Eps 3 Bayangan Bidadari - Kho Ping Hoo
Baca online Bayangan Bidadari - Kho Ping Hoo
Cersil Bayangan Bidadari - Kho Ping Hoo.
Pada waktu itu, yang menjadi Ketua dari Siauw-Lim-pay adalah Bu Kek Tianglo, seorang Hwesio yang usianya sudah hampir delapanpuluh tahun.
Selama berpuluh tahun Hwesio ini memegang pimpinan Siauw-Lim-pay dan boleh dibilang ia berhasil dalam memajukan partai persilatan ini.
Akan tetapi hatinya tidak puas.
Ada hal yang amat mengganjel hatinya dan kalau ia teringat akan hal ini, diam-diam ia menarik napas seorang diri dan berbisik.
"Apakah akan jadinya dengan Siauw-Lim-pay? Tat Mo Couwsu pasti arwahnya akan mengutukku kalau aku tidak bisa mendapatkan seorang ahliwaris yang baik."
Yang menjadikanKakek Hwesio ini berduka adalah karena selama ini, ia tidak bisa mendapatkan seorangpun murid yang berbakat dan yang akan dapat mewarisi kepandaian aseli dari Tat Mo Couwsu.
Ilmu silat peninggalan Guru besar Tat Mo Couwsu, yang disebut Tat Mo Kun-hoat, terdiri dari bermacam-macam ilmu silat.
Memang semua anak murid Siauw-Lim-pay mempelajari ilmu silat ini, akan tetapi tingkat mereka yang paling tinggi hanya sampai enam bagian saja.
Yang sudah mewarisi ilmu silat ini sampai sembilan bagian hanyalah Bu Kek Tianglo seorang, karena untuk berhasil mewarisi seluruh pelajaran yang amat sukar dari ilmu silat itu, dibutuhkan bakat luar biasa serta kebersihan batin, hawa dalam tubuh, dan darah.
Sampai sebegitu jauh, tak seorangpun anak murid yang sanggup menerima latihan I-Kin-Keng, yakni latihan ilmu lweekang yang tertinggi.
Hanya Bu Kek Tianglo sendiri yang berhasil, akan tetapi ia sudah terlalu tua.
Usianya takkan lama lagi mempertahankan hidupnya dan sebelum mati, Hwesio tua ini ingin sekali mendapatkan seorang murid yang dapat mewarisi I-Kin-Keng dan ilmu silat tertinggi dari Tat Mo kun-hoat.
Bu Kek Tianglo sudah hampir putus asa sampai datangnya seorang Hwesio Siauw-Lim-Si yang membawa seorang pemuda dan seorang bocah perempuan ke kelenteng itu.
Hal ini terjadi lima tahun yang lalu.
Hwesio yang datang ini adalah murid kepala dari Bu Kek Tianglo yang bernama Ceng Seng Hwesio.
Ceng Seng Hwesio berlutut menghadap Ketua Siauw-Lim-pay itu dan disebelahnya, pemuda dan anak perempuan itupun ikut berlutut dengan penuh penghormatan.
"Muridku yang baik, tiga bulan lamanya kau meninjau keadaan di luar, bagaimanakah khabarnya dengan para anak murid kita yang berada di luar?"
"Mereka baik-baik semua, Suhu, dan tak seorangpun yang melakukan pelanggaran, kesemuanya patuh akan pelajaran dan larangan Siauw-Lim-pay,"
Jawab Ceng Seng Hwesio.
Jawaban ini kelihatannya amat menyenangkan hati Bu Kek Tianglo, karenaKakek ini memang selalu merasa gelisah kalau ia teringat betapa banyaknya murid-murid Siauw-Lim-pay berada di luar kelenteng sehingga ia tidak kuasa untuk mengawasi tingkah laku mereka.
Ia selalu khawatir kalau-kalau ada anak murid yang melakukan perbuatan jahat, melanggar larangan Siauw-Lim-pay dan di dunia luar merusak nama baik Siauw-Lim-pay.
Oleh karena ini, seringkali ia mengutus murid-muridnya untuk meninjau keadaan di dunia kangouw dan memberi wewenang kepada murid-muridnya ini apabila mendengar anak murid Siauw-Lim-pay yang menyeleweng, untuk menangkap dan menyeretnya ke Siauw-Lim-pay!
"Siapakah orang muda dan nona cilik ini?"
KemudianKakek itu bertanya sambil memandang kepada pemuda dan anak perempuan yang berlutut di dekat Ceng Seng Hwesio.
"Di dalam perantauan, Teecu bertemu dengan mereka ini, dikeroyok oleh perampok di dalam hutan. Teecu amat tertarik melihat ilmu silat pemuda ini berdasarkan ilmu silat Siauw-Lim-Si, akan tetapi gerakannya sudah menyeleweng jauh. Setelah Teecu mengajak mereka bercakap-cakap, ternyata bahwa mereka ini masih cucu murid dari supek Bu Sek Tianglo!"
Bu Kek Tianglo nampak tercengang dan memandang kepada pemuda itu dengan penuh perhatian.
"Anak muda, siapa namamu? Dan kau murid siapakah?"
Tanya Bu Kek Tianglo. Pemuda itu mengangkat mukanya yang tampan dan membayangkan kedukaan, memandang kepada Tosu tua itu kemudian menunduk kembali dan menjawab, suaranya halus dan sopan.
"Susiok-couw, Teecu bernama Ong Teng San, dan ini Adik Teecu bernama Ong Lian Hong. Teecu berdua menerima pelajaran ilmu silat dari Ayah Teecu sendiri yang bernama Ong Tiang Houw, murid dari sucouw Bu Sek Tianglo. Kebetulan sekali Teecu berdua yang sengsara bertemu dengan supek Ceng Seng Hwesio, maka apabila susiok-couw tidak berkeberatan, Teecu berdua mohon diterima menjadi murid di Siauw-Lim-Si, karena Teecu berdua sudah tidak mempunyai tempat tinggal lagi."
Suara pemuda itu menjadi perlahan dan ia kelihatan berduka sekali.
"Hm, mengapa kalian pergi dari rumah? Dimana Ayahmu? Biarpun Ayahmu tidak langsung menjadi murid Siauw-Lim-pay, akan tetapi sudah lama Pinceng (aku) mendengar akan sepak terjangnya yang patut dihargai sebagai seorang pendekar yang gagah. Agaknya mendiang Suhengku Bu Sek Tianglo tidak terlalu salah menerima murid sungguhpun dia sendiri telah meninggalkan Siauw-Lim-pay."
Mendengar pertanyaan ini, tiba-tiba Teng San terisak menangis!
Hati pemuda ini bersedih sekali kalau ia teringat akan Ayahnya yang dianggap telah melakukan perbuatan yang amat memalukan dan tidak berbudi.
Melihat pemuda ini menangis, Bu Kek Tianglo wajahnya tiba-tiba berseri.
Di dalam hatinya ia berkata.
"Aha, anak inilah yang kiranya akan dapat mewarisi I-Kin-Keng, hatinya perasa sekali dan perasaan yang halus inilah yang amat dibutuhkan untuk bisa mempelajari I-Kin-Keng dengan sempurna."
Akan tetapi di luarnya, ia berkata dengan suara tegas.
"Teng San, tidak patut seorang pemuda mengalirkan airmata. Ada urusan, boleh kau beritahukan kepada Pinceng dengan terus terang, boleh jadi Pinceng akan dapat mencarikan jalan terang bagimu."
Teng San menekan perasaan sedihnya, kemudian ia dengan terus-terang menceritakan bagaimana Ayahnya telah membunuh seorang hartawan muda bernama Kwee Seng, kemudian mengambil isteri hartawan itu sebagai isterinya.
Hal ini dianggapnya amat menyakitkan dan memalukan hati, apalagi karena Teng San sudah menganggap Ibu tiri itu sebagai Ibunya sendiri, bahkan sudah berkali-kali berjanji kepada Ibu tirinya untuk membalaskan dendam atas terbunuhnya suami yang dahulu dari Ibu tirinya itu.
Tidak disangka-sangkanya bahwa pembunuhnya adalah Ayahnya sendiri!
Mendengar penuturan ini, Bu Kek Tianglo mengerutkan keningnya dan beberapa kali ia menggeleng-geleng kepalanya yang gundul.
"Omitohud, bagaimana ada kejadian seperti itu? Pinceng sudah mendengar tentang Ayahmu yang memimpin pasukan Kai-Sin-Tin membasmi orang-orang hartawan dan bangsawan. Perjuangan memperbaiki nasib kaum jembel memang baik, bahkan semenjak dahulu dipelopori oleh orang-orang gagah sedunia yang tidak suka melihat sesama hidup bersengsara dan melihat keganjilan di dunia ini, dimana yang hidup kaya sampai berlebihan dan yang hidup miskin sampai tidak bisa makan. Akan tetapi, setiap perjuangan memperbaiki nasib haruslah dilakukan dengan hati-hati dan waspada, karena hampir selalu ada bahaya kemasukan anasir-anasir buruk dan sifat-sifat yang tidak baik. Ayahmu terlampau dikuasai oleh nafsunya, nafsu dan dendam karena kematian isterinya, yaitu Ibumu, dan orang yang sudah dikuasai oleh nafsu dan dendam, tiada ubahnya seperti binatang buas yang tidak memilih bulu, siapa saja diterkamnya. Orang gagah harus dapat berlaku adil, menghukum mereka yang bersalah dan menolong mereka yang tergencet. Secara membuta tuli saja membasmi orang-orang hartawan dan bangsawan, adalah perbuatan yang amat keliru, karena tak mungkin seluruh hartawan dan bangsawan itu jahat belaka. Karena kekeliruan Ayahmu itu, sekarang ia harus memetik buahnya yang amat pahit. Bagaimana dengan Ayahmu sekarang?"
"Teecu tidak tahu, susiok-couw. Entah bagaimana dengan Ayah, dan kalau Teecu teringat akan Ibu..."
Sampai disini terdengar suara tangisan Liang Hong.
"San-Ko, aku mau pulang, mau menjaga Ibu...,"
Anak ini menangis.
Bu Kek Tianglo adalah seorang yang hatinya penuh welas asih, sesuai dengan penganut agama Buddha, maka ia amat terharu melihat keadaan dua orang anak itu.
Apalagi kalau ia melihat Teng San, diam-diam ia memuji ketajaman mata muridnya, karena pemuda ini benar-benar memiliki bakat yang luar biasa.
Oleh karena itu, ia menerima Teng San dan Lian Hong menjadi murid Siauw-Lim-Si, dan menyerahkan pendidikan mereka kepada Ceng Seng Hwesio.
Akan tetapi, terhadap Teng San ia turun tangan sendiri memberi pelajaran ilmu silat tinggi sehingga pemuda itu mendapatkan kemajuan yang amat pesat.
Selama lima tahun Teng San dan Lian Hong dilatih di dalam kelenteng Siauw-Lim-Si dan Teng San kini benar-benar telah mewarisi ilmu-ilmu silat tertinggi dari Siauw-Lim-pay.
Akan tetapi, tetap saja ia masih mengalami kesukaran untuk mewarisi I-Kin-Keng dan setelah lima tahun, baru ia mulai mendapat penjelasan tentang ilmu lweekang tertinggi dari Siauw-Lim-pay ini.
Juga Lian Hong merupakan murid yang amat memuaskan hati Ceng Seng Hwesio, karena dalam usia empatbelas tahun, gadis cilik ini telah mampu melewati lorong ujian dengan selamat dan tidak terluka sedikitpun!
Pada waktu inilah ketika Siauw-Lim-Si mendapat serbuan yang menggemparkan kelenteng besar itu, serbuan yang dilakukan oleh Kwee In Hong, gadis murid Hek Moli yang amat berani dan keras hati itu!
Waktu itu tepat tanggal limabelas, bulan bersinar terang dan hawa malam itu dingin bukan main, tanda bahwa musim panas sudah mulai bertukar musim.
Tak seorangpun di kelenteng Siauw-Lim-Si yang menduga bahwa malam itu tempat mereka yang disegani dan ditakuti oleh semua orang kangouw akan menerima tamu tak diundang yang amat berani.
Memang sudah berpuluh tahun tidak ada orang yang berani memusuhi Siauw-Lim-Si, apalagi datang sebagai seorang tamu malam tak diundang yang bermaksud jahat.
Maka para Hwesio enak-enak saja dan tidak menyangka buruk.
Apalagi karena In Hong memasuki tempat itu dengan mempergunakan ginkangnya yang sudah tinggi tingkatnya.
Hanya bayangannya saja yang berkelebatan ketika ia mendaki bukit itu menuju ke kelenteng.
Kemudian, dengan amat mudahnya ia melompat pagar tembok yang tinggi, yang mengelilingi semua bangunan kelenteng dan rumah tinggal para anak murid Siauw-Lim-pay.
Kalau orang melihat In Hong melompat-lompat di dalam sinar bulan purnama, tentu ia akan mengira bahwa gadis ini seorang bidadari yang turun dari bulan.
Memang gadis ini amat cantik, lincah, dan pakaiannya yang serba ringkas membayangkan potongan tubuhnya yang langsing.
In Hong merasa agak heran ketika melihat keadaan di dalam pagar tembok itu sunyi saja, tidak kelihatan penjaganya.
Begini sajakah keadaan Siauw-Lim-Si yang tersohor kuat itu?
Ia merasa lega dan setelah meneliti bahwa keadaan di dalam benar-benar aman, ia lalu melayang turun dari pagar tembok dengan gerakan ringan seakan-akan seekor burung walet menyambar.
Kedua kakinya tidak mengeluarkan suara ketika ia tiba di atas tanah dalam sebuah pekarangan yang lebar.
Sambil menyelinap dan bersembunyi di dalam bayang-bayang pohon dan tembok yang gelap, gadis yang berani ini maju terus.
Tiba-tiba ia melihat seorang Hwesio cilik membawa lampu berjalan perlahan.
Sambil berjalan, Hwesio cilik ini mulutnya berkemak-kemik mengeluarkan suara seperti orang berdoa, agaknya ia sedang menghafal ayat-ayat Suci yang baru dipelajarinya siang hari tadi.
In Hong cepat bersembunyi ke dalam tempat gelap dan ketika Hwesio kecil itu lewat, ia melompat dan pedangnya sudah menempel pada leher Hwesio ini.
Alangkah heran dan kagumnya hati In Hong ketika melihat betapa Hwesio cilik ini sama sekali tidak terkejut.
Jangankan berteriak minta tolong atau melepaskan lampunya, bahkan ia memandang sambil tersenyum!
Ketenangan Hwesio cilik ini membuat In Hong menjadi kagum dan malu kepada diri sendiri, maka ia menjauhkan pedangnya dari leher anak yang sudah menjadi calon Pendeta itu.
"Siauw-suhu, aku tidak berniat buruk kepadamu, hanya aku harap kau suka memberitahu kepadaku dimana adanya kamar penyimpanan kitab Siauw-Lim-Si!"
Bisiknya. Memang aneh sekali Hwesio cilik ini sambil tersenyum lalu menuding ke arah kiri.
"Kau hendak mencari kamar penyimpanan kitab? Lihat, bangunan di sudut kiri yang jendelanya kuning itulah tempat penyimpanan kitab."
In Hong tertegun.
"Kau tidak bohong, siauw-suhu?"
Hweesio cilik itu tersenyum dan menggeleng kepalanya yang gundul kelimis.
"Kalau orang masih suka berbohong apa gunanya berada disini? Tidak, disini kau tidak bertemu dengan orang yang suka membohong."
In Hong menggerakkan tangan hendak menotok Hwesio cilik ini agar jangan dapat bergerak atau berteriak, akan tetapi melihat muka yang jujur dan polos serta senyuman yang terbuka itu, ia menahan tangannya.
"Aku takkan mengganggumu, akan tetapi kau harus berjanji takkan memberitahukan kepada siapapun juga akan kedatanganku ini."
Kembali Hwesio cilik itu tertawa.
"Lihiap, tentang kedatanganmu, siapakah yang tidak tahu? Para Suhu disini sudah tahu semua, untuk apa diberitahukan lagi?"
Setelah berkata demikian, Hwesio cilik ini berjalan terus dengan lambat, lampu di tangannya bergoyang-goyang.
Untuk sejenak In Hong berdiri terpaku.
Keterangan terakhir ini mengejutkan hatinya.
Akan tetapi, betulkah itu?
Kalau para tokoh Siauw-Lim-pay sudah mengetahui kedatangannya, mengapa mereka tidak muncul?
Betapapun juga, aku sudah sampai disini dan harus kucoba mendapatkan kitab I-Kin-Keng, pikirnya.
Tanpa ragu-ragu lagi In Hong lalu melompat cepat ke kiri, menuju ke bangunan berjendela kuning yang ditunjuk oleh Hwesio kecil tadi.
Untuk sampai di tempat itu, ia harus melalui beberapa ruangan dan di sana sini terdapat arca-arca Buddha sebesar orang sehingga kadang-kadang gadis ini terkejut karena dari jauh arca-arca ini seperti seorang Hwesio sedang duduk bersamadhi.
Akhirnya ia sampai di sebuah ruangan dan di dekat ruangan terbuka inilah adanya kamar yang berjendela kuning.
Hatinya berdebar girang dan dengan hati-hati ia mendekati kamar itu.
Di ujung ruangan itu, dekat dengan pintu kamar, ia melihat punggung sebuah patung lagi yang sebesar manusia, patung seperti arca-arca lain yang dilihatnya tadi.
Maka ia tidak menaruh perhatian.
Dengan langkah lebar In Hong menghampiri jendela kuning dari kayu dan sekali mencongkel dengan pedang-nya, jendela itu terbuka tanpa menerbitkan suara apa-apa.
Kamar ini luas sekali dan diterangi oleh lampu besar.
Ia melihat lemari-lemari yang penuh dengan buku-buku kuno dan di tengah kamar ini ia melihat seorang laki-laki sedang duduk membaca buku.
Laki-laki itupun bersila dan biarpun kedua tangannya memegang sebuah kitab terbuka, namun ia tidak bergerak sama sekali.
Agaknya seluruh perhatiannya dicurahkan untuk membaca isi kitab, maka ia tidak memperdulikan lain hal yang terjadi disekelilingnya.
In Hong tercengang dan ia memandang dengan mata terbelalak.
Kalau ia melihat laki-laki itu seorang Hwesio gundul, ia takkan terheran.
Akan tetapi laki-laki ini bukan seorang Hwesio, melainkan seorang pemuda yang tampan dengan pakaian serba putih.
Ia hendak menerjang masuk, akan tetapi menarik diri kembali dan bersembunyi ketika melihat pemuda itu menggerakkan leher dan menengok ke arah jendela.
"Sampai berani merusak jendela, inilah keterlaluan sekali!"
Kata pemuda itu dan ketika In Hong hendak memandang ke dalam, tiba-tiba jendela itu sudah tertutup!
In Hong meraba penutup yang kini berwarna hitam itu dan ternyata bahwa yang menutup jendela secara aneh itu adalah besi yang tebal dan dingin!
Ia mencoba mendorong, namun sia-sia karena besi penutup jendela itu kokoh kuat.
In Hong penasaran dan sekali ia melompat, ia telah naik ke atas genteng kamar itu.
Namun, ketika ia membuka genteng, ternyata bahwa dibawah genteng juga tertutup oleh lapisan besi yang tak mungkin ditembus!
"Kurangajar!"
Ia memaki perlahan dan melayang turun kembali, kini ia menghampiri pintu.
"Kau kira aku tidak berani menerjang dari pintu?"
Pikirnya. Akan tetapi, sebelum ia membuktikan ancamannya ini, arca yang tadi ia lihat punggungnya, tiba-tiba bergerak dan sudah berdiri di belakangnya.
"Nona, tak seorangpun boleh memasuki pintu ini!"
In Hong sampai mencelat setombak lebih saking kagetnya.
Tidak disangkanya bahwa yang dikira arca itu ternyata seorang Hwesio gundul tua yang agaknya duduk bersamadhi di depan pintu itu!
Pada saat itu, terdengar suara kelenengan perlahan yang sambut menyambut di seluruh tempat itu, maka tahulah In Hong bahwa ia sudah terkepung.
Pintu kamar itu terbuka dan pemuda yang tadi dilihatnya membaca kitab, sudah ber-diri dengan pedang di tangan, sedangkan daun pintu itu tertutup sendiri dengan suara keras dan nyaring yang menyatakan bahwa daun pintu inipun terbuat daripada besi atau baja!
Gagal dan aku harus cepat melarikan diri, pikir In Hong dengan kecewa.
"Nona, jalan masuk ke Siauw-Lim-Si amat mudah, namun jalan keluarnya tidak semudah kau kira,"
Hwesio tadi berkata dengan nada mengejek.
"Minggir kau!"
Bentak In Hong sambil mempergunakan tangan kirinya mendorong.
Hwesio itu tidak mau mengelak, sebaliknya menyambut dengan tangan kanannya.
Tubuh In Hong terpental ke belakang, demikian kerasnya tenaga dorongan Hwesio itu.
In Hong terkejut sekali.
Lihay betul lweekang dari hweesio ini, pikirnya, maka ia tidak berani memandang ringan.
Baru seorang Hwesio saja begini lihay, kalau mereka semua muncul, ia tentu takkan mampu melawan mereka semua.
Cepat ia hendak lari, akan tetapi Hwesio itu sudah menghadangnya sambil tertawa.
"Coan Sim Hwesio menjaga kamar kitab takkan membiarkan kau pergi, nona,"
Katanya dan tangannya menyambar hendak menangkap lengan In Hong yang memegang pedang.
Nona ini menjadi marah dan cepat ia menggerakkan pedang hendak membacok lengan Hwesio itu.
Lawannya ternyata memiliki gerakan yang gesit juga, karena sudah dapat menarik lengannya dan membalas dengan tendangan Loan-Hoan-Twi, yakni tendangan berantai yang dilakukan bertubi-tubi.
(Lanjut ke
Jilid 07) Bayangan Bidadari/Sian Li Eng Cu (Cerita Lepas) Karya. Asmaraman S. Kho Ping Hoo
Jilid 07 In Hong cepat melompat tinggi ke belakang, dan sambil memutar tubuhnya, pedangnya menusuk dada Hwesio itu.
Gerakannya demikian ringan dan cepat sehingga Hwesio ini mengeluarkan seruan kaget dan cepat mengelak sambil melompat ke belakang.
Namun In Hong tidak memberi kesempatan padanya dan terus menyerang.
Pedangnya kini merupakan sinar dan bergulung-gulung menyerang Hwesio itu yang menjadi kewalahan, melompat dan mengelak ke sana ke mari.
"Pencuri nekat jangan kau kurangajar!"
Tiba-tiba pedang In Hong tertangkis oleh pedang lain dan ternyata bahwa yang menangkis oleh pedang lain dan ternyata bahwa yang menangkis pedangnya adalah pemuda yang tadi membaca kitab.
"Murid termuda Siauw-Lim-Si Ong Teng San takkan membiarkan pencuri pergi!"
In Hong menjadi marah.
Tanpa mengeluarkan kata-kata lagi ia lalu memutar pedangnya secepatnya, menyerang pemuda itu dengan jurus ilmu pedangnya yang paling lihay.
Pemuda itu terkejut sekali dan buru-buru ia menangkis sambil melangkah mundur, karena serangan ini benar-benar merupakan desakan yang masih berbahaya kalau hanya ditangkis saja.
In Hong penasaran.
Serangannya tadi amat lihay dan kalau lawan tidak memiliki ilmu silat tinggi tak mungkin dapat menghindarkan diri.
Namun pemuda itu masih dapat mengelak dan menangkis.
Selagi ia hendak mendesak terus, dari samping Coan Sim Hwesio kembali mengulur tangan mendorongnya dan kembali angin dorongan itu membuat In Hong terhuyung.
Celaka pikirnya.
Tidak menguntungkan kalau ia melawan terus, maka sekali kakinya dienjotkan, ia telah melayang naik ke atas genteng.
