Ceritasilat Novel Online

Pendekar Bego 9

Eps 9 Pendekar Bego - Can ID

Baca online Pendekar Bego - Can ID

Cersil Pendekar Bego - Can ID.

"Menurut guruku, ilmu Ngo heng sin kang hanya terdapat digagang pedang Hu im si kiam serta sarung pedang Cian nian liong siau. Padahal kedua benda itu justru akulah yang telah menghadiahkannya kepada Be Siau soh maka setelah kuketahui kalau ilmu itu kalian pelajari juga, terlintas dalam ingatanku, jangan jangan Siau soh sudah terjatuh ke tangan kalian?"

Mendengar uraian tersebut, segera terlintas perasaan iri dan cemburu dalam hati Sangkoan Bu cing, biji matanya segera berputar, kemudian katanya.

"Dia memang sudah tertawan didalam perkumpulan kami dan disekap dalam markas besar kami, hei orang she Ong, apakah kau berhasrat untuk menolong gadis itu?"

Sesungguhnya tindakannya itu boleh dibilang merupakan suatu siasat yang sangat licin, selain dia bermaksud untuk memancing kedatangan Ong It sin ke dalam markasnya agar bisa dibunuh, diapun ingin mengadu domba antara Ong It sin dengan Bwe Leng soat, agar mereka cekcok dan akhirnya berpisah.

Sebab dia dapat melihat kalau Bwe Leng soat menaruh rasa cinta kepada pemuda itu.

"Dimana letak markas besar kalian?"

Ong It sin segera menegur.

"Heeehh... heeehh... heeehh... pertanyaan seorang bocah! Kau anggap aku bisa memberi jawaban untukmu? Apa gunanya kau musti banyak bertanya?"

"Kau anggap aku tak bisa menyelidiki sendiri?"

"Kalau memang begitu mengapa tidak kau selidiki sendiri?"

Seusai berkata dia lantas memberi perintah untuk mengundurkan diri dari tempat itu.

Dalam waktu singkat kawanan jago iblis dari perkumpulan Ki thian kau telah mengundurkan diri dari kuil Siau lim si.

Sepeninggal kawanan iblis itu Tay gi siansu memerintahkan anak muridnya untuk mengubur mereka yang mati, kemudian mengundang Ong It sin Bwe Leng soat, Coa Thian tam dan To hu Hiong masuk kedalam kuil untuk minum teh.

Setelah semuanya duduk, berkatalah Tay gi siansu Hongtiong dari kuil Siau lim si.

"Berkat bantuan dari sicu sekalian, partai Siau lim berhasil lolos dari musibah, budi kebaikan ini tak terlukiskan besarnya, lolap merasa tak punya apa apa untuk membalas budi itu, maka bila dikemudian hari sicu membutuhkan bantuan partai Siau lim, anak murid kami pasti akan membantu dengan sekuat tenaga"

Sambil berkata dia lantas memerintahkan seorang hwesio kecil maju sambil membawa sebuah baki tembaga, diatas baki tembaga itu terdapatlah sebuah lencana Giok hud leng, sebuah tanda kekuasaan yang paling tinggi didalam partai Siau lim.

Kembali Tay gi siansu berkata.

"Lencana ini merupakan lencana yang paling tertinggi bagi partai Siau lim, barang siapa membawa lencana Giok hud leng ini maka dari murid sampai ketuanya tunduk atas perintahnya, silahkan Tayhiap menerimanya!"

Semula Ong It sin menolak, tapi setelah didesak akhirnya ia menerima juga.

Tengah hari selesai bersantap siang merekapun berpamitan dengan Tay gi siansu.

Setelah meninggalkan bukit Siong san, malam itu mereka menginap disebuah rumah penginapan di kota Teng hong.

Selama ini Ong It sin selalu bermuram durja dan mengunci diri didalam kamar.

Sementara itu Coa Thian tam dan Pek lek to To hu Hiong sedang keluar mengunjungi teman.

Bwe Leng soat segera masuk kedalam kamar pemuda itu sambil bertanya.

"Ong toako, apakah kau ada persoalan yang mengganjal di dalam hatimu...?"

Ong It sin tidak menyangkal, sahutnya sambil mengangguk.

"Yaa, aku sedang memikirkan bagaimana caranya untuk menyelamatkan Be Siau soh yang tertawan oleh mereka itu"

"Apakah Be Siau soh calon istrimu?"

Tanya Bwe Leng soat lagi dengan perasaan cemas. Merah padam selembar wajah Ong It sin setelah mendengar perkataan itu, ia menggelengkan kepalanya berulang kali.

"Bukan, dia cuma seorang sahabat karibku dimasa lalu!"

"Sampai dimanakah hubungan kalian? Apakah sudah menyinggung soal perkawinan?"

Tanya Bwe Leng soat lagi dengan perasaan kecut bercampur sedih.

"Dia sudah menjadi nyonya orang lain!"

"Apa? Dia sudah kawin?"

Seru Bwe Leng soat terkejut.

"Benar, suami Be Siau soh adalah Pocu dari benteng Khek po, Tee leng kun adanya, malah mereka telah berputra seorang"

Tadi Bwe Leng soat pernah menyaksikan wajah jelek dari si kakek ceking itu, ia menjadi tercengang sesudah mendengar perkataan itu, katanya kemudian.

"Seorang gadis cantik kenapa mau kawin dengan manusia macam itu? Bukankah keadaan tersebut ibaratnya sekuntum bunga mawar ditancapkan diatas tahi kerbau?"

"Menurut apa yang kuketahui dia bisa kawin dengan Tee leng kun lantaran ingin mendapatkan pedang antik Hu si ku kiam!"

"Aaah...! Masa hanya disebabkan sebilah pedang, dia begitu rela mengorbankan kesucian tubuhnya, apakah tindakannya ini tidak terlalu goblok? kemudian apakah dia berhasil mendapatkan pedang itu?"

"Dapatnya sih memang didapatkan cuma sayang"

"Sayang kenapa?"

Tanya nona itu "cuma sebilah pedang palsu"

Bwe Leng soat menjadi sangat terkejut, serunya kemudian.

"Jadi kalau begitu, temanmu Be Siau soh sudah tertipu mentah mentah...?"

Setelah berhenti sebentar, dengan perasaan simpatik lanjutnya.

"Ketika dia mengetahui kalau pedang itu cuma pedang palsu, entah bagaimana perasaannya waktu itu?"

Ong It sin termenung sebentar seperti mengenang kembali kejadian masa lampau, kemudian sahutnya.

"Waktu itu dia sendiri acuh tak acuh, sedang aku kebetulan sekali berkenalan dengannya dia minta agar aku membawa anaknya kembali kebenteng Khek po"

"Kalau begitu hubungan kalian toh tidak terlalu mendalam?"

Merah padam selembar wajah Ong It sin, katanya lagi.

"waktu itu dia telah mempergunakan badannya untuk menipu cintaku, membuat aku dengan rela dan setia berbakti kepadanya"

"Ong toako, apakah kau tidak merasakannya pada waktu itu?"

Ong It sin segera menghela napas panjang.

"Aaai...! Pada waktu itu, tak seorang manusiapun didunia ini yang sudi memandang diriku mereka menganggap aku sebagai manusia yang paling gobok didunia ini, mereka menjadikan aku sebagai bahan tertawaan, bayangkan saja nona Bwe, ketika secara tiba tiba ada seorang gadis cantik bak bidadari dari kahyangan yang mencintai aku merayuku dan memperhatikan diriku, salahkan jika akupun membalas cinta kasihnya itu dengan bersungguh hati?"

"Bukankah kau pernah berkata bahwa ayahmu Kwan gwa tayhiap Kim to bu tek Ong Tang thian telah tewas ditangan si Kelabang hitam Be Ji nio? Kemungkinan besar Be Siau soh ada hubungannya dengan perempuan jalang itu."

"Yaa, benar! Mereka adalah ibu dan anak!"

Paras muka Bwe Leng soat segera berubah menjadi amat serius, katanya kemudian.

"Ong toako, dendam kesumat yang lebih dalam dari samudra itu hendak kau tuntut balas atau tidak?"

Menyinggung kembali soal dendam kesumat ayahnya, Ong It sin merasakan darahnya kembali mendidih, dengan mata melotot besar sahutnya dengan penuh perasaan dendam.

"Dendam kesumat tentu saja harus dibalas!"

"Lantas apa rencanamu selanjutnya?"

"Ini tergantung pada tingkah laku ibunya!"

"Seandainya ibunya telah bertobat dan kembali ke jalan yang benar?"

"Maka akupun akan mengampuni selembar jiwanya!"

"Seandainya Be Siau soh bukan berpura pura mencintaimu, tapi cintanya tulus dan murni, bagaimana caramu untuk menyelesaikan persoalan ini?"

"Akan kukawini dirinya!"

Bwe Leng soat merasa sedih sekali, hatinya bagaikan diiris iris dengan pisau, tapi dia masih tetap menahan diri katanya lagi.

"Semoga saja dia bersungguh hati mencintaimu! Cuma... seandainya dia hanya berpura pura saja, bahkan karena berhasil mempelajari ilmu Ngo heng sinkang dia berbuat kejahatan didalam dunia persilatan, Ong toako bagaimana sikapmu terhadapnya?"

OodoOooow Ong It sin merasakan hatinya bergetar keras setelah mendengar perkataan itu, dia segera menarik tangan Bwe Leng soat sambil berseru.

"Nona Bwe, kau maksudkan kaucu dari perkumpulan Ki thian kau adalah Be Siau soh?"

"Aku tidak berkata begitu, aku cuma bertanya seandainya..."

"Aaai... meski cuma seandainya, tapi kejadian itu benar benar menakutkan sekali"

"Bukankah kau pernah berkata bahwa Hu si ku kiam dan Cian nian liong siau telah kau hadiahkan kepada Be Siau soh? Sedangkan sampai sekarang orang persilatan belum tahu siapa gerangan kaucu dari Khi thian kau tersebut, tapi kalau dilihat nama perkumpulan itu, tampaknya kaucu mereka adalah seorang perempuan!"

"Tapi kita toh tak bisa menuduhnya?"

"Tentu saja, kau masih ingat racun apa yang diderita Thian yan sinceng dari Siau lim pay? Bukankah racun itu adalah Hong wi tok ciam? Dari sini bisa kita ketahui kalau mereka ibu dan anak sudah pasti berada dalam perkumpulan itu, seandainya Siau soh ditawan, apakah Be Ji nio bersedia membuktikan diri kepada perkumpulan itu... lagipula, ketika kau menyinggung soal Be Siau soh, suara Hu kaucu itu segera berubah, apakah tak bisa mendengarkan?"

Bagaikan baru sadar dari impian, Ong It sin segera berseru.

"Kalau begitu, aku pasti kenal juga dengan Hu kaucu tersebut!"

Xxx-dw-xxx

Jilid 23

"SIAPAKAH dia?"

"Bila dugaanku tidak salah, hu kaucu dari Ki thian kau yang selalu memakai cadar hitam itu pastilah Sangkoan Bu cing, putranya Bwe hoa kiam kek (jago pedang bunga sakura) Sangkoan Tin!"

Bwe hoa kiam kek Sangkoan Tin menyukai bunga bwe sampai akhirnya tergila gila dengan tumbuhan tersebut, meski Bwe Leng soat belum pernah berjumpa dengan orang itu, sudah pernah ia dengar namanya.

Ia menjadi tertegun, serunya keheranan.

"Aku dengar Bwe hoa kiam kek adalah seorang pendekar dari golongan lurus, mengapa putranya bisa masuk ke dalam aliran sesat?"

Sambil mencibirkan bibirnya Ong It sin tertawa dingin, katanya.

"Bukankah Beng cu berwatak luhur, Siancu berwatak jahat Bu cing sebagai namanya bukan saja tidak berperasaan, diapun licik, keji dan berwatak busuk, tentu saja manusia semacam ini hanya pantas bila berkumpul dengan kaum laknat!"

"Kau begitu mengeritik dirinya, seakan akan kau sudah hapal dan paham sekali dengan wataknya?"

"Yaa, siapa bilang tidak?"

Jawab Ong It sin sambil tertawa getir.

Berbicara sampai disitu, secara ringkas dia lantas menceritakan semua pengalaman yang dialaminya selama bergaul dengan Sangkoan Bu cing...

Selesai mendengar kisah tersebut Bwe Leng soat berpikir sebentar, kemudian katanya.

"Sekarang, apakah kau masih ada rencana untuk mengunjungi markas besar Ki thian kau?"

Ong It sin segera menggelengkan kepalanya berulang kali.

"Kalau memang dia sudah menjadi dalangnya persoalan ini, buat apa kau kesana?"

Bwe Leng soat berpikir sebentar, kemudian katanya.

"Bila dugaanmu tidak salah dan kaucu mereka benar benar adalah Be Siau soh, sudah sepantasnya kalau kau menasehatinya dengan kata halus agar dia mau kembali ke jalan yang benar, seandainya dugaanmu betul, kita bisa menolongnya sekalian menarik kembali pedang Hu si ku kiam tersebut, bukankah ini bagus sekali?"

"Apakah kau akan mengikuti aku masuk ke dalam sarang harimau?"

Tanya Ong It sin.

"Rencana ini aku yang ajukan, tentu saja akupun berhak untuk memilih..."

"Kalau begitu kau bersedia untuk mengikuti aku menyerempet bahaya ini?"

Bwe Leng soat segera manggut manggut. Tiba tiba Ong It sin berkerut kening, lalu serunya.

"Bisa saja kita putuskan demikian, tapi di manakah letak markas besar mereka?"

"Tiada rahasia didunia ini yang bisa disimpan terus dengan rapat, asal kita mau bersusah payah, apakah kau kuatir tak akan mengetahuinya...!"

"Coa toako punya pergaulan yang luas sekali didalam dunia persilatan, mengapa kita tidak minta bantuannya?"

Baru saja pemuda itu menyelesaikan kata katanya, pintu kamar telah dibuka orang. Dari depan pintu muncul dua orang lelaki ternyata mereka bukan lain adalah Coa Thian tam serta Pek lek to To hu Hiong.

"Bagus sekali!"

Seru Coa Thian tam.

"aku tidak berada disini, kalian berdua berani mencaci maki aku dari belakang!"

"Coa tahiap, kau jangan sembarangan memfitnah orang"

Seru Bwe Leng soat.

"untuk memuji dirimu saja kami tak sempat, masa berani mencaci maki dirimu!"

"Aku terang terangan mendengar Ong lote sedang membicarakan aku, apa sebabnya kalian menyebut namaku tanpa alasan?"

"Tanyakan sendiri kepadanya!"

Seru Bwe Leng soat sambil menuding kearahnya. Ong It sin kuatir dia menaruh salah paham maka buru buru serunya dengan cepat.

"Siaute hanya ingin minta pertolongan dari Coa toako saja!"

"Tentang soal apa?"

"Aku sedang berpikir tidak masuk ke gua harimau, mana mungkin bisa mendapat anak macan?"

"Oooh... Jadi Ong lote ingin menyelidiki alamat dari markas besar perkumpulan Ki thian kau?"

"Benar!"

"Aku rasa soal ini sukar diselidiki!"

"Kenapa?"

"Sebab hingga kini belum ada seorang manusiapun yang mengetahui letak markas besar perkumpulan Ki thian kau"

Tiba tiba Ong It sin merasa menyesal sekali, serunya.

"Aaah! Sayang, kenapa aku tidak menguntil dibelakang mereka waktu itu..."

"Ong lote tak usah menyesal, tanggung sebelum kentongan ketiga nanti kita bakal mendapat kabar!"

Kejut dan girang Ong It sin setelah mendengar perkataan itu, segera ujarnya.

"Apakah Coa toako secara diam diam telah mengirim orang untuk mengadakan pengintaian?"

"Keliru besar kau lote, sobatku pasti adalah seorang lelaki sejati...!"

Seru Ong It sin dengan rasa hormat.

"Benar, temanku itu berjiwa ksatria dan penuh kesetiaan kawan, kalau kusebut namanya mungkin Ong lote dan nona Bwe juga mengetahui tentang dirinya, dia bukan lain adalah Sin heng tay poo (pangeran pejalan sakti) Tay Lip"

Ketika masih berada dirumah pamannya dulu, Ong It sin sudah banyak mendengar tentang nama orang orang kenamaan, nama orang itupun pernah didengar olehnya.

Tapi sebelum ia sempat mengucapkan sesuatu Bwe Leng soat telah berkata lebih dulu.

"Orang itu pernah berkunjung ke kuil Koan siau kek kami, menurut suhu katanya ilmu Siu heng sut yang dimiliki orang ini merupakan suatu kepandaian sakti yang tersendiri didalam dunia persilatan, asal dia turun tangan sendiri aku yakin misinya pasti akan berhasil"

"Coa toako, kau bilang pada kentongan ketiga malam nanti pasti ada kabar yang diterima, apakah sebelumnya kalian sudah ada janji?"

Tanya Ong It sin.

"Benar!"

"Tapi bukankah kau selalu melakukan perjalanan bersama kami?"

Seru pemuda itu keheranan.

"sedari kapan kau berjumpa dengan sikaki terbang itu?"

"Ketika kau dan nona Bwe memberi bantuan kedalam kuil Siau lim si, aku telah berjumpa dengan lo Tay dibawah puncak bukit"

"Oooh... tak aneh kalian begitu terlambat datangnya, ternyata sudah berhenti di tengah jalan"

"Sekarang baru kentongan kedua, itu berarti masih harus menunggu satu kentongan lagi"

Kata Bwe Leng soat. Pada saat itulah dari depan pintu kamar terdengar suara langkah kaki manusia, ternyata yang muncul adalah pelayan rumah penginapan. Terdengar ia berkata.

"Tay ya, Koaya dan teman temannya tinggal di kamar tujuh sampai sembilan, silahkan kau masuk sendiri!"

Ketika Coa Thian tam yang berada dikamar mendengar Tay Lip sudah datang, buru buru dia membuka pintu seraya menyapa.

"Saudara Tay, silahkan masuk!"

Seorang lelaki jangkung segera melangkah masuk ke dalam kamar. Setelah menutup pintu dan memperkenalkan dengan Ong It sin serta Bwe Leng soat, dia bertanya.

"Saudara Tay, apakah berhasil menemukan titik terang?"

"Sekalipun alamatnya belum begitu jelas, tapi markas besar dari perkumpulan Ki thian kau sudah pasti berada disekitar kota Si ciu!"

Jawab Sin heng tay poo.

"Ini menurut taksiranmu sendiri atau kenyataan?"

Tanya Coa Thian tam lagi.

"Waktu itu aku bersembunyi dibalik kegelapan, perkataan itu dibocorkan oleh Ang hun lo sat tanpa sengaja. Oleh karena itu dari kota Kay hong aku segera berangkat kembali ke sini"

"Bagus sekali, asal kita sampai di kota Si ciu, tidak kuatir tak berhasil menemukan jejak mereka"

"Disekitar markas besar mereka pasti terdapat banyak sekali jaringan mata mata mereka, untuk melakukan penyelidikan, lebih baik kalian pecah menjadi dua rombongan dan masing masing menyaru wajahnya sendiri sendiri"

Semua orang setuju sekali dengan usul dari Sin hong tay poo ini, maka setelah menyaru wajahnya masing masing, mereka pun membagi diri menjadi dua rombongan untuk melakukan perjalanan.

odooOowoo Si ciu terletak di keresidenan Si sian.

Tempat itu merupakan suatu persimpangan jalan perdagangan yang penting sekali artinya, oleh karena itu suasana kota cukup ramai.

Hari itu dari pintu selatan kota Si ciu untuk sepasang suami istri yang baru datang dari dusun.

Yang lelaki adalah seorang kakek berusia enam puluh tahunan yang bermuka hitam, bergigi kuning, berhidung pesek dan bermata juling, sehingga dia kelihatan jelek sekali.

Istrinya adalah seorang nenek berusia lima puluh tahunan, meskipun rambutnya telah beruban tapi sisa kecantikannya masih tertampak nyata, bisa diketahui kalau dimasa mudanya dulu ia pasti berwajah cantik rupawan.

Kedua orang itu masing masing membawa sebuah tongkat yang besarnya selengan bocah, sambil terbungkuk bungkuk mereka berjalan menelusuri jalanan.

Akhirnya mereka pun menaiki rumah makan Cui ang loo.

Sepasang suami istri tua ini duduk dekat jendela, mereka memesan sepoci arak Tay pek ciu dan dua macam sayur.

Tay pek ciu adalah arak berkwalitet paling rendah, juga merupakan minuman dari golongan masyarakan rendah.

Diantara rumah makan itu terdapat pula beberapa orang lelaki yang berbaju keren, tapi perhatian mereka hanya tertuju pada orang orang yang menurut anggapan mereka menyolok.

Tentu saja tak seorang pun yang memperhatikan sepasang suami istri dari dusun yang sudah tua itu.

Tapi si kakek jelek itu dengan matanya yang tajam tiada hentinya memperhatikan keadaan disekeliling tempat itu.

Ketika sorot matanya membentur dengan seorang kakek tinggi besar berambut merah yang duduk seorang diri disisi ruangan, ia tampak agak terkejut.

"Bukankah orang itu adalah Say siu jin mo Kwik Cing?"

Demikian ia berpikir. Buru buru disikutnya si nenek, lalu pesannya dengan suara lirih.

"Sebelum mengadakan kontak dengan Coa toako, lebih baik kita jangan bocorkan penyamaran kita dulu. Orang itu adalah Hu hoat dari perkumpulan Ki thian kau"

Si nenek itu berpaling, setelah melihat sasarannya, diapun berkata dengan serius.

"Lebih baik kita cepat cepat tinggalkan tempat ini daripada rahasianya kita ketahuan!"

Pada saat itulah dari mulut anak tangga mendadak muncul sepasang lelaki perempuan.

Yang lelaki berwajah tampan bermuka merah giginya putih dan sangat gagah, dia memakai baju ringkas dengan sebilah pedang tersoren dipinggangnya, senyuman bangga tersungging diujung bibirnya.

Sedang yang perempuan baru berusia delapan belas tahunan, memakai baju ringkas berwarna kuning dengan mantel berwarna hitam, rambutnya hitam pekat dan mukanya bundar dengan mata yang besar, meski tidak memakai pupur atau gincu, wajahnya tampak cantik menawan hati.

Dalam dunia persilatan jarang sekali dapat menjumpai lelaki perempuan seperti ini.

Bwe Leng soat yang menyaru sebagai nenek desa itu segera menyikut si kakek seraya berbisik.

"Ong toako, aku lihat kedua orang ini bukan termasuk anggota Ki thian kau!"

Tak bisa disangkal lagi si kakek jelek itu bukan lain adalah penyaruan dari Ong It sin mendengar perkataan itu dia manggut.

"Tentu saja bukan, mereka adalah suheng moay..."

"Kau kenal dengan mereka?"

Seru Bwe Leng soat dengan wajah tercengang dan nada berat. Ong It sin manggut manggut.

"Benar, sedikit banyak mereka masih ada sangkut pautnya dengan diriku...!"

"Siapakah mereka?"

