Ceritasilat Novel Online

Pendekar Bego 7

Eps 7 Pendekar Bego - Can ID

Baca online Pendekar Bego - Can ID

Cersil Pendekar Bego - Can ID.

Waktu itu Ong It sin sudah tertidur pulas ketika dibangunkan oleh Be Siau soh, dengan kaget ia membuka matanya lalu bersiap siap untuk berteriak.

Dengan cepat Be Siau soh menutup mulutnya dengan tangan, kemudian bisiknya.

"Jangan berteriak, jika kau sampai menjerit maka nyawa kita berdua bakal musnah disini!"

Selapis rasa tidak percaya segera menghiasi wajah si anak muda itu. Dengan cepat Be Siau soh berbisik kembali.

"Kau sudah tertipu oleh keempat belas siluman dari tujuh selat, jangan dianggap mereka benar benar ingin bersahabat denganmu, tujuan mereka tak lain adalah untuk merampas kotakmu itu mengerti?"

Ong It sin membungkam diri, tapi dari sorot matanya dapat diketahui kalau ia masih sangsi. Tentu saja Be Siau soh dapat menangkap suara hati pemuda itu, ia menjadi sangat gelisah.

"Apakah kau tidak percaya kepadaku?"

Akhirnya ia berseru. Ong It sin kuatir gadis itu marah kepadanya, buru buru dia berkata.

"Siau soh, kau suruh aku berbuat apa?"

"Ong toako, dengarlah perkataanku"

Ucap Be Siau soh dengan suara lembut.

"jika Tiang bi lo yau menyerbu kedalam gua nanti dan melancarkan serangan kepada kita, maka kau jangan sungkan sungkan lagi terhadap mereka, cakar orang orang itu dengan jari sakti Sin siancimu itu!"

Ong It sin masih saja setengah percaya setengah tidak, pikirnya.

"Bukankah Tiang bi lo yau baik sekali kepada kami? masa secara tiba tiba bisa timbul niat jahatnya kepada kami?"

Malahan ia beranggapan bahwa gadis itu terlalu banyak curiga.

Sekalipun demikian diapun mau tak mau harus berjaga juga, untuk membuktikan apakah dugaan dari Be Siau soh itu benar atau tidak, iapun lantas berpura-pura mendengkur.

Jangan dilihat dia itu bodoh, ternyata gayanya untuk berpura pura cukup meyakinkan suara dengkurannya yang keras dapat terdengar sampai tempat kejauhan.

Mendengar suara dengkuran itu, Tiang bi lo yau dan Pek huat li yau saling berpandangan sekejap sambil tertawa, maksudnya saat yang dinantikan telah tiba.

"Untuk mencegah segala kemungkinan yang tak diinginkan..."

Ujar Tiang bi lo yau.

"lebih baik panggil lo sam dan lo su untuk bersama sama masuk ke dalam gua, beritahu kepada mereka agar bekerja sama secara baik! Sedangkan sisanya berjaga jaga di mulut gua"

Tampaknya siluman perempuan berambut putih ini sangat mengagumi lotoanya, ia berbisik.

"Toako, kau memang hebat!"

"Jangan kuatir, bila berhasil nanti, kau adan aku berhak untuk menggunakannya terlebih dahulu"

Tak lama kemudian, siluman perempuan berambut putih Ciu Kiu koh telah muncul kembali sambil membawa segenap saudara saudaranya.

Kepada Tok gan yau (siluman bermata tunggal) dan Toa tau yau (siluman berkepala besar) ujar Tiang bi lo yau.

"Apakah perkataanku sudah disampaikan oleh ji moay kepada kalian berdua...?"

Dua orang itu segera mengangguk. Tiang bi lo yau segera berpesan lebih jauh "Persiapkan segenap senjata tajam kalian bila sasaran sampai kabur, siapa teledor dialah yang harus bertanggung jawab."

Serentak para siluman menyumbat mulut gua tersebut rapat rapat.

Tiang bi lo yau dengan membawa siluman perempuan berambut putih, siluman bermata tunggal dan siluman kepala besar segera menyerbu masuk ke dalam gua.

Tiang bi lo yau berjalan dipaling muka, kurang lebih setengah kaki kemudian dari sasarannya dia memanggil dengan lirih.

"Sobat Ong! Sobat Ong!"

Walaupun sudah dipanggil berulang kali, ternyata ia tidak menjawab. Melihat itu, siluman perempuan berambut putih segera menutup mulutnya sambil tertawa "Toako, kau terlalu banyak curiga!"

Katanya.

Tiang bi lo yau tidak menjawab perkataan itu, ia segera memberi tanda, serentak para siluman itu mengambil posisi masing masing dan menggerakkan senjatanya siap membacok.

Tiba tiba Ong It sin bergumam.

"Siau soh, Siau soh, kita tak akan dibunuh oleh para siluman bukan...?"

Seruan itu segera membuat keempat orang siluman itu menjadi terperanjat, serentak mereka mundur selangkah kebelakang.

Tapi sesudah menggeliat sebentar, Ong It sin membalikkan badannya dan tertidur kembali.

Kontan saja Tiang bi lo yau mendamprat.

"Maknya, sialan, aku masih mengira bocah keparat ini telah sadar tak tahunya cuma lagi bermimpi!"

Serentak mereka berempat bergerak maju kembali, senjata mereka yakni sebuah tombak untuk Tiang bi lo yau, sebilah golok besar dari siluman bermata tunggal, sebuah seruling baja dari Ciu Kiu koh siluman perempuan berambut putih dan sebuah Sam kiat kun dari siluman berkepala besar segera diayunkan kembali siap melepaskan serangan.

"Sobat Ong!"

Kata Tiang bi lo yau dengan suara lirih.

"jangan kau salahkan kalau lohu berhati kejam, siapa suruh kalian membawa mustika yang tak ternilai harganya? Nah, selamat jalan!"

Selesai berkata, diiringi desingan suara yang amat tajam, keempat buah senjata itu segera diayunkan bersama ke bawah.

Diantara berkelebatnya cahaya golok dan bayangan seruling, dua kali jeritan ngeri yang menyayatkan hati berkumandang memecahkan keheningan, dua sosok bayangan tubuh segera berguling diatas tanah.

Yang tewas bukan Ong It sin dan Be Siau soh, melainkan siluman bermata tunggal serta siluman berkepala besar.

Mereka sudah terhajar oleh jarum beracun ekor lebah yang dilancarkan oleh Be Siau soh.

Sementara Tiang bi lo yau serta siluman perempuan berambut putih pun kena dihantam oleh tenaga pukulan Ong It sin sehingga tubuhnya mencelat keluar dari gua itu.

Perubahan yang terjadi ini sungguh diluar dugaan siapapun, bahkan mimpi pun Tiang bi lo yau dan siluman perempuan berambut putih tak pernah menyangka.

Sejak awal sampai akhir mereka selalu menganggap Ong It sin sebagai manusia paling tolol di dunia ini, sedang Be Siau soh mereka anggap masih tak sadarkan diri, dalam keadaan demikian maka untuk merenggut nyawa mereka berdua akan lebih gampang daripada mengambil barang dari dalam saku sendiri.

Siapa tahu, ternyata dua orang sasaran mereka telah melakukan persiapan yang cukup matang.

Setibanya diluar gua, Tiang bi lo yau segera berteriak mencaci maki dengan suara lantang.

"Dua orang laki perempuan anjing, tak nyana kalian berani menggunakan siasat untuk membunuhi losam dan losu... Hmm! Dendam berdarah ini segera akan kami tuntut balas!"

Be Siau soh tertawa cekikikan.

"Huuuh...! Kau bicara jangan terlalu tekebur, untuk merobohkan kami disaat masih tertidur nyenyak saja kalian tak mampu, apalagi setelah mendusin dari tidur seperti sekarang ini, itulah berarti saat kematian untuk kalian telah tiba!"

"Bila tahu diri, cepat persembahkan pedang Hu si ku kiam dan kitab pusaka Sang yang kiam hoat tersebut kepada kami, seru siluman perempuan berambut putih dengan nyaring, bukan saja kami bersedia mengampuni jiwa kalian, bahkan mengijinkan pula kepada kalian berdua untuk mempelajari bersama isi kitab pedang tersebut"

"Masalah kalian tidak berniat untuk membalaskan dendam bagi kematian adik angkatmu?"

"Asal kalian berdua mau menyerah, aku si nenek menjamin tak akan mengganggu seujung rambut kalianpun!"

"Bisa dipercaya tidak perkataanmu itu?"

"Kalau kurang percaya, kenapa tidak bertanya sendiri kepada Tiang bi lo yau?"

Be Siau soh lantas berpaling ke arah Tiang bi lo yau, kemudian tanyanya.

"Apakah kau pun setuju dengan janjinya itu?"

Tiang bi lo yau tak tahu kalau nona tersebut mempunyai tujuan lain, ia segera mengangguk.

"Yaa, aku setuju!"

Be Siau soh segera mendongakkan kepalanya dan tertawa terbahak bahak.

"Haaahhh... haaahhh... haaahhh... kalian hendak membohongi siapa dengan ucapan tersebut? Kalau dendam sakit hati dari saudara sendiripun bisa dilepaskan, dimana pula letak kepercayaan kalian?"

"Betul manusia manusia itu memang terlalu keji,"

Kata Ong It sin.

"andaikata kau tidak membangunkan aku dari tidur tadi, mungkin selembar jiwaku sudah melayang ditangannya"

Sekarang Tiang bi lo yau baru tahu kalau urusan telah digagalkan oleh Be Siau soh, saking geramnya dia sampai menggertak giginya kencang kencang.

"Perempuan lonte, jadi kau yang merusak rencana baikku? Rekan rekan dengarkan semua, apa pun yang harus kita korbankan, pada malam ini juga kita harus singkirkan lonte ini dari muka bumi"

Para siluman segera berteriak keras, ada tiga empat orang diantaranya segera menyerbu kedalam gua dengan garangnya.

Be Siau soh tertawa dingin, tangannya segera diayunkan ke depan, belasan betang jarum beracun ekor lebah dengan membawa kerlipan cahaya tajam langsung meluncur ke depan.

Dua orang siluman yang bergerak masuk lebih dulu itu adalah Lak ci yau (siluman berjari enam) The In wan serta Hui tui yau (siluman kaki terbang) Ong Kong cu.

Belum sampai setengah kaki mereka menyerbu ke dalam gua, masing masing sudah terhajar telak oleh sambitan jarum beracun itu, diiringi jeritan ngeri yang memilukan hati, kontan saja mereka roboh binasa.

Dengan demikian dari empat belas siluman yang ada, kini tinggal sepuluh orang yang masih hidup.

Betul kawanan siluman itu bertekad ingin membalas dendam, akan tetapi setelah menyaksikan kelihayan dari jarum beracun itu, keder juga hati mereka.

Siluman perempuan berambut putih Ciu Kiu koh segera berkata.

"Lonte busuk ini terlampau keji, kita hadapi saja mereka berdua dengan serangan senjata rahasia pula"

"Betul, betul!"

Seru semua siluman lainnya "Menggunakan senjata rahasia memang merupakan suatu tindakan yang sangat tepat kata Hek sim yau (siluman hati hitam) Pek Kiu hong "tapi dalam gua itu terdapat sudut mati, tempat itu tak mungkin bisa dicapai oleh senjata rahasia kita, jika kita musti menyerang dari tempat luar, bisa sia sia belaka usaha kita itu"

"Lantas apa pendapatmu lo kiu?"

Tanya Tiang bi lo yau kemudian.

"Menurut pendapat siaute, lebih baik kita gunakan asap lebih dulu untuk paksa mereka keluar dari gua tersebut, kemudian baru menyambit mereka dengan senjata rahasia, aku yakin kedua orang bangsat itu pasti tak akan sanggup untuk menghindarkan diri"

"Hebat, hebat, suatu usul yang sangat hebat"

Tiang bi lo yau sambil manggut manggut "selama ini aku dan ji moay selalu mempunyai banyak akal, tak nyana akal lo kiu jauh lebih hebat dari kami semua"

Maka merekapun membagi tugas untuk melaksanakan rencana keji itu...

Tak lama kemudian kawanan siluman itu telah mengumpulkan ranting dan dahan kering dari sekitar sana, mereka menumpuk bahan bakar dimulut gua lalu membakarnya, setelah itu dengan pukulan telapak tangan, dahan dahan yang sudah terbakar itu dikirim masuk kedalam gua.

Dalam keadaan begini, Ong It sin serta Be Siau soh betul betul terjepit, mereka mulai batuk batuk karena napasnya sesak.

Kedua orang itu mulai sadar bahwa tempat ini sudah tak bisa dipertahankan lebih lama lagi.

"Siau soh, apa daya kita sekarang?"

Tanya Ong It sin. Be Siau soh yang biasanya banyak akal sekarang menjadi gelagapan juga dibuatnya.

"Siau soh, bagaimana kalau aku menerjang keluar lebih dulu?"

Usul pemuda itu sambil membusungkan dadanya. Be Siau soh sendiripun sadar bahwa tempat ini sudah tak bisa dipertahankan lagi maka ujarnya.

"Begini saja. Kau melindungi aku didepan sedang aku melancarkan serangan dengan jarum meracun ekor lebah dari belakang, yang paling penting ketika menerjang keluar nanti adalah melindungi tubuh kita sendiri, mengerti?"

"Aku tahu!"

Dalam pada itu asap tebal telah menggulung masuk ke dalam gua bagaikan amukan gelombang, para siluman itu mengira siasat mereka pasti akan mendatangkan hasil yang diharapkan, caci maki dan seruan seruan tekebur sudah terdengar.

Siapa tahu pada saat itulah, mendadak Ong It sin dan Be Siau soh menerjang keluar dari balik gua dengan garangnya.

Suasana menjadi kalut dan gelagapan, dalam keadaan tidak menyangka, sambitan senjata rahasia dari Be Siau soh segera melukai kembali tiga orang siluman.

Itupun serangan dilancarkan dengan membabi buta karena sepasang matanya tak sanggup dipentangkan, coba kalau serangan dilancarkan dengan mata terbuka, niscaya akan lebih banyak lagi korban yang berjatuhan.

Ong It sin yang berada dibarisan terdepan dengan cepat menjadi sasaran pula bagi musuh musuhnya.

Pelbagai senjata rahasia beterbangan kian kemari meluncur kearah tubuhnya.

Meskipun ia tak pandai bersilat, namun ayunan tangannya yang mengawur mendatangkan juga tenaga pukulan yang maha dahsyat, sebagian besar senjata senjata rahasia itu berhasil dipukul rontok olehnya.

Sekalipun ada juga satu dua diantaranya menghajar diatas badannya, itupun tidak meninggalkan luka apa apa, sebab tubuhnya saat itu lebih keras daripada baja.

Kenyataan ini semakin memecahkan nyali tujuh orang siluman lainnya yang masih hidup.

Tiang bi lo yau segera berteriak keras.

"Saudara saudara sekalian, tak usah menghambur hamburkan senjata rahasia dengan percuma, hadapi mereka dengan senjata tajam!"

Senjata berduri yang terbuat dari baja asli itu khusus merupakan senjata tajam penjebol tenaga dalam, diiringi desingan tajam ia langsung membacok tubuh Ong It sin.

Tampaknya si anak muda itu segera akan terluka diujung senjatanya.

Untuk disaat yang kritis Be Siau soh menariknya ke belakang sambil membentak.

"Tiang lo bi yau, sambutlah sebuah tusukan jarum beracun ekor lebahku ini!"

Jarum beracun ekor lebah merupakan salah satu dari tiga macam senjata rahasia terhebat didunia persilatan, Tiang lo bi yau cukup mengenali akan kehebatannya, dengan perasaan terkesiap buru buru ia membuyarkan serangan sambil menghindar ke samping.

Dengan begitu, maka serangannya yang tertuju ke tubuh Ong It sin pun menyambar tempat kosong.

Menghadapi ancaman semacam itu, naik pitam juga Ong It sin dibuatnya, sambil mementangkan jari tangannya ia menubruk ke depan sambil bersiap siap melakukan cengkeraman.

Dengan perasan tercekat Tiang lo bi yau segera melompat mundur ke belakang untuk menghindarkan diri.

Tok ciok yau (siluman bertanduk tunggal) Gan Yau membentak keras, dengan ruyung bajanya dia hantam bahu Ong It sin keras keras.

ooooooo O d w Oooooooo "Braaak...!"

Serangan tersebut bersarang telak dibahu lawan.

Tapi kenyataannya, bukan saja serangan itu tidak berhasil melukai musuhnya, malahan daging hidup yang tumbuh diatas kepalanya kena dicengkeram oleh Ong It sin dengan Sin sian ci nya yang amat tajam itu, darah segar segera bercucuran membasahi sekujur tubuhnya.

Karena kesakitan ia menjerit keras, sepasang kakinya menendang alat kelamin pemuda itu.

Sebodoh bodohnya Ong It sin, dia juga tahu kalau alat kelamin adalah bagian yang mematikan ditubuh orang.

Dengan perasaan gugup tangan kanannya segera ditarik kebelakang keras keras.

Sungguh mengerikan akibatnya, bukan saja daging hidup diatas kepala siluman itu terbelah robek, bahkan sewaktu jari sin sian ci tersebut menyambar lewat dari kening kirinya, biji matanya segera tersambar pula hingga robek.

Ia menjerit keras, saking sakitnya pucat pias wajahnya, segenap tenaganya terasa punah dan otomatis tendangannya juga tidak mendatangkan hasil apa apa.

Tiang pit yau (siluman berlengan panjang) Cho Heng membentak keras, sepasang lengannya direntangkan, kemudian dengan jurus ji liong ciu cu (sepasang naga berebut mutiara) secepat kilat ia mengorek sepasang mata Ong It sin.

Menghadapi sambaran tangan musuh, serta merta Ong It sin miringkan kepalanya untuk menghindar.

Gagal mengorek mata orang, Tiang pit yau merubah serangannya menjadi cengkeraman.

"Breet...!"

Ia sambar pakaian kumal anak muda itu hingga robek.

Ketika kelima jari tangannya menyentuh lengan musuh, ia segera merasakan tangannya seperti mencengkeram diatas batu cadas, segulung tenaga pantulan yang keras membuat kelima jari tangannya tergetar patah menjadi beberapa bagian.

"Bocah goblok, kau berani melukai dua orang saudaraku?"

Bentak Tiang bi lo yau amat gusar.

Diiringi kilatan cahaya perak, senjata durinya langsung menusuk ke depan berulang kali.

Beberapa luka segera timbul ditubuh Ong It sin betul hanya luka luar, akan tetapi cukup membuat pemuda tersebut bermandi darah segar.

Tiang bi lo yau ikut terkesiap juga melihat hasil yang dicapainya, dalam sangkaannya semula, serangan tersebut tentu akan membinasakan lawannya, siapa tahu hanya luka luar yang diderita pemuda itu.

Yang paling memusingkan kepalanya adalah sambitan sambitan jarum beracun dari Be Siau soh, dalam waktu singkat ia telah kehilangan kembali dua orang rekannya yakni siluman perut besar dan siluman bungkuk.

Kini, dari empat belas siluman yang semula hidup ada enam orang sudah tewas dan dua orang terluka parah.

Yang belum terluka sekarang adalah siluman tua beralis panjang, siluman perempuan berambut putih, siluman berhati hitam, siluman berpunggung baja, siluman berkaki panjang dan siluman orang lautan.

Melihat anak buahnya banyak yang jatuh korban, Tiang bi lo yau makin kalap, ia menitahkan rekan rekan untuk menyerang lebih ganas lagi...

Be Siau soh mulai gelisah, tiba tiba teriaknya;

"Ong toako, cepat pergunakan pedang Hu si kiammu itu!"

Ong It sin mencabut keluar pedang Hu si kiam dari dalam kotak, tapi karena tak tahu cara penggunaannya maka dia hanya menggerakkannya kesana kemari secara ngawur.

Pedang Hu si kiam memang sebilah pedang mustika yang luar biasa hebatnya, serentetan cahaya merah dengan cepat memancarkan ke empat penjuru, sinar berkilauan yang memancar keluar dari ujung pedangnya itu ternyata mencapai tujuh depa panjangnya.

Kawan siluman itu menjadi ketakutan setengah mati, buru buru mereka menyingkir ke samping untuk menyelamatkan diri.

Hanya siluman berhati hitam Pek Kiu hong yang tak mau mundur ia terlalu kesemsem dengan pedang tersebut, meski kemudian ia mundur juga dengan hati terkesiap, sayang tindakannya itu terlambat setindak, tubuhnya segera tersambar hingga kutung menjadi dua bagian.

Darah segar dan kutungan badan segera berhamburan ke empat penjuru, keadaannya betul betul mengerikan.

Mula mula kawanan siluman itu agak tertegun menyusul kemudian sambil menjerit kaget mereka melarikan diri terbirit birit meninggalkan tempat itu.

Sekalipun pedang Hu si ku kiam, sarung pedang Cian nian liong siau serta kitab pusaka Sang yang kiam hoat merupakan benda benda mustika yang besar sekali daya tariknya, mereka tak berani untuk memikirkannya kembali.

Bahkan siluman bertanduk tunggal Gan Yan yang terluka parah pun tak sampat ditolong.

Menyaksikan keadaan luka yang diderita Gan Yan, serta biji matanya yang melotot keluar itu, timbul rasa sesal dihati Ong It sin, ia lantas bertanya kepada Be Siau soh;

"Kau punya obat luka luar?"

Be Siau soh mengira pemuda itu hendak mengobati luka sendiri, buru buru jawabnya.

"Ada!"

Sambil memberikan sebuah botol warna hijau kepada pemuda itu, katanya lagi.

"Ong toako, inilah bubuk Ban ing seng cian san yang amat mustajab, mari kuobati lukamu itu"

"Tidak aku bukan ingin mengobati lukaku sendiri"

Jawab Ong It sin sambil menyambut botol obat itu.

"apalah artinya luka sekecil ini bagiku? Aku hendak menghentikan darah yang mengalir ditubuh sahabat she Gan ini, kalau dia sampai mati, tentu sedih pula hatiku!"

Paras muka Be Siau soh segera berubah sambil menarik muka katanya.

"Kau bilang apa? Kau hendak menggunakan obatku untuk menyembuhkan lukanya?"

"Apa tak boleh?"

"Tidak!"

Jawab Be Siau soh sambil merampas kembali botol obat itu.

"kau toh tahu kalau mereka hendak mengobati musuh besar..."

"Siau soh, tak apa kan berbuat sosial?"

Saking mendongkolnya alis mata Be Siau soh sampai berkenyit, serunya dengan gusar.

"Kau tahu, apa akibatnya bila lukanya itu diobati?"

"Masakah dia akan membunuhku untuk membalas dendam?"

"Kau anggap manusia manusia cecunguk semacam ini bisa membalas budi? Setelah sembuh dengan lukanya nanti, bukan cuma mata kananmu saja yang bakal dicukil, mata kirimu pun bisa jadi akan dicukil pula, malahan besar kemungkinan akupun tak akan dilepaskan."

Belum habis dia berkata, siluman bertanduk tunggal yang berbaring ditanah itu sudah berseru dengan penuh kebencian.

"Lonte busuk, tak nyana kau begitu memahami akan diri kami, hmm! Bila ada kesempatan, akan kucincang tubuhmu menjadi berkeping keping."

