Eps 11 Pendekar Bego - Can ID
Baca online Pendekar Bego - Can ID
Cersil Pendekar Bego - Can ID.
Orang itu berperawakan tinggi besar dan berwajah pucat seperti patung pualam, sepasang alis matanya panjang bagaikan pedang dengan sebuah jubah putih yang bersulamkan gambar ular.
Dia bukan lain adalah Thian tok Tay ong Hek lian Jin yang merupakan pemilik dari kota ular beracun.
Sejak sarangnya dihancurkan oleh Ong It sin, mahluk tua itu sama sekali tidak pergi meninggalkan bukit Ko li koan san, dia sedang menunggu kesempatan untuk membunuh suku Cawa yang berada disitu, terutama sekali keluarga dari dua bersaudara Beng.
Ketika menyaksikan bayangan punggung dari Ong It sin bertiga telah lenyap dibalik kegelapan sana, sambil tertawa dia lantas melayang turun ke tengah halaman rumah.
Waktu itu kepala suku Beng sedang bercakap cakap dengan lima orang didalam ruang tengah, kadangkala tergema pula suara gelak tertawa yang amat riang.
Terdengar seorang pemuda jangkung sedang berkata pada waktu itu.
"Ayah, aku telah mengambil keputusan, besok aku akan mengangkat Ong tayhiap sebagai guru dan belajar ilmu darinya"
Kepala suku Beng segera tertawa terbahak bahak.
"Haaahhh... haaahhh... haaahhh... Beng Min, walaupun semangatmu sungguh mengagumkan, tapi caramu berpikir terlalu kekanak kanakan..."
"Aku lihat Ong tayhiap sangat ramah, bila ananda memohon kepadanya, siapa tahu jika Ong tayhiap bersedia mewariskan dua tiga jurus kepadaku..."
Seru Beng Min dengan tidak puas. Saat itulah terdengar suara seorang kakek yang lain berkata.
"Aku rasa jalan pemikiranmu itu mungkin sukar untuk diwujudkan, kemarin aku dapat melihat, setelah persoalan disini selesai, mereka akan segera pulang ke daratan Tionggoan, andaikata mereka mau berdiam satu setengah hari saja disini, hal ini sudah lebih dari cukup, bayangkan saja, bagaimana mungkin dia mempunyai waktu untuk memberi pelajaran lagi kepadamu?"
OoOd-wOoo "Ji siok, suku kita tak ada yang pandai bersilat"
Kata Beng Min.
"apa daya kita seandainya mahluk tua beracun itu muncul kembali di tempat kita?"
Yang disebut sebagai Ji siok itu adalah Beng Jit Ciong. Ketika mendengar perkataan itu, mula mula hatinya merasa bergetar keras, kemudian sambil tertawa tergelak sahutnya.
"Kota ular beracun sudah musnah, jago dari kota itupun sudah banyak yang mampus sekalipun mahluk tua itu datang lagi untuk mencari gara gara, asal kita gunakan segenap kekuatan yang kita miliki, belum tentu harus takut kepadanya!"
Lim Hoa yang selama ini tidak berbicara apa apa, mendadak turut menimbrung.
"Disekeliling tempat ini, kita sudah mempersiapkan panah panah berantai yang ujung panahnya beracun, bila ada sesuatu yang tak beres, tanda bahaya akan segera dibunyikan, jika mahluk tua itu hendak menyerbu masuk dengan mengandalkan ilmu silatnya, kita bisa saja menghadapinya dengan berondongan panah panah beracun, sekalipun dia itu seorang malaikat, rasanya sulit juga untuk meloloskan diri dari kematian..."
Mendengar perkataan itu, semua orang segera bersorak memuji.
"Siasat bagus... siasat bagus..."
Siapa tahu belum habis ucapan tersebut disampaikan, mendadak dari depan ruangan muncul sesosok bayangan manusia, kemudian terdengar orang itu berkata.
"Meskipun siasat itu bagus, sayang tak bisa dipergunakan lagi sekarang..."
Dengan perasaan terperanjat semua orang berpaling, begitu tahu kalau orang itu adalah Thian tok tay ong Hek lian jin, kontan saja semua orang merasakan hatinya bergidik.
Kepala suku Beng memang tak malu menjadi seorang pemimpin, hanya sejenak kemudian ia telah menjadi tenang kembali, tegurnya kemudian.
"Hek lian sia cu, tak nyana kau bersedia untuk mengunjungi tempat kami, setelah datang mengapa tidak duduk dulu?"
Thian tok tay ong tertawa seram.
"Heeehhh... heeehhh... heeehhh... tidak perlu"
Sahutnya.
"selesai bekerja, lohu masih harus berangkat kebukit Long sia san"
"Urusan apakah yang kau selesaikan disini?"
Tegur kepala suku Beng dengan kening berkerut.
Thian tok tay ong mendongakkan kepalanya dan tertawa seram, suara tertawanya itu penuh mengandung rasa dendam benci dan kebuasan.
Selesai tertawa seram, katanya dengan dingin.
"Tuan kepala suku, kau lagi berlagak pilon? Ataukah benar benar goblok...?"
"Aku tidak mengerti dengan maksud perkataanmu itu!"
"Kalau toh tayjin tidak mengerti, tampaknya terpaksa lohu harus membuka kartu!"
Kepala suku Beng bukannya tidak mengerti sejak kemunculan mahluk tua beracun itu, dia sudah tahu kalau iblis itu datang dengan membawa maksud tidak baik.
Cuma dia pun ada tujuannya dengan berlagak pilon tersebut, yaitu berusaha untuk mengulur waktu.
Maka dengan suara lantang kembali kepala suku Beng berkata.
"Lohu memang bodoh dan tak mengerti maksudmu, kenapa sia cu tidak buka kartu saja?"
Paras muka Thian tok tay ong berubah menjadi amat berat, katanya.
"Hari ini lohu baru tahu kalau nyali tayhin betul betul tidak kecil..."
"Kalau nyali tidak kecil, mau apa kau?"
"Bagaimana kalau aku membuka kartu..."
"Silahkan..."
"Lohu datang untuk menuntut balas bagi kematian ketiga ribu orang anggota kota ular beracunku!"
"Apakah kau yakin kalau usahamu itu akan berhasil?"
"Lohu tak pernah melakukan perbuatan yang tidak meyakinkan!"
"Aaah, belum tentu demikian!"
Jengek kepala suku Beng sambil tertawa dingin.
"Tayjin masih mempunyai kemampuan apa untuk mencegah usaha lohu melakukan pembantaian?"
Kepala suku Beng berkerut kening, sahutnya.
"Meskipun lohu tidak mempunyai kemampuan apa apa, tapi tidak takutkah kau terhadap Ong sauhiap dan nona Bwe?"
Mendengar perkataan itu, Thian tok tay ong segera mendongakkan kepalanya dan tertawa terbahak bahak.
"Haaahhh... haaahhh... haaahhh... lohu mengira tayjin masih mempunyai kemampuan hebat apa lagi rupanya kau menggantungkan diri pada kemampuan lelaki perempuan yang masih berbahu tetek itu, hehhhmm... hehhhmm...!"
Kepala suku Beng melirik sekejap ke luar ruangan, kemudian katanya.
"Kau jangan keburu merasa bangga lebih dulu, siapa tahu kalau orang itu sudah berada disekitar tempat ini! Heeehhh... heeehhh... heeehhh... apa akibatnya bila berani menyalahi Ong sauhiap, aku rasa tentunya kau cukup mengerti bukan?"
Sesungguhnya Thian tok tay ong baru berani menampakkan diri karena dengan mata kepala sendiri ia menyaksikan Ong It sin bertiga telah pergi meninggalkan tempat itu, seharusnya dia sudah tak perlu menguatirkan apa apa lagi sekarang.
Tapi semacam reaksi yang secara otomatis muncul dari dalam hatinya, membuat gembong iblis tersebut mau tak mau celingukan sendiri kesana kemari.
Tapi yang dilakukan olehnya sekarang tak lebih hanya suatu tindakan yang dilakukan dalam sekejap saja.
Ketika teringat olehnya kalau orang lain mungkin sudah berada tiga lima puluh li dari situ, kebuasan dan kebengisannya segera muncul kembali di atas wajahnya, sambil tertawa dingin dia berseru.
"Kepala suku, kau tak usah mempergunakan Ong It sin si bocah keparat itu sebagai bahan untuk menakut nakuti lohu, jika kau sampai berpendapat demikian, maka perhitunganmu itu keliru besar!"
"Maksudmu dia tak akan mampu menangkan dirimu?"
"Berbicara terus terang, lohu adalah panglima perang yang pernah kalah di tangannya"
"Lantas atas dasar apa kau berani mengatakan kalau perhitunganku ini keliru besar?"
"Teorinya sederhana sekali, air yang jatuh tak dapat menolong api yang dekat!"
Mendengar perkataan itu, tanpa terasa kepala suku Beng menjadi tertawa "Hek lian sia cu, mungkin kau tidak tahu kalau Ong sauhiap dan Bwe lihiap sekarang sedang bertamu disini?"
"Hmm... kau tak akan bisa membohongi lohu"
"Apakah aku perlu untuk mengundang kedatangannya?"
"Aku rasa tidak perlu!"
"Kenapa?"
"Sebab orang sudah pergi tanpa pamit!"
Begitu ucapan tersebut diutarakan, kontan saja segenap orang yang berada dalam ruangan menjadi terperanjat.
"Aku tidak percaya!"
Seru kepala suku Beng.
"Kenapa tidak kau utus putramu untuk memeriksanya lebih dulu?"
Kepala suku Beng segera menitahkan putranya untuk pergi ke kamar Ong It sin, alhasil dalam kamar itu tidak dijumpai orang yang dicari, tapi dimeja tertinggal sepucuk surat.
Ketika membuka surat itu dan membaca isinya, paras muka anak kepala suku Beng berubah menjadi pucat pias, ternyata surat itu bertuliskan demikian.
"Kepala suku Beng. Sudah cukup lama kami berada di wilayah Biau, entah bagaimana keadaan didaratan Tionggoan selama ini? Oleh karena kota ular beracun telah punah, maka terpaksa kami harus pergi tanpa pamit, harap kau bisa memakluminya... 00ooo-d^w-ooo00
Jilid 29 KEPALA suku Beng sungguh merasa putus asa setelah membaca isi surat tadi, dia baru sadar kalau selembar jiwanya benar benar terancam oleh mara bahaya.
Thian tok Tay ong segera tertawa seram, katanya kemudian.
"Nah, tayjin, sekarang sudah tahu jelas bukan keadaan yang ada didepan mata sekarang? Jangan salahkan jika lohu akan melakukan pembantaian secara besar besaran untuk membasmi segenap anggota sukumu!"
Agaknya kepala suku Beng tak bisa berkata apa apa lagi, dengan cepat dia semakin kalang kabut.
"Lohu bukan manusia yang takut mati, jika kau berani berbuat keji, maka kaupun tak akan bisa hidup amat didunia ini"
"Apa gunanya menyumpah orang?"
Seru Thian tok tay ong sambil mengangkat bahu.
"apalagi kami orang hek to sudah terbiasa hidup diujung golok, siapa yang bisa menjamin suatu kematian yang tenang bagi diri sendiri? Lebih baik, jangan kau pergunakan kata kata semacam itu untuk menakut nakuti diriku"
Beng Min dan Beng Cok yang mendengar ucapan tersebut menjadi naik pitam, mereka segera meloloskan goloknya sambil bersiap sedia melakukan terkaman ke depan.
Sedangkan kepala suku Beng dan Beng Jit ciok juga telah meloloskan kampak dari dinding serta menyerahkan goloknya kepada Kim Hoa untuk turut serta dalam pertarungan itu.
Thian tok tay ong tertawa seram, dengan kening berkerut serunya mengerikan.
"Bagus, akan kubunuh kalian berlima lebih dulu, kemudian baru menyusul yang lain"
Sepasang cakarnya segera direntangkan dan digetarkan ke udara, dalam waktu singkat bayangan cakar segera memancar ke empat penjuru dan mengurung kelima orang itu.
Mendadak terdengar jeritan ngeri yang memilukan hati berkumandang memecahkan keheningan, pertama tama Beng Cok yang terkena dicengkeram lebih dulu tepat pada ubun ubunnya, dengan kepala hancur ia tewas dalam keadaan mengerikan.
Menyusul kemudian, Kim Hoa juga turut menjadi korban dan tewas dalam keadaan menyeramkan.
Thian tok tay ong segera mendongakkan kepalanya dan tertawa seram dengan bangganya, dengan suara keras dia berseru.
"Jika kalian berani memusuhi lohu, maka keadaan ini tak ubahnya seperti telur diadu dengan batu, dalam satu gebrakan saja aku sanggup membunuh tiga orang!"
Sudah barang tentu apa yang diucapkan olehnya bukan kata kata mengibul, sebab didalam kenyataan dia memang memiliki kemampuan semacam itu. Beng Jit Ciong segera tampil ke depan, serunya dengan gagah.
"Lohu bersedia untuk merasakan kelihayanmu itu!"
Rasa gusar dan heran menyelimuti paras muka Thian tok tay ong yang serius, pikirnya kemudian.
"Heran kenapa sikap bangsat tua ini dapat berubah menjadi begini? Apakah dia benar benar memiliki semangat untuk menghadapi kematian seperti pulang kerumah?"
Ingatan tersebut hanya melintas sebentar didalam benaknya, kemudian dengan serius dia berkata.
"Kalau toh kalian ingin cepat cepat mati, lohu akan segera menyuruh kalian merasakan kehebatanku..."
Begitu selesai berkata, bagaikan pusingan angin puyuh dia sudah menggulung tiba.
Dalam waktu singkat, seluruh angkasa bagaikan diliputi oleh berpuluh puluh ribu buah cakar setan yang bersama sama menyergap tenggorokan kepala suku Beng, Beng Jit Ciong dan Beng Min.
Tapi pada saat ujung jari tangan Thian tok tay ong hampir menyentuh ditubuh ketiga orang itulah, mendadak ia merasakan jari tengah dan jari telunjuknya amat sakit seperti tersengat jarum, buru buru ia memeriksa jari tangannya...
Ternyata diujung jari tangan itu masing masing telah tertancap sebatang duri yang kecil sekali.
Siapakah orang itu?
Kalau dilihat dari kemampuan orang itu untuk melukai orang tanpa menimbulkan suara dapat diketahui kalau tenaga dalam yang dimilikinya sudah mencapai tingkatan yang luar biasa...
Jangan jangan Ong It sin si bocah keparat itu telah balik kembali?
Belum hilang ingatan tersebut, tiga sosok tubuh manusia telah berdiri didepan pintu.
Ternyata mereka adalah Ong It sin beserta dua orang gadis she Bwe.
Tak terlukiskan betapa kaget dan takutnya dia setelah melihat kejadian ini, tanpa banyak bicara dia lantas mengebaskan ujung bajunya, kemudian menerjang ke atas langit langit dan melarikan diri dari situ.
"Orang she Ong!"
Teriaknya dengan lantang.
"lohu akan menjumpai dirimu lagi di daratan Tionggoan"
Suara itu makin lama semakin kecil dan akhirnya sama sekali tak terdengar lagi. Berhasil meloloskan diri dari kematian, kepala suku Beng bertiga merasa amat berterima kasih sekali.
"Apakah Ong tayhiap telah pergi...?"
Beng Jit Ciong lantas menegur. Sebenarnya dia ingin bertanya mengapa pemuda itu balik lagi setelah pergi? Dengan nada minta maaf kata Ong It sin.
"Aaai... di daratan Tionggoan, sebenarnya kami masih mempunyai banyak urusan, karena itu tak bisa berdiam terlampau lama disini..."
"Soal ini kami sudah tahu"
Tukas kepala suku Beng.
"tapi apa sebabnya pula Ong tayhiap bisa balik kembali ke sini?"
"Ia merasa curiga karena sewaktu keluar dari pintu gerbang, seakan akan terdengar suara tertawa dingin"
Kata Ong It sin sambil menunjuk ke arah Bwe Leng soat.
"meski waktu itu tidak terasa sekali, tapi kemudian adik Soat merasa gelagat makin lama semakin tak beres, kami lantas menduga duga apakah mungkin mahluk tua itu telah bersembunyi disekitar sini kemudian datang mencari balas? Andaikata hal ini sampai terjadi, bukankah hal ini akan mengerikan sekali maka buru buru kami memburu kemari, sayang keadaan tetap terlambat, Kim Hoa dan Beng Cok telah tewas juga ditangan gembong iblis itu."
"Yaa, mungkin inilah suratan takdir yang telah menentukan nasib mereka, untuk berterima kasih saja tak sempat, masa kami akan menyalahkan Ong tayhiap?"
Sementara itu, Beng Jit Ciong telah menitahkan Beng Min untuk mengundang orang guna membereskan jenasah Beng Cok dan Kim Hoa.
Karena terjadinya peristiwa ini, maka Ong It sin bertigapun terpaksa harus tinggal selama tujuh hari disitu.
Selama tujuh hari ini, segala sesuatunya berjalan dengan tenang dan aman.
Ong It sin belum juga merasa lega hati bersama Bwe Leng soat segera dilakukannya pemeriksaan yang seksama disekeliling tempat itu, tak lama mereka yakin betul kalau iblis tua itu sudah meninggalkan wilayah Biau, mereka baru mohon diri.
Suatu hari, sampailah Ong It sin bertiga disebuah jalan raya yang menghubungkan kota Kung beng.
Sepanjang tiada hentinya mereka menyaksikan lelaki berbaju merah yang melarikan kudanya cepat cepat melakukan perjalanan.
Menyaksikan keadaan tersebut, Ong It sin lantas berpikir.
"Mungkinkah dalam dua bulan yang teramat singkat ini daya pengaruh dari Ki thian kau telah membentang sampai diwilayah ini."
Tapi ingatan lain segera melintas pula di dalam benaknya.
"Aaah, mungkin saja mereka hanya segelintir anggota Ki thian kau yang secara kebetulan saja melewati tempat ini... kenapa harus kurisaukan sekali?"
Karenanya dia lantas tidak memikirkan hal itu didalam hati.
Bwe Leng soat maupun Bwe Yau juga enggan menyinggung masalah tersebut, mereka hanya menyimpan soal tadi didalam hati saja.
Tiba di kota Kun beng, matahari telah terbenam.
Merekapun mencari sebuah rumah penginapan untuk beristirahat.
Kata Ong It sin kemudian.
"Perjalanan yang kita lakukan hari ini cukup melelahkan, kita harus memanfaatkan kesempatan ini dengan sebaik baiknya untuk minum arak sampai puas"
"Engkoh Sin, rupanya kau ingin meloloh kami sampai mabuk?"
Seru Bwe Leng soat sambil mengerling sekejap kearahnya.
"Bila adik Soat berkata begitu, baiklah kita masing masing memesan semangkuk daging sapi masak angsio saja!"
Bwe Yau tidak setuju, katanya.
"Aah, jangan begitu, tindakan begini berarti menyalahi perut sendiri, aku lebih suka mabuk..."
"Adik Yau"
Kata Bwe Leng soat dengan suara dalam.
"tahukah kau, dia berniat melalap tubuh kita bila kita sudah diloloh sampai mabuk nanti?"
"Cepat atau lambat dia toh suami kita, sekalipun dia ingin mencicipi kehangatan tubuh kita juga tak menjadi soal!"
Bwe Leng soat segera mengeling sekejap kearahnya, kemudian serunya.
"Aaah, kalau aku sih ogah!"
Walaupun dia berkata demikian, tubuhnya selangkah demi selangkah menuju ke rumah makan.
Diatas loteng tersebut, hanya ada enam tujuh tempat saja yang berisi tamu.
Mereka bertiga lantas memilih tempat duduk yang dekat dengan jendela...
Ketika mendongakkan kepalanya, Bwe Leng soat menyaksikan pelayan berbaju putih itu sedang kasak kusuk bersama orang yang sedang duduk dibelakang kasir, entah apa yang sedang mereka bicarakan, tapi sorot matanya berulang kali dialihkan kearah mereka bertiga.
Ong It sin yang menyaksikan sang pelayan belum juga datang, lama kelamaan menjadi tak sabar, dengan gusar dia lantas memanggil.
"Hei, pelayan, cepat kemari!"
Pelayan berbaju putih itu buru buru berjalan mendekat dengan senyuman yang dibuat buat, katanya sambil membungkukkan badannya memberi hormat.
"Khek koan hendak memesan sayur apa?"
"Disini ada sayur apa saja yang paling lezat?"
"Banyak sekali, misalnya ayam masak kecap, daging masak kecap, Ang sio bak, tahu masak daging, ikan leihi masak tausi..."
Ia masih hendak berkata lebih jauh.
"Cukup, cukup"
Tukas Ong It sin.
"sediakan saja beberapa macam sayur itu"
"Araknya?"
"Sediakan setengah kati arak Li ji ang!"
Pelayan itu segera mengiakan dan berlalu untuk menyediakan alat untuk bersantap.
Bwe Yau masih tetap melayangkan pandangannya keluar jendela, sedangkan Ong It sin mengawasi tamu tamu yang sedang bersantap dalam ruangan loteng rumah makan itu.
Mendadak diatas loteng itu bertambah dengan dua puluhan orang jago persilatan.
Mereka duduk berkelompok kecil dan tersebar disekeliling tempat duduk Ong It sin Suasana menjadi hiruk pikuk suara minta arak memesan sayur bercampur aduk tak karuan.
Ong It sin tidak begitu memperhatikan, dia mengira orang orang itu adalah kawanan jago persilatan yang kebetulan saja mampir disana.
Tak lama kemudian pelayan telah datang menghidangkan arak dan sayur, semua hidangan masih panas dan menyiarkan bau yang harum.
Ong It sin memenuhi cawan kedua orang gadis itu dengan arak, kemudian sambil mengangkat cawan sendiri, katanya.
"Adik Soat, adik yau, bagaimana kalau kita keringkan secawan arak...?"
Belum sampai arak tersebut diteguk, Bwe Leng soat telah berbisik lirih.
"Tunggu sebentar engkoh Sin!"
"Ada apa adik Soat?"
Ong It sin tertegun Dengan wajah serius Bwe Leng soat berkata.
"Aku rasa rumah makan ini sedikit ada mencurigakan, lebih baik kita bertindak lebih berhati hati"
Berbicara sampai disini, dia lantas melepaskan sebatang tusuk konde perak dan ditusukkan kedalam cawan arak tersebut...
Ketika tusuk konde tersebut ditarik keluar, ternyata benda berwarna perak itu telah berubah menjadi hitam pekat.
Semua orang menjadi amat terperanjat sehingga tanpa terasa berteriak keras.
"Ada racun!"
Sementara itu, sang ciankwee yang berada dibelakang meja kasir pun kelihatan kaget bercampur gugup, tapi hanya sekejap kemudian ia telah menunjukkan wajah yang menyeringai seram.
"Bocah keparat"
Katanya kemudian.
"tak kusangka kalau kau begitu cekatan, cuma setelah kalian berada dalam rumah makan kami, hal ini sama artinya dengan memasuki pintu gerbang kui bun kwan, jangan harap bisa keluar dari sini dalam keadaan selamat!"
