Ceritasilat Novel Online

Bayangan Bidadari 7

Eps 7 Bayangan Bidadari - Kho Ping Hoo

Baca online Bayangan Bidadari - Kho Ping Hoo

Cersil Bayangan Bidadari - Kho Ping Hoo.

Kalau ada orang yang menuduh In Hong, rasanya dia akan menentang dan tidak percaya, namun di lubuk hatinya terdapat keraguan karena dia tahu bahwa gadis itu memiliki watak yang amat kaku dan keras.

Bukan hal yang tidak mungkin kalau In Hong yang melakukan pembunuhan-pembunuhan itu.

Teringat akan hal ini, hati Yo Kang terasa pedih.

Bagaimana kalau keraguannya ini ternyata benar?

Dia yang mewakili Bu-Tong-Pai untuk menyelidiki dan mencari pembunuh itu, apakah tega untuk menangkap In Hong?

Rasanya tidak mungkin dia sampai hati untuk mencelakai gadis itu.

Dia sudah jatuh cinta kepada In Hong sejak pertemuan pertama.

Selain ada rasa cinta yang mendalam, gadis itu adalah juga Adik misannya, puteri Bibinya.

Hatinya menjadi bimbang dan bingung.

Kalau benar In Hong yang melakukan karena dendamnya terhadap empat perguruan silat itu, maka dia akan sukar memastikan, apa yang akan dia lakukan.

Membiarkan saja?

Berarti dia berkhianat terhadap Bu-Tong-Pai dan bersalah besar terhadap Siauw-Lim-Pai yang terkena fitnah.

Menentang In Hong?

Rasanya hatinya tidak akan sanggup!

Hati Yo Kang bimbang dan ragu.

Dia akan selalu tersiksa dengan kebimbangan ini.

Dia harus segera dapat bertemu kembali dengan In Hong dan terus terang minta kepastian dari gadis itu apakah ia benar yang melakukan semua pembunuhan itu, ataukah bukan.

Dia tahu bahwa In Hong adalah seorang gadis yang gagah, biarpun agak liar dan berhati baja.

Kalau memang gadis itu yang melakukan pembunuhan, dia yakin In Hong akan mengakuinya.

la bukan seorang yang berwatak pengecut.

Sejauh yang dikenalnya, In Hong adalah seorang gadis yang berani mempertanggungjawabkan perbuatannya.

Pikiran inilah yang membuat dia tidak langsung kembali ke Bu-Tong-Pai, melainkan menuju ke See-Ciu.

Pada pertemuannya yang terakhir dengan In Hong, ketika saling berpisah, dia tahu bahwa gadis itu hendak pergi ke Beng-San untuk menemui para pimpinan Hek I Kaipang dan membujuk pimpinan Hek I Kaipang untuk berunding dengan pihak Bu-Tong-Pai tentang pembunuhan tiga puluh orang anggauta Hek I Kaipang yang katanya dilakukan oleh seorang murid Bu-Tong-Pai.

Kini pasti In Hong sudah melaksanakan tugas itu.

Kalau In Hong pulang ke dusun Hok-Te-Cung, gadis itu tentu akan mendengar bahwa Ibunya telah pindah ke See-Ciu dan ia pasti akan menyusul ke rumahKakeknya.

Maka Yo Kang langsung saja pulang ke See-Ciu karena dia ingin sekali dapat bicara dengan In Hong yang akan dibujuknya untuk mengaku tentang pembunuhan-pembunuhan itu.

Pada suatu siang, Yo Kang tiba di jalan simpang tiga, dan dia berhenti sejenak.

Dia memandang jalan simpang ke kanan menuju dusun Hok-Te-Cung yang pernah dia kunjungi untuk menjemput Bibinya, Yo Cui Hwa, dan mengajaknya pindah ke See-Ciu.

Dusun itu tidaklah begitu jauh lagi, hanya sekitar lima 11 (mil).

Tiba-tiba tampak serombongan orang berkuda datang dari depan.

Debu tebal membuat Yo Kang tidak dapat melihat jelas siapa orang-orang berkuda itu.

Akan tetapi di antara mengebulnya debu tebal, dia melihat pakaian seragam mereka beserta topi mereka tampak dan tahulah dia bahwa yang datang itu adalah serombongan pasukan Mongol!

Yo Kang tidak ingin mencari keributan yang hanya akan menghambat perjalanannya.

Akan tetapi untuk melarikan atau menyembunyikan diri dia tidak sudi.

Bagaimanapun juga, dia tidak takut menghadapi mereka.

Maka dia tetap berdiri di situ, hanya menepi dan memandang ke arah berlawanan agar mukanya tidak terkena debu.

Akan tetapi begitu rombongan itu tiba tak jauh darinya, mereka menghentikan kuda.

"Pasukan berhenti dan turun dari kuda!"

Terdengar aba-aba nyaring.

"Hai, orang muda! Menghadaplah ke sini!"

Bentak suara kedua yang lebih menyeramkan daripada suara pertama.

Yo Kang mendongkol.

Dia maklum bahwa pasukan Mongol memang bersikap galak dan sombong terhadap rakyat, akan tetapi dia merasa heran karena bentakan dua suara tadi jelas menunjukkan bahwa mereka tidak memiliki dialek orang Mongol.

Maka dia pun memutar tubuh menghadapi mereka.

Dua orang itu memang bukan perajurit ataupun perwira Mongol.

Yang seorang berusia sekitar enam puluh tahun, tubuhnya kurus agak bongkok, Mukanya halus tanpa kumis jenggot, pakaiannya terbuat dari sutera putih, dan di punggungnya tergantung sebatang pedang.

Ada pun orang kedua, usianya juga sekitar enam puluh tahun, tubuhnya gemuk pendek dan mukanya seperti muka kanak-kanak yang periang, mulutnya selalu tersenyum lebar.

Pakaiannya seperti jubah Pendeta, berwarna kuning.

Tangan kirinya memegang seuntai tasbih hitam.

Biarpun Yo Kang belum pernah bertemu dengan dua orangKakek ini, namun melihat penampilan dan ciri-ciri mereka, dia terkejut dan menduga bahwa kiranya dua orang inilah yang amat terkenal di dunia kang-ouw sebagai Datuk Setan Utara dan Datuk Dewa Selatan!

Dugaan Yo Kang memang tepat.

Mereka adalah Pak Lo-Kui (Setan Tua Utara) yang bertubuh kurus bongkok, dan Lam Sian (Dewa Selatan) yang bertubuh gemuk pendek.

Di belakang dua orang Datuk ini tampak dua puluh empat orang perajurit Mongol.

Diam-diam Yo Kang mengerti bahwa kalau mereka berniat buruk terhadap dirinya, maka berarti dia terancam bahaya maut.

Dua orang Datuk itu merupakan lawan-lawan yang amat tangguh, masih ditambah dua puluh empat orang perajurit.

Bagaimana mungkin dia dapat menandingi lawan yang demikian lihai dan banyak jumlahnya?

Walaupun maklum bahwa dia menghadapi bahaya, namun jiwa kependekarannya membuat dia tetap tegar dan sedikit pun tidak merasa takut.

Bagi seorang pendekar sejati, jauh lebih baik mati di atas jalan kebenaran daripada hidup mewah di atas jalan kejahatan.

Jalan kebenaran menuju ke Tempat Suci dirahmati TUHAN, sebaliknya jalan kejahatan menuju ke jurang kotor dikutuki Setan!

"Hai, orang muda, benarkah engkau yang bernama Yo Kang, berjuluk Bu-Tong Sin-To (Golok Sakti Bu-Tong), murid Bu-Tong-Pai?"

Seorang pendekar tidak lari dari kenyataan.

"Benar sekali, dan kalau aku tidak salah kira, Ji-wi (Kalian Berdua) tentulah Pak Lo-Kui dan Lam Sian."

"He-he-ha-hah! Yo Kang, ternyata matamu yang muda awas juga sehingga dapat mengenal kami berdua! Apakah otakmu juga cukup cerdas untuk mengetahui mengapa kami menghadangmu di sini? Untuk menjawab ini, selain cerdas engkau harus jujur juga, ha-ha-ha!"

Si gendut Lam Sian berkata. Yo Kang tersenyum pahit dan berkata.

"Lam Sian dan Pak Lo-Kui, sepanjang ingatanku, aku belum pernah bertemu dengan kalian berdua, apalagi berurusan. Karena itu, andaikata kalian berdua berniat buruk terhadap diriku, hal itu pasti bukan karena permusuhan pribadi."

"Hemm,"

Pak Lo-Kui berkata dengan nada mengejek.

"Memang engkau tidak ada urusan dengan kami berdua, akan tetapi apakah engkau juga hendak menyangkal bahwa engkau tidak mempunyai kesalahan terhadap Kerajaan Goan?"

"Ha-ha, orang muda, aKuilah saja kesalahanmu!"

Lam Sian menambahkan. Yo Kang mengerutkan alisnya.

"Aku tidak merasa memberontak atau melanggar hukum pemerintah Kerajaan Mongol!"

"Sayang, kegagahanmu itu palsu. Engkau tidak berani mengakui kesalahan, apakah berarti engkau hendak mengingkari bahwa engkau murid Bu-Tong-Pai?"

"Aku tidak pernah mengingkari! Aku adalah murid Bu-Tong-Pai!"

Kata Yo Kang marah karena kehormatannya tersinggung.

"He-heh, sekarang katakan, sebagai murid Bu-Tong-Pai apakah engkau tidak merasa bersalah kalau ada murid Bu-Tong-Pai membunuh tiga puluh orang anggauta Hek I Kaipang di An-Hui? Hayo jawab, jangan-jangan pembunuhnya malah engkau sendiri!"

Diam-diam Yo Kang terkejut.

Bagaimana mereka dapat mengetahui hal itu?

Ah, berita itu pasti tersebar dan nama baik Bu-Tong-Pai terancam.

Tidak aneh kalau mereka mengetahui karena dia mendengar bahwa pemerintah Kerajaan Mongol memiliki banyak kaki tangan terdiri dari bangsa Mongol dan suku-suku bangsa di utara dan barat, bahkan banyak pula suku pribumi Han yang menjadi kaki tangan mereka.

Mereka tentu menyebar mata-mata sehingga segala gerak-gerik orang yang mereka curigai, dapat mereka ketahui.

"Hemm, Lam Sian dan Pak Lo-Kui, bukan aku yang melakukan pembunuhan terhadap orang-orang Hek I Kaipang itu, juga aku yakin bahwa hal itu tidak dilakukan oleh murid Bu-Tong-Pai, melainkan oleh orang lain yang mengaku saja sebagai murid Bu-Tong-Pai!"

"Ha-ha-ha, pandainya menggerakkan lidah memutar balikkan kenyataan! Murid-murid Bu-Tong-Pai hanya namanya saja terkenal gagah, akan tetapi sesungguhnya berwatak pengecut, tidak berani bertanggung jawab atas perbuatannya. Tiga puluh orang anggauta Hek I Kaipang itu dibunuh dengan pukulan Tong-Sim-Ciang dari Bu-Tong-Pai!"

Lam Sian berkata dengan suara mengejek.

"Terserah apa yang kalian katakan, akan tetapi tetap aku menyangkal bahwa murid Bu-Tong-Pai yang melakukan. Aku yang mewakili Bu-Tong-Pai untuk menyelidiki dan menangkap pembunuh yang menggunakan nama Bu-Tong-Pai itu!"

"Cukuplah semua pura-pura ini, Yo Kang. Sekarang, menyerahlah engkau, kami tangkap sebagai orang yang kami curigai melakukan pembunuhan itu!"

Kata Pak Lo-Kui yang sudah mencabut pedangnya.

Para Datuk Besar itu jarang sekali menggunakan senjata mereka dalam perkelahian.

Biasanya mereka cukup menggunakan tangan kosong saja untuk mengalahkan lawan-lawan mereka.

Pak Lo-Kui juga biasanya cukup menggunakan pukulan tangan kosong yang amat ditakuti lawan, yaitu Hek-Tok-Ciang (Tangan Racun Hitam).

Akan tetapi kini dia maklum bahwa menghadapi tokoh Bu-Tong-Pai yang terkenal amat lihai dengan ilmu goloknya itu, dia tidak boleh memandang ringan.

Sementara itu, Lam Sian juga sudah memutar-mutar tasbih dan memainkannya.

"Aku tidak merasa bersalah. Untuk apa aku harus menyerah?"

Jawab Yo Kang dengan sikap gagah perkasa.

"Kalau begitu mampuslah!"

Pak Lo-Kui berseru dan pedangnya sudah menyambar dahsyat.

"Singgg...!"

Pedang itu membabat ke arah leher, namun dengan gerakan ringan dan cepat Yo Kang sudah mengelak ke belakang.

Pada saat itu, tasbih di tangan Lam Sian menyambar sebagai sinar hitam.

Ketika mengelak dari sambaran pedang tadi, Yo Kang sudah mencabut goloknya.

Kini dia menggunakan golok menangkis sinar hitam yang menyambarnya itu.

"Singgg... tranggg...!!"

Bunga api berpijar ketika golok di tangan Yo Kang bertemu dengan tasbih hitam, yang kini dipegang tangan kanan Lam Sian. Keduanya merasa betapa tangan yang memegang senjata tergetar hebat.

"Trriik, triiikk...!"

Tasbih itu berputar-putar mengeluarkan suara nyaring.

"Singgg...!"

Kembali pedang Pak Lo-Kui menyambar lewat ketika dielakkan oleh Yo Kang.

Yo Kang segera mengeluarkan ilmu goloknya yang hebat.

Ilmu golok Bu-Tong-Pai memang hebat sekali, seperti juga ilmu pedangnya.

Yo Kang selama hampir dua tahun belakangan ini digembleng secara istimewa oleh Tiong Li Seng-jin sendiri, maka ilmu goloknya sudah memperoleh kemajuan pesat sekali.

Selain ilmu goloknya menjadi lebih sempuma, juga dia menerima gemblengan ilmu tenaga dalam sehingga dia memiliki sinkang (tenaga sakti) yang kuat.

Akan tetapi, kini Yo Kang menghadapi keroyokan dua orang Datuk Besar yang amat lihai.

Dalam hal tenaga sakti, dia masih lebih kuat sedikit.

Andaikata dia hanya menghadapi seorang dari mereka, menghadapi Pak Lo-Kui misalnya, mungkin dia akan dapat menang.

Kalau menghadapi Lam Sian, keadaannya berimbang karena Lam Sian merupakan Datuk terkuat di antara Empat Datuk Besar.

Senjata tasbihnya itu luar biasa sekali.

Selain amat kuat dan dapat menahan segala macam senjata tajam, juga biji-biji tasbih hitam itu mengandung racun yang jahat sekali.

Mungkin karena tubuhnya yang gemuk pendek, dia lebih banyak menyerang, dari bawah dan justeru ini yang amat berbahaya dan merepotkan Yo Kang.

Serangan-serangan pedang Pak Lo-Kui merupakan serangan yang mengancam tubuhnya bagian atas, dan selagi dia mencurahkan perhatian untuk melindungi bagian tubuh atas, serangan-serangan tasbih hitam dari bawah itu sungguh membuat dia kerepotan sekali.

Pada saat yang amat gawat bagi Yo Kang itu, tampak seorang penunggang kuda datang dari arah dusun Hok-Te-Cung.

Setelah tiba di tempat pertempuran, melihat Yo Kang kerepotan dikeroyok dua orang Datuk itu, gadis penunggang kuda sudah melompat seperti seekor burung garuda.

Tubuhnya melayang di atas kepala para perajurit yang membuat lingkaran lebar mengepung Yo Kang yang bertempur.

Setelah membuat poksai (salto) tiga kali, dengan ringan tubuh gadis itu turun di tengah kepungan.

Ternyata ia adalah Ong Lian Hong, gadis remaja berusia enam betas tahun lebih itu!

"Tidak tahu malu!

Tuabangka-tuabangka beraninya melakukan keroyokan!"

Gadis itu membentak dan sekali kedua tangannya bergerak ke punggung, ia telah mencabut sepasang pedangnya!

Kemudian melihat betapa Yo Kang agaknya kewalahan dikeroyok dua, terutama sekali repot oleh serangan tasbih hitam yang berubah menjadi gulungan sinar hitam yang menyambar-nyambar dari bawah, ia langsung menggerakkan sepasang pedangnya, menyerang Lam Sian.

Lam Sian terkejut bukan main ketika ada sepasang sinar menyambar ke arah kepala dan lambungnya.

Cepat dia membalik sambil memutar tasbihnya menangkis.

"Cringg! Tranggg!!"

Sepasang pedang itu tertangkis, akan tetapi bukan main kagetnya hati Lam Sian ketika merasa betapa tangannya yang memegang tasbih tergetar hebat.

Bukan main, pikirnya.

Gadis remaja ini memiliki tenaga sinkang yang amat kuat!

Sebetulnya, hal ini tidaklah mengherankan karena Lian Hong memang digembleng secara istimewa oleh Bu Kek Tianglo, Ketua Siauw-Lim-Pai yang sakti Bahkan dalam usia begitu muda, Lian Hong telah menguasai Tat-Mo Sin-Kun sampai enam bagian!

Ia dapat dikatakan kini mencapai tingkat ke dua dalam perguruan Siauw-Lim-Pai, yaitu sesudah tingkat Bu Kek Tianglo sendiri!

Lian Hong juga mengerti bahwaKakek gendut pendek itu memang lihai sekali.

Tangkisan tasbih tadi membuktikan bahwaKakek itu memiliki sinkang yang kuat.

Maka, ia lalu memainkan ilmu pedang pasangan yang secara khusus dirangkai oleh Bu Kek Tianglo untuknya, yang diberi nama Lo-Hai Siang-Kiam (Sepasang Pedang Kacau Lautan).

Lam Sian menjadi semakin kaget.

Dia mengenal gerakan-gerakan yang berdasarkan ilmu silat aliran Siauw-Lim-Pai.

"Tahan!"

Serunya sambil menggelinding ke belakang.

Memang, gerakan Lam Sian yang bertubuh gemuk pendek ini seolah menggelinding seperti bola.

Sebagai seorang pendekar yang tahu aturan, Lian Hong menghentikan gerakannya.

Sepasang pedangnya disembunyikan di balik kedua lengannya dan ia menatap wajah Lam Sian dengan sinar mata mencorong.

"Hemm,Kakek gentong! Engkau secara pengecut mengeroyok seorang, sekarang kita bertanding satu lawan satu engkau menahan perkelahian. Mau bilang apalagi engkau?"

Lian Hong berkata ketus, akan tetapi Lam Sian terkekeh mendengar dirinya disebut "Kakek gentong"

Heran, mengapa kalau yang mengejeknya itu seorang gadis remaja cantik, dia tidak menjadi marah? Padahal kalau orang lain yang menyebutnya begitu, tentu dia akan tersinggung.

"Nona kecil yang manis, agaknya engkau murid Siauw-Lim-Pai, betulkah? Jangan mencampuri, Nona. Kami atas nama pemerintah Kerajaan Goan harus menangkap murid Bu-Tong-Pai ini karena ada murid Bu-Tong-Pai yang membunuh tiga puluh orang anggauta Hek I Kaipang. Dia ini seorang pembunuh yang jahat dan berbahaya."

"Tidak ada murid Bu-Tong-Pai atau Siauw-Lim-Pai yang jahat. Kalian yang jahat. Kalian Empat Datuk Besar yang menghamba kepada penjajah mengkhianati bangsa sendiri. Dulu Tung Giam-Lo dan See Te-Tok mengeroyok Suheng Ceng Seng Hwesio dan Saudara Yo Kang ini, juga mereka membawa pasukan pemerintah. Sekarang aku dapat menduga siapa kalian. Engkau tentuKakek gentong yang disebut Lam Sian dan dia itu tentu Pak Lo-Kui!"

Sementara itu, setelah kini melawan Yo Kang seorang diri, Pak Lo-Kui menjadi jerih dan dia pun menghentikan perkelahian dan melompat dekat Lam Sian.

Yo Kang yang tadi melihat bahwa gadis yang membantunya adalah Ong Lian Hong, diam-diam menjadi kagum bukan main.

Gadis remaja itu ternyata mampu menandingi Lam Sian yang amat lihai!

Sekarang baru dia menyadari bahwa gadis remaja itu merupakan murid tersayang dari Bu Kek Tianglo.

Dia pun menghampiri dan berdiri di dekat Lian Hong, goloknya masih di tangan.

"Hemm, bagus. Murid Bu-Tong-Pai dan murid Siauw-Lim-Pai hendak memberontak terhadap pemerintah?"

Kata Pak Lo-Kui, lalu dia memberi aba-aba kepada para perajurit.

"Tangkap dua orang ini, kalau mereka melawan, bunuh saja!"

Mendengar aba-aba ini, dua puluh empat orang perajurit Mongol yang sudah mengepung tempat itu lalu mencabut senjata dan siap untuk mengeroyok.

Lam Sian maklum bahwa gadis remaja itu memiliki kepandaian tinggi, maka dia pun sudah menerjang sambil memutar tasbihnya, menyerang ke arah kepala Lian Hong.

Gadis ini cepat menangkis dengan pedang kirinya, disusul serangan balasan dengan pedang kanannya yang menusuk ke arah tenggorokan lawan.

Lam Sian cepat menghindar dengan elakan ke belakang.

Sementara itu, Pak Lo-Kui juga sudah menyerang Yo Kang dengan pedangnya.

Yo Kang menangkis serangan dengan goloknya, lalu balas menyerang.

Ketika melihat dua lusin perajurit itu mulai bergerak untuk mengeroyok, Yo Kang maklum bahwa keadaan dia dan Lian Hong dalam bahaya.

Maka dia cepat berkata lantang.

"Nona, tidak perlu melayani para pengecut curang ini. Mari kita pergi!"

Lian Hong memang masih muda remaja dan wataknya keras, namun ia memiliki kecerdasan dan tidak hanya menuruti nafsu hatinya saja.

Ia memang marah, penasaran dan ingin memberi hajaran kepada dua orang Datuk Besar itu.

Akan tetapi ia pun tahu benar bahwa kalau ia dan Yo Kang nekat melawan dua orang Datuk Besar dan dua lusin perajurit Mongol itu, mereka berdua pasti akan mengalami kesulitan, bahkan terancam bahaya maut.

Maka, ketika Yo Kang mengajaknya melarikan diri, ia pun mengangguk lalu keduanya melompat ke kiri dan mengamuk di antara para perajurit.

Sebentar saja mereka sudah merobohkan enam orang perajurit sehingga terbuka jalan keluar dari kepungan.

"Tunggangi kudamu!"

Yo Kang berseru.

Lian Hong segera melompat ke atas punggung kudanya yang masih berada di tempat ia tinggalkan tadi.

Adapun Yo Kang juga melompat ke atas sebuah kuda milik perajurit Mongol.

Mereka berdua lalu membalapkan kuda mereka.

Yo Kang berada di depan dan Lian Hong yang tidak mengenal jalan, hanya mengikuti saja.

Tidak ada perajurit yang berani mengejar.

Mereka sudah merasa gentar sekali melihat betapa mudahnya dua orang itu merobohkan dan menewaskan enam orang rekan mereka.

Dua orang Datuk Besar itu pun tidak melakukan pengejaran, karena selain kalau bertanding satu lawan satu belum tentu mereka menang, juga dua orang itu sudah membalapkan kuda mereka sampai jauh.

Untuk mengejar dengan berlari, sukar untuk dapat menyusul, dan kalau menunggang kuda, mereka berdua tidak biasa, sehingga merasa ngeri kalau harus membalapkan kuda.

Yo Kang dan Lian Hong beberapa kali menoleh ke belakang dan setelah mereka melarikan kuda cukup jauh dan yakin bahwa mereka tidak dikejar, Yo Kang menghentikan kudanya sambil memberi isyarat kepada gadis itu untuk berhenti.

Mereka turun dari atas kuda mereka dan membiarkan kuda-kuda itu mengaso dan makan rumput.

Lian Hong duduk di atas batu, menyusut keringat yang membasahi muka dan lehernya.

"Kalau aku tidak salah, bukankah engkau ini gadis murid Lo-Cianpwe... Bu Kek Tianglo Ketua Siauw-Lim-Pai?"

"Apakah engkau pura-pura lupa padaku yang pernah kau sebut nona cilik ketika kita saling berjumpa di Siauw-Lim-Pai?"

"Ah, maaf, aku tidak berniat buruk menyebutmu seperti itu karena menurut pandanganku, engkau masih remaja. Aku tidak lupa padamu, Nona, hanya lupa namamu."

"Aku tidak lupa namamu, akan tetapi engkau lupa namaku. Hemm, ini membuktikan bahwa engkau murid Bu-Tong-Pai memang sombong. Yo Kang, dulu sudah kukatakan bahwa aku tidak yakin engkau akan mampu mewakili Bu-Tong-Pai mencari pembunuh itu. Ternyata sekarang, baru bertemu dua orang Datuk Besar saja engkau sudah tidak mampu melawan."

"Nona, aku beruntung mendapatkan bantuanmu. Terima kasih atas kebaikan budimu. Memang engkau benar. Menyelidiki pembunuh itu tidak mudah karena kita belum tahu benar siapa orangnya dan bagaimana macamnya. Kalau saja engkau mau bekerja sama dengan aku, kiranya kita berdua dapat berbuat lebih banyak atau bahkan mungkin dapat memecahkan rahasia ini. Maukah bekerja sama dengan aku, Nona'?"

