Eps 8 Pendekar Bego - Can ID
Baca online Pendekar Bego - Can ID
Cersil Pendekar Bego - Can ID.
Jawab perempuan yang bernama Hong hong Itu dengan suara girang. Setelah berhenti sejenak, dia berkata lebih lanjut.
"Cuma kau bilang dia mengenakan topeng kulit manusia, mengapa aku tidak berhasil menemukannya?"
Perempuan cantik yang sesungguhnya tak lain adalah Sim Kiam ciu itu berjalan ke depan pembaringan disana seorang pemuda berwajah jelek sedang berbaring, kemudian setelah diamatinya sekejap, gumamnya sambil mengangguk.
"Yaa, tak salah lagi, topeng ini memang dibuat terlalu indah dan sempurna, hampir saja aku Sin Kiam ciu terkecoh!"
"Sin Kiam ciu?"
Pikir Bwe Ling soat diluar jendela dengan hati tergerak.
"bukankah dia adalah sijanda cabul dari Kim thian kau? Konon dia adalah salah seorang dari keempat tongcu perkumpulan itu"
Belum habis dia berpikir, si janda cabul sudah menggerakkan tangannya untuk mengusap diatas wajah Ong It sin.
Selembar topeng kulit manusia segera terlepas, dan wajah sang pemuda yang sebenarnya pun segera jelas.
Agaknya siapapun tidak menyangka kalau selembar wajah dibalik topeng kulit manusia yang jelek itu adalah wajah tampan rupawan yang susah rasanya ditemukan tandingannya didunia ini.
Ciau Hong hong menjadi tertegun.
Janda cabul Sin Kim ciu lebih terperana lagi, tapi dari balik matanya yang genit tampak pancaran sinar gembira.
Terutama sekali Bwe Ling soat yang bersembunyi diluar kamar, saking gembiranya hampir saja dia akan menerjang masuk ke dalam kamar untuk menyelamatkan pemuda itu dari cengkeraman kedua orang iblis perempuan tersebut.
Tapi pikiran lain segera melintas dalam benaknya.
"Mengapa aku tidak membiarkan ia menerima percobaan ini agar lebih berpengalaman?"
Setelah mempunyai ingatan tersebut maka untuk sementara waktu Bwe Ling soat membatalkan niatnya untuk memberi pertolongan.
Sementara itu si Janda cabul Sin Kim siu yang berada dalam ruangan agaknya sudah terangsang oleh ketampanan pemuda tersebut, kepada Ciok bok ci yan Ciau Hong hong katanya.
"Sesungguhnya tindakan kita kali ini cuma terdorong oleh perasaan ingin tahu saja, tak tahunya yang kita dapat adalah seorang pemuda yang begini tampannya, kau telah membuatku sehingga usaha kita kali ini berhasil dengan sukses sepantasnya kalau kuberi bagian pula kepadamu, cuma sayang kau sudah ada pemiliknya apakah kau tidak kuatir kalau sampai ketahuan pemilikmu itu?"
Sudah jelas dengan ucapannya itu, dia bermaksud untuk mengangkangi korbannya seorang diri dihari hari biasa Ciau Hong hong mempunyai pilihan yang amat tinggi, tapi setelah berjumpa dengan pemuda yang begini tampan tak urung berdebar juga hatinya karena tak tahan.
Mendengar ucapan tersebut, buru buru sebutnya.
"Hmm! Kalau dia berani cemburu, aku segera akan menceraikannya, memang aku takut dengannya?"
Dari jawaban ini dapat diketahui bahwa diapun telah bertekad untuk meminta bagian. Janda cabul Sin Kim ciu lantas tertawa lebar, katanya kembali.
"Kalau begitu, apakah kau bermaksud untuk menyingkir lebih dulu?"
Ternyata jawaban dari Ciau Hong hong cukup taktis.
"Aaah, kenapa harus menyingkir? Aku justru ingin banyak belajar darimu, silahkan saja kau mulai bekerja!"
Si Janda cabul Sin Kiam ciu pun tidak banyak berbicara lagi, dia lantas turun tangan melepaskan semua baju dan celana yang dikenakan Ong It sin sehingga berada dalam keadaan bugil.
Sementara itu si Janda cabul sendiripun juga sudah melepaskan semua pakaiannya hingga berada dalam keadaan telanjang bulat.
Bisa dilihat sepasang payudaranya yang besar dan masih kencang itu bergoyang kesana kemari mengikuti gerakan tubuhnya, kulit badannya cukup putih dan mulus, terutama bagian pahanya yang halus dan mengkilap, tentu saja tak ketinggalan lembahnya yang penuh dengan hutan bakau itu...
Agaknya sebentar lagi suatu pertarungan yang seru akan segera berlangsung dalam ruangan itu...
Tiba tiba Bwe Ling soat yang berada dipersembunyannya mendengar ujung baju tersambar angin yang bergema lewat, cepat cepat dia menyembunyikan dirinya rapat rapat.
Ketika mendongakkan kembali, maka terlihat olehnya bahwa orang itu bukan lain adalah Ang hun lo sat Hoa long jin.
Begitu masuk kedalam ruangan dan menyaksikan adegan dalam kamar itu, kontan saja Hoa Long jin berseru sambil tertawa cekikikan.
"Sin Tongcu, rupanya kau sudah tak tahan untuk berada dalam kesepian..."
Mula mula si Janda cabul agak terkejut, tapi setelah diketahui bahwa orang itu bukan orang asing, dia lantas menggoda.
"Tampaknya Hoa tongcu adalah seorang perempuan yang suci bersih, bila kurang berkenan dihati, silahkan untuk menyingkir dulu ke kamar sebelah"
"Tak usah gugup"
Seru Hoa Long jin lagi sambil tertawa.
"akan kulihat dulu barangnya, kalau berkwalitet bagus tentu saja aku akan turut ambil bagian!"
Selesai berkata ia lantas mendekati pembaringan...
Seorang lelaki tampan yang bertubuh kekar berbaring diatas ranjang dalam keadaan telanjang bulat, ototnya penuh dengan badan yang kekar, sekalipun demikian kulitnya putih mulus dan menyenangkan, apalagi dengan wajahnya yang ganteng serta hawa kelaki lakiannya yang merangsang, sungguh merupakan suatu mangsa yang mengkelik hati.
"Apa yang telah kalian berikan kepadanya?"
Hoa Long jin segera bertanya setelah memperhatikan pemuda itu sekejap.
"Aaah, tidak terhitung seberapa, kami cuma memberi secawan teh yang bercampur dengan obat penghilang sukma"
"Oooh, tak heran kalau dia kehilangan kesadarannya, ternyata sudah kalian cekoki dengan obat pemabuk, lebih baik sekarang diberi obat penawarnya dulu!"
"Bila ia sudah sadar dan kalau tak mau melayani kita?"
Tanya si Janda cabul rada sangsi.
"Dengan kecantikan kita serta potongan badan yang kita miliki tak seorang lelakipun yang tak akan tergiur, masa pemuda ingusan ini bisa lolos dari perangkap kita?"
"Betul, betul kalau begitu akan kuberi obat pemunah dulu kepadanya..."
Kata Janda cabul kemudian.
Seraya berkata dia lantas mengeluarkan obat pemunahnya dan diserahkan kepada Ciau Hong hong.
Dengan menggunakan air teh, Ciau Hong hong segera meloloh obat penawar itu kedalam mulut sang pemuda.
Sementara itu, si Janda cabul Sin Kim ciu seperti teringat akan sesuatu urusan, tiba tiba ia bertanya.
"Hoa tongcu, bukankah kau membawa sepasukan jago untuk menaklukkan Khong tong pay, Heng san pay dan Hoa san pay? Kenapa bisa muncul ditempat ini?"
"Aku mendapat perintah dari Hu kaucu untuk membawa Tee lwe siang mo berangkat kebukit Thian bok san sebelah barat untuk membantu Lam huang pat yau, secara kebetulan kami lewat tempat ini"
"Kemana perginya Tau hu hoat sekalian?"
"Mereka sudah berangkat selangkah lebih duluan, kebetulan kudengar laporan dari seorang anggota perkumpulan kita yang mengatakan kalian berdiam disini, maka aku pun lantas mampir ke sini"
"Dalam serbuan kalian ke utara kali ini, tentu tak kecil jasa yang berhasil kalian raih?"
"Partai Khong tong dan Heng san mah sudah berhasil ditaklukkan, tapi di Bukit Hoa san kami justru menderita kekalahan total!"
"Aaah, masa?"
Seru si Janda cabul terkejut bercampur heran.
"siapa yang telah membantu pihak Hoa san?"
"Kalau dibicarakan sebenarnya tidak terhitung memalukan, sebab mereka adalah murid murid dari kuil Sian goan si dipuncak Handankorli di bukit Thian san serta Koan tiau kek dari Lam hay"
Si Janda cabul Sin Kim ciu semakin terkejut serunya tertahan.
"Ooh... rupanya murid murid Ih lwe ji seng? Aaah... kalau mereka sampai melibatkan diri usaha perkumpulan kita untuk menjagoi seluruh dunia persilatan pasti akan menjumpai hambatan!"
"Ya memang begitu makanya Hu kaucu lantas menitahkan kami untuk cepat cepat menyelesaikan persoalan di lembah Lo sian kok"
Ciau Hong hong yang selama ini membungkam terus, tiba tiba bertanya.
"Tahukah kau siapa nama mereka?"
"Murid Koan tiau kek dari Lam hay adalah seorang gadis, dia adalah cucu perempuan Kim liong lojin dari Hoa san yang bernama Bwe Ling soat, wajahnya cantik jelita bak bidadari dari kahyangan"
"Tak usah disebut lagi, yang seorang pastilah seorang hwesio cilik"
Sambung si Janda genit.
"Bukan, bukan hwesio cilik..."
"Kalau begitu dia pasti seorang koncu yang tampan dan gagah?"
Sambung Ciau Hong hong. Kembali Ang hun lo sat Hoa Long jin menggelengkan kepalanya.
"Bukan, bukan, meski orang itu juga masih muda beliau kira kira berusia dua puluh tiga empat tahunan, tapi mukanya jelek sekali, bibirnya seperti moncong babi, hidungnya pesek, matanya melotot keluar dan keningnya sempit, pokoknya asal kita orang perempuan yang bertemu dengannya, sepuluh tahun pun tak akan terlupakan!"
Satu ingatan segera melintas dalam benak si Janda cabul Sin Kim ciu, ujarnya cepat.
"Hoa tongcu, masih ingatkah kau? Senjata apa yang dipergunakan kedua orang itu?"
"Ih lwe ji seng adalah tokoh tokoh persilatan yang termashur dalam dunia persilatan karena tenaga dalamnya yang sempurna, masa mereka akan menggunakan senjata tajam yang lain?"
"Jadi kalau begitu muda mudi ini yang satu cantik yang lain jelek semuanya menggunakan pedang?"
Tanya si Janda cabul dengan dahi berkenyit. Berbicara sampai disitu dia lantas menunjuk ke arah sianak muda yang berbaring diatas ranjang itu seraya bertanya "Hoa tongcu, coba lihatlah siapa dia?"
Ang hun losat Hoa Long jin bukannya belum melihat tampang pemuda itu, tapi berhubung wajahnya tidak sama dengan orang yang dicari, maka ia tidak memperhatikan dengan lebih seksama lagi.
Akan tetapi setelah disinggung kembali oleh si Janda cabul Sim Kim ciu diapun beranjak dan menghampiri pemuda itu.
Sesudah diamati sekian lama, tiba tiba ia merasa pemuda itu sedemikian mempesona hatinya, bahkan makin dilihat semakin suka rasanya.
Pemuda itu bukan cuma tampan saja bahkan bagus, gagah dan menyenangkan, belum pernah ia jumpai lelaki sebagus ini.
Cuma diapun merasa bahwa dibalik ucapan Sin Kim ciu tadi tampaknya mengandung maksud yang dalam, maka dengan cepat pikirnya.
"Jangan jangan orang ini adalah dia? Tapi jelas tidak mungkin, tampang orang itu jeleknya tidak ketolongan, sedang dia mana tampan, bagus, gagah lagi... aaah! Tidak masuk akal!"
Berpikir demikian, ia lantas menggelengkan kepalanya sambil bergumam lirih.
"Mana mungkin orang ini adalah dia?"
Tiba tiba si Janda cabul menjawab, bahkan jawabannya sangat mengejutkan hati.
"Pemuda inilah si ahli waris dari Leng mong sin ceng yang kau maksudkan tadi!"
"Sin tongcu, padahal kau kan tak pernah bertemu dengannya? Darimana kau bisa yakin kalau orang ini adalah orang yang kumaksud? Apakah kau lupa bahwa aku pernah berkata jika orang itu bertampang jelek sekali seperti babi?"
"Yaa, aku masih ingat!"
Sahut si Janda cabul sambil tertawa.
"Lantas, mengapa kau begini yakin?"
Halaman ga ada ....likkan badan dan mengapa kesana sebentar"
Walaupun Ang hun lo sat Hoa Long jin merasa amat curiga, untuk sesaat ia tak bisa menduga permainan busuk apakah yang sedang dipersiapkan Sin Kim ciu, maka dia pun segera membalikkan badannya tanpa membantah.
Tapi ketika ia memutar badannya lagi dan mengalihkan sorot matanya ke atas ranjang, dengan cepat perempuan itu berseru kaget, matanya terbelalak lebar lebar.
Ternyata pemuda tampan yang berbaring di atas ranjang tadi, kini sudah berubah menjadi si pemuda jelek Ong It sin yang pernah dijumpainya di bukit Hoa san itu.
Ang hun lo sat Hoa Long jin segera berseru.
"Aku masih mengira tampangnya betul betul sangat jelek seperti babi, tak tahunya dia cuma mengenakan topeng belaka"
Mendadak ia teringat akan sesuatu, cepat tanyanya.
"Sebetulnya apa yang telha terjadi? Bagaimana mungkin orang ini bisa kalian bekuk?"
Secara ringkas si Janda cabul Sin Kim ciu lantas menceritakan perasaan ingin tahunya yang kemudian mengatur siasat untuk menjebak sianak muda itu.
Seusai mendengar penuturan tersebut, Ang hun lo sat segera berkata dengan cemas.
"Jadi kalau begitu, perempuan tersebut masih tinggal dalam rumah penginapan ini? Masa sampai sekarang dia masih belum tahu kalau rekannya sudah diculik orang?"
Ciau Hong hong yang selama ini hanya membungkam terus itu tiba tiba menyela.
"Sekalipun dia sudah tahu masa tahu kalau orangnya berada ditangan kita?!"
Dengan wajah serius Ang hun losat berkata.
"Apakah kalian lupa bahwa si perempuan kasir penginapan menyaksikan juga peristiwa ini? Bila dugaanku tidak salah, besar kemungkinan orangnya sudah sampai disini!"
Ciau Hong hong tetap tidak percaya serunya.
"Hoa tongcu, rupanya kau sedang menakut nakuti kami?"
"Mau percaya syukur tidak percaya juga tidak mengapa..."
Baru saja ia berkata sampai disitu si Janda cabul Sim Kim ciu telah mengusulkan.
"Begini saja daripada tidak percaya sama sekali apa salahnya kalau kita anggap hal itu mungkin terjadi? Aku dan Hoa tongcu sementara melakukan penggeledahan dikamar, Hong hong, kau tetap tinggal dikamar untuk mengawasinya!"
Selesai berkata ia lantas membuka pintu dan melangkah keluar dari ruangan untuk melakukan pemeriksaan.
Dengan sebilah pisau terhunus, Ciok bok ci yan Ciau Hong hong berjaga jaga disisi Ong It sin.
Tapi ketika dilihatnya tampang pemuda itu makin dilihat semakin menarik, tanpa terasa ia menjadi pesona sehingga teledor dalam penjagaannya.
Pada saat itulah, sesosok bayangan manusia telah menerobos masuk kedalam ruangan.
Menanti Ciau Hong hong menyadari bahwa orang itu adalah Bwe Ling soat tahu tahu tiga buah jalan darah penting didepan dadanya sudah berada dibawah ancaman pedang lawan.
Bwe Ling soat segera memeriksa keadaan Ong It sin, ketika dilihatnya pemuda itu masih belum sadasr, ia segera membopongnya keatas punggung, belum sempat kabur dari ruangan itu Ang hun losat dan si janda cabul telah balik kembali kesitu.
Dengan cepat mereka telah menyumbat jalan keluar gadis tersebut, kemudian bentaknya.
"Siapa yang berani memasuki kamar tidur pun tongcu secara lancang...?"
Bwe Ling soat meloloskan pedangnya, kemudian menjawab ketus.
"Perempuan perempuan yang tak tahu malu, bukan saja berani menculik Ong toakoku secara licik, berani pula melakukan perbuatan mesum dengannya, hmm! Betul betul perempuan nakal yang tak tahu malu. Kalian mau mundur atau tidak?"
Ang hun losat Hoa Long jin amat tergetar perasaannya dan tidak menjawab barang sepatah katapun. Sebaliknya si Janda cabul segera terkekeh kekeh dengan seramnya, dia berkata.
"Kau mendamprat kami tak tahu malu, kami mengakuinya, tapi kau? Seorang gadis perawan membopong seorang lelaki bugil, huuh... bila kejadian ini sampai tersiar ke Koan tiau kek di Lam hay, dengan wajah apa kau hendak bertemu dengan gurumu?"
Bwe Ling Soat sambil menggigit bibir segera sahutnya.
"Kalau hatiku lurus, peduli apa yang kulakukan toh akhirnya tetap lurus, emas murni tak akaan kuatir dibakar dengan api. Terserah apa mau kalian katakan!"
Sambil berkata dia membalikkan badan dan berjalan keluar lewat pintu depan. Ang hun losat dan si Janda cabul segera melintangkan pedang mereka untuk menghalangi jalan perginya, kembali mereka berkata.
"Bila kau merasa punya kepandaian yang hebat, silahkan dicoba untuk menerobosi pertahanan kami, bila merasa tak mampu lebih baik tak usah dicoba!"
Seandainya Bwe Ling soat hanya seorang diri, bukan kesulitan baginya untuk menerobosi pertahanan mereka.
Tapi sekarang dia harus membopong Ong It sin yang masih berada dalam keadaan tak sadar, sudah barang tentu keadaannya jauh berbeda.
Diam diam dia lantas berpikir.
"Jika aku tetap ngotot untuk menerjang keluar secara kekerasan, bukan saja belum tentu berhasil apalagi masih ada Ong It sin, keselamatannya sulit untuk dijamin..."
Setelah mengetahui akan keadaan tersebut, dengan cepat dia mengundurkan diri lagi ke dalam kamar.
Sesudah membaringkan Ong It sin diatas ranjang, dengan pedang terhunus ia menerjang keluar lagi dari situ.
Pergelangan tangannya digetarkan, pedangnya segera memancarkan bunga pedang yang memenuhi seluruh angkasa.
Ang hun lo sat serta si Janda cabul terhitung jago jago kelas satu dalam dunia persilatan, tapi kenyataannya mereka tidak tahan untuk menghadapi gencarnya serangan lawan.
Untung saja Bwe Ling soat tak sanggup menggunakan tenaga sepenuhnya karena sempit serta terbatasnya ruang gerak dalam ruangan itu, sehingga nyawa mereka berdua tak sampai terancam.
Lama kelamaan nyali kedua orang iblis perempuan itu semakin besar, mereka mulai berteriak dengan lantang.
"Wahai orang she Bwe, jangan harap kau lolos"
"Hmm! Hanya mengandalkan kekuatan kami berdua?"
Ejek Bwe Ling soat sambil menggigit bibir.
"Tentu saja tidak... kau tahu, sudah berapa banyak jago yang kami persiapkan disekitar tempat ini?"
Seru Ang hun losat bermaksud untuk menggertak. Sudah barang tentu tak ada kenyataannya sebab perempuan itu hanya mengaco belo belaka.
"Dimana orangnya?"
Tanya Bwe Ling soat sambil tertawa.
Ketika datang kesitu, gadis tersebut sudah melakukan pemeriksaan yang seksama disekitar sana dan terbukti ditempat itu tiada orang lain kecuali mereka.
Siapa tahu, baru selesai dia berkata, tiba tiba terdengar suara tertawa seram berkumandang memecahkan kesunyian.
"Heeehh... heeehh... heeehh... orangnya berada disini!"
Seseorang menjawab.
Begitu mendengar suara tersebut, baik Ang hun lo sat maupun si Janda cabul segera dapat mengenali sebagai suara dari Tee lwe siang mo tak terlukiskan rasa girang mereka setelah mengetahui akan hal ini.
"Tau huhoat"
Teriak mereka segera.
"cepat datang kemari, kami sudah mulai tak tahan!"
Tee lwe siang mo dengan seorang membawa pedang yang lain membawa ruyung serentak menerjang masuk ke dalam arena untuk menggantikan posisi Ang hun lo sat dan si Janda cabul yang makin terdesak.
Sembari melepaskan babatan kilat dengan pedangnya, Tau Chin berkata dengan suara menyeramkan.
"Bagaimanapun juga, serasa dunia ini memang sempit, akhirnya kita bersua kembali disini!"
"Hmm! Prajurit yang kalah perang, sekalipun ketemu lagi kenapa?"
Dengus Bwe Ling soat. Kulit muka dari Tau Chin segera mengejang keras, katanya dengan menyeramkan.
"Hmmm... jadi kau anggap betul betul sudah berhasil menangkan kami...? Nona Bwe kini keadaan sudah berubah aku kuatir dendam bacokan tersebut akan kami tuntut kembali pada malam ini"
Bwe Ling soat kembali mendengus dingin.
"Itu kan hasil karya Ong toako ku tapi bila kau perhitungkan diatas namaku juga tak menjadi soal, nonamu bersedia untuk membikin perhitungan dengan kalian!"
Pedangnya segera diputar kian kemari melancarkan serangkaian serangan yang demikian dahsyatnya sehingga ibaratnya ada hujan badai, badannya juga tak akan basah lantaran terlindung dibalik lapisan hawa pedangnya yang tebal.
Untuk sesaat lamanya Tee lwe siang mo dibikin tak berdaya sehingga tak mampu banyak bertingakah.
"Sin tongcu!"
Tiba tiba Ang hun losat berkata.
"pintu ini sudah cukup ditahan oleh dua bersaudara Tau huhoat mari kita terobos masuk lewat jendela dan menjagai orang she Ong Itu lebih dulu!"
"Baik!"
Jawab si Janda cabul.
Dua orang dengan empat buah telapak tangan segera dilontarkan ke depan menjebol daun jendela setelah itu mereka melompat masuk ke dalam ruangan, yang seorang menolong Ciau Hong hong sedang lainnya membacok Ong It sin yang berbaring diatas pembaringan.
Seandainya sampai terbacok niscaya badan Ong It sin akan hancur berkeping keping.
Tanpa terasa Bwe Ling soat menjerit kaget.
Pada saat dia sedang teledor itulah, Tee lwe siang mo telah berhasil menerjang masuk kedalam ruangan.
Tiba tiba sesosok bayangan manusia berkelebat lewat dari hadapan mata mereka.
Mula mula semua orang mengira Ong It sin yang datang, siapa tahu setelah diamati lebih cermat, mereka bertambah tercengang.
