Eps 5 Alap Alap Laut Kidul - Kho Ping Hoo
Baca online Alap Alap Laut Kidul - Kho Ping Hoo
Cersil Alap Alap Laut Kidul - Kho Ping Hoo.
Kuda milik Aji lalu dipasang di depan kereta, menambah dua ekor kuda yang sudah ada.
Kereta itu cukup besar.
Raden Banuseta menjadi kusirnya.
Aji dan Sulastri duduk di dalam dijaga oleh Ki Harya Baka Wulung , Aki Somad dan Nyi Maya Dewi sendiri.
Nyi Maya Dewi sudah merasa yakin bahwa dua orang tawanan itu tidak akan membuat ulah karena keadaan Sulastri membuat mereka sama sekali tidak berdaya dan tidak berani memberontak.
Sementara itu, diam-diam Aji dan Sulastri juga memutar otak untuk mencari jalan keluar agar dapat membebaskan diri.
Untuk sementara mereka merasa aman.
Dengan adanya "rahasia"
Tentang Mataram yang mereka miliki seperti disangka oleh para antek Kumpeni Belanda itu, mereka tidak akan diganggu.
Bahaya maut yang mengancam nyawa Sulastri juga baru akan tiba tiga bulan kemudian dan sementara itu mereka akan mencari jalan dan melihat perkembangannya nanti.
Di sepanjang perjalanan itu, Aji dan Sulastri memperhatikan keadaan para penawan mereka.
Dari sikap mereka, tahulah Aji bahwa yang menjadi pemimpin adalah Nyi Maya Dewi walaupun bukan wanita itu yang paling sakti di antara mereka.
Juga dia dapat mengerti bahwa Ki Harya Baka Wulung mau menjadi antek Kumpeni karena rasa bencinya terhadap Mataram.
Tentang Aki Somad, dari sikap dan pembicaraan mereka, dia tahu bahwa kakek ini adalah seorang yang mudah terpikat oleh rajabrana (kekayaan) dan kedudukan dan dia mau menghambakan diri kepada Kumpeni Belanda tentu karena ingin memperoleh harta benda dan kedudukan.
Yang masih menjadi teka-teki baginya adalah pria berusia empat puluh bertubuh jangkung itu.
Dia tidak pernah mendengar namanya disebut, Nyi Maya Dewi hanya memanggilnya dengan sebuta Raden saja yang menyatakan bahwa orang itu tentu masih keturunan bangsawan.
Karena orang itu duduk sebagai kusir di depan kereta, maka Aji tidak dapat menilai lebih lanjut.
Akan tetapi dia mencatat bahwa pria itu mempunyai niat kotor terhadap diri Sulastri.
Pria itu agaknya tergila-gila kepada Sulastri dan kalau diberi kesempatan, tentu Sulastri berada dalam bahaya, Untunglah bahwa Nyi Maya Dewi menganggap Sulastri menyimpan rahasia yang amat penting sehingga untuk sementara Sulastri aman dari gangguan pria berpakaian mewah itu.
Setelah rombongan tiba di sungai Serayu, ternyata di situ telah siap anak buah Nyi Maya Dewi dengan sebuah perahu besar untuk menyeberangkan semua penumpang berikut kuda dan kereta.
Akan tetapi Nyi Maya Dewi berkata kepada lima orang anak buahnya yang berada di situ.
"Kami tidak akan menyeberang, kami akan melakukan perjalanan menuju Kadipaten Tegal di utara. Akan tetapi dua orang harap cepat memberi kabar ke Cirebon dan membawa suratku, kalian tahu ke mana suratku harus disampaikan!"
Aji hanya melihat betapa wanita itu menyerahkan surat kepada dua orang anak buahnya.
Kemudian perjalanan kereta itu menuju ke utara.
Dan di sepanjang pejalanan, kalau malam tiba, di setiap tempat ada saja anak buah Nyi maya Dewi yang menyambut dan memberi tempat penginapan yang pantas utnuk mereka.
Juga hidangan yang disuguhkan cukup mewah, setidaknya pasti ada yang menyembelih ayam.
Perjalanan itu berjalan dengan lancar dan lima hari kenudian barulah kereta mereka memasuki Kadipaten Tegal.
Aji dan Sulastri merasa heran sekali ketika kereta itu memasuki kadipaten dengan aman.
Agaknya para penjaga di kadipaten itu mengenal baik Nyi Maya Dewi!
Agaknya tidak ada seorangpun yang curiga dan menduga bahwa wanita cantik itu sebetulnya adalah seorang telik sandi, seorang antek Kumpeni Belanda!
Pada hal Aji pernah mendengar dari Senopati Suroantani bahwa Tumenggung (Lanjut ke
Jilid 14) Alap Alap laut Kidul (Seri ke 03 Pecut Sakti Bajrakirana) Karya . Asmaraman S. Kho Ping Hoo
Jilid 14 Tegal dan juga Adipati di Cirebon sudah setuju untuk dijadikan lumbung beras bagi keperluan ransum balatentara Mataram kalau nanti menyerbu Batavia untuk kedua kalinya.
Dengan demikian berarti bahwa Tumenggung Tegal bersedia membantu Mataram.
Akan tetapi kenyataannya kini, seorang telik sandi penting dari Kumpeni Belanda dapat masuk dan bergerak dengan leluasa di Tegal!
Bahkan rombongan ini diterima oleh seorang laki-laki tinggi besar yang dari sikap dan pakaiannya menunjukkan bahwa dia seorang penting.
Rumahnya besar dan rombongan itu disambut dengan hormat dan diadakan pesta.
Aji dan Sulastri tidak diperkenalkan, akan tetapi mereka mendengar orang tinggi besar berusia sekita empat puluh tahun itu disebut Ki Warga.
Rumah itu besar dan megah, tanda bahwa penghuninya orang yang kaya.
Aji dan Sulastri diberi masing-masing sebuah kamar dan dua orang tawanan ini dibiarkan berada dalam keadaan bebas, seperti tamu, namun mereka maklum bahwa mereka dijaga oleh sekelompok orang dengan ketat.
Pula, mereka sama sekali tidak berani meloloskan diri karena keselamatan nyawa Sulastri terancam.
Hal ini yang membuat mereka merasa tak berdaya dan terpaksa harus menyerah.
Mereka bermalam di rumah orang bernama Warga ini sampai tiga hari.
Aji tidak tahu apa yang mereka lakukan atau rencanakan.
Mereka berdua dapat saling bertemu karena mereka diberi kebebasan keluar dari kamar.
Akan tetapi mereka tidak dapat saling bicara empat mata karena selalu ada saja penjaga yang mengamati dari dekat.
Mereka hanya bicara seperlunya saja dan Aji hanya dapat menanyakan bagaimana keadaan Lastri.
Sulastri selalu menggeleng kepala dan menghela napas panjang kalau ditanya tentang kesehatannya dan menjawab singkat.
"Masih belum ada perubahan."
Jawaban ini cukup bagi Aji.
Berarti gadis itu masih merasakan akibat keracunan itu dan kalau mengerahkan tenaga saktinya merasa dalam dadanya nyeri.
Selama gadis itu masih menderita karena keracunan, mereka berdua tidak berdaya dan tidak berani meloloskan diri karena hal itu berarti ancaman bahay maut bagi Sulastri.
Tentu saja selama menjadi tawanan itu, Aji tiada hentinya mencari kesempatan.
Dia sendiri belum tahu kesempatan bagaimana yang dapat dia manfaatkan untuk keselamatan mereka berdua karena dia sendiri tidak tahu apa yang dapat dia lakukan dalam keadaan Sulastri keracunan seperti itu.
Dia merasa benar-benar tidak berdaya.
Akan tetapi dia tidak pernah putus asa dan selalu waspada mencari jalan keluar untuk menanggulangi ancaman yang membayangi dia dan Sulastri.
Beberapa kali Sulastri hampir tak dapat menahan kesabarannya dan gadis itu ingin mengamuk saja tanpa memperdulikan keselamatannya.
Akan tetapi selalu Aji, dengan isarat gerakan dan pandang matanya, dapat menyabarkannya.
"Selama kita masih hidup, selalu masih ada harapan."
Demikain dia berkata pada suatu kesempatan tanpa terdengar oleh para penjaga yang mengamati mereka.
Sulastri cemberut, akan tetapi mengangguk tanda bahwa ia mematuhi ucapan pemuda itu.
Malam itu udara dingin sekali.
Aji duduk bersila dalam kamarnya.
Dia maklum bahwa di luar kamarnya terdapat dua orang yang bertugas mengawasinya.
Nanti lewat tengah malam, dua orang penjaga itu akan diganti dua orang lain.
Demikian yang dia ketahui pada malam-malam yang lalu.
Dia sudah mengambil keputusan tetap.
Malam itu adalah malam terakhir dia dan Sulastri berada di rumah itu.
Siang tadi Nyi Maya Dewi sudah memberitahukan kepadanya bahwa besok pagi-pagi mereka akan melanjutkan perjalanan, entah kemana wanita itu tidak mau memberi tahu.
Maka, malam ini dia harus dapat melakukan penyelidikan ke mana mereka akan dibawa pergi dan menyelidiki rahasia lain yang ada hubungannya dengan keselamatan Sulastri.
Dia ingin mengetahui di mana Nyi Maya Dewi menyimpan obat penawar racun yang mempengaruhi tubuh Sulastri.
Setelah keadaan di rumah itu sunyi, tanda bahwa semua penghuninya sudah memasuki kamar masing-masing, Aji perlahan-lahan membuka daun pintu kamarnya.
Sedikit gerakan ini cukup membuat dua orang penjaga itu menengok lalu menhampiri.
"Andika hendak pergi ke mana?"
Tanya mereka dan kedua orang itu berdiri di kanan kiri Aji.
"Aku melihat di sana itu yang berkilauan itu apakah?"
Dia menuding ke depan.
Dua orang penjaga itu tentu saja menoleh dan memandang ke arah yang ditunjuk Aji.
Pada saat itu, kedua tangan Aji bergerak cepat, menyambar ke arah tengkuk mereka dengan tangan miring.
Tanpa dapat mengeluarkan keluhan, dua orang itu terkulai dalam keadaan pingsan.
Aji menyambar tubuh mereka dengan kedua tangannya, mencegah mereka roboh, lalu membawa mereka ke tempat mereka berjaga tadi.
Dia mendudukkan mereka di atas bangku yang tadi mereka duduki, menyandarkan tubuh itu ke dinding.
Setelah itu dia menutupkan daun pintu kamarnya dan berindap-indap dia menuju ke kamar besar di bagian kiri.
Dia tahu bahwa kamar itu adalah kamar Nyi Maya Dewi, sedangkan kamar Ki Harya Baka Wulung, Aki Somad dan laki-laki jangkung berada di bagian kanan.
Dengan pengerahan Aji Bayu Sakti, tubuh Aji bergerak seperti angin, cepat dan ringan dan tak lama kemudian dia sudah melakukan pengintaian di luar jendela kamar yang didiami Nyi Maya Dewi.
Jantungnya berdebar tegang dan girang ketika dia melihat bayangan dua orang duduk di atas pembaringan dalam keadaan saling berpelukan mesra.
Mereka itu bukan lain adalah Nyi Maya Dewi dan pria jangkung itu!
Aji merasa rikuh dan malu menyaksikan penglihatan itu, maka dia mengalihkan pandangan dan menempelkan telinganya pada jendela untuk dapat menangkap pembicaraan mereka sebaiknya.
"Maya, sampai kapan engkau akan menggodaku seperti ini? Engkau selalu menahan-nahan dan menghalangi aku memiliki gadis itu. Maya, apakah ini berarti bahwa engkau cemburu dan tidak rela kalau aku menggauli gadis itu?"
Terdengar suara pria itu dengan nada menyesal dan menegur.
"Cemburu? Ah, sama sekali tidak, Raden, di antara kita sudah terdapat janji bahwa kita tidak akan saling mengikat, tidak ada cemburu dan kita boleh bercinta dengan siapa saja tanpa yang lain mencegahnya. Bersabarlah, Raden. Kita membutuhkan gadis itu, Kalau ia kuserahkan padamu sekarang, kemudian ia tidak mau membuka rahasia penyerangan Mataram itu, bukankah kita yang menderita rugi? Sabarlah. Kalau ia sudah membuka rahasia itu, pasti ia akan kuserahkan padamu."
"Bagaimana engkau dapat memastikan hal itu akan dapat terjadi, Maya?"
"Jangan khawatir, Raden. Bukankah obat penawar itu selalu ada padaku? Obat penawar itu adalah nyawa Sulastri! Selama obat penawar itu ada padaku, selama tiga bulan sejak dara itu keracunan, ia sepenuhnya berada di tanganku."
"Kalau begitu, berikan obat penawar itu kepadaku, Maya sayang? Setelah ia membuka rahasia, obat penawar itu akan dapat kupergunakan untuk membujuk dan mengancamnya agar ia suka menyerahkan diri dengan suka rela kepadaku. Aku tidak ingin mendapatkan ia secara paksa. Aku ingin ia menyerah dengan suka rela."
"Bodoh amat engkau, Raden. memang gadis itu cukup sakti dan kebal terhadap pengaruh sihir dan aji pengasihan, akan tetapi bukankah engkau memiliki racun perangsang yang amat ampuh? Kalau kau menggunakan racun itu, tentu ia akan jatuh."
"Ya, akan tetapi aku tidak suka karena ia hanya akan patuh seperti boneka hidup. Tidak, aku menghendaki ia menyerahkan diri karena ingin menyelamatkan nyawanya. Karena itu, berikanlah obat penawar itu padaku. Biar aku yang menyimpannya. Dengan obat itu padaku, aku akan merasa yakin dan dapat bersabar menanti."
"Hi-hi-hik, dasar mata keranjang engkau! Tiada pernah puasnya!"
Terdengar suara nyi Maya Dewi menggoda.
"Sama dengan engkau, Maya. Sudahlah, serahkan padaku. Akupun selalu membantumu kalau engkau menginginkan seorang pria, bukan? Ketika di Sumedang dulu, siapa yang membantumu sehingga engkau berhasil mendapatkan keponakan adipati yang tampan seperti Arjuna itu?"
"Baiklah, baiklah.......! Akan tetapi malam ini engkau harus dapat menyenangkan hatiku!"
"Jangan khawatir, manis!"
Terdengar suara cekikikan tawa dan senda gurau.
Aji tidak mau mendengarkan lagi.
Apa yang didengarnya sudah cukup baginya.
Dia tahu bahwa mulai malam ini, obat penawar untuk menyembuhkan Sulastri berada di tangan pria bangsawan itu!
Dia tahu sekarang ke mana harus mencari obat untuk menyelamatkan Sulastri dan dia hanya tinggal menanti kesempatan baik saja untuk dapat menangkap dan memaksa pria itu menyerahkan obat penawar.
Dia akan mencari kesempatan terbaik!
Pada keesokan harinya, pagi-pagi sekali Aji dan Sulastri sudah diajak keluar dari rumah besar milik Ki Warga itu.
Yang mengawal mereka adalah Nyi Maya Dewi, Banuseta, Ki Harya Baka Wulung, dan Aki Somad.
Selain empat orang sakti ini, masih ada Ki Warga.
Tokoh ini sesungguhnya adalah seorang yang penting.
Ki Warga ini merupakan orang yang memiliki hubungan dekat dengan Kumpeni Belanda.
Bahkan dia dipergunakan Belanda untuk menjadi pimpinan semua telik sandi yang bergerak di sepanjang pantai Laut Utara.
Di samping itu, Ki Warga juga menjadi orang kepercayaan Kadipaten Tegal.
Memang tidak dapat disangkal lagi bahwa Belanda amat pandai bersiasat.
Tidak saja melakukan gerakan memecah belah persatuan dengan cara mengadu domba, akan tetapi juga pandai mempengaruhi para pejabat daerah dengan menggunakan pengaruh harta benda dan janji-janji kedudukan.
Banyak kadipaten yang dapat dipengaruhi Kumpeni, sehingga walaupun pada lahirnya mereka takut dan menakluk kepada kekuasaan Mataram, namun diam-diam mereka mengadakan hubungan baik dengan Kumpeni Belanda dan mengadakan hubungan dagang yang dianggap menguntungkan.
Sesungguhnya, tidak adanya persatuan yang bulat di seluruh Nusantara dalam menghadapi Kumpeni Belanda inilah yang membuat semua usaha untuk menentang Kumpeni selalu gagal.
Bahkan oleh sebab ini pula maka penyerangan besar-besaran pasukan Mataram ke Batavia telah mengalami kegagalan.
Aji dan Sulastri bersama empat orang pengawal mereka naik kereta seperti ketika mereka memasuki Tegal.
Ki Warga sendiri menunggang kuda, malah dia mendahului kereta.
Ternyata kedua orang tawanan itu dibawa kepantai dan dengan sebuah perahu mereka dibawaa ke sebuah kapal yang berlabuh tak jauh dari pantai.
Pantai itu terlalu dangkal bagi kapal itu sehingga tidak dapat berlabuh dekat daratan.
Aji dan Sulastri dibawa naik ke atas kapal itu.
Diam-diam mereka memperhatikan keadaan kapal.
Walaupun sikap mereka tenang saja, namun sebenarnya mereka merasa tegang dan memperhatikan keadaan dengan penuh selidik.
Mereka melihat sebuah kapal yang besar dan dilengkapi dengan beberapa buah meriam besar.
Di atas kapal terdapat belasan orang, hampir dua puluh banyaknya, semua adalah orang-orang kulit putih yang bertubuh tinggi besar, bermuka kemerahan dan rambut meraka tidak hitam, melainkan ada yang coklat, kemerahan dan kuning keemasan!
Sulastri sudah sering melihat orang kulit putih di Indramayu atau Dermayu, maka iapun tidak merasa heran.
Akan tetapi Aji belum penah melihat orang Belanda, maka diam-diam dia memperhatikan dan merasa terheran-heran.
Keadaan orang-orang tinggi besar itu mengingatkan dia akan tokoh-tokoh wayang, yaitu golongan buto (raksasa).
Jadi inilah bangsa yang merupakan ancaman bahaya bagi nusa dan bangsanya.
Diapun melihat bahwa mereka semua membawa senjata bedil.
Pernah dia mendengar cerita tentang bedil yang dapat menyemburkan api dan peluru, yang dapat membinasakan lawan dalam jarak jauh dan merupakan senjata yang amat berbahaya.
Aji tahu bahwa dia harus berhati-hati sekali terhadap orang-orang bule ini.
Mereka tampak kuat dan juga sinar mata mereka kejam.
Ketika orang itu memandang ke arah Sulastri, tampak sekali gairah dalam pandang mata mereka dan mereka menyeringai secara kurang ajar.
Akan tetapi ketika seorang Belanda setengah tua keluar dari bilik kapal itu, belasan orang itu berdiri tegak dalam keadaan siap.
Orang belanda setengah tua itu menyambut rombongan yang baru naik kapal dengan senyum ramah.
Dari sikap ketika dia menjabat tangan Nyi Maya Dewi, tampak bahwa di antara mereka terdapat hubungan yang akrab.
Orang itu berusia aekitar lima puluh tahun, berkumis dan berwajah tampan, tubuhnya tinggi kurus dan pakaiannya mewah dan gagah.
Di pinggangnya tergantung sebuah senjata pistol.
Inilah Kapten De Vos yang mejadi boss dari Nyi Maya Dewi.
Kapten de Vos ini merupakan seorang perwira yang bertugas sebagai penyelidik dan amat dipercaya oleh Gubernur Jenderal Jan Pieterszoon Coen di Batavia!
Bersama seorang perwira Belanda lainnya yang terkenal dengan sebutan Jakuwes (nama aselinya Jacques Levebre), De Vos inilah yang mengatur jaringan mata-mata kumpeni Belanda yang disebar di seluruh Nusantara!
"Hallo, Nyi Maya Dewi yang manis, apa kabar?
Kami mendengar kamu membawa tawanan yang amat penting bagi kami.
Benarkah?
Dan siapakah mereka semua ini?"
Tanya De Vos setelah menjabat tangan wanita itu dengan hangat.
Dengan senyumnya yang manis, Maya Dewi memperkenalkan teman-temannya, setelah memberi isarat kepada Ki Harya Baka Wulung dan Aki Somad untuk Melangkah maju.
"Ini adalah Ki Harya Baka Wulung dari Madura, tuan kapten. Dan yang ini adalah Aki Somad dari Nusa Kambangan. Mereka adalah pembantu-pembantu yang setia dan dapat diandalkan, sakti dan tangguh."
Kemudian dengan senyum tak pernah meninggalkan bibirnya ia melanjutkan sambil menunjuk kepada Ki Warga dan Raden Banuseta.
"Dua orang ini tentu sudah tuan kenal dengan baik."
Kapten De Vos menyalami empat orang itu dan berkata.
"Ya, ya, kami kenal baik mereka ini. Dan mana tawanan itu?"
"Inilah mereka, tuan."
Kata Nyi Maya Dewi sambil menudingkan telunjuknya ke arah Aji dan Sulastri.
Sepasang mata yang kebiruan itu memandang kepada dua orang muda itu dengan penuh selidik dan Kapten De Vos tampak terheran-heran.
"Mereka ini orang-orang penting Mataram? Geweldig (hebat)! Begini muda, dan yang perempuan ini begini cantik, sudah jadi orang penting Mataram?"
Wanita cantik itu tersenyum dengan genitnya.
"Ah, Tuan Kapten De Vos, jangan pandang rendah mereka ini! Biarpun mereka ini masih muda, akan tetapi mereka adalah orang-orang sakti yang memiliki kepandaian tinggi dan berbahaya sekali!"
"Is dat zo (Begitukah)?"
Kapten De Vos melihat ke atas.
Dua ekor burung camar laut terbang di atas kapal itu.
Cepat dia mengambil senapan yang dipegang oleh seorang anak buah yang berdiri di dekatnya.
Dengan gerakan cepat sekali dia mengokang bedil itu, membidik dan ketika dia menarik pelatuknya, dua kali terdengar letusan.
Api dan peluru menyambar keluar dari moncong bedil dan dua ekor burung berbulu putih itu jatuh ke atas dek kapal.
Mati seketika.
Aji dan Sulastri melihat semua ini dan diam-diam mereka terkejut.
Apa yang mereka dengar tentang kehebatan senjata api itu kini mereka lihat sendiri.
"Ha-ha-ha. Mereka ini sakti? Apakah mereka dapat terbang lebih cepat dari pada dua ekor burung itu?"
Dia menuding ke arah bangkai dua ekor burung dan melemparkan kembali senapan itu kepada anak buahnya.
Ki Warga, Maya Dewi dan Banuseta tidak heran menyaksikan keahlian menembak itu.
mereka sudah mengenal Kapten De Vos yang terkenal jago tembak.
Akan tetapi Ki Harya Baka Wulung dan Aki Somad juga merasa kagum.
Orang Belanda ini cukup berbahaya, pikir mereka.
Nyi Maya Dewi yang pandai mengambil hati orang, bertepuk tangan memuji.
"Hebat, tuan kapten, kepandaian tuan mempergunakan senjata api memang hebat sekali. Akan tetapi tuan harus berhati-hati terhadap mereka."
"Goed, goed (baik, baik). mari kita duduk di dalam dan bicara!"
Ajak Kapten De Vos sambil mengangguk-angguk.
Mereka semua lalu memasuki ruangan kapal di mana terdapat sebuah meja besar dengan banyak kursi disekelilingnya.
