Ceritasilat Novel Online

Bayangan Bidadari 2

Eps 2 Bayangan Bidadari - Kho Ping Hoo

Baca online Bayangan Bidadari - Kho Ping Hoo

Cersil Bayangan Bidadari - Kho Ping Hoo.

Pucat wajah In Hong dan kalau saja ia tidak sudah matang latihannya dalam ilmu lweekang dan samadhi, mungkin ia akan menjerit atau jatuh pingsan.

Namun ia menguatkan hatinya dan bahkan masih dapat bertanya, suaranya tetap tenang.

"Yo-pekhu, siapakah yang menewaskan Ayah dan dimana beliau dimakamkan?"

Yo Hang Tek saling pandang dengan isterinya, agaknya mereka heran melihat ketenangan gadis ini, akan tetapi Yo Kang memandang penuh kekaguman.

Pemuda ini pernah belajar ilmu silat dan ia menghargai kegagahan, maka melihat sikap In Hong ia suka dan kagum sekali.

Ia benci melihat wanita lemah yang mudah menangis dan mudah jatuh pingsan.

"Hong-moy, aku yang menyelidiki urusan itu, dan aku hanya mendengar bahwa Ayahmu tewas dalam keributan, tidak tahu siapa yang melakukan pembunuhan itu, dan jenazahnya dirawat oleh pasukan pemerintah, kini dimakamkan di luar dusun Tiang-On. Aku sudah mengurus kuburannya dan memasang bong-pay (batu nisannya). Kelak kuantar kau mengunjungi makamnya."

In Hong memandang kepada pemuda itu dan kembali ada sinar terima kasih dalam matanya.

"Dan bagaimana dengan... Ibuku...?"

Setelah mengajukan pertanyaan ini, hati In Hong berdebar.

Sungguhpun sekuat tenaga ia menekan perasaannya, namun ia takut bahwa kali ini kalau mendengar berita buruk tentang Ibunya, ia takkan dapat menahan tangisnya lagi.

Ia merasa amat gelisah dan takut.

"Itulah yang membingungkan kami, Hong-moy. Aku sudah mencari kemana-mana, sudah menyebar kawan-kawan untuk menyelidiki, akan tetapi Ibumu hilang lenyap tak meninggalkan jejak. Benar-benar aneh sekali. Tak seorangpun tahu kemana perginya Ibumu."

Mendengar keterangan ini, hati In Hong tidak karuan rasanya.

Ada perasaan lega bahwa ia tidak mendengar Ibunya telah tewas, akan tetapi juga ia menjadi bingung, karena kemanakah ia harus mencari Ibunya?

Ketika ia memandang kepada pek-hunya, Yo Hang Tek berkata "Yang aneh sekali adalah urusan Can Ma.

Pelayan tua itu sudah sampai disini, dan dialah yang bercerita bahwa kau dibawa pergi oleh Hek Moli.

Akan tetapi, baru kurang lebih setengah bulan setelah ia berada disini, pada malam harinya tahu-tahu ia lenyap dari kamarnya!

Tadinya kami mengira bahwa dia diculik pula oleh Hek Moli..."

"Tidak, Guruku tidak pernah menculik Can Ma!"

Kata In Hong.

"Hm, memang aneh sekali hal ini, Hong-moy. Sayang ketika hal itu terjadi, aku masih kecil. Kalau sekarang, agaknya penjahat yang menculik Can Ma itu akan dapat kutangkap!"

In Hong memandang kepada pemuda ini yang berdiri tegak sambil mengangkat dada, kelihatannya memang gagah sekali.

Kembali hati In Hong bingung dan menduga-duga.

Siapakah yang telah menculik Can Ma?

Ia menduga-duga dan otaknya yang cerdik bekerja keras.

Tentu ada hubungannya dengan Ibunya yang hilang, pikirnya, kalau tidak, siapakah yang mau menculik pelayan tua itu?

"Apakah Can Ma tidak diam-diam pergi dari rumah ini?"

Tanyanya.

"Tidak mungkin. Mengapa ia harus pergi minggat? Dan pula, ada tanda-tanda jendela dibongkar orang dari luar. Pasti ada yang menculiknya,'' kata Yo Hang Tek. Setelah semua orang berhenti bicara.Kakek Yo batuk-batuk dan ia sudah merasa amat gemas karena ia tidak dapat mendengar percakapan itu dengan jelas. Suara batuk-batuk ini sudah dikenal baik oleh semua keluarga disitu. yakni bahwa si tua itu menghendaki supaya semua orang berhenti bercakap-cakap dan bubar.

"In Hong, sekarang kau sudah datang, itu bagus sekali. Kau harus tinggal disini dan tidak boleh keluar dari rumah. Tidak patut seorang gadis yang sudah remaja keluar dari rumah, terlihat oleh orang-orang lelaki yang bukan keluarganya! Biarpun kau sudah menjadi murid Hek Moli, aku tidak suka melihat kau berkeliaran di dunia luar rumah keluarga. Kau tinggal disini, belajar menyulam dan kerajinan tangan lain dari Bibimu, dan kelak aku akan mencarikan calon jodoh yang baik untukmu."

Sambil berkata demikian,Kakek ini menyedot huncwenya (pipa tembakaunya) dan melambaikan tangan menyuruh semua orang keluar dari situ.

Bukan main mendongkolnya hati In Hong.

Ingin ia mendampratKakek itu yang menghina Gurunya, ingin ia berlari keluar dari rumah besar ini, karena untuk apakah ia tinggal lebih lama disitu kalau Ayah bundanya, juga Can Ma tidak berada disitu?

Akan tetapi, isteri Yo Hang Tek sudah menggandeng tangannya dan pek-hunya telah memberi isyarat dengan mata sehingga ia menurut saja ketika digandeng keluar oleh isteri pekhunya.

Setelah tiba di luar ruangan dimanaKakek itu masih duduk mengisap huncwenya, In Hong berkata kepada Yo Hang Tek.

"Yo-pekhu, maafkan bahwa aku tidak bisa lama disini. Aku harus pergi sekarang juga untuk mencari Ibu dan Can Ma."

Yo Hang Tek nampak terkejut, demikianpun Yo Kang.

"Mengapa begitu, Hong-moy? Kau berada di antara keluarga sendiri, jangan kau berlaku sungkan. Soal Kongkong, jangan kau pikirkan, orangtua itu sudah pikun dan tuli..."

"Kang-ji!"

Ibunya membentaknya. Yo Kang mengangkat pundak.

"Hong-moy, jangan kau khawatir tentang Ibumu. Akulah yang akan membantumu mencarinya lagi. Ketahuilah, aku seringkali keluar kota untuk mengurus perdagangan, dan di dunia kangouw aku mempunyai banyak sekali kenalan. Dengan bantuanku, lebih mudah bagimu untuk mencari Ibumu."

"Benar kata-kataKakekmu, In Hong. Tidak baik kalau kau keluar lagi. Kalau keluar, kau hendak kemanakah? Betapapun juga, harus kau akui bahwa tidak selayaknya seorang gadis seperti engkau merantau mencari Ibumu sendiri, se-dangkan kau tidak tahu dimana adanya Ibumu itu. Tinggallah disini, dan perlahan-lahan kita berdaya mencari Ibumu."

Tidak enak hati In Hong untuk berkeras.

Di antara semua orang yang menjadi sanaknya ini, hanya Yo Hang Tek dan terutama sekali Yo Kang yang baik sikapnya dan menyenangkan hati, akan tetapi Ibu Yo Kang sikapnya dingin saja, apalagiKakek berhuncwe itu!

Ketika ia memandang kepada pekbo-nya (isteri uaknya), Nyonya Yo ini berkata.

"In Hong, kau mendapat kamar di sebelah kiri kamarku,"

Kemudian ia berkata kepada Yo Kang.

"Kang-ji, hayo kau suruh pelayan membersihkan kamar itu untuk In Hong."

Yo Kang cepat pergi dan wajahnya gembira sekali.

Terpaksa In Hong menurut dan malam hari itu ia rebah di atas pembaringan dalam kamarnya.

Ia hanya makan sedikit saja karena hatinya diam-diam amat berduka.

Ayahnya tewas dibunuh orang tanpa ia tahu siapa pembunuhnya.

Ibunya lenyap tanpa ada orang tahu dimana tempat tinggalnya dan apakah ia masih hidup ataukah sudah mati.

Juga Can Mama lenyap diculik orang.

"Alangkah buruk nasib Ayah-Ibu..."

Dan dengan amat terharu ketika mengenangkan Ayahnya, ia berbaring menelungkup dan menyembunyikan mukanya di atas bantal.

Ia menangis sedih dan dengan seorang diri di dalam kamar, kini ia memuaskan hatinya dan membiarkan airmatanya membanjiri bantal.

Ia mendengar suara pekhu dan pekbonya bercakap-cakap di kamar sebelah.

Pendengaran In Hong memang luar biasa tajamnya karena ia memang menerima latihan khusus dari Gurunya untuk kepandaian ini.

Akan tetapi ia tidak mau memperhatikan percakapan mereka yang hanya terdengar lapat-lapat karena terhalang oleh tembok tebal.

Tiba-tiba ia mendengar nama "In Hong"

Disebut-sebut dan suara mereka mengandung nada marah.

Tertariklah hati In Hong.

Kalau mereka tidak membicarakaan dia, iapun tidak nanti suka mendengarkan orang, akan tetapi setelah namanya disebut-sebut, ia lalu bangkit, duduk dan menempelkan telinganya pada tembok yang memisahkan kamarnya dengan kamar pekbonya.

"Menurut pandanganku, dia berjodoh dengan putera kita,"

Terdengar pekhunya bicara.

"Aah, tidak pantas, tidak pantas!"

Jawab pekbonya.

"Dia menjadi murid iblis wanita, sudah belasan tahun tidak karuan tempat tinggalnya, kemana-mana membawa-bawa pedang. Aku tidak suka mempunyai mantu seorang wanita kasar, lagi pula dia tidak ada keluarga, boleh dibilang seorang anak yang terlantar."

"Akan tetapi, amat sopan, sikapnya baik seperti orang terpelajar. Tentang ilmu silat, apa salahnya? Anak kita juga mempelajari ilmu silat, jadi lebih cocok. Laginya, In Hong harus diakui amat cantik jelita, dan Kang-ji kelihatannya tertarik dan suka kepadanya. Memang dia cantik sekali."

"Apa artinya kecantikan bagi seorang mantu? Aku tetap tidak suka, laginya dia masih sanak dekat. Apakah kurang puteri-puteri bangsawan dan hartawan yang lebih cantik dari In Hong? Aku tidak suka."

"Hm, kau tahu apa tentang hati laki-laki?"

Kata Yo Hang Tek sambil tertawa.

"Kecantikan amat penting. Kalau kau tidak cantik, apakah dulu aku mau dijodohkan dengan kau?"

"Ngacau...!"

Sampai disini, In Hong melepaskan telinganya dari tembok, dan ia menjatuhkan diri di atas pembaringan, menangis makin sedih.

Ia menutupi kedua telinga dengan bantal agar tidak mendengar percakapan mereka lagi.

Akhirnya, karena lelah dan sedih, ia dapat tertidur juga, bahkan di dalam tidurnya ia masih terisak-isak beberapa kali.

(Lanjut ke

Jilid 04) Bayangan Bidadari/Sian Li Eng Cu (Cerita Lepas) Karya. Asmaraman S. Kho Ping Hoo

Jilid 04 Dengan memaksakan hati, In Hong tinggal di rumah gedung itu sampai beberapa hari.

Ia sudah tidak betah sekali dan di dalam hati ia mengambil keputusan untuk segera meninggalkan tempat itu.

Apalagi ketika terjadi hal yang amat menyebalkan hatinya, yang terjadi sepekan sesudah ia tinggal disitu.

Pada hari itu, ia melihat mandor she Kwa itu menyeret-nyeret seorang laki-laki berusia hampir limapuluh tahun.

Laki-laki ini terang adalah seorang kuli kasar, karena ia tidak memakai baju, hanya bercelana panjang yang sudah butut.

Tulang-tulangnya menonjol keluar dan urat-uratnya menandakan bahwa dia biasa bekerja berat.

Garis-garis pada mukanya menimbulkan kisut yang jelas sekali, tanda dari derita hidup yang pahit.

In Hong tengah duduk di ruang luar bersama Yo Kang, bercakap-cakap tentang rencana menyelidiki Ibunya.

Melihat mandor Kwa menyeret orang tua itu, Yo Kang kelihatan tidak senang dan terganggu.

"Ada apa lagi denganKakek Lui itu, Kwa-lopek?"

Tanyanya tidak senang.

"Ia mencuri lagi, Yo-kongcu, sekarang ia mencuri gandum sebanyak lima kati!"

"Dasar sudah tak dapat diperbaiki lagi akhlaknya,"

Yo Kang mengomel.

"Sekarang dia harus dihadapkan kepada Kongkong."

"Yo-kongcu, ampunkanlah hamba kali ini, jangan hadapkan pada Yo-loya..."Kakek yang disebutKakek Lui itu meratap. Akan tetapi Yo Kang tidak perduli dan memberi isyarat kepada mandor Kwa untuk menyeret pencuri itu ke belakang, di ruang belakang yang biasa dijadikan tempat-duduk Yo Tang.

"Ada apakah dia?"

Tanya In Hong tertarik sekali.

"Ah, biasa saja. Mengurus orang banyak memang lebih sukar daripada mengurus sekumpulan kerbau. Mencuri dan mencuri saja kerjanya. Biar Kongkong yang membereskannya, aku sudah lelah mengurus soal pencurian-pencurian itu. Hanya terhadap Kongkong mereka itu mati kutu dan tunduk betul."

"Apa yang akan dilakukan terhadapKakek Lui itu?"

Tanya In Hong mengeraskan hati sehingga suaranya terdengar biasa saja.

"Tentu saja dihukum. Kau mau melihat cara Kongkong membikin kapok para pencuri? Mari kita lihat!"

Mereka berdiri dan menuju ke belakang.

"Aku seringkali merasa heran bagaimana Kongkong seorang lemah itu ternyata pandai sekali mengurus orang-orang jahat."

Ketika mereka tiba di ruang belakang, ternyata orang she Lui yang dituduh mencuri itu telah dihadapkan di depanKakek Yo yang mengisap huncwenya seperti biasa.

"Sudah tiga kali kau mencuri, ja?"

Yo Tang membentak marah.

"Tahukah kau apa yang kau akan alami kalau aku menyerahkan kau kepada pengadilan? Kau akan dihukum sepuluh tahun, dan melihat usiamu, kau akan mampus di dalam penjara!"

Pekerja she Lui itu lalu mengeluarkan suara rintihan dan sambil berlutut ia memohon.

"Yo-loya yang budiman, mohon kau sudi mengampuni seorang miskin seperti hamba. Hamba bersumpah bahwa hamba takkan melakukan pencurian lagi, biar kelak tangan hamba keduanya dipotong kalau hamba membohong."

"Hah, seharusnya kedua tanganmu dipotong sekarang juga! Kau sudah mencuri sampai tiga kali!"

"Ampun, loya..., ampunkan hamba..."Kakek Lui itu menjadi pucat sekali dan airmatanya bercucuran.

"Sudah berulangkali kau mencuri, mana bisa ada ampun lagi? Kwa Liong, buntungkan kedua tangannya!"

Mandor she Kwa itu sambil menyeringai lalu mencabut golok yang tergantung di pinggangnya, lalu menghampiriKakek she Lui yang menjadi pucat sekali.

"Ampun, Yo-loya... hamba bersumpah akan bertobat... hamba... hamba harus memelihara keluarga hamba... jangan buntungkan kedua tangan hamba, bagaimana hamba dapat bekerja mencari sesuap nasi untuk keluarga hamba...?"

Ia menangis seperti anak kecil. Yo Tang mengebulkan asap huncwenya dan berkata bengis.

"Kau benar-benar sudah bertobat? Nah, kali ini aku masih ampunkan kau dan aku hanya ingin mengambil jari kelingkingmu sebelah kiri sebagai hukuman dan peringatan. Ingat, lain kali aku takkan menghukummu, akan tetapi akan menyerahkan kau kepengadilan! Kwa Liong, buntungkan jari kelingkingnya sebelah kiri!"

Golok diangkat, berkelebat dan putuslah kelingking kiri dariKakek itu.Kakek Lui meringis kesakitan, memegangi tangan yang terluka itu, akan tetapi wajahnya kelihatan lega dan girang.

Ia berlutut dan menghaturkan terima kasih kepada Yo Tang.

Melihat ini, In Hong menjadi marah bukan-main.

Kalau saja ia tidak ingat bahwa ia masih keluarga dari Yo Tang, tentu ia sudah menghajar mandor itu bersamaKakek she Yo.

Namun ia tidak dapat berpeluk tangan saja, maka ia lalu melompat ke dekatKakek Lui dan bertanya.

"Kakek Lui, kau bekerja sebagai apakah?"Kakek itu sudah tahu bahwa gadis ini adalah cucu dari Yo Tang, maka ia lalu menjawab penuh hormat.

"Siocia, hamba adalah kuli pengangkut gandum."

"Apa yang kau curi?"

"Lima kati gandum."

"Mengapa kau melakukan kejahatan itu?"Kakek itu nampak takut-takut dan melirik ke arah gagang pedang yang masih menghias belakang pundak In Hong.

"Hamba... hamba harus memelihara isteri dan seorang anak yang sudah janda bersama tiga orang cucu. Gaji hamba tidak cukup, mereka kelaparan dan terpaksa hamba... mengambil gandum itu untuk menyambung nyawa cucu-cucu hamba..."

Berobah wajah In Hong.

Ia memandang kepadaKakek Yo dengan mata penuh kebencian, kemudian ia memandang kepada mandor Kwa dengan gemas.

Ketika ia mengerling ke arah Yo Kang, pemuda ini mengejap-ngejapkan matanya, minta agar ia jangan memperlihatkan kemarahannya di depanKakek Yo.

Maka sambil menarik napas panjang, In Hong mengeluarkan sepotong uang emas dari sakunya, memberikan itu kepadaKakek Lui sambil berkata.

"Terimalah ini dan obati tanganmu sampai baik. Lain kali jangan mencuri lagi, akan tetapi usahakanlah agar kau dapat mencari pekerjaan yang lebih mencukupi hasilnya."Kakek Lui bengong dan dengan tangan gemetar ia menerima pemberian itu, lalu menangis terisak-isak, mengucapkan terima kasih dengan Bibir gemetar sehingga tidak jelas kata-katanya, kemudian ia membungkuk-bungkuk keluar dari ruangan itu, diikuti oleh mandor Kwa. Yo Tang melihat perbuatan In Hong dengan mata terbelalak dan ia sampai lupa untuk menyedot huncwenya. Beberapa kali ia menggunakan tangan menepuk-nepuk tangan korsinya sebagai tanda kemarahannya dan saking marahnya ia sampai tidak bisa mengeluarkan kata-kata. Ia menyedot pipanya, akan tetapi apinya padam. Ketika ia bisa membuka mulut, ia berteriak-teriak.

"Hidupkan huncweku...! Bedebah, nyalakan huncweku!"

Yo Tang melangkah maju dan pemuda ini mencetuskan pembuat api untuk menyalakan ujung huncweKakeknya.

"Kurangajar, In Hong apa yang kau lakukan tadi? Darimana kau mendapatkan uang emas yang kau hambur-hamburkan seperti pasir? Hayo jawab!"

In Hong mendongkol bukan main sehingga mukanya menjadi merah padam.

"Uang itu uangku sendiri, kudapat dari subo, kuberikan kepada siapapun juga adalah hakku,"

Jawabnya menahan marah. Yo Tang membanting-banting kakinya.

"Celaka! Uang dihambur-hamburkan, diberikan kepada kuli hina, kepada pencuri pula! Aha, bocah perempuan, kau belum tahu bagaimana sukarnya mencari uang, ya? Kalau kita semua mempunyai watak buruk seperti engkau, uang yang kukumpulkan sekian puluh tahun ini dalam sekejap mata akan musnah! Hei, Yo Tang, awaslah kau, jangan kau tiru watak bocah ini!"

Yo Kang berkata keras agar Kongkongnya mendengar, akan tetapi nadanya penuh hormat.

"Kongkong, Adik In Hong memberi hadiah itu karena merasa kasihan kepadaKakek Lui. Hong-moy belum tahu akan urusan dan keadaan disini, harap Kongkong sudi memaafkannya."

"Keluar! Keluar kalian dari sini dan jangan mengganggu aku lagi! Kalau tidak kupanggil, bocah ini jangan boleh masuk ke ruangan ini!"

TeriakKakek itu marah-marah. Yo Kang lalu mengajak In Hong keluar. Setibanya di luar ruangan itu, In Hong tak dapat mencegah lagi mengalirnya airmatanya.

"Hong-moy, kau tentu tersinggung. Maafkanlah, memang sudah kuberitahukau bahwa Kongkong amat pemarah dan pikun. Maklumlah ia sudah amat tua."

"Tidak apa soal itu, Twako. Akan tetapi... semua kejadian ini... benar-benar tidak cocok dengan isi hatinya. Mengapa kamu sekalian agaknya menggencet penghidupan para pekerja kasar yang miskin? Mengapa kalian begitu kejam?"

Yo Kang tersenyum dan menggeleng-geleng kepalanya.

"Kau salah sangka, Adikku. Kalau kami berlaku murah hati seperti yang kau lakukan, sebentar saja semua barang disini sudah habis digondol pergi oleh mereka. Sekarang ini tidak ada orang yang boleh dipercaya, semua pekerja adalah maling-maling yang selalu mengintai kesempatan. Kalau kami tidak bertindak dengan tangan besi, mereka akan makin berani. Ingatkah kau betapa di tempat tinggal orang tuamu, orang-orang miskin itu memberontak dan menyebar maut, merampok dan mengganas seperti binatang-binatang liar? Nah, itulah kalau mereka terlalu diberi hati."

"Akan tetapi, pekerja-pekerja itupun manusia.Kakek Lui itu patut dikasihani, sungguhpun ia mencuri, namun lima kati gandum yang dicurinya itu untuk makan anak cucunya."

In Hong membantah.

"Itulah alasan mereka selalu. Kau tidak tahu, semua pekerja selalu mencari kesempatan untuk berkorupsi dan mencuri. Kalau orang-orang berpenghasilan rendah sepertiKakek Lui masih dapat dimengerti, akan tetapi seperti mereka yang sudah mendapat penghasilan besar, tetap saja mereka mencari kesempatan itu. Yang berpenghasilan kecil mencuri untuk makan, katanya, akan tetapi yang berpenghasilan besar? Tak lain untuk memenuhi nafsu mereka yang tak pernah merasa puas dengan keadaan mereka. Marilah kau ikut aku, melihat-lihat tempat orang bekerja, dan kau akan melihat sendiri keadaan mereka, Hong-moy."

Karena ia sedang mengalami kemendongkolan hati, maka In Hong pikir ada baiknya kalau ia melihat-lihat di luar agar hatinya terhibur.

Berangkatlah kedua orang muda ini keluar dari gedung.

Dengan gembira Yo Kang memperlihatkan perdagangan keluarganya, yang memang amat besar.

Banyak sekali kuli bekerja di gudang-gudang itu, dan Yo Kang memperkenalkan orang-orangnya yang menjadi orang kepercayaan.

Di setiap gudang terdapat seorang kepercayaan dan orang ini kelihatan pandai ilmu silat dan bertubuh kokoh kuat.

"Disetiap tempat pasti ada seorang pembantu kami yang boleh dipercaya dan memiliki kepandaian silat sehingga tidak ada pekerja yang berani main gila,"

Kata Yo Kang kepada gadis itu.

In Hong melihat betapa kuli-kuli itu bekerja berat sekali dan mengingat betapa mereka ini bekerja sekadar untuk mencari makan, itupun tidak mencukupi kebuTUHAN rumah tangga keluarganya, In Hong merasa kasihan dan terharu sekali.

Kemudian Yo Kang mengajaknya ke tempat pengiriman barang yang dilakukan dengan dua jalan, yakni dengan jalan darat dan ada pula yang jalan air, mempergunakan perahu-perahu besar di sepanjang sungai yang akhirnya turun di sungai Yang-ce-kiang untuk dikirim ke pelbagai kota.

Yo Kang ternyata ahli betul dan mengerti sedalamnya tentang perdagangan keluarganya, tidak mengherankan apabila Kongkong dan Ayahnya menyerahkan semua urusan kepadanya, sedetail-detailnya pemuda ini menjelaskan kepada In Hong tentang perdagangan itu, dan setelah ia selesai menuturkan semua ini, tahulah In Hong bahwa yang mendapat keuntungan besar bukan lain adalah keluarga Yo.