"Hemm, aku sendiri sudah ditugaskan Suhu untuk mewakili Siauw-Lim-Pai mencari pembunuh itu! Jadi, kalau ada soal bantu-membantu dalam usaha ini, engkaulah yang membantuku, bukan aku yang membantumu. Mengerti?"

Yo Kang memandang heran.

"Hebat! Lo-Cianpwe Bu Kek Tianglo menyerahkan tugas berat ini kepadamu? Bukan main! Kukira tadinya tentu Ceng Seng Hwesio yang mengemban tugas itu."

"Suheng Ceng Seng Hwesio diperlukan di Siauw-Lim-Pai, maka akulah yang diberi tugas itu. Bagaimana, mau engkau membantuku?"

"Tentu saja aku siap, Nona! Aku tahu biarpun engkau masih remaja..."

"Sudahlah, aku Ong Lian Hong bukan anak kecil lagi! Bahkan melaksanakan tugas ini seorang diri pun aku tidak takut!"

"Harap jangan marah dan maafkan aku, Nona Ong Lian Hong. Kita berdua adalah wakil-wakil dua perguruan besar yang menjadi korban perbuatan jahat. Bu-Tong-Pai kehilangan sembilan orang murid yang terbunuh orang dan Siauw-Lim-Pai terkena fitnah karena pembunuh itu meninggalkan ciri sebagai murid Siauw-Lim-Pai. Kami pihak Bu-Tong-Pai lebih parah lagi karena selain kehilangan sembilan orang murid, juga mendapat fitnah dituduh membunuh tiga puluh orang anggauta Hek I Kaipang dengan menggunakan pukulan Tong-Sim-Ciang dari perguruan kami. Demi menjaga nama baik Siauw-Lim-Pai dan membalaskan kematian para murid Bu-Tong-Pai, kita berdua harus dapat membongkar rahasia ini dan menangkap pembunuhnya. Maka, sekali lagi aku menyatakan siap sedia untuk membantumu, Nona Ong Lian Hong."

Mendengar ucapan yang lembut dan sikap yang ramah dari Yo Kang, kekakuan Lian Hong mencair.

Gadis ini memang memiliki watak yang keras, akan tetapi menghadapi sikap yang lembut ia segera berubah menjadi ramah dan senang.

Kalau tadi ia bersikap kaku terhadap Yo Kang adalah karena pemuda ini dulu mendatangkan kesan tidak menyenangkan dan seolah memandang rendah padanya dengan sebutan Nona Cilik!

Juga ia menganggap Yo Kang sombong dengan pernyataan hendak menangkap pembunuhnya.

Lebih mendongkol lagi rasa hati gadis ini karena Bu-Tong-Pai menuduh Siauw-Lim-Pai yang melakukan pembunuhan terhadap sembilan orang murid Bu-Tong-Pai.

"Nanti dulu, Yo Kang. Aku hendak bertanya lebih dulu. Apakah engkau masih mempunyai dugaan bahwa murid Siauw-Lim-Pai yang melakukan pembunuhan-pembunuhan itu?"

Mendengar pertanyaan ini, Yo Kang merasa ragu-ragu untuk menjawab. Karena lama pemuda itu tidak menjawab, Lian Hong berkata lagi.

"Kalau engkau masih menduga demikian, berarti engkau mencurigai Siauw-Lim-Pai dan tidak mungkin aku sebagai murid Siauw-Lim-Pai bekerja sama denganmu. Jangan-jangan engkau juga akan mencurigai aku!"

Yo Kang menghela napas panjang.

"Persoalan ini memang pelik sekali dan mengandung penuh rahasia, Nona. Pembunuh itu menggunakan ilmu pukulan Tiam-Hiat-Hoat dan tendangan Siauw-Cu-Twi. Juga melihat bekas luka pukulan pada jenazah para murid Bu-Tong-Pai, dapat diketahui bahwa pembunuh itu memiliki tenaga sakti I-Kin-Keng. Semua itu merupakan ilmu-ilmu tingkat tinggi dari Siauw-Lim-Pai sehingga dengan mudah orang menaruh curiga kepada murid Siauw-Lim-Pai. Akan tetapi kalau diingat bahwa antara Siauw-Lim-Pai dan Bu-Tong-Pai bukan saja terdapat tali persahabatan yang kokoh, juga kalau ditelusuri masih ada kaitan saudara seperguruan. Lo-Cianpwe Tiong Li Seng-jin, Ketua Bu-Tong-Pai itu masih Sute (Adik Seperguruan) Bu Kek Tianglo, maka rasanya tidak mungkin kalau ada murid Siauw-Lim-Pai membunuhi sembilan orang murid Bu-Tong-Pai tanpa sebab."

"Nah, jalan pikiranmu terakhir itu lebih tepat! Kalau kita menjatuhkan tuduhan hanya dengan bukti bahwa pembunuhan dilakukan orang yang memiliki ilmu-ilmu Siauw-Lim-Pai yang kau sebutkan tadi, maka mungkin saja pembunuhan itu dilakukan oleh Tiong Li Seng-jin sendiri, bukan? Beliau tentu juga menguasai ilmu-ilmu itu! Maka, jangan menjadikan ilmu untuk membunuh itu sebagai bukti."

Yo Kang mengangguk-angguk, kagum karena jalan pikiran gadis itu menunjukkan bahwa gadis remaja ini memiliki pandangan jauh dan cerdik.

"Jadi, menurut dugaanmu, siapakah yang melakukan pembunuhan itu, Nona?"

"Kita singkirkan dulu tuduhan berdasarkan ilmu pukulan agar kita tidak saling mencurigai. Setelah itu, mari kita selidiki dari sudut pandangan lain. Pertanyaan pertama, mengapa ada orang membunuh sembilan orang murid Bu-Tong-Pai, di antaranya yang terbunuh adalah Bu-Tong Sam-Lo yang berilmu tinggi? Aku kira jawaban pertanyaan ini cukup mudah, bukan?"

"Benar, jawabannya mudah. Orang yang membunuh sembilan orang murid Bu-Tong-Pai itu tentu memiliki ilmu kepandaian tinggi dan tentu dia membenci Bu-Tong-Pai, juga pembunuh itu menguasai ilmu-ilmu tingkat atas dari Siauw-Lim-Pai."

"Tepat sekali! Dengan catatan bahwa dia bukan murid Siauw-Lim-Pai, melainkan orang luar yang entah secara bagaimana dapat mencuri dan menguasai ilmu-ilmu itu."

Dalam hatinya, Yo Kang tersenyum.

Gadis itu bersikeras menolak anggapan bahwa pembunuhnya seorang murid Siauw-Lim-Pai!

Padahal kemungkinan itu tentu saja ada.

Akan tetapi dia diam saja, khawatir kalau gadis remaja itu marah lagi.

"Lalu apa pertanyaan berikutnya, Nona?"

"Pertanyaan ke dua, mengapa pula pembunuh itu sengaja meninggalkan ciri-ciri murid Siauw-Lim-Pai ketika melakukan pembunuhan? Sehingga dengan demikian, Siauw-Lim-Pai yang dituduh melakukan pembunuhan itu?"

Yo Kang menjawab.

"Kukira jawabannya juga sama, yaitu bahwa pembunuh itu tentu membenci Siauw-Lim-Pai pula. Dia menggunakan siasat Sekali Tepuk Membunuh Dua Ekor Lalat! Dengan pembunuhan itu, dia memperoleh dua keuntungan. Bu-Tong-Pai kehilangan sembilan orang murid dan Siauw-Lim-Pai menjadi tertuduh sebagai pelaku pembunuhan."

"Pendapatmu tepat, akan tetapi kurang lengkap. Mendengar ceritamu tadi bahwa Bu-Tong-Pai dituduh membunuh tiga puluh orang anggauta Hek I Kaipang, semakin besar kecurigaanku bahwa di balik semua ini terdapat unsur-unsur pengadu-dombaan! Pembunuh itu pasti orang yang amat membenci Siauw-Lim-Pai dan Bu-Tong-Pai maka ingin mengadu domba dua perguruan itu!"

"Siancai! Tepat sekali pendapat Nona Muda itu!"

Tiba-tiba terdengar orang berkata dan muncullah seorangKakek berusia sekitar enam puluh dua tahun, bertubuh tinggi kurus dengan jenggot panjang dan dari pakaian dan gelung rambutnya, mudah diketahui bahwa dia seorang Tosu (Pendeta Agama To).

Yo Kang segera mengenalKakek itu karena sekitar tiga tahun yang lalu dia pernah bertemu dan bahkan mendapatkan petunjuk-petunjuk ilmu silat darinya.

"Kiranya Wu Wi Thaisu yang datang!"

Dia berseru sambil bangkit berdiri dan memberi hormat yang dibalas oleh Wu Wi Thaisu, wakil Ketua Go-Bi-Pai.

Akan tetapi Lian Hong yang juga sudah bangkit berdiri mengerutkan alis-nya lalu berkata dengan ketus.

"Sungguh tidak patut bagi seorang Tosu (Pendeta To) mengintai dan mendengarkan pembicaraan orang lain!"

Wu Wi Thaisu yang sudah berusia enam puluh dua tahun itu memang memiliki watak yang keras. Maka melihat sikap dan mendengar ucapan Lian Hong, dia mengerutkan alisnya.

"Siancai! Yo-Sicu (Orang Muda Gagah Yo), siapakah Nona muda ini?"

Yo Kang yang merasa tidak enak cepat menjawab.

"Perkenalkan, Wu Wi Thaisu, ini adalah Nona Ong Lian Hong murid Lo-Cianpwe Bu Kek Tianglo yang mewakili Siauw-Lim-Pai untuk mencari dan menangkap pembunuh itu. Nona Ong, Totiang ini adalah Wu Wi Thaisu, wakil Ketua Go-Bi-Pai."

Mendengar ini, Wu Wi Thaisu diam-diam merasa heran dan kagum.

Gadis remaja ini sudah diserahi tugas oleh Bu Kek Tianglo untuk mewakili Siauw-Lim-Pai menyelidiki dan menangkap orang rahasia yang melakukan pembunuhan-pembunuhan itu!

"Siancai...!

Nona Ong, harap jangan salah sangka.

Sejak tadi, sebelum kalian berdua menghentikan kuda dan mengaso sambil bercakap-cakap di sini, Pinto sudah berada di sini, mengaso dan melepaskan lelah di balik batu besar itu.

Kemudian Pinto terbangun dari kantuk karena mendengar percakapan kalian berdua.

Tadinya Pinto tidak peduli dan tidak ingin mencampuri urusan dua orang muda, akan tetapi ketika mendengar kalian membicarakan urusan pembunuhan-pembunuhan itu, tentu saja Pinto tertarik sekali.

Ketahuilah bahwa Pinto juga telah berkunjung ke Siauw-Lim-Pai menghadap Bu Kek Tianglo, bersama Im Yang Siang To-jin dari Kun-Lun-Pai.

Ketahuilah bahwa pembunuh itu juga telah membunuh murid kami Wi Tek Tosu, dan juga telah membunuh banyak murid Kun-Lun-Pai.

Semua pembunuhan itu dilakukan dengan ilmu simpanan Siauw-Lim-Pai, yaitu Tat Mo Sin-Kun dengan tenaga sakti I-Kin-Keng.

Kami dari Go-Bi-Pai dan Kun-Lun-Pai minta pertanggungan jawab Bu Kek Tianglo dan beliau minta waktu sampai pada hari ulang tahun Siauw-Lim-Pai beberapa bulan yang akan datang.

Nah, setelah mendengar pendapat kalian berdua tentang pembunuhan-pembunuhan itu, Pinto sekarang merasa yakin siapa yang melakukan semua pembunuhan itu!"

"Siapakah menurut pendapat Totiang yang melakukan semua pembunuhan itu?"

Tanya Yo Kang ingin tahu.

Juga Lian Hong mendengarkan penuh perhatian karena hatinya semakin penasaran mendengar bahwa orang yang menyamar sebagai murid Siauw-Lim-Pai itu bukan hanya membunuhi murid Bu-Tong-Pai, akan tetapi juga murid Kun-Lun-Pai dan Go-Bi-Pai!

Semua pembunuhan dilakukan dengan ilmu-ilmu dari Siauw-Lim-Pai!

"Siancai!

Memang jahat sekali orang itu!

Dia memusuhi empat partai persilatan terbesar, menyebar maut dan meninggalkan ciri-ciri murid Siauw-Lim-Pai.

Memang tentu saja bermaksud mengadu domba dan melampiaskan nafsu kebenciannya kepada empat buah perguruan kita.

Tentu kalian berdua sudah mendengar bahwa dulu sekali, dua orang yang memusuhi Empat Partai Persilatan Besar adalah mendiang suami-isteri Bhutan Koai-jin dan Hek Moli.

Suami-isteri iblis itu sudah tewas, akan tetapi mereka meninggalkan seorang murid yang sudah pernah membunuhi murid-murid Kun-Lun, mengacau di Go-Bi-Pai dan Siauw-Lim-Pai.

Pinto yakin sekali bahwa pembunuh itu adalah Kwee In Hong!"

Tiba-tiba Liang Hong mengeluarkan bentakan nyaring dan menudingkan telunjuknya ke arah hidung Wu Wi Thaisu.

"Tosu bau! Tosu keparat! Sembarangan saja menuduh orang! Pembunuh itu jelas seorang berpakaian sebagai Hwesio dan kepalanya gundul! Bagaimana bisa menuduh wanita yang melakukannya?"

"Hemm, Nona, kepala gundul dapat saja menggunakan topeng penutup rambut di kepala sehingga tampak gundul dan pakaian Hwesio itu mudah didapatkan dan dipakai. Engkau agaknya tidak mengenal siapa Kwee In Hong! Ia seorang wanita yang ganas dan kejam. Julukannya memang Si Bayangan Bidadari, akan tetapi sesungguhnya ia adalah bayangan iblis yang jahat dan kejam sekali!"

"Tosu bau!"

Lian Hong semakin marah.

"Jangan sembarangan menuduh orang tanpa bukti. Apakah engkau melihat sendiri bahwa pembunuhan-pembunuhan itu dilakukan oleh Kwee In Hong?"

"Siancai! Buktinya memang belum ada, akan tetapi dugaan Pinto itu pasti tidak salah lagi. Pembunuh yang menyamar murid Siauw-Lim-Pai itu selalu bergerak dalam gelap sehingga mukanya tidak dapat dikenal dengan baik. Pinto sudah mengenal keganasan dan kekejaman iblis betina Kwee In Hong, maka Pinto yakin bahwa ialah yang melakukan semua pembunuhan ini. Pinto akan berusaha keras untuk menangkap!"

"Tosu jahanam! Engkau jahat!"

Lian Hong sudah bergerak maju dan memukul dengan dorongan tangannya ke arah Wu Wi Thaisu.

Tosu itu terkejut ketika gadis remaja itu menyerang dengan tiba-tiba, maka dia pun mengerahkan tenaga saktinya untuk menyambut dengan dorongan tangannya pula.

"Desss...!"

Tubuh Wu Wi Thaisu terpental ke belakang sedangkan tubuh gadis itu hanya bergoyang sedikit. Tosu Go-Bi-Pai itu memandang dengan mata terbelalak heran.

"Tenaga I-Kin-Keng... begitu kuatnya... hemm, jangan-jangan engkau sendiri yang menjadi pembunuh itu!"

"Tosu bau lancang mulut! Sekali lagi membuka mulutmu yang bau, lehermu akan kupenggal dengan sepasang pedangku!"

Setelah berkata demikian, sekali kedua tangannya bergerak ke atas pundaknya, ia telah mencabut sepasang pedang itu.

"Hemm, makin besar kemungkinan nya engkau yang menjadi pembunuh itu! Yo-Sicu, hayo kita tangkap iblis betina ini!"

Teriak Wu Wi Thaisu sambil mencabut pedang pula. Akan tetapi Yo Kang melompat dan menengahi mereka.

"Totiang, percayalah, semua ini hanya merupakan salah paham saja. Harap Totiang meninggalkan kami agar jangan terjadi keributan antara kita sendiri. Nona Ong, simpan pedangmu. Wu Wi Thaisu bukan bermaksud menghina. Ini hanya salah paham belaka."

Wu Wi Thaisu menghela napas panjang dan menyimpan kembali pedangnya.

"Siancai! Kalau tidak ada Yo-Sicu, tentu Pinto akan bertanding mati-matian terhadap gadis Siauw-Lim-Pai yang menghina Pinto ini. Biarlah, Pinto mengalah dan kini jumlah tersangka bagi Pinto bertambah seorang lagi."

Setelah berkata demikian, Wu Wi Thaisu melompat jauh dan pergi dari situ. Lian Hong juga menyimpan Siang-Kiamnya.

"Huh, kalau tidak kau lerai, tentu sudah kupenggal leher Tosu bau yang menjengkelkan itu!"

"Nona, kalau hal itu terjadi, pasti tidak akan menambah baik keadaan. Bahkan Siauw-Lim-Pai akan semakin buruk namanya. Bayangkan saja kalau ada berita bahwa engkau, seorang murid Siauw-Lim-Pai, membunuh wakil Ketua Go-Bi-Pai!"

"Hemm, memang benar akan tetapi Tosu bau itu sungguh menjemukan! Sembarangan saja menuduh orang tanpa bukti!"

Kata Lian Hong, mulutnya yang manis bersungut-sungut. Yo Kang tersenyum.

"Sudahlah, Nona, jangan marah lagi. Semua itu hanya salah paham belaka. Akan tetapi aku heran, mengapa engkau menjadi begitu marah mendengar Kwee In Hong dituduh sebagai pelaku pembunuhan?"

"Tentu saja! Aku yakin Kwee In Hong bukan pembunuh itu. la tidak akan melakukan pembunuhan-Pembunuhan itu!"

"Hemm, agaknya engkau mengenal baik Nona Kwee In Hong itu."

"Mengenal baik? Lebih dari itu karena ia adalah Enciku (Kakak perempuanku)!"

"Ah, tidak mungkin...!!"

Yo Kang berseru sambil membelalakkan matanya, memandang gadis itu penuh curiga karena dianggap gadis itu berbohong.

Lian Hong mengerutkan alisnya dan sepasang mata yang bening itu memancarkan sinar kemarahan kepada Yo Kang.

"Kau kira aku bohong? Apakah engkau juga hendak menganggap Enci In Hong yang melakukan pembunuhan-pembunuhan itu?"

"Bukan begitu maksudku, Nona Ong Lian Hong. Aku merasa heran dan tidak percaya engkau mengaku bahwa Kwee In Hong itu encimu. Ketidak-percayaanku ini bukan ngawur atau tidak beralasan, Nona. Pertama, In Hong bermarga Kwee sedangkan engkau bermarga Ong. Bagaimana mungkin ia menjadi Encimu? Dan ke dua, aku mengenal baik dan tahu benar siapa Kwee In Hong dan ia tidak pernah memiliki seorang pun Kakak atau Adik!"

Lian Hong masih mengerutkan alisnya. Kini sebaliknya ia yang menjadi curiga dan ia tidak percaya bahwa pemuda tokoh Bu-Tong-Pai itu mengenal encinya.

"Hemm, Yo Kang. Engkau tidak percaya kepadaku dan aku berhak pula untuk tidak percaya kepadamu. Nah, sekarang. coba engkau memberi gambaran bagaimana rupa Kwee In Hong!"

"Itu mudah saja."

Jawab Yo Kang.

"Kwee In Hong berusia... sekitar dua puluh satu tahun, wajahnya cantik, wataknya... hemm, agak keras dan pemberani seperti engkau."

"Ah, kalau cuma ngawur dan kira-kira begitu semua orang juga bisa. Katakan, siapa nama Ayah dan Ibunya dan di mana tinggalnya."

"la puteri Paman Kwee Seng yang sudah meninggal dunia, dan Ibunya adalah Bibi Yo Cui Hwa. Dahulu Ayah-Ibunya tinggal di Tiang-An, setelah Ayahnya tewas terbunuh gerombolan penjahat, Ibunya melarikan diri bersamanya dan tinggal di dusun Hok-Te-Cung..."

"Hei! Bagaimana engkau bisa mengetahui itu semua? Apakah engkau bersahabat dengan Enci In Hong?"

"Bukan hanya bersahabat, Nona. Kwee In Hong itu adalah Adik misanku! Kalau engkau Adiknya, mengapa engkau she Ong dan tidak tahu tentang diriku? Ketahuilah, Ibu dari In Hong adalah Bibiku, Adik misan dari Ayahku. Ayahku bernama Yo Hang Tek danKakekku bernama Yo Tang. Kami tinggal di See-Ciu. Nah, jelas bukan bahwa aku kenal baik Adik Kwee In Hong? Sekarang jelaskan bagaimana engkau dapat mengatakan bahwa engkau ini Adiknya."

"Hemm, mendengar ceritamu agaknya engkau tidak berbohong, apalagi shemu (margamu) Yo, sama dengan marga Ibuku. Ibuku adalah Yo Cui Hwa, akan tetapi Ayahku bukan Kwee Seng. Aku dan Enci In Hong satu Ibu berlainan Ayah."

"Ah, kalau begitu setelah Paman Kwee Seng terbunuh penjahat, Bibi Yo Cui Hwa menikah lagi dengan seorang pria she Ong? Mengapa Bibi Yo Cui Hwa tidak pernah bercerita tentang hal ini kepada kami?"

Kini mereka berdiam diri, tenggelam ke dalam lamunan masing-masing. Lalu Lian Hong berkata.

"Kalau begitu, yang mengajak Ibu pergi dari Hok-Te-Cung adalah engkau?"

"Benar, Nona... eh, Siauw-moi (Adik Perempuan). Aku mengajak Bibi Yo Cui Hong pindah ke See-Ciu dan hidup bersama kami karenaKakek Yo Tang sakit-sakitan dan selalu menanyakan Bibi Cui Hwa. Engkau juga mengetahui kepindahan Ibumu?"

Lian Hong mengangguk. Kini ia merasa yakin bahwa Yo Kang ini memang keponakan Ibunya, jadi masih Kakak misannya! la merasa terharu dan juga senang mempunyai Kakak misan yang begini gagah perkasa.

"Sekitar dua tahun yang lalu aku tinggal berdua dengan Ibu di Hok-Te-Cung, Twako (Kakak Laki-laki). Kemudian Suheng Ceng Seng Hwesio datang mengajak aku ke Siauw-Lim-Pai untuk memperdalam ilmu silatku, langsung di bawah bimbingan Suhu Bu Kek Tianglo. Setelah engkau datang berkunjung ke Siauw-Lim-Pai, Suhu lalu memberi tugas padaku untuk mewakili Siauw-Lim-Pai melakukan penyelidikan tentang pembunuhan itu. Aku meninggalkan Siauw-Lim-Si (Kuil Siauw-Lim) dan yang pertama kulakukan adalah mengunjungi lbu di Hok-Te-Cung. Akan tetapi ternyata Ibu tidak ada dan menurut seorang tetangga, Ibu telah pergi pindah ke See-Ciu, dibawa keluarganya. Tetangga itu tidak tahu namanya, hanya mengatakan bahwa yang mengajak Ibu pergi adalah seorang pemuda yang... tampan. Kiranya engkau pemuda itu! Aku lalu meninggalkan Hok-Te-Cung dan hendak menyusul ke See-Ciu dan tadi dalam perjalanan aku melihat engkau dikeroyok oleh dua Datuk Besar dan pasukan Mongol, maka aku lalu membantumu. Kini aku bersukur bahwa yang kubantu ternyata adalah Kakak misanku sendiri!"

Kini pandang mata gadis itu berseri dan mulutnya tersenyum manis!

"Aku merasa bangga bahwa engkau adalah Adikku sendiri, Lian Hong!

Siapa tidak akan berbangga hati memiliki Adik misan yang begini cantik jelita, lihai dan menjadi utusan Ketua Siauw-Lim-Pai!

Mari, Adikku, mari kita cepat ke See-Ciu.

Bibi Yo Cui Hwa tentu akan merasa girang sekali melihatmu!"

Tiba-tiba wajah Lian Hong yang tadinya berseri itu berubah muram.

Alisnya berkerut dan ia tampak bersedih.

Terjadi pertentangan dalam pikirannya karena pada saat itu ia teringat akan keadaan dirinya.

Memang, ia mempunyai hubungan saudara dengan Yo Kang melalui Ibunya, akan tetapi Ayahnya...!

Ayah kandungnya adalah Ong Tiang Houw, orang yang membunuh Kwee Seng!

Biarpun sekarang Ong Tiang Houw sudah mati, namun keluarga Yo sudah pasti tidak suka melihat ia, puteri kandung orang yang dulu membunuh Kwee Seng, suami pertama Ibunya!

Mungkin Ibunya dan juga In Hong merahasiakan hal yang memalukan ini, akan tetapi ia tidak bisa menyimpan rahasia.

Ia terlalu jujur untuk mengingkari keadaan dirinya yang sebenarnya.

Sebelum melanjutkan hubungannya dengan Yo Kang dan keluarga Yo sebagai keluarga, ia harus berterus terang kepada Yo Kang.

Tidak peduli apakah Yo Kang akan menganggapnya keturunan pembunuh dan membencinya, hal yang akan amat menyakitkan hatinya.

Akan tetapi tiba-tiba ia teringat.

Kwee In Hong sendiri, orang yang semestinya paling sakit hati dan membenci Ayah kandungnya yang membunuh Ayah kandung In Hong, ternyata tidak membencinya bahkan sayang padanya!

la mendapatkan keberanian dan tanpa ragu lagi ia memutuskan untuk menceritakan keadaan dirinya kepada Yo Kang.

