Eps 6 Bayangan Bidadari - Kho Ping Hoo
Baca online Bayangan Bidadari - Kho Ping Hoo
Cersil Bayangan Bidadari - Kho Ping Hoo.
Lian Hong terkejut, heran dan kagum bukan main melihat betapa Han Lin mampu lolos dari serangan para boneka besi itu tanpa lecet sedikit pun.
Sementara itu, begitu melihat betapa Han Lin mampu melawan Ngo-Heng-Tin palsu dengan baik dan sama sekali tidak terdesak, lalu cepat memanggil para saudaranya sehingga kini kelima Hwesio anggauta Ngo-Heng-Tin sudah berkumpul di situ.
Karena ingin segera dapat bertemu dengan Bu Kek Tianglo, setelah bertanding melawan Ngo-Heng-Tin tiruan itu selama empat puluh jurus, tiba-tiba Han Lin mengeluarkan bentakan-bentakan nyaring dan begitu kedua tangannya mendorong dengan tenaga sakti yang amat kuat dengan merangkap kedua tangan seperti menyembah, dari depan dada lalu diluncurkan ke depan, lima buah patung besi yang membentuk Ngo-Heng-Tin itu berpelantingan dan roboh, tak mampu bangkit kembali, agaknya rusak alat di sebelah dalam patung yang membuat mereka dapat bergerak!
Kim Hwesio, Bhok Hwesio, Sui Hwesio, Ho Hwesio dan Thou Hwesio kini berlompatan ke depan Han Lin dengan toya di tangan.
Sikap mereka berwibawa dan mengancam.
"Omitohud! Engkau merusak. Ngo-Heng-Tin tiruan kami! Sekarang hadapilah Ngo-Heng-Tin yang aseli!"
Bentak Kim Hwesio marah.
Lalu kelima orang Hwesio itu sudah mengepung dan siap menyerang.
Han Lin juga bersikap waspada karena maklum bahwa Ngo-Heng-Tin yang aseli ini tentu jauh lebih lihai daripada Ngo-Heng-Tin dari boneka-boneka besi tadi.
Dia melihat pula munculnya tidak kurang dari dua puluh orang laki-laki berjubah Pendeta berkepala gundul, yaitu Hwesio-Hwesio dan di belakang mereka masih ada pula puluhan orang yang melihat sikap mereka tentulah ahli-ahli silat murid Siauw-Lim-Pai.
Mereka semua itu agaknya siap siaga dan mengepung dari jauh.
Namun Han Lin tidak gentar dan tetap bersikap tenang.
Akan tetapi sebelum Ngo-Heng-Tin bergerak, terdengar seruan lembut.
"Omitohud...! Ngo-Heng Sute, jangan berkelahi. Mundurlah, biarkan Pinceng mengurus pemuda ini!"
Ngo-Heng-Tin mendengar suara Ceng Seng Hwesio, segera mundur.
Juga Lian Hong dan Coan Sim Hwesio yang sudah berada pula di situ, mundur menjauh.
Coan Sim Hwesio memberi isyarat dengan tangannya kepada para murid Siauw-Lim-Pai dan mereka semua segera menjauhkan diri sehingga tidak ada kesan hendak mengeroyok pemuda itu.
Kini Ceng Seng Hwesio berhadapan dengan Han Lin.
Ceng Seng Hwesio adalah murid tertua Bu Kek Tianglo dan dia pun dapat dibilang sebagai wakil Sang Ketua.
Tentu saja Hwesio yang usianya sudah lima puluh tahun lebih ini memiliki tingkat kepandaian yang sudah tinggi.
"Omitohud! Orang muda, engkau tadi merobohkan boneka-boneka besi Ngo-Heng-Tin dengan pukulan Tat-Mo Sin-Kun! Siapakah sesungguhnya engkau dan mengapa engkau datang mengacau di Siauw-Lim-Pai?"
Han Lin memandang Hwesio itu dengan alis berkerut dan sepasang matanya bersinar tajam penuh selidik, mulutnya tersenyum, lalu dia berkata lembut.
"Kalau aku tidak salah sangka, engkau tentulah yang bernama Ceng Seng Hwesio, bukan?"
"Omitohud, agaknya engkau mengenal kami dan ilmu-ilmu Siauw-Lim-Pai! Siapa engkau dan mengapa engkau mengacau di sini?"
"Maaf, aku sama sekali tidak berniat membuat kekacauan. Aku bernama Si Han Lin dan aku hanya ingin menghadap, berjumpa dan bicara dengan Bu Kek Tianglo. Akan tetapi para murid Siauw-Lim-Pai menentangku dan memaksa aku melewati Ngo-Heng-Thia."
"Hemm, Si Han Lin, semua murid Siauw-Lim-Pai menghormati Suhu Bu Kek Tianglo. Kami semua tidak berani mengganggu ketenangan beliau yang sedang bersamadhi. Kalau engkau mempunyai urusan untuk dibicarakan dengan Siauw-Lim-Pai, bicaralah kepada Pinceng. Semua urusan Siauw-Lim-Pai cukup dapat diurus oleh Pinceng sebagai wakil Suhu Bu Kek Tianglo!"
Han Lin menggelengkan kepala.
"Tidak bisa, Ceng Seng Hwesio. Aku harus bertemu dan bicara sendiri dengan Bu Kek Tianglo, tidak dengan orang lain."
Berkerut sepasang alis tebal Ceng Seng Hwesio.
"Orang muda, agaknya setelah mampu lolos dari Ngo-Heng-Thia dan merobohkan lima boneka Ngo-Heng-Tin, engkau merasa bahwa di dunia ini engkau orang yang paling lihai. Orang muda, sadarlah bahwa ketinggian hatimu tidak akan membawamu ke tempat yang membahagiakan, sebaliknya akan meruntuhkanmu. Untuk yang terakhir kalinya, Pinceng nasihatkan agar engkau segera meninggalkan tempat ini dan jangan ganggu lagi Siauw-Lim-Pai."
"Aku tidak mengganggu siapa-siapa, aku hanya ingin bertemu dengan Bu Kek Tianglo, itu saja!"
"Engkau sungguh keras hati, Si Han Lin. Tadi Pinceng melihat engkau mempergunakan jurus Tat-Mo Sin-Kun. Sebelum kita lanjutkan pembicaraan tentang engkau hendak menghadap Suhu Bu Kek Tianglo, Coba sambutlah dulu jurus Tat-Mo Sin-Kun dari Pinceng ini!"
Setelah berkata demikian Ceng Seng Hwesio merangkap kedua tangan ke depan dada seperti menyembah, siap untuk melancarkan serangan.
"Siancai...! Kalau itu yang engkau kehendaki, silakan, Ceng Seng Hwesio. Aku akan mencoba untuk menyambutnya..."
Setelah berkata demikian, Han Lin juga merangkap kedua tangan dalam bentuk sembah di depan dada.
"Haiiiikkk...!"
Ceng Seng Hwesio kini mendorongkan kedua tangan itu ke arah Han Lin. Pemuda itu pun menyambut dengan dorongan kedua tangannya yang tadi membentuk sembah.
"Wuuuuttt... tassss...!"
Dua tenaga sakti yang amat kuat bertemu.
Tubuh Han Lin tidak terguncang, akan tetapi kedua kakinya masuk ke dalam lantai berbatu itu sampai ke mata kaki, sedangkan tubuh Ceng Seng Hwesio terdorong mundur sampai tiga langkah!
Ceng Seng Hwesio membelalakkan matanya.
Kalau dia tidak mengalami sendiri, tentu dia tidak mau percaya!
Ilmu Tat-Mo Sin-Kun adalah ilmu pusaka Siauw-Lim-Pai yang hanya diajarkan kepada murid Siauw-Lim-Pai tingkat tertinggi.
Ilmu silat Tat-Mo Sin-Kun ini adalah gerakan-gerakan yang memuja dan menyembah Sang Buddha secara sederhana sekali, akan tetapi di dalamnya terkandung tenaga I-Kin-Keng yang amat sakti.
Di dalam dunia ini, tidak ada lagi manusia yang menguasai Tat-Mo Sin-Kun secara sepenuhnya atau sempurna.
Hanya Bu Kek Tianglo seorang, Guru besar Siauw-Lim-Pai, yang pada waktu itu menguasai Tat-Mo Sin-Kun dengan tenaga I-Kin-Keng yang mencapai tingkat sembilan bagian!
Dia sendiri, sebagai murid tertua dari Bu Kek Tianglo, hanya memiliki empat bagian saja.
Namun, empat bagian itu sudah amat hebat dan tidak banyak ilmu aliran perguruan lain yang akan mampu menandinginya.
Akan tetapi, tadi jelas terbukti bahwa pemuda yang juga menggunakan Tat-Mo Sin-Kun itu memiliki tenaga yang lebih kuat daripada dia, berarti tingkat pemuda itu sedikitnya ada lima atau enam bagian!
Bagaimana mungkin hal ini terjadi?
"Si Han Lin, masih ada hubungan apakah engkau dengan Suhu Bu Kek Tianglo?"
Tanya Ceng Seng Hwesio heran. Si Han Lin tersenyum.
"Bu Kek Tianglo adalah Supekku (Uwa Guruku) dan aku ingin menghadap kepada Supek untuk urusan pribadi yang tidak dapat kuceritakan kepada orang lain."
Ceng Seng Hwesio terbelalak.
"Supek mu...? Hemm, Suhu Bu Kek Tianglo sudah tidak mempunyai Adik seperguruan lagi, mereka telah meninggal dunia..."
"Masih ada seorang."
Kata Han Lin.
"Ahh... tapi... tapi Sutenya (Adik Seperguruannya) itu... sudah bukan Sutenya lagi, sudah melepaskan diri dari Siauw-Lim-Pai, bahkan sudah beralih agama, kalau tidak salah menjadi seorang Tosu..."
Han Lin mengangguk.
"Beliau itulah Suhuku."
Katanya sederhana.
"Omitohud..."
Seru Ceng Seng Hwesio sambil mengerutkan alisnya.
"Jadi Thian Beng Siansu itu Gurumu? Pantas engkau begini tidak mengenal aturan! Kiranya Gurumu seorang yang meninggalkan agama kami dan menyeleweng, menjadi pemeluk Agama To yang menyimpang dari jalan kebenaran!"
Si Han Lin tertawa dan suara tawanya aneh seperti orang yang geli mendengar sesuatu yang lucu.
Ong Lian Hong mengerutkan alisnya mendengar suara tawa ini.
Tadinya ia memang sudah marah kepada Han Lin, bahkan menangkap dan mengikatnya.
Lalu muncul Ho Hwesio yang menyuruh pemuda itu melewati lorong Ngo-Heng-Thia yang membuat ia kagum kepada pemuda itu.
Kini mendengar pemuda itu seolah menertawakan Ceng Seng Hwesio, Suheng yang dihormatinya, ia menjadi marah lagi.
"Hei, kamu cengengesan, memangnya kamu badut? Apa yang kamu tertawakan!"
Bentaknya sambil menudingkan telunjuk kirinya ke arah hidung Han Lin.
"Aku tertawa mendengar ucapan Ceng Seng Hwesio yang aneh itu. Semua agama di dunia ini mengajarkan dan menuntun manusia agar menjauhi kejahatan dan menjadi baik wataknya. Tidak ada agama yang mengajarkan agar orang menjadi jahat. Mencela dan menjelek-jelekkan agama lain jelas merupakan sikap yang tidak patut dan orang yang melakukannya berarti tidak menaati pelajaran agamanya karena aku yakin bahwa dalam semua agama terdapat pelajaran yang melarang manusia merasa benar dan Suci sendiri. mencela dan menjelek-jelekkan orang beragama lain. Tidak ada agama yang saling memburukkan, maka kalau ada orang saling memburukkan agama orang lain, jelas dia itu menyalahi pelajaran agamanya!"
Wajah Ceng Seng Hwesio berubah merah sekali mendengar ucapan yang mengandung teguran keras padanya itu.
Diam-diam dia harus mengakui bahwa hatinya juga dipengaruhi kebencian antara orang-orang beragama lain yang berkecamuk pada waktu itu, terutama sekali semenjak berkuasanya penjajah Mongol.
Dan dia pun menyadari bahwa perasaan membenci agama lain ini jelas berlawanan dengan pelajaran agamanya sendiri.
Tidak ada dalam pelajaran Agama Buddha yang mencela dan memburukkan agama lain dan baru saja dia kelepasan bicara mengatakan bahwa menjadi pemeluk Agama To berarti tersesat!
Dia menghela napas panjang dan berkata kepada Lian Hong.
"Sudahlah, Sumoi, biarkan Pinceng yang bicara dengan pemuda ini. Si Han Lin, kalau engkau mengaku sebagai murid keponakan Suhu Bu Kek Tianglo, Pinceng hendak bertanya. Apakah engkau menaati Supek mu dan apakah engkau berani mengganggunya?"
"Aih, tentu saja aku amat menghormati dan taat kepada Supek Bu Kek Tianglo dan tidak berani mengganggunya."
"Kalau begitu, ketahuilah. Suhu Bu Kek Tianglo sedang berada dalam ruangan samadhi sejak beberapa hari yang lalu dan Suhu memesan agar sebelum lewat tujuh hari beliau jangan diganggu siapa pun. Samadhinya sudah berlangsung lima hari, tinggal dua hari lagi. Setelah lewat besok dan lusa, barulah engkau boleh menghadap Suhu."
Han Lin mengangguk-angguk.
"Baiklah kalau begitu aku akan menanti di luar Ruangan Samadhi sampai Supek Bu Kek Tianglo selesai bersamadhi dan dapat menerimaku."
"Di belakang ruangan samadhi terdapat sebuah kamar yang biasa ditempati murid yang bertugas melayani kalau Suhu sudah selesai bersamadhi. Engkau boleh tinggal dalam kamar itu untuk menanti Suhu."
Kata Ceng Seng Hwesio.
Han Lin menyetujui dan dia lalu diantar ke dalam kamar itu.
Sebuah kamar yang kecil namun cukup perlengkapannya dan kamar itu terletak di belakang ruangan samadhi yang tidak boleh diganggu itu.
Setelah Si Han Lin tinggal di kamar itu, Ceng Seng Hwesio yang merasa penasaran mengumpulkan para Sute (adik seperguruan) dan beberapa orang muridnya yang sudah memiliki kepandaian yang cukup tangguh.
Dia menegur mereka yang dianggapnya lengah sehingga pemuda Si Han Lin itu dapat melewati pagar tembok yang mengelilingi perumahan Siauw-Lim-Si tanpa ada yang mengetahuinya.
"Masih untung bahwa Si Han Lin itu agaknya tidak berniat jahat terhadap Siauw-Lim-Pai."
Katanya.
"Apakah kalian semua sudah lupa akan peristiwa beberapa waktu yang lalu ketika gadis jahat murid Hek Moli itu menyerbu ke sini? Hampir saja kitab pusaka I-Kin-Keng dicurinya. Kita belum mengenal betu! Si Han Lin itu. Kalau dia benar murid Thian Beng Siansu, dia berbahaya sekali. Siapa tahu dia juga mempunyai niat yang tidak baik terhadap kita."
"Suheng, sebetulnya orang macam apa sih Thian Beng Siansu, Guru Si Han Lin itu?"
Tanya Lian Hong yang biarpun masih remaja, sudah mereka akui sebagai saudara seperguruan yang pantas diajak berunding karena gadis itu mendapat gemblengan langsung dari Bu Kek Tianglo dan ilmu silatnya sudah mencapai tingkat yang lumayan tingginya.
Ceng Seng Hwesio menghela napas panjang.
"Omitohud! Hal ini memang seolah dirahasiakan oleh Suhu, tidak pernah diceritakan kepada para murid. Hanya murid-murid tua seperti Pinceng dan beberapa orang saudara yang kini tinggal di luar Siauw-Lim-Si yang mengetahui. Dahulu, sekitar tiga puluh tahun yang lalu, Suhu Bu Kek Tianglo mempunyai seorang Sute yang menggunakan nama Thian Beng Hwesio. Biarpun dalam hal ilmu silat tingkat Thian Beng Hwesio sebanding dengan Suhu, namun kalau Suhu berwatak lembut dan bijaksana, sebaliknya watak Susiok (Paman Guru) Thian Beng Siansu itu keras, ugal-ugalan dan agak liar. Maka, seringkali dia menerima teguran dari Suhu. Akhirnya dia meninggalkan Siauw-Lim-Pai dan berita terakhir yang kami dapatkan, Susiok Thian Beng Hwesio itu sudah berganti agama, bahkan menjadi seorang tokoh besar Agama To dan namanya berubah menjadi Thian Beng Siansu. Selama itu dia tidak pernah datang menghubungi Siauw-Lim-Pai dan tahu-tahu hari ini muridnya yang sikapnya juga ugal-ugalan tanpa mengenal aturan itu datang ke sini. Karena itu kita tidak boleh lengah dan diam-diam kita harus mengawasi Si Han Lin itu. Selain itu, mulai sekarang penjagaan harus diperketat agar jangan ada orang luar mampu mencuri masuk."
Demikianlah, para murid Siauw-Lim-Pai, dipimpin oleh Ceng Seng Hwesio yang dibantu para Sutenya, yaitu kelima Hwesio anggauta Ngo-Heng-Tin dan Coan Sim Hwesio.
Juga dikerahkan puluhan orang murid untuk melakukan penjagaan ketat secara bergiliran.
Pada keesokan harinya, menjelang senja, seorang murid yang melakukan perondaan di luar perumahan datang berlarian melaporkan kepada Ceng Seng Hwesio.
"Suhu, dari selatan muncul seorang pemuda yang mencurigakan. Melihat cara dia berjalan cepat, tentu dia seorang ahli silat pandai. Dia sudah tiba sekitar dua li dari sini."
Mendengar laporan ini, Ceng Seng Hwesio memesan agar para Sute dan murid menjaga dengan waspada.
Dia sendiri lalu membawa toyanya (tongkat panjang) dan menuju ke selatan untuk menyambut pemuda yang kata muridnya mencurigakan itu.
Sekitar satu li jauhnya dari Kuil, dia bertemu dengan pemuda itu.
Seorang pemuda berusia sekitar dua puluh tiga tahun, tinggi besar, ganteng dan gagah, pakaiannya biru dari kain yang mahal.
Di punggungnya tergantung sebatang golok besar dalam sarung golok dan terhias emas pada gagangnya.
Pemuda ini bukan lain adalah Yo Kang yang menerima perintah Tiong Li Seng-jin Ketua Bu-Tong-Pai untuk berkunjung ke Siauw-Lim-Pai.
Melihat seorang Hwesio berusia setengah abad lebih, tubuhnya tinggi besar, wajahnya berkulit hitam dan tampak angker sekali, berdiri tegak dengan sebatang toya di tangan, Yo Kang cepat memberi hormat.
Dia mengangkat kedua tangan depan dada.
"Selamat sore, Lo-Suhu (Bapak Pendeta)! Apakah Lo-Suhu seorang dari Siauw-Lim-Pai?"
"Benar, Pinceng adalah Ceng Seng Hwesio, wakil pemimpin Siauw-Lim-Pai. Engkau siapakah, orang muda? Dan ada keperluan apa melakukan perjalanan dekat perumahan kami?"
"Ah, kebetulan sekali!"
Kata Yo Kang.
"Saya bernama Yo Kang, murid Bu-Tong-Pai. Saya membawa pesan dan surat pribadi dari Suhu Tiong Li Seng-jin untuk disampaikan oleh Lo-Cianpwe Bu Kek Tianglo."
Karena belum pernah mengenal Yo Kang, dan teringat akan munculnya pemuda Si Han Lin yang mendatangkan keributan, Ceng Seng Hwesio memandang wajah pemuda itu dengan penuh selidik. Dia harus waspada.
"Omitohud, kiranya Sicu (orang muda gagah) adalah murid Lo-Cianpwe Tiong Li Seng-jin! Kalau ada pesan dan surat dari beliau, sampaikan saja kepada Pinceng, Yo-Sicu, karena Pinceng yang mewakili Suhu."
Yo Kang mengerutkan alisnya yang tebal.
"Ah, harap maafkan saya. Suhu memesan kepada saya agar surat ini saya sampaikan sendiri kepada Lo-Cianpwe Bu Kek Tianglo, tidak boleh kepada orang lain. Karena hal itu menyangkut satu hal yang penting sekali."
Juga Ceng Seng Hwesio mengerutkan alisnya.
Pemuda ini bersikap seperti Si Han Lin, bersikeras hendak bertemu dengan Ketua Siauw-Lim-Pai seolah tidak percaya kepadanya!
"Hemm, kalau begitu tidak mungkin, Yo-Sicu.
Suhu sedang bersamadhi dan tidak boleh diganggu siapa pun.
Mungkin lusa pagi baru dapat dihubungi."
Yo Kang menghela napas panjang.
"Saya telah melakukan perjalanan jauh dan lama sekali, menanti dua hari lagi pun tidak mengapa. Saya akan menunggu, Lo-Suhu."
Tiba-tiba kedua orang itu menjadi tegang dan dengan sikap waspada mereka memandang ke kanan kiri.
Pendengaran mereka yang terlatih menangkap.
suara yang tidak wajar.
Benar saja, dari kanan kiri muncul dua orangKakek dan di belakang mereka terdapat dua belas orang perajurit Mongol!
Seorang di antara keduaKakek itu bertubuh kurus bermuka tengkorak, wajahnya cemberut seperti orang marah selalu, matanya yang cekung itu bersinar kejam.
Pakaiannya kembang-kembang dari Sutera mahal, wataknya congkak dan tangannya memegang sebatang tongkat ular.
AdapunKakek ke dua berusia sebaya, kurang lebih enam puluh dua tahun.
Tubuhnya sedang, wajahnya tampan gagah, pakaiannya mewah dari Sutera hitam dan di punggungnya tergantung sebatang golok besar berselaput emas yang indah.Kakek kurus itu bukan lain adalah Tung Giam-Lo-Ong (Raja Maut Timur) yang biasa disebut Raja Timur, seorang di antara Empat Datuk Besar.
AdapunKakek kedua yang gagah tampan adalah See Te-Tok (Racun Bumi Barat) yang biasa disebut Racun Barat, juga seorang di antara Empat Datuk Besar.
Dua orangKakek dan dua belas orang perajurit itu segera mengepung Yo Kang dan Ceng Seng Hwesio.
Kedua orang Ini saling pandang dengan alis berkerut.
Keduanya saling mencurigai, saling menduga telah bersekongkol dengan pasukan Mongol!
"Heh-heh-heh!
Tokoh Siauw-Lim-Pai dan tokoh Bu-Tong-Pai mengadakan pertemuan rahasia di sini, tentu merundingkan rencana pemberontakan terhadap pemerintah!
Hayo, kalian menyerah saja kami tangkap dan kami seret ke pengadilan!"
Bentak Racun Barat dengan suara menggelegar. Wajah Ceng Seng Hwesio yang berkulit hitam itu menjadi semakin hitam karena dia marah sekali mengenal dua orang Datuk Besar itu.
"Omitohud, kiranya Raja Timur dan Racun Barat yang datang. Kalian ngawur Pinceng adalah wakil pimpinan Siauw-Lim-Pai dan sama sekali tidak mempunyai niat memberontak!"
"Huh, Hwesio jangan banyak cakap. Menyerah atau harus kami robohkan dulu!"
Kini Raja Maut yang bicara.
Si Muka Tengkorak ini nnenjadi semakin mengerikan kalau bicara, mulutnya yang hanya gigi dan tulang terbungkus kulit itu bergerak-gerak kaku!
"Pinceng tidak bersalah, untuk apa menyerah?
Kalau kalian hendak menggunakan kekerasan, silakan!"
"Hwesio sombong, kau bosan hidup!"
Tung Giam-Lo atau Raja Timur itu sudah menerjang ke depan, menggerakkan tongkat ularnya menyerang dengan amat dahsyat ke arah Ceng Seng Hwesio.
Hwesio ini memang sudah siap.
Dia menggerakkan toyanya menangkis lalu membalas sehingga kedua orang ini segera terlibat perkelahian yang seru.
Raja Barat menghampiri Yo Kang dan tertawa.
engkau ini bocah Bu-Tong-Pai membawa golok bergagang emas!
Eh, apa kau berani menyaingi aku?
Hayo keluarkan golokmu itu, apa mampu diadu dengan golokku, ha-ha-ha!"
Yo Kang, seperti juga Ceng Seng Hwesio, merasa lega karena keduanya kini mendapat kenyataan bahwa yang datang itu adalah pasukan Mongol yang agaknya memusuhi mereka berdua, atau lebih jelasnya lagi, memusuhi Siauw-Lim-Pai dan Bu-Tong-Pai.
Mereka berdua memang maklum bahwa Pemerintah Mongol selalu mencurigai perguruan-perguruan silat atau perkumpulan dan pendekar yang tidak mau diajak membantu Pemerintah Mongol.
Memang Siauw-Lim-Pai dan Bu-Tong-Pai belum pernah dimusuhi secara terang-terangan atau diserang, akan tetapi sudah sering menerima bukan untuk membantu pemerintah dan selalu ditolak dengan halus.
Sore ini agaknya mereka hendak menangkap dengan tuduhan merencanakan pemberontakan, walaupun yang dituduh bukan kumpulannya, melainkan diri mereka berdua!
