Eps 9 Suling Pusaka Kumala - Kho Ping Hoo
Baca online Suling Pusaka Kumala - Kho Ping Hoo
Cersil Suling Pusaka Kumala - Kho Ping Hoo.
Dua orang yang menderita luka dalam itu membuka mata mereka dan mereka memandang dengan heran ketika melihat seorang gadis cantik jelita berdiri di de-pan mereka dan memandang mereka dengan sinar mata lembut dan bibir yang manis sekali itu tersenyum ramah.
Karena merasa heran dan penasaran Souw Tek bertanya.
"Nona, siapakah engkau dan bagaimana engkau bisa tahu bahwa kami menderita luka dalam yang parah?"
Kiok Hwa tersenyum.
"Siapa aku bukan hal yang penting, akan tetapi aku mengerti bahwa kalian terluka parah karena aku adalah orang yang biasa mengobati. Maukah kalian kuobati sehingga lukamu sembuh dan kalian terhindar dari maut?"
Sebelum Souw Tek menjawab, Su Toan Ek sudah bangkit berdiri dan bertanya kepada Kiok Hwa.
"Bukankah nona PeK I Yok Sian-li?"
Kiok Hwa tersenyum.
"Orang-orang terlalu melebih-lebihkan dalam memberi nama kepadaku."
"Ak, kiranya nona adalah PeK I Yok Sian-li yang amat terkenal!"
Seru Souw Tek dengan girang sekali karena dia sudah pernah mendengar nama besar gadis berbaju putih yang suka sekali mengobati dan menolong orang yang menderita sakit.
"Kalau begitu, tolonglah kami, nona. Kami memang telah terluka dalam."
"Bagian tubuh yang manakah engkau terpukul? Aku akan mencoba mengobati engkau lebih dulu, paman, karena aku melihat bahwa lukamu lebih parah."
Kata Kiok Hwa kepada Su Toan Ek sambil menghampiri pria yang usianya sudah lima puluh tahun itu.
"Sian-li, aku terkena pukulan keji selagi aku sudah roboh, di bagian dadaku."
"Bukalah bajumu dan perlihatkan dadamu yang terpukul."
Kata Kiok Hwa de ngan tenang sambil menurunkan buntalan pakaian dan obat dari punggungnya, meletakkannya di atas tanah dan iapun berlutut depan Su Toan Ek.
Su Toan Ek membuka bajunya sehingga dadanya telanjang.
Di atas kulit dadanya tampak warna menghitam bekas pukulan Lo Cin Bu.
Kiok Hwa segera memeriksanya.
"Hemm, pukulan disertai sin-kang (tenaga sakti) yang amat kuat. Untung tidak mengandung hawa beracun sehingga mudah disembuhkan, apalagi karena engkau sendiri juga seorang ahli Iweekeh (ahli tenaga dalam) yang kuat, paman Sekarang aku akan mengobati dengan tusuk jarum, harap paman duduk santai dan jangan mengerahkan tenaga apapun."
Setelah berkata demikian, Kiok Hwa mengeluarkan dua batang jarum emas dan tiga batang jarum perak.
Dia menusuk dengan jarum emas di dada kanan kiri bawah pundak dan menusukkan tiga batang jarum perak di seputar warna hitam di dada.
Kemudian ia mengambil sebutir obat pulung berwarna putih dan menyuruh Su Toan Ek menelannya dengan bantuan secawan air putih yang dituangkan dari sebuah guci.
Setelah itu, Kiok Hwa menggunakan ibu jari tangan kirinya untuk menekan-nekan bagian dada yang berwarna hitam.
Sungguh hebat.
Dalam waktu sebentar saja, warna hitam itu makin pudar.
"Sekarang bernapaslah dalam-dalam dan kerahkan sin-kang ke dada untuk memulihkan jalan darah."
Kata Kiok Hwa ambil mencabuti lima batang jarum itu.
Su Toan Ek melakukan apa yang dika-takan Kiok Hwa dan setelah belasan kali menghirup udara sampai penuh dan mengerahkan sin-kang ke dada, dia merasa betapa dadanya sembuh kembali, rasa nyeri telah lenyap dan ketika dia melihat ke arah dadanya, warna hitam tadi-pun telah lenyap!
"Sian-li, aku telah sembuh sama sekali, Sungguh tidak kosong belaka julukan PeK I Yok Sian-li.
Terima kasih banyak, Sian-li."
Dia bangkit dan membungkuk memberi hormat.
"Ah, harap jangan bersikap sungkan, paman. Sekarang biarlah saya mencoba untuk mengobati saudara ini."
Katanya sambil menghampiri Souw Tek yang masih duduk bersila. Tanpa diminta Souw Tek juga melepas bajunya dan memperlihatkan dadanya yang membiru akibat tendangan kaki Lo Siang Kui yang amat keras.
"Aku juga terluka terkena tendangan pada dadaku, Sian-li."
Kata Souw Tek. Kiok Hwa memeriksa luka itu.
"Ah, tidak berapa parah lukamu karena tendangan itu hanya mengandalkan tenaga kasar. Untung tulang rusukmu tidak ada yang patah."
Kiok Hwa menggunakanl jari-jari tangannya untuk menotok dan menekan di sana-sini, kemudian memberi kebutir obat pulung untuk ditelan Souw Tek.
Seperti halnya Su Toan Ek, sebentar saja Souw Tek sudah sembuh dan terbebas dari rasa nyeri di dadanya.
Juga warna membiru pada dadanya hampir hilang.
"Terima kasih, Sian-li. Engkau sungguh hebat sekali. Aku mendengar bahwa mgkau adalah murid Thian Beng Yok-sian (Dewa Obat Kurnia Langit), Melihat kelihaianmu dalam ilmu pengobatan, maka tidak mengecewakan kalau engkau menjadi murid Dewa Obat itu!"
Souw Tek memuji dengan girang sekali.
Kiok Hwa menyimpan kembali obat dan jarum-jarumnya ke dalam buntalan pakaian, lalu mengikatkan kembali buntalan kain kuning itu pada punggungnya.
Sambil melakukan ini, ia berkata lembut.
"Sebenarnya, jauh lebih mudah menjaga agar tidak sakit daripada mengobati. luka ji-wi (kalian berdua) terjadi karena pukulan dan hal ini hanya dapat timbul Karena jiwi berkelahi. Kalau ji-wi dapat menahan diri dan tidak berkelahi, tentu tidak akan terluka dan untuk tidak berkelahi jauh lebih mudah daripada mengobati."
"Aih, Sian-li. Engkau tidak tahu. Kami sama sekali bukanlah orang-orang yang suka mengandalkan kekuatan untuk berkelahi. Akan tetapi dua orang muda ke-luarga Lo itu sungguh sombong dan kejam bukan main. Hek-tiauw Bu-koan mengandalkan kepandaian dan kedudukan calon mantunya yang seorang putera pangeran, untuk bertindak sewenang-wenang dan kejam."
Kata Souw Tek penasaran.
"Apakah yang terjadi?"
Tanya Kiok Hwa.
Biasanya, ia tidak mau mencampuri urusan orang, apalagi kalau urusan permusuhan dan perkelahian.
Akan tetapi kini mendengar ada dua orang muda yang sewenang-wenang, ia menjadi ingin tahu.
Souw Tek menghela napas.
Mereka bertiga duduk di atas batu-batu yang berada di bawah pohon besar itu.
"Hek tiauw Bu-koan adalah sebuah perguruan yang paling besar dan terkenal di kota raja. Lo-pangcu, ketua Hek-tiauw Bu koan mengadakan pesta ulang tahun dan kami berdua juga datang hadir sebagai tamu. Dalam perayaan itu, seorang anak perempuan Lo-pangcu yang bernama Lo Siang Kui memamerkan ilmu silatnya. Yang memanaskan hati, gadis sombong itu lalu bersumbar, menantang siapa saja yang merasa memiliki kepandaian silat untuk mengadu ilmu silat dengannya. Melihat kesombongannya, aku lalu maju menandinginya, hanya dengan maksud untuk menguji ilmu silatnya. Akan tetapi kalau aku hanya berniat menguji, gadis itu ternyata menyerang dengan sungguh-sungguh, mengeluarkan jurus-jurus maut. Aku terdesak karena ia memiliki gerakan yang cepat sekali. Setelah lewat lima puluh jurus, aku terkena tamparannya dan jatuh terduduk di atas panggung. Dalam keadaan sudah tidak berdaya itu, tiba-tiba gadis itu menendang dadaku sehingga aku terlempar ke bawah panggung dalam keadaan pingsan."
Kiok Hwa mengerutkan alisnya.
"Hemm, kejam sekali gadis itu."
"Mungkin ia menganggap aku sebagai musuh besarnya karena aku adalah saudara seperguruan dari ketua Hek-houw Bu-koan yang menjadi saingan Hek-tiauw Bu-koan."
"Lalu bagaimana paman ini sampai terluka?"
Tanya Kiok Hwa sambil memandang kepada Su Toan Ek.
Su Toan Ek menghela napas panjang "Sungguh membuat orang merasa penasaran sekali.
Semula sama sekali tidak ada niat di hatiku untuk melakukan pentandingan di tempat perayaan pesta ulang tahun Hek-tiauw Bu-koan itu.
akan tetapi melihat kekejaman gadis itu menendang dada Souw-sute (adik seperguruan Souw) sampai terluka parah, aku menjadi penasaran dan aku segera naik ke panggung untuk memberi hajaran kepada gadis sombong itu.
Akan tetapi kemudian yang maju melawan aku adalah seorang pemuda kakak gadis itu yang bernama Lo Cin Bu.
Kami bertanding dan ternyata pemuda itu jauh lebih lihai dibandingkan adiknya.
Dia mampu mengimbangi aku bahkan setelah lama bertanding seimbang, dia berhasil menotok punggung dan pada saat aku tidak berdaya, dia memukul dadaku dengan kuat sekali sehingga aku terluka parah.
Aku dan Souw-te lalu memaksa diri meninggalkan tempat itu dalam keadaan terluka parah.
Untung kami bertemu denganmu, Sian-li, sehingga kami tidak sampai tewas dan dapat tertolong."
Mendengar keterangan mereka, Kiok Hwa menghela napas panjang.
"Hemmm, sayang sekali orang-orang muda menyombongkan dan mengagulkan kepandaian mereka untuk bersikap kejam melukai orang lain tanpa alasan yang kuat. Akan tetapi, peristiwa ini harap ji-wi dapat mengambil hikmahnya. Kalau saja ji-wi bersikap sabar dan tidak timbul emosi menyambut tantangan mereka, tentu tidak terjadi perkelahian dan ji-wi tidak sampai terluka. Permusuhan, adu kepandaian dan perkelahian hanya akan merusak hubungan baik antara manusia, me-nimbulkan kebencian dan dendam. Apakah ji-wi menaruh perasaan dendam terhadap mereka dan ingin menuntut balas?"
Souw Tek saling pandang dengan su-hengnya (kakak seperguruannya).
Mereka telah mendengar semua kata-kata Pek I Yok Sian-li yang bernada bijaksana, sehingga mereka merasa malu dan sungkan untuk mengaku bahwa mereka menaruh dendam.
"Tidak, Sian-li. Kami tidak mendendam."
Kata Souw Tek.
"Bagus sekali kalau begitu. Dendam hanya akan membakar diri sendiri dan akan menciptakan ikatan karma yang kuat. Andaikata kalian berdua menaruh dendam lalu berusaha membalas sampai berhasil merobohkan mereka, apakah ji-wi yakin bahwa merekapun juga tidak akan mendendam. Mereka akan berusaha pula untuk menuntut balas, maka terjadilah permusuhan dan dendam-mendendam, balas-membalas, mungkin sekali terjadi bunuh-membunuh yang tidak ada akhir-nya, dilanjutkan oleh murid-murid atau anak-anak ji-wi."
"Ya Tuhan! engkau masih begini muda sudah memiliki ilmu kepandaian pengobatan yang lihai, memiliki watak bijaksana dan suka menolong, ditambah lagi wawa-san tentang kehidupan yang demikian luas. Sungguh kami merasa kagum dan taluk, Sian-li."
Kata Su Toan Ek sambil memberi hormat, diturut oleh sutenya. Kiok Hwa membalas penghormatan itu.
"Ji-wi harap jangan terlalu memuji. Aku hanya melaksanakan tugas hidupku. Nah, selamat tinggal, ji-wi. Aku harus melanjutkan perjalananku ke kota raja."
Setelah berkata demikian, Kiok Hwa melanjutkan perjalanan menuju ke kota raja yang tembok bentengnya yang mengitari kota raja sudah tampak dari situ.
Dua orang laki-laki itu mengikuti bayangannya dengan pandang mata kagum.
"Seorang wanita yang hebat luar biasa!"
Gumam Souw Tek setelah bayangan Kiok Hwa lenyap di sebuah tikungan jalan.
"Seolah Dewi Kwan Im saja yang menjelma....."
Kata pula Su Toan Ek.
Mereka lalu melanjutkan perjalanan pulang ke dusun Pak-siang-bun.
Hubungan Ki Seng dengan keluarga Pangeran Cheng Boan menjadi semakin akrab.
Dia segera mendapatkan kenyataan pahit bahwa hampir seluruh keluarga kaisar di dalam istana, dari permaisuri dan para selir sampai para thaikam dan pengawal di istana, tidak akrab dengannya.
Terutama sekali para pangeran.
Mereka itu seolah menjauhinya, seperti mengasingkannya.
Dia merasa dibenci, hanya seorang di antara lima orang pangeran itu yang tidak kelihatan membencinya, yaitu Pangeran Cheng Hwa, pangeran yang tertua.
Akan tetapi pangeran yang usianya dua puluh lima tahun inipun tidak akrab dengannya, seperti tidak acuh.
Karena merasa tidak disuka di istana, kecuali Kaisar Cheng Tung yang jarang bertemu dan bercakap-cakap dengannya Ki Seng merasa tidak betah tinggal d istana dan dia lebih sering berada di rumah Pangeran Cheng Boan.
Di sana dia diterima dengan penuh keramahan, dan juga seringnya dia berkunjung ke rumah Pangeran Cheng Boan tidak mendatangkan kecurigaan apa-apa pada keluarga istana.
Karena itu, hampir setiap hari dia berada di istana Pangeran Cheng Boan dan istana kaisar seolah hanya merupakan tempat untuk tidur saja.
Karena setiap hari Ki Seng berkunjung ke istana Pangeran Cheng Boan maka hubungannya menjadi akrab sekali, terutama dengan para selir muda pangeran itu yang selalu mengelu-elukan kunjungannya.
Dari pagi sampai petang Ki Seng berada di istana itu, sedangkan Pangeran Cheng Boan pergi melakukan tugasnya.
Juga Cheng Kun jarang berada di rumah sehingga Ki Seng berada di gedung istana itu bersama para selir yang melayaninya.
Maka tidaklah mengherankan kalau segera terjadi hubungan yang nmat mesra antara Ki Seng dan para selir muda pamannya!
Tujuh orang selir muda itu bagaikan tujuh tangkai bunga sedang mekar membutuhkan siraman yang menyegarkan dan mereka kehausan akan cinta kasih.
Mereka bertemu dengan Ki Seng, seorang pemuda tampan gagah yang dengan senang hati suka menyirami mereka sehingga mereka dapat melepaskan dan memuaskan dahaga mereka.
Sejak jatuh oleh rayuan Sian Hwa Sian-li, Ki Seng menjadi budak dari nafsunya sendiri.
Maka, bertemu dengan tujuh orang perempuan muda yang genit-genititu, mana mungkin dia mampu bertahan?
Segera berlangsung perjinaan di antara Ki Seng dan tujuh orang selir itu.
Ki Seng seperti mabok dan tidak ingat bahwa perbuatannya itu keterlaluan sekali, melanggar kesusilaan.
Akan tetapi aneh.
Pangeran Cheng Boan seolah memejamkan mata terhadap semua itu.
Dia pura-pura tidak tahu saja.
Padahal, tentu saja dia segera mendengar hubungan gelap antara tujuh orang selirnya itu dan Pangeran Cheng Lin palsu, Akan tetapi dia tidak marah.
Pangeran ini menganggap tujuh orang selirnya sebagai alat untuk bersenang-senang saja dan mereka itu mudah diganti wanita-wanita lain kalau dia sudah merasa bosan.
Maka diapun mendiamkannya saja dan pura-pura tidak tahu.
Bahkan para selirnya itu dapat menjadi pengikat bahwa Ki Seng agar pemuda itu benar-benar tunduk kepadanya.
Ketika Ki Seng menjemput Sian Hwa Sian-li dan Ciang Mei Ling yang sudah tiba di hotel, lalu membawa dua orang wanita itu ke istana Pangeran Cheng lioan, dua orang wanita itupun diterima dengan ramah dan senang hati.
Dua orang wanita itu merasa girang sekali dan kagum terhadap gedung besar seperti Istana yang mewah dan indah itu.
Bahkan Sian Hwa Sian-li sendiri yang telah banyak pengalaman, tetap saja merasa rendah diri dan takjub melihat istana dan isinya yang demikian megah dan mewah.
Pangeran Cheng Boan merasa gembira melihat dua orang wanita cantik itu, apalagi mendengar dari Suma Kiang dan Toa Ok bahwa wanita yang lebih tua itu adalah seorang tokoh kang-ouw yang berkepandaian tinggi sehingga dapat di-andalkan memperkuat barisan pengawal dan jagoannya.
Berbeda dengan Sian Hwa Sian-li Kim Goat yang dapat menikmati keberadaannya di dalam gedung istana Pangeran Cheng Boan itu, Ciang Mei Ling merasa tidak enak.
Ia merasa dititipkan oleh Pangeran Cheng Lin kepada keluarga Pangeran Cheng Boan.
Tentu saja ia mengharapkan untuk tinggal bersama Pangeran Cheng Lin.
Bukankah ia sudah menjadi tunangan pangeran itu, bahkan secara sembunyi telah menjadi isterinya?
Kenapa Pangeran Cheng Lin tidak mau segera menikahinya secara resmi dan membawanya ke istana?
Diam-diam gadis ini merasa khawatir dan merasa tidak enak sekali.
Apalagi ketika ia melihat betapa "suaminya"
Itu dengan bebasnya berjina dengan Sian Hwa Sian-li, juga dengan tujuh orang selir muda Pangeran Chen Boan dalam rumah itu!
Ia mulai merasa muak dan menyesal bahwa ia telah terlanjur menyerahkan diri kepada Pangeran Cheng Lin yang dulunya dikenal sebagai Ouw Ki Seng.
Akan tetapi apa yang dapat ia lakukan?
Suami tidak resmi itu adalah seorang pangeran.
Bukan hal yang aneh kalau seorang pangeran mempunyai banyak orang selir.
Ia menyesal sekali akan tetapi nasi sudah menjadi bubur.
Apa yang dapat ia lakukan kecuali menerima nasib?
Mei Ling mulai segan menerima Pangeran Cheng Lin dalam kamar-nya dan ia lebih banyak menangis kalau berada dalam kamarnya seorang diri.
Kehadiran dua orang wanita kekasih Pangeran Cheng Lin ini menarik perhatian Cheng Kun.
Pemuda bangsawan ini bukanlah seorang pemuda alim.
Dia adalah seorang pemuda yang sejak kecil dimanja dan dituruti semua kehendaknya.
Sejak dia remaja dia sudah berkeliaran dan bergaul dengan pemuda-pemuda yang selalu mengejar kesenangan.
Dia sombong dan mata keranjang.
Maka, tentu saja kehadiran dua orang wanita secantik Sian Hwa Sian-li dan Ciang Mei Ling di rumahnya tidak luput dari perhatiannya.
Terutama sekali Sian Hwa Sian-Ji yang baginya amat menarik hati dan menggairahkan.
Wanita yang banyak pengalaman ini-pun tidak tinggal diam.
Begitu melihal putera pangeran yang biarpun tidak tampan namun gagah berwibawa itu, ia segera pasang aksi.
Mata dan mulutnya membuat gerakan-gerakan memikat dengan kerling tajam dan senyum manis penB tantangan.
Dari percakapannya dengan Ki Seng, ia mendengar keluhan pangeran itu bahwa keluarga istana tampaknya tidak senang kepadanya, mungkin karena ibunya seorang wanita Mongol.
Hal ini menipiskan harapan Sian Hwa Sian-li untuk menjadi seorang di antara isteri Pangeran Cheng Lin yang mungkin kelak menjadi Kaisar!
Maka perhatiannya beralih kepada putera Pangeran Cheng Boan.
Selain alasan itu, juga pada dasarnya adalah seorang wanita mata keranjang yang tidak akan melewatkan pria, apalagi muda dan bangsawan pula, begitu saja!
Pada suatu malam bulan purnam Tujuh orang selir muda Pangeran Che Boan bersenang-senang di bawah bulan purnama dalam taman.
Mereka mengajak Sian Hwa Sian-li dan Ciang Mei Ling yang sudah akrab dengan mereka setelah kedua orang wanita itu tinggal di dalam istana pangeran itu selama kurang lebih satu bulan.
Dalam kesempatan itu, atas desakan dan permintaan para selir, Sian Hwa Sian-li memperlihatkan kepandaian silatnya dengan bersilat menggunakan senjata sabuk sutera merahnya.
Indah sekali ketika ia bersilat dengan selendang sutera merah itu.
Selendang sutera itu lenyap bentuknya menjadi sinar merah yang bergulung-gulung.
Ia tampak seperti seorang bidadari yang sedang menari.
Setelah menyelesaikan tarian silatnya, sian Hwa Sian-li, dibantu para selir ganti membujuk Ciang Mei Ling untuk nemperlihatkan kepandaiannya.
"Ah, aku malu untuk memperlihatkan ilmu silatku di depan Sian-li. Mana aku dapat dibandingkan dengan ia yang begitu lihai?"
Mei Ling mencoba menolaknya karena ia tahu benar bahwa ilmu silatnya masih jauh kalah dibandingkan ilmu Sian Hwa Sian-li.
"Ayolah, adik Mei Ling,"
Bujuk para selir itu.
"Engkau tidak bermain silat untuk Sian-li, melainkan untuk kami yang sama sekali tidak bisa silat."
"Ilmu pedangnya bagus sekali!"
Kata sian Hwa Sian-li.
Mendengar itu, para selir menggapai seorang pelayan dan memerintahkan agar para pelayan itu mengambilkan pedang milik Ciang Mei Ling yang berada di dalam kamarnya.
Setelah pelayan datang membawa pedangnya, Mei Ling tidak dapat menolak lagi.
Terpaksa ia lalu mencabut pedang itu dan bersilat pedang.
Tentu saja ia memainkan Pek-eng-kiamsut (Ilmu Pedang Garuda Putih), yaitu ilmu andalannya.
Benar saja, para selir yang tidak mengerti ilmu silat itu terpesona dan kagum.
Gerakan Mei Ling demikian gesit, demikian indah sehingga mereka yang tidak mengerti ilmu silat tidak melihat bahwa ilmu pedang Mei Ling kalah kalau bertanding melawan ilmu sabuk sutera merah Sian Hwa Sian-li.
Setelah Mei Ling berhenti bermain pedang tiba-tiba giliran para selir itu yang memperlihatkan kepandaian mereka, meniup suling, memetik yang-kim, bernyanyi bahkan ada yang menari.
Mereka bersenang-senang dan minum anggur harum sampai akhirnya mereka menjadi setengah, mabok.
Setelah puas bersenang-senang, karena hawa udara mulai dingin, para selir itu lalu meninggalkan taman sambil tertawa-tawa.
Mei Ling juga kembali ke kamarnya.
Hanya Sian-li yang tinggal di taman.
Ia masih ingin menikmati keindahan taman yang bermandikan cahaya bulan.
ia minta kepada pelayan untuk meninggalkan seguci anggur dan sebuah cawan untuknya.
Sian Hwa Sian-li duduk termenung.
