Eps 5 Pendekar Bego - Can ID
Baca online Pendekar Bego - Can ID
Cersil Pendekar Bego - Can ID.
"kalau memang Li popo telah mati, maka lebih baik kau ikuti kami untuk menghadap majikan kami saja, bagaimana? Kau bersedia bukan?"
Barang siapa yang menghadapi peristiwa tanpa ujung dan pangkalnya ini, tak nanti mereka akan bersedia untuk memenuhi keinginan lawan.
Tapi pertama berhubung Ong It sin adalah seorang manusia yang jujur, kedua berhubung ia tak pernah punya tempat tinggal tetap dan sudah terbiasa mengikuti ajakan orang, dan ketiga karena ia mendengar bahwa majikan dari keempat orang ini kenal dengan ayahnya, timbullah niatnya untuk mencari sebab sebab kematian dari ayahnya.
Maka mendengar tawaran tawaran itu, Ong It sin segera manggut manggut.
Agaknya keempat orang itu tidak menyangka kalau urusan bakal selesai dengan begitu mudah, sambil memegang lentera untuk menerangi wajah pemuda itu, merekapun berseru.
"Harap ikutilah kami!"
Ong It sin memperhatikan pula lentera lawan dengan seksama, ia merasa lampu itu seperti terbuat dari salju, sehingga sinar yang terpancar keluar dari lentera itu begitu dingin dan suram, menimbulkan suatu perasaan aneh baginya.
Ong It sin ingin menarik kembali perkataannya karena seram, tapi sebagai seorang lelaki sejati dia merasa tak baik untuk menjilat kembali perkataan yang keluar.
Maka ketika keempat orang itu berjalan ke depan, diapun mengikuti di belakangnya.
Semalam suntuk mereka berjalan terus tanpa berhenti, hingga pada keesokan harinya terdengarlah suara air yang amat keras berkumandang dari balik bukit sana, ternyata mereka telah tiba ditepi sebuah sungai yang besar sekali.
Sungai besar itu lebarnya hampir mencapai tiga puluh kaki lebih, dan juga arusnya sangat deras, gelombang besar yang menumbuk di atas batu karang segera memercikkan bunga air yang memancar jauh kemana mana.
Seingat Ong It sin, sejak dilahirkan sampai sekarang belum pernah ia menjumpai sungai sebesar ini, dia mulai menjadi ragu ragu, akan diajak ke manakah dirinya oleh keempat orang itu?
Ketika tiba ditepi sungai, keempat orang itupun segera berhenti.
"Bagaimana cara kita untuk menyeberangi sungai ini?"
Tanya Ong It sin kemudian.
"Kita tak perlu menyeberangi sungai ini!"
Sambil menyahut orang itu mengeluarkan sebuah sumpritan dari sakunya dan segera memperdengarkan suara pekikan yang sangat aneh.
Tak selang beberapa saat kemudian, dari atas batu muncul sebuah rakit yang meluncur datang dengan kecepatan luar biasa, dalam waktu singkat rakit itu sudah berada semakin dekat dengan tempat mereka berada.
Saat itulah ia menyaksikan seorang laki laki kekar seperti sebuah pagoda berdiri dengan badan setengah telanjang dan membawa sebuah jangkar yang besar sekali.
Sedemikian besarnya jangkar itu paling tidak juga berbobot dua ratus kati lebih.
Ketika rakit sudah dekat dengan tempat mereka berada tiba tiba ia melemparkan jangkar besar itu keatas daratan.
"Cring...!"
Dengan menimbulkan suara gemerincing yang memekikkan telinga, jangkar besi itu segera menancap dalam dalam diatas sebuah rakit yang sedang mengalir mengikuti arus itupun segera berhenti.
Sampai rakit itu berhenti, Ong It sin baru dapat menghembuskan napas lega.
Sekarang baru terlihat olehnya bahwa kecuali laki-laki kekar itu, diatas rakit masih ada seorang lainnya lagi.
Cuma saja orang itu berbaring diatas rakit dengan tubuhnya ditutup oleh selimut bulu kambing yang sangat tebal, hanya kepalanya saja yang muncul dari balik selimut tersebut.
Ketika Ong It sin mengamati wajah orang itu, dia baru merasa terperanjat karena orang itu pada hakekatnya bukan seorang manusia hidup.
Orang itu berwajah pucat keabu-abuan dengan sepasang mata yang amat cekung, sekalipun sepasang matanya terbuka lebar tapi biji matanya sama sekali tak berkutik.
Kepalanya kurus kering tak kelihatan ada sedikit dagingpun, hakekatnya seonggokan tengkorak manusia yang tinggal kulit pembungkus tulang...
Dengan hati terkejut Ong It sin berteriak keras.
"Hei, siapakah orang itu?"
"Dia adalah majikan kami!"
Jawab keempat orang itu berbareng.
Ong It sin segera menarik napas dingin dari gerak gerik yang dilakukan keempat orang itu, dapat diketahui olehnya bahwa mereka memiliki ilmu silat yang luar biasa hebatnya, jika orang ini adalah majikan mereka maka tak bisa disangkal lagi, kepandaian yang dimiliki tengkorak itu pasti tak terlukiskan hebatnya.
Ong It sin tertawa getir, lalu bisiknya "Eeh...
eeh...
apakah majikanmu masih bisa bernapas?"
"Huus! Jangan sembarangan bicara sobat"
Bentak orang itu cepat.
"hayo maju dan menjumpai majikan kami!"
Empat orang itu segera mengempit Ong It sin ditengah dan tanpa banyak berbicara lagi membawanya melompat ke atas rakit.
Setibanya diatas rakit tersebut, keempat orang itu segera menjatuhkan diri berlutut dihadapan manusia macam tengkorak itu sambil berkata.
"Majikan, dalam lembah Cong cu kok telah terjadi perubahan, Li popo telah tewas!"
Sebenarnya manusia tengkorak itu berbaring dengan wajah pucat dan mata yang terpejam rapat, akan tetapi setelah mendengar perkataan itu, kontan saja sepasang matanya terbelalak lebar lebar dan memperdengarkan seruan tertahan.
Kembali empat orang itu berkata kembali.
"Lapor majikan, walaupun Li popo telah mati tapi secara kebetulan kami telah bertemu dengan cucu luarnya Li popo, sekarang kami telah membawanya datang menjumpai dirimu!"
Sekali lagi manusia tengkorak itu berseru tertahan, seakan-akan kecuali suara "Aah!"
Dia tak mampu mengucapkan kata yang kedua lagi. Salah seorang diantaranya segera menuding ke arah Ong It sin sembari berkata.
"Silahkan kau periksa majikan, dialah cucu luar Li popo yang kami maksudkan itu... Pelan pelan orang itu memalingkan kepalanya. Sewaktu kepalanya berpaling itu, tubuhnya yang diselimuti dengan kulit kambing itu sama sekali tidak berkutik sama sekali, seakan akan hanya kepalanya saja yang bergerak. Bahkan kepala berpaling, tulang tengkuknya memperdengarkan suara gerutuk yang amat nyaring, seakan akan tulang tersebut setiap saat dapat menjadi patah dan hancur. Ong It sin adalah seorang pemuda yang berhati baik, ketika dilihatnya orang itu sakit bahkan sambil memaksakan diri untuk berpaling sehingga tulang tengkuknya berbunyi gemerutukan, ia merasa sangat tak tega, sambil maju menghampiri orang itu dan berjongkok di sisinya agar orang itu bisa melihat dengan lebih jelas lagi, katanya.
"Jika kau merasa terlalu payah untuk berpaling lebih baik jangan kau gerakkan tubuhmu!"
Baru selesai perkataan itu, tahu-tahu sinar matanya telah beradu pandangan dengan sinar mata orang itu.
Kontan saja jantung berdenyut lebih keras, ia merasa orang itu memiliki sinar mata yang lebih tajam dari sembilu.
Begitukah sinar mata dari seseorang yang menjelang saat ajal?
Jelas tidak mungkin!
Sementara ia masih terperanjat, tiba tiba orang itu telah menjulurkan tangan kirinya dari balik selimut berkulit domba itu.
Tampaklah tangannya yang kurus kering seperti lidi, kelima jari tangannya seperti kuku setan langsung mencengkeram lengan si anak muda itu...
Merasakan dirinya kena dicengkeram, mendadak sontak Ong It sin menjerit aneh sekeras kerasnya.
"Bagus, bagus sekali, Ong Tang thian, sudah datangkah kau?"
Tegur orang itu dengan suara yang parau dan dalam.
"Hei sobat! Kau salah sangka..."
Buru buru Ong It sin berseru.
"aku bukan Ong Tang thian, aku bernama Ong It sin, Ong Tang thian adalah ayahku!"
Kulit wajah orang itu kembali bergetar keras lalu menunjukkan sikap kebingungan.
"Kau... kau bukan Ong Tang thian?"
Bisiknya keheranan.
"kau adalah putranya? Lantas dimanakah ayahmu?"
Sebenarnya maksud kedatangan Ong It sin kesitu adalah ingin mencari tahu tentang sebab kematian yang menimpa ayahnya, tapi sekarang terbukti bahwa orang itu tidak tahu kalau ayahnya telah mati, itu berarti pula bahwa harapannya kembali akan meleset.
Berpikir demikian, sekuat tenaga dia berusaha untuk melepaskan diri dari cengkeraman kelima jari tangan orang itu, tapi sayang tangan orang tersebut jauh lebih keras daripada japitan braja, sekalipun ia telah berusaha dengan sekuat tenaga, maksudnya itu belum juga berhasil.
Karena kehabisan daya, Ong It sin pun berkata.
"Ayahku telah meninggal dunia!"
"Apa? Sudah mati... sudah mati...?"
Jerit orang itu dengan suara parau.
"ia telah mati di tangan siapa?"
Ong It sin menghela napas panjang.
"Aaai... sampai sekarang pun aku masih belum tahu, tapi agaknya seperti salah satu diantara empat jago lihay dari partai Tiong lam. Tapi ada orang yang memberitahukan pula kepadaku bahwa dibalik kesemuanya masih terbanyak liku likunya, maka aku pingin bertanya kepadamu apakah kau tahu..."
Sampai ditengah jalan mendadak teringat olehnya bahwa orang sama sekali tidak tahu kalau ayahnya sudah mati, sudah barang tentu tidak akan tahu juga kalau ayahnya telah mati ditangan siapa, maka perkataan selanjutnya pun segera ditelan kembali.
Orang itu mendengus lalu menarik tangannya ke belakang sehingga tubuh Ong It sin terbetot lebih maju ke depan.
Kini wajah Ong It sin tinggal selisih beberapa depa saja dari wajah si manusia tengkorak tersebut tentu saja hal mana membuat hatinya menjadi bergidik dan ketakutan setengah mati.
"Kalau Ong Tang thian sudah mati, lantas bagaimana dengan nasib istrinya Li Hong?"
Tanya orang itu. Pertanyaan tersebut segera menimbulkan kembali rasa sedih dalam hati Ong It sin katanya.
"Ibuku mati duluan daripada ayahku, bagaimanakah tampang wajahnya aku sendiripun tidak teringat lagi"
"Bagus sekali, Li popo dan Ong Tang thian sekalian telah mati semua, kalau begitu kotak mustika tersebut pasti berada dalam sakumu bukan?"
Baru pertama kali ini Ong It sin mendengar ada orang menyebut nama "Li Hong"
Dia lantas menduga itulah nama kecil ibunya. Rasa sedih kembali menyelimuti wajahnya setelah merenung sejenak katanya.
"Kotak? Kau maksudkan kotak yang didalamnya berisikan lukisan pemandangan alam itu?"
"Benar, benar!"
Buru-buru orang itu mengangguk.
"Kotak itu..."
Sebetulnya ia hendak mengatakan bahwa kotak itu berada ditangan Be Siau soh, tapi ia segera teringat peringatan dari sang nona yang melarangnya untuk mengatakan kepada orang lain bahwa mereka saling mengenal.
Tentu saja diapun tak bisa mengatakan kalau kotak itu berada ditangannya jika mereka berdua pun tidak saling mengenal.
Maka setelah termenung, diapun berkata lagi.
"Kotak itu tak ada ditempatku!"
Mencorong sinar kebuasan dari balik mata orang itu, kelima jari tangannya yang mencengkeram lengannya itu mendadak dikendorkan.
Tapi sebelum Obng It sin sempat mundur ke belakang, kelima jari tangannya telah bergerak maju kembali kemuka sambil mencengkeram tenggorokan anak muda itu.
Kena dicekik lehernya, Ong It sin merasakan napasnya menjadi sesak.
Ia tahu jika cekikan orang itu dilanjutkan niscaya tubuhnya akan mati kaku karena putus napas.
"Hei... hei... apa apaan kau?"
Teriaknya kemudian dengan suara keras.
"Hmmm...! Jangan kau anggap aku hanya ada sebuah lengan yang bisa digerakkan, maka kau berani bicara bohong kepadaku!"
"Aneh betul orang ini"
Pikir Ong It sin dalam hatinya.
"aku toh tidak mengganggu apa apa kepadamu, malah sebaliknya justru kau yang lagi mencekik leherku, kenapa kau mengatakan aku yang menganiayaimu Orang ini betul betul orang yang tak tahu aturan didunia ini."
"Siapa yang berbohong kepadamu?"
Serunya kemudian dengan suara penasaran "aku berbicara dengan sejujurnya!"
"Baik, anggap saja memang tidak berada ditanganmu, tapi tentunya kau tahu bukan benda itu berada di tangan siapa? Hayo cepat katakan kepadaku!"
Sambil berkata kelima jari tangannya mencekik semakin keras.
Seketika itu juga Ong It sin merasakan kepalanya menjadi pusing tujuh keliling dan matanya berkunang kunang, hampir saja ia kehabisan napas dan hendak menyebutkan nama Be Siau soh.
Untung nama tersebut belum sempat disebutkan, karena pada saat itu juga ia mendengar suara tertawa merdu dari Be Siau soh sedang berkumandang dari belakang tubuhnya.
"Hei lotiang!"
Terdengar gadis itu berseru dengan suaranya yang amat merdu.
"kenapa kau musti marah marah? Persoalan apa sih yang menyebabkan kau ingin mencekik engkoh cilik ini sampai mampus? Hei, kalian berlima! Kenapa kalian hanya berdiam diri saja?"
Laki-laki yang menjadi pemimpin rombongan itu segera membentak.
"Nona manis, kalau urusan tidak menyangkut dirimu, lebih baik kau menyingkir saja"
"Walaupun engkoh cilik itu tidak kukenal tapi aku lihat dia adalah seorang yang jujur dan baik hati"
Kata Be Siau soh kembali "bila ia pernah berbuat kesalahan kepada lotiang damprat sajalah dengan beberapa patah kata, buat apa kau musti bersikap begitu kejam terhadap seorang engkoh cilik yang jujur?"
Sungguh amat sedih Ong It sin ketika mendengar Be Siau soh mengatakan bahwa ia tidak kenal dengannya, apa yang hendak diucapkan pun segera tertelan kembali.
Dengan suara keras dia hanya bisa berteriak.
"Aku tidak tahu, aku tidak tahu! Kotak itu tidak berada ditanganku, benar benar tidak berada ditanganku!"
Pelan pelan orang itu mengendorkan cengkeramannya, tapi tidak melepaskan sama sekali cengkeramannya pada Ong It sin, sementara biji matanya berputar dan dialihkan ke arah tepi pantai.
Dengan susah payah Ong It sin pun mengalihkan pula sorotan matanya ke arah pantai, dimana ia jumpai Be Siau soh yang cantik sedang berdiri disitu dengan manisnya.
Waktu itu ia sedang tertawa manis kepada laki laki kekar itu sembari berkata.
"Apakah rakit kalian ini akan berjalan menuju ke hilir? Untuk memperlancar perjalananku, bersediakah kalian menghantar diriku?"
Laki laki itu tidak menjawab, sebaliknya berpaling dan memandang ke arah manusia bertampang tengkorak. Dengan suara parau manusia tengkorak itu segera berkata.
"Tahukah kau, siapa kami?"
"Maaf jika aku tidak kenali orang, tapi laki-laki kekar ini sepertinya adalah Cuan tong ki pah (raja bengis raksasa dari Cuan tong) Siang pit lo han (Lo han berlengan baja) Yap Kiu!"
Ketika mendengar disebutkannya nama orang itu, laki laki kekar yang bercambang itu segera berseru tertahan.
"Bukanbkah kalian berempat adalah Pek si su siong (empat manusia bengis keluarga pak) yang berasal dari lembah Cian sui kok ditepi Tibet dan anak murid dari Lui kun bun?"
Kembali Be Siau soh bertanya. Empat orang manusia berbaju putih itu segera tertawa seram.
"Heehh... heehhh... heeehhh... nyonya cilik, tajam benar sepasang matamu, tolong tanya siapa nama nyonya cilik..."
"Aku adalah keponakan perempuan dari Khek po pocu, dari keluarga Be..."
Kata Be Siau soh dengan nyaring.
Manusia bertubuh tengkorak itu kembali menggerakkan sepasang biji matanya untuk memperhatikan gadis tersebut.
Sebaliknya Ong It sin yang mendengar bahwa Be Siau soh bicara seenaknya saja tapi seakan akan tidak berbohong, tak tahan lagi segera mendengus dingin.
Dalam pada itu, Be Siau soh dengan sepasang matanya yang tajampun sedang mengamati manusia itu lekat lekat.
=oood-wooo=
Jilid 12 SEKALI pandangan saja ia telah tahu kalau manusia lemas yang seakan akan sudah mampus itu sesungguhnya memiliki tenaga dalam yang amat sempurna. Maka ia berkata kembali.
"Aku ingin menumpang rakit kalian untuk menyebrang, apakah saudara mengijikan permohonanku ini?"
Lama sekali manusia tengkorak itu memperhatikan wajah Be Siau soh tanpa berkedip tak lama kemudian baru menjawab.
"Masih ada sebuah urusan lagi yang belum kuselesaikan, untuk sementara waktu rakitku ini tak akan berangkat, apakah kau bersedia untuk menunggu sesaat lagi?"
OodOwOoo Be Siau soh segera tertawa, sahutnya.
"Rakit ini milikmu, tentu saja kapan kau hendak berangkat, akupun mengikuti kehendakmu, apa salahnya kalau menunggu sebentar lagi!"
Setibanya diatas rakit, dia lantas bergendong tangan sambil berdiri dengan santainya seakan akan peristiwa apapun yang bakal terjadi disana sama sekali tiada sangkut paut dengannya, dan hadirnya dia disitu tak lebih hanya ingin menumpang belaka.
Agaknya manusia tengkorak itu memperhatikan pula gerak gerik Be Siau soh sekian lamanya, kemudian ia memberi tanda kepada keempat orang manusia berbaju putih itu.
Empat orang tersebut segera mengerti maksud majikan dan pelan pelan maju kedepan.
Sepintas lalu, keempat orang itu seperti sedang berjalan seenaknya, tapi sekejap kemudian mereka telah mengepung Be Siau soh ditengah kepungan.
Tapi Be Siau soh seperti sama sekali tak merasakan hal itu, bahkan melirik sekejap kearah merekapun tidak.
Menunggu empat orang manusia berbaju putih itu sudah mengepung Be Siau soh ditengah kepungan, manusia seperti tengkorak itu baru bertanya kepada Ong It sin.
"Kau pasti mengetahui kalau kotak itu berada dimana, hayo cepat katakan kepadaku!"
Ong It sin merasakan jantungnya berdebar keras, tanpa sadar ia berpaling kearah Be Siau soh.
Akan tetapi gadis itu sedang berdiri sambil mendongakkan kepalanya memandang awan yang bergerak diangkasa.
Menyaksikan kecantikan gadis itu, tanpa terasa Ong It sin teringat kembali dengan kenangan syahdunya, hal mana semakin membuat pemuda itu tak tega untuk mengatakan bahwa kotak mustika itu berada ditangannya karena ia kuatir hal mana justru akan mencelakai jiwa gadis tersebut.
"Aku... aku tidak tahu kotak itu sesungguhnya berada dimana!"
Manusia seperti tengkorak itu segera mendengus sinis, lalu sambil tertawa dingin katanya lagi.
"Jika kau tak mau mengatakannya, berarti kau sedang mencari penyakit buat diri sendiri?"
"Aku kan tidak kenal denganmu, kenapa aku musti mencari pula penyakit diri sendiri?"
Teriak Ong It sin kemudian dengan suara keras.
Sekalipun ia jujur, tapi desakan demi desakan yang dihadapinya, membuat pemuda itu lama kelamaan habis juga kesabarannya.
Orang itu tertawa dingin dengan suara yang mengerikan, lengan kanannya segera diayunkan ke udara dan siap mencengkeram batok kepala anak muda itu.
Padahal Ong It sin hanya berada lima enam depa dihadapannya, dengan tercengang pemuda tersebut mengawasi tangan lawan yang berada dikepalanya itu, kemudian berpikir.
"Permainan setan apa lagi yang sedang dilakukan orang ini? Apa pula maksud orang ini dengan merentangkan cakarnya di udara? Apakah dia hendak melepaskan senjata rahasia? Tapi dimanakah senjata rahasianya..."
Sementara ia sedang celingukan kesana kemari untuk mencari senjata rahasia yang mungkin akan tertuju kearahnya, mendadak terasalah segulung tenaga hisapan yang sangat kuat menghisap tubuhnya sehingga ia terperosok maju tiga langkah.
Dengan bergesernya tiga langkah ke depan, maka praktis ia sudah berada tepat dihadapan manusia aneh berwajah tengkorak.
Orang itu menggerakkan lengannya ke depan dan..."Kraak!
kraak!"
Diiringi bunyi gemerutuk yang sangat nyaring, tahu tahu lengan tersebut sudah menjulur setengah depa lebih panjang ke udara.
Adegan aneh semacam ini segera membuat Ong It sin menjadi tertegun dengan mata terbelalak, belum sempat ia bertindak sesuatu, tahu tahu pinggangnya sudah dicengkeram oleh kelima jari tangan orang itu dan cekalnya erat erat.
Ong It sin merasa kaget bercampur kesakitan, teriaknya berulang kali dengan suara keras.
"Lepaskan aku! Lepaskan aku!"
"Jawab dulu kotak itu berada dimana?"
Sambil berseru kelima jari tangannya itu mencengkeram lebih keras lagi hingga menusuk dalam dalam keperut Ong It sin.
Pemuda itu kesakitan setengah mati, peluh dingin membasahi sekujur tubuhnya, karena tak tahan akhirnya ia menjatuhkan diri berlutut keatas tanah.
Seketika itu juga ia merasa lambungnya seakan akan digigit oleh beribu ribu ekor ular berbisa, sakitnya bukan kepalang.
Tapi pemuda itu masih tetap membandel, kembali teriaknya.
"Aku... aku tidak tahu..."
Cengkeraman orang itu makin bertambah kencang, kini sepasang mata Ong It sin sudah melotot besar karena kesakitan, ia tidak dapat berbicara lagi kecuali menjerit jerit dengan suara aneh.
Sejak dilahirkan dari dalam rahim ibunya belum pernah ia merasakan siksaan seperti ini.
Dengan mata melotot menahan geram sekali lagi orang itu membentak keras.
"Hayo bicara, benda itu berada dimana?"