Aji dan Sulastri dipersilahkan duduk di atas kursi, berhadapan dengan Kapten De Vos.
Maya Dewi duduk di samping kiri Kapten Belanda itu dan Ki Warga yang sejak tadi diam saja duduk di sebelah kanannya.
Tempat duduk ini saja sudah menunjukkan betapa kedudukan Ki Warga itu penting sekali dan dia dihargai oleh Kapten De Vos.
Aji duduk di depan kapten itu, Sulastri duduk disebelah kirinya.
Mereka berdua diapit oleh Harya Baka Wulung dan Aki Somad, sedangkan Banuseta duduk di sebelah kanan Ki Warga.
Jelaslah bahwa yang duduk di jajaran Kapten De Vos itu adalah orang-orang yang sudah dipercaya kapten Belanda itu, sedangkan Ki Harya Baka Wulung dan Aki Somad yang baru saja bertemu dengannya, merupakan pembantu-pembantu baru yang masih asing.
"Hemm, kalian berdua ini orang-orang penting Mataram, ya? Dan kamu berdua mau bekerja sama dengan kami dan mau menceritakan kekuatan dan rencana Sultan Agung untuk menyerang Batavia? Goed zo! Kamu berdua akan kami beri hadiah banyak. Lebih dulu, katakan siapa nama kamu berdua, he?"
"Namaku Aji dan ia itu Sulastri!"
Jawab Aji pendek.
"Pemuda ini bernama Lindu Aji dan dikenal sebagai Alap-alap Laut Kidul, tuan kapten! Dia digdaya dan berbahaya sekali!"
Kata Ki Harya Baka Wulung menjelaskan.
"Ha-ha, apa bedanya alap-alap dengan dua rkor burung yang aku tembak tadi?"
Tanya Kapten De Vos mencemoohkan.
"Alap-alap merupakan burung liar dan ganas. Burung Camar yang tuan tembak jatuh tadi dapat menjadi mangsanya."
Maya Dewi menerangkan.
"Ha-ha-ha, biarpun pandai terbang, sekali senapan di tanganku meletus, seekor alap-alap ganaspun tentu akan jatuh dan mati! Nah, sekarang cepat ceritakan kepada kami tentang keadaan pasukan Mataram, berapa kekuatan mereka dan bagaimana persiapan pasukan mereka. Juga ceritakan bagaimana rencana siasat mereka untuk menyerang Batavia!"
Sambil berkata demikian, sepasang mata biru itu mengamati wajah Lindu Aji dan Sulastri penuh selidik.
Sulastri yang merasa tidak berdaya karena tubuhnya telah terancam maut oleh racun itu, hanya melirik ke arah Aji.
Ia tahu akan siasat yang dipergunakan pemuda itu, yalah bahwa pemuda itu membiarkan lawan-lawannya percaya bahwa Aji dan ia mengetahui rahasia itu, maka mereka tidak akan membunuh Aji dan ia.
Karena ia tidak tahu bagaimana siasat Aji selanjutnya dan tidak mempunyai kesempatan untuk bicara berdua, maka iapun hanya menyerahkannya kepada pemuda itu.
Aji juga telah mempersiapkan diri.
Sebelumnya dia memang sudah mengatur siasat.
Dia memiliki modal kuat, yaitu kepercayaan orang-orang itu bahwa dia dan Sulastri benar-benar dapat memberi keterangan penting tentang gerakan pasukan Mataram yang ditakuti Kumpeni Balanda!
"Tuan,"
Katanya, suaranya tegas dan tenang.
"Urusan ini penting sekali bagi kami berdua. Menceritakan semua itu kepada Kumpeni, berarti kami berdua telah berkhianat dan hukuman untuk pengkhianat amat berat dan mengerikan."
"Ha, kamu berdua takut? Jangan takut! Kalau kamu berdua bekerja sama dengan kami, maka kamu berdua akan dilindungi. Jangan takut kepada Sultan Agung. Kami memiliki meriam-meriam besar dan senjata-senjata api yang ampuh. Hayo, ceritakan saja dan kamu akan memperoleh hadiah dan juga perlindungan dari kami!"
Kata Kapten De Vos. Aji menghela napas lalu menggeleng kepala.
"Sungguh, tuan. Urusan ini amat penting dan gawat bagi kami berdua. Oleh karena itu, kami minta agar kami berdua diberi kesempatan untuk berunding dan memperbincangkan hal ini berdua saja. Ketahuilah, tuan. Ini merupakan keputusan hidup mati kami, karena itu harus kami rundingkan dengan matang lebih dulu."
Alis yang berwarna kelabu itu berkerut dan sepasang mata biru mencorong marah.
"Kamu harus menceritakan sekarang juga!"
Bentaknya. Namun dengan tenang dan tegas Aji menggeleng kepala.
"Besok pagi, tuan."
"Sekarang! Atau, kami akan menembak kamu berdua!"
Kapten De Vos menggertak sambil mencabut pistolnya dan menodongkan senjata itu ke arah Aji dan Sulastri yang duduk di depannya.
Dia menatap wajah dua orang muda itu dan diam-diam merasa heran dan kagum.
Dua orang muda yang ditodongnya itu sedikitpun tidak tampak takut, dan balas menatapnya dengan sinar mata berapi.
"Kami tidak takut mati, tuan. Kalau tuan membunuh kami berdua sekarang, pasukan Mataram yang besar sekali jumlahnya akan membalaskan kematian kami, menyerbu dan membakar habis Batavia, membunuh semua Kumpeni Belanda!"
Aji juga menggertak dan karena ucapannya itu mendatangkan kesan yang kuat. Menghadapi sikap tenang Aji ini, Kapten De Vos meragu. Dia lalu menoleh ke kanan dan bertanya kepada Ki Warga.
"Bagaimana pendapatmu, Warga?"
Laki-laki berusia sekitar empat puluh tahun itu tersenyum.
"Apakah tidak sebaiknya kalau dijadikan taruhan saja? Kalau tuan yang menang mereka harus memberi keterangan sekarang juga, akan tetapi kalau mereka menang terpaksa tuan harus bersabar sampai besok pagi."
"Akan tetapi, laporan dua orang penjaga semalam?"
Tanya kapten itu.
"Ah, mereka mungkin hanya mimpi, tuan."
Kata Ki Warga sambil tertawa.
"Mereka hanya melapor melihat Aji ini lalu tiba-tiba mereka tidak ingat apa-apa lagi. Kalau laporan mereka itu betul, tentu semalam telah terjadi sesuatu. Buktinya tidak terjadi apa-apa."
"Kalau begitu baiklah. Kita buat taruhan. Wacht even (tunggu sebentar), bukankah Maya Dewi tadi mengatakan bahwa pemuda ini digdaya dan tangguh? Bagus, kita adu dia melawan Hendrik De Haan, jagoan kita itu! Heh, Lindu Aji, sekarang begini saja baiknya! Dari pada kita bersitegang memperebutkan apakah kalian harus memberi keterangan sekarang ataukah besok pagi, maka kita adakan pertandingan untuk menentukan. Kalau kamu dapat mengalahkan jagoan kami dalam perkelahian tangan kosong, biarlah kami mengalah dan kamu boleh malam ini berunding dengan Sulastri ini dan besok pagi memberi keterangan kepada kami. Akan tetapi kalau kamu kalah melawan jagoan kami itu, kamu harus menceritakan keterangan tentang pasukan Mataram itu sekarang juga! Bagaimana, Aji, beranikah kamu berkelahi menandingi jagoan kami?"
Aji berpikir sejenak, lalu bertanya.
"Pertandingan tangan kosong tanpa menggunakan senjata api?"
"Natuurlijk (tentu saja)! Kami bukan orang curang. Pertandingan boksen (tinju), tanpa senjata, satu lawan satu. Nah, beranikah kamu?"
Aji saling lirik dengan Sulastri, lalu dia memandang Kapten De Vos dan berkata tegas.
"Aku berani, tuan! Akan tetapi tuan jangan melanggar janji. Kalau aku keluar sebagai pemenang, aku diberi kesempatan bicara empat mata dengan Sulastri dan baru besok pagi kami memberi keterangan kepadamu."
"Bagus!"
Kapten itu tampak gembira sekali dan dia lalu berseru kepada seorang anak buahnya.
"Panggil Hendrik De Haan ke sini!"
Tak lama kemudian muncullah kapten itu.
Sulastri terbelalak memandang laki-laki yang melangkah datang seperti seekor gajah itu!
Seorang bule berambut kecoklatan, usianya sekitar tiga puluh tahun dan segalanya pada diri laki-laki ini hanya dapat dinilai dengan satu kata .
besar!
Seorang raksasa yang tingginya satu setengah kali tinggi tubuh Aji.
Kedua lengan yang memakai kaos pendek itu tampak besar dan kokoh kuat, dengan otot melingkar-lingkar.
Dadanya bidang dan tebal, penuh bulu coklat kekuningan, lehernya seperti leher badak.
Diam-diam hati Sulastri merasa ngeri juga.
Selama hidupnya belum pernah ia melihat seorang laki-laki setinggi besar dan sekokoh ini.
Orang-orang bule yang pernah dilihatnya tampak kecil dibandingkan raksasa ini.
Tampaknya, dengan sekali pukul saja kepala Aji akan dapat pecah dan tulang-tulang tubuhnya dapat remuk!
Kedua kakinya juga panjang dan besar penuh bulu, tampak mengerikan karena dia mengenakan celana pendek.
Aji juga memandang orang yang baru memasuki ruangan itu dengan penuh perhatian.
Dia tidak tertarik A oleh bentuk tubuh seperti raksasa itu.
Baginya, tubuh yang tampak kokoh kuat tidak berarti apa-apa.
Aji lebih memperhatikan sikap raksasa itu, terutama pandang matanya.
Hatinya merasa lega.
Pandang mata raksasa itu membayangkan kebodohan, seorang yang biasa mengandalkan okol (tenaga) daripada akal.
Orang seperti ini bukan merupakan lawan berbahaya baginya, walaupun untuk merobohkannya juga tidak mudah karena melihat bentuk tubuhnya, orang itu tentu memiliki tenaga gajah dan tubuhnya itu agaknya berkulit tebal tahan pukul!
Dalam bahasa Belanda yang totok raksasa itu bertanya kepada Kapten De Vos.
"Kapten, ada tugas apa untukku?"
"Hendrik, kami mengadakan taruhan untuk mengadu kamu dengan pemuda ini. Pertandingan boksen satu lawan satu, tanpa senjata apapun. Jangan sampai kamu kalah olehnya. Hendrik karena yang kupertaruhkan ini penting sekali!"
Sepasang mata yang lebar memandang kepada Aji yang masih duduk dan dia terbelalak lalu memandang atasannya.
"Kapten! Aku hendak diadu dengan kleine jongen (bocah kecil) ini?"
"Ya, siapa yang roboh dan tidak mampu melanjutkan pertandingan dianggap kalah."
"Hua-ha-ha-ha! Ah, kapten, jangan bergurau! Aku takut melawan anak ini, ha-ha-ha!"
"Takut? Apa maksudmu, Hendrik?"
Tanya De Vos heran.
"Aku takut kalau pukulanku akan membuat kepalanya remuk atau dadanya pecah, kapten!"
Kata raksasa itu serius.
"Ohh! Jangan keluarkan semua tenagamu, Hendrik. Dia ini orang penting, tidak boleh dibunuh, hanya boleh dikalahkan agar aku menang bertaruh."
Hendrik mengangguk-angguk.
"Kalau begitu aku mengerti, kapten."
Kapten De Vos menoleh kepada Aji.
"Nah, bagaimana, orang muda? Apakah kamu tetap bersedia dan berani melawan Hendrik De Haan ini?"
Sambil tetap duduk tenang Aji menjawab.
"Saya siap dan berani, tuan."
"Bagus, kalau begitu mari kita semua pergi keluar ruangan. Pertandingan dilakukan di atas dek luar yang luas."
Kata De Vos.
Semua orang bangkit berdiri.
Juga Aji dan Sulastri bangkit berdiri dan mereka berdua mengikuti keluar dari ruangan itu menuju ke dek kapal yang luas.
Sebentar saja berita tentang diadakannya pertandingan itu sudah terdengar semua anak buah kapal.
Mereka menjadi gembira sekali.
Bagi para anak buah kapal, perkelahian merupakan satu di antara kesenangan mereka.
Mereka adalah orang-orang kasar yang sudah terbiasa hidup keras menghadapi ancaman bahaya di tengah lautan, biasa bekerja keras dan suka pula akan kekerasan.
Bahkan setiap kali mendarat mereka selalu saja terlibat perkelahian karena hal itu mereka anggap sebagai kejantanan mereka.
Kini, mendengar bahwa Hendrik De Haan, raksasa jagoan itu akan diadu melawan seorang pemuda pribumi yang menjadi tawanan, mereka tentu saja merasa geli, menertawakan Aji.
Tadi mereka sudah melihat betapa pemuda itu seorang yang tubuhnya termasuk kecil dan ringkih sekali dibandingkan Hendrik dan berat tubuhnya belum tentu ada setengah berat tubuh raksasa itu.
Bagaimana mereka akan dipertandingkan?
Mereka semua sudah berkumpul di dek, membentuk lingkaran lebar.
Mereka bukan tertarik untuk menonton perkelahian yang seimbang, melainkan hendak menonton bagaimana Hendrik akan menggilas dan membantai lawan tak seimbang itu.
Kursi-kursi kecil telah dikeluarkan.
Kapten De Vos duduk di atas sebuah kursi.
Para pembantunya, Ki Warga, Nyi Maya Dewi, Raden Banuseta, Ki Harya Baka Wulung, dan Aki Somad juga sudah dipersilahkan duduk di atas kursi yang berderet-deret.
Sulastri juga diberi sebuah kursi, akan tetapi ia tidak mau duduk.
Ia hanya berdiri saja dengan hati mulai merasa tegang dan gelisah.
Bagaimanapun juga, raksasa itu menyeramkan.
Ia khawatir kalau-kalau Aji akan tewas di tangan raksasa itu.
Kalau Aji sampai tewas, hilanglah harapan baginya untuk dapat lolos dari tangan mereka.
Ia tidak takut mati, akan tetapi ia merasa ngeri membayangkan dirinya dihina dan diperkosa.
Kalau Aji sampai tewas di tangan raksasa itu, iapun akan mengamuk.
Tidak perduli apakah racun di tubuhnya akan menewaskannya, ia pasti akan mengamuk sampai mati.
Karena itu, ia tidak mau duduk, melainkan berdiri dan bersiap siaga.
Raksasa bule bernama Hendrik de Haan itu kini telah menanggalkan baju kaosnya dan tinggal mengenakan sebuah selana pendek.
Tubuh atas yang telanjang itu tampak besar dan kokoh sekali, dengan otot yang menggelembung dan melingkar-lingkar.
Aji maklum bahwa tubuh itu memiliki tenaga otot atau tenaga kasar yang amat kuat, namun orang itu tidak mempunyai "isi", hanya mngandalknan tenaga otot sehingga tiada bedanya dengan seekor kerbau.
Diapun melangkah maju menghampiri tempat yang dilingkari para anak buah kapal itu, berhadapan dengan Hendrik.
Sikapnya tenang saja dan dia hanya mengiktkan kain sarungnya agar jangan terlepas atau berkibar kalau dipakai bergerak.
Aji tampak berdiri santai saja di depan calon lawannya, seolah dia sama sekali tidak membuat persiapan.
Namun dari sinar matanya Sulastri tahu bahwa seluruh syaraf dalam tubuh pemuda itu dalam kedaan siap siaga.
"Sebelumnya kamu harus tahu akan aturannya!"
Kata Kapten de Vos kepada Aji.
"Pertandingan ini namanya boksen. Kamu hanya boleh memukul bagian pinggang ke atas. Bagian pinggang ke bawah tidak boleh dipukul. Juga dilarang menggunakan tendangan, dilarang menangkap dengan tangan, mendorong atau menarik!"
Aji mengerutkan alisnya. Tentu saja dia tidak mengenal aturan seperti itu. Dia tidak mengenal permainan tinju.
"Ah, aturan macam apa itu? Bertanding dalam perkelahian tidak boleh memukul pinggang ke bawah, tidak boleh menendang, tidak boleh menangkap, menarik atau mendorong. Kalau tidak boleh ini tidak boleh itu, mengapa bertanding berkelahi? Lebih baik tidak saja!"
Hendrik yang tidak paham bahasa Indonesia, bertanya kepada Kapten De Vos melihat Aji berdiri membelakanginya. Setelah De Vos menceritakan keberatan Aji tentang peraturan pertandingan, Hendrik tertawa.
"Ha-ha-ha, kalau tidak memakai larangan dan berkelahi dengan sebenarnya, bagaimana aku dapat menjaga agar dia tidak sampai mati terbunuh?"
De Vos berkata kepada Aji.
"Aji, peraturan itu diadakan justeru untuk menjaga agar kamu tidak sampai terpukul mati. Kalau tanpa batas, dan Hendrik boleh menggunakan segala cara untuk menyerangmu, bagaimana kami akan dapat terhindar dari maut?"
"Tuan, aku sudah berani menerima tantangan berkelahi, berarti aku tidak takut akan kematian. Terluka atau mati adalah resiko dalam pertandingan adu kanuragan, siapa yang takut mati? Kalau berkelahi bebas tanpa larangan, aku mau melayaninya. Kalau memakai segala macam aturan dan larangan, aku tidak mau berkelahi!"
Jawab Aji dengan tegas. Ucapan ini diterjemahkan De Vos kepada Hendrik dan kembali Hendrik tertawa.
"Kalau begitu aku tidak tanggung kalai sampai dia terpukul atau tertendang mati, kapten. Akan tetapi aku akan berusaha agar jangan sampai membunuhnya."
Kapten De Vos mengangguk-angguk.
Memang dia menghendaki pertandingan itu dilakukan dengan peraturan tinju karena dia tidak ingin kalau Aji sampai terpukul tewas.
Dia amat membutuhkan keterangan dan pengakuan pemuda itu tentang Mataram.
"Baiklah, Aji. Kamu boleh melawan Hendrik dengan cara bebas."
Mendengar ini, Aji memutar tubuh dan kembali menghadapi Hendrik.
Bagaikan dua ekor ayam jantan hendak berlaga, kedua orang itu kini saling berhadapan dan saling pandang.
Sungguh bukan merupakan lawan seimbang.
Hendrik hampir dua kali lebih besar dan lebih tinggi daripada Aji.
Kedua kakinya juga memakai sepatu kulit yang tebal.
Raksasa bule ini sudah memasang kuda-kuda.
Kaki kanannya ditarik ke belakang, kaki kiri ke depan, kedua tangan dikepal dan siap memukul, tergantung di depan dada.
Sebaliknya Aji berdiri tenang dan santai saja, hanya sepasang matanya yang dengan tajam mengikuti semua gerak tubuh lawan.
"Mulailah!"
Perintah De Vos yang menonton dengan mata bersinar-sinar.
Semua orang yang menonton, kecuali Sulastri, memandang dengan wajah berseri dan mata bersinar-sinar.
Semua orang merasa gembira seperti biasa kalau mereka menonton adu tinju.
Mendengar perintah ini, Hendrik mulai menyerang.
Karena pertandingan itu tidak dibatasi dengan peaturan tinju, maka kedua tangannya menyambar dari kanan kiri.
Maksudnya dia hendak menangkap tubuh kecil itu kemudian akan dibantingnya sehingga dia akan keluar sebagai pemenang dalam satu gebrakan saja tanpa harus membunuh lawan yang kecil itu.
Kedua tangan itu menyambarnya dengan cepat dari kanan kiri dan gerakannya yang didorong tenaga besar itu mendatangkan angin yang kuat.
"Wuuuttt....... plakkkk!"
Dengan menimbulkan suara tepukan nyaring dua telapak tangan besar itu saling bertemu di udara karena kedua tangan itu luput menangkap sasarannya.
Tubuh Aji dengan gesitnya telah mengelak dan condong ke belakang.
"Verdomme.......!"
Hendrik memaki dengan marah dan penasaran, Bagaimana mungkin cengkeraman kedua tangannya itu luput begitu saja?
Dia cepat mengejar, melangkah ke depan dan karena sudah terbiasa, kini kedua tangannya dikepal dan membuat pasangan kuda-kuda orang bertinju, Dua kepalan tangan itu kini cepat menyerang secara bertubi-tubi ke arah kepala dan dada Aji.
Pukulannya cepat dan kuat sekali.
Pukulan swing dan long hook yang cepat sekali, diseling pukulan upper cut yang mematikan.
Namun, semua pukulan bertubi-tubi itu hanya mendatangkan suara mengiuk dan bersuitan, sedikitpun tidak pernah mengenai sasarannya.
Apa lagi kena, menyerempet sedilitpun tidak!
Semua pukulan itu dapat dielakkan dengan amat mudahnya oleh Aji yang sudah bersilat dengan ilmu silat Wanara Sakti.
Semua penonton terbelalak dan suasana riuh karena mereka mengeluarkan seruan heran dan juga kaget.
Mereka melihat pemuda itu membuat gerakan yang lucu seperti gerakan seekor monyet.
Akan tetapi anehnya, semua pukulan hebat dari jagoan mereka itu tidak pernah mengenai sasaran.
Pukulan yang dilakukan dengan sepenuh tenaga, kalau mengenai tempat kosong dapat menguras tenaga.
Setelah pukulan-pukulan keras itu tidak ada yang mengenai sasaran sampai puluhan kali, mulailah Hendrik berkeringat dan dia merasa penasaran dan marah sekali.
Dia tahu bahwa ada orang yang pandai berkelit dan memiliki gerakan gesit sekali, akan tetapi belum pernah dia dapat membayangkan ada orang yang mampu menghindarkan diri dari serangkaian serangannya sampai puluhan kali, hanya dengan elakan dan tidak pernah menangkis.
demikian gesitkah orang ini, atau serangannya yang lamban?
"Verrek, zeg.......!"
Dia memaki dan kini kedua kakinya yang berbulu, besar dan panjang itu menyambar-nyambar dengan tendangan sekuat tendangan pemain sepak bola yang mahir.
Agaknya, tak pelak lagi, tubuh Aji akan terlempar seperti bola kalau sampai terkena tendangan dahsyat itu.
Namun, Aji yang bergerak dengan ilmu silat Wanara Sakti itu menjadi cekatan sekali, tidak ubahnya seekor kera.
Hanya dengan sedikit memutar tubuh saja tendangan lawan itu dapat dielakkan dan ketika tendangan demi tendangan susul menyusul datang bertubi-tubi, tubuhnya berputaran dan tak sebuahpun tendangan mampu menyentuh tubuhnya!
Keringat telah membanjiri seluruh tubuh Hendrik.
Dia mulai panik.
Belum pernah selama hidupnya dia bertemu keanehan seperti ini.
Kini dia sudah mempergunakan segala daya.
Dia tidak hanya meninju seperti seorang petinju, akan tetapi dia juga menampar, menjotos, mencengkeram, menendang, namun semua itu sama sekali tidak pernah menyentuh lawan.
Dia merasa seolah bertanding melawan bayangan saja!
Kini semua penonton menjadi terbelalak dan mulut mereka ternganga.
Tidak percaya akan apa yang mereka lihat.
Hendrik, raksasa jagoan mereka itu kini diperlakukan seperti seorang anak kecil saja oleh pemuda itu.
Semua serangannya, kebanyakan serangan maut karena kalau mengenai sasaran tentu membuat tulang-tulang remuk dan kepala atau dada dapat pecah, sama sekali tidak pernah dapat menyentuh lawan.