Ong It sin yang mendengar perkataan itu segera mengerutkan dahinya. Sedangkan Be Siau soh segera tertawa katanya.

"Nah, bagaimana dengan perkataanku? Sudah kau dengar sendiri bukan...?"

Ong It sin manggut manggut.

"Apakah kau masih ingin mengobati lukanya?"

Tanya gadis itu lagi.

"Kalau dia mau membalas dendam, maka itu adalah urusan belakangan, sekarang..."

Saking mendongkolnya, sebelum si anak muda itu sempat menyelesaikan kata katanya Be Siau soh telah membanting botol obat itu ke atas tanah, teriaknya.

"Kau tak usah banyak bicara lagi, kalau ingin menolong dirinya, sana tolonglah sendiri!"

Sambil melengos, dia tidak memandang si anak muda itu lagi.

Ong It sin gelengkan kepalanya berulang kali, dipungutnya botol obat itu kemudian membubuhkan bubuk Ban ing seng cian san tersebut diatas luka siluman bertanduk tunggal, malahan dia merobek pula bajunya untuk membalut luka tersebut.

Siluman bertanduk tunggal meski ganas, ia bukan seorang yang bodoh, semula dia mencaci maki pemuda itu lantaran dalam anggapannya pihak lawan tidak berniat sungguh sungguh untuk menolongnya, melainkan cuma berniat untuk menggodanya saja, sebab sebodoh bodohnya orang tak nanti dia akan melakukan perbuatan seperti ini.

Siapa tahu Ong It sin betul betul goblok nya macam kerbau, apa yang diucapkan ternyata benar benar dilakukannya, sudah barang tentu siluman bertanduk tunggal tak akan menampik kebaikan itu.

Itulah sebabnya sewaktu Ong It sin membubuhkan bubuk obat itu diatas lukanya, dia hanya berdiam diri belaka.

Parah sekali luka dideritanya itu, untuk mengobati luka luka tersebut, Ong It sin telah menghabiskan semua isi botol itu.

Sudah tahu habis, ternyata Ong It sin mengembalikan juga botol kosong Itu kepada Be Siau soh, tak heran kalau gadis itu segera membuangnya jauh jauh sambil mengomel.

"Buat apa menyimpan botol kosong"

Ong It sin menjadi tersipu, ia sedikit merasa tidak enak karena telah menghabiskan obat miliknya. Sebelum ia sempat mengucapkan sesuatu siluman bertanduk tunggal sudah melompat bangun sambil berseru.

"Selama gunung nun hijau, air sungai tetap mengalir, kita jumpa lagi lain waktu"

"Berhenti!"

Hardik Be Siau soh.

Mendengar bentakan itu, siluman bertanduk tunggal menjadi terkesiap, bukan berhenti dia malahan mempercepat larinya kabur meninggalkan tempat itu.

Be Siau soh tak mau berdiam disini ia segera menyusul dari belakangnya..."Siau soh!"

Cepat cepat Ong It sin menarik tangannya.

"kalau bisa mengampuni orang, ampunilah, biar dia kabur!"

Dengan mangkel Be Siau soh melirik sekejap kearahnya, kemudian berkata.

"Kalau ingin menjadi orang baik, suatu hari kau pasti akan menderita kerugian besar"

Ong It sin tidak ambil peduli perkataan itu, malahan katanya.

"Kalau menderita rugi, orang baru akan maju, aku percaya kalau menderita kerugian adalah suatu kejadian yang jelek"

Be Siau soh menjadi teringat kembali akan perbuatannya dimasa lalu yang selalu merugikannya, tapi pemuda itu tak pernah menunjukkan rasa dendam atau benci kepadanya, diam diam ia menjadi agak menyesal.

Cepat cepat ia mengalihkan pokok pembicaraan ke soal lain, katanya.

"Ong toako, sekarang fajar sudah hampir menyingsing, mengapa kita tidak meninggalkan saja lembah ini?"

"Baik!"

Maka berangkatlah kedua orang itu meninggalkan lembah tersebut.

Ketika sinar matahari sudah muncul di angkasa, sampailah kedua orang itu disuatu bukit.

Be Siau soh diam diam memperhatikan si anak muda itu, ketika dilihatnya ia berpakaian dekil, berambut kusut, persis seperti seorang pengemis, timbul perasaan iba dalam hatinya.

"Siau soh!"

Tiba tiba Ong It sin berkata.

"jika aku berhasil membalaskan dendam bagi ayahku mari kita mencari sebuah tempat yang indah, membangun sebuah rumah dan hidup bersama disana. Aaaa... waktu itu, dihalaman luar rumahku akan kuberi pagar bambu, didalam pagar bambu kutanam bebungaan, Siau hok Siau liok bermain petak. Siau siu, Siau si mengejar kupu kupu, aku bertani, kau bertenun, ooh... sungguh tenang kehidupan seperti itu! sukakah kau dengan kehidupan semacam ini?"

"Siau liok siau siu? Darimana datangnya mereka?"

Be Siau soh berpura pura tidak mengerti.

"Tentu saja anakmu dan anakku!"

"Kau yakin kalau aku akan melahirkan anak untukmu...?"

Tanya gadis itu sambil cemberut.

"Kemarin bukankah kau telah berkata. '...bahkan seluruh tubuhku menjadi milikmu...' mau mungkir lagi?"

Dugaan pemuda itu memang benar pikiran gadis itu memang kembali berubah.

Ia sudah terbiasa hidup senang dan mewah, mana mungkin mau hidup sederhana ditempat yang terpencil?

Kemarin, ia dapat berkata demikian karena ia sedang terpengaruh oleh emosi.

Ambil contoh saat ini, dengan kecantikan wajahnya yang harus berjalan mendampingi seorang pemuda jelek yang dekil dan miskin, apakah pasangan ini serasi?

Ia merasa hal tersebut hanya akan menurunkan derajat sendiri saja...

Tentu saja kata-kata tersebut tak dapat dia ucapkan kepada si anak muda itu, karena dia pasti akan sedih bila mengetahuinya.

Lagipula gadis itu memang mempunyai suatu rencana tertentu, dia harus bertindak dengan lebih berhati hati.

Sebab itulah sambil tertawa manis, katanya.

"Tajam amat daya ingatmu!"

"Urusan sepenting ini, mana mungkin bisa kulupakan?"

Sementara itu, mendadak dari hadapan sana muncul seorang sastrawan berusia setengah umur.

Sastrawan itu mengenakan jubah panjang berwarna hijau dengan langkah tubuh yang sangat ringan, sebilah pedang tersoren diatas punggungnya.

Ong It sin segera kenali kembali sastrawan itu sebagai sahabat karib pamannya yang bernama Long tiong tay hiap (pendekar dari zhucuan) Coa Thian tam.

Coa Thian tam pernah memuji mujinya setinggi langit, karena itu Ong It sin menaruh kesan yang sangat mendalam terhadapnya, maka ketika berjumpa dengannya, ia segera berteriak dengan gembira.

"Coa tayhiap!"

Mendengar teriakan itu, Coa Thian tam segera berhenti, lalu ujarnya cepat.

"Maaf kalau aku tidak dapat mengingat kembali siapakah dirimu?"

"Coa tayhiap, masa kau lupa? Si dewa perak Li Liong kan pamanku...!"

"Oooh, kiranya Ong lote, sungguh kebetulan sekali, aku memang sedang mencari jejakmu kesana kemari"

"Ada urusan apa kau datang mencariku?"

"Lote, masih ingatkah kau dengan perkataanku tempo hari, aku hendak memperkenalkan kau dengan seorang paderi lihay"

Ternyata Ong It sin tidak memberikan reaksi yang cukup hangat, dia cuma menggelengkan kepalanya berulang kali.

"Aaah, aku kan sudah bilang, aku enggan menjadi seorang hwesio!"

Serunya.

"Menjadi muridnya toh belum tentu musti mencukur rambut menjadi seorang hwesio"

Ong It sin segera menggaruk garuk kepalanya sambil tertawa bodoh, ujarnya.

"Kalau tidak disuruh menjadi seorang hwesio sih urusan ini boleh dirundingkan kembali, cuma aku sangat bosoh, malah Ay loko sewaktu mengajarkan satu jurus silat kepadaku pun belum pernah berhasil kuyakinkan secara baik"

"Siapakah Ay loko itu?"

Be Siau soh segera menimbrung.

"Coa tayhiap, pernahkah kau mendengar tentang seseorang yang bernama Dewa cebol?"

"Tentu saja,"

Jawab Coa Thian tam dengan terkejut.

"konon orang ini punya selera humor yang tinggi!"

"Nah, orang itulah yang dimaksudkan oleh Ong toako!"

"Oooh... sungguh besar amat rejeki Ong lote!"

Ketika berbicara sampai disini, mendadak timbul kecurigaan dalam hatinya, ia merasa Be Siau soh yang begini cantik kenapa bisa melakukan perjalanan bersama seorang bocah dungu semacam Ong It sin?

Karena ingin tahu, dia lantas bertanya.

"Kalau begitu nona adalah..."

Sebelum ia sempat menyelesaikan kata katanya, Ong It sin telah memperkenalkan "Dia adalah... adikku, Be Siau soh, nona Be!"

Sebetulnya hendak mengatakan dia sebagai calon istrinya, tapi lantaran Be Siau soh mencubit pantatnya secara tiba tiba maka terpaksa dia harus merubahnya menjadi adik.

Sudah barang tentu keadaan itu tidak terlepas dari penglihatan Coa Thian tam.

Selain itu, diapun lantas teringat kalau Be Siau soh adalah putrinya si kelabang hitam Be Ji nio, sudah cukup tersohor kekejamannya dalam dunia persilatan.

Tapi iapun merasa tidak mengerti, kenapa perempuan cabul yang licik dan keji ini bisa tertarik kepada Ong It sin yang ketolol tololan itu...?

"Sudah pasti ada suatu sebab tertentu yang membuat ia bersedia mendekati pemuda itu."

Demikian ia berpikir. Belum sempat ia menyelidiki sebab musababnya tiba tiba terdengar Be Siau soh berkata sambil tertawa merdu.

"Coa tayhiap kau membawa rangsum...?"

Agaknya ia merasa lapar sekali. Buru buru Coa Thian tam mengeluarkan rangsum kering dan dibagikan kepada Ong It sin serta Be Siau soh untuk mengisi perut.

"Aduh mak, kering begini rangsumnya?"

Seru Be Siau soh lagi dengan kening berkerut.

"mana mungkin aku bisa menelannya?"

"Biar kucarikan air untukmu"

Seru Ong It sin dengan cepat.

"kalau dimakan dengan air tentu tidak akan seret lagi"

Seusai berkata dia lantas putar badan dan meninggalkan tempat itu untuk mencari air.

"Hey tolol amat kamu ini"

Teriak Be Siau soh "kalau tidak kau bawa tempat air ini, dengan apa kau akan ambil air tersebut?"

"Waah... aku memang tolol"

Seru Ong It sin sambil menepuk batok kepala sendiri.

"harap Coa tayhiap jangan mentertawakan"

"Tiada orang yang tidak tolol didunia ini, apa yang perlu ditertawakan...?"

Sahut Coa Thian tam.

Setelah menyambut tempat air itu, Ong It sin segera berlalu dari situ.

Menanti bayangan tubuh dari Ong It sin sudah lenyap dari pandangan mata, Be Siau soh baru menghampiri Coa Thian tam, sambil mengangsurkan rangsum kering itu kepadanya, dia berkata.

"Coa tayhiap, kau tak usah sungkan sungkan, hayo terimalah pemberianku ini..."

Dari tingkah laku orang, Coa Thian tam tahu kalau gadis itu sedang berusaha untuk merayunya agar masuk perangkap.

Sebagai seorang lelaki sejati, sudah barang tentu tidak mudah Coa Thian tam jatuh terpikat olehnya, buru buru dia menyahut.

"Aku tidak lapar..."

Be Siau soh segera tertawa cekikikan.

"Lantas sampai kapan kau baru akan merasa lapar?"

Tanyanya.

Sepatah kata dengan dua arti, sungguh merupakan suatu tantangan untuk bermain cinta yang merangsang hati.

Diam diam Coa Thian tam mengerutkan dahinya menyaksikan tingkah laku gadis tersebut, pikirnya.

"Perempuan siluman, kau berani merayu aku?"

Buru buru dia mengalihkan pokok pembicaraan ke soal lain, ujarnya.

"Nona Be, coba lihatlah, Ong lote telah membawakan air untukmu...!"

Gerakan tubuh Ong It sin benar benar cepat sekali, secepat sambaran kilat dia lari mendekat kehadapan mereka berdua.

"Coa tayhiap"

Katanya sambil tertawa haha hihi.

"coba kau lihat, bagaimana dengan ilmu meringankan tubuhku?"

"Baru berpisah berapa waktu, kau betul betul sudah peroleh kemajuan yang pesat sekali"

Be Siau soh kontan melotot sekejap kearahnya.

"Goblok! Mempamerkan diri didepan orang pintar, apakah kau tidak malu ditertawakan oleh tayhiap?"

"Coa tayhiap bukan manusia semacam itu, dia tidak akan mentertawakan aku..."

Buru buru Ong It sin menjawab sejujurnya. Be Siau soh segera mendengus dingin.

"Hmm... rupanya kalian adalah sahabat karib!"

Serunya.

Ia lantas melengos kearah lain dan tidak memandang kearah mereka lagi.

Ong It sin menjadi tertegun, dia mengira kedatangannya terlalu lambar, maka buru buru kantong air itu diserahkan kepadanya seraya berkata.

"Siau soh air ini bersih dan segar sekali, kalau tidak percaya cobalah sendiri... Kalau menurut suara hati Be Siau soh, dia ingin sekali cepat cepat pergi meninggalkan kedua orang itu, tapi diapun merasa enggan untuk melepaskan pedang mustika Hu si ku kiam dengan begitu saja, maka pikirnya dihati. Kalau hendak pergi meninggalkan mereka, aku harus menunggu sampai ia berhasil mendapatkan mustika itu lebih dulu... yaa untuk mewujudkan keinginanku ini, aku harus baik baik bersikap kepadanya, jangan ia keburu menaruh kecurigaan kepadaku"

Berpikir sampai disitu dengan suara manja sengaja dia berkata.

"Hmm! Siapa suruh kau tidak cepat cepat pulang kembali, bikin hati orang merasa kuatir saja"

"Kau menguatirkan diriku?"

Tanya Ong It sin. Ditatapnya sekejap pemuda itu dengan penuh rasa mesrah, kemudian jawab si gadis.

"Aku kuatir kalau kau sampai berjumpa lagi dengan kawanan siluman tersebut, jika barang barangmu sampai dirampas kan berabe?"

"Jangan kuatir"

Jawab Ong It sin dengan penuh rasa terima kasih.

"sekalipun aku tak pandai bersilat, kalau tak bisa menangkan mereka, toh aku masih bisa kabur?"

"Kalau kau bisa berbuat demikian, sia sia saja aku menguatirkan dirimu tadi!"

Perempuan ini memang pandai sekali merayu, kata katanya selalu lebih manis daripada gula.

Tiba tiba Ong It sin merasa tidak sepantasnya untuk mendiamkan Coa Thian tam seorang diri, maka buru buru ia berkata.

"Coa toako, suhu yang hendak kau perkenalkan kepadaku itu tinggal dimana?"

"Tidak terlalu jauh letaknya disini, dalam sebuah kuil kuno diatas puncak bukit Hadankorli!"

"Kalau begitu, mari kita berangkat sekarang juga"

"Sekarang juga berangkat memang lebih baik, cuma apakah nona Be bersedia untuk mengiringi perjalanan kita ini?"

"Tak maupun terpaksa harus mau"

Jawab Be Siau soh.

"masa aku mau ditinggal seorang diri ditengah perbukitan yang terpencil seperti ini?"

"Kalau memang demikian, hayolah kita berangkat sekarang juga"

Maka sambil bergerak cepat, Coa Thian tam berjalan lebih dulu dipaling depan. Sedangkan Ong It sin dan Be Siau soh mengikuti dibelakangnya.

"Ong toako, bisa dipercayakah temanmu itu ditengah jalan Be Siau soh bertanya.

"Coa toako adalah seorang pendekar besar kalau diapun tak bisa dipercaya, maka didunia ini tak ada yang bisa dipercaya lagi"

Setelah berhenti sejenak, diapun bertanya.

"Kau menaruh curiga kepadanya?"

"Itulah penyakit lamaku, suka menaruh curiga kepada orang yang barusan kukenal, tapi kalau kau memang berkata demikian, akupun merasa hatiku lebih lega lagi"

Mereka bertiga meneruskan perjalanannya dengan cepat menuju ke arah depan.

Dalam satu hari, mereka telah melewati sembilan bukit tiga belas lembah, dan sampailah diatas bukit Hek mao po.

Sementara perjalanan sedang dilangsungkan, tiba tiba dari belakang sebatang pohon besar muncul seorang pemuda tampan yang berwajah putih bersih.

Sambil menunjukkan sekulum senyuman aneh, pemuda itu menghadang jalan pergi mereka, kemudian menegur.

"Siau soh, akhirnya kau berhasil kutemukan kembali!"

Seraya berkata ia siap maju ke depan untuk memeluk tubuhnya. Ketika Be Siau soh mengenali orang itu sebagai Sangkoan Bu cing yang pernah mempermainkan dirinya, kontan saja ia berkerut kening.

"Sudah ditemukan lantas kenapa? Bukakah kua sudah bilang kalau aku telah tua?"

"Waktu itu aku sedang terpikat oleh beberapa ekor siluman rase sehingga lupa daratan, padahal kaulah yang kucintai... aku telah bertekad bila berhasil menemukan dirimu, maka kita akan kembali keperkampungan Bwe lim ceng untuk menikah... tahun ini kau berusai dua puluh empat tahun, dibandingkan dengan aku masih lebih muda tiga tahun tujuh bulan, kalau kau saja sudah tua, bukankah akupun sudah menjadi kakek tua...?"

Sebetulnya Be Siau soh enggan mempedulikan dirinya, tapi pada dasarnya Sangkoan Bu cing memang memiliki wajah yang tampan dan membuat orang merasa senang dengannya, ditambah lagi dia pandai merayu, hal mana kontan saja membuat semua kemendongkolan gadis tersebut tersapu lenyap hingga tak berbekas lagi.

Sekalipun perasaannya sudah mulai tergerak, namun diluaran ia masih juga berlagak marah, katnaya;

"Hmmm...! Siapa yang mau percaya dengan perkataan setanmu itu...?"

Sangkoan Bu cing segera mengangkat sumpah, katanya.

"Jika aku berani mempunyai pikiran jahat atau tidak tulus kepadamu, biar aku dikutuk mati mengenaskan!"

Buru buru Be Siau soh menutupi mulutnya, lalu mengomel.

"Siapa suruh kau bersumpah dihadapanku?"

"Kalau tidak begitu, sekalipun kukorek keluar hatiku, belum tentu kau suka mempercayainya?"

Diam diam, Be Siau soh memperbandingkan dia dengan Ong It sin, akhirnya setelah termenung sekian lama, ia putuskan untuk menerima kembali pernyataan cinta dari pemuda ganteng ini.

Dengan suara lirih dia lantas berbisik.

"Kau tak usah bersumpah lagi, aku percaya dengan perkataanmu!"

Kalau begitu, berpisahlah dengan mereka.

"Apakah kau masih akan mengincar sesuatu benda? Apakah kau belum mau melepaskannya sebelum berhasil mendapatkannya?"

Tanya Sangkoan Bu cing dengan wajah tertegun.

"Kau memang pintar sekali, sekali tebak lantas berhasil menduganya, betul pedang mustika Hu si ku kiam dan sarung pedang Cian nian liong siau memang masih berada ditangan sitolol itu"

"Aaah...! Apalah artinya sebilah pedang bobrok bila dibandingkan dengan seorang gadis ayu yang cantik jelita dan genit seperti kau? Lebih baik tak usah diurusi pedang bobrok itu lagi"

Sengaja Sangkoan Bu cing merayu.

"Tampaknya sekarang kau benar benar telah mencintaiku..."

Kata Be Siau soh.

"cuma pedang itu adalah mustika didunia, seorang tolol tak pandai bersilat macam diapun sanggup mengobrak abrik empat belas siluman dari tujuh selat, apalagi ditangan orang berilmu? Inilah kesempatan yang sangat baik untuk kita, bagaimana jika kau tunggu dulu sampai aku berhasil mendapatkan benda itu lebih dulu?"

"Siau soh, kekasihku kalau tidak berhasil yaa sudahlah jangan terlalu dipaksakan!"

Bisik Sangkoan Bu cing lembut. Semakin pemuda itu berkata demikian semakin bernapsu Be Siau soh ingin mendapatkan pedang mustika tersebut. Dengan suara dalam ia berpesan.

"Tunggulah aku ditengah jalan sana!"

Selesai berbisik, ia sengaja berseru dengan suara keras.

"Meskipun Ong toako bukan seorang lelaki berwajah tampan, tapi hatinya baik sekali, aku tak akan tertipu lagi olehmu... selamat tinggal...!"

Selesai berkata, ia lantas melompat ke hadapan Ong It sin.

Semenjak melihat kemunculan Sangkoan Bu cing, Ong It sin sudah merasakan hatinya sangat tidak tenang, dia kuatir Be Siau soh akan meninggalkan dirinya lagi.

Siapa tahu bukan saja gadis itu tidak pergi mengikuti pemuda tampan itu, sebaliknya malahan menampik ajakannya.

Betapa terharunya dia setelah mendengar perkataan si nona yang menolak ajakan Sangkoan Bu cin secara tegas tegas itu.

Saking girangnya, tanpa ragu ragu lagi dirangkulnya Be Siau soh kedalam pelukan kemudian berseru.

"Kau baik sekali..."

Ong It sin memang bodoh dan tak pandai berbicara, ia tak dapat mengutarakan isi hatinya itu dengan kata kata.

Sekuat tenaga Be Siau soh meronta dari pelukannya, tapi tak berhasil melepaskan rangkulannya yang kuat itu, dengan mencibirkan bibirnya ia lantas berseru.

"Ong toako apakah kau tahu kalau disini masih ada orang lain...?"

Sesudah mendengarkan perkataan itu, Ong It sin baru melepaskan rangkulannya.

Ketika berpaling ke arah Coa Thian tam, ternyata pendekar dari Zhucuan ini tahu diri juga sambil bergendong tangan ia sedang memandang awan diangkasa dan berlagak seakan akan tidak melihatnya.

Meski begitu, merah juga selembar wajah Ong It sin karena jengah, dengan suara lirih ia berbisik.

"Coa toako, mari kita berangkat!"

"Siapakah orang itu?"

Tanya Coa Thian tam kemudian.

"Orang ini adalah kenalan kami dulu, kalau dibicarakan mungkin Coa toako pun merasa tak terlalu asing, sebab dia adalah putra Bwe hoa kiam khek Sangkoan Ceng yang bernama Sangkoan Bu cing!"

"Konon bocah itu adalah seorang lelaki hidung bangor, tampaknya memang tak salah kata orang"

Ucap Coa Thian tam lagi.