Racun Barat sudah mencabut golok besarnya yang menyeramkan.
Yo Kang yang tadi mendengar bahwa calon lawannya ini adalah See Te-Tok, Racun Barat, Datuk besar yang terkenal lihai, cepat mencabut pula goloknya yang bergagang emas.
Akan tetapi goloknya itu tampak kecil dibandingkan golok besar Racun Barat.
"Heh-heh, orang muda. Menyerah sajalah untuk kutangkap daripada lehermu putus oleh golokku!"
Racun Barat berkata.
"Aku tidak bersalah dan tidak mau menyerah!"
See Te-Tok mengeluarkan gerengan dan dia pun menubruk maju menyerang dengan golok besarnya. Dari samping Yo Kang menangkis.
"Singg... trangggg...!!"
Bunga api berpijar dan keduanya mundur beberapa langkah.
Setelah saling serang, kedua pihak terkejut.
Ternyata lawan adalah orang yang amat tangguh!
Yang lebih terkejut adalah dua Datuk Besar itu.
Biasanya mereka itu memandang rendah lawan.
Akan tetapi sekarang mereka mendapatkan perlawanan yang amat kuat, bahkan balasan serangan lawan juga berbahaya sekali.
Di lain pihak, Yo Kang dan Ceng Seng Hwesio juga harus mengakui bahwa dua orang lawan itu tidak percuma menjadi dua di antara Empat Datuk Besar karena memang mereka benar-benar amat lihai!
Karena maklum bahwa mengalahkan tokoh Bu-Tong-Pai dan Siauw-Lim-Pai itu bukan hal mudah, padahal Siauw-Lim-Si tidak terlalu jauh dari situ sehingga kalau para murid Siauw-Lim-Pai mengetahui dan mengeroyok, mereka akan celaka, maka Racun Barat segera memberi aba-aba kepada selusin orang perajurit Mongol pilihan itu untuk maju mengeroyok!
Kini keadaan Yo Kang dan Ceng Seng Hwesio menjadi gawat.
Ternyata dua belas.
orang perajurit itu merupakan perajurit pilihan yang memiliki ilmu kepandaian yang lumayan tingginya.
Tentu saja keduanya terdesak hebat.
Yo Kang menyelingi sambaran goloknya dengan pukulan Lengan kiri, menggunakan ilmu Tong-Sim-Ciang yang dapat mengguncang jantung lawan.
Juga Ceng Seng Hwesio terkadang menyelingi permainan toyanya dengan pukulan Tat-Mo Sin-Kun dengan pengerahan tenaga I-Kin-Keng.
Namun, pukulan ampuh kedua orang itu disambut oleh Dua Datuk Besar dengan pukulan jarak jauh yang juga amat kuat sehingga setiap kali pukulan mereka saling bertemu, kedua pihak terdorong ke belakang.
Selagi keduanya terdesak hebat dan berada di ambang kekalahan yang mungkin mengakibatkan mereka tewas atau setidaknya terluka dan tertawan, tiba-tiba tampak sesosok bayangan berkelebat dalam cuaca yang sudah mulai agak gelap karena petang telah tiba.
Dan begitu bayangan yang ternyata seorang pemuda tampan bermuka putih itu menerjang, dua belas orang perajurit yang ikut mengeroyok Yo Kang dan Ceng Seng Hwesio menjadi kocar-kacir!
Sepak terjang pemuda ini hebat bukan main.
Dia sama sekali tidak menggunakan pedangnya yang tergantung di punggung, melainkan hanya menampar dan menendang.
Pedang dan golok selusin perajurit itu terpental dan tubuh mereka terpelanting ke kanan kiri terkena sambaran tamparan atau tendangan pemuda itu.
"Thian-Te-Pangcu... (Ketua Thian-Te-Pang)...!"
Seorang perajurit berseru.
"Pek-Bin-Houw (Harimau Muka Putih)...!"
Teriak yang lain.
Si Racun Barat dan Si Raja Timur terkejut melihat selusin orang perajurit itu berpelantingan dan mereka berseru ketakutan.
Mereka maklum bahwa yang baru datang merupakan lawan yang amat lihai pula.
Menghadapi Yo Kang dan Ceng Seng Hwesio saja sudah sukar bagi mereka untuk mengalahkan, apalagi kini muncul pemuda yang lihai itu.
Keduanya lalu melompat jauh dan memberi aba-aba kepada selusin orang perajurit untuk melarikan diri!
Yo Kang merasa penasaran dan hendak mengejar.
Akan tetapi Ceng Seng Hwesio cepat mencegahnya.
"Yo-Sicu, harap jangan kejar. Masih untung tidak ada seorang pun di antara mereka yang tewas. Kalau ada yang tewas, tentu mereka menganggap Siauw-Lim-Pai memberontak dan mengirim pasukan besar ke sini. Kami tidak ingin bermusuhan dengan mereka."
Kemudian Ceng Seng Hwesio memandang pemuda yang telah menolong tadi.
"Sicu, terima kasih atas pertolonganmu."
Ceng Seng Hwesio mengangkat tangan menyembah depan dada sebagai penghormatan. Yo Kang juga memberi hormat dan memandang kagum penuh selidik.
"Aih, Lo-Suhu harap jangan bersikap sungkan. Apa yang saya lakukan tadi hanya merupakan kewajiban yang harus dilaksanakan. Para perajurit Mongol itu memang sewenang-wenang, tempat kami sendiri pernah diganggu sehingga terpaksa kami melawan dan mengusir mereka."
"Pinceng tadi mendengar mereka menyebut Thian-Te-Pangcu. Seingat Pinceng, Thian-Te-Pangcu adalah Li Bu Kok yang sudah Pinceng kenal. Siapakah Sicu ini? Pinceng Ceng Seng Hwesio wakil pimpinan Siauw-Lim-Pai dan Sicu ini adaliah Yo Kang, utusan dari Ketua Bu-Tong-Pai."
Pemuda muka putih itu cepat memberi hormat.
"Aih, kiranya Ji-wi (Anda Berdua) adalah tokoh-tokoh besar Siauw-Lim-Pai dan Bu-Tong-Pai! Sungguh saya merasa girang sekali tadi mendapat kesempatan untuk membantu Ji-wi. Memang benar ucapan Ceng Seng Lo-Suhu tadi. Ketua Thian-Te-Pang adalah Li Bu Kok, akan tetapi beberapa bulan yang lalu Thian-Te-Pang diserbu gerombolan penjahat yang dipimpin Tiga Belas Srigala Gila. Dalam penyerbuan ini Li Pangcu (Ketua Li) terluka dan tewas. Kebetulan sekali ketika itu saya lewat dan saya segera membantu para anggauta Thian-Te-Pang yang sudah jatuh banyak korban itu dan saya berhasil membunuh Tiga Belas Srigala Gila. Begitulah, Lo-Suhu, lalu para anggauta Thian-Te-Pang minta dengan sangat kepada saya untuk memimpin mereka jadi Ketua."
"Saudara sungguh baik budi dan gagah perkasa. Kalau boleh saya bertanya, siapakah nama Saudara yang mulia?"
Tanya Yo Kang dengan sikap menghormat. Pemuda itu tersenyum dan menjura.
"Saya yang bodoh bernama Gan Bouw dan... anak-anak Thian-Te-Pang yang menyebut saya dengan julukan Pek-Bin-Houw."
"Omitohud! Gan Pangcu (Ketua Gan) terlalu merendahkan diri. Biarpun masih muda akan tetapi Pinceng tadi melihat sepak terjang Gan Pangcu demikian dahsyat. Bolehkan Pinceng mengetahui apakah Pangcu juga murid Thian-Te-Pang?"
"Sama sekali bukan, Lo-Suhu. Saya seorang yatim piatu yang hidup sebatang kara di dunia ini. Sejak kecil saya merantau sampai jauh ke negara barat, sampai ke Pegunungan Himalaya dan ke Tibet. Nah, di sanalah saya mempelajari ilmu-ilmu dari para Pertapa di Himalaya dan para Pendeta Lama di Tibet."
"Omitohud...! Pantas Gan Pangcu yang masih muda sudah begitu lihai!"
"Ah, Lo-Suhu, Saudara Yo Kang dari Bu-Tong-Pai ini lebih muda lagi akan tetapi saya lihat tadi ilmu goloknya amat lihai!"
Ceng Seng Hwesio mengangguk-angguk dan tertawa.
"Ha-ha, tentu saja, Gan Pangcu. Karena goloknya yang hebat, maka dia dijuluki Bu-Tong Sin-To (Golok Sakti Bu-Tong)!"
"Lo-Suhu harap jangan terlalu melebihkan. Saya hanya mempelajari sedikit ilmu, bahkan tadi pun sudah terdesak lawan. Gan-Twako (Kakak Gan), sungguh kebetulan sekali engkau lewat di sini sehingga dapat menyelamatkan kami."
Mendengar jago muda Bu-Tong-Pai itu menyebutnya Twako, Gan Bouw tersenyum senang.
"Sesungguhnya bukan kebetulan saja, Yo-Siauwte (Adik Yo). Setelah diangkat menjadi Ketua Thian-Te-Pang, aku sengaja mengunjungi partai-partai persilatan besar untuk memperkenalkan diri. Aku sudah mengunjungi Go-Bi-Pai dan Kun-Lun-Pai, hari ini aku berkunjung ke Siauw-Lim-Pai dan selanjutnya akan pergi ke Bu-Tong-Pai. Aku sungguh beruntung dapat bertemu Ji-wi di sini sehingga aku sempat memperkenalkan diri."
"Gan Pangcu, Pinceng sudah tahu sejak dulu bahwa Thian-Te-Pai biarpun bukan perguruan besar, namun sehaluan dengan kami yang mendidik para calon pendekar penegak kebenaran dan keadilan. Sekarang, marilah singgah di Siauw-Lim-Si dan besok lusa dapat Pangcu menghadap dan bertemu dengan Ketua kami."
"Terima kasih, Lo-Suhu. Saya telah dapat bertemu dengan Lo-Suhu dan memperkenalkan diri. Saya kira ini sudah cukup karena Lo-Suhu tentu dapat memberitahu kepada Ketua Siauw-Lim-Pai dan para pimpinan di sana. Juga saya tidak perlu lagi berkunjung ke Bu-Tong-Pai setelah berkenalan dengan Adik Yo Kang. Harap Yo-Siauwte suka melaporkan dan memberitahukan kepada para pimpinan Bu-Tong-Pai bahwa kini yang menjadi Ketua Thian-Te-Pai adalah saya dan sampaikan hormatku kepada beliau semua."
Gan Bouw lalu menjura kepada dua orang itu sebagai penghormatan.
"Ceng Seng Lo-Suhu dan Yo-Siauwte, sekarang saya harus melanjutkan perjalanan saya. Selamat tinggal!"
Setelah berkata demikian Gan Bouw pergi dengan cepat sekali meninggalkan kedua orang.
"Omitohud! Thian-Te-Pang menemukan seorang Ketua yang lihai dan bijaksana."
Kata Ceng Seng Hwesio sambil memandang ke arah lenyapnya Gan Bouw.
"Gan Pangcu memang baik, lihai dan rendah hati, Lo-Suhu."
Kata Yo Kang. Ceng Seng Hwesio memandang kepadanya dan menghela napas panjang.
"Yo-Sicu, maafkan Pinceng kalau tadi Pinceng mencurigaimu. Seperti engkau lihat sendiri tadi, Dua Datuk Besar, Raja Timur dan Racun Barat membawa pasukan Mongol menyerang kita. Semenjak tanah air kita dijajah orang Mongol, kita harus bersikap hati-hati. Sekarang kita berdua sudah saling mengenal dan kita berdua sebagai wakil Siauw-Lim-Pai dan wakil Bu-Tong-Pai, jelas sehaluan. Oleh karena itu, kalau ada masalah dengan Siauw-Lim-Pai, sampaikan saja kepadaku, Yo-Sicu. Sesungguhnya, Suhu Bu Kek Tianglo tidak dapat diganggu, baru lusa nanti beliau dapat ditemui."
"Saya percaya kepada Lo-Suhu. Akan tetapi Suhu Tiong Li Seng-jin menghendaki agar surat beliau itu diserahkan sendiri kepada Lo-Cianpwe Bu Kek Tianglo. Kalau Suhu ingin tahu apa yang terjadi, baiklah, saya akan menceritakannya. Telah terjadi malapetaka menimpa Bu-Tong-Pai. Sebetulnya saya sendiri tidak berari memandang rendah kepada Lo-Cianpwe Bu Kek Tianglo karena bagaimanapun juga Bu-Tong-Pai sealiran dengan Siauw-Lim-Pai. Suhu Tiong Li Seng-jin dahulu di waktu muda juga merupakan Sute (adik seperguruan) Lo-Cianpwe Bu Kek Tianglo. Akan tetapi karena Suhu memesan dengan sungguh-sungguh, saya tidak berani melanggar dan harus menyerahkan sendiri surat Suhu kepada Lo-Cianpwe Bu Kek Tianglo."
"Baiklah, ceritakan saja malapetaka apa yang menimpa Bu-Tong-Pai?"
Yo Kang adalah seorang pemuda yang gagah perkasa dan berbatin kuat. Namun, kini teringat akan malapetaka yang harus dia ceritakan, suaranya menggetar mengandung kedukaan dan penasaran.
"Lo-Suhu, beberapa waktu yang lalu, pada suatu malam, seorang pembunuh yang berilmu tinggi sekali telah memasuki ruangan perpustakaan kami dan dia membunuh enam orang murid Bu-Tong-Pai yang berjaga di sana..."
"Omitohud...! Siapa pembunuh kejam itu dan apa maunya?"
"Kami belum tahu, Lo-Suhu. Pembunuh itu dikejar tiga orang Susiok (Paman Guru), yaitu Bu-Tong Sam-Lo sampai ke atas wuwungan. Di sana pembunuh itu melawan, dikeroyok tiga dan... ketiga orang Susiok... tewas pula."
"Omitohud...! Bu-Tong Sam-Lo juga dibunuhnya? Jahat benar pembunuh itu? Siapa dia, Yo-Sicu?"
"Inilah anehnya, Lo-Suhu. Malam itu gelap dan menurut para murid yang menyaksikan amukan orang itu tidak dapat melihat dengan jelas wajahnya. Hanya yang jelas adalah bahwa orang itu berkepala gundul dan berjubah Hwesio!"
Yo Kang menutup kalimatnya dengan suara yang keras.
"Omitohud... seorang Hwesio? Tapi... tapi... dia bukan murid Siauw-Lim-Pai tentunya!"
"Sayang sekali, Lo-Suhu. Bukti-bukti menunjukkan bahwa Hwesio pembunuh itu menggunakan tendangan Siauw-Cu-Twi dan pukulan maut Tiam-Hiat-Hoat dari Siauw-Lim-Pai!"
"Omitohud...! Bagaimana mungkin murid Siauw-Lim-Pai membunuh Bu-Tong Sam-Lo? Dikeroyok tiga lagi?"
"Memang mengherankan, Lo-Suhu, akan tetapi Susiok Tiong Hak Tosu sendiri yang bertanding melawan Hwesio itu yakin bahwa pembunuh itu adalah seorang tokoh Siauw-Lim-Pai karena selain menguasai ilmu tendangan Siauw-Cu-Twi dan ilmu menotok Tiam-Hiat-Hoat yang khas Siauw-Lim-Pai, dia juga memiliki gerakan ilmu Tat-Mo Sin-Kun dan menguasai I-Kin-Keng."
"Tidak mungkin! Mustahil! Yang menguasai I-Kin-Keng, walau rendah tingkatnya, dan dilatih Tat-Mo Sin-Kun hanyalah murid-murid tua dan murid-murid pilihan yang kesemuanya, kalau bukan menjadi Hwesio yang tekun beribadat. tentu menjadi pendekar yang membela kebenaran dan keadilan. Yang pernah mempelajari ilmu itu di Kuil kami saja hanya dapat dihitung dengan jari! Pertama tentu saja Suhu Bu Kek Tianglo sendiri, kemudian murid-murid Suhu yang terpilih dan dipercaya, yaitu Pinceng sendiri, lalu ke lima Sute Kim, Bhok, Sui, Ho, dan Thou Hwesio, dan Sute Coan Sim Hwesio. O ya, masih ada seorang lagi, yaitu Sumoi Ong Lian Hong yang menjadi pilihan Suhu sebagai murid istimewa yang masih muda. Kami semua selama hampir dua tahun ini tidak pernah ada yang keluar dari perumahan Siauw-Lim-Si ini. Jadi, Pinceng yakin dan berani tanggung bahwa pelaku pembunuhan biadab itu bukan orang Siauw-Lim-Pai."
"Hemm, aku juga tidak berani sembarangan menduga, Lo-Suhu. Akan tetapi bukankah banyak orang Siauw-Lim-Pai yang kini tidak lagi tinggal di Kuil Siauw-Lim-Si? Tidakkah mungkin seorang di antara mereka yang melakukan perbuatan itu?"
Ceng Seng Hwesio mengerutkan alisnya.
"Biarpun rasanya mustahil, akan tetapi andaikata benar dugaanmu, tentu dia harus memiliki ilmu kepandaian yang tinggi dan... ahhh...!"
Tiba-tiba Ceng Seng Hwesio teringat kepada seorang Paman Gurunya yang sudah puluhan tahun meninggalkan Siauw-Lim-Pai.
Thian Beng Siansu!
Sute dari Bu Kek Tianglo yang telah menyeleweng dan menjadi Tosu.
Tentu saja dia ahli dalam semua ilmu simpanan Siauw-Lim-Pai, bahkan menurut Suhunya, tingkat kepandaian Thian Beng Siansu itu tidak kalah dibanding tingkat Bu Kek Tianglo sendiri!
Mungkinkah...
dia itu...
atau...
tiba-tiba dia teringat kepada orang muda itu, Si Han Lin, yang mengaku sebagai murid Thian Beng Siansu!
"Ada apakah, Lo-Suhu?"
Tanya Yo Kang ketika melihat Hwesio itu menahan kata-katanya dan tampak terkejut dan bingung. Ceng Seng Hwesio tidak ingin membuka rahasia keluarga perguruan Siauw-Lim-Pai, maka dia berkata.
"Omitohud...! Pinceng sungguh masih terkejut dan bingung mendengar berita yang engkau bawa itu, Yo-Sicu. Berita itu sungguh mengejutkan dan membingungkan. Sekarang Pinceng mengerti mengapa engkau bersikeras untuk menghadap Suhu Bu Kek Tianglo sendiri. Memang surat dari Lo-Cianpwe Tiong Li Seng-jin itu amat penting dan harus diserahkan kepada Suhu sendiri. Mari, Sicu, mari kita ke Siauw-Lim-Si dan siapa tahu, nanti Suhu akan suka menerimamu sebelum besok lusa pagi."
Kedua orang itu lalu bergegas menuju ke Siauw-Lim-Si.
Karena malam telah tiba, Yo Kang dipersilakan makan bersama Ceng Seng Hwesio dan dia diberi sebuah kamar untuk tidur malam itu.
Yo Kang yang memang kelelahan karena perjalanan jauh itu segera tertidur dan malam itu semua murid Siauw-Lim-Pai melakukan penjagaan secara bergilir.
Akan tetapi sampai pada keesokan harinya, tidak terjadi sesuatu.
Yo Kang tidur dengan nyenyaknya sehingga semua rasa lelahnya menghilang.
Pagi sekali Yo Kang sudah terbangun, dari tidurnya.
Setelah mandi dan bertukar pakaian, dia pergi ke ruangan tengah untuk mencari Ceng Seng Hwesio.
Tiba-tiba dia melihat Ceng Seng Hwesio berlari masuk melalui pintu, tampak tergesa-gesa dan melihat sikap dan wajahnya, mudah diduga bahwa tentu ada terjadi sesuatu yang penting.
"Ah, kebetulan engkau sudah bangun dan sudah mandi, Yo-Sicu. Mari kita pergi menghadap Suhu Bu Kek Tianglo sekarang juga!"
"Akan tetapi, Lo-Suhu kemarin mengatakan bahwa beliau sedang samadhi dan tidak mau diganggu?"
"Telah terjadi banyak hal penting. Selain untuk menyerahkan surat dari Lo-Cianpwe Tiong Li Seng-jin, juga Pinceng harus menyampaikan suatu laporan yang tidak kalah pentingnya!"
Hwesio itu memberi isarat dan Yo Kang mengikutinya dari belakang ketika Ceng Seng Hwesio setengah berlari menuju ke bagian belakang perumahan Siauw-Lim-Si itu.
Mereka berhenti di depan sebuah pintu tertutup.
Itulah pintu ruangan samadhi yang selama beberapa hari ini selalu tertutup dan tidak ada yang berani mengganggu sebelum Bu Kek Tianglo memanggil.
Ketua Siauw-Lim-Pai yang usianya sudah delapan puluh empat tahun itu memang merupakan seorang Pertapa yang hebat.
Kalau dia sedang bertapa dan bersamadhi memesan agar jangan diganggu, dia bisa bersamadhi selama berhari-hari tanpa makan minum!
Terdesak oleh kepentingan yang dianggapnya amat gawat, Ceng Seng Hwesio menjatuhkan dirinya berlutut di depan daun pintu itu dan berkata dengan suara yang terdengar lirih saja namun Yo Kang yang berlutut disampingnya maklum bahwa Hwesio itu bersuara dengan dorongan sinkang (tenaga sakti) sehingga suara lirih itu mampu menembus daun pintu!
"Suhu yang mulia!
Teecu (murid) Ceng Seng mohon beribu ampun dan siap menerima hukuman karena berani mengganggu...
Suhu sebelum Suhu memanggil.
Teecu ingin menyampaikan dua peristiwa yang amat gawat dan penting!"
Terasa hening setelah Ceng Seng Hwesio mengeluarkan kata-kata itu karena tidak terdengar jawaban.
Akan tetapi ada langkah kaki yang ringan sekali di belakang mereka dan tahu-tahu Lian Hong sudah berada di dekat mereka dan gadis ini pun ikut pula berlutut di dekat Ceng Seng Hwesio.
Yo Kang yang tidak mengenal gadis itu, hanya mengerling sedikit dan merasa heran bagaimana seorang gadis remaja itu berani berlutut pula di dekat Ceng Seng Hwesio tanpa permisi.
Dan anehnya, Ceng Seng Hwesio sama sekali tidak tampak marah atau terganggu, seolah kehadiran gadis remaja itu sudah semestinya.
Kemudian terdengar suara dari dalam ruangan itu.
Suara yang lembut dan lirih, namun jelas terdengar satu demi satu semua kata itu memasuki telinga Yo Kang.
"Ceng Seng dan Lian Hong, kalian masuklah dan ajak tamu itu masuk ke sini!"
Yo Kang dan Ceng Seng Hwesio memasuki ruangan itu bersama Lian Hong.
Melihat betapa Suhu mereka duduk bersila di atas sebuah bangku bundar, Ceng Seng Hwesio dan Lian Hong segera maju dan menjatuhkan diri berlutut di depan Guru mereka.
Yo Kang juga ikut berlutut di sebelah Ceng Seng Hwesio.
Dan melihat betapa Ketua Siauw-Lim-Pai itu sudah tua, lebih tua dari Suhunya yang berusia sekitar tujuh puluh lima tahun.
Bu Kek Tianglo ini tentu sudah berusia lebih dari delapan puluh tahun.
Wajahnya masih tampak cerah kemerahan dan anggun dengan kumis jenggot dan rambut yang sudah putih semua.
Sebuah tongkat panjang bersandar pada bangku itu.
Tampak lemah lembut namun penuh wibawa yang membuat orang merasa tunduk dan hormat.
Sejenak Bu Kek Tianglo memandang kepada Yo Kang dengan penuh perhatian, lalu dia berkata kepada Ceng Seng Hwesio.
"Ceng Seng, sekarang ceritakanlah apa yang engkau maksudkan dengan peristiwa penting itu."
"Suhu, Yo Kang Sicu ini adalah murid dari Lo-Cianpwe Tiong Li Seng-jin, Ketua Bu-Tong-Pai yang datang mohon menghadap Suhu untuk menyampaikan surat dari Suhunya."
"Omitohud, ada berita apakah dari Susiokmu (Paman Gurumu) Tiong Li Seng-jin?"
Ceng Seng Hwesio tentu saja mengetahui bahwa Ketua Bu-Tong-Pai itu sebetulnya masih Sute (adik seperguruan) Bu Kek Tianglo, akan tetapi karena Tiong Li Seng-jin kini sudah menjadi Tosu, di dalam hatinya dia enggan mengakuinya sebagai Paman Gurunya.
"Teecu kira lebih baik kalau Yo-Sicu menceritakan sendiri kepada Suhu."
Katanya.
"Yo Kang, bagaimana dengan keadaan Gurumu di Bu-Tong-Pai?"
Tanya Bu Kek Tianglo lembut kepada Yo Kang.
"Keadaan Suhu sehat-sehat saja, Lo-Cianpwe..."
"Omitohud, engkau menyebut Pinceng Lo-Cianpwe? Apakah engkau tidak tahu bahwa Pinceng Supekmu (Uwa Gurumu)"
"Teecu tidak berani, Lo-Cianpwe. Teecu adalah murid Bu-Tong-Pai dan ini Teecu diperintah Suhu menyampaikan surat kepada Lo-Cianpwe."
