum itu menonton, namun pun tak seorang pun di antara mereka berani mendekat, bahkan agak menjauh dan menonton dari tempat aman.

In Hong melangkah maju menghampiri.

la melihat betapa laki-laki yang bertangan kosong Itu dapat bergerak dengan gesit sekali, mengelak ke sana-sini.

Namun dia menyeringai, agaknya luka dalam tubuhnya membuat dia kesakitan dan gerakannya membuat dia semakin lemah dan lambat.

Sebelum ada sebuah dari lima golok itu sempat membabatnya, tiba-tiba ada bayangan berkelebat.

Bayangan itu berkelebatan cepat sekali sehingga hampir tak tampak dan tidak dapat terlihat dengan jelas mukanya, hanya bayangan itu jelas bayangan seorang wanita cantik.

Bayangan itu berkelebatan diantara lima orang pengeroyok itu.

Terdengar lima orang itu mengaduh kesakitan, golok mereka beterbangan dan seorang demi seorang roboh tak mampu bangkit kembali.

Mereka mengaduh-aduh, ada yang patah tulang lengannya, ada yang patah tulang kakinya, ada pula yang patah tulang pundaknya.

Akan tetapi ketika mereka memandang, juga ketika semua penonton mencari, ternyata bayangan itu telah lenyap tanpa meninggalkan jejak!

Lelaki tua itu kini melanjutkan perjalanannya, melangkah dengan terhuyung-huyung pergi meninggalkan tempat itu.

Ributlah semua orang yang menyaksikan peristiwa itu.

Setelah lima orang pengeroyok itu berjalan ke arah pintu gerbang kota Hak-Ciu sambil mengaduh-aduh kesakitan, baru semua orang membicarakan peristiwa itu.

Mereka terheran-heran akan tetapi juga puas melihat ada orang berani menghajar lima orang tukang pukul yang terkenal dengan julukan Hak-Ciu Ngo-Houw (Lima Harimau Hak-Ciu) dan mereka di takuti bukan hanya karena galaknya, akan tetapi juga karena mereka adalah jagoan-jagoan dari Jaksa Ouw yang berpengaruh dan berkuasa di kota Hak-Ciu!

Karena mereka tadi hanya melihat bayangan seorang wanita cantik, maka ada yang mengatakat bahwa mungkin wanita yang menghajar para jagoan jahat tadi seorang bidadari.

Karena yang tampak hanya bayangannya, maka orang-orang mulai menyebut nama Si Bayangan Bidadari!

In Hong diam-diam membayangi laki-laki yang telah menderita luka dalam itu.

Tadi ia bergerak cepat karena memang tidak ingin dikenal orang.

Ia pun sengaja hanya merobohkan lima orang itu, tidak membunuh mereka karena ia belum tahu apa masalahnya sehingga orang tua itu dikeroyok oleh mereka Melihat laki-laki itu, yang dari gerakannya ketika mengelak tadi dapat ia ketahui memiliki ilmu silat yang cukup tinggi, ia tahu bahwa orang itu menderita luka parah dan gerakan-gerakannya tadi membuat lukanya semakin parah.

Maka diam-diam ia membayangi laki-laki itu yang menjauhi kota Hak-Ciu, lalu memasuki sebuah hutan.

Setelah memasuki hutan, menyimpang dari jalan umum sehingga tidak ada orang melihatnya, laki-laki itu terhuyung-huyung, berhenti di bawah sebatang pohon dan tiba-tiba dia muntah darah, lalu terkulai dan roboh!

In Hong segera menghampiri, berjongkok dan memeriksa keadaan orang itu.

Benar seperti dugaannya tadi.

Orang itu menderita luka yang ternyata amat parah, bahkan melihat warna menghitam didadanya, In Hong menduga bahwa orang itu terkena pukulan Tok-Ciang (Tangan Beracun)!

Cepat ia lalu menotok beberapa jalan darah untuk mengurangi rasa nyeri, dan melihat betapa laki-laki itu pingsan, mengurut tengkuknya dan membetot otot di antara Ibu jari dan telunjuk.

Laki-laki itu mengeluh dan membuka mata, bergerak hendak bangkit duduk akan tetapi pundaknya ditekan perlahan oleh In Hong.

"Paman, engkau rebah sajalah, jangan banyak bergerak."

Sejenak sepasang mata itu mengamati wajah In Hong dengan heran dan penuh selidik, lalu dia berkata dengan suara terputus-putus dan napas memburu.

"Nona... yang tadi... menyelamatkan saya...?"

In Hong mengangguk.

"Paman siapakah? Dan mengapa lima orang itu mengeroyok dan berusaha membunuhmu?"

Laki-laki itu menyeringai, lebih penasaran daripada kesakitan. Ialu berkata lemah.

"Nama saya Si Hoo... dikenal sebagai... Si-Kauwsu (Guru silat Si)... di... Hak-Ciu..."

Dengan terengah-engah dan terputus-putus ia bercerita.

Dia adalah seorang Guru silat kenamaan di kota Hak-Ciu yang baru saja di tinggalkannya.

Sudah sejak sepuluh tahun dia hidup menduda setelah isterinya meninggaI dunia.

Di Hak-Ciu dia membuka sebuah Bu-Koan (Perguruan Silat) yang menerima puluhan orang murid.

Tadinya di hidup berdua dengan puteranya, anak tunggal yang bernama Si Han Lin.

Akan tetapi, lima tahun yag lalu, ketika Si Han Lin berusia lima belas tahun, anaknya itu meninggalkan Hak-Ciu untuk merantau, mencari Guru untuk memperdalam ilmu silat yang telah dipelajarinya dari Ayahnya.

Pada suatu hari, diperguruannya datang seorang pemuda berusia kurang lebih dua puluh satu tahu.

Pemuda itu bernama Ouw Boan Kit, putera Jaksa Ouw yang berkuasa di Hak-Ciu.

Melihat kedatangan seorang pemuda yang mukanya merah, sikapnya gagah namun jelas tampak sombong dan kasar itu, Guru Silat Si menyambut dengan ramah.

Ouw Boan Kit memperkenalkan diri sebagai putera Jaksa Ouw, maka tentu saja Si Hoo bersikap hormat.

"Ah, kiranya Ouw-Kongcu (Tuan Muda Ouw) putera Ouw Taijin (Pembesar Ouw). Silakan duduk, Ouw-Kongcu."

Akan tetapi pemuda berpakaian mewah itu tidak menanggapi, tetap berdiri dengan mengangkat dan membusungkan dada lalu bertanya, secara sambil lalu dan memandang rendah.

"Apakah engkau yang bernama Si Hoo, Guru silat yang membuka perguruan silat ini?"

"Benar sekali, Ouw-Kongcu. Apakah ada yang dapat saya bantu, Kongcu?"

Tanya Si Hoo dengan sikap tetap sabar dan ramah.

Guru silat tua ini sudah banyak pengalaman menghadapi orang-orang muda dengan bermacam-macam watak dan sikap.

Dia tidak heran dan tidak marah melihat sikap angkuh sombong dari pemuda ini yang tentu saja mengandalkan kekuasaan Ayahnya sebacai Jaksa sehingga dia memandang rendah orang lain.

"Hemm, aku baru pulang dari merantau dan di dunia kang-ouw (dunia persilatan, daerah sungai telaga) aku mempelajari banyak ilmu silat. Kini aku pulang bersama Guruku dan mendengar di sini ada perguruan silat, ingin aku melihat sampai di mana kehebatan ilmu silat yang diajarkan di sini maka engkau berani membuka dan mengajarkan silat kepada. orang-orang muda."

Si Hoo tetap bersikap mengira bahwa pemuda ini agaknya telah mempelajari beberapa jurus ilmu silat dan sekarang hendak memamerkan kepandaiannya.

"Ah, kiranya Kongcu ingin bermain-main dan menguji ilmu silat? Baik, silahkan ke Lian-Bu-Thia (ruangan berlatih silat) di belakang, Kongcu. Di sana para murid sedang berlatih silat sehingga Kongcu dapat menyaksikannya."

Dengan langkah digagah-gagahkan, dengan gaya seorang jagoan, Ouw Boan Kit berjalan bersama Guru Silat Si Hoo memasuki ruangan luas di mana belasan orang pemuda sedang berlatih olah raga.

Ada yang mengangkat besi, ada yang berlatih silat dengan bermacam senjata.

Melihat munculnya Guru mereka bersama seorang pemuda berpakaian mewah, otomatis mereka menghentikan kegiatan mereka.

Belasan orang pemuda dari usia lima belas sampai dua puluh tahun itu merupakan sebagian dari murid Si Hoo yang berjumlah sekitar lima puluh orang.

(Lanjut ke

Jilid 10) Bayangan Bidadari/Sian Li Eng Cu (Cerita Lepas) Karya. Asmaraman S. Kho Ping Hoo

Jilid 10 Setelah Si Hoo masuk bersama Ouw Boan Kit, para murid segera berkumpul dan memberi hormat dengan mengangkat kedua tangan di depan dada kepada Guru mereka.

"Suhu..!"

Ucap mereka serempak. Si Hoo menggerakkan tangan ke atas.

"Anak-anak, perkenalkan, ini adalah Kongcu (Tuan Muda) Ouw Boan Kit yang tertarik dengan perguruan kita dan ingin menyaksikan kalian berlatih."

Si Hoo lalu menunjuk empat orang murid yang sudah tergolong pandai untuk memperagakan ilmu silat mereka di depan Ouw Boan Kit yang sudah dipersilahkan duduk di atas sebuah bangku.

Empat orang murid kelas atas ini lalu bermain silat, latihan bertanding.

Gerakan mereka gesit dan tangkas.

Si Hoo memandang puas dan mengharapkan pujian dari tamunya.

Akan tetapi Ouw Boan Kit bangkit sambil terkekeh dan melambaikan tangannya.

"Sudah! Cukup, tak perlu dilanjutkar. Silat macam apa itu demikian lemahnya? Mari kita main-main sebentar. Kalian berempat boleh maju bersama mengeroyok aku. Kalau aku dapat kalian kalahkan barulah ilmu silat perguruan ini boleti masuk hitungan!"

Setelah berkata demkian, Ouw Boan Kit menanggalkan jubah luarnya dan menaruh di atas meja.

Kini tampak kedua lengannya yang kekar dan berotot.

Dia melangkah ke tengah ruangan itu dengan sikap menantang.

Empat orang pemuda murid Si Hoe itu tentu saja panas hati mereka mendengar tantangan yang memandang rendah itu.

Akan tetapi di depan Guru mereka, mereka tidak berani bersikap semmbarangan, maka kini mereka berempat hanya memandang kepada Si Hoo, menanti keputusan Guru mereka.

Si Hoo diam-diam merasa muak juga menyaksikan sikap pemuda yang sombong itu, namun dia tidak mau menambah permusuhan dengan Jaksa Ouw.

Maka sambil tersenyum ia menghampiri Ouw-Kongcu.

"Kongcu, kalau hendak main-main dan menguji ilmu silat, biarlah seorang saja di antara empat murid ini maju melayaninru, tidak perlu berempat."

"Hanya seorang demi mereka? Wah, Si-Kauwsu, aku merasa malu kalau harus bertanding melawan seorang dari mereka. Kepandaian mereka masih mentah. Apalagi maju seorang, biar mereka berempat maju masih juga bukan lawanku yang seimbang! Biarlah mereka berempat maju mengeroyokku!"

Pemuda itu menantang sambil tersenyum mengejek.

Sesabar-sabarnya orang, mendengar kata-kata yang amat merendahkan itu, panas juga rasa perut Si Hoo.

Kalian majulah, akan tetapi hati-hati jangan sampai melukai Ouw-Kongcu."

Katanya.

Empat orang murid yang merasa penasaran itu maju dan mengepung Ouw Boan Kit dari empat jurusan.

Ouw-Kongcu memasang kuda-kuda yang kokoh dengan merenggangkan kedua kaki dan menekuk kedua lutut, kedua tangan di kanan-kiri pinggang, lalu berseru.

"Kalian berempat maju dan seranglah!"

Empat orang murid itu serentak berseru.

"Lihat serangan!"

Lalu mereka menyerang dari empat penjuru dengan cepat namun dengan tenaga dibatasi karena mereka menaati pesan Guru mereka agar tidak melukai putera jaksa yang sombong ini.

Akan tetapi pemuda bangsawan itu ternyata gesit sekali.

Dua serangan dapat dia elakkan dan yang dua lagi dia tangkis sedemikian kuatnya sehingga dua orang penyerangnya terhuyung ke belakang.

Dia pun membalas dengan serangan bertubi yang cukup dahsyat sehingga empat orang pengeroyok itu berloncatan ke belakang, kemudian mereka menyerang lagi dengan hati-hati karena maklum bahwa pemuda sombong itu bukan hanya pandai berlagak, namun juga pandai ilmu silat!

Terjadi saling serang selama belasan jurus dan empat orang pengeroyok itu sama sekali belum mampu mendesak pemuda bangsawan itu!

Diam-diam Si Hoo merasa heran karena ilmu silat yang dimainkan putera jaksa Itu amat ganas dan kuat, dan jelas menunjukkan ciri ilmu silat aliran sesat.

Tiba-tiba Ouw Boan Kit mengeluarkan suara gerengan seperti seekor binatang buas, disusul tubuhnya yang berpusing seperti gasing.

Lalu terdengar bentakannya melengking.

"Ciaatt... ciaatt... ciaatt... ciaattt!!"

Tubuh empat orang murid Si-Kauwsu itu terpelanting roboh dan mereka hanya mampu bangkit duduk sambil menyeringai kesakitan.

Si Hoo cepat menghampiri mereka dan setelah dia memeriksa, dengan kaget dia mendapat kenyataan bahwa mereka mengalami patah tulang.

Seorang patah tulang pundaknya, yang ke dua patah tulang lengannya, ke tiga patah tulang iganya dan yang ke empat patah tulang kakinya!

Tidak berbahaya bagi keselamatan nyawa mereka memang, namun tetap saja membuat mereka menderita nyeri yang hebat.

Si Hoo bangkit berdiri, mengerutkan alisnya menghadapi Ouw Boan Kit, namun dia tetap sabar.

Terluka dalam pi-bu (adu ilmu silat) merapikan hal yang wajar dan tidak perlu diributkan.

"Tidak disangka ilmu silat Ouw Boan Kit memang tinggi dan hebat. Kami merasa kagum sekali. Maafkan kalau kami tidak dapat melayani Kongcu lebih lanjut, karena kami harus merawat mereka yang terluka."

Ucapan ini mengandung pengusiran halus. Akan tetapi Boan Kit tertawa mengejek.

"He-he-he! Tingkat kepandaian Guru dapat dilihat dari mutu para muridnya. Kalau mutu murid-muridmu hanya sebegini, bagaimana mungkin engkau berani membuka perguruan silat di Hak-Ciu ini, Si-Kauwsu? Engkau hanya mengajarkan ilmu silat rendahan dan menerima pembayaran para murid. Berarti engkau menipu mereka!"

"Ouw-Kongcu, saya mengajarkan ilmu silat untuk olah raga yang menyehatkan tubuh, bukan untuk berkelahi dan menjadi tukang pukul."

"Cukup obrolan ini Si Hoo, sekarang, Iawanlah aku. Kalau engkau mampu mengalahkan aku, baru engkau boleh menjadi Guru silat di kota ini. Akan tetapi kalau engkau tidak mampu mengalahkan aku, perguruan ini harus ditutup;

"Ouw-Kongcu, saya tidak mencari permusuhan."

"Kalau engkau tidak mencari permusuhan dan takut melawan aku, hayo tutup dan bubarkan perguruan ini. Kota Hak-Ciu tidak boleh dikotori oleh Guru silat palsu yang menipu uang para pemuda!"

Ini sudah keterlaluan, pikir Si Hoo. Anak sombong kurang ajar ini patut diberi hajaran, asal dijaga agar jangan sampai terluka.

"Orang muda, sikap dan kata-katamu ini kalau tidak kau ubah, kelak akan mencelakai dirimu sendiri."

Katanya, masih sabar dan mencoba untuk menyadarkan. Namun, mendengar ini, Ouw Boan Kit menjadi semakin marah.

"Keparat, berani engkau mengancam aku?"

"Aku tidak mengancam, hanya memperingatkan..."

"Mampuslah!"

Tiba-tiba Ouw Boan Kit sudah menyerang dengan gangs.

Pukulannya yang mengandung tenaga kuat itu menyambar ke arah kepala Si Hoo dan kalau pukulan itu mengenai sasaran, bukan mustahil kalau kepala Guru silat itu akan pecah!

Akan tetapi dengan mudah Si Hoo mengelak.

"Ouw Kongcu, aku tidak ingin berkelahi!"

Akan tetapi pemuda itu malah menyerang lebih hebat lagi.

Setelah tiga kali mengelak dari pukulan Ouw Boan Kit, dan pemuda itu masih terus menyerang, Si Hoo mengelak sambil menggerakkan kakinya yang menendang lutut lawan.

Gerakan ini cepat sekali dan tiba tiba tubuh Ouw Boan Kit terpelanting karena dia merasa kedua lututnya kehllangan tenaga!

Ketika terpelanting, mukanya terbanting pada lantai dan sungguh sial baginya, di situ terdapat kotoran anjing sehingga hidung dan mulutnya berlepotan kotoran anjing.

Dia bangkit menyumpah-nyumpah sambil muntah-muntah!

Terdengar tepuk tangan para murid yang geli dan senang melihat pemuda sombong itu menerima hajaran.

Ouw Boan Kit bangkit dengan muka merah, matanya melotot memandang.

ke-pada Si Hoo, lalu dia lari keluar dari rumah perguruan silat itu tanpa mengeluarkan sepatah kata pun.

Si Hoo menghela napas panjang.

"Mulai hari ini, kalian semua harus berhati-hati, jaga jangan sampai terjadi bentrokan dengan siapa pun."

Dia memesan lalu merawat empat orang murid yang menderita patah tulang.

Pada keesokan harinya, datang petugas Kantor Kejaksaan yang menyampaikan perintah Jaksa Ouw agar Si Hoo datang ke kantor untuk dimintai keteranganl Si Hoo tidak berani membantah dan dia pun pergi menghadap Jaksa Ouw di kantornya.

Ketika dia memasuki ruangan kantor itu, yang berada di kantor adalah Jaksa Ouw sendiri, dikawal oleh lima orang tukang pukulnya yang sudah dikenal semua penduduk kota Hak-Ciu.

Lima orang jagoan ini adalah Hak-Ciu Ngo-Houw (Lima Harimau Hak-Ciu).

Selain lima orang itu, terdapat pula Ouw Boan Kit dan di dekat pemuda itu duduk pula seorangKakek berusia sekitar enam puluh tahun, tubuhnya kurus agak bongkok, mukanya halus tanpa kumis atau jenggot, tampak lemah berpenyakitan namun sepasang matanya mencorong penuh wibawa yang menakutkan!

Begitu memasuki ruangan itu diantar oleh dua orang perajurit penjaga yang tali menyambutnya di luar, seorang dari Hak-Ciu Ngo-Houw membentak.

"Orang she Si, berlututlah menghadap Ouw Taijin!"

Dalam hatinya, Si Hoo tidak dapat menerima perintah ini, akan tetapi dia tahu bahwa Jaksa ini bagi penduduk Hak-Ciu merupakan Raja kecil.

Bahkan kepala daerah di Hak-Ciu juga tunduk kepada orang yang berwenang menuntut dan menyalahkan siapa saja ini.

Maka dia pun mengalah dan berlutut menghadap Jaksa Ouw yang duduk dengan alis berkerut dan tangan kiri mengelus jenggotnya.

"Heh, kamu yang bernama Si Hoo, Guru silat?"

Jaksa Ouw bertanya, suaranya membentak mengandung kemarahan.

"Benar, Taijin."

"Kamu sudah berani memukul puteraku Ouw Boan Kit kemarin, ya?"

"Tidak Taijin. Ouw Boan Kit datang mengajak pi-bu (adu kepandaian silat) dan tidak ada yang memukulinya."

"Dia bohong, Ayah!"

Tiba-tiba Ouw Boan Kit berseru sambil bangkit berdiri dan menudingkan telunjuknya ke arah Si Hoo.

"Mula-mula dia menyuruh empat orang muridnya mengeroyokku, setelah empat orang muridnya kukalahkan, dia maju dan memukuliku!"

"Itu tidak benar, Taijin..."

"Diam kau, Si Hoo! Kalau tidak ditanya jangan bicara!"

Bentak Jaksa Ouw. Si Hoo terdiam dan menahan kesabarannya.

"Tidak ada gunanya berbantahan karena kedua pihak tentu bertahan dengan keterangan masing-masing..."

"Maaf, Taijin. Terdapat banyak sekali saksi. Murid-murid saya semua menyaksikan peristiwa itu..."