Ia merindukan Ki Seng, atau lebih tepat lagi, ia merindukan kehadiran seorang pria di sisinya pada saat seromantis itu.
Ki Seng tidak pernah datang berkunjung di waktu malam, hanya pada pagi sampai sore hari.
Dituangkannya anggur dalam cawan dan diminumnya perlahan-lahan, seolah hendak menikmati anggur itu sedikit demi sedikit.
Dalam keadaan yang sunyi itu, suara langkah kaki di belakangnya dapat tertangkap pendengarannya yang tajam ter-latih.
Sian Hwa Sian-li tidak bergerak, tetap duduk dengan santai di atas bangku menghadapi meja kayu yang kecil.
Pendengarannya yang tajam memberitahu kepadanya bahwa yang datang menghampiri nya adalah seorang pria!
Hal ini dapat ia ketahui dari bunyi langkah itu.
Langkah wanita lebih ringan dari langkah pria.
Langkah kaki ini berat dan tegap.
Ia sudah dapat menduga siapa yang datang menghampirinya.
"Sian-li...."
Orang yang datang itu memanggilnya lirih.
Sian Hwa Sian-li menoleh dan wajahnya tersenyum manis sekali ketika matanya memandang kepada wajah Cheng Kun yang telah berdiri dekat di belakangnya.
Ia lalu bangkit berdiri dan memberi hormat dengan gaya lemah gemulai.
"Aih, kiranya engkau, Cheng-kongcu!"
Kata Sian Hwa Sian-li, suaranya seperti bernyanyi.
"Sian-li, sedang apakah engkau duduk seorang diri malam-malam di dalam taman?"
Tanya Cheng Kun sambil memandangi wajah yang amat cantik jelita tertimpa sinar bulan yang lembut itu. Gigi yang seperti mutiara berjajar itu mengkilap ketika sepasang bibir itu terbuka.
"Saya sedang minum anggur sambil menikmati indahnya taman di malam terang bulan purnama, Cheng-kongcu. Kongcu, silakan duduk dan maukah kongcu menemani saya minum anggur menikmati malam indah ini?"
Cheng Kun merasa girang sekali. Wanita itu terang-terangan menawarkan hubungan yang lebih akrab. Dia pun lalu duduk di atas bangku, bersanding dengan Sian Hwa Sian-li.
"Sian-li, tentu saja aku mau. Akan tetapi, benar-benarkah engkau ingin aku menemanimu minum arak malam ini?"
Sian Hwa Sian-li mengerling dan tersenyum manis sekali.
"Kenapa tidak? Saya benar-benar menginginkannya. Siapakah orangnya yang tidak ingin minum anggur menikmati keindahan taman, malam bulan purnama didampingi seorai pemuda yang ganteng dan gagah?"
Cheng Kun menjadi semakin girang "Sian-li, engkaulah yang cantik jelita dan menarik hati, pula aku melihat ketika engkau bersilat sabuk sutera merah tadi.
Alangkah indahnya, dan alangkah lihainya.
Akan tetapi, kulihat di sini hanya ada sebuah cawan.
Tidak ada cawan untukku."
"Aih, kongcu. Satu cawan bukankah sudah cukup? Secawan anggur kita minum berdua, bukankah menambah keharuman dan kehangatan anggur?"
Setelah berkata demikian, Sian-li menuangkan anggur dari guci ke dalam cawan itu sampai penuh lalu menyerahkannya kepada Cheng Kun.
Cheng Kun menerima cawan itu, membawanya ke dekat bibir lalu berkata dengan gembira.
"Untuk persahabatan kita!"
Dia minum anggur itu setengahnya dan menyerahkan cawan yang masih ada anggur setengahnya itu kepada Sian-li.
"Giliranmu minum. Secawan diminum berdua katamu tadi!"
Kata Cheng Kun. Sian-li tersenyum dan minum anggur dari cawan itu. (Lanjut ke
Jilid 26) Suling Pusaka Kumala (CeritaLepas) Karya . Asmaraman S. Kho Ping Hoo
Jilid 26 Kemudian ia mengisi lagi cawan kosong itu dengan anggur sampai penuh. Akan tetapi ketika ia menyerahkannya kepada Cheng Kun, pemuda itu berkata sambil tersenyum.
"Sekarang giliranmu minum lebih dulu, Sian-li."
Sian Hwa Sian-li tidak membantah. Ia mengangkat cawan itu dan berkata.
"Untuk malam indah ini yang mempertemukan kita berdua!"
Dan iapun minum anggur setengahnya, lalu yang setengah cawan lagi diminum habis oleh Cheng Kun.
Demikianlah, mereka berdua berganti-ganti minum anggur dari satu cawan sehingga tubuh terasa hangat dan suasana menjadi gembira.
Akan tetapi tiba-tiba Sian Hwa Sian li menggerakkan kedua pundaknya seperti orang menggigil.
"Ihh, malam indah sudah larut dan hawa mulai dingin sekali. Kalau minum dalam kamar tertutup tentu akan hangat dan nyaman."
Tentu saja ucapan yang jelas mengandung ajakan ini tidak disia-siakan oleh Cheng Kun yang telah dicengkeram nafsunya sendiri yang berkobar.
"Benar sekali, Sian-li. Bagaimanai kalau kita melanjutkan minum angur dalam kamarmu?"
Sian Hwa Sian-li pura-pura terkejut kemalu-maluan dan mengerling genit sambil tersenyum.
"Ihhh, kongcu.....!"
Desahnya manja.
"Bagaimana, maukah engkau kutemani minum anggur dalam kamarmu?"
Cheng Kun yang sudah yakin menang itu mendesak.
Sian Hwa Sian-li mengangguk dan keduanya bangkit.
Wanita itu dengan langkah gemulai meninggalkan taman, diikuti oleh Cheng Kun yang membawakan guci anggur dan cawan masih terisi anggur setengahnya.
Bagaikan dua orang maling, mereka berindap-indap.
Namun malam itu sudah larut dan hawa udara amat dinginnya sehingga tidak ada penghuni rumah yang masih berada di luar kamarnya.
Mereka dapat memasuki kamar Sian Hwa Sian-li tanpa diketahui orang lain.
Dalam kamar itu mereka melanjutkan kesenangan mereka berenang dalam lautan nafsu yang memabokkan dan membuat mereka lupa akan segala.
Kemewahan dan kemegahan yang bergelimpangan merupakan wujud lahiriah yang belum tentu membungkus sesuatu yang indah dan bersih.
Segala macam kekayaan, kemuliaan, kedudukan, kekuasaan, kepandaian, bahkan agama hanya merupakan pakaian yang tidak menentukan kebersihan si pemakai.
Pakaian itu memang indah dan juga bersih, namun belum dapat dipastikan bahwa si pemakai menjadi bersih pula.
Bahkan banyak sekali terjadi dalam keluarga bangsawan-bangsawan tinggi, hartawan-hartawan yang kaya raya, yang hidupnya dihormati semua orang, tampak agung berwibawa, di dalamnya terdapat hal-hal yang kotor sekali, jauh lebih kotor daripada kekotoran yang terdapat dalam keluarga miskin sederhana.
Hal ini tidaklah aneh karena segala kecemerlangan lahiriah itu bahkan menjadi pendorong untuk orang yang memilikinya untuk melakukan hal-hal yang kotor.
Harta yang dikaruniakan Tuhan kepada mereka itu yang semestinya selain untuk dipergunakan untuk kebutuhan keluarga sendiri, juga sisanya yang banyak dapat dimanfaatkan untuk menolong orang-orang yang kekurangan, bahkan mereka pergunakan untuk mencapai keinginan mereka.
Untuk mendapatkan kekuasaan, untuk mendapatkan kemenangan, dan untuk mendapatkan apa yang dikejar untuk memuaskan nafsu-nafsu pribadinya.
Dalam rumah gedung milik Pangeran Cheng Boan yang indah seperti istana itu telah terjadi hal-hal yang amat kotor menjijikkan.
Pertama-tama Pangeran Cheng Boan yang sudah tidak kekurangan apapun itu merencanakan siasat yang jahat dan keji untuk meraih kedudukan tertinggi!
Kemudian, setelah Ki Seng bersekutu dengannya, Ki Seng melakukan perjinaan dengan semua selir pangeran itu dan sang pangeran pura-pura tidak tahu dan mendiamkannya saja.
Kini terjadi lagi hal yang tidak senonoh.
Cheng Kun bermain gila dengan Sian Hwa Sian-i di dalam gedung itu juga!
Menjelang fajar, sebelum meninggalkan kamar Sian Hwa Sian-li, Cheng Kun berkata kepada wanita itu.
"Sian-li, kita Ini telah menjadi orang sendiri. Aku akan berterus terang kepadamu dan minta bantuanmu. Terus terang saja aku juga tergila-gila kepada Ciang Mei Ling. Bantulah aku untuk mendapatkannya, Sian-li."
Sian Hwa Sian-li mengerutkan diam dan pura-pura cemberut.
Padahal dalam hatinya ia merasa geli.
Baginya tidak ada rasa cemburu karena ia menyerahkan diri kepada pemuda itu tidak berikut hatinya.
Baginya Cheng Kun hanyalah sebuah di antara alat-alat baginya untuk menyenangkan diri, untuk memuaskan nafsu birahinya dan tentu saja demi mencapai cita-citanya agar dapat hidup mulia dan terhormat di masa depan.
Tentu saja ia suka membantu karena ia tahu bahwa tidak mungkin memonopoli pemuda bangsawan ini untuk dirinya sendiri dan kalau ia membantu sampai berhasil, berati Cheng Kun berhutang budi kepadanya.
"Hemm, Cheng Kongcu, engkau mau mendapatkan Mei Ling dan lupa kepadaku."
"Tidak mungkin aku melupakanmu. Bahkan kalau engkau mau membantu sampai berhasil, engkau menjadi pembantuku yang setia."
"Apakah engkau tidak takut kalau ketahuan Pangeran Cheng Lin? Ingat, kini berdua adalah kekasihnya dan kalau dia tahu bahwa kongcu menggoda kami, tentu dia akan marah."
"Kenapa dia harus marah? Dia telah merayu dan memiliki hubungan gelap dengan semua ibu tiriku, aku dan ayah juga mengetahuinya dan tidak marah kepada-nya. Sudahlah, jangan khawatir tentang pangeran Cheng Lin, dia pasti tidak akan marah. Maukah engkau membantuku, sayang?"
"Baiklah, akan tetapi setelah berhasil, engkau harus memberihadiah yang amat langka dan berharga untukku, Kongcu."
"Jangan khawatir, kalau berhasil aku akan memberimu sepasang giwang dari berlian yang amat indah dan mahal harganya."
Tentu saja Sian Hwa Sian-li menjadi girang dan mereka berdua lalu mengatur siasat.
Beberapa hari kemudian, pada suatu malam, Ciang Mei Ling duduk seorang diri dalam kamarnya.
Wanita muda ini termenung sedih.
Baru sekarang ia mendapat dugaan bahwa dirinya dipermainkan oleh Pangeran Cheng Lin.
Terkenanglah ia akan semua pengalamannya dahulu Pangeran Cheng Lin yang dahulu bernama Ouw Ki Seng sebagai ketua Ban-tok pang itu datang dan mengadakan persahabatan dengan ayahnya yang menjadi ketua Pek-eng-pang.
Kemudian, Ki Seng itu membantu ayahnya mendapatkan kembali kereta berisi barang kawalan yang di-rampas oleh Sian Hwa Sian-li.
Kemudian ia dijodohkan oleh ayahnya kepada Ouw Ki Seng.
Dan terjadilah malapetaka itu.
Ayahnya terbunuh penjahat, Dan secara aneh penuh rahasia, ia telah menyerahkan diri kepada Ouw Ki Seng.
Sampai sekarang hal itu masih menjadi rahasia baginya.
Tentu saja ia bukan gadis semurah itu, menyerahkan diri begitu saja di luar pernikahan kepada seorang pemuda.
Hal itu terjadi di luar kesadarannya, hal yang amat aneh dan sampai sekarang masih merupakan teka-teki yang belum dapat terjawab olehnya.
Sekarang, baru tampak olehnya watak aseli pria yang menjadi tunangannya, bahkan yang telah merenggut kehormatannya sebagai seorang gadis itu.
Ternyata di antara Ki Seng dan Sian Hwa Sian-li terjalin hubungan gelap, Bukan hanya itu, bahkan setelah berada di gedung keluarga Pangeran Cheng Boan, ia melihat sendiri betapa Ki Seng juga berhubungan mesum dengan ketujuh selir pangeran itu.
Ia merasa muak sekali dan mulai merasa tidak betah tinggal di situ.
"Tok-tok-tok.....!"
Daun pintu kamarnya diketuk orang dari luar.
"Siapa di luar?"
Tanya Mei Ling sambil bangkit dari tempat duduknya dan menghampiri pintu.
"Adik Mei Ling, engkau belum tidur? Ini aku, bukalah pintumu!"
Terdengar jawaban suara Sian Hwa Sian-li.
Mendengar suara itu, Mei Ling lalu membuka daun pintu dan masuklah Sian Hwa Sian-li.
Ia membawa seguci anggur dan dua cawan.
Diletakkannya guci dan cawan ke atas meja dan iapun duduk di atas sebuah kursi tanpa dipersilakan lagi.
Hubungannya dengan Mei Ling memang sudah akrab.
"Sukur engkau belum tidur, Mei Ling."
Katanya sambil tersenyum.
"Aku masih belum mengantuk dan belum ingin tidur."
Kata Mei Ling sejujurnya.
"Sama kalau begitu. Akupun tidak dapat tidur, maka aku lalu mencarimu untuk kuajak minum anggur agar nanti enak tidur. Mari kita minum dan lupakan segala masalah, Ling-moi (adik Ling)."
Sian Hwa Sian-li menuangkan anggur ke dalam dua cawan itu.
Mei Ling merasa bersukur juga atas kedatangan Sian Hwa Sian-li.
Setidaknya kedatangan wanita itu mengalihkan perhatiannya daripada renungan yang menyedihkan hatinya.
Ia menerima cawan dan minum isinya.
Dadanya terasa hangat setelah anggur itu memasuki perutnya.
Mereka duduk berhadapan dan Sian Hwa Sian-li menuangkan anggur lagi ke dalam dua cawan mereka.
Mei Ling menghela napas panjang berulang kali, masih teringat akan renungannya tadi.
"Eh, Mei Ling, kulihat engkau seperti sedang bersusah hati. Ada apakah?"
"Enci Sian-li, aku merasa tidak betah tinggal di sini lebih lama lagi!"
Kata Mei Ling, mengungkapkan perasaan hatinya karena tidak orang lain lagi yang dapat diajak bicara.
"Eh? Mengapa, Mei Ling? Bukankah kita hidup di sini serba mewah, cukup dan senang, dan juga setiap hari kita dapat berjumpa dengan Pangeran Cheng Lin?"
Tanya Sian Hwa Sian-li sambil memandang heran penuh selidlk. Mei Ling menghela napas panjang lagi.
"Justru karena kedatangannya setiap hari di sini membuat aku merasa tidak betah tinggal di sini!"
Katanya, teringat dengan hati muak ketika Pangeran Cheng Lin memasuki kamar para selir Pangeran Cheng Boan dan bercumbu dengan mereka di kamar itu.
"Eh? Mengapa begitu? Oh, mengerti aku sekarang. Agaknya engkau merasa cemburu dan tidak senang melihat Pangeran Cheng Lin bermesraan dengan para selir muda itu. Memang begitulah watak pria. Selalu menyakiti hati wanita dengan penyelewengan-penyelewengannya. Akan tetapi menurut pendapatku, kita wanita jangan mudah saja dipermainkan seperti itu. Kalau pria pandai menyeleweng, kenapa kita tidak? Kita balas penyelewengan mereka, baru hati ini tidak penasaran dan merasa puas!"
Mei Ling mengerutkan alisnya.
"Enci Sian-li, aku bukan wanita macam begitu!"
Katanya ketus.
"Hemm, baiklah. Sudahlah, jangan memikirkan itu lagi. Mari kita minum sepuasnya dan melupakan semua itu."
Ia menuangkan lagi cawan yang ketiga, mereka minum, lalu dituangkannya lagi cawan ke empat dan seterusnya.
Setelah anggur satu guci itu habis, Mei Ling merebahkan kepalanya di atas meja, berbantalkan lengannya sendiri.
Sian Hwa Sian-li tersenyum puas.
Ia lalu mengeluarkan selembar kertas bertulis dari balik ikat pinggangnya dan meletakkannya di atas meja.
Kemudian ia memapah Mei Ling yang sudah mabok, lalu membawa gadis itu terhuyung menuju ke kamar sebelah dalam, yaitu kamar Cheng Kun.
Diketuknya pintu kamar itu lima kali sebagai isarat.
Daun pintu terbukii dan Cheng Kun menyambut dengan senyum girang.
Dia menerima Mei Ling yang harus dipapahnya memasuki kamat dan Sian Hwa Sian-li lalu pergi setelah pintu kamar ditutup dari dalam.
Sambil tersenyum ia kembali ke kamar Mei Ling mengambil guci dan dua cawan, lalu keluar lagi, menutupkan daun pintu dari luar, kemudian ia kembali ke dalam kamarnya sendiri.
Di bawah pengaruh obat perangsang yang memabokkan, dalam keadaan tidak sadar Ciang Mei Ling menyerahkan diri dengan gairah dan dengan suka rela kepada Cheng Kun yang tentu saja merasa girang bukan main.
Pada keesokan harinya, pagi-pagi sekali, Mei Ling terbangun dan sadar sepenuhnya.
Dapat dibayangkan betapa kagetnya ketika mendapatkan dirinya rebah di atas pembaringan yang asing baginya, rebah telentang tanpa pakaian, di samping tubuh Cheng Kun yang masih tidur mendengkur.
Pemuda itu juga dalam keadaan tanpa pakaian.
Ia kaget setengah mati dan lapat-lapat terbayang olehnya betapa ia telah melayani pemuda itu bermain cinta.
Cepat Mei Ling menyambar pakaiannya dan setelah mengenakan semua pakaiannya, ia menyambar selimut dan melemparkan ke atas tubuh.
Cheng Kun yang telanjang, lalu mengguncang pundak pemuda itu dengan kuat.
Cheng Kun terbangun dengan kaget, lalu bangkit duduk, badan bagian bawah tertutup selimut.
Dan terbelalak memandang Mei Ling yang sudah berpakaian dan kini berdiri memandangnya seperti seekor singa betina marah.
"Jahanam busuk! Apa yang telah kau lakukan padaku? Engkau memperkosa aku selagi aku berada dalam keadaan mabok! Engkau patut kubunuh!"
Ia sudah siap menyerang dengan pukulan maut.
"Nona Ciang Mei Ling, tenang dan lihatlah baik-baik! Bagaimana kau katakan bahwa aku memperkosamu? Bukan aku yang datang memasuki kamarmu, melainkan engkau yang berada di kamarku! Engkau yang mendatangi aku bukan aku yang mendatangimu."
Mei Ling memandang ke sekeliling, Kamar itu diterangi lampu yang remang-remang, namun ia masih dapat melihat dengan jelas bahwa ini bukanlah kamarnya.
"Bagaimana hal ini dapat terjadi? Bagaimana aku dapat berada di kamar ini dan.... dan.... apa yang telah terjadi.....?"
Tanyanya bingung dan menyadari bahwa ucapan Cheng Kun tadi benar.
Ia tidak mungkin dapat menuduh pemuda itu yang menggaulinya dengan paksa karena ialah yang berada di kamar pemuda itu!
"Tadi malam aku sudah tidur ketika daun pintu kamarku terketuk.
Ketika aku membukanya, ternyata engkau yang mengetuk dan engkau langsung masuk ke dalam kamarku ini dan engkau yang menghendaki untuk tidur bersamaku di sini.
Aku sama sekali tidak memaksamu, nona.
Semua terjadi dengan suka rela, atas kehendak kita berdua."
Mei Ling tidak tahan mendengarkan terus.
Ia merasa malu, merasa rendali dan hina.
Ia lari ke pintu membukanya dan berlari keluar ke kamarnya.
Pintu kamarnya tertutup dari luar, ia membukanya dan berlari masuk.
Dilihatnya di atas meja terdapat sepotong kertas bertulis dan cepat diambil dan dibacanya surat itu.
"Adik Mei Ling, Karena engkau mabok berat, maka aku tidak dapat pamit dan aku tinggalkan engkau melepaskan lelah. Senang sekali telah dapat minum bersama malam, ini. Sian Hwa Sian-li."
Mei Ling terduduk lemas di atas kursi.
Ia mengingat-ingat.
Kini teringat-lah ia bahwa semalam ia minum anggur bersama Sian Hwa Sian-li di kamarnya ini.
Hanya sampai di situ ingatannya.
Tahu-tahu ia terbangun dalam keadaan telanjang bulat di samping Cheng Kun, di atas pembaringan pemuda itu, dalam kamar pemuda itu.
Dan samar-samar teringatlah ia betapa ia telah melayani pemuda itu dengan senang hati.
Teringat akan semua itu, meledaklah tangis Mei Ling.
Ia menangis tersedu-sedu, menutup mulutnya agar tangisnya tidak terdengar sampai keluar kamarnya.
"Tidak mungkin...! Tidak mungkin..!"
Ia berseru dalam tangisnya.
Bagaimana mungkin ia berbuat seperti itu?
Mendatangi kamar Cheng Kun dan mengajak pemuda itu tidur bersama?
Ia bukan wanita macam itu.
Sedikitpun tidak pernah ada dalam benaknya untuk berbuat tidak senonoh seperti itu.
Tiba-tiba ia melempar dirinya ke atas pembaringan, menangis tersedu-sedu, membenamkan mukanya pada bantal.
Akan tetapi ia bangkit duduk dan sedu-sedannya terhenti tiba-tiba.
Ia teringat sesuatu.
Teringat akan peristiwa yang dialaminya bersama Ki Seng.
Betapa mirip benar dengan peristiwa semalam.
Ketika itu, ia minum-minum dengan Ki Seng di taman.
Kemudian ia tidak tahu apa-apa lagi, tidak ingat apa yang terjadi dan tahu-tahu ia terbangun di dalam kamar Ki Seng, di atas pembaringannya dan ia telah menyerahkan kehormatannya, kegadisannya, kepada Ki Seng tanpa ia sadari.
Betapa besar persamaannya dengan peristiwa semalam.
Agaknya rahasianya terletak pada minuman itu.
Setelah minum, ia menjadi mabok dan selanjutnya ia tidak tahu apa yang terjadi dan tahu-tahu terbangun di atas tempat tidur dalam kamar seorang laki-laki dan ia telah menyerahkan dirinya.
Teringat ini, ia bangkit berdiri dan menyambar pedangnya yang tergantung di dinding kamar.
Sian Hwa Sian-li agaknya yang menjadi biang keladinya, atau setidaknya ia tahu akan hal ini.
Ia akan memaksa wanita itu mengakui terus terang apa yang terkandung dalam anggur semalam dan apa yang sebenarnya telah terjadi.
Akan tetapi baru saja tiga langkah ia menuju pintu, ia menahan kakinya, memutar tubuh dan dengan lemas kembali duduk di atas kursi dan meletakkan pedang yang sudah dicabutnya ke atas meja.
Ia teringat bahwa ia sama sekali bukan tandingan Sian Hwa Sian-li.
Kalau ia menggunakan kekerasan, ia pasti kalah.
Pula, Sian Hwa Sian-li sudah menjelaskan peristiwa semalam dalam surat yang ditinggalkannya di atas meja.
Kepada siapa ia harus menuntut?
Tidak ada bukti apapun bahwa Sian Hwa Sian-li yang mengatur semua itu.
Tidak ada bukti bahwa ia keracunan.
Tidak ada bukti bahwa ia diperkosa.
Bahkan buktinya ia sendiri yang berada di kamar Cheng Kun!
Kalau ia ribut-ribut, tentu peristiwa itu terbuka dan diketahui semua orang bahwa semalam ia telah tidur di kamar Cheng Kun.
