Ceritasilat Novel Online

Suling Pusaka Kumala 8

Eps 8 Suling Pusaka Kumala - Kho Ping Hoo

Baca online Suling Pusaka Kumala - Kho Ping Hoo

Cersil Suling Pusaka Kumala - Kho Ping Hoo.

"Agaknya begitulah. Tenaga mereka seimbang akan tetapi gadis itu memiliki gerakan yang lebih lincah. Pula ia tidak ragu-ragu dalam penyerangannya, bahkan erangan-serangannya ganas sekali, berbeda dari lawannya yang agaknya masih ragu-ragu untuk menggunakan tenaga sepenuhnya menyerang seorang gadis."

Kata Han Lin.

Dugaan mereka ternyata benar.

Setelah mereka bertanding lewat lima puluh jurus, mulailah Souw Tek terdesak.

Dan agaknya Siang Kui mempergunakan kesempatan ini untuk mendesak dan melancarkan serangan-serangan yang berbahaya.

Agaknya gadis ini tidak sekedar hendak mencapai kemenangan, melainkan juga berniat untuk merobohkan lawannya.

Souw Tek yang terdesak hebat itu hanya mampu mengelak dan menangkis, tidak sempat lagi untuk balas menyerang dan Siang Kui menjadi semakin ganas seperti seekor rajawali yang kelaparan menyerang lawan, berkelebatan dan kadang melompat ke atas seperti terbang.

"Haiiitttt....!!"

Tiba-tiba tubuh gadis itu melayang ke atas, lalu menukik dan menyerang ke arah ubun-ubun kepala Souw Tek dengan totokan.

Tangan kanannya itu seperti paruh rajawali yang mematuk, mengarah ubun-ubun.

Serangan ini bukan main hebat dan berbahayanya.

Karena maklum bahwa dirinya berada dalam bahaya maut, Souw Tek mengangkat kedua tangannya ke atas, bukan hanya untuk menangkis dan melindungi ubun-ubun kepalanya, melainkan juga untuk berusaha menangkap lengan penyerangnya itu.

Akan tetapi, tanpa diduga-duganya, Siang Kui bahkan membiarkan lengan kanannya yang menyerang itu tertangkis dan tertangkap dan tiba-tiba sekali tangan kirinya menampar tengkuk lawan.

"Plakk!"

Tamparan dengan tangan miring itu menyambar tengkuk dan tubuh Souw Tek terpelanting roboh.

Tamparan itu nampaknya saja tidak keras, akan tetapi karena dilakukan dengan pengerahan tenaga dalam, maka akibatnya cukup parah bagi Souw Tek.

Dia merasa seolah kepalanya pecah dan kepeningan membuat dia tidak dapat segera bangkit berdiri, hanya bangkit duduk sambil memegangi kepalanya.

Pada saat itu, Siang Kui sudah melangkah datang dan mengayun kakinya menendang ke arah dada Souw Tek yang sudah tidak berdaya itu.

"Desss.....!"

Tubuh Souw Tek terlempar dan terpelanting jatuh ke bawah panggung dalam keadaan pingsan! "Ganas dan kejam!"

Kata Han Lin lirih dan Sian Eng mengerutkan alisnya.

Ia tidak lagi dapat membanggakan saudara sepupunya itu karena apa yang dilakukan sungguh memalukan.

Seorang gagah tidak akan melakukan hal itu.

Menyerang lawan yang sudah jelas kalah dan tidak mampu melawan lagi.

Seorang laki-laki berusia lima puluh tahun bangkit dari tempat duduknya di kelompok bawah itu, menghampiri Souw Tek dan setelah menotok dan mengurut beberapa bagian tubuh Souw Tek, laki-laki itu membantu Souw Tek yang sudah siuman untuk duduk kembali.

Laki-laki itu lalu melangkah ke arah panggung dan setelah berhadapan dengan Siang Kui, dia berkata, suaranya bernada teguran.

"Nona Lo, engkau sungguh keterlaluan. Sute-ku (adik seperguruanku) tadi sudah kalah dan tidak dapat melawan lagi, kenapa nona masih menyerangnya dengan tendangan keji? Nona dapat membunuhnya!"

Siang Kui bertolak pinggang menghadapai laki-laki yang bertubuh tinggi kurus itu dan suaranya terdengar menantang ketika ia berkata lantang.

"Dalam pertandingan adu silat, kematian merupakan hal lumrah. Apa lagi kalau hanya terluka. Kalau takut terluka atau tewas, lebih baik tinggal di rumah dan jangan memasuki pertandingan silat!"

Ia memandang dengan sikap gagah.

"Baiklah, kalau begitu sekarang aku yang maju menggantikan sute-ku yang sudah kalah. Hendak kulihat sampai di mana kehebatanmu, nona!"

Kata orang itu. Pada saat itu, Lo Cin Bu bangkit dari tempat duduknya dan berseru.

"Kui-moi! Engkau sudah bertanding satu kali, biarkan aku yang menghadapinya!"

Pemuda tinggi besar itu lalu melangkah lebar ke tengah panggung. Melihat kakaknya datang, Siang Kui tersenyum dan berkata sambil melirik ke arah laki-laki tinggi kurus itu.

"Sayang, sebetulnya aku ingin menghadapi dan menghajar yang ini juga, akan tetapi kalau engkau ingin mendapat bagian, silakan, Bu-ko!"

Dan iapun melangkah kembali ke tempat duduknya dekat Cheng Kun, tunangannya yang menyambutnya dengan senyum penuh kebanggaan. Lo Cin Bu kini berhadapan dengan laki-laki tinggi kurus itu.

"Aku. Lo Cin Bu menggantikan adikku dan berdiri di sini sebagai wakil Hek-tiauw Bu-koan. Engkau siapakah yang berani menentang Hek-tiauw Bu-koan?"

Laki-laki itu tersenyum pahit.

"Aku bernama Su Toan Ek, toa-suheng (kakak seperguruan tertua) dari Souw Tek. Tadi adikmu menantang-nantang dan sute-ku yang berdarah muda menyambut tantangan itu dan telah diberi pelajaran keras oleh adikmu. Karena itu akupun ingin diberi pelajaran oleh Hek-tiauw Bu-koan."

"Engkau datang atas nama Hek-houw Bu-koan?"

Tanya Cin Bu. Laki-laki itu menggeleng kepalanya.

"Sama sekali bukan. Seperti juga suteku tadi, aku maju atas nama pribadi dan menyambut tantangan pihak tuan rumah untuk ikut meramaikan perayaan ini."

"Bagus, kalau begitu mari kita bertanding mengadu ilmu silat untuk mengetahui siapa di antara kita yang lebih tangguh."

Tantang Cin Bu.

"Majulah, orang muda. Aku sudah siap!"

Kata laki-laki bernama Su Toan Ek itu, sikapnya tenang sekali dan dia tidak memasang kuda-kuda seperti yang dilakukan Souw Tek tadi.

Lo Cin Bu sudah lebih berpengalaman dibandingkan adiknya, maka dia dapat menduga bahwa lawannya ini tentu seorang yang memiliki tingkat kepandaian yang lebih tinggi dari pada Souw Tek.

Diapun berlaku hati-hati.

"Lihat serangan."

Bentaknya dan tangan kanannya menyambar ke depan dengan pukulan ke arah dada.

Akan tetapi pukulan itu hanya pancingan belaka dan sudah ditariknya kembali, bia hanya ingin melihat gerakan lawan kalau diserang.

Dia melihat Su Toan Ek menggerakkan tangan dari bawah ke atas dan mencengkeram.

Kalau pukulannya tadi dilanjutkan, tentu lengannya akan dicengkeram dari bawah.

Sungguh merupakan tangi kisan sekaligus serangan balasan yana berbahaya, dan cengkeraman itu merupakan ciri khas bahwa lawannya adalah seorang ahli silat Hek-houw Sin-kun yang pandai.

Cin Bu yang menarik kembali tangan kanannya, sudah menggerakkan tangan kiri menampar ke arah pelipis dengan tangan membentuk kepala rajawali yang mematuk dengan ujung kelima jarinya.

Su Toan Ek juga mengenal serangan berbahaya.

Dia mengelak sambil melangkah ke belakang, kemudian kedua tangan nya menyerang dari kanan kiri membentuk cengkeraman ke arah kedua pundak Cin Bu sambil menubruk ke depan.

Cin Bu juga mengelak mundur sambil mengembangkan kedua tangan seperti sayap seekor rajawali untuk menangkis.

"Dukk! Dukk!"

Dua pasang lengan bertemu dan Cin Bu merasa tubuhnya terguncang.

Dia melangkah mundur lagi dan maklumlah dia bahwa Su Toan Ek adalah seorang ahli Iwee-keh (tenaga dalam) yang tangguh.

Diapun mengerahkan sin-kang (tenaga sakti) dan menyerang seperti seekor rajawali yang menyambar-nyambar dengan tangkasnya.

Su Toan Ek yang bertubuh tinggi kurus itupun melawan dengan mengandalkan kekuatannya dan berusaha untuk menerkam dan mencengkeram dengan kedua tangan yang membentuk cakar harimau.

Pertandingan ini lebih menegangkan dibandingkan yang pertama tadi.

Kalau pertandingan yang pertama tadi, Siang Kui dan Souw Tek mengerahkan kecepatan untuk mengalahkan lawan, pertandingan kedua ini dilakukan dengan pengerahan tenaga sakti sehingga setiap sambaran tangan mendatangkan angin yang kuat dan mengeluarkan suara bersiutan.

"Pemuda itu lebih tangguh dari adiknya."

Kata Han Lin yang sejak tadi memperhatikan pertandingan itu.

"Akan tetapi lawannyapun lebih tangguh daripada sutenya tadi."

Kata Sian Eng.

"Pemuda itu tidak akan kalah. Ilmu silatnya yang berdasarkan pada gerakan burung rajawali itu lebih lincah dan lebih banyak perkembangannya daripada gerakan orang tinggi kurus yang bergerak seperti harimau itu."

Kata pula Han Lin.

"Agaknya dia sama ganas dan bengis seperti adiknya. Jurus-jurus pukulannya merupakan serangan maut yang berbahaya."

Sian Eng berkata sambil mengerutkan alisnya.

Memang ada rasa bangga di dalam hatinya bahwa keluarga ayah kandungnya terdiri dari keluarga ahli silat yang pandai.

Akan tetapi keganasan, kebengisan dan keangkuhan mereka membuat ia merasa kecewa dan tidak senang sekali.

"Hyaaattt.....!"

Tiba-tiba Cin Bu membentak nyaring dan tubuhnya melayang ke depan, didahului kedua kakinya yang melakukan tendangan seperti sepasang kaki rajawali yang menyerang lawan.

Su Toan Ek terkejut dan cepat merendahkan dirinya untuk mengelak.

Akan tetapi pada saat itu Cin Bu membuat gerakan pok-sai (salto) sehingga tubuhnya berjung-kir balik, kepalanya di bawah dan kakinya di atas.

Kedua tangan membentuk paruh rajawali menyerang ke bawah, yang kanan mematuk kepala dan kiri mematuk jalan darah di punggung!

Su Toan Ek membalikkan tubuh, akan tetapi gerakannya kurang cepat dan terlambat.

Biarpun dia dapat menghindarkan kepalanya dari serangan dengan miringkan kepalanya, namun totokan ke arah punggungnya tepat mengenai sasaran.

"Tukkk.... aahhh....!"

Dia terhuyung-huyung ke belakang dan saat itu Cin Bu sudah turun dan cepat pemuda ini mengirim pukulan ke arah dada lawan yang sudah terhuyung itu.

"Bukk....."

Tubuh Su Toan Ek terpental keluar dari panggung, jatuh ke bawah dan dia rnuntuhkan darah segar.

Souw Tek cepat menolong Toa-suhengnya dan memapahnya keluar dari tempat perayaan itu, terus keluar dari pekarangan rumah untuk meninggalkan tempat itu.

Mereka telah kalah mutlak dan tidak ada gunanya lagi bagi mereka untuk tinggal lebih lama di situ, hanya akan menjadi bahan tertawaan orang saja.

Setelah memperoleh kemenangan, Cin Bu berdiri tegak memandang ke sekeliling, lalu berkata dengan suara lantang.

"Siapa yang merasa memiliki kepandaian dan tadi berani memandang rendah kepada adikku, silakan maju untuk menguji kepandaian."

Setelah berkata demikian, Cin Bu hening kembali ke tempat duduknya semula.

Suasana yang tadinya ketika semua orang menonton pertandingan itu, kini kembaliberisik karena para tamu saling bicara sendiri, membicarakan ketangguhan kakak beradik she Lo yang telah mengalahkan dua orang lawannya tadi.

Tiba-tiba terdengar suara tawa nyaring seorang wanita.

Ketika Han Lin dan Sian Eng memandang, mereka diam-diam merasa khawatir karena melihat bahwa yang tertawa itu adalah Sam Ok yang kini telah bangkit dari tempat duduknya dan melangkah dengan lenggang gemulai menuju ke tengah panggung.

Suara tawa itu mengatasi semua suara berisik sehingga para tamu menoleh dan memandang.

Tentu saja mereka tertarik sekali melihat seorang wanita cantik melangkah dengan lenggang yang membuat pinggulnya menari-nari.

Wanita itu tampaknya berusia kurang lebih empat puluh tahun, sama sekali tidak kelihatan seperti usianya yang sebenarnya, yaitu sudah enam puluh tahun.

Wajah yang cantik itu tersenyum-senyum dan matanya melirik-lirik tajam.

Setelah semua orang tidak lagi berisik melainkan memandang kepadanya dengan penuh perhatian, Sam Ok lalu menghadap ke arah tempat duduk tuan rumah dan ia berkata lantang, dan karena ia memandang ke arah Lo Kang, maka ia seolah bicara kepada Ketua Hek-tiauw Bu-koan itu.

"Namaku Ciu Leng Ci dan aku bukanlah seorang tamu undangan. Aku datang ikut rekanku Phoa Li Seng untuk memberi selamat kepada Hek-tiauw Bu-koan yang merupakan perguruan silat paling terkenal di kota raja. Tadi aku tidak ikut bertepuk tangan memuji karena bagiku permainan pedang itu biasa-biasa saja. Akan tetapi nona Lo tadi menantang kepada mereka yang tidak bertepuk tangan, maka aku merasa bahwa aku juga ditantang. Karena itu, aku sekarang ingin main-main sebentar dengan ilmu silat dari keluarga Hek-tiauw Bu-koan."

Mendengar kata-kata yang diucapkan dengan lembut dan sambil tersenyum itu, Lo Siang Kui merasa diejek dan ditantang!

Sebelum ayah dan kakaknya sempat mencegah, ia sudah melompat dan berlari ke tengah panggung menghadapi Sam Ok dan langsung saja ia mencabut pedangnya sehingga tampak sinar terang berkelebat.

Dengan pedang di tangan kanan ia menghadapi Sam Ok dan menudingkan telunjuk kirinya ke arah muka wanita itu.

"Ciu Leng Ci! Kalau memang engkau menganggap ilmu pedangku biasa-biasa saja dan tidak ada harganya untuk dipuji, marilah coba engkau tandingi ilmu pedangku!"

Sam Ok tersenyum mengejek.

Tangan kanannya meraih ke belakang pundak dan di lain saat tampak sinar hitam berkelebat ketika ia sudah mencabut Hek-kong-kiam (Pedang Sinar Hitam) dari sarung pedangnya yang menempel di punggung.

"Wah, Lo Siang Kui bisa celaka sekarang.....!"

Sian Eng berseru lirih dengan alis berkerut.

"Aku akan membantunya!"

Ia bangkit berdiri akan tetapi Han Lin menyentuh lengannya, memberinya isarat untuk duduk kembali. Setelah gadis itu duduk kembali, Han Lin berbisik kepadanya.

"Jangan turun tangan dulu, hal itu berarti akan merendahkan pihak tuan rumah. Aku tidak percaya Sam Ok berani mencelakai gadis itu karena begini banyak tokoh kang-ouw berada di sini."

Sian Eng mengangguk dan membenarkan pendapat Han Lin.

Saudara sepupunya itu demikian angkuhnya.

Kalau ia maju tentu akan disambut dengan marah dan ia yang akan mendapat malu.

Maka iapun lalu menonton saja dengan hati gelisah.

Bagaimanapun juga, Siang Kui adalah saudara sepupunya dan ia sudah tahu betul betapa lihai dan kejamnya Sam Ok si iblis betina itu.

Biarpun dari sinar pedangnya saja sudah dapat dikatakan bahwa Sam Ok memiliki sebuah pedang pusaka bersinar hitam yang ampuh, Siang Kui yang berwatak angkuh itu sama sekali tidak takut.

"Nona Lo, pedang yang berada di tanganmu itu hanya pedang biasa, tidak dapat diandalkan dan ilmu pedangmu tadipun biasa-biasa saja. Aku bukan sekadar membual, melainkan mengatakan dengan sebenarnya. Kalau dua orang dari aliran Hek-houw Bu-koan tadi dikalahkan olehmu dan kakakmu, hal itu adalah karena kepandaian mereka masih rendah sekali. Untuk membuktikan kebenaran ucapanku, nah, maju dan seranglah aku dengan pedangmu itu. Hendak kulihat apa yang dapat kaulakukan dengan pedangmu itu terhadap diriku!"

Sam Ok mengeluarkan kata-kata itu dengan lantang sehingga terdengar oleh para tamu, dan biarpun ia mengucapkannya dengan tersenyum dan dengan kata-kata halus, namun bagi Siang Kui merupakan tantangan yang amat memandang rendah kepadanya.

Tentu saja ia menjadi marah sekali.

"Perempuan sombong, lihat pedangku!"

Bentaknya dan ia sudah menyerang dengan dahsyat, mengelebatkan pedangnya yang menyambar ke arah leher Sam Ok dengan pengerahan tenaga seakan-akan ia hendak sekali serang membabat putus leher wanita itu!

Akan tetapi dengan gerakan amat tenang Sam Ok mengangkat pedangnya dan menangkis sambaran pedang lawan itu.

"Tranggg....!"

Tampak bunga api berpijar ketika kedua pedang bertemu dan Siang Kui terkejut setengah mati ketika merasa betapa tangannya tergetar hebat dan pedang itu hampir saja terlepas dari pegangannya!

Hal ini jelas membuktikan bahwa tenaga sin-kang wanita itu amat kuatnya.

Akan tetapi biar tahu akan hal ini, Siang Kui tidak menjadi gentar dan pedangnya sudah menyambar dan menyerang bertubi-tubi sehingga lenyap bentuk pedangnya, berubah menjadi gulungan sinar yang menyambar-nyambar ke arah tubuh Sam Ok.

Akan tetapi dengan sikap masih tenang Sam Ok menghadapi hujan serangan itu dengan elakan atau tangkisan dan setiap kali ia menangkis dengan pedangnya, pedang di tangan Siang Kui terpental.

Akan tetapi gadis ini nekat terus mendesak dan mengeluarkan jurus-jurus terampuh dari Hek-tiauw Kiam-sut (Ilmu Pedang Rajawali Hitam).

Tubuhnya berkelebatan dan kadang melompat ke atas seperti terbang untuk kemudian menukik dan menyerang dari atas dengan pedangnya.

Namun, semua usahanya itu gagal dan semua serangannya dapat dipatahkan atau dihindarkan oleh Sam Ok.

Sam Ok membiarkan dirinya diserang sampai tiga puluh jurus lebih.

Siang Kui sudah mulai kebingungan dan penasaran sekali karena semua serangannya gagal.

Tiba-tiba Sam Ok berseru dengan nyaring sekali.

"Patah....!"

Pedangnya yang bersinar hitam itu dibacokkan dengan pengerahan tenaga sepenuhnya menyambut pedang Siang Kui sehingga kedua pedang itu bertemu dengan dahsyat di udara.

"Trakkk......!!"

Siang Kui terkejut dan melompat ke belakang, lalu memandang pedang yang berada di tangannya.

Pedang itu tinggal sepotong karena telah patah di tengah-tengahnya ketika beradu dengan pedang hitam di tangan Sam Ok!

Sam Ok tertawa.

"Nah, apa kataku tadi? Pedang dan ilmu pedangmu memang belum pantas menerima pujianku!"

Sambil berkata demikian, ia sendiri menyimpan kembali pedangnya.

Siang Kui menjadi merah mukanya.

Sudah jelas bahwa ia kalah dalam pertandingan silat pedang, akan tetapi ia masih tidak mau menerimanya, seolah-olah ia tidak percaya bahwa dirinya dapat dikalahkan orang lain.

Ia membanting sisa pedangnya ke atas lantai dan berkata dengan berang.

"Ciu Leng Ci, pedangku memang kalah kuat dibanding pedangmu, akan tetapi apakah engkau berani bertanding melawanku dengan tangan kosong?"

Tantangnya. Sam Ok tersenyum mengejek.

"Apa yang kau andalkan untuk dapat menang dariku? Lebih baik engkau kembali ke tempat dudukmu agar terhindar dari terluka olehku!"

"Manusia sombong! Jagalah serangan-ku!"

Tiba-tiba Siang Kui yang sudah tidak dapat menahan kemarahannya sudah melompat cepat ke depan menerjang dengan pukulannya.

Ia memainkan ilmu silat tangan kosong Hek-tiauw Sin-kun dan menyerang sambil mengerahkan seluruh tenaganya.

Ia amat bernapsu untuk menebus kekalahannya bermain pedang tadi, maka serangannya bertubi-tubi dan membabi-buta!

Seperti juga tadi, Sam Ok mengandalkan kelincahannya untuk mengelak atau kadang menangkis pukulan dan tendangan yang dilakukan Siang Kui sehingga lewat dua puluh jurus.

Tiba-tiba ia berseru nyaring.

"Roboh!"

Telunjuk tangan kiri menuding.

Suara bercuitan terdengar dan dari telunjuk itu menyambar hawa pukulan yang amat dahsyat.

Itulah ilmu Ban-tok-ci (Jari Selaksa Racun) yang hebatnya bukan alang kepalang!

Siang Kui merasa betapa pundak kanannya dilanggar sesuatu seperti tertusu pedang iapun roboh terjengkang.

Ia merasa nyeri sekali di pundaknya, panas dan perih.

Ketika ia menunduk dan memandang, ternyata bajunya di bagian pundak kanan sudah hangus dan kulit pundaknya tampak kehitaman.

Ia kaget sekali, maklum bahwa ia telah terkena pukulan jarak jauh yang mengandung hawa beracun jahat sekali.

Siang Kui bangkit berdiri dengan wajah pucat memandang kepada lawannya.

Lo Kang sudah melompat ke dekat puterinya dan merangkulnya.

"Lo-kauwsu, anakmu telah terkena pukulan Ban-tok-ci, kalau engkau tidak menggunakan obat penawar ini, tidak ada obat lain yang akan mampu menyembuhkannya."

Kata Sam Ok sambil menyerahkan sebuah bungkusan kertas dan Lo Kang menerimanya tanpa sepatahpun kata.

Dia lalu memapah puterinya kembali ke kursinya dan cepat mencampurkan obat penawar itu dengan air teh dan meminumkannya kepada Siang Kui.

Ternyata obat itu manjur bukan main karena seketika rasa panas dan perih pada pundaknya menghilang.

"Ciu Leng Ci, coba engkau melawan aku!"

Tiba-tiba terdengar bentakan dan Lo Cin Bu sudah melompat ke depan Sam Ok sebelum wanita itu meninggalkan panggung.

Sam Ok memandang kepada pemuda itu dengan sinar mata penuh selidik dan penilaian, seperti seorang pedagang kuda yang sedang menilai seekor kuda yang hendak dibelinya.

Ia memandang pemuda itu dari kepala sampai ke kaki kemudian tersenyum senang.

Dalam penilaiannya, pemuda itu mengagumkan hatinya.

Tinggi besar tampak kokoh kuat dan gagah!

"Orang muda yang gagah, siapakah engkau?"

