Ceritasilat Novel Online

Pendekar Bego 12

Eps 12 Pendekar Bego - Can ID

Baca online Pendekar Bego - Can ID

Cersil Pendekar Bego - Can ID.

Seakan akan terpengaruh oleh suatu kekuasaan yang tak berwujud, seketika itu juga ilmu pedang Tay lo sian kiam dari si dewa cebol Cu Lian ci tak dapat dikembangkan, malah tenaga serangan musuh bagaikan amukan ombak dahsyat di tengah samudra melanda datang tiada hentinya.

Berada dalam keadaan demikian, dia lantas berpikir.

"Sangkoan Bu cing saja sudah sedemikian sukarnya dihadapi, entah bagaimana pula lihaynya Be Siau soh si perempuan cabul itu?"

Begitu pikirannya bercabang, cahaya pedang dari Sangkoan Bu cing memancar makin dahsyat, Sreet, sreet, sreet, secara beruntun dia lancarkan beberapa buah bacokan yang memaksa jago cebol ini terdesak mundur berulang kali.

Waktu itu, hawa napsu membunuh di dalam dada Sangkoan Bu cing telah berkobar, dengan cepat dia memburu ke depan sambil menyusulkan sebuah serangan dengan jurus Hua hun im yang (memisahkan antara im dan yang).

Pedangnya bagaikan naga sakti yang keluar dari samudra, segera membabat kearah pinggang lawan.

Seandainya serangan ini sampai mengenai sasarannya, niscaya pinggang si dewa cebol akan terbabat kutung menjadi dua bagian.

Akan tetapi, Si dewa cebol adalah seorang yang sangat berpengalaman dalam menghadapi pelbagai pertarungan besar maupun kecil, cepat cepat pedangnya disilangkan didepan dada sambil memutar badannya kencang kencang, dalam waktu singkat serentetan cahaya hijau memancar ke depan menyambut datangnya serangan tersebut.

Gerakan yang dilakukan kedua orang itu sama sama cepatnya, begitu saling menyentuh, mereka segera berganti jurus lagi.

Dewa cebol membentak keras, pedangnya kembali menusuk dengan serangkaian serangan dahsyat.

Keder juga hati Sangkoan Bu cing menghadapi ketangguhan musuhnya, dia sama sekali tidak menyangka kalau si dewa cebol berhasil menghindarkan diri dari ancaman dahsyatnya itu.

Padahal dari tujuh ratus ilmu Hu si jit si dia baru belajar enam jurus belaka, dan sekarang secara beruntun dia telah menggunakan jurus jurus Kay thian pit tee (membuka langit menutup tanah), Sian kan coan kun (memutar balikkan putaran dunia), Gi san to hay (merontokkan bukit menyumbat samudra), Gwat leng seng han (Bulan dingin bintang sepi) dan Hua hun im yang (memisahkan antara im dan yang) lima jurus serangan, seandainya dia telah mengeluarkan jurus keenam yakni Yang kong bu ciau (sinar sang surya memancar ke jagad) namun gagal menangkan lawannya, itu berarti habis sudah riwayatnya.

Walaupun hatinya sedang berpikir, gerakan pedangnya sama sekali tidak berhenti.

Si Dewa cebol segera merasakan panca warna yang gemerlapan dari pedang lawan amat menyilaukan mata, sementara hawa pedangnya menyayat badan, bagaimanapun juga dia merasa serangan musuhnya kali ini sukar ditahan olehnya...

Buru buru pedangnya dirubah menjadi dua titik cahaya hijau langsung menyerang sepasang mata lawan, seandainya pinggangnya kena ditebas nanti, maka pihak lawanpun pasti akan kehilangan sepasang matanya.

Waktu itu, Sangkoan Bu cing sedang gembira karena serangannya hampir berhasil mengancam musuhnya, ia tidak menyangka kalau musuhnya bakal bertindak demikian.

Dalam keadaan begini, ia tak berani melanjutkan serangannya lagi, buru buru dia membalikkan tangannya lalu mundur beberapa langkah ke belakang untuk meloloskan diri.

Kendatipun demikian, di atas dada si dewa cebol Cu Lian ci toh tersambar juga sehingga pakaiannya menjadi robek.

Dia memang kalah, apalagi kalah ditangan seorang pemuda, tanpa mengucapkan sepatah katapun dengan wajah murung ia melompat turun dari atas panggung.

Saat itulah sekulum senyuman baru menghiasi ujung bibir Sangkoan Bu cing.

Keangkuhannya pun segera pulih kembali kepada para jago yang berada dibawah panggung, dia berseru dingin.

"Siapa lagi yang akan datang memberi petunjuk?"

Mendadak dari antara kerumunan orang banyak berkumandang suara bentakan keras yang amat tak sedap didengar.

"Bu cing anakku, kau betul betul seorang anak yang tidak berbakti, perbuatanmu hanya merusak nama baik keluarga Sangkoan saja, ayoh cepat bertobat dan kembali kejalan yang benar..."

Semua orang menjadi terperanjat dan mengalihkan sorot matanya ke arah mana berasalnya teriakan itu...

Tampak seorang kakek kurus kering berbaju hitam bergerak dengan kecepatan tinggi, kulitnya hitam bagaikan besi, tubuhnya tinggal kulit pembungkus tulang, namun sepasang matanya memancarkan cahaya tajam yang sangat menggidikkan hati.

"Aaah, dia adalah Bwe hoa kiam kek..."

Terdengar ada orang menjerit tertahan.

Memang tak salah, orang ini adalah Bwe hoa kiam kiek (jago pedang bunga Bwe) Sangkoan Tin.

Walaupun dia berwatak aneh, namun tindak tanduk serta perbuatannya sama sekali tidak melanggar asas kebenaran.

Setiap umat persilatan tahu bahwa wakil ketua pertama dari perkumpulan Ki thian kau sekarang, Sangkoan Bu cing adalah anaknya jago tua itu.

Apa akibatnya dari pertemuan antara ayah dan anak ini?

Tanpa terasa semua orang mengalihkan sinar matanya ke arah mereka berdua.

Mula mula Sangkoan Bu cing agak tertegun, menyusul kemudian tegurnya dengan dingin.

"Ayah, mau apa kau kemari? Urusanku tak perlu kau campuri"

Bwe hoa kiam kek sama sekali tak menyangka kalau anaknya begitu tak berperasaan apalagi ditegur dihadapan umum, hal mana membuat kakek tersebut menjadi malu sekali.

Dengan wajah membesi, dia segera melompat naik keatas panggung, kemudian sambil menuding ke depan dampratnya.

"Kau... kau anak durhaka, moga moga disambar geledek! Apa kau bilang barusan...? Aaah, benar, aku teringat sekarang, kau bilang aku tak usah mencampuri urusanmu? Heeehh... heeehh... heeehh... tampaknya bulumu sudah pada tumbuh, maka tidak kau pandang sebelah matapun terhadap bapakmu sendiri..."

Sangkoan Bu cing segera berkerut kening, lalu katanya lagi dengan suara ketus.

"Tua bangka, kau sudah pikun, makin hidup makin pikun, lebih baik mampus saja cepat cepat. Mengapa tidak kau pikirkan tempat apakah ini? Kau anggap dirimu boleh mengacau seenaknya? Hmm... para hu hoat, seret tua bangka celaka ini dan lempar keluar dari sini"

Begitu mendengar perkataan tersebut, kontan saja paras muka Bwe hoa kiam kek berubah hebat, sambil melotot penuh kegusaran dia berteriak keras keras.

"Anak durhaka, anak celaka... kau binatang yang tidak berbakti, berani betul menyumpahi bapak sendiri, laknat, kau harus dibunuh!"

Tidak menunggu para petugas menggelandangnya pergi dari situ, ia telah meloloskan pedangnya, kemudian sambil menciptakan tujuh kuntum bunga bwee langsung menusuk ke perut Sangkoan Bu cing.

Paras muka Sangkoan Bu cing telah berubah menjadi hijau membesi, sambil menangkis datangnya serangan itu, serunya.

"Tua bangka, kau masih ketinggalan jauh sekali..."

"Criiing!"

Ditengah dentingan nyaring, pedang ditangan Sangkoan Tin tahu tahu sudah mencelat ke udara. Tak terlukiskan rasa gusar Bwe hoa kiam kek menyaksikan kejadian itu, bentaknya.

"Binatang laknat, cepat bunuhlah aku!"

"Hmm, kau anggap aku tidak berani? Coba kalau tidak kuatir dibicarakan orang banyak, sedari dulu sudah kubunuh dirimu!"

"Kenapa?"

Tanya Bwe hoa kiam kek Sangkoan Tin tertegun.

"Kenapa musti pakai tanya segala? Apakah tak bisa kau pikirkan dari namaku ini?"

"Namun itu ibunya yang beri, apa sangkut pautnya?"

Kembali Sangkoan Bu cing tertawa dingin "Heeehh... heeehh... heeehh... tahukah kau, apa sebabnya ibu memberi nama tersebut kepadaku?"

Bwe hoa kiam kek menggeleng.

"Hal ini disebabkan karena sepanjang hari kau cuma tahu soal ilmu silat melulu"

Teriak Sangkoan Bu cing.

"kau membuatnya murung dan tak senang hati setiap hari dia bilang ia membencimu... sebab itu aku diberi nama Bu cing (tak berperasaan)!"

Bwe hoa kiam kek menjadi gusar sekali.

"Begitu ibunya begitu anaknya, binatang, bedebah... locu harus memberi pelajaran kepadamu!"

Seraya berkata dia lantas mengayunkan telapak tangannya menampar wajah pemuda itu keras keras.

Sangkoan Bu cing menjadi naik darah ketika wajahnya kena ditempeleng keras, sambil tertawa seram pedangnya segera digetarkan ke depan...

Diiringi jeritan ngeri yang memilukan hati, ulu hati Bwe hoa kiam kek telah tertembus pedang putranya sendiri hingga tembus ke punggungnya...

Kontan saja suasana disekitar panggung menjadi gempar.

Perbuatan Sangkoan Bu cing mencaci maki bapaknya sendiri kemudian membunuh Bwe hoa kiam kek Sangkoan Tin segera menimbulkan kemarahan khalayak ramai.

Teriakan teriakan segera bergema memecahkan keheningan.

"Bantai saja manusia laknat itu!"

"Cincang saja bajingan yang durhaka itu hingga tubuhnya hancur berkeping"

Rombongan manusia yang sedang kalap bagaikan gulungan ombak samudra menerjang keluar dari barak sebelah barat dan menerjang ketengah panggung...