Coan Sim Hwesio dan pemuda yang bukan lain adalah Ong Teng San itu, tidak mau mengejarnya.
Mereka maklum bahwa gadis itu takkan mungkin dapat keluar dari kepungan para Hwesio Siauw-Lim-Si.
Betapapun juga mereka tidak mau tinggal diam dan keduanya lalu pergi mela-kukan penjagaan di lain tempat, Hwesio itu lari ke kanan untuk membantu penjagaan di tembok sebelah kanan, sedangkan Teng San melompat naik ke atas genteng melakukan penjagaan di atas.
In Hong berlari terus, menuju keluar.
Maksudnya hendak lekas-lekas pergi dari tempat itu, apalagi setelah ia melihat dari atas betapa banyak Hwesio-Hwesio menjaga di sana sini.
Tempat yang ketika ia datang nampak sunyi itu sekarang sudah berobah sama sekali.
Di setiap sudut terdapat lampu penerangan.
Selagi ia mencari tempat yang dapat dilaluinya untuk melarikan diri, tiba-tiba terdengar bentakan.
"Nona tak tahu aturan, tidak lekas-lekas menyerah?"
In Hong memutar pedangnya untuk menangkis ketika merasa sambaran angin datang dari sebelah kanan.
Terdengar suara keras dan ujung sebatang toya terbabat putus oleh pedang Liong-gan-kiam.
Hwesio yang menyerangnya berseru kaget, akan tetapi dua orang kawannya lagi maju menubruk untuk menangkap In Hong.
Nona ini melihat dirinya dikeroyok tiga orang Hwesio, tidak mau melayani dan secepat burung terbang, ia melompat turun lagi dari atas genteng.
Kemudian ia berlari terus ke depan dan anehnya, tiga orang Hwesio itupun tidak mau mengejarnya.
Begitu kedua kaki In Hong menginjak tanah, ia dikejutkan oleh bentakan mengguntur.
"Penjahat wanita yang berani mati mengacau Siauw-Lim-Si, lebih baik kau menyerah untuk Pinceng ikat kaki tanganmu!"
In Hong melihat seorang Hwesio tinggi besar yang memegang sebatang rantai baja panjang.
Darahnya naik mendengar bentakan itu.
Masa ia hendak diikat dengan rantai baja yang lebih pantas untuk mengikat gajah itu?
Tanpa mengeluarkan suara, pedangnya membabat dan secepat kilat ia telah melakukan serangan ke arah perut Hwesio itu dengan tusukan maut.
"Siancay... ganas betul kau!"
Hwesio itu menggerakkan rantainya dan hampir saja pedang In Hong terlepas dari pegangannya ketika dua senjata itu bertemu dengan kerasnya.
Diam-diam In Hong amat terkejut.
Biarpun gerakan para Hwesio di Siauw-Lim-Si ini tidak terlalu cepat, namun ia harus akui bahwa mereka rata-rata memiliki tenaga yang besar.
Telapak tangannya sampai terasa pedas ketika gagang pedangnya tergetar dalam pertemuan senjata itu.
Ia cepat menarik pedang dan kembali melakukan tiga jurus serangan bertubi-tubi.
Namun dengan pemutaran rantai sehingga merupakan kitiran baja yang tangguh, semua serangannya gagal.
"Suheng, jangan lepaskan dia!"
Terdengar suara Hwesio lain membentak dan In Hong menjadi gemas sekali melihat datangnya dua orang Hwesio lain yang memegang toya.
Melayani si tinggi besar dengan rantai ini saja belum tentu ia akan dapat menang secara cepat, apalagi sekarang datang pula dua orang pengeroyok.
Dan ia maklum bahwa senjata toya bagi Siauw-Lim-Si merupakan senjata yang ampuh dan ilmu toya Siauw-Lim-Si amat terkenal ketangguhannya.
"Kalian memaksakan dan tidak mau membiarkan aku pergi? Baik, kalian rasakan ini!"
Bentaknya marah sekali dan tiba-tiba, ketika tangan kiri In Hong bergerak, sinar hitam menyambar ke arah tiga orang Hwesio itu.
Inilah Toat-beng-hek-kong yang luar biasa.
Pasir hitam halus yang mengandung racun itu sukar sekali dihindarkan, apalagi dipergunakan di waktu malam.
Biarpun tiga orang Hwesio itu cepat-cepat mengelak, namun masih saja mereka terkena samberan pasir dan segera terdengar suara mengaduh-aduh dari tiga orang ini.
In Hong mempergunakan kesempatan ini untuk berlari terus.
Akan tetapi karena ia tidak kenal jalan dan tempat itu ternyata amat luasnya, ia tidak tahu harus mengambil jalan mana dan berlari saja dengan membuta.
Ia tiba di sebuah ruangan lain yang amat terang dan ditengah-tengah ruangan ini ia melihat seorang Hwesio tua, bertubuh tinggi besar dan bermuka hitam, tengah duduk bersamadhi.
Sebatang toya besar menggeletak di dekatnya.
Melihat sikap yang angker dan muka yang memancarkan cahaya kelembutan itu, In Hong hendak menghindari Hwesio ini dan hendak keluar lagi dari ruangan itu untuk mengambil jalan lain.
Akan tetapi, tiba-tiba Hwesio bermuka hitam itu membuka matanya dan berkata dengan suara lemah lembut.
"Nona, kau sudah memasuki Siauw-Lim-Si secara menggelap, jangan kau harap akan dapat keluar lagi. Lebih baik kau mengakulah kepada Pinceng, siapa namamu dan apa keperluanmu datang ke tempat kami ini. Ketahuilah bahwa Pinceng adalah Ceng Seng Hwesio dan Pinceng memimpin para anak murid Siauw-Lim-Si. Pinceng bukan seorang yang berhati kejam, dan kalau sekiranya menurut pertimbangan Pinceng, dosamu tidak terlalu besar, tentu kau akan Pinceng lepaskan."
Mendengar ini, In Hong memasuki ruangan itu.
Lebih baik mengakui terus terang, pikirnya.
Kalau dia diampuni dan dibolehkan pergi tanpa gangguan, itu baik sekali.
Sebaliknya kalau tidak diampuni, daripada menghadapi keroyokan semua Hwesio di Siauw-Lim-Si, lebih baik terlebih dulu ia menggempur Hwesio pemimpin ini!
Kalau saja ia bisa membikin Hwesio ini tidak berdaya, ia dapat mempergunakan sebagai perisai untuk keluar melarikan diri.
Setelah berpikir demikian, In Hong lalu menghadapi Ceng Seng Hwesio dan berkata, pedangnya melintang di depan dada.
"Lo-Suhu, terus terang saja, kedatanganku disini bukannya mengandung maksud buruk. Aku bernama Kwee In Hong dan aku adalah murid dari Hek Moli."
"Sudah Pinceng duga, melihat gerakan pedangmu yang ganas dan melihat Toat-beng-hek-kong tadi. Teruskan, nona, kau bilang tidak bermaksud buruk, apakah maksud kedatanganmu malam-malam di Siauw-Lim-Si?"
Hwesio itu memotong. In Hong terkejut. Hwesio ini tadi duduk bersemadhi saja, bagaimana bisa ketahui semua perbuatannya? Akan tetapi ia tidak gentar, dan melanjutkan kata-katanya.
"Guruku tewas oleh keroyokan orang-orang Kun-Lun-Pai dan aku telah naik ke Kun-Lun-San untuk membalas dendam. Akan tetapi aku dikalahkan oleh tenaga lweekang mereka, oleh karena itu, kedatanganku di Siauw-Lim-Si ini hanya untuk meminjam kitab I-Kin-Keng."
"Meminjam kitab Suci Tat-mo I-Kin-Keng?"
Ceng Seng Hwesio benar-benar terkejut dan heran.
"Untuk apakah?"
"Untuk kupelajari isinya dan kelak tentu akan kukembalikan dengan pernyataan terima kasihku. Bahkan, kalau dengan I-Kin-Keng aku berhasil membalas sakit hati Guruku, aku kelak sambil mengembalikan kitab, rela menerima segala hukuman dari Siauw-Lim-Si. Harap kau orang tua suka mempertimbangkan dan meluluskan permintaanku."
Mendengar ini, Ceng Seng Hwesio bangkit berdiri dan tertawa bergelak.
"Lucu, lucu...! Kau anggap begitu mudah meminjam I-Kin-Keng? Ha, ha, nona, tidak sembarang manusia di kolong langit ini dapat mempelajari Tat-Mo I-Kin-Keng, apalagi dalam waktu singkat. Ini masih belum penting, yang terutama sekali, siapapun juga di dunia ini tidak dibolehkan menjamah kitab Suci itu tanpa perkenan dari Suhu, Ketua Siauw-Lim-Si. Apalagi kau datang dengan maksud hendak mencuri kitab itu. Ah, ini sebuah kedosaan besar sekali, nona. Kalau Hek Moli yang datang kesini melakukan perbuatan ini, Pinceng masih dapat memakluminya, akan tetapi kau... benar-benar kebetulan dan aneh sekali..."
In Hong tidak mengerti apa maksud kata-kata terakhir itu, akan tetapi ia sudah tidak sabar lagi dan berkata keras sambil menggerak-gerakkan pedangnya.
"Lo-Suhu, bagaimana keputusanmu, boleh atau tidak?"
"Nona, kau bilang tidak bermaksud buruk, akan tetapi kau telah melukai tiga orang murid Siauw-Lim-Si dengan toat-beng-hek-kong."
"Aku tidak sengaja, aku terpaksa karena didesak dan untuk menyelamatkan diri. Aku menyesal sekali dan inilah obat penawar untuk mereka!"
Kata In Hong sambil merogoh sakunya.
"Tak perlu, nona. Orang lain boleh menakuti toat-beng-hek-kong, akan tetapi Siauw-Lim-Si tidak. Kami ada obat penawar sendiri untuk senjata rahasiamu yang ganas itu. Dan tentang peminjaman kitab Suci itu, tentu saja tidak mungkin!"
"Pinjam kitab tidak boleh dan sekarang akupun tidak boleh keluar? Begitukah kebijaksanaan Siauw-Lim-Si?"
In Hong sudah siap sedia untuk mengamuk.
"Tentang hal kedua, kau sudah melakukan dosa besar, sudah melakukan pelanggaran dan oleh karena itu, kau harus ditangkap dan dihadapkan Ketua Siauw-Lim-Si. Hanya Suhu yang berhak memberi keputusan. Oleh karena itu, harap kau suka menyerah."
"Orang tua, kau sama saja dengan yang lain! Aku harus menyerah? Terimalah ini!"
Tangan kiri In Hong bergerak dan sinar hitam menyambar ke arah Ceng Seng Hwesio!
Hwesio ini mengebutkan ujung lengan bajunya dan semua pasir hitam yang menyerangnya runtuh.
Sebelum In Hong sempat melompat keluar, Hwesio ini sudah menyambar dengan toyanya, menyerampang kaki gadis itu.
In Hong cepat melompat ke atas dan membalas serangan lawan dengan tusukan pedangnya.
Tak lama kemudian keduanya sudah bertanding dengan hebatnya.
In Hong maklum bahwa kali ini ia menghadapi lawan berat, maka ia tidak berlaku sungkan lagi.
Pedangnya bergerak cepat sekali sehingga berubah menjadi segulung sinar yang berkilauan, menyambar-nyambar dan berbahaya sekali.
Ia mengerahkan seluruh kepandaiannya dan kini terlihatlah ilmu pedang yang ia warisi dari Hek Moli, ilmu pedang yang amat aneh gerakannya dan amat ganas sifatnya.
Menghadapi ilmu pedang ini, diam-diam Ceng Seng Hwesio kagum sekali.
Tidak heran banyak orang roboh karena ilmu pedang yang hebat ini dari Hek Moli, pikirnya.
Ia sudah memiliki banyak sekali pengalaman dan sebagai murid kepala dari Bu Kek Tianglo, tentu saja Hwesio ini memiliki kepandaian tinggi.
Akan tetapi, belum pernah ia bertemu dengan lawan yang memiliki ilmu pedang sehebat ini, maka ia menjadi kewalahan juga menghadapinya.
Baiknya, dalam hal tenaga lweekang, In Hong masih kalah jauh sekali sehingga tiap kali toya membentur pedang, gadis itu merasa telapak tangannya seperti dibeset kulitnya, perih dan sakit bukan main.
Maka ia selalu menghindari bentrokan senjata dan inilah kelemahannya sehingga ia tidak dapat mendesak lawannya.
Sebaliknya, sambaran toya di tangan Ceng Seng Hwesio mengeluarkan angin yang amat kuat.
In Hong maklum bahwa kalau dilanjutkan, ia akhirnya akan kalah juga, maka lagi-lagi tangan kirinya bergerak dan dari jarak dekat sekali, pasir hitamnya menyambar ke arah muka Ceng Seng Hwesio.
"Ganas sekali...!"
Seru Hwesio ini yang terpaksa melompat ke belakang sambil mengibas dengan lengan bajunya agar terlepas daripada serangan maut ini.
Ketika ia melihat lagi, nona itu sudah lari memasuki ruangan di sebelah kiri.
Ceng Seng Hwesio tidak mengejar, bahkan tertawa.
"Ha, ha, nona yang ganas. Kau memasuki Ngo-Heng-Thia (Ruangan Ngo-heng), biarlah kau mencoba kepandaianmu dengan tempat ujian Siauw-Lim-pay yang paling sulit!"
Setelah berkata demikian, Hwesio ini berdongak ke atas dan berkata keras.
"Sute, kau jagalah dimulut Ngo-Heng-Thia dan cegat dia kalau keluar!"
Ong Teng San memang sejak tadi berdiri di atas genteng menonton pertempuran.
Ia tadi mendengar semua kata-kata yang diucapkan oleh In Hong dan wajahnya berubah pucat.
Nona itu bernama Kwee In Hong, pikirnya, tidak salah lagi, dia itulah anak perempuan dari Ibu tirinya yang dikabarkan lenyap!
Pikiran Teng San menjadi tidak karuan sehingga ia kurang hati-hati dan kakinya yang menginjak genteng menerbitkan suara, maka Ceng Seng Hwesio mengetahui kehadirannya.
Mendengar suara Suhengnya, ia menjawab.
"Baik, Suheng..."
Cepat ia melompat turun dan berlari untuk menjaga di pintu keluar ruangan Ngo-Heng-Thia itu.
Dadanya masih berdebar-debar.
Apakah yang harus ia lakukan terhadap gadis itu?
Teringatlah ia kepada Ibu tirinya dan teringat pula ia akan penuturan Ibu tirinya bahwa Adik tirinya yang bernama In Hong ini lenyap ketika terjadi keributan, ketika terjadi pembunuhan atas diri suami Ibu tirinya itu oleh...
Ayahnya!
Jadi, gadis ini adalah kurban daripada Ayahnya juga!
Iapun mendengar kata-kata In Hong tadi bahwa Guru In Hong yang bernama Hek Moli telah terbunuh dan kini gadis ini datang untuk mencuri kitab I-Kin-Keng, untuk memperdalam ilmu silat dan kelak membalas dendam atas kematian Gurunya itu.
Hal ini dapat ia maklumi.
Bukankah semenjak kecil gadis ini kehilangan Ayah bundanya dan menganggap Gurunya sebagai pengganti orang tua?
Sekarang Gurunya terbunuh orang, tidak terlalu mengherankan apabila gadis itu mengerahkan seluruh usaha untuk membalas dendam.
Demikianlah, dengan hati tidak karuan rasa, Teng San dengan pedang di tangan menjaga di pintu keluar Ngo-Heng-Thia, dan diam-diam ia berkhawatir sekali akan keselamatan In Hong!
Ia tahu bahwa Ngo-Heng-Thia adalah ruangan untuk menguji para murid tingkat tinggi, dan merupakan tempat yang amat berbahaya.
Dia sendiri baru beberapa bulan yang lalu diuji di dalam Ngo-Heng-Thia, dan biarpun ia dapat keluar dengan selamat, namun ia masih terluka pundaknya.
Bagaimana dengan keadaan In Hong?
Gadis yang pemberani ini memasuki ruangan Ngo-Heng-Thia tanpa curiga sedikitpun.
Ia tidak tahu bahwa tempat itu adalah tempat untuk menguji kepandaian murid yang sudah tinggi tingkat kepandaiannya, maka ia berjalan terus dengan cepat.
Namun ia tetap waspada, karena ia menduga, di ruangan inipun ia tentu akan menemui lawan.
Ia melihat ruangan itu hanya memiliki sebuah lorong yang lebarnya kurang lebih sepuluh kaki dan agak gelap.
Tanpa curiga ia masuk ke dalam lorong ini.
Alangkah kagetnya ketika ia masuk baru beberapa langkah, ia mendengar suara keras di belakangnya dan pintu lorong itu tertutup dari atas, tertutup oleh lapisan besi!
Keadaan menjadi remang-remang dan tidak ada jalan kembali lagi.
"Tempat apa ini?"
Tanyanya seorang diri sambil berdiri diam.
Ia harus membiasakan pandangan matanya di dalam tempat yang setengah gelap ini, kemudian dengan berani ia melangkah maju perlahan-lahan.
Baru kurang-lebih lima langkah ia maju, tiba-tiba dari kiri terasa sambaran angin ke arah kepalanya.
Cepat In Hong mengelak dengan menggerakkan kepala ke belakang sambil membabat dengan pedangnya.
Terdengar suara keras dan pedangnya bertemu dengan sebuah lengan yang terbuat dari pada baja!
Lengan inilah kiranya yang tadi memukulnya secara tiba-tiba, keluar dari dinding!
"Ah, kiranya tempat rahasia!"
Pikirnya setelah melihat lengan itu lenyap kembali.
"Aku harus hati-hati sekali..."
Kembali ia melangkah maju.
Tiba-tiba dari atas meluncur besi yang beratnya ratusan kati.
Kalau orang tertimpa besi ini, pasti kepalanya akan hancur.
In Hong mengelak cepat ke kiri, akan tetapi kembali dari kiri keluar bayangan yang menubruknya!
Pada saat itu, besi yang tadi menimpa, telah tertarik dan naik kembali, karena besi itu ternyata tergantung pada sehelai tali baja yang kuat.
Karena serangan bayangan yang menubruknya itu amat tidak terduga dan cepat, In Hong terpaksa mempergunakan gerakan Trenggiling-menggelundung-dari-bukit untuk mengelak.
Ia menjatuhkan diri di atas lantai dan menggelinding sambil tidak lupa membabat dengan pedangnya ke arah bayangan yang menyerangnya tadi.
Ternyata bahwa bayangan itu adalah sebuah orang-orangan dari besi pula, yang digerakkan dengan alat dan keluar sendiri dari dinding kiri.
Setelah tidak berhasil menubruk mangsanya, orang-orangan ini bergerak sendiri mundur dan masuk ke dalam dinding.
In Hong melompat berdiri dan duduk beberapa lama ia termenung.
Benar-benar berbahaya, pikirnya.
Tempat agak gelap dan semua serangan terjadi tiba-tiba, tidak dapat diduga darimana akan muncul orang-orangan itu.
Dengan pedangpun tidak berguna menghalau bahaya, karena orang-orangan dari baja ini tidak terluka oleh pedang.
Ia lalu berpikir.
Gerakan orang-orangan dan juga lengan yang menyerangnya tadi adalah gerakan ilmu silat, bukan penyerangan biasa.
Untuk menghadapi serangan-serangan itu bahkan lebih baik kalau ia bertangan kosong, agar ia dapat mempergunakan kegesitannya untuk mengelak.
Dengan pikiran ini, In Hong lalu menyimpan pedangnya, kemudian ia melangkah maju dengan hati tabah, matanya tajam memandang ke depan dan seluruh urat syarafnya menegang, waspada menghadapi segala kemungkinan.
Tidak ada jalan lain baginya, harus maju terus karena jalan belakang sudah tertutup.
Ia melangkah maju lagi dan melihat bahwa lorong itu membelok ke kiri.
Baru saja ia tiba di tikungan itu, tiba-tiba ia tnelihat sebuah orang-orangan tinggi besar yang terus saja menyerangnya dari depan.
Serangan dengan jurus-jurus ilmu silat yang datangnya bertubi-tubi!
Mula-mula orang-orangan ini menjotos ke arah lehernya, lalu tiba-tiba merendahkan diri dan menendang.
In Hong mempergunakan kegesitannya.
Ia mengelak ke kanan dan miringkan tubuh sambil menyampok dengan telapak tangannya ketika kaki orang-orangan ini menyambar.
Akan tetapi, orang-orangan ini tidak berhenti sampai disitu saja.
Seperti bernyawa, orang-orangan ini terus melakukan serangan dan tiga jurus terus-menerus!
In Hong menjadi marah.
Ketika orang-orangan itu menggunakan lengan besi untuk mencengkeram kepalanya, ia mengelak ke kiri dengan cepat sekali dan menggunakan telapak tangannya untuk mendorong dada patung itu.
Akan tetapi, ternyata bahwa orang-orangan itu tidak dapat didorong jatuh.
bahkan sebaliknya kini kedua tangan orang-orangan itu memeluknya dengan gerakan tangan dari kanan kiri, cepat bukan main!
In Hong hampir mengeluarkan teriakan terkejut, namun gadis ini memang memiliki kegesitan luar biasa, maka ia cepat merosot atau merendahkan diri, hampir berjongkok untuk menghindarkan diri dari pelukan, kemudian dari bawah ia mendorongkan kedua tangannya ke arah tubuh orang-orangan itu sekuat tenaga.
Kali ini ia berhasil karena orang-orangan itu terjengkang dan roboh mengeluarkan suara hiruk-pikuk!
Bagaikan seekor burung, In Hong melompati patung itn dan baru saja kakinya menginjak lantai, dari kanan kiri, yakni keluar dari dinding kanan kiri, meluncur pedang tajam yang menusuknya dari kanan kiri.
In Hong tidak mau mundur, bahkan ia maju selangkah dan mendengar desir angin dari kanan kiri, ia cepat membalikkan tubuhnya untuk menghadapi dua orang-orangan yang memegang pedang!
"Setan!"
Makinya.
"Kalian kira aku takut?"
Sambil berkata demikian, ia cepat mengelak dari sambaran pedang yang dilakukan oleh orang-orangan sebelah kiri.
Pedang ini menyambar ke arah lehernya dan gerakan orang-orangan ini memang gerakan serangan ilmu silat pedang yang lihay.
Dilain saat, In Hong sudah harus menghadapi serangan bertubi-tubi dari dua orang-orangan itu.
Baiknya gin-kang dari gadis ini sudah tinggi.
Sekali mengenjot tubuhnya, ia telah melompat naik dan dengan sebelah kakinya, ia berdiri di atas kepala orang-orangan yang di kiri!
Dengan hati geli gadis ini melihat betapa dua orang-orangan itu terus saja bergerak-gerak menyerang dengan pedang, kemudian setelah habis jurus-jurus itu dimainkan, dua orang-orangan itu tiba-tiba bergerak kembali ke dinding di kanan kiri!
In Hong cepat melompat turun dan melanjutkan perjalanannya.
Hatinya mulai gembira, karena di tempat yang aneh ini ia mendapat kesempatan untuk menguji kepandaiannya, sungguhpun ujian seperti ini bukannya tidak berbahaya!
Serangan dari alat-alat rahasia itu merupakan serangan sungguh-sungguh dan ia terlengah berarti ia akan tewas di tempat setengah gelap ini!
In Hong maklum bahwa ilmu silat yang digerakkan dengan perantaraan orang-orangan itu adalah ilmu silat Siauw-Lim-Si yang amat lihay dan setiap pukulan orang-orangan besi itu tentu saja amat kuat.
Baiknya, dari Hek Moli ia pernah mendapat tahu biarpun serba sedikit tentang ilmu-ilmu silat tinggi dari partai-partai persilatan besar, dan pula, nona ini sudah memiliki ginkang yang hampir sempurna, maka mengandalkan ginkangnya, ia tidak merasa gelisah.