Saking sakitnya nafas Ong It sin sudah terengah-engah, dalam keadaan begini sekalipun dia ingin mengucapkannya pun percuma saja, karena ia benar benar tak bertenaga lagi.
Disaat yang kritis inilah, Be Siau soh dengan suaranya yang merdua telah menimbrung dari samping.
"Aku lihat sobat ini amat jujur, sekalipun kau menyiksanya lebih jauh aku rasa sekali berkata tak mungkin ia benar benar tak tahu, apa gunanya kau menyiksanya terus menerus dengan cara semacam itu...?"
Dengan mata melotot dan tertawa dingin tiada hentinya manusia aneh itu berseru.
"Kalau kau enggan untuk numpang rakitku ini lebih baik cepat angkat kaki saja dari sini"
"Baik, aku akan segera pergi!"
Jawab Be Siau soh tanpa berpikir panjang lagi.
Sambil berkata ia mendongakkan kepalanya dan menengok manusia berbaju putih dihadapannya itu.
Tapi ketika sinar matanya saling berbenturan dengan sorot mata si laki laki berbaju putih yang membetot sukma itu, tubuhnya langsung bergetar keras hingga tertegun untuk sesaat lamanya.
Tapi dengan cepat gadis itu berkelebat pergi secara cepat hembusan angin puyuh dan meluncur lewat dari sisinya.
Empat orang manusia berbaju putih itu sebenarnya berdiri disekeliling Be Siau soh sambil melakukan pengepungan, tadi secara mudah gadis itu berhasil lolos dari kepungan, bahkan melewati samping manusia baju putih itu dan kabur ketepi rakit.
Sebenarnya empat orang manusia berbaju putih itu sudah bersiap siap untuk melakukan pengejaran, mereka segera urungkan niat tersebut ketika menyaksikan Be Siau soh telah berada ditepi rakit hal ini menunjukkan bahwa mereka tak akan melakukan pengejaran andaikata gadis itu hendak meninggalkan tempat itu.
Pada saat keempat orang manusia berbaju putih itu menghentikan langkah kakinya, tiba tiba Be Siau soh ikut pula berhenti, menyusul kemudian sambil putar badan sepasang telapak tangannya diayunkan ke belakang.
Dalam waktu singkat terdengarlah suara dengungan yang amat nyaring tapi aneh bergema memenuhi angkasa...
Rupanya gadis itu telah melepaskan lima batang jarum kelabang yang berbentuk segi tiga meluncur kedepan dan menyerang keempat orang manusia berbaju putih itu.
Sementara sebatang lainnya langsung meluncur ke arah manusia aneh seperti tengkorak tersebut.
Jangan dilihat kelima batang senjata rahasia itu dilancarkan sambil memutar badan namun ketepatan sasarannya ternyata mengagumkan.
Dari sini dapat diketahui bahwa kepandaiannya didalam melepaskan senjata rahasia memang telah mencapai puncak kesempurnaan Menghadapi ancaman senjata rahasia yang sangat lihay itu, baiklah empat orang manusia berbaju putih itu, mereka mencak mencak sambil mengebaskan ujung bajunya dengan maksud memukul mundur senjata rahasia tersebut...
Sedangkan manusia aneh yang berbaring diatas rakitpun telah membentak keras, kelima jari tangannya yang mencengkeram tubuh Ong It sin segera mengendor, kemudian sebuah pukulan dilepaskan untuk merontokkan jarum kelabang tersebut.
Dimana angin pukulan berhembus lewat jarum kelabang itu segera kena disapu mencelat keudara.
Menggunakan kesempatan yang sangat baik itu, Be Siau soh segera merendahkan tubuhnya sambil mundur kebelakang Ong It sin, setelah itu ia sambar pinggang anak muda itu dan melompat kembali kedepan.
Betul ilmu melepaskan senjata rahasia yang dimiliki Be Siau soh sangat lihay, tapi dalam waktu yang bersamaan ia cuma bisa melepaskan lima batang senjata rahasia sekaligus.
Coba kalau diatas rakit cuma lima orang saja, maka dengan aman sentausa ia bisa membawa Ong It sin kabur dari situ dengan selamat.
Sayangnya kecuali laki laki tengkorak dan keempat orang berbaju putih itu, disitu masih hadir seorang laki laki lagi bertenaga raksasa yakni Yap kiu.
Yap kiu tidak kebagian senjata rahasia kelabang dari Be Siau soh, maka dalam tertegunnya ketika melihat nona itu siap melompat ke tepi pantai, dengan membawa Ong It sin, kontan saja ia membentak keras, lalu menubruk ke depan dengan hebatnya.
Telapak tangannya yang besar seperti kipas itu dalam waktu singkat melancarkan tiga buah serangan berantai.
Pada dasarnya Siang pit lo han (Lo han bertenaga sakti) Yap Kiu memang memiliki tenaga alam yang luar biasa, sekalipun ilmu silatnya hanya biasa biasa saja, namun kekuatannya itu terhitung pula sebagai seorang jago berkepandaian tinggi.
Ketika masih muda itu, ia pernah berjumpa dengan seorang manusia sakti yang tertarik sekali dengan kekuatan tenaganya, karena itu ia mewariskan serangkaian ilmu pukulan yang hebat kepadanya.
Sayang sekali otak Yap Kiu agak bebal, sekalipun ia sudah melatihnya pulang pergi rangkaian ilmu pukulan itu selalu gagal dikuasahi dengan baik Bahkan pada akhirnya ia melupakan seluruh kepandaian tersebut, hanya teringat satu gerakan saja.
Gerakan itu bernama Thian sang ci sam kong (tiga sinar dari langit) jika digunakan maka dalam udara segera akan muncul tiga buah perubahan yang membingungkan orang.
Dengan mengandalkan satu jurus serangan inilah, ia berhasil mengangkat namanya dalam dunia persilatan.
Begitulah, sambil melompat ke depan Yap Kiu segera melancarkan serangan tentu saja jurus serangan yang ia pergunakan adalah jurus tiga sinar dari langit tersebut.
Be Siau soh segera merasakan tibanya sesosok bayangan tubuh yang tinggi besar dengan membawa gulugan angin puyuh yang maha dahsyat.
Gadis itu terkejut, apalagi ketika berhadapan dengan tiga buah tangan yang menyerang datang secara berbareng, karena tak tahu bagaimana musti bertindak, akhirnya ia berkelit kesamping lalu melompat keluar.
Untung gadis itu berkelit dengan cepat, sebab baru saja mereka berhasil lolos dari kepungan, segera terasalah tekanan hawa pukulan yang sangat kuat berhembus lewat dari belakang.
Ketika serangannya mengenai sasaran kosong, Yap Kiu segera kehilangan keseimbangan tubuhnya, serangan yang dilancarkan bukan saja gagal ditarik kembali, malah tubuhnya ikut terjengkang kedepan.
Pukulan tersebut dengan membawa tenaga yang kuat sekali langsung menghantam tubuh laki-laki tengkorak yang berbaring diatas rakit itu.
Sebodoh-bodohnya Yap Kiu, ia dapat pula menyaksikan keadaan yang tidak beres, segera teriaknya keras-keras.
"Hei. Cepat tangkis pukulanku!"
Laki-laki tengkorak itu menggerakkan lengannya yang ceking dan menyambut datangnya ancaman tersebut dengan kelima jari tangannya yang kurus tinggal kulit pembungkus tulang itu.
"Blaang...!"
Ketika sepasang telapak tangan saling beradu, Yap Kiu menjerit keras tubuhnya yang besar seperti kerbau itu terlempar ke udara dan..."Plung!"
Tercebur ke dalam air.
Padahal arus sungai amat deras sekali, coba kalau Yap Kiu tidak bertindak cekatan dengan menyambar tepi rakit tersebut niscaya tubuhnya sudah terbawa arus.
Sekalipun demikian, bukan suatu pekerjaan yang gampang baginya untuk merangkak naik keatas rakit dalam waktu singkat.
Be Siau soh tidak menyia-nyiakan kesempatan yang sangat baik itu, ia segera menjejakkan kakinya keatas rakit dan melompat naik keatas daratan..."Kejar mereka!"
Manusia aneh itu segera menjerit keras.
"Sreet! Sreet! Sreet"
Bayangan putih berkelebat lewat, empat orang manusia berbaju putih itu beruntun naik ke darat melakukan pengejaran, dalam keadaan begini mereka tidak menggubris teriakan-teriakan dari Yap Kiu lagi.
Be Siau soh dengan membawa Ong It sin kabur secepat-cepatnya meninggalkan tepi sungai.
Ketika didengarnya suara para pengejarnya makin lama semakin mendekat, mendadak ia berhenti sambil memutar tubuhnya, kemudian membentak.
"Cukup! kalian jangan mengejar lagi!"
Tampak salah seorang diantara empat manusia berbaju putih itu berkata dingin sambil memegang sebatang jarum kelabang.
"Perempuan sialan, rupanya kau sejalan dengan si kelabang beracun Be Ji nio! Hayo cepat ikut kami pulang ke rakit"
Be Siau soh tertawa manis.
"Ooh, kalian baru tahu toh kalau kelabang beracun Be Ji nio adalah ibuku, tapi siapa sih orang yang berbaring diatas rakit itu?"
"Tak usah banyak bicara,"
Bentak empat orang berbaju putih itu dengan wajah berubah. Be Siau soh tertawa dingin.
"Kalian tak usah berlagak sok, memang kalian berempat manusia baju putih termashur di wilayah sebelah barat, tapi siapakah yang mengira kalau keempat manusia tersohor di barat rela menjadi budaknya seorang manusia tengkorak yang mengalami jalan api menuju neraka hingga bergerakpun tak mampu"
"Tutup mulut!"
Bentak empat orang itu dengan gusar.
"Kenapa? Memangnya aku salah berbicara?"
Ejek Be Siau soh ketus.
Empat orang manusia berbaju putih itu saling berpandangan sekejap lalu untuk sesaat lamanya tak mampu berkata apa apa.
Sepasang mata Be Siau soh memang cukup tajam, apa yang dia katapun memang benar betul manusia aneh yang berbaring diatas rakit itu memiliki tenaga dalam yang sangat tinggi, tapi karena mengalami jalan api menuju neraka, separuh tubuhnya menjadi kaku dan tak mampu berkutik lagi.
Bahkan kecuali kepala serta lengan kanannya, hampir sebagian besar tubuhnya tak mampu berkutik.
Maka ketika empat orang manusia berbaju putih itu menunjukkan perubahan diatas wajahnya, Be Siau soh segera tahu bahwa dugaannya tidak meleset, dengan cepat ia berkata lagi.
"Sungguh aneh sekali, kalau bicara dari tenaga dalam yang kalian miliki, seharusnya tidak lebih rendah dari orang yang menguasahi kalian tapi lucunya kalian toh bersedia juga untuk takluk kepada orang yang tak punya kepandaian hampir seimbang apa ini tidak aneh namanya?"
Agaknya keempat orang manusia berbaju putih itu tergerak oleh ucapan Be Siau soh, mereka menghela napas panjang lalu katanya.
"Aaai... apa yang kau ketahui? Dia..."
"Aaah! Kenapa kalian musti takut dengannya?"
Tukas Be Siau soh cepat.
"memangnya andaikata kalian pergi, ia bisa melompat bangun untuk mengejar kalian? Hmm... kalau kamu berempat masih saja sudi menjadi budaknya habis sudah nama baik kalian dimasa lalu"
Empat orang manusia berbaju putih itu saling berpandangan sekejap lalu salah satu diantaranya manggut manggut.
"Yaa, betul juga perkataannya!"
"Betul, kia memang tak usah takut kepadanya"
Sambung yang lain.
"Yaa, masa ia bisa mengejar kita semua?"
Sambung dua orang lainnya.
Dari pembicaraan keempat orang itu, dapat diketahuilah bahwa mereka sudah tertarik oleh ucapan gadis tersebut.
Tapi pada saat itulah tiba tiba dari arah rakit berkumandang datang suara teriakan si manusia aneh yang tak sedap didengar itu.
"Jika kalian berempat berani menghianati aku, akan kusuruh kalian rasakan siksaan yang paling berat sehingga ingin mati tak bisa ingin hiduppun menderita!"
Mendengar ancaman tersebut, empat orang manusia berbaju putih itu menjadi tertegun, lalu salah seorang diantaranya berkata sambil menggigit bibir.
"Lebih baik kita kembali dulu ke rakit untuk membunuhnya!"
"Jangan! Jangan, kita jangan sekali kali kembali lagi kesitu"
Kata tiga orang rekannya dengan cepat.
"lebih baik kita mendaki keatas bukit dan melontarkan dua buah batu besar ke arah rakitnya asal ia sudah mampus hingga bencana dikemudian hari tersingkirkan, kita dapat hidup dengan bebas merdeka"
Karena usul ini disetujui semua orang, maka keempat orang manusia berbaju putih itupun tidak lagi menggubris Be Siau soh, tapi berlarian menuju keatas puncak tebing.
Be Siau soh yang melihat beberapa patah katanya berhasil mengurungkan niat keempat orang itu untuk menangkapnya, bahkan menimbulkan juga niat mereka untuk memberontak, hatinya merasa sangat bangga, hingga terbahak-bahaklah dia karena kegirangan.
Dari arah rakit masih kedengaran teriakan teriakan keras dari manusia aneh itu, bila diperhatikan dengan seksama maka bisa didengar teriakan tersebut berupan anjuran kepada Yap Kiu agar cepat naik keatas rakit dan menjalankannya pergi meninggalkan tempat itu, sebab sebentar lagi keempat orang manusia berbaju putih itu akan melemparkan batu besarnya untuk menenggelamkan rakit mereka.
Untung Yap Kiu berhasil juga untuk merangkak naik keatas rakitnya.
Pada saat itulah sebuah batu besar seberat ratusan kati telah didorong kebawah dari atas tebing.
"Blaang!"
Batu besar itu tepat membentur rakit dan menimbulkan lubang amat besar, pancaran air sungai segera berhambutan keempat penjuru.
Tapi pada saat yang bersamaan itu juga, Yap Kiu berhasil menaikkan jangkar, sambil berputar putar rakit itu meluncur ke bawah mengikuti bergeraknya arus air.
"Plung! Plung! Plung!"
Menyusul kemudian beberapa buah batu besar berjatuhan ke sungai bagaikan hujan gerimis.
"Hayo cepat kabur!"
Tiba tiba Be Siau soh menarik tangan Ong It sin untuk diajak kabur.
"kalau tidak, keempat orang itu tentu akan mendatangkan kesulitan untuk kita!"
Karena ditarik, serta merta Ong It sin pun ikut kabur, ke depan.
Dalam waktu singkat mereka sudah berbelok suatu tikungan bukit dan berhenti disitu.
Dengan naapas terengah engah Ong It sin memandang wajah Be Siau soh, kemudian katanya.
"Kee... kenapa... kenapa kau menolong aku lagi...?"
Be Siau soh tersenryum manis, wajahnya kelihatan bertambah cantik hingga mempesonakan hati Ong It sin.
Tapi ucapan dari Be Siatu soh segera mendatangkan kembali rasa bergidik didasar hati pemuda itu, hampir saja bulu kuduknya bangun berdiri.q Terdengar gadis itu berkata bregini.
"Untung kau tidak mengatakan kalau kotak tersebut berada ditanganku, coba kau mengaku kepada mereka, sekarang kau sudah mampus oleh jarum kelabang yang lihay"
Ong It sin menjadi tertegun untuk sesaat lamanya, beberapa waktu kemudian ia baru berkata.
"Kau... kau tega untuk turun tangan membunuh diriku?"
"Lucu benar perkataanmu itu"
Be Siau soh tertawa cekikikan.
"kenapa aku tak tega?"
"Aku... aku dengar orang sering berkata... semalam menjadi suami istri..."
Belum habis perkataan itu diucapkan, paras muka Be Siau soh telah berubah hebat meski ia tidak sampai mengucapkan sepatah katapun, namun cukup membuat anak muda itu tak berani melanjutkan kembali kata katanya.
Ong It sin betul betul tidak habis mengerti kenapa Be Siau soh yang biasanya begitu lemah lembut, dalam sekejap mata telah berubah menjadi begitu menakutkan, terpaksa ia cuma menghela napas dan tidak berani berkata-kata lagi.
Sekulum senyuman kembali menghiasi wajah Be Siau soh katanya lagi.
"Tapi aku tahu kau sangat jujus, kata kata semacam itu tak nanti akan kau katakan kepada mereka..."
Ong It sin tertawa getir, katanya kemudian.
"Aku... aku telah serahkan pedang mustikamu kepada orang lain kejadian itu amat menyesalkan hatiku sekarang kau telah berpesan kepadaku agar jangan mengatakan soal itu kepada orang lain, mana aku berani mengatakannya kepada orang"
"Bagus sekali tapi aku toh pernah melarangmu untuk menyinggung kembali kejadian pada malam itu, kenapa kau begitu berani untuk menyinggungnya kembali barusan? Apakah kau tidak kuatir aku turun tangan keji kepadamu?"
Sekali lagi Ong It sin menghela napas panjang.
"Nona Be, kau... kau tak bisa menyalahkan diriku"
Bisiknya.
"sebelum berkenalan denganmu, aku selalu hidup dalam kemurungan dan ketidak gembiraan tapi semenjak... yaa itulah peristiwa yang tak akan kulupakan untuk selamanya, setiap kali kupejamkan mataku aku lantas menjumpai bayanganmu dalam lubuk hatiku, aku jadi teringat kepadamu, rindu kepadamu..."
Ketika berbicara sampai disitu, paras muka anak muda itu kontan berubah menjadi merah padam, ia tak tahu bagaimana harus melanjutkan kata katanya.
Be Siau soh dapat menangkap bahwa ucapan tersebut muncul dari dasar hatinya, hal mana segera menggetarkan pula perasaannya.
Sambil menepuk bahu Ong It sin, ujarnya kemudian.
"Sudah, jangan bersikap bodoh! Mungkin aku adalah perempuan pertama yang pernah kau jumpai, maka kau berkesan demikian coba kalau berkenalan dengan beberapa orang gadis lagi, tentu kesanmu akan jauh berbeda..."
"Tidak, tidak mungkin akan berubah"
Bisik Ong It rsin sambil menatap wajah Be Siau soh tajam-tajam.
"kecuali kau, aku tak akan tertarik lagi oleh perempuan yang manapun.t "Hmm! Apanya yang baik denganku ini?"
Dengus si nona.
"aku kejam, berhati busuk dan gemar membunuh orang, bahkan nenekmu pun tewas ditanganku, apakah kau tidak mermbenci diriku?"
"Aku... aku hanya takut kalau kau..."
"Cukup!"
Tukas Be Siau soh sambil ulapkan tangannya, kemudian sambil alihkan pembicaraan ke soal lain ia bertanya lebih jauh.
"sekarang, kau bermaksud hendak ke mana?"
"Aku sendiripun tak tahu kemana harus pergi Aku ingin membalaskan dendam sakit hati ayahku, tapi siapakah musuh besarku pun tidak kuketahui, mana mungkin bisa membalas dendam? Maka aku ingin... aku ingin..."
"Kau ingin apa?"
Dengan memberanikan diri Ong It sin berkata.
"Aku ingin... ingin berada bersamamu, tapi... tapi aku takut kau menolak!"
Dengan sepasang biji matanya yang jeli Be Siau soh menatap wajah Ong It sin lekat lekat, perasaan hatinya telah dibikin kalut oleh perkataan sang pemuda yang bodoh tapi jujur itu.
Setelah tertegun sesaat lamanya, ia baru berkata.
"Boleh saja bila kau ingin mengikuti diriku..."
Baru saja ia berbicara sampai disitu, tiba tiba Ong It sin telah berteriak teriak penuh kegiranan.
Sebagaimana diketahui, Ong It sin memang betul betul mencintai Be Siau soh, rasa cintanya kepada gadis itu boleh dibilang telah mendarah daging tapi ia cukup memahami keburukan wajahnya serta ketololan dirinya, ia merasa tak pantas untuk mendampingi gadis cantik tersebut.
Maka ketika Be Siau soh mengabulkan permintaannya untuk melakukan perjalanan bersama, hal ini telah diterima olehnya sebagai suatu berita kegirangan yang amat besar.
"Oooh... kau... kau terlalu baik!"
Buru buru serunya.
"Kau jagnan keburu gembira, perkataanku belum selesai kuucapkan"
Kata Be Siau soh.
"boleh saja kalau kau ingin mengikutiku, tapi kau harus menuturi semua perkataanku, misalnya kalau aku berkata timur, maka tak boleh membantah barat. Sanggupkah kau untuk melakukannya?"
"Tentu saja dapat!"
Jawab Ong It sin tanpa berpikir panjang lagi.
"Eeeh... kalau memberi kesanggupan jangan kelewat cepat, pikirkan dulu masak masak"
Kembali Be Siau soh berseru "misalkan saja kusuruh kau membunuh seseorang yang tidak kau kenal, bersediakah kau untuk melakukannya tanpa membantah?"
Bergetar keras seluruh badan Ong It sin, sepasang matanya terbelalak dlebar lebar dan untuk sesaat lamanya tak sanggup mengucapkan sepatah katapun.
Mimpipun ia tak menyangka kalau Be Siau soh bisa mengajukan pertanyaan yang demikian sulit kepadanya.
Ketika mendengar kalau Be Siau soh mengabulkan permintaannya tadi, ia merabsa gembira sekali, waktu itu yang dipikirkan olehnya hanya bagian yang indah dari gadis tersebutr Tapi sekarang, setelah mendengar ucapan yang terakhir itu ia jadi tbergidik dan merasa ngeri, segala keseraman dan kejelekan gadis itu tersiar keluar semuanya.
Yaa, seandainya Be Siau soh menyuruhnya membunuh seseorang yang tiada sangkut pautnya dengannya, bahkan kenalpun tidak, apa pula yang musti dia lakukan?
Pemuda itu jadi tertegun dan berdiri melongo seperti patung.
oooOdeOooo Setelah lewat agak lama, Be Siau soh baru berkata sambil tertawa manis.
"Jangan kuatir, aku tak akan menyuruh kau untuk melakukan perbuatan semacam itu"
Senyuman dari Be Siau soh itu ibaratnya hembusan angin musim semi yang mendatangkan kesejukan bagi siapapun juga. Buru-buru Ong It sin berkata.
"Nona Be, aku sudah tahu semenjak dulu bahwa kau adalah seorang yang baik sekali."
Be Siau soh tertawa pedih.
"Jangan kau katakan aku baik"
Ucapannya.
"padahal aku sendiripun tahu kalau aku adalah seorang perempuan yang jahat sekali"
"Sekalipun kau pernah melakukan kejahatan, itupun karena kau mempunyai kesulitan sendiri"
Ujar Ong It sin dengan wajah serius.
"aku percaya, watak aslimu bukanlah demikian, jalan pemikiranmu pun tidak begitu jahat..."
Sesungguhnya Be Siau soh cukup mengetahui kejahatan dan kebusukan hatinya, akan tetapi setelah mendengar perkataan itu, tanpa disadari sepasang matanya menjadi basah oleh air mata.
Bahkan ia sendiripun tak tahu kenapa ia bisa melelehkan air mata, sudah barang tentu iapun tak ingin menangis dihadapan Ong It sin.
Maka sambil berpaling ke arah lain, buru-buru ujarnya.