Serentak para pelindung hukum dari Ki thian kau berteriak cepat, mereka segera membentuk suatu barikade yang tangguh untuk membendung datangnya para penyerbu.

Sambil tertawa seram Tee leng kun meloloskan pula pedangya, lalu bentaknya keras keras.

"Barang siapa berani merusak peraturan yang telah ditetapkan, jangan salahkan kalau lohu akan membunuhnya ditempat!"

Bila berganti orang lain, mungkin saja ancaman itu akan mendatangkan hasil.

Tapi orang orang itu adalah sekelompok jago berjiwa ksatria, demi membela keadilan dan kebenaran mereka rela berkorban, tentu saja tekad mereka tak mungkin bisa dicegah oleh gertak sambel dari Te leng kun.

ooo0dw0ooo Tampaknya suatu pertempuran massal tak dapat dihindari lagi...

Sementara itu, tokoh tokoh utama dari kedua belah pihak telah saling menampilkan diri.

Yang seorang adalah Thian hiang siansu Bwe Leng soat, sedangkan yang lain adalah Be Siau soh dari Ki thian kau.

Bagi Bwe Leng soat, oleh karena Giok bin sin liong Ong It sin yang berangkat ke lembah Im hong kok untuk meminjam bola inti es belum kembali, maka dia merasa wajib untuk menenangkan para jago agar tak sampai terjatuh korban dengan percuma Sebaliknya Be Siau soh merasa setiap langkah yang disusunnya belum sempat dikembangkan, bila terjadi pertarungan massal, niscaya kekuatannya akan mengalami kerugian besar, hal mana tidak menguntungkan bagi usahanya untuk mencamplok dunia persilatan.

Itulah sebabnya Thian hian siansu dengan pertimbangannya sendiri segera meminta kepada para jago agar tenang dan kembali ke tempatnya masing masing.

Sedangkan Be Siau soh juga menggunakan kesempatan itu memperingatkan kepada anak muridnya agar jangan bertindak secara gegabah.

Dengan demikian, suatu badai pertumpahan darah yang mengerikan pun dapat diredakan kembali.

Sementara itu, Sangkoan Bu cing telah menggunakan kesempatan itu untuk menitahkan orang agar menyingkirkan jenasah ayahnya Bwe hoa kiam kek Sangkoan Tin dari atas panggung, setelah itu ujarnya kepada Be Siau soh.

"Kaucu, sekarang apakah pertandingan masih akan dilanjutkan?"

Be Siau soh segera tertawa terkekeh kekeh.

"Sangkoan lote! Apa yang barusan terjadi tak lebih hanya sebuah selingan, lanjutkan saja! Jangan bertindak ada kepalanya tanpa ekornya..."

Sambil tertawa genit, dia mengerling sekejap dengan kerlingan mautnya...

Sangkoan Bu cing seperti memperoleh dukungan moril, dengan cepat semangatnya berkobar kembali, dia segera membungkukkan badannya memberi hormat.

"Hamba turut perintah!"

Kemudian sambil berpaling kearah barak sebelah barat, dia berseru.

"secara beruntun aku telah berhasil mengalahkan si dewa cebol, masih ada siapa lagi yang hendak memberi petunjuk?"

Nadanya sinis dan sikapnya pongah sekali. Cing hoa loni dari partai Cing shia pay yang pertama tama tak tahan, segera bentaknya keras.

"Hu kaucu, kau terlalu sombong dan tidak pandang sebelah matapun terhadap orang lain. Baik, meski pinni merasa bukan tandinganmu, ingin kucoba sampai dimanakah kelihayanmu itu"

Perlu diketahui, diantara ketua partai yang ada dewasa ini, kedudukan Cing hoa loni boleh dibilang paling tinggi, selain itu ilmu pedang Cing hoa kiam hoat dari partai Cing shia juga terhitung ilmu pedang yang lihay...

Berbicara yang sesungguhnya, diantara sekian banyak jago persilatan yang hadir dalam arena saat ini, hanya beberapa orang saja yang sanggup bertarung melawan Sangkoan Bu cing.

Sebenarnya Thian hiang siancu Bwe Leng soat ingin mencegah nikou itu untuk maju, tapi sebelum dia sempat buka suara, Kim liong lojin yang berada disampingnya telah mendahului dengan suara dalam.

"Biarkan loni itu maju! Betul dia memang bakal kalah, namun tak akan ada bahaya yang bakal mengancam jiwanya..."

Mendengar perkataan itu, Bwe Leng soat menjadi tertegun, serunya kemudian dengan nada keheranan.

"Yaya, mengapa kita harus membiarkan dia maju untuk bertarung, kalau toh akhirnya bakal kalah?"

"Budak bodoh, kenapa kau menjadi pikun?"

Seru Kim liong lojin cepat.

"kita sengaja berbuat demikian toh bertujuan untuk mengulur waktu saja..."

Sesudah mendengar penjelasan itu, Bwe Leng soat menjadi sadar dan mengerti.

Sementara pembicaraan masih berlangsung Cing hoa loni telah melompat naik ke atas panggung Lui tay.

Jangan dilihat usianya sudah lanjut, ternyata gerakan tubuhnya masih tetap gesit dan lincah.

Sangkoan Bu cing segera menjura katanya "Nikou tua, kau tidak cerdik, sudah setua ini, buat apa mesti mencari penyakit buat diri sendiri?"

"Omintohud, Sangkoan sicu begitu yakin dengan kepandaian silat yang kau pelajari sedang kebetulan sekali pinni juga mempunyai watak tak puas kepada orang lain, maka aku hendak menjajal sampai dimanakah taraf kepandaian yang kau miliki itu"

Sangkoan Bu cing mengerutkan dahinya rapat rapat, kemudian dengan agak gusar dia berseru.

"Kalau memang kau belum menitikkan air mata sebelum melihat peti mati apalagi yang mesti ditunggu? Hayo, loloskan pedangmu"

Segulung hawa pedang yang sangat dingin segera menyambar kedepan dengan kecepatan luar biasa.

Cing hoa loni sama sekali tidak menyangka kalau Sangkoan Bu cing sama sekali tidak memakai aturan persilatan, begitu bilang menyerang lantas menyerang, tahu tahu sekilas cahaya panca warna telah meluncur ke depan alis mata nikou tua itu.

Cing hoa loni memang tak malu disebut sebagai seorang tokoh silat yang sempurna dalam ilmu pedang, toyanya diputar dan Sreet...!

dia sudah melejit ke tengah udara dengan gerakan bangau putih meluncur ke angkasa...

Menyusul kemudian dia bertekuk pinggang sambil jumpalitan, kini kepalanya berada di bawah dengan kaki di atas.

Entah sedari kapan, toya yang berada di tangannya itu telah berubah menjadi sebilah pedang panjang yang berbentuk aneh, bagaikan kilatan cahaya bianglala langsung membabat ke bawah.

Setiap orang dapat melihat bahwa serangan itu dilancarkan dengan kekuatan yang mengerikan.

Dibawah ancaman yang demikian dahsyatnya ini, siapapun tak akan berani melayani secara gegabah.

Sangkoan Bu cing amat terkesiap, sambil tertawa segera serunya lantang.

"Keparat tak nyana kau si nenek peyot juga memiliki kepandaian sedahsyat ini"

Sambil berkata, pedangnya disambar kembali ke depan dengan disertai kilauan cahaya panca warna yang amat menyilaukan mata.

Blaam, blaam, blam!

serentak ledakan keras bergema ditengah angkasa.

Tampaknya pemuda itu memang selalu berusaha untuk memaksa lawannya menerima serangan dengan keras lawan keras.

Jurus Lok siu kek yang digunakan Cing hoa loni barusan belum pernah meleset selama ini, dia mengira Sangkoan Bu cing tentu akan dipecundangi olehnya.

Siapa tahu meskipun tiga gebrakan sudah lewat, kedua belah pihak sama sama tetap tangguh.

Tanpa terasa Cing hoa loni menghembuskan napas dingin, ditambah lagi tubuhnya memang masih berada ditengah udara, kini dalam keadaan hawa murninya membuyar, tak bisa disangkal lagi sebuah serangan dahsyat segera akan menyumbat begitu mencapai tanah.

Apa yang bisa dilakukannya sekarang?

Terpaksa sambil menggertak gigi dia melayang turun ke bawah.

Agaknya Sangkoan Bu cing telah memperhitungkan sampai ke situ, sepasang matanya mengawasi ke tengah udara dengan tajam.

Begitu menyaksikan Cing hoa loni melayang turun, pedangnya segera digetarkan menusuk ke ulu hati lawan.

Dengan kepandaiannya yang luar biasa, sergapan ini boleh dibilang mematikan.

Sekalipun Cing hoa loni memiliki jurus serangan untuk menjaga diri, rasanya sulit juga baginya untuk meloloskan diri dari ancaman maut tersebut..."Aaai, habis sudah riwayatnya!"

Keluh para jago dengan perasaan pedih.

Untunglah di saat yang kritis itu tampak bayangan manusia berkelebat lewat kemudian serentetan cahaya merah yang amat menyilaukan mata secara aneh memunahkan serangan mematikan tersebut.

Dengan demikian Cing hoa loni baru berhasil meloloskan diri dari ancaman maut tersebut.

Paras mukanya yang penuh berkerut itu berubah menjadi merah membara, katanya dengan pedih.

"Aaai... tampaknya aku si nenek memang sudah tua Nona Bwe, tugas memusnahkan kaum iblis ini tampaknya harus diserahkan ke tangan kalian anak anak muda"

Ketika mengucapkan kata kata tersebut, wajahnya kelihatan jauh lebih tua sepuluh tahun.

"Cianpwe"

Ujar Thian hiang siancu Bwe Leng soat kemudian.

"Setiap orang dapat menyaksikan betapa lihaynya ilmu silat yang kau miliki, ketahuilah bila pihak lawan tidak pernah melatih ilmu Ngo heng sin kang serta Hu si jit si, tak nanti ia sanggup untuk menghindarkan diri dari serangan dahsyatmu itu"

Sekulum senyuman segera menghiasi wajah Cing hoa loni, katanya.

"Nona Bwe, terima kasih atas hiburanmu, loni tak akan melupakan untuk selamanya."

Selesai berkata dia lantas masukkan kembali pedangnya ke dalam tongkat, dan melayang balik ke bawah panggung.

Dalam pada itu, Sangkoan Bu cing dengan sepasang matanya yang cabul sedang mengawasi wajah Thian hiang siancu tak berkedip, terhadap kepergian Cing hoa loni ternyata ia tidak menaruh perhatian sama sekali.

Bwe Leng soat menjadi gusar sekali menyaksikan tingkah laku musuhnya itu, segera tegurnya.

