Eps 4 Pendekar Bego - Can ID
Baca online Pendekar Bego - Can ID
Cersil Pendekar Bego - Can ID.
Sambil berkata tangannya lantas digape ke arah Ong It sin Mengikuti gapean itu, Ong It sin merasa munculnya segulung tenaga yang amat lembut menghisap tubuhnya sehingga mau tak mau badannya melayang padahal jarak yang satu dengan lainnya mencapai beberapa kaki.
Dalam sekejap mata pemuda itu sudah terjatuh di bawah kaki kakek berambut putih itu.
Paras muka Khekpo pocu kembali berubah hebat teriaknya tertahan.
"Haah... Ilmu Bu siang sin lip apakah kau adalah seorang jago lihay dari kalangan Buddha?"
Padahal kakek berambut putih itu sama sekali tidak menunjukkan dandanan dari seorang pendeta beragama. Tapi setelah mendengar perkataan ini dia manggut juga.
"Siancay, siancay, aku memang orang dari kalangan Buddha"
Sahutnya.
"Hmm... Kepalamu penuh dengan rambut yang beruban, mana mungkin menjadi seorang pendeta?"
"Haaah... haaah... haaah... ada mulanya dari tiada, dalam pandanganku didunia ini sesungguhnya tiada sesuatu bendapun, mana mungkin kepalaku dipenuhi oleh rambut liar?"
Seraya berkata, sambil menjinjing tubuh Ong It sin dia maju selangkah lagi, kemudian tangan kirinya digape ke depan dan mencengkeram Say siujin mo yang berada ditengah udara.
Waktu itu Say siujin mo yang dikepung puluhan orang jago sudah kepayahan setengah mati tapi begitu digape oleh si kakek berbaju putih itu, segulung tenaga hisapan yang amat dahsyat telah menghisapnya terlepas dari gencetan musuh.
Semua orang merasakan sekujur tubuhnya bergetar keras terpengaruh oleh tenaga hisapan tadi...
Sebelum semua orang tahu apa gerangan yang telah terjadi, tiba tiba..."Blaaang"
Tubuh Say siujin mo sudah mencelat ke udara dan melayang turun dibawah kaki kakek berambut putih itu.
kemudian dengan tangan kiri menenteng Say siujin mo, tangan kanan menenteng Ong It sin, sambil tertawa terbahak-bahak kakek berambut putih itu berseru.
"Maaf, maaf!"
Dengan langkah lebar dia lantas keluar dari ruangan itu. Serentak para jago dari benteng Khekpo menjerit keras, ada beberapa orang diantaranya siap menerjang kemuka.
"Jangan sembarangan bergerak"
Cegah Khekpo pocu sambil merentangkan tangannya.
Berbareng dengan teriakan itu tubuhnya melompat ke depan dan tahu-tahu sudah tiba dibelakang kakek itu, tubuhnya segera direndahkan, telapak tangannya dibalik dan..."Weess"
Sebuah pukulan dilontarkan kedepan.
Kedua tangan kakek itu sedang menenteng dua orang manusia tak mungkin baginya untuk melancarkan serangan, apalagi diapun tidak bersiap siap untuk turun tangan, tampaknya pukulan dari pocu itu segera akan bersarang ditubuhnya.
Tapi pada saat itulah, tiba tiba gerakan tangan pocu terhenti di tengah jalan, seakan-akan antara telapak tangannya dengan punggung kakek berambut putih itu terhalang oleh suatu benda sehingga gerakannya tertahan setengah jalan Sedangkan gerakan tubuh kakek berambut putih itu justru semakin bertambah cepat sedemikian cepatnya bagaikan anak panah yang terlepas dari busurnya, dalam sekejap mata bayangan tubuhnya sudah lenyap tak berbekas.
Kenapa gerakan tubuh dari kakek berambut putih itu bisa bertambah cepat?
Mungkin hanya Khekpo seorang yang memahaminya...
Ternyata kakek berambut putih itu telah manfaatkan tenaga pukulannya itu untuk mempercepat gerak majunya, atau dengan perkataan lain, serangan dari Khekpo pocu itu bukannya berhasil melukai lawan, malah sebaliknya seakan-akan ia telah membantu kakek itu untuk lebih cepat kabur dari sana.
Dengan geramnya Khekpo pocu berteriak aneh tubuhnya secepat kilat ikut menerobos keluar, tapi setiba diluar ruangan terlihat para pengawal tergeletak disana sini dalam keadaan tertotok.
sementara kakek berambut putih itu sudah lenyap tak berbekas.
Sekian saat kemudian setelah berdiri tertegun di depan pintu, Khekpo pocu segera putar badannya sambil membentak ke arah dalam ruangan-"Beritahu kepada semua bagian, lakukan pengejaran sekuat tenaga"
Serentak semua orang mengiakan dan masing masing berlalu dari situ.
Khekpo pocu sendiri dengan membawa beberapa orang tianglo ikut pula melakukan pengejaran Sementara itu si kakek berambut putih itu sudah berlari kedepan dengan kecepatan luar biasa.
Ong It sin hanya merasakan telinganya mendengar angin kencang, pemandangan dikedua belah sampingnya bergerak lewat dengan kecepatan yang tinggi Jalan darahnya yang tertotok waktu itu sudah dibebaskan, beberapa kali ia hendak buka suara, tapi angin kencang yang berhembus lewat membuatnya sukar untuk bernapas.
Dalam sekejap mata, tujuh delapan puluh li sudah dilewatkan, saat itulah si kakek berambut putih baru menghentikan tubuhnya.
Dengan lega Ong It sin pun menghembuskan napas panjang, ternyata mereka telah berada dalam sebuah lembah kecil yang terpencil, suara air yang mengalir berkumandang dari atas dinding tebing disekeliling situ, ditambah aneka bunga yang tumbuh disekitar sana membuat pemandangan tampak sangat mempesonakan.
Kakek itu maju ke depan dan duduk diatas sebuah batu besar.
Ong It sin yang ada dicengkeramannya segera dilepaskan hingga duduk terperosok disampingnya, sedangkan Say siujin mo terlepas dari cengkeramannya, dengan ujung jari yang ditegangkan secepat kilat dia mengurung sekeliling tubuh kakek berambut putih itu, sedemikian cepatnya gerakan tadi hakekatnya sukar ditulisnya dengan kata kata.
Siapa tahu kakek berambut putih itu masih tetap duduk diatas batu sambil tertawa cekikikan, serangan yang tertuju kepadanya itu sama sekali tidak digubris atau dilakukan perlawanan, tapi akibatnya Say siujin mo mundur kebelakang dengan wajah ketakutan.
Ong It in mengira Say siujin mo hendak kabur dari situ, ia lantas berteriak keras.
"Hei, kau jangan kabur. Kemana mau bawa lari si bocah itu?"
Say siujin mo tidak menggubris perkataan anak muda itu bahkan menengok kearahnya pun tidak.
cuma dengan mata terbelalak diawasinya kakek berambut putih itu lekat lekat.
Si kakek berambut putih itu sendiripun cuma balas memandang kearahnya sambil tertawa cekikikan, mereka berdua bersama sama tidak bersuara dan sama sama tidak melakukan gerakan apa apa Lewat sejenak kemudian, Say siujin mo baru mengajukan lengan kanannya kedepan, menyusul kemudian tangan kirinya juga ikut diayun ke depan, suara gemuruh yang amat nyaring pun menggelegar diudara.
Kakek berambut putih itu berkata dengan dingin.
"Ilmu Kiu thian to sou kang yang kau miliki masih belum mencapai puncak kesempurnaannya. setiap kali kau pergunakan sekali, isi perutmu terluka sebagian, dari pada digunakan tanpa hasil apa apa, aku lihat lebih baik tak usah digunakan lagi"
Sesungguhnya say siujin mo telah bersiap sedia untuk melancarkan serangan lagi, tapi setelah mendengar perkataan itu dia menjadi tertegun, paras mukanya berubah hebat, ia menarik kembali serangannya sambil membentak.
"Siapa kau?"
Sambil menuding ke arah Say siujin mo, kakek berambut putih itu menjawab.
"Siapakah kau, siapa pula aku"
"Hei, apa maksudmu?"
"Apa maksudnya kau musti bertanya pada diri sendiri, masakan kau masih belum mengerti?"
Sekali lagi Say siujin mo tertegun, tiba tiba ia menjadi paham akan sesuatu, serunya.
"ooohh... kau adalah... haaah..."
Tiba tiba ia tertawa terbahak bahak. selang sesaat kemudian baru ujarnya lagi.
"Kau mentertawakan ilmu Kiu thian to sou kang ku belum mencapai puncak kesempurnaan, tapi kau sendiripun tidak berhasil mencapainya. Huuh... kau anggap aku takut kepadamu? Nih rasain sebuah pukulanku terlebih dahulu..."
Kakek berambut putih itu goyangkan tangannya berulang kali.
"Tunggu sebentar"
Katanya.
"bagaimana kalau kau dengarkan lagi beberapa patah kataku?"
"Baik akan kudengarkan apa lagi yang hendak kau ucapkan kepadaku..."
Seru Say siu jin mo. Kakek berambut putih itu tersenyum, pelan-pelan ujarnya.
"Dulu aku masih mengira hanya ilmu Kiu thian to sou kang saja yang merupakan ilmu silat yang tiada tandingannya di dunia ini, tapi Setelah kejadian aku baru tahu bahwa ilmu Kiu thian to sou kang sesungguhnya adalah suatu ilmu yang menggelikan. Aku lihat kau tak usah berbuat ulah lagi dalam dunia persilatan, sebab aku sendiripun merasa geli bila membayangkan perbuatanku dulu lebih baik angkatlah diriku menjadi gurumu, masuklah ke agama Budha dan menjadi pendeta"
Say siujin mo tertawa terbahak-bahak.
"Haaah... haahh... haaahh... sudah habiskah perkataanmu itu?"
Ejeknya.
"kalau sudah selesai, maka bersiap siaplah untuk menyambut sebuah pukulan lagi"
"Setiap kali melancarkan serangan dengan Kiu thian to su kang, bila gagal melukai orang maka dirinya yang akan terluka, mengertikah kau akan hal ini?"
"Haaahh... haaahh... kau anggap aku tak dapat melukai dirimu?"
"Tentu saja tidak bisa, sebab jika kugetarkan balik kekuatan pukulanmu itu, maka akibatnya kau bakal terluka, padahal sebagai pendeta aku tak ingin melakukan perbuatan seperti itu"
Sambil berkata kakek itu gelengkan kepalanya berulang kali, seakan-akan persoalan ini amat menyedihkan hatinya.
Say siujin mo berteriak keras, tidak menanti selesainya perkataan orang, lengannya lantas diayunkan ke depan melancarkan serangan dahsyat.
Sungguh hebat angin pukulan yang dilepaskan orang itu, sampai sampai Ong It sin yang berada disampingnya pun ikut merasakan datangnya gulungan angin puyuh yang membuat tubuhnya terguling keluar.
Kakek berambut putih itu berseru tertahan menyusul datangnya serangan yang dilancarkan orang itu.
Kiranya ilmu Kiu thian to sou ciang yang digunakan Say siujin mo semuanya terdiri dari sembilan tingkat kekuatan, setiap kali pukulan dahsyat tersebut dilancarkan makin ke atas kekuatannya makin menghebat.
Tapi kali ini, setiap serangan yang dilancarkan selalu dapat ditahan balik oleh segulung tenaga pukulan yang lembut.
Akibatnya setiap kali pukulannya terpukul baik membuat badannya terdorong selangkah dengan sempoyongan, dalam sekejap mata ia telah mundur sembilan langkah, dan setelah mundur sembilan langkah badannya terjatuh ke tanah dan muntah darah segar.
Sebaliknya kakek berambut putih itu tetap sehat walafiat tanpa kekurangan sesuatu apapun.
Ia bangkit berdiri sambil menghela napas, kemudian katanya.
"Seranganmu terlampau cepat, coba kau sedikit agak lambat, aku akan menggunakan tenaga sinkang ku untuk melakukan perlawanan dan kaupun tidak akan terluka"
Say siujin mo membelalakkan matanya lebar lebar, jelas ia merasa tidak habis mengerti kenapa kakek berambut putih itu berkata demikian.
Ong It sin sendiripun tidak mengerti, tapi paling tidak ia tahu kalau kakek berambut putih itu adalah seorang yang baik, ia lebih suka dirinya yang menderita luka dari pada membiarkan Say siujin mo menderita akibat dari pantulan serangan Kiu thian to sou kangnya.
Tapi sayang Say siujin mo terlalu cepat melancarkan serangannya sebab itu dalam keadaan demikian mau tak mau dia musti memukul balik tenaga serangannya, dan akibatnya say siujin mo roboh tak berkutik.
Sementara itu Say siujin mo telah merangkak bangun sambil berkata.
"Ilmu silatku bukan tandinganmu, lebih baik kita berjumpa lagi lain kali, buat apa kau musti mengucapkan kata kata ejekan seperti itu?"
Kakek berambut putih itu gelengkan kepalanya berulang kali.
"Aku tahu ucapan itu hanya sia-sia belaka bila kutujukan kepadamu, tapi kaupun musti tahu jika kau hendak membalas dendam kepadaku, itu sama artinya dengan mencari penyakit buat diri sendiri. Kini aku tak ingin menyusahkan dirimu lagi, kau katakan bocah itu kau simpan dimana?"
Mendengar ucapan itu, Ong It sin merasa amat girang buru buru ia melompat bangun sambil berseru "Betul, kau musti mengatakan dulu dimanakah kau sembunyikan bocah itu, asal kau mau menjawab, untuk sementara waktu akupun tidak akan menagih hutang kepadamu atas terjadinya peristiwa berdarah diperkampungan Li keh ceng"
Paras muka Say siujin mo berubah menjadi hijau membesi, sambil tertawa dingin katanya.
"Aku menahan siau pocu dari benteng Khekpo karena hendak kutuntut pedang Husi kiam dari pocu, sebelum pedangnya kudapatkan mana boleh bocah itu kuserahkan kepadamu?"
"Pedang antik itu sudah tidak ada dalam benteng Khekpo lagi"
Buru buru Ong It sin berseru.
"Darimana kau bisa tahu?"
Tanya Say siujin mo dengan suara sedingin es beku.
"Kenapa aku tidak tahu? Pedang antik itu..."
Sebenarnya dia mau bilang kalau pedang antik itu berada disakunya.
Tapi mendadak saja teringat dengan pesan Be Siausoh, nona itu pernah berpesan agar soal pedang antik yang ada dalam sakunya jangan sekali kali diberitahukan kepada orang lain, maka cepat cepat ia telan kembali kata katanya itu.
Say siujin mo tertawa dingin berulang kali, pada hakekatnya ia tak pandang sebelah matapun kepada Ong It sin, tentu saja perkataannya juga tidak diperhatikan.
Ong It sin sangat gelisah, kembali dia berteriak.
"Eeeh... kau jangan mencoba coba untuk menahan bocah itu terus menerus, kamu tahu ilmu silat locianpwe itu? Huuh... sekali tangannya menuding, sudah pasti nyawamu akan kabur terbirit birit pulang ke rumah nenek moyangmu"
Paras muka Say siujin mo berubah hebat, agak takut ia melirik kakek berambut putih itu sekejap.
terus badannya menyurut mundur beberapa langkah.
Ong It sin mengira si manusia iblis berkepala singa mau merat dari situ, cepat cepat dia berteriak.
"Hei, kamu jangan kabur dulu, masa mau merat dengan begitu saja...? Hayo pulangkan dulu bocah itu"
Sambil berteriak terlak dia lantas menubruk ke muka dan menyambar ujung baju orang.
Jangan dianggap sesudah terluka lantas Say siujin mo tak bertenaga lagi, untuk melayani manusia macam Ong It sin yang terhitung seorang jagoan berilmu cetek.
sudah barang tentu kekuatannya lebih dari cukup, Ketika dirasakan Ong It sin menubruk ke arahnya, ia sama sekali tak berpaling, apa lagi memutar badannya, sikutnya langsung saja disodok kebelakang dengan sepenuh tenaga.
Ong It sin kaget, dia tahu kalau sikut itu ditubruk juga, sudah pasti dadanya akan tersodok keras akibatnya dia pasti akan menderita kerugian besar.
Tapi mau menahan gerak majunya juga telah terlambat, maka dalam gugup dan paniknya, dari gaya menubruk ia malah merubah gayanya menjadi gaya terleset.
"Braaak... dudduk..."
Pantatnya langsung diadu dengan tanah, tentu saja sakitnya melilit lilit. Tapi dia tidak berkurang keberaniannya, sambil merangkak bangun dia tubruk lagi orang itu sambil berteriak.
"Hei, kamu kemanakan bocah itu? Hayo cepat beri pengakuan yang terus terang kepada siauyamu? Say siujin mo tidak gubris teriakan orang sikut kirinya kembali bekerja menyodok ke belakang. Kelihatannya sikutnya itu akan segera mampir di dada Ong It sin yang akan mengakibatkan pemuda itu meringis kesakitan tiba tiba satu kejadian aneh berlangsung. Sebelum ujung sikut itu menghantam dadanya, tahu tahu Ong It sin merasa kerah bajunya dicengkeram orang dan tubuhnya langsung saja diangkat keudara. Berada diudara Ong It sin segera meronta ronta macam monyet kegerahan teriaknya berulang kali.
"Hei, hei, cepat lepas tangan cepat lepaskan aku, coba lihat hampir saja ia kena ditangkap. ayoh lepas tangan, kalau tidak dia tentu akan merat dari sini"
Tiba tiba badannya diturunkan kembali ke bawah sepasang kakinya lantas menempel di tanah.
Buru buru anak muda itu berpaling, dilihatnya si kakek berambut putih yang mencekal kerah bajunya sedang tertawa haha hihi sambil memandangi wajahnya.
"Heeehh... heehh... heeeh... masa iya kata katamu itu? Betul kau bisa tangkap orang itu?"
Sambil mengoceh, kakek berambut putih itu lantas menuding ke arah Say siujin mo yang sudah kabur dari sana.
Tampak sesosok bayangan manusia sedang berkelebat lewat menuju ke depan sana, sekalipun lantaran isi perutnya terluka maka kaburnya tidak terlalu cepat, tapi bagi takaran Ong It sin, larinya sudah macam terbang saja.
"Tentu saja aku dapat menyusulnya"
Jawab Ong It sin tak mau kalah "kamu tahu?
Aku kan seorang jago lihay kelas satu dari dunia persilatan?
Rupanya ia sudah terluka parah, makanya lantaran kuatir kalah ditanganku, dia lantas ambil langkah seribu"
"Haaah... haaah... haaah... kau adalah seorang jago kelas satu...?"
Kakek berambut putih itu tertawa terpingkal-pingkal.
"siapa yang memberitahukan soal ini kepadamu?"
"Seorang sahabatku yang bernama si nenek. dia yang memberitahukan kesemuanya itu kepadaku"
"Aaah... dia?"
Tiba tiba saja kakek berambut putih itu menghela napas panjang.
Ong It sin merasa gelisah sekali karena Say siujin mo sementara itu makin lama sudah semakin jauh dari situ.
Cepat cepat dia memberi hormat kepada kakek itu, lalu katanya.
"Lotiang, kalau pingin berkeluh kesah, silahkan berkeluh kesah seorang diri sampai tua, aku mah ingin menyusul orang itu Selamat tinggal sampai jumpa lagi"
Dia sudah slap untuk kabur dari situ ketika kakek berambut putih itu kembali menarik tangannya.
"Apa gunanya kau susul orang itu?"
Ia menegur Ong It sin mengebaskan tangannya berusaha meronta dari cekalan, sayang tidak berhasil terpaksa ia menjawab.
"Apa lagi? Aku kepingin tahu nasib si bocah itu?"
"Anak siapa? Masa anakmu?"
Tanya sikakek. Merah padam selembar wajah Ong It sin yang jelek hingga mirip babi panggang.
"Huus, jangan ngaco belo kau. Masa aku bisa punya anak?"
Teriaknya "kamu tahu, bocah itu adalah siaupocu dari benteng Khekpo. coba kau lihat, dia sudah semakin jauh dari sini mau disusul juga tak mungkin, bagaimana sekarang?"
Sebelum si anak muda sempat menjawab kembali kakek berambut putih itu mengoceh lebih lanjut.
"Benteng Khekpo letaknya jauh di kota barat dengan kau juga bukan sanak bukan keluarga, mati hidup dari siau pocu apa sangkut-pautnya dengan dirimu? Kau toh datang dari luar perbatasan dan baru tiba di Suchuan? Masa ada hubungannya dengan mereka?"
Ong It sin menjadi melongo, ia termangu mangu keheranan, pikirannya.
"Heran, kenapa ia bisa tahu aku datang dari Kwan gwan dan belum lama tiba di wilayah Su chuan?"
Tapi waktu itu tiada kesempatan buat Ong It sin untuk berpikir lebih jauh, terpaksa katanya.
"Ibunya yang bernama Be Siau soh..."
Tiba tiba pemuda itu membungkam, sebab dia tak tahu apa yang mesti diucapkan selanjutnya.
Maka dibilang ia menjaga bocah itu lantaran Be Siau soh pernah mengadakan hubungan gelap semalam suntuk dengannya?
Sulit Mau dibilang dia jatuh cinta kepada gadis itu?
Rasanya juga malu.
Maka ia gelagapan, mukanya merah padam lagi macam babi panggang, untuk sesaat tak diketahui olehnya apa yang musti dikatakan.
Lewat beberapa waktu kemudian, ia baru bisa berkata.
"Eeeh... eeeh... maksudnya dia titip anak itu kepadaku dan menyuruh aku yang merawatnya sampai dewasa hayo cepat lepaskan tanganku"
Seakan akan memahami suara hati pemuda itu si kakek berambut putih manggut manggut, ketika diawasi matanya, ternyata sinar mata pemuda itu bercahaya terang, seakan akan rahasia hubungan gelapnya dengan Be Siau soh sudah terbongkar dan membuatnya menjadi malu.
Ia jadi tersenyum sendiri dan tidak berbicara lagi.
Sementara itu Ong It sin tertunduk malu, jantungnya berdenyut kencang mukanya merah padam dan untuk sesaat tak berani bersuara.
Lewat sekian lama kemudian, ia baru mendongakkan kembali kepalanya.
Waktu itu Say siujin mo sudah berada jauh sekali dari hadapan mereka malah hampir saja bayangan tubuhnya sudah tak kelihatan dari pandangan mata.
"coba lihat"
Teriaknya mendongkol.
"makin pergi makin jauh, kenapa kau belum juga melepaskan tanganku?"
"Jangan kuatir, akan kubantumu untuk mencarinya kembali,"
Kata si kakek berambut putih itu pelan Jawaban itu bikin Ong It sin mau tertawa tak bisa mau nagispun sungkan, dia menghela napas berulang kali.
"Aaai... kenapa tidak bilang saja kalau kau memang sengaja hendak permainkan aku? Jaraknya saja sudah terpaut sejauh itu.."