Ternyata orang itu tak lain adalah Ang hun lo sat Hoa Long jin adanya.
Sewaktu Bwe Ling soat mendongakkan kepalanya, ditemukan Ong It sin yang semula berada diatas pembaringanpun kini sudah lenyap tak berbekas.
Malah pakaian yang berada diujung pembaringan pun kini sudah lenyap semua tak berbekas.
Tee lwe siang mo masih belum tahu apa gerangan yang telah terjadi, sebaliknya si Janda cabul segera berkata.
"Kemungkinan besar bajingan itu sudah sadar, bukankah kita sudah memberi obat pemunah kepadanya?"
Ang hun lo sat menjadi amat tertegun sambil menahan diri segera serunya dengan lantang.
"Tau huhoat, cepat kita mundur dari sini, bila terlambat lagi mungkin kita akan terkurung disini!"
"Hoa huhoat, apakah kau terluka? Masih sanggup untuk melakukan perjalanan sendiri"
"Tidak dapat, tulang igaku telah patah. lebih baik boponglah aku untuk pergi meninggalkan tempat ini..."
Tau Chin segera menyambar tubuh Ang hun lo sat dan membopongnya, kemudian bersama iblis iblis lainnya serentak melarikan diri dari tempat itu.
Bwe Ling soat tidak mengejar lebih jauh, dari atas tanah dipungutnya topeng kulit manusia itu lalu diamatinya topeng itu dengan seksama.
Tiba tiba sesosok bayangan manusia berkelebat lewat, menyusul Ong It sin melangkah masuk ke dalam ruangan.
"Ke mana kaburnya penjahat penjahat itu?"
Tanyanya.
"Sudah kabur semua! Karena mereka tahu setelah mengenakan pakaian kau akan kembali ke sini"
Ong It sin segera mendepak depakkan kakinya dengan gemas, katanya.
"Aku tidak semestinya pulang ke kamar dulu untuk mengambil kim liong kiam, sehingga memberi kesempatan kepada mereka untuk melarikan diri dari sini"
Sambil menggertak gigi menahan rasa jengkel dan bencinya, dia menambahkan.
"Aku benar benar amat membenci kepada mereka!"
Bwe Ling soat segera tertawa merdu serunya.
"Tapi aku justru merasa amat berterima kasih kepada mereka!"
"Nona, apa maksudmu berkata demikian?"
Tanya Ong It sin dengan perasaan tidak mengerti.
"Sebab bagaimanapun juga, berkat mereka maka aku mendapat kesempatan untuk menyaksikan raut wajah Ong toako yang sebenarnya!"
"Nona sedang mentertawakan aku karena aku bermain perempuan diluar...?"
Kata Ong It sin dengan wajah memerah.
"Aku tahu kau sudah terkena oleh siasat busuk orang lain, kenapa aku harus mentertawakanmu?"
Ong It sin menjadi semakin bertambah tidak mengerti, serunya.
"Kalau begitu, aku semakin tidak paham dengan maksud perkataanmu itu...!"
Lalu kemudian katanya lagi.
"Ong toako, lebih baik kau melihat sendiri!"
Ong It sin menerima cermin tersebut dan segera memandangnya...
Diatas permukaan cermin tersebut segera muncul seraut wajah tampan yang amat mempesona hati dengan bibir yang merah, gigi putih, mata jeli dan hidung mancung, jelas raut wajah seorang pria yang amat tampan.
Ong It sin menjadi tercengang, dengan perasaan tidak habis mengerti serunya.
"Nona Bwe apa yang telah terjadi?"
Ketika dilihatnya pemuda itu bersikap demikian, disangkanya Ong It sin sedang berlagak pilon dengan nada tak senang serunya.
"Kenapa kau musti bertanya kepadaku? Semestinya kau harus bertanya kepada dirimu sendiri!"
Ong It sin semakin kebingungan setengah mati, sepasang matanya terbelalak lebar lebar, diawasinya wajah sinona dengan termangu mangu. Melihat keadaan tersebut, Bwe Ling soat lantas berpikir.
"menurutmu jelek atau tampan?"
Maka dia perlihatkan topeng kulit manusia itu dihadapan sang pemuda, kemudian tanyanya.
"Kau kenal dengan benda ini?"
"Tidak!"
Jawab Ong It sin sambil menggelengkan kepalanya berulang kali.
Bwe Ling soat segera mengenakan topeng kulit manusia itu diatas wajahnya sendiri, kemudian sambil menuding ke arah wajah sendiri katanya lagi.
"Ong toako, mengapa kau tidak amati wajahku sekarang? Coba lihat, siapakah aku ini?"
Ketika Ong It sin mendongakkan kepalanya ia menjadi tertegun.
Itulah seraut wajah yang jelek sekali, mulut seperti congor babi, hidung mancung ke dalam, mata melotot dan dahi sempit, siapa lagi kalau bukan raut wajahnya sendiri?
Tiba tiba dia menjadi mengerti, katanya kemudian.
"Nona Bwe, jadi kau maksudkan dimasa masa yang lalu aku selalu mengenakan topeng kulit manusia sehingga wajahku tampak amat jelek?"
Bwe Ling soat manggut manggut.
"Yaa, benar. Tapi kalau dilihat bahwa kau sendiripun tidak tahu itu berarti orang yang mengenakan topeng tersebut ke atas wajahmu adalah orang yang paling dekat hubungannya dengan dirimu"
Setelah termenung dan berpikir sebentar dia melanjutkan kembali kata katanya.
"Masih ingatkah kau? sejak kapan ayahmu mengantar kau menuju ke tempat tinggalnya pamanmu Gin sin (si dewa perak) Li Liong?"
"Ketika aku berusia sepuluh tahun!"
"Anak yang berusia sepuluh tahun masih kecil sekali!"
"Yaa, benar tapi semenjak kedatanganku di lembah keluarga Li tak pernah ada orang yang menyukai aku"
Bwe Ling soat melepaskan kembali topeng kulit manusia itu dan mencoba untuk menariknya, ditemukan bahwa topeng kulit manusia itu mempunyai sifat mulur yang amat tinggi bisa dibesarkan bisa pula dikecilkan, tak heran kalau seorang manusiapun tak pernah mengetahui bahwa wajah pemuda itu mengenakan sebuah topeng.
Maka gadis itupun mulai menduga duga.
"Kemungkinan besar ayahmu yang memakaikan topeng ini keatas wajahmu mungkin juga lantaran kotak kemala tersebut, ia sudah tahu kalau cepat atau lambat dirinya pasti akan ketimpa musibah, itulah sebabnya demi keselamatanmu, ia telah mengenakan topeng berwajah jelek itu diatas wajahmu"
Akhirnya Ong It sin dapat memahami pula keadaan tersebut, namun ia sama sekali tidak merasa bangga karena memiliki seraut wajah yang tampan tersebut.
Dengan cepat topeng kulit manusia itu diminta kembali dari tangan Bwe Ling soat.
"Jangan dikenakan lagi"
Pinta Bwe Ling soat sambil tertawa.
"bukankah lebih baik berwajah seperti sekarang ini?"
Siapakah manusia didunia ini yang tak suka dengan kebagusan?
Demikian pula dengan Ong It sin, sebab dia tak lebih hanya seorang manusia biasa, maka topeng kulit manusia tersebut segera dimasukkan kembali ke dalam sakunya.
Setelah saling berpandangan dan tertawa, mereka baru meninggalkan ruang kamar sebelah barat untuk kembali kekamar masing masing.
Keesokan harinya, ketika fajar baru menyingsing mereka telah melanjutkan kembali perjalanannya.
Tapi ketika mereka tiba dilembah Lo sian kok dibukit See thian bok san tampaklah anggota Ki thian kau dibawah tunjangan Tee lwe siang mo sedang menyerang mulut lembah habis habisan, bahkan tampaknya sebentar lagi mereka akan berhasil menyerbu kedalam lembah itu.
Ketika Ang hun lo sat menyaksikan kemunculan Ong It sin dan Bwe Ling soat disana, ia menjadi terkejut dan ketakutan setengah mati buru buru teriaknya.
"Murid murid Siau goan si dan Koan tiau kek telah datang...!"
Baik Lam huang pat yau maupun Tee lwe siang mo yang mendengar kabar tersebut menjadi amat terperanjat, mereka tidak menyangka kalau Ong It sin dan Bwe Ling soat bisa menyusul mereka sampai kesitu.
Tok jiau kou hun (cakar beracun pembetot sukma) Siau Im pada dasarnya adalah seorang serigala perempuan, ketika menyaksikan kecantikan Bwe Ling soat yang ibaratnya bidadari dari kahyangan itu, kontan saja ia menjadi terpesona seakan akan sukmanya telah melayang meninggalkan raga, tanpa mempedulikan mara bahaya dia segera maju menghampirinya seraya menegur.
"Apakah kau yang bernama Bwe Ling soat murid dari Lam hay Koan tiau kek?"
Menyaksikan orang itu bermata licik berhidung elang dan bicara tak tahu sopan santun, timbul perasaan muak dalam hati Bwe Ling soat, sahutnya ketus.
"Benar, memang nona orangnya!"
"Ada urusan apa kau mendatangi bukit See thian bok sen in?"
"Aneh betul kau ini, bukit See thian bok san toh bukan tanah warisan kakek moyangmu, buat apa kau mengurusi diriku?"
"Aaah... bukan kami ingin mencampuri urusan nona, adalah karena kami sedang menyelesaikan suatu pertikaian tentang masalah dunia persilatan, maka kuanjurkan kepada nona agar jangan mencampurinya"
"Andaikata aku tetap hendak ke sana, mau apa kau?"
Tok jiau kau hun Siau Im segera mengayunkan cakar setannya ke tengah udara, lalu sahutnya.
"Terpaksa aku hendak mencoba merasakan kelihayan dari ilmu pedang Koan tiau kekmu itu!"
"Bagus, akan kulayani dirimu dengan tangan kosong!"
Mendengar jawaban tersebut, Tok jiau kou hun Siau Im segera berpikir dihati.
"Kalau berbicara soal senjata tajam kemungkinan besar aku tak bisa menandingimu tapi kalau soal kepalan. Hmmm...! Aku akan suruh kau mengetahui akan kelihayanku!"
Berpikir sampai disitu, sepasang lengannya segera diayunkan ke depan, dengan sepasang cakar tajam yang berwarna hitam pekat dia langsung mencengkeram ke atas sepasang payudara diatas dada Bwe Ling soat, serangan tersebut mana kotor, tak tahu malu, tengik lagi.
Sikap cabul musuhnya ini segera menggusarkan Bwe Ling soat, dengan cepat jari tengah dan jari telunjuknya dikeraskan bagaikan tombak, kemudian meneroboskan ke depan menembusi bayangan cakar yang menyelimuti angkasa itu.
Kendatipun ia tidak menggunakan pedang akan tetapi hawa pedang yang menggidikkan hati itu segera memancar keluar dari ujung jari tangannya itu.
Tok jiau kau hun Siau Im sama sekali tidak menyangka kalau malaikat elmaut telah mengancam selembar jiwanya, dia malah tertawa terkekeh kekeh sembari mengejek.
Nona Bwe, ketahuilah bahwa Thian long jiau (cakar serigala langit) yang kumiliki ini tak pernah menjumpai tandingannya dikolong langit, belum pernah ada orang yang sanggup meloloskan diri dari cengkeramanku ini dalam keadaan selamat, untung saja aku lihat nona berparas cantik dengan payudara yang montok, coba kalau tidak kuingat tubuh nona yang mungkin nikmat bila ditindihi, mungkin jiwa nona sudah melayang sedari tadi..."
Siapa tahu, belum habis ucapan tersebut selesai diucapkan, serangan dahsyat dari nona tersebut sudah menghajar telak diatas dadanya, tak ampun ia menjerit lengking karena kesakitan, darah segar segera berhamburan ke empat penjuru, tak selang beberapa lama kemudian robohlah si manusia cabul itu dan tewas seketika itu juga.
Kim sau sia kiam (kipas emas pedang sesat) Thio Pin merasa amat terkejut menyaksikan kejadian tersebut, ia tak mengira kalau Jite (adik kedua) nya tewas belum tahu apakah adik angkatnya itu menemui ajalnya.
Ketika dia melayang masuk ke arena dan membopong jenasah dari Tok jiau kou hun Siau Im, dijumpainya warna merah darah sudah melapisi alis mata adiknya itu, ia menjadi amat terkesiap sekali.
"Budak sialan, kau telah membunuhnya dengan hawa pedang dari Koan tiau kek?"
Teriaknya.
"Membunuh seorang manusia cabul, sama artinya dengan melenyapkan bibit bencana dari muka bumi mengapa tidak?"
Kim san sia kiam Thio Pin merasa gusar sekali, saking geramnya sekujur badan sampai ikut gemetar keras.
Dalam pada itu, It ciang kim (serombak hijau) Sim Jit nio dan Hiat im ci (jari bayangan darah) Wang Ling telah menerjang masuk ke arena sambil melancarkan serangan.
Terutama sekali Si It ciang kim Sim Jit nio, dengan mata merah membara karena dendam ia memutar sepasang golok tipisnya Sambil meneter terus musuhnya dengan serangan yang mematikan, teriaknya setengah menyumpah.
"Perempuan rendah yang tak tahu malu, kau telah membunuhnya secara keji, aku bersumpah tak hidup berdampingan denganmu, hari ini aku akan mencincang tubuhmu menjadi berkeping keping"
Hiat im ci Wong Leng sendiripun tidak banyak berbicara, bayangan jari tangannya menyambar kesana kemari dengan membawa dengan desingan angin tajam yang memekikkan telinga.
Ong It sin selama ini hanya berpeluk tangan belaka, dia tahu dengan kemampuan yang dimiliki Bwe Ling soat, dia masih sanggup untuk melayani kedua orang musuhnya itu tanpa kuatir musti kalah.
Pada mulanya Hek yau hu (siluman rase hitam) Ay Bi masih mengira Bwe Ling soat itu tidak seberapa hebatnya, tapi selewatnya belasan jurus dan menyaksikan Ngo moay dan Lak te nya semakin keteter hebat, dia lantas berkata kepada Siang to (sepasang golok) Yu To.
"Hayo kita juga turun tangan untuk menyelesaikan dulu nyawa si budak ingusan itu!"
Siang to (sepasang golok) Yu To segera mengiakan, dengan cepat mereka menerjunkan diri pula ke arena pertarungan.
Dari Lam huang pat yau kini sudah ada empat orang siluman yang terjun ke arena untuk mengerubuti Bwe Ling soat, menghadapi kerubutan ini gadis tersebut segera berpekik nyaring, mendadak badannya melayang ke udara selincah burung hong, kemudian tangannya berkelebat dan tahu tahu pedangnya sudah diloloskan dari sarung.
Begitu senjatanya berada ditangan dengan cepat situasi dalam arena pertarungan pun mengalami perubahan besar.
Bukan saja keempat orang siluman itu gagal meraih keuntungan, bahkan keteter hebat sehingga terdesak mundur berulang kali.
Cahaya pedang bagaikan air bah menggulung datang dari empat penjuru sekalipun keempat orang siluman itu berusaha menahan dengan senjata masing masing, namun serangan demi serangan yang dilancarkan Bwe Ling soat itu mendesak tiba terus tiada hentinya.
Baru saja serangan pertama berhasil dihadapi, serangan kedua sudah tiba, baru berhasil dengan serangan kedua itu dibendung, serangan berikutnya telah menyusul datang, walau hanya belasan jurus namun keempat orang siluman itu sudah kepayahan setengah mati.
Agaknya Kim san sia kiam dapat menyadari mara bahaya yang sedang mengancam saudara saudaranya, dia segera berseru.
"Suatu ilmu pedang yang bagus biar pun huthamcu yang akan menghadapi beberapa jurus ilmu pedang nona!"
Dengan tangan kiri memainkan kipas emas yang menciptakan selapis cahaya emas, pedang ditangan kananpun diayunkan ke muka bersama waktunya. Pikirnya.
"Aku Lam huang pat yau sudah menggerakkan lima orang jago, bila gadis she Bwe itu belum berhasil juga ditaklukkan, bisa jadi nama besar Lam huang pat yau akan rontok ditangannya"
Sekalipun ia telah mengeluarkan tanda rahasia untuk memperketat serangan dan daya tekanannya, namun semua usahanya itu belum berhasil juga menentangkan hasil seperti apa yang diharapkan.
Suatu ketika, Sam sim ti (seruling penyedih hati) Thian Sin yang berada ditepi arena mengira ada kesempatan baik untuk menyergap musuhnya, tiba tiba ia melompat ke samping Bwe Ling soat sambil menotok jalan darah Ki kut hiat diatas bahunya sambil menggunakan ilmu Tay ki na jiau hoat untuk merampas pedang lawan.
Kim san sia kiam Thio pit yang menyaksikan kecepatan gerak su te nya itu menjadi amat girang, apalagi setelah menjumpai bahwa serangan yang dilancarkan menggunakan gerak lurus yang ganas dan buas.
Siapa tahu pada saat itulah tiba tiba cahaya merah berkelebat lewat, tahu tahu pedang Bwe Ling soat bagaikan seekor ular sakti menerobos kemuka lantas menyelinap kebelakang punggung Sam sin ti Thian Sin.
ooooOoooo Padahal segenap perhatian dan kekuatan yang dimiliki Thian Sin ketika itu sedang tertuju untuk merebut pedang lawan, apalagi didalam ilmu Ki na jiau hoat tersebut telah disertakan juga tenaga dan kemampuan yang luar biasa didalam perkiraannya ancaman itu pasti tak akan meleset.
Tapi sayang ia sudah menilai terlalu rendah murid dari Lam hay Koan tiau kek ini.
Mendadak Bwe Ling soat menggerakkan pergelangan tangannya kebawah dengan jurus To piau hui wan (memutar gagang membalikkan waktu).
Akibatnya selain Sang Sim ti Thian Sim gagal untuk merebut senjata lawan, malahan sebaliknya pergelangan tangan kirinya kena terbabat kutung.
Ia menjerit kesakitan, darah segar berhamburan memenuhi seluruh permukaan tanah, saking sakitnya dia sampai jatuh tak sadarkan diri...
Dengan begitu, maka dari Lam huang pat yau sudah ada dua orang anggota yang tewas.
Menyaksikan keadaan tersebut Ang hun lo sat Hoa Long jin segera berkata dengan suara dingin.
"Nah, sekarang kalian baru percaya bukan bahwa ucapan pun tongcu bukan tipuan belaka? Sekarang dengarkan perintahku, segera mengundurkan diri dari sini!"
Seorang Bwe Ling soat saja sudah sedemikian hebatnya, apalagi jika Ong It sin turut serta melancarkan serangan dan bekerja sama dengan Pek lek to To Hu hong yang ada dalam lembah Lo sian kok, sudah bisa dipastikan segenap pasukan mereka akan punah ditempat itu.
Sudah cukup banyak kehebatan lawan yang diketahui kawanan iblis tersebut, dalam keadaan seperti ini, siapapun enggan untuk mencari penyakit lagi bagi diri sendiri.
Ditengah bentakan nyaring, serentak kawanan iblis itu angkat kaki dan mengundurkan diri dari tempat itu.
Dengan kaburnya para iblis, Ong It sin dan Bwe Ling soat segera meneruskan perjalanannya menuju ke mulut lembah.
Sambil tertawa lebar Coa Thian tam munculkan diri sambil menyambut kedatangan mereka katanya.
"Ong lote, bila kau datang terlambat selangkah saja, niscaya dalam lembah Lo sian kok ini akan bertambah dengan beberapa ratus lembar setan penasaran. Persoalan apa yang telah menangguhkan perjalananmu selama ini?"
Ong It sin segera maju ke depan dan mencekal tangan Coa Thian tam erat erat, sahutnya.
"Ketika siaute lewat di bukit Hoa san, secara kebetulan kujumpai Tee lwe siang mo dan rombongan yang baru berhasil menumpas Khong tong pay dan Heng san pay itu sedang bergerak ke bukit Hoa san untuk melakukan penumpasan"
"Oooh... kalau begitu lote telah turun tangan untuk menolong Hoa san dari ancaman bahaya maut"
Ong It sin segera menggelengkan kepalanya berulang kali.
"Kau salah menduga, justru nona inilah yang telah membebaskan Hoa san dari mara bahaya!"
Katanya.
Dalam pada itu, Pek lek to To Hu hiong kebetulan telah berjalan mendekati ketika mendengar perkataan tersebut, bersama Coa Thian tam mereka sama sama menjerit kaget.
Bagaimanapun juga mereka tidak menyangka kalau seorang gadis cantik yang lemah gemulai tersebut sanggup menghadapi serangan gabungan dari kawanan iblis yang rata rata berilmu tinggi itu.
"Lo te, dapatkah kau memperkenalkan kepada kami?"
Ujar Coa Thian tam kemudian.
"Tentu saja, nona ini bukan lain adalah cucu perempuan Kim liong lojin, ketua dari partai Hoa san yang bernama Bwe Ling soat..."
Mendengar jawaban tersebut, baik Coa Thian tam maupun To Hu hiong sama sama menjadi melongo, pikir mereka hampir berbareng.
"Sekalipun Hoa san terhitung juga sebagai suatu perguruan kenamaan, tapi bukan suatu pekerjaan yang gampang untuk menandingi kelihayan dari lwe siang mo..."
Itulah sebabnya dengan perasaan terkejut bercampur tercengang mereka awasi wajah gadis itu tak berkedip. Ong It sin segera tertawa kembali ujarnya.
"Walaupun begitu, ilmu silat nona Bwe bukan berasal dari Hoa san pay, dia adalah murid kesayangan dari Biau tau Seng ni dari Koan tiau kek di Lam hay!"
Sesudah mendengar perkataan yang terakhir ini Coa Thian tam serta To Hu hiong baru memahami keadaan yang sesungguhnya, dengan perasaan menghormat mereka lantas berkata.
"Rupanya nona adalah anak murid dari Koan tiau kek, kalau begitu dunia persilatan benar benar dapat tertolong dari bencana kemusnahan...!"
Dengan nada merendah Bwe Ling soat buru buru berseru.
"Aku dan It sin toako masih berpengalaman cetek, dikemudian hari kami masih banyak membutuhkan petunjuk dari Coa tayhiap serta To hu tayhiap..."
"Haaahh... haaahh... haaahh... tentu saja, tentu saja"
Jawab Coa Thian tam sambil tertawa tergelak.
"lo ji mengapa kau tidak mempersilahkan tamu kita masuk ke dalam perkampungan?"
Jelas perkataan yang terakhir itu ditujukan kepada Pek lek to To hu Hiong..."Aaah betul hampir saja aku menjadi lupa saking senangnya lantaran musuh musuh tangguh berhasil dipukul mundur, silahkan Ong sauhiap dan Bwe lihiap masuk ke dalam perkampungan untuk minum teh"
Kabar berita tentang berhasil dipukul mundurnya kaum iblis itu dengan cepat telah tersiar ke dalam lembah, ketika rombongan mereka baru tiba di pintu perkampungan, segenap isi kampung baik laki perempuan tua muda bersama sama munculkan diri untuk menyambut kedatangan tamu agung...