"Aku adalah Lo Cin Bu. Adikku Lo Siang Kui telah kalah olehmu. Akan tetapi hal itu bukan berarti bahwa ilmu silat dari aliran Hek-tiauw Bu-koan rendah dan tidak dapat menandingimu, melainkan tingkat adikku yang belum begitu tinggi. Hayo tandingilah aku kalau engkau memang tidak mau menghargai ilmu silat kami."

"Hi-hi-hik, orang muda. Boleh jadi ilmu silat Hek-tiauw Bu-koan sudah baik dan tinggi, akan tetapi ingatlah bahwa di dunia ini banyak sekali ilmu silat yang lebih tinggi daripada yang kalian bangga-banggakan itu. Lebih baik engkau ikut denganku selama satu dua tahun untuk memperdalam ilmu silatmu. Bagaimana?"

Ucapan itu dilakukan penuh kerling memikat dan senyum manis, akan tetapi Cin Bu merasa dipandang rendah sekali.

Dia adalah jagoan dari Hek-tiauw Bu-koan, tingkatnya hanya kalah oleh ayahnya saja dan di kota raja dia sudah sukar menemukan tandingnya.

Sekarang dipandang rendah oleh wanita ini, tentu saja ketinggian hatinya tersinggung dan mukanya berubah merah karena marah.

"Ciu Leng Ci, tidak perlu banyak cakap lagi. Mari kita bertanding untuk menentukan siapa di antara kita yang lebih unggul!"

Bentak Cin Bu dan dia sudah maju tiga langkah menghampiri wanita itu dan memasang kuda-kuda dengan membuka kedua lengan seperti seekor burung rajawali hendak terbang.

"Bagus, pemuda gagah. Aku ingin melihat sampai di mana kemampuanmu!"

Kata Leng Ci atau Sam Ok.

"Sambut seranganku!"

Ci Bu sudah menerjang dengan dahsyatnya. Begitu menyerang Cin Bu sudah mengerahkan seluruh tenaga dan kecepatannya karena dia maklum betapa lihai lawannya.

"Bagus!"

Sam Ok memuji dan iapun menggerakkan tangan untuk menangkis dan sengaja ia menggunakan tenaga untuk mengukur kekuatan pemuda itu.

"Dukkk.....!!"

Cin Bu tertolak ke belakang, akan tetapi Sam Ok juga merasa betapa lengannya tergetar sehingga tahulah ia bahwa pemuda ini memiliki tenaga sin-kang yang lebih kuat dibandingkan Siang Kui.

Cin Bu merasa penasaran sekali ketika tubuhnya terpental, seolah dia bertemu dengan dinding yang amat kuat.

Dia segera menyerang lagi dan tangannya yang membentuk paruh burung itu menotok ke arah bagian tubuh yang berbahaya karena sekali ini dia hendak menebus kekalahan adiknya agar nama besar Hek-tiauw Bu-koan terangkat lagi.

Akan tetapi, ke manapun dia menyerang, dia selalu memukul angin kosong belaka atau pukulannya itu ditangkis dan selalu tangannya terpental dan seluruh lengannya tergetar hebat.

Setelah belasan jurus dia menyerang tanpa hasil dan lawan hanya mengelak atau menangkis saja tanpa balas menyerang dia merasa dipandang rendah sekali.

"Balaslah menyerang kalau engkau mampu!"

Tantangnya.

"Hi-hik, sayang kalau sampai melukaimu, pemuda gagah!"

Sam Ok tertawa dan tiba-tiba secepat kilat tangannya menyambar dan telapak tangan yang halus dan hangat itu mengelus pipi Cin Bu.

Pemuda ini terkejut sekali karena kalau wanita itu menghendaki, tentu saja pipinya bukan hanya dielus, melainkan dipukul atau ditampar.

Pertandingan dilanjutkan, akan tetapi kini Cin Bu merasa menjadi permainan wanita itu.

Pipinya dielus, dagunya diusap, bahkan kadang pahanya dicubit dan pinggulnya ditepuk.

Wajahnya berubah merah sekali karena dia belum dapat menyentuh tubuh lawan dengan semua serangannya, sebaliknya kalau lawannya itu menghendaki, tentu sejak tadi dia sudah roboh, terluka berat bahkan mungkin sekali tewas!

Dia merasa penasaran sekali dan sambil menggigit bibir sendiri dia mengerahkan seluruh tenaga dan mengeluarkan semua ilmu silatnya, bahkan menyerang dengan membabi buta.

Anehnya, semua serangannya yang dahsyat itu tidak pernah dapat menyentuh tubuh lawan.

Tiba-tiba Sam Ok mengeluarkan suara tawa kecil dan begitu jari-jari tangannya menyambar, Cin Bu merasa betapa semua tenaganya lenyap, tubuhnya lemas dan dia tidak kuat berdiri lagi dan ambruk berlutut di depan lawannya itu!

Secara cepat sekali sehingga sukar diikuti pandangan mata, ternyata Sam Ok telah berhasil mempergunakan tiam-hiat-to (menotok jalan darah) membuat tubuh pemuda itu lumpuh dan lemas.

Melihat Cin Bu berlutut di depannya, sambil tersenyum lebar Sam Ok membungkuk dan kedua tangannya memegang kedua pundak pemuda itu sambil berkata lembut namun nyaring sehingga terdengar semua orang yang hadir di situ.

"Ah, pemuda gagah, tidak perlu menghormatiku dengan berlutut seperti ini!"

Jari-jari tangan yang mungil itu menyentuh pundak dan seketika Cin Bu bergerak lagi.

Dia segera bangkit berdiri.

Mukanya menjadi merah sekali dan sambil menundukkan mukanya dia melangkah kembali ke tempat duduknya.

Semua orang melihat betapa dia sudah jatuh berlutut.

Dia sudah kalah, hal ini harus ia sadari dan akui.

Wanita itu terlalu kuat, terlalu tangguh baginya.

Dia tahu benar bahwa kalau wanita itu menghendaki, dia dapat tewas dalam perkelahian tadi.

Dia dapat menduga bahwa dia jatuh berlutut tadi karena totokan yang ampuh sekali.

Dia dan adiknya telah dikalahkan dengan mudah oleh wanita itu dan hal ini benar-benar merupakan pukulan hebat bagi hatinya yang penuh kecongkakan, yang biasanya terlalu memandang tinggi kepada diri dan kemampuannya sendiri.

Lo Kang yang menyaksikan betapa kedua orang anaknya itu kalah dengan amat mudahnya oleh tamu (Lanjut ke

Jilid 23) Suling Pusaka Kumala (CeritaLepas) Karya . Asmaraman S. Kho Ping Hoo

Jilid 23 wanita itu, menjadi merah sekali mukanya.

Dari kekalahan kedua orang anaknya tadi diapun sudah dapat mengukur kepandaian wanita bernama Ciu Leng Ci itu.

Dari kekalahan dua orang anaknya yang amat mudah itu tadi saja diapun sudah maklum bahwa dia sendiri tidak akan mampu menandingi wanita itu.

Dia teringat ketika wanita tadi memperkenalkan diri.

Namanya Ciu Leng Ci dan katanya ia bukan tamu undangan, melainkan datang ikut bersama Phoa Li Seng.

Dia mengenal Phoa Li Seng sebagai Ji Ok, datuk yang amat lihai.

Tiba-tiba dia teringat.

Jangan-jangan wanita ini adalah Sam Ok, rekan dari Ji Ok yang juga amat terkenal memiliki ilmu silat yang amat hebat!

Dengan memberanikan diri Lo Kang bangkit dari tempat duduknya, akan tetapi dia tidak menghampiri wanita itu, melainkan menegur dari bagian atas di mana dia duduk dan menghadap ke arah Sam Ok yang berdiri di atas panggung.

"Ciu-toanio (Nyonya Besar Ciu), engkau datang bersama Phoa-locianpwe yang berjuluk Ji Ok. Apakah engkau yang berjuluk Sam Ok?"

Sam Ok tersenyum, senyum yang mengandung ejekan.

"Lo-busu (guru silat Lo), aku tidak ingin menggunakan nama julukanku untuk menakut-nakuti orang. Dua orang anakmu sudah membuktikan bahwa ilmu silat mereka masih amat rendah, tepat seperti yang kukatakan tadi. Kalau engkau setuju dengan penilaianku tadi, akuilah akan kerendahan mutu Ilmu silat dari Hek-tiauw Bu-koan. Akan tetapi kalau engkau menyangkal, engkau dapat mempertahankan kehebatan ilmu silatmu itu dariku!"

Lo Kang menjadi penasaran sekali, hiarpun dia sudah dapat memaklumi bahwa dia tidak akan mampu menandingi wanita itu, namun kalau dia membiarkan orang meremehkan ilmu silat dari perguruannya, namanya akan jatuh dan takkan ada lagi orang mau berguru kepadanya.

Karena itu dia menjadi nekad dan dia melangkah maju hendak menghampiri Sam Ok dengan alis berkerut dan sinar mata memancarkan api kemarahan.

Akan tetapi sebelum dia tiba di tengah panggung, tiba-tiba tampak bayangan merah muda berkelebat dan Sian Eng sudah melompat dari bagian bawah ke tengah panggung, menghadang Lo Kang.

"Toapek, harap toapek jangan turun tangan sendiri memberi hajaran kepada wanita sombong itu. Toapek adalah tuan rumah yang sedang mengadakan pesta perayaan. Sebaiknya aku sajalah yang akan maju mewakili toapek menghadapi perempuan sombong ini!"

Lo Kang terkejut dan memandang kepada keponakan yang baru saja ditemuinya itu dengan alis berkerut.

"Lawan itu lihai sekali. Engkau hanya anak dari mendiang Lo Kiat, adikku yang sasterawan lemah itu. Apa yang akan dapat kau lakukan untuk menandinginya?"

Cin Bu dan Siang Kui juga sudah bangkit dari tempat duduk mereka dan menghampiri Sian Eng.

"Hei, engkau ini anak kecil hendak ikut-ikutan! Lancang benar hendak mewakili ayah kami!"

Bentak Lo Siang Kui.

"Adik kecil, mundurlah dan jangan mencari perkara. Kalau engkau maju melawannya dan terpukul mati, engkau hanya membikin malu kami dan merepotkan saja!"

Sian Eng yang pada dasarnya berwatak keras, tersenyum mengejek dan berkata kepada mereka bertiga.

"Hemm, kalian lihat saja nanti!"

Setelah berkata demikian, tanpa memperdulikan mereka bertiga ia sudah melompat ke depan Sam Ok.

Ia menudingkan telunjuk tangan kirinya ke arah hidung wanita itu dan membentak dengan.

suara lantang sehingga terdengar oleh semua orang.

"Heii, Sam Ok iblis betina yang jahat dan busuk! Aku Lo Sian Eng menantangmu bertanding, beranikah engkau melawan aku?"

Tantangan yang sekaligus memaki dan meremehkannya ini tentu saja membuat Sam Ok marah sekali.

Wajahnya menjadi merah, sepasang matanya menyinarkan api.

Ia tadi sudah mendengar cegahan Lo Kang dan dua anaknya terhadap gadis yang menantangnya ini.

"Bocah gila! Engkau tidak tahu disayang keluargamu dan nekat hendak melawanku. Apakah engkau sudah bosan hidup? Kalau sudah bosan, biarlah aku akan mengantar nyawamu ke alam baka!"

"Sam Ok, bukan aku yang akan mati, melainkan engkau yang akan mampus di tanganku untuk menebus semua dosamu yang bertumpuk-tumpuk!"

Kata Sian Eng. Sam Ok tidak dapat menahan kemarahannya lagi.

"Bocah setan, mampuslah!"

Teriaknya dan ia sudah menerjang maju, sekali ini tidak seperti ketika ia melawan Siang Kui dan Cin Bu.

Kalau tadi ia hanya ingin mengalahkan mereka tanpa membunuh, bahkan setelah memukul Siang Kui juga langsung memberi obat penawar, akan tetapi sekarang, begitu ia menyerang, ia telah mengerahkan tenaga sin-kangnya yang beracun dari jari telunjuk tangan kirinya meluncur untuk mengirim totokan maut dengan ilmu Ban-tok-ci (Jari Selaksa Racun).

Hebat bukan main totokannya itu karena kalau mengenai sasaran, pasti lawan akan tewas seketika!

Sian Eng yang pernah bertanding melawan Sam Ok, mengenal serangan ini dan iapun tidak mau mengalah atau memperlihatkan kelemahannya.

Ia tidak mengelak, melainkan maju dan menyambut serangan totokan jari itu dengan ilmu Toat-beng Tok-ciang (Tangan Beracun Pencabut Nyawa)!

Ilmu pukulan yang mengandung hawa beracun ini tidak kalah dahsyatnya dibandingkan Ban-tok-ci yang dipergunakan Sam Ok.

"Dukkk!!"

Dua lengan itu bertemu di udara dan akibatnya tubuh Sam Ok terdorong mundur sampai lima langkah, sedangkan Sian Eng hanya mundur dua langkah.

Bukan main kagetnya Sam Ok ketika merasa betapa lengan lawan yang menangkisnya itu sedemikian kuatnya dan mengandung hawa yang tidak kalah panasnya dengan hawa pukulannya sendiri!

Ia sama sekali tidak pernah mimpi bahwa gadis muda yang cantik jelita ini bukan lain adalah pemuda tampan bernama Eng-ji yang pernah menjadi lawan ketiga Sam-ok menemani Han Lin dan Pek I Yok Sian-li Tan Kiok Hwa!

Ia menjadi penasaran dan semakin marah.

Sambil berteriak nyaring ia sudah menerjang lagi dan menghujankan serangan maut.

Siang Eng memperlihatkan kegesitan-nya.

Ia mengelak atau menangkis lalu membalas dengan tidak kalah dahsyatnya sehingga kedua orang wanita itu sudah terlibat dalam perkelahian yang amat dahsyat dan mati-matian.

Bahkan orang-orang di sekitar panggung itu dapat merasakan hawa pukulan panas yang menyambar-nyambar!

Melihat jalannya pertandingan ini, Lo Kang terkejut dan heran, juga girang dan timbul harapan dalam hatinya agar keponakannya itu dapat memenangkan pertandingan dan mengembalikan kehormatan dan nama besar Hek-tiauw Bu-koan.

Saking tegang dan gembiranya, Lo Kang bangkit berdiri dari kursinya dan menonton sambil berdiri.

Lo Cin Bu dan Lo Siang Kui juga bangkit berdiri dan menonton dengan kedua mata terbelalak.

Mereka berdua juga merasa terkejut dan heran, akan tetapi yang lebih dari itu, mereka merasa malu sekali mengingat betapa tadi mereka bersikap angkuh dan memandang rendah kepada adik sepupu yang baru saja datang itu.

Wajah mereka menjadi merah sekali, akan tetapi merekapun menonton dengan hati tegang dan penuh harapan agar saudara sepupu itu dapat membalaskan kekalahan mereka.

Tiga puluh jurus telah lewat dan pertandingan itu semakin dahsyat dan seru.

Sudah beberapa kali tubuh Sam Ok terpental dan terhuyung ketika lengan mereka saling beradu.

Tiba-tiba Sian Eng mengubah gerakannya dan kini ia bersilat dengan ilmu Pek-lek Ciang-hoat (Silat tangan Kosong Halilintar)!

Sam Ok terkejut sekali.

dan sebelum ia dapat menghindarkan diri, pundaknya terkena dorong in tangan kiri Sian Eng.

"Plakk!"

Tubuh Sam Ok terpelanting dan terguling-guling di atas papan panggung.

Wanita itu melompat bangun, pundak kanannya terasa nyeri, akan tetapi ia memaksakan diri untuk mencabut pedang Hek-kong-kiam (Pedang Sinar Hitam) dari punggungnya.

Akan tetapi sebelum pedang tercabut, sesosok bayangan berkelebat di dekatnya.

"Sam Ok, mundurlah. Aku akan melawan gadis ini!"

Ternyata orang itu adalah Ji Ok.

Sam Ok yang merasa pundak kanannya nyeri sehingga lengan kanannya juga kurang leluasa untuk bermain pedang, maklum bahwa kalau melawan terus ia pasti kalah.

Maka melihat kemunculan Ji Ok, hatinya merasa girang dan diapun cepat melompat turun dari atas panggung, tidak lagi duduk di bagian atas melainkan mencari tempat kosong di bagian bawah panggung.

Sian Eng menghadapi Ji Ok dengan hati panas.

Tentu saja ia mengenal baik datuk ini, orang yang amat dibencinya karena Ji Ok inilah orangnya yang pernah menguasai dan mempengaruhi ibu Han Lin dengan sihir, kemudian bahkan pisau terbang iblis ini pula yang telah menewaskan ibu Han Lin.

Sejak tadi Ji Ok memperhatikan gadis yang bertanding melawan Sam Ok ini dan dia merasa kagum bukein main.

Bukan hanya kagum oleh kecantikan Sian Eng, akan tetapi juga amat kagum melihat betapa lihainya gadis itu sehingga mampu mendesak dan mengalahkan Sam Ok!

Dia telah kehilangan Chai Li dan kalau ada penggantinya, agaknya gadis inilah yang pantas menjadi pengganti Chai Li, untuk menjadi pembantu dan juga kekasih atau isterinya!

Kalau gadis ini dapat menjadi isterinya, keadaannya akan menjadi kuat sekali dan dia bahkan tidak takut terhadap Toa Ok atau musuh yang manapun!

Maka, begitu berhadapan dengan Sian Eng, Ji Ok diam-diam mengerahkan daya sihirnya untuk mempengaruhi gadis itu.

Sama sekali dia tidak menduga bahwa gadis itu amat benci kepadanya.

Sian Eng memang sedang berusaha untuk menekan perasaannya yang dilanda kebencian yang amat sangat.

Bukan saja karena Ji Ok telah membunuh ibu Han Lin, walaupun tidak sengaja, melainkan juga karena dara ini teringat betapa Thian-te Sam-ok adalah pembunuh-pembunuh dari kakek-uwa gurunya yang juga menjadi gurunya yang ke dua, yaitu mendiang Hwa Hwa Cinjin.

"Lo Sian Eng, engkau masih begini muda namun sudah memiliki ilmu silat yang cukup lihai. Engkau pantas kalau menjadi seorang sahabat baikku, dan aku akan mengajarkan ilmu-ilmu yang lebih tinggi kepadamu. Untuk itu, aku perintahkan kamu untuk berlutut memberi hormat kepadaku!"

Ji Ok mengerahkan daya sihirnya dan mulutnya berkemak-kemik membaca mantera.

Dia sama sekali tidak tahu bahwa gadis itu telah mempelajari ilmu sihir dari mendiang Hwa Hwa Cinjin sehingga begitu ada kekuatan sihir menyerangnya, Sian Eng segera mengetahuinya!

Cepat gadis inipun mengerahkan kekuatan sihirnya dan sepasang matanya yang tajam menatap wajah Ji Ok, dipusatkan di antara kedua alis laki-laki itu dan sinar matanya seolah menembus daerah itu dan mulutnya mengeluarkan seruan yang menggetar.

"Siapa yang berlutut? Engkau atau aku? Engkaulah yang berlutut, Ji Ok!"

Ji Ok sama sekali tidak mengira akan mendapat serangan yang membuat daya sihirnya membalik dan menghantam dirinya sendiri.

Tanpa dapat dicegah lagi ke dua kakinya bertekuk lutut!

Setelah berlutut barulah dia menyadari keadaannya dan dengan pengerahan sin-kang dia dapat memulihkan kesadarannya dan dia sudah melompat berdiri.

Wajahnya menjadi merah sekali, merah karena malu dan juga marah.

Kini dia mengamati wajah gadis itu dengan tajam penuh selidik dan tiba-tiba teringat olehnya bahwa dia pernah bertemu dengan gadis ini!

Gadis ini pandai ilmu sihir pula!

Benar, dia ingat sekarang.

Gadis ini adalah gadis yang dulu membantu Hwa Hwa Cinjin ketika dia dan dua orang rekannya, yaitu Toa Ok dan Sam Ok, menyerang kakek sakti itu!

"Kau.....

kau.....

murid Hwa Hwa Cinjin!"

Serunya marah, akan tetapi dia tidak berani memandang rendah lagi dan cepat dia melolos senjatanya yang ampuh, yaitu sehelai sabuk sutera putih.

Pada saat itu, sesosok bayangan berkelebat dan Han Lin sudah berdiri di samping Sian Eng.

"Eng-moi, mundurlah dan biarkan aku sendiri yang menghadapi jahanam busuk ini!"

Sian Eng tersenyum dan melompat turun dari atas panggung.

Ketika Ji Ok melihat Han Lin, matanya terbelalak dan mukanya menjadi pucat sekali.

Dia tahu betapa lihainya pemuda ini tahu pula bahwa putera Chai Li pasti tidak akan mau melepaskannya, dan akan membunuhnya untuk membalaskan ibunya.

Maka, menggunakan kesempatan selagi Han Lin belum siap, dia langsung saja menggerakkan sabuk sutera putihnya yang meluncur dan ujungnya menyambar ke arah leher Han Lin dalam serangan maut yang amat berbahaya!

Han Lin maklum akan datangnya bahaya maut.

Dia menggerakkan tubuhnya, melompat ke belakang untuk menghindarkan diri dari serangan sabuk sutera putih itu.

Akan tetapi kesempatan itu dipergunakan oleh Ji Ok untuk melompat jauh turun dari atas panggung dan melarikan diri, mengejar Sam Ok yang sudah melarikan diri terlebih dahulu ketika wanita itu melihat munculnya Han Lin di situ!

"Lin-ko, mari kita kejar!"

Sian Eng berseru dan gadis ini lalu berlari cepat keluar dari tempat itu untuk mengejar Sam Ok dan Ji Ok.

Han Lin juga mengerahkan gin-kang (ilmu meringankan tubuh) untuk mengejar.

Keadaan di tempat pesta menjadi gempar.

Akan tetapi Lo Kang dapat menenangkan suasana dan pesta dilanjutkan.

Semua orang membicarakan tentang gadis dan pemuda itu yang dapat membuat dua orang datuk besar seperti Sam Ok dan Ji Ok melarikan diri ketakutan!

Sementara itu, Lo Kang dan dua orang anaknya, Lo Cin Bu dan Lo Siang Kui, juga membicarakan Sian Eng yang diluar dugaan mereka sama sekali ternyata merupakan seorang gadis yang memiliki ilmu silat yang amat tinggi.

Cheng Kun, putera Pangeran Cheng Boan yang menjadi tunangan Siang Kui, juga menyatakan kekagumannya, bahkan dia berkata dengan sungguh-sungguh kepada Siang Kui.

"Kalau aku melaporkan kepandaian adik sepupumu Lo Sian Eng itu kepada ayahku, tentu ayah mau memanfaatkan kepandaiannya dan mau mengangkatnya menjadi pengawal atau penjaga keselamatan keluarga kami."

Mendengar ini, Siang Kui cemberut dan mengerling manja.

"Engkau yang akan kesenangan mendapatkan seorang pengawal yang cantik!"

Putera pangeran itu tertawa sehingga matanya yang sipit itu menjadi semakin sipit sehingga nyaris terpejam.

"Ha-ha-ha, agaknya engkau cemburu, kasihku?"

Akan tetapi Sian Kui hanya cemberut dan matanya mengerling marah.

"Baiklah, kalau begitu aku berjanji tidak akan melaporkan kepada ayahku. Nah, aku sudah berjanji, engkau puas, bukan? Senyumlah agar wajahmu menjadi tambah manis."

Ucapan bernada rayuan itu dikeluarkan oleh putera pangeran itu begitu saja di depan calon ayah ibu mertuanya dan di depan banyak orang tanpa sungkan-sungkan.

Mendengar ini, Siang Kui mengerling lagi, akan tetapi kini mulutnya yang berbentuk manis itu tidak cemberut lagi, melainkan tersenyum.

Pesta dilanjutkan dan suasana menjadi gembira lagi.

Sekarang para tamu kehormatan yang duduk di bagian atas menghujani Lo Kang dengan pertanyaan tentang keponakan perempuan yang amat lihai itu.

"Ah, ia adalah Lo Siang Eng, keponakanku."