Tiba tiba ia lihat kakek berambut putih itu berkemak kemik seperti lagi berbicara sesuatu, tapi ia tidak mendengar suara apapun, apa lagi memahami apa yang sedang ia katakan.
Ong It sin makin mendongkol, dia mengira kakek berambut putih itu memang sengaja lagi permainkan dirinya, saking dongkol dan marahnya pemuda itu sampai tak tahu apa yang musti dikatakan-Tapi pada saat itulah secara tiba-tiba dia jumpai Say siujin mo sedang pelan-pelan berjalan balik kearah mereka.
Ong It sin menjadi tertegun, ia mencoba untuk mengucak matanya sambil mempertegas pandangan matanya.
"Jangan dianggap mustahil"
Kata si kakek kemudian sambil tertawa.
"janganpula kau anggap aku lagi menyihirmu, coba lihat, toh aku berhasil memanggilnya kembali?"
Ketika dilihatnya anak muda itu masih melongo dia lantas berkata lebih lanjut.
"Hey, coba lihatlah. Bukankah dia telah datang menghampirimu?"
Dalam pembicaraan itulah Say siujin mo telah mempercepat langkahnya dan menuju kehadapan mereka.
Nafas orang itu tersengkal sengkal, seakan akan kuatir jika sampai terlambat maka akibatnya adalah bencana lebih besar yang akan menimpa dirinya...
Ong It sin keheranan setengah mati, mulutnya sampai melongo dan matanya terbelalak lebar, dia cuma bisa memandangi si kakek berambut putih itu dengan pandangan bodoh.
"coba kau lihat kepandaianku ini, bagaimana? Lebih hebat daripada kau menyusulnya bukan?"
Kata si kakek berambut putih itu. Sekarang, Ong It sin betul-betul sudah takluk dengan kehebatan kakek itu, buru buru katanya .
"Yaa, yaa... betul, kau memang betulpada hakekatnya kepandaianmu beberapa kali lipat lebih hebat daripada kepandaianku yang sudah terhitung nomor satu ini?"
Sementara mereka masih berbicara, Say siujin mo telah berhenti dihadapan mereka, mukanya amat tak sedap dipandang, katanya.
"Aku tahu kepandaianku masih bukan tandinganmu, maka aku mencoba untuk menghindarimu, ampunilah aku, lain kali aku tak akan mencatut namamu lagi, masakah kau masih belum juga mau berhenti?"
Sekalipun Ong It sin orangnya bodoh, tapi kata kata seperti itu cukup ia pahami, maka dengan wajah tertegun ia lantas berpikir.
"Aneh, apa maksudnya dengan perkataan itu? Masakah Say siujin mo telah mencatut nama dari kakek berambut putih itu?"
Bagi orang lain mereka pasti memahami makna dari ucapan tersebut, tapi kecerdasan Ong It sin memang terbatas sekali, berpikir sampai disitu ia sudah tak dapat melanjutkan kembali jalan pemikirannya .
Walau begitu hatinya timbul kecurigaan hanya saja kecurigaan tersebut hanya disimpan didalam hatinya.
Terdengar si kakek berambut putih itu sedang berkata "Ilmu kiu thian to siu kang yang kau pelajari masih belum mencapai tingkat kesempurnaan, maka bila kau gagal melukai orang tubuhmu sendiri yang bakal terluka dan kini kekuatanmu telah kupukul balik dengan tanganku, tahukah kau bagaimana cara pengobatannya?"
Sebetulnya Say siujin mo sedang berdiri dengan wajah marah, tapi ucapan tersebut segera menggetarkan perasaannya secara otomatis paras mukanya juga ikut berubah menjadi tulus dan bersungguh sungguh.
Kalau dilihat dari gerak geriknya, seakan akan dia ingin mengetahui bagaimana cara pengobatannya, tapi diapun merasa malu untuk mengucapkannya, maka untuk sesaat lamanya ia menjadi bingung, termangu dan tak tahu apa yang musti diperbuat.
oodoowoo Kedengaran kakek berambut putih itu berkata kembali.
"Jika tidak memperoleh cara pengobatan yang tepat pada saatnya, sekalipun luka dalam yang kau derita tak akan nampak dari luar, tapi dalam kenyataan luka tersebut akan menyusup kedalam delapan nadi penting di sekujur tubuhmu, tidak sampai setahun kemudian disaat latihanmu mencapai saat yang kritis, dia akan mulai bekerja, nah, waktu itu kau akan tersiksa sekali, mau hidup tak bisa mau matipun tak dapat, bayangkan sendiri bagaimana rasanya"
Paras muka Say siujin mo berubah makin pucat keabu-abuan, keringat dingin membasahi jidat serta ujung hidungnya.
Bagaimanapun juga Ong It sin adalah seorang pemuda yang berhati welas, ia tak tega menyaksikan kejadian tersebut, tak tahan lagi ia lantas berseru.
"Kalau begitu ajarkanlah cara pengobatan tersebut kepadanya, agar ia terhindar dari siksaan hidup itu."
"Boleh saja cuma dia musti menyanggupi tiga buah permintaan yang kuajukan"
Sejak awal tadi, Say siujin mo memang sudah ingin tahu bagaimana cara penyembuhan tersebut sebagai seorang yang berlatih ilmu Kiu thian to sou kang, sudah barang tentu dia mengetahui pula sampai dimanakah kedahsyatan dari kepandaian itu.
Bila digunakan untuk melukai orang, maka mereka yang terluka akan tersiksa hebat lukanya makin hari akan semakin parah, hingga mencapai hari kesembilan lukanya akan parah sekali jika tidak dlobati tepat pada saatnya, niscaya orang itu akan mampus.
Kini pukulan Kiu thian to sou kangnya gagal melukai orang dan malah melukai diri sendiri, tentu saja keadaan lukanya pun kian hari akan kian bertambah berat, jika hari kesembilan bisa dilewatkan dengan selamat maka jiwanya baru dapat diselamatkan.
Maka dia buru buru meninggaikan tempat itu dengan harapan bisa cepat mencari tempat untuk mengobati lukanya.
Tapi kemudian dengan ilmu menyampaikan suaranya si kakek berambut putih itu telah mengundangnya balik.
Kakek berambut putih itu bertanya kepadanya, apakah dia ingin mengetahui cara untuk menyembuhkan lukanya karena ingin tahu maka buru buru dia balik kembali kesana.
Dan kini Ong It sin telah mewakilinya untuk menanyakan persoalan ini, memanfaatkan kesempatan baik ini buru buru ia bertanya.
"Apa saja tiga buah permainan itu?"
Kakek berambut putih itu berpaling kearahnya kemudian menjawab.
"Dengarkan baik baik, pertama selanjutnya kau harus mengasingkan diri diwilayah See ih dan tak boleh berkeliaran lagi dimana-mana, keempat orang muridmu juga musti dijaga baik baik tidak diperkenankan membuat ulah dan keonaran lagi dalam dunia persilatan dengan mencatut nama Ciong lay su shia"
Mula mula Say siujin mo merasa agak keberatan, tapi setelah dipertimbangkan sejenak, akhirnya dia manggut juga.
"Baik"
Katanya.
"Kedua, kau harus mengatakan dimanakah bocah itu kau sembunyikan"
Kata kakek berambut putih itu lebih lanjut. Say siujin mo agak tertegun sejenak. sesudah membungkam sekian lama ia baru menjawab.
"Bocah itu berada ditangan muridku"
"cepat kirim tanda pengenal dan perintahkan kepada muridmu agar menghantar kembali bocah itu ke benteng Khekpo"
Kembali Say siujin mo tertegun.
"Waah... kalau kuserahkan bocah itu kepada pihak mereka, bukankah hal ini sama artinya dengan kau merampas pedang antik Hu si ku kiam dari tanganku?"
"Haaahhh... haaahhh... haaahhh... bukan cuma pedang antik Husi ku kiam saja yang akan kuambil, sarung pedang cian nian llong siau itupun akan kuambil juga"
Mendengar perkataan itu, serta merta Say siujin mo menyurut tubuhnya mundur selangkah, teriaknya keras keras.
"Tidak bisa, sarung pedang itu tak bisa kuserahkan kepadamu. Kau tahu, kenapa aku musti bertarung mati matian ketika berada dalam benteng Khekpo Tal lain adalah untuk melindungi sarung pedang cian nian llong siau tersebut, masa sekarang kuserahkan benda tersebut dengan begitu saja kepadamu?"
Kakek berambut putih itu tertawa lebar.
"Haaah haaah haaahh baiklah, jadi kau enggan menyerahkannya kepadaku?"
Demikian ia mengejek. Setelah berhenti sejenak. katanya lebih jauh "Seandainya aku merampasnya dengan kekerasan kira kira sanggupkah kau mempertahankan benda itu?"
Say siujin mo kaget, peluh dingin membasahi seluruh tubuhnya, ia tak mampu menjawab.
Sekalipun belum terluka, ia sudah bukan tandingan kakek berambut putih itu, apa lagi kini isi perutnya sudah terluka parah?
Seandainya kakek berambut putih itu benar-benar hendak merampas sarung pedang cian nian llong siau, sudah dapat dipastikan ia tak akan sanggup untuk mempertahankannya.
Kakek berambut putih itu tertawa dingin, kembali ujarnya.
"Padahal akupun tak usah merampas dengan kekerasan, cukup kuikuti saja dirimu secara diam diam, maka dengan luka yang kau derita akibat membaliknya pukulan Kiu thian to sou kang, pada hari kelima keadaanmu pasti parah sekail, kau tentu sudah tergeletak tak mampu bangun lagi, nah pada waktu itulah aku bisa mengambil sarung pedang tersebut tanpa bersusah payah..."
Say siujin mo berdiri terbelalak dengan mulut melongo, tubuhnya menggigil sangat keras. Kakek berambut putih itu angkat bahunya sambil tertawa, katanya lebih lanjut.
"Sampai waktunya, sarung pedang cian nian liong siau juga bakal menjadi milikku, apakah kau masih belum juga mengerti?"
Say siujin mo berteriak keras ia lantas merogoh ke dalam sakunya dan melemparkan sarung pedang yang bobrok dan kumal itu kedepan.
Setelah menerima sarung pedang itu, si kakek berambut putih berkata lagi.
"Baik, setelah kau bersedia menyerahkan sarung pedang cian nian hong siau kepadaku, itu berarti jiwamu masih dapat tertolong"
Say siujin mo tidak mengucapkan apa apa lagi ia merogoh ke sakunya dan kali ini melemparkan sebuah benda keudara.
"Sreet..."
Cahaya merah segera meluncur ke udara dan meledak keras, bunga bunga cahaya berwarna indah segera menyebar keempat penjuru, lama sekali warna warni itu baru membuyar.
Tak lama kemudian tampaklah empat sosok bayangan manusia berkelebat menuju kearah mereka berada salah seorang diantaranya adalah seorang perempuan berambut panjang yang membopong seorang bocah kecil.
Ketika keempat orang itu sudah dekat dengan mereka, Ong It sin segera mengenalinya sebagai Ciong lay su shia (empat sesat dari Ciong lay) sedangkan bocah yang berada dalam dukungan perempuan berambut putih itu tak lain adalah siaupocu dari benteng Khek po.
Ong It sin amat gelisah setelah menjumpai bocah itu, apa lagi bila teringat akan pesan dari Be Siau soh, buru buru ia maju menyongsong kedatangan mereka sambil teriaknya.
"Hayo, serahkan bocah itu kepadaku"
Perempuan berambut panjang itu menyingkir ke samping lalu mendongakkan kepalanya dan memandang Ong It sin dengan penuh kegusaran Tapi sebelum ia sempat berbuat sesuatu Say siujin mo sudah keburu berteriak keras.
"Serahkan bocah itu kepadanya"
Perempuan berambut panjang itu tertegun, kejadian tersebut sungguh berada diluar dugaan mereka.
Sekalipun demikian, perintah dari gurunya tak berani dibangkang, tanpa mengucapkan sepatah katapun ia serahkan bocah itu ketangan Ong It sin-Dengan gembira Ong It sin menerima bocah itu dan membopongnya dengan penuh kasih sayang, sedang bocah itu tampaknya dapat kenali kembali si anak muda itu segera tertawa lebar.
Untuk sesaat lamanya Ong It sin berdiri termangu mangu, ia berpikir bahwa tugas yang harus segera dilaksanakan sekarang adalah menghantarkan bocah itu balik ke benteng Khek po.
Teringat oleh pesan Be Siau soh, apa lagi terbayang segala kebaikan nona itu kepada nya Ong It sin menjadi enggan untuk mengurusi persoalan lain ia tak ambil peduli apa yang hendak dilakukan Say siujin mo, kakek berambut putih dan Ciong lay sushia, sambil membopong bocah itu ia lantas berlalu dari sana dengan langkah lebar.
Dalam waktu singkat ia sudah menempuh perjalanan sejauh beberapa li, saat itulah dia baru teringat akan si kakek berambut putih dan lain lainnya, tanpa terasa pikirnya.
"Waaah... tidak tahu bagaimana kelanjutan dari pertarungan itu? Bagaimana pula dengan si kakek berambut putih itu?"
Berpikir sampai disitu dia lantas berhenti dan berpaling, tapi dengan cepat pemuda itu tertegun.
Ternyata si kakek berambut putih itu sedang mengikuti dibelakangnya sambil cengar cengir sedangkan Say siujin mo dan ciang lay su shia entah sudah pergi ke mana?
"Hei kemana cuma kau seorang?"
Buru buru Ong It sin menegur.
"Sudah beberapa li kau berjalan sambil membopong bocah itu masa kau suruh merekapun mengikuti dirimu?"
"Aaah... rupanya aku sudah menempuh perjalanan sejauh beberapa li, lantas... lantas... mau apa kau menguntil dibelakangku?"
"Tentu saja aku ada urusan denganmu aku menginginkan sebuah benda milikmu"
Ong It sin merasa amat terkejut, buru buru dipeluknya bocah itu semakin erat, teriaknya cemas.
"Apa yang kau inginkan?Jangan mencoba coba untuk merampas bocah ini tahu? Aku bisa beradu jiwa denganmu"
"Haaahhh... haaahhh... haaahhh mau adu jiwa juga percuma kalau tidak percaya coba lihatlah sendiri"
Kakek itu terbahak bahak dengan kerasnya.
Tiba tiba ia mengulurkan tangannya ke depan.
Ong It sin melongo, dia tak tahu apa maksud si kakek itu dengan mengulur tangannya kedepan tapi sebelum ingatan kedua melintas dalam benaknya tahu tahu lengan kanannya terasa kesemutan dan bocah yang berada dalam pelukannya itu tiba tiba saja terbang kedepan.
Ong It sin sangat kaget, buru buru dia menerkam kedepan untuk merampas kembali bocah itu, tapi si bocah sudah keburu berada ditangan kakek berambut putih itu.
"Hayo katakan sekarang, dengan cara apa kau hendak beradu jiwa denganku?"
Ejek si kakek sambil melompat mundur.
Ong It sin membentak keras, ia memburu kedepan sambil berusaha merampas kembali bocah itu tapi bagaimanapun cepatnya ia bergerak.
selisih jaraknya dengan kakek itu selalu terpaut saut kaki lebih, padahal ia sudah tancap gas paling top, tapi selalu saja kakek itu tak mampu disusulnya.
Tak lama kemudian nafas Ong It sin sudah ngos ngosan seperti kerbau, ia terkulai lemas ditanah dengan bermandi keringat, teriaknya keras keras.
"cepat kau kembalikan bocah itu kepadaku"
"Baik"
Diluar dugaan tiba tiba kakek berambut putih itu benar benar melemparkan bocah itu kepadanya.
Cepat cepat Ong It sin melompat bangun dan menubruk bocah itu setelah berhasil membopongnya kembai ia baru dapat menghembuskan napas lega ditatapnya kakek itu dengan termenung, ia tak tahu permainan setan apa yang sedang dilakukan lawannya itu.
"Nah, sekarang jawablah sejujurnya, andaikata bocah itu kurampas mungkinkah kau dapat beradu jiwa denganku?"
Tanya si kakek berambut putih itu sambil tertawa.
"Tidak bisa.. tidak bisa, lebih baik kau jangan merampasnya lagi"
Buru buru anak muda itu menjawab sambil mundur ke belakang, karena ia kuatir bocah itu dirampas lagi.
"Yaa tentu saja aku tak bisa merampasnya sebab aku lihat kau punya hubungan yang sangat intim dengan ibunya, maka bocah ini kau anggap bagaikan mestika, bukan begitu? Baiklah bocah itu tak akan kurampas, tapi kau musti menyerahkan sebuah benda lain kepadaku"
Ong It sin merasakan kepalanya pusing tujuh keliling dan telinganya mendengung keras ketika mendengar kakek itu menyinggung soal hubungan gelapnya dengan Be Siau soh, hampir saja ia jatuh semaput.
Sesudah termangu mangu sebentar, ia baru bertanya lagi.
"Apa... apa yang kau inginkan?"
"Apa lagi? Tentu saja pedang antik Hu si kiam yang berada dalam sakumu itu"
Sekalipun ucapan itu tidak terlampau keras tapi bagi pendengaran Ong It sin bagaikan guntur yang membelah bumi disiang hari belong, kontan saja ia melompat keudara sambil berteriak.
"Ngaco belo tidak bisa, tak dapat kuserahkan kepadamu sebab aku... aku tak punya apa yang kau namakan pedang antik Hu si kiam itu"
Karena merasa kaget setelah mendengar kakek itu menghendaki pedang mustika Husi kiamnya, serta merta pemuda itu menjerit tanpa sadar, tapi ketika teringat bahwa ilmu silat orang itu lihay maka buru buru ia menyangkalnya ini menyebabkan perkataannya menjadi saling bertentangan sendiri.
Menanti ucapan itu telah selesai diutarakan ia baru teringat kalau dirinya tidak terbiasa berbohong, tentu saja perkataannya itu tak akan dipercaya orang.
Sambil tertawa getir, cepat cepat ia mundur beberapa langkah dengan ketakutan-Kakek berambut putih itu tidak mengejar kedepan, dia hanya berkata.
"Kau jangan berbohong lagi hayo serahkan pedang mestika Husi kiam itu kepadaku, kalau tidak maka kau dan anakmu tak akan hidup lebih lama lagi didunia ini.!"
Ong It sin panik sekali peluh sudah membasahi tubuhnya, ia menjadi sangsi dan tak tahu apa yang musti dikatakan-Matanya serasa berkunang kunang, pandangannya menjadi gelap.
pemuda itu seolah olah menyaksikan kembali bayangan tubuh dari Be Siau soh, iapun seakan akan mendengar suara dari gadis itu sedang mendengung disisi telinganya, ia seperti mendengar lagi gadis itu sedang berpesan kepada nya agar melindungi pedang itu dengan sepenuh tenaga, lalu menyerahkan kepada si bocah setelah dewasa nanti.
Tapi kini, kakek berambut putih itu telah memaksanya untuk menyerahkan pedang mestika Hu si kiam itu kepadanya...
Andai kata bocah itu tidak berada dalam pelukannya, maka tanpa berpikir panjang ia pasti akan menampik permintaan orang serta melindungi senjata mestika itu mati matian, tapi sekarang bocah itu berada dalam bopongannya, mau tak mau dia mesti memikirkan juga keselamatannya .
Terdengar kakek berambut putih itu berkata lagi sambil tertawa.
"Kuanjurkan kepadamu lebih baik cepat cepat serahkan kepadaku, terus terang saja kukatakan kepadamu banyak rahasiamu yang telah kuketahui, kalau pedang itu tidak kau serahkan lagi kepadaku, maka rahasia besarmu itu akan kuutarakan kepada orang banyak, akan kulihat..."
"Jangan, jangan, jangan kau utarakan kepada siapapun"
Buru buru pemuda itu menukas sebelum lawannya menyelesaikan perkataan itu.
"Baik, aku tak akan mengutarakan kepada orang tapi pedang itu musti kau serahkan kepadaku"
"Kau..... kau... kau toh selama ini baik sekali kepadaku, pedang itu... pedang itu tak akan berguna bagimu, sebaliknya aku telah mendapat pesan dari orang untuk... untuk menyimpan benda itu baik baik menanti bocah ini sudah dewasa nanti baru serahkannya kepadanya, aku telah mengabulkan permintaan orang maka perintah itu kulakukan baik baik kenapa kau mesti menyusahkan diriku?"
Ucapan tersebut membuat kakek berambut putih itu menjadi tertegun, sesaat kemudian ia baru berkata "Aku tahu kau orangnya baik sekali, setelah kau berterus terang kepadaku, akupun berterus terang kepadamu, benda itu akan membahayakan jiwamu."
"Tapi toh tak ada orang lain yang tahu, masa bisa berbahaya?"
"Yaa, kalau cuma sehari dua hari sih tidak apa apa, tapi kau toh mesti menyimpannya banyak tahun, jika selama tahun-tahun ini kau bertindak kurang berhati-hati hingga rahasia diketahui orang lain, akibatnya jiwamu akan terancam maka dari itu untuk menghindari segala hal yang tak diinginkan, lebih baik untuk sementara waktu pedang itu disimpan ditempatku saja"
"Sungguh?"
Bisik Ong It sin tertegun.
"Kalau aku sedang berbohong, biar Thian mengutuk diriku"
Melihat orang sudah angkat sumpah berat, dan lagi menurut keadaan yang diceritakan ia merasa bahaya sekali untuk selalu membawa serta pedang mestika itu, akhirnya setelah sangsi sejenak diambilnya juga pedang itu dari sakunya.
"Pedang ini... pedang ini sampai kapan baru akan kau serahkan kembali kepadaku?"
"Bila bocah itu telah dewasa nanti, pedang ini tentu saja akan kuserahkan kembali kepadamu."
Tiba tiba jari tangannya ditudingkan kedepan.
"sreet"
Segulung tenaga pukulan segera meluncur ke depan dan memukul diatas gagang pedang mestika tersebut.
Ong It sin merasa tak sanggup untuk memegang pedang itu lebih jauh, dengan berubah menjadi sekilas cahaya tajam senjata itu segera meluncur ke udara, berada ditengah angkasa pedang itu berputar lagi setengah lingkaran sebelum terjatuh ketangan kakek berambut putih itu.
Setelah mendapatkan senjata tersebut, kakek berambut putih itu menyarungkannya ke dalam sarung pedang cian nian liong siau, serta merta sinar berkilauan yang memancar dari tubuh pedang itupun lenyap tak berbekas..."Nah, sampai ketemu lagi"
Seru kakek itu kemudian sambil mengulapkan tangannya.
"Hei, hei, kau mesti ingat dengan janjimu"
Teriak Ong It sin.
"bila bocah itu telah dewasa..."
Belum habis perkataan itu, terpaksa Ong It sin harus berhenti berteriak sebab ketika itu si kakek berambut putih tadi sudah lenyap dari pandangan mata.
Ong It sin menghela napas, pikir-pikir ia merasa masih untung juga karena bocah itu bisa ditemukan kembali, bagaimanapun juga nyawa seorang bocahkan lebih penting daripad nilai sebilah pedang mustika.