"Yo-Twako, agaknya Ibu dan Enci In Hong belum menceritakan tentang diriku kepadamu dan juga kepada keluarga Yo di See-Ciu. Agaknya mereka berdua merahasiakannya untuk melindungi nama baik Ibuku. Akan tetapi aku berpendapat lain. Aku harus membuka semua tabir rahasia itu agar semua kenyataan dapat terlihat. Aku yakin engkau sebagai seorang pendekar yang membela kebenaran dan keadilan akan dapat mengerti dan melihat bahwa Ibu kandungku tidak dapat disalahkan dalam hal ini."

"Lian Hong, aku percaya padamu, aku percaya bahwa engkau puteri kandung Bibi Yo Cui Hwa. Kalau memang keadaanmu perlu dirahasiakan, maka tidak usah engkau menceritakannya padaku. Aku tidak memaksamu."

"Tidak, Yo-Twako. Harus kuceritakan karena kalau tidak, akan selalu menjadi bahan kecurigaan dan pergunjingan, terutama bagi keluarga Yo. Nah, ceritanya begini. Dahulu Ong Tiang Houw hidup bahagia bersama Ayah-Ibunya, isterinya, dan seorang puteranya bernama Ong Teng San. Ong Tiang Houw ikut berjuang menentang pemerintah penjajah, yaitu Kerajaan Goan. Ketika pada suatu hari dia pulang, dia mendapatkan isterinya mati bunuh diri setelah dipaksa dan diperkosa oleh seorang hartawan jahat yang sewenang-wenang. Ong Tiang Houw juga kehilangan Ayah-Ibunya yang meninggal dunia karena berduka atas peristiwa itu. Puteranya, Ong Teng San yang ketika itu berusia enam tahun juga hilang. Ong Tiang Houw hancur hatinya, dipenuhi dendam. Setelah dia dapat menemukan puteranya yang melarikan diri ketakutan, dia lalu menyerbu rumah hartawan itu, membunuh Si Hartawan dan membakar gedungnya. Sejak itu, Ong Tiang Houw lalu membentuk sebuah laskar rakyat yang disebut Kai-Sin-Tin, yang sebagai pelampiasan dendamnya. Laskar rakyat itu membasmi para bangsawan dan hartawan yang menjadi antek Kerajaan Mongol."

"Nanti dulu, Lian Hong. Bukankah Ong Tiang Houw pemimpin Kai-Sin-Tin itu murid mendiang Lo-Cianpwe Bu Sek Tianglo yang terkenal gagah perkasa itu?"

"Memang benar dia orangnya, Twako. Pada, suatu hari, dia memimpin laskarnya menyerbu Tiang-An dan di antara mereka yang menjadi korban serbuannya adalah Kwee Seng. Hartawan muda Kwee Seng yang tidak berdosa ikut menjadi korban, terbunuh oleh Ong Tiang Houw sebagai akibat sikap banyak hartawan dan bangsawan yang mau menjadi antek penjajah. Engkau tentu mendengar akan nasib Hartawan Kwee Seng, isteri dan anaknya."

Yo Kang mengangguk.

"Kami mendengar akan kematian Paman Kwee Seng dan Ayahku sudah mengurus dan mengubur jenazahnya. Akan tetapi Bibi Yo Cui Hwa dan Adik In Hong yang melarikan diri tidak dapat kami temukan."

Dia berhenti sebentar lalu melanjutkan.

"Baru setelah aku dewasa dan kebetulan bertemu dengan In Hong, ia menceritakan pengalamannya. Ketika terjadi keributan, ia dilarikan Can Ma, seorang pelayan pengasuh dan dibawa pergi. Kemudian Adik In Hong bertemu dengan Hek Moli dan menjadi muridnya."

"Benar, aku juga sudah mendengar ceritanya. Tidak aneh kalau keluargamu tidak dapat menemukan mereka. Enci In Hong dibawa pergi Hek Moli, sedangkan Nyonya Kwee Seng atau Yo Cui Hwa diselamatkan Ong Tiang Houw."

"Hemm..."

Yo Kang mengerutkan alisnya.

"Jangan salah sangka, Twako. Ayah kandungku, Ong Tiang Houw itu, sudah menebus kesalahannya dengan penderitaan batin yang amat hebat! Ketika melihat Yo Cui Hwa, Ong Tiang Houw yang menduda itu merasa kasihan, bahkan lalu jatuh cinta. Dia menyelamatkan Yo Cui Hwa dan membawanya pergi. Akhirnya, wanita yang kehilangan suami, anak dan segala-galanya itu bersedia menjadi isteri Ong Tiang Houw yang bersikap baik kepadanya. Tentu saja ia sama sekali tidak tahu bahwa laki-laki yang menjadi suaminya itu adalah orang yang membunuh Kwee Seng, suami pertamanya. Mereka hidup bahagia dan setahun setelah mereka menikah, lahirlah aku. Kami hidup bahagia, yaitu Ayah Ong Tiang Houw, Ibu Yo Cui Hwa, Kakak Ong Teng San dan aku. San-Ko (Kakak San) amat sayang kepadaku seperti Adik sendiri. Akan tetapi kebahagiaan keluarga kami itu hancur berantakan ketika aku berusia sembilan tahun. Ibuku selalu memarahi Ayahku, menagih janji Ayah yang hendak menangkap pembunuh Kwee Seng dan menemukan Enci In Hong. Kakak Ong Teng San yang amat mencinta Ibuku mengatakan bahwa dia yang akan pergi mencari pembunuh Kwee Seng dan menemukan Enci In Hong. Dia akan membalaskan kematian Kwee Seng dan menemukan Enci In Hong. Mendengar kesanggupan San-Ko untuk membunuh orang yang membunuh Kwee Seng, Ayah tidak dapat menahan kegelisahannya dan dia pun mengaku kepada Ibuku bahwa sesungguhnya dialah yang membunuh Kwee Seng. Mulailah kehancuran melanda keluarga kami setelah Ayah mengucapkan kenyataan ini. Kakak Ong Teng San mengajak aku minggat dari rumah dan menjadi murid Siauw-Lim-Pai. Ibuku membenci Ayahku dan tidak mau memaafkan karena ia menganggap Ayahku menipunya. Ayahku lalu pergi dalam keadaan menderita tekanan batin hebat sehingga dia merantau seperti orang gila, bahkan mengubah namanya menjadi Bu Jin Ai (Tidak Ada Orang Mencintanya)."

Yo Kang merasa terharu.

Dia dapat merasakan penderitaan empat orang itu!

Bibinya, Yo Cui Hwa, jelas merasa amat menderita, merasa malu dan berdosa karena ia menjadi isteri orang yang dulu membunuh suaminya tercinta, walaupun hal itu ia lakukan di luar pengetahuannya.

Pantas saja Bibinya itu merahasiakan pernikahannya dengan Ong Tiang Houw.

Tentu saja ia merasa malu kalau terdengar orang, terutama terdengar keluarga Yo bahwa ia menikah dengan pembunuh suaminya!

Dia juga merasa iba kepada Ong Tiang Houw.

Orang ini terkenal sebagai seorang pendekar yang menentang penjajah, kemudian memusuhi para bangsawan dan hartawan yang kebanyakan tunduk kepada pemerintah penjajah Mongol.

Dia membunuh Kwee Seng bukan karena kebencian atau permusuhan pribadi, melainkan sebagai akibat perjuangannya itu.

Kemudian dia menikahi bibinya yang sudah janda.

Duda mengawini janda dan dasarnya saling cinta.

Dia kemudian secara jujur mengakui bahwa dialah pembunuh Kwee Seng.

Akibatnya kedua anaknya, Ong Teng San dan Ong Lian Hong, membencinya dan minggat.

Isterinya juga membencinya.

Penderitaan batin ini membuat dia menjadi gila!

Tentu saja dia juga merasa iba kepada Ong Teng San dan Lian Hong.

Dua bersaudara seAyah berlainan Ibu ini kehilangan kasih sayang Ayah dan Ibu mereka.

"Siauw-moi, sekarang aku mengerti mengapa Bibi Yo Cui Hwa dan Adik Kwee In Hong merahasiakan hal itu. Sungguh kasihan kalian berempat, menjadi permainan takdir. Teruskan ceritamu, Adikku, ceritamu menarik sekali.

"Selama lima tahun aku berlatih di Siauw-Lim-Pai, ketika aku berusia empat belas tahun, Kakakku Ong Teng San menyuruh aku pulang ke Hok-Te-Cung menemui Ibu, sedangkan dia sendiri pergi untuk mencari Ayah dan Enci In Hong. Akan tetapi tidak lama aku tinggal di sana, datang Enci In Hong yang membawa berita amat menyedihkan. Enci In Hong merasa heran melihat aku yang pernah ia temui sebagai Adik-Kakak Ong Teng San berada di sana bersama Ibu. Kemudian Ibu mengaku bahwa aku adalah anak kandungnya dari perkawinannya dengan Ong Tiang Houw, Ayah kandung Ong Teng San dari Ibu pertama. Kemudian Ibu berterus terang bahwa baru beberapa tahun yang lalu Ibu mengetahui bahwa yang menjadi suaminya yang ke dua adalah pembunuh Kwee Seng, suaminya yang pertama atau Ayah kandung Enci In Hong! Enci In Hong terkejut bukan main dan ia sampai jatuh pingsan mengetahui bahwa Ibu kandungnya menikah dengan pembunuh Ayahnya!"

"Ah, kasihan sekali In Hong!"

Yo Kang berkata lirih. Sungguh merupakan sebuah keluarga yang bernasib malang! (Lanjut ke

Jilid 19) Bayangan Bidadari/Sian Li Eng Cu (Cerita Lepas) Karya. Asmaraman S. Kho Ping Hoo

Jilid 19

"Akan tetapi, ada berita yang lebih nimenyedihkan hatiku, Yo-Twako. Enci In Hong menceritakan bahwa Ayah kandungku, Ong Tiang Houw telah mati dibunuh Kakak Ong Teng San sendiri!"

"Aih, mengapa seorang putera membunuh Ayah kandungnya sendiri?"

Seru Yo Kang heran.

"Enci In Hong tidak menceritakan sebabnya. Ia hanya bilang bahwa Ong Tiang Houw telah mati dibunuh Ong Teng San, sedangkan Kakak Ong Teng San juga dibunuh oleh Enci In Hong. Ia hanya berkata demikian, lalu meninggalkan kami. Tak lama kemudian, Suheng Ceng Seng Hwesio datang menjemputku dan membawaku ke Siauw-Lim-Pai di mana selama dua tahun aku menerima gemblengan langsung dari Suhu Bu Kek Tianglo. Nab, begitulah, Twako. Semua sudah kuceritakan sejujurnya karena kini aku tahu bahwa engkau adalah Piauw-Ko dariku."

"Ah, Lian Hong Adik misanku yang baik. Ceritamu membuat aku merasa kasihan dan sedih. Akan tetapi akhirnya aku menjadi senang melihat bahwa engkau selain Adik misanku, juga merupakan rekanku, karena engkau mewakili Siauw-Lim-Pai seperti aku mewakili Bu-Tong-Pai untuk mencari dan menangkap pembunuh itu. Sebagai Kakak dan Adik misan tentu kita dapat bekerja sama lebih baik!"

"Aku juga girang sekali, Twako. Mudah-mudahan kita berdua dapat membongkar rahasia pembunuh misterius ini sehingga nanti pada ulang tahun Siauw-Lim-Pai, Suhu Bu Kek Tianglo dapat terbebas dari tanggung jawab dan sakit hati tiga perguruan besar Bu-Tong-Pai, Kun-Lun-Pai dan Go-Bi-Pai dapat terbalas."

"Lian Hong, melihat betapa engkau marah sekali ketika tadi Wu Wi Thaisu mencurigai In Hong, membuat aku berpikir bahwa mungkin sekali engkau tidak atau belum mengenal In Hong dengan baik."

"Ah, masa aku tidak mengenal enciku sendiri. Biarpun pertemuan antara kami hanya singkat dan pendek, namun aku tahu dan kenal betul Enci In Hong. Ia seorang yang memiliki ilmu kepandaian yang sangat tinggi, aku sayang dan amat kagum padanya, Twako."

"Aku juga... amat sayang padanya, Lian Hong, dan tentu saja aku tidak mau menyangka yang buruk-buruk kepadanya. Bahkan terus terang saja aku... aku mencintanya! Akan tetapi bagaimanapun juga, kita yang bertugas menyelidiki pembunuhan-pembunuhan itu, kita harus membuka mata melihat kenyataan-kenyataan. Dugaan yang diucapkan Wu Wi Thaisu itu bukan sekadar fitnah, Lian Hong. Memang harus kuakui bahwa setelah apa yang dilakukan In Hong dua tiga tahun yang lalu itu, cukup kuat untuk membuat ia dicurigai sebagai pembunuh misterius itu."

"Perbuatan apakah yang dilakukan Enci In Hong, Yo-Twako? Yang kuketahui hanya bahwa ia pernah mencoba untuk mencuri kitab I-Kin-Keng dari Kuil Siauw-Lim kukira dosanya itu tidak terlalu besar, apalagi usahanya mencuri kitab itu tidak berhasil."

Yo Kang menghela napas panjang.

"Mendiang Guru In Hong, yaitu suami-isteri Bhutan Koai-jin dan Hek Moli bermusuhan dengan Empat Partai Persilatan Besar. Akhirnya Hek Moli tewas dikeroyok para Tosu Kun-Lun-Pai dan Go-Bi-Pai, sedangkan Bhutan Koai-jin dibuntungi kaki tangannya oleh Bu Kek Tianglo dan para tokoh Bu-Tong-Pai. Akan tetapi mereka berdua pun telah membunuh banyak tokoh Empat Partai Persilatan itu. Kemudian In Hong membalaskan sakit hati Gurunya dan ia menyerbu Kun-Lun-Pai, membunuh tiga Kun-Lun Sam Lojin dari Kun-Lun-Pai dan ia pernah mengacau Siauw-Lim-Pai untuk mencuri kitab. Maka, ketika terjadi pembunuhan-pembunuhan terhadap orang-orang Bu-Tong-Pai, Kun-Lun-Pai, dan Go-Bi-Pai dengan pelakunya menyamar sebagai murid Siauw-Lim-Pai, maka mudah saja orang menjatuhkan tuduhan kepada In Hong."

Lian Hong tertegun sebentar.

"Akan tetapi menurut keterangan pembunuh misterius itu kepalanya gundul dan pakaiannya seperti seorang Hwesio."

"Wu Wi Thaisu berkata benar ketika mengatakan bahwa kepala gundul itu dapat dibuat dengan topeng penutup kepala sehingga dalam cuaca gelap disangka gundul. Pembunuh itu belum tentu gundul benar dan belum tentu seorang Hwesio. Jelas ada unsur mengadu domba dalam perkara ini. Si pembunuh menghendaki agar Siauw-Lim-Pai diserbu dan dikeroyok tiga perguruan yang lain."

"Apakah engkau juga menyangka Enci In Hong pelakunya, Twako?"

Yo Kang menggelengkan kepalanya.

"Tidak, Lian Hong. Aku mengenal In Hong terlalu baik sehingga aku tahu betul bahwa di balik semua kekerasan dan keganasannya itu terdapat watak yang berbudi dan adiI. la seorang pendekar wanita sejati, hanya berwatak agak liar karena ia terdidik oleh suami-isteri yang menjadi datuk sesat seperti Bhutan Koai-jin dan Hek Moli. Ingat saja betapa ia telah membunuh Ong Teng San itu, hal yang sungguh amat mengherankan. Sekarang, mari kita lupakan dulu Adik Kwee In Hong dan kita coba selidiki, siapa yang sekiranya patut dicurigai. Kita dapat saling mengemukakan pendapat kita untuk diperbandingkan."

"Baiklah, Twako. Pertama-tama ada seorang yang kucurigai. Dia seorang pemuda yang amat lihai dan terus terang saja, sebetulnya melihat sikap dan penampilannya, aku tidak mencurigainya. Dia tidak jahat, orangnya menarik walaupun sikapnya agak ugal-ugalan dan nakal. Ilmu silatnya juga tinggi sekali karena dia adalah murid Thian Beng Siansu di Himalaya yang masih terhitung Sute (Adik Seperguruan) dari Suhu Bu Kek Tianglo. Akan tetapi, yang terasa aneh dan mencurigakan, dia dengan sikap ugal-ugalan, menyusup ke Siauw-Lim-Pai tanpa diketahui orang dan memaksa hendak bertemu Suhu yang sedang bersamadhi. Dia bahkan berhasil melewati Ruangan Penguji Murid Ngo-Heng-Tin dan mampu menandingi Ngo-Heng-Tin yang aseli. Kemudian dia disuruh nnenunggu sampai Suhu menghentikan samadhinya. Ketika engkau datang ke Siauw-Lim-Pai, dia masih berada di kamar tamu, akan tetapi ketika Suheng Ceng Seng Hwesio teringat kepadanya dan hendak membawanya menghadap Suhu, ternyata dia telah hilang tanpa meninggalkan jejak!"

Gadis remaja ini tidak menceritakan betapa pemuda itu menyerah kepadanya, ia ikat dengan ujung sabuknya namun dapat terlepas sendiri.

Ia merasa malu karena di dalam hatinya, ia amat tertarik kepada Si Han Lin.

"Hemm, siapakah pemuda itu, Lian Hong? Dan mengapa engkau mencurigainya?"

"Namanya Si Han Lin. Karena Gurunya, Thian Beng Siansu pernah meninggalkan Siauw-Lim-Pai, mungkin saja dia merasa tidak suka atau mendendam kepada Siauw-Lim-Pai dan sengaja hendak merusak nama baik Siauw-Lim-Pai. Aku yakin bahwa sebagai murid Thian Beng Siansu, Si Han Lin itu mahir ilmu-ilmu silat tingkat tinggi dari Siauw-Lim-Pai. Dan mengingat bahwa pembunuh misterius itu menggunakan ilmu-ilmu Siauw-Lim-Pai, maka timbul kecurigaanku kepadanya. Apalagi dia menghilang begitu saja dari Siauw-Lim-Pai sebelum menghadap Suhu seperti yang dikehendakinya ketika dia menyusup ke sana."

Yo Kang mengangguk-angguk.

"Memang aneh sekali sikapnya itu. Pasti ada apa-apanya dan kita boleh memasukkan dia sebagai seorang di antara mereka yang patut dicurigai sebagai pembunuh misterius. Masih adakah orang lain lagi yang patut engkau curigai, Lian Hong?"

Lian Hong mengingat-ingat.

"Menurut Suhu, tentu saja banyak orang yang termasuk golongan sesat menaruh dendam dan memusuhi Siauw-Lim-Pai karena selamanya para murid Siauw-Lim-Pai menentang mereka yang suka melakukan kejahatan. Akan tetapi tentu sukar untuk meneliti mereka satu demi satu karena di dunia ini terdapat amat banyak orang jahat. Akan tetapi aku ingat, ada seorang yang patut dicurigai. Ia adalah seorang wanita yang menurut pengakuannya berjuluk Ang Hwa Niocu, dan ia juga lihai bukan main. Ketika aku berusia empat belas tahun dan turun gunung bersama Kakakku Ong Teng San yang menyuruhku pulang menemani Ibu di Hok-Te-Cung, dalam perjalanan kami bertemu dengan wanita itu. Ketika itu usianya sekitar dua puluh tiga tahun. la cantik dan sikapnya genit, di rambutnya terdapat setangkai bunga merah, mungkin hiasan bunga itu yang membuat ia memakai julukan Ang Hwa Niocu (Nona Bungan Merah). Ketika kami bertemu dengan wanita itu, ia dengan genit sekali menggoda Kakakku Ong Teng San. Akan tetapi San-Ko tidak melayani bujuk rayunya, malah menegurnya. Akhirnya ia menjadi marah dan ia menyerang kami. Kami melawan dan terjadi perkelahian seru. la amat lihai, Twako. Dengan susah payah, setelah mengeroyoknya sampai puluhan jurus, barulah Ang Hwa Niocu melarikan diri dan berjanji kelak akan membalas kekalahannya. Nah, aku menjadi curiga, karena mungkin saja ia yang menjadi pembunuh misterius itu untuk merusak nama Siauw-Lim-Pai."

Yo Kang termenung.

"Hemm, ada kemungkinannya juga, walaupun amat lemah alasan itu. Sayang aku tidak pernah mendengar namanya."

"Menurut keterangan mendiang Kakak Ong Teng San, ilmu silat Ang Hwa Niocu adalah ilmu silat dengan dasar ilmu dari Kun-Lun-Pai. Tentu ia murid Kun-Lun-Pai yang sudah tinggi tingkat kepandaiannya dan mungkin selama dua tahun lebih ini ia telah meningkatkan lagi ilmu silatnya."

"Hemm, ia murid Kun-Lun-Pai? Kalau begitu, memang ia patut dicurigai. Ketahuilah, Lian Hong, dulu ketika aku melakukan perjalanan bersama In Hong, aku diserang secara menggelap oleh seseorang yang menggunakan ilmu pukulan Pek-Kong-Ciang. Nyaris aku celaka namun In Hong yang terbangun dari tidur membantuku. Penyerang melarikan diri dan karena malam itu gelap, kami tidak dapat mengejarnya. Melihat ia menggunakan Pek-Kong-Ciang, ilmu andalan Kun-Lun-Pai, maka besar kemungkinan ia murid Kun-Lun-Pai dan setelah mendengar ceritamu tentang Ang Hwa Niocu, maka wanita itu memang patut kita curigai. Apa masih ada orang lain lagi yang kau curigai, Siauw-moi?"

Gadis itu menggelengkan kepala.

"Tidak ada lagi, Twako. Kalau engkau, bagaimana? Siapa yang kau curigai?"

"Tadi sudah kuceritakan tentang riwayat In Hong dan betapapun sedihnya perasaan hatiku, namun kita harus berani menghadapi kenyataan, betapapun pahitnya. Kita terpaksa menempatkan In Hong dalam daftar mereka yang tersangka. Maafkan aku, Lian Hong. la Kakak tirimu, akan tetapi ia juga Adik misanku dan aku cinta padanya."

"Baiklah, Twako. Aku mengerti perasaanmu. Kita akan menyelidiki juga Enci In Hong, mudah-mudah bukan ia pelakunya. Lalu siapa lagi yang kau curigai?"

"Ada seseorang yang kucurigai, akan tetapi sulit aku mencari sebab kecurigaanku itu karena dia sama sekali tidak menunjukkan hal-hal yang patut untuk dicurigai. Namanya Gan Bouw dan dia baru saja menjadi Ketua Thian-Te-Pang di kaki Pegunungan Beng-San. Dia masih muda, sebaya dengan aku, akan tetapi ilmu kepandaiannya sangat tinggi. Dia mengaku sebagai murid para Pendeta Lama di Tibet. Sikapnya memang lembut, sopan dan manis tutur sapanya. Bahkan dia telah menolong aku dan Ceng Seng Hwesio ketika kami berdua diserang oleh Tung Giam-Lo-Ong Si Raja Timur dan See Te-Tok Si Racun Barat bersama belasan orang perajurit Mongol. Gan Bouw ini membantu kami, merobohkan beberapa orang perajurit Mongol. Akhirnya setelah Gan Bouw datang membantu, dua orang Datuk Besar itu melarikan diri bersama para perajurit Mongol. Setelah memperkenalkan diri, dia minta kepadaku untuk menyampaikan perkenalan dirinya sebagai Ketua Thian-Te-Pang yang baru kepada pimpinan Bu-Tong-Pai dan minta kepada Ceng Seng Hwesio untuk melaporkan kepada pimpinan Siauw-Lim-Pai. Memang dia bermaksud untuk mengunjungi Empat Partai Besar untuk memperkenalkan diri sebagai Ketua Thian-Te-Pang yang baru."

"Akan tetapi, aku tidak melihat sesuatu yang patut membuat dia dicurigai, Twako!"

"Memang benar, kenyataannya demikian. Akan tetapi entahlah, ada sesuatu dalam sikapnya, entah apa, yang membuat aku tidak begitu percaya padanya. Sudahlah, kita dapat menyelidikinya nanti, kalau perlu kita datang ke Thian-Te-Pang untuk mengenal dia lebih dekat. Sekarang orang lain yang patut dicurigai. Sangat boleh jadi pembunuh misterius itu adalah Empat Datuk Besar yang jelas telah menjadi antek Pemerintah Mongol. Mungkin saja mereka diperalat oleh Pemerintah Kerajaan Mongol untuk mengadu domba Siauw-Lim-Pai dengan tiga partai persitatan yang lain karena Kerajaan Mongol tentu mengetahui bahwa kita semua tidak suka dengan penjajahan mereka terhadap tanah air kita."

"Masih ada lagi, Twako?"

"Bagiku sudah tidak ada lagi yang patut dicurigai."

Lian Hong termenung sebentar, lalu berkata.

"Kalau begitu, yang masuk daftar mereka yang tersangka, ada lima orang. Pertama, Enci In Hong, ke dua Si Han Lin, ke tiga Gan Bouw, ke empat Ang Hwa Niocu, dan ke lima Empat Datuk Besar."

"Nah, kalau menurut engkau, siapa yang pantas kita selidiki dulu di antara mereka berlima? Siapa yang paling mencurigakan?"

Tanya Yo Kang. Lian Hong menghela napas panjang.