Kata Lo Kang dengan nada bangga.

"Ayahnya bernama Lo Kiat dan dia itu adikku yang menjadi seorang sasterawan. Akan tetapi kini adikku itu dan isterinya telah meninggal dunia sehingga Sian Eng menjadi yatim piatu dan tentu saja ia akan ikut dengan kami."

Pesta dilanjutkan dan diam-diam, dalam hati mereka, keluarga Lo itu bertanya-tanya, apa yang terjadi dengan Sian Eng dan Han Lin yang tadi melakukan pengejaran terhadap Sam Ok dan Ji Ok.

Sam Ok harus mengerahkan seluruh tenaganya agar ia tidak tertinggal oleh Ji Ok.

Wanita itu masih merasa pundaknya agak sakit dan hal ini membuat larinya agak terganggu.

Setelah mereka berlari cepat sampai di lereng sebuah bukit yang sunyi, Ji Ok tidak sabar lagi.

"Sam Ok, terpaksa aku akan meninggalkan engkau di sini. Kita berpisah saja dan mengambil jalan masing-masing."

"Akan tetapi, Ji Ok. Bagaimana kalau pemuda setan itu melakukan pengejaran? Kalau kita berdua tentu akan lebih kuat untuk melawannya."

Bantak Sam Ok.

"Justeru karena ada kemungkinan dia melakukan pengejaran, maka kita harus berpisah. Kalau kita berpisah, tentu seorang di antara kita akan lolos dari pengejarannya. Kuharapkan saja aku yang akan lolos itu!"

Kata Ji Ok yang sudah akan meninggalkan rekannya itu. Akan tetapi tiba-tiba dua orang datuk sesat itu terkejut setengah mati ketika terdengar suara orang di belakang mereka.

"Kalian berdua tidak akan dapat lolos dari tangan kami!"

Mereka berdua memutar tubuh dan melihat Han Lin dan Sian Eng sudah berdiri di situ.

Melarikan diri agaknya tidak mungkin lagi karena mereka tentu akan dikejar dan tersusul.

Mereka berdua terpaksa menghadapi dua orang lawan muda yang mereka takuti itu.

"Lo Sian Eng, di antara kita tidak ada permusuhan apapun. Kenapa engkau mendesak aku?"

Tanya Sam Ok dengan suara mengandung penasaran. Sian Eng tersenyum mengejek.

"Sam Ok, engkau katakan tidak ada permusuhan apapun antara kita? Hemm, kesalahanmu kepadaku sudah bertumpuk-tumpuk, dan sebesar Gunung Thai-san! Pertama, engkau dan dua orang rekanmu, telah menyerang guruku Hwa Hwa Cinjin dan mengakibatkan kematiannya. Ke dua, kalian bertiga pernah menawan aku bersama kakak Han Lin dan enci Tan Kiok Hwa, nyaris membunuh kami. Dan kau bilang tidak ada urusan di antara kita? baru mengingat akan kejahatanmu yang amat keji itu saja sudah cukup bagiku untuk memusuhimu dan membunuhmu!"

"Menawanmu? Ketika kami menawan Han Lin dan Kiok Hwa, engkau tidak ikut kami tawan. Yang ada hanya seorang pemuda yang.... ahh, kiranya engkaukah pemuda bernama Eng-ji itu?"

Seru Sam Ok yang ingat akan persamaan wajah antara Sian Eng dan pemuda bernama Eng-ji itu. Sian Eng tersenyum.

"Engkau sudah tahu sekarang dan bersiaplah untuk memasuki neraka!"

Sian Eng menggerakkan tangan kanannya ke pundak dan sebatang pedang bersinar hijau telah berada di tangannya.

Itu adalah Ceng-liong-kiam (Pedang Naga Hijau) pemberian ayahnya!

yang kini menjadi musuh besarnya, yaitu Suma Kiang.

Melihat ini, biarpun hatinya merasai gentar, Sam Ok juga mencabut Hek-kong kiam (Pedang Sinar Hitam), melintangkan pedang bersinar hitam itu di depan dada dan berseru.

"Engkaulah yang akan mampus di ujung pedangku, bocah sombong!"

"Sambut seranganku!"

Sian Eng berteriak lantang dan sinar hijau menyambar dahsyat ke arah dada Sam Ok. Datuk wanita inipun menggerakkan pedangnya menangkis.

"Tranggg.....!!"

Tampak bunga api berpijar dan kedua orang wanjta itu melangkah ke belakang untuk memeriksa pedang masing-masing.

Pedang mereka tidak rusak dan Sian Eng sudah menerjang lagi, mengirim serangan bertubi-tubi.

Sam Ok mengelak dan menangkis, juga membalas setiap terdapat kesempatan sehingga kedua orang wanita ini sudah bertanding dengan serunya.

Pedang di tangan mereka lenyap bentuknya, berubah menjadi sinar hijau dan sinar hitam yang bergulung-gulung bagaikan dua ekor naga yang berlaga di angkasa.

Sementara itu, Ji Ok yang merasa gentar terhadap Han Lin, mencoba untuk meloloskan diri dengan membujuk pemuda itu.

"Han Lin, ingatlah bahwa aku dan ibumu saling mencinta. Aku mencinta ibumu dengan segenap jiwa ragaku. Apakah engkau tidak dapat membiarkan aku pergi?"

Sinar mata Han Lin mencorong ketika dia memandang kepada laki-laki berusia enam puluh tahun yang masih tampan dan gagah itu.

Teringat akan nasib dan kematian ibunya, sinar matanya mengandung api kemarahan.

"Ji Ok, ibuku tidak pernah mencintaimu. Akan tetapi engkau telah menguasainya dengan sihir! Bahkan pisau-pisaumulah yang telah merenggut nyawanya! Kau masih berani menyangkal kenyataan itu?"

"Tapi aku tidak sengaja. Dan ingat, aku pernah menyelamatkan ibumu dari bahaya maut ketika ia terjungkal ke dalam jurang! Ia berhutang nyawa kepadaku dan kami saling mencinta!"

"Ji Ok, tidak perlu engkau membujuk aku! Sebagai anggauta Thian-te Sam-ok, kejahatanmu sudah melewati takaran. Aku tidak mungkin dapat melepaskanmu. Sambutlah!"

Han Lin sudah menerjang dengan Im-yang-kiam karena sekali ini dia memang sudah mengambil keputusan untuk menewaskan datuk yang amat jahat ini.

Ji Ok juga melolos sabuk suteranya, mengelak dan balas menyerang.

Terjadilah perkelahian yang amat dahsyat antara kedua orang ini dan untuk membela diri dan mempertahankan nyawanya, Ji Ok mengeluarkan seluruh ilmu simpanannya untuk melawan Han Lin.

Pertandingan antara Sian Eng dan Sam Ok juga berlangsung amat seru dan mati-matian.

Sian Eng yang sekali ini tidak mau membiarkan lawannya lolos, sudah memainkan pedang hijaunya dengan Coa-tok Sin-kiam-sut (Ilmu Pedang Sakti Racun Ular) dan selain serangan pedang di tangan kanan yang amat berbahaya, juga tangan kirinya menyelingi serangan pedang dengan pukulan Toat-beng Tok-lung yang tidak kalah ampuhnya!

Diserang dengan pedang dan pukulan beracun yang ampuh itu, Sam Ok menjadi kewalahan.

Memang iapun menyambut serangan itu dengan pedangnya di tangan kanan dan tangan kirinya juga menyerang dengan Ban-tok-ci yang merupakan totokan jari telunjuk yang dapat mematikan, namun ia kalah cepat dan segera terdesak hebat dan lebih banyak mengelak dan menangkis dan menyerang.

"Hyaaaatt....!!"

Pedang itu berubah menjadi sinar hijau yang meluncur cepat sekali, menusuk ke arah muka Sam Ok, di antara kedua matanya.

Datuk sesat ini terkejut sekali karena sinar hijau itu cepat bukan main, seperti kilat menyambar.

Ia miringkan kepalanya ke kiri sambil melangkah mundur, akan tetapi sinar pedang hijau itu mendadak sudah membalik dan mengejarnya dengan sabetan ke arah pinggang.

Sabetan pedang ini dilakukan Sian Eng dengan pengerahan tenaga sin-kang sepenuhnya.

Sam Ok menangkis dengan pedang hitamnya.

"Tranggg......!"

Bunga api berpijar dan sekali ini Sam Ok merasa betapa beratnya menangkis pedang hijau itu sehingga ia terhuyung.

Dalam keadaan terhuyung itu, Sian Eng sudah melangkah maju dan mengirim pukulan tangan kirinya dengan Toat-beng Tok-ciang ( Tangan Beracun Pencabut Nyawa).

Sam Ok tidak sempat mengelak dan terpaksa ia menyambut pukulan telapak tangan itu dengan tangan kiri pula sambil mengerahkan ilmu Ban-tok-ciang (Tangan Selaksa Racun).

"Plakk....!!"

Tubuh Sam Ok terpelanting. Sebelum ia sempat bangkit, sinar pedang hijau menyambar dan meluncur masuk, menusuk lambungnya.

"Capp....!"

Pedang itu menusuk sampai dalam dan cepat dicabut kembali oleh Sian Eng.

Tubuh Sam Ok terguling dua kali lalu rebah menelungkup, tak bergerak lagi.

Darah mengucur dari luka di lambungnya.

Sian Eng menghampiri tubuh Sam Ok yang sudah tidak bergerak itu untuk memeriksa apakah benar lawannya telah tewas.

Pada saat ia membungkuk untuk memeriksa keadaan tubuh lawan, tiba-tiba saja pedang sinar hitam mencuat dan meluncur ke arah dadanya!

Serangan ini tiba-tiba sekali.

Akan tetapi baiknya Sian Eng sudah waspada.

Ia memang masih sangsi apakah lawannya benar-benar sudah tewas maka ia bersikap hati-hati sekali ketika menghampiri dan membungkuk tadi.

Ia sudah siap siaga dengan pedang di tangan, maka ketika tiba-tiba ada sinar hitam menyambar ke arah dadanya, Sian Eng cepat menggerakkan pedangnya menangkis.

"Tranggg......!!"

Bunga cipi berpijar lagi dan Sian Eng cepat mengayun tangan kirinya menampar ke arah kepala Sam Ok yang kini sudah membalik dan menengadah.

"Plakkkk!"

Pelipis Sam Ok kena ditampar tangan kiri Sian Eng.

Kepala itu terkulai dan muka itu berubah menjadi hitam.

Sam Ok benar-benar tewas sekali ini.

Andaikata tidak disusul tamparan dengan ilmu Toat-beng Tok-ciang sekalipun, ia pasti akan tewas karena pedang Ceng-liong-kiam tadi telah menembus lumbungnya.

Dengan pedang masih di tangan dan namun kewaspadaan Sian Eng kini berdiri dari jauh mayat Sam Ok dan menonton ke arah pertandingan antara Han Lin dan Ji Ok.

Ia tidak mau mengeroyok karena selain hal ini dapat merendahkan kekasihnya itu, juga ia yakin bahwa Han Lin tidak akan kalah.

Ia hanya waspada untuk berjaga-jaga, kalau-kalau muncul Toa nk, orang pertama Thian-te Sam-ok itu.

Ji Ok yang sudah jerih itu selain terdesak oleh Han Lin.

Akan tetapi karena tahu bahwa pemuda itu tidak akan tnau mengampuninya dan nyawanya terancam maut, maka Ji Ok melawan sekuat tenaga.

Sabuk sutera putihnya berubah menjadi sinar putih bergulung-gulung, merupakan perisai yang amat kokoh kuat dan ketat melindungi dirinya dari sambaran sinar pedang di tangan Han Lin.

Ketika kembali pedang Im-yang Pek-liong-kiam menyambar dengan dahsyatnya, Ji Ok tidak berani menangkis dengan sabuknya karena ujung sabuk itu sudah dua kali putus terbabat pedang.

Dia melempar diri ke belakang dan bergulingan.

Ketika bergulingan inilah dia melihat Sam Ok yang sudah tewas.

Hatinya menjadi semakin ketakutan.

Sambil bergulingan dia mencabut pisau-pisau terbangnya dan melemparkan ketiga batang pisau itu berturut-turut ke arah Han Lin.

Melihat sinar-sinar menyambar ke arahnya itu, Han Lin menangkis dua kali dengan pedangnya sehingga dua batang pisau terbang itu terpukul runtuh, akan tetapi pisau ke tiga disambar oleh tangan kiri Han Lin.

Ji Ok mempergunakan kesempatan itu untuk melompat berdiri dan melarikan diri secepatnya.

Akan tetapi, Han Lin yang sudah mempunyai niat ketika menangkap pisau ke tiga tadi untuk membunuh Ji Ok seperti ketika ibunya tewas oleh pisau Ji Ok, cepat menyambitkan pisau itu ke arah tubuh lawan yang mencoba untuk melarikandiri itu.

Dia mengarahkan sambitannya ke leher Ji Ok.

"Wuuuutt..... ceppp.....I!"

Pisau itu dengan tepat sekali mengenai tengkuk Ji Ok sampai tembus ke leher!

Ji Ok Phoa Li Seng tidak mampu mengeluarkan teriakan lagi dan tubuhnya roboh, berkelojotan sejenak lalu diam, pisau masih menancap di lehernya yang mengucurkan darah!

Melihat lawannya sudah tewas, Han Lin masih berdiri seperti patung.

Dia teringat akan ibunya dan semua penderitaan ibunya.

Masih ada dua orang lagi yang harus dia mintai pertanggunganjawanan atas kesengsaraan ibunya.

Pertama adalah Suma Kiang yang membuat ibunya hidup penuh kesengsaraan.

Dia harus membunuh Suma Kiang!

Dan kedua adalah Kaisar Cheng Tung, ayah kandungnya sendiri.

Dia harus bertemu dengan ayah kandungnya itu dan menegurnya dengan keras karena ayah kandungnya telah menyia-nyiakan ibunya dan dia, meninggalkan ibunya dalam keadaan mengandung dan sama sekali tidak memperdulikannya lagi!

Teringat kepada ibunya, Han Lin berdiri menundukkan mukanya dengan hati yang sedih sekali.

Dia membayangkan keadaan ibunya yang penuh kesengsaraan itu.

Lalu dia memandang kepada mayat Ji Ok.

Dia tahu bahwa Ji Ok mencinta ibunya.

Kalau saja ibunya ketika itu mencinta Ji Ok dengan wajar, tentu dia tidak akan membunuh Ji Ok yang pernah menyelamatkan ibunya dari kematian ketika terjatuh ke dalam jurang.

Akan tetapi ibunya tidak mencinta Ji Ok, melainkan berada dalam pengaruh sihir sehingga ibunya mirip boneka hidup yang menuruti segala perintah Ji Ok!

Kemudian, pisau Ji Ok yang membunuh ibunya, walaupun hal itu dilakukan tidak dengan sengaja.

Hatinya puas telah dapat membunuh Ji Ok, karena bagaimanapun juga, Ji Ok adalah seorang datuk sesat yang amat jahat dan sudah sepatutnya kalau disingkirkan dari dunia di mana dia hanya akan menyusahkan orang-orang lain dengan perbuatannya yang jahat.

Dia dapat menduga bahwa tentu sudah tak terhitung banyaknya orang-orang tak berdosa yang tewas di tangan Ji Ok, maka sebagai seorang pendekar yang membela kebenaran dan keadilan, menentang kejahatan, sudah sepatutnya dia membunuh datuk sesat itu.

"Lin-ko....! Engkau kenapakah.....?"

Sian Eng bertanya sambil memegang lengan pemuda itu dan mengguncangnya. Han Lin mengangkat muka memandang gadis itu lalu menghela napas panjang.

"Aku tidak apa-apa, Eng-moi. Kulihat engkau telah berhasil menewaskan Sam Ok. Sukurlah."

"Kita telah berhasil menewaskan Ji Ok dan Sam Ok. Hatiku puas, Lin-ko. Sekarang kita tinggal mencari Toa Ok dan Suma Kiang. Dua orang jahanam busuk itu harus dapat kita musnahkan!"

Kata gadis itu penuh semangat.

"Sekarang mari kita kembali ke rumah toa-pek (Uwa) Lo Kang, karena mereka tentu sedang menanti-nanti kita."

"Nanti dulu, Eng-moi."

Kata Han Lin sambil menunjuk ke arah mayat Ji Ok dan Sam Ok.

"Hemm, apakah engkau hendak mengambil pedang hitam itu?"

Tanya Siang Eng sambil mengerutkan alisnya.

"Tidak, Eng-moi. Aku hendak mengubur dua jenazah itu lebih dulu."

"Ah, untuk apa? Untuk apa mengubur jenazah dua orang iblis jahat itu?"

Cela Sian Eng. Han Lin menatap wajah dara itu dengan pandang mata tajam dan suaranya terdengar tegas ketika dia berkata.

"Eng-moi, engkau tidak boleh berkata demikian. Ketika mereka masih hidup, mereka memang Ji Ok dan Sam Ok, dua orang yang amat jahat dan sudah selayaknya kalau kita menentang mereka. Akan tetapi sekarang mereka bukan orang-orang jahat lagi, melainkan dua sosok jenazah yang tidak berdaya. 5udah sepatutnya kita menghormatinya dan mengurus sebagaimana mestinya. Sebagai manusia-manusia yang berakal sehat kita tidak mungkin meninggalkan dua jenazah itu terkapar di sini lalu membusuk dan mengotori udara di sekitarnya. Aku harus mengubur dulu kedua jenazah itu, Eng-moi. Kalau engkau hendak kembali dulu ke rumah keluarga Lo, silakan. Aku akan menyusul nanti."

"Heii, engkau marah, Lin-ko? Kalau itu kehendak dan keputusanmu, tentu saja akupun suka membantumu mengubur dua jenazah itu!"

Kata Sian Eng.

Han Lin dapat tersenyum lagi melihat betapa Sian Eng dengan penuh semangat membantunya menggali lubang, menggunakan pisau-pisau yang tadi disambitkan Ji Ok kepada Han Lin namun dapat ditangkisnya.

Tentu amat sulit menggali lubang untuk mengubur jenazah hanya menggunakan pisau-pisau.

Akan tetapi karena dua orang itu memiliki tenaga sin-kang yang kuat, akhirnya mereka dapat juga menggali sebuah lubang yang cukup besar.

Mereka lalu mengangkat dan merebahkan dua jenazah itu berjajar dalam satu lubang, kemudian menimbuni lubang itu dengan tanah sampai menjadi segunduk tanah.

Setelah selesai, matahari telah naik tinggi dan mereka berdua lalu membersih kan kedua tangan di sebuah anak sungai, kemudian mereka pergi kembali ke kota raja dan langsung menuju ke rumah keluarga Lo.

Ketika mereka berdua tiba di rumah Lo Kang, ternyata pesta itu telah bubaran.

Semua tamu telah meninggalkan tempat itu.

Akan tetapi Lo Kang, isterinya, dan dua orang anaknya menyambut kedatangan Sian Eng dengan gembira sekali!

"Silakan kalian berdua masuk dan mari kita duduk dan bicara di dalam!"

Kata Lo Kang.

"Adik Sian Eng, engkau ternyata hebat sekali! Engkau harus mengajarkan ilmu silat tinggi kepadaku!"

Kata Siang Kui sambil menggandeng tangan Sian Eng dengan akrabnya.

Sikap keluarga itu berubah sepenuhnya sekarang.

Mereka sama sekali tidak angkuh lagi terhadap dua orang muda itu, bahkan ramah dan memuji-muji.

Begitu mereka memasuki ruangan dalam dan duduk mengitari sebuah meja bundar, pelayan berdatangan membawa hidangan.

Lo Kang sendiri yang menyuguhkan arak secawan kepada Sian Eng dan Han Lin.

"Mari kita minum sebagai ucapan selamat datang kepada keponakanku Lo Sian Eng dan ananda Han Lin yang menjadi sahabat baiknya!"

Katanya dan semua orang minum secawan arak.

Kemudian, dengan ramahnya Lo Kang dan isterinya lalu menawarkan hidangan itu kepada Sian Eng dan Han Lin.

Dua orang mud inipun makan minum bersama keluarga Lo.

"Bagaimana hasil kalian mengejar Ji Ok dan Sam Ok tadi, Sian Eng?"

Tanya Lo Kang kepada keponakannya sambil memandang wajah gadis itu dengan senyum penuh kagum.

"Kami telah berhasil membunuh dua orang datuk sesat yang jahat itu, toapek. kami lalu menguburkan dua jenazah itu lebih dulu, maka kami agak terlambat datang."

Keluarga itu menjadi terkejut sekali mendengar ini.

"Kalian telah membunuh Ji Ok dan Sam Ok? Ahhh.....!"

Kata Lo Kang sambil membelalakkan matanya memandang kepada dua orang itu.

Dia terkejut sekali dan juga heran.

Terkejut bahwa keponakannya dan sahabatnya itu telah membunuh dua orang datuk besar dan hal ini pasti akan menggegerkan dunia kang-ouw.

Dan dia heran bagaimana keponakannya yang masih amat muda dan wanita pula itu bersama sahabatnya yang juga masih muda, mampu membunuh dua orang datuk sesat yang sakti itu.

"Kenapa, toa-pek?"

Tanya Sian Eng ambil menatap tajam wajah uwanya.

"Ah, tidak apa-apa, aku hanya heran dan terkejut. Bagaimana kalian dapat membunuh dua orang datuk besar yang sakti itu? Dan kalau hal ini terdengar oleh kawan-kawan mereka, apakah tidak akan membahayakan kalian berdua?"

"Aku sama sekali tidak takut, toapek! Kalau ada yang menuntut balas atas kematian Ji Ok dan Sam Ok, dia akan kuhadapi dan akan kubasmi semua orang jahat yang mengotorkan dunia! Sam Ok dan Ji Ok itu jahat sekali, dan kalau Toa Ok sebagai orang pertama dari Thi-an-te Sam-ok itu datang, akan kuhadapi dia!"

Kata Sian Eng dengan sikap gagah. Lo Kang dan dua orang anaknya saling pandang. Mereka merasa amat kagum, akan tetapi juga khawatir.

"Sian Eng, aku sungguh merasa heran sekali dan tidak mengerti bagaimana engkau dapat memiliki ilmu silat setinggi itu. Padahal ayahmu, setahuku adalah seorang kutu buku, seorang sastrawar yang lemah, bahkan sekarang sudah meninggal dunia dalam usia muda, juga ibumu. Bagaimana engkau dapat memilik kepandaian seperti ini? Siapa gurumu?"

Sian Eng masih ingat akan sikap angkuh keluarga ayahnya ini, maka ia tidak ingin menceritakan tentang kematian ayah dan ibunya yang mengenaskan "Ayah dan ibu meninggal dunia selagi aku masih kecil, berusia tiga tahun.

Semenjak itu, aku dipungut oleh guruku yang mengajarkan semua ilmu silat ini kepadaku."

"Ah, gurumu tentu seorang yang amat sakti. Siapakah dia, Sian Eng?"

Tanya Lo kang dengan ingin tahu sekali.

Sian Eng tidak mau mengakui Suma Kiang sebagai gurunya lagi, maka ia menjawab tanpa menyebut nama gurunya yang pertama dan yang merupakan orang yang memeliharanya sejak kecil itu.

"Guru saya adalah mendiang Hwa Hwa Cin-jin yang tinggal di puncak Ekor Naga di pergunungan Cin-ling-san."

"Hwa Hwa Cinjin? Belum pernah aku mendengar nama itu. Dia telah meninggal dunia?"

"Benar, toapek, meninggal dalam usia tua dan karena sakit sebagai akibat pengeroyokan Thian-te Sam-ok. Karena itulah maka aku dan Lin-ko ini membunuh Ji Ok dan Sam Ok!"

Lo Kang mengangguk-angguk.

"Engkau hebat, Sian Eng. Kami senang sekali dapat menerima sebagai keluarga dekat kami. Engkau masih semarga dengan kami, puteri adik kandungku sendiri. Karena engkau sekarang sudah yatim piatu, maka sudah sepantasnyalah kalau engkau tinggal bersama kami. Engkau akan kami anggap sebagai anakku sendiri dan engkau dapat membimbing kedua kakakmu Cin Bu dan Siang Kui untuk memperdalam ilmu-ilmu silat mereka."

