Ceritasilat Novel Online

Pendekar Bego 6

Eps 6 Pendekar Bego - Can ID

Baca online Pendekar Bego - Can ID

Cersil Pendekar Bego - Can ID.

Seketika itu juga kakek cebol itu berhenti tertawa sepasang tangannya cepat ditarik kembali dan kemudian digunakan untuk menutupi wajahnya, dengan sempoyongan dia mundur selangkah ke belakang.

"Coba lihat!"

Ong It sin segera berteriak.

"sejak tadi kau sudah kukatakan, jangan main main! Kalau sampai kena kutonjok tentu badanmu sakit tapi kau nekad terus, nah sekarang rasain kamu! Enak kan kalau kena ditinju mukanya?"

"Aduduuuh,,, celaka, celaka dua belas!"

Jerit kakek cebol itu sambil mencak mencak.

"kau telah meninju hidungku sehingga gepeng... aduuuh mak sakitnya, hidungku hancur kali ini..."

Seraya berkata, ia lepaskan tangannya yang menutupi wajahnya itu.

Ketika Ong It sin dapat melihat wajahnya, kontan saja ia menjadi tertegun sehingga matanya terbelalak dan mulutnya melongo.

Betul juga, ternyata hidung si kakek cebol itu telah hilang, hampir seluruh hidungnya itu telah melesak masuk ke dalam wajahnya.

Padahal sekalipun tinjunya itu berhasil meremukkan tulang hidung, tak mungkin hidung itu akan masuk seluruhnya ke dalam wajah.

Itu berarti kalau bukan si kakek cebol itu memang sejak lahir tak berhidung, ia pasti telah pergunakan ilmu Sut kut gi cing (menyusut tulang merubah otot) untuk menarik masuk hidungnya ke dalam.

Tentu saja Ong It sin tak akan menduga sampai kesitu, ketika dilihatnya hidung si kakek cebol itu betul betul melesak masuk akibat pukulannya, ia menjadi amat menyesal sekali.

"Waah... rupanya pukulanku tadi terlampau keras sehingga hidungnya musti penyok, apa yang musti kulakukan sekarang?"

Sambil garuk-garuk kepalanya yang tidak gatal ia mondar mandir kesana kemari dengan kebingungan. Terdengar kakek cebol itu berteriak teriak kembali.

"Bocah busuk, kau telah mempenyokkan hidungku, kalau biniku bertanya nanti, apa musti jawabku? Hayo kau harus bertanggung jawab, kalau biniku tak mau sama aku lagi, bagaimana aku musti berkata?"

"Katakan... katakan saja kalau hidungmu penyok karena dipukul orang...!"

Jawab Ong It sin dengan gugup. Kakek cebol itu segera menunjukkan sikap apa boleh buat, sambil gelengkan kepalanya berulang kali katanya lagi.

"Bila biniku bertanya lagi, kenapa setelah hidungmu dihantam orang sampai penyok, kau tidak membalas pukulan itu? Apa yang musti kukatakan...?"

Ong It sin membalik balikkan matanya sambil garuk garuk kepala, lalu dengan gelagapan ia berbisik.

"Tentang soal ini... tentang soal ini... tentu saja harus bilang bahwa kau telah membalas pukulan itu!"

"Yaa, yaa, memang ucapanmu itu benar"

Seru si kakek cebol sambil berteriak kegirangan.

"kalau begitu, biarlah kubalas tonjokan itu dengan sebuah tonjokan pula"

Ong It sin tertawa getir, sambil meraba raba hidung sendiri ia mengeluh.

"Tapi... tapi... kenapa kau musti membalas? Sekalipun hidungku dipukul sampai penyok, toh hidungku yang penyok tak bisa mancung kembali...?"

"Aaah, siapa bilang begitu?"

Bantah sikakek cebol.

"siapa tahu kalau dengan sebuah pukulan balasanku ini, hidungku yang penyok menjadi mancung kembali? Hati hati kau..."

Sementara Ong It sin masih tertegun, tahu tahu matanya menjadi kabur menyusul kemudian..."Duuk!"

Sebuah bogem mentah telah bersarang diatas wajahnya.

Jotosan itu sungguh keras dan disertai tenaga yang luar biasa, bukan cuma hidungnya saja yang terasa linu dan sakit, bahkan matapun ikut berkunang kunang.

Sedemikian sakitnya akibat pukulan itu, air matanya sampai bercucuran dan untuk beberapa waktu lamanya ita tak sanggup melihat benda apapun disekeliling sana.

Lama, lama sekali, ia baru bisa berteriak keras.

"Anak kura kura, berat amat pukulanmu itu?"

"Haaahh... haaahh... haaahh... kalau pukulanku itu tidak keras, mana mungkin hidungku bisa muncul kembali?"

Ong It sin gelengkan kepalanya berulang kali untuk menghilangkan rasa pusing, pelan pelan berhasil juga ia melihat keadaan disekelilingnya.

Betul juga, hidung si kakek cebol yang penyok itu tahu tahu sudah muncul kembali.

Buru buru Ong It sin meraba hidung sendiri, setelah mengetahui kalau hidungnya masih ada, ia menghembuskan nafas lega seraya bergumam.

"Masih untung hidungku tidak ikut penyok coba kalau sampai penyok? Aduh mak... tidak tahu bagaimana jadinya nanti?"

Kakek cebol itu kembali tertawa terpingkal pingkal setelah mendengar perkataan itu sambil berputar ditanah seperti gasingan, ia berteriak lagi.

"Sungguh menarik, sungguh menarik, tahukah kau bahwa aku sengaja mengampunimu maka hidungmu tidak sampai kuhajar sampai penyok?"

Ong It sin tertawa nyengir.

"Oooh... kiranya kau memang berbaik hati, lantas kenapa musti melihat padaku sambil tertawa??"

Mencorong sinar tajam dari balik mata kakek cebol itu, ditatapnya seluruh wajah Ong It sin dengan seksama, kemudian tanyanya "Bocah busuk, siapa namamu.

Kenapa bisa berada disini seorang diri?

Aku lihat ilmu silatmu cukup hebat, tapi kenapa sama sekali tak becus dalam gerakan silat?"

Sesungguhnya tak sedikit pertanyaan yang diajukan kakek cebol itu, tapi Ong It sin hanya sempat mendengar tentang "tenaga dalammu hebat", sementara kata kata lainnya hampir tak digubris sama sekali olehnya.

Dengan wajah berseri dan penuh rasa bangga, Ong It sin bangkit berdiri, ternyata tinggi badan kakek cebol itu hanya sampai sebatas pinggangnya, maka sambil mengelus kepala si kakek yang cebol katanya.

"Oooh... jadi kau baru tahu sekarang? Aku memang seorang jago lihay dari dunia persilatan"

Kakek cebol itu menarik tubuhnya menghindari belaian tangan orang terhadap kepala botaknya, lalu berkata.

"Jika kau memang seorang jagoan lihay, berani tidak beradu kepandaian denganku?"

Dengan wajah memandang rendah kebawah Ong It sin melirik sekejap kearah kakek cebol tersebut, kemudian gelengkan kepalanya berulang kali.

"Aku tidak merasa bermusuhan denganmu buat apa musti merenggut nyawamu? Jika kau sudah bosan hidup, gantung diri saja atau terjun ke jurang, tentu enak rasanya dari pada mati digebuk orang, kenapa musti pingin mampus diujung telapak tanganku?"

OoooodOeooooo Kakek cebol itu kembali tertawa terpingkal pingkal setelah mendengar perkataan itu, serunya kemudian.

"Kalau kau tak mau beradu tenaga danganku, dari mana aku bisa tahu kalua kau adalah seorang jagoan lihay?"

"Waah... waahh... lebih baik jangan"

Cegah Ong It sin.

"betul dengan beradu tenaga maka kau akan tahu aku seorang jagoan lihay atau bukan, tapi apalah artinya jika sampai nyawamu ikut melayang?"

Kakek cebol itu kembali memaksa dengan pelbagai cara, tapi Ong It sin yang menganggap kepandaiannya sangat lihay selalu menolak.

Akhirnya karena kehabisan akal, maka sambil mencak mencak kakek cebol itu berteriak.

"Hei, kalau kau tak mau memukul aku, aku akan memukul duluan... coba kulihat mau apa kau nanti!"

Selesai berkata tangannya lantas diayun dan..."Plak! Plok! Plak! Plok!"

Secara beruntun ia perseni tujuh delapan buah tamparan keatas wajah Ong It sin.

Si anak muda itu segera merasakan bayangan tangan saling menyambar didepan mata, hakekatnya ia tak mampu untuk menghindarkan diri lagi, maka setelah menyambut ketujuh delapan buah tamparan tersebut, ia berdiri kaku di tempat semula.

Diam diam pemuda itu merasa keheranan pikirnya.

"Betul betul mencengangkan hati, tubuhnya begitu cebol dan kecil, kenapa bisa menampar aku dengan begitu gampang."

Karena heran maka setelah tertegun sejenak, ia membungkukkan badan sambil melancarkan sebuah serangan balasan. Bukannya mundur kakek cebol itu malah ke depan..."Plaaak!"

Serangan keras dari Ong It sin itu bersarang telak diatas dada lawan.

"Hmm! Rasain lu sekarang, sudah tahu akan kelihayanku bukan?"

Teriaknya.

Tapi kakek cebol itu hanya tertawa cekikikan saja sambil memandang kearahnya, sedikitpun tidak tampak kesakitan atau ketakutan.

Ini semua membuat Ong It sin kembali tertegun, serunya dalam hati.

"Amboi! Kukira tubuhnya yang ceking itu tak akan tahan terhadap tonjokanku itu, siapa tahu ia begitu lihay, biar kuberi sebuah pukulan yang lebih keras lagi..."

Sambil berpikir ia bermaksud menarik kembali tangannya, siapa tahu tangannya itu seperti menempel diatas pelakat yang keras, untuk sesaat lamanya tak mampu dilepaskan Ong It sin berkaok kaok keras dengan penuh penasaran, ia merasa tangannya yang menempel didada kakek itu seperti terhisap oleh suatu kekuatan yang besar, sehingga bagaimanapun ia meronta selalu tidak berhasil untuk melepaskan diri.

Ong It sin makin penasaran, ia berusaha untuk meronta lagi kuat kuat, tapi sedikitpun tak berguna akhirnya karena geram ia berteriak teriak seperti orang gila.

"Hei, terhitung jagoan macam apa kau?"

Ejek kakek cebol itu kemudian sambil tertawa.

"masa jotosannya tidak saja lembek sampai tangan sendiripun tak mampu ditarik kembali, hei! Mau pura pura mampus yaa kau? Hayo cepat lancarkan pukulan berikutnya!"

Ong It sin menarik napas panjang dan menarik kembali tangannya dengan sekuat tenaga, tapi alhasil jangankan terlepas dari hisapan, bergemingpun tidak. Kakek cebol itu kembali tertawa katanya.

"Bocah busuk, aku lihat tanganmu ini sudsah tak berguna lagi lebih baik dipotong saja biar beres!"

"Dikebas kutung mah bagus sekali!"

Jawab Ong It sin sambil tertawa getir.

"tapi bisa dipasang lagi tidak."

"Lantas bagaimana baiknya? Masa aku mesti membawa tanganmu kesana kemari? Kan berabe! Kalau kau enggan menebasnya, biar aku saja yang membantumu untuk menebas tangan ini!"

Pergelangan tangannya segera diputar dan..."Sreet!"

Ia sudah meloloskan sebilah pisau belati yang amat tajam.

Ketika pisau tersebut disambar keatas pergelangan tangannya, sekalipun belum menyentuh kulit, Ong It sin telah merasakan hawa dingin yang menyambar datang...

Ia menjadi ketakutan setengah mati, sambil berteriak teriak seperti babi yang hendak disembelih serunya.

"Oooh ampun! ampun, kalau bukan kau yang menghisap tanganku, masa tanganku mau tinggal diatas badanmu yang bau? Kau tak boleh menebasnya dengan begitu saja!"

"Nah, sekarang kau baru mengaku kalau tanganmu kena kuhisap sehingga badanmu tak mampu berkutik, hayo sekarang katakan dulu ilmu silat milik siapa yang paling hebat."

Ong It sin menjadi tertegun, sekarang ia baru mengerti.

"Jadi kalau begitu ilmu silatmu memang diatasku tapi hidungmu sudah kena kupukul sampai penyok tadi, maka jika dihitung hitung ilmu silat kita sama kuat alias setali tiga uang!"

Padahal kakek cebol itu sengaja menarik masuk hidungnya untuk menggoda Ong It sin, siapa tahu sekarang menuduh ilmu silatnya yang tak becus meski mangkel kakek cebol itu merasa geli juga.

Setengah harian lebiht mereka saling berdebat dengan sengit untuk mempertahankan pendapat masing masing tapi Ong It sin tetap ngotot berpendapat kalau ilmu silat mereka seimbang.

Akhirnya karena kewalahan, kakek cebol itu melepaskan hisapannya atas tangan pemuda itu dan berkata sambil tertawa.

"Baiklah, kalau memang ilmu silat kita seimbang seharusnya kitapun berganti panggilan, aku lebih tua beberapa tahun darimu mulai sekarang aku akan memanggilmu sebagai saudara goblok!"

Ong It sin tertawa, sahutnya.

"Bagus, kau memanggil aku saudara goblok maka akupun akan memanggilmu sebagai engkoh cebol!"

Begitulah kalau ada dua orang yang sama sama suka bergurau bertemu menjadi satu apalagi merasa mencocoki dengan watak masing masing, angkat saudara, bukan suatru kejadian yang aneh.

"Saudara goblok!"

Seru kakek cebol kemudian.

"sebetulnya ada urusan apa kau datang kemari seorang diri?"

"Aku sedang mencari seseorang... ooh, bukan, bukan semua orang, tapi dua orang"

"Sudah cukup lama aku berbaring diatas pohon itu"

Kata si kakrek cebol sambil menuding ke atas sebuah pohon.

"setiap orang yang lewat tempat ini tak akan lolos dari pengamatanku, macam apa sih dua orang yang sedang kau cari itu?"

Sebelum menjawab Ong It sin telah menghela napas, kemudian tanpa sebab pipinya berubah menjadi merah padam. Melihat itu, si kakek cebol segera mendengus.

"Hmm! Kenapa pipimu menjadi merah padam?"

"Engkoh cebol, kau... kau tidak tahu, orang yang kucari itu adalah seorang... seorang gadis yang amat cantik!"

Kakek cebol itu memutar biji matanya berulang kali, kemudian sahutnya.

"Kalau gadis cantik yang berjalan sendirian sih tak ada, tapi ada seorang gadis ayu yang melakukan perjalanan bersama si pipi licin anaknya Sangkoan Tin, apa mereka yang sedang kau cari"

"Aaah... betul, betul, merekalah yang sedang kucari"

Buru buru Ong It sin menyahut. Sejak munculkan diri sampai sekarang hampir sekulum senyuman selalu menghiasi wajah kakek cebol itu, tapi sekarang tiba tiba saja senyuman itu lenyap tak berbekas.

"Saudara goblok, apa kau tahu siapa sesungguhnya bocah perempuan itu?"

"Tentu saja tahu!"

"Kalau tahu coba katakan dulu kepadaku"

Ong It sin kembali menghela napas panjang.

"Aaai...! Dia... dia she Be... dia adalah nyonya pocu dari benteng Khek po, lantaran mencuri pedang antik Hu si ku kiam milik suamimya, ia kabur dari benteng tersebut, tapi dia... dia adalah seorang yang baik sekali"

Ketika mendengar perkataan itu, paras muka si kakek cebol segera menunjukkan suatu sikap yang aneh sekali, jelas apa yang dikatakan oleh Ong It sin tak pernah diketahui oleh si kakek cebol tersebut sebelumnya.

Setelah termangu sejenak, maka ia baru berkata.

"Oooh... jadi masih ada begini banyak liku likunya dibalik persoalan ini, tapi kalau kuperhatikan gerakan tubuhnya itu, agaknya ilmu meringankan tubuh yang ia pergunakan berasal dari satu aliran dengan perempuan beracun Be Ji nio"

"Yaa, yaa, betul! Be Ji nio memang ibunya!"

Buru buru Ong It sin menyambung.

"Apa hubunganmu dengannya?"

Kembali kakek cebol itu bertanya.

Sebetulnya pertanyaan ini hanya diajukan tanpa maksud tertentu, tapi justru pertanyaan tersebut merupakan masalah yang paling menyulitkan diri Ong It sin.

Seketika itu juga paras mukanya berubah menjadi merah padam bagaikan kepiting rebus, untuk sesaat lamanya ia tak sangup mengucapkan sepatah katapun.

Kakek cebol itu kembali memperhatikannya sekejap, setelah itu baru katanya.

"Saudara goblok, ternyata kau memang benar benar bego, dan bukannya cuma pura pura tolol!"

Ong It sin semakin gelagapan, katanya kemudian dengan suara terbata bata.

"Dia... dia... sangat baik kepadaku, benar benar baik sekali kepadaku. Belum... belum pernah ada orang sebaik ini kepadaku kecuali dia... yaa, cuma dia seorang yang baik kepadaku!"

Berbicara pulang pergi dari tadi sampai sekarang, yang diucapkan kecuali "dia sangat baik kepadaku", hampir tiada perkataan kedua lagi yang dia katakan.

"Kalau dia memang baik kepadamu, kenapa tidak melakukan perjalanan bersamamu? Kenapa dia malah berjalan bersama anaknya Sangkoan Tin yang berpipi licin itu?"

Seru kakek cebol. Ong It sin menghela napas dengan sedih.

"Aaai... aku sendiripun tidak mengerti, kenapa ia musti bersikap demikian kepadaku?"

Melihat kebegoan orang, kakek cebol itu tertawa.

"Goblok! Tak ada nona cantik yang tak suka pria tampan, dengan tampang seperti kau, mana mungkin gadis macam dia bisa baik kepadamu? Lebih baik kau jangan bermimpi disiang hari bolong lagi!"

"Mimpi?"

Bisik Ong It sin bimbang. Tapi dengan cepat ia gelengkan kepalanya berulang kali, serunya.

"Tidak, aku bukan lagi bermimpi, aku tak pernah bermimpi disiang hari bolong!"

"Saudara goblok!"

Kata kakek cebol sambil menepuk bahunya.

"sebenarnya aku sedang berbaring diatas pohon karena ada satu persoalan yang tidak bisa dipecahkan, hatiku sedang kesal dan masgul tapi kedatanganmu telah memancing gelak tertawaku, kaupun mengaku diriku sebagai engkoh tuamu maka aku hendak menghadiahkan sebuah benda kepadamu, mau bukan...?"

Ong It sin segera tertawa getir.

"Kau punya hadiah buatku, tapi aku punya hadiah untuk diberikan kepadamu... aah, malu aku!"

"Sudah, kau tak usah banyak berpikir yang bukan bukan, hayo keluarkan tanganmu!"

Ong It sin menurut dan segera meluruskan tangannya ke depan. Kakek cebol itu segera memegang tangan kanannya dan menekan keatas sepasang tangannya..."Criing! Criing! Criing!"

Dentingan nyaring bergema memecahkan keheningan, tiba-tiba Ong It sin merasakan kelima jari tangannya menjadi amat kaku.

Dengan hati terkejut buru buru ia menarik kembali tangannya, ternyata kelima jarinya telah bertambah dengan sebuah sarung tangan berwarna hitam pekat, pada ujung jari sarung tangan itu terdapat kuku yang tajam dan berwarna kehijau hijauan yang tampak mengerikan sekali.

Ong It sin mencoba untuk melepaskan sarung tangan itu, tapi bagaimanapun ia berusaha toh tetap tak ada hasilnya.

Dengan wajah getir iapun berkata.

"Hei, apa apaan kau? Hayo cepat lepaskan benda itu!"

"Goblok!"

Maki kakek cebol itu.

"sarung tangan tersebut adalah semacam senjata tajam yang luar biasa sekali, tak mungkin ada orang yang berani merampasnya bila mereka mempunyai pengetahuan, maka hanya sekilas pandangan saja akan tahu kalau benda ini milikku, otomatis merekapun akan bersikap amat sungkan kepadamu, jika kau bertarung melawannya, kau pasti akan berada diatas angin"

Dengan penuh keheranan Ong It sin mengamati sarung tangan itu beberapa waktu lamanya, kemudian ia berkata.

"Aah, tidak bisa jadi! Kalau aku kurang hati hati, bukankah cakar itu bakal melukai diriku sendiri?"

"Coba kau putarlah pergelangan tanganmu dengan keras!"

Perintah kakek cebol itu sambil tertawa.

"Kreek!"

Ong It sin segera memutar pergelangan tangannya, ternyata kuku kuku tajam yang berada diujung jari itu otomatis menyusup masuk kedalam, ketika ia memutar lagi pergelangan tangannya, maka kuku kuku itu muncul kembali.

Ong It sin menjadi kegirangan setengah mati, serunya.

"Engkoh cebol, banyak terima kasih atas pemberianmu ini setelah kumiliki benda ini maka aaku tak usah takut lagi untuk bertarung melawan keempat jago lihay dari Tiong lam san akupun bisa membalaskan dendam berdarah bagi ayahku"

"Oooh yaa, setengah harian lamanya kau bertarung melawan seorang perempuan tadi sebenarnya siapa sih ayahmu?"

"Ayahku bernama Kwang gwa tayhiap Ong Tang thian"

"Apa?"

"Dia adalah seorang tokoh termashur dari luar perbatasan, aku rasa kau pasti pernah mendengar nama besarnya"

"Yaa, betul! Aku pernah mendengar akan nama orang ini, tapi pernahkah ia mati ditangan orang orang Tiong lam pay?"

"Benar, Liok Lui yang mengakuinya sendiri!"

"Aku rasa lebih baik persoalan ini diselesaikan sekali lagi, aku kuatir kalau kenyataan tidak demikian. Sekarang akupun tak bisa banyak berbicara kepadamu, aku hanya berharap kau bisa bertindak dengan sangat berhati hati"

Ong It sin tidak menjawab, dia hanya memejamkan matanya sambil mengulangi kembali kata kata dari kakek cebol itu, kemudian gumamnya seorang diri.

"Benarkah dia bukan pembunuh ayahku? Tapi kalau bukan dia, lantas siapa...?"

Mendadak ia mendongakkan kepalanya lalu berseru.

"Jangan jangan kau tahu siapakah musuh musuh besar pembunuh ayahku...?"

Kakek cebol itu tidak menjawab, tapi malah berusaha menghindari pertanyaan tersebut, serunya tiba tiba.

"Saudara goblok, aku rasa kita musti berpisah dulu sampai disini, semoga kita bisa berjumpa lagi dikemudian hari"

Sekalipun bodoh, Ong It sin adalah seorang laki laki berhati polos yang jarang punya teman, betul kakek cebol itu pernah mempermainkannya habis habisan, tapi ia tak pernah masukkan kejadian itu didalam hati.

Maka ketika kakek cebol itu mohon pamit ia menjadi sedih sekali sehingga mulutnya ternganga dan lama sekali tak mampu mengucapkan sepatah katapun.

Kakek cebol itupun memandang ke arahnya, lama sekali ia baru berkata sambil tertawa.

"Eeeh... kenapa kau hanya memandang diriku dengan kebodohan...?"