Yo Kang menyodorkan sesampul surat dan diterima oleh Bu Kek Tianglo sambil tersenyum.
Dengan tenang dia membuka surat itu dan membacanya.
Dua pasang mata mereka yang berlutut itu mengamati wajah Bu Kek Tianglo, menduga bahwa Hwesio renta itu akan menjadi terkejut sekali.
Mereka adalah Yo Kang dan Ceng Seng Hwesio.
Sedangkan Lian Hong memandang dengan penuh perhatian, menduga-duga apa isi surat dari Ketua Bu-Tong-Pai kepada Gurunya itu.
Akan tetapi wajah Bu Kek Tianglo sama sekali tidak memperlihatkan kekagetan.
Dia masih tenang-tenang saja, bahkan lalu berkata kepada Yo Kang.
"Yo Kang, ceritakanlah sejelasnya apa yang telah terjadi di Bu-Tong-Pai."
Yo Kang lalu menceritakan kembali tentang pembunuhan sembilan orang murid Bu-Tong-Pai, yaitu Bu-Tong Sam-Lo dan enam orang murid muda, yang dilakukan seorang Hwesio yang tidak dikenal karena mukanya tidak dapat dilihat jelas, terlindung kegelapan malam.
Pihak Bu-Tong-Pai menduga bahwa pembunuh itu seorang tokoh Siauw-Lim-Pai, bukan hanya karena berkepala gundul dan berjubah Hwesio, melainkan terutama sekali karena orang itu mempergunakan ilmu-ilmu dari Siauw-Lim-Pai, bahkan menggunakan ilmu sim-panan Siauw-Lim-Pai seperti Tat-Mo Sin-Kun dan tenaga sakti I-Kin-Keng.
Setelah Yo Kang selesai bercerita, tiba-tiba Lian Hong berseru lantang.
"Suhu, jangan percaya tuduhan itu...!!"
Ceng Seng Hwesio menegur gadis remaja itu. Akan tetapi Bu Kek Tianglo tersenyum lebar.
"Biarlah, Ceng Seng, biarlah Lian Hong bicara. Lanjutkan, Lian Hong, bagaimana kalau menurut pendapatmu tentang apa yang diceritakan Yo Kang tadi?"
"Teecu percaya bahwa pihak Bu-Tong-Pai tidak berbohong dan memang terjadi pembunuhan yang kejam itu. Akan tetapi kalau mereka mengira pembunuhnya murid Siauw-Lim-Pai, maka perkiraan itu sama sekali salah, bahkan. mereka itu dapat Teecu anggap berbohong dan menghina Siauw-Lim-Pai!"
"Hemm, apa alasanmu, Lian Hong?"
"Teecu yakin tidak ada murid Siauw-Lim-Pai yang melakukan perbuatan seperti itu. Pertama, karena murid tidak dididik untuk menjadi tukang pukul dan tukang bunuh yang kejam. Ke dua, semua orang mengetahui bahwa antara Siauw-Lim-Pai dan Bu-Tong-Pai terjalin hubungan baik bahkan masih sesumber. Selama ini tidak ada perselisihan paham antara kedua perguruan itu, maka mustahil kalau ada orang Siauw-Lim-Pai membunuhi orang Bu-Tong-Pai!"
"Omitohud, pendapatmu itu memang benar, akan tetapi kita mesti ingat akan penderitaan Bu-Tong-Pai yang menjadi korban. Pinceng dapat menerima apa yang dikatakan Tiong Li Seng-jin dalam suratnya ini. Nah, bacalah yang jelas agar Yo Kang dan Ceng Seng dapat mendengarnya, Lian Hong." (Lanjut ke
Jilid 16) Bayangan Bidadari/Sian Li Eng Cu (Cerita Lepas) Karya. Asmaraman S. Kho Ping Hoo
Jilid 16 Kakek itu menyerahkan surat kepada Lian Hong dan gadis remaja itu membacanya dengan lantang.
"Oleh karena dalam pembunuhan terhadap sembilan orang murid Bu-Tong-Pai terdapat bukti-bukti bahwa pelakunya seorang Siauw-Lim-Pai, maka demi keadilan kami menuntut agar Siauw-Lim-Pai melakukan penyelidikan dan menangkap pelaku pembunuhan itu, baik dia murid ataukah pelempar fitnah. Pihak kami memberi waktu pada hari Ulang Tahun Siauw-Lim-Pai beberapa bulan lagi. Pada hari itu kami akan datang untuk minta pertanggungan-jawab Siauw-Lim-Pai."
Demikian isi surat dari Ketua Bu-Tong-Pai untuk Ketua Siauw-Lim-Pai.
"Omitohud! Tuntutan Bu-Tong-Pai sudah adil. Kami harus dapat menangkap pelaku pembunuhan itu, baik dia murid Siauw-Lim-Pai maupun bukan, karena peristiwa itu menodai nama dan kehormatan Siauw-Lim-Pai."
Kata Bu Kek Tianglo.
"Akan tetapi, Suhu. Kalau tugas menangkap pelaku pembunuhan itu hanya dibebankan kepada kita, itu namanya sama sekali tidak adil! Bu-Tong-Pai yang terkena musibah itu, seharusnya mereka pun mencari pembunuhnya, masa mau enak-enak saja menonton kita harus sibuk mencari pembunuh itu? Mereka yang langsung berkepentingan, bukan kita!"
Kata Lian Hong lantang sambil memandang kepada Yo Kang dengan cemberut!
Yo Kang merasa mendongkol juga melihat sikap Lian Hong dan mendengar ucapan gadis remaja itu yang mencela Bu-Tong-Pai.
Dia segera memberi hormat kepada Bu Kek Tianglo.
"Lo-Cianpwe, hendaknya diketahui bahwa Suhu Tiong Li Seng-jin sudah memberi tugas kepada Teecu untuk melakukan penyelidikan dan kalau mungkin menangkap pembunuh itu!"
"Engkau?"
Tiba-tiba Lian Hong berseru sambil memandang Yo Kang.
"Sembilan orang murid Bu-Tong-Pai tewas di tangan pembunuh itu, di antaranya malah Bu-Tong Sam-Lo yang kabarnya merupakan tokoh-tokoh Bu-Tong-Pai yang tingkat kepandaiannya sudah tinggi. Bagaimana engkau seorang diri akan mampu menangkap pembunuh itu?"
"Siauw-moi...!"
Ceng Seng Hwesio kembali membentak Sumoinya karena dianggap tidak sopan terhadap tamu mereka.
"Heh-heh, biarkan saja orang-orang muda itu bicara, Ceng Seng!"
Kata Bu Kek Tianglo.
Tentu saja Yo Kang yang wataknya juga keras itu menjadi panas hatinya.
Akan tetapi di depan Bu Kek Tianglo dia tidak berani bersikap kasar.
Dia hanya memandang kepada gadis remaja itu dengan mata melotot, lalu berkata.
"Nona cilik, menghadapi pembunuh itu senjataku bukan ilmu kepandaian, melainkan kebenaran dan dengan kebenaran di pihakku, aku yakin akan menang."
"Huh, sombong!"
Kata Lian Hong, mendongkol juga disebut Nona Cilik.
"Suhu, perkenankan Teecu yang akan mewakili Siauw-Lim-Pai melakukan penyelidikan dan menangkap pembunuh yang menyamar sebagai murid Siauw-Lim-Pai itu!"
"Lian Hong, kita bicarakan lagi nanti tentang niatmu itu. Sekarang, Yo Kang, kalau engkau kembali ke Bu-Tong-Pai, katakan kepada Gurumu bahwa kami menerima semua permintaannya itu. Kami akan berusaha mencari pembunuh itu, dan seandainya gagal, besok pada Hari Ulang Tahun Siauw-Lim-Pai, kami akan menerima semua tuntutannya. Nah, Ceng Seng, ada urusan apalagi yang hendak kau laporkan?"
"Suhu, ketika Teecu bertemu dengan Yo-Sicu ini di dalam hutan di luar perumahan kita, tiba-tiba kami berdua diserbu oleh Tung Giam-Lo dan See Te-Tok yang membawa dua belas orang pasukan Mongol. Mereka hendak membunuh kami dan mengatakan bahwa Siauw-Lim-Pai dan Bu-Tong-Pai hendak memberontak setelah kami berdua tidak mau dijadikan tawanan untuk diperiksa dan diadili."
"Omitohud! Ini peristiwa gawat. Sebetulnya akan lebih baik kalau kalian berdua menyerah agar setelah diperiksa dan tidak bersalah kalian dibebaskan kembali. Akan tetapi semua sudah terlanjur, lalu bagaimana?"
"Kepandaian dua orang di antara Empat Datuk Besar itu lihai sekali, apalagi ditambah dua belas orang perajurit yang agaknya rata-rata memiliki ilmu silat yang cukup tinggi, Teecu berdua terdesak dan terancam maut. Akan tetapi tiba-tiba muncul Ketua Thian-Te-Pang bernama Gan Bouw yang lihai. Dia membantu kami sehingga empat belas orang itu dapat diusir pergi."
"Gan Bouw? Seingat Pinceng, Ketua Thian-Te-Pang adalah Li Bu Kok."
"Benar, Suhu. Gan Pangcu menceritakan bahwa Thian-Te-Pang diserbu gerombolan Tiga Belas Srigala Gila sehingga Li Pangcu tewas. Gan Bouw yang kebetulan lewat membantu, membunuh para penjahat itu dan dia lalu diangkat menjadi Ketua Thian-Te-Pang walaupun usianya masih amat muda, sekitar dua puluh lima tahun."
"Suheng, bagaimana dia begitu kebetulan lewat di sini dan membantu Suheng?"
Tanya Lian Hong.
Gadis ini memang wataknya terbuka sehingga di depan siapa pun, bahkan di depan Bu Kek Tianglo, ia berani bersikap wajar.
Justeru kewajaran dan keterbukaannya itu yang menarik hati dan mendatangkan perasaan kagum kepada Bu Kek Tianglo sehingga gadis itu diangkatnya menjadi murid pribadi.
"Menurut keterangannya, sebagai Ketua baru Gan Pangcu ingin memperkenalkan diri kepada para pimpinan partai-partai persilatan besar. Karena sudah bertemu dengan Pinceng, dia hanya memesan agar Pinceng menyampaikan salam hormatnya kepada Suhu dan para pimpinan Siauw-Lim-Pai. Juga kepada Yo-Sicu dia memberi pesan yang sama agar disampaikan kepada pimpinan Bu-Tong-Pai."
"Omitohud, sejak dulu Thian-Te-Pang terkenal menjadi perguruan silat yang melahirkan para pendekar. Kini mendapatkan seorang Ketua baru yang masih muda namun lihai, hal itu baik sekali. Sikap Gan Pangcu yang membantu kalian mengusir pasukan Mongol yang dipimpin dua orang Datuk Besar itu sudah menunjukkan bahwa dia seorang pendekar yang sehaluan dengan kita."
"Suhu, masih ada sebuah hal yang hendak Teecu sampaikan. Sejak kemarin dulu ada seorang tamu yang hendak menghadap Suhu. Dia Teecu suruh menanti di kamar pelayan. Akan Teecu panggil ke sini."
Setelah berkata demikian, Ceng Seng Hwesio keluar dari ruangan samadhi dan menuju ke kamar di mana pemuda bernama Si Han Lin itu tinggal untuk sementara sambil menanti Ketua Siauw-Lim-Pai menyelesaikan Pertapaannya.
Akan tetapi ketika dia tiba di kamar itu, ternyata kamar itu kosong!
Si Han Lin tidak berada di situ, dan anehnya, ketika Ceng Seng Hwesio bertanya-tanya kepada semua murid, tidak ada yang melihat pemuda itu keluar dari perumahan Siauw-Lim-Pai yang terjaga ketat!
Terpaksa Ceng Seng, setelah yakin bahwa pemuda itu minggat keluar dari Siauw-Lim-Pai tanpa ada yang mengetahuinya, segera kembali ke ruangan samadhi di mana Bu Kek Tianglo sedang mendengarkan keterangan dari Yo Kang tentang keadaan Bu-Tong-Pai pada umumnya.
"Suhu, ternyata pemuda itu telah menghilang tanpa ada yang mengetahui! Suhu, pemuda itu aneh dan mencurigakan sekali. Dia datang memasuki Siauw-Lim-Pai dengan cara mencuri dan diam-diam, tahu-tahu berada di taman dan ditangkap Sumoi Lian Hong."
Ceng Seng Hwesio dan Lian Hong berdua menceritakan tentang kemunculan pemuda itu kepada Bu Kek Tianglo.
"Wataknya aneh namun dia lihai sekali, Suhu. Dia mengaku sebagai murid Thian Beng Siansu dan katanya hendak bertemu dengan Suhu. Dia berkeras hendak bicara dengan Suhu sendiri, tidak mau memberitahukan Teecu apa kehendaknya maka Teecu suruh dia menunggu di kamar pelayan di belakang. Tahu-tahu kini dia sudah pergi tanpa pamit."
Bu Kek Tianglo tersenyum.
"Omitohud, sudahlah, Ceng Seng, jangan hiraukan lagi anak itu. Lupakan saja. Sute Thian Beng Siansu berwatak aneh, tentu saja muridnya juga aneh."
Karena Yo Kang mohon diberi surat balasan, Bu Kek Tianglo lalu menulis sepucuk surat balasan untuk Tiong Li Seng-jin.
Setelah menerima surat itu, Yo Kang berpamit dan meninggalkan Siauw-Lim-Si.
Dia sama sekali tidak menyadari bahwa gadis remaja yang dia anggap amat lancang dan ugal-ugalan tadi, Walaupun amat cantik manis, adalah puteri Bibinya, puteri Yo Cui Hong atau Adik tiri Kwee In Hong!
In Hong sama sekali tidak bercerita kepadanya tentang Lian Hong.
Bahkan ketika Yo Kang memboyong Yo Cui Hwa dari dusun Hok-Te-Cung ke See-Ciu sehingga Yo Cui Hwa kini tinggal di rumah Ayahnya dan dapat merawat Ayahnya yang tua dan sakit-sakitan, Yo Cui Hwa sama sekali tidak menceritakan kepada semua keluarganya tentang ia menikah dengan mendiang Ong Tiang Houw dan mempunyai seorang anak puteri bernama Ong Lian Hong.
Sebaliknya Lian Hong juga tidak mengenal Yo Kang, tidak tahu bahwa pemuda itu masih Kakak misannya sendiri, putera dari Kakak Ibunya!
Setelah Yo Kang pergi, Bu Kek Tianglo menahan Ceng Seng Hwesio dan Ong Lian Hong, diajak berunding dalam ruangan samadhi itu.
"Kalian dengarkan baik-baik. Peristiwa yang menimpa Bu-Tong-Pai itu sebenarnya amatlah gawat. Bukan hanya Bu-Tong-Pai yang tertimpa bencana kematian murid-muridnya, akan tetapi bagi kita lebih parah lagi akibatnya karena nama Siauw-Lim-Pai menjadi tercemar dan mungkin akan dimusuhi Bu-Tong-Pai."
"Akan tetapi jelas bukan pihak kita yang melakukan pembunuhan kejam itu, Suhu!"
Kata Lian Hong.
"Omitohud, belum tentu Lian Hong."
"Apa maksud Suhu?"
Lian Hong dan Ceng Seng Hwesio bertanya kaget.
"Pelaku peristiwa kejam yang penuh rahasia itu memang aneh, dan di sini terdapat banyak sekali kemungkinan. Bagaimana aneh dan tak masuk akalnya, harus diakui bahwa bukan hal yang mustahil kalau ada seorang murid Siauw-Lim-Pai yang menaruh dendam kepada Bu-Tong-Pai dan melakukan pembunuhan ini. Mungkin dendam pribadi, siapa tahu? Jadi bisa saja pembunuhnya memang seorang murid Siauw-Lim-Pai..."
"Atau bekas murid."
Sambung Ceng Seng Hwesio yang tiba-tiba teringat kepada Si Han Lin dan Gurunya.
Bukankah Thian Beng Siansu juga tadinya orang Siauw-Lim-Pai dan kepandaiannya sudah mencapai tingkat tinggi sekali?
"Hemm, bisa juga.
Nah, tersangkanya sudah ada dua.
Murid Siauw-Lim-Pai atau bekas murid Siauw-Lim-Pai.
Kemudian ada tersangka lain, yaitu orang yang tentu saja berkepandaian tinggi yang menaruh dendam kepada Bu-Tong-Pai sehingga melakukan pembunuhan itu, seorang dari aliran perguruan silat lain."
"Suhu, kalau benar ada orang dari perguruan lain, Teecu kira dendamnya bukan hanya kepada Bu-Tong-Pai, akan tetapi juga kepada Siauw-Lim-Pai karena dia hendak merusak nama dengan menyamar sebagai seorang Hwesio Siauw-Lim-Pai."
Kata Lian Hong.
"Bagus, alasan itu dapat diterima. Nah, selain tiga golongan itu, bagaimana menurut kalian? Apakah ada golongan lain?"
Tanya Bu Kek Tianglo.
"Masih ada, Suhu. Misalnya Empat Datuk Besar yang selalu tidak bersahabat dengan para pendekar. Sudah jelas dua di antara mereka hendak membunuh Suheng Ceng Seng Hwesio dan Yo Kang murid Bu-Tong-Pai, berarti mereka terang-terangan memusuhi kedua partai persilatan. Apalagi mereka membawa pasukan Mongol. Bisa saja pembunuhan itu dilakukan oleh seorang dari mereka yang memang berkepandaian tinggi, dan mereka melakukannya sebagai anjing penjilat atau antek penjajah Mongol!"
Kata pula Lian Hong. Bu Kek Tianglo mengangguk-angguk.
"Omitohud, agaknya engkau sudah mulai dewasa dan mampu berpikir cerdik, Lian Hong. Dugaanmu itu memang mempunyai kemungkinan besar."
"Suhu, Teecu teringat... akan tetapi sebelumnya harap Suhu maafkan... ini hanya pendapat Teecu. Kemunculan Si Han Lin itu menimbulkan kecurigaan dalam hati Teecu. Bukankah Thian Beng Siansu memiliki semua ilmu Siauw-Lim-Pai yang tinggi dan beliau meninggalkan Siauw-Lim-Pai... maaf, Suhu."
"Hemm, tidak perlu minta maaf. Pinceng mengerti akan kecurigaanmu dan memang masuk akal pula. Nah, Lian Hong, kata-kata Suhengmu itu menambah daftar tersangka."
"Kalau begitu Teecu juga dapat mengatakan bahwa Tiong Li Seng-jin sendiri, Ketua Bu-Tong-Pai, rasanya juga tidak mustahil melakukan itu karena beliau juga masih sealiran dengan perguruan kita, bukan?"
"Aih, Sumoii Mana mungkin? Yang terbunuh adalah murid-murid beliau sendiri!"
Kata Ceng Seng Hwesio.
"Kita hanya bicara tentang kemungkinan siapa yang dapat melakukan pembunuhan itu, Suheng. Aku bukan menuduh, akan tetapi kalau Ketua Bu-Tong-Pai mau melakukan pembunuhan itu, dia dapat melakukannya, bukan?"
Bantah Lian Hong.
"Ha-ha, sekarang engkau mendapatkan banyak bahan untuk penyelidikanmu, Lian Hong. Karena engkaulah yang Pinceng beri tugas untuk melakukan penyelidikan dan menangkap pembunuh itu untuk membersihkan nama Siauw-Lim-Pai!"
"Teecu, Suhu...?"
Lian Hong terkejut, akan tetapi segera disambungnya.
"Kalau begitu kebetulan sekali. Teecu juga sudah rindu kepada Ibu! Teecu akan sekalian menjenguk Ibu di Hok-Te-Cung!"
"Mengapa Sumoi, Suhu? Teecu akui bahwa kepandaiannya sudah meningkat, akan tetapi ia masih amat muda dan Teecu kira pembunuhnya adalah seorang yang lihai sekali. Amat berbahaya bagi Sumoi. Apakah tidak sebaiknya Teecu saja yang pergi, Suhu?"
"Suheng, biar pembunuh itu lihai seperti setan, aku tidak takut!"
Seru Lian Hong.
"Omitohud, jangan berebut. Ceng Seng, engkau amat diperlukan oleh Siauw-Lim-Pai, untuk mengatur segala sesuatu dan mulai sekarang melakukan penjagaan ketat karena jelas ada yang memusuhi kita. Dan tentang Lian Hong, jangan khawatir. Sebelum berangkat, Pinceng akan meningkatkan Tenaga Sakti I-Kin-Keng dalam dirinya."
Demikianlah, selama beberapa hari Bu Kek Tianglo mengoperkan tenaga I-Kin-Keng secara langsung kepada Lian Hong, disesuaikan dengan ilmu Tat-Mo Sin-Kun.
Karena Lian Hong memang berbakat dan sudah memiliki dasar yang kuat sekali, maka dalam waktu beberapa hari saja tingkatnya sudah naik pesat.
la kini dapat memiliki tingkat ke enam dari Tat-Mo Sin-Kun dengan tenaga sakti I-Kin-Keng.
Suhengnya sendiri, Ceng Seng Hwesio hanya mencapai tingkat empat lebih saja.
Setelah mendapat restu dan ijin Bu Kek Tianglo, berangkatlah Lian Hong meninggalkan Siauw-Lim-Si.
Pada waktu itu, usianya sudah enam betas tahun lebih.
Kun-Lun-Pai adalah sebuah di antara empat perguruan silat yang besar dan terkenal sekali.
Memiliki banyak cabang, akan tetapi murid yang hendak memperdalam ilmu-ilmunya selalu datang ke pusat Kun-Lun-Pai di Pegunungan Kun-Lun yang letaknya di bagian Barat.
Seperti juga Go-Bi-San, Himalaya dan pegunungan-pegunungan besar lain yang sunyi, Kun-Lun-San didatangi banyak Pertapa dari berbagai penjuru.
Para Pertapa ini pada umumnya memiliki kekuatan lahir batin sehingga Kun-Lun-Pai dapat mengumpulkan banyak ilmu dari para Pertapa itu.
Murid-murid yang lulus dari Kun-Lun-Pai menjadi jago-jago silat atau pendekar-pendekar yang disegani dan gagah perkasa.
Sebagai partai persilatan yang bersih dan berwatak pendekar, seperti tiga partai lain, yaitu Siauw-Lim-Pai, Go-Bi-Pai, dan Bu-Tong-Pai!
Kun-Lun-Pai tentu saja juga membenci pemerintah Mongol yang menjajah tanah air dan bangsa.
Akan tetapi kebencian dan sikap permusuhan mereka pun, seperti tiga partai lainnya, tidak mereka nyatakan dengan pemberontakan karena mereka tahu bahwa memberontak terhadap Kerajaan Mongol yang memiliki bala-tentara besar yang amat tangguh, tidak akan ada hasilnya malah seperti bunuh diri saja.
Pemberontakan terhadap Kerajaan Mongol baru akan berhasil kalau didukung seluruh rakyat sehingga dapat dibentuk bala-tentara yang besar jumlahnya.
Menggerakkan rakyat inilah yang tidak mudah, bahkan amat sukar.
Sekarang pun banyak sekali perkumpulan-perkumpulan silat dan orang-orang yang memiliki kesaktian, terutama di kalangan kang-ouw yang termasuk golongan hitam, sudah terbujuk dan membantu Pemerintah Mongol.
Kalau Siauw-Lim-Pai terkenal sebagai sebuah perguruan silat yang memegang peraturan ketat dan keras, maka Kun-Lun-Pai lebih keras lagi.
Apalagi karena ketika itu Kun-Lun-Pai dipimpin oleh Ketuanya yang berwatak keras, yaitu Pek Ciang San-Lojin (Kakek Gunung Bertangan Putih).Kakek yang usianya sekitar tujuh puluh tahun ini terkenal keras dan berdisiplin.
Mungkin karena tegas, tertib dan berdisiplin inilah yang membuat dia dahulu diangkat menjadi Ketua walaupun dalam hal tingkat ilmu silat, masih ada yang jauh melampauinya, yaitu Susioknya (Paman Gurunya) yang bernama Siang Te Lokai (Pengemis Tua) yang menjadi tukang sapu di Kuil Kun-Lun-Pai.
Bukan diangkat menjadi tukang sapu, melainkan atas kehendak sendiri dan biarpun dia tukang sapu, semua Tosu dan murid Kun-Lun-Pai menghormatinya.
Bahkan Pek Ciang San-Lojin sang Ketua pun menghormati Paman Guru yang merendahkan diri menjadi tukang sapu ini.
Beberapa tahun yang lalu, Kwee In Hong pernah menyerbu Kun-Lun-Pai dan membunuh tiga orang tokoh Kun-Lun-Pai, Yaitu Kun-Lun Sam Lojin (TigaKakek Kun-Lun) yang menjadi murid-murid tertua dan mewakili Guru mereka mengurus Kun-Lun-Pai.
Tiga orang tokoh ini dan beberapa orang murid yang mengeroyok Kwee In Hong tewas oleh gadis itu yang membalas dendam atas kematian men-diang Gurunya, Hek Moli (Iblis Betina Hitam) yang dulu tewas dikeroyok tiga orang tokoh Kun-Lun-Pai itu dan beberapa orang Go-Bi-Pai.