"Nona Bwe kau pernah mendengar tentang tiga jagoan lihay dari luar perbatasan?"

"Aku tahu mereka adalah Sio Siau (cambuk sakti) Li Ji. Seng hong tianglo serta ayahmu Kim to bu tek (golok emas tanpa tandingan) Ong Tang thian..."

Ketika berbicara sampai disitu, satu ingatan dengan cepat melintas didalam benaknya, dengan suara dalam segera serunya.

"Apakah kedua orang ini ada hubungannya dengan Kwan gwa sam hiap tersebut?"

"Tepat sekali perkataan nona, kedua orang itu bukan lain adalah anak murid dari Seng hong tianglo, yang lelaki bernama Lau Hui sedangkan yang perempuan bernama Bwe Yau"

"Bagaimana kalau kita menyapa mereka?"

Ong It sin segera menggeleng.

"Seharusnya kita memang pantas untuk munculkan diri dan berjumpa dengan mereka, akan tetapi tugas perjalanan kita kali ini adalah menyelidiki letak dari markas besar perkumpulan Ki thian kau, bila rahasia penyamaran kita sampai ketahuan, bukankah usaha kita selama ini menjadi sia sia belaka... apalagi kedua orang ini selalu melakukan pergerakan diluar perbatasan, mengapa mereka bisa muncul disini? Siapa tahu kalau mereka memang telah bersekongkol dengan pihak Ki thian kau? Lebih baik kita nantikan dulu perkembangan selanjutnya!"

Bwe Leng soat merasa ucapan tersebut ada benarnya juga maka merekapun tidak melakukan sesuatu gerakan apa apa lagi.

Sementara mereka sedang bercakap cakap, Lau Hui dan Bwe Yau telah mengambil tempat duduk tak jauh dari situ dan memesan hidangan.

Terdengar Bwe Yau berkata.

"Suko, setelah bersantap, apakah kita akan langsung menuju ke pagoda Cui ang teng?"

"Tentu saja, kita akan berpesiar selama sepuluh sampai setengah bulan lamanya di sini sebelum berangkat menuju ke Kanglam"

"Kota gunung ini tak lebih cuma sebuah desa pemabuk, apanya yang indah ditempat ini?"

"Sumoay, kenapa kau musti terburu napsu, bila sungguh sungguh ingin berpesiar maka kita harus kunjungi tempat yang indah dan kenamaan, kalau bermain sambil lalu, tentu saja tak akan terasa menyenangkan"

Sambil berkata dia berjalan menuju ke arah meja ciangkwee.

Tampak pemuda itu membisikkan sesuatu kepada sang kasir, kemudian mengeluarkan sebuah benda dari sakunya dan diangsurkan kepadanya.

Kasir itu menyambur dan dilihatnya sebentar, entah apa yang kemudian dibicarakan, Lau Hui segera menjura dan balik kembali ke tempat duduknya.

"Suko, sudah kau tanyakan dimanakah letak mata air tersebut?"

Bwe Yau segera bertanya.

"Konon berada disuatu tempat sepuluh li dari pintu sebelah utara kota"

"Selesai bersantap kita pesan kamar kemudian berpesiar sepuasnya ditempat tempat kenamaan tersebut!"

"Tentu saja!"

Seru Lau Hui sambil memperlihatkan senyuman liciknya.

"kali ini kita harus bermain sepuas puasnya sebelum pulang"

Selanjutnya kedua orang itu segera membungkam dan masing masing menghabiskan santapannya sendiri.

Setelah membayar rekening, merekapun berangkat meninggalkan tempat itu.

Baru saja sepasang muda mudi itu berangkat, si kakek berkepala besar berambut merah tadipun segera beranjak sambil menggumam "Bocah keparat, kau ingin bermain setan apa lagi?

Setelah berjumpa dengan diriku sekarang, jangan harap kau bisa bertindak sesuka hatimu...!"

Dia melempar sekeping hancuran perak ke meja, kemudian buru buru meninggalkan tempat itu. Ong It sin segera berbisik.

"Eeeh... bagaimana kalau secara diam diam kita ikuti dibelakang mereka untuk menonton keramaian?"

"Terserah kepadamu..."

Kedua orang itu segera memanggil pelayan membayar rekening dan kemudian meninggalkan pula rumah makan Cui ang lo tersebut.

Dari kejauhan mereka menyaksikan simanusia aneh berkepala besar berambut merah itu masih berjalan didepan sana.

Tapi Lau Hui dan Bwe Yau yang berada didepannya seperti sama sekali tidak menyadari akan hal itu.

Terutama sekali Bwe Yau, dia masih polos dan lincah, mana mungkin dia menyangka kalau bencana sudah berada didapan mata?

Sesudah keluar melalui pintu kota sebelah utara, jauh memandang ke depan hanya tanah perbukitan yang tampak, tanpa terasa gadis itu segera memuji.

"Oooh... betapa indahnya pemandangan alam disini"

"Kalau pemandangan alam disini tidak indah, mana mungkin Ouyang Siu mau menjadi pembesar dikota gunung seperti ini?"

Bwe Yau memandang sekejap sinar matahari senja yang sudah hampir lenyap dibalik bukit, kemudian tanyanya lagi.

"Apakah kita sempat untuk pulang kekota nanti?"

"Apalah arti sepuluh li buat kita? Pasti masih sempat untuk pulang ke kota, apalagi kita kan sudah memesan kamar, mana takut tak kebagian tempat tidur?"

Ditengah remang remangnya cuaca, kedua orang itu segera melanjutkan perjalanannya menuju ke tanah perbukitan tersebut.

Suasana disekitar tempat itu sangat sepi dan hening, tak seorang manusia pun yang kelihatan.

Lama kelamaan Bwe Yau merasa heran juga dia lantas menegur.

"Suko, kenapa sampai sekarang belum nampak juga sumber mata airnya?"

"Mungkin saja sebentar lagi akan sampai siapa tahu kita melakukan suatu perjalanan yang salah?"

Dengan sangsi Bwe Yau melanjutkan kembali perjalanannya menuju ke depan sana.

Setelah berbelok sebuah tikungan bukit, maka tampaklah didepan mata muncul serombongan lelaki berbaju merah serta sekawanan perempuan berbaju hijau.

Bwe Yau menjadi keheranan setelah menyaksikan kesemuanya itu, dia lantas berpikir.

"Jangan jangan orang orang Ki thian kau itupun seperti diriku, sedang berpesiar di tempat ini...?"

Belum habis ingatan tersebut melintas dalam benaknya, rombongan didepan itu sudah menyongsong kedatangan mereka.

Dalam waktu singkat mereka sudah berada didepan Bwe Yau serta Lau Hui, dan berhenti.

Terdengar salah seorang perempuan berbaju hijau itu segera menegur.

"Lau Hui, diakah adik seperguruan itu?"

Bwe Yau menjadi semakin terperanjat, pikirnya lagi.

"Heran, kenapa orang orang Ki thian kau tersebut bisa kenal dengan suheng? Apalagi kalau didengar dari suara pembicaraan mereka, tampaknya mereka sudah kenal lama?"

Tanpa terasa dia mendongakkan kepalanya dan memperhatikan perempuan itu dengan meminjam sinar rembulan yang ada.

Tampak perempuan berbaju hijau itu meski berwajah cantik tapi genit sekali, gerak geriknya tampak sangat jalang.

Tanpa terasa dia berpikir lebih jauh.

"Jangan jangan suheng telah bersekongkol dengan perempuan ini untuk memancing aku kemari?"

Kenyataan dengan cepat terbentang didepan mata Pada saat itulah Lau Hui sudah melangkah maju kedepan, sesudah memberi hormat sahutnya.

"Hamba Lau memberi laporan kepada Sin tong cu, orang ini memang sumoayku Bwe Yau!"

Dengan wajah dingin dan kaku, Bwe Yau segera membentak keras.

"Siapa yang kesudian menjadi sumoaymu? Aku Bwe Yau tak sudi punya seorang suheng macam kau... Hmm! Kalau kau ingin menjerumuskan diri kelembah kesesatan, terjun saja sendirian, mengapa kau harus memancing pula kedatanganku kemari?"

Dia segera meloloskan pedangnya yang tersoren dipunggung, kemudian sambil mengurat tanah serunya lagi.

"Mulai detik ini, hubungan kita sebagai sesama saudara seperguruan putus sampai disini saja"

Paras muka Lau hui segera berubah hebat dengan wajah memelas dia lantas memohon.

"Sumoay, kenapa kau musti marah besar? Kali ini aku menghubungkan diri dengan Ki thian kau tak lain adalah demi masa depanmu dikemudian hari!"

"Kentut busuk!"

Bentak Bwe Yau sangat gusar.

"karena aku Huuuh... kau anggap aku tidak tahu kalau kau sudah terpikat oleh siluman rase itu?"

Sesungguhnya, ucapan tersebut memang tepat sekali.

Kiranya, pada suatu ketika sewaktu masih berada diluar perbatasan dulu, tanpa sengaja Lau Hui telah berjumpa dengan Hong lu kua hu (janda genit) Sin Cing ciu dari Ui kiok tongcu perkumpulan Ki thian kau, semenjak hari itulah dia terjerumus dalam rangkulan maut perempuan siluman itu dan tak dapat melepaskan diri lagi.

Kebetulan waktu itu Ki Thian kau sedang mencari orang orang berbakat diseantero jagad dengan tujuan untuk menguasai dunia persilatan.

Ketika Hong liu kua hu Sin Cing ciu mengusulkan hal itu, Lau Hui segera meluluskan permintaannya dan masuk menjadi anggota perkumpulan.

Siapa tahu Hu kaucu Sangkoan Bu cing tertarik kepada Bwe Yau, maka diturunkan perintah untuk berusaha memancing sumoaynya datang ke kota Si ciu.

Kebetulan sekali pada waktu itu Seng hong tianglo sedang pergi meninggalkan kuil Po kek si untuk berpesiar, maka Lau Hui pun menggunakan bujuk rayunya memancing Bwe Yau untuk meninggalkan rumah.

Bwe Yau tidak sadar kalau Lau Hui telah menghianatinya, kalau tidak entah bagaimana gusarnya gadis itu.

Maka ketika melihat adik seperguruannya memberi perlawanan, buru buru Lau Hui memberi tanda kepada Hong liu kua hu agar menaklukkan adik seperguruannya itu dengan ilmu silat.

Tentu saja Hong liu kua hu memahami kode tersebut, dia lantas maju kedepan dan tegurnya sambil menarik muka.

"Nona Bwe, kau berani bersikap kurangajar di hadapan pun tongcu?"

Bwe Yau melotot besar.

"Kau pun takusah banyak berlagak dihadapanku, jangan dianggap nona takut kepadamu."

"Huuuh... kau anggap beberapa jurus ilmu pedang rongsokanmu itu bisa diandalkan? Jangankan kau, sekalipun gurumu sendiri Seng hong Tianglo juga tak akan tahan menyambut sebuah serangan pun tongcu"

Bwe Yau tidak percaya dengan perkataan itu, dia segera membentak keras.

"Kau tak usah sombong lebih dulu, kalau punya kemampuan, hayolah bertarung dengan nonamu!"

Hong liu kua hu Sin Cing ciu tertawa hambar dengusnya.

"Kau masih belum pantas untuk bertarung melawanku!"

Berbicara sampai disitu dia lantas berpaling ke arah seorang gadis berbaju hijau disisinya seraya berkata.

"The hiangcu mengiakan dan segera beranjak, tiba lima jengkal dari hadapan Bwe Yau, golok mestikanya segera diloloskan dari sarungnya."

Kalau dilihat dari gerakannya ketika meloloskan golok, dapat diketahui bahwa ilmu silat yang dimiliki orang itu masih jauh diatas kepandaian Bwe Yau sendiri.

Kendatipun demikian, gadis itu pantang menyerah dengan begitu saja.

"Maaf!"

Bentaknya nyaring.

Pedangnya segera digetarkan menciptakan serangkaian cahaya bianglala yang amat tajam diangkasa.

The Hiangcu tersebut bukan lain adalah Kim sian li (perempuan benang emas) The Yong Hong yang belum lama menggabungkan diri dengan perkumpulan Ki thian kau.

Selama ini dia berkecimpung dalam dunia hitam, golok mestika yang diandalkan itu memiliki jurus jurus serangan yang luar biasa saktinya, entah berapa banyak jago lihay yang berhasil dirobohkan olehnya selama ini?

Tentu saja dia tidak pandang sebelah matapun terhadap kemampuan gadis tersebut.

Ketika dilihatnya Bwe Yau melancarkan serangannya, dia tertawa ringan, katanya.

"Nona Bwe, aku lihat pedangmu bagus sekali!"

Seraya berkata dia melepaskan sebuah bacokan ke depan untuk memunahkan datangnya serangan ganas dari gadis tersebut.

Secara beruntun Bwe Yau melepaskan delapan belas buah serangan berantai, walaupun dia berhasil mendesak musuhnya untuk melancarkan tangkisan demi tangkisan, namun sedikitpun tak berhasil mengapa apakan lawannya.

Lama kelamaan gadis itu mulai merasa panik dan gugup sekali...

apalagi ketika Kim sian hi The Yong Hong mengejek.

"Bayangkan nona, dengan kemampuanku saja kau hanya sanggup bertahan seimbang, apalagi jika Sin tongcu turun tangan sendiri? Aku lihat, lebih baik kau sedikitlah tahu diri dan menyerah saja"

Bwe Yau menjadi nekad, teriaknya tiba tiba.

"Nonamu lebih suka mati dimedan pertempuran daripada menyerah kepada kalian manusia sesat!"

Pedangnya kembali diputar kencang dan serangan semakin membabi buta, agaknya dia sudah nekad untuk beradu jiwa.

Sesungguhnya ilmu silat yang dimiliki The Yong hong sangat lihay, akan tetapi berhubung ada perintah untuk tidak melukai lawannya, dia menjadi tak bisa mengembangkan permainan jurus serangannya sebagaimana mestinya, otomatis untuk sesaat lamanya diapun tak bisa banyak berbuat terhadap musuhnya itu.

Pertarungan sengit tak bisa dihindari lagi, serang menyerang terjadi dengan amat gencarnya.

Hong liu kua hu Cing ciu yang menyaksikan kejadian itu segera berkerut kening, teriaknya.

"Nona Bwe Hu kaucu ada perintah untuk cepat atau lambat menangkap dirimu, jangan harap kau bisa meloloskan diri dari tempat ini dengan selamat!"

Setelah melangsungkan pertarungan sengit sekian lama, napas Bwe Yau sudah terengah engah, tapi dia tetap berkeras kepaa untuk berteriak juga.

"Kalau ingin yang sudah mampus boleh, jangan harap selama aku masih hidup... Hmm! Lebih baik kalian tak usah bermimpi disiang hari bolong..."

Saat itulah Lau Hui turut menganjurkan, teriaknya.

"Sumoy, buat apa menjadi orang yang harus serius? Apa salahnya kalau menyerah saja?"

"Cuhh...! Bedebah, kau tak usah berbicara lagi denganku, kau murid murtad, lebih baik tutup saja bacotmu yang bau itu!"

Teriak Bwe Yau sambil meludah. Dari malu Lau Hui menjadi naik pitam, teriaknya pula.

"Sin tongcu, lebih baik kau saja yang turun tangan sendiri untuk memberi pelajaran yang setimpal kepada budak keparat itu!"

"Baiklah"

Sahut Hong liu kua hu kemudian.

"tak ada salahnya kalian saksikan bagaimana caraku memberi pelajaran kepada budak ini"

Seusai berkata dia lantas menitahkan kepada The Yong hong agar mundur.

oodoOooeo Hong Liu Kua Hu Sin Ciu sama sekali tidak mempergunakan senjata tajam, dengan sikap yang amat santai dia melangkah maju ke tengah arena, kemudian katanya.

"Nona, berhati hatilah kau!"

Jangan dilihat ayunan tangannya itu seakan akan sama sekali tak berkekuatan, terasalah segulung angin puyuh yang dingin dan menyengat badan segera merasuk ke tulang sumsum.

Bwe Yau segera merasakan sekujur badannya menggigil keras karena kedinginan.

Jelas ilmu silat yang dimiliki Sia Tongcu jauh lebih lihay daripada ilmu silat yang dimiliki The Yong hong tadi.

Tapi gadis itu tetap mengigit bibir sambil mempergunakan ilmu pedang Lok yap kiam dari perguruannya.

Tapi sayang, bagaimanapun rapatnya lapisan hawa pedang yang dibentuk olehnya untuk melindungi badan, toh ada juga angin pukulan yang berhawa dingin yang sempat menerobos masuk kedalam tubuhnya.

Dengan cepat hawa dingin tersebut membuat peredaran hawa murni didalam tubuhnya seakan akan tersumbat.

Apalagi sebelum itu Bwe Yau sudah bertarung hampir ratusan jurus dengan The Yong hong, banyak sudah tenaga dalamnya yang dihamburkan dengan percuma.

Dan kini dia harus berhadapan dengan musuh yang tangguhnya bukan kepalang, otomatis dia menjadi kalang kabut dibuatnya.

Dengan keadaan yang dihadapinya sekarang soal tertangkap adalah soal waktu belaka.

Justru Hong liu kua hu tidak segera menyelesaikan pertarungan itu secepatnya, dia sengaja jual lagak dihadapan Lau Hui, bahkan seringkali menyindir gadis itu dengan mengatakan ilmu silatnya masih kekanak kanakan mungkin saja dia amat mencintai suhengnya dan sebagainya.

Ejekan ejekan tersebut kontan saja menggusarkan Bwe Yau sehingga membuat dia merasa dadanya seakan akan mau meledak.

Semakin amarahnya berkobar, semakin payah juga permainan pedangnya...

Peluh sebesai kacang kedelai telah jatuh bercucuran membasai seluruh tubuhnya, sepasang lengannya terasa lemas tak bertenaga...

Jangankan tusukannya tak ada yang mengena di sasaran, sekalipun mengenai sasaran yang tepatpun belum tentu akan tembus ke perut lawan...

Hong liu kua hu Sin Cing ciu membalikkan pergelangan tangannya, kemudian dengan suatu gerakan yang sangat gampang tahu tahu ia sudah berhasil mencengkeram urat nadi pada pergelangan tangan Bwe Yau.

Sambil tertawa terkekeh kekeh karena bangga, segera ejeknya lagi.

"Nona sekarang tentunya kau sudah tahu bukan bahwa aku bukan cuma pandai mengibul belaka?"

Setelah urat nadi pada pergelangan tangannya tercengkeram, otomatis pedangnya juga jatuh ke tanah. Meski demikian, ia tak mau menyerah dengan begitu saja, sambil tertawa dingin serunya.

"Kalau kau memang punya kepandaian mengapa tidak sekalian kau bunuh diriku?"

Hong liu kua hu Sin Ciu segera tertawa misterius, sahutnya.

"Kau toh tahu kalau hu kaucu kami amat menyukai dirimu, bila kau mati ditangan kami, dengan apa pula kami harus memberikan pertanggung jawaban nanti?"

"Kau... kau seorang perempuan sundal yang tak tahu malu... kau perempuan lacur"

Saking gusarnya dengan tanpa sungkan sungkan lagi, gadis itu segera mencaci makinya dengan ucapan yang kotor.

Seandainya orang lain yang dimaki seperti itu sudah pasti mereka tak akan kuat menahan diri, tapi berbeda dengan Hong liu kua hu, dia sama sekali tak acuh, malahan bisanya tertawa terkekeh kekeh.

"Hei... rupanya kau sedang mencaci maki diriku? Perempuan macam aku tentu saja jauh berbeda dengan perempuan perawan seperti kau? Hei nona... apalah gunanya menolak arak kehormatan dengan memilih arak hukuman bagi dirimu sendiri?"

"Perempuan siluman yang tak tahu malu!"

Bentak Bwe Yau sangat marah.

"perbuatanmu itu sungguh membuat perempuan didunia ini kehilangan mukanya!"

Berbicara sampai disitu mendadak ia menundukkan kepala dan menggigit bahu Hong liu kua hu keras keras.

Karena kesakitan hebat, Hong liu kua hu Sin Cing ciu segera melemparkan tubuh Bwe Yau sejauh beberapa kaki dari tempat semula.

"Lonte busuk"

Makinya dengan gusar.

"kau anggap aku benar benar tak berani menghabisi nyawamu?"

Berbicara sampai disitu dia lantas maju kedepan dan melancarkan sebuah tendangan dahsyat ke tubuh Bwe Yau yang sedang tergeletak diatas tanah itu.

Agaknya hawa napsu membunuh telah menyelimuti seluruh wajahnya.

Seandainya tendangan tersebut sampai kena sasaran, sudah bisa dipastikan Bwe Yau akan kehilangan nyawanya.

Pada detik terakhir itulah, mendadak suatu peristiwa aneh telah terjadi.

Tiba tiba muncul segulung angin yang berhembus lewat, tahu tahu tubuh Bwe Yau yang tergeletak di tanah itu sudah lenyap tak berbekas.

Ketika tendangannya mengenai sasaran yang kosong, Hoa liu kua hu Sin Cing ciu merasa amat terperanjat.

dengan cepat ia mendongakkan kepalanya ke depan, tapi dengan cepat dia berdiri bodoh.

Ternyata Bwe Yau sudah berdiri beberapa kaki didepan sana, disampingnya berdiri seorang manusia aneh berkepala besar dan berambut merah..."Kwik huhoat!"

Hong liu kua hu Sin Cing ciu segera membentak.

"kau juga datang untuk membantu lonte kecil itu menganiaya diriku?"

Dia mengira orang itu adalah Say siu jin mo Kwik Cing. Siapa tahu manusia aneh berambut merah itu segera tertawa terkekeh kekeh.

"Sin tongcu, kau anggap aku ini siapa?"

Serunya. Hong liu kua hu segera mengerling sekejap ke arahnya, kemudian serunya dengan manja.

"Aku toh belum buta, masa tidak kenal dirimu sebagai Say siu jin mo Kwik toa hu hoat?"

"Haaahhh... haaahhh... haaahhh... kau tidak salah melihat?"

"Aaah! Masa didunia ini masih terdapat Say siu jin mo yang kedua..."

"Kalau memang Sin tongcu berkata begitu, nona Bwe akan kubawa pergi...!"

Hong liu kua hu seperti hendak mencegah, tapi Lau Hui yang ada disampingnya segera membujuk.

"Sin toa nio, sudah lama kita berpisah, sepantasnya kalau kita mencari kamar untuk bermesrahan, apalah artinya cekcok? Biar saja dia yang membawa sumoay untuk diserahkan kepada hu kaucu!"

"Huuh, kau ini memang pandai mencari hati!"

Omel Hong liu kua hu sambil menowel pipi Lau Hui.

Sebenarnya dia masih belum mau menyudahi persoalan tersebut disitu saja, akan tetapi setelah diperingatkan kekasihnya, apalagi membayangkan adegan panas diranjang, kontan saja dia melemparkan sebuah kerlingan maut kearah pemuda itu.

Menyaksikan kerlingan itu, Lau Hui merasakan tulangnya seolah olah menjadi lemas semua.

