Eps 12 Pedang Asmara - Kho Ping Hoo
Baca online Pedang Asmara - Kho Ping Hoo
Cersil Pedang Asmara - Kho Ping Hoo.
Melihat keadaan muridnya, Pak Ong tertawa.
"Ha-ha-ha, Nam Tok! Apakah engkau belum memberitahu puterimu? Heiii, Siang Bwee yang nakal! Engkau adalah calon mantuku, calon isteri Bu Tiong Sin. Karena itu, ayahmu menukar tongkatnya dengan pedang, sebagai tukar tanda ikatan jodoh! Jodoh antara engkau dengan Bu Tiong Sin, dan antara puteriku dengan Kwee San Hong! Ha-ha-ha!"
Biarpun sudah menduga bahwa ia dijodohkan dengan Tiong Sin, Siang Bwae terkejut mendengar bahwa Kwea San Hong juga sudah dijodohkan dengan Ji Kui Lan!
Ia merasa dada dan perutnya panas oleh cemburu!
Nam Tok mengerutkan alisnya.
Bodoh benar Pak Ong, pikirnya.
Menghadapi urusan besar masih mengganggu dengan urusan pribadi yang hanya akan menimbulkan perasaan tidak enak saja.
Maka, sebelum puterinya mengamuk, dia mendahului.
"Pak Ong, bukan waktunya bicara tentang urusan pribadi. Bagaimana dengan usahamu mengumpulkan balabantuan?"
"Mereka sudah siap. Ada lima puluh orang kawan-kawan kita yang siap membela negara dan bangsa, kini mereka sudah siap di sekitar puncak dan setiap saat dapat kita pergunakan. Dan dalam perjalanan tadi, penyelidikku memberitahu bahwa mereka itu telah mengatur barisan pendam yang terdiri dari orang-orang Mongol dengan para ahli panahnya, berjumlah kurang lebih seratus orang."
Nam Tok mengerutkan alisnya.
"Hemm, dua kali lebih banyak dari orang yang kau kumpulkan?"
"Tapi jangan khawatir, Nam Tok. Lima puluh orang kawan kita adalah orang-orang yang tidak akan kalah menghadapi pengeroyokan dua atau tiga orang Mongol."
Tiba-tiba mereka semua menengok.Mereka, enam orang itu, adalah ahli-ahli silat yang sudah memiliki tingkat kepandaian tinggi dan pendengaran mereka amat tajam.
Sedikit suara saja dapat mereka tangkap dan kini mereka semua menengok ke arah timur.
Malam mulai tiba, cuaca mulai gelap karena cahaya bulan belum berjaya.
Dari kegelapan itu muncullah dua sosok bayangan orang yang gerakannya cepat sekali.
Yang seorang pendek gendut dan orang ke dua tinggi kurus, dua bentuk tubuh yang berlawanan.
Setelah mereka tiba di depan mereka, nampaklah si gendut pendek itu berkepala botak dan si tinggi kurus itu matanya sipit sekali.
Kalau si gendut itu seperti orang menyeringai tersenyum terus, si kurus itu mulutnya tiada hentinya cemberut."Hek I Siang-mo (Sepasang Iblis Baju Hitam), kalian baru datang?"
Kata Siang Bwee sebagai salam kepada dua orang berpakaian hitam yang usianya sekitar lima pulun tahun itu.Mereka adalah Thian-te-mo dan Im-yang-mo, keduanya dikenal sebagai Hek I Siang-mo dan mereka menjadi pembantu-pembantu setia dari Nam Tok.
Mereka memberi hormat kepada Nam Tok dengan membungkuk dalam, kemudian memberi hormat pula kepada Siang Bwee.
"Nona Bwee, ternyata telah tiba lebih dulu, heh-heh-heh."
Kata Thian-te-mo sambil tersenyum lebar.
"Ceritakan hasil penyelidikan kalian."
Kata Nam Tok singkat. Akan tetapi sebelum dua orang itu menjawab, tiba tiba saja ada bayangan berkelebat dan San Hong telah berdiri di depan mereka dengan mata berkilat.
"Kiranya kalian ini yang berjuluk Hek I Siang-mo. Kalian yang enam tahun lalu membunuh penduduk dusun Po-lim-cun di kaki Pegunungan Thian san". Dua orang datuk sesat itu saling pandang, lalu Thian-te mo si gendut pendek yang selalu menjadi juru bicara mereka berdua, mengamati Sun Hong dan bertanya.
"Orang muda, siapakah engkau? Kami tidak mengenalmu."
"Namaku Kwee San Hong. Orang tuaku tinggal di dusun Po-lim-cun dan menjadi korban pembunuhan yang kalian lakukan terhadap penduduk dusun itu."
Thian-te mo menyeringai lebar.
"Hemmm kami sudah lupa lagi. lalu kalau benar begitu, engkau mau apa, orang muda?"
"Bersiaplan kalian untuk menebus dosa. Aku akan membunuh kalian!"
Kata San Hong marah. Thian-te-mo terkekeh.
"Engkau? Mau membunuh kami? ha-ha-ha, jangan melawan di sini....."
"Jahanam, lihat seranganku!"
Bentak San Hong dan dia sudah menyerang dengan tamparan kedua tangannya secara bertubi ke arah Thian-te-mo dan Im-yang-mo.
Dua orang datuk sesat itu tadinya memandang rendah kepada San Hong, maka mereka sambil mendengus mengangkat lengan menangkis dengan pengerahan tenaga untuk mematahkan tulang kedua lengan pemuda yang mereka anggap lancang itu.
"Dukkk! Dukkk!"
Dua orang itu terpelanting ke kanan kiri!
Mereka terkejut bukan main.
Kiranya pemuda itu memiliki tenaga yang amat kuat sehingga bukan tulang kedua lengan pemuda itu yang patah-patah, melainkan tulang lengan mereka yang rasanya remuk!
Mereka cepat bergulingan lalu meloncat berdiri, sekali ini dengan marah mereka siap melawan pemuda itu.
"Hong ko.....!"
Siang Bwee hendak meloncat maju, akan tetapi lengannya dipegang oleh ayahnya. Ketika ia menoleh, ayahnya tersenyum menggeleng kepala.
"Biarkan dulu mereka berlatih. Aku ingin melinat kemajuan San Hong."
Siang Bwee mengenal watak ayahnya yang aneh, maka ia pun diam saja, hanya siap membantu kalau San Hong terancam bahaya, juga ia tidak ingin San Hong membunuh dua orang itu sebelum mereka itu mengaku telah membunuhi orang tua San Hong dan penduduk dusun Po-lim-cun.
Sementara itu, Pak Ong, puterinya dan muridnya hanya diam saja karena menganggap bahwa keributan itu tidak ada sangkut pautnya dengan mereka.
San Hong mengamuk dan menyerang bagaikan seeekor naga marah.
Dua orang datuk itu kini terdesak dan mereka semakin terkejut.
Baru mereka tahu bahwa mereka berhadapan dengan seorang pemuda yang amat linai.
Yang membuat mereka semakin gentar adalah ketika melihat betapa Nam Tok dan puterinya hanya diam saja.
Ini menunjukkan bahwa ada hubungan antara pemuda lihai ini dengan mereka, maka tentu saja hal ini amat menggelisahkan hati.
Mereka mencoba untuk bertahan dan balas menyerang, namun gerakan San Hong terlalu cepat dan kuat sehingga mereka terus terdesak.
Tiba-tiba San Hong mendesak Tnian-te-mo dengan tamparan tamparan yang amat kuat.
Si gendut pendek itu kehilangan senyumnya dan dia bertahan dengan tangkisan-tangkisan kedua lengannya.
Pada saat itu, Im yang mo menyerang dari belakang, memukulkan tangan kanannya ke arah punggung San Hong.
Pemuda ini tidak menghentikan desakannya terhadap Thian-te-mo, seolah tidak melihat datangnya pukulan itu.
"Dukkk! Desss.....!"
Dua orang Hek I Siang mo itu terpelanting roboh!
Thian-te-mo roboh oleh tamparan tangan kanan San Hong yang biarpun sudah ditangkis tetap saja masih mengenai pundaknya, sedangkan Im yang mo roboh setelah pukulannya mengenai punggung San Hong.
Pukulan itu membalik dan hawa pukulannya menghantam dirinya sendiri.
Kiranya diam-diam San Hong telah mengerahkan tenaga sin-kang Perisai Diri yang dipelajarinya dari Lo Koay sehingga ketika hantaman tiba, maka tubuhnya bagaikan perisai kokoh kuat yang membuat hawa pukulan itu membalik menyerang si pemukul sendiri!
San Hong hendak melompat untuk menghabisi dua orang musuhnya itu, akan tetapi Siang Bwee meloncat dan merangkul pinggang San Hong dari belakang.
"Suheng, jangan! Engkau belum yakin benar bahwa mereka yang melakukan pembunuhan itu!"
Karena pinggangnya dirangkul kekasihnya, San Hong tidak berani meronta dan dia pun hanya memandang kepada dua orang yang mulai merangkak bangun itu dengan sinar mata berkilat.
"Mereka telah membunuh ayah ibuku! Mereka telah membunuh penduduk dusun kami, aku harus membalas kematian semua orang itu!"
Kata San Hong dengan marah. Siang Bwee tetap melingkarkan lengannya di pinggang San Hong dan kini gadis itu berkata kepada Hek I Siangmo.
"Siang mo, kami sudah melakukan penyelidikan ke dusun Po-lim-cun dan ada saksi yang mengatakan bahwa yang membunuh orang-orang dusun itu bukanlah ayahku, melainkan perampok-perampok dan juga kalian. Nah, sekarang saatnya kalian bicara terus terang. Kalau tidak, aku akan membiarkan Suheng membunuh kalian!"
Sepasang Iblis Baju Hitam itu memandang ke arah Nam Tok, wajah mereka gelisah.
Mereka memang serba salah.
Kalau hendak mengaku, mereka takut kepada Nam Tok.
Kalau tidak, mereka takut kepada San Hong dan Siang Bwee.
"Hah, dalam keadaan seperti ini, mengapa ribut-ribut urusan pribadi? Kalian ceritakan saja sebenarnya apa yang terjadi."
Kata Nam Tok dengan sikap acuh. Thian-te-mo menarik napas lega, kemudian dia memandang kepada San Hong dan berkata.
"Terus terang saja, ketika malam itu kami berdua tiba di dalam dusun yang sedang dirampok, kami melihat penduduk melawan para perampok yang dipimpin oleh Tiat-liong Mo-ko. Perlawanan yang sia-sia. Banyak sudah orang dusun yang tewas, diantaranya suami isteri yang agaknya memimpin penduduk dusun yang gagah perkasa."
"Ceritakan bagaimana rupanya suami isteri itu!"
San Hong berkata dan suaranya terdengar dingin dan penuh ancaman.
"Yang pria berusia sekitar lima puluh tahun, isterinya beberapa tahun lebih muda. Orang itu bertubuh tinggi besar, memegang sebatang tombak. Isterinya tidak pandai berkelahi akan tetapi penuh semangat memberi dorongan kepada penduduk....."
"Siapa membunuh suami isteri itu?"
"Mereka pun roboh oleh Tiat-liong Mo-ko. Kami adalah dua orang yang suka berkelahi. Melihat perkelahian yang berat sebelah itu, kami lalu terjun ke dalam medan pertempuran dan mengamuk. Mula-mula Tiat-liong Mo-ko kami bunuh, lalu seluruh anak buahnya yang belasan orang, tidak ada satu pun yang lepas. Ha-ha-ha!"
"Dan ada pula penduduk dusun yang kalian bunuh?"
Tanya Siang Bwee. Im-yang-mo hanya cemberut saja, Akan tetapi Thian-te-mo menyeringai ketika, berkata.
"Kami mana tahu? Kami tidak dapat membedakan mana perampok mana penduduk. Kami hanya main sikat saja!"
"Hong-ko, eh, Suheng. Hek I Siang-mo ini memang haus darah. Mereka membunuh siapa saja tanpa pandang bulu. Kalau dihitung, mereka ini bahkan telah berjasa membunuh semua perampok berikut kepala mereka yang sudah membunuhi orang tuamu. Kurasa hal ini tidak perlu diperpanjang. Pembunuh orang tuamu telah terbunuh dan urusan ini sudah habis. Bukankah begitu, suheng?"
San Hong termenung.
Dari Thian-san Ngo-sian dia sudah mendengar banyak tentang kehidupan para datuk sesat yang sama sekali tidak pernah memakai aturan.
Siapa membunuh siapa, dengan alasan apa pun, agaknya bukan hal yang aneh bagi mereka.
Lebih aneh lagi sikap Nam Tok, ayah Siang Bwee.
Kakek itu sama sekali tidak melakukan pembunuhan terhadap penduduk dusun, kenapa dia mengakui semua pembunuhan itu?
Kalau mencari nama besar dengan mengaku menjadi pembunuh keji, sungguh cara mencari nama yang aneh sekali.
Bukan nama besar yang diperoleh, melainkan nama busuk, tersohor busuk.
"Sudahlah, cukup semua urusan pribadi ini. San Hong, sebagai muridku engkau harus tunduk kepada perintahku. Sekarang kita harus pergi ke puncak, lihat, bulan purnama mulai naik, Siang-mo, ceritakan laporanmu."
"Kami melihat kedua lo-cian-pwe Tung Kiam dan See Mo berada di puncak. Ada banyak sekali orang, puluhan mungkin sampai seratus orang Mongol bersembunyi di sekitar puncak, di utara, timur dan barat. Sikap mereka mencurigakan sekali. Juga kami melihat banyak bayangan berkelebat di hutan sebelah selatan puncak."
"Nah, yang di utara timur dan barat itu adalah orangorang Mongol yang membuat baris pendam. Sedangkan yang di hutan sebelah selatan adalah kawan-kawan kita,"
Kata Pak Ong.
"Bagus, kalau begitu jalan satu-satunya untuk mendaki puncak dengan aman dan tidak terjebak adalah melalui selatan. Mari kita berangkat!"
Kata Nam Tok.
"Nanti dulu, Ayah!"
Tiba-tiba Siang Bwee berseru.
"Eh, ada apa lagi, Siang Bwee?"
Tanya Nam Tok.
"Ada dua hal penting yang perlu kita pertimbangkan. Pertama, pertemuan puncak adalah pertemuan antara Empat Datuk Besar secara pribadi dan menyendiri. Biarpun kita semua sudah tahu bahwa Tung Kiam dan See Mo bersekongkol, akan tetapi sebaiknya kalau kita pura-pura tidak tahu akan hal itu agar mengurangi kewaspadaan mereka. Maka, sebaiknya diatur agar Ayah dan Paman Ji tidak melakukan pendakian berbareng. Hal itu akan menimbulkan kesan bahwa sudah ada apa-apa di antara Ayah dan Paman Ji sehingga pihak lawan akan berhati-hati."
"Aih, hebat sekali kecerdikan puterimu, Nam Tok. Aku setuju sepenuhnya. Mengapa kita sampai melupakan hal itu? Benar, kita memang harus pergi sendiri-sendiri agar tidak sampai menimbulkan kecurigaan mereka. Kalau begitu, biarlah rombonganku berangkat lebih dulu!"
Kata Pak Ong.
"Ada satu lagi!"
Kata Siang Bwee.
"Ayah akan menghadapi lawan-lawan tangguh, bagaimana mungkin Ayah tidak memegang Tongkat Naga? Hal itu akan menimbulkan dua macam kerugian. Pertama, Ayah akan menjadi bahan tertawaan karena sungguh janggal melihat Nam-san Tok-ong Ang Leng Ki maju ke medan laga tanpa tongkat saktinya! Ke dua, hal itu akan mengurangi wibawa Ayah dan juga membuat Ayah canggung kalau menghadapi lawan tangguh. Biarpun pertukaran senjata itu merupakan tanda ikatan jodoh, mengapa untuk sementara tidak ditukar saja dulu untuk keperluan pertemuan puncak ini?"
Biarpun dia seorang yang membenci penjajah Mongol, akan tetapi tetap saja Pak Ong adalah seorang datuk besar yang sesat yang selalu mempunyai watak yang licik seperti para datuk besar lainnya.
Mendengar usul ini, diam-diam dia merasa khawatir.
Dalam menghadapi Tung Kiam dan See Mo yang sudah bersekutu dan bersekongkol dengan orang Mongol dia memang membutuhkan kerja sama dengan Nam Tok.
Akan tetapi setelah Tung Kiam dan See Mo dapat dikalahkan, dia harus dapat mengalahkan Nam Tok agar dia yang diakui menjadi datuk besar nomor satu di dunia!
Kalau Nam Tok tidak memegang Tongkat Naga, tentu dia akan mampu menundukkan Nam Tok.
Akan rugilah dia kalau Nam Tok memegang lagi tongkatnya.
"Ha-ha-ha! Nam Tok, jangan engkau kena bujukan puterimu yang cerdik luar biasa ini. Tongkat pusaka telah ditukar dengan pedang pusaka sebagai tanda ikatan jodoh. Tanda ikatan jodoh itu mana dapat ditukar-tukar lagi begitu saja? Seperti juga jodoh, mana bisa ditukar-tukar begitu saja? Nam Tok, engkau sendiri sudah menentukan pertukaran pusaka untuk tanda ikatan jodoh!"
Nam Tok tertegun dan tidak mampu menjawab.
Di dalam hatinya, tentu saja dia akan lebih mantap dan kepercayaan pada diri sendiri akan menebal kalau dia memegang Tongkat Naga.
Akan tetapi ucapan Pak Ong itu membuat dia tidak mampu membenarkan usul Siang Bwee.
Kembali Siang Bwee yang membantah.
"Paman Ji Hiat, apakah Paman hendak memandang rendah kepada Ayah?"
Nam Tok merasa tidak enak.
"Siang Bwee, Pak Ong bukan memandang rendah, akan tetapi apa yang dikatakannya itu benar."
"Ayah, sudah puluhan tahun Tongkat Naga menjadi senjata pusaka Ayah, ikut suka duka Ayah dan ikut pula mengangkat nama besar Ayah. Kalau Ayah memegang Tongkat Naga, Ayah bagaikan harimau yang tumbuh sayap. Akan tetapi Ayah menukarnya dengan pedang. Namanya saja Pedang Asmara, mana bisa untuk bertanding! Paling-paling untuk bermain asmara. Aku masih belum percaya akan keampuhan pedang itu."
"Sudahlah, Nam Tok. Aku tidak ingin berbantah dengan putrimu, calon isteri muridku. Aku akan berangkat lebih dulu!"
"Nanti dulu!"
Siang Bwee berseru dan sekali kakinya bergerak, ia sudah menghadang di depan Pak Ong.
Datuk besar ini lihai sekali, akan tetapi sekali ini dia terkejut menyaksikan gerakan itu, gerakan yang luar biasa cepatnya.
Dia tidak tahu bahwa gadis itu menggunakan ilmu Langkah Berlingkar yang dipelajarinya dari nenek Coa Eng Cun!
Berkerut alis Pak Ong ketika dia menatap wajah gadis itu dan suaranya terdengar penuh teguran.
"Ang Siang Bwee, engkau calon isteri muridku, berani engkau menghalangi langkahku?"
"Aku sama sekali tidak ingin menghalangi, Paman Ji. Aku hanya ingin engkau mendengar dulu kata-kataku. Kita semua tahu belaka bahwa Tung Kiam dan See Mo telah bersekongkol dan bersekutu dengan orang Mongol dan bahwa kita harus membasmi anjing-anjing pengkhianat. Ayah dan Paman keduanya adalah patriot-patriot sejati, tentu akan bekerja sama menentang para pengkhianat. Tentu saja Paman menghendaki agar Ayah dapat turun tangan dengan kekuatan sepenuhnya agar kita dapat membasmi musuh. Akan tetapi, mengapa Paman tidak mengembalikan tongkat Ayah untuk sementara? Apakah Paman tidak percaya kepada Ayah? Ketahuilah, Paman. Bagi Ayah, janjinya jauh lebih berharga daripada segala macam senjata pusaka! Itulah sebabnya maka aku minta agar tongkat itu dikembalikan dulu kepada Ayah, dan pedang itu akan dikembalikan kepada pemiliknya?"
Siang Bwee mengerling ke arah Tiong Sin yang memegang tongkat itu dan ia melihat betapa wajah pemuda itu membayangkan kegembiraan.
Memang, Tiong Sin merasa canggung memegang tongkat naga itu yang baginya terlalu panjang dan terlampau berat.
Juga, dia agak gelisah harus berpisah dari Pedang Asmara yang amat diandalkannya itu.
Dia ingin mendapatkan Siang Bwee, akan tetapi juga tanpa mengorbankan pedangnya.
Maka, usul yang diajukan Siang Bwee itu sungguh menyenangkan sekali baginya.
"Maaf, Suhu,"
Katanya.
"Teecu (murid) kira apa yang dikatakan nona Ang Siang Bwee itu memang tepat sekali. Kita menghadapi musuh-musuh yang tangguh, maka perlu mempersiapkan diri sekuat mungkin. Bukan hanya Ang Locian-pwe yang akan merasa kurang mantap kalau tidak memegang Tongkat Naga, akan tetapi teecu sendiri juga merasa canggung kalau tidak menggunakan pedang teecu. Untuk menghadapi peristiwa penting ini, tidak ada salahnya kalau untuk sementara kedua pusaka ditukar dan dikembalikan kepada pemilik masing-masing."
Pak Ong bukan orang bodoh dan dia memang dapat melihat kebenaran ucapan muridnya itu. Kalau tadi dia bersikap menolak adalah karena dia ingin mempertahankan gengsinya.
"Bagaimana pendapatmu, Nam Tok?"
Dia bertanya kepada rekannya itu. Nam Tok balas memandang.
"Hemmm, tergantung kepadamu. Pak Ong, apakah engkau percaya kepadaku ataukah tidak."
Jawaban ini saja sudah cukup.
Kalau dia menyatakan tidak percaya, tentu Nam Tok akan merasa terhina dan mereka akan bentrok sendiri!
Dia sudah mengenal benar watak Nam Tok yang tidak banyak bedanya dengan wataknya sendiri.
Kini dia harus mengakui kecerdikan Siang Bwee.
Gadis itu dengan segala macam sikap dan kata-katanya ternyata telah mengatur siasat yang sedemikian rapi dan halusnya sehingga dia dan Nam Tok seolah-olah "terpaksa"
Dan tidak mungkin lagi untuk tidak menukar senjata pusaka Itu!
Dan memang penukaran itu akan amat menguntungkan.
Setidaknya, Nam Tok dan juga Tiong Sin akan dapat menjadi tenaga bantuan yang lebih kuat dibandingkan kalau mereka menukar pusaka.
"Tiong Sin, serahkan kembali Tongkat Naga kepada calon mertuamu, dan kau-terima kembali untuk sementara pedang pusakamu itu."
Katanya memerintah. Tiong Sin melangkah maju dengan wajah riang, memberi hormat kepada Nam Tok dan menyerahkan tongkat itu dengan kedua tangannya.
"Harap Lo-cian-pwe suka menerima kembali Tongkat Naga ini untuk sementara."
Kalau menurunkan wataknya, Nam Tok merasa enggan untuk mengembalikan Pedang Asmara.
Biasanya, sekali dia menginginkan sebuah benda, siapapun tidak akan mampu merampasnya kembali dan dia pun tidak ingin mengembalikan pedang itu.
Akan tetapi, dia memang membutuhkan Tongkat Naga sekali ini, dan dia merasa ngeri membayangkan apa yang dikatakan puterinya tadi, yaitu dia ditertawakan oleh Tung Kiam dan See Mo, bahkan lebih celaka lagi, tanpa Tongkat Naga dia akan kalah oleh mereka!
Maka, terpaksa dia pun menerima tongkatnya dan melolos pedang bersama sarungnya dari punggung dan melemparkan kepada Tiong Sin.
Pemuda ini menyambutnya dengan girang bukan main dan cepat menalikan pedang itu di punggungnya.
Sekarang Tiong Sin merasa dirinya baru lengkap dan besar hati!.
Sejak tadi San Hong mengikuti semua aksi yang dilakukan Siang Bwee dengan jantung berdebar.
Tentu saja dia khawatir kalau-kalau pedang yang dipertukarkan itu dicabut dan ketahuan bahwa pedang itu palsu.