Seraya berkata, dia melanjutkan kembali perjalanannya menuju kedepan...

oooOdwOooo Menjelang magrib, sampailah mereka di depan sebuah kuil kuno yang sudah lama tak berpenghuni.

Untuk mengisi perut, Coa Thian tam memburu dua ekor kelinci dan tiga ekor ayam alas.

Dengan mengumpulkan ranting kering, mereka pun memanggang hasil buruan itu ditengah ruangan kuil.

Ketika bersantap, ternyata secara diam diam Be Siau soh telah menyisihkan separuh bagian ayam panggang dan sebuah paha kelinci.

Melihat itu, Ong It sin segera bertanya.

"Buat apa kau menyisihkannya? Besok Coa toako kan bisa memburu lagi untuk kita"

Be Siau soh mengerling sekejap ke arahnya, kemudian menjawab.

"Belakangan ini setiap menjelang tengah malam, perutku selalu terasa amat lapar, maka aku perlu menyisihkannya untuk mengisi perut bilamana perlu... kau masih belum cukup?"

"Oooh... tidak, tidak, sudah cukup!"

Sahut Ong It sin sambil menggoyangkan tangannya berulang kali.

Rembulan telah muncul dari balik awan sinar yang redup menyinari seluruh permukaan tanah.

Tiba tiba Ong It sin menuding ke arah kotak besi itu sambil berkata.

"Coa toako tahukah kau apa isi kotak besi yang selalu kubawa bawa ini...?"

Baru habis ia berkata, buru buru Be Siau soh mengerling kepadanya berusaha mencegah pemuda itu bicara lebih lanjut, tapi karena tak sempat lagi, terpaksa dengan gemas ia mencubit paha pemuda itu.

Ong It sin berkulit tebal, sekalipun cubitan itu tidak terasa sakit, toh ia memandang keheranan juga kepadanya sambil bertanya;

"Siau soh mengapa kau mencubit diriku?"

Be Siau soh tahu kalau si tolol ini sama sekali tak berotak, maka jawabnya.

"Aku menyaksikan ada seekor laba laba hendak menggigitmu, kau tahu jika sampai tergigit laba laba tersebut, kau bisa mampus"

Ketika Ong It sin berpaling, betul juga, diatas tanah memang benar benar tergeletak seekor laba laba yang telah mampus, dengan begitu kecurigaannya pun lenyap tak berbekas.

Sementara itu Coa Thian tam telah menjawab.

"Sudah sejak pertama kali tadi aku merasa keheranan, mengapa kau selalu membawa bawa kotak besi yang tampaknya sangat berat itu, kalau lote bersedia memberitahukan kepadaku tentu saja akan kudengarkan dengan gembira"

Dengan bangga Ong It sin berkata.

"Kau tahu dalam kotak ini bukan saja berisikan sebilah pedang Hu si ku kiam dan sarung pedang Cian nian liong siau, lagi pula terdapat pula se

Jilid kitab pusaka Sang yang kiam hoat!"

Sambil berkata, ia lantas membuka penutup kotak besi itu.

Sebagai salah seorang dari Ih lwe su eng (empat orang gagah dari dalam jagad), sudah barang tentu Coa Thian tam cukup mengetahui akan berharganya beberapa macam benda tersebut iapun tahu bahwa satu macam saja dari benda itu sudah dapat membuat orang tergiur, apalagi tiga macam benda mustika berada bersama dalam satu kotak, tak heran kalau hatinya merasa terkejut sekali.

Ia menerima angsuran pedang itu diloloskan dari sarungnya, cahaya merah yang menusuk pandangan segera memancar keempat penjuru.

"Pedang bagus! Pedang bagus!"

Pujinya. Setelah mempermainkannya sebentar, ia mengembalikan pedang berikut sarungnya itu kepada Ong It sin. 00ooodwooo-00

Jilid 18 DENGAN wajah penuh kegembiraan ia menyerahkan pula kitab pusaka Sang yang kiam hoat itu kepadanya untuk dilihat.

Coa Thian tam adalah seorang jago pedang yang termashur dalam dunia persilatan, setelah membaca kitab itu ia segera terpesona dibuatnya hingga untuk sesaat lamanya menjadi lupa daratan.

Yaa, hakekatnya jurus serangan yang tercantum dalam kitab itu memang amat lihay, tak heran kalau ia menjadi kesemsem dibuatnya.

Ong It sin yang menyaksikan kejadian itu segera tertawa geli, serunya dengan cepat.

"E-eh... jangan jangan diapun seorang tolol seperti aku?"

"Jangan urusi dia, mari kita tidur!"

Kata Be Siau soh sambil menarik ujung bajunya.

Selesai berkata dia lantas berbaring dilantai.

Ia berbaring dengan sepasang kakinya setengah terbuka setengah tertutup, gayanya yang cukup merangsang ini segera membuat Ong It sin menjadi melamun tak karuan.

Tiba tiba terdengar Be Siau soh bertanya.

"Kuil ini ada setannya atau tidak?"

"Jangan kuatir, aku akan tidur disisimu!"

Seru Ong It sin.

"Jangan, kita bisa ditertawakan oleh Coa tayhiap"

"Bagaimana baiknya?"

"Letakkan pedangmu disisiku, dengan senjata ditangan, aku tak akan takut!"

"Aaah... aku memang betul betul amat tolol, kenapa aku lupa dengan pedang mustika ini?"

Setelah menerima pedang Hu si ku kiam dan sarung pedang Cian nian liong siau tersebut, Be Siau soh segera menggenggamnya ditangan dan memejamkan kembali matanya.

Waktu itu, Coa Thian tam sedang mengembalikan kitab pusaka Sang yang kiam hoat tersebut kepada Ong It sin, kedengaran pemuda itu segera berkata.

"Coa toako, simpan saja dulu disakumu, beberapa hari lagi kau baru kembalikan kepadaku!"

Be Siau soh yang belum tertidur menjadi mendongkolnya bukan kepalang, pikirnya.

"Ia betul betul seorang yang tolol, mustika macam apapun seakan akan tiada harganya ditangannya, ia betul betul menjengkelkannya!"

Sekalipun mendongkol juga tak ada gunanya, sebab bagaimanapun juga tak mungkin baginya untuk menghalangi niat pemuda itu apalagi merampasnya, diam diam ia menghela napas panjang.

"Aaai... yaa sudahlah!"

Ia bergumam.

Tak lama kemudian, Ong It sin dan Coa Thian tam telah tertidur nyenyak pulas sambil bersandar didinding.

Ketika yakin kalau kedua orang itu sudah pulas, diam diam Be Siau soh merangkak bangun, ia bermaksud untuk mencuri kitab pusaka Sang yang kiam hoat itu dari tangan Coa Thian tam.

Sayang kitab itu sudah disimpan Coa Thian tam dalam sakunya.

Tiba tiba dari luar kuil berkelebat lewat sesosok bayangan manusia, kemudian terdengar seseorang menegur dengan suara dalam.

"Siau soh, pedang mustika itu telah berhasil kau dapatkan?"

"Sudah!"

Jawab Be Siau soh sambil memperlihatkan pedang mustika Hu si ku kiam berikut sarungnya. Orang itu bukan lain adalah Sangkoan Bu cing, segera pemuda itu berseru kembali.

"Kalau memang sudah berhasil, mau apa kau mengendon terus ditempat itu?"

"Kitab pusaka Sang yang kiam hoat tersebut masih berada ditangan orang she Coa tersebut!"

Jawab Be Siau soh. Pada saat itu lah terdengar Coa Thian tam mengigau.

"Siau soh, benarkah kau akan memberikan anak untukku...?"

Merah jengah selembar wajah Be Siau soh ia mendamprat lirih.

"Sialan kau..."

Sangkoan Bu cing berpura pura tidak mendengar, serunya malah.

"Hayo kita segera berangkat!"

Dalam keadaan demikian, Be Siau soh tak dapat menunggu sampai ia berhasil mencuri kitab pusaka Sang yang kiam hoat lagi, bersama Sangkoan Bu cing cepat cepat mereka kabur meninggalkan kuil tersebut.

Dengan keberhasilan mendapatkan pedang mustika itu, dikemudian hari mereka telah menerbitkan banyak sekali pembunuhan mengerikan dalam dunia persilatan.

Dalam pada itu keesokan harinya ketika Ong It sin bangun dari tidurnya dan tidak menjumpai Be Siau soh berada disana, buru buru ia lari keluar dari kuil itu untuk mencarinya.

Namun kemanapun ia mencari, bayangan tubuh Be Siau soh tidak ditemukan juga, ini membuat hatinya merasa semakin gelisah.

"Siau soh! Siau soh!"

Teriaknya berulang kali.

"kau berada dimana...a"

Oleh karena suaranya nyaring, sampai sampai membuat Coa Thian tam yang berada dalam kuil pun terbangun olehnya. Dengan cepat ia memburu keluar kuil sambil bertanya.

"Ong lote, apa yang telah terjadi?"

"Siau soh telah hilang"

Jawab Ong It sin dengan wajah hampir menangis karena sedihnya. Melihat itu, Coa Thian tam menjadi tertegun, katanya.

"Aaah! tidak mungkin, masa orang sebesar itu bisa lenyap tak berbekas dengan begitu saja?"

"Akupun berpendapat demikian, tapi sudah kucari kian kemari, jangankan menjumpainya, bayangan tubuhnya pun tidak berhasil kutemukan"

Setelah berhenti sejenak, ia melanjutkan.

"Jangan jangan ia sudah dibunuh orang?"

"Aaah... aku pikir hal ini tak mungkin, kalau orang itu hendak mencelakai Siau soh, kenapa ia tidak mencelakai pula kita berdua?"

Sebenarnya dia hendak berkata.

"Kecuali dia berniat hendak pergi meninggalkan dirimu!"

Tapi setelah menyaksikan sikap Ong It sin yang termangu mangu seperti orang bodoh itu, ia menjadi tak tega.

Sebab itu, kata kata yang sudah berada di tepi bibir segera ditelan kembali.

Sejak itu, Coa Thian tam dengan menemani si tolol yang romantis ini menjelajahi hutan dan gunung untuk mencari jejak Be Siau soh, tapi setengah bulan sudah lewat, bayangan si nona belum juga ditemukan.

Dalam keadaan begini, Coa Thian tam terpaksa berkata.

"Ong lote, jika dia tak ingin mengikuti dirimu, sekalipun ia kau cari juga tak ada gunanya. sebaliknya kalau ia ditangkap orang maka pertama tama kau musti belajar silat lebih dulu, kemudian baru menolongnya..."

Karena merasa perkataan itu benar juga, maka Ong It sin pun menghentikan usaha pencariannya.

Coa Thian tam segera membawanya menuju ke puncak bukit Handankorli.

Puncak bukit itu merupakan bukit utama dari rentetan pegunungan Thian sam, ketinggiannya mencapai tujuh ribu dua ratus meter dari permukaan laut.

Karena letaknya yang sangat tinggi, maka sepanjang tahun tempat itu diselimuti oleh lapisan salju yang sangat tebal.

Baik Coa Thian tam maupun Ong It sin dapat berjalan dengan kecepatan luar biasa, maka setelah mendaki selama tiga hari penuh, sampailah mereka diatas puncak bukit itu.

Ketika tiba ditempat tujuah, magrib telah menjelang tiba.

Bunyi genta yang nyaring lamat lamat berkumandang datang dari balik kuil kuno di puncak bukit tersebut, suaranya merdu dan mengejutkan siapapun yang mendengarkan.

Menyaksikan kuil yang angker itu, tanpa terasa Ong It sin bertanya dengan keheranan.

"Coa toako, apakah kuil inilah yang kau maksudkan?"

"Inilah puncak Handankorli, tiada kuil Sian gwan si kedua ditempat ini...!"

Jawab Coa Thian tam!

Sambil berbicara, kedua orang itu menelusuri jalan bukit dan menuju ke kuil kuno itu.

Belum sampai dipintu kuil seorang hwesio setengah umur telah muncul sambil menyambut kedatangannya, kepada Coa Thian tam ia berkata.

"Sicu, sungguh cepat kedatanganmu kali ini!"

"Apakah sin-ceng bisa menerima tamu pada saat ini?"

Tanya Coa Thian tam cepat.

"Dapat pinceng justru mendapat petunjuk dari sinceng untuk menyambut kedatangan sicu berdua!"

"Toa hwesio, kau maksudkan sinceng dapat meramalkan kejadian yang akan datang?"

Tanya Ong It sin terkejut bercampur keheranan.

"Sebagai orang beragama pinceng tak biasa berbohong, betul, sinceng memang memiliki kepandaian untuk meramalkan nasib dan keadaan yang akan datang."

Demikianlah, dengan dipimpin oleh hwesio setengah umur itu, mereka berdua memasuki ruang depan dan menuju kemar belakang sepanjang perjalanan mereka menjumpai ada enam tujuh orang hwesio sedang melakukan sembahyangan malam diruang tengah.

Melihat kesemuanya itu, Ong It sin lantas berpikir.

"Mereka hidup ditempat yang terpencil, heran darimana mereka dapatkan bahan makanan?"

Belum habis ingatan tersebut melintas di dalam benaknya, hwesio setengah umur itu telah berseru dengan penuh rasa hormat di depan pintu.

"Coa sicu berdua telah datang!"

"Suruh mereka masuk!"

Jawab seseorang dari dalam ruangan dengan suara nyaring.

"Sinceng mempersilahkan kalian berdua masuk kedalam kamar, maaf pinceng tak akan menemani lebih jauh"

Hwesio setengah umur itu segera berkata. Setelah hwesio setengah umur itu mengundurkan diri Coa Thian tam baru mengajak Ong It sin masuk kedalam ruangan sambil menyembah sujud.

"Boanpwe telah berhasil mengundang Ong lote untuk datang menjumpai sinceng"

Katanya.

Sewaktu menyembah Ong It sin sempat menyaksikan wajah si hwesio tua yang angker dan penuh kewibawaan itu.

Selesai memberi hormat, mereka berdua lantas berdiri penuh rasa hormat disisi ruangan.

Dengan sorot mata yang tajam, hwesio tua itu mengawasi Ong It sin beberapa saat lamanya, kemudian sambil manggut manggut katanya.

"Pilihan Coa tayhiap memang tepat, bukan saja orang ini berbakat alam dan merupakan bahan paling baik untuk belajar silat, diapun berhati jujur dan baik, sungguh sungguh merupakan sebuah batu kemala yang belum digosok!"

Kemudian dengan kening berkerut katanya lebih jauh.

"Sayang jalan pemikiran orang ini masih belum terbuka, seandainya tidak dioperasi dulu, selamanya tak akan menghasilkan apa apa"

"Tak heran ketika si dewa cebol memberi pelajaran jurus Liong seng kiu cu kepadanya, walaupun sudah dilatih dua puluh kali ia juga tak berhasil menguasainya, setelah mendengar penjelasan dari Sinceng sekarang, pikiran boanpwe baru benar benar terbuka"

"Loceng merasa berterima kasih sekali atas bantuanmu untuk membawanya datang kemari"

Kata hwesio tua itu kemudian.

"orang ini akan kuterima sebagai muridku!"

Mendengar kata kata tersebut dengan cepat Ong It sin berseru.

"Untuk menjadi muridmu tentu saja aku suka, tapi hwesio tua... kau musti berjanji dulu, aku cuma mau menjadi muridmu tapi tak mau mencukur rambut menjadi hwesio, sebab kalau kepalaku gundul tentu akan susah mencari bini!"

Melihat pemuda itu berbicara secara kasar dan tak tahu kesopanan, buru buru Coa Thian tam membentak.

"Ong lote, lain kalu kau musti memanggil suhu kepada sinceng, mengerti?"

Belum sempat Ong It sin menjawab, hwesio tua itu telah menggelengkan kepalanya berulang kali.

Lolap tidak terbiasa dengan segala tata cara, biarkan saja ia berbicara semaunya sendiri!

Oya, setelah melakukan perjalanan jauh, kalian tentu sangat lelah bukan?

Pergilah bersantap sedikit kemudian beristirahat dulu."

Coa Thian tam segera mengajak Ong It sin mengundurkan diri dari ruangan itu.

Selesai bersantap, merekapun pergi beristirahat.

Tengah hari keesokan harinya, Hwesio tua itu mengundang kembali Coa Thian tam untuk menghadap kepadanya, ia berkata.

Coa tayhiap, lolap telah mempersiapkan segala sesuatunya, malam ini akan kubukakan jalan pikiran It sin yang tersumbat itu, nanti datanglah untuk membantuku"

Buru buru Coa Thian tam mengiakan. Sebelum meninggalkan ruangan, dari sakunya Coa Thian tam mengeluarkan kitab pusaka Sang yang kiam hoat itu dan diserahkan kepada Sinceng sambil berkata.

"Sebenarnya kitab ilmu pedang itu berada menjadi satu dengan pedang antik Hu si ku kiam, tidak beruntung pedang antik itu telah dilarikan Be Siau soh, untung kitab ini telah diserahkan kepada boanpwe lebih dulu, aku tahu kalau saudara It sin itu orangnya bodoh, daripada terjatuh ke tangan orang yang jahat dan menyebabkan timbulnya bencana bagi umat persilatan, aku sengaja menahannya lebih dulu"

Pendeta suci itu menerima kitab tadi dan dibalik balik sebentar, kemudian katanya.

"Ilmu pedang Sang yang kiam hoat adalah ciptaan dari seorang jago pedang yang lihay sekali, bila ketujuh puluh dua jurus ilmu pedang ini berhasil dipelajari, kemudian digunakan bersama sama pedang antik Hu si ku kiam, maka tak seorangpun manusia dalam dunia ini yang bisa menandinginya, rejeki bocah ini benar benar besar sekali"

"Yaa, untung saja pada malam itu dia serahkan kitab ini kepadaku dan minta aku untuk menyimpannya baik baik, coba kalau sampai dibawa kabur oleh Be Siau soh, entah bagaimana jadinya, mungkin inilah kehendak ilahi"

Pendeta suci itu manggut manggut dan menyatakan persetujuannya dengan pendapat itu.

Maka Coa Thian tam pun mohon diri.

Malam itu ketika tengah malam sudah tiba, Pendeta suci muncul dalam kamar tamu, begitu melangkah ke dalam ruangan, secara beruntun dia menotok ketiga ratus enam puluh lima buah jalan darah ditubuh Ong It sin.

Sementara itu Coa Thian tam telah berdiri menunggu disisinya, semua jendela dan pintu telah ditutup rapat.

"Tanggalkan semua pakaian yang ia kenakan!"

Perintah pendeta itu.

Setelah semua pakaian yang dikenakan Ong It sin ditanggalkan, dari sakunya Pendeta itu mengeluarkan sebilah pedang kecil yang berbentuk aneh, selapis cahaya emas lamat lamat memancar keluar dari balik senjata tersebut.

Kemudian ia mengeluarkan pula sebatang jarum yang bercahaya tajam, jarum itu diletakkan diatas sebuah baki kemala.

Setelah duduk bersila dibelakang tubuh Ong It sin, pendeta itu menempelkan telapak tangannya yang kurus kering itu keatas jalan darah Thian leng hiat, kepada Coa Thian tam pesannya.

"Dikala aku menyalurkan tenaga dalam ketubuh Ong It sin nanti, kau harus mulai menghitung dari angka satu sampai seratus kemudian, gunakan pedang emas Muni kin kiam untuk membelah kulit perutnya, setelah itu gunakan jarum Ling long hui ciam untuk menusuk hatinya sebanyak tujuh kali setiap tusukan harus sampai tembus, mengerti?"

Coa Thian tam cukup mengetahui akan kemampuan sipendeta suci itu, setelah mengiakan, ia mulai bekerja.

Walaupun sesungguhnya dia hanya disebut sebagai pembantu, namun dalam kenyataan dialah yang melakukan operasi itu.

Menanti Coa Thian tam sudah mulai menghitung dari angka satu sampai seratus, Ong It sin yang sudah tertidur nyenak itu penuh dialiri hawa panas yang berkobar kobar.

Sedikit banyak tangannya agak gemetar juga, apalagi pedang Muni kim kiam itu tajam sekali hanya sedikit merobek, perut Ong It sin sudah terbelah.

Dari antara isi perut yang beraneka ragam itu, dengan cepat ia berhasil menjumpai hati yang berwarna merah darah itu.

Meminjam sorotan cahaya lampu yang mencorong dalam ruangan, seperti apa yang diucapkan sipendeta suci tadi, ternyata hati pemuda itu semuanya tersumbat dan buntu sama sekali.

Coa Thian tam memang seorang penotok jalan darah yang ahli, dengan jarum Ling long hui ciam ia mulai menusuk hati itu sebanyak tujuh kali, semuanya dilakukan sampai tembus, sebagai seorang ahli tentu saja tusukan itu dilakukan secara jitu.

Selesai melakukan itu, Coa Thian tam melemparkan pedang Muni kim kiam dan jarum Ling long hui ciam keatas baki, setelah merapatkan kembali mulut luka itu, dia baru berbisik lirih.

"Operasi sudah selesai!"

Si Pendeta suci tersenyum dan bangkit berdiri hawa murninya segera disalurkan kembali ke dalam telapak tangannya, kemudian digosok gosokkan di sekitar mulut luka bekas operasi, tak lama kemudian mulut luka itu menutup kembali.

Menanti semua pekerjaan telah selesai, baik si pendeta suci maupun Coa Thian tam sudah bermandikan keringat karena lelah.

Coa Thian tam menyelimuti badan Ong It sin, kemudian berkata lagi.

"Walaupun Ong lote memiliki hati yang terbuka dan pintar sekarang, sayang wajahnya terlalu jelek sehingga siapapun enggan membaikinya, apakah sin ceng mempunyai sesuatu cara yang bisa membuatnya berubah wajah?"

Lama sekali si pendeta suci itu mengawasi raut wajah Ong It sin sampai lama sekali... tiba tiba seperti menjumpai sesuatu, ia berseru memuji keagungan sang Buddha.

"Omintohud! Hampir saja lolap terkecoh, rupanya It sin tidak jelek semenjak dilahirkan melainkan ia mengenakan selapis kulit manusia yang amat sempurna pembuatnya."

"Tidak mungkin!"

Seru Thian tam setelah tertegun sejenak.

"masa dia sendiripun tidak tahu akan hal ini?"

"Lolap akan segera membuktikan untukmu!"

Sambil berkata pendeta suci itu lantas menyeka diatas wajah Ong It sin, selembar kulit manusia dengan cepat terlepas dari wajahnya itu.

Begitu muka aslinya terbentang didepan mata, baik Coa Thian tam maupun si pendeta suci itu sama sama tertegun dibuatnya.

"Oooh... tidak kusangka kalau didunia masih terdapat pemuda setampan ini"

OooooodeOwioooooo Tiga tahun lewat tanpa terasa, meskipun tiga tahun itu sangat pendek, namun dunia persilatan telah mengalami suatu perubahan yang besar sekali.

Secara beruntun para jago golongan hitam yang sudah tersohor namanya dalam dunia persilatan selama hampir dua puluh tahun lamanya seperti Ih lwe siang mo (sepasang iblis dari jagad) yang bermukim dibukit Tay heng san, Tee lang kun pocu dari benteng Khek po, Say siu jin mo, Lam huang pat yau (delapan siluman dari Lam huang) tujuh siluman yang tersisa dari empat siluman Jit sia cap si yau berturut turut telah menggabungkan diri dengan perkumpulan Ki thian kau.