Andaikata si penjaga mulut lembah tidak menyaksikan dengan mata kepala sendiri, siapa yang akan percaya kalau sepasang muda mudi itu sungguh membuat Tee lwe siang mo yang tersohor karena kelihayan dan kekejamannya itu kabur terbirit birit.
Setelah masuk ke ruang tamu dan mengambil tempat duduk, nyonya To hu bersama putra dan putrinya muncul untuk bertemu.
Walaupun To hu hujin bukan orang persilatan, namun putra putrinya pernah belajar silat semua, terutama putra sulungnya To hu Lian, permainan golok Pek lek to hoatnya boleh dibilang setaraf dengan kehebatan bapaknya.
Sedang kedua putrinya yang seorang bernama To hu Bi, yang lain bernama To hu Siu, kedua duanya masih remaja.
Pek lek to To hu Hiong segera menitahkan orang untuk menyiapkan perjamuan.
Ditengah perjamuan tersebut, Coa Thian tam berkata.
"Sungguh tak disangka kita Ih lwe su eng telah kehilangan Ciu sam te dan sang su moay, bahkan tak seorangpun dari anggota keluarganya dibiarkan hidup. perbuatan dari orang orang Ki thian kau sungguh keji sekali, entah siapakah kaucu mereka?"
"Aku pun pernah mencari tahu soal itu dari para anggotanya"
Kata Ong It sin, tapi kenyataannya tak seorangpun yang tahu, tampaknya orang ini benar benar merupakan seorang manusia yang misterius"
"Peduli bagaimanapun rahasia dan misteriusnya orang itu, kita sudah menyebar surat undangan Bu lim tiap untuk menghimpun segenap kekuatan yang ada dalam dunia persilatan untuk bersama mencari markas besarnya, bila sarang rasenya sudah ketahuan masa dia tak akan menampakkan diri?"
Kata Pek lek to To hu Hiong.
"Dimana markas besar mereka?"
Tanya Coa Thian tam. Ong It sin berseru.
"Apa susahnya? Asal kita berhasil membekuk seorang tongcu atau Huhoat mereka, tidak sulit untuk memaksanya untuk memberi tahu kepada kita..."
"Yaa, benar! Agaknya kita memang terpaksa musti berbuat demikian..."
Bwe Ling soat yang selama ini cuma membungkam, tiba tiba mengusulkan.
"Aku lihat perkumpulan Ki thian kau berambisi untuk merajai dunia persilatan, cepat atau lambat mereka toh pasti akan melakukan pergerakan lagi, menurut pendapatku yang bodoh, asal kita bisa mendapat tahu apakah rencana mereka selanjutnya dan sasaran manakah yang selanjutnya akan mereka serang, asal kita siapkan jebakan disitu niscaya semua pasukan musuh dapat dimusnahkan. Dengan terjadinya pelajaran tersebut, masakah kaucu mereka tetap menyembunyikan diri?"
"Yaa, walaupun Khong tong pay, Heng san pay, Bu tong pay Cing sia pay, Tiong lam pay dan Go bi pay yang belum diganggu, kendatipun partai partai tersbut telah mendapat surat peringatan yang terakhir untuk menyerah"
"Go bi pay dan Cing sia pay terletak jauh di wilayah Szechwan bagian baarat, membawa pasukan menyerang ke tempat yang jauh merupakan pantangan terbesar bagi siasat pertemputan sebab gampang bocor beritanya maka menurut pendapatku mereka pasti akan menangguhkan rencananya untuk menyergap ke dua partai tersebut!"
Kata Ong It sin.
"jadi andaikata mereka hendak menyerang sudah pasti sasarannya adalah Siau lim pay atau Bu tong pay. Asal kedua partai besar ini bisa mereka taklukkan, keadaan dunia persilatan akan gawat jadinya"
"Kalau begitu, asal kita berjaga jaga disepanjang jalan raya yang menuju kekota Kay hong, entah mereka akan menyerang ke Siau lim pay ataukah Bu tong pay pasti akan melewati tempat itu"
Seru Coa Thian tam.
"Tepat sekali perkataan Coa toako, bagaimana kalau sekarang juga kita berangkat?"
Tiba tiba Bwe Ling soat berkata.
"Kemungkinan besar para gembong iblis yang menyerang kita tadi masih meninggalkan sebagian kekuatannya disekitar tempat ini. Demi keamanan, aku rasa sebelum tindakan selanjutnya kita ambil, terlebih dahulu kantor kantor cabang mereka harus dimusnahkan lebih dulu!"
Mendengar ucapan tersebut, Coa Thian tam yang pertama tama menyatakan persetujuannya.
Pek lek to To Hu hiong juga amat setuju dengan usul itu.
Pada saat itulah seorang Centeng yang dikirim turun gunung untuk mencari berita telah kembali.
Menurut laporan yang didapat, katanya markas kantor cabang Ki thian kau untuk kota Ling an terletak disebuah kuil bobrok di luar kota.
Malah katanya Te lwe siang mo dan Ang hun losat telah pergi meninggalkan tempat itu...
Coa Thian tam segera berkata.
"Lam huang pat yau adalah manusia manusia terkutuk yang sudah banyak melakukan kekejaman, dalam operasi rahasia yang kita adakan kali ini, kalau bisa jangan membiarkan seorangpun dari antara mereka yang dapat lolos dengan selamat"
Begitulah, setelah melakukan persiapan yang matang, malam itu juga berangkatlah mereka meninggalkan bukit See thian bok san dengan jalan menyamar.
Lebih kurang menjelang kentongan ketiga sampailah mereka di kota Ling an.
Sementara itu, Kim san sia kiam (kipas emas pedang sesat) Thio Pin sedang menghibur It ciang cin Sim Jit nio yang sedang dilanda kesedihan itu, katanya.
"Ngo moay, jangan bersedih hati, meskipun Siau ji te sudah tewas, aku toh tak akan sampai menyia nyiakan dirimu"
Sim Jit nio mengerling sekejap ke arahnya, kemudian menjawab.
"Toako, aku sekarang sudah bertubuh rapuh dan jelek, apakah kau tidak jemu kepadaku?"
Mendengar ucapan tersebut, Kim san sia kiam Thio Pin segera tertawa terkekeh kekeh, katanya.
"Justru kematangan seorang perempuan ada diatas umur, makin bertambah umur makin menarik dalam pandanganku, betul dibawah matamu sudah muncul keriput, tapi dadamu masih begitu montok dan padat berisi, buat seseorang yang lebih memandang kenyataan, mengapa aku musti keberatan untuk menerima dirimu?"
It ciang kim Sim Jit nio menjadi malu sekali bisiknya lirih.
"Toako jahat, senang amat kau mengajak orang untuk bergurau..."
"Kini sam moay, lak te dan jit te sudah pada tidur, mari kedalam kamarku, kita teruskan permainan diatas ranjang saja mau bukan?"
"Aaah... jangan toako jahat!"
Walaupun dimulut dia berkata begitu, tapi tubuhnya yang montok dengan payudara yang besar itu sudah ditempelkan diatas tubuh Thio Pin bahkan menjatuhkan diri dalam pelukannya.
"Apakah kau tidak kuatir sam ci cemburu?"
"Jangan urusi dia, rase binal itu mungkin sedang bermesrahan dengan lo lak!"
Seraya berkata dia lantas membopong tubuh perempuan itu dan masuk kedalam kamar tidurnya.
Tak lama setelah pintu kamar tertutup, dari dalam ruangan itu terdengarlah suara rintihan lirih serta dengusan napas memburu yang penuh membawa merangsang.
"Hayo kita turun tangan!"
Coa Thian tam yang sementara itu sudah bersembunyi disana segera berseru.
Dalam waktu singkat kobaran api segera membakar seluruh bangunan kuil bobrok itu, kebakaran yang terjadi secara tiba tiba ini sudah barang tentu mengejutkan segenap penjahat yang berada disana.
Dengan langkah tergopoh gopoh Lam huang pat yau menampakkan diri dari dalam kamar masing masing.
Siang to Yu To segera berseru kepada anak buahnya.
"Aai apakah kalian semua mampus? kenapa tidak berusaha untuk memadamkan api?"
Baru saja jago jago dari Ki thian kau itu hendak mengambil air untuk memadamkan kebakaran mendadak dari luar pintu terdengar seseorang berkata dengan dingin.
"Bajingan dari Ki thian kau dengarkan menyerahlah"
"Siapa disitu?"
Bentak sepasang golok Yu To dengan perasaan kaget bercampur marah.
Baru selesai bentakan itu dari balik kegelapan muncul seorang lelaki setengah umur berjubah hijau yang berdandan sebagai seorang sastrawan Orang itu muncul dengan pedang terhunus dan dia tak lain adalah Long tiong tayhiap (pendekar dari Szechwan) Coa Thian tam, salah seorang dari Ih lwe su eng.
Dengan kemunculan orang ini para siluman pun segera menyadari apa gerangan yang sudah terjadi.
"Hanya kau seorang?"
Jengek si Jari bayangan darah Wong Leng "Tidak, masih ada tiga orang lagi!"
"Apakah termasuk sepasang anjing lelaki perempuan itu?"
Seru Kim san sia kiam Thio Pin.
"Hmm! Dengan berdasarkan ucapanmu itu Ong lote tak akan mengampuni jiwamu!"
"Toako tak usah banyak berbicara lagi, hayo segera kita babat mereka semua!"
Maka bayangan golok cahaya pedang pun menyambar kian kemari, jeritan ngeri yang menyayatkan hati segera berkumandang dari mana mana.
Didalam keadaan begini, terpaksa Lam huang pat yau harus maju ke depan untuk memberi perlawanan.
Siluman rase hitam Ay Bi dan si jari bayangan darah Wong Ling menghadapi Long tiong tayhiap Coa Thian tam.
It ciang kim Sim Jit nio yang masih berpakaian kusut bersama sepasang golok Yu To bertempur melawan Pek lek to To hu Hiong.
Baru saja Kim san sia kiam Thio Pin hendak menitahkan anak buahnya untuk mengerubuti kedua orang itu, tiba tiba dari balik pintu berjalan masuk Ong It sin dan Bwe Ling soat.
Menyaksikan kedua orang muda mudi itu, dengan ketakutan Thio Pin mundur berulang kali ke belakang kemudian kabur ke dalam ruangan.
Bwe Ling soat segera mengejar dari belakang sambil berseru.
"Orang she Thio katanya saja kau seorang jago dari dunia persilatan, kalau punya nyali hayo bertarung melawan nonamu!"
Berulang kali ia berteriak sambil menantang, akan tetapi tiada jawaban yang terdengar dari dalam ruangan itu Ong It sin lantas berkata.
"Nona Bwe ruangan ini tak ada jendelanya, tak nanti ia bisa kabur, jaga saja pintu keluarnya, aku akan membantu Coa toako untuk melenyapkan dulu anakan iblis tersebut!"
Seraya berkata pedang Kim liong kiamnya digetarkan keras, selapis cahaya hitam segera memancar ke empat penjuru.
Batok kepala manusia bergelindingan ke atas tanah darah kental bercucuran memenuhi seluruh tempat semua anggota Ki thian kau yang tak sempat melarikan diri hampir mati semua diujung pedangnya.
Tak lama kemudian Sepasang golok Yu To ikut tertembus pedang dan tewas dalam keadaan mengerikan.
Menyusul kemudian It ciang kim Sim Jit nio terpapas pinggangnya hingga kutung menjadi dua bagian.
Melihat rekannya mati semua sijari bayangan darah Wong Ling menjadi panik, baru saja dia hendak kabur, sebuah bacokan golok Pek lek to dari To hu Hiong mencabik tubuhnya menjadi dua bagian.
Akhirnya siluman rase hitam Ay Bi juga kena tertusuk ulu hatinya hingga mampus.
Melihat para pemimpinnya sudah pada mampus para anggota Ki thian kau lainnya yang tak sempat melarikan diri segera berlutut minta ampun.
Dengan suara lantang Ong It sin lantas berkata.
"Jiwa kalian meski bisa diampuni, tapi ilmu silatnya harus dimusnahkan..."
Dalam waktu singkat ia melancarkan berpuluh puluh totokan kilat ketubuh kawanan penjahat itu sehingga ilmu silat yang dimiliki semua penjahat itu punah tak berbekas.
Dari pertarungan dimulai sampai pertempuran berakhir, ternyata Kim san sia kiam Thio Pin yang berada dalam ruangan belum juga munculkan diri.
"Nona Bwe, harap menyingkir, aku akan melihat dimana ia menyembunyikan diri!"
Ketika pintu ruang dihantam sampai roboh ternyata ruangan itu kosong melompong, entah kemana kaburnya gembong iblis tersebut.
Setelah diperiksa dengan seksama, akhirnya ditemukan sebuah lorong rahasia ditempat itu, rupanya sikipas emas pedang sesat Thio Pin telah melarikan diri lewat lorong tersebut.
Kendatipun demikian, akibat pertarungan tersebut kecuali Kim san sia kiam Thio Pin seorang yang berhasil meloloskan diri hampir semua anggota dari Lam huan pat yau telah terbasmi habis.
Ong It sin lantas berkata.
"Bila dugaanku tidak salah, Kim san sia kiam Thio Pin pasti telah kabur kembali kemarkas besarnya kini kantor cabang kota Leng an sudah musnah, untuk dibangunpun mungkin agak susah, mari kita kembali kekota Siang sia untuk mempersiapkan diri!"
Maka para jago pun segera berangkat meninggalkan tempat itu.
Markas Ki thian kau yang terletak di bukit Long ya san, para gembong iblis sedang berkumpul dalam balai pertemuan.
Diatas singgosan duduklah seorang lelaki berkain cadar warna hitam.
Kalau dilihat dari bayangan punggung lelaki itu, tampaknya masih muda belia, tapi siapapun tak tahu siapa gerangan dia yang sebenarnya.
Semua orang hanya tahu kalau dia adalah wakil ketua dari perkumpulan Ki thian kau.
Bukan saja hu kaucu ini memiliki ilmu silat yang sangat lihay, lagipula otaknya cerdas dan mempunyai banyak akal busuk.
Berhubung pada waktu itu sang kaucu sedang menutup diri untuk melatih sejenis ilmu silat yang sangat lihay, maka semua persoalan yang mengenai perkumpulan diatasi olehnya sendiri.
Semenjak Tee lwe siang mo gagal menaklukkan partai Hoa san dan dikalahkan oleh sepasang muda mudi, bahkan setelah tahu kalau muda mudi itu yang seorang adalah ahli waris dari Leng mong Sengceng di kuil Sian goan si, sedang yang lain adalah murid Biau lam Seng ni dari Koan tiau kek rencana mereka untuk menaklukkan pelbagai perguruan pun mengalami pengaruh yang sangat besar.
Menyusul diterima laporan yang mengatakan bahwa sepasang muda mudi itu muncul pula di lembah Lo sian kok dibukit See thian bok san dimana tiga orang anggota dari Lam huang pat yau tewas.
Sementara semua orang masih murung dengan rentetan kekalahan yang diderita itu, keesokan harinya datanglah Kim san kiam yang melaporkan musibah dikantor cabang kota Leng an sambil menangis tersedu sedu.
Mendengar laporan itu, dengan gusar Hu kaucu tersebut segera bertanya.
"Siapakah nama sepasang muda mudi itu?"
"Tau huhoat mengetahui akan hal ini"
Sahut Kim san sia kiam Thio Pin dengan cepat. Mendengar itu, Hu kaucu yang bercadar kain hitam itu segera berpaling ke arah samping, kemudian tanyanya.
"Tau huhoat, benarkah kau mengetahui akan hal ini?"
"Hamba tahu!"
Sahut Tau Chin cepat.
"yang perempuan adalah cucu perempuan dari Kim liong lojin, itu ketua dari Hoa san pay yang bernama Bwe Ling soat, sedangkan yang lelaki bernama Ong It sin..."
"Ong It sin?"
Seru hu kaucu dengan perasaan bergetar keras.
"apakah dia bertampang jelek, bermulut seperti congor babi, hidung pesek, mata melotot dan kening sempit?"
"Ketika bertemu dibukit Hoa san, dia memang bertampang demikian!"
Hu kaucu itu segera tertegun.
"Kalau didengar dari perkataanmu itu, apakah selanjutnya wajahnya mengalami perubahan?"
"Benar, ketika Sin tongcu berhasil membentuknya di karesidengan Leng kok sian, dikemukakan topeng kulit manusia!"
"Bagaimanakah wajah aslinya?"
"Seorang lelaki tampan yang sukar dicarikan tandingannya didunia ini...!"
"Percayakah kau bahwa mereka adalah satu orang yang sama?"
"Hamba yakin penglihatan kami tidak salah!"
"Atas dasar apa kau berani berkata demikian?"
"Hamba yakin dia adalah Ong It sin, karena meski wajahnya yang jelek tiba tiba jadi berubah. Selain itu Kim liong kiam yang tersoren dipunggungnya merupakan bukti yang lebih nyata"
Wakil ketua dari Ki thian kau itu tidak berbicara lagi, agaknya dia sudah tahu siapa gerangan lelaki yang bernama Ong It sin itu.
Tanpa banyak berbicara, Hu kaucu itu segera bangkit berdiri dan masuk ke dalam istana.
Di ruang dalam, seorang nyonya setengah umur sedang berbaring diatas pembaringan dengan santainya, ketika melihat kemunculkan Hu kaucu tersebut, dengan nada yang gesit dia menegur.
"Persoalan apa yang membuat kau berada lama sekali diluar?"
Dengan wajah murung sahut Hu kaucu.
"Lapor kepada Tay sang kaucu, ahli waris dari Ih lwe ji seng terus menerus memusuhi perkumpulan kita!"
"Apakah mereka telah membuat gara gara di kantor cabang kita!"
"Benar, kedua orang ini dengan membawa berita dari kantor cabang kita dikota Leng an"
"Oooh..."
Seru Tay sang kaucu. Sebelum ia sempat mengucapkan sesuatu, Hu kaucu telah berkata lebih jauh.
"Lagi pula cara kerja mereka amat keji, selain ketua kantor cabang seorang yang berhasil kabur, hampir semua anggota lainnya kena dibasmi, kalau bukan ditewaskan, ilmu silat mereka telah dimusnahkan"
Tay sang kaucu tersebut tak lain adalah si Kelabang hitam Be Ji nio, sekalipun dia tersohor karena kekejiannya, toh terkesiap juga hatinya setelah mendengar laporan tersebut, katanya kemudian.
"Bu cing, turunkan perintah ke seluruh kantor cabang, bila sampai bertemu lagi dengan kedua orang itu, berusahalah untuk menghindari segala bentuk bentrokan, bila waktu yang kita nantikan sudah sampai nanti, mereka baru kita basmi sampai ludas!"
Ternyata wakil ketua dari perkumpulan Ki thian kau ini tak lain adalah Sangkoan Bu cing putra dari Bwe hoa kiam kek.
Sekalipun hitam diatas putih dia adalah suami Be Siau soh, tapi berhubung Siau soh sedang menutup diri guna mempelajari ilmu maha sakti yang terdapat diatas sarung naga berusia seribu tahun itu, maka dia mengadakan hubungan gelap dengan mertuanya yang memang tersohor karena kejalangannya itu.
Sambil duduk ditepi pembaringan dan tertawa, dia kembali berkata.
Selain itu masih ada sebuah kabar busuk lagi.
"Kabar busuk apa? Termasuk urusan kumpulan? Ataukah urusan pribadi kita berdua?"
"Tentu saja urusan pribadimu!"
Be nio mengerling jalang kearahnya, kemudian makinya. 000ooooodeooowiooooo00
Jilid 21
"SETAN cilik, kau berani bergurau dengan lo nio? Ketahuilah, kehebatan racun yang dimiliki oleh kelabang hitam tiada tandingannya dikolong langit, siapa saja yang bertemu dengan kupastikan akan ketakutan setengah mati, kecuali urusan kita berdua telah diketahui oleh Siau soh si budak cilik itu, masa ada berita lebih buruk lagi buat kita?"
"Oooh... Ji nio ku sayang, jangan lupa, ketika kau bersama Kim san sia kiam Thio Pin Tiang bi lo yau Ik tianglo berlima merampas kotak kemala diluar perbatasan dulu kalian telah membunuh Kim to bu tek Ong Tan thian!"
Dengan tangannya si Kelabang hitam Be Ji nio menowel pipi Sangkoan Bu cing, kemudian katanya sambil tertawa.
"Aaah, itu mah urusan yang sudah lewat banyak tahun, lo nio sudah melupakannya!"
"Ji nio, tahukah kau siapakah ahli waris dari Leng mong Sin ceng yang datang dari kuil Sian goan si itu?"
Be Ji nio segera menggelengkan kepalanya.
"Dia bukan lain adalah putranya Kim to bu tek Ong Tang thian yang bernama Ong It sin"
Kata Sangkoan Bu cing. Be Ji nio segera tertawa terkekeh kekeh.
"Heeehhh... heeehhh... heeehhh... kalau orang lain yang kau sebut, mungkin lo nio akan waspada, tapi kalau Ong It sin simanusia tolol itu yang kau singgung, lo nio mah tidak ambil pusing!"
"Air samudra tak bisa ditimbang, melihat orang jangan menilai dari wajahnya, justru kekalahan perkumpulan kita yang secara beruntun ini konon hancur ditangan sibocah keparat tersebut. Huuh...! Rupanya orang lain sudah tidak tolol lagi, malahan katanya ilmu silat yang dimiliki bajingan tersebut lihaynya bukan kepalang, aku lihat Ji nio sayang! Kau harus mulai mempersiapkan diri, agar jangan sampai terkena apesnya bangsat tersebut!"
OooOdwOooo Be Ji nio tertawa lebar, katanya.
"Dulu lo nio juga sudah tahu kalau Ong Tang thian mempunyai seorang keturunan yang dititipkan di kediaman Gin sin Li Liong di lembah Li hukok, akupun telah menyelidiki ke situ ketika kuketahui bahwa Ong It sin tidak lebih cuma seorang bocah yang mana jelek, goblok lagi maka niatku untuk membunuhnya menjadi padam aku tidak percaya kalau ia menjadi pintar setelah belajar silat. Seandainya dia tidak mencari lo nio untuk membuat perhitungan, urusan sih mendingan, kalau tidak lo nio pasti akan menghadiahkan segumpal jarum beracun Hong wi ciam untuk mengirimnya pulang ke akhirat"
Ucapan tersebut diutarakan amat enteng dan santai, seakan akan sama sekali bukan suatu persoalan yang serius.
Tapi Sangkoan Bu cing segera berkata lagi, bahkan ucapan tersebut seakan akan sebaskom air dingin yang mengguyur diatas kepalanya.
"Kita sudah berpisah cukup lama, kau tahu Ong It sin yang sekarang sudah bukan Ong It sin yang dulu lagi, bukan saja ia tampan rupawan, bahkan cerdik sekali!"
Be Ji nio segera melompat bangun dari atas pembaringan, teriaknya.
"Sungguhkah perkataanmu itu?"
"Ji nio, apa sih hubungan kita berdua? Buat apa aku musti membohongi dirimu?"
Setelah urusan menjadi begini, Ji nio baru merasakan betapa seriusnya persoalan itu. Sangkoan Bu cing melirik sekejap ke arahnya, kemudian sengaja ia membakar lagi hatinya.