Akibatnya ia sendiri yang akan menderita malu.
Mei Ling mengembalikan pedangnya, disarungkan dan digantungkan di dinding kembali.
Ia tidak menangis lagi.
Pada wajahnya terbayang suatu tekad dan keteguhan hati.
Ia akan menyelidiki mereka semua.
Ia akan mempergunakan kesempatan selagi ia berada di istana pangeran itu untuk menyelidiki semua.
Ia harus dapat membongkar rahasia Sian Hwa Sian-li yang ia duga menjadi biang keladi sehingga dirinya dua kali menyerahkan kehormatannya kepada dua orang pria.
Iapun akan menyelidiki keadaan Pangeran Cheng Lin yang sama sekali tidak mendatangkan rasa kagum dan hormat dalam dirinya.
Bahkan rasa cinta yang pernah ada terhadap pemuda itu kini hampir lenyap, terganti kemuakan dan kecurigaan.
Ia harus menyelidiki apa hubungan yang ada antara Pangeran Cheng Lin dan Pangeran Cheng Boan yang membiarkan Pangeran Cheng Lin menggauli semua selir mudanya.
Pasti ada apa-apa-nya di sini, pikirnya.
"Enci Siang Kui, kenapa engkau menangis begini sedih?"
Tanya Sian Eng yang memasuki kamar Lo Siang Kui dan mendapatkan gadis itu menangis terisak-isak di atas pembaringannya.
Sian Eng duduk di tepi pembaringan dan menyentuh pundak saudara sepupunya itu.
Mendengar pertanyaan dan merasakan sentuhan tangan Sian Eng, Siang Kui menjadi semakin mengguguk menangis.
Sian Eng maklum bahwa gadis itu sedang tercekam kesusahan, maka ia tahu bahwa sebaiknya dalam keadaan seperti itu, ia membiarkan menangis agar sedihnya larut bersama air matanya.
Setelah tangisnya mereda, Siang Kui bangkit duduk dan pada saat itulah Sian Eng yang masih duduk di tepi pembaringan mengulangi pertanyaannya.
"Enci Siang Kui, apakah yang terjadi sehingga engkau menjadi sedih begini? Katakanlah kepadaku, barangkali aku dapat menolongmu."
Siang Kui menyusut air matanya dengan saputangan.
"Apakah engkau tidak melihat, Eng-moi (adik Eng)? Biasanya setiap seminggu dua kali dia pasti datan berkunjung. Akan tetapi akhir-akhir ini, belum tentu dua minggu sekali dia datang dan kalau dia datang, sikapnya kepadaku dingin saja. Aku tahu dan merasakan bahwa tentu ada apa-apa yang terjadi kepadanya yang membuat dia seolah-olah tidak tertarik dan tidak perduli lagi kepadaku, tidak mencinta lagi......"
Sian Kui menghapus lagi air matanya yang bercucuran.
"Aahhh.... Cheng Kun Kongcu yang kau maksudkan? Aku tahu itu dan aku pun diam-diam merasa heran."
"Eng-moi, apa yang dapat kulakukan? Apa yang harus kulakukan agar dia dapat berubah kembali sikapnya seperti dulu?"
"Kui-ci (kakak Kui), engkau amat mencinta Cheng Kongcu, bukan?"
"Tentu saja! Aku mencintanya setengah mati!"
"Kalau memang begitu, kenapa engkau tidak segera menikah saja dengannya? Setelah menikah, engkau tentu akan tinggal serumah dengan dia dan setiap hari dapat berkumpul."
"Kepastian hari pernikahan tentu saja bergantung kepadanya, Eng-moi. Aku dan ayah hanya menanti keputusannya saja."
"Kalau begitu, nanti bila dia datang, utarakanlah keinginanmu untuk segera menikah dengannya."
"Sudah, Eng-moi. Tempo hari aku sudah kemukakan hal ini, minta agar dia segera menentukan hari pernikahan, akan tetapi dia malah menjadi marah dan mencelaku terlalu tergesa-gesa karena dia masih harus menyelesaikan dulu banyak urusan penting tanpa menerangkan apa urusan penting itu."
"Hemm, kalau begitu, terpaksa engkau harus menunggu, enci Kui."
"Akan tetapi yang merisaukan hatiku adalah sikapnya, Eng-moi. Menunggu hari pernikahanku sih bukan masalah, aku dapat menunggu sampai kapanpun. Akan tetapi sikapnya yang dingin, dan jarangnya dia datang berkunjung. Bayangkan, sudah hampir tiga minggu ini dia tidak pernah datang, memberi kabarpun tidak. Padahal, kalau dia memang ingat kepadaku, dia kan mempunyai banyak pelayan untuk disuruh memberi kabar kepadaku? Jarak dari istana ayahnya sampai ke tempat ini pun tidak berapa jauh."
Melihat kesedihan dan kemarahan kakak sepupunya, Sian Eng lalu menghibur dan berkata.
"Sudahlah, tidak perlu bersusah hati benar, enci Kui. Kalau memang engkau merasa penasaran, kenapJ engkau tidak datang saja menyusul ke sana, bertemu dengannya dan menanyakan sendiri? Engkau bukan seorang gadis lemah dan cengeng!"
Bangkitlah semangat Lo Siang Kui mendengar ucapan Sian Eng ini. Ia mengeringkan air matanya, lalu bangkit berdiri dan berkata.
"Engkau benar! Tentu ada apa-apa yang tidak beres dengan dia dan aku harus mengetahui hal itu. Aku harus menyusulnya ke rumahnya dan menanya kan hal ini kepadanya. Dia harus berterus terang. Kalau dia sudah tidak cinta lagi kepadaku, biar putus saja hubungan ini. Aku tidak mau dipermainkan!"
"Bagus! Begitulah seharusnya sikap seorang wanita gagah, bukan seperti wanita-wanita lemah dan cengeng yang bisanya hanya menangis kalau dipermainkan pria."
Kata Sian Eng.
Dara perkasa ini bukan sekadar memanaskan hati Siang Kui, melainkan ucapannya itu keluar dari lubuk hatinya, sesuai dengan wataknya yang keras.
Andaikata apa yang dialami Siang Kui itu menimpa padanya, tentu iapun akan mengambil sikap tegas seperti yang ia anjurkan kepada Siang Kui.
Siang Kui segera berganti pakaian baru dan membedaki mukanya agar tidak tampak bekas tangisnya.
Kemudian, tanpa pamit kepada ayah dan keluarganya, dan hanya Sian Eng saja yang mengetahuinya, iapun meninggalkan perguruan Hek-tiauw Bu-koan dan menuju ke rumah gedung besar milik Pangeran Cheng Boan yang seperti istana itu.
Ketika Siang Kui tiba di pintu gapura pekarangan istana Pangeran Cheng Boan, lima orang perajurit penjaga menghadangnya.
Seorang di antara lima orang perajurit itu, melihat Siang Kui yang cantik, segera timbul niatnya untuk menggoda.
"Selamat siang, nona manis. Nona hendak mencari siapakah?"
Tanyanya sambil menyeringai dan memasang gaya cengar-cengir.
"Aku hendak bertemu dengan Cheng Kongcu."
Kata Siang Kui singkat tanpa menanggapi ucapan ceriwis itu.
"Wah, tidak mudah bertemu dengan Cheng Kongcu, nona manis. Bagaimana kalau bertemu dan bicara dengan aku saja? Aku akan melayanimu dengan baik-baik. Percayalah!"
Kata penjaga itu dengan sikap genit.
Empat orang penjaga yang lain tertawa-tawa melihat tingkah rekan mereka yang genit itu.
Selagi Siang Kui hendak marah dan menghajar penjaga yang kurang ajar itu, muncul seorang kepala jaga yang lebih tua.
Begitu melihat Siang Kui, dia segera mengenal gadis itu dan cepat maju memberi hormat.
"Ah, kiranya Lo Siocia (Nona Lo) yang datang. Apa yang dapat kami lakukan untukmu, nona?"
"Aku ingin bertemu dengan Cheng Kongcu."
"Tadi saya lihat dia berada di taman bunga. Biar saya laporkan, nona."
"Tidak usah, biar aku mencarinya sendiri di taman."
Kata Siang Kui dan ia lalu cepat masuk dan membelok ke taman bunga yang berada di kiri gedung.
Taman itu luas sekali, berada di sebelah kiri gedung terus sampai ke belakang gedung.
Lima orang penjaga muda itu merasa heran melihat sikap kepala jaga yang demikian hormat kepada gadis cantik tadi.
"Kau gila! Kaukira siapa yang kau permainkan tadi?"
Bentak kepala jaga kepada penjaga yang tadi menggoda Siang Kui.
"Ia.... ia siapakah.....?"
Tanya si penggoda tadi.
"Mau tahu? Ia adalah tunangan Cheng Kongcu! Dan ia adalah puteri Lo Kauwsu (Guru Silat Lo) ketua dari Hek-tiauw Bu-Koan. Ia tentu saja memiliki ilmu silat yang tinggi!"
Si penggoda tadi menjadi pucat dan matanya terbelalak.
"Wah..... celaka.....! Aku.... aku tidak tahu.....!"
"Hayo cepat engkau hajar mulutmu yang lancang itu sendiri atau aku akar melaporkan kelakuanmu kepada Cheng Kongcu!"
"Ah, jangan..... jangan..... jangan lapor. Baik, aku akan menghajar mulutku sendiri .....!"
Kata si penggoda itu dan diapun lalu menggunakan kedua tangannya untuk menampari mulutnya sendil dari kanan kiri.
"Plok-plak-pIok-plak...."
Berulang kali sampai bibirnya pecah berdarah, ditertawakan oleh teman-temannya Sementara itu, Lo Siang Kui memasuki taman.
Setelah tiba di taman bunga bagian belakang, dari jauh ia melihat Cheng Kongcu berjalan perlahan bersama seorang wanita.
Ia melihat mereka dari belakang dan tampaknya mereka berdua itu berjalan berdampingan dan bercakap-cakap dengan asyik.
Siang Kui mengerutkan alisnya dan ia lalu membayangi dari belakang, bersembunyi di balik-balik rumpun bunga atau batang pohon, makin mendekati mereka.
"Sian-li."
Ia mendengar suara Cheng Kun bicara.
"aku sudah menerangkan semua hal kepadamu, apakah engkau masih juga tidak percaya?"
Siang Kui mendengarkan dengan penuh perhatian.
"Akan tetapi, Cheng Kongcu, agaknya tidak masuk di akal."
Terdengar wanita itu berkata.
"Bukankah dia telah membuktikan dirinya sebagai Pangeran Cheng Lin dan memiliki Suling Pusaka Kemala, bahkan Sribaginda kaisar sendiri telah menerima dan mengakuinya sebagai puteranya?"
"Semua orang memang dapat terpedaya, akan tetapi pembantu ayahku yang bernama Suma Kiang tidak dapat dikelabuhi karena dia mengenal Pangeran Cheng Lin yang aseli. Ketika dia didesak dan diterima sebagai sekutu ayah, akhirnya dia mengaku. Suling itu dicurinya dari Pangeran Cheng Lin yang aseli. Sebenarnya dia adalah Ouw Ki Seng ketua Ban-tok-pang."
"Aih, sungguh tidak kusangka sama sekali. Aku juga telah ditipunya!"
Seru wanita itu.
"Hal ini sebetulnya harus dirahasiakan. Yang mengetahuinya hanya ayah, aku, Paman Suma Kiang dan Paman Toa Ok. Akan tetapi karena engkau telah menjadi sekutu dan.... kekasihku yang ku-percaya, maka aku memberitahu kepadamu."
"Terima kasih, Kongcu. Engkau sungguh baik sekali kepadaku!"
Kata wanita itu yang membiarkan dirinya dipeluk dan dicium.
Siang Kui tidak dapat menahan diri lagi.
ia melompat keluar dan gerakannya ini dapat ditangkap pendengaran Sian Hwa Sian-li yang amat tajam.
Sian-li cepat melepaskan rangkulan Ciang Kun, membalikkan tubuhnya dan melompat ke depan Lo Siang Kui.
Melihat bahwa wanita yang dicumbu Cheng Kun ternyata amat cantik, Siang Kui menjadi semakin cemburu.
Wataknya memang keras dan galak, maka melihat wanita itu menghampirinya, tanpa banyak cakap lagi ia lalu menyerang dengan jurus Hek-tiauw-pok-touw (Rajawali Hi-tam Menyambar Kelenci), tangan kirinya mencengkeram ke arah muka sedangkan tangan kanannya mencengkeram ke arah dada.
Serangan ini sungguh keji dan berbahaya.
Kalau tangan kiri mengenai sasaran, muka yang cantik dari Sian Hwa Sian-li tentu akan rusak dan kalau tangan kanan yang mengenai dada, dapat menewaskan wanita cantik itu!
Namun, tingkat kepandaian Sian Hwa Sian-li jauh lebih tinggi daripada tingkat Lo Siang Kui, maka biarpun ia juga harus berlaku waspada dan hati-hati, dengan Cepat ia dapat menghindarkan diri dengan melangkah ke belakang dan menjauhkan sasaran yang diserang.
Melihat serangennya gagal, Siang Kui menjadi penasaran dan menyambung dengan serangan beruntun.
Karena tidak mengenai siapa wanita itu yang tanpa sebab menyerangnya, Sian Hwa Sian-li tidak bertindak sembrono dan iapun mempergunakan kecepatan gerakan untuk menghindar.
Sampai tujuh kali ia menghindarkan diri dengan elakan-elakan.
Cheng Kun terkejut melihat munculnya Siang Kui yang tiba-tiba menyerang Sian Hwa Sian-li kalang kabut.
"Kui-moi, jangan serang!"
Bentaknya, akan tetapi Siang Kui yang galak sudah terlalu marah untuk dapat menghentikan serangannya. la.menyerang terus.
"Dukk.....!"
Sian Hwa Sian-li kini menangkis dan karena tenaga sin-kangnya lebih kuat, maka Siang Kui terhuyung ke belakang.
Akan tetapi, kenyataan bahwa ia kalah kuat itu tidak membuat ia mundur.
Ia menyerang lagi dengan gencar.
Cheng Kun tahu bahwa Sian Hwa Sian-li amat lihai.
"Sian-li, jangan, bunuh ia!"
Dia memperingatkan. Sambil mengelak ke kanan kiri, Sian-li bertanya.
"Kongcu, ia ini siapakah?"
"Ia tunanganku, jangan bunuh!"
Kata lagi Cheng Kun.
Pada saat itu, Sian Hwa Sian-li memperoleh kesempatan.
Ia menggunakan sebagian besar tenaganya untuk menangkis pukulan Siang Kui sehingga gadis itu terhuyung dan kesempatan ini dipergunakan Sian Hwa Sian-li untuk balas menyerang.
Tangan kirinya menampar pundak, membuat Siang Kui terputar dan tangan kanannya menampar tengkuk.
Siang Kui yang pingsan itu tidak sampai terbanting jatuh.
"Dia terluka.....?"
Tanya Cheng Kun khawatir.
"Tidak, hanya pingsan. Sebaiknya kita bawa ke dalam dan kalau ia siuman, kau bujuk ia agar lain kali jangan bersikap galak kepadaku. Pergunakan ini untuk menjinakkannya."
Kata Sian-li sambil menyerahkan sebuah botol kecil berisi cairan merah kepada Cheng Kun.
Cheng Kun tersenyum dan dia lalu memondong tubuh Siang Kui yang pingsan, lalu dia membawanya ke rumah gedung.
Di dalam rumah, dia bertemu dengan para pelayan dan para ibu tirinya, akan tetapi mereka tidak berani mencampuri urusannya dan tidak berani bertanya.
Ketika ibunya sendiri yang muncul, ibunya bertanya.
"Ada apakah? Kenapa ia.....? Ehh, bukankah ia Lo Siang Kui, tunanganmu? Kenapa ia?"
"Agaknya masuk angin, ibu. Ia pingsan, biarlah aku akan merawatnya dalam kamarku."
Kata Cheng Kun dan ibu kandungnya tidak berkata apa-apa lagi.
Ibu yang anaknya hanya tunggal ini sejak Cheng Kun masih kecil terlalu memanjakannya.
Tidak ada permintaan yang tidak diturutinya.
Setelah kini Cheng Kun dewasa, ibunya tidak berani menghalangi semua perbuatannya karena kalau ia melakukan itu, anaknya tentu akan melawannya dan bersikap kasar kepadanya.
Karena itu, melihat puteranya membawa tunangannya itu ke dalam kamar, iapun tidak berani melarang, hanya menggeleng kepala dan menghela napas lalu pergi meninggalkan tempat itu.
Di dalam kamarnya, Cheng Kun merebahkan tubuh Siang Kui di atas pembaringan dan seperti yang telah diajarkan oleh Sian Hwa Sian-li, dia mengurut perlahan tengkuk gadis itu.
Tak lama kemudian Siang Kui mengeluh lirih dan bergerak, lalu membuka matanya.
Melihat dirinya rebah di atas pembaringan dan Cheng Kun duduk di tepi pembaringan, ia terkejut dan mencoba untuk bangkit duduk.
"Di mana ia? Perempuan busuk itu...!"
"Tenanglah, Kui-moi."
Cheng Kun me-nekan kedua pundak gadis itu dengan lembut agar Siang Kui tetap rebah telentang.
"Ia adalah seorang di antara pembantu-pembantu ayah yang amat lihai. Engkau sama sekali bukan tandingannya dan ia tidak ingin mencelakaimu. Bukti nya engkaupun tidak terluka. Akan tetapi engkau masih lemah dan pikiranmu kacau, maka minumlah dulu anggur ini agar hati dan pikiranmu menjadi tenang."
Sambil berkata demikian, Ciang Kun mengambil sebuah cawan penuh anggur merah yang sudah dipersiapkan sejak tadi dan dia membantu Siang Kui bangun duduk, merangkul pundaknya dan memberinya minum anggur itu.
Melihat betapa dirinya dirangkul dan diperlakukan dengan sikap lembut dan manis oleh tunangannya, meredalah kemarahan Siang Kui dan ia tidak menolak ketika dianjurkan untuk minum anggur dalam cawan yang sudah ditempelkan ke bibirnya oleh Cheng Kun.
Ia minum anggur secawan itu sampaihabis.
"Nah, sekarang rebahlah kembali dan mengaso sebentar sampai tubuhmu segar dan pikiranmu tenang kembali."
Kata Cheng Kun sambil membantu gadis itu merebahkan kepalanya di atas bantal.
Matanya terpejam dan ia merasakan betapa seluruh tubuhnya dijalari kehangatan setelah anggur tadi diminumnya.
Rasa hangat yang nikmat sekali.
Rasa hangat itu perlahan-lahan menjadi semakin panas dan akhirnya ia mengerang lirih karena tubuh, hati dan pikirannya telah dibakar oleh gairah berahi yang berkobar.
Ia merasakan betapa kedua tangan Cheng Kun membelainya, akan tetapi ia tidak menolak, bahkan menyambutnya dengan girang.
Gairah yang tidak wajar membakarnya dan menuntut kepuasan.
Akhirnya ia lupa akan segala.
Bukan saja ia menurut saja akan apapun yang akan dilakukan Cheng Kun atas dirinya, bahkan ia menyambutnya penuh gairah.
Dalam jaman apapun, wanita selalu terancam oleh bujuk rayu pria.
Oleh karena itu, para pria, terutama para gadis remaja dan mulai dewasa, haruslah waspada sekali, pandai menjaga diri, kehormatan dan harga dirinya.
Tentu saja tidak semua pria berwatak seperti srigala kelaparan, namun banyak sekali pria yang tampak baik-baik, sopan santun dan terhormat, bagaikan srigala berbulu domba siap untuk menerkam bila diberi kesempatan.
Dengan mempergunakan segal macam daya, pamer harta, bujuk rayu, sumpah palsu pria-pria macam itu selalu mengintai para gadis yang dipilihnya Sedikit saja gadis itu lengah, terkulai oleh bujuk rayu dan sumpah palsu, sila oleh pamer kekayaan, pria srigala itu akan menerkamnya.
Maka hancurlah martabat, harga diri dan kehormatan gadis itu!
Masih mending kalau pria bertanggung jawab dan menikahinya sebagai isterinya yang sah.
Akan tetapi, tidak jarang terdapat pria yang benar-benar berwatak srigala.
Setelah calon korban jatuh oleh rayuannya, srigala itu akan menggerogoti daging korbannya sekenyang dan sepuasnya, kemudian meninggalkan pergi bangkai korban itu begitu saja, tergeletak di tepi jalan sampai membusuk.
Betapa ngerinya kalau sudah begitu.
Karena itu, wahai para gadis, waspadalah dan perkuatkan imanmu, hargailah diri dan kehormatanmu sendiri, jangan mabok oleh bujuk rayu gombal, jangan silau oleh pameran harta, jangan tertipu oleh sumpah setia sampai mati, jangan secara murah menyerahkan diri dan kehormatanmu sebelum kamu dinikahi sebagai isteri.
Dan Wahai para pria pada umumnya dan para pemuda khususnya.
Waspadalah, jangan membiarkan nafsu daya rendah menguasai dirimu sehingga kamu lupa diri dan menodai seorang gadis, apalagi kalau ia pacar dan calon isterimu.
Ingatlah bahwa menikmati sejenak itu dapat mengakibatkan penyesalan seumur hidup!
Jangan terpikat dan minum anggur yang digunakan iblis karena anggur yang rasanya nikmat itu mengandung racun yang amat berbahaya sekali!.
Akan tetapi kalau hal itu memang telah terjadi karena kamu tidak dapat mengalahkan nafsumu sendiri, ber-sikaplah jantan.
Bertanggung jawablah!
Karena meninggalkan seorang gadis yang telah kamu nodai merupakan perbuatan yang amat terkutuk dan yang akan menghantui dirimu selama hidup.
Pada keesokan harinya, setelah pengaruh racun perangsang itu habis daya pengaruhnya, Lo Siang Kui terkejut melihat keadaan dirinya.
Ia menangis dan menyesali perbuatannya, Akan tetapi Cheng Kun merangkulnya dan menghiburnya.
"Sudahlah, Kui-moi. Mengapa engkau menangis? Bukankah kita saling mencinta dan bukankah engkau adalah calon isteriku? Kita melakukan ini karena salin mencinta. Kenapa disesali?"
"Kun-ko.... akan tetapi.... kita belum menikah...."
Tangis Siang Kui mereda karena kata-kata tunangannya tadi telah menghibur hatinya.
"Kalau belum, mengapa? Kita menikah hanya menunggu waktu saja. Sudahlah jangan menangis dan jangan bersedih. Engkau akan menjadi isteriku, maka perbuatan yang kita lakukan tadi sama sekali tidak ada salahnya, Kui-moi. Sekarang beriaslah dan pulanglah dulu."
Lo Siang Kui mengeringkan air matanya dan iapun mengenakan pakaiannya dan membedaki mukanya yang agak pucat.
"Kun-ko, siapakah perempuan jahat yang amat lihai itu?"
Hatinya terasa panas kembali mengingat betapa tunangannya bersikap demikian akrab dan mesra terhadap wanita cantik yang ilmu silat-nya amat lihai itu.
"Ah, ia bukan orang sembarangan, Kui-moi. Ia seorang tokoh besar dalam dunia kang-ouw yang sekarang menghambakan diri kepada ayahku. Namanya Kim Goat dan julukannya adalah Sian Hwa Sian-li. Ilmu silatnya tinggi sekali dan ia menjadi seorang di antara para pengawal keluarga kami. Sudahlah, sekarang engkau pulang dulu dan tak lama lagi kita menikah."
"Akan tetapi, kapankah kita menikah, Kun-ko? Tetapkanlah hari dan tanggalnya agar aku tidak menunggu-nunggu."
"Ah, hal itu dapat kita bicarakan nanti, Kui-moi?"
Siang Kui mengerutkan alisnya dan menatap wajah tunangannya dengan tajam.