Para pekerja, dari kuli-kuli angkut, sampai tukang-tukang perahu dan tukang-tukang mengirim barang melalui jalan darat, hanya mendapatkan upah sekadar cukup mereka makan saja.

"Kau mendapatkan untung begitu besar, kadang-kadang sampai lipat duakali dari modal. Mengapa kau dan Kongkongmu itu begitu pelit dan tidak menjamin kehidupan para pekerja kasar?"

In Hong bertanya dengan berani. Yo Kang mengangkat pundak.

"In Hong moy-moy, sudah sepatutnya kalau kami yang mendapatkan keuntungan besar, karena bukankah kami sudah mengeluarkan modal besar, sudah membanting tulang memeras keringat dan menjalankan otak? Para pekerja itu hanya mengeluarkan tenaga kasar dan mereka tidak tahu apa-apa. Mereka sudah tertolong oleh perusahaan kami, karena tanpa ada perusahaan kami, bukankah berarti ratusan orang pekerja itu menganggur dan tidak bisa makan?"

"Hm, Twako, agaknya kau lupa bahwa tanpa mereka, kiranya keluarga Yo dan modalnya juga akan beku. Harus diakui bahwa tenaga para pekerja itulah yang memutar jalannya roda perusahaan sehingga lancar, dan tenaga mereka pulalah yang mengalirkan keuntungan ke dalam kantong keluargamu."

Yo Kang tertawa.

"Ah, Hong-moy, itu sudah selayaknya dalam perdagangan. Siapa bermodal dia memegang kendali, siapa bodoh tentu hanya mendapat sedikit saja dari perasan keringatnya. Pula, harus kau ingat bahwa tidak selamanya kami mendapat untung. Kadang-kadang kami menderita rugi kalau harga barang-barang turun ketika sampai di tempat tujuan, belum lagi kalau ada gangguan orang-orang jahat di tengah perjalanan. Dewasa ini, banyak sekali muncul rampok-rampok yang suka mencegat dan mengganggu barang kiriman. Oleh karena itu, kami sengaja memelihara beberapa orang jagoan untuk mengawal setiap pengiriman, dan aku sendiri yang mengepalai dan memimpin mereka."

Pemuda itu membusungkan dadanya.

"Kau? Ah, Twako, aku lupa lagi. Tentu kau pandai sekali ilmu silat, dan agaknya kau sudah banyak merantau di dunia kangouw."

"Tidak berani aku mengaku sudah pandai, akan tetapi sedikit-sedikit ilmu silat pernah kupelajari. Dan biarpun aku belum merantau sampai ke seluruh penjuru dunia, akan tetapi nama Bu-tong-sin-to Yo Kang (Golok sakti dari Bu-tong), bagi semua tokoh sungai telaga (bangsa bajak) di sepanjang Yang-ce-kiang, tidak ada yang tidak mengenal dan tidak ada yang berani mengganggu barang kirimanku."

"Jadi kau anak murid Bu-tong-pay, Twako?"

"Benar, ketika aku berusia sepuluh tahun, kebetulan sekali barang kiriman Ayah ada yang mengganggu, dan perampok-rampok itu dihajar habis-habisan oleh Guruku, yakni Hoat Gi Thaisu dari kelenteng di Bu-tong-san. Karena Ayah amat berterima kasih dan berpikir bahwa dalam keluarga Yo harus ada orang kuat untuk menjaga kalau-kalau barang-barang kiriman diganggu penjahat, maka aku lalu dikirim ke Bu-tong-pay untuk belajar ilmu silat disana. Selama delapan tahun aku belajar disana sampai tamat, dan kiranya Bu-tong-pay tidak merasa kecewa mempunyai anak murid seperti aku. Dan kau sendiri, Hong-moy, kulihat kau mempunyai sebatang pedang yang gagangnya indah sekali, tentu kau juga pandai mainkan pedang, apalagi kalau diingat bahwa kau adalah murid dari Hek Moli yang amat terkenal di dunia kangouw."

In Hong tersenyum dingin.

"Orang lemah seperti aku bisa memiliki kepandaian apakah?"

Ia teringat akan ucapan-ucapan para pekeja di gudang, maka ia menyambung.

"Guruku hanya menaruh kasihan kepadaku maka ia membawaku, akan tetapi aku hanya belajar sedikit sekali. Tentang pedang ini, boleh disebut hanya untuk hiasan saja atau boleh juga dianggap untuk menakut-nakuti para penjahat agar ia jangan menggangguku."

Yo Kang tertawa "Kau memang gagah sekali memakai pedang itu, Hong-moy.

Akan tetapi jangan khawatir, kalau kau melakukan perjalanan bersamaku, aku tanggung tidak akan ada orang berani mengganggumu.

Orang yang berani mengganggumu berarti sudah bosan hidup dan darahnya pasti akan diminum oleh golokku."

Ia menepuk-nepuk golok yang tergantung di pinggangnya.

Pada saat itu, serombongan orang datang tergopoh-gopoh menghampiri mereka.

Mereka ini adalah tujuh orang yang berpakaian seperti jago-jago silat dan melihat dari sepatu dan pakaian mereka yang berdebu, dapat diduga bahwa mereka baru datang dari tempat jauh.

"Celaka, Yo-kongcu, celaka kali ini..."

Seorang di antara mereka, yang tertua dan bermuka panjang, berkata sambil terengah-engah.

Orang-orang lain juga nampak kusut dan lelah sekali, mata mereka rata-rata memperlihatkan ketakutan dan kegelisahan.

"Cong-piauwsu, apakah yang terjadi?"

Tanya Yo Kang sambil mengerutkan alisnya. Orang yang disebut Cong-piauwsu itu menarik napas panjang, menghapus peluhnya, kemudian berkata.

"Tujuh kereta gandum dan bahan obat yang kami kawal itu telah dirampas oleh seorang Tosu dari Go-Bi-Pai."

Yo Kang terkejut sekali.

"Mengapa seorang Tosu melakukan hal itu? Lekas ceritakan dengan jelas."

Cong-piauwsu lalu menuturkan pengalamannya seperti berikut.

Cong-piauwsu, seorang ahli silat yang menjadi pembantu Yo Kang, yang dianggap memiliki ilmu silat paling pandai, bersama enam orang pembantunya yang memiliki kepandaian tinggi pula, mengawal kereta-kereta itu menuju ke kota Hang-ciu.

Ketika rombongan ini tiba diperbatasan propinsi Honan, di sebuah dusun yang baru menderita bencana kelaparan karena musim kering, mereka dihadang oleh sekumpulan orang dusun yang kurus-kurus dan kelaparan.

"Cuwi-enghiong, tolonglah kami dan berilah kami sedikit makanan untuk anak-anak kami yang kelaparan,"

Kata mereka.

Cong-piauwsu hendak menyumbangkan uangnya, akan tetapi para petani yang sudah kelaparan itu tidak mau menerima uang, apalagi setelah mereka mendapatkan kenyataan bahwa yang diangkut dalam kereta adalah gandum dan bahan obat, mereka kembali memohon agar supaya rombongan itu sudi menolong mereka dan meninggalkan sekereta gandum untuk menolong mereka dari bahaya kelaparan.

Tentu saja Cong-piauwsu tidak mau mengabulkan permintaan ini dan terjadilah keributan ketika orang-orang kelaparan itu nekad hendak mengambil gandum.

Akan tetapi tentu saja orang-orang yang tidak mempunyai kepandaian silat dan pula sudah lemah akibat beberapa hari tidak makan ini bukan lawan yang tangguh dari para piauwsu.

Dengan mudah para piauwsu itu mengamuk dan merobohkan mereka, lalu kereta-kereta itu dijalankan cepat-cepat meninggalkan daerah itu.

Akan tetapi, baru setengah hari mereka berjalan, tiba-tiba mereka disusul oleh seorang Tosu yang bertubuh tinggi kurus, usianya paling sedikit enampuluh tahun dan jenggotnya panjang sampai ke dada.

Tosu itu mendahului rombongan, lalu berdiri di tengah jalan sambil mengangkat tangan kanan ke atas, memberi isyarat supaya rombongan itu berhenti.

Cong-piauwsu dan kawan-kawannya segera majukan kuda menghadapinya, maklum bahwa Tosu itu tentu bukan orang sembarangan karena larinya tadi demikian cepat sehingga dapat mendahului larinya kuda.

"Totiang, ada keperluan apakah maka Totiang mengejar kami dan menghadang perjalanan rombongan kami?"

Tanya Cong-piauwsu setelah memberi hormat kepada Pendeta itu. Tosu itu tertawa perlahan sambil mengelus-elus jenggotnya.

"Melihat orang kelaparan tanpa mengulurkan tangan menolong padahal membawa makanan begini banyak, benar-benar hati kalian terbuat daripada batu!"

Katanya, suaranya halus akan tetapi berpengaruh.

"Totiang, harap maafkan kami dan harap suka mempertimbangkan keadaan kami. Kami hanya mengawal barang-barang ini, dan sama sekali kami tidak berhak memberikan kepada siapapun juga,"

Jawab Cong-piauwsu.

"Begitukah? Kalau begitu, tinggalkan semua kereta ini dan kalian kembalilah ke tempat tinggalmu, beritahukan kepada pemilik barang-barang ini bahwa Pinto Wu Wi Thaisu dari Go-Bi-Pai minta pinjam bahan makanan dan obat ini untuk menolong daerah yang sedang diancam bahaya kelaparan dan penyakit."

Cong-piauwsu menjadi cemas sekali, akan tetapi juga mendongkol. Terang sekali bahwa Tosu itu tidak memandang sebelah mata kepada mereka, dapat mengeluarkan kata-kata dan perintah demikian enaknya.

"Totiang, barang-barang ini adalah milik dari Bu-tong-sin-to Yo Kang, pendekar muda dari Bu-tong-pay, yang mengirimkan barang-barang ini sebagai barang dagangan. Harap Totiang sudi memandang mukanya dan jangan mengganggu pekerjaan kami. Sepulangnya dari Hang-ciu, tentu kami akan mampir disini dan kami akan membantu usaha Totiang menolong penduduk dengan jalan mendermakan sejumlah uang."

"Hm, jadi barang-barang ini milik murid Bu-tong-pay? Kebetulan sekali, Pinto kenal baik dengan tokoh-tokoh Bu-tong-pay yang dalam hal ini pasti setujuan dengan Pinto. Sampaikan terima kasihku kepada Yo-Sicu atas sumbangannya berupa tujuh kereta makanan dan obat ini untuk mereka yang menderita."

Tentu saja Cong-piauwsu tidak mau sudah begitu saja dan ia menjawab.

"Terpaksa kami tidak bisa meninggalkan kereta-kereta ini, Totiang. Kalau sekiranya Totiang membutuhkan bahan makanan, harap Totiang suka datang sendiri ke See-Ciu dan minta sumbangan dari Yo-kongcu. Kami harus melaksanakan tugas kami sampai beres, dan barang-barang ini harus kami antarkan sampai di Hang-ciu."

"Urusan dengan Yo-Sicu boleh menanti, akan tetapi perut orang-orang yang sudah kelaparan mana bisa menanti lagi? Pulanglah kalian ke See-Ciu dan bagaimanapun juga, barang-barang makanan ini harus ditinggalkan disini!"

"Terpaksa kami menggunakan kekerasan, Totiang."

Akan tetapi, baru saja ucapan Cong piauwsu ini dikeluarkan, Tosu itu menggerakkan kedua lengan bajunya dan tujuh orang piauwsu itu terlempar jatuh dari atas kuda!

Dari sepasang lengan baju itu menyambar angin yang mendorong mereka.

"Demikianlah, Yo-kongcu,"

Cong-piauwsu melanjutkan ceritanya kepada Yo Kang yang mendengarkan bersama In Hong.

"kami bertujuh tentu saja tidak mau mengalah sampai disitu. Kami mencabut senjata dan maju menyerang Tosu itu, akan tetapi Wu Wi Thaisu dari Go-Bi-Pai itu benar-benar lihay sekali. Tanpa senjata, hanya dengan ujung lengan baju, ia menghadapi kami dan tahu-tahu senjata kami telah dapat dirampas dengan gulungan ujung lengan baju itu! Terpaksa kami melarikan diri dan pulang untuk melaporkan hal ini kepada kongcu."

Yo Kang mengerutkan keningnya dan ia kelihatan marah sekali.

"Hm, Wu Wi Thaisu dari Go-Bi-Pai benar-benar memandang terlalu rendah kepadaku, berarti ia tidak memandang kepada Bu-tong-pay. Panggil Ngo-Lo-Suhu (Lima orang Guru tua) untuk berkumpul di rumahku, aku mau berunding dengan mereka. Kemudian kalian mengasohlah karena kalian segera akan be-rangkat lagi mengantar kami ke tempat itu."

Setelah memberi perintah ini, Yo Kang mengajak In Hong pulang.

"Memang Tosu itu memandang terlalu rendah kepadamu, toako, akan tetapi kalau memang betul ia merampas bahan makanan dan obat itu untuk menolong penduduk daerah yang kelaparan, aku harus menyatakan bahwa perbuatannya itu tidak bisa dibilang jahat."

"Memang demikian, akupun berpikir begitu. Akan tetapi, tidak seharusnya ia terlalu lancang dan merampas barang kiriman. Siapa tahu kalau di Hang-ciu, bahan makanan itu juga dibutuhkan oleh orang banyak? Sepantasnya, meng-ingat akan hubungan antara orang-orang kangouw di dunia persilatan, ia boleh datang kesini dan kalau dia minta secara terus terang untuk menolong orang-orang sengsara, apakah aku begitu pelit untuk menolak permintaannya?"

KetikaKakek Yo mendengar tentang perampasan tujuh kereta gandum dan bahan obat ini, ia mencak-mencak di atas kursinya. Saking marahnya ia memukul-mukulkan huncwenya hingga pecah.

"Penjahat besar, Tosu siluman, bedebah! Dia bikin aku rudin dan bangkrut! Yo Kang, kerahkan semua orang, panggil barisan penjaga keamanan kota, tangkap dia. Tosu siluman itu harus dijebloskan di dalam penjara, harus dipenggal lehernya!"

Ia menyumpah-nyumpah dan memaki-maki dengan suara keras dan menjadi begitu marah dan sedih seakan-akan seluruh harta bendanya benar-benar ludas dan habis dengan adanya kejadian ini.

Diam-diam In Hong menjadi sebal sekali.

Ia tahu benar bahwa dibandingkan dengan jumlah kekayaanKakek ini, tujuh kereta barang itu hanya merupakan jumlah kecil saja, setitik air dalam air seguci, dan tohKakek itu seakan-akan kehilangan seluruh hartanya.

"Apakah begini watak semua hartawan?"

Pikir gadis ini dengan hati sebal.

Ia mulai merasa kecewa dan tidak puas, bahkan ia mulai mengingat-ingat bagaimanakah watak kedua orangtuanya yang dahulunya juga disebut-sebut orang kaya.

Sore hari itu, di ruang depan dari rumah gedung keluarga Yo, diadakan perundingan.

Yo Kang dan Ayahnya mengundang Ngo-Lo-Suhu yang ternyata adalah lima orang berusia antara empatpuluh sampai limapuluh tahun, dan mereka ini adalah pembantu-pembantu Yo Kang yang memiliki kepandaian tinggi.

Mereka tadi adalah kauwsu-kauwsu (Guru-Guru silat) dan kini dipekerjakan sebagai pelatih-pelatih kepada para pembantu Yo Kang yang mengawal barang-barang kiriman.

Juga mereka ini berkewajiban membereskan kalau terjadi rintangan dan gangguan pada barang-barang kiriman.

Akan tetapi oleh karena sekarang ini terjadi perampasan yang luar biasa dan besar, Yo Kang hendak mengurusnya sendiri dengan bantuan mereka.

Karena desakan Yo Kang, maka In Hong diperkenankan hadir dalam pertemuan ini.

Ketika diperkenalkan kepada para kauwsu tua itu, In Hong memberi hormat selayaknya, akan tetapi lima orang kauwsu itu hanya membalas penghormatan In Hong dengan dingin saja.

Mereka adalah orang-orang berkepandaian, sudah tentu tidak begitu memandang kepada In Hong yang dianggapnya hanya seorang gadis muda cantik yang manja dan yang berlagak seorang pendekar wanita!

In Hong diam-diam memperhatikan mereka.

Menurut penglihatannya, di antara lima orang kauwsu itu, hanya seorang saja yang kelihatannya "Berisi,"

Yakni yang bernama Pouw Cun.

Mata kauwsu tua ini setengah terkatup seperti orang mengantuk, akan tetapi dari balik bulu matanya yang jarang itu, memancar sepasang sinar mata yang tajam dan bergerak-gerak cepat.

Juga hanya dia seorang di antara lima kauwsu itu yang tidak memegang senjata.

Empat kauwsu yang lain semua membawa senjata.

The Sun dan The Kwan dua saudara yang diperkenalkan sebagai Guru-Guru silat asal dari selatan, membawa pedang di pinggang mereka, sedangkan dua orang lagi adalah Tan Koay Kok yang membawa rantai atau pian lemas dan Lay Kiat yang bersenjata golok besar.

"Ngo-wi Lo-Suhu, sebetulnya, mengingat bahwa yang melakukan perampasan adalah Wu Wi Thaisu dari Go-Bi-Pai, sebetulnya aku tidak akan menarik panjang urusan ini. Biarpun aku belum pernah berjumpa dengan Wu Wi Thaisu, namun namanya sebagai tokoh Go-bi sudah cukup terkenal, dan pula harus diingat bahwa ia melakukan perampasan untuk menolong orang-orang yang menderita kelaparan. Akan tetapi, kalau diingat lagi, perjalanan antara See-Ciu amat penting artinya bagi kita. Sedikitnya tiga kali sebulan kita mengirim dan mengambil barang antara See-Ciu dan Han-ciu. Kalau gangguan sekali ini dibiarkan saja, tentu para hek-to akan mengira kita lemah dan mereka akan mendapatkan contoh yang buruk,"

Kata Yo Kang.

"Wu Wi Thaisu adalah seorang tokoh besar dari Go-Bi-Pai, kalau aku tidak salah, dia adalah tokoh kedua atau murid dari Ketua Go-Bi-Pai, Pek Eng Thaisu. Heran sekali mengapa seorang tokoh besar seperti dia mau melakukan atau mengurus hal semacam itu,"

Kata Lay Kiat dengan kening berkerut.

Memang, ketika mendengar bahwa yang melakukan perampasan adalah tokoh Go-Bi-Pai itu, Lay Kiat dan juga kawan-kawannya merasa gentar dan gelisah.

Mereka sudah mendengar akan kelihayan Tosu itu, dan pula kedudukan Wu Wi Thaisu amat tinggi di kalangan kangouw.

"Apakah yang akan kau lakukan selanjutnya, Yo-kongcu?"

Tanya Pouw Cun, suaranya perlahan akan tetapi jelas.

"Harus kau ingat bahwa Wu Wi Thaisu kepadaiannya amat tinggi, bukan aku hendak berkata bahwa kau takut kepada-nya tetapi menanam permusuhan dengan pihak Go-Bi-Pai bukanlah hal yang cerdik."

Yo Kang mengangguk.

"Memang betul kata-katamu, Pauw-suhu. Aku sendiri juga ingin mencoba kepandaiannya, dan aku tidak takut. Akan tetapi aku ragu-ragu untuk bermusuhan dengan partai persilatan Go-bi yang demikian besar dan ternama. Tidak, aku tidak akan memusuhi Go-Bi-Pai, aku hanya ingin mengajak Cu-wi sekalian pergi menjumpainya dan hanya perlu untuk mencuci muka kita sekalian agar para penjahat tidak mengira kami takut. Terhadap Wu Wi Thaisu, aku hanya ingin minta penjelasan tentang pertolongan kepada mereka yang kelaparan itu, dan minta ia berjanji agar lain kali apabila ada keperluan, agar suka datang saja disini dan minta secara terus terang daripada mengganggu barang kiriman."

"Baik, aku setuju dengan pikiran itu,"

Kata The Sun mengangguk-angguk.

"Kapan kita akan berangkat?"

"Besok pagi-pagi, dan yang menjadi penunjuk jalan cukup Cong-piauwsu seorang saja. Tak perlu ramai-ramai, banyak orang menarik perhatian saja, seakan-akan kita hendak mengerahkan semua tenaga hanya untuk menghadapi seorang Tosu,"

Kata Yo Kang. Semua Guru silat itu mengangguk setuju.

"Yo-Twako, akupun hendak ikut,"

Tiba-tiba In Hong berkata.

Gadis ini sebenarnya tidak tertarik dengan urusan yang dihadapi oleh Yo Kang, akan tetapi ia memang tidak kerasan di rumah itu.

Apalagi kalau Yo Kang pergi, ia takkan betah tinggal disitu.

Selain ini, iapun tertarik mendengar bahwa yang melakukan perampasan itu adalah seorang tokoh Go-Bi-Pai, karena bukankah Gurunya ketika ia pergi juga sedang menghadapi tantangan pihak Go-Bi-Pai?

Ia ingin sekalian bertemu dengan Wu Wi Thaisu itu, untuk bertanya tentang Gurunya dan tentang pertandingan yang dilakukan oleh Gurunya untuk menghadapi tantangan pihak Go-Bi-Pai.

Mendengar gadis itu hendak ikut, Yo Kang berseri wajahnya, akan tetapi lima orang Guru silat itu memandang heran dan nampaknya tidak setuju.

Hanya Pouw Cun saja yang tak berobah air mukanya, namun dari balik bulu matanya, ia menatap wajah In Hong dengan tajam.

"Kwee-siocia, perjalanan ini bukan main-main. Kami menghadapi orang yang telah mengganggu pekerjaan kami, siapa tahu akan terjadi pertempuran!"

Kata The Sun.

"The-kauwsu, kalau ada pertempuran, yang bertempur adalah kau dan kawan-kawanmu, itu tugasmu. Aku hanya ingin ikut saja untuk menambah pengalaman,"

Jawab In Hong ramah.

"Akan tetapi perjalanan ini tidak dekat dan melelahkan, dan bagaimana kalau sampai terjadi apa-apa? Kami bahkan harus melindungimu, Kwee-siocia,"

Kata The Kwan yang juga tidak setuju.

"Belum kalau muncul orang jahat,"

Kata Tan Koay Kok.

"Maafkan siocia, akan tetapi mata orang-orang jahat akan menjadi gelap kalau melihat seorang gadis muda yang ehh... cantik di tengah jalan. Tentu hanya akan menimbulkan keributan belaka."

In Hong tersenyum dan memandang kepada Tan-kauwsu dengan mata berseri. Ia maklum akan maksud kata-kata ini dan tahu pula bahwa kauwsu tua ini bicara dengan sejujurnya, maka ia tidak marah.

"Tan-kauwsu, terima kasih atas pujianmu. Akan tetapi, tentang perjalanan jauh, agaknya tidak mengapa bagiku karena akupun biasa menunggang kuda. Bahkan kudaku masih terpelihara baik-baik di kandang Yo-Twako. Adapun tentang orang-orang kurangajar, ada ngo-wi lo-kauwsu dan Yo-Twako di-sampingku, aku takut apa sih?"

Akhirnya semua kauwsu itu menyerahkan keputusannya kepada Yo Kang dan semua mata memandang kepada pemuda ini.

"Hong-moy, soal kuda, aku mempunyai yang lebih baik daripada kudamu. Memang, dengan adanya ngo-Lo-Suhu bersama kita, kau tak usah khawatir terganggu orang dijalan. Akan tetapi, terus terang saja, perjalanan ini bukan tidak berbahaya. Agaknya akan lebih amanlah hatiku kalau kau tinggal saja di rumah. Urusan ini dikata kecil juga kecil, akan tetapi kalau dianggap besar juga amat besar."

Walaupun mulutnya berkata demikian, namun di dalam hatinya, Yo Kang merasa amat gembira kalau nona yang mencuri hatinya ini ikut serta dalam perjalanan itu.

Ia ingin sekali memamerkan keberanian dan kegagahannya kepada In Hong dan inilah kesempatannya.

"Yo-Twako, memang aku tidak ada gunanya dalam menghadapi urusanmu yang besar ini, akan tetapi ingatlah, aku sekalian hendak mendengar-dengar tentang Ibuku, hendak menyelidiki tentang Can Mama. Sekarang ada kesempatan baik sekali, mau tunggu kapan lagi?"

"Baiklah, Hong-moy. Memang kalau tidak ada peristiwa gangguan ini, akupun tentu akan mengantarmu melakukan penyelidikan itu,"

Akhirnya Yo Kang berkata dan demikianlah, mereka semua bersiap-siap untuk melakukan perjalanan itu pada keesokan harinya.