"Diam! Mereka adalah murid-muridmu, tentu saja mereka semua siap berbohong untuk membenarkan dan membelamu! Saksi-saksi seperti itu tidak dapat dipercaya dan tidak boleh dijadikan saksi. Sekarang keputusanku begini. Karena puteraku Ouw Boan Kit menjadi korban, maka aku memberi kesempatan kepadanya untuk mengajukan usul, tindakan apa yang harus diambil untuk menghukum kejahatanmu. Nah, bagaimana pendapatmu, Boan Kit? Apakah engkau mempunyai usul?"

"Begini saja, Ayah. Setelah bertahun-tahun mempelajari ilmu silat dari Suhu yang sekarang hadir di sini, aku menghargai kegagahan. Karena Itu, biarlah sekarang Guru Silat Si Hoo bertanding melawan Guruku. Kalau dia mampu mengalahkan Guruku, biarlah aku mengalah dan aku akan berguru kepadanya, dan perguruannya akan kita dukung agar menjadi besar. Sebaliknya, kalau dia kalah dia harus menutup perguruannya!"

"Wah, itu usul yang baik dan adil sekali!"

Seru Jaksa Ouw bangga.

"Nah. dengarlah, Si Hoo. Kami memutuskan agar engkau bertanding ilmu silat melawan Guru puteraku. Kalau engkau menang, engkau pantas menjadi Gurunya yang Baru. Sebaliknya kalau engkau kalah, engkau harus menutup perguruanmu!"

"Akan tetapi, Taijin, sungguh mati saya tidak ingin bermusuhan dengan siapa pun juga."

Si Hoo membantah.

"Tidak boleh menolak keputusan kami! Tinggal pilih, engkau menerima pi-bu (mengadu ilmu silat) itu atau masuk penjara!"

Tidak ada pilihan lain bagi Si Hoo.

"Baiklah, saya menerima keputusan Taijin."

"Ruangan Ini cukup luas!"

Kata Jaksa Ouw.

"Lo-Cianpwe (orang tua gagah), silahkan mewakili Boan Kit melawan Guru Silat Si Hoo."

Kata Jaksa itu kepadaKakek kurus bongkok yang sejak tadi diam saja sambil menyeringai aneh. Mendengar Ini,Kakek itu lalu bangkit dan melangkah ke tengah ruangan.

"Orang she Si, ke sinilah dan mari kita main-main sebentar. Ingin aku malihat bagaimana engkau dapat merobohkan muridku."

SuaraKakek itu tinggi dan lembut, namun matanya mencorong dan mulutnya menyeringai seperti mengejek.

Si Hoo tak dapat mengelak atau membantah lagi.

Tentu saja lebih baik pi-bu daripada dimasukkan tahanan atau penjara.

Dia lalu bangkit dan menghampiriKakek kurus itu.

Mereka berdua kini saling berhadapan.

"Orang she Si, dari manakah aliran perguruanmu?"Kakek itu kembali berkata dengan pertanyaan yang diiringi sikap memandang ringan.

"Saya murid Bu-Tong-Pai."

Jawab Si Hoo bersahaja.

"He-heh, bagus. Nah, sambut seranganku ini!"

Kakek itu menyerang dengan tamparan tangan kiri.

Gerakannya tam pak lemah dan lambat, namun Si Hoo terkejut bukan main karena dia merasa betapa ada hawa pukulan yang amat kuat menyambar ke arah kepalanya.

Cepat dia mengelak dan membalas.Kakek itu pun dengan mudah mengelak dan mereka berdua lalu bertanding saling serang.

Si-Kauwsu (Guru Silat Si) terkejut bukan main.

Baru beberapa gebrakan saja tahulah dia bahwa lawannya ini memiliki kepandaian silat yang tinggi sekali dan agaknya amat memandang rendah kepadanya sehingga dalam jurus-jurus pertama seperti mempermainkan dia saja.

Setiap kali lengannya bertemu dengan lengan kurus kecil itu, tubuhnya tergetar dan tangannya terasa panas sekali!

Akhirnya, telah lewat beberapa jurus,Kakek itu berseru.

"Pergilah!"

Tangan kanannya dengan jari-jari terbuka mendorong ke arah dada Si Hoo.

Serangan ini demikian cepat hingga tidak dapat dihindarkan Si Hoo sehingga dadanya tersentuh.

Hanya tersentuh saja, akan tetapi dia merasa dadanya panas dan sesak, kepalanya pening dan dia pun terpelanting roboh!

Si Hoo berusaha untuk mengatur pernapasannya, Akan tetapi dia tahu bahwa dia telah terkena pukulan yang amat ampuh dan ketika dia membuka bajunya melihat tanda menghitam di dadanya, dia terbelalak.

"Hek-Tok-Ciang (Tangan Racun Hitam)...? Kalau begitu... engkau... adalah... Pak Lo-Kui...?"

Kata Si Hoo terengah-engah.

"He-he-he-he! Bagus engkau mengenal aku! lni sekadar pelajaran bagimu yang telah berani memukul muridku!"

KataKakek kurus bongkok yang ternyata Pak Lo-Kui (Setan Tua Utara) atau yang dikenal pula sebagai Datuk Utara atau Rajanya para Datuk persilatan di wilayah utara!

Si Hoo merasa penasaran sekali.

Dia bangkit dan memberi hormat kepada Jaksa Ouw, lalu berkata.

"Penasaran...! Saya tidak bersalah... saya akan melapor... kepada... Kepala Wilayah... di Nam-Ciu..."

Setelah berkata demikian Si Hoo lalu keluar dari kantor kejaksaan.

Dia segera pulang, mengumpulkan murid-muridnya, menyatakan pembubaran perguruan silatnya dan menitipkan rumahnya kepada para murid tertua.

Kemudian sambil membawa pakaian dan bekal, dia cepat meninggal kota Hak-Ciu, bermaksud untuk pergi ke Nam-Ciu.

Dia tahu bahwa dia menderita luka dalam yang amat parah sebagai akibat pukulan Hek-Tok-Ciang, sehingga luka mengandung hawa beracun itu merusak isi dadanya, dan sebelum terlambat dia ingin melaporkan perbuatan wenang-wenang Jaksa Ouw kepada pejabat tinggi di Nam-Ciu, yaitu Jaksa Kepala Kwa yang merupakan pembesar tinggi angkatan Kaisar sendiri.

Jaksa Kepala Kwa ini datang dari kotaraja dan bertugas di Nam-Ciu yang membawahi banyak kota, di antaranya Hak-Ciu termatuk wilayah Nam-Ciu.

Akan tetapi agaknya Jaksa Ouw khawatir kalau dia benar-benar hendak melapor kepada Pembesar Kwa di Nam-Ciu, maka pembesar itu lalu menyuruh Hak-Ciu Ngo-Houw untuk mengejarnya dan membunuhnya.

"Demikianlah, Lihiap (Pendekar Wanita)... aku... aku tidak kuat lagi... tolong sampaikan kepada... Anakku... Si Han Lin... dia mungkin... di Bu-Tong-Pai..."

"Tenanglah, Paman. Aku akan membawamu ke ahli pengobatan agar dapat manolongmu."

"Tidak... percuma... berjanjilah, Lihiap... engkau... kelak mau menyampaikan... kepada... Si... Han... Lin..."

"Baik, aku berjanji Paman"

Akan tetapi tubuh Si Hoo terkulai dan ketika In Hong memeriksanya, Guru silat itu telah mati.

In Hong bangkit berdiri, menghela napas panjang dan mengepal tangannya.

Tadi ia telah mendengar semua cerita Guru silat Si.

Setelah bercerita panjang lebar, Guru silat yang terkena pukulan Hek-Tok-Ciang itu kehabisan tenaga dan akhirnya menghembuskan napas terakhir setelah meninggalkan pesan kepadanya.

Si Han Lin, ia tidak akan melupakan nama itu.

Akan tetapi sekarang ada hal lebih penting yang harus ia tangani.

Pertama, melaporkan kematian Guru silat itu kepada para muridnya agar jenazahnya dapat diurus, dan ke dua, ia tidak dapat tinggal diam saja mendengar kisah mengharukan Guru silat itu, Jaksa Ouw, anaknya dan antek-anteknya itu harus diberi haJaran keras.

la sendiri pernah menerima gemblengan Datuk-Datuk aneh yang berwatak aneh seperti gila, juga terkadang amat kejam, akan tetapi dua orang mendiang Gurunya itu, Hek Moli (Iblis Betina Hitam) dan suaminya Bhutan Koai-jin (Manusia Aneh dari Bhu-tan), setldaknya memiliki rasa keadilan dan membenci mereka yang berbuat jahat dan sewenang-wenang.

Tiga orang pemuda itu menghadapi In Hong dan memandang penuh heran dan kagum.

"Benarkah ini rumah Guru Si Hoo?"

Tanya gadis itu.

"Dan apakah kalian ini murid-muridnya?"

Tiga orang pemuda itu saling pandang, lalu seorang di antara mereka bertanya.

"Nona siapakah dan ada kepentIngan apakah datang berkunjung?"

"Jawab dulu pertanyaanku tadi!"

"Benar, Nona. Ini rumah perguruan silat yang dipimpin Suhu Si Hoo, akan tetapi sekarang telah ditutup dan perguruan dibubarkan. Kami adalah murid-muridnya."

"Bagus, kalau begitu kalian cepat urus jenazah Gurumu..."

"Jenazah Suhu...? Apa... apa maksudmu?"

"Dia terluka parah dan tewas dalam perjalanan, di hutan sebelah selatan kota. Cepat pergi ke sana dan urus jenazahnya."

"Tapi... siapakah yang membunuhnya?"

Tanya seorang.

"Siapakah nama Nona?"

Tanya yang lain.

Akan tetapi mereka bertiga hanya melihat bayangan berkelebat dan gadis cantik di depan mereka Itu telah lenyap!

Mereka bengong, saling pandang kehilangan akal, akan tetapi mereka lalu bergegas mengundang saudara-saudara seperguruan yang tinggal berpencaran.

Tak lama kemudian tujuh orang murid telah pergi menuju keluar kota ke arah selatan dan pada sore harinya mereka kembali ke kota dengan wajah duka, menggotong jenazah Si Hoo dan membawanya pulang untuk di urus perkabungan dan penguburannya karena Guru silat itu tidak mempunyai seorang pun keluarga di kota Hak-Ciu.

Pada saat para bekas murid Si Hoo berkumpul di rumah duka, terjadi hal yang menarik dan menggegerkan di rumah Jaksa Ouw yang besar, megah dan mewah.

In Hong memasuki pekarangan rumah besar itu.

Pekarangan itu luas dan terdapat lima orang penjaga yang bertubuh tinggi besar dan bersikap galak.

Melihat ada seorang gadis memasuki pekarangan, lima orang petugas jaga itu cepat menghadang.

Mereka adalah orang-orang kasar yang berpakaian seragam, dan mereka adalah petugas-petugas penjaga yang ditugaskan sebagai pasukan pengawal di rumah Jaksa Ouw.

Melihat ada gadis cantik memasuki pekarangan dan tidak mengenal gadis Itu, lima orang itu tertawa-tawa dan bersikap kurang ajar.

Gadis Itu bukan anggauta keluarga Jaksa Ouw, maka tentu saja mereka berani bersikap kurang ajar.

"Wahai Nona manis, engkau datang hendak mencari aku, bukan?"

Kata seorang.

"Bukan, ia mencari aku, betulkan, manis?"

Lima orang itu menggoda dengan ucapan-ucapan nakal bahkan ada yang bicara cabul dan tangan mereka meraih untuk menyentuh tubuh yang menggairahkan itu.

In Hong mengerutkan alisnya, matanya berkilat dan tiba-tiba tubuhnya bergerak cepat berkelebatan.

Terdengar teriakan-teriakan dan tubuh lima orang itu berturut-turut roboh tak dapat bangkit kembali karena mereka telah tewas tanpa terluka sama sekall.

Tentu saja karena pukulan tangan In Hong mengandung tenaga sinkang yang tidak melukai kulit, melainkan menghancurkan isi kepala dan isi dada, di mana bagian itu terkena tamparannya!

Teriakan lima orang itu terdengar dari dalam gedung dan muncullah beberapa orang.

In Hong sudah tiba di dekat serambi rumah itu dan ia melihat ada belasan orang berpakaian seragam pengawal keluar memegang golok.

Tampak pula lima orang Hak-Ciu Ngo-Houw yang pernah ia robohkan.

Mereka terpincang-pincang, dan tampak pula seorang pemuda yang tampan gagah dan berpakaian mewah.

In Hong tadi membunuh lima orang penjaga karena mereka berani bersikap kurang ajar, bukan saja mengeluarkan kata-kata cabul menggodanya, bahkan tangan mereka mulai hendak merabanya.

la tidak ingin membunuh banyak orang, apa lagi yang tidak mengganggunya.

melihat pemuda itu, diamati wajahnya dan pakaiannya.

Bagaikan seekor burung garuda, ia melayang naik ke atas serambi itu dan menyambar ke arah Ouw Boan Kit yang bersikap gagah.

Melihat gadis itu melompat ke arahnya, Ouw Boan Kit yang biasa memandang rendah orang, terkekeh genit.

"Aduh, engkau secantik bidadari!"

Dan tangannya lalu bergerak meraih, hendak menangkap gadis yang mendekatinya itu, sedangkan belasan orang pengawal itu cepat mengepung.

Begitu kedua tangan Ouw Boan Kit menyambar kearah tubuh In Hong, gadis itu menggerakkan kedua tangannya lebih cepat lagi.

"Krek-Krekk! Aughhh...!!"

Ouw Boan Kit menjerit karena sambungan tulang sikunya patah dan kedua lengannya menjadi lumpuh seketika! In Hong mencengkeram punggung bajunya dan menghardik.

"Kamu yang bernama Ouw Boan Kit"

Cengkeraman itu mnembus baju dan kulit serta daging punggung itu ikut pula di cengkeram sehingga mendatangkan rasa nyeri yang lebih hebat daripada rasa nyeri kedua lengannya.

"Aduh... aduhh... tolong...!"Ouw Boan Kit menjerit-jerit Akan tetapi para pengawal itu tentu sajatidak berani bergerak karena In Hong sudah membentak nyaring.

"Diam semua, atau kubunuh dulu anjing ini!"

Teriakkan ini sambil meletkakkan tangannya di atas ubun-ubun kepala Ou Boan Kit membuat semua pengawal tidak berani berkutik.

"Hayo jawab, kamu Ouw Boan Kit, bukan?"

"Ya... ya... ampun..."

Tanpa malu-malu lagi pemuda itu merintih karena kedua lengannya lumpuh dan nyeri, punggungnya seperti dijepit baja dan ketika tangan yang halus berjari lentik itu menyentuh ubun-ubun kepalanya, dia merasa kepalanya panas!

"Hayo bawa aku menemui Ayahmu, Jaksa Ouw yang brengsek itu!"

Kata In Hong lalu mendorong punggung pemuda itu yang segera melangkah masuk dengan tubuh menggigil ketakutan.

Belasan orang pengawal itu pun mengikuti dari belakang dengan golok di tangan, namun mereka tidak berani lancang menyerang In Hong karena keselamatan nyawa tuan muda mereka berada di tangan gadis itu.

Ouw Boan Kit memasuki sebuah ruangan dan di situ tampak Ouw Taijin duduk dengan muka pucat.

Belasan orang pengawal lain menjaga dan melindunginya dengan golok di tangan.

Melihat puteranya digiring masuk oleh seorang gadis dan para pengawal hanya mengikuti dari belakang, Jaksa Ouw marah sekali.

Tadi dia sudah mendengar laporan akan datangnya seorang gadis perkasa yang pernah merobohkan Hak-Ciu Ngo-Houw dan gadis itu mengamuk, membunuh lima orang pengawal dan menangkap puteranya.

Kini melihat bahwa gadis itu kelihatan biasa saja, timbul keberaniannya dan dia hendak menggunakan kewibawaannya yang selama ini tidak pernah gagal menggertak dan membikin takut orang-orang.

"Hei, gadis muda! Berani engkau bersikap begini di depanku? Aku adalah Jaksa Ouw, pejabat yang paling berkuasa di Hak-Ciu! Aku bisa mengerahkan ribuan perajurit untuk menangkap dan membunuhmu. Hayo lepaskan puteraku!"

Katanya sambil bangkit berdiri dan menudingkan telunjuknya. Akan tetapi gertakan itu sama sekali tidak membuat In Hong menjadi takut, sebaliknya membuat gadis itu menjadi semakin marah.

"Krekk! Krekk!"

Kedua tangannya mencengkeram dan bunyi itu adalah bunyi kedua tulang pundak Ouw Boan Kit yang remuk oleh cengkeraman jari-jari tangan lentik itu!

Pemuda itu menjerit dan ketika dilepaskan dia roboh terkulai, merintih-rintih di atas lantai dan mencoba untuk merangkak mendekatl Ayahnya.

Jaksa Ouw terbelalak dan marah sekali.

"Bunuh perempuan ini!"

Teriaknya kepada belasan orang pengawal sambil menudingkan telunjuknya ke arah In Hong.

Belasan orang itu dengan golok di tangan lalu menyerbu dan mengeroyok In Hong.

Akan tetapi gadis itu menggerakkan tangan kanannya dan tampak sinar berkilat ketika pedang Gan-Liong-Kiam dicabutnya dari belakang punggung.

Pedang Gan-Liong-Kiam adalah sebatang pedang pusaka ampuh pemberian Hek Moli, Gurunya yang pertama.

Gadis ini jarang mencabut dan mempergunakannya, karena biasanya kaki tangannya cukup untuk menandingi dan mengalahkan lawan.

Akan tetapi pada saat itu ia marah dan melihat belasan orang pengawal mengeroyoknya, In Hong tidak segan-segan mencabut dan mempergunakan Gan-Liong-Kiam!

Ketika ia menggerakkan pedang dengan cepat dan tubuhnya berkelebatan, maka yang tampak hanya gulungan pedang yang menyambar ke sekelilingnya.

Terdengar teriakan-teriakan mengaduh, pedang pusaka itu membuat golok para pengeroyok patah atau terpental dan lima belas orang pengawal itu satu demi satu roboh dengan luka yang mencucurkan darah!

Jaksa Ouw terbelalak dan pucat wajahnya.

Dia berusaha lari ke dalam sambil memapah puteranya, akan tetapi sekali meloncat, In Hong sudah tiba di dekatnya.

Gadis itu menendang dan tubuh gendut itu pun terlempar, menabrak dinding dan roboh.

Ketika Jaksa Ouw merangkak bangun, pedang di tangan In Hong berkelebat.

Pembesar itu menjerit, darah muncrat di mukanya dan ternyata matanya yang kiri telah ditusuk ujung pedang sehingga dia menjadi cacat, mata kirinya buta!

"Jaksa Ouw dan Ouw Boan Kit!

Sekali ini aku hanya memberi pelajaran kepada kalian.

Kalau lain kali aku melihat kalian masih belum mengubah watak kalian yang jahat sewenang-wenang, aku akan membunuh kalian!"

Setelah berkata demikian, tubuh In Hong berkelebat dan lenyap dari situ.

Ruangan itu penuh darah dan rintihan lima betas orang pengawal dan pembesar berdua puteranya itu.

In Hong merasa puas setelah memberi hajaran kepada pembesar Ouw dan puteranya.

Akan tetapi baru saja ia keluar dan tiba di pekarangan, tiba-tiba terdengar bentakan.

"Hei, keparat, perlahan dulu!"

Pada saat itu, angin yang dahsyat menyambar dari belakang.

In Hong mengenal serangan ampuh, maka ia cepat melompat ke kiri bagaikan gerakan seekor burung walet.

Ketika ia membalik, ia melihat seorang laki-laki berusia enam puluhan tahun, tubuhnya kurus bongkok, mukanya halus tanpa jenggot atau kumis, matanya lebar dan mulutnya tersenyum menyeringai seperti mengejek.

Sepasang mata itu terbelalak semakin lebar setelah kini melihat wajah In Hong.

In Hong bersikap waspada karena ia dapat menduga bahwa tentuKakek ini Guru Ouw Boan Kit seperti yang diceritakan oleh mendiang Si Hoo kepadanya.

Serangan tadi saja menunjukkan bahwa ia berhadapan dengan orang yang lihai sekali karena serangan jarak jauh itu mengandung hawa pukulan yang amat dahsyat.

Sebaliknya, Pak Lo-Kui (Setan Tua Utara) atau lebih dikenal sebagai Datuk Utara itu memandang penuh kagum dan mulut berdecak-decak.

Datuk ini memang terkenal mata keranjang.

Kini dia mencoba untuk meluruskan tubuhnya yang bongkok, akan tetapi karena dia kurus kering dan punggungnya memang bongkok, maka gayanya itu malah tampak lucu sekali.

"Aduh-aduh...! Kiranya yang mengamuk, membunuhi dan melukai banyak orang itu adalah seorang gadis cantik jelita seperti bidadari!"