Hanya Sulastri yang tersenyum senang, akan tetapi ia mengerutkan alisnya melihat kenyataan betapa Aji sama sekali tidak pernah membalas, pada hal ia yakin bahwa kalau Aji menghendakinya, sejak tadi raksasa itu sudah dapat dirobohkam.
"Mas Aji, apa maksudmu main-main seperti ini? Cepat kalahkan dia!"
Akhirnya Sulastri tak dapat menahan diri dan berseru nyaring.
Mendengar teriakan gadis itu, Aji juga merasa bahwa sudah cukup ia mempermainkan lawannya, membiarkan lawan menyerang sampai kehabisan teaga.
Ketika kedua tangan raksasa itu menyambar lagi dengan pukulan, dia mengelak ke samping, menekuk lutut kiri dan dari bawah kaki kanannya menyambar cepat sekali.
Kaki kanan itu menyambar dua kali ke arah lutut Hendrik, seperti ular memagut dan tepat sekali mengenai sasaran.
"Tuk! Tuk!"
Tepat sekali sambungan lutut kedua kaki Hendrik tercium tendangan dan tak mungkin dapat dipertahankan lagi, kedua kaki raksasa itu terasa lumpuh dan diapun jatuh bertekuk lutut.
Aji tidak membuang kesempatan ini.
Tangan kirinya menyambar dengan jari terbuka ke arah tengkuk raksasa itu.
"Wuuuttt....... dukkkk!"
Tubuh yang besar itu terkulai roboh dan tak mampu bergerak lagi karena pingsan.
Seruan-seruan kaget terdengar dan para anak buah kapal yang membawa bedil sudah siap menodongkan bedil mereka ke arah Aji.
Akan tetapi Nyi Maya Dewi yang duduk dekat Kapten De Vos memberi isarat kepada pembesar Kumpeni itu dan De Vos memberi aba-aba kepada para anak buahnya untuk mundur.
Beberapa orang anak buah kapal lalu menggotong tubuh raksasa yang pingsan itu pergi dari situ.
"Tuan, jagomu telah kalah. Harap tuan suka memegang janji."
Kata Aji kepada De Vos.
Melihat kekalahan Hendrik tadi, De Vos mengerutkan alisnya dan tahulah dia bahwa Maya Dewi tidak berbohong atau melebih lebihkan.
pemuda yang tampak lemah itu sungguh berbahaya sekali.
Kalau gadis cantik itu juga sama tangguhnya, maka mereka berdua sungguh merupakan orang-orang berbahaya, apa lagi mereka adalah orang-orang Mataram!
"Oh tentu, tentu saja.
kami selalu memenuhi janji.
Bukankah begitu, Warga?"
De Vos menoleh kepada pembantu utamanya yang amat dipercaya itu.
Warga adalah seorang yang amat cerdik.
Dia sudah mendengar dari Maya Dewi akan keadaan Aji dan Sulastri.
Gadis sakti itu telah keracunan dan hal itu membuat Aji dan Sulastri menyerah dan tunduk kepada mereka, menuruti kemauan mereka.
Dia yakin bahwa Aji dan Sulastri berada dalam keadaan keracunan dan belum diberi obat penawarnya.
Maka, ketika De Vos bertanya kepadanya, tanda bahwa kapten itu merasa gelisah dan bingung, merasa ragu apa yang harus diperbuatnya, diapun segera menjawab.
"Tentu saja, tuan kapten. Aji dan Sulastri berhak untuk mengadakan perundingan berdua saja malam ini dan besok pagi baru mereka akan memberi keterangan tentang kekuatan pasukan Mataram dan tentang rencana penyerbuan ke Batavia. Aji telah menangkan pertandingan dan sudah sepantasnya kalau kita menghormat seorang pendekar gagah perkasa seperti dia dan merayakan kemenangannya. Sekalian kita merayakan untuk menyambut kedatangan Ki Harya Baka Wulung dan Aki Somad yang terhormat dan telah berjasa besar bagi Kumpeni!"
"Goed, heel goed! (Baik, sangat baik)! Kita berpesta untuk menyambut mereka!"
Pesta perjamuan diadakan dengan meriah.
Aji dan Sulastri duduk pula bersama mereka semua, menghadapi meja makan besar yang penuh hidangan bermacam masakan.
Mereka tidak merasa sungkan karena mereka memang membutuhkan makan cukup agar tubuh mereka tetap kuat.
Juga mereka tidak takut keracunan makanan karena semua orang ikut makan.
Kapten De Vos yang ingin sekali menarik dua orang muda itu agar dapat menjadi pembantunya, memperlihatkan sikap ramah dan hormat.
Dia sendiri menuangkan anggur ke dalam gelas dan menghidangkannya kepada Aji dan sulastri.
Akan tetapi ketika dua orang ini mencium bau anggur yang keras dan yang belum pernah mereka rasakan, Aji menolak dan minta agar mereka diberi minuman air teh saja.
Permintaan ini dipenuhi dan Kapten De Vos mengangkat gelas anggurnya.
"Mari kita minum untuk mengucapkan selamat datang kepada Tuan Lindu Aji dan Nona Sulastri, juga mengucapkan selamat atas kemenangannya!"
Tiba-tiba Sulastri yang selama ini berdiam diri saja karena merasa tidak berdaya, berkata.
"Nanti dulu, tuan. Sebelum kita minum, aku ingin mendengar dulu darimu. Apakah setelah kami berdua menceritakan apa yang kita ketahui, kami akan dibebaskan tanpa gangguan apapun?"
Kapten De Vos merasa heran dan kagum.
Tadinya dia mengira bahwa Sulastri yang tadinya diam saja itu seorang gadis pemalu.
Kiranya kini bicara dengan lancar dan pandang matanya kepadanya demikian mencorong penuh selidik dan wajah yang jelita itu tampak cerdik sekali!
"Ya, tentu, tentu!
Tentu kami akan membebaskan kamu berdua tanpa gangguan!"
Kata De Vos sambil mengangguk angguk.
"Akan tetapi, kami telah diracuni oleh Maya Dewi dan ia berjanji akan memberikan obat penawarnya kepadaku kalau aku dan Mas Aji sudah memberikan keterangan. Apakah tuan berani menanggung bahwa Maya Dewi akan memegang janjinya?"
Tanya pula Sulastri sambil melirik ke arah Maya Dewi.
"Terus terang saja, aku tidak mungkin dapat mempercayai janjinya. Saya minta agar tuan berjanji. saya lebih percaya kepadamu. Tuan adalah seorang yang mempunyai kedudukan tinggi, kiranya mustahil kalau tuan akan bertindak curang dan pengecut, menjilat ludah sendiri, menelan dan mengingkari janji!"
Aji diam-diam kagum akan kata-kata dan sikap Sulastri.
Dia memperhatikan dan melihat betapa wajah Maya Dewi berubah kemerahan dan wanita ini bertukar pandang dngan pria jangkung yang menjadi kekasihnya dan yang telah menyimpan obat penawar untuk Sulastri.
Sementara itu, mendengar ucapan Sulastri, De Vos juga megangguk angguk dan melirik ke arah Maya Dewi.
Baru sekarang dia mengetahui benar mengapa orang-orang digdaya seperti Aji dan Sulastri mudah saja dibawa ke kapal dihadapkan kepadanya dan dipaksa membuka rahasia tentang Mataram.
Kiranya gadis jelita itu telah keracunan dan obat penawarnya ada pada Maya Dewi!
Sungguh suatu siasat yang amat cerdik dari pembantunya yang cantik dan terpercaya ini.
"O, begitukah? Maya, apa kamu menyimpan obat penawar itu?"
Tanyanya sambil menoleh kepada Maya Dewi. Wanita itu mengangguk membenarkan.
"Nou....... kalau begitu, geen problem (tiada masalah)! Biar kami yang berjanji bahwa kalau memberi keterangan yang sejelasnya tentang kekuatan pasukan Mataram dan rencana mereka menyerbu Batavia, kamu berdua akan dibebaskan tanpa gangguan dan obat penawar untuk Nona Sulastri akan kami berikan!"
"Bersumpahlah, tuan, agar kami mau percaya."
Kata pula Aulastri.
"Bersumpah? Wat bedoel je (apa maksudmu)?"
Ki Warga yang ternyata pandai berbahasa Belanda segera menerangkan apa yang dimaksudkan Sulastri dengan bersumpah.
"Oo, is dat zo (begitukah)? Baik, kami bersumpah akan memenuhi janji-janji kami tadi. Kalau kami berbohong, biarlah kami mati tenggelam bersama kapal kami!"
Setelah selesai makan, seperti yang telah dijanjikan, Aji dan Sulastri memperoleh kebebasan berdua saja dalam sebuah bilik di kapal itu.
Sebelum bicara, keduanya meneliti keadaan kamar itu.
Setelah melihat semua penjuru dan merasa yakin bahwa pembicaraan mereka tidak disadap atau diintai, mulailah mereka bercakap-cakap dengan suara berbisik sehingga andaikata ada yang mendengarkan dari luar kamar sekalipun, pendengarnya tidak akan dapat menangkap suara mereka.
"Gertakanmu kepada kapten itu tadi sehingga memaksanya bersumpah sungguh baik dan tepat sekali, Lastri. Dengan demikian tentu dia sekarang tidak ragu lagi bahwa kita memang menyimpan rahasia Mataram."
Bisik Aji.
"Akan tetapi sesungguhnya aku masih tidak mengerti, Mas Aji. Mengapa engkau katakana kepada mereka bahwa kita mengerti akan rahasia Mataram? Rahasia apakah itu?"
Aji tersenyum.
"Itu hanya siasatku saja, Lastri. Kalau kita benar-benar mengetahui akan rahasia Mataram, apa kau kira aku akan sudi membocorkan rahasia itu kepada mereka? Tidak, lebih baik mati dari pada mengkhianati Mataram. Akan tetapi sesungguhnya aku tidak tahu apa-apa, hanya kukatakan bahwa aku tahu akan besarnya kekuatan pasukan Mataram dan bahwa engkau tahu akan rencana penyerbuan Mataram ke Batavia."
"akan tetapi kenapa? Untuk apa kebohongan itu?"
"Itu hanya siasatku agar kita tidak dibunuh karena aku sudah terpaksa menyerah melihat engkau roboh pingsan dan mereka tawan."
"Ahh, engkau berkorban untuk aku, kakangmas. Mengapa engkau menyerah dan tidak mengamuk dan kalau mereka terlalu kuat, tidak melarikan diri saja. Karena aku engkau tertawan pula."
Kata Sulastri dan penyesalan ini sungguh-sungguh.
"Ah, nimas, bagaimana mungkin aku melarikan diri dan membiarkan engkau terjatuh ke tangan manusia-manusia berwatak iblis itu? Aku menyerah dan aku segera bersiasat memberi harga yang tinggi sekali kepada kita, yaitu bahwa aku dan engkau tahu akan rahasia yang amat penting dari Mataram, rahasia itu penting sekali bagi Kumpeni. Siasatku berhasil. Mereka tidak berani mengganggu kita dan menghadapkan kita kepada Kapten De Vos."
"Akan tetapi nenek genit itu meracuni aku sehingga kita sama sekali tidak berdaya. Andaikata mereka ingkar janji dan tidak menyerahkan obat penawar kepadaku, maka segala usaha untuk menolongku sia-sia saja, mas. Apa tidak lebih baik kita mengamuk saja, membunuh mereka semua dan engkau berusaha menyelamatkan diri?"
"Dan engkau?"
"Aku? Biarkan aku mati keracunan, aku tidak takut mati!"
"Tidak mungkin! Dengar, aku sudah mengatur siasat lain, karena itu aku minta agar diberi waktu sampai besok pagi agar kita dapat berunding dan bergerak malam ini."
"Apa yang kita lakukan, Mas Aji?"
"Ketika kita berada di rumah Ki Warga, aku berhasil mendengar percakapan antara Maya Dewi dan pria jangkung itu. Aku tidak tahu siapa namanya."
"Aku juga hanya mendengar orang-orang menyebutnya raden saja."
Kata Sulastri.
"Apa yang kau dengar?"
"Maya Dewi menyerahkan obat penawar untukmu itu kepada jahanam itu!"
"Eh, kenapa?"
"Jahanam keparat itu agaknya tergila-gila kepadamu, nimas. Dia menginginkan dirimu dan dia minta obat penawar itu agar dia dapat memaksamu. Kalau obat penawar itu berada ditangannya berarti nyawamu berada di tangannya."
"Si kunyuk babi anjing kurang ajar itu!"
Sulastri memaki dan karena dalam amarahnya ia mengeluarkan suara keras, maka Aji cepat memberi isarat agar gadis itu tidak berteriak-teriak.
"Lastri, tenang dan sabarlah. Dalam keadaan terancam seperti ini kita harus dapat bersikap tenang. Aku sengaja minta agar kita berdua mendapat kesempatan untuk berunding dan siasatku berhasil. Kita dapat bicara sekarang. Tunggu sebenatar!"
Aji kembali memeriksa keadaan sekitar luar bilik kapal itu. Tidak ada orang mengintai. Dia kembali lagi, duduk dekat Sulastri dan melanjutkan pembicaraan dengan suara berbisik.
"Malam nanti kita harus bergerak, harus bertindak cepat."
"Apa yang akan kita lakukan?"
"Kita harus membuat kekacauan di kapal ini malam nanti."
"Bagus! Aku suka itu. Akan tetapi..... ah, racun di tubuhku membuat aku tidak mungkin mengerahkan tenaga sakti. Apa yang dapat kulakukan untuk membantumu, Mas Aji? Aku ingin sekali membantu. Berilah tugas padaku!"
Sulastri bergairah sekali. Ia sudah hampir tidak tahan berada dalam keadaan tidak berdaya dan menjadi tawanan seperti itu.
"Tugasmu penting sekali, Lastri. Untuk membuat suasana menjadi ribut dan kacau, engkau harus membuat kebakaran di kapal ini! Aku melihat anak buah kapal mengambil minyak dari bilik kecil di sudut sana itu. Agaknya bilik itu gudang umntuk menyimpan alat-alat, di antaranya minyak. Nah, kalau engkau dapat melempar api ke dalam bilik itu, pasti akan terjadi kebakaran dan suasana menjadi ribut dan kacau."
Gadis itu mengangguk-angguk.
"Itu mudah, aku dapat melakukannya. Akan tetapi sesudah itu bagaimana?"
"Engkau sudah tahu pula bahwa Kapten De Vos itu merupakan orang penting dari Kumpeni Belanda dan agaknya amat berkuasa, dihormati semua orang dan juga ditaati. Bahkan Maya dewi dan orang penuh rahasia bernama Ki Warga itu tampaknya amat tunduk kepadanya. Nah, dalam kekacauan itu aku akan mencari kesempatan untuk menawan dan menyandera Kapten De Vos. Kalau usahaku itu berhasil, kita pasti dapat menuntut apa yang kita perlukan. Selanjutnya serahkan saja kepadaku. Engkau harus selalu dekat denganku setelah melakukan pembakaran itu. Dengan Kapten De Vos sebagai sandera, mereka pasti tidak akan berani bertindak sembarangan dan akan mematuhi semua tuntutan kita." (Lanjut ke
Jilid 15) Alap Alap laut Kidul (Seri ke 03 Pecut Sakti Bajrakirana) Karya . Asmaraman S. Kho Ping Hoo
Jilid 15 Sulastri mengangguk-angguk dan sepasang alis yang kecil hitam berbentuk indah itu berkerut memikir. Kemudian ia bertanya.
"Semua itu baik sekali, Mas Aji. Akan tetapi bagaimana seandainya rencana kita gagal? Andaikata aku tidak dapat melaksanakan pembakaran dan engkau tidak berhasil menyandera De Vos? Bagaimana? Mereka tentu akan memaksa kita untuk memberi keterangan tentang Mataram yang tidak kita ketahui sama sekali. Kalau begitu, bagaimana?"
"Kalau kita gagal, masih ada harapan bagi kita. Selama mereka masih yakin bahwa kita berdua menyimpan rahasia tentang Mataram, aku yakin mereka tidak akan begitu bodoh untuk mengganggu kita. Rahasia itu masih dapat kita pergunakan sebagai perisai dan pelindung diri. Kita masih dapat mencari kesempatan dan akal lain. Kalaupun terpaksa kita harus bicara, kita dapat saja memberi keterangan secara ngawur. Kita dapat mengarang sesuka kita asal masuk di akal. Misalnya aku. Aku dapat mengatakan bahwa besar kekuatan pasukan Mataram ada lima puluh laksa (lima ribu) orang dan masih ada cadangannya sebanyak itu pula. Aku dapat mengatakan bahwa seluruh kadipaten di Nusa Jawa siap membantu Mataram dan banyak lagi yang dapat kukatakan untuk membuat Belanda menjadi panik."
"Dan aku, bagaimana? Aku tidak mengerti tentang siasat perang!"
Kata Sulastri bingung.
"Ah, katakana saja bahwa balatentara Mataram akan dipecah menjadi empat bagian. Tiga bagian akan menyerang dari barat, selatan dan timur Batavia, sedangkan yang sebagian akan menyerang dengan menggunakan perahu-perahu dan mengepung di utara. Dengan demikian Batavia akan dikepung dari semua penjuru. Kalau ditanya tentang ransum, katakan saja rakyat di sekitar Batavia sudah siap membantu. Juga Banten akan datang pula menyerang. Dengan demikian Kumpeni Belanda akan menjadi semakin panik dan ketakutan. Akan tetapi semua keterangan ini tidak perlu kita ceritakan kalau keadaan kita tidak terpaksa sekali. Maka, usaha kita malam nanti harus berhasil baik."
Mereka lalu mengatur siasat dan merundingkan dengan teliti.
Agar tidak mendatangkan kecurigaan kepada pihak musuh, setelah mandi dan makan malam, mereka tinggal di bilik masing-masing yang memang disediakan untuk mereka.
Bilik kecil mereka berdampingan.
Malam itu gelap dan sunyi.
Kapal yang berlabuh tak jauh dari pantai itu bergoyang-goyang sedikit karena air laut pasang.
Kapten De Vos mengadakan rapat dengan Ki Warga, Nyi Maya Dewi, Ki Harya Baka Wulung, Aki Somad dan Raden Banuseta.
Mereka membicarakan tentang hasil para anggauta jaringan mata-mata Kumpeni Belanda dan dalam hal ini yang banyak memberi keterangan adalah Ki Warga sebagai pemimpin jaringan mata-mata dan Maya Dewi yang bertugas sebagai pengawas dan banyak melakukan peninjauan di daerah-daerah.
Juga dalam kesempatan itu Kapten De Vos memuji siasat Maya Dewi yang telah meracuni Sulastri sehingga dua orang muda yang sakti dan tangguh itu dapat dibuat tidak berdaya dan dipaksa untuk membuka rahasia gerakan Mataram.
"Siasatmu itu benar-benar hebat, Maya. Keadaan mereka berdua sudah tersudut dan terpaksa, mau tidak mau mereka tentu akan membuka rahasia itu. Betapa setiapun mereka kepada Mataram, tentu mereka lebih sayang kepada nyawa mereka. Ha-ha-ha, kita akan berhasil! Kalau kita sudah tahu akan kekuatan dan rencana siasat Mataram menyerang Batavia, akan mudah bagi kita unuk menghancurkan mereka!"
Kapten De Vos yang sudah mulai mabok anggur sehingga mukanya yang biasanya sudah kemerahan itu kini menjadi merah sekali, tertawa-tawa gembira.
Tiba-tiba suara yang tenang serius Ki Warga menghentikan suara tawa Kapten De Vos.
"Saya harap tuan kapten tidak terlalu gembira lebih dulu."
Kapten De Vos menghentikan tawanya dan pada saat itu, Hendrik De Haan memasuki ruangan itu.
"Aha, Hendrik, kebetulan kamu datang. Duduklah dan ikut berunding. Mungkin kami membutuhkan pendapatmu!"
Raksasa itu lalu menyeret sebuah kursi dan duduk di tempat yang lowong, di depan Ki Harya Baka Wulung, terhalang meja.
Tanpa diperintah dia meraih botol minuman anggur dan menuangkan ke dalam sebuah gelas besar yang kosong, lalu minum dengan lahap sekali.
Melihat sikap itu, kapten De Vos dan yang lain-lain tidak memperdulikannya.
Memang demikianlah sifat dan watak raksasa ini, atau watak pelaut kulit putih pada umumnya, keras dan kasar.
"Tuan Warga, apa yang kau katakan tadi? Kenapa kamu mencegah kami terlalu gembira? Apakah masalahnya?"
"Begini, tuan kapten. Tuan bergembira karena dua orang tawanan itu, Lindu Aji dan Sulastri, akan membuka rahasia Mataram, memberi keterangan tentang kekuatan balatentara Mataram dan rencana siasat mereka menggempur Batavia sebagai pengulangan serangan mereka pertama yang berhasil kita gagalkan."
"Ya, tentu saja. Apa salahnya itu?"
"Tidak salah, tuan. Akan tetapi kalau bergembira sekarang, itu terlalu terburu-buru namanya. belum waktunya untuk bergembira."
"Hei, Tuan Warga. Apa maksudmu?"
"Saya hanya hendak bertanya, tuan. Bagaimana seandainya besok pagi itu kedua orang tawanan kita memberi keterangan yang palsu? Keterangan yang sama sekali tidak benar, tidak sesuai dengan kenyataan? Kalau mereka itu berbohong, bukankah pihak kita yang akan menderita rugi besar?"
Mendengar ucapan itu, semua orang tertegun dan baru ingat akan kemungkinan besar itu. Kapten De Vos termenung dan tampak bingung dan khawatir. Kemudian dia mengepal tinju dan memukul meja.
"Brakk! God Verdomme, zeg!"
Dia memaki.
"Benar sekali omonganmu itu, Tuan Warga. Untung kamu mengingatkan kami akan kemungkinan itu. Natuurlijk (tentu saja), bisa saja mereka berbohong, bahkan lebih banyak kemungkinannya mereka itu berbohong! Lalu bagaimana baiknya, Tuan Warga?"
"Mudah saja mengatasinya, tuan kapten. Besok pagi biarkan mereka menerangkan tentang rahasia itu, akan tetapi kita tidak boleh membebaskan mereka dulu. Kita tunggu sampai penyerangan Mataram itu benar terjadi. Kalau memang benar seperti yang mereka laporkan, nah, baru kita bebaskan mereka. Kalau sebaliknya laporan itu palsu dan tidak benar, kita hukum dan bunuh mereka."
"Oho, bagus, bagus! Kami setuju dan sebaiknya diatur begitu. Kamu memang pandai, Tuan Warga. Maya, besok engkau dan para pembantumu yang baru ini, Ki Harya Baka Wulung dan Aki Somad, harus siap siaga dan menjaga kalau-kalau dua orang tawanan itu akan memberontak. Kita biarkan mereka memberikan laporan, akan tetapi tetap menahan mereka sampai terbukti benar tidaknya laporan mereka seperti dikatakan Tuan Warga tadi."
"Baik, tuan."
Kata Nyi Maya dewi patuh. Tiba-tiba Ki Harya Baka Wulung berseru nyaring.
"Aku tidak setuju!"
Tentu saja semua orang terkejut dan memandang kepadanya.
"Apa maksudmu dengan ucapan itu, Tuan Harya?"
Tanya Kapten De Vos sambil memandang penuh selidik dengan sepasang matanya yang kebiruan.