Pagi-pagi sekali, berangkatlah rombongan terdiri dari delapan orang itu.

Mereka adalah Yo Kang, In Hong, Cong-piauwsu, dan kelima Ngo-lokauwsu.

Mereka menunggang kuda dan para Guru silat itu merasa lega melihat bahwa In Hong benar-benar tidak kikuk ketika melompat naik ke punggung kuda.

Tadinya mereka sudah merasa khawatir kalau-kalau nona itu akan merupakan penghalang dan penghambat perjalanan mereka.

Setelah melompat di atas punggung kudanya yang disediakan oleh Yo Kang, In Hong berpaling dan tersenyum memandang mereka.

Ia maklum bahwa gerakannya tadi diperhatikan, maka ja tidak memperlihatkan kepandaian, hanya melompat biasa saja seperti orang yang sudah pandai menunggang kuda namun tidak mempunyai ginkang yang luar biasa.

"Mari kita berangkat!"

Yo Kang mengomando.

Yang terdepan adalah Cong-piauwsu sebagai penunjuk jalan, kemudian menyusul lima orang kawsu.

Yo Kang menjalankan kudanya berendeng dengan In Hong, mengikuti dari belakang.

Entah mengapa dia sendiri tidak mengerti, Yo Kang merasa luar biasa gembiranya melakukan perjalanan ini.

Jauh sekali bedanya dengan yang biasa ia lakukan, padahal kali ini menghadapi urusan besar yang menjengkelkan.

Semua ini tentu saja karena In Hong berada disampingnya!

Memang, semenjak pertemuan pertama, hati Yo Kang sudah terampas oleh In Hong dan pemuda ini jatuh hati kepadanya.

"Jangan khawatir, Hong-moy, apapun yang terjadi, dengan adanya aku disampingmu, kau akan selamat. Aku menyediakan nyawa dan raga untuk melindungimu,"

Kata Yo Kang lirih.

In Hong berdebar hatinya mendengar kata-kata yang penuh arti ini dan ketika ia memandang, wajahnya menjadi merah.

Sinar mata pemuda itu membuka semua rahasia hati dan diam-diam In Hong menghela napas gelisah.

Hatinya risau ketika ia membaca rahasia hati pemuda ini.

Ia akui bahwa Yo Kang amat baik terhadapnya, akan tetapi ia tidak mengira bahwa sejauh itu perasaan hati pemuda ini terhadapnya.

Karena ia maklum bahwa ia tidak mungkin membalas perasaan ini, dan karena ia teringat akan percakapan yang ia dengar antara Ayah bunda pemuda ini tentang dia, maka ia menjadi risau dan kasihan kepada Yo Kang.

"Yo Kang, kau seorang pemuda yang baik, kuharap saja tidak kau lanjutkan perasaanmu terhadapku, aku tidak ingin melihat kau menderita,"

Demikian pikir In Hong sambil mencambuk kudanya untuk menghindari pernyataan Yo Kang tadi.

Betul saja, para penjahat tidak ada yang bernyali begitu besar untuk mengganggu rombongan ini.

Mereka kenal baik kepada Yo Kang, apalagi disitu pemuda ini dikawani oleh lima orang kauwsu yang berkepandaian tinggi.

Sungguhpun banyak orang yang mengincar kecantikan In Hong dan mengincar pula perhiasan burung Hong dirambutnya, namun siapakah yang begitu berani mati untuk mengganggu gadis yang berada dirombongan orang-orang kuat itu?

Apalagi, gagang pedang dipundak In Hong juga merupakan peringatan kepada mereka bahwa gadis yang berada di tengah-tengah rombongan sekuat itu tentulah bukan seorang gadis lemah yang mudah dijadikan mangsa.

Beberapa hari kemudian, sampailah mereka di perbatasan propinsi Honan yang sedang terancam bahaya kelaparan.

Sudah terlalu lama musim kering mengganggu daerah ini sehingga bagian yang jauh dari sungai tidak kebagian air dan para petani tidak berdaya.

Tanam-tanaman pada mati dan kering dan persediaan bahan makanan sebentar saja habis dan tidak mencukupi.

Orang-orang kaya tentu saja dengan mudah dapat membeli dari daerah lain dan menyimpan persediaan yang cukup di dalam gudang mereka, akan tetapi bagaimana dengan kaum tani yang mengandalkan pengisi perut dari tanah sen-diri?

Banyak orang yang sudah mati kelaparan, dan banyak pula yang meninggalkan kampung halaman untuk hidup menjadi pengemis di daerah lain, sekadar untuk mengelak daripada terkaman maut yang merajalela di daerah sendiri.

Lebih hebat lagi, penyakit bermacam-macam, terutama penyakit panas, berjangkit di daerah ini sehingga penderitaan rakyat kecil makin menghebat.

"Masih jauhkah tempat itu?"

Tanya Yo Kang kepada Cong-piauwsu. Pemuda ini sekarang bersama In Hong mendahului para kauwsu dan menjalankan kuda di dekat Cong-piauwsu.

"Ini memang daerahnya, akan tetapi dusun itu masih kira-kira sepuluh lie dari sini,"

Kata Cong-piauwsu.

Berdebar juga hati Yo Kang setelah dekat dengan tempat yang dituju.

Para kauwsu juga sudah bersiap-siap, menjaga segala kemungkinan.

Ketika mereka memasuki dusun pertama, kuranglebih enam lie dari tempat yang mereka tuju, mereka melihat orang-orang dusun yang kurus kering sedang berkerumun.

Jumlah mereka ada tigapuluh orang lebih dan mereka sedang mengelilingi seorang laki-laki tinggi besar yang berpakaian compang-camping akan tetapi bertubuh tegap dan gagah.

Laki-laki ini sedang membagi-bagikan beras kepada mereka dan wajah laki-laki yang tampan dan gagah ini nampak berseri.

"Sabar dan tenang, saudara-saudara! Tak perlu berebut dan tak perlu tergesa-gesa. Kalian sudah cukup mengalami penderitaan dengan sabar, masa untuk menanti giliran pembagian saja tak dapat bersabar?"

Melihat hal ini, para kauwsu dan juga Yo Kang menjadi merah mukanya.

Mereka berenam, juga Cong-piauwsu mengira bahwa beras itu tentulah beras mereka yang telah dirampas.

Melihat barangnya dibagi-bagikan kepada orang banyak seperti itu, tentu saja mereka merasa mendongkol.

Adapun laki-laki gagah itu ketika melihat serombongan kauwsu ini, menghentikan pekerjaannya membagi beras, kemndian ia tertawa bergelak.

Suaranya dan suara ketawanya keras dan nyaring, sikapnya terbuka sekali.

"Ha, ha, kalau tidak salah mereka inilah pemilik-pemilik gandum yang tempo hari dibagi-bagikan oleh Wu Wi Thaisu yang baik hati. Eh, apakah kalian datang untuk menambah sumbanganmu? Mana kereta-kereta terisi gandum? Kami amat membutuhkan!"

"Sungguh tak tahu malu! Merampas barang orang dan membagi-bagikan kepada orang lain tanpa seijin pemiliknya, sungguh tak tahu malu!"

Kata The Sun marah.

Laki-laki gagah itu lalu memberikan tugasnya membagi beras kepada seorang dusun, dan ia sendiri sekali melompat telah berhadapan dengan The Sun dan kawan-kawannya.

Laki-laki ini tadi terhalang oleh banyak orang maka In Hong tak dapat melihatnya dengan jelas, sekarang ia dapat melihat seorang laki-laki berusia paling banyak empatpuluh tahun, berpakaian compang camping dan bertubuh tegap.

Sikapnya gagah sekali, mukanya tampan dan membayangkan kegagahan yang jarang dimiliki oleh laki-laki lain.

Alisnya tebal dan giginya putih bersih serta kuat, wajahnya bersifat jantan dan cara ia bergerak menunjukkan bahwa ilmu silatnya tinggi sekali.

"Jadi kalian merasa penasaran dan datang untuk merampas kembali barang-barangmu? Ha, ha, ha, kalian ini seperti sekumpulan babi yang terlalu gemuk, yang kebingungan karena kehilangan sedikit makanan. He, babi-babi gemuk, ketahuilah bahwa makananmu itu telah menghidupkan banyak sekali orang dusun. Masih penasarankah kau?"

Tentu saja lima orang kauwsu itu marah sekali dimaki babi gemuk. Tan Koay Kok yang wataknya paling keras, segera majukan kudanya dan membentak.

"Kau enak saja membuka mulut. Kau memaki kami babi, kalau begitu kau lah anjing kelaparan yang bermata buta, menyerang siapa saja untuk mendapat tulang kering guna mengisi perutmu yang tiada dasarnya!"

Orang itu tersenyum dan menggeleng kepalanya.

Aneh sekali ketika ia tersenyum, In Hong melihat seperti ada bayangan kedukaan besar sekali dibalik senyum itu.

Diam-diam ia tertarik sekali kepada orang ini dan memperhatikan.

"Sayang sekali bukan demikian, sahabat. Aku juga seorang yang kebetulan lewat di daerah sengsara ini. Melihat orang-orang kelaparan, aku lalu mencari beras untuk menolong mereka."

"Tentu beras kami yang kau bagi-bagikan. Kau tentu kaki tangan dari Wu Wi Thaisu!"

Laki-laki itu menggeleng kepalanya.

"Sungguhpun aku kagum kepada Wu Wi Thaisu, aku belum ada kehormatan bertemu dengan dia yang kini sedang sibuk mengobati orang-orang sakit di bagian lain, mempergunakan obat dari kereta-keretamu itu. Beras ini kudapatkan dari orang-orang hartawan yang mau tidak mau menyumbangkan persediaannya."

"Dimana Wu Wi Thaisu? Kami hendak bertemu dengan dia!"

Kata The Kwan.

"Kalian hendak menagih utang? Tak perlu mencari Wu Wi Thaisu, kalau kalian datang bukan untuk membawa gandum guna menolong orang-orang banyak, lebih baik kalian pulang saja, jangan mengganggu pemandangan mata disini."

"Jahanam busuk, kau kurangajar sekali. Tidak tahukah dengan siapa kau berhadapan?"

Membentak Tan Koay Kok sambil majukan kudanya.

Laki-laki itu tadinya sudah hendak kembali ke tempat orang banyak, mendengar bentakan ini ia membalikkan tubuhnya lagi dan matanya menyapu rombongan itu.

Ia hanya memandang sekilas saja kepada In Hong dan agaknya menganggap tidak ada gunanya memandang gadis itu.

"Dengan siapa? Tadinya kusangka akan berhadapan dengan orang Bu-tong-pay yang berjiwa gagah, tidak tahunya hanya sekumpulan babi gemuk yang banyak lagak. Kalian mencari Wu Wi Thaisu mau apa? Kalau hendak mencari ribut, cukup dengan aku saja. Biar aku mewakili Wu Wi Thaisu menghajar kalian!"

Sebelum Tan Koay Kok turun tangan, Yo Kang sudah mendahuluinya. Pemuda ini melompat turun dan menjura kepada orang gagah itu.

"Maafkan kami, saudara yang gagah. Sesungguhnya kami merasa kagum melihat kau menolong orang-orang ini, akan tetapi sikapmu benar-benar terlalu kasar."

"Siapa kau?"

Laki-laki itu membentak.

"Siauwte yang bodoh bernama Yo Kang, dan sesungguhnya siauwte pemilik barang-barang dalam kereta yang dirampas oleh Wu Wi Thaisu."

"Jadi kau yang berjuluk Bu-Tong Sin-To, anak murid Bu-tong-pay itu? Hm, seharusnya kau dapat menahan lidah orang-orangmu."

"Maaf, dengan siapakah kami berhadapan? Saudara tentu seorang tokoh kangouw, dari golongan manakah gerangan?"

Tanya Yo Kang dan diam-diam In Hong memuji pemuda ini yang sikapnya jauh lebih baik daripada Guru-Guru silat tua itu.

"Aku? Ha, ha, aku akulah Bu Jin Ai, tidak ternama sama sekali. Yo Kang, kau mau apakah datang ke tempat ini?"

In Hong merasa geli dan juga terharu mendengar orang itu menyebutkan namanya.

Mana ada orang yang bernama Bu Jin Ai (Tidak ada orang yang menyinta)?

Tentu orang itu memakai nama palsu, pikirnya.

Dan pikiran ini membuat ia diam-diam tersenyum.

Cara orang itu memilih nama baik sekali!

Yo Kang juga bukan orang bodoh, dan ia tahu bahwa orang itu sengaja menyembunyikan nama aselinya.

"Aku hendak bertemu dengan Wu Wi Thaisu minta penjelasan. Tentang sumbangan, yah, kalau dipikir-pikir sesungguhnya ada banyak perbedaan antara minta sumbangan, pinjam, atau merampas! Yang paling akhir ini, biarpun di kalangan kangouw bisa disebut tidak pantas!"

Yo Kang mulai bicara dengan nada gemas, karena tadi ia mendengar orang ini memuji-muji Wu Wi Thaisu dan mengejek pihaknya.

Dihadapan Wu Wi Thaisu, mungkin pemuda ini tidak berani bicara kasar, akan tetapi sikap orang ini yang amat berat sebelah benar-benar memanaskan perutnya dan membuat darah mudanya menjadi panas.

"Benar sekali kata-katamu, anak muda. Memang sebagai seorang murid Bu-tong-pay, kau patut mengerti akan hal itu. Akan tetapi kau masih muda dan masih hijau sehingga kau tidak dapat mengerti atau menduga bahwa Wu Wi Thaisu bukanlah orang yang merampas begitu saja. Aku berani bertaruh bahwa dia tentu lebih dulu minta atau minta tolong, baru merampas melihat orang-orangmu menolak permintaannya. Bukankah benar begitu?"

Cong-piauwsu mendengar ini, berobah airmukanya.

Memang harus ia akui bahwa sebelum merampas, Wu Wi Thaisu telah berkali-kali minta tolong dan minta pinjam tujuh kereta terisi bahan makanan dan obat-obatan itu.

"Yo-kongcu, marilah kita melanjutkan perjalanan dan mencari Wu Wi Thaisu. Perlu apa mesti bercekcokan dengan orang luar?"

Katanya.

"Benar!"

Kata Tan Koay Kok yang gemas sekali melihat orang yang mengaku bernama Bu Jin Ai ini.

"Perlu apa melayani segala jembel dan anjing kelaparan?"

Yo Kang menjura kepada Bu Jin Ai tanpa bicara lagi, lalu sekali melompat, dari tempat berdirinya ia telah berada di punggung kudanya, tanpa binatang itu nampak terkejut.

Dengan gerakan ini, Yo Kang memperlihatkan ilmu ginkang-nya dan kemahirannya naik kuda.

Akan tetapi Bu Jin Ai menghadang di tengah jalan.

"Kalau kalian hendak mencari Wu Wi Thaisu, boleh asal membawa lagi tujuh kereta gandum. Kalau tidak, jangan harap akan dapat melanjutkan perjalanan mengotori daerah yang sudah cukup sengsara ini!"

"Bedebah kotor, kau mau apakah?"

Tan Koay Kok majukan kudanya.

"Apakah matamu buta, tidak tahu bahwa kami berlima yang mengawani Yo-kongcu adalah Ngo-losu dari See-Ciu yang tidak boleh dibuat main-main? Minggirlah, kalau tidak jangan katakan bahwa aku Liong-pian (Pian naga) Tan Koay Kok adalah orang yang suka menghina si lemah!"

Bu Jin Ai tertawa bergelak sehingga kuda yang ditunggangi oleh Tan Koay Kok menjadi kaget dan menggerak-gerakkan kepalanya.

"Ha, ha, ha, badut lucu! Kau sudah berani membuka mulut, maka kau harus didenda. Kau tidak membawa apa-apa, akan tetapi kudamu amat gemuk. Penduduk disini hanya menerima pembagian beras, sekarang kau mengantarkan kuda gemuk, banyak terima kasih!"

Tan Koay Kok marah sekali dan ia sudah mengeluarkan pian baja yang lemas dan panjang, dengan senjata mana ia menyabet dengan hebatnya ke arah kepala Bu Jin Ai.

Tenaga dari Tan Koay Kok amat besar, maka sabetannya ini mengeluarkan angin dan kalau kepala orang itu terkena hantaman pian baja itu, tentu akan hancur berantakan.

Akan tetapi apa yang terjadi?

Dengan tangan kosong, orang itu menerima serangan pian dengan mengibaskan tangannya.

Dari samping, telapak tangan orang itu menghantam ujung pian sehingga senjata ini menjadi membalik dan menghantam kepala kuda yang ditunggangi oleh Tan Koay Kok sendiri.

Terdengar suara keras dan kepala kuda itu pecah terpukul oleh pian, dan binatang itu roboh terguling!

Tan Koay Kok tentu akan ikut roboh pula kalau ia tidak cepat-cepat melompat ke samping, mukanya pucat sekali karena ketika pian tadi tersampok, ia tidak dapat menahan senjataya sehingga memukul kepala kudanya dengan amat keras!

Dari sini saja ia sudah tahu bahwa lweekang dari orang aneh ini benar-benar hebat dan jauh lebih tinggi daripada tenaganya sendiri.

Bu Jin Ai tertawa senang.

Dengan mudahnya, ia memegang empat kaki-kuda.

Kaki depan dipegang dengan tangan kiri sedangkan kaki belakang dengan tangan kanan.

Ia mengangkat bangkai kuda itu dengan ringan, melontarkannya ke tengah dusun didekat orang-orang dusun yang berkumpul menonton per-tempuran sambil berkata.

"Nah, kalian boleh membagi-bagi daging kuda gemuk ini!"

Orang-orang dusun itu menjadi gembira sekali dan sebentar saja kuda itu sudah dikuliti orang dan dagingnya dibagi-bagi.

"Kau benar-benar kurangajar!"

The Sun membentak keras sambil mencabut pedangnya.

Ilmu pedang dari The Sun amat lihay dan biarpun di atas kuda, ketika kudanya maju dan pedangnya berkelebat, sinar yang terang menuju ke arah tenggorokan Bu Jin Ai.

Pedang itu telah ditusukkan dan dengan gerak tipu Liong-teng-thi-cu (Ambil mutiara dikepala naga), serangan itu amat berbahaya.

"Kau juga iri dan hendak mendermakan kudamu? Kam-sia (terima kasih), kam-sia...!,"

Kata Bu Jin Ai.

Secepat kilat ia merendahkan tubuhnya sehingga ujung pedang lewat di atas kepalanya, kedua tangannya menangkap kaki depan kuda yang ditunggangi oleh The Sun dan menariknya ke atas.

Tentu saja tubuh kuda itu menjadi berdiri dan The Sun tentu akan terlempar ke belakang kalau saja ia tidak mem-pergunakan kedua kakinya menjepit perut kuda dan mengerahkan tenaga lweekang pada kedua kaki.

Ia tidak tinggal diam dan dari samping pedangnya menyambar ke depan untuk menyerang orang yang memegang kaki depan kudanya.

Akan tetapi Bu Jin Ai sambil tertawa menggerakkan kaki kanan menendang ke bawah perut kuda, mengenai dada kuda.

Tiba-tiba orang melihat tubuh The Sun terpental tinggi di udara dan baiknya orang ini cepat mengatur keseimbangan tubuhnya sehingga ia dapat jatuh di atas tanah dalam keadaan berdiri.

Mukanya juga pucat dan peluhnya membasahi muka.

Tendangan Bu Jin Ai pada perut kuda tadi sekaligus melum-puhkan kedua kaki The Sun, karena tenaga lweekang yang disalurkan dari kaki ke perut kuda bukan main hebatnya.

Ada pun kuda itu yang terluka isi perutnya, tewas pada saat itu juga.

Seperti tadi, kuda itupun dilempar oleh Bu Jin Ai ke arah orang-orang dusun yang cepat menerima dan mengulitinya!

Melihat ini, The Kwan dan Lay Kiat menjadi marah.

Mereka melompat turun dari kuda dan masing-masing mencabut senjata.

The Kwan memegang pedang dan Lay Kiat memegang golok dan tanpa banyak cakap mereka menyerbu, menyerang Bu Jin Ai dengan hebat.

Adapun In Hong ketika melihat dua kali gerakan Bu Jin Ai ketika merampas kuda tadi, dapat menduga bahwa kepandaian orang ini benar-benar tinggi dan agaknya kedudukan kakinya seperti ahli silat Siauw-Lim-Si.

Ia pernah mendengar penuturan yang jelas dari Hek Moli, bahwa seorang murid Siauw-Lim-Si kalau belum tinggi kepandaiannya, dilarang keras meninggalkan perguruan.

Dan Gurunya memuji-muji Siauw-Lim-Si sehingga Hek Moli sendiri yang sudah berani mengacau Go-Bi-Pai dan Kun-Lun-Pai, masih belum berani mencoba-coba untuk menguji kepandaian tokoh-tokoh Siauw-Lim-pay yang jarang mau mencampuri dunia ramai itu.

Menghadapi serangan The Kwan dan Lay Kiat, Bu Jin Ai tertawa bergelak dan berkata dengan suaranya yang nyaring.

"Yo Kang, kau lihat, orang-orangmu begini tidak punya guna, bagaimana orang-orang macam ini akan kau hadapkan dengan Wu Wi Thaisu? Ha, ha, ha!"

Tubuhnya berkelebat kesana sini dan biarpun golok dan pedang itu menyambar-nyambarnya, tak pernah dapat mendekatinya.

Tiba-tiba terdengar suara keras dan tahu-tahu pedang dan golok itu saling beradu, lalu terpental dan melayang ke kanan-kiri.

Lay Kiat dan Thio Kwan melompat mundur dengan muka berobah merah.

Tadi, ketika mereka menyerang berbareng, entah bagaimana, pergelangan tangan mereka tertangkap oleh Bu Jin Ai dan sekali menggerakkan tangan yang memegang pergelangan tangan kedua lawannya, Bu Jin Ai sudah memaksa mereka mengadu senjata sendiri, sedemikian kerasnya sehingga mereka tidak dapat menguasai tangan dan senjata mereka terlepas.

Sebelum lawan merobohkan mereka, kedua orang yang tahu diri ini melompat ke belakang.

Bu Jin Ai tertawa-tawa dan ia melompat sambil menggerakkan kaki tangannya.

Kuda tunggangan Lay Kiat kena dipukul kepalanya dan pecahlah kepala itu, sedangkan kuda tunggangan The Kwan tertendang dadanya, sehingga bunyi tulang-tulang patah dan kuda inipun roboh binasa.

Bu Jin Ai dengan enaknya menyeret tubuh dua ekor kuda itu dan melemparkannya kepada orang-orang dusun yang kini kebanjiran daging sehingga berlebih-lebihan!

"Indah sekali gerakan Lauw-siang-goat (Mencari sepasang bulan) itu!"

Terdengar orang memuji dan baru saja pujian ini habis, tubuh Pouw Cun yang tadinya masih nongkrong di atas kudanya, tahu-tahu telah berada di depan Bu Jin Ai!

Bu Jin Ai tercengang mendengar orang mengenal gerak tipunya ketika menghadapi dua lawannya tadi, maka ia memandang tajam.

Juga In Hong diam-diam kagum, ternyata dugaannya tidak keliru.

Baru melihat pertama kalinya saja ia tahu bahwa Guru silat yang pendiam dan matanya seperti selalu mengantuk ini ternyata berpandaian paling tinggi di antara kawan-kawannya.

Dia sendiri yang tidak mengenal ilmu silat Siauw-Lim-pay secara mendalam, tidak dapat mengenal gerak tipu yang dipergunakan oleh Bu Jin Ai tadi, sungguhpun ia dapat melihatnya dengan jelas sekali.

"Ha, Yo Kang bocah Bu-tong-pay, ternyata ada juga pengiringmu yang mempunyai mata tajam!"

Kata Bu Jin Ai sambil memperhatikan Guru silat yang datang dan tidak membawa senjata ini.

"Bu Jin Ai sicu benar-benar hebat kepandaiannya. Aku si tua lemah Pouw Cun yang melihat kelihayanmu, melupakan kebodohan sendiri dan hendak mencoba-coba. Biarlah kudaku kudermakan kepada orang-orang dusun yang tidak kenal kenyang itu,"

Katanya.

Sambil berkata demikian, Pouw Cu tiba-tiba membungkuk, memegang atau lebih tepat menyangga perut kudanya dan sekali ia berseru, kuda itu terlempar ke atas dan jatuh tepat di atas pohon yang banyak cabangnya sehingga kuda itu tertahan disitu, meronta-ronta dan meringkik-ringkik ketakutan, akan tetapi tentu saja tidak berani melompat turun, apalagi memang ia tergantung sedemikian rupa sehingga keempat kakinya nyeplos di antara cabang-cabang!