"Hemm, anjing bongkok tua bangka! Engkau tentu Guru Ouw Boan Kit, bukan?"

Dimaki seperti itu, Datuk Utara itu malah tertawa senang, seolah mendapat pujian, bukan makian!

Dia memang seorang di antara para Datuk besar yang terdiri dari orang-orang yang selain amat tinggi tingkat ilmunya, juga memiliki watak yang aneh-aneh.

"Ha-ha-ha! Matamu yang jeli seperti mata Burung Hong itu ternyata tajam juga, bidadariku! Aku memang Pak Lo-Kui, Datuk Besar Utara dan pernah memberi sedikit pelajaran kepada Ouw Boan Kit yang bodoh itu. Engkau telah mengacau di sini, mestinya aku harus menghukum berat, bahkan membunuhmu. Akan tetapi melihat engkau seperti bidadari, biarlah aku maafkan engkau asal engkau mau menjadi murid merangkap kekasihku. Ha-ha-ha!"

"Jahanam busuk!!"

In Hong marah sekali dan tubuhnya sudah berkelebat ke depan, jari tengah dan telunjuk tangan kirinya menyambar ke arah muka Pak Lo-Kui untuk mencokel keluar biji matanya, sedangkan tangan kanannya mencengkeram ke arah perut.

Bukan main dahsyat dan berbahayanya serangan itu.

Kalau mengenai sasaran, tak dapat dicegah lagi sepasang biji mata itu akan tercongkel keluar dan kulit perut itu akan pecah dan isi perutnya terburai!

"Wahh...!!"

Pak Lo-Kui terkejut bukan main.

Sama sekali tak pernah disangkanya gadis jelita semuda itu dapat melakukan serangan yang demikian dahsyatnya, penuh tenaga lweekang (tenaga dalam) tingkat tinggi!

Cepat dia melempar ke kiri dan menggerakkan kedua lengan, diputar ke kanan menangkis dua tangan gadis itu.

Dia sengaja mengerahan sinkang (tenaga sakti) untuk menggempur kedua lengan gadis itu.

Dua lengan yang berkulit putih halus dan hanya kecil itu tak mungkin dapat menahan gempuran kedua lengannya yang dipenuhi sinkang.

"Wuuutt... desss!!"

Benturan dua pasang lengan itu sungguh hebat menggetarkan keadaan sekitar tempat itu.

Pak Lo-Kui terkejut sekali untuk kedua kalinya karena benturan hebat itu membuat dia terdorong dan terhuyung ke belakang!

Dia terbelalak dan tidak percaya akai perasaannya sendiri.

Mungkinkah ada gadh, semuda ini mampu menandingi sinkangnya yang sudah dihimpun dan dilatih selama puluhan tahun?

Kalau yang mengimbanginya itu seorang Datuk besar lain, hal Itu tidak aneh, setidaknya para tokoh pimpinan aliran-aliran persilatan besar seperti Siauw-Lim-Pai, Bu-Tong-Pai, Kun-Lun-Pai, Go-Bi-Pai dan lain-lain.

Akan tetapi lawannya ini hanya seorang gadis muda cantik jelita, paling banyak baru dua puluh tahun usianya!

Pak Lo-Kui menjadi penasaran.

Semua gairah berahinya yang tadi bangkit melihat kecantikan wajah dan keindahan tubuh In Hong, kini terganti rasa penasaran dan kemarahan.

Maka dia pun kini balas menyerang dengan hebatnya, mengerahkan seluruh tenaga saktinya.

Serangan Datuk Utara ini mempunyai ciri khas andalan ilmu silat dari utara yang banyak menggunakan tendangan dan bercampur dengan ilmu gulat yang menjadi keistimewaan Ilmu berkelahi bangsa-bangsa Mongol.

Dia menggunakan kedua kakinya menendang bergantian secara berantai dan bersambung.

Tendangan berantai lni memang hebat sekali karena kedua kaki itu dapat menendang dari depan, dari kanan atau kiri, bahkan adakalanya merupakan tendangan terbang!

In Hong mengenal serangan berbahaya.

la segera menggunakan ginkang (ilmu meringankan tubuh) dan tubuhnya berkelebatan seolah berubah menjadi bayang-bayang sehingga kemana pun kedua kaki Pak Lo-Kui menyambar, selalu hanya mengenai tempat kosong!

Dan ambil mengelak, In Hong membalas pula dengan tamparan-tamparannya.

Pak Lo-Kui diam-diam mengeluh.

Lawannya ini bukan hanya memiliki tenaga sakti yang mampu mengimbanginya, bahkan memiliki ginkang yang bahkan lebih tinggi daripada tingkatnya!

Dia menjadi semakin penasaran dan dia mengeluarkan seluruh ilmu silatnya, dipilihnya yang paling ampuh, untuk menandingi In Hong sehingga terjadi perkelahian yang amat seru di pekarangan gedung Jaksa Ouw itu.

Dari dalam rumah kini keluar para perajurit pengawal, akan tetapi mereka hanya menonton dari jauh, sama sekali tidak berani mendekat karena mereka sudah merasa jerih menyaksikan kelihaian dan keganasan gadis cantik itu.

Juga di jalan umum depan pekarangan gedung itu, para pejalan kaki kini menonton dan beberapa orang yang sudah mendengar akan munculnya Sian-Li Eng-Cu (Bayangan Bidadari) yang kabarnya telah mengalahkan dan menghajar Hak-Ciu Ngo-Houw, lima orang tukang pukul Jaksa Ouw yang galak dan terkenal tangguh itu.

Maka mulailah mereka yang menonton dari jalan itu berbisik-bisik.

"Sian-Li Eng-Cu... Sian-Li Eng-Cu...!"

Setelah bertanding selama tiga puluh jurus dan bertahan mati-matian terhadap desakan In Hong, Pak Lo-Kui yang merasa penasaran itu marah sekali dan mengambil keputusan untuk membunuh Iawan.

Tiba-tiba dia mengeluarkan gerengan seperti seekor binatang buas dan kedua tangannya dengan telapak terbuka didorongkan ke arah In Hong.

Kedua telapak tangan itu kini berubah hitam sekali.

Itulah Hek-Tok-Ciang (Tangan Racun Hi-tam) yang merupakan ilmu andalan Datuk Utara itu.

Melihat serangan pukulan jarak jauh ini, In Hong cepat menekuk kedua lututnya dan ia pun menyambut dengan dorongan kedua tangannya pula sambil mengerahkan tenaga saktinya.

Kedua tangannya mengepulkan uap putih!

ltulah ilmu Pek-In-Ciang (Tangan Awan Putih) yang ia pelajari dari mendiang Bhutan Koai-Jin, Gurunya yang kedua!

"Syuuutt...

blarrr...!!"

Tubuh In Hong terdorong mundur tiga langkah, akan tetapi tubuhKakek itu terlempar dan dia tentu akan terbanting jatuh kalau saja dia tidak membuat gerakan poksai (salto jungkir balik) beberapa kali sehingga dia dapat turun berdiri.

Waiahnya berubah kemerahan karena merasa malu bahwa dalam adu tenaga sakti lewat pukulan jarak jauh tadi jelas bahwa dia kalah kuat!

"Anjing tua, sambutlah ini!"

Tiba-tiba tangan In Hong bergerak dan ada sinar hitam menyambar dari tangannya ke arah Datuk Utara.

"Singgg...!"

Datuk Utara terkejut sekali dan dia membuang diri ke samping sehingga rebah di atas tanah lalu bergulingan. Setelah dia melompat berdiri lagi, mukanya berubah agak pucat.

"Setan...!"

Dia berseru.

"Engkau... murid Hek Moli?"

"Benar, dan engkau calon setan penasaran!"

In Hong membentak dan kini ia mencabut pedangnya karena ia ingin membunuh Pak Lo-Kui. Melihat pedang itu, Datuk Utara berseru lagi.

"Gan-liong-kiam milik Hek Moli...!"

Dan tanpa banyak cakap lagiKakek kurus bongkok itu melompat jauh dan melarikan diri!

In Hong tidak mengejar.

Ia pun melompat dan lenyap dari pekarangan itu, bayangannya berkelebat dekat para penonton di luar pekarangan.

"Sian-Li Eng-Cu..."

Seorang berseru.

"Sian-Li Eng-Cu... ia menang...!"

Kata yang lain.

Akan tetapi ketika terdengar berita bahwa Si Bayangan Bidadari yang tidak mereka tahu siapa namanya itu telah mengamuk dalam gedung Jaksa Ouw, meremukkan kedua tulang pundak Ouw Kongcu dan membutakan sebelah mata Jaksa Ouw, gegerlah kota Hak-Ciu dan Nama Sian-Li Eng-Cu menjadi buah Bibir penduduk, bahkan berita tentang kehebatan Si Bayangan Bidadari telah tersiar jauh, sampai ke Kotaraja!

Dunia kang-ouw (sungai-telaga, atau dunia persilatan) mulai mengenal Si Bayangan Bidadari yang baru muncul, sosok bayangan wanita muda cantik jelita yang kabarnya demikian hebatnya sehingga mampu menandingi Pak Lo-Kui atau Datuk Utara!

Pada waktu itu, seluruh daratan Cina telah dikuasai dan dijajah oleh Mongol yang mendirikan Kerajaan atau Dinasti Goan (1279-1368).

Yang menjadi Kaisar adalah Kublai Khan (1260-1294), cucu Jenghis Khan pendiri Kerajaan Mongol dan dibawah pimpinan Kaisar Kublai Khan yang meneruskan ambisi besar Jenghis Kha.

Dinasti Goan menjadi semakin jaya dan besar.

Kisah ini terjadi, pada saat In Hong berusia dua puluh tahun, sekitar tahun 1290.

Biarpun dalam sejarah tercatat betapa para patriot Kerajaan Sung yang telah jatuh oleh bangsa Mongol itu tiada hentinya berjuang untuk membela tanah air dan berusaha mengusir bangsa Mongol, Namun banyak pula orang-orang yang berjiwa licik dan tidak segan-segan mengkhianati bangsa sendiri.

Mereka ini rela menjadi antek-antek penjajah, berkhianat dengan menunjukkan di mana adanya para patriot, bahkan ada pula yang menggunakan kepandaian ikut membantu pasukan Mongol membasmi para patriot.

Semua ini tentu saja dengan imbalan berupa harta benda dan pangkat tinggi untuk memperoleh kekuasaan.

Sudah menjadi siasat para penjajah di seluruh dunia, Kerajaan Goan atau bangsa Mongol juga menggunakan harta dan pangkat untuk memancing orang-orang pribumi untuk menjadi antek mereka.

Siasat ini amat menguntungkan mereka dalam berbagai hal.

Pertama, mereka dapat memanfaatkan para pengkhianat bangsa itu untuk menjadi mata-mata mengikuti gerak-gerik para pejuang yang memusuhi penjajah dan hal ini tentu lebih mudah dilakukan para pribumi sendiri.

Pada waktu itu, mereka yang batinnya dikuasai nafsu sendiri, yang hanya ingin mencari kesenangan duniawi, tidak segan menggunakan segala cara untuk memperoleh harta dan pangkat.

Bahkan tidak segan menjual tanah air dan bangsa, berkhianat terhadap bangsa sendiri, mengabdi kepada penjajah Mongol.

Sebagai imbalannya, mereka memperoleh kedudukan, kekuasaan dan harta benda.

Tentu saja kekuasaan mereka itu terbatas, bahkan hanya kekuasaan untuk menekan rakyat bangsa sendiri, akan tetapi kepada atasan mereka, yaitu kepada pembesar Mongol, mereka harus merendahkan diri, dan terutama harus pandai menjilat bermuka-muka.

Pada waktu itu, banyak orang berjiwa rendah menjadi orang-orang kaya mendadak.

Mereka yang tadinya dari keluarga miskin, setelah berjasa terhadap penjajah dan memperoleh kekuasaan, tidak menyia-nyiakan kekuasaannya itu untuk mengumpulkan harta sebanyak mungkin.

Maka bermunculanlah bangsawan-bangsawan pribumi yang suka bertindak sewenang-wenang, menggunakan hukum sebagai modal untuk membenarkan pengumpulkan harta mereka.

Mereka yang menjadi pejabat yang bertugas mengadili, selalu membenarkan mereka yang mampu menyogok dengan uang banyak walaupun penyogok itu bersalah, dan sebaliknya menyalahkan yang benar namun yang tidak mampu memberi uang suapan.

Bahkan para penjahat dapat berlindung di balik bayang-bayang pejabat yang menerima pembagian hasil kejahatan mereka.

Karena ulah para pengkhianat bangsa ini, maka kaum pendekar bukan hanya membenci bangsa Mongol yang menjajah, melainkan lebih membenci lagi bangsa sendiri yang menjadi antek penjajah itu.

Karena untuk memberontak dan menggulingkan Kerajaan Goan merupakan hal yang mustahil mengingat betapa kuatnya bala tentara Mongol, maka para pendekar kini lebih mengutamakan melindungi rakyat dan menentang para penjahat, termasuk para bangsawan penindas rakyat.

Biarpun Kwee In Hong digembleng berturut-turut oleh dua orang Guru yang tergolong sebagai Datuk sesat yang aneh dan kejam, Namun kedua orang Gurunya itu bukanlah tergolong orang yang suka melakukan kejahatan.

Maka sejak dulu, Kwee In Hong puteri Ayah-Ibu yang berwatak baik bahkan budiman dan dermawan, juga berwatak adil, suka melindungi mereka yang lemah dan membutuhkan bantuan.

la memang mewarisi watak kejam dari kedua orang Gurunya, namun kekejamannya itu ditujukan kepada orang-orang yang dianggap jahat dan dimusuhinya.

Dalam perantauannya, setiap kali melihat ketidak-adilan merajalela, In Hong pasti turun tangan membasmi yang jahat dan membela mereka yang lemah tertindas.

Nama julukannya sebagai Sian-Li Eng-Cu semakin terkenal.

Tidak ada orang yang tahu bahwa nama aselinya adalah Kwee In Hong, karena kalau ia terpaksa harus menggunakan nama, Ia memakai nama Put Hauw Li (Gadis Tidak Berbakti).

Penggunaan nama ini mengingat betapa ia tidak membalas kematian Ayahnya yang terbunuh, bahkan ia jatuh cinta kepada Si Pembunuh Ayahnya.

Yang lebih menyakitkan hatinya lagi ialah bahwa sampai sekarang pun ia tidak membenci mendiang Ong Tiang Houw atau Bu Jin Ai itu, bahkan hatinya merasa bahwa ia masih mencintanya!

Penyesalan karena dirinya sendiri inilah yang membuat ia mengutuk diri sendiri dan menggunakan nama Gadis Tidak Berbakti itu.

Pada suatu pagi, ia berjalan keluar dari kota Lan-Keng di mana ia bermalam di rumah Tan-Wangwe (Hartawan Tan).

Keluarga Tan menganggapnya sebagai seorang tamu agung yang dihormati, bahkan ia disebut Lihiap (Pendekar Wanita).

Kemarin siang, ketika tiba di luar kota Lan-Keng, ia melihat sebuah kereta dihadang sepuluh orang laki-laki yang bersikap keras dan kasar, bahkan seorang di antara mereka melompat ke atas kereta dan menarik turun kusir kereta.

Kereta itu ditumpangi suami-isteri Tan.

Hartawan Tan dan isterinya sedang melakukan perjalanan keluar kota dan pada siang hari yang panas itu, kereta dihadang dan dihentikan sepuluh orang itu.

Ketika Hartawan Tan yang berusia sekitar lima puluh tahun itu membuka tirai kereta, dia dan isterinya diancam dua orang yang memimpin gerombolan itu dan diancam agar jangan berteriak.

Seorang di antara mereka lalu duduk di tempat kusir, sedangkan kusir itu sendiri mengerang kesakitan setelah mereka pukuli.

Jelas bahwa gerombolan itu hendak menculik Hartawan Tan dan isterinya.

In Hong melompat dan menghajar gerombolan yang hendak menculik suami-isteri hartawan untuk dimintai uang tebusan.

Mereka melarikan diri setelah dihajar sampai bagian muka mereka bengkak-bengkak dan ada tulang yang patah-patah.

Hartawan Tan dan isterinya berterima kasih sekali dan dengan sangat mereka memohon dan membujuk In Hong agar suka singgah di rumah mereka, dengan alasan mereka takut kalau-kalau gerombolan itu datang mengganggu lagi.

Sebetulnya In Hong enggan, karena ia melihat betapa banyak hartawan pada waktu itu merupakan orang-orang yang biasa berhubungan dengan para pembesar dan kerjanya hanya menumpuk uang tanpa memperhatikan nasib rakyat yang hidup serba kekurangan.

Akan tetapi sikap Tan-Wangwe dan isterinya yang ramah dan lembut.

la mau singgah rumah mereka dan dengan girang ia mendengar bahwa Hartawan Tan sekeluarga ternyata adalah keluarga yang budiman dan dermawan.

Keluarga Tan itu memang sudah kaya-raya sejak sebelum bangsa Mongol menjajah, jadi bukan orang kaya baru dan nenek moyangnya memang pedagang.

Dari para pelayan yang tampak berwajah cerah.

itu ia mendengar akan kebaikan budi dan kedermawanan Hartawan Tan sekeluarga yang sudah terkenal di kota Lan-Keng.

Setiap ada musibah menimpa rakyat di daerah itu yang membuat rakyat hidup serba kekurangan, Hartawan Tan selalu rela membagi sebagian kekayaannya untuk menolong mereka.

Ketika In Hong menjadi tamu, ia dijamu pesta keluarga dan diperkenalkan kepada Tan Siong, putera tunggal hartawan Tan Yu Seng itu.

Tan Siong berusia dua puluh satu tahun, wajahnya tampan, sikapnya lembut dan sopan.

Dia telah lulus ujian dan menjadi seorang terpelajar bergelar siucai.

In Hong merasa gembira.

Setelah mandi pada sore hari itu di kamar mandi yang bersih dan airnya jernih berlimpah, berganti pakaian, kini ia menghadapi meja makan dengan masakan bermacam-macam dan suami-isteri tuan rumah bersama puteranya itu menjamunya dengan sikap yang ramah sekali.

Ia merasa seolah menjadi anggauta keluarga.

Setelah makan minum sampai kenyang, In Hong diajak duduk di ruangan depan yang hawanya sejuk karena ruangan itu memiliki banyak jendela yang terbuka dan menembus taman bunga.

Tiga lampu gantung dinyalakan.

Mereka duduk mengelilingi sebuah meja bundar yang besar dan Tan Yu Seng yang biasa disebut Hartawan Tan bertanya dengan sikap ramah dan hormat.

"Lihiap, kami berhutang nyawa dan budi kepadamu, akan tetapi sejak tadi engkau belum juga mengaku siapa nama Lihiap yang terhormat dan di mana engkau tinggal. Kami ingin sekali mengetahuinya."

"Paman, memang sudah menjadi tugasku untuk menentang orang-orang jahat. Aku menghajar mereka yang jahat siang tadi bukan untuk mencari balasan, maka aku tidak merasa perlu untuk memperkenalkan nama."

In Hong memang tidak biasa bersopan-sopan, maka ucapannya juga terdengar datar dan acuh tak acuh.

"Ayah dan Ibu, Lihiap ini adalah seorang pendekar wanita yang budiman, kalau tidak mau memperkenalkan nama kepada kita, sudah sewajarnya dan harap jangan didesak terus. Biarlah kita mengenalnya sebagai Dewi Penolong atau penjelmaan Sang Dewi Kwan Im (Dewi Dewi Welas Asih)."

Ucapan Tan Siong sewajarnya dan sama sekali tidak mengandung suara mencela atau menyindir sehingga In Hong merasa tidak enak sendiri. Ia menghela napas panjang lalu berkata.

"Baiklah, kalau kalian ingin mengetahui. Di dalam perantauanku ini aku menggunakan nama Put-Hauw Li."

"Ah...!"

Ayah, Ibu dan anak itu berseru dengan alis berkerut dan pandang mata tidak percaya. Tan Siong segera berkata dengan tegas.

"Tidak mungkin seorang gadis seperti Lihiap menjadi seorang anak yang Put-Hauw (tidak berbakti)! Kepada Ayah dan Ibu saja yang merupakan orang-orang lain yang tadinya sama sekali tidak dikenal, Lihiap telah suka membela, apalagi terhadap orang-tua sendiri. Tidak, aku tidak percaya bahwa Lihiap seorang anak yang tidak berbakti!"

"Ah, Lihiap tentu bergurau!"

Kata Hartawan Tan dan isterinya.

"Biarlah, mungkin karena belum mengenal kita dengan baik, Lihiap masih belum percaya kepada kita. Nanti kalau sudah lebih mengenal kita, tentu akan memperkenalkan diri yang sebenarnya."

Kata Nyonya Tan.