Tak bisa disangkal lagi, tempat ini merupakan sebuah rumah makan gelap...! Mendengar ucapan itu, Ong It sin segera tertawa terbahak bahak.
"Haaahhh... haaahhh... haaahhh... hanya mengandalkan rumah makanmu ini, kalian kira mampu untuk membelenggu kami?"
Dari bawah meja kasir sang ciangkwee tersebut mengeluarkan sebilah golok besar, kemudian katanya.
"Jika kau tidak percaya, silahkan untuk mencoba coba!"
Dalam waktu singkat semua tamu yang berada didalam rumah makan itu telah meloloskan senjatanya dan bersiap sedia disekeliling situ tampaknya pihak lawan telah mempersiapkan diri dengan sebaik baiknya...
Ong It sin segera berkerut kening, tegurnya kemudian.
"Siapa yang menjadi pentolannya?!"
Dibelakang meja kasir segera terbuka sebuah pintu ruangan, dari situ muncul seorang kakek berambut merah, beralis mata kuning dan bermata hijau, dia mengenakan sebuah jubah panjang yang beraneka warna.
Sambil melompat keluar, serunya dengan ketus.
"Lohu yang membuka rumah makan ini, atau boleh dibilang lohu lah pentolannya, bocah muda, sudah mengerti sekarang?"
Ong It sin hanya termenung sebab dia belum bisa mengingat ingat siapa gerangan kakek tersebut. Sebaliknya Bwe Leng soat segera berseru dengan kening berkerut.
"Hm...! Hanya mengandalkan kau sam si ok sang (saudagar bengis berwarna tiga) Ciang Ban kim?"
Diam diam agak terperanjat juga hati Ong It sin setelah mengetahui kalau lawannya adalah seorang gembong iblis yang bernama besar didalam dunia persilatan.
Sam si ok sang Ciang Ban kim segera tertawa terbahak bahak.
"Haaahhh... haaahhh... haaahhh... selama malang melintang didalam daratan Tionggoan, hampir setiap jago baik dari golongan hitam maupun putih pada tunduk kepada diriku..."
"Huuh, kalau memang jago kenamaan, mengapa masih kau gunakan cara licik macam begitu?"
Merah padam selembar wajah si Saudagar bengis berwarna tiga Ciang Ban kim karena jengah, serunya kemudian dengan gusar.
"Budak sialan, kau tahu apa? selamanya lohu tak sudi untuk turun tangan sendiri, aku hanya mendapat pesan dari seorang sahabat tuaku untuk membekuk kalian bertiga, itulah sebabnya terpaksa kami harus menggunakan sedikit tipu muslihat!"
"Oooh... rupanya begitu"
Kata Ong It sin.
"akupun lagi merasa heran, kita tak punya dendam atau perselisihan apa apa, mengapa kau berniat untuk mencelakai kami?" .....Ada bagian yang hilang..... Setelah berhenti sebentar dia lantas bertanya.
"Siapakah sobat lamamu itu?"
"Dia tak lain adalah Thian tok tay ong Hek lian Jin, konon kota Tok coa sianya sudah kalian punahkan? Berdiri sebagai seorang teman sudah sepantasnya bila lohu membalaskan dendam baginya"
"Sekarang usaha licik kalian mengalami kegagalan total apa pula yang hendak kau katakan lagi?"
"Aku masih tetap akan merenggut nyawamu!"
Sam si ok sang Ciang Ban kim menegaskan.
"Takutnya kau punya keinginan tapi tenaga kurang!"
"Jangan dianggap setelah menjadi muridnya kuil Sian gwan si dan Koan tiau kek maka kalian pandang remeh setiap orang? Setiap saat lohu dapat membekuk kalian semua"
Sambil berkata selangkah demi selangkah dia berjalan menuju kedepan meja kasir sementara sinar matanya seperti sengaja tak sengaja melirik sekejap kearah sebuah tombol rahasia diatas dinding.
"Hati hati kalau ada angin besar yang menyambar lidahmu!"
Seru Ong It sin kemudian. Saudagar bengis berwarna tiga Ciang ban kim segera tertawa dingin, jengeknya.
"Jika tidak percaya, lohu akan segera membekuk dirimu..."
Belum habis berkata, tangannya telah menekan ke atas tombol rahasia diatas dinding tersebut.
Asal tangannya menekan tombol itu, niscaya Ong It sin bertiga akan terjebak oleh alat rahasia dan jatuh ke dasar tanah.
Siapa tahu, belum sampai jari tangannya menyentuh tombol, setitik bayangan merah telah menyambar datang dengan kecepatan luar biasa, kemudian..."Blam!"
Terjadi ledakan keras yang diikuti dengan memancarnya cahaya api keempat penjuru.
Walaupun Sam siok sang Ciang Ban kim berhasil melarikan diri dengan mengandalkan ilmu meringankan tubuhnya yang sempurna, tak urung bajunya turut terbakar juga sehingga hangus sebagian.
Sebaliknya para penjahat lainnya banyak yang tak sempat menyelamatkan diri jeritan jeritan ngeri bergema memecahkan keheningan, tak sedikit diantara mereka yang tewas atau terluka.
Pada saat itulah Ong It sin dan kedua orang gadis itu sudah melompat keluar lewat jendela.
Tak selang berapa saat kemudian, seluruh bangunan rumah itu sudah hancur berantakan dan ambruk ketanah.
Dengan suara lirih Ong It sin berbisik.
"Kota Kun beng sia ini tak bisa didiami lagi, hayo kita berangkat melanjutkan perjalanan!"
Dalam kegelapan malam yang mulai mencekam seluruh jagad, berangkatlah ketiga orang itu meninggalkan kota Kun beng.
Sepanjang perjalanan mereka tempuh dengan kecepatan luar biasa...
Suatu ketika tiba tiba Ong It sin bertanya.
"Adik soat, aku ingin menanyakan dua hal kepadamu!"
"Dua hal yang mana?"
"Dari mana kau bisa tahu kalau didalam arak tersebut ada racunnya?"
"Begitu masuk kedalam rumah makan tadi, aku telah menyaksikan pelayan tersebut kasak kusuk dengan sang kasir, aku lantas menduga kalau mereka mempunyai niat busuk, sejak saat itulah aku sudah memperhatikan dengan seksama, begitu kulihat disitu bertambah dengan dua puluhan orang tamu yang datang berbondong bondong, aku semakin curiga lagi, sebab hal ini tidak lazim terjadi, hingga kewaspadaanku pun tanpa terasa kutingkatkan..."
Setelah mendengar penjelasan tersebut, Ong It sin baru memahami akan duduknya persoalan, maka diapun bertanya lebih lanjut.
"Lantas kenapa kau melancarkan serangan maut terhadap Sam si ok sang secara tiba tiba dengan melepaskan sebutir peluru Siau gi tan? Apakah dengan mengandalkan kepandaian asli, kita tak akan mampu untuk mengalahkan dirinya?"
"Dugaanmu itu keliru besar, bila bangsat itu tidak mempunyai suatu keyakinan, tak nanti akan mengucapkan kata kata seperti itu, jika tombol rahasia diatas dinding tersebut sampai dia pencet, niscaya kita semua akan terperangkap oleh alat jebakannya?"
"Bagaimana cara menemukan hal ini?"
"Bangsat itu sendiri yang memberitahukan hal tersebut kepadaku!"
"Enci Soat, kau jangan bergurau,"
Seru Bwe Yau.
"semenjak keluar dari kamarnya, bangsat itu mengobrol cerita yang panjang dan tiada habisnya, kapan sih dia memberi tahukan hal itu kepadamu?"
Bwe Leng soat memutar biji matanya lalu menjawab.
"Sekalipun dia tidak memberitahukan kepadaku dengan mempergunakan kata kata, tapi matanya telah memberitahukan hal itu kepadaku!"
OodoOoowo "Apa maksud dari ucapanmu itu?"
Tanya Bwe Yau.
"Begitu keluar dari pintu, seperti sengaja tak sengaja matanya telah melirik kearah tombol rahasia diatas dinding tersebut"
"Darimana kau bisa tahu kalau benda itu adalah sebuah tombol rahasia...?"
Tanya Ong It sin.
"Gampang sekali alasannya, seandainya diatas dinding tersebut bukan dipasang alat rahasia yang sanggup untuk menjebak kita, mengapa dalam suasana seperti itu, ia tidak menengok ke arah lain?"
Setelah berhenti sebentar, dia berkata lebih jauh.
"Ketika rumah makan itu ambruk, bukankah kita telah menemukan sebuah ruangan batu yang dalam sekali didalam tanah?"
Setelah mendapat keterangan tersebut Ong It sin pun tak bisa bertanya lagi. Bersamaan itu pula, dia merasa kagum sekali atas ketelitian serta kecerdasan dari Bwe Leng soat.
"Sekarang, kita sudah tahu kalau mahluk tua beracun itu mempunyai komplotan disepanjang jalan yang siap mencelakai kita setiap saat"
Kata Bwe Leng soat lagi pula cara kerja mereka amat licik, bila kita sampai bertindak teledor maka besar kemungkinan kita semua akan terkena oleh jebakannya.
"Enci Soat, bagaimana pula menurut pendapatmu?"
Tanya Bwe Yau.
"Untuk menghindari pelbagai kesulitan yang tidak diinginkan, lebih baik kita menyaru saja"
Ong It sin yang pertama tama menyatakan persetujuannya lebih dahulu malah sambil menuding kearah hutan pohon siong ditepi jalan, katanya.
"Tempat ini paling baik kalau digunakan sebagai tempat untuk menyaru...!"
Seraya berkata dia lantas masuk lebih dulu ke dalam hutan itu diikuti oleh Bwe Yau dan Bwe Leng soat dibelakangnya.
Ketika muncul kembali dari dalam hutan, mereka telah berubah menjadi tiga orang sastrawan berusia pertengahan.
Malam itu mereka telah tiba dikota tian gi, waktu itu senja telah menjelang tiba.
Untuk menghindari perhatian orang, Ong It sin sekalian hanya mencari sebuah rumah makan yang kecil.
Meski rumah makan itu kecil, namun hidangannya amat lezat.
Sambil mengangkat cawan araknya, Bwe Leng soat berkata.
"Bagaimana kalau kita jangan minum lagi setelah menghabiskan cawan yang terakhir ini?"
"Tidak bisa, aku harus menghormati tiga cawan arak lebih dulu kepadamu, kau jangan berusaha menghindarkan diri"
Sementara mereka sedang ribut, dari depan pintu telah berjalan masuk seorang lelaki berkaki panjang.
Dia mengenakan sepatu rumput dengan kepalanya mengenakan topi lebar terbuat dari anyaman bambu.
Dilihat dari dandanannya itu, dapat diketahui kalau dia adalah seorang jago persilatan yang baru saja melakukan perjalanan jauh.
Bwe Yau tidak begitu menaruh perhatian, tapi Ong It sin dan Bwe Leng soat menjadi terperanjat sekali.
Ternyata kedua orang itu mengenali siapakah lelaki berkaki panjang itu, dia tak lain adalah Sin heng tay poo (pangeran berkaki sakti) Thay Lip.
Ong It sin ingin menyapa, tapi segera dicegah oleh Bwe Leng soat sambil berbisik.
"Tunggu sebentar, ada orang datang!"
Ong It sin segera mendongakkan kepalanya, betul juga, didepan pintu rumah makan itu telah muncul empat orang kakek berbaju merah.
Begitu melihat kemunculan keempat orang itu, paras muka Sin heng tay poo Thay Lip segera berubah hebat.
Dia bangkit berdiri secara tiba tiba dan siap meninggalkan tempat itu...
Sayang keempat orang kakek berjubah merah itu telah menghadang didepan pintu.
Terdengar salah seorang kakek bermata besar berkepala singa dan berambut awut awutan itu tertawa dingin tiada hentinya, kemudian menegur.
"Sahabat Thay, secara beruntun kau telah berhasil menghindari kejaran tujuh kelompok jago jago kami tak malu kalau dirimu mendapat julukan sebagai si kaki sakti, cuma... bagaimanapun kau berusaha untuk menghindarkan diri, jangan harap bisa meloloskan diri dari pengawasan perkumpulan kami, sekarang apakah kau masih ingin kabur lagi"
Sin heng tay poo Thay Lip mendongakkan kepalanya dan berkata dengan suara hambar.
"Aku tak lebih hanya seorang prajurit tak bernama didalam dunia persilatan, entah ada urusan apa perkumpulan kalian mengutus begitu banyak jago lihay untuk menghadang jalan pergi dari aku orang she Thay?"
"Benar, hal ini mengherankan sekali"
Pikir Ong It sin.
"walaupun Sin heng tay poo memiliki sepasang kaki sakti yang bisa berjalan cepat, namun ilmu silatnya biasa saja kenapa pihak Ki thian kau enggan melepaskannya dengan begitu saja?"
Sementara dia masih termenung, seorang kakek bercodet telah berkata dengan lantang "Kau tak usah berlagak pilon lagi, bukankah kau hendak berangkat ke wilayah Biau untuk menyampaikan kabar kepada Ong It sin?"
Begitu ucapan tersebut diutarakan, tiga orang sastrawan berusia pertengahan yang berada disamping mereka menjadi amat terperanjat.
Sin heng tay poo Thay Lip pun tidak menyangka kalau musuhnya akan berterus terang kepadanya, hingga ia tak bisa menghindarkan diri lagi setelah tertegun sejenak, katanya kemudian dengan gusar.
"Sekalipun demikian, mau apa kau?"
Kakek bercodet itu tertawa dingin tiada hentinya.
"Tidak apa apa, kami hanya mendapat perintah dari kantor pusat untuk membekukmu dan mengirimnya ke bukit Leng sia san."
"Hmm! hanya mengandalkan kalian Ciong lay su koay?"
Dengus Sin heng tay poo dingin.
"Ciong lay su koay?"
Dengan cepat Ong It sin menjadi teringat kembali siapa gerangan keempat orang kakek itu, ternyata mereka adalah pencoleng pencoleng keji yang sudah banyak melakukan kejahatan dan pembunuhan brutal...
Sementara ia teringat akan hal itu, kakek bermata besar itu sudah berkata lagi.
"Kenapa? Memangnya lohu bersaudara masih belum sanggup untuk mengundang dirimu?"
Sin heng tay poo Thay Lip gusar sekali biji matanya berputar sekejap ke sekeliling tempat itu, dengan cepat ia berhasil menemukan rencana bagus untuk melarikan diri dari situ, dengan suara dalam segera sahutnya.
"Tentu saja, tentu saja..."
Dibibir ia berkata demikian, kakinya segera bergeser dengan cepat melompat keluar dari pintu samping rumah itu.
Tindakan yang dilakukannya itu boleh dibilang cepat sekali.
Sayangnya, meski dia cepat, dua orang diantara Ciong lay su koay telah menduga sampai kesitu, dengan cepat mereka melompat ke depan dan menghadang jalan perginya sambil berseru.
"Sobat Thay, buat apa musti terburu napsu? Percuma kalau ingin kabur sekarang"
Tiba tiba Sin heng tay poo Thay Lip merasakan datangnya segulung tenaga pukulan yang sangat kuat menerjang dadanya, dengan gugup dia menghindarkan diri ke belakang.
Entah dia sudah terdesak hebat atau karena timbul akal cerdiknya, ternyata Thay Lip telah menyembunyikan diri ke belakang ketiga orang sastrawan berusia pertengahan itu.
Dengan suara lantang salah seorang dari ketiga orang sastrawan tersebut segera berkata kepada Sin heng tay poo Thay Lip.
"Aku lihat cara berbicaramu sopan santun maju mundur tahu adat, jelas merupakan seorang Kuncu sejati, bagaimana kalau duduk sambil minum arak bersama?"
Sin heng tay poo Thay Lip tahu kalau jalan mundurnya sudah tertutup, sesudah sangsi sebentar, diapun duduk dan menerima cawan arak itu.
"Baiklah kuturuti permintaan anda!"
Katanya.
Sekali teguk dia menghabiskan isinya sampai habis kering, lagaknya santai, seakan akan dia sudah melupakan mara bahaya yang sedang mengancam didepan matanya itu.
Agaknya ketiga orang sastrawan berusia pertengahan itu amat menggemari sikapnya itu, dengan cepat mereka memesan sayur dan arak lagi.
Dalam pada itu, Ciong lay su koay juga mulai merasa lapar sekali, mereka tak berani bertindak dengan gegabah lagi, akhirnya keempat orang itupun memesan sayur dan arak.
Sebab, pertama Sin heng tay poo tidak bermaksud untuk melarikan diri, kedua ketiga orang sastrasan berusia pertengahan itu pun dia tidak akan mampu melindungi keselamatan lawannya, maka dengan tenang merekapun turut makan minum.
Siapa tahu, ketika selesai bersantap, ketiga orang sastrawan berusia pertengahan itu lantas menitahkan kepada pelayan untuk membuat rekening, setelah itu mereka mengajak Sin heng tay poo Thay Lip untuk melakukan perjalanan bersama.
Sudah barang tentu Sin heng tay poo Thay Lip menerima tawaran itu dengan senang hati.
Walaupun demikian, diapun merasa rada kuatir, sebab Ciong lay su koay adalah perampok perampok yang membunuh orang tanpa berkedip, andaikata ketiga orang sastrawan ini sampai menjadi korban, bagaimana jadinya?
Berpikir demikian, ia menjadi sangsi, tapi salah seorang dari sastrawan berusia pertengahan itu segera menarik ujung bajunya sambil berbisik lirih.
"Sobat, mari kita pergi! Malam ini kita harus berbincang bincang sampai pagi..."
Karena tak bisa melepaskan diri dari cengkeraman orang, maka Sin heng tay poo Thay Lip terpaksa harus mengikuti dibelakang mereka untuk berjalan keluar dari rumah makan itu.
Belum sampai beberapa langkah, tiba tiba terdengar Ciong lay su koay membentak keras dengan sorot mata bengis.
"Sahabat Thay, berhenti kau!"
Walaupun Thay Lip ingin berhenti, namun sepasang kakinya sudah tidak menuruti perkataannya dan melanjutkan langkahnya menuju ke depan sana. Terdengar sastrawan berusia pertengahan itu berkata.
"Sobat, hubunganmu sungguh luas sekali banyak benar orang yang hendak mengajakmu pergi! Cuma, bukankah kau telah meluluskan permintaan kami lebih dulu untuk berkunjung kerumah kami? Maka kaupun tak usah mempedulikan orang lain lagi"
Ucapan itu tak bisa disangkal lagi merupakan jawaban yang diturunkan kepada orang orang itu.
Tak heran kalau Ciong lay su koay menjadi naik pitam!
sambil membentak keras mereka menerjang ke depan dengan kecepatan luar biasa.
Seorang menggerakkan tangannya untuk mencengkeram tubuh Sin heng tay poo sedangkan seorang yang lain menghajar punggung sastrawan berusia pertengahan.
Pada detik yang terakhir itulah, mendadak terjadi suatu peristiwa yang sama sekali di luar dugaan...
Si kakek bercodet Im Hu dan sikakek berkepala singa Si Siau thian bersama sama mendengus tertahan, bukannya berhasil dengan serangannya, malahan mereka kena digetarkan balik kebelakang dengan darah yang bergolak keras dalam dadanya.
Kenyataan ini segera membuat keempat orang siluman itu berdiri termangu mangu macam orang bodoh.
Terutama sekali siluman pertama Kakek Kuntilanak Ong Liau dan siluman kedua Kakek berusus dingin Ciang Pia hoo sebagai penonton, mereka tidak berhasil melihat dengan jelas bagaimana caranya kedua orang rekannya terluka.
Dari sini dapat diketahui bahwa kesemuanya ini merupakan hasil karya dari ketiga orang sastrawan berusia pertengahan itu.
Sementara sikakek bercodet Im Hu dan si kakek berkepala singa Si Siau thian telah mengatur napasnya untuk menekan pergolakan darah didalam dadanya, setelah itu teriaknya keras keras.
"Lotoa, lojin, mari kita susul ketiga orang pelajar rudin itu!"
"Apakah kalian tidak salah melihat,"
Kata Kakek Ciang Pia hoo.
"Kami berdua kena dipentalkan oleh sastrawan jangkung itu, masa bisa salah? Belum pernah kami dengar ada manusia macam begitu dalam dunia persilatan, hayo kita kejar, coba lihat manusia macam apakah dirinya itu..."
"Baik!"
Tanpa banyak berbicara lagi mereka segera berangkat meninggalkan rumah makan itu dengan kecepatan luar biasa.
Dalam anggapan mereka, Sin heng tay poo dan ketiga orang pelajar rudin itu sudah pasti telah pergi jauh, maka setibanya didepan rumah makan, dengan cepat mereka celingukan kesana kemari.
Mendadak terdengar seorang menegur.
"Hei, sobat apakah kalian sedang mencari aku?"
Dengan terkejut keempat orang siluman itu membalikkan badannya.
Ternyata ketiga orang sastrawan tersebut bersama Sin heng tay poo Thay Lip sedang menanti kedatangan mereka dirumah sebelah, bahkan waktu itu mereka sedang memandang kearahnya dengan sinar mata yang sinis dan penuh rasa hina.
Kakek kuntilanak Ong Liu segera maju kedepan dan sahutnya.
"Betul, kami memang sedang mencari kalian semua!"
Seorang sastrawan setengah baya yang bertubuh kurus kecil segera mendengus.
"Hmm, ada urusan apa mencari kami?"
"Dihadapan orang lebih baik jangan berbohong, katakan siapa nama kalian!"
"Kami bukan anggota persilatan, juga tidak melakukan jual beli tanpa modal, buat apa musti bercakap cakap dengan pentolan penyamun macam kalian itu?"
Begitu mendengar perkataan tersebut, Ciong lay su koay segera melototkan matanya bulat bulat dengan wajah amat gusar.
Si kakek bermuka codet Im Hu paling berangasan orangnya, ditatapnya sastrawan kecil itu lekat lekat, kemudian bentaknya.
"Pelajar rudin, rupanya kau sudah bosan hidup!"
"Memangnya kau berani bertindak semena mena terhadap kami?"
Jengek sastrawan itu sambil tertawa dingin. Kakek bercodet itu segera maju ke depan, teriaknya keras keras.
"Kau tak usah berkentut terus dihadapan kami, lihat saja kami akan menjagal kalian ditengah jalan..."
Dengan cepat dia meloloskan sebilah pisau kemudian menerjang ke depan dan menusuk dada sastrawan setengah umur yang bertubuh ceking dan kecil itu.
"Losam, jangan sembarangan, bisa mengagetkan pihak petugas keamanan..."
Cegah siluman pertama keras keras.
"Lotoa, kau maksudkan jangan memakai senjata tajam?"
Seru si kakek bercodet sambil menarik kembali senjatanya.
"Betul lebih baik kita seorang bereskan seorang, itulah lebih praktis dan bagus!"
Baru selesai dia berkata, sastrawan yang jangkung itu sudah melotot dengan matanya yang tajam, kemudian ujarnya sambil tertawa dingin.