Lega juga perasaan hatinya, dengan langkah lebar ia lantas berangkat menuju ke benteng Khekpo.
Sepanjang jalan ia tidak menjumpai peristiwa apapun, kurang lebih dua hari kemudian anak muda itu baru sampai didepan pintu gerbang benteng Khekpo.
Begitu tiba didepanpintu, seseorang segera menyambut kedatangannya.
Dengan suara lantang Ong It sin berseru.
"Bocah ini adalah siau pocu kalian, hayo cepat bawa aku menghadap pocu kalian"
Sebenarnya beberapa orang penjaga itu bersikap angkuh dan ketus, akan tetapi setelah mendengar ucapan tersebut buru buru mereka membungkukkan badan dengan hormat sam menyambut kedatangannya.
Sesampainya diruang tengah, ia menyaksikan beberapa orang tianglo itu ada pula disana, mereka menatap kearahnya dengan pandangan dingin dan menyeramkan.
Tak lama kemudian Pocu dari benteng Khekpo pun muncul dengan langkah ogah-ogahan.
Ong It sin segera menyongsongnya sambil berseru.
"Pocu, aku telah membawa kembali anakmu,"
Dalam anggapan pocu dari benteng Khekpo itu pasti akan kegirangan setengah mati. Siapa tahu pocu itu hanya berkata dengan suara dingin.
"oya...?"
Kepada seorang dibelakangnya ia lantas berseru.
"Sambut bocah itu"
Dua orang perempuan setengah umur segera tampil ke depan dan menghampiri Ong It sin-Pemuda itu merasakan gelagat tidak beres dia bermaksud tak akan menyerahkan bocah itu kepada mereka, tapi terbayang kembali usahanya selama ini hanya bermaksud untuk mengajak bocah itu kembali ke benteng Khekpo, ia merasa bukan tindakan yang betul kalau ia menahan bocah itu lebih jauh.
Maka terpaksa ia menyerahkan juga bocah itu ketangan seorang perempuan setengah baya.
Setelah menerima bocah tadi, perempuan itu segera mengundurkan diri dari ruangan dan lenyap dibalik pintu.
Memandang hingga bocah itu lenyap dari pandangan mata, tiba tiba timbul perasaan masgul di hati anak muda itu.
Sementara ia masih termenung terdengar Pocu dari benteng Khekpo telah berkata dengan suara dingin.
"Terima kasih banyak atas bantuanmu untuk menghantar pulang anakku, pengawal ambil lima puluh tahil emas"
Seorang laki laki segera muncul sambil membawa sebuah baki, diatas baki terletak lima buah kepingan uang emas yang setiap kepingannya mempunyai bobot sepuluh tahil.
"Hei, apa maksudmu dengan perbuatan ini?"
Seru Ong It sin dengan wajah tertegun.
"Aku tahu untuk melakukan perjalanan jauh kau membutuhkan uang, maka terimalah uang itu sebagai ongkos jalanmu"
Merah padam selembar wajah Ong It sin karena malu, tiba tiba katanya agak tergagap.
"Apa... apa apaan kamu ini, aku... aku tak menghendaki uang itu, aku... aku hanya ingin berdiam disini"
"Kenapa kau ingin tinggal disini?"
Tanya pocu dari benteng Khekpo lagi dengan suara dalam.
"Aku... aku ingin menyaksikan bocah itu meningkat hingga dewasa, aku mendapat..."
Sebetulnya dia hendak menerangkan kalau mendapat "pesan orang"
Untuk tinggal disana, tapi ingatan lain segera melintas dalam benaknya ia merasa ucapan seperti itu tidak seharusnya diutarakan dihadapan pocu, maka buru buru diapun membungkam.
Tampaknya pocu dari benteng Khekpo itu merasa tak senang untuk berbicara dengannya, dia ulapkan tangannya berulang kali sambil berseru.
"cepat pergi, cepat pergi, aku ogah menyaksikan raut wajah mu itu"
Tiga kali dia ulapkan tangannya, tiga kalipula Ong It sin mundur kebelakang, dalam waktu singkat ia sudah berada beberapa kaki jauhnya dari tempat semula.
Dia masih ingin mengucapkan sesuatu lagi, tapi dua orang laki laki kekar yang berada disampingnya segera maju dan menghalangi didepan tubuhnya seorang menekan bahu kirinya sedang yang lain menekan bahu kanannya, kemudian membentak.
"Hayo jalan-.."
Kena didorong oleh dua orang laki laki bertubuh kekar itu dalam waktu singkat Ong It sin sudah diseret keluar dari pintu gerbang.
"Blaang..."
Pintu segera ditutup rapat rapat. Ong It sin yang berada diluar pintu segera berteriak teriak.
"Hei, kenapa kalian begitu tak tahu peraturan, masa aku diusir mentah mentah dari sini?"
Hanya suara pantulannya yang kedengaran dari balik pintu, sedang orang orang benteng Khekpo tak ada yang menggubrisnya sama sekali.
Kembali ia berteriak beberapa kali, mendadak sebilah tombak yang bercahaya tajam muncul di depan mata dan langsung ditusukkan ke dadanya.
Ong It sin kaget, cepat dia menengadahkan kepalanya, tampak seorang busu dengan wajah yang kaku sedang mendekatinya selangkah demi selangkah.
Pemuda itu ketakutan, buru buru dia mundur kebelakang, kurang lebih tiga sampai lima kaki kemudian, busu itu baru menghentikan pengejarannya...
Ong It sin merasa mendongkol bercampur gusar, tapi diapun sadar bahwa tak mungkin baginya untuk tetap tinggal dalam benteng Khekpo, ia merasa bagaimanapun juga bocah itu adalah putra pocu sendiri, jadi tak mungkin kalau ia sampai menyiksa darah daging sendiri ***(hal53-56 hilang Separo, langsung ke hal57)*** "Tentu saja, dia adalah si nenek"
"Aaah... rupanya dia Sekarang dia berada di mana?"
Pemuda itu benar benar merasa gembira sekali, karena si nenek berjanji akan mengajaknya mengunjungi lembah Ciong Cu kok.
Gara gara persoalan Be Siau soh, ia sudah mendapat halangan hampir tiga bulan lamanya, dan sekarang ketika ia merasa menemui jalan buntu secara tiba tiba mendengar kabar lagi tentang si nenek.
tentu saja hatinya merasa amat girang.
Dengan gelisah serunya kemudian kepada keempat orang itu.
"Hayo, kenapa tidak kalian jawab? Sekarang si nenek berada di mana?"
"Ikuti saja kami, akan kami tunjukkan untukmu"
Tanpa berpikir panjang lagi berangkatlah Ong It sin mengikuti dibelakang keempat orang itu.
Sepanjang jalan mereka hanya menelusuri jalan setapak yang sempit dan kecil, hutan semak belukar membentang dimana-mana, lama sekali mereka berjalan tapi belum juga tiba ditempat tujuan.
Lama kelamaan Ong It sin tak sabar, segera teriaknya.
"Sudah hampir tiba?"
Empat orang itu tetap membungkam.
Ong It sin coba mengulangi kembali pertanyaannya tadi, tapi tiada jawaban pula yang didapat, lama kelamaan pemuda itu merasa seram juga sebab suasananya makin lama semakin misterius...
Tiba tiba timbul sebuah pikiran dalam hatinya sambil menjerit aneh teriaknya.
"Hei, apakah kalian telah membunuh si nenek?"
Serentak empat orang itu berhenti, kemudian berpaling dan mengawasi Ong It sin lekat lekat. Ong It sin mendengus dingin, kembali ujarnya.
"Siapa kah kalian, kenapa membunuh si nenek? sekarang kau memancingku untuk mendatangi tempat yang sepi, apakah kau berniat mencelakai diriku...?"
Tiba tiba empat orang itu tertawa terbahak bahak.
suaranya amat keras seperti orang yang mendengar suatu cerita lucu.
Pada saat itulah dari tempat kejauhan kedengaran si nenek berseru dengan suara yang dingin menyeramkan.
"Hei, apa yang sedang kalian tertawakan? orang yang dimaksud sudah ketemu belum?"
"Sudah, sudah ketemu"
Jawab salah satu diantara keempat orang itu.
"ia bilang kami telah mencelakaimu, bahkan katanya ia dipancing ke tempat sepi untuk dibunuh, dia... haaahhh... haaahhh... haaahhh... dia masih menganggap dirinya betul betul seorang jago lihay kelas satu dari dunia persilatan"
Sambil berkata keempat orang itu tertawa terus tiada hentinya. Ong It sin melotot besar, serunya.
"Siapa bilang aku bukan seorang jagoan kelas satu dari dunia persilatan?"
"Hmm,cuma si nenek pernah berpesan kepadaku lantaran ilmuku terlalu tinggi maka aku tak beleh sembarangan turun tangan, hmm coba tidak. pasti akan kulepaskan sebuah pukulan agar sepasang mata kalian betul betul terbuka lebar"
Gelak tertawa keempat orang itu semakin keras dan terpingkal-pingkal, agaknya cerita tersebut sangat mengkilik kilik hati mereka.
Tiba tiba sesosok bayangan manusia berkelebat lewat, tahu tahu si nenek sudah berdiri dihadapan mereka sambil membentak.
"Hey, apa yang kalian tertawakan?"
Bentakan dari si nenek memang cukup berwibawa, seketika itu juga keempat orang itu menghentikan gelak tertawanya.
Sinenek mau selangkah kedepan, sambil berdiri dihadapan Ong It sin bentaknya "Kemana saja kau selama ini?
Apakah kau telah sampai dilembah Ciong Cu kok?"
Sewaktu mengajukan pertanyaan itu, mukanya hijau membesi dan sikapnya sangat tegang. Buru buru Ong It sin menjawab.
"oooh... tidak. dimana letaknya cong cu kok saja tidak kuketahui, mana mungkin aku bisa pergi sendiri kesitu??"
Lega benar hati si nenek setelah mendengar perkatan itu, katanya kemudian.
"Kalau begitu kotak peninggalan ayahmu juga masih ada?"
"Tentu saja ada"
Sahut Ong It sin sambil menepuk dada sendiri. Sekali lagi si nenek menghembuskan napas lega, sekarang ia baru bisa bertanya dengan suara tenang.
"selama beberapa bulan ini kemana saja kau telah pergi"
"Sulit untuk membicarakan persoalan ini dengan sepatah dua patah kata saja"
Sahut Ong It sin sambil tertawa getir.
"selama beberapa bulan terakhir, aku selalu bergerak diantara kotaWa koan yau dengan benteng Khekpo"
Si nenek tertegun, sekali lagi pasti mukanya berubah menjadi amat tak sedap dipandang, serunya tertahan.
"Benteng Khekpo? Apa hubunganmu dengan benteng Khekpo?"
"Aaai... sekarang aku sudah tiada hubungan apa apa lagi dengan mereka"
Bisik pemuda itu sedih.
Dengan sinar mata curiga si nenek mengawasi wajah Ong It sin tajam tajam, sebaliknya pemuda itu hanya mengurusi hatinya yang sedih dan gundah, ia tidak ambil peduli apakah sinar mata si nenek menyeramkan atau tidak...
Selang beberapa saat kemudian, si nenek kembali berpikir.
"Selama banyak tahun, sibecah tolol ini tak mampu melakukan pekerjaaan apa apa, asal dia belum berkunjung ke lembah cong cu kok. rasanya akupun tak usah terlalu mencurigai dirinya..."
Berpikir sampai disini, pelan-pelan paras muka si nenek berubah menjadi lembut kembali katanya kemudian.
"Baik, kalau toh kau belum sampai di lembah cong cu kok, mari kita berangkat sekarang juga"
Sesudah berhenti sebentar, ia menambahkan lagi "Sudah beberapa bulan lamanya nenekmu mengutus Li Ji untuk mencarijejakmu kalau sampai sekarang kau belum datang juga, ia pasti akan merasa gelisah sekali"
"Tapi aku tak tahu dimanakah letak lembah cong cu kok itu, akupun tak tahu bagaimana caranya sampai disitu, bersediakah engkau untuk melakukan perjalanan bersama-sama aku?"
"Kali ini aku akan melakukan perjalanan bersamamu"
Kemudian ia berpaling dan membisikkan sesuatu kepada keempat orang laki-laki itu, tapi karena suaranya teramat lirih, pada hakekatnya Ong It sin tak sempat mendengar dengan jelas apa saja yang mereka bicarakan.
Cuma, sehabis mengucapkan kata kata itu, empat orang laki laki tersebut segera mengiakan dan mengundurkan diri dari situ.
"Mari, sekarang kita boleh berangkat"
Ajak si nenek kemudian.
Dia putar badan dan berangkat menuju ke arah barat laut, buru buru Ong It sin mengikuti dibelakangnya.
Empat lima ratus li sudah ditempuh tanpa terasa, tiga haripun sudah lewat dengan begitu saja, tapi mereka belum juga sampai ditempat tujuan.
Dalam tiga hari ini tempat tempat yang mereka lewati kebanyakan adalah tempat tempat yang sepi dan jauh dari keramaian manusia, jangankan sesosok manusia, binatangpun tidak kelihatan.
Ong It sin merasa sangat gelisah, setiap harinya ia hampir bertanya sampai seribu kali lebih tapi si nenek selalu membungkam dalam seribu bahasa.
Ketika senja menjelang tiba pada hari ketiga didepan sana muncullah serentetan bayangan gunung yang puncaknya diliputi salju dibawah timpaan cahaya senja tampak suatu pemandangan yang sangat indah.
Diam diam Ong It sin berpikir dalam hatinya.
"Yang dimaksudkan sebagai lembah cong cu kok tentu letaknya ada diatas gunung, kalau dilihat dari deretan pegunungan didepan sana, agaknya tempat itulah tujuan kami?"
Selama beberapa bulan ini ia sudah bertanya sampai pecah bibirnya, ia tahu bahwa si nenek tidak akan menjawab pertanyaannya, maka persoalan ini pun hanya dipikirkan dalam hati, dia enggan untuk menanyakannya secara langsung.
Ketika hari sudah mulai gelap si nenek berhenti melakukan perjalanan, Ong It sin mengira seperti hari-hari biasa, mereka akan mencari tempat untuk beristirahat, maka sambil menghembuskan napas panjang anak muda itu lantas duduk melepaskan lelah.
ooooOd-wOoooo
Jilid 10 SIAPA tahu baru saja ia duduk, si nenek telah membentak keras "Bangun!"
"Kenapa? Masa kita tak akan beristirahat?"
Tanya Ong It sin dengan wajah termangu.
"Bangun dulu, coba lihat! Di depan sana seperti ada orang, sudah kelihatan?"
Dengan perasaan berat hati Ong It sin bangkit berdiri lalu menengok ke depan, betul juga, kurang lebih setengah li didepan sana tampak kilatan cahaya api, rupanya ada orang membuat api unggun didepan sana, dipinggir api unggun tampak seorang manusia duduk tak berkutik.
"Sudah kelihatan belum?"
Tanya si nenek kembali.
"nah, kau boleh maju kedepan dan coba tanyalah siapakah dia!"
"Baik!"
Ong It sin manggut manggut.
Sambil mengiakan dengan langkah lebar dia maju kedepan, tak lama kemudian sampailah pemuda itu kurang lebih dua tiga kaki ditepi api unggun itu.
Semula orang yang duduk ditepi api unggun itu duduk terpekur sambil menundukkan kepala, ketika Ong It sin mendekatiinya serentak ia mendongakkan kepalanya sambil mengawasi pemuda itu tajam tajam.
Ong It sin segera berteriak kaget, dibawah pancaran sinar api unggun, tampaklah orang itu bukan lain adalah sahabat karib ayahnya dimasa masih hidup dulu.
Siapa lagi dia kalau bukan Li Ji!
Mencorong sinar tajam dari balik mata Li Ji ditatapnya wajah Ong It sin sekian lama, lalu mengucak matanya seakan-akakn ia tidak percaya kalau apa yang terlihat merupakan suatu kenyataan.
Tapi setelah mengucak matanya, bagaikan segulung hembusan angin ia langsung menubruk kearah Ong It sin.
Si anak muda itu hanya merasakan pandangan matanya menjadi kabur, tahu tahu dadanya terasa kencang dan ia sudah kena dicengkeram oleh tangan Li Ji yang kuat.
Setelah mencengkeram baju Ong It sin, Li Ji segera tertawa terbahak bahak, serunya.
"Rupanya kau... haaahhh... haaahhh... haaahhh... rupanya kau... haaahhh... haaahhh... haaahhh..."
Merinding juga tubuh Ong It sin menghadapi tingkah laku orang itu, buru buru teriaknya.
"Paman Li Ji siok, lepaskan tanganmu!"
"Kenapa aku musti lepaskan tangan? Kalau aku lepas tanga kau tentu kabur, dan bagaimana aku nanti.Kini kau sudah kutangkap kembali, aku merasa sangat gembira, haaahhh... haaahhh... haaahhh... kau betul betul rejeki nomplok bagiku, kalau orang lagi hok-ki maka rejeki akan datang dengan sendirinya!"
Sambil berseru dia menghembuskan napas panjang, seolah olah keberhasilannya untuk menemukan kembali diri Ong It sin membuat hatinya merasa amat lega.
Menyaksikan ulah paman Li yang terus menerus tertawa, Ong It sin merasa betul betul dibikin tertawa tak bisa menangispun sungkan, katanya kemudian.
"Ji-siok, setelah berjumpa denganku, mengapa kau tampak begitu gembira?"
"Tentu saja gembira"
Jawab Li Ji sambil tertawa.
"coba bayangkan sendiri, apakah kau anggap nenekmu akan berlaku baik kepada orang lain? Ia menitahkan diriku untuk mencarimu, kalau aku tak berhasil menemukanmu, lantas bagaimana tanggung jawabku nanti, siapa tahu kau datang dari langit, sekarang aku dapat menyelesaikan tugasku dengan baik"
Ong It sin ikut tertawa pula.
Aku bukan datang dari langit, aku sampai disini karena mengikuti seorang teman.
Ooo...
kau punya teman?
Dimana?
Biar kuusir dia pergi dari sini !
Boleh saja, biar kupanggil temanku itu, si nenek...
si nenek...
Ong It sin langsung saja berteriak keras.
Begitu mendengar siapa yang dipanggil pemuda itu, tiba tiba saja Li Ji mundur dengan sempoyongan, sekalipun tak sampai roboh terjengkang toh wajahnya telah berubah menjadi pucat pias seperti mayat.
Ong It sin menjadi keheranan menyaksikan keadaan pamannya, ia membatalkan teriakannya dan buru buru bertanya.
"Paman Ji siok, kenapa kau?"
Li Ji tak sanggup berbicara lagi, sebaliknya suara dari si nenek telah berkumandang dari belakang si anak muda itu.
"Tak usah kau pedulikan dia, tempo hari dia pernah berhutang kepadaku, maka setelah bertemu sekarang ia kuatir aku menagih hutang kepadanya, tak heran kalau ia ketakutan setengah mati"
"Ooo... kiranya begitu, Li Ji-siok kau tak usah takut, si nenek adalah sahabatku, jika kau memang hutang kepadanya, sekalipun agak lambat bayarannya juga tak mengapa, kenapa kau musti ketakutan macam tikus ketemu kucing?"
Li Ji betul betul merasa serba salah terpaksa dengan suara gemetar ia berkata.
"Si nenek... tak nyana kita akan bertemu kembali!"
"Itulah yang dinamakan kalau sudah bermusuhan, jalan didunia terasa sempit masa kau tidak tahu"
"Yaa, yaa, benar, benar jalan kita memang terlalu sempit"
Sambil berkata ia mundur terus kebelakang, kurang lebih tujuh delapan langkah kemudian mendadak ia putar badan dan kabur terbirit birit dari situ.
Sekalipun gerakan tubuh Li Ji amat cepat, tapi gerakan tubuh si nenek jauh lebih cepat lagi darinya.
Terdengar si nenek memperdengarkan jeritan aneh, sepasang lengannya direntangkan dan tubuhnya melejit keudara.
Bagaikan seekor burung aneh dalam waktu singkat ia telah menghadang dihadapan Li Ji.
Melihat jalan perginya terhadang Li Ji menjerit keras dan memutar tubuhnya untuk kabur kearah lain.
Tapi baru kabur beberapa langkah, si nenek kembali melayang turun dari angkasa dan menghadang didepan mata.
Dalam waktu singkat Li Ji sudah menerjang ke kiri menubruk ke kanan, empat arah delapan penjuru telah diterjang semua, tapi kearah manapun ia pergi bagaimanapun ia melompat, bergulingan, memukul atau menendang, jalan kepergiannya selalu terhadang oleh nenek tersebut.
Kurang lebih setengah jam kemudian, cuasa semakin gelap, diantara sinar bintang yang redup Ong It sin menyaksikan ada dua sosok bayangan manusia sedang berkelebat dengan lincahnya ke sana ke mari, sekalipun amat menawan hati, sayang sulit untuk membedakan mana Li Ji dan mana si nenek.
Akhirnya terdengar sinenek berteriak keras.
Li Ji, kalau kau mencoba untuk kabur terus, jangan salahkan kalua aku tidak akan berlaku sungkan sungkan lagi kepadamu.
Baru habis perkataan dari si nenek, Li Ji benar benar menghentikan gerakan tubuhnya.
Si nenek segera maju ke depan, tangannya digerakkan kedepan dan menekan bahu Li Ji Paras muka Li Ji tampak makin lama semakin pucat mengerikan hingga ditengah kegelapan tampak mengerikan sekali.
Ong It sin segera maju menghampiri mereka katanya.
Ji siok, sudah kukatakan tadi, nenek itu adalah sahabat karibku...
Tapi sebelum dia menyelesaikan kata katanya, sinenek telah membentak keras.
Menyingkirlah kau dari sini, aku ada persoalan hendak dibicarakan dengan dirinya.
Nenek, sekalipun ia berhutang kepadamu, tidak pantas kalau kau bersikap begitu galak kepadanya, sesungguhnya dia hutang apa?
Dengan gusar sinenek berpaling lalu teriaknya.
Kalau kau banyak urusan lagi, jangan salahkan kalau aku tak akan melakukan perjalanan bersamamu, ayoh cepat menyingkir dari sini !
Ong It sin gelengkan kepalanya berulang kali.
Aaai...
susah juga menjadi orang baik, ya sudahlah, terserah bagaimana caramu mau menagih kepadanya, cuma Li Ji-siok tidak usah kuatir, orang yang ditakdirkan berumur panjang tentu akan selamat dari segala bencana Begitulah, sambil mengoceh terus ia mundur beberapa langkah dari tempat itu.
Sinenek dan Li Ji sama sekali tidak menggubris dirinya, sambil menekan bahu Li Ji kuat kuat, sinenek membentak lagi.
Cepat katakan bagaimana caranya memasuki lembah Ciong cu kok?
Sebesar kacang kedelai peluh yang mengucur keluar dari tubuh Li Ji, sahutnya tergagap Aku...
aku...
aku tak akan bicara!
Sinenek segera menyeringai seram, coba Ong It sin ikut menyaksikan wajahnya yang mengerikan itu, dia pasti akan ketakutan setengah mati.