"Hei, apa apaan kau ini? Tampangmu macam belum pernah ketemu dengan koh nay naymu saja"

Sangkoan Bu cing segera menyadari akan kekhilafannya, cepat cepat dia berkata.

"Nona, kau bilang apa?" 000ooodwooo000

Jilid 32 BWE Leng soat kembali berkerut kening, dia mana mendongkol juga geli, bentaknya lagi.

"Kalau tidak mendengar ya sudahlah!"

Setelah berhenti sebentar, dia melanjutkan.

"Aku masih ingin bertanding ilmu pedang"

"Kau bisa mendapat petunjuk ilmu silat dari Koan tiau kek, hal ini merupakan suatu kebanggaan bagiku"

Rupanya waktu itu Sangkoan Bu cing sedang menyusun rencana jahat, pikirnya di hati.

"Perempuan ini jauh lebih tangguh dari pada Be Siau soh, apalagi kalau dibandingkan si kelabang hitam Be Ji nio, bila aku berhasil membekuknya... Oooh betapa nikmatnya kugerayangi tubuhnya, lalu kucicipi kehangatan tubuhnya."

Berhubung dalam hatinya timbul niat jahat, lebih lebih menyadari akan kelihayan ilmu silat lawan, maka dia bertekad hendak mempergunakan kepandaian yang sesungguhnya untuk membekuk gadis itu.

Sambil tersenyum manis dia lantas berkata.

"Dapatkah kita sertakan lagi dengan sebuah syarat lain?"

"Syarat apa?"

"Bila kau menang, aku akan menjadi suamimu, bila aku yang menang kau akan menjadi istriku!"

Belum habis ucapan tersebut diutarakan, sambil menarik muka Bwe Leng soat telah membentak keras.

"Kentut busuk, kau bedebah, anjing laknat manusia berhati binatang, tak usah banyak berbicara lagi cepat lancarkan seranganmu!"

Sangkoan Bu cing sama sekali tidak menggubris dampratan itu, malahan sambil tertawa cengar cengir katanya.

"Nona Bwe, kau adalah seorang gadis lemah sedang aku adalah seorang lelaki sejati mana boleh kulancarkan serangan lebih dulu?"

Dengan cepat Thian hiang siancu Bwe Leng soat berpikir didalam hatinya.

"Walaupun ilmu Hu si jit si yang dimiliki bangsat ini termasuk ilmu pedang kuno yang amat lihay, namun ilmu pedang Hui pau nu tau (air terjun menggulung dahsyat) dari koan tiau kek kamipun terhitung suatu ilmu pedang tingkat tinggi yang sangat lihay, bila aku tak mengambil kesempatan yang baik ini, mungkin tipis harapannya untuk menang..."

Berpikir sampai disitu, tanpa berpikir pajang lagi dia lantas mendengus dingin.

"Hmm... kau yang berkata sendiri... jangan salahkan kalau aku akan bertindak kejam. Sambutlah ketiga jurus seranganku ini"

Sambil memutar pedangnya sebuah bacokan segera dilancarkan.

Seketika itu juga seluruh angkasa diliputi oleh cahaya merah yang berkilauan.

Deruan angin puyuh bagaikan kilat meluncur ke muka dan menyambar semua benda yang dijumpainya.

Sangkoan Bu cing segera tertawa terbahak bahak.

"Haaahhh... haaahhh... haaahhh... nona Bwe, kalau toh kau menjadi burung hong yang menari, biar aku menjadi naga yang sedang terbang..."

Tubuhnya bergeser tiga depa ke samping, lalu pedangnya disertai kilauan panca warna yang gemerlapan, dengan cepat melepaskan serangkaian bacokan kilat.

"Air terbang membasahi kemala!"

Bentak Thian hiang siancu Bwe Leng soat tiba tiba.

Lapisan cahaya berwarna merah itu segera menimbulkan suara ledakan keras yang menggelegar, bayangan cahaya yang menyelimuti seluruh angkasa itu segera meluncur kedepan bagaikan butiran butiran air yang muncrat.

Inilah jurus ketiga dari ilmu pedang Hui pau na tiau kiam hoat, sebuah serangan maut yang paling diandalkan Biau lam sinni dari Lam hay Koan tiau kek.

Dalam penggunaan jurus pedang ini, Bwe Leng soat telah meyakinkan selama banyak waktu, maka kematangannya boleh dibilang sudah mencapai ke tingkatan yang luar biasa.

Sangkoan Bu cing terperanjat sekali, dengan cepat dia melompat ke samping untuk menghindar.

Bersama waktunya ketika melompat ke samping ia gunakan jurus Sian kan coan kun dari ilmu Hu si jit si untuk membabat tubuh lawan.

Diantara kilauan cahaya tajam yang berwarna warni, segera berkumandang suara pekikan nyaring.

"Bagus sekali!"

Bentak Bwe Leng soat, sambutlah jurus jurus Siang tong sui oh (pusaran air berpusing), Keng to pek an (gulungan ombak memecah ditepian) dan Hay siau thian keng (gelombang samudra mengejutkan langit) tiga jurus seranganku ini!"

Pada saat yang bersamaan secara beruntun dia lancarkan tiga buah serangan berantai yang maha dahsyat.

Pedang mestikanya dengan membawa desingan tajam yang membelah angkasa, ibaratnya gelombang dahsyat yang menjebolkan tanggul langsung menggulung kedepan tiada habisnya.

Beratus orang manusia baik dibawah panggung maupun diatas panggung sama sama dibikin berdiri kaku seperti patung, mereka terbelalak lebar dengan mulut melongo, napasnya memburu, seakan akan menyaksikan suatu adegan yang menegangkan syaraf.

Mendadak...

Sangkoan Bu cing mendengus tertahan.

Dengusan tersebut bagaikan binatang buas yang terluka saja...

rupanya ia sudah dikalahkan.

Bagaimana kalahnya?

Sedikit yang dapat menyaksikan, tapi Bwe Leng soat mengerti hal ini bukan dikarenakan ilmu pedang Hu si jit si tak sanggup melebihi ilmu pedang aliran Lam hay Koan tiau kek.

Melainkan pihak lawan belum menguasahi penuh ilmu sakti itu sehingga kedahsyatannya belum bisa mencapai sebagaimana mustinya.

Apalagi Be Siau soh memang sengaja merahasiakan satu jurus diantaranya dan tidak diajarkan kepadanya.

Iga Sangkoan Bu cing tertusuk telak oleh sambaran pedang Bwe Leng soat, dengan wajah pucat pias dia berdiri kaku, hatinya benar benar kecewa sekali.

Keadaannya pada saat ini pada hakekatnya seperti seekor ayam jago yang kalah bertarung.

Bwe Leng soat segera tertawa hambar, katanya.

"Hu kaucu, terima kasih banyak atas petunjukmu!"

Walaupun Sangkoan Bu cing seribu kali merasa berat hati, dalam keadaan demikian terpaksa dia harus menyingkir juga dari situ, katanya sambil tertawa getir.

"Akulah yang berilmu rendah, hanya membikin nona mentertawakannya saja, cuma pemberianmu tadi suatu ketika pasti akan kukembalikan"

"Sialan, sulit amat orang ini dihadapi"

Pikir Bwe Leng soat. Tapi diluar dia berkata sambil tersenyum.

"Soal itu mah lebih baik kita bicarakan kemudian hari saja, dunia ini amat luas, perubahannya juga sangat banyak, siapa tahu perubahan dikemudian hari?"

"Peduli bagaimanapun juga, asal kau masih hidup didunia ini dan aku belum mati, kesempatan selalu ada"

Selesai berkata, dia lantas mengundurkan diri dari situ.

Dalam pada itu, puluhan orang anggota Ki thian kau yang berbaju merah telah bekerja keras mengangkut arak dan menyiapkan cawan.

Kepada Be Siau soh yang ada dibelakang panggung, Bwe Leng soat segera berseru.

"Kaucu, kenapa kau mesti menyuruh aku menanti terlalu lama?"

Baru selesai dia berkata, sesosok bayangan hitam telah melompat naik keatas panggung, Be Siau soh, kaucu dari perkumpulan Ki thian kau.

Setelah memperhatikan sekejap tubuh Thian hiang siancu Bwe Leng soat dari atas sampai kebawah, katanya kemudian.

"Kau memang berwajah cantik jelita tak heran kalau It sin loteku bisa berubah hati."

"Kaucu"

Tegur Bwe Leng soat dengan wajah membesi.

"jangan berbicara sembarangan, dulu dia amat mencintaimu, cintanya kepadamu amat mendalam, tapi kau telah menghianatinya bahkan melarikan Hu si ku kiam miliknya, yang berubah hati bukan dia melainkan kau!"

Be Siau soh tertawa licik, katanya.

"Tak kusangka cinta kasih kalian sekarang seperti aku dulu, Ehmmm... tampaknya dia telah menceritakan segala sesuatunya kepadamu"

"Tentang soal ini aku tidak menyangkal"

"Menurut kau dapatkah aku berbaik kembali dengannya?"

Diam diam Bwe Leng soat menyumpah hati "Perempuan ini benar benar tak tahu malu, perkataan macam apapun bisa dia utarakan"

Sekalipun dalam hati menyumpah, dimulut kembali dia berkata.

"Hal ini tergantung pada dirimu sendiri mungkin dengan mengandalkan kecantikanmu, kau masih dapat memikatnya kembali"

Sambil tertawa Be Siau soh segera manggut manggut.

"Akupun berpendapat demikian"

Katanya "cuma sekarang ada kau disisinya, aku rasa hal ini agak sulit!"

"Benarkah begitu...?"

Sebenarnya dia hendak mengatakan mengapa tidak kau bunuh diriku lebih dulu? Tapi kemudian kata kata tersebut diurungkan. Tiba tiba dengan kening berkerut Be Siau soh berkata lagi.

"Heran, kenapa hari ini hanya dia seorang yang tidak nampak munculkan diri di sini?"

Sudah barang tentu Bwe Leng soat tak akan mengatakan secara jujur kepadanya kalau Ong It sin sedang pergi ke lembah Im hong kok untuk meminjam bola inti es Peng pok ciu.

Maka setelah memutar biji matanya sebentar, diapun menjawab.

"Engkoh Sin jauh sebelum peristiwa ini berlangsung telah sampai disini, mungkin saja pada saat ini dia sudah berada di dalam markas besarmu sana..."

Mendengar perkataan itu, Be Siau soh menjadi amat terperanjat, segera pikirnya.

"Celaka! Jika ia sampai melepaskan api untuk membakar markas besar, bisa berabe jadinya!"