"Kalau toh kau merasa begitu yakin dengan kemampuanmu, mengapa tidak terima tantangan kami? Cuma tempat ini kurang cocok untuk dipakai sebagai tempat pertarungan, mari kita berpindah tempat saja"
Mimpipun siluman pertama itu tak mengira kalau tantangannya diterima lawan dengan begitu saja, tanpa terasa ia menjadi tertegun.
"Waah... jangan jangan musuhku ini cukup tangguh?"
Demikian dia berpikir. Sudah barang tentu mustahil baginya untuk menarik diri lagi, maka katanya sambil tertawa dingin.
"Kalau begitu kita berjumpa ditanah pekuburan diluar kotasana.
"Baik, kami akan berangkat selangkah lebih duluan!"
Ciong lay su koay tak bisa berbicara apa apa lagi, maka siluman pertama pun memberi tanda kepada rekan rekannya seraya berkata.
"Mari kita berangkat, tidak kuatir mereka bisa kabur ke atas langit..."
Selesai berkata merekapun berangkat meninggalkan tempat itu, dalam waktu singkat bayangan tubuh mereka sudah lenyap tak berbekas.
Sepeninggal keempat orang siluman itu, Sin heng tay poo Thay Lip segera menjura kepada ketiga orang sastrawan berusia pertengahan itu sambil ujarnya.
"Aku Thay Lip mengucapkan banyak terima kasih atas pertolongan saudara sekalian sayang aku masih ada urusan penting yang harus segera dilaksanakan, lagipula persoalan itu menyangkut keselamatan dunia persilatan, oleh sebab itu terpaksa aku musti mohon diri lebih dulu."
Sin heng tay poo Thay Lip sudah bersiap siap meninggalkan tempat itu, tapi segera dicegah oleh si sastrawan jangkung.
"Thay tayhiap"
Demikian katanya.
"tadi kudengar kau hendak pergi ke wilayah Biau untuk mencari Ong It sin, apa benar ada kejadian semacam ini...?"
"Benar!"
"Aku lihat, kau tak usah pergi lagi!"
"Kenapa?"
Tanya Sin heng tay poo terkejut.
"Sebab sekarang ia sudah tidak berada di situ lagi, setelah melenyapkan kota ular beracun, mereka telah berangkat meninggalkan tempat tersebut...!"
"Oooh, kemana aku harus mencari dirinya?"
Seru Sin heng tay poo Thay Lip kemudian dengan sedih.
"Mungkin dia sudah pulang ke daratan Tionggoan, oleh sebab itu Thay tayhiap tak usah mencarinya lagi"
"Thay tayhiap"
Timbrung sastrawan ceking itu mendadak.
"ada urusan penting apakah sehingga kau begitu terburu buru untuk menemukan dirinya...?"
Sin heng tay poo ragu sejenak, kemudian katanya berterus terang.
"Ketua Ki thian kau Be Siau soh telah berhasil melatih Hu si jit si Ngo heng sin kang, dengan mengandalkan kepandaiannya itu dia telah menyerbu ke kuil Siau lim si dan menculik Thian yan serta Thian ci hweesio dengan tujuan merajai dunia persilatan, sekarang dia telah mengutus orang untuk menyebar undangan ke pelbagai aliran dan partai dengan perintah untuk melaporkan diri ke markas besarnya di bukit Long cia san pada bulan Toan yang, kalau tidak, mereka akan dilenyapkan dari muka bumi"
Sastrawan jangkung itu segera berkerut kening, serunya.
"Oooh... telah terjadi peristiwa semacam ... Pengetahuan kami benar benar amat cetek!"
Sembari berkata dia lantas membawa semua orang menuju ke tanah pekuburan di luar kota.
"Selain itu masih ada kabar apa lagi?"
Tanya sastrawan ceking itu kemudian.
"Konon Ay sian Cu Lian ci dan Say siu hun dim juga telah ditangkap dan disekap mereka"
Sastrawan jangkung itu tampak terperanjat sekali setelah mendengar perkataan itu dengan cepat dia mencengkeram lengan Sin heng tay poo sambil pekiknya.
"Sungguhkah perkataanmu itu?"
Walaupun cengkeraman itu dilakukan dengan sambil lalu, namun kekuatannya hebat sekali, seketika itu juga sin heng tay poo Thay Lip menjadi kesakitan setengah mati, peluh dingin bercucuran membasahi sekujur tubuhnya.
"Aku... aku... sama sekali... titi... tidak bohong..."
Sahutnya tergagap.
"Toako, kau tidak kuatir melukai Thay tayhiap?"
Sastrawan ceking itu segera memperingatkan. Buru buru sastrawan jangkung itu mengendorkan tangannya, kemudian bertanya.
"Sakit tidak?"
"Oooh... tidak tidak!"
Sementara perbincangan masih berlangsung, mereka sudah tiba di tengah pekuburan diluar kota.
Waktu itu dalam amat larat, kentongan ketiga pun sudah menjelang tiba...
Ciong lay su koay bagaikan setan gentayangan berdiri seram dibawah sinar rembulan yang redup.
Ketika menyaksikan kedatangan musuh musuhnya, Ya siau siu Ong Liau si siluman pertama dari Ciong lay su koay itu segera tertawa seram, kemudian tegurnya.
"Kalian benar benar memegang janji sekarang sebutkan dulu siapa nama kalian!"
"Kau kuatir setelah mati mata tak meram jengek sastrawan jangkung itu sinis.
"Omong sembarangan"
Bentak Ya siau siu dengan gusar.
"lohu tak pernah membunuh manusia tak bernama!"
"Jadi kau memaksa aku untuk memberitahukan?"
"Hmmm. memangnya lohu sedang bergurau?"
Dengan kening berkerut sastrawan jangkung itu lantas berkata.
"Boleh saja diberitahukan kepadamu, tapi akupun mempunyai suatu pantangan"
"Apa pantanganmu itu?"
"Barang siapa salah mengetahui namaku, maka dia harus mampus dalam keadaan mengerikan"
Dengan geramnya Ya siau siu Ong Liau mendongakkan kepalanya dan tertawa seram "Haaahhh...
haaahhh...
haaahhh...
kau betul betul amat tekebur...
juga besar nyalinya, laporkan namamu soal mati atau tidak, sebentar kau bakal tahu sendiri jawabannya!"
Tiba tiba paras muka sastrawan jangkung itu berubah menjadi dingin seperti es dengan sinar mata yang mengerikan dia berseru dalam dalam.
"Aku she Ong bernama It sin, sudah kau dengar jelas?"
Begitu mendengar nama tersebut, paras muka Ciong lay su koay segera berubah hebat serunya hampir berbareng.
"Huuh... tampang macam itupun mengaku sebagai Giok bin sin liong (naga sakti berwajah pualam) Ong It sin?"
Kali ini giliran sastrawan jangkung itu menjadi tertegun, pikirnya kemudian.
"Apakah didalam dunia persilatan telah muncul kembali seorang jago yang bernama Giok bin sin liong Ong It sin?"
Ketika Ya siau siu melihat musuhnya nampak tertegun, dia lantas menganggap lawannya adalah Ong It sin gadungan hatinya semakin lega dengan mata memancarkan sinar tajam katanya kemudian.
"Sobat, tahukah kau kalau Giok bin sin liong Ong It sin adalah ahli waris dari Leng mong sinceng? Wajahnya tampan sekali..."
Mendengar perkataan itu, si sastrawan jangkung itu kembali berpikir.
"Oooh, rupanya yang dinamakan Giok bin sin liOng Itu adalah diriku sendiri!"
Berpikir demikian, dia lantas berkata.
"Kalau begitu, jelas kami punya nama yang sama, tapi memang tak sedikit orang didunia ini yang nampaknya nama sama, setelah mampus nanti, silahkan kalian ingat baik baik kalau kalian telah mampus ditangan Ong It sin!"
Ciong lay su koay bertambah gusar, rasa was was yang semula menyelimuti hati mereka segera lenyap tak berbekas, terutama si kakek bercodet yang memang buas dan kejam sedari tadi ia memang sudah berniat untuk membunuh orang.
Mendadak dia melompat ke depan kemudian bentaknya.
"Bajingan laknat, kalian memang pantas untuk dibunuh, serahkan nyawa kalian!"
Sepasang kepalannya diayunkan ke depan, deruan angin dahsyat yang amat kencang segera menggulung ke muka.
Tampaknya ia bertekad untuk membunuh musuhnya dalam sekali gebrakan, maka serangan tersebut dilancarkan dengan sepenuh tenaga, bukan saja pukulannya berat, lagipula buas, ganas dan jitu.
Aneh sekali, meski pukulan itu amat dahsyat, dalam kenyataannya serangan itu tak berhasil mengenai tubuh lawannya, malah seujung rambut pun tak terjawil olehnya.
Puluhan gebrakan kemudian, serangan dari si kakek bercodet itu makin lama semakin lemah.
Akhirnya, dia membentak keras, golok yang terselip dipinggangnya segera dicabut keluar.
Si kakek bercodet ini sesungguhnya memang merupakan seorang jago golok yang amat lihay, dia memiliki serangkaian ilmu golok yang hebatnya bukan kepalang.
Selama ini, belum pernah ada seorang jago persilatanpun yang sanggup menahan dua puluh jurus serangannya, itulah sebabnya dia menjadi latah, angkuh dan memandang remeh kepada orang lain.
Sayang keadaan yang dihadapinya hari ini berbeda, sekalipun begitu turun tangan ia telah mengulurkan kepandaian andalannya toh hasilnya tetap nihil.
Masih untung musuhnya masih sungkan kepadanya, kalau tidak, akibatnya benar benar sukar dibayangkan dengan kata kata.
Makin bertarung sikakek bercodet itu semakin ketakutan, butiran keringat jatuh bercucuran membasahi tubuhnya, sekarang dia baru sadar kalau musuhnya terlampau tangguh.
Dalam sekejap mata puluhan gebrakan kembali sudah lewat.
Lama kelamaan Ong It sin bosan sendiri menghadapi musuhnya yang garang itu dengan sebuah pukulan yang sangat aneh, dia hajar dada kakek bercodet itu.
Belum sempat menjerit kesakitan, gembong iblis itu sudah mencelat kebelakang dan tewas seketika itu juga.
Menyaksikan rekannya tewas, sikakek bermata besar kepala singa itu membentak keras kemudian dengan garangnya menubruk ke depan.
Ia bersenjatakan sepasang roda emas Jit gwat kim lun, dengan menciptakan lapisan cahaya emas yang amat tebal, langsung dia kurung sekujur tubuh musuhnya.
"Suatu serangan yang amat bagus,"
Seru Ong It sin.
Tanpa sangsi lagi, telapak tangannya diayunkan kemuka melancarkan sebuah pukulan dahsyat.
Ditengah hembusan angin puyuh yang menderu deru, roda emas Jit gwat kim lun itu segera terlepas dari cekalan dan mencelat ke udara.
Keadaan dari kakek kepala singa ini lebih mengenaskan lagi, satu gebrakan belum dilewatkan dia sudah menjerit ngeri sambil muntah darah segar tubuhnya mencelat kebelakang dan tewas seketika itu juga.
Dengan terjadinya peristiwa ini, Ya siau siu dan Leng cong siu menjadi keder dan pecah nyalinya.
Ya siau siu Ong Liu telah bersiap siap maju ke depan untuk beradu jiwa, tapi segera dicegah oleh si kakek berusus dingin Ciang Pia hoo.
"Lotoa, jangan tak tahu diri!"
Nasehatnya.
"sekalipun ilmu silatmu lebih hebat dari pada losam dan losu, tapi sampai dimana kau bisa menolong keadaan ini?"
"Lantas bagaimana menurut pendapatmu?"
Tanya Ya siau siu dengan wajah amat sedih.
"Sudah lumrah bila menderita kalah di suatu medan perang, apalagi yang bisa kita lakukan sekarang? Lebih baik tunggu saja keputusan musuh terhadap nasib kita"
"Loji, mengapa kau dapat mengucapkan kata kata yang tidak tahu malu sama sekali itu?"
"Sebagai seorang lelaki sejati, harus bisa melihat keadaan, sekalipun kau tidak setuju lotoa, akupun tak bisa berbuat banyak"
Agaknya Ya siau su juga tahu kalau keadaan yang dihadapinya sekarang amat tidak menguntungkan posisinya, bila dia berani bertindak gegabah maka bisa jadi akan berakibat lenyapnya Ciong lay su koay dari permukaan bumi.
Akhirnya setelah mempertimbangkannya beberapa waktu, dia merasa ucapan dari loji memang ada benarnya juga, maka diapun lantas menundukkan kepalanya dan tidak berbicara lagi.
Sesungguhnya Ong It sin sendiripun sama sekali tidak berniat untuk melakukan pembasmian terhadap lawannya, melihat pihak musuh sudah tidak melancarkan serangan lagi, diapun lantas berkata.
"Semua akibat ini merupakan hasil perbuatan dari kalian sendiri, jangan salahkan kalau aku orang she Ong bertindak keji. Untung saja kalian masih tahu diri, asal kalian tidak menyerang lagi, akupun bersedia untuk mengampuni jiwa kalian berdua"
"Terima kasih banyak"
Ucap si Kakek berusus dingin Ciang Pia hoo.
"selama bukit nan hijau, air tetap mengalir, budi kebaikanmu ini suatu ketika pasti akan kubayar"
Sehabis berkata, dia lantas membalikkan badan dan siap berlalu dari situ. Baru saja mereka menggerakkan tubuhnya, seorang sastrawan bertubuh ceking telah membentak keras.
"Tunggu sebentar!"
Serentak Ya siau siu dan Leng cong siu berseru bersama.
"Apakah ucapan dari Ong tayhiap tidak berlaku?"
"Setiap perkataan dari toako kami selalu dipegang dengan teguh, siapa bilang kalau tidak berlaku?"
"Lantas apa maumu?"
Seru Ya siau siu cepat.
"Apa yang dikatakan toako ku barusan?"
"... dia bilang, bersedia mengampuni dua lembar nyawa kami, apakah perkataan ini keliru?"
"Kata kata itu mah tidak keliru, cuma kami toh tidak berjanji untuk tidak memunahkan ilmu silat kalian?"
Mendengar ucapan tersebut, terbungkamlah kedua orang siluman itu, sekujur badan merekapun mulai gemetar keras.
Menyaksikan mimik wajah mereka yang mengenaskan, Ong It sin menjadi tak tega, katanya cepat.
"Soat... te, sudahlah, biarkan mereka tinggalkan tempat ini dengan membawa serta ilmu silatnya?"
"Engkoh Sin, kalau mereka dibiarkan pergi dengan begitu saja, maka jejak kita sudah pasti tak akan bisa dipertahankan lagi!"
"Bagaimana menurut pendapatmu?"
"Punahkan ilmu silatnya kemudian menotok jalan darah bisunya, setelah itu serahkan kepada Tay tayhiap agar dilepaskan setibanya dibukit Soat hong san"
"Aaah, ucapan adik Soat memang tepat sekali!"
Ternyata sastrawan bertubuh ceking itu adalah penyaruan dari Bwe Leng soat.
Dengan demikian, Sin heng tay poo pun segera menyadari apa gerangan yang telah terjadi.
Ketika Ya siau siu dan Leng cong siu menyaksikan keadaan telah berkembang menjadi begini rupa, tahulah mereka bahwa tiada harapan lagi bagi mereka untuk kabur, tanpa terasa kedua orang iblis ini menghela napas panjang.
Ong It sin segera maju ke depan dan memunahkan ilmu silat dari kedua orang ini, bahkan sekalian menotok pula jalan darah bisunya, sambil diserahkan kepada Sin heng tay poo, dia berkata.
"Maaf..., aku musti merepotkan dirimu!"
"Siau heng bersedia melaksanakan tugas ini!"
Jawab Sin heng tay poo dengan girang.
"Bagaimana dengan Coa toako sekalian?"
"Mereka masih berada ditempat semula!"
"Baik baiklah mereka semua?"
Tanya Bwe Leng soat.
"Tindak tanduk mereka sekarang semakin bertambah hati hati, karena kuatir terjadi hal hal yang tak diinginkan, silahkan kalian langsung menuju ke tempat pertemuan saja"
"Dewasa ini anggota Ki thian kau makin banyak, dengan mengandalkan kekuatan kita beberapa orang sesungguhnya terlalu minim sekali...?"
"Bagaimana kalau kita pulang ke Lam hay untuk meminta bantuan guruku...?"
Usul Bwe Leng soat. Ong It sin segera menggeleng.
"Inilah percobaan untuk kita, tak perlu, lagi pula bulan lima hari Toan yang tinggal dua puluh hari, waktunya sudah tak sempat lagi buat kita pergi ke tempat jauh"
Setelah berhenti sejenak, ujarnya kepada Sin heng tay poo.
"Thay toako, bawalah kedua orang siluman ini menuju kebukit Soat hong san kemudian berangkat ke kuil Siau lim si untuk bertemu dengan Toan gi siansu, suruh dia mengadakan perundingan rahasia dengan pelbagai aliran untuk mempersiapkan sesuatu pertarungan massal, tapi berita ini musti dirahasiakan lebih baik kalau hanya diketahui oleh beberapa orang ciang bunjinnya saja!"
Sin heng tay poo Thay Lip mengiakan, dia lantas menuju kekota menyewa kereta dan membawa pergi dua orang siluman tersebut. Sebelum berangkat dia bertanya lagi kepada Ong It sin.
"Aku masih belum menanyakan nama dari saudara ini?"
Sambil berkata dia lantas menunjuk kearah Bwe Yau. Ong It sin segera tersenyum.
"Aaah, aku memang pikun sekali, masa lupa untuk memperkenalkan kalian, dia adalah sumoayku..."
"Sedari kapan sinceng menerima murid perempuan?"
"Thay toako, kau salah duga, dia bukan murid guruku, melainkan muridnya Seng hong tianglo dari luar perbatasan yang bernama nona Bwe Yau..."
Kata pemuda itu tertawa.
"Oooh, seharusnya aku bisa menduga ke sana"
Dia lantas mencemplak kudanya dan berlalu dari situ.
Sedangkan Ong It sin bertiga pun kembali ke tempat penginapannya untuk beristirahat.
oxodOwooxo Sementara itu, markas besar perkumpulan Ki thian kau diatas bukit Long sia san dekat kota Si ciu tampak bertambah semarak dan tersohor, terutama sekembalinya kaucu mereka Be Siau soh ke dalam markas besarnya.
Hal ini lebih disemarakkan lagi dengan berhasil tertangkapnya Say siu hud sim, Thian ya, Thian ci hwesio dari Siau lim pay dan Ay sian Cu Lian ci.
Makin lama pengaruh Ki thian kau dalam dunia persilatan semakin besar, sedang kawanan liok lim dan penjahat golongan hitam sama sama takluk dan menggabungkan diri dengan mereka.
Sementara murid murid dari pelbagai perguruan besar didunia ini, semakin jarang melakukan perjalanan dalam dunia persilatan.
Melihat kenyataan tersebut, tampaknya cita cita Be Siau soh untuk menguasahi seluruh jagad sudah hampir menjadi suatu kenyataan.
Tapi Be Siau soh masih belum tenang, dia masih merisaukan sesuatu hal, terutama kemampuan dari Ong It sin dan Bwe Leng soat dua orang, terutama sekali yang disebut belakangan ini.
kalau bisa dia ingin mencincang tubuhnya menjadi berkeping keping.
Sedangkan soal Ong It sin, semenjak dia tahu kalau pemuda itu tidak bertampang jelek dan memuakkan seperti dulu lagi, bahkan berubah menjadi tampan bagaikan Phoa An, sehingga orang orang persilatan memberi julukan Giok bin sin liong kepadanya hal ini menimbulkan gairah Be Siau soh untuk berjumpa dengan kekasih lamanya ini.
Sekalipun dalam hatinya dia berhasrat demikian, namun tiada seorang manusiapun yang tahu dimanakah Ong It sin dan Bwe Leng soat berada saat itu.
Ketika menyaksikan Sin heng tay poo menuju kebarat dengan gerak gerik yang mencurigakan, dia lantas menduga kalau hal ini ada hubungannya dengan Ong It sin.
Itulah sebabnya sepanjang jalan Be Siau soh menitahkan untuk mengadakan penghadangan.
Siapa tahu Sin heng tay poo terlampau lihay, secara beruntun dia telah berhasil melampaui tujuh hadangan dan tiba tiba lenyap tak berbekas...
Kemudian diketahui pula bahwa Ciong lay su koay yang dikirimnya telah kedapatan tewas dua orang lainnya lenyap dengan begitu saja.
Maka Be Siau soh segera menitahkan wakil kaucu ketiga Siau bin mi lek dengan membawa empat orang toa guhoat untuk melakukan penyelidikan yang jelas.
Tak lama kemudian Thian tok tay ong dan Ciok yong sin li datang menggabungkan diri, sudah barang tentu hal ini membuat Be Siau soh kegirangan setengah mati.
oooOdwXooo Setiap dua tiga hari sekali, Be Siau soh memerlukan diri untuk berkunjung ke penjara bawah tanah dan membujuk Thian yan, Thian ci hwesio, Say siu hud sim dan Ay sian Cu Lian ci sekalian untuk menyerah saja.
Siapa tahu keempat orang itu tetap berkeras kepala dan tak mau takluk sampai mati.
Dia cukup mengetahui akan pentingnya keempat orang ini bagi umat persilatan, bila dibunuh maka keadaan pasti akan bertambah kacau, bila dibiarkan melarikan diri, mereka pasti akan menjadi musuh bebuyutan yang menakutkan.
Yang lebih menakutkan lagi adalah jika keempat orang ini sampai diperalat oleh Ong It sin.
Oleh sebab itu penjaga penjaga yang ditugaskan untuk menjaga penjara tersebut merupakan jago jago pilihan yang rata rata berilmu tinggi.
Selain daripada itu, diapun menunjuk wakil ketua kedua sebagai komandan dari pengawal penjara tersebut.
Bahwasanya Seng Meh cu, wakil ketua kedua dari Ki Thian kau bisa terpilih, hal ini pun sudah sewajarnya, sebab bukan Cuma ilmu silatnya saja yang sangat lihay, kecerdasan otaknya juga luar biasa sekali.
Dengan penjagaan yang demikian ketatnya memang sukar buat keempat orang tawanan itu untuk melarikan diri.
Suatu hari, Be Siau soh melakukan pesiar disekitar bukit tersebut, untuk menikmati pemandangan alam, yang dimaksudkan sebagai pesiar baginya adalah keluar rumah untuk berburu pemuda tampan.
Semenjak mempelajari ilmu Ngo heng sin kang, setiap hari dia membutuhkan sari kelakian seorang pemuda untuk menambah sempurnanya tenaga dalam yang sedang dilatihnya.
Itulah sebabnya dikota Si ciu, seringkali kedapatan pemuda pemuda tampan yang mendadak lenyap tak berbekas.
Hari itu, dia berpesiar lagi dengan menaiki tandu, ketika melewati pintu kota, mendadak ia menyaksikan ada seorang petani muda sedang mencangkul tanah ditengah sawah.