Li Ji bersin beberapa kali, keder juga hatinya menghadapi sinenek yang mengerikan itu.
Kedengaran sinenek kembali berkata.
Li Ji, meskipun ilmu silatmu terhitung hebat, tapi kau adalah seorang setan bernyali kecil yang takut mampus, benar bukan?"
"Benar, benar, aku adalah seorang setan yang bernyali kecil yang takut mampus...!"
Li Ji kedengaran agak gemetar.
"Bagus sekali, nah setan bernyali kecil, sekarang boleh kau katakan bagaimana caranya memasuki lembah Ciong cu kok?"
"Aku... aku tidak bisa mengatakannya, aku benar benar tak bisa mengatakannya!"
Ong It sin merasa geli dan mangkel juga menyaksikan kejadian itu, Li Ji pernah berkata bahwa dia adalah jago nomor satu di wilayah perbatasan pemuda itupun pernah membuktikan sendiri sampai dimanakah kelihayan ilmu silatnya tapi tak disangka kalau tabiatnya begitu tak becus persis seperti gentong nasi.
Timbul perasaan memandang rendah dihati Ong It sin, karenanya diapun tak ingin mencampuri urusan si nenek lagi.
Kedengaran si nenek berkata lagi.
"Kau harus memberitahukannya kepadaku, sebab jika tidak kau katakan maka aku akan segera merenggut nyawamu!"
"Jangan, jangan bunuh aku, biar kujawab, biar kujawab!"
Li Ji segera menjerit jerit ketakutan.
Baik, aku tak akan membunuhmu, tapi kau harus memberi keterangan yang jelas!
Untuk memasuki lembah Ciong cu kok, setiap orang harus melewati tiga buah pos penjagaan yang dijaga oleh jago-jago lihay, disamping itu orangpun harus mengetahui kode rahasianya, setelah ketiga pos penjagaan itu dapat dilampaui orang baru bisa tiba dilembah Ciong cu kok.
Setelah berhenti sejenak, dia lantas menuding kearah Ong It sin seraya katanya lagi.
Dan dia...
dia...
dia punya nenek yang berdiam dalam lembah tersebut.
"Sudah tak usah omong kosong, katakan kepadaku apakah ketiga buah kata sandi itu!"
"Aku... aku tidak... baik aku bicara kata pertama adalah. Hujan salju sedang turun diluar perbatasan. Kata kedua adalah. Pemandangan alam wilayah Kanglam indah permai sedang kata ketiga adalah. Salah memilih jodoh hati terasa berduka.
"Hmm...! ketiga patah kata itu tidak karuan artinya, masa dipakai kata sandi?"
Seru sinenek sambil mengerutkan dahinya.
Itu...
itu kan cuma kata sandi, aku sendiri juga tidak mengerti apa artinya.
Si nenek manggut manggut, sementara Li Ji sudah ketakutan setengah mati sehingga dua baris giginya saling beradu satu sama lainnya.
Lewat sesaat kemudian, si nenek baru berkata lagi.
"Seandainya kulepaskan tekanan dari atas bahumu, maka apa yang hendak kau lakukan "Aku segera akan angkat kaki pulang ke pesisir Lam hay dan selama hidup tidak akan menginjakkan kaki di wilayah perbatasan lagi"
Si nenek segera tertawa dingin.
"Heeehhh... heeehhh... heeehhh... dimulut enak saja kau berkata demikian padahal dalam hati kau berpikir lain, setelah aku pergi nanti bukankah kau akan potong jalan untuk pergi kelembah Ciong cu kok guna memberi laporan lebih dulu? Betul tidak?"
Li Ji tertawa getir.
"Si nenek, kalau aku punya nyali, tak nanti orang lain akan memanggilku sebagai si setan bernyali kecil!"
"Hmm... aku tahu kau tak akan berani, sana pergi!"
Ketika tangannya melepaskan tekanan pada bahu Li Ji, sengaja nenek itu mengerahkan tenaganya untuk didorong kemuka.
Ilmu silat yang dimiliki Li Ji memang tidak lemah, ia sama sekali tidak terjengkang oleh tenaga dorongan si nenek, malah sebaliknya memanfaatkan tenaga dorongan itu tubuhnya segera melompat ke depan.
Lompatan itu mencapai dua tiga kaki jauhnya, begitu mencapai permukaan tanah ia lantas berkelebat ke muka, dalam waktu singkat tubuhnya sudah lenyap dari pandangan mata.
Menunggu Li Ji telah berlalu, Ong It sin baru berkata sambil tertawa lebar.
"Orang itu memang sangat aneh, betulnya dia hutang apa denganmu? Kenapa setiap kali menjumpai dirimu, dia lantas ketakutan setengah mati...?"
Pelan pelan si nenek berpaling, sinar mata yang tajam dan berwarna hitam kebiru-biruan memancar keluar dari balik matanya, dengan dingin ia berkata.
"Ia telah hutang selembar nyawa manusia denganku"
Ong It sin sangat terperanjat, sambil bodoh segera serunya lirih.
"Nenek, pandai amat kau bergurau!"
Si nenek tidak menanggapi perkataan dari Ong It sin lagi sesudah termenung sejenak berkata.
"Tahukah kau kenapa aku membawamu mengunjungi lembah Ciong cu kok?"
Eeei...
aneh benar kamu ini, bukankah kau hendak mengajak aku untuk menjumpai nenekku?
Kenapa kau malah bertanya kembali kepadaku...
Kejujuran Ong It sin sungguh bikin pusing si nenek, untuk sesaat lamanya ia tak sanggup berbicara lagi.
Setelah termangu sekian lama akhirnya ia berkata lagi.
"Kalau kau sudah tahu, itu lebih bagus lagi. lembah Ciong cu kok terletak didepan sana kita harus berjalan malam besok pagi bisa sampai di tempat tujuan"
"Baiklah bagaimanapun juga aku memang sudah terbiasa berjalan dijalan gunung, sekalipun melakukan perjalanan ditengah malam buta juga tak menjadi soal"
Ketika ia baru saja menyelesaikan kata katanya lengan kanannya terasa kencang dan tahu-tahu sudah ditangkap oleh si nenek.
Ia lantas merasakan angin kencang berhembus lewat dari kedua belah sisi telinganya, sepasang kaki bahkan tak pernah menempel ditanah, ia sudah diseret oleh si nenek untuk melakukan perjalanan cepat kedepan sana.
Ong It sin merasa sedang berjalan diantara mega tebal dalam hati ia lantas berpikir.
Entah sampai kapan kepandaian silatku baru bisa mencapai ketingkatan seperti ini?
Kalau aku bisa berlari cepat, oooh...
tentu menyenangkan sekali.
Tampaknya pemuda itu melupakan sesuatu dia lupa kalau sinenek adalah seorang jago yang amat dahsyat, bahkan sampai jagoan macam Li Ji yang terhitung luar biasa pun keok dihadapannya.
Jangankan baru membawanya seorang diri sekalipun harus menuntun seekor kerbau dungu, kecepatan gerak sinenek tak akan jauh lebih lambat dari gerakan larinya sekarang.
Tanpa terasa fajarpun menyingsing, gerak lari sinenek pelan-pelan makin mengendor.
Pada saat itulah Ong It sin baru berkesempatan untuk menyaksikan keadaan sekeliling tempat itu, rupanya mereka sudah berada diatas bukit dengan tebing yang terjal dan pemandangan alam yang sangat indah menawan.
Tak lama kemudian merekapun tiba ditepi sebuah air terjun yang amat besar, gemuruh air yang deras serasa memekikkan telinga orang Air terjun itu luasnya dua kaki airnya mengalir kebawah melalui sebuah jeram, di atas jeram terlintaslah sebuah kayu kecil yang menghubungkan topi sebelah sini dengan pantai seberang.
Si nenek berjalan ketepi jeram itu, lalu berhenti.
Dengan suara lantang ia berteriak.
"Aku hendak berkunjung kelembah Ciong cu kok, harap saudara bersedia memberi petunjuk jalan lewat bagi kami berdua!"
Ong It sin memandang kedepan, tapi tak seorangpun yang kelihatan, sementara dia masih sangsi tiba tiba dari atas sebuah pohon besar didepan sana melompat turun sesosok bayangan "Cring!"
Ketika toyanya menutul diatas batu besar segera menimbulkan suara yang nyaring.
Kalau didengar dari gemerincingnya suara itu, dapat diketahui bahwa toya itu terbuat dari baja asli.
Orang itu berusia lima puluh tahunan, kaki kanannya sudah kutung dan tubuhnya teramat kurus kering.
Dengan sinar mata tajam ia mengawasi Ong It sin berdua sekejap, kemudian tanyanya lagi Bagaimanakah suhu udara diluar perbatasan "Salju sedang turun dengan derasnya diluar perbatasan!"
Sinenek segera menjawab.
"Aaah...!"
Orang itu berseru tertahan lalu serunya.
"silahkan, silahkan masuk!"
Toyanya lantas dicukil ke atas tumbuhan rotan yang melintang diatas jeram tersebut, rotan tersebut segera mencelat keatas.
Ong It sin masih belum tahu apa kegunaan rotan itu tahu tahu bahunya sudah disambar orang dan ia telah dibawa si nenek melompat ketengah udara.
Dengan suatu lompatan yang enteng si nenek melejit ke udara dan melayang turun persis diatas rotan tersebut.
Karena rotan tersebut sedang dilontarkan si kaki tunggal kearah depan, maka dengan menutul diatas rotan yang sedang berayun itu, tubuh si nenek segera melejit kembali keatas udara dan melayang turun ditepi jeram sebelah depan.
Baru tiba dipantai seberang, orang itu telah memberi hormat sambil berseru.
"Silahkan berangkat ke sebelah barat, setelah melewati sebuah selat sempit kalian akan disambut oleh orang lain"
"Terima kasih atas petunjukmu"
Sahut si nenek.
Dengan membawa Ong It sin, berangkatlah si nenek itu menuju kedepan.
Tak lama kemudian mereka sudah melewati sebuah selat sempit dan tiba di sebuah tanah lapang yang luas diatas tanah lapang tadi penuh dengan menancap pisau-pisau yang tajam, setiap tempat kosong mencuatlah sebuah pisau, dengan demikian susah bagi orang untuk melaluinya.
Dihadapan tanah lapang tersebut, duduklah seorang perempuan berusia setengah umur.
Ong It sin yang menyaksikan keadaan tersebut, dengan wajah menunjukkan rasa ngeri segera berseru.
"Bagaimana... bagaimana caranya kita melewati tempat ini ? ?"
"Lebih baik kita jalan mengitari tanah lapang ini saja ! !"
Sebelum mereka berlalu dari sana, perempuan setengah umur yang berada didepan situ telah berseru.
"Apakah kalian berdua datang dari Kanglam ? Bagaimana keadaan diwilayah sana?"
"Pemandangan alam wilayah Kanglam indah dan permai"
Sinenek segera menyahut.
"Kalian berdua adalah..."
"Engkoh cilik ini adalah orang yang hendak dijumpai oleh Popo!"
Sahut sinenek cepat.
"kata kata sandi yang kami katakan toh sudah betul, kenapa kau masih saja merasa curiga"
Perempuan setengah umur itu tidak berbicara lagi, dia lantas bangkit berdiri dan menginjak sebuah batu cadas yang berada disisinya, batu itu segera tenggelam kedalam tanah dan bersamaan itu pula, lapangan penuh pisau tajam itupun lenyap tak berbekas.
"Hayo cepat berangkat!"
Bentak sinenek kemudian.
Ong It sin tak berani berayal, buru buru dia lari menyeberangi tanah lapang tersebut.
Setibanya dihadapan perempuan setengah umur itu, ia mengawasi sekejap kedua orang tamunya kemudian berkata.
"Harap kalian berdua melanjutkan perjalanan menuju kesebelah barat..."
Si nenek mengiakan dan melanjutkan kembali perjalanannya menuju kesebelah barat, tapi baru beberapa langkah, tiba tiba perempuan setengah umur itu membentak lagi.
"Tunggu sebentar!"
Si nenek berhenti, tapi ia tidak memalingkan kepalanya.
"Aku ingin tahu apakah kau kenal seorang iblis perempuan berhati keji yang amat termashur didunia persilatan sebagai Cio hu tian hun li bu siang (setan gunung perempuan penggantung sukma)? sekarang dia berada dimana?"
Tanya perempuan setengah umur itu.
Baru saja kata kata tersebut selesai diucapkan, tiba tiba terdengar si nenek mendengus lalu dengan suatu kecepatan yang luar biasa meluncur ke belakang.
Berada ditengah udara, ujung bajunya diayunkan berulang kali, desingan angin tajam segera menerjang ke arah perempuan setengah umur itu...
Serangan yang dilancarkan si nenek ini boleh dibilang cepatnya luar biasa.
Tapi perempuan setengah umur itu sudah bersiap siaga semenjak mengucapkan kata kata tersebut tadi, begitu serangan tiba, badannya segera menjatuhkan diri ke belakang, lalu..."Cring!"
Sebilah pedang panjang dengan menciptakan sekilas cahaya yang menyilaukan mata menyambar keluar.
Babatan pedang itu langsung ditujukan ke atas ujung baju dari si nenek yang sedang menyambar datang itu.
"Sreet...!"
Diiringin desingan angin tajam, ujung baju sebelah kiri dari si nenek segera tersayat hingga robek.
Serangan itu tidak berhenti sampai disana saja tiba tiba dengan membawa kilatan cahaya tajam sekali lagi membacok ujung baju sebelah kanan si nenek.
Tapi pada saat itulah tiba-tiba ujung baju si nenek menggulung ke atas dan membelenggu pedang yang sedang membacok itu.
Betapa terkejutnya perempuan setengah umur itu menyaksikan senjatanya kena ditangkap lawan buru-buru ia membetotnya dengan sekuat tenaga sayang usahanya itu tidak berhasil.
Pada saat itulah suatu totokan jari tangan si nenek telah disentil kedepan, desingan angin tajam langsung menerjang ke depan.
Dalam keadaan demikian seandainya perempuan setengah umur itu melepaskan pedangnya mungkin ia masih dapat menyelamatkan diri dari ancaman bahaya maut itu.
Sayang semua perhatiannya sedang terkejut untuk menarik kembali pedangnya, sedikit gerakannya menjadi lambat tahu tahu serangan dahsyat itu sudah menghajar diatas lengannya.
Dengan sempoyongan ia mundur setengah langkah ke belakang baru dia akan melakukan usaha penyelamatan diri si nenek telah melontarkan kembali telapak tangannya ke depan pedang yang dibelenggu dengan ujung bajunya itu disertai desingan angin tajam langsung meluncur ke depan.
Termakan oleh gulungan angin dahsyat ini, perempuan setengah umur itu makin tak sanggup mempertahankan diri, ia makin sempoyongan.
Sebuah tendangan kilat yang tepat menghajar dipinggangnya membuat perempuan setengah umur itu mencelat dan jatuh terkapar ditanah dengan wajah meringis.
Si nenek memburu ke depan, pedangnya langsung disambar dan ditusukkan ke dada lawan.
Perempuan setengah umur itu menjerit keras "Kau..."
Hanya sepatah kata yang sempat diucapkan, sebab pada waktu itulah dadanya sudah tertusuk dan darah segar berhamburan kemana-mana.
Ia mengejang keras sambil mengerang kesakitan, hanya sebentar ia meronta ronta dan akhirnya ia tak berkutik lagi, tewas dalam keadaan mengerikan...
Semua kejadian ini berlangsung sekejap mata, sejak si nenek melompat kebelakang sampai menusuk dada musuhnya, boleh dibilang semuanya terjadi dalam beberapa detik.
Ong It sin tak bisa berbuat banyak kecuali berdiri tertegun dengan mata terbelalak dan mulut melongo, untuk sesaat ia tak tahu apa yang musti dilakukan.
Lewat lama sekali, anak muda itu baru berseru.
"Nenek, mengapa kau bunuh orang ini, apa salahnya perempuan setengah umur ini??"
Dengan suatu getaran tangannya, si nenek mematahkan pedang ditangannya itu menjadi beberapa bagian lalu membuang kutungan pedang tersebut keatas tanah, setelah itu sambil memutar badan ia baru berkata dengan nada dingin.
"Orang ini adalah seorang manusia keji, aku telah mewakili nenekmu untuk membunuhnya!"
"Oooh... kalau begitu pastilah dia yang bernama Setan gantung perempuan penggantung nyawa itu?"
Tanya Ong It sin. Paras muka sinenek segera berubah hebat tiba tiba bentaknya dengan keras.
"Tutup mulutmu, kalau lain kali kau berani mengucapkan nama ini lagi, jangan salahkan kalau kubunuh dirimu!"
Diam-diam Ong It sin merasa keheranan ia merasa sejak pertemuannya untuk kedua kalinya dengan sinenek, rupanya sikap sinenek jauh lebih galak lagi daripada keadaan semula.
oOo Akan tetapi, sebagai seorang pemuda yang sudah terbiasa dipermainkan orang, ia tidak merasa terlalu sedih atau tersinggung oleh bentakan tersebut karenanya ketika si nenek marah marah dia pun sambil menjulurkan lidahnya tidak berkata apa apa lagi.
Dalam pada itu si nenek telah mengebutkan ujung bajunya kedepan, segulung angin tajam segera menggulung tubuh mayat perempuan setengah umur itu dan melemparkannya ke balik semak belukar.
Kemudian tanpa mengucapkan sepatah katapun si nenek melanjutkan kembali perjalanannya kedepan, terpaksa Ong It sin mengikuti dibelakangnya.
Lima empat li kemudian fajar telah menyingsing dan matahari memancarkan sinar keemas emasannya ke empat penjuru mendadak si nenek menghentikan langkah kakinya.
Ternyata mereka telah tiba dibawah sebuah tebing curam yang tingginya mencapai lima kaki, diatas tebing tersebut terdapat sebuah bangunan rumah, sebagian kecil rumah tadi berada di luar tebing itu.
Setibanya dibawah tebing, si nenek lantas berteriak dengan suara lantang.
"Kami berdua datang kemari untuk mengunjungi Li popo, harap saudara bersedia memberi petunjuk jalan!"
Ketika perkataan itu sudah diulangi sebanyak dua kali, dari balik jendela rumah muncullah batok kepala seseorang.
Orang itu mempunyai wajah berbentuk Yen yan rin, kenapa dikatakan demikian?
Oleh karena separuh wajanya berwarna merah dan separuh lagi berwarna putih oleh karena mukanya terdiri dari warna merah putih yang amat menyolok inilah maka tampangnya jadi tak sedap dipandang.
Itu masih mendingan jika bentuk mukanya bagus, sayangnya muka orang itu gemuk tidak gemuk, bengkak tidak bengkak, sepintas lalu seperti orang yang kena beri beri cuma penyakit beri-berinya mampir diatas wajah, matanya kecil dengan bibir tebal seperti congor babi, jeleknya betul betul sukar dilukiskan dengan kata kata.
Senang sekali Ong It sin menyaksikan tampang jelek orang itu, tanpa terasa ia tertawa cekikikan.
Selama ini dia selalu mengira tampangnya terhitung paling jelek didunia tapi kalau dibandingkan dengan tampang orang itu, maka rasa-rasanya secara mendadak saja tampangnya berubah jadi ganteng dan menarik hati.
Begitu tawanya meledak, orang yang berada diatas jendela itu segera menghela napas tanyanya.
"Tahukah kalian mengapa aku menghela napas"
Suaranya parau seperti gembrengan rongsokan, membuat orang yang mendengarnya menjadi tak nyaman dihati. Baru saja Ong It sin hendak menjawab, si nenek telah mendahuluinya sambil berseru.
"Kalau salah memilih jodoh, hati merasa berduka"
Orang itu segera tertawa terbahak bahak, dengan suaranya seperti katak buduk lagi berteriak ia berseru.
"Haaah... haaah... haaah... silahkan naik ke atas, oh tunggu, harap tunggu sebentar"
Sambil berkata tangannya dikeluarkan dari jendela dan menekan ke bawah seakan-akan muncul segulung tenaga yang sangat kuat tiba-tiba menekan ke bawah.
Bersamaan itu pula, dari balik matanya segera memancar keluar sinar tajam yang dingin dan menggidikkan hati.
Seketika itu juga si orang yang bertampang jelek itu kelihatan lebih keren dan berwibawa, membuat orang tak berani pandang hina dirinya.
"Siapakah aku? Tahukah kau?"
Kata orang itu pelan-pelan.
"Maaf jika aku si nenek tak dapat mengenalimu sebelum ini aku belum pernah berjumpa dengan kau, dari mana aku bisa tahu siapakah kau ini"
"Aah... belum tentu"
Si nenek tertawa paksa, kembali katanya "Hei kenapa kau berkata demikian? Andaikata aku pernah bertemu denganmu, kenapa aku tak berani mengenalinya?"
"Kalau kau mengatakan pernah bertemu denganku maka akupun akan bertanya kepadamu dimana kita pernah saling bertemu, kalau kau telah mengutarakannya, maka dengan sendirinya asal usulmupun segera akan kuketahui, bukankah begitu?"
"Aku si nenek hanya bisa beberapa jurus ilmu silat kasaran saja adapun kedatanganku kemari adalah karena mendapat pesan dari seseorang untuk menghantar engkoh cilik ini untuk menjumpai Li popo, kau harus tahu bahwa engkoh cilik ini adalah cucu luarnya Li popo"
Orang itu segera berseru tertahan dan menarik kembali telapak tangannya yang menekan kebawah.
Si nenek segera menutulkan ujung kakinya ke tanah dan dengan membawa Ong It sin melompat naik ke atas tebing.
Sekalipun harus membawa tubuh seseorang, ternyata gerakan tubuh si nenek sewaktu melompat naik keatas tidak menjadi lambat barang sedikit pun, setelah berada beberapa kaki tingginya, kembali ujung kakinya menutul diujung batu yang mencuat keluar dan sekali lagi tubuhnya melayang sejauh tujuh delapan depa ke udara.
Dalam lima enam kali lompatan saja, ia telah berada diatas puncak tebing tersebut, sedangkan orang itu pun sudah keluar dari balik rumah batunya.
Orang itu mempunyai tubuh yang tinggi besar, tapi separuh bagian tubuh bagian atasnya panjang dan tubuhnya bagian bawahnya pendek, sepasang kakinya pendek sekali hingga tampak seperti mahluk yang aneh sekali bentuk tubuhnya.
Selangkah demi selangkah orang itu berjalan ke hadapan si nenek, kemudian katanya.
"Setiap orang yang hendak menuju lembah Ciong cu kok harus mencobakan dulu ilmu silatnya denganku, sebab kalau tenaga dalamnya cetek sekali, maka kesanapun hanya mengantar kematian belaka, aku rasa kalian pasti sudah tahu bukan dengan peraturan ini?"
"Ooh, rupanya begitu, tapi tahukah kau siapakah engkoh cilik ini...?"
Sambil memutar biji matanya, manusia berwajah merah putih itu memperhatikan Ong It sin beberapa kejap.