Tapi kemudian ia berpikir lebih jauh.

"Aaah... tak mungkin, bila ia benar benar telah pergi ke markas besarku, masa budak ingusan ini akan berterus terang mengatakannya kepadaku? Sudah pasti dia lagi menggunakan siasat licik untuk menipuku, agar pikiran dan perasaanku menjadi kalut tak karuan"

Oleh karena dia mempunyai anggapan demikian, maka rasa terkejut yang semula melintas diatas wajahnya pun segera lenyap tak berbekas. Dengan cepatnya pula dia pulih kembali dalam ketenangan, katanya.

"Dalam markas besarku itu penuh dengan alat jebakan serta persiapan yang matang, semoga saja dia jangan ke sana"

Dengan cepat kedua orang itu sama sama memutar otak dan beradu kecerdikan, masing masing pihak dengan mengandalkan kecerdasan otaknya serta ketajaman mulutnya untuk saling merobohkan dan saling mengalutkan pikiran lawan.

Terdengar Bwe Leng soat berkata.

"Pepatah mengatakan, yang datang tidak bermaksud baik, yang bermaksud baik tak akan datang, setelah Engkoh Sin datang kesitu, memangnya dia musti menguatirkan segala macam alat jebakan dan persiapan yang kau atur di tempat itu?"

"Legakah hatimu membiarkan dia menyerempet bahaya seorang diri?"

Jengek Be Siau soh.

"Tahu dia tahu pula aku, jika kita sudah saling percaya mempercayai, sudah barang tentu aku tak perlu kuatir"

Tiba tiba dia merasa bila keadaan semacam ini dilangsungkan lebih jauh, keadaannya sama sekali tidak menarik, maka katanya kemudian dengan suara dingin.

"Lebih baik kita kembali kesoal yang pokok saja, berbicara melulu tak ada gunanya, mengapa kita tidak selesaikan dengan jalan bertarung saja...?"

Be Siau soh segera memberi tanda dengan tangannya seraya mencegah.

"Sekarang tengah hari sudah tiba, inilah saatnya untuk bersantap siang, nona Bwe, kalau ingin beradu kekuatan, paling tidak juga harus kau tunggu setelah aku bertindak sebagai seorang tuan rumah yang baik"

Mendengar perkataan itu, dengan cepat Bwe Leng soat berpikir didalam hatinya.

"Bagaimanapun juga, mengulur waktu merupakan tugas yang terutama dalam penampilanku sekarang, mumpung ada kesempatan untuk berbuat demikian, mengapa tidak kumanfaatkan dengan begitu saja...?"

Berpikir sampai disitu, tanpa berpikir lebih jauh lagi, dia lantas menyahut.

"Baiklah, setelah perjamuan nanti, kita baru tentukan siapa yang lebih kosen diantara kita berdua"

Selesai berkata, dia lantas melayang turun dari atas panggung.

Dalam pada itu, Be Siau soh telah berpaling kearah barak sebelah barat, kepada para jago yang berkumpul disitu, katanya dengan suara lantang.

"Para ciangbunjin, para enghiong dan hohan sekalian, dalam menyelenggarakan pertemuan pada hari ini, apakah penyelenggaraan ini akan berjaga atau berbuat dosa kepada kalian semua, hingga dewasa ini masih belum bisa ditentukan, cuma bagaimanapun juga, umat persilatan yang ada didunia ini sesungguhnya bersumber satu, setelah kalian semua bersedia untuk berkunjung ke lembah Jit hwe kok ini, paling tidak aku sebagai tuan rumah tempat ini harus menunjukkan sedikit baktiku sebagai tuan rumah yang baik. Betul perkumpulan kami tak bisa menyiapkan hidangan yang serba lezat dan enak, tapi hanya sedikit hidangan yang kasar dan arak jelek yang dapat kami siapkan, harap bisa menggembirakan pula hati kalian semua. Nah, pertama tama pun kaucu akan menghormati dulu para ciangbunjin dan para enghiong hoo han sekalian dengan secawan arak, semoga kalian semua selalu sehat wal afiat..."

Selesai berkata dia lantas meneguk habis isi cawannya sampai kering...

Sejak memasuki lembah Jit hwe kok tersebut, dalam hati kecil para jago telah timbul perasaan was was yang amat tinggi mereka kuatir kalau dalam arak ada racunnya maka semua orang menjadi ragu ragu dan tak berani meneguk habis arak tersebut.

Menyaksikan kejadian ini Be Siau soh segera mendongakkan kepalanya dan tertawa terbahak bahak.

"Haaahh... haaahh... haaahh... rupanya kalian takut kalau aku mencampurkan obat beracun kedalam arak kalian? haaahh... haaahh... kenapa tidak kalian buktikan sendiri?"

Dengan cepat dia menitahkan anak buahnya untuk mendatangi meja perjamuan para jago dan masing masing pihak menuang tiga cawan arak dari pocu yang ada disitu kemudian diteguk sampai habis, betul juga, mereka sama sekali tidak menampakkan gejala keracunan.

Setelah menyaksikan hal ini semua orang baru merasa lega dan meneguk habis isi cawan masing masing.

Tay gi siansu dari Siau lim pay masih belum bisa mempercayai ucapan lawan, dengan cepat dia minta kepada Sin san gi in untuk memeriksa sayur dalam meja dengan jarum perak.

Ketika kemudian terbukti kalau hidangan yang ada disitu sama sekali tak beracun, mereka baru makan minum dengan perasaan lega.

Pada saat yang hampir bersamaan, semua orang sedang berpikir didalam hatinya.

"Heran, mengapa kali ini pihak Ki thian kau bisa bersikap tulus ikhlas dan jujur seperti ini?"

Malahan Cing hoa loni yang selamanya jarang minum arakpun, kali ini turut menghabiskan tiga cawan arak.

Setelah perjamuan mendekati penyelesaian, Ki thian kaucu Be Siau soh dengan membawa sekulum senyuman licik berkata.

"Saudara sekalian, kini makan sudah kenyang, minum sudah mabuk, aku rasa inilah saat yang paling tepat untuk mempertimbangkan usul kami agar kalian bersedia menggabungkan diri dengan perkumpulan kami!"

Mendengar perkataan itu, paras muka semua jago jago segera berubah menjadi amat hebat. Kim liong lojin Bwe Hoa poh segera menyahut dengan suara yang dingin seperti es.

"Be Kongcu, apakah kau tidak merasa bahwa ucapan itu terlalu berlebih lebihan?"

"Tentu saja, cuma... bagaimanapun juga kami tetap akan berusaha keras untuk memaksa kalian agar menggabungkan diri dengan perkumpulan kami..."

"Seandainya kami semua tidak bersedia untuk memenuhi keinginanmu, apa pula yang hendak kau lakukan? Bukankah ucapanmu itu sama seperti orang bodoh yang lagi mengigau?"

Kembali senyuman licik menghiasi ujung bibir Be Siau soh, katanya kemudian.

"Aku rasa, kalian tak akan bisa mengambil keputusan lagi dengan semau hati sendiri"

Diam diam Kim liong lojin merasa terkejut sekali, serunya kemudian setelah termenung sejenak.

"Apakah kau hendak mengandalkan kepandaian silatmu yang sangat lihay itu untuk menguasahi kami semua?"

"Sekarang aku sudah tidak perlu menggunakan apa apa lagi, ilmu silat juga tidak, kekerasan juga tidak!"

Lantas apa maksud dari perkataannya itu?

Dengan cepat satu ingatan melintas didalam benak Kim liong lojin, dia masih ingat sebelum perjamuan dimulai tadi, perempuan itu sama sekali tidak mempunyai keyakinan apa apa, malahan berbicara sesumbar pun tak berani, apa sebabnya sikap perempuan itu berubah seratus delapan puluh derajat setelah mereka selesai bersantap dan minum arak?

Jangan jangan dibalik hidangan itu ada sesuatu yang tak beres?

Berpikir sampai disini tak tahan lagi dia lantas bertanya.

"Apakah kau telah melakukan suatu permainan busuk didalam sayur dan arak yang kau hidangkan untuk kami?"

Be Siau soh tertawa tergelak gelak.

"Haaahhh... haaahhh... haaahhh... tampaknya Bwe ciangbunjin tidak terhitung seorang yang pikun, tepat sekali, kalian telah terkena racun tak berwujud dari Thian tok tay ong, kini kamu semua telah keracunan hebat"

"Aku tidak percaya..."

Seru Pek lek to To hu Hiong dengan wajah sangsi.

"Jika kalian semua tidak percaya, mengapa tidak mencoba untuk mengatur napas dan coba dibuktikan apa benar sudah keracunan atau tidak..."

Mendengar ucapan tersebut, para jago segera mencoba untuk mengatur pernapasan mereka betul juga, segera terasa peredaran darah mereka tersumbat dan tenaga yang dimilikinya sama sekali tak mampu untuk dikerahkan kembali.

Hanya Bwe Leng soat seorang yang sama sekali tidak menunjukkan gejala keracunan.

Dalam kejut dan kagetnya para jago menjadi kehilangan pegangan, masing masing orang lantas bertanya kepada Sin san gi in.

"Apa yang sebenarnya telah terjadi?"

Padahal Sin san gi in (Tabib pertapa dari bukit Sin san) ini telah melakukan pemeriksaan yang seksama terhadap setiap macam sayur dan arak yang berada disitu dan terbukti bahwa semua hidangan tiada racunnya, kenapa sekarang terbukti kalau mereka semua telah keracunan?

Sebenarnya apa yang telah terjadi?

Dengan wajah keheranan dan tidak habis mengerti, dia lantas bertanya kembali.

"Be kaucu, setiap bahan beracun yang ada didunia ini bisa lohu buktikan dan temukan secara mudah, tapi hari ini lohu tidak berhasil menemukan gejala adanya racun didalam hidangan yang ada disini, sebenarnya apa yang telah terjadi? Dimanakah letak racun itu?"

"Mengenai persoalan ini ada baiknya kalau kau tanyakkan sendiri kepada Hek lian Jin dari perkumpulan kami"

Sahut Be Siau soh.

Selesai berkata, dia lantas menunjuk ke arah seorang kakek bertubuh tinggi besar yang berdiri disampingnya.

Ketika Bwe Leng soat mendongakkan kepalanya, maka tampaklah kakek tersebut tak lain adalah Thian tok Tay ong Hek lian Jin yang berhasil melarikan diri dari kota ular beracun, tak heran kalau racun yang digunakan olehnya begitu lihay.

Namun si Tabib pertapa dari bukit Sin san tidak puas sampai disitu saja ia lantas berseru.