"Kau... kau memang sangat baik kepadaku... kau adalah manusia baik...!"

Ujar Ong It sin dengan wajah bersungguh sungguh. Kakek cebol itu tertawa.

"Kaupun baik juga"

Ia membalas.

Lama sekali kedua orang itu saling berpandangan tanpa mengucapkan sepatah katapun Akhirnya kakek cebol itu menggerakkan tubuhnya dan berkelebat pergi meninggalkan tempat itu.

Ong It sin ingin memanggil tapi kakek cebol itu sudah keburu pergi jauh, bahkan sekejap kemudian telah lenyap tak berbekas, terpaksa dia cuma bisa berdiri tertegun dengan mulut melongo belaka.

Akhirnya dengan rasa kesal Ong It sin menggerutu.

"Tampaknya diapun seorang jago yang amat tangguh..."

Sambil bergumam ia permainkan kembali sarung tangan berwarna hitam itu.

Ketika teringat olehnya akan perkataan dari si kakek cebol yang mengatakan bahwa ia pernah menjumpai Be Siau soh dan Sangkoan Bu cing sedang berjalan ke depan sana, pemuda itu segera berlarian kencang menuju pula ke depan.

Dalam waktu singkat, tujuh delapan li sudah dilewatkan dengan cepat, dari kejauhan sana ia segera menjumpai ada berpuluh puluh orang sedang mengerubuti tiga orang.

Pertarungan waktu itu sedang berlangsung dengan serunya, ketiga orang yang dikepung itu bersenjata pedang, tiga bilah cahaya pedang yang semu hijau itu menyambar kian kemari dengan hebatnya.

Betul mereka cuma berjumlah tiga orang, namun dalam kepungan orang sebanyak itu sedikit pun tidak memperlihatkan tanda tanda akan kalah.

Karena masih berada ditempat yang jauh, Ong It sin tak sempat melihat jelas siapa gerangan mereka semua, dia hanya merasa tak puas ketika melihat ada tiga orang sedang dikerubuti orang banyak.

Dalam keadaan demikian, ia tak ambil peduli siapakah orang yang sedang bertarung itu dan apa sebabnya mereka sampai saling bergebrak, pemuda itu hanya tahu pertarungan itu tak adil dan dia harus membantu yang sedikit untuk menghadapi mereka yang banyak.

Maka sambil lari mendekati gelanggang pertarungan teriaknya keras keras.

"Berhenti! Berhenti...! Jangan bertarung dulu...!"

Sebagaimana diketahui, tenaga dalam yang dimilikinya sekarang amat sempurna, teriakan itu ternyata amat keras bagaikan bunyi genta yang menggelegar diudara, sungguh memekikkan telinga.

Sambil berteriak ia lari ke depan arena dan menarik dua orang yang sedang bertarung itu.

Dua orang yang ditarik menjadi kaget, karena menganggap dia sebagai musuh tangguh maka kedua orang itupun dengan cepat mundur kebelakang sambil membuang senjatanya ke tanah.

Sambil berlarian mendekat dan acungkan tangannya, Ong It sin berteriak lagi.

"Kalian..."

Tapi hanya sepatah kata kemudian dengan wajah tertegun pemuda itu menghentikan kata katanya.

Ternyata saat ini dia telah melihat jelas siapakah mereka itu, tiga orang yang berdiri bertempelan punggung dengan pedang dilintangkan didepan dadanya itu ternyata tak lain adalah Liok Lui Ih Hui serta Ih lwe sang jin dari partai Tiong lam pay.

Sebenarnya kedatangan Ong It sin kesana adalah untuk membela kebenaran serta memberantas ketidak adilan, tapi ia mendjadi riku sendiri setelah mengetahui siapakah tiga orang yang sedang dikerubuti, untuk sesaat ia hanya berdiri tertegun sambil tak diketahui apa yang harus dilakukan.

Ketika Liok Lui menyaksikan kemunculan Ong It sin disitu, pedangnya segera diputar siap melancarkan tusukan.

Tapi sebelum serarngan tersebut dilancarkan, tiba tiba Ih Hui menyikut tubuh rekannya sambil moncongkan bibirnya menunjuk kearah tangan pemuda itu.

Liok Lui lantas melirik sekejqap ke arah tangan Ong It sin, begitu menjumpai sarung tangan hitam tersebut, paras mukanya segera berubah hebart.

Dalam pada itu Ih lwee sangjin telah berseru pula dengan suara dalam yang hebat "Semua jangan bergerak"

Waktu itu Ong It sin hakekatnya tidak memperhatikan ucapan dari Ih lwe sangjin maupun sikap kaget dari Ih Hui dan Liok Lui, dia cuma berdiri disana dengan wajah tersipu sipu.

Sampai lama sekali, ia baru mendongakkan kepalanya dan memperhatikan belasan orang disekitar sana.

Rupanya belasan orang tersebut telah menganggapnya sebagai musuh pula, karena saat itu mereka telah melebarkan kepungan dengan mengepung dirinya bersama tiga jago dari Tiong lam pay.

Ong It sin memperhatikan sekejap belasan orang tersebut, ternyata mereka terdiri dari laki perempuan tua muda tak menentu, diantaranya terdapat seorang kakek berwajah aneh yang berambut panjang warna perak, alis matanya memanjang kebawah, agaknya ia merupakan pemimpin dari rombongan tersebut.

Maka sambil menjura kepada kakek tersebut, sapanya.

"Numpang tanya lotiang!"

Sebenarnya belasan orang itu sudah mengepung Ong It sin rapat rapat, setiap orang memperhatikan gerak gerik pemuda itu dengan seksama, tapi setelah ia menjura kepada si kakek tadi maka semua orang dapat melihat sarung tangannya itu dengan jelas.

Paras muka kakek itu kontan saja berubah hebat, cepat ia mengutarakan tangannya memberi tanda.

Gembira sekali Ong It sin setelah melihat semua orang orang terkejut setelah menjumpai sarung tangannya itu, hal ini membuktikan bahwa apa yang dikatakan si kakek cebol kepadanya memang tidak bohong.

Sementara itu, kakek tadipun telah balas memberi hormat lalu katanya.

"Ada persoalan apakah saudara menunda pertarungan kami?"

Sikap kakek itu ternyata amat sungkan sungkan ini membuat Ong It sin menjadi tertegun dan untuk sesaat lamanya tak tahu bagaimana harus menjawab Seperti apa yang diketahui, sepanjang hidupnya adalah dia hanya diperintah atau dibentak orang secara keras dan seenaknya, belum pernah ada orang yang berbicara sesungguh ini kepadanya maka ia agak termangu juga menghadapi keadaan tersebut.

Sesudah tertawa bodoh, sahutnya.

"Apakah kalian sedang berkelahi?"

Hakekatnya pertanyaan ini adalah sebuah pertanyaan yang sama sekali tak berguna, sebab kalau bukan sedang berkelahi lantas apakah sambaran golok dan hawa pedang yang menyambar nyambar hanya suatu gurauan belaka...?

Tapi kakek itu menjawab juga dengan sikap yang amat sopan dan sungkan sungkan.

"Benar kami bersaudara empat belas orang mempunyai perselisihan dengan pihak Tiong lam pay karena kebetulan saling berjumpa disini, maka perhitungan lama harus dituntut."

"Waah... kebetulan sekali kalau begitu!"

Ujar Ong It sin.

"Tiong lam pay adalah musuh musuhku juga karena telah membunuh ayahku..."

Begitu ucapan tersebut diutarakan, ketiga orang jago lihay dari Tiong lam pay itu segera mendengus dingin, sementara wajah keempat belas orang lainnya berseri seri.

oodoooOooowoo "Kalau memang begitu, bagus sekali!"

Kakek berambut perak itu segera bersorak.

"jadi kita mempunyai musuh yang sama bukan?"

"Tentu saja! Tapi aku lihat jumlah kalian terlalu banyak, kalau musti menggunakan jumlah banyak untuk melawan jumlah kecil, aku rasa... aku rasa hal ini ada sedikit kurang tepat, lotiang be... betul tidak perkataanku ini?"

Kakek itu segera mengerutkan dahinya sambil berpikir.

"Entah siapakah bocah buruk ini? Kenapa cara berbicaranya cuma ngaco belo belaka macam orang gila?"

Coba kalau ia tidak mengenali sepasang sarung yang dipakai Ong It sin adalah benda kepunyaan seorang jago lihay, sejak tadi ia sudah akan mengumbar hawa amarahnya.

Tapi sekarang, ia terpaksa dia musti menahan sabar, sambil tertawa paksa sahutnya.

"Yaa, yaa, memang perkataan saudara ada benarnya juga! Tapi kami empat belas orang adalah saudara saudara senasib sependeritaan, sekalipun musuh yang dihadapi seorang kita juga akan turun tangan empat belas orang musuhnya dua puluh delapan orang, kami juga tetap akan turun berempat belas..."

Perkataan dari kakek tersebut kedengarannya memang masuk diakal, sebab dengan ucapan tersebut mereka menunjukkan kalau tidak akan mengandalkan jumlah banyak, karena untuk menghadapi satu orang, mereka juga berempat belas, menghadapi jumlah yang lebih besarpun mereka juga berempat belas.

==doowoo==

Jilid 15 PADAHAL, sesungguhnya hal mana merupakan bagian dari kelicikan kakek tersebut, sebab didalam kenyataan, mereka tak pernah berjumpa dengan musuh yang jumlahnya jauh melebihi mereka, jadi meskipun dalam perkataan mereka bicara dengan manis, namun dalam kenyataan mereka tetap mengandalkan jumlah banyak untuk mencari kemenangan.

Sayang otak Ong It sin terlalu bebal, ia tidak berpikir sampai kesitu, maka ketika merasakan kalau perkataan dari kakek itu ada benarnya juga, ditambah ladi ia memang benci dengan orang orang Tiong lam pay, maka serunya kemudian.

"Betul, betul, memang betul juga perkataanmu itu"

Sambil berkata dengan langkah lebar dia berjalan keluar dari arena. Tapi baru beberapa langkah saja ia berjalan, tiba tiba terdengar olehnya Liok Lui sedang berseru sambil tertawa dingin.

"Sudah semenjak lama kuduga kalau kau bukan manusia baik baiK, sekarang terbukti sudah kebenaran dari perkataanku itu, ternyata kau memang sekomplotan dengan siluman siluman dari Tiong kang jit sia!"

Begitu mendengar ucapan itu, kontan saja Ong It sin menghentikan langkahnya dan berdiri melongo.

Seandainya jago lain yang disebutkan, mungkin pemuda itu tidak tahu, tapi sebagai orang yang dibesarkan diwilayah zuchuan, ia sudah amat sering mendengar tentang kejahatan yang dilakukan oleh kaum perampok disekitar sana.

Karenanya, setelah mengetahui bahwa keempat belas orang itu bukan lain adalah siluman siluman dari tujuh silat disungai Tiong kang, ia lantas berdiri tertegun.

Kemudian sambil menuding ke arah kakek itu ia memutar sarung tangannya keras keras..."Kraaak!"

Kuku kuku tajam yang membawa sinar semu hijau itupun segera bermunculan dari balik sarung tangan. Kakek itu menjadi keder, tanpa sadar ia mundur setengah langkah ke belakang dengan ketakutan.

"Yaa, sekarang aku baru tahu kiranya kau adalah Tiang bi lo yau (siluman tua beralis panjang) dari Gou kan be hei shia!"

Seru Ong It sin kemudian. Kakek tua itu segera manggut manggut.

"Betul, sungguh tajam penglihatanmu, aku memang Thian bi lo sian (dewa tua beralis panjang)...!"

Sebagaimana diketahui empat belas siluman dari tujuh selat atau Jit sia cap si yau adalah manusia busuk yang seringkali melakukan perbuatan terkutuk, karena itu julukan tersebut merupakan pemberian umat persilatan kepadanya, sebaliknya mereka sendiri menyebut diri sebagai Jit shia cap si sian (empat belas dewa dari tujuh selat).

Ketika melihat musuhnya sudah mengaku, Ong It sin semakin tercekat perasaannya, ia memutar biji matanya dan segera menjumpai seorang laki laki ceking bermata juling.

Dengan hati yang bergetar lebih keras segera serunya.

"Dan kau... kau adalah Tok gan yau (siluman bermata tunggal) dari selat Gi hiat shia!"

Lelaki bermata tunggal itu mengangguk.

"Yaa, betul! Aku adalah Dewa bermata tunggal!"

Satu per satu Ong It sin mengamati keempat belas orang itu, dari sekian banyak orang yang hadir ada empat lima orang yang memiliki ciri khas ternyata bisa disebutkan olehnya dengan jelas dengan demikian tak bisa disangsikan lagi, mereka sudah pasti adalah Empat belas siluman dari tujuh selat Betul Ong It sin orangnya bodoh, tapi ia masih bisa membedakan dengan jelas mana yang lurus dan mana yang sesat, tentu saja hal ini dikarenakan sikapnya yang polos dan tulus.

Untuk sesaat lamanya ia menjadi tertegun dan tak tahu bagaimana harus dibuat.

Sekalipun Tiong lam pay adalah suatu perguruan kaum lurus, dan seandainya dia ingin membantu kaum lurus membasmi yang sesat harus membantu pihak Tiong lam pay tapi Tiong lam pay adalah musuh besarnya, tak mungkin dia akan membantu mereka.

Sebaliknya jika dia harus bersama dengan keempat belas siluman itu untuk menghadapi Tiong lam pay, diapun merasa enggan untuk bersatu dengan kaum sesat, tak heran kalau pemuda itu menjadi termangu mangu untuk sesaat lamanya.

Tiang bi lo yau sebagai seorang jago kawakan yang berpengalaman segera dapat merasakan kesulitan yang sedagn dihadapi oleh Ong It sin itu...

Terhadap Ong It sin pribadi, sesungguhnya mereka berempat belas tak pandang sebelah matapun, Tiong lam sau hiap yang begitu lihaypun berani mereka lawan, tentu saja dasar silat yang mereka miliki cukup tangguh.

Akan tetapi pemilik sarung tangan yang dikenakan Ong It sin justru merupakan musuh yang menakutkan, mereka tak berani membuat kesalahan terhadap orang itu, maka dari itu mereka lebih senang jika Ong It sin jangan mencampuri urusan mereka.

Karena itu, setelah berpikir sebentar Tiang bi lo yau lantas berkata dengan lantang.

"Aku sudah mengetahui tentang maksud hati anda, bukankah kau merasa bahwa jumlah kami sudah terlampau banyak maka kau tak ingin turun tangan lagi?"

"Benar... benar...!"

Sahut Ong It sin cepat cepat. Tidak menanti pemuda itu menyelesaikan kata katanya, Tiang bi lo yau segera berseru cepat.

"Rekan rekan, harap pada menyingkir semua"

Sambil berteriak tiba tiba tangannya memutar kebelakang.

Kiranya sewaktu mengajak Ong It sin berbicara tadi, tangan kanannya disembunyikan terus dibelakang punggungnya sehingga anak muda itu tak tahu senjata macam apakah yang ia pergunakan.

Tapi sekarang, setelah tangannya digetarkan maka terasalah cahaya tajam berkilauan diangkasa, tahu tahu ia sudah membawa sebuah benda panjang yang runcing dengan tiga ujung jarum pada ujungnya.

Dengan menimbulkan suara amat tajam, tiba tiba senjata tersebut menyambar lewat dari sisi tubuh Ong It sin dan langsung menusuk ke depan.

Dengan tindakan dari Tiang bi lo yau itu maka rekan-rekannya pun segera menggerakkan pula senjatanya untuk melancarkan serangan kembali.

Dengan berkobarnya kembali pertarungan sengit itu, Ong It sin yang berada ditengah gelanggang terpaksa harus mengundurkan diri dari arena bila tak ingin kena serangan musuh...

Dengan termangu mangu Ong It sin berdiri disamping arena sambil memandang pesona jalannya pertarungan, sekarang ia baru menyadari kalau ilmu silat yang dimiliki keempat belas siluman dari tujuh selat itu betul betul luar biasa sekali.

Tapi kepandaian yang dimiliki ketiga orang jago dari Tiong lam pay tidak terhitung lemah juga, hawa pedang melapisi seluruh angkasa dan menciptakan suatu pertahanan yang sangat kuat, sekalipun demikian sulit juga buat mereka untuk melancarkan serangan balasan, betul untuk sementara waktu masih bisa bertahan, tapi lama kelamaan mereka pasti akan menderita kekalahan total.

Makin lama Ong It sin merasa gelagat semakin tak beres, ia merasa tidak seharusnya hanya berpeluk tangan belaka membiarkan empat belas orang jago mengerubuti tiga orang musuh, Maka sekali lagi dia berteriak keras.

"Tahan! Tahan!"

Beberapa kaliia sudah berteriak teriak, akan tetapi teriakannya kali ini sama sekali tidak manjur, sebab kedua belah pihak sama sama tak mau menghentikan pertarungan.

Dengan mendongkol Ong It sin segera berteriak kembali.

"Tiang bi lo yah, aku suruh kau berhenti kenapa kalian masih bertarung terus?"

Waktu itu siluman tua beralis panjang dengan jurus jurus mautnya khusus meneter Ih lwe Sangjin seorang, karena Ong It sin menyebut langsung namanya, maka mau tak mau dia harus menjawab juga.

Bukankah kau mengatakan punya dendam sakit hati dengan pihak Tiong lam pay?

serunya, kenapa bukannya masuk kearena pertarungan, sebaliknya malahan suruh kami berhenti bertempur?"

Tiba tiba satu akal bagus melihat dalam benaknya, dia lantas menjawab dengan lantang.

"Aku ingin membalas dendam sendiri, siapa suruh kalian membantu aku...?"

Dengan kemampuan kau seorang, mana mungkin bisa menandingi mereka bertiga?"

"Aku adalah seorang jago kelas satu didunia, siapa bilang tidak mampu?"

Seru Ong It sin gusar.

Tiang bi lo yau menjadi tertegun sendiri melongo sesudah mendengar perkataan itu baru pertama kali dia mendengar ada orang mengakui dirinya sebagai jago tangguh.

Sesudah termenung sejenak, diapun berpikir.

"Daripada selama pertarungan berlangsung, ia berteriak terus menerus lebih baik suruh saja dia bertarung lebih duluan... bagaimanapun juga tiga orang dari Tiong lam pay itu sudsah menjadi mangsa dalam kepugan kami, cepat atau lambat toh mereka bakal terjatuh juga ke tangan kami..."

Karena berpendapat demikian, ia lantas bersuit nyaring, keempat belas rekannya serentak mengundurkan diri dari arena pertarungan. Tiang bi lo yau yang berada disamping pemuda itu segera berkata.

"Bukankah kau hendak bertarung sendiri melawan musuh musuh besarmu? Nah, silahkan kau turun tangan sekarang, agar kamipun bisa membuka mata lebar untuk menikmati kelihayanmu"

Sekalipun Ong It sin bodoh orangnya, tapi dia pun tahu juga akan kehebatan tiga jago dari Tiong lam pay tersebut, untuk menghadapi Liok Lui seorang saja ia sudah menderita kerugian, apalagi ditambah Ih lwe Sangjin dan Ih Hui dua orang!

Tapi dalam keadaan demikianpun ia tak bisa mengundurkan diri lagi dari situ, karenanya sambil keraskan kepala ia melangkah maju ke depan seraya berseru.

"Baik aku akan segera maju ke depan!"

Setibanya dihadapan ketiga orang jago dari Tiong lam pay itu, Ong It sin segera menjura, kemudian katanya.

"Aku dan kalian mempunyai ikatan dendam sakit hati sedalam lautan, hari ini aku sengaja hendak beradu jiwa dengan kalian, aku pikir akupun tak usah mengutarakan kata kata sungkan lagi bukan?"

Selesai berkata, telapak tangannya segera diayunkan ke depan melancarkan sebuah pukulan.

Dengan senjata aneh yang dikenakannya sekarang, menurut kebiasaan ia semestinya melancarkan cengkeraman terhadap ketiga orang itu.

Tapi pada hakekatnya tak tahu apa artinya mencengkeram ataupun mencakar, dia hanya tahu kalau hendak menyerang maka sebuah pukulan *** disodokkan ke depan.

Tiga orang jago dari Tiong lam pay itu saling berpandang sekejap, mereka tidak melancarkan serangan balasan, hanya pedangnya diputar ke muka dan..."Criing!"

Tiga bilah pedang disilangkan di depan dada untuk menghalangi gerak maju dari Ong It sin.

Bila anak muda itu melanjutkan juga serangannya, niscaya lengan tersebut akan beradu dengan ujung pedang, maka buru buru ia menarik kembali serangannya dengan kaget.

Untung saja hawa murninya yang sudah disiapkan sempat ditarik kembali mentah mentah.

Ih Hui maupun Ih lwe Sangjin pernah bertarung melawan Ong It sin ketika masih berada di bukit Tiong lam san tempo hari, maka ketika dilihatnya pemuda tersebut bertambah lihay, lagi pula mengenakan sarung tangan yang maha sakti itu, dengan keheranan mereka berseru tertahan.

"Sobat Ong, apa hubunganmu dengan pemilik Sin cian ci (jari dewa) ini?"

"Sin sian ci? Apakah Sin sian ci itu?"

Ong It sin balik bertanya dengan wajah tertegun. Dengan kening berkerut Ih lwe sangjin menjawab.

"Itu pemilik sarung tangan yang kau kenakan sekarang!"

Ong It sin segera tertawa terkekeh.

"Haaahh... haaahhh... haaaahhhh... rupanya dia yang kau maksudkan..."

Katanya.

"dia adalah sahabatku, toakoku, saudara angkatku!"

Haruslah diketahui, orang yang menghadiahkan sarung tangan kepada Ong It sin itu adalah seorang tokoh persilatan yang amat lihay sekali, sudah lama orang itu lenyap dari dunia persilatan.

Seandainya Ong It sin mengakuinya sebagai seorang cianpwee nya, maka meskipun Sin cian ci berada ditangan pemuda bodoh itu, Ih lwe sangjin akan tetap mempercayainya.

Tapi sekarang Ong It sin mengakui orang itu sebagai saudara angkatnya...

betul si anak muda itu berbicara yang sesungguhnya, tapi bagi pendengaran orang lain, hal ini mustahil bisa terjadi.

Sebab itulah bukan cuma Ih lwee sangjin bertiga saja yang tidak percaya, bahkan empat belas siluman dari tujuh selat pun mulai berbisik bisik dan bicarakan persoalan itu.

Ih lwee Sangjin cukup menyadari akan ketololan musuhnya itu, maka sambil tertawa kembali ia berkata.

"Waah, kalau begitu kau adalah saudara kecilnya?"

"Yaa, apa boleh buat? Usianya jauh lebih tua daripadaku, kalau tidak menjadi saudara ciliknya, memang kau suruh aku menjadi kakeknya?"

Dengan perkataannya itu, seakan-akan ia hendak mengatakan kepada semua orang bahwa ia terpaksa menerima sebagai saudara cilik orang lantaran kalah umur, padahal kalau bisa ia enggan dibawah orang lain.

Mendengar itu, Ih lwee sangjin lantas berkata lagi.

"Kalau toh kalian adalah saudara angkat kenapa tidak kau ketahui kalau saudaramu itu adalah Sin sian ci?"

"Kalau dia tidak mengatakannya kepadaku, darimana pula aku bisa tahu...?"