"Tuan Kapten, aku Ki Harya Baka Wulung adalah seorang tokoh besar Madura yang gagah perkasa. Bangsa kami terkenal keras namun terbuka dan sekali berjanji, akan memenuhinya dengan taruhan nyawa. Aku tidak suka kalau diajak utuk mengingkari janji, biarpun terhadap dua orang muda yang menjadi musuhku. Aku tidak setuju dengan cara yang curang itu."
Mendengar ucapan yang nadanya keras itu, Hendrik De Haan yang menjadi pengawal pribadi dan jagoan Kapten De Vos menjadi marah.
Dia bangkit berdiri mengepal tinjunya yang besar diamangkan ke arah Ki Harya Baka Wulung.
"Harya Baka Wulung!"
Dia berteriak dengan suara cedal lalu melanjutkan kata-kata dalam bahasa Belanda karena tidak mahir berbahasa daerah.
Ki Warga segera menyalin dalam bahasa daerah agar dapat dimengerti Ki Harya Baka Wulung.
"Harya Baka Wulung, kamu mengaku tokoh Madura yang gagah perkasa akan tetapi buktinya Madura sudah jatuh ke tangan Mataram. Kamu sekarang ini menjadi pembantu Kumpeni Belanda dan kewajibanmu adalah untuk menaati semua perintah Kapten De Vos! Tidak sepatutnya kamu bersikap kasar seperti ini!"
Terbelalak sepasang mata Ki Harya Baka Wulung mendengar terjemahan Ki Warga itu. Diapun mengamangkan tinjunya ke arah muka raksasa bule itu dan membentak.
"Hendrik De Haan! kaukira aku takut kepadamu? Kamu hanya tukang pukul murahan! Ketika aku bergabung dngan Nyi Maya Dewi, aku hanya mau karena ingin melihat Mataram jatuh, bukan berarti aku menjadi antek Belanda. Aku hanya mau bekerja sama untuk menjatuhkan Mataram!"
Hendrik De Haan tidak dapat bicara bahasa daerah, akan tetapi karena dia sudah lama juga mengikuti Kapten De Vos, kalau hanya mendengar saja dia dapat mengerti artinya.
Maka, mendengar jawaban itu, dia lalu meninggalkan kursinya, berdiri di tengah ruangan itu dan menantang.
Dia hanya menggapai dengan tangan kiri dan mengamangkan tinju kanan ke arah Ki Harya Baka Wulung.
Tokoh Madura itu adalah seorang yang berwatak keras, maka diapun segera melompat menghampiri.
Dua orang ini sudah berhadapan dengan mata melotot.
Biarpun Ki Harya Baka Wulung sudah berusia hampir tujuh puluh tahun, dia masih tampak gagah dan kokoh dengan tubuhnya yang tinggi tegap.
Walaupun tubuhnya tidak sebesar tubuh Hendrik, namun dia dapat disebut seorang bertubuh raksasa di antara bangsanya.
Kumisnya yang tebal itu seolah berdiri saking marahnya.
"Majulah, setan bule!"
Ki Harya Baka Wulung menantang.
"Paman Harya, jangan membunuh orang!"
Nyi Maya Dewi berseru khawatir.
"Aku hanya ingin menghajar si keparat ini!"
Kata Ki Harya Baka Wulung.
Sementara itu, Hendrik De Haan yang sudah agak banyak minum anggur dan hawa panas sudah mulai naik ke kepalanya, tidak dapat menahan kemarahannya lagi.
Dia sudah menerjang ke depan, menyerang bagaikan seekor biruang.
Akan tetapi Ki Harya Baka Wulung adalah seorang sakti yang memiliki kemahiran pencak silat yang sudah matang.
Melihat serangan kedua tangan dari kanan kiri atas itu, diapun menangkis dari dalam dengan kedua lengannya.
"Dukkk!"
Dua pasang lengan bertemu dan pada saat itu, kaki kanan Harya Baka Wulung menyapu kaki lawan dan pada saat yang sama, lengan kanannya yang menangkis dan sikunya menhunjam ke depan dengan kuat sekali.
"Desss....... dukkk!"
Tak dapat dihindarkan lagi, tubuh Hendrik terjengkang.
Akan tetapi dia bukan orang lemah.
Ketika tubuhnya terdorong ke belakang dan kakinya terjegal, dia malah membuang diri ke belakang dan berjungkir balik sehingga dia tidak sampai terbanting roboh.
Hantaman siku kanan Harya Baka Wulung yang mengenai dadanya tadi seolah tidak dirasakannya.
Hendrik menjadi marah dan sambil mengeluarkan gerengan dari mulutnya yang berbau arak itu, dia menerjang lagi.
Kedua lengannya yang besar panjang itu kini tidak memukul melainkan bagaikan dua ekor ular cepatnya tahu-tahu telah menangkap kedua lengan lawan.
Gerakannya cepat sekali karena dia mempergunakan ilmu gulat yang pernah dipelajarinya.
Harya Baka Wulung terkejut dan tidak mampu menghindar, tahu-tahu kedua lengannya telah ditangkap dan raksasa bule itu mengerahkan seluruh tenaganya untuk mengangkat tubuh Harya Baka Wulung dan membantingnya.
Hendrik biasa berlatih mengangkat besi yang beratnya dua kali berat tubuh Harya Baka Wulung, maka dia merasa yakin akan mampu mengangkat tubuh lawan itu tinggi-tinggi kemudian dibantingnya agar tulang-tulang itu menjadi patah-patah.
Akan tetapi raksasa Belanda itu terlalu memandang rendah lawannya.
Harya Baka Wulung seorang tokoh besar Madura yang memiliki banyak aji kesaktian dan dia merupakan seorang ahli tapa yang telah menguasai banyak ilmu yang hebat-hebat.
Ketika dia maklum akan niat lawan, yaitu mengangkatnya ke atas, cepat dia mengerahkan Aji Selatantra.
Dengan aji yang dahsyat itu, tubuh Harya Baka Wulung seolah menjadi seberat gunung batu!
Hendrik de Haan mengerahkan seluruh tenaganya, namun sia-sia, sama sekali dia tidak mampu mengangkat tubuh kakek tua itu!
Dia bekah-bekuh, menahan napas dan mengerahkan segenap tenaganya, otot-ototnya sampai menggembung, tulang-tulangnya berkerotokan, bahkan hawa dalam perutnya yang didorong keluar sehingga terdengar suara memberebet!
Namun, setelah ber ah-ah-uh-uh beberapa lama tetap saja tubuh lawan tidak dapat diangkatnya.
Ketika kedua lengannya bagian atas siku itu dipegang lawan, kedua tangan Ki Harya Baka Wulung berada di sebelah dalam.
Kini, dia menggerakkan kedua tangan ke depan dan dia mengangkap pinggang Hendrik.
Dia mengerahkan tenaga Cantuka Sakti yang luar biasa dahsyatnya itu dan sambil mengeluarkan suara nyaring dia mengangkat tubuh Hendrik ke atas.
"Kok-kok-kokkk!"
Terdengar suara berkokok itu dari dalam perutnya dan tubuh Hendrik yang tinggi besar itu telah diangkatnya ke atas kepalanya.
"Paman Harya, jangan membunuh!"
Kembali Maya dewi berteriak.
Mendengar teriakan ini, Harya Baka Wulung teringat.
Diapun bukan seorang bodoh yang menurutkan nafsu amarah.
Dia tahu bahwa kalau dia membunuh, bukan saja nyawanya terancam oleh Kapten De Vos dan anak buahnya yang mempunyai senjata api, akan tetapi juga usahanya bekerja sama dengan Belanda untuk membalas dendamnya kepada Mataram akan gagal.
Maka, dia tidak membanting tubuh raksasa itu.
Kalau dibantingnya dengan tenaga Cantuka Sakti tentu akan remuk tulang-tulang tubuh itu atau akan pecah kepalanya.
Dia lalu melemparkan saja tubuh Hendrik ke atas.
"Bressss.......!"
Tubuh itu melayang ke atas lalu terbanting jatuh ke atas lantai kapal.
Memang tidak sampai tewas atau patah-patah tulangnya, namun cukup membuat kepalanya pening dan pinggulnya nyeri, perutnya mulas.
Hendrik merasa malu sekali dan hal ini membuatnya marah besar.
Biarpun pandang matanya masih berkunang, namun dia segera mencabut sebuah pistol besar yang terselip di pinggangnya dan siap untuk menembakkan pistol itu ke arah Harya Baka Wulung.
Akan tetapi, datuk besar Madura ini sudah siap.
Dia sudah mengerahkan ajinya yang amat dahsyat yaitu Aji Kukus Langking (Asap Hitam).
Begitu dia mendorongkan kedua tangannya, asap tebal hitam menyambar ke arah Hendrik dan terdengar kakek itu berseru dengan suara menggetar mengandung penuh wibawa.
"Lepaskan senjata api itu!"
Terjadi keanehan.
Bentakan yang mengandung kekuatan sihir itu membuat Hendrik melepaskan pistolnya sebelum dia sempat menarik pelatuknya.
Pistol jatuh berdetak di atas lantai dan asap hitam itu membuatnya terhuyung ke belakang sehingga dia terjengkang dan terjatuh.
Ki Harya Baka Wulung menarik kembali ajinya.
Asap hitam lenyap dan tubuh Hendrik terkapar di atas lantai kapal dan muka berubah menghitam seperti hangus.
Akan tetapi.
dia masih untung karena Harya Baka Wulung tidak berniat membunuhnya sehingga tubuhnya tidak sampai melepuh terbakar, hanya hangus seolah-olah dia berjemur matahari dari pagi sampai petang!
Ketika Harya Baka Wulung memandang ke sekeliling, kiranya dia sudah terkepung belasan orang anak buah kapal yang menodongkan bedil mereka ke arahnya.
Dengan sikap tenang Harya Baka Wulung menghadapi Kapten De Vos dan berkata.
"Aku tidak membunuhnya, dan aku ingin bekerja sama dengan Kumpeni untuk mengalahkan Mataram, bukan untuk menjadi antek Belanda, juga bukan untuk bermusuhan dengan Belanda!"
Ki Warga cepat berkata kepada Kapten De Vos dalam bahasa Belanda.
"Tuan Kapten, orang ini amat berguna bagi kita."
Kapten De Vos segera memberi aba-aba kepada anak buahnya untuk menghentikan penodongan mereka dan mengundurkan diri keluar dari ruangan itu.
Para anak buah itu untuk kedua kalinya, menggotong tubuh Hendrik dan meninggalkan ruangan itu.
Kapten De Vos tersenyum lebar, memandang Harya Baka Wulung.
"Kami mengerti maksudmu, Tuan Harya. Maafkan kelancangan Hendrik tadi. Memang Maya Dewi sudah melaporkan kepada kami bahwa Tuan Harya dan Tuan Somad ingin bekerja sama dengan kami, bukan menjadi pegawai kami. Silahkan duduk kembali, Tuan Harya. Kita bicara dan berunding sebagai sahabat, bukan sebagai atasan kepada bawahan. Silakan."
Kapten De Vos adalah seorang pejabat yang bertugas sebagai intelejen Belanda dan dia memang sudah mendapat pendidikan mendalam sehingga dia mampu menyesuaikan diri demi keuntungan Kumpeni.
Menghadapi sikap sabar dan ramah ini, mereda kemarahan Harya Baka wulung dan dia pun duduk kemabli ke atas kursinya yang tadi.
Kapten De Vos menuangkan sendiri anggir ke dalam gelas di depan Harya Baka Wulung, lalu dia mengajaknya minum anggur sambil berkata.
"Marilah kita minum anggur ini sebagai pernyataan persahabatan ini dan sebagai permintaan maaf kami atas kelancangan Hendrik tadi."
Harya Baka Wulung menyambut dan minum anggurnya. Suasana menjadi akrab kembali.
"Tuan Harya, kalau boleh kami bertanya, kenapa kamu begitu membenci Mataram? Apakah karena Mataram telah menaklukkan seluruh Madura dan sekarang kamu ingin membebaskan Madura dari kekuasaan Mataram?"
Tanya Kapten De Vos. Harya Baka Wulung menggeleng kepala dan menghela napas panjang.
"Kekalahan Madura terhadap Mataram tidak perlu dipersoalkan lagi. Madura telah membuat perlawanan sekuatnya, akan tetapi karena memang kalah kuat maka dapat ditundukkan, kini malah dapat dipersatukan di bawah pimpinan Pangeran Cakraningrat yang berkedudukan di Sampang, diangkat oleh Sultan Agung. Pangeran Cakraningrat itu dahulunya adalah Raden Praseno, putera Bupati Arisbaya, dan dia adalah muridku. Tidak, tidak ada alasan bagiku untuk mendendam kepada Mataram karena kekalahan Madura."
"Kalau begitu, kenapa kamu begitu membenci Mataram sehingga bersedia bekerja sama dengan kami untuk menjatuhkan Mataram?"
Desak Kapten De Vos.
Dia merasa perlu mengetahui latar belakang orang yang akan bekerja sama dengan Kumpeni menghadapi Mataram.
Mendengar pertanyaan itu, Harya Baka Wulung seperti diingatkan kembali akan segala suka dukanya, terutama sekali kedukaan yang teramat besar sehubungan dengan tewasnya putera tercinta.
Dia hanya mempunyai seorang putera yang diberi nama Raden Dibyasakti, seorang pemuda yang menurut penilaiannya sendiri amat tampan gagah dan patut dibanggakan.
Seluruh cinta kasihnya tercurah kepada puteranya itu.
Akan tetapi puteranya itu tewas ketika perang sedang panas-panasnya terjadi antara Madura dan Mataram.
Kematian Raden Dibyasakti itu menghancurkan hatinya dan menanamkan bibit dendam kebencian yang teramat besar terhadap Mataram umumnya dan Sultan Agung pada khususnya.
Dia harus membalas dendam kematian puteranya itu, apapun yang terjadi!
Setelah menghela napas panjang, Harya Baka Wulung mejawab pertanyaan Kapten De Vos itu.
"Sebetulnya ini urusan pribadi. Aku sudah bersumpah dalam hati untuk membalas kepada Sultan Agung untuk dengan cara apapun juga menghancurkan Mataram. Mataram telah merenggut nyawa puteraku yang tunggal, telah menghancurkan semua kebahagiaanku."
Melihat wajah Harya Baka Wulung yang penuh duka dan kini kakek itu menunduk lesu, suasana menjadi hening. Akhirnya Kapten De Vos berseru.
"Mari kita minum lagi. Kita lupakan kenangan masa lalu dan mari kita bersiap untuk menghancurkan Mataram, musuh kita bersama!"
Mereka minum anggur lagi. Setelah ketegangan mereda, De Vos bertanya kepada Harya Baka Wulung.
"Tuan Harya, kalau tuan tidak setuju untuk tetap menahan dua orang tawanan sampai terbukti bahwa laporan mereka benar, lalu kalau menurut tuan, apa yang harus kita lakukan agar kita tidak sampai menderita rugi oleh kebohongan mereka?"
"Kalau mereka besok pagi memberi keterangan, kita harus membebaskan mereka seperti yang telah dijanjikan. Untuk mencegah agar mereka tidak berbohong, kita minta mereka bersumpah lebih dulu sebelum memberi keterangan mereka. Orang-orang yang menjunjung tinggi kegagahan seperti mereka pasti tidak akan mau melanggar sumpah sendiri. Kalau hal ini masih meragukan, kita beri mereka racun yang akan bertahan sampai saat terjadinya penyerbuan Mataram seperti yang mereka katakan. Setelah ternyata keterangan mereka kelak benar, mereka kelak boleh datang minta obat penawar kepada kita."
Kapten De Vos melihat betapa semua pembantunya mengangguk-angguk menyetujui siasat itu, maka diapun berkata gembira.
"Bagus, bagus sekali. Dengan begitu, kita tidak melanggar janji, juga kita tetap mengikat mereka sehingga mereka pasti tidak berani berbohong!"
Dengan gembira dia lalu mengajak semua orang untuk menambah minuman anggur.
Sementara itu, setelah menunggu cukup lama, membiarkan musuh-musuh mereka berpesta dan makan minum sepuasnya, sesuai dengan yang sudah mereka atur dalam pembicaraan mereka siang tadi, Sulastri menerima ketukan pada dinding kamarnya yang bersebelahan dengan kamar Aji.
Ketukan tiga kali, berarti ia harus mulai dengan tugasnya.
Ia membalas dengan ketukan tiga kali sebagai isarat bahwa ia telah mengerti dan siap melaksanakan tugasnya.
Ia mengintai dari balik daun pintu kamarnya.
Ada dua orang penjaga duduk di depan , di antara kamarnya dan kamar Aji.
Dua orang kulit putih dan bertubuh tinggi kurus, bermuka merah dan hidung mereka panjang seperti hidung Petruk.
Sulastri segera memasang aksi, tersenyum manis sekali ketika ia membuka pintu kamarnya dan menghampiri dua orang anak buah kapal yang memegang bedil itu.
Melihat gadis cantik itu tersenyum-senyum dan menghampiri mereka dengan langkah yang lemah gemulai, dua orang laki-laki kulit putih itu tentu saja merasa senang, Mereka juga tersenyum dan menyambut Sulastri dengan bahasa daerah yang patah-patah.
"Selamat malam, nona manis. Belum tidurkah?"
Tegur seorang.
"Nona manis hendak pergi ke manakah?"
Tanya yang kedua. Sulastri memperlebar senyumnya sehingga sinar lampu gantung menimpa deretan giginya yang putih mengkilap.
"Aku kesepian sekali, tuan-tuan. Aku ingin mengajak kalian bercakap-cakap."
Kata Sulastri dan sengaja ia menggunakan jari-jari tangannya yang lentik untuk menyentuh tangan mereka.
tentu saja dua orang anak buah kapal itu yang seperti hmpir semua pelaut, selalu haus akan hiburan dan gila perempuan.
"Ah, kami senang sekali, nona!"
Kata yang kedua lebih berani. Tangannya hendak merangkul. Akan tetapi Sulastri melangkah mundur lalu menoleh ke kanan kiri dan berkata lirih.
"Jangan di sini, tuan. Aku takut dan malu kalau ketahuan orang lain. Mari kita bicara dalam kamarku saja."
Dua orang anak buah kapal yang usianya sekitar tiga puluh tahun itu saling pandang, terbelalak dan tersenyum.
Hati mereka melonjak dan rasanya ingin bersorak gembira.
Ketika melihat gadis itu dengan lenggang memikat sehingga pinggulnya menari-nari melangkah menuju kembali ke kamarnya, dua orang itu seperti berebut mengikuti dari belakang.
Karena seluruh perhatian mereka tertuju kepada tubuh belakang Sulastri yang menggairahkan, mereka sama sekali tidak tahu bahwa pintu kamar sebelah terbuka dan sesosok bayangan berkelebat keluar dari kamar itu.
Ketika dua orang penjaga itu tiba di luar kamar Sulastri yang daun pintunya terbuka lebar, Sulastri berkata dengan manis.
"Masuklah saja, tuan-tuan, jangan ragu dan malu!"
Dua orang itu melangkah masuk dan pada saat itu, Aji melompat ke belakang mereka. Kedua tangannya menyambar ke arah tengkuk dua orang anak buah kapal itu.
"Ngek-ngek!"
Dua orang itu terkulai.
Sulastri cepat menyambut bedil mereka yang terlepas dari pegangan agar tidak menimbulkan suara gaduh.
Aji sudah menangkap lengan kedua orang itu sehingga tidak sampai terguling roboh.
Dia lalu menyeret dua tubuh yang sudah tak dapat bergerak karena pingsan itu ke dalam kamar.
Menggunakan kain alas pembaringan yang dirobek, aji mengikat kaki tangan kedua orang itu dan menyumbat mulut mereka.
Kemudian, tanpa mengeluarkan suara, kedua orang muda itu berindap ke luar.
Mereka tidak perlu bicara lagi karena siang tadi mereka telah mengatur rencana dengan matang.
Setelah membuat dua orang penjaga itu tidak berdaya, Sulastri menyelinap dan menuju ke buritan kapal.
Sedangkan Aji sudah menyelinap dan bersembunyi di balik tihang.
Sulastri tiba di luar bilik yang menjadi gudang kapal itu.
Ia mengambil lampu gantung yang berada di luar bilik, kemudian mendorong daun jendela dengan kekuatan tangannya.
Ia tidak berani mengerahkan tenaga sakti karena hal itu akan menimbulkan nyeri hebat dalam dadanya.
Akan tetapi kedua tangannya yang terlatih itu memiliki tenaga otot yang cukup kuat untuk membuat daun jendela yang tidak begitu kokoh itu terbuka.
Setelah jendela terbuka, ia lalu melemparkan dan membanting lampu gantung ke dalam gudang.
Terdengar ledakan kecil dan gudang itu segera terbakar.
Minyak yang tersimpan dalam gudang itu segera disambar api dan bernyala besar.
Setelah berhasil membakar gudang, Sulastri cepat berlari dan terengah-engah ia mendekam di samping Aji, di belakang tihang besar.
"Brand! Brand! (Kebakaran, kebakaran!)"
Tiba-tiba terdengar teriakan-teriakan dan banyak kaki berlari-larian.
Mereka yang sedang berpesta terkejut bukan main.
Mereka yang tidak mengerti bahasa Belanda, saling pandang dengan heran.
Ki Warga cepat memberitahu mereka.
"Ada kebakaran!"
"Cepat, kita lihat! Maya Dewi, Tuan Harya dan Tuan Somad, juga kamu Tuan Warga dan Tuan Banuseta, pergilah kamu ke kamar dua orang tawanan itu!"
Kata Kapten De Vos.
Mereka semua menghambur ke luar dari ruangan di mana mereka tadi berpesta.
Lima orang pembantu itu berlari ke arah dua buah kamar di mana dua orang tawanan itu berada, sedangkan De Vos sendiri berlari ke arah buritan kapal karena di sanalah terjadinya kebakaran.
Semua anak buah kapal sibuk berusaha untuk memadamkan kebakaran.
Sebetulnya, dengan tenaga banyak orang, kebakaran tentu mudah dipadamkan.
Akan tetapi karena persediaan minyak dalam bilik gudang itu terbakar, maka agak sukarlah kebakaran itu dipadamkan, Kapten De Vos yang marah-marah memberi petunjuk dan aba-aba kepada anak buahnya.
Dia berjalan mondar-mandir sambil berteriak memberi komando.
Tiba-tiba, lengan kanannya ditangkap sebuah tangan yang amat kuat dan lengan itu ditelikung ke belakang tubuhnya.
Sebelum dia sempat meronta, sebatang ujung pisau belati yang runcing tajam menempel dilehernya.
Aji yang menangkap kapten itu berseru.
"Diam, jangan bergerak, atau lehermu akan kupenggal!"
Sulastri yang berada di dekat Aji, cepat mengambil pistol yang tergantung di pinggang Kapten De Vos dan membuang senjata api itu ke luar kapal.
Kemudian mereka berdua mengundurkan diri ke pagar kapal.
Aji menarik dan memaksa De Vos ikut dengan menyeretnya.
Sementara itu, lima orang pembantu yang berlari menuju je dua buah kamar tawanan, tentu saja menjadi terkejut melihat dua orang penjaga berada di kamar Sulastri dalam keadaan terikat dan tersumbat mulut mereka, sedangkan dua orang tawanan itu tidak tampak.
Ki Warga cepat membebaskan mereka dan bertanya apa yang telah terjadi.