"Eng-moi (adik Eng), tinggallah di sini bersama kami."

Kata Cin Bu dengan senyum ramah.

"Tentu saja! Engkau harus tinggal bersama kami, Eng-moi! Engkau adalah adikku sendiri, kita dapat berlatih bersama. Oya, aku sudah bertunangan, Eng moi dan tak lama lagi akan menikah. Engkau sudah melihat tunanganku, bukan?"

Kata Siang Kui.

"Benar, Siang Eng. Akupun akan senang sekali kalau engkau suka menjadi anggauta keluarga kami dan tinggal di sini."

Kata pula Nyonya Lo Kang.

Melihat keramahan mereka, hati Sia Eng merasa terhibur juga.

Agaknya ia salah kira.

Mereka itu ternyata tidak seangkuh yang ia sangka.

Ia memandang Siang Kui sambil tersenyum.

"Aku sudah melihat tunanganmu, enci Siang Kui. Bukankah dia putera pangeran itu?"

Katanya.

"Benar dia! Bagaimana pendapatmu tentang dia? Cukup baik dan cocok untuk menjadi suamiku, bukan?"

Tanya pula Siang Kui dengan sikap terbuka sekali. Sian Eng tersenyum lebar, timbul kegembiraannya melihat sikap yang terbuka dan polos dari Siang Kui itu.

"Hemm, menurut penglihatanku, dia cukup gagah dan berwibawa, cukup cocok untuk menjadi jodohmu, enci Kui."

Semua orang tertawa gembira mendengar jawaban ini dan Siang Kui lalu mendekati Sian Eng dan merangkulnya.

"Terima kasih, adik Eng. Dan bagaimana dengan engkau sendiri? Apakah engkau sudah mendapatkan jodoh?"

Sambil berkata demikian, Siang Kui mengerling ke arah Han Lin yang hanya menundukkan muka "Ah, belum.....!"

Kata Sian Eng lirih.

"Tunangan juga belum?"

Sian Eng menggeleng kepalanya, menahan senyum.

"Akan tetapi tentu sudah memiliki pilihan hati, bukan? Kulihat saudara Han Lin ini...."

Han Lin terkejut dan cepat dia bangkit berdiri sambil memberi hormat.

"Saya dan nona Lo Sian Eng adalah sahabat-sahabat baik yang sudah melebihi saudara sendiri. Eng-moi, engkau telah dapat bertemu dengan keluargamu dan diterima dengan baik. Oleh karena itu, perkenankan aku pergi melanjutkan perjalananku."

"Akan tetapi bukankah tujuan perjalananmu ke kota raja, Lin-ko? Dan sekarang kita sudah tiba di kota raja!"

Bantah Sian Eng yang sebetulnya tidak ingin berpisah dari pemuda itu.

"Benar, Eng-moi. Akupun tidak akan pergi dari kota raja karena tujuanku memang ke sini. Akan tetapi banyak hal yang harus kukerjakan. Karena itu, biarlah engkau tinggal di sini bersama keluargamu dan aku akan menyelesaikan urusanku."

"Akan tetapi, kalau engkau dapat bertemu dengan Toa Ok atau Suma Kiang, harap kau kabarkan kepadaku, Lin-ko. Aku akan selalu merasa penasaran kalau tidak dapat merobohkan mereka dengan tanganku sendiri. Engkaupun membutuhkan bantuanku, Lin-ko. Mereka adalah orang-orang berbahaya."

Untuk melegakan hati Sian Eng, Han Lin berkata.

"Baiklah, Eng-moi. Aku akan mengabarkan kepadamu kalau aku bertemu dengan mereka."

Dia lalu bangkit berdiri dan memberi hormat kepada Lo Kang.

"Paman Lo Kang, terima kasih atas penerimaan keluarga paman kepada saya dengan ramah sekali. Mudah-mudahan sahabat baik saya adik Lo Sian Eng akan dapat hidup berbahagia dengan paman kalian di sini. Selamat tinggal!"

"Jaga dirimu baik-baik, Lin-ko!"

Kata Sian Eng dan suaranya terdengar agak menggetar.

"Engkau juga, jaga dirimu baik-baik, Eng-moi."

Kata Han Lin dengan setulus hatinya.

Dia sungguh amat menyayang gadis itu dan dia tahu betapa besar cinta kasih gadis itu kepadanya.

Dia tahu bahwa kalau di sana tidak ada Tan Kiok Hwa yang telah menjatuhkan hatinya, kiranya akan mudah sekali baginya untuk jatuh cinta kepada Lo Sian Eng.

Sekeluarga itu mengantar Han Lin sampai keluar pekarangan rumah itu.

Setelah Han Lin pergi dan lenyap di sebuah tikungan jalan, Sian Eng masih berdiri termenung di situ, merasa kehilangan sekali, seolah semangatnya ikut terbang mendampingi Han Lin.

Siang Kui merangkul pundaknya.

"Mari kita kembali ke dalam, Eng-moi."

Sian Eng menghela napas panjang dan menyadari keadaannya, lalu ia ikut masuk bersama keluarga itu.

Sepasang orang muda yang memasuki pintu gerbang kota raja sebelah selatan itu tampak serasi.

Pemudanya berusia kurang lebih dua puluh satu tahun, bertubuh tinggi tegap dan wajahnya tampan, sepasang matanya yang tajam itu membayangkan kecerdikan, senyumnya sinis seolah selalu mengejek apa yang dilihatnya.

Gadis pasangannya itu lebih menarik hati.

Melihat wajah dan bentuk badan nya, iapun kelihatan masih muda sekali, tidak lebih dari dua puluh tahun.

Wajahnya cantik jelita, mata dan mulutnya indah menggairahkan, akan tetapi pada mata dan mulut itu tampak kegenitan, terutama matanya dengan kerling-kerling yang tajam memikat.

Bibirnya juga selalu tersenyum menantang.

Pakaiannya indah dan mewah, dan gadis ini membawa sebuah payung yang digambari beraneka warna dengan dasar warna merah sehingga ketika payung itu melindungi wajahnya dari sinar matahari, timbul warna kemerahan yang membuat wajahnya tampak semakin menarik.

Mereka itu bukan lain adalah Ouw Ki Seng dan Sian Hwa Sian-li.

Seperti telah kita ketahui, kedua orang ini melakukan perjalanan bersama ke kota raja.

Ouw Ki Seng pergi ke kota raja dengan niat hendak memperkenalkan diri kepada Kaisar Cheng Tung sebagai Cheng Lin, putera kaisar itu.

Sian Hwa Sian-li.

yang sudah menjadi sahabat baik, juga kekasihnya itu menemaninya sehingga perjalanan itu seolah merupakan perjalanan bulan madu bagi mereka berdua.

Hubungan mereka semakin lekat dan mesra.

"Sianli, kita telah tiba di kota raja. Ah, betapa indah dan megahnya bangunan bangunan itu!"

Kata Ki Seng sambil memandang ke kanan kiri dengan kagum.

Belum pernah dia datang ke kota raja sebelumnya dan dia amat kagum akai kemegahan kota raja.

Sian Hwa Sian-li yang sudah pernah beberapa kali berkunjung ke kota raja tersenyum melihat kekaguman Ki Seng.

"Tunggu sampai engkau melihat istana kaisar, tentu engkau akan menjadi semakin kagum."

Katanya.

"Sebaiknya kita lebih dulu mencari sebuah kamar di rumah penginapan, dan kita berunding apa yang harus kulakukan selanjutnya, Eh..... alangkah cantik jelitanya gadis itu..,.!"

Ki Seng memandang ke arah kiri dari mana datang seorang gadis.

Memang sungguh luar biasa cantik jelita dan menariknya gadis yang melenggang dengan tenang itu.

Usianya kurang lebih sembilan belas tahun.

Wajahnya cantik jelita dan manis sekali.

Kulit muka, leher, dan tangannya tampak putih dan agak kemerahan tanda sehat.

Pakaiannya terbuat dari sutera putih yang bersih sekali.

Sepatunya berwarna hitam, Ki Seng seperti terpesona memandangnya.

Sepasang mata gadis itu mengingatkan dia akan mata burung Hong dalam gambar, hidungnya kecil mancung dan mulutnya amat indah dengan bibir yang merah basah dan selalu tersenyum ramah, sinar matanya juga lembut sekali dan penuh pengertian.

Gadis itu membawa sebuah buntalan kuning di punggungnya.

Seorang gadis yang luar biasa cantiknya, mengingatkan Ki Seng akan patung Kwan Im Posat yang pernah dilihatnya dalam sebuah kuil!

Sian Hwa Sian-li juga sudah melihat gadis berpakaian putih itu dan iapun harus mengakui bahwa gadis itu memang cantik bukan main.

"Hemm, engkau tergila-gila kepadanya?"

Tanyanya lirih, tanpa rasa cemburu.

Kedua orang ini memang sudah bersepakat bahwa hubungan mereka tidak ada ikatan apapun dan masing-masing bebas untuk bersenang-senang dengan pasangan lain.

Itu pula sebabnya maka Sian Hwa Sian-li tidak cemburu kepada Ciang Mei Ling, bahkan membantu Ki Seng mendapatkan gadis itu.

"Ah, ia manis sekali. Sian-li, tolonglah aku mendapatkannya. Aku akan merasa berbahagia sekali dan berterima kasih sekali kepadamu kalau aku bisa mendapatkan gadis itu!"

Kata Ki Seng penuh gairah. Mereka melihat betapa gadis berpakaian putih itu memasuki sebuah toko obat besar.

"Kita cari kamar dulu. Itu ada sebuah rumah penginapan. Mari kita mencari kamar di sana, baru kita atur bagaimana untuk mendapatkan gadis itu. Jangat khawatir, aku akan membantumu sampai berhasil."

Mereka berdua lalu pergi ke rumah penginapan An Lok yang berdiri di seberang jalan, tak jauh dari rumah obat itu.

Cepat mereka memesan sebuah kamar pada pengurus rumah penginapan dan mendapatkan sebuah kamar nomor sebelas.

Setelah mendapatkan kamar, mereka berdua lalu keluar lagi dan menuju ke rumah obat.

"Kau tunggu saja di luar, biar aku yang akan menyelidiki keadaannya."

Kata Sian Hwa Sian-li.

Ki Seng mengangguk dan dia menanti di luar, membiarkan Sian Hwa Sian-li masuk sendiri ke rumah obat yang besar itu.

Gadis berpakaian putih yang cantik jelita itu adalah Tan Kiok Hwa yang berjuluk Pek I Yok Sian-li (Dewi Obat berbaju Putih).

Karena ia kehabisan beberapa macam obat penting yang selalu dibawanya sebagai bekal untuk menolong orang kalau sewaktu-waktu dibutuhkan, maka melihat toko obat besar itu, ia lalu masuk melihat-lihat.

Ketika Sian Hwa Sian-li memasuki toko obat itu, ia pura-pura melihat-lihat dan mendekati Kiok Hwa yang sedang memesan beberapa macam obat kepada pelayan toko.

Kiok Hwa menyebutkan beberapa macam obat dengan lancar dan bahkan memberi keterangan obat macam apa yang ia perlukan.

Pelayan toko obat Itu memandang heran.

"Wah, nona begitu hafal dan lancar menyebutkan obat-obat yang langka dan jarang dikenal orang. Bagaimana nona dapat mengenal semua nama obat-obat itu?"

Tanya pelayan toko obat sambil sibuk mengambilkan obat-obat yang dipesan Kiok Hwa.

Kiok Hwa tersenyum, manis sekali "Aku memang biasa mengobatiorang orang yang sakit, maka aku mengenal banyak macam obat."

"Aih, kiranya nona seorang tabib yang pandai?"

Pelayan itu berseru penuh kagum. Orang masih begini muda, wanita lagi, ternyata seorang tabib yang pandai.

"Ah, bukan tabib pandai, akan tetapi kalau ada orang sakit yang membutuhkan pertolongan, setiap saat aku siap sedia untuk mencoba mengobatinya."

Kata Kiok Hwa. Mendengar percakapan itu, cepat Sia Hwa Sian-li keluar dari toko obat.

"Ki Seng, ternyata ia seorang ahli pengobatan. Cepat engkau kembali ke kamar kita di rumah penginapan. Aku akan memancingnya ke sana untuk mengobatimu. Engkau boleh berpura-pura sakit berat."

"Hemm, aku memang sakit berat,Sian-li. Sakit rindu....."

"Hushh, sudahlah, cepat sana. Aku akan membujuknya agar mau mengobatimu."

Ki Seng bergegas menuju ke rumah penginapan An Lok, memasuki kamarnya dan menunggu di situ dengan hati berdebar penuh harapan.

Dia sudah membayangkan betapa akan senangnya dapat memeluk gadis berpakaian putih yang amat cantik jelita itu.

Sian Hwa Sian-li masuk kembali ke dalam toko obat dan begitu memasuki toko obat, ia menangis terisak-isak, air matanya bercucuran dan diusapnya dengan tangannya.

Melihat seorang wanita cantik masuk sambil menangis, hal ini tentu saja menarik perhatian pelayan toko obat.

Segera dia menghampiri wanita yang menangis itu dan bertanya.

"Nona, engkau kenapakah?. Mengapa engkau menangis di sini?"

Sambil terisak Sian Hwa Sian-li berkata, berdirinya dekat gadis berpakaian putih tadi.

"Aku..... aku bingung sekali. Adikku terserang penyakit keras, entah mengapa.... dia pingsan..... badannya panas.... aku ingin membeli obat, akan tetapi tidak tahu obat apa yang harus kubeli...."

Ia menangis lagi.

"Wah, kebetulan sekali. Nona ini adalah seorang tabib pandai, engkau dapat minta tolong kepadanya!"

Kata pelayan toko itu sambil menuding ke arah Kiok Hwa. Mendengar ini, Sian Hwa Sian-li lalu maju dan menjatuhkan diri berlutut di depan kaki Kiok Hwa.

"Tolonglah, tolonglah adikku yang sakit berat!"

Katanya memohon. Kiok Hwa memegang kedua pundak Sian Hwa Sian-li dan menariknya bangkit.

"Bangunlah, enci, tidak perlu engkau berlutut seperti ini. Aku pasti akan suka menolong adikmu yang sakit. Di mana dia?"

"Kami adalah pendatang dari luar kota dan kini kami tinggal di rumah penginapan, tak jauh dari sini."

Kata Sian Hwa Sian-li.

Kiok Hwa lalu membayar harga obat-obat yang dibelinya, memasukkan bungkusan obat-obat ke dalam buntalan di gendongannya, kemudian ia keluar dari toko obat mengikuti Sian Hwa Sian-li.

Setibanya di luar kamar di mana Ki Seng menanti, Sian-li bicara cukup lantang kepada Kiok Hwa.

"Mendadak saja wajahnya menjadi pucat, tubuhnya panas dan jatuh pingsan. Aku khawatir sekali dia terserang penyakit yang berbahaya, nona. Tolonglah sembuhkan dia!"

Ki Seng yang berada dalam kamar itu tentu saja mendengar ucapan ini yang memang dilakukan Sian Hwa Sian-li agar terdengar olehnya. Ki Seng cepat merebahkan diri terlentang di atas pembaringan.

"Tenanglah, enci. Setelah memeriksanya dan menentukan bagaimana keadaannya dan apa penyakitnya, mudah-mudahan aku dapat mengobati dan menyembuhkannya."

Kata Kiok Hwa sambil mengikuti Sian Hwa Sian-li yang membuka pintu dan memasuki kamar itu.

"Nah, itu dia, nona. Lihat, dia begitu pucat dan napasnya memburu. Dia masih pingsan...... ahhh......!"

Kata Sian Hwa Sian-li, dalam hatinya merasa geli melihat Ki Seng yang berpura-pura pingsan.

Kiok Hwa menarik sebuah kursi didekatkan dengan pembaringan.

Ia melihat seorang pemuda tampan gagah telentang di atas pembaringan, wajahnya pucat sekali, napasnya terengah dan sepert orang tidur atau tak sadar.

Ia lalu duduk di atas kursi dekat pembaringan, kemudian memegang pergelangan tangan kiri Ki Seng untuk merasakan denyut nadinya Ia mengerutkan alisnya, meraba leher dan dahi, kemudian tersenyum, wajahnya keheranan.

Ia tahu benar bahwa pemuda itu hanya pura-pura saja pingsan.

Wajah pucat, napas memburu dan tubuh panas itu hanya buatan, dilakukan dengan pengerahan sin-kang.

Ia tahu bahwa pemuda ini seorang ahli sin-kang (tenaga sakti) yang sedang mempermainkannya.

Kiok Hwa bangkit berdiri dan menghampiri buntalannya yang tadi ia turunkan dari punggung dan ia letakkan di atas meja.

"Enci, adikmu ini tidak sakit apa-apa, jangan kau khawatir. Dia akan sembuh dengan sendirinya tanpa obat."

Sian Hwa Sian-li dan Ki Seng terkejut dan kagum mendengar ucapan itu.

Tahulah mereka bahwa gadis cantik jelita berpakaian putih ini benar-benar seorang yang ahli dalam pengobatan.

Sian Hwa Sian-li pura-pura heran.

"Akan tetapi dia pingsan...."

"Jangan khawatir, mungkin dia lelah atau bermain-main saja."

Kata pula Kiok Hwa.

"Dia tidak memerlukan bantuanku."

Sian Hwa Sian-li cepat menghampiri meja dan menuangkan air teh dari poci ke dalam cangkir yang memang sudah dipersiapkan Ki Seng sejak tadi.

"Nona, sebelum engkau pergi, terimalah suguhanku ini. Hanya inilah yang dapat kami berikan sebagai ucapan terima kasih atas kebaikan hatimu!"

Ia memberikan cangkir yang diisi setengahnya dengan air teh itu kepada Kiok Hwa.

Kiok Hwa tersenyum dan ia mengeluarkan sebuah bungkusan kecil dari dalam buntalan pakaiannya, membuka bungkusan itu, barulah ia menerima secangkir air teh.

Dituangkannya sedikit bubuk putih dari bungkusan itu dalam air teh.

"Terima kasih."

Katanya lalu diminumnya air teh itu sampai habis.

Setelah minum air teh dan meletakkan cangkir kosong itu ke atas meja Kiok Hwa memejamkan matanya dan agak terhuyung ia duduk di atas kursinya kembali, matanya tetap terpejam dan ia duduk tegak di atas kursi.

Melihat ini, Sian Hwa Sian-li dan Ki Seng menjadi girang.

Obat perangsang milik Sian Hwa Sian-li yang dicampurkan dalam air teh itu biasanya manjur sekali dan mereka menduga bahwa Kiok Hwa tentu mulai terpengaruh.

Sambil tersenyum kepada Ki Seng yang sudah membuka kedua matanya, Sian Hwa Sian-li mengangguk lalui bangkit berdiri dan keluar dari kamar itu, menutupkan kembali daun pintu kamar dari luar.

Ia hendak memberi kesempatan kepada Ki Seng untuk berdua saja dengan calon korban itu.

Melihat dia sudah tinggal berdua saja dengan gadis jelita itu Ki Seng lalu bangkit duduk dan memandang kepada Kiok Hwa.

Gadis ini masih duduk di atas kursi, kedua tangannya diletakkan di atas meja di depannya dan kedua matanya masih terpejam, sepasang pipinya kemerahan.

Ki Seng menduga bahwa tentu gadis itu sudah mulai terpengaruh obat perangsang.

Karena ketika dia mempergunakannya untuk menundukkan Ciang Mei Ling, gadis itupun segera saja terpengaruh dan terangsang.

Dia lalu turun dari pembaringan, duduk di atas kursi dekat Kiok Hwa dan tangannya bergerak hendak memegang tangan Kiok Hwa yang berada di atas meja.

Akan tetapi pegangannya itu luput.

Dengan cepat sekali Kiok Hwa sudah menarik kedua tangannya dari atas meja ketika hendak ditangkap.

Ketika Ki Seng memandang, ternyata Kiok Hwa sudah membuka kedua matanya dan memandang kepadanya dengan sinar mata tajam.

"Sobat, engkau sama sekali tidak sakit. Jangan mencoba-coba untuk mempermainkan aku. Engkau hanya berpura-pura."

Kata Kiok Hwa dengan suara mengandung nada teguran. Ki Seng yang mengira gadis itu sudah terpengaruh obat perangsang, tersenyum.

"Nona yang cantik, aku memang sakit, benar-benar sakit. Aku menderita sakit rindu kepadamu, aku tergila-gila kepada mu, begitu melihatmu, aku langsung jatuh cinta! Marilah, manisku, engkaupu cinta padaku, bukan?"

Ki Seng meraih dengan tangannya untuk merangkul, akan tetapi gadis itu telah bangkit dan mengelak mundur sehingga tangan itu meraih tempat kosong.

Kiok Hwa menggendong lagi buntalannya di belakang punggung.

"Tidak, aku tidak cinta padamu. Kita baru saja bertemu, aku tidak mengenalmu. Sungguh tidak sopan bicara tentang cinta!"

Ki Seng membelalakkan kedua matanya, hampir tidak percaya melihat sikap dan mendengar ucapan gadis itu.

"Akan tetapi, engkau sudah minum...."

"Hemm, jangan dikira bahwa aku tidak tahu akan perbuatan keji itu, mencampurkan racun perangsang ke dalam air teh! Akan tetapi jangan harap dapat menjebak aku dengan segala macam racun pembius atau perangsang. Sobat, aku melihat bahwa engkau bukan orang bodoh, bahkan engkau memiliki tenaga sin-kang yang sudah cukup tinggi sehingga engkau dapat main-main seperti orang menderita sakit berat. Kenapa engkau hendak menggunakan kepandaianmu itu untuk melakukan kejahatan yang amat keji, menjebak seorang wanita? Apakah engkau tidak malu? Sepatutnya engkau mempergunakan ilmu yang tentu telah engkau pelajari bertahun-tahun itu untuk melakukan kebaikan, bukan untuk mengumbar nafsu melakukan kejahatan yang keji. Nah, aku pergi!"

Setelah berkata demikian, Kiok Hwa melangkah menuju ke pintu.

Ki Seng hanya memandang dengan mata terbelalak keheranan, juga dia semakin kagum kepada gadis ahli pengobatan itu.

Kiranya bukan hanya seorang gadis tabib biasa, melainkan agaknya juga seorang ahli silat yang pandai.

Buktinya tahu bahwa dia berpura-pura sakit menggunakan sin-kang dan pula, dua (Lanjut ke

Jilid 24) Suling Pusaka Kumala (CeritaLepas) Karya . Asmaraman S. Kho Ping Hoo

Jilid 24 kali tangannya meraih namun selalu luput.

Pada saat Kiok Hwa hampir tiba dI pintu, daun pintu itu terbuka dari luar dan masuklah Sian Hwa Sian-li.

Wanita ini melihat Kiok Hwa melangkah hendak pergi dan melihat pula Ki Seng berdiri dekat meja dengan mata terbelalak.

"Eh, apa yang terjadi?"

Tanyanya heran.

Ia tadi mendengarkan dari luar pintu dan mendengar ucapan Kiok Hwa maka ia membuka pintu karena menduga telah terjadi kegagalan.

Maka, ketika melihat Kiok Hwa sudah menggendong buntalannya hendak pergi dari situ sedangkan Ki Seng diam saja tidak mencegah, ia merasa heran sekali.

Melihat wanita itu, Kiok Hwa memandang tajam dengan hati merasa jijik.

ia tahu bahwa wanita ini bersekongkol dengan pemuda itu untuk menjebaknya.

"Aku tidak dibutuhkan siapapun di sini. biarkan aku pergi!"

Katanya dan ia melangkah hendak keluar dari dalam kamar.

"Hemm, engkau tentu telah menelan obat penawar tadi. Perlahan dulu, jangan pergi!"

Kata Sian Hwa Sian-li dan cepat tangannya meluncur untuk menotok pundak Kiok Hwa.