Jawab pemuda itu tak sabar. Ih lwee sangjin saling berpandangan sekejap dengan Liok Lui serta Ih Hui, kemudian katanya.

"Ditanganmu terdapat sin sian ci, aku pikir kau pasti mempunyai hubungan dengan pemilik sin sian ci tersebut, tentu saja apa yang kau ucapkan kami percaya sepenuhnya nah kamipun tak ingin menyusahkan dirimu lebih jauh, sekarang kau boleh segera pergi dari sini!"

Thian bi lo koay (siluman tua beralis panjang) yang mendengar perkataan itu segera mengerutkan dahinya, ia berpikir.

"Bocah muda itu tak boleh sampai pergi dari sini, kalau tidak, rencanaku menonton dua harimau berkelahi pasti akan gagal total!"

Kemudian setelah berhenti sejenak, ia berpikir lebih jauh.

"Konon pemilik sin sian ci itu wataknya suka menang sendiri, dan lagi sangat membelai orangnya bocah goblok itu memiliki sin sian ci miliknya, itu berarti dia ada hubungan dengannya, kalau kupancing agar ia bertarung melawan pihak Tiong lam pay maka kejadian ini pasti akan merugikan pihaknya..."

Berpikir sampai disini, diapun bersiap siap untuk buka suara. Tapi sebelum niat dilaksanakan, tiba tiba terdengar Ong It sin telah berkata.

"Tidak bisa, aku tak bisa pergi dari sini, kecuali kalau kalian srahkan bajingan perempuan itu kepadaku, akan kuseret dia ke luar perbatasan, lalu akan kusembelih dirinya ditempat itu untuk membalas sakit hati ayahku, tentu saja sejak itu pula aku tak akan menyulitkan kalian lagi"

Ih lwee sangjin, Liok Lui serta Ih Hui yang mendengar perkataan itu segera merasa yaa mendongkol yaa geli. Dengan cepat Ih Hui berseru.

"Hei, aku lihat kau sedang bermimpi disiang hari bolong, bagus benar perkataanmu itu"

"Memangnya kenapa?"

Teriak Ong It sin marah.

"dia kan telah membunuh ayahku? Memangnya sesudah berani berbuat tak berani bertanggung jawab?"

"Sobat Ong, ayahmu bukan mati ditangan kami orang orang Tiong lam pay"

Kata Ih lwe sangjin sambil menahan diri berusaha "ketahuilah dibalik peristiwa berdarah itu sesungguhnya masih terdapat banyak lika likunya yang rumit, lebih baik selidiki lagi duduknya perkara sebelum bertindak secara gegabah kalau begini terus caramu bekerja, sampai kapan dendam berdarah ayahmu baru bisa terbalas?"

Ong It sin lebih marah lagi dibuatnya sambil menuding ke arah Liok Lui teriaknya "Bukankah sewaktu berada di bukit Tiong lam san tempo dulu, ia telah mengaku sendiri?

Memangnya pengakuan tersebut hanya pengakuan yang keluar seperti kentut?

Kenapa kau mau saja membelai dirinya?!"

Liok Lui yang berangasan jadi berang, ia tak sanggup menahan sabar lagi, maka belum habis Ong It sin membacot, ia sudah berteriak keras keras.

"Kau sendiri bau seperti kentut"

Tanpa banyak berrbicara lagi, pedangnya diayunkan ke depan menebas pergelangan tangan Ong It sin.

Menghadapi serangan itu, Ong It sin sangat terperanjat, buru buru ia menarik tangannya kebelakang sambil melompat mundur.

Tapi gerakan pedang dari Liok Lui itu sungguh teramat cepat, sekalipun Ong It sin sudah menarik tangannya dengan cepat, namun ujung pedang tersebut tahu tahu sudah berada diatas kelima jari tangannya.

Agaknya lengan anak muda itu segera akan kutung diujung senjata perempuan itu...

Untunglah disaat yang berbahaya, Ih lwee sangjin bertindak cepat tiba tiba pedangnya diayunkan ke depan untuk menangkis babatan pedang rekannya.

"Traang...!"

Pedang Liok Lui tertangkis ke saamping.

Ong It sin berpekik aneh, menggunakan kesempatan itu mendadak ia melancarkan sebuah serangan ke depan.

Buru buru Liok Lui ayunkan tangannya untuk mengrhindarkan diri dari ancaman tersebut, tapi ujung jari pemuda itu ternyata sempat menyambar ujung bajunya hingga terobek sebagian.

Menyaksikan keadaan ini, Liok Lui menjadi sangat gusar teriaknya.

"Suheng apakah kau hendak mencelakai jiwaku?"

Ih lwee sangjin mengayunkan pedangnya berulang kali mendesark mundur Ong It sin dari situ.

Tapi Ong It sin bukan orang yang takut mati, semakin garang musuhnya menyerang, semakin nekad pula ia memberikan perlawanannya.

Sayang Ih lwee sangjin terlampau tangguh baginya, mengikuti sambaran pedangnya, selapis cahaya pedang yang disertai kekuatan hebat mendesak datang secara bergelombang, ini membuat anak muda itu musti mundur terus berulang kali.

Lima kali Ih lwee sangjin melancarkan bacokan lima kali Ong It sin mundur ke belakang, tiba tiba pemuda itu merasa pandangan matanya jadi silau, tahu tahu batok kepala bagian kanannya terasa dingin sekali.

Menyusul kemudian Ih lwee sangjin menarik kembali pedangnya dan berdiri serius.

"Coba rabalah kepalamu!"

Katanya.

Ketika Ong It sin meraba kepalanya, ternyata rambut bagian sebelah kanan telah terpapas oleh sambaran pedang Ih lwee sangjin hingga botak sebagian.

Kejut dan marah Ong It sin menghadapi kejadian ini, kalau orang lain tentu akan mundur teratur, maka pemuda ini sebaliknya malah menerjang maju tanpa mempedulikan keadaan apapun.

"Kembalikan nyawa ayahku!"

Teriaknya.

Ih lwee sangjin segera memutar pedangnya dan menyodok kedepan dengan gagang pedangnya.

Segulung tenaga yang sangat besar segera menumbuk tubuh Ong It sin hingga mundur selangkah dengan tubuh sempoyongan menyusul kemudian pedang tersebut berkelebat lewat...

Sekali lagi Ong It sin merasa kepala bagian kirinya menjadi dingin, ketika kepalanya diraba ternyata rambut disebagian sana pun ikut terpapas juga hingga menjadi botak.

Sesungguhnya kedua bacokan tersebut merupakan ilmu sakti milik Ih lwee Sangjin yang disebut Seng si it sian (mati hidup satu garis), kelihayannya luar biasa, jangankan Ong It sin, sekalipun orang yang berilmu lebih hebat pun belum tentu sanggup untuk menghadapinya.

Ong It sin segera mundur selangkah ke belakang, kali ini tanpa disuruh Ih lwee sangjin ia memeriksa rambut sendiri, begitu mengetahui apa yang telah terjadi, ia mengeluh.

Untuk sesaat lamanya sianak muda itu hanya berdiri termangu ditempat semula tanpa mengetahui apa yang musti dilakukan, mukanya yang jelekpun berubah menjadi merah darah hingga tampak seperti babi panggang.

Ih lwee sangjin kembali menggetarkan pedangnya hingga menimbulkan suara dengungan nyaring, sedangkan Ih Hui yang berada disampingnya segera tertawa terbahak bahak.

"Haaahh... haahh... haahh... kalau rambutnya yang digunduli, tak lama lagi pasti akan tumbuh kembali, sebaliknya kalau batok kepala yang terpapas, niscaya sukar untuk muncul lagi, kenapa kau belum juga angkat kaki dari sini?"

Paras muka Ong It sin berubah menjadi pucat kemerah merahan, untuk sesaat dia cuma berdiri kaku tak berkutik ditempat semula.

"Kenapa tidak segera enyah dari sini?"

Bentak Liok Lui pula dengan suara menggeledek.

Diantara kebasan ujung bajunya, hawa sakti Thian gi cinkhi segera dipancarkan keluar.

Ketika termakan oleh pukulan tersebut, tak bisa dikendalikan lagi Ong It sin mundur ke belakang dengan sempoyongan.

Tiba tiba Tiang bi lo yau berpekik nyaring lalu serunya.

"Sobat kenapa kau tidak cepat cepat pergi mencari saudara angkatmu untuk melampiaskan rasa mangkelmu itu?"

Seraya berkata dia mengulapkan tangannya, empat belas orang rekan rekannya serentak maju bersama melancarkan serangan.

Sambil meraba rambutnya yang botak dan wajah uring uringan, Ong It sin berjalan meninggalkan arena dengan kepala tertunduk.

Kurang lebih setengah li kemudian tiba tiba terdengar bunyi air dari arah depan sana, ternyata ia telah tiba ditepi sebuah selokan.

Memandang kepala sendiri yang botak diatas permukaan air, Ong It sin tertawa getir, ia betul betul merasa sedih sekali.

Ditengah suasana yang diliputi kemurungan dan kemasgulan mendadak dari seberang selokan sana kedengaran seseorang berteriak keras.

"Hei, rupanya kau sudah bosan hidup sebagai seorang awam, maka sekarang ingin menjadi pendeta?"

Ong It sin segera mendongakkan kepalanya, ternyata orang itu bukan lain adalah manusia aneh yang telah menghadiahkan sarung tangan kepadanya itu...

Bukan menyalahkan diri sendiri yang tak berkemampuan, semua rasa sesalnya segera dilampiaskan kepada orang itu segera teriaknya.

"Hmm, apalagi yang musti kukatakan, semuanya ini adalah gara gara sarung tangan pemberianmu itu!"

Manusia aneh tersebut segera teratawa cekikikan.

"Aaah, jangan begitu saudara jelekku, mengapa kau berkata demikian...?"

Serunya.

"Coba lihat!"

Demikian Ong It sin berteriak sambil memperlihatkan sepasang tangannya.

"sarung tanganmu ini bukan saja tak bermanfaat, malah sebaliknya rambutku kena digunduli oleh pedang Ih lwee sangjin... kalau tidak percaya, lihat sendiri kepalaku ini!"

Manusia aneh itu segera mendengus dingin.

"Hmm! Kiranya Ih lwee sangjin, apakah ia tidak sudi memberi muka kepadamu? Kau adalah adik angkatku, apakah kau sudah mengatakannya kepada mereka? Kalau belum, kau sendirilah yang salah"

"Siapa bilang belum?"

Teriak Ong It sin keras keras. Dengan sekali lompatan, manusia aneh itu segera menyeberangi selokan, kemudian serunya.

"Mari, mari! Akan kuajarkan sebuah jurus serangan untukmu, kemudian pergi carilah dia lagi, begitu ketemu muka, tanggung pedangnya bisa kau rampas"

Mendengar perkataan itu, Ong It sin menjadi sangat gembira, serunya dengan wajah berseri.

"Kenapa kau tidak memberi pelajaran beberapa jurus lebih banyak? Akan kugunduli pula batok kepalanya"

"Bukannya hal ini tak mungkin bisa terjadi, tapi sulit. Aku rasa lebih baik kau rampas dulu senjatanya. Nah, perhatikan baik baik, akan kuterangkan kunci rahasia dari jurus ini"

Setelah menarik napas panjang, manusia aneh itu mulai memberi keterangan.

"Jurus ini bernama Liong seng kiu cu (naga melahirkan sembilan anak), dalam satu jurus semuanya terdapat sembilan perubahan, begitu serangan dilancarkan maka kemanapun musuh akan berkelit, senjatanya pasti akan kena dirampas dari antara kesembilan perubahan itu, jika ia berkelit kekiri maka kau musti begini, jika dia kekanan kau musti begitu, bila ia melompat keatas... bila melompat kebawah... bila mundur kebelakang... bila maju kedepan..."

Sambil memberi keterangan dengan gerakan yang amat pelan manusia aneh itu memberikan contohnya dihadapan Ong It sin.

Pada mulanya Ong It sin masih memperhatikan dengan seksama, tapi lama kelamaan ia merasakan matanya mulai berkunang kunang dan kepalanya pusing tujuh keliling.

Setelah melakukan kesembilan gerakan itu manusia aneh tersebut baru menghentkan permainannya, lalu bertanya.

"Kau sudah melihat dengan jelas?"

Ong It sin hanya melototkan sepasang matanya bulat bulat, untuk sesaat ia tak sanggup mengucapkan sepatah katapun.

"Oooh... rupanya kau belum jelas? Baiklah, akan kuulangi sekali lagi..."

Kata manusia aneh itu.

Ketika dia mengulangi kembali permainan tersebut, Ong It sin merasakan matanya semakin berkunang kunang.

Lima kali sudah manusia aneh itu mengulangi gerakan yang sama, tapi jangankan keseluruhannya, satu gerakan pun Ong It sin tak berhasil mengingatnya secara baik.

Tapi manusia aneh itu belum putus asa, hiburnya dengan cepat.

"Jurus serangan ini memang amat sukar untuk dipelajari, kau tak boleh cepat putus asa, pelajarilah dengan seksama"

Akan tetapi, ketika manusia aneh itu sudah mengulangi untuk ke dua puluh kalinya sementara Ong It sin masih melotot belaka dengan wajah kebingungan, manusia aneh itu baru menghela napas panjang.

"Aaai...! Saudara bodoh, belum pernah aku menjumpai manusia setolol kau, tampaknya kau tak akan berhasil mempelajari jurus serangan ini."

Bahkan Ong It sin sendiri pun merasa kurang enak hati, dengan tersipu sipu ia tertawa, kemudian ujarnya.

"Sebetulnya jurus serangan itu memang terlampau sukar untuk dipelajarinya, apakah kau punya jurus serangan lain yang lebih gampang?"

Manusia aneh itu gelengkan kepalanya berulang kali.

"Musuh yang kau hadapi adalah Ih lwee sangjin mana ada jurus sederhana yang bisa digunakan? Susah, susah... hal ini susah sekali"

Setelah berpikir sejenak tiba tiba ia berseru.

"Aaah, ada! Begini saja, begitu berjumpa dengan Ih lwee sangjin, kau lantas berkata begini, jangan bertarung lain. Ingat bukan kata kata tersebut?"

"Tentu saja ingat!"

"Nah waktu itu dia pasti bilang jangan, jangan bertarung lagi, tapi kau tak usah menggubris perkataannya, begitu selesai berbicara segera cengkeramlah pedangnya dengan kelima jari tanganmu, jari jari tanganmu dilindungi sarung tangan, pedangnya tak akan melukaimu, maka begitu berhasil mencengkeram pedangnya kau lantas berjumpalitan ke belakang"

"Kenapa musti berjumpalitan?"

Tanya Ong It sin dengan mata terbelalak lebar.

"Meminjam tenaga dengan kau berjumpalitan ini maka jika ia kurang berhati hati, pedangnya pasti kau akan rampas. Sebaliknya bila kau gagal merampas pedangnya maka musti cepat cepat lepas tangan dan berjumpalitan ke belakang untuk melarikan diri"

"Hal ini mana boleh kulakukan? bukan saja aku hendak merampas pedangnya lagi pula hendak membunuhnya untuk membalaskan dendam bagi kematian ayahku kalau cuma mengajarkan cara berjumpalitan belaka, mana mungkin... mana mungkin aku bisa membalaskan dendam bagi kematian ayahku."

Manusia aneh itu segera tertawa getir.

"Saudara bodoh, bukannya aku menghilangkan harapanmu, aku rasa kesempatan bagimu untuk membalaskan dendam bagi kematian ayahmu sudah tiada lagi, kuanjurkan kepadamu lebih baik buang saja pikiran itu jauh jauh dan tak perlu direnungkan kembali"

Mendengar perkataan itu, tiba tiba saja Ong It sin merasa amat sedih sekali, hingga tak bisa dihindari lagi menangislah dia tersedu sedu.

Makin menangis suara tangisannya semakin menyedihkan hati, malahan dia mulai berkaok kaok sambil menjerit jerit, walaupun berulang kali simanusia aneh itu menyuruhnya jangan menangis tapi ia tak ambil peduli.

Akhirnya karena kesal, manusia aneh itu membentak sekeras kerasnya, karena saking kagetnya pemuda itu sampai melompat bangun, maka diapun berhenti menangis.

"Goblok manusia yang tak ada gunanya!"

Kontan manusia aneh itu mencaci maki kalang kabut.

"Kalau aku tak berguna, maka kau adalah kakak angkatnya manusia tak berguna, apa baiknya buatmu?"

Bantah Ong It sin sambil menahan sesenggukannya.

"Yaa ampun anggap saja delapan belas turunanku lagi sial, lantaran bangga bisa ketemu denganmu, tak tahunya sudah mengikat tali persaudaraan dengan seorang adik angkat yang ajaib seperti kau!"

Seandainya manusia aneh itu hanya memakinya sebagai goblok, tak berguna sekalipun Ong It sin enggan disebut demikian, mungkin ia tidak seberapa marah, akan tetapi setelah mendengar perkataan yang terakhir itu ia benar benar menjadi sedih dan marah.

Dengan suara keras segera teriaknya.

"Kau... kau tak mau mengakui aku sebagai adik angkatmu lagi? baik, baik akupun tak sudi mengenakan sarung tanganmu ini lagi!"

Sambil menarik muka dia ingin melepaskan sarung tangan mustika itu dengan paksa.

"Sudah sudahlah, buat apa musti angot seperti kerbau dungu?"

Hibur manusia aneh itu kemudian.

"kalau kau berani ribut ribut lagi, kuhajar dirimu nanti"

Makin diperlakukan secara begini, Ong It sin merasa semakin sedih, sehingga ia kembali menangis tersedu sedu.

"Cukup! Cukup! Jangan menangis lagi"

Teriak manusia aneh itu cepat cepat "jangan ribut, hayo kita bersama sama mengetahui jagoan dari Tiong lam pay itu!"

Setelah mendengar janji itu, Ong It sin baru menghentikan isak tangisnya dan segera tertawa.

Si anak muda itu betul betul merasa sangat gembira, walaupun air matanya masih membasahi mata dan pipi ia sempat juga tertawa lebar.

"Hayo kita berangkat sekarang saja,"

Ajaknya.

"Oooh... tidak jauh, tidak terlalu jauh, cuma jelas sebentar saja kita akan sampai disitu"

"Baiklah, aku akan berangkat bersamamu kesitu, tapi ada satu hal musti kubicarakan lebih dulu aku tidak percaya kalau ayahmu mati ditangan orang orang Tiang lam pay maka setelah berada dihadapan ketiga orang jagoan Tiang lam pay nanti, segala sesuatunya harus menuruti perkataanku, aku melarang untuk mencari gara gara lagi, mengerti?"

"Tapi mana mungkin aku bisa mencari gara gara?"

Bantah Ong It sin sambil meraba kepalanya yang botak dan tertawa getir.

"Baik kalau begitu mari kita berangkat!"

Maka berangkatlah kedua orang itu melanjutkan perjalanannya menuju ke depan.

Gerakan tubuh yang dimiliki manusia aneh itu sungguh enteng dan gesit, sekalipun ia maju ke depan dengan selangkah demi selangkah, ternyata kecepatannya luar biasa sekali, sehingga walaupun Ong It sin mempunyai tenaga dalam yang cukup sempurna saat ini toh dibikin ketinggalan juga hingga napasnya tersengkal sengkal.

Dengan kecepatan mereka, tak lama kemudian terdengarlah suara pertarungan seru yang sedang berlangsung didepan sana, manusia aneh itu segera mempercepat gerakan tubuhnya untuk menerjang ke depan.

Sebetulnya Ong It sin sudah kepayahan dan harus mengejar dengan susah payah, bahkan nyaris ketinggalan jauh maka dengan dipercepatnya gerak lari manusia aneh itu sekarang, ia menjadi ketinggalan sendirian dibelakang, makin lama jaraknya makin jauh dan akhrinya bayangan orang itu tidak nampak lagi.

Sesaat kemudian, suara pertarungan yang sedang berlangsung didepan sanapun ikut terhenti, kini suasana menjadi hening dan sepi.

Ong It sin tak tahu apa yang telah terjadi didepan sana, buru buru ia mempercepat pula larinya menyusul kedepan.

Tak sampai setengah li kemudian, ia sudah dapat menyaksikan keadaan didepan situ.

Empat belas orang siluman dari tujuh selat masih berada disitu, dua orang diantaranya tampak terluka, sedangkan tiga jago lihay dari Tiong lam pay dengan punggung menempel punggung berdiri ditengah arena, pedang mereka masih terhunus, tapi wajahnya tampak sangat mengenaskan.

Waktu itu meskipun Ih Hui dan Liok Lui tidak terluka, pakaian yang mereka kenakan tampak koyak-koyak hingga membuat keadaan mereka semakin mengenaskan.

Hal ini membuktikan bahwa pertarungan yang barusan berlangsung sungguh amat seru sekali, hal mana membuat dua orang diantara empat belas siluman dari tujuh selat menderita luka luka sedangkan tiga jago dari Tiong lam pay pun kepayahan.

Waktu itu, manusia aneh tadi sedang berdiri dihadapan tiga orang jago dari Tiong lam pay, sedangkan keempat belas siluman dari tujuh selat telah mundur sejauh dua kaki dari situ, sorot mata semua orang sama sama tertuju pada manusia aneh tersebut dan wajah merekapun diliputi rasa kaget dan seram.

Dengan sikap yang santai, seakan akan tak pernah terjadi sesuatu apapun manusia aneh itu berdiri manggut manggut ditengah arena lalu bergumam seorang diri.

"Bagus bagus, setelah ketemu aku lantas tak jadi bertarung, itu tandanya kalau kalian masih memberi muka kepadaku. Nah, kalian belasan manusia siluman boleh segera enyah dari sini"

Empat belas siluman dari tujuh selat adalah jago jago lihay yang berilmu tinggi, gabungan mereka boleh dibilang merupakan satu kelompok kekuatan yang disegani orang, bahkan dalam kalangan dunia sesat terhitung momok yang disegani orang.

Akan tetapi dihadapan manusia aneh tersebut, ternyata mereka berempat belas menjadi seakan akan sama sekali tak ada harganya, malahan oleh manusia aneh itu mereka disuruh segera "enyah"

Dari situ.

Begitu mendengar seruan tersebut, Ong It sin segera menduga bahwa keadaan bakal runyam, dia cepat pasang gaya dan siap siap menghadapi musuh pertarungan.

Tapi kenyataannya, keempat belas siluman dari tujuh selat itu tak banyak bertingkah, bukan saja mereka tidak menunjukkan siapa melawan, bahkan sambil bersama sama memberi hormat kepada manusia aneh itu katanya.

"Bila saudara memang menghendaki demikian, kami semua tak akan berani membangkang..."

Tanpa banyak bicara lagi, mereka segera menarik diri dan mengundurkan diri sejauh belasan kaki dari tempat semula.

Sesudah empat belas siluman itu mundur simanusia aneh tersebut baru memutar badannya sambil menuding ke arah Ong It sin kemudian katanya kembali.

"Saudara bertiga, apakah ayah bocah ini telah tewas ditangan kalian semua?"

Hoa hoa siancu Liok Lui paling berangasan jadi orang, apalagi ayah Ong It sin memang mempunyai hubungan yang rumit dengannya, maka begitu mendengar pertanyaan tersebut, walaupun sadar bahwa musuhnya lihay, ia toh berteriak juga dengan kasar.