Ong It sin merasakan sepasang mata orang itu memecahkan cahaya yang menggidikkan hati, baru beberapa kejap saja diperhatikan, ia sudah merasakan hatinya bergidik dan bulu romanya pada bangun berdiri.
"Aku datang kemari untuk menjumpai popoku kenapa musti mencoba ilmu silat segala?"
Teriaknya kemudian. Manusia Yen yang bin tertawa terbahak bahak sahutnya.
"Kau hendak menjumpai popomu di lembah Ciong cu kok? Haaahhh... haaah... haaahhh... aku rasa jika kau maju beberapa langkah lagi, segera akan kau temui nenekmu itu!"
Sambil berkata secara tiba tiba ia melepaskan sebuah pukulan dahsyat ke depan.
Walaupun dalam hati kecilnya Ong It sin selalu menganggap dirinya sebagai seorang jago nomor satu dalam dunia persilatan, tapi begitu bertarung melawan orang lain, maka ia selalu yang menderita kerugian besar...
Dasar goblok, ia tidak menyangka kalau kekalahan tersebut disebabkan ilmu silatnya yang terlampau cetek, dia malah menganggap musuh yang ditemuinya selama ini adalah jago jago yang berilmu lihay sekali sehingga ia sebagai seorang jagoan kelas satu dalam dunia persilatanpun harus mengakui kehebatan lawan.
Sebab itulah ketika si Yen yang bin melancarkan serangannya, buru buru ia memasang kuda kuda untuk menyambut datangnya ancaman tersebut, siapa tahu belum lagi kuda kudanya dipasang, segulung angin pukulan yang maha dahsyat sudah keburu menggulung tiba.
Seketika itu juga Ong It sin merasakan matanya menjadi gelap, kepalanya pusing tujuh keliling dan tubuhnya terjengkang ke tanah.
Si nenek yang berada disampingnya, segera berteriak aneh, tiba tiba ia maju ke depan sambil melepaskan sebuah pukulan dahsyat untuk menyambut datangnya ancaman lawan.
Bersamaan itu pula lengan kirinya berkelebat ke depan mencengkeram bahu Ong It sin, demikian pemuda itu tak sampai terjengkang keatas tanah.
"Blaaang...!"
Benturan keras terjadi, akibat dari benturan telapak tangan antara sinenek melawan si wajah merah putih, dengan sempoyongan tubuh Yen yang bin tergetar mundur selangkah kebelakang.
Tapi itupun belum dapat menegakkan tubuhnya secara beruntun dia harus mundur tiga langkah lagi sebelum akhirnya benar benar dapat berdiri tegak.
Sebaliknya si nenek tetap berdiri tegak ditempat semula.
Kenyataan tersebut amat mencengangkan Yen yang bin, cepat-cepat ia menjura seraya berkata.
"Tenaga dalam yang kau miliki sangat hebat, silahkan kau masuk ke lembah Ciong cu kok tapi bocah muda ini tak boleh ikut"
"Hei, kau yang salah menduga, engkoh cilik ini benar benar adalah cucu luarnya Li popo, keponakan dari Gin sin Li Liong, putranya Kwang tong tayhiap Orang Tang thian!"
Orang itu hanya berdiri termangu mangu, rupanya ia tak dapat mengambil keputusan. Mendadak dari balik ruangan batu berkumandang suara tepuk tangan yang amat nyaring. Buru buru orang itu berseru.
"Harap kalian berdua tunggu sebentar, dari dalam lembah telah datang kabar, coba kutanyakan dulu bagaimana perintah dari Li popo"
Kemudian tanpa menunggu jawaban dari si nenek dan Ong It sin lagi ia maju ke dapam ruangan batu dan menutup rapat rapat pintunya.
Begitu masuk ke dalam ruangan, segera terdengarlah seorang perempuan berkata.
"Li popo berpesan..."
Ucapan selanjutnya dari perempuan itu lirih sekali sehingga tidak dapat terdengar dari luar dengan jelas.
Sekalipun demikian, ketika patah kata dari perempuan tadi segera membuat tubuh Ong It sin bergetar keras dan hampir saja melompat ke udara saking kagetnya.
Selembar wajahnya yang jelek seketika berubah menjadi merah padam persis seperti babi panggang.
Kepalanya menjadi pusing tujuh keliling dan hampir saja ia roboh terjengkang ke atas tanah.
Suara yang lembut dan halus itu seakan akan mengandung suatu daya tarik yang besar sekali suara tersebut seakan akan sudah menarik perhatian dari pemuda itu hampir saja membuat jiwanya terlepas dari raganya, kecuali suara dari Be Siau soh, siapa lagi yang bisa mendatangkan pengaruh sebesar itu bagi Ong It sin?
Dalam pusingnya, pemuda itu seakan akan seperti melihat Be Siau soh sedang duduk dihadapannya sambil menggape gape dihadapannya.
Tapi baru saja ia hendak menerjang ke muka badannya tak dapat berdiri tegak dan segera jatuh terjengkang keatas tanah.
Kebetulan pada waktu itu si nenek sedang memusatkan seluruh perhatiannya untuk mendengarkan pembicaraan yang sedang berlangsung dalam ruangan batu itu, betapa terkejut ia ketika secara tiba-tiba menyaksikan Ong It sin terjengkang keatas tanah dengan wajah merah padam seperti orang kesurupan.
"Hei, kenapa kau?"
Segera tegurnya. Ong It sin sama sekali tidak merasa kesakitan meskipun jatuhnya cukup kasar, sambil merangkak bangun ia bergumam tiada hentinya.
"Siau soh, ada dimana kau?"
"Hei, apa itu Siau soh? Kau kena senjata rahasia?"
Bentak si nenek dengan marah.
Tentu saja si nenek tidak menyangka kalau manusia semacam Ong It sin pun pernah merasakan malam syahdu bersama gadis cantik, dia mengira yang disebut Siau soh itu adalah sejenis senjata rahasia.
Ong It sin menjadi kebingungan sendiri karena mendengar sebutan senjata rahasia, ia menjadi tertegun lalu tertawa getir.
Kebetulan si muka merah putih baru keluar dari rumah batu itu, serta merta Ong It sin menerjang masuk ke dalam ruangan itu, tapi perbuatannya ini segera dihalangi oleh si muka Yen yang bin.
Dengan wajah tegang dan napas tersengkal sengkal Ong It sin berseru keras.
"Siapa... siapa yang barusan berbicara denganmu dalam ruangan ini...? si... siapakah dia?"
Yen yang bin tidak menjawab pertanyaan itu, dia hanya mengawasi Ong It sin dengan mata melotot, lama sekali baru ujarnya.
"Li popo mengundang kalian masuk, bahkan tak usah melewati jeram seratus kaki dan tebing seribu golok lagi, kalian dipersilahkan masuk lewat lorong rahasia nah ikutilah aku!"
Sehabis berkata ia putar badan dan masuk kembali ke dalam ruangan batu itu. Buru-buru Ong It sin menerjang masuk ke dalam ruangan batu itu, tapi disana tak ada seorang manusiapun.
"Hei, kemana perginya perempuan yang mengajakmu berbicara dalam ruangan ini tadi?"
Kembali Ong It sin berseru. Yen yang bin tidak berkata apa-apa, sebaliknya si nenek sambil mengerutkan dahinya berpikir.
"Kenapa dengan bocah muda ini? Sudah edan barangkali? Kenapa hanya mendengar suara perempuan saja ia menanyakan terus menerus?"
Si nenek mana tahu kalau suara perempuan itu bagi Ong It sin adalah suatu urusan yang luar biasa, mana ia tahu kalau pemuda itu tak dapat melupakan pengalaman syahdunya pada malam itu.
Yen yang bin telah menggeserkan sebuah meja batu dan menyingkap sebuah ubin batu, muncullah sebuah gua didalamnya, hanya gua itu gelap sekali sehingga sukar untuk melihat keadaan didalam sana.
Orang itu mengangkat sesuatu dari balik gua tadi hingga berbunyi gemerincing, kemudian katanya lagi.
Gua ini berhubungan langsung dengan lembah Ciong cu kok, dan hanya dihubungkan dengan seutar rantai saja, sekalipun tidak gampang untuk menuruninya tapi jauh lebih gampang daripada melewati jeram seratus kaki dan bukit seribu golok, nah silahkan kalian berdua untuk menuruninya.
Ong It sin segera berpikir lagi.
"Sudah pasti Be Siau soh masuk lewat lorong rahasia ini... Ia sudah tak kanti untuk menunggu lebih lama lagi, tidak menunggu orang itu menyelesaikan kata-katanya ia sudah siap melompat masuk kedalam gua tersebut. Si Nenek segera memburu kedepan sambil mencengkeram bahunya, lalu bentaknya.
"Hei, hati-hati sedikit, kalau sampai terpeleset, memangnya kau anggap masih bisa hidup dengan selamat ???"
Ong It sin tertegun, lalu berpikir.
"Betul juga, kalau sampai terpeleset pasti habis sudah riwayatnya... tapi bukankah Siau soh juga turun lewat tempat ini, waah... dia juga pasti berbahaya sekali keadaannya!"
Karena berpikir demikian, buru-buru teriaknya ke dalam gua itu dengan suara keras.
"Hei, kau harus berhati hati!"
Sekali lagi si nenek dibikin bingung oleh tingkah polah Ong It sin macam orang gila itu, segera bentaknya dengan suara rendah.
"Hei, kau tak usah sinting, biar kau bawa sana hayo jangan bersuara lagi!"
Ong It sin tak berani berkata lagi.
Maka si nenekpun mencepit tangan Ong It sin dengan jari jari tangannya kemudian melompat masuk ke dalam gua tersebut.
Baru beberapa kaki mereka meluncur masuk ke dalam gua itu, batu karang yang berada diatas kepala mereka telah ditutup kembali seperti sedia kala.
Walaupun si nenek adalah seorang jago yang berilmu tinggi, tapi dalam keadaan demikian sedikit banyak menjadi tegang juga hatinya sebab andaikata pihak lawan hendak menyelakainya jelas ia sudah terjebak sekarang.
Untung dua perminum teh kemudian, pemandangan gelap disekeliling tempat itu berangsur hilang dan lamat-lamat sinar terang mulai memancar di mana-mana.
Tiba-tiba si nenek menghentikan daya luncurnya ke bawah seraya berbisik.
"Setibanya dilembah nanti, kau tak boleh bicara sembarangan, mengerti? Segala sesuatunya aku yang menghadapinya"
Apa yang dipikirkan Ong It sin sekarang hanyalah soal Be Siau soh, jangankan menjawab, bahkan apa yang diucapkan si nenekpun sama sekali tidak diketahui olehnya.
Sementara itu cahaya yang menerangi sekeliling lorong makin lama semakin terang, akhirnya sepasang kaki si nenek mencapai kembali diatas permukaan tanah.
Dimulut gua berdirilah dua orang bocah perempuan yang sedang menantikan kedatangan mereka begitu kedua orang itu munculkan diri, bocah perempuan itu segera berkata.
"Harap kalian berdua suka mengikuti aku, Li popo siap menjumpai kalian berdua dalam hutan bunga..."
Si nenek mengiakan dan bersama Ong It sin berjalan mengikuti dibelakang dua orang bocah itu.
Begitu keluar dari gua, bukan saja Ong It sin segera menjerit kaget, si nenek pun ikut terperanjat.
Ternyata diluar gua adalah sebuah lembah kecil yang luasnya mencapai beberapa hektar.
Pemandangan dalam lembah itu sangat indah dengan rumput hijau bagaikan permadani, aneka bunga tumbuh disana sini, binatang buas hidup berdampingan secara damai disana, hakekatnya tak ubahnya seperti sorga laka.
Disudut timur lembah itu, dekat dinding tebing yang terjal berdirilah lima enam buah bangunan rumah yang indah dan mewah Ong It sin tarik napas panjang panjang, lalu gumamnya.
"Ooh... suatu tempat yang sangat indah, memang paling enak kalau bisa hidup ditempat senyaman ini!"
Ketika mendengar gumaman tersebut, dua orang bocah perempuan yang membawa jalan itu segera berpaling dan sama sama memandang sekejap ke arahnya.
Menyaksikan bocah bocah perempuan itu memandangnya dengan mata terbelalak besar dan wajah yang menarik hati, Ong It sin segera tertawa kepadanya, tapi dengan hambar dua orang bocah itu segera melengos ke arah lain.
Tak lama kemudian mereka berempat sudah melewati selat sempit itu dan tiba disuatu sungai kecil yang melintang dihadapan mereka, beratus-ratus ekor ikan emas yang berwarna merah berenang dalam sungai itu dengan tenangnya.
Diseberang sungai adalah sebuah lembah, dalam lembah itu penuh tumbuh aneka bebungaan.
Sudah banyak kebun bunga yang dijumpai Ong It sin tapi belum pernah ia jumpai kebun bunga sebesar ini, apalagi sekarang sedang berbunga semua hingga kelihatan sangat indah sekali.
Setelah menyebrangi sungai kecil itu, dua orang bocah perempuan itu segera berseru.
"Li popo, tamunya telah datang!"
Dari balik hutan bunga sana segera berkumandang suara sahutan seseorang dengan suara yang serak dan tua.
"Bawa mereka kemari"
Dua orang bocah perempuan itu segera menggape kepada si nenek berdua, lalu sambil menunjuk ke depan katanya.
"Li popo ada dalam hutan bunga sebelah depan sana, harap kalian masuk sendiri!"
Sesungguhnya Ong It sin memang tidak tahu kalau ia masih mempunyai seorang nenek didunia ini tentu saja terhadap neneknya itupun tidak mempunyai kesan apa-apa.
Sekarang terbukti sudah bahwa neneknya juga tidak menaruh kesan yang mendalam kepada cucu luarnya, kalau tidak, masa neneknya tidak munculkan diri untuk menyongsongnya setelah tahu kalau cucunya datang dari tempat yang jauh?
Si nenek sementara itu sudah mengiakan, sambil menyambar tubuh Ong It sin dia melompati sungai kecil itu.
Tak lama kemudian diatas sebuah batu besar berbentuk aneh diantara dua buah pohon bunga mereka jumpai seorang perempuan tua yang sedang duduk bersila.
Nenek itu duduk membelakangi mereka sehingga yang tampak hanya bayangan tubuhnya serta rambutnya yang berwarna putih, ia membawa sebuah tongkat berliuk liuk berwarna hitam.
Meskipun tahu kalau ada orang datang, ternyata ia sama sekali tidak berkutik barang sedikitpun juga.
Ong It sin dan si nenek sudah berada lima enam kaki dibelakang perempuan tua itu tapi ia masih belum juga menggerakkan tubuhnya.
Lama kelamaan Ong It sin menjadi tertegun sambil berpaling segera tegurnya.
"Nenek, apakah dia adalah nenekku?"
Si nenek tidak menjawab, dia hanya mendehem beberapa kali. Mendadak perempuan tua itu berkata.
"Kalau kudengar dari suara dehemanmu itu, agaknya kau adalah Sam gan hek yau hu (perempuan siluman hitam bermata tiga) yang termashur namanya dimasa lalu, benar bukan?"
Mendengar nama itu, paras muka si nenek berubah hebat tapi suaranya masih tetap tenang.
"Kau keliru besar"
Sahutnya.
"aku bernama si nenek dan bukan perempuan siluman hitam bermata tiga seperti yang kau katakan itu"
Pelan pelan perempuan tua yang duduk bersila itu memutar badannya menghadap kearah mereka.
Buru-buru Ong It sin mengalihkan sinar matanya ke depan, dia ingin tahu macam apakah neneknya itu.
Perempuan tua itu mempunyai paras muka yang lebar dengan telinga yang besar sekali, muka semacam itu bersifat kelaki lakian, persis seperti wajah pamannya Li Liong.
Tapi yang membuat Ong It sin merasa terperanjat adalah sepasang mata Li popo yang belalak tapi hanya berwarna putih kelabu, rupanya dia adalah seorang buta.
Terdapat Li popo tertawa dingin lalu katanya.
"Sekalipun mataku buta, hatiku tidak buta, sewaktu muda dulu, apakah kau juga bernama si nenek?"
"Tentu saja tidak!"
Jawab si nenek.
"sewaktu masih muda dulu, orang menyebutku Hian ih sian cu (dewi berbaju hitam), selamanya bergerak disepanjang wilayah Kanglam, karena itu Li Popo mungkin belum pernah mendengar namaku, sebaliknya engkoh cilik ini adalah cucu luarmu, aku membawanya kemari tanpa maksud apa-apa, harap kau jangan menaruh curiga kepadaku!"
OoOdwOoo Li Popo tidak bersuara lagi, ia mendongakkan kepalanya dan mengawasi sinenek dengan sepasang matanya yang berwarna kelabu itu, seakan-akan ia merasa gemas kenapa matanya menjadi buta sehingga tak dapat melihat manusia macam apakah yang berada di hadapannya sekarang.
Lewat sesaat kamudian, ia baru menghela nafas panjang, katanya kemudian pelan-pelan.
"Ong It sin, kau telah datang?"
Sebenarnya Ong It sin mengira neenknya pasti akan memeluknya dan menangis tersedu sedu setelah bertemu dengannya.
Siapa tahu, pertemuan ini berlangsung dalam suasana yang serba dingin dan kaku, hal ini membuatnya amat tersipu-sipu.
"Yaa, aku telah datang!"
Sahutnya.
"Coba kemarilah, akan kuraba dirimu!"
Ong It sin menjadi panik dan ragu-ragu, ia segera berpaling dan memandang sekejap ke arah si nenek.
Si nenek segera memberi tanda kepadanya, maka pelan pelan dengan perasaan berat dan enggan Ong It sin maju ke depan.
Ketika ia sampai dihadapan Li popo, mendadak nenek itu menggerakkan tangan kanannya dan mencengkeram pergelangan tangannya.
Ong It sin merasakan tangan Li popo dingin sekali bagaikan es, ia lebih-lebih terperanjat lagi setelah kena dicengkeram olehnya, hampir saja ia melompat mundur karena ketakutan.
Tapi baru saja dia meronta, Li popo telah menancapkan toyanya ke tanah lalu dengan tangannya yang dingin mulai meraba raba wajahnya.
Ong It sin merasakan kulit wajahnya hampir saja menjadi beku saking dinginnya terkena rabaan tangannya itu.
Dengan suara gemetar teriaknya berulang kali.
"Cepat lepas tangan... cepat lepas tangan, jangan raba diriku cepatlah lepas tangan..."
Tapi Li popo seakan akan tidak mendengar teriaknya itu, dengan tangannya yang dingin seperti tangan mayat ia masih meraba terus diwajah Ong It sin, bahkan merabanya pelan pelan.
Dalam keadaan seperti ini, Ong It sin merasakan bulu romanya pada bangun berdiri ia merasa dirinya seakan akan berada dalam pintu neraka...
Menanti Li popo telah menarik kembali tangannya, Ong It sin baru menghembuskan napas lega.
Tapi sebelum ia sempat mengucapkan sesuatu, Li popo telah memaki lagi dengan penuh kemarahan "Kenapa tampangmu persis seperti binatang itu?"
Ong It sin tertegun, dia tak tahu kenapa Li popo mendampratnya dengan kata kata tersebut, mendadak..."Plak"
Sebuah tempelengan keras sudah bersarang dipipi kirinya.
Mimpipun Ong It sin tidak menyangka kalau neneknya bukan mengucapkan kata kata yang lembut dan mesrah perjumpaan itu sebaliknya malah menempeleng dirinya, karena tidak bersiap sedia tubuhnya segera roboh terjengkang ke atas tanah.
Tidak enteng tempelengan dari Li popo itu, buktinya setelah roboh ke tanah Ong It sin merasakan telinganya mendengung keras, kepala pusing tujuh keliling dan matanya berkunang kunang, untuk sesaat lamanya ia tak sanggup merangkak bangun dari atas tanah.
Terdengarlah si nenek segera berteriak dari samping.
"Hei, kalian cucu dan nenek bisa berjumpa, seharusnya pertemuan ini dirayakan dengan meriah, kenapa kau malah menampar wajahnya?"
"Aaah, kau tahu apa?"
Teriak Li popo dengan marah. Setelah berhenti sebentar terusnya.
"Ketika putriku ingin kawin dengan binatang tersebut, aku sudah bilang bahwa dia mati atau hidup tak perlu datang mencari diriku lagi. Hmm... hmmm... kini mereka suami istri berdua sudah mampus, yang masih hidup adalah binatang kecil ini, dan sekarang ia malah datang mencariku, kalau tidak digebuk, memangnya aku musti sayang bangsat cilik...? Huuh, mendingan kalau tampangnya mirip putriku, siapa tahu, justru tampanya seratus persen seperti binatang tersebut, kenapa hatiku tidak jengkel?"
Sebodoh bodohnya Ong It sin, sekarang ia tahu sudah bahwa Binatang kecil yang dimaksud Li popo adalah dia, sedangkan yang dimaksud sebagai binatang adalah ayahnya.
Sebagaimana diketahui sejak kecil Ong It sin sudah kehilangan ibunya, tidak terlalu dalam kesannya terhadap ibunya itu, tapi berbeda dengan ayahnya, ia mempunyai kesan yang mendalam sekali kepada ayahnya itu.
Maka begitu mengetahui kalau Li popo mencaci maki ayahnya sebagai binatang kontan saja amarahnya memuncak, dengan gusar teriaknya.
"Hei, siapa yang bilang aku datang mencarimu? Kau jangan sembarangan berbicara!"
"Hmm, binatang kecil kau masih tidak mengaku?"
Teriak Li popo tak kalah gusarnya.
"kalau kau bukan datang untuk mencariku, mau apa kau datang kemari?"
Hampir saja Ong It sin akan mencaci maki dengan kata kata kotor, untung dia masih teringat bahwa jelek helek begitu pihak lawan adalah neneknya, tentu saja ia tak boleh memakinya secara sembarangan.
Maka sambil menahan rasa gusarnya dia berkata.
"Bukankah kau sendiri yang mengutus Li Ji datang ke wilayah Shu chuan untuk mencariku? Kau anggap aku sudi datang sendiri kemari untuk mencarimu?"
Sambil berkata ia lantas meronta dari atas tanah dan bangkit berdiri... Kemarahan Li popo benar-benar memuncak, dengan geram ia berteriak keras.
"Bagus, binatang kecil! Kalau kau masih terus ngotot berbicara begini, jangan salahkan kalau kubunuh dirimu"
Sambil berteriak ia sambar kembali toya besi dan siap diayunkan keatas batok kepala anak muda itu.
Ong It sin amat terperanjat buru-buru ia menggulingkan tubuhnya kesamping untuk menghindarkan diri.
Untung saja ayunan toya itu berhasil dihindari, dengan napas tersengkal pemuda itu segera berseru "Si nenek hayo kita pergi dari sini saja, tampaknya orang ini...
Orang ini bukan nenekku, pasti ada kekeliruan"
"Tidak, tak mungkin ada kekeliruan"
Sahut si nenek "justru karena ibumu bersikeras hendak kawin dengan ayahmu, maka sampai sekarang nenekmu masih jengkel, ini tak bisa disalahkan.