Setelah tiga orang pembantu utama itu tewas, Pek Ciang San-Lojin lalu mengangkat lagi dua orang murid utama yang terkenal dengan sebutan Im Yang Siang To-jin (Sepasang Pendeta Im Yang), dan nama mereka yang pertama adalah Im Sim To-jin dan yang kedua Yang Sim To-jin.
Im Sim To-jin sekitar empat puluh lima tahun, bertubuh tinggi besar bermuka putih, ahli Im Sinkang (Tenaga Sakti Dingin) dan senjatanya sehelai sabuk putih.
Yang Sim To-jin bertubuh tinggi besar pula dengan muka merah dan dia adalah seorang ahli silat Yang Sinkang (Tenaga Sakti Panas).
Untuk memperkuat kedudukan dan ketangguhan mereka, maka Pek Ciang San-Lojin merangkai sebuah ilmu berpasangan untuk mereka sehingga kedua orang Tosu ini kalau maju bersama menjadi Im-Yang-Tin (Kesatuan Im Yang) dan kelihaian mereka tidak kalah dibandingkan Kun-Lun Sam Lojin, para suheng mereka yang tewas di tangan Kwee In Hong.
Apalagi karena mereka berdua juga mendapat petunjuk dari Siang Te Lokai, Susiok-Couw (PamanKakek Guru) mereka yang bekerja di Kun-Lun-Pai sebagai tukang sapu yang pakaiannya seperti pengemis dan usianya sudah sekitar delapan puluh lima tahun!
Pada suatu malam yang dingin.
Bulan sepotong muncul dan biarpun langit bersih, namun cahaya bulan sepotong hanya memberi penerangan yang remang-remang, namun mendatangkan suasana yang indah, hening, dan penuh rahasia.
Suasana seperti itu membuat mereka yang percaya akan tahyul merasa seram, seolah pada saat seperti itu, para iblis siluman berkeliaran mencari mangsa.
Tiba-tiba ada bayangan berkelebat.
Demikian cepatnya bayangan itu berkelebat sehingga tidak dapat tampak jelas wajahnya dan kalau ada yang kebetulan melihatnya, hanya akan melihat bayangan berkepala gundul berjubah longgar seperti yang biasa dipakai para Hwesio.
Akan tetapi itu pun hanya bayangan karena gerakan bayangan itu cepat luar biasa.
Sebentar saja bayangan hitam itu telah tiba di luar pintu gerbang Kun-Lun-Pai yang dijaga oleh dua belas orang murid Kun-Lun-Pai.
Penjagaan di Kun-Lun-Pai memang diperketat.
Berita tentang pembunuhan yang terjadi di Bu-Tong-Pai tersiar cepat sehingga Kun-Lun-Pai sudah mendengarnya.
Selain itu, mereka juga mendengar bahwa pasukan pemerintah Mongol mulai memperhatikan mereka dengan curiga.
Beberapa kali ada panglima membawa pasukan yang lewat tak jauh dari Kun-Lun-Pai.
Walaupun pasukan itu tidak melakukan sesuatu, namun mereka merasa bahwa Kun-Lun-Pai diperhatikan dan Pek Ciang San-Lojin yang berwatak keras ini memerintahkan anak buahnya untuk melakukan penjagaan ketat.
Siang malam ada murid-murid yang melakukan penjagaan dan melakukan perondaan di sekeliling perumahan.
Bayangan itu kini berlari cepat dan setelah berada dekat pintu gerbang, beberapa orang murid Kun-Lun-Pai melihatnya.
"Hei, siapa engkau!"
Bentak seorang murid yang menjadi curiga dan dia cepat melompat menghampiri bayangan itu sambil membawa goloknya.
Bayangan hitam berkepala gundul itu memperlambat larinya dan ketika pengejarnya sudah dekat, tiba-tiba dia membalikkan tubuhnya, kakinya mencuat bagaikan kilat menyambar dan murid Kun-Lun-Pai itu roboh tak dapat bangun kembali karena tewas seketika terkena tendangan maut yang menyambar bawah pusarnya!
Tentu saja para murid Kun-Lun-Pai terkejut bukan main.
Walaupun cuaca remang-remang dan mereka tidak dapat melihat wajah orang asing itu dengan jelas, hanya tampak sesosok bayangan hitam berkepala gundul, namun mereka melihat betapa seorang saudara mereka tertendang roboh dan tidak bangkit kembali.
Tentu saja mereka menjadi marah dan sebelas orang murid itu, dengan senjata pedang atau golok terhunus, segera berbondong lari menghampiri bayangan hitam itu.
"Hei, siapa engkau berani membunuh seorang saudara kami? Menyerahlah, atau terpaksa kami akan membunuhmu!"
Bentak seorang murid Kun-Lun-Pai yang menjadi kepala jaga.
Akan tetapi bayangan itu tidak menjawab, bahkan dengan gerakan cepat sekali menyerang murid yang menegurnya itu.
Murid Kun-Lun-Pai itu telah memiliki kepandaian yang cukup lumayan.
Melihat serangan tangan kiri bayangan hitam itu mengeluarkan bunyi berdesing dan didahului hawa pukulan dahsyat sekali, dia maklum bahwa serangan itu merupakan serangan maut.
Cepat dia melempar tubuh ke belakang dan membuat poksai (salto) sehingga terhindar dari serangan lawan.
Melihat bayangan hitam itu menyerang, murid-murid lain segera menerjang maju dan mengeroyok.
Golok dan pedang mereka menyambar-nyambar Si Hitam yang berada dalam kepungan mereka itu.
Akan tetapi akibatnya amat hebat bagi para murid Kun-Lun-Pai.
Bayangan hitam itu ternyata dapat bergerak cepat sekali sehingga tidak dapat diikuti de-gan mata.
Apalagi gerakan yang cepat itu dibantu dengan keadaan cuaca yang remang-remang.
Bayangan itu berkelebatan, seolah-olah dapat menghilang.
Bayangan itu berkelebat di antara sambaran senjata-senjata tajam itu, terkadang dia menggunakan kedua tangan dan kedua kakinya yang menyambar dan menangkis.
Setiap kali tangan atau kakinya bertemu pedang atau golok, senjata itu terlempar dan terlepas dari tangan pemegangnya.
Kemudian susulan serangannya, baik berupa pukulan maupun tendangan, merobohkan mereka dan tidak memungkinkan mereka bangkit kembali karena semua serangannya mendatangkan maut!
Dalam waktu yang tidak terlalu lama, sepuluh orang murid Kun-Lun-Pai sudah roboh dan tewas.
Yang dua orang lagi tentu akan segera menyusul saudara-saudaranya kalau saja tidak muncul dua orang Tosu.
Mereka itu bukan lain adalah Im Yang Siang To-jin, sepasang Tosu pimpinan Kun-Lun-Pai yang menjadi pembantu Guru mereka, Pek Ciang San-Lojin.
"Iblis jahat!"
Bentak Im Sim To-jin.
"Kejam sekali!"
Bentak pula Yang Sim To-jin dan mereka tidak membuang waktu lagi.
Melihat sepuluh orang murid mereka berserakan di situ menjadi mayat, mereka marah sekali dan cepat mereka menyerang.
Bagaimanapun juga mereka yang melihat bahwa bayangan hitam berkepala gundul itu tidak memegang senjata, mereka pun menyerang dengan tangan kosong, tidak mencabut pedang yang menempel di punggung mereka.
Karena kedua orang Tosu tokoh Kun-Lun-Pai ini maklum bahwa orang dalam waktu singkat telah dapat menewaskan sepuluh orang murid mereka pasti memiliki ilmu kepandaian tinggi, maka begitu menyerang, keduanya telah mengerahkan tenaga Pek-Kong-Ciang (Tangan Sinar Putih) dan menghantam ke arah bayangan hitam itu.
Si Bayangan Hitam agaknya maklum akan bahaya pukulan ini.
Dia mendorongkan kedua tangannya menyambut pukulan kedua orang itu.
"Blaarrr...!"
Pertemuan antara dua tenaga sakti itu membuat Im Yang Siang To-jin terhuyung ke belakang!
Mereka terkejut bukan main.
Pek-Kong-Ciang adalah ilmu tingkat tinggi Kun-Lun-Pai, didorong oleh tenaga sakti yang amat kuat.
Namun Si Bayangan Hitam itu mampu menangkis dengan tenaga yang tidak kalah kuatnya!
"Keparat!
Katakan, siapa engkau!"
Im Sim To-jin membentak.
Akan tetapi Si Bayangan Hitam itu hanya mengeluarkan suara tawa lirih seningga sukar untuk dikenali apakah itu suara wanita atau pria, muda atau tua.
Mendengar tawa yang nadanya mengejek ini, Im Sim Tosu dan Yang Sim Tosu menjadi semakin marah dan mereka berdua lalu mencabut pedang mereka dan memainkan Im Yang Sin-Kiam (Ilmu Pe-dan Positip/Negatip) yang amat hebat itu.
Im Sin-Kiam gerakannya lembut dan mengandung hawa dingin tenaga saktinya, Sebaliknya Yang Sin-Kiam gerakannya kasar dan kuat, mengandung hawa panas!
Sungguh berbahaya sekali kalau dua ilmu pedang ini digabung dan jarang ada lawan yang mampu bertahan.
Diserang dengan ilmu pedang yang amat dahsyat ini, bayangan hitam itu melempar tubuh ke belakang lalu bergulingan.
Ketika dia melompat bangun, tangannya sudah memegang sebatang pedang yang dipungutnya dari atas tanah.
Itu adalah pedang milik seorang murid Kun-Lun-Pai yang telah tewas.
Kini, ketika sepasang pedang dari kanan kiri itu menyerangnya, Si Bayangan Hitam menggerakkan pedangnya menangkis dengan gerakan aneh karena gerakan pedangnya mirip gerakan pedang dua orang lawannya!
Im Sim To-jin dan Yang Sim To-jin terkejut dan merasa heran sekali.
Bayangan hitam itu agaknya mengenal ilmu pedang Im Yang Sin-Kiam!
Mereka bertanding sampai belasan jurus dan kedua orang itu masih belum mampu mendesak lawannya yang hanya memegang sebatang pedang biasa, bukan pedang-pedang pusaka ampuh seperti pedang mereka.
Tiba-tiba dari pintu gerbang bermunculan murid-murid Kun-Lun-Pai yang memegang obor.
Melihat ini, Si Bayangan Hitam memutar pedangnya sedemikian kuat dan cepatnya sehingga merupakan sinar bergulung-gulung mengancam kedua orang lawannya.
Dua orang Tosu itu terkejut, merasakan tekanan hawa sakti yang keluar dari gulungan sinar pedang, maka terpaksa mereka berdua berloncatan ke belakang.
Akan tetapi kesempatan itu digunakan oleh Si Bayangan Hitam untuk melompat jauh ke belakang dan menghilang dalam kegelapan malam.
Di bawah pimpinan Im Yang Siang To-jin, hampir semua murid Kun-Lun-Pai melakukan pengejaran sambil membawa obor.
Mereka tidak berani berpencar dalam kelompok keciI, lalu berpencar dalam kelompok masing-masing dua puluh orang.
Mereka melakukan pencarian sampai keesokan harinya.
Namun tidak ada hasilnya.
Si Bayangan Hitam itu seolah lenyap ditelan kegelapan malam dan tidak meninggalkan jejak.
Im Yang Siang To-jin, kedua orang Tosu itu merasa penasaran sekali.
Mereka menyuruh semua murid mereka kembali ke Kun-Lun-Pai untuk memberi laporan kepada Pek Ciang San-Lojin dan merawat para murid yang tewas.
Akan tetapi mereka berdua masih melanjutkan pencarian mereka dengan bertanya-tanya di dusun-dusun sekitar kaki pegunungan Kun-Lun-San kalau-kalau ada yang melihat seorang Hwesio lewat di situ.
Mereka berdua yakin bahwa pembunuh murid-murid mereka pasti seorang Hwesio yang berilmu tinggi.
Hanya sayang sekali, mereka tidak dapat melihat wajahnya, bahkan tidak dapat mengatakan apakah Hwesio itu tua atau muda, bahkan juga tidak yakin apakah orang itu Hwesio (Pendeta pria) ataukah Nikouw (Pendeta wanita)!
Sudah tiga hari tiga malam dua orang yang merasa penasaran, marah, dan sakit hati itu melacak pembunuh itu, namun tidak ada hasilnya.
Tidak ada seorang pun di pedusunan yang melihat seorang Hwesio lewat di dusun mereka.
Pembunuh itu benar-benar seperti telah menghilang tanpa meninggalkan jejak sama sekali.
Pada hari keempat, mereka terpaksa mengambil keputusan untuk kembali ke Kuil karena harus memberi laporan kepada Guru mereka, Pek Ciang San-Lojin.
Pada siang hari itu, mereka mulai tiba di kaki pegunungan dan tiba-tiba terdengar seruan dari arah belakang mereka.
"Ji-wi Toyu (Kedua Sahabat), harap berhenti dulu!"
Im Sim To-jin dan Yang Sim To-jin berhenti melangkah dan cepat membalikkan tubuh.
Seorang yang pada pakaiannya dapat diketahui bahwa dia seorang Tosu (Pendeta To) pula, kini berdiri di depan mereka.
Tosu ini berusia sekitar enam puluh dua tahun, tubuhnya tinggi kurus dan jenggotnya panjang.
Biarpun mereka semua adalah Pendeta Agama To, namun dari pakaian Tosu tinggi kurus ini yang berjubah kelabu, Im Yang Siang To-jin dapat menduga bahwa mereka berhadapan dengan seorang Tosu dari perguruan Go-Bi-Pai.
Dugaan mereka benar karena Tosu itu bukan lain adalah Wu Wi Thaisu, wakil Ketua Go-Bi-Pai.
Wu Wi Thaisu juga segera dapat mengenal dua orang Tosu itu bahwa mereka tentulah tokoh-tokoh Kun-Lun-Pai, dilihat dari pakaian mereka.
Maka tadi dia segera memanggil mereka.
Setelah saling berhadapan, Wu Wi Thaisu memberi hormat dan berkata.
"Maafkan Pinto, kalau Pinto tidak salah lihat, Ji-wi (Anda Berdua) tentu dari Kun-Lun-Pai, bukan?"
Kedua orang tokoh Kun-Lun-Pai itu mengangkat kedua tangan di depan dada sebagai penghormatan balasan, kemudian Im Sim To-jin menjawab dengan sikap hormat.
"Siancai, bukankah kami berhadapan dengan seorang tokoh penting Go-Bi-Pai? Bolehkah kami mengetahui siapa nama Totiang yang terhormat?"
"Pinto adalah Wu Wi Thaisu dart Go-Bi-Pai? Dan Ji-wi Toyu siapakah?"
"Ah, kiranya Totiang adalah wakil Ketua Go-Bi-Pai! Kami berdua adalah lm Sim To-jin dan Yang Sim To-jin dari Kun-Lun-Pai."
"Siancai! Tentu Ji-wi yang terkenal dengan sebutan Im Yang Siang To-jin. Akan tetapi Pinto melihat betapa wajah Ji-wi tampak pucat dan agaknya menderita kelelahan lahir batin. Pasti telah terjadi sesuatu yang tidak baik!"
"Dugaan Totiang memang benar, akan tetapi sebaliknya, Totiang hendak pergi ke manakah?"
"Pinto memang sengaja hendak mengunjungi Kun-Lun-Pai dan hendak bicara dengan Lo-Cianpwe Pek Ciang San-Lojin. Telah terjadi peristiwa yang hebat di Go-Bi-San yang ingin Pinto bicarakan dengan beliau."
"Kalau begitu kebetulan sekali, Wu Wi Thaisu, kami juga mengalami peristiwa yang hebat. Mari kita menghadap Suhu, sebaiknya kita bicarakan semua itu di sana karena kami telah meninggalkan Kun-Lun-Pai selama tiga hari tiga malam dan Suhu tentu menanti-nanti kepulangan kami berdua."
Akan tetapi pada saat itu terdengar derap kaki banyak kuda sehingga tiga orang Tosu itu terkejut dan cepat menghadap ke arah datangnya rombongan berkuda itu.
Muncul lima belas orang penunggang kuda, dipimpin oleh lima orang berpakaian preman akan tetapi yang sepuluh orang di belakang mereka berpakaian perajurit Mongol!
Tiga orang Tosu itu mengerutkan alis.
Biarpun tidak bermusuhan secara terbuka dengan pemerintah penjajah Mongol, namun sebagai pendekar-pendekar gagah perkasa mereka tidak senang akan penjajahan yang dilakukan bangsa Mongol atas tanah air dan bangsa mereka.
"Siancai, dua di antara lima orang itu adalah Pak Lo-Kui Si Setan Utara dan Lam Sian Si Dewa Selatan."
Kata Wu Wi Thaisu lirih.
"Datuk Besar Utara dan Datuk Besar Selatan?"
Bisik pula Im Sim To-jin.
Lima orang itu tiba di depan mereka dan berlompatan turun dari atas kuda mereka yang segera dituntun oleh para perajurit yang sudah berlompatan turun pula dari atas kuda masing-masing.
Pak Lo-Kui,Kakek berusia enam puluh tahun lebih yang bertubuh kurus bongkok dengan muka tanpa kumis jenggot, pakaiannya dari sutera putih halus, berjalan menghampiri tiga orang Tosu itu.
Di sampingnya berjalan Lam Sian,Kakek sebaya yang bertubuh gemuk pendek, mukanya penuh tawa dengan mulut lebar menyeringai sehingga mukanya seperti muka kanak-kanak, pakaiannya serba kuning dan lehernya dikalungi tasbeh seolah-olah dia seorang Pendeta yang selalu sibuk berdoa.
Tiga orang lain yang bertubuh tinggi besar dengan kulit kehitaman dan punggungnya tergantung golok besar dan berat, tidak dikenal oleh tiga orang Tosu itu.
Akan tetapi dari keadaan mereka, para Tosu itu diam-diam dapat menduga bahwa mereka itu pastilah tiga orang tokoh besar dunia kang-ouw golongan sesat yang dikenal dengan julukan Twa-To Sam-Liong (Tiga Naga Golok Besar), yang sudah bertahun-tahun menjadi Raja-Raja bajak sungai Yang-Ce-Kiang.
"Siancai! Kalau Pinto bertiga tidak salah lihat, agaknya Pak Lo-Kui dan Lam Sian ditemani Twa-To Sam-Liong yang datang menemui kami dengan membawa pasukan. Tidak tahu ada urusan apakah kalian dengan kami bertiga?"
"Ha-ha-ha-heh-heh!"
Lam Sian tertawa bergelak sampai perutnya yang gendut itu bergoyang-goyang.
"Tadinya kami tidak percaya mendengar bahwa Kun-Lun-Pai hendak memberontak terhadap Kerajaan Goan (Yuan). Ternyata sekarang kami menangkap basah. Wakil Ketua Go-Bi-Pai Wu Wi Thaisu mengadakan pertemuan dengan Im Yang Siang To-jin, tokoh-tokoh besar Kun-Lun-Pai di sini! Apalagi kalau tidak hendak melakukan persekutuan untuk memberontak?"
Mendengar ucapan ini, Wu Wi Thaisu yang berwatak keras dan pada saat itu memang sedang gelap pikiran dan mengkal hatinya karena peristiwa yang terjadi di Go-Bi-Pai menjawab dengan suara Iantang.
"Lam Sian, namamu Dewa akan tetapi hatimu Iblis, siapa yang tidak tahu? Mukamu cerah akan tetapi hatimu gelap, itu pun bukan rahasia lagi! Jangan membuka mulut melempar fitnah dan tuduhan keji tanpa dasar! Katakan, apa kehendak kalian mengganggu kami bertiga di sini?"
"Hek-hek-hek!"
Pak Lo-Kui terkekeh.
"Kalian tiga orang Tosu lebih baik menyerah untuk kami bawa kepada jaksa yang akan memeriksa dan mengadili kalian. Kami mencurigai kalian sedang berunding untuk melakukan pemberontakan!"
"Manusia-manusia sesat!"
Kata Yang Sim To-jin Tosu bermuka merah yang juga mudah terbakar perasaannya.
"Kalian jangan macam-macam! Tempat ini termasuk wilayah Kun-Lun-Pai, kalian jangan membuat ulah dan pergilah dari sini jangan mengganggu Pinto bertiga!"
"Ha-ha-ha, Setan Utara, sikap mereka ini jelas sudah merupakan pemberontakan, berani menentang kami yang menjadi petugas pemerintah. Niat memberontak mereka sudah tampak dan terbukti!"
Mendengar kata-kata Lam Sian ini, Im Sim To-jin yang lebih sabar melihat bahwa kalau terjadi perkelahian, pihak mereka yang terancam bahaya.
Dia sudah mendengar akan kesaktian Dua Datuk Besar itu, juga Twa-To Sam-Liong.
Apalagi mereka masih membawa sepuluh orang perajurit Mongol.
Kalau dia berdua bersama Wu Wi Thaisu dibantu oleh banyak murid Kun-Lun-Pai, apalagi oleh Gurunya, Pek Ciang San-Lojin, tentu saja tidak akan sukar untuk membasmi lima belas orang ini.
Maka dia lalu maju dan berkata kepada dua orang Datuk Besar itu.
"Pak Lo-Kui dan Lam Sian, kalau kalian hendak membicarakan urusan pemberontakan, mari silakan ikut kami ke Kun-Lun-Pai. Di sana kalian dapat membicarakannya dengan Ketua kami. Kami sendiri tahu apa-apa tentang hal itu."
"Tidak perlu banyak bicara lagi. Menyerahlah atau kami akan menggunakan kekerasan!"
Bentak Pak Lo-Kui sambil mengacungkan pedangnya ke atas kepala. Juga Lam Sian sudah memutar tasbehnya yang merupakan senjatanya yang istimewa, sambil memberi aba-aba.
"Tangkap tiga orang Tosu ini!"
Twa-To Sam-Liong, tiga orang tinggi besar berkulit hitam itu sudah mencabut golok besar mereka yang berat dan mereka sudah menerjang ke depan, menyerang tiga orang Tosu itu dengan golok mereka.
Wu Wi Thaisu, Im Sim To-jin dan Yang Sim To-jin sudah mencabut pedang dan menangkis.
"Trang-trang-trangg...!"
Tiga batang golok bertemu tiga batang pedang dan bunga api berpercikan menyilaukan mata seperti kembang api.
Tiga orang Tosu itu terkejut juga karena ternyata tiga orang Raja Bajak Sungai Yang-Ce ini bukan hanya memiliki nama kosong belaka.
Pertemuan senjata mereka dengan golok tadi membuktikan bahwa mereka memiliki tenaga yang kuat, mampu mengimbangi tenaga mereka sendiri.
Padahal di situ masih ada Setan Utara dan Dewa Selatan!
Pak Lo-Kui dan Lam Sian segera maju mengeroyok.
Wu Wi Thaisu bertanding melawan Lam Sian yang merupakan Datuk paling lihal di antara Empat Datuk Besar.
Biarpun senjatanya hanya seuntai tasbeh, namun tasbeh itu kini menjadi segulung sinar hitam yang berputar cepat sekali dan menyambar dengan serangan maut!
Wu Wi Thaisu maklum akan bahayanya serangan ini.
Cepat dia memutar pedangnya sambil mencongkan tubuh ke kiri, lalu pedangnya membacok ke arah gulungan sinar hitam itu.
"Ttrraakkk-tranggg...!!"
Hebat bukan main pertemuan kedua senjata itu dan Wu Wi Thaisu merasakan betapa tangannya yang memegang gagang pedang tergetar hebat.
Juga di lain pihak Lam Sian merasa betapa lengannya juga terguncang.
Keduanya saling memaklumi akan kekuatan lawan dan segera terjadi perkelahian seru antara dua orang tua sakti ini.
Akan tetapi segera ada empat orang perajurit yang bersenjata tombak panjang datang membantu Lam Sian.
Biarpun serangan mereka tidak terlalu berbahaya bagi Wu Wi Thaisu, akan tetapi karena dikeroyok lima, tentu saja dia menjadi repot dan terdesak.
Sementara itu, maklum bahwa lawan yang lebih banyak jumlahnya itu merupakan orang-orang yang berbahaya, Im Yang Siang To-jin segera membentuk Barisan Im-Yang-Kiam terdiri dari dua orang.
Dua orang tokoh Kun-Lun-Pai ini merupakan pasangan yang hebat sekali kalau mereka maju bersama, yang seorang memainkan ilmu pedang Im-Sin-Kiam dan yang lain memainkan pedang Yang-Sin-Kiam.
Kedua ilmu pedang ini sifatnya berbeda, yang satu lemas, yang lain keras.
Akan tetapi mereka saling mendukung sehingga sulit untuk dapat ditembus lawan, biarpun lawan berjumlah banyak.
Twa-To Sam-Liong, tiga orang tinggi besar berkulit hitam itu sudah menggerakkan golok mereka mencoba untuk mematahkan pertahanan Im Yang Sin-Kiam, namun golok mereka selalu terbentur perisai yang amat kuat dari dua batang pedang itu.
Berulang-ulang mereka mencoba, namun selalu gagal, bahkan mereka bertiga terdesak ketika kedua orang Tosu Kun-Lun-Pai itu membalas dengan serangan gabungan Im Yang.