Petani itu berwajah tampan, berotot kekar dan amat menawan hati, bergetar perasaan Be Siau soh menyaksikan ketampanan pemuda itu, segera bentaknya.
"Hentikan tandu!"
Tandu berhenti, Ang hun lo sat Hoa Long jin segera maju kedepan sambil bertanya.
"Kaucu ada urusan apa?"
Be Siau soh mengerling sekejap kearah petani muda ditengah sawah itu, lalu perintahnya.
"Tangkap dia!"
Ang hun lo sat Hoa Long jin mengiakan, dia segera melompat ketengah sawah dan menggape kearah petani itu sambil berseru.
"Hei, toako, cepat kemari, nio nio ingin menyatakan sesuatu kepadamu!"
"Nio nio kalian berada dimana?"
Sambil berkata petani itu membersihkan lumpur dari kakinya dan berjalan mendekat. Ang hun lo sat Hoa long jin segera menuding ke arah tandu kecil itu seraya menyahut.
"Itu dia, bukankah dia berada disini? Cepat ikuti aku!"
Sambil berkata dia lantas berjalan lebih dahulu ke depan.
Tak selang berapa saat kemudian, pemuda itupun sudah tiba didepan tandu tersebut.
Baru saja dia ingin menyaksikan sesuatu tahu tahu Be Siau soh sudah mengebaskan tangannya dan menotok jalan darah petani muda tadi.
"Bawa dia pulang ke markas!"
Perintahnya.
Gadis berbaju merah yang ada dibelakangnya segera mengiakan, dengan cepat dia menyambar tubuh petani itu dan dibawa kabur.
Dalam waktu singkat, rombongan tersebut sudah lenyap dari pandangan mata.
Sepeninggal rombongan tersebut, dari balik semak belukar kedengaran seorang gadis sedang berkata.
"Coa toako, dugaanmu memang hebat. Cuma..."
"Adik Soat, Cuma kenapa?"
Tanya lelaki she Coa itu.
"apakah kau takut Ong lote berubah pikiran? Tak usah memikirkan yang bukan bukan!"
"Hmm, aku sih tidak kuatir, Cuma aku kuatir dengan keselamatannya, setelah berada didalam sarang iblis, mungkinkah dia akan mengalami sesuatu yang sama sekali diluar dugaan?"
"Ong lote adalah seorang pemuda bernyali besar dan berotak cerdas, ilmu silatnya juga sangat lihay, mana mungkin dia akan menjumpai mara bahaya? Lebih baik kita pulang ke rumah saja sambil menantikan kabar baik darinya!"
Tak lama kemudian, kedua sosok bayangan manusia itupun lenyap dari tempat itu.
^oood^O^wooo^ Tempat ini adalah sebuah kamar tidur yang amat megah dan mewah sekali.
Diatas pembaringan berbaringlah seorang pemuda tampan, dia tak lain adalah sang petani muda yang kena dibekuk siang tadi.
Sementara itu, disamping pembaringan berdiri seorang dayang berbaju putih.
Waktu itu sang dayang sedang mengawasi wajah petani muda diatas ranjang itu dengan termangu mangu, kemudian diapun menghela napas lirih.
Dibalik helaan napasnya itu, penuh mengandung rasa kasihan dan sayang.
Sebab dia pernah menyaksikan banyak sekali pemuda tampan yang tertidur nyenyak pada malam itu, tapi keesokan harinya sudah tak sanggup berdiri lagi.
Tentu saja petani muda inipun tak akan terhindar pula dari keadaan tersebut.
Diam diam dayang berbaju merah itu berpikir.
"Kaucu kami begitu cabul dan jalang, selain membunuh orang, suka sekali melalap lelaki muda, dia bukan manusia yang baik. suatu hari sudah pasti akan kena batunya... tapi sampai waktu itu, mungkin aku sendiripun harus mengorbankan pula selembar jiwaku"
Berpikir sampai disini, dia semakin sedih.
Jangan dilihat dayang berbaju merah itu adalah dayangnya Ang hun lo sat Hoa Long jin dalam kenyataannya diapun seorang anak gadis yang masih suci bersih, tapi berhubung dipilih oleh Ang hun lo sat, maka terpaksa dia harus menjadi dayangnya.
Tidak sedikit peristiwa cabul yang disaksikan olehnya dia benar benar merasa benci dan muak sekali dengan kejadian kejadian semacam itu.
Tapi dia tak mampu menghalanginya, ia pernah mencoba untuk melarikan diri, tapi ia takut ditangkap dan menderita karena siksaan.
Itulah sebabnya selama inipun dia hidup dalam dunia yang serba gelap dan penuh kemaksiatan ini...
Sementara dayang itu sedang melamun, mendadak pemuda diatas ranjang itu membuka matanya, lalu bertanya dengan suara tercengang.
"Nona, sekarang aku berada dimana?"
"Benarkah kau tidak tahu?"
Tanya si dayang.
"Tentu saja"
"Akan kuberitahukan kepadamu, tapi kau tak boleh melarikan diri dari sini!"
"Kalau memang begitu, aku lebih lebih ingin tahu!"
Dayang berbaju merah itu menggerakkan bibirnya seperti hendak mengucapkan sesuatu, tapi sejenak kemudian dia menggelengkan kepalanya berulang kali sambil katanya.
"Tak ada gunanya kuberitahukan hal ini kepadamu, sebab hal mana hanya akan merugikan dirimu saja, aku rasa lebih baik tak usah kukatakan kepadamu saja"
Mendengar perkataan itu, tergerak juga perasaan petani muda itu, segera pikirnya.
"Orang bilang, setiap sepuluh jengkal tanah, pasti ada rumput yang bersemi, tak kusangka kalau didalam sarang iblis seperti ini, masih terdapat seorang nona yang baik hati" 0000=dow=0000
Jilid 30 PETANI muda itu tak lain adalah hasil penyaruan dari Giok bin sin liong Ong It sin, seketika itu juga timbul rasa simpati didalam hatinya, ia pun lantas berkata.
"Kalau didengar dari nada perkataan nona, tampaknya tempat ini bukan suatu tempat yang baik?"
"Perkataan siangkong memang tepat sekali, tempat ini merupakan markas besar perkumpulan Ki thian kau yang berada dibukit Long sia san, nama lainnya adalah Liu cun piat wan. Disinilah kaucu nio nio seringkali menggaet pemuda pemuda tampan dan dilalap ditempat ini..."
Bagaimanapun juga dia adalah seorang gadis perawan, maka ketika berbicara sampai disitu, merah padam selembar wajahnya karena jengah.
"Kalau memang begitu, aku adalah korbannya yang keberapa?"
Tanya petani muda itu kemudian.
"Aku sudah tidak teringat lagi dengan pasti, tapi kalau dihitung dari kepulangan kaucu ke markas besar ini, agaknya kau adalah korbannya yang ketiga puluh enam!"
"Apakah mereka semua dapat turun gunung dalam keadaan hidup?"
"Orang orang itu kebanyakan mati dibawah telapak kaki kaucu, sekalipun mereka masih hidup, akhirnya juga akan terjerumus ke tangan para tongcu lainnya aaai... pokoknya tak seorangpun yang dibiarkan hidup meninggalkan tempat ini!"
"Kalau nona sudah tahu begini, mengapa tidak berusaha untuk menyelamatkan mereka?"
"Sekalipun aku bisa pertaruhkan nyawa untuk melepaskan kau meninggalkan tempat ini namun jago lihay yang berada ditempat ini banyak sekali, akhirnya toh kau tak akan berhasil juga untuk meloloskan diri!"
Ketika menyaksikan gadis itu berbicara dengan tulus dan sama sekali tidak dibuat buat, petani muda itu kembali berpikir.
"Dayang ini boleh dibilang merupakan satu satunya orang yang belum ternoda, mengapa aku tidak berusaha untuk menolongnya meninggalkan sarang iblis ini?"
Berpikir sampai disitu, tanpa terasa dia lantas bertanya.
"Siapa namamu?"
"Budak she Ciong bernama Hoa"
"Tahukah kau siapakah aku?"
"Bukankah kau seorang petani yang hidup dikaki bukit sana?"
"Coba pikirkan sendiri, kalau aku hanya seorang petani biasa, mengapa totokan jalan darah mereka dapat kubebaskan sendiri"
"Waah, betul juga perkataan ini"
Pikir Ciong Hoa.
"hampir saja aku melupakan hal ini."
Berpikir demikian, buru buru dia bertanya "Cepat katakan, siapa kau?"
Sekulum senyuman segera tersungging diujung bibir petani muda itu, sahutnya.
"Aku adalah musuh yang paling membikin pusingnya orang orang perkumpulan kalian..."
Tidak menunggu pemuda itu melanjutkan kembali kata katanya, Ciong Hoa telah menukas.
"Aaah, aku tahu sekarang, bukankah kau adalah Giok bin sin liong (sinaga sakti berwajah kemala) Ong It sin?"
Betul memang, petani muda itu memang bukan lain adalah penyaruan dari Ong It sin.
Ternyata ia bersama dua gadis Bwe telah tiba dijalan pohon jeruk dimana Coa Thian tam berada, dari situlah diketahui semua peristiwa yang telah terjadi belakangan ini.
Maka merekapun lantas berunding bagaimana caranya untuk menyelamatkan para jago yang tersekap dalam markas besar perkumpulan Ki thian kau.
Setelah memutar otak sesaat lamanya, maka diputuskan untuk mengutus Ong It sin menyusup ke dalam markas besar perkumpulan Ki thian kau dengan cara menyaru.
Begitulah, mereka pun lantas mengatur siasat dengan menyuruh Ong It sin menyamar sebagai seorang petani yang sedang mencangkul tanah di sawah sambil menanti perangkapnya mengena.
Sebetulnya siasat semacam ini merupakan sebuah siasat yang amat bodoh, siapa tahu justru karena kesederhanaan tersebut telah mendatangkan hasil yang luar biasa.
Demikianlah, ketika menyaksikan dayang berbaju merah itu berhasil menebak jitu identitasnya, dia lantas memuji.
"Nona Ciong, kau memang pintar sekali"
"Ong tayhiap,"
Kata Ciong Hoa dengan wajah berseri.
"kedatanganmu ke markas besar ini, tentunya bukan lantaran untuk menolong aku bukan?"
Ong It sin sama sekali tidak menyangkal, jawabnya.
"Yaa, aku datang kali ini dengan tujuan untuk menolong Ay sian Cu Lian ci sekalian meloloskan diri dari cengkeraman iblis!"
"Aaai... aku rasa sukar sekali"
"Bagaimana sukarnya?"
"Kau anggap keempat orang itu disekap didalam markas besar? Keliru besar bila kau beranggapan demikian"
"Lantas mereka disekap dimana?"
"Diatas tebing Eng ciu gay dibelakang bukit sana"
"Asal tempat mereka disekap telah diketahui, tentu tak sulit untuk mencari akal guna menembusinya"
"Tahukah kau betapa berbahayanya tempat itu? Setiap tiga langkah ada penjaga, setiap sepuluh langkah ada pos penjagaan, lagi pula dipimpin langsung oleh wakil ketua kedua perkumpulan ini, Seng Mi cu. Bila tiada tanda perintah dari Kaucu pribadi, siapapun tak dapat masuk ketempat itu"
Setelah mendengar penjelasan tersebut, Ong It sin baru tahu kalau persoalannya tidak gampang untuk diselesaikan.
Untuk sesaat dia menjadi tertegun dan tak tahu apa yang musti dilakukan.
Tiba tiba Ciong Hoa berseru.
"Aaah, budak mempunyai suatu ide bagus!"
Mendengar itu Ong It sin segera berseru.
"Apa idemu itu?"
"Dalam ruang Kang yok tong terdapat seorang hiangcu yang bernama Hoa Kui goan, dia adalah adik dari Hoa Tongcu, meskipun kedudukannya rendah, akan tetapi amat disayang oleh Kaucu..."
"Apakah nona menyuruh aku untuk menyamar sebagai dirinya?"
Timbrung Ong It sin kemudian. Ciong Hoa segera mengangguk, tapi kemudian dengan kening berkerut katanya.
"Cuma bagaimanakah dengan ilmu menyaru dari Ong tayhiap?"
"Kecuali menjadi seorang perempuan, aku rasa menyaru sebagai apapun, mungkin aku masih sanggup untuk melakukannya"
"Jikalau Tayhiap mempunyai keyakinan tersebut, sudah barang tentu budak akan berusaha untuk membantu dengan sepenuh tenaga"
"Waktu tak bisa diulur lagi, lagipula aku harus menyaksikan dulu wajah dari Hoa Kui tersebut..."
Sementara pembicaraan berlangsung tiba tiba terdengar suara langkah kaki manusia berkumandang datang. Ciong Hoa segera berbisik.
"Sstt, ada orang datang, harap tayhiap segera membaringkan diri...!"
Terpaksa Ong It sin harus membaringkan diri keatas pembaringan dan berlagak seakan akan sedang tertotok jalan darahnya.
Dalam waktu singkat, pintu dibuka orang dan muncullah seorang pemuda yang berwajah tampan.
Pemuda itu mengenakan baju berwarna biru dengan ikat kepala yang rapi, sepasang pedang tersoren dibelakang punggungnya.
Andaikata ia tidak memperlihatkan sinar mata yang cabul dan sesat, sesungguhnya dia merupakan seorang pemuda yang tampan dan gagah sekali.
Begitu bertemu dengan Ciong Hoa, sambil cengar cengir dengan gayanya yang tengik, dia berkata.
"Ciong Hoa, apakah kau berada disini seorang diri? Tidakkah kau merasa kesepian berdiam diri seorang diri ditempat seperti ini?"
Seandainya berada dihari hari biasa, tentu dayang itu akan segan untuk menggubrisnya.
Tapi hari ini keadaannya berbeda, mau tak mau dia harus berusaha melayani pembicaraannya.
Maka dengan suara lirih diapun menjawab.
"Aku toh bukan sendirian berada disini, mengapa musti merasa kesepian...?"
Mula mula Kui goan agak tertegun, tapi dengan cepat dia menjadi paham kembali, sambil tertawa terbahak bahak katanya.
"Haaahhh... haaahhh... haaahhh... kau bilang ada bocah keparat ini yang menemanimu? Coba lihatlah dia tidur macam babi, dengan tiada orang toh sama saja"
"Kau berani memakinya sebagai babi mati?"
Kata Ciong Hoa tak senang hati.
"bila sampai ketahuan kaucu, hati hati kalau sampai kena didamprat olehnya"
Tanpa terasa Hoa Kui goan menjulurkan lidahnya seraya berbisik.
"Budak, kau tak boleh melaporkan diriku lho... bisa dipenggal kepalaku nanti"
"Huuuh, siapa yang menjadi budakmu? Kalau berbicara jelaskan sedikit..."
"Oooh... nyonya mudaku, anggap saja aku telah salah berbicara, kalau aku minta maaf tentunya boleh bukan?"
Sembari berkata, menggunakan kesempatan tersebut dia lantas menubruk kemuka dan memeluknya erat erat dalam dekapan.
Ciong Hoa berusaha untuk meronta, namun tak berhasil melepaskan diri, dengan wajah memerah dia lantas berseru.
"Hei, mau apa kau?"
Hoa Kui goan segera tertawa cabul.
"Aku akan mengajakmu bermain ke sorga loka dunia, heeehh... heeehh... heeehh... kau tentu mau bukan?"
"Jangan berpikir yang bukan bukan tak lama kemudian kaucu akan sampai disini!"
Kembali Hoa Kui goan tertawa terbahak bahak.
"Haaahhh... haaahhh... haaahh... kau anggap bisa membohongi aku? Secara tiba tiba kaucu telah mendapat laporan yang mengabarkan tentang kehadiran Giok bin sin liong Ong It sin di kota Si ciu ini, sekarang dia telah turun gunung membawa kawanan jago, tak mungkin ia bisa pulang pada malam ini"
Tergerak hati Ciong Hoa sesudah mendengar perkataan itu, serunya kemudian.
"Dapat dipercayakah perkataanmu itu?"
Hoa Kui goan mengira Ciong Hoa sudah tergerak hatinya, ia menjadi girang setengah mati, serunya segera sambil mengangkat sumpah.
"Bila aku berani bohong, biar mendapatkan kematian yang tak wajar..."
"Sekalipun kau tidak bohong, sekarang pun jangan harap bisa hidup lebih lanjut!"
Sambung Ong It sin. Dengan terperanjat Hoa Kui goan segera berseru.
"Siapa yang sedang berbicara?"
Dengan gerakan ikan leihi melejit, Ong It sin yang berbaring diatas pembaringan itu melompat bangun, kemudian katanya "Kalau aku Giok bin sin liong Ong It sin yang lagi berbicara, mau apa kau?"
Begitu mendengar nama Ong It sin, Hoa Kui goan ketakutan setengah mati, dengan wajah pucat dan peluh dingin jatuh bercucuran membasahi tubuhnya, buru buru dia lepas tangan dan siap melarikan diri dari situ.
Tapi baru saja dia menggerakkan tubuhnya, jalan darah kematian diatas dadanya sudah kena dihantam, tak sempat berteriak lagi, habis sudah riwayat manusia cabul ini Menyaksikan kemampuan ilmu silat yang dimiliki Giok bin sin liong, Ciong Hoa merasa semakin kagum.
Tanpa disuruh lagi, dengan suatu gerakan yang cepat bagaikan sambaran kilat ia telah menyeret mayat Hoa Kui goan dan menyembunyikannya dalam ruangan lain.
Malah dia melepaskan pakaian mayat itu dan diserahkan kepada sang pemuda sambil katanya.
"Ong tayhiap, terpaksa harus menyiksamu sebentar!"
Ong It sin segera tertawa.
"Nona jangan berkata begitu..."
O000d0e00o Tak selang berapa saat kemudian, dia telah berdandan menjadi Hoa Kui goan. Menyaksikan kemiripan tersebut, Ciong Hoa segera memuji tiada hentinya.
"Ong tayhiap, ilmu menyaru mukamu benar benar hebat sekali, budak merasa sangat kagum!"
"Aaah, nona terlampau memuji, kita harus berlomba dengan waktu, sekarang, bersediakah kau untuk menemani aku berangkat bersama meninggalkan tempat ini?"
"Budak bersedia!"
Jawab Ciong Hoa tanpa berpikir panjang lagi.
"Kalau begitu, harap nona suka membawa jalan untukku!"
Sambil bergurau dan berbincang bincang berangkatlah kedua orang ini menuju ke bukit belakang.
Tiba dimulut bukit, terasa bayangan manusia berwarna emas berkelebat lewat, kemudian muncul dua orang pengawal yang membentak keras.
"Siapa?"
Ong It sin yang menyaru sebagai Hoa Kui goan segera menyahut.
"Apakah kalian semua sudah buta semua masa hiangcu saja tidak dikenali lagi? Berbicara soal kedudukan, tentu saja pengawal berbaju emas masih rendah beberapa tingkat bila dibandingkan dengan seorang hiangcu apalagi semua orang tahu kalau Hoa Kui goan adalah orang kesayangan kaucu, sudah barang tentu keadaannya semakin berbeda. Dua orang pengawal berbaju emas itu segera tertawa paksa, kemudian menjawab.
"Oooh... rupanya saudara Hoa dan nona Ciong, silahkan, silahkan..."
Ong It sin dan Ciong Hoa segera melanjutkan perjalanannya kedepan. Secara beruntun mereka telah berhasil melewati tiga belas buah pos penjagaan secara mudah.
"Masih berapa jauh?"
Tanya Ong It sin kemudian dengan suara berat. Sambil menuding kedepan sahut Ciong Hoa.
"Bukankah didepan sana terdapat sebuah bangunan kecil? Penjara tersebut terletak di belakang bangunan rumah itu"
Mengikuti arah yang ditunjuk Ong It sin melongok ke depan, betul juga, didepan sana tampak sebuah bangunan rumah yang kecil berada dibalik sebaris pepohonan itu yang rapi dan lebat.
Ciong Hoa segera berbisik lagi.
"Ong tayhiap, bila bertemu dengan wakil ketua kedua Seng Meh cu nanti, kau musti berhati hati, manusia itu amat lihay dan seksama sekali..."
"Kau maksudkan Seng Meh cu? Nona tak usah kuatir, aku dapat menghadapinya"
Sementara pembicaraan berlangsung, kedua orang itu sudah tiba didepan sebuah pos penjagaan. Seorang pengawal berbaju emas segera maju menghampirinya sembari berkata.
"Wakil ketua ada urusan hendak diperbincangkan dengan kalian berdua..."
Tak disangka kalau berita yang diperoleh para pengawal berbaju emas ini sedemikian cepatnya.
"Baik!"
Jawab Ong It sin.
Diiringi pengawal berbaju emas itu, mereka berangkat menuju ke ruangan dimana wakil ketua berada.
Seng Meh cu menyambut kedatangan mereka, sekulum senyuman menghiasi ujung bibirnya, dengan sikap yang ramah segera katanya.
"Angin apa yang telah membawa kalian berdua sampai disini? Sungguh tak kusangka, sungguh tak kusangka!"
Sambil berkata dia lantas mengulurkan tangannya siap berjabatan tangan... Pada saat itulah tiba tiba Ciong Hoa memperingatkan.
"Ong tayhiap, hati hati dengan tipu muslihat..."
Belum habis dia berkata, secepat sambaran kilat Seng Meh cu telah mencengkeram tangan Ong It sin, sementara tangan yang lain menyambar ke tangan Ciong Hoa. Serunya sambil tertawa seram.
"Budak, kau berani pagar makan tanaman!"
Begitu mengumbar hawa amarahnya, Seng Meh cu segera merentangkan kelima jari tangannya dan mencengkeram tubuh Ciong Hoa seperti jepitan baja, kecepatan serta ketepatannya sungguh menggetarkan perasaan orang.
Menyaksikan cakar maut itu telah menempel diujung bajunya, paras muka Ciong Hoa berubah hebat, dia sungguh merasa kaget dan ketakutan setengah mati.
Untunglah disaat itu juga Giok bin sin liong Ong It sin membentak nyaring.
"Tidak mudah kalau ingin mampus!"
Pergelangan tangannya dibalik sambil menotok, desingan angin serangan menyambar bagaikan belahan pisau.
Terpaksa Seng Meh cu harus melindungi keselamatan dirinya lebih dahulu, serangan cakar maut yang dilancarkan ke arah Ciong Hoa itu cepat ditarik kembali untuk menghadapi ancaman musuh.
Dengan demikian, Ciong Hoa pun segera lolos dari ancaman maut lawannya itu.
Cepat cepat dia mengundurkan diri menuju ke sudut dinding di belakang tubuh Ong It sin.
Oo=oodOeooo=O Mendadak...
dari belakang tubuhnya berkumandang suara tertawa aneh yang mengerikan sekali, suaranya bagaikan pekikan burung malam yang menggidikkan hati.
Ciong Hoa amat terperanjat.
dengan cepat dia membalikkan badannya sambil memandang.
Tampak tiga orang kakek berjubah hitam yang pada lehernya tergantung sebuah kalung bertengkorak sedang melompat keluar dari balik pintu dikedua belah sisi ruangan Sebagai dayang dari Ang yok tongcu sudah barang tentu kenapa pula dengan ketiga orang gembong iblis tua ini, dengan cepat katanya.