"Wuuuttt....!"

Dan totokan itu luput, dengan gerakan langkahnya yang aneh, Kiok Hwa telah dapat mengelak dari totokan itu.

Sian Hwa Sian-li terkejut dan cepat tangan kirinya mencengkeram ke arah pundak untuk menangkap Kiok Hwa, akan tetapi pundak itu bergerak ke bawah dan cengkeraman itupun luput.

"Biarkan ia pergi!"

Tiba-tiba terdengar Ki Seng berseru.

"Akan tetapi...."

Sian Hwa Sian-li membantah.

"Biarkan ia pergi kataku!"

Ki Seng membentak dan Sian Hwa Sian-li tidak berani membantah lagi, lalu melangkah mundur membiarkan Kiok Hwa yang melangkah keluar dari pintu kamar itu.

Setelah Kiok Hwa pergi, Sian Hwa Sian-li cepat menghampiri Ki Seng yang telah duduk di atas kursi.

"Ki Seng, apa yang telah terjadi? Kenapa ia....ia tidak....."

"Hemm, kau lihat sendiri. Obatmu itu tidak dapat mempengaruhinya!"

Kata Ki Seng agak ketus karena kecewa.

"Kau tidak melihat tadi, ketika ia akan minum air teh, lebih dulu ia mencampurkan bubuk putih ke dalam air teh itu. Itu tentu merupakan obat penawar. Tidak aneh kalau ia tidak terpengaruh oleh obat perangsangku."

Sian Hwa Sian-Li membela obatnya.

"Akan tetapi apa sukarnya untuk menangkap dan menundukkannya? Kenapa engkau tidak menangkapnya dan engkau malah mencegah aku menangkapnya dan membiarkan ia pergi?"

Pertanyaan ini mengandung penasaran.

"Tidak!Aku tidak suka mendapatkan seorang gadis dengan paksa, aku tidak sudi melakukan perkosaan. Dan lagi, aku... mencintanya, Sian-li, aku sungguh mencintanya, aku kagum kepadanya."

Sian Hwa Sian-li tidak menyadari bahwa ialah yang menjadi guru pertama bagi Ki Seng dalam bercinta.

Dan ia merupakan seorang guru yang bukan hanya sukarela menyerahkan diri, bahkan penuh kemesraan dan penuh cinta kasih.

Karena itu, sedikit banyak hal ini membentuk watak Ki Seng terhadap wanita, dia menghendaki agar semua wanita menyerahkan diri kepadanya seperti yang dilakukan Sian Hwa Sian-li, dengan suka rela dan mesra.

"Akan tetapi engkau telah membiarkan ia pergi, Ki Seng. Bagaimana engkau kelak akan bisa mendapatkannya?"

"Biarlah. Kalau aku sudah menjadi seorang pangeran, tentu aku akan dapat nenemukannya kembali. Dan aku ingin tahu apakah ia akan menolak cinta seorang pangeran kepadanya! Aku ingin ia menyerah dengan suka rela dan membalas cintaku."

Sian Hwa Sian-Li mengerutkan alisnya. Hatinya merasa tidak senang dan tidak enak. Ia merasa cemburu kepada Kiok Hwa yang agaknya demikian dicinta oleH Ki Seng.

"Sekarang, apa yang akan kau lakukan?"

Tanyanya untuk mengalihkan pembicaraan.

"Aku akan segera pergi menghadap Kaisar. Sekarang mari kita makan dulu. perutku terasa lapar sekali."

Sian Hwa Sian-li dan Ki Seng meninggalkan rumah penginapan karena rumah penginapan itu tidak menyediakan restoran.

Akan tetapi mereka tidak perlu berjalan jauh.

Tak jauh dari situ terdapal sebuah rumah makan yang besar.

Siang itu banyak tamu mengunjungi rumah makan itu.

Ki Seng dan Sian Hwa Sian-li mendapatkan meja di sudut, agak terpisah dari ruangan depan yang luas dan penuhi tamu.

Tak jauh dari situ duduk seorang laki-laki berusia enam puluh tahun lebih, seorang diri dan agaknya dia juga masih menanti hidangan yang dipesannya karena di mejanya belum terdapat hidangan, kecuali sebuah guci arak dan cawannya, kakek itu minum arak seorang diri.

Ki Seng duduk dan kebetulan posisi duduknya menghadap ke arah kakek yang duduk seorang diri itu.

Pandang mata mereka bertemu, akan tetapi kakek itu lalu mengalihkan pandangan matanya, sama kali tidak memperhatikan pemuda itu.

Akan tetapi Ki Seng mencuri pandang dengan penuh perhatian.

Sepasang pedang yang tersembul gagangnya di belakang pundak kakek itu menarik perhatiannya, membuat dia memperhatikan kakek itu.

Seorang kakek yang bertubuh kurus tinggi, mukanya kemerahan, dahinya lebar dan sepasang matanya sipit.

Mulutnya seperti tersenyum mengejek dan jenggotnya panjang sampai ke leher.

Sian Hwa Sian-li duduk di depan Ki Seng dan wajah wanita cantik ini tampak muram, mulutnya yang menggairahkan dan penuh nafsu itu sekali ini cemberut.

Seorang pelayan menghampiri mereka dan Ki Seng memesan masakan dan minuman setelah bertanya kepada Sian Hwa Sian-li dan wanita itu mempersilakan dia saja yang memilih macam masakan yang di pesan.

Ketika mereka menanti datangnya hidangan yang mereka pesan, Ki Seng melihat wajah temannya yang cemberut "Eh, Sian-li, kenapa wajahmu muram dan engkau cemberut saja?

Apa yang meng ganggu pikiranmu?"

Tanya Ki Seng yang melihat bahwa kakek di meja depan itu masih asik minum arak dan makan kue kering dengan sikap tidak acuh.

Namun tetap saja dia bicara dengan suara lirih hampir berbisik.

Sama sekali dia tidak pernah mengira bahwa yang duduk di depannya bukan orang biasa, melainkan seorang datuk yang berilmu tinggi sehingga biarpun dia berbisik, datuk itu tetap saja mampu menangkap suaranya.

Apalagi ketika dia menyebut Sian-li (Dewi) kepada temannya.

Kakek itu walaupun tampak tidak mengacuhkan, sebenarnya diam diam memasang telinga dan kadang-kadang mengerling dengan matanya yang sipit sehingga tidak kentara bahwa matanya itu mengerling ke arah meja Ki Seng.

Sian Hwa Sian-li menjawab sambil berbisik pula.

"Perlukah engkau bertanya lagi? Engkau menyakitkan hatiku. Engkau jatuh cinta kepada seorang wanita di depan mataku, sungguh menyakitkan hati sekali!"

Ki Seng mengerutkan alisnya.

"Hemm, jadi engkau cemburu, Sian-li? Bukankah kita tidak saling terikat dan memberi kebebasan kepada masing-masing? Kepada Mei Ling pun engkau tidak cemburu. Kenapa sekarang engkau cemburu kepada gadis itu, padahal aku belum melakukan apa-apa terhadapnya?"

"Justeru itulah yang membuat hatiku panas!"

Kata Sian Hwa Sian-li dan saking marahnya, suaranya agak kuat.

"Andaikata engkau memaksanya menyerah, aku tidak akan cemburu. Akan tetapi tidak, engkau tidak tega memaksanya karena engkau jatuh cinta kepadanya. Gadis itu telah membuat engkau lupa diri. Kalau lain kali aku bertemu dengannya, pasti ia akan kubunuh!"

Ki Seng yang benar-benar jatuh cinta kepada Kiok Hwa, menjadi marah pula mendengar ucapan itu.

"Hemm, kalau engkau hendak membunuhnya, maka aku yang akan membelanya mati-matian! Sian-li, apakah engkau sudah lupa kepada ini?"

Dia menyingkap bajunya memperlihatkan suling kemala yang terselip di pinggangnya.

Melihat benda itu, seketika Sian-li diam dan menundukkan mukanya.

Teringatlah ia bahwa pemuda yang duduk di depannya ini adalah seorang pangeran.

Dan bagi seorang pangeran, tentu saja wajar kalau membagi-bagi cintanya di antara banyak wanita!

Pelayan datang mengantarkan hidangan di atas meja.

"Sudahlah, tidak perlu bicara yang bukan-bukan. Mari kita makan!"

Ajak Ki Seng dan Sian-li menurut tanpa banyak membantah lagi, wajahnya juga tidak semuram tadi.

Ia memaksa diri untuk bermuka manis kembali.

Ki Seng mengangkat muka dan kebetulan ia bertemu pandang dengan kakek itu yang juga sudah mulai makan hidangan yang dipesannya.

Sejenak Ki Seng terkejut melihat sinar mata yang mencorong dari kakek itu.

Akan tetapi kakek itu lalu mengalihkan pandangan dan melanjutkan makan dengan sikap tak acuh sehingga Ki Seng kehilangan kecurigaannya.

Tentu saja Suma Kiang terkejut sekali ketika tadi Ki Seng menyingkap bajunya memperlihatkan suling kemala kepada Sian-li.

Dia segera mengenal suling pusaka kemala itu sebagai milik mendiang Chai Li yang tentu saja terjatuh ke tangan puteranya yang dia tahu bernama Cheng Lin, putera Kaisar Cheng Tung!

Karena itu dia memperhatikan wajah pemuda itu.

Dia masih ingat baik-baik akan wajah Cheng Lin dan yakin benar bahwa biarpun usia dan perawakan pemuda ini sama dengan Cheng Lin, namun wajahnya berbeda.

Apalagi setitik tahi lalat di bawah telinga kanan pemuda ini jelas menunjukkan bahwa dia bukanlah Cheng Lin, putera kaisar!

Bagaimana suling pusaka kemala itu dapat berada di tangan pemuda ini?

Dan pemuda itu memperlihatkan suling pusaka itu kepada teman perempuannya dengan lagak mempengaruhi.

Tentu ada maksud tertentu dengan suling itu bagi pemuda yang tidak dikenalnya ini.

Suma Kiang adalah seorang yang amat cerdik.

Dia segera dapat menduga bahwa pemuda itu mungkin sekali akan mengakui dirinya sebagai Cheng Lin agar diterima kaisar sebagai puteranya.

Pemuda itu hendak memalsukan Cheng Lin yang tidak diketahuinya kini berada di mana, masih hidup ataukan sudah mati.

Dia telah selesai makan.

Akan tetapi sengaja dia atur sehingga selesainya sama waktunya dengan pemuda dan gadis yang sudah selesai makan pula.

Suma Kiang memanggil pelayan dan membayar harga makanan dan minuman.

Akan tetapi dia tidak segera pergi melainkan duduk menghadapi mejanya.

Ketika melihat pemuda dan gadis itu membayar makanan, dia cepat bangkit dan menghampiri meja kasir d mana duduk pengurus rumah makan itu.

Di situ dia minta pinjam alat tulis dan kertas, lalu membuat tulisan pendek, Setelah itu, dia keluar dari rumah maka dan berdiri di tepi jalan.

Kertas bertulis itu dilipatnya beberapa kali.

Ki Seng dan Sian Hwa Sian-li keluar dari rumah makan.

Setelah mereka tiba di tepi jalan, tiba-tiba Ki Seng melihat sebuah benda putih melayang ke arah mukanya.

Cepat dia menangkap benda itu dan mengangkat muka memandang.

Ternyata kakek yang tadi duduk berhadapan meja dengannya itulah yang telah melemparkan benda itu kepadanya.

Benda itu ternyata sehelai kertas yang dilipat-lipat.

Dapat melontarkan kertas seringan itu dari jarak jauh dengan cukup kuat menunjukkan bahwa kakek itu memiliki tenaga sakti yang kuat.

Cepat dibukanya surat itu.

"Apakah itu?"

Tanya Sian Hwa Sian-li yang melihat ketika Ki Seng menangkap benda kecil yang terbang menyambar tadi.

Wanita inipun segera dapat mengetahui siapa pelempar benda itu.

Ki Seng tidak menjawab melainkan membuka surat itu dan membacanya, Sian Hwa Sian-li mendekatkan mukanya dan ikut membaca.

"Aku tahu akan rahasiamu. Ikuti aku keluar kota dan kita bicara tentang Suling Pusaka Kemala!"

Membaca surat itu, tentu saja Ki Seng terkejut bukan main.

Orang itu mengetahui tentang suling pusaka, berarti dia tahu pula bahwa dia bukan Cheng Lin yang asli.

Dia mengangkat muka dan melihat kakek itu sudah melangkah pergi menuju ke pintu gerbang sebelah timur.

"Mari kita ikuti dia!"

Kata Ki Seng kepada Sian Hwa Sian-li dan mereka berdua cepat melangkah dan mengikuti kakek pengirim surat tadi.

Kakek yang kita kenal sebagai Suma Kiang itu berjalan menuju ke pintu gerbang sebelah timur yang sepi keadaannya.

Dia antara ke empat pintu gerbang kota raja, yang paling ramai lalu lintasnya adalah pintu gerbang selatan.

Di pintu gerbang timur ini jarang ada orang berlalu lalang.

Suma Kiang keluar dari pintu gerbang, maklum bahwa dua orang muda itu terus mengikutinya.

Setelah tiba di tempat yang sunyi dan tidak tampak ada orang lain, dia lalu mengerahkan gin-kang (ilmu meringankan tubuh) dan berlari cepat menuju ke sebuah bukit.

Seperti telah diduganya, dua orang muda itu kini juga berlari cepat dan dapat mengimbangi kecepatan larinya.

Setelah tiba di kaki bukit yang amat sepi, dekat sebuah hutan, Suma Kiang berhenti dan membalikkan tubuh, menanti dua orang muda itu yang cepat telah datang di depannya.

Kini Ki Seng berhadapan dengan Suma Kiang.

Keduanya saling pandang dengan penuh perhatian, kemudian Ki Seng bertanya dengan suara lantang.

"Siapakah engkau dan apa maksudmu dengan surat ini?"

"Orang muda, aku telah melihat suling yang kau bawa di pinggangmu itu. Aku mengenal suling itu sebagai suling pusaka kemala. Suling itu milik Kaisar Cheng Tung yang diberikan kepada isterinya yang bernama Chai Li dan kemudian diberikan kepada putera mereka bernama Cheng Lin. Bagaimana suling pusaka kemala itu dapat berada di tanganmu?"

Bukan main kagetnya hati Ki Seng mendengar ucapan itu.

Kakek itu ternyata telah mengetahui dengan jelas akan riwayat suling pusaka kemala, Bahkan agaknya tahu benar tentang Pangeran Cheng Lin, ibunya dan ayahnya.

Teringatlah dia akan cerita Han Lin tentang ibunya yang tewas oleh seorang musuh besarnya bernama Suma Kiang!

"Akulah Pangeran Cheng Lin.

Chai Li adalah mendiang ibuku dan Kaisar Cheng Tung adalah ayahku!"

Kata Ki Seng. Dia harus mati-matian mempertahankan pengakuannya sebagai Pangeran Cheng Tung karena di situ terdapat pula Sian Hwa Sian-li.

"Ha-ha-ha! Aku mengenal siapa itu Pangeran Cheng Lin. Bukan engkau. Pangeran Cheng Lin yang aseli tidak mempunyai tahi lalat di bawah telinga kanannya dan wajahnya juga beda darimu! Ha-ha-ha!"

Suma Kiang menertawakan Ki Seng. Wajah Ki Seng berubah merah.

"Kakek jahanam pembohong! Akulah Pangeran Cheng Lin dan aku tahu siapa engkau! Engkau tentu jahanam Suma Kiang yang telah menyebabkan tewasnya ibu kandungku Puteri Chai Li!"

"Benar, akulah Huang-ho Sin-liong (Naga Sakti Sungai Kuning) Suma Kiang. Serahkan suling pusaka kemala kepadaku atau terpaksa aku akan membunuhmu!"

"Suma Kiang, hari ini engkau harus menebus dosamu terhadap ibuku. Aku akan membalas dendam atas kematian ibuku!"

Setelah berkata demikian, Ki Seng segera menyerang dengan dahsyatnya.

Pemuda ini tahu bahwa dia harus membunuh Suma Kiang yang telah mengetahui rahasianya bahwa dia bukan Pangeran Cheng Lin yang aseli!

Maka begitu menyerang dia telah mempergunakan ilmu silat Sin-liong-ciang-hoat (Ilmu Silat Naga Sakti) yang gerakannya amat hebat dan kuat.

Melihat datangnya serangan yang membawa angin pukulan dahsyat itu, Suma Kiang terkejut bukan main.

Dia segera dapat mengenal serangan ampuh, maka cepat dia bergerak mengelak dan membalas dengan ilmu silat Ciu-siai Ciang-hoat (Ilmu Silat Dewa Mabok) yang gerakannya aneh seperti orang mabok.

"Hyaaattt....!"

Suma Kiang balas menyerang dengan pengerahan tenaga sepenuhnya karena dia ingin segera membunuh pemuda yang agaknya merupakan lawan tangguh ini.

Diserang dengan pukulan yang amat kuat itu, Ki Seng tidak mengelak melainkan menyambut pukulan itu dengan tangkisan sambil mengerahkan tenaga saktinya.

"Wuuutttt..... desss.....!!"

Suma Kiang terkejut bukan main karena benturan lengan itu membuat dia terhuyung ke belakang sedangkan pemuda itu masih tetap berdiri dengan tegak.

Hampir dia tidak dapat percaya akan kenyataan ini.

Dia tadi telah mengerahkan seluruh tenaganya karena bermaksud untuk membunuh pemuda itu dengan sekali pukul.

Akan tetapi ternyata pemuda itu bukan hanya dapat menangkis pukulannya, bahkan dapat membuat dia terhuyung.

Suma Kiang adalah seorang yang terbiasa mengagulkan diri dan kepandaian sendiri.

Dia menjadi penasaran sekali dan tidak mau mengaku bahwa dia kalah kuat.

Dia tidak percaya bahwa dirinya kalah oleh seorang lawan yang masih begitu muda.

Yang pantas menjadi cucunya!

Sambil mengeluarkan suara gerengan seperti binatang buas yang terluka, Sum Kiang melompat dan menerjang maju mengeluarkan semua jurus simpanannya dan mengerahkan seluruh tenaganya untuk menyerang dengan ilmu Ciu-sia Ciang-hoat yang dapat membingungkan lawan karena, gerakannya yang aneh itu.

Ki Seng yang maklum akan ketangguhan lawan, tidak berani memandang rendah dan diapun melawan dengan terus memainkan Sin-liong Ciang-hoat.

Terjadilah perkelahian yang amat seru.

Sian Hwa Sian-li yang menonton menjadi semakin kagum kepada kekasihnya itu.

Ia dapat melihat betapa tangguhnya kakek itu, akan tetapi Ki Seng sama sekali tidak tampak terdesak, bahkan sebaliknya pemuda itu mulai mendesak lawannya setelah pertandingan itu berlangsung tiga puluh jurus lebih.

"Haiiitt....!"

Tiba-tiba Suma Kiang melakukan serangan totokan dengan satu jari.

Ki Seng cepat mengelak dengan cepat dan heran karena dia mengenal jurus serangan ilmu It-yang-ci (Totokan Satu jari).

Akan tetapi melihat betapa jurus It-yang-ci itu tidak begitu sempurna, dia-pun lalu mengeluarkan ilmu It-yang-ci yang dipelajarinya dari Cheng Hian Hwesio, membalas serangan lawan.

jurus It-yang-ci yang dia pergunakan lebih hebat karena sudah dia campur dengan Bin-tok-ciang (Tangan Selaksa Racun) sehingga totokan It-yang-ci yang dipergunakan Ki Seng itu mengandung hawa beracun yang amat jahat.

Kini giliran Suma Kiang yang kaget setengah mati melihat betapa Ki Seng juga mempergunakan It-yang-ci, bahkan lebih dahsyat dari pada serangannya sendiri.

Karena kewalahan dan maklum bahwa kalau dia sampai terkena totokan It-yang-ci yang mengandung hawa panas luar biasa itu dia dapat celaka, Suma Kiang mencabut sepasang pedangnya dan memainkan Coa-tok Siang-kiam (Sepasang Pedang Racun Ular) yang amat dahsyat itu.

Sepasang pedang itu bagaikan dua ekor ular yang mematuk-matuk dari segala jurusan.

Gerakannya amat cepat dan juga mengandung tenaga yang amat kuat.

Melihat dirinya dihujani serangan dua sinar pedang yang bergulung-gulung itu, Ki Seng maklum bahwa lawannya ini benar-benar amat lihai.

Maka, diapun segera mengerahkan sin-kang dan memainkan ilmu silat Sin-liong Ciang-hoat (Ilmu Silat Naga Sakti) dengan menggunakan tenaga Pek-in Hoat-sut (Ilmu Sihir Awan Putih).

Hebat bukan main ilmu silat yang dimainkan Ki Seng dengan tenaga yang mengandung kekuatan sihir itu.

Kedua tangannya mengeluarkan uap putih yang tebal dan uap itu mengandung tenaga luar biasa, membuat sepasang pedang di tangan Suma Kiang selalu terpental kalau sinarnya bertemu dengan uap putih itu.

Suma Kiang menjadi semakin terkejut.

Tak disangkanya pemuda yang memalsu putera kaisar ini memiliki ilmu kepandaian yang demikian hebatnya.

Dengan kedua tangan kosong pemuda itu mampu melawan sepasang pedangnya yang telah mengangkat namanya menjadi datuk persilatan yang jarang bertemu tanding.

Dia penasaran sekali dan masih mencoba berlaku nekat dan melawan sambil menghujankan serangan dengan jurus-jurus pilihan.

Namun, semua serangannya gagal, bahkan akhirnya, setelah lewat lima puluh jurus dalam perkelahian yang amat seru, dia sendiri yang mulai terdesak oleh uap putih tebal itu.

Karena tidak ingin roboh di tangan pemuda itu, kemungkinan yang besar sekali mengingat bahwa pemuda itu masih mempunyai teman wanita cantik yang belum turun tangan, Suma Kiang mengeluarkan seruan yang disertai kekuatan sihirnya.

"Berhenti!!!"

Seruan itu kuat sekali pengaruhnya sehingga biarpun Ki Seng juga memiliki kekuatan sihir, namun bentakan itu sempat membuat dia menghentikan gerakannya sejenak.

Kesempatan itu dipergunakan Suma Kiang untuk melompat dan melarikan diri ke dalam hutan lebat di samping jalan.

Hutan itu lebat dan gelap maka Ki Seng tidak berani melakukan pengejaran.

Selain dia tidak mempunyai urusan dengan Suma Kiang, juga mengejar lawan yang amat lihai di dalam hutan yang gelap itu amat berbahaya baginya.

"Ki Seng, mengapa tidak kejar dia?"

Sian Hwa Sian-li bertanya.

"Kim Goat, mengejarnya merupakan kebodohan."

Kata Ki Seng yang kadang menyebut nama aseli wanita itu dan kadang hanya menyebut Sian-li saja.

"Kenapa merupakan kebodohan? Bukankah engkau tadi sudah mulai dapat mendesaknya?"

Tanya Kim Goat atau Sian Hwa Sian-li.

"Engkau melihat sendiri betapa lihainya orang itu. Setelah bersusah payah demikian lamanya, barulah aku mulai dapat mendesaknya. Akan tetapi kalau mengejar seorang lawan selihai itu dalam sebuah hutan lebat yang asing bagiku, hal itu merupakan perbuatan bodoh dan berbahaya sekali. Dia dapat menyebabkan aku terjebak, juga dia dapat menyerangku secara tiba-tiba. Hal itu berbahaya sekali."

"Akan tetapi dia tadi menuduhmu yang bukan-bukan, mengatakan bahwa engkau bukan pangeran putera kaisar!"

Kata Sian Hwa Sian-li dengan khawatir.

"Dan engkau percaya? Bodoh sekali! Dia sudah lupa kepadaku karena ketika kami bertemu dahulu, aku masih kecil. Dia adalah seorang yang teramat licik dan jahat. Sayang aku tadi belum berhasil membunuhnya."

