Eps 10 Pendekar Bego - Can ID
Baca online Pendekar Bego - Can ID
Cersil Pendekar Bego - Can ID.
"Tidak apa apa kami hanya merasa tidak leluasa menyaksikan kalian lelaki kekar menganiaya seorang perempuan lemah "Nona, keliru besar jika kau menganggap perempuan tersebut sebagai perempuan lemah!"
Seru Go Eng sambil tertawa dingin.
"Memangnya dia adalah seorang gembong iblis yang membunuh orang tanpa berkedip?"
"Tepat sekali dugaan nona, sebab orang itu bukan lain adalah Gi hay jin yau Toan Cing hun yang sangat cabul itu!"
Bwe Leng soat masih tidak percaya, tapi Ong It sin menjadi amat gelisah sebab dia tahu perempuan cabul tersebut justru sedang membantu si mawar beracun untuk membawa Bwe Yau menuju ke kota tok coa sia.
Dengan cepat dia lantas bertanya.
"Co cianpwe, apakah kau juga melihat si mawar beracun Hong Hiang kim dari Khi thian kau?"
Go Eng segera menggeleng.
"Lantas dimanakah kalian berhasil menjumpai si Gi hay jin yau Toan Cing hun...?"
Kembali Ong It sin bertanya.
"Didalam kota Siang leng!"
"Bersama dengannya itu apakah terdapat juga sebuah kereta?"
"Benar!"
Sahut Ho hoa siancu.
"memang tempat sebuah kereta, apakah kau ada sangkut pautnya dengan mereka?"
"Besar sekali sangkut pautnya, mungkin kalian tidak tahu kalau didalam kereta itu terdapat seorang tawanan, dia adalah muridnya Seng hong tianglo dari luar perbatasan yang bernama Bwe Yau, sedangkan orang yang bertugas mengawalnya adalah Pek tho tongcu dari perkumpulan Khi thian kau, si mawar beracun Hong Hiang kim!"
Keempat orang jago lihay dari Tiong lam pay itu segera berseru tertahan, serunya.
"Haah, kalau begitu kita sudah terkena siasat musuh!"
"Kalau begitu, harap kalian bersamaku untuk melakukan pengejaran kembali!"
Kata Ong It sin gelisah.
"Apakah kalian bersedia memberitahukan nama dan perguruan kalian?"
Tanya Tui im kiam khek Ih Hui.
"Tidak bisa!"
"Kenapa?"
"Sekarang masih ada urusan penting yang harus segera diselesaikan, kenapa kita tidak manfaatkan kesempatan ini untuk pergi menolong seorang yang berada dalam cengkeraman iblis, sebaliknya berbincang yang bukan bukan disini?"
Setelah berhenti sebentar, katanya lagi.
"Jika kalian tak percaya kepadaku silahkan saja kalian susul Gi hay jin yau Tong hun, biar kami yang menyusul Si mawar beracun Hong Hiang kim!"
"Ehmm, memang hal ini merupakan suatu cara yang baik, mari kita berpisah untuk melakukan pengejaran!"
Maka keempat orang jago lihay dari Tiong lam pay itu segera menggerakkan kudanya menyingkir ke samping.
"Nona Bwe, mari cepat kita susul ke kotaSian leng!"
Seru Ong It sin kemudian. Dua ekor kuda itu meringkik panjang dan secepat kilat meluncur pergi dari situ. Memandang bayangan punggung kedua orang itu, Ih Hwe sangjin bergumam seorang diri.
"Heran, suara pemuda ini sangat kukenal, kenapa tidak kuingat siapakah dirinya?"
"Akupun mempunyai perasaan yang sama"
Sambung Liok Lui.
"Lebih baik kita lanjutkan pengejaran!"
Seru si hwesio gundul Go Eng cepat.
Keempat orang itupun tidak berbicara lagi dan segera mencemplak kudanya untuk melanjutkan pengejaran kedepan.
Ketika bayangan tubuh dari keempat jago Tiong lam pay itu sudah pergi jauh, mendadak dari dalam hutan bambu ditepi jalan muncul seekor kuda berwarna putih.
Penunggangnya adalah seorang perempuan berambut putih yang menutupi wajahnya dengan kain hijau, itulah Gi hay jin you Toan Cing hun adanya...
Dia munculkan diri dan memperhatikan sekejap sekeliling tempat itu, ketika dilihatnya disekitar sana tiada orang lain, diapun segera berangkat kembali ke kotaSian leng.
"Heran, kenapa dua orang keparat muda itu bisa menyusul kemari?"
Demikian pikirnya dengan perasaan kaget bercampur tercengang.
"aku harus segera melaporkan kejadian ini kepada Hong tongcu!"
Sambil berpikir dia lantas melarikan kudanya cepat cepat menuju ke kotaSian leng.
Sementara itu, Ong It sin dan Bwe Leng soat telah tiba di kotaSian leng, sementara sang surya telah condong ke langit barat.
Dengan cepat mereka mencari kabar kemana mana untuk melacaki jejak kereta berkuda itu.
Menurut laporan yang diterima, katanya si mawar beracun Hong Hian kim dengan membawa kereta tersebut telah berangkat menuju ke Sin poo.
Maka Ong It sin berdua segera membeli rangsum kering, kemudian melanjutkan perjalanan ke arah Sin poo.
Diantara remang remangnya cuaca, akhirnya sampailah mereka di kota Sin po tersebut.
Ketika mereka berusaha mencari kabar, dapat diketahui kalau si mawar beracun baru saja lewat belum lama.
Agak lega Ong It sin setelah mendengar laporan tersebut, ujarnya kepada Bwe Leng soat sambil tertawa.
"Nona Bwe, apakah kau merasa lelah?"
"Ooh, rupanya kau ingin menyuruh aku tinggal di kota kecil ini, agar kau bisa lebih leluasa menolong si gadis cantik?"
Goda Bwe Leng soat seraya tertawa.
"Nona Bwe, kau jangan memfitnah orang baik"
Seru Ong It sin sambil menggoyangkan tangannya berulang kali.
"ketahuilah, aku bertanya begini, karena aku sangat memperhatikan keadaanmu!"
Ucapan tersebut diucapkan dengan nada bersungguh sungguh, sedikitpun tidak nampak seperti dibuat buat. Bwe Leng soat merasa amat terharu, pikirnya.
"Apakah ucapan suhu memang benar, dalam hidupku kali ini bakal terlibat terus dalam soal cinta dan tidak cocok untuk orang beragama?"
Berpikir sampai disitu, dia lantas berusaha keras untuk mengendalikan perasaannya dan berkata lagi dengan dingin.
"Hmm, siapa yang menyuruh kau memperhatikan aku?"
Tapi setelah perkataan itu diucapkan dia baru merasa menyesal.
Sebab dia merasa kuatir pemuda itu akan merasa tersinggung dan marah sehingga benar benar meninggalkannya seorang diri.
Untung saja Ong It sin adalah seorang pemuda yang jujur, ketika mendengar perkataan itu dia memang agak tertegun, tapi kemudian katanya agak tergagap.
"Nona Bwe, harap kau suka memaafkan perkataanku yang tidak senonoh tadi!"
"Aaah, aku hanya bergurau saja denganmu!"
Buru buru Bwe Leng soat berseru.
"Ong toako, harap kau jangan tersinggung!"
Sementara pembicaraan berlangsung, mereka sudah tiba di Sik bun kau.
Mendadak dari arah depan sana, lebih kurang empat lima li terdengar suara kuda meringkik.
Ong It sin menjadi girang sekali, segera teriaknya.
"Aaah, rupanya si mawar beracun masih berada didepan sana, hayo kita kejar!"
"Lebih baik kau pergi seorang diri! Aku..."
"Nona Bwe, masa kau tidak bersedia melepaskan aku..."
"Melepaskan kau apa?"
Seru Bwe Leng soat pura pura marah, sementara mukanya berubah menjadi merah karena jengah.
"Melepaskan aku dari kata kata tadi!"
Bwe Leng soat tak dapat menahan rasa gelinya lagi, dia segera tertawa cekikikan.
"Sudahlah!"
Serunya kemudian.
"yang penting buat kita sekarang adalah mengejar orang!"
Selesai berkata dia lantas melarikan dulu kudanya menuju kedepan sana, sementara Ong It sin menyusul dari belakangnya.
Tak selang beberapa saat kemudian, kedua orang itu sudah melewati sebuah tanah yang liar, kemudian sebuah sungai membentang didepan mata.
Waktu itu kereta tersebut sudah ditinggalkan ditepi sungai, sedangkan si mawar beracun dengan menggusur Bwe Yau telah menyeberangi sungai itu.
Terpaksa Ong It sin berdua harus menunggu sampai perahu penyeberang itu balik kembali baru menyeberangi sungai.
Dengan cepat kedua orang itu melanjutkan pengejarannya secara ketat, dari kota Siau Kwan mereka menyusul ke luar kota Lam leng, disitulah si mawar beracun Hong Hiang kim baru berhasil disusulnya.
Betapa terperanjatnya Hong Hiang kim ketika berpaling dan menyaksikan kedua orang pengejarnya bukan jago jago dari Tiong lam pay, melainkan Ong It sin dan Bwe Leng soat.
"Hong tongcu"
Dengan suara lantang Ong It sin segera berseru.
"cepat lepaskan nona Bwe yau, kalau tidak akan kubunuh dirimu!"
Baru saja si mawar beracun hendak menolak, mendadak ia menemukan Gi hay jin yau Toan Cing hun yang bersembunyi disemak belukar sedang memberi tanda kepadanya agar menyanggupi permintaan itu untuk sementara waktu.
Maka si mawar beracun pun berkata.
"Ong sauhiap, jika kuserahkan nona ini kepadamu, maka aku harus menggunakan apa untuk menghadapi guruku nanti?"
"Hmm! Jika suhumu tidak meninggalkan kota Tok coa sia, mungkin dia masih dapat menyelamatkan selembar jiwanya"
Kata Ong It sin dengan wajah serius. Bwe Leng soat yang berada disampingnya sudah tidak sabar lagi, dia segera membentak pula.
"Hei, sebenarnya kau bersedia tidak untuk meninggalkan orang itu disini?"
Menyaksikan wajah Bwe Leng soat yang begitu dingin dan kaku, buru buru si mawar beracun menyahut.
"Ditinggalkan yaa ditinggalkan, cuma pasti ada orang yang bakal mencari kalian untuk membalas dendam"
"Siapa?"
"Orang itu kalau bukan kaucu kami, sudah pasti adalah guruku!"
Mendengar kata kata tersebut, Ong It sin segera mendongakkan kepalanya dan tertawa tergelak.
"Haaahhh... haaahhh... haaahhh... kau maksudkan Thian tok tay ong dan Be Siau soh? Haahaahhh... suruh saja mereka datang aku memang ada maksud untuk membasmi mereka dari muka bumi!"
Si mawar beracun Hong Hiang kim tak berani banyak bicara lagi, sambil meninggalkan Bwe Yau dia lantas melarikan diri dari tempat tersebut.
Ong It sin dan Bwe Leng soat buru buru melompat turun dari atas pelana kudanya untuk membebaskan Bwe Yau dari pengaruh totokan.
Pada saat itulah dari balik semak belukar melompat keluar seorang perempuan yang berdandan menyolok dengan langkah yang sangat berhati hati dia mendekati kearah kedua orang itu.
Anehnya dia memilih yang searah dengan arah angin.
Ternyata dari sakunya dia mengeluarkan sebungkus bubuk obat, kemudian sambil menyeringai seram tangannya diayunkan berulang kali segumpal bubuk berwarna merah dengan cepat tersebar diseluruh angkasa.
Dalam waktu singkat, bubuk merah itu sudah berhembus lewat kearah tiga orang itu berada.
Menyaksikan perbuatannya mendatangkan hasil, Gi hay jin yau menjadi kegirangan setengah mati, tanpa terasa diapun memperdengarkan suara tertawanya yang lirih.
Ong It sin yang berpendengaran tajam segera menangkap suara tertawanya itu, dengan cepat ia mendongakkan kepalanya.
Tampak seorang gadis bergaun sempit dan berambut panjang sedang memandang kearahnya sambil menyeringai licik.
Dia, bukan lain adalah perempuan yang pernah dijumpai sewaktu berada di jalan raya menuju kota Siang leng tempo hari.
Kalau dilihat dari kemampuannya untuk muncul ditempat ini, dapat diketahui bahwa dia telah berhasil meloloskan diri dari kejaran keempat jago dari Tiong lam pay Belum lagi ingatan tersebut melintas dari benaknya, Bwe Leng soat telah berteriak keras.
"Ong toako, cepat bekuk perempuan siluman itu, kita sudah terkena bubuk pemabuknya!"
Ong It sin gusar sekali, dengan cepat dia melompat ke depan sambil melancarkan tubrukan.
Rupanya Gi hay jin yau tidak mengira kalau musuhnya sama sekali tidak mabuk meski sudah terkena obat pemabuknya, dia baru terperanjat setelah menyaksikan terjangan lawan.
Diapun tahu bahwa kepandaian silat yang dimilikinya masih belum sanggup untuk menandingi lawannya, cepat cepat dia kabur ke belakang.
Memang keji sekali hati perempuan siluman ini, secara diam diam ia telah membuang obat pemunahnya kedalam sawah, lalu baru melarikan diri terbirit birit.
Dengan suatu gerakan cepat Ong It sin menerjang kemuka dan menghadang dihadapannya, kemudian dengan gusar dia melancarkan sebuah pukulan dahsyat ke depan.
Tay khek sin kang yang dipergunakannya kali ini memiliki daya penghancur yang mengerikan sekali, bayangkan saja bagaimana mungkin Gi hay jin yau bisa mampu menahan diri?
Diiringi jeritan kecil yang menyayat hati, tubuhnya mencelat sejauh beberapa kaki dari tempat semula dan mampus seketika itu juga.
Melihat Gi hay jin yau sudah tewas, Ong It sin segera melompat kedepan dan menggeledah sakunya.
Namun meski seluruh tubuhnya sudah digeledah, obat tersebut tidak berhasil ditemukan.
Tapi dia yakin ilmu pertabibannya masih bisa mengatasi keadaan tersebut maka buru buru katanya.
"Satu satunya cara yang bisa kita gunakan sekarang adalah mencari penginapan dan membuat obat penawar sendiri"
Maka berangkatlah ketiga orang itu menuju kekota terdekat.
Bwe Leng soat dan Bwe yau naik kuda yang sama, sedang Ong It sin berjalan dipaling depan.
Ketika masuk kekota Lam leng, kentongan ketiga sudah lewat.
Merekapun lantas menginap disebuah rumah penginapan yang memakai merek Liong siang.
Tapi pada saat itulah daya kerja obat perangsang ditubuh Bwe Yau sudah mulai bekerja.
Mukanya menjadi merah berapi api sepasang matanya memancarkan sinar aneh, sementara sepasang tangannya mulai mencakar payudara sendiri.
Buru buru Ong It sin dan Bwe Leng soat memayang diri Bwe Yau masuk kedalam kamar.
oooodOeoooo Setelah berada didalam kamar, boleh dibilang seluruh kesadaran Bwe Yau telah dipengaruhi oleh obat perangsang.
Kepada Ong It sin dia mulai merayu sambil tertawa genit.
"Ong toako, coba lihatlah, cantikan paras mukaku?"
"Yaa, kau memang cantik sekali!"
Sahut Ong It sin dengan kening berkerut.
"Cintakah kau kepadaku?"
Kembali Bwe Yau bertanya. Ong It sin ingin mengatakan tidak, tapi dia kuatir menyinggung perasaan orang, maka terpaksa dia mengangguk. Sebenarnya dia hendak mengatakan. ooodwooo
Jilid 26 <
"Oooh, tentu saja harus begitu, tapi kau musti cepat cepat mengawini kami!"
Kata Bwe Leng soat.
"kalau tidak, belum lagi kami dikawinkan, kami sudah dipanggil Mama, waah... hendak ditaruh ke mana muka kami"
"Bila perkumpulan Ki Thian kau telah berhasil kita basmi, dendam sakit hati juga sudah dibalas, bagaimana kalau kita segera langsungkan pernikahan itu?"
"Tapi, harus diundur sampai kapan?"
Tanya kedua orang gadis itu hampir bersama.
"Sekarang juga kita akan mulai bekerja, paling cepat tiga bulan, paling lambat setengah tahun, semuanya pasti sudah beres"
"Tidak bisa!"
Tolak Bwe Leng soat.
"siapa tahu kalau waktu itu kami dua bersaudara sudah berperut buncit, ooh... bagaimana mungkin kami punya muka untuk berjumpa lagi dengan para enghiong didunia ini!"
"Baik, baik, terserah pada kalian berdua!"
Seru Ong It sin kemudian sambil rentangkan tangannya.
Tapi, kedua orang gadis itupun tidak berhasil menemukan suatu cara yang baik untuk menyelesaikan masalah ini.
Sebab guru mereka semua hidup di bukit Pak thian san serta di Lam hay, sedang guru Bwe Yau yang berada dipaling dekat dari sanapun letaknya juga berada diluar perbatasan.
Maka setelah mengadakan perundingan, mereka bertiga lantas memutuskan untuk kembali dulu ke daratan Tionggoan sambil mengundang para jago dari pelbagai aliran dan golongan untuk berangkat ke bukit ong sia san dan bersama sama membasmi perkumpulan Ki thian kau.
Sedang mengenai waktu pernikahan terpaksa hanya bisa ditentukan menurut keadaan.
Setelah membereskan rekening rumah penginapan dan siap meninggalkan kota Lam leng waktu menunjukkan tengah hari.
Mereka bertiga pun menyeberangi jalan untuk bersantap di rumah makan depan sana.
Bwe Yau setelah mengikat tali les kudanya diistal dia lantas masuk kedalam ruangan lebih dulu.
Ong It sin segera meminta tali les kudanya dari Bwe Leng soat sembari berkata.
"Hujin, biarlah aku yang mengurusi kudamu ini!"
Sembari berkata, dia lantas membuat muka setan. Bwe Leng soat segera melototkan matanya besar besar serunya.
"Jangan kau anggap setelah panahmu berhasil menembusi dua ekor burung, maka lagakmu menjadi sok, nih, ambillah!"
Setelah menyerahkan tali les itu kepadanya, gadis itu segera membalikkan badannya dan masuk ke dalam rumah makan.
Ketika masuk ke dalam ruangan, ternyata disitu cuma ada tiga lima orang tamu, bayangan tubuh Bwe Yau sama sekali tidak terlihat.
Pada mulanya Bwe Leng soat tidak merasa keheranan, dia mengira mungkin Bwe Yau sudah naik ke loteng, maka kepada si pelayan diapun berkata.
"Dimanakah nona berbaju merah yang tadi masuk duluan itu?"
"Nona yang mana?"
Seru sang pelayan dengan mata terbelalak.
"kami sama sekali tidak melihatnya!"
"Apakah disini ada loteng?"
Pelayan itu gelengkan kepalanya berulang kali.
"Usaha kami masih kecil, yang ada pun cuma ruangan ini saja, mana ada lotengnya?"
"Benarkah kalian tidak melihat si nona berbaju merah itu?"
Pelayan itu segera menuding ke arah tiga lima orang tamu yang sedang bersantap disana sembari berkata.
"Kalau tidak percaya, silahkan bertanya kepada mereka!"
Belum lagi Bwe Leng soat bertanya, tamu tamu yang berada disana telah menjawab bersama kalau tidak menjumpai ada seorang nona berbaju merah masuk ke sana.
"Oooh... aneh sekali!"
Gumam Bwe Leng soat kemudian dengan suara lirih. Tapi kemudian sambil menarik muka serunya lagi.
"Dengan jelas dia masuk kemari, masa tidak ada?"
Sang pemilik rumah makan yang beralis mata kasar dan bermata besar itu segera menimbrung.
"Siapa tahu kalau dia sudah pergi ke rumah makan yang lain? Apa salahnya kalau nona memeriksa dulu beberapa rumah makan lainnya!"
Sementara itu Ong It sin telah masuk ke dalam, ketika dilihatnya Bwe Leng soat dan sang ciangkwe sedang ribut, buru buru tanyanya.
"Hei, ada urusan apa?"
Belum lagi Bwe Leng soat menjawab, ciangkwe yang beralis mata tebal dan bermata besar itu telah berkata.
"Rekanmu ini bersikeras mengatakan ada seorang nona berbaju merah telah masuk ke rumah makan ini dan lenyap, padahal kami cuma pedagang, bukan penculik nona harap kau suka mempertimbangkan persoalan dengan seadil adilnya!"
Ong It sin segera tertawa dingin, katanya "Apa yang dikatakan rekanku ini memang sedikitpun tak salah, nona berbaju merah itu memang benar benar telah masuk kemari!"
Ciangkwe beralis mata tebal dan bermata besar itu kontan saja membanting swiepoa-nya ke samping kemudian dengan teramat gusar serunya keras keras.
"Hei, rupanya kalian ada maksud untuk membuat kekacauan disini? Hayo kita selesaikan persoalan ini di pengadilan!"
"Mau mengadukan persoalan ini di pengadilan? Aku mah tak ada waktu untuk melayanimu, cuma... aku mempunyai bukti yang bisa memaksamu untuk mengaku"
Paras muka ciangkwe beralis mata tebal bermata besar itu tampak sangat terkejut, tapi dengan cepat dia berusaha untuk menenangkan kembali hatinya, sambil tertawa seram katanya.
"Kalau memang begitu, keluarkan tanda buktimu itu!"
"Dan kau boleh saja berbuat licik terus dihadapanku!"
Ketika dilihatnya ucapan pemuda itu sangat tegas dan meyakinkan, lelaki beralis mata tebal dan bermata besar itu menjadi ragu ragu dan mulai sangsi.
Ong It sin yang menyaksikan keraguan orang segera memeriksa tempat disekeliling sana dengan sorot matanya yang tajam.
Tiba tiba ia menyaksikan sebuah benda kecil tergeletak diatas tanah, paras mukanya segera berubah.
Tampaknya lelaki bermata besar beralis mata tebal itupun juga sudah merasakan akan hal itu, tiba tiba dia melompat kedepan dan menyambar benda itu.
Tapi entah bagaimana, tahu tahu Ong It sin sudah mendahului ciangkwe itu dan menyambar benda tadi..."Sreet!"
Bagaikan terhisap oleh sesuatu kekuatan yang sangat besar, tahu tahu benda tersebut sudah melayang masuk kedalam genggamannya..."Nah, tanda buktinya sekarang sudah berada disini"
Katanya dengan dingin.
"ciangkwe sekarang apa lagi yang hendak kau katakan?"
Sekarang Bwe Leng soat baru melihat kalau benda itu adalah sebuah benda milik Bwe Yau, yakni tusuk kondenya, maka diapun segera berpikir dalam hati.
"Jangan jangan tempat ini adalah sebuah rumah makan gelap?"
Belum habis ingatan tersebut melintas dalam benaknya, lelaki bermata besar itu telah berkata.