Sedangkan pedang aselinya berada di balik jubahnya!
Akan tetapi hatinya lega karena Tiong Sin langsung saja menyimpan pedang itu tanpa melihat isinya.
Pemuda yang jujur ini sama sekali tidak tahu bahwa hal itu memang sudah diperhitungkan masak-masak oleh Siang Bwee.
Gadis ini sama sekali tidak merasa khawatir kalau-kalau Tiong Sin memeriksa pedangnya.
Murid Pak Ong itu pasti tidak berani melakukan hal itu, karena bukankah perbuatan itu sama saja dengan memperlihatkan ketidakpercayaan kepada Nam Tok?
Itu dapat diterima oleh Nam Tok sebagai penghinaan dan tentu ayahnya akan marah sekali.
Andaikata hal itu terjadi, yaitu andaikata Tiong Sin mencabut dan memeriksa pedangnya, Siang Bwee sudah mempersiapkan akal yang lebih cerdik lagi.
Kalau Tiong Sin mengetahui bahwa pedang itu palsu, maka ia bahkan akan menuduh pemuda itu menipu ayahnya dan memberikan sebatang pedang palsu kepada ayahnya!
Kiranya tak seorang berani menuduh ayahnya memalsukan dan mencuri pedang!
karena kalau ada yang berani, tentu Nam Tok takkan mau sudah sebelum menghancurkan kepala orang yang menuduhkan melakukan kecurangan itu!
Biarpun hatinya meresa tidak nyaman dengan penukaran pusaka itu, namun Pak Ong menutupinya dengan suara ketawanya.
"Ha-ha-ha, aku percaya sepenuhnya bahwa Nam Tok takkan pernah mau melanggar janjinya. Kita kini menjadi satu keluarga untuk menghadapi musuh-musuh yang harus kita basmi. Nam Tok, kita adalah besan ganda. Puteriku dan muridku menjadi mantu-mantumu, sedangkan puterimu dan muridmu menjadi mantu mantuku. Nah, mari kita sekeluarga berangkat dan menang!"
Sambil (Lanjut ke
Jilid 33) Pedang Asmara (Cerita Lepas) Karya . Asmaraman S. Kho Ping Hoo
Jilid 33 berkata demikian, Pak Ong mendahului mereka melangkah maju untuk mendaki puncak itu melalui arah selatan.
Nam Tok tidak menjawab, hanya melangkah lebar menyusul dan berjalan di samping Pak Ong.
Siang Bwee yang bertemu pandang dengan San Hong, mengedipkan matanya dengan lucu dan ia pun tanpa ragu atau sungkan lagi menggandeng tangan San Hong dan diajaknya pemuda itu berjalan cepat mengikuti dua orang kakek itu.
Biarpun hati mereka merasa tidak senang melihat tunangan masing-masing itu saling bergandeng tangan, namun Kui Lan dan Tiong Sin tidak berani berbuat sesuatu dan mereka pun mengikuti dari belakang dengan bersungut-sungut..
Sementara itu, keadaan di kota raja Yen-king masih tetap kacau balau berhubung dengan kepergian Kaisar Wai Wang yang lari mengungsi ke selatan.
Perbuatan Kaisar Wai Wang ini yang membuat Nam Tok menjadi muak dan dia meninggalkan Istana dan kota raja.
Bukan hanya Nam Tok yang merasa muak melihat sifat yang pengecut dan kaisar itu.
Banyak menteri dan panglima juga merasa penasaran dan marah.
Kaisar Wai Wang memang masih berusaha mempertahankan kekuasaannya dengan meninggalkan putera mahkota.
Para ponggawa dan pangeran berjiwa patriot segera berkumpul dan mereka ini yang mengambil keputusan untuk mempertahankan negara dari tangan orang Mongol dan bersumpah setia terhadap kerajaan, walaupun rajanya telah mengecewakan hati mereka!
Akan tetapi banyak pula yang merasa tidak puas dan merasa tidak perlu lagi setia terhadap kaisar pengecut dan mereka inilah yang meninggalkan kota raja bahkan banyak pula yang menyeberang dan menyerah kepada pasukan Mongol, membantu musuh!
Para panglima dan pangeran yang masih setia terhadap Kerajaan Cin, mengerahkan segenap pasukan yang ada dan mereka itu membuat gerakan pembalasan ke utara.
Mereka itu bertempur dengan penuh semangat karena merasa sakit hati, terutama didorong oleh perasaan kecewa melihat sikap kaisar mereka dan serbuan-serbuan ke utara ini di luar dugaan berhasil dengan baik.
Mereka memperoleh kemenangan dan berhasil merobohkan benteng-benteng ke pos-pos penjagaan pasukan Mongol yang tersebar di banyak tempat itu.
Berita yang mengejutkan ini terdengar oleh Jenghis Khan dan dia menjadi marah.
Jenghis Khan mengirim pasukan besar yang paling baik untuk melakukan gerakan ke selatan dan mengejar Kaisar Wai Wang yang melarikan diri.
Pada waktu itu musim dingin telah tiba, namun pasukan Mongol ini terus maju dengan pesatnya dan memaksa rombongan kaisar yang melarikan diri untuk terpaksa memasuki daerah Kerajaan Sung yang dahulu menjadi musuh lama Kerajaan Cin.
Namun, pasukan Jenghis Khan itu mengejar terus sehingga akhirnya terpaksa sekali kaisar yang melarikan diri itu tanpa malu-malu minta tolong kepada Raja Sung.
Hanya oleh perintah dari Jenghis Khan yang mengirim kurir untuk memanggil kembali pasukan itu saja yang memaksa pasukan Mongol yang gagah berani itu untuk meninggalkan daerah Sung, menyeberangi Sungai Kuning yang sedang beku, kembali ke utara.
Pengejaran oleh pasukan Mongol ini amat mengejutkan hati dan menggelisahkan perasaan Kaisar Wai Wang.
Dia lalu mengirim utusan untuk memanggil putera mahkota agar menyusul keluarga kaisar lari ke selatan.
Para ponggawa dan menteri setia merasa tidak setuju dan membujuk putera mahkota agar jangan pergi, akan tetapi karena Kaisar Wai Wang, berkeras, akhirnya putera mahkota terpaksa memenuhi perintah itu dan meninggalkan istana, lari mengungsi ke selatan!
Kini kosonglah istana.
Hanya beberapa orang wanita dari keluarga kaisar yang tinggal dan di kota raja yang masih sunyi karena banyak penduduk lari mengungsi itu hanya tinggal para pejabat yang setia, orang-orang kebiri, dan pasukan penjaga yang masih dipimpin para perwira yang setia.
Di antara mereka ini termasuk pula Yeliu Cutay.
Dari yang menggantikan pimpinan di kota raja, menggantikan pangeran mahkota, adalah Pangeran Wang Yen yang menjadi panglima.
Pangeran Wang Yen adalah adik misan dari Kaisar Wai Wang dan dari darah ibunya dia adalah keturunan mendiang Pangeran Wang-yen Si Kan yang terkenal sebagai seorang jenderal yang amat gagah perkasa dan seorang pahlawan.
Pangeran Wang-yen atau lengkapnya Wang-yen Ki Bu inilah yang memimpin para ponggawa dan panglima yang masih setia terhadap Kerajaan Cin dan dialah yang dengan mati-matian hendak mempertahankan kedaulatan Kerajaan Cin walaupun pasukan Mongol sudah mengepung dengan setengah lingkaran dari utara, barat dan timur?
Di bawan pimpinan Pangeran Wang-yen yang patriotik inilah semangat para pasukan masih berkobar dan pantang menyerah.Kini Jengnis Khan menyusun kekuatan sepenuhnya untuk menyerang kota raja Yen-king.
Dianggapnya saat yang paling baik telah tiba, kesempatan terbuka luas dengan larinya kaisar dari kota raja.
Dia pun mendapat laporan tentang kacaunya kota raja, dan banyak pasukan yang menyerah dan bergabung dengan pasukan Mongol.
Jengnis Khan sendiri kini telah berusia lima puluh lima tahun.
Tidak lagi dia memimpin sendiri pasukannya, apalagi karena kini tubuhnya mulai lemah akibat luka-luka yang pernah dideritanya dalam pertempuran.
Namun otaknya masih bekerja dengan baik dan dia yang mengatur siasat penyerbuan ke Yen-king itu.
Jengnis Khan menunjuk Panglima Muhuli yang berpengalaman untuk memimpin pasukan inti yang hanya terdiri dari lima ribu orang perajurit pilihan.
Panglima Muhuli ini dibantu oleh Pangeran Ming-an, seorang pangeran dari Liao-tung.
Dan sebagai perwira pendobraknya adalah Sabotai yang sudah seringkali memperlihatkan kegagahannya dalam semua aksi gerakan pasukan Mongol.
Sesuai dengan petunjuk Jenghis Khan, ketika pasukannya bergerak ke arah timur melalui Go-bi, Panglima Muhuli menerima para perajurit pelarian Yen-king.
Mereka ini adalah perajurit-perajurit Cin yang tentu saja sudah hafal akan keadaan kota raja Yen-king dan dapat menjadi penunjuk jalan yang baik sekali.
Setelan tiba di luar benteng Yen-king, pasukan Mongol itu mendirikan perkemahan di dekat tembok benteng.
Dengan bayaran tinggi dan janji muluk, para perajurit pelarian ini dijadikan mata-mata dan mereka menyusup dengan mudah ke dalam kota raja sebagai rakyat biasa.
Dan mereka inilah yang bergerak di dalam, membuat kekacauan, menyebar berita bahwa kota raja telah dikepung oleh ratusan ribu orang tentara Mongol.
Gegerlah kota raja setelah mendengar berita ini.
Pangeran Wang-yen Ki Bu yang menjadi panglima, segera mengumpulkan seluruh pasukan dan menyerbu keluar.
Terjadilah pertempuran pertempuran di luar benteng kota raja.
Sementara itu, di kota raja menjadi geger dan kacau balau.
Banyak perwira yang menjadi kecut hatinya dan diam-diam mereka melarikan diri dari kota raja, membawa harta benda dan keluarga mereka.
Para mata-mata Mongol yang bertugas mengacaukan keadaan, bersama para penjahat yang hendak mengambil kesempatan dalam kesempitan, mengail di air keruh, melakukan pembakaran dan perampokan-perampokan!
Belum juga pasukan musuh memasuki kota,para penjahat telah lebih dahulu melakukan perampokan, pembakaran, pembunuhan dan perkosaan.
Nafsu setan merajalela karena tidak ada pengekangan sama sekali, tidak ada pasukan keamanan karena semua pertahanan ditujukan untuk melawan pasukan Mongol.
Para wanita dan pelayan, orang-orang kebiri, pengawal-pengawal istana Juga melarikan diri dari istana, tidak lupa untuk membawa barang-barang berharga dari Istana itu.
Bukan itu saja, bahkan banyak perajurit mulai meninggalkan pasukan.
Bersama para penjahat ikut pula merampok.
Dalam keadaan negara aman dan tenteram, di mana pasukan penjaga keamanan masih bertugas, banyak sekali orang memakai kedok kepura-puraan di muka mereka banyak orang munafik berkeliaran.
Akan tetapi, kalau negara dalam keadaan kacau dan .tidak ada petugas keamanan yang mengatur, maka semua kedok ditanggalkan dan nampaklah belang dari setiap orang.
Kita akan terkejut nelihat kenyataan betapa orang-orang yang tadinya kita anggap sebagai orang baik-baik, tiba-tiba saja berubah menjadi hamba setan penuh kemurkaan, dendam kebencian dan kekejaman yang mengerikan.
Pasukan pemerintah yang bertempur melawan pasukan Mongol di luar kota raja, mengalami pukulan hebat dan banyak di antara mereka yang roboh dan lebih banyak pula yang melarikan diri.
Dengan latar belakang pemerintah yang sudah rapuh itu, mana dapat menimbulkan semangat juang yang besar dalam pasukan?
Kekalahan demi kekalahan mereka derita dan Panglima atau Pangeran Wang-yen Ki Bu kekurangan tenaga dalam pasukan pertahanan yang menjadi semakin lemah dan semakin kecil jumlahnya di samping semakin mengendur semangatnya.
Kejatuhan kota raja hanya tinggal menanti saat saja rupanya.
Pangeran Wang-yen mencoba usaha yang terakhir.
Dia mengumumkan bahwa semua penjahat yang melakukan perampokan, semua tawanan yang dipenjara diampuni dosanya kalau mereka mau menjadi perajurit, dan dia pun menjanjikan upah besar bagi para perajurit.
Kalau perlu dia akan menghabiskan seluruh harta kekayaannya untuk membayar para perajurit.
Namun, agaknya semua usahanya ini sia-sia saja belaka.
Para perajurit dan rakyat sudah ketakutan dan semakin banyak saja yang melarikan diri mengungsi ke luar kota raja Yen-king.
Kini pasukan Mongol yang dibantu oleh perajurit perajurit Cin sendiri yang berkhianat, sudah mulai mendesak sampai ke pintu gerbang kota raja!
Melihat bahwa semua usahanya untuk membela negara sia-sia belaka, pada sore hari itu Pangeran Wang-yen mengumpulkan seluruh keluarganya yang terdiri dari seorang isteri, tiga orang selir dan dua orang anaknya.
Pangeran ini mempunyai lima orang anak akan tetapi tiga orang yang tertua, semua pria, telah gugur ketika memimpin pasukan melawan musuh.
Kini tinggal dua orang anaknya yang ikut berkumpul di ruangan dalam gedung mereka.
Seorang gadis berusia delapan belas tahun bernama Wang-yen Lin, puterl dari Isteri pertama dan adiknya Wang-yen Kong, laki-laki berusia enam belas tahun, putera dari selir.
Ketika tiga orang Isteri dan dua orang anak itu menghadap, Sang Pangeran sedang duduk menuliskan surat pada baju.
kebesarannya.
Seorang perajurit yang usianya sudah lima puluh tahun, berdiri di situ dengan sikap hormat.
Perajurit tua ini adalah Tang Gun, yang sejak muda telah menjadi pengawal dan sahabat baik Pangeran Wang-yen Ki Bu.
Melihat betapa suami mereka itu duduk menulis dengan muka pucat dan dengan pakaian serba putih, tiga orang wanita yang menjadi isterinya menghampiri, berlutut dan menangis.
Wang-yen Lin dan Wang-yen Kong sudah cukup dewasa untuk mengerti apa yang sedang terjadi, dan mereka pun menjatuhkan diri dekat ibu mereka, ikut pula menangis.
Keluarga itu maklum bahwa dalam keadaan putus asa, Pangeran Wang-yen Ki Bu akan mengorbankan nyawanya demi kesetiaannya.
Pangeran Wang-yen Ki Bu membiarkan keluarganya menangis tanpa menghentikan tulisannya.
Setelah selesai, barulah dia melempar alat tulis itu ke atas meja dan dia berkata dengan suara yang penuh wibawa.
"Diamlah kalian semua. Hentikan tangis kalian itu!"
Tiga orang isterinya dan dua orang anaknya menghentikan tangis mereka, yaitu suara tangis mereka, akan tetapi mereka tidak mampu membendung mengalirnya air mata.
Setelah menarik napas panjang beberapa kali, pangeran itu berkata dengan suara yang lantang.
"Agaknya kalian sudah tahu bahwa inilah saat terakhir bagi kita untuk saling bertemu. Dengarkan pesanku yang terakhir ini dan jangan membantah. Pertama kepada isteriku."
Dia memandang isteri pertama yang kini maju dan menangis di atas lutut suaminya.
"Setelah aku keluar memimpin pasukan, engkau boleh atur agar seluruh harta milik kita dibagi-bagikan kepada seluruh penghuni rumah ini termasuk para pelayan. Setelah membagi harta, mereka itu boleh dibebaskan dan boleh meninggalkan rumah ini. Engkau sendiri, bersama dua orang madumu, sebaiknya cepat lari mengungsi melalui pintu gerbang selatan yang masih aman, menggunakan kereta. Biar Tang Gun yang mencarikan pasukan pengawal untuk kalian bertiga."
"Tidak...... tidak.....t Aku tidak mau pergi tanpa engkau, suamiku.....!"
Isteri pangeran itu menangis dan merangkul kaki suaminya.
"Kami juga tidak mau pergi. Ke mana kami wanita-wanita lemah akan pergi? Di mana-mana tidak aman, tentu kami hanya akan menjadi korban kejahatan saja. Lebih baik kami tinggal di sini, menanti Paduka dan kalau perlu..... kalau perlu.....kami siap untuk mati bersama....."
Kata dua orang selir itu sambil bertangisan.
Pangeran Wang-yen menarik napas panjang.
Dia sudah menduga bahwa tiga orang isterinya tidak akan mau meninggalkannya.
Dia lalu memandang kepada Wang-yen Lin dan Wang-yen Kong.
"Lin Lin dan Akong, sekarang giliran kalian! Dengar baik-baik. Kalian harus pergi sekarang juga bersama paman kalian! Tang Gun ini. Dia akan menyelamatkan kalian keluar dari kota raja dan....."
"Ayah.....!"
Wang-yen Lin maju mendekati ayahnya dan menangis.
"Aku pun akan tinggal di sini bersama Ayah dam Ibu. Aku tidak takut mati"
"Aku pun tidak takut mati! Aku akan melawan musuh bersama Ayah!"
Kata pula Wang-yen Kong dengan gagah. Sejenak ada kebanggaan bersinar di mata pangeran itu. Akan tetapi dia menghardik.
"Jangan banyak membantah. Ini perintah!"
Dua orang anaknya itu terkejut dan menunduk.
"Dengar baik-baik. Kalian masih muda dan tidak perlu mengorbankan nyawa. Pergilah kalian bersama Tang Gun, ke selatan dan serahkan baju Ayah ini kepada Sribaginda Kaisar! Kemudian, kalian harus membuat nama baik, belajar dengan tekun, dan menjadi orang-orang yang berguna bagi negara dan bangsa. Mengerti?"
"Mengerti, Ayah. Akan tetapi....."
Gadis yang cantik jelita itu hendak membantah.
"Cukup"
Bentak ayahnya dan dia menoleh kepada Tang Gun.
"Tang Gun, Lin Lin harus menyamar sebagai pria kalau lari dari kota raja, dan mereka berdua harus mengenakan pakaian biasa seperti rakyat jelata agar tidak banyak mengalami gangguan. Nah, ini sepasang pedangku, untuk kalian berdua seorang satu. Kalian harus memperdalam ilmu pedang yang pernah kuajarkan kepada kalian. Sudah, hentikan tangis kalian semua. Tidak pantas keluarga kita ber-tangis-tangisan menunjukkan kelemahan. Aku rela dan kerelaan tidak boleh diantar tangis! Tang Gun, ajaklah mereka berdua pergi."
Tang Gun melangkah maju dan memegang tangan Wang-yen Lin dan Wang yen Kong.
"Sio-cia, Kongcu (Tuan Muda) mari kita pergi selagi keadaan masih memungkinkan."
"Tang Gun, mulai saat ini, jangatnsebut siocia (nona) dan kongcu (tuan muda) lagi kepada mereka. Sebut nama mereka saja dan akuilah mereka sebaga keponakanmu. Nah, berangkatlah!"
Tang Gun menarik dua orang muda itu berdiri. Mereka bangkit, memandang kepada ayah mereka dan tiba-tiba mereka berdua menubruk kaki orang tua itu.
"Ayah....."
Keduanya menangis lagi. Sejenak hampir saja Pangeran Wang yen dilanda keharuan. Dia mengatupkan gigi, mengeraskan hati.
"Cukup semua kecengengan ini! Bangkit dan pergilah sebelum aku marah! Dan jangan lupa bawa baju terisi tulisanku untuk Sribaginda ini, Tang Gun!"
Dua orang anak itu bangkit, dan kini mereka menubruk ibu masing-masing sambil berlutut dan menangis.
"Ibu.....!"
Wang-yen Lin menubruk ibunya.
"Ibu.....!"
Wang-yen Kong juga merangkul ibunya.
"Sudahlah, anakku. Tuhan agaknya menghendaki begini. Kita menerima nasib. Tabahkan hatimu dan semoga Tuhan selalu melindungi kalian."
Kata isteri pangeran.
Karena tidak ingin menambah beban batin ayah mereka, biarpun dengan hujan tangis, akhirnya Wang-yen Lin dan Wang-yen Kong meninggalkan ruangan itu bersama Tang Gun yang mengajak mereka untuk membawa bekal, dan menyuruh Wang-yen Lin menyamar sebagai seorang pemuda petani, juga Wang-yen Kong disuruh mengenakan pakaian pemuda petani yang sudah dia persiapkan sebelumnya.
Setelah kedua orang anaknya pergi, legalah hati Pangeran Wang-yen Ki Bu.
Dia berpamit dari tiga orang isterinya lalu memimpin sisa pasukan untuk menyambut penyerbuan pasukan Mongol.
Biarpun pasukan kecil itu hanya berjumlah seratus orang lebih, akan tetapi mereka semua adalah perajurit-perajurlt yang berjiwa pahlawan.
Terbakar semangat mereka oleh sepak terjang yang gagah perkasa dari Pangeran Wang-yen yang mengenakan pakaian serba putih, mereka mengamuk.
Akan tetapi, apa artinya seratus orang lebih itu menghadapi pasukan Mongol yang selain lebih banyak, juga merupakan pasukan yang banyak pengalaman, buas dan liar itu?
Seorang demi seorang roboh dan gugur.
Mendengar betapa suami mereka tewas dalam pertempuran, tiga orang isteri pangeran itu pun melakukan bunuh diri karena sudah tidak mempunyai harapan lagi.
Mereka maklum bahwa kalau sampai mereka terjatuh ke tangan orang Mongol, nasib mereka akan jauh lebih buruk dan penderitaan mereka akan lebih mengerikan lagi.
Akhirnya, diiringi sorak-sorai yang bergemuruh, pasukan Mongol yang dipimpin oleh Muhuli, dibantu Pangeran Ming-san dan Panglim Sabotai menyerbu ke dalam kota raja Yen-king yang sedang dilanda kekacauan itu.
Api berkobar di mana-mana, perampokan, pembunuhan dan perkosaan terjadi di mana-mana.
Jerit tangis, keluh rintih dibarengi tawa dan sorak kemenangan.
Mayat manusia berserakan dan setan iblis berpesta pora dalam diri manusia.
Prikemanusiaan tidak nampak bayangannya lagi.
Manusia-manusia berubah seperti binatang-binatang yang haus darah!
Muhuli yang menjadi panglima pasukan Mongol, tidak mempedulikan keadaan Kerajaan Cin yang sedang runtuh itu dan dia memerintahkan anak buahnya untuk merampas dan mengumpulkan seluruh harta kekayaan di kota raja itu.
Istana diporak-porandakan, barang-barang yang berharga diangkuti ke luar, juga senjata-njata.
Wanita-wanita yang masih tinggal di istana, ditangkapi bersama para bangsawan yang tidak dapat melawan lagi.
Juga setiap ada wanita muda yang cantik, tidak peduli ia bangsawan atau rakyat biasa, ditangkap untuk dijadikan tawanan perang.
Semua benda berharga dan semua tawanan itu dikirim ke utara untuk dihadapkan kepada Jenghis Khan sebagal tanda berhasilnya pasukan penyerbu yang dipimpin oieh Panglima Mu-huli itu.
Hancurlah kemegahan suatu kerajaan yang dibangun puluhan tahun lamanya.
Hancur dalam sehari saja !
Bangsawan yang biasanya hidup penuh kemuliaan bersenang di dalam kemewahan dan kesenangan selama beberapa generasi, dalam satu hari saja berubah menjadi tawanan perang yang tidak mempunyai apa-apa lagi, dihina dan disiksa, bahkan nyawanya terancam setiap saat!
Tidak ada yang kekal di dalam kehidupan ini!
Jangankan milik kita yang berada di luar badan seperti harta benda, kekuasaan, kedudukan, keluarga, nama besar, dan sebagainya, bahkan tubuh kita sendiri ini pun tidak kekal adanya.
Setiap saat dapat saja kematian menjemput kita dan habislah semua yang biasanya amat mengikat kita dan yang kita anggap sangat penting dan menyenangkan itu.