"Kenapa nanti? Engkau harus menentukan sekarang, Kun-ko. Ingat, aku telah....."
"Akan kupikirkan dulu, Kui-moi."
"Tidak, Kun-ko. Aku minta kepastiannya sekarang juga. Aku tidak akan pulang sebelum memperoleh kepastian dari-mu!"
Kata Siang Kui dengan keras kepala. Cheng Kun menghela napas panjang.
"Baiklah, begini saja. Dalam waktu satu minggu ini aku pasti akan datang ke rumahmu dan memberi kepastian hari dan tanggal pernikahan kita."
"Betul dalam minggu ini? Jangan melanggar janji, Kun-ko. Aku tunggu kedatanganmu dalam minggu ini. Sekarang aku pulang dulu!"
Gadis itu lalu meninggalkan gedung itu, diantar Cheng Kun sampai di luar gedung.
Setelah agak jauh meninggalkan istana Pangeran Cheng Boan menuju ke Hek-tiauw Bu-koan yang berada di ujung kota, dari sebuah gang kecil tiba-tiba muncul seorang gadis cantik manis.
Gadis berusia sekitar sembilan belas tahun itu adalah Ciang Mei Ling dan ia menghampiri Siang Kui lalu berkata lirih.
"Enci Lo Siang Kui, bukan?"
Siang Kui memandang heran karena ia merasa belum mengenai gadis ini.
"Benar, aku Lo Siang Kui. Siapakah engkau dan ada keperluan apakah engkau menegur aku di jalan?"
"Namaku Ciang Mei Ling, enci. Aku mempunyai urusan penting sekali untuk dibicarakan denganmu."
"Aku tidak mempunyai urusan apapun denganmu. Aku tidak mengenalmu. Jangan ganggu aku!"
Kata Lo Siang Kui dengan suara ketus karena hatinya sedang risau dan timbul watak galaknya.
"Enci Siang Kui, aku tinggal di rumah gedung Pangeran Cheng Boan dan aku tahu apa yang telah terjadi semalam atas dirimu. Aku hendak bicara denganmu mengenai diri tunanganmu Cheng Kun. Apakah engkau tetap tidak tertarik dan tidak mau mendengarkan omongan-ku?"
Wajah Siang Kui berubah merah. Gadis ini mengetahui tentang peristiwa yang terjadi semalam. Ia memandang penuh perhatian dan melihat bahwa wajah yang cantik manis itu seperti diliputi awan kedukaan.
"Bicaralah."
Katanya singkat. Ciang Mei Ling memandang ke kanan kiri. Banyak orang berlalu-lalang di jalan raya itu.
"Tidak enak kalau kita bicara di sini enci. Banyak orang berlalu-lalang di sinl membuat kita tidak leluasa bicara."
Ia menengok ke kiri di mana terdapat sebuah rumah makan yang cukup besar dan yang baru saja dibuka dan masih sepi.
"Bagaimana kalau kita masuk ke rumal makan itu, minum teh dan bicara?"
Lo Siang Kui menengok dan melihat rumah makan yang masih sepi itu dan ia mengangguk.
Tanpa bicara kedua orang gadis itu lalu melangkah dan memasuki rumah makan itu.
Seorang pelayan menyambut tamu pertama itu dengan ramah.
"Ji-wi siocia (Nona berdua) hendak sarapan?"
Tanyanya.
"Kami hanya mau minum teh panas dan sediakan beberapa kue kering."
Pesan Mei, Ling. Pelayan pergi dan tak lama kemudian dia sudah menyuguhkan pesanan itu. Setelah pelayan pergi bertanyaiah Siang Kui dengan tidak sabar.
"Nah, sekarang bicaralah. Apa yang ingin kau bicarakan mengenai diri Cheng Kongcu?"
"Enci Lo Siang Kui, aku mengetahui semua yang telah terjadi atas dirimu semalam, Engkau telah menjadi korban kebiadaban pemuda bangsawan Cheng Kun yang kau anggap sebagai seorang tunangan yang baik itu. Engkau telah menjadi korban persekutuan busuk antara Cheng Kun dan Sian Hwa Sian-li, iblis betina itu."
Wajah Siang Kui menjadi pucat, lalu menjadi merah. Ia terkejut dan juga merasa malu sekali karena rahasianya semalam diketahui orang lain.
"Apa...... apa yang kau bicarakan ini? Jangan main-main engkau, Ciang Mei Ling!"
"Aku tidak main-main, enci. Aku tahu bahwa engkau telah menjadi korban kecabulan Cheng Kun. Bukankah engkau diberi minum anggur sebelumnya dan setelah minum anggur itu engkau menjadi lupa keadaan?"
Wajah Siang Kui menjadi merah sekali, malu teringat akan sikapnya semalam, betapa ia menyambut semua perbuatan Cheng Kun terhadap dirinya dengan penuh gairah dan baru pagi tadi ia sadar dan menyesali perbuatannya.
"Bagaimana...... bagaimana engkau bisa tahu.....?"
Tanyanya gagap. Melihat gadis itu kebingungan, Mei Ling menyadari bahwa ia terburu-buru dalam pengakuannya. Ia lalu berkata dengan lebih tenang.
"Enci Lo Siang Kui, sebelum aku menjawab pertanyaanmu itu, biarlah engkau lebih dulu mengenal siapa aku dan mengetahui keadaanku di istana Pangeran Cheng Boan. Seperti kukatakan tadi, aku bernama Ciang Mei Ling. Aku puteri dari mendiang ketua Pek-eng-pang di lereng pegunungan Thai-san. Aku telah bertunangan dengan seorang pangeran. Pangeran Cheng Lin namanya dan atas kehendaknya aku dijemput Sian Hwa Sian-li dan diharuskan tinggal di istana Pangeran Cheng Boan. Kurang, lebih sebulan yang lalu, aku...... akupun menjadi korban kebiadaban Cheng Kun. Aku tidak ingat apa-apa lagi setelah diberi minum anggur oleh Sian Hwa Sian-li dan tahu-tahu. aku berada di dalam kamar Cheng Kun dan aku dipermainkannya seperti dia mempermainkanmu."
"Ahhh.....!"
Lo Siang Kui terkejut bukan main.
"Sejak engkau memasuki taman, aku sudah mengikuti, enci. Aku memang sedang melakukan penyelidikan terhadap mereka semua sejak aku dijadikan korban kebiadaban Cheng Kun. Aku tahu bahwa mereka semua itu bersekongkol. Pangeran Cheng Lin tunanganku itu bersekongkol dengan Pangeran Cheng Boan, dibantu oleh Sian Hwa Sian-li. Mereka semua bukan orang baik-baik, juga tunanganku Pangeran Cheng Lin itu. Mereka bersekongkol, entah untuk urusan apa sedang kuselidiki. Mereka itu semua orang hina Sian Hwa Sian-li itu seorang iblis betina. Ia tidak saja berjina dengan Pangeran Cheng Lin, akan tetapi juga dengan Cheng Kun."
Hati Lo Siang Kui merasa panas bukan main.
Akan tetapi tentu saja ia tidak mau mempercayai semua ucapan Ciang Mei Ling yang baru saja dikenalnya.
Apaiagi ia teringat bahwa Cheng Kun sudah berjanji dalam waktu seminggu akan memberi keputusan tentang hari pernikahan mereka.
Dengan marah Siang Kui bangkit berdiri dari kursinya.
"Sudahlah, jangan bicara lagi. Aku tidak percaya akan semua omonganmu!"
Setelah berkata demikian, ia cepat keluar dari rumah makan itu dan berjalan cepat menuju pulang.
Ia menahan air matanya yang sudah me-ngembang di pelupuk matanya.
Ciang Mei Ling menghela napas panjang.
Ia merasa iba kepada Lo Siang Kui.
Gadis itu telah salah memilih, pikirnya.
Memilih seorang laki-Iaki busuk seperti Cheng Kun.
Tiba-tiba ia teringat akan dirinya sendiri dan berulang kali menghela napas.
Ia sendiripun telah salah memilih jodoh.
Ia terkecoh oleh sikap Ouw Ki Seng yang semula tampak baik sekali itu.
Biarpun kemudian ia mengetahui bahwa Ouw Ki Seng yang menjadi tunangannya itu seorang pangeran, namun hal ini tidak menghibur hatinya yang terluka.
Bukan saja ia telah terpedaya, menyerahkan diri dan kehormatannya kepada pangeran itu dalam keadaan terbius, akan tetapi juga kini ia menjadi korban kebiadaban Cheng Kun.
Kini ia dapat menduga bahwa semua itu tentu atas usaha licik dari Sian Hwa Sian-li.
Ketika ia diajak minum anggur, tentu anggur itu diberi sesuatu oleh iblis betina itu yang membuat ia terangsang dan tidak sadar.
Iapun dapat menduga bahwa dulu, ketika ia menyerahkan kehormatannya kepada Pangeran Cheng Lin, iapun berada dalam keadaan yang sama, terbius oleh racun perangsang yang dicampurkan dalam minuman anggur.
Presis seperti yang dialami oleh Lo Siang Kui.
Setelah melihat hubungan jina antara Pangeran Cheng Lin atau dahulu-nya Ouw Ki Seng itu dengan Sian Hwa Sian-li, iapun dapat menduga bahwa dahulupun ia menjadi korban Ouw Ki Seng atas muslihat Sian Hwa Sian-li.
Akan tetapi ia akan menyelidiki terus untuk mengetahui persekutuan apakah sebetulnya yang ada antara mereka semua.
Setelah membayar harga minuman dan makanan, Ciang Mei Ling lalu bergegas kembali ke istana Pangeran Cheng Boan.
Ia bersikap biasa saja agar tidak menimbulkan kecurigaan.
Sudah sepuluh hari lamanya Lo Sian Kui menungu-nunggu dengan tidak sabar, namun Cheng Kun yang ditunggu-tunggu tidak kunjung muncul.
Padahal sebelum adanya Sian Hwa Sian-li di rumah tunangannya itu, Cheng Kun selalu berkunjung ke rumahnya hampir setiap hari.
Putera pangeran itu berjanji akan datang berkunjung dalam seminggu untuk membicarakan tentang hari pernikahan.
Akan tetapi ditunggu sampai sepuluh hari, dia tidak kunjung datang dan tidak mengirim berita apapun.
Padahal, ia sudah menyerahkan kehormatannya, walaupun penyerahan itu dilakukannya dalam keadaan tidak sadar, terpengaruh oleh sesuatu yang membuat ia kehilangan pertimbangan.
Teringat akan semua ini, Siang Kui menangis tersedu-sedu dalam kamarnya.
Setelah lewat seminggu Cheng Kun belum juga datang, Lo Siang Kui mengurung diri dalam kamarnya.
Ia tidak mau makan dan hanya menangis saja dengan sedihnya, membuat ayah dan ibunya dan juga kakaknya menjadi bingung.
Ketika ditanya, Siang Kui tidak mau menjawab, hanya menangis dan mengusir pergi orang orang yang bertanya.
Bahkan ayah dan ibunya tidak ia perdulikan, apalagi kakak nya.
Dengan hati khawatir Lo Kang lalu menemui Lo Sian Eng.
"Sian Eng, tolonglah encimu Siang Kui itu. Sudah tiga hari ia tidak mau makan dan hanya menangis dalam kamarnya. Kalau kami tanya, ia tidak mau menjawab bahkan mengusir kami dari kamarnya. Tolonglah, Sian Eng, barangkali engkau yang akan mampu mengajaknya bicara."
Demikian Lo Kang meminta kepada Sian Eng.
Sian Eng sudah tahu akan keadaan Siang Kui, akan tetapi ia memang diam saja tidak ingin mencampurinya karena ia tahu bahwa Siang Kui adalah seorang gadis yang keras hati.
Akan tetapi setelah pamannya mengajukan permintaan itu dengan suara mengandung kegelisahan, iapun menyanggupi dan ia segera menuju ke kamar Siang Kui yang tertutup daun pintunya.
Siang Eng pernah digembleng selama lima tahun oleh mendiang Hwa Hwa Cinjin, seorang datuk besar ahli silat dan ahli sihir.
Maka, selain ilmu silat tinggi, iapun pernah mempelajari ilmu sihir, ilmu untuk menguasai atau mempengaruhi pikiran orang lain.
Ia tahu bahwa pada saat itu pikiran Siang Kui sedang kacau dan karena dilanda suatu kedukaan maka pikirannya menjadi lemah sehingga akan mudah untuk dipengaruhi.
Maka, ia lalu mengerahkan kekuatan batinnya, menyalurkan kekuatan itu pada suaranya dan ia mengerahkan khi-kang agar suaranya terdengar nyaring dan jelas ke dalam kamar itu dan mengetuk daun pintunya.
"Tok-tok-tok! Enci Siang Kui, dengar-kan aku, enci Siang Kui. Aku Sian Eng yang akan mengangkatmu dari kedukaanmu. Bukalah pintunya, enci Siang Kui. Buka pintu kamarmu dan biarkan aku masuk!"
Terdengar suara kaki diseret dan daun pintu itupun dibuka dari dalam oleh Siang Kui.
Sian Eng terkejut melihat gadis yang biasanya cantik pesolek itu kini keadaannya amat menyedihkan.
Pakaiannya kusut, rambutnya awut-awutan, mukanya pucat dan matanya merah, tubuhnya tampak lemas dan lesu!
Sian Eng cepat merangkulnya dan membawanya ke tempat tidur.
"Duduklah, enci Siang Kui. Duduklah di sini."
Siang Kui duduk di tepi pembaringan dengan taat.
"Sekarang berbaringlah. Engkau perlu beristirahat."
Kata pula Sian Eng yang suaranya mengandung kekuatan sihir.
Siang Kui tidak membantah dan merebahkan diri, telentang di atas pembaringan.
Sian Eng mengetahui apa yang dibutuhkan gadis itu pada saat ini.
"Enci Siang Kui, engkau rebah dan mengaso dulu, aku akan mengambilkan makanan dan minuman untukkmu. Sebelum aku kembali, tenangkanlah hati dan pikiranmu, jangan merisaukan apa-apa dan mengaso sajalah."
Ia lalu meninggalkan Siang Kui, menutupkan daun pintu dari luar dan bergegas pergi ke dapur.
Cepat ia minta kepada pelayan untuk menyediakan bubur dan air teh yang ia bawa ke kamar Siang Kui.
Ketika ia memasuki kamar, ia minta agar Lo Kang dan isterinya yang mengikutinya tidak mengganggunya dan meninggalkan kamar itu.
"Jangan khawatir, paman dan bibi Aku akan mencoba untuk menghiburnya dan mengajaknya bicara. Sebaiknya kalau kami ditinggalkan berdua saja di kamar ini."
Lo Kang dan isterinya mengangguk dan meninggalkan kamar itu.
Sian Eng lalu memasuki kamar, menutupkan daun pintunya dan membawa bubur dan air teh mendekati Siang Kui yang masih rebah telentang di atas pembaringan.
"Enci Siang Kui, bangun ,dan duduklah. Ini ada semangkuk bubur. Makanlah dulu agar tubuhmu kuat dan minumlah air teh ini."
Karena terpengaruh oleh ucapan Sian Eng yang mengandung kekuatan sihir, bagaikan orang yang sedang bermimpi Siang Kui bangkit duduk, menerima cangkir berisi air teh dan meminumnya.
Kemudian dengan taat iapun makan semangkuk bubur itu.
Karena sudah tiga hari ia tidak makan atau minum, sebentar saja semangkuk bubur dan secangkir air teh itupun habis.
Setelah makan, kedua pipi Siang Kui yang tadinya pucat kini menjadi kemerahan.
Sian Eng duduk di tepi pembaringan di samping Siang Kui.
Sambil merangkul pundak gadis itu, Sian Eng bertanya.
"Enci Siang Kui, engkau percaya kepadaku, bukan?"
Siang Kui mengangguk sambil menatap wajah Sian Eng.
"Dan engkau yakin bahwa kalau engkau membutuhkan pertolongan, aku akan menoiongmu dan hanya aku yang akan dapat menolongmu?"
Kembali Siang Kui mengangguk penuh keyakinan.
"Nah, kalau begitu, sekarang ceritakanlah kepadaku mengapa engkau begini bersedih, enci Siang Kui. Apa yang telah terjadi denganmu dan ketika tempo hari engkau tidak pulang, engkau bermalam di manakah?"
Ditanya begitu, tiba-tiba Siang Kui menangis tersedu-sedu.
Ketika Sian Eng merangkulnya, Siang Kui juga memeluKi Sian Eng sambil menangis.
Sian Eng membiarkan gadis itu menangis sepuasnya karena hal itu merupakan pelepasan segala kedukaannya.
Setelah tangis Siang Kui mereda, Sian Eng menggunakan sehelai saputangan untuk mengusap air mata dari muka Siang Kui.
"Nah, bicaralah, enci. Percayalah bahwa aku tentu akan dapat membantumu memecahkan segala persoalan yang mengganggu hatimu."
"Sian Eng, bagaimana aku harus mengatakan kepadamu? Ah, Eng-moi, hatiku sakit sekali, kebahagiaanku hancur, kehidupanku rusak binasa......"
Sian Eng terkejut.
"Ah....! Apakah yang telah terjadi denganmu, enci? Tentu Cheng Kun itu penyebabnya! Hayo kata-kan, apa yang telah dia lakukan kepadamu?"
Sian Eng dapat menduga dengan mudah.
Bukankah ia yang menganjurkan Siang Kui untuk mencari Cheng Kun yang tak pernah datang lagi berkunjung.
Kemudian Siang Kui pergi dan semalam suntuk tidak pulang.
Seminggu setelah pulang gadis itu lalu mengeram diri dalam kamar, tidak makan tidak minum sampai tiga hari lamanya!
Siapa lagi yang menjadi penyebabnya selain Cheng Kun?
Siang Kui menghela napas, melepaskan ganjalan hatinya.
Memang Sian Eng satu-satunya orang yang akan dapat menolongnya menghadapi Sian Hwa Sian-li yang lihai.
Tanpa dipengaruhi kekuatan sihir sekalipun ia sudah mengambil keputusan untuk menumpahkan semua kedukaannya kepada Sian Eng.
"Ketika engkau berkunjung ke rumah Cheng Kun, apa yang terjadi, enci Siang Kui?"
Sian Eng mendesak. (Lanjut ke
Jilid 27) Suling Pusaka Kumala (CeritaLepas) Karya . Asmaraman S. Kho Ping Hoo
Jilid 27
"Banyak hal terjadi, Eng-moi. Ketika aku berkunjung ke sana, aku langsung mencari Kun-ko ke dalam taman. Dan tahukah engkau apa yang kulihat? Dia sedang berkasih-kasihan dengan seorang wanita yang cantik dan pesolek. Wanita yang menurut perkiraanku sudah berusia tiga puluhan tahun akan tetapi genitnya bukan main. Seorang iblis betina!"
Wajah gadis itu menjadi merah sekali karena kemarahannya timbul ketika ia teringat kepada Sian Hwa Sian-li.
"Hemm, sudah kuduga bahwa dia seorang laki-laki yang tidak setia. Lalu apa yang terjadi, enci Siang Kui?"
"Melihat mereka berkasih-kasihan, aku menjadi panas hati dan aku menyerang wanita itu untuk membunuhnya. Akan tetapi..... ternyata ia lihai sekali, Eng-moi. Aku..... aku kalah dan roboh tertotok oleh wanita itu."
"Hemm, kiranya ia lihai?"
Kata Sian Eng dengan kaget. Ia tahu bahwa ilmu silat Siang Kui cukup tinggi. Kalau wanita itu mampu menotok roboh Siang Kui, jelas bahwa wanita itu memang lihai sekali.
"Aku jatuh pingsan dan ketika aku siuman kembali, aku telah berada di kamar Kun-ko. Dia menghiburku dan memberi minum anggur. Setelah minum anggur, aku..... aku menjadi seperti mabok dan tidak dapat menguasai diriku. Kesadaranku seperti hilang dan aku...... aku..... bahkan tidak menolak ketika dia menggauliku....."
Siang Kui menundukkan mukanya dan merasa malu sekali.
"Ya Tuhan......!"
Sian Eng berseru.
"Jahanam itu.....!!"
"Keesokan harinya baru aku menyadari apa yang telah kulakukan. Aku menyesal dan menangis. Kun-ko menghiburku, dan mengatakan bahwa dalam waktu seminggu dia akan datang untuk menentukan hari pernikahan kami. Tentu saja aku percaya kepadanya dan aku merasa terhibur dan aku lalu pulang. Akan tetapi di tengah perjalanan, seorang gadis cantik mengajak aku bicara. Ia bernama Ciang Mei Ling dan ia mengaku sebagai tunangan Pangeran Cheng Lin. Apa yang ia ceritakan benar-benar membuat aku merasa gelisah sekali. Ia menceritakan bahwa ia sendiripun menjadi korban kebiadaban Cheng Kun, digauli setelah ia diberi minum anggur yang sama dengan yang kuminum. Katanya semua itu diatur oleh Sian Hwa Sian-li....."
"Siapa itu Sian Hwa Sian-li?"
"Ia adalah wanita yang berkasih-kasihan dengan Cheng Kun."
"Ah, kiranya begitu?"
"Aku masih tidak percaya akan semua omongan Ciang Mei Ling karena Kun-ko sudah menjanjikan kepadaku untuk datang menentukan hari pernikahan kami. Akan tetapi setelah lewat seminggu, dia tidak muncul dan tidak memberi kabar. Aku menjadi khawatir sekali, Eng-moi, apalagi kalau aku teringat akan cerita Ciang Mei Ling. Jangan-jangan.... Kun-ko itu memang benar seorang yang jahat dan hanya akan mempermainkan aku.... dan menurut Ciang Mei Ling, mereka semua, Pangeran Cheng Lin, Pangeran Cheng Boan, Cheng Kun dan Sian Hwa Sian-li, mereka semua itu bersekongkol, entah untuk apa...."
"Gila! Aku harus turun tangan. Tak dapat kubiarkansaja laki-laki itu merusak kehidupan dan kebahagiaanmu, enci Siang Kui. Kalau perlu aku akan menggunakan kekerasan untuk memaksa dia menikahimu. Tenang sajalah, aku pasti akan menyeret dia bertekuk lutut di depanmu!"
Kata Sian Eng dengan nada suara penuh kemarahan.
"Hati-hatilah, Sian Eng. Iblis betina Sian Hwa Sian-li itu lihai bukan main dan Pangeran Cheng Boan mempunyai banyak jagoan lihai yang menjadi pengawal keluarganya."
Siang Kui memperingatkan.
"Jangan khawatir, enci Siang Kui. Aku tentu akan berhati-hati."
Jawab Sian Eng.
Malam itu bulan bersinar hampir sepenuhnya.
Tidak ada awan menghalang sehingga sinar bulan menerangi kota raja.
Suasana amatlah indahnya.
Seluruh kota bermandikan cahaya bulan dan hampir semua orang berada di luar rumah mereka.
Kanak-kanak bermain-main di pelataran rumah, teriakan-teriakan mereka mengundang suasana gembira.
Orang-orang dewasa berjalan-jalan dengan riangnya.
Akan tetapi, suasana yang ramai meriah itu tidak berlangsung lama.
Angin yang membawa hawa dingin datang bertiup.
makin lama hawa udara menjadi semakin dingin sehingga kanak-kanak sudah diteriaki ibu mereka untuk masuk ke dalam rumah agar tidak sampai masuk angin.
Orang-orang dewasa juga tidak betah bertahan di luar.
Tak lama kemudian suasana menjadi sepi.
Jalan-jalan ditinggalkan orang, jendela dan pintu rumah ditutup agar hawa dingin tidak menyerang masuk ke dalam rumah.
Yang berkeadaan mampu segera membuat perapi-an di tungku untuk menghangatkan badan.
Para perajurit yang bertugas jaga malam itu di gardu-gardu penjagaan gedung-gedung para pembesar atau bangsawan tinggi, mengenakan mantel bulu yang tebal dan ada pula yang membuat api unggun di gardu penjagaan.