"Aku ingin tahu, mengapa racun yang kau lepaskan terhadap kami, bisa lolos dari pemeriksaan lohu? Apa yang sebenarnya telah kau lakukan...? Tolong berilah keterangan"

Thian tok tay ong memandang lekat lekat musuhnya, setelah itu dia berkata.

"Lohu sama sekali tidak melemparkan racun tersebut dalam sayur maupun dalam arak yang dihidangkan"

"Lantas mengapa kau bisa menyebabkan semua orang menjadi keracunan hebat..."

"Tak ada salahnya bila kuberitahukan hal ini sekarang, sesungguhnya hal ini merupakan salah satu rencana yang telah kami susun secara baik. Sewaktu aku mendapat tahu akan kehadiranmu dalam pertemuan ini segera kusadari bahwa meracun sayur dan arak sama sekali tak ada gunanya, sebab toh akhirnya tak akan terhindar dari pemeriksaanmu yang seksama, oleh karena itu di saat yang terakhir aku telah merubah rencana semula, yakni kuberikan racun tadi di dalam dasar mangkuk tempat hidangan yang manis manis, sementara diatasnya diberi benda yang tidak gampang meleleh bila bertemu dengan panas. Ketika kau melakukan pemeriksaan tadi, racun tersebut belum lagi melumer, menanti kau menyelesaikan pemeriksaanmu racun itu baru melumer dan menyerap kedalam hidangan, itu pula sebabnya kalian semua menjadi keracunan hebat. Nah, penjelasanku ini cukup memuaskan kalian semua bukan?"

Setelah mendengar perkataan itu, si Tabib pertapa dari bukit Sin san baru menghela napas sedih, katanya.

"Cara kerja serta tindakanmu benar benar hebat, keji dan cerdik, bagaimanapun juga lohu merasa kagum sekali, cuma... kalau suruh aku menyerah kalah, jangan bermimpi disiang hari bolong..."

Belum selesai dia berkata, mendadak terdengar suara parau lainnya berseru memuji.

"Lu tayhiap, kau memang tak malu kalau disebut sebagai seorang lelaki sejati!"

Ucapan mana bukan berasal dari barak sebelah barat. Dengan suara lantang Be Siau soh segera membentak keras.

"Siapa disitu?"

"Omintohud, lolap adalah anggota dari agama Buddha"

Jelas jawaban tersebut berasal dari seorang pendeta.

Betul juga, dari mulut lembah Jit hwe kok sebelah depan sana, tiba tiba muncul seorang pendeta dan seorang nikou yang sedang meluncur tiba dengan kecepatan luar biasa.

Kepandaian silat yang dimiliki kedua orang pendeta itu betul betul luar biasa sekali, dalam waktu singkat mereka telah tiba ditengah lapangan yang memisahkan barak sebelah barat dengan barak sebelah timur.

Thian yan siansu dan Thian ci siansu dari partai Siau lim segera mengenali siapa gerangan kedua orang ini, dengan wajah berseri karena kegirangan mereka segera berseru.

"Oooh... rupanya Ih lwe seng telah datang, kami benar benar akan tertolong..."

Thian hiang siancu Bwe Leng soat buru buru maju pula ke depan menyambut kedatangan gurunya berdua, malahan dia segera melaporkan kalau para jago telah keracunan hebat semuanya.

Leng mong sin ceng segera bertanya.

"Ke mana perginya muridku Ong It sin?"

Dengan ilmu menyampaikan suara Bwe Leng soat berbisik.

"Dia sedang pergi ke lembah Im hong kok untuk meminjam bola ini es Peng pok ciu, tak lama kemudian dia pasti telah kembali kemari"

Leng mong sin ceng tampak agak terperanjat, serunya dengan cepat.

"Apakah Ciok yong li sin juga telah menggabungkan diri dengan perkumpulan Ki thian kau?"

"Yaa, benar, kami telah mendapatkan laporan yang bisa dipercaya, konon orang itu sedang bertugas pula didalam perkumpulan Ki thian kau"

"Sin ni"

Kata Leng mong sin ceng kemudian.

"tampaknya kita harus mengalami dahulu pertarungan ini sebelum bisa terbang kembali kelangit..."

"Kalau memang begitu apa lagi yang kau tunggu? Too heng boleh segera menolong mereka yang terluka, biar pin ni yang menghadapi Ki thian kaucu tersebut"

Begitu selesai berkata, dia lantas melayang naik keatas panggung lui tay.

Sementara itu, sejak mengetahui akan kehadiran Ih lwe ji seng (sepasang malaikat dari jagad) Be Siau soh meloloskan pedang Hu si ku kiam miliknya untuk bersiap siap menghadapi segala kemungkinan yang tidak diinginkan.

Terdengar Biau si sinni berkata.

"Be kaucu, gara gara ambisimu untuk menguasahi seluruh dunia persilatan dan memerintah jagad kau telah melakukan tindakan yang keji dan busuk terhadap umat persilatan, apakah kau tidak merasa bahwa perbuatanmu itu amat keterlaluan? Apakah kau tidak menyesal terhadap para jago yang ada didunia ini?"

Setelah berhenti sejenak dia melanjutkan "Apalagi jika sesuatu yang diusahakan dengan kelicikan dan kebusukan sekalipun kau berhasil menguasahi seluruh jagad apakah hal itu bisa berlangsung dengan langgeng?"

Dengan Be Siau soh menjawab.

"Ucapan yang tak sedap didengar itu hanya cocok kalau dikatakan kepada seorang bocah yang baru berumur tiga tahun, bila ada orang menganggap aku telah menggunakan siasat busuk untuk menguasahi jagad, dia toh boleh saja menggunakan siasat busuk pula untuk menghadapi diriku."

Oleh ucapan tersebut, Biau si sinni menjadi terbungkam dan tak bisa berkata apa apa lagi, selang sejenak kemudian pendeta itu baru berbisik.

"Omintohud, kalau toh sicu bersikeras hendak mengandalkan kepandaian silat dan siasat licik untuk menaklukkan seluruh kolong langit, terpaksa sinni juga harus meminta petunjuk ilmu silatmu"

Be Siau soh segera berkerut kening, hawa napsu membunuh dengan cepat menyelimuti seluruh wajahnya, dia membentak keras.

"Memangnya kau anggap aku takut kepadamu?"

Pergelangan tangannya segera digetarkan, dengan jurus Kay thian pit tee (membuka langit menutup bumi) dia maju ke depan dengan suatu gerakan yang cekatan, kemudian selapis cahaya pedang yang tajam dan tebal secepat kilat menyambar ke depan menusuk ke ulu hati pendeta perempuan tersebut...

Dengan cekatan Biau si sinni berkelit ke samping untuk menghindarkan diri dari ancaman tersebut, kemudian katanya.

"Sicu, kau benar benar berangasan..."

Mendengar peringatan itu, Be Siau soh segera sadar kembali akan kesalahannya, dia lantas berpikir.

"Betul, menghadapi jago lihay seperti ini aku memang tak boleh berbuat terlampau berangasan..."

Berpikir sampai disitu, dengan cepat dia memusatkan seluruh perhatiannya menjadi satu, menyusul kemudian jurus kedua Sian kan coan kun (memutar balikkan jagad) dilancarkan.

Seketika itu juga, tampak cahaya panca warna memancar ke empat penjuru dan menyelimuti angkasa.

Kelihayannya benar benar menggetarkan hati siapapun juga yang menyaksikannya.

OodeoO Biau si sinni merasa terkesiap juga menghadapi ancaman musuhnya yang amat dahsyat itu, pikirnya kemudian.

"Rupanya dia telah berhasil mempelajari ilmu Ngo heng sin kang yang maha dahsyat itu, tak heran kalau ambisinya untuk menguasahi seluruh jagad begitu besar"

Dengan suatu kecepatan yang luar biasa, nikou tua itu segera meloloskan pedang Liu ing kiam miliknya.

Dengan enteng dia maju ke depan, merendahkan tubuhnya dan melancarkan sebuah babatan, kemudian tangan kirinya didorong ke depan dengan jurus Hwe long tiap (gulungan ombak bersusun) untuk membentuk satu lingkaran busur, diiringi desingan angin tajam yang memekikkan telinga, serangan tersebut segera dilontarkan ke depan secara bertubi tubi.

Be Siau soh melototkan sepasang matanya besar besar, dengan marah dia membentak keras.

"Nikou tua bangsat... kau sendiripun tidak terhitung seorang pendeta yang penuh welas asih!"

Ditengah pembicaraan itu, dia telah melancarkan serangan dengan jurus yang ketiga dan jurus keempat.

Sementara itu Bwe Leng soat yang menonton jalannya pertarungan itu dari tepi arena, dapat melihat bahwa tenaga dalam yang dimiliki Be Siau soh memang jauh lebih tangguh beberapa kali lipat bila dibandingkan dengan kemampuan dari Sangkoan Bu cing.

Tapi dia sama sekali tidak menguatirkan keselamatan gurunya sebab dia tahu bahwa gurunya telah berhasil melatih diri hingga mencapai taraf tubuh Kim kong yang kebal terhadap pelbagai senjata, bahkan kalau dibandingkan dengan kemampuan yang dimilikinya sekarang masih jauh lebih hebat beberapa tingkat...

Didalam anggapannya, sekalipun belum tentu bisa meraih kemenangan, paling tidak juga tak akan menderita kekalahan.

Tapi, ketika keseratus delapan jurus yang digunakan Biau si sinni untuk melancarkan serangan telah habis digunakan ternyata Be Siau soh belum juga kena dirobohkan.

Lama kelamaan kehebatan pendeta perempuan itu makin merosot dan tak bisa seperti tadi lagi.

Keadaan tersebut bukan saja ditemukan olehnya, bahkan para jago yang berkumpul disana maupun pihak musuhpun merasakan ada sesuatu yang tak beres dalam arena pertarungan itu.

Tanpa terasa, Thian hiang siancu Bwe Leng soat menjadi gugup bercampur panik kepada Leng mong sin ceng segera serunya "Su pek, apakah siluman perempuan itu bisa menggunakan ilmu sesat?"

Sementara itu Leng mong sinceng telah membagikan obat penawar racun kepada semua jago yang keracunan, mendengar pertanyaan itu, segera sahutnya dengan cepat.

"Nona keliru besar bila beranggapan demikian, Be Siau soh sama sekali tidak pandai menggunakan ilmu sesat..."

"Kalau begitu, pastilah suhu sudah lanjut usia sehingga daya tahannya makin merosot..."