Ia maju terus dan sebentar saja berturut-turut ia harus menghadapi keroyokan orang-orangan yang berjumlah tiga orang, kemudian empat buah orang-orangan.
Dengan amat susah payah, akhirnya berhasil juga nona ini melewati rintangan-rintangan ini, ia merasa lelah sekali dan juga agak pening karena apa yang ia alami benar-benar amat berbahaya.
Ketika ia melewati empat orang-orangan yang mengeroyoknya tanpa terluka, tiba-tiba ketika ia melangkah ke depan, kakinya terjeblos lubang!
Kalau bukan In Hong, tentu akan terjeblos terus ke bawah.
Baiknya nona ini memang amat gesit.
Dengan sebelah kaki terjeblos lubang sehingga tubuhnya sudah masuk sebagian, tangannya dapat menepuk lantai di pinggir lubang dan sambil mengerahkan ginkangnya, ia dapat melompat tinggi melewati lubang itu!
In Hong berdiri dengan muka pucat dan keringat dingin membasahi lehernya.
Ia menghapus keringat itu dengan saputangan, menenteramkan hatinya sambil beristirahat, kemudian ia maju lagi.
Dari jauh ia sudah melihat pintu lorong itu terbuka lebar, maka hatinya menjadi girang sekali.
Akan tetapi, sebelum tiba dipintu itu, ia melewati sebuah ruangan yang berbentuk bundar dan lebih luas daripada lorong yang dilaluinya tadi.
Dan di ruangan itu, berdiri lima buah orang-orangan sebesar manusia, kesemuanya orang-orangan seperti Hwesio yang memegang toya!
Ia melihat bahwa pada dada setiap orang-orangan terdapat tulisan huruf besar.
Yang pertama dadanya ada tulisan KIM (emas), kedua BOK (kaju), ketiga SUI (air), keempat HO (api) dan kelima TOUW (logam tanah).
Inilah Ngo-Heng-Tin (Barisan Ngo-heng) yang merupakan inti daripada lorong Ngo-Heng-Thia itu.
Di ruang Ngo-Heng-Thia inilah barisan Ngo-Heng-Tin telah menanti untuk melakukan ujian terakhir, ujian yang paling berat.
Lima orang-orangan itu digerakkan oleh alat-alat rahasia yang amat luar biasa sehingga gerakan mereka teratur seperti gerakan lima orang ahli silat Ngo-heng-kun dari Siauw-Lim-Si!
Disini pula hanyak anak-anak murid Siauw-Lim-pay yang pandai gagal dalam ujian, bahkan belum lama ini Ong Teng San yang kepandaiannya sudah tinggi, masih mendapat luka di pundaknya ketika ia berusaha melewati rintangan terakhir ini.
Namun In Hong tidak tahu akan lihaynya lima orang-orangan ini.
Bahkan ia tertawa mengejek.
"Dilihat dari jauh, benar-benar seperti Hwesio-Hwesio tulen! Benar-benar Siauw-Lim-Si pandai menakut-nakuti orang!"
Ia berjalan masuk ke dalam ruangan itu dengan waspada.
Baru saja kedua kakinya menginjak lantai, otomatis lima orang-orangan itu mulai bergerak.
Mereka bergerak dan sebentar saja mereka itu mengurung In Hong.
Ketika gadis ini memindahkan kakinya, otomatis lima orang-orangan itu mulai menyerang!
Orang-orangan itu diperlengkapi dengan alat-alat dari per dan kawat-kawat halus dan di lantai itulah pusat pergerakan mereka.
Setiap kali lantai terinjak, pasti mengakibatkan gerakan mereka yang berubah-ubah, tergantung dimana orang yang dikeroyok bertindak!
Rintangan terakhir ini memang berat.
Setiap gerakan orang-orangan itu adalah penyerangan senjata toya yang sesuai dengan ilmu silat Ngo-heng-kun yang luar biasa.
Biarpun orang-orangan tidak mengenal ilmu lweekang, namun gerakan mereka amat kuat, sedikitnya setiap sambaran toya itu mengandung tenaga tigaratus kati!
Lima batang toya menyambar-nyambar dan menyerang In Hong dari segala jurusan, dan gadis ini sebentar saja menjadi terdesak hebat dan kewalahan.
Akhirnya ia menjadi nekat dan marah.
Dicabutnya pedang Liong-gan-kiam dan diputarnya untuk melindungi dirinya.
Berbeda dengan rintangan-rintangan yang tadi, orang-orangan yang menye-rangnya selalu akan mengundurkan diri sendiri setelah penyerangan habis.
Akan tetapi, barisan Ngo-heng ini tidak demikian.
Selama orang yang dikepung mereka masih berada di ruangan itu, lima orang-orangan ini masih akan menyerang terus, karena seperti telah dituturkan tadi, pergerakan mereka berpusat pada per-per di bawah lantai sehingga kalau ada orang menginjak lantai, per-per bekerja dan otomatis orang-orangan itupun bergerak menyerang dengan ilmu toya Ngo-heng-kun dari jurus-jurus yang paling lihay.
In Hong tidak melihat jalan keluar.
Beberapakali ia mencoba untuk menerobos kepungan itu dan melarikan diri, namun sia-sia.
Datangnya toya-toya itu amat cepat dan amat berbahaya sehingga lagi-lagi usahanya menerobos gagal karena ia harus menyelamatkan diri dari sambaran toya.
Pedangnya mengeluarkan bunyi "Trang-tring-trang!"
Berkali-kali ketika bertemu dengan toya-toya yang mendesaknya.
Tubuhnya lincah bergerak kesana kemari, karena tak mungkin baginya untuk menghindarkan diri dengan jalan menangkis saja.
Kulit telapak tangannya sampai lecet-lecet dan napasnya mulai memburu.
Keringat memenuhi jidatnya dan In Hong merasa lelah bukan-main.
Ia telah maklum bahwa takkan dapat mempertahankan lebih lama.
Akan tetapi sama sekali ia tidak takut, bahkan merasa penasaran dan marah sekali.
Beberapa kali ia menyebar pasir hitamnya ke arah lima orang-orangan itu seakan-akan ia menghadapi lawan terdiri dari manusia-manusia biasa.
Orang-orangan itu tentu saja tidak merasakan sesuatu dan melanjutkan penyerangan mereka.
Beberapa kali In Hong membacok dan mengenai tubuh orang-orangan, namun hanya bunga api yang berpijar.
Ia mencoba untuk menendang, mendorong, tetap sia-sia.
Lima boneka besar ini benar-benar kuat sekali.
Limapuluh jurus lebih In Hong mempertahankan diri.
Ia demikian sibuk menghadapi keroyokan lima orang-orangan ini sehingga ia tidak merasa bahwa sejak tadi ada sepasang mata mengintai dari luar pintu ruangan itu dengan pandang mata kagum.
Pengintai ini adalah Teng San.
Pemuda ini memang benar-benar kagum bukan main melihat cara In Hong menghadapi barisan Ngo-heng.
Hebat, pikirnya.
Gadis itu belum pernah mengenal Ngo-Heng-Tin, dan belum pernah mempelajari Ngo-heng-kun sehingga tentu saja tidak dapat menduga datangnya serangan-serangan toya itu.
Namun, bukan saja dapat mempertahankan diri selama limapuluh jurus dengan baiknya tanpa terluka sedikitpun, bahkan masih dapat menendang, memukul dan mendorong patung-patung hidup itu!
"Sayang lweekangnya kurang kuat,"
Pikir Teng San.
"Kalau ia berhasil mencuri kitab I-Kin-Keng dan mempelajarinya, ia akan menjadi lihay sekali dan biarpun Suhu sendiri agaknya akan sukar menghadapinya."
Semenjak tadi Teng San memang menunggu di luar pintu.
termenung dan memikirkan keadaan gadis yang dikejar-kejar, gadis yang sebetulnya masih Adik tirinya sendiri.
Ia makin berduka kalau mengingat kembali kepada Ibu tirinya yang amat disayangnya seperti Ibu sendiri.
Timbul rasa kasihan di dalam hatinya terhadap In Hong, terhadap Adik tirinya.
Kalau sampai Adik tirinya ini mengalami malapetaka disini, bukankah Ibu tirinya akan berduka sekali?
Kemudian ia mendengar suara pedang beradu dengan toya-toya itu, maka cepat ia mengintai ke dalam dan dapat menyaksikan kelincahan In Hong.
Ia menjadi kagum dan makin sayang, tidak tega membiarkan In Hong mengalami kebinasaan disitu.
Setelah melihat betapa keadaan gadis itu mulai payah dan kelelahan, Teng San cepat melompat ke dalam ruangan Ngo-Heng-Thia itu.
Ia lari kedinding sebelah kiri, menekan beberapa kenop dan lima orang-orangan itu tiba-tiba terdiam, tidak dapat bergerak lagi!
In Hong cepat memutar tubuh menghadapi Teng San.
Pedangnya siap menyerang karena ia mengira bahwa pemuda yang tadi dilihatnya membaca kitab ini akan menangkapnya.
Akan tetapi, ia melihat pemuda itu tidak memegang senjata, bahkan kini ia tahu bahwa pemuda inilah yang menghentikan pengeroyokan orang-orangan itu.
"Nona, kalau kau ingin keluar dengan selamat, lekas kau lari keluar dari ruangan ini, membelok ke kanan, terus saja sampai kau tiba di pagar tembok dan melompati pagar itu. Aku akan mengejarmu dari belakang dan kau jangan melayani semua rintangan. In Hong tertegun. Ia tidak tahu mengapa pemuda yang tampan dan halus sekali gerak geriknya ini berusaha menolongnya, sedangkan tadi menyerangnya dengan sungguh-sungguh! Ia juga masih belum percaya betul-betul, akan tetapi dalam keadaan seperti itu, tidak ada jalan lain kecuali menurut nasihat ini. Ia hanya menganggukkan kepala dan segera melompat keluar. Betul saja, di depan pintu ruangan Ngo-Heng-Thia ini terdapat tiga jalan simpangan, satu lurus ke depan, kedua membelok ke kiri dan ketiga membelok ke kanan. Ia mengambil jalan ketiga ini, menikung ke kanan dan terus berlari cepat, pedangnya masih siap di tangan dan pasir hitam di tangan kiri. Ketika In Hong menengok, ia melihat pemuda tadi benar-benar mengejarnya dengan ilmu lari cepat yang tinggi pula. Dan kini pemuda itu telah memegang sebatang pedang! "Kau hendak lari kemana?"
Pemuda itu membentak sambil mengejar terus.
Dari depan mendatangi tiga orang Hwesio gundul yang bertugas menjaga disitu.
Mereka ini memegang toya dan melihat kedatangan In Hong, mereka langsung menyerang dengan gerakan kilat.
In Hong mengelak sambil memutar pedang, terdengar suara.
"Cring, traang!"
Dan ujung sebatang toya kena dibikin buntung!
Namun, taat akan nasihat pemuda tadi, In Hong tidak melayani terus dan cepat melompat tinggi dan melanjutkan larinya lurus ke depan.
Ia tidak menengok lagi dan hanya mendengar suara pemuda tadi berkata keras.
"Sam-wi takusah mengejar, biarkan siauwte yang menangkapnya!"
In Hong berlari terus dan sekali lagi ia menengok, ia melihat pemuda itu masih terus mengejarnya dengan pedang di tangan!
Ia tidak mengerti akan sikap pemuda ini.
Mengapa ia hendak menolongnya, pikir In Hong.
Akan tetapi pada saat seperti ini, tidak ada waktu lagi baginya untuk menyelidiki hal itu.
Ia sudah amat lelah, kedua kakinya sudah mulai gemetar dan kedua tangannya lemas.
Juga kedua telapak tangannya lecet-lecet mengeluarkan darah.
Malam sudah lewat dan pagi mulai menampakkan diri.
Setengah malam lamanya In Hong berputaran di dalam kurungan Siauw-Lim-Si ini!
Setengah malam lamanya ia bertemu dengan lawan berganti-ganti, melakukan pertempuran puluhan kali banyaknya.
Kembali lima orang Hwesio mencegat di depan.
In Hong mengeluh.
Celaka aku sekarang, pikirnya.
Lima orang Hwesio itu adalah Hwesio-Hwesio tua dan mereka semua memegang sebatang toya dengan cara seperti yang dilakukan oleh lima orang-orangan tadi!
Baru menghadapi keroyokan lima orang-orangan saja, ia sudah hampir celaka, apalagi sekarang kalau harus menghadapi keroyokan lima orang Hwesio tulen sedangkan keadaannya sudah amat lelah, sudah dapat dibayangkan akibatnya!
Lima orang Hwesio itu menghadang dan melihat nona yang dikejar-kejar itu datang, seorang di antaranya berkata dengan bengis.
"Jangan harap bisa lari sebelum menghadapi Ngo-Heng-Tin dari Siauw-Lim-Si!"
In Hong terkejut.
Apa yang ia takuti memang benar-benar.
Lima orang Hwesio tua ini tentu sama dengan lima orang-orangan tadi.
Ia masih ingat huruf-huruf yang merupakan Ngo-heng pada dada orang-orangan tadi.
Kalau Ngo-Heng-Tin (barisan Ngo-heng) boneka saja sudah demikian lihaynya, apalagi sekarang Ngo-Heng-Tin tulen.
Namun In Hong tak dapat memikirkan jalan lain.
Diam-diam ia mendongkol sekali dan merasa ditipu oleh pemuda itu.
Sudah terang bahwa pemuda itu sengaja menggiringnya supaya menghadapi Ngo-Heng-Tin yang tangguh ini.
Jadi pemuda itu tak lain hanya memancingnya, agar ia mudah ditawan dengan bantuan Ngo-Heng-Tin.
Kurangajar!
In Hong marah sekali dan ia sudah siap hendak mempergunakan toat-beng-hek-kong, pasir-hitamnya.
Akan tetapi, tiba-tiba ia mendengar suara halus dari belakang, suara yang dibisikkan dengan penyaluran tenaga khikang sehingga yang dapat mendengar hanya dia sendiri, tidak sampai terdengar oleh lima orang Hwesio yang berada jauh di depan itu.
"Nona, jangan menggunakan hek-kong!"
Selagi In Hong termangu-mangu dan ragu-ragu, terdengar pemuda itu berkata dengan lantang.
"Ngo-wi Suheng, harap membuka jalan, biarkan siauwte menangkapnya sendiri. Ini merupakan ujian bagi siauwte dan demikian pula perintah twa-suheng!"
Lima orang Hwesio itu ketika mendengar suara Teng San, tidak ragu-ragu lagi.
Mereka semua maklum bahwa ilmu kepandaian Teng San, Sute mereka yang termuda ini, sudah amat tinggi, bahkan akhir-akhir ini, Teng San mendapat kepercayaan untuk menerima ilmusakti I-Kin-Keng!
Maka mereka tersenyum dan melompat minggir sehingga ketika In Hong yang berlari cepat menerobos masuk, mereka tidak mengganggu.
Bayangan In Hong berkelebat cepat di depan mata mereka, disusul oleh bayangan Teng San yang tak kalah cepatnya.
"Siauw-Sute, hati-hatilah, dia lihay dan ganas sekali!"
Kata seorang Hwesio kepada Teng San.
"Baik, Suheng..."
Kejar mengejar ini berjalan terus dan tanpa ada perintang lagi, In Hong akhirnya tiba di bawah pagar tembok.
Gadis ini telah berdebar hatinya, ia merasa malu kepada diri sendiri yang tadi menyangsikan kebaikan hati pemuda ini.
Ah, siapakah dia dan mengapa ia benar-benar berusaha menolongku?
Terang dia seorang murid Siauw-Lim yang lihay, mengapa ia tidak menawanku, bahkan menolongku melarikan diri?
Namun In Hong terus saja melompat ke atas tembok.
Tiba-tiba ia melihat seorang gadis cilik nongkrong di atas pagar tembok itu dan memujinya.
"Cici, kau lihay sekali ilmu ginkangmu, juga kau cantik sekali seperti bidadari!"
In Hong tercengang.
Bagaimana seorang gadis cilik semuda ini dapat naik ke atas pagar tembok?
Biarpun In Hong amat tertarik melihat seorang gadis cilik yang duduk di atas pagar tembok, namun ia tidak berani berlaku lambat.
Yang amat menarik hatinya adalah wajah gadis yang cantik itu seakan-akan ia pernah mengenal-nya, bahkan seakan-akan gadis itu seringkali dilihatnya.
Akan tetapi dimana?
Ia hanya tersenyum manis kepada gadis yang usianya paling banyak empatbelas tahun itu, lalu melompat turun keluar pagar tembok sambil berkata.
"Adik yang manis, hati-hati jangan sampai kau jatuh dari atas!"
In Hong masih mendengar pemuda yang bernama Ong Teng San dan yang secara aneh sekali telah menolongnya melarikan diri itu berkata kepada gadis cilik di atas tembok.
"Lian Hong, turun kau!"
"Koko, orang lain semalam suntuk bermain-main dengan cici yang gagah itu, apakah aku tidak boleh menonton?"
Jawab gadis cilik itu, akan tetapi selanjutnya In Hong tidak mendengar apa-apa karena ia sudah lari jauh.
Sementara itu Teng San dan Lian Hong yang sudah berdiri di atas pagar tembok, tidak melanjutkan pengejaran.
Teng San menarik napas lega karena melihat In Hong berhasil melarikan diri.
Akan tetapi, tiba-tiba terdengar bentakan.
"Siauw-Sute, bagaimana kau berani melepaskan pengacau itu? Apakah kau tidak takut mendapat marah dari Suhu?"
Lima bayangan orang berkelebat dan lima orang Hwesio yang tadi membentuk Ngo-Heng-Tin telah berdiri di atas tembok menghadapi Teng San!
Gerakan mereka demikian cepat dan ringan ketika melompat ke atas sehingga dari gerakan ini saja sudah dapat diukur akan tingginya tingkat kepandaian mereka.
Teng San tidak berani membohong.
Sambil menundukkan kepalanya ia menjawab.
"Suheng sekalian, nona itu sudah cukup terhukum, semalam suntuk telah diserang, didesak, bahkan telah pula berkenalan dengan Ngo-Heng-Thia sehingga ia kehabisan tenaga dan mungkin menderita luka-luka. Biarpun ia telah melakukan dosa dengan mengacau dan akan melakukan pencurian, akan tetapi belum ada sesuatu yang tercuri. Siauwte menganggap bahwa ia sudah cukup terhukum. Untuk ini siauwte mengaku salah dan bersedia diberi hukuman."
"Sute, bukan kau dan juga bukan Pinceng sekalian yang berhak memutuskan hukuman, melainkan Suhu sendiri. Lebih baik kau membantu kami mengejarnya."
Pada saat itu, berkelebat bayangan lain yang luar biasa cepatnya, disusul suara Ceng Seng Hwesio.
"Suhu memberi perintah agar supaya bocah pengacau itu ditangkap dan dihadapkan kepada Suhu untuk diperiksa!"
Tanpa berhenti di atas tembok, tubuh Ceng Seng Hwesio sudah melesat lewat.
Lima orang Hwesio itupun tanpa berkata apa-apa lagi cepat mengejar twa-suheng (kakak seperguruan tertua) mereka.
Teng San menjadi serba salah, akan tetapi karena pengejaran sekarang ini adalah atas perintah Suhunya, iapun tidak berani tinggal diam.
"Adik Lian Hong, kau kembalilah ke kamarmu."
"Tidak, aku ikut mengejar!"
Seru gadis cilik itu yang mendahului Kakaknya melompat keluar tembok dan menyusul para Hwesio yang sudah berlari cepat.
Dalam hal ilmu, ginkang, Lian Hong tidak ketinggalan jauh.
Memang gadis cilik ini memiliki gerakan lincah sekali, maka setelah dengan tekun mempelajari ilmu silat di Siauw-Lim-Si selama kurang lebih tujuh tahun, ia dapat mempergunakan ilmu lari cepat yang cukup hebat.
Lian Hong berwatak periang dan biasanya penurut, akan tetapi sekali gadis cilik ini mempunyai kehendak, sukar dihalangi.
Teng San mengetahui baik akan watak Adiknya itu, maka ia tidak mencegah ketika Lian Hong ikut melakukan pengejaran.
Demikianlah, pada saat matahari mulai muncul, di luar kelenteng Siauw-Lim-Si, terjadi kejar mengejar yang tentu akan mengherankan orang luar.
In Hong sudah lelah sekali, maka larinya tidak begitu cepat lagi.
Selain ini, ia juga tadinya mengira bahwa ia sudah terlepas daripada ancaman orang-orang Siauw-Lim-pay yang ternyata luar biasa lihaynya itu.
Dengan jengkel dan kecewa ia berlari terus, tidak begitu cepat, memasuki sebuah hutan yang liar.
Akan tetapi, tengah ia berlari itu, terdengar bentakan nyaring dari belakang.
"Bocah setan, kau hendak lari kemana?"
In Hong menengok kagetlah ia.
Lima orang Hwesio yang dikenalnya sebagai barisan Ngo-Heng-Tin, dikepalai oleh Hwesio tangguh yang pernah ia rasai kelihayannya dan keunggulannya bermain toya, yakni Ceng Seng Hwesio.
Dan di belakang rombongan ini, ia melihat pula pemuda Ong Teng San dan Adik perempuannya!
"Kalian mendengar?
Baik, aku Kwee In Hong tidak takut mati!"
Katanya gemas sekali dan begitu rombongan itu datang dekat, In Hong lalu menyerang mereka dengan Toat-beng-hek-kong, pasir hitam beracun yang amat lihay itu.
Akan tetapi, semua pasir hitam ini dapat dikibas runtuh oleh ujung lengan baju Ceng Seng Hwesio yang segera memberi komando.
"Tangkap bocah ganas ini!"
Ngo-Heng-Tin bergerak dan dilain saat, In Hong sudah dikurung di tengah-engah!
Ngo-Heng-Tin sudah hebat, apalagi ditambah oleh Ceng Seng Hwesio, maka kini enam buah toya dipalangkan, mengurung dan menutup semua jalan keluar.
Teng San dan Lian Hong yang sudah tiba di tempat itu hanya berdiri menonton.
Lian Hong biarpun belum tahu bahwa In Hong adalah Kakak tirinya, namun bocah ini merasa suka sekali kepada In Hong dan karenanya ia tidak mau membantu pengepungan itu.
"Kalian hendak menangkapku? Boleh, kalau aku sudah menjadi mayat!"
Bentak In Hong yang cepat mengerjakan Liong-gan-kiam, menyerang membabi-buta.
Akan tetapi kali ini ia menghadapi lawan yang terlampau kuat.
Baru menghadapi seorang Ceng Seng Hwesio saja, belum tentu ia menang.
Kini masih ada Ngo-Heng-Tin yang demikian kuatnya, maka sebentar saja ia sudah lelah sekali.
Semua serangan pedangnya membentur toya yang amat kuat.
Lweekang dari enam orang Hwesio itu rata-rata lebih tinggi dari pada tenaganya sendiri, maka sebentar saja tangan kanannya menjadi lelah bukan main.
Gadis ini menggigit Bibir dan memindahkan pedang di tangan kiri, lalu mengamuk lebih hebat lagi.
Berkali-kali Ceng Seng Hwesio memperingatkan lima orang Sutenya agar jangan melukai In Hong dan agar menawan gadis itu tanpa melukainya.
Hal inilah yang menolong In Hong, karena kalau tidak demikian, kiranya sebentar saja ia akan roboh terpukul toya.
Menangkap In Hong hidup-hidup tanpa melukainya masih jauh lebih sukar daripada menangkap seekor harimau betina yang mengamuk ganas.
Malihat ini, Ceng Seng Hwesio menjadi penasaran dan malu.
Benar-benar memalukan sekali kalau dilihat oleh orang-orang kangouw.
Enam orang tokoh besar Siauw-Lim-Si masih tidak mampu membekuk seorang gadis muda setelah pertempuran demikian lama?
"Nona, lebih baik kau menyerah untuk kami hadapkan kepada Ketua Siauw-Lim-pay agar kau dapat diadili.