Akan tetapi dalam udara yang dingin itu ada orang yang berada di luar.
Bahkan ia bergerak cepat sekali, hanya tampak bayangannya saja yang berkelebatan dan selalu ia memilih tempat yang terlindung kegelapan bayangan bangunan atau pohon.
Ketika ia tiba di sebuah rumah, ia berhenti di dalam bayangan rumah itu yang gelap.
Dari situ ia memandang ke seberang jalan di mana berdiri gedung megah seperti istana milik Pangeran Cheng Boan.
Bayangan itu adalah Lo Sian Eng, Pakaiannya yang ringkas berwarna merah muda itu tampak gelap dalam sinar bulan itu.
Di punggungnya tergantung sebatang pedang beronce merah.
Sian Eng marah sekali ketika mendengar cerita Lo Siang Kui tentang perbuatan biadab yang dilakukan Cheng Kun atas diri kakak sepupunya itu.
Malam ini, tanpa memperdulikan hawa udara yang amat dingin, gadis perkasa itu mengenakan pakaian ringkas, membawa pedangnya dan keluar dari rumah pamannya pergi menuju gedung tempat tinggal Cheng Kun.
Agar tidak menarik perhatian orang, Sian Eng menyelinap dalam bayangan gelap dan kini ia berada di dalam bayangan rumah yang berdiri di seberang gedung Pangeran Cheng Boan.
Dari tempat gelap di seberang jalan itu ia dapat melihat sebuah gardu penjagaan dan melihat belasan orang perajurit yang berjaga di sekitar gardu itu.
Rumah gedung itu sendiri sudah menutup semua daun jendela dan pintunya.
Akan tetapi di luar gedung tergantung banyak lampu teng yang cukup memberi penerangan kepada pekarangannya yang luas.
Dari tempat persembunyiannya Sian Eng dapat melihat pula bahwa gedung itu dikelilingi pagar tembok yang cukup tinggi, bahkan di bagian atas pagar tembok dipasangi hiasan runcing seperti tombak berjajar.
Dengan jalan memutar, melalui tempat-tempat yang gelap oleh bayangan bangunan dan pohon-pohon, Sian Eng tiba di bagian belakang pagar tembok itu.
Tempat itu sepi sekali dan dengan pengerahan gin-kangnya (ilmu meringankan tubuhnya) ia melompat dan bagaikan seekor burung tubuhnya melayang ke atas dan mtangannya menangkap sebatang tombak yang berada di atas pagar tembok.
Dengan mudah ia mengangkat tubuhnya dan kini ia berdiri di atas pagar tembok, di antara tombak-tombak yang berjajar.
Setelah menjenguk ke sebelah dalam pagar tembok ia melihat bahwa itu adalah sebuah taman yang berada di belakang gedung.
Ia lalu melompat turun tanpa menimbulkan suara ketika kakinya menginjak tanah seperti seekor kucing saja.
Akan tetapi ia cepat menyusup ke belakang rumpun bunga ketika mendengar kentungan dipukul orang dan ia melihat dua orang perajurit datang meronda sambil membawa sebuah lampu gantung di ujung sebatang tongkat.
"Bagus, inilah yang kuharapkan."
Bisik nya kepada diri sendiri sambil menyelinap ke balik pepohonan untuk menghadang datangnya dua orang peronda itu.
Ia tidak mengenai keadaan di gedung itu dan ia membutuhkan seorang penunjuk jalan!
Dua orang perajurit peronda itu sama sekali tidak pernah menyangka bahwa di depan mereka terdapat seorang gadis perkasa yang telah siap menyerang mereka seperti seekor singa betina siap menerkam dua ekor kelenci.
Kemunculan Sian Eng memang mengejutkan sekali.
Dua orang itu hanya tampak dua buah lengan berkelebat dan tahu-tahu mereka sudah roboh dan tidak mampu bergerak lagi karena sudah tertotok.
Sian Eng menyambar tongkat yang ujungnya tergantung lampu teng itu agar tidak sampai ter-banting dan terbakar.
Ia meniup padam lampu itu dan memandang kepada dua orang yang sudah rebah telentang tanpa dapat bergerak.
Ia memilih seorang dari mereka yang wajahnya membayangkan ketakutan.
Inilah yang akan dapat dijadikan penunjuk jalan, pikirnya dan tangan kirinya diayun memukul leher orang ke dua yang matanya melotot.
Orang itupun mengeluh dan pingsan.
Sian Eng menepuk pundak orang yang dipilihnya.
Ketika orang itu menggerakkan tubuhnya dan hendak bangkit duduk, pedang Coa-tok Sin-kiam (Pedang Sakti Bisa Ular) telah menodong lehernya.
Ujung pedang yang runcing itu terasa menggigit kulit sehingga orang yang sudah ketakutan itu menjadi semakin takut sehingga dia menggigil.
"Ampun.... ampunkan saya.... jangan bunuh saya....."
Dia meratap.
"Aku tidak akan membunuhmu asal engkau dapat menunjukkan kepadaku di mana. adanya kamar tuan muda Cheng Kun!"
Bisik Sian Eng dengan nada suara mengancam.
"Awas, kalau engkau menipuku atau engkau berteriak, pedangku ini akan menembus lehermu!"
"Baik.... baik..... lihiap (pendekar wanita)..... kamarnya berada di bagian belakang, di sebelah kiri....."
Tangan orang itu menunjuk ke arah gedung besar itu.
"Tunjukkan, bawa aku ke sana. Awas, jangan sampai ketahuan orang, ambil jalan yang aman."
Kata Sian Eng dan orang itupun bangkit berdiri, dan pedang di tangan Sian Eng itu tidak pernah meninggalkan kulit lehernya.
Peronda itu lalu berjalan menyeberangi taman menuju ke bagian belakang gedung.
Sian Eng berjalan di belakangnya menodongkan pedangnya.
Sebagai seorang perajurit pengawal yang biasa meronda di seluruh bagian gedung itu tentu saja orang itu mengenai semua bagian gedung dan, diapun tahu pintu-pintu rahasia dari mana dia memasuki gedung.
Tentu saja pintu-pintu rahasia itu hanya diketahui oleh penghuni gedung dan para perajurit pengawal.
Sian Eng terus menodong punggung penjaga itu sampai penjaga itu berhenti melangkah dan dengan telunjuk kanannya menuding ke arah pintu sebuah kamar yang berada di bagian belakang sebelah kiri gedung itu.
"Lihiap, itulah kamar Cheng Kongcu."
Bisiknya lirih.
"Jangan bohong! Kalau engkau berani berbohong, akan kubunuh kau!"
Desis Sian Eng sambil menodongkan pedangnya ke dada orang itu. Orang itu menggigil ketakutan.
"Tidak ..... saya tidak berani berbohong, lihiap."
Katanya.
Setelah yakin bahwa orang itu tidak akan berani berbohong kepadanya, tangan kiri Sian Eng bergerak dan orang itu terkulai roboh dengan tubuh lemas tak mampu bergerak.
Setelah menyeret tubuh penjaga itu ke belakang sebuah pot kembang besar, Sian Eng lalu menghampiri pintu kamar itu dan mengetuk.
"Tok-tok-tok!"
Terdengar suara seorang laki-laki dari dalam kamar.
"Siapa itu?"
Sian Eng sengaja menjawab dengan suara yang lembut dan mesra.
"Saya, Kongcu, harap buka pintunya."
Hening sejenak, lalu suara laki-laki itu terdengar pula.
"Siapakah engkau?"
"Saya pelayan baru, kongcu, hendak melayani kongcu kalau-kalau kongcu membutuhkan sesuatu."
Kata pula Sian Eng dengan suara memikat.
Tepat seperti dugaannya.
Kongcu itu mata keranjang dan timbul keinginan hatinya untuk melihat wanita yang mengaku pelayan baru dan yang suaranya merdu memikat itu.
Sian Eng mendengar langkah kaki menuju ke pintu.
Ia sudah siap dengan pedang di tangannya.
"Kriiittt....!"
Daun pintu dibuka dan Cheng Kun terbelalak kaget melihat seorang gadis yang memakai topeng kain.
Akan tetapi kekagetannya segera berubah menjadi ketakutan ketika sebatang pedang sudah menodong dadanya.
Dia mundur-mundur masuk kembali ke kamarnya, diikuti oleh Sian Eng yang tetap menodongkan pedangnya.
"Kau..... siapakah engkau..... dan apa artinya ini......?"
"Tidak perlu engkau tahu siapa aku."
Kata Sian Eng yang sengaja mengenakan topeng kain penutup separuh mukanya bagian bawah sebelum ia mcngetuk daun pintu tadi.
"Yang perlu kau ketahui adalah bahwa aku akan menembuskan pedang ini di dadamu kalau engkau berani berteriak!"
Wajah Cheng Kun berubah pucat sekali.
"Jangan..... jangan bunuh aku. Apakah kesalahanku dan apa sebetulnya yang kau kehendaki dariku?"
Dia berusaha untuk bersikap tenang, akan tetapi tetap saja suaranya gemetar.
"Apa kesalahanmu? Engkau masih menanyakan hal itu? Engkau bedebah biadab. Engkau telah menggunakan muslihat untuk menodai Lo Siang Kui! Setelah engkau menodainya, engkau berjanji akan menentukan hari pernikahan kalian dalam waktu seminggu. Akan tetapi telah sepuluh hari engkau tidak muncul. Apa engkau sudah ingin mampus?"
Sian Eng menekan pedangnya dan ujung pedang menembus baju, menyentuh kulit terasa betapa keras dan runcingnya.
Mendengar ucapan itu, Cheng Kun memutar pikirannya.
Sudah pasti wanita ini bukan Siang Kui sendiri karena dia tentu akan mengenali suaranya walaupun bentuk tubuh gadis ini mirip Siang Kui.
Dan teringatlah dia akan adik sepupu Siang Kui, gadis yang amat lihai itu, yang seingatnya ber-nama Lo Sian Eng.
Tentu gadis ini adik sepupu itu.
Cheng Kun cukup cerdik dan diapun dapat menduga bahwa gadis ini tentu hanya menakut-nakutinya dan mengancamnya, tidak bermaksud membunuh-nya.
Dia menjadi berani dan dia sengaja membuat suaranya nyaring ketika berseru.
"Ampunkan saya! Jangan bunuh saya.. ....."
"Hushh! Jangan berteriak-teriak!"
Bentak Sian Eng.
"Katakanlah apa yang harus saya lakukan. Saya akan menaati semua perintahmu, akan tetapi jangan bunuh saya."
Kata Cheng Kun yang merendahkan suaranya lagi dengan keyakinan bahwa teriakannya tadi tentu terdengar oleh Sian Hwa Sian-li yang kamarnya tidak jauh dari situ.
"Engkau tidak ingin mampus? Kalau begitu, besok pagi engkau harus datangi keluarga Lo dan menyatakan keputusan-mu untuk segera menikahi Lo Siang Kui dalam waktu secepatnya, dalam bulan ini juga. Kalau tidak kau lakuknn itu, pasti pedangku akan memenggal lehermu!"
Pada saat itu, sesosok bayangan berkelebat memasuki pintu kamar itu dan ada sinar merah menyambar ke arah leher Sian Eng dari belakang.
Sinar merah itu ternyata adalah sehelai sabuk merah yang digerakkan secara lihai sekali oleh Sian Hwa Sian-li.
Biarpun hanya sabuk sutera merah, akan tetapi karena digerakkan dengan pengerahan sin-kang, kalau ujung sabuk itu mengenai tengkuk Sian Eng, tentu gadis ini akan roboh.
Namun, ketika itu tingkat kepandaian Sian Eng sudah maju pesat.
Ia dapat menangkap sambaran angin serangan ke arah tengkuknya itu dan secepat kilat ia merendahkan tubuhnya lalu membalik dan pedangnya sudah mendahuluinya menyerang ke arah dada penyerang gelapnya itu.
"Singgg.....!"
Sinar pedang menyambar dan Sian Hwa Sian-li terkejut bukan main.
Hebat sekali serangan balasan yang tiba-tiba itu dan terpaksa ia melompat ke belakang untuk menghindarkan diri dari sambaran pedang Sian Eng.
"Hemmm, engkau tentu Sian Hwa Moli yang tak tahu malu itu!"
Bentak Sian Eng yang sengaja mengubah julukan Sian Hwa Sian-li (Dewi Bunga Dewa) menjadi Sian Hwa Mo-li (Iblis Betina Bunga Dewa)!
Sian Hwa Sian-li mengerutkan alisnya dan memandang penuh perhatian, akan tetapi ia tidak mengenai gadis yang separuh mukanya tertutup kain merah ini.
Seorang gadis yang lihai, bukan saja mampu menghindarkan serangannya, bahkan dapat melakukan serangan balasan yang amat berbahaya.
Ia mengerling ke arah Cheng Kun dan melihat pemuda itu telah lari bersembunyi ke sudut kamar.
Hatinya lega bahwa pangeran itu tidak terluka.
"Siapa engkau? Mau apa engkau mengacau di sini?"
Bentak Sian Hwa Sian li.
"Mau membunuh iblis betina semacam engkau!"
Bentak Sian Eng dan ia sudah menyerang lagi.
Tadinya Sian Eng sengaja menutupi mukanya dengan kain merah agar ia tidak akan dikenal dan kalau keadaannya berbahaya seperti yang diceritakan Siang Kui, ia akan melarikan diri.
Akan tetapi begitu melihat Sian Hwa Sian-li, ia teringat akan cerita Siang Kui dan timbul kebenciannya terhadap wanita cantik pesolek itu.
Ia lalu mengambil keputusan untuk membasmi wanita ini.
Serangan Sian Eng hebat karena gadis itu memainkan ilmu pedang Coa-tok Sin-kiam-sut (Ilmu Pedang Sakti Bisa Ular), Bukan hanya jurusnya saja yang berbahaya bahkan pedangnya itu sendiri amat berbahaya karena pedang itu mengandung racun ular yang amat ganas.
Sian Hwa Sian-li sendiri adalah seorang ahli tenting racun, maka begitu pedang itu menyambar, ia dapat menangkap bau racun yang keluar dari pedang.
Ia terkejut dan tentu saja maklum bahwa sekali saja tergores pedang itu cukup untuk mendatangkan ancaman maut baginya.
Iapun mem-pergunakan kegesitannya untuk melompat keluar dari kamar yang terlalu sempit untuk berkelahi itu.
Sian Eng melompat dan mengejar.
Mereka bertanding di luar kamar yang lebih luas dan segera sinar pedang di tangan Sian Eng sudah mendesak dengan hebatnya.
Cheng Kun yang masih ketakutan segera berteriak-teriak.
"Tolonggg! Ada pembunuh! Tolongggg.....!!"
Teriakan itu mengundang munculnya Suma Kiang dan Toa Ok!
Sian Eng terkejut bukan main ketika dua orang datuk yang lihai ini muncul.
Ia sudah berhasil mendesak Sian Hwa Sian-li dengan hebat.
Melihat orang yang pernah diakuinya menjadi ayahnya dan juga gurunya muncul bersama Toa Ok, maklumlah ia bahwa ia berhadapan dengan lawan-lawan yang terlalu kuat baginya.
Melawan Sian Hwa Sian-li seorang diri ia tentu akan dapat mengalahkannya.
Juga ia merasa mampu menandingi bekas ayah dan gurunya yang sesungguhnya musuh besarnya itu, ia merasa bahwa ilmu kepandaiannya kini sudah melebihi tingkat kepandaian Suma Kiang.
Akan tetapi ia meragu apakah ia akan mampu menandingi Toa Ok yang amat lihai itu.
Apalagi kalau mereka bertiga maju bcrsama.
Bagaimana mungkin ia akan dipat menang?
Tentu ia terancam bahaya maut kalau ia terus nekat menandingi mereka bertiga.
Tiba-tiba Sian Eng melompat jauh untuk melarikan diri.
Akan tetapi ketika ia tiba di sebuah tikungan, dari balik dinding itu muncul sesosok bayangan.
Secara amat tiba-tiba bayangan itu menyerang dengan totokan It-yang-ci yang amat hebat.
Sian Eng sama sekali tidak menduga akan ada orang muncul di tikungan dan langsung menyerang dengan totokan, terkejut dan cepat miringkan tubuhnya untuk menge-lak dari totokan.
Akan tetapi pada saat itu, kaki orang itu menendang dengan gerakan melingkar yang aneh sekali.
Ia tidak mampu menghindarkan diri lagi dan pinggir lututnya terkena tendangan.
Tanpa dapat dihindarkan lagi tubuh Sian Eng terpelanting.
Pada saat itu, Sian Hwa Sian-li telah melompat dekat dan wanita yang berhati kejam ini yang merasa penasaran dan marah tadi didesak oleh Sian Eng, segera menggerakkan sabuk sutera merahnya ke arah leher Sian Eng, mengirim serangan maut.
"Syuuuutttt....!"
Ujung sabuk sutera merah itu meluncur cepat. Biarpun terpelanting jauh, namun Sian Eng dapat menguasai dirinya, maka melihat menyambarnya sinar merah, iapun menggerakkan pedangnya menangkis.
"Brettt.....!"
Ujung sabuk sutera merah itu putus terobek pedang di tangan Sian Eng.
Sian Hwa Sian-li terkejut sekali dan melompat ke belakang.
Pada saat itu, Toa Ok juga sudah mendekati dan sinar emas berkelebat ketika pedang Kim-liong-kiam (Pedang Naga Emas) di tangannya menyambar dengan tusukan ke arah dada Sian Eng.
Dalam keadaan yang amat gawat dan berbahaya itu Sian Eng masih mampu dengan amat cepatnya menggulingkan tubuhnya sehingga tusukan itu luput!
Hal ini membuat Toa Ok men-jadi penasaran dan marah.
Dengan sekali lompatan dia sudah mengejar dan dia mengangkat pedangnya, kemudian diba-cokkan ke arah leher Sian Eng yang masih bergulingan.
"Wuuuuttt..... trang......!!"
Tampak bunga api berpijar menyilaukan mata ketika pedang Kim-liong-kiam yang menyambar ke arah leher Sian Eng itu tertangkis dari samping.
Toa Ok membelalakkan matanya ketika melihat bahwa yang me-nangkis pedangnya adalah Suma Kiang!
"Heiii!
Apa artinya ini?"
Teriaknya penasaran.
"Jangan bunuh ia! Aku mengenal ilmu pedangnya!"
Kata Suma Kiang yang segera mendekati Sian Eng dan sekali tangan kirinya bergerak, dia telah merenggut kain merah penutup muka gadis itu.
Sian Eng melompat berdiri dan iapun beradu pandang dengan Suma Kiang yang terbelalak.
Kemudian Suma Kiang berseru dengan girang sekali karena tentu saja dia segera mengenai wajah anaknya.
"Suma Eng, anakku....!"
Teriaknya.
Sian Eng adalah seorang yang cerdik sekali.
Sekilas pandang saja maklumlah ia bahwa dirinya berada dalam bahaya.
Ia berhadapan dengan banyak lawan pandai dan tidak mungkin ia akan mampu menyelamatkan dirinya kalau ia menggunakan kekerasan melawan mereka.
Biarpun kini melihat muka Suma Kiang timbul kebenciannya yang amat sangat mengingat akan kematian ibunya yang diperkosa secara biadab oleh laki-laki yang tadinya ia sangka ayahnya sendiri ini, namun Sian Eng menahan perasaannya.
Ia harus bersikap cerdik, kalau ia ingin selamat.
Pihak lawan terlampau kuat, teru-tama sekali pemuda yang kini berdiri tegak sambil memandang kepadanya itu.
Pemuda yang tampan dan gagah, berpakaian indah.
Itukah Pangeran Cheng Lin tunangan gadis bernama Ciang Mei Ling seperti diceritakan oleh Siang Kui kepadanya?
Akan tetapi, betapa hebat ilmu kepandaian pemuda itu!
Dengan tangan kosong, dalam beberapa gebrakan saja pemuda itu mampu merobohkannya, walaupun serangan itu dilakukan mendadak dan tidak tersangka-sangka olehnya.
Na-mun, agaknya biarpun ia diserang dalam keadaan siap siaga, akan sukar mengalahkan pemuda itu!
Semua ini berkelebat seperti kilat dalam benaknya dan Sian Eng segera menekan perasaannya dan mengatur siasat dalam sikapnya.
"Ayah....!"
Serunya kaget, heran dan girang.
"Ayah berada di sini?"
Ia menyarungkan pedangnya dan maju menghampiri ayahnya sambil mengembangkan kedua lengannya. Iapun membiarkan dirinya di-peluk oleh Suma Kiang yang benar-benar merasa girang bukan main.
"Anakku! Ia ini anakku. Ia Suma Eng, anakku tersayang. Ah, untung aku mengenai ilmu pedangmu tadi, Eng-ji (anak Eng) sehingga aku sempat menangkis pedang Toa Ok. Kalau tidak.... ah, engkau tentu telah menjadi mayat....!"
Kata Suma Kiang terharu.
"Anakku, mereka semua ini bukanlah musuh, melainkan sahabat-sahabatku yang baik. Perkenalkanlah. Beliau ini adalah Pangeran Cheng Lin yang masih keponakan dari Pangeran Cheng Boan pemilik istana ini!"
Dia menunjuk kepada Ouw Ki Seng yang kini memandang dengan senyumnya yang khas kepada Sian Eng.
Diam-diam pemuda ini kagum kepada Sian Eng.
Tadi telah dilihatnya betapa Sian Eng dapat mendesak dan mengalahkan Sian Hwa Sian-li!
Dan kini setelah penutup mukanya direnggut, tampak betapa cantik jelitanya gadis itu!
"Seorang pangeran, ayah?"
Kata Sian Eng yang bersandiwara dengan pandainya.
"Kalau begitu aku harus memberi hormat dengan berlutut!"
Ia membuat gerakan hendak berlutut, akan tetapi Ki Seng cepat maju dan memegang kedua pundak nya untuk mencegahnya berlutut.
"Tidak perlu berlutut, Nona Suma Eng!"
Ketika merasa betapa kedua telapak tangan pangeran itu menyentuh kedua pundaknya, Sian Eng hendak mem-perlihatkan kekuatannya sekalian hendak menguji kepandaian pangeran yang tadi telah merobohkannya itu.
Ia mengerahkan sinkang dan menyalurkannya ke arah kedua pundaknya.
Hawa yang panas dengan kuatnya keluar dari kedua pundaknya itu untuk menolak dan membuat kedua telapak tangan itu kepanasan dan terpental!
Wajah Ki Seng tampak kaget akan tetapi senyumnya berubah sinis.
Dia maklum bahwa gadis jelita ini hendak mengujinya,maka diapun mengerahkan tenaga saktinya dan kedua tangannya tetap menempel di pundak itu, tidak dapat di-lontarkan tenaga sakti yang dikerahkan Sian Eng dan gadis itu merasa betapa kedua telapak tangan yang menempel di kedua pundaknya itu terasa dingin seperti es!
Adu tenaga ini hanya sebentar saja, tidak tampak oleh orang biasa, akan tetapi orang-orang seperti Suma Kiang, Toa Ok, dan Sian Hwa Sian-li tentu saja dapat menduganya.
"Pangeran, terimalah hormat saya."
Kata Sian Eng setelah kedua tangan itu melepaskan pundaknya dan iapun mengangkat kedua tangan ke depan dada.
Inipun merupakan serangan ujian, karena gerakan kedua tangannya itu menimbulkan serangkum hawa yang menyambar ke arah dada pangeran itu.
"Nona, engkau terlampau sungkan!"
Kata Ki Seng sambil merangkap kedua tangan pula dan menggerakkannya ke depan untuk menyambut penghormatan gadis itu.
Tentu saja dalam melakukan ini, diapun mengerahkan sin-kang dan akibatnya, Sian Eng terdorong mundur sampai dua langkah!