Sementara mereka masih kasak kusuk, menggunakan kesempatan itu si orang aneh berambut merah itu sudah membawa Bwe Yau berlalu dari sana, dalam waktu singkat bayangan tubuhnya sudah lenyap dari pandangan mata...

Belum lama manusia aneh itu pergi, mendadak dari jalan gunung sana berkumandang suara teriakan nyaring.

"Hu kaucu tiba!"

Hong liu kua hu segera memimpin semua anak buahnya untuk menanti ditepi jalan.

Menyusul kemudian, dari balik bukit situ muncul dua orang manusia, yang didepan adalah hu kaucu Sangkoan Bu cing, sedangkan dibelakangnya ternyata adalah si manusia aneh berambut merah Say siu jin mo.

Sementara Hong liu kua hu sedang tercengang mengapa Say siu jin mo secepat itu sudah kembali kemari, bahkan bersama Hu kaucu lagi...

Tiba tiba terdengar Sangkoan Bu cing bertanya.

"Sin tongcu konon nona Bwe sudah sampai di kota Si ciu, dimanakah orangnya?"

Hong liu kua hu menjadi tertegun.

"Bukankah sudah dibawa pergi oleh Kwik huhoat?"

Serunya. Si manusia aneh berambut merah Say siu jin mo segera berteriak keras keras.

"Sin tongcu, apa kau bilang?"

"Aku bilang belum lama berselang aku telah menyerahkan nona Bwe Yau kepadamu untuk diserahkan kepada Hu Kaucu, mengapa kau musti berlagak pilon?"

"Sin Cing ciu!"

Teriak Say siu jin mo keras keras.

"sebenarnya permainan busuk apa yang sedang kau lakukan? Selama ini lohu berada bersama sama Hu kaucu, setengah jengkalpun tak pernah berpisah, kalau kau bilang nona Bwe Yau sudah diserahkan kepadaku, bukankah ucapanmu itu merupakan suatu ucapan yang bohong besar?"

"Aaah... masa aku sudah ketemu setan?"

"Kalau kau masih kurang percaya, tanyakan sendiri kepada Hu kaucu..."

"Kau kira aku tidak berani bertanya...? Tolong tanya Hu kaucu benarkah ucapan dari Kwik Hu hoat barusan?"

"Yaa, benar! Ia memang tak pernah meninggalkan tempat ini barang setengah langkahpun"

Hong liu kua hu semakin keheranan.

"Kalau begitu aneh sekali sesaat sebelum Kwik huhoat datang kemari, ia memang sudah membawa pergi nona Bwe Yau, jika Hu kaucu tidak percaya dengan perkataan hamba, silahkan bertanya kepada semua orang yang berada di sini!"

Ketika Sangkoan Bu cing menanyakan hal ini, ternyata jawaban semua orang adalah sama seperti apa yang dikatakan oleh Hong liu kua hu tadi.

Dengan demikian suasana menjadi gempar dan semua orang merasa keheranan setengah mati.

Kebetulan Tee leng kun juga datang setelah menanyakan persoalannya, sambil mendepak depakkan kakinya ke atas tanah dia berseru.

"Yaa, benar dia, memang tak salah lagi!"

"Im huhoat!"

Sangkoan Bu cing segera berseru.

"bagaimana kalau kau bicara sedikit agak jelas...? Sebenarnya siapakah orang itu?"

"Orang yang menculik nona Bwe Yau adalah Say siu jin mo!"

"Omong kosong"

Seru Sangkoan Bu cing tak senang hati.

"selama ini Kwik huhoat tak pernah pergi meninggalkan diriku, mana mungkin dia yang melakukan?"

"Hamba bukan maksudkan Kwik huhoat yang ini!"

"Kalau memang begitu, bukankah ucapanmu itu sama artinya cuma ngaco belo? Siapa yang tidak tahu kalau Kwik huhoat itu adalah Say siu jin mo...?"

Tee leng kun mengangkat bahunya berulang kali, kemudian katanya.

"Apa salahnya. Karena didunia ini memang terdapat dua orang Say siu jin mo, sedang orang yang melarikan nona Bwe Yau sekarang barulah Say siu jin mo yang asli"

Begitu ucapan tersebut diutarakan, paras muka semua orang berubah hebat sekali.

Terutama Say siu jin mo sendiri, ia merasa malu sekali.

Sangkoan Bu cing segera berpaling kearah Kwik Cing sambil bertanya.

"Benarkah apa yang dikatakan oleh Im huhoat itu?"

Mau tak mau Say siu jin mo gadungan itu musti mengaku.

"Benar!"

Sahutnya.

"dia adalah Kwik Sui. Ketika sepuluh tahun berselang dia dikerubuti oleh perguruan perguruan besar hingga terjatuh kedalam jurang yang beratus ratus kaki dalamnya sehingga mati hidupnya tidak diketahui, aku bertekad hendak membalaskan dendam bagi kematian kakakku itulah sebabnya akupun berlatih Kiu thian to suo sing kang disamping menerima empat orang murid dengan nama Ciong lay su siong pula. Siapa tahu ketika aku hendak membalas dendam baginya dia telah muncul kembali dalam keadaan selamat"

"Tidak baikkah kau?"

"Tapi semenjak muncul dalam dunia persilatan wataknya sama sekali telah berubah, semua sifat jahatnya dulu kini sudah lenyap tak berbekas, sebagai gantinya dia malah banyak melakukan perbuatan kebajikan selayaknya seorang pendekar!"

"Kau pernah berjumpa dengannya?"

Say siu jin mo manggut manggut.

"Lantas kepandaian silat siapa diantara kalian berdua yang lebih hebat...?"

Tanya Sangkoan Bu cing lagi.

"Kami belum pernah mencoba untuk mengukur ilmu"

Hong liu kua hu yang berada disampingnya, segera menyela.

"Hu kaucu, jangan bertanya melulu, yang penting sekarang adalah menyusul kembali orang itu."

"Benar!"

Teriak Sangkoan Bu cing sambil melompat kedepan.

"mari kita kejar dirinya!"

Tiga sosok bayangan manusia dengan kecepatan yang maha dahsyat segera berlalu dari situ.

Hong liu kua hu sendiri, setelah memberi beberapa pesan kepada anak buahnya segera menarik tangan Lau Hui dan berangkat menuju ke kota Si ciu.

Menanti semua gembong iblis itu sudah berlalu semua, Bwe Leng soat yang bersembunyi dibalik kegelapan baru berkata.

"Ong toako, perlu tidak kita susul mereka untuk melihat keadaan yang sebenarnya?"

"Tentu saja!"

Sehabis berkata pemuda itu segera mengejar ke arah mana Sangkoan Bu cing melenyapkan diri tadi.

Akan tetapi sekalipun sudah disusul sampai ditanah perbukitan, bayangan tubuh mereka belum juga ditemukan.

Mereka berdua berusaha untuk mencari di luar kota, ternyata disanapun tidak ditemukan jejak mereka.

"Mungkin mereka sudah berangkat menuju kedalam kota Si ciu?"

Tiba tiba Bwe Leng soat berseru. Ucapan tersebut dengan cepat menyadarkan kembali mereka berdua dari impian.

"Mari kita segera berangkat!"

Buru buru Ong It sin berseru.

Dengan kecepatan bagaikan sambaran kilat mereka berdua berangkat menuju ke arah kota Si ciu, tak selang berapa saat kemudian sampailah mereka didepan pintu utara.

Tapi waktu itu sudah mendekati kentongan keempat.

Ketika mereka berdua sedang menelusuri sebuah lorong kecil, tiba tiba terdengar suara rintihan lirih berkumandang datang.

Ong It sin segera menghentikan gerakan tubuhnya dan mulai melakukan pencarian disekeliling tempat itu.

Akhirnya disuatu sudut dinding rumah mereka saksikan ada sesosok tubuh terkapar disana.

Ketika Ong It sin mencoba untuk memeriksa orang itu, dengan cepat dia berseru tertahan.

"Oooh, rupanya berada disini!"

Bwe Leng soat segera menyusul kedepan benar juga, mereka saksikan simanusia aneh berkepala besar berambut merah itu terkapar disana tanpa berkutik.

Dengan cepat dia mengulurkan sebutir pil dan dijejalkan kemulut manusia aneh tersebut kemudian serunya.

"Ong toako, bagaimana kalau kita bawa dia masuk kedalam kota untuk memperoleh pengobatan?"

Ong It sin segera menghela napas panjang.

"Aaai... tampaknya kita datang terlambat, terpaksa memang begitulah yang bisa kita lakukan!"

Maka Ong It sin segera membopong tubuh manusia aneh berambut merah itu.

"Ong toako, tunggu sebentar!"

Tiba tiba Bwe Leng soat berseru tertahan.

"Ada apa?"

"Kita toh sudah tahu kalau manusia aneh Say siu jin mo terdapat dua orang, ilmu silat mereka sama sama hebatnya, apakah kau tahu dia adalah yang asli?"

Pada mulanya Ong It sin agak sangsi, kemudian sahutnya.

"Tentu saja!"

Kali ini giliran Bwe Leng soat yang tertegun, dengan cepat tanyanya lebih jauh.

"Ong toako, kau begitu yakin dengan pendapatmu apakah ada alasannya"

"Ada!"

"Apa alasanny?"

"Gampang sekali, seandainya dia adalah Say siu jin mo gadungan, orang orang Ki thian kau sudah pasti telah menolongnya pergi."

Setelah mendengar perkataan itu, Bwe Leng soat menjadi berlega hati dan segera melanjutkan perjalanannya kedepan.

Waktu itu pintu kota Si ciu sudah tertutup rapat.

Dengan gaya burung walet terbang diangkasa, Bwe Leng soat segera melayang naik keatas dinding kota, kemudian serunya sambil menengok kebawah.

"Ong toako, perlu dibantu dengan tali?"

Rupanya dia melihat Ong It sin yang harus membopong seseorang, dia kuatir pemuda itu tak sanggup naik keatas. Tapi dengan cepat Ong It sin menggelengkan kepalanya berulang kali.

"Tidak usah!"

Tampiknya.

Ujung kakinya segera menutul permukaan tanah, dengan jurus Cian liong seng thian (naga air naik ke langit) tubuhnya melayang tiga kaki ke udara kemudian sambil merentangkan tangannya, seperti sebatang anak panah yang terlepas dari busurnya meluncur naik keatas dinding kota.

"Suatu ilmu meringankan tubuh yang amat sempurna!"

Puji Bwe Leng soat dengan perasaan kagum.

"Terima kasih atas pujian nona..."

Tidak menunggu selesainya ucapan tersebut, dia sudah melewati atap rumah penduduk dan menuju ke rumah penginapan yang telah mereka pesan.

Dengan kencang Bwe Leng soat mengikuti di belakangnya.

Setelah berada dalam ruangan mereka membaringkan tubuh manusia aneh berkepala besar berambut merah itu diatas pembaringan.

Kebetulan sekali Say siu jin mo baru saja sadar dari pingsannya, ketika dia membuka matanya dan menyaksikan ada sepasang suami istri tua dari dusun berdiri dihadapannya, dengan terkejut serunya.

"Kalian suami istri berduakah yang telah meyelamatkan lohu?"

"Diluar kota sebelah utara ini kami jumpai kau tergeletak dengan menderita luka, maka sengaja kami membawamu pulang ke rumah penginapan ini...!"

Buru buru manusia aneh berkepala besar berambut merah itu melompat bangun dari atas ranjang, kemudian sambil menjura katanya.

"Terima kasih banyak atas budi pertolongan kalian berdua!"

Buru buru Ong It sin balas memberi hormat, sahutnya.

"Lotiang berbudi luhur dan berjiwa pendekar, kenapa harus berterima kasih? Tak usah sungkan sungkan!"

Manusia aneh berkepala besar berambut merah itu agak tertegun, kemudian serunya.

"Kau bilang apa?"

"Aku bilang belakangan ini Kwik tayhiap seringkali berbuat amal dan suka menolong orang dalam dunia persilatan, selama menolong orang lain apakah kau sendiri juga membutuhkan ucapan terima kasih dari orang lain...?"

Mendengar ucapan tersebut, kakek aneh berkepala besar berambut merah itu segera tertawa terbahak bahak.

"Haaahh... haaahh... haaahh... kakek tua rupanya kaupun seorang jago persilatan, kalau tidak, kenapa bisa begitu jelas mengetahui tentang diriku?"

"Terus terang kukatakan, kami hanya bisa beberapa jurus silat kasaran saja. lagipula juga tahu kalau kau adalah Say siu jin mo Kwik Siu yang asli, bukan begitu?"

Kejut dan heran si manusia aneh berkepala besar berambut merah itu sehabis mendengar ucapan tersebut.

"Betul!"

Sahutnya.

"lohu memang Kwik Siu, dulu orang menyebutku sebagai Say siu jin mo, tapi dalam sepuluh tahun belakangan ini aku sudah menyadari akan kesalahanku di masa lalu, maka aku bertobat dan berusaha untuk menebusnya, karena itu nama julukanku yang lamapun sudah tidak kugunakan lagi"

"Kau emmang seorang manusia yang pintar dan berjiwa besar, betul julukan Say siu jin mo (manusia iblis berkepala singa) sudah tidak cocok lagi bagimu, tapi julukan itu toh bisa dirubah menjadi Say siu hud sim (berkepala singa behati Buddha)?"

"Betul, aku rasa julukan tersebut memang cocok sekali untuk Kwik Tay hiap!"

Seru Bwe Leng soat pula.

Dengan cepat manusia aneh berkepala singa berambut merah itu goyangkan tangannya berulang kali "Jangan, jangan begitu, dimasa lalu sepasang tangan lohu sudah penuh berlepotan darah, tidak pantas kuterima julukan tersebut"

"Justru karena itu, julukan itu baru pantas untukmu!"

Kata Ong It sin lagi dengan serius.

"Atas dasar apa kau bisa berkata demikian?"

"Apakah Kwik tayhiap belum pernah mendengar orang bilang, Melepaskan golok pembunuh, berpaling adalah daratan?"

Menyaksikan kedua orang itu sangat pandai berbicara dan dia tak mungkin bisa menangkan kedua orang itu, maka manusia berkepala besar berambut merah itu segera mengalihkan pokok pembicaraan kesoal lain ujarnya.

"Kalian suami istri berdua tentunya juga termasuk orang persilatan, dapatkah diketahui siapa nama kalian?"

Sebenarnya Ong It sin hendak mengaku terus terang, tapi dengan cepat Bwe Leng soat menyikutnya, kemudian berkata lebih dulu.

"Sebenarnya tiada suatu kepentingan buat kita untuk merahasiakan nama kami, akan tetapi berhubung disekitar tempat ini adalah daerah kekuasaan musuh, lagi pula demi lancarnya gerak gerik kami, maaf kalau nama kami belum bisa diberitahukan pada saat ini!"

Dengan perasaan kecewa Kwik Sui segera manggut manggut, katanya kemudian.

"Kalau begitu akupun tidak akan memaksa lagi!"

Mendadak Ong It sin seperti teringat akan suatu masalah, segera tanyanya.

"Kwik tayhiap, tahukah kau dimanakah letak markas besar dari perkumpulan Ki thian kau?"

Dengan cepat manusia aneh berkepala besar berambut merah itu menggelengkan kepalanya berulang kali. Sementara itu Bwe Leng soat juga teringat akan suatu masalah yang amat penting, dia segera berseru.

"Antara Kwik tayhiap dengan Say siu jin mo ibaratnya pinang dibelah dua, kalian berdua terlalu mirip sekali, apakah diantara kalian memiliki suatu ciri perbedaan?"

Manusia aneh berkepala besar berambut merah Kwik Sui berpikir sebentar, lalu sahutnya.

"Ada, yakni dibawah telinga kiriku terdapat sebuah lubang kecil seperti lubang anting, sedangkan adikku tidak ada"

Dengan cepat kedua orang itu mengingat ingat ciri tersebut didalam hati kecilnya. Kemudian Ong It sin pun mengalihkan kembali pokok pembicaraannya ke soal semula, katanya.

"Kwik tayhiap, kemana perginya nona Bwe Yau yang berhasil kau tolOng Itu?"

"Aaai... ia sudah dirampas kembali oleh gembong gembong iblis dari Ki thian kau, bahkan aku malah terkena pula sebuah pukulan Thi pi pia jiu yang maha dahsyat dari Hu kaucu mereka!"

"Apakah Kwik tayhiap mempunyai hubungan yang erat dengan nona Bwe Yau..."

Tanya Bwe Leng soat pula.

"Suhunya Seng hong tianglo adalah sobat karibku!"

"Sekarang dia sudah ditawan kembali oleh gembong gembong iblis tersebut, apa rencanamu untuk menyelamatkan dirinya?"

Manusia aneh berambut merah itu menundukkan kepalanya dan menghela napas panjang.

"Aaai... sekarang aku masih belum punya rencana apa apa, tapi aku pasti akan berusaha dengan segala kemampuan yang kumiliki untuk menyelamatkan dirinya"

Berbicara sampai disitu, diapun lantas berpamitan.

Sepeninggal Kwik Sui, Bwe Leng soat juga kembali ke dalam kamarnya sendiri untuk beristirahat.

Keesokan harinya, dalam kota Si ciu mendadak kebanjiran lelaki berbaju merah darah Bahkan setiap orang yang berbaju aneh atau mencurigakan diawasi dengan ketat, malahan ada pula yang diperiksa.

Konon entah perbuatan siapa, disetiap sudut kota telah ditempeli surat pengumuman yang membeberkan kejahatan yang dilakukan Ki thian kau, malah menantang kaucu dari perkumpulan itu untuk bertarung besok pagi di tanah lapang dengan pagoda Cui ang teng.

Sehabis membaca pengumuman tersebut, Ong It sin menjadi sangat kuatir, katanya.

"Tak kusangka cianpwe tersebut bisa mengambil keputusan untuk berbuat demikian karena ingin cepat cepat menolong orang aku sangat kuatirkan keselamatan jiwanya!"

"Maksud Ong toako, kau hendak membalas budi kepada Say siu Hud sim...?"

Tanya Bwe Leng soat dengan suara dalam.

"Benar, sudah berulang kali dia menolong jiwaku, sekarang aku tahu dia terancam bahaya, mana boleh aku cuma berpeluk tangan belaka?"

"Kalau begitu, kita perlu mengadakan kontak lebih dulu dengan Coa toako kemudian baru menentukan tindakan selanjutnya, bagaimana?"

"Baiklah!"

Sahut Ong It sin setelah berpikir sebentar.

Kemudian bersama Bwe Leng soat berangkatlah kedua orang itu meninggalkan rumah penginapan.

Setelah melewati sebuah jalan raya, mereka belok ke dalam sebuah lorong yang sepi dan akhirnya berhenti didepan sebuah gedung yang berpintu gerbang warna merah.

"Apakah tempat ini adalah gedung keluarga Kang?"

Pemuda itu lantas menegur.

"Benar!"

Jawab penjaga pintu, siapa yang hendak kalian cari?"

"Tolong sampaikan kepada tuan rumah, bilang saja Ong It sin datang berkunjung"

Penjaga pintu itu segera masuk ke dalam pintu, kemudian katanya kepada seorang lelaki yang lian.

"Mana mungkin majikan kita bisa kenal dengan orang dusun seperti itu, cuma aku harus melaporkan ke dalam, sebelum aku kembali ke sini, jangan biarkan mereka masuk kedalam. Jelas si penjaga pintu ini mengira ada famili majikannya yang miskin datang untuk berhutang duwit. Lelaki yang lain segera mengiakan, tanpa mengucapkan sepatah katapun dia berdiri disamping pintu gerbang sambil berjaga jaga. Tampaknya sebelum ada ijin dari majikannya, tak nanti dia biarkan tamunya untuk masuk kedalam. Tak lama kemudian terdengar suara langkah kaki manusia berkumandang datang lalu muncullah dua orang. Yang paling depan adalah seorang kakek, dia adalah Kang wangwe majikan gedung itu. Begitu sampai didepan pintu Kang wangwe segera menjura dalam dalam sambil berkata.

"Oooh... rupanya Ong tayhiap dan Bwe lihiap telah datang, bila Kang Tangliu terlambat menyambut kedatangan kalian berdua, harap suka dimaafkan!"

Ketika Ong It sin mendongakkan kepalanya maka tampaklah Kang wangwe ini bertubuh kekar bermata tajam beralis mata panjang dan berjenggot sedada, kalau dulu disebut Yu liong (naga sakti yang suka keliatan) Kang Tang liu maka tak salah lagi.

Buru buru Ong It sin dan Bwe Leng soat balas memberi hormat.

"Kang tayhiap tak usah sungkan sungkan!"

Sembar berkata mereka lantas melangkah masuk kedalam ruangan.

Kejadian yang berlangsung didepan mata ini, kontan saja membuat kedua orang penjaga pintu itu menjadi tertegun dan berdiri termangu mangu...

Tanpa terasa mereka berpikir.

"Untung saja aku tidak berbuat dosa atau kesalahan apa apa terhadap dua orang desa itu, kalau tidak, bisa jadi majikan bisa marah marah besar...!"

Sementara itu Ong It sin berdua sudah tiba dalam ruang tamu dan masing masing mengambil tempat duduk.

Malah kemudian nyonya rumah serta putra putri merekapun ikut bermunculan untuk berjumpa dengan sepasang pendekar muda mudi yang amat dikagumi itu.

Siapa tahu setelah dilihatnya kedua orang itu cuma kakek dan nenek desa, si nona baju merah itu segera mencibirkan bibir, kepada kakaknya yang berada disisinya dia lantas berbisik.

"Pasti paman Coa menipu kita berdua!"

"Huuss, jangan sembarangan bicara"

Tegur pemuda itu lirih.

"mana mungkin paman Coa membohongi orang, siapa tahu kalau mereka sedang menyaru dan sengaja menutup wajah aslinya sendiri?"

Tampaknya gadis itu, putri Kang Tang liu yang bernama Kang Pek po ini belum mau juga percaya, dia lantas berpaling ke arah Sin heng tay poo sambil bisiknya.

"Paman Tay, engkoh Tiang hong bilang Ong tayhiap dan nona Bwe sedang menyamar benarkah itu?"

"Tentu saja benar!"

Jawab Sin heng tay poo Tay Lip dengan cepat.

"mereka adalah sepasang sejoli yang paling cantik dan tampan didunia dewasa ini"

"Kenapa mereka tidak memperlihatkan wajah aslinya?"

"Sebab mereka harus menghindari mata-mata dari perkumpulan Ki thian kau!"

Dalam pada itu Coa tayhiap sedang bertanya.

"Ong lote, sedari kapan kalian tiba dikota Si ciu ini?"

"Kemarin malam!"

"Mengapa kalian tidak langsung mengadakan kontak kemari?"

"Sebab kita sudah menjumpai suatu kejadian yang sama sekali diluar dugaan"

"Kejadian apa?"

"Murid Seng hong tianglo yang bernama Bwe Yau telah ditangkap orang orang Ki thian kau!"

Mendengar ucapan tersebut, semua orang menjadi amat terperanjat.

"Kenapa kalian tidak turun tangan untuk menolongnya?"

Tanya Coa Thian tam cepat.