Kalau tidak, terpaksa Pinceng melukai kakimu agar kau dapat ditawan!"
Katanya. In Hong tertawa mengejek.
"Hwesio bau! Kau kira aku gentar mendengar ancaman dan gertak sambalmu? Mau pukul boleh pukul, mau bunuh boleh bunuh, siapa takut?"
"Bagus, kau memang tiada bedanya dengan Hek Moli, siluman wanita itu. Rebahlah!"
Setelah berkata demikian Ceng Seng Hwesio merobah gerakan toyanya, demikian pula barisan Ngo-Heng-Tin.
Sebentar saja keadaan berobah.
Kalau tadi In Hong yang selalu menyerang dan membentur benteng toya, kini semua toya menyerangnya dan ia sibuk menangkis dan mengelak.
Akhirnya, toya Ceng Seng Hwesio mengenai paha kirinya!
In Hong menggigit Bibir menahan keluhan, sehingga dari mulutnya tidak terdengar suara.
Padahal rasa sakit di pahanya sampai menembus ke tulang sungsum.
Biarpun ia dapat mempertahankan diri dan tulang pahanya tidak patah, namun urat dan daging pahanya telah terluka sehingga rasanya sakit bukan main.
Tadi Ceng Seng Hwesio masih menaruh hati kasihan sehingga pukulan itu dilakukan dengan tenaga sepertiga saja.
Kalau Hwesio ini berlaku kejam, pasti tulang paha gadis ini telah patah-patah.
Pada saat itu, In Hong masih bertahan, bahkan mengamuk dengan nekad.
Tiba-tiba telinga gadis ini mendengar suara halus, seakan-akan ada orang berbisik didekat telinganya.
"Murid Hek Moli, kau larilah ke kiri dan masuk ke dalam gua yang terletak di dekat pohon pek!"
In Hong heran sekali, akan tetapi ia menurut nasihat ini.
Dengan putaran pedangnya ke kiri secara hebat dan ganas, ia dapat membuat para pengepung yang berada di sebelah kiri melompat minggir.
Cepat ia menerobos bagian ini sambil memutar pedang dan tangan kirinya menyebar toat-beng-hek-kong, kemudian sambil menyeret kaki kirinya, ia terpincang-pincang melarikan diri ke sebelah kiri.
Ceng Seng Hwesio diam-diam merasa kagum sekali melihat daya tahan yang luar biasa dari gadis itu.
Orang lain, biar laki-laki gagah sekalipun, kalau sudah terluka seperti itu, pasti akan menyerah.
Apalagi menyerah bukan untuk dibunuh musuh, hanya untuk diadili oleh Ketua Siauw-Lim-pay yang terkenal adil dan penuh welas asih hatinya.
Mengapa gadis ini begitu keras-kepala?
"Nona, laripun takkan ada gunanya.
Lebih baik kau menyerah!"
Katanya sambil mengejar bersama lima orang Sutenya.
Teng San juga ikut mengejar.
Maka pemuda ini pucat sekali dan di dalam hatinya ia mengeluh.
Ia merasa kasihan sekali kepada gadis yang dikaguminya.
Ingin ia membantu dan menolong, akan tetapi tentu saja ia tidak berani menghianati Suheng-suhengnya.
Juga Lian Hong diam saja dan gadis cilik inipun merasa kasihan kepada In Hong.
"Koko, mengapa cici itu begitu nekat? Kalau ia menurut saja dengan baik-baik dibawa menghadap Suhu, tentu ia tidak mengalami luka dan dikejar-kejar."
"Diamlah, Lian Hong. Mari kita lihat saja bagaimana akhirnya. Kalau nona itu hendak dibunuh oleh para Suheng kita harus mencegah dan mintakan ampun."
Lian Hong menoleh dan memandang wajah Kakaknya yang pucat.
Ia tidak tahu mengapa Kakaknya begitu menaruh perhatian kepada gadis yang dimusuhi oleh Siauw-Lim-pay itu, akan tetapi ia sendiripun takkan rela kalau Suheng-suhengnya membunuh gadis itu.
In Hong berlari sambil terpincang-pincang.
Tak jauh dari situ memang terdapat pohon pek yang besar.
Ketika tiba dibawah pohon, ia sudah hampir tidak kuat menahan rasa sakit di pahanya.
Kepalanya sudah pening dan tenaganya sudah hampir habis.
Alangkah girangnya ketika ia melihat bahwa betul saja, tak jauh dari pohon itu, terdapat sebuah gua yang besar dan di depan gua penuh oleh rumput alang-alang.
Gua itu nampak menyeramkan dan hanya patut menjadi tempat bersembunyi binatang-binatang buas.
Akan tetapi In Hong tidak ambil perduli dan tidak berpikir panjang pula, cepat ia melompat masuk ke dalam gua.
Kakinya terlibat rumput alang-alang dan ia jatuh menggelinding ke dalam gua dan baru berhenti ketika tubuhnya tertahan oleh sesuatu.
Hampir saja gadis yang tabah ini mengeluarkan teriakan kaget ketika ia membuka matanya dan melihat bahwa ia telah tertahan oleh tubuh seorangKakek yang menyeramkan sekali.
Kakek ini nampak tua, kurus seperti tengkorak, hanya tulang terbungkus kulit saja.
Yang kelihatan hidup hanya sepasang matanya yang lebar dan bergerak-gerak mengeluarkan cahaya ber-pengaruh.
Yang lebih menyeramkan lagi,Kakek ini sudah buntung semua kaki tangannya.
Kedua lengan buntung sebatas pergelangan tangan, sedangkan kedua kakinya buntung sebatas lutut!
Pakaiannya compang-camping danKakek ini duduk melonjorkan kedua paha yang tidak berkaki lagi, kedua tangannya bersedekap kelihatan mengerikan karena tidak ada tangannya.
Sebelum In Hong sempat membuka mulut,Kakek itu bertanya dengan suara halus, suara yang dikenal oleh In Hong karena tadi yang berbisik didekat telinganya juga suara ini.
"Benarkah kau murid Hek Moli? Siapa namamu?"
In Hong ingat akan pesan Gurunya bahwa di dunia ini memang ada orang berilmu tinggi yang lweekangnya sudah demikian hebat sehingga dapat mengirim suara dari jauh, ditujukan kepada orang yang dimaksud saja sehingga suara itu hanya terdengar oleh orang itu dan tidak terdengar oleh lain orang.Kakek ini tentu seorang berilmu tinggi, pikirnya.
"Teecu bernama Kwee In Hong, memang betul Teecu murid tunggal dari Hek Moli."
"Mengapa kau dikejar-kejar oleh para Hwesio Siauw-Lim-pay?"
"Guru Teecu tewas dalam tangan orang-orang Kun-Lun-Pai, ketika Teecu hendak membalas dendam disana, Teecu kalah oleh tokoh-tokoh Kun-Lun-Pai. Karena itu Teecu datang ke Siauw-Lim-Si untuk mencuri kitab I-Kin-Keng karena Teecu hanya kalah dalam tenaga lweekang. Teecu hendak mempelajari isi kitab itu dan kelak hendak membalas dendam lagi. Tak tahunya Teecu bukan saja tidak berhasil, bahkan dikalahkan oleh para Hwesio Siauw-Lim dan hendak ditawan."Kakek itu tertawa, suara ketawanya aneh menyeramkan, jauh bedanya dengan suara halus ketika ia bicara.
"Jangan takut, duduklah di depanku dan kalau mereka datang, kau lawanlah sambil duduk."
In Hong menurut dan bangun karena tadi ia masih setengah rebah, tubuhnya lemas bukan main. Ia duduk dengan kaki gemetar dan mencoba bersila.
"Lo-Cianpwe, dengan berdiri dan mengeluarkan seluruh kepandaian saja Teecu masih tak sanggup menang, bagaimana Lo-Cianpwe menyuruh Teecu melawan mereka sambil duduk?"
Tanyanya dengan penasaran dan juga jengkel, mengiraKakek ini main-main.
"Kau keras kepala seperti Gurumu! Jangan kau banyak membantah kalau ingin selamat! Hayo bersiap, kalau mereka menyerang, kau menangkis dan balas menyerang dengan pedangmu!"
Setelah berkata demikian, tiba-tiba In Hong merasa punggung dan lehernya tersentuh oleh ujung lengan buntung itu.
Ia merasa geli karena lengan buntung itu lunak sekali, akan tetapi tiba-tiba ada hawa yang panas memasuki tubuhnya dari punggung dan leher dan seketika itu juga rasa sakit-sakit dan lelah ditubuhnya terusir pergi!
"Bocah ganas, kau hendak sembunyi kemana?
Lebih baik menyerah saja agar kami tak usah mempergunakan kekerasan!"
Terdengar suara Ceng Seng Hwesio yang memasuki gua itu, diikuti oleh lima orang Sutenya.
Di belakang sekali Teng San dan Lian Hong, akan tetapi dua orang muda ini tidak ikut masuk, hanya menanti di luar.
Gua itu amat besar maka enam orang Hwesio Siauw-Lim-pay dapat masuk berbareng dan mereka segera berhadapan dengan In Hong.
TubuhKakek itu tidak kelihatan, tertutup oleh tubuh In Hong.
BiarpunKakek itu sebenarnya lebih jangkung, akan tetapi entah bagaimana, setelah enam orang Hwesio itu masuk gua, tubuhKakek itu mengecil dan teraling oleh tubuh In Hong sehingga tidak kelihatan oleh para Hwesio.
Melihat In Hong duduk bersila dengan pedang di tangan kanan dan mata memandang tajam, Ceng Seng Hwesio tercengang.
Ia menduga bahwa gadis itu tentu menderita kesakitan hebat pada pahanya, akan tetapi benar-benar tidak disangkanya bahwa setelah kini lumpuh, gadis itu masih menanti dengan pedang di tangan sambil duduk bersila, nampaknya tenang dan menantang!
"Nona, sudah lama Pinceng hidup, sudah banyak Pinceng menjumpai orang-orang gagah, akan tetapi baru sekali ini Pinceng bertemu dengan seorang muda yang keraskepala seperti kau!
Gurumu sendiri, Hek Moli, agaknya tidak demikian keras kepala.
Mengapa kau mempersukar kami?
Lebih baik kau menyerah dan dengan sukarela.
Ikut dengan kami ke Kuil untuk menghadap Guru kami.
Kau sudah bersalah, mengacau Siauw-Lim-Si, mengapa untuk menghadap Suhu dan menerima salah saja kau enggan?"
"Hm, setan-setan gundul bau busuk! Kalian ini orangtua-orangtua tak tahu malu semalam suntuk sudah mengurung, mengeroyok dan mendesak aku. Sekarang aku sudah berada disini, tak dapat lari lagi, kalian mau apa? Jangan harap akan dapat memaksaku ikut dan minta-minta ampun, kalau kalian mau bunuh, boleh maju, aku tidak takut!"
"Ah, benar-benar siluman betina! Nona kecil bernyali siluman! Liok-Sute, kau tangkap dia,"
Seru Ceng Seng Hwesio marah.
Orang kelima dari barisan Ngo-Heng-Tin yang disebut Liok-Sute (adik seperguruan keenam) melangkah maju, toyanya digerakkan.
Ia tidak mau menyerang tubuh In Hong, hanya mengerahkan tenaga untuk memukul pedang di tangan nona itu agar terlepas dari pegangan, karena kalau pedang itu sudah terlepas, akan lebih mudah menawannya.
In Hong maklum bahwa pukulan toya itu keras dan hebat sekali dan tadi sudah dirasai kelihayan tenaga para Hwesio ini.
Tenaganya sendiri sudah hampir habis dan kalau tadi menangkis pukulan toya ini, pasti pedangnya akan terlepas dari pegangannya.
Akan tetapi, kali ini ia tidak bisa seperti tadi mempergunakan kelincahannya mengelak, maka terpaksa ia mengangkat pedang menangkis toya itu.
Terdengar suara keras dan hampir berbareng enam orang Hwesio itu mengeluarkan seruan kaget.
Juga In Hong merasa heran sekali akan kesudahan dari benturan senjata ini.
Ia merasa seakan-akan ada dorongan tenaga dari belakang dan tenaga ini merupakan hawa hangat yang menjalar sampai ke tangan kanannya yang memegang pedang.
Ketika senjatanya menangkis toya, ia hanya merasa getaran hebat, akan tetapi tidak terpengaruh apa-apa, pedangnya tidak terlepas bahkan membuat keras sehingga toya itu menjadi patah!
Potongan toya melayang ke atas dan menancap pada dinding gua sedangkan Hwesio itu sendiri tertolak ke belakang dan jatuh bergulingan seperti daun tertiup angin!
Tentu saja hal ini mengagetkan semua orang.
Dua orang Hwesio menjadi penasaran dan berbareng mereka maju dengan toya digerakkan.
Toya pertama datang dari arah kiri, menghantam pedang di tangan In Hong dengan gerakan menyamping, Sedangkan toya dari Hwesio kedua me-luncur ke arah pundak kanan In Hong dengan maksud menotok jalan darah atau melukai pundak sehingga boleh dibilang kedua serangan ini bermaksud sama, yakni merampas senjata nona itu.
Melihat serangan dari kanan kiri ini, In Hong terkejut sekali.
Pedangnya cepat membentur toya dari kiri, akan tetapi pada saat itu, toya dari kanan telah menotok pundaknya.
Kembali terjadi keanehan yang sukar dipercaya.
Toya dari kiri itu terkena sampokan pedang, biarpun tidak putus akan tetapi terlepas dari pegangan dan membalik lalu memukul Hwesio itu sendiri, tepat kena kepalanya yang gundul sehingga menimbulkan suara keras dan kepala itu timbul benjol sebesar kepalan tangan!
Adapun toya yang menotok pundak kanan In Hong, seakan-akan mengenai karet saja dan toya ini membal kembali.
Hwesio yang menotoknya berseru keras karena tenaga totokannya kembali dan menyerang tangannya sendiri sehingga ia terpaksa melepaskan toyanya dan melompat ke belakang dengan muka pucat.
In Hong sendiri tidak merasa apa-apa, seakan-akan pundaknya dilindungi oleh baja yang kuat.
Dua orang Hwesio lagi menjadi marah.
Sambil berseru keras toya mereka bergerak, kini tidak sungkan lagi dan bukan hanya hendak merampas pedang karena toya ini yang satu mengemplang kepala In Hong sedangkan yang kedua menusuk ke arah uluhati.
Pendeknya, kedua toya ini mengirim serangan maut!
Ceng Seng Hwesio mengeluarkan seruan kaget, mencegah kedua Sutenya melakukan serangan keji itu, akan tetapi terlambat karena toya itu sudah menyambar laksana dua ekor harimau menubruk.
Melihat serangan ini, biarpun In Hong berkepandaian tinggi dan bernyali besar, tetap saja gadis ini merasa ngeri dan putus asa.
Ia hanya melakukan gerakan pedang melindungi diri, memutar pedang itu untuk menjadi perisai.
Ia maklum bahwa gerakannya ini lemah saja dan tak mungkin dapat menghalangi dua senjata lawan yang mengarah nyawanya.
Namun, dalam memutar pedangnya, kembali ia merasa punggung dan lehernya panas dan otomatis tangannya yang memegang pedang itu menyambar cepat.
Terdengar bunyi keras lagi dan dua batang toya itu terlempar, pedangnya dengan aneh seakan-akan tak dapat dikuasai lagi oleh In Hong, terus meluncur dan tubuhnya condong ke depan.
Dalam sekejap mata, dua orang Hwesio itu memekik kesakitan dan kaki kanan mereka mengucurkan darah karena terluka oleh goresan pedang!
"Omitohud...!"
Ceng Seng Hwesio memuji nama Buddha ketika ia melihat keanehan ini.
Ia menjadi curiga sekali karena ia melihat bahwa dalam tiga gebrakan berturut-turut dimana In Hong merobohkan atau mengalahkan lima orang Hwesio Ngo-Heng-Tin, gadis itu hanya bergerak sembarangan saja.
Sudah jelas bahwa kekalahan lima orang Sutenya itu bukan karena ilmu silat, melainkan karena tenaga lweekang yang luar biasa menghantam mereka dari pedang gadis itu.
Ceng Seng Hwesio melangkah maju.
In Hong yang kini maklum bahwa ia dilindungi olehKakek tua renta di belakangnya, menjadi besar hati.
Ia tersenyum mengejek dan berkata.
"Hwesio gundul, apakah kau juga masih hendak menawan?"
Ceng Seng Hwesio tidak marah, hanya terheran-heran dan penasaran.
Ia telah menyaksikan kelihayan gadis ini pada malam hari tadi di Siauw-Lim-Si, dan biarpun ia harus akui bahwa ilmu pedang gadis ini luar biasa ganas dan lihaynya, namun dalam hal ilmu lweekang, gadis ini masih terhitung lemah.
Bagaimana sekarang tiba-tiba saja dapat menjadi begitu kuat?
Apakah tiba-tiba gadis itu mendapatkan ilmu yang aneh?
Tak mungkin, andaikata mendapatkan ilmu juga, tak mungkin dapat dilatih dan dimiliki dalam waktu singkat.
Apalagi, baru saja gadis itu telah terkena pukulan toyanya pada pahanya dan ia melihat sendiri gadis itu melarikan diri lalu masuk ke dalam gua.
Bagaimana dan bila gadis itu mendapat ilmu yang aneh?
Karena penasaran sekali, Ceng Seng Hwesio hendak mencoba dengan toyanya sendiri.
Ia mengayun toya sambil berseru keras.
"Lepaskan pedang!"
Dalam sambaran toyanya ini, ia mempergunakan seluruh tenaga dalamnya.
Dalam hal lweekang, Ceng Seng Hwesio sudah dapat dikatakan tinggi dan hanya di bawah Suhunya, Bu Kek Tianglo.
Memang betul dia sendiri belum dapat mewarisi ilmu I-Kin-Keng, akan tetapi tenaga lweekangnya sudah mencapai tingkat yang tinggi di dunia kangouw, jarang sekali ia bertemu tandingan.
Kini, karena penasaran ia mengerahkan seluruh tenaganya, maka dapat dibayangkan betapa hebatnya sambaran toya itu!
Kalau menurut perhitungan dan kalau sewajarnya, tidak saja In Hong takkan kuat menahannya, bahkan selain pedangnya akan terlepas, tentu gadis itu akan roboh pula karena serangan hawapukulan itu akan melukai anggauta di dalam tubuh.
In Hong cepat mengangkat pedang menangkis.
Dua senjata bertemu, api berpijar mengeluarkan cahaya menyilaukan di dalam gua yang agak gelap itu.
Dua tenaga dahsyat yang tidak kelihatan bertemu dalam benturan pedang dan toya.
In Hong mengeluarkan keluhan perlahan karena telapak tangan gadis ini tidak dapat tahan menghadapi benturan ini.
Sebaliknya Ceng Seng Hwesio juga berseru kaget, toya dan pedang terlepas dari tangan masing-masing, toyanya melayang dan hampir saja menghantam seorang Sute dari Ceng Seng Hwesio yang cepat mengelak sehingga toya itu meluncur dan menancap di dinding gua.
Sedangkan pedang In Hong melayang ke atas dan menancap pada langit-langit gua!
Ceng Seng Hwesio berdiri seperti patung, matanya terbelalak, penuh keheranan.
Ia tadi merasa betapa dari pedang gadis itu menyambar hawa pukulan yang luar biasa sekali dan ia harus mengaku bahwa dalam benturan tenaga tadi, ia masih kalah jauh sehingga tenaganya sendiri membalik dan terpaksa toyanya terlepas dari pegangan dan meluncur ke belakang.
Memang, melihat kemana dua senjata itu meluncur, sudah dapat diketahui siapa yang lebih unggul dalam adu tenaga tadi.
Toya di tangan Ceng Seng Hwesio membalik dan meluncur ke belakang, sedangkan pedang di tangan In Hong mencelat ke atas, maka berarti bahwa toya ini terpental ke belakang karena kalah tenaga!
Sebaliknya, lima orang Hwesio Ngo-Heng-Tin setelah melihat betapa pedang itu telah terlepas dari pegangan In Hong, menjadi besar hati.
Mereka berlima bergerak maju dan dengan berbareng mereka menyerang.
Ada yang menotok jalan darah, ada yang mencengkeram pundak, ada pula yang mencengkeram lengan.
Kalau menurut suara hatinya, In Hong sudah putus asa dan tidak punya harapan lagi.
Akan tetapi, kepercayaannya terhadapKakek aneh yang melindunginya mendatangkan keberaniannya kembali.
Ia mengangkat kedua tangan, menggerakkan kedua tangannya cepat-cepat untuk menangkis dan balas menyerang.
Luar biasa sekali.
Dari kedua tangan gadis ini keluar hawa pukulan dahsyat.
Tanpa pedang, ternyata hawa hangat yang mengalir dalam tubuhnya menjadi makin dahsyat dan langsung sehingga tenaga pukulannya terasa anginnya menyambar-nyambar.
Dalam segebrakan saja, terdengar suara teriakan kesakitan ketika tubuh lima orang Hwesio yang tangguh itu satu persatu melayang dan terbentur pada dinding gua!
(Lanjut ke
Jilid 08) Bayangan Bidadari/Sian Li Eng Cu (Cerita Lepas) Karya. Asmaraman S. Kho Ping Hoo
Jilid 08 Teng San dan Lian Hong yang tadinya berada di mulut gua, melihat semua kejadian ini dengan mata terbelalak dan mulut bengong.
Keduanya merasa heran dan bingung karena memang peristiwa yang mereka saksikan itu benar-benar luar biasa dan tak dapat mereka mengerti.
"Lian Hong, lekas kau beritahukan kepada Suhu tentang kejadian ini!"
Kata Teng San.
Pemuda ini selain khawatir sekali akan keselamatan In Hong yang dikeroyok oleh Suheng-suhengnya, juga ia merasa terheran-heran dan tahu bahwa kiranya hanya Suhunya, Bu Kek Tianglo saja yang akan dapat membereskan dan memecahkan soal yang aneh ini.
Dia sendiri lalu masuk ke dalam gua.
Pada saat itu, Ceng Seng Hwesio sudah melangkah maju.
Dengan kedua tangannya, ia menyerang dan hendak mencengkeram kedua pundak In Hong untuk ditekan dan dibikin tidak berdaya.
In Hong menyambut kedua tangan ini dan dua pasang telapak tangan bertemu.
Ceng Seng Hwesio menekan ke bawah dan In Hong menyangga dan mendorong ke atas.
Dua tenaga dahsyat kembali bertarung melalui telapak dua pasang tangan itu.
Ceng Seng Hwesio mengerahkan tenaga lweekangnya ketika merasa betapa telapak tangan dari gadis itu tiba-tiba menjadi dingin sekali.
Ia terkejut dan tahu bahwa gadis ini mempergunakan tenaga "Im"
Yang dapat mencelakainya, maka ia memperhebat tenaganya untuk melawan tenaga ini.
In Hong tentu saja pernah mempelajari lweekang dari Hek Moli.
Akan tetapi kalau dibandingkan dengan tingkat Ceng Seng Hwesio, ia kalah jauh.
Sekarang, dalam pertandingan ini, ia sendiri tidak turut apa-apa, hanya merasa betapa tekanan pada punggung dan lehernya makin kuat dan hawa panas seakan-akan membakar tubuhnya.
Ia hanya menyalurkan hawa panas ini melalui lengan dan jari-jari serta telapak tangannya untuk menahan gencetan lawan yang seakan-akan hendak meremuknya.
Beberapakali ia merasa betapa dari dua telapak tangan Hwesio itu menyerang tenaga dahsyat yang menindihnya, akan tetapi dari punggungnya juga keluar tenaga raksasa yang terus mengalir ke arah telapak tangannya dan mendorong kembali tenaga lawan yang menindih itu.
Tiba-tiba nampak urat-urat dijidat Ceng Seng Hwesio menonjol.
Hwesio ini saking penasaran dan marahnya, mengerahkan tenaga terakhir.