"Benda perhiasan milik perempuan semacam ini banyak terdapat di kota, sekalipun kau menemukan benda itu, toh belum bisa membuktikan bahwa rekanmu itu sudah memasuki rumah makan kami"
Sudah jelas alasan itu terlampau dibuat buat. Ong It sin menjadi gusar sekali, serunya.
"Bedebah, kau tak usah bermain licik di hadapanku, tampaknya sebelum kuberi sedikit pelajaran kepadamu, kau enggan untuk mengaku berterus terang!"
Seraya berkata, sebuah cengkeraman maut segera dilancarkan ke arah depan.
Dengan cekatan lelaki bermata besar itu membungkukkan badannya kebawah, lalu menyembunyikan diri dibalik meja kursi.
Pada saat itulah para pelayan dan koki yang berada dalam rumah makan itu telah bermunculan semua disana dengan senjata tajam berada ditangan, dengan cepat mereka mengurung kedua orang muda mudi itu.
Menyaksikan kesemuanya itu, Ong It sin segera mengejek sambil tertawa dingin.
"Nah, kelihatan sekarang ekor rasenya, memangnya tampang tampang macam kalian itu adalah tampang seorang pedagang?"
Kepada Bwe Leng soat segera serunya.
"Kau cepat berjaga jaga dipintu depan, jangan biarkan mereka kabur seorangpun!"
Dengan pedang terhunus Bwe Leng soat mengiakan dan segera melompat ke depan dan menghadang didepan pintu gerbang.
Walaupun ilmu silat yang dimiliki orang orang itu cukup tangguh, akan tetapi, bagaimana mungkin mereka bisa menandingi kelihayan dari Ong It sin?
Tak selang beberapa saat kemudian, jalan darah mereka semua telah tertotok, tidak terkecuali pula ciangkwe bermata besar beralis mata tebal itu.
Dengan cepat Ong It sin mencengkeram tubuhnya dan diangkat ke atas, kemudian tegurnya.
"Siapa namamu?"
"Aku she Si bernama Tian, orang persilatan menyebutkan sebagai Hek jiu Gi yaa (Gi yaa bertangan hitam)!"
Yang dimaksud dengan Gi yaa adalah nama dari seorang koki termashur pada pahala jaman Cun ciu dahulu! Ketika Ong It sin mendengar nama tersebut, dia lantas manggut manggut seraya berkata.
"Oooh... rupanya kau si manusia laknat"
Setelah berhenti sebentar, diapun berkata lagi.
"Apakah kalian mempunyai dendam kesumat dengan nona Bwe Yau?"
"Tidak ada!"
"Ada perselisihan?"
"Juga tidak ada!"
"Kalau memang tiada dendam juga tiada perselisihan, apakah kalian menculiknya karena kamu adalah seorang jay hoa cat (penjahat pemetik bunga)...?"
Cepat cepat Si Gi yaa bertangan hitam menyangkal.
"Tidak! Kami bukan seorang Jay hoa cat! Sekalipun sepanjang hidup sepasang tangan kami selalu berlepotan darah, tapi belum pernah kami memperkosa gadis atau isteri orang!"
"Lantas, mengapa kau menculiknya?"
"Karena mendapat perhatian dari seorang teman!"
"Dimana temanmu sekarang?"
"Dia sudah pergi!"
Sementara itu, Bwe Leng soat telah selesai melakukan penggeledahan didalam rumah makan itu, katanya.
"Disini benar benar tak nampak orang lain!"
Ong It sin segera mengalihkan kembali sorot matanya ke wajah lelaki bermata besar itu, kemudian katanya.
"Siapakah sahabatmu itu?"
Dengan cepat Gi Yaa bertangan hitam menggelengkan kepalanya berulang kali, sahutnya.
"Aku tidak tahu!"
"Apa? Kau tidak tahu?"
Teriak Ong It sin dengan sinar mata tajam memancar keluar dari balik matanya.
"tampaknya kau ingin mencicipi kehebatan dari ilmu meremas tulang memilir urat milikmu?"
Selesai berkata, secara beruntun dia melancarkan tujuh buah totokan keatas punggung lawan.
Seketika itu juga Gi Yaa bertangan hitam kesakitan luar biasa sambil merintih kesakitan, peluh bercucuran dengan derasnya membasahi seluruh badannya.
Dalam waktu singkat, tubuhnya yang tinggi besar itu telah berubah menjadi berliuk liuk tak karuan wujudnya, bahkan gigipun sampai hancur karena saling beradu dan menahan rasa sakit.
Akhirnya dia tak kuat menahan diri, serunya kemudian sambil merengek rengek.
"Aku akan berbicara! Aku akan berbicara Harap kau suka mengampuni diriku"
Ong It sin mendengus dingin.
"Hmm! Aku tiada kuatir kalau kau tak akan berbicara!"
Katanya. Selesai berkata, dia lantas melancarkan kembali beberapa buah totokan diatas punggung orang itu, dengan demikian rasa kesakitan yang diderita Gi Yaa bertangan hitam baru lenyap.
"Hayo cepat bicara!"
Bentak Ong It sin kemudian.
"siapa yang menyuruh kau menculik nona Bwe Yau?"
"Kim coa long kun (pemuda tampan ular emas)!"
"Masih ada yang lain?"
Tanya Ong It sin dengan sepasang alis matanya berkenyit.
"Masih ada pula Gin coa long kun (pemuda tampan ular perak) Thi coa long kun (pemuda tampan ular baja) Hui coa long kun (pemuda tampan ular terbang) serta si bunga mawar merah beracun..."
Dengan cepat Ong It sin mengerti, sudah pasti si bunga mawar merah beracun telah mengundang datang keempat orang suhengnya untuk membantu usahanya itu, buru buru tanyanya lagi.
"Apakah mereka kabur melalui jalan belakang?"
Gi Yaa bertangan hitam manggut manggut. Dengan suara menyeramkan Ong It sin segera berkata.
"Sebetulnya aku hendak membunuh kau tapi mengingat sepanjang hidupmu belum pernah melanggar dosa besar, terutama memperkosa kaum wanita, maka..."
Mendengar sampai disitu, Gi Yaa bertangan hitam menjadi kegirangan setengah mati. Terdengar Ong It sin berkata lebih jauh .
"Hukuman mati bisa dihindari, tapi hukuman hitam tak bisa lari, aku hendak memunahkan semua kepandaian silat yang kalian miliki!"
Begitu ucapan tersebut selesai diucapkan, sebuah pukulan segera dilontarkan keatas pusar orang itu.
Sejak detik itulah, hawa murninya sudah tak dapat dihimpun kembali.
Kemudian Ong It sin berkata lagi.
"Dua jam kemudian, rekan rekanmu akan terbebas sendiri dari pengaruh totokan, semoga saja kau dapat merubah watak jahatmu itu dan kembali ke jalan yang benar!"
Ketika ucapan terakhir diutarakan, dia bersama Bwe Leng soat telah keluar dari rumah makan itu dan melarikan kudanya untuk melakukan pengejaran.
Tapi sekalipun sudah dikejar sampai magrib, kota Hui Ie, Kang ci, Goan mo dan Tho an telah dilalui, jejak keempat manusia ular itu belum juga ditemukan.
Dengan kesal Ong It sin lantas berkata.
"Padahal jarak kita dengan manusia manusia laknat itu cuma selisih setengah jam heran! Kenapa kita tidak berhasil menyusul mereka?"
Tiba tiba terlintas satu ingatan didalam benak Bwe Leng soat, katanya kemudian.
"Jangan jangan keempat manusia ular itu baru melanjutkan perjalanannya setelah menunggu kita meninggalkan kota Lam leng?"
"Betul juga perkataanmu, cuma, apa yang harus kita lakukan sekarang...?"
"Jika kita berbuat begini terus, tak mungkin jejak mereka bisa ditemukan, sebab kita ada ditempat terang dan mereka ada ditempat gelap..."
Berbicara sampai disitu, dia lantas menunjuk ke satu arah dengan ujung bibirnya, ia menambahkan.
"Coba lihay bukankah disekitar tempat ini pun telah dipasang mata mata untuk mengawasi kita?"
Mendengar perkataan itu Ong It sin lantas mencoba untuk memperhatikan keadaan di sekeliling tempat itu betul juga tampak ada dua orang lelaki yang memakai topi lebar sedang bersembunyi dibawah wuwungan rumah diseberang saja sambil tiada hentinya memperhatikan sekitar situ.
Dengan suara lirih Ong It sin lantas bertanya.
"Menurut kau apa yang harus kita lakukan sekarang?"
"Gampang sekali mengapa kita tidak menyaru kemudian kabur lewat pintu belakang rumah penginapan? Setelah itu baru kita pakai mereka dijalan depan?"
Ong It sin bertepuk tangan kegirangan maka kedua orang itupun menjalankan semua tindakannya menurut rencana.
Tak selang beberapa saat kemudian dari belakang pintu rumah penginapan telah muncul seorang kakek bungkuk serta seorang nenek yang buta matanya.
Waktu itu malam sudah menjelang tiba, banyak orang yang berlalu lalang ditengah jalan, namun siapa saja tak ada yang memperhatikan mereka berdua.
Dengan cepat kakek bungkuk dan nenek buta itu sudah keluar dari pintu sebelah timur.
Baru sampai diluar kota tiba tiba mereka saksikan ada sebuah kereta sedang berlarian mendekat dengan kecepatan tinggi.
Kakek bungkuk itu segera berbisik.
"Itu dia sasarannya sudah datang"
"Kau tak salah melihat?"
Tanya sinenek buta.
"Perempuan yang duduk diatas kusir itu bukankah si bunga mawar beracun? Asal perempuan siluman itu berada disana, sudah pasti adik Yau juga berada didalam ruang kereta."
Sementara pembicaraan berlangsung kereta itu dengan kecepatan luar biasa telah meluncur tiba...
Dengan cepat kakek bungkuk dan nenek buta itu menghadang ditengah jalan raya Duduk disamping si bunga mawar beracun yang memegang kemudi adalah seorang lelaki kecil yang pendek tapi berotot.
Ketika melihat didepan mata muncul dua orang kakek dan nenek, bukan saja mereka tidak menahan larinya kereta, sebaliknya malah menceplak kudanya agar lari lebih cepat lagi, bentaknya.
"Tua bangka sialan, rupanya kalian pingin mampus..."
Didalam anggapannya, sepasang suami istri yang sudah lanjut usia itu pasti akan tewas tergilas roda keretanya.
Siapa tahu terdengar dua kali bentakan nyaring, menyusul kereta mereka berhenti berlari ternyata rodanya ditahan orang.
Dengan terhentinya lari kereta tersebut segera terdengarlah seseorang menegur.
"Losu, apa yang telah terjadi?"
Kiranya lelaki kecil pendek yang duduk di belakang kemudi itu adalah Hui coa long kun (pemuda tampan ular terbang) Wan Hiong.
Ketika ia menyaksikan si kakek bungkuk dan sinenek buta berhasil menahan larinya kuda mereka, sadarlah dia bahwa mereka telah bersua dengan dua orang jago tangguh.
Sementara itu, Wan Hiong yang mendengar lotoanya yakni Kim coa long kun (pemuda tampan ular emas) Pit Lek beng bertanya, cepat cepat sahutnya.
"Kami telah berjumpa dengan musuh tangguh!"
Walaupun dimulut dia berkata demikian, namun cambuk kudanya dengan tidak mengenal ampun telah diayunkan ke arah kedua orang tersebut...
Dengan angin tajam amat memekikkan telinga, jurus serangan yang dipergunakan amat keji sekali.
Andaikata sampai tersambar oleh ayunan cambuk itu, sudah pasti tubuh orang akan terluka sangat dalam.
Sayang kedua orang jago yang dihadapinya sekarang adalah jago jago berilmu tinggi, bukan saja serangan tersebut tidak berhasil melukai mereka, terdengar kakek bungkuk itu membentak, kemudian menggunting ke arah cambuk itu dengan kedua buah jari tangannya.
"Taaasss!"
Seketika itu juga, cambuk kulit menjangan yang sangat kuat itu terpaksa kutung menjadi dua bagian. Si nenek buta segera mencaci maki.
"Hei, kalian sudah mau melukai orang dengan terjangan kuda, sekarang masih mau mencari menangnya sendiri, hmm? Dianggapnya hukum sudah tidak berlaku?"
Menyaksikan cambuk kudanya yang tinggal sepotong, Hui coa long kun Wan Hiong berseru pula dengan gusar.
"Nenek edan yang datang dari mana, berani betul mencari gara gara dengan pun long kun? Hmm! Rupanya kau sudah tidak maui nyawa tuamu itu lagi"
Weess!
Dari sakunya dia mengeluarkan sebuah kotak sepanjang tiga depa enam inci, dan mengeluarkan seekor ular aneh yang bersayap, kemudian dengan memakai binatang tersebut dia melancarkan sebuah sapuan ke arah depan.
Si nenek buta itu tentu saja bukan sungguh sungguh buta, begitu dilihatnya Wan Hiong mempergunakan ular terbang hidup sebagai senjatanya, dengan perasaan bergidik buru buru melompat mundur tiga depa ke arah belakang.
Menyaksikan musuhnya mundur, Hui coa Long kun Wan Hiong segera menggetarkan pergelangan tangannya, kemudian secara tiba tiba dia menghajar si nenek bungkuk.
"Suatu serangan yang sangat bagus!"
Seru kakek bungkuk itu sambil tertawa dingin.
Sebuah babatan telapak tangan dengan cepat diayunkan keatas kepala ular tersebut.
Tampaknya si ular menyadari akan datangnya ancaman maut, mendadak sambil mendesis dia menarik badannya kebelakang, sesudah itu berbalik memagut lutut kakek itu.
Menyaksikan ancaman tadi, sikakek bungkuk itu mendengus dingin, sepasang kakinya sama sekali tak bergerak, sementara tubuhnya dengan cepat mundur beberapa depa kebelakang.
Gagal dengan pagutannya, ular beracun itu berpekik aneh sebanyak tiga kali, kemudian meluncur ke luar dan melancarkan sergapan kilat ke arah depan...
Tampaknya kakek bungkuk itu tak berani menghadapi serangan ular beracun itu secara gegabah, dengan cepat dia meloloskan pedang mestikanya dan memutar senjata itu menciptakan selapis cahaya emas yang amat menyilaukan mata.
Sebuas buasnya ular beracun itu, tak urung dibuat keder juga setelah melihat serangan maut yang datang dari lawannya, ia tak berani melakukan sergapan lagi secara gegabah.
Sambil tertawa dingin, kakek bungkuk itu lantas berseru.
"Aku mengira siapa yang telah datang dan berani betul berbuat kurang ajar, ternyata tak lebih adalah anakan iblis yang datang dari kota ular beracun."
Baru selesai dia berkata, dari dalam ruangan kereta kembali bermunculan tiga orang pemuda yang kekar dan bermuka buas.
Sekalipun pakaian yang mereka kenakan amat perlente, namun tak bisa menyembunyikan hawa sesat yang terpancar keluar dari tubuh mereka.
Sebagai pemimpinnya adalah seorang pemuda bertubuh jangkung yang memiliki sepasang mata berwarna hijau yang mengerikan sekali.
Pada lehernya tergantung seekor ular beracun bersisik emas yang dikenakannya sebagai kalung.
Lidahnya yang merah tampak menjilat jilat kian kemari, memuakkan sekali keadaannya.
Agak menggigil tubuh si nenek buta melihat kesemuanya itu, kepada si kakek bungkuk segera bisiknya.
"Aku merasa mual sekali menyaksikan orang orang itu!"
"Tak usah takut, bisik si kakek bungkuk pula dengan cepat, beberapa ekor ular tersebut belum terhitung seberapa!"
Dalam pada itu, Kim coa long kun Pit Lee bing telah berkata sambil tertawa dingin.
"Hmmm... sia sia saja kau hidup sampai setua itu, maka ular bersisik emas milikku ini juga tidak kau kenali. Hmm! Ketahui saja, ularku ini bisa bergerak dengan lincah dan cepat, sekalipun jago persilatan belum tentu mampu untuk menandinginya"
"Tak usah tekebur dulu, lohu justru tidak percaya dengan segala tahayul... apa salahnya jika suruh ularmu itu mencoba coba... cuma, sebelumnya aku hendak berkata dulu, bila sampai mampus, kau Kim coa longkun jangan menyalahkan aku!"
Kim coa long kun Pit Lee beng sudah terlanjur omong besar, mau ditarik kembali pun tak mungkin, apalagi dia juga tahu kalau si kakek bungkuk tersebut bukan manusia sembarangan, terpaksa sambil keraskan hati ia bersiap siap untuk tampil kedepan.
Baru saja ular emasnya akan dipersiapkan Thi coa long kun (pemuda tampan ular baja) Ong Eng telah maju kedepan seraya berkata.
"Toako, biarlah aku si burung bodoh terbang lebih dahulu!"
Waktu itu si ular bergaris besi miliknya telah dipersiapkan ditangannya, tampak sepasang matanya memancarkan cahaya kebuasan yang mengerikan sekali.
"Hei, tua bangka! Sebutkan namamu"
Serunya kemudian. Kakek bungkuk itu tertawa dingin.
"Lohu sudah lama lupa dengan namaku sendiri!"
Sahutnya. Thi coa long kun menjadi semakin naik darah, sambil mengayunkan ular berbisanya dia segera membentak keras.
"Tua bangka sialan, kau berani memandang hina kami bersaudara Rasain sebuah seranganku ini!"
Segulung bayangan hitam, dengan kecepatan luar biasa segera meluncur.
Ular berbisa itu memang lihay sekali, dalam sekali kelebat saja, kepalanya yang besar itu sudah mengancam beberapa buah jalan darah penting didepan dada lawan.
Kakek bungkuk itu segera menggetarkan pedangnya menciptakan serentetan cahaya emas yang menyilaukan mata, seperti cahaya bianglala dengan cepatnya menyambar ke muka.
"Criiit...!"
Diantara pekikan keras, ular bergaris besi itu sudah terpapas tepat pada bagian titik terlemahnya dan mampu seketika itu juga.
Thi coa longkun Ong Eng yang menyaksikan peristiwa itu menjadi terperanjat sekali.
Si kakek bungkuk itu sendiri, walaupun telah berhasil membunuh seekor ular beracun, namun ia tidak memanfaatkan kesempatan tersebut untuk melancarkan serangan berikutnya, cuma dengan suara lantang katanya.
"Walaupun ular beracun milik kalian tidak takut terhadap pedang biasa, namun jika sampai ketemu lohu, maka sedikitpun tak ada gunanya, percaya tidak sekarang?"
Setelah mendengar perkataan tersebut, Thi coa longkun merasa semakin malu lagi untuk mengundurkan diri.
Baru saja dia akan mengumbar hawa amarahnya, Hui coa longkun Wan Hiong telah melompat ke sisinya seraya berbisik.
"Sam suheng, kita telah bertemu dengan musuh tangguh, harap bersabar dulu, biar aku dan toa suheng merundingkan dahulu cara yang terbaik untuk mengatasi keadaan ini..."
Thi coa longkun Ong Eng cukup mengetahui bahwa su sutenya ini mempunyai banyak tipu muslihat maka diapun tidak meneruskan perbuatannya untuk mengumbar hawa amarah.
Sedangkan Hui coa longkun Wan Hiong segera menghampiri toa suhengnya kim coa longkun Pit Le beng serta Gin coa longkun Ouyang Si lalu ujarnya dengan suara dalam.
"Aku lihat tua bangka ini pasti sengaja mencari gara gara dengan kita Sekalipun kita berempat ditambah si ci si mawar beracun turun tangan bersamapun belum tentu dapat menghadapinya!"
"Akupun mempunyai perasaan demikian"
Kata Gin coa longkun Ouyang Si "cuma kita telah bersua dengan mereka selain melangsungkan suatu pertarungan apa pula yang bisa kita lakukan?"
"Akal sih bukannya tidak ada, cuma aku kuatir suheng sekalian tidak sependapat dengan usul siaute!"
"Apa usulmu itu? Katakan saja, yang paling penting kita harus dapat mengirim Bwe Yau sampai dikota Tok coa sia!"
Dengan cepat Hui coa longkun membisikkan sesuatu kepada suhengnya, lalu berkata.
"Begitulah usulku!"
Kim coa longkun Pit Lee beng dan Gin coa longkun Ouyang Si segera manggut manggut berulang kali.
Menyusul kemudian masing masing orang pun meloloskan ular beracunnya dan menyebarkan diri di empat penjuru untuk mengepung kakek bungkuk dan nenek buta tersebut di tengah arena.
Dengan suara lantang Kim coa longkun lantas berkata.
"Aku tahu kalau ilmu silat yang cianpwe miliki sudah mencapai tingkatan yang luar biasa, apabila boanpwe harus bertarung satu lawan satu, kami akui bukan tandingan oleh sebab itu sengaja kami atur sebuah barisan Su coa tin (barisan empat ular) untuk mengurung kalian, jika kamu berdua sanggup untuk mematahkan barisan ini, kami akan mengaku kalah dan terserah pada keputusan cianpwe!"
Belum lagi kakek bungkuk itu menjawab, si nenek buta telah berkata lebih duluan.
"Ucapan tersebut kalian katakan sendiri sampai waktunya jangan menyesal nanti!"
"Tentu saja!"
Kata Kim coa longkun.
"Cianpwe!"
Kata Hui coa longkun pula.
"tak ada salahnya jika kalian utarakan maksud kedatanganmu, bila kami sanggup untuk melakukannya buat apa suatu pertarungan harus dilangsungkan?"
"Sesungguhnya kamipun tidak mempunyai perselisihan yang terlalu besar dengan kalian"
Kata si nenek buta.
"cuma sinona yang berada didalam kereta itu kebetulan adalah anak dari seorang teman kami dia adalah murid Seng hong tianglo yang bernama Bwe Yau aku minta agar kalian suka meninggalkannya kepada kami"
Begitu mendengar ucapan tersebut, Hui coa longkun segera memberi kerdipan mata kepada ketiga orang suhengnya yang berarti.
"Dugaanku tidak salah bukan!"
Kim coa longkun segera menggelengkan kepalanya berulang kali, ujarnya dengan cepat.
"Permintaan dari Cianpwe itu maaf bila boanpwe tak sanggup untuk menemuinya!"
"Kenapa?"
"Betul si nona Bwe Yau yang berada didalam kereta itu adalah murid Seng hong tianglo dari luar perbatasan, tapi dia merupakan selir yang dihadiahkan pihak Ki thian kau untuk suhu kami, jangankan boanpwe tak berhak untuk menyerahkannya kepada cianpwe sekalipun berhak juga tak bisa kami penuhi"
"Heeehh... heeehh... heeehh... kalau begitu, kalian bersikeras hendak menyelesaikan persoalan ini lewat kekerasan?"
Seru si kakek bungkuk sambil tertawa seram.