"Sesungguhnya ini amat menyakitkan, Twako. Akan tetapi kita berdua harus saling bersikap jujur. Betapapun menyakitkan, aku harus mengakui bahwa yang paling mencurigakan bagiku adalah... Enci In Hong!"

"Ahh...??"

"Yo-Twako, tadi sudah kuceritakan bahwa dua tahun yang lalu Enci In Hong pulang ke Hok-Te-Cung, bertemu dengan Ibu dan aku. la pada waktu itu baru tahu dari kami bahwa Ibu telah menikah dengan Ayah kandungku, Ong Tiang Houw yang dulu membunuh suami pertama Ibu, atau Ayah kandung Enci In Hong. Kemudian Enci In Hong menceritakan bahwa Ayah kandungku dibunuh oleh Kakakku, Ong Teng San dan San-Ko kemudian dibunuh olehnya. Nah, ceritanya itulah yang amat ganjil dan sukar dipercaya."

"Mengapa?"

"la hanya bilang bahwa San-Ko membunuh Ayah, kemudian ia membunuh San-Ko, tanpa memberitahu mengapa kedua hal itu dapat terjadi! Rasanya tidak mungkin kalau Kakak Ong Teng San, murid Siauw-Lim-Pai yang gagah perkasa dan halus budi itu membunuh Ayah kandungnya sendiri!"

"Jadi, kau pikir... bagaimana?"

"Maaf, Twako. Aku pun membenci pikiranku sendiri ini, akan tetapi rasanya, mengingat akan watak Enci In Hong dan semua perbuatannya seperti yang kau ceritakan tadi, mengingat pula ia adalah murid suami-isteri yang jahat seperti iblis, lebih masuk akal kalau ia membunuh Ayahku dan San-Ko sekaligus! Dan agaknya tidaklah aneh kalau ia yang menjadi pembunuh misterius itu, walaupun di lubuk hatiku merasa perih membayangkan hal ini karena sesungguhnya aku mengagumi dan menyayangnya."

Yo Kang termenung.

"Aku pun merasa sedih mendengar ceritamu, Lian Hong. Aku cinta padanya dan aku siap berkorban diriku untuk membelanya,"

"Ah, semoga saja kecurigaan kita terhadapnya tidak benar. Sekarang, marilah kita ke See-Ciu. Aku yakin, kalau In Hong mendengar pindah ke See-Ciu, ia pasti akan pergi mengunjungi ibunya ke sana."

Dua orang itu lalu melanjutkan jalanan mereka menuju ke See-Ciu.

Ketika Lian Hong dan Yo Kang tiba di rumah keluarga Yo di See-Ciu, mereka disambut dengan girang oleh Ayah-Ibu Yo Kang, yaitu Yo Hang Tek dan isterinya, dan Yo Cui Hwa menyambut Lian Hong dengan rangkulan bahagia.Kakek Yo Tang ternyata masih sakit-sakitan dan belum dapat turun dari pembaringan.

"Adik Ciu Hwa, siapakah gadis itu?"

Tanya Yo Hang Tek kepada Adiknya.

"Ia... ia adalah Anakku, Lian Hong namanya."

Jawab Yo Cui Hwa dan dari suaranya yang gugup, Yo Kang dapat menduga bahwa bibinya pasti belum bercerita kepada keluarga Yo tentang pernikahannya dengan mendiang Ong Tiang Houw.

Yo Hang Tek dan isterinya tampak terkejut dan heran.

"Akan tetapi... bukankah Anakmu hanya seorang, Kwee In Hong itu?"

Tanya Yo Hang Tek. Melihat bibinya ragu untuk menjawab, Yo Kang cepat berkata kepada orang tuanya.

"Ayah, setelah Paman Kwee Seng tewas, Bibi Yo Cui Hwa terlunta-lunta dan terancam bahaya. Untung ia ditolong oleh seorang she Ong dan kemudian Bibi menikah dengan penolongnya itu dan mempunyai seorang anak, yaitu Adik Ong Lian Hong ini. Akan tetapi sekarang, Ayah Lian Hong sudah meninggal dunia. Siauw-moi, ini adalah Ayah dan Ibuku!"

Yo Kang memperkenalkan.

"Lian Hong, ini adalah Paman tuamu Yo Hang Tek dan Bibimu."

Cui Hwa memberitahu puterinya, suaranya terdengar lega karena dalam keadaan yang membingungkan itu Yo Kang telah menolongnya.

"Paman, Bibi, saya Ong Lian Hong memberi hormat."

Kata Lian Hong dengan sikap sopan. Nyonya Yo Hang Tek memandang kepada Yo Cui Hwa dengan alis berkerut.

"Adik Cui Hwa, mengapa engkau tidak menceritakan kepada kami tentang pernikahanmu dengan orang she Ong itu?"

"So-so (Kakak Ipar), sejak kecil Lian Hong berguru di Siauw-Lim-Pai, dan Ayah nya pun sudah lama meninggal dunia, maka aku tidak menceritakan, apalagi Paman sedang menderita sakit. Aku khawatir cerita itu hanya akan menamhah beban perasaan bagi Paman."

"Sudahlah, semua itu sudah terjadi. Aku maklum kalau engkau menikah lagi, Cui Hwa, karena ketika itu engkau sebatang kara, apalagi terancam bahaya. Sayang suamimu itu sudah meninggal dunia. Sungguh buruk nasibmu, dua kali menjadi janda karena keniatian suami. Ong Lian Hong ini adalah anakmu, maka ia adalah keluarga kita, tiada bedanya dengan Kwee In Hong. Nanti saja perlahan-lahan kita ceritakan hal itu kepada Ayah, setelah Ayah benar-benar sehat kembali agar jangan terkejut."

Yo Cui Hwa lalu menggandeng tangan Lian Hong, diajak masuk ke dalam kamarnya, sedangkan Yo Kang diajak masuk oleh Ayah-Ibunya menemui Yo Tang yang masih berbaring dalam kamarnya.

"Kong-kong...!"

Yo Kang berlutut di depan pembaringanKakeknya.

"Hemm, engkau baru pulang, Yo Kang? Engkau jangan pergi terlalu lama. Bantulah Ayahmu mengurus perusahaan. Daripada Ayahmu memakai tenaga luar, memboroskan uang saja dan belum tentu orang luar dapat dipercaya..."Kakek itu berhenti bicara karena kalau dia bicara terlalu banyak napasnya menjadi terengah-engah.

"Tenangkan hatimu, Kong-kong. Saya akan membantu Ayah."

Kata Yo Kang danKakek itu mengangguk-angguk. Sementara itu, setelah menutup daun pintu kamar, Cui Hwa merangkul puterinya dan menangis.

"Ibu, mengapa Ibu menangis? Tidak senangkah Ibu melihat aku datang?"

"Ah, bukan begitu, Anakku. Aku merasa amat berbahagia melihat engkau datang, hanya tadi aku merasa khawatir sekali ketika Kakak Hang Tek bertanya tentang engkau. Aku menangis justeru karena lega dan bahagia. Eh, bagaimana Yo Kang dapat bercerita tentang Ayahmu?"

"Ibu, sebetulnya aku telah berterus terang kepada Yo-Twako tentang segalanya. Tentang Ayahku yang dulu membunuh suami Ibu yang pertama dan bahwa Ibu menikah dengannya karena tidak tahu bahwa Ong Tiang Houw adalah pembunuh Kwee Seng. Ibu, bahkan Yo-Twako tidak terlalu menyalahkan mendiang Ayah setelah kuceritakan bahwa Ayah mendendam sakit hati mendalam terhadap para bangsawan dan hartawan. Mendiang Ayah membunuh Kwee Seng bukan karena urusan pribadi dan Ayah telah menderita demikian hebatnya akibat perbuatannya itu. Yo-Twako amat bijaksana, Ibu."

"Ya, Ibu tahu akan hal itu. Bahkan Ibu juga dapat menduga dari sikap dan kata-katanya kalau kami bicara tentang In Hong, bahwa dia jatuh cinta kepada In Hong."

"Benar sekali, Ibu! Yo-Twako juga mengaku kepadaku bahwa dia mencinta Enci In Hong."

"Ah, semoga mereka dapat berjodoh."

Kata Yo Cui Hwa. Mereka lalu bercakap-cakap dan Lian Hong menceritakan semua kejadian yang menggegerkan dunia persilatan, tentang pembunuhan-pembunuhan yang dilakukan pembunuh misterius.

"Kebetulan sekali aku diutus Suhu Bu Kek Tianglo untuk mewakili Siauw-Lim-Pai melakukan penyelidikan, mencari dan menangkap pembunuh misterius itu. Kebetulan Yo-Twako juga mewakili Bu-Tong-Pai untuk menangkap pembunuh, maka kami dapat bekerja sama."

Yo Cui Hwa memegang tangan puterinya dan Lian Hong merasa betapa tangan ibunya dingin dan gemetar.

"Ah, Lian Hong, berhati-hatilah karena tugasmu itu berat sekali. Menghadapi pembunuh yang demikian kejinya melakukan banyak pembunuhan! Aih, aku hanya mempunyai dua orang anak, keduanya wanita, akan tetapi keduanya hidup sebagai pendekar-pendekar yang selalu berhadapan dengan bahaya!"

Lian Hong merangkul ibunya dan mengalihkan percakapan.

"Ibu, jangan khawatir. Aku telah mendapat bekal ilmu kepandaian yang cukup untuk membela diri. Ibu, apakah Enci In Hong belum datang menjenguk Ibu di sini?"

Yo Cui Hwa menghela napas panjang.

"Ah, itulah yang menyusahkan hatiku. Encimu sudah datang, belum lama ini, akan tetapi hatinya terlalu keras sehingga baru tiga hari saja di sini ia sudah marah-marah dan tidak betah karena mendapat omelan dariKakekmu. la lalu pergi, tidak dapat ditahan lagi, tidak memberi tahu ke mana perginya, hanya pamit kepadaku hendak merantau."

"Ibu, apakahKakek Yo itu orangnya galak?"

"Yah, memangKakekmu berwatak keras. Dahulu,Kakekmu hidup serba kekurangan, bahkan melarat sekali. Akan tetapi karena dia amat rajin, ulet, dan hidupnya amat hemat bahkan condong pelit, maka dia berhasil mengumpulkan kekayaan. Mungkin karena kepahitan hidup masa mudanya, maka dia takut kalau jatuh miskin lagi. Maka dia memaksa seluruh keluarganya untuk bekerja dengan rajin dan tidak membuang-buang uang. Maka dia dikenal sebagai orang yang pelit dan keras hati, suka mengomel kalau melihat anggauta keluarga menganggur."

"Pantas saja Enci In Hong tidak tahan tinggal di sini lebih lama. Aku sendiri pun tidak suka kalau diperintah dan dipaksa harus bekerja keras seperti seorang budak."

"Jangan khawatir, Lian Hong.Kakekmu sekarang sakit-sakitan sehingga hampir tidak pernah keluar dari kamarnya, hanya tiduran saja. Perusahaan dipimpin oleh Paman tuamu."

"Aku juga tidak akan lama tinggal di sini, Ibu."

"Aih, mengapa begitu?"

"Apakah Ibu lupa? Tadi sudah kuceritakan bahwa aku dan Yo-Twako mengemban tugas sebagai wakil dari Partai Persilatan kami masing-masing untuk menyelidiki dan mencari pembunuh misterius itu. Karena kami hanya mempunyai waktu terbatas, yaitu sampai sekitar dua setengah bulan lagi, gagal atau berhasil harus kembali ke Siauw-Lim-Pai, maka kami tidak dapat lama tinggal di sini."

Yo Cui Hwa menghela napas panjang.

"Ahh, nasib. Anakku hanya dua orang akan tetapi tidak dapat lama tinggal bersamaku. Akan tetapi aku rela, Lian Hong, hanya aku minta agar engkau berhati-hati menjaga dirimu. Aku hanya dapat berdoa di sini semoga engkau selalu dilindungi Thian dan melangkah di atas jalan kebenaran."

Setelah tiga hari berada di rumah keluarga Yo, Lian Hong dan Yo Kang melanjutkan perjalanan untuk melanjutkan penyelidikan mereka.

Keduanya sudah sepakat untuk lebih dulu menyelidiki keadaan Gan Bouw yang menjadi Ketua Thian-Te-Pang di kaki Beng-San atas usul Yo Kang yang merasa curiga dan tidak suka kepada Ketua Thian-Te-Pang itu.

Mereka melakukan perjalanan dengan menunggang kuda karena mereka harus bergerak cepat agar dapat menangkap atau setidaknya mengetahui siapa sesungguhnya pembunuh misterius itu.

Ketika Yo Kang dan Lian Hong sudah keluar dari See-Ciu dengan menunggang kuda, tiba-tiba Yo Kang memberi isarat kepada Lian Hong agar menghentikan kudanya.

"Ada apakah, Twako?"

"Siauw-moi, kupikir kalau kita pergi berdua, maka penyelidikian kita akan lambat sekali dan mungkin tidak akan sempat menyelidiki lima tersangka itu sebelum hari ulang tahun Siauw-Lim-Pai tiba. Sebaiknya kalau kita berpencar, setelah tiba di Beng-San. Engkau mencari Adik Kwee In Hong yang hendak mengunjungi Hek I Kaipang. Di sana engkau dapat minta keterangan kepada Ketua Hek I Kaipang, mungkin dia mengetahui ke mana perginya In Hong. Sedangkan aku akan menyelidiki Gan Bouw di Thian-Te-Pang. Hek I Kaipang berada di lereng Pegunungan Beng-San, sebelah timur sedangkan Thian-Te-Pang berada di kaki pegunungan itu, sebelah barat."

"Baiklah, Twako. Usulmu itu baik sekali."

Mereka melanjutkan perjalanan dengan cepat.

Beberapa hari kemudian mereka tiba di kaki Pegunungan Beng-San dan dari situ mereka berpencar, Berjanji untuk bertemu kembali di tempat perpisahan itu setelah masing-masing menyelesaikan tugas menyelidiki kedua perkumpulan itu.

Mereka menitipkan kuda mereka kepada seorang petani di dusun yang menjadi tempat mereka berpisah, lalu melanjutkan perjalanan dengan jalan kaki.

Mereka berpisah, Yo Kang menuju ke Thian-Te-Pang yang berada di kaki pegunungan sebelah barat, sedangkan Lian Hong menuju ke timur, mendaki lereng gunung, menuju perkampungan Hek I Kaipang.

Baru saja ia mendaki lereng terbawah, tiba-tiba dari tempat yang agak tinggi itu ia melihat dua orang sedang berjalan di kaki gunung dan mereka agaknya juga hendak mendaki lereng.

Cepat ia menyelinap ketika ia mengenal dua orang itu.

Seorang pemuda tampan dan seorang gadis cantik yang bukan lain adalah Si Han Lin dan Ang Hwa Niocu!

la masih ingat wajah Ang Hwa Niocu yang cantik dan setangkai bunga merah menghias rambutnya.

Mereka berjalan berdampingan sambil bercakap-cakap dan tertawa-tawa, tampak demikian gembira dan akrab.

Tiba-tiba saja Lian Hong merasa dadanya panas!

Entah mengapa, ia sendiri tidak tahu dan tidak menyadari, akan tetapi ia merasa tidak enak sekali melihat kedua orang itu bergaul demikian akrabnya.

Kecurigaannya kepada Si Han Lin semakin kuat, bahkan kini ia hampir yakin bahwa si pembunuh misterius itu pasti Si Han Lin, dan Ang Hwa Niocu adalah pembantunya!

Maka, dengan dada dan muka terasa panas, ketika dua orang itu tiba dekat, ia melompat keluar ke depan mereka.

Sinar mata Lian Hong mencorong ketika ia menatap kedua orang itu.

Dua orang di antara mereka yang dicurigai sebagai pelaku pembunuhan misterius!

Tak salah lagi, agaknya dua orang tersangka ini bekerja sama!

"Nona Ong Lian Hong...!"

Han Lin berseru sambil tersenyum gembira ketika melihat munculnya gadis yang pernah dia jumpai di taman Kuil Siauw-Lim-Si itu, gadis yang pernah mengikat kedua pergelangan tangannya dengan ujung sabuknya!

"Bagus, kalian kedua manusia busuk bertemu dengan aku!

Bersiaplah untuk menyerah atau mati...!"

Lian Hong mencabut sepasang pedangnya, siap menyerang mereka.

"Aih, bukankah Adik manis ini Adik dari Ong Teng San yang dua tahun lalu berjumpa denganku?"

Wanita cantik itu berseru.

"Huh, kalian adalah orang-orang jahat tak tahu malu. Kiranya kalian inilah yang menjadi pelaku pembunuhan-pembunuhan terhadap para murid Bu-Tong-Pai, Kun-Lun-Pai dan Go-Bi-Pai, dan menyamar sebagai orang Siauw-Lim-Pai untuk mengadu domba!"

"Eiit! Nanti dulu, Nona Ong! Jangan sembarangan menuduh!"

Han Lin berseru.

"Aku tidak menuduh sembarangan! Engkau datang ke Siauw-Lim-Pai, membikin ribut dan katanya hendak menghadap Suhu Bu Kek Tianglo lalu tiba-tiba menghilang! Kiranya engkau hanya ingin menyelidiki keadaan Siauw-Lim-Pai, bukan? Dan perempuan ini, ia dulu menggoda Kakakku dan kini bergaul akrab denganmu. Mudah saja diduga, kalian yang berkomplot untuk memburukkan nama Siauw-Lim-Pai dengan semua pembunuh itu! Haiiiittt...!"

Tanpa memberi kesempatan untuk menjawab tuduhannya, Lian Hong sudah menerjang maju dan menyerang dengan Lo-Hai Siang-Kiam (Sepasang Pedang Pengacau Lautan).

"Sing-sing...!"

Han Lin terkejut bukan main.

Serangan sepasang pedang itu memang dahsyat sekali, bagaikan dua kilat halilintar menyambar.

Dia harus bergerak cepat ke belakang untuk menghindarkan diri dari sambaran sepasang pedang itu.

"Nanti dulu, Nona"

"Tidak usah banyak cakap dan mampuslah!"

Lian Hong membentak dan menyerang Iebih hebat lagi.

Pedang di kedua tangannya itu menjadi dua gulungan sinar yang menyambar-nyambar ganas.

Han Lin mengelak, berloncatan ke sana sini untuk mengelak dari semua serangan itu.

Dia harus mengerahkan seluruh ginkang (ilmu meringankan tubuh) untuk dapat menghindarkan diri.

Beberapa kali dia berseru agar Lian Hong mendengar kata-katanya, namun Lian Hong yang sudah yakin berhadapan dengan pembunuh misterius, atau juga karena hatinya panas melihat keakraban antara Han Lin dan Ang Hwa Niocu, tidak menghiraukan dan memperhebat serangannya.

Ia hanya merasa heran mengapa pemuda itu sama sekali tidak membalas serangannya, hanya mengandalkan keringanan tubuh dan kelincahannya untuk selalu mengelak.

Ia merasa penasaran sekali.

Bagaimana mungkin ia yang mainkan jurus-jurus terampuh dari Lo-Hai Siang-Kiam itu sampai hampir tiga puluh jurus belum juga dapat mengenai tubuh lawannya?

Ini memalukan sekali, dapat menimbulkan kesan seolah-olah ilmu pedangnya itu tingkatnya rendah saja!

Karena penasaran, ia menyimpan pedang kirinya dan menyerang dengan pedang kanan secara bertubi-tubi, kemudian tiba-tiba tangan kirinya memukul dengan ilmu silat Tat-Mo Sin-Kun dengan pengerahan tenaga sakti I-Kin-Keng.

"Syuutt... dessss...!!"

Pukulan dengan telapak tangan kiri itu mengenai dada Han Lin dan pemuda itu terjengkang roboh dan tidak bergerak lagi.

Pingsan!

"Gadis tak tahu diri, kejam dan tidak mengenal budi!

Tak tahukah engkau, atau pura-pura tidak tahu bahwa Si Han Lin sengaja mengalah padamu?

Kalau dia melawan, engkau tidak akan mampu mengalahkannya!

Engkau seperti buta, tidak melihat betapa dia mencintamu!"

Ang Hwa Niocu membentak dengan marah.

"Bohong...!"

Lian Hong berseru.

"Dia sendiri yang bercerita kepadaku bahwa dia mencinta seorang gadis murid Siauw-Lim-Pai yang namanya Ong Lian Hong. Dia mencintamu seperti juga aku mencinta Ong Teng San, Kakakmu! Kalian, Ong Teng San dan engkau, merupakan orang-orang yang tidak tahu dicinta orang, malah membalas dengan kejam! Katakan di mana Teng San sekarang, aku mau melaporkan kekejamanmu terhadap Si Han Lin."

Lian Hong tertegun mendengar ucapan Ang Hwa Niocu sehingga seperti orang bingung ia berkata.

"Kakak Ong Teng San telah meninggal dunia."

"Ahh! Apa...?"

Wajah Ang Hwa Niocu pucat sekali, matanya terbelalak, lalu ia tersedu-sedu, menutupkan kedua tangan depan mukanya lalu ia berlari pergi sambil menangis dan terdengar keluhnya.

"Dia mati... ohh, dia mati...!"

Melihat ini, Lian Hong tertegun dan menjadi bingung.

Ia memandang kepada Si Han Lin yang tergeletak di atas tanah, telentang dan wajahnya yang tampan itu tampak pucat, pernapasannya lemah sekali hampir tidak kentara, seperti orang mati!

Tiba-tiba ia merasa khawatir.

Benarkah ia telah salah sangka?

Benarkah pemuda itu mencintanya?

Ia membunuh orang yang tidak berdosa dan bahkan yang mencintanya?

Tubuhnya gemetar, lalu tanpa ia ketahui mengapa, tanpa disadarinya, ia melangkah maju sambil menyimpan pedangnya, kakinya lemas dan ia berlutut di dekat Han Lin.

Dirabanya dada pemuda itu dan ia merasa agak lega.

Pemuda itu tidak mati dan ternyata pukulannya yang hebat tadi tidak merusak isi dadanya, hanya menimbulkan guncangan yang membuat pemuda itu pingsan.

Ini menunjukkan bahwa pemuda itu memiliki tenaga sinkang yang amat kuat sehingga mampu menahan gempuran pukulan dengan tenaga I-Kin-Keng.

Ilmu-ilmu dari Ta Mo Couwsu adalah ilmu yang bersih, yang sifatnya sebetulnya hanya untuk bertahan dan membela diri, karena itu ilmu Siauw-Lim-Pai tidak mengandung unsur membunuh, hanya mengalahkan atau merobohkan lawan.

Entah mengapa, melihat wajah yang tampan gagah, manis dengan kulit agak gelap itu, Lian Hong merasa iba yang mendalam mengusik hatinya.

Pemuda seperti ini tidak mungkin jahat, demikian suara hatinya, walaupun kalau tidak sedang pingsan, sikapnya agak ugal-ugalan dan suka berkelakar.

Dengan jari-jari tangan gemetar, Lian Hong membuka kancing baju pemuda itu sehingga dadanya tampak telanjang.

Ada bekas telapak tangannya membiru di dada yang bidang itu.

Ia lalu menempelkan dua telapak tangannya ke dada Han Lin sambil duduk bersila, lalu mengerahkan tenaga I-Kin-Keng dengan lembut untuk memulihkan guncangan pukulannya tadi.

Cukup lama ia berusaha memulihkan kesehatan Han Lin, sampai akhirnya ia merasa betapa pernapasan pemuda itu mulai panjang dan normal, juga wajahnya tidak pucat lagi, tanda telapak hitam di dadanya juga menghilang.

Akan tetapi pemuda itu tetap memejamkan kedua mata, masih pingsan!

Lian Hong mulai khawatir, apalagi ketika tiba-tiba pemuda itu mengeluh "Aduhh...!"

Dan pernapasannya terhenti!

Pemuda itu mendadak menjadi pucat dan ketika ia memeriksa denyut nadinya, tidak ada denyut, juga urat di lehernya tidak berdenyut, seolah jantungnya berhenti bekerja!

Pemuda itu mati!

Lian Hong kebingungan.

Jari-jari tangannya meraba sana sini, mengurut sana-sini dan melihat pemuda itu sama sekali tidak bernapas, ia teringat akan pelajaran untuk membantu pernapasan kepada seorang yang paru-parunya sudah tidak berjalan.

Pertolongan terakhir untuk mencegah paru-paru itu terhenti sama sekali sehingga orangnya pasti akan mati!

Ia melupakan segalanya, mengangkat leher pemuda itu sehingga kepalanya terkulai ke belakang, kemudian tanpa ragu lagi ia menggunakan tangan kiri menutup hidung pemuda itu dan menempelkan mulutnya pada mulut Han Lin yang ia ngangakan lalu meniup sekuatnya!

Dada itu bergerak menggembung ketika ia meniup, akan tetapi ketika ia melepaskan mulutnya, hawa itu keluar lagi dan dada mengempis lagi, tetap tidak bernapas.

Ia mengulang sampai lima kali dan jari-jari tangannya menotok jalan-jalan darah terpenting.

"Hai... ih-ih... geli...!"

Tiba-tiba Si Han Lin terkekeh dan membuka matanya.

"Ihh...??"

Lian Hong melompat ke belakang dan bangkit berdiri, memandang kepada pemuda itu dengan mata terbelalak.

"Kau... kau... tidak apa-apa?"

Han Lin bangkit duduk dan memandang gadis itu sambil tersenyum gembira.

"Aku sekarang sehat dan selamat!"

Wajah Lian Hong berubah merah dan matanya bersinar marah.