Tahulah gadis ini bahwa pemuda itu benar-benar sakti, mengingatkan ia akan kesaktian Han Lin.
Agaknya pangeran ini akan merupakan seorang lawan yang berat bagi Han Lin.
"Paman Suma Kiang, puterimu ini sungguh hebat dan mengagumkan!"
Kata Ki Seng sambil tersenyum. Suma Kiang tertawa. Hatinya senang sekali. Diapun tahu bahwa tadi puterinya telah menguji kelihaian pangeran palsu itu.
"Suma Eng, perkenalkan, kakek yang gagah perkasa ini adalah Toat-beng Kui-ong...."
"Aku sudah mengenalnya, ayah. Dia adalah Toa Ok dan pernah aku hampir mati di tangannya."
Kata Sian Eng dengan cepat mendahului Toa Ok.
Ia tahu bahwa kalau ia tidak mengaku telah mengenai Toa Ok dan kemudian Toa Ok mengenalnya, maka tentu orang-orang itu akan merasa curiga padanya.
Karena itu ia mendahului dan mengaku terus terang.
Dengan mengandalkan kedudukan Suma Kiang di situ, ia merasa tenang dan ada yang diandalkan untuk menolongnya.
Toa Ok memandang dengan ragu.
"Nona mengenai aku? Ah, aku sudah terlau tua sehingga tidak mengenai lagi siapa nona."
Sian Eng tersenyum, manis sekali.
Ia tahu bahwa kakek ini belum mengetahui bahwa kedua orang rekannya, Ji Ok dan Sam Ok, telah tewas di tangannya dan tangan Han Lin.
Ia tidak perlu memberi-tahukan hal itu.
Kematian dua orang datuk sesat itu memang di tempat sepi dan tidak ada seorangpun mengetahui.
Yang tahu hanya ia dan Han Lin.
"Toa Ok, mungkin engkau sudah lupa. Akan tetapi cobalah ingat baik-baik. Ketika engkau bersama Ji Ok dan Sam Ok, dan seorang wanita lagi, menyerang guruku Hwa Hwa Cinjin di Puncak Ekor Naga pegunungan Cin-Ling-san, aku membantu guruku itu dan memukul mundur kalian berempat."
Toa Ok terbelalak.
"Ahh! Jadi eng-kaukah gadis murid Hwa Hwa Cinjin itu?"
"Jadi engkau telah menyerang supek Hwa Hwa Cinjin, Toa Ok?"
Suma Kiang bertanya kaget.
"Serangan itu mengakibatkan kematian suhu Hwa Hwa Cinjin yang sudah tua, ayah."
Sian Eng memberitahu dengan maksud untuk mengadu domba dua orang itu.
"Ah, hal itu terjadi lama sebelum kita menjadi rekan dan sahabat Huang-ho Sin-liong."
Kata Toa Ok. Pada saat itu, Pangeran Cheng Boan datang dikawal belasan orang perajurit. Dia mendengar ucapan dua orang jagoan-nya itu dan melihat sikap mereka yang seperti akan bermusuhan.
"Tenang dulu kalian berdua! Ada urusan dapat dibicarakan. Apa yang telah terjadi? Kami mendengar bahwa ada seorang pembunuh masuk ke sini dan hendak membunuh Cheng Kun!"
Suma Kiang segera melangkah maju menghadapi Pangeran Cheng Boan.
Dia adalah pembantu pangeran itu sejak dua puluh tahun lebih yang lalu, menjadi pembantu yang setia.
Kini dia maklum bahwa keadaan puterinya gawat dan dia harus dapat membelanya.
"Ampun, Yang Mulia."
Katanya merendah.
"Yang masuk ke sini ternyata adalah anak perempuan saya sendiri. Agaknya terjadi kesalah-pahaman di sini, harap paduka suka mengampuninya dan suka mendengarkan alasannya mengapa ia sampai datang membikin ribut di sini."
Pangeran Cheng Boan mengerutkan alisnya dan memandang kepada Sian Eng.
Ia menduga tentu gadis ini yang diaku anak oleh Suma Kiang, karena ia tidak mengenai gadis itu.
Kenapa gadis cantik ini hendak membunuh puteranya?
Apa alasannya?
"Mari kita semua masuk ke ruangan belakang dan bicara di sana.
Kalau alasan anakmu ini masuk akal, kami akan mempertimbangkannya."
Perintah Pangeran Cheng Boan dan semua orang mengikutinya masuk ke ruangan belakang.
Mereka semua duduk mengelilingi sebuah meja besar.
Pangeran Cheng Boan, Cheng Kun, Ki Seng, Toa Ok, Sian Hwa Sian-li, Suma Kiang dan Sian Eng yang duduk di sebelah kiri ayahnya.
Gadis ini sama sekali tidak tampak gentar.
Ia duduk dengan tenang, yakin bahwa ayahnya tentu akan membelanya dan iapun terus bersandiwara sebagai anak Suma Kiang yang merasa bahagia bertemu dengan "ayahnya"
Itu!
Pada saat itu, seorang gadis cantik memasuki ruangan itu.
Ia tampak ragu melihat semua orang duduk mengelilingi meja dengan wajah serius.
Akan tetapi melihat gadis itu, Pangeran Cheng Boan segera berkata kepadanya.
"Masuk dan duduklah, Nona Ciang."
"Maaf, Pangeran. Saya mendengar ribut-ribut bahwa ada seorang penjahat datang mengacau dan...."
"Duduklah, nona. Engkaupun sebagai seorang penjaga keamanan keluarga di sini, berhak untuk mengetahui. Kami sedang hendak membicarakan tentang hal itu."
Kata Pangeran Cheng Boan.
Sian Eng memandang kepada gadis itu dan mendengar bahwa gadis itu disebut "nona Ciang", iapun menduga bahwa tentu gadis ini yang bernama Ciang Mei Ling, tunangan Pangeran Cheng Lin seperti yang diceritakan oleh Siang Kui.
Mei Ling mengangguk dan segera duduk di kursi kosongdekat Ki Seng.
"Yang Mulia, sebelum kita semua membicarakan tentang kedatangan anak saya ini, perkenankan saya memperkenalkan paduka dan semua yang hadir kepada anak saya."
Mendengar permintaan itu, Pangeran Cheng Boan mengangguk dan memandang kepada Sian Eng dengan penuh perhatian, dalam hatinya menduga-duga apa sebabnya gadis cantik jelita itu hendak membunuh puteranya.
Sementara itu, Cheng Boan juga memandang kepada Sian Eng dengan alis berkerut.
"Suma Eng, anakku. Tadi sudah kuper-kenalkan padamu Pangeran Cheng Lin dan Toa Ok. Biar kulanjutkan memperkenalkan semua yang hadir kepadamu. Beliau ini adalah tuan rumah, dan kepada beliau inilah aku menghambakan diri. Beliau adalah Pangeran Cheng Boan, paman dari Pangeran Cheng Lin atau adik dari Yang Mulia Sribaginda Kaisar."
Sian Eng bangkit dari tempat duduk-nya dan dengan gerakan lembut gemulai ia mengangkat kedua tangan memberi hormat sambil membungkuk dalam-dalam dan suaranya halus penuh hormat.
"Terimalah hormat saya, Yang Mulia."
Sebutan itu ia tiru dari Suma Kiang. Pangerran Cheng Boan mengangguk. Kemudian Suma Kiang memperkenalkan Cheng Kun.
"Dan ini adalah Cheng Kongcu, putera Yang Mulia Pangeran Cheng Boan."
Kembali Sian Eng memberi hormat dan Cheng Kun hanya menganggukkan kepala sedikit dengan mulut masih cemberut teringat akan ancaman Sian Eng tadi.
"Wanita ini adalah Sian Hwa Sian-li, seorang di antara para pembantu Pangeran, dan gadis ini adalah Nona Ciang Mei Ling, juga menjadi penjaga keamanan bersama kami semua."
Setelah diperkenalkan kepada semua yang hadir, Sian Eng duduk kembali.
Pada saat itu, seorang perajurit pengawal masuk dan memberi hormat kepada Pangeran Cheng Boan, melaporkan ditemukannya dua orang peronda yang pingsan, seorang di taman dan yang seorang lagi di bagian belakang gedung dekat kamar Cheng Kun, di belakang sebuah pot kembang.
Pangeran Cheng Boan mengangguk dan menyuruh perajurit itu mundur.
Semua perajurit yang tadi mengawal Pangeran Cheng Boan hanya menjaga di luar ruangan itu.
"Nah, sekarang ceritakan apa yang telah terjadi malam ini. Engkau cerita lebih dulu Cheng Kun. Apa yang terjadi denganmu tadi."
Kata Pangeran Cheng Boan kepada puteranya. Cheng Kun memandang kepada Sian Eng yang tersenyum kepadanya. Dia mengerutkan alisnya lalu berkata kepada ayahnya.
"Saya sedang duduk dalam kamar saya ketika ada orang mengetuk daun pintu kamar saya dari luar. Ketika saya tanya siapa itu, ia menjawab bahwa ia seorang pelayan baru. Saya membuka daun pintu dan gadis ini dengan muka tertutup kain merah menodongkan pedangnya kepada saya dan mengancam akan membunuh saya."
Pemuda itu berhenti sebentar dan meragu.
"Hemm, kau tidak bertanya mengapa ia hendak membunuhmu?"
Tanya ayahnya.
"Saya bertanya, ayah, dan ia...... ia mengatakan bahwa saya harus segera menikahi Lo Siang Kui dalam bulan ini juga, kalau tidak ia akan memenggal leherku."
Kata pula Cheng Kun sambil me-raba lehernya.
"Apa artinya ini?"
Bentak Pangeran Cheng Boan kepada Sian Eng.
"Nona Lo siang Kui adalah tunangan puteraku, kenapa engkau memaksanya untuk segera menikahinya dengan ancaman akan membunuhnya? Sudah tentu dia akan menikahinya, akan tetapi tidak dengan jalan diancam hendak dibunuh seperti itu! Apa maksudmu dengan ancaman itu?"
Sian Eng tersenyum tenang dan berkata kepada Cheng Kun.
"Cheng Kongcu, kenapa tidak bicara yang sesungguhnya menceritakan apa yang telah terjadi antara engkau dan Lo Siang Kui?"
Ditegur begitu, Cheng Kun diam saja, merasa takut dan malu untuk menceritakan perbuatannya terhadap tunangannya sendiri.
"Apa-apaan semua ini? Bicara apa. kalian? Hayo ceritakan!"
Bentak Pangeran Cheng Boan.
"Yang Mulia, gadis ini memang hendak mengacau. Jelas ia hendak membunuh Cheng Kongcu, maka sebaiknya tangkap ia sebagai pembunuh!"
Tiba-tiba Sian Hwa Sian-li berkata dengan pangeran itu.
"Nanti dulu!"
Bentak Suma Kiang.
"Kalau belum ada kepastian anakku bersalah, aku akan membelanya! Yang Mulia, setidaknya berilah dulu kesempatan kepada Suma Eng untuk menceritakan mengapa ia melakukan ancaman kepada Cheng Kongcu."
Pangeran Cheng Boan mengangguk-angguk.
Baginya, Suma Kiang merupakan pembantu utama yang paling setia dan dapat dipercaya, maka tentu saja dia tidak akan begitu saja menghukum anak perempuan pembantu itu.
Maka dia laiu memandang kepada Sian Eng dan berkata.
"Nona, ceritakanlah dengan jujur apa yang terjadi dan mengapa engkau berani masuk ke sini dan mengancam putera kami."
"Tentu saja saya akan menceritakan dengan terus terang dan sejujurnya, Yang Mulia. Apalagi setelah saya bertemu dengan ayah saya yang ternyata menghambakan diri kepada paduka, ayah yang sudah lama saya cari. Saya akan bercerita dengan sebenarnya. Saya datang ke kota raja untuk mencari ayah saya ini dan saya mondok di rumah keluarga Lo, perguruan Hek-tiauw Bu-koan dan pada suatu hari, yaitu kemarin, saya melihat enci Lo Siang Kui berduka bahkan hampir ia membunuh diri dengan tidak mau makan sampai berhari-hari. Setelah saya bujuk-bujuk, akhirnya ia mengaku bahwa sepuluh hari yang lalu, ketika ia berkunjung kepada tunangannya, yaitu Cheng Kongcu di sini, ia telah dinodai oleh Cheng Kongcu."
"Apa....?"
Pangeran Cheng Boan bertanya sambil menoleh kepada puteranya.
Dia tidak perduli kalau puteranya berhubungan dengan para wanita, akan tetapi menodai tunangannya sendiri, sungguh hal ini membuat dia merasa tidak senang karena perbuatan itu dapat mencemarkan nama dan kehormatan keluarga mereka.
"Benarkah itu, Cheng Kun?"
Cheng Kun menundukkan mukanya yang berubah kemerahan dan dia melirik kepada Sian Hwa Sian-li, khawatir kalau gadis itu menceritakan betapa Siang Kui telah dirobohkan sampai pingsan oleh Sian Hwa Sian-li kemudian dia bawa ke kamarnya.
"Benar, ayah. Kami berdua telah khilaf.... telah lupa diri...."
Sian Eng tidak begitu bodoh untuk menceritakan semua peristiwa itu karena ia tidak ingin dimusuhi oleh Cheng Kun.
Ia sudah mengambil keputusan untuk menyelidiki keadaan keluarga ini yang agaknya menyimpan rahasia besar dengan mengadakan persekutuan dengan orang-orang seperti ayahnya, Toa Ok, dan pemuda lihai yang ternyata pangeran putera Kaisar itu.
"Enci Lo Siang Kui tidak menceritakan bagaimana hal itu terjadi. Ia hanya mengatakan bahwa ia telah ternoda dan Cheng Kongcu berjanji kepadanya untuk dalam waktu seminggu berkunjung kepadanya untuk menentukan hari pernikahan mereka. Akan tetapi ditunggu sampai sepuluh hari, Cheng Kongcu tidak kunjung datang sehingga enci Siang Kui menjadi putus asa dan bertekad untuk membunuh diri dengan tidak mau makan. Saya meng hiburnya dan malam ini saya sengaja datang menemui Cheng Kongcu untuk memaksanya agar dia memenuhi janjinya kepada enci Siang Kui dan segera mengajukan ketentuan hari pernikahan mereka. Saya sama sekali tidak tahu bahwa ayah saya menghambakan diri di sini, kalau saya tahu tentu saya tidak akan melakukan hal itu, Yang Mulia."
"Ampunkan hamba dan anak hamba, Yang Mulia."
Kata Suma Kiang.
"Dengan penjelasan itu, ternyata anak saya tidak bermaksud membunuh Cheng Kongcu, melainkan hendak menggertaknya demi untuk menolong nona Lo Siang Kui. Karena itu mohon pengampunan paduka, dan anak saya ini dapat menyumbangkan kepandaian silatnya untuk membantu paduka."
"Cheng Kun, engkau telah bertindak gegabah dengan menggauli tunanganmu sendiri. Bagaimana kalau hal itu tersiar di luaran? Nama baik dan kehormatan kita akan tercemar. Tidak ada jalan lain, engkau harus memboyongnya ke sini dan menikahinya dengan sah walaupun untuk itu tidak perlu dirayakan secara besar-besaran. Kelak, kalau engkau menikah dengan puteri pilihanku, Nona Lo Siang Kui dapat dijadikan selir pertama."
"Baik, ayah. Akan saya laksanakan."
Kata Cheng Kun dengan hati lega karena ternyata Sian Eng tidak menceritakan seluruhnya.
"Suma-sicu, engkau menawarkan puterimu untuk membantu kami, apakah ia yang hanya seorang gadis muda ini memiliki ilmu kepandaian yang cukup memadai?"
"Tidak semestinya kalau saya memuji pandaian anak saya sendiri, Yang Mulia. Akan tetapi paduka dapat menanyakan kepada Sian Hwa Sian-li ini karena tadi ia sudah bertanding melawan anak saya."
Jawab Suma Kiang sambil tersenyum memandang kepada Sian Hwa Sian-li yang tadi terdesak hebat oleh Sian Eng.
"Bagaimana pendapatmu tentang Ilmu kepandaian silat Nona Suma Eng ini, Sian Hwa Sian-li?"
Tanya Pangeran Cheng Boan sambil menoleh kepada wanita itu.
Sian Hwa Sian-li menjadi merah mukanya.
Ia tidak dapat memungkiri bahwa Sian Eng lebih lihai darinya, bahwa ia tadi sudah hampir kalah melawan gadis itu, akan tetapi untuk mengakui kekalahannya tentu saja ia merasa malu.
"Saya mendapat kenyataan bahwa ilmu silatnya cukup lihai, Yang Mulia."
Katanya sederhana.
Sejak tadi ketika penutup muka Sian Eng dibuka, Ki Seng diam-diam merasa kagum bukan main.
Tadi melihat betapa gadis itu dapat menandingi bahkan mendesak Sian Hwa Sian-li, dia sudah merasa kagum sekali.
Setelah melihat wajah yang cantik jelita itu, dia terpesona dan dalam pandang matanya, wajah Sian Hwa Sian-li dan wajah Ciang Mei Ling tampak buruk dibandingkan wajah gadis ini!
Demikianlah memang ulah nafsu yang menguasai diri manusia.
Nafsu selalu menuntut dan menghendaki yang baru, yang dianggapnya akan lebih menyenangkan daripada yang telah dimilikinya.
Kesenangan nafsu berakhir dengan kebosanan karena nafsu ingin menjangkau yang lebih, dan yang belum terdapat, belum di-miliki selalu tampak lebih bagus, lebih menyenangkan daripada yang telah berada di tangan.
"Ilmu kepandaian silat nona ini hebat sekali, Paman Pangeran, bahkan ia mampu mengalahkan Sian Hwa Sian-li tadi,"
Kata Ki Seng atau Pangeran Cheng Lin palsu.
Mendengar ini, Sian Hwa Sian-li mengerling kepadanya dengan alis ber-kerut.
Akan tetapi wanita ini tidak berani berkata apa-apa walaupun dalam hatinya ia marah sekali.
Rasa tidak sukanya kepada Ki Seng yang telah diketahuinya bukan pangeran aseli itu semakin menebal.
Mendengar ucapan Ki Seng itu, Pangeran Cheng Boan merasa girang sekali.
Dia percaya sepenuhnya kepada keterangan pemuda yang sakti itu dan tentu saja dia merasa senang mendapatkan pembantu baru yang selain cantik jelita juga memiliki ilmu silat yang tinggi dan boleh diandalkan, apalagi mengingat bahwa gadis itu adalah puteri Suma Kiang yang sudah dipercaya benar.
"Suma-sicu, kami maafkan apa yang telah diperbuat Suma Eng malam ini dan kami suka menerimanya sebagai pembantu kami."
Kata pangeran itu.
Sian Eng menjadi girang sekali.
Kini ia mendapat kesempatan untuk membalas dendam sakit hatinya kepada Suma Kiang, juga kepada Toa Ok, dan ia akan dapat pula menyelidiki persekongkolan itu.
Kini semua orang mengucapkan selamat kepada Sian Eng, bahkan Sian Hwa Sian-li sendiri tampak ramah kepadanya.
Semua tampak ramah kecuali Ciang Mei Ling yang bersikap dingin dan tidak acuh kepadanya.
Pangeran Cheng Boan lalu memerintahkan para pelayan untuk menghidangkan makanan dan minuman karena dia hendak merayakan diterimanya Siar Eng sebagai pembantu dengan sebuah pesta kecil di antara mereka semua.
Sian Eng yang amat cerdik pandai membawa diri sehingga tidak ada seorang pun yang mencurigainya, kecuali mungkin Ciang Mei Ling yang kadang-kadang mengerling kepadanya dan Sian Eng mendapatkan betapa kerling mata gadis itu amat tajam dan seolah menembus ke dalam dada dan menjenguk hatinya.
ia menjadi waspada terhadap Ciang Mei Ling yang dianggapnya berbahaya.
Sian Eng mendapatkan sebuah kamar dalam istana yang besar itu.
Malam itu juga ia berpamit dari Pangeran Cheng Boan untuk kembali sebentar ke rumah Lo Siang Kui, mengabarkan tentang hasil pertemuannya dengan keluarga Pangeran Cheng Boan sekalian berpamit dari keluarga Lo Kang karena mulai malam itu ia akan tinggal di istana Pangeran Cheng Boan sebagai seorang pengawal atau penjaga keamanan keluarga pangeran itu.
Siang Kui dan ayah ibunya senang mendengar keterangan Siang Kui bahwa soal pernikahan antara Siang Kui dan Cheng Kun akan ditangani oleh Pangeran Cheng Boan sendiri dan keputusannya pasti akan dilakukan pangeran itu dalam waktu dekat.
Biarpun ayah dan ibu Siang Kui belum mengetahui keadaan puteri mereka yang ternoda oleh calon mantu mereka itu, namun berita tentang akan dipercepatnya hari pernikahan puteri mereka, membuat mereka merasa gembira.
Malam itu juga Sian Eng berpamit dari mereka dan membawa buntalan pakaian-nya, berpindah ke dalam istana Pangeran Cheng Boan.
Semenjak malam jahanam itu di mana ia terbius oleh anggur beracun yang disuguhkan Sian Hwa Sian-li kepadanya sehingga dalam keadaan tidak sadar dan terangsang ia ternoda oleh Cheng Kun, hati Ciang Mei Ling dipenuhi kebencian Bukan hanya benci kepada Cheng Kui dan Sian Hwa Sian-li yang menggunakai siasat keji sehingga ia menyerahkan kehormatannya kepada Cheng Kun, akan tetapi juga timbul kebenciannya terhadap tunangannya sendiri, Ouw Ki Seng atau Pangeran Cheng Lin!
Kini baru terbuka, matanya bahwa pangeran yang menjadi tunangannya itu bukan seorang laki-laki yang baik.
Ia tahu bahwa Pangeran Cheng Lin mengadakan hubungan gelap berjina dengan para selir muda Pangeran Cheng Boan, dan bahwa tunangannya itu pun berbuat mesum dengan Sian Hwa Sian-li.
Kini ia dapat menduga bahwa ketika ia dahulu menyerahkan diri kepada Pangeran Cheng Lin, sama seperti ia menyerahkan diri kepada Cheng Kun, semua itu terjadi di luar kesadarannya.
Peristiwanya sama dan kini ia dapat mengambil kesimpulan bahwa semua itu telah diatur oleh Sian Hwa Sian-li!
Ia merasa dirinya kotor tercemar, dan ia melihat pula sikap tunangannya yang kini tidak acuh terhadap dirinya.
Kini tinggal dendam membara di hatinya, bahkan kini timbul kecurigaan tentang kematian ayah ibunya.
Benarkah Twa-to Siang-houw (Sepasang Harimau Golok Besar) yang membunuh ayah ibunya?
Kenapa dua orang perampok itu membunuh ayah ibunya?
Dan malam itu ia sudah melawan mereka berdua.
Rasanya mustahil kalau ayahnya sampai kalah dan terbunuh oleh mereka berdua.
Ia sendiri dikeroyok oleh mereka berdua dan biarpun ia terdesak, namun ia merasa yakin bahwa mereka berdua bukan lawan ayahnya.
Mereka tidak akan mampu mengalahkan ayahnya!
Jangan-jangan ini hanya merupakan tipu muslihat yang sudah diatur oleh Pangeran Cheng Lin dan Sian Hwa Sian-li!
Semua pemikiran itu membuat Mei Ling merasa muak dan benci kepada tunangannya, biarpun tunangannya itu seorang pangeran!
Ia tidak akan merasa bahagia menjadi isteri seorang pria seperti itu.
Semenjak ia ternoda oleh Cheng Kun, diam-diam Mei Ling melakukan pengintaian terhadap mereka semua.
Karena itu ia mengetahui belaka ketika Cheng Kun memperdaya Lo Siang Kui sehingga gadis tunangannya itu dijadikan korban kebiadabannya.