"Sebab waktu itu sudah ada orang lain yang menolongnya"

"Siapa?"

"Say siu jin mo!"

"Hei, bukankah bajingan itu sudah berkomplot dengan pihak perkumpulan Ki thian kau...?"

Seru To Hu hiong yang selama ini membungkam secara tiba tiba.

"Bukan, Say siu jin mo yang berkomplot dengan pihak Ki thian kau itu adalah Say siu jin mo gadungan"

Seru Bwe Leng soat. Mendengar ucapan tersebut, dengan rasa tercengang Kang Tang liu lantas berseru.

"Kalau menurut pembicaraan nona, bukankah dalam dunia persilatan terdapat dua orang Say siu jin mo?"

"Betul, dan semalam kami telah bertemu dengan mereka berdua!"

Secara ringkas Bwe Leng soat lantas menceritakan semua yang dialaminya semalam. Seusai mendengar laporan tersebut, Kang Tang liu lantas berseru.

"Tak heran kalau hari ini ditemukan surat selembaran yang menantang Ki thian untuk bertarung, rupanya beginilah jalan ceritanya..."

"Seandainya benar benar terjdi pertarungan"

Kata Sin heng tay poo Tay Lip.

"bisa jadi Say siu hud sim yang bakal menderita kerugian besar bisa jadi selembar nyawanya juga akan turut berkorban"

"Kalau memang begitu kita musti memberi bantuan"

Seru Kang Tang liu dengan cepat. Tapi Coa Thian tam tidak setuju, katanya.

"Saudara Kang sudah lama mengundurkan diri dari dunia persilatan, disinipun ada anak istri, lebih baik kau jangan turut didalam perguruan ini"

"Demi menyelamatkan seorang enghiong besar yang berani bertobat dan kembali kejalan yang benar, sekalipun harus mengorbankan seluruh keluarga juga tak mengapa"

Kegagahan ini segera memancing perasaan kagum dari setiap orang yang hadir disana. Ong It sin lantas berkata.

"Orangnya memang pantas ditolong, tapi kita bisa menolongnya secara diam diam"

Begitu keputusan diambil, semua orang lantas berunding untuk menyusun rencana.

"Bagaimanapun juga tempat berlangsungnya pertempuran itu toh tanah lapang dibawah pagoda Cui ang lo"

Kata Sin heng tay poo, setiap orang boleh kesitu dengan bebas, asal sebelumnya kita menyaru dulu sebagai penjaja makanan, kemudian bila berhasil segera mengundurkan diri, aku rasa mereka juga tak bisa berbuat apa apa kepada kita"

Usul ini dengan cepat mendapat sambutan dari semua orang.

ooodxwooo Pagoda Cui ang teng terletak disebelah barat daya kota Si Ciu.

Hari ini, sedari pagi hari sudah banyak penjaja makanan kecil yang berkumpul di sekitar tempat itu.

Ketika penduduk kota mendengar kalau disitu ada keramaian, laki perempuan tua muda berbondong bondong datang kesana untuk melihat keramaian.

Mendekati tengah hari, dari empat arah delapan penjuru bermunculan beratus ratus orang lelaki berbaju merah yang segera menyebarkan diri dan mengawasi tanah lapang dibawah pagoda Cui ang teng tersebut.

Rumah makan disekita tempat itu boleh dibilang semuanya telah penuh berisi tamu hanya tanah lapang dibagian tengah saja yang kosong melompong.

Sepanjang lapangan tersebut para penjaja makanan kecil berjalan hilir mudik menjajakan barang ditangannya.

Dekat sebelah timur, tampak sepasang suami istri tua dari dusun yang sedang menjajakan sekeranjang jeruk manis.

Disebelah selatan berdiri seorang lelaki kekar yang menjual arak.

Disebelah barat tampak seorang kakek yang bersama sama dengan banyak penjaja lainnya menjual kwaci dan kacang.

Sedangkan disebelah utara terlihat seorang kakek penjual wedang ronde.

Lambat laun orang yang berkunjng ditempat itu makin lama semakin banyak, di tengah tanah lapang pun sudah mulai muncul jagoan jagoan berpakaian ringkas.

Tiba tiba terdengar suara derap kaki kuda yang ramai sekali berkumandang dari atas sebuah jalan bukit, kemudian muncullah belasan ekor kuda dan sebuah kereta kuda.

Penunggang penunggang kuda itu semuanya memakai baju berwarna merah darah, dipunggungnya menyoren aneka macam senjata tajam sementara pada bahu mereka masing masing tampak tiga kuntum sulaman bunga Tho sebagai lambang.

Dalam waktu singkat mereka sudah tiba ditengah tanah lapang.

Dari balik sebuah kereta kuda yang antik muncullah seorang pemuda tampan yang bermata elang dan beralis tebal.

Rupanya lelaki itu adalah pemimpin dari semua rombongan tersebut.

Usia baru dua puluh dua tiga tahunan, tapi dengan usia semuda itu justru menjadi wakil pemimpin dari sebuah perkumpulan besar, tak heran semua orang memandang ke arahnya dengan perasaan kaget dan tercengang.

Ooo)O(ooO Suasana bertambah gempar lagi setelah mereka menjumpai Tee leng kun, Say siu jin mo dan Tee lwe siang mo juga berada dalam rombongan tersebut, padahal keempat orang itu merupakan pentolan golongan hek to yang paling disegani banyak orang.

Dari sini semakin terbukti sudah kalau pemuda tersebut tentu memiliki ilmu silat yang maha dashyat, kalau tidak bagaimana mungkin kawanan iblis tersebut bersedia menjadi anak buahnya?

Kang Tang liu yang waktu itu sedang duduk didekat jendela sebuah rumah makan diam diam lantas berpikir.

"Aaai... siapa yang menyangka kalau dia adalah putranya Bwe hoa kiam kek?"

Dalam pada itu Sangkoan Bu cing dibawah perlindungan kawanan iblis lainnya pelan pelan menuju ke tengah lapangan, sesudah mendeham, katanya dengan lantang.

"Say siu jin mo, kalau kau memang bernyali untuk menantang perkumpulan kami! mengapa masih main sembunyi semacam cucu kura kura? Hayo segera tunjukkan wajahmu!"

Baru selesai dia berseru, dari atas pagoda Cui ang teng segera kedengaran seseorang berseru.

"Sudah semenjak tadi lohu menunggu di sini... siapa suruh kau punya mata tak berbiji"

Menyusul kemudian, tampak sesosok bayangan merah meluncur masuk ke tengah arena.

Menyaksikan gerakan tubuh musuhnya yang enteng dan tak bersuara itu, sadarlah Sangkoan Bu cing kalau luka yang dideritanya sudah sembuh, diam diam ia menggerutu "Sialan kenapa begitu cepat bajingan ini sudah pulih kembali kesehatan badannya?

Apakah tenaga dalamnya sudah mencapai puncak kesempurnaan...?"

Baru saja dia berpikir sampai disitu kakek berambut merah berkepala besar itu sudah melihat kelima kuntum bunga tho diatas bahunya itu dengan suara dingin dia lantas berseru.

"Agaknya kau adalah Hu kaucu dari perkumpulan Ki thian kau, mengapa tidak kau sebutkan siapa namamu?"

"Aku she Sangkoan bernama Bu cing. Setelah kejadian semalam, seharusnya kau sudah tahu sampai dimanakah kelihayanku, mengapa kau musti lakukan hal hal semacam ini? Kau toh mengerti juga kalau pertarungan ini tak akan menguntungkan pihakmu? Apakah kau sudah bosan hidup di dunia ini...?"

Setelah berhenti sebentar, dia berkata lagi.

"Ketahuilah, semalam aku sengaja mengampuni selembar jiwamu, bukan dikarenakan aku berbelas kasihan kepadamu"

"Lantas karena apa?"

"Karena memandang diatas wajah adikmu!"

Kakek berkepala besar berambut merah itu menjadi gusar sekali segera bentaknya.

"Aku tidak punya saudara macam dia itu andai kata dia benar benar adalah saudaraku, tak nanti dia akan membantu kaum laknat untuk menculik anak gadis itu!"

Ketika mendengar rahasianya terbongkar setebal tebalnya wajah Sangkoan Bu cing tak urung berubah juga menjadi merah padam, bentaknya keras keras.

"Omong kosong, nona Bwe Yau adalah calon istriku apakah kini termasuk menculik anak gadis orang?"

"Kalau kau memang berbicara jujur, kenapa tidak suruh dia keluar dan mengakui sendiri didepan orang banyak?"

Sangkoan Bu cing tertawa dingin tiada hentinya "Heeehhh..., heeehh... heeehhh aku punya bukti punya saksi buat apa kau musti mencampurinya?" ^^dw^^

Jilid 24

"SIAPA yang menjadi saksimu? Suruh dia tampil kedepan!"

Sangkoan Bu cing segera memberi tanda kepada Hong liu kua hu dan Lau Hui.

Dengan cepat kedua orang itu menampilkan diri dari barisan.

Dengan suara lantang Hong liu kua hu segera berseru..."Perkawinan ini akulah yang mengikatkan pada tiga tahun berselang..."

"Aku adalah suheng dari gadis itu, dan membuktikan kalau ucapan itu tidak bohong"

Sambung Lau Hui. Kakek berkepala besar berambut merah itu tidak menyangka kalau musuhnya selicik itu dia lantas mendongakkan kepalanya dan tertawa seram.

"Haaahhh... haaahhh... haaahhh... kau anggap aku tidak tahu kalau kalian sedang bermain sandiwara? Lihat serangan!"

Begitu bentakan keras bergema, sepasang telapak tangannya segera diayunkan kedepan menghajar tubuh Sangkoan Bu cing.

Didalam melancarkan serangannya kali ini, Kakek berambut merah itu telah sertakan tenaga dalamnya yang paling hebat, bisa dibayangkan betapa dahsyatnya ancaman tersebut.

Sangkoan Bucing tak berani menyambut serangan itu dengan keras lawan keras, dengan cepat dia berkelit kesamping untuk menghindarkan diri...

Angin pukulan yang dahsyat tersebut dengan cepat meluncur kedepan dan menghantam deretan pohon waru yang tumbuh disisi arena, dalam waktu singkat berapa batang diantaranya segera roboh keatas tanah dengan menimbulkan suara keras.

Akan tetapi Sangkoan Bucing sama sekali tidak tampak takut atau jeri, malah katanya dengan dingin.

"Kwik Sui, aku tahu kalau kau tak lebih cuma sahabatnya Seng hong tianglo, apalah gunanya musti menjual nyawamu baginya?"

"Sekalipun lohu tidak kenal dengan Seng hong tianglo, aku juga tak akan membiarkan kalian berbuat semena mena ditempat ini!"

Sangkoan Bu cing segera tertawa sinis.

"Hmmm! Jangan kau anggap ilmu pukulan Kiu thian to suo sinkangmu itu bisa menakutkan diriku"

Ejeknya sinis. Kakek berambut merah itu menjadi geram sekali, bentaknya dengan penuh kegusaran.

"Kalau kau memang merasa punya keberanian, jangan cuma bicara melulu, hayo sambut seranganku ini!"

"Hmm, kau masih belum pantas untuk bertarung melawan diriku, tapi kalau kau bersikeras ingin bertarung juga denganku, sambutlah dulu serangan dari keempat orang huhoatku ini"

Pelan pelan kakek berkepala besar berambut merah itu mengalihkan sinar matanya memperhatikan sekejap wajah Tee leng kun, Say siu jin mo dan Tee lwe siang mo, kemudian katanya.

"Kau hendak menyuruh mereka bertarung secara bergilir, ataukah hendak maju bersama?"

"Jangan sombong dulu, bila kau betul betul punya kepandaian, semalam kau tak bakal terluka!"

Tee leng kun yang pertama kali merasa tidak puas, tiba tiba teriaknya dengan lantang.

"Lohu yang akan bertarung denganmu paling dulu!"

Selesai berkata dia lantas melompat masuk ketengah arena. Kakek berkepala besar berambut merah itu tertawa seram.

"Silahkan!"

Serunya.

Sekalipun mulutnya berkata demikian, tubuhnya tetap berdiri tak berkutik ditempat semula, sementara sepasang matanya memandang keangkasa dengan sikap yang sangat angkuh.

Tee leng kun segera berkelebat kedepan dan bergerak mengitari disekeliling tubuh kakek berkepala besar berambut merah itu, tampaknya dia sedang mencari kesempatan untuk melancarkan sebuah serangan yang mematikan.

Kakek berambut merah itu masih tetap berdiri tegak sekokoh batu karang sementara sepasang matanya kini mulai dialihkan ke tubuh lawan dan mengawasi semua gerak geriknya.

Mendadak Tee leng kun membentak keras.

Dengan tenaga Kiu yu hian sat kang andalannya dia lepaskan serangan dahsyat ke depan.

Dalam sekejap mata dia telah melepaskan sembilan buah tendangan dan tiga belas buah pukulan berantai.

Semua serangan dan tendangannya dilancarkan dengan jurus serangan yang ganas dan dahsyat, pada hakekatnya seluruh angkasa bagaikan diliputi oleh lapisan hawa pukulan yang mengerikan.

Si kakek berambut merah itu sama sekali tidak gentar menghadapi serangan semacam itu, dengan enteng dan mudahnya dia berhasil memunahkan semua ancaman tersebut.

Tee leng kun berulang kali melancarkan kembali serangan serangan mautnya, akan tetapi usaha tersebut selalu gagal dan tidak menghasilkan apa apa, sadarlah dia bahwa musuhnya ini memang luar biasa lihaynya...

Mendadak Tee leng kun menyaksikan kakek berambut merah itu tertawa dingin, hawa napsu membunuh memancar keluar dari wajahnya, sadarlah dia kalau keadaan bakal runyam.

Tidak menanti musuh melancarkan serangan yang mematikan dia sudah menjatuhkan diri terguling diatas tanah.

Kendatipun cukup cepat dia menghindarkan diri, toh tubuhnya tersapu juga oleh pukulan dahsyat itu sehingga mendengus tertahan dan muntah darah segar.

Agaknya luka dalam yang diderita Tee leng kun tidak ringan, buktinya untuk beberapa saat lamanya dia tak sanggup untuk merangkak bangun dari atas tanah.

Ketika Tee lwe siang mo menyaksikan rekannya sudah terluka, mereka segera membentak keras, tubuhnya menerjang bersama kedepan, sementara keempat buah telapak tangannya diayunkan berbareng.

"Lihat serangan kami berdua!"

Bentaknya.

"Bagus sekali!"

Seru kakek berambut merah itu nyaring.

Dengan jurus Lau yan hun hui (burung walet terbang berpisah) secara bersama dia sambut datangnya ancaman dari kedua orang itu.

Dalam waktu singkat suatu pertarungan sengit yang mengerikan segera berkobar.

Walaupun Tee lwee siang mo harus dua lawan satu, ternyata mereka tidak berhasil mendapatkan keuntungan apa apa, lama kelamaan mereka segera merasa malu dan kehilangan muka.

Dengan suara keras Tau Chin berseru.

"Loji, kita jangan beri kesempatan kepada tua bangka ini untuk memainkan siasat liciknya"

"Jangan kuatir toako aku akan mengimbangi setiap serangan yang kau lepaskan!"

Dalam tanya jawab tersebut, Tau Chin dan Tau Chu telah bersiap siap untuk melakukan pengerubutan yang lebih seksama.

Masing masing lantas menghimpun tenaga dalam yang dimilikinya, kemudian didorong kekiri dan kekanan angin pukulan yang maha dahsyat segera menyambar kemuka dengan kehebatan luar biasa.

Kemanapun kakek berkepala besar berambut merah itu berusaha untuk menghindarkan diri, sulit juga buatnya untuk menghindar dari ancaman tersebut.

Berada dalam keadaan seperti ini, dia tak sempat untuk berpikir lebih panjang lagi, dengan jurus Lip ki lam pak (membendung utara selatan) tangan kirinya menahan serangan dari Tau Chin sementara tangan kanannya pada saat yang bersamaan menyambut pula datangnya ancaman dari Tau Chin...

Empat buah telapak tangan segera saling melekat satu sama lainnya dengan kencang...

Dalam sekejap mata saja, kakek berkepala besar berambut merah itu sudah terdesak hebat dan berada dalam posisi yang sangat tidak menguntungkan.

Berbicara soal ilmu silat, ia masih jauh lebih hebat daripada empat iblis yang manapun, tapi jika ingin meraih kemenangan lewat tenaga dalam, dia yakin kalau dirinya masih mampu untuk mengatasi keadaan tersebut.

Akan tetapi saat itu dia sudah berada dalam keadaan terdesak, ibaratnya menunggang punggung harimau, mau turun tak bisa, tetap ditempatpun sungkan, terpaksa ia harus melakukan perlawanan sekuat tenaga.

Kakek berkepala besar berambut merah itu merasakan aliran hawa murni dari musuhnya yang menyerang kedalam badannya begitu kuat, dahsyat dan mampu menghancurkan segala macam benda, dia tahu sedikit kurang waspada niscaya isi perutnya akan hancur berantakan.

Mula mula dia masih mampu untuk mempertahankan diri, tapi selewatnya setengah jam kemudian, kakek berkepala besar berambut merah itu semakin terdesak hebat.

Mukanya telah berubah menjadi merah padam bagaikan kepiting rebus, peluh sebesar kacang bercucuran dengan derasya membasahi seluruh badan, mula pertama telapak tangan kirinya yang kena terdesak mundur, menyusul telapak tangan kanannya turut terdesak hebat.

Dua bersaudara Tau sendiri meski pucat pias wajahnya tapi sekulum senyuman menghiasi bibirnya, itulah senyuman kemenangan.

Tiba tiba terdengar Sangkoan Bu cing berseru dengan lantang.

"Kwik tayhiap, kita sama sama berasal dari golongan hitam, sepantasnya jika kita berdiri di satu aliran yang sama apalah gunanya saling bunuh membunuh sesama rekan? Orang lain yang bakal tertawa melihat perbuatan kita ini"

Kakek berkepala besar berambut merah itu tetap membungkam dalam seribu bahasa, ia sama sekali tidak menggubris seruan itu. Sangkoan Bu cing termenung dan berpikir sebentar, kemudian serunya lagi.

"Aku merasa kagum sekali dengan kepandaian silat yang kau miliki itu, seandainya kau bersedia takluk kepada perkumpulan kami, akan kumohonkan kepada kaucu untuk mengangkat dirimu menjadi Hu kaucu kedua"

Oleh karena wakil ketuanya sedang melakukan pembicaraan, dua bersaudara Tau segera menarik kembali tenaga masing masing dengan dua bagian...

Merasakan tekanannya berkurang banyak, kakek berkepala besar berambut merah itu segera mendengus.

"Kentut busuk!"

Serunya.

"setelah aku bertobat dan kembali ke jalan yang benar, tak nanti aku sudi menolong kaum laknat untuk melakukan kejahatan lagi"

"Sekarang, nyawamu sudah berada ditanganku mengingat adikmu juga telah berbakti kepada perkumpulan kami lagi pula sudah banyak berjasa, aku bersedia untuk mengampuni selembar jiwamu"

Manusia aneh berkepala besar berambut merah itu segera tertawa dingin dengan seramnya.

"Heeehhh... heeehhh... heeehhh... tahun ini lohu telah berusia sembilan puluh tahun, soal mati bagiku sudah bukan merupakan suatu ancaman lagi"

Sikap maupun cara berbicaranya makin lama semakin keras. Sangkoan Bu cing berpikir sebentar, lalu ujarnya.

"Apakah kau bersikeras hendak membawa pula nona Bwe Yau?"

"Tentu saja!"

Jawab kakek berambut merah itu tegas.

"kalau tidak, aku tak ada muka untuk berjumpa dengan Seng hong tianglo!"

Dengan kening berkerut Sangkoan Bu cing termenung sebentar, lalu satu ingatan cerdik melintas dalam benaknya, dia lantas berpikir "Kenapa aku tidak berniat untuk membohonginya?"

Berpikir sampai disitu, dia lantas berkata dengan suara yang lebih lembut.

"Aku tahu kalau kau berjiwa seorang ksatria, kesetia kawananmu sungguh membuat aku merasa amat terharu, andaikata aku bersikeras terus, sudah pasti keadaan akan semakin bertambah runyam"

Sesudah berhenti sebentar, lanjutnya.

"Begini saja! Sekarang nona Bwe Yau sedang menerima pelayanan yang baik sekali dalam perkumpulan kami, dia akan mengikat tali perkawinan denganku, lebih baik kau secara langsung tanyakan sendiri kepadanya apa hal ini benar atau tidak.

"Andaikata ia enggan kawin denganku, silahkan kau membawanya pergi sebaliknya jika dia tidak mempunyai usul lain, aku harap Kwik tayhiap juga jangan merusak tali perkawinan kami ini"

Mendengar perkataan itu, sikakek berambut merah itu segera mendongakkan kepalanya dan tertawa terbahak bahak.

"Haaahhh... haaahhh... bocah iblis ingusan kau anggap bujuk rayumu itu sanggup untuk membohongi diriku? Jangan dibilang kau memang tiada ikatan perkawinan dengan Bwe Yau, akupun tahu kalau kau tidak berniat sungguh hati, kau anggap lohu gampang kau tipu? Haahh... haaahhh... haaahhh..."

Gelak tertawanya keras dan memekikkan telinga.

Ketika dilihatnya kakek berambut merah itu enggan masuk perangkap, dari balik matanya segera memancar keluar cahaya tajam yang menggidikkan hati kepada Tee lwe siang mo serunya.

"Kalian tak usah ragu ragu lagi!"

Setelah menerima perintah dua bersaudara Tau juga tak ragu lagi, serentak mereka kerahkan tenaganya semakin besar.

oodooxOxowooo Selama pembicaraan berlangsung tadi, sebenarnya si kakek berkepala besar berambut merah itu sudah berusaha untuk mengatur pernapasan, tapi sayang tenaga yang bisa dipulihkan kembali terbatas sekali, bagaimana mungkin ia sanggup mempertahankan diri?

Tampaknya sebentar lagi dia bakal tewas di ujung telapak tangan Tee lwe siang mo...

Mendadak seorang kakek dusun yang berdiri di sebelah timur lapangan menuding ketengah arena sambil berseru.

"Siapa yang mau membeli jeruk? Kau?"

Dengan jari tangannya ia menuding kedepan, tapi tak seorangpun yang menjawab.

Akan tetapi pada saat itulah, sepasang iblis dari keluarga Tau yang sedang menghimpun tenaga di arena, mendadak merasakan jalan darah Ki bun hiat dibawah iganya menjadi kesemutan, tenaga dalamnya kontan saja menggulung balik.

Tak kuasa lagi ia menjerit keras, tubuhnya terpental sejauh tujuh jengkal lebih dan roboh terduduk diatas tanah.

Atas terjadinya peristiwa ini, bukan saja kawanan iblis itu menjadi terperanjat, bahkan sikakek berkepala besar berambut merah pun turut dibuat tertegun dan tidak habis mengerti.

Tapi dia tidak menyia nyiakan kesempatan itu dengan begitu saja, sambil meloloskan senjatanya dan menuding ke arah Sangkoan Bu cing, serunya.