"Kau... kau... tadi hanya pura-pura pingsan...?!"

"Aih, siapa pura-pura, Nona. Pukulanmu tadi dahsyat bukan main, kalau aku dapat hidup sampai sekarang, itu hanya berkat pertolonganmu. Engkau adalah bidadari penyelamat nyawaku, Nona."

Lian Hong mencengkeram lengan kanan pemuda itu dan membentak dengan galak.

"Hayo mengaku, apakah engkau sadar dan mengetahui ketika aku... mengobatimu tadi?!?"

Han Lin menyeringai kesakitan.

"Aduh, jangan hancurkan lenganku, Nona. Bagaimana aku dapat mengetahui? Aku tadi terpukul olehmu dan tidak ingat apa-apa lagi, semua gelap gulita bagiku. Agaknya aku tadi sudah dalam perjalanan menuju ke... sorga ketika tiba-tiba aku merasa dadaku geli seperti digelitik. Aku membuka mata dan melihat engkau menotok dan mengurut dadaku yang sudah tidak berbaju lagi."

Lian Hong melepaskan cengkeramannya.

"Jadi engkau tidak melihat ketika aku... eh, mengobatimu tadi?"

Han Lin tersenyum.

"Aih, bagaimana aku dapat melihat? Kedua mataku terpejam, tidak melihat apa-apa, hanya gelap gulita dan aku sedang melayang ke arah sorga!"

"Huh, manusia seperti engkau ini mana mungkin kalau mati ke sorga? Paling-paling ke neraka yang paling bawah!"

Kata Lian Hong cemberut. Han Lin membelalakkan matanya.

"Wah, jangan begitu, Nona! Apa sih dosaku maka aku harus ke neraka?"

"Hemm, engkau orang tidak mengenal budi! Susah payah aku menyelamatkan nyawamu dan apa balasannya? Engkau malah bicara main-main denganku. Huh, menyebalkan!"

Mendengar ini, Han Lin cepat menyambar bajunya, memakainya lalu bangkit berdiri dan mengangkat kedua tangan depan dada, membungkuk sampai dalam sekali kepada Lian Hong dan berkata dengan suara bernada serius.

"Ah, sungguh aku manusia tak tahu diri, tak mengenal budi. Nona Ong Lian Hong, aku Si Han Lin menghaturkan banyak terima kasih atas pertolongamu yang telah menyelamatkan nyawaku dari cengkeraman maut. Budi kebaikanmu itu akan kujunjung tinggi selamanya, tidak akan pernah kulupakan sepanjang hidupku!"

Kemarahan Lian Hong mereda.

Hatinya merasa lega karena agaknya pemuda itu tadi benar-benar dalam keadaan pingsan ketika ia terpaksa meniupkan napas dari mulut ke mulut untuk membantu paru-paru pemuda itu bekerja kembali.

Kalau ada orang mengetahuinya, atau kalau pemuda itu mengetahuinya, alangkah akan malunya.

"Sudahlah, jangan berlebihan. Aku tidak menolongmu, melainkan menebus kesalahanku karena aku yang memukulmu sehingga engkau jatuh pingsan dan hampir mati."

"Akan tetapi aku masih tidak mengerti, Nona Ong Lian Hong..."

"Engkau mengenal namaku?"

"Tentu saja, ketika berada di Siauw-Lim-Pai aku bertanya-tanya. Aku tidak mengerti mengapa engkau begitu benci kepada aku dan kepada Ang Hwa Niocu? Apakah kesalahanku dan Suciku (Kakak Perempuan Seperguruanku)?"

"Apa? la itu Suci mu?"

Hong heran.

"Benar, ia lebih dulu menjadi murid Suhu Thian Beng Siansu di Himalaya. Ketika aku diterima menjadi murid. Suhu, ia sudah berada di sana. Kemudian la pergi ke Kun-Lun-San dan menjadi murid Siang-Te Lokai yang mengajarnya secara sembunyi karenaKakek aneh itu tidak mau ada orang lain mengetahui bahwa ia mempunyai murid seorang puteri Bhutan."

"Ahh? Jadi Ang Hwa Niocu itu puteri Bhutan?"

"Benar, Nona. la adalah Puteri Naromi, puteri dari Raja Bhutan, dan ia seperti Kakakku sendiri."

Lian Hong baru mengerti mengapa pemuda itu tampak akrab sekali dengan Ang Hwa Niocu.

Kiranya mereka adalah Kakak-Adik seperguruan!

"Hemm terus terang saja aku tadi menyerang kalian karena aku mencurigai kalian sebagai pembunuh-pembunuh misterius yang sedang kuselidiki dan kucari!"

"Ah, pembunuh yang membunuhi orang-orang Bu-Tong-Pai, Kun-Lun-Pai, Go-Bi-Pai dan yang lain-lain itu?"

"Engkau sudah tahu?"

"Tentu saja, siapa yang tidak tahu? Peristiwa yang menggegerkan dunia kang-ouw itu sudah tersiar luas. Tapi, sungguh aneh sekali. Mengapa engkau menuduh aku dan Ang Hwa Niocu yang melakukan pembunuhan-pembunuhan itu, Nona?"

"Hemm, pembunuh misterius itu menyamar sebagai orang Siauw-Lim-Pai dan membunuh dengan menggunakan ilmu-ilmu Siauw-Lim-Pai. Engkau adalah murid Thian Beng Siansu yang masih sute dari Suhu Bu Kek Tianglo, tentu engkau menguasai ilmu-ilmu Siauw-Lim-Pai pula. Dan sikapmu mencurigakan, engkau datang ke Siauw-Lim-Pai, membuat kacau dan sebelum bertemu dengan Suhu, engkau menghilang begitu saja! Dan aku mencurigai Ang Hwa Niocu karena dulu pernah ia mencoba untuk merayu Kakakku, lalu aku melihat ia bersamamu!"

"Wah, engkau salah sangka sama sekali, Nona. Kecurigaanmu itu dapat dijelaskan. Kalau aku dulu meninggalkan Siauw-Lim-Pai tanpa diketahui orang, karena aku tidak suka melihat sikap para Hwesio di Siauw-Lim-Pai begitu keras dan galak. Nah, kecurigaanmu kepadaku tidak betul, bukan? Dan kecurigaanmu kepada Ang Hwa Niocu juga tidak tepat, Nona. Suciku telah menceritakan perasaannya terhadap Ong Teng San, Kakakmu. Suci Ang Hwa Niocu benar-benar jatuh cinta kepada Kakakmu itu. Ketahuilah, bagi seorang gadis Bhutan, apalagi ia seorang puteri, bukan merupakan hal aneh kalau seorang gadis menyatakan cintanya kepada seorang pemuda secara terbuka dan terang-terangan, bukan seperti gadis bangsa kita yang malu-malu tapi mau! Ang Hwa Niocu benar-benar mencinta Kakakmu dengan sungguh-sungguh, bahkan sampai sekarang ia masih mencintai Ong Teng San. Baru saja ia mengatakannya kepadaku. Eh, baru aku ingat... ke mana perginya?"

Diam-diam Lian Hong merasa terharu. Ia menghela napas panjang, lalu menjawab.

"Ia... ia tadi melarikan diri sambil menangis..."

"Eh? la melarikan diri? Sambil menangis pula? Aneh sekali. Tidak biasa ia melarikan diri, apalagi sampai menangis."

"Aku ceritakan kepadanya bahwa Kakak Ong Teng San telah meninggal dunia."

"Ah, kasihan Suci...!"

Han Lin berkata dan Lian Hong ikut merasa iba kepada Puteri Bhutan itu.

Kemudian ia teringat akan kata-kata Ang Hwa Niocu setelah ia memukul pingsan Han Lin tadi bahwa pemuda itu sengaja mengalah kepadanya karena pemuda itu mengaku kepada Sucinya bahwa dia mencintanya!

Dan kini ia teringat betapa tadi memang Han Lin sama sekali tidak pernah membalas serangannya.

Padahal ia tahu benar betapa lihainya pemuda itu ketika dulu berkunjung ke Siauw-Lim-Pai!

"Ahhhh..."

Ia mengeluh.

"Kenapa, Nona?"

"Ti... tidak apa-a... aku hanya merasa menyesal telah salah sangka terhadap Ang Hwa Niocu..."

"Dan kepadaku, bagaimana, Nona?"

"Kepadamu juga... ah, aku tidak tahu...!"

"Nona Ong Lian Hong, aku berterima kasih sekali akan kebaikan hatimu. Engkau seorang gadis yang amat mulia, dan aku akan merasa bahagia sekali kalau kita dapat... bersahabat!"

"Aku... aku tidak tahu, aku harus melaksanakan tugasku. Sudah, aku akan melanjutkan penyelidikanku ke perkampungan Hek I Kaipang!"

"Biar aku ikut dan membantumu!"

"Tidak jangan! Aku akan menyelidiki sendiri..."

"Tunggu! Nona, bolehkah aku menyebutmu Adik?"

Lian Hong menahan langkahnya.

"Hemm... boleh saja. Mengapa tidak?"

"Terima kasih, Adik Ong Lian Hong, terima kasih! Sekarang perkenankan Kakakmu ini membantu Adiknya melakukan penyelidikan!"

"Kalau itu, tidak, Si Twako (Kakak Si). Aku harus menaati perintah Suhu. Selamat tinggal!"

Setelah berkata demikian, Lian Hong meloncat jauh ke depan lalu berlari cepat.

Hatinya tidak karuan rasanya, bimbang dan senang bercampur aduk.

la senang telah berbaik dengan pemuda yang sejak pertemuan di Siauw-Lim-Pai telah menarik hatinya, akan tetapi juga bimbang.

Apakah Si Han Lin hanya berpura-pura?

Benarkah pemuda itu mencintanya seperti yang dikatakan Ang Hwa Niocu?

Memang hal itu telah dibuktikan dengan mengalah terhadapnya, bahkan membiarkan dirinya terpukul dan terluka sampai pingsan.

Akan tetapi ia harus berhati-hati karena selama pembunuh misterius itu belum dipegang, ia harus meragukan semua orang yang sekiranya mampu melakukan pembunuhan itu!

Yo Kang menuju ke perkampungan Thian-Te-Pang.

Dia berpikir tentang Gan Bouw atau Gan Pangcu, Ketua Thian-Te-Pang yang baru.

Seorang pemuda yang lihai sekali.

Dia mengenang dan membayangkan semua yang dia alami ketika bertemu Gan Bouw.

Ketika itu, dia sedang berkunjung ke Siauw-Lim-Pai bertemu dengan Ceng Seng Hwesio.

Keduanya menuju Siauw-Lim-Pai dan di tengah jalan mereka dihadang oleh Tung Giam-Lo-Ong dan See Te-Tok yang membawa pasukan Mongol.

Mereka berdua terancam bahaya maut dan muncullah Gan Bouw membantu mereka sehingga dua orang Datuk Besar dan pasukannya dapat diusir pergi.

Gan Bouw bercerita bahwa sebagai Ketua baru Thian-Te-Pang dia hendak memperkenalkan diri kepada para pimpinan Siauw-Lim-Pai dan partai-partai lain, akan tetapi setelah bertemu dengan Ceng Seng Hwesio dan Yo Kang, dia tidak jadi menghadap Bu Kek Tianglo dan Ketua Bu-Tong-Pai, hanya minta kepada Ceng Seng Hwesio dan Yo Kang untuk menyampaikan kepada Ketua masing-masing.

Kemudian dia mendengar pula dari Wu Wi Thaisu bahwa dua orang tokoh Kun-Lun-Pai dan Go-Bi-Pai, yaitu Im Yang Siang To-jin dan Wu Wi Thaisu, juga diserang oleh dua orang Datuk Besar yang lain, yaitu Pak Lo-Kui dan Lam Sian, juga dibantu pasukan Mongol.

Dan kembali muncul Gan Bouw secara tak diduga-duga dan pemuda ini membantu mereka mengusir dua orang Datuk Besar dan pasukan Mongol!

Sungguh luar biasa!

Apakah ini hanya kebetulan saja, ataukah memang sudah diatur?

Kecurigaannya terhadap Gan Bouw semakin kuat dan dia mempercepat larinya menuju perkampungan Thian-Te-Pang.

Akan tetapi ketika dia tiba di depan perkampungan Thian-Te-Pang, dia berhenti dan terbelalak memandang ke arah perkampungan itu.

Di depan pintu gerbang itu masih tergantung papan dengan tulisan "THIAN TE PANG", akan tetapi hanya pintu gerbang dan papan nama itu yang masih utuh.

Di sebelah dalam, perkampungan itu telah menjadi puing, bekas terbakar habis!

Bahkan di sana-sini masih ada asap mengepul dari tumpukan puing dan abu.

Ini menandakan bahwa pembakaran perkampungan itu terjadi belum lama.

Mungkin baru kemarin!

Yo Kang menoleh ke kanan kiri dan tak jauh dari situ dia melihat sebuah bangunan kecil terbuat dari kayu bambu, agak merupakan bangunan darurat yang baru saja dibangun.

Cepat ia berlari menghampiri rumah itu.

Begitu dia tiba di depan rumah itu, empat sosok bayangan berkelebat keluar dari dalam bangunan itu.

Mereka adalah empat orang yang bertubuh tinggi besar dan dari gerakan mereka tahulah Yo Kang bahwa mereka adalah orang-orang yang memiliki ilmu silat tinggi.

Empat orang itu menghadapi Yo Kang dengan pandang mata penuh selidik.

Akan tetapi agaknya mereka lebih tenang ketika melihat bahwa Yo Kang datang seorang diri dan sikapnya tidak bermusuhan.

Seorang dari mereka lalu bertanya dengan sikap hati-hati.

"Sobat, siapakah engkau dan ada keperluan apa datang ke sini?"

"Apakah yang telah terjadi dengan Thian-Te-Pang? Di mana adanya Ketua Thian-Te-Pang Gan Bouw? Aku mengenal Gan Bouw Pangcu..."

Tiba-tiba dari dalam pondok sederhana itu terdengar suara lemah.

"Bukankah itu suara Bu-Tong Sin-To Yo Kang?"

Suara itu lemah dan agak gemetar.

"Kalau betul, silakan dia masuk..."

Penanya tadi kini bertanya lagi.

"Benarkah engkau yang bernama Bu-Tong Sin-To Yo Kang? Kalau betul silakan masuk."

Yo Kang mengangguk.

"Benar, aku Yo Kang dan aku mengenal suara Gan Pangcu tadi. Dia kenapakah?"

"Silakan Sicu (Orang Gagah) masuk dan bicara sendiri dengan Pangcu."

Yo Kang memasuki pondok itu dan dia melihat Gan Bouw berbaring telentang di atas sebuah pembaringan.

Wajah Ketua Thian-Te-Pang itu tampak pucat dan napasnya terengah-engah.

Dilihat begitu saja mudah diketahui bahwa Gan Bouw sedang sakit dan agaknya sakitnya parah.

"Silakan duduk, Yo-Taihiap (Pendekar Yo)..."

Katanya lirih.

"Terima kasih, Gan Pangcu."

Yo Kang duduk di atas sebuah bangku tak jauh dari pembaringan.

"Pangcu, apakah yang telah terjadi? Aku melihat perkampungan Thian-Te-Pang musnah terbakar, dan engkau sendiri seperti sakit! Apa yang telah terjadi?"

Gan Bouw menghela napas panjang.

"Aih... malapetaka besar menimpa kami, Taihiap. Karena aku pernah membantu para tokoh Siauw-Lim-Pai, Bu-Tong-Pai, Kun-Lun-Pai, dan Go-Bi-Pai ketika diserang para Datuk Besar, kemarin Empat Datuk Besar membawa pasukan yang besar menyerang kami. Semua anak buah Thian-Te-Pang melawan namun tidak dapat menandingi jumlah yang banyak. Mereka tewas dan hanya sekitar sepuluh orang saja selamat. Setelah perkampungan dibumi-hanguskan dan mereka pergi, aku sendiri terluka parah karena melawan Empat Datuk Besar. Mereka itu kejam sekali, aku... aku dipukul sehingga menderita luka dalam dan kedua kakiku menjadi lumpuh..."

"Ah, aku ikut berduka, Pangcu. Sayang aku datang terlambat, kalau kemarin aku datang, tentu dapat membantumu."

"Jangan sebut aku Pangcu lagi, Taihiap. Sisa anak buah Thian-Te-Pang, setelah mengubur semua mayat, kusuruh pergi dan Thian-Te-Pang tidak ada lagi. Hanya tinggal empat orang pembantuku itu yang melayaniku..."

Yo Kang merasa kecelik.

Bagaimana dia pernah mencurigai Gan Bouw sebagai pembunuh misterius itu?

Ternyata Gan Bouw malah menjadi korban kejahatan Empat Datuk Besar yang jelas menjadi antek Kerajaan Mongol karena Gan Bouw pernah membela tokoh-tokoh Empat Partai Persilatan Besar yang dimusuhi Kerajaan Mongol.

Kini, bukan saja perkumpulan yang dipimpinnya, Thian-Te-Pang, dimusnahkan musuh, juga Gan Bouw sendiri menderita luka parah sehingga kedua kakinya lumpuh!

Untuk membalas kebaikan Gan Bouw yang pernah membantu dia dan Ceng Seng Hwesio ketika mereka dikeroyok Dua Datuk Besar dan pasukan Mongol, juga sekalian untuk menyelidiki apakah benar-benar Gan Bouw terluka dan lumpuh sehingga tidak pantas dicurigai sebagai pembunuh misterius, Yo Kang bangkit dari kursinya lalu menghampiri pembaringan.

"Gan Pangcu, mari, biarkan aku memeriksa keadaanmu. Siapa tahu aku dapat membantu meringankan penderitaanmu."

"Silakan, Yo-Taihiap, sungguhpun aku menyangsikannya karena pukulan-pukulan yang kuterima amat dahsyat..."

Yo Kang memeriksa denyut nadi untuk memastikan detak jantung Gan Bouw dan dia terkejut.

Detak jantungnya kacau tidak karuan, sebentar cepat dan terkadang lambat sekali.

Tubuhnya terasa panas dan ketika kedua tangannya memijit bagian kaki, dia mendapatkan bahwa jalan darah di bagian kedua kaki itu seperti berhenti atau lemah sekali.

Tidak aneh kalau kedua kaki itu menjadi lumpuh!

Dia mencoba untuk menotok pusat-pusat jalan darah, namun tidak ada hasilnya.

Keadaan jalan darah tubuh Gan Bouw sudah rusak dan kacau oleh pukulan yang benar-benar aneh, asing, dan tidak dapat dipulihkan dengan totokan dan pijatan cara Bu-Tong-Pai!

Akhirnya Yo Kang yakin bahwa Gan Bouw benar-benar telah menjadi lumpuh tak berdaya.

Jelas bahwa orang ini sama sekali bukan si pembunuh misterius!

Dia menghentikan usahanya, menghela napas dan berkata dengan nada menyesal.

"Ah, maafkan aku, Gan Pangcu. Lukamu amat berat dan aku yang bodoh tidak mampu mengobatinya. Silakan Pangcu datang ke Siauw-Lim-Pai, mungkin Bu Kek Tianglo Lo-Cianpwe mampu mengobatinya. Pengobatan Siauw-Lim-Pai biasanya yang paling ampuh untuk menyembuhkan luka akibat pukulan beracun."

"Terima kasih, Yo-Taihiap. Biarlah, aku akan berusaha mencari tabib yang pandai untuk menyembuhkan kedua kakiku yang lumpuh. Sementara ini aku ingin beristirahat di sini untuk menenteramkan hatiku. Akan tetapi, bagaimanapun juga, aku menghaturkan banyak terima kasih atas kebaikan hatimu, Yo-Taihiap."

Yo Kang merasa malu dan menyesal sekali bahwa dia pernah mencurigai pemuda yang amat baik ini sebagai si pembunuh misterius!

Dia teringat akan Lian Hong, lalu berpamit dari Gan Bouw dan empat orang pembantunya yang setia.

Yo Kang ingin tahu bagaimana hasil penyelidikan Lian Hong ke Hek I Kaipang untuk mencari tahu perihal Kwee In Hong yang termasuk dalam daftar orang-orang yang tersangka sebagai si pembunuh misterius.

Hek I Kaipang sendiri tentu saja tidak mungkin dia curigai, karena Hek I Kaipang sudah jelas menjadi korban kematian tiga puluh orang anggautanya di cabang perkumpulan pengemis itu di An-Hui.

Dia pun ingin menceritakan kepada Lian Hong betapa kecurigaannya terhadap Gan Bouw ternyata keliru dan pemuda yang malang itu dapat dihapus dari daftar orang-orang tersangka.

Tidak sukar bagi Lian Hong untuk menemukan perkampungan Hek I Kaipang.

Dari jauh saja sudah tampak perkampungan di lereng gunung itu.

Sebuah perkampungan yang dikelilingi pagar bambu runcing dan di sekitar situ tampak orang-orang yang berpakaian serba hitam penuh tambalan.

Pakaian pengemis, namun orang-orang itu sama sekali bukan tampak sebagai pengemis-pengemis yang tua dan lemah, melainkan orang-orang yang bertubuh sehat dan kekar, membayangkan tubuh orang-orang yang ahli silat.

Memang sebetulnya para anggauta Hek I Kaipang bukanlah pengemis-pengemis biasa.

Mereka mengemis hanya untuk menjadi tanda anggauta perkumpulan mereka.

Hek I Kaipang terkenal sebagai perkumpulan orang-orang yang selalu menentang kejahatan, bahkan juga diam-diam menentang penjajahan Mongol.

Ketika Lian Hong tiba di depan pintu gerbang, lima, orang anggauta perkumpulan itu yang sedang bertugas jaga di pintu gerbang, segera menyambutnya.

Seorang di antara mereka, yang berusia sekitar empat puluh lima tahun, berjenggot lebat dan bermata tajam, segera bertanya.

"Siapakah Nona dan apakah Nona mempunyai keperluan dengan perkumpulan kami?"

Lian Hong senang melihat sikap mereka itu sopan dan ramah, tidak kasar atau ugal-ugalan seperti kebanyakan anggauta perkumpulan lain.

"Paman, aku Ong Lian Hong. Aku ingin bertemu dengan Ketua kalian, Pat-Jiu Sin-Kai untuk menanyakan tentang Kakakku yang bernama Kwee In Hong, yang dulu pernah datang ke sini."

"Kwee In Hong...?"

Pengemis berjenggot lebat itu mengerutkan alisnya.

"Ah, maksud Nona Sian-Li Eng-Cu (Si Bayangan Bidadari)? Benar, ia pernah menjadi tamu Pangcu (Ketua). Silakan, Nona. Mari kuantar Nona menghadap."

Lian Hong lalu mengikuti pengemis berjenggot lebat itu memasuki perkampungan Hek I Kaipang.

Ia melihat keadaan dalam perkampungan itu dengan heran dan kagum.

Biarpun para anggauta itu mengenakan pakaian hitam tambal-tambalan, namun dalam kampung itu tampak rapi dan bersih.

Pondok-pondoknya juga lumayan bersih dan teratur, sama sekali tidak seperti perkampungan kumuh seperti yang biasa menjadi tempat tinggal para pengemis dan gelandangan.

Dan ternyata perkampungan itu luas sekali, di bagian belakangnya terdapat bagian lereng atas yang dijadikan semacam kebun sayur.

Pengemis berjenggot lebat itu membawa Lian Hong memasuki sebuah bangunan induk yang berada di bagian belakang perkampungan dan itulah tempat tinggal Sang Ketua.

Pat-Jiu Sin-Kai duduk di ruangan depan yang luas.

Dia juga berpakaian hitam-hitam akan tetapi tanpa tambalan dan di atas meja di depannya terdapat sebatang tongkat hitam.

Jenggot dan kumisnya sudah putih semua dan karena kumis dan jenggot itu lebat, maka sebagian mukanya tertutup rambut putih.

Matanya bersinar tajam danKakek ini berusia sekitar enam puluh lima tahun.

Ketika mendengar langkah Si pengemis jenggot lebat dan Lian Hong, dia mengangkat mukanya memandang dan tampak heran.

"Lapor, Pangcu. Nona ini bernama Ong Lian Hong dan ia datang untuk bertanya kepada Pangcu tentang Nona Kwee In Hong."

"Ah, silakan masuk, Nona Ong Lian Hong."

Terdengar Ketua Hek I Kaipang itu menyambut dengan ramah sambil berdiri dan mem persilakan Lian Hong yang sudah masuk itu untuk duduk.

Sementara itu, pengemis berjenggot lebat itu sudah memberi hormat dan keluar lagi, meninggalkan Lian Hong yang berada di ruangan itu berdua saja dengan Pat-Jiu Sin-Kai.

"Apakah aku berhadapan dengan Pat-Jiu Sin-Kai, Ketua dari Hek I Kaipang?"

Tanya gadis itu.Kakek itu tersenyum dan mengangguk.

"Benar, Nona. Apa yang dapat kami lakukan untuk membantumu?"

Tanyanya dengan ramah sekali. Lian Hong merasa senang dan langsung percaya kepadaKakek yang bicaranya lembut, sopan dan sikapnya ramah itu.

"Begini, Pangcu, aku hendak mencari keterangan tentang Nona Kwee In Hong. Bukankah ia belum lama ini datang ke sini untuk membicarakan urusan Hek I Kaipang dan Bu-Tong-Pai?"