"Siapa sih sebetulnya orang itu, Ki Seng?"

"Namanya Suma Kiang. Dialah orangnya yang memaksa ibu kandungku meninggalkan perkampungan Mongol di utara, bahkan kemudian dia mengejar-ngejar ibu sampai akhirnya ibu terjatuh ke dalam jurang dan tewas. Dia yang menyebabkan kematian ibu kandungku!"

"Aku khawatir, orang yang licik itu akan merupakan ancaman bahaya bagimu, Ki Seng. Kita harus berhati-hati sekali. Aku dengar banyak sekali terdapat orang orang yang berkepandaian tinggi di kota raja. Siapa tahu Suma Kiang itu mempunyai teman-teman yang juga amat lihai."

Ki Seng mengangguk.

"Karena itu, aku harus secepat mungkin menghadap Kaisar. Kalau Kaisar sudah menerimaku sebagai puteranya dan menjadi pangeran. siapa yang akan dapat menggangguku? Malam ini kita bermalam di rumah penginapan dan besok pagi aku akan berusaha untuk menghadap Kaisar. Engkau tinggal saja di rumah penginapan agar tidak menarik perhatian. Nanti kalau aku sudah diterima sebagai pangeran, akar kucarikan jalan agar engkau dapat pula masuk istana."

Mereka kembali ke kota raja dan memasuki kamar mereka di rumah penginapan An Lok.

Mereka menyewa sebuah kamar nomor sebelas dengan mengaku sebagai suami isteri, maka ketika mereka masuk ke kamar itu, seorang pelayan yang melihatnya tidak menaruh curiga apapun.

Setelah tiba di dalam kamar dan menutupkan daun pintu, Sian Hwa Sian-li segera menuntun Ki Seng duduk di tepi pembaringan dan wanita itu dengan sikap manja merangkulnya.

"Ki Seng, benarkah engkau akan mengusahakan agar aku dapat masuk ke dalam istana? Jangan-jangan setelah engkau menjadi pangeran dalam istana, engkau akan melupakan aku begitu saja!"

Ki Seng memeluk dan mencium wanita itu.

"Aih, Kim Goat! Bagaimana mungkin aku dapat melupakanmu? Engkau adalah pembantuku yang utama, pembantuku yang cantik manis, yang kusayang. Tidak mungkin aku melupakanmu, kau tunggu sajalah besok di sini, aku pasti akan datang menjemputmu!"

Mereka berangkulan dan bermesraan seperti biasa.

Setelah melalui pasukan pengawal yang berlapis-lapis, akhirnya Ki Seng dapat membujuk para perwira yang bertugas menjaga keamanan istana untuk dibawa menghadap kaisar.

Kepada para perwira itu dia menyatakan bahwa dia datang membawa berita yang teramat penting bagi Kaisar dan sebagai tanda bahwa dia memiliki hubungan dekat dan dipercaya oleh Kaisar, dia memperlihatkan Suling Pusaka Kemala yang dibawanya.

Melihat suling milik Kaisar itu akhirnya para panglima yang bertanggung jawab atas keselamatan Kaisar mengawal Ki Seng menghadap.

Dua orang panglima yang bertugas menjaga keselamatan Kaisar mengawal Ki Seng ke ruangan di mana Kaisar biasanya menerima pelaporan-pelaporan dari para pembantunya.

Biarpun dia seorang pemuda yang tabah dan penuh keberanian, namun sekali ini, memasuki istana yang dilengkapi perabotan yang serba indah dan megah, di mana-mana terdapat perajurit pengawal yang berpakaian indah dan gagah, dia merasa dirinya kecil dan timbul perasaan rendah diri.

Sayang dia tidak mungkin mengajak Sian Hwa Sian-li untuk bersama-sama menghadap Kaisar, pikirnya.

Kalau ada wanita yang penuh pengalaman itu, dia tentu tidak akan merasa demikian gugup.

Lebih lagi ketika kedua orang panglima itu membawanya memasuki sebuah ruangan yang luas di mana sang kaisar duduk di atas singasana.

Kemewahan dan kemegahan ruangan yang indah itu, keagungan kaisar yang duduk dengan sikap berwibawa sekali, dihadap beberapa orang menteri dan di pinggir ruangan di kanan kiri duduk para perajurit pengawal, di belakang berderet pula pasukan thaikam, membuat hati Ki Seng merasa tegang luar biasa.

Jantungnya berdegup kencang dan timbul perasaan takut dalam hatinya kalau dia teringat bahwa dia datang sebagai Cheng Lin yang palsu!

Dua orang panglima itu berbisik kepadanya agar dia menjatuhkan diri berlutut.

Dia segera berlutut bersama dua orang, panglima itu.

Pembesar yang bertugas menjaga dan mengatur ketertiban di ruangan persidangan itu lalu dengan suara lantang melapor kepada Kaisar.

Dia sudah diberi-tahu oleh seorang pengawal tadi bahwa Ki Seng mohon menghadap Kaisar dengan membawa berita yang teramat penting.

Tentu saja Kaisar mengerutkan alis dengan heran dan juga tidak senang karena persidangannya terganggu oleh datangnya seorang pemuda yang mohon menghadap kepadanya.

Akan tetapi karena pemuda itu menyatakan bahwa dia datang menghadap membawa berita yang teramat penting, sebagai seorang kaisar yang bijaksana Kaisar Cheng Tung lalu bertanya.

"Orang muda, siapakah engkau!"

Ki Seng menekan perasaan takutnya dan menjawab sambil menunduk, suaranya terdengar tegas dan tenang.

"Hamba bermarga Cheng, bernama Lin, Yang Mulia."

Kaisar Cheng Tung mengerutkan alisnya lebih dalam lagi dan matanya memandang pemuda itu penuh perhatian.

Bahkan semua pembesar yang duduk menghadap di situ, semua mengerling ke arah pemuda itu dengan hati bertanya-tanya.

"Engkau bernama Cheng Lin? Datang dan berasal dari mana?"

"Hamba berasal dari perkampungan Mongol di utara, Yang Mulia."

Kerut di kening Kaisar Cheng Tung semakin mendalam.

Kaisar berusia kurang lebih lima puluh tahun itu tentu saja segera teringat akan pengalamannya sekitar dua puluh tahun yang lalu.

Teringatlah dia betapa ketika itu dia meninggalkan seorang wanita Mongol yang diper-isterinya dan wanita itu dalam keadaan mengandung.

Dia meninggalkan pesan kepada isterinya itu bahwa kalau isterinya melahirkan seorang putera agar diberi nama Cheng Lin!

Dia masih ingat semuanya karena dia mencinta wanita Mongol itu.

Akan tetapi, ketika dia berkehendak mendatangkan isterinya itu ke kota raja dan tinggal di istana sebagai isterinya yang sah, para penasihatnya mencegah dan mengingatkannya bahwa hal itu akan merendahkan derajatnya.

Dan ia menyetujui para penasehat itu.

Dia lalu memandang kepada menteri yang duduk menghadapnya.

Mereka telah menyampaikan pelaporan masing-masing sebelum pemuda itu datang, maka dia lalu berkata kepada mereka sambil menggerakkan tangan.

"Kalian semua boleh meninggalkan ruangan ini. Kami ingin berbincang-bincang dengan pemuda ini berdua saja."

Mendengar peritah itu, semua pejabat memberi hormat lalu pergi dengan perasaan heran.

Segera ruangan itu menjadi sunyi.

Yang ada hanya Kaisar Cheng Tung bersama Ki Seng.

Tentu saja belasan orang perajurit pengawal pribadi kaisar masih berjaga di dekat pintu-pintu ruangan itu.

Akan tetapi mereka ini adalah pengawal-pengawal pribadi yang amat rahasia, pengawal-pengawal thaikam yang berkepandaian silat tinggi dan mereka seperti robot-robot saja.

Mereka tidak akan perduli bahkan tidak memperhatikan semua percakapan antara kaisar dan tamunya, akan tetapi mereka selalu waspada terhadap keselamatan kaisar.

Menjaga dan menyelamatkan kaisar dari bahaya, itulah satu-satunya tugas mereka yang akan mereka laksanakan dengan taruhan nyawa.

Setelan semua pejabat pergi, dan setelah memandang ke sekelilingnya, Kaisar Cheng Tung memandang Ki Seng yang masih menundukkan mukanya.

"Nah, sekarang semua orang telah pergi, tinggal kita berdua yang berada di sini. Orang muda, kenapa engkau menghadap kami tanpa dipanggil dan berita penting apakah yang hendak kau sampaikan kepada kami?"

Dengan jantung berdebar penuh ketegangan Ki Seng menjawab.

"Yang Mulia, hamba berani menghadap paduka karena hamba ingin memenuhi pesan terakhir ibu hamba dan berita yang hendak hamba sampaikan kepada paduka adalah bahwa ibu hamba telah meninggal dunia."

"Siapa ibumu itu?"

Tanya Kaisar Cheng Tung dan dalam suaranya terkandung nada gemetar.

"Nama mendiang ibu adalah Puteri Chai Li, keponakan kepala suku Kapokai Khan, Yang Mulia."

"Ahh.....!"

Kaisar Cheng Tung tidak dapat menahan kekagetan dan kedukaannya.

Terbayanglah wajah Chai Li yang pernah dicintanya dan dia menggunakan kedua tangan untuk menutupi mukanya.

Tak lama kemudian dia menurunkan kedua tangannya memejamkan kedua matanya yang tampak agak basah.

"Coba angkat mukamu!"

Perintah Kaisar Cheng Tung kepada Ki Seng yang sejak tadi menundukkan muka, tidak berani menatap wajah kaisar yang berwibawa itu.

Ki Seng mengangkat mukanya dan dia bertemu pandang dengan sepasang mata Kaisar Cheng Tung, membuat pemuda itu merasa bulu tengkuknya meremang.

Kaisar Cheng Tung memperhatikan wajah Ki Seng.

Seorang pemuda yang cukup tampan dan gagah.

Dia sudah dapat menduga dari tadi bahwa pemuda ini tentu putera Chai Li, puteranya.

Akan tetapi dia tidak dapat menerimanya begitu saja tanpa bukti yang pasti.

"Jadi engkau ini adalah Cheng Lin putera Puteri Chai Li?"

Tanyanya. Dengan mengerahkan kekuatannya Ki Seng mempertahankan diri sehingga tetap mengangkat mukanya.

"Benar sekali Yang Mulia. Hamba putera ibu Chai Li satu-satunya."

"Dan tahukan engkau siapa ayah kandungmu?"

Tanya Kaisar Cheng Tung dengan pandang mata tajam seolah hendak menembus melalui mata Ki Seng untuk menjenguk isi hatinya.

"Hamba...... hamba tidak berani, Yang Mulia....."

Kata Ki Seng sambil menundukkan mukanya, dan suaranya gemetar.

"Hemm, katakan saja siapa ayah kandungmu, jangan takut asalkan engkau tidak berbohong. Awas, kalau engkau membohong dan hendak menipu, engkau akan dihukum berat!"

Kata Kaisar Cheng Tung.

"Menurut ibu hamba...... ketika ibu hamba hendak meninggal..... beliau mengatakan..... bahwa..... bahwa ayah hamba adalah...... paduka yang mulia sendiri."

"Hemm, orang muda. Tidak semudah itu untuk mengaku sebagai seorang puteraku! Apa buktinya bahwa engkau ini benar Cheng Lin putera Puteri Chai Li dan putera kami? Engkau harus mampu membuktikannya!"

"Ampun, Yang Mulia.,. Hamba hanya mendengar semua ini dari mendiang ibu hamba. Ibu hamba yang menceritakan bahwa hamba adalah putera yang mulia Sri Baginda Kaisar Cheng Tung. Ibu hamba menceritakan bahwa paduka meninggalkan ibu ketika ibu sedang mengandung hamba dan paduka ada meninggalkan sebuah suling pusaka kemala kepada ibu hamba. Inilah suling pusaka kemala itu Yang Mulia."

Ki Seng mencabut suling yang suda dipersiapkannya dari ikat pinggangnya dan menyerahkan benda itu dengan kedua tangan kepada Kaisar Cheng Tung.

Dengan tangan kanan yang gemetar Kaisar Cheng Tung menerima suling kemala itu, mengamatinya dan setelah yakin bahwa itu benar sulingnya yang pernah dia berikan kepada Chai Li, dia memejamkan matanya dan menekan suling itu ke dadanya.

Seolah terngiang dalam telinganya ketika Chai Li meniup suling itu, memainkan lagu Mongol yang dia sudah lupa lagi namanya.

Setelah agak lama dan Kaisar Cheng Tung dapat menenteramkan lagi hatinya dia memandang kepada Ki Seng yang sudah menundukkan lagi mukanya dan berkata, suaranya terdengar ramah.

"Cheng Lin, engkau memang benar putera mendiang Chai Li, engkau putera kami. Terimalah suling ini."

Ki Seng mengangkat mukanya dan menerima suling itu dengan hati berdebar girang.

"Beribu terima kasih hamba haturkan, Yang Mulia, bahwa paduka sudah menerima hamba sebagai putera paduka yang mulia."

"Bangkitlah, Cheng Lin dan mari ikut kami ke dalam, kami perkenalkan kepada seluruh keluarga istana."

Kaisar bangkit berdiri dan Ki Seng juga berdiri.

Kaisar memberi isarat kepada para pengawal pribadinya dan perlahan-lahan kaisar berjalan masuk ke bagian dalam istana, di ikuti oleh Ki Seng dan para pengawal yang belasan orang banyaknya itu.

Dengan jantung berdebar-debar karena tegang dan girang, juga agak rendah diri, Ki Seng diperkenalkan kepada seluruh keluarga Kaisar di istana!

Ki Seng diperkenalkan sebagai Pangeran Cheng Lin dan diterima secara sah oleh keluarga bangsawan tinggi itu.

Dia mendapatkan sebuah kamar tersendiri, juga pakaian yang biasa dipakai seorang pangeran dan masih banyak lagi barang yang indah indah diterimanya.

Ki Seng merasa bagaikan terbang ke angkasa.

Kepalanya terasa membesar dan dadanya makin membusung ketika dia diperlakukan dengan sikap hormat oleh semua perajurit pengawal istana dan para pelayan yang amat banyak jumlahnya.

Juga hatinya gembira bukan main ketika dia diperkenalkan dengan belasan orang puteri-puteri istana yang menjadi adik-adiknya.

Puteri-puteri yang cantik jelita, membuat dia merasa seperti dirubung serombongan bidadari.

Biarpun lima orang pangeran putera Kaisar Cheng Tung menerimanya dengan pandang mata yang tampaknya tidak senang, dia tidak perduli.

Hanya lima orang pangeran itu yang menyambutnya dengan senyum merendahkan dan tampaknya tidak senang, akan tetapi sisa keluarga yang lain semua menerimanya dengan ramah.

Sehari penuh itu dihabiskan waktunya oleh Ki Seng untuk berjalan-jalan, ditemani seorang thai-kam sebagai penunjuk jalan, memeriksa seluruh istana sampai ke dalam taman-tamannya yang luas dan indah.

Dia merasa seperti hidup dalam sorga.

Dia mendapat sebuah kamar yang indah, luas dan megah dalam sebuah bangunan yang khusus menjadi tempat tinggal para pangeran.

Bersama lima orang pangeran lainnya dia tinggal di situ dan dia mulai memperhatikan dan mempelajari keadaan lima orang "saudara"

Isterinya itu.

Dua orang pangeran lebih tua darinya, berusia dua puluh lima dan dua puluh tujuh tahun, sedang yang tiga lagi lebih muda darinya, berusia antara tujuh belas sampai dua puluh tahun.

Lima orang pangeran itu agaknya memandang rendah kepadanya.

Ki Seng yang cerdik maklum bahwa hal itu mungkin karena "ibunya"

Seorang Mongol.

Dia tidak merasa takut kepada mereka.

Dia harus dapat menyesuaikan diri di dalam istana dan di antara keluarga Kaisar.

Setelah dapat menyesuaikan diri, barulah dia akan mengatur siasat, apa yang selanjutnya akan dia lakukan.

Dia juga melihat bahwa hanya para pangeran yang belum menikah saja yang tinggal dalam bangunan untuk pangeran itu.

Demikian pula puteri-puterinya, yang belum menikah tinggal bersama dalam sebuah bangunan.

Adapun puteri yang sudah menikah lalu keluar dari bangunan itu dan tinggal dalam bangunan lain bersama suami dan anaknya, walaupun masih dalam kompleks istana.

Akan tetapi, kesenangan dan kepuasan yang memenuhi hati Ki Seng yang kini menjadi "Pangeran Cheng Lin"

Itu mulai menipis setelah lewat dua hari saja.

Namanya bukan sifat nafsu kalau merasa puas dan cukup.

Nafsu memang selalu mendorong kita untuk mendapatkan apa yang kita kejar dan inginkan, akan tetapi kalau yang kita kejar sudah terdapat, maka kepuasan yang ditimbulkannya hanya bertahan sebentar saja.

Segera kepuasan itu lenyap terganti kehausan untuk mengejar yang lain lagi, yang kita anggap akan lebih menyenangkan daripada apa yang sudah kita peroleh.

Nafsu adalah kelaparan yang tak kunjung kenyang.

Cawan tanpa dasar sehingga diisi berapapun takkan pernah penuh.

Demikian pula dengan Ki Seng.

Tadinya dia mengejar kedudukan pangeran dan untuk memperoleh kedudukan yang dianggap akan amat menyenangkan itu, dia tidak segan untuk mencuri suling pusaka, tidak segan untuk menipu kaisar.

Akan tetapi setelah kedudukan pangeran itu dia peroleh, kepuasan dan kesenangan akan hasilnya hanya berlangsung sebentar saja karena sudah tertutup oleh keinginan lain untuk memperoleh sesuatu yang dia anggap akan lebih memuaskan dan menyenangkan.

Setelah kini menjadi pangeran, dia membayangkan betapa akan senang dan nikmatnya kalau dia dapat menjadi pengganti kaisar.

Dia menjadi kaisar!

Bukan hanya mimpi kosong, karena dia sekarang telah menjadi seorang pangeran Dan kaisar tentu selalu mewariskan tahta kerajaannya kepada seorang di antara putera-puteranya!

Yaitu, seorang di antara dia dan saudara-saudara tirinya!

Dia harus mencari jalan agar warisan tahta itu dapat terjatuh ke tangannya.

Bayangan akan kesenangan menjadi kaisar ini sekaligus menghapus semua kesenangan menjadi pangeran.

Pangeran Cheng Boan yang sudah berusia empat puluh delapan tahun itu memasuki gedungnya yang megah dengan muka merah dan mulut cemberut.

Ketika pelayan menyambutnya, dia memandang dengan mata melotot sehingga pelayan itu menjadi ketakutan, maklum bahwa majikannya sedang marah.

Maka dia hanya berdiri di pinggir memberi hormat, membiarkan majikannya lewat memasuki rumah.

"Cepat panggil Suma Lo-sicu (Orang Tua Gagah Suma) ke sini. Cepat! Suruh dia langsung masuk ke kamar kerjaku!"

Bentak Pangeran Cheng Boan kepada pelayan tua itu. Pelayan itu membungkuk dalam dan berkata penuh hormat.

"Baik, yang mulia pangeran!"

Pangeran Cheng Boan dengan uring-uringan langsung memasuki kamar kerjanya.

Pangeran ini seorang laki-laki bertubuh tinggi gendut dengan wajah bunda dan kekanak-kanakan.

Akan tetapi matanya tajam dan membayangkan kecerdikan dan kelicikan.

Pakaiannya mewah sekali Dia adalah seorang adik dari Kaisar Cheng Tung yang terlahir dari seorang selir.

Karena dia pandai mengambil hati kakaknya yang berkuasa, maka Kaisar Cheng Tung memberi kedudukan yang cukup penting kepadanya.

Dia menjadi pengawas keuangan kerajaan.

Pangeran Cheng Boan mempunyai seorang isteri yang memberinya seorang putera, yaitu Cheng Kun atau yang biasa disebut Cheng Kongcu yang sudah kita kenal sebagai tunangan dari Lo Siang Kui saudara sepupu Lo Sian Eng.

Selain isterinya yang menjadi ibu Cheng Kun, Cheng Boan juga mempunyai tujuh orang selir, namun tak seorangpun dari tujuh orang selir yang masih muda-muda dan cantik-cantik itu menurunkan anak.

Cheng Kun menjadi anak tunggal yang amat dimanja.

Begitu memasuki kamar kerjanya, Pangeran Cheng Boan menjatuhkan dirinya di atas sebuah kursi besar dan meneriaki pelayannya.

Seorang pelayan wanita berlari-lari memasuki kamar itu.

Setelah membungkuk dengan hormat, wanita pelayan itu bertanya.

"Perintah apa yang harus hamba lakukan, yang mulia?"

Pangeran Cheng Boan, walaupun hanya seorang pangeran, namun dia mengharuskan para pelayan dan pengawalnya bersikap hormat kepadanya seperti orang menghormati kaisar.

"Cepat ambilkan huncwe, tembakau dan peralatannya. Aku mau isap. Cepat!"

Pelayan yang sudah biasa melayaniangeran itu bergegas mengambilkan huncwe (pipa tembakau), tembakau, pemuat api dan dengan cekatan ia memasukkan tembakau ke dalam kepala huncwe, menyerahkannya kepada pangeran itu, kemudian menyulut tembakau.

Pangeran Cheng Boan menyedot huncwenya dan matanya terpejam dengan nikmatnya ketika asap tembakau itu memasuki paru-parunya.

Pelayan itu lalu mengundurkan diri sambil membungkuk-bungkuk karena pada saat itu masuk seorang pemuda yang bukan lain adalah Cheng Kun yang baru pulang dari kebiasaannya sehari-hari, yaitu pergi melancong ke mana saja bersenang-senang dengan kawan-kawannya sesama pemuda bangsawan di kota raja.

"Hemm, engkau baru muncul, Chenji Kun? Tadi kucari-cari tidak ada. Kemana saja engkau?"

Tegur Pangeran Cheng Boan.

"Aku pergi melancong dengan teman-teman, ayah. Ada keperluan apakah ayah mencariku?"

Tanya pemuda bangsawan itu.

"Kita diundang Kaisar."

"Aku juga, ayah?"

"Ya, engkau dan aku. Ibumu tidak-masuk hitungan."

"Eh, ada urusan apakah Paman Kaisar mengundang kita?"

"Itulah yang mengesalkan hatiku. Kita diperkenalkan dengan seorang pangeran baru."

"Pangeran baru? Bibi yang manakah yang melahirkan putera?"

"Tidak ada isteri Kaisar yang melahirkan. Pemuda itu seperti muncul dari neraka. Dia adalah anak dari wanita Mongol yang pernah diperisteri Kaisar ketika dia ditawan orang-orang Mongol di utara, dua puluh tahun yang lalu. Sialan benar! Bocah keturunan Mongol itu kini menjadi seorang pangeran yang harus dihormati!"

Suara Pangeran Cheng Boan mengandung kemarahan dan penasaran besar.

Pada saat itu muncullah Suma Kiang yang tadi dipanggil oleh pelayan yang disuruh Pangeran Cheng Boan.

Suma Kiang memberi hormat sambil membungkuk dan bertanya dengan nada menghormat.

"Yang mulia Pangeran mengundang saya?"

Pangeran Cheng Boan memandang wajah Suma Kiang dengan muka cemberut.

"Suma-sicu, duduklah."

Katanya pendek dan dari sikap ini saja tahulah Suma Kiang bahwa majikannya ini sedang berada dalam keadaan marah besar.

Diapun duduk di atas kursi, berhadapan dengan Pangeran Cheng Boan dan Cheng Kun.

Setelah jagoannya itu duduk, Pangeran Cheng Boan segera melontarkan rasa penasaran di hatinya.

"Suma-sicu, semua ini gara-gara kegagalanmu ketika dua puluh tahun yang lalu engkau kuutus untuk membunuh wanita Mongol dan anaknya itu. Gara-gara kegagalanmu itulah sekarang pemuda itu muncul menuntut haknya dan dia diterima oleh Kaisar sebagai seorang pangeran yang sah!"