"Perempuan itu....... ia memanggil kami dan tahu-tahu kami dipukul dari belakang dan tidak ingat apa-apa lagi. Ketika kami siuman, kami telah berada di sini dalam keadaan begini."
Dua orang itu bercerita.
"Tawanan lolos! Tentu mereka yang melakukan pembakaran itu. Mari cepat keluar dan cari mereka!"
Kata Ki Warga. Semua orang berlari keluar. Mereka berlari ke arah buritan dan membantu mereka yang memadamkan api. Tak lama kemudian api dapat dipadamkan.
"Di mana Kapten de Vos?"
Tanya Ki Warga.
Barulah semua orang merasa heran dan panic.
Pimpinan mereka itu tidak tampak batang hidungnya, pada hal tadi sibuk memimpin anak buahnya memadamlan api.
Tiba-tiba mereka mendengar suara yang nyaring yang datangnya dari bagian tengah di atas dek itu.
"Heii, kalian Semua lihatlah! kapten De Vos berada di sini!"
Semua orang berlarian menuju kearah suara dan setelah tiba di dekar tihang layar besar mereka tertegun, berdiri mematung dengan mata terbelalak.
Di sana, dekat pagar di pinggir, Kapten De Vos berdiri tak berdaya dengan muka pucat.
Di belakangnya berdiri Lindu Aji dan Sulastri, keduanya memegang sebatang pisau belati yang runcing dan tajam.
Aji menempelkan belatinya di leher De Vos sedangkan Sulastri menodongkan belatinya di lambungnya!
Melihat ini, para anak buah kapal sudah menodongkan bedil mereka ke arah dua orang tawanan itu, akan tetapi Aji cepat membentak.
"Lepaskan bedil kalian atau kami akan membunuh Kapten De Vos lebih dulu!"
Dia dan Sulastri menekan pisau belati yang mereka rampas dari dua orang penjaga tadi lebih kuat sehingga ujung pisau yang runcing itu mulai menembus kulit dan kulit di leher dan lambung terluka dan mengeluarkan darah.
"Stop! Lepaskan semua bedil itu, kalian goblok!!"
Kapten De Vos berteriak kepada anak buahnya.
Anak buah kapal itu tak dapat berbuat lain kecuali menaati perintah atasan mereka.
Kalau mereka nekat menembak, tentu Kapten De Vos akan mati dan kalau hal ini terjadi, berarti malapetaka besar bagi mereka!
Ditangkapnya De Vos oleh dua orang tawanan itu benar-benar membuat mereka tidak berdaya.
Terpaksa mereka melepaskan bedil masing-masing ke atas dek.
Nyi Maya Dewi berkata dan suaranya terdengar penuh ancaman.
"Lindu Aji, apa yang kaulakukan ini? Bukankah kita sudah berjanji bahwa engkau besok akan melaporkan keterangan kepada kami dan sebagai gantinya kami akan membebaskan kalian dan memberi obat penawar kepada Sulastri yang akan mati tersiksa beberapa hari lagi?"
"Maya Dewi, siapa percaya akan janji-janji kalian? Sekarang bukan saatnya bagi kalian menuntut. Bukan kalian yang berhak menentukan, melainkan kami! Kalian harus memenuhi permintaan kami sebagai pengganti nyawa Kapten De Vos!"
Melihat beberapa orang di antara mereka ada yang membuat gerakan seolah hendak menyerang, Aji berteriak lantang.
"Jangan bergerak atau aku akan memenggal leher Kapten De Vos! Jangan kira bahwa kami tidak akan berani melakukan itu. Kami akan membunuhnya dulu kemudian mengamuk sampai mati!"
"Tahan.......!"
Ki Warga berseru.
"Aji, apa yang kaukehendaki? Akan tetapi bersumpahlah dulu bahwa engkau akan membebaskan Kapten De Vos kalau kami memenuhi permintaanmu."
"Baik, aku bersumpah akan membebaskan Kapten De Vos kalau kalian memenuhi semua permintaan kami."
Kata Aji.
"Permintaan kami yang pertama, serahkan obat penawar bagi Sulastri!"
Berkata demikian, Aji memandang kepada Nyi Maya Dewi.
Dia tahu bahwa obat itu ada pada kekasih wanita itu yang kini berdiri di sebelah kiri Maya Dewi.
Dia akan tahu bahwa kalau obat itu diberikan oleh Maya Dewi, berarti obat itu palsu.
Ki Warga dan semua orang kini menoleh dan memandang kepada Maya Dewi.
mereka tahu bahwa yang dapat memberikan obat yang diminta itu hanyalah Maya Dewi.
Nyi Maya Dewi balas memandang Aji dan sikapnya tenang saja.
Hal ini menunjukkan bahwa ia adalah N seorang wanita yang banyak pengalaman, licik dan tidak mudah gugup.
"Akan tetapi, Aji. Aku tidak dapat menyerahkan obat itu kepadamu di sini. Obat penawar itu kusimpan di daratan, yaitu di Tegal di rumah Ki Warga."
"Hemm, Nyi Maya Dewi, tidak perlu lagi kau berbohong. Aku tahu pasti bahwa obat penawar itu ada padamu. Hayo cepat berikan! Ataukah aku harus menyiksa Kapten De Vos lebih dulu?"
Aji sengaja menekan pisau belati itu di leher De Vos sehingga kapten itu berteriak.
"Ben je gek, Maya (Gilakah kamu, Maya)? Hayo cepat berikan obat penawar itu kepadanya!"
Maya Dewi tampak bingung dan ia memandang kepada banuseta. Terpaksa ia menangguk memberi isyarat kepada pria itu dan berkata lirih.
"Berikanlah, Raden."
Banuseta mengerutkan alisnya dan memandang kepada Sulastri. Dia tidak rela melepaskan kesempatan untuk menguasai gadis yang digandrunginya itu.
"Akan tetapi....... Maya......."
"Tidak ada tapi!"
Kapten De Vos membentak marah.
"Godverdomme, zeg! Berikan obat itu atau kuperintahkan orang-orangku untuk menembak kepalamu!"
Mendengar bentakan ini, Banuseta menjadi pucat mukanya dan dia segera merogoh ke balik ikat pinggangnya, mengeluarkan sebuah bungkusan kain kecil dan menyodorkannya kepada Sulastri.
Akan tetapi seperti yang sudah ia rencanakan bersama Aji, Sulastri tidak mau menerimanya, tidak mau memberi kesempatan dirinya ditangkap.
"Letakkan di atas lantai dekat sini!"
Perintah Aji. Banuseta menurut karena Kapten De Vos memandang kepadanya dengan mata mendelik dan memerintah. Dia meletakkan bungkusan obat penawar itu di atas lantai di depan Aji.
"Tuan Kapten, sekarang perintahkan Maya Dewi mengembalikan keris dan pedang kami yang dirampasnya."
Kata Aji.
"Kembalikanlah, Maya dan cepat!"
Perintah De Vos.
Maya Dewi tidak berani membangkang.
Ia mengeluarkan Pedang Nogo Wilis milik Sulastri dan Keris Nogowelang milik Aji, meletakkan dua buah pusaka, itu di atas lantai dekat bungkusan obat penawar.
"Lastri, ambillah semua itu."
Kata Aji.
Sulastri melangkah maju, dengan waspada ia mengambil bungkusan obat penawar dan menyimpan di ikat pinggangnya, kemudian menyerahkan Keris Nogo Welang kepada Aji dan menggantung sarung pedang Nogo Wilis di ikat pinggangnya.
Kedua orang muda itu lalu membuang pisau belati dan kini memegang pusaka masing-masing untuk menodong Kapten De Vos dan melindungi diri sendiri.
Karena Kapten De Vos benar-benar berada dalam kekuasaan Aji dan Sulastri, dan keselamatan nyawanya terancam, maka biarpun di situ hadir orang-orang sakti seperti Ki Harya Baka Wulung, Aki Somad, Nyi Maya Dewi, Ki Warga, Raden Banuseta, Hendrik dan para perajurit, mereka tidak berani berkutik.
Bahkan Aki Somad dan Harya Baka Wulung juga tidak berani membuat ulah atau mencoba mempergunakan aji sihir mereka karena mereka maklum betapa saktinya kedua orang muda itu, terutama sekali Lindu Aji.
"Kapten, cepat perintahkan menurunkan perahu kecil itu!"
Kata Aji kepada tawanannya.
"Juga sediakan tangga tali untuk turun!"
Perintah itu diteriakkan Kapten De Vos.
Setelah perahu diturunkan ke air dan tangga tali dipasang, Aji memberi isarat kepada Sulastri untuk menurunkan tangga tali dan masuk ke dalam perahu kecil yang sudah diturunkan di sisi perahu besar.
Kemudian dia berkata kepada Nyi Maya Dewi dengan nada suara mengancam.
"Kami akan menyandera Kapten ini. Nanti kalau ternyata bahwa obat penawar yang kauberikan itu manjur dan menyembuhkan Sulastri, kami pasti akan membebaskan dia. Kalau ternyata engkau menipu kami dan obat penawar itu tidak dapat menyembuhkan Sulastri, kapten ini akan kami bunuh!"
Mendengar ini, Kapten De Vos menjadi pucat wajahnya.
"Maya, jangan main-main kamu! Kalau kamu menipu dan gadis itu tidak dapat disembuhkan sehingga aku terbunuh, Kumpeni tentu akan menangkap kalian semua dan menghukum kalian dengan siksaan yang paling berat!"
Mendengar ini Maya segera berkata kepada Aji.
"Aji, kami telah menuruti semua permintaanmu, akan tetapi engkau harus berjanji bahwa engkau akan benar-benar membebaskan Tuan Kapten De Vos."
"Aku pasti akan membebaskannya. Katakan bagaimana aturan minum obat penawar racun itu."
"Mudah saja. Masukkan obat bubuk itu semua ke dalam secangkir air kelapa muda hijau, kemudian minum sampai habis dan pengaruh racun itu akan punah. Akan tetapi setelah itu engkau harus membebaskan tuan kapten."
"Aku tidak akan melanggar janji!"
Setelah berkata demikian, Aji memegang lengan kanan De Vos, tetap menempelkan keris di punggungnya dan memaksa kapten itu menuruni tangga tali bersama dia.
Mereka turun ke perahu di mana Sulastri telah menunggu.
Aji lalu mendayung perahu itu dengan cepat meninggalkan kapal menuju ke pantai.
Lampu-lampu yang menyorot dari rumah-rumah para nelayan di pantai memudahkan Aji menujukan arah perahunya.
Fajar mulai menyingsing ketika akhirnya perahu kecil itu mendarat.
Aji dan Sulastri mengajak De Vos meninggalkan pantai menuju ke bagian barat yang jauh dari perkampungan karena mereka tidak ingin menarik perhatian penduduk pantai.
Juga mereka hendak memasuki daerah yang tertutup oleh bukit karang agar tidak dapat tampak dari kapal karena mereka maklum bahwa mereka yang berada di kapal tentu akan berusaha untuk mengintai dengan alat teropong.
Mereka berhenti di sebuah tegalan di mana terdapat beberapa batang pohon kelapa.
Melihat beberapa butir buah kelapa muda hijau bergantungan di pohon, Aji mempergunakan batu karang untuk menyambit dan dua butir buah kelapa muda hijau runtuh.
Dengan pedang milik Sulastri, dia membelah buah kelapa muda itu dengan hati-hati sehingga airnya tidak tumpah.
Dimintanya bungkusan obat dari Sulastri dan dimasukkan obat bubuk itu ke dalam air kelapa muda.
"Minumlah, Lastri. Mudah-mudahan engkau sembuh."
"Maya pasti tidak berbohong."
Kata De Vos.
"Kalau ia berbohong dan obat itu tidak menolong, ia dan kawan-kawannya akan dihukum mati semua!"
"Mudah-mudahan engkau benar, tuan kapten, karena nyawamu juga tergantung kepada kesembuhan Sulastri."
Kata Aji.
Sulastri minum air kelapa muda yang sudah dicampur obat bubuk itu.
Setelah air kelapa muda diminumnya habis, ia lalu duduk bersila, mengatur pernapasan untuk membiarkan obat di dalam perutnya bekerja.
Aji dan De Vos memandang dengan penuh perhatian dan perasaan tegang.
Tiba-tiba gadis itu mengerutkan alisnya dan menggigit bibirnya sendiri.
Ia tampak menahan perasaan nyeri yang hebat.
"Lastri, kenapa..... ?"
Aji bertanya khawatir.
"Perutku...... mulai melilit-lilit....... ah, aku tidak kuat lagi...... harus ke sungai.......!"
Gadis itu melompat berdiri dan lari ke arah anak sungai yang tadi mereka lewati.
"God....... (Tuhan)! Apa yang terjadi dengannya.....?"
De Vos berkata dengan muka pucat sambil memandang ke arah menghilangnya bayangan gadis itu di balik pohon-pohon.
Aji masih tenang.
Dia merasa yakin bahwa Maya Dewi pasti tidak berani menipunya, apa lagi mencelakai Sulastri dengan obat palsu karena Kapten De Vos masih berada di tangannya.
Wanita itu tidak akan berani melanggar perintah De Vos yang merupakan orang penting dari Kumpeni.
"Mungkin itu pengaruh obat penawar yang akan menyembuhkan."
Kata Aji tenang.
"Mudah-mudahan begitu......."
Kapten De Vos termenung, hatinya masih diliputi kekhawatiran kalau-kalau terjadi sesuatu pada diri gadis itu yang dapat menyebabkan dia dibunuh.
Dia duduk dengan lemas di atas akar pohon yang menonjol di permukaan tanah dan menanti.
Dia merasa tidak berdaya sama sekali.
selama ini andalannya hanyalah senjata apinya dan pistol-pistolnya telah dilucuti sebelum dia ditawan tadi.
Untuk nekad menyerang pemuda ini dengan kaki tangannya?
Sama saja dengan membunuh diri!
Dia sudah melihat akan kehebatan pemuda itu ketika tadi pemuda itu bertanding melawan Hendrik De Haan.
Jagoan juara tinju itu saja tidak mampu berkutik melawan Aji, apalagi dia!
Tak lama kemudian Sulastri muncul.
Gadis itu melangkah dengan lenggang gemulai seperti menari.
Sinar matahari pagi yang kemerahan menimpa wajahnya, tampak cemerlang dan segar, masih basah.
Sepasang matanya yang jeli tampak bersinar mencorong, berbeda dengan pandang matanya tadi yang mengandung penasaran dan agak gelisah.
Sinar mata ini saja sudah menggirangkan hati Aji karena merupakan pertanda yang baik.
Bahkan Kapten De Vos menyambutnya dengan penuh perhatian dan ketegangan.
Keadaan gadis itu menentukan nasib dirinya.
"Bagaimana, lastri?"
Tanya Aji sambil memandang wajah gadis itu penuh harapan.
"Ya, bagaimana, nona? Sudah sembuhkah kamu.......?"
De Vos bertanya. Sulastri tersenyum kepada Aji dan berkata.
"Engkau lihat sendiri, Mas Aji!"
Ia menghampiri pohon kelapa, berdiri dalam jarak dua meter, menekuk sedikit kedua lutut kakinya, mengerahkan tenaga saktinya lalu mendorong dengan kedua telapak tangan terbuka sambil membentak nyaring.
"Aji Margopati.......!"
Angin pukulan dahsyat menyambar ke arah batang pohon kelapa sebesar pinggang gadis itu.
"Wuuuttt....... kraaakkk....... bruuukkk.......!"
Pohon kelapa itu tumbang!
Kapten De Vos terbelalak dan mukanya berubah pucat.
Kalau tidak melihat sendiri, pasti dia tidak akan percaya bahwa ada orang apalagi ia seorang gadis jelita, mampu merobohkan dan menumbangkan sebatang pohon kelapa hanya dengan pukulan jarak jauh.
"Lastri, engkau telah sembuh!"
Seru Aji dengan girang sekali. Gadis itu telah mampu mempergunakan pukulan tenaga sakti, berarti ia telah sembuh sama sekali.
"Obat itu memang manjur sekali, semua racun terkuras keluar dari perutku. Saking lega dan girang, aku tadi sekalian mandi, segar sekali rasanya."
Kata Sulastri.
"Syukurlah! Kamu telah sembuh, ahhh....... aku girang sekali.......!"
De Vos berseru sambil berloncatan seperti hendak menari-nari karena hal itu akan berarti dia dibebaskan! Sulastri menoleh kepadanya dan alisnya berkerut.
"Jangan girang dulu, kumpeni jahat! Hendak kulihat apakah badanmu lebih kuat dari pada batang pohon kelapa itu?"
Tiba-tiba Sulastri sudah menghantamkan tangan kirinya yang terbuka dengan dorongan dahsyat ke arah orang Belanda itu.
"Haiiittt.......!"
"Plakk.......!!"
Sulastri terdorong ke belakang dan ia memandang kepada Aji dengan mata terbelalak.
"Kangmas Aji! Kenapa....... kenapa kau lakukan itu? Kenapa engkau menangkis pukulanku dan....... melindungi kumpeni musuh rakyat ini?"
"Tenanglah, Adi Sulastri. Aku tidak ingin melihat engkau menjadi seorang yang melanggar janji sendiri. Kita sudah berjanji bahwa kalau obat penawar itu berhasil menyembuhkanmu, kita akan membebaskan Kapten De Vos ini."
"Akan tetapi janji orang-orang seperti dia dan antek-anteknya itu, apakah dapat dipercaya?"
Sulastri membantah dengan penasaran, sementara itu De Vos memandang dengan sinar mata gelisah.
"Mereka memang tidak dapat dipercaya dan bukan orang-orang yang baik, akan tetapi kita tidak sama dengan mereka, bukan? Kita adalah orang-orang yang menjaga kebenaran dan keadilan, menjunjung tinggi kehormatan dan kegagahan. Kita tidak perlu meniru kecurangan mereka. Kita adalah orang-orang yang tidak akan melanggar janji sendiri, bukan?"
Sulastri menarik napas panjang.
"Sudahlah, aku takkan menang berdebat melawanmu. Bebaskan dia kalau engkau sudah memutuskan demikian."
Aji bernapas lega. Tadinya dia merasa khawatir kalau gadis yang keras hati itu akan memaksakan kehendaknya membunuh orang Belanda ini.
"Terima kasih, Lastri."
Kemudian dia berkata kepada De Vos.
"Tuan kapten, sekarang engkau boleh pergi. Aku membebaskanmu."
Kapten De Vos adalah seorang yang sejak mudanya perajurit dan pelaut.
Diapun seorang yang amat menghargai kegagahan dan dia merasa kagum sekali akan sikap dua orang muda yang dia anggap sebagai bangsa yang sederhana dan terbelakang itu, terutama sekali dia kagum melihat sikap Aji.
"Tuan Lindu Aji,"
Katanya dan nada suaranya mengandung hormat.
"Tidak akan menyesalkah tuan membebaskan saya? Ketahuilah bahwa kalau kelak kita saling berjumpa dalam sebuah pertempuran, saya tidak akan ragu-ragu untuk menembak kepala tuan dengan pistol saya."
Aji tersenyum.
"Itu sudah menjadi kewajibanmu, tuan. Akupun kalau bertemu denganmu dalam pertempuran, tidak akan ragu untuk membunuhmu."
"Mas Aji, kenapa susah-susah? Bunuh saja dia sekarang! Bukankah dia musuh kita?"
Kata Sulastri.
"Tidak, di antara dia dan kita tidak ada permusuhan pribadi, Lastri. Tuan kapten, ketahuilah, kami adalah satria-satria Mataram yang tahu akan harga diri dan kehormatan. Yang bermusuhan adalah antara kerajaan kita. Karena itu, dalam perang membela kerajaan masing-masing mungkin kita akan saling bunuh. Akan tetapi antara kita pribadi tidak ada permusuhan apapun Apa lagi kami sudah berjanji akan membebaskan setelah Sulastri sembuh oleh obat penawar itu. Pergilah, tuan, mudah-mudahan engkau akan menyadari bahwa kerajaan tuan dari seberang lautan yang jauh itu sedang mengganggu dan mengacau tanah air kami!"
Kapten De Vos tersenyum dan menggerakkan pundaknya sebagai tanda bahwa dia tidak berdaya dalam hal itu.
"Apa boleh buat, Tuan Aji, salah atau benar Belanda adalah kerajaanku yang harus kubela. Selamat tinggal!"
Dia lalu melangkah pergi dengan cepat menuju ke pantai di mana tadi Aji meninggalkan perahu kecil yang mereka naiki untuk mendarat.
Setelah Kapten De Vos pergi, Sulastri menghela napas, memandang Aji dan berkata.
"Mas Aji, siasat kita berjalan baik dan mulus seperti kita rencanakan. Untung sekali bahwa aku telah dapat disembuhkan. Akan tetapi hatiku merasa penasaran bukan main, bahkan sampai sekarang masih terasa panas dan tidak puas!"
"Wah, kenapa begitu, Lastri? Bukankah kita sepatutnya bersukur kepada Gusti Allah karena kita berdua dapat meloloskan diri dari tangan mereka dengan selamat?"
"Benar, kakangmas, akan tetapi hatiku merasa penasaran karena kita tidak dapat membasmi orang-orang yang menjadi antek Kumpeni itu. Aku merasa muak dan benci kepada mereka dan ingin sekali menumpas mereka! Terutama nenek tak tahu malu Maya Dewi itu!"
"Hal itu tidak mudah, Lastri. Kalau hanya Maya Dewi seorang, tentu tidak sukar kita mengalahkannya. Akan tetapi ia memiliki sekutu orang-orang yang sakti mandraguna seperti Ki Harya Baka Wulung, Aki Somad, laki-laki bangsawan tinggi kurus itu, dan kita tidak boleh memandang remeh orang yang tinggi besar, pandai berbahasa belanda yang disebut Ki Warga itu. Agaknya dia mempunyai kekuasaan dan pengaruh besar dan menjadi orang penting dari Kumpeni Belanda. Belum lagi di sana ada Kapten de Vos dan anak buahnya yang amat berbahaya dengan senjata api mereka. Setidaknya kita sekarang mengetahui siapa-siapa yang menjadi antek dan mata-mata Kumpeni."
"Hemm, kalau saja tadi aku membunuh Belanda itu, setidaknya akan tertebus rasa penasaranku."
"Sebaliknya, Lastri. Perasaan kita akan tertekan karena kita telah melanggar janji sendiri. sudahlah, mari kita cepat pergi dari sini. Aku yakin bahwa kalau Kapten De Vos suadah kembali ke kapalnya, mereka semua akan mencari kita di sini. mereka tidak ingin melepaskan kita begitu saja karena telah mengetahui semua rahasia mereka."
Dengan wajah membayangkan ketidak puasan hati, Sulastri mengikuti Aji meninggalkan tempat itu dengan cepat menuju ke arah barat, Karena mereka melakukan perjalanan cepat, mempergunakan ilmu berlari cepat, maka seandainya gerombolan antek Kumpeni melakukan pengejaran, tetap saja mereka tidak akan dapat menemukan dua orang muda perkasa itu.
Usaha penyerangan Sultan Agung dengan mengerahkan pasukan besar ke Batavia untuk pertama kalinya (tahun 1628) telah mengalami kegagalan besar.
Senopati Baureksa yang diserahi tugas memimpin pasukan penyerbuan itu gugur dalam perang, tertembak peluru meriam Belanda.
Banyak perwira Mataram gugur sehingga melemahkan semangat bertempur pasukan Mataram.