"Maaf sekali lagi maaf, tampaknya terpaksa kita harus menyelesaikannya dengan cara ini"
Kakek bungkuk itu mengulapkan tangannya, agaknya dia enggan untuk banyak berbicara lagi.
Pelan pelan si nenek buta itu berjalan menghampiri si kakek bungkuk dan berdiri saling bertolak belakang, lalu ejeknya.
"Mengapa kalian tidak segera menggerakkan barisan?"
Kim coa longkun mengiakan, begitu tanda diberikan, empat orang itu segera bergerak maju kedepan.
Sementara barisan mulai bergerak, segera diam diam Hui coa long kun mengeluarkan sebutir peluru kabut dan dilontarkan ke depan...
Segulung kabut putih yang tebal sekali dengan cepat menyelimuti seluruh angkasa dan mengurung sekeliling tubuh si kakek bungkuk dan nenek buta tersebut.
Untung saja kedua bilah pedangnya telah menciptakan selapis dinding pertahanan yang sangat kuat, sehingga untuk sesaat lamanya keempat longkun itu tak berdaya apa apa.
Hui coa longkun dengan cepat mengundurkan diri dari barisan, kepada sibunga mawar beracun Hong Hiang kim serunya.
"Suci, lebih baik kita bawa kabur Bwe Yau dari tempat ini!"
Dengan cepat si bunga mawar beracun melompat masuk ke dalam ruang kereta, menotok jalan darah bisu Bwe Yau dan melarikannya menuju ke arah barat.
Sementara itu, si kakek bungkuk dan si nenek buta yang berada didalam barisan sama sekali tidak menyadari akan hal itu.
ooodoOoeooo Belum sampai kabut tebal yang menyelimuti arena itu menipis, sekali lagi Thi coa long kun melepaskan sebutir peluru kabut lagi, sehingga kabut yang menyelimuti sekeliling tempat itu semakin menebal.
Menggunakan kesempatan itulah Thi coa long kun melarikan diri meninggalkan tempat itu.
Kemudian rekan rekan yang lainnya juga mundur satu per satu sehingga satu jam kemudian mereka sudah kabur tak berbekas.
Dengan demikian, didalam barisanpun tinggal si kakek bungkuk serta si nenek buta.
Pelan pelan kabut putih itu semakin menipis dan akhirnya hilang lenyap, menanti pandangan mata sudah jelas kembali, kakek bungkuk itu baru menjerit kaget sebab secara tiba tiba ia tidak menemukan lagi bayangan tubuh dari keempat orang coa long kun.
"Kita sudah terjebak!"
Segera teriaknya.
"anakan iblis itu sudah pada kabur semua!"
Ketika kereta disisi jalan diperiksa, ternyata kereta itupun kosong melompong. Menyaksikan itu, si nenek buta lantas berkata.
"Ong toako, jangan kuatir, asal kita datangi kota Tok coa sia, bukankah segala sesuatunya akan beres?"
Rupanya si nenek buta itu adalah penyaruan dari Bwe Leng soat, tentu saja si kakek bungkuk tersebut adalah Ong It sin. Terdengar Ong It sin berkata.
"Konon kota Tok coa sia terletak diatas bukit Ko moy kan san di wilayah Ou hay, seratus li sekitar tempat itu tidak diperbolehkan orang menjamahnya, kita musti merubah paras muka kita lebih dulu"
"Kata suhu, suku bangsa yang berdiam di sekitar Ou hay bagian barat amat banyak dan bercampur aduk... kita akan menyamar sebagai suku bangsa apa?"
"Konon dalam suku Gi terdapat semacam bangsa yang disebut Cawa...!"
"Yaa, betul, suku Cawa juga terbagi jadi suku "gunung"
Dan suku "Han"
Orang orang suku Cawa gunung hidup disekitar selat Hi sia di bukit kunsan, selain berburu pekerjaan mereka juga bertani, tubuh mereka tinggi kekar, baik laki maupun perempuan selalu menyandang kelewang kalau kemana mana.
"Sedangkan didaratan rendah juga terdapat suku cawa yang hidup dikota dengan pekerjaan berdagang dan membuka toko, pakaian mereka lebih rapi dan kulit badannya juga bersih, yang perempuan pun suka berdandan, karena lebih mirip bangsa Han, maka mereka disebut suku Cawa Han! Bagaimana kalau kita menyamar sebagai suku Cawa Han saja?"
"Baik, aku setuju!"
Maka merekapun segera mengerahkan ilmu meringankan tubuhnya masuk kedalam rumah untuk memulihkan kembali wajah asli mereka.
Keesokan harinya, berangkatlah kedua orang itu meninggalkan kota Thoan menuju ke Au hay, dalam perjalanan kebetulan sekali mereka menjumpai ada sekawanan begal sedang merampok belasan orang saudagar disuatu tanah perbukitan.
Dengan kepandaian silat yang dimiliki Ong It sin dan Bwe Leng soat, tentu saja secara mudah kawanan pembegal itu berhasil diringkus.
Sudah barang tentu kawanan saudagar itu merasa berterima kasih sekali atas pertolongan mereka.
Diantara rombongan saudagar itu terdapat seorang kakek berusia enam puluh tahunan.
Tampaknya dia merupakan saudagar terkaya dalam rombongan itu, dia mengakui dirinya she Beng dan seorang suku Cawa Han.
Dia bertempat tinggal dibawah kaki bukit Kome kan san.
Oleh karena saudagar Beng itu merasa kagum sekali dengan kehebatan sepasang muda mudi ini, diapun lantas berkata.
"Sauhiap berdua, mungkin kalian sedang berpesiar ke wilayah Ou hay, kebetulan tempat tinggalku tidak jauh, bersediakah kau untuk menginap selama beberapa hari dirumah kami?"
Tentu saja dengan senang hati Ong It sin menerima tawaran tersebut. Sedangkan Bwe Leng soat buru buru berseru.
"Aaah... kalau kami menginap dirumah Beng Lo sianseng, tentu akan merepotkan dirimu?"
"Lohu sudah lama sekali mengagumi kegagahan orang persilatan, betul kita belum pernah kenal sebelumnya, tapi setelah bersua hari ini, bagaimanapun juga kalian musti memberi muka kepadaku. Nona, harap kau jangan berkata begitu"
"Kalau memang Lo sianseng berkata begitu, bila kami tampik lagi, tentu kurang sopan namanya..."
Beng sianseng itu menjadi sangat gembira, serunya kemudian.
"Kalau begitu mari kita berangkat, sebelum matahari tenggelam nanti, kita akan sampai dirumah!"
Dengan cepat dia melarikan kudanya untuk membawa jalan.
Sejak itu sampailah mereka dirumahnya, dengan cepat kakek Beng memperkenalkan Ong It sin berdua kepada keluarganya.
Selain itu, dia pun menambahkan.
"Waktu berada di Siong im tadi, kami telah bertemu dengan begal, untung saja muncul Ong sauhiap dan Bwe lihiap yang berhasil menaklukkan begal begal itu, kalau tidak bisa ludas semua uangku dirampok mereka..."
Kakek Beng mempunyai istri dan gundik sebanyak tujuh orang, sedang putra putrinya mencapai dua puluh orang lebih.
Ketika mendengar kalau Ong It sin dan Bwe Leng soat memiliki kepandaian yang luar biasa timbul perasaan kagum dihati mereka.
Tentu saja mereka sekeluarga menganggap Ong It sin berdua sebagai tamu agung.
Malam harinya diselenggarakan perjamuan untuk menghormati tamunya, bukan saja semua hidangan lezat dihidangkan, juga disediakan arak Siong le ciu dan nyanyian serta tarian yang menawan.
Sampai tengah malam, perjamuan baru bubar.
Jangan dilihat bangunan rumah kakek Beng sangat besar, ternyata lelaki perempuan semuanya tidur menjadi satu.
Bwe Leng soat merasa kurang leluasa, tapi Ong It sin segera berkata.
"Yang penting kan tidurnya, kenapa musti canggung canggung?"
Bwe Leng soat segera mengerling sekejap ke arahnya, lalu berseru.
"Hmm... kau anggap aku tidak mengetahui akal bulusmu? Bukankah kau memang berharap bisa tidur bersama aku?"
Ong It sin segera mengangkat bahunya dan berkata.
"Itulah rejekiku, aku juga tak bisa apa apa!"
"Ciss... rejekimu ada dikota ular beracun!"
Menyinggung kembali kota ular beracun Ong It sin segera menunjukkan kembali kemurungannya. Melihat pemuda itu bermuram durja, buru buru Bwe Leng soat menarik ujung bajunya sambil berkata.
"Tidurlah! Besok kita cari keterangan lagi dari Beng lo sianseng tentang kota ular beracun itu"
Ong It sin pun segera menjatuhkan diri ke atas ranjang dan tidur.
Keesokan harinya ketika mereka berdua baru bangun dari tidurnya, sarapan pagi telah menanti diruang depan.
Buru buru mereka membersihkan badan kemudian bersantap.
Saat itulah mereka baru tahu kalau tuan rumah bernama Beng Jit Ciong.
Tiba tiba Bwe Leng soat bertanya.
"Beng lo sianseng, apakah disini terdapat tempat yang indah untuk dikunjungi?"
Sebelum Beng Jit Ciong menjawab, gundik kesayangannya Kim Hoa telah menimbrung.
"Tempat setan semacam ini kalau bukan banyak ular beracunnya, yang ada cuma kabut beracun, tak ada sebuah tempat pun yang baik dikunjungi..."
"Tapi, bukankah disini terdapat sebuah tempat yang disebut kota ular beracun? Kenapa tidak ajak kami untuk berpesiar ke situ..."
Kata Ong It sin. Belum lagi ucapan tersebut selesai diucapkan, paras muka Beng Jit Ciong dan Kim Hoa telah berubah hebat. Ong It sin segera berkata lagi.
"Kalau dilihat dari sikap lo sianseng yang begitu ketakutan, jangan jangan kota ular beracun adalah suatu tempat yang berbahaya?"
Beng Jit Ciong segera menghela napas panjang sahutnya.
"Yaa siapa bilang tidak? Konon pemilik kota ular beracun itu adalah seorang gembong iblis yang lihay sekali, bukan saja dia sanggup makan daging ular mentah ilmu silatnya lihay sekali, anak muridnya seringkali berkeliaran dibawah gunung lagi pula sudah menaklukkan semua suku Cawa gunung. Konon setiap musim semi dan gugur, mereka diwajibkan membayar upeti yang tak kecil jumlahnya.
"Upeti yang bagaimana?"
"Katanya sebagai batok kepala yang ada disitu, terhitung dari mereka yang baru lahir sampai yang sudah tua, pokoknya setiap orang hidup harus membayar pajak sebesar sepuluh tahil perak untuk setiap setengah tahun "Seandainya tidak mau membayar?"
"Makanya gembong iblis itupun mengutus orang untuk memenggal batok kepala orang yang tak mau membayar itu"
"Jika cuma satu orang?"
"Satu batok kepala pula yang dipenggal!"
"Jika seluruh keluarga tidak membayar?"
"Seluruh keluarga juga dibantai!"
"Kalau segenap suku Cawa gunung tak mau membayar?"
"Setiap orang takut mati, siapa yang berani menyerempet bahaya, bahkan kepala suku pun tak berani membangkang!"
"Bedebah ini benar benar terkutuk!"
Seru Ong It sin dengan geram. Berbicara sampai disitu, mendadak ia teringat akan sesuatu, tanyanya lagi.
"Siapakah yang mereka utus untuk menarik upeti tersebut?"
"Siapa lagi kalau bukan keempat Coa long kun?"
"Sekarang baru saja tahun baru, apakah inilah saatnya untuk membayar upeti?"
"Kalau tahun lalu mah sudah dimulai, tahun ini agak sedikit terlambat, mungkin hari ini atau besok penarikan upeti itu baru akan dimulai..."
Ong It sin manggut manggut, katanya kemudian.
"Sejak pihak kota ular beracun menarik upeti kepada rakyat gunung, pernahkah terjadi penentangan atau perlawanan?"
"Dalam beberapa tahun pertama memang pernah terjadi peristiwa semacam itu, tapi para penentang tak seorangpun yang mampu mempertahankan batok kepalanya, oleh sebab itu beberapa tahun belakangan ini tak seorangpun yang berani melawan!"
"Kenapa para kepala suku tak mau menghimpun massa untuk melakukan perlawanan"
"Persoalan ini pernah dirundingkan, meskipun ular ular beracun tidak sampai membuat kami keder, namun terhadap jago jago persilatan yang berilmu tinggi, terus terang saja kami agak kewalahan!"
"Aku mempunyai kemampuan untuk membunuh orang orang jahat itu, cuma bersediakah kalian untuk menentang kekuasaan mereka?"
Mendengar perkataan itu, Beng Jit Ciong menjadi sangat gembira, dia pernah menyaksikan kelihayan ilmu silat yang dimiliki Ong It sin berdua, maka katanya.
"Jika kalian berdua bersedia memberi bantuan, suku kami tentu akan merasa sangat berterima kasih sekali"
"Dalam hal ini kita perlu menjaga rahasia, kenapa tidak kau undang kepala suku itu untuk datang berunding?"
"Baik, lohu segera akan berangkat ke rumahnya, maaf!"
Selesai berkata ia lantas mohon diri dan berlalu.
Dalam ruangan, Kim Hoa menggantikan kedudukan tuan rumah untuk menemani tamunya berbincang bincang.
Sungguh tak disangka perempuan dari suku asing ini lancar sekali dalam penggunaan bahasa Han.
Maka pembicaraanpun bisa dilangsungkan dengan amat santai dan riang...
Menggunakan kesempatan itu, Ong It sin dan Bwe Leng soat menanyakan pula sekitar adat istiadat suku Cawa, saat itulah mereka baru tahu kalau gadis gadis suku Cawa Han lebih suka kawin dengan bangsa Han daripada dengan bangsa lain.
"Kenapa?"
Tanya Ong It sin keheranan.
"Sebab suku kami sangat menaruh hormat terhadap orang orang bangsa Han..."
Jawab Kim Hoa.
"Seandainya hendak kawin dengan seorang dari suku Cawa Han, pinangan harus diajukan secara terus terang? Ataukah melewati mak comblang?"
Dengan pandangan tercengang Kim Hoa segera memandang kearahnya, lalu berseru "Ong siangkong, apakah kau... kau sudah tertarik dengan nona dari suku kami?"
Ong It sin kuatir terjadi kesalah pahaman, buru buru sangkalnya.
"Oooh... tidak, aku tidak bermaksud demikian! Apalagi... aku sudah mempunyai calon istri"
Karena kuatir Kim Hoa tidak percaya, dia lantas menuding kearah Bwe Leng soat. Kim Hoa memandang sekejap ke arah Bwe Leng soat, kemudian pujinya.
"Kalian memang benar benar pasangan sejoli yang sangat ideal sekali...!"
Setelah berhenti sebentar, katanya lagi.
"Kalau bangsa Han yang melamar, jika dipakai perantara Mak comblang, maka hal ini malah terasa canggung, cara yang paling tepat adalah menggunakan siasat pura pura dagang, sedangkan barang dagangannya harus terdiri dari pupur, gincu, jarum dan benang. Biasanya jika pedagang semacam ini muncul maka para gadis dan perempuan muda akan berkerumun untuk membeli barang dagangan, nah pada saat itulah si pria bisa menggunakan seleranya untuk memilih calon istri.
"Jika cocok dengan pilihannya, sore itu kau boleh datang ke rumahnya dengan membawa sedikit hadiah kecil, sudah pasti keluarganya akan menyambut kedatanganmu dengan senang hati.
"Cuma suku kamipun mempunyai suatu adat, yakni kalau naik ranjang tak boleh lepas sepatu, bila ada orang berani melanggar pantangan ini, bisa jadi teman akan menjadi lawan, malahan kadangkala bisa bertengkar hingga pisaupun turut bicara!"
"Wouw, untung saja kami tidak melanggar pantangan tersebut"
Seru Bwe Leng soat sambil menjulurkan lidahnya.
Pada saat itulah, tiba tiba berkumandang suara derap kaki kuda yang ramai, kemudian dari balik pintu gerbang muncul dua ekor kuda.
Penunggang kuda itu selain Beng Jit Ciong tampak juga seorang kakek berambut putih.
Kim Hoa juga melihat kedatangan mereka, segera serunya.
"Toako benar benar telah datang!?"
Beng Jit Ciong segera memperkenalkan kepala suku itu kepada semua orang ternyata kepala suku itu bernama Beng Sam wi.
Meskipun usianya sudah lanjut, tapi semangatnya masih segar, keren dan berwibawa.
Setelah duduk, Beng Jit Ciong segera memerintahkan semua pelayannya untuk mengundurkan diri, tinggal Kim Hoa seorang yang berada disitu.
Dikala Beng Sam wi bertemu dengan Ong It sin dan Bwe Leng soat, dengan cepat wajahnya menampilkan keragu raguannya.
Sebenarnya dia mengira dua orang jago itu adalah kakek atau nenek yang hebat, tak tahunya kedua orang itu adalah muda mudi yang masih muda belia.
Dengan cepat pikirnya.
"Bocah ingusan yang masih berbau tetek macam mereka, mana mungkin bisa dibebani tugas besar?"
Maka kata kata sambutan meriah yang semula telah dipersiapkan segera diurungkan semua, tak sepatah katapun yang dia katakan.
Sementara itu Beng Jit Ciong telah berkata "Toako, dalam dua tiga hari mendatang, pihak kota ular beracun pasti akan mengutus orang lagi untuk menarik pajak, apa rencanamu?
Silahkan diutarakan"
Sahut Beng Sam wi dengan kening berkerut.
"Aku rasa sebelum persoalan meyakinkan lebih baik jangan bertindak secara sembarangan, apalagi menggunakan nyawa suku kami sebagai barang mainan!"
Jelas dia bukan seorang manusia yang gampang percaya kepada omongan orang lain. Beng Jit Ciong menjadi tak senang hati setelah mendengar perkataan itu, katanya.
"Toako, barusan kau masih bilang hendak melakukan perlawanan secara besar besaran terhadap pihak kota ular beracun, sekarang kenapa kau berubah pikiran?"
"Lain tadi lain sekarang..."
Agaknya Beng Jit Ciong dapat menangkap maksud hati yang sebenarnya dari kepala suku itu, segera katanya.
"Toako, apakah kau tidak percaya kalau Ong siangkong dan Bwe lihiap adalah jago jago silat yang berilmu tinggi?"
Dibongkar rahasia hatinya, Beng Sam wi menjadi tersipu sipu dibuatnya cepat ujarnya.
"Bukannya aku tak percaya kepada temanmu itu, cuma pengaruhnya bisa besar sekali"
"Lantas bagaimana menurut maksud toako"
"Kalau bisa aku ingin menyaksikan dulu kepandaian silat yang dimiliki sobatmu itu, kemudian baru mengambil keputusan."
Mendengar permintaan tersebut, Beng Jit Ciong menjadi serba salah dibuatnya. Ong It sin yang mendengar ucapan itu segera tertawa terbahak bahak.
"Haaahh... haaahh... haaahh... pendapat kepala suku memang tepat sekali!"
Berbicara sampai disitu, dia lantas berpaling kearah Bwe Leng soat seraya berkata.
"Tampaknya kita musti memperlihatkan kejelekan!"
"Biar aku saja yang membuka acara dan kau menutup acara nanti!"
Begitu selesai berkata gadis itu segera melayang keatas pohon besar lebih kurang dua puluh kaki dari ruangan sambil katanya dengan senyuman dikulum.
"Akan kuperlihatkan ilmu meringankan tubuh lebih dulu, kemudian baru berlatih pedang"
Setelah sepasang kakinya mencapai puncak ranting pohon itu, sambil tertawa pedangnya segera diputar kencang kian kemari menciptakan serentetan cahaya tajam.
Dalam waktu singkat tubuhnya sudah menerobos kian kemari disekitar pohon itu dengan tubuh yang enteng seperti burung walet, kemudian tahu tahu dia sudah berdiri kembali dihadapan mereka dengan pedang tersoren didalam sarung.
Ketika Beng Sam wi dan Beng Jit Ciong mengalihkan sinar matanya kearah pohon itu, dengan cepat kedua orang itu berdiri tertegun dengan mata terbelalak dan mulut melongo.
Ternyata pohon besar itu sudah berubah bentuknya menjadi bulat telur bagus potongan itu seakan akan dikerjakan oleh seorang ahli gunting yang cekatan.
Tanpa terasa kedua orang kakek itu menghela napas panjang, gumamnya.
"Aaai... pada hakekatnya jauh lebih cepat daripada burung!"
"Itu mah masih belum terhitung seberapa"
Kata Bwe Leng soat.
"ilmu silat yang dimiliki engkoh Ong berapa kali lipat lebih hebat daripada kepandaianku!"
"Adik Soat, pandai benar kau mengibul"
Seru Ong It sin sambil tertawa lebar.
"Lohu bersaudara ingin sekali dapat menyaksikan kehebatan ilmu silat dari sauhiap!"
Pinta Beng Jit Ciong.
"Baiklah, kalau begitu akan kudemonstasikan ilmu pukulan!"
Kebetulan diatas langit ada tiga ekor burung manyar sedang terbang rendah, pemuda itu segera mengayunkan jari tangannya ke udara, tiba tiba saja ketiga ekor burung itu terjatuh ke bawah.
Ong It sin segera mengayunkan kembali telapak tangannya, ketika burung burung itu hampir mencapai tanah, tahu tahu mencelat kembali ke udara dan terhisap kedalam genggamannya.
Pemuda itu segera meraba tubuh burung burung itu, aneh sekali, ternyata burung burung manyar itu segar kembali dan segera terbang meninggalkan telapak tangannya.
Selama hidup dua bersaudara Beng itu belum pernah menyaksikan kelihayan ilmu silat semacam ini, kontan saja mereka mengagumi berulang kali.
Sebenarnya Ong It sin tak ingin terlalu memperlihatkan kehebatan ilmu silatnya, tapi Beng Sam wi ngotot minta didemonstrasikan ilmu pukulan...
Dengan perasaan apa boleh buat terpaksa Ong It sin mendekati sebatang pohon seraya berkata.
"Akan kugunakan pohon ini sebagai sasaran, bila pukulan tidak mencapai sasaran nanti, harap suka dimaafkan!"
Selesai berkata dia lantas mengayunkan kepalannya dan melancarkan tiga buah pukulan.
"Duuuk! Duuuk! Duuuk!"
Tiga kali pukulan bersarang telak diatas pohon dan menimbulkan tiga buah lubang yang dalam sekali.
Setelah kenyataan menunjukkan bahwa sepasang muda mudi itu berilmu tinggi, maka Beng Sam wi tidak ragu ragu lagi, dia segera menghimpun segenap anggota sukunya untuk bersama sama bangkit dan melawan kekuasaan Tok coa sia.
Ujar Ong It sin kemudian.