"Locianpwe bertiga, apakah kalian sudah tidak kenal lagi dengan diriku...?"
"Kau adalah Ciong Hoa"
Jawab Thian oh sin mo (iblis sakti telinga langit) Bun Si kian "lohu bersaudara ketika menggabungkan diri dengan perkumpulan ini bulan berselang, kaulah yang menyambut kedatangan kami, masa kini tidak kenal denganmu."
"Kalau memang begitu, maka kalian bersikap bermusuhan dengan diriku?"
"Soal ini lebih baik kau tanyakan pada dirimu sendiri!"
Ciong Hoa menjadi terkesiap buru buru dia berseru lagi.
"Tapi toh aku tidak melakukan kesalahan apa apa terhadap kalian bertiga?"
"Betul kau memang tidak melakukan kesalahan apa apa terhadap lohu bersaudara tapi kau telah menghianati perkumpulan Ki thian kau...!"
"Aaa... siapa yang bilang? Kami hanya mendapat perintah dari kaucu untuk datang kemari membujuk Ay sian Cu Lian ci bertiga agar mau menyerah"
Thian oh sin mo segera mendongakkan kepalanya dan tertawa terbahak bahak.
"Haaahhh... haaahhh... haaahhh... budak busuk kau masih ingin berbohong? Apa yang kau bicarakan dengan Ong It sin telah kami dengar semua dengan jelas kalau tidak mana mungkin wakil ketua bisa melakukan tindakan?"
Sekarang Ciong Hoa baru memahami duduknya persoalan, dia utusan telah digagalkan oleh iblis sakti bertelinga langit ini, sekarang dia baru menyesal karena keteledoran sendiri.
Namun, sesal kemudian apa gunanya?
Secepat kilat dia merogoh ke dalam sakunya dan mengeluarkan sebuah tabung besi kemudian dibidikkan kearah Tang hay sam mo (tiga iblis dari lautan timur).
"Blaam! Blaaam!"
Beberapa kali ledakan keras bergema, menyusul kemudian tampak cahaya biru berkilauan memenuhi angkasa.
Waktu itu, si iblis sakti bertelinga langit Bun Si kian dan Thian gan sin mo (iblis sakti mata langit) Si Beng wan berada di barisan depan, tak ampun lagi dua jeritan ngeri yang memilukan hati bergema memecahkan keheningan.
Secara beruntun dua orang iblis sakti itu kena terhajar oleh serangan mendadak itu dan roboh binasa, dalam waktu singkat jenasah mereka berubah menjadi segumpalan air darah.
Tay lek sin mo (iblis sakti bertenaga raksasa) yang menyaksikan kematian lotoa dan lojinya menjadi naik darah, sambil membentak keras dia melejit keudara kemudian menubruk kedepan sambil dampratnya "Ciong Hoa perempuan sialan, lohu akan mencincang tubuhmu menjadi berkeping keping"
Sekilas cahaya bianglala panjang yang menyilaukan mata segera berkelebat ditengah udara.
Waktu itu racun dalam tabung besi yang berada ditangan Ciong Hoa telah habis terpakai, dengan begitu menjadi sama sekali tak berkekuatan lagi.
Tampaknya sebentar lagi dia akan termakan oleh serangan tersebut dan menemui ajalnya.
Suatu kemampuan untuk melanjutkan hidup muncul dihati dayang itu, tanpa sadar dia menjerit lengking dengan suara sekeras kerasnya.
Dalam repotnya Ong It sin segera berpaling, dengan cepat dia menyaksikan selembar nyawa Ciong Hoa terancam oleh mara bahaya.
Dalam keadaan demikian mau menolong jelas sudah tak sempat lagi, seketika itu juga bahu kanannya digoyangkan.
Kalau dibicarakan sesungguhnya aneh sekali, tahu tahu serentetan cahaya bianglala berwarna emas telah menyambar ke depan membelah angkasa...
Tay lek sin mo segera merasakan datangnya sambaran angin tajam yang muncul dari belakang tubuhnya, berada dalam keadaan demikian, andaikata ia melanjutkan serangannya untuk mencelakai Ciong Hoa, maka dia sendiripun niscaya akan termakan pula oleh serangan yang datang dari belakang.
Terpaksa dia harus menyelamatkan diri lebih dahulu dengan melompat ke samping untuk menghindarkan diri.
Rupanya serangan itu berasal dari pedang Kim liong kiam yang tajam, dengan berkelitnya iblis itu, maka senjata tadi segera menyambar ke arah dinding dan menancap hingga tinggal gagang pedangnya saja.
Tay lek sin mo menjadi terkesiap sekali menyaksikan kejadian tersebut...
Sementara itu, Ciong HOa pun terlepas pula dari ancaman bahaya maut yang mengancam selembar nyawanya.
Dipihak lain, pada waktu itu Seng Meh cu juga sudah bukan tandingan dari Giok bin sin liong Ong It sin lagi, cepat cepat dia memperdengarkan suara pekikan yang berulang kali.
Menyusul kemudian tampak bayangan manusia berbaju emas bermunculan dari mana mana, dalam waktu singkat tiga puluh enam orang pengawal berbaju emas telah mengurung bangunan rumah itu rapat rapat.
Tentu saja Tay lek sin mo serta Seng Meh cu tidak banyak berpeluk tangan belaka.
Suatu pertarungan sengit dengan cepat berkobar didalam ruangan rumah itu.
Ciong Hoa tidak turun dalam pertarungan itu, dengan senjata terhunus dia hanya berjaga jaga dipintu gerbang.
Giok bin sin liong Ong It sin rupanya sudah tahu kalau keadaan bertambah gawat, bila pertarungan ini tidak diselesaikan secepatnya, niscaya keadaan akan bertambah runyam.
Berpendapat demikian, dia lantas berpekik nyaring, menyusul kemudian sebuah pukulan Tay khek sin kang dibabarkan kedepan.
Tay lek sin mo tidak menduga kalau serangan yang dilancarkan pihak lawan begitu hebatnya, musti dia sudah melatih ilmu Thi pu san, toh tak urung tak tahan juga.
Seketika itu juga dia merasakan dadanya seperti terhantam oleh martil yang besar sekali tenggorokannya terasa anyir, dengan sempoyongan ia mundur kebelakang, kemudian memuntahkan gumpalan darah segar.
"Kau tidak apa apa bukan?"
Seng Meh cu segera menegur.
Walaupun luka dalam yang dideritanya Tay lek sin mo cukup parah, namun dia adalah seorang yang keras kepala, dengan cepat dia meronta bangun, kemudian teriaknya seperti jeritan binatang buas yang sedang kalap "Ong It sin, anak jadah, locu akan beradu jiwa denganmu!"
Dengan sepasang tangan direntangkan, dia segera menubruk ke depan dan berusaha merangkul tubuh Ong It sin.
Andaikata Ong It sin sampai kena dipeluk olehnya, niscaya pemuda itu akan menemui ajalnya sebab walaupun Tay lek sin mo belum tentu bisa mengapa apakan dirinya, namun Seng Meh cu yang berada disampingnya pasti tak akan melepaskan kesempatan baik tersebut dengan begitu saja...
Asal dia sudah turun tangan, itu berarti selembar nyawa Ong It sin pasti akan terenggut.
Jangankan cuma Ong It sin, sekalipun bertambah seorang lagi juga sama saja keadaannya.
Walaupun demikian, sudah barang tentu Ong It sin tak akan membiarkan dirinya tertangkap, sambil mendengus dingin, kakinya melangkah dengan ilmu gerakan yang cepat, lalu berkelit ke samping.
Gagal dengan tubrukannya, Tay lek sin mo segera mencaci maki kalang kabut.
Betapa geramnya Ong It sin mendengar makian makian tersebut, tangan kirinya segera diayunkan ke depan sambil bentaknya.
"Manusia bodoh, sebenarnya aku berniat untuk mengampuni selembar jiwamu, tapi sekarang, aku tak dapat berbuat baik hati lagi kepadamu, siapa suruh mulutmu kotor dan memaki yang bukan bukan?"
Kepalannya diayunkan ke depan, angin pukulan segera menderu deru memekikkan telinga.
Untuk kedua kalinya Tay lek sin mo kena dihajar keras keras, tubuhnya yang tinggi besar seperti pagoda itupun segera mencelat sejauh beberapa kaki dari tempat semula.
Darah kental muncrat keluar dari mulutnya, setelah roboh terkapar diatas tanah, ia tak pernah bisa bangkit kembali untuk selamanya.
Tak terlukiskan rasa kaget Seng Meh cu menyaksikan kejadian ini, segera pikirnya.
"Baru dua bulan tak bersua, tenaga dalam yang dimiliki bajingan ini sudah memperoleh kemajuan yang begitu pesat, waah... kalau orang ini tidak segera dilenyapkan, bisa berbahaya sekali dikemudian hari... Berpikir sampai disitu, bergidik hatinya, bulu kuduk tanpa terasa pada bangun berdiri. Semangat tempurnya seketika hilang lenyap tak berbekas, Sreet! Dengan cepat dia kabur lewat jendela, kemudian melepaskan tiga buah tanda bahaya untuk meminta bantuan ke markas besar. Melihat itu Ciong Hoa segera berseru.
"Penjara itu berada didalam dinding batu Ong tayhiap, cepat selamatkan mereka, sebentar kawanan jago dari markas besar pasti akan berdatangan"
Ong It sin berpaling, dia saksikan gadis itu sedang bertahan didepan pintu sambil bertempur melawan para pengawal baju emas, badannya sudah basah kuyup oleh keringat, napasnya tersengal sengal, malah disana sini kelihatan luka yang membesar dengan darah yang bercucuran.
"Nona Ciong cepat mundur!"
Serunya kemudian dengan kening berkerut.
Sekalipun Ciong Hoa keras kepala, namun saat itu dia betul betul sudah tak tahan terpaksa ia melompat kesamping.
Ong It sin segera mencabut keluar pedang naga emas dari atas dinding dan memutarnya membentuk selapis cahaya bianglala berwarna emas.
Dalam waktu singkat, semua senjata yang dicekal pengawal berbaju emas itu kena dibabat kutung semua menjadi beberapa bagian dan rontok diatas tanah.
"Bila kalian berani memasuki pintu ini, jangan salahkan kalau kubunuh kalian tanpa ampun!"
Ancam Ong It sin kemudian dengan wajah menyeramkan.
Selesai berkata, bersama Ciong Hoa ia lantas masuk ke dalam ruangan batu sebelah kiri.
Baru saja mereka masuk keruang dalam, sudah kedengaran suara Si dewa cebol Cu Liang ci berseru.
"Ong lote, kaukah yang datang? Aduh... benarkah wajahmu yang jelek telah berubah menjadi tampan?"
"Benar akupun sama sekali tak menyangka kalau mendiang ayahku telah mengenakan topeng kulit manusia diatas wajahku!"
Sekarang ia baru melihat jelas bahwa penjara itu berupa sebuah gua dengan pintu penjara berupa sebuah dinding baja yang tebal sekali, dalam ruang penjara itu kelihatan meringkuk Si dewa cebol Cu Liang ci, Say siu hud sim serta Thian yan dan Thian ci siansu dari kuil Siau lim si...
Sedangkan kunci dari pintu penjara itu digantung pada dinding ruangan tersebut.
Dengan cepat Ong It sin telah berhasil membuka pintu penjara itu, tapi jalan darah mereka tertotok semua, maka satu per satu pemuda itu membebaskan pengaruh totokan itu.
Kemudian, ia baru berseru.
"Mari kita segera pergi meninggalkan tempat ini!"
"Kita akan mundur lewat mana?"
Tanya Si dewa cebol Cu Liang ci tiba tiba.
"Tentu saja mundur melewati jalan utama?"
"Jangan toh jago jago dalam markas mereka amat banyak, cukup beberapa orang wakil ketuanya saja ilmu silat yang mereka miliki sudah hebatnya bukan kepalang..."
"Ay toako, aku cukup tahu paham kepandaian silat yang kalian berempat miliki tidak lemah, untuk membasmi kaum iblis itu mungkin masih belum memadahi, tapi kalau cuma untuk meloloskan diri saja, aku percaya kalian masih mampu"
"Ong lote, mungkin kau belum tahu"
Kata Say siu hud sim.
"sebelum kami dikirim kemari, Be Siau soh telah mencekoki sebutir pil kepada kami, pil itu amat beracun, bila kami berani bertempur dengan mempergunakan tenaga dalam, maka sari racun itu pasti akan menyerang kedalam isi perut yang menyebabkan kematian. bayangkan saja walaupun ilmu silatmu sangat lihay, mampukah kau untuk melindungi keselamatan kami berempat?"
Persoalan ini benar benar merupakan suatu masalah yang panik, untuk sesaat lamanya Ong It sin tak tahu apa yang musti dilakukan. Untung saja Ciong Hoa segera berkata.
"Ong tayhiap, apa yang diucapkan cianpwe ini memang ada benarnya juga, sebelum mereka makan pil penawar dari Kaucu kami, maka mereka tak boleh sekali kali bertempur dengan orang, tapi aku mempunyai akal untuk membawa mereka kabur dari bukit ini tanpa diketahui oleh siapapun juga."
"Dapatkah kau memberi tahukan kepadaku?"
Tanya Ong It sin.
"Tidak dapat, sekarang waktu yang tersedia buat kita terbatas sekali, cepat ikuti diriku, sebentar kalian akan mengerti dengan sendirinya..."
Serombongan enam orang dengan dipimpin oleh Ciong Hoa segera berangkat meninggalkan gunung itu.
Tak lama kemudian, mereka telah tiba diatas sebuah tebing yang amat curam.
Si Dewa cebol Cu lian ci segera berseru dengan tercengang.
"Nona Ciong, bila kami masih sanggup untuk melompati tebing yang curam ini, maka kamipun tak usah takut kepada mereka"
"Omintohud, lolap juga berpendapat demikian!"
Sambung Thian yang siancu pula. Ciong Hoa segera menggoyangkan tangannya berulang kali sembari menimbrung.
"Cianpwe sekalian jangan salah paham, andaikata budak tidak mempunyai keyakinan yang besar, tak akan kuajak kalian datang kemari..."
Berkata sampai disitu, dia lantas mendongakkan kepalanya dan bertanya kepada Pek giok sin liong.
"Ong tayhiap, tahukah kau apa akalku itu?"
Ong It sin melongok sekejap ke bawah tebing, tampak jurang amat dalam dengan kabut yang sangat tebal, tiba tiba satu ingatan melintas dalam benaknya.
"Menurut pendapatku, kemungkinan besar diantaranya dinding yang terjal ini terdapat sebuah jalan rahasia lain"
Mendengar perkataan itu, Ciong Hoa segera memuji tiada hentinya.
"Ong tayhiap, kau memang tak malu disebut sebagai orang yang paling cerdik didunia ini, ternyata kau berhasil menebak dengan jitu! Benar dibawah tebing ini memang terdapat sebuah jalan rahasia, hanya aku seorang yang mengetahui jalan rahasia ini"
"Dimana?"
Tanya si dewa cebol Cu Lian ci.
"Berada dua kaki dibawah tebing dimana Ay sia cianpwe berdiri sekarang"
Semua orang berjalan mendekati tebing tersebut, ketika melongok kebawah, benar juga tampak dinding disitu amat licin dan berkilap.
"Omintohud, kenapa tidak menemukan sesuatu pertanda apapun?"
Tanya Thian yan siansu. Say siu hud sim juga segera berpaling dan memandang wajah Ciong Hoa dengan sorot mata tercengang. Ciong Hoa sama sekali tidak menjadi gugup, sambil tersenyum manis ujarnya.
"Tampaknya cianpwe sekalian sedang menaruh curiga akan kebenaran dari perkataanku ini?"
"Semestinya nona tak akan membohongi kami, atau mungkin tempat yang ditunjukkan keliru?"
Ujar si Dewa cebol Cu Lian ci. Ciong Hoa segera berpaling kearah Ong It sin seraya bertanya.
"Bagaimana dengan pendapat Ong tayhiap?"
"Aku percaya nona takkan marah bila tempat rahasia tersebut dapat ditemukan dalam sekilas pandangan saja, maka tempat ini bukan jalan rahasia lagi namanya."
Sekulum senyuman cerah segera menghiasi wajah Ciong Hoa, serunya dengan cepat "Ong tayhiap memang benar benar memiliki kecerdasan yang luar biasa, budak merasa kagum sekali"
Selesai berkata dia lantas melayang turun lebih dahulu dari atas tebing tersebut. Menyusul kemudian, diapun berseru.
"Ong tayhiap, cepat lihat, disinilah lorong rahasia itu berada"
Ong It sin turut melayang pula turun ke dalam jurang.
Meski dia berilmu tinggi, terasa agak seram juga untuk melayang turun dari tebing semacam itu.
Menanti kakinya sampai diatas batu cadas itu yang menonjol keluar, dia baru menjumpai dibawah tonjolan batu cadas itu terbentang sebuah lorong rahasia.
"Nona Ciong"
Ujar Ong It sin kemudian "apakah kau tahu kalau lorong rahasia ini bisa tembus sampai dikaki bukit sana?"
"Tentu saja, kalau tidak, memangnya aku menggunakan nyawaku sebagai barang taruhan"
Ong It sin tidak banyak berbicara lagi, dia melompat kembali keatas kemudian membawa Si dewa cebol sekalian memasuki jalan rahasia tersebut.
Walaupun si dewa cebol sekalian tak dapat mengerahkan tenaga dalamnya dan berjalan dengan ilmu meringankan tubuh, namun bagaimanapun juga mereka memiliki kemampuan yang berbeda dengan orang biasa, dengan cepatnya beberapa orang itu sudah menerobosi jalan rahasia itu menuju ke bukit bukit.
Dalam pada itu, diatas puncak tebing telah berdatangan pula berpuluh puluh orang jago dari Ki thian kau.
Sambil melompat turun dari dalam tandunya, Be Siau soh segera bertanya.
"Secara beruntun toheng telah melepaskan tiga batang panah berapi, berapa banyak sih musuh yang berdatangan?"
Buru buru Seng Meh cu membungkukkan badannya memberi hormat.
"Lapor kaucu, walaupun musuh yang datang tidak banyak, namun dia adalah musuh paling besar dari perkumpulan kita"
Sahutnya.
"Musuh paling besar dari perkumpulan kita?"
Ulang Be Siau soh dengan kening berkerut. Tiba tiba seperti memahami akan sesuatu tanpa terasa dia bertanya.
"Apakah dia adalah Giok bin sin liong (naga sakti berwajah pualam) Ong It sin?"
"Betul kaucu, dugaanmu memang tepat sekali"
Semenjak muncul dari tempat pertapaannya, Be Siau soh sudah mendengar tentang munculnya kembali Ong It sin dalam dunia persilatan, bahkan dari seorang pemuda yang jelek telah berubah menjadi tampan, dari bodoh menjadi pintar, ini semua membuatnya ingin sekali berjumpa dengannya.
Tapi, kedudukannya sekarang adalah seorang kaucu, tentu saja dia segan untuk berbicara terus terang, terpaksa tanyanya lagi.
"Dia... dia telah kabur ke arah mana?"
"Tadi, hamba menyaksikan mereka kabur keatas tebing curam ini, tapi kemudian secara tiba tiba bayangan tubuhnya lenyap tak berbekas"
"Apakah ditempat ini terdapat lorong rahasia yang dapat menghubungkan tempat lain?"
"Tebing ini terjal bagaikan papasan pisau, jangan toh manusia, sekalipun burung juga jangan harap bisa melewatinya, kalau tak percaya, silahkan kaucu memeriksanya sendiri"
"Tak usah"
Tukas Be Siau soh sambil menggoyangkan tangannya berulang kali.
"sebelum mendirikan markas besar Ki thian kau di tempat ini, hampir seluruh tebing ini telah kujelajahi seperti dikatakan toheng tak akan ada orang yang berhasil melarikan diri dari tempat ini..."
Ketika Seng Meh cu menyaksikan kaucunya tidak menuntut tanggung jawab darinya diam diam ia merasa lega. Terdengar Be Siau soh berkata lagi.
"Tentang ilmu silat yang dimiliki Giok bin sin liong Ong It sin, aku sudah berulang kali memperoleh laporan dari kalian agaknya meski lebih hebat dari hu kaucu bertiga namun masih terbatas sekali. Bukankah toheng telah dibantu oleh Tong pay sam mo dan tiga puluh enam orang pengawal baju emas? Gabungan kekuatan ini kuat sekali, kenapa toh akhirnya dia berhasil menyelamatkan rekan rekannya secara mudah? Alasannya tolong kau jelaskan kepadaku"
Seng Meh cu sedikitpun tidak menjadi gugup, agaknya ia telah mempersiapkan jawabannya dengan matang.
Andaikata hanya mengandalkan kemampuan Giok bin sin liong Ong It sin seorang, kemungkinan besar hanya mengandalkan kekuatan kami saja sudah sanggup untuk membekuknya!"
"Tapi kenyataannya toheng tidak berhasil membekuknya, malahan Tang hay sam mo tewas secara mengenaskan, apa pula sebabnya?"
Tanya Sangkoan Bu cing yang berada disampingnya tidak habis mengerti.
Walaupun saat ini dia menunjukkan sikap perhatian, padahal hatinya girang sekali kalau bisa pihak lawan kena dipecundangi lebih hebat lagi.
Sudah barang tentu Seng Meh cu dapat memahami makna dari perkataan Sangkoan Bu cing tersebut, namun ia tidak mau ribut, hanya ujarnya sambil menghela napas.
"Aaai... kalau dibicarakan, sesungguhnya alasan ini sangat menyakitkan hati"
Ketika menyaksikan air muka orang berubah amat serius, Be Siau soh segera tahu kalau hal ini tanpa sebab, segera tanyanya lagi.
"Toheng cepat katakan, apa alasanmu?"
Dengan wajah serius Seng Meh cu berpaling kearah Sangkoan Bu cing, kemudian katanya.
"Sangkoan heng sudah tahu kalau Tang hay sam mo telah tewas kecuali Tay lek sin mo yang tewas terhajar ilmu pukulan Tay khek sin kang dari Ong It sin, tahukah kau apa yang menyebabkan kematian dari Thian oh sin mo Bun Si kian serta Thian gan sia mo Si Beng wan?"
Sangkoan Bu cing menggelengkan kepalanya berulang kali.
"Aku toh tidak pergi memeriksa jenasah mereka, darimana aku tahu? Apakah orang kita sendiri yang melakukan pembunuhan tersebut?"
Seng Meh cu segera tertawa terbahak bahak.
"Haaahhh... haaahhh... haaahhh... saudara Sangkoan memang pandai sekali menebak hal hal yang tak diketahui, betul kematian dari kedua orang huhoat itu memang mengenaskan sekali... dia telah mampus di tangan orang penghianat perkumpulan kita"
"Siapakah dia?"
Tanpa terasa Sangkoan Bu cing bertanya dengan perasaan bergetar keras.