Kita dipermainkan nafsu daya rendah yang sudah menyelubungi hati dan akal pikiran sehingga kini menjadi silau oleh kecemerlangan lahirah.
Kita terpukau oleh permainan nafsu kita sendiri.
Biasanya kita baru menyadari hal ini kalau sudah terhempas keras, bahkan kalau sudah terlambat!
Tidak ada kekuasaan yang akan mampu melindungi kita dari ketidakkekalan ini, dari keadaan terombang-ambing nafsu ini, kecuali kekuasaan Tuhan!
Tidak ada tempat kita berlindung dari godaan setan dan iblis yang amat licik, kecuali di bawah bimbingan Tuhan Yang Maha Kuasa dan Maha Kasih!
Berbahagialah orang yang selalu ingat kepada Tuhan, yang selalu menyerahkan diri lahir batin ke dalam bimbingan kekuasaanNya karena dia akan selalu terbimbing, dan kalau sudah begitu, dia tidak akan mabuk dalam kesenangan dan tidak akan putus asa dalam kesusahan.
Orang yang selalu menyerah kepada kekuasaan Tuhan, berada dalam keadaan bagaimanapun juga, menghadapi peristiwa bagaimanapun juga, akan selalu menyerahkannya kepada Tuhan, dan selalu bersyukur karena yakin bahwa semua yang terjadi itu atas kehendak Tuhan dan kalau Tuhan menghendaki, pasti terjadi dan pasti ada hikmatnya karena Tuhan Maha Pengasih!.
Yeliu Cutay menjadi seorang di antara para bangsawan yang menjadi tawanan perang dan dihadapkan kepada Jenghis Khan.
Bangsawan yang bertubuh tinggi tegap dan gagah, dengan jenggot panjang dan sikap yang tegak dan anggun ini segera menarik perhatian Jenghis Khan.
Tentu saja Yeliu Cutay masih ingat kepada Jenghis Khan yang pernah ditemuinya ketika mereka masih muda dahulu, bahkan dia pernah menjadi tamu dan sahabat baik dari Temucin, yaitu Jenghia Khan di waktu muda.
Bukan itu saja, dia Juga menerima hadiah Pedang Asmara dari penguasa Mongol yang kini menjadi seorang raja besar yang berhasil menalukkan Kerajaan Cin!
Akan tetapi Jenghis Khan sudah lupa lagi.
Kini Yeliu Cutay telah berusia hampir lima puluh tujuh tahun.
Kalau sekarang Jenghis Khan tertarik, hal itu adalah karena sikap yang tenang dan penuh wibawa dan.
kegagahan dari bangsawan keturunan Liao-tung itu, sungguh berbeda sekali dengan sikap para tawanan lain yang ketakutan dan menangis, meratap minta ampun darinya.
Orang ini sama sekali tidak menangis, sama sekali tidak meratap minta ampun, dan caranya memberi hormat kepadanya pun wajar, tidak menjilat-jilat.
Orang seperti ini akan menghadapi ancaman hukuman mati dengan tak berkedip!
"Menurut catatan, engkau adalah seorang keturunan bangsa Liao-tung, benarkah itu?"
Tanya Jenghis Khan sambil mengamati wajah yang tampan gagah dengan jenggot panjang itu.
"Benar sekali Khan yang mulia!"
Jawab Yeliu Cutay dan suaranya pun lantang dan sama sekali tidak gemetar, sama sekali tidak membayangkan ketakutan, walaupun halus dan sopan.
Sekarang sepasang mata Jenghis Khan memandang tajam seperti orang marah dan jarang ada yang berani menentang pandang mata ini tanpa perasaan takut.
"Hemmm, sejak dahulu Liao-tung menjadi musuh Kerajaan Cin! Bagaimana engkau dapat menjadi ponggawa Kerajaan Cin? Engkau pengkhianat dari bangsamu sendiri?"
Yeliu Cutay menentang pandang mata raja besar itu tanpa rasa takut sedikitpun, bahkan dia merasa penasaran dan mendongkol disebut pengkhianat.
"Tidak ada pengkhianat apa pun di sini, Yang Mulia! Sejak ayah saya semua keluarga kami bekerja kepada Kerajaar Cin. Bukankah itu sudah sepatutnya dan seharusnya kalau saya juga mengabdi kepada Kerajaan Cin? Saya hanya melanjutkan pengabdian ayah untuk menjaga nama baik keluarga kami sebagai orang orang yang setia kepada atasan!"
Semua orang yang melihat sikap ini dan mendengar ucapan yang berani dari Yeliu Cutay terkejut.
Orang ini pasti akan dihukum mati atau bahkan disiksa dulu, pikir mereka.
Akan tetapi ternyata sama sekali tidak begitu.
Jenghis Kha tersenyum dan memandang kagum.
Jawaban itu bahkan menyenangkan hatinya Tadi sudah banyak dia menanyai para tawanan.
Beberapa orang tawanan yang meratap minta ampun segera disuruhnya bunuh, juga mereka yang pura-pura ingkar dan menyangkal, bahwa mereka pernah bekerja membantu Kerajaan Cin.
Dia kagum kepada orang ini seorang yang setia kepada tugasnya dan atasannya!
"Hemmm, aku suka kepadamu.
Siapakah namamu?"
Tanyanya. Yeliu Cutay membungkuk dengan si.kap hormat, lalu berkata sambil tersenyum.
"Paduka sudah mengenal hamba. Nama hamba Yeliu Cutay."
"Yeliu..... Yeliu Cutay.....? Aihhh, saudaraku yang baik, kenapa tidak sejak tadi engkau memperkenalkan diri?"
Kata Jenghis Khan dan dia pun bangkit dari tempat duduknya, menghampiri tawanan itu dan memeluknya dengan hangat.
"Tentu Paduka ingat bahwa hamba hanyalah seorang tawanan perang."
Jenghis Khan tertawa dan membubarkan persidangan itu untuk dilanjutkan besok, lalu dia menggandeng lengan Yeliu Cutay, diajaknya ke dalam dan mengajaknya bercakap-cakap.
Mulai saat itu, Yeliu Cutay diterima oleh Jenghis Khan dan diangkat menjadi seorang pembantunya, seorang penasihat.
Dan ternyata kemudian bahwa tenaga dan pikiran Yeliu Cutay merupakan satu di antara penunjang keberhasilan tokoh Mongol ini.
Bahkan pada hari pertama itu juga, Yeliu Cutay membujuk kepada Jenghis Khan agar tidak membunuhi begitu saja para tawanan itu.
Mereka yang pengecut dan penjilat memang sudah sepatutnya dihukum mati.
Akan tetapi di antara para tawanan itu terdapat banyak orang pandai, sarjana dan para cendekiawan yang memiliki keahlian dalam berbagai bidang.
Tenaga dan pikiran mereka itu amat penting dan amat menguntungkan kalau mereka diberi kesempatan membantu, Jenghis Khan menyetujui dan kelak dia berterima kasih sekali atas nasihat pertama itu.
"Hendaknya Yang Mulia menyadari bahwa keadaan di selatan tak dapat di samakan dengan daerah Mongol. Di sana padat dengan penduduk, dan tanahnyapun subur. Kalau daerah selatan itu hendak dijadikan daerah perumputan dan kehidupan rakyatnya akan Paduka ubah menjadi kehidupan kelompok yang berpindah-pindah, Paduka akan gagal dan bahkan rugi. Tanah subur dan kepadatan penduduk itu dapat Paduka manfaatkan demi kebesaran pimpinan Paduka sehingga Paduka akan dapat membangun suatu dinasti baru yang kokoh kuat!"
Banyak nasihat diberikan oleh Yeliu Cutay.
Jenghis Khan tidak paham akan urusan pemerintahan, maka setelah dapat mempertimbangkan kebenaran semua nasihat Yeliu Cutay, dia mengubah niatnya semula.
Biasanya, tempat yang diduduki pasukan Mongol tentu akan dijadikan padang rumput yang subur agar mereka dapat memelihara ternak mereka Kehidupan mereka tergantung dari peternakan, maka bagi mereka yang terpenting adalah kesuburan ternak mereka Kini, oleh Yeliu Cutay raja itu mulai disadarkan bahwa hasil pertanian jauh lebih penting dan lebih menjamin kehidupan manusia daripada hasil peternakan.
Memenuhi harapan Yeliu Cutay, Jenghis Khan mengangkat gubernur-gubernur untuk memerintah daerah Cin yang sudah didudukinya dan dia memilih kaum bangsawan keluarga Liao-tung untuk menjadi pejabat pejabat.
Pada saat kota raja Yen-king diserbu pasukan Mongol.
di puncak Kabut Putih di Pegunungan Thai-san, terjadi pertemuan yang menegangkan.
Pada malam bulan purnama itu, Empat Datuk Besar mengadakan pertemuan seperti di masa-masa lalu.
Mula-mula muncul Pak Ong yang di ikuti oleh Ji Kui Lan dan Bu Tiong Sin di puncak Kabut Putih itu, muncul dari arah selatan.
Puncak itu merupakan sebuah tanah datar yang cukup luas, penuh dengan rumput halus.
Ketika Pak Ong bersama gadis dan pemuda itu tiba di situ, mereka disambut oleh Tung Kiam dan See Mo yang sudah lebih dulu berada tempat itu.
"Ah, kiranya Pak Ong baru muncul!"
See Mo menyambut dengan suara bernada mengejek.
"Kusangka tidak akan berani muncul!"
Sambung Tung Kiam, juga mengejek.
Dibandingkan dua orang datuk besar itu, Pak Ong tidak kalah sombongnya.
Sejak tadi dia meneliti keadaan di puncak itu dengan pandang matanya sambil menghampiri dua orang datuk besar itu, diikuti oleh puterinya dan muridnya.
Dia melihat bahwa dua orang datuk besar itu telah siap pula dengan pertemuan yang akan dijadikan arena pertandingan mengadu ilmu itu.
Di belakang Tung Kiam berdiri puteranya, Cu See Han yang tampan dan gagah.
Dan di belakang See Mo berdiri puteranya, Kok Tay Ki atau Kok Kongcu yang lagaknya amat angkuh.Juga Koay-to Heng-te, yaitu Si Kembar Gu berdiri di belakang See Mo.
"Hemmm, dua orang tua bangka sudah menanti di sini. Mari kita mulai saja untuk membuktikan bahwa aku sama sekali tidak takut kepada kalian!"
Kata Pak Ong dengan lagak angkuh pula.
"Ha-ha-ha, Pak Ong, jangan berlagak gagah. Engkau lari terbirit-birit meninggalkan utara, terlunta-lunta seperti gelandangan, seperti pengemis. Apakah belum waktunya julukan Pak Ong (Raja Utara) diubah menjadi Pak Kay (Pengemis Utara)?"
See Mo mengejek.
"Nanti dulu, kita menanti munculnya Nam Tok, yaitu kalau dia berani keluar! Biasanya anjing tidak berani muncul kalau majikannya telah pergi melarikan diri."
Kata Tung Kiam.
"Aku berada di sini!"
Tiba-tiba Nam Tok muncul, diikuti Siang Bwee dan San Hong.
"Kau bilang aku anjing yang ditinggalkan majikan, Tung Kiam? Engkau dan See Mo yang tidak tahu malu dan lebih pantas disebut anjing-anjing pengkhianat"
Siang Bwee mengerutkan alisnya dan cepat ia meloncat ke depan, lalu sambil tertawa berkata.
"Aih, kenapa Empat Datuk Besar yang sekarang mengadakan pertemuan besar hanya saling maki? Pertemuan ini untuk mengadu ilmu, untuk menentukan siapa yang paling besar di antara yang besar, ataukah pertemuan saling maki seperti empat orang nenek bawel? Waahhh, kalau didengar dunia kang-ouw, tentu akan menjadi bahan tertawaan!"
Nam Tok dan Pak Ong adalah orang-orang yang cerdik, maka mereka segera dapat menangkap apa maksud gadis itu cela mereka.
Memang Siang Bwee benar.
Untuk sementara ini mereka tidak boleh membuka rahasia bahwa mereka sudah tahu akan persekongkolan yang terjadi antara Tung Kiam dan See Mo.
Lebih baik pura-pura tidak tahu dulu dan melihat perkembangannya nanti.
Kalau dua orang datuk yang curang itu menggunakan pasukan Mongol untuk mengepung dan mengeroyok, barulah mereka akan memberi isyarat kepada rombongan pendekar yang juga sudah siap untuk menandinginya sehingga di situ yang terjadi bukan adu kepandaian antara empat datuk besar, melainkan pertempuran mati-matian antara pasukan Mongol melawan pasukan pendekar!
Akan tetapi mereka pun dapat menduga bahwa Tung Kiam dan See Mo yang berwatak angkuh itu pasti tidak puas, tentu akan memperlihatkan dulu keunggulan, ilmu mereka seperti yang sudah berkali-kali terjadi di antara mereka untuk meraih gelar datuk nomor satu di antara mereka.
Di antara para pendekar yang dikumpulkan Pak Ong, terdapat orang-orang gagah campuran.
Ada bangsa selatan yaitu bangsa Sung atau Han, ada pula bangsa Cin atau Kim yang pemerintahannya baru saja jatuh oleh kekuatan Mongol.
Baik bangsa Kim maupun bangsa Sung keduanya pada waktu itu menjadi musuh bangsa Mongol yang sedang mengadakan penyerbuan ke selatan.
Siasat Siang Bwee memang tepat sekali.
Mendengar ucapan gadis itu yang dikeluarkan dengan suara yang nadanya mengejek sekali, baik Tung Kiam maupun See Mo menjadi marah dan muka mereka berubah merah.
"Ha-ha-ha, puteri Nam Tok selalu ingin mencari kemenangan dengan ketajaman mulutnya! Sekali ini pertandingan antara murid harus disertai taruhan! Kalau puteraku, Kok Tay Ki, mampu mengalahkan Ang Siang Bwee, gadis itu harus menjadi mantuku, menjadi isteri Kok Tay Ki! Ha-ha-ha!"
See-thian Mo-ong berseru. Siang Bwee mencibirkan bibirnya yang merah dan manis sambil melirik ke arah Kok Kongcu.
"Itu kalau dia menang. bagaimana kalau dia kalah, olehku?"
Kok Kongcu tertawa.
"Kalau engkau kalah olehku, engkau menjadi isteriku. Kalau aku yang kalah olehmu, tentu saja aku bersedia menjadi suamimu."
Siang Bwee melerok dan cemberut.
"Enak sendiri saja kalau ngomong! Siapa sih yang kesudian menjadi isteri mu?"
"Ha-ha-ha, See Mo, jangan tergesa-gesa dulu!"
Kata Tung Kiam.
"Aku sendiri sudah mencalonkan See Han menjadi mantu Pak Ong atau Nam Tok, akan tetapi aku juga lebih suka kepada puteri Nam Tok. Dara ini akan membuat rumah kami menjadi cerah karena gembira! Ha-ha-ha!"
Mendengar ucapan dua orang yang tidak disukainya itu. Pak Ong mengerutkan alisnya.
"Kalian ini dua orang tua tidak tahu diri. seenak perutnya saja menentukan pilihan mantu. Apa kalian berdua tidak tahu bahwa baik puteriku. Kui Lan maupun puteri Nam Tok, Ang Siang Bwee sudah mempunyai calon suami. Puteriku Ji Kui Lan telah bertunangan dengan Kwee San Hong murid Nam Tok sedangkan puteri Nam Tok, Ang Sian Bwee telah bertunangan dengan muridku Bu Tiong Sin! Maka kalian jangan bicara sembarangan dan bermimpi di tengah hari!"
"Ha-ha-ha, apa yang dikatakan Pai Ong memang benar!"
Kata Nam Tok untuk memberi pukulan kepada dua orang datuk yang bersekongkol dengan orang Mongol itu.
"Maka jangan kalian mengandung maksud yang bukan-bukan!"
"Aku tidak sudi!"
Tiba-tiba Siang Bwe berseru sambil bertolak pinggang.
"tidak mau menjadi isteri sembarang orang. Aku hanya mau menjadi isteri dari pemuda yang paling gagah di antara semua ini, yang keluar menjadi juara!"
"Aku juga hanya mau menjadi isteri pemuda juara!"
Kata pula Ji Kui Lan tidak mau kalah, sambil, menggoyang-goyang pinggulnya yang besar seperti seekor kuda berlagak.
"Bagus!"
Siang Bwee berteriak lagi, tanpa memberi kesempatan kepada orang lain untuk bicara.
"Sekarang bukan saja diadakan pertandingan adu kelihaian, akan tetapi juga pemilihan calon suami! Kebetulan empat orang datuk besar masing-masing mempunyai seorang anak atau murid. Ada empat orang pemuda di sini yang dapat mewakili guru atau ayah masing-masing. Biarkan mereka itu mengadu kepandaian, yang keluar sebagai juara dialah yang berhak menjadi calon suami pilihan. Kalau sudah begitu, baru aku dan kuda betina ini saling memperebutkan sang juara! Bukankah ini peraturan yang adil sekali dan patut disetujui empat orang datuk besar yang terkenal karena kegagahan dan keadilannya?"
Lalu gadis itu menyambung.
"Yang tidak setuju berarti mempunyai pikiran curang dan jiwa pengecut!"
Empat orang datuk itu saling pandang dengan alis berkerut.
Nam Tok sendiri mengepal tinju, marah, akan tetapi tidak berdaya terhadap puterinya yang dapat melepaskan kata-kata yang demikian mengandung kebenaran yang tak dapat dibantah lagi.
Harus diakuinya bahwa dalam hal kecerdikan dan kepandaian bicara, dia sendiri seringkali dipecundangi puterinya!
Sekarang pun dia tidak mungkin dan tidak mempunyai alasan yang kuat untuk membantah tanpa menimbulkan kesan bahwa dia tidak adil.
Sementara itu, empat orang pemuda yaitu Kok Tay Ki, Cu See Han, Bu Tiong Sin, dan Kwee San Hong sudah saling pandang dengan sinar mata penuh pertentangan.
Tentu saja mereka semua tidak mau saling mengalah, bukan hanya untuk mewakili guru atau ayah masing-masing memperebutkan kemenangan juara, akal tetapi sekali ini terutama sekali karena ada hadiahnya, ada taruhannya, yaitu seorang gadis jelita, Ji Kui Lan atau Ang Siang Bwee!
Dan mereka berempat melirik semua ke arah Ang Siang Bwee karena mereka lebih suka kalau dapat memperisteri Ang Siang Bwee daripada Ji Kui Lan yang walaupun cantik jelita dan seksi, akan tetapi jelas bukan gadis pingitan itu!
Karena merasa terpukul dan juga tak berdaya oleh ucapan puterinya sendiri, terpaksa Nam Tok tertawa dan berkata lantang.
"Bagaimana pendapat Pak Ong, Tung Kiam dan See Mo tentang usul puteriku tadi?"
Pak Ong mengerutkan alisnya.
"Hemm... bukankah di antara anak dan murid kita sudah ada ikatan perjodohan?"
"Paman Ji Hiat apakah tidak malu kalau mau menang sendiri saja? Lalu apa artinya diadakan pertandingan adu kejuaraan kalau sang juara tidak memperoleh hadiah apa-apa? Sang juara pria sudah sepantasnya mendapatkan isteri terbaik, juga sang juara puteri sepantasnya mendapatkan suami pilihan! Kalau sudah ditentukan lebih dulu tentang perjodohan, lebih baik tidak diadakan pertandingan adu kepandaian saja, dan sebaiknya Paman Ji Hiat dan ayah Nam Tok mengaku kalah saja kepada Paman Tung Kiam dan Paman See Mo!"
Kata Siang Bwee.
"Gila! Aku tidak sudi mengalah begitu saja tanpa bertanding""
Teriak Nam Tok marah.
"Aku pun tidak sudi!"
Teriak pula Pak Ong.
Siang Bwee bertepuk tangan gembira "Itu baru namanya dua orang tua yang gagah perkasa dan menghargai kegagahan.
Nah, sekarang semua perjanjian perjodohan dibatalkan, dan diganti dengan sayembara pertandingan untuk menentukan jodoh.
Siapa setuju boleh ikut bertanding yang tidak setuju boleh pergi dan menggulung ekornya!"
Tentu saja tak seorang di antara mereka yang sudi menggulung ekor seperti anjing ketakutan.
"Aku mau melawan siapa saja! Hayo, boleh maju kalau ingin berkenalan dengan huncwe mautku!"
Kok Kongcu atau Kok Tay Ki yang berwatak angkuh dan tinggi hati itu melangkah maju dan meraba huncwe yang terselip di pinggangnya.
Pemuda putera See Mo ini memang lihai sekali dan boleh dibilang merupakan lawan paling berat bagi yang lain.
Selain dia pandai memainkan senjata huncwe maut dan suling, juga dia kejam luar biasa.
Dan di samping ilmu-ilmu aneh dari ayahnya.
Penggunaan senjata-senjata yang luar biasa itu, Juga pukulan Ang-see-ciang (Tangan Pasir Merah) darinya merupakan pukulan maut yang dapat mudah merenggut nyawa lawan dengan sekali pukul.
Melihat sikap Kok Kongcu, Cu See Han putera Tung Kiam yang juga tidak kalah sombongnya dan terlalu percaya kepada diri sendiri sebagai seorang ahli pedang, juga melangkah maju.
Seperti Kok Kongcu, dia pun tampan dan gagah, apalagi pedangnya memiliki sarung yang terukir indah, gagangnya juga terukir kepala naga dan ronce-roncenya benang mas.
Pakaiannya mewah seperti pakaian seorang sastrawan bangsawan yang kaya.
Pemuda ini meraba gagang pedangnya dan sambil mengangkat dada dia pun berkata.
"Aku pun sudah siap melawan siapa saja yang berani!"
Jl Kui Lan mengerutkan alisnya menoleh kepada suhengnya, dan dengan pandang matanya dara ini mendorong suhengnya untuk maju.
Sebetulnya biarpun dia tidak takut, akan tetapi Bu Tiong Sin tidaklah seberani mereka karena di merasa bahwa dia hanya seorang murid dan juga belum lama menjadi murid Pa Ong.
Lalu dia teringat akan Pedang Asmara di punggungnya.
Besarlah hatinya karena dia maklum bahwa tidak ada pedang yang akan mampu menandingi Pedang Asmara, maka dia pun maju dan menjura kepada semua orang.
"Saya Bu Tiong Sin mewakili suhu Pak Ong Ji Hiat untuk melawan siapa saja dalam pertandingan ini!"
Melihat tiga orang pemuda itu semua sudah maju, tinggal San Hong sendiri yang masih diam saja, Nam Tok mengerutkan alisnya. Apalagi ketika itu Kok Kongcu tertawa bergelak.
"Kami tiga orang pemuda perkasa sudah menantang maju, akan tetapi kenapa murid Paman Nam Tok masih bersembunyi saja di balik baju adik Siang Bwee? Heiii, siapa namamu? Kwee San Hong, bukan? Apakah engkau takut? Kalau begitu, cepat kau menggulung ekormu dan menggelinding pergi dari tempat ini!"
Ucapan itu diiringi suara ketawa See Han dan juga Tiong Sin.
Siang Bwee terbelalak dan mukanya menjadi merah sekali, ketika ia memandang kepada Kok Tay Ki.
Ia melangkah maju dan telunjuk kirinya menuding ke arah hidung Kok Kong-cu, lalu ia bicara dengan lantang.
"Heiii, engkau budak she Kok! Kalau engkau bicara, mulutmu bau busuk sekali seperti bangkai! Agaknya sudah berbulan-bulan engkau tidak pernah membersihkan mulutmu, ya?"
Dimaki sehebat itu, Kok Kong-cu terbelalak, mukanya pucat sekali dan dia marah, malu pula.
"Jangan sembarang rngkau bicara menghina suhengku! Kalau Suheng diam saja itu bukan berarti dia takut, akan tetapi karena dia tidak sombong seperti kalian ini kepala-kepala udang! Kalau suhengku Kwee San Hong maju, biar kalian bertiga maju bersama, kalian semua akan roboh dan kalah!"
Hebat memang penghinaan ini memang Siang Bwee ahli kalau harus bertengkar dan memaki! "Bagus! Kalau begitu, biarkan dia maju melawan kami bertiga!"