"Aku minta kalian suka merahasiakan kejadian hal ini kepada siapa saja, sebab jika rahasia ini sampai bocor, bisa jadi pihak Tok coa sia urung mengirimkan utusannya, kalau mereka sampai menunggu kepergian kami, wah saat itulah kalian bakal semakin runyam!"
"Tentu saja kami tak akan begitu bodoh!"
Sahut dua orang she Beng bersama. Serapat rapatnya rahasia ditutup, akhirnya akan bocor juga, apakah kalian tidak takut rahasia ini sampai bocor keluar.
"Untung saja orang yang mengetahui kejadian hari ini tidak banyak jumlahnya, asal mereka dilarang keluar dari rumah, urusan kan beres?"
"Ehmm... memang cara itu bagus sekali"
Kata Ong It sin. 0oo0d0w0oo0
Jilid 27 SETELAH berpikir sebentar ujarnya lagi.
"Tapi alangkah baiknya jika aku dan adik Soat menyaru sebagai anggota suku kalian, dengan begitu rahasia kami baru tak akan sampai ketahuan orang!"
"Bagus, memang cara itupun bagus sekali"
Beng Sam wi segera setuju. Menanti Ong It sin berdua telah berganti pakaian, mereka baru bertanya lagi.
"Menurut kebiasaan ditahun tahun lalu, para utusan dari Tok coa sia akan mulai menarik upetinya dari mana?"
"Biasanya dari dusun kami!"
Sahut Beng Sam wi.
"Kalau begitu, kami akan menanti disitu"
Tak lama setelah mereka tiba dirumah kepala suku, benar juga, dari atas bukit muncul serombongan manusia, empat orang yang berjalan dipaling depan adalah Su coa long kun.
Begitu sampai ditempat tujuan, tanpa sungkan sungkan mereka langsung masuk ke dalam ruang tengah.
Dengan gaya yang sok Kim coa longkun langsung maju ke kursi kebesaran ditengah ruangan, tapi ketika dilihatnya tiada hidangan yang dipersiapkan, dengan tak senang hati ia lantas menegur kepada kepala suku.
"Apakah uang upeti sudah dipersiapkan?"
Beng Sam wi pura pura tertegun, lalu serunya.
"Kau bilang apa?"
"Aku bilang, bagaimana dengan uang pajak yang harus dibayar oleh suku kalian?"
"Selama beberapa tahun ini, semua tabungan suku kami telah ludas di tangan kalian ibaratnya tahu yang di pres, ampasnyapun sudah mengering, darimana datangnya uang yang bisa dipersembahkan lagi kepada kalian?"
Dengan gusar Kim coa long kun segera menggebrak meja, teriaknya.
"Kurang ajar jadi kalian berani tidak bayar pajak?"
Belum sempat Beng Sam wi menjawab, seorang pemuda yang berada disampingnya telah menimbrung.
"Kau toh bukan kaisar atau pemerintah yang sah, atas dasar apa kami harus menyerahkan uang kami kepada kalian?"
Rupanya ucapan tersebut semakin menggusarkan Kim coa longkun, dengan geramnya dia berteriak.
"Bocah keparat, tampaknya kau sudah bosan hidup?"
Beng Sam wi yang berada disisinya sengaja menjura sembari katanya lagi.
"Longkun, aku lihat lebih baik kau menasehati kepada majikan kalian agar membatalkan saja niatnya untuk menarik pajak kepada kami, lagi pula gading ular yang dikirim setiap tahunnya ke pelbagai daerah juga telah mendatangkan keuntungan yang sangat besar, apalah gunanya memeras kami orang orang miskin?"
Belum selesai ucapan itu diutarakan, Thi coa Longkun Ong Eng telah mengayunkan telapak tangannya hendak menampar.
"Kentut busuk!"
Teriaknya. Tapi sebelum tamparan itu mengena di wajah Beng Sam wi, pemuda yang berada disampingnya telah menangkis tangan dari Ong Eng tersebut. Melihat itu, Thi coa Longkun segera mengejek.
"Makanya aku jadi heran, kenapa kau si tua bangka berani membangkang terhadap perintah kami, rupanya diantara suku kalian ada juga seorang jagoan silat"
"Benar!"
Sahut pemuda itu sambil tertawa seram.
"kami memang pulang kemari setelah belajar ilmu, kami tak akan mengijinkan kalian memeras suku kami"
Kontan saja keempat orang Coa Longkun itu tertawa terbahak bahak, ejeknya.
"Bocah keparat yang tak tahu tingginya langit dan tebalnya bumi, kau anggap dengan kepandaian silat kucing kaki tigamu itu sudah bisa berlagak sok jagoan. Masih selisih jauh!"
Siapa tahu pemuda lain yang berkulit hitam dan berusia lebih tua-an tertawa dingin tiada hentinya, kemudian berseru.
"Hei, kalau omong besar apa tidak takut lidahnya kesambar petir?"
Thi Coa Longkun sudah tak kuasa menahan diri dia telah bersiap siap untuk turun tangan. Tapi Hui Coa Longkun segera berbisik.
"Diluar sana telah berkumpul beribu orang suku Cawa, untuk merontokkan kegagahan mereka, lebih baik kita unjuk gigi dilapangan sebelah depan saja"
Thi Coa Longkun segera manggut manggut, sambil tertawa dingin katanya kemudian.
"Bocah keparat, beranikah kau berduel melawan pun Longkun?"
"Mau bertarung satu lawan satu ataukah empat melawan satu?"
Tantang sipemuda berkulit hitam. Dengan sombong Thi coa longkun berkata.
"Untuk membereskan seorang cecunguk macam kau seorang saja sudah lebih dari cukup, kenapa musti empat lawan satu?"
"Kalau begitu bagus sekali!"
Dengan cepat semua orang menuju ketanah lapang gunung. Setelah semua orang memasang posisi, pemuda kecil berkulit putih tadi segera melompat kedalam arena sambil katanya.
"Untuk membereskan bedebah semacam ini, buat apa musti merepotkan dirimu?"
Sementara itu Thi Coa longkun telah mengganti ular bersisik besinya dengan ular yang lain, tapi ia tidak mempergunakannya begitu turun tangan sebuah pukulan dahsyat segera dilontarkan ke arah pemuda kecil berkulit putih itu.
Meskipun dalam serangan ini ia tidak sertakan tenaga penuh, tapi ketika terjadi bentrokan kekerasan, sepasang bahu pemuda putih itu tampak bergetar keras.
Hal ini menandakan kalau tenaga dalam yang dimiliki pemuda itu masih berada dibawah kepandaian Thi Coa longkun.
Melihat itu, Ong Eng merasa lega hati, sambil tertawa terbahak bahak segera ujarnya.
"Bocah keparat, kau sanggup menerima delapan bagian tenaga pukulanku, tak heran kalau kau sombong, rasain sebuah pukulanku lagi!"
Hawa murninya segera dihimpun ke dalam lengan kanannya, kemudian sebuah pukulan dilepaskan ke depan.
Tapi kali ini dengan cekatan pemuda berkulit putih itu berhasil menghindarkan diri ke samping.
Menyaksikan serangannya mengenai sasaran yang kosong, Thi coa longkun menjadi naik darah, teriaknya.
"Hmmm! Dengan andalkan kepandaian serendah inipun berani bermusuhan dengan Tok coa sia!"
OoooOoooo Serangkaian pukulan dahsyat segera dilontarkan ke depan meneter musuhnya habis habisan, terasa angin pukulan menderu deru. Melihat itu, sipemuda berkulit putih tadi berpikir.
"Tak heran kau berani berbuat kejahatan, rupanya kau memang memiliki sedikit kepandaian!"
Maka dibawah perlindungan hawa murni Toa boan yok sinkang, dia mulai melancarkan serangan serangan balasan yang maha dahsyat.
Kedahsyatan dari serangan itu tampaknya sama sekali diluar dugaan Kim Coa Longkun sekalian, membuat mereka jadi tertegun untuk sesaat lamanya.
Sementara itu Thi coa long kun sudah dibikin kalang kabut tak karuan, sekarang ia sudah tak sanggup melancarkan serangan lagi, apa yang bisa dilakukan hanya repot menyelamatkan diri.
Sementara itu ketiga puluhan orang lelaki baju putih yang datang dari kota Tok coa sia hanya berdiri dengan mata buas dan wajah menyeringai seram.
Kejut dan marah telah menyelimuti seluruh benak Thi coa long kun yang berada di tengah arena, jurus serangannya makin lama semakin kacau, apalagi dia hanya memburu mencari kemenangan, ini membuat pertahanannya semakin diabaikan.
Dengan begitu, maka titik kelemahan dibagian dadanya menjadi terbuka sama sekali.
"Losam, jangan lupa dengan pertahanan sendiri!"
Teriak Hui coa long kun Wan Hiong memperingatkan rekannya.
Sayang teriakan tersebut sudah terlambat.
Tampak pemuda ceking berkulit putih itu secara beruntun telah menggetarkan jari tangannya sebanyak tiga kali.
Desingan angin tajam menderu deru dan membelah angkasa.
"Sreet! Sreet! Sreet!"
Tiga desingan angin serangan langsung menyergap jalan darah Ki bun hiat, Jit kan hiat dan Hu ciat hiat ditubuh Ong Eng.
Seketika itu juga Ong Eng mendengus tertahan, tubuhnya bagaikan sebuah pagoda besi yang ambruk, begitu mencium tanah tewaslah dia seketika itu juga.
Sengaja pemuda ceking berkulit putih itu mengatur napasnya yang memburu lalu berseru.
"Maaf! Maaf!"
Gin coa long kun Ouyang Si memburu ke depan dan memeriksa napas rekannya, pada waktu itulah dia baru menyadari kalau Ong Eng sudah tidak bernapas lagi, dengan gusar dia lantas membentak.
"Bocah keparat, sungguh keji serangan itu!"
"Apakah tidak kau lihat bahwa rekanmu itu amat bernapsu untuk membunuhku? Sekarang, mangapa pula kau menyalahkan diriku?"
Seru pemuda ceking berkulit putih itu lagi dengan napas tersengkal.
Sekalipun agak kasar, ucapan ini memang amat beralasan sekali dan masuk diakal.
Gin coa longkun Ouyang Si dengan senyum tak senyum lantas berseru.
"Sobat, ilmu silat yang kau miliki tidak lemah, aku perlu memohon petunjuk darimu!"
"Jangan, aku sudah letih, biar suhengku saja yang akan menggantikan diriku!"
Sahut si pemuda ceking sambil menggoyangkan tangannya.
"Hmm! Setelah membunuh orang, kau masih ingin mundur dengan aman sentausa? Tak akan gampang itu!"
"Tidak bisa jadi, didalam melancarkan ketiga buah totokan tadi aku telah mempergunakan hampir segenap tenaga yang kumiliki sekarang keadaanku sudah payah sekali."
Mendengar ucapan tersebut, Gin coa long kun Ouyang Sin bertambah girang, dia menganggap keberuntungan ini dengan cepat dapat diraih olehnya.
Maka tanpa membuang waktu lagi dia langsung menerjang dan sekaligus melancarkan tujuh buah pukulan dan tiga buah tendangan berantai...
Kontan saja si lelaki ceking itu kena didesak sampai mundur terus berulang kali, teriaknya keras keras.
"Hei, sebetulnya kau mengerti soal peraturan dunia persilatan atau tidak..."
"Berkaok kaok apa kau? Locu akan bunuh dirimu!"
Teriak Gin coa long kun Ouyang Si dengan gusar.
Ketika dilihatnya pemuda ceking berkulit putih itu tidak melancarkan serangan balasan, dia bertambah tekebur dan jumawa.
Beng Sam wi yang berada di samping arena menjadi gelisah sekali, kepada pemuda berkulit hitam yang ada disisinya, dia lantas berbisik.
"Cepat kau menggantikan kedudukan rekanmu itu!"
Kelihatan sekali betapa gelisah dan cemasnya kepala suku Cawa ini... Akan tetapi, pemuda jangkung berkulit hitam itu malahan acuh tak acuh jawabnya.
"Kepala suku yang terhormat, kau tak usah kuatir..."
Belum habis dia berkata, mendadak pemuda ceking berkulit putih yang sedang berlarian di tengah arena itu tidak bersuara lagi, sambil membalikkan badan tiba tiba ia melancarkan sebuah totokan...
Mimpipun Gin coa longkun tidak menyangka kalau secara tiba tiba pihak lawan bisa menyerang dengan ancaman selihay itu, kali ini dia benar benar terkecoh oleh tipu muslihat lawannya.
"Criiing!"
Diantara deruan angin tajam, tahu tahu segulung desingan angin tajam telah menyergap diatas tubuh bagian atasnya.
Dalam gugup dan gelisahnya, buru buru dia menarik dada dan lambungnya ke belakang dan menghindarkan diri dari ancaman nya terhadap pusar wan tian itu.
Kendatipun reaksi tersebut dilakukan cukup cepat, toh dia terluka parah juga oleh serangan musuh.
"Uaaak!"
Dia segera memuntahkan darah segar. Hui coa longkun buru buru maju ke depan dan membopong tubuh Gin coa longkun, setelah itu serunya.
"Kalian menghadang dibelakang, toako lindungi aku dan kita terjang menuju ke benteng Gan cay!"
Bagaikan baru sadar dari impian, lelaki berbaju putih itu serentak membentak keras lalu menerjang ke depan.
Sedangkan Kim coa longkun Lei Beng dan Hui coa longkun Wan Hiong segera menerjang keluar dari pintu benteng.
Tampaknya kawanan iblis itu berniat untuk melarikan diri dari tempat itu.
Tak tahan Beng Sam wi lantas berteriak keras.
"Rekan rekan sesuku, jangan biarkan mereka kabur dari sini!"
Begitulah, ketika Kim coa longkun Lei Beng yang melindungi Hui coa longkun sambil membopong Gin coa longkun sedang menyerang ke luar benteng, mendadak terdengar suara bentakan gusar menyusul bergemanya hardikan nyaring.
Kim coa longkun merasa amat kaget, buru buru dia kabur menuju kearah hutan sambil berteriak penuh rasa dendam.
"Kami pasti akan membalas dendam atas sakit hati ini..."
Belum habis perkataan itu diucapkan, mendadak sesosok bayangan manusia telah melayang turun dihadapannya dan menghadang jalan perginya.
"Heeehhh... heeehhh... heeehhh... kenapa kalian cuma mengurusi adikmu saja tanpa menggubris rekan yang lain? Masa ini adil?"
Tanpa terasa Kim coa long kun dan Hui coa long kun segera menghentikan langkah tubuhnya, setelah itu berkata.
"Kepandaian silat yang kau miliki betul betul lihay sekali, apakah kau hendak membunuh pula kami berdua?"
Pemuda jangkung berkulit hitam itu segera tertawa terbahak bahak.
"Haaahhh... haaahhh... haaahhh... memangnya kau anggap masih bisa kabur dari sini dalam keadaan selamat?"
Kim coa longkun menjadi gusar sekali setelah mendengar ucapan lawan yang dianggapnya jumawa itu. Sedangkan Hui coa long kun segera memutar sepasang biji matanya, lalu membentak pula.
"Kami akan adu jiwa denganmu!"
Dua orang itu segera melepaskan ular beracun yang berada diatas leher mereka, kemudian menyerang bersama ke arah musuhnya.
"Kurang ajar"
Bentak sang pemuda.
Secepat kilat sepasang telapak tangannya dibacok kebawah melepaskan serangan dahsyat.
sungguh dahsyat ancaman itu, ular bersisik emas dan ular beracun bersayap yang tak mempan dibacok dengan pedang atau golok itu tahu tahu sudah terpapas kutung pinggangnya dan mampu seketika itu juga.
Kim coa longkun Lei Beng serta Hui coa longkun Wan Hiong segera menjerit kaget, kemudian cepat cepat mengundurkan diri sejauh beberapa depa ke belakang.
Mereka sama sekali tidak mengira kalau kedua orang pemuda tersebut memiliki kepandaian yang sedemikian lihaynya, bagaikan bola yang kehabisan hawa, mereka terkulai lemas sekali, keadaannya persis seperti ayam jago yang kalah bertarung.
Setelah suasana hening untuk sesaat, Kim coa longkun Lei Beng baru berkata lebih dulu.
"Seandainya kau benar benar ingin bertarung dengan orang yang berilmu tinggi, mengapa tidak menantang guru kami saja?"
Pemuda jangkung berkulit hitam itu segera tertawa dingin.
"Hmmm... memangnya kau anggap aku takut?"
"Kalau kau tidak takut, mengapa tidak melepaskan kami untuk pulang ke gunung?"
"Lebih baik jangan menghitung swiepoa dengan seenaknya sendiri, orang sih akan kulepas, tapi bukan kau!"
Mendengar perkataan itu, Kim coa longkun menjadi tertegun dan membungkam dalam seribu bahasa. Sedangkan Hui coa longkun segera berseru.
"Kalau begitu aku yang hendak kau lepas?"
Kembali pemuda jangkung berkulit hitam itu menggelengkan kepalanya berulang kali.
"Kau juga tidak mendapat bagian!"
Sementara pembicaraan berlangsung, tampak kawanan lelaki berbaju putih itu sudah melarikan diri keatas gunung dengan keadaan yang kocar kacir tak karuan.
Tubuh mereka penuh berlepotan darah dan tinggal beberapa orang saja, berarti yang lihay sudah tewas diujung pedang musuh...
Ketika orang orang itu menyaksikan Kim coa longkun berdua belum pergi, tentu saja orang orang itu menjadi keheranan setengah mati.
Pada waktu itulah terdengar pemuda jangkung berkulit hitam itu berkata dengan suara lantang.
"Yang kulepaskan adalah mereka, sedang kalian berdua harus tetap tinggal disini"
Ketika Kim coa longkun menyaksikan harapan mereka untuk melarikan diri sudah semakin menipis, tiba tiba timbulkan sifat buasnya, dengan cepat dia merogoh kedalam sakunya dan mengeluarkan tiga bilah pisau terbang, kemudian secepat sambaran kilat disambitkan ke depan.
"Lihat saja kelihayan longkunmu!"
Serunya sambil menyeringai menyeramkan.
Tiga bilah pisau terbang itu dengan membawa selapis cahaya biru yang amat menyilaukan mata segera menyambar kedepan.
Tak bisa disangkal lagi, pisau terbang itu sudah pasti telah dipolesi dengan racun yang ganas.
Pemuda jangkung berkulit hitam itu menjadi naik darah, dengan suara menggeledek segera bentaknya.
"Kurang ajar betul, kau tak boleh diampuni!"
Tubuhnya melayang kedepan, meski serangan dilancarkan belakangan ternyata bersarang dipunggung Kim coa longkun lebih duluan.
Bayangkan saja betapa dahsyatnya serangan yang menghantam ditubuh lawan itu, tak ampun lagi Kim Coa Longkun menjerit kesakitan kemudian roboh terkapar dan tewas seketika itu juga.
Dengan begitu dari empat orang Coa Longkun, dua orang telah tewas dan seorang lagi terluka parah.
Tinggal Hui Coa Longkun Wan Hiong seorang yang masih segar bugar, meski begitu semangat tempurnya hampir punah tak berbekas.
Dengan suara lirih dan penuh diliputi rasa kuatir, orang itu lantas berseru.
"Tentunya kau tak akan melancarkan serangan keji terhadap seseorang yang sudah tak bertenaga untuk melawan bukan?"
"Hmm, hitung hitung anggap saja kau memang tahu diri"
Setelah berhenti sebentar, terusnya.
"Walaupun aku tak akan membunuhmu, tapi kau tak bisa memperoleh kebebasan untuk bergerak!"
Suatu totokan kilat dengan cepat merobohkan pula jagoan dari kota ular beracun itu.
Semua peristiwa ini kontan saja membuat beberapa orang lelaki berbaju putih yang berhasil melarikan diri itu menjadi ketakutan setengah mati, tanpa disadari mereka telah menjatuhkan diri berlutut diatas tanah dan mohon ampun.
Pada saat itulah, si kepala suku Beng Sam wi telah muncul pula ditempat itu.
Serentak kawanan lelaki berbaju putih itu berseru sambil merengek rengek.
"Kepala suku Beng, harap kau orang tua bersedia mengampuni selembar jiwa kami, kau toh tahu, urusan memungut pajak ini sama sekali tak ada sangkut pautnya dengan kami!"
"Kalau begitu cepat enyah dari sini!"
Bentak kepala suku Beng.
"lain kali jangan mencoba coba untuk mengacau tempat kami lagi"
Bagaikan mendapat pengampunan besar, beberapa orang lelaki berbaju putih itu segera melompat bangun dan melarikan diri terbirit birit meninggalkan tempat itu.
Beng Sam wi segera menitahkan orang untuk menggotong pergi Hui Coa Longkun dan Gin Coa Longkun.
Dan pertarungan pun untuk sementara waktu telah berakhir.
Sementara itu semua rakyat suku Cawa yang berada dikota itu, baik yang lelaki yang perempuan, yang tua maupun yang muda sama sama bergembira ria menyambut kemenangan tersebut, terutama sekali dua bersaudara Beng.
"Toako!"
Terdengar Beng Jit berseru "pilihanku ini tidak jelek bukan?"
"Dari mana aku bisa tahu kalau kepandaian yang dimiliki Ong sauhiap serta Bwe lihiap sebenarnya sedemikian hebatnya?"
Ong It sin yang menyaru sebagai pemuda jangkung berkulit hitam itu segera berkata.
"Lebih baik kalian jangan keburu gembira, besar kemungkinan Thian tok tay ong akan menyergap tempat kita pada malam nanti!"
"Lantas apa yang harus kita lakukan?"
Tanya Beng Sam wi dengan kening berkerut.
"Yang kami takuti justru bila dia tidak datang!"
"Tapi, apa baiknya bila dia datang kemari?"
Sela Beng Jit.
"Kami akan pergunakan kesempatan yang sangat baik ini untuk menghancurkan sarangnya, asal benteng kota ular beracun itu dimusnahkan sudah pasti gembong iblis tua itu akan memindahkan markasnya ke tempat lain, selain daripada itu, tindakan ini justru mempemudah usaha kami untuk menyerang kota ular beracun itu"
"Ong sauhiap, kau akan menghadapinya dengan cara apa?"
"Lebih baik bawalah segenap suku kalian berikut binatang peliharaan dan barang barang yang berharga untuk keluar dari desa ini dan menyembunyikan diri di suatu tempat, besok, kalian baru kembali lagi ke mari...!"
"Ooh... jadi kalian berdua hendak mempergunakan kesempatan ini untuk menyerbu ke dalam kota ular beracun?"
Tanya Beng Sam wi seperti baru menyadari akan sesuatu.
"Dugaan kepala suku memang tepat sekali"
"Apakah kalian berdua membutuhkan pembantu?"
"Kami hanya membutuhkan dua puluhan orang lelaki muda yang kekar untuk membawakan sejumlah batu belerang dan bahan peledak,"
"Baik, segala sesuatunya akan lohu laksanakan dengan segera"
Kata Beng Sam wi tanpa berpikir panjang lagi.