Ia merasa malu kalau sampai kalah oleh gadis muda ini, maka dengan mati-matian ia menghabiskan tenaga terakhir.
Akibatnya hebat sekali, In Hong juga merasa hawa panas yang membuat napasnya sesak dan tiba-tiba hawa panas ini mengalir ke arah kedua lengannya, membuat ia terpaksa mengerahkan tenaga ini supaya keluar dari telapak tangan dan terdengarlah teriakan keras Ceng Seng Hwesio dan tubuh Hwesio ini terlempar ke atas!
Ceng Seng Hwesio memang lihay sekali.
Biarpun ia telah terpukul oleh tenaga dahsyat ditambah tenaganya sendiri yang terserang dan membalik, namun ia masih dapat menguasai diri.
Sebelum kepalanya terbentur langit-langit gua, ia telah membalikkan tubuh sehingga hanya bagian belakang tubuhnya yang terbentur pada langit-langit dan kini tubuhnya melayang turun kembali.
Dalam melayang turun ini, Ceng Seng Hwesio mengeluarkan seruan.
"Omitohud...!"
Agaknya ia terkejut sekali sehingga ia tidak menguasai tubuhnya lagi.
Ia pasti akan terbanting keras kalau saja Teng Seng Hwesio cepat-cepat melangkah maju dan menyambut tubuh Suhengnya dengan kedua tangannya.
"Nona, kau kejam sekali!"
Teng San menegur dan hendak melangkah maju.
"Memang aku kejam, dan para Hwesio Siauw-Lim-Si itu tentu amat baik budi dan tidak kejam, bukan? Hm, kalau menurut pandanganku, di dunia ini hanya kau lah satu-satunya orang yang memiliki welas-asih,"
Kata In Hong ini biarpun setengah mengejek, namun merupakan pernyataan hatinya.
Di antara para penghuni Siauw-Lim-Si, memang hanya pemuda ini yang tidak berlaku kejam dan tidak mendesaknya hanya sayangnya, pemuda ini berdiri dipihak mereka yang memusuhinya.
Teng San menjadi merah mukanya.
Sesungguhnya, sekali melihat In Hong, hatinya telah jatuh dan ia suka kepada gadis ini.
Apalagi setelah ia tahu bahwa gadis ini adalah Kwee In Hong, puteri dari Ibu tirinya yang lenyap.
Ia merasa suka dan juga amat kasihan.
Akan tetapi, karena ia adalah murid Siauw-Lim-pay, sudah menjadi kewajibannya untuk membela Siauw-Lim-pay melihat partainya telah mengalami hinaan dan malu karena tokoh-tokohnya dikalahkan oleh gadis ini.
Sebelum ia melakukan sesuatu, tiba-tiba Ceng Seng Hwesio berkata.
"Siauw-Sute, jangan kau kurangajar terhadap seorang Lo-Cianpwe!"
Teng San menoleh dengan mata mengandung penuh pertanyaan, dan ia makin terheran ketika melihat Suhengnya itu berlutut di depan In Hong!
"Bhutan Lo-Cianpwe, siauw-ceng tidak tahu bahwa Lo-Cianpwe berada disini, mohon banyak maaf!"
Katanya.
In Hong mengerti bahwa Hwesio itu telah tahu akan adanyaKakek aneh, maka ia diam saja.
Tiba-tiba,Kakek aneh yang tadinya tidak kelihatan karena tubuhnya seakan-akan mengkeret kecil, kini kelihatan lagi, duduk bersila di belakang In Hong!
Juga Teng San baru saja melihatKakek ini, maka kagetnya bukan main.
"Ceng Seng Hwesio, muka hitam! Akhirnya kau dapat juga melihatku dari atas,"Kakek itu berkata sambil tertawa. Memang, ketika tadi Ceng Seng Hwesio mencelat ke atas dan membalikkan tubuh, dari atas ia melihatKakek yang bersembunyi di belakang In Hong, maka tahulah ia mengapa gadis itu demikian tangguh dan lihay! "Lo-Cianpwe, harap Lo-Cianpwe maklum bahwa gadis ini telah mengacau Siauw-Lim-Si dan..."
"Cukup, aku sudah tahu semua! Semenjak puluhan tahun yang lalu, Siauw-Lim-Si memang terkenal kikir dan memikirkan kepentingan sendiri! In Hong ini adalah murid isteriku, juga muridku sendiri, siapa berani mengganggunya? Aku sudah mengalah dan mematikan nafsu selama puluhan tahun, akan tetapi hari ini kalau ada yang berani mengganggunya, akulah lawannya!"
Mendengar suara yang amat berpengaruh dan dipenuhi oleh nafsu yang meluap-luap, Ceng Seng Hwesio menjadi keder.
Diam-diam In Hong juga merasa betapaKakek ini dahulunya pasti seorang yang bernafsu besar dan yang amat ganas dan tabah.
"Omitohud, tidak tahunya Koay-jin masih hidup dan bersembunyi disini!"
Tiba-tiba terdengar suara orang dari luar gua.
Belum lenyap gema suara itu, orangnya telah berjalan masuk, yakni seorangKakek tua berkepala gundul, memakai topi Hwesio dan di tangannya memegang sebatang tongkat Hwesio yang besar dan panjang.
Hwesio ini sudah tua sekali, usianya paling sedikit delapanpuluh tahun, alis dan jenggotnya sudah putih semua, nampak halus seperti benang Sutera putih.
Matanya menyinarkan cahaya lembut dan mukanya kelihatan terang dan sabar.
Inilah Bu Kek Tianglo, Ketua dari Siauw-Lim-pay, seorang Hwesio yang sudah puluhan tahun menyembunyikan diri di ruangan paling dalam dari Siauw-Lim-Si untuk menyucikan hati dan pikiran.
Seperti telah dituturkan di bagian depan, Teng San menyuruh Lian Hong pulang ke Siauw-Lim-pay untuk memberi laporan kepada Bu Kek Tianglo tentang peristiwa aneh yang terjadi di dalam gua, di hutan tak jauh dari Siauw-Lim-Si.
Tadinya Bu Kek Tianglo mendengarkan penuturan murid muda ini dengan tenang dan sama sekali tidak menaruh perhatian, akan tetapi ketika ia mendengar betapa gadis yang mengacau Siauw-Lim-Si itu mengalahkan semua muridnya dengan tenaga lweekang yang mentakjubkan, ia menjadi tertarik dan mengerutkan kening.
"Mengalahkan yang lain-lain masih tidak aneh, akan tetapi seorang gadis muda dapat mengalahkan lweekang Ceng Seng, benar-benar amat menarik hati. Lian Hong, minggirlah!"Kakek ini sekali berkelebat melewati pinggir Lian Hong dan telah lenyap dari dalam kamarnya! Lian Hong meleletkan lidah saking kagumnya, kemudian gadis cilik ini berlari-lari keluar mengejar Gurunya. Setelah Bu Kek Tanglo memasuki gua,Kakek aneh yang buntung kaki tangannya itu, yang bukan lain adalah Buthan Koay-jin, suami dari Hek Moli, tertawa bergelak, suaranya bergema di dalam gua, amat menyeramkan.
"Bu Kek Tianglo, kau makin tua makin gagah saja. Apakah kau datang hendak turun tangan dan hendak membuntungkan kaki tangan gadis muridku ini? Ha, ha, ha!"
"Omitohud, Koay-jin, kau sampai sekarang masih saja belum dapat menguasai nafsumu. Tentu saja ini dapat juga kau sengaja dan berpura-pura, karena kau memang orang aneh. Sayang aku tidak dapat menjenguk isi hatimu sehingga aku dapat mengetahui sampai dimana gerangan kemajuanmu."
"Bu Kek Tianglo, gadis muda ini adalah murid isteriku, juga muridku karena mulai hari ini dia ku ambil murid. Dia telah melakukan kesalahan seperti yang pernah kulakukan dahulu, akan tetapi apakah kau tidak dapat mencegah anak buahmu yang mendesaknya terus? Biarlah aku yang minta maaf kepadamu, kalau perlu tangan dan kakiku yang sudah buntung ini bersedia menerima beberapa gebukan tongkatmu yang lihay."
Bu Kek Tianglo mengerutkan alisnya yang putih.
"Koay-jin, aku malu sekali kepadamu. Anak muridku memang terlampau keras memegang aturan. Akan tetapi, setelah ternyata bahwa bocah ini menjadi muridmu, perlu apa kita berselisih lagi? Urusan puluhan tahun yang lalu cukup mengenaskan hati kita, tak perlu diulang lagi. Ceng Seng, hayo lekas berlutut minta ampun kepada Koay-jin!"
Ceng Seng Hwesio kembali berlutut mengangguk-anggukkan kepala, diturut oleh lain-lain Hwesio yang berada disitu.
"Mohon Lo-Cianpwe sudi mengampuni kami."
Akan tetapi Bhutan Koay-jin tidak memandang kepada mereka ini.
Sepasang matanya yang bersinar-sinar itu ditujukan ke arah Teng San.
Pemuda ini tidak mau berlutut, hanya memandang dengan mata penuh keheranan.
"Siapa pemuda ini, Tianglo?"
TanyaKakek buntung itu.
"Dia ini Ong Teng San, muridku yang termuda."
"Bagus, dia telah kemasukan I-Kin-Keng. Mari kita bertaruh, siapa kelak yang lebih berhasil, kau dengan pemuda itu atau aku dengan muridku ini. Ha, ha, ha!"
"Omitohud, kau benar-benar masih kukoay (aneh) watakmu, agaknya tidak berubah,"
Jawab Hwesio itu.
"Aneh dan tidak aneh, apa bedanya? Berubah atau tidak, dimana letak perbedaannya? Ha, ha, Bu Kek Tianglo, tunggu setahun lagi kita melihat hasil kita. Mudah-mudahan saja kita masih dapat mengalaminya."
Bu Kek Tianglo tersenyum, menjura dan mengajak semua muridnya berlalu dari tempat itu.
Di tengah perjalanan, Bu Kek Tianglo memesan kepada semua muridnya agar jangan sekali-kali mengganggu gua itu, bahkan jangan sekali-kali mendekati tempat itu.
Sepeninggal semua Hwesio itu, Bhutan Koay-jin berkata.
"Kau mau menjadi muridku, bukan?"
In Hong sudah menyaksikan semua kejadian tadi dan sebagai murid seorang pandai iapun mengerti bahwaKakek ini memiliki tenaga lweekang yang luar biasa tingginya sehingga hanya dengan menempelkan dua lengan buntung di punggung dan lehernya,Kakek ini sudah "Meminjam"
Dua tangannya untuk mengusir dan mengalahkan tokoh-tokoh Siauw-Lim-pay tadi. Oleh karena itu, tanpa ragu-ragu lagi In Hong lalu menjatuhkan diri berlutut di depan Bhutan Koay-jin dan berkata.
"Teecu merasa bahagia sekali kalau mendapat pimpinan Suhu."
"Nah, sekarang kau ceritakan tentang Gurumu Hek Moli, dan bagaimana ia sampai tewas oleh orang-orang Kun-Lun-Pai."
In Hong lalu menceritakan semua pengalamannya dan apa yang ia ketahui tentang kematian Hek Moli.
Juga ia ceritakan bagaimana ia mendatangi murid Go-Bi-Pai dan kemudian menyerbu Kun-Lun-Pai, mengalami kegagalan dan seterusnya sampai ia menyerbu Siauw-Lim-pay.
Mendengar semua penuturan murid-barunya ini,Kakek itu menarik napas panjang berulang-ulang.
"Kalau datang derita nestapa, apa perlunya mencela TUHAN dan mencaci setan? Mencari biangkeladi harus membuka dada melihat perbuatan sendiri. Segala akibat yang menimpa diri adalah lanjutan sebab perbuatan diri pribadi, baik perbuatan dihidup kini maupun dihidup lalu."Kakek itu bicara seperti pada diri sendiri, kemudian ia memandang kepada In Hong dan melanjutkan kata-katanya.
"In Hong, Gurumu Hek Moli terlampau menurutkan nafsu. Demikian pula aku. Kau lihat kaki tanganku ini? Inipun akibat daripada nafsu angkara murka. Dahulu aku tidak pernah memandang langit, merasa diri paling tinggi dan paling pandai. Aku datangi semua partai, kujatuhkan semua Ketua partai besar, kutertawai mereka dan kusombongkan kepandaianku. Akhirnya aku roboh dalam tangan tokoh-tokoh besar dari Kun-Lun, Go-bi, Bu-tong, dan Siauw-Lim yang maju bersama. Akibatnya, kaki tanganku buntung. Mereka itu masih berhati lemah tidak menewaskan aku. Ha, ha, ha!"
In Hong memandang kepada Suhunya dengan kagum.
"seorang diri dapat mengalahkan tokoh-tokoh besar itu satu persatu, kau benar-benar hebat, Suhu. Sayangnya mereka itu curang dan maju mengeroyokmu."
Kembali Bhutan Koay-jin tertawa bergelak.
"Kau memang serupa benar dengan Hek Moli, dan Hek Moli juga hampir sama wataknya dengan aku. Ah, mengapa kita bertiga ini mempunyai dasar watak yang sama? Agaknya memang sudah jodoh. Hanya satu-satunya nasihatku, jangan kau mengikuti jejak Hek Moli atau jejakku. Akibatnya takkan baik, Hek Moli tewas di tangan orang pandai dan akupun roboh di tangan orang pandai."
"Harap Suhu suka meneruskan cerita tadi, selanjutnya bagaimana?"
Tanya In Hong yang ingin mengetahui riwayat suami-isteri yang keduanya menjadi Gurunya itu.
"Mendengar bahwa aku roboh oleh tokoh-tokoh besar itu, isteriku, Hek Moli, menyusulku dari Sikkim. Aku sengaja menyembunyikan diri karena malu bertemu muka dengan isteriku tidak saja malu karena aku telah kalah oleh tokoh-tokoh besar empat partai, juga aku tidak mau isteriku melihat kaki tanganku yang buntung. Kuharap dia akan kembali ke Sikkim dan menikah dengan laki-laki lain. Siapa tahu iapun dikuasai nafsu marah ketika ia mendengar bahwa aku mungkin sudah tewas oleh tokoh-tokoh besar Siauw-Lim, Kun-Lun, Go-bi, dan Bu-tong. Maka ia lalu menyerbu ke Kun-Lun dan Go-bi, mungkin juga Bu-tong-pay. Hanya Siauw-Lim-pay ia tidak berani ganggu karena maklum bahwa kepandaiannya masih jauh untuk dapat menandingi Hwesio-Hwesio Siauw-Lim yang lihay."
Demikianlah, mulai hari itu, Bhutan Koay-jin menurunkan kepandaiannya kepada In Hong dengan penuh semangat.
Sebaliknya In Hong yang bercita-cita menyerbu Kun-Lun-Pai, belajar dengan tekun pula, tidak ingat waktu dan tidak tahu lelah.
Sesuai dengan keinginan hati In Hong, dan cocok pula dengan pandangan Bhutan Koay-jin, gadis itu menerima ilmu lweekang yang amat luar biasa, yang cara mempelajarinya bukan dari Tiongkok aseli, melainkan sudah tercampur dengan ilmu yoga dari barat.
Bhutan Koay-jin menurunkan ilmu lweekang ini dengan jalan paling singkat dan cepat.
Ia langsung menurunkan lweekang dengan cara "Memindahkan"
Tenaganya sendiri ke dalam tubuh In Hong.
Dengan menyalurkan tenaga ini melalui telapak tangan In Hong, juga dengan cara menotok bagian-bagian tubuh muridnya dengan lengannya yang buntung,Kakek ini akhirnya dapat memindahkan tenaga dan sinkang ditubuhnya ke dalam tubuh muridnya.
Dengan cara ini, In Hong hanya tinggal melatih diri saja sehingga ia dapat menguasai tenaga sinkang yang dahsyat dan yang kini sudah terkumpul di dalam tubuhnya itu.
Memelihara tenaga sinkang ini tidak mudah.
Tanpa latihan-latihan tertentu dan peraturan pernapasan yang selalu harus dilaksanakan, tenaga sinkang itu akan musnah sedikit demi sedikit seperti gandum dari kantong yang bocor.
Akan tetapi, pengoperan sinkang seperti itu amat membahayakan kesehatan Bhutan Koay-jin, karena hal itu membutuhkan pengerahan tenaga yang melewati ukuran, yang melewati batas daya tahan tubuhnya yang sudah tua sekali.
Apalagi ia masih memberi petunjuk-petunjuk dalam gerakan ilmu silat kepada In Hong.
Setiap kali ada lowongan waktu yang sebagian besar dipergunakan untuk pelajaran ilmu lweekang, ia menyuruh In Hong mengeluarkan ilmu silat yang paling lihay yang pernah dipelajarinya dari Hek Moli.
Bhutan Koay-jin hanya menonton, akan tetapi kadang-kadang ia menyetop dan memberi petunjuk pada bagian-bagian tertentu yang dianggap kurang sempurna.
"Ilmu silatmu sudah hebat,"
Katanya.
"Memang sejak dahulu, ilmu silat isteriku itu tidak kalah olehku, hanya ia lemah dalam lweekang."
Memeras tenaga yang sudah tua ini akhirnya mengakibatkanKakek itu jatuh sakit.
Selama setengah tahun ia terus menerus setiap hari melatih In Hong sehingga dalam waktu setengah tahun, gadis itu telah memperoleh kemajuan yang pesat sekali.
Semua tenaga sinkang dariKakek itu telah berpindah ke dalam dirinya, juga ilmu silatnya, terutama ilmu pedangnya, mendapat banyak kemajuan berkat petunjuk-petunjuk dari Bhutan Koay-jin.
Segala daja-upaja In Hong untuk mengobati Gurunya gagal.
Bhutan Koay-jin bukan menderita sakit biasa, melainkan penyakit tua yang sudah tidak ada obatnya lagi.
Bhutan Koay-jin meninggal dunia dengan senyum di mulut, seakan-akan merasa yakin bahwa ia akan menang dalam taruhannya dengan Bu Kek Tianglo Ketua Siauw-Lim-pay.
Memang, pada saat terakhir dari hidupnya, tiap kali dia membuka mulut mengeluarkan suara, tentu ia menyebut-nyebut soal pertaruhan itu.
Seorang diri In Hong mengurus jenazah Gurunya, mengubur jenazah itu di dalam gua dan menangis di depan kuburan.
Kemudian ia keluar dari tempat itu dan tempat pertama yang ditujunya adalah kelenteng Siauw-Lim-Si!
Gadis ini hendak memenuhi kehendak Gurunya, keinginan yang disebut-sebut sebelum meninggal dunia, yakni agar ia dapat mengalahkan murid muda Siauw-Lim-pay, murid yang telah mempelajari I-Kin-Keng.
Ia harus dapat mengalahkan pemuda itu, pemuda yang dahulu telah menolongnya, yang bernama Ong Teng San!
Dengan tenang ia memasuki halaman kelenteng Siauw-Lim-Si.
Kedatangannya sekarang jauh bedanya dengan dahulu.
Setengah tahun yang lalu, ia datang di tempat ini pada malam hari dengan maksud mencuri kitab I-Kin-Keng.
Akan tetapi sekarang, datang pada pagi hari dengan terang-terangan dengan maksud mengajak pibu orang yang mewarisi ilmu I-Kin-Keng!
Semenjak terjadi peristiwa penyerbuan In Hong ke Siauw-Lim-Si, kelenteng ini sekarang terjaga keras.
Tidak mengherankan apabila baru saja gadis itu memasuki pekarangan depan, tiba-tiba datang lima orang Hwesio yang bukan lain adalah Hwesio-Hwesio Ngo-Heng-Tin!
Mereka memegang toya dan memandang kepada gadis ini dengan mata penuh kecurigaan dan juga keheranan.
Akan tetapi gadis itu tersenyum mengejek ke-pada mereka.
"Kau...?"
Tegur seorang di antara lima Hwesio itu.
"Apa kehendakmu, nona?"
Mereka masih merasa gentar kalau teringat akan pengalaman mereka di dalam gua, dimana mereka secara aneh sekali dibikin jatuh bangun oleh gadis ini yang melawan mereka hanya dengan duduk bersila.
Akan tetapi setelah mereka tahu bahwa di belakang gadis itu ada Bhutan Koay-jin, lenyap rasa heran dan penasaran hati mereka.
Namun diam-diam mereka menaruh hati marah kepada gadis yang menjadi gara-gara sehingga mereka sebagai tokoh-tokoh besar Siauw-Lim-Si mengalami rasa malu dan penghinaan.
"Ngowi Suhu harap memberitahu kepada Bu Kek Tianglo bahwa aku datang untuk bicara dengan dia, atau boleh juga dengan muridnya yang bernama Ong Teng San,"
Kata In Hong dengan tenang.
Tentu saja lima orang Hwesio itu tidak membiarkan In Hong terus masuk, karena mereka mengira bahwa gadis ini tentu datang hendak membikin ribut pula.
Kini mereka tidak takut menghadapi gadis ini, karena dahulu di dalam gua, ke-kalahan mereka bukan oleh gadis ini melainkan oleh Bhutan Koay-jin yang meminjam sepasang lengan In Hong.
Biarpun mereka tahu bahwa gadis ini telah diterima menjadi murid Bhutan Koay-jin, akan tetapi dalam waktu setengah tahun saja, kepandaian apakah yang sudah dapat dipelajarinya?
"Nona, jangan kau main gila seperti dulu!
Kalau kau memang ada keperluan, mengapa harus mencari Suhu atau Ong-Sute?
Kami berlima ditugaskan menjaga disini, maka segala keperluanmu, katakan saja kepada kami, pasti kami takkan berani mengabaikan dan akan melayanimu."
In Hong mengerutkan alisnya yang bagus bentuknya.
"Kalian ini masih saja tidak berubah, bersikap galak terhadap orang muda. Bukankah sudah kukatakan tadi bahwa aku ingin bertemu dengan Bu Kek Tianglo atau Ong Teng San? Hayo lekas panggil mereka keluar, kalau tidak jangan bilang aku kurangajar kalau aku masuk dan mencari mereka sendiri."
Lima orang Hwesio itu nampak ragu-ragu.
Memang bukan hal yang sederhana dan mudah saja untuk memanggil keluar Bu Kek Tianglo.Kakek ini selalu menyembunyikan diri di dalam kamarnya, bersamadhi dan tidak mau mencampuri urusan di luar kamarnya.
Ia tidak mau diganggu, maka tidak ada orang yang berani menggangguKakek ini kalau tidak karena urusan amat penting.
Sekarang, gadis ini datang hendak bertemu dengan Bu Kek Tianglo, mana lima orang Hwesio itu berani mengganggu Suhu mereka?
Apalagi kalau diingat bahwa gadis ini adalah seorang yang pernah mengacaukan Siauw-Lim-Si, kalau Bu Kek Tianglo diganggu dari samadhinya hanya untuk menjumpai gadis ini, tentuKakek itu akan menjadi marah.
Adapun In Hong ketika melihat lima orang Hwesio itu ragu-ragu dan tidak mau memenuhi permintaannya, lalu melangkah maju dan berkata.
"Kalau tidak mau melaporkan kepada Bu Kek Tianglo, minggirlah, biar aku sendiri masuk menghadap!"
Akan tetapi, lima orang Hwesio itu cepat memalangkan toya dan menghadang di tengah jalan.
"Nona, jangan kau kurangajar!"
Lima batang toya bergerak mendorong ke arah tubuh In Hong untuk memaksa gadis itu mundur lagi.
Akan tetapi, sebaliknya daripada mundur, In Hong malah melangkah terus ke depan.
Dua tangannya bergerak cepat dan dilain saat, dua orang Hwesio telah terlempar jauh berikut toya yang mereka pegang, sedangkan seorang Hwesio lain terpaksa bertekuk lutut karena sambungan lututnya tercium ujung sepatu In Hong.
Gerakan nona ini demikian cepat dan tenaganya demikian hebat sehingga tiga orang Hwesio itu tak sempat mempertahankan diri.