Hayo cepat memberi hormat kepada dia orang tua, tanggung tak akan ada urusan lagi"
Ong It sin gelengkan kepalanya berulang kali sambil berseru.
"Tidak, tidak!"
Sambil berkata ia mulai celingukan kesana-kemari ia sangat berharap Be Siau soh bisa munculkan diri disana dan dia akan mengajak gadis itu untuk bersama-sama meninggalkan tempat itu.
Dengan gemas si nenek melotot sekejap ke arah Ong It sin, tiba-tiba dia menuding kearah saku Ong It sin.
Mula-mula si anak muda itu tidak mengerti apa yang sedang dimaksudkan si nenek, tapi setelah si nenek menunjukkan gerakan tangan yang membuat persegi empat pemuda itu segera memahami apa yang dimaksudkan.
Buru-buru ia mengeluarkan kotak persegi itu dari sakunya dan berseru dengan lantang.
"Akupun tak akan berbicara banyak lagi, hanya saja sebelum meninggalnya ayahku menerahkan kotak ini kepada seorang sahabatnya dengan pesan agar setelah dewasa nanti, kubawa kotak ini datang ke lembah Cong cu kok, nah sekarang kau boleh ambil kembali kotak ini"
Ong It sin mengulurkan tangannya dan menyodorkan kotak tersebut dari tempat kejauhan, tapi hanya sekali menggapekan tangannya, segulung angin dingin segera berhembus lewat dan tahu tahu kotak di tangan Ong It sin sudah terlepas dan meluncur ketangan Li popo.
Begitu Li popo menerima kotak tadi, si nenek segera menunjukkan tanda tanda tangan.
Dengan suatu gerakan yang tanpa menimbulkan sedikit suarapun si nenek menggerakkan tubuhnya maju beberapa depa kedepan, begitu cepatnya gerakan tersebut hakekatnya seperti setan yang bergerak lewat.
Sekalipun tanpa menimbulkan suara, rupanya Li popo seperti merasa ada orang yang tiba tiba menghampirinya.
Mendadak ia mendongakkan kepalanya keatas untuk memperhatikan dengan lebih seksama, terpaksa si nenek menghentikan gerakan tubuhnya.
Ong It sin yang bodoh lamat lamat dapat merasakan pula betapa anehnya suasana disekitar tempat itu, hanya saja ia tak dapat mengatakan keanehan apakah itu.
Sebentar ia memandang ke arah si nenek, sebentar lagi memandang ke arah Li popo, ia tak tahu kedua orang nenek tua sebenarnya sedang melakukan permainan apa.
Tiba tiba terdengar Li popo berseru.
"Hei, si nenek! Harap kau menyingkir agak jauhan!"
Si nenek tidak mengucapkan sepatah katapun, hanya saja ujung bajunya dikebutkan ke depan segulung desingan angin tajam segera menyambar kedepan sana sehingga sepintas lalu seperti ada orang sedang berkelebat menuju ke arah depan, padahal sesungguhnya ia masih tetap berdiri tegak ditempat semula.
Li popo rupanya sedang memperhatikan dengan seksama, menanti desingan angin itu sudah lenyap ia baru bertanya lagi.
"Berapa jauh kau dariku sekarang?"
Sejak bergerak maju secara diam-diam tadi si nenek tak pernah mundur barang setengah depa pun dari tempatnya semula kini dia berada empat lima depa dari Li popo.
Tapi berhubung Li popo buta sepasang matanya, tentu saja ia tak dapat melihat hal tersebut Ketika si nenek mendengar pertanyaan tadi, ia lantas membuka mulutnya dan mengucapkan sepatah kata ke tempat kejauhan sana, sewaktu mulutnya bergerak tak kedengaran saja sekali suaranya.
Sementara Ong It sin masih keheranan, tiba-tiba terdengarlah suara dari si nenek yang dipancarkan tadi memantul datang dari jarak kurang lebih tiga kaki jauhnya.
"Aku berada kurang lebih tiga kaki jauhnya!"
Ong It sin terperanjat sekali, ia heran kenapa si nenek yang jelas berada dihadapannya sekarang suaranya ternyata berkumandang dari belakang tubuhnya, dia mengira dimana telah kedatangan seseorang lagi, maka dengan perasaan terkejut ia berpaling ke belakang, tapi nyatanya di belakang sana tak ada seseorangpun.
Tentu saja ia tak tahu kalau suara pantulan dari sinenek itu dipancarkan dengan ilmu Hoa ing hoat yang menggunakan tenaga dalam tingkat tinggi.
Sementara ia masih melamun dengan perasaan bingung Li popo telah membuka kotak tersebut.
Paras muka sinenek segera berubah makin tegang sinar mata yang tajam segera memancar kelaur dari matanya, diawasinya kotak itu dengan seksama.
Li popo mulai meraba kotak tersebut, sebagaimana diketahui kotak itu adalah sebuah kotak mestika, disekeliling kotak itu terukirlah suatu pemandangan alam yang mirip sebagai suatu peta bumi.
Li popo meraba kotak itu dengan penuh seksama, lewat lama sekali ia baru berkata.
"Ong It sin, kau..."
Perkataan itu diucapkan dengan suara yang perlahan sekali.
Tapi ketika perkataan itu sampai ditengah jalan, tiba tiba ia melakukan suatu tindakan dan tindakan tersebut ternyata cepatnya bukan kepalang...
Tiba tiba lengannya didorong ke depan, dengan membawa segulung desingan angin tajam toya itu segera disapukan ke arah pinggang si nenek yang berada disampingnya.
Sapuan toya itu boleh dibilang dilancarkan sangat mendadak, sebab gerakan Li popo selama ini sangat lambat, dia sedang meraba kotak mestika itu dengan gerakan yang lambat sekali.
Dengan demikian, sapuan toyanya yang cepat seperti sambaran kilat ini boleh dibilang merupakan suatu tindakan yang sama sekali diluar dugaan.
Walaupun sapuan toya dari Li popo ditujukan kepada si nenek yang berada disampingnya, akan tetapi Ong It sin yang berada dua tiga kaki jauhnya dari sanapun merasakan betapa dahsyatnya ancaman itu sehingga tak kuasa lagi badannya roboh terjengkang oleh sapuan tenaga pukulan itu.
Si nenek menjerit aneh, ketika toya itu hampir mengenai tubuhnya, mendadak ia menjatuhkan diri ke atas tanah, lalu dengan tenang menempel di tanah ia melesat kedepan sana.
Kalau serangan dari Li popo dibilang cukup cepat maka cara si nenek dalam menghindarkan diri jauh lebih cepat lagi.
Li popo tidak berhenti sampai situ saja, begitu serangannya berhasil dihindari ia kembali melompat keudara dan melancarkan tubrukan kembali sekali lagi toyanya diayun ketubuh lawan dengan kekuatan yang luar biasa.
Dalam waktu singkat angin pukulan menderu deru ke empat penjuru, bebungahan berguguran terkena sambaran tajam itu.
Si nenek tak berani gegabah, ketika serangan kedua dari musuhnya kembali menyambar datang, cepat ia bergelinding ke samping lalu mencabut sebatang pohon, keadaan terdesak demikian ia mempergunakan batang pohon tersebut sebagai senjata untuk menyambut datangnya ancaman.
"Kraaak!"
Ketika batang pohon itu beradu dengan toya, sekali patah menjadi dua.
Si nenek merasakan sepasang lengannya bergetar keras, tubuhnya sampai terdesak mundur selangkah dengan sempoyongan.
Tapi Li popo kembali sudah menyerang tiba, seperti angin topan serangan demi serangan dilancarkan secara bertubi tubi, dalam waktu singkat ia sudah melancarkan tujuh delapan buah serangan yang semuanya ditujukan pada bagian mematikan tubuh lawan.
Dalam keadaan demikian, si nenek betul-betul terdesak hebat, ia hanya bisa menghindari ke kiri dan ke kanan, sama sekali tiada kesempatan baginya untuk melancarkan serangan balasan.
Belasan buah serangan kemudian mereka sudah berada dimulut selat sempit, tiba tiba si nenek menyambar sebuah batu cadas dan melemparkannya ke depan.
Batu cadas itu paling tidak juga mencapai dua puluh kati lebih, dengan membawa deruan angin tajam langsung meluncur ke depan dan beradu dengan toya baja lawan.
"Praak...!"
Batu cadas itu segera hancur menjadi berkeping keping banyaknya.
Tapi dengan kejadian itu pula serangan dari Li popo pun menjadi tertahan untuk sesaat.
Menggunakan kesempatan itu si nenek melompat keatas batu cadas yang berada kurang lebih satu kaki enam depa diatas dinding tebing, disana ia baru bisa menghembuskan napas panjang.
Hingga saat itulah Ong It sin baru berkesempatan untuk menarik napas panjang seraya berseru.
"Hei, kalian jangan bertarung lagi, kenapa kamu berdua musti saling pukul memukul? Kalau ada persoalan marilah kita bicarakan secara baik baik saja!"
Percuma si anak muda itu berteriak dengan suara keras, sebab pada hakekatnya baik si nenek maupun Li popo tak ada yang menggubris teriakan itu.
"Perempuan siluman hitam sekarang kau masih ingin mungkir lagi?"
Teriak Li popo dengan geramnya.
"hmm... kau anggap aku buta lantas bisa mengelabuhi diriku? Hmm... jangan harap ilmu meringankan tubuh Liok yap piau piau (daun rontok berguguran) dari keluarga Be kalian bisa mengelabuhi diriku!"
Mendengar disebutkannya nama "keluarga Be", Ong It sin kembali merasa tertegun, lalu serunya.
"Keluarga Be -keluarga... keluarga Be..."
Dalam pada itu si nenek telah berkata dengan suara dingin.
"Anggap saja kau memang bermata tajam, nah sekarang katakanlah rahasia tentang kotak itu kepadaku!"
Li popo kembali mendongakkan kepalanya sambil tertawa terbahak bahak.
"Haaahhh... haaahhh... haaahhh... selama berada dalam lembah Cong cu kok ini lebih baik janganlah bicara sesumbar, ketahuilah, sekalipun kau punya sayap juga jangan harap bisa lolos dari sini dalam keadaan selamat!"
Sambil berkata, toya besinya kembali disodokkan berulang kali ke udara sambil melancarkan serangan dahsyat.
Untuk menghindarkan diri dari ancaman tersebut terpaksa si nenek harus melompat naik lagi keatas tebing curam tersebut.
Akhirnya setelah ia berada pada ketinggian lima kaki lebih, sekalipun ilmu silat Li popo sangat lihay toh ia tak sanggup melancarkan serangannnya lagi keatas.
Dari atas tebing si nenek segera berseru.
"Mengingat sepasang matamu telah buta, aku enggan melanjutkan pertarungan denganmu bila kau tahu diri, cepat beri tahukan rahasia tersebut kepadaku"
Sekali lagi Li popo mendongakkan kepalanya sambil tertawa terbahak-bahak.
"Haaah... haaah... haaah... lebih baik kau jangan bermimpi disiang hari bolong..."
Mengikuti gelak tertawa itu, mendadak dari puncak tebing itu berkumandang suara gemuruh yang memekikkan telinga.
Buru-buru Ong It sin menengadah keatas tampaklah si muka Ye yang sedang mendorong sebuah batu besar yang siap dijatuhkan kebawah.
Berat batu itu paling tidak juga mencapai ratusan kati, hal ini sangat mengejutkan Ong It sin segera teriaknya.
"Hei, jangan didorong kebawah, si nenek adalah sahabat karibku, kenapa kau bersikap demikian kepadanya?"
Percuma saja teriaknya itu, sebab sama sekali tak ada yang menggubrisnya.
Melihat teriaknya tidak digubris, malahan batu yang didorong oleh yen yang bin sudah dilontarkan ke bawah, dengan ketakutan pemuda itu lari ke depan.
"Hei, jangan kau dorong batu itu ke bawah!"
Teriaknya dengan suara setengah menjerit.
Baru dua langkah ia maju ke depan, kembali tubuhnya sudah kena tersapu oleh desingan angin tajam yang dihasilkan oleh sambaran toya dari Li popo tak ampun tubuhnya segera jatuh terjengkang ke tanah dengan dada tersesak.
Pada saat itulah batu besar itu sudah menggelinding kebawah dengan membawa suara gemuruh yang memekikkan telinga.
Padahal pada waktu itu si nenek masih berada diatas tebing, tampaknya ia segera akan tertindih oleh hancuran batu cadas tersebut.
Ong It sin sangat ketakutan, saking ngerinya dia ingin berteriak keras namun tak sepotong suarapun diutarakan.
Pada saat yang kritis itulah tiba-tiba si nenek melompat ke bawah, lalu sambil berjumpalitan beberapa kali ia peluk batu besar yang sedang menggelinding ke bawah itu dan meluncur ke bawah dengan kecepatan tinggi.
Waktu itu Li popo sedang mendongakkan kepalanya memandang keatas dengan wajah keheranan.
Sebagaimana diketahui matanya buta, ia dapat melakukan serangan semuanya berkat pendengarannya yang taham, sekarang ia hanya mendengar suara batu yang meluncur ke bawah, tapi ia tidak melihat kalau si nenek meluncur ke bawah dengan membonceng diatas batu cadas tersebut.
Karenanya ia menjadi amat tercengang, dengan jelas ia dapat mendengar suara si nenek yang melompat turun dari atas tebing, tapi selanjutnya suara itu lenyap dengan begitu saja.
Pada saat itulah laki-laki berwajah merah putih diatas tebing itu berteriak keras.
"Hati-hati popo, nenek bangsat itu bersembunyi diatas batu besar kurang lebih dua kaki darimu!"
Begitu mendapat peringatan, Li popo segera membentak keras, toyanya langsung diayun ke depan menghantam batu cadas yang berada disampingnya itu.
Si nenek yang licik sudah barang tentu tak mudah dihantam oleh musuhnya dengan cepat ia mendorong batu besar itu kedepan sementara ia sendiri berjumpalitan ke arah lain.
"Blaang...!"
Batu cadas dan toya dari Li popo telah saling beradu dengan kerasnya menyebabkan percikan bunga api, batu cadas itu segera hancur menjadi berkeping keping.
Dalam pada itu si nenek sudah melompat turun beberapa kaki jauhnya dari posisi semula.
"Cring...! Cring!..."
Ia cabut keluar dua bilah pedang hitam sepanjang empat depa dan langsung dibacokkan ke punggung Li popo.
Serangan yang dilepaskan dengan tangan kanannya ini dilancarkan dengan membawa desingan angin tajam.
Sementara itu pedangnya di tangah kiri tanpa menimbulkan sedikit suarapun secara diam diam membabat kepinggang lawan, bukan saja kedua buah serangan itu menggunakan jurus serangan yang maha dahsyat, tenaga yang dipergunakan pun jauh berbeda, dari sini dapat diketahui bahwa ilmunya memang lihay sekali.
Sejak menghancurkan batu cadas tadi, Li popo sudah tahu kalau ada ancaman datang dari belakang, tapi ia tidak memutar tubuhnya, malahan menjatuhkan diri ke belakang untuk menyusul musuhnya.
Padahal serangan yang dilancarkan si nenek memang tertuju belakang punggungnya, dengan mundurnya Li popo ini maka sama artinya dengan ia memberikan tubuhnya untuk ditusuk.
Ong It sin yang menyaksikan kejadian ini menjadi kaget dan berseru tertahan.
Dikala kedua bilah pedang tersebut sudah hampir menusuk punggung Li popo mendadak sambil membentak keras Li popo mencukilkan toyanya ke arah depan.
Ong It sin makin tercengang lagi dalam sangkanya toya itu pasti akan diputar ke belakang untuk menahan datangnya ancaman.
Ternyata pada saat itulah kembali ada sebuah batu cadas meluncur jatuh ke bawah, dengan dicukilnya toya itu kedepan, maka serta merta batu berat seratus kati itu melejut ke belakang dan balik kebalik menindih batok kepala si nenek.
0o-o-d=w-o-o0
Jilid 11 Dengan gerakannya itu, andaikata si nenek meneruskan tusukannya ke punggung Li popo maka niscaya dia sendiripun akan tertindih oleh batu cadas.
Dengan perasaan apa boleh buat si nenek berteriak aneh, sepasang tangannya ditarik kembali dan diputar ke atas untuk menahan datangnya tindihan batu cadas itu.
Li popo cepat memutar badannya kemudian dengan toya bajanya kini dia menghantam pinggang musuh.
Ong It sin kaget karena si nenek ketika itu sedang menangkis batu cadas, dan tubuh bagian bawahnya terbuka, ia mengira kali ini nenek itu pasti akan tewas.
Tapi si nenekpun bukan orang yang gampang dikalahkan dengan mempergunakan batu cadas tadi kembali dilontarkan ke depan dan persis menyongsong datangnya sapuan toya musuh.
Li popo terpaksa menarik kembali serangan sambil melempar ke belakang untuk menyelamatkan diri, sedangkan si nenekpun menggunakan kesempatan itu untuk mundur pula ke belakang.
Batu cadas itupun dengan menimbulkan suara keras segera menghantam bumi dan menimbulkan getaran keras.
Li popo tertawa seram, katanya kemudian.
"Siluman perempuan hitam, jalan kesorga kau tampik jalan ke neraka kau terobosi, jangan harap kau bisa keluar dari lembah Cong cu kok ini dalam keadaan selamat!"
Suara itu amat keras dan amat memekikkan telinga, membuat Ong It sin mundur dengan sempoyongan. Si nenek tertawa dingin, ejeknya.
"Apa yang kau andalkan? Dengan sepasang matamu yang buta itu?"
Li popo mendongakkan kepalanya dan tertawa seram.
"Haaahhh... haaahhh... haaahhh... banyak jago lihay yang berada dalam lembah Cong cu kok ini, tapi hanya mengandalkan aku seorangpun sudah cukup untuk membereskan dirimu!"
Baru saja perkataan itu diucapkan, mendadak dari atas tebing kedengaran jeritan ngeri yang memilukan hati, suara itu amat nyaring dan keras, tapi siapapun tahu bahwa suara itu berasal dari mulut Yen yang bin, si manusia bermuka merah putih.
Begitu mendengar jeritan ngeri itu, Li popo segera mendongakkan kepalanya keatas, tentu saja ia tak dapat melihat apa yang telah terjadi di atas tebing, tapi ditinjau dari mimik wajahnya dapat diketahui bahwa ia ingin cepat cepat mengetahui apa gerangan yang telah terjadi ditempat itu.
Si nenek dan Ong It sin pun bersama-sama mendongakkan kepalanya ke atas untuk mengetahui apa yang terjadi.
Dengan cepat mereka dapat menjumpai bahwa si laki-laki bermuka Yen yang itu sedang jatuh terjungkal dari atas tebing dan meluncur ke bawah.
Akhirnya diiringi suara keras, kepalanya beradu dengan permukaan tanah dan tak berkutik lagi untuk selamanya.
Li popo segera melintangkan toyanya di depan dada lalu dengan wajah penuh kegusaran serunya.
"Perempuan siluman hitam, sebetulnya permainan setan apa yang sedang kau lakukan?"
Si nenek tertawa terkekeh kekeh.
"Heeehhh... heeehhh... heeehhh... tidak ada permainan apa apa, cuma ada satu persoalan hendak kuberitahukan padamu, yakni semua anggota lembah Cong cu kok ini, kecuali kau seorang, yang lain sudah kami kirim ke neraka, haaahh... haaahh... haaahh... ingin kulihat dengan kekuatan apakah kau hendak memusuhi kami lagi?"
Kejut dan marah Li popo menghadapi keadaan ini, katanya.
"Kau... kau... dengan cara apa kau mencelakai beberapa orang itu...?"
Ong It sin yang mendengar perkataan si nenek pun merasa keheranan, pikirnya.
"Heran, sejak masuk ke lembah Cong cu kok, belum pernah si nenek berpisah denganku kapankah ia pergi mencelakai orang?"
Kemudian setelah berhenti sejenak kembali pikirnya lebih jauh.
"Ia bilang bahwa kecuali Li popo, dalam lembah Cong cu kok ini sudah tiada orang lain lagi, lantas bagaimana dengan Be Siau soh... yaa, bagaimana dengan nasib Be Siau soh?"
Begitu teringat akan diri Be Siau soh, keringat dingin segera membasahi seluruh tubuh Ong It sin segera teriaknya.
"Apa kau bilang si nenek? Semua orang yang berada dalam lembah Cong cu kok telah mati semua?"
Si nenek tidak menjawab, dia hanya melotot sekejap kearahnya dengan gemas.
Dalam pandangan Ong It sin si nenek tidak terlalu jahat kepadanya, dan selama ini ia selalu menganggap si nenek sebagai seorang sahabatnya.
Tapi sekarang si nenek sudah menjadi musuh bebuyutan Li popo, padahal dia adalah cucunya Li popo, sudah barang tentu si nenek tak akan menggubrisnya lagi.
Melihat si nenek tidak menjawab pertanyaannya Ong It sin segera berteriak.
"Hei, si nenek, Kenapa kau tidak men..."
Mendadak ia menutup mulutnya dengan begitu saja Sebab pada saat itulah dari atas dinding tebing ia saksikan ada sesosok bayangan tubuh yang kecil mungil sedang meluncur datang dengan kecepatan luar biasa.
Bayangan tersebut sudah amat dikenal oleh Ong It sin oleh sebab itu begitu menjumpai bayangan tubuhnya, ia sudah berdebar dengan kerasnya...
Cepat niat gerakan tubuh bayangan manusia itu, belum sampai ia berdiri tegak, Li popo telah berteriak.
"Siau soh, kau telah datang!"
Begitu mendengar nama "Siau soh"
Hampir berhenti detak jantung Ong It sin saking kagetnya, sekarang terbukti sudah bahwa gadis itu memang bukan lain adalah gadis idamannya selama ini.
Dalam waktu singkat orang itu sudah berada di hadapannya, siapa lagi kalau bukan Be Siau soh?
Wajah Be Siau soh masih tampak begitu cantik jelita bak bidadari dari kahyangan, begitu sampai disana, ditatapnya Ong It sin beberapa kejap bibirnya seperti hendak mengucapkan sesuatu, tapi niat itu kemudian dibatalkan.
Ketika sinar mata Ong It sin beradu pandang dengan sepasang matanya yang jeli, pemuda itu segera merasakan kepalanya menjadi pusing dan semua pemandangan menjadi berputar, ia tak dapat berdiri tegak lagi dan tak ampun tubuhnya roboh terjengkang ke atas tanah, untuk sesaat lamanya ia tak sanggup merangkak bangun lagi.
Pemuda itu merasakan sekujur tubuhnya menjadi lemas tak bertenaga, suka serasa melayang meninggalkan raganya.
oodOwoo Ditengah keheningan itulah, Li popo kembali berseru.
"Siau soh, kenapa lotiang itu secara tiba tiba bisa terpeleset jatuh dari atas tebing?"
"Akulah yang mendorongnya secara tiba tiba dari belakang"
Sahut Be Siau soh dengan dingin.