Konon kaucu dari perkumpulan Ki thian kau ini adalah seorang manusia yang amat misterius, pelbagai berita tersebar dalam dunia persilatan tentang orang ini.

Ada yang bilang ketua Ki thian kau adalah seorang iblis tua berkepala tiga berlengan enam!

Ada yang bilang dia adalah seorang siluman aneh berambut merah bermata hijau.

Ada pula yang bilang dia adalah seorang perempuan genit yang jalang...

Sebenarnya macam apakah orang itu, mungkin hanya Tee lwe siang mo, Tee leng kun, Say siu jin mo...

dan sementara beberapa gembong iblis yang tahu.

Terlepas dia itu laki atau perempuan, tua atau muda, yang pasti ilmu silatnya luar biasa sekali.

Ini terbukti dari kemampuannya untuk menaklukkan pelbagai gembong iblis dari segala penjuru dunia, tanpa kungfu yang lihay, tak mungkin gembong iblis itu sudi tunduk di bawah perintahnya.

Tapi sejenak gembong gembong iblis itu menyerah dan menyatakan kesanggupannya untuk bergabung diri, pelbagai kawanan iblis lain pun berbondong bondong datang bergabung serta menyatakan kerelaan mereka untuk masuk partai.

Dalam waktu singkat, kekuatan Khi thian kau dalam dunia persilatan pun mengalami perubahan seratus delapan puluh derajat.

Dalam keadaan demikian, para jago dari golongan lurus tak berani bergerak secara terang terangan lagi dalam dunia persilatan.

Sepuluh partai besarpun melarang anak muridnya untuk meninggalkan gunung barang selangkahpun.

Kendatipun demikian, banjir darah masih berlangsung terus tiada hentinya.

Pengaruh serta kekuasaan Ki thian kau makin lama semakin hebat, tindak tanduk merekapun semakin brutal, segenap umat persilatan dan perkumpulan yang enggan takluk kepada mereka, dibasmi dan dibantai secara kejam, mereka ditumpas keakar akarnya.

Kebrutalan dan kebuasan mereka boleh dibilang tiada keduanya dalam sejarah persilatan.

Seperti misalnya bulan berselang.

Siok tiong It liong (naga sakti dari Siok tiong) Cui Long, salah seorang dari ih lwe su eng yang enggan takluk kepada mereka, dalam kenyataannya satu keluarga yang terdiri dari seratus tiga puluh orang jiwa telah dibantai secara brutal oleh orang orang Ki Thian kau.

Tak lama kemudian, benteng Ang yap poo mendapat gilirannya.

Ya li kiam Tang Siau wan yang cantik juga jatuh korban, sebelum dibunuh gadis malang ini digagahi secara bergilir oleh delapan siluman dari Lam huang.

Kini, serombongan besar laki laki berbaju merah beralis mata merah, kembali sedang bergerak menuju ke bukit Thian bok san.

Tak usah ditanya jelaslah sudah, bahwa mereka hendak menghadapi Pek lek to (golok halilintar) To Hu hiong.

Sejak mendengar kabar tentang terbunuhnya Ciu Long dan Tang Siau wan, Si golok halilintar To Hu hiong sudah tahu cepat atau lambat kawanan iblis itu bakal datang mencarinya, maka jauh hari sebelumnya dia telah melakukan suatu persiapan yang matang.

Jangan dilihat To Hu hiong orangnya berangasan ternyata cara kerjanya sangat rapi, mula mula dia perkuat dulu pertahanan disekitar lembah Lo sian kok Setelah itu, secara khusus dia membuat pula busur busur otomatis yang dinamakan Cu kat nu.

Pek lek pat ciang (delapan panglima halilintar) mendapat tugas siang malam menjaga keadaan dalam lembah tersebut.

Selain itu, Pek lek to To Hu hiong juga tahu cepat atau lambat lembah po sian kok pasti akan menjumpai pengepungan yang ketat, maka baik soal persediaan senjata maupun persediaan makanan telah dipersiapkan secara pertama.

Tapi, bagaimanapun cermatnya persiapan dari To Hu hiong, toh hatinya gelisah juga memikirkan keadaannya yang kian lama kian bertambah gawat itu.

Dalam keadaan demikianlah, tiba tiba masuk laporan yang mengabarkan akan kedatangan Coa Tayhiap.

Pek lek to To Hu hiong menjadi girang sekali, buru buru ia munculkan diri untuk menyambut kedatangannya.

"Toako, selama banyak tahun ke mana saja kau? Tahukah kau Ciu sam te dan Tang Su moay sekeluarga telah mengalami musibah?"

Menyinggung kembali peristiwa tersebut, tanpa terasa titik titik air mata jatuh bercucuran membasahi pipinya. Dengan wajah sedih dan murung, Coa Thian tam manggut manggut sahutnya.

"Dalam perjalanan menuju kemari, aku mendengar pula tentang kematian dari Sam te dan su moay, aai...! Siapa yang mengira kalau dalam tiga tahun yang begitu singkat, dunia persilatan telah mengalami perubahan sebesar ini..."

Setelah berhenti sebentar, dia melanjutkan "Beberapa tahun belakangan ini aku hanya berada dalam kuil Sian gwan si dipuncak bukit Handankorli"

"Oooh... kau telah bertemu dengan pendeta suci Liong mong sin ceng..."

"Benar, aku telah mendapat pesan dari beliau untuk mengajar ilmu silat kepada seorang muridnya"

"Apakah dia adalah orang yang dicari cari sin ceng selama ini?"

"Benar!"

"Siapakah orang itu?"

"Dia bernama Ong It sin, keponakan Si dewa perak Li Liong yang berdiam di wilayah Su cuan"

Kemudian secara ringkas dia menceritakan kembali apa yang telah dialaminya selama ini... Seusai mendengar cerita itu, To Hu hiong lantas berkata.

"Toako! Mengapa kau tidak mengajaknya untuk kembali ke daratan Tiong goan?"

"Ling mong sin ceng telah berkata, bahwa dia masih harus mempelajari ilmu pertabiban dan ilmu barisan"

"Oooh... berapa lama lagi yang dibutuhkan untuk mempelajari ilmu ilmu tersebut?"

"Yaa, siapa tahu?"

Coa Thian tam geleng gelengkan kepalanya sambil mengangkat bahu.

"Aku rasa hanya murid yang diutus oleh Sin ceng baru bisa mengatasi pertumpahan darah yang sedang melanda dalam dunia persilatan dewasa ini, tapi... kuil Sian gwan si terletak begitu jauh dipuncak Handankorli yang berada digunung Pak thian san, darimana mereka bisa tahu tentang peristiwa yang sedang menimpa daratan Tionggoan?"

Coa Thian tam segera tertawa.

"Bukankah sudah kukatakan bahwa Sin ceng pandai ilmu perbintangan? Apalagi sejak hati Ong It sin ditembusi, kecerdikannya luar biasa, apa yang diajarkan kepadanya segera dapat dipahami dalam waktu singkat, sejak ia belajar ilmu pertabiban dan ilmu barisan, sampai sekarang tiga bulan sudah lewat, siapa tahu kalau dia turun gunung jauh lebih awal?"

Sementara pembicaraan sedang berlangsung, dalam ruang tamu muncul seorang nyonya setengah umur serta seorang pemuda berbaju biru.

Kedua orang ini adalah istri To hu hiong yang bernama Lan hoa jiu (sitangan sakti penotok jalan darah) Liu Bun ing serta putranya To hu Beng.

Setelah saling memberi hormat, Coa Thian tam pun bertanya.

"Te moay, persediaan rangsum kita sanggup bertahan selama beberapa waktu?"

"Kami telah menyiapkan rangsum untuk setengah tahun lamanya"

"Bagus sekali kalau begitu..."

Sesudah berhenti sejenak, kembali dia bertanya "Apa kalian sudah tahu, markas besar perkumpulan Ki thiam kau letaknya dimana?"

"Konon kantor cabang mereka ada dikota Leng an, sedang markas besarnya jarang diketahui orang sampai sekarangpun siaute sendiri juga kurang begitu tahu.

"Kau juga tahu siapakah Thamen dari kantor cabang ini?"

Dari sakunya To hu Hiong mengeluarkan secarik kartu pemberitahuan, kartu itu segera diberikan kepada rekannya.

Coa Thian tam menerimanya dan membaca isi kartu itu, dimana secara garis besarnya dinyatakan agar Pek lek to serta anak buahnya menyerah kalah, kalau tidak mereka hendak mencuci lembah Lo sian kok dengan darah.

Dibawah kartu itu dicantumkan nama ketua kantor cabangnya yakni Kim san sia kiam (kipas emas pedang sesat) Thio Pin.

"Oooh... rupanya lotoa dari Lam huang pat yau!"

Pekik Coa Thian tam.

"kalau begitu kedepalan siluman dari Lam huang ini pasti sudah lama sekali mengincar lembah Lo sian kok"| "Toako, walaupun hanya delapan siluman saja namun lebih dari cukup untuk membuat kita pusing kepala, ketahuilah bahwa kungfu mereka berdelapan tidak berada dibawah kepandaian kita dalam keadaan demikian bisa jadi posisi kita akan bertambah gawat!"

OooookOzoooo Sekalipun kita kalah dalam jumlah kekuatan, toh bisa dilawan dengan kecerdasan"

Kata Coa Thian tam.

"misalnya kita buat parit parit yang dalam untuk menjebak mereka atau menyerang mereka dengan busur busur otomatis dari tempat atas, aku pikir satu satunya jalan yang bisa mereka gunakan hanya memutuskan jalur rangsum kita, meski demikian kita toh bisa mengulur waktu sambil melihat situasi, asal It sin lote sudah sampai di Tionggoan asal dia berseru seluruh partai dan perkumpulan silat disini tentu akan bersatu, saat itu apalagi yang musti kita takuti?"

"Aaai... semoga saja demikian!"

Kata To hu Hiong lirih. Malam itu lewat dengan tenang. Tapi keesokan harinya, seorang penjaga datang melapor.

"Kantor cabang perkumpulan Ki thian kau untuk kota Leng an telah memimpin anak buahnya datang menyerang gunung kita!"

Mendengar laporan tersebut, Pek lek to dan Coa Thian tam dengan membawa kedelapan orang panglimanya berangkat ke mulut lembah untuk memimpin langsung pertahanan ditempat itu.

Tak lama kemudian, Lam huang pat yau dengan memimpin ratusan orang jagonya telah muncul disana.

Kim san sia kiam Thio pin yang merupakan pimpinan rombongan segera mencemplak kudanya maju ke depan, setelah itu dengan lantang dia berseru.

"Wahai orang orang Lo sian kok, dengarkan baik baik perkataanku ini, beritahu kepada Pek lek to To hu Hiong agar tampil ke muka untuk menyambut kedatangan kami!"

Pek lek to segera munculkan diri dari balik jendela benteng, kemudian sahutnya.

"Pun kokcu berada disini, mau apa, kalau ingin berkentut, silahkan cepat cepat melepaskan kentutmu itu!"

"Sejak Ki thian kau didirikan, cita cita kami adalah membebaskan seluruh wilayah Tionggoan dari segala macam pertikaian, banyak sudah jago jago persilatan yang bergabung dengan kami, ketahuilah Lo sian kek hanya suatu tempat yang kecil, apakah kalian hendak melakukan perlawanan?"

"Kau dapat memberitahukan dulu siapa nama kaucu kalian?"

Seru Pek Lek to To hu Hiong dengan suara lantang.

"Kaucu kami adalah keturunan dewa, seorang manusia aneh yang tiada taranya didunia ini, setelah kau menyerah, masa tak akan kau ketahui siapa orangnya?"

Mendengar itu, To hu Hiong segera tertawa dingin tiada hentinya.

"Heeehhh... heeehhh... heeehhh... tak berani menyebutkan nama kaucunya menunjukkan kalau perkumpulan kalian cuma perkumpulan tikus tikus yang tak tahu malu, buat apa kau musti menyerah kepada kawanan tikus?"

Begitu ucapan tersebut membuat segenap anggota Ki thian kau menjadi marah sekali. Li yau hu (siluman rase) Ay Bi yang pertama tama tak tahan, dengan suara merdu segera bentaknya.

"Kau menusia bangsat yang tak tahu diri berani benar mencacimaki kaucu kami? Hm! Kalau kau tidak mengibarkan bendera putih sekarang juga kami akan menyerang!"

"Ucapan sam ci tepat sekali!"

Sambung seorang perempuan berperawakan tinggi besar, kita buat nasib mereka sama dengan nasib perkampungan Boan liong ceng serta Ang yap poo!"

Orang yang barusan berbicara adalah anggota keenam dari Lam huang pat yau, orang menyebutnya It cing hong (satu kaki merah) Sim Jit nio...

Dengan suaranya yang keras dan lantang ucapan itu dapat didengar pula oleh Pek lek to dan Coa Thian tam yang ada diatas benteng.

Kontan saja To hu Hiong naik darah, sambil membentak keras, ia bersiap siap hendak keluar dari lembahnya untuk melangsungkan pertarungan melawan kedelapan siluman itu.

"Jangan"

Buru buru Coa Thian tam mencegah "kalau kau pergi seorang diri, itu berarti kau sudah terperangkap oleh siasat musuh yang licik!"

Untung saja To hu Hiong cukup mengetahui akan bahaya tersebut, sebisanya ia kendalikan hawa amarah didalam dadanya.

"Kau kuatir tak ada kesempatan untuk menghajar mereka?"

Kembali Coa Thian tam berbisik, jangan kuatir, malam nanti tak ada salahnya kalau kita perlihatkan kehebatan kita, agar mereka tahu bahwa kita bersaudara bukan manusia yang gampang dipermainkan dengan begitu saja"

To hu Hiong cukup mengetahui akan kecerdasan Coa Thian tam yang tersohor karena banyak akalnya itu, maka diapun tidak banyak berbicara lagi.

Dalam pada itu, Lam huang pat yau merasa amat gusar sekali karena seruan mereka tidak digubris, terutama Kim san sia kiam Thio Pon sendiri.

Dengan nada mengejek dia lantas menyindir kembali.

"Hey, bukankah kau sudah meraung gusar tadi? Kenapa tiada kelanjutannya? Kalau aku menjadi kau, sedari tadi sudah melompat turun untuk beradu jiwa...!"

Tapi, bagaimanapun para siluman itu berteriak menantang perang, para jago dari pihak To hu Hiong tiada yang menggubris, mereka tetap berjaga di posnya masing masing dengan penuh kewaspadaan.

Oleh karena tantangannya sama sekali tidak mendapat tanggapan, terpaksa Kim san sia kiam Thio Pin menitahkan anak buahnya untuk melakukan penyerbuan.

Sayangnya, meski penyerbuan itu dilakukan secara besar besaran oleh pihak Kim tham kau, namun semua serangan itu berhasil dipatahkan oleh hujan panah yang dimuntahkan dari busur busur otomatis.

Banyak korban yang berjatuhan akibat dari serangan ini, gagal mencapai niatnya, terpaksa Kim san sia kiam Thio Pin menitahkan anak buahnya untuk mundur.

Menjelang senja, penyerbuan dilakukan sekali lagi namun kali inipun puluhan orang iblis menderita luka parah akibat hujan panah yang deras dalam keadaan begini untuk kedua kalinya terpaksa Kim san sia kiam menghentikan penyerbuan.

Mereka mundur keluar selat dan mendirikan tenda tenda disana.

Malam itu udara sangat gelap, diudara hanya ada segaris rembulan yang redup serta beberapa bintang.

Angin gunung berhembus kencang, udara kian lama kian bertambah dingin, dalam keadaan begini, kecuali beberapa puluh orang yang bertugas melakukan patroli, yang lain sudah terlelap tidur karena lelah.

Kurang lebih mendekati kentongan ketiga tiba tiba dari atas benteng dalam lembah Lo sian kok meluncur turun dua sosok bayangan manusia dengan kecepatan bagaikan sambaran kilat.

Dengan gerak gerik yang sangat berhati hati, kedua orang itu menelusuri tempat kegelapan dan merobohkan peronda peronda yang berada disekeliling tempat itu.

Kemudian mereka mengeluarkan panah panah berapinya dan dibidikkan ke arah tenda disekeliling tempat itu.

Dalam waktu singkat api berkobar dengan hebatnya membakar semua tenda ditempat tersebut.

Dalam tidurnya yang nyenyak, Lam huan pat yau dibuat terperanjat oleh kebakaran itu, pakaian dan sepatu tak sempat dikenakan senjata tajam dan senjata rahasia tak sempat dibawa, mereka melarikan diri kebirit birit meninggalkan tempat itu.

Suasana menjadi gaduh dan ribut tak karuan dalam keadaan panik dan serba kacau ini, dua orang manusia bercadar itu tanpa ampun menggerakkan pedangnya membacok kesana kemari, diantara berkelebatnya cahaya golok dan pedang, dalam waktu singkat tiga empat puluh orang sudah tewas dalam keadaan yang mengerikan sekali.

Waktu itu, lo jit dari Lam huang pat yau yaitu To gon to (si golok kerbau) dan Lo jin hui lun (kakek beroda terbang) Ho To hoa bertugas melakukan patroli, ketika melihat ada orang menyerbu ke tenda mereka dan sekejap mata banyak korban telah berjatuhan, serentak mereka menerjang ke arah manusia bercadar itu.

Begitu pertarungan berkobar, jeritan ngeri berkumandang memecahkan keheningan, Ho To hoa yang berjulukan kakek beroda itu roboh terkapar bermandikan darah, sedangkan golok kerbau yang masih melakukan perlawanan makin terdesak dibawah angin, tampaknya sebentar lagi ia bakal menderita kekalahan total.

Untunglah disaat yang kritis, terdengar bentakan bentakan nyaring berkumandang dari empat arah delapan penjuru, Kim san sia kiam Thio Pin dengan memimpin Tok jiau kou hu (cakar racun perenggut nyawa), Hek yau hun (siluman rase hitam), Sang sim *i (seruling berhati lara), It tiang hong (sejengkal merah) dan Hiat im (si bayangan darah) menyerbu masuk kedalam arena.

Tiba tiba salah seorang manusia bercadar yang bersenjata pedang itu berseru.

"Setelah peroleh keuntungan, kalau tidak pergi mau tunggu sampai kapan lagi"

Dalam pada itu, si manusia berkerudung yang bersenjata golok itu telah berhasil meninggalkan sebuah bekas bacokan yang dalam sekali ditubuh si golok kerbau, setelah tertawa terbahak bahak, ia lantas melayang mundur dari situ.

Tak terlukiskan kegusaran para siluman setelah menyaksikan keadaan demikian dengan geram mereka berteriak.

"Kejar terus!"

Pengejaran secara besar besaran segera dilakukan oleh para siluman untuk menyusul kedua orang manusia berkerudung itu.

Dalam waktu singkat kedua orang itu sudah masuk kedalam lembah, lentera merah segera dinaikkan dan hujan panah berhamburan menyongsong kedatangan Lam huang pat yau sekalian yang sedang melakukan pengejaran.

Sekalipun mereka adalah jago jago kelas satu dari golongan hitam, namun gembong gembong iblis itu tak berani memandang remeh kelihayan dari panah panah otomatis tersebut, dalam keadaan demikian terpaksa mereka hanya bisa membiarkan kedua orang buronannya kabur ke dalam lembah itu.

Dengan terjadinya peristiwa ini kekuatan para siluman terpukul sekali mereka tak berani pandang enteng kekuatan lawan lagi, sekalipun demikian merekapun tak berani memohon bala bantuan.

Mengapa demikian?

Karena kantor cabang kota Tiong khing yang dipimpin oleh Tujuh siluman dari tujuh selat berhasil membasmi Siok liong It liong Ciu Long.

Sedang kantor cabang Kim hoa yang dipimpin Ciong lay su sia (empat sesat dari Ciong lay) berhasil menumpas benteng Ang yap poo.

Padahal berbicara soal mutu kekuatan, maka kantor cabang kota Leng ang yang dipimpin oleh Lam huang pat yau jauh lebih hebat.

Otomatis mereka malu mencari bala bantuan, sekalipun kekuatan mereka sekarang sudah porak poranda.

Dalam keadaan demikian, Kim san sia kiam Thio Pin memutuskan untuk menunggu terus sambil berusaha mencari kesempatan baik yang lain.

ooodOwoooo Fajar baru saja menyingsing, sang surya baru muncul diufuk sebelah timur...

Ditengah tebalnya kabut yang menyelimuti angkasa, diatas jalan raya yang lenggang tiba tiba muncul satu rombongan besar laki perempuan berpakaian ringkas yang berwarna ungu.

Bukan saja mereka bersenjata lengkap, pada pakaian bagian dadanya tertera pula sebuah sulaman bunga tho yang masih kuncup.

Dengan mengiringi sebuah kereta kencana berwarna merah darah, berangkatlah rombongan tersebut menuju ke kota Tiong kwan.

Sepanjang jalan, para rakyat bersama sama menyembunyikan diri ketika menyaksikan munculnya rombongan besar berwarna merah itu, mereka cukup tahu akan kekejaman dan kebrutalan orang orang itu.

Ketika rombongan hampir memasuki kota, mendadak terdengar seseorang berseru dengan suara lantang.

"Besar amat lagaknya! Padahal tak lebih cuma serombongan kelinci dan kawanan tikus!"

Mendengar seruan itu sepasang muda mudi bersenjata pedang yang berada tak jauh dari sana segera berpaling.

Ternyata orang yang barusan berbicara itu masih muda belia, usianya lebih kurang dua puluh satu dua tahunan, sayang hidungnya pesek dengan mulut seperti congor babi, matanya melotot keluar dengan dahi sempit, suatu potongan wajah yang jelek sekali.

Sebaliknya sepasang muda mudi itu memiliki wajah yang kebalikannya, yang pria ganteng dan menawan, sedang yang perempuan cantik jelita bak bidadari dari kahyangan, dilihat dari raut wajah mereka tampaknya kedua orang itu adalah saudara sekandung.

Muda mudi ini berpakaian ringkas dan bersenjata, ini menunjukkan bahwa mereka adalah jago jago dari dunia persilatan.

Sedangkan pemuda jelek itu berpakaian kasar dan berdandan sederhana seperti anak petani, ia tidak bersenjata dan tidak memiliki tanda tanda sebagai seorang yang pandai bersilat.

"Sobat!"

Pemuda tampan itu segera menegur.

"tahukah kau, siapa manusia manusia itu?"

Pemuda jelek itu segera tertawa dingin.

"Hm, siapa yang tidak kenal dengan kawanan cecunguk dari Ki thian kau...?"

Sahutnya.

"Meskipun apa yang saudara katakan tadi benar, tapi tahukah kau apa akibatnya bila sampai kedengaran oleh kawanan iblis itu? Kau bisa dibunuh secara keji"

"Terima kasih banyak atas kebaikan saudara!"

Setelah berhenti sejenak, dia melanjutkan.

"Cuma, tahukah kalian hendak berangkat ke manakah kawanan pencoleng dari Ki thian kau itu?"

"Besar kemungkinan mereka hendak menyerbu bukit Hoa san!"