"Benar, Nona. Urusan antara Hek I Kaipang dan Bu-Tong-Pai sudah kami selesaikan. Nona Kwee In Hong berjasa besar untuk perdamaian antara Bu-Tong-Pai dengan kami."

"Yang ingin kuketahui, Pangcu, setelah dari sini, ke manakah ia pergi? Aku ingin sekali menemuinya. Apakah Pangcu mengetahui ke mana ia pergi?"

"Nanti dulu, Nona Ong, terus terang saja, kami sudah berjanji untuk merahasiakan di mana adanya Nona Kwee In Hong. Akan tetapi kalau Nona mau menceritakan, apa urusan Nona dengannya, mungkin kami dapat memberitahu." (Lanjut ke

Jilid 20) Bayangan Bidadari/Sian Li Eng Cu (Cerita Lepas) Karya. Asmaraman S. Kho Ping Hoo

Jilid 20 Lian Hong berpikir sejenak.

Ketua Hek I Kaipang ini jelas bukan termasuk orang yang dicurigai, maka tidak ada salahnya mengaku apa tugas dan keperluannya.

Apalagi, tampaknya semakin mencurigakan keadaan Kwee In Hong yang agaknya sengaja bersembunyi dan Kakek ini mengetahui tempat persembunyiannya!

"Begini, Pangcu.

Tentu Pangcu sudah mendengar akan kekacauan yang terjadi karena adanya pembunuh misterius yang membunuhi para anggauta Bu-Tong-Pai, Kun-Lun-Pai, dan Go-Bi-Pai."

Kakek itu mengangguk-angguk.

"Tentu saja kami telah mendengarnya, Nona. Berita itu telah tersiar luas dan kabarnya, pembunuh itu adalah murid Siauw-Lim-Pai yang lihai sekali."

"Hemm, agaknya tidak mungkin kalau murid melakukan pembunuhan itu, Pangcu. Karena itu aku, seorang murid Siauw-Lim-Pai, menerima perintah dari Suhu Bu Kek Tianglo untuk menyelidiki peristiwa ini, mencari dan menangkap pembunuhnya. Aku mencurigai beberapa orang dan aku ingin sekali bertemu Kwee In Hong untuk menanyakan banyak hal kepadanya. Nah, Pangcu tahu betapa pentingnya ini, maka harap suka memberitahu kepadaku, di mana adanya Kwee In Hong?"

Pat-Jiu Sin-Kai Gu Liat menggerakkan alisnya yang putih dan memandang heran.

"Jadi Nona Ong Lian Hong ini murid Ciangbunjin (Pimpinan) Bu Kek Tianglo sendiri? Bukan main! Kalau begini engkau yang masih muda remaja begini, telah memiliki tingkat yang tinggi sekali, Nona! Terimalah hormat kami!"

Kakek itu bangkit berdiri dan ketika Lian Hong juga bangkit berdiri, dia menangkap kedua tangan depan dada lalu memberi hormat sambil membungkuk ke arah gadis itu.

Lian Hong maklum bahwa Kakek itu menjura sambiI mengerahkan sinkang (tenaga sakti).

Maka ia pun maklum bahwa itu, seperti biasa dilakukan orang-orang yang tingkat kepandaiannya sudah tinggi, merupakan cara menguji kepandaian orang dengan halus, bukan menguji secara keras dan kasar.

Maka ia pun cepat merangkap kedua tangan dan menjura sambil berkata.

"Ah, aku tidak berani menerima penghormatan Pangcu!"

Hawa dorongan yang amat dahsyat menyambar dari sepasang tangan Pat-Jiu Sin-Kai Gu Liat ke arah Lian Hong.

Akan tetapi dari kedua tangan gadis itu juga menyambar tenaga dorongan yang amat kuat karena ia menggunakan tenaga sakti I-Kin-Keng.

"Wuuuttt... dessss...!!"

Lian Hong merasa kedua lengannya tergetar, akan tetapi tubuh Pat-Jiu Sin-Kai Gu Liat juga tergetar.

"Bukan main! Nona Ong Lian Hong semuda ini agaknya engkau telah meiliki tenaga sakti I-Kin-Keng yang amat hebat! Kami kagum sekali, Nona!"

"Ah, Pangcu terlalu memuji. Sekarang, harap katakan di mana adanya Kwee In Hong?"

"Tentu, tentu!"

Ketua Hek I Kaipang itu memandang ke kanan kiri lalu berkata lirih.

"Ini merupakan rahasia, Nona, dan aku sudah berjanji kepada Nona Kwee In Hong untuk merahasiakannya. Bahkan tidak ada anggauta kami yang mengetahui. Aku satu-satunya orang yang mengetahui. Nona Kwee In Hong sedang bersembunyi di sini."

"Di sini...?"

"Ya, di sini, di tempat rahasia bawah tanah dan hanya aku yang mengetahui."

"Pangcu, aku ingin bertemu dengannya!"

"Baiklah, Nona Ong, akan tetapi aku hanya dapat mengantar sampai ke mulut terowongan dan selanjutnya engkau masuk sendiri dan menemuinya. Akan tetapi benarkah engkau kenal baik dengannya? Aku tidak ingin ia menyalahkan aku karena membuka rahasia ini."

"Jangan khawatir, Pangcu. Sesungguhnya, aku adalah saudaranya, aku adalah Adik tirinya, satu ibu berlainan ayah."

"Ahhh... begitukah? Kalau begitu, aku tidak ragu lagi. Mari, Nona."

Pat-Jiu Sin-Kai Gu Liat mengajak Lian Hong memasuki kamar tidurnya yang luas.

Dia menutup dan memalang daun pintu kamarnya, lalu mengajak Lian Hong ke sebuah almari besar yang berdiri di sudut kamar.

Dengan kedua tangannya, Pat-Jiu Sin-Kai mendorong almari itu sehingga tergeser ke tengah dan di belakang almari itu terdapat sebuah dinding tembok biasa seperti di bagian lain.

Akan tetapi ketika Pat-Jiu Sin-Kai menekan sesuatu di bagian sudut tembok, tiba-tiba saja dinding itu terbuka selebar setengah tombak dan di belakang tembok itu terdapat sebuah jalan terowongan yang agak gelap.

"Nah, mari kita menuju ke tempat persembunyian rahasia itu, Nona."

Lian Hong mengikuti Kakek itu memasuki terowongan dan setelah melangkah sejauh sekitar dua puluh langkah, terowongan itu tiba di depan sebuah pintu.

"Dari sini engkau harus masuk sendiri, Nona, dan engkau akan bertemu dengai Nona Kwee In Hong. harus cepat keluar agar jangan ada anak buahku yang menaruh curiga. Tempat ini amat kurahasiakan."

Dia lalu menekan tombol kecil di sebelah pintu dan daun pintu itu terbuka. Di belakargnya terdapat sebuah kamar sekitar satu tombak persegi. Masuklah Lian Hong melalui pintu.

"Nona, di sudut kanan terdapat sebuah tombol. Tekanlah dan sebuah pintu akan terbuka, menuju ke tempat persembunyian Nona Kwee In Hong."

Liang Hong yang sudah percaya betul kepada Ketua Hek I Kaipang lalu mencari tombol itu.

Dia menemukan tombol lalu menekannya.

Tiba-tiba terdengar suara keras dan daun pintu dari mana Lian Hong masuk tadi tertutup dengan cepat dan lantai kamar itu pun mendadak terbuka sehingga tak dapat terhindarkan lagi tubuh Lian Hong terjerumus ke bawah!

Gadis itu terkejut, akan tetapi tidak dapat menghindar lagi.

Ia hanya dapat mengerahkan ginkang (ilmu meringankan diri) sehingga tubuhnya dapat tiba di lantai bawah dengan ringan.

Begitu kedua kakinya hinggap di lantai bawah, lantai kamar di atasnya itu tertutup kembali dengan cepatnya!

Tinggi lantai atas itu dari tempat ia berpijak lebih dari dua tombak.

Lian Hong masih tidak mengerti betul apakah Pat-Jiu Sin-Kai menjebaknya, ataukah imemang ia diberi kesempatan bertemu dengan In Hong.

la merasa penasaran dan mencabut sebatang pedang.

Ia melompat ke atas dan membacokkan pedangnya ke langit-langit yang tadi terbuka dan tertutup kembali.

"Tranggg...!"

Bunga api berpijar dan ternyata langit-langit yang dicat putih itu terbuat dari baja yang tebal dan kuat!

Lian Hong mulai merasa curiga.

la ialu memeriksa ruangan di mana ia terjatuh itu.

Sebuah ruangan yang luas sama dengan ruangan di atas dari mana ia tadi terjeblos ke bawah.

Tidak ada pintu di Situ.

Setelah mencari-cari tombol dan tidak menemukan, ia lalu menggunakan sepasang pedangnya untuk membacoki dinding di empat penjuru ruangan itu.

Terdengar suara berdenting berulang-ulang disertai bunga api berpijar-pijar.

Akan tetapi ternyata dinding baja tebal itu terlampau kuat untuk dirusak sepasang pedang Lian Hong!

Gadis itu kini maklum bahwa ia telah terjebak!

Tidak ada jalan keluar baginya.

la terkurung dalam ruangan tertutup.

Ia merasa heran bukan main.

Mengapa Pat-Jiu Sin-Kai yang bersikap baik itu menjebaknya?

Apakah Kakek yang menjadi Ketua Hek I Kaipang itu yang menjadi Si Pembunuh misterius?

Atau barangkali menjadi pembantunya?

Bersekongkol dengan Si Pembunuh misterius ataukah dia Si Pembunuh misterius sendiri?

Benarkah keterangan Pat-Jiu Sin-Kai bahwa Kwee In Hong bersembunyi di sini, ataukah itu hanya keterangan palsu belaka?

Ah, apakah Pat-Jiu Sin-Kai bersekongkol dengan Kwee In Hong melakukan pembunuhan-pembunuhan itu?

Lian Hong menjadi bingung dan sampai lama ia duduk di tengah ruangan itu, melepas lelah.

"Tenang,"

Pikirnya.

"Engkau terjebak dan berada dalam ancaman bahaya, tenanglah jangan bingung dan takut!"

Demikian ia berbisik kepada diri sendiri.

la memutar otaknya mencari jalan keluar, akan tetapi selalu gagal.

Ia sudah menyelidiki ruangan itu berkali-kali, namun belum juga menemukan jalan untuk lolos dari tempat itu.

Ruangan itu mendapatkan penerangan dari lubang kecil memanjang di sudut atas, tepi langit-langit.

Dari situ pula datangnya hawa udara.

Ia tidak tahu apakah penerangan itu sinar matahari ataukah lampu besar yang menerobos melalui celah-celah memanjang di tepi langit-langit itu.

la yakin bahwa di bagian di mana ada celahnya itu, pasti ada ruangan lain.

Akan tetapi dindingnya amat kokoh, tidak bergeming ketika ia bacoki dengan sepasang pedangnya, juga ketika ia menggunakan tenaga sakti I-Kin-Keng sekuatnya untuk memukul dengan kedua telapak tangannya, dinding itu hanya tergetar sedikit, agaknya tidak mungkin digempur.

Tidak ada jalan lain bagi Lian Hong kecuali menanti dan ia duduk bersila di sudut ruangan itu untuk menghimpun tenaga.

Tubuhnya harus tetap siap dan kuat untuk menghadapi bahaya yang sewaktu-waktu dapat mengancam keselamatannya.

Yo Kang melakukan perjalanan cepat menuju perkampungan Hek I Kaipang.

Matahari telah mulai condong ke barat ketika akhirnya dia dapat menemukan perkampungan Hek I Kaipang yang belum pernah dia kunjungi.

Dia belum pernah bertemu dengan Pat-Jiu Sin-Kai yang menjadi Ketua Hek I Kaipang, akan tetapi sudah lama dia mendengar akan narna besar dan nama baik Pat-Jiu Sin-Kai sebagai seorang tua yang gagah perkasa dan segolongan dengan para perkumpulan pendekar.

Setelah tiba di depan pintu gerbang perkumpulan itu, kembali murid Hek I Kaipang yang berjenggot lebat bersama beberapa orang anggauta perkumpulan itu menyambutnya.

"Siapakah engkau, sobat? Dan ada keperluan apakah datang berkunjung ke perkampungan kami?"

Tanya pengemis berjenggot lebat itu dengan ramah dan lembut. Yo Kang mengangkat tangan memberi hormat.

"Maafkan kalau kedatanganku mengganggu Cu-wi (Anda Sekalian). Aku adalah seorang she Yo dan kedatanganku ini hendak menyusul seorang adik misanku yang kemarin datang ke sini, namanya Ong Lian Hong. Dapatkah Cu-wi memberitahukan di mana adanya gadis itu sekarang?"

"Ah, benar, Saudara Yo. Kemarin memang ada seorang tamu, seorang gadis muda bernama Ong Lian Hong. la menjadi tamu Ketua kami, akan tetapi kami tidak tahu ke mana ia pergi. Tentu saja hanya Pangcu yang mengetahui ke mana perginya Nona itu."

"Kalau begitu, harap Cu-wi suka membawaku menghadap Locianpvie Pat-Jiu Sin-Kai karena aku perlu sekali bertemu dengan adik misanku itu."

"Baiklah, mari ikut denganku menghadap Pangcu kami."

Yo Kang mengikuti pengemis berjenggot lebat itu dan mereka memasuki ruangan depan di mana kemarin Lian Hong diterima Ketua Hek I Kaipang itu...

Setelah menghadapkan Yo Kang kepada I Sang Ketua, pengemis jenggot lebat itu pun pergi meninggalkan mereka berdua, bercakap-cakap.

Pat-Jiu Sin-Kai menyambut kedatangan Yo Kang dengan ramah seperti ketika dia menerima Lian Hong kemarin.

Setelah Yo Kang memperkenalkan dirinya, Pat-Jiu Sin-Kai mengerutkan alisnya dan tampak terkejut.

"Ah, apakah Sicu yang berjuluk Bu-Tong Sin-To, pendekar muda Bu-Tong-Pai yang terkenal itu?"

Yo Kang mengangguk.

"Benar, Pangcu. Aku menghadap Pangcu untuk bertanya tentang Adik misanku Ong Lian Hong yang kemarin datang berkunjung ke sini."

"Ya, ya. la mencari Nona Kwee In Hong, apakah Sicu juga mencari Nona Kwee In Hong?"

"Terus terang saja, memang aku dan Nona Kwee In Hong yang mengurus kesalah-pahaman antara Hek I Kaipang dan Bu-Tong-Pai. Nona Kwee In Hong mengunjungi Pangcu untuk menganjurkan agar Pangcu berunding dengan Bu-Tong-Pai mencari pembunuh yang keji itu, yang jelas bukan murid Bu-Tong-Pai."

"Ya, kami sudah mengetahui semua itu dan kami telah mengirim utusan untuk berunding dengan pihak Bu-Tong-Pai. Jadi Sicu mencari Nona Ong Lian Hong dan juga Nona Kwee In Hong?"

"Benar, Pangcu. Dapatkah Pangcu memberitahukan di mana mereka berdua berada?"

Dia cepat menambahkan.

"Kalau Pangcu tidak tahu di mana adanya Kwee In Hong karena mungkin sudah agak lama ia datang ke sini, cukup Pangcu memberitahu di mana adanya Ong Lian Hong yang kemarin datang ke sini?"

"Sebetulnya ini merupakan rahasia dan kami sudah berjanji kepada Nona Kwee In Hong untuk merahasiakannya. Hanya karena Nona Ong Lian Hong mengaku sebagai adik tiri Nona Kwee In Hong, maka akhirnya kami mau memberi tahu kepadanya di mana adanya Nona Kwee In Hong. Sekarang, karena Sicu adalah Kakak misan mereka berdua, maka kami juga mau memberitahu kepada Sicu. Sebetulnya, Sicu, Nona Kwee In Hong sejak dulu datang ke sini itu lalu minta kepada kami untuk tinggal dan bersembunyi di sini. Sekarang Nona Ong Lian Hong sudah berkunjung dan menemaninya."

"Tinggal di sini? Bersembunyi? Mengapa harus bersembunyi, Pangcu?"

Kakek itu menggeleng-gelengkan kepalanya sambil tersenyum, senyum bibir yang tertutup jenggot dan kumis lebat.

"Aku tidak ingin mencampuri urusan Nona Kwee In Hong yang kami hormati, Sicu. Nona Ong Lian Hong juga bertanya demikian, maka kami persilakan ia bertanya sendiri, kepada Kakaknya. Kalau Sicu ingin tahu, mengapa tidak bertanya saja sendiri kepada Nona Kwee In Hong?"

"Ah, tentu saja, Pangcu. Aku akan senang sekali kalau dapat bertemu Adik Kwee In Hong dan Ong Lian Hong."

"Baiklah, Yo-Sicu, akan tetapi engkau harus masuk sendiri pada pintu pertama, karena aku sudah berjanji kepada Sian-Li Eng-Cu untuk tidak mengganggunya di tempat peristirahatannya. Aku tidak ingin ia marah kepadaku. Mari, ikuti aku, Sicu."

Yo Kang mengikuti Ketua Hek I Kaipang memasuki kamar Ketua itu.

Seperti apa yang dialami Lian Hong kemarin, Pat-Jiu Sin-Kai menggeser almari dan menekan tombol sehingga dinding itu terbuka.

Mereka memasuki lorong sampai tiba di depan sebuah pintu.

Dengan menekan tombol, daun pintu terbuka dan tampak sebuah ruangan.

"Nah, mulai dari ruangan ini engkau harus masuk sendiri, Yo-Sicu. Di sudut kanan dinding ruangan ini terdapat sebuah tombol. Tekanlah tombol itu dan sebuah pintu akan terbuka, menuju ke tempat persembunyian Nona Kwee In Hong yang sekarang ditemani Nona Ong Lian Hong. Akan tetapi tunggu, aku harus cepat pergi dari sini agar Nona Kwee In Hong tidak melihatku."

Setelah berkata demikian Pat-Jiu Sin-Kai lalu meninggalkan tempat itu.

Yo Kang sama sekali tidak menaruh curiga, bahkan diam-diam dia menjadi semakin curiga kepada In Hong.

Mengapa In Hong harus menyembunyikan diri di tempat ini?

Hal ini saja menunjukkan bahwa gadis itu agaknya merasa bersalah dan bersembunyi.

Benarkah In Hong yang menjadi pembunuh misterius itu dan kini ia menyembunyikan diri karena takut akan pembalasan para partai besar?

Akan tetapi mengapa Pat-Jiu Sin-Kai membantu In Hong?

Agaknya Ketua Hek I Kaipang itu takut terhadap In Hong.

Dia lalu mencari di sudut kanan dan benar saja, dia melihat sebuah tombol kecil.

Tanpa prasangka buruk dia lalu menekan tombol itu.

Terdengar bunyi keras dan daun pintu yang tadi terbuka dari mana dia masuk, tiba-tiba tertutup.

Yo Kang terkejut akan tetapi tiba-tiba lantai yang diinjaknya terbuka dan tanpa dapat dia hindarkan lagi tubuhnya terperosok ke bawah!

Dia mengerahkan ginkang sehingga tidak terbanting ke atas lantai ruangan bawah itu.

"Yo-Twako...!"

Lian Hong berseru, kaget akan tetapi juga girang.

Ia semalam tidak dapat tidur karena merasa semakin khawatir.

Semua usahanya untuk mencari jalan keluar gagal dan ia benar-benar terkurung dinding tebal dan tidak mungkin dapat lolos.

Kemudian tiba-tiba terdengar bunyi gaduh dan Yo Kang meluncur dari atap yang terbuka sebentar itu.

Begitu tubuh Yo Kang terperosok atap itu sudah tertutup kembali.

"Lian Hong...!"

Yo Kang berseru ketika melihat gadis itu.

"Mana Adik Kwee In Hong?"

"Ah, celaka, Twako? Kita telah tertipu dan terjebak! Sejak kemarin aku terjebak di ruangan ini dan tidak ada jalan keluar sama sekali!"

Gadis ini lalu menceritakan semua pengalamannya kemarin sejak ia menghadap Pat-Jiu Sin-Kai lalu dijebak jatuh ke ruangan bawah tanah itu. Kemudian Yo Kang juga menceritakan pengalamannya yang sama.

"Jahanam!"

Lian Hong memaki gemas.

"Kiranya Pat-Jiu Sin-Kai adalah seorang penjahat yang amat licik dan curang!"

"Hemm, kalau melihat begini, jelas bahwa besar kemungkinan dia yang menjadi Si Pembunuh misterius itu, Siauw-moi Entah apa yang terjadi dengan Adik In Hong. Dia pasti berbohong ketika mengatakan bahwa Adik In Hong bersembunyi di sini!"

Kemudian, karena penasaran walaupun Lian Hong sudah menceritakan bahwa ke empat dinding, lantai dan atap ruangan itu terbuat dari baja yang tebal dan kuat, Yo Kang mencoba dengan goloknya, membacoki semua bagian ruangan itu.

Namun hasilnya sia-sia, hanya suara berdentang-dentang dan muncratnya bunga api.

Karena maklum bahwa mereka terancam bahaya mati kelaparan, Lian Hong menjadi marah dan ia mengerahkan tenaga saktinya lalu memekik nyaring.

Suaranya melengking dan memang ia menghendaki agar suaranya menembus ruangan itu dan dapat terdengar Pat-Jiu Sin-Kai.

"Heii! Jahanam keparat Pat-Jiu Sin-Kai! Kalau memang kamu orang gagah, keluarkan kami dan mari kita bertanding sampai seorang di antara kita mati!"

Suaranya melengking dan mendatangkan gema yang nyaring. Yo Kang juga mengerahkan sinkang dan berteriak mengguntur.

"Pat-Jiu Sin-Kai manusia pengecut! Aku tantang kau untuk mengadu ilmu silat! Engkau tentu yang melakukan pembunuhan-pembunuhan itu! Pengecut busuk, tidak malukah engkau sebagai seorang Ketua berbuat begini curang menjebak kami?"

Tiba-tiba terdengar suara pada dinding di mana terdapat lubang memanjang itu. Suara berderit dan tiba-tiba terbuka sebuah lubang sehasta lebarnya.

"Hemm, jangan sembarangan menuduh Pat-Jiu Sin-Kai yang bukan-bukan!"

Seorang gadis muda muncul dari lubang itu.

"Enci In Hong...!"

Lian Hong lalu merangkul In Hong dan Yo Kang memandang dengan girang sekali.

"Ah, sukurlah engkau berada dalam keadaan selamat dan sehat, In Hong-moi! Aku amat mengkhawatirkan keadaanmu. Akan tetapi, Hong-moi, mengapa engkau bersembunyi di sini?"

"Siapa yang bersembunyi? Aku juga terjebak di sini seperti kalian!"

Lian Hong memandang encinya dengan mata terbelalak.

"Lha, kalau begitu mengapa engkau tadi melarang kami memaki Pat-Jiu Sin-Kai?"

In Hong tersenyum memandang adik tirinya lalu berkata.

"Mari, kalian ikut aku dan kalian akan melihat dan mengerti sendiri."

Dua orang itu mengikuti In Hong memasuki ruangan yang menembus tempat mereka terjebak itu.

Ternyata ruangan ini luas sekali, merupakan ruangan yang mendapat penerangan dari lampu-lampu besar yang tergantung di mana-mana.

Di situ terdapat pula tumpukan ransum, beras gandum dan bahkan daging kering, juga dapur tempat masak dengan semua prabotnya.

Terdapat pula kamar mandi dengan air sumber yang mancur bening dan airnya membuat sebuah sungai kecil yang menghilang kedalam celah-celah batu.

Ruangan itu berada di bawah tanah, namun kering dan agaknya memang sengaja dibuat orang yang pandai untuk tempat bersembunyi.

Yo Kang dan Lian Hong mengikuti In Hong yang membawa mereka memasuki kamar dan begitu keduanya masuk, Lian Hong cepat mencabut sepasang pedangnya dan memaki.

"Jahanam busuk!"

Yo Kang juga siap menyerang ketika dia melihat... Pat-Jiu Sin-Kai rebah telentang di atas sebuah pembaringan dalam kamar itu! Akan tetapi In Hong cepat melompat dan menghadang di depan mereka.

"Tenanglah kalian berdua! Pat-Jiu Sin-Kai yang ini bukanlah dia yang menjebak kita! Pat-Jiu Sin-Kai yang ini adalah Ketua Hek I Kaipang yang aseli dan dia juga menjadi korban seperti kita!"

Lian Hong dan Yo Kang saling Pandang dengan heran. Kemudian Yo Kang berkata.

"Hong-moi, apa artinya semua ini? Apakah engkau maksudkan bahwa yang menjebak kami itu adalah Pat-jiti Sin-kai palsu dan yang ini adalah Pat-Jiu Sin-Kai aseli? Apa yang telah terjadi dan siapakah Pat-Jiu Sin-Kai palsu yang di atas itu?"

"Benar, Enci In Hong. Aku juga bingung dan ingin tahu. Sekarang ceritakanlah."

"Mari kita keluar kamar agar jangan mengganggu. Biarkan dia tidur, dia luka parah dan perlu istirahat."

Mereka bertiga keluar dari kamar lalu duduk di luar kamar, di atas bangku-bangku yang berada di situ.

Kwee In Hong lalu menceritakan pengalamannya.

Ketika ia berpisah dari Yo Kang dan menuju ke Hek I Kaipang untuk membujuk Ketuanya, Pat-Jiu Sin-Kai agar mengadakan perundingan dengan pihak Bu-Tong-Pai untuk menyelidiki dan menangkap orang yang mengaku murid Bu-Tong-Pai dan telah membunuh tiga puluh orang anggauta Hek I Kaipang di An-Hui, ia diterima sendiri oleh Pat-Jiu Sin-Kai.