In Hong merasa tidak enak hati melihat keluarga yang amat ramah dan sopan kepadanya, maka ia lalu minta diri untuk beristirahat dalam kamar yang sudah dipersiapkan untuknya.

Keluarga itu tidak berani mencegah dan In Hong memasuki kamarnya.

Ia merebahkan diri dan berulang kali menghela napas panjang.

Ia masih ingat, dulu ketika ia masih kecil, Sebelum malapetaka menimpa keluarga orang tuanya, ia tinggai bersama Ayah dan Ibunya dalam rumah gedung mewah seperti gedung keluarga Tan ini.

Ayah-Ibunya dulu juga merupakan orang-orang kaya yang dermawan, bahkan setiap hari Ayah dan Ibunya memberi ia sekantung uang receh untuk dibagikan kepada para pengemis yang datang minta-minta ke rumah mereka.

Mengingat akan masa lampau itu, rasanya seperti mimpi saja.

betapa jauh bedanya kehidupannya yang sekarang dibandingkan dahulu.

Sekarang ia hidup merantau, tak tentu tempat tinggalnya.

la merasa tidak dapat tinggal bersama Ibunya.

Kalau ia dekat dengan Ibunya, tentu ia akan selalu teringat betapa Ibunya pernah menjadi isteri Bu Jin Ai dan hal ini membuat hatinya terasa sakit, malu, dan penasaran.

Ah, betapa ia merindukan masa lalunya bersama Ayah dan Ibunya!

Akan tetapi sekarang Ayahnya telah meninggal dunia, dan Ibunya telah...

menjadi lain, menjadi isteri...

musuh pembunuh Ayahnya dan sudah mempunyai seorang anak lain, yaitu Ong Lian Hong dan ia tidak mempunyai rumah lagi.

Kerinduan akan masa lalunya ini membuat ia merasa rindu pula kepada rumahnya dahulu, di kota Tiang-An.

Di rumah itu ia terlahir dan tumbuh besar sampai berusia lima tahun.

Tiba-tiba ia ingin sekali melihat rumah Ayahnya di Tiang-An itu dan ingin sekali tahu siapa yang menempati rumah itu sekarang!

Tiba-tiba ia mendengar suara dari kamar sebelah.

Biarpun hanya terdengar lirih, namun ia mengenal suara Hartawan Tan dan isterinya.

la lalu mendekati dinding penyekat antara dua kamar itu, menempelkan daun telinganya dan kini ia dapat mendengar pembicaraan itu dengan cukup jelas.

"Aku setuju saja dengan niatmu itu, akan tetapi apakah Siong-ji (Anak Siong) setuju?"

Terdengar Nyonya Tan berkata.

"Tadi sudah kutanyai dia dan biarpun dia menjawab bahwa hal ini terserah kepada kita berdua, namun dari sikap dan bicaranya aku dapat memastikan bahwa Siong-ji setuju sekali. Jelas bahwa anak kita amat kagum dan menaruh hati kepada Lihiap."

"Terserah kepadamu, akan tetapi sudah yakin benarkah engkau untuk mengambil ia sebagai mantu? Ingat, anak kita hanya tinggal Tan Siong seorang, jangan sampai kita salah memilih jodohnya. Aku merasa , agak ragu karena gadis itu tidak mau mengakui siapa namanya yang sesungguhnya."

"Ah, tidak aneh bagi seorang pendekar wanita untuk menyembunyikan nama aselinya. Akan tetapi kalau ia sudah menjadi mantu kita, ia pasti akan menceritakan riwayatnya. Seorang gadis sebaik ia, pasti memiliki latar belakang dan keluarga yang baik pula."

"Kalau kita tidak mengetahui siapa orang tuanya dan di mana tempat tinggalnya, lalu bagaimana kita dapat mengajukan pinangan?"

Tanya Nyonya Tan.

"Hal itu dapat diurus kemudian. Lebih dulu engkau besok pagi-pagi sampaikan keinginan kita kepada Lihiap. Kalau ia mau menerima niat perjodohan kita, tentu ia akan memberitahu siapa dan di mana orang tuanya, lalu kita mengajukan pinangan."

"Baiklah, besok pagi-pagi akan kubicarakan dengannya..."

In Hong tidak mendengarkan lagi dan ia duduk termenung di atas pembaringan.

Alisnya berkerut.

Ia hendak dilamar dan dijodohkan dengan Tan Siong!

Pemuda itu harus diakui amat menarik, tampan dan lembut sopan-santun, seorang siucai pelajar pula, juga anak tunggal Hartawan Tan yang kaya-raya.

Kalau menjadi isteri Tan Siong, maka kehidupannya terjamin.

Disayang suami dan mertua, hidup berkecukupan, dan terhormat karena keluarga itu terkenal sebagai keluarga dermawan.

Mau apa lagi?

Akan tetapi tidak!

Ia tidak bisa menjadi isteri Tan Siong atau isteri siapa pun.

Setelah Bu Jin Ai meninggal dunia, ia merasa tidak mungkin dapat mencinta laki-laki lain.

Cintanya yang pertama ternyata telah salah besar.

Yang dicintanya itu pembunuh Ayah kandungnya!

Ia menjadi jera untuk mencinta seorang laki-laki lagi.

Tidak, ia tidak mau terikat sebagai isteri Tan Siong, sungguhpun pemuda itu merupakan seorang pemuda pilihan!

Tiba-tiba ia tertarik lagi karena mendengar suara Nyonya Tan menangis.

Karena ingin tahu In Hong menempelkan lagi telinganya ke dinding.

la mendengar nyonya itu terisak-isak.

"Sudahlah, jangan menangis. Anak itu sudah tersesat! Agaknya watak Ayahnya menurun kepadanya, maka minggat. Tidak perlu kita pikirkan lagi. Dia pergi atas kehendaknya sendiri, malah minggat. Bukan kita yang mengusirnya!"

Nyonya Tan menahan isaknya, lalu menghela napas panjang dan berkata.

"Bagaimana tidak sedih? Sejak berusia tiga tahun Bouw-ji kurawat dan kubesarkan, kuanggap anak sendiri. Bahkan setelah Siong-ji terlahir, aku tetap menyayangnya dan tidak membeda-bedakan antara mereka. Akan tetapi mengapa setelah berusia remaja, lima belas tahun, dia minggat dan membawa banyak uang emas? Ah, bagaimana keadaannya sekarang dan di mana dia sekarang?"

"Sudahlah, isteriku. Sejak dia berusia belasan tahun sudah tampak kenakalannya. Tan Bouw tidak mau belajar seperti Tan Siong, dia malas dan nakal, juga tidak mau mendengar nasehat orang tua. Bahkan setelah remaja dia bergaul dengan segala pemuda brandal, belajar silat bukan untuk menjadi pendekar, melainkan menjadi brandal, suka berkelahi. Teman-temannya adalah bangsa penjahat. Ketika dia mulai memukuli Tan Siong, aku marah sekali, akan tetapi dia tidak takut malah mencuri banyak emas lalu minggat. Dan anak macam itu masih juga engkau tangisi kepergiannya, setelah dia pergi selama sembilan tahun?"

Kembali Nyonya Tan menghela napas panjang.

"Bagaimana aku dapat melupakannya? Sejak kecil dia kutimang-timang, dan mengingat betapa Ayah-Ibunya tewas terbunuh ketika dia berusia tiga tahun, aku merasa kasihan padanya."

"Hemm, Ayahnya seorang yang hidupnya sesat, hidup di kalangan dunia hitam, tidak aneh kalau sampai terbunuh bersama isterinya. Kalau ingat akan hal Itu, aku menyesal mengapa dulu aku memenuhi permintaanmu untuk memungut anak itu. Ternyata ia mewarisi watak Ayahnya dan kini setelah menggunakan nama keluarganya, Tan, dia hanya mengotori nama keluargaku saja."

In Hong tidak mendengarkan lagi karena merasa bahwa yang dibicarakan bukan urusannya.

Akan tetapi ia segera tidur dan pada keesokan harinya, sebelum ada yang bangun dalam rumah gedung itu ia sudah keluar tanpa ada yang mengetahui dan meninggalkan kota Lan-Keng!

Biarpun ia baru berusia lima tahun ketika meninggalkan dusun Tiang-On, namun In Hong benar masih ingat di mana letak rumah orang tuanya ketika ia memasuki dusun itu.

Hati gadis itu terasa perih ketika ia memasuki pekarangan rumah.

la merasa terharu sekali.

Pohon besar di depan rumah, sebelah kiri, kini telah menjadi tua sekali dan daunnya tinggal sedikit, cabang-cabangnya banyak yang kering.

Akan tetapi batu sebesar kerbau yang berada di bawah pohon itu masih sama seperti dulu.

Di waktu kecil ia sering dimarahi Ayahnya karena sebagai seorang anak perempuan kecil ia sering naik ke atas batu besar itu, tidak takut jatuh!

Seorang laki-laki setengah tua berpakaian pelayan menyambut kedatangannya.

"Nona hendak mencari siapakah?"

Tanyanya hormat, dan matanya memandang heran. In Hong bertanya.

"Paman, rumah siapakah ini? Kalau aku tidak salah, belasan tahun yang lalu ini merupakan gedung milik keluarga Kwee."

"Wah, itu sudah lama sekali yang lalu, Nona! Memang dulu keluarga Kwee yang memiliki rumah ini, dan setelah terjadi geger serangan gerombolan penjahat, Hartawan Kwee terbunuh penjahat dan Nyonya Kwee menghilang. Perabotan isi rumah ini dirampok habis, nyaris dibakar akan tetapi diselamatkan penduduk. Rumah ini kosong sampai bertahun-tahun dan beberapa tahun yang lalu keluarga Nyonya Kwee yang tinggal di See-Ciu datang mengurus rumah peninggalan keluarga Kwee ini."

"Maksudmu keluarga Yo dari See-Ciu?"

"Benar sekali! Apakah Nona mengenal mereka?"

"Aku mengenal mereka, Paman. Lalu siapa kini yang tinggal di sini?"

"Dua tahun yang lalu keluarga Yo telah menjual rumah ini kepada majikan saya, Nona. Majikan saya she Lu dan pindahan dari Yung-Se. Apakah Nona ingin bertemu dengan keluarga Lu?"

"Tidak, terima kasih, Paman. Saya hanya ingin bertanya, apakah Paman dulu mengenal Hartawan Kwee Seng?"

"Tentu saya mengenalnya baik-baik. Hartawan Kwee seringkali menolong keluarga kami yang miskin."

"Hemm, kalau begitu tentu Paman dapat memberitahukan kepadaku di mana dulu jenazah Hartawan Kwee dikubur."

"Tentu saya tahu, Nona. Setelah jenazahnya ditemukan orang-orang sehari setelah dia terbunuh agak jauh dari dusun ini, karena banyak orang pernah ditolongnya, maka beramai-ramai jenazahnya lalu dibawa ke dusun dan dikuburkan baik-baik. Bahkan sampai sekarang makamnya dirawat baik-baik oleh penduduk daerah ini."

In Hong merasa girang dan minta ditunjukkan tanah kuburan itu.

Setelah mengetahui tempatnya dan ciri makam itu, ia lalu bergegas menuju ke sana.

Tanah kuburan umum dusun Tiang-On ini cukup luas dan ternyata cerita orang tadi benar.

Makam dengan bong-pai (batu nisan) yang terukir nama KWEE SENG terawat baik sehingga tampak bersih.

Sejenak In Hong berdiri termenung di depan makam itu, makam yang sederhana namun bersih.

la tadi memang sudah membeli hio-swa (dupa maka kini ia membakar ujung dupa dan berlutut di depan makam, bersembahyang sebagai penghormatan kepada Ayahnya yang sudah meninggal.

Ketika ia teringat betapa Ayahnya dulu amat sayang kepadanya, sering membawa ia pergi berjalan-jalan, baik naik kuda maupun jalan kaki, bahkan membiarkan ia duduk di pundak Ayahnya, In Hong tidak mampu menahan beberapa butir air mata menetes di atas kedua pipinya.

"Ayah... ampuni anakmu yang tidak berbakti ini. Anak tidak mampu membalaskan sakit hati dan kematian Ayah..."

Ia menancapkan belasan batang dupa lidi yang ujungnya membara itu di depan makam dan berlutut sambil mengusap air matanya.

Teringat pula ia akan dosanya yang besar, yang bahkan membalas pembunuh Ayahnya dengan cinta!

Sayang Ong Tiang Houw alias Bu Jin Ai pembunuh Ayahnya itu telah terbunuh oleh puteranya sendiri.

Kalau tidak, ia tentu akan dapat menebus dosanya dengan membunuh Bu Jin Ai, walaupun ia sangsi sendiri apakah ia akan tega dan mampu membunuh laki-laki itu.

"Ayah...!"

Kembali ia mengeluh.

Karena keharuan menguasai hatinya, In Hong menjadi lengah, kehilangan kewaspadaan sehingga ia tidak tahu bahwa ada orang mendekati tempat itu dengan langkah ringan dan kini orang itu berdiri di sebelah kanannya dalam jarak tiga tombak.

"Hong-moi (Adik Hong)...!" (Lanjut ke

Jilid 11) Bayangan Bidadari/Sian Li Eng Cu (Cerita Lepas) Karya. Asmaraman S. Kho Ping Hoo

Jilid 11 In Hong yang masih berlutut menoleh ke sebelah kanan dan melihat seorang pemuda yang bertubuh tinggi besar, berwajah ganteng dan gagah, dengan sebatang golok bergagang emas tergantung di punggungnya.

"Yo-Twako (Kakak Yo)...!"

In Hong berseru girang. Pemuda itu adalah Yo Kang, putera Yo Hang Tek yang tinggai di See-Ciu, pemuda yang merupakan orang pertama yang jatuh cinta kepadanya.

"Bagaimana engkau bisa berada di sini, Twako?"

"Nanti dulu, Hong-moi. Biar aku bersembahyang dulu di depan makam mendiang Paman Kwee Seng."

Setelah berkata demikian, pemuda itu membakar dua lidi yang sudah dibawanya lalu bersembahyang memberi hormat di depan makan itu.

Setelah melakukan penghormatan sebagaimana lajimnya, dia lalu duduk di atas batu yang banyak terdapat di situ, berhadapan dengan In Hong yang juga duduk di depannya.

"Hong-moi, aku memang sengaja hendak menjenguk makam Paman Kwee Seng yang sudah lama tidak kukunjungi."

"Akan tetapi bagaimana engkau tahu...?"

"Tentu saja aku tahu, Hong-moi. Dahulu, Ayahku yang mengatur pemakaman ini, setelah mendengar akan malapetaka yang menimpa Ayahmu."

In Hong mengangguk-angguk.

Kalau ia tidak salah ingat, dahulu ketika ia berkunjung ke rumahKakeknya, Yo Tang, Ayah dari Ibunya yang pemarah, pikun dan pelit itu, rasanya pernah Pamannya, Yo Hang Tek menceritakan tentang pemakaman jenazah Ayahnya.

Kalau tadi pelayan tua di bekas rumah Ayahnya itu mengaku bahwa penduduk yang mengurus jenazah Ayahnya, mungkin mereka itu hanya membantu saja.

"Terima kasih bahwa engkau masih mau menjenguk makam Ayahku, Twako."

"Ah, mendiang Paman Kwee Seng adalah suami Bibiku Yo Cui Hwa, berarti dia masih keluarga dekat dengan keluarga kami. Hong-moi, bagaimana hasilmu mencari Bibi Yo Cui Hwa? Kami sudah berusaha untuk mencarinya dengan menyebar banyak orang, namun sampai sekarang belum juga dapat kami temukan."

"Aku sudah bertemu dengan Ibuku, Yo-Twako. Ibu kini tinggal di dusun Hok-Te-Cung sebelah barat kota Lm-Goan-Kan."

"Ah, aku girang sekali mendengar itu, Hong-moi! Ayah dan Kongkong (Kakek) tentu girang sekali, terutama Kongkong yang kini sakit berat dan selalu menanyakan Bibi Yo Cui Hwa."

Tiba-tiba In Hong berseru! "Awas, Twako!"

Akan tetapi agaknya Yo Kang juga sudah melihat adanya sinar-sinar hitam yang menyambar ke arah dia dan In Hong.

Dengan gesit dia mengelak ke kiri mendekati makam, tangannya mencabut beberapa batang dupa lidi yang masih membara dan menyambut ke arah datangnya sinar hitam tadi.

Pada saat yang bersamaan, In Hong yang juga dapat mengelak dari serangan gelap itu sudah menggerakkan tangan kirinya dan sinar hitam dari senjata rahasianya pasir hitam yang disebut Toat-Beng Hek-Kong (Sinar Hitam Pencabut Nyawa) telah meluncur ke arah yang sama.

Terdengar jeritan beberapa orang dan beberapa sosok bayangan yang tadi berada di balik semak-semak kini berloncatan dan melarikan diri.

In Hong dan Yo Kang cepat meloncat ke balik semak-semak itu dan mereka melihat seorang yang menggeletak telentang dan telah tewas, mukanya berubah menghitam dan itu merupakan tanda bahwa dia menjadi korban serangan batik yang dilakukan In Hong dengan Toat-Beng Hek-Kong tadi.

Yo Kang mengerutkan alisnya.

"Ah, engkau telah membunuhnya, Hong-moi!"

Katanya dengan nada suara menyesal.

"Manusia jahat yang menyerang secara menggelap ini Judah sepatutnya dibunuh!"

Jawab In Hong tegas. Mendengar jawaban yang ketus itu Yo Kang merasa bahwa ucapannya tadi seolah menegur, maka cepat dia berkata.

"Maksudku, kalau dia tidak dibunuh kita dapat mengetahui mengapa dia menyerang kita."

In Hong mengangguk.

"Ya, sayang yang lain-lain dapat kabur."

"Akan tetapi beberapa batang dupa lidi yang kau sambitkan tadi mengenai sasaran, hanya tidak membunuh mereka."

Kata Yo Kang, lalu dia berjongkok untuk meneliti orang yang tewas oleh pasir hitam yang dilontarkan In Hong tadi.

Laki-laki itu berusia sekitar lima puluh tahun.

Di punggungnya tergantung sebatang pedang, pakaiannya serba hitam, akan tetapi anehnya, pakaiannya yang terbuat dari kain hitam yang masih baru itu di sana-sini dihias dengan tambalan!

Wajahnya bersih tanpa kumis dan jenggot, dan sama sekali tidak tampak serem seperti wajah seorang penjahat.

In Hong melihat Yo Kang seperti orang terheran.

"Yo-Twako, apakah engkau mengenal orang ini?"

"Orangnya aku tidak kenal, akan tetapi ciri pakaiannya ini menunjukkan bahwa dia adalah seorang anggauta Hek I Kaipang (Perkumpulan Pengemis Baju Hitam) yang berpusat di Lereng Beng-San! Aneh sekali, mengapa Hek I Kaipang memusuhi kita?"

"Mungkin yang mereka musuhi adalah seorang di antara kita. Aku sendiri tidak pernah berurusan dengan Hek I Kaipang. Mungkin engkau yang mereka musuhi, Twako."

"Hemm, aku pribadi pun belum pernah bermusuhan dengan perkumpulan pengemis yang merupakan Kaipang (Perkumpulan Pengemis) paling terkenal dan besar saat ini. Di mana-mana terdapat cabangnya dan perkumpulan itu, sepanjang pendengaranku, dipimpin oleh tokoh-tokoh berilmu tinggi yang berjiwa pendekar dan penentang penjajah. Nama mereka bersih sebagai orang-orang gagah yang tidak pernah melakukan kejahatan. Bahkan mereka menentang para penjahat sehingga para hartawan yang dermawan banyak memberi sumbangan kepada Hek I Kaipang. Aku tidak pernah bermusuhan dengan mereka!"

"Hemm, kalau begitu, mengapa ada anggauta mereka yang hendak membunuh kita?"

Tanya In Hong. Yo Kang lalu berjongkok dan memeriksa saku baju mayat itu. Dalam sebuah saku bajunya, dia menemukan sehelai kertas bertulis. Dia lalu membacanya bersama In Hong.

"Pemuda baju biru itu Yo Kang, murid Bu-Tong-Pai."

"Hemm, kalau begitu, Hek I Kaipang agaknya memusuhi Bu-Tong-Pai. Akan tetapi mengapa?"

"Engkau benar, Yo-Twako. Kalau mereka memusuhi pribadimu, tentu surat itu tidak perlu menyebut engkau sebagai murid Bu-Tong-Pai. Tentu mereka memusuhi Bu-Tong-Pai sehingga tadi mereka juga menyerang aku, tentu mengira aku murid Bu-Tong-Pai pula."

"Hemm, aneh sekali. Hek I Kaipang perkumpulan orang gagah, Bu-Tong-Pai juga perguruan para pendekar. Mengapa Hek I Kaipang memusuhinya? Aku harus menyelidiki hal ini. Kalau tidak salah, di kota Im-San-Keng juga terdapat cabang perkumpulan itu. Aku akan berkunjung ke sana dan menanyakan hal ini."