"Kim liong lojin dari bukit Hoa san dan Gin liong su kiam meski bukan termasuk manusia manusia lemah, walaupun nama besar mereka telah tersohor diseluruh dunia persilatan, tapi aku rasa belum tentu mereka sanggup untuk membendung serbuan dari kawanan iblis ini"

"Dari mana kau bisa berkata demikian?"

"Konon Ki thian kau adalah suatu organisasi yang terdiri dari kawanan iblis berilmu tinggi"

Tutur pemuda jelek itu.

"kalau mereka tidak lihay, darimana Khong tong pay, Im san pay, heng san pay bisa dibasmi dalam waktu semalam? Dari sini dapat diketahui bahwa nasib Hoa san pay pun bakal menyerupai mereka"

Kontan saja pemuda tampan itu mendengus dingin.

"Hmmm! Kalau dulu, mungkin ucapanmu benar... tapi sekarang..."

"Bagaimana sekarang?"

Sambil menunjuk kearah gadis cantik disisinya, kata pemuda tampan itu.

"Setelah adikku pulang kegunung, Partai kami pasti akan terhindar dari bencana!"

Gadis cantik itu bermaksud untuk mencegah kakaknya berbicara, sayang terlambat kata kata itu toh dikeluarkan juga. Dengan nada tak percaya pemuda jelek itu lantas berkata.

"Selihay lihaynya kungfu yang dimiliki adikmu, kehebatannya juga ada batas batasnya..."

"Kau tahu apa? Adikku adalah murid Koan tiau kek di Lam hay, ia memiliki ilmu pedang yang tiada taranya didunia ini..."

"Oooh...! Rupanya nona adalah murid Teng tiau kek dari Lam hay, kalau begitu aku tak usah kuatir lagi, semoga dalam pertarungan ini nona berhasil mengalahkan kawanan iblis itu"

Ucap pemuda jelek itu. Seusai berkata, ia lantas menyelinap ditengah lautan manusia dan lenyap dari pandangan. Sepeninggal pemuda jelek itu, sinona segera mengomel.

"Engkoh Kiam siu sebelum berangkat suhu toh berulang kali telah berpesan agar kita jaga rahasia sehingga pihak Ki thian kau tak tahu bila partai kamipun terlibat dalam pertikaian ini barusan kenapa kau berani berbicara begitu terhadap seseorang yang tidak kau kenal tanpa mempertimbangkan akibatnya?"

Dengan cepat pemuda tampan itu menjawab "Setelah lewat satu kota lagi kita akan tiba di Hoa im setelah berada didepan rumah sendiri, apa yang musti ditakuti? Lagi pula..."

"Sudahlah, tak usah dibicarakan lagi... lebih baik kita cepat cepat pulang gunung"

Tukas gadis itu kemudian.

Ternyata sepasang muda mudi ini adalah cucu lelaki dan cucu perempuannya Kim liong lojin (kakek naga emas) Bwe Hoa loh dari bukit Hoa san.

Sang pemuda tampan bernama Bwe Kiam ciu, sedang sinona cantik bernama Bwe ling soat.

Sejak kecil Bwe Ling soat telah berada di Lam hay menjadi muridnya Kekcu dari pagoda Loan tiau kek, disana ia belajar ilmu pedang dan tak pernah meninggalkan perguruan.

Dasarnya Bwe Ling soat memang berbakat bagus, apalagi tulangnya memang cocok untuk belajar ilmu, Koan tiau kekcu merasa senang sekali kepadanya sehingga segenap kepandaian yang dimiliki diwariskan kepadanya...

Perlu diketahui, Koan tiau kekcu dari Lam hay, Biau tam sinni dan Liang mong Seng ceng dari bukit Pak Thian san bersama sama disebut orang persilatan sebagai Ih lwee ji seng (dua orang suci dari jagad).

Untuk melatih muridnya agar lebih berpengalaman dan matang dalam mempergunakan ilmunya, Biau tam sinni menitahkan Ling soat turun gunung serta berbuat amal.

Kebetulan kakaknya berkunjung kesana, maka setelah diberi pesan agar jagan membocorkan identitas mereka berangkatlah sepasang muda mudi itu pulang ke Hoa san.

Siapa tahu, dalam suatu pertemuan yang tak disengaja Bwe Kiam ciu telah membocorkan rahasianya, ini menyebabkan gadis itu harus mempertingkat kewaspadaannya untuk menghadapi segala kemungkinan yang tak diinginkan.

Bulan sembilan yang dingin telah menjelang tiba, angin berhembus kencang menggugurkan dedaunan disepanjang jalan.

Makin mendekati desa kelahirannya, Bwe Ling soat merasa makin gembira, sehingga tanpa terasa ia mulai bersenandung dengan suara yang lirih tapi merdu..."Soat moay!"

Bwe Kiam ciu segera menegur.

"aku rasanya amat murung, kenapa kau masih punya kegembiraan untuk bersenandung?"

"Kau tak perlu bermuram durja"

Hibur Bwe Ling soat.

"bukankah kita sudah berhasil mendahului rombongan Ki thian kau"

Mendadak ia menjerit tertahan.

Ketika gadis itu berpaling, maka tampaklah pemuda bertampang jelek yang dua jam berselang berjumpa dengan mereka di kota Tong kwan kini sudah berada jauh di depan mereka.

"Apa yang kau lihat?"

Bwe Kiam ciu segera melarikan kudanya mendekati seraya bertanya.

"Aaah tidak apa apa, hanya seorang yang tiada sangkut pautnya dengan kita, lebih baik kita tidak membuang waktu lebih lama lagi"

Bwe Kiam ciu tidak bertanya apa apa lagi, dia segera melarikan kudanya kencang kencang menuju ke kota Hoa im.

Tak lama kemudian mereka sudah keluar dari kota utara dan naik ke bukit Hoa san.

Baru sampai ditengah bukit, Gin Liong su kiam telah menyongsong kedatangan mereka sambil menyapa.

"Kiranya kongcu dan siocia telah pulang tepat pada waktunya, dengan demikian ciangbunjin pasti akan merasa lega."

"Orang orang Ki thian kau sudah siap menyerbu kemari, kalian telah bersiap sedia?"

Tanya Bwe Kiam ciu. Tio Beng hau, lotoa dari Gin tiong su kiam menjawab.

"Waah! Kalau cuma berita semacam itulah tidak berhasil kita ketahui, bukankah kita sudah habis sedari dulu?"

Tak lama kemudian mereka telah tiba di ruang Kim liong teng. Waktu itu Kim liong lo jin sedang mengumpulkan sekitar dua ratus orang muridnya untuk diberi instruksi dan pembagian tugas.

"Yaya!"

Dengan suara keras gadis itu menjerit. Tak terlukiskan rasa gembira Kim liong lo jin setelah mengetahi kalau cucu perempuannya telah pulang, dia segera memeluknya dengan penuh kasih sayang.

"Suhumu memperbolehkan kau pulang, nah ini benar benar merupakan suatu kemujuran buat Hoa san pay!"

Pekiknya sangat gembira.

"Yaya begitu percayakah kau dengan kemampuan Soat ji?"

Kata Bwe Liang soat aleman "Bagaimana tidak percaya? Paling tidak kau toh sudah dua belas tahun belajar ilmu dipagoda Koan tiau kek masa bisa salah lagi pandanganku?"

"Barusan Soat ji melihat yaya bagaimana kekuatan dari jago jago kita untuk menjaga beberapa puluh buah pos penjagaan apakah yaya tidak merasa kalau cara semacam ini justru memperlemah kekuatan kita sendiri? Untuk menghadapi perkumpulan perkumpulan biasa mungkin saja manjur, cara ini bukan suatu cara yang baik"

"Lantas bagaimana menurut pendapatmu, Soat-ji?"

Tanya Kim liong lojin cemas.

"Menurut pendapat Soat ji, lebih baik himpun segenap kekuatan ditengah lapang di muka ruang naga emas, jadi andaikata sampai bentrok kita bisa maju bersama."

Kim liong lojin termenung dan berpikir sebentar, kemudian dia manggut manggut tanda setuju.

"Ehmm...! Cara ini memang ada baiknya juga..."

Ia lantas menurunkan perintah untuk mengumpulkan segenap anak muridnya agar berkumpul ditengah lapangan.

"Dalam pertarungan yang bakal berlangsung nanti, keadaannya pasti sengit dan berbahaya!"

Kembali Bwe Ling soat berkata "lebih baik, keadaan apapun yang bakal terjadi dalam ruang naga emas, kalian jangan sekali kali bertindak secara sembarangan sehingga mengacaukan keadaan kita"

Para jago pun manggut manggut tanda mengerti.

Tak lama kemudian, kawanan jago dari Ki thian kau dengan tanpa peroleh perlawanan telah tiba pula didepan ruang naga emas.

Dengan cepat kawanan iblis itu menyebarkan diri kesekeliling tempat itu dan melakukan pengepungan yang rapat sekali.

Para anggota Ki thian kau yang laki laki berkumpul disebelah kiri, sedangkan yang perempuan disebelah kanan, kaum pria bersenjata golok, sedang kaum wanita bersenjata pedang.

Cukup ditinjau dari cara berpakaian, cara bersenjata dan gerak geriknya rapi, dapat diketahui bahwa orang orang itu telah peroleh latihan yang amat ketat.

Menyaksikan kesemuanya itu, diam diam Kim tiong lojin mengerutkan dahinya rapat rapat.

Menyusul kemudian, muncul kembali delapan orang lelaki setengah umur yang tinggi pendek tak tentu.

Laki laki itu semuanya berwajah bengis bermata seram, hidung bengkok bercambang dan rata rata menggembol sebuah bungkusan yang berbentuk panjang.

Dalam sekilas pandangan saja, Kim liong lojin dapat mengenali kedelapan orang ini sebagai Pat tay ong (delapan raja besar) yang biasanya malang melintang diwilayah Kanglam.

Delapan orang ini tersohor karena kejahatannya dan kebuasannya, bukan saja banyak melakukan pelanggaran hukum merekapun merupakan pembunuh pembunuh berdarah dingin.

Sadarlah Kim liong lojin bahwa keadaannya gawat sekali, ditinjau dari keadaan tersebut tipis agaknya harapan mereka untuk lolos dengan selamat.

Begitulah, setelah delapan orang munculkan diri, dibelakangnya muncul dua orang manusia bercadar hitam, salah satu diantaranya ternyata adalah seorang pendeta tua.

Dilihat dari potongan badan mereka berdua, Kim liong lojin segera dapat menebak kalau mereka berdua tentulah It bok siansu dari partai Heng san serta Mo thian tiau (rajawali langit) Leng Cok itu ciangbunjin dari partai Khong tong yang telah menyerah kepada musuh.

Tak terkira rasa gusar Kim liong lojin setelah menyaksikan kemunculan mereka, apalagi membantu kaum iblis untuk melakukan kejahatan, dengan marah katanya.

"Sobat lama berdua, masih punya mukakah kalian untuk berkunjung ke bukit Hoa san?"

Mendengar perkataan itu, sekujur tubuh kedua orang itu segera bergetar keras. Tiba tiba terdengar seseorang menjawab dengan suara parau.

"Orang bilang, semuanya itu tentu akan tiba pada gilirannya, siapa tahu kalau besok Kim liong kiam Bwe Hoa boh juga akan mengikuti jejak mereka berdua?"

Berbareng dengan selesainya perkataan itu, dari luar pintu menggelinding masuk sepasang mahluk aneh yang berbentuk bola daging.

Sepasang mahluk aneh itu tak lain adalah Tee ih siang mo (sepasang iblis dari jagad) Tau Chin dan Tau Coh dua orang iblis.

Menyaksikan kedatangan dua orang iblis bengis itu, paras muka Gin liong su kiam segera berubah menjadi pucat pias seperti mayat.

Kim liong lojin juga merasakan hatinya sangat berat, seandainya tahu kalau sepasang mahluk aneh itu bakal munculkan diri, tak nanti dia titahkan Bwe Kiam ciu untuk memanggil pulang Bwe Ling soat dari Lam hay.

Disamping itu diapun menjadi tahu mengapa Khong tong dan Heng san pay telah menyerah kalah tanpa syarat.

Dengan cepat, dia mengambil keputusan dalam hati kecilnya, dengan suara lantang ia berkata.

"Huuuh, kau tak usah bermimpi, Tee ih siang mo itu manusia apa? Kau anggap lo hu bakal menyerah kalah? Jangan toh pertarungan hari ini belum diketahui siapa yang bakal menang, siapa bakal kalah, sekalipun partai kalian yang menang, juga jangan harap kalian bisa memaksa lohu untuk menyerah kalah."

"Punya semangat!"

Puji Tau Cho sambil mengacungkan jempolnya.

Kim liong lojin mendengus dingin baru saja dia akan balas menyindir, tiba tiba dari kejauhan sana berkumandang datang suara putaran roda kereta yang ramai sekali, dalam waktu isngkat sebuah kereta kencana telah masuk kedalam arena.

Itulah sebuah kereta kencana berwarna merah darah.

Pintu dibuka, dari balik ruang kereta melangkah keluar seorang perempuan yang cantik jelita.

Perempuan itupun mengenakan baju berwarna merah darah, dengan gaun panjang berwarna merah pula.

Potongan badannya ramping tapi padat dan berisi, dilihat dari balik kain cadar merah yang menutupi wajahnya dapat dilihat bibirnya yang kecil mungil dan hidungnya yang mancung.

Dengan lemah gemulai dia mendekati Kim liong lojin dan berhenti lebih kurang delapan kaki dihadapannya, setelah melirik sekejap kearah kawanan jago Hoa san pay dengan mata yang genit, katanya merdu.

"Orang she Bwe apakah kau hendak melawan kekuatan partai kami dengan mengandalkan beberapa gelintir manusia ini?"

"Benar, kenapa? Kurang cukup?"

Dengus Kim liong lojin. Setelah berhenti sejenak, katanya lagi.

"Kalau didengar dari nada ucapan nona, agaknya kau merupakan pemimpin rombongan, boleh aku tahu siapa namamu?"

"Selama ini aku hanya berdiam dipulau San hu to dilautan timur, sekalipun kusebutkan namaku, juga belum tentu kau akan tahu!"

Baru saja Kim liong lojin merasa tertegun Bwe Ling soat ada disampingnya telah menyela.

"Yaya, adalah Ing hun lo sat (iblis perempuan baju merah) Hoa Long jin!"

"Oooh...! Rupanya nona yang mendirikan Ki thian kau? Aku masih menduga siapa yang memiliki kekuatan sehebat ini?"

Seru Kim liong lojin terkejut. Dengan cepat Hoa Long jin menggelengkan kepalanya berulang kali.

"Kau keliru besar orang she Bwe, Ki thian kaucu bukan aku!"

"Bukan kau?"

Seru Kim long lojin tercengang.

"lantas siapa?"

Tiba tiba ia teringat akan tiga orang iblis perempuan lainnya, dengan cepat katanya.

"Jangan jangan dia adalah Pek tok bi kui (bunga mawar seratus bisa)...?"

"Bukan!"

Hoa Long jin menggeleng.

"Kalau begitu dia adalah Hong liu kau hu (si janda yang cabul)?"

"Kau tak usah menduga duga, berikut Leng hiat siancu (dewi berhati dingin), kami hanya menduduki jabatan sebagai empat tongcu dalam perkumpulan kami"

Kim liong lojin makin tercengang lagi dibuatnya.

Sekalipun kalau berbicara soal kedudukan, keempat orang iblis perempuan ini masih setingkat dibawah Tee leng kun, Say siu jin mo, dan Tee ih siang mo, namun bila dibandingkan kaum sesat lainnya, mereka adalah momok perempuan yang disegani.

Tapi kenyataannya sekarang, empat momok perempuan itu tak lebih cuma seorang tongcu, bisa dibayangkan betapa luar biasanya ketua Ki thian kau tersebut.

Sementara dia masih termenung si iblis perempuan baju merah Hoa Tong jin telah berkata lagi.

"Kau tak usah putar otak lagi ke masalah tersebut, lebih baik pertimbangkan dulu mau bertempur? Ataukah mau menyerah?"

"Lohu sudah mempertimbangkan beribu ribu kali, aku pikir lebih baik hancur sebagai kemala daripada utuh sebagai batu"

"Bwe ciangbunjin, rasanya kau tentu sudah mengetahui bukan tentang nasib partai Khong tong, Im san dan Hem san?"

"Mataku belum buta, telingaku belum tuli, kenapa aku tidak tahu? Kalau hendak bertarung hayo cepat bertarung, buat apa banyak ngebacot terus?"

Begitu ucapan tersebut diucapkan, seorang lelaki kekar segera tampil ke depan sambil tertawa seram. ooooOoooo "Tua bangka sialan!"

Teriaknya.

"kau ingin menahan kereta sebagai seekor walang? Hmm, pun hiangcu akan bereskan dulu selembar nyawa anjingmu!"

Sambil melepaskan sepasang godam bajanya dia pasang kuda kuda dan menantang dengan garang. San tian giu liong (naga perak kilat) Li Ki Liat dari Hoa san su kiam segera tampil ke depan bentaknya.

"Kau ini manusia apa? Berani benar berlagak sok dihadapan ciangbunjin kami"

Bunyi gemerincing memecahkan keheningan serentetan cahaya pelangi berwarna perak segera mengurungi sekujur badan lelaki kekar itu.

Hoa san pay sebagai salah satu dari tujuh partai pedang memang benar benar memiliki jago yang hebat, terutama dalam permainan pedang, kelihayannya tak terlukiskan dengan kata kata.

Lelaki kekar itu terkesiap, buru buru dia menangkis dengan senjata godamnya sambil berteriak.

"Tunggu sebentar!"

"Apa yang hendak kau katakan?"

Sambil terkekeh kekeh lelaki itu berkata.

"Dalam setiap kali pertarungan, aku selalu mempunyai suatu kebiasaan, yakni bertaruh sebelum pertarungan dimulai"

"Oooh, rupanya kau adalah si raja bertaruh Siok Cay lay dari antara delapan raja besar, selamat berjumpa!"

Setelah berhenti sejenak, si naga perak berkata lagi.

"Lalu apa yang hendak kau pakai sebagai barang taruhan?"

"Bagaimana kalau kita bertaruh atas menang kalahnya partai kami serta partai Hoa san?"

Diam diam sinaga perak Li Ki liat mengerutkan dahinya dan berpikir.

"Bajingan ini benar benar jumawanya luar biasa..."

Berpikir demikian, dia lantas bertanya.

"Bagaimana seandainya partai kami berhasil menangkan pertarungan hari ini?"

"Aku Siok Cay lay akan merangkak turun dari bukit Hoa san! Tapi, bagaimana kalau partai kalian yang kalah?"

"Jika sampai demikian, aku sinaga perak pasti akan memenggal batok kepalaku sendiri!"

"Bagus, bagus, meski rada keenakan dirimu tapi tak apalah, aku setuju!"

Sepasang godamnya segera dibenturkan satu sama lain kemudian secepat kilat melancarkan tiga buah serangan berantai.

Si Raja bertaruh Siok Cay lay memang seorang yang tak punya aturan, begitu selesai bicara dia lantas melancarkan serangan lebih dahulu.

Li Ki liat mendengus karena marah, ia tak berani pandang enteng musuhnya sambil miringkan badan menghindar, dia gunakan jurus Pek wan sian ko (monyet putih menyembah buah) untuk membuat tubuh lawan.

Sedemikian cepatnya sambaran itu nyaris jari tangan si Raja bertaruh kena terpapas.

Dengan Si Raja bertaruh Siok Cay lay melompat kebelakang, meski demikian, peluh dingin sempat mengucur keluar membasahi sekujur badannya Tapi dengan cepat ia sudah membentak keras sambil mengerahkan segenap kepandaiannya, dia lantas melancarkan serangkaian serangan secara bertubi tubi.

Cahaya perak berkelebat silih berganti, si Naga perak sedikitpun tak sudi menunjukkan kelemahannya seperti naga sakti diangkasa, pedang mestikanya menyambar kian kemari mengancam tempat tempat mematikan ditubuh lawan.

Si Raja bertaruh Siok Cay lay terkesiap dan mundur kebelakang, sayang musuhnya bertindak lebih cepat sambil melangkah keposisi tiong kiong dia tusuk paha lawan.

Siok Cay lay menjerit kesakitan, dengan darah bercucuran dia kabur ke belakang menyelamatkan diri.

Dengan kemenangan ini, para jago dari Hoa san pay segera bersorak sorai kegirangan.

Ciu ong (si Raja arak) Kim hoa peh dengan setengah mabuk segera terbahak bahak serunya.

"Kemenangan macam begitu juga digembar gemborkan, jangan terburu napsu, permainan bagus masih ada dibelakang! Hey Hoa san su kiam, kami bersaudara hendak menantang kalian secara bersama!"

Diiringi bentakan keras, delapan raja besar dari Kanglam segera tampil semua ke muka.

Tiga jago pedang lainnya dari Hoa san tak mau memperlihatkan kelemahan, serentak mereka maju pula ke tengah arena.

Pertarungan dengan cepat berkobar kembali, meski Hoa san su kiam kalah dalam jumlah orang ternyata memiliki suatu kerja sama yang amat ketat, bagaimanapun Kanglam Pat tay ong menyerang, mereka tak pernah berhasil untuk meraih kemenangan.

Iblis perempuan berbaju merah Hoa Long jin memandang sekejap kearena pertarungan, dia sadar bahwa pertarungan itu tak bisa ditentukan menang kalahnya dalam waktu singkat, maka kepada It bok siancu dari Heng san pay dan Mo thian tiau (rajawali langit) Teng Cok dari Khong tong pay ujarnya.

"Kalian berdua adalah anggota baru perkumpulan kami, inilah saat baik kalian untuk membuat jasa, sebagai ketua dari suatu perkumpulan besar tentunya kalian tak akan lebih lemah dari Kim liong lojin bukan...?"

Mendengar perkataan itu, baik It bok siansu maupun Mo thian tiau Teng cok sama sama terkesiap, namun mereka tak berani membangkang, terpaksa dengan mulut membungkam dalam seribu bahasa kedua orang itu tampil kearena.

0oooodwoooo0

Jilid 19 BWE Ling soat sebenarnya hendak munculkan dirinya untuk menyambut kedua orang itu, tapi Kim liong lojin segera berkata.

"Nak, biar aku dan kiam ciu yang menghadapi mereka berdua, kau harus hati hati menghadapi dua bersaudara Tau tersebut!"

Selesai berkata bersama Bwe kiam ciu kakek itu terjun ke arena pertarungan.

Kim liong lojin berhadapan dengan Mo thian tiau Teng Cok, sedangkan Bwe kiam ciu bertarung melawan It bok siansu.

Sebenarnya It bok siansu menggunakan senjata sekop, tapi berhubung dia harus bertempur melawan seorang angkatan muda, terpaksa dia harus menancapkan senjatanya ke atas tanah dan bertarung menggunakan tangan kosong.

Dengan begini tinggal Tee ih siang mo dan iblis perempuan baju merah yang belum turun tangan.

Dalam keadaan begini, iblis perempuan itu segera bersuit nyaring memberi tanda kepada anak buahnya untuk melakukan serangan.

Dalam waktu singkat, segenap anggota Ki thian kau yang berada disekeliling tempat itu bergerak ke depan melancarkan serbuan secara besar besaran ke arah para jago dari Hoa san pay.

Pertarungan massal berkobar dengan serunya.