Mereka berdiri lagi cepat-cepat dan bersama dua orang Hwesio yang belum roboh, mereka siap untuk melakukan serangan.
Akan tetapi pada saat itu, terdengar suara keras.
"Tahan senjata!"
Ternyata bahwa yang muncul adalah Ceng Seng Hwesio yang bermuka hitam dan bersuara tenang berpengaruh.
Ceng Seng Hwesio tadi melihat gerakan In Hong dan diam-diam ia terkejut.
Tendangan In Hong masih tidak mengherankan karena ia memang tahu bahwa gadis ini memiliki gerakan yang amat cepat dan tidak terduga.
Akan tetapi, menerima toya dengan kedua tangan kosong lalu melemparkan toya-toya itu berikut pemegangnya, sungguh merupakan bukti bahwa gadis ini sekarang telah memiliki tenaga lweekang yang tinggi sekali!
"Sam-Sute, pergilah ke dalam dan laporkan kepada Suhu bahwa murid Bhutan Koay-jin datang mengunjungi Siauw-Lim-Si,"
Kata Ceng Seng Hwesio.
Sekali saja melihat sepak terjang In Hong, Hwesio ini maklum bahwa tentu gadis ini datang untuk memenuhi tantangan Bhutan Koay-jin setengah tahun yang lalu, maka ia pikir lebih baik minta Suhunya keluar.
Kemudian ia menjura kepada In Hong sambil tersenyum.
"Ah, kiranya Kwee-Lihiap yang datang. Tidak tahu apakah Kwee-Lihiap membawa pesanan sesuatu dari Bhutan Lo-Cianpwe?"
"Memang aku membawa pesanan untuk memenuhi tantangan pibu dengan murid Siauw-Lim-pay!"
Jawab In Hong singkat.
Ia tahu bahwa Ceng Seng Hwesio adalah murid kepala dari Bu Kek Tianglo, maka ia mau memberitahukan maksud kedatangannya.
Pada saat itu, dari ruangan dalam sudah nampak Bu Kek Tianglo menghampiri tempat itu, berjalan perlahan dibantu oleh tongkatnya.
Hwesio ini sudah amat tua dan lemah sehingga In Hong teringat akan Gurunya sendiri yang telah meninggal dunia.
Seorang pemuda berjalan disebelah kirinya dan In Hong segera mengenal pemuda ini sebagai Ong Teng San yang pernah menolongnya.
Ia melihat betapa sepasang mata pemuda itu ditujukan kepadanya dan hati In Hong terheran-heran.
Mengapa sinar mata itu kelihatan begitu sedih?
Di belakang pemuda ini berjalan gadis cilik yang dahulu ia lihat di atas pagar tembok.
Makin terheranlah hati In Hong karena baru sekarang ia melihat wajah gadis ini dengan jelas.
Tidak aneh bahwa dulu ia melihat gadis ini seperti seorang yang sudah lama dikenalnya, Karena ternyata bahwa wajah gadlis cilik ini hampir serupa dengan wajah yang ia lihat setiap hari apabila ia bercermin!
Juga gadis ini kelihatan berduka.
Memang Teng San sudah bercerita kepada Lian Hong bahwa gadis yang mengacau Siauw-Lim-Si itu bukan lain adalah Kwee In Hong, puteri dari Ibu mereka yang hilang ketika dahulu suami Ibu mereka itu dibunuh oleh Ayah mereka!
Kini nona yang menjadi saudara tiri mereka itu datang memusuhi Siauw-Lim-Si dan otomatis mereka harus menghadapi nona itu sebagai lawan, bagaimana mereka takkan bersedih?
Untuk memperkenalkan diri bahwa mereka adalah anak dari Ong Tiang Houw, lebih tidak mungkin lagi.
In Hong tentu membenci Tiang Houw dan seorang gadis yang memiliki watak demikian keras dan ganas, pasti akan berusaha membalas sakit hati terhadap Tiang Houw.
Kalau In Hong mendengar bahwa Teng San dan Lian Hong adalah anak dari Tiang Houw, otomatis gadis murid Hek Moli itu pasti akan memusuhi mereka pula.
Hal ini semua Pendeta di Siauw-Lim-Si sudah mengetahui karena mereka sudah mendengar penuturan Teng San.
Akan tetapi, mereka tidak mau membuka rahasia karena mereka sudah diminta dengan sangat oleh Teng San agar jangan mencenitakan rahasia ini kepada In Hong.
Mereka semua dapat membayangkan betapa akan hebatnya akibat apabila In Hong mengetahui bahwa Teng San dan Lian Hong adalah anak-anak dari musuh besarnya, yakni Ong Tiang Houw yang telah membunuh Kwee Seng, Ayahnya.
Sementara itu, dengan suaranya yang halus dan lemah lembut, Bu Kek Tianglo sudah berkata kepada In Hong.
"Nona, bagaimana kabarnya dengan Bhutan Koay-jin Gurumu? Mengapa dia tidak ikut datang beromong-omong dengan Pinceng?"
Mendengar pertanyaan ini, In Hong mengerutkan keningnya dan wajahnya berubah sedih.
"Guruku telah meninggal dunia kemarin pagi..."
Mendengar ini, semua Hwesio merangkapkan kedua tangan di depan dada.
Teng San menundukkan muka dan Lian Hong memandang kepada In Hong dengan muka berkasihan.
Hening beberapa lama, keheningan yang menyesakkan dada In Hong dan membuat gadis itu hampir tak dapat menahan mengucurnya air mata.
Ia menjadi gemas kepada diri sendiri dan untuk menyembunyikan perasaan dan kelemahan hatinya ini, ia berkata.
"Suhu sudah meninggal dengan tenang dan aku tidak perlu mendapat rasa kasihan orang lain!"
Kata-kata ini membuktikan betapa keras adanya hati gadis ini.
"Omitohud... Bhutan Koay-jin, kau sudah mendahului Pinceng. Kau sudah senang dan bebas, semoga kita akan dapat bertemu pula di alam lain,"
Terdengar Bu Kek Tianglo berdoa perlahan, kemudian ia memandang kepada In Hong dan bertanya.
"Setelah Suhumu meninggal, apakah kedatanganmu ini hanya untuk menyampaikan warta itu, nona?"
"Aku datang memenuhi pesanan Suhu bahwa aku harus memenuhi janji Suhu untuk mengadakan pibu dengan murid Siauw-Lim-pay untuk menentukan, mana yang lebih unggul antara ilmu kepandaian yang diturunkan oleh Suhu dengan ilmu kepandaian dari Siauw-Lim-pay!"
Sambil berkata demikian ia mengerling ke arah Teng San yang masih menundukkan mukanya. Bu Kek Tianglo tersenyum dan menggeleng-geleng kepalanya.
"Bhutan Koay-jin, kau benar-benar telah mendapatkan murid yang cocok dengan watakmu,"
Katanya perlahan, kemudian kepada In Hong ia berbuat dengan suara sungguh-sungguh.
"Nona kau baru menerima latihan selama setengah tahun dari mendiang Bhutan Koay-jin, apakah kau sudah merasa cukup kuat untuk menghadapi Teng San?"
"Aku memang seorang lemah dan bodoh, akan tetapi kiranya aku takkan mengecewakan arwah dari Suhu,"
Jawab In Hong.
"Suhu, nona Kwee ini sudah mewarisi sinkang dari Bhutan Locanpwe,"
Kata Ceng Seng Hwesio kepada Gurunya.
"Tadi Teecu sudah menyaksikan betapa dia mengalahkan tiga orang Sute dengan tenaga lweekangnya."
Bu Kek Tianglo mengangguk-angguk puas.
"Hm, begitukah? Bagus sekali. Agaknya Bhutan Koay-jin sudah dapat memperdalam kepandaiannya selama puluhan tahun ini sehingga ia telah dapat menurunkan sinkang sekaligus tanpa menghiraukan kesehatannya sendiri. Bagus! Hanya sinkang dari Koay-jin saja yang kiranya patut menghadapi Teng San, kau lawan nona Kwee ini dengan I-Kin-Keng!"
Dapat dibayangkan betapa berat hati Teng San menerima perintah ini, akan tetapi tentu saja ia tidak berani membantah kehendak Suhunya, maka sambil menganggukkan kepalanya, ia lalu melangkah maju dan bersiap sedia mengha-dapi In Hong.
Melihat pemuda itu telah maju, In Hong juga segera melangkah maju tanpa mencabut pedangnya.
Ia tidak suka menghadapi seorang lawan yang bertangan kosong dengan pedang, karena iapun tahu bahwa orang menghendaki mengadu tenaga lweekang.
"Kwee-siocia, silahkan,"
Kata Teng San yang sudah memasang kuda-kuda.
Ia menyalurkan sinkang dari I-Kin-Keng ke dalam sepasang lengannya dan memasang kuda-kuda dari ilmu silat Lo-han-kun, yakni ilmu silat dari Siauw-Lim-pay yang terkenal tangguh dan lihay.
Biarpun ia berwatak ganas dan keras hati, namun In Hong bukanlah orang yang mudah melupakan budi.
Ia telah hutang budi kepada pemuda ini yang telah memperlihatkan kebaikan hati dan menolongnya ketika ia dikepung oleh para hweesio Siauw-Lim-Si.
Juga sebagai seorang wanita, perasaannya yang halus membisikkan kepadanya bahwa pemuda ini tertarik kepadanya.
Oleh karena itu, pada mulanya In Hong merasa enggan untuk bertanding melawan Teng San.
Ia akan lebih suka menghadapi Ceng Seng Hwesio, atau kalau perlu, ia bahkan lebih suka kalau menghadapi Bu Kek Tianglo sendiri!
Akan tetapi, mengingat akan nama baik Suhunya, segera timbul semangatnya dan ia mengambil keputusan untuk mengerahkan seluruh tenaga dan kepandaian untuk merebut kemenangan dalam pertandingan ini.
"Baik, kau jagalah seranganku!"
Jawab In Hong dan dengan cepat sekali ia mulai menyerang, mempergunakan ilmu silat yang ia pelajari dari Hek Moli.
In Hong memiliki gerakan yang cepat dan ringan sekali, maka serangannya inipun datang dengan dahsyat dan cepatnya.
Tangan kanannya memukul ke arah dada Teng San dan tangan kiri menjaga di atas pusar.
Teng San ingin menguji tenaga gadis ini, maka ia tidak mengelak, melainkan menangkis sambil mengerahkan sebagian dari tenaga lweekangnya.
Dua buah lengan tangan kanan bertemu.
"Duk!"
Keduanya tergeser mundur dan berubah kuda-kuda kaki mereka.
Tadipun In Hong hanya mengeluarkan sebagian saja dari tenaganya, maka melihat akibat pertemuan dua lengan itu, dapat diduga bahwa tenaga mereka memang berimbang.
Melihat ketangguhan lawan, dua orang muda ini lalu menghilangkan rasa sungkan lagi dan mulailah mereka bertanding sambil mempergunakan seluruh tenaga.
Memang hebat sekali pertandingan itu.
Gerakan In Hong lincah dan cepat, sebaliknya gerakan Teng San tenang dan lambat.
Namun, tiap kali keduanya bertemu tangan, selalu terasa betapa masing-masing terdorong oleh tenaga yang dahsyat.
Setelah bertempur selama dua puluh jurus lebih, Teng San dapat mengukur tenaga lawannya.
Ia adalah ahli waris dari I-Kin-Keng, ilmu pusaka dari Siauw-Lim-Si, maka tentu saja tenaga lweekangnya hebat.
Ilmu I-Kin-Keng sudah amat terkenal dan dikagumi oleh seluruh tokoh kangouw, sedangkan Teng San sudah mempelajari ilmu ini bertahun-tahun dan bakatnya memang baik sekali.
Sebaliknya, biarpun ilmu sinkang yang diturunkan oleh Bhutan Koay-jin kepada In Hong juga luar biasa sekali dan hampir setingkat dengan I-Kin-Keng, akan tetapi In Hong menerima ilmu ini baru setengah tahun lamanya.
Dalam hal tenaga dalam ini, In Hong masih kalah dan hal ini diketahui baik oleh Teng San.
Akan tetapi, pemuda ini tidak tega melukai hati In Hong, tidak tega mengalahkannya.
Ia merasa kasihan sekali melihat In Hong dan di dalam hatinya timbul perasaan aneh dari kasih sayang.
Perasaan kasihan dan kasih sayang ini membuat Teng San ingin menolong dan membantu In Hong, mana bisa ia tega merobohkannya?
Oleh karena itu, ia sengaja mengeluarkan tiga-perempat bagian saja dari lweekangnya dan ini cukup untuk mengimbangi kekuatan In Hong.
Namun, dipihak In Hong lain lagi.
Biarpun gadis ini tadinya merasa berhutang budi dan tidak enak untuk bertanding dengan pemuda yang pernah menolongnya ini, akan tetapi setelah melihat bahwa tenaga dari pemuda ini memang hebat, ia lalu mengerahkan seluruh tenaga dalam setiap serangannya.
Bahkan ia melakukan serangan dengan gerakan cepat sekali, mengeluarkan gerak tipu-tipu yang paling lihay dari ilmu silatnya.
Dengan gerakannya yang lebih cepat dan lincah karena ginkangnya memang tinggi.
In Hong dapat mendesak lawannya yang sebagian banyak hanya membela diri saja.
Pertandingan berjalan sampai tujuhpuluh jurus dan keadaan mereka masih seimbang, sungguhpun kelihatannya In Hong selalu mendesak dan menindih, namun gadis ini maklum bahwa ia tidak mendapat banyak kesempatan menghadapi pemuda yang kokoh kuat penjagaannya ini.
Tiba-tiba In Hong melakukan serangan nekat.
Gadis yang keras hati ini merasa penasaran dan mendongkol sekali karena sebegitu lama semua serangannya tidak berhasil, bahkan kedua lengannya sudah terasa lelah dan sakit-sakit.
Kini ia mengeluarkan gerak tipu yang disebut Sam-houw-toat-beng (Tiga harimau mencabut nyawa), sebuah pukulan yang luar biasa ganasnya dari Hek Moli.
Dengan gerakan yang susul menyusul dan bukan main cepatnya sehingga hampir boleh dibilang dalam satu saat, tangan kanan In Hong memukul ke arah pusar, disusul dengan cengkeraman tangan kiri ke arah leher dan diikuti dengan tendangan maut ke depan!
Terdengar Bu Kek Tianglo mengeluarkan napas berat, tanda bahwaKakek ini merasa khawatir melihat muridnya terancam hebat.
Juga Teng San terkejut bukan main.
Tak pernah disangkanya bahwa gadis itu memiliki ilmu pukulan yang demikian ganasnya.
Akan tetapi, sukarlah untuk menghindarkan diri sekaligus dari tiga macam serangan ini dan ia harus menghadapinya dengan tenang.
Ia mempergunakan tangan kanan untuk menyampok cengkeraman ke arah leher, tangan kirinya menahan datangnya tendangan maut yang amat berbahaya itu sedangkan tubuhnya agak direndahkan sehingga pukulan In Hong ke arah pusarnya menjadi berubah sasaran dan tiba di atas dadanya.
Hal ini memang ia sengaja karena dalam menerima pukulan gadis itu didadanya, Teng San mengerahkan tenaga lweekangnya yang luar biasa.
Terdengar kain robek dan seruan In Hong.
Tubuh gadis ini terjengkang ke belakang dan terhuyung-huyung.
Hampir saja ia roboh kalau saja tidak lekas-lekas mengatur keseimbangan tubuhnya.
Kepalan kanannya terasa panas dan kesemutan, akan tetapi ia tidak terluka.
Dilain pihak, Teng San yang terpukul dadanya itu berdiri tegak tidak bergeming, hanya pundaknya terkena cengkeraman tangan kiri In Hong.
Ketika tangan kiri In Hong tadi disampok, gadis ini dengan cepatnya menyelewengkan tangan kirinya sehingga tangan ini dapat melanjutkan serangan ke arah pundak lawan.
Tangan inilah yang melukai Teng San karena cengkeraman jari tangan yang terisi tenaga lweekang ini telah merobek kain penutup pundak dan terus melukai kulit dan daging pundak!
"Kwee-Lihiap, aku mengaku kalah...,"
Kata Teng San sambil tersenyum dan menjura.
In Hong menjadi merah sekali mukanya.
Dari tadi juga ia telah dapat mengerti bahwa dalam hal tenaga lweekang, ia masih kalah oleh pemuda ini.
Gebrakan terakhir tadi membuktikan.
Juga gebrakan terakhir ini membuka rahasia hati Teng San yang sengaja membiarkan dirinya terpukul tanpa bermaksud merobohkan atau melukai In Hong.
Orang yang sudah dapat menahan pukulan pada dadanya tadi tanpa terluka, kalau mau, memang dapat mengirim kembali hawa pukulan dan mengakibatkan luka melakukan hal itu, hanya membuat In Hong mencelat dan terhuyung-huyung saja.
"Ong-tayhiap, kau sudah mengalah. Kau patut menjadi terbaik dari Siauw-Lim-pay..."
Jawab In Hong yang segera menjura kepada Bu Kek Tianglo, kemudian tanpa banyak cakap lagi gadis ini berkelebat dan berlari keluar dari Kuil Siauw-Lim-Si.
Seperginya gadis ini.
Bu Kek Tianglo terdengar menarik napas panjang.
"Hm, gadis seganas itu berkeliaran seorangdiri di dunia kangouw, benar-benar berbahaya! Entah kebodohan apa lagi yang akan ia lakukan. Teng San, Pinceng tahu mengapa kau tadi mengalah. Memang, dalam kedudukanmu sebagai putera musuh besarnya, dan mengingat pula akan perbuatan Ayahmu terhadap Ayah dan Ibunya, amat sukarlah bagimu untuk tidak menaruh hati iba dan mengalah. Akan tetapi, gadis itu memiliki watak yang amat keras dan perbuatannya sewaktu-waktu bisa ganas seperti mendiang Hek Moli. Lweekangnya Pinceng lihat sudah amat tinggi sehingga di dunia kangouw, kiranya hanya kau dengan I-Kin-Keng yang dapat mengendalikannya. Oleh karena itu, sekarang kau Pinceng paksa keluar dari sini untuk mengamat-amati gadis itu, syukur kalau kau bisa menguasainya dengan jalan halus, kalau tidak kau harus menjaga agar jangan sampai ia menimbulkan gara-gara seperti yang pernah dilakukan oleh Bhutan Koay-jin dan Hek Moli."
Demikianlah, pada keesokan harinya, Teng San dan Lian Hong meninggalkan Siauw-Lim-Si dan kedua orang Kakak dan Adik ini merasa gelisah kalau mereka memikirkan In Hong.
Bagaimana kelak kalau In Hong bertemu dengan Ibunya dan mendapat tahu bahwa Ibunya telah menikah dengan pembunuh Ayahnya?
Mengingat akan semua ini, Teng San menjadi amat berduka.
Diam-diam ia kecewa terhadap Ayahnya, karena setelah membunuh suaminya, Ayahnya lalu mengambil isterinya.
Benar-benar hal yang amat memalukan!
Dan sekarang ditambah lagi oleh kenyataan betapa menarik adanya In Hong dan betapa hatinya selalu tak dapat melupakan wajah yang cantik jelita dan gagah itu.
Apa yang dikhawatirkan oleh Bu Kek Tianglo memang beralasan.
In Hong adalah seorang yang semenjak kecilnya dididik oleh seorang yang ganas seperti Hek Moli, maka otomatis gadis inipun menjadi dewasa dengan watak yang sama dengan Gurunya.
Keras hati dan ganas.
Ia takkan mau berhenti sebelum dapat memuaskan hatinya membalas dendamnya kepada musuh-musuh besar yang sudah menewaskan Gurunya.
Di dalam hati In Hong, hidupnya hanya mempunyai tujuan tertentu, yakni membalas dendam atas kematian Gurunya, kemudian mencari Ibunya dan mencari musuh besar yang sudah menewaskan Ayahnya!
Setelah meninggalkan Siauw-Lim-Si, gadis ini langsung menuju ke Kun-Lun-San!
Ia melakukan perjalanan cepat sekali dan tidak pernah berhenti kalau tidak sudah lelah sekali.
Ia tidur dimana saja sang malam menghalang perjalanannya.
Tidur di udara terbuka, di dalam kelenteng tua bobrok, di atas pohon, atau dimana saja bagi gadis ini bukan apa-apa.
Kadang-kadang sehari semalam ia tidak menemui kampung dan terpaksa kalau bekal makanan habis, ia berpuasa atau makan buah-buahan.
Inipun tidak membuatnya merasa sengsara.
Setiap orang kangouw harus berani menghadapi keadaan seperti ini dengan tabah.
Ketika tiba di kaki bukit Kun-Lun-San, di luar sebuah hutan kecil ia melihat seorang laki-laki berjalan dengan kepala menunduk.
Laki-laki ini berjalan di sebelah depan dan In Hong hanya melihat punggung dan pundaknya yang bidang.
Melihat potongan tubuh orang itu, In Hong merasa sudah mengenalnya, apalagi melihat langkah kaki yang biarpun perlahan namun masih kelihatan ketegapan dan kegagahannya, seperti langkah seekor harimau.
In Hong mempercepat larinya dan tak lama kemudian ia telah dapat menyusul orang itu.
Laki-laki itu mendengar kedatangan orang lalu menengok.
"Kau... Bu Jin Ai...?"
Seru In Hong, akan tetapi dilain saat gadis ini menundukkan mukanya yang menjadi merah dan menekan perasaannya yang membuat dadanya bergelombang.
Seperti juga dulu ketika bertemu untuk pertama kalinya, ia mendapatkan perasaan aneh.
Apalagi sekarang pendekar yang bernama Bu Jin Ai (Tidak Ada yang Menyinta) ini memandangnya dengan sinar mata demikian mesra seakan-akan orang terkena pesona, pandangan mata yang mengandung berbagai macam perasaan, ada terkejut, heran, kagum, dan terbayang kasih sayang yang besar.
Inilah yang membuat In Hong berdebar dan menundukkan mukanya.
Gadis ini sendiripun merasa aneh di dalam hatinya.
Kalau laki-laki lain yang memandangnya seperti itu, tentu ia akan marah atau setidaknya, akan ditinggalnya pergi tanpa perduli lagi.
Akan tetapi, dipandang sedemikian rupa oleh laki-laki ini, ia merasa bangga!
Adapun pendekar gagah itu benar-benar seperti orang dalam mimpi.
Ia menatap wajah In Hong dan Bibirnya bergerak perlahan, mula-mula tidak dapat didengar jelas kata-katanya, kemudian In Hong dapat menangkap suara itu.
"Kau... isteriku... kekasihku... kau cantik seperti bidadari..."
"Gila..."
Kata In Hong dengan muka menjadi makin merah.
Kemudian ia melihat betapa muka orang itu agak pucat dan lengan kirinya agak kaku gerakannya.
Ia terkejut sekali dan tak terasa pula ia melangkah maju menghampiri laki-laki itu.
"Apakah... apakah lenganmu masih sakit? Hebatkah luka akibat pasir hitamku?"
Bu Jin Ai tersenyum, mukanya yang gagah itu memang kelihatan tampan sekali, dagunya nampak kuat, giginya putih dan berjajar rapi, sepasang matanya bersinar dan berpengaruh.
Muka seorang pendekar gagah, muka seorang jantan!
"Pasirmu memang lihay, Put Hauw Li, dan aku terlalu bodoh sehingga tak dapat menyembuhkannya."
Memang dahulu, dalam pertemuan pertama, In Hong mengaku bernama Put Hauw Li (Anak perempuan tidak berbakti).
Tentu saja Bu Jin Ai tahu bahwa nama yang dipakai gadis ini adalah nama palsu, seperti halnya In Hong yang tahu benar bahwa nama pendekar ini adalah nama palsu pula.
In Hong nampak menyesal sekali.
Pasir hitamnya amat lihay dan berbahaya.