"Tidak, Yo-Twako, jangan engkau yang pergi. Mereka tahu bahwa engkau murid Bu-Tong-Pai. Jangan-jangan begitu engkau muncul, mereka akan langsung menyerangmu. Biar aku yang pergi. Aku bukan murid Bu-Tong-Pai, tentu lebih mudah melakukan penyelidikan."

"Baiklah, Hong-moi, dan terima kasih atas bantuanmu terhadap But-Tong-Pai ini. Engkau memasuki kota Im-San-Keng untuk melakukan penyelidikan dan aku akan menanti di luar kota."

Lalu dia menoleh dan memandang ke arah mayat itu.

"Akan tetapi lebih dulu akan kukubur jenazah ini baik-baik sebagai bukti bahwa Bu-Tong-Pai memang tidak bermusuhan dengan Hek I Kaipang."

Diam-diam In Hong merasa kagum akan sikap Yo Kang yang baik budi itu.

sendiri tentu tidak sudi untuk mengurus mayat orang yang memusuhinya dan baru saja tadi menyerangnya secara pengecut dengan niat membunuhnya.

Setelah mengubur mayat itu secara sederhana, mereka lalu meninggalkan tanah kuburan menuju ke kota Im-San-Keng di sebelah timur.

Setelah tiba di luar kota Im-San-Keng, dalam sebuah hutan kecil bawah sebuah bukit, mereka berhenti dan Yo Kang berkata.

"Nah, aku akan menanti di sini, Hong-moi. Engkau masuklah ke sana dan selidiki orang-orang Hek I Kaipang. Kebetulan di sana terdapat pula seorang murid Bu-Tong-Pai yang membuka perguruan silat sebagai cabang dari aliran Bu-Tong-Pai. Aku tidak mengenal murid itu karena aku hanya mendengar tentang perguruan silat Bu-Tong-Pai itu dari para Suhu di Bu-Tong-Pai, Sebaiknya engkau melihat ke sana pula. Siapa tahu orang-orang Hek I Kaipang juga memusuhi mereka. Dengan begitu kita tahu apakah Hek Kaipang memusuhi Bu-Tong-Pai ataukah memusuhi aku pribadi."

"Baik, Yo-Twako."

In Hong lalu meninggalkan hutan kecil itu dan memasuki kota Im-San-Keng yang ternyata cukup besar dan ramai.

Siang hari itu udaranya panas, namun orang-orang masih ramai dan sibuk di sepanjang jalan umum dalam kota itu.

In Hong mencari-cari dengan pandang matanya, akan tetapi sampai jauh ia berkeliling kota, ia tidak pernah bertemu dengan seorang pun anggauta Hek I Kaipang yang tentu akan mudah ia kenal dari pakaian mereka.

Akan tetapi di sudut kota sebelah selatan, tiba-tiba ia melihat seorang laki-laki berusia sekitar lima puluh tahun, berpakaian hitam tambal-tambalan seperti pakaian orang yang tewas oleh pasir hitamnya pagi tadi.

Dia pasti seorang anggauta Hek I Kaipang!

In Hong lalu diam-diam membayangi orang itu.

Pengemis yang pakaiannya serba hitam, kainnya baru akan tetapi banyak tambalannya itu memasuki sebuah rumah yang pintu gerbangnya besar dan terbuka sehingga dari jalan orang dapat melihat ke ruangan depan yang luas.

Di atas pintu gerbang terdapat tulisan yang tidak berapa mencolok dan besar, namun ditulis dengan gaya indah.

PERGURUAN SILAT RANTING BU-TONG-PAI Hati In Hong menjadi tegang.

Perguruan inilah yang dimaksudkan Yo Kang.

Dan sekarang ada seorang anggauta Hek I Kaipang memasuki gerbang itu!

Cepat ia menyelinap dan mengintai.

Tadi dari luar ia sudah mendengar bentakan-ben-takan orang banyak berlatih silat.

Setelah ia menyelinap masuk mempergunakan ilmunya meringankan tubuh yang sudah mencapai tingkat tinggi sehingga tubuhnya hanya tampak seperti bayangan berkelebat lalu ia mengintai dari balik dinding, ia melihat seorang laki-laki berusia sekitar empat puluh lima tahun, bertubuh tinggi besar berjenggot panjang, Wajahnya gagah dan pakaiannya seperti yang biasa dipakai seorang ahli silat, sedang memberi aba-aba kepada lima belas orang pemuda yang belajar silat.

Belasan orang murid yang berusia dari dua puluh sampai tiga puluh tahun itu bertelanjang dada dan mereka menggerakkan kaki tangan secara berbareng, setiap gerakan disertai bentakan dari mulut mereka.

In Hong dapat melihat bahwa murid-murid itu baru mencapai tingkat mempergunakan gwakang (tenaga luar) dan tubuh mereka tampak berotot dan kekar.

Namun harus ia akui bahwa gerakan mereka mantap dan ilmu silat Bu-Tong-Pai merupakan ilmu bela diri yang baik.

Ketika melihat betapa orang berpakaian hitam yang ia duga tentu anggauta Hek I Kaipang itu kini menonton sambil tersenyum mengejek, In Hong menjadi semakin tertarik.

"Hemm, begini sajakah ilmu silat Bu-Tong-Pai? Dengan ilmu silat kampungan seperti ini, bagaimana berani bertindak sewenang-wenang membunuhi anggauta perkumpulan lain?"

Tiba-tiba anggauta Hek I Kaipang itu menggerakkan tangan kirinya dan tiga buah batu kecil yang tadi digenggamnya meluncur cepat ke arah tiga orang murid yang sedang berlatih silat dan yang berada paling depan.

"Tak-tak-takk...!"

Tiga buah batu kecil itu menyambar cepat dan agaknya mengenai lutut kanan tiga orang murid itu.

Mereka mengeluh dan jatuh terduduk, menggosok-gosok lutut kanan yang terasa nyeri dan kehilangan tenaga karena tertotok jalan darahnya oleh batu-batu kecil tadi.

Laki-laki gagah yang tadi memimpin para murid berlatih terkejut sekali.

Dengan gerakan yang cukup gesit dia melompat dan sudah berhadapan dengan pengemis baju hitam.

Mereka saling tatap dengan pandang mata tajam menyelidik, seperti dua ekor ayam jantan sedang berlaga, siap saling terjang.

In Hong menonton saja karena ia ingin tahu mengapa pengemis itu memusuhi Bu-Tong-Pai.

Kini ia yakin bahwa bukan Yo kang pribadi yang dimusuhi Hek I Kaipang, melainkan Bu-Tong-Pai.

"Bukankah engkau ini anggauta Hek I Kaipang, sobat? Setahuku, Hek I Kaipang bersahabat dengan para pendekar. Mengapa engkau sekarang datang dan menghina kami?"

Laki-laki itu bertanya dengan keren, namun sikapnya masih lunak.

"Hemm, selamanya Hek I Kaipang bersahabat dengan para pendekar, akan tetapi memusuhi pembunuh dan Bu-Tong-Pai ternyata telah menjadi segerombolan pembunuh yang kejam dan jahat!"

Kata pengemis baju hitam itu dengan suara mengandung kemarahan.

"Sobat, apa maksudmu? Jangan meIempar fitnah yang bukan-bukan kepada kami. Aku, Tung Pan, murid Bu-Tong-Pai tidak pernah melakukan perbuatan jahat!"

"Dan aku, Ang Cun, murid Hek I Kaipang tingkat empat, juga bukan orang yang suka melempar fitnah! Di kota An-Hui, sebulan yang lalu, tiga puluh orang anggauta Hek I Kaipang telah dibunuh oleh segerombolan murid Bu-Tong-Pai!"

"Tidak mungkin!"

Bentak Tung Pan marah.

"Hem, pembunuhan telah terjadi. Semua murid Hek I Kaipang telah bersumpah untuk membalas dendam. Aku tidak mau membunuhi pemuda-pemuda yang menjadi muridmu ini karena mereka masih belum dapat dinamakan murid Bu-Tong-Pai. Akan tetapi engkau, Tung Pan, engkau murid Bu-Tong-Pai, maka harus kubunuh. Bersiaplah engkau untuk mati di tanganku!"

"Manusia sombong! Siapa takut padamu? Aku sebagai murid Bu-Tong-Pai selalu siap untuk mempertahankan nama baik dan kehormatan Bu-Tong-Pai yang kau fitnah dan kau bikin kotor!"

Dia menoleh kepada para muridnya.

"Kalian jangan mencampuri urusan ini. Mundur dan menjauhlah!"

Para murid itu tidak berani membantah dan mereka lalu mundur dan hanya menonton dari sudut ruangan yang luas itu.

Ang Cun lalu menarik sebatang tongkat hitam yang tadi diselipkan di ikat pinggangnya.

Melihat ini, Tung Pan yang sudah lama mengena!

Hek I Kaipang, maklum bahwa lawannya bersungguh-sungguh dan telah memegang senjata andalan kaum pengemis baju hitam itu.

Maka dia pun cepat mengambil sebatang golok dari rak senjata di sudut dan kini mereka berhadapan lagi, senjata andalan masing-masing di tangan.

"Sambut seranganku!"

Bentak Ang Cun dan tongkat hitamnya menyambar. Gerakannya cukup dahsyat dan Tung Pan yang tahu akan kelihaian lawan sudah mengelebatkan goloknya menangkis.

"Tranggg...!"

Bunga api berpijar dan kedua orang itu merasa tangan mereka tergetar, menunjukkan bahwa tenaga mereka seimbang.

Mereka lalu saling serang dengan seru dan mati-matian.

Tung Pan mainkan goloknya dengan Bu-Tong To-Hoat (Ilmu Golok Bu-Tong-Pai) yang indah.

Namun In Hong yang menjadi penonton melihat bahwa ilmu golok murid Bu-Tong-Pai itu belumlah selihai ilmu golok yang dikuasai Yo Kang, apalagi setelah pemuda yang menjadi Kakak misannya itu mendapat petunjuk dari Wu Wi Thaisu wakil Ketua Go-Bi-Pai.

In Hong memang hanya menonton karena apa yang didengarnya dari percakapan antara dua orang itu membuat ia ragu.

Siapakah di antara Hek I Kaipang dan Bu-Tong-Pai yang bersalah?

Kalau benar-benar tiga puluh orang Hek I Kaipang dibantai secara kejam oleh orang-orang Bu-Tong-Pai, jelas bahwa Bu-Tong-Pai yang bersalah.

Akan tetapi kalau hal itu benar, perlu pula diketahui sebabnya mengapa Bu-Tong-Pai melakukan pembunuhan-pembunuhan itu.

la menjadi ragu dan hanya menonton.

Setelah lewat lima puluh jurus, Tung Pan mulai terdesak seperti yang sudah diduga oleh In Hong yang dapat menilai bahwa tingkat kepandaian murid Bu-Tong-Pai itu masih kalah tinggi sedikit dibandingkan tingkat lawannya.

Melihat ini In Hong mengerti bahwa kalau dibiarkan saja, tentu murid Bu-Tong-Pai itu akan roboh dan mungkin tewas, mengingat betapa orang Hek I Kaipang itu sejak tadi menyerang dengan dahsyat untuk membunuh.

Benar saja dugaannya, tiba-tiba Ang Cun berseru keras dan biarpun Tung Pan dapat menghindarkan diri dari totokan tongkat itu, namun tendangan kaki Ang Cun mengenai lututnya dan Tung Pan roboh.

Tongkat hitam di tangan Ang Cun menusuk ke arah dada Tung Part yang sudah tak berdaya itu.

"Syyyttt... plakk!"

Ang Cun terkejut dan cepat melompat ke belakang ketika serangan tongkatnya itu terpental dan tertangkis bayangan yang tiba-tiba muncul dan menyambar ke arah tongkatnya.

Ketika melihat bahwa yang berdiri di depannya adalah seorang gadis muda yang cantik, dia mengerutkan alisnya.

"Hemm, apakah engkau juga murid Bu-Tong-Pai?"

Tanyanya, maklum bahwa orang yang mampu menangkis tongkatnya dengan tangan seperti tadi, memiliki tingkat kepandaian yang tinggi.

"Bukan, aku bukan murid Bu-Tong-Pai. Akan tetapi kebetulan aku tertarik melihat pertentangan antara Hek I Kaipang dan Bu-Tong-Pai ini. Lokai (Pengemis Tua), engkau keliru besar kalau hendak membunuh murid Bu-Tong-Pai."

"Nona, harap jangan mencampuri urusan kami dengan Bu-Tong-Pai. Orang-orang Bu-Tong-Pai telah bertindak kejam, membantai tiga puluh orang anggauta kami. Apakah engkau hendak membela iblis-iblis kejam seperti mereka itu?"

Tung Pan yang sudah bangkit berdiri dan mundur berkata.

"Kami tidak membunuh orang!"

"Dengar, Lokai! Paman Tung Pan ini sama sekali tidak tahu menahu tentang pembunuhan itu. Mengapa ia harus bertanggung jawab dan menebus dengan kematiannya?"

"Huh Bu-Tong-Pai membunuhi tiga puIuh orang kami yang tidak bersalah apa-apa, maka semua murid Bu-Tong-Pai harus kami bunuh sebagai balas dendam!"

"Aku tidak percaya bahwa murid Bu-Tong-Pai melakukan pembunuhan itu!"

Kata Tung Pan penasaran.

"Ang-Lokai, apa buktinya bahwa pembunuhan banyak anggauta Hek I Kaipang itu dilakukan murid Bu-Tong-Pai? Hati-hati, tanpa bukti berarti engkau hanya melempar fitnah!"

Kata In Hong.

"Ketika para pimpinan datang, ada dua orang anggauta itu yang tidak tewas, hanya terluka parah. Mereka yang mengatakan bahwa yang membunuh mereka adalah seorang bertopeng yang mengaku sebagai tokoh Bu-Tong-Pai."

"Hemm, itu bukan bukti yang meyakinkan. Bisa saja orang lain yang melakukannya dan mengaku sebagai tokoh Bu-Tong-Pai, maka dia memakai kedok."

"Ada bukti lain! Para anggauta Hek I Kaipang itu mati karena pukulan Tong-Sim-Ciang (Tangan Pengguncang Jantung) yang hanya dikuasai orang Bu-Tong-Pai! Para korban itu hancur jantung mereka oleh pukulan itu. Tidak ada lain aliran persilatan yang memiliki pukulan itu!"

Pada saat itu, tiba-tiba dua orang laki-laki berpakaian hitam berlari memasuki ruangan itu. Mereka cepat menghampiri Ang Cun dan seorang di antara mereka berkata.

"Ang-Twako, Kian-Te mati dibunuh orang..."

Tiba-tiba orang kedua berseru sambil menudingkan telunjuknya ke arah In Hong.

"Gadis itu yang membunuhnya! Kami juga terluka oleh dupa lidi...!"

Dua orang itu memandang kepada In Hong dengan mata melotot.

Mendengar ini, Ang Cun marah sekali dan tanpa banyak cakap lagi ia sudah menyerang In Hong dengan tongkat hitamnya.

Dua orang anggauta Hek I Kaipang yang baru datang itu pun cepat menggunakan tongkat hitam untuk mengeroyok In Hong, akan tetapi agaknya tingkat mereka berdua berada di bawah tingkat Ang Cun.

Melihat gadis yang menolongnya itu dikeroyok, Tung Pan sudah menggerakkan goloknya hendak membantu, namun In Hong berseru mencegahnya.

"Paman Tung Pan, jangan mencampuri. Ini urusanku!"

Tung Pan tidak jadi maju, malah mundur mendekati murid-muridnya dan mereka menonton dengan mata terbelalak.

Sepak terjang In Hong memang membuat mereka kagum sekali.

Tiba-tiba saja tubuh gadis itu lenyap berubah menjadi bayangan yang berkelebatan menyambar-nyambar.

Tiga orang Hek I Kaipang menjadi kebingungan dan mencoba untuk menyerang bayangan itu, namun selalu gagal.

Tiba-tiba tiga orang itu mengeluh dan roboh, tak mampu menggerakkan kaki tangan mereka karena In Hong sudah berhasil menotok jalan darah mereka, membuat mereka lumpuh.

Tiga orang itu rebah telentang dan mata mereka melotot.

"Bunuhlah, kami sudah kalah. Kami tidak takut mati!"

Bentak Ang Cun.

Akan tetapi In Hong menggerakkan tangannya tiga kali dan tiga orang anggauta Hek I Kaipang itu terbebas dari totokan dan dapat bergerak kembali.

Mereka lalu bangkit berdiri dan memandang In Hong dengan heran.

"Mengapa aku harus membunuhmu? Di antara kita tidak ada permusuhan apa pun."

"Akan tetapi seorang saudara kami!"

Ang Cun berkata dengan marah.

"Hemm, hanya itu yang dilaporkan dua orang temanmu ini."

In Hong memandang kepada dua orang yang baru datang.

Yang seorang terluka kecil pipi kirinya, bekas tertusuk dupa lidi dan orang kedua terluka lehernya.

Agaknya dupa-dupa lidi yang disambitkan Yo Kang telah mengenai sasaran pula.

"Hayo kalau kalian mengaku sebagai anggauta Hek I Kaipang yang gagah, ceritakan sebenarnya apa yang terjadi."

"Hayo ceritakan!"

Ang Cun membentak kepada dua orang itu. Orang yang pipinya terluka kecil bercerita.

"Setelah mendapat pesan dengan surat darimu, Twako, kami bertiga lalu mengikuti Yo Kang sampai di tanah kuburan. Kami melihat dia di depan sebuah makam bersama gadis ini, maka kami lalu menyerang mereka dengan Hek-Piauw (senjata Rahasia Piauw Hitam). Tiba-tiba mereka berdua yang dapat mengelak lalu menyerang kami. Kian-Te terkena sinar hitam dari gadis ini dan tewas, sedangkan kami hanya terluka dupa lidi saja sehingga dapat melarikan diri dan menyusulmu ke sini."

"Nah, engkau mendengar sendiri, Lokai. Aku yang tidak bersalah apa-apa, diserang secara menggelap dan kalau serangan itu mengenai sasaran, tentu aku akan mati Maka aku membalas dengan serangan senjata rahasia dan seorang di antara mereka roboh dan tewas. Apa engkau hendak menyalahkan aku? Sekarang tentang tuduhanmu kepada Bu-Tong-Pai itu. Karena pembunuh itu menggunakan topeng, walaupun dia membunuh dengan Tong-Sim-Ciang dari Bu-Tong-Pai, masih diragukan apakah dia benar orang Bu-Tong-Pai. Dan ingat, seandainya dia itu orang Bu-Tong-Pai, apakah pantas kalau Hek I Kaipang lalu hendak membunuhi semua orang Bu-Tong-Pai? Apakah kesalahan satu orang harus dipikul seluruh anggauta partai? Andaikata seorang anggauta Hek I Kaipang melakukan kesalahan, apakah kalian seluruh anggauta Hek I Kaipang mau menebus kesalahannya dan menyerahkan nyawa kalian untuk dibunuh?"

Mendengar ucapan In Hong itu, tiga orang Hek I Kaipang tidak mampu menjawab. Mereka tertegun dan ragu-ragu, lalu Ang Cun berkata setelah menarik napas panjang.

"Kami menyadari kebenaran ucapanmu, Nona... hemm, siapakah sebetulnya engkau, Nona?"

"Sebut saja Put Hauw Li."

"Put Hauw Li (Wanita Tidak Berbakti)? Itu bukan nama!"

Kata Ang Cun.

"Kalau aku tidak salah duga, tentu Nona yang dikenal orang dengan julukan Sian-Li Eng-Cu (Bayangan Bidadari)!"

Tiba-tiba Tung Pan berkata.

"Maafkan kalau dugaanku keliru, Lihiap (sebutan Pendekar Wanita)!"

In Hong tersenyum dan berkata acuh tak acuh.

"Boleh saja disebut begitu. Nah, Ang Lokai, lanjutkan bicaramu."

"Sian-Li Eng-Cu, seperti kukatakan tadi, kami menyadari kebenaran ucapanmu. Akan tetapi peristiwa pembunuhan itu membuat kami semua marah dan sakit sekali. Lalu apakah kami harus berdiam diri saja melihat tiga puluh orang saudara kami dibantai?"

"Bukan begitu Ang Lokai. Aku sendiri juga tidak senang mendengar ada orang membunuhi tiga puluh orang anggauta Hek I Kaipang atau orang-orang manapun juga yang tidak bersalah. Aku pasti akan menentang orang itu! Akan tetapi tindakan Hek I Kaipang yang hendak membunuhi semua murid Bu-Tong-Pai jelas keliru. Seharusnya, para pemimpin Hek I Kaipang secara baik-baik mendatangi para pemimpin Bu-Tong-Pai pusat Bu-Tong-San, melaporkan kejadian. Dengan demikian, aku yakin para Guru besar Bu-Tong-Pai pasti akan turun tangan melakukan penyelidikan dan mencari orang yang membunuh para anggauta Hek I Kaipang itu dan menangkap orang itu, baik dia murid Bu-Tong-Pai atau hanya orang yang menggunakan nama Bu-Tong-Pai."