Ketua Hek I Kaipang itu bersikap ramah sekali, bahkan In Hong diterima sebagai seorang tamu agung dan Pat-Jiu Sin-Kai mengadakan pesta dan melayani In Hong makan minum.

Dia menyatakan penyesalannya bahwa ada anak buah Hek I Kaipang yang menyerang orang-orang Bu-Tong-Pai dan berjanji untuk mengadakan perundingan dengan Ketua Bu-Tong-Pai.

"Karena sikapnya yang baik, aku menjadi lengah, tidak tahu bahwa dalam arak itu terkandung obat pembius. Aku menjadi mabok dan dalam keadaan setengah sadar dia menyerangku. Aku melawan namun dalam keadaan seperti itu, aku tidak dapat menghindarkan totokannya. Setelah aku tertotok roboh, dia lalu membawa aku ke ruangan ini, katanya aku dapat menemani Pat-Jiu Sin-Kai di sini, lalu dia meninggalkan aku."

"Wah, licik dan curang sekali penjahat itu!"

Seru Lian Hong marah dan penasaran.

In Hong melanjutkan ceritanya.

Setelah ditinggalkan orang yang menjebloskan ke ruangan bawah tanah itu dan kesehatannya pulih kembali, ia mendapatkan bahwa di situ terdapat seorang Kakek yang mirip dengan Pat-Jiu Sin-Kai yang menawannya.

Kakek ini dalam keadaan terluka parah sekali sehingga ingatannya hilang, bicaranya tidak karuan dan tubuhnya amat lemah.

Biarpun bicaranya tidak karuan, namun In Hong akhirnya dapat menduga bahwa Kakek inilah adanya Pat-Jiu Sin-Kai yang aseli sedangkan yang di atas itu adalah Pat-Jiu Sin-Kai palsu.

Agaknya penjahat itu menangkap Pat-Jiu Sin-Kai, melukainya sehingga ingatannya hilang dan tubuhnya lemah, lalu dia menyamar sebagai Pat-Jiu Sin-Kai, mungkin tanpa diketahui anak buahnya karena penyamaran itu memang presis sekali dan penjahat itu pandai meniru gerak-gerik Pat-Jiu Sin-Kai.

"Aku sudah memeriksa semua keadaan di sini dan ternyata tidak ada jalan keluar sama sekali! Semua jalan tertutup dan dinding-dindingnya dilapis baja tebal. Yang menembus ke sini hanya ruangan di mana kalian terjebak itu, yang dapat dibuka dari sini dengan menekan tombol. Berminggu-minggu aku merawat Pat-Jiu Sin-Kai agar dia dapat mengingat kembali dan dapat menunjukkan jalan keluar, namun dia tetap linglung. Tadi aku mendengar teriakanmu yang melengking-lengking maka aku lalu membuka pintu tembusan itu dan ternyata kalian berdua yang terjebak."

Setelah In Hong selesai bercerita, mereka bertiga merasa lebih lega biarpun tidak ada jalan keluar, karena mereka kini bertiga.

Mereka masih terus mencari kalau-kalau menemukan jalan keluar, namun sia-sia.

Mereka lalu bercakap-cakap tentang Si Pembunuh misterius.

Yo Kang mengemukakan pendapatnya.

"Melihat semua yang terjadi terhadap kita bertiga, agaknya sudah jelas sekarang bahwa pembunuh misterius itu adalah orang yang menyamar sebagai Pat-Jiu Sin-Kai dan berada di atas sebagai Ketua Hek I Kaipang itu. Orang yang dapat menyamar sedemikian pandainya, menyamar sebagai Pat-Jiu Sin-Kai tanpa ada yang mengetahuinya, tentu pandai pula menyamar sebagai Hwesio Siauw-Lim-Pai dan lain-lain. Akan tetapi, siapakah kiranya orang yang menyamar sebagai Pat-Jiu Sin-Kai dan menjadi pembunuh misterius itu?"

"Mari kita teliti satu demi satu di antara mereka yang kita curigai, Yo-Twako. Bagaimana kalau Ketua Thian-Te-Pang seperti yang kau ceritakan dan kau curigai itu?"

"Lian Hong, maksudmu Gan Bouw Ketua Thian-Te-Pang? Hemm, aku pun menaruh curiga kepadanya. Aku mengenalnya, bahkan pernah menjadi tamunya dan malapetaka hampir menimpaku ketika aku berada di sana."

In Hong lalu menceritakan apa yang ia alami ketika bermalam di Thian-Te-Pang sebagai tamu Gan Pangcu (Ketua Gan).

Betapa ia dibius orang melalui air pencuci muka dan diculik oleh penjahat yang menurut orang Thian-Te-Pang berjuluk Tok Coa Moko.

Aku ditolong oleh Gan Bouw yang membunuh penculik itu.

Nah, sekarang aku ingat bahwa ada kemungkinan Gan Bouw bermain sandiwara dan dia yang mengatur penculikan itu."

"Tapi dia telah menyelamatkanmu dan membunuh penjahat itu, Enci In Hong!"

Lian Hong membantah.

"Benar juga, aku menjadi ragu. Akan tapi sikapnya terlalu ramah dan baik, hal ini justeru membuat aku curiga walaupun kecurigaanku tanpa dasar yang kuat."

"Memang tadinya aku sendiri mencurigainya, akan tetapi sekarang kalian tidak perlu mencurigainya. Gan Bouw bersih dan tidak bersalah sama sekali, bahkan dia seorang pendekar yang baik hati dan malah menjadi korban. Dia sekarang menderita luka dalam yang parah dan membuat dia menjadi lumpuh kedua kakinya, bahkan menurut pemeriksaanku, jalan darahnya kacau balau yang amat membahayakan hidupnya."

"Ihh! Apakah yang telah terjadi, Twako?"

Tanya In Hong, heran, juga Lian Hong memandang Yo Kang dengan heran mendengar berita ini.

"Aku dan Adik Lian Hong berpisah. Ia hendak mencarimu dengan bertanya kepada Hek I Kaipang tentang engkau, Hong-moi, akan tetapi ia terjebak. Aku sendiri yang memang menaruh curiga kepada Gan Bouw pergi ke Thian-Te-Pang untuk menyelidiki. Akan tetapi apa yang kudapatkan di sana? Baru kemarin Thian-Te-Pang diserbu Empat Datuk Besar bersama pasukan Mongol. Sebagian besar anggauta Thian-Te-Pang dibunuh, perkampungannya dibakar habis dan Gan Pangcu sendiri terluka dalam yang amat parah sehingga kini dia menggeletak dalam pondok darurat, tak berdaya dan dirawat empat orang pembantunya yang setia."

"Akan tetapi mengapa Empat Datuk Besar dan pasukan Mongol membasmi Thian-Te-Pang?"

Tanya In Hong.

"Tentu saja Empat Datuk Besar itu dendam kepadanya. Ketika aku dan Ceng Seng Hwesio dari Siauw-Lim-Pai diserang oleh Tung Giam-Lo-Ong dan See Te-Tok bersama pasukan Mongol dan kami berdua terancam bahaya. Gan Bouw muncul dan menolong kami, membantu kami mengusir dua orang Datuk Besar dan pasukannya itu. Kemudian, ketika Im Yang Siang To-jin dari Kun-Lun-Pai dan Wu Wi Thaisu dari Go-Bi-Pai diserang Pak Lo-Kui dan Lam Sian bersama banyak pasukan Mongol, juga Gan Bouw yang muncul dan menolong mereka. Gan Bouw telah menolong orang-orang dari Siauw-Lim-Pai, Bu-Tong-Pai, Kun-Lun-Pai, dan Go-Bi-Pai, dan menentang Empat Datuk Besar, maka mereka datang bersama pasukan besar Mongol membalas dendam dan membasmi Thian-Te-Pang, melukai Gan Bouw sehingga cacad dan lumpuh."

"Aduh, kasihan...!"

Kata dua orang gadis itu berbareng.

"Menyesal sekali aku pernah mencurigai orang sebaik itu!"

Kata In Hong yang teringat betapa sikap Gan Bouw amat baik kepadanya, bahkan pemuda itu memperlihatkan dengan jelas bahwa dia jatuh hati kepadanya!

"Memang patut disesalkan, Hong-moi.

Akan tetapi kita memang harus mencurigai semua orang."

Kata Yo Kang.

"Sekarang ini jelas sudah bahwa Gan Bouw, tidak mungkin pembunuh misterius yang kita cari. Pembunuh itu pasti bukan Gan Bouw, melainkan orang yang kini menyamar sebagai Pat-Jiu Sin-Kai!"

"Sebenarnya, apakah yang terjadi di luar sana, Twako? Seperti engkau telah maklum, yang kuketahui hanyalah tentang pembunuhan terhadap tiga puluh orang anggauta Hek I Kaipang di An-Hui yang kabarnya dibunuh oleh orang yang menggunakan ilmu Tong-Sim-Ciang dari Bu-Tong-Pai. Kemudian Ang Cun tokoh Hek I Kaipang itu pun bersama dua orang saudaranya terbunuh pula oleh pukulan Tong-Sim-Ciang. Kemudian ada pembunuh gelap menyerangmu dengan ilmu Pek-Kong-Ciang dari Kun-Lun-Pai. Nah, hanya kekacauan itu yang kuketahui sehingga kita berpisah, Yo-Twako. Aku menyelidiki ke Hek I Kaipang dan engkau hendak Melapor ke Bu-Tong-Pai. Ketika aku datang ke sini, aku dijebak Pat-Jiu Sin-Kai yang ternyata palsu karena yang aseli berada di sini dalam keadaan sakit terluka pukulan ampuh dan tidak berdaya. Apakah yang telah terjadi?"

"Wah, banyak sekali yang terjadi, Enci In Hong! Terjadi kekacauan hebat yang menggegerkan dunia kang-ouw sehingga Bu-Tong-Pai mengutus Yo-Twako dan Siauw-Lim-Pai mengutus aku untuk melakukan penyelidikan. Juga sudah pasti pihak Kun-Lun-Pai dan juga mengutus wakilnya untuk menyelidiki perkara ini!"

"Apa yang terjadi?"

Tanya In Hong heran.

"Mula-mula Bu-Tong Sam-Lo dan enam orang anggauta Bu-Tong-Pai tewas dibunuh orang yang menggunakan ilmu-ilmu dari Siauw-Lim-Pai, seperti Tiam-Hiat-Hoat, Siauw-Cu-Twi, dan Tat-Mo Sin-Kun! Akan tetapi orang yang hanya diketahui berkepala gundul dan berpakaian Hwesio itu tidak diketahui jelas mukanya karena peristiwa itu terjadi dalam cuaca gelap. Kemudian tiba giliran Kun-Lun-Pai. Pada suatu malam bayangan yang sama itu telah membunuhi beberapa orang murid Kun-Lun-Pai. Bukan itu saja, juga murid Go-Bi-Pai bernama Wi Tek Tosu terbunuh oleh bayangan gundul berjubah Hwesio! Semua pembunuhan itu dilakukan orang gundul berjubah Hwesio yang tidak tampak jelas wajahnya. Tentu saja partai-partai yang kehilangan anggauta yang terbunuh itu minta pertanggungan jawab Siauw-Lim-Pai. Suhu Bu Tek Tianglo minta waktu sampai datangnya hari ulang tahun Siauw-Lim-Pai dan menyuruh aku untuk menyelidiki dan menangkap pembunuh itu. Akan tetapi celakanya, aku sendiri sekarang malah terjebak di sini dan tidak dapat keluar. Padahal hari ulang tahun Siauw-Lim-Pai hanya tinggal belasan hari lagi!"

"Hemm, kalau begitu, yang patut dicurigai, selain Empat Datuk Besar, agaknya aku lebih condong menyangka kalau pelaku pembunuhan misterius yang kini menyamar sebagai Pan-jiu Sin-kai adalah Si Han Lin yang pernah kau ceritakan itu, Lian Hong!"

Lian Hong tertegun dan alisnya berkerut.

Ah, benarkah?

Benarkah pemuda itu yang menjadi pembunuh misterius?

Pemuda itu baru beberapa hari ini bertemu dengannya, dan ia mulai tertarik, bahkan kecurigaannya terhadap Si Han Lin dan Ang Hwa Niocu menipis.

Hatinya diliputi penuh keraguan!

"Tak salah lagi."

Kata pula Yo Kang.

"Si Han Lin murid Thian Beng Siansu itu bersama wanita yang kau ceritakan itu, Ang Hwa Niocu, agaknya yang menjadi pembunuh misterius! Bagaimana menurut pendapatmu, Adik Lian Hong?"

Lian Hong mengerutkan alis dengan penuh keraguan.

"Ahh... entahlah, aku tidak tahu..."

Ia tidak ingin menceritakan pertemuannya dengan Si Han Lin dan Ang Hwa Niocu.

"Siapa kau bilang nama tadi...?"

In Hong bertanya sambil memandang kepada Lian Hong.

"Si Han Lin...? Benarkah, ada yang bernama Si Han Lin...?"

"Benar, Enci In Hong. Dia seorang pemuda murid Thian Beng Siansu, namanya Si Han Lin. Kenalkah engkau dengan dia, Enci?"

"Aku pernah bertemu seorang guru silat di Hak-Ciu yang tewas karena berkelahi dan dipukul oleh Pak Lo-Kui. Sebelum meninggal dunia dia pernah pesan kepadaku puteranya yang bernama Si Han Lin. Menurut pengakuannya, mendiang Si Hoo adalah murid Bu-Tong-Pai."

In Hong memandang Yo Kang.

"Apakah Yo-Twako tidak mengenalnya?"

Yo Kang menggeleng kepala.

"Kalau Si Hoo itu Ayah Si Han Lin, tentu dia merupakan murid Bu-Tong-Pai yang jauh lebih dulu dariku, maka aku tidak mengenalnya."

"Apakah benar Si Han Lin yang menjadi pembunuh misterius itu?"

Tanya In Hong.

"Seingatku, Ayahnya, mendiang Si Hoo, adalah seorang guru silat yang mempunyai nama baik di Hak-Ciu."

"Sudahlah, kukira sekarang yang paling penting bagi kita bertiga adalah bagaimana dapat keluar dari tempat ini."

Kata Yo Kang. In Hong menggeleng kepalanya.

"Aku sudah mencari dan memeriksa seluruh tempat ini dan tidak menemukan jalan keluar, Twako. Harapan kita satu-satunya hanyalah Pat-Jiu Sin-Kai. Kalau ingatannya sudah pulih, mungkin dia dapat menunjukkan jalan keluar dari tempat ini. Dia adalah pemilik tempat ini, pasti dia mengetahui jalan rahasia di sini. Sayang, dia tidak ingat apa-apa!"

"Hemm, kalau begitu, mari kita mencoba untuk menyatukan tenaga, barangkali dapat membangkitkan tenaganya, mengusir hawa beracun dari tubuhnya dan membuat ingatannya dapat bekerja kembali."

Demikianlah, tiga orang itu lalu berusaha sedapatnya untuk menyembuhkan Pat-Jiu Sin-Kai yang kehilangan tenaga dan ingatannya.

Kuil Siauw-Lim-Pai yang menjadi pusat perguruan silat Siauw-Lim-Pai berada di kaki Gunung Sung-San di Propinsi Honan, Cina Tengah.

Tempat itu memang indah dan sunyi sehingga cocok sekali untuk menjadi tempat belajar ilmu silat dan samadhi, menenangkan pikiran dan membenamkan perhatian ke dalam pelajaran ilmu silat dan agama.

Akan tetapi pada pagi hari itu, banyak sekali orang datang berkunjung.

Hari itu adalah hari ulang tahun Siauw-Lim-Pai.

Biasanya, kalau Siauw-Lim-Pai mengadakan perayaan ulang tahun, yang datang hanya wakil-wakil dari partai-partai besar dan penting saja, dan beberapa orang tokoh besar dunia persilatan, pemuka-pemuka agama.

Akan tetapi pagi hari itu lain sama sekali.

Hari itu amat penting karena Ketua Siauw-Lim-Pai, Bu Kek Tianglo memberi waktu pertanggungan jawab Siauw-Lim-Pai terhadap pembunuhan-pembunuhan misterius itu sampai hari ulang tahun Siauw-Lim-Pai.

Maka, kini yang berbondong-bondong datang ke Siauw-Lim-Si adalah para Ketua Partai Persilatan, bahkan juga perguruan-perguruan yang ingin menyaksikan apa yang akan terjadi sebagai akibat pembunuhan-pembunuhan yang terjadi, yang kabarnya dilakukan seorang murid Siauw-Lim-Pai yang pandai.

Terutama sekali mereka yang langsung menjadi korban pembunuhan misterius itu.

Mereka merasa penasaran dan hendak menuntut Siauw-Lim-Pai, maka kini mereka datang dengan lengkap, Ketuanya sendiri bersama para pembantu dan banyak anggautanya.

Bu-Tong-Pai datang dengan pasukan anak buah yang dipimpin sendiri oleh Tiong Li Seng-jin yang sudah berusi tujuh puluh dua tahun!

Selain sang Ketua, juga datang pula wakil Ketua Bu-Tong-Pai, yaitu Tiong Hak Tosu yang bertubuh tinggi besar dan tujuh orang murid kepala, diikuti sekitar lima puluh orang murid!

Kun-Lun-Pai juga terdiri lebih dari lima puluh orang, dikepalai sang Ketua sendiri yaitu Pek Ciang San Lo-jin Tampak pula Im Yang Siang To-jin, dua orang murid kepala yang terkenal itu dan beberapa orang murid lain yang tingkatnya sudah tinggi.

Demikian pula pihak Go-Bi-Pai datang lengkap, dipimpin Sang Ketua Pek Eng Thaisu yang juga berusia tujuh puluh dua tahun, ditemani Wu Wi Thaisu dan beberapa orang murid kepala, diikuti hampir seratus orang murid!

Tiga partai persilatan terbesar inilah yang merasa penasaran dan hendak menuntut Siauw-Lim-Pai karena masing-masing mereka kehilangan murid yang terbunuh oleh pembunuh misterius yang disangka tentu murid Siauw-Lim-Pai!

Selain tiga perkumpulan silat terbesar Ini, datang pula rombongan Kong-Thong-Pai, Hoa-San-Pai, dan beberapa orang tokoh kang-ouw terkenal.

Rombongan terakhir yang muncul adalah rombongan pengemis Hek I Kaipang yang pakaiannya mencolok karena semua memakai pakaian serba hitam tambal-tambalan.

Rombongan ini dipimpin sendiri oleh Pat-Jiu Sin-Kai Gu Liat!

Setelah para tamu berkumpul di halaman depan Kuil yang amat luas itu, berjajar sekelompok-sekelompok, maka keluarlah Bu Kek Tianglo, diiringkan Ceng Seng Hwesio, kelima murid anggauta Ngo-Heng-Tin.

Para Hwesio dan murid Siauw-Lim-Pai sudah sejak tadi berbaris di depan pintu gerbang, berdiri tegap dan tenang walaupun hati mereka merasa tegang.

Biarpun hari itu hari ulang tahun Siauw-Lim-Pai, namun karena ada urusan yang amat penting itu, Siauw-Lim-Pai sekali ini tidak merayakan hari ulang tahunnya.

Setelah Bu Kek Tianglo berhenti melangkah dan berdiri di tepi serambi Kuil yang lebih tinggi setengah tombak dari halaman, dia lalu mengangkat kedua tangan depan dada dan terdengar suaranya yang lembut namun yang dapat terdengar oleh semua orang yang hadir memenuhi halaman luas itu.

"Cu-wi To-yu (Sahabat Pendeta To) dan Beng-yu (Sahabat Sekalian), Pinceng (saya) atas nama Siauw-Lim-Pai mengucapkan selamat datang kepada Cu-wi (Anda Sekalian), juga terima kasih atas kedatangan di sini. Akan tetapi dengan sangat menyesal Pinceng terpaksa mohon maaf bahwa Pinceng tidak dapat menyuguhkan hidangan seperti tahun-tahun yang lalu karena kami tidak dapat merayakan hari ulang tahun Siauw-Lim-Pai. Kami sedang prihatin, maka maafkan kami."

"Siancai...!"

Terdengar suara Pek Ciang San Lo-jin, Ketua Kun-Lun-Pai, yang nyaring.

"Bu Kek Tianglo, mengapa bicara sungkan dan berputar-putar? Kami semua datang bukan untuk minta hidangan, ini engkau ketahui betul! Lebih baik buktikan pertanggungan-jawabmu seperti yang telah kau janjikan!"

"Siancai..., apa yang dikatakan Pek Ciang San Lo-jin itu benar. Lebih baik Siauw-Lim-Pai bersikap terbuka dan jujur. Tidak perlu banyak alasan karena semua orang sudah tahu belaka bahwa yang melakukan semua pembunuhan itu, termasuk yang membunuh murid kami Wi Tek Tosu, adalah seorang murid Siauw-Lim-Pai! Hayo, Bu Kek Tianglo, lebih baik keluarkan pembunuh itu dan jangan mencoba untuk menyangkal atau melindungi dia!"

Kata Pek Eng Thaisu Ketua Bu-Tong-Pai.

"Siancai, terpaksa kami harus membenarkan mereka, Suheng!"

Kata Tiong Li Seng-jin kepada Bu Kek Tianglo.

"Agar perkara ini segera dapat diselesaikan secara tuntas, lebih baik kalau Suheng memberi penjelasan bagaimana pertanggungan jawab Siauw-Lim-Pai. Apakah pembunuh misterius itu sudah dapat di-tangkap? baik pembunuh itu murid Siauw-Lim-Pai atau bukan, pihak Siauw-Lim-Pai harus dengan gagah dapat mempertanggung-jawabkannya. Kalau tidak, nama besar Siauw-Lim-Pai akan hancur dan ternoda. Hayolah, Suheng Bu Kek tunjukkan kebesaran jiwamu untuk membersihkan nama Siauw-Lim-Pai!"

"Hancurkan Siauw-Lim-Pai!"

Tiba-tiba terdengar suara yang lantang sekali dan ternyata Pat-Jiu Sin-Kai Ketua Hek I Kaipang yang berteriak itu.

"Melihat betapa murid Siauw-Lim-Pai melakukan semua pembunuhan misterius itu, kini kami pun yakin bahwa pembunuh tiga puluh orang anggauta Hek I Kaipang di An-Hui tentu dilakukan pula oleh orang Siauw-Lim-Pai itu, dengan menyamar sebagai murid Bu-Tong-Pai untuk mengadu domba antara kami Hek I Kaipang dan Bu-Tong-Pai! Siauw-Lim-Pai sajalah yang harus bertanggung jawab atas semua pembunuhan itu!"

Ramailah mereka yang seolah berlumba menyatakan pendapatnya dan hampir semua dari mereka menyatakan setuju bahwa Siauw-Lim-Pai harus bertanggung jawab atas semua pembunuhan itu.

"Cuwi yang mulia, dengar pernyataan Pinceng! Siauw-Lim-Pai tidak akan lari dari tanggung jawab! Semenjak mendengar akan adanya pembunuh misterius yang melakukan banyak pembunuhan dengan menggunakan ilmu dan nama Siauw-Lim-Pai, Pinceng telah mengutus wakil-wakil Siauw-Lim-Pai untuk melakukan penyelidikan. Akan tetapi apa mau dikata, sampai saat ini, utusan Pinceng itu belum juga kembali sehingga kami tidak tahu apakah usahanya menyelidiki dan menangkap pembunuh misterius itu berhasil atau tidak. Oleh karena Pinceng sudah berjanji untuk mempertanggung-jawabkannya pada hari ini, Pinceng tidak akan lari dari tanggung jawab dan tidak akan menjilat ludah sendiri. Nah, kalau Cu-wi (Anda Sekalian) berkeras untuk minta pertanggungan-jawab atas kematian para murid Cu-wi, biarlah Pinceng yang mewakili Siauw-Lim-Pai menanggung dosa pembunuh misterius itu. Silakan kalau Cu-wi hendak membunuh Pinceng sebagai penebusan dosa. Pinceng tidak akan menghindar atau melawan. Omitohud!"

Pada saat yang amat menegangkan itu, tiba-tiba terdengar suara gaduh dan muncullah Empat Datuk Besar bersama seratus orang lebih pasukan Mongol!

Lam Sian (Dewa Selatan) Datuk Selatan yang gendut pendek itu mengeluarkan suara tawa yang lantang terbahak-bahak.

"Hua-ha-ha-ha! Bu Kek Tianglo hendak menebus pembunuhan puluhan orang oleh murid-muridnya dengan menyerahkan tubuhnya yang sudah tua bangka? Sungguh enak sekali bagi Siauw-Lim-Pai! Dosa itu terlalu berat, hutang itu terlalu banyak untuk dapat dilunasi hanya dengan nyawa seorang Kakek tua bangka yang takkan lama lagi hidup di dunia. Ha-ha-ha!"

Pat-Jiu Sin-Kai segera menyambung.

"Sejak dulu Siauw-Lim-Pai berwatak sombong, memandang rendah semua partai persilatan yang lain, menganggap Siauw-Lim-Pai sebagai sumber utama semua ilmu silat! Ternyata sekarang terbukti hanya berwatak pengecut, tidak berani mempertanggung-jawabkan dosa-dosa yang telah dilakukannya!"