Sudah setengah tahun lebih orang ini menderita luka akibat senjata rahasianya itu, ah, tentu orang ini telah menderita kesakitan hebat.
Ia melangkah maju lagi dan mendekati Bu Jin Ai.
"Biarkan aku memeriksa lukamu dan mencoba untuk mengobatinya,"
Katanya.
Tanpa menanti jawaban, ia lalu memegang pundak laki-laki itu dan sekali jari-jari tangannya yang kecil runcing bergerak, terdengar suara kain memberebet dan pakaian Bu Jin Ai di bagian pundak dan pangkal lengan telah robek terbuka!
"Kau masih ingat di bagian mana aku terluka?"
Bu Jin Ai berkata heran.
"Kalau begitu selama ini kau seringkali ingat kepadaku?"
"Hush, diam dan jangan banyak cakap. Lukamu berbahaya sekali,"
Kata In Hong yang sudah mengeluarkan pedangnya.
Dengan ujung pedang ia membuat beberapa guratan pada kulit lengan yang menghitam dan gembung itu, kemudian ia mengurut beberapa otot dan menotok jalan darah.
Tak lama kemudian, dari guratan-guratan yang dibuat oleh pedangnya pada lengan Bu Jin Ai, keluarlah darah hitam.
Tiba-tiba In Hong merasa betapa lengannya yang sedang bekerja itu disentuh oleh jari-jari tangan Bu Jin Ai, dibelai halus.
"Isteriku... kekasihku...,"
Kembali Bibir Bu Jin Ai bergerak-gerak dan keadaannya seperti orang gila, sepasang matanya memandang kepada In Hong penuh kemesraan dan kasih sayang sehingga dengan kaget sekali In Hong merenggut tangannya dan melompat mundur.
Jantungnya berdebar keras dan aneh sekali.
Perasaan marah yang sudah meluap-luap di dadanya, tiba-tiba padam kembali oleh perasaan lain ketika ia memandang kepada Bu Jin Ai.
Entah mengapa, muka itu mendatangkan welas asih dan suka.
Akan tetapi, rasa jengah dan malu membuat In Hong tidak mau mendekat lagi.
Ia mengambil sebungkus obat penawar pasir hitam, memberikannya kepada Bu Jin Ai sambil berkata lirih.
"Kau sudah gila! Aku tidak mau dekat lagi. Kau keluarkan semua darah hitam dari lenganmu, kemudian kau pakai obat ini di lukanya. Pasti sembuh dalam beberapa hari saja."
Akan tetapi Bu Jin Ai tidak menerima obat itu sehingga bungkusan obat jatuh ke atas tanah. Sebaliknya, dengan mata saju Bu Jin Ai memandang In Hong dan berkata.
"Isteriku manis, tidak kasihankah kau kepadaku...?"
Mendengar ini dan melihat pandangan mata Bu Jin Ai, In Hong bergidik dan gadis ini melompat pergi.
Suara yang aneh keluar dari kerongkongannya, suara seperti setengah tangis setengah tertawa.
Memang In Hong merasa terharu dan kasihan sekali melihat Bu Jin Ai, akan tetapi sikap Bu Jin Ai kepadanya membuat ia merasa geli juga.
Dia adalah se-orang gadis yang belum pernah menghadapi sikap laki-laki seperti ini, demikian penuh rangsang, penuh kemesraan dan penuh cinta kasih.
Sambil berlari cepat mendaki bukit Kun-Lun, In Hong diam-diam memikirkan keadaan dirinya.
Mengapa ia begitu tertarik kepada Bu Jin Ai?
Laki-laki ini biarpun tak dapat disangkal lagi memilik wajah yang tampan, tubuh yang gagah, sikap yang mengagumkan, namun usianya tidak muda lagi.
Kurang lebih empatpuluh tahun, sudah patut menjadi Ayahnya!
Akan tetapi, cinta memang aneh sekali.
In Hong agaknya tidak anggap hal ini penting.
Ia membayangkan wajah dan sikap Yo Kang, putera Pamannya.
Ia sudah tahu pasti bahwa Yo Kang cinta kepadanya.
Pemuda itu, biarpun kepandaiannya tidak amat tinggi, namun boleh disebut seorang yang bersemangat gagah, wajahnya tampan pula, hartawan dan masih muda.
Akan tetapi, anehnya, ia sama sekali tidak tertarik kepada Yo Kang.
Masih ada lagi, yakni Ong Teng San, pemuda luar biasa yang baru-baru ini mengadu kepandaian dengannya di Siauw-Lim-Si.
Kurang apakah pemuda ini?
Tentang kepandaian, tidak dibawah tingkat kepandaiannya sendiri.
Tentang watak ia tahu bahwa pemuda itu berwatak baik, terlihat dari sikapnya, dari usahanya untuk menolongnya dahulu dan bahkan akhir ini di dalam pibu, pemuda itu sengaja tidak mendesaknya dan berlaku mengalah.
Ini saja sudah membuktikan bahwa Teng San suka kepadanya.
Akan tetapi, benar-benar mengherankan, ia sama sekali tidak tertarik kepada Ong Teng San.
Mengapa kalau terhadap dua orang pemuda pilihan ini, juga banyak sekali pemuda-pemuda lain yang pernah memandang kepadanya dengan rindu, ia sama sekali tidak tergerak hatinya, sebaliknya terhadap Bu Jin Ai, pendekar yang sudah tak muda lagi, yang wataknya biarpun gagah namun seperti orang gila, ia jatuh hati?
Benar-benarkah ini yang dibilang cinta?
In Hong merasa malu kepada diri sendiri dan berusaha untuk menyangkal perasaan ini.
"Tak mungkin! Dia sudah tua, patut menjadi Ayahku!"
Akan tetapi pikiran ini bahkan mendatangkan kesedihan karena ia teringat akan Ayahnya yang terbunuh mati oleh orang yang tidak diketahuinya siapa dan di dalam kesedihan ini kembali terbayang wajah Bu Jin Ai yang nampaknya demikian menyintanya!
Ingin ia kembali, mendekati Bu Jin Ai dan menumpahkan semua kedukaan yang di deritanya.
Kembali ia mencela keinginan ini dan bagaikan seorang berubah ingatan, In Hong berlari-lari cepat sambil kadang-kadang tersenyum, kadang-kadang menangis!
Setelah tiba di depan kelenteng Kun-Lun-Pai yang besar, ia segera memasuki pekarangan yang luas.
Dilihatnya banyak Tosu berada di depan kelenteng, maka ia segera berseru nyaring.
"Kun-Lun Sam-lojin, keluarlah untuk membayar hutang kalian!"
Para Tosu yang berada disitu ketika mengenal In Hong segera melarikan diri ke dalam untuk memberi laporan.
Tak lama kemudian, muncullah Kun-Lun Sam-lojin, tiga orang tokoh Kun-Lun-Pai murid dari Pek Ciang San-Lojin.
Dengan sikap tenang akan tetapi mata mereka bersinar marah, tiga orang Tosu ini cepat menghampiri In Hong yang masih berdiri di pekarangan dengan sikap menantang.
Melihat tiga orang musuh besarnya ini, kemarahan hati In Hong meluap.
Cepat ia mencabut pedang Liong-gan-kiam dan membentak.
"Kun-Lun Sam-lojin, hari ini kalian harus menyusul arwah Guruku!"
"Iblis wanita kau benar-benar harus dibasmi. Apa kau masih belum kapok dan mencari mampus? Benar-benar menjemukan!"
Sun Sim San-Lojin marah sekali dan menyerang dengan hudtimnya.
Dua orang Suhengnya juga cepat maju menyerang sehingga dilain saat tiga orang tokoh Kun-Lun ini telah mengeroyok In Hong.
Terjadi pertempuran hebat sekali dan baru beberapa jurus saja, tiga orangKakek Kun-Lun-Pai itu mengeluarkan seruan tertahan.
Tak disangkanya bahwa nona ini sekarang, selama kurang dari satu tahun, telah memperoleh kemajuan yang hebat sekali.
Yang benar-benar amat mengherankan dan mengagumkan adalah tenaga lweekang dari gadis ini, benar-benar luar biasa kuatnya sehingga tiap kali beradu senjata, tiga orangKakek Kun-Lun-Pai ini merasa tergetar tangannya.
In Hong kali ini tidak mau memberi banyak kesempatan kepada tiga orang musuh besarnya yang ia benci.
Dengan cepat pedangnya bergerak menyambar-nyambar, tangan kirinya juga dikepal dan mengirim pukulan yang disertai hawa lweekang yang ia pelajari dari Bhutan Koay-jin.
Baru belasan jurus, ia telah berhasil memukul dada Sun Sim San-Lojin dengan tangan kirinya.
Tosu termuda dari Kun-Lun Sam-lojin ini terlalu sembrono dan berani menerima pukulan tangan kosong dengan dada terbuka.
Memang sebetulnya ia tidak terlalu singkat pikiran.
Dahulu, setengah tahun lebih yang lalu, In Hong masih memiliki lweekang yang tingkatnya dibawah tingkatnya sendiri, maka tak mungkin dalam waktu setengah tahun saja gadis itu akan memiliki lweekang yang luar biasa.
Andaikata sudah sangat maju, kiranya pukulan tangan kiri takkan dapat menembus ilmu kebalnya yang disebut tiat-pouw-san (baju besi).
Oleh karena mengandalkan ilmu weduk inilah maka Sun Sim San-Lojin berani menerima pukulan In Hong dengan tenang, sebaliknya hud-tim (kebutan) di tangannya menotok ke arah uluhati In Hong!
"Blekk!"
Tubuh Sun Sim San-Lojin terlempar ke belakang dan Tosu ini melepaskan hud-timnya, roboh dengan mata mendelik, maka pucat dan dari hidung serta mulutnya keluar darah!
Ia telah menderita luka hebat sekali di dalam dadanya dan sukarlah ditolong lagi keselamatan nyawanya.
Tentu saja Cu Sim San-Lojin dan Kim Sim San-Lojin menjadi marah sekali.
Sambil berseru keras mereka menyerang, bahkan beberapa orang Tosu mulai mendekati In Hong hendak mengeroyok.
Melihat ini, In Hong mengamuk makin hebat.
Ia tidak ingin membunuh lain orang kecuali tigaKakek yang pernah mengeroyok dan menewaskan Gurunya itu.
Pedangnya menyambar laksana kilat dan terdengar Cu Sim San-Lojin menjerit.
Tadi pedang gadis itu menyambar menyerang leher.Kakek ini yang mengandalkan lweekangnya, cepat menyampok dengan ujung lengan baju dengan maksud membikin pedang terpental sehingga ia dapat membalas dengan serangan maut.
Tidak tahunya, ujung lengan bajunya terbabat putus dan pedang itu terus menyerang lehernya.
Biarpun ia sudah berusaha mengelak, sia-sia belaka, lehernya terbabat pedang danKakek ini menggeletak dengan leher hampir putus!
Kini terdengar seruan-seruan disana-sini dan sebentar kemudian In Hong sudah dikeroyok oleh banyak Tosu yang menjadi marah melihat gadis ini telah menewaskan dua orang Tosu kepala.
Akan tetapi menghadapi keroyokan ini, In Hong tidak menjadi keder, bahkan mengamuk makin hebat.
Untuk kesekian kalinya, seorang Tosu roboh dan akhirnya setelah mendesak terus, In Hong berhasil merobohkan Kim Sim San-Lojin!
"Cukup!
Hanya mereka bertiga inilah yang hendak kutewaskan, kalian tidak ada urusan denganku, harap mundur!"
Bentak In Hong sambil memutar pedang sedemikian rupa sehingga beberapa batang toya dan golok para pengeroyok terlempar.
Melihat kehebatan ini, para Tosu ada yang merasa gentar dan terbukalah jalan bagi In Hong.
Akan tetapi baru saja ia melompat dan hendak keluar dari pekarangan, tiba-tiba ia merasa sambaran angin dari kiri, dibarengi bentakan keras.
"Siluman betina, kau berani membunuh murid-muridku!"
In Hong cepat menangkis dengan pedangnya ke kiri.
"Traang...!"
Bunga api berpijar menyilaukan mata ketika pedangnya bertemu dengan sebatang tongkat panjang yang dipegang oleh seorang Tosu tinggi besar yang bertangan putih.
"Pek Ciang San-Lojin, kau juga turut-turut?"
In Hong membentak ketika mengenalKakek ini sebagai Ketua dari Kun-Lun-Pai.
"Bocah keji, kau membunuh-bunuhi murid-muridku, apakah aku harus tinggal diam saja?"
"Kun-Lun Sam-lojin tiga orang muridmu itu telah mengeroyok dan membunuh Guruku, sekarang aku datang menewaskan mereka untuk membayar hutang, bukankah itu sudah adil dan perhitungan sudah habis? Kau mau apa?"
Pek Ciang San-Lojin tertawa menyindir.
"Iblis cilik seperti kau kalau tidak dibasmi, kelak hanya mengotorkan dunia. Kau lebih keji daripada Hek Moli,"
Kata Pek Ciang San-Lojin dan begitu kata-kata ini ditutup, tongkatnya telah menyerang dengan cepat dan kuat sekali.
In Hong dengan mudah mengelak, akan tetapi tiba-tiba sebatang pedang menye-rangnya sebagai susulan penyerangan tongkat tadi.
In Hong terkejut.
Tak disangkanya bahwa Ketua Kun-Lun-Pai ini benar-benar hebat ilmu silatnya.
Entah kapan, tahu-tahu pedang pusaka yang terselip di punggungKakek itu kini telah berada di tangan kiri sehinggaKakek ini memegang dua macam senjata, tongkat panjang di tangan kanan dan pedang pusaka di tangan kiri!
In Hong cepat menangkis serangan pedang lawan dan ia mendapat kenyataan bahwa tenaga lweekangnya yang ia dapat dari Bhutan Koay-jin, Ternyata hanya cukup untuk mengimbangi tenagaKakek Kun-Lun-Pai ini.
Maka ia berlaku hati-hati sekali dan mainkan pedangnya dengan penuh perhatian.
Pertempuran kali ini seru sekali.
Baiknya yang turun tangan menyerang In Hong adalah Ketua Kun-Lun sendiri sehingga semua Tosu yang berada disitu tidak berani sembarangan turun tangan membantu.
Hal ini akan dianggap meremehkan si Ketua saja.
Tanpa diminta, tak seorangpun Tosu disitu berani bergerak membantu Pek Ciang San-Lojin.
Akan tetapi, toh ada yang membantunya, yakni seorangKakek yang amat tua, bukan lain adalah Siang Te Lokai, susiok dari Ketua Kun-Lun-Pai yang bekerja sebagai tukang sapu kelenteng!
Tadinya,Kakek ini tidak membantu, hanya datang menyeret sapunya dan melihat pertempuran itu, ia berseru kagum.
"Nona cilik, dalam waktu beberapa bulan saja kau sudah dapat memiliki lweekang seperti ini, benar-benar bikin lohu kagum sekali! Biarpun I-Kin-Keng dari Siauw-Lim belum tentu lebih tinggi sumbernya daripada lweekangmu itu!"
Adapun Pek Ciang San-Lojin yang sudah merasa penasaran dan juga kewalahan menghadapi kelihayan In Hong, ketika melihat kedatangan Siang Te Lokai, lalu berkata keras.
"Siang Te Susiok! Harap kau segera turun tangan dan robohkan siluman wanita ini."
Siang Te Lokai mengerutkan keningnya dan bermain dengan sapunya.
"Aku... aku tidak tega..."
Katanya kemudian.
"Susiok, ingat bahwa dahulu gadis ini telah kau lepaskan dan lihat, apa yang menjadi akibat dari perbuatan susiok itu. Ia kini datang dan selain membunuh tiga orang murid kami secara keji, ia masih menewaskan beberapa orang Tosu lagi. Apakah kejahatan seperti ini masih harus diampunkan lagi?"
Siang Te Lokai menggeleng-geleng kepalanya yang botak lalu dengan apa boleh buat ia menoleh ke arah In Hong.
"Nona harap kau suka mengalah dan menyerah saja!"
Akan tetapi mana In Hong sudi menyerah?
"Aku datang membalas sakit hati Guruku, untuk keperluan ini, aku sudah menyediakan nyawaku sebagai taruhan.
Sekarang musuh-musuh besar Guruku sudah tewas, dan aku tidak ingin mencari perkara lagi.
Kalau kalian orang-orang Kun-Lun-Pai mau melepas aku pergi, aku selamanya takkan menginjakkan kaki disini lagi.
Akan tetapi kalau kalian mau membunuh, cobalah, aku tidak takut."
Pek Ciang San-Lojin membentak marah dan kembali ia menyerang sambil menyuruh susioknya turun tangan.
Siang Te Lokai meloloskan sebatang biting sapunya dan sekali tangannya bergerak, biting itu meluncur cepat melebihi anak panah dan tahu-tahu telah menyerang kaki In Hong!
(Lanjut ke
Jilid 09) Bayangan Bidadari/Sian Li Eng Cu (Cerita Lepas) Karya. Asmaraman S. Kho Ping Hoo
Jilid 09 Gadis ini tengah sibuk melayani Pek Ciang San-Lojin sedangkan biting itu datangnya demikian cepat tidak terduga, maka begitu merasa ada angin menyambar ke arah kakinya, In Hong terkejut dan cepat menggerakkan kaki.
Namun tongkat di tangan Pek Ciang San-Lojin menyodok dadanya sehingga terpaksa ia menangkis dengan pedangnya dan kakinya turun kembali.
Tak dapat dihindarkan lagi, biting itu menusuk pahanya.
In Hong sudah memiliki singkang yang tinggi, warisan dari Bhutan Koay-jin.
Akan tetapi biarpun yang menyerang pahanya itu hanya sebatang biting kecil, namun pelemparnya adalah Siang Te Lokai, seorang tokoh besar yang tingkatnya sudah sejajar dengan Ketua Siauw-Lim-Si dan Bhutan Koay-jin sendiri.
Maka, biarpun tidak tepat menusuk paha, biting itu masih melukai kulit ketika menyeleweng karena hawa sinkang dari tubuh In Hong.
Kulit dan sedikit daging paha terluka.
Baiknya biting itu kecil saja sehingga pakaian yang menutup paha tidak robek, hanya berlubang sedikit.
Namun rasa perih pada pahanya membuat In Hong terpecah perhatiannya, sehingga ilmu silatnya tidak begitu kuat lagi menjaga dirinya.
Padahal, pada saat itu, Siang Te Lokai sudah ikut menyerbu dan menyerangnya dengan sapunya yang lihay!
Didesak oleh dua orang pandai ini, mau tidak mau In Hong sibuk juga.
Yang membikin ia sibuk sekali adalah sapu di tangan Siang Te Lokai.
Memang, cara penyeranganKakek tua ini berbeda sekali dengan cara penyerangan Pek Ciang San-Lojin.
Kalau sepasang senjata di tangan Ketua Kun-Lun-Pai ini, yakni tongkat dan pedang, selalu mengarah bagian tubuh yang berbahaya dan kedua senjata ini digerakkan dalam penyerangan yang sifatnya membunuh.
Menghadapi gadis yang gagah itu, Pek Ciang San-Lojin tidak mau berlaku sungkan lagi, apapula kalau ia ingat bahwa murid-muridnya telah tewas dalam tangan In Hong.
Ia tidak ragu lagi untuk menjatuhkan tangan maut.
Sebaliknya, penyerangan dari Siang Te Lokai sama sekali tidak mengandung maksud membunuh, hanya ingin membikin gadis itu tidak berdaya saja.
Oleh karena ini sapunya hanya menyerang ke arah jalan darah yang melumpuhkan, atau menyapu kaki, menyerang pergelangan tangan dan lain-lain.
Justeru inilah yang membikin In Hong bingung dan terdesak.
Penyerangan Pek Ciang San-Lojin dapat ia layani dengan cara keras sama keras, sebaliknya penyeranganKakek tua itu benar-benar membikin ia gemas sekali.
Kalau ia perhatikan, maka bahaya yang datang dari Pek Ciang San-Lojin menjadi lebih besar, sebaliknya kalau ia tidak ambil perduli, serangan-serangan dariKakek tukang sapu ini sekali mengenai sasaran, ia akan jatuh dan tidak berdaya lagi.
Karena terdesak terus, akhirnya pundak kiri In Hong terkena sambaran ujung tongkat Pek-Ciang San-Lojin.
Gadis ini menggigit Bibirnya dan menahan rasa sakit.
Sambungan tulang pundak kirinya terlepas dan tangan kirinya menjadi lumpuh tak dapat digunakan lagi!
Pada saat itu, sapu yang lihay dari Siang Te Lokai menyerampang kakinya.
In Hong mengeluh dan tubuhnya terguling, cepat menggunakan gerak tipu Teringgiling-turun-gunung.
Tubuhnya masih tetap bergulingan dan pedangnya ia siapkan.
Ia ingin menggulingkan diri sampai jauh kemudian melarikan diri.
Akan tetap, biarpun Siang Te Lokai hanya tertawa dan tidak mau mengejarnya, tidak demikian dengan Pek Ciang San-Lojin.
Ketua Kun-Lun-Pai ini tahu akan maksud gadis itu, maka tentu saja ia tidak mau membiarkan In Hong melarikan diri.
"Siluman betina, hendak lari kemana kau?"
Serunya dan tubuhnya yang tinggi besar itu melayang, mengejar In Hong yang masih bergulingan.
Dengan sekuat tenaga, Ketua Kun-Lun-Pai ini menggerakkan tongkat memukul ke arah kepala In Hong.
Gadis ini cepat menggerakkan tubuh mengelak dan batu kecil yang berada di atas tanah terpukul hancur oleh kepala tongkat!
In Hong sudah melompat berdiri akan tetapi ia roboh lagi ketika kaki Pek Ciang San-Lojin menyambar lututnya.
Pek Ciang San-Lojin mengangkat lagi tongkatnya untuk mengirim pukulan terakhir ke arah kepala In Hong, akan tetapi tiba-tiba berkelebat bayangan yang cepat sekali dan seorang laki-laki bertubuh gagah berseru keras sambil mengangkat tangan mencegah.
"Tak semestinya Ketua Kun-Lun membunuh aeorang gadis muda!"
Pek Ciang San-Lojin memandang.
Ia melihat seorang laki-laki tinggi besar beralis tebal yang memandang kepadanya dengan mata bernyala.
Sampai beberapa lama ia tidak mengenal laki-laki ini, maka ia menjadi marah.
"Kau tahu apa tentang urusan kami? Hayo pergi!"
Dengan mengucapkan kata-kata ini, Pek Ciang San-Lojin mendorongkan tongkatnya ke arah orang itu.
Akan tetapi, orang itu tidak mau pergi, bahkan dengan tangannya ia menolak tongkat yang didorongkan ke arah dadanya.
Pek Ciang San-Lojin kaget sekali.
Tenaga yang keluar dari tolakan tangan itu benar-benar hebat.
Mengertilah ia bahwa yang datang ini bukan orang sembarangan.
"Hm, kau membela siluman ini? Tentu kau konconya dan kau seorang jahat pula! Robohlah."
Tongkat itu menyerang dengan hebatnya.
Mengerti bahwa tongkat lawan ini tak boleh dibuat main-main, orang itu melompat ke belakang dengan cepat, tidak berani menangkis.
Pek Ciang San-Lojin melihat orang itu mengelak sambil melompat mundur, mengeluarkan suara ketawa mengejek dan secepat kilat tongkatnya diayun lagi, akan tetapi bukan untuk menyerang orang itu, melainkan unuk menghantam kepala In Hong yang sudah duduk!
"Celaka...!
Jangan ganggu kekasihku...!"
Orang itu menjerit dan menubruk ke depan, membiarkan tubuhnya yang mewakili In Hong menerima pukulan tongkat itu.
"Bluk! Tubuh orang itu terlempar dan menubruk In Hong. Orang itu merintih perlahan akan tetapi ia masih dapat memeluk tubuh In Hong dan memondongnya! In Hong tadi terkena tendang lututnya, maka gadis ini tidak bisa berjalan. Sekarang, melihat laki-laki itu terpukul hebat oleh tongkat unbuk mewakili dirinya kemudian laki-laki yang sudah terluka hebat ini masih memondongnya, In Hong berkata lirih.