"Wah, pendapat itu amat tepat! Sobat Ang Cun, apa yang dikatakan Sian-Li Eng-Cu ini baru namanya adil dan benar. Yang bersalah memang harus dihukum, tidak peduli dia dari golongan apa, akan tetapi yang tidak bersalah tidak semestinya dikejar-kejar dan dihukum!"

Kata Tung Pan dengan kagum terhadap gadis itu.

"Seorang anggauta Hek I Kaipang yang tewas di tanah kuburan itu adalah akibat dari ulahnya sendiri. Kalau dia dan dua orang temanmu ini tidak menyerang secara menggelap, sudah pasti dia tidak akan mati terkena senjata gelap pula. Dan aku melihat bahwa murid Bu-Tong-Pai bernama Yo Kang itu sama sekali tidak membenci atau memusuhi Hek I Kaipang. Buktinya, melihat mayat anggauta Hek I Kaipang itu, dia lalu menguburnya. Kalau bermusuhan, mana dia sudi melakukan hal itu? Nah, Ang Lokai, kuharap engkau dapat menyadari bahwa pada umumnya, para murid Bu-Tong-Pai adalah orang-orang berjiwa pendekar. Maka perlu diselidiki, dicari dan ditangkap orang yang mengaku murid Bu-Tong-Pai namun melakukan pembunuhan kejam terhadap tiga puluh orang Hek I Kaipang itu."

Mendengar ini, Ang Cun dan dua orang kawannya mengangguk-angguk. Mereka mengerti benar, bahkan menyetujui pendapat Si Bayangan Bidadari itu.

"Herm, ucapanmu itu benar-benar telah menerangi pikiran kami yang tadinya gelap oleh dendam, Sian-Li Eng-Cu. Aku sendiri yang akan menghadap Ketua kami dan menyampaikan pesanmu agar mereka semua sadar akan kekeliruan mereka. Tung-Kauwsu, maafkan sikap kami tadi!"

Ang Cun memberi hormat kepada Tung Pan dan In Hong, diikuti dua orang temannya, kemudian mereka bergerak keluar dari rumah perguruan silat itu.

"Lihiap, banyak terima kasih atas budi pertolonganmu, bukan saja menyelamatkan aku dari ancaman maut, akan tetapi terutama sekali karena Lihiap telah berhasil menyadarkan Ang Cun dan kawan-kawannya."

"Tidak perlu berterima kasih, Tung-Kauwsu. Aku hanya mengharap mudah-mudahan Ang Cun dapat menyadarkan Ketuanya dan para pemimpin Hek I Kaipang."

Tiba-tiba mereka mendengar suara teriakan beberapa orang di luar rumah perguruan itu.

Cepat In Hong melompat dan berlari keluar, diikuti oleh Tung Pan dan para muridnya.

Setibanya di luar, Tung Pan dan para muridnya melihat In Hong yang gerakannya amat cepat tadi sudah berjongkok dekat mayat tiga orang yang bukan lain adalah Ang Cun dan dua orang anggauta Hek I Kaipang tadi!

Mereka melihat In Hong meraba-raba dada tiga orang yang sudah tewas itu.

"Lihiap, apakah yang terjadi?"

Tung Pan lari menghampiri.

In Hong menggelengkan kepala tanda bahwa Ia tidak tabu.

Tung Pan lalu bertanya kepada empat orang yang kebetulan lewat di depan rumahnya dan kini berdiri di tepi jalan menonton.

"Saudara-saudara, apakah kalian melihat apa yang terjadi dan mengapa tiga orang itu tewas?"

Empat orang itu tampak bingung dan seorang di antara mereka berkata.

"Kami tidak tahu. Tadi kami hanya melihat betapa tiga orang ini tiba-tiba berteriak dan terguling jatuh, tak bergerak lagi. Kami tidak tahu mengapa, dan tidak melihat ada orang lain di sekitar sini."

Tiba-tiba tampak tiga orang berpakaian hitam-hitam berlari-lari mendatangi.

In Hong melihat bahwa mereka adalah tiga orang anggauta Hek I Kaipang dan begitu tiba di situ, mereka segera berlutut dan menangisi mayat tiga orang rekan mereka.

Seorang di antara mereka, yang berusia sekitar dua puluh lima tahun atau lebih, tubuhnya sedang dan mukanya kotor oleh debu, rambutnya awut-awutan, berteriak-teriak.

"Orang Bu-Tong-Pai jahat! Bu-Tong-Pai jahat!!"

Dia menudingkan telunjuk kirinya ke arah Tung Pan. Tung Pan segera melangkah maju dan berkata kepada anggauta Hek I Kaipang yang muda itu.

"Nanti dulu, sobat. Bukan aku yang membunuh mereka!"

"Bohong! Orang Bu-Tong-Pai semua jahat!"

Anggauta Hek I Kaipang itu berseru dan dia sudah mencabut tongkat hitamnya lalu menyerang Tung Pan.

Akan tetapi ternyata tingkat kepandaian anggauta muda perkumpulan pengemis itu masih rendah karena sekali ditangkis Tung-Kauwsu, dia terpelanting jatuh.

Dua orang kawannya, murid-murid Hek I Kaipang lalu mencegahnya dan mereka bertiga segera memondong tiga buah jenazah itu pergi dari situ.

"Aih, apa yang terjadi di sini?"

Tung Pan menepuk dahinya dan merasa khawatir sekali.

"Lihiap, sia-sia saja tadi Lihiap dapat menyadarkan Ang Cun dan dua orang temannya. Ternyata ada yang membunuhnya secara gelap!"

In Hong mengangguk.

"Ya, dan mereka terkena pukulan Tong-Sim-Ciang dari Bu-Tong-Pai pula! Hemm, mari kita bicara di dalam Tung-Kauwsu."

Mereka semua memasuki rumah perguruan itu. Mereka lalu duduk di ruangan dalam, bicara dengan serius.

"Paman Tung, apakah engkau menguasai ilmu pukulan Tong-Sim-Ciang?"

Tiba-tiba In Hong bertanya. Tung Pan memandang dengan alis berkerut.

"Lihiap, apakah engkau menduga aku yang..."

"Bukan begitu, Paman. Aku hanya ingin tahu untuk melancarkan penyelidikanku."

"Tidak, Lihiap. Ilmu pukulan itu hanya dikuasai oleh murid Bu-Tong-Pai yang tingkatnya sudah tinggi, dua tingkat lebih tinggi daripada tingkatku."

"Apakah Paman mengenal seorang Guru silat di Hak-Ciu, juga murid Bu-Tong-Pai yang bernama Si Hoo?"

"Si Suheng (Kakak Seperguruan Si)? Tentu saja aku mengenalnya. Dia itu murid Bu-Tong-Pai yang lebih tinggi setingkat dibandingkan aku."

"Hemm, Paman Si Hoo itu pun terbunuh dan pembunuhnya adalah Pak Lo-Kui."

"Pak Lo-Kui, Datuk Besar Utara? Akan tetapi, mengapa?"

"Mungkin ini merupakan peristiwa lain, Paman."

In Hong lalu menceritakan tentang Si Hoo yang dibunuh oleh Pak Lo-Kui gara-gara ulah murid Datuk Utara itu.

"Ah, mengapa murid-murid Bu-Tong-Pai terlibat dalam urusan yang menimbulkan permusuhan ini? Bagaimana sekarang, Lihiap? Satu-satunya murid Hek I Kaipang yang sudah sadar dan hendak menyampaikan pandanganmu itu tentang pembunuhan tiga puluh orang anggauta Hek I Kaipang, kini bersama dua orang temannya terbunuh. Apalagi terbunuhnya di depan rumah perguruanku, tentu Bu-Tong-Pai akan semakin dicurigai dan dibenci oleh mereka."

"Paman Tung, aku hampir yakin bahwa pembunuh tiga orang murid Hek I Kaipang tadi adalah orang yang membunuh tiga puluh orang anggauta Hek I Kaipang di An-hui yang diceritakan Ang Cun tadi. Tentu dia mendengar bahwa Ang Cun telah sadar dan hendak melapor kepada Ketuanya, maka Ang Cun dan dua orang temannya dibunuh dan cara membunuhnya juga dengan Tong-Sim-Ciang pukulan lihai khas Bu-Tong-Pai."

"Akan tetapi mengapa orang itu melakukan pembunuhan-pembunuhan dan menggunakan ilmu Bu-Tong-Pai?"

"hi sudah jelas, Paman! Hanya ada dua kemungkinan, yaitu pertama, kemungkinan tipis bahwa orang itu adalah seorang tokoh Bu-Tong-Pai yang membenci Hek I Kaipang, entah mengapa dan dia ingin agar Bu-Tong-Pai bermusuhan dengan Hek I Kaipang."

"Akan tetapi mengapa dia memakai topeng dan membunuh secara gelap?"

"Tentu agar dia tidak dikenal, karena dia khawatir para pemimpin Bu-Tong-Pai tidak menyetujui perbuatannya itu. Dan kemungkinan kedua, yang lebih kucurigai, pembunuh itu adalah orang yang sengaja hendak melempar fitnah kepada Bu-Tong-Pai untuk mengadu domba, agar terjadi permusuhan antara Bu-Tong-Pai dan Hek I Kaipang."

"Akan tetapi mengapa dia melakukan hal itu? Apa alasan atau tujuannya?"

"Entahlah, aku belum dapat menduganya. Akan tetapi, aku berjanji akan ikut menyelidiki hal ini. Sekarang, lebih baik Paman membubarkan perguruan silat ini dan Paman sendiri bersama keluarga Paman pindah ke lain tempat karena aku yakin bahwa kematian Ang Cun dan dua orang kawannya di depan rumah Paman ini tentu akan berekor panjang. Mereka pasti akan mencari Paman untuk membalas dendam. Apalagi sekarang sudah tidak ada Ang Cun yang menyadarkan mereka. Nah, turutilah nasehatku, Paman. Sekarang aku hendak pergi."

Setelah berkata demikian, In Hong cepat meninggalkan kota Im-San-Keng dan kembali ke hutan kecil di luar kota itu.

Cuaca senja mulai remang-remang ketika In Hong memasuki hutan kecil itu.

Tidak tampak bayangan Yo Kang di tempat di mana ia meninggalkan pemuda itu.

Sampai agak lama ia berdiri di situ, memandang ke sekeliling yang sudah mulai gelap.

"Yo-Twako...!"

La berseru sambil mengerahkan tenaga dalam sehingga suaranya menembus pepohonan dan mencapai tempat jauh. Tiba-tiba terdengar jawaban.

"Hong-moi...!"

Dan pemuda itu muncul dari balik pepohonan.

"Maaf, Hong-moi, aku agak terlambat muncul. Cuaca sudah agak gelap dan tidak mengenal bayanganmu sebelum engkau memanggilku."

"Ada apakah, Twako? Mengapa engkau begitu curiga?"

"Entahlah, tadi aku seperti mendengar gerakan-gerakan orang di sekitar sini. Aku menyelinap dan mengintai, akan tetapi tidak menemukan orang. Aku menjadi curiga dan berhati-hati. Maka ketika engkau muncul, hanya merupakan bayangan, tentu saja aku tidak segera keluar karena tidak mengenalmu."

"Sudahlah, agaknya engkau terlalu khawatir, Twako. Ah, aku lelah sekali, ingin mengaso. Banyak hal terjadi di Im-San-Keng tadi."

"Apa yang terjadi, Hong-moi?"

"Nanti kuceritakan, sekarang sebaiknya kita membuat api unggun untuk mengusir nyamuk. Ah, aku lelah dan juga tidak enak rasanya, hemmm... alangkah akan segarnya kalau aku dapat mandi..."

"Jangan khawatir, Hong-moi. Aku tadi sudah menemukan sumber air di mana engkau dapat mandi. Aku pun sudah mandi, dan selain itu aku menemukan sebuah pondok kosong di tengah hutan, agaknya dulu dipergunakan para pemburu untuk beristirahat dan berlindung di waktu hujan."

"Bagus sekali! Di mana sumber air itu, Twako? Aku ingin sekali mandi!"

Kata In Hong girang. Yo Kang menjadi penunjuk jalan dan tak jauh dari situ memang terdapat sebuah gubuk kayu.

"Di belakang pondok itu terdapat mata air itu, Hong-moi. Airnya banyak dan jernih. Lihat, aku tadi menemukan sebuah cerek air dan aku sudah menjerang air untuk kita minum. Dan ini, aku juga menangkap seekor kelinci gemuk, sudah kukuliti tinggal memanggang saja. Di dalam pondok tersedia alat-alat dapur, bahkan ada garam dan bumbu. Mandilah, Hong-moi, nanti kita panggang daging ini dan kita makan."

Pemuda itu tampak gembira sekali, lalu membuat api unggun.

In Hong mengambil pakaian dari buntalan pakaiannya, kemudian membawa obor kayu kering menuju ke belakang pondok.

Ia menemukan sumber air itu, lalu membuat api unggun tak jauh dari sumber air agar tidak terlalu gelap.

Setelah itu ia menanggalkan semua pakaian nya dan mulai mandi di bawah pancuran air yang mungkin dibuat oleh mereka yang dulu menggunakan pondok itu.

Segar sekali rasanya ketika seluruh tubuh In Hong tersiram air jernih itu.

Ia menggosok-gosok seluruh tubuhnya dengan beberapa helai daun yang tadi dipetiknya.

la mengenal beberapa macam daun dan rumput yang baik sekali untuk menggosok dan membersihkan kulit.

Saking segar dan nyamannya, tanpa disadari In Hong bersenandung lirih.

la memang suka bernyanyi dan suaranya pun merdu.

Dahulu, Guru pertamanya, Hek Moli mengajarkan banyak lagu rakyat daerah Bhutan dari mana Gurunya kedua atau juga bekas suami Hek Moli, berasal.

Lagunya sederhana dan indah sekali.

Akan tetapi panca indera gadis itu sudah terlatih dan amat tajam atau peka.

Sedikit saja suara yang tidak wajar cukup untuk dapat ditangkap pendengarannya.

la tahu bahwa ada orang mengintai dari sebelah kirinya, mungkin di balik semak-semak yang gelap itu.

Dengan tenang, tanpa menghentikan senandungnya, tangan kiri In Hong mengambil sebuah batu sebesar kepalan tangannya lalu cepat ia menyambitkan batu itu ke arah semak-semak yang mendatangkan suara berkeresekan yang mencurigakan tadi.

"Keparat busuk pergilah!"

Bentak In Hong dan berbareng dengan bentakannya, batu itu sudah menerjang dan menerobos semak-semak!

Akan tetapi tidak terjadi apa-apa di sana.

Tidak mungkin pikirnya.

Pendengarannya tidak akan salah.

Pasti ada orang tadi bersembunyi di balik semak-semak.

Juga sambitannya tidak mungkin luput.

Akan tetapi nyatanya tidak ada orang terkena sambitannya.

Aneh!

"Hong-moi, ada apakah?"

Tiba-tiba Yo Kang muncul.

In Hong yang berdiri telanjang sebatas pinggang dalam air, menjerit dan menutupi dada dengan kedua tangan lalu membenamkan tubuh ke air sampai sebatas leher!

la menjerit kaget karena tadi Yo Kang melihatnya berdiri bertelanjang dada.

Akan tetapi Yo Kang cepat memutar tubuhnya, membelakangi gadis itu.

"Ah, maafkan aku, Hong-moi. Sungguh aku tidak tahu bahwa engkau... eh, aku tadi mendengar bentakanmu maka aku khawatir terjadi sesuatu dan cepat lari ke sini. Maafkan aku..."

"Sudahlah, Twako. Coba tolong lihat ada apa di balik semak-semak sana itu."

Yo Kang cepat melompat dan memeriksa belakang semak-semak.

"Tidak ada apa-apa, Hong-moi."

"Ya sudahlah, Twako. Tunggu saja di pondok itu dan kau panggang saja daging kelinci itu. Aku hendak mencuci pakaian lebih dulu. Sebentar aku ke sana. Tolong tambahkan kayu bakar pada api unggun itu agar tidak padam."

Yo Kang memenuhi permintaan In Hong tanpa menoleh satu kalipun kepada gadis itu, lalu pergi.

In Hong mencuci pakaiannya yang kotor dan berganti pakaian bersih.

Ia merasa heran sekali sehingga setelah mencuci pakaian dan mengenakan pakaian bersih, ia masih penasaran lalu memeriksa sendiri belakang semak-semak itu.

Ia tidak melihat ada orang.

Akan tetapi alisnya berkerut ketika sinar api unggun membuat ia dapat melihat adanya sebuah batu sebesar kepalan tangan berada di situ, di atas tanah.

Batu yang licin dan masih basah, jelas batu berasal dari bawah pancuran air yang tadi ia sambitkan!

Padahal batu itu tidak mungkin berada di situ kalau tidak mengenai sesuatu atau...

ditahan sesuatu!

In Hong kembali ke pondok dan hidungnya disambut bau sedap daging dibakar dibumbui bawang putih dan garam.

Tiba-tiba ia merasa lapar sekali.

Akan tetapi ketika tiba di dekat, Yo Kang melihat wajahnya yang termenung dan dia bertanya.

"Hong-moi, ada apakah?"

In Hong menaruh pakaiannya yang tadi dicucinya di atas, tepi atap pondok agar mengering. Lalu ia duduk dekat Yo Kang yang sedang memanggang daging.

"Yo-Twako, aku yakin bahwa kita tidak sendirian."

"Maksudmu?"

"Ada orang lain di sini, orang yang memiliki ilmu kepandaian tinggi. Aku tidak tahu siapa dia, kawan ataukah lawan. Kita harus berhati-hati malam ini."

"Jangan khawatir, Hong-moi. Ada kita berdua di sini, siapa dapat mengganggu kita? Kita tidur dan berjaga... maksudku engkau yang tidur dan aku yang berjaga."

"Tidak, harus bergantian. Seorang tidur yang lain berjaga dan bergiliran."

Mereka lalu makan daging kelenci bakar yang dibumbui.

Sedap sekali rasanya, lalu minum air yang sudah dimasak.

Daging kelenci gemuk itu cukup mengenyangkan perut mereka.

Kemudian mereka duduk di atas batu panjang datar yang berada di depan pondok, dekat api unggun.

"Sekarang ceritakan bagaimana hasil penyelidikanmu ke kota Im-San-Keng tadi, Hong-moi."

In Hong lalu menceritakan pengalamannya di rumah perguruan Tung Pan. Setelah ia selesai bercerita, Yo Kang berkata.

"Ah, keadaan menjadi semakin runyam kalau begitu! Tentu Hek I Kaipang akan semakin mendendam kepada Bu-Tong-Pai! Sudah kuduga, tentu ada seorang yang sengaja membunuhi orang-orang Hek I Kaipang itu. Aku harus pergi ke Bu-Tong-San memberitahukan Suhu tentang semua peristiwa ini!"

"Akan tetapi sebelum terjadi pertempuran antara kedua pihak, pertempuran yang lebih besar dan menewaskan banyak korban, sebaiknya aku menemui dulu Ketua Hek I Kaipang di Beng-San, memberi penjelasan agar dia mau membicarakan urusan itu secara baik-baik dengan pimpinan Bu-Tong-Pai."

Kata In Hong.

"Baiklah, Hong-moi. Kita membagi tugas. Aku menemui pimpinan Bu-Tong-Pai dan engkau menemui pimpinan Hek I Kaipang. Akan tetapi sebelum pergi ke Bu-Tong-San, aku hendak menemui Bibi Yo Cui Hwa lebih dulu di dusun Hek-Te-Cung. Aku hendak mengundangnya untuk pindah saja ke See-Ciu, tinggal bersama kami, apa lagi sekarang Kongkong sedang sakit dan selalu menanyakan Bibi Yo Cui Hwa."

In Hong menahan diri untuk tidak menceritakan tentang Ibunya yang telah menikah lagi, bahkan menikah dengan pembunuh suaminya, dan sekarang telah mempunyai seorang anak perempuan.

Ba-gaimana mungkin ia dapat menceritakan bahwa Ibunya telah menikah dengan musuh besar yang membunuh Ayahnya?

Biarlah Ibunya sendiri yang akan bercerita kalau bertemu dengan Yo Kang.

Ia lalu memindahkan percakapan tentang Ibunya.

"Yo-Twako, apa saja yang terjadi denganmu semenjak kita saling berpisah? "

"Tidak banyak, Hong-moi. Setelah melihat engkau mampu mengalahkan Wu Wi Thaisu tokoh Go-Bi-Pai itu, aku baru menyadari bahwa tingkat kepandaianku dibandingkan denganmu masih teramat rendah, Hong-moi. Maka aku menjadi penasaran dan aku lalu pergi ke Bu-Tong-San untuk memperdalam ilmu silat di bawah bimbingan langsung dari Guru Besar Tiong Li Seng-jin, Ketua Bu-Tong-Pai."