"Pemuda yang manakah paduka maksudkan?"

Tanya Suma Kiang dengan sikapnya yang tenang.

"Pemuda mana lagi kalau bukan si keparat anak perempuan Mongol itu!"

Bentak Pangeran Cheng Boan.

"Bagaimana dia dapat diterima oleh Yang Mulia Kaisar? Apa buktinya bahwa dia itu benar-benar Pangeran putera Kaisar dari ibu wanita Mongol itu? Apakah ada tanda-tandanya, Pangeran?"

"Buktinya sudah jelas dan dapat diterima oleh Kaisar. Pemuda itu membawa Suling Pusaka Kemala, milik Kaisar yang dulu oleh Kaisar diberikan kepada wanita Mongol, ibu pemuda itu. Nama pemuda itu Cheng Lin, Pangeran Cheng Lin!"

Segera Suma Kiang teringat akan pemuda pembawa suling kemala yang dijumpainya pada hari kemarin.

Sekarang tahulah dia bahwa pemuda yang dia tahu bukan putera Chai Li yang sesungguhnya itu telah memperdaya kaisar dengan menunjukkan suling kemala dan mengaku sebagai Pangeran Cheng Lin putera Puteri Chai Li.

"Dia bukan putera wanita Mongol itu! Dia adalah Pangeran Cheng Lin yang palsu!"

Seru Suma Kiang.

"Suma-sicu! Jangan bicara sembarangan! Pemuda itu telah membawa bukti suling kemala dan dia sudah diterima oleh Kaisar sebagai puteranya dan kini menjadi pangeran!"

Suma Kiang tertawa sehingga matanya menjadi semakin sipit, hampir terpejam dan tangan kirinya mengelus jenggotnya yang panjang.

"Ha-ha-ha! Saya berani tanggung bahwa dia bukan putera wanita Mongol itu. Saya telah bertemu dengan pangeran palsu itu kemarin, Pangeran, bahkan sudah sempat bertanding silat dengannya. Ternyata dia lihai bukan main. Akan tetapi dia bukanlah Pangeran Cheng Lin walaupun dia benar membawa suling pusaka kemala yang entah bagaimana telah terjatuh di tangannya. Saya sudah pernah bertemu dengan pangeran yang aseli, putera dari Chai Li wanita Mongol itu. Yang sekarang mengaku pangeran dan diterima oleh Kaisar sebaga puteranya jelas bukan yang aseli. Yang palsu ini mempunyai setitik tahi lalat di bawah telinga kanannya, sedangkan yang aseli tidak memiliki tahi lalat di mukanya. Saya mengenal betul Pangeran Cheng Lin yang aseli, yang menggunakan nama Han Lin. Maka saya berani memastikan dengan yakin bahwa pemuda yang mengaku Pangeran Cheng Lin dan diterima oleh Sribaginda Kaisar itu adalah pangeran palsu."

"Keparat!"

Pangeran Cheng Boan mengepal tinju dan memukul pahanya sendiri.

"Aku akan membongkar rahasia jahanam itu agar dia dijatuhi hukuman mati!"

"Biar sekarangpun juga aku pergi membawa pengawal dan menghadap Sri baginda Kaisar untuk melaporkan hal itu, ayah. Aku sendiri yang akan menghajar hocah palsu itu!"

Kata Cheng Kun dengan marah.

"Cheng Kongcu harap sabar dulu."

Kata Suma Kiang.

"Sabar? Engkau menyuruh Cheng Kun bersabar menghadapi seorang yang memalsukan pangeran?"

Tegur Pangeran Cheng Boan sambil mengerutkan alis memandang kepada Suma Kiang.

"Harap paduka tenang dulu, Pangeran. Menghadapi segala hal, kita perlu bersikap tenang dan dapat memanfaatkan segala keadaan. Paduka sudah tahu akan rahasia pangeran palsu itu, berarti nasibnya berada di telapak tangan paduka. Nah, dengan demikian, tidaklah paduka dapat memanfaatkan dia yang sudah diterima sebagai pangeran di dalam istana? Pangeran palsu itu adalah seorang pemuda yang memiliki ilmu silat tinggi sekali, hal ini sudah saya buktikan sendiri. Kalau dia dapat diancam lalu dibujuk sehingga mau menjadi pembantu paduka, terbukalah jalan bagi paduka untuk menyingkirkan lawan-lawan paduka dalam istana."

Mendengar ucapan Suma Kiang itu Pangeran Cheng Boan termenung.

Tentu saja sebagai orang kepercayaannya yang sudah bertahun-tahun, Suma Kiang mengetahui segala rencananya.

Pangeran Cheng Boan mempunyai cita-cita yang besar dan sudah mengatur rencana yang belum juga dapat dia laksanakan.

Bahkan bantuan Suma Kiang juga tidak membuka kesempatan baginya untuk melaksanaka rencana itu.

Rencananya adalah menyingkirkan lima orang pangeran putera Kaisar Cheng Tung.

Kalau semua pangeran itu dapat disingkirkan, maka tahta kerajaan besar sekali kemungkinannya akan terjatuh ke dalam tangannya kelak.

Dia adalah adik kaisar tertua dan terdekat dengan kaisar.

Kalau lima orang pangeran itu lenyap, kiranya tidak ada orang lain yang lebih pantas untuk mewarisi tahta kerajaan kecuali dia.

"Plakkkk!!"

Dia menampar pahanya sendiri sambil memandang kepada Suma Kiang dengan mata bersinar dan wajah berseri gembira.

"Benar! Engkau benar sekali, Suma-sicu! Bagus! Kini aku mendapatkan jalan! Kesempatan terbuka lebar bagiku."

"Ayah, apa maksud ayah?"

Cheng Kun bertanya ketika melihat kegembiraan ayahnya.

"Cheng Kongcu, apakah kongcu tidak dapat menduganya? Sekarang Pangeran akan mempunyai seorang mata-mata dan pembantu yang amat boleh diandalkan dalam istana kaisar."

Kata Suma Kiang sambil tersenyum.

"Suma-sicu, engkau tentu mengerti akan rencana dan siasatku. Malam besok akan kuundang makan Pangeran Cheng Lin untuk menyambutnya sebagai ucapan selamat datang dan menghormatinya. Dalam kesempatan itu aku akan membuka matanya bahwa aku telah memegang kunci rahasia dirinya dan bahwa dia harus menuruti kehendakku kalau ingin selamat. Engkau kumpulkan para jagoan untuk menyertaiku menyambutnya dengan pesta makan, untuk berjaga-jaga kalau dia bertindak yang bukan-bukan."

"Pangeran, pemuda itu lihai sekali, Terus terang saja, kalau saya seorang diri menghadapinya, akan berbahaya sekali. Dan kalau saya membawa terlalu banyak kawan untuk menjaga keselamatan paduka, hal itupun tidak baik karena berarti rencana rahasia paduka akan di ketahui banyak orang. Akan tetapi saya mempunyai seorang kawan yang berilmi tinggi dan yang sudah menyatakan ingin menghambakan diri kepada paduka asalkan diberi janji bahwa kelak dia akan mendapatkan anugerah pangkat tinggi Dengan orang itu di samping saya, maka saya yakin akan dapat menundukkan pemuda lihai yang memalsu pangeran itu."

"Hemm, baik sekali. Siapakah tokoh itu?"

"Namanya terkenal di dunia kang-ouw sebagai Toat-beng Kui-ong atau juga disebut Toa Ok karena dia adalah orang tertua dari Thian-te Sam-ok. Adapun nama aselinya, tidak pernah ada orang tahu."

"Bagus, panggil dia ke sini agar besok malam dapat bersamamu menyertai kami berpesta menyambut pangeran baru. Rahasianya sudah kuketahui, dan kalau dia masih membandel, ada engkau dan Toa Ok yang akan menekannya. Dia pasti tidak akan terlepas dari tanganku!"

Kata Pangeran Cheng Boan gembira.

"Akan tetapi, dia tidak akan dapat menjadi pembantu yang benar-benar dapat dipercaya kalau hanya ditundukkan dengan ancaman, Pangeran. Sebaiknya kalau dia diberi janji yang akan menguntungkan dan menyenangkan hatinya. Dengan demikian maka dia akan bersungguh sungguh membantu paduka karena ada harapan memperoleh keuntungan."

"Hadiah apakah yang akan kita janjikan kepadanya? Sebagai seorang pangeran yang hidup dalam istana, tentu saja dia sudah tidak kekurangan apa-apa."

Kata Pangeran Cheng Boan.

"Aku tahu, ayah! Aku tahu hadiah yang pasti akan sangat menarik hatinya dan yang membuat dia mati-matian membantu ayah!"

Kata Cheng Kun.

"Hemm, hadiah apakah itu?"

"Kita janjikan bahwa kalau rencana ayah berhasil dilakukan dengan bantuan-nya, maka kelak kita akan membantu dia agar dia dapat naik tahta!"

"Gila! Hadiah gila itu!"

Bentak Pangeran Cheng Boan.

"Sama sekali tidak gila, Pangeran. Bahkan usul Cheng Kongcu itu baik sekali!"

Kata Suma Kiang.

"Besok malam kalau kita menjamu dia, selain paduka menyatakan bahwa rahasianya telah berada dalam tangan paduka, juga paduka janjikan bahwa kalau dia mau membantu sehingga rencana paduka berhasil baik, kita akan membantu dia agar kelak dapat naik tahta menggantikan Sribaginda Kaisar. Tentu saja ini hanya merupakan janji agar dia lebih bersemangat membantu. Kelak, kalau semua rencana berhasil baik, saya kira tidak akan sukar untuk menyingkirkan dia dari permukaan bumi. Untuk hal itu, saya dan Toa Ok akan sanggup untuk melakukannya dengan baik."

Wajah Pangeran Cheng Boan berseri dan dia tertawa-tawa, lalu bangkit dan menghampiri puteranya, menepuk-nepuk pundak puteranya dengan girang dan bangga.

"Bagus sekali! Semua boleh diatur sesuai rencana. Suma-sicu, sekarang pergilah untuk menghadang Toa Ok agar besok malam dia dapat bersamamu menghadiri perjamuan. Sementara itu, sore ini juga aku akan pergi ke istana menemui dan mengundang Pangeran Cheng Lin. engkau ikut, Cheng Kun, agar dapat ku-perkenalkan dengan Yang Mulia Pangeran Cheng Lin."

Dia tertawa-tawa sinis.

Cheng Kun dan Suma Kiang juga tertawa gembira, seolah telah dapat membayangkan hasil dari siasat yang mereka rencanakan.

Pada sore hari itu juga, Pangeran Cheng Boan dan Cheng Kun berkunjung ke istana.

Sebagai seorang pangeran adik kaisar, tentu saja dengan mudah dia dapat masuk ke istana tanpa banyak gangguan.

Apalagi kedatangannya hanya untuk menjumpai seorang pangeran.

Dengan mudah Pangeran Cheng Boan dan puteranya bertemu dengan Pangeran Cheng Lin di bangunan tempat tinggal para pangeran.

Pangeran Cheng Lin palsu atau Ouw Ki Seng menyambut kedua orang tamunya dengan wajah ramah.

Dia memang pandai membawa diri dan dia tahu bahwa untuk mendapatkan kepercayaan seluruh keluarga kaisar, dia harus bersikap ramah dan baik terhadap semua keluarga.

Dia sudah berjumpa pada kemarin harinya dengan Pangeran Cheng Boan yang juga diperkenalkan dengannya, maka dia menyambut kunjungan pamannya itu dengan hormat dan ramah.

"Selamat sore, paman pangeran. Persilakan duduk dan apakah yang dapat saya lakukan untuk paman?"

Katanya lalu dia memandang kepada Cheng Kun yang belum dikenalnya.

"Selamat sore, pangeran. Perkenalkan ini adalah anak saya bernama Cheng Kun, masih terhitung sepupu pangeran."

Kata Pangeran Cheng Boan setelah dia dan puteranya duduk.

"Ah, terimalah hormatku, kakak Cheng Kun."

Kata Ki Seng sambil bangkit dan memberi hormat. Cheng Kun juga bangkit dan membalas penghormatan itu.

"Terima kasih, Lin-te, (adik Lin). Ayah sengaja mengajakku ke sini karena tadi tidak sempat bertemu dan berkenalan denganmu. Karena itu aku sengaja datang untuk berkunjung dan mengundangmu agar besok malam engkau suka berkunjung ke rumah kami."

Kata Cheng Kun dengan ramah pula. (Lanjut ke

Jilid 25) Suling Pusaka Kumala (CeritaLepas) Karya . Asmaraman S. Kho Ping Hoo

Jilid 25

"Benar sekali, Pangeran Cheng Lin. kami ingin sekali memperkenalkan engkau kepada keluarga kami di rumah. Harap engkau tidak menolak undangan kami ini. Besok malam kami sungguh mengharapkan kedatanganmu untuk berkunjung dan berkenalan dengan keluarga kami."

Tentu saja Ki Seng tidak berani menolak. Dia tersenyum dan mengangguk-angguk.

"Baiklah, paman dan Kun-ko (kakak Kun). Besok malam saya pasti akan datang berkunjung. Akan tetapi, di manakah rumah paman? Maaf, karena baru tiba di kota raja maka saya belum mengetahui di mana rumah paman."

"Ah, dekat saja. Di luar istana ini kalau engkau pergi ke kiri engkau akan tiba pada sebuah simpang empat. Nah, sebelah kiri ada sebuah gedung bercat kuning dan ada arca seekor harimau depan gedung. Itulah tempat tinggal kami."

Ki Seng mengangguk-angguk.

"Baiklah paman. Besok malam saya akan datang ke sana."

Setelah minum arak yang disuguhkan oleh pelayan, Cheng Kun bertanya.

"Kabarnya Lin-te dilahirkan dan dibesarkan di daerah utara. Tentu banyak sekali pengalamanmu."

Ki Seng tersenyum.

"Benar, Kun ko Akan tetapi aku hanya hidup di perkampungan di utara sana. Tentu saja keadaan di sana yang sunyi dan sederhana tidak dapat dibandingkan dengan keadaan kota raja yang ramai dan serba mewah."

"Pangeran, tentu engkau senang tinggal di istana, bukan?"

Tanya Pangeran Cheng Boan.

"Wah, senang sekali, paman. Selama tinggal dekat ayah kandung dan saudara saudara, juga di sini serba ada, berkecukupan dan serba indah."

"Lin-te, kabarnya kehidupan di utara amat keras dan sukar. Tentu engkau yang dibesarkan di sana menjadi seorang yang kuat dan terbiasa menghadapi kekerasan, engkau tentu pandai ilmu silat dan sudah biasa berkelahi dengan lawan-lawan yang kuat."

Kata Cheng Kun memancing. Ki Seng tersenyum. Dia tidak ingin memamerkan kelihaiannya dalam ilmu silat agar tidak menimbulkan kecurigaan.

"Ah, aku hanya mempelajari ilmu bela diri biasa saja. Maklum, di utara kehidupan memang keras sehingga kita harus membekali diri dengan ilmu bela diri untuk menjaga keselamatan, Kun-ko."

Setelah puas mengobrol, ayah dan anak itu lalu berpamit dan berpesan wanti-wanti agar besok malam Pangeran Cheng Lin datang berkunjung.

"Kami sekeluarga akan menantimu dengan gembira."

Kata Pangeran Cheng Boan.

Kemudian dia pergi bersama puteranya meninggalkan istana.

Ketika Ki Seng datang pada keesokan malamnya ke rumah gedung tempat tinggal Pangeran Cheng Boan, dia disambut oleh Pangeran Cheng Boan, Cheng Kui Nyonya Cheng, dan tujuh orang selir yang muda-muda dan cantik-cantik.

Melihat sambutan yang demikian meriah dan manis, terutama dari para selir yang berusia dari dua puluh sampai dua puluh lima tahun, cantik-cantik dan agak genit, Ki Seng merasa rikuh juga.

Pengalamannya dengan wanita hanya sempat bergaul dengan Sian Hwa Sian-li Kim Goat dan Ciang Mei Ling, Kini, dirubung demikian banyak wanita muda yang cantik dan berpakaian mewah, dia menjadi bingung.

Akan tetapi keluarga Pangeran Cheng Boan amat ramah kepadanya sehingga akhirnya rasa rikuhnya berkurang dan mulailah dia berani mengangkat muka memperhatikan mereka satu demi satu.

Di dalam hatinya dia memuji pamannya yang pandai memilih sehingga memiliki tujuh orang selir yang demikian cantik manisnya.

Sebuah pesta keluarga diadakan untuk menyambut Ki Seng yang tentu saja merasa terhormat sekali.

Bermacam hidangan serba mewah dan lezat disuguhkan dan bergantian, keluarga itu menyulanginya dengan secawan arak sebagai ucapan selamat datang.

Mereka lalu bercakap-cakap dengan gembira.

Hawa banyak arak yang diminumnya membuat Ki Seng setengah mabok dan lenyaplah semua rasa rikuh dan malu.

Dia berani memandang kepada selir selir yang cantik itu secara terbuka dan tersenyum manis kepada mereka.

Mereka makan minum dan sesuai dengan anjuran Pangeran Cheng Boan yang memang sudah mengatur sebelumnya, tujuh orang selir cantik itu secara ramah dan mesra bergantian memilihkan daging yang paling lunak dengan sumpit mereka dan menaruhnya ke dalam mangkok Ki Seng.

Perbuatan ini dapat dianggap sebagai keramahan sesama anggauta keluarga, akan tetapi dapat juga sebagai suatu kemesraan yang diperlihatkan wanita terhada pria.

Melihat ulah para selir yang genit itu, Pangeran Cheng Boan tertawa saja sehingga Ki Seng juga tidak merasa rikuh atau malu-malu lagi menerima semua sikap mesra itu.

Baru saja mereka selesai makan, seorang pengawal masuk dan melapor bahwa Huang-ho Sin-liong dan Toat-beng Kui-ong datang dan ingin menghadap Pangeran Cheng Boan.

Inipun sesuai dengan siasat yang sudah direncanakan sebelumnya.

"Ah, mereka sudah datang? Hampir aku lupa bahwa aku sudah berjanji untuk menyambut mereka. Pengawal, persilakan kedua orang sicu itu untuk duduk dan menanti di ruangan tamu!"

Kata Pangeran Cheng Boan kepada pengawal yang melapor. Kemudian setelah pengawal pergi, Pangeran Cheng Boan berkata kepada Ki Seng.

"Pangeran, mari kita bicara di ruangan tamu. Kebetulan sekali dua orang pembantu kami datang, aku ingin memperkenalkan pangeran kepada mereka."

Ki Seng yang baru saja dijamu besar-besaran, tentu saja mereka sungkan untuk menolak.

Dia lalu bangkit berdiri, memberi hormat dengan senyum manis kepada Nyonya Cheng dan tujuh orang selir cantik itu, kemudian dia mengikuti Pangeran Cheng Boan dan Cheng Kun menuju ke sebuah ruangan luas yang menjadi ruangan tamu.

Ketika mereka bertiga memasuki ruangan itu, Ki Seng melihat betapa di luar pintu ruangan itu terdapat tujuh orang pengawal berjaga dan mereka memberi hormat ketika mereka bertiga lewat.

Dalam ruangan itu telah duduk dua orang laki-laki tua yang segera bangkit berdiri ketika Pangeran Cheng Boan bersama Cheng Kun dan Ki Seng masuk.

Tentu saja Ki Seng merasa terkejut bukan main ketika dia melihat dan mengenal Suma Kiang.

Otaknya yang cerdik bekerja cepat karena dia tahu bahwa dia berada dalam bahaya.

Suma Kiang yang sudah dapat menduga dan mengetahui rahasianya bahwa dia adalah Pangeran Cheng Lin yang palsu, tentu akan menceritakan rahasianya itu kepada Pangeran Cheng Boan.

Bahkan mungkin sudah menceritakannya.

Dia harus berkeras mempertahankan dirinya sebagai Pangeran Cheng Lin dan untuk mempertahankan ini, dia harus memperlihatkan permusuhannya terhadap Suma Kiang yang sudah membunuh "ibu kandungnya", yaitu Puteri Chai Li dari Mongol.

Maka, setelah pikiran ini berkelebat dalam benaknya, dia memandang kepada Suma Kiang dengan mata mendelik marah dan mukanya berubah merah.

"Suma Kiang, jahanam keparat busuk! sekali ini engkau tidak akan lolos dari tanganku. Mampuslah untuk menebus kematian ibu kandungku!"

Setelah berkata demikian, diapun menerjang ke depan, mengirim serangan sambil mengerahkan tenaga sin-kang dengan satu jari tangan, totokan ini hebat sekali karena totokan itu adalah ilmu It-yang-ci aseli yang dia campur dengan pukulan beracun Ban-tok-ciang (Tangan Selaksa Racun)!

Suma Kiang yang sudah bangkit berdiri memang sudah mempersiapkan diri.

Dia masuk bersama Toat-beng Kui-ong (Raja Setan Pencabut Nyawa) Toa Ok memang sudah direncanakan semula.

Dia sudah menduga bahwa untuk mempertahankan identitasnya sebagai Pangeran Cheng Lin, besar sekali kemungkinannya pemuda itu akan menyerangnya.

Karena itu, begitu Ki Seng menyerangnya dengan totokan, diapun cepat menghindarkan diri meloncat ke belakang, maklum bahwa serangan pemuda itu hebat bukan main.

Melihat lawannya menghindar, Ki Seng yang ingin menjaga rahasianya, cepat melompat ke depan mengejar dan langsung menyerang lagi, sekali ini menggunakan jurus dari ilmu Sin-liong Ciang-hwat (Ilmu Silat Naga Sakti).

Serangannya itu hebat bukan main karena dia telah mempergunakan jurus pilihan, yaitu Sin-liong Lo-thian (Naga Sakti Mengacau Langit), tubuhnya melayang ke atas dan dari atas dia mengirim pukulan maut ke arah kepala lawannya.

Melihat ini, Suma Kiang menangkis sambil mengerahkan tenaganya.

"Dukk....."

Tubuh Suma Kiang terhuyung dan Ki Seng yang sudah turun kembali, mengejarnya dan kembali mengirimi totokan It-yang-ci yang akan mematikan lawan kalau mengenai sasarannya, yaitu leher.

Dalam keadaan terhuyung itu, agaknya sulit bagi Suma Kiang untuk dapat menghindarkan diri lagi.

Akan tetapi, dalam keadaan yang amat gawat-itu, Toa Ok yang melihat rekannya dalam bahaya, cepat melompat ke depan dan menggerakkan lengannya menangkis pukulan Ki Seng.

"Dukkk....!!"

Toa Ok dan Ki Seng sama-sama terdorong ke belakang sehingga keduanya terkejut bukan main karena mengetahui bahwa pihak lawan memiliki tenaga sin-kang yang amat kuat.

"Tahan dulu.....!!"

Pangeran Cheng Boan melerai dan mengangkat tangannya ke atas.

"Pangeran Cheng Lin, ada apa ini? Mengapa engkau menyerang Suma-sicu yang menjadi pembantu kami? Jangan berkelahi dalam rumah kami, dan reritakan apa artinya semua ini!"

Ki Seng teringat bahwa Suma Kiang yang gagal dibunuhnya itu adalah pembantu dari Pangeran Cheng Boan.

Dia berada dalam keadaan yang sulit sekali akan tetapi dia tetap harus mempertahankan identitasnya sebagai Pangeran Cheng Lin.

Dia menghela napas dan menyadari bahwa tindakannya tadi tentu saja amat kurang ajar, menyerang orang dalam rumah Pangeran Cheng Boan.

"Maafkan saya, paman. Akan tetapi orang ini.... dia Suma Kiang dan dia musuh besar saya yang harus saya bunuh!"

Pangeran Cheng Boan tersenyum dan mengangkat tangan memberi isarat kepada Ki Seng, Suma Kiang dan Toa Ok untuk duduk.

"Tenang dan sabar dulu, Pangeran Cheng Lin, marilah kita bicara secara baik-baik. Mengapa engkau memusuhi Suma-sicu dan hendak membunuhnya?"