Ia sudah berusaha menemui Lo Siang Kui ketika pada keesokan harinya gadis itu pergi meninggalkan gedung Pangeran Cheng Boan.
Ia sudah berusaha membuka rahasia kejahatan Cheng Kun, akan tetapi Lo Siang Kui tidak percaya kepadanya.
Mei Ling lalu mengintai mereka.
Akan tetapi Pangeran Cheng Boan dan para kaki tangannya itu bersikap hati-hati sekali dan Mei Ling juga tidak berani sembrono karena maklum betapa lihainya para pembantu pangeran itu.
Kalau sampai pengintaiannya ketahuan, ia tentu akan celaka.
Karena itu, sampai peristiwa munculnya Sian Eng di rumah itu untuk mengancam Cheng Kun, Mei Ling masih belum dapat mengetahui rahasia komplotan itu.
Akan tetapi ia menduga keras bahwa hubungan antara Pangeran Cheng Lin dan Pangeran Cheng Boan bukan hubungan kekeluargaan biasa.
Pasti ada rahasia di balik semua itu dan ingin la mengetahui rahasia itu.
Kemunculan Sian Eng yang menyerang dan mengancam Cheng Kun untuk mem-pertanggungjawabkan perbuatannya terhadap Lo Siang Kui, pada mulanya menarik perhatian Mei Ling dan ia kagum kepada Sian Eng.
Akan tetapi alangkah menyesal dan kecewanya ketika pada akhirnya ternyata bahwa Sian Eng adalah puteri Suma Kiang dan gadis itu bahkan menghambakan diri kepada Pangeran Cheng Boan!
Rasa suka yang tadinya timbul di hatinya terhadap Sian Eng yang menyerang Cheng Kun berubah menjadi kebencian karena ia menganggap Sian Eng seorang di antara para kaki tangan Pangeran Cheng Boan.
Pada suatu senja Mei Ling melakukan pengintaian terhadap Cheng Kun dan Sian Hwa Sian-li.
Dua orang ini mengadakan pertemuan di pondok kecil di tengah taman, minum arak sambil bercakap-cakap.
Melihat kedua orang itu duduk di bangunan pondok yang terbuka itu sambil bercakap-cakap, Mei Ling lalu menginta dan menyelinap di balik rumpun bunga yang banyak daunnya sehingga tubuhnya tertutup sama sekali.
Apalagi tempat ia bersembunyi mengintai dan mendengarkan itu terlindung bayangan pohon yang gelap.
"Aku masih merasa heran sekali, Cheng Kongcu. Kalau ayahmu pangeran sudah mengetahui bahwa Ouw Ki Seng itu adalah Pangeran Cheng Lin yang palsu, mengapa ayahmu mau saja menerimanya sebagai sekutunya, bahkan membiarkan dia berbuat sesuka hatinya menggaul para selir ayahmu?"
Mei Ling terbelalak dan jantungnya berdebar keras membuat kedua kakinya gemetar.
Apa yang didengarnya itu terlalu hebat dan penting.
Ouw Ki Seng, tunangannya itu, ternyata hanya seorang pangeran palsu?
Apa pula ini?
Tiba-tiba ia terkejut setengah mati ketika pundaknya ada yang menyentuh.
Ia cepat menoleh dan betapa kagetnya ketika ia melihat bahwa yang menyentuh pundaknya itu bukan lain adalah Sian Eng, puteri Suma Kiang!
Secara otomatis Mei Ling menggerakkan tangannya untuk memukul, akan tetapi Sian Eng sudah menangkap pergelangan tangannya dan menaruh telunjuk tangan kanannya di depan mulut, memberi tanda supaya Mei Ling tidak membuka suara membuat gaduh.
Melihat tanda dan sikap ini, biarpun la merasa heran dan curiga, Mei Ling tidak jadi bergerak menyerang.
Mereka berdua berhimpitan bersembunyi di balik rumpun bunga dan mendengarkan sambil mengintai ke arah dua orang yang duduk berhadapan terhalang meja kecil di mana terdapat dua guci anggur dan arak.
"Sssttt, hati-hati engkau bicara!"
Desis Cheng Kun ketika mendengar ucapan Sian Hwa Sian-li tadi.
"Ah, apa yang kau khawatirkan, Cheng Kongcu? Malam ini Pangeran Cheng Lin tidak berada di sini."
Kata wanita itu.
"Benar, akan tetapi bagaimana dengan Ciang Mei Ling? Dan Suma Eng yang kini juga berada di sini? Kalau mereka mendengarnya...."
"Sudahlah, tidak perlu banyak khawa-tir, kekasihku yang tampan."
Kata Sian Hwa Sian-li dengan sikap genit.
"Sebelum mengajakmu ke sini tadi, aku sudah memeriksa dan mengintai kamar mereka. Dua orang gadis itu berada di kamar masing-masing. Pula, tempat ini terbuka, kalau ada orang datang mendekat tentu ikut akan melihatnya. Kita dapat bicara dengan leluasa di tempat ini."
"Aku tidak begitu khawatir tentang Mei Ling. Bukankah ia sudah kutundukkan? Pula, ia adalah tunangan Pangeran Cheng Lin, mungkin ia sudah tahu bahwa pangeran itu palsu. Yang kukhawatirkan adalah Suma Eng itu. Ia tampaknya galak dan ganas, ilmu kepandaiannya tinggi sekali."
"Tidak perlu takut. Gadis itu adalah puteri Suma Kiang. Mungkin saja ayahnya sudah memberi tahu tentang diri Pangeran Cheng Lin."
"Akan tetapi hatiku belum yakin. Ah, kalau saja aku bisa mendapatkan si cantik jelita itu seperti aku mendapatkai Mei Ling, tentu ia akan dapat kukuasai Akan tetapi mungkinkah hal itu dilaksanakan? Ia begitu lihai!"
"Hi-hik, mengapa tidak mungkin? Dengan anggur perangsangku, seorang dewa dari kahyanganpun dapat terjatuh ke dalam pelukanmu, Cheng Kongcu."
"Aih! Benarkan itu, Sian-li? Kalau begitu, cepatlah lakukan untukku. Ia cantik jelita sekali dan ia pernah menghinaku Aku ingin sekali mendapatkannya agar puas hatiku dan dapat membalas penghinaanku."
"Tunggu saja tanggal mainnya! Suatu waktu ia pasti akan menjadi milikmu akan tetapi apa yang kau peroleh atas semua jasaku itu?"
"Jangan khawatir, Sian-li. Aku tidak akan melupakanmu. Kalau kelak ayah sudah dapat menjadi kaisar, engkau tentu akan menjadi mantu kaisar, menjadi seorang di antara isteri-isteriku yang paling berjasa dan kucinta."
"Hemm,"
Sian Hwa Sian-li cemberut "Engkau akan mempunyai berapa orang isterikah, Cheng Kongcu?"
"Tentu saja banyak! Kalau ayah sudah menjadi Kaisar kelak, berarti aku menjadi putera mahkota yang kelak menggantikan ayah menjadi Kaisar. Aku akan mempunyai isteri sebanyak mungkin, juga selir dan dayang-dayang yang cantik jelita."
"Hemm, dasar mata keranjang."
Sian Hwa Sian-li berlagak marah dengan sikap genit.
"Jangan khawatir, Sian-li. Engkau tetap akan menjadi seorang di antara isteriku yang kucinta. Engkau akan selalu berdekatan dengan aku karena engkau juga menjadi pengawal pribadiku dan pelindungku."
"Akan tetapi bagaimana ayahmu pangeran akan dapat menjadi kaisar menggantikan Kaisar Cheng Tung? Bukankah masih ada Pangeran Cheng Lin itu, walaupun sebenarnya dia Ouw Ki Seng? Kaisar Cheng Tung sendiri sudah menerimanya sebagai seorang pangeran."
"Ah, jangan khawatirkan tentang pangeran palsu itu."
"Akan tetapi Ouw Ki Seng itu lihai sekali, Cheng Kongcu. Kita harus berhati-hati sekali!"
Sian Hwa Sian-li memperingatkan.
"Takut apa? Di sini ada Suma Kiang ada Toa Ok, ada engkau sendiri, ditambah lagi Ciang Mei Ling dan Lo Sian Kui yang tentu sekarang suka membantu kita!"
"Akan tetapi kalau ayahmu pangeran sudah mengetahui bahwa dia Pangeran palsu, kenapa tidak dilaporkan saja kepada Kaisar Cheng Tung agar dia ditangkap dan dihukum?"
"Ah, ternyata engkau masih bodoh Sian-li. Kita mengajak Ouw Ki Seng bersekutu dan sengaja mendukungnya sebaga pangeran hanya untuk memperalat dia dalam usaha menyingkirkan para penghalang, Tanpa disingkirkannya para penghalang dalam istana itu, bagaimana mungkin ayah akan dapat menjadi kaisar?"
"Siapakah penghalang-penghalang itu, Cheng Kongcu?"
"Ssstt, jangan kuat-kuat bicara!"
Cheng Kun memperingatkan, Sian Hwa sian-li menoleh ke kanan kiri, (Lanjut ke
Jilid 28) Suling Pusaka Kumala (CeritaLepas) Karya . Asmaraman S. Kho Ping Hoo
Jilid 28 dengan pandang mata tajam menyapu keadaan sekeliling. Lo Sian Eng dan Mei Ling yang melakukan pengintaian menahan nafas. Akan tetapi Sian Hwa Sian-li agaknya tidak mencurigai sesuatu.
"Tenanglah, tidak ada siapa-siapa di sekitar sini."
Katanya.
"Ceritakanlah, Siapa penghalang-penghalang yang harus di-singkirkan itu, Cheng Kongcu? Ingat, aku adalah pembantu dan juga pelindungmu, Maka sebaiknya kalau aku mengetahui segala keadaan sehingga dapat membantu dengan tepat dan tahu siapa kawan siapa lawan."
"Mereka adalah lima orang pangeran yang berada di dalam istana. Mereka itu harus disingkirkan karena merupakan penghalang bagi ayah untuk menjadi kaisar. Tentu saja hal ini akan dapat dilakukan dengan mudah oleh Ouw Ki Seng yang tinggal di istana sebagai seorang pangeran pula."
"Apakah dia mau melakukannya?"
"Kenapa tidak? Kami mendukungnya sebagai pangeran dan kami menjanjikan kelak akan mendukungnya menjadi puteri mahkota kalau para pangeran yang lair telah disingkirkan."
"Hernm, mengerti aku sekarang."
Siai Hwa Sian-li mengangguk-angguk.
"Dan kalau mereka berlima itu berhasil disingkirkan, kita lalu menyingkirkan Pangeran palsu itu, bukan? Wah, cerdik sekali rencana itu! Akan tetapi, bagaimana dengan Pangeran Cheng Lin yang aseli? Bukan-kah Ouw Ki Seng telah merampas Suling Pusaka Kemala itu dari tangannya? Di mana adanya Pangeran Cheng Lin yang aseli itu? Apakah telah dibunuh oleh Ouw Ki Seng?"
"Itulah yang kadang merisaukan hati ayah. Menurut keterangan Ouw Ki Seng Pangeran Cheng Lin yang aseli itu masih hidup dan dia adalah saudara seperguruannya sendiri bernama Han Lin yang katanya amat lihai."
Lo Sian Eng yang mendengarkan percakapan itu hampir saja mengeluarkar seruan kaget, akan tetapi cepal ia menggunakan tangan untuk membungkam mulut sendiri.
Jantungnya berdebar penuh ketegangan.
Han Lin itu penyamaran pangeran Cheng Lin?
"Nah, bagaimana kalau Pangeran Cheng Lin yang aseli itu muncul dan menceritakan semuanya kepada Kaisar Cheng Tung?
Kedok Ouw Ki Seng akan terbuka dan persekutuan ini tidak ada gunanya lagi malah mungkin membahayakan nama baik ayahmu."
"Hal itupun sudah kami pikirkan dan justeru karena adanya kemungkinan munculnya Pangeran Cheng Lin yang aseli maka kami menarik Ouw Ki Seng menjadi sekutu kami. Dengan adanya Ouw Ki Seng yang berada di sini sebagai pangeran, apa yang dapat dilakukan Pangeran Cheng Lin yang aseli? Bukti diri pangeran itu hanyalah Suling Pusaka Kemala, dan benda pusaka itu sudah menjadi milik Ouw Ki Seng. Siapa yang akan percaya kepada Pangeran Cheng Lin yang aseli. Begitu muncul, dia akan ditangkap sebagai pemalsu pangeran. Juga dengan sdanya Ouw Ki Seng, maka kalau pangeran aseli itu muncul akan ada yang menandinginya."
"Wan, semua sudah diatur dan direncanakan dengan baik sekali. Ayahmu pangeran memang cerdik sekali, Cheng Kongcu. Aku senang sekali dapat membantu."
"Sudahlah, mari kita masuk, Sian li. Hawanya mulai dingin di sini."
Kata Cheng Kun sambil bangkit berdiri, diturut oleh Sian Hwa Sian-li. Tak lama kemudian mereka sudah meninggalkan taman sambil bergandeng tangan, memasuKi gedung melalui pintu belakang.
"Jahanam.....!"
Sian Eng memaki setelah dua orang itu pergi.
Mei Ling memandang dengan heran dan penuh selidik.
Tentu saja ia meraa ragu.
Bukankah gadis ini puteri Suma Kiang yang menjadi pembantu utama Pangeran Cheng Boan?
"Siapa yang engkau maki?"
Tanyanya penuh keraguan.
"Mereka semua!"
Jawab Sian Eng sambil mengepal tinju dengan gemas "Mereka seluruh komplotan jahat itu.
Aku mengenalmu, Ciang Mei Ling.
Engkau tentu tunangan Pangeran Cheng Lin palsu itu.
Enci Siang Kui sudah bercerita tentang engkau kepadaku.
Engkau juga menjadi korban mereka."
"Akan tetapi engkau.... bukankah engkau ini puteri Suma Kiang?"
Tanya Mei Ling, masih ragu.
"Kita semua tertipu oleh mereka yang berhati palsu itu. Engkau tidak perlu tahu siapa aku, hanya engkau boleh tahu bahwa akupun memusuhi komplotan busuk Itu!"
Sikap keras dan tegas dari Sian Eng itu entah mengapa menimbulkan kepercayaan dalam hati Mei Ling.
"Aku tidak mengerti mengapa engkau sebagai puteri suma Kiang memusuhi mereka, akan tetapi aku percaya kepadamu, Suma Eng. kuharap engkau berhati-hati karena di sini terdapat banyak orang pandai. Baru Suma Kiang dan Toa Ok saja sudah merupakan dua orang yang amat sukar dikalahkan, apalagi kalau Ouw Ki Seng atau Pangeran palsu itu maju. Dia lebih lihai lagi. Juga Sian Hwa Sian-li seorang iblis betina yang licik dan jahat."
"Aku tahu, Ciang Mei Ling. Lalu, apa yang akan kaulakukan sekarang?"
Tanya. Sian Eng yang merasa bahwa mereka berdua telah mendengar terbukanya rahasia besar komplotan itu, dan tentu gadis yang telah dinodai Cheng Kun ini tidak akan tinggal diam.
"Aku akan membunuh si jahanan Cheng Kun itu!"
Kata Mei Ling dengan gemas.
"Dia dan iblis betina itu telah memperdayaku dan jahanam itu telah menodaiku!"
Sian Eng mengangguk.
"Mereka semua layak dibasmi. Akan tetapi engkau harus berhati-hati, Mei Ling. Iblis betina itu tentu akan membelanya."
Kedua orang gadis itu lalu berpisah meninggalkan taman dengan cara menyusup melalui kegelapan malam, kembali ke kamar masing-masing dalam gedung Pangeran Cheng Boan itu.
Mereka berunding di dalam ruangan belakang yang tertutup itu.
Pangeran Cheng Boan duduk di kepala meja dan yang lain-lain duduk mengelilingi meja bundar yang besar itu.
Ouw Ki Seng duduk di seberangnya dan di kanan kirinya duduk Suma Kiang dan Toa Ok, sedang-kan Sian Hwa Sian-li dan Cheng Kun di kanan kiri Pangeran Cheng Boan.
Ciang Mei Ling tidak tampak di situ.
Bagaimanapun juga, Pangeran Cheng Boan masih belum dapat menerima gadis itu sebagai orang kepercayaannya biarpun Mei Ling diaku sebagai tunangan Ouw Ki Seng.
Bahkan Ouw Ki Seng sendiripun tidak berani mengajak gadis itu masuk ke dalam persekutuan rahasia itu dan diapun tidak ingin gadis itu mengetahui bahwa dia adalah seorang pangeran palsu.
Karena itulah maka pada malam hari itu Mei Ling tidak diperkenankan hadir dalam rapat rahasia itu.
"Pangeran Cheng Lin, sudah paham benarkah engkau tugasmu? Coba ulangi apa yang harus kaulakukan."
Kata Pangeran Cheng Boan kepada Ki Seng yang duduk dengan sikap tenang.
"Sudah, paman. Saya sudah paham betul. Tiga hari yang akan datang Pangeran Cheng Hwa dan Pangeran Cheng Siu akan mengadakan perjalanan berburu binatang di hutan selatan seperti biasa dikawal sebanyak dua puluh orang perajurit pengawal. Saya harus menyamar dan mempergunakan kesempatan itu untuk membunuh mereka."
"Bagus. Ingat, untuk tugas ini engkau harus bekerja sendiri agar tidak mencurigakan. Dan yang terpenting dan yang harus tidak boleh lolos adalah Pangeran Cheng Hwa. Engkau tahu bahwa dia adalah Pangeran Mahkota yang kelak akan nenggantikan Kaisar Cheng Tung. Sukur kalau engkau dapat membunuh keduanya."
Kata pula Pangeran Cheng Boan.
"Jangan khawatir, paman. Saya akan dapat melakukannya dengan baik dan mudah. Apa artinya dua puluh orang perajurit pengawal itu untuk saya? Di-tambah dua kali lipat lagipun tidak akan lapat menghalangi aku membunuh mereka berdua."
"Bagus! Kalau Pangeran Cheng Hw sudah dapat disingkirkan, empat orang yang lain itu mudah menyusul. Aku sendiri yang akan menutupimu kalau ada yang berprasangka. Akan kunyatakan dengan sumpah bahwa pada saat kedua orang pangeran itu diserang orang di tengah hutan, engkau sedang berada bersamaku di rumah kami ini."
Setelah selesai mengadakan perundingan, mereka bubaran dan Ki Seng menuju ke sebuah kamar yang memang disediakan untuk dia kalau dia berada di istana Pangeran Cheng Boan.
Denga gembira Ki Seng menuju ke kamar yang cukup besar dan mewah Itu karena sebelum rapat dimulai dia sudah memesan kepada Mei Ling untuk menunggunya dalam kamarnya itu.
Malam ini dia ingin bersenang-senang dengan tunangannya yang secara tidak resmi telah menjadi isterinya itu.
Sementara itu, Cheng Kun juga kembali ke kamarnya.
Ketika dia memasuk kamarnya, dia tercengang akan tetapi juga girang melihat Ciang Mei Ling telah berada di dalam kamar itu!
Sejak dia berhasil menggauli gadis itu dengan bantuan obat perangsang dalam anggur yang disuguhkan Sian Hwa Sian-li kurang lebih sebulan yang lalu, dia tidak pernah lagi berkesempatan mendekati Mei Ling.
Gadis itu selalu menjauhkan diri.
Akan tetapi malam ini, tahu-tahu gadis itu sudah berada di dalam kamarnya dan menantinya, Tentu saja dia girang bukan main dan cepat dia menghampiri sambil mengembangkan kedua tangannya, siap untuk merangkul.
"Nona Chiang Mei Ling, betapa rindu aku kepadamu, manis!"
Cheng Kun melangkah maju dan kedua tangannya sudah menyentuh pundak gadis itu.
Akan tetapi alangkah kagetnya ketika tiba-tiba sebatang pedang yang dipegang tangan kanan gadis itu telah menodong dadanya.
Dia merasa betapa ujung pedang yang runcing dan tajam itu telah menembus kain bajunya dan sudah menyentuh kulit dadanya.
"Cheng Kun, manusia busuk! Dengan bantuan iblis betina itu, engkau telah menodaiku, untuk itu sekarang engkau harus mampus di tanganku!"
Cheng Kun menjadi ketakutan. Wajarnya pucat, matanya terbelalak.
"Tidak....tidak....jangan bunuh aku.... tolooonngggg!!"
Akan tetapi jerit melengking itu di sambung teriakan kematian karena pedang di tangan Mei Ling sudah memasuki dadanya.
Ketika Mei Ling melangkah mundur dan mencabut pedangnya, tubuh Cheng Kun terkulai roboh dan darahnya membanjiri lantai kamarnya.
Tiba-tiba tampak bayangan berkelebat dan tahu-tahu Ouw Ki Seng telah berdiri di ambang kamar itu.
Ketika tadi dia kembali ke kamarnya, dia tidak melihat Mei Ling berada di kamarnya seperti yang telah dipesannya.
Dia menjadi kecewa dan bermaksud untuk pergi ke kamar gadis itu.
Pada saat mencari Mei Ling itulah dia mendengar jerit melengking dari kamar Cheng Kun.
Dia cepat melompat dan berlari menuju ke kamar itu dan dilihatnya Mei Ling telah berada di kamar itu dengan pedang yang berlumuran darah di tangannya sedangkan Cheng Kun telah menggeletak mandi darah.
"Ling-moi, apa yang kaulakukan ini?"
Seru Ki Seng dengan kaget sekali.
Mei Ling memandang kepada Ki Seng dengan mata mencorong.
Timbul kebencian dan kemuakan besar dalam hatinya terhadap pemuda yang dahulu membuatnya kagum dan tertarik ini.
"Ouw Ki seng!"
Katanya dengan suara yang dingin.
"Engkau pangeran palsu, engkau laki-laki jahanam!"
"Mei Ling, apa artinya sikap dan makianmu itu?"
Bentak Ki Seng dengan heran dan marah, juga terkejut sekali.
"Artinya bahwa aku tahu betapa engkau telah mengatur siasat yang amat jahat. Dibantu iblis betina Sian Hwa Sian-li itu engkau telah menodaiku, dan aku tidak akan sangsi lagi bahwa pembunuhan atas diri ayah ibuku tentu diatur olehmu."
"Mei Ling.....!"
Seru Ouw Ki Seng dan pada saat itu, Pangeran Cheng Boan datang berlari-lari bersama Toa Ok dan Sian Hwa Sian-li, diikuti pula enam orang perajurit pengawal.
Melihat ini, Ki Seng segera mengambil keputusan.
Mei Ling telah membunuh Cheng Kun dan karena gadis itu adalah tunangannya maka dia tentu akan terlibat kalau dia tidak mengambil keputusan cepat.
"Engkau pembunuh!"
Bentaknya dan cepat dia menyerang Mei Ling dengan pukulan maut Sin-liong-jut-tong (Naga Sakti Keluar Guha) sebuah jurus ampuh dari ilmu silat Sin-liong Ciang-hoat (lima Silat Naga Sakti).
Pukulan dengan kedua tangan mendorong ke depan mengarah dada Mei Ling ini hebat sekali.
Serangkum tenaga sakti menyambar ke arah gadis itu.
Mei Ling yang sudah tahu bahwa pemuda itu amat lihai, cepat melempar tubuh ke samping dan berjungkir balik tiga kali, kemudian dengan nekat ia menyerang dengan pedangnya.
Dengan penuh kebencian ia menusukkan pedangnya untuk membunuh pemuda yang telah merusak kehidupannya itu.
Akan tetapi tingkat kepandaian silat gadis puteri ketua Pek-eng-pang itu masih jauh di bawah tingkat kepandaian Ki Seng, maka tusukan itu dengan amat mudahnya dihindarkan oleh Ki Seng dengan miringkan tubuh ke kanan, menggeser kakinya sehingga tubuhnya kini tiba di samping kiri Mei Ling.