"Sudahlah, jangan bicara yang bukan bukan lagi, memangnya aku tak tahu dengan keadaanku sendiri?"
"Kau mungkin tidak mengetahui akan dirimu sendiri, tapi orang melihatmu dari samping jauh akan lebih jelas, aku bisa berkata demikian, karena aku menyorotmu dari samping!"
Be Siau soh tidak berbicara lagi, ia hanya berjalan sambil menundukkan kepalanya, sementara dalam hati pikirnya.
"Sekalipun apa yang diucapkan Ong It sin cuma kata-kata bodoh tapi memang masuk diakal juga, apakah aku benar-benar tidak tahu akan watakku yang sebenarnya?"
Makin dipikir ia merasa hatinya semakin kebingungan, hingga tanpa terasa ia membayangakan kembali semua perbuatan yang pernah dilakukannya dahulu Usianya tahun ini tidak terlalu besar, paling baru dua puluh tahunan, tapi pengalamannya sudah amat banyak hingga sukar dihitung dengan jari.
Tapi yang paling tak terlupakan olehnya adalah kejadian dimana ia dan ibunya kena dikerubuti oleh belasan orang jago jago lawan yang hebat mengakibatkan mereka ibu dan anak harus berpisah.
Dengan membawa luka yang parah, ia berhasil kabur ke sekitar benteng Khek poo yang kemudian ditolong oleh Khek po pocu.
Waktu itu ia baru berusia tiga belas tahun, tapi ia telah bertekad untuk membuat ilmu silat yang dimilikinya jauh lebih lihay dari ibunya, jauh lebih hebat dari musuh musuhnya dan jauh lebih ampuh dari siapapun juga...
Sebab itulah ketika ia berada dalam benteng Khek po dengan segala semacam rayuan dan pancingan, ia mendekati sang pocu yang pada akhirnya diapun meracuni istri pocu hingga mati.
Setelah kematian sang istri pocu, maka iapun mempersembahkan diri untuk dijadian istri pocu yang berikutnya.
Kemudian beberapa tahun berikutnya, dengan tipu daya ia minta pocu agar mewariskan ilmu silat kepadanya, sudah barang tentu tak sedikit kepandaian sakti yang berhasil dipelajarinya.
Tapi, sekalipun ia telah mempelajari banyak kepandaian, dengan dasar tenaga dalam yang cekak tak mungkin ia bisa menarik banyak manfaat dan keuntungan.
Akhirnya ia berhasil mengetahui sebuah rahasia besar dalam benteng Khek po yakni benteng tersebut tersimpan sebuah mustika yang berupa sebilah pedang Hu si siu kiam.
Ia berusaha untuk menyelidiki kegunaan dari pedang sakti tersebut, namun pocu tidak bersedia menjawab, maka menggunakan suatu kesempatan yang baik, iapun mencuri pedang mestika tersebut, lalu dengan membawa anaknya yang diperoleh dengan sang pocu kabur dari benteng.
Ketika sedang kabur itulah secara kebetulan ia berjumpa dengan Ong It sin yang ketolol tololan itu...
Teringat kembali kejadian romantis dalam rumah batu itu, Be Siau soh mulai merenung sendiri.
"Apakah aku telah mencintai pemuda jelek ini? Kalau tidak mengapa malam itu aku serahkan tubuhku kepadanya? Ah, tak mungkin aku mencintainya... tentu aku berbuat demikian karena rasa terima kasihku kepadanya telah memelihara anakku... tapi, tidak mungkin hal itu disebabkan oleh alasan sederhana ini!"
Makin berpikir ia merasa semakin kalut, dan tak tahu bagaimana musti memecahkannya.
Dengan mulut terbungkam, merekapun melanjutkan perjalanannya ke depan...
Menanti hari sudah semakin gelap, Be Siau soh baru mendongakkan kepalanya memandang kegelapan yang menyelimuti seluruh jagad, ia merasa hatinya semakin murung hingga tanpa terasa menghentikan perjalanannya.
Ong It sin dengan cepat ikut pula berhenti.
Pelan pelan Be Siau soh berpaling lalu katanya.
"Aku hendak pergi ke bukit Thian san sebelah utara, tempat itu sangat jauh letaknya dari sini, meski kita sudah berada di wilayah barat sekarang, tapi perjalanan masih amat jauh mau ikutkah kau kesitu?"
"Jangankan baru bukit Thian san sekalipun hendak ke langit barat aku juga ikut"
Jawab pemuda itu dengan tegas.
Be Siau soh menatap wajah pemuda itu lekat lekat agaknya ia seperti hendak mengucapkan sesuatu, tapi oleh karena hatinya sangat kalut, maka tak sepatah katapun sanggup ia utarakan.
Yaa, seandainya pemuda yang berada dihadapannya adalah seorang pemuda tampan yang menawan hati meski dengan terputus putus mungkin saja dia akan mengutarakan suara hatinya.
Tapi sekarang yang berada dihadapannya hanya seorang pemuda ketolol tololan yang berwajah jelek lagi dungu, bagaimana mungkin isi hatinya bisa terutarakan?
Maka sambil menghela napas panjang, ia melanjutkan kembali perjalanannya ke depan.
Malam itu bulan bersinar dengan terangnya dibalik kegelapan yang menyelimuti angkasa, terpercik sinar keperak perakan yang menerangi jagad.
Sampai jauh malam, sepasang muda mudi itu masih berjalan juga menembusi hutan lebat.
Suatu ketika, tiba tiba Be Siau soh mengendus bau hengus dibalik hembusan yang menyambar lewat.
Sebagai seorang gadis yang cekatan dan cukup berpengalaman, dengan cepat ia merasakan sesuatu yang tak beres, sambil menghentikan langkahnya ia memandang ke depan.
Betul juga, nun jauh didepan sana lamat lamat tampak sinar api yang berkedip kedip dibalik kegelapan.
"Didepan situ ada orang, mari kita jalan berputar saja!"
Bisiknya.
Sambil menggandeng tangan Ong It sin cepat cepat ia berbelok kesamping lain.
Tapi belum jauh mereka berjalan, didepan sana kembali muncul sinar api unggun, menyusul kemudian gadis itu mencoba berputar beberapa kali, tetapi hasilnya tetap serupa semua.
Dalam keadaan demikian, betul Be Siau soh tak ingin menimbulkan urusan tapi toh memancing pula rasa ingin tahunya, dengan sangat berhati hati iapun berjalan ke depan dan menghampiri api unggun tersebut.
Tak lama kemudian, ia sudah berada satu kali lebih lima enam depa dari api unggun tersebut.
Tapi mereka tidak menemukan sesosok bayangan manusiapun di sekeliling api unggun itu.
Mereka berdua segera menyembunyikan diri di belakang sebatang pohon besar sambil mengintip ke depan.
Be Siau soh segera berkerut dahi, sesudah termenung sejenak sambil menuding keatas pohon ia berbisik.
"Hayo kita memanjat keatas pohon saja!"
Dalam soal kepandaian silat Ong It sin memang angkat tangan, tapi kalau soal naik pohon atau mendaki bukit, dia memiliki kepandaian yang bisa diandalkan.
Maka dengan suatu gerakan yang cepat ia memanjat keatas pohon tersebut.
Dengan pepohonan yang rindang, tubuh mereka berdua segera tertutup sama sekali dari penglihatan orang.
Ong It sin yang waktu itu duduk sangat dekat dengan Be Siau soh, segera mengendus bau harum semerbak yang sukar dilukiskan dengan kata kata.
Apa lagi ketika rambut Be Siau soh membelai diatas wajahnya membuat jantungnya berdebar keras sekali entah apa saja yang dipikirkan olehnya waktu itu.
Agaknya Be Siau soh merasakan pula keanehan pemuda itu, ia berpaling dan memandang sekejap kearahnya.
Tampak olehnya Ong It sin dengan wajah yang merah padam sedang memandang terpesona kearahnya, entah apa saja yang sedang dilamunkan pemuda itu...
Sebenarnya Be Siau soh hendak menegurnya tapi setelah berpikir sejenak, ia batalkan niat tersebut setelah menghela napas panjang semua perhatian pun dialihkan kembali dibawah sana.
Ia tahu ditengah hutan lebat semacam ini ternyata terdapat begitu banyak api unggun, itu berarti pasti ada sesuatu yang tak beres ditempat tersebut.
Betul juga, tak lama kemudian terdengarlah suara langkah kaki manusia berkumandang datang dari kejauhan sana, lalu tak lama kemudian telah muncul didepan mata.
Orang itu adalah seorang perempuan berbaju putih yang berambut amat panjang, ia mempunyai paras muka yang cantik jelita, namun siapapun yang memandangnya pasti akan menimbulkan perasaan ngeri dan seram.
Setibanya ditepi api unggun perempuan itu memasukkan seonggok ranting kayu ke dalam api unggun tersebut hingga membesar kobaran apinya.
Perempuan itupun berdiri ditepi api unggun tanpa bergerak lagi, seakan akan ia telah berubah menjadi sebuat patung secara tiba tiba.
Tak lama kemudian, dari balik hutan muncul kembali sesosok bayangan manusia dia adalah seorang pemuda setengah umur yang berwajah serius.
Dan menyusul kemudian, muncul pula orang manusia berbaju putih.
Begitu dua orang manusia berbaju putih itu telah muncul, laki laki setengah umur itu segera berkata.
"Eeeh... aneh betul! Suhu dengan membawa sarung naga berusia seribu tahun Cian nian liong siau berangkat kebenteng Khek po kenapa sampai sekarang belum juga kembali? Jangan jangan ia telah ketimpa peristiwa diluar dugaan?"
"Sekalipun terjadi peristiwa, apa pula yang bisa kita lakukan?"
Sahut perempuan cantik itu dengan suara dingin.
"memangnya kita musti menyerbu ke dalam benteng Khek po untuk menolongnya?"
Empat orang itu membungkam dan tidak berbicara lagi. Ketika Be Siau soh mendengar keempat orang itu menyinggung soal "Cian nian likong siau"
Hatinya segera dicurahkan kembali kebawah sana.
Tapi kesempatan orang itu tidak berbicara lagi suasana menjadi sepi dan hening...
Sayang Ong It sin tidak memperhatikan kalau dipinggir api unggun dibawah sana telah kedatangan manusia, kalau tidak niscaya ia akan segera mengenali keempat orang itu sebagai Ciang lay su shia (empat sesat dari Ciang lay) yang merupakan anak murid say siu jin mo, otomatis Be Siau soh pun tak perlu berpikir lebih jauh.
Dalam pada itu, Ciong lay su shia dengan wajah murung dan perasaan yang berat sedang berjalan mondar mandir tiada hentinya mereka seperti lagi menghadapi suatu urusan yang serius.
Lewat sesaat kemudian, lelaki setengah umur itu baru berkata lagi.
"Sebenarnya sarung pedang Cian nian liong siau itu menjadi milikku, suhu bersikeras memintanya dengan alasan hendak mencari pedang Hu si ku kiam didalam benteng Khek po, tapi kini malah berikut suhu telah lenyap tak berbekas... aai, benar benar sialan!"
Be Siau soh yang mendengar perkataan itu segera merasakan jantungnya berdebar keras, tanpa terasa ia berpaling dan memandang sekejap kearah Ong It sin.
Bahwasanya ia menengok sekejap kearah pemuda tersebut, hal mana dikarenakan apa yang dikatakan lelaki setengah umur sekarang jauh berbeda dengan apa yang dilaporkan Ong It sin kepadanya.
Menurut lelaki setengah umur ini suhu mereka membawa sarung pedang Cian nian liong siau untuk dipersatukan dengan pedang Hu si ku kiam, padahal ilmu silat yang dimiliki keempat orang ini sudah terhitung hebat, sudah barang tentu suhu mereka jauh lebih lihay lagi.
Itu berarti setelah suhu mereka memasuki benteng Khek po, maka pedang dan sarungpun akan bersatu, padahal pedang mustika itu telah berada ditangan Ong It sin.
Apalagi anak muda itupun mengakui bahwa pedang dan sarung itu sebetulnya sudah ia miliki, tapi kemudian diserahkan lagi kepada orang lain, dengan wataknya yang jujur, tak mungkin Ong It sin membohonginya, tapi kenyataannya sekarang...
Oleh karena persoalan membingungkan, lagipula tak leluasa untuk menanyakan masalah tersebut dalam keadaan begini, maka Be Siau soh memandang sekejap kearah pemuda itu.
Apa lacur Ong It sin telah salah mengartikan pandangan itu, ketika sepasang mata mereka bertemu tadi, kontan saja ia terkesima, lalu tertawa bodoh, ia tak ambil peduli denga maksud apa gadis itu sesungguhnya memandang dia.
Tentu saja Be Siau soh mengerti apa yang sedang dipikirkan pemuda itu, diam dia mia menyumpah dalam hati kecilnya, kemudian dengan mendongkol melengos ke arah lain.
Sementara itu, perempuan berambut panjang yang ada ditepi api unggun itu telah berkata lagi.
"Suheng, apakah kau merasa tak senang hati karena suhu telah mengambil barang milikmu?"
Paras muka lelaki setengah umur itu segera barubah hebat, kemudian sambil tertawa paksa sahutnya.
"Oooh, tentu saja tidak!"
Suasana pulih kembali dalam keheningan yang mencekam. Lewat beberapa waktu kemudian, tiba tiba lelaki setengah umur itu berkata lagi.
"Kalian bertiga jangan pergi kemana-mana dulu, aku akan pergi ke sekeliling tempat ini untuk jalan jalan sebentar!"
Tiga orang itu segera mengangguk, maka sambil bergendong tangan lelaki setengah umur itu berjalan keluar dari hutan.
Be Siau soh adalah seorang gadis yang cerdik sebenarnya dia tak ingin mencari urusan dengan empat orang yang berada dihadapannya sekarang, dia hanya berusaha untuk berangkat ke bukit Pak thian san guna menyelesaikan urusan pentingnya.
Tapi ketika ia mengetahui kalau empat orang tersebut mempunyai hubungan yang erat dengan pedang mustika Hu si ku kiam, dan secara kebetulan juga benda itu ada sangkut paut dengannya, maka satu ingatan segera melintas dalam benaknya.
Oleh sebab itulah ketika lelaki setengah umur itu berlalu dari hutan dengan sikap santai dan seakan-akan tiada persoalan apa pun, hatinya kembali bergerak, ia tahu biasanya manusia yang bersikap makin santai, itu berarti dia hendak melakukan sesuatu perbuatan diluar pengetahuan rekan-rekannya.
Buru-buru ia berbisik kepada Ong It sin.
"Eei, kau berdiam saja disini, aku hendak menyusul lelaki setengah umur itu, sebelum aku kembali, walau apapun yang terjadi sembunyi saja terus ditempat ini, mengerti?"
Ong It sin hanya memandang terkesima atas gadis itu, apalagi ketika mengendus bau harum semerbak yang keluar dari mulut nona itu, sukmanya serasa hampir melayang meninggalkan raganya.
Dalam keadaan demikian, jangankan menuruti ucapan yang dibidikkan kepadanya, mendengarpun tidak.
Selesai meninggalkan pesannya, Be Siau soh segera melompat turun keatas tanah dengan gerakan enteng dan menyusul kearah lelaki setengah umur itu.
Dalam waktu singkat ia berhasil menemukan kembali jejak lelaki setengah umur yang sedang berjalan, ke tengah hutan sambil bergendong tangan.
Sambil berjalan, lelaki itu berpaling kebelakang berulang kali secara mencurigakan, dari sikapnya itu seakan-akan dia kuatir kalau ada orang menguntilnya secara diam diam.
Dari tingkah lakunya itu, Be Siau soh semakin yakin kalau orang itu memang hendak melakukan sesuatu perbuatan rahasia, maka ia semakin berhati-hati menguntil di belakangnya.
Kurang lebih setengah li kemudian, tiba tiba lelaki setengah umur itu mempercepat larinya dan berkelebat menuju ke depan sana.
Buru buru Be Siau soh mengerahkan pula tenaga dalamnya untuk mengejar dari belakang.
Dalam waktu singkat, mereka sudah berlarian sejauh tujuh delapan li lebih.
Tiba tiba lelaki setengah umur itu berhenti, ia berhenti dengan begitu mendadaknya sehingga hampir saja membuat Be Siau soh terkecoh dan menerjang lebih ke depan, untung dengan cekatan gadis itu dapat mengerem tubuhnya dan menyembunyikan diri.
Setelah berhenti, lelaki setengah umur itu kembali celingukan ke sana kemari dengan mencurigakan, kemudian ia baru berbungkuk dan memindahkan sebuah batu besar dari atas tanah.
Dibawah batu besar itu ternyata merupakan sebuah liang kecil.
Hanya sebentar lelaki setengah umur itu celingukan disekitar liang kecil tersebut, kemudian batu besar itu ditutupkan kembali diatasnya.
Semua perbuatannya itu dilakukan lelaki setengah umur itu dengan kecepatan luar biasa, Be Siau soh yang sembunyi agak jauh dari situ tak sempat melihat jelas apa yang telah dilakukan olehnya dengan liang itu, tapi ia yakin bahwa suatu benda pasti telah disembunyikan disana.
Demikianlah, setelah memeriksa kembali sekeliling tempat itu dengan seksama, lelaki setengah umur itu menghembuskan napas panjang dan berlalu kembali dari tempat itu.
Sebenarnya Be Siau soh ada maksud untuk menyergap orang itu secara tiba tiba dan membunuhnya, tapi ingatan tersebut kemudian diurungkan.
Ia merasa andaikata saat ini dia hanya seorang diri, maka sekalipun tidak dapat menangkan lawan, untuk kabur bukanlah suatu pekerjaan yang menyulitkan.
Tapi sekarang ia harus membawa serta seorang telur busuk macam Ong It sin.
lagi pula telur busuk itu sama sekali tak berilmu, maka dari itulah nona tersebut segera urungkan niatnya untuk melakukan sergapan.
Menanti lelaki setengah umur itu sudah pergi jauh, Be Siau soh baru tertegun.
"Sialan!"
Demikian ia berpikir.
"sedari kapan aku mulai memikirkan keselamatan orang lain? kenapa aku selalu saja merisaukan keselamatan jiwa sitolol itu?"
Dengan perasaan bimbang Be Siau soh gelengkan kepalanya berulang kali, kemudian pelan pelan berjalan ke depan dan mendekati batu besar tadi Dengan sepenuh tenaga batu besar itu disingkirkan, kemudian liang itu dibersihkan dari tanah dan muncullah sebuah tabung yang terbuat dari bambu.
Dengan perasaan heran dan ingin tahu Be Siau soh segera mengambil benda itu untuk diperiksanya, ternyata benda itu sangat berat, setelah diteliti baru diketahui kemudian bahwa benda itu rupanya terbuat dari gading gajah yang dibikin dengan motih bambu.
Rupanya gading tersebut telah berusia lama, karena warnanya telah berubah menjadi kuning tua.
Pada lapisan yang didepan terlihat ada ukiran tulisan, ketika dihitung ternyata terdiri dari dua belas baris.
Kemudian tulisan itupun diteliti dengan seksama, maka terbacalah tulisan itu berbunyi begini.
"Hu si dibikin Pat kwa, siapa tahu artinya maka dunia akan menjadi miliknya..."
Kemudian dibawah tulisan tersebut tertera pula beberapa huruf.
"Kini Yu akan wariskan inti sari dari Hu si pat kwa, barang siapa yang memahamimnya, dia pula yang berjodoh"
Dibawah tulisan itu tiada tanda tangan, ia pun tak tahu siapakah yang dimaksudkan "Yu"
Tersebut, tapi bisa ditarik kesimpulan bahwa orang itu tentu ada sangkut pautnya dengan pedang Hu si ku kiam tersebut.
Buru buru ia memeriksa kalimat yang kedua.
Pada bagian ini tertera delapan bilah pedang yang berbentuk sangat pendek, ujung pedang dari kedelapan pedang itu masing masing menunjuk ke arah sebuah lukian Pat kwa.
Karena tidak mengetahui apa yang dimaksudkan, Be Siau soh memandang bagian yang kering.
Ternyata ini bagian ketiga sama dengan bagian kedua, hanya arah yang ditunjuk ujung pedang dengan lukisan Pat kwa jauh berbeda.
Menyusul kemudian bagian-bagian yang lainpun mempunyai lukisan yang hampir sama, kecuali berbeda dalam arah yang ditunjuk.
Setelah termenung sejenak, tiba tiba satu ingatan melintas dalam benak Be Siau soh segera pikirnya.
"Bila ditinjau dari bentuk ukiran tersebut, sudah pasti hal itu merupakan suatu rangkaian perubahan menurut posisi Pat kwa, kalau dilihat dari ujung pedang yang ditunjuk, maka ini membuktikan kalau petunjuk, maka tersebut merupakan suatu ilmu pedang... yaa, siapa tahu kalau isi gading ini merupakan suatu ilmu yang lihay?"
Ketika berpikir sampai disitu, tanpa terasa lagi jantung gadis itu berdebar keras.
Pada saat itulah, mendadak ia mendengar suara bentakan keras berkumandang dari arah belakang, menyusul kemudian segulung angin pukulan yang sangat kuat menekan punggungnya.
Dengan terkejut Be Siau soh menjejakkan kakinya ketanah dan melompat kedepan.
"Blaang!"
Diiringi suara nyaring, pohon itu tumbang keatas tanah dengan menerbitkan suara keras.
Dengan cekatan Be Siau soh memutar badannya, maka tampaklah lelaki setengah umur tadi telah muncul kembali dihadapannya dengan sinar mata berapi-api dan wajah menyeringai seram.
Be Siau soh cukup memahami keadaan yang dihadapinya, iapun tahu bahwa suatu pertarungan sengit tak akan terhindar, diam diam ia mengambil keluar tiga batang jarum kelabang dan digenggamnya erat erat.
Setelah itu sambil tertawa manis sapanya.
"Hei, sahabat! Kenapa kau musti marah marah kepadaku? Apa si kesalahanku terhadap dirimu??"
"Perempuan rendah, benda apa yang kau bawa itu?"
Bentak lelaki setengah umur itu dengan gusar. Be Siau soh segera tertawa cekikikan.
"Aku sendiripun tdak tahu benda apakah ini sebab akupun tidak mengerti arti dari tulisan ini, kenapa kau tanya-tanya?"
Ketika terbuai oleh tertawa cekikikan lawan yang merdu dan mempesona itu, sikap lelaki setengah umur itu menjadi lebih lembut dan lunak, katanya.
"Cepat kembalikan benda itu kepadaku!"
"Oooh, benda ini milikmu?"
Seru Be Siau soh genit, dengan lemah gemulai dia berjalan menghampirinya.
"aku tidak tahu seberapa sih berharganya gading rongsokan ini? Kenapa kau musti begitu galak kepadaku? Tidak baik membentak-bentak terhadap kaum perempuan, tahu?"
Sambil berkata ia berjalan maju terus hingga tiba kurang lebih enam tujuh depan dihadapan laki-laki tersebut.
Agaknya lelaki setengah umur itu sama sekali tidak bersiap sedia, sambil menjulurkan tangannya ia lantas berseru.
"Hayo cepat bawa kemari!"
"Nih, ambillah kembali"
Kata Be Siau soh sambil mengayunkan tangannya ke muka. Bukan gading itu yang dikembalikan sebaliknya ketiga batang jarum kelabang itulah yang disambit ke depan.