"Orang-orang dusun boleh naik dan menurunkan kuda itu kalau aku sudah kalah olehmu, sicu,"

Katanya kepada Bu Jin Ai.

Menyaksikan demonstrasi tenaga lweekang yang hebat ini semua orang dusun meleletkan lidahnya.

Diam-diam Yo Kang juga memuji karena ia tidak pernah mengira bahwa Guru silat pembantunya yang terkenal pendiam tidak banyak omong ini ternyata lihay sekali, sungguhpun demonstrasi itu tidak meng-herankannya.

"Aha, Pouw-loenghiong benar-benar kuat sekali!"

Kata Bu Jin Ai.

"Mana bisa siauwte melawannya?"

Akan tetapi biarpun mulutnya bicara demikian, namun tangan kakinya segera bergerak dan ia memasang kuda-kuda yang disebut Kwan-kong menarik busur.

Inilah kuda-kuda seorang ahli lweekeh untuk menghadapi lawan yang memiliki tenaga lweekang yang tinggi pula.

Pouw Cun tersenyum.

"Jangan sungkan-sungkan, sicu. Majulah!"

Baru saja kata-katanya habis, tubuhnya sudah berkelebat maju dan ternyata ginkangnya hebat juga.

Dalam jurus pertama saja, Pouw Cun telah menyerang dengan dua gerakan sekaligus!

Serangan pertama merupakan totokan dengan jari tangan kanan ke arah leher, disusul oleh tusukan jari-jari kiri ke lambung dan kaki kanannya terbang menyusul menendang lutut lawan!

"Bagus, kiranya lo-enghiong dari Hoa-san-pay!"

Kata Bu Jin Ai dan cepat pula ia mengelak dari tendangan dengan menggeser kaki, miringkan kepala untuk mengelak dari totokan ke arah leher sedangkan tusukan kelambung dapat di-tangkisnya.

Dua lengan beradu dan Pouw Cun merasa lengannya sakit dan terpental mundur, sedangkan Bu Jin Ai seperti tidak merasa sesuatu!

Pouw Cun penasaran sekali dan mendesak terus, akan tetapi Bu Jin Ai memperlihatkan kegesitan serta tenaga lweekangnya yang memang masih menang tinggi.

Tiap kali ia menangkis pukulan, Pouw Cun merasa lengannya sakit dan sebentar saja kedua lengannya telah merah-merah kulitnya!

Setelah membela diri selama dua puluh jurus, tiba-tiba terdengar Bu Jin Ai berseru.

"Maafkan, lo-enghiong, siauwte berlaku kasar!"

Pada saat itu, Pouw Cun mempergunakan gerak tipu Hoa-san soat-piauw (Salju melayang di Hoa-san), kedua tangannya bergantian memukul ke depan dengan gencarnya.

Tiba-tiba kedua tangannya tertahan dan tahu-tahu kedua telapak tangannya telah menempel pada kedua telapak tangan lawannya!

Pouw Cun hendak menarik tangannya, akan tetapi ada tenaga dari telapak tangan Bu Jin Ai yang menyedot tangannya sehingga tangan itu menempel tak dapat dipisahkan lagi.

Pouw Cun tahu bahwa lawannya hendak mengadu lweekang, maka ia mengerahkan seluruh tenaga dan ambekan, mengempos semangatnya dan kedua lengannya sampai mengeluarkan suara berkeretakan ketika ia mendorong dengan sekuat tenaga untuk merobohkan lawannya.

Namun, tubuh Bu Jin Ai seperti batu karang kokohnya.

Bahkan orang ini masih bisa mengeluarkan suara ketawa, tanda bahwa adu tenaga ini tidak memerlukan seluruh tenaganya!

Kemudian, setelah tenaga Pouw Cun dikeluarkan seluruhnya, dengan mendadak Bu Jin Ai melompat ke samping sambil menarik tangannya.

Tak dapat dicegah lagi, terdorong oleh tenaganya sendiri, Pouw Cun terhuyung ke depan dan akhirnya ia terjungkal ke depan.

Baiknya sebelum hidungnya mencium batu yang tentu akan membocorkan hidungnya Bu Jin Ai mengaitkan kakinya dan sekali sontek tubuh Pouw Cun tidak jadi roboh, melainkan berjumpalitan ke atas dan kauwsu ini dapat berdiri kembali.

Mukanya sebentar merah sebentar pucat, akhirnya ia menghela napas dan berkata.

"Sudahlah, aku orang she Pouw tiada gunanya, perlu belajar sepuluh tahun lagi untuk dapat mengimbangimu. Ambillah kuda itu, aku mengaku kalah."

Bu Jin Ai lalu menghampiri pohon dimana kuda itu masih tertahan.

Sekali ia mengayun tangannya, terdengar suara keras dan pohon itu terkena dorongannya lalu tumbang bagaikan didorong oleh gajah.

Kuda itu tentu saja ikut jatuh, akan tetapi Bu Jin Ai menyambar kakinya dan sebelum tubuh kuda itu terbanting, ia telah mengayun tubuh itu ke atas sehingga luput daripada kematian.

Sambil menuntun kuda yang gemetaran itu, Bu Jin Ai menghadapi Pouw Cun dan berkata dengan wajah sungguh-sungguh.

"Pouw-loenghiong, siauwte sungguh kagum kepadamu dan dengan rela hati siauwte mengembalikan kuda ini. Harap lo-enghiong sudi memberi maaf kepada siawtee yang berlaku kurangajar tadi."

In Hong makin kagum kepada orang itu yang ternyata bukanlah seorang kasar.

Ternyata bahwa sekarang orang ini demikian sopan santun dan merendah.

Ia benar-benar kagum dan menduga bahwa orang ini bukanlah seorang pendekar biasa.

Makin ingin ia berkenalan dengan pendekar aneh ini.

Akan tetapi, ternyata bahwa biarpun pendiam, Pouw Cun adalah seorang yang berhati keras dan angkuh.

Sekali ia berjanji, sampai mati ia tidak mau menarik kembali janjinya.

Ia tersenyum pait, lalu menuntun kuda itu tanpa berkata sesuatu apa.

Akan tetapi ia menuntun kuda itu kedekat orang-orang dusun, lalu tiba-tiba ia menghantam kepala kudanya sehingga pecah.

"Saudara-saudara yang amat membutuhkan daging ini, ambillah. Aku sudah berjanji untuk mendermakan milik yang tidak berharga ini!"

Kemudian ia melompat kembali ke tempat kawan-kawannya.

Bu Jin Ai menarik napas panjang, lalu memandang kepada Yo Kang dan matanya mengharapkan agar pemuda ini tahu diri dan suka kembali, pergi dari situ.

(Lanjut ke

Jilid 05) Bayangan Bidadari/Sian Li Eng Cu (Cerita Lepas) Karya. Asmaraman S. Kho Ping Hoo

Jilid 05

"Seorang gagah berani berbuat berani bertanggung jawab dan tidak akan menyesali perbuatannya itu!"

Tiba-tiba terdengar suara yang lemah lembut dan merdu, oleh orang-orang lain terdengar perlahan saja akan tetapi pada telinga Bu Jin Ai amat menusuk dan keras sekali seperti bunyi guntur!

"Air yang bersumber dari Sungai Huang-ho, mengalir kemanapun juga masih tetap hebat, dan kiranya Siauw-Lim-Si boleh diumpamakan Sungai Huang-ho yang besar dan megah!"

Ucapan ini keluar dari mulut In Hong.

Yo Kang dan lima orang kauwsu, juga Cong-piauwsu memandang kepada In Hong dengan terheran-heran, sama sekali tidak mengerti apa yang dimaksudkan oleh gadis ini dan mengira bahwa In Hong telah lancang begitu saja, bersikap seakan-akan mengerti urusan kangouw.

Akan tetapi, Bu Jin Ai tiba-tiba memandang dengan mata memancarkan cahaya aneh dan kagum, juga tercengang sekali.

Ia melangkah maju menghadapi kuda In Hong, lalu matanya terbelalak dan mulutnya teranganga.

Kedua tangannya bergerak menggosok-gosok matanya seakan-akan ia tidak percaya akan pandangan matanya sendiri, kemudian ia menggeleng-geleng kepala, lakunya seperti orang gendeng.

"Aku mengimpi...,"

Bisiknya perlahan. Kemudian ia dapat menguasai perasaannya, menjura kepada In Hong dan berkata.

"Aku Bu Jin Ai benar-benar telah buta mataku. Nona cilik benar-benar bermata awas. Kau membawa pedang yang gagangnya demkian indah, terang pedang pusaka dan siapa yang berani membawa pedang pusaka, tentu lihay kiam-hoatnya. Nona cilik turunlah dari kudamu dan cabutlah pedangmu. Aku si bodoh yang bermata buta mohon pengajaran dari murid orang pandai."

In Hong merengut. Ia tak senang berkali-kali disebut "Nona cilik."

"Kau bicara sepertiKakek-kakek bongkok dan pikun!"

Bentaknya.

"Usiaku sudah sembilanbelas tahun, kau masih mau membadut mengatakan aku nona cilik?"

Ia tetap di atas kudanya dan tidak mencabut pedangnya. Bu Jin Ai memandang dan ia tersenyum, matanya berseri-seri, kelihatannya gembira sekali.

"Maaf, kiranya kau seorang cian-kim-siocia yang cantik dan gagah. Maafkan aku, dan sekarang, setelah kau mengeluarkan ucapan, apakah kau juga hendak mendermakan kudamu?"

"Biarpun orang Siauw-Lim-pay, akan mengerti juga bahwa seorang gagah mempunyai rasa setia kawan. Kalau lima orang lo-kauwsu sudah mengorbankan kuda mereka, mengapa aku tidak? Sebaliknya, merampas kuda tunggangan seorang yang melakukan perjalanan jauh, hanya untuk memenuhi selera orang-orang yang sedang kelaparan, benar-benar tak dapat dikatakan menyenangkan hati."

Mendengar ini, Bu Jin Ai menoleh kepada orang-orang dusun yang telah mendapat daging kuda sebanyak itu, lalu berkata.

"Hee! Kau dengar kata-kata nona gagah ini? Jangan habiskan daging-daging itu sekadar memenuhi selera kalian, akan tetapi keringkanlah agar dapat dipergunakan di hari-hari berikutnya. Jangan berpesta pora hari ini untuk kelaparan besok harinya!"

Kemudian ia menghadapi In Hong sambil berkata.

"Nona, setelah kau tiba disini dan mengeluarkan kata-kata, tak dapat tidak kita berdua harus main-main sebentar!"

"Kau turunkan aku dari kuda kalau kau dapat, dan kau boleh ambil kuda ini kalau kau bisa!"

In Hong menantang tanpa turun dari kudanya, juga tidak mencabut pedangnya.

Sikapnya biasa dan anehnya wajahnya berseri-seri memandang kepada Bu Jin Ai, seakan-akan ia tengah bersenda gurau dengan orang gagah yang aneh itu.

"Begitukah? Kau anak nakal, kau kira aku tidak bisa melakukan itu? Awas, bersiaplah kau! Jawab Bu Jin Ai dengan sepasang mata bersinar-sinar dan mulut tersenyum. Dengan langkah tenang ia lalu menghampiri In Hong yang masih duduk di atas punggung kudanya. Akan tetapi, sebelum Bu Jin Ai turun tangan, tiba-tiba Yo Kang melompat turun dari kudanya dengan golok di tangan. Ia cepat melompat di depan In Hong dan menghadang orang aneh itu, melindungi In Hong.

"Harap kau jangan mengganggu Adik misanku! Hong-moy, jangan kau main-main dengan dia yang lihay dan berbahaya!"

Bu Jin Ai memandang tajam kepada Yo Kang.

"Aku dan nona itu mau main-main sebentar, mengapa kau turut campur? Kau mau apakah?"

Yo Kang sudah maklum akan kelihayan orang aneh ini, maka ia tidak berani herlaku kasar. Sambil berdiri tegak di depan kuda In Hong, dan goloknya dilintangkan di depan dada, ia menjawab.

"Si kuat mengganggu si lemah, itulah bukan perbuatan seorang hohan (orang gagah). Kalau Adik misanku telah mengeluarkan kata-kata yang tidak menyenangkan hatimu, biarlah aku Yo Kang yang menebus dosanya. Kau telah mengalahkan lima orang pembantuku dan merampas kuda mereka, biarlah kau sekarang memberi pelajaran padaku dan kalau perlu, jangan hanya kuda, biar nyawaku aku sediakan untuk membela nama dan membela Adik misanku ini."

Ucapan Yo Kang ini memang gagah dan In Hong diam-diam merasa terharu.

Tak disangkanya bahwa pemuda yang terlahir dikeluarga kaya itu, ternyata memiliki kegagahan yang lebih berharga daripada seluruh hartaKakek Yo Tang!

Dan yang membuat ia terharu adalah cinta kasih pemuda ini terhadapnya yang kini telah dibuktikan dengan perlindungannya yang dimodali nyawa, sungguhpun Yo Kang tahu bahwa kepandaian orang aneh itu tinggi sekali.

Bu Jin Ai tertawa bergelak, lalu berkata.

"Cinta membikin orang buta dan gila, akan tetapi tanpa cinta kasih, hiduppun tidak berguna! Anak muda, kau mau memamerkan ilmu golokmu? Marilah!"

Sambil berkata demikian, orang aneh ini lalu menyerang, menerjang maju dengan tangan kanan mencengkeram kepada Yo Tang dan tangan kiri menyambar ke arah gagang golok untuk merampasnya.

Yo Kang sudah bersiap-siap, maka melihat datangnya serangan hebat ini, ia cepat melompat ke kiri dan membabat dengan goloknya ke arah lengan kiri, kemudian bebatan itu diteruskan dengan tusukan ke arah lambung lawannya.

"Bagus!"

Bu Jin Ai berseru keras sekali sehingga kuda yang ditunggangi In Hong menjadi terkejut dan gelisah.

Terpaksa In Hong menarik kendali kudanya dan membuat binatang itu melangkah mundur, menjauhi tempat pertempuran sampai kira-kira dua tombak dan dari situ ia menonton pertempuran itu dengan penuh perhatian.

Ilmu golok dari Yo Kang adalah ilmugolok dari Bu-tong-pay aseli.

Lima orang Guru silat itu biarpun telah mempelajari ilmu silat bermacam-macam dan sudah pula mempunyai pengalaman bertempur, namun dibandingkan dengan Yo Kang, masih kalah.

Hal ini adalah karena biarpun Yo Kang hanya mempelajari satu macam ilmu silat, namun yang ia pelajari adalah ilmu silat aseli dari perguruan yang besar, sehingga ia dapat memetik sarinya dan ilmugoloknya benar-benar tidak boleh dipandang rendah.

Goloknya berkelebat-kelebat bagaikan seekor naga mengamuk dan mata golok itu tergetar selalu sehingga kalau dipandang seperti lebih dari satu golok yang dipegangnya.

Menghadapi ilmugolok aseli dari Bu-tong-pay yang dimainkan dengan hebatnya oleh Yo Kang, orang aneh itu nampak terdesak.

Namun anehnya, Bu Jin Ai tidak mau mencabut pedangnya dan hanya menghadapi golok itu dengan kedua tangan kosong.

Memang ia amat gesit, namun golok ditangan Yo Kang tentu saja lebih cepat gerakannya daripada gerakan orang mengelak sehingga golok itu terus menyambar-nyambar mengancam lawan.

Yang mengagumkan sekali, kadang-kadang kalau ia sudah kehabisan waktu untuk mengelak, Bu Jin Ai dengan berani sekali mengibaskan tangan dan jari-jari tangannya menyentil golok itu sehingga terpental dan tidak jadi melukainya!

In Hong kagum sekali dan ia maklum bahwa Yo Kang takkan dapat memperoleh kemenangan, bahkan orang aneh itu sudah berlaku terlalu mengalah kepadanya.

Kalau orang aneh itu mau mengeluarkan senjatanya, sudah dapat diduga bahwa dalam beberapa jurus saja Yo Kang akan roboh.

Kalau dilihat-lihat, orang aneh itu seakan-akan hanya menguji sampai dimana kehebatan ilmu golok Yo Kang yang memang cukup baik dan patut dipuji.

Akan tetapi, tidak demikian pendapat Yo Kang.

Pemuda ini merasa penasaran dan marah sekali melihat lawannya hanya menghadapi dengan tangan kosong.

Inilah penghinaan hebat baginya.

Belum pernah selama hidupnya goloknya yang membuat namanya amat terkenal dengan sebutan Bu-Tong Sin-To (Golok sakti dari Bu-tong-pay) itu dihadapi orang dalam pertempuran dengan tangan kosong belaka!

Apalagi ia selalu berada dipihak yang mendesak, hatinya menjadi besar dan timbul nafsunya untuk mengalahkan atau merobohkan orang aneh ini, sungguhpun ia tidak mempunyai niat dihati untuk membunuhnya.

Maka setelah tigapuluh jurus lewat belum juga ia dapat melukai Bu Jin Ai, ia menjadi penasaran sekali dan memutar goloknya lebih cepat lagi.

Bu Jin Ai agaknya sudah merasa puas.

Melihat gerakan pemuda itu makin mengganas, ia tertawa bergelak dan berkata.

"Yo-kongcu, kau betul-betul tidak mengecewakan telah mempelajari ilmu golok dari Bu-tong-pay. Untuk kepandaianmu yang kau pelajari amat baiknya ini, biarlah aku mengalah dan tidak jadi mengambil kudamu!"

Sambil berkata demikian, Bu Jin Ai melompat ke belakang menjauhi Yo Kang.

Kata-katanya ini jelas menyatakan bahwa ia tidak ingin melanjutkan pertempurannya dengan Yo Kang.

Akan tetapi Yo Kang merasa penasaran dan gemas sekali.

Tidak saja ia belum dapat merobohkan lawannya, bahkan kata-kata lawannya itu terang sekali menyatakan bahwa lawan tadi merasa diri jauh lebih unggul dan sengaja mengalah!

Darah mudanya tidak membiarkan ia sudah begitu saja sebelum ada keputusan siapa kalah siapa menang, maka ia menubruk maju dan menyerang lagi dengan hebatnya.

"Aku masih belum kalah!"

Katanya penasaran. Marahlah Bu Jin Ai.

"Anak muda kepala batu! Jadi kau ingin sekali roboh olehku? Mudah saja, bocah. Awaslah pedangku!"

Tanpa dapat terlihat oleh Yo Kang saking cepatnya gerakan tangan Bu Jin Ai, tahu-tahu tangan kanan orang aneh itu telah memegang pedang yang tajam dan terdengar suara.

"Traang!"

Yang nyaring sekali ketika golok Yo Kang beradu dengan pedang.

Yo Kang merasa telapak tangannya tergetar hebat dan hampir saja goloknya terlepas dari pegangan.

Akan tetapi dasar ia masih muda dan berdarah panas, ia tidak mau mundur dan bagaikan seekor harimau muda ia menubruk lagi sambil menyerang dengan goloknya.

Bu Jin Ai menangkis lagi dan kali ini setelah menangkis, pedangnya itu langsung meluncur ke depan, ke arah muka Yo Kang!

Yo Kang yang kena ditangkis goloknya sehingga mental ke bawah, berlaku nekad.

Ia membiarkan pedang lawan melayang kemukanya dan sebagai pembalasan, ia juga menggerakkan goloknya dari bawah menyabet pinggang lawannya!

Gerakan ini cepat dan hebat sekali sehingga kalau pedang itu mengenai muka Yo Kang, agaknya goloknyapun akan berhasil membabat pinggang Bu Jin Ai.

"Celaka..."

In Hong mengeluh dalam hatinya.

Ia tidak mengira bahwa Yo Kang begitu bodoh dan nekad sehingga dalam pertempuran yang tidak berdasarkan permusuhan itu ia mau mengadu jiwa.

Ia tidak kenal siapa adanya Bu Jin Ai itu, yang baru dilihatnya sekarang, biarpun ia tertarik dan suka melihat sikap orang gagah ini, namun orang itu bukan apa-apa baginya.

Sebaliknya, Yo Kang adalah Kakak-misannya, maka betapapun juga, ia harus membantu Yo Kang, melepaskan pemuda itu dari ancaman maut yang agaknya sudah tak dapat dielakan lagi.

Sinar hitam meluncur dari tangan gadis ini tanpa ada orang yang melihatnya.

Para kauwsu sedang asik menonton pertempuran, maka siapakah yang memperhatikan gadis di atas kudanya itu?

Ketika sinar hitam yang meluncur dari tangan In Hong itu tiba di tempat pertempuran, dua orang yang sedang bertempur berseru kaget.

Bu Jin Ai kaget sekali ketika tiba-tiba pedangnya terpental seakan-akan terbentur oleh sesuatu.

Sekelebatan ia melihat sinar hitam yang aneh sekali namun amat kuatnya.

Sedangkan Yo Kang kaget bukan main karena tiba-tiba Bu Jin Ai mengangkat kaki menendang goloknya sehingga golok itu terpental dan terlepas dari pegangannya!

Yo Kang tidak berdaya lagi dan Bu Jin Ai amat marah melihat ada sinar hitam membentur pedangnya tadi.

Ia tahu bahwa ada orang membantu Yo Kang, orang yang pandai sekali.

Hal ini mendatangkan penasaran dan marah besar, maka setelah ia berhasil menendang golok Yo Kang sehingga terlepas, ia lalu menggerakkan pedang ke arah telinga pemuda itu untuk memotong telinga sebelah kanan!

Bukan main marah dan ngerinya hati In Hong melihat gerakan ini.

Ia tahu bahwa kalau ia tidak turun tangan, Yo Kang tentu akan kehilangan telinga kanannya.

Maka, seperti tadi pula, ia mengayun tangan dan sinar hitam menyambar.

Kini bukan hanya satu, melainkan tiga sekaligus!

Sebetulnya, Bu Jin Ai tidak begitu keji untuk membuntungi telinga pemuda tampan itu.

Ia sengaja melakukan hal ini untuk memancing keluar orang yang membantu Yo Kang.

Kalau melihat Yo Kang terancam bahaya, tentu orang itu akan turun tangan lagi.

Pancingannya berhasil, karena kini tiga sinar hitam menyerangnya, satu ke arah pergelangan tangan yang memegang pedang, yang datang terdahulu dan cepat sekali, kedua menyerang ke arah jalan darah dipundaknya dan ketiga menyerang lambung!

Bu Jin Ai kaget sekali, bukan saja karena hebatnya serangan sinar hitam ini, akan tetapi lebih kaget melihat bahwa yang melepas sinar-sinar hitam itu adalah nona muda yang duduk di atas kuda!

Rasa kaget ini membuat ia termangu dan agak memperlambat gerakannya.

Ia dapat menarik tangan yang memegang pedang sehingga terluput dari sambaran sinar hitam, dan karena serangan sinar hitam pada lambung dan pundak datang berbareng, ia pikir yang menyerang lambung lebih berbahaya, maka ia menyampoknya dengan ujung lengan baju kiri dan mencoba untuk mengelak sinar hitam yang menotok pundak.

Akan tetapi, pada saat ia terancam bahaya, Yo Kang tidak tinggal diam.

Pemuda ini setelah goloknya terlepas, lalu menggunakan tangan kiri memukul dada lawannya.

"Buk!"

Bu Jin Ai terhuyung mundur dan mukanya berobah.

Bagi orang lain, juga bagi Yo Kang, dikira bahwa jago aneh itu terhuyung karena pukulan Yo Kang.

Akan tetapi sesungguhnya, lweekang dari Bu Jin Ai sudah sedemikian tingginya sehingga pukulan itu hanya mendatangkan sedikit rasa sakit pada dadanya, namun tidak mendatangkan luka berat.

Yang hebat adalah serangan sinar hitam itu, karena tadi ketika ia mengelak, gerakannya kurang cepat dan ujung pangkal lengan dekat pundak masih terkena sinar hitam itu dan mendatangkan rasa ngilu dan perih!

Sinar hitam itu adalah kepandaian tunggal dari Hek Moli yang diturunkan kepada muridnya, yakni senjata rahasia berupa bubuk pasir hitam yang luar biasa lihaynya.

Sekali mengenai kulit, pasir hitam ini akan menembus dan meresap ke dalam jaringan darah dibawah daging!

Bu Jin Ai tersenyum pait.

Ia memandang kepada Yo Kang dan berkata.

"Aku si bodoh terima kalah!"

Kemudian ia menghadap kepada In Hong sambil bertanya.

"Nona, beritahukan namamu!"