"Apa urusannya hal ini dengan anda?"

Manusia aneh tersebut segera tertawa terbahak bahak.

"Haaahh... haaahh... haaahh... sebenarnya aku paling enggan untuk mencampuri urusan orang lain tapi apa mau dikata dia adalah saudara angkatku, maka kematian dari ayahnya berarti pula urusan pribadiku, coba katakan haruskah aku ikut mengurusinya?"

Sehabis mendengar perkataan itu, baik Ih lwee sangjin maupun Liok Lui dan Ih Hui sama sama tertegun dibuatnya.

Sesungguhnya ketika Ong It sin munculkan diri dengan mengenakan sarung tangan aneh tadi mereka sudah mengetahui akan asal usul benda itu maka merekapun segera menanyakan hubungan antara sang pemuda dengan pemilik sarung tangan.

Ketika Ong It sin mengakui dirinya sebagai saudara angkat dari pemilik sarung tangan tersebut, tentu saja ketiga orang jago dari Tiong lam pay ini tak percaya.

Maka dikala manusia aneh tadi munculkan diri baik ketiga orang jago dari Tiong lam pay, maupun empat belas siluman dari tujuh selat segera mengenalinya kembali sebagai jago tangguh yang paling disegani orang dalam dunia persilatan dewasa ini.

Sebab itu pula tanpa membantah, empat belas siluman dari tujuh selat itu segera mengundurkan diri dengan teratur dari sana.

Dan kini, dari mulut si manusia aneh itu sendiri mereka mendengar Ong It sin sudah saudara angkatnya, walaupun masih tercengang, toh mau tak mau mereka harus mempercayainya juga.

Padahal kalau berbicara dari kepandaian silat serta kedudukan si manusia aneh itu dalam dunia persilatan, Ong It sin lebih cocok menjadi cucu muridnya, daripada menjadi saudara angkatnya.

Karenanya buru buru Ih lwee sangjin menyikut tubuh Liok Lui dan memberi tanda kepadanya agar jangan bersuara.

Sesungguhnya Liok Lui sudah tak kuasa menahan diri, dengan wataknya yang berangasan ia sudah bersiap siap untuk mengumbar nafsunya, tapi setelah diberi tanda oleh kakak seperguruannya, terpaksa iapun membatalkan niatnya itu.

Ih lwee sangjin segera maju ke muka, setelah tertawa tergelak iapun berkata.

"Peristiwa ini sungguh merupakan suatu berita aneh dalam dunia persilatan dengan kehebatan ilmu silatmu dan nama besarmu dalam dunia persilatan, ternyata bersedia mengangkat saudara dengan seorang pemuda tolol seperti dia itu"

Manusia aneh itu segera melototkan sepasang matanya, dengan wajah tak senang ia berseru.

"Memangnya kenapa tak boleh orang menyebut saudara karena dia memiliki watak yang sama apalagi kalau orangnya jujur dan tulus, tak suka bicara bohong, kenapa aku tak boleh bersaudara dengan manusia seperti ini? Aaai...! Sesungguhnya saudaraku ini adalah manusia yang paling jujur di dunia ini!"

Oleh perkataan manusia aneh tersebut, Ong It sin menjadi tersipu sipu dibuatnya, selama hidup boleh dibilang belum pernah ada orang yang memuji dirinya seperti ini.

Karena dengan wajah memerah teriaknya "Toako, jangan memuji muji kebaikan orang sendiri, entar ditertawakan orang!"

"Kalau baik yaa baik, siapa yang akan mentertawakan?"

Teriak manusia aneh itu lagi dengan mata melotot.

Karena malu itu Ong It sin pun tidak banyak bicara.

Sekarang Ih lwee sangjin bertiga baru percaya penuh bahwa tua dan muda dua orang ini betul betul merupakan suatu kejadian yang langka dalam dunia persilatan.

Ih lwee sangjin mendehem pelan, setelah itu katanya.

"Tentang kematian ayah Sahabat Ong, Kim to bu tek (golok emas tanpa tandingan) Ong Tang thian diluar perbatasan, sesungguhnya persoalan ini mempunyai liku likunya yang banyak sekali..."

Belum lagi Ih lwere sangjin menyelesaikan kata katanya, Ong It sin telah berteriak keras.

"Toako jangan mau tertipu, apa itu liku liku yang banyak? Mereka sedang bohong... Perempuan bajingan itu sudah mengaku kepadaku dialah pembunuh ayahku!"

XoooOdwOoooox "Nah, nah, kau lagi lagi ribut melulu"

Tegur manusia aneh itu sambil berpaling.

"bukankah sewaktu hendak kemari tadi sudah kuperingatkan kepadamu, memangnya begitu cepat sudah kau lupakan segala sesuatunya...?"

"Tentu saja aku tidak lupa, cuma... cuma ketika ada dibukit Tiong lam san dulu, perempuan bajingan itu memang telah mengaku kepadaku bahwa ayahku mati ditangannya, masa masih ada lika likunya lagi? Aku tidak percaya!"

"Hei, kau ini perempuan bajingan melulu, hayo panggil dia sebagai Hoa hoa siancu locianpwe!"

Merah padam selembar wajah Ong It sin karena jengah, untuk sesaat dia tak sanggup mengucapkan sepatah katapun.

Walaupun dimulut ia tak berbicara apa apa tapi dalam perut dia mencaci maki perempuan bajingan itu tiada hentinya, ini dapat diketahui semua orang dari mimik wajahnya.

Manusia aneh itu pelan pelan memutar badannya, kemudian berseru.

"Hoa Siancu!"

Sekalipun hanya menyebut namanya saja tanpa dilanjutkan dengan kata kata lain, namun semua orang tahu bahwa ia sedang bertanya kepada Liok Lui sekitar apa yang dituduhkan Ong It sin.

Pucat pias selembar wajah Liok Lui, baru saja dia hendak berbicara Ih lwee sangjin telah berkata duluan.

"Ketika sobat Ong menyatroni bukit Tiong lam san tempo hari, Liok sumoay menjadi naik pitam setelah mengetahui dia adalah anaknya Ong Tang thian, maka didalam gusarnya itu ia telah berkata demikian, walaupun begitu tapi..."

"Jangan bicara lagi!"

Tukas manusia aneh itu sebelum Ih lwee sangjin melanjutkan kata ktanya.

"membunuh orang adalah masalah besar, apa sangkut pautnya dengan gusar atau tidak, sekarang jawab saja sejujurnya apakah Ong Tang thian betul betul mati ditangannya?"

Ih lwee sangjin segera tertawa getir.

"Liok sumoay membenci Ong Tang thian bencinya sampai merasuk tulang, tapi diapun mencintai Ong Tang thian, cintanya sampai merasuk tulang, setiap hari setiap waktu dia ingin membunuh Ong Tang thian akan tetapi setelah berjumpa dengan Ong Tang thian"

Mendadak Hoa hoa siancu Lok Lui berteriak keras dengan suara yang melengking.

"Tutup mulut! Siapapun tak boleh berbicara lagi, siapapun tak boleh melanjutkan pembicaraan lagi!"

Jeritannya itu tinggi melengking dan amat menusuk pendengaran, seakan akan sebilah pisau tajam yang menembusi perut orang.

Karena jeritan tersebut, mau tak mau Ih lwee sangjin harus menghentikan kembali ceritanya.

Semua orang mulai termenung, semua orang membungkam, untuk sesaat suasana menjadi hening sekali.

Lebih lebih Ong It sin sendiri, setelah mendengar perkataan dari Ih lwee sangjin itu, ia semakin tak sanggup mengucapkan sepatah katapun, pemuda itu hanya bisa memandang kearah tiga jago lihay dari Tiong lam pay itu termangu mangu...

Lama lama sekali, Ih lwee sangjin baru berkata lagi.

"Setiap umat persilatan didunia mengetahui akan peristiwa ini, apa lagi saudarapun melakukan perjalanan dalam dunia persilatan, mengapa tidak kau selidiki sendiri masalah ini dan membuktikan kebenarannya?"

Dengan wajah serius manusia aneh itu manggut manggut.

"Yaa, itulah sebabnya ketika saudara bego menceritakan hal ini kepadaku, aku lantas mengatakan bahwa mungkin dia salah, karena menurut apa yang diketahui Tiong lam pay mempunyai hubungan yang sangat akrab dengan Ong tayhiap dari luar perbatasan, mana mungkin persahabatan itu bisa diakhiri dengan permusuhan? Aku rasa dalam hal ini saudara bodohpun tidak mengerti"

Sampai disini, Ong It sin merasa pikirannya bertambah kalut dan kacau balau tak karuan.

Hingga kini kau baru tahu kalau Hoa hoa siancu Liok Lui, salah seorang dari empat jago lihay Tiong lam pay ternyata adalah kekasih ayahnya dimasa lalu.

Sekalipun demikian, pemuda itu masih merasa yakin kalau ayahnya telah tewas ditangan Liok Lui.

Maka dengan suara keras dia berteriak.

"Tapi aku toh tidak mengarang cerita sendiri kalau dia yang mengaku sendiri kepadaku bahwa dialah pembunuh ayahku!"

Paras muka Liok Lui berubah makin memucat sekujur tubuhnya gemetar keras, bahkan suaranya pun kedengaran aneh sekali.

"Kalau aku memang berkata demikian, lantas mau apa kau? Dia memang mati ditanganku!"

"Sumoay, kau jangan sembarangan berbicara lagi biarlah aku yang memberi keterangan"

Seru Ih lwee sangjin dengan suara dalam.

Setelah menarik napas panjang, pelan pelan dia pun mulai bercerita "Sewaktu Ong tayhiap dikerubuti musuh tangguh diluar perbatasan tempo dulu, sebelum peristiwa ini terjadi beritanya sudah bocor lebih dulu dan diketahui setiap umat persilatan, akan tetapi berhubung musuh musuh Ong Tayhiap sangat lihay, maka sembilan bulan sebelum terjadinya peristiwa ini semua perguruan telah mendapat peringatan agar jangan mencampuri pertikaian mereka dengan Ong Tayhiap, bahkan sebelum pergi orang itu sempat mendemonstrasikan kepandaiannya yang luar biasa, itulah sebabnya meskipun Ong tayhiap mempunyai banyak teman yang lihay dan mengetahui tempat terjadinya pertarungan itu, bahkan mengetahui juga kalau Ong tayhiap pasti tak akan tahan menghadapi kerubutan orang banyak, namun tak seorangpun mau memberi bantuannya...

Ketika berbicara sampai disini, Ong It sin sudah tak kuasa menahan diri lagi dia langsung mencaci maki kalang kabut "Betul betul bedebah semua tak tahu malu!

Munafik"

Ia tahu, orang yang dimakinya sekarang termasuk juga ayahnya sendiri, sahabat sahabat karib ayahnya semasa masih hidup dulu dan orang orang lainnya yang ternama didunia, tapi ia tak tahan mengendalikan hawa amarahnya maka meluncurlah kata-kata makian tersebut tanpa bisa dicegah lagi.

Dalam pandangannya, persahabatan bukan dibutuhkan dikala sedang senang dan gembira, persahabatan yang sejati justru harus diperlihatkan di kala mereka sedang mengalami kesusahan atau kesulitan.

Tapi ayahnya harus menghadapi mara bahaya seorang diri di kala ia sedang menghadapi kesulitan, padahal dikala jayanya, tak terhitung jumlah sahabat yang dipunyainya, tak heran kalau Ong It sin memaki mereka sebagai manusia-manusia rendah yang tak tahu malu dan munafik.

Ih lwee sangjin menarik napas panjang, lalu berkata.

"Betul, makian dari Sahabat Ong memang tepat sekali, sahabat-Sahabat Ong tayhiap yang mempunyai hubungan akrab dengannya dimasa masa jaya dulu memang sekawanan manusia yang tak tahu malu, ternyata mereka telah menyembunyikan diri dan cuci tangan bersih-bersih disaat sahabatnya menghadapi mara bahaya..."

"Tapi ada satu orang yang justru tidak bersikap demikian, ketika mengetahui akan peristiwa ini, ia segera berangkat ke luar perbatasan dengan melakukan perjalanan siang malam, tanpa mempedulikan keselamatan sendiri ia bersiap siap membantu Ong tayhiap untuk menghadapi musuh-musuh tangguhnya!"

Mendengar sampai disitu, Ong It sin segera berteriak kembali.

"Bagus sekali, siapakah orang ini? Cepat beritahu kepadaku, peduli diujung langit pun dia berada, aku akan segera menjumpainya dan menyembah tiga kali dihadapannya"

Ih lwee sangjin tertawa ewa.

"Orang itu tidak berada diujung langit atau didasar samudra, ia justru berada dihadapanmu sekarang!"

Ong It sin bukan seorang pemuda yang cerdas, otaknya tidak dapat mengolah arti dari ucapan tersebut, untuk sesaat lamanya ia malah berdiri tertegun sambil memandang Ih lwee sangjin tanpa berkedip.

"Orang itu bukan lain justru adalah Liok sumoay ku ini!"

Kata Ih lwee sangjin sepatah demi sepatah kata. Hampir melompat Ong It sin karena kagetnya, sambil menuding kearah Liok Lui serunya.

"Kau... kau maksudkan perempuan bajingan ini?"

Perlu diketahui semenjak menyatroni kebukit Tiong lam san kemudian berulang kali bentrok dengan Liok Lui, si anak muda ini sudah mempunyai kesan yang amat jelek terhadap perempuan itu kalau tak bisa disebut membencinya.

Tapi diapun seorang pemuda yang jujur, dan berjiwa terbuka maka jika dia diharuskan segera mengubah kesannya terhadap seseorang, hal ini tidak gampang ia lakukan.

Sebab itulah sewaktu Ih lwee sangjin menunjukkan bahwa orang yang menyusul ayahnya ke luar perbatasan untuk bersama sama menghadapi musuh yang tangguh ternyata adalah Liok Lui yang dibencinya, ia malah menjadi melongo.

Untuk sesaat lamanya ia tak tahu musti berbicara apa, sambil menuding kearah Liok Lui ia termangu dan berdiri dengan wajah tersipu sipu.

Ih Hui yang berada disampingnya segera menyindir dengan suara yang amat dingin.

"Bukankah barusan kau bilang, walaupun orang itu berada diujung langit atau dasar lautan, kau akan menjumpainya untuk menyembah tiga kali kepadanya? Sekarang orang itu ada tepat didepan matamu, kenapa tidak segera kau sembah dirinya?"

Merah padam selembar wajah Ong It sin karena jengah.

"Dia... dia... siapa tahu kalau dia menyusul keluar perbatasan untuk membunuh ayahku..."

Padahal diapun tahu kalau hal ini tak mungkin terjadi, sebab itulah dia mengucapkan kata kata tersebut dengan terbata bata. Dengan suara dalam Ih lwee sangjin berkata lagi.

"Sahabat Ong, pada waktu itu sumoayku berangkat ke luar perbatasan dengan mempertaruhkan jiwa raganya, dengan tuduhan yang kau lontarkan sekarang, bukankah hal ini sama halnya dengan kau menilai orang dengan jalan pikiran seorang licik?"

Merah padam selembar wajah Ong It sin karena jengah, untuk sesaat lamanya ia tak sanggup mengucapkan sepatah katapun.

Liok Lui hanya berdiri kaku sambil memandang ke tempat kejauhan, lama, lama, sekali ia baru menghela napas panjang dengan sedihnya, lalu menundukkan kepalanya rendah rendah.

Terdengar Ih lwee Sangjin berkata lebih lanjut.

"Ketika Liok sumoay berangkat ke luar perbatasan, ia sama sekali tidak menyampaikan rencananya itu kepada kami, menunggu kami mengetahui kalau dia sudah tak ada di bukit Tiong lam san lagi, kamipun tak tahu dia telah kemana. Sampai akhirnya ketika ada orang yang mengabarkan kepada kami kalau berjumpa dengan Liok Lui di jalan raya menuju ke utara, kami baru teringat akan hubungan istimewanya dengan Ong tayhiap, itu berarti ia telah berangkat untuk memberi pertolongan. Maka tanpa pikir panjang kamipun berangkat ke utara untuk menyusulnya, tapi baru tiba disekitar kota Tiang shia sudah kudengar akan berita kematian Ong tayhiap..."

Ketika mengucapkan kata kata tersebut, tampak jelas betapa sedihnya Ih lwee Sangjin, jangankan dia, bahkan orang lain yang ikut mendengarkan kisah inipun ikut merasakan suatu beban berat yang seraya menindih di atas dada.

Ong It sin tak dapat mengendalikan lagi rasa sedihnya, air mata jatuh bercucuran membasahi pipinya.

Setelah berhenti sebentar, Ih lwee Sangjin melanjutkan kembali kata katanya.

"Keesokan harinya kami berhasil menemukan Liok sumoay pulang dari perbatasan, wajahnya layu dan diliputi kesedihan, ketika kami bertanya kepadanya siapakah musuh Ong tayhiap? Apakah dia bersama sama Ong tayhiap melakukan perlawanan? Liok sumoay tidak berkata apa apa, dia hanya berbisik terus menerus, ia sudah mati... ia sudah mati..."

Ketika bercerita sampai disini, paras mukanya telah berubah menjadi pucat pias seperti mayat. Liok Lui yang selama ini tak bersuara, tiba tiba ikut pula bergumam dengan lirih.

"Yaa, dia telah mati... dia... dia telah mati..."

Suara Liok Lui yang kosong dan hampa itu sungguh mendirikan bulu roma bagi siapapun yang mendengar, tanpa terasa semua orang bergidik dan bersin beberapa kali, sinar mata merekapun bersama sama dialihkan ke bawah perempuan tersebut.

Tapi Liok Lui hanya mengucapkan kata kata itu belaka, kemudian ia membungkam kembali dan berdiri kaku seperti patung.

Ih lwee Sangjin memandang sekejap ke arahnya lalu dengan gelengkan kepalanya berulang kali, katanya.

"Ketika kuajukan pelbagai pertanyaan sekitar peristiwa diluar perbatasan, sepatah katapun ia tak menjawab, bahkan sampai sekarangpun ia tak pernah bercerita kepada kami, sebab itu apa yang dialaminya selama berada diluar perbatasan tak diketahui oleh siapapun, sekalipun demikian kami yakin bahwa kata katanya yang mengatakan bahwa ia telah membunuh Ong tayhiap hanya kata kata karena mendongkol, sebab kami sudah lama bersaudara, kami cukup memahami wataknya itu"

"Apakah... apakah kata kata semacam inipun boleh dianggap sebagai permainan?"

Berbicara sampai disitu, mendadak terdengar Liok Lui berteriak keras.

"Tahan!"

Kata-kata itu dapat didengar setiap orang dengan jelas tapi tak seorangpun yang mengerti kenapa ia berkata demikian, sebab waktu itu semua orang hanya berdiri mematung, tak seorangpun yang sedang berkelahi.

Kalau memang tiada orang yang bertarung kenapa pula ia meneriakkan kata "Tahan"?

Siapa yang disuruh berhenti dari pertarungan?

Agaknya setelah mengucapkan kata kata tersebut, Liok Lui pun merasakan kekeliruannya, ia tampak bergetar keras, lalu seperti baru sadar dari impian, ia memandang sekejap kearah semua orang kemudian membungkam diri dalam seribu bahasa.

"Sumoay, sebenarnya apa yang sedang kau pikirkan?"

Tanya Ih lwee sangjin kemudian dengan lembut. Sepucat mayat paras muka Liok Lui, setelah menghela napas panjang katanya.

"Aku... aku... barusan, aku seperti terbayang kembali kejadian dimasa lampau ketika diluar perbatasan... ditengah tanah bersalju..."

Dengan mulut membungkam Ih lwee sangjin manggut manggut. Sedangkan Ih Hui segera berkata.

"Selama ini, kau tak pernah menceritakan keadaan yang sesungguhnya kepada kami, mumpung hari ini ada Sahabat Ong hadir di sini, kenapa tidak kau ceritakan keadaan tersebut sejelas-jelasnya agar diapun mengetahui duduk perkara yang sebenarnya?"

Liok Lui sama sekali tidak menengok ke arah Ong It sin, ia hanya mendongakkan kepalanya memandang keangkasa. Awan bergerak pelan pelan terhembus angin, lewat sekian lama kemudian ia baru berkata.

"Waktu itu, setelah aku mendapat kabar siang malam tanpa berhenti aku menyusul ke luar perbatasan, seperti apa yang dikatakan ciangbun suheng tadi, walaupun aku membencinya, tapi aku... akupun amat merindukan dirinya..."

Ketika berbicara sampai disini, tanpa terasa lagi ia tertawa getir. Beberapa orang itu cuma membungkam sambil mendengarkan cerita selanjutnya. Kembali Liok Lui berkisah.

"Walaupun aku melakukan perjalanan siang malam tak berhenti, tapi ketika sampai ditempat tujuan ternyata sudah terlambat, mereka sudah mulai bertarung. Ketika itu salju turun dengan derasnya, musuhnya ada lima orang dan memakai kain cadar semua aku tak tahu siapa saja mereka itu, aku hanya melihat Tang thian dengan golok emasnya tapi mengikuti perputaran tubuhnya itu, darah segar menetes keluar setetes demi setetes membasahi permukaan salju keadaannya sungguh mengerikan..."

Berbicara sampai disitu Liok Lui menarik napas panjang panjang dan berhenti bercerita.

Ong It sin dengan peraasan terkejut bercampur terkesiap membelalakkan matanya lebar lebar dengan mulut melongo, katanya.

"Apakah... apakah dia terluka?"

"Yaa, dia terluka!"

Jawab Liok Lui. Setelah memandang sekejap kearah Ong It sin, ia berkata lebih jauh.

"Akupun segera berteriak. Tahan! Tahan! Tapi tak seorangpun menggubris teriakanku seorang manusia berkerudung menghampiriku dan segera bertarung denganku, sebaliknya empat orang lainnya mengerubuti Tang thian rapat rapat, setiap pukulan mereka selalu bersarang dibagian tubuhnya yang mematikan, aku ingin membantunya tapi selalu dikurung oleh musuhku itu hingga tak sanggup mendekatinya. Dalam pertarungan akupun sering mendengar mereka berteriak teriak keras dan menitahkan Tang thian agar menyerahkan kotak kepada mereka!"

Ketika Liok Lui bercerita sampai disitu satu ingatan tiba tiba melintas dalam hati Ong It sin.

Sebuah kotak?

Ia lantas teringat dengan kotak peninggalan ayahnya, dia masih ingat, kotak itu kini berada ditangan Be Siau soh.

Liok Lui bercerita lebih jauh.

"Tang thian tidak menjawab teriakan mereka, dia hanya melakukan perlawanan terus dengan gigih sementara salju turun makin besar. Sudah berapa ratus jurus aku bertarung melawan musuh itu, tiba tiba terdengar suara pekikan nyaring berkumandang diangkasa, tiba tiba orang yang bertarung melawanku itu menyusut ke belakang dan kabur dari hadapanku. Hal ini membuat diriku tertegun, ketika kuamati lagi kedepan, ternyata kelima orang manusia bercadar itupun sudah lenyap semua, ditengah hujan salju yang deras, kusaksikan golok emas milik Tang thian tergeletak di atas permukaan salju, orangnya mendekam ditepi golok emas tersebut, tubuhnya penuh dengan luka besar, darah telah mempelopoti seluruh badannya dia..."Yaa, waktu itu ia masih bisa bernapas walau lirih sekali. Ketika kubangunkan dirinya, ia hanya menengokku sekejap, agaknya seperti hendak mengucapkan sesuatu, tapi tak sepatah katapun berhasil ia ucapkan, tahu tahu ia telah mati, mati dalam pelukanku..."