"Ketika dulu sebelum belajar ilmu, bangsat itu sudah berkelana kesana kemari mencari musuh besar pembunuh ayahnya, sekarang ia sudah berhasil memiliki ilmu silat yang maha dahsyat, coba bayangkan, apakah ia tidak bakal mencari musuh besar pembunuh ayahnya untuk membuat perhitungan berdarah?"
"Ketika melakukan perbuatan tersebut dulu, aku melakukannya dengan sangat berhati hati, tidak mungkin bangsat itu bisa tahu kalau akulah otaknya"
"Ji nio, tolol amat sih kau ini, jarum Hong wi tok ciam adalah sebuah jarum beracun yang sangat lihay, apakah didalam dunia ini terdapat orang kedua yang mempergunakannya?"
"Yaa, betul, memang tak ada orang lain yang bisa menggunakan senjata rahasia tersebut!"
Sahut Be Ji nio sambil tertawa bangga.
"Nah, itulah dia! Ketika kau berhasil membunuh Ong Tang thian dulu, jarum beracunmu telah ditemukan oleh Ho hoa siancu Liok Tui dari Tiong lam pay, apakah hal ini bukan merupakan suatu titik terang yang gampang diketahui orang?"
"Bocah muda, aku tahu kalau kau punya banyak akal busuk, hayolah bantu aku untuk mencarikan sebuah akal bagus!"
"Hanya orang yang diberi balas jasa yang akan rajin bekerja, dengan apa kau hendak memerseni aku?"
Be Ji nio segera mengetuk kening Sangkoan Bu cing dengan ujung jarinya, ia mengomel.
"Kau si bocah muda betul betul tak punya liangsim, bukan saja putriku sudah kau makan, lo nio pun ikut kau lalap, apakah masih kurang puas...?"
Sangkoan Bu cing segera mengangkat bahunnya.
"Ji nio sesungguhnya aku yang telah melalap dirimu, ataukah aku terpaksa menuruti kemauanmu karena takut melanggar perintah? Hayo jawablah menurut liangsimmu"
Be Ji nio segera tertawa cekikikan.
"Kau betul betul tak punya liangsim, nah, asal kau bersedia membantuku untuk membunuh Ong It sin, sibocah busuk itu, lo nio jamin kau pasti mendapat kesempatan untuk turut serta melatih ilmu silat yang tercantum diatas sarung pedang cian nian liong siau tersebut"
Yang dinantikan Sangkoan Bu cing tak lain justru adalah perkataan itu, ia menjadi amat gembira setelah mendengar ucapan tersebut, serunya dengan cepat.
"Terima kasih Ji nio!"
Agaknya Be Ji nio sudah tak berniat untuk bermain cinta pada saat ini, dengan cepat dia berseru.
"Sekarang kau jangan berterima kasih dulu kepadaku, hayo cepat carikan dulu akal bagus buat lo nio untuk menghadapi Ong It sin si bocah busuk tersebut!"
Sangkoan Bu cing kembali tertawa terkekeh kekeh.
"Tapi sayang sebelum melakukan suatu olah raga diatas ranjang yang bisa mengendorkan urat syaraf, otaknya serasa tak mau jalan"
Be Ji nio segera menghela napas panjang "Aaai... sayangku, kau betul betul pandai menyiksa orang, hayolah kita lakukan sekarang!"
Sembari berkata dia lantas merangkul Sangkoan Bu cing dan dipeluknya dengan hangat.
Selanjutnya terjadilah suatu hubungan yang gelap antara sang menantu dengan mertuanya sekalipun mereka berbeda banyak dalam usia, tampaknya perbedaan tersebut tidak memengaruhi kedua belah pihak untuk sama sama mencari kenikmatan dan kepuasan dari tubuh masing masing.
Ketika selesai "membuang hajad", sambil menghembuskan napas lega Be Ji nio bertanya.
"Sekarang tentunya kau sudah merasa lega bukan?"
"Yaa, terasa lega sekali!"
"Nah, bawa kemari siasatmu itu!"
Agaknya perempuan setengah baya ini berprinsip setelah membayar kontan maka barang diminta.
Tampaknya Sangkoan Bu cing sudah mempunyai persiapan yang cukup matang, bisiknya "Siasat yang bagus tak boleh sampai terdengar oleh telinga keenam..."
Be Ji nio mengerling sekejap ke arahnya, katanya.
"Tempat ini toh kamar tidurku, kecuali aku siapa saja tak boleh kemari, apa yang kau takuti?"
"Tapi dibalik dinding toh besar kemungkinan ada telinga telinga yang lain?"
Be Ji nio berpikir sebentar, kemudian katanya.
"Kalau begitu hanya ada satu cara. Bagaimana kalau keluar dari mulutmu, langsung masuk ke telingaku?"
"Aku rasa memang cara ini paling bagus"
Maka kedua orang itupun kembali berangkulan sambil berbisik bisik amat lirih. Selesai mendengar siasat itu, Be Ji nio segera berkata.
"Rencana ini memang sangat bagus, cuma kalau tidak manjur, hati hati dengan batok kepalamu itu!"
"Tak usah kuatir Ji nio aku sengaja menyusun rencana itu setelah disesuaikan dengan wataknya, tanggung dia pasti akan terjebak oleh siasat kita"
"Kapan berangkat?"
"Menurut laporan dari kantor cabang Kang han Say bin jin mo bersama Tee leng kau telah berhasil menaklukkan Kun lun, sekarang mereka sudah berada seratus li dari markas besar, bila mereka sudah sampai disini kita boleh memilih orang dan segera berangkat"
Be Ji nio manggut manggutkan kepalanya dengan puas, sambil kemalas malasan diapun bangkit dari pembaringannya sambil mengenakan kembali pakaiannya yang semula telah ditanggalkan semua itu.
Keesokan harinya ketika fajar baru saja menyingsing Say bin jin mo dan Tee leng kun serta sekalian jago jagonya telah balik kedalam markas.
Dalam markas besar selain diselenggarakan pesta perjamuan, Hu kaucu juga mengumpulkan Tee leng kun, Say bin jin mo, Tee ih siang mo yaitu Tau Chin dan Tau Chu dua bersaudara, serta Ang yok pek tau, Ui kiok dan Pek bwe empat orang tongcu untuk mengadakan suatu rapat rahasia.
Selesai rapat diadakan, yang diketahui adalah tetap tinggalnya Ui kiok dan Pek bwe tong cu melindungi markas besar.
Sedangkan sisanya dengan Tee leng kun sebagai pemimpinnya membawa Ciong lay su sia, Wu san jit sia cap si yau yang tinggal beberapa orang serta kawan jago lainnya berangkat menuju ke bukit Siong san kuil Siau lim si.
Sementara kawanan iblis yang dipimpin oleh Hu kaucu dan Tay sang kaucu dengan jalan menyamar berangkat lebih duluan untuk berjaga jaga dikota Teng hong Yong yang Sian yang dan disekitarnya untuk bersiap siap memasang perangkap sambil menunggu lawannya masuk jebakan.
Sesungguhnya tindakan mereka ini merupakan suatu rencana yang sempurna dan amat keji.
Tapi sayang Ong It sin tak menduga sampai kesitu.
Berita tentang diserangnya kuil Siau lim si oleh perkumpulan Ki thian kau, tak sampai setengah hari kemudian sudah tersiar dalam dunia persilatan.
Ong It sin sekalian yang sedari sebelumnya sudah berjaga jaga dikota Siang sia menjadi tertawa sendiri setelah mendengar kabar tersebut tapi mereka tidak merasa gembira.
Sebab jago jago yang diutus oleh pihak Ki thian kau kali ini, selain terdiri dari jago jago lihay yang datang dari markas besar juga ditunjang oleh delapan kantor cabangnya dan tiga belas ranting, jumlah mereka mencapai dua ribu orang lebih.
"Untung Coa toako telah berangkat kekuil Siau lim lebih dulu"
Kata Pek lek to hu Hiong.
"kalau tidak bukankah ciangbunjin partai Siau lim akan ketakutan dan menyerah kalah?"
"Gerak gerik Ki thian kau juga tampak aneh sekali"
Kata Ong It sin "hanya dalam tiga hari yang singkat, mereka telah berhasil menghimpun pasukan sebesar ini bahkan tidak diketahui darimana datangnya, coba bayangkan, apakah kejadian ini tidak aneh?"
"Hal ini hanya bisa menyalahkan mata mata kita yang kurang gesit"
Kata Bwe Leng soat.
"sama sekali tak usah diherankan!"
"Sepantasnya mereka menyerang kuil Siau lim si dengan jalan suatu penyergapan, dengan demikian serangan tersebut baru akan membuat pihak Siau lim pay gelagapan. Tapi heran, mengapa mereka tidak memanfaatkan peluang ini, jangan jangan mereka punya maksud lain?"
"Menurut pendapatku"
Kata Pek lek to To hu Hiong.
"belum tentu demikian halnya, sekalipun nama besar pihak Siau lim belakangan ini merosot jauh kalau dibandingkan dengan seratus tahun berselang, tapi diantara pelbagai perguruan besar, pihak mereka masih terhitung suatu kelompok perguruan yang kuat Ki thian kau pasti tahu bahwa pertarungan ini akan mengakibatkan banyak korban berjatuhan, maka mereka baru menghimpun kekuatan yang besar untuk melancarkan serangan secara besar besaran"
Perkataan ini memang masuk diakal juga! "Kalau begitu kita harus segera berangkat ke kuil Siau lim si"
Seru Bwe Leng soat kemudian.
"tak usah banyak berpikir yang bukan bukan lagi, hayo berangkat!"
Begitu berbicara sampai disitu, dia lantas menitahkan kepada pelayan untuk mempersiapkan kuda mereka.
Dengan menunggang kuta, berangkatlah ketiga orang itu menuju ke kota Teng hong.
Sayangnya begitu mereka keluar dari kota Siang yang, jejaknya segera diketahui orang.
Mata mata pihak Ki thian kau yang ditugaskan untuk mencelakai jejak mereka, segera mengirim laporan kepada si Kelabang hitam Be Ji nio dengan melalui merpati pos.
Begitu Be Ji nio menerima laporan, dengan cepat ia menarik sekalian jago jagonya yang berada di kota Yong yang dan Siang yang untuk berkumpul di kota Teng hong serta melaksanakan tugas seperti apa yang telah mereka rencanakan sebelumnya.
Ong It sin bertiga dengan melalui kota Pek tiok, ki kiau, Kho cong, so kiau akhirnya tiba di kota Tiang kat.
Sewaktu tiba dikota Tiang kat waktu sudah menunjukkan kentongan kedua.
Suasana dipasar malam yang ada disepanjang jalan raya ramai sekali dikunjungi orang.
Pek lek to To hu Hiong segera membawa mereka sekalian menuju ke rumah penginapan yang memakai merek Kim kilin.
Selesai membersihkan badan serta bersantap, Ong It sin sekalian bertiga lantas kembali ke kamarnya masing masing untuk beristirahat.
Setelah pada siang harinya melakukan perjalanan jauh yang melelahkan, tidur mereka pada malam itu nyenyak sekali.
Ketika kentongan ketiga malam itu menjelang tiba, tiba tiba diatas wuwungan rumah penginapan Kim kilin muncul dua sosok bayangan manusia.
Dengan suatu gerakan yang sangat enteng kedua sosok bayangan manusia itu melayang turun ketengah halaman.
Ternyata mereka berdua tak lain adalah Tee lwe siang mo yang terdiri dari Tau Chin dan Tau Chu dua orang.
Ketika tiba didepan kamar yang ditinggali Ong It sin dua bersaudara dari keluarga Tau itu segera meloloskan sebilah pisau belati yang tajam untuk memotong palang pintu samping, kemudian diam diam menyelinap masuk keruang dalam.
Tee lwe siang mo adalah jago jago yang sudah terlatih untuk melihat ditempat kegelapan, hampir semua benda yang berada dalam ruangan itu dapat mereka lihat semua dengan jelas.
Mereka berdua menyaksikan Ong It sin berbaring diatas pembaringan dan sedang tertidur nyenyak, malah lamat lamat kedengaran suara pernapasannya yang teratur.
Tau Chin segera memberi tanda kepada adiknya untuk mendekati pembaringan, sedang Tau Chu dengan gerakan yang sangat berhati hati pelan pelan menyingkap kelambu didepan pembaringan.
Tau Chin segera menggetarkan pedangnya lalu menusuk ke arah tenggorokan Ong It sin sementara mulutnya memperdengarkan suara tertawa seram yang menggidikkan hati.
Siapa tahu, baru saja gelak tertawanya berkumandang, mendadak sesosok bayangan menggulung pedang Tau Chin yang menyebabkan tusukannya tak mampu dilanjutkan kembali.
Kiranya bayangan hitam yang menyambar ke udara itu tak lain adalah selimut.
Tee lwe siang mo amat terperanjat, cepat cepat mereka melompat mundur untuk menghindarkan diri.
Pada saat itulah Ong It sin melyang turun dari atas pembaringan, setelah menyapu sekejap wajah kedua orang iblis itu katanya.
"Bagaimanapun juga kalian berdua juga terhitung jago kenamaan dalam wilayah Liok lim, kenapa perbuatan kamu berdua begitu rendah bagaikan kaum kurcaci? Tidak malukah kalian bila sampai ditertawakan orang banyak...?"
Gagal melakukan penyergapan, Tau Chin tertawa seram, serunya dengan dingin.
"Orang she Ong, tempo hari lohu sangat tidak puas karena kalah ditanganmu, beranikah kau menerima tantangan kami bersaudara untuk berduel pada malam ini?"
"Huuuh! Siapa yang takut kepadamu? Katakan saja kalain akan menungguku dimana?"
"Dalam hutan Liu diluar kota!"
"Baik, silahkan kalian berangkat duluan aku pasti akan tiba ditempat itu"
"Apakah kau ingin mencari pembantu lebih dulu?"
Ong It sin segera tertawa dingin sesudah mendengar perkataan itu, sahutnya sinis.
"Untuk menghadapi kalian berdua aku seorang diripun sudah lebih dari cukup"
Sementara pembicaraan berlangsung, ia telah selesai berpakaian, maka berangkatlah pemuda itu menyusul dibelakang sepasang gembong iblis tersebut.
Dengan kecepatan yang luar biasa, berangkatlah ketiga orang itu menuju kesebuah tanah lapang dalam hutan Liu diluar kota.
Baru saja Ong It sin berhenti bergerak, dari balik kegelapan segera muncul kembali dua sosok bayangan manusia.
Orang yang ada disebelah kiri berbadan kurus ceking dengan indera hampir menempel menjadi satu, kepalanya gundul dengan alis mata yang patah dan mata tikus, orang ini jauh lebih jelek tampaknya ketimbang wajah sendiri bila mengenakan topeng kulit manusia, tapi jubahnya justru berwana keemas emasan.
Orang itu bukan lain adalah Kek po pocu yang bernama Tee leng kun.
Sedangkan orang yang berada disebelah kanan bertubuh tinggi kekar, kasar dengan hidung cekung kedalam, bibir tebal, rambut kuning yang berikal dan terurai ke bawah.
Orang inipun pernah dijumpainya sebab dia tak lain adalah Say siu jin mo (iblis manusia berkelapa singa).
Dalam waktu singkat, keempat orang gembongan iblis itu telah mengambil posisi di empat penjuru dan mengepung musuhnya rapat rapat.
Ong It sin berdiri angker ditengah arena dengan sekulum senyuman dingin tersungging diujung bibirnya, kepada Tee lwe siang mo ejeknya.
"Tadinya aku masih keheranan, kenapa kalian siprajurit prajurit yang kalah perang begitu berani menantang aku untuk berduel, kiranya banyak juga bala bantuan yang telah kau undang. Setelah berhenti sejenak terusnya.
"Sayangnya sekalipun berhasil menangkan pertarungan, kemenangan ini juga tidak terlalu cemerlang"
"Bocah keparat kau takut?"
Ejek Tau Chin sambil tertawa seram.
"Tentu saja aku takut kalian cuma punya sepasang kaki sehingga tak sanggup lari dengan lebih cepat lagi"
"Keparat sialan!"
Bentak Tau Chin marah.
"kematian sudah didepan mata, kau masih begitu berani meledek kami? Saudara sekalian, kenapa kita tidak turun tangan sekarang juga untuk membereskannya, dari pada malam yang terlalu panjang akan berakibat impian yang terlalu banyak...?"
Ong It sin masih juga menyembunyikan sepasang tangannya dibalik jubah yang lebar, ketika mendengar perkataan tadi, dia lantas mengejek "Yaa, siapa duluan yang akan maju untuk menghantar kematian"
Tiga tahun berselang, ketika berada dibentang Khek poo Say siu jin mo pernah menotok jalan darah orang dengan ilmu Kiu thian ho sui kang yang menyebabkan pemuda itu berguling guling karena kesakitan, walaupun kejadian ini sudah berlangsung pada tiga tahun berselang, namun ia tak percaya kalau pemuda ini telah berilmu tinggi sekalipun beberapa tahun terakhir ini telah belajar silat dari Leng mong Seng ceng.
Itulah sebabnya dengan langkah lebar dia lantas maju ke depan, kemudian katanya kepada tiga orang iblis lainnya.
"Saudara sekalian, biar lohu yang mencoba lebih dulu sampai dimanakah kehebatan dari bocah keparat ini!"
Sebenarnya Tee lwe siang mo akan menampik, tapi Tee Leng kun sudah keburu berseru "Lohu juga merasa kalau persoalan yang kecil sengaja dibesar besarkan, silahkan saja kau untuk menjajal kepandaiannya terlebih dahulu"
Say siu jin mo segera melangkah kedepan tangannya dengan kecepatan luar biasa mencengkeram dada Ong It sin.
"Bocah keparat sambut dulu sebuah seranganku ini!"
Ilmu cengkeraman Hong say jiau (cakar singa gila) yang diyakininya ini sudah mengalami banyak kemajuan yang cukup pesat selama banyak tahun belakangan ini, jangankan tubuh yang terdiri dari darah dan daging, sekalipun terdiri dari batu karang juga akan hancur bila sampai tercengkeram olehnya.
Tapi anehnya, ternyata Ong It sin cuma berdiri tenang saja tanpa bermaksud untuk menghindar, selain bajunya yang kelihatan menggelembung besar, tidak nampak gejala lain yang aneh.
Akan tetapi, begitu cengkeraman dari Say siu jin mo bersarang ditubuh anak muda tersebut, dia segera merasakan tangannya seolah olah sedang mencengkeram diatas sebuah benda lembek yang sama sekali tak bertenaga apa apa.
Rupanya Ong It sin telah mempergunakan ilmu Boan yok ji kok sip kang untuk menghadapi ancaman tersebut.
Dengan cepat Say siu jin mo merasakan tangannya menjadi sakit sekali bagaikan akan patah dia tahu bila serangan itu tidak buru buru ditarik kembali, akibatnya dia akan menderita kerugian yang besar sekali Dalam kaget dan gugupnya, tergopoh gopoh dia menarik kembali serangan cengkeramannya dan diubahnya menjadi serangan memukul.
Dia masih mencoba untuk meraih kembali nama baiknya dengan sodokan tinju tersebut.
Siapa tahu, baru saja kepalannya meluncur ke depan, Ong It sin telah membalikkan tangannya sambil membabat.
Babatan ini dilakukan amat dahsyat membuat serangan yang luar biasa hebatnya dari Say siu jin mo itu harus disalurkan ke samping untuk menghindari serangan keras lawan keras yang merugikan bagi dirinya.
Sreet...!
Sreeeet...!
Sreet...!
desingan tajam menderu deru segera menyambar beberapa puluh batang pohon liu yang berada puluhan kaki jauhnya dari arena itu sehingga patah beberapa bagian.
Ong It sin segera mengejek.
"Hei, kalau tahu kalah dalam pertarungan, janganlah menggunakan pohon Liu yang tak bersalah untuk pelampiasan hawa amarah!"
Mendengar ejekan tersebut, kontan saja merah padam selembar wajah Say siu jin mo karena jengah.
Dengan cepat dia meloloskan pedangnya sambil berseru "Bocah keparat, rupanya ilmu Cian ing sin kang (ilmu sakti memancing tenaga untuk disalurkan ke arah lain) dari si Leng mong keledai gundul telah diwariskan pula kepadamu, bangsat!
Lihat tusukan pedang kilatku ini!"
Serangan yang dilancarkan dengan penuh kegusaran ini luar biasa hebatnya, Ong It sin tak berani menanggapi secara gegabah. Seraya berkelit ke samping, ejeknya lagi.
"Kwik losu, kau toh sudah tua, buat apa musti membantu kaum jahanam untuk melakukan kejahatan?"
Gagal dengan tusukan pedangnya, Say siu jin mo telah bersiap siap untuk melancarkan serangan berikutnya, tapi Tee leng kun yang berada di samping arena segera berseru.
"Sudahlah saudara Kwik, biar aku saja yang maju bila akupun tak mampu, lebih baik kita keroyok saja keparat itu!"
Berbicara sampai disitu, Tee leng kun segera meloloskan sebuah ruyung tulang putih dari sakunya, kemudian diantara getaran tanganny, ruyung tersebut bagaikan seekor ular berwarna putih segera menyambar kedepan dan mengurung empat belas buah jalan darah penting disekujur badan Ong It sin.
Jurus serangan yang dipakainya banyak yang berjalan serong, mana aneh dan diluar dugaan, keji lagi.
Menghadapi ancaman ancaman maut yang hebat dan keji ini, sepasang alis mata Ong It sin segera berkenyit, dengan cepat dia mainkan pula ilmu Hua im san heng sat (ilmu membuyarkan bayangan melenyapkan tubuh) semacam ilmu yang sudah lama lenyap dari peredaran dunia persilatan untuk mengatasi ancaman lawan.
Dengan mengandalkan kepandaian yang luar biasa ini, kendatipun permainan ruyung pek kut pian dari Tee leng kun sedemikian hebatnya, sayang ia seakan akan sudah kehilangan musuhnya, semua ancaman maut yang dalam perkiraannya akan mendatangkan hasil, ternyata gagal total sama sekali.
Melihat serangan Hui coa nian hoat (ilmu ruyung ular terbang) yang dipakainya gagal menangkan musuh, Tee leng kun segera merubah gerak serangannya dengan mempergunakan ilmu Teh mia sam keng (ilmu ruyung perenggut nyawa) yang diperolehnya dari Kiu im cinkeng.
Meski hanya terdiri dari tiga gebrakan namun kehebatannya diluar dugaan, ini memancing reaksi hebat dari Ong It sin.
Selain itu diapun segera mengambil kesimpulan bahwa Tee leng kun merupakan musuh yang paling tangguh diantara keempat gembong iblis yang hadir sekarang.
Gurunya pernah memperingatkan, barang siapa pernah melatih ilmu sesat warisan Kiu im cinkeng dari tubuhnya akan memancar keluar hawa sesat berbau bangkai yang sangat beracun, bila kurang berhati hati dalam menghadapi kepandaian tersebut, besar kemungkinannya akan mengakibatkan keadaan yang fatal.
Maka ia bersiap siap mengatasi kepandaian itu dengan ilmu Tian hoa wi siau (sambil tersenyum memetik bunga).
Tampaklah cahaya emas berkelebat lewat suara dentingan nyaring menggema memecahkan keheningan.
Sreet...!