Tau Chin, lotoa dari Tee ih siang mo segera berseru.

"Jelek jelek begini, aku juga seorang jagoan, masa tak ada pekerjaan buatku?"

Iblis perempuan berbaju merah tertawa lebar.

"Tau huhoat!"

Sahutnya.

"kalau memang tanganmu lagi gatal, lihatlah! Disitu kan masih ada seorang cewek cakep, kenapa tidak kau ajak bocah itu untuk mencari kesenangan?"

Tau Chin segera membuka bibirnya yang tebal dan tertawa terbahak bahak.

"Haaahh... haaahh... haaahh... benar, benar! Ucapanmu itu memang tepat sekali, pertarungan yang bakal berkobar pasti lebih santai dan menarik hati..."

Berbicara sampai disitu, dia lantas berpaling ke arah Tau Chin seraya berseru.

"Lojin, maaf kalau aku duluan"

Badannya yang cebol dan gemuk dikombinasikan dengan sepasang kaki yang pendek dan gemuk juga, ini membuat gerak geriknya tak ubah seperti seekor ayam betina.

Setibanya dihadapan Bwe Ling soat, sambil cengar cengir tertawa kuda sapanya.

"Nona muda, berapa umurmu tahun ini?"

Bwe Ling soat memutar biji matanya yang jeli, lalu pura pura berlagak kaget dan ketakutan, sambil mundur berulang kali serunya agak tergagap.

"Buu... buat... buat apa kau menanyakan soal ini?"

"Aaah...! Masa kau tidak mengerti?"

Kata Tau Chin sambil cengar cengir.

"tapi... baiklah, asal kau tidak melakukan perlawanan, seusai membasmi Hoa san pay, lohu akan melanggar kebiasaan dengan mengampuni selembar jiwamu, tapi ada syaratnya juga..."

"Apa syaratnya?"

"Tentu saja mau kawin dengan aku!"

Setelah berhenti sejenak, dia melanjutkan.

"Bagaimana? Kau bersedia bukan?"

Tak terlukiskan rasa mendongkol dan marah Bwe Ling soat setelah mendengar perkataan itu, sumpahnya dalam hati.

"Tua bangka sialan, kau benar benar bangkotan yang tak tahu diri, jika tidak diberi sedikit pelajaran, kau pasti menganggap nonamu benar benar gampang dipermainkan"

Berpikir demikian, tanpa terasa ujarnya sambil tertawa.

"Kawin dengan kakek kakek sih bukan persoalan, tapi mesti punya kepandaian yang hebat, tapi yaya pernah bilang bahwa Tee ih siang mo hanya bisa dianggap sebagai jagoan kelas rendah, meski nama besarya setinggi langit, padahal ilmunya cetek sekali. Boleh saja kalau ingin kawin dengan nonamu cuma... kau musti menyambut tiga jurus pedang nonamu lebih dulu"

Paras muka Tau Chin segera berubah hebat setelah mendengar perkataan itu, tapi kemudian sambil tertawa terbahak bahak katanya.

"Nona Bwe, jangan toh baru tiga jurus pedang, sekalipun tiga puluh tusukan juga tidak menjadi soal, cuma kau tak boleh menyesal nantinya..."

Selesai berkata, dengan sombongnya dia berdiri tegak dihadapannya dan tidak bergerak lagi.

"Loloskan senjatamu!"

Bwe Ling soat segera berseru.

"Dengan kedudukan lohu dalam dunia persilatan, jangan toh baru kau, sekalipun kakekmu juga tak akan kuhadapi dengan senjata!"

Bwe Ling soat sendiripun cukup mengetahui bahwa tenaga dalam yang dimiliki iblis tua itu sudah mencapai puncak kesempurnaan, apa yang diucapkan tentu saja bukan kata kata yang kosong, tapi dia memang berhasrat untuk memancing iblis itu masuk jebakan, maka dengan wajah yang ketakut takutan katanya kembali.

"Hayo cepat bersiap siaplah, jurus seranganku yang pertama segera akan kulepaskan!"

Pedangnya digetarkan pelan, lalu secepat kilat menusuk ke ulu hati lawan.

Jurus yang dipergunakan adalah Liong cu jut sian (anak naga menampakkan diri).

satu jurus serangan dalam Kim liong kiam hoat milik partai Hoa san.

Tau Chin masih berdiri dengan tegak, segulung tenaga pukulan yang keras segera menghantam ujung pedang itu sehingga miring ke samping, kemudian sambil tertawa terbahak bahak serunya.

"Haaahhh... haaahhh... haaahhh... nona, bukannya aku sengaja hendak merendahkan dirimu, tapi yang benar kungfumu masih ketinggalan jauh sekali!"

"Kenapa musti keburu bangga Serangan kedua dari nonamu toh belum dilancarkan? Lihat serangan!"

Dalam melepaskan serangan yang kedua ini, gadis tersebut masih tetap mempergunakan jurus serangan dalam Kim liong kiam hoat yang disebut Cian liong jut hay (naga air muncul dari samudra).

Cahaya pedang berkilauan diangkasa dan membias ke empat penjuru.

Tau Chin membuang bahu sambil bertekuk pinggang, untuk kedua kalinya ia berhasil menghindarkan diri dari serangan itu secara gampang.

Melihat itu, Tau Chin kembali tertawa terbahak bahak.

"Haaahhh... haaahhh... haaahhh... aku lihat, ada baiknya kalau kau mengaku kalah saja!"

Katanya.

"jangankan kau, sekalipun kakekmu sendiri yang memainkan ilmu pedang Kim liong kiam hoat, jangan harap bisa melukai lohu walaupun seujung rambut pun!"

"Hmm! Barusan aku cuma mainkan pedang dengan gerakan lambat, kau jangan sombong dulu, lihatlah seranganku yang terakhir ini"

Walaupun senyuman diujung bibirnya telah lenyap, namun jurus pedang yang digunakan masih sekitar jurus pedang Kim liong kiam hoat dari aliran Hoa san.

Jurus ketiga ini adalah jurus yang paling tangguh dari ilmu pedang Kim liong kiam hoat, yakni Yau liong cay thian (naga buas ditengah sawah).

Sudah banyak tahun lamanya iblis tua ini memperdalam pengetahuannya tentang ilmu pedang Kim liong kiam hoat, jangankan matanya terpentang lebar, sekalipun harus menghadapi dengan mata tertutuppun dia sanggup, apalagi yang dihadapi cuma seorang bocah perempuan belaka.

Baru saja dia hendak mendongakkan kepalanya untuk tertawa tergelak, mendadak permainan pedang itu berubah ditengah jalan.

Tiba tiba saja pedang ditangan Bwe Ling soat membiaskan tujuh jalur bayangan pedang yang tebal yang secara terpisah mengancam jalan darah Yu bun hiat, Tong kok hiat, Siang ki hiat, Im tok hiat, Tiong cu hiat Su ke hiat dan Ki hay hiat, tujuh buah jalan darah kematian ditubuh manusia.

Menghadapi ancaman yang demikian hebatnya ini, Tau Chin tak sanggup untuk tertawa lagi.

Ia merasa ada segulung desingan hawa pedang yang tajam menembusi angin pukulannya langsung menerjang hawa khikang pelindung badannya dan menyerang ke ulu hati.

Dalam keadaan demikian, satu ingatan dengan cepat melintas dalam benak Tau Chin, ia teringat kembali dengan peristiwa tragis pada enam puluh tahun berselang, dimana ia pernah dikalahkan oleh Koan tian kekcu dengan jurus Jit hay yang wi (tujuh samudra nama cemerlang).

Tanpa terasa lagi dia menjerit kaget.

Dalam gugup dan gelisahnya, tanpa pedulikan soal gengsi lagi, buru buru iblis tua itu menggunakan jurus keledai malas bergelinding untuk menjatuhkan diri ke tanah.

Walaupun selembar jiwanya berhasil diselamatkan dari ancaman maut tersebut, namun sebuah mulut luka sebesar setengah jengkal sempat menghiasi pula dada dibawah iganya sehingga darah segar bercucuran membasahi sekujur badannya.

Masih untung pada enam puluh tahun berselang ia pernah menderita kerugian pula diatas jurus serangan itu sehingga mempertingkat kewaspadaannya, coba kalau Tau Cho yang menghadapi serangan tersebut, mungkin jiwanya sudah melayang sedari tadi.

Paras muka Tau Chin berubah menjadi jelek dan tak sedap dilihat, tanpa banyak bicara ia segera meloloskan senjatanya.

Senjata andalannya berbentuk aneh sekali bentuknya menyerupai pedang mestika, hanya saja di ujung pedangnya terdapat sebuah kaitan yang melengkung.

Sudah puluhan tahun lamanya Tau Chin tak pernah pergunakan senjatanya lagi, tapi hari ini terpaksa ia gunakan juga senjata tersebut, ini menunjukkan kalau dia memandang serius kepandaian silat yang dimiliki gadis tersebut.

Tau Cho masih belum tahu akan duduk persoalan yang sebenarnya, melihat toakonya mengeluarkan senjata andalannya, dia menjadi tercengang dan memandang kearahnya dengan pandangan kaget, tercengang dan tidak habis mengerti.

"Loji kita sudah salah melihat!"

Cepat Tau Chin berseru dengan wajah serius.

"kau tahu akan asal usul dari ilmu silat yang dimiliki nona ini? Jurus serangan yang barusan dia pakai tidak lain adalah jurus Jit hay wi yang yang pernah membuatku mendendam sepanjang tahun!"

"Masa dia adalah anak murid Koan tiau kek dari Lam hay?"

Tanya Tau Cho kurang percaya.

"Tentu saja! Kalau tidak begitu, dengan dasar apa Kim liong lojin membiarkan cucu perempuannya bertarung melawan kita berdua?"

Tanya jawab yang dilakukan Tee ih siang mo secara terbuka ini tentu saja didengar oleh semua orang baik kawan maupun lawan.

Para jago Hoa san pay jelas girang sebaliknya para jago dari thian kau merasa tak puas dengan kenyataan tersebut.

Setiap orang pernah mendengar bahwa ilmu pedang dari Lam hay Koan tiau kek merupakan suatu kepandaian hebat yang tiada taranya dalam dunia persilatan.

Terutama sekali Iblis perempuan berbaju merah Hoa Long jin, gurunya sebelum meninggal dulu pernah berpesan.

"Jika dikemudian hari kau harus bersua dengan anak murid dari kuil Sian gwan si dipuncak bukit Pak thian san, atau murid Koan tiau kek dari Lam hay, lebih baik berhati hatilah dalam setiap tindakan"

Maka setelah mendengar kalau Bwe ling soat adalah murid dari Koan tiau kek di Lam hay, timbul rasa was was dan jeri dalam hati kecilnya, dia lantas berpikir.

"Sekalipun ilmu pedang nona ini berasal dari Koan tiau kek, namun kematangan serta pengalamannya dalam melakukan pertempuran masih cetek sekali, sekalipun dia lihay rasanya tak mungkin kekuatan dia seorang bisa merubah posisi Hoa san pay yang terjepit hari ini."

Berpikir demikian, dia lantas berkata kepada Tee ih siang mo.

"Tau huhoat, dengan kepandaian silat yang dimiliki cianpwe berdua, sekalipun nona she Bwe ini murid Koan tiau kek, rasanya masih tidak sulit bagi kalian untuk menghadapinya, yang kita kuatirkan sekarang hanyalah kemungkinan munculnya nikou setan gurunya itu!"

Diperingatkan oleh iblis perempuan itu, Tau Chin dan Tau Cho segera menghimpun tenaga dalamnya untuk memeriksa keadaan disekeliling tempat itu.

Akhirnya sambil melotot kebelakang semak belukar disisi arena, Tau Chin menegur sambil tertawa seram.

"Jago lihay dari manakah yang telah muncul disitu? Kenapa tidak menampilkan dirimu?"

Mendengar teguran tersebut, diam diam Bwe Ling soat berpikir pula dalam hatinya.

"Jangan jangan suhu merasa kuatir dan benar benar telah menyusul kemari?"

Baru lewat ingatan tersebut dalam benaknya, tampak dedaunan bergoyang kencang dan muncullah seorang pemuda bertampang jelek dari balik semak itu.

Dia bukan lain adalah pemuda jelek yang pernah dijumpai Bwe Ling soat ketika berada dikota Teng wan.

Ia masih berdandan sederhana dengan baju petaninya yang kasar, sama sekali menunjukkan gejala yang aneh.

Melihat orang yang muncul cuma seorang pemuda ingusan, Tau Chin segera tertawa terkekeh kekeh, kemudian tegurnya.

"Bocah muda, apa yang sedang kau lakukan di bawah semak belukar itu...?"

"Tidak melakukan apa apa!"

Jawab pemuda jelek itu tergagap.

"Kau juga murid Hoa san pay?"

"Bukan, bukan!"

Jawab pemuda itu sambil menggoyangkan tangannya berulang kali.

"aku cuma seorang petani biasa yang kerjanya menanam di sawah, sebenarnya aku datang untuk mencuri belajar ilmu silat Hoa san pay siapa tahu jejak ku keburu konangan kalian!"

"Peduli siapakah kau pokoknya setelah hari ini kau hadir disini, maka jangan harap bisa pergi lagi, hayo berdiri disana dengan tenang dan jangan berkutik"

"Tidak bisa!"

Seru pemuda jelek itu keras kepala.

"tempat ini adalah ruang Kim liong teng dari partai Hoa san pay semestinya perkataanitu hanya pantas diucapkan oleh orang orang Hoa san, sedangkan kau dan aku sama sama adalah orang luar, masa kau hendak saling berebut hak dengan sang tuan rumah?"

Tau Chin menjadi naik darah, serunya.

"Bangsat, jika kau ngotot terus, jangan salahkan kalau lohu akan menjagal dirimu lebih dulu!"

Tampaknya pemuda jelek itu kena digertak sehingga merasa ketakutan setengah mati.

Betul juga, dia lantas membungkam dalam seribu bahasa dan dengan kebodoh bodohan dia saksikan pertarungan massal yang sedang berlangsung dengan serunya di tengah arena itu.

Tee lwe siang mo saling bertukar pandangan sekejap, kemudian mereka segera tampil ke depan dan menghampiri Bwe Ling soat.

Senjata yang digunakan si iblis pertama adalah sebuah gada besar, sedangkan si iblis kedua bersenjatakan sebuah ruyung lemas.

Ruyung itu berwarna hitam pekat dengan kepanjangan tujuh jengkal, terbuat dari selembar kulit ular berwarna perak yang kuat sekali, senjata itu sangat lihay.

Dengan si iblis pertama melancarkan serangan jarak dekat melalui pukulan pukulan dahsyat, si iblis kedua dengan ruyung lemasnya menyerang dari jarak enam tujuh depa dari arena sambil kadangkala memanfaatkan kesempatan yang ada untuk melancarkan sergapan.

Kerja sama Tee lwe siang mo itu betul betul luar biasa sekali, hal mana memaksa Bwe Ling soat harus memberikan perlawanan paling seru...

Sekalipun ilmu pedang aliran Koan tiau kek disebut suatu ilmu pedang yang cukup lihay, toh bagaimanapun juga kematangan sang dara dalam memainkan kepandaian itu masih jauh dari sempurna.

Yang lebih runyam lagi, ternyata pada saat itulah Su kiam mulai keteter hebat sekalipun pada mulanya mereka masih mampu untuk mempertahankan diri.

Apalagi Kanglam Pat tay ong (delapan raja dari Kanglam) terhitung jago jago yang tersohor namanya dalam kalangan hek to, mereka boleh dibilang amat ganas, bengis dan hebat, itulah sebabnya situasi segera berubah sama sekali.

Sebaliknya anak murid partai Hoa san yang terlibat dalam suatu pertempuran massal melawan jago jago dari golongan sesat masih bisa mengimbangi secara wajar, oleh karena jumlah merekapun kebetulan sekali agak berimbang.

Hanya Bwe Kiam ciu yang harus bertarung melawan It po siansu keteter hebat, posisinya terdesak sekali dan jiwanya berada di ujung tanduk.

Sekalipun dia lebih beruntung karena memakai senjata, akan tetapi semua serangannya seakan akan terbendung sama sekali, andaikata Kiam liong lojin tidak membantu terus dari samping, mungkin sedari tadi Bwe Kiam ciu sudah kehilangan nyawanya di ujung baju dari hwesio tua tersebut...

Tapi akibatnya, Kiam liong lojin yang berulang kali harus menyelamatkan jiwa cucunya ia sendiri malah terkurung oleh serangan serangan maut dari Mo thian tiau.

Itu berarti, bila dilihat dari situasi yang terpentang didepan mata sekarang, partai Hoa san sudah mulai memperlihatkan tanda tanda kekalahan total.

Kim liong lojin mulai risau dan murung oleh keadaan tersebut.

Sedikit kurang berhati hati, ia segera terdesak hebat oleh serangan serangan kilat dari Mo thian tiau sehingga mulai menunjukkan tanda tanda kekalahan.

Pada saat itulah terdengar Hong hun lo sat Hoa Long jin sedang membentak terhadap It po siansu.

"Manusia yang tak berguna, hanya untuk membereskan seorang pemuda ingusan pun tak mampu, mau sampai kapankah pertarungan ini baru diakhiri?"

It po siansu tidak berbicara apa apa, dengan wajah pucat pias seperti mayat dia segera mengundurkan diri ke samping. Tiba tiba si pemuda jelek itu melangkah maju kemuka, lalu katanya dengan lantang.

"It po cianpwe, kau tak usah bersedih hati, walaupun partai anda sudah mengalami kehancuran, apakah berarti sudah tak bisa dibangkitkan kembali?"

"Aaai... tapi hal ini mana mungkin?"

Gumam hwesio tua itu dengan wajah sedih.

"kekuatan dari Ki thian kau demikian besarnya, pengaruh mereka sudah meluas sampai di mana mana..."

"Itu tergantung kepada keyakinanmu terhadap kemampuanmu sendiri, sebab aku bisa melihat bahwa kau tidak bersungguh sungguh ingin menyerah kepada musuh kau berbuat demikian karena dipaksa oleh keadaan, coba kalau bukan demikian! buat apa aku musti memperingatkan dirimu?"

"Lantas apa maksud sauhiap dengan peringatan ini?"

Tanya It po siansu termenung sejenak.

"Sederhana sekali, harap kau segera terjun ke arena pertempuran dan membantu empat jago pedang itu"

Semenjak dibentak oleh Hong hun lo sat untuk mundur dari arena pertarungan tadi, dalam hati kecil It po siansu sudah muncul perasaan menyesal yang amat tebal, apalagi setelah dinasehati oleh pemuda jelek tersebut, tanpa berpikir panjang lagi dia segera menyanggupi.

Sambil mencabut keluar senjata sekopnya dari atas tanah, dia lantas melompat masuk ke arena pertarungan dimana Hoa san su kiam sedang terdesak hebat.

Pada mulanya Kanglam Pat tay ong masih mengira hwesio ini diperintahkan Hoa tongcu atau siperempuan iblis untuk datang membantu mereka, siapa tahu sebuah serangan kilat tiba tiba dilancarkan ke arah mereka, dalam posisi tidak siap Ong Bong thian segera tersambar oleh senjata sekop yang tajam itu sehingga tewas seketika itu juga.

Dengan rubuhnya seorang rekan mereka, sisa dari tujuh raja tersebut menjadi terkejut bercampur marah, segera bentaknya dengan penuh kegusaran.

"Anjing gundul kau berani membunuh rekan kami? Bangsat rupanya kau sudah bosan hidup!"

Kontan saja It po siansu dikurung pula dalam kepungan.

Sesungguhnya Hoa san su kiam sudah kepayahan menghadapi serangan serangan musuhnya yang amat dahsyat itu, akan tetapi dengan terjunnya It po siansu ke dalam arena, otomatis keadaanpun sama sekali berubah.

Tidak sampai dua puluh gebrakan, si raja malas Ong Mo kim, si raja huncwe To Cut liang, si Raja arak Kim Tay lim, si Raja perempuan Pot Seng, si Raja penyilat Thio Cut bun, si Raja judi So Cay lay dan si Raja mengipul Ui Kun peng sudah berhasil dihalau serangannya dan balik terdesak hebat.

Walaupun begitu Bwe Kiam ciu yang berada dipihak lain justru dibikin kalang kabut terdesak oleh serangan serangan Ang bun Losat yang gencar dan dahsyat.

Ujar Hoa Leng jin dengan ketus.

"Bwe sauhiap pun tongcu minta agar kau berlaku sedikit cerdik, lebih baik menyerah saja sedari sekarang, daripada akhirnya kau akan terdesak hebat dan mampus secara mengenaskan"

"Menyerah?"

Jengek Bwe Kiam ciu sambil mendengus dingin.

"kepalaku boleh putus, darah boleh mengalir, tapi jangan mimpi bisa memaksaku untuk menyerah kalah!"

Mendengar perkataan itu, sepasang alis mata Hoa Long jin segera berkenyit sambil tertawa dingin serunya kemudian.

"Kalau begitu kau memang sudah kepingin mampus!"

Berhubung dengan penghianatan dari It po siansu, mau tak mau Hoa Long jin harus berusaha untuk menyelesaikan kejadian kejadian lain yang tidak menguntungkan.

Tiba tiba senjata gunting emas berbentuk ularnya memancarkan kilatan cahaya emas, bagaikan naga yang terbang di angkasa tahu tahu senjata tersebut menyambar ke bawah dan menggunting ke atas pedang Bwe Kiam ciu serta mematahkannya menjadi beberapa bagian.

Setelah itu sambil menempelkan senjatanya diatas ulu hati si anak muda itu, bentaknya kepada Kim liong lojin.

"Hey orang she Bwe, cucumu sudah terjatuh ke tanganku, sekarang kau jawab saja, mau menyerah atau tidak?"

Segagah gagahnya Kim liong lojin di medan laga, tapi setelah keadaan berubah menjadi begini rupa, terpaksa ia harus menarik diri dari pertarungan, sambil melompat mundur dari arena pertempuran, serunya.

"Hoa tongcu, tegakah kau untuk turun tangan keji terhadap cucuku itu...?"

"Tak bisa kupastikan, ini tergantung pada keputusanmu sendiri, tapi bila kau masih menyayangi nyawa cucumu ini, lebih baik perintahkan kepada segenap anak murid partaimu untuk membuang senjata dan menyerah kalah"

Kim liong lojin merasa amat gusar sekali dengan sinar mata berapi api serunya.

"Kalau ingin bunuh aku, bunuhlah sekarang juga, kalau kau ingin membunuh cucuku bunuhlah sekarang juga, aku orang she Bwe lebih rela kehilangan keturunan daripada harus bertekuk lutut dihadapan kalian semua"

Dalam pada itu Bwe Ling soat yang sangat menguatirkan keselamatan kakaknya juga berada dalam posisi yang amat gawat sekali dibawah desakan desakan dari Tee lwe siang mo, dalam anggapannya Bwe Kiam ciu sudah pasti akan tewas.

Siapa tahu pada saat itulah tahu tahu si pemuda berwajah jelek itu sudah berada dibelakang tubuh Hoa Long jin, dengan suara keras dia lagi membentak.

"Hoa tongcu menurut penglihatanku lebih baik ampuni saja selembar jiwanya!"