Teriak Kok Kongcu yang memang cerdik sekali dan dia hendak menangkap omongan gadis itu demi keuntungan dirinya. Akan tetapi, Siang Bwee bukan gadis yang mudah diakali begitu saja.
"Nah-nah nah, kelihatan belangnya semua sekarang. Kiranya hanya domba berkedok harimau! Nampaknya saja gagah berani, tidak tahunya pengecut tulen bermuka tebal! Mau mengeroyok Suheng dengan tiga orang? Heh-heh-heh, budak Kok, mau kau taruh kemana mukamu itu, nah? Kau taruh di pantat?"
Kok Tay Ki marah sekali dan dia sudah mencabut huncwe mautnya dan siap menyerang Siang Bwee. Gadis ini pun tidak takut. Tongkatnya sudah di-palangkan depan dada.
"Engkau lebih suka melawan aku dan jerih melawan suheng? Tidak apa, aku pun cukup untuk menggebukimu dengan tongkat sampai engkau berkuik-kuik minta ampun, hayo maju!"
Siang Bwee menantang.
"Siang Bwee, mundur!"
Bentak Nam Tok.
"Engkau sendiri yang mengatur agar diadakan sayembara, kenapa kini malah engkau hendak menandingi Kok Tay Ki?"
"Benar,"
Kata Pak Ong.
"sebaiknya empat orang pemuda itu dibiarkan mewakili kita orang tua untuk menentukan siapa yang paling pandai. Aku usulkan agar putera See Mo bertanding dulu melawan putera Tung Kiam, baru nanti disusul muridku melawan murid Nam Tok dan selanjutnya ditukar lawan."
Jelas banwa Pak Ong dan Nam Tok memang sudah sepakat untuk membiarkan dua pihak yang bersekongkol dengan orang Mongol itu untuk saling serang dulu, agar mereka lebih mudah menentukan sikap.
Kalau mereka dulu yang saling serang hal ini hanya akan menguntungkan dua orang datuk yang bersekongkol dengan orang Mongol itu.
Akan tetapi Tung Kiam dan See Mo juga bukan orang bodoh.
Jalan pikiran mereka sama dengan dua orang tokoh datuk besar itu dan mereka pun tidak mau dirugikan kalau anak anak mereka harus bertanding lebin dulu, berarti melemahkan keadaan sendiri.
"Kepandaian puteraku Cu See Han semua orang sudah tahu, juga kepandaian Kok Tay Ki putera See Mo semua orang sudah tahu pula. hanya kepandaian dua orang murid Nam Tok dan Pak Ong merupakan orang orang baru. Maka sudah sepantasnyalah kalau kedua orang murid yang belum kita kenal kepandaiannya itu saling bertanding lebih dulu agar kita juga dapat melihat sampai di mana tingkat mereka, apakah sudah pantas untuk dipertandingkan dengan putera putera kami!"
Kata Tung Kiam yang cerdik.
See Mo mengangguk-angguk membenarkan.Kembali Siang Bwee yang menolong, Biarpun Pak Ong merupakan sekutu ayahnya, akan tetapi ia paling benci kepada Bu Tiong Sin karena pemuda ini dijodohkan dengannya.
Maka ia lalu berkata dengan lantangnya.
"Kembali empat orang datuk besar rebutan bicara seperti empat nenek bawel. Siapa yang bertanding dulu apa sih bedanya? Nanti tidak urung semua kebagian bertanding. Paman Tung Kiam terkenal dengan ilmu pedangnya yang hebat yaitu Tung-hai Liong kiam, dan ilmu pukulan Tung-hai Mo kun yang sukar ditandingi. Akan tetapi Paman Pak Ong juga memiliki Swat in Sin-to dan lt-sin-ci di samping Kui ma Sin-tui yana sudah mengguncang dunia persilatan.! Kalau sekarang ini Cu See Han dipertandingkan dulu melawan Bu Tiong Sin tentu akan terjadi pertempuran yang amat menarik hati untuk dikagumi!"
Akan tetapi, ayahnya segera mencegah.
Nam Tok sudah melihat kehebatan ilmu dari San Hong, maka tentu saja setelah kini Kwee San Hong mewakilinya sebagai murid, dia ingin melihat muridnya itu memperoleh sebuah kemenangan dulu untuk membesarkan hatinya.
"Tidak! Aku tantang putera See Mo Kok Tay Ki yang ahli huncwe maut itu untuk menandingi muridku, Kwee San Hong. San Hong, kuperintahkan engkau untuk menandingi Kok Tay Ki!"
Tentu saja San Hong tidak berani membantah. Dia melangkah maju dan memberi hormat kepada gurunya.
"Baik Suhu. Teecu siap!"
Dia tadi sudah menitipkan Pedang Asmara kepada Siang Bwee, sedangkan yang berada di punggungnya adalah Pedang Pek lui-kiam.
Melihat siasat rekannya ini, Pak Ong juga cepat memberi perintah kepada muridnya.
"Tiong Sin, cepat engkau hadapi putera Tung Kiam!"
Akan tetapi, baik Tung Kiam maupun See Mo sudah merasa khawatir melihat San Hong.
Terutama sekali Tung Kiam yang kini baru tahu bahwa dia telah kena diakali Siang Bwee sehingga dia telah mengajarkan ilmu-ilmunya kepada San Hong dan Siang Bwee.
"Nanti dulu,"
Katanya cepat.
"Pertandingan harus diadakan satu lawan satu agar kita semua dapat menjadi saksi dan juri untuk menentukan siapa yang lebih unggul. Sebaiknya murid Nam Tok kini bertanding lawan putera See Mo, baru tepat."
Kok Tay Ki atau Kok Kongcu adalah seorang pemuda yang kejam luar biasa, akan tetapi juga lihai, cerdik dan sombongnya setengah mati.
Dia memandang rendah Kwee San Hong yang dianggapnya serba canggung itu.
Diu merasa bahwa dua buah ilmunya, yaitu tangan kosong Ang see ciang dan huncwe mautnya merupakan ilmu pilinan yang sukar dicari lawannya, maka kini dia hendak mempergunakan keduanya.
"Ini merupakan adu ilmu, bukan perkelahian saling bunuh. Bagaimana kalau kita menggunakan ilmu tangan kosong lebih dulu agar dapat dilihat dengan jelas siapa yang lebih lihai kaki tangannya tanpa bantuan senjata tajam?"
Kata Kok Kongcu dengan sikap yang jumawa sekali Dia memang tampan dan halus, juga gagah, maka ketika bicara dia nampak anggun, pakaiannya indah, topi bulunya berkibar, sabuk emasnya mengkilat.
Siang Bwee mendekati San Hong dan berbisik dengan suara lirih sekali sehingga hanya terdengar oleh pemuda itu.
"Kau ingat. Ang-see-ciang dapat kaulawan dengan It-sin-ci."
Bisikan itu di terima oleh San Hong dengan anggukan kepala.
Memang dia pernah diberi pelajaran It-sin-ci (Totokan Satu Jari Sakti) oleh Pak Ong untuk memecahkan kehebatan Ang see ciang dari See Mo!
Selain itu, juga San Hong telah mempelajari Ilmu pukulan tangan kosong Hek-in Pay san dari Nam Tok melalui Siang Bwee.
Apalagi dia pun sudah digembleng dengan ilmu yang hebat, yaitu ilmu sin kang Perisai Diri dari Lo Koay dan tubuhnya juga amat kuat, sinkangnya menjadi luar biasa setelah dia makan jamur emas!
Kok Kongcu yang angkuh dan selalu.
memandang rendah orang lain itu telah menanggalkan jubah luarnya yang indah, dilipatnya jubah itu dengan hati-hati dan dia lemparkan kepada Koay-to Heng-te, yaitu Si Kembar Gu yang sudah hadir pula di situ.
Dua orang kembar ini merupakan murid dan pembantu-pembantu setia dari See Mo dan tingkat kepandaian mereka pun sudah tinggi, tidak banyak selisihnya dibandingkan Kok Kongcu sendiri.
Namun, Kok Kongcu menganggap mereka itu orang bawahan dan pembantu, bukan para suhengnya.
"Kwee San Hong, aku mendengar engkau adalah seorang pemuda gunung, pemuda petani yang dusun dan kampungan. Akan tetapi sekarang mendapat bintang terang, bisa diterima sebagai murid Paman Nam Tok. Sungguh baik sekali nasibmu. Sayang, nasibmu hanya sampai di sini saja karena sekarang engkau akan habis di tanganku,ha-ha-ha!"
Kok Kongcu tertawa sinis sambil memandang dengan sinar mata mengejek sekali.San Hong adalah seorang pemuda jujur yang polos dan karenanya nampak seperti bodoh, tidak pandai bicara dan mendengar ucapan itu dia hanya mengangguk dan berkata polos.
"Memang aku seorang pemuda dusun, dari dusun Po lim-cun di kaki Pegunungan Thian-san Apa salahnya dengan aku?"
Jawaban ini membuat Nam Tok menarik napas panjang.
Sungguh murid yang tidak pandai mengangkat nama besar gurunya!
Akan tetapi Siang Bwee menjadi merah mukanya dan ia cepat berkata dengan mata melotot memandang Kok Kongcu.
"Benar, apa salahnya kalau Suheng Kwee San Hong berasal dari dusun? Apa engkau ini orang she Kok merasa sebagai seorang bangsawan aseli dari kota besar?. Dari mana sih asal nenek moyangmu? Dari barat, dari daerah bangsa biadab, di Bukit Pek-coa-san tempat ular (Pek-coa-san berarti Bukit Ular Putih). Karena orang tuamu kaya raya, maka engkau berlagak sebagai bangsawan kota yang hebat. Aduh, hanya gayanya saja, tapi kosong tidak ada isinya! Lihat saja mukamu itu di bayangan air, namanya saja pakai kongcu (tuan muda), akan tetapi mukamu pucat kurang darah, seperti orang berpenyakitan, pesolek seperti seorang banci, sama sekali tidak jantan, sama sekali tidak gagah. Dan engkau masih berani menghina Suheng Kwee San Hong? Sungguh tolol, kaulah yang akan bertekuk lutut di depan Suheng, tahu?"
Semua orang terbelalak mendengar ucapan yang nadanya demikian keras menghina, bahkan Nam Tok sendiri merasa tidak enak karena dia anggap puterinya keterlaluan.
Kok Kongcu sendiri sampai pucat mukanya saking marah dan wajah See Mo menjadi kemerahan dan dia menganggap puteranya mencari gara-gara saja.
"Tay Ki, perlu apa banyak cakap lagi? Hayo hajar murid Nam Tok itu! Kalau engkau tidak becus mengalahkannya, engkau tidak pantas menjadi putera See-thian Mo-ong Kok Bong Ek!"
Diam-diam Kok Kongcu terkejut dan dia tahu bahwa sekali ini ayahnya marah sekali.
Akan tetapi dia pun tidak khawatir.
Andaikata Kwee San Hong memang tangguh sekali, di situ masih ada dua orang pembantunya, Koay-to Heng-te Gu Kiat dan Gu Liat, masih ada ayahnya, masih ada sekutu ayahnya yaitu Tung Kiam dengan puteranya Cu See Han, dan terutama sekali masih ada seratus lebih pasukan Mongol yang siap dengan senjata panah mereka.
Pasukan itu adalah barisan panah yang lihai!
Takut apa lagi?
Maka, dengan gagah dia pun melangkah ke depan, menghadapi San Hong dengan senyum mengejek.
"Nah, petani busuk, bersiaplah untuk roboh di tanganku. Lihat serangan!"
Kok Kongcu membentak untuk memamerkan bahwa dia cukup "gagah"
Untuk memberi peringatan dulu sebelum menyerang.
Serangannya memang hebat.
Dia adalah putera See Mo yang sudah mewarisi ilmu kepandaian ayahnya, maka begitu menyerang, tangannya yang kanan meluncur seperti seekor ular mencengkeram ke arah muka lawan sedangkan tangan kirinya menyambar ke arah pusar.
Itulah suatu jurus ilmu Pek-coa-sin-kun yang amat hebat dari See Mo.
Namun Kwee San Hong sekarang sama sekali tidak boleh disamakan dengan Kwee San Hong beberapa tahun yang lalu.
Semenjak bergaul dengan Siang Bwee, selain pemuda ini dapat dicurikan ilmu-ilmu aneh dari para datuk, juga gadis yang mencintanya itu memaksanya berlatih hampir setiap saat, bahkan yang terakhir, dengan kepandaiannya memikat hati, Siang Bwee berhasil membuat dua Orang sakti, yaitu Lo Koay dan nenek Coa Eng Cun berkenan menurunkan ilmu simpanan mereka berdua kepada San Hong dan Siang Bwee.
Kini San Hong telah menjadi seorang pemuda yang sikapnya amat tenang, namun penuh kewaspadaan dan ilmu-ilmu yang telah dipelajari dan dilatihnya setiap saat itu telah mendarah daging dengan dirinya.
Inilah keuntungannya.
Kalau dia mengandalkan kecepatan otak, agaknya dia tidak akan mampu menandingi Kok Kongcu yang cerdik.
Akan tetapi karena ilmu-ilmu itu sudah mendarah daging, sudah menyatu dengan semua syaraf di tubuhnya, maka gerakannya otomatis dan tidak melalui ingatan lagi sehingga tentu saja jauh lebih cepat daripada kalau dibandingkan dengan ilmu yang dilakukan melalui ingatan.
Gerakannya merupakan gerakan reaksi tubuh dan refleks!
Menghadapi serangan cengkeraman ke arah muka dan pusar, San Hong sama sekali tidak menjadi gugup.
Dia sudah memiliki penglihatan yang cukup waspada dan dia tahu bahwa dua serangan itu walaupun nampaknya ganas, akan tetapi hanya merupakan gertakan atau pancingan belaka agar mengendurkan atau mengalihkan perhatiannya akan ancaman berikutnya yang lebih hebat.
Oleh karena itu, dia hanya miringkan tubuh dan melangkah mundur selangkah untuk menghindarkan dua cengkeraman itu sambil menanti kelanjutan serangan itu dan dia tahu pasti datang dengan cepat.
Dan dugaannya memang tepat sekali.
Dengan bentakan melengking, kedua kaki Kok Kongcu menyambar bergantian dengan tendangan maut ke arah bawah pusar dan ke arah lambungnya!
Ini pun merupakan gempuran yang mengejutkan saja dan dapat ditangkis oleh kedua lengan San Hong yang tetap waspada.
Inti serangan yang dinanti-nantinya kini tiba, yaitu pukulan Ang-see-ciang dengan kedua tangan Kok Kongcu.
Kedua telapak tangan itu berubah kemerahan dan ada hawa panas menyambar dahsyat ke arah leher dan dada San Hong ketika Kok Kongcu mempergunakan Ang-see-ciang sebagai serangan inti ke arah tubuh lawan.
Menghadapi serangan inti ini, San Hong tidak mau memperlihatkan kelemahan atau rasa jerihnya.
Secara otomatiskedua tangannya bergerak dan secara otomatis pula tangannya sudah dilindungi dengan sin-kang Perisai Diri yang telah dipelajarinya dari Lo Koay.
Tubuh Kok Kongcu terhuyung akan tetapi dia tersenyum karena mengira bahwa tentu kedua lengan San Hong kini keracunan oleh Ang-see-clang.
Akan tetapi ketika dia melihat pemuda itu berdiri tegak, dan kedua tangannya sama sekali tidak memperlihatkan keracunan dan tidak ada warna merah, barulah di terkejut bukan main.
Kembali dia menerjang dan kini dia mengirim pukulan Ang see-ciang secara bertubi-tubi.
Ang-see ciang bukan saja merupakan pukulan yang mengandung hawa racun pasir merah akan tetapi juga gerakannya seperti dua ekor ular yang amat lincah dan cepat.
Sejenak San Hong seperti terdesak karena dia harus mengelak dan menangkis sambil mundur.
Namun, gerakan otomatisnya ketika dia berlatih dengan Siang Bwee segera keluar dan kini tiba-tiba kedua tangannya mengeluarkan telunjuk dan kedua telunjuk itu yang menyambar telapak tangan merah dari Kok Kongcu.
"Tuk.....! Tukkk.....!!"
Kok Kongcu berseru kaget dan meloncat ke belakang, kedua tangan terasa nyeri.
"It-sin-ci.....!"
Teriak See Mo marah.
"Heiii, tua bangka Pak Ong, kiranya engkau bersekongkol dan membantu mengajarkan ilmu kepada murid Nam Tok, ya?"
"Ha ha ha, See Mo. Siapa yang bersekongkol dan siapa yang tidak akan dapat diketahui nanti. Aku tidak pernah terikat janji dengan siapapun, maka bagiku mengajarkan ilmu kepada siapapun tidak perlu minta ijin siapa pun. Kalau It-sin-ci sudah mampu membuyarkan Ang-see-ciang, itu bukan salahku, heh-heh-heh!"
See-thian Mo-ong marah dan mendongkol bukan main, akan tetapi tentu saja dia tidak dapat berbuat sesuatu.
Memang sebagai empat orang datuk besar, mereka itu tidak berada di bawah pengaruh siapapun dan apa pun yang mereka lakukan, tak seorang pun di dunia ini boleh mencampuri!Sementara itu, Kok Kongcu sudah dapat menenangkan dirinya.
Walaupun tusukan jari It-sin-ci yang mengenai kedua telapak tangannya tadi membuyarkan kekuatan Ang-see-ciang dan mendatangkan rasa nyeri, namun tidak melukainya.
Memang dapat dikata bahwa Ang-see ciang menjadi lumpuh dan hilang daya gunanya menghadapi totokan satu jari tangan itu, maka dengan marah dia pun kini sudah mencabut senjatanya yang istimewa, yaitu huncwe mautnya.
Huncwe itu panjang seperti sebatang pedang atau suling, terbuat dari baja pilihan yang diselaput emas sehingga nampaknya mewah dan mahal.
Ada lubang-lubang rahasa di situ, bukan hanya lubang untuk menyimpan tembakau, akan tetapi juga lubang-lubang untuk menghembuskan asap dan lubang rahasia untuk menyerang lawan dengan asap beracun!
Semua ini masih ditambah keampuhan huncwe (pipa tembakau) itu sendiri yang dapat dipergunakan untuk menotok jalan darah atau memukul pecah kepala orang atau meremukkan tulang orang!
"Petani busuk makan nih huncwe mautku!"
Kini Kok Kongcu menghardik dan tidak seperti tadi, kini dengan curangnya, tanpa menanti lawan siap mengeluarkan senjata, tangannya bergerak dan huncwe itu sudah berubah menjadi sinar emas menyambar dahsyat kearah kepala San Hong.
Terdengar suara berdesing nyaring didahului kepulan asap kehijauan yang menyambar ke arah muka San Hong sebelum huncwe itu sendiri menghantam kepala.
Namun, biar dia jujur dan sama sekali tidak pernah mau menggunakan kecurangan, San Hong sudah dapat jejalan banyak peringatan dari Siang Bwee sehingga dia cukup berhati-hati untuk menjaga diri, juga dia memiliki bawaan yang amat tenang.
Ketenangannya inilah yang mendatangkan ketabahan yang luar biasa, juga kewaspadaan sehingga menghadapi ancaman apa pun dia selalu dapat bersikap tenang dan tidak menjadi gugup.
Melihat menyambarnya sinar emas didahului kepulan asap dibarengi suara yang mendesing itu, dia tahu bahwa lawan menggunakan senjata yang amat ampuh dan berbahaya, akan tetapi yang lebih berbahaya adalah kepulan asap itu.
Oleh karena itu, San Hong sudah menahan napas lalu sambil melempar tubuh ke samping untuk mengelak, mulutnya meniup dengan pengerahan sin-kang ke arah asap yang mengepul itu, sedangkan tangan kanannya, dilindungi sin-kang Perisai Diri, sudah diputar ke kanan dalam usahanya menangkap atau menangkis ujung huncwe maut.
Kini Kok Kongcu yang kaget karena asap beracun itu tiba-tiba membalik ke arah mukanya sendiri, tertiup angin yang kuat.
Dan ketika ujung huncwenya akan ditangkis, dia sudah menarik dengan gerakan pergelangan tangannya, huncwe tidak jadi menghantam kepala melainkan menotok dengan tusukan ke arah leher San Hong.
Hebat bukan main gerakan ini selain cepat juga tidak tersangka sangka.
Namun, San Hong juga sudah melihat perubahan gerakan yang amat berbahaya ini, maka kedua kakinya membuat gerakan langkah mundur dua kali sehingga tusukan ke arah lehernya itu pun luput dan di lain saat, begitu tangan kanannya meraba bagian punggungnya, nampak sinar terang berkilat seperti ada halilintar menyambar dan tangan kanannya sudah mencabut Pek-lui-kiam (Pedang Kilat) pemberian seorang di antara lima orang gurunya, yaitu Lui-kong Kiam-sian.
Pedang ini merupakan pusaka yang amat nmpuh, terbuat dari baja yang mengeluarkan sinar seperti kilat dan biarpun tidak memiliki pengaruh ajaib seperti Pedang Asmara, namun merupakan senjata ampuh yang kuat sekali.
"Sing-trang-trang tranggg.....!"
Nampak bunga api menyilaukan mata ketika huncwe maut itu yang dipergunakan oleh Kok Kongcu menyerang bertubi-tubi ditahan dan ditangkis oleh pedang Pek lui-kiam.
Kembali Kok Kongcu terkejut karena dia merasa betapa tangan yang memegang huncwe menjadi panas, tergetar dan nyeri, tanda bahwa lawannya memiliki tenaga yang amat kuat, lebih kuat.
daripada tenaganya sendiri.
Dan San Hong juga tidak mau bersikap mengalah.
Begitu serangkaian serangan huncwe itu dapat dia gagalkan dengan tangkisan pedangnya dia pun kini membalas serangan lawan dengan Pek lui-kiam.
Dan karena dia maklum bahwa tingkat ilmu kepandaian lawan ini amat tinggi, maka dia pun tidak segan-segan lagi dan langsung saja dia memainkan pedangnya dengan ilmu pedang Tung hai Liong-kiam yang digabung dengan ilmu pedang Pek lui-kiam, bahkan dia pun memasukkan unsur-unsur gerakan dari Swat-sin-to (Golok Sakti Salju) yang pernah dipelajarinya dari Pak Ong.
Karena ilmu pedang Pek-lui-kiam dia pelajari dari seorang gurunya, seorang di antara Thian-san Ngo-sian dan dia sudah menerima petunjuk petunjuk sakti dari Lo Koay yang menjadi supek dari mereka, maka kini ilmu pedang Pek-lui-kiam itu sendiri saja sudah tidak kalah tingkatnya dibandingkan ilmu pedang dari Tung Kiam atau ilmu golok dari Pak Ong!
Melihat gerakan pedang Pek-lui-kiam yang menyambar-nyambar, lenyap bentuk pedangnya berubah menjadi gulungan sinar seperti halilintar, bukan hanya mengeluarkan desingan yang melengking akan tetapi juga bahkan kadang mengeluarkan bunyi seperti ledakan petir, tentu saja semua orang terkejut bukan main.
Yang paling kaget adalah Kok Kongcu.
Dia merasa seperti dikeroyok oleh banyak orang dengan bermacam ilmu pedang.
Membuat dia bingung dan memutar huncwe mautnya sambil berloncatan terus ke sana-sini dan terdesak mundur terus!
"Wah-wah-wah, apa ini.....?"
Terdengar See Mo berseru.
"Murid siapakah dia ini? apakah Tung Kiam dan Pak Ong juga mengajarnya ilmu senjata? Hei, Nam Tok, muridmu ini tidak aseli, engkau licik!" (Lanjut ke
Jilid 34) Pedang Asmara (Cerita Lepas) Karya . Asmaraman S. Kho Ping Hoo
Jilid 34 Nam Tok mendengus saja, akan tetapi Siang Bwee yang merasa gembira itu mewakili ayahnya berseru.
"Paman See Mo, engkau ini kenapa jadi nenek bawel sih? Kalau anakmu tidak becus dan tidak menang, tidak perlu kau ribut. Kalah menang sudah sepantasnya, dan giliranmu nantilah. Jangan banyak susah, nanti gendutmu hilang dan engkau menjadi kurus!"