"Lebih baik lagi kalau kau pilihkan dua orang kepala regu untuk diperkenalkan dulu kepadaku, agar sampai waktunya aku bisa memberi petunjuk kepada mereka"
Beng Sam wi berpikir sebentar, kemudian menitahkan orang untuk mengundang kedatangan dua orang lelaki kekar, setelah itu katanya.
"Mereka adalah putraku yang keempat dan kelima yang masing masing bernama Beng Min dan Beng cu, bila sauhiap ada perintah katakan saja kepada mereka"
Ong It sin manggut manggut sebagai tanda puas, kemudian berjanji akan masuk ke bukit pada permulaan kentongan malam nanti.
Selain daripada itu, diapun melakukan sedikit persiapan didalam dusun itu, agar Thian tok tay ong bisa datang dan masuk perangkap.
oooodeoOoooowio Malam sudah semakin kelam, udara bersih tak berwarna, cahaya rembulan bersinar menerangi seluruh jagad.
Diatas jalan bukit yang menghubungkan tanah perbukitan dengan daerah pegunungan Ko li kan san muncul dua titik cahaya hitam yang sedang bergerak mendekat.
Kedua orang itu adalah muda mudi berpakaian ringkas.
Yang dipaling depan adalah seorang pemuda berusia dua puluh tiga, empat tahunan yang berwajah tampan dan memakai pakaian ringkas berwarna hitam dengan mantel dari kulit macan.
Dibelakangnya mengikuti seorang gadis cantik jelita bak bidadari yang baru turun dari kahyangan.
Sungguh cepat sekali gerakan tubuh dari kedua orang itu, tak selang beberapa saat kemudian sampailah mereka diatas puncak bukit itu.
Sebuah hutan yang amat lebat muncul di depan mata dan menghadang jalan pergi mereka.
Pada waktu itulah, si gadis berkata.
"Engkoh Sin, kenapa tidak nampak kota ular beracun itu?"
"Bila tempat itu sangat gampang ditemukan, tak akan kota ular beracun dianggap sebagai sebuah tempat yang misterius..."
Setelah berhenti sebentar, kembali dia melanjutkan.
"Kawanan pencoleng itu seringkali masuk keluar bukit, berarti ada jalan rahasia yang seringkali mereka pergunakan..."
Baru selesai dia berkata, tiba tiba si nona itu berteriak dengan penuh kegembiraan.
"Coba lihat, bukankah disitu ada sebuah jalanan?"
Ketika pemuda itu berpaling ke arah yang ditunjuk, maka tampaklah ditepi sebuah bukit karang tampak muncul sebuah jalanan yang luasnya tiga jengkal.
Tanpa sangsi lagi kedua orang itu segera melanjutkan perjalanannya menelusuri jalan setapak itu.
Jalan setapak itu meski menembusi pula ke tengah hutan, tapi jelas dibuat manusia, sepanjang perjalanan tidak dijumpai hadangan hadangan apapun.
Sementara mereka sedang melanjutkan perjalanannya, mendadak terdengar suara langkah kaki yang sangat ramai berkumandang datang dari arah depan sana.
Pemuda itu segera menarik tangan si gadis dan menyusup masuk ke tengah hutan.
Baru saja mereka menyembunyikan diri, tampak sepasukan lelaki berbaju putih telah bermunculan dengan kecepatan luar biasa.
Sinar rembulan terasa redup sekali, tapi secara lamat lamat masih dapat dilihat bahwa pemimpin dari pasukan itu adalah seorang kakek berambut putih yang berperawakan kekar.
Kakek itu mengenakan jubah halus berwarna putih dengan ikat pinggang lebar serta kepala mengenakan kopiah kaisar, sudah jelas orang itu adalah Thian tok tay ong.
Ditinjau dari setiap langkah kakinya yang mencapai dua tiga kaki jauhnya, dapat diketahui bahwa kakek tersebut memiliki tenaga dalam yang luar biasa sempurnanya.
Seandainya orang lain, mungkin hati mereka sudah dibikin keder setelah menyaksikan kelihayan kakek itu, dan pasti akan membatalkan niatnya untuk melanjutkan perjalanan.
Tapi muda mudi yang menyembunyikan diri dibalik hutan itu malah saling berpandangan sambil tertawa, suatu senyuman yang penuh arti.
Menunggu rombongan itu sudah lewat, si nona baru berbisik dengan suara yang nyaring.
"Engkoh Sin, aku benar benar merasa kagum sekali atas kemampuanmu untuk menduga segala sesuatu yang belum terjadi!"
Ternyata pemuda itu bukan lain adalah Ong It sin yang namanya sudah menggetarkan seluruh dunia persilatan itu. Ong It sin segera tertawa terbahak bahak, setelah mendengar perkataan itu.
"Haaahhh... haaahhh... haaahhh... adik Soat, rupanya kau bukan berbicara menurut suara hatimu"
Tak perlu dikenalkan lagi, sinona itu sudah barang tentu adalah Bwe Leng soat, jagoan dari Koan tiau khek. Terdengar gadis itu berkata lagi.
"Kau bilang lain dimulut lain dihati"
"Tentu saja kalau kau memang kagum sekali, kenapa tidak memeluk aku dan memberi satu ciuman?"
Dengan cepat Bwe Leng soat baru menyadari kalau dia sedang digoda oleh kekasihnya.
Maka sambil berpura pura ngambek dia melompat keluar dari hutan sambil mengomel "Ciiss tak tahu malu, masa menempeli muka sendiri dengan emas?
Siapa sih yang bilang kau hebat?"
Buru buru Ong It sin melompat keluar pula dari dalam hutan, kemudian sambil menghadang dihadapannya dia berseru.
"Adik Soat, kenapa sih kau ini?"
"Aku mau pulang ke dusun!"
"Kenapa? Apakah kau tidak turut aku pergi ke kota ular beracun untuk menolong Bwe Yau?"
"Hayo bilang dulu, kau suruh aku... anu... tidak?"
"Tidak, tidak... sekarang biar aku saja yang... anu... Seraya berkata gadis itu lantas dipeluk dan diciumnya dengan penuh kemesrahan. Dengan tersipu sipu Bwe Leng soat melepaskan diri dari pelukan kekasihnya dan berlalu lebih dulu dari situ. Buru buru Ong It sin menyusul pula dibelakangnya. Tak lama kemudian mereka sudah keluar dari hutan itu, didepan mata terbentanglah tiga buah bukit yang berdiri dalam posisi segitiga. Di tengah tengah antara ketiga buah bukit itu tampak sebuah lembah yang luas, pada mulut selat tadi terpancanglah sebuah batu besar yang diatasnya tertera tiga huruf besar, tulisan itu berbunyi.
"TOK COA SIA"
Dibawah batu cadas itu berjongkok dua orang lelaki berbaju putih yang menyoren golok rupanya mereka sedang asyik bermain judi.
Alat judi yang mereka pergunakan sederhana sekali, yakni tiga biji batu sebesar kelengkeng.
Ong It sin yang menyaksikan kesemuanya itu, segera berbisik dengan lirih.
"Adik Soat, tunggulah sebentar disini, biar kubekuk dulu kedua orang itu."
Sembari berkata, dia lantas mengerahkan ilmu meringankan tubuhnya dan seenteng kapas tahu tahu menyelinap ke belakang tubuh kedua orang lelaki berbaju putih itu.
Rupanya kedua orang penjaga itu mengira Thian tok tay ong yang keluar lembah tak mungkin balik dalam waktu singkat, maka dengan memberanikan diri mereka bermain judi disana.
Siapa tahu secara diam diam telah muncul seseorang dibelakang tubuh mereka.
Dalam pada itu, silelaki kurus bermuka kuda itu sudah kalah banyak, dengan penuh bernapsu dia mengeluarkan sekeping uang perak seberat lima tahil sambil berseru.
"Chiu lojin, locu akan mempertaruhkan semua uang itu yang kumiliki ini, kau berani tidak?"
Chiu lojin adalah pemenang, dia sudah hampir mengorek semua tabungan yang dimiliki lelaki bermuka kuda itu, tentu saja dia enggan untuk menyerempet bahaya, maka ujarnya.
"Huan Tiang kang, aku lihat lebih baik kita sudahi sampai disini saja Kalau ingin mendapatkan kembali modalmu, kita bertaruh lagi dikemudian hari, siapa tahu kalau nasibmu waktu itu jauh lebih mujur?"
Huan Tiang kang atau si lelaki bermuka kuda itu segera menunjukkan wajah tak senang hati.
"Huuuh, sedari tadi aku sudah tahu kalau kau tidak akan memiliki keberanian tersebut"
Belum habis dia berkata, dari belakang tubuhnya telah terdengar suara orang berbicara.
"Kalau dia tak mau bertaruh, biar aku saja yang akan bertaruh denganmu!"
Dengan cepat Huan Tiang kang berpaling ke belakang, segera terlihatlah seorang pemuda tampan yang sangat asing berdiri di situ.
Mungkin lantaran sudah terpengaruh oleh kekalahan yang menumpuk, tanpa bertanya lagi siapa gerangan pemuda tersebut, dia lantas berseru dengan kegirangan.
"Siangkong, kau hendak bertaruh apa?"
"Mempertaruhkan segala sesuatu yang kalian miliki!"
Huan Tiang kang menjadi semakin gembira dia lantas mengeluarkan kembali lima tahil peraknya sebagai modal.
Kiranya dia masih belum menangkap maksud lain dibalik perkataan dari lawannya itu Berbeda dengan Chin loji, dia segera merasakan kalau gelagat tidak beres.
Sambil tertawa dingin segera tegurnya.
"Sobat, apa yang kau katakan tadi?"
"Aku bilang, aku hendak mempertaruhkan segala sesuatu yang kalian miliki, sekarang tentunya sudah terdengar jelas bukan?"
Chin loji berkerut kening.
"Yang kumiliki sekarang hanya uang kontan, selain itu tidak kumiliki apapun juga!"
"Masih!"
Jawab Ong It sin.
"nyawa anjingmu dan rekanmu itu!"
Chin loji dan Huan Tiang kang segera mundur sejauh tiga jengkal kebelakang, kemudian sambil tertawa dingin serunya.
"Sobat, kalau itu mah tak nanti bisa kau menangkan!"
"Siapa bilang begitu?"
Bentak Ong It sin.
Belum selesai perkataan itu diucapkan, secepat sambaran kilat dia telah melancarkan sebuah pukulan dahsyat.
Tatkala kedua orang itu melihat datangnya sambaran cakar yang memenuhi angkasa, dengan perasaan tercekat mereka segera kabur kebelakang.
Jeritan ngeri yang menyayat hati segera berkumandang memecahkan keheningan, tahu tahu tubuh mereka sudah tergeletak ditanah dalam keadaan tak bernyawa lagi.
Selesai membereskan kedua orang itu, Ong It sin baru berseru.
"Adik Soat, mari kita masuk kedalam!"
Dua sosok bayangan tubuh dengan kecepatan bagaikan sambaran kilat langsung menerjang masuk kedalam lembah.
Itulah sebuah lembah yang luas, dalam dan sangat lebar, aneka macam bunga dan jamur yang tak terhitung jumlahnya memenuhi seluruh permukaan tanah...
Dikejauhan sana terdapat air terjun dan disepanjang jalan tampak selokan yang membentang jauh keluar lembah situ.
Sebuah bangunan benteng yang amat tinggi dan besar berdiri dengan angkernya dibalik kegelapan.
Dengan langkah yang sangat berhati hati Ong It sin dan Bwe Leng soat bergerak kedepan mendekati bangunan benteng itu, tak lama kemudian sampailah mereka dibawah kaki benteng tersebut.
Dinding benteng itu tingginya mencapai tiga kaki, dengan suatu lompatan kilat kedua orang itu segera naik keatas...
Dari situ maka tampaklah jelas semua pemandangan didalam bangunan kota tadi...
Ternyata bangunan rumah yang berada didalam benteng itu persis seperti bangunan rumah ditempat lain hanya saja diantaranya banyak terdapat rumah kecil berbentuk bulat bagian atasnya dengan empat penjuru penuh dengan pintu.
Suasana amat hening, sepi dan tak nampak seekor ular beracun pun yang berkeliaran disana.
Dari suhunya Ong It sin pernah mendapat tahu bahwa jenis ular yang terdapat di dalam kota ular beracun ini mencapai hampir tiga ribu macam, diantaranya hanya dua macam yang paling beracun yakni sejenis ular yang ekornya bisa berbunyi serta sejenis lagi yang bagian kepalanya belang belang.
Kedua jenis ular beracun itu seringkali berdiam didalam tempat tempat lembab ditengah hutan.
Tapi kini mereka berada di kota ular beracun, berarti keadaannya pasti berbeda, siapa tahu kalau ular ular beracun itu berdiam dalam rumah rumah kecil dekat selokan tersebut?
Ong It sin tak berani gegabah, dengan cepat dia mengambil sebutir batu dan segera disentilkan ke muka.
Tatkala batu itu hampir menyentuh di atas atap rumah, mendadak dari balik bangunan rumah tersebut berkumandang serentetan suara yang sangat aneh.
Dalam waktu singkat dari empat penjuru pintu pintu bangunan rumah itu bermunculan beribu ribu buah kepala sambil mengeluarkan desisan suara yang mengerikan sekali.
Menyaksikan kesemuanya itu, Bwe Leng soat merasa bergidik sekali hatinya, dengan cepat dia berbisik.
"Engkoh Sin, betul betul menakutkan sekali kawanan ular beracun itu..."Jangan takut, kita kan membawa belerang yang merupakan benda yang paling disenangi kawanan ular, apalagi yang musti kau kuatirkan?"
"Maksudmu, kita akan melanjutkan perjalanan untuk memasuki kota ular beracun ini?"
"Tentu saja, kalau dugaanku tidak salah sarangnya Thian tok tay ong sudah pasti berada ditengah kota, kemungkinan besar Bwe Yau terkurung disitu!"
"Aaah, mana mungkin? Coba kau lihat bangunan rumah ditempat ini kecil kecil mana mungkin Thian tok tay ong bisa menempati bangunan seperti ini?"
"Tentu saja dia tak akan tinggal disini coba lihat kedepan sana!"
Ujar Ong It sin sambil menuding kearah beberapa titik cahaya lampu ditengah kegelapan sana.
Ketika Bwe Leng soat memandang kedepan sana maka terlihatlah dibalik kegelapan sana lamat lamat tampak bangunan yang megah sekali, dengan suara dalam ia lantas berbisik.
"Paling tidak masih ada dua li jauhnya"
"Hayo berangkat?"
Kedua orang itu segera berangkat menelusuri bangunan kecil itu menuju kedepan sana.
Tak lama kemudian sampailah kedua orang itu ditengah kota, ternyata disekeliling bangunan rumah itupun terdapat sebuah sungai yang mengelilinginya.
Diatas bangunan kota, terlihat ada empat orang lelaki berbaju putih yang sedang melakukan perondaan.
Dengan suatu gerakan yang sangat cepat Ong It sin dan Bwe Leng soat menyusup lebih ke depan, ternyata keempat orang itu tak sempat menemukan jejaknya, maklum kepandaian silat yang dimiliki Ong It sin berdua memang sudah mencapai pada puncaknya.
Ong It sin dan Bwe Leng soat memang berilmu tinggi, meski begitu mereka tak berani mengusik penjaga penjaga itu, maka dengan menelusuri kaki kota, mereka menyusup menuju ke arah tempat kegelapan.
Setelah sampai disuatu tempat yang tak mungkin bisa dicapai oleh penglihatan para penjaga itu, mereka baru memberi tanda dan melompat naik ke atas dinding kota tersebut.
Ternyata bangunan rumah yang berada di dalam kota itu sangat megah dan penuh dengan bangunan keraton yang indah.
Dengan cepat Ong It sin melompat turun ke dalam kota disusul Bwe Leng soat dibelakangnya, kemudian dengan sangat berhati hati mereka menyusup lebih ke dalam lagi.
Tak lama kemudian sampailah mereka didepan sebuah bangunan berloteng yang sekeliling tempat itu penuh dengan aneka bunga mawar, diatas bangunan rumah tadi terpancang sebuah papan nama yang bertuliskan Bi kui lo (loteng bunga mawar).
Sementara kedua orang itu masih mengamati keadaan disekitar tempat itu dengan seksama, mendadak dari atas serambi muncul seorang kakek yang berperut besar.
Langkah kaki kakek itu berat, mantap dan cepat sekali, jelas merupakan seorang jago tangguh dari kota ular beracun.
Buru buru kedua orang itu menyembunyikan diri dibalik bunga mawar yang lebat.
Dalam sekejap mata, kakek gemuk bermuka perak, beralis tipis, bermata kecil dan bermulut lebar dengan bibir yang tebal itu telah tiba dibawah bangunan loteng.
Mendadak dari atas loteng bergema suara tertawa lengking yang penuh bernada jalang, menyusul kemudian seseorang menegur.
"Si supek gemukkah disitu?"
Dari suaranya tadi, Ong It sin berdua segera mengetahui kalau orang itu tak lain adalah si mawar beracun Hong Hian Kim yang sedang dicari cari. Ong It sin segera berpikir.
"Tidak kusangka kalau kakek gemuk itu adalah seperguruannya Thian tok tay ong, heran, kenapa belum pernah kudengar akan kejadian ini?"
Sementara itu, si kakek gemuk itu sudah tertawa terbahak bahak.
"Haaahhh... haaahhh... haaahhh Hiang kim, sudah banyak tahun tak pernah bersua muka, tak kusangka kau lebih licik daripada dulu, mengapa tidak kau bayangkan, selama suhumu tidak berada dirumah selain lohu siapa lagi yang berani mendatangi ruang tidurmu ditengah malam buta begini?"
Rupanya si kerbau tua ini bermaksud datang kesitu untuk melalap daun! Daun jendela diatas loteng itu segera terbuka, lalu muncullah tubuh si bunga mawar beracun. Sambil tertawa cabul sahutnya.
"Aaah, belum tentu begitu siapa tahu kalau diatas lotengku sekarang sudah ada si pipi putih yang berada didalam pelukanku."
Sambil berkata dia lantas mengayunkan kesepuluh jari tangannya. Mula mula kakek gemuk itu agak tertegun menyusul kemudian ia segera tertawa tergelak.
"Hiang kim manis, woow... tampaknya makin hari kau bertambah menawan hati..."
Tanpa banyak membuang waktu, dia segera menerobos masuk lewat samping dayang yang menjaga pintu dan langsung menuju ke atas loteng.
Menyusul kemudian, bayangan tubuh dari si bunga mawar beracun Hong Hiang kim juga turut lenyap dibalik jendela.
Inilah suatu kesempatan yang sangat baik untuk membekuk si bunga mawar beracun dan memaksanya untuk menunjukkan tempat Bwe Yau disekap.
Ong It sin merasa girang sekali, dia lantas bangkit berdiri dan siap menyerbu ke dalam.
"Tunggu sebentar!"
Tiba tiba Bwe Leng soat mencegahnya. Ong It sin menjadi tertegun, tapi sebelum mengucapkan sesuatu, Bwe Leng soat telah menekan bahunya sambil berbisik lagi.
"Cepat berjongkok, ada orang datang!"
Sekali lagi Ong It sin berjongkok sambil menengok kedepan, benar juga dari arah depan sana telah muncul dua orang kakek berjubah putih.
Yang seorang bertubuh kekar sedangkan yang lain bertubuh kurus dan kecil.
Waktu itu terdengar si kakek kekar itu sedang berkata.
"Loji, benarkah kau melihat Pek tau ang (kakek berkepala putih) Liok Siong leng si setan tua itu juga kemari?"
"Memangnya aku membohongi dirimu?"
Jawab si kakek kurus itu. Dari balik mata kakek bertubuh kekar itu segera memancarkan sinar cemburu yang sangat tebal kemudian gumamnya.
"Aku tidak percaya, sore ini Hiang kim telah berjanji dengan kita berdua, mana mungkin dia mengadakan janji lagi dengan si setan tua itu...?"
"Aku berpendapat begitu... sudah pasti si setan itu mengandalkan kedudukannya datang kemari sebagai tamu yang tak diundang..."
"Lantas bagaimana dengan kita?"
"Menurut pendapatmu, lotoa?"
"Kita berlagak saja seperti tak tahu, kita langsung naik loteng, sekalipun ribut apa pula yang bisa dilakukan Thian ong terhadap kita berdua?"
Kedua orang ini mempunyai sesuatu yang bisa dianggap sebagai pegangan, dari sini bisa dilihat kalau dia bukan manusia sembarangan.
"Bagus!"
Seru kakek ceking itu.
"aku sangat setuju!"
Seusai berkata merekapun langsung menyerbu keatas loteng. Setelah kedua orang itupun lenyap dibalik tangga, Bwe Leng soat yang bersembunyi dibalik bunga baru berbisik.
"Engkoh Sin, bagaimana kita sekarang?"
"Tentu saja naik keloteng untuk membekuk mereka!"
"Baik, kalau begitu mari, kita lakukan sekarang juga!"
Kedua orang itu segera melompat keluar dari tempat persembunyiannya dan melayang naik keatas loteng.
Tak lama kemudian, sampailah mereka di depan kamar tidurnya sibunga mawar beracun Ketika itu dari dalam ruangan tadi berkumandang suara tertawa jalang serta pembicaraan dari beberapa orang lelaki.
Terdengarlah salah seorang diantaranya sedang berkata.
"Kau si tua bangka celaka, makin tua makin menjadi rupanya, maknya, sekarang masih menjadi katak buduk merindukan bulan... masa sebagai supek berani menggerogoti daun muda! Huuh apakah kau tidak malu kalau sampai ditertawakan orang?"
Menyusul kemudian terdengar si kakek kepala putih Liok Siong ling menyahut dengan nada tak senang hati.
"Cinta tak pernah membedakan tua atau muda, lagi pula apa hubungannya moayhumu dengan dirinya? Tahu tidak?"
"Tentu saja hubungan guru dan murid!"
Jawab si kakek ceking.
"Kalau memang begitu, bukankah ucapanmu barusan ibaratnya kentut... hmm! Apalagi kalau dihitung soal tingkatan, kau Cho Kit dan Cho Siong masih terhitung Ciu tay ya nya!"
Dengan nada tak senang hati, dua bersaudara Kho berseru lagi. Terlepas dari persoalan itu, kami datang karena diundang oleh nona Hiang kim, sedang kau si setan tua, datang kemari atas dasar apa?"
Si kakek kepala putih Liok Siong leng segera tertawa dingin tiada hentinya.
"Heeehhh... heeehhh... heeehhh... dari mana kau bisa tahu kalau aku bukan datang karena untuk memenuhi janji?"
Cho Kit dan Cho Siong menjadi agak tertegun, beberapa saat kemudian dia baru berkata.
"Aku tidak percaya kalau nona Hiong kim bisa tertarik dengan tampangmu itu!"
"Tidak percaya?"