"Nguung...!"
Dengan kecepatan bagaikan sambaran kilat ketiga batang jarum kelabang itu segera meluncur ke depan dengan membawa desingan angin tajam yang memekikkan telinga.
Ketiga batang jarum tersebut disambit persis mengancam tiga jalan darah kematian ditubuh laki laki setengah umur itu.
Ketika menangkap suara dengungan tadi lelaki setengah umur itu sudah kaget, apalagi melihat sambaran kilat yang mengancam ketubuhnya, ia lantas sadar bahwa keadaan tidak beres.
Dalam keadaan mendadak seperti ini, sulit baginya untuk menghindarkan diri maka tak ampun lagi jalan darah Hoay kai hiat di dada serta jalan darah Tay yang hiat kedua belah jidatnya menjadi kaku ketiga batang jarum kelabang tersebut tahu-tahu sudah merusak dalam-dalam diatas tubuhnya.
Sebagaimana diketahui, jarum itu mengandung racun yang jahat sekali, apalagi yang terkena adalah ketiga buah jalan darah kematiannya, maka begitu termakan senjata rahasia tersebut, tubuhnya segera roboh terjengkang dan tewas seketika itu juga.
Melihat korbannya telah binasa, Be Siau soh segera menjejakkan kakinya ke tanah dan bergerak dua tiga kaki ke depan sana, ketika yakin kalau disekitar tempat itu tiada orang lain.
ia balik kembali ke sisi mayat tersebut dan mencabut kembali ketiga batang jarum kelabangnya, kemudian baru berlalu dari sana.
Dalam anggapannya, Ong It sin pasti masih menunggu diatas pohon, maka waktu itu asal ia dapat berhati hati meninggalkan tempat tersebut bersama Ong It sin, maka tabung gadis itupun akan berpindah ke tangannya tanpa diketahui siapapun.
Siapa tahu, pada saat itulah Ong It sin telah mengalami kejadian lain...
Rupanya waktu itu saking kesemsemnya Ong It sin jadi tidak merasa kalau Be Siau soh telah pergi meninggalkan tempat itu.
Menanti ia sadar kembali dan berpaling, hatinya baru terkejut sebab gadis tersebut telah hilang dari sisinya.
Dalam keadaan seperti ini, ia tidak ambil peduli lagi keadaan disekelilingnya, langsung saja teriaknya keras-keras.
"Nona Be, nona Be..."
Bisa dibayangkan, apa reaksi perempuan berambut panjang dan dua orang manusia berbaju putih itu sesudah mendengar teriakan tersebut. Serentak mereka melompat bangun sambil menghardik.
"Siapa disitu? Mau apa kau bersembunyi di atas pohon?"
Sambil membentak, tiga orang itu masing masing mengayunkan telapak tangannya ke atas.
"Weess...!"
Sungguh dahsyat tenaga gabungan dari ketiga orang itu, batang pohon yang diduduki Ong It sin itu segera patah menjadi dua dan tak ampun lagi anak muda itu jatuh terjungkal dari atas pohon.
Masih untung kaki daan tangannya tak sampai patah, walau demikian saking sakitnya untuk sesaat ia tak mampu berkutik.
Lewat sesaat kemudian dbengan susah payah ia baru bisa mendongkolkan lagi kepalanya.
Tampak olehnya perempuan berambut panjang dan kedua orang manusia berbaju putih itu telah berdiri mengurung disekelilingnya.
Ketegangan yang menyelimuti tigta orang itupun segera mengendor setelah mengetahui siapakah orang yang sedang dihadapinya sekarang.
Perempuan berambut panjang itu segqera mendengus, kemudian serunya.
"Hmm! Rupanya kamu!"
"Heehh... heehh... heehh... siapa bilang bukan aku?"
Jawab Ong It sin sambil mementangkan mulutnya dan tertawa bodoh Sambil berkata pelan pelan ia merangkak berusaha untuk bangun.
"Hayo cepat berlutut dihadapanku"
Bentak perempuan berambut panjang lagi dengan suara dingin.
"ada banyak persoalan hendak kuajukan kepadamu..."
Ong It sin menggoyangkan tangannya berulang kali sambil berseru.
"Aaa, mana boleh, mana boleh bagitu? Kau itu apaku? Kenapa kau musti berlutut didepanmu? Siapa saja tahu kalau lutut kaum lelaki itu ada emas murninya, mana aku boleh berlutut didepan perempuan bajingan seperti kau..."
Belum habis ocehannya itu, perempuan berambut panjang tersebut telah mengebaskan ujung bajunya kebawah.
Seketika itu juga Ong It sin merasa sepasang lututnya menjadi sakit sekali bagaikan disayat dengan pisau tajam, karena tak kuat menahan rasa sakit tersebut, kontan saja pemuda itu terjatuh ke tanah dan berlutut dihadapan perempuan tersebut.
Ketika badannya sudah berlutut sepasang kakinya menjadi mati rasa seolah-olah kaki tersebut sudah bukan menjadi miliknya lagi, peluh sebesar kacang kedelai bercucuran keluar dengan kerasnya.
Hingga detik ini, Ong It sin baru merasa bahwa keadaan sedikit tidak beres, selama ini dia selalu menganggap kepandaian silat yang dimilikinya merupakan kepandaian yang hebat.
Betul secara berulang ulang ia menderita kekalahan, tapi orang yang mengalahkan dirinya selama ini adalah orang orang yang belum pernah dijumpai sebelumnya, ia selalu menganggap mereka sebagai jago jago tangguh yang berilmu sangat tinggi, bahkan mungkin jauh lebih hebat dari kepandaian yang dimilikinya sendiri.
ooodOwooo Tapi kini orang yang dihadapinya adalah perempuan berambut panjang yang pernah dibekuk oleh pamannya, ilmu silat yang dimiliki orang itu tidak terhitung hebat, namun kenyataannya sekarang ia kena dipaksa berlutut oleh kebutan ujung bajunya, padahal dia adalah seorang jago kelas satu dalam anggapannya...
Lantas, apa yang sebetulnya telah terjadi?
"Heran, kemana kaburnya ilmu silatku yang lihay itu?
Aku kan seorang jago kelas satu?"
Demikian ia berpikir. Makin dibayangkan ia merasa semakin sedih, sehingga akhirnya menangislah pemuda itu tersedu sedu.
"Hei, kenapa kau menangis?"
Bentak dua orang manusia berbaju putih itu sambil menghampirinya, kemudian sekali cengkeraman mereka angkat tubuh pemuda itu ke atas dan membantingnya keras keras.
"Hayo cepat jawab mau apa kau berada disini?"
Kembali hardiknya. Bantingan yang keras itu segera membuat sepasang lutut Ong It sin sakitnya bukan kepalang tapi ia tidak menggubris rasa sakitnya itu, sebaliknya dengan sedih berteriak teriak.
"Oooh... hilang! Hilang! Tiba tiba saja semuanya hilang... uuh... uuh... uuh..."
Isak tangisnya kian lama kian bertambah keras sampai air matanya seperti anak sungai.
Agak tertegun ketiga orang pengurungnya menghadapi tingkah laku pemuda itu, setelah tertegun sejenak merekapun menegur.
"Hei, apanya yang hilang? Apanya yang hilang?"
"Kepandaian silatku, sebetulnya kalian bukan tandinganku tapi sekarang ilmu silatku telah lenyap tak berbekas... aku... aku adalah seorang jago kelas satu dalam dunia persilatan, tapi sekarang... tanpa ilmu silat mana aku bisa disebut orang jago?"
Ucapan tersebut kontan saja membuat ketiga orang itu menjadi melongo, mereka cuma bisa saling berpandangan penuh tanda tanya.
Tapi sesaat kamudian mereka baru teringat kalau pemuda tersebut adalah seorang bego, tentu saja perkataan dari seorang bego tidak bisa dianggap sebagai sungguhan.
Maka tergelaklah mereka bertiga hingga terpingkal pingkal.
"Wah, ilmu silatmu telah hilang ?"
Goda perempuan berambut panjang itu menyengir "coba carilah disekeliling tempat ini, siapa tahu kalau ketinggalan disitu?"
Tak terkirakan rasa mendongkol Ong It sin dengan kesal teriaknya keras-keras.
"Kalian tahu? Dengan sekali pukulan aku bisa mematahkan sebatang pohon besar... Hmm, coba ilmuku tidak keburu hilang, pasti akan kusuruh kalian keok ditanganku"
"Jangan kuatir, jangan kuatir!"
Seru perempuan berambut panjang itu lagi.
"meski ilmumu telah hilang juga tak mengapa, mari kuajarkan sebuah ilmu baru yang lebih hebat ilmu itu tiada tandingnya lagi dan disebut Kou tau kang (ilmu menyembah)...! Tanggung dengan ilmu menyembah tersebut, kau menyembah orang terus menerus!"
Sembari berkata ujung bajunya segera dikebaskan ke muka menghajar jalan darah lemas dipinggangnya.
Waktu itu Ong It sin memang sedang berlutut, maka dengan kakunya pinggang otomatis ia membungkukkan badan dan..."Bluuk!"
Ia betul betul menyembah dihadapan perempuan tersebut.
Kejut dan gusar Ong It sin menyaksikan kejadian tersebut, buru buru ia menegakkan kembali badannya.
Tapi baru saja tubuhnya terangkat, pinggangnya kembali menjadi kaku dan..."Bluuk!"
Untuk kedua kalinya ia menyembah kepada perempuan tersebut.
Sambil menggigit bibir Ong It sin menegakkan tubuhnya kembali, tapi kejadian yang serupa berlangsung berulang ulang...
Dalam waktu singkat Ong It sin telah menyembah sebanyak dua tiga puluh kali dihadapan perempuan itu.
Kepalanya sudah mulai pusing tujuh keliling, pandangan matanya berkunang kunang, dada terasa sesak dan napasnya ngos-ngosan seperti kerbau, tapi "penyembahan"
Masih tetap berlangsung terus.
"Haaahhh... haaahhh... haaahhhh... coba kau lihat, ilmu menyembah yang kuajarkan padamu itu termasuk hebat tidak?"
Ejek perempuan berambut panjang itu sambil terkekeh kekeh kegirangan.
Tapi baru samapi ditengah jalan gelak tertawanya, mendadak ia berhenti dan wajah yang semula berseri seketika berubah menjadi mengerikan sekali, tubuhnya mulai gontai keras penuh penderitaan...
Dengan cepat dua orang manusia berbaju putih itu merasakan sesuatu gelagat yang tak baik, serunya berulang kali dengan suara gemetar.
"Hei apa yang telah terjadi? Apa yang telah terjadi??"
Diiringi rintihan keras yang menggidikkan hati mendadak perempuan berambut panjang itu roboh terjengkang ke atas tanah dan berkelejit sekarat...
Dengan kekuatan dua orang manusia berbaju putih itu menyingkir jauh jauh dari situ ternyata mereka tak berani mendekati rekannya untuk melihat dengan jelas apa yang sesungguhnya telah terjadi.
Dalam pada itu Ong It sin yang dibikin pusing tujuh keliling oleh tingkah polah perempuan berambut panjang itu merasa mendongkolnya bukan kepalang, tapi setelah mendengar jeritan-jeritan seram dari perempuan itu hatinya menjadi puas sekali.
Tak lama kemudian, perempuan berambut panjang itu sudah mulai bergelinding kesana kemari dengan wajah penuh penderitaan.
Ong It sin menjadi tak tega oleh keadaan tersebut, segera tegurnya.
"Hei, kenapa kau? Apakah kau benar-benar kena dilukai oleh ilmu menyembah yang kau ajarkan kepadaku?"
Perkataan itu sebetulnya diucapkan Ong It sin dengan maksud baik, akan tetapi dalam pendengaran kedua orang manusia berbaju putih itu menjadi suatu ejekan yang sengaja sedang menggoda diri mereka.
Sambil membentak gusar dua orang jago itu segera melompat kedepan sambil melakukan tubrukan, sepasang telapak tangan mereka diayun bersama untuk menghantam bahu anak muda itu.
Desingan angin tajam tiba-tiba berdesir di udara, ketika mereka rasakan pandangan matanya menjadi kabur tahu tahu diatas bahu pemuda itu telah bertambah dengan dua batang senjata rahasia beracun Tok ci li.
Kedua batang senjata rahasia Tok ci li tersebut mendarat dengan manisnya diatas bahu Ong It sin tanpa dirasakan oleh pemuda itu sendiri.
Tak heran kalau dua orang manusia berbaju putih itu segera menarik kembali serangannya ketika telapak tangan mereka berada dua inci, diatas bahu pemuda tersebut.
Karena jika serangan itu diteruskan lebih jauh tak bisa disangkal lagi senjata Tok ci li itu segera akan menusuk tangan mereka.
Betapa terkejutnya Ong It sin ketika melihat tibanya tubrukan dari dua orang musuh yang mengancam bahunya tadi tapi ketika dilihatnya dua orang itu mendadak memperlihatkan rasa kaget dan membatalkan kembali serangannya ia lantas salah mengira kalau ilmu silatnya yang hilang secara tiba tiba telah balik kembali.
Dalam gembiranya ia tertawa tergelak gelak, lalu serunya.
"Lebih baik kalian cepat-cepat pergi dari sini, betul kalian telah mempermainkan aku barusan, tapi sekarang aku tak mau banyak ribut dengan kalian, apalagi setelah ilmu silatku dapat diperoleh kembali, aku tak ingin membunuh kalian diujung telapak tanganku!"
Dengan gemas dan penuh rasa mendongkol dua manusia berbaju putih itu melotot sekejap kearah Ong It sin, kemudian setelah mundur beberapa langkah serunya dengan suara dalam.
"Siapa yang telah menyergap kami secara licik?"
"Huuuss! Kalian jangan sembarangan ngaco belo!"
Bentak Ong It sin.
"selamanya aku tak pernah main sergap kepada orang lain"
"Ciss, kau anggap kami sedang berbicara dengan kalian?"
Ejak dua orang manusia berbaju putih itu sinis.
"kau itu manusia macam apa?"
Kemudian setelah berhenti sebentar, kedua orang itu membentak lagi.
"Binatang terkutuk tak tahu malu yang beraninya main sergap, kenapa masih belum juga kau tampilkan diri?"
"Jangan berisik"
Tiba-tiba dari balik hutan berkumandang suara jawaban yang lembut dan merdu.
"si manusia licik yang tak tahu malu telah datang...!"
Itulah suara dari Be Siau soh!
Dengan lemah gemulai, pelan pelan gadis itu munculkan diri dari balik hutan, dibawah sinar rembulan tampak wajahnya cantik jelita bak bidadari dari kahyangan, membuat siapapun yang memandang wajahnya jadi terpesona dan hampir saja lupa diri, termasuk pula dua orang manusia berbaju putih itu.
Untuk sesaat lamanya, kedua orang manusia berbaju putih itu hanya berdiri termangu mangu sambil mengawasi wajah Be Siau soh tanpa berkedip.
Menanti Be Siau soh telah tiba dihadapan mereka berdua, kedua orang manusia berbaju putih itu baru menegur.
"Sii... siapa... siapakah kau?"
Be Siau soh kembali tersenyum, bukannya menjawab ia malah sebaliknya bertanya.
"Bukanlah kalian suheng te semuanya berjumlah empat orang?"
"Benar!"
Jawab dua orang manusia berbaju putih itu.
"kenapa kau menanyakan persoalan ini?"
"Tentu saja ada soalnya, berhubung laki laki setengah umur dan perempuan itu sudah mati semua, mati ditanganku, maka aku harus bertanya kepadamu, berapa banyak jumlah saudara kalian"
Berdiri semua bulu kuduk dua orang manusia berbaju putih itu, tentu saja mereka paham dengan maksud perkataan itu, dengan bertanyanya jumlah saudara mereka, berarti perempuan itu bermaksud hendak sekalian membunuh mereka semua.
Kejut dan gusar kedua orang itu menghadapi kenyataan tersebut, sambil membentak keras secara beruntun dua pukulan dilepaskan.
Semenjak tadi Be Siau soh telah membuat persiapan, pergelangan tangannya diputar, kemudian dengan mempergunakan sebuah cincin berduri yang dikenakan pada jari tengahnya, ia sambut datangnya serangan tersebut.
00ooodwooo00
Jilid 13 CINCIN berduri itu mengandung racun yang sangat keji andaikata benturan kekerasan sampai terjadi sehingga kulit tangannya terluka, maka racun itu segera akan merasuk kedalam tubuh akibatnya dua jam kemudian si penderita akan tewas.
Diam diam Be Siau soh tertawa geli melihat serangan itu segera akan saling membentur, dalam anggapannya kedua orang itu sedang menghantarkan kematiannya sendiri.
Siapa tahu kejadiannya ternyata jauh diluar dugaan, ketika hendak melancarkan serangan tadi dua orang manusia berbaju putih itu tanpa sengaja melihat sekejap kearah perempuan berambut panjang yang telah mati secara mengerikan itu, tiba-tiba saja betul perasaan takut dihati kecil kedua orang itu.
Maka sebelumnya benturan kekerasan terjadi, tiba-tiba mereka menarik kembali telapak tangannya, lalu melompat mundur ke belakang.
"Selama gunung nan hijau, air tetap mengalir, kita sampai jumpa lagi dikemudian hari!"
Serunya keras.
Be Siau sih masih ingin menghadiahkan dua batang senjata rahasia lagi kepada mereka, tapi berhubung kepergian kedua orang itu terlampau cepat, maka niat tersebut terpaksa diurungkan.
Menanti ia berpaling kembali, tampak olehnya Ong It sin masih berdiri bodoh ditempat semula, buru-buru ia berseru.
"Hei, mari kita lanjutkan perjalanan!"
Ong It sin belum juga beranjak, malah sambil menuding ke arah perempuan berambut panjang itu katanya.
"Kau... kau yang membunuh dirinya?"
Be Siau soh menghampiri perempuan berambut panjang itu dan mencabut keluar sebatang duri tajam yang panjang dari tubuhnya, kemudian sahutnya.
"Coba kau lihay, ia sudah terkena senjata rahasia beracunku, memangnya kau anggap ia bisa hidup lebih jauh?"
Ong It sin menghela napas panjang.
"Aaai... aku berani terka, siapa namanya pun belum kau ketahui..."
Katanya.
"Tentu saja tidak tahu, ada apa?"
Ong It sin menghela napas kembali.
"Aaai... namanya saja belum tahu, tapi kau elah membunuhnya, apakah kau tidak merasa bahwa perbuatanmu itu terlampau... terlampau..."
Ketika Be Siau soh tiba disana tadi, Ong It sin sedang dipermalukan perempuan berambut panjang itu sehingga untuk mendongakkan kepalanya pun tak mampu, jadi kalau sampai Be Siau soh membunuh orang, sesungguhnya hal ini demi keselamatan Ong It sin, tapi kenyataan sekarang pemuda tersebut malah mencela perbuatannya, sungguh hal ini suatu kejadian yang belum pernah dialaminya.
Mendongkol bercampur geli Be Siau soh menghadapi kejadian tersebut, katanya.
"Terlampau apa aku?"
"Terlampau kecil!"
"Huuh... lucu benar ucapanmu itu"
Kata Be Siau soh sambil berkerut kening.
"coba kalau aku datang terlambat, niscaya kau sudah dihajar mampus oleh perempuan itu, masa aku yang menolongmu malah kau tuduh sebagai orang kejam... lucu betul kamu ini!"
"Aku... aku sudah terbiasa tapi kau telah membunuhnya... soal ini..."
Pada dasarnya Ong It sin memang tak pandai berbicara, apa yang ia pikirkan sekarang adalah perbuatan dari Be Siau soh itu tidak benar, soal bagaimana caranya untuk membeberkan ketidak benarannya itu, ia merasa kesulitan maka dengan wajah merah ia dibuat gelagapan malah.
Sebenarnya Be Siau soh sedang melotot ke arah pemuda itu dengan pandangan gusar, tapi melihat sikap sang pemuda yang gelagapan dan makin bicara makin ngawur, lama kelamaan jadi geli juga hingga tanpa sadar gadis itu tertawa cekikikan.
Melihat gadis itu tertawa, Ong It sin pun segera ikut tertawa cengar cengir seperti kuda.
Sambil tertawa cekikikan, Be Siau soh menuding ke arah pemuda itu sambil berseru.
"Tak kusangka kalau dunia ini masih terdapat manusia tolol seperti kau"
Selesai mengucapkan kata-kata tersebut, kembali gadis itu tertawa berderai-derai. Tapi sesaat kemudian, ia termenung sebentar sambil menghela napas katanya kembali.
"Tidak, aku pikir perkataanmu keliru besar, seharusnya aku musti berkata bahwa tak kusangka kalau didunia ini terdapat manusia sebaik kau..."
"Hoore... kau bilang aku... aku adalah orang baik?"
Saking gembiranya mendengar ucapan tersebut, Ong It sin segera bersorak sambil menunjuk ke hidung sendiri hingga gepeng.
Seingat Ong It sin belum pernah ada orang yang menyebutnya sebagai orang baik selama ini, apa yang didengar olehnya hanya kata-kata makian yang mengatakan dirinya tolol.
Sekalipun ada orang yang mengatakan demikian juga, tapi ucapan itu jauh bila dibandingkan kata kata pujian yang diucapkan oleh Be Siau soh, maka tak heran kalau ia merasa kegirangan setengah mati.
Sambil manggut manggut kembali Be Siau soh berkata.
"Betul, kau memang orang baik!"
"Kau sendiripun orang baik... yaa, baik sekali!"
Sambung Ong It sin pula. Tanpa terasa Be Siau soh menggenggam tangan Ong It sin erat erat, katanya.
"Perkataanmu itu tidak benar, kau adalah orang baik, sedang aku... aai! Aku hanya seorang manusia yang kejam dibalik senyuman tersembunyi pisau, hatiku busuk sekali..."
Setelah menghela napas panjang, ia berkata lebih jauh.
"Yaa, aku adalah seorang perempuan jahat yang kejahatannya sukar diukur lagi dengan kata kata..."
Semenjak tangannya digenggam oleh Be Siau soh, si anak muda itu sudah merasakan sukmanya secara melayang meninggalkan raganya, untuk sesaat dia tidak memperhatikan dengan jelas apa yang diucapkan gadis itu, dia hanya tahu menyahut belaka.
"Yaa memang betul memang betul..."
Tapi setelah dipikir kemudian ia merasa jawabannya salah diberikan maka sambil berteriak aneh kembali serunya.
"Tidak, tidak benar siapa yang berani mengatakan kau jahat, aku akan beradu jiwa dengannya."
Terkekeh Be Siau soh setelah mendengar ucapan itu, tapi suara tertawanya begitu sedih dan kosong.
Gadis itu tahu bahwa wataknya tidak jauh berbeda dengan tabiat ibunya, tak nanti ada manusia didunia ini yang akan menganggapnya sebagai orang baik.
Tapi sekarang justru muncul seorang manusia macam Ong It sin yang mengatakan dirinya sebagai orang baik, bahkan bersedia adu jiwa kepada orang yang menuduhnya sebagai orang jahat.
Bagaimanapun juga ucapan tersebut segera menimbulkan suatu perasaan aneh dalam hatinya perasaan tersebut sukar dilukiskan dengan kata kata ia hanya merasa bahwa pemuda yang jelek lagi bodoh ini seakan akan merupakan orang paling memahami akan perasaan hatinya.