Sreeet...!
Sreeeet...!
Ditengah desingan angin tajam yang menderu deru, mendadak ruyung pek kut pian dari Tee leng kun telah tersayat kutung sepanjang beberapa cun.
Menyusul kemudian..."Weees...!"
Ia terhajar dadanya oleh gelombang hawa pedang yang memancar keluar dari pedang Ong It sin.
Duuk...
dengan telak serangan tersebut menghajar dadanya, dengan wajah pucat pias seperti mayat ia segera melompat mundur dari arena, bahkan kekalahan yang dideritanya jauh lebih mengenaskan ketimbang Say siu jin mo tadi.
Menyaksikan kekalahan demi kekalahan telah diderita oleh rekan rekannya, Tau Chin dan Tau Chu segera membentak keras, serentak mereka memutar senjatanya sambil ikut melancarkan serangan dahsyat.
Untuk mengatasi rasa malu yang dideritanya akibat kekalahan yang dia alami barusan, Say siu jin mo dan Tee leng kun serentak maju pula kearena untuk ikut didalam pertempuran itu.
Rupanya mereka sudah bertekad untuk melenyapkan musuh yang teramat tangguh ini dari muka bumi.
Begitu keputusan sudah diambil, empat orang dengan empat macam senjata segera melancarkan serangan bersama.
Cahaya pedang bayangan ruyung menciptakan lapisan hawa serangan yang mengepung Ong It sin ditengah arena.
Sejak terjun kedalam dunia persilatan baru pertama kali ini Ong It sin bertarung melawan empat orang musuh tangguh dalam keadaan dmeikian ia tak berani berayal atau bertindak gegabah cahaya pedang yang terpancar dari pedang Kim liong kiam tersebut diputar kian lama kian bertambah kecil lingkaran arenapun makin lama menyusut semakin kencang.
Pada saat itulah dibalik kegelapan dalam hutan liu itu muncul tiga orang perempuan dan seorang laki laki.
Mereka bukan lain adalah Tay sang kaucu si Kelabang hitam Be ji nio Hu kaucu Sangkoan bu cing, Ang bun lo sat, Si Long jin serta Pek to bi kui Hong Hian jin.
Waktu itu si Kelabang hitam Be Ji nio sudah tidak berkerut kening lagi, sebab ia menyaksikan keempat orang pelindung hukumnya telah berhasil mengepung Ong It sin ditengah arena.
Dalam perkiraannya cepat atau lambat Ong It sin pasti akan terjatuh ketangannya.
Maka kepada Sangkoan Bu cing katanya sambil tersenyum.
"Hei bukankah kau melukiskan kepandaiannya tak ada tandingannya dikolong langit? Kenapa ia sudah kewalahan meski baru dikerubut oleh keempat orang huhoat kita...?"
Sangkoan Bu cing sendiri sedang keheranan sebelum ia menjawab, Ang hun lo sat telah menimbrung.
"Jelas bocah keparat itu tak akan mampu untuk menahan diri, bayangkan saja berapa orangkah dalam dunia persilatan dewasa ini yang mampu untuk menghadapi kerubutan dari Tee lwe siang mo, Tee leng kun dan Say siu jin mo empat orang?"
"Aku rasa selain Seng ceng dan sin ni dari Lam hay, cuma kaucu kita yang mampu"
Sahut Be Ji nio.
"Itulah dia, dari sini bisa diketahui bahwa perkataan hu kaucu bukan ucapan yang tanpa dasar"
Mendengar perkataan Sangkoan Bu cing segera menunjukkan wajah berseri. Tapi Pek tok bi kui (bunga mawar selaksa racun) Hong Hiang jin segera membentak katanya.
"Menurut penilaian hamba, pihak lawan sama sekali tidak terkurung"
"Atas dasar apa kau berkata demikian?"
Tanya Be Ji nio dengan hati terkejut.
"Tay seng kaucu tidakkah kau perhatikan, meski kabut pedang dari Ong It sin makin lama menyusut semakin kecil, tapi sama sekali tiada titik kelemahannya? Dia hanya bersikap bertahan saja, bukan berarti terdesak hebat!"
Rupanya waktu itu Be Ji nio juga telah berperasaan demikian, buru buru ia bertanya.
"Tapi kenapa ia berbuat demikian?"
"Ada orang bilang Ong It sin adalah seorang jago yang cerdik dan cekatan, tampaknya ucapan tersebut tidak keliru, selain mengambil posisi bertahan tampaknya ia sudah mulai menjajaki kemampuan dari tenaga dalam lawan, selain itu diapun bermaksud untuk memahami dahulu seberapa banyak jago lagi yang bersiap siap diseputar hutan pohon Liu ini..."
"Lantas bagaimana baiknya?"
Tanya Be Ji nio gelisah.
"Hanya ada satu cara, kita harus siapkan senjata rahasia dan bersiap sedia, bila dia berniat kabur dari kepungan, kita harus berusaha menghalanginya agar ia kabur ke arah barisan Lok hun tin (barisan perontok sukma)..."
Baru berbicara sampai disitu, ia lantas membentak dengan suara dalam.
"Siap sedia!"
Pada waktu itu tiba tiba Ong It sin berpekik panjang, tampak cahaya emas yang berkilauan menyelimuti angkasa, dua buah ruyung dan dua bilah pedang yang sedang mengerubutinya serentak terlempar ketengah udara.
Ong It sin tertawa nyaring, bagaikan seekor burung rajawali pemuda itu melejit ke udara dan meluncur kearah selatan.
Dari balik hutan pohon Liu, segera berkumandang suara bentakan nyaring.
"Orang she Ong, malam ini hutan pohon Liu ini akan menjadi tempat kuburmu untuk selamanya!"
Menyusul kemudian, berpuluh puluh batang senjata rahasia berhamburan datang dari empat penjuru.
Ong It sin mengerutkan dahinya rapat rapat, dengan gerakan Sin liong tiau wi (naga sakti mengebaska ekor) dia balik meluncur kearah sebelah barat.
Baru saja tubuhnya akan melayang turun, mendadak dari atas tanah meluncur datang empat sosok bayangan manusia, pedang dan ruyung dipergunakan bersama menyerang ke udara.
Ong It sin segera mengenali mereka berempat sebagai Tee leng kun, Say siu jin mo dan Tee lwe siang mo Tau bersaudara.
Dalam keadaan demikian, seandainya berganti dengan orang lain maka sudah pasti dia akan gugup atau paling tidak juga gelagapan, berbeda sekali dengan Ong It sin.
Ketika dilihatnya ruyung Pek kut nian dari Tee leng kun secara langsung menyambar lambungnya, dia segera tertawa terbahak bahak sepasang kakinya menjejak tanah dan sekali lagi tubuhnya melejit ke udara kemudian kabur ke arah sebelah timur hutan Liu tersebut.
Hu kaucu Sangkoan Bu cing yang menyaksikan kejadian itu segera tersenyum, serunya dengan girang.
"Kali ini dia tak akan lolos lagi, sebab aku telah menyiapkan sebuah barisan Pek lui lok hun tin (barisan seratus guntur perontok sukma) ditempat itu"
Say siu jin mo agak melongo mendengar nama tersebut, segera ujarnya.
"Barisan apapun sudah kudengar, misalnya Lo han tin dari partai Siau lim, Pak kwa tin, Ngo heng tin, To ngo hen tin, Ku kiong tin Tiang coa tin... dari partai Tiang sia... tapi belum pernah kudengar tentang barisan Pek lui lok hun tin tersebut..."
Mencorong sinar tajam dari balik kain cadar itu yang menutupi wajah Sangkoan Bu cing, sahutnya.
"Sesungguhnya barisanku ini amat sederhana sekali tapi disekitar arena dari barisan itu telah kutambah seratus buah ranjau darat yang akan segera meledak jika tersentuh kaki, sementara diluarnya sama sekali tidak menunjukkan gejala atau pertanda yang mencurigakan, jangan roh baru manusia, dewapun jangan harap bisa lolos dari barisan tersebut!"
Betapa kagumnya kawanan iblis tersebut setelah mendengar perkataan itu, pikirnya mereka hampir bersama.
"Jangan dilihat usia hu kaucu masih begitu muda, tak nyana cara kerjanya amat hebat!"
Ang hun lo sat Hoa Long jin merasa agak sangsi oleh kehebatan tersebut, tiba tiba ia bertanya.
"Hu kaucu, yakinkah kau dengan keberhasilannya?"
"Rencana ini telah kususun dengan rapi dan sempurna, tentu saja meyakinkan sekali atau dengan perkataan lain, Ong It sin si bajingan keparat itu benar benar sudah terkurung olehku"
Sesudah berhenti sebentar, dia melanjutkan.
"Bila dugaanku tidak salah, bocah keparat itu pun sudah merasa curiga dan waspada"
"Darimana bisa tahu?"
Tanya Tee leng kun "Urusan ini sudah jelas sekali ketahuan, seandainya Ong It sin belum sampai ditengah barisan atau tidak mengenal kelihayan dari barisan tersebut dan melarikan diri ranjau darat yang kupasang pasti sudah meledak semua"
Bagaikan baru memahami, Tee leng kun manggut manggut.
"Jadi maksud Hu kaucu, hingga kini ranjau darat yang telah dipersiapkan itu belum meledak?"
"Benar!"
Sangkoan Bu cing mengangguk. oooodOoowoo Sekalipun demikian kata Kelabang hitam Be Ji nio tiba tiba, lebih baik kita tinjau sendiri ke situ, asal dia benar benar sudah tersekap, kita baru merasa lega.
"Terima perintah dari Tay sangkaucu!"
Sahut Sangkoan Bu cing dengan hormat.
Maka berangkatlah kawanan jago dari Ki thian kau ini menuju ke luar barisan Pek lui lok hun tin tersebut.
Tempat itu merupakan sebuah tanah lapang yang amat luas, satu satunya perbedaan disekitar sana adalah pohon pohon liu yagn sudah ditebas ranting seta daunnya sehingga tinggal batang pohonnya saja.
Dibawah sinar rembulan yang redup tampaklah Ong It sin sedang duduk bersila diatas tanah sambil memejamkan mata, sikapnya yang amat tenang itu seakan akan menunjukkan bahwa dia tak sadar bahwa dirinya sedang berada dalam keadaan berbahaya.
Melihat itu, Sangkoan Bu cin segera tertawa terbahak bahak, serunya dengan lancar.
"Haaahhh... haaahhh... haaahhh... banyak orang bilang saudara Ong adalah seorang lelaki luar biasa, tak tahunya kau cuma seorang manusia tak becus yang tak pandai menggunakan otak, sekarang, kau sudah terjerumus kedalam barisan Pek lui lok hun tin kami jika berani maju selangkah lagi maka tubuhmu akan hancur berantakan menjadi berkeping keping tampaknya sia sia belaka jerih payah Beng mong sin ceng selama tiga tahun ini. Pelan pelan Ong It sin membuka matanya dan menatap wajah Sangkkoan Bu cing dengan sorot mata yang gemerlapan, katanya kemudian.
"Kalau dilihat dari kedudukanmu, rupanya kau adalah hu kaucu dari perkumpulan Ki tian kau!"
Terkejut juga Sangkoan Bu cing setelah mendengar perkataan itu, pikirnya.
"Bocah keparat ini betul betul berotak tajam dan sangat lihay, aku tak boleh memandang enteng dirinya..."
Berpikir sampai disitu, buru buru serunya.
"Tajam amat penglihatan saudara Ong, betul, aku adalah Hu kaucu. Entah saudara Ong ada petunjuk apa?"
"Kalau didengar dari suara anda, agaknya kita pernah saling bersua, bahkan bukan cuma sekali saja"
"Yakinkah saudara Ong akan hal ini?"
"Setiap teman yang pernah kujumpai, tak akan kulupakan suaranya! Bersediakah kau untuk memberitahukan siapa dirimu?"
Sangkoan Bu cing tertawa terbahak bahak.
"Haaahhh... haaahhh... haaahhh jikalau saudara Ong telah melupakannya, buat apa musti bertanya lagi?"
"Mencelakai orang dengan cara serendah ini bukanlah perbuatan dari seorang lelaki sejati, bila kau punya kepandaian hebat, mengapa tidak kau bubarkan ranjau ranjau tersebut agar kita bisa berduel secara jantan?"
"Sayang sekali aku tak bisa melayanimu, sebab waktunya bertepatan dengan saat kami untuk menyerbu kuil Siau lim si!"
"Apakah kau tidak meledakkan dulu ranjau ranjau tersebut untuk melenyapkan diriku lebih dulu sebelum berangkat?"
"Kalau kami yang meledakkan ranjau ranjau itu, besar kemungkinannya gurumu akan mencari kami untuk menuntut balas, sebaliknya jika kau sendiri yang salah melanggar ranjau, suhumu kan tak bisa menimpah kemarahannya kepada kami"
Sesudah berhenti sejenak, dengan bangga dia melanjutkan.
"Dengan demikian, rekan rekanmu pasti tak akan tega membiarkan kau mati kelaparan disini atau mampus terkena ranjau, merekapun tak akan sempat lagi untuk mencampuri urusan Siau lim pay, nah! Bayangkan sendiri, bukan siasat ini bagus sekali? Sekali tepuk dapat dua lalat..."
Sesudah mendengar perkataan itu, Ong It sin baru mengerti bahwa orang ini benar benar licik dan banyak tipu muslihatnya, bukannya menjadi marah ia malah tertawa lebar.
"Apakah kau tidak kuatir mereka datang untuk menyelamatkan jiwaku..."
Sindirnya.
"Soal itu mah sudah kuatur dengan sebaik baiknya! Perlukah kuberitahukan juga kepadamu?"
"Kalau kau bersedia memberitahukan kepada kami, hal ini lebih baik lagi!"
"Sementara aku memimpin kawanan jago menyerbu kuil Siau lim si akan kupersiapkan dua belas orang jago kami untuk berjaga jaga disekeliling barisan, bila mereka menjumpai ada orang hendak menolongmu, maka ranjau ranjau tersebut segera akan diledakkan, dengan demikian tak ada gunanya perjuangan sahabatmu itu, menanti Siau lim pay sudah kami taklukkan, nah saat itulah kau akan kubunuh..."
Ong It sin benar benar kehabisan daya, terpaksa katanya sambil tertawa getir "Cara kerjamu benar benar amat keji, cuma kau jangan terlalu pandang rendah aku orang she Ong, aku tidak percaya kalau barisan Pek lui lok hun tinmu ini benar benar mampu untuk mengurung diriku"
"Saudara Ong"
Jengek Sangkoan Bu cing sambil tertawa seram, kecuali kau punya sayap dan bisa terbang, jangan harap bisa kau tinggalkan barisan ini dengan selamat.
Seusai berkata, ia lantas memberi tanda kepada para jagonya sambil berseru.
"Sekarang sang ikan sudah masuk jaring kecuali dua belas orang anggota ranting kota Sin cin yang bertugas menjaga barisan ini, sisanya ikut aku semua menyerbu bukit Siong san"
Seusai berkata, dia berangkat meninggalkan hutan Liu itu lebih dahulu diikuti kawanan iblis lainnya dari belakang.
Menanti bayangan tubuh mereka sudah lenyap dari pandangan mata dari atas batang pohon liu diluar barisan tersebut muncullah seorang gadis muda yang cantik rupawan.
Ong It sin menjadi amat terperanjat menyaksikan kemunculan gadis tersebut buru buru serunya dengan ilmu menyampaikan suara.
"Nona Bwe, kau jangan datang kemari, aku sudah terkurung dalam barisan Pek lui lok hun tin! Seputar arena sini telah ditanami ranjau ranjau yang maha dahsyat"
Mendengar bisikan tersebut, dengan cepat Bwe Leng soat berhenti, lalu sahutnya dengan ilmu menyampaikan suara pula.
"Lantas apa yang harus kulakukan untuk menyelamatkan jiwamu?"
"Kau harus menyembunyikan diri lebih dahulu kemudian gunakan akal untuk merobohkan kedua belas orang anggota Ki thian kau yang bertugas mengawasi barisan ini, tanpa menimbulkan suara, hati hatilah dalam tindakan ini sebab salah salah mereka bisa meledakkan ranjau disekitar barisan ini"
Bwe Leng soat mengiakan, sahutnya kemudian.
"Kau tak usah risau, akan kucarikan akal untuk mengatasi persoalan ini..."
"Tahukah kau bahwa kawakan iblis itu telah memimpin para jagonya menyerbu kuil Siau lim si? Paling lambat besok pagi kita sudah harus tiba di kuil Siau lim si, kalau tidak pihak mereka akan terancam bahaya"
"Aku mengerti!"
Dengan cepat gadis itu menyelinap kembali kedalam daun liu yang rimbun disekitar sana.
Dengan langkah yang sangat berhati hati dan gesit, Bwe Leng soat berputar ke samping barisan Pek lui toa tin itu, sekias pandangan ia menjumpai bahwa barisan ini luasnya mencapai lima puluh kaki lebih, pada sudut timur, barat selatan dan utara masing masing tampak seorang manusia yang melakukan penjagaan.
Bwe Leng soat segera berpikir.
"Sisanya mungkin sedang beristirahat di dalam hutan, bila aku hendak membereskan penjaga panjaga ini, maka pertama tama yang harus kulakukan adalah menemukan kedelapan orang sisanya. Repot bila mereka berada dalam posisi menyebar, semoga saja kedelapan orang itu berkumpul disatu atau dua tempat"
Berpikir sampai disitu, Bwe Leng soat segera mulai bekerja dengan melakukan pemeriksaan.
Tak jauh dari tempat itu, ia menemukan sebuah lekukan tanah yang lebih rendah daripada permukaan tanah lainnya, delapan orang lelaki berbaju merah sedang duduk berkumpul disana sambil bermain Pay kiu.
Yang menjadi bandar waktu itu adalah seorang lelaki gemuk.
Diatas sebuah batu besar dihadapannya kecuali bertumpuk setumpuk uang perak dan lima biji cincin, masih ada lagi sebatang hio yang disulut.
Hio itu panjang dan besar, paling tidak dua jam kemudian baru akan habis tersulut Dalam sekilas pandangan saja Bwe Leng soat segera memahami bahwa hio itu digunakan sebagai tanda waktu bergilir, atau dengan perkataan lain dua jam sekali mereka gantian berjaga.
Suasana disitu amat redup sekali, karena itu mereka berdelapan berkumpul menjadi satu dalam lingkaran yang amat kecil.
Rupanya pada waktu itu sang bandar sedang mujur, berulang kali ia menang dalam taruhan.
Tiba tiba lelaki yang kurus kecil bangkit berdiri sambil berkata.
"Lohu akan kencing dulu!"
"Hey, jangan kabur, kalau tidak lohu sikat semua uangmu"
Seru sang bandar lagi.
"Aaah, belum tentu!"
Maka si kuruspun menuju ke belakang sebatang pohon Liu untuk membuang hajadnya Siapa tahu baru selesai hajadnya dibuang mendadak pinggangnya terasa kesemutan dan ia segera roboh tak sadarkan diri.
Tentu saja orang yang melancarkan sergapan itu tak lain adalah Bwe Leng soat.
Begitu lelaki kurus itu roboh Bwe Leng soat segera menyeret tubuhnya dan disembunyikan.
Sedangkan bajunya dilepaskan dan segera dikenakan pada tubuh sendiri selesai berdandan diapun melangkah untuk kearena perjudian.
Sang bandar segera berteriak.
"Liang lotoa, untung besar kau ini, begitu kau pergi lohu sudah kalah tiga kali"
Dengan gaya Liang lotoa, Bwe Leng soat menyahut.
"Kalau aku main lagi, niscaya kau akan lebih sial"
"Benar"
Seru yang lain sambil tertawa tergelak "Ssst...! Jangan keras keras"
Seru sang bandar "jangan sampai menarik perhatian si perempuan iblis dari Koan tian kek"
Maka semua orangpun membungkam dan mencurahkan perhatian masing masing pada kartu sendiri serta uang yang bertumpuk tumpuk.
Melihat ada kesempatan baik, Bwe Leng soat segera bertindak cepat dengan kepandaian silatnya yang lihay dalam waktu singkat jalan darah keenam orang itu sudah ditotok semuanya.
Sekarang tinggal sang bandar seorang, ketika dilihatnya semua orang berdiam diri saja, ia lantas mendamprat.
"Makanya, kenapa kalian tidak berkutik?"
Ketika tiada jawaban, ia lantas mendongakkan kepalanya, saat itulah ia baru menyaksikan rekan rekannya sudah duduk melotot tak mampu berkutik lagi, jelas jalan darah mereka sudah tertotok.
Dari sekian banyak rekannya hanya Liang lotoa yang kecil kurus masih memandang ke arahnya sambil tertawa terkikik.
Si gemuk itu makin heran, ia membelalakkan matanya makin lebar, sekarang ia baru merasa bahwa orang itu tidak mirip dengan Liang lotoa, bentaknya segera.
"Siapa kau?"
Pelan pelan Bwe Leng soat melepaskan penutup kepalanya sehingga tampaklah rambutnya yang hitam dan terurai panjang itu, sahutnya.
"Coba pikirkan sendiri siapakah diriku ini?"
Reaksi si gemuk ternyata cukup cepat, dengan segera ia teringat kembali siapa gerangan orang itu, dengan paras muka berubah hebat serunya tergagap.
"Kau... kau... kau datang dari kuil Koan tiau kek..."
Bwe Leng soat manggut manggut.
"Bagus sekali, rupanya kau juga kenal dengan nonamu, nah sekarang jawablah yang terang, kau kepingin mampus atau hidup terus?"
Si Gemuk itu adalah pemimpin dari rombongan ini, dalam dunia persilatan punya nama yang tak kecil, orang menyebut sebagai It pa to (sebilah golok) Thio hong.
Orang ini terkenal karena licik, keji suka harta dan suka perempuan, sudah banyak kejahatan yang dilakukan selama ini.
Rupanya ia dibikin keder oleh nama besar orang, buru buru sahutnya dengan nada ketakutan.
"Semut saja ingin hidup, mana ada manusia yang enggan hidup terus didunia ini?"
"Bagus jika kau bersedia melindungiku untuk membereskan penjaga yang berada disekitar tempat ini, bukan saja nona akan memberi jalan hidup kepadamu, bahkan semua uang itu juga akan menjadi milikmum bagaimana? Mau bukan?"
It pa to Thio Hong memutar biji matanya kian kemari, kemudian sahutnya.
"Baik!"
Tanpa sungkan sungkan lagi dia segera menyambar uang diatas batu dan dimasukkan semua ke dalam sakunya.
Kemudian diajaknya Bwe Leng soat menuju ke posisi tengah dari barisan Pek lui toa tin tersebut.
Orang yang berjaga disana adalah seorang lelaki kekar.
Ketika dilihatnya pendatang adalah Thio hong segera tegurnya.
"Hei thio gendut bukankah kalian sedang bermain pay kiu, kenapa belum waktunya sudah datang?"
"Malam ini nasibku lagi sial, Tio Ngo lebih baik kau saja yang menjadi bandar, selesai berjaga nanti aku akan bermain lagi, siapa tahu nasibku waktu itu jauh lebih baik"
Sambil berkata dia maju terus kedepan sehingga dalam waktu singkat telah berada lima depa dari tempat orang itu.