Selain itu, timbul pula gangguan yang teramat besar dan yang merupakan pukulan parah bagi pasukan Mataram yang mengepung Batavia, yaitu berjangkitnya penyakit malaria yang menewaskan banyak perajurit dan melemahkan sebagian besar dari mereka.
Ditambah lagi karena kekurangan pangan karena gudang-gudang ransum mereka dibakar habis oleh antek-antek Kumpeni Belanda.
Maka penyerbuan pertama itu gagal sama sekali.
Sultan Agung merasa kecewa, menyesal dan marah besar.
Saking marahnya melihat usaha penyerbuan itu gagal dan melihat pasukan Mataram pulang membawa kehancuran, Sultan Agung amat marah karena pasukannya tidak melawan terus sampai Batavia dapat dirobohkan.
Dia menganggap sebagian para perwira kurang semangat dan bersikap pengecut.
karena itu dia memerintahkan Tumenggung Suro Agul-agul untuk menghukum mati para pasukan pengikut yang melarikan diri.
Akan tetapi perintah itu disalah artikan oleh Tumenggung Suro Agul-agul.
Dia malah menangkap Adipati Mandureja dan Kyai Adipati Upasanta, lalu menghukum mati dua orang senopati (Lanjut ke
Jilid 16) Alap Alap laut Kidul (Seri ke 03 Pecut Sakti Bajrakirana) Karya . Asmaraman S. Kho Ping Hoo
Jilid 16 ini.
Hal itu tentu saja menggegerkan di kalangan pamong praja.
apa lagi mengingat bahwa kedua orang senopati yang dihukum mati itu adalah cucu-cucu keturunan mendiang Ki Patih Mandaraka yang termasyhur, yang menjadi pembantu utama mendiang Sang Prabu Panembahan Senopati.
Ketika Sultan Agung mendengar akan kekeliruan hukuman ini, dia menjadi semakin sedih dan marah.
"Semua pimpinan penyerangan ke Batavia yang gagal itu ikut bertanggung jawab, bukan hanya kedua orang senopati itu!"
Katanya dan Sultan Agung lalu menjatuhkan hukuman mati kepada Tumenggung Suro Agul-agul dan banyak bangsawan yang dianggap gagal memimpin penyerbuan itu.
Peristiwa yang amat menyedihkan ini, kegagalan penyerbuan ke Batavia, kehancuran pasukan dan banyaknya korban yang gugur dalam perang atau terserang penyakit, lalu banyaknya bangsawan yang dihukum mati, medatangkan kegelisahan di antara para menteri, senopati, para panglima dan perwira.
Akan tetapi, kegagalan besar itu sama sekali tidak membuat jera hati Sultan Agung yang amat membenci sepak terjang Kumpeni Belanda yang semakin meluaskan kekuasaannya secara licik, mula-mula melalui perdagangan, lalu perlahan-lahan memperluas bumi Nusantara yang dicengkeramnya.
Sultan Agung membuat persiapan lagi untuk melakukan penyerangan kedua yang lebih besar.
Untuk itu, dia mengangkat Tumenggung Singoranu yang tua sebagai senopati yang akan memimpin penyerbuan, memerintahkan Tumenggung Singoranu untuk melatih dan memperkokoh barisan Mataram, mengundang para pemuda yang perkasa untuk menjadi perajurit.
Juga Sultan Agung menyerahkan kepada Senopati Suroantani untuk memimpin mempersiapkan penyerbuan dengan cara menyebar banyak telik sandi (mata-mata) ke kadipaten-kadipaten sampai menyusup ke Batavia, untuk menyelidiki siapa-siapa yang akan menjadi lawan dan siapa menjadi kawan, serta sampai di mana ketahanan dan kekuatan pihak Kumpeni Belanda.
Setelah berhasil melepaskan diri dari cengkeraman para antek kumpeni yang dipimpin Nyi Maya Dewi, Aji lalu mengajak Sulastri untuk pergi ke Kadipaten Cirebon.
dari Senopati Suroantani Aji sudah mendengar bahwa Adipati di Cirebon dapat dipercaya dukungannya terhadap Mataram.
Mereka lalu mohon menghadap dan setelah Aji memperlihatkan Keris Pusaka Nogo Welang hadiah yang juga merupakan tanda kekuasaan dari Sultan Agung, Sang Adipati Cirebon menerima kunjungan Aji dengan hormat.
Setelah memberi hormat dan kedua orang muda itu dipersilahkan duduk oleh Sang Adipati, Aji lalu berkata dengan hormat.
"Gusti Pangeran, hamba mohon beribu ampun karena sudah berani mengganggu ketenangan paduka dan berani menghadap tanpa dipanggil. Hamba menerima perintah Gusti Sultan Agung, diperbantukan kepada Paman Senopati Suroantani, dan dalam tugas ini hamba diberi sebutan Alap-alap Lauit Kidul. Gadis ini adalah seorang sahabat hamba yang telah membantu pekerjaan dan tugas hamba, namanya Sulastri."
Adipati Cirebon adalah seorang pria yang sudah tua namun tubuhnya masih tampak sehat dan kuat.
Dalam usianya yang sudah enam puluh lima tahun itu masih tampak penuh semangat.
matanya yang tajam mengamati wajah Lindu Aji dan sulastri dan dia tampak puas dengan apa yang dilihatnya.
Raja ini disebut Pangeran Ratu dan dia adalah cicit dari Sunan Gunung Jati yang pernah menjadi penguasa di Cirebon dan amat terkenal sebagai tokoh yang mengembangkan Agama Islam di Cirebon.
Sang Adipati mengangguk-angguk.
"Kami telah melihat pusaka yang merupakan hadiah penghargaan dari Sultan Agung dan kami percaya kepadamu, orang muda. Sebutanmu Alap-alap Laut Kidul? Andika pantas menyandang sebutan itu, akan tetapi siapakah nama andika yang sebenarnya? Ataukah nama itu dirahasiakan?"
"Hamba tentu saja tidak merahasiakan terhadap paduka kalau memang paduka berkenan ingin mengetahui. Nama hamba adalah Lindu Aji."
"Lindu Aji? Wah, nama yang bagus sekali! Nah, sekarang katakanlah kepada kami, kepentingan apa yang membawa andika menghadap?"
"Hamba hendak melaporkan bahwa keadaan di Kadipaten Tegal cukup mencurigakan, Gusti Pangeran. Di sana hamba berdua telah ditawan oleh segerombolan orang-orang yang menjadi kaki tangan Kumpeni Belanda. Beruntung sekali Gusti Allah masih melindungi hamba berdua sehingga hamba dapat membebaskan diri hamba dan hamba segera menghadap paduka untuk menceritakan hal ini karena siapa tahu mereka itu akan mengadakan kekacauan di daerah paduka."
Adipati itu mengerutkan alisnya dan berseru.
"Alhamdulillah bahwa kalian telah dapat melepaskan diri dari cengkeraman mereka. apa yang terjadi dan siapa mereka yang menjadi antek Kumpeni Belanda itu?"
Aji lalu menceritakan pengalamannya bersama Sulastri ketika bentrok dengan Nyi Maya Dewi dan kawan-kawannya sampai mereka berdua tertawan dan dibawa ke kapal Belanda, dihadapkan kepada Kapten De Vos sampai akhirnya mereka berdua mempergunakan siasat dan dapat membebaskan diri dari cengkeraman mereka.
Sang Adipati mendengarkan dengan penuh perhatian.
setelah Aji mengakhiri ceritanya dia bertanya.
"Coba andika sebutkan lagi satu demi satu nama mereka yang menjadi antek Kumpeni Belanda."
Aji menjawab dengan jelas.
"Mereka adalah Ki Warga yang tinggal di Tegal dan agaknya dia orang penting dari Kumpeni. Kemudian Nyi Maya Dewi, Ki Harya Baka Wulung, Aki Somad pertapa di Nusakambangan. Ki Harya Baka Wulung itu seorang tokoh besar dari Madura, dan seorang laki-laki berpakaian seperti bangsawan yang disebut Raden oleh Maya Dewi akan tetapi hamba tidak mengetahui namanya."
Sang adipati mengangguk-angguk.
"Hemm, kami mengenal nama-nama itu. Bukan nama yang asing. Akan tetapi baru sekarang kami yakin dari ceritamu bahwa mereka benar-benar telah merendahkan diri menjadi antek Kumpeni Belanda. Ki Harya Baka Wulung setahu kami adalah seorang tokoh besar dan pahlawan Madura yang dahulu membela Madura mati-matian dari serbuan Mataram. Kenapa dia mau merendahkan diri menjadi antek Belanda, pada hal orang-orang Madura pada umumnya tidak suka kepada Belanda? Hemm, kukira dia hendak membalas dendam kepada Mataram dengan jalan membonceng kekuatan Kumpeni. Dan Nyi Maya Dewi? Kami mengenal wanita cantik sebagai puteri mendiang Resi Koloyitmo, seorang datuk sesat yang amat terkenal dari Parahyangan dan karena kejahatannya bahkan menjadi buronan Kerajaan Pajajaran. Kabarnya puterinya itu juga menjadi seorang gadis yang sakti mandraguna namun sesat seperti bapaknya, akan tetapi sungguh tidak disangka-sangka bahwa iapun begitu jauh tersesat untuk mengabdi kepada Bangsa Belanda memusuhi bangsa sendiri dan mengkhianati tanah airnya. Dan tentang Aki Somad? Wah, kami pernah juga mendengar nama tokoh dari Nusakambangan ini. Namanya juga tak dapat dibilang bersih. Kabarnya dia menjadi datuknya para bajak laut dan perampok di daerah Cilacap dan Banyumas. Akan tetapi juga sungguh mengejutkan kalau kini dia begitu merendahkan diri untuk menjadi antek Kumpeni Belanda. Adapun tentang Ki Warga, dia itu seorang yang aneh. Ada berita bahwa dia memang orang kepercayaan Adipati Tegal dan dialah orangnya yang menjadi perantara dalam semua urusan dengan pihak Kumpeni Belanda. Masih diragukan apakah dia itu antek Belanda ataukah sebetulnya dia alat Kadipaten Tegal untuk menyelidiki keadaan demi keuntungan Kadipaten Tegal yang sebetulnya tidak memperlihatkan tanda-tanda menentang Mataram, akan tetapi juga tidak berkeras menolak kehadiran kapal Kumpeni di pantainya. Bagaimanapun juga, berita yang andika sampaikan kepada kami ini amat penting sehingga kami dapat bersiap-siap dan waspada tehadap segala kemungkinan buruk."
"Hal ini sudah menjadi tugas kewajiban hamba, gusti. Paman Senopati Suroantani memang memesan kepada hamba untuk menceritakan semua hal yang menyangkut gerakan Kumpeni Belanda melalui para mata-matanya kepada para kadipaten yang menjadi sekutu Mataram termasuk Kadipaten Cirebon. Karena itu, hamba mengharap paduka sudi mengirim utusan untuk mengabarkan semua ini kepada Paman Senopati Suroantani di Mataram."
"Jangan khawatir. Kami akan mengabarkan semua kepada Senopati Suroantani di Mataram. dan andika, Nini Sulastri, andika, telah dapat membantu anakmas Lindu Aji. Agaknya andika juga seorang gadis yang memiliki aji kesaktian, nini. Apakah andika tunggal guru dengan anakmas Lindu Aji?"
"Hamba bukan saudara seperguruan Kakangmas Aji, gusti. Guru hamba adalah Ki Ageng Pasisiran yang tinggal menyepi di daerah pantai Dermayu."
"Hemm, Ki Ageng Pasisiran? Kami pernah mendengar akan adanya seorang pertapa yang tua renta di pantai Dermayu itu. Akan tetapi tidak pernah terdengar dia membuka perguruan pencak silat. Kiranya andika seorang wanita yang masih muda menjadi muridnya. Hebat sekali! Dari mana andika berasal, Nini Sulastri dan siapakah orang tuamu?"
"Orang tua hamba tinggal di Dermayu, ayah hamba bernama Ki Subali."
"Ah, apakah bukan Ki Subali, sasterawan yang juga pandai menjadi dalang itu?"
"Benar dia, gusti."
"Bagus! Kami mengenal Ki Subali. Pernah kami mengundang dia mendalang di kadipaten. Kalau begitu, nini, andika adalah orang sendiri yang dapat kami percaya. Dan andika anak mas Lindu Aji, siapakah guru andika?"
"Guru hamba adalah mendiang Eyang Tejobudi, gusti."
"Mendiang Ki Tejobudi? Dia sudah meninggal dunia? Ah, belasan tahun yang lalu dia pernah menjadi tamu kami dan kami bersahabat baik! Bagus, sungguh kebetulan sekali. Agaknya memang Gusti Allah yang mengirim kalian ke sini untuk membantu kami. Anakmas Lindu Aji dan Nini Sulastri, kami membutuhkan pertolongan kalian dan kami harap kalian tidak berkeberatan untuk menyingkirkan duri yang mengganggu ketenteraman kadipaten kami."
"Tentu saja hamba berdua siap untuk membantu, gusti. apakah yang dapat hamba lakukan untuk Kadipaten Cirebon?"
Tanya Aji.
"Begini, anakmas. Sudah ada kurang lebih dua bulan ini daerah pinggiran kadipaten kami di sekitar Gunung Cireme, diganggu ketenteramannya oleh gerombolan yang mengacau dan melakukan perampokan dan penganiayaan. Bahkan mereka itu berani merampok sampai ke Majalengka dan Leuwimunding. Gerombolan itu memakai nama Munding Hideung dan memiliki pimpinan terdiri dari orang-orang yang digdaya. Beberapa kali kami mengirim pasukan untuk menumpasnya, namun sejauh ini belum berhasil bahkan kami kehilangan banyak perwira yang tewas ketika terjadi pertempurang. Gerombolan Munding Hideung itu bersarang di gunung Cireme. nah, mengingat bahwa andika berdua adalah murid-murid tokoh sakti mandraguna dan juga merupakan orang kepercayaan sultan agung, kami harap andika berdua menolong kami. Hancurkan gerombolan itu dan tangkap hidup atau mati, para pimpinan Munding Hideung. Kami akan menyediakan pasukan yang kalian butuhkan."
Aji menoleh kepada Sulastri dan kebetulan gadis itupun sedang menoleh kepadanya sehingga mereka bertemu pandang sejenak.
Namun pertautan pandang mata mereka yang sejenak itu sudah cukup untuk dapat saling mengerti perasaan masing-masing.
mereka setuju untuk membantu Kadipaten Cirebon.
Maka, tanpa ragu-ragu lagi Aji lalu berkata dengan sembah.
"Hamba berdua siap untuk membantu dan melaksanakan perintah paduka, gusti pangeran."
Adipati itu tampak gembira sekali.
"Bagus! Terima kasih, anakmas Lindu Aji dan Nini sulastri. lalu, berapa banyak perajurit yang kalian butuhkan?"
"Hamba berdua tidak akan membewa pasukan, gusti. Kalau membawa pasukan, tentu akan mudah ketahuan dan gerombolan itu dapat bersiap-siap, bersembunyi atau bahkan menjebak kami. Kami akan melakukan penyelidikan berdua saja dan akan berusaha untuk menangkap pemimpin gerombolan itu. Hamba kira kalau pemimpinnya sudah dapat ditangkap, para anak buahnya tidak akan merajalela lagi dan mudah untuk dibasmi."
"Berdua saja? Apakah tidak berbahaya? Nini Sulastri, bagaimana pendapat andika?"
"Pendapat hamba sama dengan pendapat Kakangmas Aji, gusti. Dengan bekerja berdua saja, kami akan lebih mudah menyusup ke sarang mereka dan lebih leluasa bergerak."
Sang adipati mengangguk-angguk.
"Hebat! Kami kagum akan keberanian dan semangat kalian orang-orang muda. Mengingatkan kami puluhan tahun yang lalu ketika kami masih muda. Ahh, petualangan-petualangan seperti inilah yang membangkitkan semangat dan gairah hidup. Menghadapi bahaya, rintangan, ancaman, dan tantangan dan berhasil mengatasi semua itu. Alangkah indahnya! Kalau begitu, katakan, apa saja yang kalian perlukan untuk bekal pelaksanaan tugasmu yang berat ini dan kami pasti akan mengadakannya untuk kalian."
"Hamba menghaturkan banyak terima kasih. gusti pangeran. Akan tetapi sesungguhnya, hamba berdua tidak membutuhkan apapun."
Kata Sulastri.
"Benar, gusti Pangeran. Hamba berdua hanya membutuhkan doa restu paduka."
Sambung Aji dengan suara sungguh-sungguh. Sang Adipati mengangguk-angguk sambil tersenyum.
"Tentu, tentu sekali. kami akan selalu berdoa semoga Gusti Allah melindungi andika berdua dan akan membimbing andika sehingga tugas berat ini dapat andika laksanakan dengan berhasil baik. Nah, kalau begitu berangkatlah sekarang juga. Kasihan rakyat kami di pinggiran kalau kekacauan ini dibiarkan berlarut-larut."
"Sendika, kami nyuwun pangestu, gusti."
Kata Aji dan Sulastri sambil menyembah.
sang adipati melambaikan tangan dan keduanya lalu keluar dari ruangan paseban.
Akan tetapi begitu mereka tiba di pintu gerbang kadipaten, dua orang perajurit yang menuntun dua ekor kuda menghadang mereka dan memberi hormat lalu berkata.
"Kami diperintahkan Gusti Pangeran Ratu untuk menyerahkan dua ekor kuda ini kepada andika berdua."
Aji saling pandang dengan Sulastri dan kedua orang muda ini tertawa senang.
Jalan pikiran mereka sejalan.
Kalau bicara tentang kebutuhan mereka pada saat itu, yang mereka butuhkan memang dua ekor kuda sehingga mereka dapat melakukan perjalanan menuju pegunungan Careme dengan cepat.
Mereka mengucapkan terima kasih, mencengklak kuda masing-masing dan melarikan kuda keluar dari Kadipaten Cirebon.
Menjelang senja tibalah mereka di sebuah dusun yang berada di kaki gunung Careme, yaitu dusun kecil yang disebut Dusun Kapayun.
Karena di dusun sekecil itu tidak terdapat warung makan maupun penginapan, Aji dan Sulastri lalu langsung mencari rumah pamong dusun atau kepala dusun itu.
Semua orang menunjuk ke sebuah rumah yang lebih besar dari pada sekitar tiga puluh rumah yang berada di dusun itu.
Ki Sajali, pria berusia lima puluh tahun yang bertubuh tinggi kurus berkumis panjang yang menjadi pamong dusun Kapayun, menyambut dua orang muda itu dengan sinar mata penuh curiga.
Sinar matanya memandang penuh selidik kepada dua orang muda yang sedang menambatkan kuda mereka di sebatang pohon di pekarangan rumahnya.
Stelah menambatkan kuda, Aji dan Sulastri melangkah menuju ke pendapa dan disambut oleh laki-laki yang tinggi kurus itu.
Aji membungkuk dengan hormat lalu bertanya.
"Maafkan kami, paman. Kami hendak bertemu dengan Paman Sajali yang menjadi pamong dusun ini."
"Hemm, andika siapakah dan ada keperluan apakah hendak bertemu dengan pamong dusun?"
Mendengar pertanyaan yang dilakukan dengan sikap kasar dan galak itu, Sulastri tak sabar lagi dan menjawab dengan galak pula.
"Kami adalah orang-orang kepercayaan dan utusan Gusti Pangeran Ratu di Cirebon untuk membasmi gerombolan yang dipimpin Munding Hideung!"
Orang itu tampak terkejut, matanya terbelalak dan sikapnya berubah hormat.
"Ah, kiranya andika berdua adalah utusan Gusti Pangeran Ratu? Mohon maaf atas sikap saya tadi, denmas dan denroro! Saya adalah Ki Sajali, pamong dusun ini."
Melihat Ki Sajali bersikap hormat, Aji segera berkata dengan lembut pula.
Bagaimanapun juga, dia dan Sulastri membutuhkan bantuan kepala dusun itu untuk diberi makan malam dan tempat peristirahatan malam itu.
"Maaf, Paman Sajali. Sesungguhnya bahwa kami berdua adalah utusan Gusti Pangeran Ratu yang mengemban tugas membasmi gerombolan pimpinan Munding Hideung yang mengganas di sekitar Gunung Careme. Karena kami kemalaman di sini, maka saya mohon paman suka menampung kami untuk semalam ini. Saya bernama Aji dan nona ini adalah Sulastri."
"Ah, silakan, silakan, denmas aji dan denroro Sulastri! Saya merasa girang dan mendapat kehormatan besar sekali andika berdua sudi bermalam di sini. mari silakan masuk, barangkali andika berdua ingin mandi-mandi dan mengaso dulu. Saya akan menyuruh orang mempersiapkan makan malam."
"Wah, tidak usah terlalu merepotkan paman."
Kata Aji agak rikuh.
"Tidak, sama sekali tidak repot, den mas!"
Kepala dusun itu melangkah masuk diikuti dua orang muda itu.
Mereka mendapatkan dua buah kamar dan dengan ramah Ki Sajali mempersilakan mereka untuk mandi di kamar yang berada di belakang, lalu meninggalkan mereka untuk mempersiapkan makan malam.
Aji dan Sulastri memasuki kamar masing-masing.
Kamar yang kecil sederhana, namun cukup lumayan untuk melewatkan malam itu karena di situ terdapat sebuah amben (dipan) yang bertilamkan tikar yang cukup bersih.
Aji bersikap hati-hati dan mereka mandi bergantian untuk dapat melakukan penjagaan atas barang-barang yang mereka tinggalkan dalam kamar.
Setelah selesai mandi dan bertukar pakaian, mereka keluar dari kamar, meninggalkan buntalan pakaian mereka kecuali senjata mereka yang mereka bawa.
Sulastri menggantungkan pedang Nogo Wilis di punggung sedangkan Aji menyelipkan Keris Nogo Welang di ikat pinggangnya.
Mereka bertemu di luar kamar dan Sulastri berbisik.
"Mas Aji, engkau melihat sesuatu yang aneh?"
"Di rumah ini?"
"Di rumah ini dan di dusun ini."
"Hemm, sikap Ki Sajali itu cukup mencurigakan. Tadinya dia bersikap angkuh, keras dan curiga, kemudian setelah dia tahu siapa kita, sikapnya berubah dan berlebihan, bahkan menjilat. Sikap seperti itu biasanya menyembunyikan niat tertentu yang tidak baik."
"Aku melihat yang lebih aneh lagi."
"Apa itu Lastri?"
"Apakah engkau tidak melihat di waktu pergi ke belakang untuk mandi tadi? Di rumah ini tidak tampak ada wanitanya. Semuanya laki-laki, bahkan aku melihat kesibukan di dapur juga dilakukan laki-laki dan mereka semua masih muda dan kelihatan kasar."
"Ah, aku ingat sekarang. Pantas ketika aku memasuki dusun dan bertanya-tanya tentang kepala dusun, aku merasa ada sesuatu yang kurang di dusun ini, yaitu tidak tampak adanya wanita dan kanak-kanan di dusun ini."
"Benar, bahkan tidak ada laki-laki tua. Semua laki-laki muda yang kelihatan kasar. Inilah yang kuanggap aneh dan tidak wajar."
Kata Sulastri. Aji mengangguk-angguk. Diam-diam dia merasa girang bahwa perjalanannya ditemani seorang gadis seperti Sulastri yang ternyata selain digdaya, juga cerdik dan waspada.