"Aaah...! Hal ini mana mungkin bisa terjadi?"
Demikian Be Siau soh berpikir.
Dia bukannya seorang gadis tanpa angan-angan tentu saja dalam hati kecilnya terdapat pula suatu gambaran terhadap pemuda idaman hatinya sudah barang tentu pemuda itu mana tampan, mana jagoan, punya nama dan kedudukan pula dalam dunia persilatan.
Tapi kenyataannya sekarang pemdua yang berada didepan matanya sekarang sudah jelek, tak berilmu, tololnya bukan kepalang.
Mungkinkah pemuda semacam ini bisa menempati hatinya?
Dengan termangu mangu Be Siau soh mengawasi wajah Ong It sin tanpa berkedip sepatah katapun ia tak berbicara.
Melihat sikap nona, cepat cepat Ong It sin menambahkan lagi.
"Sungguh aku akan beradu jiwa dengannya?"
Pelan pelan Be Siau soh memutar badannya, kemudian bertanya.
"Berhargakah bagimu untuk beradu jiwa demi seorang perempuan seperti aku?"
"Tentu saja, siapa bilang kau jelek?"
Be Siau soh kembali termenung beberapa saat lamanya, setelah itu baru katanya lagi.
"Sudahlah, kita jangan membicarakan soal macam itu lagi, mari kita lanjutkan perjalanan, masih banyak perjalanan yang musti kitaa selesaikan."
Ia menarik lebngan pemuda itu dan diajaknya lari kembali kedepan.
Karena perasaanrnya gundah dan kacau tak karuan, hingga keesokan harinya Be Siau soh tidak mengucapkan sepatah katapun.
Menanti sang surya studah mulai terbit dan memancarkan sinarnya menerangi seluruh jagad, Be Siau soh menyaksikan sebuah hutan bunga bwee, yang amat lebat membentang dihadapan mereka.
Selama beberapa hari belakarngan ini, tempat tempat yang mereka lalui kebanyakan adalah pegunungan sepi yang masih liar dan tak bermanusia.
Maka itu Be Siau soh menjadi sangat keheranan setelah menjumpai hutan bunga bwee.
Serta merta gadis itu berhenti berlari, sebelum ia sempat mengucapkan sesuatu, Ong It sin yang berada disampingnya telah berseru dengan suara keras.
"Aduh mak, sedapnya...!"
"Sst! Jangan berisik"
Tegur Be Siau soh dengan mata melotot.
"kenapa kau berteriak teriak seperti orang gila?"
Ong It sin menjadi melongo dan mengerdipkan matanya berulang kali, ia tak tahu di bagian manakah dirinya telah menyalahi Be Siau soh.
Sekalipun tidak habis mengerti, diapun tidak berani membantah ataupun mengucapkan sepatah katapun, sebab itulah dengan mulut membungkam dia hanya mengerdipkan matanya berulang kali.
Menyaksikan keadaannya itu, Be Siau soh menjadi tak tega katanya.
"Kau betul betul tolol, coba bayangkan sepanjang jalan ktia sampai kesini, pernahkah kau bertemu dengan manusia? Sekarang tiba-tiba saja kita jumpai sebuah hutan yang begini luasnya apakah hal ini tidak mencurigakan? Jika kau sampai berkaok kaok macam orang gila, bukankah tindakanmu itu sama artinya dengan memperlihatkan jejak sendiri dihadapan orang?"
Tapi Ong It sin masih tidak puas sekalipun tak berani membantah, toh ia menggerutu juga.
"Kita kan sedang melakukan perjalanan kita sendiri, asal tidak pernah melakukan pekerjaan yang merugikan orang, kenapa pula musti takut untuk bertemu dengan orang lain?"
Be Siau soh tahu bahwa Ong It sin adalah seorang bodoh, sekalipun diberi keterangan yang paling gampangpun dia tak akan tahu, maka dari pada ribut lebih jauh, diapun tidak menggubris pemuda itu lagi.
Hanya kemudian katanya pula.
"Pokoknya, kau musti mendengarkan perkataan perkataanku lebih berhati hati kan ada baiknya?"
Kali ini Ong It sin tidak membantah lagi, dia malah tertawa lebar.
Semakin mendekati hutan bunga bwee itu mereka mengendus bau harum yang makin tebal, tampaklah dahan pohon itu berliuk penuh keindahan sekilas pandangan ada yang berbentuk seperti seekor naga.
Sejak menjumpai hutan bwee tadi, Be Siau soh telah tahu bahwa itu sangat mencurigakan sesungguhnya ia lebih suka jalan memutar dari pada mencari gara gara...
Tapi setelah main mendekati hutan itu, tiba tiba saja ia merasa makin tertarik dengan hutan Bwee itu, terutama sekali dahan dahan pohonnya yang berliuk liuk serta bau harum yang semerbak.
Menanti Be Siau soh teringat kembali niatnya semula yang hendak menghindari hutan tersebut, ia beserta Ong It sin telah berada ditengah hutan tersebut.
Diam diam gadis itupun berpikir.
"Heran, kenapa tidak kujumpai sesuatu yang aneh disini? Jangankan manusia setan pun tak nampak? Jangan jangan dugaanku semula keliru besar?"
Karena berpendapat demikian, kewaspadaannya menjadi mengendor, pelan pelan ia meneruskan perjalanannya menembusi hutan itu dan menikmati pemandangan indah di sekitar sana.
Pemandangan alam yang indah serta bau harum semerbak yang tersiar disekeliling tempat itu membuat Be Siau soh kembali terbuai dalam lamunan "Betapa syahdunya bila seorang pemuda tampan yang romantis tiba tiba mendampingiku berjalan jalan ditempat ini..."
Tapi ketika ia berpaling dan menemukan Ong It sin yang jelek dan ketolol tololan itu pelan pelan Be Siau soh menghela napas panjang.
"Sayang seorang pemuda macam babi mendampingiku kini"
Demikian ia berpikir lebih jauh, memang beginilah dunia, sering kali yang diinginkan umatnya tak dapat terpenuhi dengan sempurna.
Waktu itu Ong It sin sedang mengamati wajah Be Siau soh dengan termangu mangu, tentu saja ia tak tahu apa yang sedang dipikirkan gadis tersebrut.
"Semua orang bilang bunga adalah benda yang paling indah didunia ini pemuda itu melamun tapi bila dibandingkan manusia... apalagi gadis cantik disisiku sekarang... ooh, apalah artinya sekuntum bunga?"
Tiba tiba suatu helaan napas panjang dari Be Siau soh menyadarkan kembali pemuda itu dari lamunan Ong It sin menjadi gelagapan dan tersadar kembali dari buaian lamunan yang serba indah...
Kiranya mereka telah tiba di tengah hutan bunga bwee, disana muncul sebuah tanah lapang yang beberapa kaki luasnya.
Perkumpulan tanah lapang itu beralaskan batu hijau yatng berbentuk segi delapan diatas lantai terdapat delapan buah bangku batu.
Sebagai seorang yang cerdas dan berpengalaman luas, Be Siau soh segera mengetahui kalau kedelapan buah bangku itu diatur dalam posisi Pat kwa.
Disitu tak ada seorang manusiapun, hal ini sudah jelas betul dan tak bakal salah.
Be Siau soh segera berhenti, kemudian sambil menarik tangan Ong It sin, ia berkata dengan lembut.
"Kami berdua ada urusan hendak menuju ke Pek thian san tanpa sengaja kami melewati tempat ini karena kagum oleh keindahan bunga bwee, kami sudah memasuki hutan ini. Tapi kami tak ingin mengganggu ketenangan saudara, maka atas kelancangan kami ini mohon sudilah dimaafkan!"
Be Siau soh tidak ingin mencari urusan, maka sebelum terjadi sesuatu, ia mengucapkan kata kata tersebut lebih dulu, dalam anggapannya walaupun penghuni hutan itu adalah seorang jago persilatan yang aneh, tentu ia tak akan marah oleh kehadirannya yang tanpa sengaja.
Begitulah, selesai berseru Be Siau soh segera menarik Ong It sin untuk berlalu dari situ, sekejap kemudian mereka sudah berada di luar hutan tersebut.
Setibanya diluar hutan Be Siau soh baru memperlambat langkahnya sambil menghembusktan napas lega.
Ong It sin tarik napas panjang, lalu katanya.
"Eeeh.. apa apaan kau ini? Bayangan setanpun tidak kita jumpai, masa kita musti lari terbirit birit dari sini?"
Be Siau soh berpaling dan melotot sekejap ke arahnya, ia hendak menegur pemuda itu agar jangan bicara sembarangan, tapi ketika berpaling, dijumpainya pemuda itu sedang menyengir dengan wajah yang aneh sekali.
oodOwoo Menyaksikan keadaan tersebut, dengan keheranan Be Siau soh segera menegur.
"Eeh, kenapa kau?"
"Nona Be, kenapa... kenapa kau memukulku?"
Rengek Ong It sin.
Be Siau soh menjadi amat terperanjat, hampir saja ia melompat keudara saking kagetnya Buru buru ia berkelebat kesamping sejauh lima enam depa dan memeriksa keadaan disekeliling tempat itu.
Ternyata hanya Ong It sin seorang yang sedang berdiri termangu disitu, disekelilingnya tak nampak manusia kedua.
Tentu saja Be Siau soh tahu kalau ia tak pernah memukul Ong It sin, maka jika pemuda itu mengatakan pernah dihajar orang itu berarti orang tersebut pastilah penghuni dalam hutan itu.
Tahu kalau si anak muda tersebut telah menyinggung perasaan orang, buru-buru Be Siau soh berkata lagi dengan suara dalam.
"Kau tahu kalau sudah menyinggung perasaan orang? Jangan sembarangan bicara lagi mari kita cepat pergi!"
Ong It sin masih juga tak tahu apa gerangan yang telah terjadi, sambil tertawa bodoh katanya.
"Tapi... kau... kau tidak akan memukul aku lagi bukan? Padahal, siapa tahu kalau dalam hutan ini memang betul-betul ada setannya yang bertangan lancang?"
Be Siau soh makin gelisah, ia hendak mencegah pemuda itu sembarangan bicara, tapi tidak keburu, maka gadis itupun berpikir.
"Biar saja ia berkaok kaok, akan kulihat sampai disitu, diam diam ia telah menggenggam dua batang jarum kelabang untuk bersiap sedia menghadapi segala kemungkinan yang tak diinginkan."
Pada saat itulah, tiba-tiba dari balik sebuah batu besar dibelakang Ong It sin, menyambar datang segumpal benda berwarna hitam.
Benda itu menyambar tiba dengan membawa deruan angin yang sangat keras, sehingga Ong It sin mendengar pula suara itu dan berpaling.
Masih mendingan andaikata ia tak berpaling, begitu ia memutar kepalanya ke belakang, belum lagi melihat jelas benda apakah gumpalan hitam itu, tahu-tahu..."Plak!"
Benda itu sudah menempel diatas wajahnya.
Seketika itu juga Ong It sin merasakan pandangan matanya jadi gelap, mulutnya terasa getir dan lubang hidungnya tersumbat sehingga tak mampu bernapas lagi.
Dengan gelagapan pemuda itu mencakar wajah sendiri dengan panik, sehingga keadaannya mengenaskan sekali.
Sementara itu, Be Siau soh sudah melayang naik keatas batu besar itu, dari situ ia saksikan sesosok bayangan hitam sedang meluncur keluar dengan kecepatan luar biasa.
Dengan suara keras Be Siau soh segera membentak.
"Sobat, tunggu sebentar!"
Seraya membentak tangannya diayun ke depan siap melepaskan jarum kelabangnya tapi pikiran lain segera melintas dalam benaknya.
"Siapakah diapun tidak kuketahui, mana boleh kugunakan jarum kelabang ini untuk melukainya, kalau bukan orang tersohor masih mendingan, kalau sampai berakibat fatal bukankah aku jadi berabe?"
Maka jarum kelabangnya segera digenggam kembali, sementara ujung kakinya menyepak ke depan..."Sreet! Sreet! Sreet!"
Ia menimpuk tiga biji batu dengan tendangannya.
Gerak tubuh bayangan manusia itu sungguh cepat sekali, tapi timpukan ketiga biji batu itupun tak kalah cepatnya dalam waktu singkat benda tersebut tahu tahu sudah tiba dibelakang tubuhnya.
Mendadak bayangan manusia itu berjumpalitan sekali kemudian dengan suatu gerakan yang indah ia telah menyambar ketiga biji batu tadi, tapi dengan demikian iapun berhenti berlari.
Dengan cepat Be Siau soh menyusul, sebenarnya ia hendak menegur, tapi setelah melihat bayangan wajah orang itu, ia menjadi tertegun dan berdiri melongo.
Ternyata dia adalah seorang pemuda tampan yang berusia tujuh delapan belas tahunan, sedemikian tampannya pemuda itu sehingga Be Siau soh yang memandang sekejap kearahnya pun seketika merasakan mukanya jadi merah padam jantungnya berdebar keras sekali.
Seingatnya, ia pernah merasakan juga perasaan seaneh ini yaitu ketika ia berusia lima enam belas tahun, tapi semenjak ia kawin dengan Khek Po Pocu, perasaan tersebut seakan akan terpendam kembali dalam hatinya...
Betul ia pernah melakukan perjalan bersama Ong It sin, tapi perasaan aneh tersebut belum pernah ia rasakan kembali, anehnya tiba-tiba saja perasaan tersebut telah muncul kembali setelah bertemu dengan pemuda itu.
Dengan termangu ia awasi wajah sang pemuda yang tampan tanpa berkedip, pemuda itupun sedang memandang ke arahnya dengan biji matanya yang tajam untuk sesaat kedua orang itu hanya saling berpandangan tanpa mengucapkan sepatah katapun.
Suasana tersebut baru dipecahkan ketika Ong It sin mulai berteriak teriak sambil membersihkan wajahnya dari "benda"
Yang menutupi mukanya itu, kiranya benda itu adalah tanah lumpur yang liat.
Oleh usapan usapan Ong It sin yang tak rata itu, wajah anak muda itu kelihatan bertambah jelek hingga menggelikan sekali.
Be Siau soh yang menjumpai keadaan itu menjadi tak tahan.
Pertama-tama dia yang tertawa tergelak lebih dulu.
Menyusul kemudian pemuda tampan itu pun ikut tertawa.
Walaupun tertawa tergelak, sinar mata pemuda itu masih saja menatap wajah Be Siau soh, bila dicarikan perbandingannya, maka ia lebih lama memandang kearah gadis itu daripada memandang Ong It sin.
Tak usah berpalingpun Be Siau soh merasakan juga akan hal itu, tanpa terasa jantungnya berdetak keras.
Tiba-tiba ia merasa dirinya begitu malu malu kucing dihadapan pemuda tampan itu.
Betul usianya sekarang baru dua puluh tahun, tapi sudah lama ia bukan seorang gadis lagi, menurut keadaan pada umumnya, ia tidak semestinya merasa malu dihadapan seorang asing.
Tapi sekarang, ia sedemikian malunya di hadapan pemuda itu, sehingga walaupun ia berusaha menggunakan gelak tertawanya untuk menutupi rasa malu itupun tidak berhasil mengatasinya.
Dengan mata melotot, Ong It sin segera membentak keras.
"Hei, apa yang kalian tertawakan? Siapa yang melemparkan lumpur itu ke atas wajahku?"
Pemuda tampan itu segera berhenti tertawa, lalu dengan santai jawabnya.
"Sobat, menurut pendapatmu siapa yang telah melemparkan lumpur itu ke atas wajahmu?"
"Kalau begitu delapan puluh persen pasti kau!"
Seru Ong It sin dengan mata melotot. Pemuda tampan itu tertawa.
"Tak perlu delapan puluh persen lagi, seratus persen adalah diriku!"
Katanya. Dengan pengakuan yang terus terang dari pemuda tampan itu, Ong It sin tak bisa berkata lagi, ia cuma berdiri termangu mangu Akhirnya ia berkata juga.
"Kenapa... kenapa kau melempari mukaku dengan lumpur?"
"Itu musti bertanya pada dirimu sendiri, sudah terang kau tahu kalau aku berada dalam hutan bwe, kenapa kau bilang setan yang menghuni hutan ini? Bukankah itu berarti kau sedang memakiku? Kenapa aku tak boleh melempari mukamu dengan lumpur?"
Pada dasarnya Ong It sin memang seorang yang jujur, setelah mendengar perkataan itu, lalu dibayangkan kembali dan dirasakan kesalahan memang berada dipihaknya, maka diapun tak bisa bicara apa apa lagi.
Sambil tertawa menyengir dan garuk garuk kepalanya, diapun berkata.
"Kalau begitu, anggap saja aku yang bersalah, harap kau jangan marah..."
"Saudara, Ong toako adalah seorang yang jujur"
Buru buru Be Siau soh berharap "kau jangan menyalahkan dirinya..."
Betapa gembiranya Ong It sin ketika mendengar Be Siau soh membantunya bicara.
Tapi ketika ia mendongakkan kepalanya, dan menjumpai Be Siau soh sedang saling berpandangan dengan pemuda tampan itu, apalagi sikap Be Siau soh yang senyum tak senyum itu menambah aneh, timbullah perasaan tak sedap dalam hati kecil pemuda itu.
Ong It sin merasa amat cemburu, belum pernah gadis itu bersikap demikian dihadapannya, tapi sekarang gadis tersebut menunjukkan sikap demikian kepada seorang pemuda lain, hal mana betul betul menimbulkan keresahan dan perasaan yang gundah dalam hatinya.
Maka untuk sesaat lamanya ia cuma berdiri saja dengan wajah tertegun...
Untuk sesaat ketiga orang itu cuma berdiri termangu belaka, meskipun berbeda perasaan namun tak seorangpun yang berbicara.
Entah sudah beberapa waktu lamanya, akhirnya pemuda tampan itu berkata lagi.
"Sebetulnya aku tak akan lepaskan dirinya dengan begitu saja, apalagi setelah mengucapkan kata kata yang tak senonoh, tapi kalau toh dia memang kawan seperjalananmu, memandang pada wajah nona, kuanggap selesai persoalan tersebut sampai disini saja..."
Betul usia pemuda tampan itu masih muda, ternyata perkataannya membawa suatu kewibawaan yang besar, membuat siapapun merasa bahwa pemuda ini benar benar sudah mencapai kedewasaan.
Merah padam selembar wajah Be Siau soh ia sendiripun tak tahu kenapa bisa demikian segera ujarnya.
"Kau keliru besar, dia... sobat itu bukan teman perjalananku!"
Mendengar ucapan tersebut, Ong It sin menjadi melongo dengan mata terbelalak lebar untuk sesaat ia tak mampu mengucapkan sepatah katapun.
"Tadinya aku juga lagi berpikir, masa nona secantik kau bisa melakukan perjalanan bersama seorang manusia macam siluman babi begitu, lantas siapakah dia?"
Sampai detik itu, Ong It sin pun baru bisa melontarkan pula kata-katanya.
"Lantas kau... kau anggap aku sebagai apamu?"
Pelan pelan Be Siau soh memutar badannya, katanya.
"Bukankah kau pernah berkata, sekalipun menjadi budak atau pelayanku juga rela?"
Walaupun bodoh, Ong It sin adalah seorang pemuda jujur, tapi dalam keadaan seperti ini ia tak dapat membendung kobaran hawa amarah dalam hatinya, kalau bisa dia ingin melampiaskan semua rasa gusar dan mendongkolnya keluar.
Tapi suara Be Siau soh begitu lembut dan merdu merayu, walaupun Ong It sin pingin marah, terasa marahnya tak bisa keluar, maka kembali ia menjadi termangu untuk sesaat lamanya.
Beberapa waktu kemudian ia baru menyahut.
"Yaa, memang benar!"
"Nah, itulah dia, sekarang apa lagi yang ingin kau tanyakan?"
"Tapi..."
Be Siau soh sama sekali tidak menggubris perkataannya lagi, sambil putar badan kembali ia mengawasi wajah pemuda tampan itu tanpa berkedip.
"Nona, bolehkah aku tahu siapa namamu?"
Pemuda itu bertanya.
"Aku she Be, bernama Siau soh..."
"Oooh... kiranya nona Be, aku she Sangkoan bernama Bu cing!"
Mendengar nama itu, Be Siau soh tertegun lalu sepasang alis matanya berkenyit.
"Wajahnya tampan, sikapnya simpatik kenapa namanya 'Tak berperasaan' Sayang... sayang sekali..."
Demikian ia berpikir.
Pemuda tampan itu memang cerdik, sekali pun Be Siau soh mengemukakan perasaan itu namun dari kerutan dahinya ia sudah tahu apa yang sedang dipikirkan gadis tersebut.
Dengan perasaan apa boleh buat, katanya kemudian sambil tertawa.
"Yaa, bagaimana lagi? Meski namaku kurang sedap, jelek-jelek adalah pemberian orang tua, apalagi yang musti dilakukan?"
Be Siau soh tertawa cekikikan.
"Soal nama sih bukan soal penting"
Katanya.
"cuma, kalau mendengar namamu itu, aku jadi merasa..."
Berbicara sampai disitu tiba-tiba ia berhenti, wajahnya berubah menjadi merah padam karena jengah. Sebenarnya ia hendak berkata begini.
"Kalau mendengar namamu itu, aku jadi merasa takut untuk bergaul denganmu, sebab aku jadi membayangkan kau sebagai orang yang tidak berperasaan..."
Tapi ingatan lain dengan cepat melintas dalam benaknya, cepat ia berpikir.
"Dengannya aku baru berjumpa sekali ini, masa begitu buka suara lantas menyinggung soal berperasaan atau tidak, kan malu"
Karena itulah tanpa terasa pipinya menjadi merah padam. Sangkoan Bu ciang tertawa ewa, lalu katanya.
"Justru yang bernama tak berperasaan (Bu ciang) dia hal yang paling berperasaan, mungkin ayahku memang bermaksud demikian ketika memberi nama kepadaku dulu, haaahh... haaahh... haaahh... kau takut aku tak berperasaan Kaku dan dingin macam patung?"
Ditatap begini rupa oleh pemuda tampan itu Be Siau soh menjadi tersipu sipu, perasaannya semakin kalut.
"Dia masih begitu muda, kenapa begiu berani bermain gila didepan gadis yang masih asing baginya?"
Demikian berpikir.
Meskipun demikian sebaliknya ia justru berharap kalau pihak lawan bisa bersikap lebih berani lagi kepadanya semakin bernyali pemuda itu, ia merasa makin terangsang.
Ong It sin selama ini hanya berdiri dibelakang Be Siau soh dengan wajah murung, jangankan untuk berkutik, kesempatan untuk berbicara pun tak ada.
Tiba-tiba ia berseru.
"Kita harus berangkat, apa lagi yang musti kita tunggu?"
Be Siau soh hanya mengiyakan seenaknya ia sama sekali tidak memperhatikan ucapan tersebut dengan serius. Sangkoan Bu cing yang ada disisinya lantas berkata.
"Nona Be, tadi kau sudah menembusi hutan ini, bila tidak kau sambangi ayahku, dia pasti tak akan senang hati!"
Be Siau soh memang berpengetahuan luas tapi sudah sekian lama ia putar otak, tidak juga diketahui siapa orang itu Sangkoan Bu cing, maka ketika mendengar perkataan dari pemuda itu, satu ingatan lantas melintas dalam benaknya.