"Anakan iblis, sekarang apakah kau masih ingin menyembunyikan dirimu terus macam anak kura kura?"

Sangkoan Bu cing menjadi naik darah setelah mendengar makian tersebut, diapun tertawa seram.

"Heeehhh... heeehhh... heeehhh kau ingin mampus? Itu mah tidak sukar!"

Pelan pelan, selangkah demi selangkah dia berjalan mendekati kakek berkepala besar berambut merah itu.

Setiap langkah dia maju kedepan, sebuah bekas telapak kaki yang dalamnya mencapai setengah depa tertera diatas tanah.

Menyaksikan kesemuanya itu, paras muka semua orang berubah hebat, agaknya mereka dibuat terperanjat sekali oleh kehebatan lawannya itu.

Sementara itu si perempuan tua yang berada di lapangan sebelah timur telah maju ke tengah arena dengan langkah cepat.

Ketika dilihatnya Sangkoan Bu cing telah meloloskan pedangnya siap turun tangan, perempuan tua itu segera berseru dengan lantang.

"Hu kaucu, tunggu sebentar!"

Sangkoan Bu cing segera mengerutkan dahinya ketika dilihatnya perempuan tua itu meski berbaju compang camping tapi suara pembicaraannya sangat nyaring.

"Hei nenek tua, kau yang sedang memanggilku?"

Tegurnya.

"Betul, memang aku!"

Sangkoan Bu cing tahu perempuan itu jelas bukan sembarangan tapi dia yang selalu berwatak angkuh dan tinggi hati tak pernah memandang sebelah matapun terhadap orang lain.

Maka sambil tertawa seram ejeknya.

"Manusia semacam kau masih belum pantas untuk menghadapi pertemuan seperti ini"

"Berbicara soal ilmu silat, mungkin saja kemampuan dari aku sinenek belum dapat mengimbangimu, tapi berbicara soal peraturan dunia persilatan sekalipun seorang bocah cilik berusia tiga tahun juga berani berbicara secara terang terangan, kenapa aku musti takut kepadamu?"

Sesungguhnya Sangkoan Bu cing sudah siap mendamprat perempuan tua itu ketika didengarnya ucapan dari sinenek sangat tajam, tapi ketika dilihatnya kakek berkepala besar berambut merah itu segera menunjukkan sikap menaruh hormat setelah melihat kemunculan siperempuan tua itu satu ingatan segera melintas didalam benaknya.

"Hai, nenek! Aku pikir, kau tentulah seorang jago persilatan juga mengapa tidak kau sebutkan siapa namamu?"

"Tidak perlu!"

Jawab nenek itu sinis. Agak keder juga Sangkoan Bu cing oleh sikap lawannya yang berwibawa itu, diapun lantas bertanya.

"Apa yang hendak kau katakan kepadaku?"

"Jika kau seorang enghiong, sepantasnya kalau memberi waktu istirahat buat Kwik tayhiap sebelum melanjutkan kembali dengan suatu pertempuran..."

"Aku mah tidak mempunyai kebebasan jiwa seperti itu!"

Kata Sangkoan Bu cing dingin.

"Kau musti tahu secara beruntun Kwik tayhiap sudah bertempur melawan tiga orang baginya jelas hal ini bukan suatu yang adil"

"Huuhh, kau mah bukan suaminya, kenapa musti mengunjukkan diri untuk membelai dirinya?"

Sindir Sangkoan Bu cing.

"Manusia kurang ajar, kau berani mengejek aku siorang tua?"

Sangkoan Bu cing tertawa dingin tiada hentinya, kepada lelaki lelaki berbaju merah yang berada disekelilingnya dia berkata.

"Aku hendak bertarung melawan Kwik Sui si tua bangka itu, nenek gila ini kuserahkan untuk kalian semua!"

Begitu perintah tersebut diturunkan serentak kawanan jago dari Ki thian kau yang berada disekeliling lapangan mengiakan dengan suara keras.

Sangkoan Bu cing segera menggetarkan pedangnya dan menciptakan bunga bunga pedang yang segera menyelimuti seluruh angkasa, kemudian dengan kecepatan yang luar biasa membacok ke tubuh kakek berkepala besar berambut merah itu.

Kwik Sui segera menangkis dengan golok tipisnya, dengan cepat dia merasakan lengannya menjadi kaku, linu dan kesemutan.

Sekarang dia baru tahu, apa sebabnya Bwe Leng soat yang menyaru sebagai nenek tua amat menguatirkan keselamatan dirinya Sementara itu tubuhnya sudah kena digetarkan sehingga mundur kebelakang berulang kali.

Tapi kakek berkepala besar berambut merah itu sama sekali tidak gentar sambil membentak keras dia maju sambil membacok dengan sekuat tenaga.

Jurus serangan yang digunakan benar benar lihay sekali.

Melihat kejadian itu, Sangkoan Bu cing segera berpikir.

"Untuk membunuh tua bangka celaka ini terpaksa aku harus menggunakan ilmu pedang Hu si kiam hoat!"

Tanpa terasa dia melancarkan serangan dengan jurus An im hu hiang (bunga harum di balik kegelapan) Liok ah jut hong (putih hijau baru mekar) dan Lok ing peng hun (jagoan perguruan) tiga buah jurus berantai.

Dengan cepat si kakek berambut merah itu melompat kesamping sambil menegur.

"Apa hubunganmu dengan Bwe hoa kiam kek Sangkoan Bu cing"

Ternyata ia berhasil menebak asal usul lawannya dari permainan itu Dengan acuh tak acuh sahut Sangkoan Bu cing.

"Dia adalah bapakku, aku sendiri bernama Sangkoan Bu cing, memangnya kau kenal dengan dia?"

"Tidak kusangka kegagahan dan kebajikan Sangkoan tayhiap rusak dan musnah ditangan seorang anak durhaka macam kau..."

Seru kakek itu lagi dengan gusar.

"Huuuh, apanya yang hebat dengan tua bangka yang tidak mampus mampus itu? Dia cuma bernama kosong belaka. Pokoknya suatu hari aku pasti akan membalas atas keserakahannya mengangkangi sendiri buah Lo han ko tersebut..."

Mendengar ucapan tersebut si kakek berambut merah itu menjadi sangat geram, serunya.

"Sangkoan Bu cing, kau memang seorang manusia durhaka yang tak bisa dibiarkan hidup, lohu tak akan mengampuni jiwamu!"

"Haaahh... haaahh... haaahh... untuk menjaga diri saja tak mampu, apakah kau tidak takut ada geledek yang akan menyambar putus lidahmu?"

Kakek berambut merah itu tidak banyak berbicara lagi, goloknya segera digetarkan menciptakan serentetan cahaya perak yang berkilauan, kemudian dengan garangnya membacok, menebas dan menusuk dengan penuh bertenaga.

Sangkoan Bu cing mendengus dingin dengan seramnya ia tertawa dingin, kemudian berkata.

"Tua bangka sialan, aku hendak menghabisi nyawamu dalam tiga gebrakan mendatang"

Serentetan cahaya pedang yang berwarna hijau segera memancar keempat penjuru, kemudian secepat kilat mengurung seluruh badan kakek berambut merah itu.

Bukan saja jurus serangannya aneh dan ganas, lagipula kekuatannya luar biasa sekali.

Belum lagi ia sempat melihat jelas datangnya tusukan pedang lawan, tahu tahu ancaman tersebut sudah berada didepan mata.

Terkesiap sekali kakek berambut merah itu menghadapi kelihayan lawannya ini.

Tidak sedikit ilmu pedang yang pernah ia jumpai dalam dunia persilatan dewasa ini tapi belum pernah dia jumpai gerak serangan yang begini aneh dari Sangkoan Bu cing.

Sementara ia masih terkesiap bercampur kaget, tahu tahu badannya sudah kena tersambar pedang lawan sehingga muncul sebuah mulut luka sepanjang beberapa depa, darah segera segera bercucuran membasahi seluruh badannya.

Begitu berhasil dengan serangannya, rasa percaya pada diri sendiri makin tebal dihati Sangkoan Bu cing, sindirnya kemudian dengan sinis.

"Tua bangka, ucapanku tidak salah bukan?"

Kakek berambut merah itu sama sekali tidak ambil peduli terhadap mulut luka yang dideritanya itu sambil meraung keras serunya.

"Tak usah banyak berbicara, kita lihat dulu siapa yang bakal menangkan pertarungan ini nanti"

"Asal kau masih bisa bertahan dua gebrakan lagi, aku segera akan melepaskan sebuah jalan hidup untukmu..."

Kakek berambut merah itu menggerakkan pedangnya menciptakan selapis cahaya tajam yang menyilaukan mata, menyusul kemudian terdengar suara senjata tajam yang bergema tiada hentinya.

Dalam anggapan semua orang, dengan jurus serangan yang dipergunakan kakek berambut merah itu, dia pasti dapat berhasil meraih kemenangan.

Siapa tahu Sangkoan Bu cing melangkah ke samping untuk menghindarkan diri, kemudian sambil membalikkan badannya melancarkan sebuah tebasan kilat.

Serentetan cahaya merah yang menyilaukan mata langsung menembusi lapisan cahaya tajam dan menembusi tengah kepungan.

Diam diam kakek berambut merah itu merasakan gelagat yang tidak baik sebelum pedang tersebut menempel diatas badan, dia buru buru menarik perutnya kedalam, kemudian tanpa menggeserkan badannya dia menarik badannya beberapa jengkal kebelakang.

Sesungguhnya gerakan tersebut dilakukan sangat cepat dan hebat, sayang keadaan toh tetap terlambat sedikit, sebuah robekan sepanjang satu inci muncul diatas dadanya dan merobek tubuhnya, percikan darah segera berhamburan kemana mana.

Melihat kakek berambut merah itu berhasil meloloskan diri dari sambaran pedangnya, kontan alis mata Sangkoan Bu cing berkerut kencang, tiba tiba ia memutar badannya kencang kencang, lalu membentak keras.

"Hua hun im yang (memisahkan panas dan dingin)!"

Pedangnya dengan membawa cahaya kematian menyambar keudara dan menyusul tiba dengan kecepatan luar biasa.

Sungguh kejam orang ini, tampaknya dia sudah berhasrat untuk membereskan nyawa Kwik Sui.

Kakek berambut merah itu tak sempat lagi untuk menghindarkan diri, untuk menangkis juga tak sanggup, sementara ujung pedang itu sudah berada beberapa jengkal diatas tenggorokannya, sadarlah dia bahwa nyawanya bakal melayang tinggalkan raganya, maka dia memejamkan matanya rapat rapat.

Sangkoan Bu cing memang luar biasa sekali, apa yang dia katakan segera dilaksanakan dengan cepat, diantara serangannya yang ketiga ini, pedangnya itu membawa cahaya hijau yang amat menyilaukan mata langsung menyambar ketenggorokan kakek berambut merah itu, sedemikian tepat dan dahsyatnya serangan itu sehingga semua orang beranggapan bahwa jagoan tersebut tentu tewas.

Mendadak ia merasakan tubuhnya bergetar sehingga tubuhnya mundur beberapa langkah dengan sempoyongan, menyusul kemudian terdengar orang orang yang berada disekeliling tempat itu tertawa tergelak gelak.

Pada mulanya dia masih belum mengerti apa sebabnya semua orang tertawa, tapi setelah memperhatikan sekeliling tempat itu dia baru tahu kalau diujung pedangnya telah menancap sebiji jeruk.

Ia mencoba untuk memeriksa sekeliling arena, tapi banyak orang sedang makan jeruk disitu, sudah jelas bukan suatu pekerjaan yang gampang untuk mencari siapa gerangan orang yang melemparkan jeruk itu.

Seandainya berganti dengan orang lain, mungkin saja mereka akan membatalkan niatnya itu, tapi berbeda dengan Sangkoan Bu cing dia enggan dipecundangi orang dengan begitu saja.

Selain itu diapun beranggapan bahwa orang yang turun tangan secara diam diam itu sudah pasti adalah seorang jagoan kenamaan.

Sebagai manusia yang berpandangan picik dan berjiwa sempit, dia tak rela untuk berdiam diri saja, ia merasa sakit hati ini perlu segera dibalas.

Maka semua kemarahannya segera dilampiaskan kepada sinenek dari dusun itu.

Sambil tertawa seram selangkah demi selangkah dia maju mendekatinya, kemudian berseru.

"Nenek dusun yang tak tahu diri, kau berani mengacau secara diam diam?"

Nenek dari dusun itu tak lain adalah hasil penyaruan dari Bwe Leng soat murid dari Koan tiau kek tersebut. Kontan saja ia tertawa dingin sehabis mendengar perkataan itu, serunya dengan lantang.

"Hu kaucu, apakah maksudmu dengan ucapan tersebut?"

Sangkoan Bu cing segera mendengus dingin.

"Hmmm, apa maksudnya? Memangnya tidak dapat kau lihat sendiri?"

Pedangnya segera digetarkan keras, setitik cahaya merah langsung menyambar kearah nenek tersebut.

Bwe Leng soat segera mengayunkan tangannya dan menyambar bayangan merah itu.

Meski benda tersebut berhasil ditangkap toh pergelangan tangannya terasa agak kaku ini menunjukkan kalau tenaga dalam yang dimiliki Hu kaucu itu memang sungguh luar biasa sekali.

Dengan wajah tak senang hati dia lantas berseru.

"Kau maksudkan akulah yang melemparkan jeruk ini?"

Sangkoan Bu cing memandang sekejap sekeliling tempat itu, ketika dilihatnya tiada seorangpun yang memberi komentar, dengan pasti dia berkata.

"Kalau bukan kau, masa aku sendiri?"

"Memangnya kau menyaksikan dengan mata kepala sendiri?"

Kata Bwe Leng soat sambil tertawa geli.

"Tidak!"

"Kalau memang begitu, apakah kau mempunyai saksi?"

"Juga tidak!"

Sambil berkerut kening dan matanya memancarkan sinar tajam Bwe Leng soat segera berseru.

"Lalu atas dasar apa kau berani menuduh diriku?"

Dengan sikap yang angkuh dan tinggi hati Sangkoan Bu cing berkata lantang.

"Selama berada disini, selain kau sinenek cerewet yang suka mencampuri urusan orang, siapa lagi yang berani makan nyali macan dengan mencari gara gara denganku?"

Tak tahan lagi Bwe Leng soat mendongakkan kepalanya dan tertawa terbahak bahak.

Suara tertawanya amat nyaring dan lengking bagaikan pekikan burung hong...

diantaranya terkandung nada ejekan, sindiran dan memandang hina.

Paras muka Sangkoan Bu cing yang putih bersih itu kontan saja berubah menjadi pucat pias seperti mayat.

Selama hidup, belum pernah ada orang berani menghina atau mencemooh dihadapannya, sehingga dengan perasaan tak senang dia lantas menegur keras.

"Hei, apa yang perlu kau tertawakan?"

"Aku sedang mentertawakan dirimu yang persis seperti katak dalam sumur itu!"

"Kurang ajar kau berani memaki orang?"

Teriak Sangkoan Bu cing dengan wajah berubah.

"Tidak! Aku sedang memberi nasihat kepadamu"

Jawab Bwe Leng soat dengan wajah bersungguh sungguh.

"Kalau begitu, kedatanganmu adalah bermaksud baik"

Kata Sangkoan Bu cing lagi sambil berusaha menahan kobaran api amarah di dalam dadanya.

"Betul, aku datang ke kota Si ciu ini sebetulnya ingin menggabungkan diri dengan perkumpulan kalian serta bersama sama merajai kolong langit..."

Sangkoan Bu cing menjerit kaget, rasa permusuhannya segera hilang, dengan penuh rasa menyesal katanya.

"Kalau begitu, aku telah salah menyangka dirimu!"

"Yaa, memang begitulah"

Menggunakan kesempatan itu, Sangkoan Bu cing berkata lagi.

"Kini persoalannya sudah bikin jelas, bila kau memang berhasrat untuk menggabungkan diri dengan kami, silahkan menangkap Kwik Sui lebih dulu sebagai pernyataan akan ketulusan hatimu itu"

Tampaknya dia bermaksud hendak mencari keuntungan sambil berpeluk tangan belaka. Bwe Leng soat segera menarik kembali senyumannya, dengan suara dingin ia berkata.

"Tapi sekarang, aku telah berubah pikiran"

"Oooh... jadi kau batal untuk menggabungkan diri dengan perkumpulan kami?"

Sekali lagi Sangkoan Bu cing merasa terkejut.

"Aku lihat selain Hu kaucu berpandangan pendek, juga bukan termasuk orang yang pintar"

"Kenapa?"

"Sebab kau berpikiran sempit dan berjiwa kerdil, pandangan matanya pendek dan tak becus menjadi pimpinan, atau tegasnya kau tak lebih cuma seorang manusia hidung bangor yang suka main perempuan dan bersifat ganas buas dan kejam, manusia macam kau bukan saja tak akan mampu melakukan pekerjaan besar, lagi pula mengikuti dibawah perintahmu sama artinya dengan mengikuti dirimu menuju kegagalan serta kemusnahan!"

Ucapan tersebut sengaja diucapkan dengan pancaran tenaga dalam, sehingga segenap anggota Ki thian kau yang berada disekeliling tempat itu dapat mendengarkan ucapan itu dengan cepat.

Tak terlukiskan rasa gusar Sangkoan Bu cing sehabis mendengar perkataan itu segera bentaknya.

"Nenek sialan, kau benar benar sangat licik, berani betul memaki orang seenaknya. Hmm! Jika tidak kupotong lidahmu itu, sia sia saja aku menjadi seorang wakil ketua"

Pedangnya dengan menciptakan serentetan cahaya hijau langsung menyambar tubuh si nenek.

Bwe Leng soat meski berilmu silat sangat tinggi, ia tak berani menyongsong datangnya ancaman dengan begitu saja.

Dengan cepat dia melejit kesamping dan secara manis sekali menghindarkan diri dari ancaman tersebut.

Sangkoan Bu cing merasa terkejut sekali setelah menyaksikan kehebatan dari musuhnya itu, padahal serangan tadi dilakukan secara gencar dan lihay, didalam anggapannya pihak lawan pasti tak mampu meloloskan diri, tapi nyatanya musuh dapat kabur secara gampang.

Bagi jagoan yang sudah berpengalaman, sekali bertempur bisa diketahui apakah musuhnya berisi atau tidak.

Kali ini Sangkoan Bu cing tak berani bertindak gegabah lagi, diapun tak ingin kehilangan posisinya yang menguntungkan.

"Sreeet Sreeet... sreeet...!"

Secara beruntun dia lepaskan tiga buah serangan berantai, adapun jurus serangan yang dipakai rata rata adalah jurus ampuh dari Bwe hoa kiam hoat.

Nyatanya nenek itupun bukan manusia sembarangan, betul permainan toyanya kaku dan bebal seolah olah orang yang baru belajar bermain toya, tapi kenyataannya semua serangan dahsyat dan mematikan yang dilontarkan Sangkoan Bu cing tak sebuah pun yang dapat melukainya.

Tiba tiba Tee lwe siang mo yang berada disisi arena merasa seperti mengenali gerakan tubuh sinenek yang lihay itu, cuma untuk sesaat tidak diketahui oleh mereka dimanakah mereka pernah bersua.

Dalam waktu singkat tiga puluh gebrakan sudah lewat.

Kini dari rangkaian ilmu pedang Bwe hoa kiam hoat, tinggal enam jurus saja yang belum dipergunakan, Sangkoan Bu cing mulai berpikir didalam hatinya.

"Nenek ini bisa mempergunakan toyanya sebagai pengganti pedang, mengangkat benda berat bagaikan membawa batang ringan, sedikitpun tidak menemukan titik kelemahan, coba kalau dia membawa senjata tajam, bukankah sedari tadi aku sudah keok?"

Berpikir demikian, hawa napsu membunuhnya segera berkobar didalam dadanya.

Sementara itu permainan pedangnya sudah tinggal tiga jurus belaka.

Tiba tiba satu ingatan jahat melintas dalam benak Sangkoan Bu cing, andaikata toya yang diandalkan musuh kena ditebas kutung, bukankah nenek itu bakal kehilangan senjata dan otomatis akan bertarung dengan tangan kosong belaka?"

Berpikir sampai disini pedangnya segera digetarkan keras lalu pedangnya menyambar ke samping dan bukannya membabat tubuh lawan sebaliknya malahan menyambar toya musuh.

Tindakan tersebut sudah barang tentu jauh diluar dugaan Bwe Leng soat lantas berlagak seakan akan merasa terperanjat sekali oleh gerakan musuh itu.

Sangkoan BU cing tertawa terbahak bahak.

"Haaahhh... haaahhh... haaahhh... nenek busuk, kali ini kau akan kehilangan senjata permainanmu!"

Rasa bangga segera menghiasi wajahnya, berbareng itu juga pedangnya lantas digetarkan keras keras.

Didalam perkiraan semula, asal pedangnya membacok keras keras maka senjata toya lawan niscaya akan kutung.

Siapa tahu..."Kraaak!"

Tiba tiba terpancar keluar serentetan cahaya merah yang amat menyilaukan mata.

Sekalipun toya kayu itu hancur berkeping keping dan berguguran diatas tanah, tapi justru muncullah sebilah pedang yang memancarkan cahaya berkilauan.

"Hu kaucu"

Seru nenek itu.

"terima kasih banyak atas pertolonganmu..."

Betapa menyesalnya Sangkoan Bu cing setelah mengetahui bahwa pedang sinenek disembunyikan dalam toyanya.

Tapi Sangkoan Bu cing sama sekali tidak merasa takut, dia tidak melanjutkan serangannya, tapi berseru kepada kawanan iblis dari Ki thian kau yang berada disekitar situ.

"Kepung seluruh tanah lapang ini, jangan lepaskan si kakek berambut merah maupun segenap orang yang berada disini"

Tampaknya untuk mewujudkan maksudnya untuk membalas dendam terhadap si pelempar jeruk itu, dia lebih suka membunuh tiga ribu orang daripada melepaskan seorang musuhnya, dari sini dapat diketahui betapa keji dan buasnya pemuda itu.

Begitu perintah diturunkan, serentak kawanan iblis dari Ki thian kau menyerbu ke dalam arena sambil mengayunkan senjata pembantaian secara besar besaran pun segera berkobar.

Jeritan ngeri yang menyayatkan hati segera berkumandang memecahkan keheningan...

Sangkoan Bu cing tidak ambil diam, dia segera mempergunakan ilmu pedang Hu si kiam hoat yang baru dipelajarinya itu untuk menyerang musuhnya habis habisan.

Menghadapi serangan yang begini dahsyat dari lawannya, Bwe Leng soat terdesak dan mau tak mau terpaksa harus mengeluarkan ilmu To an Ciong yong kiam hoat nya untuk memberi perlawanan.

Ong It sin yang menyaksikan kekejaman musuhnya menjadi naik pitam, untuk menolong rakyat yang tak salah, jelas dia tak mampu, maka disambarnya jeruk didalam pikulan dan segera ditimpukkan ketubuh orang orang berbaju merah itu.

Dalam waktu singkat belasan orang lelaki berbaju merah itu kena terhajar sampai roboh.

