Ceritasilat Novel Online

Pedang Asmara 13

Eps 13 Pedang Asmara - Kho Ping Hoo

Baca online Pedang Asmara - Kho Ping Hoo

Cersil Pedang Asmara - Kho Ping Hoo.

"Aihhh! Sejak kapan Ayah begini beraturan dan bersopan-sopan? Ayah sendiri selalu mengatakan bahwa semua sikap bersopan-sopan itu adalah munafik! Yang penting, kita tahu bahwa apa yang kita lakukan benar. Apa peduliku dengan pendapat yang keluar dari mulut orang yang usil? Dan Ayah pun tahu bahwa selama ini, aku sudah melakukan perjalanan berdua dengan Hong-koko, makan di satu meja, bahkan tidur di satu ruangan. Akan tetapi, Hong-koko adalah seorang laki-laki sejati, Ayah. Belum pernah dia memperlihatkan sikap kurang ajar kepadaku, tidak pernah ada pikiran cabul sedikit pun dalam hatinya! Selain itu, sekarang usiaku baru delapan belas tahun lebih, Hong-koko juga baru dua puluh tahun lebih, masih terlalu muda untuk menikah. Aku setuju dengan alasan Hong-ko dan aku menunjangnya. Ayah!"

Nam Tok memandang kepada puterinya yang sudah berdiri di samping San Hong, dengan sikap menantang seperti seekor singa betina melindungi anaknya!

Mau tidak mau Nam Tok tersenyum, lalu dia memandang San Hong dan berkata.

"Kwee San Hong, aku menyetujui alasanmu. Terserah kepada kalian berdua, hanya aku pesan bahwa kalau sudah selesai, engkau harus kembali ke Nam leng-san dan merayakan pernikahan di sana. Dan ingat baik-baik engkau, San Hong. Kalau engkau sampai membikin susah hati anakku, biar engkau bersembunyi ke ujung dunia pun akan kucari dan kubunuh!"

Setelah berkata demikian, Nam Tok meloncat dan sudah berlari jauh.

Siang Bwee dan San Hong saling berhadapan dan saling pandang.

Keduanya tersenyum dan ketika Siang Bwee menghampiri, San Hong mengembangkan kedua lengannya, menerima gadis itu dalam rangkulannya.

Sampai lama Siang Bwee menyandarkan mukanya di dada kekasihnya.

Mereka tidak perlu bicara lagi dalam keadaan seperti itu.

Detak jantung dan denyut darah mereka sudah bicara banyak dan mereka tenggelam ke dalam kedamaian yang membahagiakan.

Setelah lama sekali, terdengar suara Siang Bwee.

"Koko, kalau kita ke selatan, apa yang harus kita lakukan?"

"Tentu saja membantu rakyat dan negara untuk menghadapi Mongol."

"Tapi, apa yang akan kita lakukan setelah tiba di sana? Pasukan Mongol belum tentu akan datang menyerang dengan cepat."

San Hong termenung.

"Entahlah, Bwee-moi, aku sendiri pun tidak tahu apa yang akan kulakukan. Pokoknya membantu pemerintah Sung melawan Mongol, itu saja."

Gadis itu melepaskan dekapan Hong dan mereka kini berdiri berhadapan sambil saling berpegang kedua tangan. Siang Bwee, tertawa geli.

"Aih, dan engkau tadi begitu berani mati bicara kepada Ayah, sedangkan engkau sendiri tidak tahu apa yang harus kau lakukan di selatan!"

"Bwee-moi yang manis, kau berikan petunjuk padaku."

"Hemmm, merayu, ya? Kau ingat betapa See Mo dan Tung Kiam telah diterima menjadi antek Jenghis Khan. Mereka dan murid-murid mereka tentu akan melakukan sesuatu di selatan. Kita ke sana dan kita hadapi mereka, kita menggagalkan semua pekerjaan mereka yang tentu akan mengacau di sana. Bagaimana pendapatmu?"

San Hong memeluk pinggang gadis itu dan mengangkatnya tinggi-tinggi.

"Ha-ha-ha, engkau benar, wah, engkau memang cerdik bukan main. Engkau isteri-ku yang hebat! Tanpa engkau, aku seperti perahu tanpa kemudi!"

"Ihhh! Lepaskan aku! Lepaskan aku....!"

Siang Bwee tertawa-tawa dan meronta minta dilepaskan.

Akan tetapi saking girangnya, San Hong melemparkan tubuh gadis itu ke atas, ketika turun ditangkap lalu dilempar lagi sampai tiga kali, membuat Siang Bwee terkekeh-kekeh dan menjerit-jerit manja karena kalau ia menghendaki, tentu saja ia dapat melompat.

Pada saat tubuh gadis itu meluncur turun lagi, San Hong menerimanya dalam pelukan.

Akan tetapi, Siang Bwee menggelitik pinggang San Hong sehingga pemuda itu terkekeh dan terpaksa melepaskan Siang Bwee.

Gadis itu lari, dikejar San Hong.

Mereka berkejaran, penuh kegembiraan dan kebahagiaan, menuju ke selatan.

Sampai di sini, selesailah kisah Pedang Asmara ini dan pengarang mengharapi semoga karangan ini ada manfaatnya bagi para pembaca.

Kisah gerakan bangsal Mongol yang dipimpin oleh Temucin atau Jenghis Khan ini, bersama kisah Empat Datuk Besar dengan murid-murid mereka, akan dilanjutkan dalam cerita lain.

Sampai jumpa di lain karangan.

TAMAT Lereng Lawu, akhir Juni 1984.

Djvu dibuat oleh .

Syaugy_ar Convert .

Dewi KZ, editor Budi Santoso Bandung (trims) Final Edit & Ebook oleh .

Dewi KZ

Tiraikasih Website .

http.//kangzusi.com

Baca Juga: Pendekar Buta 10

Baca Juga: Pendekar Super Sakti 6

Cari Blog Ini

Diberdayakan oleh Blogger.

Parnert