See Mo cemberut.
Kalau bukan Siang Bwee yang bicara seperti itu, tentu sekali menggerakkan tubuh dia sudah membunuh pembicaranya.
Namun, pertandingan antara puteranya dan San Hong terlalu menegangkan sehingga kembali dia mengikuti dua orang muda itu dengan seksama juga dengan hati yang merasa kecut kini puteranya sungguh terdesak hebat oleh pedang kilat itu.
Pertandingan itu memang hebat bukan main.
Untung bahwa San Hong bertemu dan bergaul dengan Siang Bwee sehingga dia memperoleh kemajuan yang luar biasa.
Andaikata tidak demikian, andaikata dia hanya mewarisi ilmu-ilmu dari kelima orang gurunya, yaitu Thian-san Ngo-sian jangan harap dia akan mampu menandingi Kok Kongcu.
Dia kalah pengalaman, kalah cerdik dan kalah siasat.
Akan tetapi setelah San Hong dalam keadaannya yang sekarang, menerima gemblengan di bawah dorongan dan siasat Siang Bwee yang mengakali para datuk untuk mewariskan ilmu-ilmunya kepada pemuda yang dikasihinya itu, maka keadaan San Hong kini bagaikan sebongkah batu karang besar yang teramat kokoh kuat, tidak goyah oleh hantaman gelombang samudera tidak runtuh oleh tiupan badai.
San Ho menjadi kuat dan sukar dikalahkan, dan sungguhpun dia masih kekurangan sifat ganas dalam penyerangannya, namun setiap kali dia membalas, maka gerakan balasannya itu mengandung kekuatan yang amat hebat.
Ini berkat sinkang Perisai Diri yang telah dilatihnya dengan tekun.
Pertandingan itu sudah berlangsung lima puluh jurus dan kini Kok Kongcu sudah nampak berubah sama sekali.
Lenyaplah kecongkakannya.
Lenyap sikap sombongnya dan bahkan ketampanannya berkurang banyak.
Mukanya yang biasanya halus tampan itu kini berkerut-kerut penuh keringat dan agak pucat, matanya yang biasanya tabah dan mengejek.
Kini nampak takut.
Rambutnya yang biasanya halus licin kini awut-awutan, dan gerakannya yang biasanya tenang itu kini kacau balau.
Terutama sekali sepasang matanya membayangkan bahwa dia mulai takut sekali.Betapa tidak?
Setiap kali huncwenya bertemu pedang, dia merasa seolah-olah seluruh tubuhnya terguncang dan roboh.
Semua orang tahu belaka bahwa dalam waktu singkat saja Kok Kongcu yang angkuh itu tentu akan roboh, kalau bukan roboh karena serangan pedang lawan, mungkin roboh karena kehabisan tenaga!See Mo maklum akan hal ini.
Dia belum ingin melihat puteranya tewas atau celaka, maka sekali dia melompat dia telah berhasil mencengkeram baju punggung Kok Kongcu dan membawanya keluar dari arena pertandingan, lalu mendorong puteranya itu sehingga jatuh berlutut.
"Huh, anak tidak ada gunanya!"
Bentaknya marah dan Kok Kongcu tidak menjawab, melainkan duduk bersila dan memejamkan mata, mengatur pernapasan agar jangan sampai dia menderita luka dalam yang parah.
Di ujung bibirnya nampak darah, tanda bahwa dia telah mengeluarkan tenaga lebih daripada ukuran ketika bertahan tadi.
Sementara itu Siang Bwee dengan girang menghampiri San Hong yang masih nampak segar hanya dahinya saja berkeringat sedikit.
Tanpa sungkan atau malu Siang Bwee mengeluarkan saputangan harum dari balik baju dadanya, dan menghapus sedikit keringat dari dahi San Hong secara demonstratip sekali, tanpa mempedulikan pandangan semua orang, bahkan juga tidak peduli betapa ayahnya mengerutkan alis memandang perbuatan puterinya itu.
Malah ia lalu menoleh kepada ayahnya.
"Lihat, Ayah. Bukankah Ayah bangga mempunyai murid seperti Suheng Kwee San Hong? Kalau dia mau, dalam waktu lebih pendek lagi, tadi dia sudah mampu membuat bocah she Kok itu tak mampu hidup lagi!"
Terdengar suara keras dan kini Koay-to Heng-te, Gu Kiat dan Gu Liat si kembar yang menjadi murid dan pembantu See Mo, sudah berlompatan ke depan.
Di tangan mereka telah nampak sepasang golok dan mereka itu marah ekali.
Dua orang kembar yang usianya empat puluh tahun lebih itu, marah sekali karena tadi putera guru mereka telah dikalahkan, juga menerima penghinaan hebat dari puteri Nam Tok.
"Kami Koay-to Heng-te siap mengorbankan nyawa untuk membela nama dan kehormatan guru dan majikan kami yang kami muliakan!"
Kata Gu Kiat dengan marah sekali.
"Kami, menantang murid Nam Tok!"
San Hong sudah menoleh ke arah mereka akan tetapi Siang Bwee yang cerdik itu segera meloncat ke depan mereka, sejenak matanya yang jeli dan indah itu mengamati mereka seolah-olah mereka itu adalah dua ekor binatang yang menjijikkan baginya.
"Aduh-aduh, inikah Koay-to Heng-te yang mengaku murid dan anjing penjaga dari Paman See Mo, yang menganggap diri gagah perkasa akan tetapi sebenarnya hanya merupakan pengecut-pengecut hina tak bermalu ini? Kalian berdua, menantang suhengku? Katakan saja kalian mau mengeroyok dan ingin menang dengan keroyokan? Kenapa mesti bicara memutar-mutar dan tidak terus terang saja? Katakan kalian tidak berani maju satu lawan satu, inginnya hanya main keroyokan sesuai dengan watak kalian yang licik. Bukankah begitu?"
Dua orang itu marah bukan main.
Kalau menurutkan hati mereka, ingin mereka sekali terjang membunuh gadis itu.
Akan tetapi mereka tahu, gadis itu adalah puteri tunggal Nam Tok!
Maka, Gu Liat, orang ke dua yang lebih tenang pada kakaknya berkata.
"Nona Ang, bukan maksud kami hendak mengeroyok. Kalau ayahmu mempunyai dua orang murid atau wakil, boleh saja maju bersama agar dua lawan dua. engkau tahu bahwa kami dilahirkan kembar dan hanya dapat bertanding kalau berbareng."
"Bagus! Katakan saja kalian menantang Suheng dan aku, tidak perlu bicara plintat-plintut! Memang kalian pikir akan mampu mengalahkan Suheng dan aku? Huh, aku sendiri saja sudah cukup untuk melelahkan kalian. Akan tetapi aku jijik kalau harus maju sendiri dan tidak akan tahan bau keringat kalian. Mari, Suheng, kita hajar pemegang golok pemotong babi itu!"
Kata Siang Bwee dengan sikap mengejek sambil memalangkan tongkat di depan dadanya.
Koay-to Heng-te bukanlah orang bodoh atau nekat.
Mereka cukup maklum bahwa ilmu kepandaian San Hong yang telah mengalahkan kongcu mereka itu amat lihai, juga mereka tahu siapa nona Ang Siang Bwee.
Akan tetapi mereka tidak mungkin diam saja melihat kekalahan Kok Kongcu dan mereka harus membuktikan kesetiaan mereka terhadap See Mo Maka, kini mereka maju berdua dan sudah mencabut golok mereka.
Melihat yang maju hanyalah murid murid Nam Tok yang menandingi murid See Mo, hati Pak Ong merasa tidak enak.
Dia sendiri mempunyai dua orang wakil yaitu puterinya sendiri dan muridnya Tiong Sin.
Maka, dia pun segera berkata dengan suara lantang.
"Pertandingan antara wakil Nam Tok dan wakil See Mo sudah berlangsung Yang masih belum bertanding adalah wakilku dan wakil Tung Kiam. Tiong Sin atau engkau Kui Lan, kalian wakili aku untuk melawan wakil dari Tung Kiam!"
Sengaja Pak Ong tidak menyuruh puterinya saja maupun muridnya saja.
Dia tahu bahwa dalam hal mewarisi ilmu kepandaiannya, tentu saja puterinya lebih mahir karena lebih lama, akan tetapi muridnya, Tiong Sin, dapat menutup kekurangannya dari Kui Lan karena dia memiliki Pedang Asmara, sebatang pedang yang ampuh sekali.
Tentu saja sebagai seorang pria, Tiong Sin juga tidak menghendaki sumoinya yang maju.
Dia tidak takut melawan putera Tung Kiam yang bernama Cu See Han yang sombong itu.
Dia mendengar bahwa Tung Kiam merupakan satu di antara empat datuk besar yang paling ahli bermain pedang, maka julukannya juga Tung Kiam (Pedang Timur).
Akan tetapi dia sendiri adalah seorang ahli pedang.
Bukan saja dia penah mempelajari ilmu pedang Yeliu Cutay, yaitu Thai-ean Kiam-sut, akan tetapi juga dia telah memperdalam ilmunya dari gurunya, yaitu Pak Ong dengan ilmu golok istimewa yang disebut Swat-im Sin-to, yaitu semacam ilmu golok yang amat hebat.
Dan menurut petunjuk gurunya, dia telah mampu mengawinkan ilmu pedangnya dengan ilmu golok itu, apalagi ada Pedang Asmara di tangannya, sebatang pedang yang amat ampuh dan yang menjadi kebanggaan dan andalannya Dia merasa girang bahwa atas usul Siangi Bwee, untuk sementara pedang yang tadinya sudah ditukar dengan tongkat naga oleh calon mertuanya, yaitu Nam Tok, kini dikembalikan kepadanya.
Dan tidak tahu apakah dia akan berani menghadapi Cu See Han kalau dia harus mempergunakan tongkat naga yang berat itu sebagai senjatanya.
Kini dia meloncat ke depan mendahului sumoinya dan dia sudah menghadapi Cu See Han dengan sikap menantang.
"Aku Bu Tiong Sin siap mewakili suhu Pak Ong untuk menghadapi wakil di Tung Kiam!"
Tantangnya.
Cu See Han bangkit dan sekali tangannya bergerak, nampak sinar terang di tangannya sudah mencabut sebatang pedang yang bentuknya seperti tubuh naga.
Itulah pedang pusaka milik keluarga mereka yang disebut Liong-kiam (Pedang Naga) yang agak kehitaman.
"Bocah sombong, tahukah engkau apa yang kupegang ini?"
Cu See Han berkata kepada Tiong Sin dengan suara mengejek.
"Lihat baik-baik. Inilah pedang pusaka kami, Tung hai Liong kiam! Pedang naga kami ini akan minum darahmu sampai habis! Ha-ha-ha!"
Cu See Han sengaja mengeluarkan ucapan mengancam untuk mengecilkan nyali calon lawannya. Akan tetapi Tiong Sin tidak mau kalah gertak. Dia tertawa mengejek.
"Ha-ha-ha, apa sih artinya pedang macam itu? Sama sekali tidak ada arti dan tidak ada harganya kalau dibandingkan dengan pedang pusakaku yang tiada keduanya di seluruh dunia ini!"
Dengan bangga dia meraba gagang pedang di punggungnya.
"Sombong, mana ada pedang yang lebih baik daripada Tung-hai Liong-kiam kami? Jangan membual kau. keluarkan pedang busukmu!"
Kata Cu See Han tidak percaya. Dengan lagak sombong Tiong Sin mencabut pedangnya perlahan-lahan sambil berkata.
"Buka matamu"
Baik-baik dan lihatlah. Pusaka mana yang lebih hebat daripada pedang pusakaku ini? Lihatlah"
Dengan mulut cemberut meruncing Siang Bwee mendekati ayahnya.
"Ayah nanti kalau aku melawan si genit Kui Lan itu, aku tidak sudi memakai Pedang Asmara di tangan Tiong Sin itu!"
Ayahnya menoleh dan memandang heran kepada puterinya.
"Aeh, apa maksudmu, Siang Bwee? Bukankah kemarin engkau sudah meminjamnya dan berlatih dengan pedang itu dan kau bilang cocok sekali?"
Siang Bwee cemberut.
"Justeru karena sudah kupakai maka aku sama sekali tidak suka, bahkan curiga, Ayah."
"Curiga?"
"Memang kemarin aku belum heran bicara kepada Ayah, takut kalau Ayah marah padahal kitamenghadapi peristiwa penting hari ini. Akan tetapi, Ayah, tak curiga bahwa Ayah telah kena diakal dan ditipu orang."
"Apa? Apa maksudmu?"
"Pedang Asmara itu, Ayah. Aku hampir yakin bahwa pedang itu bukanlah Pedang Asmara, artinya, bukan pusaka aseli."
"Pedang Batu Dewa Hijau atau Pedang Asmara!"
Kini pedang itu telah tercabut dan berada di tangan Tiong Sin. Mendengar nama pedang itu, bahkan See Mo dan Tung Kiam terbelalak memandang dan keduanya segera berseru kagum.
"Pedang Batu Dewa Hijau.....!"
Seru See Mo.
"Pedang Asmara.....!!"
Seru pula Tung Kiam. Nam Tok senang sekali mendengar betapa dua orang saingannya itu tertegun dan mengeluarkan seruan kagum.
"Ha-ha-ha!"
Dia tertawa.
"Memang benar itulah Pedang Asmara!"
Katanya.
"Dan ingat, pusaka itu telah menjadi milikku sebagai tanda ikatan jodoh antara murid Pak Ong dan puteriku. Ha-ha-ha!"
Jelaslah bahwa ucapan Nam Tok ini bukan untuk memamerkan calon mantunya, melainkan untuk pamer dan membanggakan bahwa Pedang Asmara yang tentu saja amat diinginkan setiap orang tokoh persilatan itu kini telah menjadi miliknya!
"Kau gila?
Aku melihatnya sendiri Pedang itu aseli!"
Bantah Nam Tok.
"Hemmm, Ayah terlalu percaya. Lupakah Ayah bahwa pedang itu disebut Pedang Asmara? Mengapa disebut Pedang Asmara? Tentu Ayah pernah mendengar ceritanya, seperti aku juga pernah. Kabarnya, pedang itu disebut Pedang Asmara karena terbuat dari Batu Dewa Hijau yang mengandung daya membuat orang jatuh cinta! Nah, kalau memang pedang itu benar Pedang Asmara, kenapa ketika dekat dengan Bu Tiong Sin aku sama sekali tidak jatuh cinta kepadanya, melainkan bahkan jatuh benci? Itu saja membuktikan bahwa itu bukan Pedang Asmara"
Nam Tok nampak bingung.
"Akan tetapi... ah, biar kita lihat saja. Kalau pedang itu mampu mengalahkan Tung hai Liong-kiam, berarti pedang itu memang aseli dan engkau yang salah sangka."
"Pendapat yang baik sekali, Ayah,"
Kata Siang Bwee.
Ayahnya menengok dan memandang kepadanya penuh perhatian.
Siang Bwee diam saja dan pura-pura tidak tahu.
Ia tidak boleh terlalu mendesak ayahnya yang amat cerdik karena ayahnya tentu akan curiga.
Sementara itu, ketika mendengar ayahnya dan See Mo terkejut menyebut pedang pusaka yang berada di tangan Bu Tiong Sin, diam-diam Cu See Han juga terkejut sekali.
Biarpun dia sendiri belum banyak mendengar tentang Pedang Asmara, namun melihat betapa ayahnya dan See Mo terkejut, maka dia pun dapat menduga bahwa pedang di tangan lawan itu benar-benar pedang ampuh bukan main, maka dia pun tidak berani memandang rendah.
Pedang di tangannya, Tung-hai Liong-kiam, merupakan pedang pusaka keluarga ayahnya.
Kalau dia kini meminjamkannya, maka dia harus berhati-hati dan jangan sampai membikin rusak pedang itu.
Ayahnya yang kejam dan galak itu bisa saja membunuhnya kalau sampai dia merusakkannya.
Oleh karena itu, ketika Bu Tiong Sin mengeluarkan suara melengking dan mulai menyerang dengan "Pedang Asmara"
Itu, dia tidak berani menangkis, takut kalau Tung-hai Liong-kiam di tangannya sampai rusak.
See Han yang diserang hebat itu hanya meloncat ke belakang, lalu tubuhnya meliuk ke kiri dan sambil mendoyongkan tubuh, dia menyerang dari bawah samping, menusuk lambung.
Tiong Sin mengelak dengan goyang pinggulnya yang khas lalu menyerang lagi dengan bacokan dari belakang tubuh lawan.
Goyang pinggul itu memang merupakan gerakan khas ilmu silat Pak Ong yang dapat membuat ke dudukan tubuhnya berpindah dengan cepat, terdorong oleh ayunan gerak pinggul yang diikuti langkah kaki.Terjadilah perkelahian yang seru dan mati-matian.
Untung bagi Tiong Sin bahwa agaknya kekejutan ayahnya dan See Mo ketika melihat Pedang Asmara membuat See Han benar-benar menjadi jerih untuk mengadu pedang, takut kalau pedang pusaka ayahnya rusak, maka sampai puluhan jurus, dia tidak pernah mau mengadu ketajaman pedang secara langsung hanya mengadu pinggir saja dan untuk ini, pedang yang berada di tangan Tiong Sin, biarpun hanya Pedang Asmara palsu namun Siang Bwee yang cerdik telah membuatkan pedang itu oleh ahli pedang pandai yang mempergunakan baja cukup baik sehingga diadu pinggirnya seperti itu, biar bertemu pedang pusaka pun tidak akan mudah patah.
Bagaimanapun juga, diam-diam Siang Bwee selalu merasa khawatir kalau sampai pedang di tangan Tiong Sin yang palsu itu kemudian diketahui telah ia tukar, sedangkan pertandingannya bersama San Hong melawan Si Kembar Gu digagalkan karena Tiong Sin sudah saling serang dengan See Han.
Maka ia pun sekali meloncat sudah berada di depan Kui Lan.
"Ji Kui Lan, engkau dan aku sama sama puteri datuk besar. Jangan kaukira dirimu terlalu bagus untuk dapat menikah dengan suhengku. Pinggulmu terlalu besar, bedakmu terlalu tebal dan mulutmu terlalu lebar. Aku tidak suka mempunyai enci ipar seperguruan seperti mu. Hayo maju, kita tentukan siapa di antara kita lebih pantas!"
Kui Lan marah sekali.
"Siang Bwee, mulutmu selalu busuk. Kubunuh kau!"
Bentak Kui Lan dan gadis ini sudah menggerakkan golok tipisnya dengan gerak ganas sekali.
Namun, Siang Bwee yang sudah siap dengan tongkatnya, menangkis sambil menggeser kakinya dan tahu-tahu dari.
samping tongkatnya menyodok k arah buah dada Kui Lan.
"Wuuuttt...ehhh?"
Kui Lan cepat melempar tubuh ke belakang untuk menghindarkan diri dari serangan tiba-tiba itu dan ia terkejut setengah mati.
Ia sama sekali tidak tahu bahwa Siang Bwee telah menguasai Ilmu ajaib Langkah Berlingkar dari Nenek Coa Eng Cun sehingga ketika tadi ia mengelak sambil menangkis, ia telah menggunakan langkah melingkar itu sehingga hampir saja ujung tongkatnya menyentuh buah dada lawan!
"Keparat!"
Kui Lan marah sekali karena Siang Bwee tertawa cekikikan mentertawakannya dan kini Kui Lan memainkan Swat-sin-to (Golok Sakti Salju) yang amat hebat itu.
Karena maklum betapa lihainya golok ini yang sama sekali tidak boleh dipandang ringan, Siang Bwee kembali mengandalkan langkah ajaibnya, bahkan kini mengerahkan gin-kang Menunggang Angin yang dipelajarinya dari Lo Koay sehingga gerakannya selain mengandung langkah aneh, juga ringan dan cepatnya bukan main!
Kembali Kui Lan terkejut dan ia pun mengimbangi kehebatan Siang Bwee dengan tamparan tangan kirinya, yaitu pukulan beracun yang ia pelajari dari Pek-mo Kui-bo.
Siang Bwee mengenal pukulan beracun, akan tetapi ia tidak khawatir.
Ia adalah putera Nam Tok (Racun Selatan), rajanya datuk yang mengenal tentang racun, maka segala macam pukulan beracun dianggapnya seperti main-main saja!
Dan terjadilah perkelahian yang juga mati-matian antara dua orang gadis itu.
Sebetulnya, melihat betapa puteri mereka saling hantam sendiri, baik Pak Ong maupun Nam Tok merasa tak senang karena hal itu berarti melemahkan persekutuan antara mereka untuk menghadapi See Mo dan Tung Kiam.
Akan tetapi karena keduanya sudah mengenal watak puteri masing-masing yang amat keras, maka kalau mereka sudah bertanding seperti itu, sukar dilerai dan mereka hanya dapat menjaga jangan sampai puteri mereka itu terluka parah atau tewas.
Di samping itu sebagai datuk-datuk besar, tentu saja masih tersisa perasaan bangga dan ingin melihat puteri masing-masing keluar sebagai pemenang.
Pertandingan antara Cu See Han dan Bu Hong Sin juga berjalan amat serunya.
Melihat betapa Cu See Han nampak terdesak karena takut beradu pedang, diam diam See Mo yang ingin membantu sekutunya, memberi isyarat kepada sepasang Koay-to Heng-te untuk membantu putera Tung Kiam itu.
Mengertilah Si Kembar Gu bahwa saatnya untuk turun tangan telah tiba, apalagi karena mereka melihat See Mo mengeluarkan anak panah dari pinggangnya, yaitu anak panah api yang akan menjadi tanda bagi orang-orang Mongol untuk bergerak.
Tanpa banyak cakap lagi, Koay-to Heng-te, dua orang murid See Mo, sudah meloncat ke dalam kalangan pertempuran dan menyerang Bu Tiong Sin!
Tentu saja Tiong Sin yang merasa menang karena lawan tidak berani mengadu pedang, terkejut ketika melihat dua orang murid See Mo tiba-tiba menyerangnya dan membantu See Han.
Dia pun cepat mengelebatkan Pedang Asmara untuk menangkis dan membikin patah golok dua orang saudara kembar itu.
"Tranggg.....! Trakkkkk!!"
Bukan dua batang golok di tangan Koay-to Heng-te itu yang patah-patah, melainkan "Pedang Asmara"
Di tangan Tiong Sin yang patah menjadi tiga potong!
Tentu saja pemuda itu terkejut, matanya terbelalak dan pada saat itu, untung baginya bahwa San Hong yang tadi melihat pemuda ini dikeroyok dan tahu bahwa murid Pak Ong merupakan sekutu gurunya, sudah meloncat dekat dan pada saat pedang itu patah dan Tung hai Liong-kiam di tangan Cu See Han menyambar ke arah leher Tiong Sin, San Hong sudah menggunakan Pek-lui-kiam menangkis sambil mengerahkan tenaga sin-kang Perisai Diri dan menggunakan pinggulnya, dengan gaya silat Kuda Setan yang dipelajarinya dari Pak Ong, dia menendang pinggul Cu See Han dengan pinggulnya sendiri, mengakibatkan See Han terlempar seperti ditendang kuda!
Tiong Sin tertolong, namun dia meloncat jauh ke belakang dengan muka pucat sambil memandang gagang pedang nya.
"Pedang Asmara"
Yang tinggal gagang dan rusak! "Ah, Pedang Asmara itu palsu!"
Terdengar Nam Tok berseru.
Siang Bwee yang sedang berkelahi melawan Ji Kui Lan, mendengar seruan ayahnya.
Memang ia sudah menanti saat yang menegangkan itu, maka ia pun cepat meninggalkan Kuil Lan dan sekali meloncat, menggunakan gin-kang Menunggang Angin, tiba-tiba tubuhnya sudah berada di dekat ayahnya!
"Benar tidak kataku, Ayah!
Pedang itu palsu, Ayah telah ditipu!"
Katanya sambil menuding kepada Bu Tiong Sin.
"Tidak! Tidak sama sekali! Pedang Asmaraku aseli, bagaimana sekarang bisa menjadi palsu? Pedang ini dari Jenghis Khan! Tak mungkin palsu dan....."