Ketika Hoa Long jin hendak membalikkan tubuhnya sambil menghindarkan diri, tahu tahu jalan darah Pay sim hiat dipunggungnya sudah ditekan orang, dia lantas sadar bila ia berani berkutik lagi secara gegabah maka asal lawannya menyalurkan tenaga pukulan ke dalam tubuhnya, niscaya dia akan tewas dalam keadaan mengerikan Pucat pias selembar wajahnya karena ngeri dengan perasaan apa boleh buat terpaksa dia harus menuruti permintaan orang.

Setelah Hoa long jin menarik kembali senjatanya dari atas ulu hati, buru buru Bwe Kiam ciu melompat mundur kebelakang, segera ia mendongakkan kepalanya memandang kearah penolongnya itu, dia baru kaget setelah mengenalinya pemuda berwajah jelek tersebut.

Sekarang dia baru tahu kalau pemuda berwajah jelek itu sesungguhnya memiliki ilmu silat yang amat lihay, dengan perasaan berterima kasih dia lantas berseru.

"Saudara terima kasih banyak atas pertolonganmu itu, tapi kau jangan sekali kali melepaskan iblis perempuan itu, hati hati terhadap serangan balasannya"

"Benarkah itu?"

Belum habis pemuda berwajah jelek itu berseru Hoa Long jin telah tertawa dingin, tiba tiba ia memutar balikkan senjata guntingnya kebelakang dan tahu tahu menyembur keluar segulung asap berwarna merah yang langsung menyambar ketubuh lawan.

Pemuda berwajah jelek itu segera menjerit tertahan, kemudian tubuhnya segera roboh terjengkang ke atas tanah.

Ang hun losat Hoa Long jin tertawa seram, sambil membalikkan badannya ia mendamprat dengan gusar.

"Manusia jelek yang tak tahu diri, berani benar menyergap diriku, hmmm! Kau telah menolong orang lain, sekarang ingin kulihat siapakah yang akan menolong dirimu..."

Seraya berkata, dia mengayunkan senjata gunting emasnya itu dan menggamprok leher pemuda berwajah jelek itu.

Bwe Kiam ciu yang menyaksikan kejadian tersebut segera membentak keras, sambil mengayunkan senjatanya ia menerjang ke depan siap memberikan pertolongan.

Pada detik terakhir menjelang senjata gunting itu menyambar di atas leher pemuda jelek itu, tiba tiba sambil tertawa tergelak pemuda tersebut berkelit ke samping kemudian melompat bangun.

Bersama waktunya, dengan kedua jari tangannya ia menjepit senjata gunting tersebut kencang kencang.

Ang hun losat, Hoa Long jin merasa amat terperanjat, buru buru ia membetotnya dengan sepenuh tenaga, namun sama sekali tak ada hasilnya, detik itulah dia baru sadar kalau pemuda jelek yang sedang dihadapinya itu sesungguhnya memiliki ilmu silat yang sangat lihay.

Pada saat ini bukan saja ia merasa jeri, selapis hawa napsu membunuhpun telah memancar keluar dari balik matanya.

Menyaksikan hal itu, pemuda jelek itu berseru kaget, buru buru dia mendorong senjata gunting tadi kesamping.

Betul juga, diantara bentakan keras dari perempuan iblis tersebut, tampak selapis cahaya biru yang amat menyilaukan mata menyembur keluar dari balik senjata tersebut.

Kebetulan ada seorang anggota Ki thian kau sedang menerjang tiba, tubuhnya persis menyongsong datangnya cahaya kilat itu, tak amapun lagi ia tersembur telak oleh cahaya biru tersebut.

Diiringi jeritan ngeri yang menyayatkan hati orang itu segera berkelejit diatas tanah dalam keadaan mengerikan, kemudian tewas tak lama kemudian mayatnya hancur lebur dan akhirnya tinggal segumpal darah kental belaka.

Ini membuktikan sampai dimanakah hebatnya racun yang digunakan iblis perempuan tersebut, walaupun pemuda berwajah jelek itu memiliki ilmu silat yang sangat lihay, tak urung tercekat juga dibuatnya...

Ang hun losat (iblis perempuan berwajah cantik) Hoa Long jin segera tertawa cekikikan, ujarnya.

"Sekarang kau sudah menyaksikan sendiri betapa dahsyatnya jarum Hua kut ciam (jarum penghancur tulang) dari pun tongcu, nah, makanya lebih baik, jangan bertingkah seenaknya sendiri"

"Aku hampir terkecoh karena sama sekali tidak siap untuk menghadapi seranganmu... hmm! Tapi sekarang, aku telah mengetahui rahasianya, sekalipun kau memiliki asap beracun dan jarum jarum beracun lagi juga tak ada gunanya, kalau tak percaya? Silahkan buktikan sendiri..."Kalau toh kita sama sama yakin dengan kemampuannya masing masing pihak, lalu apa gunanya musti banyak bicara? Asal kita lanjutkan saja pertarungan ini, toh akhirnya segala sesuatunya dapat terlihat sendiri secara jelas"

"Benarkah itu!"

Seraya berseru, pemuda jelek itu segera melompat maju ke depan, telapak tangannya secepat sambaran kilat meluncur ke depan dan mengancam jalan darah Yu bun hiat ditubuh perempuan iblis itu.

Menghadapi serangan lawan yang begitu cepat dan dahsyatnya itu, Ang hun lo sat Hoa long jin menjadi amat terkejut.

Pada mulanya dia masih mengira dirinya yang terlampau teledor sehingga kena didahului lawan tapi setelah menyaksikan sendiri betapa lihaynya serangan lawan itu, ia baru sadar bahwa lawannya ini benar benar memiliki ilmu silat yang sangat lihay.

Kendatipun dalam hati kecilnya ia merasa takit bercampur ngeri, namun senyuman diujung bibirnya malah semakin menebal, katanya.

"Sauhiap, kau pandai amat makan tahu!"

OooodOeoooo Pemuda berwajah jelek itu enggan untuk menggubris ucapan musuhnya, sambil tersenyum ia cuma berkata "Terserah apa yang hendak kau katakan!

Tapi aku hendak memberi tahu kepadamu, pertama kau harus memerintahkan kepada segenap anak buahmu untuk menghentikan serangan, kalau tidak Hmm!

Aku bisa menghancurkan isi perutmu"

Dari balik sorot matanya terpancar keluar tekadnya yang bulat, siapa saja yang menyaksikan sorot mata tersebut akan tahu kalau perkataannya itu tidak bohong.

Sesungguhnya Ang hun lo sat Hoa Long jin masih memiliki beberapa macam kepandaian lihay, tapi ia tak berani menggunakannya secara sembarangan, sebab ia cukup mengerti betapa lihaynya ilmu silat yang dimiliki musuhnya itu.

Menyaksikan lawannya hanya berdiam diri belaka, pemuda berwajah jelek itu segera membentak lagi.

"Sebenarnya kau mau tidak memerintahkan semua anak buahmu agar menghentikan serangan?"

Ang hun lo sat amat terkesiap, buru buru sahutnya.

"Tak kusangka kalau hatimu sekeras baja baik, baik, sekarang juga akan kuperintahkan kepada mereka agar menghentikan serangan!"

Dengan suara lantang diapun berseru.

"Segenap anggota Ki thian kau segera menghentikan semua pertarungan!"

Begitu perintah sudah diturunkan, Tee lwe siang mo dan segenap iblis dsrai Ki thian kau mengundurkan diri dari arena pertarungan.

Hoa Long jin segera melirik sekejap kearah pemuda jelek itu, kemudian katanya lagi.

"Sekarang semua anak buahku sudah menghentikan pertarungan, nah sauhiap, apa lagi yang hendak kau katakan?"

Pemuda jelek itu tidak menggubris perkataannya, kepada Kim liong lojin kembali ujarnya.

"Bwe cianpwe, tolong kumpulkan segenap anggota partai dibelakang tubuhku!"

Semenjak ditolong oleh pemuda tersebut, Kim liong lojin sudah merasa sangat berterima kasih sekali kepada pemuda berwajah jelek itu, maka tanpa banyak bicara dia segera melaksanakan permintaannya itu.

Dalam waktu singkat, segenap anak murid Hoa san pay telah berkumpul semua dan berdiri dibelakang pemuda jelek itu.

Menanti semuanya telah berkumpul, pemuda itu baru berkata lagi kepada perempuan iblis tersebut.

"Aku harap kau segera menyerah kalah saja, ketahuilah didalam pertarungan yang berlangsung hari ini perkumpulan kalian sudah pasti akan menderita kekalahan total!"

"Aaah, belum tentu, sekalipun kami belum mampu menangkan Hoa san pay bukan berarti kami akan kalah"

Tee lwe siang mo ikut tertawa seram sambungnya.

"Heeehh... heeehh... heeehh... bocah keparat, jangan kau anggap dengan mengandalkan sedikit ilmu langkahmu yang aneh itu maka kami semua akan jeri kepadamu!"

Pemuda jelek itu mengangkat bahunya sambil tertawa, katanya.

"Tee lwe siang mo meski terhitung punya nama juga di kalangan Hek to tapi kalau berbicara soal ilmu silat yang sesungguhnya, aku mah masih belum memandang sebelah matapun kepada kalian"

"Bajingan cilik kau tak usah tekebur, beranikah kau untuk berduel melawan lohu?"

Tantang Tau Chin si iblis pertama dengan wajah merah karena marah.

"Jangan tekebur lebih dulu, barusan kau bisa menang karena mengandalkan jumlah banyak, coba kalau sendirian... huuh, sudah keok sedari tadi...!"

"Untuk menghadap murid Koan tiau kek dari Lam hay yang lihay dalam ilmu pedang, terpaksa saja kami harus maju berduaan, tapi kau... Huuh bajingan cilik apa yang kau andalkan?"

Pemuda jelek itu tertawa dingin.

"Ilmu pedang Koan tiau kek memang sangat lihay dan tiada tandingannya dikolong langit, aku merasa tak sanggup untuk menandinginya tapi kalau hanya menghadapi manusia manusia semacam kalian berdua, hmm, cukup manusia kelas dua seperti aku pun sudah mampu untuk memberi pelajaran yang setimpal kepadamu!"

Selama hidup belum pernah Tau Chin menjumpai orang yang sama sekali tidak memandang sebelah mata terhadap mereka macam pemuda jelek itu, kontan saja dia naik pitam, bentaknya.

"Bocah keparat hayo cepat menggelinding keluar dari situ, lohu akan menghajar adat lebih dulu kepada manusia tekebur semacam dirimu itu"

Pemuda jelek itu segera menggelengkan kepalanya berulang kali, katanya.

"Kalau musti maju sendirian, sudah terang kau bukan tandinganku, apalagi sekalipun harus bertarung juga sama sekali tidak menarik, lebih baik suruh saja Tau Co adikmu itu untuk maju bersama"

Baru saja Tau Chin hendak menampik Ang hun losat telah menimbrung dari samping.

"Tau huhoat, mungkin orang itu benar benar bermaksud tidak baik? kenapa musti mengalah terus?"

Mendengar kisikan tersebut, Tau cu segera maju ke muka dan bersama sama Tau Chin menuju ke tengah arena, serunya bersama.

"Bajingan cilik, sekarang apa lagi yang hendak kau katakan?"

Pemuda jelek itu tersenyum, kepada Bwe Ling soat katanya.

"Nona, bolehkah aku meminjam sebentar pedang mestikamu itu?"

Pedang mestika milik Bwe Ling soat ini adalah sebilah pedang mestika dari Koan tiau kek yang sudah diwariskan turun temurun, pada gagang pedangnya terdapat sebutir batu mestika dengan ukiran huruf "Ci Im"

Setelah menerima pedang mestika tersebut, pelan pelan pemuda berwajah jelek itu maju ke tengah arena, agaknya dia benar benar tidak memandang sebelah matapun terhadap kemampuan Tee lwe siang mo tersebut.

Setelah tiba lebih kurang tujuh jengkal dari hadapan sepasang iblis tersebut, katanya sambil tersenyum.

"Apalagi yang kalian berdua nantikan?"

Tee lwe siang mo segera tertawa seram, di tengah bentakan yang keras si iblis pertama Tau Chin dengan memutar gadanya menciptakan selapis cahaya perak menyerang dari arah sebelah kiri, sedangkan iblis kedua Tay Chu dengan memutar ruyung lemasnya menyergap datang dari sebelah kanan.

Ketika bertarung melawan Bwe Leng soat tadi mereka masih belum mengeluarkan segenap kemampuannya karena masih terdapat perasaan sayangnya terhadap gadis itu.

Tentu saja keadaannya pada saat ini sama sekali berbeda pertama karena pemuda itu berwajah jelek dan mendatangkan perasaan muak bagi yang memandang, kedua ucapannya yang tajam telah menyinggung perasaan mereka berdua yang menimbulkan rasa marah dihati kecil kedua orang iblis itu.

Maka begitu melancarkan serangan, mereka segera mengeluarkan ilmu Tui hun jit si (tujuh jurus pengejar nyawa) yang diandalkannya selama ini untuk menggencet lawan.

Menyaksikan dahsyatnya serangan serangan itu baik Kim liong lojin maupun para jago dari Hoa san pay sama sama merasa terkejut dengan wajah berubah hebat.

Bahkan Bwe Ling soat, itu murid dari Koan tiau kek yang lihaypun ikut mengerutkan dahinya setelah menyaksikan betapa gencarnya serangan serangan yang dilancarkan dua orang iblis tersebut pikirnya.

"Tadi, seandainya kedua orang iblis tua inipun menggunakan Tui hun jit si untuk menghadapi diriku, mungkin pada saat ini kami semua sudah sama sama terluka parah!"

Berpikir sampai disitu tanpa terasa timbul perasaan kuatirnya terhadap keselamatan pemuda jelek itu.

Sudah barang tentu rasa kuatirnya itu sama sekali tak berguna, mengapa tidak?

Dengan kepandaian silat yang dimiliki si pemuda jelek tersebut sesungguhnya ia masih lebih dari cukup untuk menghadapi dua orang iblis tua tersebut.

Bagaikan seekor naga sakti tubuhnya berjumpalitan kesana kemari mengiringi sambaran pedangnya yang membetot sukma rasanya.

"Sreeet! Sreeet! Sreeet! Secara beruntun dia melancarkan tiga buah serangan berantai yang memaksa Tee lwe siang mo terdesak mundur berulang kali. Agaknya Ang hun lo sat Hoa Long jin juga menyadari akan kelihayan pemuda jelek tersebut, dia kuatir anak buahnya terluka ditangan lawan, maka buru buru ia mengambil keputusan untuk memerintahkan kedua orang iblis tersebut agar segera mengundurkan diri. Iblis kedua Tay Chu merasa sangat tidak puas dengan keputusan tersebut, serunya.

"Hoa tongcu, kami toh belum kalah..."

"Tidak, kalian sesungguhnya sudah kalah!"

Tukas Ang hun lo sat dengan cepat.

"dengan pengalaman kalian berdua yang amat luas, masakah masih belum kalian saksikan bahwa tiga jurus serangan yang dipergunakan pemuda jelek itu adalah jurus Hud kong bu ciau (cahaya Buddha memancar ke jagad), Hoat lu siang coan (hukum alam selalu berputar) serta Hud hoat bu pian (hukum Buddha tak bertepian) dari ilmu pedang Tay cian kiam hoat milik Ling mong Seng ceng dari kuil Sian goan si? Coba lihat, alis mata kalian sudah dipapas bersih oleh pedangnya!"

Setelah diperingatkan oleh iblis perempuan tersebut, Tee lwe siang mo baru merasa amat terperanjat, apalagi setelah tahu bahwa alis mata mereka sudah dicukur gundul, tanpa terasa peluh dingin mengucur keluar membasahi tubuhnya.

Hari ini, bukan saja mereka telah bertemu dengan murid sakti dari Lam hay koan tiau kek, bahkan telah berjumpa pula dengan ahli waris Ling mong Seng ceng dari kuil Sian goan si, sekalipun kedua orang iblis tersebut bernyali besar, toh mereka tak berani banyak bercuap lagi dalam keadaan demikian.

Ang hun lo sat Hoa Long jin kembali tertawa terkekeh kekeh, katanya dengan merdu.

"Sungguh tak kusangka kau adalah seorang jago lihay yang tidak mau menampakkan diri!"

"Menurut anggapan Hoa tongcu, aku adalah siapa?"

Pemuda berwajah jelek itu balik bertanya.

"Tentu saja kau datang dari kuil Siang goan si! Sungguh tak kusangka Bu lim ji seng (dua malaikat dari dunia persilatan) sama sama telah mempunyai ahli waris!"

Begitu ucapan tersebut diutarakan, baik dari pihak musuh maupun dari pihak teman sama sama berseru tertahan.

Pemuda berwajah jelek itu tidak mengaku pun tidak menyangkal, hanya ujarnya lagi dengan suara keras.

"Kalian hendak menarik diri dari sini? Ataukah hendak melakukan perlawanan terakhir?"

"Sudah barang tentu kami akan menarik diri, tapi dapatkah ku thau siapa namamu?"

"Kenapa tidak? Aku she Ong bernama It sin!"

"Benarkah kau adalah murid Leng mong Seng ceng?"

"Maaf, soal ini tak bisa kujawab!"

"Padahal sekalipun tidak kau katakan juga tidak mengapa, masa dikolong langit masih terdapat ilmu pedang Sakya Tay cian kiam hoat kedua? Baiklah, selama gunung nan hijau, air tetap mengalir, semoga saja dalam waktu singkat kita dapat bersua kembali"

Seusai berkata, bersama sama anak buahnya segera mengundurkan diri dari situ. Tiba tiba San tian gin liong (naga perak halilintar) Li Ki Liat berseru lantang.

"Wahay raja judi harap berhenti!"

Mendengar teriakan tersebut, si Raja judi So Cay lay segera berhenti tegurnya.

"Mau apa kau?"

"Apakah si Raja judi yang tersohor namanya diseantero jagad sudah tak mampu untuk membayar kekalahannya?"

Merah padam selembar wajah Raja judi setelah mendengar teguran itu, buru buru sahutnya.

"Omong kosong, soal menang kalah mah soal biasa bagiku!"

"Kalau memang begitu, silahkan kau menuruti janjimu tadi untuk merangkak turun dari Hoa san!"

Desak Li Ki liat lebih jauh.

"Lo jit, jangan melakukan perbuatan boodh!"

Si Raja penjilat pantat segera menasehati.

"hayo cepat berangkat, siapa berani menghalangimu, kita bersaudara akan beradu jiwa dengannya"

Tapi si Raja judi segera menggelengkan kepalanya berulang kali.

"Tidak, siapa berani bertaruh dia harus berani pula membayar taruhannya Lak ko, lebih baik kau berangkat lebih duluan jangan mengurusi diriku lagi"

Dengan perasaan apa boleh buat terpaksa Raja penjilat pantat melarikan diri dari situ.

Raja judi So Cay lay juga tidak berbicara apa apa lagi, dia segera berjongkok dan merangkak keluar dari tempat itu.

Sekalipun sedang merangkak, ternyata gerakan tubuhnya cukup cepat, dalam waktu singkat bayangan tubuhnya sudah lenyap dari pandangan.

Sekalipun gerak geriknya amat lucu, tapi tak seorangpun dari anggota Hoa san pay yang tertawa karena geli.

Sut lui gin kiam (pedang perak geledek menyambar) Tio Beng hau segera menegur.

"Lo su, buat apa kau harus mempermalui dirinya? Dilihat dari penampilan si Raja judi tadi, sesungguhnya dia bukan seorang yang jahat. dalam tubuh orang orang Hek to, ternyata bisa dijumpai manusia semacam dia, sesungguhnya hal ini sulit sekali, bila dikemudian hari maka kim Soat kita bersua kembali dengan mereka lebih baik pergaullah dengan baik baik siapa tahu kalau kita bisa membereskan masalah ini secara baik baik"

"Ucapan toako pasti akan siaute turuti!"

Buru buru Li Ki liat mengiakan dengan cepat.

Dengan perginya orang orang Ki thian kau maka Kim liong lojin segera menitahkan anak muridnya agar mengubur mayat mayat yang penuh bergelimpangan disana Tiba tiba Ong It sin berkata.

"Biar boanpwe melakukan pemeriksaan sejenak disekitar tempat ini, siapa tahu kalau ada yang masih hidup?"

Kim liong lojin segera menghela napas panjang, katanya.

"Sauhiap betul betul berhati baik!"

"Aaah, boanpwe tak berani menerima pujian tersebut"

Seru Ong It sin sambil tertawa.

Selesai berkata, dia lantas memeriksa dengan teliti mayat mayat yang bergelimpangan diatas tanah itu.

Betul juga, dari ketiga puluh sosok mayat tersebut, akhirnya ia berhasil menemukan seorang anggota Ki thian kau yang masih hidup, sekalipun ia terluka sangat parah, namun jiwanya masih tetap utuh.

Buru buru Ong It sin mengambil keluar sebutir obat mujarab dan dijejalkan kedalam mulut orang itu, ternyata lewat setengah harian kemudian, orang itu telah hidup kembali dengan segar.

Sudah barang tentu tak terlukiskan rasa gembira dan terima kasihnya orang itu kepada pemuda jelek itu.

"Sobat siapa namamu?"

Tanya Ong It sin kemudian.

"Hamba she Be bernama Yong hok"

"Sudah berapa lama sahabat Be bergabung dengan perkumpulan Ki thian kau?"

"Dulunya hamba adalah seorang anggota Liok lim di wilayah Kanglam, sudah hampir setahun lamanya bergabung dengan perkumpulan Ki thian kau...!"

"Kau termasuk di bawah perintah siapa?"

"Hamba termasuk dalam ruangan Ang yok tong"

"Berapa sih jumlah ruangan dalam perkumpulan kalian?"

"Semuanya terdiri dari empat ruangan, menurut urutannya terbagi menjadi Ang yok tong, Pek tho tong, Uh kok tong dan Pek Bwe tong!"

"Siapakah kaucu kalian?"

Be Yong hok segera menggelengkan kepalanya berulang kali, sahutnya dengan rasa sesal.

"Kecuali Hu hoat dan tongcu kami, tak seorangpun yang pernah berjumpa muka dengan kaucu kami itu"

"Maksudmu dia selalu mengenakan kain cadar untuk menutupi wajahnya...?"

Be Yong hok segera mengangguk tanda membenarkan.

"Berada dimanakah markas besar kalian?"

Kembali Ong It sin bertanya lirih. Be Yong hok termenung dan berpikir sejenak, akhirnya dengan bulatkan tekad dia menjawab.

"Berada di bukit Long sia san!"

"Tahukah kau diantara rombongan yang dikirim untuk menyergap perguruan perguruan besar kecuali rombongan kalian masih ada siapa saja yang diutus...?"

"Kaucu kami telah menitahkan Pek tho tongcu yakni Pek tok biu kui (Mawar putih beracun) Hong Tongcu dengan membawa Ciong lay su sia serta lima orang tianglo dari Kek po ditambah Say siu jin mo serta Tee leng kun untuk berangkat kebukit Kun lun!"

"Sudah berapa lamakah mereka berangkat?"

Tanya Ong It sin dengan wajah terkejut.