Akan tetapi enam orang perajurit Mongol kini juga sudah membantu Twa-To Sam-Liong sehingga Im Yang Siang To-jin kini terdesak.
Pak Lo-Kui, Si Iblis Utara yang belum ikut bertanding, berdiri sambil terkekeh girang melihat betapa tokoh Go-Bi-Pai dan dua orang tokoh Kun-Lun-Pai itu terdesak hebat oleh kawan-kawannya.
Tanpa dia bantu pun agaknya tiga orang Tosu itu akan roboh.
Tiba-tiba terdengar suara riuh dan dari arah Kun-Lun-Pai tampak datang berlarian sekitar dua puluh orang murid Kun-Lun-Pai dan di depan sendiri berlari seorang pemuda dengan gerakan amat cepat.
Di belakang pemuda ini tampak berlari pula empat orang Tosu setengah tua yang merupakan murid-murid tingkat atas dari Kun-Lun-Pai, dan belasan orang murid yang masih muda berlari di belakang mereka.
Pemuda yang bermuka putih dan tampan itu bukan lain adalah Gan Bouw yang berjuluk Pek-Bin-Houw dan menjadi Ketua Thian-Te-Pang.
Seperti kita ketahui, Gan Pangcu (Ketua Gan) ini setelah menjadi Ketua Thian-Te-Pang yang baru berjalan beberapa bulan, lalu melakukan perjalanan untuk mengunjungi partai-partai persilatan besar, untuk memperkenalkan diri sebagai Ketua Thian-Te-Pang yang baru.
Secara kebetulan dia bertemu bahkan menolong Yo Kang dan Ceng Seng Hwesio yang diserang Tung Giam-Lo-Ong dan See Te-Tok dan pasukan Mongol.
Sehingga dua orang Datuk Besar dan pasukannya dapat diusir pergi.
Gan Pangcu lalu memperkenalkan diri kepada Yo Kang yang dianggap mewakili Bu-Tong-Pai dan kepada Ceng Seng Hwesio yang dianggap mewakili Siauw-Lim-Pai.
Karena itu, dia tidak lagi menghadap Ketua Siauw-Lim-Pai ataupun Ketua Bu-Tong-Pai.
Akan tetapi pagi tadi dia naik ke Kun-Lun-Pai, menghadap kepada Ketua Kun-Lun-Pai, diterima oleh Pek Ciang San-Lojin sendiri.
Setelah memberi hormat dan memperkenalkan diri sebagai Ketua baru Thian-Te-Pang dengan sikap sopan, Gan Bouw lalu bertanya mengapa Kun-Lun-Pai berada dalam suasana berkabung dan di perumahan Kun-Lun-Pai itu dipasang tanda-tanda berkabung.
Pek Ciang San-Lojin mengerutkan alisnya, menghela napas dan berkata.
"Gan Pangcu, tiga hari yang lalu terjadi malapetaka yang menimpa perguruan kami dan menewaskan sepuluh orang murid Kun-Lun-Pai..."
"Wah, penasaran sekali!"
Gan Bouw terbelalak memandang Ketua Kun-Lun-Pai dan berseru lantang.
"Sungguh sulit untuk dapat dipercaya kalau saya tidak mendengar sendiri Lo-Cianpwe yang bicara. Bagaimana mungkin hal ini terjadi? Apakah Kun-Lun-Pai diserbu musuh yang banyak jumlahnya?"
"Siancai... inilah yang membuat Pinto penasaran, bingung dan juga berduka dan sakit di hati. Yang membunuh mereka hanya seorang saja."
"Tidak mungkin! Tidak mungkin ada seorang membunuh sepuluh orang Kun-Lun-Pai! Lo-Cianpwe, keterangan itu membuat saya menjadi penasaran sekali dan saya pun ikut berduka dan marah. Saya berjanji akan membantu Kun-Lun-Pai menangkap pembunuh yang keji itu. Siapakah dia, Lo-Cianpwe?"
Tanya Gan Bouw sambil mengepal tinju dan wajahnya yang biasanya putih itu berubah kemerahan karena hatinya panas. KembaliKakek itu menghela napas panjang.
"Siancai, sungguh menyedihkan dan menjengkelkan peristiwa ini, Gan Pangcu (Ketua Gan). Pembunuhan itu terjadi malam dalam gelap sehingga tidak ada murid yang dapat mengenal siapa pembunuh itu. Akan tetapi yang pasti dia berkepala gundul dan berjubah Hwesio, ilmu silatnya lihai sekali."
"Wahh? Hwesio Siauw-Lim-Pai? Ini sama sekali tidak mungkin terjadi, Lo-Cianpwe! Bukankah Siauw-Lim-Pai bersahabat sejak dulu dengan Kun-Lun-Pai?"
"Apa boleh buat, Pinto terpaksa harus mencurigai bahwa pembunuh itu adalah seorang murid Siauw-Lim-Pai yang pandai sekali. Sepuluh orang anak murid kami itu dibunuh dengan pukulan yang mengandung tenaga I-Kin-Keng, dan tendangan Siauw-Cu-Twi, jelas merupakan ilmu-ilmu tingkat tinggi dari Siauw-Lim-Pai."
"Apakah dia tidak dikejar, Lo-Cianpwe?"
"Dua orang murid kepala Pinto, Im Sim To-jin dan Yang Sim To-jin kini belum kembali sejak pembunuhan terjadi. Mereka yang melakukan pengejaran. Pinto sudah menyuruh para murid untuk menyusul mereka."
Pada saat itu, seorang Tosu setengah tua memasuki ruangan dan berlutut di depan Pek Ciang San-Lojin.
"Suhu, Teecu melihat kedua Sute Im Yang Siang To-jin dan kalau Teecu tidak salah lihat, Wu Wi Thaisu dari Go-Bi-Pai sedang dikeroyok pasukan Mongol."
"Siancai...!"
Pek Ciang San-Lojin bangkit berdiri, diikuti oleh Gan Bouw.
"Kumpulkan para murid, Pinto sendiri yang akan menghadapi pasukan Mongol!"
Akan. tetapi Gan Bouw cepat berkata.
"Lo-Cianpwe, menghadapi pasukan Mongol adalah urusan kecil. Tidak sepantasnya kalau Lo-Cianpwe sendiri yang turun tangan. Biarlah saya yang akan menghajar anjing-anjing Mongol itu!"
Setelah berkata demikian, Gan Bouw lalu melompat keluar.
Pek Ciang San-Lojin memerintahkan para muridnya, dan empat orang Tosu yang merupakan murid-murid kepala yang membantu pekerjaan Im Yang Siang To-jin untuk membantu tiga orang Tosu yang dikeroyok pasukan Mongol itu.
Demikianlah, rombongan murid Kun-Lun-Pai itu datang ke tempat perkelahian dan Gan Bouw yang memiliki ilmu ber-lari cepat paling tinggi tingkatnya, dapat datang lebih dulu, diikuti oleh empat orang Tosu agak jauh di belakangnya dan para murid lain berada lebih jauh lagi.
Melihat banyak murid Kun-Lun-Pai mendatangi, Pak Lo-Kui yang tadinya hanya menonton saja karena pihaknya berada di pihak unggul, lalu menerjang dan menyerang Wu Wi Thaisu yang sudah terdesak oleh pengeroyokan Lam Sian dan empat orang perajurit.
Serangan dengan pedang ini amat cepat dan hampir menusuk lambung Wu Wi Thaisu yang cepat membuang diri ke belakang.
Pada saat itu, sebuah tendangan kaki Lam Sian yang pendek mengenai perutnya.
"Bukk...!!"
Tubuh Wu Wi Thaisu terjengkang.
Walaupun dia telah melindungi perutnya dengan tenaga dalam sehingga tidak terluka namun dia terbanting dan sejenak tidak berdaya.
Padahal ketika itu, Pak Lo-Kui sudah menubruk dan membacokkan pedangnya ke arah leher wakil Ketua Go-Bi-Pai itu!
"Singgg...
tranggg...!"
Pedang di tangan Pak Lo-Kui terpental ketika bertemu dengan sebuah batu yang menyambar dan tepat mengenai pedang Si Iblis Utara yang tadi membacok ke arah Wu Wi Thaisu.
Melihat dirinya terhindar dari maut, W u Wi Thaisu cepat bergulingan menjauh lalu meloncat berdiri lagi dan siap melanjutkan perkelahian.
Pak Lo-Kui marah sekali, akan tetapi juga gentar.
Hanya dengan lontaran batu pemuda muka putih itu mampu membuat pedangnya terpental!
Kini empat orang Tosu murid tingkat atas Kun-Lun-Pai sudah tiba dan mereka segera membantu Im Yang Siang To-jin yang masih dikeroyok.
Yang menolong Wu Wi Thaisu tadi adalah Gan Bouw.
Kini pemuda itu sudah menyerang Pak Lo-Kui dengan tangan kosong.
Walaupun dia bertangan kosong, namun serangannya demikian aneh dan hebat sehingga Pak Lo-Kui terdesak dan mundur-mundur.
Dia mengenal ilmu silat aliran Barat yang didasari ilmu-ilmu dari para Pendeta Lama di Tibet, dan dia tahu betapa lihainya pemuda itu.
Demikian pula Lam Sian, setelah kini menghadapi Wu Wi Thaisu yang dibantu dua orang Tosu, menjadi repot.
Twa-To Sam-Liong juga kerepotan setelah kini Im Yang Siang To-jin dibantu dua orang Tosu Kun-Lun-Pai yang lain.
Gan Bouw melihat betapa sepuluh orang perajurit Mongol itu masih mengeroyok, segera mengamuk.
Biarpun hanya bertangan kosong, namun tubuhnya berkelebatan menyambar-nyambar dan dalam waktu singkat, dia tidak meroboh tewaskan empat orang perajurit Mongol!
Kini para murid Kun-Lun-Pai tiba di situ dan sambil berteriak-teriak membantu Wu Wi Thaisu dan para Tosu pimpinan Kun-Lun-Pai!
Melihat ini, Pak Lo-sian dan Lam Sian berseru keras dan mereka berlompatan menghindar, diikuti oleh Twa-To Sam-Liong yang juga maklum bahwa melawan terus berarti bunuh diri.
Mereka berlima sudah berloncatan ke atas punggung kuda masing-masing dan melarikan diri meninggalkan tempat itu.
Perajurit Mongol yang tinggal enam orang itu juga mencoba untuk melarikan diri.
Akan tetapi gerakan mereka kurang cepat dan mereka segera terkepung banyak sekali murid Kun-Lun-Pai yang mengeroyok mereka sehingga tak lama kemudian enam orang perajurit Mongol itu sudah roboh dan tewas dengan tubuh penuh luka.
Setelah pertempuran selesai, Wu Wi Thaisu menghadapi Gan Bouw dan memberi hormat dengan merangkap kedua tangan depan dada.
"Siancai, kalau tidak ada Sicu yang tadi menolong Pinto, tentu sekarang Pinto sudah tewas di tangan Pak Lo-Kui. Sicu, Pinto adalah Wu Wi Thaisu, wakil Ketua Go-Bi-Pai. Siapakah nama dan marga Sicu yang besar dan mulia?"
"Ah, kiranya Lo-Cianpwe adalah wakil Ketua Go-Bi-Pai! Senang sekali dapat membantu Lo-Cianpwe! Kebetulan sekali karena saya tadinya bermaksud berkunjung ke Go-Bi-Pai untuk memperkenalkan diri. Lo-Cianpwe, saya bernama Gan Bouw dan baru beberapa bulan yang lalu saya dipilih menjadi Ketua Thian-Te-Pang di kaki Pegunungan Beng-San."
"Bukankah Pangcu (Ketua) dari Thian-Te-Pang adalah Li Bu Kok?"
Tanya Wu Wi Thaisu.
"Benar, Lo-Cianpwe. Li Pangcu terbunuh ketika diserang gerombolan perampok yang dipimpin Tiga Belas Srigala Gila. Saya membantu Thian-Te-Pang dan berhasil menewaskan para perampok, lalu para anggauta Thian-Te-Pang mengangkat saya menjadi Ketua menggantikan mendiang Li Bu Kok Pangcu yang telah tewas."
"Siancai, masih begini muda sudah memiliki kepandaian tinggi dan menjadi Ketua Thian-Te-Pang. Sungguh Pinto merasa kagum sekali, Gan Pangcu."
Kini Im Yang Siang To-jin juga menghampiri dan Im Sim To-jin berkata kepada Gan Bouw.
"Gan Pangcu, kami mewakili Kun-Lun-Pai juga amat berterima kasih atas bantuan Pangcu."
"Akan tetapi bagaimana Gan Pangcu dapat datang membantu kami bersama para murid kami ini?"
Tanya Yang Sim To-jin.
"Ji-wi Totiang (Bapak Pendeta Berdua) tentulah yang terkenal dengan sebutan Im Yang Siang To-jin. Begini, Totiang. Saya kebetulan menjadi tamu dan menghadap Lo-Cianpwe Pek Ciang San-Lojin untuk memperkenalkan diri. Selagi kami bercakap-cakap, seorang murid Kun-Lun-Pai datang melapor akan perkelahian keroyokan di sini. Maka saya lalu ikut bersama para murid Kun-Lun-Pai untuk membantu. Sekarang saya telah memperkenalkan diri kepada pimpinan Kun-Lun-Pai dan juga melalui Lo-Cianpwe Wu Wi Thaisu sudah memperkenalkan diri kepada pimpinan Go-Bi-Pai. Saya hendak melanjutkan perjalanan saya, karena saya juga merasa amat penasaran dengan terjadinya pembunuhan para murid Kun-Lun-Pai oleh seorang Hwesio Siauw-Lim-Pai Saya akan membantu dan mencari pembunuh kejam itu!"
"Murid-murid Kun-Lun-Pai dibunuh seorang Hwesio Siauw-Lim-Pai?"
Tanya Wu Wi Thaisu heran.
"Begitulah yang saya dengar dari Lo-Cianpwe Pek Ciang San-Lojin, karena semua korban itu berbekas pukulan dengan tenaga I-Kin-Keng dan tendangan Siauw-Cu-Twi dari juga katanya bayangan pembunuh itu berkepala gundul dan berjubah Hwesio."
"Siancai...! Apa artinya sennua ini? Murid Pinto, Wi Tek Tosu juga terbunuh pada suatu malam dengan pukulan mengandung I-Kin-Keng dari Siauw-Lim-Pai, dan para murid ada yang melihat berkelebatnya bayangan hitam yang berkepala gundul berjubah Hwesio!"
Kata Wu Wi Thaisu dengan terkejut dan heran.
"Penasaran! Penasaran! Tak saLah ini pasti ulah murid Siauw-Lim-Pai! Saya harus menyelidiki perkara ini sampai dapat menangkap pembunuh keji itu!, Sekarang, maaf, saya harus melanjutkan perjalanan untuk mulal dengan penyelidikan saya!"
Setelah berkata demikian, Gan Bouw memberi hormat kepada mereka semua lalu pergi meninggalkan tempat itu.
"Wu Wi Thaisu, mari Pinto persilakan Totiang ikut kami dan kita bicarakan urusan ini dengan Suhu Pek Ciang San-Lojin."
Ajak Im Sim To-jin.
Wakil Ketua Go-Bi-Pai itu mengangguk dan mereka semua lalu pergi ke perkampungan Kun-Lun-Pai, kecuali para murid yang ditugaskan untuk mengubur mayat sepuluh orang perajurit Mongol itu.
Setelah Wu Wi Thaisu dan Im Yang Siang To-jin menghadap Pek Ciang San-Lojin dan membicarakan pembunuhan-pembunuhan yang terjadi menimpa sepuluh orang murid Kun-Lun-Pai dan seorang tokoh Go-Bi-Pai.
Setelah mendengar laporan yang lengkap tentang pembunuhan-pembunuhan terhadap sepuluh orang murid Kun-Lun-Pai dan seorang tokoh Go-Bi-Pai yang agaknya dilakukan oleh Hwesio Siauw-Lim-Pai, kemudian mendengar tentang penyerangan para Datuk Besar yang sesat dengan pasukan Mongol, Pek Ciang San-Lojin menghela napas panjang.
"Siancai...! Urusan ini sungguh gawat. Bagaimana mungkin seorang anggauta Siauw-Lim-Pai yang tinggi ilmunya melakukan pembunuhan-pembunuhan terhadap murid-murid Kun-Lun-Pai dan Go-Bi-Pai? Selama puluhan, bahkan ratusan tahun di antara mereka dan kita terjalin persahabatan yang baik. Sulit untuk dapat dipercaya bahwa Siauw-Lim-Pai kini memusuhi Kun-Lun-Pai dan Go-Bi-Pai!"
"Pinto sendiri juga telah membicarakan dengan Suhu Pek Eng Thaisu dan kami tidak berani sembarangan menuduh Siauw-Lim-Pai. Akan tetapi, hendaknya Lo-Cianpwe tidak lupa bahwa biarpun Siauw-Lim-Pai dan kita mempunyai tujuan yang sama, yaitu mendidik murid-murid menjadi pembela kebenaran dan keadilan, akan tetapi dalam hal pendidikan agama kita jauh berbeda dengan mereka. Baik Kun-Lun-Pai maupun Go-Bi-Pai mempelajari Agama To dan Khonghucu yang berakar dari bangsa sendiri. Sebaliknya, mereka mempelajari Agama Hud-kauw (Buddha) yang berasal dari India. Dalam hal tata-susila kehidupan jasmani kita mengikuti pelajaran Nabi Khongcu dan soal kerohanian kita mengikuti pelajaran Nabi Locu. Mungkin perbedaan yang mendasar ini membuat mereka diam-diam membenci kita, apalagi melihat betapa rakyat semakin banyak yang mengikuti agama yang kita sebarkan."
Pek Ciang San-Lojin menggeleng kepala.
"Siancai..., Pinto tidak menduga sampai demikian jauhnya, Wu Wi Thaisu. Pinto mempunyai dugaan begini. Pertama, mungkin memang pelakunya seorang tokoh Siauw-Lim-Pai yang melakukan pembunuhan tanpa sepengetahuan para pimpinan Siauw-Lim-Pai, melainkan atas kehendak sendiri dan mungkin juga mempunyai kebencian pribadi yang membuatnya menaruh dendam. Ke dua, melihat betapa Kun-Lun-Pai dan Go-Bi-Pai menjadi korban dan Siauw-Lim-Pai menjadi kambing hitamnya, mungkin ada pihak ke tiga yang sengaja hendak mengadu domba antara kita dengan Siauw-Lim-Pai. Nah, kita sekarang harus mengingat-ingat dan mencari siapa kiranya orang yang membenci Kun-Lun-Pai, Go-Bi-Pai, dan juga Siauw-Lim-Pai karena dia membunuh murid Kun-Lun-Pai dan Go-Bi-Pai, akan tetapi melemparkan tuduhan kepada Siauw-Lim-Pai."
"Suhu, melihat adanya Pak Lo-Kui dan Lam Sian yang membawa pasukan Mongol menyerang Teecu bertiga Wu Wi Thaisu, Teecu kira pemerintah Mongol yang menjadi biang keladi semua pembunuhan itu! Kerajaan Mongol memusuhi kita dan hendak mengadu domba di antara kita!"
Kata Yang Sim To-jin.
"Memang apa yang engkau kemukakan itu masuk akal juga, Yang Sim To-jin, akan tetapi kalau memang pemerintah Mongol hendak memusuhi kita, mengapa harus mengambil cara yang susah-susah begitu? Mereka memiliki pasukan yang besar dan kuat, dan kalau mereka hendak membasmi kita semua dengan kekuatan bala-tentara, kita pun tidak akan mampu melawan mereka yang memiliki ratusan ribu orang perajurit."
Kata Pek Ciang San-Lojin.
"Pinto kira pasti ada orang yang memusuhi kita semua. Mungkin saja musuh yang membenci kita itu bekerja sama dengan pemerintah Mongol, mungkin juga tidak. Akan tetapi siapa orang yang memusuhi kita, yang memiliki kepandaian sedemikian tingginya?"
Hening sejenak, kemudian tiba-tiba Wu Wi Thaisu berseru.
"Siancai...! Mengapa kita semua lupa? Lo-Cianpwe, orang-orang yang amat membenci kita semua adalah Hek Moli dan suaminya, Bhutan Koai-jin! Hek Moli tewas oleh pengeroyokan Tiga San Lojin dari Kun-Lun-Pai dan Wi Tek Tosu dari Go-Bi-Pai, sedangkan Bhutan Koai-jin buntung kaki kanannya oleh Bu Kek Tianglo dari Siauw-Lim-Pai. Setelah mereka berdua tewas, muncul murid mereka yang pernah memusuhi kita dan murid itu telah membunuh Tiga San Lojin dari Kun-Lun-Pai, juga dulu hendak membunuh Wi Tek Tosu murid Pinto. Jelas, ialah yang mendendam dan membenci kita semua atas kematian suami-isteri iblis yang menjadi Gurunya itu! Kwee In Hong, Si Bayangan Bidadari! Siapa lagi yang membenci kita semua sedemikian hebatnya sehingga tega melakukan pembunuhan-pembunuhan keji itu selain Kwee In Hong? Dan kita semua mengetahui betapa lihainya gadis iblis itu. Agaknya semua ilmu dari Hek Moli dan Bhutan Koai-jin telah diwariskan kepadanya. Dan dalam keganasan, Pinto sendiri merasakan bahwa ia bahkan lebih ganas dan lebih kejam daripada Hek Moli sendiri. Dan terus terang saja, Pinto sendiri tidak mampu mengalahkannya."
"Siancai...! Pinto teringat sekarang! Memang Kwee In Hong itu lihai bukan main, dan ganas melebihi Hek Moli (Iblis Betina Hitam). Pinto pernah bertanding melawannya sekitar dua tahun yang lalu dan terus terang Pinto sendiri agak sukar mengalahkannya. Baru setelah Susiok Siang Te Lokai turun tangan, Pinto hampir dapat membunuh iblis betina itu. Dan kemudian muncul Ong Tiang Houw, pendekar besar murid Bu Sek Tianglo yang agaknya telah menjadi gila namun masih lihai sekali menyelamatkan Kwee In hong! Ah, Ong Tiang Houw yang menggunakan nama Bu Jin Ai itu tentu saja menguasai ilmu-ilmu tingkat tinggi Siauw-Lim-Pai! Sungguh patut dicurigai bahwa semua ini tentu dilakukan oleh Kwee In Hong dan Ong Tiang Houw!"
Kata Pek Ciang San-Lojin. (Lanjut ke
Jilid 17) Bayangan Bidadari/Sian Li Eng Cu (Cerita Lepas) Karya. Asmaraman S. Kho Ping Hoo
Jilid 17 Wu WI Thaisu mengerutkan alisnya.
"Hemm, kalau ternyata benar demikian, Siauw-Lim-Pai tidak dapat melepas tanggung jawabnya. Bagaimanapun juga, Ong Tiang Houw itu juga termasuk murid Siauw-Lim-Pai, karena mendiang Bu Sek Tianglo adalah suheng dari Bu Kek Tianglo Ketua Siauw-Lim-Pai."
"Benar sekali!"
Kata Yang Sim To-jin.
"Siauw-Lim-Pai harus bertanggung jawab untuk mencari pembunuh itu. Pembunuh itu melakukan pembunuhan dengan ciri-ciri seorang Hwesio Siauw-Lim-Pai, dan kita yang menderita dan menjadi korban. Kalau Siauw-Lim-Pai tidak mau bertanggung jawab, berarti Siauw-Lim-Pai memusuhi kita!"
"Sekarang baiknya begini saja. Engkau mewakili Go-Bi-Pai untuk menyelidiki tentang peristiwa pembunuhan ini, bukan?"
Tanya Pek Ciang San-Lojin kepada Wu Wi Thaisu.
"Benar, Lo-Cianpwe. Suhu memang telah menyerahkan kepada Pinto untuk melakukan penyelidikan dan selanjutnya berkunjung ke Siauw-Lim-Pai untuk minta pertanggungan jawab Siauw-Lim-Pai."
"Bagus, kalau begitu. Pinto akan mewakilkan Kun-Lun-Pai kepada Im Sim To-jin dan Yang Sim To-jin untuk bersamamu menghadap Bu Kek Tianglo di Siauw-Lim-Pai. Pinto ingin mengetahui apa pendapat Bu Kek Tianglo dalam peristiwa ini."
Demikianlah, tiga orang Tosu itu, Wu Wi Thaisu wakil Go-Bi-Pai dan Im Yang Siang To-jin, dua orang wakil Ketua Kun-Lun-Pai berangkat menuju ke Siauw-Lim-Pai.
Setelah tiba di Siauw-Lim-Pai, mereka bertiga diterima sendiri oleh Bu Kek Tianglo yang didampingi oleh Ceng Seng Tiga orang Tosu itu bukan hanya menceritakan tentang terbunuhnya sepuluh orang murid Kun-Lun-Pai dan seorang murid Go-Bi-Pai yang dilakukan seorang Hwesio dengan menggunakan ilmu-ilmu Siauw-Lim-Pai, akan tetapi mereka bertiga juga mendengar dari Ceng Seng Hwesio bahwa Bu-Tong-Pai juga kematian sembilan orang murid yang kabarnya juga terbunuh seorang yang hanya tampak bayangannya sebagai seorang Hwesio dengan menggunakan ilmu-ilmu Siauw-Lim-Pai.