Paras muka Liok Lui bertambah pucat kulit mukanya mengejang keras, ucapannya pun kian lama kian bertambah pelan dan lirih... Lewat lama sekali, ia baru melanjutkan kembali kata katanya.

"Pelan pelan kubaringkan tubuhnya diatas permukaan salju, aku tak tahu siapakah lima orang musuh besarnya yang berkerudung itu, tapi kutemukan sejumlah jurus Hong wi siam diatas salju, selama banyak tahun ini diam diam kuselidiki terus kejadian ini, apa mau dikata justru pada saat itulah bocah bodoh ini mendatangi Tiong lam san dan menuduh kami sebagai musuh besar pembunuh ayahnya..."

Dengan wajah gugup dan terkesiap, Ong It sin memandang wajah Liok Lui dengan mata terbelalak untuk sesaat lamanya ia tak tahu apa yang musti diucapkan.

"Ooh... kiranya begitu"

Ucap Ih lwee sangjin.

"kalau begitu salah satu diantara musuh musuh besarnya adalah Kelabang beracun Be Sam nio...?"

Boleh dibilang demikian tapi semenjak peristiwa itu, belum pernah kujumpai akan kemunculan diri Kelabang beracun Be Sam nio lagi.

Kelabang beracun Be Sam nio memang manusia berhati busuk yang sanggup melakukan perbuatan apapun, tak bisa diragukan lagi, dia pasti bersangkut pula dalam peristiwa ini.

Sementara beberapa orang itu membicarakan soal apakah Kelabang beracun Be sam nio terlibat dalam peristiwa itu atau tidak, Ong It sin yang berada disamping telah menunjukkan perubahan sikap yang aneh sekali, karena dia tahu orang yang sedang dibicarakan sekarang tak lain adalah ibu kandung dari Be siau soh yang diimpikan setiap hari.

Oleh karena itu, ia hanya merasakan pendengarannya mendengung keras, apa yang selanjutnya dikatakan orang orang itu hampir tak terdengar sama sekali olehnya.

Lewat beberapa saat kemudian, ia baru merasa bahunya ditepuk orang, ketika ia mendongakkan kepalanya, maka diketahui orang itu adalah manusia aneh tersebut.

Terdengar manusia aneh itu sedang berkata.

"Sekarang tentunya kau sudah mengerti bukan akan hubunganmu dengan pihak Tiong lam pay?"

"Yaa, yaa, aku sudah mengerti!"

Jawab Ong It sin sambil meraba kepalanya yang botak tertawa getir. Manusia aneh itu segera melotot.

"Apakah ucapan yang telah kau sumbarkan tadi masih berlaku?"

Tegurnya cepat.

"Yaa, tentu saja! Aku pasti menyembah kepadanya..."

Selesai berkata pemuda itu lantas menjatuhkan diri dihadapan Liok Lui dan menyembahnya tiga kali.

Liok Lui sama sekali tak membalas hormat itu diapun tidak membangunkan dirinya, hanya sambil menghela napas ujarnya.

"Sudahlah, sudahlah..."

Ong It sin pun pelan pelan bangkit berdiri.

"Kalau begitu mari kita pergi dari sini!"

Ajak manusia aneh itu kemudian.

Ong It sin berpaling, dilihatnya empat belas siluman dari tujuh selat itu masih berdiri ditempat kejauhan sambil mengawasi mereka dengan mata tajam.

Malihat itu Ong It sin segera berseru.

"Jika kita pergi dan mereka sampai berkelahi lagi, lantas bagaimana baiknya?"

Manusia aneh itu segera bertepuk tangan, lalu tertawa terbahak bahak, katanya "Kalau mereka hendak berkelahi, biarkan saja mereka berkelahi, sedari kapan dunia persilatan berhenti dari suatu perkelahian"

"Tapi merekba kan cuma bertiga, mana mungkin bisa menangkan jumlah yang lebih banyak?"

"Aaah... kamu ini, usianya masih muda, omongnya tak habis habis mengerocos terus, kalau ada pertarungan tentu ada menang kalahnya, buat apa kau musti ambil peduli?"

Kata si manusia aneh itu dengan mata melotot.

Dalam kenyataan, pernyaqtaan tersebut memang cukup masuk diakal, tapi dasar bodoh Ong It sin justru mempunyai jalan pemikiran sendiri.

Dengan mata melotot pula teriaknya "Kalau sampai Tiong lam pay yang kalah masakah kau tak akan peduli?"

"Goblok busuk, tentu saja aku tak akan turut campur"

Damprat manusia aneh itu.

"aku dengan mereka toh tiada hubungan sanak saudara, sekalipun pihak Tiong lam pay memang juga tak ada manfaatnya buatku, kenapa aku musti turut campur?"

Ong It sin menjadi tertegun dan tak sanggup menjawab lagi, setelah tertegun sesaat ia baru berkata.

"Kalau begitu kau boleh pergi sendiri, aku mah tak akan pergi, tempo hari sewaktu ayahku mendapat kesusahan, pihak Tiong lam pay sudah memberi pertolongan, maka sekarangpun aku harus menolong mereka.

"Cisss, apa gunanya kau seorang?"

Ejek orang itu. Orang bodoh ternyata mempunyai jalan pemikiran yang bodoh pula sambil tertawa lebar Ong It sin segera berkata.

"Kalau aku tetap berada disini kau sebagai toako ku tentu saja tak akan pergi sendirian, bukankah begitu?" =----d0w----=

Jilid 16 MANUSIA aneh itu menjadi tertegun, kemudian serunya sambil tertawa.

"Bagus sekali, setengah juruspun tak sanggup kau pelajari selama sebulan, sekarang kau berani mempunyai ingatan jahat kepadaku, baiklah, anggap saja aku sudah terjebak oleh akal busukmu..."

Sambil berkata ia lantas menggape tangannya ke arah empat belas siluman dari tujuh selat itu, serunya.

"Hey, kalian semua kemarilah!"

Sungguh cepat gerakan orang orang itu, baru selesai manusia aneh itu berkata, empat belas sosok bayangan manusia telah berkelebat ke muka dan tiba dihadapan manusia aneh itu, tampaknya mereka memang sengaja hendak mendemonstrasikan kepandaian mereka Setelah empat belas orang itu berada dihadapannya, manusia aneh tersebut baru berkata.

"Tiga jago dari Tiong lam san ini masih ada urusan penting, agaknya kurang baik jika kalian menghalangi jalan perginya. Aku rasa lebih baik perhitungan kalian dilakukan lagi sekembalinya mereka ke Zuchuan nanti"

Ketika mendengar perkataan itu, walaupun keempat belas siluman tersebut tidak menyatakan keberatan ternyata tak seorangpun diantara mereka yang bersuara.

Ketika tidak mendengar jawaban dari mereka, manusia aneh itu segera tertawa terbahak bahak.

"Haaahh... haaahh... haaahh... rupanya kalian enggan mendengar perkataanku? Baiklah sebetulnya aku enggan pula mencampuri urusan ini, tapi lantaran ada orang yang tak mau memberi muka kepadaku, lebih baik bersiap siaplah kalian untuk menghadapi diriku!"

Selesai berkata, tidak tampak gerakan apa yang dilakukan, tahu tahu dia hanya membungkukkan badan dan..."Criiing! Criiing!"

Sebilah pedang dan sebilah tombak berantai telah beralih ketangannya.

Kemudian tanpa berbicara banyak, kedua macam senjata itu dibuangnya ke belakang.

Empat belas siluman dari tujuh selat itu menjadi amat terperanjat, masing masing segera mengayunkan senjatanya untuk melakukan perlawanan.

Mendadak terdengar manusia aneh itu berteriak keras, sepasang tangannya bergerak kesana kemari, setiap kali manusia manusia dari tujuh selat itu terbentur olehnya, senjata mereka segera berpindah tangan dan terbuang kebelakang.

Dalam waktu singkat, empat belas macam senjata telah dirampas semua olehnya, empat belas siluman dari tujuh selat pun berdiri termangu ditempat, dengan tangan kosong.

Paras muka keempat belas orang itu segera berubah hebat, tapi mereka tak berani banyak berkutik.

Sambil bertepuk tangan manusia aneh itu berkata lagi.

"Suruh kalian jangan berkelahi, kalian tak mau, sekarang kusuruh kalian berkelahi disini, senjata kalian malah diberikan kepadaku... yaaa, tampaknya kalian memang susah juga diatur!"

Empat belas siluman dari tujuh selat itu hanya saling berpandangan dengan muka tertegun, akhirnya salah seorang diantaranya memberi hormat kepada manusia aneh itu.

"Kepandaian anda didalam merampas senjata kami dengan tangan kosong sungguh mengagumkan sekali, baiklah! Kami semua akan menuruti perintah anda..."

"Bagus sekali, kalau memang dimikian, akupun enggan menyimpan senjata rongsokan kalian itu, bawa pulang benda benda itu dan jangan membikin urusan lagi di wilayah Zuchuan, mengerti?"

Empat belas siluman itu tidak berbicara lagi, masing masing mengambil kembali senjatanya dan segera kabur dari situ.

Menanti bayangan tubuh mereka semua sudah lenyap dari pandangan, Ih lwee sangjin baru memberi hormat kepada Ong It sin dan manusia aneh itu sambil berkata.

"Terima kasih banyak atas bantuan kalian berdua untuk membebaskan kami dari kurungan, ilmu silat keempat belas orang itu cukup lihay, kalau pertarungan dilanjutkan memang lebih banyak jeleknya buat kami dari pada keuntungan!"

Selesai berkata mereka bertiga pun mohon diri dari sana.

Ilmu meringankan tubuh dari ketiga orang inipun cukup cepat, dalam sekejap mata mereka sudah pergi jauh sekali.

Sambil memandang bayangan tubuh mereka bertiga yang makin menjauh, Ong It sin menghela napas panjang, kemudian gumamnya.

"Aku pikir dendamku bisa segera terbalas, tak tahunya makin lama makin membingungkan, sekarang aku malah tak tahu siapakah musuh besarku yang sebenarnya!"

"Kenapa makin lama makin membingungkan? Aku lihat, salah seorang diantara mereka sudah pasti Kelabang beracun Be Sam nio!"

Ong It sin justru paling tak suka mendengar perkataan yang terakhir itu, maka ia cuma menundukkan kepalanya belaka tanpa menjawab.

Tiba tiba manusia aneh itu membentak keras, Ong It sin yang sedang melamun sama sekali tak menduga sampai kesitu, ia menjadi terperanjat hingga melompat bangun.

"Ada apa? Ada apa...?"

Serunya buru buru.

"Ada apa?"

Seru manusia aneh itu dengan gusar.

"sebetulnya kau sedang memperhatikan perkataanku tidak? Sebenarnya kau ingin membalas dendam bagi kematian ayahmu atau tidak?"

"Tentu saja ingin!"

Jawab Ong It sin dengan cepat.

"Nah itulah dia, beberapa kali kukatakan kepadamu bahwa salah seorang musuh besar pembunuh ayahmu adalah Kelabang beracun Be Sam nio, kenapa kau tidak menggubris perkataanku dan berpura pura tidak mendengar?"

Ong It sin segera tertawa getir.

"Aku... aku pikir... hal ini, hal ini belum tentu benar!"

Sahutnya tergagap.

Manusia aneh itu semakin gusar, tangannya segera diayun siap menggaplok sang pemuda yang goblok itu, tapi kenyataannya ia cuma menggetarkan saja dan tidak melanjutkan ayunan tangannya itu.

"Kalau Kelabang beracun bukan musuh besar pembunuh ayahmu, lantas Kelabang beracun itu apamu?"

Teriaknya.

Sesungguhnya Ong It sin memang sudah tak sanggup berbicara lagi, apalagi setelah mendengar perkataan si manusia aneh itu, dia semakin terbelalak hingga tak mampu mengucapkan sepatah katapun.

Tiba tiba manusia aneh itu tertawa dingin.

"Ooh... mengerti sudah aku sekarang!"

Serunya kemudian. Mendengar ucapan tersebut, paras muka Ong It sin yang jelek itu kontan berubah menjadi merah padam.

"Apa... apa yang kau pahami?"

Serunya tergagap. Setajam sembilu sorot mata manusia aneh itu menatap wajah Ong It sin, sesaat kemudian katanya sepatah demi sepatah kata.

"Kalau kau tidak mempunyai sesuatu pikiran yang nyeleweng, kenapa hanya kusinggung sepatah kata saja, maka mukamu menjadi merah padam?"

Mendengar perkataan itu, Ong It sin menundukkan kepalanya makin rendah, ia terbungkam dalam seribu bahasa dan tak sanggup mengucapkan sepatah katapun.

Manusia aneh itu tertawa dingin tiada hentinya, padahal ia sendiripun tak tahu rahasia hati apakah yang terkandung dihati anak muda itu, namun dia yakin kalau hal ini pasti ada sebabnya.

Selain itu dia juga yakin bahwa Ong It sin yang jujur pasti akan mengaku terus terang bila didesak olehnya.

Oleh sebab itu, dengan suara keras ia lantas membentak.

"Hayo jawabm kenapa kau mati matian membela si Kelabang beracun Be Sam nio dan berusaha mencuci bersih dirinya dari peristiwa ini? Apakah kau sudah melupakan dendam berdarah dari ayahmu?"

Ucapan yang tajam dan amat mendesak itu membuat Ong It sin menjadi gelagapan dan ketakutan setengah mati, buru buru ia menggoyangkan tangannya berulang kali.

"Bukan, bukan begitu... aku... aku tak lain hanya dikarenakan hubunganku dengan Be Siau soh..."

"Lanjutkan perkataanmu itu!"

Desak manusia aneh itu lebih lanjut. Dengan tergagap dan wajah memerah seperti kepiting rebus, Ong It sin berkata kembali.

"Aku sangat baik sekali dengan Be Siau soh, kalau ibunya terbukti adalah musuh besar pembunuh ayahku, maka bukankah... bukankah hubunganku dengannya... yaa, apa yang musti kulakukan setelah berjumpa lagi dengannya nanti?"

Manusia aneh itu segera tertawa dingin.

"Heeehh... heeehh... heeehh... lucu amat ceritamu itu, kalau bicara yang jelas lagi, coba katakan kalau kau baik kepadanya, bagaimana pula sikapnya kepadamu?"

Ong It sin segera teringat kembali kejadian syahdu dimalam itu, pelan pelan ia menghela napas panjang.

"Aaai...! Tentu saja dia... diapun sangat... sangat baik kepadaku..."

"Yaa, dia tentu saja sangat baik kepadaku!"

Kata manusia aneh itu sambil menirukan nada suaranya kemudian dengan mata melotot dan suara keras ia meneruskan.

"jika ia benar benar baik kepadamu, kenapa ia meninggalkan dirimu sebaliknya malah kabur bersama Sangkoan Bu cing?"

Perkataan dari manusia aneh itu ibaratnya guntur yang membelah bumi disiang hari bolong, seketika itu juga paras mukanya berubah jadi pucat pias seperti mayat, sepasang giginya saling beradu keras, lama sekali ia tak sanggup mengucapkan sepatah katapun.

Manusia aneh itu segera menepuk nepuk bahunya, kemudian menghibur.

"Adik kecil aku lihat kau tak usah berpikir yang bukan bukan lagi, lebih baik berlatih tekun lagi dalam ilmu silat, berusahalah untuk mencari nama dan kedudukan didepan orang banyak"

Ong It sin merasa pikirannya amat kalut, ketika Be Siau soh pergi bersama Sangkoan Bu cing tempo hari ia merasa amat kesal, apa lagi setelah disinggung kembali oleh manusia aneh itu sekarang.

Seandainya dia adalah seorang pintar, maka dengan cepat ia akan menyadari akan duduk persoalan yang sebenarnya, sayang ia tak lebih hanya seorang pemuda yang bodoh Oleh karena itu, rasa sedihnya sekarang ibaratnya ada beribu ribu batang panah yang bersama sama menembusi hatinya, menderitanya bukan kepalang...

Manusia aneh itu masih berusaha untuk menghibur hatinya, tapi entah dari mana datangnya hawa amarah dihati pemuda itu, mendadak Ong It sin berteriak aneh.

"Pergi kau, pergi kau dari sini! Jangan urusi aku lagi, aku segera akan pergi mencarinya dan menanyakan persoalan ini kepadanya"

"Tapi kemanakah kau hendak mencarinya?"

Tanya manusia aneh itu dengna dingin.

"Dibukit pak thian san!"

Jawab Ong It sin dengan wajah berubah menjadi merah padam.

"Baik, akan kutunjukkan jalannya untukmu, dari sini berangkatlah langsung ke utara. Kalau kau menjumpai ada dua buah gunung besar yang dilapisi salju, dakilah gunung itu dan lewatilah, disana kau akan menjumpai selapis tanah bersalju yang luas, jalan terus menyeberangi tanah bersalju itu disana kaupun akan menjumpai sebuah bukit lain yang dilapisi salju tebal itulah bukit Pak thian san.

"Bukankah kau... kau pun suruh aku pergi mencarinya?"

Tanya Ong It sin kemudian setelah termenung sejenak. Agaknya ia merasa menyesal karena barusan telah bersikap kasar kepadanya. ooodooOooowoo Terdengar manusia aneh itu berkata dengan dingin.

"Kau tolol seperti seekor babi, kalau tidak kusuruh kau rasakan ketanggor batu ditangan perempuan cabul itu, kau masih tak tahu kalau dirimu sedang bermimpi disiang hari bolong... Hmm!"

Mendengar perkatan itu hawa amarah kembali berkobar didada Ong It sin, tapi ia tak bisa berkata lain, maka setelah saling berpandangan sekejap dengan orang itu, katanya dengan penuh rasa percaya pada diri sendiri.

"Baik, kita lihat saja hasilnya nanti!"

"Semoga saja setelah kau berjumpa dengan perempuan cabul itu..."

Belum habis manusia aneh itu berkata, Ong It sin telah menukas dengan suara keras.

"Tutup mulutmu! Dia bukan seorang perempuan cabul!"

"Lantas macam apakah perempuan itu?"

Ong It sin menarik napas panjang panjang kemudian sahutnya.

"Dia...? Dia... dia adalah gadis paling baik didunia ini... pada hakekatnya ia bagaikan bidadari yang baru turun dari kahyangan... ia adalah bidadari yang cantik jelita..."

Menyaksikan keadaan Ong It sin yang betul betul dibikin terpesona oleh kecantikan Be Siau soh itu, diam diam manusia aneh tersebut menghela napas panjang.

Walaupun usianya dengan Ong It sin berbeda jauh, ia bersedia angkat saudara dengannya, hal ini dikarenakan ia suka dengan kepolosan dan kejujuran orang, tentu saja ia pun cukup sadar bahwa nasehatnya tak akan berhasil menyadarkan anak muda itu dari impian indahnya.

Iapun cukup tahu, dalam kepergiannya ke bukit Pak thian san, masih mendingan kalau tak sampai bertemu dengan Be Siau soh, tapi begitu bertemu dengan gadis pujaannya dan bila impian indah itu ternyata tercabik cabik entah betapa sedihnya pemuda itu.

Sayang persoalan semacam ini tak mungkin bisa ia atasi dengan kepandaian silat walaupun kepandaiannya amat lihay.

Akhirnya manusia aneh itu hanya bisa menepuk bahu Ong It sin sambil berpesan.

"Sepanjang jalan baik baiklah menjaga diri, jangan suka berkelahi dengan orang, ketahuilah bahwa diantara yang kuat masih ada yang lebih kuat lagi"

Walaupun barusan ia telah ribut dengan manusia aneh itu, tapi terbayang kembali perpisahan yang segera akan berlangsung tak urung Ong It sin merasakan juga hatinya yang amat sedih.

"Aku tahu!"

Katanya sambil pelan pelan mengangguk.

Manusia aneh itupun tidak berbicara lagi tiba tiba ia mengerahkan tenaga dalamnya dan memutar tubuh Ong It sin secara paksa setelah menghadapkannya ke utara, ia mendorong tubuh anak muda itu sehingga bergerak ke depan seraya berkata.

"Nah, sekarang berangkatlah!"

Oleh dorongan itu Ong It sin merasakan tubuhnya seperti melayang diudara, lebih kurang lima kaki kemudian ia baru bisa menghentikan langkahnya ketika ia berpaling kebelakang, ternyata manusia aneh itu sudah lenyap tak berbekas.

Ong It sin pun tidak membuang waktu lagi, ia segera melanjutkan perjalannya menuju kedepan.

Lewat beberapa hari kemudian, dari kejauhan ia saksikan bukit bersalju menjulang tinggi keangkasa, dibawah bukit terbentang sebuah padang rumput yang luas.

Ong It sin tidak menghentikan perjalanannya, ia mendaik bukit itu, menembusi dua bukit dan meneruskan perjalanannya menuju ke utara.

Kini sepanjang perjalanan hanya tampak salju yang membentang keujung langit, ketika angin berhembus lewat, tubuh serasa menggigil karena kedinginan.

Untung saja tenaga dalam yang dimiliki Ong It sin cukup sempurna, coba kalau tidak demikian, sudah sedari dulu dulu ia mati kaku.

Belasan hari kembali sudah lewat...

Suatu hari, udara terasa cerah setelah melakukan perjalanan sekian lama, akhirnya sampailahia didepan sebuah bukit salju yang amat besar.

Menyaksikan salju yang tebal menyelimuti seluruh bukit itu Ong It sin tahu bahwa ia telah tiba dibukit Pek thian san, tanpa terasa jantungnya berdebar lebih keras.

Tiba tiba ia mempercepat langkahnya mendaki ke atas bukit itu, sambil berlarian, teriaknya berulang kali.

"Nona Be... nona Be...!"

Lari...

lari terus...

akhirnya sampailah pemuda itu dikaki bukit, tapi kecuali suara pantulan dilembah bukit itu, tiada jawaban apapun yang terdengar.

Menghadapi suasana yang begitu hening dan sepi tanpa terasa Ong It sin berpikir.

"Heran, kenapa tiada seorang manusiapun yang menyahut? Jangan jangan Be Siau soh sudah pergi dari sini?"

Sambil berkata ia mulai celingukan kesana kemari, tapi dengan cepat pemuda itu tertawa geli sendiri.

Kiranya sebuah bukit yang amat besar terbentang didepan mata, bukit itu panjangnya sampai ribuan li, padahal ia tak tahu kemana Be Siau soh telah pergi dengan sendirinya kalau ia berteriak terus dengan cara begitu, sampai tenggorokannya pecahpun tak berguna.

Setelah mentertawakan kebodohan sendiri Ong It sin kembali merasa bersedih hati, dengan melawan angin, menahan dingin akhirnya sampai juga ia dibukit Pek thian san, tapi ia hanya tahu Be Siau soh menuju ke situ, sesungguhnya dimanakah gadis itu telah pergi?

Haruskah ia mencari jejaknya diatas tanah perbukitan yang begini luasnya?