"karena itu tak dapat berdiri tegak, tentu saja badannya jadi terpeleset dan jatuh ke bawah!"
Jawaban dari gadis itu sungguh diluar dugaan siapapun, termasuk pula diri Li popo sendiri.
Ketika mendengar perkataan itu, sekujur badan Li popo bergetar keras, wajahnya yang penuh keriput segera berubah menjadi hijau membesi, setelah tertawa panjang serunya.
"Haaahhh... haaahhh... haaahhh... bagus sekali semula aku masih mengira kau benar-benar adalah seorang perempuan lemah yang didesak oleh musuh besarnya hingga terdesak dan benar-benar tak ada jalan perginya lagi, karena iba kuterima dirimu untuk tinggal di lembah Cong cu kok ini, tak tahunya kau adalah mata mata yang sengaja diselundupkan ke tempat ini... bagus, bagus sekali!"
Ong It sin menjadi kaget setelah mendengar perkataan itu, dengan gugup ia menggoyangkan tangannya berulang kali sambil berseru.
"Popo, harap kau jangan berkata demikian, Siau soh bukan orang jahat, dia adalah seorang gadis yang sangat baik, dia tak mungkin akan menjadi mata mata orang!"
Tapi Be Siau soh sendiri telah mengakui dengan dingin.
"Hmm...! Hingga sekarang kau baru mengerti, ini tak bisa terhitung lambat, kalau sudah hampir mampus baru mengetahui duduknya persoalan, itu baru dikatakan mati dengan membawa rasa sesal yang mendalam...!"
Ong It sin melongo, ia tak menyangka Be Siau soh dapat mengucapkan kata-kata seperti itu, sebentar ia memandang ke arah Be Siau soh, lalu memandang kearah si nenek dan akhirnya memandang ke arah Li popo, pikirannya sangat kalut dan tak habis mengerti.
Setelah tertegun sekian lama akhirnya ia baru memukul batok kepala sendiri seraya berseru.
"Aku pasti sedang bermimpi, yaa, aku pasti sedang bermimpi, aku pasti sedang bermimpi jelek!"
Jangankan perkataan itu hanya diucapkan dengan suara bergumam kendatipun pemuda itu berteriak dengan suara yang amat keraspun belum tentu ada orang yang akan menggubrisnya.
Dalam pada itu Be Siau soh sudah memberi hormat kepada si nenek sambil menyapa.
"Bibi kedua, kenapa sampai sekarang baru sampai disini?"
"Yaa, kenapa lagi? Tentu saja gara-gara bocah tolol itu"
Sahut si nenek dengan jengkel. Mendadak Li popo menengadah lalu tertawa terbahak-bahak.
"Haaah... haaah... haaah... aku si nenek buta memang betul-betul tak berguna bagus, bagus rupanya aku telah mengira putrinya si kelabang hitam Be Ji nio sebagai orang yang patut dikasihani, haaah... haaah... aku betul betul tak berguna"
"Benar. Be Ji nio adalah ibuku"
Sahut Be Siau soh "bukankah aku pernah mengatakan kepadamu bahwa aku she Be?"
"Bagus, bagus sekali kalau begitu kalian berdua sekarang"
Kata Li popo dengan wajah membenci.
"tapi jangan dianggap aku si nenek buta akan menjadi kaput dibuatnya, hayolah kalian maju bersama"
Sinenek membenturkan sepasang senjatanya hingga menimbulkan suara dentingan nyaring, kemudian katanya.
"Li popo kau jangan mengikuti jejak putrimu dan menantumu, berkorban hanya dikarenakan kotak itu, apa pula gunanya? Hayo cepat katakan rahasia kotak itu, mungkin kamipun bersedia pula untuk membiarkan kau mati tua disini"
"Benarkah itu?"
Suara Li popo tinggi melengking.
"Betul Be Siau soh membenarkan, kematian dari menantu terlalu penasaran, itulah dikarenakan ia tak bersedia mengikuti perkataanmu"
Selama pembicaraan berlangsung, Ong It sin hanya memandang ke arah Be Siau soh dengan termangu mangu, ketika mendengar Be Siau soh serta si nenek menyinggung tentang "menantu"
Dan "putri"
Dari Li popo, kontan saja hatinya terkesiap.
"Yang dimaksudkan sebagai menantu dan anaknya Li popo bukankah berarti ayah ibuku sendiri?"
Demikian ia berpikir.
"jika didengar dari pembicaraan kedua orang ini, tampaknya sewaktu ayahku mati, merekapun hadir di tempat kejadian?"
Terkesiap rasanya Ong It sin setelah mendengar perkataan itu, buru buru serunya.
"Hei, sebenarnya apa yang sedang kalian kerjakan?"
Tapi si nenek dan Be Siau soh sama sekali tidak menggubris teriaknya itu.
"Baik!"
Terdengar Li popo berkata kemudian sambil tertawa aneh.
"akan kuceritakan rahasia tentang kotak ini kepada kalian... Adapun kotak ini sebenarnya bernama..."
Ketika berbicara sampai disitu, mendadak tubuhnya melompat kedepan toya bajanya langsung diayunkan keatas batok kepala mereka.
Rupanya si nenek telah menduga bahwa Li popo tak akan menyerah dengan begitu saja, ia telah mempersiapkan diri secara diam diam, maka ketika toya si nenek melayang tiba, sepasang senjatanya langsung diayun ke udara dan..."Trang!"
Ayunan toya dengan gaya bukit Tay san menindih kepala itupun segera terbendung.
Bersama waktunya itu pula, tubuh Be Siau soh bagaikan sukma gentayangan menyusup ke belakang Li popo tanpa menimbulkan sedikit suarapun.
Dalam genggamannya tampak tujuh delapan batang duri tajam selembut rambut yang berwarna merah dan panjangnya satu inci, begitu menyusup ke belakang Li popo, tangannya segera diayun ke depan dan sebatang jarum yang amat tajam segera meluncur ke depan dan menyergap lambung Li popo...
Saking lembutnya seperti rambut, jarum itu menyusup keluar tanpa menimbulkan sedikit suarapun.
Kebetulan sekali pada waktu itu Li popo sedang mengayunkan toyanya ke depan dan si nenek menyongsong datangnya ancaman itu dengan senjatanya pula, bentrokan antara dua macam senjata segera menimbulkan suara benturan yang memekikkan telinga.
Dalam keadaan demikian mana mungkin Li popo dapat menangkap sambaran senjata rahasia yang pada hakekatnya tidak menimbulkan suara apa pun itu?
Tahu tahu Li popo merasakan pinggangnya menjadi sakit dan kaku, sebatang jarum tajam telah menusuk pinggangnya sedalam tiga empat inci lebih...
Dengan kaget Li popo mundur kebelakang, lalu meraba pinggangnya yang terasa sakit itu.
Sementara itu Be Siau soh telah mundur kebelakang, dengan suara keras segera bentaknya.
"Tahan! Aku rasa kau pasti sudah tahu bukan betapa lihaynya jarum kelabang dari Be Ji nio Kenapa masih berani untuk merasakannya dengan tanganmu?"
Sesungguhnya jari tangan Li popo sudah hampir meraba ujung jarumnya yang bersarang dipinggangnya itu, tapi ucapannya dari Be Siau soh segera menghentikan gerakan tubuhnya di tengah jalan ia menjadi kaku dan tak berani berkutik lagi.
Paras mukanya kontan saja berubah menjadi hijau membesi, kerutan diatas wajahnya mengejang keras, sepatah katapun tak mampu diucapkan.
"Heehhh... hhhehh... heeehhh... Li popo, serahkan saja selembar jiwamu itu kepadaku!"
Jengek Be Siau soh sambil tertawa dingin.
"Serahkan obat penawar itu kepadaku!"
Kata Li popo dengan lirih, suaranya mulai gemetar.
"Boleh saja! Cuma kau mesti memberitahukan dulu rahasia tentang kotak tersebut kepada kami obat penawar pasti akan kuberikan untukmu kemudian"
Li popo tertawa dingin.
"Jika kau dapat memberikan obat penawar itu kepadaku sehabis kuberitahukan rahasia itu kepadamu, kau masih belum terhitung sebagai putrinya Kelabang beracun Be Ji nio. Hayo serahkan dulu obat penawarnya kepadaku, kalau tidak biar nyawa hilaang, akan kubawa rahasia kotak ini ke dalam liang kubur"
"Craaap"
Toyab besinya segera ditancapkan keatas tanah dan buru buru mengeluarkan kotak itu. Menjumpai keadaran tersebut, Be Siau soh lantas berpaling kearah si nenek sembari bertanya.
"Bibi Ji ih, bagaimana tpendapatmu?"
"Memang ada baiknya kita berikan dulu obat penawar tersebut kepadanya, bagaimanapun juga racun dari jarum kelabang milik ibumu toh harus dipunahkan sebutir pil untuk sebatang jarum? Bila ia pungkiri janjinya sehabis makan obat penawar kita hadiahkan lagi beberapa jarum kelabang untuknya"
"Benar juga ucapan bibi Ji ih!"
Dari sakunya ia mengeluarkan sebiji pil berwarna hijau dan segera disentilkan ke depan.
Buru buru Li popo menyambar pil hijau itu dan dimasukkan ke dalam mulutnya.
Setelah mencabut keluar jarum beracun yang bersarang dipinggangnya dan beristirahat sesaat Li popo baru mengambil kotak mestika itu seraya berkata.
"Kotak ini didapatkan oleh suamiku dimasa lalu dengan mengorbankan selembar jiwanya, sejak memperoleh kotak ini, akupun membawa putriku jauh menyingkir ke luar perbatasan. Sungguh tak nyana putriku tak becus, untuk mewujudkan keinginannya mengawini Ong Tang thian si binatang itu, ternyata ia melarikan kotak tersebut dan kabur bersama suaminya..."
Ketika berbicara sampai disini, Li popo berhenti sejenak dengan wajah menunjukkan kesedihan, diantara matanya yang buta tampak air mata jatuh bercucuran.
Ong It sin tidak banyak mengetahui kejadian tentang orang tuanya, bahkan ini baru merupakan pertama kalinya mendengarkan kisah ayah ibunya itu.
Sepasang tangannya jadi mengepal kencang, matanya terbelalak besar, ia mendengarkan kisah tersebut dengan penuh perasaan tegang.
Li popo menghela napas panjang, katanya kembali.
"Sekalipun kotak itu dibawa kabur namun mereka tak mengetahui rahasianya, dalam perkiraan mereka setelah lewat beberapa waktu aku akan berubah pikiran dan menceritakan rahasia tentang kotak itu kepada mereka. Siapa tahu aku justru menjadi putus asa dan kecewa sekali setelah menyaksikan putriku yang kupelihara hingga dewasa ternyata bersikap demikian kepadaku hakekatnya aku sudah enggan bertemu lagi dengan mereka hingga akupun pergi jauh ke wilayah See bi dan tinggal di lembah Cong cu kok ini."
"Hei, apa gunanya kau membicarakan soal soal yang tak penting itu? Kapan kau hendak menyudahi ceritamu tersebut?"
Tukas Be Siau soh tidak sabar.
"Biarkan aku bercerita!"
Bentak Li popo. Si nenek segera memberi tanda kepada Be Siau soh sambil berbisik.
"Biarkan saja ia bercerita!"
Be Siau soh pun tidak bersuara lebih jauh. Maka Li popo pun bercerita kembali.
"Merekapun tunggu punya tunggu, berulang kali putriku yang durhaka itu ingin memasuki lembah Cong cu kok untuk bertemu denganku, tapi setiap kali niatnya tak pernah kesampaian, akhirnya bukan saja mereka tak berhasil mendapatkan rahasia tentang kotak itu bahkan justru tewas karena benda itu!"
Sampai disini ia tak dapat menahan diri lagi sambil menengadah tergelaklah nenek itu sekeras kerasnya.
"Hei, popo! Apa yang kau tertawakan?"
Tegur Ong It sin dengan wajah kebingungan.
Dalam anggapan pemuda itu, cerita yang dikisahkan Li popo sebuah cerita yang tragis dan menyedihkan ia tak habis mengerti adalah kenapa orang bukannya menangis karena sedih, sebaliknya malah tertawa terbahak bahak.
Tapi Li popo masih juga tertawa tergelak tiada hentinya, sampai malam sekali ia baru berkata lagi.
"Kenapa aku tak boleh tertawa? Ketika putriku yang durhaka itu mencuri kotak pusaka dan kabur bersama Ong Tang thian, siapa yang bisa membayangkan kesedihan dalam hatiku? Perbuatan mereka sama seperti membunuh diriku, tapi kini mereka justru mampus lebih dulu karena kotak tersebut, itulah kebaikan Thian dan itulah ganjaran yang pantas buat mereka, kenapa pula aku tak boleh tertawa tergelak?"
Selesai mendengar perkataan itu, Ong It sin hanya tertawa getir belaka, ia tak bisa berbicara lagi.
"Setelah mereka mati, dalam anggapannya meskipun aku membenci mereka tak akan membenci putranya"
Kata Li popo lebih jauh.
"maka merekapun menyuruh putra mereka dengan membawa kotak mestika tersebut datang menjumpai diriku, haaahh... haaahh... haaahh... lagi-lagi mereka berbuat kekeliruan, aku tak akan menceritakan rahasia kotak ini kepadanya, sekalipun putranya bakal merengek rengek kepadaku!"
Ketika berbicara sampai pada akhirnya perkataan dari Li popo hampir saja diutarakan dengan suara setengah menjerit. Ong It sin yang menyaksikan kejadian tersebut merasa sedih sekali buru buru katanya.
"Popo sudahlah kalau kau tak ingin mengatakannya sebab bagaimanapun juga aku memang tak ingin tahu rahasia apa yang menyelimuti kotak mestika tersebut!"
Ucapan dari Ong It sin ini adalah kata kata sejujurnya, dia memang tak tertarik sama sekali oleh rahasia dari kotak tersebut.
Tapi popo sama sekali tidak menggubris ucapannya dia hanya bertanya kepada si nenek Be Siau soh berdua.
"Aku ingin bertanya lagi kepada kalian asal kamu berdua bersedia menjawab dengan sejujurnya maka rahasia tentang kotak ini pasti akan kuberitahukan kepada kalian berdua"
"Tanyakan saja!"
Li popo menarik napas panjang panjang, lalu tanyanya.
"Apakah putri durhaka itu tewas ditangan kalian berdua?"
Si nenek segera tertawa dingin.
"Ketika putrimu mampus Siau soh masih seorang anak kecil, tapi dugaanmu memang tak meleset memang toaciku Be Ji nio yang turun tangan cuma jalan ceritanya berliku liku sekali, jadi lebih baik tak usah dibicarakan lagi"
Ong It sin yang iktu mendengarkan pembicaraan tersebut segera merasakan kepalanya seperti disambar oleh geledek, sepasang kakinya kontan menjadi lemas hingga jatuh terduduk.
Pukulan batin yang dialaminya sekarang boleh dibilang benar benar teramat besar.
Oleh karena itu setelah jatuh terduudk diatas tanah, ia merasakan telinganya mendengung keras dan pandangan matanya menjadi gelap.
Untuk sesaat lamanya ia seperti tidak mendengar apa apa seperti tidak melihat apa apa...
Cuma, perhatian semua orang waktu itu sedang ditujukan kepada Li popo jadi tak seorangpun yang mengetahui keadaan anak muda tersebut.
Sambil manggut manggut Li popo berkata kembali.
"Baik, kalian dengarkan baik baik, pemandangan yang tercantum dalam kotak itu merupakan pemandangan Ning peng cuan di bukit Pak thian san sesampainya disana kalian akan melihat sebuah bukit salju, bila naik dari sebelah timur bukit salju tersebut maka akan kau jumpai tujuh belas buah gua salju. Nah! Dalam gua salju ke enam itulah merupakan tempat yang hendak kalian tuju"
Selesai berkata, ia lantas melemparkan kotak mustika itu kedepan.
Buru buru si nenek menyambar kotak itu dan menerimanya.
Sementara itu Ong It sin yang tergeletak di tanah baru sadar kembali pikirannya pada waktu itu maka apa yang barusan dikatakan Li popo pun dapat terdengar pula olehnya.
Terdengar Li popo berkata kembali.
"Sungguhkah kalian tak akan turun tangan lagi kepadaku?"
"Heeeh... heeeh... heeeh... kenapa kami musti turun tangan lagi...?"
Jengek Be Siau soh sambil tertawa dingin. Kejut dan gusar Li popo setelah mendengar perkataan itu, bentaknya.
"Hei, apa maksudmu berkata demikian?"
"Kau anggap obat yang kuberikan kepadamu tadi adalah obat penawar? Hmm! Terus terang kuberitahukan kepadamu, obat itu bernama Si sim wan (pil penggerogot hati) saat ini sari racunnya sudah merasuk dalam ke setiap organ tubuhmu"
Li popo segera menjerit keras, toya besi yang ditancapkan diatas tanah itu segera dicabut keluar dan langsung diayunkan ke depan.
Tapi baru saja toya terangkat, tiba-tiba badannya sempoyongan, dan..."Braaak!"
Tak ampun lagi tubuhnya roboh terjengkang ke atas tanah Menyaksikan kejadian tersebut, si nenek segera tertawa terbahak bahak.
"Haaahhh... haaahhh... haaahhh... Siau soh, kau memang pandai sekali bertindak, kehebatanmu tidak berada dibawah ibumu. Haaahhh... haah... ia tak menyangka kalau kita bakal bertindak secara demikian kepadanya, apa yang telah dikatakan olehnya tadi sudah jelas tak bakal salah lagi!"
Sambil berkata ia mendongakkan kepalanya dan tertawa keras terus menerus, jelas ia merasa amat berbangga hati.
"Ji ih! Baik baiklah kau simpan kotak itu"
Kata Be Siau soh kemudian.
"bukit Pak thian san terlalu jauh, aku agak tak tega untuk meninggalkan anakku, maka aku tidak bermaksud untuk mengikuti dirimu pergi ke Pak thian san untuk mencari gua salju tersebut!"
Mula mula si nenek agak tertegun, kemudian katanya.
"Siau soh, kalau kau bisa berkata demikian, itu menandakan bahwa kau memang tahu diri. Baiklah, jika bibi Ji ih betul betul berhasil mendapatkan kebaikan, pasti tak akan kulupakan untuk memberi kepadamu, setuju bukan?"
Dengan langkah yang pelan Be Siau soh maju beberapa langkah kedepan, lalu sahutnya.
"Tentu saja, kalau aku ingin berebut kotak dengan Ji ih, bukankah hal ini sama pula artinya mencari kematian buat diri sendiri?"
Sambil berkata ia menunjuk ke arah kotak mustika tersebut.
"Haaah... haaah... haaah... aku memang..."
Tapi baru saja ia mengucapkan ketiga patah kata tersebut, mendadak Be Siau soh menggerakkan tangannya merampas kotak yang berada ditangan si nenek.
Oleh karena gerakan dari Be Siau soh ini dilakukan sangat mendadak dan sama sekali diluar dugaan si nenek yang betapapun lihaynya dibuat tertegun juga sehingga untuk sesaat lamanya ia tak sanggup melakukan sesuatu perbuatan apapun.
Pada kesempatan itu pula, Be Siau soh segera mengayunkan telapak tangannya ke depan delapan sembilan batang jarum kelabang yang selama ini berada dalam genggamannya itu segera disambit kedepan.
Padahal ketika itu Be Siau soh hanya berdiri dua tiga depa saja dihadapan si nenek, kalau tidak bagaimana mungkin Be Siau soh dapat merampas kotak yang berada di tangan si nenek?
Bisa dibayangkan saja bagaimana akibatnya ketika secara tiba-tiba pula ada delapan sembilan batang jarum kelabang disambit ke arahnya secara mendadak dengan kecepatan luar biasa?
Pada hakekatnya tak ada kesempatan lagi buat si nenek untuk melarikan dirinya.
Sementara dia masih tertegun, kedelapan sembilan batang jarum kelabang itu telah menancap semua diatas tubuhnya, dan pada saat yang bersamaan pula Be Siau soh telah melayang mundur jauh ke belakang.
Hingga detik itu si nenek agaknya masih belum mengerti apa gerangan yang telah terjadi.
Sambil menuding ke arah Be Siau soh yang telah mundur dua tiga kaki jauhnya itu, ia berseru.
"Siau soh, kau... kau..."
"Ji ih bukankah kau telah berkata bahwa caraku bekerja jauh lebih bagus daripada ibuku?"
Ujar Be Siau soh dengan suara dingin.
"Benar, benar!"
Mendadak si nenek merentangkan sepasang tangannya lalu bagaikan seekor burung aneh menerjang kedepan sana.
Be Siau soh masih tetap berdiri tak berkutik di tempat semula, sekalipun ia menyaksikan tubuh si nenek sudah mencapai ketinggian beberapa kaki dan siap menerjang ke arahnya.
Pada saat itulah, si nenek yang sudah berada lima enam depa diudara menjerit aneh kemudian tubuhnya seperti sepotong batu rontok ketanah dan terbanting keras keras diatas tanah.
Sewaktu mencapai permukaan tanah, sepasang matanya melotot besar penuh kegusaran, jelas ia mati dengan penasaran.
Seperti diketahui, racun keji yang berada diujung jarum kelabang adalah sejenis racun yang bekerja amat lambat bila sang korban sama sekali tak berkutik setelah terserang, tadi begitu tubuhnya bergerak, maka serta merta racun itupun segera akan bekerja.
Oleh sebab itulah tak heran jika Li popo tak berani berkutik barang sedikitpun setelah terkena racun kelabang, karena dia tahu racun dari Be Ji nio adalah termasuk sejenis racun lihay.
Bisa dibayangkan apa yang terjadi dengan sinenek yang sudah terkena delapan batang jaum kelabang tapi masih berani menerjang keudara, hakekatnya perbuatan semacam itu sama seperti mencari kematian buat diri sendiri.
Dengan tewasnya dua orang nenek yang belum lama berselang masih melangsungkan pertarungan sengit itu, suasana dalam lembah itu pun pulih kembali dalam keheningan.
Ong It sin membelalakkan sepasang matanya lebar lebar, mulutnya melongo dan sepatah katapun tak sanggup diucapkan keluar.
Ia merasa tenggorokannya seperti tersumbat oleh suatu benda sehingga tiada suara yang bisa diutarakan keluar.
Waktu itu ia bertanya terus kepada dirinya sendiri, benarkah gadis yang berada dihadapannya sekarang adalah Be Siau soh?
Benarkah si gadis cantik manis yang berada di hadapannya dalah Be Siau soh yang patut dikasihani dan menitipkan anaknya kepadanya itu?
Benarkah dia adalah Be Siau soh yang telah melakukan adegan syahdu dengannya didalam ruangan batu itu?
Dengan wajah termangu mangu ditatapnya gadis itu dengan wajah kebingungan, pikirannya benar benar terasa amat kalut.
Sementara itu Be Siau soh telah memalingkan kepalanya ke arah Ong It sin, setelah mengawasinya sekejap, dia baru bertanya.
"Kenapa kau tidak berdiam di benteng Khek po?"