Tentu saja mereka bertiga menjadi sama terkejutnya dengan dua orang pimpinan Siauw-Lim-Pai itu.
"Omitohud! Keadaannya menjadi semakin gawat sekarang. Bukan hanya murid Bu-Tong-Pai menjadi korban, akan tetapi juga murid Kun-Lun-Pai dan Go-Bi-Pai. Dan pembunuhnya sama, tidak tampak jelas mukanya, akan tetapi bayangannya seperti seorang Hwesio dan dia menggunakan ilmu-ilmu tingkat tinggi dari Siauw-Lim-Pai! Jelas ini merupakan suatu usaha licik untuk mengadu domba agar Siauw-Lim-Pai dimusuhi tiga partai persilatan besar lainnya! Ada orang yang melakukan fitnah terhadap Siauw-Lim-Pai!"
Kata Bu Kek Tianglo.
"Nanti dulu, Lo-Cianpwe, belum tentu kalau orang luar yang melakukan ini. Apakah tidak mungkin ada murid Siauw-Lim-Pai yang telah menyeleweng dan tersesat?"
"Omitohud! Pinceng kira tidak ada murid kami yang tersesat, karena kami selalu mengawasi mereka."
Bantah Ceng Seng Hwesio mewakili Suhunya. Yang Sim To-jin tersenyum mengejek, akan tetapi Im Sim To-jin diam saja. Wu Wi Thaisu yang membantah.
"Yang berada di sini memang dapat engkau awasi, akan tetapi bagaimana dengan murid yang telah tamat dan berada jauh dari sini, Ceng Seng Hwesio? Apakah pimpinan Siauw-Lim-Pai juga dapat mengawasi sepak terjang mereka?"
"Hemm, tentu saja tidak dapat, Toyu (sahabat). Akan tetapi kami berani menjamin bahwa murid kami tidak akan berani menyeleweng karena sudah mendapat gemblengan yang ketat ketika belajar di sini."
Kata Ceng Seng Hwesio.
"He-heh, Ceng Seng Hwesio, apakah pimpinan Siauw-Lim-Pai mengetahui apa yang dilakukan oleh Ong Tiang Houw?"
Kata Yang Sim To-jin dengan suara mengejek.
"Omitohud! Ong Tiang Houw bukan murid perguruan Siauw-Lim-Pai."
Bantah Ceng Seng Hwesio.
"Dia memang murid Bu Sek Tianglo, dan Bu Sek Tianglo adalah Suheng dari Lo-Cianpwe Bu Kek Tianglo, Ketua Siauw-Lim-Pai! Berarti dia masih sealiran dan menguasai ilmu-ilmu dari Siauw-Lim-Pai."
"Andaikata hal itu dibenarkan, tetap saja tidak berarti dia seorang yang tersesat! Nama besar Ong Tiang Houw sebagai pemimpin Kai-Sin-Tin menentang bangsawan dan hartawan yang sewenang-wenang dan membela kepentingan rakyat miskin membuktikan bahwa dia berjiwa pendekar."
Kata Ceng Seng Hwesio dan kelihatan bangga. Siapa tidak mengenal nama besar Ong Tiang Houw? Kalau dia dianggap sebagai murid Siauw-Lim-Pai, hal itu malah membanggakan bagi dia.
"Ceng Seng Hwesio dan Lo-Cianpwe Bu Kek Tianglo, apakah para pimpinan Siauw-Lim-Pai tahu bagaimana keadaan Ong Tiang Houw sekarang dan apa yang telah dia lakukan sekitar dua tahun yang lalu?"
Kini Im Sim To-jin membantu saudaranya.
Ceng Seng Hwesio menggelengkan kepalanya dan memandang kepada Gurunya karena dia memang sudah lama sekali tidak pernah mendengar tentang Ong Tiang Houw sejak Kai-Sin-Tin tidak melakukan kegiatan lagi dan kabarnya sudah dibubarkan.
"Omitohud...!"
Bu Kek Tianglo berkata lirih.
"Karena Ong Tiang Houw bukan murid di Siauw-Lim-Pai ini, maka kami tidak tahu bagaimana keadaannya, hanya Pinceng yakin sepak terjangnya tetap melalui jalan kebenaran. Bahkan kedua orang puteranya, Ong Teng San dan Ong Lian Hong, menjadi murid-murid kami terbaik di sini."
"Kalau begitu dengarlah, hai para pimpinan Siauw-Lim-Pai. Dua tahun lebih yang lalu, murid dari Hek Moli yang menjadi musuh kita bersama, dan Bhutan Koai-jin yang kaki tangannya Lo-Cianpwe buntungi dengan bantuan dari Kun-Lun-Pai, Go-Bi-Pai dan Bu-Tong-Pai, murid mereka yang bernama Kwee In Hong Si Iblis Betina itu mengamuk dan membunuh Sun Sim San Lojin, Kim Sim San Lojin, dan Cu Sim San Lojin, murid-murid Kun-Lun-Pai!"
Kata Yang Sim To-jin.
"Omitohud!"
Bu Kek Tianglo memotong.
"Gadis yang liar itu memang sulit diatur, keganasannya melebihi Hek Moli. la juga pernah membikin kacau di sini, karena itu, tidak sangat mengejutkan kalau ia melakukan pembunuhan di mana-mana."
"Bukan itu saja, Lo-Cianpwe. Setelah ia membunuh ketiga San Lojin dari perguruan kami, Kwee In Hong dihadapi oleh Suhu Pek Ciang San-Lojin dan ia pasti akan dapat ditangkap atau dibinasakan kalau saja tidak muncul Ong Tiang Houw yang membela dan membawanya lari!"
Bu Kek Tianglo dan Ceng Seng Hwesio saling pandang dengan mata terbelalak.
"Ong Tiang Houw?"
Kata Ceng Seng Hwesio.
"Benar, dia Ong Tiang Houw, walaupun ketika itu telah menjadi seperti orang gila dan menyebut Kwee In Hong sebagai isterinya dan dia sendiri disebut Bu Jin Ai oleh gadis iblis itu. Karena Susiok-Couw (Kakek Paman Guru) Siang Te. Lokai mengenalnya sebagai murid Lo-Cianpwe Bu Sek Tianglo, terpaksa Suhu melepaskan mereka dan mereka berdua lalu pergi entah ke mana."
"Omitohud...! Dan pada saat itu, Pinto mengutus Ong Teng San untuk membayangi Adik tirinya itu agar di luaran jangan melakukan kejahatan seperti Hek Moli."
Kata Bu Kek Tianglo lirih, seperti bicara kepada diri sendiri.
"Adik tiri...?"
Wu Wi Thaisu bertanya heran. Terpaksa Bu Kek Tianglo mengangguk-angguk.
"Ya, Kwee In Hong itu adalah saudara tiri dari Ong Teng San dan Ong Lian Hong."
"Bagus sekali!"
Seru Yang Sim To-jin.
"Sekarang jelaslah sudah, Suheng!"
Dia menoleh kepada Im Sim To-jin.
"Mereka telah berkumpul menjadi satu! Ayahnya seorang ahli ilmu silat tingkat Siauw-Lim-Pai yang telah menjadi gila, lalu kedua anaknya yang juga murid-murid pilihan Siauw-Lim-Pai, dan Si Iblis Betina yang menjadi saudara tiri yang amat membenci Empat Partai Persilatan Besar! Lo-Cianpwe Bu Kek Tianglo, tak dapat diragukan lagi, pasti keluarga setan itu yang melakukan pembunuhan-pembunuhan ini!"
"Pinto kira sangkaan itu benar sekali, Lo-Cianpwe!"
Wu Wi Thaisu juga berkata penuh semangat.
"Siauw-Lim-Pai harus menangkap mereka untuk diajukan ke pengadilan bersama!"
"Wu Wi Thaisu!"
Bentak Ceng Seng Hwesio.
"Tidak ada yang bisa memaksa dan mengharuskan Siauw-Lim-Pai melakukan sesuatu!"
"Hemm, begitukah? Setelah ada dugaan bahwa pelakunya murid-murid Siauw-Lim-Pai, langsung engkau hendak membela mereka? Lo-Cianpwe Bu Kek Tianglo, sebagai wakil Go-Bi-Pai, Pinto menuntut agar Siauw-Lim-Pai dapat mempertanggung-jawabkan perbuatan murid-muridnya itu."
Kata Wu Wi Thaisu.
"Benar! Kami berdua juga menuntut agar Siauw-Lim-Pai bertanggung jawab, menangkap pembunuh itu, baik dia murid Siauw-Lim-Pai atau bukan karena pembunuh itu meninggalkan ciri-ciri Siauw-Lim-Pai. Kalau Siauw-Lim-Pai tidak segera bertindak, para pimpinan perguruan kami akan datang dan membuat perhitungan!"
Kata Yang Sim To-jin dengan suara dan sikap kasar karena marah.
"Omitohud, Pinceng harap para Toyu dapat bersabar. Kemarahan tidak akan membantu memecahkan persoalan, bahkan akan menggelapkan hati dan pikiran. Pinceng memahami kecurigaan kalian, dan kami tentu akan menyelidiki keadaan Kwee In Hong, Ong Tiang Houw, dan Ong Teng San. Percayalah, kami tidak akan melindungi orang yang bersalah, walaupun orang itu murid atau bahkan diri kami sendiri. Menjunjung kebenaran dan keadilan adalah pedoman hidup yang lebih kami pentingkan daripada diri kami sendiri. Sekarang harap Sam-wi (Kalian bertiga) pulang dan sampaikan kepada Pek Eng Thaisu Ketua Go-Bi-Pai dan kepada Pek Ciang San-Lojin Ketua Kun-Lun-Pai bahwa kami para pimpinan Siauw-Lim-Pai akan berusaha sekuat tenaga untuk menangkap pelaku pembunuhan itu."
"Sampai kapan?"
Tanya Wu Wi Thaisu.
"Ya, kapan batas waktunya? Kalau terlalu lama, semua anggauta Kun-Lun-Pai akan kehilangan kesabaran!"
Kata pula Yang Sim To-jin.
"Omitohud! Pinceng sudah mengabarkan kepada Tiong Li Seng-jin Ketua Bu-Tong-Pai agar bersabar sampai pada hari ulang tahun Siauw-Lim-Pai yang akan terjadi sekitar dua setengah bulan yang akan datang. Karena itu, sampaikan kepada kedua Ketua kalian bahwa kalau sampai pada hari ulang tahun kami, belum juga pembunuh itu dapat kami temukan, mereka boleh datang ke sini untuk membuat perhitungan. Kami siap untuk mempertanggung-jawabkannya demi menjaga nama baik dan kehormatan Siauw-Lim-Pai."
Wu Wi Thaisu dan Im Yang Siang To-jin terpaksa menerima janji ini dan mereka meninggalkan Siauw-Lim-Pai dengan wajah tidak puas karena mereka harus menunggu dua setengah bulan untuk menentukan apakah pembunuh itu dapat tertangkap, ataukah mereka akan melampiaskan penasaran dan sakit hati mereka kepada Siauw-Lim-Pai!
Sebagai wakil dari perguruan masing-masing, mereka lalu melakukan perjalanan pulang sambil berusaha untuk melakukan penyelidikan, kalau-kalau mereka akan dapat menangkap pembunuh itu.
Peristiwa pembunuhan berturut-turut itu menggegerkan dunia kang-ouw.
Sebentar saja semua tokoh persilatan di dunia kang-ouw (daerah sungai-telaga, atau dunia persilatan) mendengar tentang peristiwa itu.
Memang amat menggegerkan dan menarik, akan tetapi juga penuh rahasia.
Belum pernah terjadi hal seperti itu.
Seorang pembunuh yang sama sekali tidak dikenal, bahkan tidak diketahui siapa orangnya karena tidak ada yang dapat melihat wajahnya.
Semua pembunuhan itu dilakukan dalam keadaan cuaca remang-remang sehingga selain wajahnya tidak tampak, juga jubahnya yang besar dan longgar menyembunyikan keadaan tubuhnya.
Tidak ada yang tahu apakah pembunuh itu pria atau wanita, tua atau muda, bahkan gemuk atau kurus.
Yang diketahui hanya bahwa kepalanya gundul dan dia membunuh dengan ilmu-ilmunya yang ampuh dari Siauw-Lim-Pai!
Semua orang bertanya-tanya menduga-duga siapa gerangan pembunuh rahasia itu dan mengapa dia melakukan pembunuhan-pembunuhan pada murid-murid Bu-Tong-Pai, Kun-Lun-Pai, dan mungkin para pembaca juga bertanya dan menduga-duga.
Adakah di antara para pembaca yang dapat ikut membantu mereka yang kini sedang sibuk menyelidiki dan mencari pembunuh misterius itu?
Gadis berusia sekitar delapan belas tahun itu cantik jelita dan tampak gagah perkasa ketika menunggang seekor kuda besar di dalam hutan itu.
Kulitnya sedang, tidak terlalu putih juga tidak terlalu gelap.
Kecoklatan muda dan halus mulus.
Wajah yang lembut itu manis sekali ketika di atas kudanya ia dengan mata waspada memandang ke sekeliling, busur dan anak panah siap di kedua tangannya.
Pakaiannya dari sutera merah muda yang halus walaupun potongannya sederhana sehingga memudahkan ia bergerak.
Rambutnya yang hitam digelung ke atas, diikat kain sutera merah dan dihias sebuah burung merak dari emas permata.
Di punggungnya tergantung sebatang pedang.
Gadis itu adalah Ouw Swi Lan.
Kecantikan wajahnya yang dibentuk mata, mulut dan hidung itu adalah kecantikan wanita Han, akan tetapi kedua pipinya yang agak menonjol di bawah sudut kedua matanya, dan kulitnya yang agak gelap itu menunjukkan bahwa ada darah Mongol dalam dirinya.
Dan memang sesungguhnya, Ouw Swi Lan adalah seorang gadis cantik berdarah campuran.
Ayahnya adalah Jenderal Ouw Gu Cin yang nama aselinya Ogucin, seorang suku bangsa Mongol aseli.
Akan tetapi Nyonya Ouw, Ibunya adalah seorang wanita peranakan Han/Mongol sehingga dalam darah Ouw Swi Lan mengalir darah Han dan darah Mongol sehingga ia memiliki kecantikan yang aneh dan tidak biasa namun amat menarik dan menyenangkan.
Sebagai puteri Jenderal Ouw yang memiliki ilmu perang dan ilmu silat/gulat tinggi, tentu saja sejak kecil Ouw Swi Lan juga mendapat gemblengan ilmu bela diri yang cukup tinggi.
Maka tidak anehlah kalau hari ini, sejak pagi tadi, gadis puteri bangsawan Mongol ini pergi seorang diri berburu binatang dalam hutan, tanpa pengawal seorang pun.
Wajah yang cantik itu kemerahan karena sampai matahari naik tinggi, ia belum mendapatkan binatang yang diburunya.
Beberapa ekor kelinci yang dilihatnya ia diamkan saja karena pagi ini ia hendak mencari buruan pesanan Ibunya, yaitu seekor kijang.
Ibunya tadi berpesan agar puterinya hanya membunuh seekor kijang karena Ibunya ingin sekali makan masakan daging kijang.
Akan tetapi sial baginya, sejak pagi ia tidak melihat kijang seekor pun.
Padahal biasanya di hutan itu terdapat banyak kijang.
Tiba-tiba kudanya meringkik dan mengangkat ke atas kedua kaki depannya.
Hidungnya mendengus-dengus dan tampak ketakutan sekali.
Karena kuda itu mendadak menjadi binal dan agaknya ketakutan sehingga membahayakan dirinya yang dapat saja terpental jatuh, Ouw Swi Lan melompat turun dari atas pelana kudanya.
Begitu gadis itu melompat turun, kuda itu pun melompat dan kabur membawa perlengkapan bekal yang berada di punggungnya.
"Hei...!"
Ouw Swi Lan berseru jengkel.
Akan tetapi suara gerengan yang tiba-tiba terdengar di belakangnya membuat ia terkejut dan cepat membalikkan badannya.
Seekor harimau besar telah berdiri di depannya, memperlihatkan taring, mendesis dan menggereng, kedua kaki depan mencakar-cakar tanah.
Gadis itu gagah perkasa, namun saat itu wajahnya berubah agak pucat dan jantungnya berdebar keras.
Bagaimanapun juga, belum pernah ia berhadapan seperti itu dengan seekor harimau yang agaknya telah bertekad untuk membuat ia menjadi santapannya pada siang hari itu!
Jarak antara mereka hanya kurang lebih tiga tombak dan Swi Lan sudah sering mendengar cerita bahwa seekor harimau, apalagi yang sebesar itu, dengan mudah akan dapat melompati jarak itu dan menerkamnya.
Dan sekali dua kaki depan yang berkuku tajam runcing melengkung dan amat kuat itu mencengkeram tubuhnya, tak mungkin ia dapat melepaskan diri lagi.
Kuku-kuku mengerikan, itu akan mencabik-cabik dagingnya, dan taring-taring yang mengkilap runcing itu akan meremukkan tulangnya dengan sekali gigit!
Akan tetapi sejak kecil Swi Lan sudah digembleng sehingga ia memiliki keberanian yang luar biasa.
Hanya sebentar ia panik.
la sudah dapat menenangkan perasaannya dan kedua tangannya bergerak, siap memasang anak panah di busurnya.
Pada saat itu, harimau itu mengaum, tubuhnya merendah dan tiba-tiba tubuh yang besar dan berat penuh otot itu sudah melompat ke atas, kedua cakar sudah siap menerkam daging lunak gadis itu!
Swi Lan maklum bahwa melarikan diri dari harimau ini tidak mungkin lagi.
Sialnya, ia berada di tempat yang tidak ada pohonnya yang tinggi, hanya semak-semak dan pohon kecil.
Kalau ada pohon besar dan tinggi di dekatnya, tentu sejak tadi ia sudah melompat naik, bebas dari jangkauan harimau itu.
Mengelak dan lari pun tidak ada gunanya.
Harimau memiliki gerakan yang amat tangkas dan larinya lebih cepat dari seekor kuda.
Maka ia pun menjadi nekat.
Ia harus melawan dan harus mampu membunuh binatang ini!
Melihat harimau itu melompat tinggi, cepat sekali Swi Lan lari meluncur ke depan di bawah tubuh harimau itu!
Harimau itu turun ke atas tanah, menggereng marah dan membalik untuk menghadapi calon korbannya yang secara licik telah menerobos ke arah berlawanan melalui bawah tubuhnya dan kini binatang itu siap untuk menerkam lagi.
Akan tetapi Swi Lan juga sudah siap dengan anak panah telah terpasang di busurnya.
Begitu ia melihat harimau itu mengambil ancang-ancang untuk menubruknya, ia melepaskan anak panahnya.
Ia menduga bahwa kepala binatang itu mungkin terlalu kuat dan keras bagi anak panah-nya, maka ia menujukan anak panahnya ke arah leher harimau itu.
"Wirrrr... cepp!!"
Anak panah itu menancap di perut harimau sampai setengahnya lebih.
Ketika panah dilepas, harimau itu melompat untuk menerkam, maka anak panah itu tidak mengenai leher melainkan menancap di perut.
Akan tetapi agaknya harimau itu tidak merasakan hal ini.
Terkamannya masih terus dan Swi Lan terpaksa melempar diri ke kanan dan bergulingan di atas rumput.
Ketika ia melompat bangun, ia telah memegang pedang yang telah di cabut dari punggungnya.
Harimau itu ternyata kuat sekali.
Anak panah yang menancap dalam perutnya itu tidak merobohkannya.
Dia hanya menggereng dan mencoba untuk mencakar-cakar dengan kaki depannya dan kaki belakangnya seolah hendak mencabut anak panah itu, lalu menggoyang-goyangkan badannya.
Man tetapi anak panah itu tentu saja tidak dapat tercabut.
Dia marah sekali, memandang kepada Swi Lan dengan mata merah dan mulut membusa, lalu dia menerjang dengan tubrukan yang amat kuat.
Swi Lan cukup cerdik.
la maklum bahwa tidak mungkin menang melawan binatang yang amat berat dan kuat itu kalau mengadu kekuatan.
Maka ia pun cepat mengelak dengan loncatan ke kanan.
Ketika harimau itu memutar tubuhnya ke kiri, pedang di tangan Swi Lan berkelebat.
"Singg... crottt...!"
Ujung pedang membabat leher, akan tetapi karena harimau itu menggunakan kaki depan kiri untuk menangkis, maka babatan itu hanya mendatangkan luka yang tidak berbahaya, hanya merobek kulit di dekat leher.
Harimau itu semakin marah dan mengamuk kalang-kabut.
Dia mencakar, menubruk dengan gerakan cepat.
Namun gerakan Swi Lan lebih cepat lagi.
Gadis itu mengelak dari semua serangan dan setiap mendapat kesempatan, pedangnya menyambar, membacok, menusuk sehingga tubuh harimau itu, terutama di bagian leher, penuh luka dan berdarah-darah!
Harimau itu mengamuk terus dan memang dia kuat sekali.
Swi Lan sudah mulai berkeringat dan merasa penasaran juga.
Sudah belasan kali pedangnya mengenai sasaran, tusukan dan bacokannya membuat binatang itu mandi darah, akan tetapi harimau itu masih saja mengamuk, tidak mau menerima kalah atau melarikan diri.
Apakah hal ini terjadi karena binatang itu bodoh, ataukah karena angkuh dan tidak mau mengaku kalah?
Swi Lan menjadi penasaran dan ketika harimau itu luput menubruk, dari samping ia menusukkan pedangnya ke arah dada.
"Blesss...!"
Pedang itu memasuki dada dan ketika ia cepat mencabut, darah mengucur keluar.
Akan tetapi harimau itu masih menggereng, membalik dan hendak menyerang lagi.
Akan tetapi tiba-tiba dia tersungkur, terjerembab dan keempat kakinya meregang, lalu terdiam.
Mati dengan mata terbuka.
Darah masih menetes-netes dari luka-lukanya, terutama luka terakhir di dada.
Tusukan itu agaknya menembus jantung.
Swi Lan menjatuhkan diri duduk di atas rumput, mengeluarkan saputangan dan menyeka keringatnya sambil memandang ke arah bangkai harimau.
Ada sinar kekaguman terpancar di kedua matanya yang indah.
"Pantas dia disebut Raja Hutan."
Bisiknya.
"Begitu jantan, begitu gagah perkasa, pantang menyerah dan melawan sampai titik darah penghabisan."
Binatang yang memiliki watak seorang pendekar sejati!
Sayang dia harus mati di tanganku, demikian ia berpikir.
Kemudian ia terkejut karena teringat bahwa kudanya sudah kabur ketakutan!
la harus pulang berjalan kaki tanpa membawa kijang yang diinginkan dan dinanti-nanti Ibunya!
"Sialan!"
Swi Lan bangkit berdiri sambil membersihkan pedangnya, digosok-gosoknya di rerumputan sehingga bersih dari darah.
Tiba-tiba ia mendengar gerakan banyak orang.
la cepat menggerakkan bola matanya memandang ke sekeliling dengan penuh perhatian dan kewaspadaan.
Tak lama kemudian bermunculanlah mereka!
Semua laki-laki berusia antara tiga puluh sampai empat puluh tahun, bertubuh tinggi besar dan berwajah kasar bengis.
Pakaian mereka menunjukkan bahwa mereka adalah orang-orang yang merasa dirinya jagoan yang sudah biasa melakukan kejahatan apa saja demi memaksakan kehendak mereka.
Kini mereka memandang kepada Swi Lan dengan mulut menyeringai dan Pandang mata seolah hendak menelan gadis itu bulat-bulat.
Akan tetapi Swi Lan tidak merasa takut, bahkan tidak mempedulikan mereka yang jumlahnya belasan orang itu.
la lebih memperhatikan seorangKakek yang usianya sekitar lima puluh tahun yang berdiri paling depan.Kakek itu tidak memiliki wajah bengis seperti anak buahnya, juga pakaiannya pantas dan terbuat dari bahan yang mahal.
Sepatunya mengkilap dan di punggungnya tergantung sepasang golok besar.
Kumis dan jenggotnya terawat baik, rambutnya diikat kain biru danKakek itu memiliki sepasang mata yang tajam dan penuh wibawa.
Swi Lan mengenalKakek itu.
Dia adalah Toat-Beng Siang-To (Sepasang Golok Pencabut Nyawa) Ciu Kak Le, seorang tokoh sesat dunia kang-ouw yang tadinya bekerja membantu Ayahnya.
Ayahnya, Jenderal Ouw memang mempunyai banyak pembantu dari para jagoan bangsa Han, dan di antaranya adalah Ciu Kak Le ini.
Akan tetapi, sebulan yang lalu tokoh ini diusir pergi oleh Ayahnya, dan menurut Ayahnya, orang ini melakukan beberapa pelanggaran.
"Paman Ciu Kak Le, mau apa engkau dengan belasan orang liar ini?"
Swi Lan menegur, sedikit pun tidak merasa takut karena ia yakin bahwa orang-orang ini pasti tidak berani mengganggunya.
Siapa yang berani mengganggu puteri Jenderal Ouw?
Toat-Beng Siang-To Ciu Kak Le melirik ke arah bangkai harimau itu dan dia lalu berkata.