"Nah, kau dengar, Ayah? Pemuda bosan hidup itu malah menuduh Ayah telah memalsukan pedangnya. Cih, sungguh tak pantas dibiarkan hidup!"
Nam Tok marah sekali. Dia meloncat dan tongkat naga di tangannya bergerak ke arah Tiong Sin.
"Anak setan! Berani kau menipu aku!"
"Takkk!"
Tongkat Naga itu tertangkis oleh golok di tangan Pak Ong.
"Nam Tok, gilakan kau? Kita sekutu, lupakan?"
Tegurnya dan pada saat itu tampak cahaya terang.
Kiranya See Mo sudah melepaskan anak panah berapi ke atas.
Segera terdengar sorak sorai dan dari segala jurusan, datanglah anak panah menyambar-nyambar ke arah Nam Tok, Pak Ong, Tiong Sin, Kui Lan, San Hong, dan Siang Bwee.
Enam orang ini terpaksa memutar senjata mereka dengan cepat untuk melindungi tubuh mereka dari hujan anak panah yang dilepas oleh pasukan Mongol.
Melihat ini, See Mo dan Tung Kiam tertawa bergelak.
"Ha ha-ha, Nam Tok. Ajalmu sudah dekat!"
Teriak See Mo.
"Pak Ong, bersiaplah untuk mampus!"
Tung Kiam juga berseru gembira.
Pak Ong mengeluarkan suara melengking nyaring, suara melengking yang mengandung khi kang yang kuat sekali, dan itulah isyarat baginya untuk para pendekar.
Dan muncullah Hek I Siang mo, dua orang pembantu Nam Tok yang juga memimpin anak buah mereka.
Para pendekar bermunculan dan terjadilah pertempuran hebat.
Pasukan anak panah orang Mongol diserang oleh pasukan pendekar sehingga mereka tidak sempat lagi mempergunakan anak panah.
Terjadilah pertempuran di puncak Kabut Putih di Thai-san itu, antara seratus lebih orang Mongol dan hampir seratus orang pendekar.
Setelah kedua pihak mengetahui bahwa keduanya memang telah siap siaga dengan pasukan masing-masing, maka tahulah mereka apa yang harus mereka lakukan.
Dengan sendirinya, Nam Tok sudah menyerang orang yang paling dibencinya yaitu See Mo.
Sedangkan Pak Ong juga sudah menyerang Tung Kiam.
Terjadilah pertandingan yang amat dahsyat.
Tidak ada orang berani mendekati empat orang datuk besar yang sedang bertanding itu karena dari gerakan senjata mereka, hawa pukulan menyambar-nyambar dengan dahsyatnya, sampai membikin patah dahan pohon, merontokkan daun-daun dan membuat pasir dan tanah berhamburan!
Pertandingan antara mereka itu kini sungguh sama sekali berbeda dengan pertandingan pertandingan yang pernah mereka lakukan selama belasan tahun ini di puncak Kabut Putih itu.
Dahulu, biasa-mereka itu bertanding ilmu hanya dengan satu tujuan, yaitu membuktikan siapa di antara mereka yang paling lihai dan pantas disebut juara atau yang paling pandai.
Mereka tidak ingin saling melukai secara hebat, apalagi saling membunuh.
Akan tetapi saat ini mereka bertanding dengan tujuan saling bunuh!
Nam Tok memang amat benci kepada See Mo yang dianggapnya seorang pengkhianat bangsa, memutar-mutar tongkat naganya dengan hebat.
Terdengar suara angin seperti badai yang merontokkan daun-daun pohon.
Jangankan ujung tongkatnya, baru angin pukulannya saja sudah cukup untuk merobohkan dan membunuh orang!
Karena itu, ketika dia bertanding melawan See Mo, tidak ada seorang pun anak buah kedua pihak berani mendekat.
See Mo juga mengamuk karena dia maklum bahwa sekali ini tidak ada maaf lagi bagi dia dan Nam Tok.
Mereka harus saling bunuh kalau mau selamat.
Se thian Mo-ong Kok Bong Ek juga seorang datuk besar yang amat lihai.
Tingkat kepandaiannya sudah mencapai puncak.
Senjata ruyung di tangan kanannya menyambar-nyambar seperti halilintar, sedangkan huncwe maut di tangan kirinja tidak kalah berbahayanya.
Api dari huncwe itu pun menyambar-nyambar merupakan bunga-bunga api yang menyerang ke arah mata dan bagian muka lawan untuk mengacaukan pertahanan lawan.
Biarpun tubuhnya pendek dan perutnya gendut namun See Mo dapat mengimbangi kecepatan gerakan lawan dan setiap kali ruyung bertemu tongkat, terasa getaran oleh para anggauta pasukan yang saling serang.
Perkelahian antara Pak Ong dan Tung Kiam juga sama hebatnya.
Memang kedua orang ini pun merupakan dua di antara empat datuk besar dan tingkat kepandaian mereka pun seimbang dengan tingkat kepandaian Nam Tok maupun See I Mo.
Pak Ong Ji Hiat yang tinggi kurus itu memiliki sin-kang yang mengandung hawa dingin sekali sehingga terasa oleh mereka yang tidak begitu jauh dari tempat pertempuran itu.
Gerakannya lucu dan aneh karena pinggulnya tak pernah berhenti bergerak, seperti pinggul kuda jantan dalam berahi.
Namun justeru dari gerakan pinggul inilah datangnya tenaga sin-kang yang amat hebat dari Raja Utara itu!
Kekuatan yang keluar dari bawah pusar agaknya sebelum berpencar, terlebih dahulu berpusat di pinggul, membuat pinggul itu bergoyang-goyang, namun keseluruhan pinggul itu berubah amat kuat, kebal dan juga mengeluarkan tenaga yang amat dahsyat.
Di samping itu, juga gerakan goloknya yang mengandung hawa amat dingin bisa berbahaya sekali bagi Tung Kiam.
Namun Pedang Timur ini memang amat lihai dalam bermain pedang.
Pedangnya berubah menjadi gulungan sinar yang kemilauan merupakan benteng sinar yang sukar ditembus, sedangkan dari dalam gulungsn sinar itu kadang mencuat halilintar menyambar yang amat dahsyatnya.
Sukarlah untuk mengatakan siapa antara empat orang datuk besar itu yang akan kalah atau menang.
Agaknya, sebelum ada yang kalah, yang menang harus lebih dahulu menghabiskan tenaganya dan tentu akan makan waktu yang lama sekali.
Dan bukan tidak mungkin kalau akibatnya mereka berempat akan roboh terluka semua, atau setidaknya kehabisan tenaga, atau terluka dalam.
Sementara itu, pertempuran antara pasukan Mongol melawan para pendekar juga terjadi dengan serunya.
Akan tetapi tiba-tiba saja terdengar bunyi ledakan ledakan keras dan di sekeliling puncak itu nampak asap mengepul tebal, kemudian terdengar terompet dan tambur, di susul derap kaki banyak orang.
Semua orang, termasuk empat orang datuk terkejut bukan main karena mereka adalah orangorang yang berpengalaman.
Mereka tahu bahwa pada saat itu, ada pasukan yang amat besar mengepung tempat itu.
tentu ada ribuan orang yang telah mengepung tempat itu dan mereka itu bahkan memiliki alat-alat peledak yang tentu saja amat berbahaya!
Sebetulnya, Siang Bwee sudah mulai mendesak Kui Lan dengan kecepatan gerakannya, sedangkan San Hong yang tadi membantu Tiong Sin juga sudah menahan gerakan Koay-to Heng-te, Cu See Han dan Kok Kongcu yang ikut mengeroyoknya.
Akan tetapi kini mereka semua juga berlompatan ke belakang dan terbelalak memandang ke sekeliling, seperti juga empat orang datuk besar yang otomatis menghentikan perkelahian mereka.
Bahkan pasukan Mongol dan para pendekar yang tadinya bertempur kini juga berhenti dan memandang kebingungan, tidak tahu apa yang akan terjadi.
Tiba-tiba terdengar suara terompet dan muncullah pasukan pengawal berkuda yang amat gagah dan berwibawa.
Pasukan itu dikawal oleh masing-masing tiga puluh orang di kanan dan tiga puluh orang di kiri, kesemuanya siap dengan busur dan anak panah, kemudian di belakang masih ada puluhan orang pengawal yang siap melemparkan alat peled Sungguh keadaan mereka itu amat berwibawa dan di sekitar tempat itu telah dikepung oleh ratusan, mungkin juga seribuan orang perajurit yang bersenjata lengkap.
Perajurit Mongol!
Ketika Siang Bwee dan San Hong melihat siapa panglima berkuda yang memimpin pasukan itu, mereka terkejut dan girang, dan Siang Bwee yang khawatir bahwa ayahnya akan melawan mati-matian dengan nekat kepada pasukan Mongol itu segera mendekati ayahnya.
"Ayah, panglimanya adalah Yeliu Ciangkun yang sudah kukenal baik!"
Bisiknya. Nam Tok tersenyum dingin. Dia mengenal Yeliu Cutay. Dia maklum bahwa melawan pun berarti mati konyol, hanya menyesal bahwa puterinya terkepung, akan tetapi dia sendiri tidak takut.
"Haiii, Pak Ong. Agaknya dua ekor anjing dari barat dan timur itu sekali memang berhasil menjadi anjing penjilat yang teramat baik. Kita telah terjebak?"
Pak Ong juga maklum bahwa mereka ia telah terkepung oleh pasukan Mongol yang amat kuat dan tak mungkin melawan pasukan yang ribuan jumlahnya dan bersenjata lengkap itu.
Akan tetapi sejak tadi dia memperhatikan sikap See Mo dan Tung Kiam dan diam-diam dia merasa heran karena dua orang lawan itu pun agaknya tidak bergembira, bahkan terheran dan terkejut.
Bahkan perwira Mongol yang memimpin pasukan Mongol juga sudah menjatuhkan diri berlutut menghadap panglima Mongol yang datang dan mereka kelihatan ketakutan dan kebingungan.
Kini para panglima yang menunggang kuda sudah datang semakin dekat.
Kiranya ada tiga orang panglima.
Yang tengah, berusia kurang lebih lima puluh tahun dan bersikap tenang sekali adalah Yeliu Cutay.
Dua orang panglima bangsa Mongol yang bertubuh tinggi tegap berusia tiga puluhan tahun adalah jagoan-jagoan Mongol yang terkenal.
Yang seorang adalah Tuli, putera Temucin sendiri, yang ke dua bernama Yebilai, seorang panglima yang berjasa besar.
Seorang juru bicara yang menggunakan corong berteriak.
"Semua orang yang bertempur di puncak Kabut Putih, diperintahkan untuk menyerah dan menjadi tawanan kami untuk diadili!"
Sebelum ada yang membantah, terdengar lagi teriakan lebih lantang.
"Atas nama Jenghis Khan yang besar, diminta agar semua mentaati perintah!"
Mendengar ini, See Mo dan Tung Kiam saling pandang dan mereka berdua merasa penasaran sekali. See Mo mengenal dua orang panglima Mongol itu, maka dia pun cepat berkata dengan suara lantang.
"Ji-wi Ciangkun (Kedua Panglima) apakah lupa kepada kami? Saya adalah See-thian Mo-ong Kok Bong Ek yang bersama Tung-hai Kiam-ong Cu Sek Lam telah membantu Mongol dan kami sedang berusaha menangkap segerombolan pemberontak ini!"
Akan tetapi, dua orang panglima itu tidak menjawab melainkan memandang kepada Yeliu Cutay dan panglima bangsa Kim inilah yang menjawab dengan suara yang jelas.
"See-thlan Mo-ong dan Tung-hai Kiam-ong sama sekali tidak membantu pasukan Mongol, melainkan bahkan mempergunakan kekuatan pasukan Mongol demi kepentingan sendiri. Kami sudah tahu bahwa Empat Datuk Besar mengadu kekuatan di sini dan kalian hanya mempergunakan pasukan Mongol untuk mencari kemenangan. Khan Yang Mulia marah sekali dan memerintahkan agar kalian semua menghadap. Beliau yang akan memberi keputusan nanti!"
Suasana menjadi mencekam dan menegangkan sekali.
Empat orang datuk besar itu adalah orang-orang luar biasa.
Biarpun dikepung ribuan tentara Mongol, kalau mereka itu bersama para murid mereka mengamuk, tentu akan ada ratusan orang anggauta pasukan Mongol yang akan tewas!
Siang Bwee yang menyadari watak ayahnya yang sama sekali tidak sudi tunduk kepada Orang .
Mongol, cepat memegang tangan ayahnya.
"Ayah tentu masih ingat kepada Panglima Yeliu Cutay itu. Dia seorang yang bijaksana dan kalau sampai dia melakukan ini, sudah pasti ada sesuatu yang amat penting tersembunyi di baliknya. Kalau keadaan tidak baik untuk kita, nanti pun belum terlambat bagi kita untuk melawan, Ayah!"
Nam Tok mengangguk.
Dia pun tahu bahwa melawan secara konyol begitu amat bodoh.
Dan asal Raja Mongol tidak menuntut sesuatu yang menghina, usulnya boleh juga didengarkan.
Apalagi dia pun sudah mendengar bahwa Jenghis Khan sama sekali tidak boleh disamakan dengan segala macan raja kecil seperti raja Kerajaan Cin (Kim) yang pengecut itu.
Sementara itu, Pak Ong yang melihai sikap Nam Tok, juga mengerutkan alisnya Dia sendiri seorang yang membenci penjajah Mongol, akan tetapi juga maklumi bahwa dia tidak mungkin dapat melawan pasukan sebesar itu.
"Kami berempat adalah Empat Datuk Besar dunia persilatan yang sesungguhnya tidak mempunyai urusan apa pun dengan Jenghis Khan!"
Katanya lantang dan berani sehingga mengagumkan hati Nam Tok.
"Kami berempat mengadakan pertemuan di sini untuk mengadu kepandaian, adalah Tung Kiam dan See Mo yang diam-diam bersekutu dengan pasukan Mongol untuk menjebak kami berdua, Nam Tok dan Pak Ong! Kami tidak mencampuri urusan perang, dan harap agar para pimpinan Mongol tidak pula mencampuri urusan para datuk besar dunia persilatan!"
"Bagus!"
Demikian Nam Tok berseru dengan girang.
"Itulah baru suara seorang gagah! Pak Ong, aku semakin kagum padamu dan tidak kecewa menjadi sahabat baikmu!"
Kini Panglima Yeliu Cutay mengajukan kudanya.
Melihat panglima ini, sejak tadi Bu Tiong Sin sudah terkejut dan ketakutan, dan dia sudah mencoba untuk menyembunyikan dirinya, akan tetapi pandang mata Yeliu Cutay amat tajam dan selain itu, memang sebelumnya para penyehdiknya sudah melaporkan siapa siapa saja yang mengadakan pertempuran dan pertandingan di puncak itu.
"Empat orang Lo-cian-pwe harap jangan. salah sangka atau salah terima. Ketahuilah bahwa Khan kami yang mulia amat menghargai orang-orang pandai. Apalagi kami mengetahui bahwa Cu wi (anda sekalian) bukan orang peperangan. Adanya kami mencampuri urusan pertemuan puncak antara empat Lo-cian pwe, adalah karena tiga hal. Harap para Lo-cian-pwe suka mempertimbangkan dan suka memenuhi undangan kami dengan damai dan baik."
Tung Kiam dan See Mo memang mengharapkan kerja sama dengan pihak Mongol, maka tentu saja mereka diam saja. Akan tetapi Pak Ong dan Nam Tok yang masih mengambil sikap "jual mahal".
"Ha-ha-ha!"
Nam Tok tertawa bergelak, suara ketawanya yang penuh dengan tenaga khi-kang itu bergema di seluruh permukaan puncak itu.
"Kami hanyalah orang-orang tua bangsa Han yang bodoh! Ada tiga urusan apakah maka Jenghis Khan yang besar dan sedang cemerlang bintangnya itu mengundang kami?"
Yeliu Cutay memberi hormat kepada Nam Tok.
"Saya sendiri mengenal Ang Locianpwe sebagai seorang tua yang sakti dan gagah perkasa. Kalau memang tidak ada kepantasan dalam undangan ini, mana saya berani menjadi utusan menyampaikannya kepada Cu-wi? Percayalah, saya, Yeliu Cutay, juga orang yang dapat menghargai kegagahan!"
"Yeliu Cutay, tidak perlu menggunakan bahasa madu yang hanya manis saja! Siapa tidak tahu bahwa engkau adalah seorang panglima besar yang amat berkuasa dan setia kepada Kerajaan Kim? Akan tetapi apa yang kulihat sekarang? Engkau menjadi panglima kepercayaan Jenghis Khan. Kesetiaan macam apa ini?"
Nam Tok yang berwatak gagah dan jujur itu menyerang secara terbuka begitu saja sehingga puterinya menggeleng kepala dan diam-diam menyalahkan ayahnya sebagai seorang yang kasar dan ceroboh!
Akan tetapi Yeliu Cutay tersenyum dan menjura dari atas kudanya.
"Apa yang diucapkan Nam-san Tok-ong Ang Leng Ki memang tidak salah dan sepintas lalu memang Yeliu Cutay dapat dianggap sebagai seorang pengkhianat, pengecut atau seperti seekor ular berkepala dua. Akan tetapi dengarlah baik-baik, Locian pwe. Engkau sendiri pernah berada di Istana Kim dan menjadi pengawal besar yang dipercaya. Akan tetapi, apa yang Lo-cian-pwe lihat? Kepengecutan kaisar dan keluarganya. Mereka hanya pandai bersenang-senang, menindas rakyat, sama sekali tidak peduli akan ancaman pasukan Mongol. Bahkan akhirnya kaisar dan keluarganya melarikan diri sebelum pasukan Mongol tiba di kota raja sehingga Locian-pwe sendiri menjadi muak dan pergi meninggalkan kota raja. Dan ketika pasukan Mongol menyerbu, Lo-cian-pwe kira siapa yang mempertahankan Istana mati-matian? Tidak lain hanya perwira dan pasukan yang setia, termasuk aku. Ya, aku Yeliu Cutay ikut mempertahankan kota raja sampai akhirnya kami kalah dan menjadi tawanan!"
"Dan engkau takluk, lalu menjadi anjing penjilat musuh, ya?"
Pak Ong yang juga berjiwa patriot itu mengejek.
"Pak Ong Ji Hiat lo-cian-pwe tidak tahu urusan, harap jangan menuduh yang bukan-bukan."
Kata Yeliu Cutay dengan sabar.
"Di sini terdapat panglima Jebilai kepercayaan yang mulia Jenghis Khan, dan juga Pangeran Tuli, putera beliau, maka tidak mungkin aku berbohong. Ketahuilah bahwa dahulu, ketika Jenghis Khan masih menjadi pemuda Temucin di Mongol sana, sedang mulai membina kekuatan, kami pernah berkenalan bahkan bersahabat karib. Ketika aku ditangkap, Jenghis Khan mengenalku, maka dia membebaskan aku dan mengingat akan hubungan kami yang lama, mengingat pula akan cita-citanya yang besar untuk membebaskan rakyatku dari kesengsaraan, maka aku menerima penawarannya dan membantunya.!"
"Heh-heh-heh, alasan saja itu!"
Kini Tung Kiam tidak tahan untuk tidak mengejek.
"Katakan saja engkau silau akan kedudukan dan harta kemuliaan, ha-ha-ha!"
"Tung-hal Kiam-ong Cu Sek Lam, aku tahu siapa engkau, maka tidak perlu banyak fitnah! Para Lo-cian pwe, ketahuilah bahwa Jenghis Khan adalah seorang pemimpin perang yang hebat. Pihak musuh yang dikalahkan, tentu akan dilanda malapetaka dan selain kotanya diratakan dengan bumi, juga seluruh penduduknya akan dibunuh! Ini penting untuk siasat perang dari padang pasir di Mongol! Akan tetapi, beliau telah mendengar nasihatku dan tidak membunuhi semua orang. Karena itulah maka aku suka membantunya. Mongol akan menjadi suatu kerajaan yang jaya dan besar yang belum pernah ada sepanjang sejarah !"
"Sudahlah, hanya itu alasanmu mengundang kami?"
Nam Tok berkata, diam diam dia melihat kebenaran dalam semua ucapan panglima itu.
"Begini, Lo-cian-pwe. Pertama, Yan Mulia Jenghis Khan selalu menghargai orang gagah karena itu beliau mencegah terjadinya pertentangan di puncak ini dan mengundang Locian-pwe berempat untuk berunding. Ke dua, syukur kalau para Lo-an-pwe suka membantunya, andaikata tidak pun, beliau tidak akan mengganggu kehidupan para tokoh dunia persilatan tidak pula mencampuri peperangan. Dan ke tiga adalah mengenai manusia jahanam, murid murtad dan jahat yang bernama Bu Tiong Sin ini!"
Berkata demikian Yeliu Cutay menudingkan telunjuknya ke arah Tong Sin yang menjadi pucat wajahnya.
Kui Lan meloncat ke dekat suhengnya.
biarpun ia tidak mencinta suheng ini, lebih kagum kepada San Hong, namun suhengnya ini juga menjadi kekasihnya dan menjadi orang yang dekat dengan ia dan ayahnya, maka tentu saja ia marah mendengar suhengnya dimaki jahanam, murtad dan jahat oleh panglima itu.
"Dia ini adalah suhengku, murid ayahku. Bagaimana engkau berani menghinamu seperti itu tanpa alasan, Panglima? Kalau engkau hendak mengundang kami sebagai sahabat, pantaskah engkau menghina suhengku ini?"
"Apa yang dikatakan puteriku benar, Yeliu Ciangkun? Bu Tiong Sin adalah murid kami, tidak boleh dihina begitu saja oleh siapapun juga tanpa alasan!."
Pak Ong juga membentak dan dia mengepal tinju, mukanya menjadi merah sehingga para pengawal yang menjaga keselamatan Panglima Yeliu kini bersikap waspada untuk menjaga dan melindungi keselamatan atasan mereka.
Ang Siang Bwee mengeluarkan suara ketawa merdu.
"Aih, Enci Kui Lan yang genit dan Paman Pak Ong yang jujur, apakah kalian kira bahwa kalian berdua sudah terlalu cerdik sehingga tidak dapat diakali dan ditipu oleh seorang berwatak seperti srigala. Kalian ayah dan anak telah dipermainkan orang, ditipu dan disiasati, namun bukannya sadar malah membela si penipu mati-matian. Hi-hi-hik, Ini namanya lucu yang tidak lucu!"
"Siang Bwee, diam kau! Bukan urusanmu!"
Bentak ayahnya.
"Ang Lo-cian-pwe, maafkan kami. Memang urusan ini ada pula sangkut pautnya dengan pendekar Kwee San Hong dan nona Ang Siang Bwee karena saya pernah mohon pertolongan mereka untuk mencari jahanam Bu Tiong Sin itu. Sekarang para Lo-cian-pwe dengarlah. Orang yang bernama Bu Tiong Sin ini dahulunya adalah Yeliu Tiong Sin, anak angkatku yang kudidik sejak dia masih kecil sekali sampai dewasa, kusayang sebagai anak dan juga sebagai murid. Akan tetapi manusia durhaka ini akhirnya bahkan memusuhiku, mencuri Pedang Asmara dariku dan minggat!"
Mendengar ini, semua mata kini ditujukan kepada Bu Tiong Sin yang menjadi panik.
"Dia bohong! Dia menipuku! Kalian, semua tahu bahwa Pedang Asmara itu hanya pedang palsu belaka!"
Dia membela diri.
"Anak dan murid durhaka! Pedang pusaka itu kuterima dari Jenghis Khan sendiri, mana mungkin palsu!"
Bentak Panglima Yeliu Cutay marah.
"Aih, sudah pasti dia sendiri yang memalsukannya dan menyembunyikan yang aseli. Ayah, dia malah berani menipumu, memberimu pedang palsu!"
Siang Bwee berseru dan tentu saja Nam Tok memandang kepada Tiong Sin dengan mata melotot.
Pada saat itu terdengar bunyi genderang dan terompet dan para panglima Mongol itu cepat berloncatan turun dari kuda lalu memberi hormat ke arah utara, ke arah datangnya suara genderang dan suling.
Kemudian Yeliu Cutay berkata dengan suara lantang.