"Aah! Apakah ayahmu adalah Bwe hou kiam khek (jago pedang bunga bwe) Sangkoan Tin yang malang melintang diwilayah Shia kan tanpa tandingan itu?"
"Betul, betul, memang dia orang tua, sudah lama beliau menetap disini, apakah nona Be masih teringat dengannya?"
Be Siau soh memang pernah mendengar orang membicarakan tentang pendekar aneh ini, sesungguhnya pendekar itu berjiwa besar, tapi sejak istrinya berubah hati, tiba-tiba saja ia mengundurkan diri dari dunia persilatan dan tidak diketahui lagi jejaknya.
Dengan waktu Songkoan Tin, pukulan batin tersebut dengan cepat mengakibatkan perangainya berubah seratus delapan puluh derajat, bukan cuma aneh saja sifatnya, bahkan sama sekali tidak berperasaan.
Sungguh tak disangka ia bisa memiliki seorang putra semacam ini Berpikir sampai disitu, Be Siau soh segera berkata.
"Nama besar Songkoan tayhiap dikenal oleh setiap manusia, betul ketika ia mengundurkan diri dulu aku masih seorang bocah, tapi nama besarnya sudah lama kudengar"
"Kalau begitu, ayahku pasti akan senang berjumpa denganmu! Yaa, watak ayahku memang aneh, kalau dibilang ia suka bertemu dengan orang, sebetulnya tak pantas ia hidup menyepi disini, kalau dibilang ia tak suka bertemu dengan orang diapun tidak memperkenankan setiap orang yang melewati hutan ini tidak menjumpainya bahkan setelah bertemu dia tentu akan bertanya terus tiada hentinya, coba kau pikirkan, aneh tidak wataknya itu?"
"Yaa, kalau orang sudah berwatak aneh, mau apa lagi kita?"
Sahut Be Siau soh sambil tertawa.
Demikianlah, sambil bersenda gurau mereka berdua masuk kembali ke dalam hutan bwee.
Kurang lebih setengah jam berselang mereka baru berkenalan tapi sekarang keakraban mereka sedemikian eratnya sehingga kehadiran Ong It sin disamping merekapun sudah tidak dirasakan lagi.
Ketika Ong It sin menjumpai kedua orang itu memasuki hutan bwee, meskipun ia merasa tak senang, terpaksa mengikut juga dibelakangnya.
Beberapa kali dian ingin berteriak mengajak Be Siau soh pergi, tapi iapun tak berani memotong pembicaraan si nona yang tampaknya sedang terlibat dalam pembicaraan yang serius dengan Sangkoan Bu cing, karenanya dengan perasaan masgul dia hanya membungkam belaka.
Setelah memasuki hutan bwee, Sangkoan Bu cing mengajak mereka berputar ke kiri berbelok ke kanan putar kesana kemari tiada hentinya...
Entah sudah berapa lama mereka berjalan, seakan akan hutan bwee itu tiada ujung pangkalnya lagi akhirnya sampailah mereka disuatu tempat yang penuh tumbuh pohon bwee tua.
Pada salah satu pangkal pohon tersebut, duduklah seorang manusia berbaju hitam.
Ketika menjumpai orang berbaju hitam itu, baik Be Siau soh maupun Ong It sin merasa amat terkejut sekali.
Tampaklah manusia berbaju hitam itu memiliki kulit badan yang kurus kering bagaikan kulit pembungkus tulang, mukanya sedemikian kurusnya hingga sama sekali tak berdaging lagi, coba kalau matanya tidak bersinar tajam mereka pasti akan menganggapnya sebagai sesosok mayat yang sudah banyak tahun mengering disitu.
Ketika tiba dihadapan manusia berbaju hitam itu, Sangkoan Bu cing segera berhenti seraya berkata.
"Ayah, ananda telah mengajak kedua orang yang melewati hutan bwee ini untuk menjumpai kau orang tua, apakah kau orang tua hendak berbicara sesuatu dengan mereka?"
Sebelum Sangkoan Bu cing menyelesaikan kata katanya, dengan penuh rasa hormat Be Siau soh telah menyembah sambil berkata.
"Boanpwee menjumpai Sangkoan cianpwee!"
Sebaliknya Ong It sin hanya mengawasi manusia berbaju hitam itu dengan mata melotot besar, sepatah katapun ia tidak berbicara. Sambil memberi hormat, diam diam Be Siau soh berpikir dengan keheranan.
"Konon orang bilang Bwe hoa kiam khek Sangkoan Tin adalah seorang lelaki tampan yang termashur didunia, meski wataknya aneh tapi sikapnya lembut dan sangat romantis kenapa tampangnya macam sesosok mayat hidup? Beginikah tampang dari ayah Sangkoan Bu cing...? Waaah, kalau begitu berita yang tersiar dalam dunia persilatan memang tak boleh dipercaya..."
Sementara masih melamun, Sangkoan Tin telah berkata.
"Kalian hendak menuju ke barat?"
Begitu ia membuka suara maka kedengaranlah suara itu amat melengking seperti setan yang lagi menjerit sungguh tak sedap didengar.
Be Siau soh merasa terkejut Ong It sin yang berada dibelakangnya lebih terkejut lagi.
Sambil melotot lebih besar, ia berteriak keras.
"Hei kakek tua... kenapa suaramu begitu tak sedap didengar? Waah... waah... kalau suara yang macam begini sih bukan suara manusia lagi namanya, tapi lebih mirip dengan..."
Sebetulnya dia ingin mengatakan.
"Suaramu lebih mirip dengan setan kelaparan yang lagi menjerit!"
Tapi sebelum ucapan tersebut sempat diucapkan Be Siau soh sudah keburu berpaling sambil melotot gemas kearahnya, maka ia tak berani berbicara lagi.
Sangkoan Bu cing cukup mengetahui watak ayahnya, maka setelah mendengar perkataan dari Ong It sin itu, tanpa sadar peluh dingin ikut membasahi tubuhnya.
Betul juga, Sangkoan Tin segera tertawa terkekeh kekeh dengan suara yang mengerikan, kemudian serunya.
"Kemarilah kau! Siapa namamu?"
Menggigil seluruh badan Ong It sin setelah mendengar suara tertawanya, sebab suara itu jauh lebih tak sedap didengar dari pada suara pembicaraannya, kalau mengikuti suara hatinya, dia sudah ingin kabur terbirit birit dari situ.
Tapi Be Siau soh segera berkata.
"Hei Sangkoan tayhiap suruh kau kesitu kenapa kau masih berdiri saja disana? Hayo cepat maju!"
Sebetulnya Ong It sin enggan berbuat demikian, tapi mau tak mau ia beranjak juga untuk menghampiri orang itu.
Dengan sepasang matanya yang tajam Sangkoan Tin mengamati seluruh tubuh Ong It sin dari atas sampai kebawah, sedemikian tajamnya ia melihat membuat pemuda itu menjadi tak enak sendiri dan ingin berlalu dari tempat itu.
Lama sekali Sangkoan Tin mengawasi Ong It sin, kemudian ia memandang pula kearah Sangkoan Bu cing pandangan tersebut kemudian beralih secara berulang-ulang hingga hampir setengah jam lamanya, cuma selama ini dia pun tidak berkata apa apa.
Lama kelamaan Sangkoan Bu cing merasakan juga keanehan dari sikap ayahnya itu, cuma ia tak tahu kenapa ayahnya bersikap sedemikian anehnya hari ini.
Lama-lama kemudian, Sangkoan Tin baru menghela napas panjang, kemudian kepada Ong It sin ia bertanya.
"Siapa namamu! Siapa orang tuamu? Siapa gurumu? Katakan semua kepadaku..."
Ong It sin memang tidak biasa berbohong maka satu persatu ia jawab dengan sejujurnya. Mendengar itu, Sangkoan Tin segera bergumam seorang diri.
"Bu giok (pualam mustika)!"
"Eeh... aku tidak bernama Bu giok, aku bernama Ong It sin!"
Buru-buru Ong It sin berteriak lagi.
Sangkoan Tin mendelik kepadanya mendengar teriakan itu.
Ong It sin segera tertawa bodoh, serunya "Kau sendiri yang salah memanggil namaku, masakah kau malah menyalahkan diriku."
Diluar dugaan, sekulum senyuman segera menghiasi wajah Sangkoan Tin, cuma sudah barang tentu senyuman itu tak sedap dilihat apalagi menghiasi wajahnya yang lebih mirip tengkorak itu, bukan bertambah menarik justru senyuman itu malah menggidikkan hati.
Dengan ketakutan Ong It sin mundur selangkah ke belakang.
Sementara itu Sangkoan Tin telah mendongakkan wajah Be Siau soh kemudian katanya "Nona Be, kau sangat cantik dan mirip sekali dengan seseorang, apakah kau adalah..."
Be Siau soh bukan orang bodoh, begitu mendengar pertanyaan itu, ia lantas mengerti kalau orang yang dimaksudkan adalah ibunya.
Ia jadi kuatir kalau Sangkoan Tin mengatakan secara terus terang bahwa dia adalah putrinya Kelabang beracun Be Ji nio, sebab dia kuatir Sangkoan Bu cing akan memandang hina dirinya.
Sebab itu buru-buru tukasnya.
"Aku memang mirip sekali dengan ibuku, cuma ia sudah meninggal banyak tahun!"
"Oooh, ternyata ia sudah meninggal banyak tahun..."
Seru Sangkoan Tin ia pun tidak bertanya lebih jauh.
Ketika selesai mengucapkan kata-kata tersebut, dengan sedih ia menghela nafas panjang, jelas diapun merupakan kenalan lama ibunya.
Tanpa terasa Be Siau soh membayangkan kembali ibunya yang merupakan perempuan cabul nomor wahid didunia ini.
Siapa tahu kalau dimasa lalupun Sangkoan Tin pernah mempunyai hubungan gelap dengan ibunya?
Sangkoan Tin kembali menghela nafas panjang, katanya kemudian.
"Nona Be buru-buru menuju ke barat, entah karena persoalan apakah kepergianmu ini?"
Be Siau soh menjadi tertegun dan ragu-ragu menghadapi pertanyaan tersebut.
Sebagaimana diketahui, kepergiannya kali ini menuju kebukit Pak thian san adalah untuk mencari gua salju dimana tersimpan suatu mustika yang tak ternilai harganya.
Betul, ia menaruh perasaan tertarik terhadap Sangkoan Bu cing, bahkan rangsangan dari pemuda tersebut sedemikian besarnya sehingga hampir saja dia tidak sanggup mengendalikan diri, tapi bagaimanapun juga mereka baru berkenalan beberapa jam, sampai dimanakah jalan pikiran dan perasaan orang ia masih belum tahu, karena itu ia memutuskan untuk merahasiakan maksud kepergiannya untuk sementara waktu.
Sebagai seorang perempuan yang pintar dan berpengalaman, Be Siau soh tidak ingin menimbulkan kecurigaan orang, maka setelah sangsi sejenak buru-buru ia menyahut.
"Boanpwee ingin menuju kebukit Pak thian san untuk mencari seseorang..."
Ia kuatir Ong It sin membongkar rahasianya, maka sambil menjawab diam-diam ia memberi tanda kepada pemuda itu agar membungkam. Dalam pada itu Sangkoan Tin telah manggut manggut seraya berkata.
"Ooooh, kiranya begitu! Nona Be, aku lihat ilmu silatmu cukup lihay, melakukan perjalanan seorang diripun sudah cukup untuk membela diri, apakah kau membutuhkan Ong siau-ko ini untuk melindungi kau sepanjang jalan?"
Siau soh menjadi tercengang ia tidak mengerti kenapa secara tiba-tiba Sangkoan Tin berkata demikian. Tapi dia tak ingin membungkam diri saja, maka sambil tertawa paksa sahutnya.
"Oh, tentu saja tidak, Ong toako ini mana tak pandai bersilat orangnya tolol amat, masa ia bisa melindungi diriku?"
Belum lagi ucapannya itu selesai diucapkan, Ong It sin yang berada disisinya telah berkaok-kaok.
"Orang bilang aku tolol, biarlah tolol, sebab aku memang tolol tapi kenapa kau bilang aku tak pandai bersilat? Ketahuilah, seorang jago kelas satu dalam dunia persilatan!"
Bukan cuma kata kata itu diucapkan dengan wajah serius, bahkan sewaktu berbicarapun dia acungkan tinjunya dengan gaya seakan akan dia memang benar benar seorang jago paling "top"
Didunia ini. Hal mana tentu saja sangat menggelikan Sangkoan Tin maupun Sangkoan Bu cing, saking tak tahannya mereka sampai tertawa terbahak bahak lantaran geli.
"Nona Be!"
Kata Sangkoan Tin kemudian.
"aku mempunyai suatu permintaan, entah bersediakah kau untuk mengabulkannya?"
"Coba cianpwee katakan!"
"Aku ingin menahan Ong It sin untuk berdiam sementara waktu dalam hutan ini, apakah kau setuju?"
Ketika itu Ong It sin sedang bersemangat semangatnya mempropagandakan diri sebagai seorang jago tangguh, ketika mendengar ucapan dari Sangkoan Tin itu ia menjadi tertegun.
"Hei, apa kau bilang?"
Be Siau soh pun tertegun, ia mulai berpikir dalam hatinya.
"Ketika berjumpa Ong It sin tadi, ia mengatakannya sebagai kemala mestika, sekarang diapun ingin menahannya disini, jangan jangan pemuda tolol ini memiliki bakat bagus untuk belajar silat?"
Sambil berpikir dia melirik sekejap kearah Sangkoan Bu cing yang ganteng itu, kemudian berpikir lebih jauh.
"Peduli amat apakah Ong It sin pada suatu hari akan menjadi seorang jago lihay atau tidak! Yang penting kan aku bisa berada bersama sama Sangkoan Bu cing yang tampan..."
Karena berpikir demikian, dengan perasaan tergerak serunya cepat-cepat.
"Sebetulnya permintaan cianpwee tak berani kutampik, tapi dalam perjalananku menuju ke Pak thian san kali ini, harus melalui sebuah perjalanan seorang diri..."
Berbicara sampai disitu tiba-tiba ia berhenti, sekalipun demikian, tentu saja orang lain cukup memahami maksud hatinya itu.
"Ayah!"
Cepat-cepat Sangkoan Bu cing menyambung.
"kalau toh kau hendak menahan Ong It sin disini, maka biarlah aku saja yang menghantarkan nona Be menuju bukit Pak thian san?"
"Kau bersedia?"
Tanya Sangkoan Tin sambil menatap wajah putranya tajam-tajam. Merah padam selembar wajah Sangkoan Bu cing karena jengah, ia melirik sekejap kearah Be Siau soh, kemudian jawabnya.
"Ananda bersedia!"
Be Siau soh menjadi amat gembira sebab ia memang sedang menantikan jawaban tersebut dari Sangkoan Bu cing. Sementara Sangkoan Tin masih termenung, Ong It sin kembali telah berkaok kaok.
"Aku tak mau tinggal disini, kenapa aku musti berdiam ditempat seperti ini? Aku ingin ikut nona Be menuju ke bukit Pak thian san, sebab aku telah menyanggupi permintaannya..."
Tapi tak ada yang menggubris teriakan teriakannya, orang tak ambil peduli apakah dia enggan diam disini atau tidak, sebab masing masing sedang sibuk dengan urusannya sendiri-sendiri.
Lewat sesaat kemudian, Sangkoan Tin baru berkata.
"Baiklah nona Be, biar anakku yang menemani kau pergi. tapi sepanjang jalan kau musti baik-baik menjaga dirinya..."
Ong It sin yang mendengar keputusan itu menjadi terkejut sekali, tubuhnya menjadi sempoyongan sehingga jatuh terduduk ditanah, untung saja pemuda itu tak sampai jatuh semaput...
Begitu jatuh terduduk, cepat cepat ia merangkak bangun lagi dari tanah, kemudian sambil menggoyangkan tangannya berulang kali ia berteriak keras keras.
"Tidak bisa, tidak bisa, mana boleh begini jadinya?"
Tapi baik Be Siau soh maupun Sangkoan Tin dan Sangkoan Bu cing, tak seorangpun yang menggubris teriakan teriakannya itu. Ong It sin semakin gelisah dibuatnya, kembali ia berteriak keras.
"Aku bilang aku tak mau diam ditempat seperti ini, soal aku hendak menemani nona Be pergi ke bukit Pak thian san atau tidak, adalah urusan pribadiku sendiri, kalian tidak berhak untuk mengambil keputusan bagiku..."
Sangkoan Tin segera tertawa dingin, katanya.
"Jika aku bersikeras memaksamu untuk diam dalam hutan ini, lantas kau mau apa?"
"Sobat Ong!"
Sambung Sangkoan Bu cing sambil tertawa.
"jika akupun bersedia menemani nona Be menuju kebukit Pak thian san, kau bisa apa?"
Ong It sin memandang sekejap kearah Sangkoan Tin, lalu memandang pula ke arah Sangkoan Bu cing dan akhirnya memandang ke arah Be Siau soh, wajahnya tertegun, matanya terbelalak dan mulutnya melongo, tampaknya ia rada bingung dibuatnya Be Siau soh dapat menangkap kalau pemuda jelek itu sedang mengirim isyarat kepadanya untuk minta tolong.
Kalau diingat kejujuran serta kebaikan hati Ong It sin selama ini kepadanya, sebetulnya Be Siau soh tak tega untuk meninggalkannya disitu, tapi manakala ia memandang wajah Sangkoan Bu cing yang sejuk dan tampan itu, lalu dibandingkan dengan wajah Ong It sin macam babi panggang, semua rasa ibanya segera tersapu lenyap tak berbekas.
Karena itu, setelah berpikir sebentar ia pun berkata dengan lembut.
"Ong toako, kau jangan gelisah dulu. Sangkoan cianpwee menahanmu didalam hutan ini bukan dengan maksud ingin menyusahkan dirimu, ia sangat tertarik oleh bakatmu yang baik, hal ini merupakan kesempatan yang sangat baik bagimu, karenanya jangan lewatkan kesempatan ini dengan begitu saja..."
Sebetulnya Be Siau soh ingin menerangkan masalahnya agar Ong It sin jangan terlalu bersedih hati.
Siapa tahu Ong It sin yang mendengar kalau Be Siau soh setuju jika ia tinggal dalam hutan tersebut menjadi amat bersedih hati ia merasa bahwa perkataan tersebut sama artinya dengan gadis itu enggan ditemani lagi olehnya...
Seketika itu juga ia merasakan dadanya seperti dihantam dengan sebuah martil besar seberat ribuan kati, pandangan matanya menjadi gelap dan menangislah pemuda itu tersedu-sedu.
Saking sedihnya pemuda itu menangis, tiba-tiba ia merasakan kepalanya pusing tujuh keliling lalu matanya jadi berkunang kunang dan tubuhnya roboh ke tanah, tak lama kemudian pingsanlah pemuda itu.
Sudah barang tentu dia tak sempat mendengar suara tertawa dari Be Siau soh dan Sangkoan Bu cing apalagi suara perpisahan mereka dengan Sangkoan Tin...
Menunggu ia telah sadar kembali dari pingsannya, si anak muda itu segera menangkap deruan angin yang aneh sekali muncul dari samping tubuhnya suara itu sangat mendesingkan telinga, seolah olah ada angin puyuh yang sedang berhembus lewat dan berputar kencang ditepi badannya...
Buru-buru ia membuka matanya untuk melihat Ternyata telapak tangan Sangkoan Tin sedang direntangkan ketat didepan tubuhnya deruan angin tajam tadi tak lain muncul dari balik telapak tangannya itu.
Yang lebih aneh lagi, mengikuti deruan angin tadi kemudian muncullah suatu kekuatan besar yang menekan dan menghimpit sekujur tubuhnya.
Tenaga himpitan itu kian lama kian bertambah besar dan keras, seolah olah ada sebuah jepit baja yang sedang menjepit tubuhnya kecuali sepasang matanya yang masih bisa berputar hampir seluruh tubuhnya yang lain tak mampu berkutik lagi.
Tampaknya Sangkoan Tin sama sekali tidak bermaksud untuk menghentikan perbuatannya itu malah makin lama tenaga tekanan yang menjepit tubuhnya itu makin bertambah besar...
Dalam waktu singkat Ong It sin merasakan seluruh tubuhnya menjadi sakit dan napasnya menjadi sesak, mulutnya tanpa sadar megap megap persis seperti seekor ikan yang dikeluarkan dari air.
Dia ingin menegur Sangkoan Tin, kenapa ia bersikap demikian kepadanya tapi tiada sedikit suara pun yang muncul dari mulutnya.
Dalam keadaan demikain tak sempat lagi buat pemuda itu untuk memikirkan soal Be Siau soh, dia hanya tahu berusaha meronta dan berjuang untuk melanjutkan hidupnya.
Sepertanak nasi kemudian Ong It sin benar-benar sudah tak sanggup menahan diri lagi, pandangan matanya makin lama semakin gelap ia sudah tak kuat untuk mempertahankan diri lagi...
Dalam keadaan seperti itulah, tiba tiba berkumandang tiga kali desingan tajam menyusul kemudian tiga biji benda lunak menyambar masuk ke dalam mulutnya dan tertelan ke dalam perut.
Dalam anggapan Ong It sin, kali ini dia sudah pasti akan mampus siapa sangka setelah menelan tiga buah benda lunak tadi, tiba-tiba saja sekujur tubuhnya menjadi nyaman pandangan matanya jadi terang kembali dan segulung tenaga seakan-akan muncul dari dalam tubuhnya untuk melawan tenaga tekanan yang datangnya dari luar itu.
Dengan munculnya tenaga itu maka sepasang matanya dan sepasang kakinya mulai menekan ke atas dengan sekuat tenaga untuk melawan tenaga tekanan yang datang dari atas.
Pada mulanya, ia masih bergerak pelan, tapi makin lama tenaga yang muncul dari tubuhnya makin besar sehingga akhirnya tiba tiba saja tenaga tekanan itu lenyap tak berbekas.
Padahal waktu itu Ong It sin sedang mengangkat tubuhnya sekuat tenaga untuk melawan tenaga tekanan yang datang dari atas dengan lenyapnya tenaga tekanan tersebut secara tiba-tiba, otomatis tubuhnya jadi melambung keatas setinggi satu kaki.
Akibat dari perbuatannya ini sama sekali diluar dugaan Ong It sin, ketika mengetahui tubuhnya melambung diudara, dia menjadi ketakutan setengah mati sehingga mukanya jadi pucat, peluh dingin membasahi seluruh tubuhnya dan ia berkaok kaok seperti babi yang hendak disembelik.
"Cepat salurkan hawa murnimu kejalan darah Khai hay hiat dan Leng tay hiat, tubuhmu niscaya akan seenteng burung walet dan melayang turun dengan manis."
Sebetulnya apa yang dikatakan Sangkoan Tin tadi merupakan rahasia ilmu meringankan tubuh.
Sayangnya jangankan Ong It sin sudah sedemikian gugup dan paniknya sehingga ia tidak mendengar apa yang dikatakan Sangkoan Tin, sekalipun mendengarpun dia juga tidak akan mengerti bagaimana caranya untuk menyalurkan hawa murni didalam tubuhnya Ya, bagaimana mungkin seorang pemuda yang goblok macam Ong It sin bisa mengetahui dimana letak jalan darah Khi hay hiat Baru saja Sangkoan Tin menyelesaikan ucapannya itu, tubuhnya sudah terbanting keras keras diatas tanah.