"Hebat, Nona Ouw, engkau memang lihai dapat membunuh harimau itu. Akan tetapi, engkau tidak akan mampu lobos dariku. Engkau akan menjadi tawananku, biar Ayahmu tahu rasa dan menyadari bahwa dia keliru besar mengesampingkan aku dan memilih Empat Datuk Besar itu!"
"Apa? Engkau berani hendak menawanku? Apakah engkau hendak menjadi pemberontak? Ayahku dan pasukan Kerajaan akan membinasakan kamu dan gerombolanmu!"
"Heh-heh-heh, aku tidak takut. Jenderal Ouw tidak akan berani melakukan apa-apa terhadap aku selama engkau menjadi tawananku. Dia akan ketakutan, Ouw Swi Lan, dia takut, he-he-he!"
Sepasang mata indah gadis itu mencorong karena ia marah sekali mendengar ucapan Ciu Kak Le.
"Akan tetapi aku tidak takut padamu, Ciu Kak Le! Sama sekali tidak takut dan engkau akan kubunuh seperti harimau itu!"
"Benarkah? Ha-ha-ha-ha! Anak-anak, siapkan jala-jala itu!"
Setelah berkata demikian, Toat-Beng Siang-To Ciu Kak Le mencabut sepasang goloknya dan sambil mengeluarkan suara bentakan nyaring dia menyerang Ouw Swi Lan.
Sepasang golok yang besar, berat dan mengkilap itu diputar-putar, membentuk dua gulungan sinar dan menyambar ke arah Swi Lan.
Gadis itu sudah maklum bahwa lawannya ini seorang Datuk sesat yang memiliki ilmu silat golok yang tangguh, maka ia pun sudah cepat mencabut pedangnya.
Dengan tenaga kuat Ciu Kak Le mulai menyerang, goloknya menyambar dari kanan kiri, berkelebatan seolah dua ekor naga mengamuk.
Dia menggunakan jurus Siang-Liong Jio-Cu (Sepasang Naga Berebut Mustika).
Sepasang golok itu menyerang dari dua arah berlawanan dan menyambar-nyambar dahsyat.
Ouw Swi Lan tidak menjadi gentar.
la cepat memutar pedangnya dan mainkan jurus Pek-Kong Koan-Jit (Pelangi Putih Tutup Matahari) sehingga pedangnya membentuk gulungan sinar putih melingkar-lingkar dan biarpun sepasang golok lawan berusaha untuk menyerangnya, selalu sepasang golok itu terpental bertemu dengan sinar pedang yang seolah menjadi perisai yang amat kuat.
Setelah gerakan sepasang golok melemah, Swi Lan membalas dengan serangan kilat.
Ia menggunakan jurus Hui-In Ci-Tian (Awan Terbang Keluarkan Kilat) dan dari gulungan sinar putih itu mencuat sinar yang menuju ke arah Ciu Kak Le!
Laki-laki tinggi besar ini terkejut bukan main.
Dia juga sudah tahu bahwa puteri Jenderal Ouw ini memiliki ilmu silat tinggi karena digembleng oleh Jenderal Ouw sendiri, akan tetapi dia tidak menyangka akan sehebat itu.
Serangan itu cepat bukan main sehingga kalau Ciu Kak Le tidak cepat-cepat membuang diri ke belakang, akan sulitlah baginya untuk terhindar dari serangan yang dahsyat itu.
Dia membuang diri ke belakang sampai jatuk telentang di atas tanah.
Akan tetapi begitu tubuhnya menyentuh tanah, dia terus bergulingan dan kedua goloknya itu kini menyambar-nyambar ke arah kaki dan tubuh bawah Swi Lan ketika dia bergulingan itu.
Swi Lan terkejut.
Ia tahu bahwa itulah ilmu golok Te-Tong Siang-To (Sepasang Golok Bergulingan di Atas Tanah) dan amat berbahaya.
Biarpun tingkat kepandaian gadis itu sesungguhnya masih lebih tinggi daripada tingkat kepandaian lawannya, akan tetapi serangan dengan jurus bergulingan itu membuat ia benar-benar terdesak.
Ia harus berloncatan menghindarkan kedua kakinya dan tubuh bagian bawah terancam sepasang golok dan ia amat sukar untuk balas menyerang lawan yang bergulingan itu.
Tiba-tiba Ciu Kak Le memberi aba-aba dan belasan orang anak buah itu segera menggerakkan jala-jala yang berada di tangan mereka, melemparkan jala-jala itu ke arah Swi Lan!
Gadis itu menjadi bingung.
Karena seluruh perhatiannya tertuju ke bawah dari mana serangan sepasang golok itu mengancamnya secara bertubi-tubi, maka Swi Lan terkejut ketika ada bayangan hitam menyambar dari atas.
Ia memutar pedangnya ke atas dan dapat mencabik-cabik tiga helai jala, akan tetapi beberapa helai jala telah menangkap dan menyelimuti tubuhnya.
Ia meronta-ronta, akan tetapi jala-jala itu semakin kuat mengikat dirinya sehingga ia seperti seekor ikan dalam jala, hanya mampu meronta, namun tidak mampu melakukan perlawanan lagi.
"He-he-he, puteri Ouw Goanswe (Jenderal Ouw) telah tertangkap seperti seekor ikan yang cantik!"
Kata Ciu Kak Le dan semua anak buahnya tertawa.
"Jangan ada yang berani mengganggunya. Ia milikku, menjadi sanderaku yang manis!"
Kata Toat-Beng Siang-To sambil menghampiri gadis yang sudah tidak berdaya itu.
"Jahanam pengecut curang!"
Ouw Swi Lan memaki.
"Lepaskan aku dan mari kita bertanding sampai mati!"
"He-he-he, aku tidak dapat kau tipu, Nona!"
Ciu Kak Le tertawa gembira. Tiba-tiba terdengar suara tawa dan muncullah seorang pemuda tampan tak jauh dari situ.
"Ha-ha-ha! sungguh lucu melihat belasan orang laki-laki dewasa yang tampak gagah dan kuat mengeroyok seorang gadis muda remaja! Sungguh pengecut dan licik, rendah melebihi binatang tikus-tikus pecomberan!"
Ouw Swi Lan yang melihat dari dalam jala tidak mengenal pemuda itu.
Dia bukan lain adalah Si Han Lin, pemuda yang pernah berkunjung ke Siauw-Lim-Pai kemudian menghilang lagi sebelum dapat menghadap Bu Kek Tianglo, Ketua Siauw-Lim-Pai!
Belasan orang kasar itu marah sekali melihat munculnya pemuda yang mengeluarkan ucapan menghina dan menyebut mereka seperti tikus comberan.
Mereka lalu mencabut golok, sebagian memegang sisa jala untuk menangkap atau membunuh pemuda itu.
Mereka menghampiri dan mengepung pemuda itu.
"Ha-ha, kalian tikus-tikus busuk berani hendak mengganggu aku? Awas, aku adalah kucing sakti yang akan mencakar mampus kalian semua!"
Si Han Lin membuat gerakan seperti seekor kucing mencakar-cakar dan mengeluarkan bunyi "meong-meong"
Dengan sikap lucu mengejek.
Tentu saja belasan orang itu menjadi semakin marah dan mereka lalu menerjang pemuda yang sudah mereka kepung itu.
Akan tetapi setelah banyak golok dan jala menyerang, tiba-tiba pemuda itu bergerak, kaki tangannya menyambar-nyambar.
Jala robek dan golok terlempar, disusul teriakan kesakitan dan Para pengeroyok itu berpelantingan!
Mereka terkejut dan menjadi semakin marah, akan tetapi juga gentar sehingga ragu-ragu untuk menyerang lagi, apalagi mereka semua menderita nyeri, ada yang mukanya biru, kepalanya benjol, tulang retak atau otot terkilir!
Toat-Beng Siang-To Ciu Kak Le terkejut bukan main.
Baru dia menyadari bahwa pemuda itu lihai sekali.
Padahal, menghadapi gadis puteri Jenderal Ouw itu saja sudah berat dan berbahaya.
Kalau sampai pemuda itu dapat membebaskan Ouw Swi Lan, pasti celakalah dia.
Maka cepat dia menempelkan sepasang goloknya bersilang di dekat leher gadis itu sambil membentak.
"Bocah kurang ajar! Hentikan perlawananmu atau akan kupenggal leher gadis ini!"
Han Lin berhenti bergerak dan memandang ke arah gadis dalam jala yang lehernya ditempeli dua batang golok itu.
Dia maklum bahwa tak mungkin menolong gadis itu.
Sedikit saja orang tinggi besar itu menggerakkan goloknya, gadis itu pasti akan tewas.
Dia pun menjadi ragu.
"Jangan pedulikan dia! Serang terus dan bunuh gerombolan penjahat ini!"
Ouw Swi Lan berteriak dari dalam jala.
"Aku tidak takut mati!"
Han Lin memandang kagum. Seorang gadis yang hebat, pikirnya. Sayang kalau sampai tewas.
"Hemm, lalu apa kehendakmu?"
Tanya Han Lin kepada Ciu Kak Le.
"Menyerahlah untuk kami ikat kedua tanganmu atau kami akan bunuh dulu Ouw Siocia (Nona Ouw) ini!"
"Hemm, aku pun dapat membunuh engkau dan semua anak buahmu ini."
Kata Han Lin tenang.
"Kalau kami semua terbunuh berikut puteri Jenderal Ouw ini, pasti engkau yang dianggap pembunuh kami semua dan engkau akan menjadi buronan pemerintah, dikejar laksaan tentara. Jenderal Ouw pasti tidak akan tinggal diam dan semua kesalahannya ditimpakan padamu!"
Han Lin kembali memandang kepada Ouw Swi Lan dengan penuh perhatian.
Puteri Jenderal Ouw?
Jenderal Ouw Gu Cin yang amat terkenal itu?
"Baiklah, aku menyerah, akan tetapi engkau harus berjanji tidak akan membunuh Nona itu."
"Tentu saja, kalau engkau menyerah dan tidak melawan, kami tidak akan membunuhnya."
Han Lin kembali memandang ke arah gadis itu, lalu dia menghela napas panjang dan berkata.
"Baiklah, aku menyerah."
Ciu Kak Le menjadi girang sekali.
"Cepat ikat kedua tangannya!"
Beberapa orang anak buahnya yang tadinya merasa takut kepada pemuda itu, lalu maju dan menggunakan tali jala yang amat kuat untuk mengikat kedua pergelangan tangan Han Lin di sebelah belakang tubuhnya.
"Ikat yang kuat, jangan sampai dia dapat melepaskan diri!"
Kembali Ciu Kak Le berseru. Sepuluh orang anak buah yang tadinya ketakutan dan kesakitan itu, kini tertawa-tawa.
"Jangan khawatir, Twako, seekor gajah pun tidak akan dapat melepaskan dari ikatan kami ini, ha-ha-ha-ha!"
"Sekarang bebaskan Nona itu seperti sudah kujanjikan!"
Kata Han Lin kepada Ciu Kak Le.
"Bebaskan? Ha-ha-ha, siapa bilang aku berjanji akan membebaskannya? Aku hanya berjanji tidak akan membunuhnya dan memang aku tidak akan membunuhnya! Sayang kalau ia dibunuh. Engkaulah yang akan kubunuh! Ha-ha-ha!"
Sambil berkata demikian, Toat-Beng Siang-To Ciu Kak Le meninggalkan Swi Lan yang masih terikat jala, menghampiri Han Lin yang sudah terikat ke belakang kedua tangannya.
"Manusia tolol! Kau percaya omongan iblis jahanam pengecut itu!"
Swi Lan memaki dengan gemas melihat kebodohan pemuda yang hendak menolongnya.
Akan tetapi di batik kegemasannya, ia pun diam-diam merasa terharu dan berterima kasih sekali.
Pemuda yang tidak dikenalnya itu rela membiarkan dirinya dibelenggu dan terancam maut hanya untuk menyelamatkan nyawanya, seorang gadis yang sama sekali tidak dikenalnya!
Kini Ciu Kak Le sudah menghampiri Han Lin dengan sikap mengancam.
Sepuluh orang anak buahnya juga sudah memungut kembali senjata mereka dan kini dengan wajah bengis mereka mengacung-acungkan senjata mereka seolah hendak berlumba untuk membacokkan golok mereka kepada pemuda itu!
Melihat ini, Ouw Swi Lan berteriak.
"Ciu Kak Le, tunggu dulu! Jangan kau bunuh pemuda itu. Aku berjanji akan minta kepada Ayahku agar memenuhi semua permintaanmu! Engkau boleh minta pangkat, harta atau apa saja!"
"Ha-ha-ha! bagaimana aku bisa percaya padamu, Nona Ouw?"
Ciu Kak Le tertawa mengejek.
"Aku bukan manusia licik curang macam kamu! Aku Ouw Swi Lan, puteri Jenderal Ouw Gu Cin, tidak sudi mengingkari janjiku sendiri. Aku bersumpah!"
Swi Lan berteriak.
"Baiklah, Nona. Hal itu kita bicarakan nanti, yaitu mengenai pembebasan dirimu. Akan tetapi bocah lancang ini harus kubunuh!"
Setelah berkata demikian, Ciu Kak Le menggerakkan sepasang goloknya, siap untuk membunuh pemuda yang kedua tangannya sudah diikat ke belakang itu.
"Tunggu dulu!"
Kembali Swi Lan menjerit sehingga Ciu Kak Le menahan serangannya.
"Pemuda, siapakah namamu? Aku akan berterima kasih sekali kepadamu atas budi pengorbananmu. Namamu tidak akan pernah kulupakan dan aku akan bersembahyang untukmu..."
Suara gadis itu menjadi sumbang dan gemetar karena ia menangis pada akhir kalimatnya.
"Nona Ouw, namaku Si Han Lin. Jangan sembahyangi aku dulu karena aku belum ingin mati. Lihat ini...!"
Han Lin membuat gerakan pada kedua pangkal lengannya dan dalam beberapa detik saja dia sudah dapat melepaskan kedua tangannya dari ikatan yang amat kuat!
Padahal ikatan itu dilakukan dengan tali jala istimewa yang bukan saja kuat dan ulet, akan tetapi juga dapat lentur sehingga tidak mungkin dipatahkan atau dibikin putus.
Ternyata pemuda itu telah menggunakan ilmu Jiu-Kut-Kang (Melemaskan Tulang) sehingga kedua lengannya bagaikan belut saja, dapat lolos dari ikatan yang kuat itu.
Jiu-Kut-Kang adalah sebuah ilmu tingkat tinggi dari Siauw-Lim-Pai!
Bukan main kagetnya Ciu Kak Le dan anak buahnya melihat betapa pemuda itu telah dapat meloloskan diri dari ikatan secara aneh dan tidak mereka mengerti.
Seperti diberi komando, Cu Kak Le dan sepuluh orang anak buahnya menyerang pemuda itu dengan golok mereka!
Akan tetapi Han Lin bergerak cepat seperti kilat menyambar-nyambar.
Pertama dia menyambut bacokan golok kedua tangan Ciu Kak Le.
Dengan tangan kosong, begitu saja dia menyambut dan menangkap sepasang golok itu, lalu secepat kilat dia mendorong sehingga sepasang golok itu membalik.
"Crapp...!"
Sepasang golok itu menancap di tubuh Ciu Kak Le sendiri, sebatang membacok dada, yang kedua membacok leher!
Tubuh kepala gerombolan ini terjengkang mandi darah dan dia tewas seketika.
Kini Si Han Lin menggerakkan tubuh menyambar-nyambar dan sepuluh orang anak buah gerombolan itu berpelantingan, terkena tendangan atau pukulan dan mereka tewas semua!
Han Lin menewaskan sebelas orang itu tanpa menggunakan senjata dan tidak ada setetes darah musuh mengenai tubuhnya.
Dia lalu menghampiri Swi Lan dan dengan kedua tangannya dia membuka Iibatan jala-jala itu sehingga Swi Lan dapat terbebas.
Gadis itu mengambil pedangnva yang tadi terlepas, lalu menyimpan pedang di sarungnya dan ia berdiri berhadapan dengan Han Lin.
"Si-Taihiap, sekali lagi terima kasih atas budi pertolonganmu. Aku berhutang nyawa padamu!"
Kata gadis itu sambil merangkap kedua tangan depan dada sebagai salam penghormatan. Han Lin membalas penghormatan itu.
"Ouw Siocia (Nona Ouw), tidak perlu berterima kasih. Aku tidak melepas budi, hanya melaksanakan tugas menentang kejahatan. Mereka itu orang-orang jahat, sudah sepantasnya dibasmi."
Han Lin melihat ke arah bangkai harimau.
"Hemm, engkaukah yang membunuh harimau itu, Nona?"
"Benar, Taihiap (Pendekar Besar), aku diserangnya dan terpaksa membela diri. Kudaku kabur karena ketakutan melihat harimau. Setelah aku berhasil membunuh harimau, lalu muncul gerombolan itu dan aku dikeroyok lalu terjebak dan tertangkap dalam jala-jala itu. Mereka sungguh curang!"
Ouw Swi Lan cemberut, gemas.
"Kalau mereka tidak menggunakan jala-jala itu, aku tidak akan kalah dan pasti sudah kubunuh mereka semua!"
"Akan tetapi agaknya kepala gerombolan itu mengenalmu, Nona. Siapakah dia?"
"Namanya Ciu Kak Le, julukannya Toat-Beng Siang-To. Dulu dia pernah bekerja kepada Ayahku, Jenderal Ouw Gu Cin, akan tetapi dikeluarkan karena melakukan pelanggaran."
"Mengapa dia menangkapmu, Nona?"
"Menurut pengakuannya tadi, dia sakit hati kepada Ayahku karena Ayah memecat dia dan memilih Empat Datuk Besar untuk melaksanakan tugas yang penting."
"Ah, begitukah? Tugas penting apakah itu?"
"Aku tidak tahu, Taihiap. Itu urusan Ayahku dan aku tidak pernah mencampuri urusan negara. Ah, sayang kudaku kabur, terpaksa aku harus berjalan kaki..."
"Jangan khawatir, Nona. Tunggu sebentar!"
Pemuda itu lalu berkelebat lenyap di antara semak-semak dan tak lama kemudian dia muncul lagi menunggang kuda milik Swi Lan yang tadi kabur.
"Hei! itu kudaku! Bagaimana bisa..."
"He-he, Nona Ouw, jangan tuduh aku pencuri kuda! Tadi ketika aku berjalan di luar hutan ini, aku melihat kuda ini melarikan diri ketakutan. Aku berhasil menangkap dan menenangkannya, kemudian aku menungganginya dan melacak jejaknya karena aku menduga pasti terjadi sesuatu dengan penunggangnya. Nah, aku menemukan engkau di sini ditawan gerombolan tadi. Kuda ini tadi sengaja kutambatkan agak jauh agar tidak ketakutan. Nah, mari, terimalah kembali kudamu. Sekarang engkau dapat pulang menunggang kuda dan membawa harimau itu yang akan menjadi kebanggaanmu."
"Tidak, aku tidak mau membawa bangkai harimau itu. Aku memang sedang berburu, akan tetapi yang kuburu hari ini khusus kijang karena Ibuku memesannya. Beliau ingin makan daging kijang. Sialnya, aku sejak pagi tidak bertemu kijang, bahkan bertemu harimau dan gerombolan!"
Han Lin memandang kagum.
Bukan main, pikirnya.
Gadis ini selain cantik jelita, puteri bangsawan tinggi, lihai ilmu silatnya dan pemberani tidak takut mati membuktikan sikap watak yang gagah perkasa, kini ditambah lagi dengan cinta dan bakti kepada Ibunya!
Tiba-tiba dia teringat akan gerombolan kijang yang dilihatnya pagi tadi.
"Aku tadi melihat banyak kijang di sana. Hayo kita mencarinya dan menangkap seekor untuk Ibumu!"
Swi Lan menjadi girang sekali. Wajahnya berseri sehingga tampak semakin cantik.
"Di mana mereka, Taihiap?"
"Di sana, mari ikuti aku. Engkau menunggang kuda ini!"
Kata Han Lin sambil berlari ke arah barat.
Swi Lan melompat ke atas punggung kudanya dan mengejar.
la tidak lupa untuk mengambil anak panah dan busurnya yang tercecer di atas tanah.
Tidak lama mereka berlari.
Di tepi sebuah anak sungai tampak belasan ekor kijang sedang makan rumput.
Telinga dan ekor mereka bergerak-gerak.
Han Lin memberi tanda agar gadis itu menghentikan kudanya.
Kemudian, Swi Lan menyiapkan busur dan anak panah, lalu berindap-indap, menyusup di antara semak dan pohon, menghampiri ke arah tempat itu.
la harus berhati-hati karena pendengaran dan penciuman kijang itu tajam sekali.
Begitu mereka mendengar suara mencurigakan dan mencium bau manusia, mereka akan kabur dan tidak mungkin lagi mengejar mereka.
Beruntung bagi Swi Lan pada saat itu, angin datang dari arah anak sungai.
Setelah mengukur jarak dan merasa cukup dekat, Swi Lan membidikkan anak panahnya ke arah seekor kijang muda yang mulus.
Kemudian anak panah dilepaskan, meluncur cepat dan menancap di dada kijang itu.
Sasarannya tepat.
Anak panah itu mengenai jantung binatang itu sehingga kijang itu roboh, meregang dan mati.
"Bagus! Ternyata ilmu panahmu juga hebat Nona Ouw!"
Han Lin memuji.
Sejak tadi dia diam saja menonton dan kini dia melompat ke depan lalu lari menghampiri kijang yang menggeletak ditinggal lari kawan-kawannya.
Dia memondong bangkai kijang itu dan membawanya kepada Swi Lan, lalu diletakkan melintang di atas punggung kuda, diikat di belakang pelana kuda.
"Sekarang aku harus pulang, Taihiap. Matahari mulai condong ke barat. Aku mohon padamu, sudilah engkau singgah di rumahku. Aku harus memperkenalkan engkau kepada orang-tuaku. Kalau nanti Ayah mendengar bahwa ada orang yang menyelamatkan nyawaku dan aku tidak membawanya menemui Ayah-Ibu, Ayah akan marah besar kepadaku."
Han Lin tersenyum dan mengangguk.
"Baiklah, Nona, walaupun sesungguhnya apa yang kulakukan tadi tidak perlu dibesar-besarkan."
"Sayang kudanya hanya seekor. Biarlah kita berdua berjalan kaki saja, Si-Taihiap"
"Tidak, Nona. Engkau tunggangi kuda itu, aku akan mengikuti dari belakang. Akan tetapi bagaimana dengan mayat-mayat itu? Apakah akan dibiarkan membusuk begitu saja?"
"Tentu saja tidak, Taihiap. Sesampainya di rumah aku akan memerintahkan pasukan untuk mengurus mayat-mayat itu. Maaf, Taihiap, aku menunggang kuda dan engkau berjalan saja."
"Tidak mengapa. Naiklah dan cepat larikan kuda agar tidak sampai kemalaman di jalan."
Swi Lian menunggang kudanya dan melarikannya perlahan-lahan karena ia tidak ingin pemuda itu tertinggal jauh.
Akan tetapi, dari belakang Han Lin mencambuk kuda itu dengan sehelai ranting sehingga kuda itu melompat dan membalap.
Beberapa kali Swi Lan menoleh dan ia melihat betapa pemuda itu tetap berada di dekat ekor kudanya, biarpun kudanya berlari membalap!
la menjadi semakin kagum.
Pemuda itu memiliki ginkang (ilmu meringankan tubuh) dan ilmu berlari cepat yang hebat.
Timbul keinginannya untuk menguji.
la lalu membalapkan kudanya sehingga binatang itu lari dengan cepat sekali.
Akan tetapi setelah agak jauh ia menengok dan melihat Han Lin masih tetap berada di dekat ekor kuda, berlari dengan kecepatan yang mengimbangi kecepatan kudanya.
Pemuda itu tersenyum kepadanya!
Kini Swi Lan yakin bahwa ilmu berlari cepat pemuda ini jauh lebih tinggi daripada tingkatnya sendiri, padahal Ayahnya pernah mengujinya dan tingkatnya sudah hampir menyamai tingkat Ayahnya.
Jelas bahwa Ayahnya sendiri pun tidak akan dapat menandingi pemuda ini dalam hal kecepatan berlari!
Setelah tiba di pintu gerbang Kotaraja Swi Lan menghentikan kudanya, lalu ia melompat turun.
"Nona, mengapa berhenti di sini?"
Tanya Han Lin dan gadis itu memandangnya dengan kagum, melihat betapa pemuda itu bernapas biasa saja, tidak terengah-engah, hanya wajahnya agak merah dan berkeringat sedikit.
"Maaf, aku membuat engkau berlari cepat sehingga membuatmu kelelahan."
Katanya. Han Lin tersenyum.
"Ah, tidak berapa lelah, Nona Ouw. Dan kukira memang kita tadi perlu bercepat-cepat. Lihat, sekarang pun sudah hampir senja. Kalau tidak melakukan perjalanan cepat kita tentu akan kemalaman di jalan."
"Engkau benar, Taihiap. Mari kita ke rumah kami."
"Mengapa tidak kau tunggangi kudamu, Nona?"
"Kita jalan kaki saja, tidak begitu jauh dari sini."
"Kalau begitu, biar aku yang tuntun kuda itu."
Swi Lan menyerahkan kendali kuda dan mereka lalu berjalan memasuki Kotaraja.