Sementara itu, sikakek berambut merah Kwik Sui bersama Coa Thian tam pek lek to To hu Hiong, Cian li siu heng hiap serta Yu liong kiam kek masing masing telah meloloskan senjata untuk membendung serbuan dari kawanan lelaki berbaju merah itu.

Ong It sin sendiri, meski tidak membawa senjata apa apa, tapi setiap timpukan jeruknya pasti mengakibatkan seorang musuhnya roboh.

Malahan mereka yang berada dua puluh kaki jauhnya pun turut roboh terhajar oleh timpukan jeruk itu, ketepatan dan kelihayannya ini dengan cepat menggetarkan perasaan setiap orang.

Lambat laun, keempat huhoat dari Ki thian kau mulai menyadari akan kelihayan kakek dusun yang berparas jelek itu, serentak Tee leng kun dan Say siu jin mo terjun ke arena untuk menghadapinya.

Tee lwe siang mo juga telah bekerja sama untuk mengerubuti kakek berambut merah itu.

Dalam waktu singkat Ong It sin telah berhasil merobohkan banyak sekali musuh musuhnya, tapi rakyat tak bersalah yang berada disekitar situpun banyak yang menjadi korban.

Menyaksikan gelagat tidak menguntungkan, Coa Thian tam segera berteriak lantang.

"Kita harus lindungi rakyat untuk mengundurkan diri dari sini"

Dengan suara lantang Ong It sin segera berseru.

"Saudara saudara sekalian, harap mengikuti aku untuk melarikan diri dari sini, cepat!"

Dalam waktu singkat kawanan manusia berbondong bondong mengikuti dibelakangnya.

Ong It sin segera menggetarkan toyanya sehingga muncullah sebilah pedang emas yang berkilauan, dengan ayunan senjata tajamnya dia hajar kawanan iblis yang sedang membantai rakyat itu.

"Tua bangka"

Seru Tee leng kun dengan suara menyeramkan.

"besar amat nyalimu, berani betul bermusuhan dengan kami"

Ruyung tengkorak putihnya diiringi desingan angin tajam segera menyambar kedepan dengan dahsyatnya.

Ong It sin segera memutar pedangnya sambil bergerak maju, tahu tahu sekilas cahaya emas menyambar didepan matanya.

Tee leng kun terkesiap, segera bentaknya.

"Saudara Kwik, kenapa kau tidak menyerang untuk membendung jalan mundurnya?"

Say siu jin mo serentak menggerakkan pedangnya sambil melancarkan bacokan kilat.

Ong It sin yang mendengar datangnya sambaran angin tajam dari belakang tubuhnya segera membalikkan badan sambil menangkis.

"Traaang...!"

Bentrokan nyaring menggema di angkasa dan menimbulkan percikan bunga api.

Say siu jin mo segera merasakan getaran yang keras sekali sehingga tangannya hampir saja tak sanggup diangkat kembali.

Walaupun ia gagal melancarkan serangan, toh berhasil juga menolong Tee leng kun untuk meloloskan diri dari kepungan.

Menyaksikan kelihayan musuhnya itu, kontan saja kedua orang iblis itu menjadi waspada dan sikapnya lebih berhati hati.

"Heran!"

Demikian Tee leng kun berpikir.

"kenapa belakangan ini terdapat begitu banyak jago yang sangat lihay?"

Mula mula muncul Bwe Leng soat murid Koan tiau khek dan Ong It sin murid Sian gwan si, sekarang muncul sepasang suami istri dari dusun yang telah tua, sebetulnya berapa banyak lagi jago lihay yang berada didunia ini...

Padahal asal mereka mau memperhatikan sepasang pedang yang dipergunakan kedua orang dusun itu, tidak sulit bagi mereka untuk mengenalinya sebagai pedang mestika milik Ong It sin dan Bwe Leng soat.

Sayang mereka terlalu terkesima oleh kelihayan musuhnya sehingga tidak sampai menaruh perhatian khusus kesoal itu.

Dengan banyaknya kawanan iblis yang kena ditumpas, maka keganasan dari pihak Ki thian kau menjadi punah.

Kawanan rakyat dan penjaja makanan yang lolos dari musibah segera melarikan diri terbirit birit pulang kekota Si ciu...

Ong It sin Bwe Leng soat, Say siu hud sim Kwik Sui Coa Thian tam, To hu Hiong serta Cian ih sin heng lek sekalian memberi perlindungan yang ketat sekali sepanjang jalan hingga tiba ditempat tujuan.

Tau Chin mengusulkan untuk melakukan pengejaran tapi Sangkoan Bu cing tidak setuju katanya "Kita tak boleh bertindak demikian bisa jadi tindakan yang gegabah malah akan memancing perhatian pihak pemerintah kalau sampai pasukan pemerintah mengeroyok kita, bisa hancur kekuatan yang kita miliki"

"Aku lihat pengacau pengacau itu bukan berasal dari sepuluh partai besar dunia persilatan"

Ujar Tee leng kun dengan suara menyeramkan, wajah mereka rata rata teramat asing tapi kungfunya lihay sekali, aku pikir lebih baik kita utus orang masuk kekota untuk menyelidiki asal usul dari beberapa orang itu"

Sangkoan Bu cing setuju dengan usul itu, maka diapun mengutus orang pilihannya untuk melakukan penyelidikan.

Tapi anehnya ternyata kawanan jago itu lenyap tak berbekas, seakan akan semuanya sudah pergi meninggalkan tempat itu.

Karena tidak berhasil menemukan kabar apa apa, maka Sangkoan Bu cing pun memimpin anak buahnya kembali ke bukit Long sia san.

Kekalahan yang berulang kali membuat Sangkoan Bu cing selalu bermuram durja.

Si mawar beracun Hong Hiang kim segera menariknya masuk kedalam kamar tidur, lalu berkata.

"Paduka, kau tak usah bermuram durja, bukan hamba sengaja berbicara besar, asal kau dapat mengundang kedatangan guruku niscaya segala urusan akan menjadi beres!"

"Suhumu bercokol dibenteng Tok coa sia, aku kuatir sukar untuk mengundang kedatangannya"

"Suhuku bukannya sukar diundang, persoalannya apakah kau punya nona yang bisa menarik perhatiannya, andaikata kau bersedia untuk menghadiahkan Bwe yau kepadanya suhuku akan melakukan segala sesuatunya dengan senang hati pula."

Mendengar perkataan itu, Sangkoan Bu cing menjadi agak sangsi belum lagi nona tersebut dicicipi, sekarang harus dipersembahkan kepada orang lain, bagaimana juga ia merasa agak keberatan.

"Apakah kau tidak suka dengan guruku?"

Tanya si mawar beracun tanpa terasa.

"Siapa yang bilang begitu?"

"Kau toh sudah tahu kalau guruku suka main perempuan, andaikata tidak menghadiahkan Bwe Yau kepadanya, ia tak akan mau datang kemari, tapi kau..."

"Aku kenapa?"

Si Mawar beracun segera tertawa.

"Kau ini... lebih mementingkan perempuan cantik daripada pekerjaan"

"Kau keliru besar bila sampai berpendapat demikian, dari dulu sampai sekarang tiada seorang lelakipun yang bisa mengatasi soal perempuan, tapi aku lebih mengutamakan ambisiku untuk menguasahi seluruh dunia persilatan..."

"Kalau begitu, yang mulia sudah bersedia?"

"Demi keberhasilan kita untuk melenyapkan musuh tangguh, kenapa tidak kulakukan hal ini?"

"Keputusan yang paduka ambil, selamanya selalu mengagumkan hamba"

Sesudah berhenti sejenak, kembali ujarnya.

"Bila dikemudian hari kaucu sudah berhasil dengan pekerjaan ini, bagaimana caramu untuk berterima kasih kepadaku?"

"Mungkin akan kuajak dirimu untuk bersama sama menikmati kesuksesan itu"

Jawab Sangkoan Bu cing sambil tertawa. Menggunakan kesempatan tersebut, si Mawar beracun segera menjatuhkan diri kedalam pelukannya.

"Kau jahat, kau jahat, sukanya menggoda orang aja...!"

Omelnya lirih.

"Benteng Tok coa sia letaknya ada diwilayah Tin see, jaraknya mencapai seribu li dari sini siapa yang akan bertugas untuk menghantarnya sampai disitu?"

"Menurut pendapatmu?"

Si mawar beracun balik bertanya.

"Orang yang paling tepat adalah kau!"

Setelah berhenti sejenak, godanya.

"Siapa tahu menggunakan kesempatan tersebut gurumu akan mengajarkan kepandaian yang lebih hebat lagi dalam hal ilmu diatas ranjang"

"Aaah... memangnya kepandaian diatas ranjang yang hamba miliki sekarang masih belum dapat memuaskan hatimu?"

"Haaahh... haaahh... haaahh... memuaskan sekali!"

Jawab Sangkoan Bu cing sambil tertawa tergelak.

Maka mereka berdua segera melepaskan pakaiannya dan membuktikan ucapan tersebut dengan kenyataan.

Simawar beracun selain amat beracun, juga amat jalang.

Kenyataannya boleh dibilang jauh melebihi Ang hun lo sat Hong liu kua hu maupun Leng hiat siancu.

Tapi Sangkoan Bu cing justru sangat menggemari kecabulan dan kejalangannya itu.

Selesai mengerjakan adegan ranjang, secara rahasia mereka lantas mengutus Gi hay ji yau (manusia siluman selatan birahi) Toan cing hun untuk membawa pergi nona Bwe yau dari situ.

Sebelum pergi, Sangkoan Bu cing menitipkan sepucuk surat yang isinya mengundang Toa tok tay ong (raja racun) untuk datang bergabung serta menjadi seorang Cong hu hoat dalam perkumpulannya.

Tugas ini boleh dibilang teramat rahasia sekali, selain simawar beracun serta seorang dayangnya yang bernama Cun ji, boleh dibilang tiada orang lain yang mengetahuinya.

Hari ketiga setelah si mawar beracun dan Gi hay jin yau dengan membawa Bwe yau berangkat ke kota Tok coa sia, tiba tiba dari depan lembah Ban hoa kek dibukit Long sia san datang tanda bahaya.

Kemudian muncul penjaga lembah yang melaporkan.

"Didepan lembah telah datang seorang pendeta dan seorang tosu yang mohon berjumpa dengan kaucu"

"Apakah mereka membawa kartu pengenal?"

Tanya Ang hun lo sat Hoa Long jin.

"Tidak!"

"Juga tidak melaporkan namanya?"

"Tidak!"

"Apakah merekapun tidak menerangkan ada urusan apa datang mencari kaucu?"

Untuk kesekian kalinya pelapor itu menggelengkan kepalanya berulang kali.

Sebelum Ang hun lo sat mengambil keputusan apakah hendak menjumpainya atau tidak tiba tiba dari luar lembah Ban hoa kok bergema lagi tanda rahasia.

Lalu seorang hiangcu dengan wajah setengah membengkak lari masuk sambil melaporkan.

"Pendeta dan toosu itu tak mau menuruti nasehat kami dan menyerbu masuk kedalam lembah banyak penjaga yang telah terluka, bahkan hamba pun ikut dipecundangi!"

Mendengar laporan itu, Ang hun lo sat menjadi terperanjat sekali, kebetulan keempat orang pelindung hukum juga sampai disitu. Mendengar laporan tersebut, dengan gusar Say siu jin mo berseru.

"Kurang ajar benar kedua orang keparat ini, kalau tidak diberi pelajaran tentu dianggapnya perkumpulan kita bisa dipermainkan dengan sekehendak hatinya"

Tee lwe siang mo segera menyatakan persetujuannya. Mendengar itu, Ang hun lo sat lantas berkata "Persoalan ini tak bisa ditunda tunda lagi, mari kita menengok bersama kesana!"

Tiba didepan ruang istana, tampaklah dari jalanan yang membentang didepan sana muncul dua orang yang pelan pelan berjalan mendekat.

Dibelakang mereka berdua mengikuti empat orang hiangcu yang sedang berteriak teriak.

"Hei, kenapa kalian tidak menuruti peraturan disini?"

Hwesio yang gemuk dan wajahnya penuh daging lebih itu segera tertawa terbahak bahak.

"Haaahhh... haaahhh... haaahhh konon perkumpulan kalian berambisi untuk menaklukkan seluruh kolong langit, kenapa anak buahnya hanya gentong gentong nasi belaka? Haaahhh... haaahhh... haaahhh..."

Say siu jin mo Kwik Ceng berebut maju ke muka, bentaknya kepada hwesio itu.

"Keledai gundul, jangan sombong dan omong besar, silahkan kau mencicipi dulu sebab pukulanku ini Dengan menghimpun tenaga Kiu thian to suo sin kang yang dimilikinya, dengan jurus Lip pit hoa san (membacok runtuh bukit Hoa san) dia hantam hwesio gemuk itu. Dengan cepat hwesio itu mengebaskan ujung bajunya melepaskan sebuah pukulan angin puyuh ke depan, lalu serunya.

"Hhmm... memang punya simpanan juga, cuma berbicara soal tenaga dalam, kau masih perlu melatih diri selama sepuluh tahun lagi"

Say siu jin mo adalah seorang jagoan yang tinggi hati, sudah barang tentu ia tak tahan menghadapi ejekan tersebut, sambil tertawa dingin sepasang matanya diayunkan kemudian melancarkan serangan dahsyat kedepan...

Dengan cekatan, hwesio itu berkelit ke samping, lalu serunya.

"Aduuh mak, tulang ayam macam diriku ini mana tahan menghadapi pukulan saktimu itu"

Meski dibibir dia berteriak tiada hentinya tapi dalam sekali ayunan tangan, Say siu jin mo tahu tahu sudah terkena terhantam oleh tenaga pukulan yang maha sakti itu sehingga mundur kebelakang dengan sempoyongan...

Dalam waktu singkat sepuluh jurus sudah lewat, jangankan Say siu jin mo ingin melukai musuhnya, untuk menjawil ujung bajunya pun tidak mampu...

Kenyataan tersebut sangat memalukan Say siu jin mo, tanpa sadar paras mukanya berubah menjadi merah padam seperti kepiting rebus.

Ang hun lo sat sendiripun merasa terkesiap sekali sehingga untuk sesaat lamanya tak mampu berbuat apa apa.

Dengan suara lantang Tee lwe siang mo segera berteriak.

"Saudara Kwik, harap beristirahat sebentar, biar kami bersaudara yang menjumpai taysu ini"

Say siu jin mo segera melompat mundur kebelakang, tapi dengan cepat hwesio itu menggoyahkan tangannya berulang kali sambil berseru keras.

"Eeeh... eehh... tunggu sebentar, aku si hwesio paling takut kalau digilir orang, bisa jadi nyawapun akan turut melayang"

"Hwesio, kalau memang takut bertarung cepat berlutut dan minta ampun kepada kami berdua"

"Boleh"

Sahut hwesio itu sama sekali tidak gusar.

"asal kalian sanggup meringkus tosu tua hidung kerbau ini aku si hwesio pun akan menyerah kalah"

Tosu tua itu berbadan kurus kering seperti bambu, setelah mengucapkan Bu liang siu hud, katanya.

Hei hwesio tua, kenapa musti menyeret pula diriku?

Apalagi pinto belum tentu bisa menangkan Tee lwe siang mo yang sudah ternama dalam dunia persilatan, kalau sampai kalah, kau jangan salahkan diriku nanti...!"

Hwesio gemuk itu segera tertawa cekikikan.

"Aaah... kecuali kalau kau sengaja berbuat begitu, aku si hwesio mah merasa lega!"

Dari tanya jawab tersebut, seakan akan dia merasa yakin jika Ih lwe siang mo pasti kalah. Tau Chin menjadi naik pitam segera bentaknya.

"Saudaraku, hayo maju!"

Sepasang tinjunya langsung diayunkan ke depan melancarkan pukulan dahsyat.

Deruan angin pukulan memekikkan telinga, jurus serangan yang digunakan amat kalut dan banyak sekali perubahannya.

Kalau Tau Chin lebih mengutamakan tenaga pukulan yang kang yang berhawa panas dan keras maka Tau Chu lebih mengutamakan pukulan im kang yang berhawa dingin.

Dengan mengkombinasikan tenaga im dan yang tersebut maka terciptalah suatu tenaga kekuatan yang maha dahsyat sekali.

Tapi anehnya, si tosu tua yang kurus kering seperti bambu itu sama sekali tidak terpengaruh oleh tenaga yang maha dahsyat itu, malahan kebasan senjata hud timnya selalu menciptakan hawa dingin yang menyelimuti hampir setengah kaki luasnya.

Dua puluh gebrakan kemudian, dua bersaudara Tau sudah semakin terdesak hebat hingga musti berputar kian kemari untuk berusaha menghindarkan diri.

Suatu ketika, mendadak tosu tua itu berpekik panjang, mendadak dengan menggunakan sistim "melekat"

Dia menarik tenaga pukulan Tau Chu dan menempelnya hingga tak berkutik. Kemudian dengan menggunakan taktik "membelenggu"

Dia membelenggu pergelangan tangan Tau Chu dengan senjata hud timnya lalu melemparkan kedepan, tak ampun Tau Chu segera terlempar ke depan dan jatuh terjerembab.

"Maaf"

Seru tosu tua itu kemudian.

Merah padam wajah kedua orang bersaudara Tau, untuk beberapa saat lamanya mereka sampai tak mampu mengucapkan sepatah katapun.

Kembali terdengar hwesio gemuk itu tertawa terkekeh kekeh.

"Heehh... heehh... heehh.... apakah jago lihay perkumpulan kalian hanya begini begini saja?"

"Totiang, kau keliru besar"

Kata Ang hun lo sat, Hoa Long jin, dalam perkumpulan kami masih terdapat manusia yang berilmu silat semacam dirimu, harap kau tunggu sebentar!"

Selesai berkata, dia lantas memerintahkan kepada seorang hiangcu yang berada disampingnya.

"Ngo siong, undang Hu kaucu!"

Belum lagi Ngo Siong membalikkan badannya, mendadak terdengar seseorang berkata dengan lantang.

"Tak usah diundang lagi, aku sudah tiba disini sedari tadi!"

Ketika tosu dan pendeta itu mendongakkan kepalanya, tampak seorang pemuda tampan bermata elang berbaju merah dengan sulaman sekuntum bunga tho diatas tubuhnya pelan pelan berjalan mendekat.

Ang hun lo sat Hoa Long jin beserta keempat hu hoat segera menyambut kedatangannya dengan hormat.

"Omintohud, apakah kau adalah Sangkoan hu kaucu?"

Tanya hwesio gemuk itu sambil merangkap tangannya didepan dada.

"Benar!"

OdoooOoowo Sementara masing masing pihak memberi hormat, secara diam diam tenaga dalamnya telah dikerahkan untuk saling beradu tenaga dalam.

Tapi hasilnya, kedua belah pihak sama sama merasakan tubuhnya bergetar keras, siapapun tidak berhasil merebut keuntungan apa apa, alias setali tiga uang.

Baik si hwesio gemuk maupun Sangkoan Bu cing diam diam merasa terperanjat sekali.

Dengan kening berkerut Sangkoan Bu cing lantas berkata.

"Kalian berdua berilmu silat sangat tinggi, bahkan tak segan segan untuk meruntuhkan derajat dan berkunjung kelembah Ban hoa kok, bolehkah kuketahui julukan kalian"

Dengan senyuman masih menghiasi ujung bibirnya si hwesio gemuk berkata.

"Boleh saja, aku bernama Siau hin mi lek (Mi lek berwajah tertawa)...!"

"Dan siapa pula tootiang?"

Tanya Sangkoan Bu cing kepada si tosu tua itu.

"Pinto bernama Seng Me cu!"

"Kalian berdua tinggal dimana?"

"Tay huang!"

Jawab pendeta dan tosu itu hampir bersamaan waktunya.

Mendengar itu para iblis menjadi amat terperanjat.

Konon di bukit Tay huang san bercokol seorang gembong iblis yang bernama Hiat jiu thian mo (iblis langit bertangan darah) kelihayannya sudah meliputi seluruh jagad.

Akhirnya karena perbuatan iblis ini semena mena dan menyebar kekejaman dimana mana, seng sim lo hwesio dari Sian gwan si dan Bu cu sinni dari Koan tiau kek segera bertindak untuk memusnahkan ilmu silat yang dimilikinya dan mengurungnya dibukit Tay huang san.

Siapa tahu sekarang muncul dua orang pendeta dan tosu yang mengaku sebagai ahli warisnya, tak heran kalau semua orang jadi terkesiap dibuatnya.

Dengan cepat Sangkoan Bu cing berpikir.

"Siau Mi lek dan Sin Meh cu adalah manusia manusia dari golongan sesat, semestinya kalau mereka berkomplot dengan kami"

Berpikir sampai disitu, tanpa terasa dia lantas bertanya.

"Apakah kedatangan kalian kemari adalah untuk mencari balas?"

"Kami tiada dendam!"

"Ada sakit hati?"

"Tidak ada sakit hati!"

Sangkoan Bu cing menjadi tertegun untuk beberapa saat lamanya, setelah itu baru bertanya.

"Kalau begitu kalian datang kemari untuk berpesiar?"

Hwesio gundul itu segera tertawa terbahak bahak.

"Haaahh... haaahh... haaahh... itu mah kekuasaan orang yang menganggur, kami tak punya kesenangan seperti itu"

Setelah berhenti sejenak, kembali katanya.

"Apalagi tak sedikit tempat pesiar yang indah didunia ini, bukit Leng sia sau toh bukit gerbang buat apa kami berpesiar ketempat semacam ini?"

"Waaah... kalau begitu, aku menjadi tidak habis mengerti"

Seru Sangkoan Bu cing sambil menggelengkan kepalanya berulang kali. Sin Me cu masih tetap membungkam dalam seribu bahasa. Sebaliknya Siau mi lek segera berkata.

"Sangkoan sicu, kau benar benar tidak mengerti atau berpura pura tidak mengerti?"

"Tentu saja benar benar tidak mengerti"

"Kalau memang benar benar tidak mengerti terpaksa akan kuberitahukan kepadamu"

"Katakan!"

Sambil tertawa terkekeh kekeh kata Siau mi lek.

"Ada orang bilang sepanjang tahun cuaca dalam lembah Ban hoa kok bagaikan dimusim semi karena itu kami berdua berniat tinggal ditempat ini"

Sangkoan Bu cing merasa terkesiap sekali tapi diluaran ia sama sekali tidak menunjukkan rasa kaget ataupun gugup ujarnya.

"Oooh... rupanya kalian berdua ingin mengangkangi markas kami ini...?"

"Bagaimana menurut pendapatmu? Apakah setuju?"

Berkilat sepasang mata Sangkoan Bu cing sesudah mendengar perkataan itu tiba tiba ia berkata "Aaah... mana mungkin disatu rumah terdapat dua orang tuan rumahnya...?!"

"Lembah Ban hoa kok toh sangat luas, kalian berdiam disini, kami berdiam disana, bukankah urusannya akan beres?"

"Enak benar kalian berbicara, mana mungkin satu pembaringan ditiduri dua orang sekaligus?"