Seru si kakek kepala putih sambil membenahi rambutnya yang beruban.
"kenapa tidak kalian tanyakan secara langsung kepada tuan rumah?"
Tanpa terasa Cho Kit dan Cho Siong segera berpaling ke arah si bunga mawar beracun dengan nada bertanya. Si Bunga mawar beracun segera maju ke muka sambil tertawa terkekeh kekeh, katanya.
"Sudahlah, kalian tak usah cemburu, mari kalian sama sama menjadi tamu kehormatanku, terhadap kalian bertiga aku tak ada yang menolak, siapa yang enggan main bersama yaa sudahlah, pokoknya besok aku sudah pulang kekota Si ciu"
Setelah mendengar perkataan itu, dua bersaudara Cho segera terbungkam dalam seribu bahasa, sebaliknya si kakek kepala putih segera membantah serunya.
"Mestikaku, kau mana boleh berbuat demikian?"
"Kenapa tidak boleh? Dalam kehidupan masyarakat banyak terdapat lelaki yang disebelah kiri merangkul istri disebelah kanan merangkul gundik, mengapa aku tak boleh di kiri memeluk suami dikanan merangkul gendak?"
Betul betul suatu ucapan yang mengejutkan!
Ong It sin mengira, ketiga orang itu pasti akan keberatan.
Siapa tahu, sama sekali diluar dugaan, ternyata ketiga orang itu membungkam dalam seribu bahasa, itu berarti keputusan telah diambil...
Sebenarnya Ong It sin akan segera menyerbu kedalam, tapi Bwe Leng soat segera berkata.
(((halaman.49-52 hilang))) ...
sandiwara hidup yang sedang berlangsung dalam kamar menjadi terperanjat sekali setelah menyaksikan kejadian itu.
Terutama sekali Cho Kit, saking gugupnya dia segera melompat ke tengah udara siap menyongsong datangnya ancaman dan musuh tangguh.
Siapa tahu tubuhnya itu justru menubruk diatas jendela kayu yang ada didalam ruangan.
Seharusnya, dengan kepandaian silat yang dimilikinya itu, jangankan baru jendela kayu, sekalipun ada jendela besi juga tak akan dapat melukainya.
Tapi entah mengapa, ketika Ciu tay ya dari kota ular beracun ini menumbuk diatas jendela, seperti kayu lapuk saja, begitu membentur dia lantas roboh dan binasa.
Mungkin kena angin duduk?
Si kakek kepala putih Liok Siong leng juga merasa terperanjat sekali, karena dalam keadaan bugil, buru buru dia menyambar celananya dan melarikan diri terbirit birit.
Ong It sin tidak menghalangi kepergiannya.
Cho Siong juga segera manfaatkan kesempatan itu turut kabur dari tempat itu.
Tapi dalam gugupnya dia telah salah mengambil celananya si bunga mawar beracun.
Untung saja badannya memang ceking, meski agak dipaksakan toh celana itu terpakai juga.
Bayangkan saja bagaimana jadinya bila ada seorang lelaki yang kabur sambil mengenakan celana perempuan.
Bwe Leng soat dan Ong It sin tak dapat menahan rasa gelinya lagi, mereka segera tertawa terbahak bahak.
Dari kejauhan sana terdengar suara Cho Siong sedang berteriak dengan penuh kegusaran.
"Bocah keparat, jangan merasa bangga dulu, sebentar Ciu tay yamu pasti akan membuat kalian berkaok kaok!"
Dengan demikian, didalam ruangan itu tinggal si bunga mawar beracun Hong Hiang kim seorang yang belum kabur, dengan tubuh telanjang ujarnya kemudian kepada Ong It sin.
"Aku kira siapa, ternyata Ong sauhiap dan Bwe Lihiap..."
Dia seperti hendak berbicara lagi, tapi Bwe Leng soat segera menukas dengan ketus.
"Hong tongcu, lebih baik kenakan dulu pakaianmu aku hendak berbicara dengan kau"
"Seluruh bagian tubuhku sudah kalian lihat, memakai baju atau tidak toh tak ada bedanya lagi?"
"Tidak bisa!"
Bentak Bwe Leng soat sambil menarik muka.
"jika kau tidak mengenakan pakaianmu, terpaksa aku akan bertindak kasar!"
Rupanya si bunga mawar beracun Hong Hiang kim cukup mengetahui akan kelihayan lawannya, dari lemari pakaian dia lantas mengambil sebuah pakaian tidur dan dikenakannya.
Walaupun dia telah mengenakan pakaian tidurnya, didalam kenyataan tak jauh berbeda dengan tidak mengenakan pakaian.
Ternyata baju itu tipis sekali sehingga hampir semua bagian tubuhnya dapat terlihat dengan jelas.
Dengan nada tak senang hati Bwe Leng soat berseru kembali.
"Siapa suruh kau mengenakan baju setipis itu? Hayo cepat ganti yang lain!"
"Ganti yaa ganti!"
Bunga mawar beracun Hong Hiang kim kembali membuka lemari pakaiannya dan mengambil sebuah yang berwarna merah.
Tapi berhubung bahan pakaiannya sama maka keadaannya sama sekali tidak berbeda jauh.
Dengan kening berkerut Bwe Leng soat seperti hendak membentak lagi, tapi Ong It sin segera menyela.
"Sudahlah, yang penting kita harus selesaikan dulu masalah utamanya!"
Bwe Leng soat segera mengerling sekejap kearahnya, kemudian berseru.
"Kenapa tidak kau katakan sejak tadi? Coba kalau dia masih bugil, kau kan bisa lebih puas menikmati keindahan tubuhnya? Aaai... kalian orang lelaki memang tak seorangpun yang baik!"
Ong It sin hanya bisa mengangkat bahu tanpa berbicara. Bwe Leng soat segera berpaling ke arah Hong Hiang kim sambil bertanya.
"Adik Yau telah kau sekap dimana?"
OooOdwOooo "Adik Yau apa? Aku tidak tahu!"
Sahut si Bunga mawar beracun Hong Hiang kim sambil gelengkan kepalanya berulang kali.
"Sudahlah, tak usah berlagak pilon, kau kira kami tidak mengetahui keadaan yang sebenarnya? Kalau kau mengira begitu, maka kau telah melakukan suatu kesalahan yang amat besar!"
Walaupun dalam hati kecilnya si bunga mawar beracun merasa terkejut sekali, namun paras mukanya sama sekali tidak berubah, katanya.
"Keadaan sebenarnya yang mana? Kenapa Ong sauhiap tidak menerangkannya kepadaku?"
"Orang yang kami katakan tadi she Bwe bernama Yau, dia adalah murid Seng hong tianglo atau adik seperguruan Lau Hong setelah ditangkap oleh pihak Ki thian kau, kau bersama Gi hay jin yau diperintahkan pula untuk mengangkutnya ke kota ular beracun dengan kereta sebagai hadiah buat gurumu Thian tok tay ong agar bergabung dengan kalian, ucapku ini tentunya tidak salah bukan?"
Si bunga mawar beracun ingin menyangkal, serunya.
"Kau bilang Gi hay jin yau ong Toan Cing hun melakukan perjalanan bersamaku, sekarang dimana orangnya?"
Ong It sin segera mendongakkan kepalanya dan tertawa terbahak bahak.
"Haahh... haahh... haahh... Hong tongcu, kau benar benar seorang pelupa, bukankah kita perah bersua di luar kota Lam leng? Masa kau hendak mengingkarinya...?"
Setelah berhenti sejenak, kembali ujarnya.
"Sedangkan Gi hay jin yau Toan Cing hun, karena dia berani menyebarkan obat perangsang kepada kami, maka sengaja kukirim dia pulang ke langit barat!"
"Sekalipun hal itu merupakan suatu kenyataan! Tapi, bukankah Bwe Yau sudah kalian tolong? Sekarang, kau minta kepadaku lagi, apakah cengli?"
Menyaksikan perempuan cabul itu menyangkal terus menerus, Bwe Leng soat naik darah. Dengan wajah sedingin es, dia berseru.
"Hong tongcu, kau tak bisa mengingkar lagi, terus terang kuberitahukan satu hal kepadamu, bukankah kau bersama Su coa long kun dengan memperalat Hek jiu gi ya pemilik rumah makan Tay hong telah menculik Bwe Yau?"
"Apa buktinya?"
"Buktinya? Banyak sekali, ketika kau bersama Su coa longkun kabar keluar kota bukankah perjalanan kalian telah dihadang oleh seorang nenek dan seorang kakek..."
Mendengar ucapan itu, si Bunga mawar beracun makin terperanjat, pikirnya.
"Heran, mengapa mereka bisa mengetahui akan hal ini?"
Tanpa terasa dia lantas bertanya.
"Apakah sepasang suami istri tua itu telah menemukan nona Bwe Yau?"
"Tentu saja menemukannya, malah mereka telah bertarung melawan Su coa longkun"
"Bagaimana hasilnya?"
Dengan gemas Bwe Leng soat berseru.
"Su coa longkun telah mempergunakan peluru kabut untuk melarikan diri, sedang kau pun membawa Bwe Yau kabur ke kota ular beracun"
"Darimana kalian bisa tahu akan peristiwa ini dengan begini jelasnya...?"
Sambil mengangkat bahu Bwe Leng soat tertawa dingin tiada hentinya.
"Heeehhh... heeehhh... heeehhh... jangan dianggap kalian punya akal licik lantas semuanya bisa dikelabuhi, kami pun sama juga mempunyai akal untuk mengetahuinya... terus terang saja, sepasang suami istri tua itu adalah penyaruanku bersama It sin"
Seketika itu juga si Bunga mawar beracun menjadi terperanjat sekali sehingga paras mukanya berubah menjadi pucat pias seperti mayat.
Tapi satu ingatan dengan cepat melintas pula didalam benaknya, dia lantas bertanya.
"Kalau begitu pemuda suku Cawa yang berhasil membunuh Kim coa longkun Pit Lei beng dan Thi coa longkun Ong Eng serta menawan Gin coa longkun Ouyang Si dan Hui coa longkun Wan Hiong adalah hasil karya dari kalian pula."
"Betul, memang hasil karya kami!"
"Hmm, begitukah perbuatan dari seorang pendekar? Menggunakan kesempatan dikala suhu kami pergi kedusun bawah bukit kalian menyelundup masuk kekota ular berbisa untuk menolong orang, perhitunganmu betul betul bagus sekali... tapi pernahkah kau bayangkan sekalipun Bwe Yau sudah kalian tolong, tapi berpuluh ribu suku Cawa akan mati disuhuku?"
Siapa tahu belum habis dia berkata Ong It sin telah tertawa terbahak bahak.
"Itu yang dinamakan anjing membawa tongkat, betul betul tak tahu malu"
"Apa maksudmu?"
"Kau anggap suhumu pasti berhasil dengan usahanya? Terus terang kukatakan kepadamu semua penduduk suku Cawa telah pindah dari dusunnya kepergian suhumu tak lebih hanya menubruk tempat kosong, siapa tahu mereka akan pulang dengan wajah penuh hangus?"
Sampai disitu, sibunga mawar beracun tak bisa berbicara lagi, dia tahu kedua orang itu amat cerdik, bila dia berlagak pilon lagi maka yang rugi adalah dia sendiri. Maka ujarnya kemudian.
"Kalau begitu, aku harus menyerahkan nona Bwe Yau kepada kalian?"
"Tentu saja!"
"Bila nona Bwe Yau kuserahkan kepada kalian, apakah kalian akan membunuhku?"
"Asal kau tidak bermain busuk, tentu saja akupun tak akan membunuh dirimu"
"Kalau begitu, ikutilah aku!"
Selesai berkata, dia lantas melayang turun dari loteng bunga mawar.
"Orangnya disekap dimana?"
Tanya Bwe Leng soat kemudian.
"Dalam ruang batu Sian ki!"
"Berapa jauh jaraknya dari sini?"
"Selewatnya tiga buah bangunan istana kita akan sampai ditempat tujuan"
Tanpa banyak berbicara dia lantas menelusuri beranda dan menuju kedepan.
Tiba tiba ditemuinya para jago lihay dari kota ular beracun telah berkumpul semua disitu dengan senjata terhunus.
Si kakek kepala putih Liok Siong leng dan Cho Siong berada pula diantara kerumunan orang orang itu.
Bahkan diantaranya terdapat pula seorang kakek berjenggot hitam.
Tiba tiba terdengar kakek berkepala putih Liok Siong leng berseru dengan lantang.
"Hei sobat muda, cepat serahkan Hong Hiang kim kepada kami!"
"Huuh, apa yang kau andalkan?"
Jengek Ong It sin.
"Kau tahu siapakah aku?"
Seru kakek kepala putih sambil tertawa dingin.
"Heeehh... heeehh... heeehh... terus terang kuberitahukan kepadamu, pada dua puluh tahun berselang aku sudah termashur di wilayah barat daya, tak sedikit jago persilatan yang mati keracunan ditanganku, sobat muda, apakah kau juga ingin mampus?"
Ong It sin sama sekali tidak jeri ejeknya.
"Kalau memang kau gagah perkasa, mengapa sewaktu berada di loteng bunga mawar tadi kau melarikan diri terbirit birit? Juga Ciu tay ya Cho Siong..."
Dua orang kakek itu kontan saja merasa jengah setengah mati sampai pipinya turut berubah menjadi merah padam.
Dari malu si kakek kepala putih menjadi naik darah, dia membentak keras dan segera tampil ke depan, serunya.
"Sobat muda, kau kira lohu takut kepadamu? Justru karena kau telah membunuh Cho Kit, dan agar supaya kalian tak sampai kabur, maka sengaja kukumpulkan semua jago lihay untuk mengepungmu, kalau tahu gelagat, hayo cepat cepat menyerahkan diri. O0o0o0dwo0o0o0
Jilid 28
"HMM, kalau didengar dari perkataanmu sih sepertinya punya keyakinan besar mengapa kau tidak segera main?"
Si kakek kepala putih Liok Siong Leng mendengus dingin.
"Hmm... kalau toh kau berkata demikian lohu sudah sepantasnya kalau memenuhi keinginanmu secepatnya, kalau begitu tinggalkan saja temanmu itu sebagai teman tidurku malam nanti"
Baru selesai dia berkata, mendadak bayangan manusia berkelebat lewat kemudian..."Ploook!"
Sebuah tempelengan keras telah bersarang diatas wajahnya. Menyusul kemudian, terdengar seorang berkata dengan suara yang amat nyaring.
"Tua bangka celaka, kau berani bicara sembarangan?"
Sebagai kakek seperguruannya Thian tok ong, sebenarnya si kakek kepala putih Liok Siong leng adalah seorang jago lihay yang berilmu silat sangat tinggi.
Tapi sekarang dia harus dipecundangi oleh seorang gadis muda dihadapan orang banyak, hatinya menjadi sangat tidak puas, teriaknya dengan penuh kegusaran.
"Bocah perempuan, lohu kalau gagal menangkapmu, sia sia saja aku hidup setua ini"
"Huuh... tak usah berlagak sok, belum tentu kau bisa hidup selewatnya malam ini!"
Si kakek kepala putih tertawa seram.
"Kalau ingin merenggut nyawa lohu jangan disini, lebih baik berganti tempat saja"
"Dimana?"
Bwe Leng soat tak mengerti maksud lawannya sehingga tanpa terasa dia bertanya.
"Diatas ranjang dalam kamar sana!"
Bwe Leng soat menjadi naik darah, makinya.
"Tua bangka keparat, rupanya kau ingin mencari mampus!"
Sembari berseru, serentetan cahaya tajam menyambar lewat, tahu tahu pedang itu sudah dimasukkan kembali kedalam sarungnya.
Tapi si kakek kepala putih masih berdiri tak berkutik ditempat tersebut...
ia tidak berbicara juga tidak bergerak.
Ciu tay ya Cho Siong menjadi keheranan serunya.
"Apa yang telah terjadi? Masa saudara Liok bisa takut terhadap bocah perempuan itu?"
Sementara dia masih keheranan, si kakek berjenggot hitam yang berada di sisinya telah berkata.
"Masa kau tak dapat melihat kalau si kakek kepala putih sudah menemui ajalnya?"
"Aaah, mana mungkin?"
Seru Cho Siong tidak percaya.
"dengan kepandaian silat yang dimiliki saudara Liok, masa dia akan tewas ditangan seorang bocah perempuan?"
"Bila kau tidak percaya, mengapa tidak maju ke depan dan memeriksanya sendiri?"
Cho Siong segera maju dan mendorong tubuhnya sambil berseru.
"Saudara Liok, ayoh bergeraklah!"
Tubuh si kakek kepala putih memang bergerak, tapi bergeraknya ke belakang lantas roboh terkapar ke atas tanah.
Peristiwa ini dengan cepat membuat puluhan orang lelaki berbaju putih dari kota ular beracun menjadi ketakutan setengah mati.
Cho Siong paling terkesiap, dia maju dan memeriksa tubuh rekannya dengan seksama ternyata diatas tubuhnya sama sekali tidak ditemukan luka apapun.
Pada saat itulah, si kakek berjenggot hitam tampil kedepan sambil ujarnya.
"Nona, ilmu pedangmu benar benar luar biasa sekali, apakah kau adalah muridnya si rahib bajingan dari Koan tiau khek di Lam hay?"
Mendengar suhunya dihina, dengan gusar Bwe Leng soat segera membentak keras.
"Siapakah kau?"
Kakek berjenggot hitam itu tertawa seram.
"Kau bertanya lohu? Heeehhh... heeehhh... heeehhh... orang menyebutku sebagai Put si sin mo (iblis sakti yang tak pernah mati), sudah pernah mendengar nama ini?"
Begitu mendengar julukan itu, Bwe Leng soat maupun Ong It sin menjadi amat terperanjat, serunya tanpa sadar.
"Rupanya kau adalah Phoa Cun lam, Tocu dari pulau Sin mo to di laut timur!"
"Benar!"
"Apakah cianpwe hendak membantu pihak kota ular beracun?"
"Tentu saja. Selama tuan rumah tidak berada disini, sudah barang tentu aku tak akan membiarkan kalian berbuat onar disini!"
"Lantas mau apa kau?"
Seru Bwe Leng soat dengan kening berkerut.
"Aku hendak membekuk dirimu lebih dulu"
Bwe Leng soat tak berani gegabah, dia segera meloloskan pedang mestikanya sambil berjaga jaga.
"Apalagi yang hendak kau nantikan?"
Tantang sang nona. Sebelum iblis tua itu menjawab, Ong It sin telah melompat ke depan sambil berseru.
"Adik Soat, konon si iblis sakti yang katanya tak pernah mati ini sudah berhasil meyakini ilmu Tay im tay kiu jiu yang hebat, biar aku saja yang meminta petunjuk darinya"
Sementara Bwe Leng soat masih merasa sangsi, Put si sin mo telah berkata dengan jumawa.
"Bocah keparat, jika kau ingin maju lebih dulupun boleh saja, cuma kuatirnya kalau kau tak sanggup menahan tiga gebrakanku saja!"
Dari ucapan tersebut, dapat diketahui bahwa dia memandang remeh pada lawannya ini. Bunga mawar beracun Hong Hiang kim segera berteriak keras.
"Phoa toocu..."
"Hiantit li, kau tak usah banyak berbicara lagi"
Tukas Put si sin mo dengan cepat.
"bila dalam tiga gebrakan aku tak bisa meraih kemenanganku, lohu segera akan angkat kaki dari sini"
Sebetulnya si bunga mawar beracun Hong Hiong kim hendak memberi tahu kepadanya kalau Ong It sin adalah ahli waris dari Leng mong sinceng yang berdiam di kuil Sian gwan si, tenaga dalamnya jauh diatas Bwe Leng soat dan menyuruhnya berhati hati.
Tapi sekarang, setelah mendengar perkataan itu, si bunga mawar beracun pun tak bisa berbicara apa apa lagi.
Sementara itu pertarungan telah berkobar dengan sengitnya, pukulan pukulan Tay im tay kiu jiu yang dilancarkan oleh Put si sin mo memang hebatnya bukan kepalang, sayang yang dihadapi adalah Ong It sin, sebagaimanapun dahsyatnya serangan yang dilepaskan, semuanya kena dipunahkan secara mudah.
Lambat lambat Put si sin mo menjerit terperanjat sekali terutama setelah semua pukulannya seakan akan batu yang tenggelam ditengah samudra, ini semua membuatnya mulai berpikir.
"Tenaga pukulan yang dilancarkan bocah keparat ini ibaratnya segulung hembusan angin lembut, kenapa persis seperti pukulan Tay khek sinkang dari aliran kuil Sian gwan si?"
Perlu diketahui ilmu pukulan tersebut merupakan ilmu silat yang tinggi dalam aliran agama Buddha, dan justru merupakan tandingan dari ilmu Tay im kiu jiu tersebut.
Tanpa terasa Put si sin mo kembali berpikir.
"Tapi... masa didunia ini terdapat kejadian yang begini kebetulannya...?"
Berpikir sampai disitu, secara beruntun dia melancarkan kembali dua buah pukulan berantai.
Didalam melancarkan serangannya kali ini, dia telah mempergunakan tenaga dalam sebesar sembilan bagian, seketika itu juga seluruh langit penuh diliputi oleh angin puyuh yang menderu deru.
"Suatu serangan yang sangat bagus!"
Dengan mengerahkan ilmu Tay khek sin kang miliknya, dia segera sambut datangnya ancaman itu.
Ketika angin pukulan itu dilancarkan, Put si sin mo masih belum merasakan apa apa, menanti tenaga dari kedua belah pihak sudah saling menyentuh, dia baru merasakan datangnya segulung angin pukulan yang maha dahsyat menerjang dadanya.
Tak terlukiskan rasa kaget yang mencekam perasaannya waktu itu, untung saja tenaga dalamnya sudah mencapai tingkatan menarik dan mengerahkan menurut kehendak hatinya.
Tatkala dia merasakan keadaannya tidak beres, buru buru tenaga dalamnya diperlipat gandakan menjadi dua bagian lagi.
Tapi daya serangannya makin lama semakin besar, sebaliknya tenaga pantulannya makin lama semakin kuat pula.
Put si sin mo menjadi amat terperanjat, tanpa sadar dia mundur dua langkah.
Sekalipun demikian, hawa darah didalam dadanya telah bergolak sangat keras, cepat dia menarik napas dan berusaha keras untuk menekan kembali golakan darah di tubuhnya itu.
Akibatnya dia merasa kehilangan muka, mencorong sinar buas dari balik matanya dengan sorot mata yang menyeramkan dan menggertak gigi menahan diri, teriaknya.
"Bocah busuk, rupanya kau adalah muridnya Leng mong si keledai gundul itu... beritahu kepadaku, siapa namamu?"
"Boanpwe bernama Ong It sin, berkat petunjuk dari cianpwe, aku benar benar merasa beruntung sekali..."
Put si sin mo mengebaskan jenggot hitamnya dan tertawa dingin, katanya lagi.