Beberapa orang perajurit Mongol yang sedang berjaga, sigap memberi hormat kepada Swi Lan dan mereka memandang kepada Han Lin dengan heran.
Akan tetapi Swi Lan tidak mempedulikan mereka.
Begitu mereka memasuki pekarangan rumah gedung tempat tinggal Jenderal Ouw, beberapa orang perajurit yang berjaga di gardu menyambut.
Swi Lan menyerahkan kudanya kepada mereka.
"Bawa kijang itu ke dapur dan urus kudaku seperti biasa."
Perintahnya kepada para perajurit yang tampaknya senang sekali dapat melayani puteri komandan mereka itu.
Swi Lan lalu mengajak Han Lin berjalan menuju ke pendapa gedung itu.
Mula-mula para pembantu yang menyambut dengan hormat.
Setelah mendengar bahwa Ayah-Ibunya berada di ruangan dalam, Swi Lan lalu menarik tangan Han Lin, diajaknya masuk gedung yang besar dan mewah itu.
Para pembantu wanita menyembunyikan senyum ketika melihat ulah nona mereka itu.
"Ayah! Ibu...!"
Gadis itu berseru ketika melihat Ayah dan Ibunya duduk di ruangan keluarga dengan santai. Dua orang itu menengok dan bangkit berdiri.
"Swi Lan, darimana engkau, begini lambat baru pulang?"
Ibunya, wanita cantik yang lembut itu, bertanya.
"Dan siapa pemuda ini?"
Tanya pula Jenderal Ouw Gu Cin yang berusia lima puluh tahun dan bertubuh tinggi besar itu.
"Ayah, Ibu, dia ini adalah Pendekar Si Han Lin. Dia tadi telah menolongku, menyelamatkan nyawaku yang nyaris celaka di tangan gerombolan orang jahat!"
Mendengar ini, Nyonya Ouw terkejut dan merangkul puterinya.
"Huh, gerombolan mana yang berani mengganggumu? Apa yang telah terjadi? Mari kita duduk di ruangan tamu dan kita bicara!"
Kata Jenderal Ouw.
"Maaf, Ayah. Mendengar Ayah-Ibu berada di sini, maka aku tadi mengajak Si-Taihiap langsung ke sini, bukan ke ruangan tamu."
Mereka lalu mengajak Han Lin pindah ke ruangan tamu yang merupakan ruangan yang luas dan biarpun tidak semewah ruangan dalam, namun cukup menyenangkan untuk tempat bercakap-cakap.
"Duduklah, Si Han Lin."
Kata Jenderal Ouw dengan suaranya yang besar sambil menatap wajah Han Lin dengan sepasang matanya yang lebar.
Han Lin sebelum duduk memberi hormat dengan mengangkat kedua tangan ke depan dada, agak membungkuk kepada suami-isteri itu dan berkata dengan lembut.
"Harap Taijin (Paduka) dan Hujin (Nyonya) memaafkan kalau saya mengganggu."
"Ah, jangan sungkan, orang muda. Engkau telah menolong puteri kami, sudah sepatutnya kami terima sebagai seorang tamu terhormat. Duduklah!"
Dan setelah Han Lin mengambil tempat duduk, Jenderal Ouw berkata kepada puterinya.
"Swi Lan, sekarang ceritakan dengan jelas apa yang telah terjadi."
Sambil duduk dekat Ibunya dan masih terus dirangkul nyonya itu, Swi Lan mulai bercerita.
"Aku berburu ke hutan sebelah barat Kotaraja seperti biasa. Agaknya aku sedang sial. Sejak pagi sampai siang aku tidak menemukan kijang, padahal aku tidak mau menangkap binatang lain. Aku ingin memenuhi pesan Ibu untuk mendapatkan kijang. Tiba-tiba seekor harimau yang besar muncul dan kudaku meringkik lalu kabur ketakutan. Aku terpaksa melompat turun dan harimau itu menyerangku!"
"Ih, engkau memang bandel, Swi Lan. Selalu menolak kalau akan dikawal."
Tegur Ibunya.
"Harimau itu kuat sekali. Akan tetapi setelah melukainya belasan kali dengan pedangku, akhirnya ia mati. Selagi aku mengaso, tiba-tiba muncul sebelas orang. Mereka itu ternyata Toat-Beng Siang-To Ciu Kak Le dan sepuluh orang anak buahnya. Dia bilang merasa sakit hati karena Ayah memecatnya dan memilih Empat Datuk Besar daripada memilih dia. Lalu dia dan anak buahnya menyerang saya."
"Keparat busuk Si Ciu Kak Le!"
Jenderal Ouw membentak marah.
"Di mana dia sekarang, akan kuhancurkan kepalanya!"
"Tenang, Ayah. Dia sudah mati di tangan Si-Taihiap."
Jenderal yang tadinya sudah bangkit itu duduk kembali.
"Oh, begitukah? Lanjutkan ceritamu."
"Sebetulnya aku pasti dapat membunuh mereka semua kalau saja mereka tidak menggunakan cara yang curang ketika mengeroyokku, Ayah. Mereka menggunakan jala-jala yang menyerang dari atas sedangkan jahanam Ciu itu menyerang dengan goloknya dari bawah secara bergulingan. Akhirnya aku tertawan olehnya. Kemudian muncul Si-Taihiap dan dia merobohkan dan menewaskan jahanam itu bersama sepuluh orang anak buahnya."
"Bagus! Masih begini muda engkau sudah memiliki kepandaian tinggi, Si Han Lin!"
Jenderal Ouw memuji.
"Ayah, dia membunuh mereka semua hanya dengan tangan kosong saja. Dia memang lihai bukan main. Ketika pulang, aku membalapkan kudaku dan Si-Taihiap yang lari di belakang kuda tidak pernah ketinggalan."
Jenderal Ouw memandang kepada Si Han Lin dengan penuh perhatian dan mengangguk-angguk.
"Hebat! Si Han Lin, engkau murid perguruan silat manakah? Dari Siauw-Lim-Pai, Bu-Tong-Pai, Go-Bi-Pai, atau Kun-Lun-Pai? Yang kuketahui, dari empat perguruan besar itu saja dapat muncul seorang murid yang lihai."
Si Han Lin menggelengkan kepalanya.
"Bukan dari perguruan-perguruan itu, Taijin. Guru saya adalah seorang Pertapa yang tidak mau menyebutkan namanya dan beliau bertapa di Pegunungan Himalaya."
"Swi Lan, bajumu kotor dan lihat rambutmu itu, penuh debu! Mari engkau mandi dulu dan bertukar pakaian, biar Si-Taihiap bicara dengan Ayahmu."
Swi Lan tersenyum, bangkit berdiri dan berkata kepada Han Lin.
"Si-Taihiap, engkau juga sebaiknya mandi dan bertukar pakaian. Engkau tentu lelah dan perlu mengaso."
"Terima kasih, Nona Ouw. Aku akan segera melanjutkan perjalananku."
"Tidak, Si Han Lin. Engkau tamu kehormatan kami, engkau telah menyelamatkan puteri kami, maka malam ini engkau harus bermalam di sini dan tinggal di sini beberapa lama. Aku ingin mengajak engkau bercakap-cakap. Swi Lan, Ibumu benar. Mandilah dulu dan keluarlah bersama Ibumu, biarkan aku bercakap-cakap dengan Si Han Lin. Jangan lupa, suruh pelayan membereskan kamar tamu untuk tamu kita, dan suruh menyiapkan makan malam yang enak."
"Jangan khawatir, Ayah. Aku tadi mendapatkan seekor kijang muda. yang gemuk!"
Swi Lan tersenyum manis dan bersama Ibunya meninggalkan Jenderal Ouw dan Han Lin. Setelah dua orang wanita itu pergi, Jenderal Ouw bercakap-cakap dengan Si Han Lin.
"Si Han Lin, aku senang mendengar bahwa engkau bukan murid dari perguruan-perguruan besar yang kusebutkan tadi. Karena partai-partai persilatan itu bersikap memusuhi Kerajaan Goan yang jaya! Kuharap saja engkau bukan berada di pihak yang memusuhi pemerintah kami dan hendak memberontak, Si Han Lin."
Pandang mata Jenderal Ouw memandang penuh selidik.
"Ah, selama ini saya berada di Himalaya dan tidak tahu menahu persoalan politik, Taijin. Guru saya hanya menekankan agar saya menentang orang-orang yang berbuat jahat, tidak peduli bangsa atau golongan apa."
"Bagus, begitulah pendirian seorang pendekar sejati! Tidak seperti murid-murid empat perguruan besar itu, terutama sekali para murid Siauw-Lim-Pai, mereka itu sombong dan merasa benar dan pandai sendiri!"
Han Lin teringat akan sikap beberapa orang tokoh Siauw-Lim-Pai yang berwatak keras dan tegas sehingga nyaris tinggi hati atau sombong.
"Mendengar cerita Nona Ouw Swi Lan tadi, saya mendengar bahwa Ciu Kak Le tadinya bekerja menjadi pembantu Taijin. Dia memberontak kepada Taijin karena Taijin memecatnya dan lebih memilih Empat Datuk Besar daripada dia. Saya pernah mendengar nama besar Empat Datuk Besar, walaupun belum pernah bertemu dengan mereka. Bukankah mereka itu Pak Lo-Kui, Tung Giam-Lo-Ong, Lam Sian, Dan See Te-Tok?"
"Benar, mereka berempat adalah pembantu-pembantuku, di antara banyak tokoh kang-ouw yang membantu pemerintah untuk membasmi para pemberontak."
"Jadi Ciu Kak Le merasa iri karena Taijin memberi tugas kepada Empat Datuk Besar. Tugas apakah itu, Taijin, kalau boleh saya mengetahuinya?"
"Boleh saja karena aku mengharap engkau mau pula membantu kami. Aku akan memberi kedudukan istimewa kepadamu. Mereka berempat bertugas untuk membujuk Empat Partai Besar, yaitu Siauw-Lim-Pai, Bu-Tong-Pai, Kun-Lun-Pai dan Go-Bi-Pai agar mau mendukung dan membantu pemerintah kami, pemerintah Kerajaan Goan."
"Akan tetapi, bagaimana kalau mereka tidak mau, Taijin?"
"Sudah kami beri wewenang kepada Empat Datuk Besar untuk menggunakan pasukan dan memukul mereka!"
Pintu ruangan diketuk dan seorang pelayan masuk dengan sikap hormat, memberitahu kepada Jenderal Ouw bahwa kamar tamu telah dipersiapkan.
"Baiklah, sekarang engkau lebih baik mandi membersihkan badan dan bertukar pakaian. Aku yakin dalam kamarmu sudah tersedia banyak pakaian yang cocok untukmu. Pakailah dan jangan sungkan, anggap ini sebagai rumahmu sendiri."
Han Lin bangkit dan mengikuti pelayan wanita itu menuju ke belakang dan akhirnya dia masuk ke dalam sebuah kamar tamu yang mewah.
Pelayan mempersilakan dia mandi dalam kamar mandi yang berada tidak jauh dari kamarnya.
Ketika dia memeriksa, benar saja dalam sebuah almari terdapat setumpuk pakaian yang ukurannya cocok dengan dirinya.
Agaknya memang sengaja dipersiapkan untuknya!
Dia menoleh kepada buntalan pakaian yang tadi dibawanya masuk, buntalan pakaian yang terisi beberapa pasang pakaian dari kain kasar.
Sedangkan pakaian dalam almari itu dari sutera halus, dan masih baru pula!
Setelah mandi bersih dan merasa segar, untuk menghormati tuan rumah, terpaksa Han Lin mengenakan sepasang pakaian yang tersedia dalam almari.
Dia memilih yang berwarna biru.
Baru saja dia selesai berpakaian dengan rapi, daun pintu kamarnya diketuk dari luar.
Ketika dia membuka daun pintu, pelayan mengatakan bahwa makan malam telah siap dan dia ditunggu di kamar makan.
Han Lin mengikuti pelayan menuju ke ruangan makan di mana terdapat sebuah meja bundar yang penuh masakan yang masih mengepul panas sehingga baru masuk saja bau sedap membuat perutnya terasa lapar sekali!
Baru saja dia masuk ruangan makan dan belum mengambil tempat duduk, dari dalam muncul Jenderal Ouw, Nyonya Ouw, dan Ouw Swi Lan.
Gadis itu mengenakan pakaian indah berwarna merah muda dan tampak cantik jelita seperti bidadari dalam lukisan!
Sejenak Han Lin terpesona dan matanya melekat pada gadis itu.
Swi Lan tersenyum manis dan menegur.
"Si-Taihiap, apakah engkau tidak mengenal aku?"
"Nona Ouw, engkau... cantik sekali...!"
Mendengar ini, sepasang pipi halus berbedak tipis itu berubah kemerahan.
"Ha-ha-ha, dan engkau juga tampak tampan dan gagah, Si Han Lin!"
Kata Jenderal Ouw.
"Mari duduk, kita makan bersama!"
Mereka makan minum, di layani empat orang pelayan wanita yang muda dan cantik lagi cekatan dengan sikap hormat.
Masakan-masakan itu memang lezat, terutama sekali beberapa macam masakan daging kijang.
Han Lin juga tidak malu-malu lagi dan makan sekenyangnya karena selain perutnya sudah lapar, selamanya belum pernah dia makan masakan-masakan selezat itu!
Karena dia memang tidak biasa minum banyak arak, maka setelah selesai makan mukanya menjadi merah dan bicaranya lepas.
Agak terlalu banyak arak dia minum atas suguhan Jenderal Ouw.
Sehabis makan, Jenderal Ouw mengajak Han Lin melanjutkan percakapan mereka di ruangan dalam, sedangkan Swi Lan memasuki kamarnya, diikuti oleh Ibunya.
"Swi Lan, kalau aku tidak salah duga agaknya engkau tertarik sekali kepada Si Han Lin itu. Benarkah?"
Kata Nyonya Ouw sambil memegang tangan puterinya. Mereka berdua duduk di tepi pembaringan.
"Aih, Ibu. Baru semalam kami berkenalan! Akan tetapi, menurut pandangan Ibu, bagaimana kesan Ibu dengan Pendekar Si Han Lin itu?" (Lanjut ke
Jilid 18) Bayangan Bidadari/Sian Li Eng Cu (Cerita Lepas) Karya. Asmaraman S. Kho Ping Hoo
Jilid 18 Nyonya Ouw termenung sejenak.
"Hemm, menurut penglihatanku, Si Han Lin itu seorang pemuda yang amat baik. Usianya masih muda, paling banyak dua puluh empat tahun. Wajahnya tampan gagah dan manis. Menurutmu, kepandaiannya tinggi dan dia telah menyelamatkan mu dari maut. Sikapnya juga lembut dan halus tutur sapanya, ramah dan sopan. Aku harus mengakui bahwa dia seorang pendekar muda yang amat baik. Hanya sayang, dia seorang pemuda Han, seorang pemuda pribumi."
"Mengapa, Ibu? Bukankah Ibu juga seorang peranakan pribumi? Seorang keturunan campuran antara Mongol dan Han?"
"Benar, Nenekmu seorang wanita Han, akan tetapiKakekmu seorang Mongol aseli! Bagi bangsa Mongol, yang terpenting adalah keturunan dari Ayah! Wanita tidak masuk hitungan. Andaikata engkau ini seorang laki-laki, tentu Ayahmu tidak keberatan kalau puteranya menikah dengan seorang wanita Han. Akan tetapi engkau wanita, Swi Lan, aku yakin Ayahmu tidak suka mempunyai mantu laki-laki berbangsa pribumi Han."
"Akan tetapi aku melihat Ayah tampaknya tertarik dan suka sekali kepada Si Taihiap, Ibu. Belum pernah Ayah menjamu makan kepada seorang tamu bersama dengan kita berdua. Itu berarti Si Taihiap dianggap keluarga sendiri!"
Nyonya Ouw menghela napas panjang.
"Dia suka kepada Si Han Lin karena melihat bahwa pemuda itu akan dapat menjadi pembantunya yang baik dan menguntungkan. Begitulah sifat pria Mongol. Mereka mau mendekati dan berbaik kepada suku bangsa lain kalau orang itu dapat mereka manfaatkan. Ayahmu tentu akan suka sekali memanfaatkan kelihaian Si Han Lin untuk membantu tugasnya yang berat, akan tetapi untuk menjadi mantunya, aku yakin dia tidak akan setuju. Karena itu, sebelum terlambat, jauhkan saja hatimu dari pemuda itu, Anakku."
Swi Lan tersenyum dan kedua pipinya berubah merah.
"Aih, Ibu! Siapa sih yang memikirkan urusan jodoh? Akan tetapi, aku ingin sekali mendengar pendapat Ibu tentang jodoh. Kalau menurut Ibu, laki-laki yang bagaimana yang pantas untuk menjadi calon suami?"
"Pertama-tama, tentu saja harus didasari cinta kasih. Akan tetapi kalau cinta kasih itu timbul hanya karena kekaguman keadaan lahir saja, itu berarti cinta yang mengandung nafsu dan cinta seperti itu mudah luntur. Tertarik oleh ketampanan saja harus disadari bahwa ketampanan itu hanya sementara sifatnya. Kalau sudah terbiasa, maka keburukannya akan tampak karena tidak ada manusia yang elok secara sempurna, pasti ada cacat. Ada bagian yang tampan pasti ada bagian yang buruk. Maka, cinta itu harus lebih mendalam, bukan hanya tertarik rupa di luar, melainkan juga kecocokan watak dan kebaikan watak. Akan tetapi bukan hanya ini yang diperlukan. Seorang calon suami haruslah seorang laki-laki yang mempunyai rasa tanggung jawab, dan biarpun tidak harus kaya-raya, akan tetapi harus dapat memiliki penghasilan yang tetap. Kekurangan akan mendatangkan penderitaan yang dapat menggoyahkan cinta. Jadi, menurut Ibumu ini, seorang calon suami yang baik harus ada rasa saling mencinta, watak yang baik, penuh tanggung jawab, dapat mencukupi kebuTUHAN rumah tangga, begitulah, Swi Lan."
"Terima kasih, Ibu. Akan kucatat dalam hati walaupun saat ini aku sama sekali belum berpikir tentang perjodohan."
Ibu dan anak ini bercakap-cakap sampai larut malam.
Akhirnya Nyonya Ouw meninggalkan kamar puterinya dan Swi Lan tidur.
Pada keesokan harinya, pagi-pagi ia sudah bangun dan setelah mandi dan bertukar pakaian, ia pergi ke kamar tamu di mana semalam Han Lin tidur.
Ia mengetuk daun pintu, dan menunggu jawaban.
Namun jawaban tak kunjung ada.
Ia mengetuk lagi lebih keras dan mengulangnya sampai tiga kali.
Namun tetap saja tidak ada jawaban dari dalam.
Swi Lan merasa heran dan ketika ia mencoba untuk mendorong, ternyata daun pintu kamar itu tidak terpalang dari dalam sehingga langsung terbuka.
la menjenguk ke dalam kamar dan ternyata kamar tamu itu kosong!
Tentu saja Swi Lan merasa heran.
Ia memasuki kamar, membuka daun pintu dan daun jendelanya dan mendapat kenyataan bahwa pembaringan itu tak pernah ditiduri orang!
Tidak ada tanda-tanda bahwa Han Lin semalam tidur dalam kamar ini.
Ketika ia bertanya-tanya kepada para pelayan, tidak seorang pun mengetahui ke mana perginya pemuda itu.
"Semalam dia bercakap-cakap dengan Ouw Goanswe (Jenderal Ouw) sampai jauh malam, Nona."
Demikian laporan mereka. Yang dapat menjawab hanya Ayahnya! Swi Lan terpaksa menanti sampai Ayahnya bangun dari tidur. Begitu melihat Ayahnya keluar kamar, Swi Lan segera menjumpainya.
"Ayah, ke manakah perginya Si Han Lin?"
Jenderal Ouw menatap wajah puterinya.
"Ke mana? Bukankah dia berada di dalam kamar tamu?"
"Tidak ada, Ayah. Bahkan pembaringannya juga tidak ada tanda bekas ditiduri orang. Bukankah semalam dia bercakap-cakap dengan Ayah di ruangan dalam?"
Jenderal Ouw mengangguk.
"Ya, kami bercakap-cakap dan setelah aku mengantuk, aku minta dia mengaso di kamarnya dan aku masuk kamarku sendiri. Hemm, anak itu agaknya memang tidak ingin berhubungan dengan kita. Sudahlah, memang dia seorang kang-ouw, banyak orang kang-ouw berwatak aneh-aneh. Kalau dia tidak mau bekerja membantuku, tidak mengapa. Masih banyak orang mau bekerja membantuku."
Setelah berkata demikian, Jenderal Ouw pergi mandi, sikapnya sama sekali tidak mengacuhkan tentang hal itu lagi.
Akan tetapi diam-diam Swi Lan merasa heran dan penasaran.
Mengapa pemuda yang amat menarik perhatiannya itu tiba-tiba saja pergi menghilang tanpa pamit?
Pasti telah terjadi sesuatu antara Si Han Lin itu dengan Ayahnya.
Akan tetapi apa yang telah terjadi, yang menyebabkan pemuda itu pergi secara diam-diam begitu saja?
Ia merasa penasaran sekali dan tiga hari kemudian, Ouw Swi Lan yang pamit kepada Ayah-Ibunya untuk pergi berburu, diam-diam membawa buntalan pakaian dan bekal uang, dan ia tidak pulang.
Sampai berhari-hari Jenderal Ouw menyuruh para perajurit mencari, akan tetapi tanpa hasil dan jenderal itu bersama isterinya menjadi khawatir sekali.
Terutama Nyonya Ouw.
la menangis siang malam.
"Sudahlah, jangan menangis terus. Percayalah, anak kita itu bukan seorang gadis yang lemah. Swi Lan memiliki kepandaian yang sudah tinggi dan tidak sembarang orang mampu mengalahkannya. Ia mampu menjaga diri. Percayalah!"
Jenderal Ouw menghibur isterinya.
"Bagaimana aku dapat yakin bahwa ia tidak akan mengalami bencana. Baru beberapa hari ia hampir saja tewas di tangan Ciu Kak Le!"
Isterinya membantah sambil menyusut air matanya.
"Hemm, justeru peristiwa beberapa hari yang lalu itu merupakan pelajaran baik baginya. Kalau jahanam Ciu itu tidak bertindak curang, dia tidak akan mampu mengalahkan anak kita. Tentu pengalaman itu membuat Swi Lan menjadi lebih dewasa dan matang, lebih berhati-hati sehingga tidak sampai terjebak lagi. Selain itu, apa kau kira aku akan tinggal diam saja? Aku akan menghubungi para pejabat di daerah-daerah agar membantu untuk mencari anak kita."
Mendengar ucapan suaminya yang penuh kesungguhan dan dengan nada yang membesarkan hati itu, akhirnya Nyonya Ouw menjadi tenang juga dan terhibur.
Yo Kang berjalan seorang diri menuju See-Ciu tempat tinggal Ayah-Ibu danKakeknya, juga sekarang Bibinya, Yo Ciu Hwa tinggal di sana.
Tadinya ia hendak kembali ke Bu-Tong-Pai membawa surat balasan Ketua Siauw-Lim-Pai untuk Gurunya, Tiong Li Seng-jin Ketua Bu-Tong-Pai.
Akan tetapi selain surat itu tidak berapa penting, hanya pernyataan Ketua Siauw-Lim-Pai bahwa dia akan mencari pembunuh dan akan menerima pertanggungan jawab pada hari ulang tahun Siauw-Lim-Pai, juga dia harus mulai melakukan penyelidikan sendiri mewakili Bu-Tong-Pai.
Dalam perjalanan itu, teringatlah dia akan semua pengalamannya di masa lalu, sekitar dua tahun yang lalu, tentang sepak terjang Kwee In Hong.
Biarpun dengan hati pedih, harus dia akui bahwa In Hong merupakan seorang di antara mereka yang patut di-curigai.
Bukankah kedua orang Guru In Hong, yaitu suami-isteri Bhutan Koai-jin dan Hek Moli yang kini sudah tiada, dahulu merupakan musuh-musuh dari Siauw-Lim-Pai dan Bu-Tong-Pai?
Mereka itu seringkali bertempur dan bahkan saling bunuh.
Bhutan Koai-jin dibuntungi kaki tangannya, kabarnya oleh Ketua Siauw-Lim-Pai dibantu Ketua Bu-Tong-Pai, para pimpinan Kun-Lun-Pai dan Go-Bi-Pai.
Bahkan dia ingat betapa In Hong sendiri juga dulu memusuhi Go-Bi-Pai dan Kun-Lun-Pai, bahkan membunuh beberapa orang tokoh.
Juga pernah mengacau Siauw-Lim-Pai ingin mencuri kitab I-Kin-Keng.
Gadis itu bagaimanapun juga masih merasa tidak suka kepada empat partai persilatan besar yang pernah bermusuhan dengan kedua orang Gurunya itu.
Maka tidaklah aneh kalau kini dia merasa betapa perasaannya tertekan hebat.
Jangan-jangan gadis yang dicintanya itu yang kini melakukan pembunuhan-pembunuhan untuk mengadu domba antara Empat Partai Persilatan Besar itu?
Baca Juga: Pendekar Sadis 10
Baca Juga: Suling Emas Dan Naga Siluman 13