"Oooh... jadi kalau begitu sicu tak mau meluluskan permintaan kami...?"

"Tentu saja!"

Jawab Sangkoan Bu cing ketus meski hatinya merasa sangat bergetar keras.

"Kau tahu bukan sekarang tinggal kau seorang yang mampu mengambil keputusan didalam lembah ini, asal sicu berhasil kami robohkan, bukankah lembah Ban hoa kok ini otomatis akan terjatuh juga ketangan kami? Nah, apalah gunanya kau musti bersikeras untuk mempertahankan diri?"

Paras muka Sangkoan Bu cing kembali berubah menjadi hebat, sinar pembunuhan segera memancar keluar dari balik matanya.

"Akupun hendak memberitahukan kepadamu, kalian berdua bakal mampus ditanganku."

Seraya berkata, dia meloloskan pedangnya yang tersoren dipinggang.

Menyaksikan musuhnya sudah berdiri dengan pedang terhunus dan mata memancarkan sinar tajam, Siau Mi lek segera mendongakkan kepalanya dan tertawa terbahak bahak.

"Apanya yang menggelikan?"

Bentak Sangkoan Bu cing dengan gusar.

"Aku mentertawakan kau lantaran dirimu terlalu tegang, apalagi Hu si pet si (delapan jurus ilmu pedang Hu si kiam hoat) bukannya suatu kepandaian yang tiada tandingannya"

Sangkoan Bu cing merasakan hatinya sangat bergetar keras, dengan cepat dia masukkan kembali pedangnya ke dalam sarung, kemudian tanyanya ragu ragu.

"Taysu, darimana kau bisa tahu kalau aku dapat mempergunakan Hu si pat si?"

"Tentu saja ada orang yang memberitahukan hal ini kepadaku"

Jawab Siau Mi lek sambil tertawa licik.

"Apakah dia adalah seorang pemuda?"

Sangkoan Bu cing berlagak sok pintar. Yang dimaksudkan adalah Ong It sin. Tapi Siau mi lek segera menggelengkan kepalanya berulang kali. ododdeododoo

Jilid 25

"DUGAANMU tidak benar!"

Katanya "Kalau begitu dia adalah seorang gadis?"

Siau mi lek tertawa terbahak bahak.

"Haahh... haahh... haahhh... anak saja sudah dilahirkan, masa masih pantas disebut gadis?"

"Omong kosong"

Seru Sangkoan Bu cing tidak percaya.

"aku tidak percaya kalau muridnya Koan tiau kek itu sudah tidak perawan lagi"

"Hei, siapa yang kau maksudkan?"

Tanya Siau mi lek tercengang.

"Tentu saja Bwe Leng soat si dayang itu"

Mendengar perkataan tersebut, Siau mi lek segera mendongakkan kepalanya dan tertawa tergelak lagi. Sangkoan Bu cing yang ditertawakan menjadi kebingungan setengah mati, katanya kemudian.

"Hei, sebenarnya siapa yang memberitahukan asal usul ilmu silatku itu kepadamu?"

Sebelum Siau mi lek menggoda lebih jauh Sin Me cu telah berkata lebih dulu.

"Tidak sulit untuk mengetahui siapa orang itu, coba lihat benda ini!"

Dari sakunya dia lantas mengeluarkan sebuah lencana terbuat dari emas murni.

Setelah menerima lencana tersebut dan memeriksanya sebentar, Sangkoan Bu cing segera mengetahui apa yang terjadi, kiranya lencana itu adalah lencana Wi hong leng hu milik kaucunya.

Buru buru dia memberi hormat seraya berkata.

"Jadi kalian berdua adalah utusan dari kaucu? Maaf, maaf..."

"Tak usah sungkan sungkan, kita toh orang sendiri semua"

Sangkoan Bu cing buru buru menjura lagi.

"Tempat ini bukan tempat untuk berbicara. Silahkan masuk ke dalam ruangan"

Siau Mi lek dan Sin Me cu tidak sungkan sungkan lagi, ditemani oleh Ang hun lo sat mereka segera berangkat ke ruang Seng thian tian. Setelah mengambil tempat duduk, Sangkoan Bu cing baru bertanya.

"Taysu, apakah kaucu baik baik saja?"

"Ia telah berhasil melatih ilmu Ang tiau hui ceng sin kang, selesai membereskan satu persoalan, segera akan kembali kemari"

Mendengar berita itu, semua anggota Ki thian kau segera bersorak sorai dengan gembiranya.

"Kaucu telah mengundang kalian masuk menjadi anggota perkumpulan, apakah ada sesuatu pesan yang hendak disampaikan kepadaku?"

Tanya Sangkoan Bu cing kemudian.

"Pesan lain tidak kuketahui, tapi sebelum berangkat dia memang menitipkan sepucuk surat kepadaku"

Sambil berkata dia mengeluarkan sepucuk surat dan diberikan kepadanya... Sangkoan Bu cing segera menerima surat itu dan dibaca isinya.

"Dengan surat ini kuterangkan bahwa Sin Me cu tootiang telah kuangkat menjadi ji hu kaucu (wakil ketua kedua) dari perkumpulan kita, dan Siau Mi lek menjadi sam hu kaucu (wakil ketua ketiga). tertanda. Be Siau soh"

Mengetahui akan hal itu, maka dengan cepat Sangkoan Bu cing menyiapkan perjamuan dan mengadakan pesta besar untuk menyambut kedatangan dua orang itu.

Sementara itu, Ong It sin sekalian juga telah selesai mengadakan perundingan untuk mengambil tindakan selanjutnya untuk menyelamatkan jiwa Bwe Yau.

Dalam keputusan itu ditetapkan, Ong It sin, Bwe Leng soat dan Say siu hud sim Kwik Sui ditugaskan untuk berangkat kebukit Long sia san guna memberi pertolongan.

Senja itu, dengan kecepatan yang luar biasa berangkatlah ketiga orang itu menuju kearah barat daya.

Tanpa menimbulkan sedikit suarapun mereka bertiga berhasil menghindari penjagaan penjagaan yang ada disepanjang jalan.

"Kwik cianpwe!"

Ujar Bwe Leng soat suatu ketika.

"bagaimana kalau kau tetap tinggal dimulut lembah saja sambil melindungi kami berdua bila telah berhasil nanti?"

"Baik!"

Jawab Say siu hud sim.

Maka dia pun lantas menyembunyikan diri dibalik pepohonan yang lebat disekitar sana.

Setelah masuk hampir sepuluh kaki ke dalam lembah, Ong It sin menyaksikan ada empat orang lelaki berbaju merah sedang berdiri berjaga jaga di kiri kanan mulut lembah, penjaga dilakukan sangat ketat.

Baru saja dia akan bertanya kepada Bwe Leng soat bagaimana caranya melintasi lembah itu, gadis tersebut telah berkata lebih dulu.

"Lebih baik kita pergunakan cara lama saja!"

Dia lantas memungut sebutir batu dan segera ditimpukkan ke arah sebelah kanan.

Sreeet...!

diiringi bunyi tajam, batu itu segera menyambar lewat dan meluncur ke depan.

Ketika mendengar suara aneh, lelaki berbaju merah itu segera berpaling dan segera mengejar kedepan untuk melakukan pemeriksaan.

Menggunakan kesempatan itu, Ong It sin dan Bwe Leng soat segera meluncur lewat dengan kecepatan luar biasa.

Sepanjang jalan mereka tidak menjumpai banyak rintangan, dengan ilmu meringankan tubuh yang sempurna mereka berhasil menyusup kedalam lembah Ban hoa kok.

Tak lama kemudian, mereka mendengar suara ramai berkumandang dari depan sana.

Ong It sin segera berpikir.

"Jangan jangan Sangkoan Bu cing hendak manfaatkan kesempatan pada malam ini untuk memperkosa Bwe yau?"

Berpikir demikian dengan perasaan gelisah dia lantas menyampaikan kecemasannya itu kepada rekannya.

Bwe Leng soat segera berkata.

Lebih baik kita masuk lewat samping saja daripada menimbulkan rasa kaget mereka Untung saja penjagaan dalam markas besar Ki thian kau pada malam itu kendor sekali, tanpa mengalami kesulitan apa apa mereka telah berhasil menyusup ke dalam sebuah bangunan loteng.

Sungguh kebetulan sekali, bangunan loteng itu ternyata adalah tempat tinggal si Mawar beracun Hong Hiang kim.

Karena si mawar beracun sudah berangkat ke Tok coa sia pada tiga hari berselang, maka disitu hanya tinggal dayangnya Cun ji dan Ciu ji dua orang.

Waktu itu, kebetulan dua orang dayang tersebut tak punya acara apa apa, maka mereka duduk sambil mengobrol.

Terdengar Ciu ji berkata.

"Enci Cun, tahukah kau kenapa pada malam ini ruang Seng thian tian begitu ramainya?"

"Aku sudah tiga hari tak pernah keluar dari pagoda Li hiang kek ini, aku malah sedang bersiap siap untuk bertanya kepadamu"

"Konon hari ini hu kaucu pertama sedang menyelenggarakan pesta perjamuan untuk menyambut kedatangan wakil ketua kedua dan wakil ketua ketiga.

"Aaah, wakil ketua yaa wakil ketua"

Seru Cun ji sambil berdiri tertegun, masa ada urutannya nomor satu nomor dua dan nomor tiga?"

"Hu kaucu pertama adalah Sangkoan hu kaucu kami yang lalu, sedangkan hu kaucu kedua dan hu kaucu ketiga konon diangkat kaucu baru baru ini... Ong It sin dan Bwe Leng soat yang kebetulan bersembunyi ditempat kegelapan segera saling berpandangan sekejap, kemudian memperhatikan dengan lebih seksama.

"Manusia macam apakah mereka itu?"

Tanya Cun ji kemudian.

"Mereka adalah seorang toosu tua dan seorang hwesio bukan cuma umurnya sudah mencapai tujuh puluh tahunan keatas, lagipula tampangnya jelek sekali"

Kata Ciu ji.

"Mirip siapa?"

"Pokoknya susah untuk menemukan orang yang bertampang sejelek itu dalam perkumpulan kita, bayangkan saja si toosu tua itu mana ceking, tinggi, persis seperti batang bambu sedang si hwesio itu gemuk, pendek, perutnya gede lagi!"

"Sudah kau selidiki siapa namanya?"

Tanya Cun ji.

"Tentu saja sudah, si toosu bernama Sin Meh cu, dia adalah hu kaucu nomor dua, sedang si hwesio bernama Siau mi lek, dia adalah Hu kaucu nomor tiga"

"Dari mana sih kedatangan mereka?"

"Konon mereka adalah ahli waris dari Hiat jiau thian mo (iblis langit tangan berdarah) yang bercokol di bukit Tay hong san"

Begitu mendengar nama "Hiat jiau thian mo"

Disinggung, bukan cuma Cun ji saja yang kaget bahkan Ong It sin serta Bwe Leng soat yang bersembunyi ditempat kegelapan pun turut merasakan badannya gemetar keras. Kedengaran Cun ji berkata lagi.

"Konon kedua orang Hu kaucu yang baru datang itu membawa berita bagus, katanya kaucu kita berhasil menguasahi ilmu maha sakti Ang kim hui ceng sin kang, bila dia sudah keluar gunung nanti maka suatu usaha besar besaran akan dilaksanakan untuk menguasahi seluruh jagad"

Bwe Leng soat yang mendengar ucapan itu, diam diam lantas berbisik lirih.

"Ong toako, tampaknya kekuatan yang dimiliki Ki thian kau sekarang sudah tak dapat dihadapi lagi oleh kekuatan kita berdua!"

Diam diam Ong It sin mendepakkan kakinya ke tanah sambil menghela napas panjang, keluhnya.

"Kesemuanya ini harus disalahkan karena kebodohanku dimasa lalu, coba kalau pedang Hu si ku kiam serta sarung pedang Cian nian liong siau tersebut tidak kuserahkan kepada Be Siau soh, tak nanti dunia persilatan akan berubah sekacau ini"

"Kau tak perlu menyesali diri sendiri apalagi dalam gerakan kita malam ini harus bertindak sangat hati hati, kalau tidak, bisa jadi akan muncul banyak kesulitan untuk kita berdua."

"Tapi bagaimanapun juga, kita harus segera menyelamatkan jiwa Bwe Yau!"

"Tapi, dimanakah orangnya?"

Pada saat itulah, tiba tiba Ciu ji mengajukan suatu pertanyaan yang cukup mengejutkan.

"Enci Cun ke mana perginya Tongcu?"

"Dia bersama Gi hay jin yau telah pergi ke kota Tok coa sia!"

"Pergi menjumpai suhunya?"

Cun ji mengalihkan sorot matanya untuk memperhatikan sekejap sekeliling tempat itu, kemudian dengan merendahkan suaranya dia berbisik amat lirih.

"Tidak, dia membawa serta nona she Bwe itu untuk dipersembahkan kepada Thian tok tay ong, agar dia bersedia pula menduduki jabatan Cong huhoat didalam perkumpulan kita ini. Cuma kau musti memegang rapat rahasia ini, kalau sampai rahasia ini bocor jangan harap kita bisa hidup dengan selamat"

Ciu ji segera menjulurkan lidahnya seraya berbisik.

"Coba tahu begitu, lebih baik aku tidak tahu saja!"

Ong It sin serta Bwe Leng soat yang secara kebetulan berhasil mendapatkan kabar tersebut merasa tercengang sekali, dalam hati mereka lantas berpikir.

"Waaah, sudah berapa lama mereka berangkat?"

Sementara itu terdengar suara Ciu ji sedang bertanya lagi.

"Enci Cun, kapan sih tongcu kita berangkat melakukan perjalanan?"

Cun ji segera menunjukkan ketiga jari tangannya sambil menyahut.

"Tiga hari berselang!"

Kabar ini sangat diluar dugaan Ong It sin buru buru dia menarik tangan Bwe Leng soat sambil serunya.

"Hayo kita berangkat, kita harus cepat cepat menyusul mereka!"

Begitu selesai berkata, kedua orang itu segera bersama sama melompat turun dari atas loteng.

Mungkin lantaran tergesa gesa, ujung baju mereka tersambar angin segera mengejutkan kedua orang dayang tersebut.

Dengan suara nyaring mereka segera membentak.

"Siapa disitu?"

Sambil membentak, kedua orang itu segera menerjang keluar dari dalam ruangan.

Cun ji menyaksikan ada dua sosok bayangan manusia berkelebat lewat dan segera lenyap dibalik kegelapan sana, melihat itu, dengan kaget dia menjerit.

"Ada mata mata"

Teriakannya itu segera mengejutkan para penjaga yang tersebar disekeliling tempat itu.

Sekejap mata kemudian, suara tanda bahaya dibunyikan dimana mana, suasana menjadi gempar ramai.

Waktu itu Ong It sin dan Bwe Leng soat baru saja menyeberangi sebuah wuwungan rumah dan melayang turun dibalik dinding pekarangan yang tinggi.

Tiba tiba terdengar seseorang membentak dengan suara yang parau dan kasar.

"Mata matanya ada disini"

Sambil berkata, ketiga batang piau segera disambitkan kedepan dengan kecepatan luar biasa.

Ong It sin sama sekali tidak menggubris akan datangnya ancaman tersebut sepasang kakinya segera menjejak tanah sementara tangannya membalik melancarkan sebuah pukulan untuk mementalkan senjata rahasia itu, lalu dengan kecepatan bagaikan anak panah yang terlepas dari busurnya, dia langsung meluncur kedepan sejauh tujuh kaki lebih.

Bwe Leng soat yang berada dibelakangnya dengan cepat menyusul pula dibelakang pemuda itu.

Ketika lelaki yang melepaskan serangan senjata rahasia itu menyaksikan serangannya berhasil dipukul rontok secara gampang ia menjadi tertegun dan untuk sesaat lamanya tak tahu apa yang musti dilakukan.

Dalam pada itu, para gembong iblis yang berkumpul di istana Seng thian tian telah bermunculan semua.

Dengan suara lantang Sangkoan Bu cing segera berseru.

"Mana mata matanya?"

"Kedua orang mata mata itu sudah kabur melalui tempat itu!"

Sahut lelaki yang menyambit senjata rahasia itu sambil menuding ke arah depan. Sangkoan Bu cing segera tertawa dingin, kepada Tee leng kun, Say siu jin mo dan Tee Hwe siang mo perintahnya.

"Cepat sambut kedatangan mereka dimulut lembah sana!"

Keempat orang gembong iblis itu segera mengiakan dan berangkat menuju ke depan sana. Kemudian, Sangkoan Bu cing juga berseru kepada Sin Meh cu serta Siau bin Mi lek.

"Kalian berdua ikut aku mengambil jalan kecil!"

Sungguh cepat gerakan tubuh ketiga orang itu, apalagi memotong jalan, dalam sekejap mata mereka telah berhasil mendahului Ong It sin serta Bwe Leng soat.

Ketika dua orang muda mudi itu sampai disana, Sangkoan Bu cing telah menghadang jalan pergi sambil tertawa dingin tiada hentinya..."Heeehhh...

heeehhh...

heeehhh...

aku mengira siapa yang telah datang, ternyata saudara Ong dan Nona Bwe!"

"Betul, memang kami berdua!"

Jawab Ong It sin sambil menghentikan napasnya.

"Setelah kalian berdua datang berkunjung ke lembah kami ditengah malam buta begini, kenapa tidak bersedia menjumpai si tuan rumahnya?"

"Kami datang dikala senang, pergi dikala tak suka, peduli amat dengan tuan rumah atau tidak!"

Jawab dari Ong It sin itu diberikan secara ketus dan angkuh. Mendengar itu, Sangkoan Bu cing segera tertawa terbahak bahak.

"Haaahhh... haaahhh... haaahhh... rupanya kalian datang untuk mencari nona Bwe yau? Wah... kalau begitu, kau betul betul kebangetan, toh disampingmu sudah ada nona cantik yang akan memberi hiburan kepadamu, kenapa kau malah mencari yang jauh..."

"Bedebah, kurangi kata kata busukmu itu,"

Hardik Bwe Leng soat dengan gusar. Sangkoan Bu cing segera angkat bahunya dan tertawa tengik.

"Masa kau tidak mengakui kalau diantara kalian sudah terlibat dalam cinta segi tiga?"

"Kau tak usah ngaco belo!"

Saking jengkelnya sekujur badan gadis itu sampai gemetar keras, kemudian sambil melepaskan sebuah tusukan kilat ke depan bentaknya.

"Enyah kau dari sini!"

Jika dia sedang marah, maka terpancarlah suatu kewibawaan yang besar sekali.

Menyaksikan serangan yang muncul secara keji itu, buru buru Sangkoan Bu cing menggerakkan pedangnya untuk menangkis kemudian godanya lagi dengan sinis.

"Jadi kau menyangkal?"

Tanpa terasa Bwe Leng soat menjadi ragu, tapi segera bentaknya lagi.

"Aku mencintai Ong toako atau tidak, itu adalah urusanku sendiri, orang lain tak usah mencampurinya, mumpung belum terlambat hayo cepat menyingkir kau dari situ!"

"Hmm, jangan sombong dulu nona, jangan kau anggap ilmu pedang dari kuil Koan tiau kek sudah nomor wahid dikolong langit."

"Jika kau tidak puas, boleh saja kau tetapkan waktu agar bisa berduel dikemudian hari,"

Tantang Bwe Leng soat sambil menggigit bibirnya kencang kencang.

"Kenapa musti memilih hari lain, hari ini toh sama saja?"

"Aku sudah pernah merasakan beberapa jurus ilmu pedang hasil curianmu itu."

"Kalau memang begitu, kenapa kau tidak bergerak dulu dengan Ji suhu kaucu dan Sam suhu kaucu kami?"

"Ooh, kau maksudkan Sin Meh cu dan Siau bin Mi lek?"

Begitu nama dari kedua orang gembong iblis itu disinggung, mau tak mau diam diam Sangkoan Bu cing merasa terperanjat juga. Siau bin Mi lek segera tertawa lebar serunya.

"Li sicu, kau benar benar hebat dan pendengaranmu sungguh amat tajam, begitu bertemu lantas bisa kenali pinceng. Hmm, ini menunjukkan kalau pengetahuanmu sangat luas. Jika pinceng tidak mempergunakan kesempatan ini untuk meminta beberapa petunjuk ilmu silat aliran Lam hay, kejadian ini pantas untuk disesalkan"

Begitu selesai berkata, ujung jubahnya segera dikebaskan ke muka, melancarkan sebuah pukulan dahsyat.

Angin pukulan yang sangat kencang dengan cepatnya meluncur kedepan.

Angin pukulan itu memang dahsyat, malah tanah pun ikut terbang sampai tiga cun dalamnya.

Itulah ilmu pukulan Kang hong ciang dari Thian tok tay ong.

Rupanya Bwe Leng soat mengetahui serangan lawannya, dia lantas berpikir.

"Tak heran dia bisa ditarik oleh Be Siau soh, rupanya orang ini telah memperoleh segenap kepandaian sakti dari si gembong iblis tua itu."

Walaupun dihati dia berpikir demikian, tubuhnya sendiri berkelit ke samping untuk menghindarkan diri. Siau bin Mi lek segera tertawa terkekeh kekeh ujarnya.

"Bwe sicu sungguh terlalu memuji, apa yang berhasil pinceng dapatkan sekarang tidak lebih cuma seperdua dari kepandaian yang dimiliki guruku..."

Bwe Leng soat makin terkesiap setelah mendengar perkataan itu, dia tak mengira kalau gembong iblis itu demikian lihaynya. Ong It sin yang berada disisinya segera berseru.

"Nona Bwe, kau harus perhatikan baik baik cakar iblis Thian tok mo jiau nya, jangan sampai kena disambar oleh kukunya, sebab kukunya amat beracun, begitu ketemu darah segera mati..."

"Bocah keparat, kau jangan mengaco belo tak karuan..."

Bentak Siau bin mi lek sambil tertawa dingin.

Walaupun dimulut dia menyangkal, sesungguhnya hawa murni yang dimilikinya telah dihimpun menjadi satu, dia berharap dalam satu gebrakan saja serangannya akan mendatangkan hasil.

Tapi sekarang, rahasianya sudah dibongkar oleh Ong It sin, dalam malu dan gusarnya, dia segera mengembangkan ilmu cengkeraman iblis Thian tok mo jiaunya untuk meneter lawan.

Menuding timur dia menyerang kebarat, mencakar utara menyambar keselatan, semua serangan yang dipergunakan hampir seluruhnya merupakan jurus jurus serangan keji yang mengerikan.

Tiga puluh jurus sudah lewat bagaikan terpaan angin puyuh dari hujan badai, pada saat itulah Bwe Leng soat baru sempat meloloskan pedang mustikanya.

Diantara gerakan tangannya, tampak cahaya merah memancar keempat penjuru.

Dia segera menggunakan ilmu Huang lan kiam hoat dari Lam hay untuk balas mendesak lawannya, serangan demi serangan dilancarkan secara bergelombang, hampir semuanya merupakan jurus jurus serangan yang dahsyat dan mengerikan.

Siau bin mi lek segera tertawa terbahak bahak, pujinya.