"Kami berangkat pada saat yang bersamaan ketika kami berangkat untuk menyerang Khong tong dan Heng san pay, mereka telah berangkat kebukit Im san"

"Pek tok bi jui tersebut benar benar berhati keji, Im san pay telah mereka basmi sampai ludas entah bagaimana dengan nasib Kun lun pay...?"

Bergumam sampai disitu dia lantas berkata lagi "Dalam perjalanan pulangnya nanti, tahukah kau mereka masih akan berkunjung kepartai mana lagi?"

"Soal ini maaf kalau hamba kurang tahu"

"Sahabat Be, setelah kau sembuh nanti, kumohon kepadamu agar mencari pekerjaan yang baik, janganlah berbuat kejahatan lagi, percayalah cepat atau lambat perkumpulan Ki thian kau pasti akan musnah dari permukaan bumi, sampai waktunya sarang mereka pun pasti akan rata dengan permukaan tanah"

"Terima kasih banyak atas nasehat dari sauhiap, hamba pasti akan menjadi seorang manusia yang berguna bagi masyarakat!"

Ketika Ong It sin keluar dari ruangan tersebut, dilihatnya Bwe Kiam ciu dan Bwe Ling soat sedang menunggu kedatangannya didepan pintu.

Rupanya Kim liong lojin untuk merayakan kemenangan yang berhasil mereka capai.

Mengikuti dibelakang dua bersaudara Bwe Ong It sin berjalan menuju ke ruang tengah tampak olehnya Kim liong lojin serta Gin liong su kiam telah menantinya dibawah undak undakan.

Sambil menarik tangan Ong It sin, kata Kim liong lojin kemudian sambil tertawa.

"Coba tiada bantuan dari lote, mungkin partai kami benar benar sudah hancur ditangan kaum iblis tersebut, budi kebaikan lote tak akan kami lupakan untuk selamanya, sebagai tanda terima kasih kami, harap lote bersedia meneguk secawan arak!"

"Cianpwe buat apa kau musti bersikap demikian, bukankah tindakanmu ini justru memandang asing diriku?"

Walaupun demikian, dalam perjamuan tersebut akhirnya pemuda itu diloloh sampai mabuk berat.

Kim liong lojin segera menitahkan kepada Bwe Kiam ciu dan Bwe Leng soat untuk memayang Ong It sin kedalam kamar untuk beristirahat.

Menyaksikan bayangan punggung pemuda itu diam diam jago tua ini menghela napas panjang, pikirnya.

"Berbicara soal kebajikan, kemuliaan dan ilmu silat, Ong sauhiap ini memiliki kelebihan dari siapapun juga, sayang wajahnya terlampau jelek, coba kalau tidak, Leng soat pasti merupakan pasangan yang cocok baginya, aaai... benar benar sayang sekali!"

Keesokan harinya setelah sadar dari mabuknya Ong It sin pun mohon diri kepada Kim liong lojin. Mendengar itu, Kim liong lojin segera bertanya.

"Ong sauhiap, dimanakah tempat tinggalmu?"

Dengan wajah sedih Ong It sin menjawab.

"Ibu boanpwe sudah lama meninggal, sedang ayahku tewas dibunuh orang, saat ini aku hidup sebatang kara tanpa sanak tanpa keluarga dan tanpa rumah"

Mendengar jawaban tersebut, Kim liong lojin ikut merasa bersedih hati, selang sejenak kemudian dia baru bertanya lagi.

"Siapakah ayahmu? Bolehkah aku turut mengetahui namanya?"

"Ayahku adalah Kwang tong tayhiap Kim to bu tek (golok emas tanpa tandingan) Ong Tang thian"

"Oooa... rupanya sauhiap adalah keturunan dari Kim to butek? Lohu pernah beberapa kali berjumpa dengannya, ia memang seorang lelaki gagah dan berjiwa terbuka, malah merupakan sahabat karib anakku, konon pada sepuluh tahun berselang ia telah tewas ditangan lima orang gembong iblis yang sangat lihay dari golongan hek to hanya lantaran rahasia sebuah kotak kemala..."

"Benar, kotak itu menyangkut tentang sebilah padang Hu si ku kiam, sarung naga Cian nian liong siau serta se

Jilid kitab Sang yang kiam hoat yang maha dahsyat..."

Setelah berhenti sejenak, terusnya.

"Apakah cianpwe pernah mendengar gembong gembong iblis yang mana saja yang tersangkut didalam peristiwa berdarah itu?"

"Lohu jarang sekali berkelana dalam dunia persilatan, mungkin Sun Siok tong lebih jelas tentang masalah ini..."

Ia lantas berpaling kearah Hui siang gin liong (naga perak salju melayang) Sun Siok tong seraya berkata.

"Beritahu kepada Ong sauhiap, siapa siapa saja yang terlibat didalam pengeroyokan terhadap Kwan tong tayhiap dimasa lalu?"

Hui siang gin liong Sun Siok tong segera mengiakan, setelah berpikir sebentar, katanya.

"Menurut apa yang kuketahui, mereka adalah Hek wu kong (kelabang hitam) Be Ji nio Tiang bi lo yau (siluman tua beralis panjang) Tian Sim han, Siang pit lo han (raksasa berlengan baja) Yap Kiu, Kim san sia kiam (kipas emas pedang sesat) Tio pin serta Ik Tianglo lima orang..."

"Siok tong, ceritakanlah garis besar keadaan sebenarnya yang kau ketahui tentang peristiwa berdarah itu kepada Ong sauhiap!"

Hui siang gin liong Sun Siok tong kembali mengiakan, katanya kemudian dengan suara nyaring.

"Waktu itu terjadi pada belasan tahun berselang, tempatnya adalah Hui hu ko di luar perbatasan dekat tembok besar, sedangkan siapa pembunuh pembunuhnya telah kukatakan tadi tentang bagaimana ceritanya sampai aku tahu tentang persoalan ini? Kebetulan pada waktu itu aku mendapat tugas pergi ke bukit Tiang pek san untuk mencari sebatang jinson tua untuk membuat obat, kebetulan tengah jalan aku telah menjumpai pertarungan tersebut, waktu itu Kwan tong tayhiap sudah terkena jarum beracun Hong wi ciam dari si kelabang hitam Be Ji nio, kemudian terkena tusukan pedang dari Tiang bi lo yau yang tepat menembusi ulu hatinya, berbareng itu juga Kim san sia kiam Thio Pin mengayunkan pula pedangnya membacok lengan kirinya, sedangkan tusukan golok dari Ik tiang lo dan pukulan beruntun dari Siang pit lo han menyusul mengejar pula tubuhnya.

"Selain itu akupun menjumpai Ho hoa siancu Liok Lui dari Tiong lam pay sedang lari menghampiri Ong tayhiap sambil berteriak teriak, sungguh menyesal sekali pada waktu itu aku tak bisa berbuat apa apa berhubung aku harus cepat pulang ke gunung untuk menolong jiwa ayahku, jadi sesungguhnya bukan aku enggan memberi pertolongan"

Dari nada ucapan tersebut dapat diketahui bahwa ia merasa menyesal sekali.

"Sun tayhiap!"

Dengan cepat Ong It sin berkata.

"dalam hal ini kau tak bisa disalahkan, untuk menghadapi gembong gembong iblis yang begitu buas dan lihaynya, sekalipun aku turun tangan juga percuma saja sudah banyak tahun aku gagal untuk mencari tahu siapakah gerangan musuh besar pembunuh ayahku, sungguh beruntung Sun tayhiap bersedia memberitahukan kepadaku hari ini untuk hal itu aku merasa sangat berterima kasih sekali.

"Ong toako, besar kemungkinan semua musuh besar pembunuh ayahmu itu telah bergabung dengan perkumpulan Ki thian kau"

Kata Bwe Ling soat tiba tiba.

"asal kita basmi perkumpulan itu, tak sulit bagimu untuk membalas dendam"

"Terima kasih atas petunjuk nona!"

"Sauhiap!"

Kata Kim liong lojin pula "sesudah meninggalkan bukit Hoa san entah kau punya rencana hendak kemana?"

"Boanpwe telah berjanji dengan Coa Thian tam untuk bertemu dilembah Lo sian kok dibukit See thian, berkat Coa tayhiaplah boanpwe dapat masuk kedalam perguruan guruku"

"Oooh... jadi kau maksudkan Ih lwe sam eng Yaa kau memang sepantasnya lekas lekas berangkat!"

Dari mimik wajah kakek itu rupanya Ong It sin dapat menangkap sesuatu yang tak beres buru buru ia bertanya.

"Sesungguhnya apa yang telah terjadi?"

"Menurut kabar yang tersiar dalam dunia persilatan, katanya Siok tong Itu liong (naga sakti dari wilayah Szechuan) Ciu long serta Ya li kiam (pedang gadis suci) Tong Siau wan telah dibantai oleh perkumpulan Ki thian kau secara keji lembah Lo sian kok pun sudah mengalami tragedi"

Begitu mengetahui kalau Coa tayhiap bersaudara mengalami ancaman bahaya, Ong It sin segera bangkit berdiri untuk mohon diri.

"Sekalipun gelisah juga tak perlu terburu buru"

Kata Kim liong lojin kemudian "ketahuilah lembah Lo sian kok adalah sebuah tempat yang bermedan amat bahaya, susah rasanya bagi sembarang orang untuk membobolkan pertahanan disini, aku pikir sampai kini lembah tersebut belum berhasil mereka hancurkan bila kau ke sana tak ada salahnya untuk mengajak serta Leng soat, dia juga seorang jago tangguh, pertama bisa membantumu kedua diapun harus banyak berlatih dalam dunia persilatan tentu saja bila Ong sauhiap tidak merasa keberatan?"

Sesungguhnya Ong It sin ingin menampik maksud baik orang tapi iapun tak tega menghilangkan kegembiraan Bwe Ling soat yang pada saat itu sudah berseri seri terpaksa permohonan orang pun dikabulkan.

Selain mempersiapkan bekal untuk kedua orang itu secara khusus Kim liong lojin menghadiahkan pula sebilah pedang mestika untuk si anak muda itu.

Pedang mestika tersebut adalah sebilah senjata mestika dari partai Hoa san yang dinamakan Kim liong kiam.

Dari pedang mestika inilah Kim liong lojin mendapat julukannya yang sekarang ini.

Sudah barang tentu Ong It sin menampik pemberian yang sangat berharga itu.

Tapi dengan cepat Kim liong lojin berkata.

"Dewasa ini orang orang Ki thian kau sudah membuat keonaran diseluruh dunia persilatan gembong gembong iblis yang kenamaan dari golongan hek to pun telah bergabung dengan mereka, aku rasa cuma murid murid dari Dua malaikat saja yang sanggup menghadapi mereka. Aku tahu bahwa sauhiap berilmu tinggi, tapi ada baiknya kalau kau membawa serta sebilah pedang sebagai persiapan, siapa tahu bila suatu ketika kau akan berhadapan langsung dengan kaucu mereka? Bila musti melayani dengan tangan kosong, toh akhirnya yang rugi adalah kau sendiri?"

Setelah didesak berulang kali, akhirnya Ong It sin menerima juga pemberian tersebut tapi katanya.

"Orang kuno bilang, ingin menjadi orang yang simpatik janganlah menampik kebaikan orang, baiklah pedang ini akan boanpwe terima untuk digunakan, tapi bila suatu ketika boanpwe berhasil mendapat senjata yang lain, pedang ini akan kukembalikan lagi"

Rupanya Kim liong lojin tahu bahwa kehendak pemuda tersebut tak bisa ditentang, terpaksa diapun menyanggupi. Sebelum berangkat kakek itu kembali memperingatkan.

"Dalam perjalanan menuju kelembah Lo sian kok nanti, bila urusan disitu telah selesai lebih baik Ong sauhiap sekalian mampir kebukit Tiong san, sebab menurut dugaan lohu, besar kemungkinan Ki thian kau juga menaruh maksud jelek terhadap Siau lim pay"

Ong It sin segera mengiakan.

Tengah hari itu juga, ia bersama Bwe Ling soat dengan menunggang kuda jempolan segera berangkat menuju kearah kota Kay hong.

Sekalipun dandanan Ong It sin pada saat ini amat perlente dan berpotongan seorang sastrawan, namun wajahnya tetap jelek seperti babi, sudah barang tentu dengan tampang sejelek itu mendampingi seorang gadis yang cantik bak bidadari dari kahyangan tersebut mendatangkan suatu pemandangan yang sangat menyolok, tak heran kalau sepanjang perjalanan mereka menjadi bahan cerita orang banyak.

Ada yang berkata begini.

"Waah, kalau gadis secantik itu musti mendampingi pemuda sejelek babi, keadaan itu ibaratnya sekuntum bunga yang ditancapkan diatas tahi kerbau!"

Ada pula yang mengomel.

"Maknya, sialan maka seekor burung hong dipersunting seekor babi budukan..."

Ada yang merasa sayang, ada pula yang merasa mendongkol dan merasa tak enak.

Padahal berbicara yang sesungguhnya apa sangkut pautnya urusan ini dengan mereka?

Mau cantik kek atau buruk kek, apa pula urusannya dengan mereka?

Untung saja Bwe Leng soat sama sekali tidak mempedulikan kejelekan Ong toakonya ini.

Selama belasan hari perjalanan bukan saja hubungannya dengan Ong toako bertambah akrab dan terbuka, bahkan ia merasakan betapa jujurnya pemuda itu, kecuali wajahnya yang memang jelek, boleh dibilang pengetahuannya sangat luas pengalamannya cukup lumayan.

Tanpa terasa gadis itupun berpikir.

"Perkataan suhu memang benar, yang dikatakan bagus bukan dinilai dari wajah seseorang melainkan dari ketulusan hatinya, perkataan ini sungguh tepat sekali dengan kenyataan"

Begitulah hari itu mereka berdua menyeberangi sungai Tiang kang dan tiba di Karesidenan Leng kok sian.

Mereka pun menginap di rumah penginapan It peng dengan mengambil kamar nomor tujuh dan sembilan.

Ketika Bwe Ling soat keluar rumah untuk membeli barang, Ong It sin merasa kesepian maka diapun berjalan jalan didalam serambi.

Pada saat itulah dari balik ruangan disebelah barat terdapat dua pasang mata yang sedang mengintip gerak gerik pemuda itu dari balik kegelapan.

Terdengar salah seorang diantaranya berkata.

"Sin tongcu coba kau lihat! Bangsat itu tampangnya jelek tapi justru memiliki rekan seperjalanan yang cantik jelita bak bidadari dari kahyangan, coba kau bilang lucu atau tidak?"

Yang berbicara adalah seorang perempuan cantik yang menggembol sepasang golok dipunggungnya, sayang hawa hitam menyelimuti diantara alis matanya, dia adalah seorang anggota baru dari Ki thian kau bernama Ciok bok ci yao (Walet merah bermata indah) Ciau Hong hong.

Siau Hong hong berasal dari seorang pelacur yang beroperasi disekitar wilayah Kanglam, entah berapa banyak perbuatan terkutuk yang telah ia lakukan selama ini.

Disampingnya adalah Ui siok tongcu yang bernama Hong liu kua bu (Janda cabul) Sin kim ciu.

Adapun kedatangan mereka berdua ke karesidenan Leng kok adalah untuk melakukan inspeksi perjalanan ke kantor kantor cabang mereka di daerah, secara tak terduga mereka telah menemukan jejak Ong It sin dan Bwe Ling soat dalam rumah penginapan tersebut.

Terdengar Sin Kim ciu berkata kepada Ciau Hong hong.

"Bila menilai orang dari wajahnya, maka akan hilang nilainya, apalagi dia toh bukan berwajah demikian yang sebenarnya!"

"Benarkah itu?"

Tanya Ciau Hong hong keheranan, bila ia benar benar cuma mengenakan topeng kulit manusia, dilihat dari potongan badannya yang gagah perkasa, dapat dipastikan dia adalah seorang lelaki tampan, hayo kita segera bekuk dirinya..."

"Jangan bertindak gegabah"

Seru janda cabul Sin Kim ciu tidak setuju.

"coba kau lihat pedang Kim liong kiam yang digembol pemuda itu, sudah pasti dia adalah seorang jago muda dari Hoa san pay, kita tak boleh bertindak gegabah"

"Aaah, apalah artinya seorang murid Hoa san? seru Ciau Hong hong penasaran, sekalipun ia sudah mewarisi segenap kepandaian dari Kim liong lojin, masa kita tak mampu untuk merobohkannya?"

"Bukan begitu maksudku, aku rasa kurang baik buat kita untuk turun tangan ditengah keramaian kota."

Lantas bagaimana menurut maksud Toucu Sin Kim ciu segera membisikkan sesuatu ke sisi telinganya, mendengar itu Ciau Hong hong mengangguk tiada hentinya.

Yaa, memang ini merupakan suatu rencana yang bagus sekali.

oooOooo Dalam pada itu Ong It sin masih berjalan jalan di serambi sambil menghitung masih berapa lamakah baru akan tiba di bukit Thian hok san bagian barat.

Tiba tiba...

Terdengar suara rintihan tertahan berkumandang dari arah depan sana, kemudian tampaklah seorang nyonya berbaju hitam yang memakai sekuntum bunga putih disanggulnya roboh tak sadarkan diri lebih kurang tujuh jengkal dihadapannya.

Entah lantaran terserang penyakit aneh ataukah karena kesedihan yang kelewat batas, yang pasti perempuan itu sudah roboh terkulai di atas tanah.

Ong It sin memang seorang pemuda yang berhati mulia, sudah barang tentu dia tak akan berpeluk tangan belaka, apalagi pada waktu itu di sepanjang serambi tidak nampak orang lain.

Ong It sin segera memburu ke depan, membungkukkan badan dan memeriksa nyonya muda yang pingsan tersebut, dilihatnya ia roboh dengan mata terpejam rapat, denyutan jantungnya amat lirih dan wajah pucat.

Dengan cepat pemuda itu memeriksa dengusan napasnya...

Oh, apa yang terjadi?

Pemuda itu merasakan gawatnya keadaan nyonya itu, bila tidak segera diberi pertolongan, niscaya jiwanya akan melayang.

Pada saat itulah tiba tiba muncul kembali seorang dayang berbaju merah, sambil memburu datang serunya dengan panik.

"Hujin! Hujin! Mengapa kau?"

Melihat dayangnya sudah datang, Ong It sin segera merasa agak lega, buru buru katanya.

"Ia sudah jatuh pingsan!"

Dayang berbaju merah itu terlalu kurus dan kecil, sudah beberapa kali ia mencoba untuk membopong tubuh majikannya, namun ia selalu gagal untuk membopongnya bangun.

Melihat itu, Ong It sin lantas berkata.

"Biar aku yang membopongkan!"

Dirangkulnya tengkuk nyonya itu dan tangan yang lain memeluk sepasang pahanya, kemudian membopongnya bangun.

"Kalian tinggal dikamar nomor berapa?"

Tanyanya. Ciok bok ci yan Ciau Hong hong yang menyaru sebagai dayang itu segera menuding ke depan seraya menjawab.

"Dalam ruang sebelah barat!"

Walaupun pemilik penginapan juga dibuat terkejut oleh kejadian itu, tapi setelah dilihatnya ada orang yang telah mengurusi persoalan itu, diapun buru buru angkat kaki.

Kejadian semacam ini sudah sering berlangsung, jadi siapapun tidak menaruh perhatian lagi.

Akan tetapi, sejak masuk ke dalam kamar sebelah barat, pemuda berwajah jelek itu tak pernah muncul kembali.

Tak lama kemudian, Bwe Leng soat pun kembali ke penginapan.

Ia pulang sambil membawa beberapa bungkusan besar, dengan wajah berseri gadis itu membuka kamar nomor tujuh sambil serunya.

"Ong toako, hayo makan, aku telah belikan kueh buah tho kegemaranmu...!"

Tapi walaupun dipanggil beberapa kali tak kedengaran juga suara sahutan, maka ia membuka pintu sambil melangkah masuk, ternyata kamar itu kosong, Ong toakonya sama sekali tidak ada disana.

Tanpa terasa Bwe Ling soat lantas berpikir.

"Jangan jangan ia keluar rumah karena terlalu lama menunggu kedatanganku."

Maka diapun kembali ke kamar sendiri, ketika seorang pelayan datang membawa air teh, Bwe Ling soat lantas bertanya.

"Apakah kau melihat Ong siangkong?"

Dengan wajah keheranan pelayan itu balik bertanya.

"Ada apa? Masa Ong siangkong belum kembali..."

Dari ucapan tersebut, Bwe Ling soat segera merasakan ada sesuatu yang tak beres buru buru tanyanya lagi "Cepat katakan, dia telah pergi ke mana?"

"Nona persennya dulu sebelum bertanya!"

Seru pelayan itu sambil mengangsurkan tangannya. Buru buru Bwe Leng soat mengeluarkan sekeping uang perak dan diberikan kepada pelayan tersebut.

"Nah, ambillah sekarang kau boleh menjawab pertanyaanku bukan?"

Katanya.

Rupanya pelayan itu juga tahu kalau si nona cantik tersebut adalah seorang jago silat yang lihay, secara jelas dia lantas menceritakan apa yang telah berlangsung tadi.

Mendengar itu, Bwe Leng soat segera berkata.

"Sekalipun tujuannya menolong orang, masa sampai sekarang juga belum pulang?"

"Yaa, itulah sebabnya aku pikir pasti ada sesuatu yang tidak beres..."

Bisik pelayan itu. O00odwo00O

Jilid 20 APANYA yang tidak beres?

"Nona rupanya kau tidak sering melakukan perjalanan?

Dalam masyarakat sekarang banyak sekali terdapat penipu dan pembohong, aku lihat besar kemungkinan Ong siangkong sudah dibius orang!"

Sekalipun perasaannya agak tergerak dengan serius Bwe Ling soat toh berseru juga.

"Hey pelayan, jangan sembarangan berbicara, Ong toako kami adalah seorang yang jujur..."

Ia lantas mengulapkan tangannya menitahkan pelayan itu untuk pergi.

Tergesa gesa gadis itu menuju ke meja kasir dan memeriksa buku daftar tamu.

Dari catatan disana dapat diketahui bahwa orang yang tinggal diruang kamar sebelah barat adalah dua orang perempuan muda.

Yang seorang bernama Sin Kiam ciu berusia dua puluh tujuh tahun, berasal dari Kang siok.

Sedangkan yang lain bernama Ciau Hong hong cuma berusia dua puluh tahun dan berasal dari Oh lam.

Sekalipun gadis ini belum pernah bertemu dengan kedua orang ini tapi kecurigaannya lantas timbul.

Maka tanpa menimbulkan sesuatu yang menyolok, ia kembali kedalam kamarnya, mengambil pedang dan melayang keluar lewat jendela sebelah belakang...

Dengan cepatnya ia telah tiba diruangan kamar sebelah barat dan bersembunyi ditempat kegelapan.

Ketika melongok kedalam dilihatnya cahaya lampu belum dipadamkan, terdengar ada dua orang sedang berbisik bisik.

Salah seorang diantaranya kedengaran sedang bertanya.

"Hong hong, bagaimana dengan rencana ini?"

"Tentu saja luar biasa hebatnya"

Baca Juga: Kilat Pedang Membela Cinta Kho Ping Hoo

Baca Juga: Alap Alap Laut Kidul 5

Cari Blog Ini

Diberdayakan oleh Blogger.

Parnert