"Sangkoan heng tak usah gugup atau tegang, dia adalah seorang perempuan, denganmu tiada hubungan apa apa. Cuma dalam sakunya menyimpan sebuah tabung besi yang sanggup menyemburkan jarum beracun ekor lebah..."
Belum habis perkataan itu diucapkan, Be Siau soh sudah berseru dengan perasaan terperanjat.
"Macam apakah tabung besi itu?"
"Besarnya selengan, panjangnya beberapa jengkal, berwarna hitam pekat dan diatas tabung itu terdapat ukiran naga dan burung hong..."
Tidak menunggu orang itu menyelesaikan kata katanya, Be Siau soh kembali menukas.
"Jangan jangan perbuatan ini dilakukan oleh keempat orang dayangku Pek Giok, Lan dan Kiok? Tabung itu bernama Hu im cian mia tong (Tabung hitam perenggut nyawa), merupakan benda hasil ciptaanku yang terbaru dan paling rahasia, dan selama ini kusimpan terus dalam kamar tidurku tanpa diketahui siapapun, mana mungkin..."
Sembari berkata dia lantas berpaling ke arah keempat orang dayangnya yang berdiri dibelakang. Keempat orang dayang itu menjadi ketakutan setengah mati, cepat cepat mereka berlutut sambil berseru.
"Budak meski bernyali besarpun tak akan berani mengusik barang milik Nio nio"
Be Siau soh sama sekali tidak menggubris mereka, hanya kepada Seng Meh cu katanya.
"Apakah mereka yang melakukan?"
"Bukan!"
Seng Meh cu segera menggeleng.
"Lantas siapakah dia?"
"Orang ini bukan dayang kepercayaan kaucu, melainkan nona Ciong Hoa yang melayani Hoa tongcu"
Secara ringkas dia lantas menceritakan bagaimana Ong It sin menyaru sebagai Hou Kui goan... Sebagai akhir kata, ujarnya.
"Sesungguhnya, bila secara kebetulan Thian oh sin mo tidak mendengar pembicaraan rahasia yang dilakukan sepasang muda mudi itu, hamba tak akan dapat melihat penyaruan mereka, apalagi menduga bahwa dia adalah Giok bin sin liong Ong It sin"
Setelah berhenti sejenak, kemudian ujarnya.
"Persoalannya sekarang, dengan cara apakah dia berhasil menyusup ke dalam markas kita bahkan bisa memperalat Ciong Hoa..."
Ang hun lo sat Hoa Long jin yang berdiri disamping, dengan cepat dapat memahami semua duduknya persoalan, dia lantas berpikir.
"Jangan jangan petani muda itu adalah penyaruan dari Ong It sin..."
Sekalipun dugaannya benar, namun peristiwa yang memalukan semacam itu tentu saja tak dapat diceritakan secara umum.
Itulah sebabnya dia lantas membungkam belaka, sementara matanya lantas mengerling ke arah kaucunya.
Tentu saja Be Siau soh juga tahu akan hal itu, dia lantas berkata.
"Ong It sin memiliki kepandaian silat yang amat lihay, mau masuk keluar tanpa diketahui orang bukan soal yang sulit baginya, soal ini tak usah kalian pikirkan..."
Setelah berhenti sebenar, dia melanjutkan.
"Sedang soal tabung hitam perenggut nyawa itu, mungkin ia telah mencurinya jauh sebelum peristiwa itu terjadi, soal ini pun tak usah sampai menyeret orang lain Yang paling penting sekarang adalah mengirim orang untuk menjaga semua tempat yang strategis disamping mengirim pula sepasukan jago untuk melakukan penggeledahan yang ketat, asal mereka belum melarikan diri, masih ada harapan buat kita untuk membekuknya..."Tapi, siapa yang akan bertanggung jawab atas operasi ini?"
Tanya kelabang hitam Be ji nio.
"Tentu saja Sangkoan hu kaucu yang memimpin penggeledahan ini, untuk sementara waktu kita tetapkan wakil kaucu kedua Seng Meh cu, wakil kaucu ketiga Siau mi lek, Thian tok tay ong, Ciok yang li sin beserta keempat kim pay huhoat (pelindung hukum lencana emas) Say siu jin mo, Tee leng kun dan Tee Iwe siang mo yang turut serta dalam operasi ini."
Kemudian dengan nada yakin, Be Siau soh berkata lagi.
"Aku harap, bila kalian berhasil menemukan jejak mereka jangan lakukan suatu gerakan yang mengejutkan mereka, usahakan untuk melaporkan kejadian ini kepada diriku lebih dulu"
Sangkoan Bu cing mengiakan, dia segera memimpin pasukannya berangkat meninggalkan tempat itu.
Sedangkan Ang hun lo sat Long jin dengan membawa sepasukan jago lihay lainnya segera memasang penjagaan disekeliling bukit itu untuk melakukan pengintaian.
Be Siau soh sendiri segera menunggang tandunya kembali ke dalam kamar tidurnya.
Benar juga, ketika ia melakukan pemeriksaan diruang Liu cun pian wan, ternyata petani muda itu sudah lenyap tak berbekas, yang tertinggal hanyalah mayat dari Hoa Kui goan.
Mau tak mau Be Siau soh harus mengagumi kelihayan Ong It sin dalam ilmu menyaru muka, bukan cuma berhasil mengelabuhi semua orang, dirinyapun kena dikelabuhi.
Sedikit banyak kejadian ini menimbulkan rasa sedih didalam hatinya.
Tapi kemudian dia lantas membangkitkan kembali semangat sendiri untuk menunggu datangnya laporan dari anak buahnya.
Sehari lewat dengan cepat, namun tiada laporan yang masuk.
Hari kedua kembali sudah lewat, belum juga ada tanda diketemukannya jejak mereka.
Sampai hari ketiga sudah lewat ternyata pasukan dari pencari yang dikirim belum juga kembali.
Akhirnya dalam suatu penemuan yang tak terduga Si janda cabul Seng Cing ciu telah berhasil menemukan sepucuk surat dari tangan seorang anak buahnya dan surat tersebut ternyata ditulis oleh Ong It sin.
Karena tak berani membuka surat tadi maka dia lantas menyerahkan kepada kaucunya.
Be Siau soh segera membuka sampul surat itu dan membaca isinya, tapi sejenak kemudian dia sudah mencak mencak karena marah, serunya sambil menahan geram.
"Baik lihat saja nanti, kita buktikan sendiri angin timur yang berhasil mendidih angin barat ataukah angin barat yang bisa menyapu angin timur, jangan harap aku akan menemui harapanmu untuk membatalkan ambisiku untuk menguasahi seluruh dunia persilatan, heeeh... heeehhh... heehh... sedang soal membalas dendam, aku sudah salah perhitungan..."
Si kelabang hitam Be Ji nio yang berada disisinya meski tak melihat isi surat tersebut, namun ia dapat menebak kalau pemuda itu telah berhasil meloloskan diri dari bukit Long sia san.
Melihat kemampuan orang, diam diam dia lantas berpikir.
"Sungguh luar biasa sekali kepandaian silat yang dimiliki Giok bin sin liong Ong It sin, aku si nenek mesti bertindak lebih waspada, jangan sampai kapal terbalik dalam selokan, bisa berabe jadinya..."
Berpikir demikian, ia lantas bertanya.
"Apakah surat itu ditulis oleh bocah keparat tersebut?"
Be Siau soh segera mengangguk.
"Kita benar benar telah jatuh kecundang ditangan orang, bukan saja dia datang seorang diri, ternyata mau datang ia datang, mau pergi ia pergi..."
"Kalau memang begitu, pasukan penggeledah bisa segera dibuyarkan, dan penjagaan di tiap tiap bagianpun bisa dibubarkan pula"
"Ibu, kau turunkan perintah untuk buyarkan mereka, aku benar benar merasa pusing sekali!"
Hari itu, dia mengendon seharian penuh didalam istananya, otaknya diperas habis habisan berusaha untuk menemukan cara terbaik untuk menaklukkan Giok bin sin liong Ong It sin.
Tapi, bagaimanapun ia berusaha untuk memeras otaknya, usahanya tak pernah berhasil.
"Siau soh, aku lihat lebih baik persoalan ini dirundingkan bersama saja"
Hibur si kelabang hitam Be ji nio.
"ketahuilah, bila tiga orang tukang kulit berkumpul menjadi satu, maka akan muncullah seorang Cukat Liang"
Be Siau soh berpikir sebentar, kemudian sahutnya.
"Baik, malam ini kumpulkan semua jago kelas satu dan kita rundingkan bersama persoalan ini"
Tapi Pek bwe tongcu Leng hiat siansu (dewi darah dingin) Liu In hoa segera menimbrung.
"Hamba rasa dalam perundingan tingkat tinggi ini jangan terlalu banyak orang yang turut serta, daripada rahasia itu bocor sebelum waktunya"
"Menurut anggapanmu, siapa saja yang cocok untuk menghadiri pertemuan rahasia ini?"
"Cukup Thian tok tay ong, Ciok yong li sin dan kaucu bertiga saja..."
Be Siau soh berpikir sebentar, kemudian dengan gembira katanya.
"Kalau memang begitu, beritahu kepada mereka berdua agar datang ke istana pribadiku pada kentongan ketiga malam nanti untuk melakukan perundingan rahasia, mengerti?"
Leng hiat siancu segera mengiakan, kemudian beranjak pergi dari tempat itu.
Malam sudah semakin kelam.
Thian tok tay ong serta Ciok yong li sin yang diinstruksikan lewat Leng hiat siancu, secara beruntun telah datang ke istana pribadi ketuanya.
Be Siau soh segera menitahkan kepada para dayang untuk mengundurkan diri, setelah menutup pintu rapat rapat, perundingan rahasia segera dilangsungkan.
Apa yang mereka bicarakan dan siasat licik apa yang mereka persiapkan, tak ada orang yang tahu selain mereka bertiga, bahkan ketiga orang wakil kaucu sendiripun tidak mendapat tahu.
Pada saat yang bersamaan, disuatu gedung dalam kota Si ciu tampak pula sekelompok orang duduk sambil bermuram durja.
Rupanya mereka sedang menantikan kedatangan dari Giok bin sin liong Ong It sin.
Terdengar Bwe Yau berkata.
"Heran, mengapa sampai saat sekarang belum juga kembali? Mulai kemarin sampai hari ini, dua hari sudah lewat, jangan jangan dia sudah lupa daratan karena merasakan kegembiraan yang meluap."
"Nona Bwe tak usah kuatir"
Hibur Coa Thian yan segera.
"Ong lote bukan manusia seperti itu..."
Bwe Leng soat segera menimbrung pula dengan cepat.
"Aaah, tiada lelaki yang jujur didunia ini apalagi bila ia sedang dikelilingi oleh sekawan siluman rase"
"Siapa yang tidak tahu kalau Giok bin sin liong adalah seorang lelaki sejati?"
Ucap Pek lek to To hu Hiong pula.
"mana mungkin ia bisa terpikat oleh perempuan perempuan rendah dari perkumpulan Ki thian kau tersebut...?"
"Sekalipun perkataanmu ada benarnya juga, tapi sudah dua hari ia pergi dari sini kenapa sampai sekarang belum juga ada kabar beritanya?"
Pek lek to (Golok Geledek) To hu Hiong menjadi tertegun, dia tak sanggup mengucapkan sepatah katapun juga. Bwe Leng soat segera mendengus, kembali ujarnya.
"Memangnya kau anggap aku tak tahu kalau dahulu dia mempunyai hubungan dengan Be Siau soh, ketua perkumpulan Ki thian kau tersebut? Hmm, setelah berpisah tiga empat tahun, tentu saja perjumpaan ini merupakan saat yang mesra dan hangat buat mereka"
Dia benar benar merasa cemburu sekali, ini bisa dilihat dari nada ucapannya. Buru buru Coa Thian tan menghibur.
"Adik Soat, kau tak boleh berkata begitu ketahuilah Ong lote masuk kedalam sarang iblis dengan tujuan untuk menolong Si dewa cebol Cu Lian ci serta jago jago lainnya, biasa dibayangkan betapa sulitnya tugas yang harus dia laksanakan ini, aku jamin dia pasti tak akan melupakan nona berdua"
Menyinggung soal kesulitan, Bwe Yau kembali menjadi murung dan sedih ujarnya "Enci Soat, menurut pendapatmu mungkinkah engkoh Sin bakal menemui bencana atau bahaya?"
"Hal ini sulit untuk dibicarakan walaupun engkoh Sin memiliki ilmu silat yang lihay, namun seorang diri tak akan menangkap tiga tangan, lagipula jarum beracun ekor lebah dari sikelabang hitam Be Ji nio sukar diduga kehebatannya"
Bwe Yau bertambah panik setelah mendengar ucapan itu, sambil bergendong tangan gumamnya berulang kali.
"Waah... bagaimana baiknya, bagaimana baiknya sekarang..."
Tiba tiba ia berpaling kearah Bwe Leng soat lalu katanya.
"Enci Soat kepandaian yang kau miliki amat lihay, mengapa tidak berusaha untuk menyusup kedalam bukit Lang sia san dan mencari berita Ong toako?"
"Asal satu kentongan lagi dia belum kembali, aku akan masuk kedalam bukit untuk menyelidikinya"
Pada saat itulah mendadak kedengaran suara anjing menggonggong diluar gedung sana. Yu liong (naga berpesiar) Kang Tang lin segera memberi tanda kepada putranya sambil berbisik.
"Cepat tengok keadaan diluar, jangan jangan gembong iblis itu telah datang mencari gara gara?"
Kang Cian li, putra Kang Tang liu segera menyelinap keluar untuk melaksanakan perintah. Tak selang sejenak kemudian, ia telah balik kembali sambil berkata.
"Lapor ayah, paman Ong telah kembali bahkan membawa serta beberapa orang"
Mendengar ucapan itu, semua orang menjadi girang. mereka segera beranjak untuk melakukan penyambutan. Dua orang gadis she Bwe juga serentak melompat keluar dari pintu ruangan sambil bertanya.
"Kang sauhiap, mereka berada dimana?"
"Mereka masuk melalui pintu belakang, mungkin sekarang telah berada di serambi samping"
Bwe Leng soat dan Bwe Yau tidak banyak berbicara lagi, cepat mereka meluncur keluar sambil berseru.
"Engkoh Sin, kau telah kembali"
Ong It sin segera memburu pula kedepan sambil merentangkan tangannya lebar lebar "Aku telah kembali"
Sahutnya.
"coba kalau tidak dibantu oleh nona Ciong hampir saja aku tak dapat pulang?"
Sambil berkata dia lantas membalikkan badannya dan kebetulan saling berhadapan muka dengan Ciong Hoa yang berada dibelakangnya.
Merasa kalau disana ada orang asing, Bwe Leng soat berdua menjadi malu, dengan wajah memerah mereka segera melepaskan diri dari pelukan.
ooodOowoo Rupanya Ciong Hoa sudah pernah mendengar tentang kedua orang gadis itu, buru buru ia maju memberi hormat sambil katanya.
"Budak Ciong Hoa, menjumpai nona berdua"
Melihat perempuan itu tahu sopan santun Bwe Leng soat berdua segera menaruh kesan baik kepadanya buru buru mereka balas memberi hormat sambil menyahut.
"Kau telah menyelamatkan Ong toako, kami saja belum berterima kasih masa kau banyak adat lebih duluan?"
Sementara pembicaraan masih berlangsung, si Dewa cebol sekalian telah menyusul datang. Melihat kecantikan para dua orang gadis itu, dia segera berseru memuji.
"Ooh... betapa cantik dan anggunnya kedua orang gadis ini, Ong lote, kau benar benar bernasib baik..."
Sesungguhnya Bwe Leng soat dan Bwe Yau sudah dibuat jengah, apalagi sesudah mendengar perkataan itu, mereka makin tersipu sipu dibuatnya.
Untung saja Say siu hud sim (Kepalanya singa berhati buddha) segera maju melerai sambil berkata.
"Cu cianpwe, kau ini makin tua makin tak tahu diri, hati hati kalau nona berdua mendampratmu sebagai telur busuk tua..."
"Bocah busuk, kau pandai amat mencari muka"
Seru si dewa cebol sambil mendelik.
"hati hati kau, suatu ketika hutang ini pasti akan kutuntut balas..."
Ong It sin tahu kalau saudaranya yang cebol ini gemar bergurau, sambil tersenyum dia lantas berjalan lebih dulu segera berkata.
"Sudah. jangan bergurau terus, hati hati kalau sampai ketahuan mata mata musuh, rumah ini bisa digropyok mereka"
Manjur sekali perkataan itu, seketika itu juga semua orang menjaga ketenangannya masing masing.
Tak lama kemudian mereka telah sampai dalam ruangan, setelah kedua belah pihak saling memperkenalkan diri, tuan rumah lantas menitahkan orang untuk menyiapkan meja perjamuan.
Kebetulan Ong It sin sekalian yang baru lolos dari bahaya memang sedang lapar, tak heran kalau perjamuan itu berlangsung amat meriah.
Selesai perjamuan, Bwe Leng soat mendesak kepada Ong It sin untuk menuturkan pengalamannya, hal ini justru merupakan apa yang ingin diketahui semua orang, maka secara ringkas Ong It sin mengisahkan kembali apa yang telah dialaminya.
Ketika semua orang mengetahui akan jasa dari Ciong Hoa yang besar, serentak mereka mengangkat cawan dan menghormati Ciong Hoa dengan secawan arak sebagai tanda terima kasih.
Terutama sekali Bwe Leng soat berdua dengan sangat terharu dia berkata.
"Adikku, kau memang sangat hebat. dikemudian hari kita harus berhubungan lebih akrab lagi"
"Asal budak bisa diterima disinipun sudah berterima kasih sekali, apalagi hal hal yang lain!"
Ucap Ciong Hoa terharu.
"Ong lote"
Kata Coa Thian yan kemudian.
"menurut apa yang kuketahui, dalam markas besar Ki Thian kau penuh dengan kawanan jago lihay, dengan cara apakah kalian meloloskan diri dari situ?"
Rupanya ia sudah melihat kalau si dewa cebol sekalian menderita keracunan hebat, itulah sebabnya ia merasa tercengang sekali. Ong It sin segera menghela napas panjang.
"Aai... Kalian tidak tahu, ketika Be Siau soh berhasil meringkus Ay loko, Kwik tayhiap dan dua orang tianglo dari Siau lim si, bukan saja keempat orang rekan kita ini disekap, merekapun dicekoki dengan pil beracun sehingga hawa murninya tak dapat dihimpun kembali..."
"Ooh Thian, bagaimana sekarang?"
Pekik Bwe Leng soat.
"Adik Soat, seandainya berganti kau, coba katakan apa pula yang musti kulakukan?"
"Wah, kalau aku sih benar akan kehabisan akal..."
Mendadak ia merasa keadaan tak beres, maka tanpa terasa tanyanya kembali.
"Engkoh Sin, cara apa pula yang telah kau pergunakan?"
Ong It sin segera menggelengkan kepalanya berulang kali.
"Terus terang saja, aku tidak lebih pintar daripada dirimu, karenanya aku sendiripun dibikin gelagapan"
Kontan saja Bwe Leng soat mencibirkan bibirnya yang mungil.
"Aku tidak percaya!"
Serunya.
"Kenyataannya memang demikian, sekalipun kau tidak percaya juga percuma saja"
"Lantas bagaimana cara kalian untuk meloloskan diri dari sana?"
Seru gadis itu.
"Kau anggap hal itu merupakan jasaku? Terus terang kukatakan kepadamu, aku sendiripun lagi membonceng orang lain"
Dari sikap dan ucapan lawan yang tegas dan bersungguh sungguh, Bwe Leng soat tahu kalau ia tidak bohong, maka tanyanya dengan cepat.
"Lantas siapakah dia?"
Ketika sorot matanya membentur dengan wajah si kakek cebol yang berjenggot panjang, ia segera berkata.
"Aaah, tak bakal salah lagi, dia pasti Ay..."
Ay apa, ia tidak melanjutkan, bagaimanapun juga baru pertama kali ini dia berjumpa dengan jago tua ini, sehingga paling tidak sopan santun tetap harus dijaga.
Teringat akan sopan santun, kontan saja selembar wajahnya berubah menjadi merah karena jengah.
Namun si dewa cebol Cu Lian ci sama sekali tidak ambil peduli, ia segera tertawa terbahak bahak.
"Haaahhh... haaahhh... haaahhh... kau maksudkan lohu? Tebakanmu itu lebih tak betul lagi"
Begitu dia menyangkal, semua orang semakin kebingungan.
"Tentunya bukan nona Ciong Hoa bukan?"
Bwe Yau segera menyela.
Dalam perkiraannya jika bukan dewa cebol pastilah Sai siu hud sim atau Thian yan dan Thian ci siansu dari kuil Siau lim si, maka diapun mengajukan pertanyaan tersebut.
Siapa sangka Ong It sin segera tertawa terbahak bahak.
"Haaahhh... haaahhh... haaahhh... adik Yau, kembali kau keliru besar"
Serunya.
"orang yang menolong kami lolos dari mara bahaya justru adalah nona Ciong Hoa"
Dengan diutarakannya ucapan tersebut maka semua orang menjadi makin kaget dan tercengang.
Sebaliknya Bwe Leng soat berdua menjadi curiga, mereka mengira si anak muda itu memang berhasrat untuk menonjolkan Ciong Hoa agar dihormati semua orang.
kontan saja kesan baiknya hilang lenyap, sebagai gantinya rasa cemburu berkobar kobar didalam dada.
Untung saja Coa Thian yang segera bertanya.
"Ong lote ucapanmu itu benar benar membingungkan sekali, bahkan kau sendiripun gelagapan, masa kecerdasan dari Ciong jauh melebihi dirimu?"
Pertanyaan tersebut justru merupakan pertanyaan yang hendak ditanyakan Bwe Leng soat berdua pula, maka ketika didengar kalau Coa Thian yan telah mengutarakan diam diam mereka mengangguk sambil berpikir dalam hati.
"Sekarang, akan kulihat permainan setan apa lagi yang hendak kau perlihatkan!"
Terdengar Ong It sin kembali tertawa tergelak.
"Coa toako, kau keliru besar!"
"Dimana letak kekeliruanku?"
Ong It sin tertawa.
"Ketahuilah, banyak persoalan yang ada didunia ini bukan bisa dibereskan dengan mengandalkan soal ilmu silat dan kecerdasan otak saja"
"Kalau begitu aku ingin bertanya kepada lote, kalau ilmu silat, kecerdasan dan akal pun tak bisa diandalkan, kita harus mengandalkan soal apa lagi...?"
"Ada kalanya harus mengandalkan pula sesuatu rahasia yang dimiliki orang lain"
"Waah... setelah mendengar ucapanmu itu, aku makin dibikin kebingungan, maaf kalau aku bodoh, lote, lebih baik kau beberkan saja semua duduk persoalan yang sebenarnya"
"Hayo cepat katakan"
Sambung Bwe Leng soat pula.
"aku ingin tahu rahasia apakah yang dimiliki adik Ciong Hoa"
"Padahal setelah diungkap hal ini tidak terhitung apa apa, sebab nona Ciong Hoa tahu kalau diatas tebing jurang itu terdapat sebuah lorong rahasia yang bisa kita pergunakan untuk menyelamatkan diri"
Bwe Leng soat segera mengerling sekejap kearahnya, kemudian berkata.