Ibarat mencari jarum didasar samudra, sampai tuapun belum tentu usahanya itu akan berhasil.

Setelah tertegun sekian lama, akhirnya pemuda itu memutuskan untuk naik ke gunung sambil beradu nasib.

Sayang agaknya ia bernasib kurang mujur, tujuh hari sudah ia berkeliaran diatas bukit itu, tapi jejak Be Siau soh belum juga berhasil ditemukan.

Selama tujuh hari itu, makin berjalan ia semakin tersesat ke dalam bukit, makin berjalan makin jauh, sehingga akhirnya dia sendiripun tak tahu dimanakah ia berada.

Apa yang dilihat disekitar situ hanya bukit salju melulu, ia tidak berteriak teriak lagi, sebab dia tahu sekalipun berteriak sampai tenggorokannya pecah, kecuali suara pantulan tiada jawaban yang akan diterimanya.

Suatu senja, duduklah Ong It sin diatas sebuah batu sambil melepaskan lelah, memandang cahaya senja yang memantul dipermukaan salju, ia merasa hatinya sedih sekali.

Tentu saja ia tak akan meninggalkan bukit Pek thian san dengan begitu saja, ia tidak putus asa, tapi ketidak berhasilannya menemukan Be Siau soh membuat hatinya cemas bercampur sedih.

Sampai hari sudah menjadi gelap, dia masih duduk termangu mangu disitu, dia tak tahu apa saja yang sedang dipikirkannya.

Menanti tengah malam sudah tiba, dan ia bermaksud memburu beberapa ekor ayam hutan untuk mengisi perut, mendadak dari kejauhan sana berkumandang suara dentingan yang sangat nyaring, suara itu sangat aneh dan tak bisa dilukiskan suara apakah sebenarnya Iapun tak tahu suara itu berasal dari mana, karena empat penjuru merupakan dinding salju yang menjulang ke angkasa, pantulan pasti akan menggema kemana mana bisa terjadi suara disana.

Boleh dikata, suara ini merupakan suara pertama yang didengarnya semenjak ia memasuki wilayah pegunungan Pak thian san.

Setelah diamati sekian lama, akhirnya Ong It sin baru tahu kalau suara tersebut rupanya berasal dari arah sebelah utara.

Dengan cepat pemuda itu mengambil keputusan untuk menyelidiki keadaan yang sebenarnya, ia bangkit berdiri dan berjalan menuju ke utara dimana suara tersebut berasal.

Lewat setengah jam kemudian, rembulan pun telah terbit, cahaya keperak perakan menyelimuti seluruh permukaan tanah, setelah berjalan setengah li jauhnya, Ong It sin menjumpai suara aneh itu makin lama terdengar semakin nyaring.

Sekarang ia sudah menelusuri sebuah lembah bukit bersalju yang membentang jauh ke depan, menanti lembah itu sudah ditembusi, suara beradunya bongkah bongkah salju itu kedengaran semakin jelas lagi.

Setengah li kemudian, sampailah pemuda itu disebuah lembah bukit lain yang berdinding salju seperi kaca, dinding dinding berbentuk kristal itu indah menawan, apalagi dibawah pantulan sinar rembulan, mendatangkan suatu pemandangan yang sangat indah.

Dalam lembah inilah, dia menyaksikan ada dua orang sedang sibuk pekerjaan disitu Dua orang tersebut berdiri didepan sebuah gua salju yang besar, waktu itu mereka sedang mendorong berbongkah-bongkah salju besar kedalam gua itu, tidak diketahui apa maksud mereka berbuat demikian?

Padahal, sekalipun gerak gerik kedua orang itu lebih anehpun Ong It sin juga tak akan mengambil peduli apa tujuan kedua orang tersebut dengan perbuatannya itu.

Sebab dalam sekilas pandang inilah, dia telah melihat bahwa orang yang berada disebelah kiri itu ternyata bukan lain adalah Be Siau soh, gadis idaman yang dipikirkan siang malam itu.

Jantung Ong It sin berdebar keras, ingin sekali dia berteriak untuk menyapanya.

Apa mau dikata ternyata ia tak sanggup berteriak rasanya, ia merasa tenggorokannya seakan akan telah tersumbat oleh sesuatu benda sehingga hanya suara aneh saja yang kedengaran.

Begitu bergema suara aneh, dua orang yang sedang mendorong bongkah salju itupun segera berpaling dan memandang kearahnya dengan sinar mata keheranan.

Sedetikpun tak salah, kedua orang itupun tak lain adalah Be Siau soh serta Sangkoan Bu cing.

Kedua orang itupun tampak agak tercengang setelah mengetahui kalau pendatang itu tak lain adalah Ong It sin.

Paras muka Sangkoan Bu cing kontan saja berubah hebat, sambil menarik muka ia bersiap siap mengumbar hawa amarahnya.

Be Siau soh dengan cepat melotot sekejap ke arahnya dan memberi tanda agar pemuda itu menahan diri, sedangkan ia sendiri segera melangkah maju kemuka sambil menyapa.

"Oooh... kiranya Ong toako yang datang ada urusan apa kau datang kemari?"

Begitu mendengar suara Be Siau soh yang merdu, Ong It sin merasakan tubuhnya seperti melayang layang diudara, buru buru jawabnya agak tergagap.

"Aku... aku... aku..."

Saking gugup dan tegangnya, ia sampai tak mampu mengucapkan sepatah katapun.

Be Siau soh berjalan semakin mendekat, ditepuknya bahu pemuda itu dengan halus dan mesrah.

Kontan saja Ong It sin merasa tubuhnya seperti melambung diudara saking kesemsemnya pelbagai ingatan sampai berkecamuk tak karuan dalam benaknya, ia sangat berharap agar manusia aneh itu bisa menyaksikan adegan mesrahnya dengan Be Siau soh ini, agar dia tahu bahwa ucapannya tempo hari adalah keliru besar.

"Siau soh!"

Mendadak terdengar Sangkoan Bu cing membentak keras dengan marah karena cemburu. Be Siau soh berpaling, lalu menegur.

"Kau tak usah banyak urusan, diam diam saja disitu!"

Dengan penuh kegusaran Sangkoan Bu cing maju selangkah, lalu teriaknya lagi.

"Siau soh, kau..."

Tapi sebelum kata katanya diselesaikan Be Siau soh telah membentak kembali.

"Aku minta tutup mulut, bisa bukan?"

Melihat sikap Be Siau soh yang begitu kasar terhadap Sangkoan Bu cing, Ong It sin merasa gembira sekali.

Kegusaran Snagkoan Bu cing seketika itu sudah sukar dilukiskan lagi dengan kata kata, rayuan maut Be Siau soh selama beberapa hari ini telah membuat hatinya benar benar jatuh cinta kepada gadis itu, oleh sebab itu ia merasa cemburu sekali ketika dilihatnya gadis pujaan hatinya merayu laki laki lain.

Paras mukanya berubah menjadi hijau membesi lantaran marah, namun ia tak berani banyak berkutik lagi.

Ong It sin ingin mengucapkan sesuatu, tapi Be Siau soh segera berkata lebih dulu dengan halus.

"Kedatanganmju memang sangat kebetulan, bersediakah kau untuk melakukan suatu pekerjaan bagiku?"

"Tentu saja mau!"

Jawab Ong It sin tanpa berpikir panjang lagi.

Dalam keadaan begini, sekalipun Be Siau soh menyuruh naik ke bukit golok atau terjun ke kuali minyak, tak nanti Ong It sin akan mengucapkan kata kata yang bernada menampik.

Yang lebih aneh lagi, Sangkoan Bu cing yang sebenarnya berdiri dengan wajah hijau membesi karena marah, tiba tiba saja berubah menjadi berseri sesudah mendengar perkataan itu.

Saat itulah Be Siau soh berpaling mereka saling berpandangan sekejap kemudian tersenyum, ini membuktikan kalau kedua orang itu telah setuju untuk melakukan sesuatu hal.

Ong It sin yang sudah kesemsem, sama sekali tidak memperhatikan gerak gerik kedua orang itu, buru buru katanya.

"Nona Be, kau suruh aku berbuat apa?"

Sambil menuding ke gua salju itu, kata Be Siau soh.

"Aku hanya ingin menyuruh kau memasuki gua salju itu untuk mengambil sesuatu benda, tapi kau harus tahu, gua itu dingin sekali. Apakah kau bersedia membantuku?"

Ong It sin mengira dia akan disuruh melakukan sesuatu pekerjaan besar, ketika mengetahui hanya masuk ke gua untuk mengambil semacam benda, dalam anggapannya pekerjaan ini kelewat gampang sekali.

Seandainya Ong It sin pintar, maka dari perkataan Be Siau soh tersebut pasti akan dijumpai banyak hal yang tidak beres.

Dia bukannya tak tahu kalau ilmu silat dari Be Siau soh sangat lihay, sedangkan sejak tiba di situ, iapun tidak berbicara apa apa dengan Be Siau soh, berarti gadis itu tak tahu kalau tenaga dalamnya sekarang sudah amat sempurna tapi, kenapa gadis itu menyuruhnya memasuki gua salju yang bahkan dia sendiripun tak berani untuk memasukinya?

Bukankah ini menandakan kalau dia hendak membunuhnya?

Jika Ong It sin pintar, dia pasti akan curiga, dia pasti akan menduga kalau dibalik kesemuanya itu ada hal hal yang tidak beres.

Tapi kenyataannya Ong It sin sama sekali tidak memikirkan hal itu didalam hati bahkan tanpa berpikir panjang segera ujarnya.

"Baiklah, akan kuambilkan dulu barang itu, kemudian kita baru bercakap cakap lagi!"

Seraya berkata ia telah bersiap siap memasuki gua salju tersebut.

"Jangan terburu buru"

Seru Be Siau soh mendadak sambil menarik tangannya.

"dengarkan dulu penjelasanku! Gua salju itu dingin sekali, kurang lebih dua kaki dalam gua akan kau jumpai selapis dinding salju yang menyumbat gua itu. Setiap tengah malam akan terjadi badai salju yang berhembus keluar dari gua itu, pada saat badai inilah dinding salju yang tebal akan retak, dalam keadaan bagini kau harus menjulurkan tanganmu melalui retak retak pada dinding salju untuk mengambil kotak yang ada didalamnya, sanggupkah kau melakukan itu?"

"Kenapa harus menunggu sampai tengah malam nanti, apakah kita tak bisa menjebolkan dinding salju tersebut sekarang juga?"

Mendengar perkataan itu Be Siau soh segera tertawa.

"Selama beberapa hari ini kami telah berusaha untuk menghancurkan dinding salju itu dengan menyambitkan bongkah salju ke dalam, tapi usaha kami ini tak pernah berhasil"

Mendengar perkataan itu, segera timbul rasa curiga dalam hati Ong It sin, diapun mulai berpikir.

"Bukankah kedua orang ini sudah berada selama beberapa hari disini? Kenapa mereka tidak menyebar ke dalam gua sendiri ditengah malam untuk mengambil kotak itu"

Karena berpikir demikian, ia pun berkata.

"Kenapa selama beberapa hari ini..."

Belum lagi ucapan tersebut selesai diucapkan, Be Siau soh telah menyandarkan tubuhnya sambil berkata lembut.

"Ong toako, lama beberapa hari ini apakah kau selalu merindukan diriku?"

Ketika mengendus bau harum perempuan, Ong It sin merasakan jantungnya berdebar keras, ia segera merangkul pinggangnya yang lembut dan berdiri termangu mangu, kecuali melongo untuk sesaat lamanya ia jadi melupakan dengan segala persoalan yang baru saja dipikirkan dalam hatinya itu..."Akupun sangat kangen kepadamu"

Bisik Be Siau soh lagi.

Ong It sin tak ambil peduli apa yang diucapkan gadis itu, dia hanya tahu memeluk gadis tersebut erat erat dan menikmati kelembutan tubuhnya dengan penuh kesyahduan.

Mendadak ia tersentak kaget ketika didorong oleh Be Siau soh, terdengar gadis itu berbisik.

"Waktu tengah malam sudah hampir tiba, tinggal satu jam lagi kau harus bersiap siap"

Bagaikan baru sadar dari impiannya, Ong It sin segera mengiakan.

"Masuklah kedalam gua"

Kata Be Siau soh lebih jauh.

"jangan lupa, jika dinding salju merekah nanti cepat sambar kotak yang ada disana"

Dengan perasaan berat selangkah demi selangkah Ong It sin berjalan masuk ke dalam gua, tiada hentinya ia berpaling untuk menengok wajah gadis itu.

Tak lama kemudian, tibalah pemuda itu dalam gua saljut tersebut.

Udara terasa dingin sekali, buru buru ia mengerahkan tenaga dalamnya untuk melawan hawa dingin tersebut, tapi setiap langkah ia masuk ke dalam, hawa dingin yang menyerang tibapun makin dahsyat.

Akhirnya ketika ia tiba di depan lapisan salju tersebut, tubuhnya hampir tak sanggup untuk maju lagi, tapi diapun tak bisa berdiri terus, karena tulang belulangnya segera terasa ikut membeku seperti es.

Dengan susah payah Ong It sin mendongakkan kepalanya memandang kedepan, di luar dugaan ternyata lapisan salju yang menghalangi jalan perginya itu tak lebih cuma beberapa depa saja tebalnya, lagi pula berbentuk kristal dan tembus pandangan.

Dibawah pantulan cahaya yang lembut, lamat lamat ia dapat melihat pula kotak yang dimaksudkan Be Siau soh tersebut.

Itulah sebuah kotak hitam yang berbentuk panjang, lebarnya setengah depa dengan panjang tiga depa, benda itu terletak diatas sebuah bongkah salju dekat sekali dengan lapisan dinding kristal.

Itu menandakan, asal lapisan kristal itu bisa dipecahkan, maka kotak panjang itu akan berhasil diambilnya secara mudah.

Waktu itu Ong It sin sudah kedinginan luar biasa sehingga sekujur tubuhnya gemetar keras, tapi setiap kali teringat akan pesan dari Be Siau soh, ia merasa semangatnya berkobar kembali, sambil menggenggam tinjunya kencang kencang ia duduk bersila diatas lapisan salju dan mulai bersemedi...

Beberapa kali sudah ia berusaha meninju dinding kristal itu dengan harapan dapat menghancurkannya, tapi sampai kepalanya sakit, lapisan salju tersebut masih tetap utuh seperti sedia kala.

Sementara ia masih termangu mangu, mendadak dari balik gua tersebut berkumandang suara desingan tajam yang sangat mengerikan Suara itu kian lama kian bertambah keras, seakan akan ada beribu ribu ekor binatang buas yang mengaum bersama.

Ong It sin amat terkejut setelah mendengar suara itu, sedemikian kagetnya sampai lupa dengan rasa dingin yang menusuk tulang.

Makin lama suara tersebut makin dahsyat, pemuda itupun merasa jantungnya makin lama berdebar semakin keras, dia tak tahu apa yang musti dilakukannya sekarang.

Dalam waktu singkat, muncullah segulung asap putih dari balik lapisan dinding kristal tersebut, gerakan itu tampaknya bergerak lamban tapi dalam sekejap mata tiba tiba hawa putih itu menggulung tiba dengan cepatnya, ibarat ada beribu ribu batang anak panah yang meluncur bersama keadannya mengerikan sekali.

Dengan menyambar datangnya panah panah putih tersebut, Ong It sin merasa semakin kedinginan, tak tahan lagi sekujur tubuhnya mulai menggigil keras.

Ong It sin tak tahu benda apakah itu, ia merasa takut sekali, tapi pemuda itu tak berani kabur keluar gua, takut dimarahi Be Siau soh.

Sebab itu sambil mengeraskan kepala dia berdiri terus disana, ia saksikan lapisan hawa putih itu menyelimuti seluruh lapisan dinding kristal tersebut sehingga suasana menjadi gelap dan kotak itupun berubah menjadi tak nampak lagi.

Tapi pada saat itulah dari atas lapisan dinding kristal berkumandang suara gemerutuk yang sangat nyaring.

Menyusul suara gemerutuk itu, dinding kristal mulai merekah, dari celah celah inilah asap putih menyusup keluar dan menyerang datang.

Ong It sin merasa sangat terkejut, sambil berseru tertahan cepat cepat ia mundur kebelakang, tapi ia terpeleset dan terjatuh ke tanah, tubuhnya terasa menjadi kaku dan linu hingga sakitnya bukan kepalang...

Hal mana semakin membuat pemuda itu ketakutan, dengan paksakan diri ia melompat bangun.

Walaupun tubuhnya sudah melompat bangun, tapi kulit telapak kakinya terkelupas, sakitnya luar biasa, sekali lagi pemuda itu mundur beberapa langkah ke belakang.

"Praaang...!"

Diiringi bunyi nyaring yang memekikkan telinga, lapisan dinding kristal yang menutupi gua itu tiba tiba hancur berantakan menjadi berkeping keping.

Gulungan asap putih dalam jumlah yang sangat besar dengan cepatnya berhembus ke luar.

Belum lagi Ong It sin berdiri tegak, hawa dingin yang menusuk tulang itu sudah menyerang tiba, kontan pemuda itu terlempar kebelakang dan jatuh terguling.

Beberapa kali ia sudah berusaha untuk menyerbu masuk lagi, tapi sekujur tubuhnya terasa lemah tak bertenaga, dalam waktu singkat ia sudah didesak oleh gulungan asap putih itu hingga tiba dimulut gua.

Habislah sudah segenap kekuatan pemuda itu ketika tiba dimulut gua, ia sudah tak sanggup kabur lagi, dengan cepat asap putih itu menyergap sekujur tubuhnya.

Bagaikan ditusuk tusuk oleh beribu batang anak panah, pemuda itu menjerit tertahan, lalu roboh tak sadarkan diri.

Entah berapa lama sudah lewat, ketika ia tersadar kembali, pertama tama yang dirasakan olehnya adalah rasa sakit yang luar biasa pada bahu kanannya, lamat lamat iapun mendengar suara pembicaraan dari Be Siau soh.

Begitu mendengar suara dari gadis pujaannya itu Ong It sin merasakan semangatnya berkobar kembali, ia ingin bicara sayang setiap bagian tubuhnya sudah kaku sehingga tenaga untuk berbicarapun sudah tidak dimiliki lagi.

Ia sempat mendengar Be Siau soh sedang berkata.

"Kali ini mampuslah dia! Sungguh tak gampang ia dapat keluar dari gua tersebut dengan selamat"

Perkataan itu kedengarannya sungguh keji dan tidak berperasaan, seakan akan mati hidup Ong It sin sama sekali tidak dipikirkan olehnya. Mendengar seruan itu, Ong It sin menjadi tertegun, pikirnya.

"Apakah kau belum sadar? Kalau tidak, kenapa ia bisa berbicara sekejam itu?"

Sementara ia masih tertegun, suara Sangkoan Bu cing telah terdengar kembali.

"Apa sih gunanya orang ini? Lebih baik dilemparkan saja jauh jauh dari sini, kehadirannya hanya membuat orang jadi sebal"

"Kau tak usah cemburu, seandainya aku tidak bermesrahan dulu dengannya, dia mana mau pergi menyerempet bahaya?"

Ketika semua perkataan itu terdengar oleh Ong It sin, pemuda itu merasakan dadanya seakan akan dihantam oleh martil yang sangat berat, ini semua membuatnya tak tahan.

Sesungguhnya ia sudah tak bertenaga lagi bahkan tenaga untuk berbicara pun sudah tidak dimiliki lagi, namun sekarang, lantaran dorongan emosi yang meluap, entah darimana datangnya tenaga tersebut mendadak ia melompat ke udara sambil menuding ke arah Be Siau soh diiringi jeritan keras Waktu itu, sesungguhnya Be Siau soh maupun Sangkoan Bu cing mengira Ong It sin telah mati, sudah barang tentu kejadian ini segera mengejutkan mereka berdua sehingga untuk sesaat lamanya kedua orang itu tak sanggup mengucapkan sepatah katapun.

Ong It sin yang melompat bangun dapat menyaksikan pula sikap mesrah Be Siau soh dengan Sangkoan Bu cing yang sedang berdiri berangkulan dengan wajah terkejut, sekali lagi ia menjerit keras.

Secara beruntun ia berteriak dua kali, kecuali teriakan, ia tak dapat berbicara sepatah katapun.

Dengan demikian, ketiga orang itu saling berdiri berhadapan tanpa berkutik barang sedikit jua.

Mendadak Ong It sin merasakan sekujur badannya gemetar keras, bahu kirinya sakit bukan kepalang membuat ia tak sanggup berdiri lagi, akhirnya..."Blam!"

Ia jatuh tersungkur kembali ketanah.

Beberapa kali pemuda itu mencoba untuk merangkak bangun, namun ia tak berkekuatan lagi.

Semua kejadian itu diikuti oleh Be Siau soh berdua dengan rasa gugup dan kaget, secara beruntun mereka mundur kembali beberapa langkah ke belakang.

"Nona Be..."

Bisik Ong It sin dengan napas tersengkal.

"sungguh... sungguhkah perkataan tadi?"

Pada saat ini, dia hanya berharap kalau Be Siau soh menyangkal semua perkataannya tadi. Namun Be Siau soh tidak ambil peduli, malah sambil tertawa ujarnya kepada Sangkoan Bu cing.

"Coba lihatlah sitolol itu, ketololannya betul betul mengenaskan hati!"

Sangkoan Bu cing membungkukkan badannya dan mencium mesra bibir gadis itu, lalu menjawab.

"Yaa, akupun tidak mengira kalau didunia ini betul betul terdapat manusia yang begini gobloknya!"

Dalam keadaan demikian, Ong It sin merasakan kepalanya pusing tujuh keliling dan nyaris jatuh pingsan, sekarang ia baru sadar bahwa semuanya hanya impian, dikala ia mendusin dari tidurnya maka impian pun akan ikut buyar.

Sekuat tenaga dia berusaha menggelengkan kepalanya, dia ingin menenangkan pikirannya yang kalut, tapi makin menggeleng kepalanya makin berat seolah olah seluruh bukit salju itu ambruk dan menindih tubuhnya.

Ia seperti berteriak dan mengoceh tak karuan, namun ia tak tahu apa saja yang sedang diteriakkan.

Selain itu diapun mendengar gelak tertawa Be Siau soh serta Sangkoan Bu cing, tentu saja gelak tertawa mereka merupakan tertawa cemoohan terhadap dirinya.

Suara tertawa mereka bagaikan panah tajam yang menusuk dadanya, saking tak kuatnya menahan diri, diiringi jeritan keras, segala sesuatunya menjadi gelap dan diapun jatuh tak sadarkan diri.

Entah berapa saat sudah lewat, pelan pelan Ong It sin sadar kembali dari pingsannya, ketika membuka mata, ia jumpai sinar matahari amat menusuk mata.

Walaupun cuara amat cerah, sinar sang surya yang menimpa diatas permukaan salju menimbulkan cahaya bias yang indah, namun perasaan pemuda itu gelap.

Ia mendongakkan kepalanya dan memandang sekeliling tempat itu, namun segala sesuatunya hening bayangan tubuh Sangkoan Bu cing serta Be Siau soh pun tidak nampak di sana.

Pelan pelan ia merangkak bangun, tubuhnya terasa lemah tak bertenaga, hampir saja tenaga untuk bergeserpun tiada lagi...