"Hei, siapa yang berada dibelakangmu itu?"
Tiba tiba Tio Ngo menegur dengan suara lantang "Dia kan Liang lotoa!"
Tio Ngo sudah cukup lama bergaul dengan Lang lotoa, tentu saja dia bisa membedakan mana yang asli dan mana yang gadungan, apalagi sebagai orang yang cerdas ia sudah menaruh curiga ketika si gemuk datang sebelum waktunya.
Dengan suatu gerakan cepat tiba tiba ia melompat ke depan siap meledakkan ranjau ranjau itu.
"Kau berani?"
Bentak Bwe Leng soat.
Sebuah totokan kilat segera dilancarkan dari tempat kejauhan.
Begitu jalan darah dipunggung Tio Ngo terhajar, tubuhnya seketika itu juga roboh terjengkang ke atas tanah.
Baru saja dia ingin berteriak, jalan darah bisunya kembali sudah tertotok.
Tidak sampai disitu saja, Bwe Leng soat dengan cepat memburu ke depan dan menotok jalan darah pingsannya.
Maka begitu selesai membereskan musuhnya, gadis itu segera membawa si gemuk pindah ke barisan Pek lui toa tin sebelah kanan dan belakang.
Dalam waktu singkat, Bwe Leng soat berhasil kembali merobohkan dua orang musuh Sekarang tinggal seorang musuh yang berjaga disebelah kiri.
"Bwe lihiap!"
It pa to Thio hong berkata.
"saudara yang berjaga ditempat itu bernama Han Tan, dia jauh lebih cerdik daripada Tio Ngo, tubuhnya juga memakai kaus kotang pelindung badan, ia tidak mempan dibacok tidak mempan pula ditotok, selain itu diapun kurang akur dengan aku. Bila aku musti mendatanginya bersamamu, sudah pasti dia akan mencurigai diriku"
"Lantas menurut pendapatmu?"
"Biar aku tinggal disini saja, sedang lihiap boleh menyaru sebagai Liang lotoa untuk menggantikan gilirannya, karena saat ini adalah saatnya untuk aplusan, aku rasa dia tak akan mencurigaimu"
Bwe Leng soat berpikir sebentar, kemudian sahutnya.
"Setelah melewati kerja sama yang bagus sebanyak tiga kali, aku tahu kau tak akan berhianat, nonapun tak suka mencurigai orang, baiklah, kau boleh tetap tinggal disini!"
Seusai berkata dia lantas melangkah maju ke depan. Begitu Bwe Leng soat membalikkan badannya, sekulum senyuman licik segera tersungging diujung bibir si gemuk itu, pikirnya.
"Budak ingusan tertipu kau kali ini! Sekalipun ilmu silatmu terhitung sangat lihay, jangan harap kau bisa tinggalkan lagi tempat ini dalam keadaan selamat..."
Baru saja dia akan membalikkan badannya untuk kabur... Mendadak Bwe Leng soat membalikkan badannya sambil melancarkan tiga buah totokan maut.
"Blaam!"
Tubuh sigemuk Thio hong yang besar segera roboh terbanting ke atas tanah dan tak mampu berkutik lagi.
Tapi dengan terjadinya peristiwa itu, suara tadi segera mengejutkan lelaki berbaju merah yang berjaga ditepi barisan, segera bentaknya dengan suara nyaring.
"Siapa disitu?"
Terpaksa Bwe Leng soat maju menghampirinya sambil menyahut.
"Aku untuk aplusan!"
Walaupun lelaki berbaju merah itu melihat orang itu bertubuh mirip Liang lotoa, tapi ia dapat menangkap suaranya yang jauh berbeda.
Akan tetapi diantara dua belas orang ditugaskan menjaga barisan Pek lui lok hun tin, cuma Liang lotoa seorang yang bertubuh kurus kecil, selain dia, lantas siapakah orang ini?
Kewaspadaannya segera ditingkatkan, bentaknya kemudian.
"Sebutkan namamu!"
"Aaah, masa kau tidak kenal siapakah aku orang she Liong ini?"
Lelaki berbaju merah itu kembali tertawa seram.
"Heeehhh... heeehhh... heeehhh... lantas siapakah aku ini?"
Tegurnya.
"Kau toh Huan Tam!"
"Betul, aku memang Huan Tam, tapi kau bukan lotoa, dalam hal ini jangan harap kau bisa membohongi diriku"
Mendengar perkataan itu Bwe Leng soat merasa amat terperanjat, buru buru pikirnya "Waah... jangan jangan usahaku selama ini akan sia sia belaka..."
Berpikir sampai disitu, segera timbullah suatu akal bagus, seraya berpaling teriaknya.
"Hei, si gemuk! Cepat kemari, coba kau lihat orang sendiripun dia tidak kenal."
Tanpa sadar Huan Tam mendongakkan kepalanya, tapi ia segera menyaksikan dihadapannya sama sekali tak tampak sesosok bayangan manusiapun.
Pada detik itulah Bwe Leng soat dengan kecepatan luar biasa telah mendekati hampir lima kaki lebih kedepan sekarang jaraknya tinggal satu kaki dari hadapan muka.
Dengan perasaan terkesiap Huan Tam segera merogoh sakunya mengambil keluar sebiji mata uang kim che piau, lalu siap disambit ketengah barisan ranjau.
Seandainya mata uang kim che piau tersebut sampai menghantam ketengah barisan Pek lui lok hun tin, maka akibatnya ranjau ranjau yang tertanam disekitar tempat itu akan meledak.
Untunglah pada saat itu Bwe Leng soat telah membentak keras, pedangnya dengan menciptakan sekilas cahaya bianglala merah menyambar kemuka Baru saja Huan Tam mengayunkan tangannya tahu tahu lengan tersebut sebatas sikut sudah terlepas kutung.
Ia menjerit kesakitan, bagaikan binatang terluka serunya dengan penuh kebencian.
"Sudah pasti kau adalah perempuan rendah she Bwe itu!"
Sambil menggigit bibir mendadak ia menjatuhkan diri ke atas barisan Pek lui toa tin tersebut.
Agaknya Bwe Leng soat telah menduga sampai kesitu, dia mendengus dingin, tubuhnya berkelebat ke depan melampaui Huan Tam kemudian.
"Duuuk!"
Sebuah tendangan dahsyat bersarang telak diatas perutnya membuat tubuh Huan Tam terpental kembali dari arah barisan Pek lui lok hun toa tin tersebut.
Didalam melancarkan tendangan ini gadis tersebut telah menghimpun segenap tenaga dalam yang dimilikinya, bagaimana mungkin Huan Tam bisa tahan...
Tak ampun lagi selembar jiwanya melayang meninggalkan raganya.
Walaupun Bwe Leng soat berhasil juga mengakhiri nyawa Huan tam dan menghindari suatu akibat yang fatal, tak urung jantungnya berdebar juga karena ngeri.
Setelah menghembuskan napas panjang, ujarnya kepada Ong It sin yang berada ditengah arena.
"Ong toako dengan cara apa aku harus menolongmu keluar dari situ?"
"Luas barisan Pek lui lok hun toa tin ini mencapai dua puluh lima kaki lebih, empat penjuru penuh dengan ranjau darat yang maha dahsyat, bila ingin keluar dari sini, paling tidak aku musti berlompatan sebanyak tiga kali"
"Lantas bagaimana caramu memasuki barisan tersebut?"
Tanya Bwe Leng soat dengan kening berkerut.
"Waktu itu aku berlarian diatas pohon Liu, ditambah daya lentingan dari dahan pohon Liu yang kuat, maka dalam waktu singkat aku bisa melampaui daerah seluas dua puluh lima kaki lebih, tapi sekarang keadaannya jauh berbeda"
Bwe Leng soat berpikir sebentar, lalu tanyanya.
"Kau pernah belajar ilmu meringankan tubuh Sut peng tok sui (menyusup daun melintas air)?"
"Dulu aku pernah belajar!"
"Kalau pernah belajar, itu lebih baik lagi. Sekarang hanya ada satu cara yang bisa digunakan"
"Kau suruh aku melentik keudara dan melewati tanah lapang ini?"
"Betul, cuma kau musti berhati hati, sebab salah perhitungan sedikit saja bisa berakibat terancamnya jiwa"
"Sekalipun berbahaya akan kucoba juga, sebab hidup sebagai seorang manusia ada kalanya memang perlu menyerempet bahaya"
"Kalau kau memang sudah setuju, beritahulah jarak lompatanmu, agar aku bisa membuatkan persiapan"
"Tanpa meminjam tenaga aku bisa berjumpalitan sebanyak dua kali diudara, mungkin bisa mencapai kejauhan empat belas kaki lebih...!"
"Kalau begitu bersiap siaplah! Akan kusambut kedatanganmu dengan melepaskan dua batang ranting pohon Liu"
Ong It sin segera mendongakkan kepalanya dan berpekik nyaring, tubuhnya segera melambung keudara dan melayang sejauh delapan kaki lebih dari tempat semula.
Kemudian sesudah menarik napas panjang panjang, kaki yang satu menjejak diatas kaki yang lain, sekali lagi badannya melambung sejauh enam kaki lebih ke depan.
Pada saat itulah, dari depan sana terdengar Bwe Leng soat berseru lantang.
"Ong toako, perhatikan ranting pohon liu itu"
Ong It sin segera meminjam ranting pohon liu yang melayang tiba itu untuk melejit lebih kedepan, setelah hal ini dilakukan berulang ulang akhirnya berhasil juga ia melepaskan diri dari barisan Pek lui lok hun toa tin tersebut.
Kendatipun sudah lolos dari bahaya, tak urung pemuda itu kehabisan tenaga juga sehingga wajahnya kelihatan sangat letih.
Dari sakunya Bwe Leng soat segera mengeluarkan sebutir pil mestika, sambil disodorkan kepada pemuda itu katanya.
"Inilah pil Kiu coan leng wan yang dibuat guruku, makanlah, tenagamu akan pulih kembali dengan segera"
Ong It sin menerima dan menelannya, benar juga, tak lama kemudian kesegarannya telah pulih kembali.
"Ong toako"
Kata Bwe Leng soat kemudian.
"Pek lui lok hun toa tin ini hanya akan dipakai untuk mencelakai orang saja bila dibiarkan utuh lebih baik kita ledakkan saja"
"Tapi... apakah disekitar tempat ini tak ada manusia atau binatang peliharaan orang?"
"Sudah kuperiksa, sekitar tempat ini merupakan sebuah tanah lapang kosong, sampai setengah li dari sini masih belum ditemukan penghuni"
Ong It sin segera mendongakkan kepala memeriksa cuaca sejenak, kemudian mengangguk.
"Baiklah!"
Sambil menjauhi tempat itu, sebutir batu segera disambit ketengah barisan tersebut.
Begitu batu tersebut menyentuh tanah, suatu ledakan beruntun yang luar biasa dahsyatnya segera menggelegar memenuhi seluruh angkasa.
Waktu itu sekalipun Ong It sin dan Bwe Leng soat sudah meninggalkan hutan pohon liu tersebut tubuh mereka masih merasakan juga gempa bumi yang dihasilkan akibat dari ledakan itu Menyaksikan kedahsyatan tersebut, sambil menjulurkan lidahnya Ong It sin berkata.
"Nona Bwe, untung saja kau berhasil menyelamatkan jiwaku, kalau tidak, mungkin tubuhku sudah hancur berkeping keping akibat dari ledakan dahsyat ini"
"Agaknya kita tak boleh bersikap kasihan lagi terhadap kawanan iblis itu"
Kata Bwe Leng soat "bila bersua kembali dilain waktu, kita harus turun tangan keji serta membasminya dari muka bumi"
Nona yang sebenarnya berhati penuh welas kasih ini rupanya sudah diliputi oleh hawa napsu membunuh akibat menyaksikan kekejaman musuh musuhnya itu.
"Sekarang mereka sudah berangkat ke kuil Siau lim si untuk membuat keonaran kita harus segera berangkat untuk memberi pertolongan, jangan sampai terlalu banyak korban yang berjatuhan"
Seru Ong It sin kemudian.
"Mari kita pulang dulu kepenginapan, bersama Coa tayhiap dan To hu tay hiap kita melakukan perjalanan bersama"
Tak lama kemudian sampailah mereka dalam rumah penginapan. Waktu itu Coa Thian tam dan To hu Hiong sudah lama menanti melihat muda mudi itu sudah balik kembali, dengan nada mengomel segera tegurnya.
"Semalam kemana saja kalian pergi?"
"Aaai... panjang sekali ceritanya"
Jawab Ong It sin "coba kalau nona Bwe tidak datang tepat pada waktunya, siaute mungkin sudah mati didalam barisan Pek lui lok hun toa tin"
"Hei, apa yang dimaksudkan barisan Pek lui lok hun toa tin itu?!"
Tanya Coa Thian tam keheranan. Berbicara sampai disitu, mendadak ia seperti merasa terkejut serunya kembali.
"Jangan jangan ledakan dahsyat yang terdengar tadi ada hubungannya dengan kalian?"
"Yaa, itulah dia"
Kata Bwe Leng soat.
"semalam, Ong toako sudah terperangkap didalam barisan Pek lui lok hun toa tinnya perkumpulan Ki thian kau. Yang dimaksudkan dengan barisan Pek liu lok hun toa tin adalah suatu barisan yang disekelilingnya ditanam seratus buah ranjau darat yang dihubungkan satu sama lainnya, bisa dibayangkan bagaimana akibatnya bila ranjau ranjau tersebut meledak bersama"
"Aaai... untung saja Ong lote mempunyai rejeki besar, coba kalau berganti orang lain mana mungkin masih bisa hidup?"
Kata Coa Thian tam dengan perasaan lega.
Sementara itu Pek lek to To hu Hiong telah menitahkan kepada pelayan untuk menyiapkan kuda, selesai membayar rekening maka berangkatlah mereka berempat menuju ke bukit Siong san.
oooxdwxooo Sementara itu, suasana didepan kuil Siau lim si dibukit Siong san amat tegang dan berbahaya.
Beribu ribu orang jago berbaju merah dari perkumpulan Ki thian kau telah mengepung seluruh kuil tersebut dengan rapat, senjata yang terhunus dan hawa pembunuhan yang luar biasa membuat situasi sungguh mengerikan sekali.
Rupanya Ki thian kau telah berhasrat untuk menaklukkan partai Siau lim didalam serbuannya kali ini, hal mana terbukti dari dikerahkannya jago jago dari delapan kantor cabang, belasan kantor ranting dan sekawanan gembong iblis yang tersohor akan kekejiannya dalam dunia persilatan.
Go liong taysu, murid angkatan kedua partai Siau lim yang bertugas menjaga pintu gerbang merasa terkejut sekali ketika menyaksikan kehadiran begitu banyak iblis dari Ki thian kau yang mengepung kuilnya, kontan saja mukanya berubah hebat.
Belum sempat ia menutup pintu gerbang kuilnya, seorang perempuan berbaju merah telha membentak nyaring.
"Hei, hwesio cilik! Berhenti kau!"
Go liong taysu meski terhitung murid angkatan ketiga didalam kuil Siau lim si, sesungguhnya ia telah berusia empat puluh tahunan lebih, tak terlukiskan perasaannya ketika dipanggil hwesio kecil oleh orang itu.
Xxxxod-woxxxx
Jilid 22 IA menyapu sekejap ke arah perempuan itu, lalu sambil merangkap tangannya di depan dada, katanya.
"Sicu, ada urusan apa kau memanggil pinceng?"
Dalam sekilas pandangan saja, ia telah menjumpai bahwa perempuan itu memiliki paras muka yang cantik dengan pinggang yang ramping, payudara yang amat besar dan pinggul yang gemuk, dia tak lain adalah Ang hun lo sat Hoa Long jin.
"Cepat sampaikan kepada Toa gi siansu, ketua dari partai kalian bahwa Tay sang kaucu Ki thian kau kami telah datang berkunjung, suruh dia memimpin segenap muridnya untuk datang menyambut!"
Teriak Ang hun lo sat Hoa Long jin lagi.
"Menyambut?"
Tentu saja Go long taysu bisa memahami maksud kata itu sebagai menyerah kalah.
Sesungguhnya partai Siau lim sudah mendapat kabar dan tahu kalau beberapa waktu lagi pihak Ki thian kau akan melancarkan serangan kepada partai mereka, tapi ia tak menyangka kalau serangan tersebut bisa datang sedemikian cepatnya.
Terpaksa ia menyahut.
"Baik!"
Dengan cepat ia lari masuk ke dalam ruangan dan membunyikan lonceng tanda bahaya.
xdoooOooowx Suara dentingan lonceng dengan cepat menggema diseluruh tanah perbukitan tersebut.
Tak lama kemudian, dari luar kuil segera muncul lima ratusan hwesio berbaju abu-abu.
Kawanan hwesio tersebut rata rata masih muda dan kekar, masing masing bersenjatakan sebilah golok.
Menyusul kemudian muncul tiga puluh enam orang hwesio berjubah putih.
Mereka berpakaian sama seperti pakaian Go liong taysu berusia lima puluh tahunan, senjata yang digunakan adalah senjata sekop.
Akhirnya muncul delapan belas orang hwesio tua berjubat kuning gading, hwesio hwesio tua ini bersenjatakan toya.
Cianbunjin dari partai Siau lim, Toa gi siansu berjalan dibelakang dan diapit oleh dua orang hwesio berjenggot hitam sedada yang bersenjata toya.
Dengan wajah serius Toa gi siansu memberi hormat kepada tamunya, kemudian menegur.
"Tolong tanya, karena persoalan apakah partai kalian membawa orang untuk menyerang partai Siau lim kami?"
Sangkoang Bu cing segera tertawa seram, jawabnya.
"Partai kalian terlalu sombong, sama sekali tidak menggubris permohonan yang kami ajukan, memangnya kamu sekalian tidak pandang sebelah mata terhadap partai sesat kami ini?"
"Omintohud! Partai kalian ingin menjajah seluruh daratan Tionggoan dan menitahkan pelbagai partai besar untuk menyerahkan diri, bahkan sama sekali tidak memberi muka kepada partai lain, sekarang kau malah memutar balikkan persoalan, coba katakan, siapa yang tidak memandang kepada siapa?"
Untuk sesaat Sangkoan Bu cing menjadi terbungkam dan tak tahu bagaimana musti menjawab. Si Kelabang hitam Be Ji nio segera tertawa seram, katanya.
"Toa hwesio, tajam amat selembar bibirmu itu, cuma... aku rasa kita tak usah ribut lagi aku hanya ingin bertanya kepadamu sekarang mau menyerah atau tidak?"
Sesudah mengetahui kalau musuhnya Be Ji nio, Toa gi siansu segera mendengus dingin.
"Hmm...! Semenjak partai kami didirikan hingga sekarang, lolap cuma tahu membela kebenaran untuk menaklukkan iblis, tiada kamus dalam sejarah partai kami bahwa Siau lim pay akan menyerah kalah dan bertekuk lutut kepada kaum iblis."
Si Kelabang hitam Be Ji nio segera tertawa dingin.
"Toa gi si keledai gundul serunya, kau mustinya juga tahu, partai kami telah menyiapkan begini banyak jago Liok lim untuk menumpas kalian, dengan kekuatan beberapa ratus orang dari partai kalian, tidakkah kau merasa bahwa tindakanmu itu ibaratnya telur yang akan diadu dengan batu karang? Hmm! Kalau kami berkeras kepala lagi, jangan salahkan kalau partai kalian akan kami ratakan dengan tanah!"
Pelan pelan Toa gi siansu menyapu sekejap kawanan iblis dari Ki thian kau yang berjumlah ribuan orang itu, dia tahu bahwa kekuatan partainya jauh ketinggalan dibandingkan kekuatan orang, jika tiada bantuan yang datang dari luar, niscaya partai Siau lim akan musnah sampai disitu saja.
Tapi dengan cepat pendeta tua itu berpikir lagi.
"Andaikata menyerah kepada Ki thian kau, jelas tindakanku ini akan membuat malunya nama Cousu, apalagi sesudah menyerah, merekapun akan menggunakan tenaga partai kami untuk menaklukkan dunia, bukankah perbuatan semacam ini sama artinya dengan membantu kaum laknan membuat kejahatan didunia?"
Berpikir sampai disitu, dengan keraskan hati segera katanya.
"Bila takdir menghendaki demikian partai Siau lim kami akan pasrah kepada nasib"
"Mengapa kau tidak mempertimbangkan lagi keputusanmu itu?"
Bujuk Be Ji nio.
"Aku sudah cukup mempertimbangkannya, jadi tak usah dipikirkan lebih jauh"
Be Ji nio masih ingin membujuk lagi, tapi Hu kaucu Sangkoan Bu cing yang berada disampingnya segera menukas.
"Yang mau menurut kita pakai, yang membandel kita sikat, kalau toh Toa gi hwesio belum puas hatinya sebelum melihat peti mati, buat apa kita musti sungkan sungkan lagi? Bukan begitu Tay seng kaucu?"
Be Ji nio menghela napas panjang.
"Aaai... tampaknya kita memang terpaksa harus memberi pelajaran dengan darah!"
Baru selesai dia berkata, Siluman perut besar Go ing ciu dari Jit sia cia si yau segera menampilkan diri seraya berkata.
"Hamba bersedia untuk bertarung dalam babak pertama!"
Sekalipun Sangkoan Bu cing sudah pernah berlatih ilmu sakti dari atas pedang Hu si ku kiam, tapi ia sampai detik itu masih belum memiliki keyakinan untuk dapat menangkan pihak Siau lim pay.
Maka ketika dilihatnya siluman perut besar Go Ing ciau bersedia untuk maju ke depan, ia segera mengambil keputusan untuk melihat kekuatan lawan dari pertarungan babak pertama, maka dengan cepat diapun mengangguk tanda setuju.
Siluman perut besar Go Ing ciau segera meloloskan sepasang senjata roda Ji gwat siang lun nya dan maju kedepan bagaikan jalannya seekor itik katanya.
"Para hwesio gundul, dengarkan baik baik, hari ini aku Go Ing ciau akan mencoba kelihayan dari ilmu silat Siau lim pay, siapa yang ingin tampilkan diri untuk menerima kematian?"
Seorang hwesio berjubah putih segera menampilkan diri, orang ini bernama Go sim hwesio. Dengan senjata sekop ditangan, serunya.
"Siluman yang tak tak tahu diri benar benar nyalimu, pinceng tak akan membiarkan manusia macam kau membuat keonaran didepan kuil kami, lihat serangan!"
"Sreeet...!"
Sebuah sapuan sekop segera diayunkan kemuka.
Siluman perut besar Go Ing ciau mengayunkan pula senjata roda Jit gwat lunnya untuk menangkis sambil menjojoh, jurus serangan yang dipakai adalah Ku s*u boan keng (pohon kering akar melingkar).
Menyaksikan tangkisan musuhnya, Go sim hwesio berpikir.
"Siluman ini mempunyai nama dalam deretan empat belas siluman dari tujuh selat, tampaknya kepandaian silat yang dimilikinya bukan nama kosong belaka"
Dengan cepat dia gunakan jurus Lek pit boa san (membacok rontok bukit boa san), Po im kiam jit (menyingkap awan melihat matahari) dan Lay liong ki meh (datang dari asal usulnya) tiga jurus dahsyat untuk melancarkan serangan.