"Oooh... rupanya kalian kabur lewat jalan rahasia. kalau begitu sia sia saja kami menguatirkan keselamatanmu"
Setelah berhenti sejenak, kembali ia melanjutkan.
"Kalau memang jalan itu merupakan sebuah jalan rahasia, sudah pasti sepanjang jalan tiada rintangan apa apa, mengapa sampai sekarang kalian baru tiba dirumah?"
O000dw000O
Jilid 31 BURU-BURU Ong It sin menjulurkan lidahnya.
"Waduh adik Soat betul betul sangat lihay"
Keluhnya.
"andaikata aku berani berbuat serong, niscaya rahasiaku bakal ketahuan semua"
"Memangnya kau mempunyai alasan yang lain?"
"Tentu saja!"
"Boleh kudengar?"
"Aku toh sudah memberi tahu kepadamu"
"Kapan kau memberitahukan hal itu kepadaku?"
Bwe Leng soat menjadi tertegun.
"Kenapa tidak kau pikirkan dulu?"
Untuk sesaat lamanya Bwe Leng soat tak berhasil mengingat kembali hal itu. Tiba-tiba Coa Thian yan seperti teringat akan sesuatu hal, buru buru katanya.
"Adik Soat, bukankah Ong lote telah memberitahukan kepadamu kalau si dewa cebol Cu Lian ci sekalian empat orang terkena racun jahat? Dari enam orang yang melakukan perjalanan, empat diantaranya tak sanggup mengerahkan ilmu meringankan tubuh, apalagi harus menghindarkan diri pula dari kejaran musuh, bayangkan sendiri, mana mungkin mereka bisa berjalan dengan cepat? Alasan ini rasanya amat bukan?"
Setelah mendengar keterangan itu, senyuman manis baru sempat menghiasi ujung bibir Bwe Leng soat. Kembali Ong It sin berkata.
"Dewasa ini soal terpenting yang harus kita lakukan adalah membuat resep untuk memunahkan racun yang bersarang ditubuh Ay loko sekalian, tapi untuk merahasiakan gerakan kita ini, lebih baik kita kirim orang saja untuk membeli obat tersebut didesa lain saja"
"Tak usah repot repot kalau begitu"
Sela Kang Tang liu.
"kebetulan sekali di kota ini, Ih hen juga membuka sebuah toko obat, akan kukerjakan sendiri obat tersebut, tanggung rahasia ini tak bakal bocor."
Ong It sin menjadi girang sekali.
"Ya, memang paling baik kalau begitu"
Serunya.
Selesai bersantap, pemuda itu lantas membuat selembar resep obat untuk memunahkan racun.
Oleh karena urusan ini mempunyai akibat yang besar bila sampai ketahuan musuh, Kang Tang liu segera berangkat sendiri ke toko obatnya untuk mempersiapkan obat tersebut.
Ketika keempat orang itu habis minum obat yang dibuat Ong It sin, racun yang mengeram ditubuh merekapun segera punah dan lenyap sama sekali.
Sementara itu waktu sudah menunjukkan dua hari menjelang datangnya hari Toan yang.
Orang pertama yang tiba di kota Si ciu paling dulu adalah ketua Hoa san pay, Kim liong lojin (kakek naga emas) Bwe Hoa poh yang membawa serta Gin liong su kiam (empat pedang naga perak) serta cucunya Bwe Kiam ciu.
Menyusul kemudian Tay gi siansu dari Siau lim pay dengan membawa Tay cu siansu, Tay pe siansu, Tay jin siansu, Tay yong siansu serta dua belas orang jago muda dari angkatan Go berdatangan ke sana.
Kemudian datang pula Wi to cinjin dari Bu tong pay dengan membawa serta Tui hong jit kiam kek (tujuh pendekar pedang pengejar angin).
Hari kedua, muncul pula It po taysu dari Heng san pay yang disertai seorang kakek jangkung kurus, dia adalah Sin cian jiu (si pemanah sakti Phu Yang liat).
Datang pula Cing hoa loni dari Cin shia pay.
Ih lwe sangjin dari Tiong lam pay juga datang diikuti Ho hoa siansu, Tui im kiam kek dan Toa tou Go Eng.
Dari pihak Go bi pay datang Tiang bi siansu beserta kedua belas orang jagonya.
Tentu saja pihak Kay pang juga tidak ketinggalan, mereka mendatangkan San ciat jin Ciong (tiga sakti tujuh miskin).
Dari luar perbatasan muncul pula tiga orang jago, diantaranya Seng hong tianglo dan Li Ji.
Dengan kehadirannya jago lihay dari seluruh dunia persilatan, kontan saja membuat suasana di kota Si ciu menjadi ramai sekali.Pertama tama Tay gi siancu, ketua partai Siau lim yang datang mencari berita dari mulut Kim liong lojin.
"Apakah cucu perempuanmu Bwe Leng soat dan Giok bin sin liong Ong It sin tidak datang?"
"Belum, mereka belum datang"
Sahut Kim liong lojin sambil menggelengkan kepalanya.
"Bwe sicu, tahukah kau bahwa perkumpulan Ki thian kau telah diperkuat oleh Seng Meh cu serta Siau mi lek dari bukit Tay huang san? Malah Thian yan siansu dan Thian ci siansu dua orang susiok kami kena ditawan mereka, sampai sekarang kabar beritanya belum ketahuan, hal ini benar benar mengurangi kekuatan kami"
"Siansu, aku rasa cucu perempuanku pasti akan datang kemari bila ia tahu aku telah sampai kesini"
Hibur Kim liong lojin.
"aku rasa Giok bin sin liong Ong It sin mungkin juga telah datang"
Sementara mereka masih berbincang bincang, dari luar pintu rumah penginapan Peng an telah datang tiga orang manusia.
Yang berada di paling depan adalah seorang kakek cebol yang berjenggot perak, di tengah adalah seorang nona cantik, sedang di paling belakang adalah seorang pemuda berbaju biru.
Begitu mereka bertiga muncul dalam rumah penginapan, suasana seketika menjadi gempar.
Semua orang segera berteriak keras.
"Ay sian Cu cianpwe telah datang!"
"Thian hiang siancu telah datang!"
"Giok bin sin liong telah datang!"
Kim liong lojin yang mendengar seruan itu menjadi tertegun, pikirnya kemudian.
"Heran, siapakah yang bernama Thian hiang siancu itu?"
Ketika sorot matanya bertemu dengan wajah Bwe Leng soat, dia menjadi paham sendiri.
"Oooh, rupanya budak Soat!"
Yaa, orang persilatan memang telah menghadiahkan julukan Thian hiang siancu untuk Bwe Leng soat, bahkan julukan tersebut sudah tersebar luas sampai dimana mana hanya saja Bwe Leng soat sendiri masih belum tahu akan hal ini.
Sementara Kim liong lojin dan Tay gi siansu masih duduk tertegun, ketiga orang itu telah datang menghampirinya.
Kedua orang itu baru sadar dari lamunannya, ketika ketiga tamu sudah di depan mata, buru buru mereka bangkit berdiri sambil menjura.
"Boanpwe menjumpai Cu cianpwe"
Katanya cepat. Cu Lian ci segera tertawa meringis.
"Dari mana datangnya begitu banyak adat lebih baik kalian berbincang sendiri"
Dalam pada itu Bwe Leng soat telah berseru.
"Yaya!"
Bagaikan burung walet pulang sarang, ia segera menjatuhkan diri ke dalam pelukan Kim liong lojin.
Sedang Giok bin sin liong Ong It sin juga mulai berbincang bincang dengan Tay gi siansu.
Sementara para jago dari pelbagai penjuru dunia yang berada di sekitar sana pun datang berkerumun.
Pelan pelan Ong It sin mengalihkan sinar matanya memandang sekejap kawanan jago yang berada di sana, mendadak ia menjerit tertahan, kemudian sapanya kepada seorang kakek kekar berbaju ringkas dan membawa sebuah cambuk di pinggangnya.
"Paman Li jisiok, rupanya kau orang tua juga telah datang dari luar perbatasan!"
"Hian tit, tak nyana kau masih kenal dengan ji siokmu, hampir saja Ji siok tak kenal lagi denganmu"
Seru cambuk beracun Li Ji.
"tampaknya permainan dari saudara Tang thian berhasil pula mengelabuhi diriku..."
Setelah berhenti sejenak, dia lantas menuding ke arah seorang kakek keren yang berada disampingnya, kemudian berkata.
"Hian tit, mari kuperkenalkan, dia adalah lotoa kami Seng hong tianglo..."
Mengetahui kalau pendeta tua ini adalah toako dari ayahnya, buru buru Ong It sin bangkit berdiri dan memberi hormat.
"Omintohud"
Bisik Seng hong tianglo.
"Tang tian bisa memiliki anak seperti kau, arwahnya di alam baka tentu dapat beristirahat dengan mata meram"
Menyusul kemudian tanyanya lagi.
"Keponakan It sin, kenapa kau begitu teledor hingga menyerahkan pedang Hu si kiam kepada kelabang hitam dan putrinya? Bila mereka berhasil mempelajari Ngo heng sin kang dan Hu si jit si, dunia persilatan pasti akan dibikin kacau balau"
"Supek, kini nasi sudah menjadi bubur, namun masih bisa ditolong keadaannya"
"Sekarang tergantung apakah kau telah berhasil meyakinkan ilmu pedang Sang yang kiam hoat atau tidak?"
"Mengapa demikian...?"
Tanya Ong It sin dengan keheranan, ia mengawasi wajah orang lekat lekat.
"Aku dengar ayahmu pernah berkata bahwa kekuasaan yang sebenarnya dari pedang Hu si ku kiam tersebut bukan terletak pada ketujuh jurus serangan itu, melainkan pada dua macam daya kekuatan yang dimiliki senjata tersebut"
Ujar Seng hong Tianglo.
"sehingga dalam setiap pertarungan, pikiran maupun perasaan setiap jago akan terpengaruh, sekalipun seseorang memiliki tenaga dalam yang jauh lebih sempurna daripada si pemegang pedangmu, akhirnya juga akan dikalahkan"
"Tak heran Ay loko memiliki tenaga dalam sedemikian sempurnanya akhirnya kena ditawan oleh Be Siau soh"
Tanpa terasa sepasang keningnya menjadi berkerut dan wajahnya menunjukkan kemurungan. Dengan suara yang dalam kembali Seng hong Tianglo berkata.
"Sekarang aku telah memberitahukan kepadamu dimana letak kehebatan daripada senjata itu, tapi kau belum memberitahukan kepadamu bagaimanakah nasib daripada ilmu pedang Sang yang kiam hoat tersebut?"
"Siautit telah berhasil mempelajari isi kitab Sang yang kiam hoat tersebut"
Ujar Ong It sin cepat cepat. Setelah mendapat perkataan itu, Seng hong Tianglo baru bisa menghembuskan napas lega, katanya.
"Omintohud, mungkin inilah kemauan takdir, tampaknya hanya kau seorang yang dapat menyelamatkan dunia persilatan dari bencana pembunuhan ini..."
"Begitu seriuskah persoalan ini?"
"Tentu saja, tapi kau tak boleh mempergunakan ilmu pedang itu secara sembarangan sehingga menimbulkan perasaan waswas pihak lawan, kalau tidak, bisa banyak kerepotan yang bakal kau jumpai"
Dengan penuh rasa hormat Ong It sin menerima nasehat tersebut, katanya kemudian dengan suara dalam.
"Siautit sudah tahu"
Mendadak Seng hong Tianglo seperti teringat akan suatu persoalan, segera tanyanya.
"Hiantit, apakah kau pernah bertemu dengan kedua orang murid murtadku itu?"
Setelah berhenti sejenak, dia menjelaskan lebih jauh.
"Maksudku Lau Hui dan Bwe Yau yang tempo hari kuutus untuk menyampaikan kotak kemala kepadamu itu"
Jelas dia masih belum memperolah kabar berita tentang kedua orang muridnya ini "Adik Yau dan siautit pernah berkunjung di rumahnya Yu liong Kang Tang liu..."
"Oooh, kalau begitu lolap menjadi agak lega"
Tapi tiba tiba serunya lagi! "Kau belum menerangkan tentang diri Lau Hui?"
Terpaksa Ong It sin harus mengakui dengan sejujurnya bagaimana Lau Hui sudah terpikat oleh si Janda cabul, bukan saja telah takluk kepada perkumpulan Ki thian kau, bahkan telah menjual adik seperguruannya sendiri, Bwe yau untuk dijodohkan secara paksa kepada Sangkoan Bu cing Kemudian bagaimana oleh si Pek tok bi kui gadis dikirim ke kota ular berbisa untuk dihadiahkan kepada Thian tok Tay ong...
Mendengar kisah tersebut, Seng hong Tianglo segera berkata.
"Dalam dunia persilatan memang tersiar kabar tentang hancurnya kota ular berbisa tapi tak ada yang tahu apa sebabnya, tak bisa disangkal lagi, pasti hiantit lah yang mengobrak abrik sarang mereka, bukankah demikian?"
"Aku dan Bwe Leng soat lah yang menyusul kesana. Bila adik Yau mengetahui kau orang tua juga telah sampai di kota Si ciu ini, entah bagaimana girangnya dia? Apakah perlu kuundang dia datang kemari?"
"Tak usah, hiantit"
Cegah Seng hong tianglo sambil menggoyangkan tangannya berulang kali. Sementara itu, Kim liong lojin telah bertanya dengan suara dalam.
"Menurut berita yang tersiar dalam dunia persilatan beberapa waktu berselang, konon Say siu hud sim juga kena ditawan oleh pihak perkumpulan Ki thian kau, apakah benar berita ini?"
"Benar, tapi boanpwe telah berhasil menyelamatkan Ay loko, Kwik tayhiap serta Thian yan siansu dan Thian ci siansu"
Buru buru Tay gi siansu dari Siau lim pay bangkit berdiri untuk menyatakan rasa terima kasihnya.
"Ong sauhiap"
Kembali Kim liong lojin berkata.
"kau telah berhasil menyusup sampai ke sarang harimau, apakah berhasil kau selidiki jago jago kaum sesat mana saja yang berhasil dikumpulkan oleh perkumpulan mereka?"
"Banyak sekali jago jago dari golongan sesat yang berhasil mereka himpun, diantaranya terdapat empat belas siluman dari tujuh selat, Lam huang pat yau, Say siu jin mo, Tee lwee siang mo, Tee leng kun, Pek si su siong, Siang pit lo han Yap Kiu, si Kelabang hitam Be Ji nio, Ih lwee su ci, Ciong lay su koay, Seng Meh cu toojin muridnya Peng pok sin mo dari bukit Tay huang san serta Siau mi lek hwesio, sedang belakangan ini ditambah pula dengan Ciok yong li sin serta Thian tok Tay ong, boleh dibilang hampir segenap jago jago tangguh dari golongan sesat telah berpihak kepada mereka"
"Orang orang itu semua masih belum begitu ditakuti, yang paling menakutkan adalah peluru peledak milik Ciok yong li sin tersebut serta tiga puluh macam benda api yang dimilikinya, sebab benda benda semacam itu tak mungkin bisa dilawan dengan mengandalkan ilmu silat saja"
"Apakah ada suatu cara untuk mencegahnya?"
"Ada, yakni Peng pok ciu milik Peng pok sinkun"
"Peng pok sinkun tersebut berdiam di mana?"
"Kalau dibilang jauh sih tidak, dia tinggal dalam lembah Im hong kok yang jaraknya dari sini cuma tiga ratus li, tapi orang ini berwatak aneh sekali, jangankan meminjam pelurunya, bisa jadi selembar nyawa pun bisa turut melayang"
"Tapi demi keselamatan dunia persilatan aku akan mencoba untuk menjumpainya"
Kata Ong It sin dengan tekad yang bulat.
"Kalau begitu, kau harus berangkat sekarang juga, jangan lupa sebelum tengah hari besok, kau sudah harus tiba di bukit Long sia san untuk menghadiri pertemuan"
Ong It sin manggut manggut, setelah dia berpesan beberapa patah kata kepada Bwe Leng soat, dengan cepat anak muda itu melompat keluar dari ruangan itu untuk melakukan perjalanan.
"Yaya, apakah kau tidak merasa bahwa perjalanan engkoh Sin kali ini agak menyerempet bahaya?"
Seru Bwe Leng soat kemudian.
"andaikata dia tak bisa meminjam mutiara inti es atau terlambat datang menghadiri pertemuan itu, bukankah kita akan kekurangan seorang jago lihay yang sanggup menghadapi perkumpulan Ki thian kau?"
OooOdzOooo "Budak, walaupun perjalanan ini sedikit menempuh bahaya, tapi jika kita tidak pergi meminjam bola inti es tersebut andaikata pihak Ki thian kau menghadapi kita dengan peluru peluru peledaknya, toh jiwa kita akan terancam juga, sebab permainan semacam itu tak mungkin bisa dihadapi dengan kepandaian silat"
Kata Kim liong lojin Setelah mendengar perkataan itu, Bwe Leng soat tidak berkata apa apa lagi.
Malam itu, ketika semua jago mendengar Say siu hud sim, dua siansu dari Siau lim pay serta Coa Thian yan dan Pek lek to To hu Hiong berada dirumah kediaman Yu liong Kang Tang liu, berbondong bondong mereka datang berkunjung.
Dengan demikian, suasana dalam gedung keluarga Kang pun menjadi ramai sekali.
Keramaian itu baru berakhir setelah si dewa cebol Cu Lian ci berkata.
"Besok kita harus melangsungkan suatu pertarungan sengit melawan musuh, lebih baik kalian cepat cepatlah beristirahat untuk menghimpun tenaga kembali..."
Maka semua orang pun berpamitan untuk kembali ke rumah penginapan masing masing.
Keesokan harinya, pagi pagi sekali semua jago telah berkumpul dan berangkat bersama menuju ke bukit Long sia san.
Baru tiba dimulut bukit, kedatangan mereka telah disambut oleh wakil ketua ketiga dari perkumpulan Ki thian kau, Siau Mi lek.
Disampingnya terdapat sebuah meja panjang, diatas meja tersedia buku daftar penerima tamu, sambil tertawa terdengar dia berkata.
"Merupakan suatu kebanggaan bagi perkumpulan kami dapat menerima kunjungan saudara sekalian, harap catatkan dulu nama kalian diatas buku daftar penerima tamu ini"
Seorang pengemis bungkuk yang berada dalam rombongan segera berseru.
"Sempurna amat jalan pemikiran kaucu kalian, mungkin kalian hendak mencatat nama kami agar setiap orang bisa disediakan sebuah peti mati?"
"Thio Tianglo, kau pandai amat bergurau"
Kata Siau mi lek sambil tertawa.
"kau tak usah menaruh curiga, jalanan toh terbentang dihadapanmu dan siapapun tak ada yang menghalangi kebebasanmu, kalau takut silahkan pulang saja kerumah!"
Pengemis bungkuk itu adalah seorang jagoan dari Kay pang yang bernama Thio It huan, sepasang kepalan bajanya sudah lama termashur didalam dunia persilatan.
Mendengar perkataan itu segera tertawa tergelak.
"Haaahh... haaahh... haaahh... walaupun tahu kalau diatas bukit ada harimau, aku justru senang bertemu dengan harimau kalau aku sipengemis takut, tak akan diriku muncul disini"
Selesai berkata dia angkat pit dan mencatatkan namanya diatas buku daftar nama itu.
Jangan dilihat pakaiannya compang camping tak karuan, ternyata tulisannya sangat indah.
Maka beruntun jago jago lainnya pun mengangkat pit dan meninggalkan namanya diatas buku daftar tamu itu.
Tak selang berapa saat kemudian, sampailah rombongan jago dari kolong langit itu dalam lembah Jit hwe kok.
Orang yang bertugas menerima tamu adalah Ang yok, Pek tho, Ui kiok serta Pek bwe empat orang tongcu, ditambah pula dengan sekawanan dayang dayang cabul.
Kim liong lojin memandang sekejap sekeliling tempat itu, dia saksikan lembah Jit hwe kok terletak di suatu lembah yang dikelilingi bukit berbatu cadas yang menjulang tinggi ke angkasa.
Di tengah lembah tersebut terdapat sebuah lapangan luas, ditengah lapangan itu telah dibangun sebuah panggung.
Di sekeliling panggung telah dibangun pula barak barak tempat berteduh yang terbuat dari bambu, dalam barak telah disiapkan hidangan dan arak wangi.
Para jago dari perkumpulan Ki thian kau menempati di barak sebelah timur.
Sedangkan para jago dari dunia persilatan, berada di barak sebelah barat.
Setelah semua jago mengambil tempat duduk, mereka baru sempat melihat di atas panggung itu tertera empat buah huruf yang besar sekali, tulisan itu berbunyi.
"IH BU HWEE YU"
Artinya dengan ilmu silat menjumpai sahabat. Di kedua belah sisinya digantungkan pula sepasang Lian yang berbunyi demikian.
"Kepalan enghiong menjelajahi kolong langit. Golok pedang ksatria menciptakan karya besar"
Sementara itu suasana diatas panggung itu sunyi senyap tak nampak seorang manusia pun.
Sementara Bwe Leng soat sedang keheranan dan tak tahu permainan busuk apakah yang sedang diatur pihak lawan, mendadak terdengar bunyi musik bergema dari belakang panggung.
Kemudian terdengar seseorang berseru dengan suara lantang.
"Kaucu tiba!"
Sekalipun Be Siau soh adalah pendiri dari perkumpulan Ki thian kau, namun sesungguhnya sampai sekarang belum pernah ada orang yang bertemu dengannya, maka suasana didalam barak barat segera terjadi kegaduhan yang amat ramai.
Para anggota perkumpulan Ki thian kau serta Ang yok, Pek tho, Ui kiok, dan Pek bwe empat orang Tongcu ditambah lagi Kim, gin, Thi tiga tingkat huhoat yang semula melayani datangnya para tamu, kini telah berdiri berderet dibawah panggung dengan sikap yang amat menghormat.
Tak lama kemudian, muncullah sebuah kereta kencana yang dihela oleh tujuh ekor kuda.
Begitu sampai ditengah lapangan, kereta itu segera berhenti.
Ternyata sang kusir kereta tersebut bukan lain adalah Sangkoan Bu cing, wakil ketua Ki thian kau yang pernah memimpin serombongan kaum iblis menyerbu ke kuil Siau lim si.
Sesungguhnya dia boleh dibilang merupakan orang kedua dari perkumpulan tersebut, tapi sekarang, ternyata pemuda itu sendiri yang bertindak sebagai kusir kereta, hal ini benar benar diluar dugaan siapapun juga...
Begitu tiba di lapangan, Sangkoan Bu cing segera melompat turun dari kereta dan membuka pintu kereta.
Setelah itu sambil menuntun Be Siau soh turun dari keretanya, selangkah demi selangkah mereka menuju ke tengah panggung.
Hari ini Be Siau soh mengenakan pakaian model keraton dengan gaun panjang mencapai tanah, rambutnya disanggup tinggi dengan mengenakan tusuk konde dari emas.