"Yang Mulia Jenghis Khan berkenan datang dan sudah siap untuk menerima empat datuk besar bersama para murid dan puteranya!"
Empat orang datuk besar itu saling pandang.
Para pendekar yang tadi merupakan pasukan yang diundang Pak Ong, kini sudah terkepung dan mereka pun tidak mungkin dapat melawan lagi.
Maka, empat orang datuk besar itu bersama murid dan putera mereka, tidak mempunyai pilihan lain kecuali melangkah maju setelah dipersilakan oleh Panglima Yeliu Cutay dan dua orang panglima Mongol lainnya.
Dengan sikap gagah, empat orang datuk besar itu, diikuti murid dan anak masing-masing, melangkah maju memasuki hutan dari mana terdengar terompet dan genderang itu.
Setelah tiba di tengah hutan, mereka kagum bukan main.
Dalam waktu yang amat singkat, entah bagaimana membuatnya, di situ telah dibangun perkemahan yang besar dan megah.
Dan penjagaan amat ketat dan rapi seolah hutan itu dikepung oleh ribuan orang perajurit yang semua dalam keadaan siap.
Melihat semua ini, bahkan Nam Tok sendiri merasa dirinya kecil.
Dia boleh jadi menjadi seorang datuk besar yang ditakuti ratusan orang, bahkan dia akan mampu menggilas habis puluhan orang pengeroyok atau musuhnya.
Akan tetapi apa artinya dibandingkan kebesaran seorang Jenghis Khan yang mampu mempersatukan seluruh suku bangsa Mongol yang merupakan bangsa yang keras dan kasar bahkan sebut biadab itu, menjadi kesatuan balatentara yang maha besar dan yang kini telah menundukkan Kerajaan Kim?
Tenda itu besar sekali dan luas.
Nam Tok maju lebih dulu diikuti Kwee San Hong dan Ang Siang Bwee, sedangkan Hek I Siang-mo yang tahu diri itu tinggal di luar kemah bersama para pendekar yang tadi melawan pasukan Mongol.
Setelah Nam Tok, masuk pula Pak Ong yang diikuti oleh Ji Kui Lan dan Bu Tiong Sin.
Kemudian See Mo diikuti Kok Tay Ki yang sekali ini tidak berani berlagak sombong lagi.
Koay-to Heng-te juga tidak diperbolehkan masuk, menanti di luar perkemahan.
Paling akhir Tung Kiam yang biasanya selalu bersikap tinggi hati itu, kini masih berusaha membusungkan dada, namun tetap saja langkahnya satu-satu dan jantungnya berdebar ketika dia melihat keangkeran yang terkandung di dalam perkemahan itu.
Empat orang datuk besar bersama murid dan anak mereka itu berdiri berjajar, menghadap Jenghis Khan yang duduk di atas kursi besar.
Raja besar itu memang hebat sekali, memiliki pribadi yang kuat, dengan wibawa yang besar memancar keluar dari sepasang matanya yang seperti mata burung rajawali, dari mulutnya selalu dihias senyum aneh yang sukar diartikan, penuh rahasia.
Dengan matanya yang seperti mata rajawali itu.
Jenghis Khan memandang kepada empat orang datuk itu.
Dia belum pernah jumpa dengan mereka.
Walaupun See Mo dan Tung Kiam telah menyatakan diri membantunya, namun belum pernah dia menerima mereka, hanya mewakilkannya kepada para panglima atau puteranya untuk mengadakan perundingan.
Akan tetapi, baik See Mo maupun Tung Kiam sungguh terlalu memandang rendah Jenghis Khan kalau mereka itu merasa akan mampu mempergunakan atau memanfaatkan seorang manusia besar macam Jenghis Khan.
Tadinya dua orang datuk ini memang hanya berpura-pura saja membantu orang Mongol.
Padahal, mereka adalah datuk-datuk yang tidak menginginkan kedudukan atau harta benda karena kedua hal itu akan dapat mereka peroleh dengan mudah.
Mereka mendekati orang Mongol untuk memanfaatkan pasukan itu guna kepentingan diri sendiri, yaitu untuk menjebak dan membinasakan dua orang musuh lama mereka yang menjadi saingan, yaitu Nam Tok dan Pak Ong.
Siapa kira, para mata-mata Jenghis Khan sudah tahu akan hal ini.
Apalagi di situ sudah ada Panglima Yeliu Cutay yang lebih mengenal sifat empat orang datuk besar itu.
Maka, pertempuran di puncak Kabut Putih itu dapat dihentikan oleh pasukan besar dan semua orang digiring menghadap Jenghis Khan untuk diadili!
Setelah memandang keempat orang datuk besar itu tanpa banyak memperhatikan orang-orang muda yang mengikuti mereka.
Jenghis Khan tersenyum lebar melihat mereka itu tidak berlutut, melainkan berdiri tegak dengan sikap yang agung seperti empat orang raja berhadapan dengan seorang raja lain!
Dia tidak menjadi marah.
Jenghis Khan memang pandai sekali menghadapi orang-orang gagah dan dia suka melihat sikap gagah, sebaliknya amat membenci sikap penjilat dan pengecut.
"Ha-ha-ha, sungguh tidak kosong nama besar Empat Datuk Besar yang. disebut Nam Tok, Pak Ong, See Mo, dan Tung Kiam. Sayang baru sekarang kami saling bertemu dengan kalian dan sempat mengagumi kegagahan kalian dan sayang pula bahwa kami tidak tahu mana yang Nam Tok mana yang Pak Ong"
Disebutnya dua nama ini agaknya sudah menunjukkan bahwa Jenghis Khan lebih tertarik kepada dua orang datuk besar yang kabarnya sama sekali tidak sudi tunduk kepadanya itu!
Nam Tok segera mengangkat kedua tangan di depan dada untuk memberi hormat, mengamati tajam wajah raja besar itu lalu berkata.
"Saya adalah Nam san Tok-ong Ang Leng Ki dan sudah puluhan tahun saya dikenal dengan sebutan Nam Tok. Akan tetapi, hari ini saya berhadapan dengan Paduka, sungguh terus terang saja saya merasa betapa nama saya itu terlalu berlebihan dan betapa tidak ada artinya dibandingkan dengan kebesaran Yang Mulia Jenghis Khan!"
"Ha-ha-ha, kami mendengar bahwa Nam Tok seorang besar yang tidak suka merendah kepada siapapun juga! Apa alasannya sekarang memuji-muji kami?"
Tanya Jenghis Khan, bukan dengan suara mengejek, melainkan dengan sungguh sungguh.
"Sribagmda, terus terang saja saya bukan seorang penjilat yang suka memuji orang. Akan tetapi, melihat betapa Paduka, dari suku bangsa yang kecil di utara, miskin dan papa, hidup berkeliaran tak tentu tempat tinggalnya, lemah dan selalu ditekan oleh para suku lain, kini Paduka mampu mempersatukan semua suku bangsa liar di utara, membentuk pasukan besar yang telah mengalahkan Kerajaan Kim yang tidak becus. Sungguh itu merupakan suatu pekerjaan yang saya Nam Tok tidak sanggup mengerjakannya. Terlalu besar untuk saya! Menjadi datuk persilatan hanya bermodalkan ilmu silat yang mudah dipelajari. Akan tetapi untuk menjadi pemimpin besar, agaknya memang harus dilahirkan secara knusus dan dipilih oleh Bumi dan Langit!"
Kata Nam Tok. Kembali Jenghis Khan tertawa bergelak.
"Ucapan Nam Tok terlalu mengangkat tinggi. Apa sih sukarnya menjadi pemimpin yang menang perang? Menangkan peperangan itu hanya pandai saja, setiap orang pun mampu kalau memang bersemangat. Akan tetapi menaklukkan hati rakyat agar mencinta rajanya, itulah baru bijaksana namanya dan aku hanya mengharapkan bantuan para penasihat ku agar dapat memperoleh kebijaksanaan itu."
"Khan Yang Besar!"
Tiba-tiba See Mo berkata.
"Hamba See-thian Mo-ong Kok Bong Ek sejak permulaan sudah siap membantu Mongol dan hari ini dengan bantuan pasukan Mongol dan rekan hamba Tung Kiam, hamba telah menyerang para pemberontak Han ini. Akan tetapi mengapa Paduka menghentikan penyerangan hamba?"
Jenghis Khan mengerutkan alisnya memandang kepada See Mo.
"Hemmm, jadi engkau yang bernama See-thian Mo-ong Kok Bong Ek? Dan mana yang bernama Tung-hai Kiam-ong Cu Sek Lam?"
"Hambalah orangnya!"
Kata Tung Kiam cepat.
"Kalau begitu, tentu engkau yang berjuluk Pak Ong!"
Kata Jenghis Khan kepada Pak Ong. Pak Ong memberi hormat seperti yang dilakukan Nam Tok tadi, dengan sikap angkuh.
"Saya Pak Ong Ji Hiat, seorang Han yang biarpun tidak ikut berperang, namun tidak akan membantu pasukan Mongol untuk menyerang ke selatan. Terserah penilaian Sribaginda!"
Kembali Jenghis Khan tersenyum dan tidak marah.
"Kalian memang mengagumkan sekali. Belum pernah selama hidupku aku bertemu dengan orang-orang tua gagah seperti kalian. Mari silakan duduk"
Dia memberi isyarat kepada para pengawalnya untuk menyediakan kursi bagi semua tamu.
Nam Tok duduk diapit San Hong dan Siang Bwee, Pak Ong duduk diapit Kui Lan dan Tiong Sin, See Mo duduk bersama Kok Tay Ki dan Tung Kiam bersama Cu See Han.
Di depan mereka terdapat meja kecil panjang dan Jenghis Khan lalu memberi perintah kepada para pelayan untuk menghidangkan arak.
Setelah semua orang disuguhi arak dan dipersilakan minum, Jenghis Khan lalu bertanya kepada mereka semua.
"Tentu kalian berempat sudah mendengar dari Panglima Yeliu mengapa kalian kami undang menghadap?"
"Kami sudah mendengar dari Panglima Yeliu Cutay,"
Kata Nam Tok yang tidak ingin urusan yang dihadapinya diwakil bicara olen datuk lain.
"Yang pertama, saya menghaturkan terima kasih atas undangan ini dan saya pun merasa terhormat dapat bertemu dan berkenalan dengan Paduka. Yang ke dua, maafkan saya. Saya tidak dapat membantu Paduka karena saya tidak tertarik akan kedudukan. Apalagi kalau untuk itu saya harus menjadi seorang pengkhianat dan saya menolak kalau ditawari kerja sama dengan pasukan Paduka. Dan ke tiga urusan Pedang Asmara, saya masih belum mengerti duduknya perkara dan terserah kepada Panglima Yeliu Cutay!"
Jenghis Khan mengangguk-angguk.
Banyak di antara para panglima Mongol yang mengerutkan alisnya dan memandang marah karena tentu saja jawaban itu saja sudah membuat Nam Tok nampak sebagai musuh dalam pandangan mata mereka.
Agaknya Jenghis Khan tahu akan hal ini.
"Para panglima dan pembantuku. Hari ini kalian buka telinga dan mata baik-baik dan akan menerima banyak contoh dan pelajaran dari sikap manusia-manusia yang unggul dan benar-benar pantas disebut orang-orang gagah. Bagaimana dengan engkau, Pak Ong? Bagaimana jawabmu tentang tiga hal yang sudah kami kemukakan itu?"
Pak Ong mengerutkan alisnya.
Sebetulnya, dialah yang paling membenci orang Mongol karena dia merupakan orang pertama yang melihat akibat gerakan pasukan Mongol dari utara.
Akan tetapi dia harus mengakui bahwa diam-diam dia pun merasa kagum kepada pemimpin besar bangsa Mongol ini.
Bukti betapa ibu kota Yen-pin dari Kerajaan Kim sudah roboh saja sudah menunjukkan bahwa pemimpin besar ini memang hebat sekali!
Dan melihat keadaan Kerajaan Sung di selatan yang kabarnya juga brengsek, para pembesar hanya mementingkan kepadatan kantung sendiri, kemakmuran keluarga sendiri tanpa mempedulikan rakyat, maka bukan hal yang tidak mungkin kalau kelak pemimpin Mongol yang hebat ini akan mampu pula meruntuhkan Kerajaan!
Sung"
"Saya sependapat dengan Nam Tok rnengenai hal pertama dan ke dua. Saya merasa terhormat dapat bertemu dan berkenalan dengan Paduka, dan saya pun tidak mungkin dapat membantu Paduka, tidak mungkin mengkhianati bangsa saya sendiri dengan menjadi pembesar. Adapun hal ke tiga mengenai Pedang Asmara! setahu saya, murid saya Bu Tiong Sin adalah seorang pendekar yang berjuang melawan bangsa Kim dia tidak mau tunduk kepada bangsa Kim karena dia pendekar berdarah Han, dan mengenai Pedang Asmara saya tidak tahu jelas mengapa kini tiba-tiba menjadi palsu dan patah...."
Jenghis Khan mengangguk-angguk dan ketika dia melihat Bu Tiong Sin hendak bicara, dia mengangkat tangan mencegah, lalu menoleh pada See Mo.
"Sekarang, setelah mendengarkan pendapat yang jujur dari Nam Tok dan Pak Ong kami ingin mendengar pendapat See-thian Mo ong Kok Bong Ek."
See Mo bangkit berdiri dan memberi hormat kepada raja besar itu.
Dia tidak merasa canggung atau malu, karena memang di dalam hatinya dia berpihak kepada Jenghis Khan.
Dia sendiri mempunyai darah campuran dari suku Uigur/Mongol dan Han.
"Khan Yang Mulia, perlukah Paduka bertanya lagi kepada hamba. Sejak semula hamba memang siap membantu Mongol untuk menghancurkan Kim dan juga Sung. Hamba ingin menyumbangkan tenaga dan kemampuan hamba, kalau perlu melatih semua jagoan dan panglima Paduka! Adapun mengenai Pedang Asmara, hamba sendiri tidak tahu dan terserah kepada Paduka."
Dia pun duduk kembali setelah memberi hormat. Jenghis Khan mengangguk-angguk, lalu menoleh kepada Tung Kiam.
"Dan bagaimana dengan orang gagah dari timur?"
Tung Kiam juga bangkit dan memberi hormat.
"Hamba telah dihubungi See Mo dan hamba juga siap membantu Paduka dengan kepandaian hamba. Ketika See Mo dan hamba mengadakan pertandingan di puncak Kabut Putih, mempergunakan pasukan Mongol, semua itu untuk menghancurkan orang-orang Han yang tidak tunduk."
Jenghis Khan tertawa sambil mengelus jenggotnya, sepasang matanya yang mencorong tajam itu berkilat-kilat.
Dia melihat keuntungan besar berjumpa dengan empat orang datuk besar yang amat lihai itu.
Yang dua orang, biarpun tidak mau membantunya, namun juga menghormatinya dan kejujuran mereka mengagumkan hatinya.
Adapun yang dua orang lagi, di depan semua orang, telah menyatakan hendak membantunya.
Dengan pembantu pembantu selihai See Mo, dan Tung Kiam tentu akan memperkuat kedudukannya terutama sekali memperkuat pasukan penyelidik yang disebarnya ke selatan.
"Baiklah, dengan resmi kami menerima See Mo dan Tung Kiam bersama anak anak dan murid-murid mereka, untuk bekerja membantu kami. Nah, kalian boleh pergi dulu mengikuti Panglim Hassou yang akan menjelaskan tugas apa yang harus kalian lakukan,"
Kata Jenghis Khan dengan nada memerintah kepada See Mo dan Tung Kiam.
Panglima Hassou adalah seorang di antara panglima yang tadinya berasal dari pasukan Tai-jut yang memusuhi Jenghis Khan, akan tetapi kemudian menakluk, bahkan menjadi bawahan yang amat setia.
Hassou ini diangkat menjadi kepala dari pasukan penyelidik dan dia memang sudah mendapat perintah untuk memberi tugas kepada See Mo dan Tung Kiam.
Panglima Hassou melangkah maju, memberi hormat kepada Jenghis Khan, lalu menghampiri See Mo dan Tung Kiam.
Akan tetapi pada saat itu, Siang Bwee sudah memberi hormat kepada Jenghis Khan dan berkata.
"Mohon maaf, Sribaginda Khan yang besar? Sebelum See Mo dan Tung Kiam pergi, saya ingin bicare kepada Paduka mengenai hal yang penting, yang melibatkan semua pihak."
Nam Tok sendiri sampai terkejut melihat keberanian puterinya itu.
Akan tetapi karena Siang Bwee sudah bicara, dia pun hanya memandang dan hatinya merasa lega ketika dia melihat Jenghis Khan tertawa setelah memandang kepada Siang Bwee.
"Nona ini masih muda namun sudah amat cantik dan gagah. Apakah engkau puteri Nam Tok?"
Tanya Jenghis Khan melihat betapa gadis itu tadi duduk di sebelah Nam Tok dan kini gadis itu berdiri tegak dengan sikap gagah dan tabah.
Belum pernah Jenghis Khan melihat seorang gadis muda bersikap sedemikian beraninya di depannya!
Bahkan pria yang gagah pun akan surut dan gemetar kalau berhadapan dengan dia.
Akan tetapi gadis ini demikian berani!
"Benar, Sribaginda.
Saya bernama Ang Siang Bwee, puteri dari ayah saya Nam-san Tok-ong Ang Leng Ki.
Bolehkah saya bicara?"
Sambil tersenyum lebar Jenghis Khar mengangguk.
"Bicaralah, anak yang pemberani!"
"Terima kasih, Sribaginda. Sudah lama saya mendengar akan kebesaran Paduka dan setelah (Lanjut ke
Jilid 35 -Tamat) Pedang Asmara (Cerita Lepas) Karya . Asmaraman S. Kho Ping Hoo
Jilid 35 (Tamat) berhadapan, saya tahu bahwa Paduka memang seorang pemimpin besar yang bijaksana.
Dan bijaksana juga berarti adil, bukankah begitu?
Paduka adalah seorang pemimpin yang adil dan bijaksana, bukan?"
"Ha-ha-ha, Nona Muda. Tidak usah memuji-muji, katakan saja apa kehendakmu,"
Kata pula Jenghis Khan.
"Saya hendak bicara dengan Paduka tentang Pedang Asmara. Kalau boleh saya mengetahui, dari manakah asal pedang pusaka itu? Siapa yang menemukan untuk pertama kalinya?"
Tentu saja Siang Bwee sudah mendengar dari Yeliu Cutay tentang asal usul pedang pusaka itu maka ia berani menyatakan hal itu kepada Jenghis Khan.
"Ah, Pedang Baja Dewa Hijau atau Pedang Asmara? Akulah orang yang menemukan baja itu dan membuat pedang itu. Kenapa, nona Ang Siang Bwee?"
"Kiranya Paduka yang menemukannya. Memang tepat sekali kalau Paduka yang menemukannya karena Paduka memang pantas memiliki pedang pusaka itu. Akan tetapi, pedang itu kemudian berada di tangan Paman Yeliu Cutay, kenapa demikian, Sribaginda?"
"Kami memang telah memberikan pedang pusaka itu kepada Yeliu Cutay, sudah lama sekali ketika kami masih muda."
"Kalau begitu, Paman Yeliu Cutay yang berhak memiliki pedang pusaka itu. Akan tetapi, Paman Yeliu Cutay, kenapa pedang itu terlepas dari tanganmu dan berada di tangan si dia itu?"
Ia menuding ke arah Bu Tiong Sin yang nampak gelisah dan mencoba untuk memalingkan mukanya dan bersembunyi di sebelah gurunya.
Yeliu Cutay yang ditanya, memberi hormat dulu kepada Jenghis Khan sebelum menjawab.
Jenghis Khan mengangguk tanda memberi ijin dia bicara, maka Yeliu Cutay lalu berkata.
"Pemuda itu sejak kecil kudidik sebagai anak sendiri bahkan kuberikan nama margaku kepadanya, juga kuberikan semua ilmuku kepadanya. Akan tetapi, Yeliu Tiong Sin ini telah dewasa murtad membawa minggat Pedang Asmara, bahkan hendak membunuhku."
Kini Siang Bwee menghadapi ayahnya.
"Nah, Ayah mendengar sendiri semua keterangan dari Sribaginda Khan yang besar dan dari Paman Yeliu Cutay. Bagaimana seorang tokoh besar seperti Ayah sampai mau saja ditipu mentah-mentah oleh seorang pemuda ingusan dan palsu macam Bu Tiong Sin itu? Ayah diberi pedang curian, itu pun untuk menghargai diriku. Aku anak tunggal Ayah, hanya dihargai dengan sebatang pedang curian! Adakah yang lebih menghina daripada itu?"
Tiba-tiba Jenghis Khan berseru nyaring sekali, mengejutkan semua orang yang berada di situ.
"Ada yang lebih jahat lagi! Orang ini, bukan saja telah melakukan semua itu, akan tetapi dia telah berkhianat kepada kami! Dia pernah diselamatkan orang-orangku ketika dikeroyok orang-orang Hek-eng-pang, kemudian dia membantu kami. Akan tetapi dalam suatu tugas penting ke Liao-tung, dia telah berkhianat, merusak hubungan kami dengan Liao-tung karena dia memperkosa puteri kepala suku Liao-tung! Dan menurut laporan anak kami Yuci, dia dapat menyelamatkan diri karena di tolong oleh Pak Ong dan puterinya."
Wajah Pak Ong menjadi merah sekali.
Dia dan Kui Lan memang menyelamatkan Tiong Sin dari pengeroyokan pasukan Mongol, akan tetapi pemuda itu mengaku bahwa dia memusuhi orang Mongol.
Siapa tahu dia malah kaki tangan Mongol yang berkhianat!
"Biar kubunuh saja manusia keparat yang hina ini!"
Bentak Nam Tok. Akan tetapi Pak Ong menatap wajahnya.
"Nam Tok, dia itu muridku, ingatkah kau? Kalau ada yang membunuhnya, berarti tidak memandang mata kepadaku. Aku sendiri masih dapat menghukum muridku. Apakah engkau hendak menantangku?"
Pak Ong marah sekali karena kecewa terhadap muridnya itu.
"Sudahlah, harap kalian tidak ribut di sini! Kalian adalah tamu-tamu kami, harus mentaati peraturan kami,"
Kata Jenghis Khan yang merasa tidak senang melihat dua orang datuk itu yang hendak melampiaskan kemarahan mereka masing-masing di depannya.
Wajah Nam Tok berubah kemerahan dan dia memandang ke arah Bu Tiong Sin dengan mata melotot.
"Hemmm, kalau tidak melihat muka Pak Ong dan kalau tidak dilerai Sribaginda, tentu sudah kuhancurkan kepala bocah itu!"
Katanya.
"Sudahlah, Ayah. Di sini ada Sribaginda Jenghis Khan yang besar, dan beliau tidak menghendaki keributan di antara kita. Aku bisa menemukan di mana adanya Pedang Asmara yang aseli, Ayah, sehingga penemuan itu akan dapat mencuci nama besar Ayah, dengan mengembalikan pedang itu kepada yang berhak. Jadi, Ayah tidak akan dituduh bekerja sama dengan pencuri, atau menjadi tukang tadah barang curian. Bayangkan saja, Nam-san Tok-ong yang gagah perkasa kini pekerjaannya tukang tadah barang curian! Betapa akan memalukan!"
"Hayo katakan, di mana pedang yang aseli agar aku dapat menebus dan membersihkan namaku!"
Kata Nam Tok dengan wajah berseri. Dia telah mendapat malu di depan Jenghis Khan, dan akan legalah hatinya kalau dia dapat membersihkan namanya dengan mengembalikan pedang itu kepada yang berhak.
"Nanti dulu, Ayah. Sekarang aku minta Ayah agar secara resmi membikin putus ikatan perjodohan antara aku den si curang Bu Tiong Sin itu, dan juga antara suheng Kwee San-Hong dan si kuda betina Ji Kui Lan."
Nam Tok bukan seorang yang suka melanggar janji, akan tetapi karena dia telah mendapat malu karena perbuatan Tiong Sin, maka tanpa sangsi lagi dia pun berkata lantang.
"Mulai detik ini, hubunganku dengan Pak Ong putus, dan dengan sendirinya semua ikatan perjodohan antara anak dan muridku dengan anak dan muridnya juga putus!"