"Bocah keparat, kau tak usah berlagak sok, lohu bukan seorang manusia yang bisa dipermainkan dengan begitu saja, cepat loloskan senjata tajammu!"
"Apakah cianpwe ingin memberi petunjuk ku lewat ujung senjata tajam?"
Tegur Ong It sin dengan kening berkerut.
Adapun dia berkata demikian, tujuan yang sesungguhnya tak lain adalah memberi peringatan kepada lawannya bahwa perbuatan yang hendak dilakukannya ini tak lain sama halnya dengan menjilat ludah sendiri Kontan saja Put si sin mo menjadi naik darah, sambil tertawa seram serunya.
"Bocah keparat, bagus betul daya ingatanmu!"
"Demi kehidupanku, sekalipun daya ingatanku lebih jelekpun, kata kata penting seperti ini tak bisa kulupakan dengan begitu saja"
"Hmm...! Kau mengira dalam satu gebrakan saja kau sudah bisa meloloskan diri dari cengkeraman lohu?"
Seru Put si sin mo sambil menarik muka. Ong It sin segera tersenyum.
"Jika jurus serangannya makin berkurang tentu saja kesempatannya semakin banyak"
"Bocah keparat, terlalu awal bila kau berpendapat demikian! Dikolong langit dewasa ini boleh dibilang jarang sekali ada orang yang bisa meloloskan diri dari Thian hui tee miat (langit hancur bumi musnah) ku ini."
"Boanpwe tidak berpendapat demikian, hanya kurasakan seganas ganasnya sebuah jurus serangan, sudah pasti terdapat jurus tandingan atau jurus pemecahan lainnya."
Setelah berhenti sejenak, dia melanjutkan.
"Oleh sebab itu, satu jurus serangan dari cianpwe terasa terlampau sedikit"
"Bocah keparat, kau berani memandang rendah diriku!"
Seru Put si sin mo dengan perasaan bergetar keras.
"Tidak!"
Dari pinggangnya put si sin mo segera meloloskan sebilah golok pembacok bukit lalu berseru.
"Bocah keparat, perhatikan baik baik!"
Begitu senjatanya diloloskan, maka terasa ada segulung hawa pembunuh yang sangat tajam segera menerjang ke depan.
Sementara itu, Ong It sin juga telah menghunus pedangnya sambil bersiap sedia.
Saat ini, semangatnya boleh dibilang berkobar kobar, begitu melihat datangnya hawa pembunuh, ia malah mundur selangkah ke belakang.
Hawa pedang yang tebal dan dahsyat dengan cepatnya menahan hawa serangan lawan.
Ketika Put si sin mo menyaksikan serangan yang dilancarkan belum lagi mencapai tengah jalan namun sudah terbendung musuh dalam hati kecilnya dia lantas berpikir.
"Bila bocah ini disingkirkan, dikemudian hari pasti akan merupakan bibit bencana..."
Tanpa terasa hawa pembunuhan segera menyelimuti kembali seluruh wajahnya.
Mendadak badannya berputar, golok pembacok bukitnya diputar menjadi delapan belas arah, bacokan demi bacokan dilancarkan dengan kecepatan bagaikan sambaran kilat.
Seketika itu juga seluruh udara seperti diliputi oleh sayatan pisau yang terasa sakit di badan.
Sekalipun hanya terdiri dari satu jurus belaka, namun kekuatannya begitu dahsyat sehingga sukar untuk dilukiskan dengan kata kata.
Tapi, pada saat yang bersamaan juga, Ong It sin telah melancarkan pula sebuah serangan.
Didalam serangannya itu, hanya ujung pedangnya saja yang bergetar, tidak nampak dimanakah letak kehebatannya.
Sekalipun demikian, jurus Thian hui tee miat yang diandalkan oleh Put si sin mo itu ternyata gagal total sama sekali tidak menghasilkan apa apa.
Terutama sekali yang membuat hatinya makin terkesiap adalah jurus pedang yang dipergunakan lawannya, ternyata tak lain adalah jurus Hoat lun siang coan (roda hukum selalu berputar) suatu jurus serangan yang pernah digunakan pula oleh Leng mong Sin ceng untuk menghadapi dirinya...
Ketika dilangsungkannya pertarungan dengan sinceng dipuncak bukit Thian san tempo hari, si hwesio tua itupun tak pernah menunjukkan sikap santai seperti apa yang ditunjukkan pemuda ini maka tak tahan dia lantas bertanya.
"Bocah muda, apa nama jurus seranganmu itu?"
"Jurus itu bernama Wi cing wi it (segenap inti kekuatan hanya satu)...!"
Paras muka Put si sin mo Phoa Cun Lam berubah hebat, dia segera menarik kembali golok pembacok bukitnya dan kabur meninggalkan tempat itu.
Cho Siong ingin menahannya, tapi tak sempat lagi.
Kini, dari sekian banyak jago yang berada dalam kota ular beracun, yang mati telah mati, yang pergi telah pergi, siapa lagi yang berani mencari gara gara dengan menghalangi kedua jagoan tersebut.
Sibunga mawar beracun menghela napas dihati, lalu berkata.
"Mari kita pergi!"
Tampaknya diapun merasa putus asa. Tak selang berapa saat kemudian, sampailah mereka didepan sebuah bangunan gedung bertingkat.
"Disinilah tempat tinggal guruku"
Demikian ia menerangkan.
"ruang batu sian ki sik si berada dibawah kamar tidur itu"
"Kuperingatkan kepadamu, lebih baik jangan berniat jahat"
Kata Bwe Leng soat dengan suara dalam.
"mulai saat ini diujung pedang nonamu tak mengenal ampun"
Mendengar perkataan itu, tercekat perasaan si bunga mawar beracun. Tapi dia segera mengangkat bahunya sambil berkata.
"Akupun berharap kau jangan terlalu bertindak seenaknya, sebab bila aku mati, tak akan ada manusia lagi yang bisa mengajak kau memasuki ruangan Sian ki sik si"
Kalau dipikir kembali, ucapan ini memang tak salah, Ong It sin kuatir, kedua orang itu semakin ribut maka buru buru katanya.
"Tak usah dikatakan lebih jauh, Hong tongcu, adik Soat, kita tak usah membuang waktu lagi"
"Ehmm... pandai betul kau merayu orang"
Seru sibunga mawar beracun Hong Hiang kim sambil mengerlingkan biji matanya.
Sebetulnya Ong It sin ingin membantah tapi bunga mawar beracun telah menempelkan jari tangannya diatas bibir menunjukkan tanda jangan berisik, kemudian katanya.
"Ikutilah aku!"
Dengan langkah lebar dia berjalan masuk melalui pintu gerbang istana, sementara Ong It sin dan Bwe Leng soat mengikuti dibelakangnya dengan ketat.
Ternyata dua orang pengawal yang berjaga di depan pintu istana sama sekali tidak berniat untuk menghalanginya.
Tentu saja hal ini dikarenakan kedudukan si bunga mawar beracun yang istimewa.
Ketiga orang itu berjalan melewati beberapa buah ruangan, kemudian tibalah mereka didalam sebuah ruangan yang besar sekali.
Ruangan kamar itu mempunyai dekorasi yang serba megah dan mewah, semua peralatan serba mewah dan indah.
Menyaksikan hal itu, Ong It sin lantas berpikir.
"Penghidupan Thian to tay ong sungguh berlebihan dan berfoya foya tak tahu diri, entah berapa banyak perempuan dan gadis yang sudah dinodainya, hanya mengandalkan hal ini saja, dapat diketahui kalau sarang ini tak bisa dibiarkan berlangsung terus"
Berpikir demikian, dia lantas mengambil keputusan untuk memusnahkan kota ular dari muka bumi.
Sedangkan soal nyawa si bunga mawar beracun, hal ini tergantung pada kesungguhan hatinya untuk diajak bekerja sama.
Pada saat itulah muncul seorang perempuan yang berdandan genit ditempat itu, segera tegurnya.
"Nona, apakah kau tidak tahu kalau si tua telah memimpin sekawanan jago turun gunung?"
"Soal ini aku sudah tahu... ketika suhu hendak pergi, beliau menyuruh aku untuk membantunya membujuk nona Bwe Yau, apakah sekarang ia telah bersedia menikah dengan suhu dia orang tua?"
"Perempuan itu betul betul keras kepala, bukan saja tak mau menuruti bujukan kami, malah ia berpuasa total, nona, apakah kau mempunyai akal untuk membujuknya agar menurut?"
Bunga mawar beracun segera melemparkan sebuah kerlingan kearahnya, kemudian menjawab.
"Aku sendiripun tidak begitu yakin, cuma, sobat ini justru pandai membujuk, siapa tahu kalau dia bisa berhasil membujuknya sehingga bermanfaat? Biarkan dia masuk ke ruang sian ki sik si untuk bertemu dengannya...!"
Perempuan genit itu segera berkata kepada Bwe Leng soat sambil tertawa.
"Kalau begitu merepotkan nona untuk membujuknya, bila Thian Ong telah pulang nanti, kami akan sekalian berterima kasih kepadamu!"
Seraya berkata, sinar matanya berkelebatan kian kemari.
Bwe Leng soat serasa gembira sekali, namun ia sudah bertindak teledor dengan tidak mengertikan kerdipan mata lawan, apa yang dipikirkan waktu itu hanya bagaimana caranya untuk menyelamatkan Bwe Yau, maka ujarnya kemudian.
"Hu Hoat, merepotkan kau tolong bukakan pintu ruangan Sian ki si tersebut..."
"Baik!"
Sambil berkata dia lantas naik ke atas undak undakan batu dan menekan tombol bulatan diatas dinding ruangan.
Seketika itu juga terdengar suara gemerincingan nyaring berkumandang memecahkan keheningan, dari atas dinding muncullah sebuah pintu sempit yang cuma bisa dilewati oleh satu orang.
"Saudara berdua, Bwe Yau berada didalam sana, silahkan masuk ke dalam..."
Kata si bunga mawar beracun.
Tanpa berpikir panjang Bwe Leng soat segera berkelebat ke muka dan menerobos masuk ke dalam ruang rahasia tersebut.
Ong It sin hendak menghalanginya tapi tak sempat lagi, maka dia berteriak keras.
"Tunggu sebentar..."
Sayang kepergian Bwe Leng soat terlampau cepat, dalam waktu singkat bayangan tubuhnya sudah lenyap tak berbekas. Terdengar dari dalam ruangan sana berkumandang suara dari perempuan itu.
"Engkoh It sin! Cepat kemari... Bwe Yau betul betul disekap di tempat ini!"
Ong It sin sama sekali tak berkutik, dia tetap berdiri tegap ditempat tanpa berkutik barang sedikitpun juga.
"Ong sauhiap, masuklah ke dalam ruangan! Dan bantulah nona Bwe Leng soat!"
Seru bunga mawar beracun.
"Aaah, tak usah"
Jawab Ong It sin.
"hanya dia seorang toh sudah lebih dari cukup, belakangan ini kalau bisa malas memang lebih enak bermalas malasan!"
Kalau didengar dari perkataannya itu, jelas dapat diketahui kalau dia sudah menaruh curiga. Bunga mawar beracun menjadi berkerut kening setelah mendengar perkataan itu, tiba tiba teriaknya.
"Sunio, cepat!"
Seraya berkata dia lantas kabur menuju ke atas undak undakan batu sana...
Perempuan genit itu segera menekan bulatan batu diatas dinding tersebut, dengan cepat pintu rahasia diatas ruangan Sian ki si menutup rapat, setelah itu tangan kanannya kembali menekan keatas tombol.
Tiba tiba saja dari atas atap ruangan muncul selapis pintu besi yang dengan cepat bagaikan sambaran kilat jatuh ke bawah dan menghadang jalan pergi Ong It sin.
Si bunga mawar beracun dan perempuan genit itu segera tertawa cekikikan sembari berseru.
"Ong It sin, kau sudah masuk perangkap kami, bukan cuma nona Bwe saja yang akan menjadi korban, nona Bwe yang seorangpun akan menjadi santapan yang nikmat buat guru kami... haaahhh... haaahhh... haaahhh..."
Tapi gelak tertawa itu terhenti ditengah jalan, mendadak mereka saksikan bayangan tubuh Ong It sin lenyap tak berbekas, ini membuat hati mereka menjadi tercengang.
"Kemana perginya bocah keparat itu?"
Tanya perempuan genit itu kemudian. Si Bunga mawar beracun gelengkan kepalanya berulang kali.
"Entahlah!"
Dia menjawab.
"baru saja aku berpaling, bayangan tubuhnya sudah tak kelihatan lagi"
"Mungkin bocah keparat itu melihat gelagat tidak menguntungkan, maka dia lantas melarikan diri!"
"Aku rasa tak mungkin dia akan berbuat demikian"
"Hiang kim, jangan begitu yakin dengan kemampuanmu, aku Tho bin hu (sirase berwajah Tho) sudah banyak melihat orang lelaki, semakin gemar bersolek lelaki itu semakin kecil nyalinya"
Siapa tahu sebelum selesai Tho bin hu berbicara, mendadak dari belakang tubuhnya berkumandang suara dingin.
"Perempuan siluman!"
Katanya.
"Walaupun aku merasa sayang dengan nyawaku tapi tak mudah masuk perangkap, rencana busuk kalian berdua boleh dibilang sudah gagal total..."
Dengan cepat kedua orang itu membalikkan tubuhnya.
Seorang pemuda berdiri dihadapan mereka, siapa lagi orang itu kalau bukan Ong It sin?
Paras muka si bunga mawar beracun berubah, putik-putik beracun yang berada dalam genggamannya disambit ke depan.
Berbicara yang sesungguhnya, dalam jarak yang demikian dekatnya ini, mustahil Ong It sin bisa meloloskan diri dari ancaman tersebut.
Siapa tahu, begitu jarum lembut beracun dilepaskan ke depan, ternyata yang menjerit ngeri sambil menutup muka adalah si bunga mawar beracun Hong Hiang kim sendiri.
Rupanya, ketika Ong It sin menyaksikan putik beracun yang disambit kearahnya itu tahu tahu muncul didepan mata, dalam keadaan yang terdesak, dia lantas mengeluarka ilmu Cian ling sin (hembusan napas sakti) yang dipelajarinya dalam kuil Sian gwan si.
Termakan oleh hembusan tenaga dalam yang dipancarkan lewat dalam pusar ini, kontan saja putik putik bunga mawar beracun itu terpental balik semua kebelakang.
Kejadian ini benar benar tak disangka oleh si bunga mawar beracun...
Begitulah dengan kesakitan hebat perempuan cabul itu bergulingan diatas tanah dengan keadaan yang sangat mengenaskan.
Ong It sin benar benar amat membenci atas kelicikan perempuan itu, secara beruntun dia melancarkan pula beberapa buah totokan jalan darah diatas sepasang lengannya, dalam keadaan begini, kendatipun dalam sakunya terdapat obat pemunah juga percuma saja.
Tak selang berapa saat kemudian, paras mukanya yang cantik jelita itu berubah menjadi bengkak dan membusuk, kemudian pelan pelan hancur dan berubah menjadi air berwarna kuning.
Perempuan ini bukan saja membuat si rase berwajah bunga Tho menjadi terkesiap, bahkan Ong It sin sendiripun merasakan hatinya menjadi bergidik.
ooooOdwOoooo "Siluman perempuan"
Seru Ong It sin.
"sejak bertemu dengan kau tadi, sudah kuketahui kalau kalian sedang bermain siasat, memangnya kau mengira bisa mengelabuhi diriku?"
"Anggap saja kau memang pintar, cuma... jangan kau anggap aku bisa dipermainkan dengan seenaknya!"
"Kalau tak bisa dipermainkan dengan seenaknya, lantas mau apa kau...?"
Dari sakunya siluman rase berwajah bunga Tho itu mengeluarkan sebutir peluru berwarna merah, kemudian katanya.
"Orang she Ong, kau mengenali permainan ini?"
Ong It sin mencoba mengawasinya dengan seksama, ternyata benda itu adalah sebuah butiran peluru sebesar telur itik yang berwarna merah darah.
Sekilas ingatan segera berkelebat didalam benaknya, tanpa terasa terkesiap hatinya.
Tapi, walaupun hatinya merasa tercekat, hal tersebut tak sampai diperlihatkan diatas wajahnya, dengan hambar dia berkata.
"Tampaknya benda itu adalah peluru siau gi tan dari Ciok hong li?"
"Heeehh... heeehh... heeehh... tampaknya pengetahuanmu masih mendingan juga..."
Jengek Tho bin hu sambil tertawa dingin.
"coba katakan, permainan semacam ini boleh dibilang lihay atau tidak? Begitu meledak, maka wilayah seluas sepuluh kaki disekitar tempat ini pasti akan musnah dan berubah menjadi hangus"
Ong It sin sama sekali tidak ambil peduli atas ancaman tersebut, kembali dia berkata.
"Perempuan siluman, peluru Siau gi tan milikmu itu cuma benda mati, sebaliknya orang adalah benda hidup, sehebat hebatnya benda milikmu itu memangnya kau bisa berbuat apa kepadaku?"
"Kalau begitu, tampaknya sebelum melihat peti mati kau tak akan mengucurkan air mata!"
Seru Tho bin hu menyeramkan. Ong It sin bukan saja tidak mundur menghindarkan diri, sebaliknya dengan wajah keren malah maju kedepan selangkah demi selangkah katanya dengan tenang.
"Andaikata kau tidak percaya, mengapa tidak kau lemparkan saja benda itu kearahku? Coba kita lihat siapa yang bakal mampus, kau? Atau aku...?"
Menyaksikan ketenangan orang, seketika itu juga rasa percaya pada diri sendiri yang tertanam dihati Tho bin hu lenyap tak berbekas, tanpa terasa ia teringat kembali dengan keadaan yang dialami si bunga mawar beracun Hong Hiang kim, bukan saja senjata rahasia beracunnya gagal melukai lawan malah sebaliknya dia mampus sendiri terkena senjata milik sendiri.
Berpikir sampai disitu, tanpa terasa hatinya menjadi bimbang.
Ong It sin tidak menyia nyiakan kesempatan baik tersebut dengan begitu saja, sementara musuhnya ragu, dengan kecepatan luar biasa dia telah menerjang maju lima depa lebih kedepan.
Tho bin hu menjerit kaget buru buru dia mengayunkan tangannya melemparkan benda peledak tersebut ke depan.
Peluru Siau gi tan tersebut dengan membawa serentetan cahaya merah yang menyilaukan mata segera berkelebat lewat ditengah udara dan tahu tahu lenyap tak berbekas.
Melihat kenyataan tersebut, Tho bin hu menjadi amat terperanjat, sepasang matanya yang jeli dengan cepat berkeliaran ke sana kemari.
Ong It sin segera tertawa terkekeh kekeh katanya.
"Siluman perempuan, kau ingin mengetahui kemana kaburnya peluru Siau gi tan tersebut?"
Sementara itu, Tho bin hu sedang merasa sangsi, apakah benda peledaknya sudah gagal atau tidak, maka ketika mendengar ucapan tersebut serunya sambil tertawa dingin.
"Memangnya sudah kau rampas?"
"Siapa bilang tidak?"
Dari sakunya, si anak muda itu segera mengeluarkan sebutir peluru berwarna merah.
Kontan saja Tho bin hu merasakan hatinya bagaikan tenggelam, tanpa banyak berbicara dia membalikkan badan dan mengambil langkah seribu..."Perempuan siluman, kau hendak kabur ke mana?"
Hardik Ong It sin dengan suara menggeledek.
Sekali melompat ke depan, tahu tahu ia sudah menghadang didepan perempuan itu.
Tho bin hu cepat cepat bertekuk pinggang dan bermaksud untuk menerobos lewati bawah ketiak lawan.
Siapa tahu, baru saja tubuhnya berkelebat lewat, mendadak badannya terasa mengencang keras, tahu tahu badannya sudah kena dikempit dibawah ketiak lawan sehingga untuk bernapaspun tak mampu.
Dengan ketakutan dia lantas berteriak.
"Ong sauhiap, kalau kau tidak mengendorkan tubuhku lagi, peluru Siau gi tan yang berada dalam sakuku pasti akan meledak bersama, tubuh kita pun otomatis akan hancur menjadi abu"
Buru buru Ong It sin mengedorkan tangannya selain itu dia pun segera menotok jalan darahnya.
"Kau tidak menipu aku bukan?"
Serunya.
Sambil berkata, dia lantas memeriksa saku Tho bin hu dan merogohnya, benar juga, dengan cepat dia menemukan belasan butir peluru Siau gi tan berada disitu.
Andaikata peluru itu sampai meledak bersama, dapat dibayangkan bagaimana jadinya?
Maka si anak muda itupun berkata.
"Mengingat kau telah memperingatkan diriku sehingga nyawa kita berdua selamat dari kematian, aku takkan membunuhmu, setelah kuselamatkan nona Bwe Yau nanti, kaupun akan kulepaskan!"
Seusai berkata, dia lantas menotok dua buah jalan darahnya.
Kemudian dia lantas menekan tombol bulat diatas dinding ruangan diiringi suara keras terbukalah pintu rahasia tersebut.
Belum lagi Ong It sin melangkah masuk kedalam dari balik ruangan itu tahu tahu sudah berkelebat lewat dua sosok bayangan manusia.
Tentu saja mereka adalah Bwe Leng soat serta Bwe Yau.
Mula mula Bwe Leng soat celingukan sekejap ke sekeliling tempat itu, sewaktu dilihatnya Tho bin hu sudah tak berkutik, diapun lantas bertanya.
"Ke mana perginya si bunga mawar beracun?"
"Itu dia!"
Sahut Ong It sin sambil menuding ke atas tanah. Bwe Leng soat menengok kebawah, ia saksikan ada segumpal cairan kuning yang menggenangi permukaan tanah, dengan keheranan kembali tanyanya.
"Apa gerangan yang telah terjadi?"
"Perempuan siluman itu hendak menggunakan tipu muslihatnya untuk menjebak dan mengurung kita didalam ruang rahasia Sian ki sik si, siapa tahu rencana busuknya kuketahui maka dia menyerang diriku dengan senjata rahasia duri mawar beracun, senjata itu kupantulkan balik dengan ilmu Cian liong siu milikku, akibatnya senjata makan tuan dan ia mampus diujung senjatanya sendiri!"
Mendengar perkataan itu, Bwe Leng soat dan Bwe Yau segera bertepuk tangan kegirangan. Tiba tiba Bwe Yau menjerit tertahan kemudian tubuhnya mundur dengan sempoyongan dan jatuh terduduk diatas tanah.
"Adik Yau, kenapa kau?"
Buru buru Ong It sin bertanya.
"Adik Yau, sudah tiga hari berpuasa!"
Bwe Leng soat dengan cepat. Buru buru Ong It sin berpaling kearah Tho bin hou sambil serunya dengan cepat.
"Disini ada makanan?"
"Ada, ada, disitu ada ikan daging dan itik asin!"