In Hong merasa terkejut dan juga menyesal.

Tadi ia menyerang orang itu karena mengkhawatirkan keselamatan Yo Kang, akan tetapi melihat cara Bu Jin Ai menarik tangannya, tahulah ia bahwa sambaran pedang ke arah telinga Yo Kang hanya gertak belaka, jadi orang itu tidak sungguh-sungguh hendak membuntungi telinga Yo Kang.

Ia menyesal sekali karena melihat pasir hitamnya telah melukai pundak Bu Jin Ai, dan ia maklum bahwa hal itu amat berbahaya bagi keselamatan orang gagah yang aneh itu.

"Namaku? Aku... aku... sebut saja aku Put Hauw Li (Anak perempuan tidak berbakti). Aku mempunyai obat untuk menyembuhkan lukamu..."

Akan tetapi, Bu Jin Ai sudah melompat jauh sekali dan berlari pergi, terdengar suara ketawanya dan suaranya lapat-lapat terdengar oleh In Hong, sungguhpun tidak terdengar oleh orang lain.

"Namanya Put Hauw Li... sungguh aneh... airmukanya sama benar... kepandaiannya lihay... aahh..."

Dan sebentar saja bayangan orang aneh itu lenyap. Lima orang kauwsu menghampiri Yo Kang dan dengan muka merah The Sun berkata.

"Yo-kongcu, kepandaianmu tinggi sekali sehingga kau berhasil dapat mengusirnya. Kami orang-orang tua tidak berguna, percuma saja mengawanimu."

"Aah, kepandaianku tidak seberapa, The-kauwsu, hanya orang aneh itu yang berlaku mengalah. Sayang sekali bahwa ngo-wi yang mencari perkara dengan dia. Sekarang kuda kita tinggal dua lagi, bagaimana baiknya?"

In Hong majukan kudanya.

"Yo-Twako, kau mencari Wu Wi Thaisu bukan untuk bertempur, mengapa harus mencari kawan? Karena kuda yang masih ada hanya kudamu dan kudaku, marilah kita berdua saja mencari Tosu itu."

"Benar kata Kwee-Lihiap,"

Kata Pouw Cun, karena Guru ini setengah dapat menduga akan kelihayan In Hong.

"Biarlah kami berlima kembali jalan kaki, hitung-hitung untuk menebus dosa."

Terpaksa Yo Kang menyetujui hal ini dan ia lalu pergi bersama In Hong, membalapkan kuda menuju ke dusun di depan setelah mendapat petunjuk dari Cong-piauwsu dimana tempatnya dusun yang pernah mencoba untuk merampas kereta berisi gandum.

Setelah mengalami pertempuran dengan Bu Jin Ai yang aneh, Yo Kang tidak berani berlaku sembrono lagi.

Di dusun yang dimaksudkan, ia berlaku ramah-tamah dan halus, menanyakan kepada mereka dimana adanya Wu Wi Thaisu, seakan-akan seorang sahabat hendak mencari orang tua itu.

Ia mendapat keterangan bahwa Wu Wi Thaisu sedang berada di dusun yang sepuluh lie jauhnya dari situ, membawa kereta berisi bahan obat untuk menolong orang-orang yang sedang diamuk penyakit-penyakit panas, dan kebetulan sekali bahan obat yang dikirim oleh Yo Kang adalah obat untuk menyembuhkan penyakit demam panas.

Mereka akhirnya mendapatkan Wu Wi Thaisu sedang membagi-bagi obat kepada orang-orang dusun sambil memberi penjelasan cara memasak dan meminumnya.

Melihat kedatangan dua orang muda ini, Tosu yang sudah tua itu lalu mengoperkan pekerjaannya kepada seorang dusun yang sudah tua pula, dan ia menyambut Yo Kang.

"Wu Wi Lo-Cianpwe, maafkan boanpwe Yo Kang datang mengganggu pekerjaan Lo-Cianpwe yang mulia, membagi-bagi obat kepada orang-orang dusun,"

Kata Yo Kang.

"Ha, Yo-Sicu datang-datang menyindir. Memang obat-obat itu tadinya milikmu yang kurampas dari orang-orangmu. Kau tentu datang untuk menagih, bukan?"

"Tidak, Lo-Cianpwe, hanya boanpwe mohon kepada Lo-Cianpwe agar suka berjanji bahwa pengiriman-pengiriman selanjutnya takkan mendapat gangguan."Kakek itu menggeleng-geleng kepalanya sehingga jenggotnya berkibar-kibar.

"Tidak bisa, tidak bisa. Pinto boleh berjanji, akan tetapi bagaimana dengan mereka yang membutuhkannya?"

Yo Kang mulai tidak senang.

"Lo-Cianpwe benar-benar keterlaluan. Boanpwe adalah seorang pedagang, kalau terus menerus diganggu, bukankah perdagangan boanpwe bisa bangkrut?"

Mendengar ini, In Hong merasa kecewa. Sedikit banyak, pemuda ini sudah ketularan watakKakeknya, menganggap soal untung dan harta benda sebagai soal terpenting.

"Sudahlah, Yo-Sicu. Pinto selamanya tidak mau hutang, kali ini hutang tujuh kereta, tentu akan Pinto bayar pula. Karena Pinto tidak beruang, dan tidak punya apa-apa, maka Pinto hendak menukarnya dengan tujuh petunjuk ilmu silat agar Bu-tong-to-hwat (Ilmu golok Bu-tong-pay) yang kau pelajari bisa makin baik."

Mendengar ini, Yo Kang merasa girang juga.

Memang pemuda ini setelah mengalami kekalahan dari Bu Jin Ai yang aneh dan kemudian ia mendapatkan kemenangan yang aneh pula, ia merasa kecewa.

Kalau tokoh besar Go-Bi-Pai ini mau mengajarnya dengan tujuan petunjuk, hal itu baik sekali.

Memang iapun tidak menghendaki pembayaran hutang, karena bagaimanakah Tosu ini dapat membayar harga dari tujuh kereta barang itu?

"Terima kasih atas kemurahan hati Lo-Cianpwe,"

Katanya.

"Nah, cabutlah golokmu. Ingat baik-baik, ambil tujuh jurus penyerangan ilmu golokmu yang paling lihay dan pergunakan itu untuk menyerangku!"

Mendengar ini, Yo Kang tertegun.

Ia mengira akan mendapat pelajaran ilmu silat, mengapa ia bahkan harus menyerangKakek itu?

"Jangan ragu-ragu, Yo-Sicu.

Kalau kau sampai berhasil melukai atau bahkan membunuhku, itu juga merupakan pembayaran yang baik sekali.

Tujuh kereta bahan makanan dan obat, yang menolong ratusan nyawa orang, diganti dengan cucuran darah Pinto yang tua bangka atau dengan nyawa Pinto yang sudah bosan dikurung di tubuh bobrok ini, bukankah itu baik sekali?

Sebaliknya kalau golokmu tidak berhasil, kau akan mendapat tambahan pelajaran yang amat berguna bagimu kelak."

Akan tetapi Yo Kang tetap saja ragu-ragu, apalagi kalau ia ingat bahwa In Hong berada disitu.

Ia tidak mau gadis itu akan mencelanya dan menganggapnya keterlaluan menyerang seorangKakek dengan goloknya, apalagi mempergunakan jurus-jurus terlihay dari Bu-tong-to-hwat.

Tak terasa lagi ia menoleh kepada In Hong, seperti minta nasihat.

"Yo-Twako, Wu Wi Totiang bermurah hati kepadamu, mengapa kau ragu-ragu untuk menerimanya? Lekas serang dia!"

Kata gadis ini. Kini Yo Kang mengambil keputusan tetap. Peraturan "Membayar hutang"

Ini ditetapkan oleh Tosu itu sendiri, bahkan In Hong juga menyetujui, maka kelak ia takkan mendapat nama buruk.

"Siaplah, Lo-Cianpwe, jurus penyerangan pertama boanpwe lakukan!"

Katanya dan setelah memutar golok, ia lalu menyerang dengan gerak tipu See-ceng-pay-hud (See-ceng sembah Buddha).

Inilah jurus penyerangan yang amat lihay dari Bu-tong-pay dan kalau lawan tidak berkepandaian tinggi, sukarlah menghindarkan diri dari serangan golok ini.

Sebelum golok menusuk ke dada, lebih dulu tangan kiri menyelok ke arah perut lawan untuk mengacaukan pertahanan dan golok menyusul dengan kecepatan kilat.

Wu Wi Thaisu bergerak lambat sekali, seakan-akan orang sedang bermain-main.

Akan tetapi, ketika golok itu meluncur ke arah dadanya, ia miringkan tubuh, menggeser kaki ke kiri dan sekali tangannya berkelebat ke depan, sambungan siku tangan Yo Kang yang memegang golok telah kena disentil sehingga lengan itu gemetar dan goloknya terlepas dari pegangan!

"Ambillah golokmu, Yo-Sicu dan lakukan penyeranganmu yang kedua,"

Kata Tosu itu sambil tersenyum tenang.

Muka Yo Kang merah sekali.

Ia merasa dipermainkan oleh Tosu ini.

Katanya hendak mengajar silat, akan tetapi ia disuruh menyerang dan kemudian dikalahkan dalam segebrakan saja, bukankah ia sengaja hendak mempamerkan kepandaian dan sengaja hendak menghinanya?

Saking malunya ia menjadi marah.

Ia mengambil goloknya dan sambil berseru keras ia melakukan serangan yang kedua, Kini ia menggunakan gerak tipu Liong-bun-kwa-hi (Dipintu naga tunggang ikan).

Serangan ini bahkan lebih hebat dari pada serangan pertama.

Golok mula-mula diputar merupakan gulungan sinar bundar lebar di depan Tosu itu, kemudian tiba-tiba tubuh Yo Kang melompat tinggi dan golok itu dari bawah perutnya ditusukkan ke depan, ke arah leher Tosu itu.

Seperti tadi, Wu Wi Thaisu bergerak perlahan sekali, akan tetapi setelah serangan tiba, ia cepat mengangkat kaki, mencokel jalan darah di mata kaki Yo Kang sehingga tubuh pemuda itu terapung makin tinggi dan kakinya yang ditowel itu menjadi lumpuh, dan sebelum ia tahu apa yang terjadi, goloknya kembali kena dirampas.

Ketika ia turun lagi, kakinya tidak dapat berdiri lalu jatuh terguling!

Kalau tadi muka Yo Kang hanya merah saja, sekarang menjadi pucat.

Ia hampir menangis saking malu dan mendongkolnya.

"Totiang, kau terlalu menghinaku...!"

Katanya marah sekali.

"Yo-Twako, bagaimana sih kau ini? Wu Wi Totiang telah memberi pelajaran dan petunjuk yang begitu sempurna, mengapa kau marah? Seranganmu yang pertama tadi, tangan kirimu terlalu ke depan dan kalau menjaga siku kanan, bukankah penyerangan itu baik sekali dan kau takkan kalah? Dalam penyerangan kedua, seharusnya kau mengangkat tinggi kakimu sehingga tidak terbentang, kalau begitu, bukankah Wu Wi Totiang takkan dapat merobohkanmu?"

Tiba-tiba In Hong berkata dengan suara girang.

Yo Kang terkejut bukan main.

Kini terbukalah matanya.

Benar-benar Tosu itu telah memberi petunjuk yang amat baik!

Di dalam kegembiraannya karena baru sekarang ia tahu akan maksud Wu Wi Thaisu menghadapi serangan-serangannya dan menjatuhkannya, maka Yo Kang tidak menaruh perhatian mengapa In Hong bisa tahu akan hal ini!

Yo Kang tidak memperdulikan lagi betapa ia jatuh bangun, cepat ia maju menyerang dan mengeluarkan jurus-jurus yang paling berbahaya dari ilmu goloknya Bu-tong To-hwat.

Namun, Tosu tua itu benar-benar lihay sekali.

Yo Kang tidak berani menganggap bahwa ia terpandai dan ilmu goloknya tidak ada yang dapat melawan, akan tetapi ia tidak mengira sama sekali bahwa ada orang yang sanggup menghadapi goloknya hanya dengan tangan kosong belaka.

Lebih hebat lagi, setiap jurus dari serangannya pasti dihancurkan oleh Wu Wi Thaisu, diketahui bagian yang lemah dan ia dirobohkan.

Sampai tujuh kali Yo Kang menyerang dengan jurus-jurus terlihay, dan tujuh kali pula ia tak berdaya, bahkan pada jurus ketujuh ia terlempar sampai tiga tombak lebih dan kepalanya benjol-benjol!

Akan tetapi pemuda ini, dengan terpincang-pincang menghampiri Wu Wi Thaisu dan menjatuhkan diri berlutut.

Ia bukan seorang bodoh dan pada tiap penyerangan tadi, ia memperhatikan sekali bagaimana ia sampai roboh.

Memang Wu Wi Thaisu bergerak lambat dan sengaja memberi petunjuk, sehingga Yo Kang tahu bagian mana dari penyerangan tadi yang kurang sempurna dan "Terbuka."

Dengan pengalaman ini, tujuh jurus ilmu goloknya yang pilihan menjadi sempurna dan dia dapat memperbaiki jurus-jurus ini sehingga tidak lagi terdapat lowongan yang membahayakan dirinya sendiri.

Memang, inilah petunjuk yang jauh lebih bermanfaat daripada kalau ia menerima pelajaran ilmu silat lain.

"Totiang, Teecu menghaturkan banyak terima kasih atas petunjuk-petunjuk Totiang yang amat berharga tadi,"

Katanya. Akan tetapi Wu Wi Thaisu tidak memperdulikannya, hanya mengebutkan lengan baju sambil berkata.

"Sudahlah, itu untungmu kalau kau mengerti, akan tetapi kalau tidak ada nona ini, agaknya kau akan menderita kerugian besar."

Tosu tua itu memandang kepada In Hong dengan pandang mata curiga.

"Tidak tahu siapakah nona yang begini muda akan tetapi memiliki mata yang amat awas?"

In Hong tersenyum dan menjura untuk memberi hormat kepada Tosu itu.

"Wu Wi Totiang, urusan Yo-Twako denganmu telah beres dan hutang pihutang itu telah dilunaskan. Memang tadinya aku hanya ikut saja dengan Yo-Twako, akan tetapi setelah bertemu dengan kau orang tua dari Go-Bi-Pai, tak dapat tidak aku yang muda harus mohon sedikit keterangan tentang seorang Tosu kurangajar yang bernama Tek Seng Cu!"

Berubah muka Wu Wi Thaisu mendengar kata-kata ini, sedangkan Yo Kang yang sudah bangkit berdiri, memandang kepada In Hong dengan heran.

"Nona, kau siapakah dan ada urusan apakah kau dengan Tek Seng Cu?"

In Hong tersenyum dan kini senyumnya mengejek.

"Wu Wi Totiang, salahkah dugaanku kalau aku katakan bahwa Tek Seng Cu manusia tak tahu diri itu adalah murid dari Go-Bi-Pai? Harap Totiang tidak menyembunyikan dia dari aku yang muda dan yang mengharapkan penjelasan Totiang."

"Hong-moy, jangan kau kurang ajar terhadap Lo-Cianpwe dari Go-Bi-Pai!"

Yo Kang berseru karena ia merasa khawatir sekali melihat sikap In Hong.

"Wu Wi Thay-suhu, mohon maaf sebesarnya atas kelancangan mulut Adik misan Teecu ini. Dia bernama Kwee In Hong dan dia..."

"Cukup, Yo-Twako. Tak perlu kau mencampuri, ini bukan urusanmu, melainkan urusanku pribadi dengan pihak Go-Bi-Pai,"

Kata In Hong ketus sehingga Yo Kang terkejut melihat sikap yang baru baginya ini. Kemudian gadis itu menghadapi Wu Wi Thaisu kembali dan berkata.

"Nah, Totiang, kau sudah mengetahui namaku. Bagaimana, apakah kau sudah bersedia untuk memberitahu kepadaku, dimana adanya Tek Seng Cu itu dan apa yang ia lakukan akhir-akhir ini?"

Wu Wi Thaisu menjadi mendongkol juga.

Tek Seng Cu adalah cucu muridnya dan menjadi anak murid Go-Bi-Pai.

Betapapun juga, urusan dengan Tek Seng Cu berarti urusan dengan Go-Bi-Pai dan urusannya juga, maka mau tidak mau ia harus membelanya.

"Nona, kau masih begini muda akan tetapi sikapnya keras mendesak, menandakan bahwa kau memiliki kepandaian dan menyombongkan kepandaianmu itu. Tek Seng Cu adalah murid Go-Bi-Pai dan urusan dia tak perlu diketahui oleh orang luar. Segala sesuatu yang menyangkut diri seorang murid Go-Bi-Pai, adalah urusan kami sendiri dan kami pula yang akan membereskannya. Orang luar tak perlu tahu!"

Sepasang mata yang indah itu mulai berkilat dan kalau orang tahu akan kebiasan In Hong, ia akan mengerti bahwa inilah tanda kemarahan dari gadis itu. Ia melangkah maju dan berkata, suaranya menantang.

"Wu Wi Totiang, aku yang muda dan bodoh sudah mendengar bahwa kau adalah tokoh kedua dari Go-Bi-Pai, dengan kepandaianmu yang tinggi menjulang kelangit. Tadipun sudah kusaksikan sendiri kelihayanmu, maka biarlah aku melupakan dalam ilmu pukulan darimu. Kalau aku kalah, sudahlah, kau boleh berbuat apa yang kau suka. Akan tetapi kalau kau mengalah dan tidak mau menjatuhkan aku, terpaksa aku mendesak terus dan kau harus memberitahu kepadaku perihal urusan Tek Seng Cu!"

Inilah kata-kata yang mengandung tantangan. Gadis yang begini muda berani menantangnya dan bertaruh kalau ia kalah supaya memberitahu tentang Tek Seng Cu, alangkah beraninya.

"Hong-moy...! Apakah kau sudah gila...?"

In Hong menoleh.

"Mungkin juga, Yo-Twako. Akan tetapi kunasihatkan agar supaya kau menjauhkan diri dan menonton saja dari jauh kalau kau tidak ingin dibikin terjungkir balik oleh Wu Wi Totiang yang lihay!"

Wu Wi Thaisu sudah dapat dibakar hatinya dan ia mendelik ke arah Yo Kang.

"Orang muda, minggirlah dan jangan ikut-ikut!"

Yo Kang terkejut sekali dan cepat ia menuntun kudanya dan kuda In Hong, menuju ke sebatang pohon dimana ia mengikatkan kedua kuda, lalu berdiri bengong memandang ke arah dua orang yang masih berdiri berhadapan itu.

Hati Yo Kang berdebar dan ia masih mengira bahwa In Hong terlalu ceroboh dan berani mati.

Apa sih kepandaian gadis itu sehingga berani bersikap demikian kurangajar terhadap Wu Wi Thaisu yang tadi telah membuktikan bahwa kepandaiannya amat tinggi?

"Nona kau benar-benar memiliki keberanian besar sekali.

Siapakah Gurumu?"

In Hong tersenyum lagi, senyum yang mengandung ancaman.

"Totiang, biarlah keterangan tentang Guruku inipun kujadikan taruhan. Kalau aku kalah, baru aku akan memperkenalkan siapa Guruku, sebaliknya kalau kau tak dapat mengalahkan aku, kau harus memberitahu tentang Tek Seng Cu. Bukankah ini sudah adil sekali?"

"Bagus! Kau majulah, dan jangan anggap aku seorang tua yang keterlaluan mau melayani seorang muda. Ini adalah kau sendiri yang mencari dan kau sendiri yang mendesakku. Agaknya kau terlampau dimanja dan biarlah hitung-hitung Pinto memberi hajaran kepada seorang gadis manja!"

In Hong tersenyum geli.

"Awaslah, Totiang, aku yang muda dan bodoh hendak menyerang lebih dulu,"

Baru saja kata-kata ini berhenti, tubuh In Hong sudah berkelebat maju dan melakukan serangan yang amat cepat gerakannya.

Hek Moli adalah seorang iblis wanita yang ganas dan ilmu silatnya pun selain aneh, amat ganas sifatnya.

Maka serangan dari In Hong ini tidak berbeda dengan Gurunya, cepat kuat dan ganas sekali.

Tadinya Wu Wi Thaisu sebagai tokoh besar di dunia persilatan, dan sebagai tokoh kedua dari Go-Bi-Pai, tentu saja tidak memandang sebelah mata kepada gadis yang begini muda, maka ketika In Hong hendak bergerak maju, ia telah terlanjur berkata.

"Majulah, kalau dalam dua puluh jurus Pinto belum dapat mengalahkan, anggap saja kalah..."

Namun kata-katanya terputus ketika tiba-tiba bayangan In Hong, berkelebat dan tahu-tahu gadis itu sudah menyerangnya dengan kecepatan yang tak tersangka-sangka.

Dengan tubuh masih terapung ketika melompat tadi, In Hong sudah mengirim tendangan berantai dengan kedua kaki, tangan kanannya menotok leher, jadi sekaligus, dengan bertubi-tubi, gadis ini telah mengirim tiga macam serangan!

Bukan-main kagetnya Wu Wi Thaisu.

Ia sampai mengeluarkan seruan kaget dan cepat-cepat ia melompat ke kiri untuk menghindarkan tendangan berantai, dan melihat tangan kanan gadis itu dengan cepat meluncur, mengejar lehernya untuk ditotok, ia segera mengibaskan ujung lengan bajunya untuk menangkis.

Kibasan ini adalah ilmu silat tinggi dari Go-Bi-Pai yang disebut Siu-te-kiat-ciang (Dibawah tangan baju memotong tangan) dan lihaynya bukan main.

Biarpun hanya ujung lengan baju, akan tetapi karena digerakkan dengan tenaga lweekang tingkat tinggi, cukup kuat untuk mematahkan pergelangan lengan lawan!

Namun, apa yang terjadi?

Terdengar suara "Brett!"

Dan bukan pergelangan lengan kanan In Hong yang terpukul oleh ujung lengan baju, bahkan gadis itu cepat sekali menarik tangan kanan dan tangan kirinya yang sudah siap sedia itu mencengkeram dan sekaligus ujung lengan baju dari Wu Wi Thaisu robek dan hancur!

"Ganas...

ganas...!"

Tosu ini berseru dengan keringat membasahi keningnya.

Baru dalam gebrakan pertama saja, dengan susah-payah baru ia dapat menghindarkan diri dan mengorbankan ujung lengan bajunya!

Kalau tidak mengalami sendiri, tentu ia takkan percaya.

Namun, In Hong yang mendengar bahwa ia akan dikalahkan dalam dua puluh jurus, sudah menjadi penasaran dan naik darah, maka ia tidak mau memberi kesempatan lagi dan terus mendesak dengan serangan-serangan aneh dan cepat sekali.

Sebaliknya, Wu Wi Thaisu baru terbuka matanya bahwa yang ia hadapi bukanlah gadis sembarangan yang ilmu silatnya dapat disamakan dengan Yo Kang, melainkan seorang lawan yang tangguh sekali, maka ia tidak berani berlaku sembrono lagi.

Dengan penuh perhatian ia lalu menghadapi In Hong, menggerak-gerakkan kedua lengan sehingga terdengar bunyi tulang-tulang berkerotokan.

Inilah tanda bahwa Tosu tua ini telah mengerahkan seluruh tenaga lweekang, membangkitkan tenaga sin-kang di dalam tubuhnya, yang hanya ia lakukan apabila menghadapi lawan berat.

Sebetulnya, ia segan sekali harus mengeluarkan kepandaian ini menghadapi seorang gadis yang begitu muda, namun gebrakan pertama tadi sudah merupakan pelajaran pahit baginya bahwa ia sekali-kali tidak boleh memandang rendah kepada lawan muda ini.

Sebaliknya, dahulu In Hong sudah seringkali mendengar penuturan Gurunya tentang pelbagai kepandaian istimewa dari cabang-cabang persilatan yang besar, maka ia sudah tahu bahwa Wu Wi Thaisu adalah seorang ahli lweekang yang berbahaya.

Ia tahu bagaimana harus menghadapinya, maka diam-diam iapun mengerahkan khikangnya untuk menambah keringanan tubuh, kemudian mengandalkan ginkang yang luar biasa, ia melakukan penyerangan.

Bukan-main hebatnya pertempuran itu.

In Hong menyerang cepat sekali, tubuhnya berkelebat kesana kemari sedangkan Wu Wi Thaisu berdiri memasang kuda-kuda yang teguh dan mengandalkan tenaga lweekangnya yang disalurkan dikedua lengan, menyampok, menangkis dan memukul apabila lawannya mendekat.