Jangan dilihat jurus jurus serangan yang dipergunakan itu amat biasa dan tiada sesuatu yang aneh tapi dalam permainan Go sim hwesio ternyata kehebatannya luar biasa sekali.
"Bagus!"
Teriak siluman perut gendut.
Dengan sepasang roda Jit gwat siang lun itu diputar menggunakan jurus Ji gi gwat sia (matahari aneh rembulan miring) untuk menyergap musuh.
Kendatipun perlawanan yang dilakukan cukup tangguh, namun rupanya ia masih bukan tandingan Go sim hwesio, dua puluh gebrakan kemudian ia sudah menunjukkan tanda tanda akan kalah.
Tapi siluman berperut besar ini memang cukup licik, ketika dilihatnya Go sim hwesio cukup tangguh, dengan cepat ia memencet tombol rahasia pada senjata roda Jit gwat siang lunnya untuk menyemprotkan air racun yang sudah dipersiapkan sebelumnya itu.
Go sim hwesio membentak keras, senjata sekopnya ditutul keatas tanah, kemudian menggunakan tenaga pantulan tersebut badannya melambung ke udara dan persis melepaskan diri dari semprotan air beracun itu.
Melihat semprotan air beracunnya tidak mendatangkan hasil, siluman perut besar Go Ing ciau menjadi gugup bercampur panik dengan cepat dia membalikkan badannya siap melarikan diri.
Go sim hwesio membenci atas kekejiannya, melihat musuhnya mau kabur, lengannya segera digetarkan keras, senjata sekopnya dengan menciptakan selapis bayangan hitam langsung menyapu keudara.
Jeritan ngeri yang memilukan hati segera berkumandang memecahkan keheningan, batok kepala siluman berperut besar itu tahu tahu sudah terpapas separuh hingga darah segar bermuncratan ke mana mana, seketika itu juga ia roboh binasa.
Dengan matinya siluman berperut besar Go Ing ciau serentak sisa siluman yang bergabung dalam Jit sia cap si yau maju ke muka siap membalaskan dendam bagi kematian saudaranya.
Tapi Hu kaucu Sangkoan Bu cing segera membentak keras.
"Memangnya kalian kuatir dendam Go hiangcu tak terbalaskan? Hayo cepat mundur semua!"
Kawanan iblis dari tujuh selat tak berani membangkang, mereka segera menarik diri dan mundur ke belakang.
Sangkoan Bu cing segera menitahkan Say siu jin mo untuk turun dalam pertarungan babak kedua.
Pihak Siau lim pay segera mengutus Tay cu siangsu dari ruang Lo ham tong untuk keluar menghadapi musuh.
Tenaga dalam yang dimiliki Tay su siansu sesungguhnya terhitung lumayan, cuma sayang dia masih kalah bila dibandingkan dengan ilmu Kiu thian to soh kang milik Say siu jin mo.
Padahal dari sekian banyak tianglo yang berada dalam ruang Lo han tong, ilmu silat Tay su siansu terhitung paling lihay, bila dia saja tak sanggup mempertahankan diri sudah barang tentu terpaksa ciangbunjin mereka Tay gi siansu harus turun tangan sendiri untuk menghadapi musuhnya itu.
Dengan suara lantang Say siu jin mo Kwik Cing berkata.
"Hwesio gede, sesungguhnya sudah lama lohu berniat untuk mengunjungi kuil Siau lim si serta mencoba kelihayan ilmu silat partai kalian, siapa tahu para tianglo dari Lo han tong yang begitu tersohor namanya dalam dunia persilatan pun tak lebih cuma begitu begitu saja, kejadian ini sungguh membuat aku orang she Kwik merasa kecewa sekali"
Semenjak Tay gi siansu menduduki jabatan sebagai ketua partai Siau lim, dia lebih menganjurkan kepada murid muridnya untuk belajar ilmu agama Buddha ketimbang murid muridnya giat berlatih silat, tidak heran kalau nama besar partai Siau lim pada dua puluh tahun belakangan ini tidak setenar dulu.
Maka setelah mendengar perkataan dari Say siu jin mo tersebut, dia baru sadar bahwa agama Buddha meski sangat penting artinya, tapi ilmu silatpun tak boleh dikesampingkan.
"Omintohud!"
Ia lantas merangkap tangannya didepan dada sambil memuji keagungan Buddha.
"keliru kalau sicu berkata demikian. Bayangkan saja sejarah partai kami sedari dulu, soal ilmu silat selalu merupakan topik pembicaraan orang banyak, andaikata lolap tidak selalu menganjurkan kepada anak muridku agar lebih memperdalam agama, hari ini, tak nanti kami akan biarkan laian semua berbuat sewenang wenang ditempat ini"
Say siu jin mo segera mengipatka rambutnya yang merah, kemudian terkekeh dengan seramnya.
"Heeeh... heeehhh... heeehhh... keledai tua, kematianmu sudah berada didepan mata, berani benar kau berbicara secara sembarangan?"
Pedangnya segera digetarkan menciptakan selapis bunga pedang yang menyelimuti seluruh angkasa, kemudian dengan suatu gerakan kilat langsung membacok ketubuh Tay gi siansu, ketua dari partai Siau lim tersebut.
Ditengah cahaya pedang, sinar berkilauan tiba tiba memancar keempat penjuru dan mengurung sekujur tubuh lawan.
Jurus serangan ini sesungguhnya jauh lebih keji dan mematikan bila dibandingkan dengan jurus serangan yang digunakan untuk menghadapi Tay cu siansu tadi.
Tay gi siansu mendengus dingin.
"Hmm! Siancu jangan keburu bangga dulu"
Tongkat kemala liok hud giok ciang yang berada ditangannya segera diputar sedemikian rupa menciptakan selapis bayangan cahaya kehijau hijauan.
Bukan saja serangan tersebut dengan cepat membuyarkan kekuatan Kiu thian to soh kang yang menyurup badan, malah terkandung pula kekuatan dahsyat yang balik menyerang ke tubuh lawan.
Tay gi siansu memang tak boleh dianggap enteng, betul selama banyak tahun belakangan ini dia lebih menitik beratkan perhatiannya untuk mendalami agama, akan tetapi ilmu silatnya sama sekali tidak terbengkalai.
Ratusan gebrakan kemudian, Say siu jin mo mulai keteter hebat dan lambat laun makin tak kuasa menahan diri.
Hu kaucu dari Ki thian kau, Sangkoan Bu cing yang menyaksikan gelagat tersebut, segera menitahkan Tee leng kun untuk menggantikan rekannya yang terdesak itu.
Tee leng kun segera menggetarkan ruyung seratus tulang tengkoraknya untuk menggantikan kedudukan Say siu jin mo, seluruh kemampuannya untuk memainkan Yu leng biau ciu pian hoat yang diperolehnya dari kitab Kiu im ciu keng segera dipancarkan sepenuh tenaga.
Setiap ancaman ruyung yang dilancarkan hampir semuanya dilakukan dengan gerak enteng seakan akan kakek bertampang jelek ini sama sekali tidak memiliki tenaga dalam.
Padahal setiap serangannya itu mengandung penghancur yang beribu ribu kati beratnya, salah salah bisa jadi akan merenggut nyawanya.
Ilmu Goan yok sin kang yang dimiliki Tay gi siansu sebenarnya termasuk suatu ilmu sakti dari kaum Buddha, sayang sekali Kiu im hiat sat yang dimiliki Tee leng kun telah mencapai puncak kesempurnaan, suatu ketika karena kurang berhati hati, lengan kiri Tay gi siansu segera tersambar senjata lawan sehingga terluka.
Melihat kejadian itu, Hu kaucu dari perkumpulan Ki thian kau, Sangkoan Bu cing segera tertawa terbahak bahak.
"Haaahh... haaahh... haaahh... Tay gi siansu sekarang tentunya kau sudah tahu akan kelihayan bukan! Lebih baik sedikitlah tahu diri dan berani menghadapi kenyataan, sekarang aku masih memberi kesempatan kepadamu untuk mempertimbangkan, akan menyerah atau bertempur terus"
Suatu kebulatan tekad yang membaja segera tercermin diatas wajah Tay gi siansu, serunya dengan lantang.
"Kepala boleh putus kepribadian tak boleh dijual, partai Siau lim pay tidak akan menyerah kepada kaum siluman yang bengis"
Tee leng kun segera tertawa terkekeh kekeh.
"Heeehh... heeehh... heeehh... memangnya kau bisa mengambil keputusan sendiri..."
Ruyung Pek kut pian yang berada ditangannya segera disapu kebawah lalu menyerang semakin gencar ibaratnya hujan badai.
Tiba tiba dari antara rombongan pendeta berbaju kuning keluar seorang hwesio berjenggot hitam, dengan suara dalam segera bentaknya keras keras.
"Tay gi, mundur! Biar aku yang menghadapinya"
Dengan hormat ketua dari Siau lim pay itu menjura, kemudian mengundurkan diri ke belakang. Tee leng kun yang menyaksikan kejadian itu segera berpikir didalam hati.
"Hwesio ini kelihatannya masih muda belia, mengapa sikap Tay gi siansu sebagai seorang ketua Siau lim bisa begitu menghormat kepadanya? Jangan jangan..."
Belum habis ingatan itu melintas didalam benaknya, Lotoa dari Tee lwe siang mo telah berseru lantang.
"Saudara Im, hati hati! Hwesio gede itu adalah Thian ih sinceng dari kuil Siau lim si yang tersohor dalam dunia persilatan karena ilmu King kong ciangnya"
Mendengar peringatan tersebut, sekujur badan Tee leng kun bergetar keras, dengan cepat pikirnya.
"Seandainya benar benar si hwesio tua tersebut, mungkin aku tak akan bisa meraih keuntungan apa apa darinya! Cuma herannya, hwesio itu semestinya telah berusia seratus tahun lebih, mengapa wajahnya masih begini muda? Tampaknya tenaga dalam yang dimilikinya telah mencapai puncak kesempurnaan yang paling tinggi"
Berpikir demikian, dia segera meningkatkan kewaspadaannya, dengan dingin dia berseru.
"Tolong tanya taysu, apakah ucapan dari saudara Tau itu benar..."
"Omintohud!"
Pendeta tua berjubah kuning itu memberi hormat.
"lolap memang betul Thian ih"
Tee leng kun segera menarik kembali kesombongannya, kemudian berkata.
"Konon taysu telah berhasil melatih ilmu Kim kong ciang dari kalangan Buddha, dengan memberanikan diri aku orang she Im ingin sekali memohon petunjuk darimu!"
"Im sicu!"
Kata Thian ih Sianceng sambil berkerut kening.
"sebelum pertarungan dimulai, terlebih dulu lolap ingin memberi nasehat kepadamu, perguruan kami tidak berniat untuk mencari kedudukan atau merebut kekuasaan dalam dunia, mengapa perkumpulan kalian membawa begini banyak anak buah untuk menyerbu partai kami? Dapatkah kalian segera mengundurkan diri dari sini?"
Tee leng kun tak berani mengambil keputusan, terpaksa dia mendongakkan kepalanya menengok ke arah hu kaucu Sangkoan Bu cing.
Jelas dia sedang menunggu petunjuk dari pimpinannya.
Sangkoan Bu cing segera tersenyum sahutnya "Tentu saja boleh, tapi kalian harus memenuhi tiga buah syarat yang kuajukan ini"
"Tiga syarat yang mana?"
"Pertama anggota Siau lim si dilarang untuk memperlajari ilmu silat lagi, ketiga puluh enam macam kepandaian rahasia yang kalian miliki harus dipersembahkan kepada perkumpulan kami sebagai pertanda akan ketulusan hati kalian"
"Kedua?"
"Kedua, kalian dilarang meninggalkan bukit Siong san barang selangkahpun"
Walaupun kedua buah syarat itu boleh dibilang sewenang wenang, Thian ih sinceng masih dapat bersabar diri, tanyanya kemudian.
"Tolong tanya bagaimana dengan syarat yang ketiga?"
"Kalua memang kalian lebih suka mendalami soal agama daripada masalah lain, dan lagi lebih suka hidup mengasingkan diri daripada berhubungan dengan orang, belajar ilmu silat pun tak ada artinya, maka syaratku yang ketiga adalah setiap anggota partai Siau lim yang pernah belajar silat, segenap kepandaiannya harus dipunahkan"
Setelah mendengar perkataan itu, Thian ih Sin ceng baru naik pitam bentaknya.
"Omong kosong, dengarkan jawaban dari lolap Pertama, sejak Tay mo coausu mendirikan partai kami, ditetapkan bahwa setiap anggota kuil diwajibkan mempelajari salah satu dari ketiga puluh enam macam kepandaian sakti tersebut, lagi pula kepandaian itu merupakan warisan dari cousu kami,t akan kami berikan kepada orang persilatan lain, apalagi kepada perkumpulan sesat macam kalian. Jadi soal yang pertama, kami tak dapat menuruti"
Ang hun losat menggertakkan bibirnya seperti ingin berbicara, tapi Sangkoan Bu cing segera mencegah.
"Biarkan dia berbicara lebih jauh"
Terdengar Thian ih sinceng berkata kembali.
Anggota kuil kami diwajibkan untuk membuat amat bagi masyarakat didunia ini, mereka harus berkelana untuk melakukan kewajiban itu, maka persyaratan kalian yang melarang kami meninggalkan bukit Siong san pun tak bisa diterima"
"Masih ada yang lain?"
Tanya Tee leng kun.
"kami siap mendengarkan keteranganmu lebih jauh"
"Bagi orang yang belajar silat, memunahkan kepandaiannya sama hal dengan membunuh dirinya, bayangkan saja, mungkinkah kami akan menerima syarat kalian itu?"
Setelah berhenti sebentar, dia berkata kembali.
"Apalagi membunuh, kalian anggap kekuatan yang kalian miliki itu sudah cukup untuk membasmi partai Siau lim kami...?"
Mendengar perkataan itu, perasaan para iblis itu segera bergetar keras, tanpa terasa mereka menjadi ragu ragu. Sangkoan Bu cing segera tertawa seram serunya dengan lantang.
"Tay su, jadi kau anggap kami hanya bisa gertak sambal belaka? Kalau kau sampai berpendapat demikian maka keliru besar anggapanmu itu! Im huhoat, tak ada salahnya bagimu untuk menjajal sampai dimanakah kehebatan Kim kong ciang milikinya itu!"
Tee leng kun segera mengiakan, segera bentaknya.
"Hwesio gundul! lihat ruyung!"
Pek kut ku lok piannya segera diputar kencang menciptakan hembusan angin puyuh yang amat dahsyat, diiringi berkelebatnya bayangan putih secara gencar segera mengurung tubuh lawan.
Sudut serangan yang dipergunakannya itu sedemikian tepat dan manisnya, tenaga dan kecepatan yang dipakai begitu hebatnya, membuat ancaman itu terasa lihay sekali.
Begitu turun tangan, dia lantas menggunakan jurus Sin si bu siang (setan gantung mati hidup) dari ilmu Lei mo tam bun toa kiu si.
Thian ih sinceng segera berkelebat dan menghindar ke samping, tampak seluruh arena seakan akan dipenuhi oleh bayangan tubuhnya.
Begitu serangannya mengenai sasaran yang kosong Tee leng kun segera merasa amat terperanjat Untung saja pengalamannya dalam menghadapi pertempuran cukup luas, dengan kening berkerut dia lantas menentukan mana yang sesungguhnya dan mana yang tipuan.
Lengan kanannya segera ditekan kebawah, ujung Pek kut ko lo piaunya disapu keatas bahu Thian ih taysu keras keras.
"Taysu!"
Jengek Tee leng kun sinis.
"ternyata kau tidak lebih cuma begitu saja!"
Thian ih sin ceng tertawa hambar.
"Benarkah begitu? Kalau begitu tak ada salahnya bagimu untuk menerima juga sebuah pukulanku ini!"
Menyusul seruan tersebut, tinjunya segera diayunkan kemuka, hembusan angin tajam dengan cepat menghantam ditubuh Tee leng kun dan menyebabkan sepasang bahunya bergetar keras hawa darah dalam rongga dadanya bergelora keras.
Cepat ia menarik napas panjang, dengan memaksakan diri ia tekan pergolakan hawa darah didalam rongga dadanya itu.
Kemudian sambil membungkukkan badan, ruyung Pek kut piau tersebut digetarkan kearah depan.
Bayangan ruyung bergetar membentuk gerakan setengah lingkaran busur di udara, lalu menyapu ke arah sepasang kaki Thian ih Sinceng.
Ruyung tersebut menyambar ke muka ibaratnya seekor ular berwarna hitam yang sangat lihay.
Walaupun Thian ih sinceng memiliki hawa sinkang pelindung badan, toh ia tahan juga menghadapi kehebatan racun dari ruyung beracun itu.
Sambil berkelit dia melompat kebelakang untung saja gerakan tersebut dilakukan sangat cepat, coba kalau meleset sedetik saja maka akibatnya pasti mengerikan sekali.
Begitulah, meskipun ia berhasil menghindarkan diri, amarah yang berkobar dalam hatinya sukar dibendung, pikirnya kemudian.
"Iblis iblis keji ini benar benar tidak mengenal rasa perikemanusiaan...!"
Tidak menunggu serangan kedua dari Tee leng kun dilancarkan, sebuah pukulan dahsyat telah dilontarkan di depan.
Segulung angin pukulan yang maha dahsyat dengan cepat menyapu ke depan.
Tee leng kun sudah menderita rugi satu kali, tentu saja ia tak berani menyambut serangan tersebut dengan kekerasan, sambil memutar badan, ruyung tulang putihnya dengan cepat disapu ke tubuh hwesio tua itu.
Menghindari sambil menyerang satu gerakan dilakukan hampir bersamaan, ancaman ini benar benar tak boleh dianggap enteng.
Jangan dilihat tampangnya amat jelek, ternyata ilmu silat yang dimilikinya benar benar luar biasa dahsyatnya.
Sekarang Thian ih hwesio baru sadar bahwa selisih kepandaian silatnya dengan Tee leng kun kecil sekali, hal ini membuatnya semakin tak berani gegabah.
Maka sambil membentak keras, jubah pandetanya yang lebar dikebaskan ke atas, lalu sambil berjumpalitan diudara, dengan kepala di bawah kaki di atas dia melancarkan sebuah tonjokan dari tengah udara.
Segulung angin pukulan yang amat kencang, dengan cepat menghantam diatas dada Tee leng kun.
Paras muka Tee leng kun berubah hebat, dia menjerit kaget dan segera menjatuhkan diri kebelakang untuk memunahkan sebagian dari tenaga serangan tersebut.
Sayang sekali, meskipun gerak menghindarnya dilakukan cukup cepat, toh badannya terkena pukulan juga.
Kontan saja tubuhnya terlempar sejauh beberapa kaki dari posisinya semula.
Dengan cepat Tee leng kun melompat bangun dari atas tanah, mukanya pucat pias seperti mayat, jelas luka yang dideritanya tidak enteng "Omintohud, sicu terlalu mengalah!"
Kata Thian ih sinceng kemudian.
Ternyata ia segera mengundurkan diri ke samping ciangbunjinnya dan tidak melanjutkan serangan itu lebih lanjut.
Walaupun Tee leng kun telah kalah tapi dari pihak Ki thian kau segera tampil Tee lwe siang mo.
Dengan suara lantang Tau Chin segera berteriak keras kepada hwesio itu.
"Toa hwesio jangan malas, hayo layani kami dua bersaudara!"
"Kau maksudkan kalian berdua?"
Tanya Thian ih Sinceng.
"Betul ini yang dinamakan memukul harimau tak terpisah dari bersaudara sekalipun kau bukan harimau, hakekatnya lebih ganas daripada seekor harimau"
"Omintohud, kalau memang Tau sicu ingin menantang lolap untuk bertarung, terpaksa lolap harus melayani keinginan kalian itu"
Seusai berkata, dia lantas melangkah maju.
Tee lwe siang mo segera memberi tanda masing masing lantas meloloskan senjatanya dan menyerang dari kiri kanan.
Begitu turun tangan, kedua orang itu segera melancarkan serangannya dengan jurus jurus yang mematikan.
Cahaya pedang menyelimuti angkasa, bayangan ruyung memenuhi gelanggang, hampir setiap jurus serangan yang dilancarkannya tertuju kebagian yang mematikan tubuh lawan.
Pelru diketahui, selama puluhan tahun lamanya Tee lwe siang mo berkelana dalam dunia persilatan, belum pernah ada jago jago lihay didunia ini yang sanggup bertahan sebanyak sepuluh gebrakan ditangannya.
Tapi sekarang, Thian ih sinceng mampu menghadapi mereka berdua sekaligus tanpa kelihatan keteter, malahan sebaliknya ia berada di posisi yang lebih menguntungkan, dari sini dapat diketahui sampai dimanakah kelihayan ilmu silat yang dimilikinya itu.
Say siu jin mo yang muncul kembali dalam dunia persilatan setelah melatih ilmu kiu thian to soh sin kangnya, sudah lama terkandung niat didalam hatinya untuk membuat gara gara dengan pihak Siau lim pay, akan tetapi setelah melihat kehebatan dari orang orang Siau lim tersebut, diam diam ia bersyukur karena tidak sampai bertindak secara gegabah...
Dengan suara lirih Ang hun lo sat Hoa Long jin lantas berbisik kepada Toh bin kui Hong Hiang kim.
"Kelihatannya, belum tentu kita bisa menangkan pihak Siau lim pay...!"
"Keliru besar jika Hoa tongcu berpendapat demikian, apa yang kau lihat sekarang masih belum cukup untuk menilai kekuatan kita"
"Apakah kita masih mempunyai siasat lain yang bisa menangkan keadaan ini?"
Tanya Ang hun lo sat tidak mengerti.
"Kau lupa, hu kaucu kita mempunyai kecerdasan maupun ilmu silat yang maha dahsyat, berulang kali dia menitahkan keempat orang hu hoat untuk turun tangan, sudah tentu hal ini mempunyai alasan tertentu"
"Alasan apa?"
"Cici mengapa begitu bodoh? Apakah cara menyelidiki semacam ini juga tidak kau pahami?!"
Ang hun lo sat Hoa Long jin berpikir sebentar, kemudian berseru tertahan dan manggut manggut.
"Yaa, sekarang aku mengerti!"
Si mawar beracun kembali menuding ke depan seraya berseru.
"Coba kau lihat wajah Hu kaucu, ia sudah nampak berseri, ini menandakan kalau keadaan akan segera berubah..."
Baru saja ia menyelesaikan kata katanya, mendadak terdengar Thian yan sianceng membentak keras.
"Siapa yang telah menyergap lolap?"
Sepasang telapak tangannya segera didorong ke depan, dua pukulan yang maha dahsyat dengan cepat mementalkan tubuh Tau Chin dan Tau Chu hingga jauh sekali.
Akan tetapi dia sendiripun jatuh terduduk diatas tanah.
Dengan wajah terkejut Thian ih sinceng buru buru memburu ke depan sambil serunya.
"Kau sudah terkena sergapan siapa?"
"Mungkin terkena jarum beracun Hong wi tok ciam dari si kelabang hitam Be Ji nio..."
Buru buru Thian ih sinceng mengeluarkan tiga biji Toa huan wan dan dimasukkan ke mulut suhengnya, kemudian serunya.