"Kita sudah mengerti dan menaruh curiga, ini baik, Lastri. Akan tetapi kita besikap tidak tahu saja dan diam-diam waspada menjaga segala kemungkinan. Kalau kita diajak makan malam nanti, kau harus berhati-hati dan jangan menyentuh suatu hidangan sebelum tuan rumah mengambil dan memakannya lebih dulu."
"Bagaimana kalau mereka menghidangkan minuman?"
"Sama saja, jangan diminum. Kita lihat saja nanti perkembangannya."
"Engkau khawatir kalau mereka menggunakan racun, Mas Aji?"
"Orang-orang jahat tidak pantang menggunakan cara-cara yang licik dan jahat. Kita sudah mengalaminya sendiri ketika tertawan komplotan para antek Kumpeni Belanda itu. Karena kita tidak mengenal benar Ki Sajali dan keadaan di sini mencurigakan, maka kita harus berhati-hati."
Sulastri mengangguk-angguk, lalu berbisik.
"Sstt, dia datang."
Ki Sajali yang kini sudah pula berganti pakaian menghampiri mereka.
"Denmas dan denroro sudah mandi? Ah, kenapa andika berdua membawa-bawa senjata pusaka? Saya hanya ingin mengundang andika berdua untuk makan malam!"
Aji cepat menjawab.
"Paman, kami adalah pengemban-pengemban tugas penting yang selalu menhadapi bahaya dimanapun kami berada. Oleh karena itu, terpaksa kami selalu membawa pusaka untuk melindungi diri kami."
"Akan tetapi di sini andika berdua aman! Marilah, kita makan dulu sebelum beitirahat. Akan tetapi di dusun ini kami tidak dapat menyuguhkan makanan yang pantas untuk andika berdua."
"Ah, sambutan paman ini saja sudah cukup menyenangkan hati kami dan kami berterima kasih sekali."
Kata Aji dan bersama Sulastri dia mengikuti tuan rumah itu menuju ke ruangan makan yang berada di bagian kiri rumah.
Ketika mereka memasuki ruangan yang diterangi tiga lampu gantung yang cukup besar itu, mereka melihat di ruangan yang luas itu sebuah meja besar yang penuh dengan masakan sayur-sayuran dan daging ayam dan kambing!
Cukup mewah bagi suguhan di dusun yang kecil dan sunyi itu.
Juga masakan-masakan itu masih mengepulkan uap, tanda bahwa masakan itu masih hangat.
Nasinya dalam bakul juga putih dan masih hangat.
Dua orang muda itu dipersilahkan duduk bersanding, berhadapan dengan tuan rumah terhalang meja yang penuh hidangan itu.
Agaknya memang sudah diatur.
Di depan mereka terdapat dua gelas minuman air teh.
Akan tetapi di depan Ki Sajali tidak tersedia gelas terisi minuman teh, melainkan terdapat sebuah kendi besar hitam mengkilap.
"Mari denmas, denroro, silakan makan seadanya!"
Ki Sajali mempersilakan dua orang tamunya.
Aji dan Sulastri melihat ada dua orang laki-laki muda bertubuh tinggi besar di dekat dinding, sikapnya seperti pelayan-pelayan yang siap menanti perintah.
Sulastri melirik ke arah Aji.
Gadis ini bersikap hati-hati, tidak mau sembarangan mengambil makanan.
Ia hendak menanti apa yang akan diperbuat kawannya itu.
"silakan paman mengambil lebih dulu,"
Kata Aji dengan sikap menghormati tuan rumah yang lebih tua. Ki Sajali tersenyum.
"Harap andika berdua tidak malu-malu,"
Katanya dan diapun mulai mengambil nasi di atas piringnya.
Aji dan Sulastri diam-diam mengusap piring kosong mereka dengan jari tangan untuk merasa yakin bahwa piring mereka itu bersih dari olesan atau taburan racun.
Juga mereka mempergunakan ketajaman penciuman mereka.
Piring mereka bersih.
Merekapun baru berani mengambil nasi seperti yang dilakukan tuan rumah dan sengaja menyendok nasi di bekas yang disendok tuan rumah.
Demikian pula cara mereka mengambil masakan.
Selalu mengambil sayuran atau daging yang lebih dulu diambil tuan rumah.
Bahkan ketika mereka mulai makanpun, mereka selalu menyentuh dan makan hidangan setelah melihat tuan rumah memakannya.
sikap hati-hati mereka itu agaknya tidak diketahui Ki Sajali dan mungkin dia menganggap kecanggungan dua orang tamu mudanya itu karena rikuh dan malu-malu.
Setelah selesai makan, Ki Sajali mempersilakan dua orang tamunya untuk minum air teh mereka.
Dia sendiri minum dari kendi dengan mengucurkan air dari mulut kendi yang langsung diterima mulutnya yang ternganga.
Melihat ini, Aji mengedipkan mata kepada Sulastri dan mengerling ke arah kendi yang dipergunakan tuan rumah untuk minum.
Sulastri mengangguk.
Ki Sajali menurunkan kendinya ke atas meja.
Melihat dua orang tamunya belum minum air teh mereka, dia kembali mempersilakan.
"Mari, silakan minum air tehnya, denmas dan denroro, selagi masih hangat."
Aji tersenyum dan berkata.
"Paman Sajali, melihat paman minum air kendi itu kelihatannya segar sekali dan membuat saya ingin sekali minum air kendi itu pula!"
Dia menuding ke arah kendi besar itu.
"Aku juga demikian! Kelihatan sejuk dan segar sekali!"
Kata Sulastri sambil memandang kendi besar itu penuh gairah.
"Ah, begitukah? Silakan!"
Kata Ki Sajali.
Aji mengambil kendi itu dan menyerahkannya kepada Sulastri.
Karena dia yakin bahwa minum air kendi itu tentu aman, seperti telaj dilakukan oleh Ki sajali, maka dia membiarkan Sulastri minum lebih dulu.
Tanpa ragu lagi Sulastri mengangkat kendi, mengucurkan air dari mulut kendi ke mulutnya yang dibuka sedikit tidak seperti Ki Sajali tadi yang mulutnya dingangakan lebar.
Setelah minum beberapa teguk air kendi, Sulastri bangkit dari duduknya, meletakkan kendi ke atas meja, lalu ia memegangi perutnya dan terhuyung, menabrak kursi yang tadi didudukinya sehingga kursi itu terpelanting.
"Lastri.......!"
Aji cepat bangkit dan memegang lengan gadis itu untuk menjaganya agar jangan sampai jatuh.
Dia lalu menarik gadis itu dan didudukkan di kursinya sendiri.
Sulastri terkulai, kepalanya di atas meja dan kedua tangannya menekan-nekan perutnya.
"Aduh..... perutku..... di ulu hati..... nyeri dan perih..... panas.....!"
Aji menendang kursi yang menghalanginya dan dia sudah melompati meja, tiba di dekat Ki Sajali dan memegang pergelangan tangan orang itu.
Seketika dia tahu apa yang terjadi.
Air kendi itu dicampuri racun!
Kalau tadi Ki Sajali dapat minum dan tidak keracunan, tentu dia telah menelan obat penawarnya.
"Engkau menaruh racun dalam air kendi itu!"
Bentak Aji sambil mencengkeram pergelangan tangan Ki Sajali dengan kuatnya.
"Cepat keluarkan obat penawarnya!"
Akan tetapi tiba-tiba Ki Sajali bangkit dan tangan kanannya bergerak memukul ke arah kepala Aji.
Angin yang berdesir menunjukkan bahwa orang tinggi kurus ini memiliki tenaga yang hebat juga!
Dan pada saat itu, dua orang laki-laki muda yang tadi berdiri dekat dinding dan bersikap sebagai pelayan, telah berlompatan mendekat sambil memegang pisau belati dan langsung menyerang Aji!
Melihat gerakan mereka, jelas bahwa dua orang inipun bukan orang-orang lemah.
Melihat serangan Ki Sajali, Aji menangkis dengan tangan kirinya lalu mendorong dada Ki Sajali sehingga laki-laki setengah tua itu terjengkang dan jatuh terguling.
Pada saat itu, serangan dua orang yang bersenjata pisau belati menyambar.
Aji mengelak dengan loncatan ke kiri, kemudian sebelum dua orang itu sempat menyerang lagi, dari samping dia mengayun kedua tangannya menampar.
"Plak-plakk!"
Dua orang itu terpelanting roboh.
Ketika mereka bergerak untuk bangkit, Aji mengayun kakinya dua kali menendang, mengenai tangan mereka yang memegang pisau.
Dua orang muda itu berseru kesakitan dan pisau belati mereka terlepas dari pegangan, terlempar jauh.
Mereka agaknya maklum bahwa yang mereka hadapi adalah orang yang sakti, maka cepat mereka merangkak dan melarikan diri.
Aji melihat Ki Sajali juga sudah bangkit dan melarikan diri.
Cepat dia melompat dan berhasil menangkap tengkuk orang itu, menekan sehingga tubuh Ki Sajali terpaksa berjongkok.
Dengan tangannya yang terisi tenaga sakti, Aji menekan tengkuk itu.
"Aduhhh....... aduhhh.......!"
Ki Sajali mengeluh kesakitan, merasa tengkuknya seperti dijepit catut baja yang amat kuat.
"Cepat berikan obat penawar itu!"
Bentak Aji lagi dan memperkuat cengkeraman tangannya pada tengkuk itu.
"Aduhhhh..... baik..... baik..... akan tetapi..... lepaskan..... ,"
Keluh Ki Sajali yang wajahnya menjadi pucat sekali saking nyerinya.
Aji melepaskan cengkeramannya dan Ki Sajali bangkit berdiri, kedua tangan memegangi leher dan menjatuhkan diri duduk di atas kursi, terengah-engah.
Lalu tangannya meraba-raba ikat pingang dan dia mengeluarkan sebuah botol kecil berisi cairan putih, lalu menyerahkan botol kecil itu kepada Aji.
"Cara menggunakannya?"
Tanya Aji.
"Minumkan semua dan ia akan sembuh."
"Awas, kalau engkau membohongiku, engkau akan dihukum seberat-beratnya."
Kata Aji dan diapun cepat menghampiri Sulastri yang masih duduk dan menyandarkan kepalanya menelungkup di atas meja, berbantal lengan.
Ia tampak pucat dan lemah, napasnya agak terengah.
Pada saat ia duduk di atas kursi mendekati Sulastri, dia mendengar gerakan dibelakangnya.
Cepat dia menoleh dan melihat Ki Sajali membuat gerakan melarikan diri.
Disambarnya kendi yang berada di atas meja dan sekali menggerakkan tangan, kendi itu telah dilontarkan ke arah Ki Sajali yang melarikan diri.
"Wuuuttt....... prakkkk!"
Kendi itu menghantam kepala Ki Sajali dan pecah berantakan.
Air kendi muncrat dan tubuh Kim Sajali terpelanting roboh.
Dia mengaduh dan merintih sambil berusaha untuk bangkit.
Dengan beberapa langkah Aji sudah mendekatinya.
"Manusia jahat, engkau hendak melarikan diri? Tunggu, engkau tidak boleh pergi ke manapun juga sebelum Sulastri sembuh dari keracunan. Engkau harus bertanggung jawab. Benarkah obat ini akan dapat mentembuhkannya? Jawab yang benar atau terpaksa aku akan menyakitimu!"
Aji mencengkeram lengan kanan Ki Sajali sedemikian kuatnya sehingga orang itu merasa tulang lengannya seperti remuk.
"Aduh..... ampuuun..... obat..... obat itu akan menyembuhkannya....."
Dia meratap.
Aji cepat melepaskan lengannya dan kembali menghampiri Sulastri.
Kini dia merasa yakin bahwa Ki Sajali pasti tidak akan berani berbohong setelah dapat hajaran keras itu.
Dia membantu Sulastri, menengadahkan kepalanya dan membuka mulut gadis itu dengan tangan kirinya.
Sulastri tidak pingsan, akan tetapi lemas dan pening.
Akan tetapi ia masih menyadari bahwa Aji yang berusaha menolongnya, maka ia menurut saja ketika kepalanya didongakkan dan mulutnya dibuka.
Iapun menelan saja ketika isi botol itu dimasukkan ke dalam mulutnya.
Tak lama kemudian, Sulastri membungkuk dan muntah-muntah.
Semua makanan dan juga air yang mengandung racun tadi ikut tumpah keluar semua dari dalam perutnya.
Aji membantunya dan memijit-mijit tengkuknya, mengurut punggungnya sampai semua isi perutnya dimuntahkan.
Tubuh gadis itu penuh keringat.
Akan tetapi setelah muntah-muntah, peningnya hilang, ulu hatinya tidak nyeri lagi dan ia merasa ringan dan lemas.
Aji menggandengnya dan didudukkan di kursi yang agak jauh dari meja itu.
Sulastri duduk dan mengusap keringat dari dahinya.
"Bagaimana rasanya, Lastri?"
Gadis itu tersenyum!
"Rasanya sudah sembuh, Mas Aji.
tidak penting lagi, tidak nyeri lagi perutku, racun itu pasti telah keluar semua.
Aku hanya merasa lemas.....
eh, mana dia manusia jahanam itu?
Aku harus membunuhnya!
Dia meracuni aku, keparat!"
Sulastri bangkit dengan cepat, akan tetapi karena tubuhnya terasa lemas, ia terhuyung dan cepat dirangkul Aji dan dibantunya lagi duduk.
Aji menengok ke arah di mana tadi ki Sajali berada, akan tetapi orang itu ternyata telah pergi.
Agaknya Ki Sajali menggunakan waktu selagi dia menolong Sulastri tadi, diam-diam dia melarikan diri dari rumah itu.
"Hemm, keparat itu telah melarikan diri."
Kata Aji.
"Kejar dia, Mas Aji. kejar dan tangkap. orang itu harus dipaksa mengaku siapa yang berada di belakangnya dan dia harus dibunuh!"
Suara Sulastri masih lantang galak walaupun tubuhnya masih lemas.
"Percuma, Lastri. Dia sudah melarikan diri keluar dari rumah ini. Tentu akan sukar menemukannya di tempat gelap. Pula, aku tidak mau meninggalkanmu seorang diri di sini selagi engkau masih dalam keadaan lemah seperti ini. Mari, engkau harus beristirahat di kamarmu itu. aku akan mencari beras dan membuatkan bubur untukmu. Engkau lemas karena perutmu kosong sama sekali."
Aji membantu Sulastri bangkit berdiri lalu memapahnya ke dalam, mengantarnya masuk ke dalam kamar yang disediakan untuknya.
Untung bahwa di kamar itu, juga di ruangan lain dalam rumah itu, dipasangi lampu-lampu yang cukup terang.
Setelah Sulastri merebahkan tubuhnya, Aji mengeluarkan sehelai kain dari buntalan pakaian gadis itu lau menyelimutinya.
Dia menepuk-nepuk pundak Sulastri dan berkata.
"Kasihan sekali engkau, Lastri. Dua kali berturut-turut engkau diracuni orang sehingga keselamatan dirimu terancam maut dan engkau menderita sekali."
Sulastri menyentuh tangan Aji yang menepuk-nepuk pundaknya dan ia tersenyum.
"Dan untuk kedua kalinya pula engkau yang menolong dan menyelamatkan aku, kakangmas Aji."
"Akan tetapi engkaupun tahu bahwa engkau dua kali keracunan adalah karena engkau melakukan perjalanan bersama aku. aku yang menyebabkan engkau diserang orang jahat."
"Sudahlah, apa kaukira aku akan diam saja dan tidak berusaha sekuat kemampuan untuk menolongmu kalau engkau yang terancam bahaya seperti yang kaulakukan tehadap diriku ini? Kita melakukan perjalanan bersama, harus menghadapi segala bahaya bersama pula. Bukankah begitu?"
Aji tersenyum dan memandang kagum. Dalam keadaan nyaris tewas dan baru saja lolos dari maut, gadis itu sudah bersikap sedemikian tabah dan gagahnya.
"Sulastri, engkau ...... seorang gadis yang hebat! Mengasolah, aku akan membuatkan bubur untukmu."
Katanya dan dia lalu keluar dari dalam kamar itu, dan memeriksa semua jendela dan pintu belakang dan depan.
Dipalangnya semua jendela dan pintu.
Setelah memeriksa seluruh ruangan dalam rumah itu dan merasa aman meninggalkan Sulastri seorang diri di kamarnya, Aji lalu masuk ke dalam dapur.
Dia mendapatkan prabot dapur yang cukup lengkap dan dapat menemukan beras dan garam.
maka dengan girang dia lalu memasak bubur secukupnya untuk Sulastri.
Selagi melakukan pekerjaan ini, dia selalu waspada, menggunakan ketajaman pendengarannya untuk menjaga keamanan Sulastri yang berada di dalam kamarnya.
Setelah buburnya matang, dia membawa makanan itu dalam sebuah mangkok besar ke kamar Sulastri.
Gadis itu ternyata tidak tidur, sedang rebah telentang memandang ke atap kamar.
Ia tersenyum ketika Aji memasuki kamar sambil membawa semangkuk bubur panas dan sendoknya.
"Aah, Mas Aji. Engkau membuat aku merasa malu sekali."
Kata gadis itu sambil bangkit duduk. Ia tidak begitu lemas lagi dan dapat bankit duduk sendiri tanpa bantuan. Aji duduk di atas sebuah bangku dekat pembaringan.
"Mengapa engkau merasa malu kepadaku, Sulastri?"
Tanyanya heran.
"Kalau engkau masih lemas, mari kusuapi, jangan malu-malu."
"Jangan, mas. kesinikan, aku dapat makan sendiri."
Ia menerima mangkuk bubur itu dengan tangan gemetar.
"Masih agak panas, Lastri. Ditiup dulu agar lebih dingin."
"Mas Aji, bagaimana aku tidak menjadi malu. Keadaan kita sungguh terbalik. Masa engkau yang malah melayani aku, memasak bubur untuk aku? Semestinya wanita yang sibuk di dapur membuat masakan!"
"Ah, kenapa engkau berpendapat begitu, Lastri? Dalam keadaan seperti ini, mengapa kita harus bersikap sungkan-sungkan lagi? Engkau keracunan, bahkan hampir saja tewas. Keadaanmu masih lemah, tentu saja harus aku yang membuatkan bubur untukmu! Dalam keadaan darurat seperti ini, tidak ada perbedaan antara tugas seorang laki-laki atau seorang perempuan. Makanlah, aku akan melakukan pemeriksaan dan penjagaan di luar, untuk menjaga segala kemungkinan."
"Mas Aji!"
Sulastri memanggil ketika Aji sudah bergerak ke pintu kamar. Aji berhenti melangkah dan menoleh "Ada apakah, Lastri?"
"Aku berpendapat bahwa tuan rumah ini tentu mempunyai hubungan dengan gerombolan yang dipimpin Munding Hideung. Ketika dia mendengar bahwa kita bertugas menumpas gerombolan itu, dia lalu turun tangan hendak membunuh kita."
"Akan tetapi dia kepala dusun ini......."
Kata Aji meragu.
"Itu menurut orang-orang yang kita tanyai di dusun ini. Ingat, kita tidak melihat wanita atau kanak-kanak di dusun ini, hanya laki-laki muda. siapa tahu mereka itu semua anak buah gerombolan yang kita sedang selidiki."
"Aku sependapat denganmu, Lastri. Akan tetapi malam ini kita tidak dapat berbuat sesuatu. Malam gelap sekali dan kita tidak mengenal medan. Makan lalu beristirahatlah. Engkau perlu menghimpun kembali tenagamu karena besok kita tentu akan menghadapi ancaman mereka. Aku akan melakukan pengintaian di luar pondok."
"Baiklah, mas Aji. Akan tetapi berhati-hatilah."
Aji melangkah keluar dan Sulastri mulai menyendok dan makan buburnya yang masih hangat.
Setelah menghabiskan bubur semangkuk itu tubuhnya mulai pulih dan sehat kembali, tidak terlalu lemas seperti tadi.
Ia lalu duduk bersila dan menghimpun tenaga sakti untuk memulihkan keadaan tubuhnya.
Sementara itu, Aji membuka daun pintu depan dengan hati-hati.
Di luar pondok gelap dan sunyi.
Bahkan rumah-rumah dalam perkampungan itu tampak gelap.
Tidak ada sinar lampu sama sekali dari sekeliling pondok milik kepala dusun itu.
Agaknya semua rumah di dusun itu tidak memasang lampu!
Atau Ki Sajali yang memerintahkan semua penduduk untuk memadamkan lampu di rumah mereka?
Dia menyelinap keluar dengan cepat lalu menutupkan kembali daun pintu rumah dari luar.
Dengan hati-hati dia membiasakan pandang matanya dengan kegelapan di luar rumah.
Lambat laun tampaklah kelap-kelip beberpa kelompok bintang di langit dan pandang matanya mulai terbiasa dengan kegelapan di luar.
Dia lalu melangkah perlahan dan berjalan mengelilingi pondok itu sambil memperhatian keadaan sekeliling.
Sunyi saja di luar.
Tidak terdengar suara manusia, sesepi kuburan!
Aji mendapat perasaan bahwa dusun itu telah ditinggalkan dan agaknya malam itu tidak ada lagi seorangpun berada di sini!
Setelah melakukan pengamatan selama hampir dua jam, Aji masuk lagi ke dalam pondok dan dia menghampiri kamar Sulastri, membuka daun pintu kamar perlahan-lahan.
Lampu kecil itu masih bernyala dan di atas meja dalam kamar dan dia melihat gadis itu rebah miring.
Mangkuk bubur kosong berada di atas meja.
Aji tersenyum lega.
gadis itu telah menghabiskan bubur dan dari pernapasannya yang lembut itu dia dapat mengetahui bahwa Sulastri telah tidur pulas!
Dengan hati-hati dia keluar dan menutupkan kembali daun pintu kamar, lalu ia duduk di atas sebuah kursi, di ruangan dalam.
Dari situ dia dapat melihat ke pintu kamar yang ditiduri Sulastri.
Karena maklum bahwa keadaan mereka terancam bahaya, maka Aji tidak tidur, melinkan duduk di atas kursi dengan bersila seperti orang sedang bersamadhi.
Biarpun dia memejamkan kedua matanya, namun dia sama sekali tidak tidur, bahkan dia waspada sekali.
Semua panca inderanya bekerja sepenuhnya, bahkan peka sekali, terutama pendengarannya.
Sedikit saja ada suara yang tidak wajar pasti akan dapat didengarnya dan semua urat syarafnya siap bergerak menghadapi segala macam keadaan darurat dan bahaya.
Pada saat sudah jauh lewat tengah malam, tiba-tiba Aji terkejut.
Biapun amat lirih, dia dapat mendengar berkesiurnya angin dari arah belakangnya.
Dia memang duduk menghadap ke arah pintu depan dan membelakangi kamar di mana Sulastri tidur.
Dengan cepat diapun memutar lehernya dan menengok.
Alangkah herannya ketika dia melihat Sulastri yang mengakibatkan berkesiurnya angin lembut itu.
Gadis itu sedang menghampirinya dan tubuhnya bagaikan bayangan saja, demikian ringan dan gesit.
Dia merasa kagum sekali.
Jelas dapat dia ketahui bahwa gadis itu mengerahkan ilmu meringankan tubuh yang hebat.
"Kiranya engkau, Lastri? Mengapa engkau bangun? Malam telah larut, tidurlah lagi dan jangan bangun sebelum pagi."