Dilihat dari jauh, seakan-akan Tosu itu adalah seekor harimau dan In Hong seekor garuda yang menyambar-nyambar dari atas.

Demikiancepat gerakan In Hong sehingga Wu Wi Thaisu tak pernah berhasil menyentuh tubuh nona itu, dan sama sekali tidak diberi kesempatan menyerang.

Namun, bagi In Hong juga amat sukar karena hawa pukulan yang menyambar dari kedua Iengan Tosu itu benar-benar amat dahsyat sehingga tiap kali ia hampir berhasil menyerang, ia selalu terpental kembali terdorong oleh hawa pukulan.

Baiknya gadis inipun telah memiliki sin-kang yang lumayan, maka dorongan hawa lweekang itu tidak mengganggunya, hanya membuatnya terpental mundur.

Yang bengong adalah Yo Kang.

Pemuda ini berdiri menonton dan tak disadarinya, mulutnya ternganga dan sepasang matanya melotot tanpa berkedip.

Mimpipun tidak pemuda ini bahwa In Hong dapat mempunyai kepandaian sehebat itu.

Matanya sampai berkunang-kunang karena ia tidak dapat mengikuti kecepatan gerak tubuh gadis itu!

Setelah sadar karena merasa matanya pedas, ia menarik napas berulang-ulang sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.

Mukanya merah sekali kalau ia teringat betapa ia tidak memandang mata kepada gadis ini!

Dua puluh jurus lewat cepat sekali karena serangan-serangan In Hong memang dilakukan tanpa berhenti.

Di dalam dua puluh jurus ini, Wu Wi Thaisu hanya sempat membalas dengan serangan tiga jurus saja, inipun serangan sambil lalu karena ia tidak diberi kesempatan sama sekali.

In Hong tidak mempunyai niat untuk mencelakakan atau untuk memperhebat pertandingannya dengan Tosu ini.

Sepak terjang Tosu ini ketika merampas bahan makan dan obat lalu membagikan kepada rakyat, telah membuatnya kagum maka ia tidak ingin bermusuh dengan orang tua ini.

"Wu Wi Totiang, dua puluh jurus telah lewat, masih harus diteruskankah pertandingan ini?"

Tanyanya sambil terus menyerang. Wu Wi Thaisu menjadi merah mukanya dan ia berseru.

"Tahan...!"

In Hong melompat ke atas, berjungkir balik beberapa kali kemudian berdiri menghadapi Tosu itu dengan Bibir tersenyum dan sama sekali tidak kelihatan lelah.

"Ginkangmu hebat sekali, nona. Murid siapakah kau sebenarnya?"

Tanya Tosu itu dengan kagum.

"Ingat, Totiang. Aku tidak kalah, bukan semestinya aku bicara tentang Guruku, bahkan seharusnya kau bicara tentang Tek Seng Cu!"

Wu Wi Thaisu tersenyum pahit dan kembali menarik napas panjang.

"Baiklah, baiklah, aku akan memberitahu kepadamu, akan tetapi setelah aku mengenal ilmu pedangmu. Kau membawa pedang yang begitu indah, pasti aku akan melihat kiam-hoat yang jempol. Kalau dalam sepuluh jurus permainan pedang aku belum dapat menebak kau murid siapa, biarlah aku mengaku kalah betul-betul dan akan menuruti segala permintaanmu!"

Sambil berkata demikian, Wu Wi Thaisu mencabut pedangnya.

Tosu ini hendak berlaku cerdik.

Go-Bi-Pai terkenal sekali akan ilmu pedangnya yang lihay, dan selain Wu Wi Thaisu telah menguasai delapan bagian dari Go-bi-kiam-hoat, iapun terkenal sebagai seorang ahli pedang yang mengenal hampir semua ilmu pedang di dunia persilatan.

Dengan menantang bermain pedang, tidak saja ia hendak menebus kekalahannya tadi juga ia ingin tahu murid siapa adanya gadis aneh ini.

Ia percaya bahwa setelah melihat ilmu pedang gadis ini, ia akan dapat mengetahui dari cabang mana datangnya ilmu kepandaian itu.

Boleh jadi ia tidak mengenal ilmu silat tangan kosong, akan tetapi tak mungkin ia tidak mengenal ilmu pedang.

Tentu saja In Hong yang cerdik maklum pula akan siasat Tosu tua itu, maka ia tersenyum sambil mencabut pedangnya.

"Bukan aku yang mendesak, sebaliknya kau sendiri yang berjanji, Totiang. Terima kasih sebelumnya bahwa kau hendak menuruti segala permintaanku, asal saja kau orang tua tidak membohongi aku orang muda."

Kata-kata ini mengandung sindiran.

Tadi Wu Wi Thaisu sudah mengeluarkan kata-kata bahwa kalau gadis ini mampu menandinginya selama dua puluh jurus, ia akan menerima kalah, akan tetapi kemudian ia mengajak bertanding pedang.

Hal ini agaknya dipergunakan oleh In Hong untuk menyindir padanya dan menyatakan bahwa dia membohong!

"Kwee-Lihiap, aku orang tua bangka mana sudi membohongimu?

Tadi aku memang sudah mengaku kalah dan tentang Tek Seng Cu, pasti akan kuceritakan, sungguhpun kau akan kalah dalam pertandingan pedang ini.

Go-Bi-Pai tidak ada rahasia busuk, mengapa takut menceritakan?

Hanya aku masih penasaran dan ingin sekali menerka kau ini murid siapa!"

"Kalau begitu, lihatlah ilmu pedangku ini, Totiang!"

Seru In Hong sambil tertawa.

Wu Wi Thaisu melihat sinar terang meluncur cepat.

Ia tidak mengenal pedang pusaka Liong-gan-kiam, karena setelah mencuri pedang itu dari Istana, Hek Moli tidak pernah mempergunakannya dan memberikan pedang itu kepada In Hong.

Dengan penuh perhatian Wu Wi Thaisu menghadapi ilmu pedang dari gadis itu yang juga amat ganas, cepat dan kuat sekali gerakannya.

In Hong tidak takut bahwa Tosu ini akan mengenal ilmu pedangnya, karena ia tahu bahwa Gurunya, yakni Hek Moli, selalu mempergunakan tongkat sebagai senjata, dan ilmu tongkat dari Gurunya itulah yang digubah menjadi ilmu pedang untuknya.

Biarpun gerakan-gerakannya sama, namun ilmu tongkat tak dapat disamakan derigan ilmu pedang dan dengan hati besar gadis ini lalu mengerahkan kepandaiannya untuk mendesak Wu Wi Thaisu.

Akan tetapi, ia harus mengakui kelihayan Tosu ini dalam ilmu pedangnya.

Ilmu pedang Go-Bi-Pai amat kuat dalam pertahanannya dan pedang di tangan Tosu itu berputar-putar cepat sekali merupakan tembok baja yang kuat dan kokoh melindungi tubuhnya sehingga sukar ditembus oleh pedang di tangan In Hong.

Makin terkejutlah hati Wu Wi Thaisu.

Tidak saja ia belum pernah melihat ilmu pedang yang amat aneh dan kuat ini, juga untuk mengalahkan gadis ini dalam permainan pedang saja, agaknya akan memakan waktu lama sekali baginya.

Bukan main indah dan ganasnya ilmu pedang yang dimainkan oleh nona Kwee ini sehingga tubuh nona itu lenyap terbungkus oleh sinar pedang yang berkilauan.

Ia sudah mencoba untuk mendobrak dan membalas serangan In Hong, namun sia-sia belaka karena ia kalah cepat.

Dan dengan pengerahan tenaga dan pencurahan perhatian untuk mengalahkan ilmu pedang gadis ini, ia makin sukar mengenal ilmu pedang itu.

Sepuluh jurus lewat amat cepatnya, dan terdengar Tosu itu berkata dengan suara keras.

"Kwee-Lihiap, terus terang saja aku belum mengenal ilmu pedangmu. Aku takkan menarik janji, dan kau boleh minta apa saja nanti, akan tetapi teruskan permainanmu sampai sepuluh jurus lagi, kiranya Pinto akan dapat menduga dari siapa kau memperoleh semua ilmu yang aneh ini!"

In Hong makin gembira.

Terdengar ia tertawa nyaring dan kini ilmu pedangnya makin hebat.

Sengaja gadis ini mengerahkan tenaga dan mengeluarkan jurus-jurus yang paling lihay dari ilmu pedangnya yang dinamai Toat-beng-kiam-hoat (Ilmu pedang mencabut nyawa) oleh Gurunya!

Tidak saja ia hendak membikin Tosu itu menduga-duga dengan bingung, akan tetapi juga darah mudanya membuat ia mempunyai keinginan mengalahkan Tosu ini dalam ilmu pedang!

Dalam jurus kedua puluh, In Hong mempergunakan ilmu pedangnya dengan gerak tipu yang paling lihay, yakni yang disebut Tho-sim-toat-beng (Mencuri hati mencabut nyawa).

Pedangnya berputar dan berkelebatan seperti seekor rajawali hendak menyambar korban, sukar sekali diduga kemana arah yang hendak dilalui, dan tiba-tiba, tanpa terduga-duga, pedang ini menyambar dengan tusukan kilat ke arah hati atau dada kiri lawannya!

Wu Wi Thaisu berseru keras dan cepat ia menggerakkan pedang melindungi dada, karena untuk mengelak sudah tidak ada waktu lagi!

Dua pedang bertemu, menempel keras dan tak dapat dilepaskan lagi.

Kalau Wu Wi Thaisu tidak menang dalam tenaga lweekang, tentu ia tak keburu melindungi dadanya dan ujung pedang In Hong hanya terpisah setengah dim saja dari bajunya.

Akan tetapi, berkat tenaga lweekangnya yang masih lebih kuat daripada In Hong, ia dapat mendorong gadis itu dan sambil mengerahkan tenaga ia berseru keras.

In Hong terhuyung mundur dan terpental seakan-akan tertiup angin badai!

Gadis ini pucat, akan tetapi merasa lega bahwa ia tidak terluka.

Kiranya Wu Wi Thaisu memang tidak bermaksud buruk dan ia tadi hanya mengerahkan khikang untuk membikin gadis itu terpental.

Kalau ia mau mempergunakan lweekang sekuatnya, pasti In Hong akan terluka di dalam tubuhnya.

"Siancay, siancay..., ilmu pedangmu benar-benar hebat, Kwee-Lihiap,"

Kata-kata ini memang sejujurnya, karena ia yang sudah memiliki delapan bagian atau hampir seluruhnya dari Go-bi-kiam-hoat, dalam dua puluh jurus tidak dapat mengalahkan ilmu pedang gadis itu, bahkan hampir saja ia menjadi korban.

Kemenangannya tadi bukan karena ilmu pedang, melainkan karena ia memiliki tenaga lweekang yang lebih kuat.

Maka ia merasa penasaran dan juga kagum sekali, akan tetapi ia sekarang teringat.

Yang dapat menghadapi Go-bi-kiam-hoat dari Suhunya yang tua, yakni Tek Eng Thaisu Ketua Go-Bi-Pai, adalah Hek Moli, Iblis Wanita hitam itu.

Biarpun Hek Moli mainkan tongkat, namun keganasan dan kecepatannya hampir sama dengan gerakan gadis ini.

"Kwee-Lihiap, kalau kau bukan murid Hek Moli, aku si tua bangka tidak mampu menerka lagi murid siapakah kau ini."

In Hong menjura.

"Wu Wi Thaisu, tebakanmu yang tepat ini menambah kekagumanku atas ilmu pedang Go-bi-kiam-hoat yang benar-benar indah dan luar biasa. Aku terima kalah."

"Kau pandai bersombong dan pandai merendah. benar-benar kau seperti Gurumu. Eh, sekarang aku harus bayar hutang. Kau hendak bertanya tentang Tek Seng Cu?"

"Benar, Totiang,"

In Hong menjadi gembira dan menyimpan Liong-gan-kiam.

"Dia sudah tewas!"

In Hong melengak.

"Jadi subo yang..."

"Ya benar, mendiang Gurumu yang menewaskannya."

"Apa katamu, Totiang?"

In Hong menjerit.

"Guruku...??"

"Gurumu juga tewas dalam pertempuran itu."

Tiba-tiba In Hong mencabut pedangnya dan cepat menusuk dada Wu Wi Thaisu. Tosu ini cepat menangkis dengan pedang yang masih dipegangnya.

"Sabar, jangan kau tiru keganasan Gurumu itu. Keganasan tanpa perhitungan dan tanpa dipertimbangkan lebih dulu adalah kesesatan dan hanya akan membawa kau ke dalam lembah kehancuran!"

In Hong sadar kembali. Memang amat tidak baik kalau tiba-tiba menyerang atau membunuh orang tanpa mengetahui persoalannya dengan jelas, hanya timbul dari persangkaan belaka.

"Guruku tewas? Tentu kalau bukan olehmu, oleh Pek Eng Thaisu, siapa lagi yang dapat menewaskannya? Tek Seng Cu manusia sombong itu? Hah, jangan kau mencoba untuk menyangkal, Wu Wi Thaisu!"

Dada gadis itu berombak, mukanya merah, sepasang matanya seperti berapi. Wu Wi Thaisu menggeleng kepalanya.

"Sayang bukan! Kalau aku yang menewaskannya, itu tanda bahwa ilmu silatku mendapat banyak kemajuan. Padahal semenjak aku kalah olehnya di puncak Go-bi dahulu, harus ku akui bahwa ilmu silatku banyak mundur!"

"Jadi kalau begitu Pek Eng Thaisu yang menewaskan Guruku?"

"Juga bukan, Kwee-Lihiap. Suhu sudah terlalu tua untuk mengurus segala macam persoalan dunia, mana Suhu mau membunuh orang?"

"Wu Wi Thaisu, kau tadi sudah berjanji hendak memenuhi semua permintaanku. Apakah sekarang kau hendak memutar balik omongan dan untuk pertanyaan ini saja kau tidak mau mengaku? Siapakah yang telah membunuh Guruku?"

Pada saat itu, Yo Kang yang semenjak pertandingan pedang tadi hampir tak berani bernapas, buru-buru datang menghampiri mereka.

"Adikku In Hong, harap kau bersabar dan berlaku tenang. Tidak baik mendesak-desak Wu Wi Lo-Cianpwe."

In Hong berpaling kepada Yo Kang.

"Yo-Twako, urusanmu sudah selesai, dan sekarang aku minta supaya kau pulang lebih dulu. Aku ada banyak sekali urusan yang harus kuselesaikan. Harap kau jangan membantah lagi!"

Di dalam kata-kata ini terkandung suara yang dingin dan ketus sehingga Yo Kang tak berani membantah. Ia hanya menarik napas panjang, lalu berkata.

"Baiklah, Hong-moy dan tentang mencari Ibumu..."

Ia berhenti karena teringat bahwa kini tidak ada artinya lagi membantu gadis yang ternyata memiliki kepandaian jauh lebih lihay daripada kepandaiannya sendiri itu.

"Ah.... orang macam aku ini mempunyai kegunaan apakah? Biarlah, aku hanya akan mencoba mendengar-dengar dimana adanya Ibumu, Hong-moy."

In Hong terharu juga. Ia tahu akan isihati pemuda ini.

"Bantuanmu masih amat kuperlukan, Yo-Twako. Nah, selamat berpisah dan mudah-mudahan tak lama lagi kita akan dapat bertemu pula."

Yo Kang memberi hormat kepada Wu Wi Thaisu, lalu melompat ke atas kudanya dan membalapkan kuda itu pulang ke See-Ciu.

Ia benar-benar merasa terpukul dan malu kepada diri sendiri dan semenjak saat itu, ia melempar jauh-jauh julukan Bu-Tong Sin-To dan bahkan tidak mau lagi bicara tentang ilmu silat!

Setelah Yo Kang pergi, In Hong berkata lagi kepada Wu Wi Thaisu.

"Bagaimana, Totiang, apakah kau masih tidak mau menolongku? Ingat janjimu tadi. Pantaskah seorang tokoh kedua dari Go-Bi-Pai menarik kembali janjinya? Ingat, aku tidak akan segan-segan untuk mengabarkan hal ini di dunia kang-ouw!"

Wu Wi Thaisu kewalahan dan menarik napas panjang dengan sikap duka.

"Baiklah, Kwee-Lihiap. Ada orangnya yang tahu betul akan hal itu, bahkan yang menyaksikan dengan mata kepala sendiri ketika Gurumu tewas. Dia itu adalah muridku sendiri yang bernama Wi Tek Tosu, Guru dari Tek Seng Cu. Aah, kami harus menanggung seluruh dosa yang dilakukan oleh Tek Seng Cu. Marilah, mari kita menemui Wi Tek Tosu yang berada di tempat tidak jauh dari sini."

Setelah berkata demikian, Wu Wi Thaisu menggerakkan kedua kaki dan mengibaskan tangan, maka melesatlah tubuhnya karena ia sudah mempergunakan ilmu lari cepat.

In Hong tidak mau tertinggal dan cepat mengejar.

Dalam hal ilmu lari cepat, ia tidak kalah lihay oleh Tosu tua dari Go-Bi-Pai ini maka ia dapat mendampinginya.

Ternyata Wu Wi Thaisu tidak membawanya pergi jauh, hanya kurang lebih tigapuluh lie dari dusun tadi.

Mereka tiba di sebuah dusun yang sunyi di lereng gunung kecil dan Wu Wi Thaisu mengajak In Hong menuju ke sebuah kelenteng bertembok kuning yang berdiri di lereng itu.

"Disinilah tempat Pinto untuk sementara waktu kalau Pinto turun dari Go-bi-san,"

Kata Tosu itu setelah mereka berjalan memasuki pekarangan kelenteng.

"Di dalam sebuah kamar di kelenteng ini kau akan bertemu dengan orang yang telah menyaksikan sendiri bagaimana Gurumu itu tewas. Mari kau ikut Pinto!"

Hati In Hong berdebar keras.

Suhunya sudah tewas dan ia akan bertemu dengan orang yang dapat menceritakannya tentang kematian Gurunya itu.

Ia harus membalas dendam dan kalau ia sudah tahu siapa yang membunuh Gurunya, ia takkan berhenti sebelum dapat membalas sakit hati ini.

Wu Wi Thaisu berhenti di depan sebuah kamar.

Kamar ini kecil saja, paling besar dua meter persegi.

Daun pintunya tertutup dan di antara dua daun pintu ditempeli kertas biru yang ada tulisannya, TEMPAT HUKUMAN MURID BERDOSA.

Kalau pintu itu dibuka, tentu tempelan ini akan rusak dan robek.

Di dekat pintu itu terdapat sebuah jendela tak berdaun, atau lebih tepat disebut lubang angin karena tingginya satu kaki dan lebarnya tidak ada satu kaki.

Inipun di tengah-tengahnya masih ada sebatang rujinya sehingga tak mungkin orang dapat keluar dari lubang itu tanpa merusaknya.

Karena Wu Wi Thaisu mengajak In Hong berhenti di depan lubang itu, tampaklah oleh In Hong seorang Tosu setengah tua duduk bersila menghadapi tembok di dalam kamar itu.

Tosu ini duduk bersamadhi di atas sebuah pembaringan kayu yang kasar, tak bergerak seperti sebuah arca.

In Hong tidak mengenal Tosu ini dan belum pernah melihatnya, maka ia memandang kepada Wu Wi Thaisu dengan mata bertanya.

"Dia adalah Wi Tek Tosu, muridku, dan Guru dari Tek Seng Cu,"

Katanya perlahan, kemudian, melalui lubang itu ia berkata kepada Tosu yang sedang bersamadhi.

"Wi Tek, nona Kwee In Hong murid Hek Moli sudah datang dan kau harus menceritakan semua peristiwa itu sejelasnya kepada Kwee-Lihiap."

Tanpa menoleh, Tosu itu berkata.

"Suhu, Teecu sudah berdosa, sudah melanggar pantangan sucouw, dan Teecu sudah menerima hukuman Suhu, bersedia untuk dikurung disini selama lima tahun. Bahkan Teecu rela andaikata Suhu mengurung Teecu disini sampai mati. Akan tetapi, apa perlunya Teecu bicara dengan murid Hek Moli? Teecu sudah kehilangan tiga orang Sute, sudah kehilangan murid, semua gara-gara Hek Moli, jangan-jangan kalau melihat murid Hek Moli, Teecu akan lupa diri dan melakukan pelanggaran lagi!"

"Wi Tek, Pinto sudah berjanji kepada Kwee-Lihiap dan Pinto sudah kena dikalahkan dalam pertandingan. Ini sebuah perintahku dan kau tidak boleh melanggar!"

Wu Wi Thaisu membentak.

Wi Tek Tosu memutar tubuhnya dan memandang kepada In Hong.

Ia kelihatan heran sekali melihat seorang nona begini muda.

Betulkah Suhunya kalah oleh nona ini?

Benar-benar luar biasa dan hampir tak mungkin ia percaya.

Akan tetapi ia tidak berani membantah kehendak Suhunya, maka dengan muka merengut dan tanpa menatap wajah In Hong, ia lalu menuturkan peristiwa pertempuran dengan Hek Moli secara singkat.

"Aku dengan tiga orang Suteku, Wi Kong Tosu, Wi Jin Tosu dan Wi Liang Tosu, dan muridku Tek Seng Cu, dibantu pula oleh tiga orang tokoh Kun-Lun-Pai, Cu Sim San-Lojin, Kim Sim San-Lojin, dan Sun Sim San-Lojin menantang Hek Moli mengadakan pertandingan di puncak O-mei-san. Hek Moli datang dan kami mengeroyoknya. Tiga orang Suteku dan muridku tewas, akan tetapi syukur aku dan tiga San-Lojin dari Kun-Lun-Pai berhasil membikin mampus iblis wanita itu. Nah, kau sudah mendengar penuturanku!"

Setelah berkata demikian, Wi Tek Tosu memutar tubuhnya kembali, mengha-dapi tembok dan bersamadhi untuk melanjutkan hukumannya!

Sepasang alis In Hong berdiri dan sekali gadis ini menggerakkan tangan, terdengar suara keras dan ruji baja dilubang itu telah patah!

Ia mencabut pedangnya dan berseru.

"Bagus, kau seorang di antara pembunuh-pembunuh Guruku, kau harus mampus sekarang juga!"

Akan tetapi Wu Wi Thaisu cepat menghadang di depan jendela itu dan menggeleng-geleng kepalanya.

"Kwee-Lihiap, kau benar-benar tidak adil. Coba kau berpikir dengan tenang. Peristiwa permusuhan ini yang menjadi biangkeladi adalah Gurumu sendiri. Kalau Gurumu dahulu tidak naik ke Go-Bi-Pai mengajak pibu, tentu Tek Seng Cu tidak akan buntung tangannya, dan muridku ini bersama saudara-saudaranya tidak akan menaruh hati dendam. Ketua kami sudah melarang dia mencari permusuhan, akan tetapi diam-diam ia tidak dapat memadamkan api dendamnya sehingga ia menantang Hek Moli. Kemudian akibatnya lebih hebat lagi, karena kami kehilangan empat orang murid Go-Bi-Pai. Biarpun Gurumu tewas, akan tetapi empat orang murid kami juga tewas, dan kau lihat buktinya sendiri, Wi Tek Tosu sudah kami hukum untuk lima tahun di kamar ini. Apakah kau masih penasaran? Bukankah kematian Gurumu sudah terbalas lebih dari cukup?"

"Guruku tewas akibat pengeroyokan yang curang dan licik. Kalau murid-muridmu tidak curang dan mengeroyoknya, mana bisa Guruku tewas? Sungguh tak tahu malu, tujuh orang mengeroyok seorang lawan!"

In Hong marah sekali, juga berduka mendengar akan nasib Gurunya.

"Kwee-Lihiap, Gurumu memang berkepandaian tinggi, sehingga Ketua kami barulah dapat mengimbanginya. Biarpun dikeroyok oleh empat orang murid Go-Bi-Pai, mana bisa dia kalah? Buktinya, dibantu oleh tiga tokoh Kun-Lun, masih saja tiga orang murid kami tewas. Pinto sendiri tidak akan menang dari Gurumu, mana bisa orang seperti muridku ini menewaskan Gurumu? Hanya karena ketiga San-Lojin dari Kun-Lun-Pai, maka akhirnya Gurumu tewas. Pihak Go-Bi-Pai sudah menebusnya dengan empat nyawa dan bahkan seorang dihukum lima tahun, ini sudah lebih dari cukup. Sebaliknya, pihak Kun-Lun-Pai, yang tidak kehilangan seorangpun murid, telah menjatuhkan Gurumu. Maka kalau kau merasa penasaran, mengapa mencari disini?"

Wu Wi Thaisu memang cerdik.