Pemuda itu segera menutupi wajahnya sambil menangis tersedu-sedu.
"Oooh... mati aku kali ini, mampus aku kali ini... waduuh... aku bakal mati terbanting!"
Sangkoan Tin segera menghela nafas panjang.
"Kau tidak akan mati, hayo bangunlah!"
Ia berkata. Ong It sin menurunkan tangannya dari atas wajah lalu duduk dan menggerak gerakkan tangan serta kakinya, kemudian dengan wajah berseri ia berteriak.
"Hooreeee.... aku betul betul tidak mati, aku betul betul tidak terluka... haaahhh... haaahhh... haaahhh... aku tidak jadi mati!"
"Tentu saja kau tak akan mati"
Sahut Sangkoan Tin.
"kini kau memiliki tenaga dalam yang amat sempurna, kau sudah terhitung jago tangguh dalam dunia persilatan, sekalipun terjatuh dari sesuatu tempat yang lebih tinggi pun kau tak bakal terluka, apalagi yang musti kau takuti?"
Sikap sok dari Ong It sin segera muncul kembali, sambil membusungkan dada ia menyahut.
"Betul, aku sebetulnya adalah seorang jago tangguh kelas satu dalam dunia persilatan, aku bisa sekali tebas membacok kutung sebatang pohon, kau tidak percaya? Aku tidak bohong, aku berbicara sesungguhnya!"
Sangkoan Tin tidak mengatakan percaya atau tidak, ia hanya mengawasi tingkah laku pemuda itu dengan mulut membungkam.
Sesungguhnya Ong It sin sudah tidak percaya kalau dirinya itu seorang jago tangguh, apalagi setelah beberapa kali gagal membacok patah sebatang pohon, karena itulah lantaran kuatir orang tidak percaya dengan perkataannya, maka ia menambahkan dengan sepatah kata terakhir itu.
"Tentu saja kau sanggup mematahkan sebatang pohon,"
Kata Sangkoan Tin kemudian "bukan cuma mematahkan pohon saja, mau menghancurkan sebuah batu cadaspun sekarang kau mampu!"
Sejak Ong It sin dipaksa untuk diam sementara dalam hutan bwee tersebut, Ong It sin sudah merasa kheki sekali, apalagi setelah dipisahkan secara paksa oleh orang itu dari Be Siau soh, sedemikian jengkelnya pemuda itu sehingga dia enggan untuk mengajak Sangkoan Tin berbicara banyak.
Namun, manusia adalah sejenis mahluk yang suka diumpak, ketika Ong It sin mendengar bahwa Sangkoan Tin memuji kehebatan ilmu silatnya, bahkan dikatakan sanggup menghancurkan batu, ia merasa gembira sekali, dengan tanpa sungkan sungkan lagi ia berseru.
"Dari mana kau bisa tahu?"
"Kalau kau bilang kau sanggup menghancurkan sebuah batu, maka pasti kau sanggup untuk melakukannya, memang kau anggap ketiga biji Lo han ko yang kuberikan kepadamu tidak bermanfaat apa apa? Hayo cepat lancarkan sebuah pukulan!"
"Hei, buah Lohan ko apa yang kau maksudkan?"
Seru Ong It sin dengan agak tertegun.
"Lo han ko hanya ada dilembah terjal di bukit Kun lun san, benda itu merupakan buah langka yang tinggi harganya, barang siapa makan sebiji saja maka usianya akan bertambah panjang dan tenaganya bertambah besar. Barusan aku telah membungkus tubuhmu dengan kekuatan hawa murniku dengan maksud agar tenaga yang kau miliki terhimpun menjadi satu, lalu kujejalkan tiga biji buah Lo han ko kedalam tubuhmu, ini menyebabkan hawa murni yang terhimpun ditubuhmu menjadi hebat sekali, masa kau tidak merasakannya?"
Ong It sin yang mendengarkan perkataan itu cuma bisa mengerdipkan matanya berulang kali dengan wajah keheranan.
Tapi begitu Sangkoan Tin telah menyelesaikan kata-katanya, mendadak ia tuding ujung hidung orang sambil tertawa terbahak bahak.
Sangkoan Tin merasa marah sekali, segera tegurnya.
"Hei apa yang sedang kau tertawakan?"
"Aku sedang mentertawakan kau yang pandai omong besar, haaahh... haaahh... haaahh... kalau pingin mengibul, seharusnya lihat lihat orang dulu, memangnya kau anggap aku bisa tertipu dengan begitu saja oleh bohonganmu tersebut?"
Sebagaimana diketahui sebenarnya Ong It sin adalah seorang manusia yang seratus persen goblok apa mau dikata ia suka sok pintar, maka begitulah jadinya...
Kalau bisa Sangkoan Tin ingin mengumbar hawa amarahnya pada tubuh pemuda itu, tapi setelah menyaksikan sikap maupun mimik wajahnya ia menjadi jengkel bercampur geli sehingga amarahnya tak bisa dilampiaskan lagi.
Katanya kemudian setelah hening sejenak.
"Atas dasar apa kau mengatakan aku sedang mengibul?"
Ong It sin tertawa sahutnya.
"Coba bayangkan bila betul betul kau memiliki buah langka seperti buah Lo han ko yang kau maksudkan itu, kenapa kau tidak makan buah itu sendiri? Atau jika kau tak ingin makan buah itu, kenapa bukannya kau berikan kepada anakmu sebaliknya malah untukku? Apa hal ini tidak aneh namanya?"
Beberapa patah kata dari Ong It sin ini memang betul dan masuk diakal, tanpa terasa Sangkoan Tin menganggukkan kepalanya berulang kali.
Ong It sin merasa makin bangga lagi setelah menyaksikan Sangkoan Tin mengangguk, katanya lebih lanjut.
"Apalagi sekarang aku memang sudah seorang jago lihay, siapa yang kesudian menelan ketiga biji buah Lo han ko yang kau miliki itu...?"
Sangkoan Tin merasa betul betul amat gusar, matanya sampai melotot besar karena jengkelnya, dengan susah payah ia berikan ketiga biji buah langka itu kepada Ong It sin dengan harapan tenaga dalamnya bisa memperoleh kemajuan yang pesat, sekalipun ia bertujuan lain, yakni ingin membuat Ong It sin berterima kasih kepadanya hingga mau setia kepadanya sepanjang hidup, tapi bagaimana pun juga hal ini adalah menguntungkan anak muda tersebut.
Dalam kenyataan sekarang, Ong It sin ternyata tidak mengakui akan hal tersebut, bayangkan saja bagaimana mendongkolnya hati si jago tua tersebut?
Sudah cukup lama ia mendapatkan tiga biji buah langka tersebut, selama ini buah tersebut hanya disimpannya tanpa sepengetahuan anaknya sendiri.
Ia cukup mengetahui bagaimanakah watak Sangkoan Bu cing tersebut, betul ia tampak penurut, padahal sebetulnya pemuda itu adalah seorang manusia yang sukar ditundukkan, malahan mungkin sekali bilamana perlu pun anaknya bisa jadi tak akan mengakui dirinya sebagai ayahnya lagi.
Selain itu diapun tahu bahwa antara dia dengan putranya terdapat ganjalan hati yang cukup dalam, bila suatu ketika sampai meledak maka antara mereka ayah dan anak pasti akan terjadi pertarungan sendiri.
Oleh sebab itulah akhirna ia menjatuhkan pilihannya kepada Ong It sin Dalam anggapannya, setelah Ong It sin menelan ketiga biji buah Lo han ko tersebut dan secara tiba-tiba mengetahui dirinya menjadi seorang jago lihay, anak muda itu pasti akan sangat berterima kasih kepadanya.
Siapa tahu sejak semula Ong It sin memang telah menganggap dirinya sebagai seorang jago tangguh, kebaikan hatinya ternyata tidak dianggapnya sama sekali, hal ini membuat Sangkoan Tin menjadi melongo.
"Waah... agaknya tidak gampang untuk memberi penjelasan kepada manusia goblok ini!"
Demikian keluhnya.
Sementara ia masih termenung memikirkan cara untuk membuat Ong It sin menjadi percaya kalau kehebatan yang dimilikinya sekarang adalah berkat tiga buah biji Lo han ko yang diberikan kepadanya, tampak Ong It sin telah bertepuk tangan sambil berseru kembali diiringi gelak tawanya.
"Haah... haahh... haahh... apa lagi yang hendak kau katakan...?"
"Kau... kau benar benar tidak percaya kalau aku yang telah merubahmu menjadi seorang jago lihay?"
Seru Sangkoan Tin dengan mata melotot sangat besar.
"Tentu saja tidak percaya"
Jawab Ong It sin "untung aku tidak bermaksud membalas dendam terhadap perbuatanmu yang menindih badanku tadi...
huuh!
Coba kalau ilmuku tidak cukup tinggi sehingga kau bisa kulawab, kan aku sudah konyol semenjak tadi?
Nah, daripada ribut-ribut terus lebih baik selamat tinggal saja!"
Berbicara sampai disitu ia lantas memberi hormat kepada Sangkoan Tin dan memutar badan siap berlalu dari situ.
Jengkel dan gelisah Sangkoan Tin menghadapi kejadian itu, apa mau dikata tubuhnya selama ini memang lumpuh sehingga tak mungkin lagi baginya untuk mengejar atau menyusul pemuda itu.
Selama ini semua kebutuhannya dilayani oleh Sangkoan Bu cing, setelah menyuruh putranya pergi, dalam anggapan Ong It sin tentu akan melayani dirinya lebih baik lagi, siapa sangka pemuda itupun hendak kabur dari sana, maka dengan geram ia membentak.
"Berhenti kau!"
Karena merasa bentakan orang aneh sekali, Ong It sin berhenti sambil berpaling.
Pada saat itulah, tiba-tiba menyambar lewat sekilas cahaya emas yang menyilaukan mata, cahaya emas tersebut kiranya merupakan sebuah cakar emas berbentuk seperti telapak manusia yang diikat dengan rantai emas.
Dengan membawa desingan tajam, benda tersebut langsung menyambar ke arah dadanya.
Betul tenaga dalam yang dimiliki Ong It sin sekarang amat tinggi, tapi ia sama sekali tak tahu tentang jurus silat.
Makanya ketika menyaksikan cakar emas itu sudah tiba didepan matanya, sambil berteriak aneh, cepat-cepat tubuhnya melompat mundur kebelakang.
Seandainya pada saat ini dia pernah memakan tiga biji buah Lo han ko yang menambah tenaga dalamnya, lompatan mundur tersebut paling banter cuma akan mencapai beberapa depa, akibatnya ia tak akan berhasil meloloskan diri dari cengkeraman tersebut.
Tapi keadaannya sekarang jauh berbeda, gerakan mundurnya bukan saja amat cepat, lagi pula jauh sekali sehingga walaupun sambaran cakar emas itu bergeletar amat cepat, yang berhasil disambar pun tak lebih cuma pakaian dibagian dadanya saja.
Bukan begitu saja, tubuhnya yang mundur ke belakang pun sempat menumbuk beberapa batang pohon yang tumbuh dibelakangnya, akibat dari tumbukan itu, pohon pohon bwe tersebut semuanya pada tumbang ke tanah Setelah bersusah payah, akhirnya Ong It sin berhasil juga menghentikan tubuhnya.
Memandang tujuh delapan batang pohon besar yang bertumbangan ditanah serta pakaian bagaian dadanya yang robek tersambar senjata musuh, pemuda itu garuk-garuk kepalanya dengan mata melotot, lalu teriaknya keras keras.
"Aduuuh mak.... tolong...!"
Dengan mundurnya Ong It sin sejauh itu, tak mungkin lagi bagi Sangkoan Tin untuk menyambar tubuh pemuda tersebut dengan mempergunakan cakar emasnya lagi, tapi ia belum putus asa, dengan suara lembut buru-buru serunya lagi.
"Coba kau lihat, bukankah tenaga dalam yang kau miliki sekarang sudah amat hebat? Coba bayangkan saja sendiri, apakah dulu kau sudah sehebat ini? Kenapa tidak cepat cepat datang kemari untuk menyampaikan rasa terima kasihnya kepadaku?"
Dengan termangu mangu Ong It sin memandangi pepohonan yang telah bertumbangan keatas tanah oleh tumdbukannya itu, ia merasa tenaga dalamnya memang bertambah hebat.
"Ah, sejak dulu aku memang seorang jago tangguh, tentu saja tenaga dalamku bertambah maju setiap harinya"
Pikirnya.
"aku tak boleh mendengarkan ocehannya, apalagi baru saja aku disambar dengan senjata hingga nyaris mati, untung ilmuku lihay dan sempat kabur, kalau tidak... waaah, nyawaku kan sudah ketemu dengan nenek diatas situ?"
Berpikir demikian,t sambil tertawa dingin ia lantas berseru.
"Kenapa aku musti beqrterima kasih kepadamu? Jika cengkeraman tadi sampai merenggut nyawaku, siapa pula yang akan berterima kasih kepardamu...?"
Sangkoan Tin tidak menyangka kalau orang yang semakin jujur, semakin kukuh pula dalam pendirian, semakin kukuh seorang dalam pendirian, semakin sulit juga dirinya untuk mengetrapkan pikiran dan pandangannya pada orang itu.
)oodwoo(
Jilid 14 NAMUN Sangkoan Tin belum putus asa kembali dia berkata.
"Kemari kau, bagaimana kalau kuajarkan ilmu pedang Bwee hoa kiam hoat kepadamu? Bila ilmu itu sudah kau pelajari maka dalam perjalananmu didunia persilatan dikemudian hari, kau pasti tak akan menjumpai tandingan lagi"
Ketika mendengar perkataan itu, Ong It sin merasakan hatinya agak bergerak, tapi sesaat kemudian ia telah menggelengkan kepalanya sambil berseru.
"Aku tidak ingin mempelajari ilmu pedang Bwee hoa kiam hoat, ilmumu belum tentu adalah suatu ilmu yang hebat, kalau tidak kenapa kau musti bersembunyi terus dalam hutan ini? Selamat tinggal, aku ingin mencari nona Be saja!"
"Eeh... eeehh... cepatlah kemari!"
Buru buru Sangkoan Tin berteriak lagi.
"dengarkan dulu perkataanku..."
Tapi perkataan dari Sangkoan Tin terpaksa harus dibatalkan sampai ditengah jalan sebab waktu itu Ong It sin sudah memutar badannya dan kabur dari situ dengan kecepatan luar biasa.
Kecepatan gerak yang dimiliki Ong It sin sekarang benar benar jauh diluar dugaan pemuda itu sendiri sambil berkaok kaok minta tolong beberapa kali hampir saja ia terjerembab ke atas tanah hal mana membuat keadaannya tampak lucu sekali.
Meski demikian Sangkoan Tin tak sanggup tertawa lagi dia cuma bisa memandang bayangan punggungnya yang makin menjauh itu dengan pandangan tertegun.
Sebetulnya dia ingin mempergunakan Ong It sin bagi kepentingannya, tapi kenyataannya sekarang bukan cuma tiga biji Lo han ko musti dikorbankan dengan sia sia, bahkan Ong It sin pun tidak mengakui akan pemberiannya itu.
Coba kalau sebelum kejadian ia terangkan dulu hal ini kepada Ong It sin, niscaya si anak muda itu akan merasa sangat berterima kasih sekali kepadanya.
Sementara itu Ong It sin dengan sempoyongan dan berkaok kaok berlari terus ke depan, menanti sudah diluar hutan entah berapa banyak pohon yang telah ditumbuknya hingga tumbang akhirnya setelah ia menumbuk diatas sebuah batu cadas, tubuhnya baru bisa berhenti berlari.
Sambil mengadu karena jidatnya membentak besar, pelan pelan pemuda itu merangkak bangun lalu gumamnya seorang diri.
"Waah... rupanya begini toh rasanya menjadi seorang jago lihay, celakanya kalau kakiku tak mau mengikuti kata kataku lagi bisa celaka aku nantinya..."
Sambil berkata pelan pelan dia melangkah maju lagi setindak ke depan, cuma kali ini dia melangkah sangat lambat sekali.
Apa mau dikata hawa murni dalam tubuhnya masih berlagak keras maka akibatnya langkah tersebut menjadi dua tiga kali lebih lebar dari biasanya, kenyataan ini membuat pemuda itu menjadi ketakutan dan buru buru menekan kakinya sendiri agar berhenti.
Begitulah hingga tengah malam, Ong It sin masih berputar putar dalam bukit itu untuk mencari jejak Be Siau soh, dan Sangkoan Bu cing, namun yang dicari belum juga ditemukan.
Akhirnya karena sedih dan murung, Ong It sin mencari sebuah batu besar dan berbaring disana.
Entah berapa lama ia sudah tertidur, tiba tiba pemuda itu dikejutkan oleh bunyi burung yang ribut dan terbang kemana-mana dengan ramainya, Ong It sin mengetahui pasti ada seseorang yang datang kesitu.
Cepat cepat ia melompat bangun dan memasang telinga untuk memperhatikan sekeliling tempat itu.
Betul juga, tak lama kemudian dia mendengar suara derap kaki kuda berkumandang memecahkan kesunyian, langkah kuda itu bukan sedang menuju kearahnya melainkan lewat dikejauhan sana.
Selang sesaat kemudian, tiba-tiba derap kaki kuda itu balik lagi kearahnya kali ini bahkan terdengar seorang perempuan sedang berteriak keras.
"Suheng... Suheng... Kau berada dimana"
Walaupun suara dari panggilan itu dipancarkan dari seorang perempuan, tapi suaranya menggema sampai ditempat yang jauh sekali, jelas teriakan tersebut dipancarkan oleh seorang yang bertenaga dalam amat tinggi.
Ketika Ong It sin mendengar suara orang itu, hatinya segera bergetar keras, karena suara dari perempuan itu sangat dikenal olehnya...
Ya...
itulah suara dari musuh besar pembunuh ayahnya!
Sejak Hohoa sian cu (Dewi bunga teratai) Liok Lui mengaku sebagai pembunuh Ong Tang thian ketika masih berada dibukit Tiong lam san tempo hari, Ong It sin tak pernah melupakan kembali suara perempuan itu.
Karenanya, begitu suara dari musuhnya ini kedengaran kembali, tanpa sadar Ong It sin berseru keras.
"Oooh...! Kiranya kau!"
Sebagaimana diketahui, tenaga dalam yang dimilikinya sekarang sudah amat sempurna maka didalam teriakannya tadi, tanpa ia sadari telah dipancarkan pula dengan tenaga dalam yang dimilikinya.
Akibatnya suara tersebut bukan saja terpancar hingga ke tempat kejauhan, bahkan saking kerasnya sehingga membuat burung burung yang berada dipepohonan sekitar sana menjadi ketakutan dan sama sama beterbangan di udara.
oodOeoo Ong It sin sendiripun tidak menyangka kalau teriakannya bakal sekeras itu, cepat cepat ia menutup mulutnya sendiri.
Terdengarlah suara derap kaki kuda berkumandang makin mendekat, kemudian dibawah sinar rembulan nampak seekor kuda dengan penunggangnya seorang perempuan pelan pelan muncul didepan mata.
Begitu mengetahui kalau perempuan tersebut tak lain adalah Dewi bunga teratai Liok Lui, kontan saja Ong It sin merasakan darah dalam tubuhnya mendidih keras, dengan tegang diawasinya musuh besar pembunuh ayahnya tanpa berkedip.
"Su..."
Sebenarnya ia mengira orang yang berada disana adalah suhengnya, maka ia hendak menyapa.
Tapi dengan cepat ia sadar bahwa orang tersebut bukan orang yang sedang dicarinya karena itu dengan cepat ia membungkam kembali.
Begitu diketahuinya kalau orang tersebut ternyata adalah Ong It sin, dengan paras muka berubah hebat Liok Lui segera berseru dengan suara dingin.
"Ooohhh...! kiranya binatang cilik yang ada disitu!"
Sesungguhnya Ong It sin bukan seorang pemuda yang mudah naik pitam, tapi setelah dimaki orang sebagai "binatang", apalagi teringat akan dendam sakit hati ayahnya ibarat api yang bertemu bensin, hawa amarahnya kontan saja berkobar.
Dengan geramnya pemuda itu segera berpekik keras, suaranya nyaring memekikkan telinga, kemudian bagaikan seekor harimau kelaparan langsung menubruk ke tubuh Liok Lui.
Dewi bunga teratai Liok Lui pernah bergebrak melawan Ong It sin ketika masih berada dibukit Tiong lam san tempo hari, ia tahu kalau pemuda tersebut tidak berilmu, maka dalam anggapannya sekali kebasan saja sudah cukup baginya untuk merobohkan anak muda tersebut.
Siapa tahu tenaga dalam yang dimiliki Ong It sin sekarang amat hebat, baru mendengar teriakan kerasnya yang memekikkan telinga itu, Liok Lui sudah terperanjat setengah mati.
Sebelum ia sempat berbuat sesuatu, kudanya sudah meringkik sambil mengangkat kedua kakinya ke udara...
Kebetulan sekali Ong It sin sedang menerjang datang dengan kecepatan luar biasa karena tak berilmu, ia bermaksud hendak merobohkan Liok Lui lebih dulu dari atas kudanya.
Karena itu ketika ia menerjang tiba, kebetulan kuda itu sedang mengangkat kakinya ke udara karena kaget, akibatnya perut kuda itulah yang kena diterjang keras keras.
Sungguh dahsyat akibat dari serangannya itu, bukan cuma tali les kudanya saja yang putus, bahkan tubuh Liok Lui yang berada diatas pelanapun kena terlempar sehingga mencelat ke tengah udara.
Untung saja Liok Lui hebat dan berilmu tinggi cepat cepat ia berjumpalitan di udara dan melayang turun kembali keatas tanah dengan selamat.
Ketika tumbukan dari Ong It sin berhasil menghantam di perut sang kuda, maka kebetulan pula sepasang kaki kuda itu menghantam diatas punggungnya.
Karena punggungnya terasa seperti kena diketuk keras, otomatis hawa murninya tersalur ke arah punggung tanpa disadari si anak muda itu sendiri maka ketika sepasang lengannya didorong kedepan terasalah ada hembusan angin tajam yang menyambar lewat.
Tak ampun lagi kuda itu terhajar telak sehingga tubuhnya terlempar ke udara dan terbanting ditanah, begitu mencium permukaan matilah kuda tersebut.
Setelah mengetahui bahwa kekuatan pukulannya memiliki akibat begitu hebatnya, Ong It sin makin bersemangat sambil membentak keras ia segera menerjang kembali kearah Liok Lui.
Tadi, lantaran Dewi bunga teratai tidak bersiap sedia maka ia menderita sedikit kerugian, tapi sekarang, setelah tahu kalau kepandaian silat Ong It sin telah mendapat kemajuan yang pesat, lagipula menerjang lagi dengan kecepatan luar biasa, ujung baju kiri dan kanannya segera dikebaskan berbareng kedepan, hawa murni Thian gi cin khi dari Tiong lam pay langsung dilontarkan ke depan.