"Ah, pantas saja engkau kini menjadi semakin lihai. Menggunakan dupa lidi sebagai senjata rahasia, membutuhkan lweekang (tenaga dalam) yang kuat!"

"Ah, Hong-moi, dibandingkan denganmu, kepandaianku tidak ada artinya. Engkau sungguh hebat sekali, Hong-moi. Engkau amat lihai, gagah dan semakin cantik jelita. Sungguh membuat aku menjadi semakin kagum dan semakin mencintaniu."

Mendengar pengakuan cinta, In Hong memandang dengan mata terbelalak keheranan.

la tidak heran mendengar Yo Kang mencintanya karena hal ini sudah diketahui sejak dulu.

Yang ia herankan adalah pernyataan cinta yang demikian terbuka dan jujur!

"Tentu saja, Yo-Twako.

Aku adalah Piauw-moi (Adik misan perempuan) bagimu, sudah semestinya engkau sayang kepada Adik misanmu."

"Bukan begitu, bukan itu maksudku, Hong-moi. Aku cinta padamu seperti seorang laki-laki mencinta seorang perempuan. Baru sekali ini selama hidupku aku jatuh cinta kepada seorang perempuan, dan aku akan berbahagia sekali jika kita berdua sudah dapat hidup sebagai suami-isteri."

In Hong memandang heran dan kagum.

Kakak misannya ini demikian jujur dan terbuka!

Dan harus ia akui bahwa Yo Kang adalah seorang pemuda yang gagah perkasa dan tampan, ilmu silatnya tinggi, pendeknya, seorang pemuda pilihan!

Akan tetapi ia tidak merasakan kemesraan dalam hatinya terhadap Yo Kang seperti yang ia rasakan terhadap Bu Jin Ai atau Ong Tiang Houw yang telah tiada.

la tidak mencinta Yo Kang!

"Yo-Twako, aku minta agar engkau tidak bicara tentang hal itu lagi!"

Katanya tegas.

"Aku tidak suka dan sama sekali belum memikirkan tentang perjodohan!"

Yo Kang bersikap tenang walaupun suaranya agak gemetar ketika dia berkata.

"Baiklah dan maafkan aku, Hong-moi. Sekarang engkau mengasolah dalam pondok, aku yang berjaga di sini."

Dia lalu menambahkan kayu pada api unggun. Sikapnya seolah tidak pernah ada apa-apa. In Hong juga segera bangkit dan memasuki pondok kecil itu.

"Tengah malam nanti aku yang menggantikanmu berjaga."

"Ah, tidak usah, Hong-moi."

In Hong lalu merebahkan diri di bangku dalam pondok.

Bangku bambu yang kasar.

la tidak dapat tidur, pernyataan cinta dari Yo Kang tadi tetap terngiang di telinganya.

Sementara itu, Yo Kang duduk di dekat api unggun, diam seperti patung, matanya memandang nyala api yang amat indah, namun dia tidak melihat keindahan itu.

Bahkan mata yang terbuka itu tidak melihat apa-apa.

Dia termenung.

Memang sikapnya tenang seolah tidak terjadi apa-apa.

Namun hatinya terasa pedih dan tidak nyaman.

In Hong memang tidak menolak cintanya, akan tetapi jelas tidak menerimanya, tidak menyambutnya.

Padahal bukan dia sendiri yang mengharapkan gadis itu menjadi isterinya.

Ayah-Ibunya pernah membicarakan urusan perjodohan antara dia dan In Hong.

Ayahnya yang ingin sekali mengambil In Hong sebagai mantunya.

Walaupun Ibunya agak menentang karena Ibunya menginginkan mantu seorang gadis bangsawan yang halus budi, bukan gadis kang-ouw yang lebih pandai memainkan pedang daripada alat menyulam, memasak dan lain-lain, namun akhirnya Ibunya tidak dapat menentang keinginan Ayahnya.

Ayah-Ibunya sudah setuju dan dia sendiri sejak pertemuan pertama sudah jatuh cinta.

Akan tetapi sikap In Hong jelas menolak!

Tiba-tiba dia melihat bayangan berkelebat.

"Siapa itu!"

Bentak Yo Kang dan dia sudah melompat ke arah bayangan itu.

Akan tetapi bayangan itu menyambutnya dengan pukulan jarak jauh, mendorongkan tangan kanannya ke arah Yo Kang.

Dari telapak tangan itu menyambar sinar putih yang dahsyat sekali.

Yo Kang cepat menyambut dengan dorongan tangan pula sambil mengerahkan sinkang (tenaga sakti).

"Wuuuuttt... blaarrr...!"

Dua tenaga sakti yang amat kuat bertemu dan bertumbukan dengan dahsyat dan akibatnya, Yo Kang terjengkang dan roboh telentang!

Bayangan itu kini mendorongkan kedua tangannya dan dari kedua telapak tangan itu tampak sinar putih menyambar ke arah dada Yo Kang yang masih terengah-engah.

Serangan maut itu agaknya sulit untuk dapat dihindarkan Yo Kang.

"Syuuuuttt... darrrr...!!"

In Hong yang tadi melayang keluar dari pondok dan menangkis serangan itu dengan dorongan kedua tangannya, terhuyung ke belakang saking kuatnya tenaga serangan bayangan hitam yang tidak tampak jelas orangnya itu.

Akan tetapi bayangan hitam itu pun terpental ke belakang.

Bayangan itu mengeluarkan seruan lirih seperti orang terkejut, lalu melompat dan menghilang ke dalam kegelapan.

In Hong tidak mau mengejar karena kegelapan menghalanginya dan orang itu lihai sekali.

Amat berbahaya kalau mengejar bayangan yang lihai itu di tempat gelap, apa lagi yang tidak dikenalnya.

Gadis ini lalu cepat menghampiri Yo Kang yang telah duduk bersila, tak jauh dari api unggun yang kini hampir padam.

In Hong menambahkan kayu kering pada api unggun itu sehingga nyalanya membesar, lalu ia mendekati Yo Kang.

Pemuda itu membuka matanya dan memandang kepadanya.

"Yo-Twako, engkau tidak apa-apa?"

Pemuda itu menghela napas panjang, menggelengkan kepala.

"Hong-moi, aku tidak apa-apa, selamat dan terhindar dari maut karena pertolonganmu. Aku berhutang nyawa padamu, Hong-moi."

"Ah, sudahlah, jangan sebut lagi itu. Sekarang, bagaimana rasanya?"

"Bahaya sudah lewat, Hong-moi. Rasanya aku tidak terluka walaupun tadi aku merasa sesak kalau bernapas. Pukulan orang tadi sungguh luar biasa dan berbahaya sekali. Tahukah engkau siapa dia, Hong-moi?"

In Hong menggelengkan kepalanya.

"Aku tidak dapat melihat mukanya. Karena gelap, aku hanya melihat sosok bayangan orang, tidak tahu dia itu pria atau wanita, tua atau muda. Akan tetapi agaknya kalau tidak salah aku mengenal pukulan jarak jauh yang dia lakukan terhadap dirimu tadi. Pukulan itu mengandung sinar putih seperti Pek-Kong-Ciang (Tangan Sinar Putih) dari Kun-Iun-Pai."

"Kun-Lun-Pai? Akan tetapi mengapa ada orang Kun-Lun-Pai memusuhi kita? Padahal Kun-Lun-Pai merupakan perguruan yang sealiran dengan kita, selalu menentang kejahatan!"

"Bukan kita yang dimusuhi, Yo-Twako, melainkan engkau, karena engkau tadi yang diserang, bukan aku. Mungkin saja bukan Kun-Lun-Pai yang memusuhi engkau atau Bu-Tong-Pai, melainkan ada permusuhan pribadi antara engkau dan seorang yang menguasai ilmu-ilmu Kun-Lun-Pai. Coba ingat-ingat, barangkali engkau pernah bermusuhan dengan seorang murid Kun-Lun-Pai."

"Seingatku tidak pernah, Hong-moi. Kalau aku pernah bermusuhan, tentu akan kuingat, apalagi orang yang menyerangku tadi bukan orang sembarangan. Ilmu silatnya tinggi sekali dan kalau dia memang murid Kun-Lun-Pai, tentu dia seorang yang memiliki kedudukan tinggi di perguruan itu."

"Hemm, sungguh aneh sekali!"

In Hong mengerutkan alisnya dan berpikir.

"Hek I Kaipang mengatakan bahwa mereka diserang orang yang menggunakan nama dan ilmu Tong-Sim-Ciang dart Bu-Tong-Pai sehingga Hek I Kaipang memusuhi Bu-Tong-Pai untuk membalas dendam. Sekarang ada orang menggunakan ilmu Pek-Kong-Ciang dari Kun-Lun-Pai untuk nnenyerang dan hampir menewaskan seorang murid Bu-Tong-Pai! Perbuatan ini tentu saja dapat mengakibatkan permusuhan antara Bu-Tong-Pai dan Kun-Lun-Pai! Engkau harus berhati-hati, Yo-Twako."

"Kukira semua anggauta Bu-Tong-Pai harus berhati-hati. Aku akan melaporkan peristiwa ini kepada para pimpinan Bu-Tong-Pai agar semua murid berhati-hati dan para pimpinan dapat memberitahukan penyerangan ini kepada para pimpinan Kun-Lun-Pai."

"Itu benar, Yo-Twako. Dengan begitu maka pihak Kun-Lun-Pai tentu akan berusaha untuk menemukan orang yang berniat membunuhmu tadi."

Setelah malam berganti pagi, kedua orang muda itu saling berpisah.

In Hong hendak mengunjungi pusat Hek I Kaipang di Beng-San, sedangkan Yo Kang akan pergi ke Bu-Tong-San untuk menemui para pimpinan Bu-Tong-Pai.

Yo Kang merasa kecewa, kehilangan dan kesepian ketika berpisah dari In Hong yang telah mencuri hatinya.

Tadinya, berdekatan dengan In Hong, dia merasa betapa hatinya tenang tenteram dan gembira, segala sesuatu tampak indah menyenangkan.

Kini, begitu dia berpisah dari gadis itu, hatinya merasa begitu sepi, segala sesuatu tampak tidak ada artinya dan tidak ada lagi yang tampak indah.

Dia merasa kehilangan, seolah dirinya tidak utuh lagi yang membuat dia melakukan perjalanan sambil melamun.

Semangatnya seolah terbawa pergi oleh In Hong!

Cinta yang melanda hati seorang manusia terhadap lawan jenisnya, merupakan satu di antara gairah-gairah nafsu yang teramat kuat!

Cinta dapat mengubah sendi-sendi kehidupan seorang manusia.

Dapat mendatangkan kebahagiaan yang melampaui semua khayalan, namun dapat pula mendatangkan duka nestapa yang melampaui ketahanan seorang manusia.

Betapa gagah perkasa pun seorang pria, betapa tinggi pun kedudukannya, betapa pandai dan bijaksana pun wataknya, namun sekali hatinya dilanda apa yang dinamakan cinta, dia akan berubah menjadi seorang manusia yang lemah lunglai tak berdaya!

Hidup seolah tidak ada artinya lagi tanpa dia yang dicinta berada di dekatnya, menerima dan membalas cintanya!

Kebahagiaan itu hanya dapat dirasakan oleh mereka yang berhasil memadu cinta.

Sebaliknya kesengsaraan itu pun hanya dapat dirasakan oleh mereka yang gagal dalam bercinta.

Akan tetapi, betapa pun kuatnya cinta mempengaruhi keadaan hati, seperti semua emosi yang dapat melanda hati manusia, rasa takut, duka, bingung, senang, dan lain-lain, sudah pasti akhirnya tunduk kepada Waktu!

Sang Waktu merupakan kekuatan yang mengalahkan segalanya, biarpun kerjanya lambat, namun pasti segala sesuatu ditelannya, sesuai dengan Hukum Alam bahwa tiada yang langgeng (abadi) di dunia fana ini.

Betapa pun besar kedudukan ataupun kesenangan, pada akhirnya terhapus oleh Sang Waktu yang menelan segalanya.

Segala macam perasaan yang melanda hati manusia hanya sementara belaka, baik dalam waktu panjang maupun pendek.

Akhirnya akan menghilang dimakan waktu, atau terganti oleh perasaan yang lain lagi.

Biarpun baru sebelas tahun bangsa Mongol menguasai Cina, namun bangsa yang amat kuat dan mahir dalam perang itu telah dapat mengatur pemerintahan sampai ke daerah-daearah.

Mereka tidak hanya mengandalkan tenaga bangsa Mongol sendiri dalam menguasai wilayah yang amat luas itu, namun juga mempergunakan tenaga orang-orang pribumi sendiri yang mau mengabdi kepada Kerajaan Goan-Tiauw yang baru.

Kotaraja Peking juga dibangun.

Kerusakan-kerusakan pada Istana dan bangunan-bangunan lain diperbaiki.

Bahkan Istana diperindah.

Bangsa Mongol bukan bangsa yang pandai dalam hal bangunan, mereka hanya pandai berperang, namun mereka mendatangkan ahli-ahli bangunan dari seluruh pelosok sehingga Istana Kaisar Kublai Khan dibangun megah dan lebih indah daripada sebelumnya.

Kotaraja Peking sendiri menjadi ramai dikunjungi para pedagang.

Kaisar Kublai Khan maklum bahwa biarpun dia berambisi untuk memperluas wilayah jajahannya dengan memerangi berbagai bangsa di barat dan selatan, namun dia tetap waspada terhadap ancaman gangguan dalam negeri.

Dia maklum bahwa masih banyak terdapat kelompok-kelompok orang gagah bangsa pribumi yang masih penasaran dan tidak rela membiarkan tanah airnya di jajah bangsa Mongol.

Mereka memang sudah dipukul dan dicerai-beraikan, namun tetap saja masih merupakan ancaman yang harus ditanggulangi secara khusus.

Oleh karena itu, Kaisar Kublai Khan mengangkat beberapa orang panglima perang yang lihai dan cerdik untuk menjadi komandan pasukan yang tugasnya selain menjaga keselamatan dan keamanan Kotaraja, Juga untuk menghancurkan setiap golongan yang sikapnya memusuhi pemerintah Mongol.

Para panglima itu disebar dan bermarkas di beberapa kota besar, tentu saja yang terbanyak di Kotaraja.

Mereka membentuk pasukan khusus sendiri-sendiri.

Maka tak dapat dielakkan lagi terjadilah penangkapan-penangkapan yang terkadang hanya berdasar kecurigaan, atau bahkan akibat fitnah.

Satu diantara panglima yang oleh Kaisar Kublai Khan ditugasi khusus untuk menjaga Kotaraja dan memberantas para pemberontak, adalah Jenderal Ogucin, seorang jagoan bangsa Mongol aseli yang sudah dianggap sebagai Datuk karena selain pandai memimpin pasukan perang, juga pandai ilmu silat aliran Utara dan ilmu gulat aseli Mongol.

Setelah menjadi seorang jenderal, dia menggunakan nama pribumi, yaitu Ouw Gu Cin atau Jenderal Ouw Gu Cin yang biasa disebut Ouw Goanswe (Jenderal Ouw).

Jenderal Ouw berkedudukan di Kotaraja dan dia membentuk pasukan khusus yang diberi nama Hui-To-Tin (Barisan Pisau Terbang).

Nama ini diambil dari keistimewaan seratus orang perajurit itu yang semua pandai menggunakan pisau untuk membunuh lawan dengan cara menyambitkan, seolah-olah pisau itu dapat terbang menyambar nyawa!

Jenderal Ogucin, atau kita sebut saja nama barunya, Jenderal Ouw Gu Cin yang berusia lima puluh tahun, bertubuh tinggi besar dengan kumis kecil melintang khas Mongol, jenggot pendek, mata lebar dan kulitnya kecoklatan, memiliki seorang isteri yang cantik, peranakan Mongol/Han, biarpun usianya sudah empat puluh tahun namun masih tampak cantik dengan tubuh ramping, kulitnya kuning mulus.

Suami-isteri yang tinggal di sebuah gedung besar di ujung jalan raya Kotaraja sebelah barat itu mempunyai seorang puteri yang cantik jelita berusia delapan belas tahun.

Gadis bangsawan peranakan Han/Mongol ini diberi nama pribumi Ouw Swi Lan.

Gadis berusia delapan belas tahun ini sikapnya sudah dewasa.

Gerak gerik dan bicaranya lembut.

namun terkadang sinar matanya mencorong penuh wibawa dan membayangkan kekerasan hati.

Wajah yang bulat telur itu manis sekali.

Kulitnya tidak seputih kulit Ibunya, akan tetapi tidak secoklat kulit Ayahnya.

Kulit yang halus seolah membayangkan kelembutan, namun sesungguhnya di dalam tubuh yang ramping itu tersembunyi kekuatan yang dahsyat karena Ouw Swi Lan adalah seorang gadis yang tinggi ilmu silatnya, juga dari Ibunya ia mewarisi keahlian membaca menulis, membuat sajak, bernyanyi dan menari.

Ia suka akan kesenian, akan tetapi lebih menyukai ilmu silat.

Di belakang gedung tempat tinggal keluarga Jenderal Ouw di Kotaraja terdapat sebuah taman yang luas dan di tengah taman itu terdapat sebuah bangunan panggung bertingkat tiga berbentuk menara.

Jenderal Ouw memang sengaja membangun menara ini sebagai tempat pertemuan rahasia antara dia dan para pembantunya yang melakukan pekerjaan rahasia, yaitu menyelidiki orang-orang dan golongan-golongan persilatan tertentu yang dianggap cukup mencurigakan dan perlu diselidiki apakah mereka itu anti pemerintah Mongol.

Pertemuan-pertemuan seperti itu memang seringkali harus diadakan secara rahasia, jangan terlihat umum karena sebagian para pembantunya adalah orang-orang pribumi sendiri yang memiliki kepandaian tinggi.

(Lanjut ke

Jilid 12) Bayangan Bidadari/Sian Li Eng Cu (Cerita Lepas) Karya. Asmaraman S. Kho Ping Hoo

Jilid 12 Pada suatu sore para perajurit yang berjaga di gardu penjagaan depan gedung Jenderal Ouw terkantuk-kantuk.

Hawa udara sedang panas-panasnya dan keadaan sepi membuat mereka mengantuk.

Mereka merasa aman dan tidak khawatir, karena siapakah yang akan berani bermain gila melanggar tempat larangan itu, memasuki tempat tinggal sang jenderal?

Kalau malam, mungkin ada penjahat yang mencoba menyelinap masuk, maka para petugas jaga itu biasanya berjumlah lebih banyak, Sampai belasan orang dan mereka melakukan perondaan sekeliling luar tembok tinggi yang mengelilingi rumah gedung termasuk kebun dan tamannya yang luas itu.

Akan tetapi sore itu tidak ada yang meronda, bahkan enam orang perajurit yang berjaga di gardu duduk terkantuk-kantuk.

Sesosok bayangan orang berkelebat melompati dinding tembok yang mengelilingi kebun dan taman di belakang gedung.

Dinding itu terbuat clan tembok batu yang tinggi sehingga melihat dia dapat melompat ke atasnya seperti seekor burung, mudah diketahui bahwa orang itu tentu memiliki ginkang (ilmu meringankan tubuh) yang hebat.

Melihat orangnya, ternyata dia sama sekali tidak mengesankan, sama sekali tidak pantas disangka seorang yang lihai, bahkan dia tampak seperti seorang tua yang lemah berpenyakitan!

Usianya sekitar enam puluh tahun, tubuhnya kurus dan bongkok, mukanya tanpa jenggot kumis, halus dan seolah kulitnya yang agak pucat itu tipis sekali.

Namun matanya mencorong aneh dan terbuka lebar.

Dunia kang-ouw (persilatan) tentu mengenal baikKakek yang berpakaian putih-putih namun terbuat dari Sutera halus itu.

Dia adalah tokoh persilatan yang terkenal dengan julukan Pak Lo-Kui (Setan Tua Utara) atau Iebih banyak disebut Datuk Utara itu.

Dia hidup seorang diri, tanpa keluarga dan suka merantau di daerah utara.

Akhir-akhir ini, dia berada di kota Hak-Ciu, mondok di gedung Jaksa Ouw, dan mengajarkan beberapa jurus ilmu silat kepada putera Jaksa Ouw yang bernama Ouw Boan Kit dan biasa disebut Ouw Kongcu (Tuan Muda Ouw).

Di bagian depan kisah ini sudah diceritakan sedikit tentang Ouw Boan Kit dan Ayahnya yang dihajar oleh Kwee In Hong, sehingga gadis perkasa itu sempat bertanding melawan Pak Lo-Kui yang melarikan diri ketika mengetahui bahwa In Hong adalah murid Hek Moli yang dia takuti.