Sebenarnya Ong It sin telah bertekad untuk tidak mengakui gadis itu sebagai Be Siau soh, tapi begitu soal benteng Khek po disinggung kontan saja ia menjadi tertegun.
"Jadi kau... kau benar-benar adalah Be Siau soh? Kau adalah Siau soh yang kukenal?"
"Benar, memangnya kau anggap Siau soh itu manusia macam apa?"
Ong It sin memandang sekejap tubuh Li popo dan si nenek yang tergeletak ditanah, kemudian gumamnya seorang diri.
"Kalau begitu aku pasti sedang bermimpi, aku pasti sedang bermimpi buruk..."
Be Siau soh tidak sabar lagi, dia langsung menghampiri anak muda itu dan menegur lebih jauh.
"Hayo jawab, kenapa kau tidak berdiam di benteng Khek po? Dimanakah bocah itu?"
Ong It sin hanya bisa memandangi wajah si nona yang cantik jelita itu dengan pikiran bingung, untuk sesaat sepatah katapun belum bisa juga diucapkan.
Pelan pelan Be Siau soh berjalan menghampiri ke hadapannya lalu berjongkok disampingnya.
Ong It sin mengendus bau harum semerbak yang merbangsang hatinya muncul dari tubuh gadis itu, itulah bau harum yang sangat khas baginya, entah sudah beberapa malam iad membayangkan kembali bau harum semerbak itu serta kejadian yang telah dialaminya pada malam syahdu tersebut.
Tapi sekarang, berhadapan dua sosok mayat dari Li popo dan si nenek yang tergeletak dihadapannya, ia tak bisa merasakan kembali bagaimana indahnya malam syahdu tersebut, hal rmana membuat hatinya merasa sedih sehingga tanpa terasa lagi dia menangis tersedu sedu.
Ong It sin yang menangis secara tiba-tiba ini sama sekali diluar dugaan Bet Siau soh, dalam anggapannya, jangan-jangan bocah itu sudah tertimpa musibah.
Paras mukanya segera berubah hebat, dengan suara melengking teriaknya keras keras.
"Kau membawa anakku ke mana? Bagaimana keadaan anakku sekarang?"
Ong It sin belum juga menjawab, dia hanya menangis tersedu sedu bahkan makin menangis semakin sedih.
Apa yang dibayangkan selama ini hanya keindahan malam yang pernah dilewatinya bersama Be Siau soh itu, peristiwa tersebut boleh dibilang merupakan kejadian paling menyenangkan selama hidupnya.
Sekalipun setiap kali terbayang akan diri Be Siau soh, ia merasa bingung bercampur sedih, tapi kenangannya selalu indah dan manis.
Tapi sekarang, keindahan yang dimilikinya itu telah lenyap dengan begitu saja, bagaimana mungkin hatinya tidak menjadi sedih.
Sebagai seorang pemuda yang tak pernah menangis, sekali meledak isak tangisnya maka hebatlah akibatnya.
Isak tangis yang makin lama makin sedih itu membuat Be Siau soh makin bingung dan kalut pikirannya.
Sudah puluhan kali ia menanyakan soal anaknya tapi pemuda itu belum juga menjawab, akhirnya setelah ia berteriak disisi telinga pemuda itu, Ong It sin baru berseru.
"Hilang... semuanya telah hilang..."
Jawaban tersebut semakin mengejutkan Be Siau soh, dengan cepat ia mencengkeram baru anak muda itu lalu diangkatnya ke udara, setelah itu bentaknya lagi.
"Kenapa bocah itu bisa hilang? Apakah kau telah membunuhnya?"
Pelan pelan Ong It sin dapat menjadi tenang kembali.
"Kau... kau bilang aku telah membunuh anak itu?"
Ia balik bertanya.
Rupanya dia tidak mengerti dengan maksud ucapan dari si nona, maka pemuda itu balik bertanya.
Apa lacur Ong It sin baru saja berhenti menangis, suaranya masih tersendat sendat karena menahan sesenggukannya, maka perkataan itu kedengaran malah seperti "aku telah membunuh anak itu"...
Ucapan yang kurang jelas tersebut membuat Be Siau soh menjadi salah paham dia mengira anaknya benar benar telah mati ditangan Ong It sin, hal mana membuat hatinya benar benar bergetar keras Sekalipun dia kawin dengan Khek po pocu dengan maksud tertentu, tapi bagaimanapun juga anak itu tetap merupakan anaknya yang telah dikandung selama sembilan bulan lebih sepuluh hari didalam rahimnya, sedikit banyak rasa cinta dari ibu terhadap anaknya tetap ada.
Dalam kejutnya, gadis itu segera mengayunkan telapak tangannya ke depan untuk menghajar batok kepala Ong It sin.
Tapi pada saat itu pula mendadak hatinya terasa amat sakit, walaupun pukulan tersebut bersarang juga diatas batok kepala si anak muda itu, akan tetapi berhubung pandangan matanya menjadi gelap dan ia jatuh tak sadarkan diri, maka serangan tersebut sedikitpun tidak membawa daya kekuatan.
Ong It sin mimpipun tak menyangka kalau jiwanya hampir melayang akibat ucapannya yang kurang jelas.
Ketika menyaksikan gadis she Be itu roboh ke tanah dengan wajah pucat pias seperti mayat, buru-buru dia membimbingnya bangun sambil berseru.
"Nona Be, nona Be, kenapa kau jatuh tak sadarkan diri?"
Setelah berteriak puluhan kali Be Siau soh baru sadar kembali dari pingsannya, begitu melompat bangun, ia lantas mencengkeram tangan Ong It sin sambil berseru.
"Kau... kau berani membunuh anakku?"
Ong It sin sangat terperanjat mendengar perkataan itu, sambil melompat bangun teriaknya.
"Hei, siapa yang bilang aku melakukan perbuatan semacam ini? Jika aku sampai mengganggu seujung rambutnya saja, biar aku segera dijebloskan kedalam neraka tingkat kedelapan belas!"
Pelan pelan Be Siau soh dapat menenangkan kembali hatinya, ia adalah seorang gadis yang pintar, dengan cepat disadari bahwa ia telah salah menduga, maka sambil menghela napas katanya.
"Kalau begitu kenapa kau tidak berada dalam benteng Khek po untuk menjaga anak itu?"
"Yaa, apa boleh buat?"
Ong It sin tertawa getir.
"aku telah diusir oleh pocu!"
Be Siau soh segera meronta bangun dari pelukan Ong It sin, teriaknya cepat cepat.
"Lantas dimanakah pedang antik yang kuserahkan kepadamu itu?"
OoowOdooo Ong It sin tertawa, sahutnya.
"Pedang antik itu telah kupersatukan kembali dengan sarung pedang Cian nian liong siau, gembirakah kau?"
Be Siau soh berseru tertahan lalu dengan sangat gembira dipeluknya anak muda itu erat erat dan mencium pipinya dengan mesrah.
"Oooh... kau memang baik sekali"
Serunya.
"cepat serahkan pedang berikut sarungnya itu kepadaku."
"Tapi sekarang pedang itu tidak berada ditanganku!"
Sahut Ong It sin agak tersipu.
"Apa?"
Be Siau soh menjerit kaget.
"Ada seorang manusia aneh berkepala besar berambut kuning yang memiliki ilmu silat sangat lihay berkata bahwa bila pedang berikut sarungnya itu disimpan, kendatipun ilmu silatku tinggi, belum tentu dapat melindunginya, maka ia bilang akan menyimpankan dulu senjata tersebut untuk sementara waktu!"
Hampir meledak pada Be Siau soh setelah mendengar perkataan itu, rasa gusar yang berkobar dalam dadanya sukar dilukiskan dengan kata kata serunya kemudian.
"Dan kaupun menyerahkan dengan begitu saja senjata tersebut kepadanya...?"
Ong It sin sadar bahwa kejadian itu telah berkembang menjadi amat serius, dia lantas manggut manggut.
"Benar, aku lihat si manusia aneh berkepala besar berambut kuning itu memang memiliki ilmu silat yang sangat tinggi, aku rasa memang paling aman jika menitipkan senjata tersebut untuk sementara waktu ditangannya, maka akupun menyerahkan pedang tersebut kepadanya!"
Be Siau soh telah mengayunkan telapak tangannya siap menampar wajah Ong It sin keras keras tapi menyaksikan wajahnya yang ketolol tololan itu ia segera urungkan kembali niatnya, sebab dia tahu sekalipun pemuda itu ditampar juga tak ada gunanya, karena belum tentu dia tahu sebab dirinya ditampar.
Maka setelah termenung sejenak, dia berkata "Kau memang dungu, gobloknya seperti babi.
anggap saja aku memang bermata buta sehingga menyerahkan persoalan penting ini kepada seorang manusia yang lebih goblok dari babi seperti kau!"
Dampratan itu sama sekali tidak tanggung tanggung, sudah barang tentu amat menyakitkan hati Ong It sin.
Sebagai seorang pemuda yang goblok, sesungguhnya ia sudah terbiasa dimaki orang, tapi makian dari Be Siau soh justru amat melukai hatinya, sebab didalam anggapannya gadis itu adlaah orang terbaik didunia ini, dan sekarang orang yang palinag baik kepadanya telah mendampratnya lebih dungu daripada seekor babi, bayangkan saja, betapa sedihnya anak muda tebrsebut menghadapi kejadian semacam ini.
Untuk sesaatr lamanya ia menjadi termangu mangu dan berdiri bodoh ditempat, sepatah katapun tidak diucapkan.
Be Siau soh mentggerakkan tangannya siap menghajar kembali dadanya, tapi niat tersebut kembali diurungkan.
Sambil menarik kembali serangannya dia berkata.
"Sebenarnya, aku hendak membunuhmu karena kau telah menghilangkan pedang antik Hu si ku kiam milikku, tapi sekarang aku telah mengampuni selembar jiwamu, apakah kau merasa amat berterima kasih sekali?"
Ong It sin tidak menjawab, diam diam pikirnya.
"Sesungguhnya dengan sukarela pasrah aku bersedia melakukan semua tugas yang kau berikan kepadaku, tapi sekarang kau memakiku lebih dungu dari seekor babi, apa lagi yang harus kukatakan?"
Semakin dipikir ia merasa semakin sedih, sehingga untuk sesaat lamanya tak sanggup mengucapkan sepatah katapun.
"Hei tadi kau bilang pedang itu diambil oleh seorang manusia aneh berkepala besar berambut kuning, sebenarnya siapa namanya?"
Tanya Be Siau soh tiba tiba.
"sarung naga Cian nian liong siau sudah banyak tahun tak diketahui jejaknya, kenapa bisa muncul secara tiba tiba?"
"Cian nian liong siau dibawa oleh Say siu jin mo (manusia iblis berkepala singa) kedalam benteng Khek po, maksudnya hendak meminta pedang Hu si ku kiam dari tangan Pocu kemudian muncullah Say siu jin mo dan mengalahkan Say siu jin mo, Say siu jin mo itupun merampas sarung naga milik Say siu jin mo, Say siu jin mo tahu pedang antik berada ditanganku..."
"Tutup mulut!"
Tiba tiba Be Siau soh membentak.
Ong It sin tertegun dan segera membungkam.
Rupanya apa yang diucapkan olehnya barusan telah membingungkan diri Be Siau soh.
Padahal, darimana dia tahu kalau apa yang diucapkan Ong It sin sesungguhnya adalah kata sejujurnya, sebab ada dua orang Say siu jin mo yang telah munculkan diri, tapi berhubung ia tidak memberi keterangan lebih dahulu, sudah barang tentu Be Siau soh dibikin kebingungan setengah mati...
Dengan gusar Be Siau soh berkata.
"Sungguh tak kusangka kau pura pura jujur, ternyata seorang manusia yang pandai bermain kayu. Hmm! Hayo bicara sejujurnya pada yang telah terjadi...!"
Melihat kelembutan dan kebaikan hati si nona sama sekali lenyap, sebaliknya ia malahan menggunakan kata kata tajam untuk memakinya, Ong It sin semakin terpukul hatinya, kesedihan yang luar biasa membuatnya harus berbicara secara terbata bata.
Setelah dengan susah payah membeberkan semua yang terjadi akhirnya Be Siau soh baru dapat menangkap apa gerangan yang telah terjadi katanya kemudian.
"Jadi menurut pendapatmu, Say siu jin mo dapat mengembalikan pedang berikut sarungnya itu padamu?"
"Aku rasa dia tak akan mengingkari janji"
Mendengar sampai disitu Be Siau soh pun segera berpikir.
"Yaa, bicara seribu kalipun tak ada gunanya, siapa menyuruh aku mempercayai seorang tolol seperti dia, apa lagi yang mesti kulakukan sekarang? Membunuhnya bukan suatu cara yang baik, malah ada baiknya biarkan saja ia tetap hidup, siapa tahu malahan akan mendatangkan kegunaan bagiku dikemudian hari?"
Berpikir sampai disitu, ujarnya kemudian.
"Kalau begitu, apa pula yang hendak kau lakukan jika dapat memperoleh kembali pedang dan sarungnya itu?"
"Aku pasti akan mencari kau sampai dapat dan mengembalikannya kepadamu..."
"Emmm... hitung-hitung kau masih mempunyai sedikit liang sim, nah! Sekarang kau boleh enyah dari sini, karena aku masih ada urusan penting yang harus diselesaikan!"
Ucapan itu membuat Ong It sin menjadi tertegun, tapi ia masih mempunayi sebercak harapan kembali tanyanya.
"Nona Be, tentang kejadian malam itu dirumah batu..."
Tapi sebelum ia sempat menyelesaikan kata-katanya, paras muka Be Siau soh telah berubah hebat, bentaknya.
"Tutup mulut, jika kau berani menyinggung kembali kejadian malam itu, aku segera membunuhmu!"
Ong It sin menjadi terbelalak dengan mulut melongo dampratan dari Be Siau soh telah melenyapkan sama sekali harapannya yang terakhir, untuk sesaat lamanya dia merasakan pikirannya kosong dan melayang layang, untuk sesaat tak tahu apa yang musti diucapkannya.
Melihat pemuda itu belum juga pergi dari situ, Be Siau soh dengan mata melotot dan alis mata berkenyit kembali berseru.
"Aku hendak peringatkan kepadamu juga, kepada siapapun kau dilarang mengatakan bahwa kau kenal denganku!"
Keadaan Ong It sin pada saat ini ibaratnya seseorang yang terluka parah, ia mulai merintih.
"Masa... masa bilang kenal dengan kau saja tidak boleh?"
Bisiknya dengan sedih.
"Yaa, kalau kau berani berkata begitu, aku pun akan merenggut selembar jiwamu!"
Ong It sin menundukkan kepalanya rendah rendah, ia tak mampu berbicara lagi.
Untuk sesaat kemudian, dia baru pelan pelan memutar badan dan pergi dari situ.
Pikiran maupun perasaannya ketika itu kosong dan tak berisi apa apa, bahkan pada hakekatnya dia tak tahu kemanakah dia harus pergi.
Ia hanya berjalan terus tiada hentinya menanti hari telah gelap, dia baru menghentikan langkahnya.
Dalam kegelapan malam yang mencekam seluruh jagad, dia tak tahu dimanakah sekarang berada dan apa yang musti dilakukan.
Dalam keadaan beginilah dia menghela nafas panjang.
Semua pengalaman yang dialaminya selama ini ibaratnya suatu impian baginya, banyak sudah yang ia telah lakukan selama ini, tapi ketika mendusin dari impiannya, semua berakhir dan semua musnah dengan begitu saja.
Semua sanak keluarganya telah hilang lenyap, familinya pada mati satu satunya nenek yang baru dijumpai pun belum berbicara banyak telah tewas pula ditangan Be Siau soh, sekarang ia benar benar hidup sebatang kara.
Ketika masih hidup dalam perkampungan keluarga Li dulu, sekalipun tak bisa dikatakan terlalu gembira, diapun tak pernah murung seperti penderitaan yang dialaminya sekarang.
Dengan termangu mangu ia duduk dalam kegelapan dan tak tahu apa yang harus dilakukan.
Setengah jam sudah lewat tanpa terasa, pikirannya makin lama makin bertambah kalut, tapi diapun tak tahu apa yang dipikirkannya selama ini.
Suatu ketika, mendadak ia teringat kembali akan diri Be Yau dan Lau Hui.
Diapun teringat pula ketika Be Yau menyerahkan kotak itu kepadanya sambil berpesan bahwa kotak tersebut merupakan benda peninggalan dari mendiang ayahnya.
Tapi sekarang, kotak mustika yang merupakan satu-satunya benda warisan dari ayahnya dirampas pula oleh Be Siau soh.
Dalam keadaan pikiran yang gundah ia menghela napas panjang dan berdiri.
Pada saat itulah tiba tiba ia menangkap serentetan suara aneh berkumandang dari tempat kejauhan yang kian lama kian bertambah dekat.
Ong It sin sama sekali tidak berani untuk menghindarkan diri atau kabur dari situ, dengan memalas malasan ia mendongakkan kepalanya.
Tampaklah emapt titik sinar putih tiba tiba muncul dari balik hutan sana dan melayang datang dengan kecepatan tinggi.
Mengikuti cahaya putih yang kian lama kian bertambah besar itu, suara aneh yang membendung di udarapun kian lama kian bertambah hebat.
Sepintas lalu suara aneh tersebut seperti suara serombongan hwesio yang sedang liam-keng, begitu hiruk pikuk sehingga membuat orang terasa mengantuk sekali.
Ong It sin memperhatikan pula sekeliling tempat itu, ia jumpai sinar tajam yang muncul dari empat penjuru itu tiba tiba berhenti dengan sendirinya setelah berada dua tiga kaki dihadapannya.
Sekarang Ong It sin baru bisa melihat bahwa sinar tajam yang muncul dari empat penjuru itu ternyata adalah empat buah lentera.
Yang membawa keempat buah lentera tersebut adalah empat orang manusia berbaju putih.
Empat orang manusia berbaju putih itu mempunyai wajah yang aneh dengan sinar mata setajam sembilu, tampaknya mengerikan sekali sehingga membuat bulu kuduk anak muda itu pada berdiri.
Setibanya dihadapan Ong It sin keempat orang itu berhenti sambil menghentikan pula gumamnya.
Diamatinya anak muda itu sekejap, kemudian salah seorang diantara keempat orang itu menegur.
"Engkoh cilik, bersediakah engkau memberi petunjuk jalan buat kami? Atas kebaikanmu itu kami pasti akan merasa berterima kasih sekali"
Orang yang berbicara itu mempunyai suara yang tak sedap didengar, begitu keras dan kaku membuat perasaan orang menjadi tak enak.
"Aneh betul orang ini"
Ong It sin segera membatin.
"aku sendiri saja tidak tahu sekarang berada dimana mereka malah bertanya kepadaku... apa tidak lucu?"
Dari potongan muka yang bermata cekung dan berhidung mancung jelas menunjukkan bahwa mereka bukan orang-orang suku Han.
Tak heran kalau logat suaranya amat tak sedap didengar.
Kembali terdengar salah seorang diantara keempat orang itu bertanya.
"Kami hendak menuju kelembah Cong cu kok, jalanan manakah yang harus kami lewati?"
Begitu mendengar nama lembah "Cong cu kok", kontan saja Ong It sin merasakan hatinya bergetar keras.
"Apa? Kalian hendak pergi ke lembah Cong cu kok?"
Serunya tertahan.
"mau apa kalian ke situ?"
"Kami hendak menyambangi Li popo!"
Terbayang kembali akan kematian Li popo, yang mengenaskan, sekalipun ia telah mendamprat dan menggebuknya, tak urung timbul juga rasa sedih didalam hatinya.
"Aaai... kalian berempat tak usah ke situ lagi"
Katanya kemudian sambil menghela napas.
"Li popo sudah tidak didunia lagi"
"Apa? Ilmu silat Li popo tiada tandingannya di kolong langit, mana mungkin ia sudah tiada lagi didunia ini?"
Seru keempat orang itu dengan wajah tertegun.
"Tak usah banyak bertanya lagi"
Ong It sin ulapkan tangannya.
"aku sedang bersedih hati karena kematian popo yang mengenaskan itu, buat apa kalian ribut terus menerus?"
"Lantas apa hubunganmu dengan Li popo?"
Tanya keempat orang itu sambil melompat maju beberapa langkah.
"Dia adalah nenek luarku, ibu dari ibuku!"
"Aaah...! Itupun tak apa!"
Seru keempat orang itu sambil melompat lebih kedepan.
"sekalipun Li popo tidak berhasil ditemukan, bertemu denganmu pun sama saja. Majikan kami justru sedang bertanya Li popo tentang perjanjiannya pada enam belas tahun berselang, kalau memang Li popo sudah meninggal dunia lebih baik kau saja yang memberikan pertanggung jawabnya"
Ucapan itu membuat Ong It sin tertegun kembali pikirnya.
"Waaah... semua orang mengatakan aku bodoh tak tahunya empat orang ini jauh lebih goblok dariku, jangankan aku tak pernah berjumpa dengan nenekku itu, sekalipun selama ini aku bersama dengan nenekpun masa kejadian pada enam belas tahun berselang bisa kuketahui? Siapa pula yang mengetahui majikan kalian itu manusia macam apa dan janji apa pula yang telah dibuat?"
Karena berpikir demikian, sambil melotot kearah keempat orang itu, diapun menegur.
"Perjanjian apakah yang kalian maksudkan? Kenapa aku tidak tahu?"
"Hei, bukankah dia adalah ibunya ibumu? Itu berarti kau adalah anaknya putrinya, mana mungkin tidak tahu?"
"Betul, aku betul betul tidak tahu"
Tukas Ong It sin tak sabar.
"aku sendiripun belum lama bertemu dengan nenek, tapi dia telah mati dengan begitu saja. Padahal sebelum ketemu, aku masih tidak tahu kalau di dunia ini aku masih mempunyai seorang nenek!"
"Nah, kata kata semacam itu baru mirip seperti suatu perkataan. Enam belas tahun berselang, majikan kami telah berangkat ke luar perbatasan untuk mencari Kwang tong tay hiap Ong Tang thian..."
Betapa terkejutnya Ong It sin ketika secara tiba tiba orang itu menyinggung soal nama ayahnya, karena tak kuasa menahan emosinya, dia segera menjerit keras.
"Siapakah majikan kalian?"
Orang itu menjadi kaget setelah mendengar jeritan dari Ong It sin, sebetulnya dia ingin bercerita lebih jauh, tapi karena teriakan itu merekapun saling berpandangan tanpa berbicara lagi.
"Hayo bicara!"
Teriak Ong It sin dengan perasaan gelisah.
"siapakah majikan kalian? Mau apa dia pergi ke luar perbatasan untuk mencari ayahku pada enam belas tahun berselang?"
"Oooh... jadi Ong Tang thian adalah ayahmu? Aku sendiri pun tak tahu ada urusan apa majikan kami pergi mencarinya"
Kata orang itu cepat.
Baca Juga: Suling Pusaka Kumala 8
Baca Juga: Memburu Iblis Sriwidjono