Cukup dipandang dari dandanannya saja sudah cukup memikat hati siapapun yang melihatnya.
Setibanya diatas panggung, dengan suara yang merdu ia baru berkata.
"Para ciangbunjin, para pangcu dan sekalian enghiong kenamaan yang sudi hadir disini hari ini, selain aku merasa bangga atas kesediaan kalian untuk hadir ditempat ini, aku bahkan merasa sedikit kaget. Bila pelayanan kami kurang sempurna, harap kalian sudi memaafkan..."
Setelah berhenti sejenak, dia melanjutkan.
"Perkumpulan kami dinamakan Ki thian kau, karena perkumpulan ini memang diilhami oleh Thian, selain mewujudkan cita cita yang besar untuk mengatur kekacauan didunia ini, juga untuk memimpin kalian semua menuju ke suatu persatuan yang terpimpin..."
Dengusan dingin segera berkumandang dari barak sebelah barat. Namun Be Siau soh tetap berlagak pilon seakan akan sama sekali tidak mendengar sambil tertawa kembali dia melanjutkan.
"Mungkin, ucapanku ini kurang leluasa untuk kalian dengar, tapi pun kaucu ingin bertanya sekarang, sebenarnya kekuatan apakah yang menunjang akan keutuhan keadilan dan persatuan didunia ini?"
Tiada seorang manusiapun yang menanggapi ucapan tersebut. Be Siau soh segera melanjutkan.
"Menurut pengertian umum, keadilan dan persatuan harus ditunjang oleh suatu kekuatan yang besar, seperti misalnya kalian merasa tidak puas akan suatu masalah, maka sebelum mencampurinya, pertama tama harus memiliki ilmu silat yang tangguh, selain itu percuma saja masalah tersebut dibicarakan. Padahal dalam dunia persilatan terdapat banyak sekali partai dan perguruan yang saling bertentangan, sehingga terbagi adanya golongan lurus dan sesat, golongan hitam dan putih. Pihak pendekar membunuhi kaum hitam dengan dalih "melenyapkan kejahatan menegakkan kebenaran"
Sebaliknya kaum hitam membunuhi kaum lurus dengan dalih cara kerja mereka kejam dan tak berperi kemanusiaan.
Sekarang, aku ingin tanya, adilkah keadaan ini?
Lagi pula sumber dari ilmu silat sesungguhnya adalah satu, berarti dunia persilatan sepantasnya kalau merupakan satu keluarga, mengapa pula kalian harus saling membunuh?
"Oleh sebab itu, pun-kaucu dengan rahmat dari Thian telah mengambil suatu keputusan untuk menyelamatkan dunia persilatan dari kehancuran, oleh sebab itu menggunakan kesempatan pada peresmian perkumpulan Ki thian kau pada hari ini, sengaja kuundang kehadiran sekalian untuk bersama sama merundingkan masalah ini.
bagaimana caranya agar membuat dunia persilatan menjadi aman dan tenang?
bagaimana caranya menghentikan pembunuhan sehingga dunia ini menjadi tenteram?"
Ketika dia berbicara sampai disitu, dari barak sebelah barat segera berkumandang suara seseorang yang tua serak.
"Hanya ada satu cara yang bisa dilakukan, yaitu menyatukan dunia persilatan di bawah seorang pimpinan"
Orang yang berteriak itu adalah ciangbunjin dari Im san pay, Nyo im siu.
Orang ini sesungguhnya telah menggabungkan diri dengan pihak Ki thian kau, tapi entah mengapa bisa menyusup kedalam rombongan para jago kaum lurus.
Be Siau soh yang berada di atas panggung segera tertawa manis kearahnya, kemudian berkata lagi.
"Ucapan cianpwe memang tepat sekali. Hari ini, segenap enghiong dari seluruh dunia telah berkumpul disini, inilah suatu kesempatan yang baik untuk memilih seorang Bengcu yang akan memimpin dunia persilatan, setiap orang berhak mengikuti pemilihan ini, asal ada orang yang berhasil menduduki jabatan tersebut, sepuluh laksa anggota Ki thian kau bersedia untuk mendengarkan perintahnya, entah bagaimana tanggapan dari saudara sekalian?"
Thian hiang siancu Bwe Leng soat hendak menyatakan ketidak setujuannya, tapi Kim liong lojin segera berkata.
"Mereka toh sudah melakukan persiapan yang matang, sekalipun kau menolak apa pula gunanya? Lebih baik lihat saja perkembangan selanjutnya..."
"Perempuan ini lain dimulut lain dihati, mungkin saja dia mempunyai rencana busuk yang lain"
Kata si dewa cebol Cu Lian ci pula.
Setelah tertipu sekali, kini tindak tanduknya jauh lebih was was dan berhati hati.
Sementara itu para jago yang berada di dalam barak sebelah barat saling berbisik membicarakan masalah itu, tapi oleh karena dilihatnya Thian hiang siancu, si dewa cebol, Kim liong lojin, maupun Tay gi siansu dari Siau lim pay tidak menunjukkan reaksi apa apa, tentu saja mereka turut membungkam dalam seribu bahasa.
Be Siau soh memutar biji matanya memandang sekejap sekeliling arena, kemudian katanya lagi.
"Kalau memang saudara sekalian menganggap persoalan ini memang memenuhi selera dan tiada menolak, marilah kita tetapkan demikian saja... cuma, bila pertarungan memperebutkan kedudukan Bengcu itu harus dilakukan satu per satu, banyak waktu yang mungkin akan terbuang percuma..."
Setelah berhenti sejenak, dia melanjutkan.
"Begini saja, dari pihakku akan diwakili oleh diriku sendiri serta ketiga orang wakil kaucu kami, bila ada orang yang berhasil menangkan kami, maka dialah yang akan menjadi Bengcu dari seluruh dunia persilatan..."
Selesai berkata, dia lantas memberi tanda Sangkoan Bu cing, Seng Meh cu dan Siau bin Milek segera melompat naik keatas panggung. Setelah itu, Be Siau soh kembali berkata.
"Dalam babak yang pertama ini akan maju Siau bin Milek, sedangkan kami akan mengundurkan diri untuk sementara waktu"
Begitu selesai berkata, tiga orang lainnya segera mengundurkan diri dari atas panggung. Sambil memegangi perutnya yang buncit, Siau Mi lek berkata kemudian dengan lantang.
"Aku si hwesio adalah si burung bodoh yang akan terbang lebih dulu, siapakah di antara kalian yang bersedia memberi pelajaran dulu kepadaku?"
Para ketua perguruan dan perkumpulan yang hadir dalam arena saat itu mengerti jelas bahwa kepandaian silat yang mereka miliki tak lebih hanya setingkat dengan pelindung hukum emas, sudah barang tentu masih selisih jauh bila dibandingkan dengan Siau Mi lek, maka semua orang hanya saling berpandangan saja.
Si Dewa cebol Cu Lian ci segera tertawa dingin, serunya kemudian.
"Biar lohu yang datang menjumpai dirimu"
Sambil mengebaskan ujung bajunya, dia lantas melompat naik ke atas panggung.
"Omintohud, lagi lagi kita bersua muka!"
Seru Siau Mi lek kemudian sambil tertawa terbahak bahak.
"Tak usah banyak berbicara, lancarkan saja seranganmu!"
Tukas si dewa cebol cepat.
Siau Mi lek cukup memahami akan ilmu Sin sian ci dari musuhnya yang amat lihay, dia tak berani bertindak gegabah, sambil menarik kembali senyumannya, dia lantas bersiap sedia.
Hawa murninya segera dihimpun ke dalam sepasang lengannya, kemudian secara beruntun melancarkan serangkaian bacokan berantai.
Setiap bacokan yang dilancarkan semuanya tajam bagaikan babatan kampak tajam.
Si Dewa cebol segera membentak nyaring kesepuluh jari tangannya yang tajam direntangkan dan menyambar kemuka amat dahsyat.
Suatu pertarungan sengit segera berkobar, namun siapapun tak berani menggunakan jurus serangan sampai habis.
Puluhan jurus kemudian, Siau bin Mi lek sudah tak bisa tertawa lagi.
Berbicara soal tenaga dalam, ternyata dia masih kalah setingkat ketimbang musuhnya seakan akan terbelenggu oleh seutas tali yang tak berwujud, segenap kepandaian silat yang dimilikinya hampir tak bisa dikembangkan lagi.
Menyaksikan kejadian ini, semua jago yang berada dibarak sebelah barat menjadi kegirangan.
Sebaliknya ketua Ki thian kau Be Siau soh yang berada dibelakang panggung segera berbisik.
"Mungkin Siau bin Mi lek sudah tak sanggup untuk bertahan sebanyak tiga gebrakan lagi..."
Baru selesai dia berkata, si Dewa cebol Cu Lian ci dengan jurus naga sakti mengembangkan cakar telah menerobos masuk ke balik lapisan tangan Siau bin Mi lek yang rapat, kemudian dengan suatu gerakan cepat mencengkeram tubuh lawan.
Angin dingin menyayat badan, dengan kaget Siau bin Mi lek segera membuang bahunya ke samping untuk menghindarkan diri.
Sayang tindakannya itu terlambat selangkah, tahu tahu ujung bajunya sudah kena disambar sehingga robek.
Merah padam selembar wajah Siau bin Mi lek karena jengah, ujarnya kemudian.
"Hei si dewa cebol, ilmu jari dewamu memang sangat lihay, aku si hwesio mengaku kalah"
Selesai berkata dia lantas mengundurkan diri dari arena. Tapi Seng Meh cu segera melompat naik ke atas panggung sembari serunya lantang.
"Hei dewa cebol, ilmu silatmu memang amat lihay, pinto bersedia untuk meminta petunjukmu"
Si Dewa cebol segera menarik muka dan berkata dengan suara dalam.
"Lohu tahu kalau kau telah memperoleh segenap kepandaian sakti dari Pek gan thian mo, bila dibandingkan dengan sutemu, kau jauh lebih tangguh, baiklah, akan kulihat sampai dimanakah kelihayanmu itu!"
"Maaf!"
Seru Seng Meh cu kemudian dengan wajah membesi.
Bagaikan angin berpusing, dia segera menerjang ke depan.
Menghadapi terjangan musuh itu, mendadak si dewa cebol menarik napas dalam dalam dan melejit ke tengah udara.
Dalam waktu singkat, ia telah berhasil menghindari tiga buah pukulan dan tujuh buah tendangan berantai lawannya.
Menyaksikan serangannya mengenai sasaran yang kosong, Seng Meh cu naik pitam, kembali dia mengejar ke depan, sepasang tangannya digerakkan menyerang jalan darah kematian disepasang iga lawan dengan jurus Ciong ku ki beng (genta dan tambur bunyi bersama).
Si dewa cebol Cu Lian ci tertawa terbahak bahak.
Sebab jurus serangan yang digunakan lawan meski banyak titik kelemahannya tapi kehebatannya justru terletak pada pihak lawan yang tak sempat melancarkan serangan balasan.
Pengalamannya memang cukup sempurna, maka buru buru sepasang telapak tangannya didorong kedepan dan persis menyentuh sepasang tangan musuh, kemudian dengan meminjam kekuatan tadi, tubuhnya melompat mundur sejauh beberapa kaki dari tempat semula.
Setelah lolos dari ancaman, dia baru mengejek.
"Aah... masa begitu bernapsu kau untuk merebut kemenangan? Tapi... hmm, mampukah kau untuk meraih kemenangan"
Paras muka Seng Meh cu sama sekali tidak berubah, sambil tertawa dingin dia pun berseru.
"Tua bangka celaka, siapa menang siapa kalah masih belum ketahuan, buat apa kau musti banyak berbicara?"
Walaupun dia berkata demikian, dalam hatinya merasa kagum sekali, sebab dilihat dari kemampuan si dewa cebol untuk meminjam lengannya tadi, jelaslah terlihat bahwa tenaga dalam yang dimilikinya masih jauh di atas kemampuannya.
Walaupun dia sombong dan tinggi hati, namun hanya suatu pertarungan cepat saja yang mungkin akan mendatangkan kemenangan tak terduga baginya...
Maka sekali lagi dia melakukan tubrukan ke depan.
Setelah berdiri tegak, kali ini si dewa cebol Cu Lian ci tidak bermaksud untuk mundur lagi.
Tangan kirinya dengan ilmu Tay ki na jiu boat mengunci datangnya kepalan musuh, sementara tangan kanannya secara khusus mencari titik kelemahan orang, sebentar mencengkeram sebentar menotok, semuanya tertuju kebagian mematikan ditubuh lawan.
Dalam sekejap mata bayangan telapak tangan dan desingan angin jari menderu deru.
Seng Meh cu adalah murid utama dari Peng pok sin mo, selain tenaga dalamnya masih kalah dari gurunya, ilmu silat lainnya hampir sembilan puluh persen telah berhasil dikuasahi olehnya.
Kini, dia telah mengeluarkan ilmu Leng kou kun yang maha dahsyat ajaran Peng pok sin mo, dalam waktu singkat bayangan tangan dan angin pukulan menderu deru menyelimuti seluruh angkasa, hampir setiap pukulan yang dilancarkan semuanya mengandung jurus mematikan yang mengerikan hati.
Namun ilmu Tay ki na jiu hoat yang dimainkan si dewa cebol Cu Lian ci dengan tangan kirinya itu ketat sekali dan mempertahankan diri, sedangkan telapak tangan kanannya dengan himpunan tenaga dalam yang sempurna sebentar menyerang sebentar bertahan, semuanya menghancurkan ancaman musuh, sedemikian lihaynya orang ini sehingga tak malu disebut sebagai si dewa dari daratan.
Belasan gerakan kemudian, makin bertarung Seng Meh cu merasakan gelagatnya semakin tidak menguntungkan, bila ingin merebut kembali posisinya yang semakin mendesak, agaknya kecuali kalau dia gunakan ilmu Thian long Cian jun (serigala langit mencakar sukma).
Berpikir demikian, dia lantas mendongakkan kepalanya dan memperdengarkan suara lolongan serigala yang mengerikan.
Setelah itu, ujung kakinya menjejak permukaan tanah, kemudian dari udara ia menerkam kebawah dengan kecepatan luar biasa.
Dua buah cakar setannya secepat kilat mencengkeram ubun ubun si dewa cebol tersebut.
Menghadapi ancaman yang luar biasa itu, Dewa cebol Cu Lian ci menjadi amat terperanjat, dengan cepat dia mengerahkan ilmu Sin sian ci nya untuk menotok telapak tangan lawan.
"Criiit...!"
Bagaikan dipagut ular berbisa, Seng Meh cu tersentak kaget dan terjatuh ke atas panggung, wajahnya segera berubah menjadi pucat pias seperti mayat. Sambil menjura si dewa cebol lantas berseru.
"Hu kaucu, banyak terima kasih atas kesediaanmu untuk mengalah!"
Seng Meh cu menggigit bibirnya menahan rasa gusar yang meluap, sambil melotot dengan sorot mata penuh rasa dendam dia berseru.
"Anggap saja kepandaian silatku memang tidak becus, cuma, kaupun jangan harap bisa memperoleh kesempatan untuk merebut kedudukan Bengcu itu..."
"Haaahhh... haaahhh... haaahhh... soal menang atau kalau bukan menjadi masalah, mengapa kau kok menjadi marah marah?"
Ejek si dewa cebol sambil tertawa tergelak.
Setelah dewa cebol berhasil menang secara beruntun, para jago yang berada dibarak sebelah barat segera bertepuk tangan meriah.
Sementara itu, wakil kaucu pertama Sangkoan Bu cing telah tampilkan diri di atas arena.
Dengan munculnya orang ini, para jago mulai berbisik bisik membicarakan masalah tersebut.
Semua orang beranggapan bahwa belum tentu ia bisa menandingi kehebatan si dewa cebol.
Lain halnya dengan Bwe Leng soat, dia lantas berkata.
"Sangkoan Bu cing telah berhasil mempelajari ilmu Ngo heng sin kang dan tujuh jurus Hu si jit si yang maha dahsyat, bila dibandingkan Siau Mi lek maupun Seng Meh cu, dia jauh lebih sukar untuk dihadapi"
Akan tetapi semua orang tak mau percaya dengan begitu saja. Dalam pada itu, Sangkoan Bu cing yang berada diatas panggung telah meloloskan sebilah pedang, kemudian dengan dingin dia berkata.
"Hei tua bangka, loloskan senjatamu!"
Menyaksikan sikap musuhnya memegang pedang, si dewa cebol Cu Lian ci segera mengerti kalau dia telah menjumpai musuh tangguh, dengan cepat kewaspadaannya ditingkatkan, dari sakunya dia mencabut keluar sebilah pedang emas.
"Oooh, rupanya kaupun seorang jagoan dalam hal ilmu pedang"
Seru Sangkoan Bu cing.
"benar benar suatu yang luar biasa, silahkan!"
Begitu selesai berkata, dia lantas membuka pertahanan sendiri sambil melepaskan serangan pancingan.
Dengan cepat si dewa cebol mengebaskan ujung baju kirinya melepaskan sebuah pukulan dahsyat untuk mendesak mundur hawa pedang musuh yang tajam, kemudian pedang ditangan kanannya melancarkan sebuah serangan balasan dengan jurus sun sui tui wan (mendorong sampan mengikuti arus).
Ternyata ia memang seorang ahli pedang kenamaan, hanya cukup dilihat dari serangan tersebut, dapat diketahui bahwa kepandaiannya amat tangguh, para jago di barak sebelah barat segera bersorak sorai memuji.
Sekalipun demikian, hawa pedang yang terpancar dari ujung pedang musuh ternyata makin lama semakin tangguh, akhirnya serasa berat bagaikan sebuah bukit karang.
Sementara itu, dewa cebol telah menyadari meski musuhnya masih muda, namun tenaga dalamnya amat sempurna, hanya mengandalkan kekuatan ujung baju kirinya saja, tak mungkin bisa membendung ancaman lawan, terasa hatinya menjadi tercengang.
Perlu diketahui, tenaga dalam yang dimiliki si dewa cebol Cu Lian ci sesungguhnya telah mencapai puncak kesempurnaan, tenaga murninya itu bisa dia gunakan menurut kehendak hati sendiri.
Bila sedang dipancarkan maka kuatnya seperti dinding baja, jangan harap serangan musuh dapat menembusinya.
Menyaksikan keadaan tersebut, dia lantas berpikir dalam hati kecilnya.
"Ternyata ilmu silat yang tercantum didalam pedang kuno Hu si ku kiam tersebut, benar benar merupakan suatu kepandaian silat yang luar biasa sekali, bila dilihat dari keadaan ini, bukan suatu pekerjaan yang gampang bila ingin menguasahi pemuda ini"
Berpikir demikian, dia lantas membentak rendah, kemudian pedangnya digerakkan ke bawah sambil membabat.
Cahaya busur berputar diujung pedangnya kemudian sewaktu menyambar kebawah kebetulan sekali berhasil mematahkan serangan musuh.
Pendekar cebol ini memang sangat lihay, baik sewaktu melancarkan serangan maupun sewaktu bertahan, semuanya dapat dilakukan dengan suatu gaya yang khas.
Sangkoan Bu cing tertawa dingin tiada hentinya, sementara hatinya amat gelisah, pikirnya.
"Tenaga dalam maupun pengalaman yang dimiliki kakek tua bangka ini sangat sempurna, aku harus mencari akal untuk meruntuhkan kewibawaannya lebih dulu"
Berpikir demikian, hawa murni Ngo heng ceng ki nya disalurkan ke ujung pedang, kemudian menyerang dengan jurus Boan ku kay thian (Boan ku membuka langit).
Sementara cahaya bianglala memancarkan panca warna yang gemerlapan, serentetan desingan angin tajam segera memancar keluar ke balik kabut pedang yang tebal.
Si Dewa cebol Cu Lian ci segera menyadari kalau gelagat tidak menguntungkan...
Sebenarnya dia sedang mainkan itu Tay lo sian kiam, suatu ilmu pedang tingkat tinggi, cahaya pedangnya dapat melindungi badan, meski begitu dia merasakan adanya hawa tajam yang secara menyayat badan.
Tak terlukiskan rasa kaget yang dialaminya ketika itu, ujung pedangnya segera menusuk ke depan, Criiing...!
secara tepat sekali berhasil menusuk diujung pedang musuh.
Tampak si Dewa cebol memanfaatkan kesempatan itu untuk melejit ke udara, setelah itu menyelinap ke belakang punggung Sangkoan Bu cing.
Itulah ilmu gerakan tubuh Siam im biau sin hoat yang maha lihay.
Walaupun Sangkoan Bu cing angkuh dan tinggi hati, tak urung dibuat kagum juga oleh kelihayan lawannya, tanpa terasa dia bersorak memuji.
"Tua bangka, kepandaianmu memang lihay sekali dan cukup tangguh untuk merajai dunia persilatan, tapi aku rasa ilmu pedang Tay lo sian kiammu masih belum mampu untuk menandingi ilmu Hu si jit si ku"
Si Dewa cebol segera manggut manggut.
"Ucapan dari Hu kaucu memang tepat dan tidak berlebihan, Hu si jit si memang merupakan suatu kepandaian ampuh yang tiada taranya di dunia ini, aku pun pernah berkenalan dengan ayahmu Sangkoan Khi, aku harap kau sebagai putra dari sahabatku jangan turut campur didalam pertikaian dunia yang serba kalut ini, asal kau bersedia untuk mengundurkan diri dari sini dengan selamat"
Tergerak juga hati Sangkoan Bu cing setelah mendengar perkataan itu, ia sama sekali tidak bertobat, melainkan timbul niatnya untuk menguasahi sendiri kedudukan Bengcu tersebut.
Baru saja dia berpikir demikian, tiba tiba dari belakang panggung sana telah terdengar seseorang membentak keras.
"Tua bangka, kau berani melakukan perbuatan yang tidak jujur?"
Bentakan tersebut bukan cuma mengejutkan si dewa cebol saja, bahkan segera menyadarkan kembali Sangkoan Bu cing dari lamunannya. dengan cepat dia berpikir.
"Aaah, benar bukankah perbuatanmu ini sama halnya dengan menghianati perkumpulan?"
Tanpa terasa tubuhnya menjadi bergidik dan menggigil keras, seketika itu juga semua kemarahannya dilimpahkan kepada musuhnya. Dengan suara keras ia membentak.
"Tua bangka celaka, kau tak usah memikirkan yang bukan bukan, lebih baik kita tentukan saja siapa yang lebih unggul diantara kita berdua"
Si Dewa cebol mengerti bahwa pihak lawan sudah terlanjur menjadi sesat, sekalipun dinasehati juga percuma, maka tangannya segera digetarkan menciptakan selapis cahaya hijau yang segera mengurung sekujur badan Sangkoan Bu cing.
Sangkoan Bu cing tertawa dingin, pedangnya sekali lagi melancarkan babatan ke depan Seketika itu juga tampak panca warna yang gemerlapan menyelimuti seluruh angkasa.
Baca Juga: Pedang Asmara 12
Baca Juga: Pedang Penakluk Iblis 12