Setelah melompat turun dari atas dinding yang tinggi itu, Pak Lo-Kui lalu bergerak cepat, berkelebatan menyusup diantara pohon dan semak dan tak lama kemudian dia sudah melompat naik ke atas memasuki ruangan menara di tingkat teratas.

Ruangan menara ditingkat tiga itu cukup luas dan di tengah-tengah ruangan terdapat sebuah meja hundar besar dikelilingi lima buah kursi.

Di atas meja itu terdapat empat buah guci besar dan empat buah cawan kosong.

Ketika memasuki ruangan itu dan melihat empat guci besar terisi arak dan empat cawan kosong, Pak Lo-Kui tertawa bergelak.

"Ha-ha-ha-ha! Jenderal Ouw sungguh merupakan Tuan rumah yang baik dan mengerti akan kesukaan kami. Benar keterangan Jaksa Ouw di Hak-Ciu, Kakak-nya itu memang seorang yang baik dan pandai bersahabat dengan orang-orang terkenal di dunia kang-ouw, ha-ha-ha!"

Dia tertawa-tawa lagi, lalu duduk di atas sebuah kursi, menuangkan arak dalam sebuah cawan dan minum arak dengan wajah berseri.

Tiba-tiba Datuk Utara itu mendengar suara orang mengejek yang datangnya dari jauh namun terdengar dekat sekali dengan telinganya.

"Huh, Setan Utara seperti anjing kelaparan bertemu tulang! Melahap arak seorang diri!"

Sebelum gema suara itu menghi-lang, tahu-tahu di ruangan itu telah muncul seorang laki-laki yang usianya sebaya dengan Datuk Utara, sekitar enam puluh tahun.

Tubuhnya kurus kering, hanya tulang terbungkus kulit, seperti tengkorak hidup.

Wajahnya mengerikan dan mulutnya bersungut-sungut, matanya yang cekung itu melirik-lirik aneh akan tetapi sinarnya tajam sekali.

Akan tetapi pakaiannya meriah, berkembang-kembang merah kuning biru, dan di ikat pinggangnya terselip sebatang tongkat yang lebih tepat disebut seekor ular yang telah kering dan kaku.

"Ha-ha-ha, Tung Giam-Lo (Raja Maut Timur) sudah datang! Bagus, bagus! Mari minum, kursi dan cawanmu sudah tersedia!"

Kata Datuk Utara.

Tung Giam-Lo atau juga disebut Datuk Timur itu mendengus dan duduk di atas sebuah kursi, akan tetapi tidak menyentuh cawan dan guci arak.

Mukanya bersungut-sungut seperti orang mengejek marah.

Dia terkenal pula sebagai Majikan Pulau Ular di Laut Timur dan seperti juga Datuk Utara, dia terkenal sekali sebagai seorang Datuk besar yang menguasai wilayah timur.

"Datuk Timur, engkau tidak minum arak?"

Tanya Datuk Utara sambil lalu.

Agaknya mereka saling meremehkan atau tidak saling menghormat.

Datuk Timur mendekatkan mukanya ke meja dan mencium bau arak yang tertuang di cawan Datuk Utara, lalu berkata dengan nada suara mengejek.

"Uhh, minumanku sehari-hari jauh lebih baik daripada ini! Aku hanya minum kalau sudah dipersilakan tuan rumah!"

Setelah berkata demikian, Datuk Timur duduk dan membuang muka, tidak melihat lagi kepada Datuk Utara yang melanjutkan minuninya.

"Hua-ha-ha-haa...!"

Terdengar suara tawa terbahak disusul munculnya seorang laki-laki sebaya yang bertubuh gemuk pendek dengan perut gendut dan mukanya halus kekanak-kanakan, pakaiannya serba kuning dan penampilannya seperti sebuah patung Dewa Ji Lai Hud yang gendut dan mukanya tertawa-tawa ramah.

"Kalau Datuk Utara bertemu Datuk Timur, selalu tidak cocok!"

"Huh...!"

Datuk Timur mendengus, mukanya semakin bersungut.

"Wah, Iblis Selatan juga sudah datang!"

Kata Datuk Utara.

"Aku bukan Iblis, melainkan Dewa, kau Setan Utara!"

Lam Sian (Dewa Selatan) atau juga disebut Datuk Selatan itu berkata sambil tertawa.

Biarpun julukannya Dewa diubah menjadi Iblis oleh Datuk Utara, dia kelihatan tertawa-tawa tidak marah, akan tetapi tidak ada yang tahu bagaimana perasaan hatinya.

Datuk Selatan ini dalam keadaan apapun juga, marah atau senang, tetap tertawa-tawa!

"Hemm, duduklah, See Te-Tok (Racun Barat), dan mari minum arak bersamaku!"

Kata Datuk Utara, sambil menoleh ke arah luar ruangan itu.

Sesosok bayangan berkelebat dan di situ sudah berdiri seorang laki-laki sebaya, berusia enam puluhan tahun, berpakaian merah, pesolek wajahnya tampan dan bentuk tubuhnya gagah.

Pakaiannya dari Sutera hitam, namun potongannya indah seperti pakaian para bangsawan.

Inilah Racun Bumi Barat atau dikenal sebagai Datuk Barat.

"Hemm, kalian sudah berkumpul semua? Akan tetapi di mana tuan rumah yang mengundang kita?"

Tanya Datuk Barat dengan suaranya yang lantang lalu mengambil tempat duduk.

Datuk Utara yang melihat betapa Datuk Timur yang duduk di sebelah kanannya itu sejak tadi tidak bicara, tidak minum dan hanya cemberut saja lalu mengambil cawan kosong di depan Tung Giam-Lo, mengisinya sampai penuh lalu mengangkatnya dan memberikannya kepada Datuk Timur itu.

"Tung Giam-Lo, terimalah penghormatanku dengan secawan arak ini!"

Tung Giam-Lo menoleh dan memandang.

Dia melihat betapa arak dalam cawan itu bergerak seperti mendidih dan mengepulkan uap panas!

Ternyata melalui cawan yang dipegangnya, Pak Lo-Kui Si Datuk Utara telah menyalurkan sinkang panas sehingga membuat cawan menjadi panas dan araknya mendidih!

"Penghormatanmu kuterima!"

Kata Tung Giam-Lo dan tanpa raga dia menerima cawan panas terisi arak mendidih itu dari tangan Pak Lo-Kui, lalu meminumnya dengan enak seolah-olah tidak merasakan panas sama sekali!

Kemudian setelah minum arak itu sampai habis, dia meletakkan cawan kosong yang masih mengeluarkan uap panas itu ke atas meja di depannya.

Tung Giam-Lo kini mengambil cawan yang berada di depan Lam Sian (Dewa Selatan) yang duduk di sebelah kanannya, mengisi cawan itu dengan arak sampai penuh dan ketika dia memegang secawan arak itu, dia sengaja membalikkan cawannya dan arak itu tidak tumpah karena ternyata arak itu sudah membeku saking dinginnya!

"Lam Sian, terimalah sulanganku secawan arak ini!"

Katanya dengan muka tetap cemberut.

"Ha-ha-ha-heh-he-heh! Disulangi Tung Giam-Lo merupakan kehormatan besar!"

Dia menerima cawan terbalik yang araknya membeku dan melekat dalam cawan itu lalu membalikkan cawan dan sekali tekan, arak beku itu meloncat dari dalam cawan dan masuk ke dalam mulutnya yang sudah terbuka.

Dalam mulutnya, agaknya arak beku itu mencair dan ditelannya dengan enak!

Setelah menaruh cawan kosong ke atas meja, giliran Lam Sian mengambil cawan kosong di depan See Tok (Racun Barat) dengan tangan kiri sedangkan tangan kanannya menekan guci arak.

Arak memancar keluar dari mulut guci dan dengan tepat jatuh ke dalam cawan itu.

"See Tok, silakan minum!"

Setelah berkata demikian, dia melempar secawan arak itu ke atas. Cawan itu melayang berputar di atas lalu Racun Barat mengangkat tangan ke atas, ke arah cawan sambil berkata.

"Terima kasih, Lam Sian!"

Seperti orang mendorong, tangannya bergerak dan tiba-tiba cawan yang berada di atas kepalanya itu membalik dan isinya tertumpah ke bawah, lalu diterimanya dengan mulut, diminum semua, setetes pun tidak ada yang tercecer!

Cawan itu pun melayang turun dan ditangkapnya lalu diletakkannya cawan kosong ke atas meja.

Kini See Tok mengambil cawan Pak Lo-Kui, diisinya dengan arak.

"Aku tidak berani main-main dengan Pak Lo-Kui. Terimalah sulanganku ini!"

Cawan yang dipegangnya itu tiba-tiba saja meluncur ke arah Pak Lo-Kui, seperti seekor burung.

Kelihatannya ringan saja, namun sesungguhnya lontaran itu mengandung tenaga sinkang (tenaga sakti) yang amat kuat yang tidak akan dapat diterima orang biasa saja.

Namun Pak Lo-Kui menerimanya dengan mudah lalu minum sampai habis.

"Terima kasih, See Tok!"

Demikianlah, empat orang Datuk itu bersulang-sulangan sambil menguji kekuatan masing-masing.

Memang, di antara empat orang Datuk ink tidak pernah ada kerukunan, bahkan ada persaingan di antara mereka.

Akan tetapi sekarang, karena mereka diundang oleh Jenderal Ouw dan mereka datang sebagai tamu, maka mereka tidak berani bersaingan secara terbuka, bahkan saling menyulangi sebagai penghormatan walaupun sambil menguji kekuatan masing-masing.

"Ah, merayakan pertemuan dengan hanya minum arak saja, tanpa hidangan lain, mana bisa dinikmati?"

Setan Utara mengomel.

Tiba-tiba terdengar suara tawa bergelak.

Suara itu menggetarkan ruangan tingkat tiga di mana Empat Datuk itu berkumpul.

Muncul seorang laki-laki dari pintu.

Usianya sekitar lima puluh tahun, pakaiannya gemerlapan, pakaian seorang panglima perang.

Tubuhnya tinggi besar, kokoh kuat, dadanya tebal dan bidang, bermata lebar, kumisnya kecil melintang dan ujungnya berjuntai ke bawah seperti ciri khas orang Mongol, dan jenggotnya pendek kaku.

Inilah Ogucin yang kini bernama Ouw Gu Cin atau lebih dikenal sebagai Jenderal Ouw.

Empat Datuk Besar itu bangkit berdiri dan merangkap kedua tangan depan dada sebagai penghormatan.

Jenderal Ouw mengangkat tangan kanan ke atas seolah membalas penghormatan mereka dan berkata dengan suaranya yang Iantang.

"Ha-ha-hal bagus sekali. Empat Datuk Besar dari empat penjuru datang memenuhi undangan kami. Terima kasih, terima kasih! Sekarang kita makan-makan dulu sebelum bicara!"

Dia bertepuk tangan lalu duduk di atas kursi.

Beberapa orang pelayan wanita yang muda dan cantik beriringan masuk membawa baki-baki terisi beberapa macam masakan dalam piring-piring besar!

Masakan itu masih panas mengepulkan uap dan ruangan itupun dipenuhi aroma yang sedap membangkitkan selera.

"Ha-ha-ha, sedapnya...!"

Lam Sin mendengus-dengus dengan hidungnya, menikmati sedapnya aroma masakan.

"He-he-he-he, cantik-cantiknya...!"

Pak Kui memandangi wajah enam orang pelayan wanita yang mengatur piring-piring masakan dan mangkok-mangkok ke atas meja.

Sinar matanya melahap wajah-wajah muda cantik dan tubuh yang padat itu.

Pak Kui memang seorang Datuk yang mata keranjang.

Enam orang gadis pelayan itu setelah menata meja lalu meninggalkan ruangan, berkumpul di luar pintu, menanti kalau-kalau ada perintah dari majikan mereka, Jenderal Ouw.

"Mari, Su-wi (Anda berempat), silakan makan! Akan tetapi sebelumnya, biar kusuguhkan secawan arak selamat datang!"

Pelayan pribadi Jenderal Ouw, gadis tercantik di antara para pelayan dan yang tadi tidak ikut keluar melainkan berdiri agak jauh di belakang Jenderal Ouw, mendengar ucapan Sang Jenderal segera melangkah maju mendekati meja lalu menuangkan arak dalam cawan lima orang itu dengan gerakan yang luwes dan manis, wajahnya tersenyum manis sekali.

Pak Kul menyeringai dan hidungnya menyedot-nyedot bau harum yang semerbak dari pakaian pelayan itu.

"Su-wi, silakan minum mengiringi ucapan selamat datang kami dan untuk merayakan pertemuan penting ini!"

Kata Jenderal Ouw dan mereka berlima menenggak habis arak dari cawan mereka.

Kemudian, mereka makan minum dengan lahapnya.

Empat Datuk Besar itu makan tanpa sungkan-sungkan lagi dan Sang Jenderal merasa gembira melihat empat orang tamunya makan dengan lahap.

Setelah makan minum sepuasnya sampai kenyang, pelayan pribadi Jenderal Ouw memanggil para pelayan lain dan mereka lalu dengan cekatan menyingkirkan semua mangkok piring dari atas meja dan membersihkan meja dan lantai.

Setelah ruangan itu menjadi bersih mereka lalu meninggalkan ruangan itu, hanya meninggalkan lima buah cawan dan guci-guci arak yang baru.

"Nah, sekarang kita dapat bicara dengan leluasa. Kami kira Anda berempat sudah mengetahui akan maksud undangan kami."

Kata Jenderal Ouw.

"Ha-ha-ha, mengapa Ouw Goanswe (Jenderal Ouw) bertanya lagi? Bukankah kami diundang untuk dimintai bantuan oleh Jenderal?"

Kata Lam Sian sambil tertawa sehingga perutnya yang kini semakin gendut karena diisi banyak masakan daging terguncang-guncang.

"Bukan dimintai bantuan, melainkan diajak kerja sama, Lam Sian!"

Kata Jenderal Ouw.

"Kita bekerja sama dan kedua pihak mendapat keuntungan."

"Jenderal Ouw, sebaiknya kalau Anda jelaskan, kerja sama yang bagaimana itu? Apa yang harus kulakukan untuk Anda, dan imbalan keuntungan apa yang akan kami dapat?"

Tanya Pak Kui.

"Anda berempat mengetahui bahwa banyak muncul pemberontak-pemberontak yang mengganggu keamanan. Mereka terdiri dari orang-orang kang-ouw yang memiliki ilmu silat tinggi. Untuk membasmi mereka, tidak cukup mengandalkan pasukan saja, maka kami mendatangkan banyak orang kang-ouw yang berkepandaian tinggi untuk menghadapi mereka. Terutama sekali, perguruan-perguruan silat dari berbagai aliran merupakan bahaya bagi pemerintahan Kerajaan kami. Walaupun mereka itu tidak secara berbareng berani melakukan pemberontakan, namun kita harus selalu mengikuti gerak-gerik mereka dan menyelidiki dengan seksama agar sebelum mereka dapat melakukan pemberontakan, dapat lebih dulu kita gagalkan. Nah, tugas kalian adalah membantu kami menghadapi mereka. Kalau Anda berempat menyetujui, katakan saja imbalan jasa apa yang kalian minta, akan kami usahakan untuk memenuhinya.

"Hemm, sudah banyak saya mendengar akan kemurahan hati Jenderal Ouw dari Ouw-Taijin (Pembesar Ouw) yang menjadi jaksa di kota Hak-Ciu. Karena itu, begitu mendengar akan undangan paduka, saya langsung saja datang menghadap ke sini."

"Nah, sebagai contohnya, baru saja terjadi perbuatan jahat menimpa Adik kami sendiri, yaitu Jaksa Ouw di Hak-Cciu. Dia dan puteranya didatangi penjahat wanita yang mengacau. Tentu penjahat wanita itu merupakan seorang di antara mereka yang menentang dan memberontak terhadap Kerajaan kami. Menurut laporan dari Hak-Ciu, penjahat wanita itu berjuluk Sian-Li Eng-Cu (Bayangan Bidadari). Pak Kui, sekarang katakan, kalau engkau membantu kami menghadapi para pemberontak itu, imbalan jasa apa yang engkau harapkan dari pemerintah Kerajaan?"

"Hemm, saya adalah seorang pengembara yang tidak memiliki tempat tinggal tetap. Berpindah dari sana ke sini, mondok sana-sini, karena itu sudah sepatutnya kalau saya menghendaki sebuah rumah sendiri, lengkap dengan prabotan dan... tentu saja, saya akan senang sekali kalau di rumah itu terdapat dua atau tiga orang... pelayan wanita yang muda dan cantik seperti yang saya lihat tadi. Ha-ha-ha!"

Jenderal Ouw mengangguk-angguk dan tersenyum.

"Ha-ha, itu mudah saja, Pak Kui. Keinginanmu pasti akan kami penuhi asalkan engkau benar-benar mau membantu kami dan membuat jasa. Nah, sekarang kami ingin mendengar pendapat Tung Ong (Raja Timur, singkatan dari Giam-Lo-Ong atau Raja Maut Timur). Apa yang engkau inginkan sebagai imbalan jasa, Tung Ong?"

Dengan wajah masih keruh dan mulut tengkorak itu cemberut, Tung Giam-Lo berkata.

"Jenderal Ouw, saya adalah seorang Tong-Cu (Majikan Pulau) dari Pulau Ular di Laut Timur. Saya tidak kekurangan apa pun, hidup sebagai penguasa dengan anak buah yang berjumlah lima puluh kepala keluarga. Akan tetapi karena keluarga para anak buah saja semakin membesar sehingga kami memerlukan biaya yang besar, maka saya hanya mohon agar pemerintah dapat memberi hak istimewa kepada saya untuk menguasai Pulau Ular secara sah, berdaulat dengan wilayah dari pulau sampai ke darat."

Jenderal Ouw diam memutar otak.

Permintaan Raja Timur ini memang amat berat karena itu berarti menyerahkan sebuah pulau kepada Datuk itu.

Dan kalau Datuk itu diberi kekuasaan atas pulau dengan wilayah sampai ke daratan, maka tentu Datuk itu akan menggunakan kekuasaannya untuk memungut pajak sesukanya, mengganggu keamanan lalu-lintas dan pesisir.

Akan tetapi kalau ditolak, berarti pemerintah menambah jumlah pihak yang menentang.

Biarlah untuk sementara ini dia menyetujui, pikirnya.

Yang menyetujuikan dia, bukan pemerintah!

Mudah saja kelak persetujuan secara pribadi ini dinyatakan tidak berlaku bagi pemerintah.

"Baiklah, Tung Ong, permintaanmu kami setujui. Sekarang, bagaimana dengan engkau, Lam Sian?"

Sebelum menjawab, Lam Sian tertawa terkekeh-kekeh.

"He-he-he-he! Jenderal Ouw menjanjikan hadiah besar dan kami boleh pilih sendiri? Jenderal Ouw, terus terang saja, saya tidak mementingkan harta benda dan kedudukan. Saya siap membantu menghadapi para pemberontak dan pengacau, dan saya akan merasa bahagia kalau saya bisa diberi kekuasaan untuk mengurus dan memiliki sebuah Kelenteng (Kuil) yang besar."

"Ha-hal permintaan Lam Sian sesuai dengan nama julukanmu. Engkau dijuluki Dewa Selatan, sudah sepantasnya kalau engkau memimpin sebuah Kuil yang besar."

Kata Jenderal Ouw.

"Tentu saja kami akan memilihkan sebuah Kelenteng yang tepat untukmu."

Kini Jenderal Ouw memandang kepada See Tok.

"Nah, sekarang tinggal engkau, See Tok. Coba katakan, apakah pilihanmu?"

"Saya ingin diberi pangkat yang sesuai dengan kepandaian dan kemampuan saya, Jenderal Ouw."

Jenderal Ouw mengamati wajah dan bentuk tubuh See Tok, mengangguk-angguk.

"Tepat sekali, See Tok. Engkau pantas menjadi seorang perwira tinggi."

Empat Datuk Besar itu merasa gembira bahwa permintaan mereka disetujui oleh Jenderal Ouw.

Mereka sudah membayangan betapa senangnya kalau kelak permintaan mereka telah dipenuhi.

Mereka menyatakan siap siaga melaksanakan apa yang diperintahkan Jenderal Ouw.

Kemudian Jenderal Ouw secara terpisah memberi tugas rahasia kepada mereka.

Masing-masing mendapat tugas yang harus mereka rahasiakan dari siapa pun, bahkan di antara Empat Datuk itu sendiri tidak saling mengetahui, tugas apa yang masing-masing harus laksanakan.

Baca Juga: Naga Beracun 1

Baca Juga: Pemberontakan Taipeng 1

Related Posts:

Disqus Comments

Cari Blog Ini

Diberdayakan oleh Blogger.

Parnert

© 2017 cerita silat online - Template Created by goomsite - Proudly powered by Blogger