"Juga bukan lantaran persoalan itu, bagi seseorang yang telah mencapai tingkatan tubuh Kim kong, hawa murninya bisa keluar tanpa henti hentinya, atau dengan perkataan lain, kekuatan tersebut bisa dipakai tanpa suatu pembatasan"

"Kalau memang begitu, aku menjadi semakin tidak habis mengerti lagi..."

"Persoalannya adalah terletak pada pedang Hu si ku kiam yang dipakai oleh Be Siau soh itu"

"Apakah pedang itu mempunyai kekuatan yang luar biasa?"

"Bukan begitu saja, bahkan pedang Hu si ku kiam itupun dapat mengeluarkan tenaga magnit yang bisa digunakan untuk mengendalikan gerakan pedang musuhnya, bagaimanapun lihaynya tenaga dalam seseorang bila sudah berhadapan dengan senjata itu, maka kepandaian tersebut seolah olah menjadi kehilangan kemampuannya menguasahi lawan, masih untung saja dia tidak mempelajari ilmu pedang Sang yang kiam hoat, kalau tidak, keadaannya pasti akan bertambah berabe"

"Mengapa?"

Leng mong sinceng mengalihkan sorot matanya keatas panggung Liu tay, tak sempat memberi penjelasan lagi, dia mengebaskan ujung jubahnya dan tahu tahu sudah melompat naik keatas panggung Lui tay sambil serunya dengan lantang.

"Sinni, kau boleh beristirahat dulu, biar lolap yang mencoba sampai dimanakah kehebatan dari ilmu pedang Be kaucu"

Menggunakan kesempatan itu, Biau si sinni segera melompat mundur dari arena pertarungan, sahutnya.

"To heng, kau harus berhati hati terhadap kekuatan sakti yang terpancar keluar dari senjata Hu si ku kiam tersebut, hampir saja sinni terkecoh oleh kehebatan itu"

"Soal ini lolap sudah tahu, tapi hanya muridku seorang yang dapat mematahkan kekuatan tersebut"

Ucapan ini seketika itu juga membuat Bwe Leng soat menjadi bingung dan tidak habis mengerti. Tapi Biau si sinni seperti menyadari akan sesuatu, dengan cepat dia berbisik.

"Omitohud!"

Be Siau soh sendiripun dibuat tidak habis mengerti, diam diam pikirnya.

"Hwesio tua ini lagi mengaco belo tak karuan, mana mungkin si murid dapat mematahkan seranganku sebaliknya gurunya malah tak mampu, yaa, pasti ia lagi mengigau"

Berpikir sampai disitu, dia lantas tertawa senang, katanya.

"Wahai hwesio gede, kedengarannya kau mempunyai kepandaian yang sangat hebat, aku harap kau jangan seperti nikou tua tersebut, begitu tak becus dan tak mampu apa apa"

Selesai berkata secara beruntun dia melancarkan tiga buah bacokan berantai.

Namun Leng mong sinceng menghadapinya secara gesit dan lincah, bukan saja melayaninya dengan tangan kosong belaka, bahkan selalu menghindarkan diri dari ancaman langsung.

Sekalipun demikian, keadaannya malah jauh lebih baikan.

Cuma saja, pertarungan yang lebih mengandalkan pertahanan daripada serangan ini benar benar merugikan tenaganya.

Dua kali gebrakan kemudian, gerak gerik hwesio tua itu sudah tidak selincah dan segesit permulaan tadi lagi.

Menyaksikan keadaan tersebut, semua jago yang ada ditempat itu menjadi kebat kebit tak karuan, rata rata mereka menunjukkan perasaan cemas dan bercampur kuatir.

Sebab seandainya Ih lwe ji seng sampai tak mampu untuk menghadapi kehebatan lawan, maka akibatnya sukar untuk dilukiskan dengan kata kata.

Berbeda dengan para anggota Ki thian kau mereka menjadi kegirangan setengah mati, malah sorak sorai yang gegap gempita mulai berkumandang memecahkan keheningan.

Seketika itu juga Be Siau soh merasa bangganya bukan kepalang, sambil tertawa cekikikan katanya.

"Wahai hwesio tua, kenapa kau tidak melakukan serangan balasan? Apakah kaupun merasa sayang untuk membunuh seorang gadis cantik seperti diriku ini?"

"Perkataan apa itu?"

"Omintohud"

Seru Leng mong sinceng kemudian.

"bagaimanapun juga kau adalah seorang ketua dari suatu perkumpulan besar, mengapa mulutmu begitu kotor dan tak tahu sopan santun?"

Be Siau soh segera tertawa cekikikan.

"Haaahhh... haaahhh... haaahhh... aku sih tidak terbiasa untuk berbicara secara sopan santun, dihadapan murid berlagak sok serius dan suci, padahal... apa yang sedang dipikirkan dalam hati, siapa tahu? Daripada sok berlagak serius, kan lebih baik berterus terang apa adanya..."

Belum habis dia berkata, semua orang anggota Ki thian kau yang berada disekitar sana telah bersorak sorai dengan gegap gempita.

Sementara Ki thian kaucu Be Siau soh berlagak dengan angkuhnya diatas panggung, mendadak dari luar lembah Jit hwee kok berkumandang datang suara pekikan yang amat nyaring.

Begitu mendengar suara pekikan tersebut, hwesio tua itu segera merasakan hatinya menjadi lega.

"Li sicu"

Katanya kemudian.

"apakah kau tidak merasa perkataanmu itu diutarakan kelewat awal?"

Be Siau soh segera tertawa terbahak bahak.

"Haaahhh... haaahhh... haaahhh... Ih lwe ji seng tak lebih hanya begitu saja, mulai sekarang pun kaucu sudah sepantasnya kalau disebut sebagai manusia nomor wahid dikolong langit..."

"Hmmm, ucapan seekor katak dalam dasar sumur..."

Mendadak dari belakang tubuhnya berkumandang suara ejekan yang sinis.

Dengan terperanjat Be Siau soh berpaling ke belakang...

Entah sejak kapan diatas panggung telah bertambah dengan seorang pemuda tampan yang berbaju biru.

Pemuda itu sama sekali tidak menggubrisnya, kepada Leng mong sinceng ia memberi hormat seraya berseru.

"Tecu menjumpai suhu!"

"Apakah tugasmu telah kau laksanakan dengan baik?"

Tanya Leng mong sin ceng kemudian.

Mula mula pemuda itu agak tertegun, namun ketika sorot matanya saling bertemu dengan Bwe Leng soat, dia baru mengerti apa yang ditanyakan gurunya, buru buru dia menyahut.

"Walaupun mengalami banyak rintangan untung saja semuanya dapat berhasil dengan sukses"

"Bagus sekali, sekarang kau boleh menggunakan ilmu pedang Sang yang kiam hoat untuk bertarung dengannya"

Begitu selesai berkata dia lantas melayang turun lebih dahulu dari atas panggung.

Sementara itu, Be Siau soh telah memperhatikan diri Ong It sin dari atas sampai ke bawah, dia merasa perawakan tubuhnya masih tegap seperti sedia kala, nada suaranya juga tak berubah, satu satunya yang berubah hanya raut wajahnya.

Pada hakekatnya dia tak bisa dibilang seorang lelaki tampan yang belum pernah dijumpainya selama ini.

Yang lebih hebat lagi adalah sikap maupun cara kerjanya, dari seorang yang bego kini telah berubah menjadi pintar sekali.

Sementara dia masih tertegun dan termangu...

Ong It sin telah merogoh ke dalam sakunya dan mengeluarkan sebuah topeng kulit manusia, kemudian dikenakan diatas wajahnya, dengan cepat dia berubah kembali menjadi seorang manusia bertampang jelek sekali, bermulut seperti babi, hidung pesek, mata melotot, tulang kening menonjol, betul betul jeleknya bukan kepalang.

Tapi tak lama kemudian dia telah melepaskan topeng kulit manusia itu dan pulih kembali kedalam wajah yang sebenarnya.

Bila dibandingkan kedua hal tersebut, maka antara tampang yang jelek dan tampang yang bagus seakan akan terpisah oleh suatu selisih jarak yang besar sekali.

Makin dilihat Be Siau soh merasa makin senang, akhirnya berseru dengan manja.

"Adik Sin, rupanya waktu itu kau mengenakan topeng kulit manusia, kau benar benar menipuku habis habisan"

"Ayahku yang mengenakan topeng tersebut diatas wajahku, jangankan kau, aku sendiripun tidak tahu!"

"Yaa, kalau kuketahui sedari dulu, tentu keadaannya akan jauh lebih baik lagi"

Seru Be Siau soh cepat cepat. Mendengar perkataan itu, tanpa terasa Ong It sin segera menyingkir dengan sinis.

"Tapi tentunya tak akan berubah ambisimu untuk menguasahi seluruh jagad bukan?"

Be Siau soh mengerling sekejap kearahnya lalu menjawab.

"Tampaknya kau seperti amat memahami gerak gerikku?"

"Buat apa musti dibicarakan lagi?"

"Sekarang aku telah berhasil meraih suatu keuntungan kecil yakni mendirikan perkumpulan Ki thian kau, bersediakah kau bersikap seperti dulu lagi dan membantu usahaku sepenuh hati?"

Mendengar perkataan tersebut, Ong It sin segera tertawa. Melihat itu, dengan kening berkerut Be Siau soh berseru manja.

"Apakah kau tidak bersedia?"

"Aku mah tidak mempunyai kepandaian sehebat itu"

Jawab Ong It sin hambar.

"selain itu tujuan perkumpulan kalian..."

"Tujuan dari perkumpulan kami adalah menguasahi seluruh dunia persilatan dan menghindar segala macam pertikaian yang tidak diperlukan, apakah tujuan itu tidak betul?"

"Lebih baik jangan berbicara seenaknya sendiri, ucapan saja manis ingin menghindari pertikaian yang tak ada gunanya padahal perbuatanmu busuk melakukan kebrutalan dan kemesuman dimana mana, kalau orang lain suka kedamaian maka kau lebih suka melumuri dunia persilatan dengan darah segar... hmmm, bila tujuan dari perkumpulan kalian adalah berbuat demikian, aku yang pertama tama tak akan berpeluk tangan belaka membiarkan kau bertindak semena mena..."

Diam diam Be Siau soh merasa terkejut sekali, pikirnya.

"Tajam sekali perkataan dari orang ini, tampaknya dia tak bisa dihadapi lagi dengan gampang seperti dahulu!"

Biji matanya segera diputar, senyuman yang menghiasi bibirnya juga tetap seperti sedia kala ujarnya kemudian.