Dari atas dinding salju yang bening, lamat lamat ia menyaksikan paras mukanya sendiri, iapun melihat betapa jeleknya wajah tersebut, sedikitpun tidak nampak bagian yang menarik, tak heran Be Siau soh tidak mau dirinya demikian ia membatin.

Makin membayangkan kejelekan wajahnya, semakin tenang perasaan pemuda itu, dia tidak lagi membenci kepada Be Siau soh, bahkan dia ingin mencari gadis itu dan ingin menyatakan kepadanya bahkan dia merasa memang tak pantas untuk mendampingi gadis tersebut...

Setelah semua kesedihan lenyap tak berbekas, pemuda itu merasa semangatnya berkobar kembali dengan suara lantang dia berseru.

"Nona Be! Nona Be..."

Akan tetapi walaupun ia sudah berteriak beberapa kali, belum juga ia mendengar suara jawaban. Pikiran lain dengan cepat melintas dalam benak pemuda itu, pikirnya lebih jauh.

"Dia menyuruh aku mengambil kotak itu dari dalam gua salju, kotak itu pasti penting artinya baginya, kenapa tidak kuambilkan kotak tersebut baginya? Asal ia dapatkan kotak itu, tentu tak terlukiskan rasa terima kasih kepadaku..."

Ong It sin memang seorang pemuda yang jujur dan polos, coba kalau orang lain yang mengalami nasib seperti dia, rasa bencinya kepada Be Siau soh tentu tak akan terlukiskan dengan kata kata, bahkan kemungkinan besar akan berusaha untuk membalas dendam dengan sepenuh tenaga.

Tapi kenyataan sekarang, jalan pikirannya jauh berlawanan, ia bukan saja membenci kepada gadis itu, malah sebaliknya selalu berusaha untuk menemui keinginan gadis itu.

Begitulah, setelah mengambil keputusan, pemuda itu berjalan kembali memasuki gua salju tersebut.

Setelah mengerahkan tenaganya untuk melawan hawa dingin, tak lama kemudian sampailah anak muda itu didepan dinding kristal, dia mengambil sebongkah salju ditimpuknya dinding kristal tersebut keras keras.

Sambitan ini dilakukan dengan tenaga penuh, berbicara dari kekuatannya sekarang maka paling tidak kekuatannya juga mencapai seribu dua ribu kati lebih.

"Blaaaam...!"

Diiringi benturan keras dan getaran dahsyat, bongkah salju itu hancur berkeping keping dan muncrat keempat penjuru, namun dinding kristal tersebut masih tetap utuh seperti sedia kala.

Melihat kejadian ini, Ong It sin tertawa getir, ia tahu kecuali berusaha pada saat tibanya badai salju ditengah malam buta, tiada jalan lain baginya untuk menjebolkan dinding kristal tersebut.

Maka diapun berburu ayam alas untuk mengisi perut, kemudian beristirahat disana menunggu datangnya malam...

Mendekati tengah malam, ia masuk kembali kedalam gua.

Tapi seperti juga malam sebelumnya, pemuda itu terlempar keluar dari mulut gua dalam keadaan tak sadarkan diri.

Secara beruntun beberapa malam berikutnya keadaan selalu sama.

Ong It sin yang bodoh ternyata mempunyai cara yang bodoh pula, dia mulai berpikir.

"Kenapa aku tidak menunggu sampai badai itu mulai menggulung datang baru menerjang masuk kedalam gua?"

Tapi cara inipun tidak memberikan hasil apa apa, setiap malam jika badai dingin telah tiba, hakekatnya ia tak mampu mendekati sepuluh kaki disekitar gua salju itu, ketika Ong It sin mencoba untuk maju kedepan, kakinya hampir saja menjadi kaku karena kedinginan.

Dasar pemuda keras kepala, kegagalan demi kegagalan yang dialaminya itu tidak membuatnya menjadi putus asa, setiap malam dia selalu mengulangi kembali usahanya untuk melawan hembusan badai guna memasuki gua salju itu.

Hari berganti hari, bulan berganti bulan, tanpa terasa lima bulan sudah lewat tanpa terasa.

Dalam waktu setengah tahun ini, setiap malam ia selalu berjuang menentang badai.

Pada mulanya ia mengira tidak mendatangkan hasil apa apa, namun pada malam itu, mendadak ia menemukan kalau jaraknya dengan gua tersebut, kian hari bertambah dekat.

Ketika untuk pertama kalinya perjalanan itu dilakukan, paling tidak dia hanya bisa mencapai tiga kaki lebih dari mulut gua tersebut, tapi sekarang ia sudah berada dua kaki dari mulut gua, ini berarti dalam setengah tahun perjuangan, ia berhasil mendekati gua tersebut sejauh satu kaki lebih.

Bila orang lain yang menghadapi kenyataan tersebut, betul ada kemajuan yang berhasil dicapai, namun bila membandingkan dengan waktu yang terbuang, sekalipun bersemangat tinggi akhirnya juga akan menjadi putus asa.

Berbeda dengan Ong It sin, kemajuan yang berhasil diraihnya itu membuatnya sangat kegirangan, kalau bisa dia hendak memberitakan kejadian ini kepada semua orang didunia ini.

oodwoo Tentu saja hal itu tak mungkin dilakukan sebab kecuali dia, disana tak ada seorang manusiapun.

Setahun kembali sudah lewat, atas perjuangannya yang gigih sekarang ia sudah dapat berdiri tegak dimulut gua sekalipun badai sedang melanda dengan dahsyatnya.

Dalam sangkaan Ong It sin, setelah berjuang selama dua tahun, daya tahan tubuhnya terhadap serangan hawa dingin makin bertambah.

Daripada dia bisa tahu kalau pengerahan tenaga dalam yang dilakukannya setiap malam justru merupakan gemblengan yang berat bagi tenaga murni yang dimilikinya.

Ditinjau dari kemampuannya sekarang untuk bertahan dimulut gua atas hembusan badai, dapat diketahui bahwa kesempurnaan tenaga dalam yang dimilikinya sekarang sudah tiada tandingannya lagi didunia ini.

Jika Ong It sin tahu akan hal ini, munkgin saja dia akan melepaskan tujuannya semula untuk melakukan perjalanan dalam dunia persilatan sebab dengan kemampuannya sekarang, kemunculannya pasti akan menggemparkan seluruh kolong langit...

Waktu berjalan cepat, satu tahun kembali sudah lewat.

Dihitung sejark kedatangannya yang pertama kali ke tempat itu, sudah tiga tahun lamanya Ong It sin berjuang melawan badai salju Akhirnya pada sutatu tengah malam, ia berhasil juga mencapai tepi dinding salju dan mengambil kotak itu dari balik dinding kristal yang retak.

Sepanjang jalan mengundurkan diri dari gua itu, ia berteriak teriak keras seperti orang gila, hal mana menunjukkan betapa gembiranya pemuda tersebut atas keberhasilannya.

Tapi setelah kotak itu dibuka, ia baru dibikin tertegun.

Ternyata isi kotak tersebut adalah sebilah pedang dan sebuah sarung pedang.

Bentuk pedang itu sangat hapal bagi pandangannya, karena pedang dan sarung pedang tersebut ternyata bukan lain adalah Hu si ku kiam serta cian nian liong siau.

Memandang dua macam benda mustika itu, Ong It sin agak tertegun dibuatnya, dia masih ingat kedua macam benda itu telah dititipkan kepada orang untuk disimpannya, kenapa sekarang bisa muncul kembali dalam kotak ini...?

Akan tetapi setelah pedang itu diambil, ia baru merasakan perbedaannya, walaupun pedang inipun berkarat namun sinar tajam yang memancar keluar amat menyilaukan mata, bahkan entengnya bagaikan selembar kertas tipis saja.

Pada dasar kotak tertera selembar kertas, pada kertas itu tertulislah beberapa huruf yang berbunyi demikian.

"Pedang palsu sarung pedang palsu sudah banyak dijumpai didunia, hanya inilah benda yang asli, pedang Hu si ku kiam, sarung pedang Cian nian liong siau, kitab pusaka Sang yang kiam boh tiada tandingannya di kolong langit!"

Setelah membaca tulisan itu, Ong It sin baru tahu kalau benda yang diperebutkan selama ini ternyata adalah barang barang palsu semua. Dari dasar kotak ia menemukan pula se

Jilid kitab pusaka, tapi setelah dilihatnya beberapa halaman, pemuda itu merasa kepalanya menjadi pusing tujuh keliling.

Perlu diketahui, walaupun kesempurnaan tenaga dalam yang dimiliki sekarang sudah tiada bandingannya lagi, namun otaknya tetap tebal, ia masih tetap merupakan seorang yang bego.

Sudah barang tentu dia tak akan memahami isi kitab Sang yang kiam hoat yang merupakan benda mustika itu.

Selain dari pada itu, Ong It sin pun tidak berminat untuk memiliki sendiri semua benda itu, karena tujuannya tak lain untuk dihadiahkan kepada Be Siau soh.

Sebab itulah setelah membaliknya sebentar, ia masukkan kembali semua benda itu kedalam kotak dan berlalu dari situ, dia hendak menemukan Be Siau soh untuk menyerahkan benda itu kepadanya.

Sepuluh hari sudah ia berjalan tanpa tujuan, suatu malam tiba tiba dari kejauhan sana ia mendengar suara hiruk pikuk disertai cahaya api yang berkilatan, ia lantas tahu kalau disitu ada orang.

Tiga tahun lamanya Ong It sin tak pernah berjumpa dengan seorang manusiapun, betapa girangnya dia setelah mendengar suara manusia.

Buru buru hawa murninya dihimpun lalu menyusup ke depan, bagaikan terbang saja tubuhnya segera meluncur ke depan dengan kecepatan luar biasa...

Kejadian ini segera disambut kejut dan girang oleh pemuda itu, hingga sekarang dia baru tahu kalau ilmu silatnya sudah jauh berbeda dibandingkan dulu.

Dengan menggunakan waktu yang paling singkat, sampailah pemuda itu dihadapan segerombolan manusia itu.

Itulah suatu rombongan manusia yang terdiri dari empat lima puluh orang lebih, tiga puluh diantaranya merupakan laki laki kekar sedang tujuh delapan yang lain berwajah aneh, sekilas pandangan dapat diketahui kalau mereka adalah jago jago persilatan yang berilmu tinggi.

Orang orang itu berkerumun membuat sebuah lingkaran, ketika Ong It sin melihat orang itu dalam kepungan, jantungnya segera berdebar keras.

Ternyata orang itu adalah seorang gadis yang cantik jelita, dan secara kebetulan pula, gadis itu ternyata bukan lain adalah Be Siau soh yang sedang dicari cari.

Tiga tahun tak bersua, ternyata Be Siau soh tampak lebih cantik dan menawan hati.

Sementara itu suasana ditempat itu amat hening agaknya semua orang sedang memperhatikan pembicaraan gadis itu.

Terdengar Be Siau soh sedang berkata.

"Saudara saudara sekalian, kalian bukan datang untuk berkelahi bukan? Rahasia dari Kim to bu tek Ong Tang thian berada diatas bukit salju sana, jika kalian ingin mengetahuinya, lebih baik jangan berkelahi sendiri, tapi ikutilah petunjukku!"

Baru selesai ia berkata, terdengar seseorang berseru dengan dingin.

"Selama dua tiga tahun ini kau menyiarkan berita ini ke seluruh penjuru dunia sehingga akhirnya memancing kedatangan begini banyak orang, sesungguhnya apa tujuanmu? Kenapa tidak sekalian diutarakan?"

Orang yang barusan berbicara itu adalah seorang kakek ceking yang bertubuh jangkung.

Meski ceking badannya, tajam sekali sepasang matanya, bisa diketahui kalau tenaga dalam yang dimilikinya amat sempurna.

Be Siau soh memandang sekejap ke arahnya, lalu tersenyum.

"Semua orang bilang Si loya cu paling tak sabaran, agaknya ucapan ini memang benar!"

Katanya.

"baiklah akan kudeberkan semua persoalan dengan jelas!"

Suasana disitu kembali berubah menjadi sepi dan hening.

Semenjak melihat Be Siau soh berada disana sudah berulang kali Ong It sin hendak memanggilnya, tapi ia selalu tak berani, menanti suasana menjadi hening kembali, dia baru berseru.

"Nona Be!"

Sambil memanggil dia lantas mendorong orang disekitarnya kesamping untuk maju ke depan.

Beberapa orang yanrg kena didorong bermaksud memukulnya, tapi diantara sambaran tangan Ong It sin membawa kekuatan yang hebat, hampir saja membuat mereka tak bisa bernapas, dengan terkejut masing masing segera menyingkir ke samping.

Kejadian ini segera menggemparkan suasana, dengan terkejut semua orang memandang ke arahnya dan bermaksud untuk mengetahui siapa gerangan dirinya.

Tapi ketika dilihatnya orang itu adalah seorang manusia aneh berbaju penuh tambalan, berambut gondrong dan berwajah penuh cambang, semua orang menjadi melongo.

Kiranya selama tiga tahun ini, belum pernah Ong It sin menyisir rambutnya, maka keadaannya sekarang seratus persen seperti manusia aneh.

Oleh karena itu pula, Be Siau soh juga tak dapat mengenali kembali siapa gerangan manusia aneh itu.

Dengan langkah lebar Ong It sin menuju ketengah arena, tapi ketika melihat sorot mata Be Siau soh sedang menatapnya tajam tajam, ia menjadi takut dan segera berhenti.

"Ada apa?"

Tegur Be Siau soh.

"Ooh... tidak apa apa, tidak apa apa..."

Ia tak tahu kalau tampangnya sudah banyak berubah, disangkanya Be Siau soh sudah tak mau mengenalinya lagi, karena sedih bukan saja ia berhenti maju, malahan beruntun mundur beberapa langkah kebelakang dan berdiri diantara kerumunan manusia yang lain.

Be Siau soh tidak memperhatikan dirinya lagi, terdengar ia berkata lebih lanjut.

"Kalian hanya tahu kalau benda itu berada dalam gua salju, tapi tak seorangpun yang tahu dalam gua salju itu terdapat badai salju yang amat dahsyat, itulah sebabnya kenapa kuundang kalian datang kemari..."

"Oooh... jadi kau menginginkan agar kami yang mengambilkan benda itu untuk dirimu?"

Seru seorang nenek secara tiba tiba.

Suara nenek itu amat tak sedap sehingga membuat paras muka semua orang berubah hebat, Be Siau soh pun amat terkejut sehingga wajahnya berubah menjadi pucat.

Menyusul seruan tadi, seorang perempuan setengah umur munculkan diri dari kerumunan orang dan tampil kearena, begitu sampai ditengah gelanggang ia melepaskan topeng yang dipakainya.

Maka tampaklah sekarang wajah aslinya yang penuh berkeriput, ternyata dia adalah seorang nenek berusia tujuh puluh tahunan, berwajah kuda yang kehijau hijauan, bermata sipit dan amat tak sedap dipandang.

Ong It sin tidak tahu siapakah orang itu, sebaliknya orang orang yang lain segera menjerit kaget setelah menyaksikan wajah nenek itu, dari sini dapat diketahui kalau orang tersebut sudah pasti adalah seorang manusia yang sangat lihay.

Terdengar Be Siau soh tertawa paksa, lalu berkata.

"Oooh... kiranya Wu popo, Wu locianpwe dari bukit Kou lou san telah ikut datang... sungguh hal ini merupakan suatu kejadian yang tak disangka..."

Seraya berkata dengan wajah pucat Be Siau soh memandang sekeliling tempat itu bermaksud ingin mencari bantuan.

Tapi Wu popo adalah seorang tokoh sakti dari golongan sesat ilmu silatnya tiada tandingannya dikolong langit, sudah barang tentu tak seorangpun berani mencari gara gara dengannya.

Jangan mencari gara gara, untuk beradu pandangan dengan Wu popo pun tak seorangpun yang berani.

Tapi Wu popo tertawa seram, lalu berkata.

"Tentunya kau tidak menyangka bukan? Heeehh... heeehh... heeehh... mari, hayo ikut aku!"

Sambil berkata ia lantas menggerakkan tangannya untuk mencengkeram bahu Be Siau soh.

Walaupun gadis itu berkelit cukup cepat, namun keadaannya juga mengenaskan sekali.

Ong It sin yang menyaksikan kejadian itu menjadi tak tahan, segera teriaknya keras keras.

"Hey, nenek tua, kenapa begitu kurangajar "

Mendengar teguran tersebut, Wu popo segera menarik kembali serangannya seraya berpaling, kemudian bentaknya.

"Apakah kau ingin mampus?"

"Ingin mampus? Siapa yang bilang? Kenapa kau ingin mampus?"

Seru Ong It sin tertegun.

Wu popo menjerit keras, tangan kanannya segera diayunkan ke depan, dengan kelima jari tangannya seperti kaitan ia cengkeram dada lawan.

Menghadapi serangan maut yang begitu cepatnya, Ong It sin hanya berdiri tertegun, hakekatnya dia tak tahu bagaimana caranya untuk menghindarkan diri dari serangan tersebut.

Suara helaan napas sedih mulai terdengar dari antara kerumunan orang banyak, semua orang menduga kalau Ong It sin pasti tak akan lolos dari serangan tersebut, bahkan besar kemungkinan nyawanya akan melayang di tangannya.

"Braaak...!"

Suatu benturan keras terjadi, menyusul kemudian terdengar jeritan ngeri yang memilukan hati menggema di udara, dan suara patahnya tulang memekikkan telinga.

Dengan sempoyongan Wu popo mundur beberapa langkah ke belakang.

Darah kental tampak meleleh keluar dari tangannya, keadaannya mengenaskan sekali.

Kejadian ini membuat semua orang menjadi kebingungan, Ong It sin sendiri juga dibikin kebingungan ketika dilihatnya semua orang memandang tercengang ke arahnya.

Pakaian yang sebenarnya memang banyak berlubang, kini semakin hancur tak karuan.

Namun tubuhnya sama sekali tidak cedera, diatas dadanya tak lebih hanya bertambah dengan lima buah bekas jari tangan yang memanjang.

Tentu saja kelima buah bekas jari tangannya itu dihasilkan akibat dari ulah Wu popo.

Namun akibat dari ulahnya itu, Wu popo harus mengalami keadaan yang tragis, bukan cuma kukunya saja patah, tulang jarinya juga ikut remuk, itu menunjukkan kalau tangannya telah diremukkan oleh getaran tenaga dalam tingkat tinggi.

Sebagai jago persilatan yang hadir disitu baru pertama kali ini menjumpai peristiwa semacam ini, semua orang menjadi tertegun seraya menunjukkan wajah terheran heran.

Agaknya Wu popo juga sadar akan keadaannya, dia tahu bila keadaan ini dibiarkan berlangsung terus maka akibatnya dia sendiri yang akan menderita kerugian besar.

Diiringi jeritan keras yang memilukan hati, nenek itu segera putar badan dan melarikan diri terbirit birit, dalam waktu singkat bayangan tubuhnya sudah lenyap dari pandangan.

Selang sesaat kemudian, semua orang baru sadar kembali dari rasa kagetnya, buru buru mereka saling berebut maju ke depan, memuji muji kehebatan Ong It sin dan mengumpaknya setinggi langit.

Selama hidup belum pernah Ong It sin mendengar umpakan semacam ini, kontan saja wajahnya berubah menjadi merah padam karena jengah, untuk sesaat lamanya dia tak tahu apa yang musti diucapkan.

Terpaksa serunya kemudian.

"Sudah cukup, cukup, kalian jangan berbicara lagi!"

Suasana segera pulih kembali dalam keheningan... Saat itulah terdengar Be Siau soh berseru keras.

"Ong toako, kiranya kau!"

Tak terlukiskan rasa gembira Ong It sin ketika dilihatnya Be Siau soh mengenali kembali dirinya, buru buru ia menyahut.

"Yaa, betul, memang aku. Nona Be, nona Be, kau masih kenal dengan diriku?"

Walaupun Ong It sin sama sekali tidak menaruh rasa dendam lagi kepada Be Siau soh, sebaliknya gadis itu justru merasa agak riku terhadapnya, ia menjadi tersipu sipu dan tak tahu apa yang musti dilakukan.

Dengan langkah lebar Ong It sin menghampirinya, setelah pemuda itu berdiri dihadapannya, terpaksa Be Siau soh baru mendongakkan kepalanya sambil bertanya.

"Ong toako, apakah kau masih menyalahkan diriku?"

Mendengar itu Ong It sin segera tertawa terbahak bahak.

"Haaahhh... haaahhh... haaahhh... Siau soh, sudah lama aku tidak marah kepadamu lagi"

Sambil berkata dia lantas mengambil kotak yang berada dijepitan ketiaknya dan diserahkan kepada gadis itu, katanya lagi.

"Coba kau lihat, aku berhasil menjebol dinding salju itu dan mengambil keluar kotak tersebut, ternyata isi kotak ini adalah pedang mustika Hu si ku kiam serta sarung pedang Cian nian liong siau!"

Be Siau soh ingin mencegahnya agar jangan bicara, tapi Ong It sin sudah keburu mengutarakan semua perkataan tersebut.

Jeritan kaget, helaan napas tertahan berkumandang dari mulut kawanan jago itu, tanpa terasa semua orang berkerumun kedepan.

Waktu itu dalam pandangan Ong It sin hanya ada Be Siau soh seorang, ia tak ambil peduli bagaimana reaksi orang lain.

Setelah berhenti sebentar katanya kembali "Masih ada se

Jilid Sang yang kiam hoat, sekalian kuberikan kepadamu semua!"

Ia lantas menyodorkan kotak itu ketangannya.

Be Siau soh menjadi tertegun, untuk sesaat dia tak tahu bagaimana harus menjawab.

Orang yang berada dihadapannya ini pernah ia peralat, pernah ia tipu dan pernah ia permainkan, tapi sama sekali tidak mendendam kepadanya, malahan menyerahkan benda yang paling berharga itu untuk dirinya.

Dalam detik itu juga, timbul perasaan menyesal dan malu dalam hati Be Siau soh perasaannya itu sukar dilukiskan dengan kata kata.

Tanpa terasa ia terbayang kembali akan diri Sangkoan Bu cing yang dicintainya, betul pemuda itu tampan dan menawan siapapun suka bila bertemu dengannya, tapi pemuda idamannya itu sejak setahun berselang telah lari ke dalam pelukan perempuan lain, bahkan Sangkoan Bu cing menganggapnya sebagai perempuan yang tak pernah dikenal, ia bilang dia sudah terlalu "tua".

Peristiwa itu membuat Be Siau soh marah, benci dan dendam, tapi ia tidak sampai menangis, selama hidup ia pantang untuk menangis walau apapun yang dihadapinya.

Ia selalu menganggap bahwa manusia hidup di dunia ini kalau bukan kau mencelakai aku, akulah yang mencelakaimu, maka setiap kali menderita kerugian ia tak menangis, dia hanya mengingat persoalan itu dihati, mendendamnya dalam hati sambil menunggu tiba saatnya untuk menuntut balas.

Tapi dengan tindakan dari Ong It sin sekarang, semua teori yang dipegangnya selama banyak tahun telah hancur berantakan dengan sendirinya, dia tak menyangka kalau didunia ini masih terdapat seorang laki laki yang begitu baik kepadanya.