"Bu Jin Ai... kau baik sekali..."
Orang itu memang Bu Jin Ai. Kalau tadinya ia merintih dan Bibirnya gemetar menahan sakit, kini ia memandang kepada In Hong, matanya bersinar, wajahnya berseri dan Bibirnya gemetar.
"Aku akan membelamu, melindungimu, aku akan mempertaruhkan nyawa untuk menyelamatkanmu, kekasihku... isteriku manis..."
Melihat adegan aneh ini, Pek Ciang San-Lojin ragu-ragu, mengerutkan kening dan juga merasa jemu sekali.
"Kalian sepasang manusia iblis, bersiaplah untuk mampus!"
Serunya marah. Tongkatnya melayang pula, siap untuk menghancurkan kepala Bu Jin Ai dan In Hong.
"Plak!"
Tongkat itu bertemu dengan gagang sapu yang dilontarkan oleh Siang Te Lokai.
"Susiok, mengapa kau mencegah Teecu membunuh dua siluman ini...?"
Tanya Ketua Kun-Lun-Pai dengan marah. Siang Te Lokai menghampiri mereka dan memandang kepada Bu Jin Ai.
"Pek Ciang, ketahuilah, orang ini adalah murid dari mendiang Bu Sek Tianglo. Tak baik kalau kita mengganggunya."
Pek Ciang San-Lojin kaget mendengar ini.
"Ahh... apakah dia murid Tianglo yang dulu amat terkenal dan she-nya Ong...?"
Sementara itu, dengan terhuyung-huyung dan mulut bicara mesra, menghibur In Hong dan berjanji hendak mengobati luka-lukanya, Bu Jin Ai meninggalkan tempat itu.
Orang ini sebetulnya sudah terluka hebat.
Pukulan tongkat dari Pek Ciang San-Lojin yang ditujukan ke arah kepala In Hong dan ia wakili tadi, tepat mengenai punggungnya dan telah mematahkan dua buah tulang iganya.
Namun, Bu Jin Ai ini memang seorang yang luar biasa kuatnya.
Ia tidak mem-perlihatkan rasa sakit dan tidak memperdulikan dirinya sendiri bahkan ia masih dapat memondong tubuh In Hong dan membawanya pergi dari kelenteng Kun-Lun-Pai.
Baiknya Siang Te Lokai mengenalnya dan memperingatkan Pek Ciang San-Lojin, kalau tidak apabila pihak Kun-Lun-Pai mengejar dan menyerang terus, pasti Bu Jin Ai dan In Hong takkan dapat melawan dan menyelamatkan diri lagi.
"Put Hauw Li, bidadariku jangan kau susah, aku akan merawatmu sampai sembuh..."
Bu Jin Ai menghibur In Hong yang merasa terharu sekali.
Orang gagah yang bernama Bu Jin Ai ini telah menyelamatkan nyawanya, bahkan telah mempertaruhkan nyawa sendiri untuk melindunginya dari bahaya maut.
Di dalam pondongan orang gagah ini ia merasa demikian aman dan senang.
Belum pernah In Hong mendapat perasaan aneh seperti ini, perasaan bahagia bahwa ada orang yang menyintainya, orang yang membelanya mati-matian.
Biarpun Bu Jin Ai bersikap seperti orang yang tidak beres otaknya, namun In Hong dapat menduga bahwa orang ini bersikap aneh seperti itu karena telah menderita kesedihan besar.
Beberapa kali Bu Jin Ai menyebutnya "Isterinya atau kekasihnya,"
Mengapa demikian? Apakah barangkali Bu Jin Ai telah kehilangan isterinya? "Bu Jin Ai, punggungmu terluka, mungkin tulang igamu patah,"
Kata In Hong terharu sekali ketika dalam pondongan, tidak terasa tangannya kena meraba punggung orang gagah itu.
"Tidak apa, hanya dua tulang iga patah, masih cukup murah untuk menebus nyawamu dari tongkat Si tangan putih yang ganas itu,"
Jawab Bu Jin Ai sambil tersenyum.
"Bagiku, yang terpenting adalah keselamatanmu. Aku sendiri, ah, aku orang apa? Hanya nyawa lebihan, hanya manusia yang dibenci sana sini, tidak ada orang yang sayang kepadaku."
Ketika mengeluarkan kata-kata ini, Bu Jin Ai mengerutkan kening dan sinar matanya nampak berduka sekali.
"Bu Jin Ai, orang sedunia boleh membencimu, akan tetapi percayalah, aku Put Hauw Li tidak akan membencimu selama hidupku."
"Betulkah? Dan kau... kau suka kepadaku?"
"Tentu saja. Kau satu-satunya orang di dunia ini yang baik menurut pandanganku, mengapa aku takkan suka?"
"Bagus! Put Hauw Li, marilah kita berdua pergi jauh, pergi meninggalkan semua keributan ini, pergi meninggalkan kebencian dan permusuhan, kita pergi keluar dunia ramai, hidup berbahagia sebagai sepasang suami-isteri untuk selamanya!"
In Hong terkejut sekali sehingga ia tersentak kaget. Belum pernah ia berpikir tentang suami-isteri dan kata-kata ini benar-benar mengejutkan hatinya.
"Hush jangan omong tidak karuan!"
Tegurnya dan tak terasa tangannya menepuk punggung Bu Jin Ai.
"Aduuh...! Bu Jin Ai terhuyung-huyung akan tetapi tetap ia memondong tubuh In Hong dan menahan rasa sakit sampai keringat membasahi jidatnya.
"Ah, maafkan aku, Bu Jin Ai. Aku tidak sengaja... Mari kita mencari tempat yang teduh agar kita bisa saling mengobati. Aku membutuhkan perawatanmu, akan tetapi sebaliknya kaupun perlu dengan perawatanku''.
"Ada sebuah tempat baik di kaki gunung ini, aku akan membawamu kesana. Kau... kau tidak marah lagi?"
Muka In Hong menjadi merah sekali, entah mengapa ia sendiri tidak tahu, akan tetapi ia merasa jengah dan malu terhadap orang gagah ini, akan tetapi juga ada sesuatu yang amat mesra terasa di dalam hatinya.
Sudah gilakah aku?
Demikian In Hong bertanya kepada diri sendiri karena ia dapat menduga bahwa hatinya tertarik serta suka kepada orang ini.
Ia merasa begitu aman dan betah dalam pondongan Bu Jin Ai, merasa disayang sekali, merasa berbahagia dapat bersama-sama dengan orang ini!
"Tidak, Bu Jin Ai, aku tidak marah.
Akan tetapi kau jangan bicara yang bukan-bukan lagi."
Mendengar ucapan ini, Bu Jin Ai tersenyum-senyum dan wajahnya yang gagah itu berseri gembira.
Ia seperti mendapat kekuatan baru dan setengah berlari ia turun dari gunung itu, menuju ke sebuah gua besar yang berada di kaki gunung.
Ia pernah tinggal digua ini, bahkan ia telah membersihkannya dan disitu ia telah menaruh meja kursi dan pembaringan buatan sendiri, beberapa tahun yang lalu.
Belum lama Bu Jin Ai dan In Hong meningalkan puncak Kun-Lun-San, seorang pemuda yang cepat larinya datang di kelenteng Kun-Lun-Pai.
Pemuda ini berwajah tampan, bertubuh tinggi agak kurus dan di punggungnya terselip sebatang pedang.
Dia ini bukan lain adalah Ong Teng San, murid termuda dan tersayang dari Siauw-Lim-pay.
Ia menjalankan perintah Suhunya untuk turun gunung dan mengamat-amati sepak terjang In Hong murid mendiang Bhutan Koay-jin yang telah memiliki kepandaian tinggi.
Tadinya pemuda ini turun gunung bersama Adiknya, Ong Lian Hong.
Akan tetapi ia menyuruh Adiknya itu pulang ke rumah orangtuanya.
"Lian Hong, kau tentu tahu sendiri bahwa In Hong adalah puteri dari Ibu yang dahulu hilang. Dia tentu berusaha hendak mencari Ibu, juga berusaha hendak membalas dendam atas kematian Ayahnya yang terbunuh oleh Ayah kita. Oleh karena itu, kita harus berpisah. Biar aku yang menjalankan perintah Suhu dan mengamat-amatinya agar ia jangan menimbulkan kekacauan seperti yang diperbuat oleh mendiang Hek Moli dan suaminya. Adapun kau harus pulang ke rumah, mencari tahu tentang Ayah dan Ibu yang sudah amat lama kita tinggalkan. Kemudian kau harus menjaga keselamatan Ibu di rumah. Kasihan Ibu kita..."
"Baik, koko,"
Kata Lian Hong.
Diam-diam gadis ini merasa terharu sekali dan memuji hati pemuda yang budiman ini.
Biarpun Ibu Lian Hong bukan Ibu Teng San, namun pemuda ini amat kasih kepada Ibu tirinya, bahkan dalam urusan dengan Ayahnya, Teng San membela Ibu tirinya.
Demikianlah, Lian Hong menuju ke kampung tempat tinggal orangtuanya, sedangkan Teng San melanjutkan perjalanan ke Kun-Lun-San.
Pemuda ini dapat menduga bahwa setelah kini memiliki kepandaian tinggi, In Hong pasti akan mengunjungi Kun-Lun-Pai untuk membalas dendam atas kema-tian Hek Moli.
Bukankah dahulu gadis itu datang ke Siauw-Lim-pay mencuri kitab dengan maksud untuk dipelajari dan kelak dipergunakan melawan Kun-Lun-Pai?
Maka tanpa ragu-ragu lagi ia lalu mengarahkan perjalanannya ke Kun-Lun-San.
Seperti juga In Hong, pemuda ini berlari cepat dan tidak pernah menunda perjalanannya.
Akan tetapi oleh karena In Hong telah berangkat sehari dimuka, tetap saja Teng San datang terlambat.
Ia tiba dikelenteng Kun-Lun-Pai setelah In Hong dipondong dan dibawa pergi oleh Bu Jin Ai.
Kedatangannya disambut oleh seorang Tosu penjaga.
Di ruang tengah terdapat beberapa buah peti mati, hio mengebul dan banyak Tosu bersembahyang dan berdoa.
Hati Teng San berdebar tak enak.
"Totiang, siapakah yang meninggal dunia dan mengapa sekaligus begitu banyak yang meninggal? Ada terjadi apakah?"
Setelah Tosu itu mendengar bahwa pemuda ini adalah murid Siauw-Lim-pay, ia tidak menaruh hati curiga dan berkata.
"Ah, baru saja tempat kami diserbu oleh iblis-iblis jahat."
Teng San makin gelisah.
"Totiang, terus terang saja akupun mendapat tugas dari Suhu Bu Kek Tianglo untuk mengamat-amati sepak terjang seorang nona..."
"Ah! Kau terlambat. Dia itulah yang datang menyebar maut. Bukankah yang kau maksudkan itu nona murid Hek Moli?"
"Betul, Totiang. Apa yang ia lakukan? Dan dimana ia sekarang?"
Teng San kini menjadi agak pucat.
Ia menyesal sekali bahwa kedatangannya terlambat.
Anehnya dalam mengajukan pertanyaan ini, yang terutama sekali teringat olehnya adalah keadaan In Hong!
Ia mengkhawatirkan kalau-kalau gadis itu mengalami kecelakaan.
"Siluman betina itu datang dan mengamuk, menewaskan Kun-Lun Sam-lojin dan beberapa orang saudara lain. Kemudian, setelah Ketua kami keluar dibantu oleh Siang Te Lo-Cianpwe, barulah ia dapat dikalahkan dan terluka. Tentu bocah siluman itu akan dibasmi oleh Ketua kami kalau saja pada saat itu tidak datang pertolongan seorang aneh."
"Ditolong orang? Siapa yang menolong dan bagaimana kesudahannya, Totiang?"
Tanya Teng San dan hatinya makin berdebar. Tadinya ia merasa khawatir dan gelisah bukan main, akan tetapi sekarang agak terhibur mendengar bahwa In Hong tertolong orang aneh.
"Agaknya antara siluman betina itu dan penolongnya memang sudah ada hubungan. Memang aneh sekali. Laki-laki itu biarpun gagah dan tampan, patut menjadi Ayahnya, akan tetapi dasar wanita siluman. Kami sampai menjadi malu melihat sikap mereka yang saling mengutarakan cinta kasih. Benar-benar kurangajar!"
Hati Teng San terpukul mendengar ucapan ini.
Ingin ia menggaplok muka Tosu yang menghina dan memburukkan nama In Hong, akan tetapi Teng San masih dapat bersabar, apalagi ia masih menghendaki penjelasan.
"Apa yang dilakukan oleh penolongnya itu dan kemana mereka sekarang, Totiang?"
"Laki-laki penolongnya itu merampas nona tadi dari ancaman tongkat Ketua kami, lalu membawanya lari turun gunung. Setelah mereka pergi baru kami ketahui dari Siang Te Lo-Cianpwe bahwa laki-laki itu bukanlah orang sembarangan. Biarpun kelihatannya seperti orang yang berotak miring, akan tetapi tidak tahunya dia adalah murid dari Bu Sek Tianglo dan shenya Ong..."
Tiba-tiba Tosu itu membelalakkan matanya dan hampir menjerit karena pundaknya dipegang dengan eratnya oleh jari tangan Teng San, hampir remuk rasanya.
"Lekas katakan, ke jurusan mana mereka pergi!"
Kini suara Teng San terdengar penuh ancaman, mukanya pucat sekali.
Tosu itu hanya menudingkan telunjuknya ke arah bawah gunung.
Teng San melepaskan cenkeramannya dan secepat kilat tubuhnya berkelebat ke jurusan itu.
Bagaikan terbang cepatnya Teng San turun gunung untuk mengejar In Hong.
Hatinya tidak karuan rasanya.
Mungkinkah?
Mungkinkah In Hong bersama Ayahnya?
Tak salah lagi bahwa orang yang dimaksudkan oleh Tosu tadi adalah Ayahnya.
Siapa lagi murid Bu Sek Tianglo she Ong kalau bukan Ong Tiang Houw Ayahnya?
Akan tetapi, mana mungkin Ayahnya bersama-sama dengan In Hong dan lebih tak mungkin lagi antara mereka ada perhubungan seperti yang dikatakan oleh Tosu tadi!
Sama sekali tak masuk akal.
Ayahnya adalah musuh-besar In Hong, orang yang telah membunuh Ayah gadis itu, bahkan setelah membunuh Ayahnya, lalu merampas dan mengawini Ibunya!
Kalau In Hong bertemu dengan Ayahnya, tentu gadis itu akan membunuhnya, akan mencincang hancur tubuh Ayahnya.
Ia dapat mengerti betapa sakit hati gadis itu kepada Ayahnya yang telah membunuh Ayah dan merampas Ibu gadis itu.
Bagaimana sekarang ia mendengar dari Tosu Kun-Lun-Pai bahwa Ayahnya menolong In Hong dan bahwa di antara mereka terdapat perhubungan yang memalukan?
"Tak mungkin!"
Teng San berseru keras untuk menyangkal semua tuduhan yang menyakitkan hatinya itu.
Ia memang tidak puas akan perbuatan Ayahnya yang telah membunuh Kwee Seng kemudian mengambil isterinya, perbuatan ini dianggapnya rendah sekali.
Akan tetapi kini memikat hati In Hong, puteri dari Kwee Seng?
Benar-benar ia anggap keterlaluan dan betapapun juga hatinya tidak rela mengaku bahwa Ayahnya sampai hati melakukan perbuatan macam itu.
Setelah mencari dengan penuh perhatian, akhirnya Teng San melihat jejak kaki ditanah yang agak lembek di kaki gunung Kun-Lun.
Jejak kaki ini menunjukkan bahwa belum lama di tempat itu berjalan seorang yang membawa barang berat.
Ia lalu mengikuti jejak kaki itu dan sampailah ia dimulut sebuah gua yang besar dan gelap, karena ditutup oleh cabang dan ranting pohon dari sebelah dalam.
Agaknya ada orang memasuki gua itu dan menutup mulut gua dengan cabang pohon untuk mencegah gangguan binatang buas.
Teng San ragu-ragu.
Ia hendak membuka cabang-cabang pohon itu akan tetapi tiba-tiba ia mendengar suara orang bicara.
"Bu Jin Ai, tulang igamu sudah tersambung baik, akan tetapi kau masih harus banyak mengaso."
Inilah suara In Hong!
Teng San masih kenal suara gadis ini.
Hatinya berdebar dan ia makin ragu-ragu.
Terang bahwa orang yang diajak bicara oleh In Hong itu bukan Ayahnya, karena dipanggil Bu Jin Ai, nama yang aneh dan asing baginya.
Tiba-tiba terdengar suara orang laki-laki tertawa perlahan.
Jantung Teng San seakan-akan berhenti berdetik karena tegang dan ragu.
Ia menahan napas untuk mendengar dan mengenal suara orang yang tertawa itu.
"Kau bidadari berhati mulia, pundakmu sendiri terlepas sambungannya dan lututmu juga terluka, akan tetapi kau selalu memperhatikan keadaanku. Eh, bidadariku, apakah sengaja Thian menyuruhmu turun ke bumi untuk mengawani aku orang yang dibenci sesamanya?"
Itulah suara Ong Tiang Houw, Ayahnya!
Hal inipun tidak diragukan lagi oleh Teng San.
Tak terasa pula pemuda ini jatuh bersimpuh di atas tanah.
Kedua kakinya terasa lemas dan mukanya pucat seperti mayat.
Akan tetapi ia masih mendengar suara mereka bercakap-cakap.
"Bu Jin Ai, kau sudah menolong nyawaku, bukan aku yang baik, melainkan kau lah orang terbaik dan termulia di dunia ini. Yang lain-lain itu palsu belaka. Aku sebatangkara, kau seorang-diri, nasib kita sama, selalu bertemu musuh dan selalu sengsara. Aku senang sekali dapat bertemu denganmu, Bu Jin Ai."
Suara ini mengandung kemesraan yang mengharukan, karena begitu jujur dan setulusnya. Kembali laki-laki itu tertawa.
"Memang kita sudah berjodoh agaknya... heran sekali aku, kau serupa benar dengan dia..."
"Bu Jin Ai, kau mulai mengaco lagi. Selalu kau sebut-sebut aku sama dengan orang lain. Aku tidak perdulikan orang lain!"
"Ha, kau cemburu?"
"Cih! Siapa perduli? Sudahlah, kau harus tidur, keadaanmu lemah sekali,"
Terdengar suara In Hong membujuk.
Teng San tak dapat menahan lagi gelora hatinya.
Ia merasa jemu, malu, marah, menyesal, kecewa dan penasaran sekali.
Pendeknya semua perasaan tidak enak berkumpul di dalam hatinya, membuat ia menjadi pucat.
Bagaikan seorang gila ia mencabut pedangnya dan sekali ia bergerak, cabang-cabang pohon itu terlempar ke kanan kiri dan terbukalah mulut gua.
Dengan sepasang mata liar seperti harimau luka ia memandang ke dalam gua dan pemandangan yang terlihat olehnya merupakan minyak pembakar disiramkan pada api yang sedang bernyala.
In Hong namnak duduk bersandar dinding gua, tangannya mengusap kepala seorang laki-laki yang rebah di lantai gua dan yang menaruh kepalanya di atas pangkuan gadis itu.
Laki-laki yang rebah telentang dengan mata meram itu bukan lain adalah Ayahnya!
Bermacam-macam pikiran terbayang dalam kepala Teng San, terutama sekali pikiran tentang keburukan perbuatan Ayahnya.
Ayahnya telah mengepalai perampok-rampok liar untuk merampok dan membunuh-bunuhi orang hartawan dan bangsawan tanpa memilih bulu, Sehingga dalam keganasan itu Ayahnya telah membunuh seorang hartawan she Kwee yang terkenal budiman dan dermawan.
Kemudian, setelah membunuh Kwee Seng, Ayahnya ini mengambil Nyonya Kwee menjadi isterinya, tentu dengan bujukan karena kalau tidak demikian, bagaimana Nyonya Kwee tidak tahu bahwa Tiang Houw itu pembunuh suaminya?
Dua perbuatan yang jahat itu dikotori pula dengan penyimpanan rahasia pembunuhan itu, sifat yang amat pengecut dan rendah dalam pandangan Teng San.
Kemudian, kini Ayahnya itu bahkan main gila dan memikat anak perempuan dari Kwee Seng, atau anak tirinya sendiri!
Tentu dengan maksud agar supaya nona ini jangan membunuhnya, jangan membalaskan sakit hati Kwee Seng karena Ayahnya juga tahu bahwa In Hong telah memiliki kepandaian tinggi?
Alangkah palsu dan jahatnya Ayahnya!
Dengan pikiran ini memuncak di dalam hati dan kepalanya dan membuat Teng San mata gelap, pemuda ini tidak perdulikan lagi pandang mata In Hong yang terbelalak heran melihat pemuda itu telah berada disitu.
In Hong tidak menyangka buruk, maka ia tidak berdaya ketika sambil berteriak mengerikan seperti orang menjerit atau menangis, Teng San menubruk maju dan dilain saat, ujung pedangnya telah amblas ke dalam uluhati Ong Tiang Houw!
Ong Tiang Houw tersentak dan tubuhnya terlempar ketika dengan jeritan marah In Hong melompat berdiri.
Tiang Houw membuka mata dan melihat Teng San yang memegang sebatang pedang berlumur darah, ia tersenyum dan berkata perlahan.
"Teng San... anakku..."
In Hong tidak memperhatikan lain hal. Melihat bahwa Teng San telah membunuh Bu Jin Ai, ia berseru keras.
"Jahanam keji, rasakan pembalasanku!"
Ia menerjang dengan pedangnya, tidak perduli akan lutut kakinya yang masih sakit, juga rasa nyeri pada pundak tidak dihiraukannya lagi.
Teng San setelah menusuk uluhati Ayahnya dan mendengar kata-kata Ayahnya tadi, seketika menjadi lemas.
Airmatanya mengucur dan ia tidak kuat lagi melihat Ayahnya yang sedang menghadapi maut.
Maka ia lalu melompat keluar dari gua pada saat pedang In Hong menyerangnya.
"Jahanam keparat, jangan lari!"
In Hong mengejar keluar gua.
Di luar gua ia melihat Teng San berdiri dengan muka pucat sekali.
Pedang yang masih berlumur darah itu biarpun dipegangnya, akan tetapi tergantung ke bawah dan pemuda itu menundukkan mukanya.
"Keparat, kau datang-datang membunuh orang tak berdosa! Tidak malukah kau murid Siauw-Lim-Si melakukan perbuatan serendah ini?"
Teng San mengangkat mukanya, memandang kepada In Hong dengan sepasang mata basah.
Ia merasa kasihan sekali kepada gadis ini, akan tetapi juga menyesal.
Mengapa orang gadis muda secantik dan sepandai ini, sampai mudah terpikat oleh Ayahnya?
Kalau tidak terjadi hal demikian, tentu ia takkan membunuh Ayah sendiri, dan mungkin sekali dapat dicari jalan damai dan baik untuk membereskan urusan sakit hati yang ruwet ini.
Kini keadaan sudah terlanjur, ia sudah membunuh Ayah sendiri dengan tangannya.
Ia tidak perduli lagi!
"Aku membunuh dia, kau mau apakah?"
"Keparat!"
In Hong mengayun tangan kiri, menyebar toat-beng hek-kong (sinar hitam pencabut nyawa), disusul oleh tusukan pedangnya ke arah lambung Teng San.
"Cepp...!!"
Pedangnya menembus lambung pemuda itu dan pasir hitamnya juga mengenai sasaran dengan tepat.
Semua serangannya tadi ternyata tidak ditangkis maupun dielakkan sama sekali oleh Teng San.
Baca Juga: Pendekar Remaja 8
Baca Juga: Suling Emas 9