Ong It sin yang sedang menerjang ke muka segera merasakan munculnya selapis tembok pertahanan tak terwujud yang menghadang jalan perginya, dalam anggapan Ong It sin, ia telah berhasil menumbuk di atas badan Liok Lui, maka dengan bernafsu ia lepaskan sebuah jotosan ke depan.
Pemuda itu baru tertegun ketika pukulannya mengenai sasaran yang kosong, buru-buru ia mendongakkan kepalanya dan memandang ke depan sana, itulah ia baru tahu kalau Liok Lui yang diserangnya itu masih berada enam tujuh depa didepan situ.
Kontan saja Ong It sin berkaok kaok marah, teriaknya kalang kabut.
"Perempuan bangsat, cepat serahkan jiwa anjingmu..."
Sementara itu Liok Lui agak tertegun juga setelah menyaksikan kedua kebutan ujung bajunya yang dilancarkan meski berhasil membendung gerak maju Ong It sin, namun akibat dari bentrokan tersebut, tubuhnya ikut bergetar juga sehingga hampir terjerembab.
Sekarang ia baru tahu kalau Ong It sin berilmu tinggi dan tak boleh dianggap main main.
"Binatang busuk!"
Bentaknya kemudian.
"apa kau sudah bosan hidup lagi didunia?"
Sambil berkata, hawa murni Thian gi cin khi nya dihimpun menjadi satu dan siap melancarkan serangan setiap saat.
Beberapa kali Ong It sin menerjang, menerkam dan menubruk ke depan dengan pelbagai cara, tapi setiap kali pula tubrukannya tidak berhasil, lama kelamaan pemuda itu jadi kalap dan mencaci maki sekenanya.
Liok Lui sama sekali tidak menggubris maki makinya itu, kembali ia membentak.
"Kau jangan bergerak dulu, aku masih ada persoalan yang hendak dibicarakan denganmu!"
"Apa lagi yang hendak kau bicarakan denganku?"
Damprat Ong It sin dengan geramnya.
"kau telah membunuh ayahku, sekarang mau merayu aku lagi... hmm! hmm! Jangan kau kira aku bakal termakan oleh rayuan gombalmu itu... kau harus tahu sekarang aku adalah jago kelas satu di dunia, kau mulai takut bukan setelah bertemu denganku?"
Lama kelamaan Liok Lui tak tahan juga menghadapi sikap musuhnya yang tolol tapi eksentrik itu, tiba tiba ia menerjang ke hadapan pemuda itu kemudian tangannya melayang ke depan..."Plak!
Plok!
Plak!
Plok!"
Secara beruntun ia perseni beberapa tamparan ke atas wajah si anak muda itu.
Dalam keadaan tak berdaya Ong It sin segera termakan telak oleh tamparan tamparannya itu.
Tapi orang bodohpun memiliki cara orang bodoh, ketika dilihatnya tubuh Liok Lui menerjang tiba dihadapannya, tanpa berpdikir panjang ia segera menubruk ke depan, dan memeluk kaki kanan Liok Lui erat erat, setelah itu dengan sekuat tenaga iaa membanting tubuh perempuan itu ke atas tanah.
Sejak belajar silat, apa yang dipelajari Liok Lui adalah jurus jurus silat aliran Tion lam pay yang tersusun beraturan, belum pernah ia saksikan cara bertarung sekasar dan sebrutal ini.
Maka ketika kakinya ketna disekap Ong It sin kemudian membantingnya ke tanah, nyaris ia terbanting ke atas tanah.
Untunglah pada detik yang terakhir ia bertindak cepat, sebuah gebukan keras langsung bersarang dipunggung Ong It sin yang membuat anak muda irtu merasakan matanya berkunang kunang dan kepalanya pusing tujuh keliling, untung saja tidak sampai pingsan.
Serta merta Ong It sin mengendorkan sekapannya atas kaki lawan, tapi tubuhnya masih juga meneruskan tumbukannya ke tubuh Liok Lui.
Mimpipun Liok Lui tidak mengira kalau Odng It sin masih sempat meneruskan tumbukannya setelah terhajar punggungnya..."Blaam!"
Kontan tumbukan tersebut bersarang telak di perut perempuan itu.
Setelah tumbukannya mengenai perut Liok Lui, dan akhirnya dari pukulan yang bersarang di punggungnya tadi, Ong It sin ikut terjerembab pula ke tahan...
Dengan sempoyongan Liok Lui mundur beberapa langkah ke belakang, akhirnya ia pun jatuh terduduk ditanah.
Betapa girangnya Ong It sin setelah menjumpai Liok Lui terjengkang di tanah, dengan semangat yang berkobar ia melompat bangun, lalu dengan langkah lebar menerjang ke samping tubuh Liok Lui, secara beruntun ia lepaskan tujuh delapan buah pukulan.
Liok Lui yang tergeletak ditanah jadi kerepotan juga untuk mengrhindarkan diri kesana kemari, untuk sesaat ia menjadi terdesak hebat dan menderita kerugian besar.
Kenyataan ini amat menggusarkan hatinya, sambil berteriak aneh, sepasang tangannya menekan permukaan tanah lalu sambil melompat ke udara sepasang kakinya melancarkan serangkaian tendangan berantai.
Itulah Liok huan tui (tendangan berantai) yang merupakan suatu kepandaian hebat.
Dalam waktu singkat Ong It sin merasakan seluruh pandangannya dikaburkan oleh bayangan kaki yang menyambar nyambar..."Duuk!
Duuuk!"
Dua tendangan bersarang telak diwajahnya membuat pemuda itu mencelat dan roboh terlentang ditanah.
"Woouw...! Perempuan bajungan, lihay benar kau!"
Teriak Ong It sin dengan penasaran.
Sambil berteriak, ia melompat kembali dari atas tanah dan menubruk ke arah Liok Lui.
Ketika Ong It sin hendak melompat ke depan tadi, Liok Lui telah menyusup ke hadapan tubuhnya, jari tengahnya langsung disentilkan ke depan, segulung desingan tajam langsung menghantam jalan darah Ing tiong hiat ditubuh lawan.
Ong It sin menundukkan kepalanya, ternyata desingan angin totokan itu berhasil dihindari.
Liok Lui jadi tertegun, ia tak menyangka kalau totokan kilatnya berhasil dihindari Ong It sin hanya dengan menundukkan kepalanya.
Padahal sekalipun seseorang yang baru belajar silat juga tak akan menghindarkan diri dari serangan tersebut dengan cara menundukkan kepala, karena tindakan tersebut sangat berbahaya dan besar resikonya...
Kenapa demikian?
Karena dengan tertunduknya kepala, berarti bagian mematikan ditubuh bagian atasnya menjadi terbuka, asal musuh melanjutkan dengan sebuah bacokan, niscaya orang itu akan tewas dengan mengerikan...
Tapi sekarang, Ong It sin telah menggunakan cara itu untuk menghindari serangan Liok Lui, oleh karena Liok Lui tak menyangka kalau Ong It sin bakal menggunakan cara itu, maka untuk sesaat perempuan itupun tak sempat berpikir untuk menghantam kepala sang pemuda yang sama sekali terbuka itu.
Sementara itu Ong It sin telah melepaskan sebuah pukulan ke tubuh Liok Lui, gerakan tubuh yang kasar dan bodoh tersebut ternyata telah berubah menjadi serangan yang hebat dalam keadaan begitu.
Sekali lagi Liok Lui mundur ke belakang sambil mengebaskan ujung bajunya, kepala pemuda itu segera dibelenggunya kencang kencang.
Maksud Liok Lui, ia hendak membelenggu lengan Ong It sin lebih dulu, kemudian mengerahkan tenaga Thian gi cin khi untuk memaksa tubuh pemuda itu menjadi kaku hingga jatuh berlutut dihadapannya.
Siapa tahu tubuh Ong It sin hanya bergoyang sedikit saja oleh tekanan hawa murni itu, bukan cuma masih berdiri tegak saja, malahan Liok Lui segera merasakan munculnya segulung tenaga pantulan yang balik menerjang tubuhnya, membuat ia merasakan seluruh badannya bergetar sangat keras.
Tak terlukiskan rasa kaget Dewi bunga teratai menghadapi kenyataan ini, sekarang ia baru tahu bahwa musuhnya meski ketolol tololan tapi memiliki kepandaian silat yang luar biasa hebatnya, tentu saja jauh berbeda dengan keadaannya dimasa lalu.
"Bocah keparat! Jadi ilmu silatmu sudah peroleh kemajuan yang pesat sekali?"
Teriak Liok Lui. Ong It sin tidak menyangka kalau musuhnya telah dibikin terkejut oleh kehebatan ilmu silatnya, mendengar pujian tersebut, ia menjadi semakin bangga.
"Tentu saja!"
Demikian ia menyahut.
"saat ini aku sudah terhitung seorang jago lihay kelas satu dalam dunia persilatan!"
Karena merasa bangga ia jadi lupa daratan, sambil berkata diapun tepuk tepuk dada sendiri, sama sekali tak terlintas dalam benaknya kalau perbuatannya itu merupakan suatu pantangan besar bagi seorang jago persilatan.
Liok Lui segera merasa bahwa kesempatan baik telah tiba, sepasang ujung bajunya segera dikebaskan berbareng ke depan.
Seketika itu juga Ong It sin merasakan ada segulung tenaga pukulan yang amat berat menghantam dadanya hingga menimbulkan suara amat nyaring...
Bersama dengan bersarangnya pukulan itu, tiba tiba Liok Lui lepaskan cengkeramannya, maka ibaratnya sebuah bola yang ditendang, tubuh Ong It sin segera mencelat ke tengah udara.
Berada di tengah udara pemuda itu segera bergoyang badan dengan panik, siapa tahu justru karena gerakan tersebut tubuhnya malah mencelat dua kaki lebih jauh, kemudian..."Braaak!"
Badannya terbanting keras keras ditanah.
Untung saja dasar silat yang dimilikinya sekarang cukup kuat, sehingga bantingan itu tidak berakibat apa apa kecuali dadanya terasa agak sakit...
Setelah bangkit kembali dengan gusar Ong It sin berteriak.
"Perempuan bajingan kau berani memukul aku selagi orang tidak siap? "Kau... kau..."
Kalau bisa, pemuda itu ingin mencaci maki perempuan tersebut habis habisan tapi dasar orangnya baik dan lagi terbiasa memakai orang, maka untuk sesaat dia cuma bisa bersitegang dengan wajah merah padam, sementara tak sepotong katapun yang sanggup diutarakan keluar.
Liok Lui telah dibuat marah juga oleh tingkah laku pemuda itu sambil memburu kedepan bentaknya.
"Bocah keparat, mulutmu kotor dan tak tahu aturan memangnya sudah ingin cepat menemui raja akhirat?"
"Kau telah membunuh ayahku kau adalah musuh besarku hari ini kalau kau tidak mampus maka biar aku saja yang mati... perempuan bajingan! Nih terima dulu sebuah bogem mentahku!"
Sambil berteriak teriak seperti anjing gila, pemuda itu menubruk ke depan lalu melancarkan dua buah pukulan keras ke muka dan dada Liok Lui.
Semua pukulan yang dilancarkan olehnya tidak terhitung jurus pukulan yang hebat, malah sesungguhnya merupakan pukulan ngawur yang tidak beraturan, tak heran kalau banyak titik kelemahan yang segera dijumpai dalam serangannya itu.
Tapi justru saking banyaknya titik kelemahan yang dijumpai dalam serangan tersebut, Liok Lui menjadi agak ragu untuk melancarkan serangan balasan, dia kuatir Ong It sin memang sengaja berbuat demikian untuk memancingnya masuk perangkap.
Liok Lui bisa berpendapat demikian karena didasarkan pada kekuatan pukulan yang terkandung dibalik serangan itu, mustahil rasanya kalau orang yang berkekuatan sebesar itu sama sekali tidak memiliki jurus seranganpun.
Begitulah, dengan kecepatan yang luar biasa kedua buah serangan dari Ong It sin itu segera meluncur kedepan.
Karena ragu ragu, bukan saja Liok Lui telah kehilangan suatu kesempatan yang sangat baik, malahan hampir saja ia termakan oleh serangan pemuda itu, kontan saja ia mundur kebelakang dengan gugup dan gelagapan.
Melihat Liok Lui berhasil dipaksa mundur, keberanian Ong It sin makin besar sepasang lengan dan kakinya menyerang secara ngawur silih berganti, sekejap saja ia sudah melancarkan tujuh delapan buah serangan berantai.
Liok Lui terdesak hebat, ia mundur terus berulang kali dengan gelagapan.
"Kenapa kau tidak membalas? Terhitung jagoan apaan kalau begitu? Hmm! Kau anggap jika tidak membalas, maka aku tak berani mencabut nyawamu...?"
Menghadapi keadaan seperti ini, Liok Lui yaa mangkel, yaa geli, setelah melewati sekian waktu ia baru tahu kalau musuhnya bukan sedang memasang perangkap untuk menjebaknya, tapi memang benar benar tak pandai bersilat.
Setelah tahu akan keadaan yang sebenarnya Liok Lui jadi makin mantap, ketika serangan Ong It sin kembali menyambar datang, ia miringkan badan membiarkan kedua kepalan menyambar lewat dari sisi tubuhnya, begitu serangan sudah lewat, dengan cepat Liok Lui melintas kembali dari samping kiri, lalu sikutnya disodok menghantam jalan darah tertawa Siau yau hiat dipinggang sang pemuda itu.
Ong It sin segera merasakan pinggangnya jadi linu dan tak tahan lagi ia tertawa terbahak bahak.
Sambil tergelak tiada hentinya, dengan mata melotot dan nafas memburu teriaknya kalang kabut.
"Hei, apa apaan kamu ini? Aku toh sedang mengajak kau berduel mati matian, kenapa kau malah mengkilik kilik pinggangku? Berkelahi macam apaan itu?"
Liok Lui memutar tubuhnya sambil melancarkan sebuah sapuan lagi.
"Blaang!"
Sapuan tersebut bersarang telak pada pantat Ong It sin.
Akibat dari sapuan yang telak tersebut, Ong It sin jadi sempoyongan kedepan untung saja tak sampai roboh tertelungkup, ketika dilihatnya tubuh Liok Lui kebetulan ada di situ, sambil berteriak keras tangannya segera menyambar kedepan menarik ujung baju perempuan itu.
Kali ini gantian Liok Lui yang menjadi tertegun, pikirnya.
"Barusan kau masih bertanya kepadaku berkelahi macam apaan, kenapa sekarang kau malah menarik ujung bajuku, berkelahi macam apaan pula caramu itu...?"
Walaupun demikian ia cukup sadar, sekalipun musuhnya tak becus dalam jurus silat tapi sempurna dalam tenaga dalam, jika pertarungan musti dilanjutkan lebih jauh, entah sampai kapan baru bisa diakhiri?
Maka mumpung pemuda itu sedang mencengkeram ujung bajunya, maka Liok Lui segera berhenti bergerak.
Ong It sin jadi girang karena musuhnya tak berkutik, ia anggap cengkeraman itulah yang mengakibatkan musuh tak berkutik, maka tangan kirinya cepat cepat diayunkan ke muka untuk menghantam kepala lawan.
Sayang sekali, sebelum ia sempat melakukan sesuatu tindakan, tahu tahu pergelangan tangan kanannya sudah menjadi kaku.
Ternyata urat nadi pada tangan kanannya itu sudah kena dicengkeram oleh Liok Lui padahal urat nadi merupakan suatu tempat penting dalam tubuh manusia, maka detik itu juga Ong It sin merasa hawa murninya tak bisa disalurkan kembali tubuhpun ikut tak berkutik lagi.
Sesudah berhasil mencengkeram nadi Ong It sin, kemenangan jatuh ketangan Liok Lui dengan wajah dingin membesi ia lantas berseru.
"Hayo jawab, takluk tidak?"
Sekuat tenaga Ong It sin meronta dan berusaha melepaskan diri dari cengkeraman, mukanya sampai merah karena ngototnya, jelas ia tak mau tunduk dengan begitu saja.
"Perempuan bajingan!"
Teriaknya keras keras.
"aku mempunyai dendam sedalam lautan denganmu, kenapa aku musti takluk kepada bajingan perempuan seperti kau?"
Ejekan demi ejekan tersebut semakin mengobarkan nafsu membunuh dalam hati Liok Lui, ia mendengus dingin, telapak tangan kirinya segera diayunkan ke udara, siap menghajar batok kepala anak muda tersebut.
Setelah sampai dalam keadaan demikian, kecuali melototkan sepasang matanya bulat bulat, Ong It sin tak sanggup berkata apa apa lagi.
"Orang she Ong!"
Kembali Liok Lui berkata dengan dingin.
"jika kuingin mencabut jiwamu, hal ini dapat kulakukan bagaikan membalikkan telapak tangan sendiri, tapi kali ini kuampuni jiwamu, bila lain kali sampai terjatuh kembali ketanganku, hmm...! Aku akan melepaskan dirimu dengan begitu saja!"
Bukannya gembira setelah mendengar perkataan itu, Ong It sin malah gelengkan kepalanya berulang kali.
"Perempuan bajingan!"
Demikian ia berseru "kau tak usah mencoba untuk merayu aku, sekalipun kau lepaskan diriku, aku tetap akan membalaskan dendam bagi kematian ayahku"
Liok Lui menjadi sangat geram sambil menggigit bibir telapak tangannya segera ditekankan ke bawah dengan kekuatan luar biasa.
Ong It sin merasakan dadanya sesak sekali termakan tindihan yang kian lama kian bertambah kuat itu, tampaknya sebentar lagi si anak muda itu bakal tewas ditangannya...
Untunglah pada saat itu mendadak terdengar seseorang berteriak keras dari kejauhan sana.
"Sumoy, kau sedang bertarung dengan siapa?"
Pada mulanya teriakan itu masih berada ditempat kejauhan, tapi sejenak kemudian sudah berada didepan mata, dari sini dapat diketahui betapa sempurnanya ilmu meringankan tubuh yang dimiliki orang itu.
Ong It sin segera berpaling, tapi begitu mengetahui siapa yang datang, hatinya jadi tercekat.
"Habis sudah riwayatku kali ini!"
Pekiknya dihati.
"kukira teman yang datang tak tahunya adalah konco perempuan bajingan ini... Kiranya orang yang baru datang itu adalah salah satu diantara empat jago lihay dari partai Tiong lam, Tui im khek (jago pengejar awan) Ih Hui adanya. Setibanya ditempat kejadian, Ih Hui melirik sekejap ke arah Ong It sin lalu ujarnya.
"Sumoay, pekerjaan yang harus kita kerjakan amat penting dan gawat kenapa kau masih bergurau dengan si tolol ini?"
Liok Lui mendengus.
"Hmm! Dia sendiri yang mencari gara gara denganku, memangnya aku suka bergurau dengan tolol babi seperti itu? Tapi... bagaimana keadaan di situ?"
"Ciangbun suheng sedang bertahan seorang diri disitu, hayo kita cepat kesana!"
Paras muka Liok Lui segera berubah hebat, dengan mengerahkan hawa murni Thian gi cin khinya tiba tiba ia getarkan lengan dan mengerahkan tubuh Ong It sin ke udara.
Setelah melemparkan anak mudai itu, Liok Lui beserta Ih Hui segera berlalu dari situ.
Ketika sedang terlempar ke udara, Ong It sin merasakan tubuhnya lemas tak bertenaga tapi sewaktu meluncur turun, ia mulai panik tangan dan kakinya segera digerakkan dengna harapan bisa memperlambat daya luncurnya menuju ke bawah, siapa tahu bukan saja tidak memberikan keuntungan apa apa malah sebaliknya ia terjatuh tepat diatas pohon.
Pakaian yang dikenakan anak muda itu segera robek robek disana sini keadaannya makin mengenaskan lagi.
Pada mulanya ia berusaha untuk membalikkan badannya dan merangkak turun dari pohon itu tapi bukan saja tak berhasil, badannya malah semakin meluncur kebawah hingga akhirnya terbanting keras keras ditanah.
"Bluuk...!"
Ketika pantatnya saling beradu dengan tanah, sakitnya bukan kepalang sampai lama sekali pemuda itu baru sanggup merangkak bangun itupun harus sambil meringis menahan sakit.
Kontan saja meluncurlah semua kata kata mutiara mulai dari yang halus sampai yang kasar, pokoknya semua kata kata makian yang dikenal, diketahui dan bisa disebutkan diberondongkan semuanya tanpa berhenti...."Hei, buat apa kau mencaci maki terus menerus?"
Tiba tiba seorang menegur dari atas.
"orang yang kau maki sudah pergi jauh"
Dengan tertegun Ong It sin mendongakkan kepalanya keatas, tampak hanya dedaunan yang rimbun disekitar sana, jangankan orangnya, bayangan pun tak nampak. Maka itu dengan keheranan ia menegur lagi.
"Hei, siapa yang ada diatas pohon? Apakah kau juga tak mampu turun? Gampang sekali sobat, meronta saja dengan sekuat tenaga, maka kau akan terjatuh sendiri dari atas pohon!"
Ia mengira orang itupun seperti dia terlempar keatas pohon dan tak mampu turun, maka diajarkan cara untuk turun dari pohon seperti barusan yang dialaminya sendiri.
Siapa tahu baru selesai ia berkata dari atas pohon segera berkumandanglah suara gelak tertawa yang amat keras.
Sungguh mengerikan sekali gelak tertawa orang itu, bukan saja amat nyaring, lagi pula memekikkan telinga.
Menyusul gelak tertawa itu, seorang kakek cebol tampak melompat turun dari atas pohon tersebut dan tahu tahu sudah berdiri sambil bertolak pinggang dihadapannya.
Kakek itu tidak berkata apa apa, dia hanya menuding Ong It sin sambil tertawa terbahak bahak tiada hentinya, bahkan kemudian ia mendekap perut sendiri saking sakitnya untuk dibuat tertawa.
Lama kelamaan Ong It sin jadi jengah sendiri, dengan hati mendongkol segera serunya.
"Hei, kalau berani tertawa lagi, jangan salahkan kalau kugebuk nanti!"
Sebetulnya kakek cebok itu sudah mau berhenti tertawa, tapi setelah mendengar perkataan itu, sekali lagi ia tertawa terpingkal pingkal.
"Hei, apa lagi yang kau tertawakan?"
Teriak Ong It sin dengan mata melotot.
"hmm, setelah merasakan bogem mentahku nanti, tanggung kau tak akan mampu untuk tertawa lagi..."
Meskipun ia telah mengacungkan tinju, tapi tidak sampai dilayangkan ke tubuh orang, sebab bagaimanapun juga orang itu hanya mentertawakan dia dan tidak melakukan kesalahan apa apa, oleh sebab itu diapun tak ingin sembarangan memukul orang.
Sementara itu kakek cebol tadi sudah berjalan makin lama semakin dekat, tiba tiba sepasang tangannya menekan bahu Ong It sin dan menggoncang goncangkan tubuhnya.
Ong It sin berkaok kaok penawaran, sebaliknya kakek cebol itu tertawa makin keras goncangnya pun makin dipercepat.
Akhirnya Ong It sin tak tahan habis sudah kesabarannya, tiba tiba ia layangkan tinjunya kemuka..."Duuuk!"
Bersarang telak diatas wajah sang kakek.
Baca Juga: Pendekar Muka Buruk 2
Baca Juga: Raja Pedang Kho Ping Hoo