Tidak saja kata-katanya memang beralasan, akan tetapi ia sengaja hendak mengadu gadis ini dengan pihak Kun-Lun-Pai.

Ia dapat melihat bahwa gadis ini berwatak ganas seperti Hek Moli, dan sukarlah menundukkannya apabila kelak gadis ini menjadi jahat dan ganas.

Hanya pihak Kun-Lun-Pai yang memiliki banyak orang berkepandaian tinggi kiranya dapat mengalahkan gadis ini.

Gurunya sendiri, Pek Eng Thaisu, tidak mau turun gunung lagi, maka sebaiknya menyuruh gadis ini menyerbu ke Kun-Lun!

In Hong dapat menerima alasan ini, maka dengan gemas ia berkata.

"Kalau aku tidak dapat menewaskan tiga San-Lojin Kun-Lun-Pai yang telah membunuh Guruku, aku bersumpah tidak mau jadi orang lagi!"

Setelah berkata demikian, In Hong berkata kepada Wi Tek Tosu melalui jendela yang sudah rusak itu.

"Aku memandang muka Wu Wi Thaisu dan mengampunimu. Akupun menghabiskan permusuhan antara aku dan Go-Bi-Pai. Harap kau suka katakan bagaimana selanjutnya dengan jenazah Guruku."

Namun Wi Tek Tosu tidak menjawab, diam saja tidak bergerak sedikitpun.

Wu Wi Thaisu tidak enak melihat ini, karena ia maklum bahwa betapapun juga di dalam hati Wi Tek Tosu masih terkandung kebencian terhadap Hek Moli.

"Kwee-Lihiap, muridku sudah bercerita kepadaku bahwa jenazah Gurumu itu dikubur baik-baik oleh pendekar gagah yang bernama Ong Tiang Houw. Kau tentu kenal padanya, bukan?"

In Hong mencatat nama ini dan merasa berterima kasih sekali.

"Aku sudah mendengar namabesarnya akan tetapi belum mendapat kehormatan bertemu muka dengan orangnya. Kelak aku akan mencarinya dan menghaturkan terima kasih. Nah, selamat tinggal, Totiang." (Lanjut ke

Jilid 06) Bayangan Bidadari/Sian Li Eng Cu (Cerita Lepas) Karya. Asmaraman S. Kho Ping Hoo

Jilid 06 Setelah berkata demikian, In Hong melompat keluar dari kelenteng itu dan pergi dengan cepat sekali.

Hatinya penuh kemarahan terhadap Kun-Lun-Pai dan ia mengambil keputusan untuk menunda usahanya mencari Ibunya, dan hendak langsung menyerbu ke Kun-Lun-Pai, membalas dendam Gurunya kepada ketiga Kun-Lun San-Lojin!

Kun-Lun-Pai atau partai persilatan cabang Kun-Lun adalah sebuah di antara lima partai persilatan terbesar di Tiongkok.

Tidak saja terbesar karena banyak memiliki anak murid, akan tetapi juga besar namanya karena anak-anak murid keluaran Kun-Lun-Pai merupakan jago-jago silat dan pendekar-pendekar yang disegani.

Pegunungan Kun-Lun-San yang amat besar, seperti halnya pegunungan Go-bi-san, menjadi tempat pelarian para Pertapa.

Oleh karena letaknya di Tiongkok Barat, maka selain Pertapa-Pertapa bangsa Tiongkok sendiri, banyak juga bangsa-bangsa lain dari barat yang meyakinkan kehidupan mistik dan memilih jalan menjadi Pertapa, datang ke puncak gunung ini untuk memilih tempat yang permai, indah, bersih dan menenangkan hati.

Kedatangan para Pertapa dari luar inilah yang menimbulkan pelbagai macam ilmu silat, karena sudah menjadi kelajiman bahwa para perantau dan Pertapa itu tentu memiliki ilmu kepandaian yang tinggi.

Memang ilmu silat tak dapat di-pisah-pisahkan dengan ilmu batin, keduanya merupakan cabang dari satu sumber, sungguhpun ilmu silat diumpamakan kembangnya, ilmu batin adalah tangkainya.

Maka tidak heran apabila Kun-Lun-Pai menurunkan banyak murid dengan pelbagai macam kepandaian, ada ahli pedang, ahli golok, ahli tombak, bahkan di antara anak murid yang sudah pandai terdapat pula ahli-ahli silat yang mempergunakan senjata-senjata aneh seperti poan-koan-pit (alat menulis), hud-tim (kebutan Pendeta), ikat pinggang, ujung lengan baju, senjata roda dan lain-lain.

Memang partai persilatan Kun-Lun-Pai amat kaya dengan perkembangan ilmu silatnya.

Kun-Lun-Pai membuka cabang di banyak tempat, akan tetapi pusat atau sumbernya tetap saja di puncak sebuah gunung di pegunungan Kun-Lun-Pai.

Di tempat ini didirikan sebuah kelenteng besar dan disinilah tinggalnya Guru-Guru besar dari partai Kun-Lun.

Disini pula anak-anak murid yang akan mewakili dan menjadi pengurus cabang digembleng dengan ilmu silat dan ilmu batin.

Pada waktu itu, yang menjadi ciang-bun-jin atau Ketua dari Kun-Lun-Pai adalah Pek Ciang San-Lojin, seorangKakek yang usianya sudah hampir tujuhpuluh tahun.

Sebetulnya dalam urutan, baik usia maupun tingkat kepandaian, Pek Ciang San-Lojin tak dapat dikatakan paling tinggi.

Akan tetapi, pengangkatan ciang-bun-jin oleh Guru besar bukanlah semata-mata berdasarkan usia dan kepandaian, melainkan sifat dan watak calon Ketua itu.

Pek Ciang San-Lojin mempunyai watak tegas dan kebijaksanaan, maka ia terpilih oleh mendiang Gurunya.

Masih ada Sute (adik seperguruan) dan bebe-rapa orang Suheng (kakak seperguruan) yang biarpun memiliki kepandaian yang tidak kalah olehnya, namun hanya menjadi pembantu-pembantu biasa saja, bahkan di antaranya ada yang memilih tugas sebagai tukang masak dan tukang kebun!

Akan tetapi oleh karena sifat pekerjaan mereka dan juga watak mereka amat sederhana dan tidak pernah memperlihatkan diri di dunia kangouw, mereka yang tidak menduduki tempat penting ini tentu saja tidak dikenal orang.

Yang terkenal di dunia kangouw pada waktu itu, selain Pek Ciang San-Lojin sendiri, adalah Kun-Lun Sam-lojin (Tiga orangtua Kun-Lun), yakni tiga orang murid Pek Ciang San-Lojin, yang bernama Cu Sim San-Lojin, Kim Sim San-Lojin, dan Sun Sim San-Lojin.

Mereka bertiga ini adalah mereka yang dulu membantu tokoh-tokoh Go-Bi-Pai menewaskan Hek Moli.

Mereka juga menduduki tempat penting di Kun-Lun-Pai.

Cu Sim San-Lojin yang memiliki kebijaksanaan menjadi wakil dari Pek Ciang San-Lojin dan agaknya dia inilah yang menjadi calon ciang-bun-jin kelak.

Kim Sim San-Lojin mendapat tugas sebagai kepala bagian penjaga keamanan karena ia berdisiplin dan keras, maka dahulu belasan tahun yang lalu ketika Hek Moli menyerbu ke Kun-Lun-Pai, dia inilah yang menghadapinya langsung dan akhirnya kena dikalahkan oleh Hek Moli.

Sun Sim San-Lojin, murid ketiga dari Pek Ciang San-Lojin, orangnya berbakat mengajar, pandai sekali menerangkan tentang teori persilatan, maka oleh Gurunya ia diangkat menjadi wakilnya dalam memberi pelajaran kepada semua anak murid Kun-Lun-Pai.

Dahulu ketika Wi Tek Tosu dari Go-Bi-Pai datang minta bantuan untuk mengalahkan Hek Moli, tiga orang tokoh Kun-Lun-Pai ini hanya mau pergi setelah mendapat perkenan dari Pek Ciang San-Lojin.

Wi Tek Tosu secara pandai telah menghasut dan memanaskan hati tokoh-tokoh Kun-Lun-Pai dengan menyatakan bahwa Hek Moli amat ganas dan kejam, merupakan bahaya di dunia kangouw.

Pek Ciang San-Lojin memang mempunyai watak yang tegas dan paling benci akan kejahatan.

Mendengar penuturan Wi Tek Tosu itu, ia lalu memberi ijin kepada tiga orang muridnya untuk membantu Pendeta Go-bi itu untuk melenyapkan seorang berbahaya dan jahat seperti Hek Moli.

Maka, sekembali mereka dari O-mei-san, tiga orang tokoh Kun-Lun ini tidak mengkhawatirkan sesuatu dan menganggap bahwa kematian Hek Moli sudah semestinya sebagai hukuman atas semua kejahatan dan keganasan yang telah dilakukannya.

Akan tetapi, pada suatu hari, dari bawah gunung yang dijadikan pusat oleh Kun-Lun-Pai itu, berkelebat bayangan yang gesit sekali gerakannya.

Bayangan ini bukan lain adalah In Hong yang sengaja datang ke Kun-Lun untuk menuntut balas atas kematian Gurunya.

Kun-Lun-Pai bukan partai persilatan yang ternama dan besar kalau gerakan In Hong ini tidak diketahui oleh para penjaga.

Sebelum gadis itu tiba di depan kelenteng, Kim Sim San-Lojin sudah siap-sedia menyambut kedatangan orang yang mencurigakan ini!

Setelah kelenteng itu kelihatan menjulang tinggi di dekat puncak, In Hong menahan gerakan kakinya dan berjalan biasa menghampiri kelenteng itu.

Di depan kelenteng terdapat sebuah pekarangan yang amat lebar.

Dari jauh sudah kelihatan para Pendeta sibuk bekerja, ada yang memikul kayu, ada yang berjalan membawa keranjang daun obat, Ada pula yang sedang menyapu daun-daun kering membersihkan pekarangan.

Kelihatan tenteram dan damai sehingga tak enak jugalah hati In Hong.

Namun ia berjalan terus, memasuki pintu gerbang pekarangan yang luas itu.

Betapapun juga, Gurunya telah ditewaskan oleh tiga orang tokoh Kun-Lun-Pai yang tinggal di kelenteng itu dan ia harus menuntut balas!

Dengan langkah lebar dan gagah gadis ini maju terus, tidak perdulikan pandangan mata beberapa orang Tosu yang berada di pekarangan itu.

Bahkan ia tidak perduli kepada seorang Tosu tua berkepala botak yang menyapu daun-daun kering sambil bernyanyi kecil, diseling ketawa-tawa seperti seorang yang miring otaknya.

Ketika ia tiba di tengah pekarangan, seorang Tosu berjenggot panjang hitam menghadangnya.

Tosu ini memandang tajam, lalu menjura dan berkata.

"Nona, kami tidak pernah menerima tamu wanita dan tidak seorangpun wanita diperkenankan memasuki kelenteng. Kalau nona ada keperluan, katakan saja kepada Pinto, nona ini siapa dan ada keperluan apakah datang di tempat ini?"

Tanpa memberi hormat dan dengan sikap ketus, In Hong menjawab.

"Namaku Put Hauw Li dan aku datang perlu bertemu dan bicara dengan Pek Ciang San-Lojin."

Memang gadis ini ingin bertemu dengan Ketua Kun-Lun-Pai untuk menegur tentang pengeroyokan atas diri Gurunya.

Betapapun juga, Gurunya pernah menuturkan kepadanya bahwa Kun-Lun-Pai adalah partai persilatan besar dan kuat, maka dalam urusan ini tidak baik bersikap sembrono dan lebih baik kalau langsung berhadapan dengan Ketuanya untuk minta pertanggungan jawabnya.

"Suhu sedang bersamadhi dan tidak boleh diganggu. Kalau nona ada urusan, harap disampaikan kepada Pinto dan Pinto akan melaporkan ke dalam,"

Kata pula Kim Sim San-Lojin dengan suara sabar.

"Tidak bisa disampaikan kepada orang lain. Suruh Pek Ciang San-Lojin keluar menjumpaiku, atau aku akan masuk saja langsung menemuinya."

Kim Sim San-Lojin mulai marah dan ia memandang kepada gadis itu dengan kening berkerut.

"Nona, kau dilarang keras memasuki kelenteng. Kalau kau tidak mau menyampaikan kepada Pinto, maaf, harap kau kembali saja. Belum pernah ada wanita diperkenankan memasuki kelenteng, itu aturan kami."

In Hong tersenyum mengejek.

"Ketika wanita-gagah Hek Moli datang kesini, apakah dia juga tidak masuk ke dalam?"

Kim Sim San-Lojin terkejut mendengar ini, akan tetapi ia masih dapat menekan perasaannya dan sebagai seorang Pendeta yang banyak pengalaman dan banyak menghadapi orang-orang bermacam sifat, ia dapat berlaku tenang dan sabar.

"Biarpun Hek Moli sendiri ketika datang kesini, tidak diperbolehkan masuk ke dalam,"

Jawabnya.

In Hong menjadi naik darah.

Ketika tadi mendengar bahwa Tosu ini menyebut Guru kepada Pek Ciang San-Lojin, ia sudah dapat menduga bahwa Tosu ini tentulah seorang di antara Kun-Lun Sam-lojin (TigaKakek Kun-Lun), atau seorang di antara tiga tokoh Kun-Lun yang menewaskan Gurunya.

Akan tetapi ia tidak mau turun tangan dulu sebelum bicara dengan Ketua Kun-Lun-Pai.

"Kalau begitu, biarlah aku sekeluarga mematahkan pantangan itu,"

Katanya dan secepat kilat tubuhnya berkelebat melewati sebelah Tosu itu, hendak berlari memasuki kelenteng.

"Perlahan dulu, nona!"

Kim Sim San-Lojin menggerakkan tangan dan ujung lengan bajunya menyambar dengan totokan ke pundak In Hong untuk mencegah gadis itu melanjutkan niatnya.

Tosu itu melihat jelas betapa ujung lengan bajunya mengenai pundak In Hong, akan tetapi bukan main terkejut dan herannya ketika ia melihat gadis itu seakan-akan tidak merasai totokannya dan berlari terus cepat sekali!

Memang In Hong sengaja tidak mau menangkis atau melayani Tosu ini karena ia bermaksud untuk mencari Pek Ciang San-Lojin sebelum bertanding dengan tokoh-tokoh Kun-Lun.

Gadis yang cerdik ini tahu bahwa kalau ia menangkis, tentu ia akan terlibat dalam pertempuran, maka ketika ia merasa datangnya hawa pukulan, ia dapat menahan totokan itu.

Cepat ia mengerahkan hawa lweekang yang disalurkan ke pundak menutupi jalan darah dan ia berhasil menolak serangan itu.

Kim Sim San-Lojin tadi tidak mengerahkan seluruh tenaganya.

Pendeta ini walaupun tahu bahwa gadis yang naik ke gunung dengan mempergunakan ilmu lari cepat yang luar biasa ini tentu memiliki kepandaian, namun ia tidak tega untuk menjatuhkan tangan besi.

Dikiranya bahwa totokannya tadi yang disertai tenaga setengah bagian saja sudah cukup untuk menghalanginya masuk kelenteng.

Tidak tahunya totokannya seakan-akan tidak terasa oleh In Hong!

Baru ia maklum bahwa gadis yang demikian mudanya itu ternyata seorang ahli silat yang pandai.

Akan tetapi, gadis itu sudah memasuki kelenteng dan Kim Sim San-Lojin tersenyum.

Ia tidak mengejar, karena malu baginya kalau berkejar-kejaran dengan seorang demikian muda.

Sungguhpun gadis itu agaknya tidak mengandung maksud baik, namun ia tidak khawatir.

Di dalam kelenteng masih banyak kawan-kawan yang akan dapat menghalangi gadis itu.

Dengan tenang iapun berjalan memasuki kelenteng, sedangkan Tosu-Tosu lain melanjutkan pekerjaan mereka seakan-akan tak pernah terjadi sesuatu.

Tosu tua yang botak dan menyapu daun-daun kering tadi, tertawa-tawa kecil, menghentikan nyanyinya dan berkata-kata seorang-diri.

"Nona kecil berbakat sekali, sayang terdidik oleh tangan yang ganas..."

Ia lalu melanjutkan pekerjaannya.

Adapun In Hong, ketika tiba di ruangan depan kelenteng itu, terheran-heran melihat kelenteng itu sunyi saja.

Yang ada hanya tiga orang Tosu setengah tua yang sedang bersembahyang.

Selain ini, tidak ada siapa-siapa lagi dan keadaannya sunyi mengandung rahasia.

In Hong tidak berani mengganggu Tosu-Tosu yang sedang bersembahyang itu, maka ia lalu berjalan terus masuk ke sebelah dalam.

Ternyata di sebelah dalam kelenteng ini amat besar dan luas.

Kelihatan bangunan-bangunan kecil di sana sini, lorong-lorong yang lebar sehingga ia menjadi bingung.

Ia tidak tahu dimana adanya Pek Ciang San-Lojin, maka ia lalu memasuk lorong sebelah kiri yang menuju ke sebuah ruangan terbuka.

Tanpa mengetahui bahwa semua gerak geriknya diikuti oleh banyak pasang mata, In Hong maju terus.

Ia memasuki ruangan terbuka yang berada di tengah-tengah.

Ruangan ini adalah ruangan tempat belajar atau berlatih ilmu silat yang disebut lian-bu-thia.

Lebar sekali tempat ini, karena selain dipergunakan untuk tempat berlatih silat, juga di tempat inilah biasa diadakan pertemuan antara Tosu-Tosu dan anak-anak murid Kun-Lun-Pai yang banyak jumlahnya.

Di tempat ini, beberapa bulan sekali, ciang-bun-jin dari Kun-Lun-Pai, yakni Pek Ciang San-Lojin, dihadap oleh puluhan orang anggauta Kun-Lun-Pai, memberi pelajaran tentang ilmu batin dan menguraikan ujar-ujar kuno dari kitab-kitab agama To.

Ketika In Hong tiba di ruangan ini, keadaan disitu sunyi belaka, akan tetapi tiba-tiba ia mendengar suara di belakangnya.

Ketika ia menengok, ia melihat seorang Tosu tua telah duduk di atas bangku bundar, bersila dan memegang sebuah kitab sambil membacanya perlahan-lahan.

In Hong terkejut dan kagum.

Tadi ketika masuk ia tidak melihatKakek ini, akan tetapi bagaimana tiba-tiba bisa berada disitu?

Terang bahwa Tosu ini memiliki ginkang yang sudah tinggi sekali sehingga gerakannya amat ringan dan cepat.

Ia mendengar Tosu itu membaca ayat-ayat dari kitab To Tek Keng tentang sifat air menurut pandangan filsafat besar Lo Cu.

"Tiada kelembutan melampaui air. Namun dalam menanggulangi kekerasan Tiada kekuatan di dunia dapat melebihinya, Karenanya tiada yang dapat menggantikannya. Kelemahan mengalahkan kekuatan, Kelembutan mengalahkan kekerasan. Namun tiada yang dapat mengetahuinya, Tiada yang dapat menjalankannya."

Tosu itu hendak melanjutkan bacaannya yang memang masih ada lanjutannya, akan tetapi ia dipotong oleh In Hong yang bersajak dengan suara keras mengejek.

"Lidah memang tak bertulang Mudah saja setiap orang menggoyang, Tapi, biarpun lidah Pendeta Suci Mana bisa mencerminkan isi hati? Air bersifat lembut, kuat, dan jujur Mana sama dengan hati Tosu-Tosu terkebur? Kalau tidak dikeroyok Tosu-Tosu ganas Tak mungkin wanita gagah Hek Moli tewas!"

Ketika berguru kepada Hek Moli, In Hong hanya sedikit saja mendapat pelajaran ilmu membaca dan menulis.

Akan tetapi Gurunya itu pandai sekali bernyanyi, nyanyian dari Nepal yang dinyanyikan dalam bahasa Han, dan nyanyian ini terisi yang bersajak indah.

Oleh karena amat tertarik dan suka sekali akan nyanyian-nyanyian ini, maka In Hong yang berotak cerdas itu pandai membuat sajak.

Sekarang mendengar ayat-ayat kitab To Tek Keng yang tidak pernah didengarnya, sekali mendengar saja maklumlah ia bahwa Tosu itu menyindirnya dan memperingatkannya.

Akan tetapi, sebagai balasan, sekaligus ia dapat mengucapkan sajak yang membalas sindiran itu, benar-benar gadis ini berotak cerdik sekali.

Ketika Tosu itu mendengar sajak ini, ia berdiri dan tersenyum, lalu menjura kepada In Hong.

"Nona, ketika tadi bertemu dengan Suhengku Kim Sim San-Lojin, kepala penjaga, kau menyebut-nyebut nama Hek Moli. Sekarang, dihadapan Pinto, Sun Sim San-Lojin, kaupun kembali menyebut nama Hek Moli. Kau masih ada hubungan apakah dengan Hek Moli dan apakah kehendakmu datang disini?"

"Dia adalah Guruku, yang telah kalian bunuh dengan cara amat curang! Mana Pek Ciang San-Lojin? Suruh dia keluar dan mempertanggung jawabkan perbuatan yang amat rendah dan curang daripada murid-muridnya!"

"Nona, kau mengaku bernama Put Hauw Li (Anak perempuan Tidak Berbakti), sungguh sebuah nama yang tidak harum! Apalagi kalau ditambah dengan sepak terjangmu ini, sungguh sayang sekali Pinto terpaksa menyatakan bahwa masa -depanmu tidak begitu terang. Insaflah bahwa disini bukan tempat dimana kau boleh berbuat sesukamu. Kalau kau ada urusan, boleh katakan di depan Pinto dan akan Pinto pertimbangkan."

"Tosu bau! Kau kira aku takut padamu? Kalau aku menurutkan hawa nafsu dan tidak mengindahkan Kun-Lun-Pai, apa kau kira aku perlu bertemu dengan ciang-bun-jin dari Kun-Lun-Pai? Tak usah banyak cakap dan jangan mencoba untuk memanaskan hatiku, lekas panggil keluar ciang-bun-jin dari partaimu!"

"Nona, Pinto disini dan Pinto menjadi wakil ciang-bun-jin Kun-Lun-Pai!"

Tiba-tiba terdengar suara yang halus dan berpengaruh dan tahu-tahu disebelah kiri telah berdiri seorang Tosu lain yang usianya sebaya dengan pembaca kitab tadi.

Kembali In Hong harus mengaku bahwa gerakan Tosu inipun amat ringan dan cepat, maka diam-diam ia berlaku waspada dan insaf bahwa ia berada di tempat yang berbahaya, dimana terdapat banyak sekali lawan yang amat lihay.

"Nona Put Hauw Li, Pinto Cu Sim San-Lojin mewakili Suhu untuk menanyakan maksud kedatanganmu,"

Kata pula Tosu ini.

In Hong menahan kemarahannya.

Sekarang ia sudah melihat tiga orang Tosu yang telah menyebabkan kematian Gurunya, dan sebelum ia menjawab, seorang Tosu berjalan masuk melalui pintu depan dengan tindakan perlahan.

Ketika In Hong melirik, ternyata bahwa Tosu ini adalah Kim Sim San-Lojin yang tadi ia jumpai di luar.

Sekarang lengkaplah tiga orang Tosu pembunuh Gurunya!

Namun, In Hong masih menahan kemarahannya dan tidak akan turun tangan sebelum ia men-dengar jawaban dari Ketua Kun-Lun-Pai, yakni Pek Ciang San-Lojin.

"Kalian bertigaah yang bersekongkol dengan Pendeta-Pendeta busuk dari Go-bi, yang secara curang telah menewaskan Guruku! Bagaimana aku sudi bercakap-cakap dengan kalian? Lekas minta keluar Gurumu, Pek Ciang San-Lojin, kalau tidak, terpaksa aku akan masuk dan mencarinya sendiri!"

Sikap In Hong ini membikin marah kepada Cu Sim San-Lojin yang biasanya amat sabar dan ramah.

"Nona, harap kau jangan keterlaluan, jangan mendesak secara kurangajar. Guruku mana bisa keluar dari tempat samadhi sebelum waktunya, apalagi untuk menemui seorang anak kecil seperti kau? Tidak, nona, lebih baik kau ber-urusan dengan kami saja, dan segala apa akan beres."

"Kalau aku memaksa masuk, kalian mau apa?"