"Aku selamanya berbicara cita luhur dan ingin banyak melakukan kebajikan bagi umat persilatan, bila kau beranggapan bahwa cita cita serta tujuan dari perkumpulanku ini kurang baik, aku pasti akan menuruti usulmu dan melakukan perombakan besar besaran"

"Hmmm... ucapanmu lain dimulut lain dihati, kau anggap aku akan mempercayai perkataanmu itu dengan begitu saja?"

Setelah berhenti sejenak, dia melanjutkan.

"Lagipula sekalipun aku mengusulkan suatu perombakan, toh belum tentu kau akan menurutinya!"

"Aaah, belum tentu,"

Seru Be Siau soh cepat cepat. Dengan wajah serius Ong It sin segera berseru.

"Sekarang usulku yang pertama adalah membubarkan perkumpulan Ki thian kau..."

Begitu ucapan tersebut diutarakan, serentak pula jago lihay dari perkumpulan Ki thian kau berteriak teriak keras, suasana menjadi amat gaduh sekali.

Terdengar teriakan teriakan masih saja berkumandang.

"Bocah keparat itu betul betul lagi mengigau disiang hari bolong, kaucu bunuh saja bangsat itu, dia selalu memusuhi perkumpulan kita... jagal saja sampai mampus..."

Dengan cepat Be Siau soh mengangkat tangannya untuk menenangkan kembali para jagonya, setelah itu dia baru berkata kepada Ong It sin!

"Adik Sin, usulmu itu betul betul menyusahkan aku, dan lagi tak mungkin bisa kupenuhi"

Ong It sin berpikir sebentar, kemudian dia berkata lebih jauh.

"Kalau toh anak buahmu sudah terperosok sedalam itu, kejahatan mereka tak mungkin bisa diampuni lagi, sedang kaupun tak usah mengorbankan diri demi mereka, lebih baik lepaskan saja jabatanmu sebagai kaucu, kemudian biar aku yang menghadapi mereka, dengan demikian, kau toh tak usah merasa serba salah dibuatnya?"

Ucapan ini betul betul lihay sekali.

Bagaimanapun liciknya Be Siau soh, dalam keadaan demikian, semua kelicikan tersebut tak mampu dia gunakan, akhirnya wajah yang sebenarnya pun ditampilkan.

Dengan wajah sedingin es dia berkata.

"Sungguh tak disangka dalam tiga tahun yang teramat singkat, bukan cuma orangnya saja yang telah berubah, hatipun turut berubah, kalau toh kau begitu tak berperasaan jangan salahkan kalau akupun tak akan mengasihi dirimu pula"

"Kaucu, apa yang ingin kau lakukan?"

"Aaa... kekasihku, sungguh tak disangka kita harus berjumpa diujung senjata"

Kata Be Siau soh sambil menghela napas panjang.

"Maksudmu kau menantang aku untuk berduel diujung senjata?"

Kata Ong It sin menegaskan.

"Kecuali jalan ini, apakah masih ada jalan lain yang bisa ditempuh lagi...?"

Sesudah berhenti sejenak, diapun berkata lebih lanjut.

"Begini saja, bila kau berhasil menangkan aku, maka aku bersedia untuk meluluskan permintaanmu dan ikut bersamamu..."

Begitu ucapan tersebut diutarakan, dua orang gadis Bwe yang berada dibawah panggung menjadi amat gelisah, pikir mereka hampir berbareng.

"Andaikata engkoh Sin benar benar sampai membawa serta perempuan siluman itu untuk hidup bersama, bagaimana dengan penghidupan kami selanjutnya...?"

Sementara itu Ong It sin telah melayang naik ke atas panggung sambil berseru.

"Andaikata aku yang kalah?"

Be Siau soh segera tertawa terkekeh kekeh "Haaahhh... haaahhh... haaahhh... kalau sampai begitu, terpaksa aku akan menjadikan dirimu sebagai budak dalam kamar tidurku"

Berbicara pulang pergi, tampaknya perempuan jalang itu berusaha untuk menempeli sang pemuda. Bwe Yau menjadi mendongkolnya setengah mati, dia segera menyumpah dengan lirih.

"Betul betul perempuan sialan yang tak tahu malu!"

"Tak usah gelisah dulu"

Hibur Bwe Leng soat cepat cepat.

"Engkoh Sin toh belum tentu akan membiarkan dirinya dibelenggu oleh perempuan jahanam tersebut"

"Kalau memang begitu, kenapa dia tak mau menolak saja syarat tersebut tegas tegas?"

"Sebab keadaan yang sedang kita hadapi sekarang amat gawat"

Sahut Bwe Leng soat dengan suara dalam.

"bila perempuan itu didesak kelewat batas, hal mana justru akan merugikan posisi kita"

Sementara pembicaraan masih berlangsung kedua orang itu sudah terlibat dalam suatu pertarungan yang sengit.

Walaupun ilmu Hu si ku kiam yang dimiliki Be Siau soh sangat lihay dengan kekuatan yang luar biasa, oleh karena semua orang telah menyaksikan kehebatannya, maka kelihayan mana tidak sampai mendatangkan rasa cengang lagi dalam hati mereka.

Lain halnya dengan penampilan ilmu pedang Sang yang kiam hoat yang ditunjukkan Ong It sin, dimana bukan cuma aliran gerakannya yang lain daripada yang lain, di balik tipuan ternyata terselip pula tipuan lain, begitu dipergunakan, kontan saja semua orang menjadi ternganga dibuatnya.

Tampak cahaya tajam yang memancarkan panca warna bergumul dan saling menindih dengan bunga bunga pedang berwarna emas.

Yang seorang merupakan kaucu dari perkumpulan Ki thian kau yang terhitung pentolan gembong iblis dari kaum sesat.

Sebaliknya yang lain adalah ahli waris dari Ji seng dan merupakan bintang tenar bagi dunia persilatan.

Dalam waktu singkat, hawa pedang yang terpancar keluar dari arena pertarungan itu membuat para jago yang berada puluhan kaki jauhnya dari sanapun turut merasakan kedinginn.

Diantara pancaran cahaya dingin yang menggidikkan hati itu, diam diam semua orang bergidik juga dibuatnya.

Pertarungan ini benar benar merupakan pertarungan yang mengerikan hati.

Makin bertarung Be Siau soh merasakan hatinya semakin terkesiap, dia benar benar tidak menyangka kalau kepandaian silat yang dimiliki lawannya begitu lihay dan hebat.

Ia telah merasakan daya kekuatan yang terpancar keluar dari ujung pedang lawan makin lama semakin kuat, bila dibandingkan dengan pertarungannya melawan Biau si sinni atau Leng mong sinceng, maka hal tersebut boleh dibilang selisih jauh sekali.

Jika menghadapi dua orang malaikat tadi maka semakin bertarung kekuatan musuhnya makin lemah, seakan akan mereka terpengaruh oleh tekanan kekuatan yang terpancar keluar dari Hu si ku kiam sehingga sama sekali tak mampu berkutik, maka dalam menghadapi pemuda ini, bukan saja kekuatan lawannya makin meningkat, bahkan seakan akan sama sekali tidak terpengaruh oleh kekuatan yang terpancar dari pedang mestikanya itu.

Terutama sekali adalah jurus jurus serangan yang digunakan Ong It sin hampir semuanya merupakan jurus jurus tangguh yang dapat mendahului gerakannya, malahan menyudutkan posisinya hingga tak mampu berkutik secara bebas.

Ih lwe ji seng dan Ay sian sekalian terhitung jago jago persilatan yang berilmu tinggi, dengan ketajaman mata mereka yang melebihi orang lain, dengan cepat mereka dapat memahami apa yang telah terjadi.

Tampak cahaya emas yang terpancar keluar dari ujung pedang Giok bin sin liong Ong It sin sedemikian tajamnya sehingga amat menyilaukan mata, ibarat naga sakti yang terbang di angkasa dengan perkasa, hampir seluruh arena telah dipenuhi oleh cahaya pedang tersebut.

Tampaknya ilmu pedang Sang yang kiam hoat telah memperlihatkan kemampuannya untuk mematahkan kelihayan lawannya yang menyerang dengan pedang mestika Hu si ku kiam tersebut.

Berada dalam keadaan seperti ini, rasanya sulit bagi Be Siau soh bila ingin menolong kembali posisinya yang terdesak itu menjadi lebih baikan lagi...

Menyaksikan kejadian itu, semua orang segera menunjukkan wajah yang berseri karena girang.

Tempik sorak yang gegap gempita berkumandang memenuhi angkasa, keadaannya menjadi gaduh sekali.

Be Siau soh tertawa dingin tiada hentinya sementara perasaan waswas telah timbul dalam hatinya, diam diam dia berpikir.

"Mungkin hal ini disebabkan pengaruh dari ilmu pedang Sang yang kiam hoat yang maha dahsyat itu... aaai, bodohku sendiri mengapa buku mestika itu tidak sekalian kubawa kabur? Sekarang hal itu justru mendatangkan bibit bencana bagiku sendiri..."

Karena pikirannya bercabang tanpa terasa permainan pedangnya pun turut mengendor. Tiba tiba Ong It sin membentak keras.

"Kena!"

Serentetan cahaya tajam yang berkilauan segera menyambar kedepan dan mengancam tujuh buah jalan darah penting didada lawan Menghadapi ancaman itu, Be Siau soh menjadi terkesiap dan ketakutan setengah mati.

Dia tahu bagaimanapun juga sulit baginya untuk meloloskan diri dari ancaman pedang lawan.

Dalam kritisnya, tiba tiba muncul selintas ingatan didalam benaknya, mendadak dia membusungkan dadanya sambil berseru dengan suara sedih.

"Kekasihku, bunuhlah aku, bagaimanapun juga kau toh sudah mendapatkan yang baru dan melupakan yang lama"

Berada dalam keadaan seperti ini, Giok bin sin liong Ong It sin menjadi tak tega untuk melanjutkan serangannya, tanpa terasa dia menghela napas panjang seraya berkata.

"Aku tidak tega untuk melukai dirimu, Siau soh kau harus memenuhi janjimu sendiri, lepaskanlah ambisimu untuk menguasahi seluruh dunia persilatan"

Sambil menggetarkan pergelangan tangannya, pedang Kim liong kiamnya segera ditarik kembali, setelah itu dia mendongakkan kepalanya dan tertawa tergelak, suaranya keras menggetarkan seluruh lembah.

Melihat masa kritis telah lewat, tiba tiba timbul niat jahat dalam hati Be Siau soh sambil diam diam menyiapkan segenggam jarum beracun ekor lebah dia pura pura berteriak kaget.

"Adik Sin hati hati menghadapi serangan senjata rahasia yang datang dari arah belakang..."