Jawab Tho bin hou sambil menuding kebawah meja sana.
"Bagus sekali!"
Buru buru Ong It sin mengambil makanan itu dan diberikan kepada Bwe Yau.
Tanpa sungkan sungkan Bwe Yau menyambutnya dan tak lama kemudian telah dimakan sampai habis.
Orang bilang manusia itu besi makanan itu baja setelah perut menjadi kenyang Bwe Yau pun merasakan semangatnya telah menjadi segar kembali, katanya kemudian.
"Engkoh It sin, kota ular beracun ini hanya merupakan sarang bencana saja bagi umat manusia, lebih baik kita punahkan saja"
"Ucapan adik Yau memang masuk diakal..."
Dia lantas menepuk bebas jalan darah Tho bin hou seraya berkata.
"Aku harap kau bisa bertobat dan kembali ke jalan yang benar, sekarang, pergilah melarikan diri!"
"Sampai jumpa di lain kesempatan!"
Kata Tho bin hou sambil menjura, dengan cepat dia melompat ke tengah udara dan lenyap dikejauhan sana.
Sejenak kemudian, Ong It sin dan Bwe Leng soat bertiga pun ikut meninggalkan istana tersebut.
Sebelum pergi, mereka melemparkan dua butir peluru Siau gi tan ke arah ruang istana, ledakan demi ledakan dengan cepat mengobarkan api besar yang membakar seluruh bangunan istana.
"Kalau bekerja lebih baik jangan kepalang tanggung"
Kata Bwe Leng soat kemudian.
"hayo kita ledakkan sekalian seluruh kota ular beracun itu..."
"Tapi, kita akan meledakkannya dengan apa?"
Tanya Bwe Yau. Ong It sin lantas menunjuk ke arah kantung peluru milik Tho bin hou tersebut seraya katanya.
"Peluru Siau gi tan yang berada disini masih cukup untuk memusnahkan kota ini dengan tanah!"
Setelah berhenti sejenak, dia melanjutkan.
"Kalian berdua berangkatlah duluan, aku akan mulai meledakkan bangunan ditempat ini"
Bwe Leng soat dan Bwe Yau segera mengerahkan ilmu meringankan tubuhnya menerobosi bangunan rumah ular yang bulat bulat itu kabur dari sana.
Sedangkan Ong It sin segera bekerja keras dan menebarkan peluru peluru Siau gi tan itu keempat arah delapan penjuru kota.
Ledakan demi ledakan yang menggelegar di angkasa, menimbulkan pula ledakan dahsyat dari bahan peledak dan belerang yang pada dasarnya memang dipendam diseputar kota itu.
Akibatnya suatu ledakan mengerikan yang tak terlukiskan dengan kata segera berkumandang memecahkan keheningan, kebakaran yang amat dahsyat segera berkobar dan menghancurkan segala sesuatu yang berada disekitarnya.
Manusia dan kawanan ular segera berpencaran kian kemari berusaha untuk menyelamatkan nyawa sendiri sendiri.
Bau amis yang menusuk hidung selapis demi selapis tersiar kemana mana menimbulkan hawa udara yang memuakkan.
Kota ular beracun yang sudah didiami Thian to tay ong selama puluhan tahun ini dalam sekejap mata telah musnah dan rata dengan permukaan tanah.
setelah menyaksikan kehancuran tadi, Ong It sin baru mengajak dua orang gadisnya diam diam mengundurkan diri dari situ.
Dalam pada itu, Thian tok tay ong yang berada dibawah bukit sama sekali tidak menyadari akan peristiwa yang telah menimpa tempat kediamannya.
Saat itu, dia sedang memimpin kawanan jagoannya melakukan pemeriksaan diseputar dusun dibawah bukit itu.
Suasana dalam dusun amat gelap gulita tiada lampu.
Tiada pula penjagaan, yang ada tinggal rumah rumah yang telah kosong belaka.
sedangkan Beng Sam wi beserta rakyatnya telah melarikan diri.
Menyaksikan keadaan ini, Thian tok tay ong menjadi naik darah, segera teriaknya.
"Aku tidak percaya kalau kepada suku anak jadah itu bisa melarikan diri dengan meninggalkan dusunnya"
"Paduka Tay ong, mengapa kita tidak menyerbu kedalam dusun untuk melakukan pemeriksaan?"
Usul Soh hou jiu (si tangan sakti mengunci tenggorokan) Go Liong.
"Siapa tahu mereka mempersiapkan jebakan disitu"
Kata Ciat cing to (golok tanpa perasaan) Sun Goan tiong.
"Sekalipun disana dipersiapkan jebakan, memangnya kita akan takut terhadap orang orang suku Biau tersebut?"
Seru Kou hun Ciong (tombak penggalek sukma) Tiau Han bin.
"Perkataan dari Tiau lote memang betul"
Ujar Kim ti ang (kakek seruling emas) pula "seandainya suku Biau saja tak mampu kita hadapi, harus ditaruh kemanakah paras muka kita?"
Setelah mendengarkan pendapat pendapat dari anak buahnya, terakhir Thian tok tay ong pun memutuskan.
"seandainya kalian setuju untuk menyerbu kedalam dusun, maka kitapun tak usah takut takut lagi, sebab walaupun muridku sudah mati dua orang namun Gin coa longkun Ouyang Si serta Hui coa longkun Wan Hiong masih tertawan musuh kita harus menyelamatkan mereka lebih dahulu!"
Maka berangkatlah keempat orang pahlawan dari kota ular beracun itu menuju ke dalam dusun diikuti Thian tok tay ong di belakangnya.
Ketika sampai di pintu gerbang, terbaca oleh mereka secarik kertas yang ditempelkan didepan pintu yang isinya berbunyi demikian.
"Barang siapa memasuki pintu gerbang ini hanya ada sebuah jalan kematian!"
Kou hun Ciong (si tombak penggaet sukma) Tiau Hau bin yang pada dasarnya memang latah, segera merobek kertas itu sambil berkata.
"Kou paling tidak percaya dengan segala macam permainan busuk, akan kulihat apa yang bisa mereka lakukan!"
Sembari berkata dia lantas memasuki pintu gerbang dusun itu.
Dibalik pintu terbentang sebuah jalan berbatu kerikil disitu suasana amat hening dan tak kedengaran sedikit suarapun.
Bahkan sesosok bayangan manusia tidak nampak berada disekitar tempat tersebut.
Menyaksikan keadaan itu, dia lantas berpaling dan ujarnya kepada rekan yang berada dibelakangnya.
"Ternyata mereka sedang menggunakan siasat kota kosong, mak nya, orang orang suku Biau itupun meniru siasatnya Khong Beng!? Hayo kita serbu kedalam!"
Bersama dengan selesainya perkataan itu maka berangkatlah kawanan iblis dari kota ular beracun itu menyerbu ke dalam kota, tentu saja Thian tok tay ong diiringi para busunya juga mengikuti dibelakang.
Belum jauh mereka berjalan, mendadak Tiau Han bin si tombak penggaet sukma yang berjalan dipaling depan menjerit kaget...
Si kakek seruling emas yang berada dibelakangnya segera menegur.
"Tiau lote, kenapa kau menjerit jerit seperti ketemu setan saja? Ada apa?"
Dengan wajah hijau membesi, si tombak penggaet sukma Tiau Hau bin menunjuk ke atas wuwungan rumah sambil berseru.
"Coba lihat, siapakah mereka berdua?"
Si kakek seruling emas segera mendongakkan kepalanya, tampak ada dua orang lelaki berbaju putih yang tergantung dibawah wuwungan rumah dan bergoyang terhembus angin.
Sementara semua orang masih ragu bercampur kaget, tiba tiba Thian tok tay ong berseru.
"Siapa diantara kalian yang bersedia melakukan pemeriksaan? Coba lihat, apakah kedua orang itu adalah sau siacu?"
"Biar hamba yang pergi!"
Seru si tangan sakti pengunci tenggorokan Gi Liang sambil melompat kedepan.
Ternyata kedua sosok mayat itu tak lain adalah jenasah dari Gin coa long kun Ouyang Si serta Hui coa long kun Wan Hiong.
Keadaan mereka mengenaskan sekali, selain biji matanya melotot keluar, juga lidahnya menjulur keluar, sehingga tampangnya kelihatan mengerikan sekali.
Thian tok tay ong lebih marah lagi setelah menemukan secarik kertas yang digantungkan pada mayat mayat itu, diatas kertas tadi bertuliskan beberapa huruf yang berbunyi.
"PANTAS KALAU MAMPUS"
Dengan dada bagaikan mau meledak, gembong iblis tua itu segera menurunkan perintahnya.
"Geledah semua tempat, kalau dijumpai orang orang suku Cawa, biar dia itu lelaki atau perempuan, tua atau bayi, bunuh sampai mampus!"
Para Busu dari kota ular beracun dipimpin keempat orang pahlawannya segera mengiakan dan langsung menyerbu kedalam ruangan tengah rumah kediaman kepala suku Cawa.
Baru saja mereka berjalan beberapa langkah...
suatu ledakan dahsyat yang amat memekikkan telinga segera berkumandang memecahkan keheningan.
Ditengah jeritan ngeri yang memilukan hati, gading dan darah berhamburan keempat penjuru, dua puluhan orang jago yang bergerak paling duluan tahu tahu sudah mati dalam keadaan hancur lebur.
Rupanya didalam ruangan tersebut telah dipasang bahan peledak yang amat dahsyat.
Menyaksikan anak buahnya kembali menjadi korban, Thian tok tay ong menjadi sedih bercampur gusar.
Tapi, kecuali begitu apa pula yang bisa dia lakukan?
Masih untung dia tidak turut melakukan penyerbuan tadi, coba kalau penyerbuan tersebut dipimpin olehnya, niscaya selembar jiwanya sudah melayang meninggalkan raga.
Maka setelah termenung dan mempertimbangkannya sejenak, sambil menggigit bibir menahan diri, serunya dengan penuh kegusaran.
"Lohu bersumpah akan membalas dendam atas sakit hati ini!"
Seraya berkata dia lantas membalikkan tubuhnya dan lari kembali kekota ular beracun. Secara lamat lamat dia mendengar ada orang sedang tertawa tergelak sambil berseru.
"Mahluk tua beracun, tak kau sangka bakal menemukan keadaan seperti sekarang bukan? Haaahhh... haaahhh... haaahhh... kalau nasib lagi apes beginilah keadaannya"
Thian tok tay ong semakin geram setelah mendengar perkataan itu, pikirnya.
"Seorang Kuncu tidak kuatir membalas dendam tiga tahun kemudian, besok juga Lohu akan membawa orang untuk meratakan dusun kalian dengan tanah...!"
Kemudian dengan ganas dia meludah ke atas tanah.
Beberapa saat kemudian, sampailah gembong iblis ini diatas bukit Ko li kuan san, mendadak ditemukan cahaya api sedang berkobar dengan hebatnya didepan sana.
"Aaah, tak mungkin kebakaran itu terjadi di kota ular beracunku!"
Diam diam dia berpikir.
Padahal pikiran semacam itu tak lebih hanya menipu diri sendiri.
Sebab, diatas bukit tersebut hakekatnya tiada rumah penduduk lain kecuali kota Tok coa sia miliknya.
Dengan perasaan gelisah bercampur cemas dengan cepat dia melanjutkan perjalanannya menuju ke depan.
Ketika dia sudah melewati Thian long peng mendadak dari depan sana muncul serombongan pasukan manusia yang sedang berjalan mendekat, jumlah rombongan itu mencapai dua puluh tiga, empat orang lebih.
Melihat itu, si gembong iblis tersebut kembali berpikir.
"Aaah, mungkin suheng si kakek kepala putih Liok Siong leng atau hujin Tho bin hou yang membawa pasukan untuk menyusul diriku?"
Berpikir demikian, dengan perasaan agak lega dia lantas menegur.
"Siapa yang datang?"
Mendengar bentakan itu, rombongan yang berada didepan sana segera berhenti. Menyusul kemudian terdengar pula seseorang berseru.
"Sudah begini malam, kau masih berlarian kesana kemari, siapakah dirimu?"
Thian tok tay ong menjadi tertegun, ia merasa suara tersebut terasa asing sekali baginya, karena dari sekian banyak jago yang berada dalam kota Tok coa sia, tak seorang pun yang memiliki suara sedemikian nyaringnya.
Apalagi ucapan orang itu amat kasar dan tekebur, ini semua membuat Thian tok tay ong menjadi amat mendongkol, sahutnya kemudian.
"Siapakah diriku, pasang telingamu baik baik dan dengarkan dengan seksama..."
"Baik, aku akan mendengarkan dengan seksama. cepat katakan"
"Lohu she Hek lian bernama Jin, pemilik kota ular beracun, orang persilatan menyebut diriku sebagai Thian tok Tay ong"
"Sudah lama kudengar namamu itu!"
Dengan tak senang hati Thian tok tay ong berkata kembali.
"Apakah kau hanya mengucapkan sepatah kata itu saja? Setelah lohu menyebutkan namaku, sekarang adalah giliran kau untuk menyebutkannya"
Orang itu tertawa terbahak bahak.
"Haaahhh... haaahhh... haaahhh... aku tak lebih hanya seorang prajurit tak bernama, sekalipun diucapkan belum tentu kau ketahui, siapa tahu hanya mengotori pendengaranmu saja."
"Tidak menjadi soal, coba katakan!"
"Aku she Ong bernama It sin..."
"Ong It sin?"
Thian tok tay ong mengulangi perkataan itu sampai beberapa kali, mendadak ia seperti teringat akan satu hal. dengan perasaan bergetar keras mencorong sinar tajam dari balik matanya.
"Heeehhh... heeehhh... heeehhh... jadi kau adalah putranya Kwang tiong kim to bu tek (golok emas tanpa tandingan) Ong Tang thian?"
"Betul. Kim to bu tek Ong Tang thian adalah ayahku!"
"Bukankah selama ini kau berada di daratan Tionggoan dan khusus memusuhi kawan kawan dari golongan hek to? Mau apa kau berkunjung ke bukit Ko li kuan san? Apa maksud tujuanmu?"
Sembari berkata, dengan suatu gerakan yang cepat bagaikan sambaran kilat meluncur kehadapan Ong It sin.
Dengan cepat ia dapat menyaksikan bahwa rombongan orang orang itu terdiri dari dua puluhan pemuda dari suku Cawa serta Bwe Yau.
Dengan cepat dia menyadari apa gerangan yang telah terjadi, tanpa terasa paras mukanya berubah hebat, sambil tertawa seram dia berseru.
"Bagus, bagus sekali, rupanya menggunakan kesempatan dikala lohu tidak berada di tempat, kau telah mendatangi kota ular beracunku?"
Bahwasanya dia mengajukan pertanyaan tersebut sesungguhnya hanya merupakan suatu tindakan yang tak berguna, sebab andaikata Ong It sin tidak mengunjungi kota ular beracunnya, bagaimana mungkin Bwe Yau bisa lolos dari ruangan Sian ki sik si beracun Sambil tersenyum Ong It sin lantas berkata "Pergi kesana sih sudah pergi, sayang kota kalian terlampau menjijikan lagipula penuh dengan binatang ular, karena itu aku telah berbuat sedikit gegabah"
"Kau telah apakan kota ular beracunku?"
Seru Thian tok tay ong dengan hati terperanjat.
"Oooh... aku hanya meminjam peluru Siau gi tan milik istrimu untuk membakar kota tersebut, tentunya cianpwe tak akan menjadi marah bukan..."
Thian tok tay ong menjadi naik darah saking mendongkolnya dia merasakan dadanya seperti mau meledak. Ong It sin sama sekali tidak sudi mengampuninya, kembali dia berkata lebih jauh.
"Sumoay kami Bwe Yau telah mendapatkan perlakuan yang kurang baik dari kalian, meski begitu kami tak akan mempersoalkan kembali, sebab itu sengaja kami menjemputnya pulang, sekalian membereskan hutang piutang di antara kita berdua"
Semakin didengar, Thian tok tay ong merasakan kemarahannya makin meluap, akhirnya dia berteriak keras.
"Bocah keparat, tak disangkal lagi keempat orang muridku pasti sudah tewas di tanganmu semua bukan?"
"Aaah, mana, mana, aku memang salah bertindak sehingga mengakibatkan mereka jadi..."
Thian tok tay ong melototkan sepasang matanya bulat bulat, kalau bisa dia ingin menelan Ong It sin bulat bulat, teriaknya dengan amat geram.
"Malam ini, lohu bersumpah akan menguliti dirimu!"
"Sayang, meski cianpwe mempunyai keinginan tersebut, aku tidak mempunyai kegembiraan untuk merasakannya, lebih baik tak usah kau lakukan saja!"
Thian tok tay ong menjadi hilang sabarnya, tanpa banyak berbicara lagi ia segera menerjang kedepan, sepasang tangannya diayunkan berulang kali, secara beruntun dia lancarkan tiga belas buah pukulan berantai.
Dalam anggapan Thian tok tay ong semula, serangan serangannya yang amat dahsyat itu paling tidak bisa mendesak anak muda itu menjadi terdesak hebat siapa tahu oleh Ong It sin telah dipunahkan dengan gampang dan amat sederhana.
Kejadian tersebut membuat Thian tok tay ong makin bertarung merasakan hatinya semakin bergidik.
Merasakan keadaan semakin gawat dengan cepat ia mempergunakan ilmu Ci tian ciang untuk menghadapi lawannya, ilmu pukulan Ci tian ciang merupakan salah satu dari tiga pukulan beracun dalam dunia persilatan.
Dalam sekejap mata kemudian, lengan Thian tok tay ong telah berubah menjadi merah membengkak dan beberapa kali lipat lebih besar dari keadaan semula.
Menjumpai keadaan itu, Bwe Yau yang berada disamping arena menjadi terperanjat bercampur ketakutan.
Bahkan Bwe Leng soat sendiripun menunjukkan perasaan tak tenang.
Akan tetapi, Ong It sin yang berada di arena pertarungan sama sekali tidak memperlihatkan rasa gugup atau takut, malahan sekulum senyuman menghiasi ujung bibirnya!
Ilmu pukulan Tay kek sin kang telah dihimpunnya ke dalam lengan kanan, kemudian sejurus demi sejurus dilontarkan ke depan menghadapi ancaman ancaman musuh yang meluncur datang.
Dengan cepat Thian tok Tay ong menemukan bahwa setiap pukulan Ci tiang ciang yang dilancarkan olehnya itu seketika lenyap tak berbekas begitu bertemu dengan serangan lawan.
Lama kelamaan dia menjadi sadar, rupanya pihak lawan telah mempergunakan ilmu Tay khek sin kang dari aliran Sian gwan si untuk menghadapi serangannya, tak heran kalau ilmu pukulan Ci tian ciang yang dihimpunnya sama sekali tidak memberikan hasil apa apa.
Menghadapi keadaan seperti itu, diam diam ia merasa terkesiap sekali...
Tapi ia tidak puas dengan begitu saja, di dalam anggapannya, pihak lawan tak lebih baru berusia dua puluh dua tiga tahunan, sekalipun ilmu Tay khek sin kang dapat dipergunakan untuk menghadapi ilmu pukulan Ci tian ciang, tapi soal kesempurnaan tak mungkin bisa melebihi dirinya...
Berpikir sampai disitu, dia lantas memperketat serangannya, bacokan demi bacokan dilancarkan berulang kali, dalam waktu singkat dua puluh tujuh buah pukulan telah dilepaskan.
Kalau dilihat dari sikapnya yang menggertak gigi, dapat diduga kalau ia sudah mengerahkan tenaganya hingga mencapai dua belas bagian.
Keadaannya pada waktu itu sungguh mengerikan sekali batuan pasangan batu yang berada disekitar tempat itupun beterbangan diangkasa, kesemuanya itu membuat lelaki suku Cawa yang menonton jalannya pertarungan disana menjadi bergidik dan ketakutan.
Bahkan ada pula diantara mereka yang bersiap siap untuk maju membantu Ong It sin.
Melihat itu Bwe Leng soat segera mencegah sambil berkata.
"Memangnya kalian sanggup untuk menghadapi seujung jari orang lain? Lebih baik berdiri saja disini dengan tenang, nona jamin Ong sauhiap tak akan mengalami kerugian apa apa"
Ketika semua orang mendongakkan kepalanya tampaklah Ong It sin dengan jubahnya berwarna biru bergerak kesana kemari bagaikan seekor naga sakti sedemikian hebatnya dia bergerak kesana kemari membuat Thian tok tay ong menjadi kepayahan dan mandi keringat.
Sambil menyumpah serapah gembong iblis tua itu meronta bagaikan binatang liar yang sedang gila, dia menerjang kian kemari secara kalap.
Sementara pertarungan berlangsung dengan sengit sepasang biji matanya berkeliaran kian kemari berusaha mencari jalan keluar untuk melarikan diri dari situ.
Suatu ketika secara tiba tiba dia melancarkan serangkaian serangan berantai yang memaksa Ong It sin terdesak mundur sejauh beberapa depa dari tempat semula.
Ketika Ong It sin berpekik nyaring sambil bersiap sedia melancarkan serangan balasan, mendadak iblis tua itu berjumpalitan sejauh sepuluh kaki lebih dan kabur dari situ.
Sebelum kabur dengan suara keras dia menyumpah.
"Bocah keparat she Ong, lohu bersumpah akan membalas dendam sakit hati ini tunggu saja tanggal mainnya!"
Dalam waktu singkat, bayangan tubuhnya sudah lenyap ditempat kejauhan sana.
Ong It sin pun memimpin semua orang turun dari bukit itu, ketika sampai didusun Beng bersaudara dengan memimpin para penduduk suku Cawa muncul disepanjang jalan menyambut kedatangan mereka.
Apalagi ketika orang orang suku Biau itu mendapat tahu kalau kota Tok coa sia sudah musnah dan Thian tok tay ong melarikan diri mereka semakin kegirangan lagi Beng Jit Ciong segera maju sambil mengucapkan selamat ujarnya.
"Ong lote dan nona Bwe benar benar merupakan tuan penolong dari suku kami mulai hari ini kami akan mengingat selalu jasa dari kalian berdua itu?"
"Yaa, kami pasti akan mengukir wajah kalian sebagai tanda peringatan"
Demikianlah hari ini Ong It sin berdua sebagai tamu agung dari segenap rakyat suku Cawa.
Keesokan harinya, mereka bermaksud untuk meninggalkan tempat itu, tapi tuan rumah tidak membiarkan mereka pergi.
Karena kehabisan daya, terpaksa Ong It sin bersama Bwe Leng soat dan Bwe Yau meninggalkan surat pada malam harinya dan diam diam meninggalkan tempat itu.
Ketika Ong It sin dan kedua orang gadis itu pergi meninggalkan dusun tersebut, di bawah sinar rembulan tampak sesosok bayangan manusia munculkan diri dari balik kegelapan malam.
Baca Juga: Dendam Si Anak Haram 3
Baca Juga: Si Tangan Halilintar 3