"Omitohud! Cu-wi boleh mempunyai pendapat apa saja, akan tetapi kami bukanlah orang-orang yang lari dari kenyataan dan tidak berani menghadapinya. Kalau Cu-wi tidak puas dengan penyerahan diri Pinceng untuk menebus kesalahan yang dilemparkan kepada Siauw-Lim-Pai, lalu apa yang Cu-wi kehendaki untuk kami lakukan?"

Kata Bu Kek Tianglo dengan suara tenang.

"Bu Kek Tianglo! Kami adalah utusan pemerintah! Karena jelas bahwa Siauw-Lim-Pai membuat kejahatan dengan pembunuhan-pembunuhan besar sehingga mengacaukan ketenteraman, maka kami mendapat tugas dari pemerintah untuk menangkap semua anggauta Siauw-Lim-Pai! Maka, kami perintahkan agar semua anggauta Siauw-Lim-Pai menyerah, membuang senjata dan menjadi tawanan kami untuk dihadapkan di pengadilan!"

Pak Lo-Kui Datuk Utara itu berseru dengan garang. Tung Giam-Lo menyambung.

"Siapa yang membela Siauw-Lim-Pai kami anggap menibantu kejahatan dan akan kami tangkap pula. Yang melawan akan kami binasakan!"

"Omitohud!"

Kata Bu Kek Tianglo sambil memandang kepada empat orang Datuk Besar itu.

"Kami hanya mempunyai permasalahan dengan saudara-saudara seperguruan silat yang lain! Kami tidak mempunyai urusan dengan Kerajaan Mongol dan tidak merasa mempunyai kesalahan apa pun terhadap pemerintah. Sudah tentu kami tidak mau menyerahkan diri begitu saja untuk ditangkap karena kami sama sekali tidak merasa bersalah terhadap pemerintah!"

"Wah, Siauw-Lim-Pai sombong! Kesalahannya sudah jelas masih berpura-pura alim! Kalau kalian dapat menipu rakyat, kalian tidak mungkin dapat mengelabui kami. Kami tidak begitu bodoh untuk membela Siauw-Lim-Pai karena itu sama saja dengan membantu kejahatan mereka. Sudah tiba saatnya Siauw-Lim-Pai dibasmi dari permukaan bumi karena hanya akan mengotori dunia persilatan!"

Teriak Pat-Jiu Sin-Kai dengan lantang. Tiong Li Seng-jin berbisik kepada Tiong Hak Tosu, wakil Ketua Bu-Tong-Pai.

"Pat-Jiu Sin-Kai itu mencurigakan. Dulu mati-matian memusuhi Bu-Tong-Pai yang dituduh membunuh tiga puluh orang muridnya, sekarang berbalik mati-matian memusuhi Siauw-Lim-Pai. Hati-hati, jangan mudah terbujuk olehnya. Pinto curiga olehnya."

Akan tetapi para pimpinan perguruan lain tersulut kemarahan mereka terhadap Siauw-Lim-Pai oleh ucapan Pat-Jiu Sin-Kai ini maka mereka tampak beringas dan agaknya sudah siap untuk maju mengeroyok Siauw-Lim-Pai!

Pada saat itu, enam orang berlari menuju Siauw-Lim-Pai.

Mereka adalah Pat-Jiu Sin-Kai yang masih tampak lemah sehingga dia digandeng dua orang pemuda di kanan kirinya, dan tiga orang gadis cantik berlari mengikuti di belakangnya.

Dua orang pemuda yang menggandeng Ketua Hek I Kaipang agar dapat berlari cepat itu bukan lain adalah Yo Kang, dan Si Han Lin.

Adapun tiga orang gadis cantik yang mengikuti di belakang adalah Ang Hwa Niocu, Kwee In Hong dan Ong Lian Hong!

Bagaimana.

mereka dapat berada di sini dan menuju ke Siauw-Lim-Pai?

Untuk mengetahui hal itu, mari kita mengikuti pengalaman mereka belasan hari yang lalu.

Seperti kita ketahui, Yo Kang, In Hong dan Lian Hong menyatukan sinkang (tenaga sakti) mereka untuk menyembuhkan luka dalant tubuh Pat-Jiu Sin-Kai.

Usaha mereka berhasil.

Biarpun Ketua Hek I Kaipang itu belum dapat disembuhkan sama sekali, namun ingatannya pulih.

Berkat petunjuknya, mereka dapat menemukan terowongan rahasia di tempat mereka ditawan itu.

Mereka berempat lalu mengikuti terowongan sampai akhirnya mendapatkan guha mulut terowongan itu tertutup batu-batu besar dari luar!

Jalan keluar pun tertutup!

"Ah, mulut terowongan tertutup batu-batu besar dari luar.

Kalau tidak ada bantuan dari luar menyingkirkan batu-batu itu, kita tidak dapat meloloskan diri."

Kata Yo Kang setelah memeriksa keadaan mulut terowongan, yang tertutup itu.

Mereka bertiga sudah mencoba untuk mendorong pergi batu-batu itu.

Akan tetapi karena terowongan itu hanya kecil, hanya cukup untuk tubuh satu orang, maka mereka tidak dapat menyatukan tenaga dan seorang saja tidak cukup kuat untuk mendorong pergi batu-batu yang agaknya bertumpuk di situ.

Saking kecewa dan marahnya, In Hong mengeluarkan teriakan melengking.

Disusul teriakan putus asa Lian Hong, bahkan kemudian Yo Kang yang biasanya lebih tenang itupun mengeluarkan teriakan melengking sehingga bergema di seluruh terowongan dan ruangan bawah tanah itu.

Tiba-tiba terdengar lengkingan panjang yang datangnya dari luar mulut terowongan yang tertutup tumpukan batu!

Lengking itu tidak mengandung arti kata-kata, akan tetapi bagi mereka sudah jelas bahwa di luar sana terdapat orang dan orang itu dapat mengeluarkan teriakan yang mengandung sinkang (tenaga sakti) yang kuat.

Maka, mereka bertiga bergantian berteriak minta tolong.

Tiba-tiba terdengar suara gaduh di luar dan suara gedebukan!

Batu-batu yang bertumpuk itu mulai bergoyang-goyang.

Ada orang membongkar tumpukan batu itu dari luar!

Akhirnya batu besar terakhir didorong minggir dan Lian Hong, In Hong, dan Yo Kang yang menggandeng Pat-Jiu Sin-Kai melompat keluar.

Begitu tiba di luar, Lian Hong segera membentak nyaring.

"Jahanam keparat! Engkaukah pembunuh keji yang kami cari!"

Dan gadis galak ini sudah mencabut sepasang pedangnya dan menyerang Si Han Lin yang berdiri di situ bersama Ang Hwa Niocu! "Eh, tunggu dulu. Aiiiittt...!"

Han Lin mengelak dengan loncatan ke samping.

"Jangan sembarangan menuduh, Adik Ong Lian Hong!"

Ang Hwa Niocu berseru.

"Kami berdua justeru menyelidiki pembunuh, dan dia... eh, dia di sini...?"

Ang Hwa Niocu menudingkan telunjuknya ke arah Pat-Jiu Sin-Kai yang muncul bersama Yo Kang.

"Tenang semua!"

Kata Yo Kang.

"Pembunuh itu adalah orang yang menjebak dan menjebloskan kami ke penjara bawah tanah. Dia adalah Pat-Jiu Sin-Kai palsu! Ini yang aseli, terluka dan ditahan dalam penjara bawah tanah!"

"Wah, celaka"' kata Si Han Lin.

"Justeru Pat-Jiu Sin-Kai telah pergi membawa rombongan anggauta Hek I Kaipang menuju ke Siauw-Lim-Pai. Kalau dia itu yang palsu..."

"Pat-Jiu Sin-Kai palsu itulah pembunuhnya!"

Kata In Hong.

"Kalau begitu, mari kita cepat mengejar ke sana. Hari ulang tahun Siauw-Lim-Pai tinggal beberapa hari lagi! Mungkin akan terjadi malapetaka pada Siauw-Lim-Pai kalau kita tidak cepat datang ke sana!"

"Benar, mari kita pergi cepat. Kita dapat saling cerita dalam perjalanan nanti."

Kata Yo Kang.

Mereka berlima lari, akan tetapi karena Pat-Jiu Sin-Kai masih lemah, terpaksa Yo Kang dan Han Lin menggandeng Kakek itu di kanan kiri sehingga seolah-olah Kakek itu mereka bawa lari!

Dalam perjalanan cepat ini mereka saling menceritakan pengalaman dan keadaan diri masing-masing.

Tentu saja secara singkat.

Namun Lian Hong, In Hong, dan Yo Kang kini mengerti bagaimana Si Han Lin dan Ang Hwa Niocu dapat menolong mereka dengan membongkar tumpukan batu-batu besar yang menutup mulut terowongan.

Si Han Lin dengan singkat menceritakan keadaan dirinya.

Ketika In Hong, Lian Hong, dan Yo Kang dalam keadaan penasaran, marah dan kecewa berteriak-teriak, Han Lin dan Ang Hwa Niocu yang sedang mencari jejak Lian Hong, mendengar dan mereka berdua lalu membalas teriakan itu dan membongkar batu-batu sehingga empat orang yang terkurung itu dapat keluar.

Demikianlah, ketika Yo Kang, Si Han Lin, In Hong, Lian Hong, Ang Hwa Niocu, dan Pat-jiu Sin-kai yang aseli itu tiba di halaman Siauw-Lim-Pai yang penuh orang dan suasana menjadi tegang karena agaknya Siauw-Lim-Pai akan dikeroyok banyak sekali orang, membantu Empat Datuk Besar dan pasukannya vang hendak menangkapi seluruh anggauta Siauw-Lim-Pai, Si Han Lin berseru dan suaranya yang didukung tenaga sakti amat kuat itu menggeledek dengan dahsyat mengejutkan semua orang.

"Heil...! Para pimpinan Bu-Tong-Pai, Kun-Lun-Pai, Go-Bi-Pai, Siauw-Lim-Pai, dan semua perkumpulan yang hadir di sini, tahan dan dengarkanlah kenyataan ini! Kami telah menemukan siapa yang menjadi pembunuh misterius itu! Dia bukan murid Siauw-Lim-Pai, melainkan Pat-Jiu Sin-Kai palsu yang berada di antara kalian! Inilah Pat-Jiu Sin-Kai aseli yang diserang, dilukai kemudian dikeram dalam penjara bawah tanah oleh penjahat yang kini menyamar sebagai Pat-Jiu Sin-Kai. Dialah pembunuh misterius itu, bersama Empat Datuk Besar yang sesat dan mereka adalah antek-antek kerajaan penjajah Mongol untuk mengadu domba di antara Siauw-Lim-Pai dengan partai-partai persilatan lain! Kita tangkap pembunuh misterius itu. Tangkap Pat-Jiu Sin-Kai palsu!!"

Ucapan itu mengejutkan dan lebih mengejutkan lagi karena Pat-Jiu Sin-Kai yang tadi dengan gigih menyerang Siauw-Lim-Pai dengan ucapan-ucapan menyalahkan dan menyudutkan, tiba-tiba melompat jauh dan melarikan diri!

Orang-orang yang terdekat dengannya adalah para anggauta Hek I Kaipang dan mereka ini tentu saja terkejut bukan main melihat munculnya Pat-Jiu Sin-Kai bersama lima orang muda itu, Apalagi ketika mereka mendengar ucapan Si Han Lin yang membuat mereka baru menyadari bahwa Pat-Jiu Sin-Kai yang memimpin mereka ke Siauw-Lim-Pai adalah palsu!

Maka ketika mereka melihat Ketua mereka ini benar-benar hendak melarikan diri, mereka yakin akan kebenaran ucapan Si Han Lin.

Beberapa orang mencoba menghadang dan mencegah Pat-Jiu Sin-Kai palsu melarikan diri.

Akan tetapi dengan beberapa gerakan kaki tangan saja, enam orang anggauta Hek I Kaipang yang menghadang itu berpelantingan dan tewas seketika!

Pat-Jiu Sin-Kai palsu itu sudah melarikan diri dengan amat cepatnya sehingga tidak mungkin dapat ditangkap lagi.

Keadaan tentu saja menjadi gempar.

Apalagi ketika Yo Kang juga mengeluarkan suara yang amat nyaring.

"Aku Yo Kang menjadi utusan Suhu Tiong Li Seng-jin Ketua Bu-Tong-Pai mendukung kebenaran ucapan Si Han Lin tadi. Pat-Jiu Sin-Kai yang lari itu palsu dan dialah pembunuh misterius!"

"Aku juga mendukung kebenaran keterangan itu!"

Lian Hong kini berteriak lantang.

"Aku Ong Lian Hong ditugaskan Suhu Bu Kek Tianglo menyatakan bahwa Pat-Jiu Sin-Kai palsu yang melarikan diri itulah Si Pembunuh misterius!"

Mendengar ini, pimpinan Bu-Tong-Pai, Kun-Lun-Pai, Go-Bi-Pai dan Siauw-Lim-Pai semua kini menghadapi Empat Datuk Besar, diikuti pula oleh rombongan perkumpulan lain!

"Omitohud!

Empat Datuk Besar dari empat penjuru kiranya telah begitu hina dan tidak tahu malu, merendahkan diri menjadi anjing penjajah untuk menyerang dan membasmi bangsa sendiri!

Sungguh dosa kalian amat besar!"

Kata Bu Kek Tianglo. Pak Lo-Kui yang melihat betapa keadaan kini membalik, semua tamu itu agaknya kini bahkan membela Siauw-Lim-Pai, lalu memberi aba-aba kepada tiga orang rekannya dan pasukan Mongol.

"Serbu! Bunuh semua orang Siauw-Lim-Pai dan mereka yang berani melawan!"

Empat orang Datuk Besar bergerak maju diikuti pasukan Mongol.

Biarpun tidak dikomando, secara serentak para Ketua dari empat perguruan besar, yaitu Bu Kek Tianglo Ketua Siauw-Lim-Pai, Tiong Li Seng-jin Ketua Bu-Tong-Pai, Pek Ciang San Lo-jin Ketua Kun-Lun-Pai, dan Pek Eng Thaisu Ketua Go-Bi-Pai, maju menyambut Empat Datuk Besar, yaitu Pak Lo-Kui, Tung Giam-Lo, Lam Sian, dan See Te-Tok!

Adapun murid-murid empat perguruan besar itu pun menyambut serbuan pasukan Mongol sehingga terjadi pertandingan yang amat hebat di halaman Siauw-Lim-Pai yang luas itu.

Perguruan-perguruan silat lainnya berpencar, ada yang ikut mengeroyok pasukan, ada pula yang tidak mau mencampuri dan meninggalkan tempat itu.

"Mari kita tangkap pembunuh misterius itu!"

Kata Kwee In Hong kepada Lian Hong, Yo Kang, Si Han Lin, dan Ang Hwa Niocu.

"Ke mana kita akan mencarinya?"

Tanya Yo Kang.

"Siapakah dia, Enci Hong?"

Tanya Lian Hong.

"Ikutilah saja aku, nanti kalian lihat sendiri!"

Kata In Hong dan Si Bayangan Bidadari ini lalu mengerahkan seluruh ilmunya berlari cepat sehingga bayangannya berkelebat cepat sekali meninggalkan tempat itu.

Lian Hong, Yo Kang, Han Lin dan Ang Hwa Niocu terpaksa juga mengerahkan seluruh ilmu mereka untuk mengimbangi dan lima orang muda ini berlari cepat sekali, In Hong di depan karena ia menjadi penunjuk jalan, sedangkan empat yang lain hanya mengikutinya.

Mereka tidak sempat bercakap-cakap lagi karena mereka berlari sangat cepatnya.

Beberapa hari kemudian tibalah mereka di kaki Beng-San.

Yo Kang, Lian Hong, Han Lin, dan Ang Hwa Niocu merasa heran dan bertanya-tanya dalam hati.

Ke manakah In Hong hendak membawa mereka?

Di Beng-San terdapat tiga perkumpulan.

Thian-Te-Pang yang dikuasai oleh Gan Bouw, Beng-San-Pai yang di Ketuai oleh U Gi Tosu, dan Hek I Kaipang yang di Ketuai oleh Pat-Jiu Sin-Kai.

Ke manakah mereka akan menuju?

Ketika In Hong membawa mereka pergi ke perkampungan Thian-Te-Pang dekat dusun Kiok-Lim, perkampungan yang sudah menjadi puing, terbakar habis.

Ketika melihat In Hong agaknya hendak mencari Gan Bouw, Yo yang masih berlari berkata.

"Akan tetapi Hong-moi..."

"Ssstt...!"

Kata In Hong sambil menunjuk ke depan, ke arah pondok kecil yang Yo Kang tahu menjadi tempat Gan Bouw yang sakit parah dan lumpuh ltu dirawat empat orang pembantunya.

In Hong berhenti dan empat orang yang lain ikut berhenti memandang.

Di depan itu terdapat sebuah joli (tandu) dan Gan Bouw yang lumpuh duduk di dalam joli.

Empat orang yang bertubuh tinggi itu berada di dekat joli, agaknya untuk menggotong joli itu.

"Thian-Te Pangcu (Ketua Thian-Te-Pang)! Perlahan dulu, kami mau bicara!!"

In Hong berseru dan Gan Bouw bersama empat orang pembantunya itu menoleh dan memandang ke arah lima orang muda yang datang dengan cepat.

Mendengar seruan itu, Gan Bouw yang duduk di dalam joli dan empat orang pembantu yang hendak mengusungnya itu memandang.

Gan Bouw memandang ke arah In Hong dan Yo Kang, dan wajahnya berseri.

"Ah, kiranya Yo-Taihiap dan Adik Sian-Li Eng-Cu!!"

Dalam pertemuannya dengan In Hong dahulu, In Hong mengaku bernama Put Houw Li (Gadis Tidak Berbakti) akan tetapi Gan Bouw tidak percaya akan nama itu dan tahu bahwa In Hong adalah Sian-Li Eng-Cu, maka kini dia menyebut julukan gadis itu.

Lima orang muda itu, dipimpin In Hong dan Yo Kang, kini tiba di depan Gan Bouw yang masih duduk di dalam joli.

"Aih, maafkan aku tidak dapat menyambut kalian dengan sebagaimana mestinya! Yo-Taihiap, dan engkau Siauw-moi, apakah kalian ini datang hendak menolong aku? Ah, sungguh tidak kusangka akan terjadi begini dengan diriku..."

Wajah Gan Bouw tampak berduka sekali.

Yo Kang memandang ragu, masih bingung dan tidak mengerti mengapa In Hong mengajak mereka datang menemui Gan Bouw yang agaknya mengenal In Hong sebagai Sian-Li Eng-Cu (Si Bayangan Bidadari)!

Dengan alis berkerut dan sinar mata tajam penuh kemarahan In Hong menudingkan telunjuknya ke arah muka Gan Bouw dan membentak.

"Gan Bouw, apa yang kau lakukan terhadap Paman Pat-Jiu Sin-Kai?"

Gan Bouw membelalakkan matanya, memandang kepada In Hong dengan heran.

"Pat-Jiu Sin-Kai? Dia adalah Ketua Hek I Kaipang dan dia sahabatku. Apa yang kulakukan? Aku tidak melakukan apa-apa, Siauw-moi..."

"Engkau melukainya, menjebloskannya ke penjara bawah tanah dan engkau menyamar sebagai dia, menjadi Ketua Hek I Kaipang palsu! Engkau yang melakukan pembunuhan-pembunuhan itu, engkau antek penjajah Mongol!"

Wajah Gan Bouw yang putih itu menjadi kemerahan dan dia berkata dengan suara bernada penuh kesedihan dan penyesalan.

"Sian-Li Eng-Cu, aku telah kehilangan Thian-Te-Pang yang dibasmi oleh Empat Datuk Besar dan pasukan Mongol, bahkan kini aku menderita lumpuh, dan engkau malah menuduh aku menjadi antek Mongol? Sungguh engkau kejam sekali dan tega menuduh yang bukan-bukan padaku..." (Lanjut ke

Jilid 21 -Tamat) Bayangan Bidadari/Sian Li Eng Cu (Cerita Lepas) Karya. Asmaraman S. Kho Ping Hoo

Jilid 21 (Tamat) "Gan Bouw, permainan sandiwaramu tamat sudah! Jangan berpura-pura lagi!"

Tiba-tiba In Hong menerjang dengan pukulan yang penuh mengandung tenaga sakti ke arah Gan Bouw yang duduk di dalam joli! "Hong-moi...!"

Yo Kang maju hendak mencegah, akan tetapi Han Lin dari samping memegang lengannya, mencegah. Pukulan In Hong itu dahsyat bukan main, penuh tenaga sakti.

"Bressss...!"

Joli itu hancur berkeping-keping akan tetapi tubuh Gan Bouw berkelebat dan pemuda itu sudah menghindar dengan amat cepatnya. Kini dia berdiri dan sepasang matanya mencorong, menakutkan.

"Ha-ha-ha-ha! Kalian sudah tahu? Baik, bersiaplah untuk mati di sini!"

Gan Bouw mengeluarkan bentakan menantang dan empat orang pemikul joli itu pun kini memperlihatkan diri yang sebenarnya. Mereka semua siap untuk bertanding! "Huh, kau kira dapat menipu kami?"

In Hong mengejek.

"Aku bahkan tahu bahwa sembilan tahun yang lalu, engkau yang diangkat anak oleh Hartawan Tan Yu Seng di Lam-Keng, minggat sambil mencuri banyak emas dari orang tua angkat yang baik budi itu! Sekarang engkau harus menebus semua dosamu. Hai-iitttt...!"

In Hong menyerang dengan pukulan Pek-In-Ciang (Tangan Awan Putih).

Kedua telapak tangannya yang men-dorong ke depan itu mengeluarkan uap putih dan pukulan ini dahsyat bukan main.

Akan tetapi Gan Bouw juga mendorongkan kedua tangannya menyambut.

"Dessss...!"

Tubuh In Hong terdorong mundur beberapa langkah!

Ini menandakan bahwa tenaga saktinya masih kalah kuat dan tidak dapat menandingi kekuatan Gan Bouw!

Ketika In Hong hendak menyerang lagi, di antara empat orang pembantu Gan Bouw yang kepalanya botak sudah melompat dan menyambut.

Ternyata orang botak tinggi besar ini cukup lihai sehingga terjadi perkelahian antara dia dan In Hong yang berlangsung dengan serunya.

Lian Hong menjadi marah dan ia pun sudah menerjang maju menyerang Gan Bouw.

Karena maklum betapa lihainya pemuda muka putih itu yang tadi dapat membuat encinya terdorong ke belakang, Lian Hong sudah menggunakan jurus Tat-Mo Sin-Kun dan mengerahkan tenaga sakti I-Kin-Keng.

"Plak-plak-desss...!"

Tiga kali Gan Bouw menangkis serangan Lian Hong dan yang ke tiga kalinya, pertemuan antara dua tangan mereka membuat Lian Hong jug terpental seperti halnya In Hong tadi.

Kini Lian Hong disambut oleh pembantu Gan Bouw yang ke dua, yang juga tinggi besar dan mukanya hitam.

Lian Hong yang marah itu segera terlibat dalam perkelahian seru melawan orang ini.

Yo Kang kini menghadapi Gan Bouw.

Pemuda Bu-Tong-Pai ini tadinya heran dan terkejut.

Akan tetapi sekarang dia memandang Gan Bouw dengan alis berkerut dan sinar mata tajam menusuk.

"Keparat Gan Bouw, kiranya engkau pembunuh misterius itu? Semua pertolonganmu terhadap kami ternyata hanya sandiwara belaka? Sungguh jahanam yang jahat sekali engkau dan sudah layak mampus!"

Yo Kang menyerang dan langsung saja menggunakan Tong-Sim-Ciang, pukulan ampuh dan khas dari Bu-Tong-Pai. Akan tetapi sambil tersenyum mengejek Gan Bouw menyambutnya dengan pukulan yang sama.

"Wuuuuttt... darrrr...!!"

Dua tenaga sakti yang dahsyat bertemu dan akibat-nya, kalau tubuh Gan Bouw hanya bergoyang, tubuh Yo Kang terdorong sampai tiga langkah!

Ketika Yo Kang yang merasa penasaran maju lagi, dia disambut oleh pembantu ke tiga dari Gan Bouw, seorang tinggi besar yang di pipi kirinya terdapat codet bekas luka memanjang.

Ternyata lawan Yo Kang ini juga lihai dan mereka juga sudah saling serang dengan serunya.

Kini Ang Hwa Niocu yang menghadapi Gan Bouw.

Wanita cantik ini tersenyum mengejek.

"Hemmm, inikah manusia sesat Gan Bouw, murid para Pendeta Lama Tibet yang sesat dan menyeleweng dari agama mereka itu? Gan Bouw, engkau pernah mencuri kitab pusaka dari Kerajaan Bhutan, bersiaplah engkau untuk menerima hukuman dariku!"

Gan Bouw memandang tajam dan melihat bunga merah di rambut Ang Hwa Niocu, dia terkejut.

"Ah, engkau Ang Hwa Niocu, puteri Istana Kerajaan Bhutan?"

Han Lin melangkah maju.

"Suci (Kakak Seperguruan), biarlah aku yang menghadapi jahanam ini!"

Ang Hwa Niocu mengerti.

Biarpun ia merupakan kakak seperguruan dari.

Baca Juga: Pendekar Sakti 4

Baca Juga: Jodoh Rajawali 20

Cari Blog Ini

Diberdayakan oleh Blogger.

Parnert