Dengan termangu mangu Be Siau soh memandang kearahnya, ia merasa hatinya menjadi kecut, tiba tiba air mata jatuh bercucuran membasahi wajahnya.

Melihat Be Siau soh menangis, Ong It sin menjadi gelagapan, serunya dengan gugup.

"Siau soh, apakah kau tidak suka?"

"Bukan!"

Gadis itu menggeleng. Ong It sin mengangsurkan kembali kotak itu kehadapannya, lalu berkata lagi.

"Pedang, sarung pedang dan kitab ilmu pedang semuanya berada disini, terimalah pemberianku ini!"

Air mata jatuh bercucuran membasahi wajah Be Siau soh, dengan suara lirih ia bertanya.

"Ong toako, kenapa kau bersikap begitu baik kepadaku?"

"Karena... karena kau adalah orang yang paling baik kepadaku"

Jawab Ong It sin tergagap.

Be Siau soh hanya merasakan tenggorokannya tersumbat, membuat ia tak sanggup untuk berbicara lebih jauh.

Selang sesaat kemudian baru melompat ke depan sambil berbisik dengan lirih.

"Ong toako, sesungguhnya kotak ini tak usah kau berikan kepadaku, sebab bukan saja benda itu akan menjadi milikku, akupun... akan... akan menjadi milikmu pula, kita akan bersatu untuk selamanya, benda itupun akan menjadi milik kita berdua, rasanya kitapun tak usah membeda bedakan lagi"

Sesungguhnya perkataan dari Be Siau soh ini cukup dimengerti oleh Ong It sin, tapi ia masih tidak percaya dengan apa yang didengarnya itu. Dengan mata terbelalak, tanyanya.

"Apa? Kau bilang apa?"

Be Siau soh mengulangi sekali lagi perkataannya itu dengan suara setengah berbisik.

Untuk sesbaat lamanya si anak muda itu berdiri tertegun seperti orang bodoh, matanya terbelalak dan mulutnya melongo, ia tadk menyangka akan semuanya itu.

Be Siau soh yang amenyaksikan pemuda itu berdiri tertegun dengan mata terbelalak, ia lantas berpikir.

"Jangan jangan ia lagi marah kepadaku?"

Karena kuatir, segera teriarknya keras keras.

"Ong toako!"

Jeritan tersebut segera menyadarkan kembali Ong It sin dari lamunannya, dengan kaget ia bertanya.

"Sedang mimpikah ini? Sedang mimqpikah aku ini?"

Sambil menyadarkan kepalanya dihati permuda itu, Be Siau soh menggeleng.

"Goblok, tentu saja kau bukan lagi bermimpi"

Sahutnya.

Mendengar perkataan itu, sekali lagi Ong It sin berteriak aneh, rasa gembira yang menyelimuti hatinya sungguh amat sukar untuk dilukiskan dengan kata kata.

Ia tidak sadar bahwa teriakan anehnya itu jauh lebih keras dari pada guntur yang membelah bumi sedemikian kerasnya sampai semua orang merasakan telinganya menjadi sakit dan wajahnya berubah menjadi pucat pias seperti mayat.

Be Siau soh yang berada dalam pelukannya juga tak sanggup menahan jeritan kerasnya itu, sambil berseru tertahan ia lantas roboh keatas tubuhnya.

Ong It sin masih juga tidak menyadari akan hal itu, karena rasa gembiranya sudah tak terlukiskan lagi dengan kata kata.

"Yaa,... aku memang goblok...! Aku benar benar seorang goblok...!"

Dikolong langit dewasa ini, mungkin tiada seorang manusiapun yang mempunyai daya refleks yang begitu lamban daripada Ong It sin.

Saking gembiranya, ia sampai tak tahu kalau kekasihnya itu sudah jatuh pingsan dibawah kakinya.

Pemuda itu hanya berdiri mematung sambil bergumam terus tiada hentinya.

"Aku adalah orang goblok, aku betul betul orang goblok. oooOdwOooo Tindak tanduknya yang ketolol tololan itu dengan cepat memancing gelak tertawa banyak orang. Gelak tertawa yang berderai derai itu mengejutkan Ong It sin, ia tersadar kembali dari lamunannya, lalu bertanya keheranan.

"Apa sih yang menggelikan kalian semua? Kenapa begitu gembiranya suara tertawa kalian semua?"

Pertanyaan yang bodoh itu makin mengkilik kilik perut semua orang, ini membuat gelak tertawa mereka semakin keras.

Ada yang sampai terbungkuk bungkuk karena gelinya.

Ada yang sampai menungging karena sakit perut.

Ada pula yang menahan dadanya karena sesak napas...

Melihat semua orang hanya tertawa melulu, Ong It sin makin tertegun, pikirnya.

0ooodwooo0

Jilid 17

"WAAAHH... rupanya orang orang itu sudah pada edan semua, tak ada apa apa tertawa sendiri, huh, lebih baik aku jangan banyak ribut dengan orang orang edan itu. Baru saja akan pergi meninggalkan tempat itu, mendadak ia teringat kembali akan seseorang, dengan gugup segera tanyanya.

"Apakah kalian tahu kemana perginya Siau soh?"

"Apakah kau maksudkan si nona yang cantik itu?"

Tanya seorang kakek bungkuk.

"Betul, betul, memang dia yang kutanyakan"

"Orang itu mah, jauh diujung langit..."

"Loya cu, kau maksudkan dekat didepan mata?"

Sambung Ong It sin dengan cepat. Rupanya kakek bungkuk itu sudah tahu kalau pemuda kita adalah orang tolol, ia tidak berhasrat untuk mempermainkan dirinya maka segera katanya.

"Sobat Ong, nona yang kau cari itu toh berada dibawah kakimu?"

"Haaah?!"

Ketika menengok kebawah, betul juga, Be Siau soh telah tergeletak dibawah kakinya. Dengan gelagapan pemuda itu membopongnya bangun, lalu dengan langkah lebar bermaksud meninggalkan tempat itu.

"Hey, saudara, kau hendak membawa nona Be pergi ke mana?"

Tiba tiba Lam huang pat kay (delapan siluman dari lam huang) menegur sambil tertawa dingin.

Orang itu berpinggang lebar, berbaju kulit macan, memakai gelang emas dikepalanya dan bertangan besar, tampangnya bengis dan menyeramkan.

Menyaksikan tampang orang bengis menyeramkan, Ong It sin tak ingin mencari gara gara, maka jawabnya dengan jujur.

"Aku kuatir dia kena flu, maka hendak kucarikan sebuah gua baginya untuk beristirahat sebentar"

"Jangan pergi dulu!"

Bentak orang itu sambil bertolak pinggang.

"nona Be telah mengumpulkan kami semua jauh dari wilayah Lam huang, sebelum mustika didapatkan, kami tak ingin bubar dengan begini saja!"

"Yaa... yaa... jika kalian sampai tertipu kemari, ini memang kesalahan dari Siau soh"

Ucap Ong It sin setelah tertegun sejenak.

"tapi... tapi..."

Setengah harian ia tergagap, kata kata selanjutnya tak sanggup dilanjutkan. Seorang kakek bermuka kuda yang merupakan pemimpin dari Lam huang pat yau segera tampil ke depan, katanya tiba tiba.

"Apakah kau hendak bertanya penyelesaian macam apakah yang kami inginkan?"

"Betul, betul, aku memang bermaksud begitu, kau... kau memang bicara benar"

Sekulum senyuman licik segera menghiasi wajah kakek bermuka kuda itu, ujarnya.

"Lohu adalah pemimpin dari Lam huan pat yau, orang yang menyebutkan sebagai Thian be heng gong (kuda langit terbang di angkasa), sedang orang yang berbicara denganmu barusan adalah jite ku Kim che pa (macam tutul emas)... pokoknya kami berdelapan adalah berjiwa satu, asal kau bersedia berunding secara baik baik, tentu saja kami bersedia pula untuk bertindak sungkan kepadamu..."

"Baik, apa yang kau kehendaki?"

Tukas pemuda itu segera.

"Gampang, serahkan saja nona Be itu kepada kami untuk dijatuhi hukuman yang setimpal atas perbuatannya!"

"Waah, tidak bisa, sekarang ia lagi pingsan aku tak bisa menyerahkannya kepadamu"

Tampik Ong It sin sambil menggeleng.

"Baiklah, jika kau merasa keberatan untuk meninggalkan dirinya, bawa saja nona itu pergi meninggalkan tempat ini, tapi kotak berada ditanganmu musti diserahkan kepada kami berdelapan"

Betul semenjak kecil Ong It sin sudah biasa dicemooh, bukan berarti ia tak bisa marah.

Ketika didengarnya permintaan orang keterlaluan, apalagi hendak merampas kotak hadiahnya kepada Be Siau soh, kontan saja darahnya meluap, dengan gusar teriaknya.

"Kalau kedua-duanya kutampik, mau apa kau?"

Baru saja Thian be heng gong tertawa seram, Kim che pa telah berkata lebih duluan.

"Berarti kau sudah bosan hidup"

"Eeeh... eeeh... jadi cuma lantaran urusan kecil saja kalian hendak membunuh orang?"

Seru Ong It sin tertegun. Agaknya ia masih kurang percaya. Si Macan tutul emas mengangkat tubuhnya lalu berkata dengan suara menyeramkan.

"Membunuh kalian berdua, sama dengan menginjak mampus dua ekor semut, kenapa musti takut? Coba pikirlah, apakah untuk menginjak mati dua ekor semut harus punya alasan yang kuat?"

Seorang tosu bermuka bengis yang berada disisinya sudah habis kesabarannya, tiba tiba ia menyela.

"Jiko, buat apa kau musti ribut terus dengan orang hutan itu? Bereskan saja kan enak"

Tosu ini adalah Kou bun ok to (imam jabat penggaet nyawa) yang tersohor akan kekejamannya dalam dunia persilatan.

Untuk menghadapi delapan jago lihay sekaligus dengan kekuatan seorang, Ong It sin mulai merasa agak keder.

Untunglah disaat yang kritis, muncul seseorang dari kerumunan orang banyak, orang itu menyapa kearahnya serunya berkata.

"Sobat Ong, boponglah nona Be dan pergilah meninggalkan tempat ini, kami empat belas dewa dari tujuh selat bersedia melindungi kalian, tanggung tak seorangpun berani mengganggu seujung rambutnya!"

Ternyata orang ini bukan lain adalah Tiang bi lo yau (siluman tua beralis panjang) dari selat Gou kan be hu sia.

Begitu Tiang bi lo yau munculkan diri, tiga belas orang siluman lainnya serentak meloloskan pula senjatanya.

Baik Lam huang pat yau (delapan siluman dari Lam huang) maupun Jit sia cap si yau (empat belas siluman dari tujuh selat) mereka sama sama merupakan kelompok siluman yang menguasahi suatu wilayah, berbicara soal ilmu silat, kepandaian mereka boleh dibilang seimbang.

Tapi berbicara dalam jumlah orang, tentu saja Lam huang pat yau kalah hampir separuhnya, sebab itu Thian be heng gong tak berani menyerempet bahaya dengan bertindak gegabah.

Ditatapnya sekejap wajah Tiang bi lo yau dengan penuh kebencian, kemudian serunya.

"Orang she si, suatu hari kami pasti akan membalas dendam atas sakit hati ini"

Tiang bi lo yau tertawa tergelak.

"Haaahhh... haaahhh... haaahhh... jumlah anggota kami selamanya lebih banyak dari kalian, tak nanti aku orang she Si akan menjadi takut oleh gertak sambalmu itu"

"Orang she Si"

Seru Kou hun ok to dengan marah.

"sesungguhnya apa hubungan sobat Ong ini dengan kalian berempat belas siluman dari tujuh selat."

"Hmmm! Atas dasar apa kami harus melaporkan hubungan kami ini kepada kalian?"

Jawab Pek hua li yau (siluman perempuan berambut putih) sambil tertawa seram. Setelah berhenti sejenak, katanya lagi.

"Cuma mengingat kita sama sama berasal dari See lam, maka kuperingatkan kepadamu untuk lebih baik jangan berbuat sesuatu yang tidak menguntungkan kepada sobat Ong ini, ketahuilah Ay sian (si dewa cebol) adalah saudara angkatnya, hati hati kalau sarang kalian diobrak abrik olehnya!"

Pada mulanya Thian be heng gong menjerit kaget, tapi kemudian sambil mendengus ujarnya.

"Tak usah menggertak aku dengan nama si dewa cebol, sudah banyak tahun orang ini lenyap dari dunia persilatan, siapa tahu kalau ia sudah mampus banyak tahun?"

"Bagus sekali, kau berani menyumpahi Cu cianpwe? Kalau sampai diketahui olehnya, hati hati batok kepalamu"

Agaknya Thian be heng gong masih belum percaya, katanya lebih jauh dengan suara keras.

"Sekalipun dia orang tua masih hidup, sobat Ong hanya pantas menjadi cucu muridnya. Hmmm! Kalau dibilang dia adalah saudara angkatnya, sampai matipun aku tidak percaya!"

Ong It sin yang telah membopong tubuh Be Siau soh dan siap pergi itu, mendadak menimbrung.

"Kalian membicarakan soal Ay loko? Dia memang betul betul adalah saudara angkatku"

Sambil berkata dia lantas ayunkan tangannya sehingga sarung jarinya yang hitam pekat dan tajam itu dapat dilihat oleh setiap orang.

Tentu saja Lam huang pat yau juga mengenali Sin sian ci, merekapun takut untuk mencari gara gara dengan jago lihay itu, apa lagi empat belas siluman dari tujuh selat telah menampilkan diri sebagai pelindungnya dengan berat hati terpaksa dibiarkannya pemuda itu berlalu.

Tiang bi lo yau dengan membawa anak buahnya segera mengekor dibelakang dengan alih pelindung.

Setelah lolos dari kepungan, Ong It sin segera menghembuskan napas lega, ia merasa amat berterima kasih sekali atas pertolongan dari Tiang bi lo yau, katanya berulang kali.

"Semua orang mengatakan empat belas siluman dari tujuh selat adalah manusia laknat tapi setelah peristiwa malam ini, aku baru tahu kalau kalian sebetulnya memang seorang sahabat yang baik"

Sudah barang tentu Tiang bi lo yau beserta anak buahnya bukan sungguh sungguh ingin melindungi Ong It sin, karena mereka sadar bahwa benda mustika yang berada dikotak itu tak mungkin dirampas secara kekerasan, maka dengan dalih hendak melindungi keselamatan jiwanya, mereka berusaha mencari kesempatan baik untuk turun tangan.

Sebagaimana diketahui, pedang Hu si ku kiam dan sarung pedang Cian nian liong siau merupakan benda benda mustika yang diidamkan oleh setiap orang, apalagi sekarang ditambah pula dengan kitab pusaka Sang yang kiam hoat, benda benda tersebut cukup membuat menetesnya air liur mereka semua.

Untuk menghindari pertumpahan darah dengan kawanan jago persilatan lainnya, merekapun ingin menghindari pertanggung jawabannya kepada si dewa cebol, diaturlah siasat licin itu untuk membawa Ong It sin berdua menyingkir dari incaran orang banyak.

Asal mereka sudah jauh dari keramaian kemudian secara diam diam membunuh Ong It sin berdua, bukankah mustika tersebut otomatis akan terjatuh ditangan mereka.

Bila ilmu pedang Sang yang kiam hoat telah mereka pelajari, saat itulah seluruh dunia akan berada dibawah kekuasaan mereka berempat belas...

Itulah sebabnya untuk melaksanakan rencana tersebut, siluman perempuan berambut putih berusaha membaiki mereka, umpaknya.

"Yaa... didunia ini tak ada orang lain yang lebih jujur dari pada Sahabat Ong! padahal kami semua sebenarnya adalah orang baik, para manusia rendahlah yang telah menyebarkan berita yang menuduh kami jahat dan kejam, tapi kami tak takut, emas murni tak takut dibakar, lama kelamaan toh orang persilatan akan tahu dengan sendirinya kalau kami ini baik atau jahat."

Ong It sin manggut manggut.

"Akupun berpendapat demikian"

Sahutnya "kita sebagai manusia, kenapa harus menjadi orang jahat, bukan menjadi orang baik?

Tampaknya kalian memang sudah difitnah orang, sebab jika kalian benar benar adalah sekelompok orang jahat, tak mungkin pada malam ini kalian bersedia membantuku untuk meloloskan diri dari ancaman bahaya, inilah bukti yang paling nyata!"

Puji sanjung dari si anak muda itu kontan saja membuat wajah keempat belas orang siluman dari tujuh selat itu berubah menjadi merah padam karena jengah, timbul pula rasa malu dihati masing masing.

Pada saat itulah tiba tiba Ong It sin teringat akan tiga jago dari Tiong lam pay buru buru tanyanya lagi.

"Apakah selanjutnya kalian masih akan berkelahi lagi dengan ketiga orang jago Tiong lam pay itu?"

"Ay sian telah berpesan agar kami jangan bertarung lagi"

Jawab Tiang bi lo yau.

"tentu saja kami harus menjual muka kepadanya Ong It sin menjadi sangat girang setelah mendengar perkataan itu, serunya.

"Kalian benar benar orang baik!"

Sementara pembicaraan masih berlangsung, secara beruntun mereka telah melewati enam tujuh buah bukit.

Saat itulah pelan pelan Be Siau soh sadar kembali dari pingsannya.

Ia merasa tubuhnya sedang dibopong orang dan terasa nyaman sekali.

Pada mulanya dia masih mengira dirinya menjadi tawanan orang, diam diam ia telah menyiapkan sebatang jarum bercun untuk menusuk lengan orang, akan tetapi ketika diketahuinya orang itu tak lain adalah Ong It sin, buru buru ia membatalkan niatnya.

Sementara ia masih terheran heran, mendadak terdengar olehnya suara dari Tiang bi lo yau berkumandang tak jauh dari sana.

"Sahabat Ong, kami telah mendapatkan sebuah gua yang kering dan bersih, cepatlah kemari!"

Mendengar suara itu, Be Siau soh segera mengenalinya sebagai suara Tiang bi lo yau, pemimpin dari Jit sia cap si yau, diam diam merasa terkejut sekali.

Apalagi setelah melirik kesamping dan ditemukan keempat belas siluman itu lengkap berada di sana, hatinya semakin tercekat.

"Aduh celaka empat belas siluman itu komplotan semuanya berada disini... apa yang telah terjadi?"

Setelah termenung sejenak, pikirnya lebih jauh.

"Jangan jangan kami sudah terjatuh ke tangan komplotan siluman tersebut...?"

Yang dimaksudkan sebagai kami sudah barang tentu dia dan Ong It sin. Pada saat itulah Ong It sin telah mengiakan, sambil menghampiri siluman perempuan berambut putih ia berkata.

"Tampaknya kalian bersaudara betul betul berniat membantuku, budi kebaikan ini entah bagaimana caranya kubalas dikemudian hari?"

"Membantu orang adalah pekerjaan yang paling menggembirakan, apalah artinya bantuan sekecil ini? Sahabat Ong, kau tak usah terlalu memikirkannya dihati"

Setelah berhenti sejenak, katanya lebih jauh.

"Mari kita percapat langkah kita, jangan biarkan Tiang bi sian toako menunggu terlalu lama!"

Be Siau soh dapat mengikuti semua pembicaraan itu dengan amat jelasnya, dengan cepat ia dapat mengambil kesimpulan apa gerangan yang sesungguhnya telah terjadi. Pikir dihati.

"Sudah pasti Ong toako dibodohi mereka lagi. Hmm! Manusia macam empat belas siluman itu mana mungkin suka menolong orang lain? SUdah pasti tujuannya adalah untuk mencuri pedang Hu si kiam, sarung Cian nian liong siau dan kitab pusaka Sang yang kiam hoat. Dengan kekejaman mereka berempat beals itu berarti keselamatan jiwa kami berdua amat terancam. Aku tak boleh membongkar dulu rencana busuk mereka, lebih baik berlagak pilon saja sambil menunggu kesempatan baik untuk menghancurkan rencana mereka itu!"

Berpikir sampai disitu, ia lantas memejamkan kembali matanya pura pura belum sadar.

Begitulah, diiringi empat belas siluman dari tujuh selat, sampailah Ong It sin didalam sebuah lembah yang bentuknya menyerupai sebuah buli buli...

didasar lembah itulah gua tersebut terletak Ketika Ong It sin dengan membopong Be Siau soh masuk ke dalam gua tersebut, Tiang bi lo ya telah melapisi permukaan tanah dengan selembar kain baju, katanya.

"Sahabat Ong, cepat baringkan nona Be disitu jangan biarkan dia masuk angin!"

"Aaah, mana boleh kugunakan bajumu sebagai alas tidur?"

Seru Ong It sin tertegun.

"Dengan segala tulus hati aku ingin bersahabat denganmu"

Ucap Tiang bi lo yau dengan wajah serius.

"apakah cuma persoalan sekecil inipun aku tak boleh memberikan kepadamu? Sobat Ong jangan jangan kau masih menganggap kami sebagai orang jahat?"

Ong It sin yang jujur tak sanggup menangkap perkataan lawan terpaksa ia berseru berulang kali"

"Aaah...! Mana, mana..."

Sambil berkata ia lantas membaringkan tubuh Be Siau soh diatas alas pakaian tersebut.

Untuk melenyapkan kecurigaan musuhnya, cepat cepat Tiang bi lo yau memberi tanda kepada teman temannya sambil berkata.

"Beristirahatlah kalian diluar gua, biar lohu dan Ciu Kiu koh yang berjaga disini"

Sebab ia berkata dia lantas membuat api unggun dimulut gua tersebut.

Yang dimaksudkan sebagai Ciu Kiu koh tak lain adalah siluman perempuan berambut putih, ia merupakan otak dari komplotan tersebut, sudah barang tentu bisa dipahami pula maksud hati dari pemimpinnya.

Maka dengan sikap yang serius dia berjaga dimulut gua, gayanya yang serius dan bersungguh sungguh membuatnya mirip seorang malaikat perempuan.

Melihat sikap siluman-siluman itu, Ong It sin merasa berlega hati.

Kewaspadaan dan rasa was was yang semula masih menyelimuti hatinya, kontan saja tersapu lenyap dari dalam hatinya.

Ia mencoba memeriksa denyutan nadi Be Siau soh; ternyata detak jantungnya normal, hanya anehnya gadis itu masih tetap berada dalam keadaan tidak sadar, karena tak tahu apa yang harus diperbuat, pemuda itu menghela napas dan duduk termenung disisinya.

Angin berhembus kencang diluar gua membawa udara yang sangat dingin, tapi suasana dalam gua itu sangat hangat karena disitu ada api unggun yang memberikan kehangatan.

Ong It sin adalah seorang manusia yang sama sekali tidak berakal setelah menaruh kepercayaan kepada keempat belas siluman dari tujuh selat tersebut, maka dia pun tidak menaruh curiga lagi terhadap mereka.

Apalagi sesudah melakukan perjalanan seharian penuh, badan yang penat membuat pemuda itu segera tertidur pulas.

Baru saja terlelap tidur nyenyak, mendadak didengarnya Be Siau soh berbisik.

"Ong toako, cepat bangun! Jangan sampai tertidur..."

Baca Juga: Pendekar Tongkat Dari Liong San 3

Baca Juga: Suling Pusaka Kumala 1

Cari Blog Ini

Diberdayakan oleh Blogger.

Parnert