Dengan gerakan cepat sekali, dia membalik dan tangan kanannya sudah menampar ke arah punggung gadis itu dengan pengerahan tenaga sakti yang amat kuat.
"Wuuttt..... plakkk!"
Itulah pukulan ban-tok-ciang (Tangan Selaksa Racun) yang pernah dipelajari Ki Seng dari perkumpulan Ban-tok-pang.
Tubuh Mei Ling tersungkur dan gadis itu tidak bergerak lagi.
Tewas dengan mulut mengeluarkan darah.
Ketika melihat puteranya menggeletak mandi darah, Pangeran Cheng Boan berteriak keras dan dia menangis setelah mendapat kenyataan bahwa puteranya telah tewas.
"Apa yang terjadi di sini? Siapa yang membunuh puteraku?"
Teriaknya. Ouw Ki Seng melangkah maju.
"Paman Pangeran, saya mendengar teriakan dan ketika saya datang ke sini, saya melihat kanda Cheng Kun telah tewas Pembunuhnya adalah Ciang Mei Ling ini!"
Dia menuding ke arah tubuh gadis itu yang telah tewas pula.
"Melihat kejadian itu saya lalu membunuhnya."
"Akan tetapi..... mengapa ia membunuh Cheng Kun? Bukankah ia itu gadis tunanganmu?"
Pangeran Cheng Boan bertanya penasaran.
"Saya sendiri tidak mengerti, paman Agaknya terjadi percekcokan di antara mereka."
"Pangeran, kenapa tergesa-gesa membunuhnya? Seharusnya ia ditangkap dan ditanya dulu mengapa ia membunuh Cheng Kongcu."
Kata Sian Hwa Sian li dengan suara menegur. Ia merasa terpukul sekali dengan kematian Cheng Kun yang diharapkannya kelak akan mengangkat dirinya.
"Ia telah mengetahui rahasia...."
Ki Seng menyadari bahwa di situ terdapat pula enam orang perajurit, lalu disambungnya.
"....rahasia yang seharusnya tidak ia ketahui. Maka aku lalu membunuhnya, Sian-li."
"Aduh, celaka! Bagaimana sampai bisa terjadi hal seperti ini?"
Keluh Pangeran Cheng Boan dengan hati hancur. Dia hanya mempunyai seorang saja putera dan sekarang puteranya telah terbunuh! "Dimana Suma Kiang? Dia seharusnya menjaga keselamatan Cheng Kun!"
Pada saat itu terdengar suara beradu-nya senjata tajam di ujung lorong yang menuju ke belakang.
Semua orang terkejut dan tanpa diperintah lagi, Toa Ok dan Sian Hwa Sian-li sudah berloncatan menuju ke arah itu.
Ki Seng juga me-lompat dan mengejar mereka.
Apa yang terjadi di bagian belakang rumah itu?
Suma Kiang sedang duduk di luar kamarnya mencari hawa sejuk karena di dalam kamarnya hawanya agak panas.
Tiba-tiba muncul Sian Eng.
Melihat gadis itu berdiri di depannya, Suma Kiang menegur dengan ramah sambil memandang kepada "puterinya"
Itu dengan sinar mata menyayang.
"Suma Eng, anakku, engkau belum tidur? Mari duduk di sini dan mengobrol bersama."
Akan tetapi alangkah heran hati Suma Kiang ketika melihat gadis itu tetap saja berdiri di depannya, bahkan ia bertolak pinggang dan berkata dengan suara aneh, suara yang penuh kemarahan dan kebencian.
"Suma Kiang, manusia iblis! Aku adalah Lo Sian Eng, bukan Suma Eng!"
"Eh, Suma Eng, apa artinya ini?"
Tanya Suma Kiang dengan kaget dan heran masih belum menduga apa-apa.
"Artinya, engkau sama sekali bukan ayah kandungku! Engkau bahkan musuh besarku yang telah memperkosa ibuku sehingga ia membunuh diri dan menyebabkan kematian ayah kandungku pula, karena itu, sekarang engkau harus mati di tanganku!"
Setelah berkata demikian, Sian Eng mencabut pedang Ceng-liong-kiam (Pedang Naga Hijau) dari punggungnya dan langsung saja ia menyerang Suma-Kiang dengan cepat.
Pedangnya menyambar dari atas ke bawah, membacok ke arah kepala Suma Kiang.
Serangan ini datangnya cepat sekali dan mengandung tenaga dahsyat.
Suma Kiang terkejut setangah mati mendengar ucapan Sian Eng tadi.
Seketika diapun tahu bahwa gadis itu telah mengetahui akan rahasianya, Entah bagaimana gadis itu dapat mengetahuinya, akan tetapi dia maklum bahwa gadis itu tentu akan membalas dendam dan benar-benar akan membunuhnya.
Ketika Sian Eng menyerang dengan hebat itu, tidak ada jalan lain baginya untuk menghindarkan diri dari maut kecuali dengan melempar diri ke belakang dan terus bergulingan di atas lantai.
"Singg.....craakkkkk!"
Kursi yang tadi diduduki Suma Kiang terbelah menjadi dua oleh sambaran pedang.
Akan tetapi Suma Kiang sudah dapat menyelamatkan diri dan karena maklum bahwa ilmu kepandaian gadis itu kini sudah tinggi sekali, diapun cepat mencabut siang-kiam (sepasang pedang) dari punggungnya.
Sebagai seorang pengawal pribadi dan penjaga keamanan di istana Pangera Cheng Boan, sepasang pedangnya tidak pernah terpisah dari tubuhnya.
"Suma Eng, sabar dulu, mari kita bicara...."
Katanya menyabarkan.
"Tutup mulut dan bersiaplah untuk mati dan menebus dosamu!"
Bentak Sian Eng yang sudah menyerang lagi.
Pedangnya menyambar ke arah leher.
Ketika Suma Kiang melangkah mundur dan menekuk lutut sehingga sambaran pedang itu lewat di atas kepalanya, tahu-tahu pedang di tangan Sian Eng sudah membalik dan kini menusuk lehernya.
Suma Kiang terkejut dan cepat mengarakkan pedang kirinya menangkis.
"Tranggg....!"
Dua pedang bertemu dan pedang kanan Suma Kiang kini membalas dengan tusukan ke arah dada gadis itu.
Akan tetapi dengan mudahnya Sian Eng mengelak.
Segera mereka terlibat dalam perkelahian yang amat seru.
Suma Kiang yang sebetulnya mencinta Sian Eng dengan sungguh-sungguh dan menganggapnya sebagai puterinya sendiri, terpaksa membela diri dan balas menyerang.
Hatinya terasa sakit sekali melihat gadis yang disayangnya itu bersungguh-sungguh hendak membunuhnya.
Akan tetapi, bagaimanapun juga tentu saja dia lebih sayang dirinya sendiri daripada gadis itu.
Dia harus membela diri dengan sungguh-sungguh kalau tidak ingin mati di tangan gadis yang amat lihai itu.
Dan pembelaan diri yang paling kuat adalah dengan balas menyerang pula.
"Haiiitttt.....!!"
Sian Eng sudah menyerang lagi dengan dahsyatnya.
Pedangnya lenyap bentuknya dan yang tampak hanya gulungan sinar kehijauan dari Ceng-liong kiam yang membacok ke arah leher suma Kiang dari samping.
Bagaikan kilat menyambar pedang itu meluncur ke arah leher lawan dengan kekuatan yang cepat akan dapat memancung leher lawan kalau mengenai sasaran.
Karena serangan itu berbahaya sekali, Suma Kiang tidak sempat mengelak dan kembali dia menangkis dengan pedang tangan kirinya.
"Tranggg....!"
Bunga api berpijar, Suma Kiang terkejut karena merasa betapa lengan kirinya tergetar hebat, tubuhnya terdorong dan membuat dia terhuyung ke belakang.
Pada saat itu, tangan kiri Sian Eng sudah berkelebat, menyerang dengan pukulan Pek-lek Ciang-hoat.
Suma Kiang masih mencoba untuk membuang diri ke belakang, akan tetapi hawa pukulan yang amat dahsyat membuatnya terpelanting.
Pada saat itu, pedang Sian Eng sudah menyambar lagi kearah lehernya!
"Celaka....!"
Suma Kiang berseru dan menggunakan kedua pedangnya untuk menggunting pedang Sian Eng yang menyerangnya.
Pedang gadis itu tertangkis, meleset dan masih melukai pundak kiri suma Kiang!
Datuk ini terpaksa melompat ke samping lalu bergulingan di atas tanah sambil melindungi tubuhnya dengan memutar kedua pedangnya.
Keadaannya gawat dan berbahaya sekali.
Sian Eng sudah siap untuk menyerang lagi pada saat musuh besarnya sedang bergulingan Itu.
Akan tetapi tiba-tiba terdengar jejak kaki berlari mendatangi tempat itu dan terdengar pula teriakan Sian Hwa Sian-li.
"Tangkap pembunuh!"
Melihat Sian Hwa Sian-li datang bersama Toa Ok dan juga Ouw Ki Seng yang lihai, tahulah Sian Eng bahwa kalau ia melawan mereka, tentu ia akan celaka.
Maka cepat ia meloncat dan melarikan diri keluar dari dalam rumah itu, terus ke taman belakang dan melompati pagar yang mengelilingi tempat tinggal Pangeran Cheng Boan.
Ketika para kaki tangan pangeran itu mengejar, Sian Eng telah lenyap ditelan kegelapan malam.
Pangeran Cheng Boan menjadi semakin bingung dan marah.
"Apa artinya semua ini?"
Teriaknya ketika dia mengetahui bahwa pembantu utamanya, Suma Kiang yang telah menjadi pembantu setianya sejak puluhan tahun yang lalu, nyaris terbunuh oleh anaknya sendiri.
"Sebetulnya ia bukan anak kandung saya, Pangeran."
Suma Kiang menjelaskan "Akan tetapi sejak berusia tiga tahun saya rawat dan didik menjadi seperti anak saya sendiri.
Beberapa tahun ini menjadi murid supek (uwa guru) saya dan ilmu kepandaiannya meningkat hebat bahkan saya sendiri tidak mampu menandinginya."
"Akan tetapi mengapa ia hendak membunuh engkau yang merawat dan mendidiknya sejak kecil?"
Pangeran Cheng Boan bertanya, penasaran.
"Entahlah bagaimana..., ia tahu bahwa saya yang menyebabkan kematian ibunya dan ia hendak membalas dendam untuk itu."
"Hemm, ada-ada saja!"
Pangeran Cheng Boan berkata marah dan sedih mengingat akan kematian puteranya.
"Ia merupakan bahaya. Sebar para penyelidik cari dan bunuh gadis itu. Pangeran Cheng Lin, terjadinya peristiwa tidak enak ini, apalagi yang menyebabkan kematian puteraku, maka rencana kita harus dilaksanakan dengan cepat. Mari kita semua berunding di ruangan dalam!"
Jenazah Cheng Kun dan Ciang Mei Ling diurus oleh orang-orangnya pangeran itu dan keluarga Pangeran Cheng Boan menangisi kematian Cheng Kun.
Akan tetapi pada malam hari itu juga Pangeran Cheng Boan mengajak para jagoannya untuk berunding di ruangan rahasia mereka.
Dalam perundingan itu direncanakan dengan matang bagaimana Ouw Ki Seng harus melakukan tugas membunuh dua orang pangeran yang akan melakukan perjalanan ke hutan sebelah selatan kota raja untuk berburu binatang hutan.
"Ingat, Pangeran Cheng Lin. Engkau harus melakukan tugas ini seorang diri dan penuh rahasia. Jangan sampai gagal dan jangan sampai rahasia ini diketahui orang lain. Kalau sampai gagal dan bocor, engkau harus menanggungnya sendiri kami tidak dapat membela atau melindungimu."
Pesan Pangeran Cheng Boan "Harap Paman Pangeran jangan khawatir.
Saya pasti akan dapat membunuh Pangeran Cheng Hwa dan Pangeran Cheng Siu.
Akan tetapi saya khawatir seorang di antara mereka akan lolos, Agar tugas saya dapat terlaksana dengan baik, saya minta agar Sian Hwa Sian li diperbolehkan membantu saya.
Ia belum banyak dikenal orang di kota raja sehingga akan lebih aman kalau dia yang membantu daripada Paman Suma Kiang atau Paman Toa Ok."
Kata Ki Seng.
"Saya akan membantu Panger Cheng Lin, Yang Mulia, agar tugas dapat dilaksanakan dengan hasil baik"
Kata Sian Hwa Sian-li sambil tersenyum manis dan menatap wajah Pangeran Cheng Boan dengan pandang mata memikat.
Setelah kini Cheng Kun tewas, perhatian wanita itu beralih kepada Pangeran Cheng Boan.
Ia sudah mendengar seluruh siasat yang dilakukan pangeran ini menipu Ouw Ki Seng pangeran palsu itu.
kalau semua rencana berhasil, Pangeran Cheng Boan inilah yang besar kemungkin besar akan menggantikan kedudukan kaisar, bahkan perlu ia dekati.
Pangeran Cheng Boan mengangguk-angguk.
"Baiklah, aku setuju kalau Sian hwa Sian-li ikut dan membantumu, Pameran Cheng Lin."
Rombongan berkuda itu terdiri dari dua puluh orang perajurit mengawal dua orang pangeran keluar dari pintu gerbang kota raja sebelah selatan.
Mereka semua tampak gagah sekali, terutama dua orang pangeran itu.
Pangeran Cheng Hwa adalah seorang pangeran yang bertubuh tinggi tegap, berusia dua puluh lima tahun dan dia merupakan putera mahkota karena dia adalah pangeran tertua, lahir dari permaisuri.
Sikapnya lemah lembut dan agung berwibawa.
Pangeran Cheng siu yang menemaninya pergi berburu berusia sekitar sembilan belas tahun merupakan pangeran kelima dan dia disayang oleh Pangeran Cheng Hwa.
Pangeran kelima ini bertubuh tinggi kurus berwajah tampan agak kewanitaan.
Dua orang pangeran ini menunggang dua ekor kuda pilihan yang besar, melarikan kuda mereka depan diikuti dua puluh orang perajurit pengawal itu.
Di sepanjang perjalanan dua orang pangeran ini menjadi tontonan yang mengagumkan, terutama bagi para wanitanya.
Tidak lama kemudian mereka telah tiba di luar hutan selatan yang cukup lebat.
Hutan ini merupakan hutan yang dilindungi, hutan yang memang dipelihara dan menjadi tempat Kaisar dan keluarganya pergi berburu.
Para pemburu umum dilarang keras memburu binatang di hutan ini dan siapa berani melanggar diancam hukuman berat.
Karena itu, hutan selatan ini dihuni banyak binatang hutan.
Mereka berhenti di luar hutan itu.
Matahari telah naik dan sinarnya menembus celah-celah daun pohon-pohon yang memenuhi hutan.
Dari dalam hutan sudah terdengar kicau bermacam burung dan suara berbagai binatang hutan, seakan menantang para pemburu itu.
Pangeran Cheng Siu memandang kakaknya dengan wajah berseri.
"Kanda Cheng Hwa, mari kita berlumba. Kita berpencar masing-masing membawa sepuluh orang pengawal dan kita lihat nanti, siapa di antara kita yang mendapatkan buruan paling banyak!"
Pangeran Cheng Hwa tersenyum gembira. Dia senang melihat adiknya gembira seperti itu.
"Baiklah, Cheng Siu. Engkau boleh membawa lima belas orang mengawal, sisanya yang lima orang mengawalku. Akan tetapi kita tidak boleh curang, para pengawal dilarang ikut berburu, harus dari hasil buruan kita sendiri."
"Baik, kanda. Jangan khawatir, aku mengerti akan peraturan permainan!"
Kata Pangeran Cheng Siu yang lalu menoleh kepada rombongan pengawal.
"Harap lima belas orang dari kalian mengikuti aku, sedangkan sisanya yang lima orang mengawal kanda pangeran!"
Lima belas orang pengawal lalu memisahkan diri dan ketika Pangeran Cheng Siu menggerakkan kudanya memasuki hutan mereka juga menjalankan kuda mengiringkan dari belakang.
Setelah adiknya bersama para pengawal lenyap di antara pohon-pohon dalam hutan, Pangeral Cheng Hwa juga lalu memberi isarat kepada lima orang pengawalnya dan mereka menjalankan kuda memasuki hutan.
Pangeran Cheng Hwa mempersiapkan busur dan anak panah di tangan kirinya dan mulailah dia memandang ke sekeliling dengan waspada untuk mencari binatang buruan.
Dua orang pangeran dan dua puluh orang pengawal mereka itu sama sekai tidak tahu bahwa ada dua pasang mata mengikuti gerak-gerik mereka ketika mereka berhenti di luar hutan tadi.
Pengintai-pengintai itu adalah Ouw Ki Seng dan sian Hwa Sian-li yang telah mendahului dan menanti di hutan itu, bersembunyi diantara semak belukar dan mendengarkan bercakapan antara kedua orang pangeran tadi.
Setelah melihat dua orang pangeran beserta rombongan mereka memasuki hutan, Ki Seng berkata kepada Sian Hwa Lan-li.
"Sian-li, kau bereskan pangeran yang dikawal lima orang itu. Yang dikawal lima belas orang tadi bagianku. Awas, jangan sampai gagal. Bunuh mereka semua!"
Sian Hwa Sian-li tersenyum, lalu memasang topeng kain hitam di depan mukanya.
"Jangan khawatir. Mari kita berlumba seperti mereka, siapa yang akan lebih cepat membereskan mereka."
"Jangan main-main. Lakukanlah!"
Kata Ki Seng dan dia sendiripun lalu memasang topeng kain hitam menutupi mukanya.
Kedua orang itu lalu berpencar, melakukan pengejaran terhadap buruan masing-masing.
Sebentar saja Ki Seng sudah dapat nenyusul Pangeran Cheng Siu yang dikawal lima belas orang perajurit.
Pangeran muda ini merasa gembira dan tegang.
Busur dan anak panah telah siap di tangan kirinya.
Matanya jalang memandang ke depan, kanan dan kiri untuk menangkap kalau ada gerakan seekor binatang hutan.
Tiba-tiba matanya terbelalak girang.
Dia melihat seekor kelenci putih menyusup di antara semak belukar.
Cepat dia memasang anak panah pada busurnya dan membidik, kemudian melepaskan anak panahnya ke arah kelenci yang menongolkan kepalanya di antara semak.
Anak panah meluncur cepat ke arah kelenci.
Akan tetapi Pangeran Cheng Siu terbelalak kaget dan heran ketika melihat anak panahnya itu disambar tangan seseorang yang tiba-tiba saja sudah muncul di situ.
Seorang yang mengenakan pakaian serba hitam dan memakai topeng kain hitam pula.
Hanya sepasang mata orang itu yang tampak, mencorong di balik dua lubang pada topeng itu.
Dengan beberapa loncatan, orang bertopeng itu telah berada di depan kuda yang ditunggangi Pangeran Cheng Siu.
"Hei, apa yang kaulakukan ini? Siapa kau....?"
Pangeran itu membentak, akan tetapi pada saat itu, orang bertopeng yang bukan lain adalah Ouw Ki Seng telah menggerakkan tangan kanannya.
anak panah yang tadi ditangkapnya menyambar seperti kilat dan tepat mengenai dada pangeran itu sebelah kiri.
Sedemikian kuatnya lontaran Ki Seng sehingga anak panah itu menancap sampai tembus ke punggung.
Pangeran Cheng Siu mengeluarkan teriakan melengking dan tubuhnya terpelanting dari atas kudanya yang meringkik dan mengangkat kedua kaki ke atas.
Peristiwa itu terjadi sedemikian cepatnya sehingga lima belas orang perajurit pengawal itu tertegun.
Sama sekali mereka tidak pernah mengira akan ada orang yang berani melakukan pembunuhan terhadap Pangeran Cheng Siu.
Apalagi hutan itu adalah hutan terlindung dan terlarang.
Mereka mengira tempat ini aman seperti biasa.
Karena itu ketika Ki Seng menangkap anak panah dan mendekati pangeran, mereka masih belum menyadari akan adanya bahaya.
Tahu-tahu orang bertopeng itu menyerang Pangeran Cheng Siu dengan anak panah yang ditangkapnya dan pangeran itu kini telah menggeletak di atas tanah dengan dada tertembus anak panah dan tewas seketika.
Barulah lima belas orang perajurit pengawal itu bergerak maju dan berteriak-teriak.
"Tangkap pembunuh!"
Akan tetapi Ki Seng tidak lari, bahkan dia menerjang ke depan, tangan kirinya menampar ke arah kepala seorang prajurit dan tangan kanannya merampas pedang yang dipegang perajurit yang roboh terjungkal itu.
Para perajurit pengawal berloncatan dari atas kuda mereka dan sambil berteriak-teriak mengepung serta mengeroyok Ki Seng.
Namun, dengan pedang rampasannya, Ki Seng mengamuk, dia memang sengaja merampas pedang untuk menghadapi para pengawal.
Dia tidak mau mempergunakan pukulan tangan karena pukulan yang mengandung sinkang yang beracun akan dapat dikenali oleh seorang ahli silat.
Akan tetapi bacokan atau tusukan pedang untuk membunuh tentu tidak akan ada yang mengenal siapa pelakunya.
Dengan alasan itu pula tadi dia membunuh Pangeran Cheng Siu dengan menggunakan anak panah pangeran itu sendiri.
Lima belas orang perajurit pengawal itu sama sekali bukan tandingan Ki Seng yang memiliki tingkat ilmu silat tinggi.
Pedang di tangannya menyambar-nyambar, menjadi gulungan sinar yang panjang dan berturut-turut lima belas orang prajurit itu roboh.
Darah muncrat di mana mana dan tempat itu menjadi mengerikan.
Mayat-mayat malang melintang berserakan.
Setelah lawan terakhir roboh Ki Seng membuang pedang rampasannya, sejenak meneliti dengan pandang matanya yang menyapu di antara mayat-mayat itu.
Setelah merasa yakin bahwa mereka semua, terutama pangeran itu, sudah tewas, Ki Seng lalu melompat meninggalkan tempat itu untuk mencari Sian Hwa Sian-li yang diharapkan juga telah berhasil melaksanakan tugasnya dengan baik.
Seperti telah disepakati berdua, Sian Hwa Sian-li melakukan pengejaran terhadap Pangeran Cheng Hwa yang dikawal lima orang perajurit.
Sebentar saja Sian Hwa Sian-li sudah dapat menyusul pangeran itu dan karena ia ingin cepat-cepat menyelesaikan tugasnya, kalau mungkin mendahului Ki Seng, Sian Hwa Sian-li langsung saja meloloskan sabuk sutera ikat pinggangnya.
Biasanya, ia mempergunakan sehelai sabuk sutera berwarna merah.
akan tetapi sekali ini, untuk merahasiakan dirinya, ia memakai sabuk sutera berwarna hitam, sesuai dengan pakaiannya yang juga serba hitam.
Ia juga tidak membawa senjatanya yang aneh, yaitu sebuah payung karena kalau hal ini dilakukannya, tentu orang akan dapatmudah mengenalnya.
Pangeran Cheng Hwa yang menjalankan kudanya di depan, terkejut bukan main ketika muncul seorang yang mengenakan pakaian serba hitam dan juga mukanya ditutupi topeng kain hitam.
Hampir saja ia tadi melepaskan anak panah, karena ketika berkelebat, orang itu hanya tampak bayangan hitam saja yang dikiranya seekor binatang hutan.
Ketika melihat bahwa bayangan itu ternyata seorang manusia bertopeng, tentu saja dirinya tidak jadi melepaskan anak panahnya.
"Siapa engkau dan apa maksudmu menghadang kami?"
Bentak Pangeran Cheng Hwa.
"Aku datang untuk membunuhmu"
Kata Sian Hwa Sian-li dengan suara yang di rendahkan agar terdengar seperti suara pria.
Baca Juga: Suling Emas 23
Baca Juga: Suling Emas 28