Gadis itu memandang Aji dengan sinar mata menyatakan kekagumannya yang tidak disembunyikan.
"Aah, Kakangmas Aji! Aku sudah mengerahkan seluruh kemampuanku untuk meringankan tubuh, W namun tetap saja engkau dapat mengetahui kedatanganku. Tadinya aku hendak mengejutkanmu, akan tetapi aku kecelik."
Aji bangkit berdiri dan tersenyum memandang gadis itu.
"Aku cukup mendapat kejutan, Lastri, kejutan yang menggembirakan. Gerakan dan sikapmu menunjukkan bahwa engkau telah sembuh dan tenagamu sudah pulih sama sekali. Sukurlah, Lastri. Akan tetapi kenapa engkau sudah bangun? Tidurlah lagi."
"Tidak! Aku sengaja bangun untuk menggantikanmu, mas Aji. sekarang engkaulah yang harus istirahat, biar aku menjaga di sini."
"Tidak perlu, Lastri. Aku juga berjaga di sini juga sambil beristirahat."
"Akan tetapi engkau perlu tidur agar besok pagi segar untuk bersamaku menghadapi gerombolan. Hayo, pergilah ke kamarmu dan tidur. Aku yang akan melanjutkan tugas berjaga di sini."
"Tapi Lastri......."
"Tidak ada tapi, Mas Aji. Kalau engkau menolak, hatiku akan merasa tidak senang karena berarti engkau tidak menghargai kerja sama dengan aku. Hayo, pergilah mengaso!"
Melihat kesungguhan gadis itu, Aji menurut karena dia maklum bahwa Sulastri benar-benar akan merasa tersinggung dan akan marah kalau dia berkeras menolak.
Pula, menyaksikan gerakan gadis itu tadi, demikian gesit dan ringan tubuhnya, dia percaya bahwa Sulastri akan mampu menghadapi ancaman yang bagaimanapun juga.
Diapun pergi ke kamarnya dan tanpa ragu-ragu lagi diapun merebahkan dirinya dan sebentar saja dia tenggelam ke dalam tidur yang pulas.
Untung bahwa dalam kamar mandi di rumah itu masih tersedia banyak air dalam bak sehingga Aji dan Sulastri dapat mandi sepuasnya.
Setelah mandi dan sarapan bubur, mereka berdua membuka pintu depan dan memandang ke luar.
Cuaca masih remang-remang dan keadaan di dusun itu sunyi sekali.
Yang terdengar hanya keruyuk ayam jago di sana sini dan burung-burung gereja berceloteh riang.
Mereka berdua keluar dari dalam rumah, buntalan pakaian mereka telah bertengger di punggung masing-masing.
Ketika mereka mencari-cari, ternyata seperti yang sudah mereka duga dan khawatirkan, dua ekor kuda tunggangan mereka yang kemarin sore mereka tambatkan pada batang pohon di pekarangan rumah, sudah tidak tampak.
Dua ekor kuda mereka telah dicuri orang!
"Jahanam keparat Ki Sajali itu!"
Sulastri mengepal tangan kanannya.
"Awas kamu, sekali tertangkap olehku, akan tahu rasa kamu!"
"Sabar dan tenanglah, Lastri. Agaknya kita berhadapan dengan gerombolan yang teratur, licik dan berbahaya. Lihat, dusun ini agaknya telah kosong. Kurasa dugaanmu semalam tepat sekali. Dusun ini adalah perkampungan gerombolan dan besar sekali kemungkinan mereka adalah anak buah gerombolan pimpinan Munding Hideung."
"Barangkali Ki Sajali itu pimpinan mereka."
Kata Sulastri. Aji menggeleng kepalanya.
"Kurasa bukan. Menurut keterangan Gusti Pangeran Ratu, Munding Hideung pemimpin gerombolan itu digdaya sehingga berulang kali serbuan pasukan Cirebon gagal. Sedangkan Ki Sajali tadi, kulihat tidak berapa tangguh. Mungkin dia hanya seorang di antara para pembantunya saja."
"Mari kita kejar dan cari mereka, kakangmas! Tanganku sudah gatal-gatal untuk segera menhajar mereka!"
Kata Sulastri yang merasa tidak sabar lagi.
Kini gadis itu bukan hanya menjadi utusan Adipati Cirebon untuk membasmi gerombolan munding hideung, melainkan juga hendak membalas dendam karena nyaris ia tewas oleh gerombolan itu.
"Nanti dulu, Lastri. Lihat, cuaca masih remang-remang, apa lagi di atas sana, di dalam hutan, tentu lebih gelap lagi. Amat berbahaya bagi kita untuk memasuki daerah yang asing itu dalam keadaan gelap. Gerombolan licik itu mungkin memasang jebakan-jebakan yang berbahaya. Kita tunggu sebentar sampai sinar matahari mengusir kegelapan dan halimun tebal ini."
Sulastri tidak membantah karena iapun melihat kebenaran pendapat Aji itu.
Mereka duduk di atas bangku di depan pondok itu sambil menanti munculnya sinar matahari.
Setelah sinar matahari mulai menyentuh tanah pedusunan itu, Aji berkata.
"Lastri, mari kita memeriksa keadaan dusun ini sambil menanti matahari naik lebih tinggi."
Mereka berdua meninggalkan halaman rumah itu dan berjalan-jalan di sepanjang jalan dusun itu.
Benar seperti yang mereka sangka, tidak ada seorangpun manusia yang berada di dusun itu.
Dusun itu telah ditinggalkan orang dan ternyata pondok-pondok itupun isinya sederhana sekali.
Setelah selesai memeriksa semua pondok yang telah kosong, matahari sudah menjadi semakin terang.
mereka siap untuk meninggalkan dusun itu dan mendaki gunung.
Akan tetapi ketika mereka berdua berjalan menuju ke pintu gerbang dusun itu, tiba-tiba terdengar suara gaduh dan sekitar dua puluh orang laki-laki yang memegang parang (golok) berserabutan memasuki dusun itu dan mereka mengepung Aji dan Sulastri!
Baru melihat cara mereka bergerak mengepung itu saja Aji dan Sulastri sudah maklum bahwa mereka merupakan sekelompok orang yang terlatih, merupakan pasukan yang tangguh.
Di antara mereka yang sekitar dua puluh orang jumlahnya itu tampak pula Ki Sajali dan seorang laki-laki tinggi besar yang mengenakan celana dan baju loreng terbuat dari kulit harimau loreng.
Laki-laki yang berusia kurang lebih empat puluh tahun itu memegang sebatang tombak yang berwarna hitam dan berlekuk-lekuk, mengerikan sekali.
Aji menudingkan telunjuk kirinya kepada Ki Sajali dan berkata dengan lantang.
"Ki Sajali, kiranya dusun ini menjadi sarang gerombolan. tentu engkau dan semua penduduk dusun ini adalah kaki tangan gerombolan yang dipimpin Munding Hideung!"
Ki Sajali yang memegang sebatang golok tidak menjawab, akan tetapi laki-laki gagah yang memegang tombak itu yang menjawab dengan suaranya yang besar dan parau.
"bagus kalau andika sudah tahu bahwa kami adalah Gerombolan Mundung Hideung! Dan aku, Ki Manggala, yang memimpin pasukan ini. Kalian anak-anak menyerah dan berlututlah agar dengan baik-baik kami bawa menghadap pimpinan kami!"
"Gerombolan busuk! Gerombolan licik! Kalian pengecut, hanya berani menggunakan racun dan main keroyokan! Ki Sajali, engkau sudah berani meracuni aku, sekarang engkau harus menebus perbuatanmu yang curang dan keji itu!"
Bentak Sulastri dan secepat kilat tangan kanannya sudah mencabut Pedang Nogo Wilis.
Sinar kehijauan tampak menyilaukan mata dan gadis itu dengan gerakan yang cepat dan ringan sekali sudah melompat ke depan.
Gulungan sinar hijau pedangnya menyambar ke arah leher Ki Sajali.
Orang tinggi kurus itu terkejut bukan main melihat sinar hijau menyambar sedemikian dahsyatnya seperti kilat saja.
Dia cepat menggerakkan goloknya menangkis, dibantu oleh dua orang di kanan kirinya yang juga ikut menangkis sambaran sinar hijau itu.
"Trang-cring-trakkk.......!"
Golok Ki Sajali terpental, juga golok kawannya yang berada dikirinya, akan tetapi golok seorang lagi di sebelah kanannya, yang menangkis sambil mengerahkan seluruh tenaga untuk mematahkan pedang hijau itu sebaliknya malah patah menjadi dua potong!
Pada saat itu, orang yang mengaku bernama Ki Manggala, yang memimpin gerombolan itu, mengeluarkan bentakan nyaring dan dia sudah menusukkan tombak hitamnya ke arah dada Sulastri!
"Tranggg!!"
Tombak itu terpental dan Ki Manggala terkejut melihat bahwa yang menangkis dan membuat tombaknya terpental itu hanya sebatang keris yang digerakkan Aji untuk menangkis tombaknya tadi.
Sementara itu, Sulastri sudah mengamuk, dikeroyok oleh Ki Sajali dengan kawan-kawannya.
Dikeroyok belasan orang itu, Sulastri sama sekali tidak menjadi gentar.
Bahkan ia seperti mendapat kegembiraan, dengan penuh semangat ia bergerak ringan dan cepat bagaikan bayang-bayang, berkelebatan ke sana sini dan pedangnya digerakkan cepat, berubah menjadi sinar kehijauan yang bergulung-gulung dan menyambar-nyambar.
Dalam waktu beberapa menit saja terdengar teriakan-yeriakan disusul robohnya empat orang pengeroyok, menjadi korban Pedang Nogo Wilis.
Aji juga sudah dikeroyok.
Mula-mula Ki Manggala menggerakkan tombaknya.
menyerang secara bertubi-tubi.
namun dengan mudah Aji dapat menghindarkan diri dari serangkaian serangan tombak itu.
Tubuhnya seperti tubuh seekor burung alap-alap ketika dihujani serangan patukan ular, mengelak dengan cepat dan ringan sehingga serangan tombak itu selalu mengenai tempat kosong belaka.
Kemudian dia bergerak sambil membalas, dengan tamparan tangan kiri dan tendangan kedua kakinya silih berganti.
Dia tidak menggunakan kerisnya karena Aji sama sekali tidak ingin membunuh lawannya.
Akan tetapi serangan balasan itu cukup hebat sehingga akhirnya Ki Manggala tidak mampu menghindarkan diri dari sambaran kaki kiri Aji.
"Bukk!!"
Pinggangnya menjadi sasaran tendangan yang dilakukan dengan tubuh miring dan Ki (Lanjut ke
Jilid 17) Alap Alap laut Kidul (Seri ke 03 Pecut Sakti Bajrakirana) Karya . Asmaraman S. Kho Ping Hoo
Jilid 17 Manggala terpental dan roboh terbanting.
Akan tetapi dia memang cukup tangguh.
Dia melompat bangun dan menyerang semakin ganas, kini dibantu oleh lima orang anak buahnya, sisa dari mereka yang mengeroyok Sulastri.
Terjadilah pertempuran yang hebat di dekat pintu gerbang perkampungan gerombolan itu.
Sulastri mengamuk dan pedangnya bergerak semakin ganas, Gulungan sinar kehijauan itu menyambar-nyambur dan terdengar bentakan-bentakannya yang nyaring.
Lima belas orang yang mengeroyok kini tinggal delapan orang saja karena yang lain telah roboh terluka oleh pedangnya.
Ketika Sulastri mempercepat gerakannya, delapan orang termasuk Ki Sajali itu bergabung menjadi satu dan selalu main mundur.
Demikian cepat gerakan pedang sinar hijau itu sehingga mereka hampir tidak memiliki kesempatan untuk menyerang!
Biarpun Ki Manggala merupakan lawan yang cukup tangguh dan masih dibantu lima orang pula, namun Aji merupakan lawan yang terlalu berat bagi mereka.
Sambaran kaki Aji telah merobohkan dua orang pengeroyok dari tangkisan Keris Nogo Welang telah membuat buntung dua batang golok para pengeroyok.
Ki Manggala menjadi gentar juga dan melihat betapa Ki Sajali yang mengeroyok gadis itupun kini terdesak hebat bahkan banyak yang roboh mandi darah, Ki Manggala memberi aba-aba sambil melompat ke belakang untuk melarikan diri.
"Kita pergi.......!!"
Dia sendiri sudah berlari cepat meninggalkan tempat itu.
Mendengar ini, para anak buah yang memang sejak tadi sudah merasa gentar, cepat berlompatan untuk melarikan diri meninggalkan kawan-kawan yang terluka.
ketika melihat Ki Sajali melarikan diri, sulastri cepat membungkuk dan mengambil sebatang golok yang terlepas dari tangan anggota gerombolan yang dirobohkannya dan sambil mengerahkan tenaganya, ia melontarkan golok itu kearah Ki Sajali yang melarikan diri.
"Singgg.......!!"
Golok itu mengeluarkan suara berdesing saking kuatnya lontaran itu dan tak dapat dihindarkan lagi, golok itu tepat mengenai punggung Ki Sajali, menancap sampai setengahnya.
Ki Sajali mengeluarkan teriakan mengerikan dan tubuhnya roboh menelungkup, tewas seketika!
"Mari kita kejar mereka, Mas Aji!"
Seru Sulastri.
"Tunggu dulu, Lastri!"
Kata Aji.
"Tunggu apa lagi?"
Gadis itu mencela.
"Jangan biarkan mereka semua lolos. Kita harus membasmi mereka semua!"
"Mereka hanya anak buah, Lastri. Lebih baik kita mencari seorang yang dapat membawa kita ke sarang mereka dan bertemu dengan pimpinan mereka. Kita dapat memaksa seorang di antara mereka yang terluka itu."
Pada saat itu, seorang diantara para anak buah gerombolan yang roboh terluka, bangkit berdiri dan dia melarikan diri.
Akan tetapi dengan lebih cepat lagi Aji melompat dan tiba di depan orang itu.
Ternyata orang itu tidak terluka.
Tapi dia roboh pingsan ketika tengkuknya terkena pukulan tangan Aji dan setelah siuman dia berusaha untuk melarikan diri.
Akan tetapi alangkah kagetnya melihat bayangan berkelebat dan tahu-tahu Aji sudah berada di depannya.
Karena tidak melihat jalan lain, dia menjadi nekat dan menyerang dengan pukulan ke arah dada Aji.
"Wuuuttt....... plakkk!"
Tangan kanan yang memukul itu tertahan dan telah ditangkap tangan kiri Aji yang segera mengerahkan tenaga untuk mencengkeram pergelangan tangan lawan itu.
"Aduhhh..... aduhhh..... ampun.....!"
Orang itu berteriak-teriak kesakitan. Sulastri sudah meloncat dekat dan pedangnya menodong lambung orang itu disusul bentakannya.
"Dengar! Engkau harus menunjukkan sarang gerombolan Munding Hideung kepada kami. Awas kalau engkau menipu kami, pedangku akan membuntungi semua kaki tanganmu!"
Merasa betapa ujung pedang itu menempel di lambungnya orang itu terbelalak dengan wajah pucat. Dia menangguk-angguk dan berkata dengan takut.
"..... baik..... baik..... akan saya antar.....!"
Sulastri menarik kembali pedangnya dan Aji melepaskan cengkeraman tangannya. Orang itu memijit-mijit pergelangan tangan kanannya yang masih terasa nyeri berdenyut-denyut.
"Hayo cepat antar kami ke sarang itu!"
Bentak pula Sulastri dan dengan wajah ketakutan orang itu lalu mengangguk-angguk dan berjalan mendaki lereng bukit.
Diam-diam Sulastri harus membenarkan pendapat Aji.
Ternyata pendakian Gunung Careme itu tidaklah mudah dan lerengnya penuh dengan hutan dan semak belukar.
Tanpa penunjuk jalan, mereka berdua tentu akan mendapatkan kesukaran untuk dapat menemukan jalan setapak yang membawa mereka ke atas.
Lereng yang penuh dengan jurang-jurang yang curam dan jalannya melalui semak belukar dan licin sekali.
Akan tetapi anggauta gerombolan yang menjadi penunjuk jalan itu agaknya sudah hafal akan keadaan di situ.
Dia melangkah tanpa ragu.
Agaknya dia mengambil jalan pintas karena hanya dalam waktu sekitar dua jam mereka sudah tiba di lereng paling atas, dekat puncak.
"Berhenti dulu!"
Kata Aji. Orang itu berhenti melangkah dan Sulastri memandang kepada Aji, tidak mengerti apa kehendak Aji menghentikan perjalanan mereka itu.
"Ada apakah, mengapa kita berhenti di sini?"
Tanya Sulastri dan juga tawanan mereka itu memandang wajah Aji dengan sinar mata bertanya.
"Kita sudah hampir tiba di puncak, mengapa belum juga sampai di sarang kalian?"
Tanya Aji kepada orang itu.
"Di manakah sarang gerombolan itu? Jangan coba-coba untuk menipu kami!"
Orang itu menggeleng kepala, apa lagi ketika Sulastri memandang kepadanya dengan sinar mata marah dan penuh ancaman.
Dia merasa lebih takut terhadap gadis itu daripada Aji.
Dia tadi melihat betapa banyak kawan-kawannya yang mengeroyok gadis itu roboh dan mandi darah, terluka parah atau tewas, bahkan Ki Sajali juga tewas oleh gadis itu.
Sedangkan para pengeroyok Aji yang roboh tidak terluka parah seperti dia, dan agaknya tidak ada yang tewas.
"Tidak, saya tidak berani menipu. dahulu, sarang kami memang berada di hutan sebelah bawah itu. Akan tetapi setelah dua kali kami diserang pasukan Kadipaten Cirebon, pimpinan kami lalu memindahkan sarang kami di lereng balik gunung, di seberang sebuah danau kecil yang terdapat di sana."
"Cepat antar kami ke sana! Ingat, kalau engkau berani menipu kami, aku akan menyayat-nyayat seluruh kulit tubuhmu agar engkau mati dengan tersiksa sekali!"
Bentak Sulastri.
Orang itu mengangguk dan melanjutkan perjalanan.
Aji menegerling kepada Sulastri dan mengerutkan alisnya.
Sebetulnya dia tidak setuju dengan sikap dan sepak terjang Sulastri yang demikian ganas, akan tetapi dia tidak berani menegurnya, maklum bahwa teguran akan membuat gadis itu marah dan ersinggung.
mereka berdua jalan berdampingan di belakang penunjuk jalan itu.
Kini mereka menuruni lereng di balik gunung.
Dari atas sudah tampak sebuah danau kecil di lereng bawah puncak.
Air danau berkilauan tertimpa sinar matahari yang mulai meninggi, putih seperti cermin.
"Di seberang danau itulah sarang kami yang baru!"
Kata penunjuk jalan itu. Mereka bertiga menuruni puncak dengan cepat. setelah tiba di tepi danau, Aji bertanya.
"Di mana sarang itu?"
Penunjuk jalan itu menunjuk ke seberang danau. Danau itu tidak serapa luas dan keadaan di situ sunyi sekali. Di seberang sana tampak hutan lebat.
"Bagaimana kita harus menyeberangi danau ini?"
Tanya pula Aji.
"Tidak ada jalan lain menuju ke sana kecuali dengan menyeberang. Biasanya terdapat perahu-perahu kami di sini. akan tetapi sekarang tidak tampak sebuahpun perahu. Tentu para pimpinan kami sudah mendengar dari teman-teman kami yang melarikan diri dan mereka menarik semua perahu ke darat agar andika tidak dapat mendatangi sarang kami. Aku....... aku takut, karena kalau Ki Munding Hideung dan Ki Munding Bodas melihat bahwa aku telah menjadi penunjuk jalan, mereka pasti akan menyiksa dan membunuhku."
Orang itu memandang ke arah seberang dengan muka pucat.
Aji memandang keadaan sekeliling danau.
memang tidak ada jalan lain menuju ke seberang danau di mana terdapat hutan luas.
Danau itu dikelilingi tebing yang tinggi sehingga untuk menuju ke hutan di seberang itu jalan satu-satunya hanya menyeberangi danau.
Kalau mengambil jalan memutari tebing itu tentu akan makan waktu lama dan juga amat sukar karena terdapat jalan setapak.
"sarang kalian berada di hutan seberang danau itu?"
Tanyanya.
"Benar, denmas,"
Kata orang itu.
"Lihat itu ada asap mengepul. tentu asap dari dapur umum kami."
Dia menuding ke seberang. Aji dan Sulastri melihat itu dan mereka percaya.
"Berapa banyaknya anggauta gerombolan?"
Tanya Sulastri.
"Ada lima puluh orang lebih, den roro."
"siapa saja yang menjadi pemimpin mereka?"
Aji bertanya.
"Pemimpin kami adalah Ki Munding Hideung dan adiknya, Ki Munding Bodas, dibantu oleh lima orang. Kami membangun pondok-pondok kayu di dalam hutan itu."
Matahari telah naik tinggi.
"Lastri, kita harus menyeberang."
Kata Aji.
"Kurasa juga begitu. Akan tetapi dengan apa? Tidak ada perahu di sini."
"Mudah saja. banyak bambu besar tumbuh di sana."
Aji menuding ke kiri. Sulastri maklum.
"Heh kamu! Cepat tebang tiga batang pohon bambu besar dan buatkan rakit untuk kami1"
Bentaknya kepada orang itu. Orang itu mengangguk.
"baik, denroro. akan tetapi ........ saya tidak mempunyai alat menebang."
Sulastri mencabut pedang Nogo Wilis.
"Aku yang akan menebang. Engkau harus membuatkan rakit untuk kami!"
Setelah berkata demikian, gadis itu mengajak anak buah gerombolan itu menghampiri rumpun bambu.
Dengan tiga kali sabetan saja, tiga batang bambu yang besar dan sudah tua tumbang.
Sulastri lalu memotong-motong tiga batang bambu itu sesuai dengan prtunjuk orang itu.
Karena orang itu memang ahli dalam pekerjaan itu, sebentar saja dia telah merampungkan pembuatan rakit yang kokoh, terdiri dari bambu-bambu disejajarkan dan diikat dengan tali bambu yang kuat.
Aji membantu anak buah gerombolan mengangkat rakit ke tepi danau.
Setelah mereka siap menyeberang danau dengan rakit, orang itu memandang Aji dan mukanya pucat sekali, tubuhnya gemetar.
"denmas....... denroro....... kasihanilah saya....... saya tidak berani ikut...... mereka tentu akan mencincangku melihat saya membawa andika berdua ke sana. Kasihanilah saya....... jangan ajak saya ke sana........"
"Engkau harus ikut! Kalau engkau tidak ikut, bagaimana kami tahu apakah engkau menipu kami atau tidak? Hayo ikut kami menyeberang!"
Sulastri membentaknya. Orang itu ketakutan dan memandang Aji dengan sinar mata penuh permohonan.
"Ikutlah, aku akan melindungimu dari mereka,"
Kata Aji yang tidak dapat menyalahkan sikap Sulastri karena memang orang itu perlu ikut untuk menjamin bahwa dia tidak akan menipu mereka.
mendengar ucapan Aji itu, anggauta gerombolan itu tampak lega dan dia lalu ikut naik ke atas rakit sambil membawa dua potong kayu yang dibentuk sebagai dayung.
Dia menyerahkan sepotong kepada Aji, kemudian dua orang laki-laki itu mulai menggerakkan dayung.
Baca Juga: Pendekar Super Sakti 9
Baca Juga: Istana Pulau Es 12