"Bagus, Nam Tok Memang sejak dahulu di antara kita hanya ada satu macam hubungan saja, yaitu hubungan persaingan mengadu kepandaian. Mulai detik ini, di antara kita tidak ada apa-apa, kita mengambil jalan masing-masing! Mari, Kui Lan dan Tiong Sin, kita pergi dari sini!"
Pak Ong memberi hormat kepada Jenghis Khan, diturut oleh puteri dan muridnya, dan Jenghis Khan mengangkat tangan memberi ijin.
Mereka bertiga cepat meninggalkan tempat yang berbahaya bagi mereka itu.
Kini Siang Bwee mengeluarkan pedang pusaka itu dan menyerahkan pedang itu kepada Yeliu Cutay sambil berkata.
"Inilah Pedang Asmara itu, Paman Yeliu Cutay. Kukembalikan kepadamu karena engkaulah pemilik pedang ini sebelum dicuri oleh muridmu yang murtad."
Yeliu Cutay menerima pedang itu, mencabut dan memeriksanya, lalu mengangguk-angguk.
"Inilah Pedang Asmara yang aseli."
Dia menyarungkannya kembali dan menyerahkan pedang itu kepada Kwee San Hong.
"Kwee Tai-hiap, seperti pernah kujanjikan, pedang pusaka ini sudah kuberikan kepadamu dan kepada Ang Lihiap."
Karena pedang itu tadi telah dikembalikan oleh Siang Bwee kepada Yeliu Cutay, maka San Hong ragu-ragu untuk menerimanya dan dia menoleh kepada Siang Bwee.
"San-ko, Jangan terima pedang itu!"
Lalu gadis itu menghadapi Yeliu Cutay sambil berkata.
"Paman, kalau Paman sayang kepada kami, Jangan berikan pedang itu kepada kami. Pedang itu amat berbahaya bagi kami orangorang muda! Kalau San-ko memiliki pedang itu, hawanya yang jahat dapat mempengaruhinya dan aku tidak menghendaki hal itu terjadi!"
Yeliu Cutay tersenyum maklum.
Dia sudah tahu akan kehebatan daya pengaruh pedang itu yang dapat membuat pria dan wanita mabuk kepayang dan tenggelam dalam gelombang asmara.
Karena orang-orang yang sebetulnya berhak menerima pedang itu tidak mau, dia lalu berlutut di depan Jenghis Khan dan menyerahkan pedang itu dengan kedua tangan kepada junjungannya yang baru.
"Oleh karena dua orang muda gaga perkasa yang telah hamba janjikan untuk menjadi pemilik pedang pusaka ini tidak mau menerimanya, maka perkenankan hamba menghaturkan pusaka ini kepada Paduka, karena dahulu hamba menerimanya dari Paduka."
Jenghis Khan tertawa bergelak, hatinya gembira bukan main.
Setelah kini dia menjadi seorang Khan yang besar dengan kekuasaan yang amat luas, apalagi telah berhasil menaklukkan Kerajaan Cin (Kim), maka pedang bertuah itu tidak mengkhawatirkannya lagi.
Juga dia sudah mulai tua, tidak tertarik lagi akan hal-hal yang menyangkut asmara.
Pedang itu dapat menjadi satu di antara pusaka-pusaka kerajaan, menjadi lambang kebesaran kekuasaannya.
Juga dia kagum melihat San Hong dan Siang Bwee.
Dua orang muda itu bukan saja gagah perkasa dan berilmu tinggi, akan tetapi juga memiliki kejujuran dan hati yang bersih.
"Ha-ha-ha, agaknya Pedang Asmara ini mengenal tuannya yang pertama sehingga dia ingin kembali. Baik, kuterima pedang ini, Yeliu Cutay. Dan kalian, sepasang pemuda perkasa. Sesungguhnya, dari kalianlah kami menerima pedang ini karena tadinya Yeliu Cutay telah memberikan kepada kalian. Nah, sebagai penggantinya, kami akan memberikan dua buah benda yang tentu akan amat berguna bagi kalian pendekar-pendekar dunia persilatan."
Jenghis Khan memberi isyarat kepada pengawalnya yang segera menerima pedang, lalu membisikkan kepada pengawal lain yang segera mengambil sebuah peti kecil hitam dan menghaturkan benda itu kepada Jenghis Khan.
Raja besar itu menerima peti hitam, membukanya dan dari dalam peti yang terisi bermacam benda rampasan yang langka dan berharga itu, dia mengambil sebuah batu sebesar telur angsa yang berwarna hijau muda dan bersinar indah.
Dia menyerahkan batu itu kepada Siang Bwee sambil berkata."Ini Mustika Naga Hijau yang ampuh sekali untuk melumpuhkan kekuatan racun ular yang bagaimana jahat pun.
Terimalah, Nona."
Siang Bwee dan juga ayahnya sudah pernah mendengar tentang mustika itu maka tentu saja dengan gembira Siang Bwee menerimanya dengan kedua tangan mengucapkan terima kasih dan mengamati benda itu dengan wajah berseri.
Kini Jenghis Khan mengambil lima buah jamur kering dan menyerahkannya kepada San Hong.
"Orang muda yang gagah, engkau terimalah jamur kering ini. Ini merupakan benda yang amat langka, karena Jamur seperti ini hanya tumbuh di kutub utara, itu pun amat jarang dan sukar didapat. Khasiat jamur ini amat hebat sebagai pembersih darah dan pengusir penyakit.Selebar kuku ibu jari kaki saja dikunyah dan ditelan, akan dapat membersihkan seluruh darah di tubuhmu dan mengusir penyakit-penyakit yang berbahaya."
San Hong tidak segembira Siang Bwee menerima hadiah itu, akan tetapi dengan sikap sopan dia menerima dan memberi hormat.
Nam Tok diam-diam kagum kepada Jenghis Khan.
Raja besar ini biarpun seorang Mongol, namun dia pandai menghargai orang gagah.
Dia dan Pak Ong dengan terang-terangan menyatakan tidak mau membantu Mongol, bahkan memusuhi kalau Mongol menyerang Sung di selatan, akan tetapi Jenghis Khan tidak mengganggu mereka berdua, bahkan kini memberi hadiah benda yang langka kepada Siang Bwee dan San Hong.
Padahal, kalau Jenghis Khan mau, biarpun empat orang datuk semua melakukan perlawanan dibantu anak-anak dan murid mereka, tetap saja raja itu akan mampu membunuh mereka semua walaupun akan mengorbankan nyawa banyak perajurit.
Seorang pemimpin yang dapat menghargai orang pandai seperti Jenghis Khan ini sudah pasti akan berhasil.
Dia teringat akari keadaan para kaisar Kerajaan Kim yang sudah jatuh dan Kerajaan Sung di selatan, dan dia menghela napas panjang.
Kaisar-kaisar itu adalah orangorang lemah yang hanya mengejar kesenangan pribadi saja tanpa mempedulikan keadaan rakyat.
Kalau ada orang pandai, mereka itu bahkan mencurigainya dan takut kalau orang pandai itu akan melakukan pemberontakan.
Kalau saja kaisar di selatan seorang yang kuat seperti Jenghis Khan, takkan ada musuh yang akan berani menyerang!
Dia menengadah, lalu menghentak-hentakkan tongkat naganya ke atas tanah sehingga terdengar suara duk-duk berirama, dan dia pun membuka mulut dan bersajak dengan suara nyaring.
"Cakrawala selatan gelap gulita Naga tua rapuh dan ular-ularnya hanya mengenal pesta pora rakyat pun hidup sengsara! Lihat! Naga Utara terbang datang menyemburkan nyala api perang panas membakar bernyala terang mengusir gelap membasmi penguasa curang!"
Semua orang terdiam ketika Nam Tok bersajak tadi, dan setelah dia menutup sajaknya dengan tarikan napas panjang dan sedih, terdengar tepuk tangan.
Kiranya yang bertepuk tangan adalah Jenghis Khan yang sudah bangkit berdiri dari kursinya dan memandang Nam Tok dengan wajah berseri.
"Bagus sekali, Saudara Ang Leng Ki!"
Katanya dengan gembira dan dengan menyebut Nam Tok sebagai saudara, hal itu menunjukkan penghormatan yang besar.
"Kalau engkau suka menjadi penasihatku maka aku yakin bahwa perjuangan kami mengusir yang lalim akan dapat berhasil dengan cepat!"
Sejenak Nam Tok memandang kepada Khan yang agung itu dengan sinar mata tajam, kemudian dia pun berkata.
"Bagaimana mungkin seorang putera mengkhianati ayahnya sendiri, betapapun lemah dan lalimnya ayah itu? Mari Siang Bwee, San Hong, kita pergi dari sini!"
Berkata demikian, Nam Tok membalikkan tubuhnya dan dengan angkuh meninggalkan tempat itu tanpa pamit lagi.
Dia hendak menunjukkan bahwa dia tidak gentar kepada Jenghis Khan.
Siang Bwee tersenyum dan mengangguk kepada Jenghis Khan, San Hong menjura dengan hormat, lalu keduanya cepat mengikuti Nam Tok meninggalkan tempat itu.
Jenghis Khan menghela napas panjang, menggeleng-geleng kepala dan mengepal tinjunya.
"Sungguh sayang! Dia bagaikan seekor naga yang perkasa! Mudah-mudahan dia dan aku tidak akan berhadapan sebagai musuh kelak!"
"Hayo katakan sekarang, sebelum kuhancurkan kepalamu. Apakah engkau sudah mengakui kesalahanmu?"
Pak Ong membentak dan pemuda itu, Bu Tiong Sin, berlutut di depan kakek itu dengan tubuh gemetar dan muka pucat.
"Suhu, ampunkan teecu (murid). Teecu tidak merasa membuat kesalahan terhadap Suhu. Teecu selalu mentaati semua perintah Suhu....."
"Keparat! Engkau masih berpura-pura? Bukankah ketika pertama kali engkau bertemu dengan kami, engkau telah berbohong dan mengaku sebagai seorang gagah yang membenci orang Mongol? Ternyata engkau penipu! Engkau murid Yeliu Cutay yang murtad, melarikan diri dan mencuri pusaka gurumu. Dan engkau pun telah membikin malu kepadaku. Pedang pusakamu itu palsu! Engkau telah membuat Nam Tok marah dan memutuskan pertalian jodoh engkau dan Kui Lan. Bagaimana aku dapat mengampunimu?"
"Suhu, sungguh teecu berani bersumpah. Ketika teecu menyerahkan pedang pusaka itu kepada Nam Tok, pedang itu aseli, tidak palsu. Tentu orang tua itu yang telah mengganti pedang aseli dengan yang palsu!"
"Boleh jadi tidak mungkin bagi Nam Tok, Ayah. Akan tetapi siluman betina itu, anaknya itu, Siang Bwee. Perbuatan apa yang tidak mungkin ia lakukan? Ini tentu perbuatan Siang Bwee, dan untuk itu, kelak aku harus dapat mencekik lehernya!"
Pak Ong masih memandang muridnya dengan muka muram.
"Kalau pun benar Siang Bwee yang menukar pedang itu engkau terlalu tolol sehingga tidak mengenal pedang sendiri ketika engkau menerimanya kembali dari Nam Tok. Engkau membikin aku malu saja. Dan bagai mana dengan kebohonganmu bahwa engkau pembenci orang Mongol?"
"Suhu, berani sumpah teecu tidak berbohong. Sampai sekarang pun, teecu benci orang Mongol dan teecu akan mempertaruhkan nyawa untuk membela Kerajaan Sung dan melawan pasukan Mongol!"
"Hemmm, orang macam engkau bisa apa? Menghadapi murid Nam Tok saja engkau kalah! Dari pada kelak merepotkan aku, lebih baik kubunuh saja sekarang. Engkau sudah pernah murtad terhadap gurumu yang pertama, bahkan yang telah merawatmu sejak kecil. Besar sekali kemungkinan engkau pun akan murtad dan berkhianat kepadaku!"
Pak Ong sudah menggerakkan tangannya, siap untuk membunuh Tiong Sin. Pemuda itu menjadi pucat sekali, tidak berani melawan atau menghindar, hanya memohon ampun.
"Ayah, jangan bunuh dia!"
Tiba-tiba Kui Lan meloncat ke depan ayahnya. Pak Ong mengerutkan alisnya dan semakin marah.
"Apa? Engkau hendak membela jahanam ini?"
"Ayah, ingat, dia muridmu dan dia.....dia suamiku!"
"Apa maksudmu?"
Bentak Pak Ong kepada puterinya."Ayah, sudah lama kami menjadi suami isteri dan semua yang kami lakukan membuktikan bahwa pedang yang dulu berada di tangan Suheng adalah Pedang Asmara yang aseli.
Kami terpengaruh pedang pusaka itu.
Kami hanya tinggal merayakan saja, Ayah.
Akan tetapi, Suheng adalah suamiku."
Pak Ong tidak merasa heran mendengar pengakuan puterinya itu.
Kalau puterinya tidak membela Tiong Sin, dia pun tidak peduli walau puterinya telah menyerahkan diri kepada muridnya itu, tetap akan dibunuhnya.
Akan tetapi, melihat pembelaan Kui Lan, hal ini berarti bahwa puterinya mencinta Tiong Sin dan telah memilih pemuda itu menjadi suaminya.
Hal ini membuat dia ragu-ragu "Hemmm....
engkau benar telah memilih dia?"
Suaranya terdengar agak kecewa.
"Ayah, harap pertimbangkan baik baik. Semua yang telah dilakukan Suheng sehingga dia dapat mengelabui Ayah dan aku, hal itu hanya bukti bahwa Suheng amat cerdik dan pandai bersiasat. Suhenglah yang akan dapat membantu Ayah mengangkat nama besar Ayah sehingga tidak akan kalah oleh para datuk yang lain. Aku yang akan mengajaknya berlatih sebaik mungkin agar dia tidak mengecewakan, Ayah."
Pak Ong meraba-raba dagunya, alisnya berkerut.
Memang tidak menguntungkan kalau dia membunuh Tiong Sin.
Pertama, dia akan kehilangan seorang murid yang cukup berbakat, dan berarti kehilangan seorang pembantu.
Ke dua, puterinya akan marah dan mungkin akan memusuhinya.
Dia mengenal watak puterinya itu yang akan memusuhi siapa saja, ayah sendiri sekalipun kalau menyakiti hatinya.
"Hemmm, baiklah. Akan tetapi dia harus dapat membuktikan bahwa dia benar-benar memusuhi Mongol dan dapat memperlihatkan kegagahan membela Kerajaan Sung di selatan. Baru aku dapat mengampuninya. Kalau dia tidak mampu membuktikan, kelak sekali berjumpa dengan aku, jangan harap aku akan dapat mengampuninya lagi."
Tiong Sin yang tadinya sudah ketakutan dan putus asa, ketika mendengar ucapan gurunya itu, menjadi gembira bukan main.
Dia seolah-olah hidup kembali, dan cepat menjatuhkan diri di depan kaki gurunya, memberi hormat berkali-kali sambil berlutut.
"Terima kasih, Suhu. Teecu bersumpah akan mentaati perintah Suhu dan sekarang juga teecu akan pergi ke selatan untuk membantu pemerintah Sung dan menghalangi segala niat jahat orang-orang Mongol!"
"Benar, Ayah,"
Kata Kui Lan yang juga merasa girang.
"Seperti Ayah tahu, See Mo dan Tung Kiam telah menjadi antek-antek Mongol. Tentu mereka itu akan mengacau di selatan. Aku dan Su-heng akan pergi ke selatan dan menentang semua usaha mereka, untuk membela Sung dan melawan Mongol."
Kui Lan sesungguhnya membohong kalau ia mengatakan cinta kepada suhengnya.
Kalau ia menyerahkan diri kepada Tiong Sin, itu terjadi karena pengaruh Pedang Asmara, juga hanya karena dorongan nafsu belaka.
Akan tetapi, ia tidak ingin melihat suhengnya dibunuh ayahnya, karena bagaimanapun juga, suhengnya dapat menjadi kawan yang dapat diandalkan.
Kalau dia dibiarkan mati, lalu siapa yang akan menemaninya menghadapi lawan lawan yang tangguh?
Dan ia sengaja menyelamatkan nyawa Tiong Sin sehingga suhengnya itu selanjutkan tentu akan taat sekali kepadanya, dan dapat disuruh melakukan apa pun.
Ia akan memperoleh seorang pembantu yang setia dan patuh.
Pak Ong mengangguk-angguk.
"Baiklah, kalian boleh pergi. Akan tetapi ingat, Tiong Sin. Engkau tidak akan terlepas dari pengamatanku!"
Tiong Sin memberi hormat dan seperti yang diperhitungkan Kui Lan, sejak saat itu Tiong Sin menjadi seorang pembantu atau pelayan yang taat sekali kepada Kui Lan.
Bukan saja karena dia merasa berhutang nyawa kepada gadis itu, melainkan terutama sekali karena dia takut kepada Pak Ong!
Setelah puteri dan muridnya pergi, Pak Ong juga melanjutkan perjalanan menuju ke selatan.
Setelah Kerajaan Kim runtuh, tidak ada gunanya lagi tinggal di daerah itu, sebaiknya pindah ke selatan ke daerah Kerajaan Sung.
"Kalian harus menikah dulu, baru boleh pergi!"
Kata Nam Tok kepada Siang Bwee dan San Hong.
Mereka telah berada jauh di bawah puncak Kabut Putih di Thai-san dan ucapan itu dikeluarkan Nam Tok setelah Siang Bwee dan San Hong berpamit hendak pergi ke selatan, tidak ikut kakek itu yang akan pulang ke tempat tinggalnya di lereng Nam-leng-san.
"Harap Suhu suka memaafkan teecu,"
Kata San Hong sambil memberi hormat kepada kakek itu.
"Aihhh, San-koko. Kenapa engkau masih menyebut suhu kepada Ayah? Dia itu calon ayah mertuamu!"
Gadis ini memang lincah dan sama sekali tidak pemalu seperti gadis-gadis lain.
Akan tetapi karena sikap dan ucapannya itu wajar, maka sama sekali tidak mendatangkan kesan bahwa ia genit.
Mendengar ucapan gadis itu, wajah San Hong menjadi kemerahan dan dia pun mengulang sebutannya dengan gagap.
"Eh..... Ayah Mertua.....!"
Akan tetapi Nam Tok mengerutkan alisnya, nampak tidak senang.
Kakek ini yang sudah terbiasa dengan kehidupan para datuk yang tidak suka akan segala macam tata-cara dan kesopanan, lebih menyukai sikap yang terbuka dan polos tanpa pura-pura alim, pada hakekatnya tidak begitu suka akan sikap dan watak San Hong.
Dia menganggap pemuda ini terlalu lamban dan bodoh, tidak cerdas sama sekali sehingga dia menganggap San Hong tidak cocok untuk menjadi jodoh puterinya yang demikian lincah dan cerdik luar biasa.
"Sudah, tidak perlu banyak sungkan. Katakan, kenapa engkau minta maaf? Tiada hujan tiada angin engkau minta maaf, apa pula maksudmu? Aku hanya minta engkau segera menikah dengan Siang Bwee sebelum kalian pergi, dan jawabanmu hanya minta maaf!"
Suaranya mengandung kekesalan.
"Teecu..... eh, saya minta maaf karena terpaksa saya tidak dapat mentaati perintah Ayah untuk sekarang ini....."
Jawab San Hong agak gugup melihat calon ayah mertuanya marah. Makin mendalam kerut di antara alis yang tebal itu, matanya memandangi tajam penuh selidik.
"Kwee San Hong. Apa maksudmu? Berani engkau menolak usulku? Ehhh....."
Tiba-tiba dia menambahkan dan suaranya mengandung penuh harapan.
"..... apakah engkau hendak mengatakan bahwa engkau tidak ingin menikah dengan Siang Bwee?"
Mendengar nada suara yang tiba-tiba seperti bergembira itu, tentu saja San Hong yang berwatak jujur itu merasa heran, akan tetapi Siang Bwee cemberut.
Dari nada suaranya itu saja, Siang Bwee dapat mengerti bahwa diam-diam ayahnya masih tetap tidak suka kepada San Hong dan ayahnya akan merasa girang kalau ia tidak berjodoh dengan San Hong.
Diam-diam ia merasa mendongkol sekali dan kasihan kepada pria yang dicintanya itu."Maaf, Ayah, bukan begitu maksud saya.
Akan tetapi, untuk sementara ini saya belum dapat melaksanakan pernikahan..."
"Omong kosong! Siapa yang akan melarangmu? Orang tuamu sudah mati siapa lagi yang harus kau minta ijin?"
"Ayah.....!"
Siang Bwee berseru.
"Diam kau!"
Ayahnya membentak.
"Biarkan dia menjawab sendiri. Dia harus bersikap laki-laki dan berani menjawab sendiri!"
Perlahan-lahan San Hong bangkit berdiri dan Siang Bwee memandang dengan gelisah.
Ia sudah mengenal watak kekasihnya itu.
Jujur, polos, tidak pernah berpura-pura, karenanya tidak pandai mengambil hati orang dan karenanya kelihatan bodoh, akan tetapi juga pemberani dan pantang mundur.
"Ayah, memang tidak ada orang yang dapat menghalangi saya, juga tidak ada yang saya mintai ijin. Akan tetapi ada dua hal yang harus saya kerjakan lebih dahulu sebelum saya menikah dengan Bwee-moi."
"Hemmm, masih adakah perkara yang kauanggap lebih penting daripada pernikahanmu dengan Siang Bwee? Katakan, apa dua hal itu!"
"Pertama, saya tidak akan menikah dulu karena Kerajaan Sung terancam oleh pasukan Mongol. Perjuangan untuk membela Kerajaan Sung berarti perjuangan untuk menyelamatkan rakyat dari ancaman penyerbuan Mongol, dan hal ini amat penting, Ayah, lebih penting daripada urusan pribadi. Oleh karena itu, saya harus lebih dulu berjuang memperingatkan Kerajaan Sung dari bahaya yang mengancam, sebelum bersenang-senang dalam pernikahan. Ke dua, saya harus memberitahukan tentang perjodohan saya ini kepada kelima orang suhu di Thian san."
"Huh! Orang seperti engkau ini akan bisa berbuat apakah untuk membela daerah selatan yang terancam pasukan Mongol? Dan, mengapa harus memberi tahu Thian-san Ngo-sian?"
"Ayah tidak adil!"
Tiba-tiba Siang Bwee berseru, tidak peduli akan pandang mata marah dari ayahnya.
Gadis yang cerdik ini maklum benar bahwa ayahnya tidak mungkin dapat terlalu marah kepadanya, apalagi sampai turun tangan memukulnya.
"Apakah semangat Ayah sekarang sudah melempem? Sepantasnya Ayah bangga mempunyai seorang mantu seperti Hong ko. Dia begitu perkasa, seorang pejuang sejati yang mengesampingkan kesenangan pribadi, mendahulukan kepentingan rakyat dan negara. Sepantasnya Ayah malah memberi semangat kepadanya untuk membela negara dan menentang Mongol. Ke mana kegagahan Ayah sebagai seorang pahlawan? Dan pula, sudah sepatutnya pula kalau Hong-koko memberi tahu tentang perjodohannya kepada guru-gurunya yang pertama. Dan bukankah Ayah juga tahu bahwa Thian-san Ngo-sian adalah tokoh-tokoh pendekar persilatan yang ternama? Sepatutnya Ayah bangga dengan Hong-koko!"
Diam-diam Nam Tok tersenyum di dalam hatinya.
Puterinya ini memang.
sudah benar-benar jatuh cinta kepada pemuda bodoh ini, tergila-gila tidak tertolong lagi!
Akan tetapi, dia pun senang dengan alasan San Hong untuk lebih dulu berjuang, baru memikirkan pernikahan.
"Hemmm, aku ingin kalian cepat menikah demi kepentinganmu, Siang Bwee! Kenapa engkau malah membela bocah tolol ini? Bagaimana aku dapat membiarkan kalian pergi berdua sebelum menikah? Engkau seorang gadis, tentu tidak akan pantas dilihat orang....."
Baca Juga: Bu Kek Siansu 4
Baca Juga: Pusaka Pulau Es 6