"Suatu ilmu pedang yang amat bagus!"

Ditengah bentakan keras, badannya melambung ketengah udara setinggi dua kaki lebih, kemudian dengan kepala dibawah kaki diatas, hawa murninya dihimpun dalam kelima jari tangannya untuk melancarkan sebuah cengkeraman ke depan.

Bwe Leng soat buru buru mengayunkan telapak tangan kirinya melepaskan sebuah pukulan untuk memaksa membaliknya angin beracun yang dilancarkan musuh dalam ilmu Thian tok mo jiaunya itu.

Tapi kelima gulung angin serangan beracun yang dipancarkan kelima jari tangan lawan sangat dahsyat dan tajam bagaikan pedang, meski Bwe Leng soat telah mengerahkan tenaga pukulannya lewat telapak tangan kiri, hampir saja dia tak sanggup menahan diri, kenyataan tersebut seketika itu juga membuat hatinya amat terkesiap.

Perlu diketahui, semenjak kecil Bwe Leng soat sudah belajar ilmu silat di Lam hay, di kuil Koan tiau kek, hampir segenap kepandaian silat yang ada didunia ini telah dipelajarinya dengan seksama.

Terutama sekali ilmu Toa hoan yok sinkang yang dilatihnya boleh dibilang sudah mencapai pada taraf pengerahan dan penarikan menurut kehentak hati, hal tersebut menyebabkan semua serangan yang dilancarkannya segera akan membuat terbentuknya selapis dinding baja yang sangat kuat.

Bila ilmu cengkeraman biasa yang dihadapi jangan harap serangan tersebut berhasil menembusi pertahanannya.

Maka dengan kening berkerut, Bwe Leng soat lantas berpikir.

"Aku telah mempergunakan ilmu sakti ajaran suhu pun belum sanggup untuk menaklukkan hwesio ini, rupanya tenaga dalam yang dia miliki telah berada jauh diatas kemampuan Sangkoan Bu cing"

Mendadak satu ingatan melintas didalam benaknya, sambil berpekik nyaring mendadak tubuh dan pedangnya terhimpun menjadi satu, kemudian dengan kecepatan luar biasa badannya melambung ketengah udara.

Baru pertama kali ini dia pergunakan ilmu pedang terbang yang maha dahsyat itu.

Ketika Sangkoan Bu cing dan Sin Meh cu mendongakkan kepalanya, maka tampaklah tubuh Bwe Leng soat bagaikan sesosok bayangan hitam meluncur ke bawah diiringi cahaya pedang berwarna kemerah merahan.

Jago perempuan dari Lam hay ini memang luar biasa sekali baik dikala tubuhnya melambung ke atas maupun disaat meluncur ke bawah, dia selalu memperlihatkan suatu cara yang sangat istimewa.

Berbarengan dengan meluncurnya cahaya pedang, hawa serangan makin lama semakin dahsyat, apalagi ketika mencapai tiga depa diatas batok kepala Siau bin Mi lek, cahaya merah yang sangat tebal segera memancar ke empat penjuru, sungguh luar biasa sekali keampuhan dari serangannya itu...

Sangkoan Bu cing maupun Sin Meh cu adalah jago jago persilatan yang berilmu silat tinggi, ketajaman matanyapun jauh melebihi orang lain maka sekilas pandangan saja mereka memandang cahaya merah yang terhimpun disekitar pedang mestika tersebut, tahulah mereka bahwa gadis tersebut telah menghimpun seluruh kekuatan tubuhnya diujung serangan pedang tadi.

Kali ini Siau bin Mi lek tak bisa tertawa lagi, semua perhatian dan kekuatannya segera dihimpun menjadi satu untuk bersiap siap menghadapi segala kemungkinan.

Pikirnya.

"Menurut berita yang tersiar dalam dunia persilatan, orang bilang ilmu pedang dari Lam pak ji seng telah mencapai tingkatan yang luar biasa, buktinya sekarang, murid dari Koan tiau kek saja sudah begini hebatnya... yaa, nama besar mereka memang bukan cuma nama kosong belaka."

Ingatan tersebut dengan cepatnya melintas didalam benak hwesio tersebut.

Untuk menghadapi ancaman musuh yang sangat lihay itu, diapun segera menghimpun semua tenaga dalamnya kemudian disalurkan kedalam kesepuluh jari tangannya kemudian pada saat yang tepat mendadak ia mendongakkan kepalanya sambil melancarkan sebuah cengkeraman ke tengah udara.

Sepuluh gulung desingan angin serangan bagaikan pisau pisau yang tak berwujud dengan cepatnya meluncur ke tengah udara dan menyongsong datangnya ancaman pedang dari lawannya.

Menyaksikan kelihayan musuhnya, Bwe Leng soat merasa terperanjat sekali sampai keningnya berkerut kencang.

ooooOdwOoooo Sadarlah gadis itu sekarang, bahwa dia telah berjumpa dengan seorang musuh yang amat tangguh.

Dari sini pula dapat diketahui bahwa lembah Ban hoa kok sesungguhnya merupakan suatu tempat yang menyerupai gua harimau sarang naga.

Buru buru dia menghimpun segenap perhatian dan tenaganya untuk menghadapi lawan, lalu dengan suatu kecepatan luar biasa ia melancarkan sebuah tusukan kilat keatas ubun ubun lawan.

Jelas pertarungan semacam ini merupakan suatu pertarungan yang bersifat mengadu jiwa.

Apabila cakar maut Thian tok mo jiau tersebut sampai menusuk kedalam jalan darahnya, sudah bisa dipastikan sari racun itu akan menyerang ke dalam isi perut yang menyebabkan kematian bagi korbannya.

Akan tetapi sebaliknya jika jalan darah Thian leng hiat di ubun ubun hwesio itu sampai tertusuk oleh pedang sinona sama saja diapun akan tewas dalam keadaan mengerikan.

Siau bin mi lek amat terkesiap, dengan gugup dia memutar badannya untuk menghindarkan diri.

Dengan cepatnya ia merobah dari serangan mencengkeram ia merubah tangan kirinya sebagai pertahanan untuk melindungi kepala, sementara tangan kanannya melanjutkan kembali serangannya.

Tapi dengan tindakan itu, justru dia telah kehilangan suatu peluang yang baik Sementara itu, serangan pedang yang dilancarkan Bwe Leng soat telah menyambar tiba.

Kendatipun ia cukup cepat menghindarkan diri kesamping namun tak urung badannya kena tersambar juga.

Tapi, dalam keadaan yang sangat kritis itulah cakarnya tiba tiba menyambar keatas merobek ujung baju kiri Bwe Leng soat sehingga tampak kulit badannya yang putih bersih.

Paras muka Ong It sin segera berubah menjadi amat berat dan amat serius.

Sebaliknya Sin Meh cu ketakutan sampai badannya basah oleh keringat dingin.

Dengan suara lirih Sangkoan Bu cing berkata.

"Perempuan rendah ini masih mempunyai jurus pembunuh, Siau bin taysu, hadapi dia!"

Untuk membalas dendam atas tersambarnya telinga sebelah kirinya tadi, secara beruntun Siau bin mi lek melancarkan dua belas buah serangan berantai dengan suara tertawanya yang menyeramkan, cakarnya menangkis bacokan pedang lawan kemudian mencengkeram sepasang payudara Bwe Leng soat.

Saat ini dia sudah kalap, sepasang matanya juga turut berubah menjadi merah berapi api.

Bentakan nyaring menggema memecahkan keheningan, sambil miring ke samping, Bwe Leng soat segera melancarkan sebuah serangan lagi dengan jurus Tiap po bwe long (lapisan ombak menimbulkan gelombang).

"Sreeet...!"

Sebuah jari tangan Siau bin mi lek kembali kena tersambar sampai kutung.

"Keledai gundul, rupanya kau sudah kepingin mampus!"

Bentaknya.

Ditengah bentakan tersebut, secara beruntun dia melancarkan serangan dengan jurus Keng to kay long (Ombak dahsyat gelombang maut), Ki long pay khong (Ombak raksasa menyapu angkasa) dan Po lan Cong heng (deruan ombak datang melintang).

Ketiga buah serangan itu boleh dibilang merupakan jurus jurus paling tangguh yang pernah diciptakan oleh gurunya selama sepuluh tahun belakangan ini, bisa dibayangkan bagaimana akibat dari serangan semacam itu.

Betul Siau bin Mi lek memiliki ilmu iblis yang maha sakti, namun baru dua jurus yang disambut, ia sudah merasa kehabisan tenaga untuk menghadapi serangan yang ketiga.

Buru buru dia menjatuhkan diri berguling diatas tanah dan melarikan diri dari arena pertempuran.

Meski dia mundur dengan cepat, tapi sedari tadi pula Bwe Leng soat telah mempersiapkan serangan mautnya.

Sambil berpekik nyaring, cahaya pedangnya berkilauan diangkasa dan sekejap mata kemudian sudah berhasil menyusul diri Siau bin Mi lek.

Sangkoan Bu cing maupun Sin Meh cu yang menonton jalannya pertarungan itu menjadi amat terkesiap.

Ternyata gerakan tubuh yang dilakukan oleh Bwe Leng soat tersebut bukan saja amat enteng lincah, lagipula gerakannya cepat sekali, sehingga seakan akan bayangan hitam yang mengikuti dibelakang tubuh Siau bin Mi lek tersebut.

Dari sini dapat ditarik kesimpulan bahwa si hwesio bermuka tertawa itu belum sanggup bertarung satu lawan satu melawan murid kesayangan Lam hay bun ini.

Berdasarkan beberapa alasan, pertama karena kaget atas kehebatan ilmu pedang yang dimiliki Bwe Leng soat, kedua untuk menyelamatkan jiwa Siau bin Mi lek, serentak kedua orang itu menyerbu masuk ke dalam arena pertempuran.

Sangkoan Bu cing menerjang ke depan sambil melancarkan tusukan kilat.

Sedangkan Sin Meh cu menyerang dengan sapuan senjata hud tim bajanya...

Digencet secara bersama oleh dua orang jago tersebut, seketika itu juga Bwe Leng soat kena terdesak dibawah angin.

Sangkoan Bu cing segera tertawa dingin, ejeknya.

"Nona Bwe, apabila kau sanggup mengalahkan kami berdua, boleh saja kau kabur dari sini, kalau tidak..."

"Kalau tidak kenapa?"

Tukas Bwe Leng soat sambil menangkis tusukan pedang lawan "Biar aku saja yang memberi jawaban!"

Sela Sin Meh cu sambil melepaskan sebuah sapuan ke depan.

"kau harus tinggal disini dan menjadi istrinya Hu kaucu pertama"

"Kentut busuk!"

Maki Bwe Leng soat sambil mundur selangkah, mukanya dingin kaku seperti es.

"kau anggap nonamu takut kepada kalian?"

Sin Meh cu segera memberi tanda kerlipan mata kepada Sangkoan Bu cing untuk melancarkan sergapan.

Dengan cepat kedua orang itu merubah taktik pertarungannya, yang seorang meneter terus dengan serangkaian serangan gencar, sedangkan yang lain menyergap setiap saat ada kesempatan.

Taktik pertarungan semacam ini memang boleh dibilang cukup keji dan mengerikan.

Tak sampai dua puluh gebrakan kemudian, hampir saja Bwe Leng soat kena disergap oleh lawan.

Ong It sin yang menyaksikan kejadian itu menjadi naik darah, segera bentaknya.

...

ada yang hilang.....

Begitu daya tekanan yang mendesak Bwe Leng soat mengendor, pedang mestika ditangannya mulai melancarkan serangan serangan gencar lagi untuk balas mendesak musuhnya.

"Nona Bwe!"

Kata Ong It sin kemudian "kita masih ada urusan penting lain yang harus segera diselesaikan, hayo berangkat!"

Dengan cepat dia menggetarkan tangannya menciptakan selapis bunga emas yang memancar ke empat penjuru masing masing menyergap tubuh ketiga orang itu.

Bwe Leng soat segera bertekuk pinggang berkelit ke samping, lalu dengan cepat menyelinap keluar lembah.

Sangkoan Bu cing segera mendongakkan kepalanya dan berpekik nyaring.

Dari arah mulut lembah segera berkumandang suara desingan anak panah yang sangat gencar.

Siau bin Mi lek segera tertawa seram, ejeknya.

"Budak ingusan, jangan harap kau bisa melarikan diri dari tempat ini... lebih baik menyerah saja!"

"Hmm! Jika kami hendak pergi, aku rasa kalian bertiga tak akan mampu bisa menghalangi kami"

Ejek Ong It sin. Pedangnya segera diputar sambil digetarkan, bukan saja senjata Hud tim dari Sin Meh cu kena terhisap, pedang Sangkoan Bu cing juta turut terhisap kencang kencang.

"Lepas tangan!"

Hardiknya kemudian keras keras.

Pedang Kim liong kiamnya digetarkan ke atas, cahaya tajam yang berkilauan segera memancar keempat penjuru.

Tahu tahu senjata Hud tim milik Sin Meh cu itu kena terpapas separuh bagian.

Sangkoan Bu cing juga merasa pergelangan tangannya menjadi kesemutan, pedangnya segera tergetar lepas dan mencelat sejauh beberapa kaki dari tempat semula.

Bwe Leng soat segera memutar pedangnya menciptakan selapis kabut pedang yang amat tebal untuk melindungi badan, semua senjata rahasia dan anak panah yang ditujukan kearahnya serentak terhajar rontok semua ke atas tanah.

Menggunakan kesempatan itu, Ong It sin segera berseru.

"Nona Bwe, mari kita terjang keluar dari sini!"

Dari mulut lembah di kejauhan sana, terdengar suara Tee leng kun sedang berseru sambil tertawa dingin.

"Hmm... kalian anggap sanggup untuk meloloskan diri dari kepungan kami?"

Baru selesai perkataan itu diucapkan, mendadak dari belakang tubuhnya berkumandang kembali suara serak dari seseorang.

"Lohu akan membantu usaha mereka untuk keluar dari situ, mau apa kau...?"

Berbareng dengan selesainya ucapan tersebut, segulung angin pukulan yang sangat dahsyat telah berhembus lewat.

Tee leng kun tentu saja merasa terperanjat sekali, dengan gugup cepat cepat dia menghindarkan diri ke samping.

Pada saat itulah, tampak dua sosok bayangan manusia dengan kecepatan luar biasa telah meluncur lewat dari pos penjagaannya dan kabur keluar dari lembah.

Menanti ia menyaksikan orang yang menyergapnya itu ternyata adalah Say bin hud sim (muka singa berhati Buddha), kontan saja amarahnya meluap, sambil menggetarkan ruyung tulang tengkorak putihnya, dengan cepat ia mengejar dari belakang.

Ong It sin segera membalikkan badannya sambil melancarkan sebuah pukulan dahsyat ke depan.

Tee leng kun sangat terperanjat, dengan cepat tubuhnya terhajar sampai mencelat ke belakang, jelas isi perutnya tergoncang dan menderita luka dalam yang cukup parah.

Sementara itu Siau bin Mi lek, Sin Meh cu dan Sangkoan Bu cing telah menyusul pula keluar dari lembah.

Seraya menyarungkan kembali pedangnya, Ong It sin berpura pura gusar sambil membentak.

"Kau telah apakan nona Bwe Yau?"

Dia memang sengaja bertanya demikian, agar musuh mengira ia gagal mendapat tahu tentang kabar gadis tersebut. Dengan kening berkerut, Sangkoan Bu cing segera tertawa terbahak bahak sahutnya.

"Haaahhh... haaahhh... haaah... tidak kami apa apakan, malah kuanggap dia sebagai tamu agungku hingga dia meluluskan permintaanku untuk kawin dengan aku!"

Bwe Leng soat tertawa dingin, sebenarnya dia mau berkata begini.

"Hmm, kau anggap kami tak tahu kalau nona itu sudah dikirim ke kota ular beracun..."

Untung saja Ong It sin segera menyikut tangannya dan memberi tanda agar ia jangan mengantarnya keluar.

Buru buru Bwe Leng soat menelan kembali kata katanya itu, kemudian ganti berkata.

Malam ini kami akan sudahi pertarungan sampai disini dulu, tiga hari kemudian kami pasti akan datang berkunjung kembali.

Sangkoan Bu cing tertawa dingin serunya.

"Kau jangan keburu merasa bangga lebih dulu, lain kali, jangan harap kalian bisa lolos dari sini dengan selamat!"

"Jangan bicara tekebur dulu kalau tidak mampu, soalnya banyak yang kena batunya! ejek Ong It sin sambil mengangkat bahu. Agak merah muka Sangkoan Bu cing karena jengah, katanya kemudian dengan suara dalam.

"Kalau kau ingin datang, datang sajalah ke mari. semoga saja bukan aku yang kena batunya"

Sembari berkata, mukanya menunjukkan perasaan benci dan buasnya yang amat tebal. Ong It sin sama sekali tidak ambil peduli, kepada Bwe Leng soat dan Say bin hud sim serunya.

"Hayo kita pergi!"

Seusai berkata, dia lantas berangkat lebih dulu meninggalkan tempat tersebut.

Dalam sekejap mata, ketiga orang itu sudah lenyap dibalik kegelapan sana.

Sambil memandang bayangan punggung ketiga orang musuhnya yang makin menjauh, Sangkoan Bu cing menggertak giginya kencang kencang sambil menyumpah.

"Bocah keparat kau sungguh amat tekebur suatu hari, aku pasti akan merenggut nyawamu!"

Siau bin Mi lek juga tertawa getir, katanya.

"Sungguh tak kusangka kalau ahli waris dari Ji seng benar benar lihay sekali!"

Sikapnya sekarang sudah tidak seperti tadi lagi, ia bersikap lebih halus dan murung.

"Mungkin hanya kaucu kami yang sanggup untuk membereskan kedua orang ini"

Kata Sangkoan Bu cing.

"Kalau begitu kita harus perketat penjagaan disini, kalau bisa atur jebakan agar mereka masuk perangkap!"

Usul Sin Meh cu.

"Yaa tampaknya terpaksa kita harus berbuat demikian"

Ujar Sangkoan Bu cing pula sambil menghela napas sedih.

Maka merekapun lantas mengadakan perundingan sambil mengatur jebakan jebakan agar ketiga orang musuhnya masuk perangkap.

Tapi, satu hari lewat tanpa terjadi pergerakan, hari kedua, hari ketiga juga lewat tanpa terasa, namun tiada juga suatu gerakan.

meski demikian mereka sama sekali tak berani mengendorkan penjagaannya...

Padahal ketika itu Ong It sin dan Bwe Leng soat telah berada dalam perjalanan menuju kekota Tok coa sia, dengan harapan bisa menyusul Bwe Yau.

Waktu itu Ong It sin telah berganti dengan satu stel baju ringkas berwarna hitam dengan mantel kulit harimau serta ikat kepala berwarna hitam sehingga tampak gagah dan keren.

Sambil melambankan lari kudanya, tiba tiba ia berkata sambil tertawa lebar.

"Jika kita harus melakukan perjalanan lagi siang malam tanpa berhenti, sekalipun berhasil menyusul mereka, tak usah turun tanganpun juga bakal mati keletihan!"

"Ong toako"

Kata Bwe Leng soat sambil menyeka peluh yang membasahi wajahnya.

"kenapa secara tiba tiba kau berubah pikiran?"

"Bagaimanapun juga mereka toh sudah lewat dua hari berselang, sekarang mungkin sudah mencapai propinsi In lam atau bahkan telah memasuki kota Tok coa sia, disusulpun tak ada gunanya, kan lebih baik kita himpun tenaga untuk mempersiapkan diri guna melakukan pengacauan secara besar besaran?"

"Kau tidak takut dengan ular?"

Tanya Bwe Leng soat sambil tertawa.

"Suhu pernah berkata, binatang ular atau sejenisnya paling takut dengan belerang, sebelum berangkat dia orang tua juga telah menghadiahkan sebutir gumpalan belerang, jadi aku sama sekali tidak takut"

"Tapi aku kan tidak punya!"

Ong It sin segera merogoh kedalam sakunya dan mengeluarkan sebiji gumpalan belerang dan diserahkan kepada gadis itu seraya ujarnya.

"Kalau begitu, kuberikan sebagian untukmu!"

Bwe Leng soat menerima belerang itu dan dimasukkan kedalam sakunya.

Pada saat itulah mendadak dari semak belukar sebelah kanan sana muncul seekor kuda putih yang sedang dilarikan kencang kencang.

Dibelakang kuda tadi menyusul datang empat lima orang penunggang berbaju hitam yang mengejarnya terus dengan ketat.

Dengan cepat Bwe Leng soat menghentikan kudanya, kemudian dengan wajah tercengang dia berseru.

"Heran, kenapa ada begini banyak orang lelaki yang mengejar seorang perempuan?"

Waktu itu Ong It sin juga telah melihat jelas keadaan yang tertera di depan mata, serunya kemudian.

"Benar, yang dikejar memang seorang perempuan, rambutnya yang panjang menutupi paras mukanya..."

"Ong toako, kenapa kita tidak menghadang para pengejar itu dan menyelamatkan jiwanya?"

Tiba tiba Ong It sin merasa paras muka perempuan itu seperti pernah dikenalnya, terutama sekali sepasang matanya yang mengerling tajam, cuma dia lupa dimanakah pernah berjumpa dengannya.

Baru saja si anak muda itu termenung perempuan tadi sudah membedal kudanya lewat disampingnya, menyusul kemudian Bwe Leng soat telah menjalankan kudanya untuk menghadang para pengejar itu.

Ketika jalan perginya tiba tiba dihadang orang, serentak para pengejar itu menarik tali kudanya dan berhenti.

Orang pertama yang duduk diatas pelana kuda itu adalah seorang Hwesio tinggi besar yang berjenggot panjang dan angker seperti malaikat langit.

Orang kedua adalah seorang perempuan berusia lima puluh tahunan yang bermuka kuning.

Orang ketiga berdandan sebagai sastrawan dengan sebilah pedang tersoren dipinggangnya.

Sedangkan orang keempat adalah seorang hwesio setengah umur yang gemuk pendek dan bermuka lucu.

Tiba tiba Ong It sin teringat akan sesuatu, segera pikirnya.

"Hei, bukankah beberapa orang ini adalah empat orang jago dari partai Tiong lam pay?"

Ia tahu, beberapa orang itu merupakan jago kenamaan dari golongan lurus, terutama sekali Hoa hoan siancu Liok Lui adalah bekas kekasih gurunya.

Sebagai seorang pendekar yang berhati lurus, sudah pasti mereka tak akan menindas kaum lemah, kecuali kalau orang itu adalah manusia yang jahat.

Lantas, siapakah perempuan itu...?

Baru saja ingatan tersebut melintas lewat, Ih Hwe sangjin ketua dari Tiong lam pay telah menegur.

"Sobat muda, mau apa kalian menghalangi jalan pergi kami?"

Belum sempat Ong It sin menjawab, Bwe Leng soat telah menyahut lebih dahulu.

Baca Juga: Pendekar Tongkat Dari Liong San 2

Baca Juga: Pedang Naga Kemala Kho Ping Hoo

Cari Blog Ini

Diberdayakan oleh Blogger.

Parnert