"Suheng, mari kau kubopong masuk kedalam kuil untuk mengobati lukamu itu"
"Jangan, dewasa ini kuil Siau lim si sedang terancam bahaya besar, bila kita pergi meninggalkan tempat ini, besar kemungkinan hal tersebut akan mempengaruhi semangat mereka"
"Lantas bagaimana baiknya?"
Seru Thian ih sianceng gugup. Tampaknya padri lihay ini telah dibikin gelagapan oleh situasi yang sedang dihadapinya itu.
"Keadaan telah berkembang menjadi begini rasanya tiada cara lain yang lebih baik lagi cuma kita tak boleh menyerah, sekalipun harus mati dimedan pertarungan, kita juga harus mempertahankan diri, mengapa tidak suruh mereka siapkan barisan Lo han tin?"
Belum lagi Thian ih sinceng mengemukakan permintaan tersebut, Tay gi siansu telah menitahkan lima ratus orang pendeta muda dari angkatan ketiga untuk membentuk sebuah barisan Lo han tin.
Pada saat itulah terdengar Sangkoan Bu cing sedang berseru dengan lantang.
"Tay gi taysu, susiokmu itu sudah terkena jarum beracun Hong wi tok ciam perkumpulan kami tak ada orang yang bisa mengobati luka tersebut, jika kau bersedia untuk menyerah, akupun bersedia untuk menghadiahkan obat penawar kepadamu"
Mendengar ucapan tersebut, kontan saja Tay gi siansu menolak permintaan orang. Melihat itu dengan bengis Sangkoan Bu cing melotot, kemudian setelah tertawa seram serunya.
"Kalau toh hwesio hwesio ini tak tahu diri jangan salahkan kalau kami akan bertindak keji!"
Begitu selesai berkata, dia lantas menurunkan perintah untuk melancarkan serbuan.
Suara bentakan yang gegap gempita segera menggema dari empat arah delapan penjuru.
Walaupun jumlah anggota Siau lim si tidak sebanyak jumlah anggota Ki thian kau, akan tetapi berhubung mereka telah membentuk barisan Tin huan lo han toa tin, maka untuk sesaat kawanan iblis tersebut tak mampu berbuat banyak.
Si Kelabang hitam Be Ji nio yang menyaksikan keadaan tersebut, segera mengusulkan.
"Bu cing, kalau pertarungan dibiarkan berlangsung begini terus, bisa jadi akan banyak korban yang berjatuhan dikedua belah pihak, sekalipun akhirnya bisa meraih kemenangan, kerugian yang kita derita pun pasti besar sekali"
"Lantas bagaimana pendapat Tay sang kaucu..."
"Didalam melakukan operasi kali ini, aku telah membawa setabung jarum beracun Hong wi tok ciam lebih banyak, inilah kesempatan bagiku untuk menggunakannya. Selain daripada itu, putik beracun dari si mawar beracun Hong Hiang kim tongcu juga bisa dimanfaatkan kehebatannya, hari ini kita harus membikin beres hwesio hwesio baru tersebut"
Berkata sampai disitu dia lantas memberi tanda, lalu bersama simawar beracun segera menyerbu ke dalam barisan Lo han toa tin tersebut...
Tanpa mengeluarkan sedikit suarapun kedua orang itu segera mengayunkan tangannya berulang kali, yang seorang melepaskan putik putik beracun sedang yang lain menebarkan jarum Hong wi tok ciam yang lembut.
Menghadapi hujan senjata rahasia yang begitu hebat, meskipun sebagian besar di antaranya berhasil dipukul rontok oleh para hwesio dari Siau li si itu, tapi tak sedikit pula yang berhasil menyusup masuk ke dalam barisan Lo han toa tin.
Kawanan hwesio itu hanya merasakan tubuhnya kesemutan, tahu tahu golok terlepas ditangan dan tubuh mereka roboh terkapar diatas tanah...
Tak selang beberapa saat kemudian, sudah berpuluh puluh orang anggota partai Siau lim yang menemui ajalnya.
Perubahan yang terjadi secara tiba tiba ini kontan saja membuat barisan Lo han toa tin tersebut menjadi kacau balau tak karuan Hu kaucu dari Ki thian kau, Sangkoan Bu cing yang melihat ada kesempatan baik di depan mata, tentu saja tidak menyia nyiakannya dengan begitu saja, dia segera menurunkan perintah untuk melakukan pembunuhan secara besar besaran.
Anak buahnya yang sebagian besar adalah pembunuh pembunuh berdarah dingin tentu saja kegiranan mendapat perintah tersebut apalagi mereka beranggapan membunuh kepala gundul adalah sasaran yang tepat, tak heran kalau tampak kepala manusia bergelindingan diatas tanah.
Sesaat kemudian, darah segar telah bercucuran dimana mana, seluruh permukaan tanah telah dipenuhi oleh mayat yang bergelimpangan disana sini.
Tentu saja di pihak Ki thian kau sendiri pun tak sedikit yang menjadi korban, apalagi Tay gi siansu ketua dari Siau lim pay telah bertekad untuk melakukan pertarungan sengit untuk mempertahankan diri, pertarungan sengit yang paling dahsyat segera berkobar di situ...
Pertempuran ini benar benar luar biasa sekali jubah Toa gi siansu yang berwarna putih kini sudah berubah menjadi merah karena darah, sedangkan Thian ih sinceng juga melakukan pembunuhan secara besar besaran sekalipun mulutnya berkemak kemik terus menerus membaca doa.
Ketika ia menerima tantangan dari Tee leng kun tadi, sebenarnya terbentik setitik harapan dalam benak hwesio ini untuk menghindari terjadinya pertumpahan darah.
Tapi kenyataannya menghendaki lain, terpaksa dengan sebilah golok dia membabat semua orang yang berusaha menerjang kearahnya itu, tentu saja tindakan ini dilakukan dengan perasaan terpaksa.
Rupanya hwesio itu sudah sadar, bila ia sampai bersikap bajik dan penuh belas kasihan, bukan saja berakibat kematian buat dirinya sendiri, Thian yan sinceng yakni kakak seperguruan juga tak akan lolos dari kematian.
Thian yan sinceng sendiri yang duduk bersila di tanah merasakan kesedihan yang luar biasa ketika melihat seorang demi seorang dari anak murid roboh binasa.
Yang paling menyesal sudah barang tentu Tay gi siansu sendiri, ia menyesal mengapa dimasa lalu dia melarang anak muridnya memperdalam ilmu silat sebaliknya lebih menekuni soal agama, sekarang dia baru sadar bahwa tindakan tersebut adalah suatu kesalahan yang besar.
Ketika dilihatnya partai Siau lim sudah diambang pintu kehancuran, sedangkan dirinya tak mampu berbuat banyak, hatinya terasa pedih seperti diiris iris dengan pisau.
Suatu jeritan ngeri kembali berkumandang memecahkan keheningan, ternyata Tay kak siansu dari ruang hukuman telah mati terbunuh ditangan Say siu jin mo.
Menyusul kemudian Lak pay siancu dari ruang baca terpapas sebuah lengannya.
Kini tinggal Thian ih sinceng serta beberapa orang tianglo saja yang masih bertarung sengit.
Menghadapi keadaan semacam ini, tiba tiba timbul ingatan didalam pikiran ketua Siau lim pay ini untuk membereskan nyawa sendiri segera pekiknya dihati.
"Oooh Thian! Kau harus mempunyai mata, mengapa kau biarkan mereka yang berhati bajik dibantai seenaknya, sedang kaum jahanam memperoleh perlindungan"
Sangkoan Bu cing yang berada disekitar sana segera mengejek dingin serunya.
"Toa hwesio, riwayatmu sudah hampir habis, sejarah Siau lim pay akan berakhir sampai disini saja bersiap siaplah untuk berpulang kelangit barat!"
Sambil berseru dia melanjutkan pembantaiannya terhadap sisa murid partai Siau lim yang sudah kocar kacir itu.
Tay gi siansu benar benar tak kuasa menerima kenyataan yang tragis itu, tangannya segera diayunkan keatas siap menghantam ubun ubun sendiri...
oooOdwOooo Di saat yang kritis inilah mendadak dari kejauhan sana berkumandang datang dua kali suara pekikan yang amat nyaring...
Begitu pekikan tersebut berkumandang, kebengisan serta kebuasan orang orang Ki thian kau segera menyusut banyak.
Dengan gemas Sangkoan Bu cing segera berseru.
"Tidak kusangka bocah keparat itu tidak terkurung didalam barisan pk lui lok hun toa tin, betul betul sialan!"
"Lebih baik kita percepat pembantaian yang kita lakukan!"
Seru si kelabang hitam Be Ji nio dengan cepat.
"agar pertempuran disini telah berakhir bila ia tiba disini nanti"
Siapa tahu, baru saja dia menyelesaikan kata katanya itu, dari depan kuil Siau lim si telah melayang turun sepasang muda mudi yang berwajah tampan dan cantik.
Begitu sampai ditengah arena, yang lelaki itu segera berteriak keras.
"Anjing anjing Ki Thian kau segera hentikan serangan kalian!"
Seruan tersebut diucapkan dengan penuh kewibawaan, membuat kawanan iblis itu menjadi tertegun dan segera menghentikan serangannya.
Hu kaucu dari Ki thian kau menjadi gusar sekali setelah menyaksikan anak buahnya menghentikan serangan, segera bentaknya keras keras.
"Jangan pedulikan dia, hayo turun tangan terus!"
Kegaduhan kembali terjadi diantara kawanan iblis tersebut... Melihat itu pemuda tampan tersebut segera membentak keras.
"Barang siapa berani sembarangan bergerak, segera akan kupenggal batok kepalanya"
Hek sim yau (siluman berhati hitam) Pek Kiu kong yang berada agak jauh dari pemuda itu segera mendengus dingin, serunya.
"Locu justru tidak percaya dengan tahayul!"
Dengan sorot mata bengis dia segera menyerang seorang hwesio yang berada didekatnya dan memenggal batok kepalanya.
Ia memang berhasil memenggal kutung batok kepala hwesio tersebut, tapi cahaya emas segera berkelebat lewat dan siluman berhati hitam sendiripun turut mampus diujung senjata lawan.
Dengan demikian, kawanan iblis dari Ki thian kau benar benar tak berani bergerak lagi secara sembarangan.
Dengan gusar Sangkoan Bu cing segera berseru.
"Orang she Ong, apakah kau hendak mencampuri urusan ini?"
Pemuda tampan itu bukan lain adalah Ong It sin yang baru lolos dari kepungan barisan Pek lui lok hun toa tin, tentu saja gadis cantik itu tidak lain adalah Bwe Leng soat.
Dengan kening berkerut Ong It sin segera berseru.
"Hu kaucu, apakah kau tidak merasa bahwa pertanyaanmu itu berlebihan...?"
Sangkoan Bu cing segera mencibirkan bibirnya.
"Huuuh, kini jumlah kami jauh lebih banyak memangnya kau mampu berbuat apa?"
"Bagaimanapun buruknya situasi yang bakal kuhadapi, akan kuusahakan dengan segala kemampuan yang kumiliki"
"Dengan pihak Siau lim si kau toh tiada hubungan apa apa, mengapa musti mengorbankan selembar nyawa dengan percuma?"
"Hmm... seandainya urusan tersebut adalah urusan pribadi, aku sih tak akan turut campur, tapi jika kalian berniat untuk menghasai seluruh dunia persilatan... Hmmm bagaimanapun juga aku akan turut serta mengambil bagian"
Agaknya keputusan itu sudah bulat dan tak ada orang yang bisa menggoyahkan hatinya lagi. Sangkoan Bu cing segera mengerutkan dahi, kepada Bwe Leng soat dia bertanya.
"Bagaimana dengan nona?"
Tanpa berpikir panjang Bwe Leng soat segera menjawab.
"Seperti juga Ong toako, akupun akan turut serta didalam urusan ini..."
Sangkoan Bu cing segera mendongakkan kepalanya dan tertawa terbahak bahak, suaranya keras bagaikan jeritan kuntilanak sehinga kain kerudung muka pun turut bergetar keras.
Lama sekali, ia baru berkata lagi.
"Tak kusangka nona yang tampaknya pintar ternyata sama goblok nya dengan orang she Ong Itu, padahal apa gunanya melakukan perbuatan yang sama sekali tak ada gunanya itu?"
"Disinilah letak perbedaan antara golongan hitam dan golongan putih..."
Kata Bwe Leng soa serius.
"kalian boleh terlalu mementingkan diri sendiri, tapi kami tak akan mengikuti jejak munafik seperti itu..."
Sangkoan Bu cing tertawa dingin.
"Heeehhh... heeehhh... heeehhh... cukup banyak kata kata semacam itu yang pernah kudengar, aku tidak percaya seorang nona semacam kau benar benar tidak takut mati!"
Setelah berhenti sejenak, terusnya.
"Begini saja, akan kuberi waktu sebentar untukmu, agar kau mempunyai cukup waktu untuk mempertimbangkan diri."
Sebenarnya Bwe Leng soat hendak menampik, tapi Ong It sin segera mengedipkan matanya memberi tanda.
Maka kedua orang itupun mengundurkan diri kesamping.
Dengan suara lirih Bwe Leng soat lantas bertanya.
"Ong toako, mengapa kau cegah diriku untuk menampik permintaan mereka...?"
Sambil menuding Thian yan sinceng yang duduk ditanah, Ong It sin menjawab.
"Mengapa kau tidak menyaksikan keadaan dari hwesio itu? Kemungkinan besar ia menderita luka dalam yang parah. Pakaian yang dikenakan hampir sama dengan pakaian yang dikenakan ciangbunjin, ini berarti kedudukannya pasti tinggi. Mengapa kita tidak menengok dulu keadaannya...?"
Mengikuti arah yang ditunjuk Bwe Leng soat segera berpaling, benar juga, lebih kurang beberapa kaki didepan sana tampak seorang hwesio berjenggot hitam sedang duduk bersila, hwesio itu berjubah kuning dan penuh berlepotan darah, disampingnya berdiri pula seorang hwesio berjubah kuning yang bermandi darah pula.
Tampaknya kedua orang hwesio itu adalah jago jago lihay dari kuil Siau lim si.
Maka diapun lantas mengangguk.
"Baiklah!"
Ia berkata.
Begitu selesai berkata, dengan suatu gerakan yang cepat dia lantas meluncur kedepan.
Baru saja kedua orang itu tiba disitu, seorang pendeta tua berjenggot putih yang membawa tongkat kemala Liok hud giok ciang telah memberi hormat sambil menyapa.
"Apakah kalian berdua adalah Ong tayhiap serta Bwe lihiap?"
"Betul, apakah taysu adalah hongtiang dari Siau lim pay?"
Lolap benar benar tak becus, coba kalian berdua tidak datang tepat waktunya, aaai...! Entah bagaimana akibatnya?"
"Taysu jangan banyak berbicara dulu, mara bahaya belum lewat, kita masih harus tetap waspada"
Kata Ong It sin dengan kening berkerut.
"tolong tanya taysu, orang itu bertenaga dalam sempurna, tapi wajahnya berwarna hitam, apakah yang menyebabkan mereka demikian?"
"Oooh, kedua orang itu adalah susiok lolap dengan gelar Thian yan serta Thian ih mereka berdua adalah tianglo angkatan Thian dari kuil kami"
"Oooh rupanya mereka adalah Tionggak ji seng (dua malaikat dari daratan tengah), entah mereka sudah terkena racun apa?"
Seru Bwe Leng soat kemudian.
"Mereka sudah terkena racun Hong wi tok ciam dari si kelabang hitam Be Ji nio"
"Oooh, bagaimana baiknya sekarang?"
Jerit Bwe Leng soat kaget.
"kecuali obat penawarnya, mungkin nyawa Thian yan cianpwe tak bisa diselamatkan lagi!"
Sangkoan Bu cing yang berada ditempat kejauhan segera tertawa licik, serunya.
"Nona, ternyata kau tahu juga akan keadaan, sayang nyawa mereka tak ada cadangannya, mungkin terpaksa kita harus menyaksikan Thian yan mampus akibat keracunan"
"Aku tidak percaya kalau didunia ini tiada obat lain yang bisa memunahkan racun tersebut"
Kata Ong It sin sambil tertawa hambar.
"Kau berani bertaruh denganku?"
Tantang Sangkoan Bu cing.
"Aaah... masakah persoalan semacam ini juga bisa dipertaruhkan?"
Ong It sin pura pura sangsi. Melihat pemuda itu tak berani memastikan Sangkoan Bu cing segera memancing lebih jauh sindirnya.
"Huuuh tadi saja masih omong besar, mengapa sekarang malah mundur teratur?"
Agak memerah wajah Ong It sin karena jengah serunya kemudian mendongkol.
"Baik, dengan apa kau hendak mengajak aku bertaruh?"
"Bagaimana jika kita menggunakan maju mundurnya kalian berdua didalam peristiwa ini sebagai barang taruhan?"
"Apa maksudmu?"
Ong It sin pura pura semakin tidak mengerti.
"Sederhana sekali, jika kau berhasil memunahkan racun yang mengeram ditubuh Thian yan, maka perkumpulan kami segera akan menarik diri dari kuil Siau lim si"
"Setuju sekali!"
Seru Ong It sin cepat.
"Bagaimana kalau kau tak mampu memunahkan racun dari Hong wi tok ciam tersebut?"
"Kamipun tak akan mencampuri urusan ini"
"Nah kau sendiri yang berkata demikian, nanti jangan menyesal lagi..."
"Memangnya kau menganggap aku pasti kalah?"
Seru Ong It sin tidak terima. Sangkoan Bu cing segera mengangkat bahunya seraya menyahut.
"Tentu saja, kalau tidak, buat apa aku musti bertaruh denganmu?"
Setelah berhenti sebentar, dia melanjutkan.
"Lebih baik cepat cepat mendemonstrasikan kelihayan ilmu pengobatanmu itu!"
Ong It sin tidak banyak berbicara lagi, dengan mulut membungkam dia lantas menghampiri Thian yan sinceng yang masih duduk bersila itu.
Dengan cepat Bwe Leng soat menghampirinya sambil menegur dengan suara dalam.
"Ong toako, apakah kau yakin pasti berhasil?"
"Yaa tanggung seratus persen pasti berhasil!"
"Kau tidak seharusnya mengibul!"
"Nona Bwe apakah kau sendiripun tidak percaya?"
"Ini bukan masalah percaya atau tidak melainkan kau..."
Ketika berbicara sampai disitu tiba tiba dia lantas bertanya.
"Ong toako apakah kau mengerti tentang ilmu pertabiban?"
"Tidak!"
Jawab Ong It sin sambil menggeleng.
"Apakah gurumu telah membuat pil yang khusus untuk memunahkan racun itu?"
Sekali lagi Ong It sin menggeleng. Dengan wajah serius Bwe Leng soat segera berseru.
"Kalau begitu apa yang Ong toako andalkan?"
"Nona Bwe, kau tak usah kuatir"
Kata Ong It sin dengan suara dalam.
"tanda sesuatu keyakinan masa aku aku akan bertaruh dengannya? Sebentar kau akan tahu sendiri"
Seraya berkata dia lantas mengambil sebutir pil dan dimasukkan ke dalam mulut Thian yan sianceng.
Dengan cepat Thian yan sianceng menelan pil itu ke dalam perutnya.
Sungguh mujarab sekali obat itu, tak selang berapa saat kemudian, seluruh racun jahat itu sudah tersapu lenyap, kemudian beberapa waktu lagi dia sudah melompat bangun dalam keadaan segar bugar.
Melihat kejadian itu, para hwesio dari partai Siau lim segera bersorak sorai dengan riang gembira.
Thian ih sinceng juga merasa gembira sekali.
Tay gi berulang kali menyatakan rasa terima kasihnya, sedang Thian yang sinceng yang baru lolos dari lubang jarum, sudah barang tentu sangat terima kasih sekali.
Sebaliknya para iblis dari Ki thian kau diam diam merasa keheranan bercampur tidak habis mengerti, terutama si kelabang hitam Be ji nio serta Hu kaucu Sangkoan Bu cing.
"Heran!"
Gumam Be ji nio.
"padahal tak seorang manusiapun didunia ini yang sanggup memunahkan racun dari Hong wi tok ciam kecuali aku sendiri, dari mana bocah keparat itu bisa memperoleh obat penawar tersebut...?"
Sangkoan Bu cing juga mulai merasa keder pikirannya.
"Waaah... celaka, jika racun Hong wi tok ciam sudah tidak manjur lagi, mana mungkin aku bisa menangkan pertarungan ini? Apalagi dipihak lawan telah bertambah dengan dua orang jago tangguh?"
Sementara dia masih berpikir, Coa Thian tam dan Pek lek to To Hu hiong telah menyusul sampai disitu. Buru buru Bwe Leng soat memperkenalkan kedua orang itu kepada Hongtiang dari kuil Siau lim si.
"Mereka adalah Coa Thian tam tayhiap serta To hu Hiong tayhiap, semuanya adalah Sahabat Ong toako yang paling akrab, mereka sengaja datang kemari untuk membantu Siau lim pay memukul mundur kaum iblis dari Ki thian kau"
"Ooh... rupanya Ih lwe su eng"
Seru Tay gi siansu.
"maaf kalau lolap tak menyambut dari jauh... maksud baik kalian berdua tak akan kami lupakan untuk selamanya"
Sementara itu Ong It sin telah berbincang bincang kembali dengan Sangkoan Bu cing. Kata Ong It sin sambil tertawa.
"Sudah kau lihat sendiri, Thian yan sinceng telah bebas dari pengaruh racun Hong wi tok ciam, apakah sekarang kau bisa memenuhi janjimu...?"
Sekalipun Sangkoan Bu cing enggan berbuat demikian, namun keadaan membuatnya tak mampu berkata apa apa lagi. Terpaksa sahutnya dengan penuh kebencian.
"Orang she Ong, kau jangan keburu berbangga hati, jika kaucu kami sudah selesai dengan semedinya, heeehh... heeehh... heeehh... saat itulah dia akan mencarimu untuk membuat perhitungan!"
"Siapakah kaucu kalian? Apakah boleh kuketahui namanya?"
Sangkoan Bu cing segera mengangkat bahunya seraya berseru.
"Sampai waktunya, kau bakal tahu sendiri"
Tiba tiba Ong It sin seperti teringat akan satu hal, dengan terkejut dia lantas bertanya.
"Apakah kalian telah membunuh nona Bwe Siau soh serta merampas pedang Hu si ku kiam dan sarung Cian nian liong siau miliknya?"
Sangkoan Bu cing merasa geli sekali setelah mendengar perkataan itu.
"Waah... kelihatannya kau masih belum dapat melupakan Be Siau soh...!"
Serunya. Ong It sin tidak menyangkal katanya lagi.
"Bila dia masih hidup, aku ingin sekali berjumpa dengannya cuma... apakah kalian telah membinasakannya?"
"Maaf, soal ini tak bisa kuberitahukan untuk sementara waktu, sekarang aku hanya ingin bertanya kepadamu, darimana kau bisa tahu kalau Be Siau soh berada didalam perkumpulan kami?"
Baca Juga: Dendam Si Anak Haram 1
Baca Juga: Pusaka Gua Siluman 6