"Dia telah menyebabkan kematian ibu kandung saya, paman!"

Kata Ki Seng dengan suara tegas.

"Hemm, mungkin saya telah menyengsarakan Chai Li, puteri Mongol. Akan tetapi saya sama sekali tidak mengenal ibu pemuda ini!"

Kata Suma Kiang.

"Apa kau kata?"

Ki Seng bangkit berdiri dan sikapnya marah dan hendak menyerang.

"Aku adalah Pangeran Cheng Lin dan Puteri Chai Li adalah mendiang ibu kandungku!"

Kembali Pangeran Cheng Boan membujuk Ki Seng.

"Pangeran Cheng Lin duduk dan tenanglah. Kita harus bicara baik-baik dan melihat kenyataan dengan damai. Ketahuilah bahwa kami semua tidak ingin bermusuhan denganmu, sungguhpun kami telah mengetahui semua rahasiamu."

"Rahasia apakah mengenai diri saya, paman?"

Tanya Ki Seng, waspada.

"Tidak perlu berpura-pura, pangeran. Kami tahu benar bahwa engkau bukan Pangeran Cheng Lin!"

Mendengar ini, Ki Seng terkejut dan bangkit berdiri.

Akan tetapi Suma Kiang dan Toa Ok juga sudah bangkit berdiri dan begitu Pangeran Cheng Boan bertepuk tangan tiga kali, belasan orang pengawal dengan senjata di tangan telah berdiri di ambang pintu.

Ki Seng maklum bahwa keadaannya berbahaya sekali karena tadi dia sudah merasakan betapa lihainya Toa Ok.

Kalau dia harus menghadapi Toa Ok dan Suma Kiang, sukar baginya untuk dapat menang, apalagi di situ terdapat belasan orang pengawal.

"Tenanglah, pangeran. Kukatakan kepadamu, tenang dan duduklah. Kita bicara baik-baik. Atau engkau memilih jalan kekerasan dan tewas di sini?"

Melihat sikap dan mendengar ucapan Pangeran Cheng Boan, tahulah Ki Seng bahwa pangeran itu agaknya hendak mengajaknya berdamai dan akan menawarkan sesuatu.

Maka diapun duduk kembali.

Pangeran Cheng Boan memberi isarat.

Kedua orang datuk itu duduk kembali dan belasan orang pengawal juga keluar lagi dari ambang pintu.

"Nah, pangeran. Biarpun kami telah tahu bahwa engkau bukan Pangeran Cheng Lin yang aseli, namun aku masih memanggilmu pangeran. Hal ini membuktikan kemauan baik kami. Kalau tidak demikian, tentu kami akan menangkapmu. Kalau kami melapor kepada Kakanda Kaisar tentang dirimu, tentu engkau akan ditangkap dan dihukum mati! Akan tetapi jangan khawatir, kami tidak akan melaporkan, dan akan terus menganggapmu sebagai Pangeran Cheng Lin."

Ki Seng yang amat cerdik maklum bahwa tidak ada artinya membantah lagi.

Suma Kiang yang pernah bertemu dengan Han Lin, tentu dapat mengenalnya sebagai bukan Pangeran Cheng Lin dan kalau sampai kaisar mendengar tentang hal itu, celakalah dia!

Maka, tidak lain jalan baginya kecuali berdamai dengan Pangera Cheng Boan.

"Dan apa yang harus saya lakukan untuk paman?"

Tanyanya langsung saja karena dia yakin bahwa pangeran itu tentu menghendaki imbalan.

Pangeran Cheng Boan senang dengan sikap Ki Seng yang demikian tegas dan tidak berbelit-belit, melainkan langsung saja membicarakan syarat-syarat yang dibutuhkannya.

"Kita dapat bekerja sama dengan baik sekali, pangeran. Akan tetapi, sebelum kami menceritakan kerja sama yang bagaimana kami kehendaki darimu, kami ingin lebih dulu mengetahui, siapa sebenarnya engkau ini?"

Karena maklum bahwa keselamatan dirinya berada dalam genggaman tangan Pangeran Cheng Boan yang cerdik dan licik itu, Ki Seng menghela napas dan terpaksa mengalah.

"Nama saya Ouw Ki Seng dan saya adalah ketua Ban-tok-pang, juga saya menguasai Hek-houw-pang dan Pek-eng-Pang di lereng Thai-san."

"Hemm, masih amat muda sudah menjadi ketua Ban-tok-pang dan menguasai dua perkumpulan itu. Sungguh hebat!"

Kata Suma Kiang kagum.

"Akan tetapi bagaimana engkau dapat memiliki Suling Pusaka Kemala?"

Tanya Pangeran Cheng Boan. Ki Seng memandang tajam dan berkata dengan suara tegas.

"Pangeran, saya akan menceritakan semua rahasia saya. Akan tetapi kalau sampai paman mengkhianati saya, percayalah, saya masih memiliki cukup kekuatan untuk membasmi paman sekeluarga!"

Pangeran Cheng Boan tertawa dan mengelus jenggotnya.

"Ha-ha-ha, siapa yang akan mengkhianatimu? Engkau juga tentu tidak akan mengkhianatiku setelah kita bekerja sama, bukan? Nah, ceritakan saja, kami akan menyimpan rahasiamu karena itu merupakan rahasia kami juga."

"Aku mencuri Suling Pusaka Kemala dari tangan Han Lin."

Akhirnya dia mengaku terus terang karena tidak ada pilihan lain.

"Pangeran, saya pernah bertemu dengan pemuda bernama Han Lin itu dan dia kini telah menjadi seorang pemuda yang memiliki ilmu kepandaian tinggi."

Kata Toa Ok.

"Dan saya tahu benar bahwa Han Lin itu memang bukan pemuda ini."

"Akan tetapi, Ouw Ki Seng....."

Kata Suma Kiang dan pada saat itu Pangeran Cheng Boan memotongnya.

"Suma Sicu, kami telah berjanji kepadanya untuk tetap menganggap dan memanggilnya sebagai Pangeran Cheng Lin!"

"Ah, benar sekali. Maafkan saya, pangeran Cheng Lin! Akan tetapi saya melihat tadi bahwa engkau mempergunakan It-yang-ci dan gerakan silatmu mirip lengan gerakan silat Han Lin. Apakah ida hubungan antara engkau dan dia?"

"Kami memang saudara seperguruan."

Kata Ki Seng.

"Akan tetapi, Paman Pangeran, paman belum menceritakan kepada saya apa yang harus saya kerjakan dalam kerja sama antara kita ini."

"Begini, Pangeran Cheng Lin, sebelumnya perkenalkanlah sicu (orang gagah) ini dalah Suma Kiang atau Huang-ho Sin-hong, seorang pembantuku yang setia. Dan yang seorang ini adalah sahabatnya yang juga ingin menghambakan diri kepada kami, nama julukannya adalah Toat-beng Kui-ong."

"Akan tetapi terkenal dengan sebutan Toa Ok!"

Kata Suma Kiang. Ki Seng memberi hormat kepada dua orang datuk itu. Pangeran Cheng Boan lalu melanjutkan.

"Engkau akan tetap kami anggap sebagai Pangeran Cheng Lin yang aseli dan kita merupakan sekutu yang saling membantu. Kami membantumu mempertahankan dirimu sebagai Pangeran Cheng Lin dan kita bekerja sama untuk menyingkirkan saingan-saingan dan musuh-musuh kita yang berada di istana."

"Saingan-saingan dan musuh-musuh? Siapakah mereka yang paman maksudkan?"

Tanya Ki Seng, ingin sekali mengetahui.

"Pangeran Cheng Lin."

Pangeran Cheng Boan menoleh ke kanan kiri dani melanjutkan ketika melihat bahwa tidak ada pengawal yang mendengarkan percakapan mereka.

"Apakah engkau tidak ingin kelak menggantikan kedudukan kaisar?"

Bukan main kagetnya hati Ki Seng. Hal inilah yang sejak siang tadi menjadi bahan pemikirannya. Otomatis dia mengangguk dan menjawab.

"Tentu saja saya ingin, paman!"

"Bagus! Akan tetapi apa engkau kira mudah kelak menggantikan kedudukan Kaisar? Engkau mempunyai banyak saingan. Di sana ada lima orang pangeran, dan engkau sebagai putera keturunan Mongol tentu saja hampir tidak mempunyai harapan untuk menggantikan kedudukan kaisar. Akan tetapi dengan bantuan kami, bukan tidak mungkin, bahkan hampir dapat dipastikan engkau kelak akan menjadi kaisar, pengganti kaisar yang sekarang."

Bukan main girangnya hati Ki Seng.

Siang tadi ketika melamunkan kedudukan kaisar, dia sudah melihat ketidak-mungkinan itu dan membuat dia hampir putus harapan.

Akan tetapi kini dia melihat kemungkinan itu kalau dibantu oleh Pangeran Cheng Boan!

"Dan apa yang harus saya lakukan, Paman?"

Tanyanya penuh gairah seolah-olah besok atau lusa dia sudah akan dapat duduk sebagai kaisar!

"Tenang dan bersabarlah, pangeran Kita menghadapi urusan besar yang harus diperhitungkan dengan masak-masak.

Biarlah sementara ini, hubungan antara kita berjalan secara wajar saja, seperi hubungan antara keponakan dan pamannya.

Kelak akan kita perbincangkan dan bagaimana kita dapat menyingkirkan lima orang pangeran yang lain itu dan membasmi pendukung-pendukung mereka.

Untuk menyingkirkan lima orang pangeran itu, engkaulah yang akan mudah melakukannya karena engkau tinggal dalam istana.

Akan tetapi jangan tergesa-gesa, tunggu komandoku kapan engkau harus bergerak.

5ementara itu, engkau harus bersikap baik dan berbakti kepada kaisar agar memudahkan kami membantu dan mengangkat menonjolkanmu sebagai seorang pangeran yang baik dan penting.

Dan sewaktu-waktu kami panggil, engkau harus datang ke sini agar kita dapat mengadakan perbincangan."

Ki Seng mengangguk-angguk.

"Baiklah, paman, akan saya taati semua pesan paman dan saya tidak akan melakukan sesuatu sebelum menerima petunjuk dari paman. Akan tetapi yang membuat saya merasa heran, mengapa paman demikian baik terhadap diri saya? Mengapa paman suka membantu saya agar kelak menggantikan kedudukan kaisar?"

Sambil bertanya demikian, mata Ki Seng menatap wajah pangeran itu dengan penuh selidik. Pangeran Cheng Boan tertawa dan mengelus jenggotnya.

"Ha-ha-ha, tidak ada pekerjaan yang sia-sia, tidak ada usaha keras yang tidak menghasilkan keuntungan. Kami juga tidak mau bekerja tanpa hasil. Pangeran Cheng Lin, kami merasa yakin bahwa tanpa bantuan kami, engkau tidak mungkin sama sekali untuk kelak menjadi kaisar. Karena itu, tentu saja kami mengharapkan imbalan untuk bantuan kami kepadamu. Kalau kelak engkau sudah menjadi seorang kaisar, engkau harus mengangkat puteraku Cheng Kun ini sebagai orang kedua yang paling berkuasa dalam negeri. Dengan demikian, hasil kerja sama kita ini akan membahagiakan kita bersama. Maukah engkau berjanji?"

Ki Seng berkata dengan sikap sungguh sungguh.

"Saya berjanji, paman, bahwa kelak kalau saya sudah menjadi kaisar, saya akan mengangkat kanda Cheng Kun menjadi perdana menteri dan wakil saya!"

"Bersumpahlah untuk itu, Pangeran Cheng Lin."

Kata Pangeran Cheng Boan. Ki Seng bangkit berdiri dan berkata dengan suara lantang.

"Saya bersumpah bahwa kelak kalau saya sudah menjadi kaisar, saya akan mengangkat kanda Cheng Kun menjadi perdana menteri dari wakil saya!"

Empat orang itu bergembira sekail dan dalam kesempatan itu Pangeran Cheng Boan mendengarkan keterangan tentang diri Toa Ok untuk lebih mengenal datuk yang baru dijumpainya itu.

Ki Seng juga bergembira dan dia maklumi bahwa dia tidak boleh mempermainkan pangeran yang cerdik itu.

Sekali dia mempunyai pikiran tidak baik dan ketahuan, dia akan celaka.

Bukan saja rahasianya berada di tangan Pangeran Cheng Boan, akan tetapi pangeran itu juga mempunyai pembantu-pembantu yang lihai sekali.

Tiba-tiba dia teringat akan dua orang wanita kekasihnya yang dia tinggalkan.

Terhadap Pangeran Cheng Boan yang menjadi sekutunya dia tidak perlu merahasiakan keadaan dirinya lagi dan tempat mana lagi yang lebih aman untuk menitipkan dua orang kekasihnya itu kalau bukan di dalam istana Pangeran Cheng Boan?

Pangeran Cheng Boan melihat Ki Seng yang tiba-tiba termenung itu dan dia bertanya.

"Pangeran Cheng Lin, apa yang kau risaukan? Agaknya engkau memikirkan dan merenungkan sesuatu."

"Ah, paman sungguh berpemandangan tajam sekali. Memang ada suatu hal yang agak merisaukan hati saya dan saya mohon kebaikan dan kebijaksanaan paman untuk menolong saya."

"Pertolongan apakah yang kau butuhkan? Katakanlah dan kami akan berusaha untuk menolongmu."

Kata Pangeran Cheng Boan.

"Kalau engkau menghadapi musuh yang kuat, serahkan saja kepada saya Pangeran Cheng Lin!"

Kata Suma Kiang.

"Saya juga siap untuk menyingkirkan musuh-musuh yang mengancammu, pangeran."

Kata Toak Ok.

"Terima kasih atas kesediaan Ji-wi (kalian berdua) membantu saya. Akan tetapi, paman pangeran, bukan itu yang saya ingin minta dibantu. Sesungguhnya, saya mempunyai dua orang.... kekasih dan saya ingin mereka berdua itu berada di kota raja. Karena tidak mungkin mengajak mereka ke istana, maka saya mohon bantuan paman agar suka menampung mereka dan membiarkan mereka berdua tinggal di istana paman agar sewaktu-waktu saya dapat menjumpai mereka."

"Wah, sebelum menjadi pangeran engkau sudah mempunyai dua orang selir, Lin-te, (adik Lin)? Hebat sekali kau!"

Cheng Kun tertawa.

"Ah, kalau cuma itu yang kau butuhkan, tentu saja kami akan membantu. Biarlah mereka berdua tinggal di sini dan sewaktu-waktu engkau boleh menemui mereka, Pangeran Cheng Lin."

"Terima kasih, paman. Mereka adalah dua orang wanita yang memiliki ilmu silat cukup tinggi dan tentu saja dapat membantu paman untuk menjaga keselamatan keluarga paman."

"Siapakah mereka berdua itu, pangeran? Kalau mereka merupakan orang-orang berkepandaian tinggi, tentu namanya sudah terkenal di dunia kang-ouw (sungai telaga atau persilatan) dan mungkin kami sudah pernah mendengar atau mengenal mereka."

Kata Suma Kiang.

"Yang seorang bernama Ciang Mei Ling, puteri mendiang Ciang Hok ketua Pek-eng-pang dan ia adalah tunanganku. Yang kedua adalah seorang wanita kang-ouw bernama Kim Goat dan berjuluk Sian Hwa Sian-li."

"Ah! Sian Hwa Sian-li, wanita berpayung yang lihai itu? Aku pernah mendengar namanya yang besar!"

Kata Suma Kiang.

"Saya pernah satu kali bertemu dengan wanita cantik berpayung yang lihai itu."

Kata pula Toa Ok.

Mendengar bahwa dua orang kekasih Ki Seng adalah wanita-wanita yang lihai tentu Pangeran Cheng Boan menjadi girang sekali.

Berarti tidak percuma dia menampung dua orang wanita itu karena mereka dapat memperkuat kedudukannya dan dapat menjaga keselamatan keluarganya.

Setelah mereka bercakap-cakap, Ki Seng pamit dan dia tidak segera kembali ke istana, melainkan mengunjungi rumah penginapan An Lok.

Sian Hwa Sian-li menyambutnya dengan hangat dan gembira dan mereka melepaskan kerinduan dalam kamar yang mereka sewa.

"Ki Seng, kenapa begitu lama engkau pergi? Sampai tiga hari, aku merasa rindu sekali padamu. Rindu dan khawatir kalau-kalau engkau sudah melupakan aku."

"Kim Goat, mulai detik ini engkau harus menyebutku Pangeran Cheng Lin, apalagi kalau berhadapan dengan orang lain."

"Ah, jadi..... jadi.... engkau..... eh, paduka telah diterima oleh sribaginda Kaisar dan kini telah menjadi Pangeran Cheng Lin? Saya merasa gembira sekali dan Kiong-hi (selamat), pangeran!"

Sian Hwa Sian-li memberi hormat dengan membungkuk sampai dalam. Ki Seng merangkulnya.

"Kalau tidak ada orang lain, tidak perlu engkau menghormat seperti itu. Aku telah bertemu dengan ayahanda Kaisar dan aku segera diterima, diperkenalkan kepada semua keluarga istana dan aku mendapatkan sebuah kamar di dalam bangunan untuk para pangeran. Aku tinggal bersama lima orang pangeran lain yang menjadi saudara-saudara tiriku di sana."

"Wah, bagus sekali! Kalau begitu paduka tentu akan segera membawa saya masuk istana dan tinggal pula di sana!"

"Hemm, tidak semudah itu, Kim Goat. Peraturan istana tidak memperbolehkan seorang pangeran yang masih bujangan membawa isteri atau selirnya ke dalam istana. Kecuali kalau dia telah menikah dengan sah, baru dia boleh mendapatkan bangunan terpisah dan tersendiri. Akan tetapi, aku telah mendapatkan pertolongan seorang pangeran, dia adalah adik Kaisar, jadi masih pamanku sendiri. Aku telah bercerita kepadanya tentang engkau dan Ciang Mei Ling dan dia mau menerima kalian berdua untuk tinggal di istananya. Dengan demikian, maka setiap waktu aku dapat mengunjungi kalian di sana. Nah, sekarang engkau harus melakukan perintahku. Engkau pergilah ke Thai-san, jemputlah Ciang Mei Ling dan bawa ke rumah panginapan ini. Kalau ia sudah datang, aku akan membawa kalian tinggal di istana Paman Pangeran Cheng Boan."

Ketika Ki Seng berpamit, Sian Hwa Sian-li berkeras hendak menahannya.

"Pangeran, paduka bermalam saja di sini malam ini. Besok pagi saya akan berangkat ke Thai-san dan malam ini berilah kesempatan kepada saya utuk melepaskan rindu saya kepada paduka!"

Ia merengek manja.

"Hushh, jangan bodoh, Kim Goat. Ingat, sekarang aku sudah sah menjadi pangeran dan aku harus cepat kembali ke istana. Sebagai seorang pangeran baru aku harus pandai membawa diri. Akupun rindu kepadamu, akan tetapi nanti kalau engkau dan Mei Ling sudah berada di istana Paman Pangeran Cheng Boan, kita dapat melepaskan rindu kita sepuas hati kita."

Ki Seng lalu bergegas pulang ke istana dan karena kesepian ditinggal kekasihnya itu, Sian Hwa Sian-li lalu berangkat malam itu juga meninggalkan kota raja.

Pria tinggi besar berusia tiga puluh tahun itu saling papah dengan seorang pria tinggi kurus berusia lima puluh tahun.

Mereka berdua melangkah terhuyung-huyung keluar dari kota raja melalui pintu gerbang utara dan wajah mereka pucat, napas mereka terengah-engah eperti orang-orang yang sedang menderita sakit parah.

Mereka itu adalah Souw Tek dan suhengnya (kakak seperguruannya), Si Toan Ek.

Seperti telah diceritakan di bagian depan, dua orang ini menjadi tamu dalam pesta ulang tahun Lo Kang ketua Hek-tiauw Bu-koan.

Kemudian, karena merasa tak senang melihat kesombongan keluarga Lo, apalagi ketika Lo Siang Ku menantang adu kepandaian kepada para tamu, mereka maju untuk menguji kepandaian.

Akan tetapi, dua orang anak Lo Kang, Lo Siang Kui dan kakaknya, Lo Cin Bu, bersikap kejam sekali dan memukuli mereka yang sudah kalah itu sehingga mereka berdua terluka parah.

Dengan bersusah payah, saling papah, mereka berdua berhasil keluar dari kota raja menuju ke dusun Pak-siang-bun.

Ketika mereka tiba di luar kota raja di jalan yang sepi itu mereka merasa tidak kuat menahan nyeri dan keduanya lalu beristirahat, duduk di bawah sebatang pohon besar.

Su Toan Ek duduk bersila dan mengumpulkan hawa murni untuk mengurangi rasa nyeri yang menyesakkan dadanya.

Souw Tek juga duduk bersila dan menggosok-gosok dadanya yang terkena tendangan keji Lo Siang Kui.

Dari mulut mereka terkadang terdengar keluhan dan rintihan.

Pada saat itu, dari arah utara datang seorang wanita.

Ia berjalan seorang diri di atas jalan yang sunyi itu.

Wanita itu masih muda, seorang gadis yang usianya paling banyak dua puluh tahun dan ia tentu akan menarik perhatian semua pria yang melihatnya.

Gadis itu cantik luar biasa.

Kulitnya putih mulus dan kedua pipinya kemerahan karena sehat.

Matanya yang tajam bersinar lembut seperti mata burung Hong, hidungnya kecil mancung dan bibirnya selalu membayangkan senyum ramah.

Rambutnya yang amat hitam panjang digelung ke atas bagaikan mahkota hitam yang membuat kulit muka dan lehernya tampak semakin putih mulus.

Ia membawa sebuah buntalan kain kuning di punggungnya dan pakaiannya terbuat dari sutera putih bersih, sepatunya berwarna hitam, terbuat dari kulit.

Gadis cantik jelita ini bukan lain adalah Tan Kiok Hwa yang dijuluki orang PeK I Yok Sian-li (Dewi Obat Baju Putih).

Seperti kita ketahui, setelah ia bersama Han Lin dan Sian Eng terbebas dari tangan Thian-te Sam-ok yang dibantu orang orang Pek-lian-kauw, Kiok Hwa tinggalkan Han Lin dan Sian Eng tanpa pamit.

Hal ini terpaksa ia lakukan walaupun dengan berat hati karena ia harus berpisah dari satu-satunya pria yang pernah dicintanya di dunia ini.

Ia amat mencintai Han Lin, akan tetapi ia tidak suka terlibat dalam permusuhan dan perkelahian dan selain itu, iapun tahu bahwa Sian Eng amat mencinta Han Lin, karena itu ia lebih suka mengalah dan menjauhkan diri dari Han Lin, walaupun hatinya merana.

Wataknya yang lembut membuat Kiok Hwa seialu suka mengalah dan rela berkorban demi kebahagiaan orang lain!

Ketika Kiok Hwa tiba di dekat bawah pohon di mana Souw Tek dan Su Toan Ek duduk bersila mengumpulkan hawa murni sambil kadang mengerang kesakitan, segera perhatian Kiok Hwa tertarik sekali.

Bagi seorang yang sudah menjadi pekerjaannya mengobati orang sakit, setiap melihat orang sakit merupakan tantangan besar bagi Kiok Hwa.

Ia harus menolong dan mengobatinya, siapapun adanya orang yang sakit itu, pria atau wanita, besar atau kecil, kaya atau miskin, baik atau jahat.

Ia selalu memandang penyakit seperti lawannya yang harus dihadapi dan ditundukkan.

Maka, melihat dua orang itu, ia lalu mendekat dan sekilas pandang saja tahulah gadis lihai ini bahwa dua orang laki-Iaki itu menderita luka dalam yang cukup berat.

"Sobat-sobat, kalian terluka dalam yang cukup parah!"

Tegurnya dengan suara lembut.

Baca Juga: Sepasang Pedang Iblis 29

Baca Juga: Suling Emas 32

Cari Blog Ini

Diberdayakan oleh Blogger.

Parnert