"Tak mungkin, kami seluruh anak murid Kun-Lun-Pai takkan membiarkan kau bertindak sewenang-wenang dan sesuka hati disini,"

Kata Cu Sim San-Lojin dan tiga kali ia bertepuk tangan, maka dari segala jurusan muncullah Tosu-Tosu bermacam bentuk dan usia dan sebentar saja tempat itu telah penuh oleh Tosu yang jumlahnya tidak kurang dari tujuhpuluh orang!

In Hong yang berhati keras dan tabah sekali, tidak menjadi gentar, sungguhpun ia tahu bahwa tak mungkin ia dapat menghadapi sekian banyaknya lawan yang rata-rata memiliki kepandaian silat tinggi.

"Hm, nama besar Kun-Lun-Pai tidak tahunya hanya kesombongan palsu dan kosong belaka. Siapa orangnya di dunia kangouw mau percaya bahwa ratusan orang Tosu Kun-Lun-Pai hendak mengeroyok dan menakut-nakuti seorang gadis yang usianya baru sembilanbelas tahun?"

Kata-kata ini ia ucapkan dengan suara keras sekali karena ia sengaja mengerahkan sinkangnya dan ia sengaja pula melebih-lebihkan dengan menyebut ratusan orang Tosu, padahal sebenarnya iapun tahu tidak ada begitu banyak.

Pada saat itu, terdengar suara halus suara dan lambat seperti suara seorang anak kecil.

"Ada apakah ribut-ribut ini? Aah, dalam kelenteng pun masih saja Pinto tak dapat mengaso tenteram!"

Cu Sim San-Lojin dan kedua Sutenya, juga semua Tosu yang berada di lian-bun-thia itu, menjadi kaget sekali mendengar ini.

Mereka semua lalu mengundurkan diri, berdiri di pinggiran sambil menundukkan kepala membungkukkan pinggang.

Beberapa orang Tosu yang tadi berdiri membelakangi sebuah pintu, cepat-cepat pergi dari situ dan segera terbuka sebuah jalan.

Didahului oleh suara berketuknya tongkat di lantai, muncullah seorang Tosu yang bertubuh tinggi besar, berwajah angker berpengaruh, usianya enampuluh tahun lebih, jubahnya lebar dan kepalanya memakai topi yang jarang sekali kelihatan dipakai oleh Tosu, sedangkan di punggungnya tergantung sebuah pedang pendek yang sarungnya indah sekali.

Setelah tiba disitu, Tosu tua ini menyapu seluruh yang hadir dengan sepasang matanya yang tajam.

Tak seorangpun Tosu disitu berani bergerak atau mengangkat kepala.

Kemudian pandangan mata Tosu itu melirik ke arah In Hong.

Ia nampak tak senang, mengerling tajam ke arah Cu Sim San-Lojin dan berkata, suaranya tidak halus dan lambat lagi, melainkan nyaring dan tajam menusuk.

"Cu Sim, kau tidak memenuhi tugasmu dengan baik. Bagaimana ada seorang nona dapat memasuki lian-bu-thia?"

Cu Sim San-Lojin menjadi merah mukanya dan ia memandang kepada In Hong dengan mata marah.

"Suhu, dengan halus Teecu sekalian sudah mencoba untuk mencegahnya masuk, akan tetapi nona ini berkeras hendak bertemu dengan Suhu. Mohon Suhu sudi memaafkan Teecu sekalian,"

Katanya dengan nada suara merendah.

Mendengar kata-kata Cu Sim San-lojian ini, In Hong tidak ragu-ragu lagi.

Inilah orangnya yang menjadi Ketua Kun-Lun-Pai, yang bernama Pek Ciang San-Lojin.

In Hong melirik ke arah kedua tangan yang memegang tongkat dan benar saja seperti yang dituturkan oleh Gurunya dahulu, kedua tangan Tosu tua ini putih sekali seakan-akan tidak ada darah pada telapak tangan dan jari-jari itu.

Inilah pula mengapa ia bernama Pek Ciang San-Lojin (Kakek Gunung bertangan putih).

"Apakah kau yang menjadi ciang-bun-jin Kun-Lun-Pai dan bernama Pek Ciang San-Lojin?"

Tanya In Hong kepada Tosu tua itu.

Semua Tosu menjadi marah sekali karena sikap gadis ini benar-benar keterlaluan dan dianggap amat kurangajar.

Pek Ciang San-Lojin memutar tubuh menghadapi In Hong, sepasang alisnya yang tebal itu bergerak dan matanya memandang tak senang.

"Kau siapakah?"

Bentaknya.

"Suhu, dia mengaku bernama Put Hauw Li, murid dari iblis wanita Hek Moli,"

Kata Cu Sim San-Lojin.

"Pantas, pantas... Orang seperti dia mana bisa mempunyai murid yang tahu aturan? Nona, kau sudah melakukan pelanggaran besar, memaksa masuk ke dalam kelenteng kami. Kau berkeras hendak bertemu dengan Pinto, ada urusan apakah?"

Melihat sikap Ketua Kun-Lun-Pai yang keras ini, hati In Hong sudah menjadi mendongkol sekali, maka iapun tidak memperlihatkan sikap merendah, suaranya terdengar kering dan ketus ketika menjawab.

"Totiang, aku datang kesini untuk menuntut agar kau sebagai ciang-bun-jin di Kun-Lun-Pai, mengadili murid-muridmu yang secara curang telah membunuh Guruku Hek Moli. Kalau aku tidak memandang muka perkumpulan dan Ketuanya, apakah aku perlu susah-susah bertemu denganmu? Aku tidak ingin turun tangan sendiri dan menyerahkan hukuman kepada tiga orang muridmu yang curang dan licik itu ke dalam tanganmu sendiri."

Pek Ciang San-Lojin tiba-tiba berubah air mukanya, tidak keren dan mengeras seperti tadi, kini ia tersenyum, agaknya geli mendengar kata-kata ini.

"Nona, kalau tidak melihat bahwa kau masih begini muda, masih terhitung anak-anak hijau, tentu ucapanmu ini akan menimbulkan sangkaan bahwa kau sudah gila. Kaupikir kau ini siapakah dapat memerintah Pinto dan kami sekalian anak murid Kun-Lun-Pai untuk berbuat apa yang kau kehendaki? Gurumu Hek Moli bukanlah orang baik-baik, dia yang mencari keributan disini. Kemudian, iapun menyerbu pelbagai partai persilatan dan sudah melukai serta membunuh entah berapa banyak orang. Akhir-akhir ini, dalam sebuah pibu ia tewas, hal sudah sewajarnya. Mengapa kau penasaran?"

"Akan tetapi Guruku tewas karena keroyokan tiga orang muridmu. Apakah perbuatan ini pantas? Bukankah itu perbuatan yang pengecut sifatnya?"

Pek Ciang San-Lojin mengerutkan keningnya dan suaranya keren lagi seperti tadi.

"Hek Moli jahat, jahat dan ganas, mencoba untuk menjatuhkan nama Go-Bi-Pai dan Kun-Lun-Pai dengan mengandalkan kepandaiannya. Biarpun dia berkepandaian tinggi, kalau dia jahat sudah menjadi kewajiban Kun-Lun-Pai untuk membasminya. Di dalam sebuah pibu tanpa perjanjian, seorang menghadapi banyak lawan bukanlah hal aneh. Empat orang Go-Bi-Pai tewas dan sebaliknya Hek Moli juga tewas, apa anehnya dalam sebuah pibu ada akibat terluka ataupun tewas? Sekarang kau sebagai murid Hek Moli, sudah melaku-kan pelanggaran, memasuki kelenteng secara kasar dan seperti orang yang memancing permusuhan. Akan tetapi oleh karena Pinto mempertimbangkan bahwa kau masih muda sekali, biarlah kali ini Pinto memberi ampun dan kau boleh lekas-lekas enyah dari sini!"

In Hong marah sekali dan ia membanting-banting kakinya dengan gemas sebelum menjawab.

"Pek Ciang kau terlalu menghina Guruku dan aku sendiri! Kau anggap bahwa Guruku sudah tewas dalam sebuah pibu, baik. Sekarang aku muridnya pun datang untuk menantang pibu kepada kau dan siapa saja tokoh Kun-Lun-Pai, hendak kulihat sampai dimana kepandaiannya maka berlagak sombong. Kalian mau maju seorang lawan seorang boleh, mau maju semua mengeroyokku pun baik, aku menyediakan nyawaku untuk membalas sakit hati Guruku!"

Setelah berkata demikian, In Hong mencabut pedang Liong-gan-kiam dan bersiap-sedia menghadapi lawan! "Perempuan liar, jangan kurangajar!"

Bentak Sun Sim San-Lojin yang menjadi marah sekali melihat sikap dan mendengar kata-kata In Hong terhadap Suhunya.

Ia menyerang dengan hud-timnya dan ujung kebutan itu meluncur ke arah pundak In Hong untuk menotok jalan darah, sedangkan tangan kirinya bergerak hendak merampas pedang.

Tosu ini sudah tahu akan kelihayan Hek Moli, akan tetapi terhadap murid Hek Moli, seorang gadis yang masih begitu muda, tentu saja ia memandang ringan.

Akan tetapi, dilain saat Tosu ini mencelat mundur dengan muka pucat.

Kebutannya telah terbabat putus oleh pedang nona itu dan kalau tadi ia tidak lekas-lekas mempergunakan gerakan Pek-liong-hoan-sin (Naga putih membalikkan tubuh) dan melompat ke belakang, tentu tangan kirinya akan terbabat putus pula!

Demikian cepat dan ganasnya gerakan pedang di tangan gadis itu.

"Begitu sajakah kelihayan Tosu Kun-Lun-Pai?"

In Hong yang tidak mengejar, tersenyum mengejek dengan sikap menantang.

"Hayo siapakah lagi yang mau main-main?"

Cu Sim San-Lojin dan Kim Sim San-Lojin marah sekali dan mereka sudah siap untuk turun tangan dan senjata mereka sudah disiapkan pula. Akan tetapi Pek Ciang San-Lojin berkata.

"Biar Pinto sendiri memberi hajaran kepada nona yang kejam dan ganas ini!"

Guru besar ini dari gerakan tadi sudah maklum bahwa ilmu pedang dari In Hong amat ganas dan cepat, dan kiranya kepandaian nona ini sudah mengimbangi kepandaian Hek Moli.

Kekalahan Sun Sim San-Lojin dalam segebrakan tadi biarpun terjadi karena Sun Sim San-Lojin kurang berhati-hati dan memandang terlampau rendah kepada lawan, namun sudah merupakan hal yang amat memalukan.

Kalau kedua muridnya yang lain maju kemudian kalah oleh nona yang masih ini, bukankah itu akan mencemarkan nama baik Kun-Lun-Pai?

Maka, dalam penasaran dan malunya, Pek Ciang San-Lojin sampai melupakan kedudukannya yang tinggi dan mau turun tangan sendiri menghadapi seorang lawan yang patut menjadi murid cucunya.

Mendengar ucapan Pek Ciang San-Lojin, In Hong juga berlaku waspada.

Memang kepandaiannya sudah hampir menyamai kepandaian Gurunya, bahkan dalam kecepatan ia mungkin masih menang, sungguhpun tenaga lweekangnya memang masih jauh daripada memuaskan.

Dahulu Gurunya baru roboh setelah dikeroyok tiga oleh Kun-Lun Sam-lojin dengan bantuan Tosu-Tosu Go-Bi-Pai pula, maka sekarang menghadapi tiga orang tokoh Kun-Lun-Pai itu ia tidak takut sama sekali, biarpun andaikata akan dikeroyok tiga.

Akan tetapi sekarang Pek Ciang San-Lojin sendiri yang akan maju.

Menghadapi-nya dan inilah lain lagi!

Sebagai Ketua partai Kun-Lun-Pai, In Hong percaya bahwa kepandaian Tosu tua ini pasti luar biasa sekali, maka ia harus menghadapinya dengan hati-hati.

Diam-diam tangan kiri gadis ini merogoh segenggam pasir hitam, senjata rahasianya yang disebut toat-beng-hek-kong (sinar hitam pencabut nyawa)!

Pada saat itu terdengar suara.

"Sreeek... Sreeek... Sreeek...!"

Dan masuklah seorang Tosu tua sambil menyeret sapunya yang menerbitkan suara itu ke dalam ruangan lian-bu-thia.

Dia ini bukan lain adalah Tosu tua tukang menyapu pekarangan depan yang tadi bekerja sambil bernyanyi-nyanyi dan tertawa-tawa seorang diri seperti orang gendeng.

Kini, Tosu yang lebih tua dari Pek Ciang San-Lojin ini, yang sudah tujuhpuluh tahun lebih usianya, menghampiri In Hong sambil menyeret sapunya.

"Tugasku sebagai tukang sapu disini, membersihkan segala kekotoran. Kalau masih ada aku disini, mengapa ciang-bun-jin harus turun tangan sendiri menyapu sehelai daun muda yang melayang turun mengotori ini? Biarkan aku tua bangka mengerjakannya."

Pek Ciang San-Lojin tadi sudah siap dengan tongkatnya untuk memberi hajaran kepada In Hong.

Melihat datangnya Tosu tua ini, ia segera melangkah mundur dan mukanya berobah merah.

Baru ia insaf bahwa tadi ia terlalu terburu nafsu dan hampir saja ia merendahkan nama Kun-Lun-Pai.

Bagaimana akan kata orang-orang kangouw kalau mereka mendengar betapa untuk mengusir seorang gadis muda yang datang mengacau, ciang-bun-jin dari Kun-Lun-Pai sendiri sampai turun tangan?

Hal ini sama saja dengan mengaku kepada dunia bahwa Kun-Lun-Pai sudah kehabisan orang pandai!

"Susiok (Paman Guru) memperingatkan Teecu dan datang membantu, itulah bagus sekali!"

Kata Pek Ciang San-Lojin dengan wajah berseri.

Tidak saja ia terbebas dari keadaan yang memalukan dan merendahkan kedudukannya, juga kalauKakek tua ini maju, pasti segalanya akan beres.

Andaikata Paman Gurunya ini sampai kalah oleh In Hong, maka kiranya tidak ada orang lain disitu yang akan dapat memenangkannya!

Tosu tua tukang sapu itu lalu membalikkan tubuh menghadapi In Hong, tersenyum-senyum dan matanya yang sipit itu berkejapan aneh.

"Kau murid Hek Moli? Mari kuantar kau keluar kembali, tak baik berada disini, di antara puluhan orang pria, sedangkan kau seorang gadis muda. Ha, ha, ha!"

Kata-kata ini diterima oleh In Hong sebagai penghinaan maka ia menjadi marah sekali.

"Tosu bau yang berotak miring. Kau juga ingin mampus? Lihat pedang!"

Seru In Hong marah dan pedangnya cepat sekali menusuk ke arah leher Tosu tua itu.

Gerakan serangan ini luar biasa cepatnya sehingga diam-diam Pek Ciang San-Lojin terkejut.

Benar-benar seorang gadis yang lihay sekali, pikirnya, dan baiknya yang menghadapinya adalah susioknya.

Maka ia tidak merasa khawatir sedikitpun, tahu akan kelihayan susiok itu.

Sebaliknya, In Hong terkejut bukan-main ketika tiba-tiba ujung pedangnya itu telah "Ditangkap"

Oleh sapu.

Sapu itu membelit ujung pedangnya dan betapapun ia membetot, tak berhasil ia melepaskan pedang dari libatan ini.

Ia tahu bahwa tenaga lweekangnya jauh lebih rendah daripada tenagaKakek aneh ini, maka diam-diam ia merasa gelisah sekali.

"Lepaskan pedang!"

Serunya dan kaki kirinya menendang ke arah gagang sapu lawannya.

Tosu tua itu menangkis dengan tangan kiri dan begitu kaki itu bertemu dengan lengan siKakek, In Hong terhuyung-hujung dan saat itu dipergunakan oleh Tosu itu untuk menarik sapunya dengan tenaga lweekang yang hebat sekali sehingga In Hong tak dapat menahan dan pedangnya terampas!

Bukan main marahnya gadis ini, sedangkan para Tosu disitu tersenyum-senyum girang.

Juga Pek Ciang San-Lojin tersenyum girang dan diam-diam memuji kelihayan susioknya yang aneh ini.

Akan tetapi kegirangan mereka itu terganti dengan kekagetan hebat ketika tiba-tiba tangan kiri In Hong yang marah menyambar dan sinar hitam menyambar ke arah tubuh Tosu tua tadi.

Tosu ini nampak terkejut, mengayun sapu dan lengan baju untuk menyampok pasir beracun itu.

Akan tetapi, biarpun sebagian besar pasir itu dapat ditangkis, masih ada yang menembus ujung lengan baju dan melukai lengannya.

Untuk beberapa detik Tosu tua ini terhuyung-uyung dengan muka pucat!

Akan tetapi, dilain saat, Tosu itu mengeluarkan seruan keras, tubuhnya melayang ke arah In Hong dan sapunya menyambar.

In Hong mengelak, namun kakinya masih terlibat oleh sapu dan tubuh gadis ini terguling!

Dilain saat,Kakek tua ini sudah mengempit tubuhnya dan sambil membawa tubuh gadis itu keluar, ia tertawa-tawa dan berkata.

"Biar aku melempar keluar daun ini, ha, ha, ha!"

Semua Tosu menarik napas lega, akan tetapi diam-diam Pek Ciang San-Lojin menjadi gelisah sekali.

Ciang-bun-jin dari Kun-Lun-Pai ini maklum bahwa susioknya telah terkena sambaran senjata rahasia yang amat lihay.

Ia pernah mendengar bahwa Hek Moli memiliki senjata rahasia toat-beng-hek-kong dan kiranya tadilah senjata rahasia itu, diperlihatkan oleh muridnya dan benar-benar hebat sekali sehingga susioknya yang berilmu tinggi masih terkena juga.

"Cu Sim, kau lihatlah keadaan susiok-couwmu itu dan kalau ia terluka, lekas memberi laporan agar dapat berusaha mengobatinya!"

Cu Sim San-Lojin menyatakan baik lalu keluar dari ruangan itu.

Tosu-Tosu lain lalu bubaran, melakukan pekerjaan mereka seperti biasa.

Memang mereka sudah amat terlatih, cepat berkumpul apabila dibutuhkan dan tenang kembali setelah peristiwa selesai.

Betapapun In Hong meronta dan mengerahkan tenaga, ia tidak mampu melepaskan diri dari kempitan lengan Tosu tua itu yang setelah keluar dari kelenteng, berlari cepat sekali sehingga sebentar saja sudah tiba di lereng gunung.

Kemudian ia melepaskan nona itu sambil tersenyum dan berkata.

"Nona, kalau tidak teringat akan mendiang Gurumu, siapa sudi menolongmu dan rela membiarkan lenganku terkena toat-beng-hek-kong?"

Katanya dan dari dalam saku bajunya ia mengeluarkan sebungkus obat, terus mengobati luka yang diakibatkan oleh pasir-pasir hitam.

Melihat obat ini, In Hong terkejut.

Itulah obat pemunah pasir hitam yang dibuat oleh Gurunya sendiri, yang juga berada di dalam bungkusan pakaiannya.

Darimana Tosu ini mendapatkan obat itu?

"Gurumu adalah sahabat baikku, dan karena aku pernah ditolong olehnya, maka tadi melihat kau menghadapi Pek Ciang San-Lojin, aku sengaja datang untuk menyeretmu keluar dari lembah maut.

Kalau tidak aku keburu datang, apa kau kira sekarang kau masih bernyawa?

Hm, biarpun ilmu silat dan ilmu pedangmu lihay, mana kau dapat menghadapi tokoh-tokoh Kun-Lun-Pai?

Lweekangmu masih amat rendah dan kalau kau bertanding melawan Pek Ciang, kau tentu akan terluka dan binasa."

Mendengar semua kata-kata ini, maklumlah In Hong bahwaKakek aneh ini bermaksud baik dan bahkan telah menolongnya, maka tanpa ragu-ragu lagi ia lalu menjatuhkan diri berlutut.

"Lo-Cianpwe, banyak terima kasih atas pertolonganmu. Akan tetapi Teecu Kwee In Hong tidak takut mati. Untuk membalas budi mendiang Guruku, Teecu harus berani berkorban nyawa. Teecu harus membalas dendamnya atas pengeroyokan Tosu-Tosu Kun-Lun-Pai."

"Ha, ha, ha, inilah namanya anak kerbau tidak takut harimau. Dengan tenaga lweekangmu serendah itu, biar sepuluh tahun lagi tak mungkin kau dapat mengalahkan kami. Kecuali kalau kau bisa mendapatkan kitab Tat Mo I-Kin-Keng dari Siauw-Lim-Si dan mempelajarinya sampai tamat, baru kiranya kau akan dapat menghadapi kami! Nah, kau pergilah, aku bicara semua ini bukan terhadapmu, melainkan terhadap arwah Gurumu!"

Setelah berkata demikian, sambil menyeret sapunya Tosu tua itu berjalan pergi.

"Tahan dulu, Lo-Cianpwe, mohon tahu nama Lo-Cianpwe yang mulia."

Tanpa menoleh Tosu itu herkata.

"Siang-te Lo-koay hanya tukang sapu di kelenteng Kun-Lun, tidak ada harganya untuk diingat lagi."Kakek itu mempercepat larinya dan sebentar saja telah naik kembali ke bukit itu. In Hong menarik napas panjang. Ia kagum sekali kepadaKakek ini, yang biarpun ilmu silatnya tidak amat tinggi, namun ginkang dan lweekangnya sudah sampai di puncak yang tak dapat diukur tingginya sehingga ia merupakan seorang anak kecil yang tidak berdaya terhadapnya. Ia pikir bahwa betul sekali apa yang diucapkan olehKakek itu. Kepandaiannya, atau lebih tepat ilmu lweekangnya, masih terlampau rendah sehingga kalau ia nekad membalas dendam ke Kun-Lun-Pai, hal itu bukan berarti kegagahan, melainkan ketololan besar. Sakit hati Gurunya takkan terbalas, sebaliknya ia seperti mengantarkan nyawa secara sia-sia belaka. Tat Mo I-khi-keng dari Siauw-Lim-Si! Kata ini terukir di dalam hatinya. Apa artinya semua kepandaiannya kalau ia tidak dapat memiliki lweekang yang tinggi? Ia pernah mendengar dari Gurunya bahwa dalam pertandingan menghadapi tokoh lihay memang tenaga lweekang amat penting. Dan Gurunya pernah mengaku bahwa dalam hal lweekang, masih kalah oleh partai-partai besar, apalagi partai silat Siauw-Lim-Si yang amat mengutamakan ilmu lweekang ini.

"Aku harus mendapatkan kitab Tat Mo I-Kin-Keng dari Siauw-Lim-Si, biarpun harus menjadi pencuri!"

Pikiran ini menjadi keputusan di dalam hati gadis yang masih penasaran itu, dan sekali mengambil keputusan, ia tidak mau menunda-nunda lagi, maka begitu turun dari Kun-Lun-San, ia langsung menuju ke Siauw-Lim-Si.

Berbeda dengan partai persilatan Kun-Lun-Pai, Siauw-Lim-pay adalah partai persilatan dari penganut-penganut agama Buddha.

Kelenteng Siauw-Lim-Si adalah sebuah kelenteng yang besar sekali, di kelilingi oleh tembok yang tebal dan tinggi.

Di antara semua partai persilatan yang besar, nama Siauw-Lim-pay sudah amat terkenal.

Setiap orang Hwesio, atau anak murid Siauw-Lim-pay yang berada di luar kelenteng, sudah dapat dipastikan memiliki ilmu kepandaian tinggi, karena kalau belum tamat belajar mencapai tingkat tertentu, murid Siauw-Lim-Si tidak boleh meninggalkan perguruan!

Setiap orang anak murid yang tamat harus menempuh ujian, yakni melalui sebuah lorong yang sudah disiapkan untuk menguji si murid.

Lorong ini penuh dengan alat-alat rahasia dan si murid akan menghadapi serangan-serangan berbahaya, baik yang dilakukan dengan alat-alat rahasia itu maupun oleh Guru-Gurunya sendiri.

Kalau ia berhasil menembusi lorong inti, ia dianggap cukup cakap untuk keluar dari Siauw-Lim-Si.

Akan tetapi kalau dalam menghadapi ujian ini ia gagal, harus belajar lebih giat lagi.

Atau kalau sampai ia tewas dalam ujian ini, itu sudah menjadi nasibnya!

Oleh karena ada aturan dan disiplin yang keras ini, maka selamanya Siauw-Lim-pay dapat menjaga nama dan anak-anak murid keluaran Siauw-Lim-pay dapat menjunjung tinggi nama perguruan itu.

Baca Juga: Dara Baju Merah 6

Baca Juga: Pedang Kayu Harum 4

Cari Blog Ini

Diberdayakan oleh Blogger.

Parnert