Sembari berseru, pergelangan tangannya segera diayunkan kedepan dengan kecepatan bagaikan sambaran kilat.

Segulung cahaya biru yang menyilaukan mata dengan cepat menyambar kedepan dan tepat menghantam wajahnya.

Menyaksikan serangannya berhasil menghajar musuhnya secara telak, dengan amat bangga Be Siau soh tertawa dingin tiada hentinya.

Tampak Ong It sin menggigit bibirnya kencang kencang dan tak sanggup tertawa lagi.

Be Siau soh segera berkata.

"Nah kekasihku, bagaimanapun juga pengalamanmu memang kurang matang, sekarang tubuhmu sudah terkena jarum beracun Hong wi tok ciam milikku, apalagi tempat yang terkena serangan adalah diatas ketujuh lubang inderamu, dalam tiga jam mendatang kau bakal mati secara mengenaskan disini, cuma... heeehh... heeehhh... aku mah tak ingin menghukum mati dirimu, boleh saja kuberikan obat penawarnya kepadamu..."

Ong It sin tidak berbicara maupun berkutik, seolah olah saking kagetnya sampai untuk berbicarapun dia sudah tak mampu lagi. Sekali lagi Be Siau soh tertawa dingin, katanya.

"Kekasihku, bila kau menginginkan obat penawar tersebut, maka kau harus menyerah kepadaku..."

Dia tahu Ong It sin adalah seorang lelaki sejati yang tak pernah mencla mencle dalam setiap perkataannya, bila ia telah meluluskan permintaannya untuk menyerah, sampai matipun janji tersebut tak akan diingkari.

Ong It sin segera meludah keatas tanah, setelah itu baru ujarnya.

"Perempuan siluman, kau betul betul berjiwa sosial, ternyata masih bersedia untuk memberi obat penawar kepadaku..."

Sementara itu suasana dibawah panggung sana menjadi sunyi senyap tak kedengaran sedikit suarapun, semua orang merasakan peluh dingin telah membasahi telapak tangannya, terutama sekali dua orang gadis she Bwe, saking gelisahnya mereka menjadi gugup sekali.

Terdengar Be Siau soh berkata.

"Kekasihku, dulu ketika kau masih berwajah jelekpun aku pernah beberapa kali bermesrahan kepadamu, apalagi saat ini kau sudah menjadi begini bagus tampan dan gagah, mana aku tega untuk membunuhmu? Tapi kau jangan keburu senang, sebab perkataanku belum selesai kuucapkan!"

Paras muka Ong It sin sama sekali tidak berubah, dengan suara dingin dia berkata.

"Apa saja syaratmu itu, cepat kau katakan!"

Be Siau soh tertawa ringan katanya.

"Sungguh suatu jawaban yang berterus terang, baik, akupun tak akan berusaha untuk memutar kayun lagi, kekasihku, cepat kau serahkan kitab pusaka ilmu pedang Sang yang kiam hoat tersebut kepadaku"

"Kau tidak memberikan obat penawar tersebut kepadaku, mana mungkin aku akan mengatakannya?"

Paras muka Be Siau soh agak berubah tapi dengan cepat tak menjadi tenang kembali, katanya kemudian.

"Aaah, aku telah melupakan hal itu, nah ambillah!"

Sambil berkata dia lantas melemparkan sebutir pil berwarna hijau ke depan. Dengan cepat Ong It sin menerimanya dan dimasukkan ke dalam mulut, setelah itu dia berkata.

"Sekarang racun itu sudah punah, maka akupun akan berterus terang memberi tahukan kepadamu, kitab pusaka ilmu pedang Sang yang kiam hoat tersebut telah kubakar sampai habis"

Mendengar perkataan itu, Be Siau soh menjadi kecewa sekali, tapi dengan cepat sekulum senyuman licik menghiasi ujung bibirnya, dia berkata dengan cepat.

"Aku telah menduga kalau kau akan berbuat demikian, maka pil pemunah yang kuberikan kepadamu tadi pun bukan obat penawar yang sebenarnya, obat tersebut tadi tak lebih hanya suatu obat yang bisa mencegah menjalarnya racun itu selama satu jam"

Ong It sin segera menarik wajahnya, lalu berkata dengan sedih.

"Siau soh, kalau toh kemenangan sudah berada dipihakmu, paling tidak kau harus teringat kalau aku telah mengampuni selembar jiwamu tadi, serahkanlah obat penawar yang sebenarnya kepadaku, kemudian persoalan selanjutnya baru kita bicarakan lagi"

Be Siau soh segera tertawa terbahak bahak setelah mendengar perkataan itu, katanya.

"Haaahhh... haaahhh... haaahhh... aku mah tak akan bertindak sebodoh itu, kesempatan baik tak boleh disia siakan dengan begitu saja, apalagi kesempatan semacam itu belum tentu akan terulang kembali, hari ini asal aku berhasil menguasahi dirimu, berarti dunia persilatan sudah berada ditanganku!"

"Jadi kalau begitu, kecuali kau suruh aku menyerahkan diri, maka obat penawar itu tak akan kau berikan kepadaku?"

"Benar!"

"Apakah kau juga tak akan mengingat ingat hubungan kita dimasa yang lalu?"

"Benar!"

"Dengan berbuat demikian, apakah kau tidak merasa menyesal atau sedih...?"

Be Siau soh segera tertawa terbahak bahak.

"Haaahhh... haaahhh... haaahhh... kalau tidak kejam bukan perempuan namanya, kau anggap aku benar benar masih menaruh perhatian kepadamu? Padahal asal dunia persilatan sudah terjatuh ke tanganku, mau mencari berapa banyak lelaki tampan pun tidak susah..."

Ketika ucapannya sampai disitu, mendadak Ong It sin membentak keras.

"Perempuan siluman kau tertipu mentah mentah, kau anggap aku benar benar sudah terkena racun dari jarum ekor lebahmu itu? Hmmm... tak usah bermimpi disiang hari bolong, bila kau tidak percaya, silahkan memeriksa sendiri keatas panggung diantara ludah yang kuludahkan keluar tadi, jarum jarum beracun tersebut berada diantaranya..."

Paras muka Be Siau soh sama sekali tidak berubah sambil tertawa dingin ia berkata.

"Kau jangan berharap hendak memancing aku untuk membungkukkan badan lalu secara tiba tiba melancarkan serangan, siasat semacam itu sudah tak ada artinya lagi bagiku bila ucapanmu itu memang tak salah, kenapa kau tidak mengambilnya sendiri untuk diperlihatkan kepadaku? Asal kau bisa membuktikannya sendiri kepadaku, aku baru akan percaya!"

Ong It sin segera naik keatas panggung dan mengambil sebatang jarum lembut berwarna biru yang terjatuh diatas panggung baru saja digoyangkan dibawah cahaya matahari, maka tampaklah cahaya tajam berkilauan memancar kemana mana...

Begitu dilihatnya benda memang benar benar merupakan jarum beracunnya, ia lantas membentak keras sambil menubruk ke depan, tangan kirinya segera diayunkan ke depan melepaskan segulung hujan yang menyelimuti seluruh angkasa.

Tiba tiba Ong It sin menarik napas panjang panjang sambil melambung ketengah udara, cahaya perak yang berkilauan itupun segera menyambar lewat dari bawah kakinya Dengan telapak tangan disebelah kiri, pedang ditangan kanannya, sekali lagi Be Siau soh melangsungkan suatu pertarungan yang amat sengit melawan Ong It sin.

Beberapa puluh gebrakan kemudian kembali ia terdesak dan terperosok dibawah angin.

Ong It sin segera mengembangkan permainan pedangnya semakin ketat, dia bermaksud untuk mengurung musuhnya dibalik kabut pedangnya yang mengelilingi seluruh arena.

Siapa tahu, pada saat itulah Be Siau soh melompat ke samping arena, kemudian bentaknya nyaring.

"Tahan!!!"

"Apa lagi yang hendak kau katakan?"

Tegur Ong It sin.

"Aku bersiap siap untuk beradu jiwa dengan kau lelaki yang tak berperasaan, cuma aku harus menyerahkan dulu pesan pesan terakhirku kepada mereka, tentunya kau tidak keberatan bukan?"

Ong It sin masih tetap mempertahankan ketenangan serta kegagahannya, dia menjawab.

"Pergilah tapi jangan membuang waktu terlalu lama!"

Setelah mengundurkan diri dari atas panggung, Be Siau soh segera mengundang datang ketiga orang wakil ketuanya dan membisikkan sesuatu.

Kemudian menanti Sangkoan Bu cing, Seng Meh cu dan Siau Mi lek telah beranjak pergi sambil manggut manggut, dia baru melompat kembali ke hadapan Ong It sin seraya berseru dengan suara pedih.

"Pepatah mengatakan, dua jago tak mungkin bisa berdiri bersama, aku Be Siau soh tidak mau mengaku kalah dengan begitu saja, aku bertekad hendak mengadu jiwa denganmu"

"Betul betul ucapan yang luar biasa, aku pasti akan pertaruhkan nyawaku untuk mengiringi keinginanmu itu,"

Jawab Ong It sin sambil tertawa hambar.

Be Siau soh tidak banyak berbicara lagi dan segera menggerakkan pedang mestika Hu si ku kiam miliknya dan sekali lagi melancarkan serangan dengan gencar.

Perempuan ini memang selain licik, gagah dan kejam.

Siapa berani mengusiknya sama halnya dengan mengusik sarang lebah saja.

Walaupun Ong It sin termasuk pemuda yang pemberani, tak urung dia dibikin bergidik juga.

Dalam waktu singkat sepuluh jurus sudah lewat.

Kemudian lima puluh juruspun berlalu.

Ketika pertarungan sudah meningkat sampai seratus jurus, menang kalah masih sukar untuk ditentukan.

Tanpa terasa semua orang segera memusatkan perhatiannya keseluruh arena pertarungan.

Dalam keadaan demikian, mereka sama sekali tidak menyadari kalau para jago dari pihak Ki thian kau telah mengundurkan diri secara diam diam.

Dalam pada itu, semakin bertarung Ong It sin nampak semakin kosen, angin pukulannya menderu deru sampai keseluruh arena, pedang Kim liong kiam yang berada ditangannya juga menyambar kesana kemari tanpa ampun.

Menyaksikan kejadian itu, Kim liong lojin segera bergumam.

"Wahai pedang mustikaku, akhirnya kau telah menemukan majikan yang paling tepat"

Seratus gebrakan kembali sudah lewat ketika Ong It sin mencoba untuk mengamati pihak lawan, tampak butiran air keringat telah membasahi jidat perempuan itu.

Cuma tenaga dalam yang dimiliki lawannya memang amat sempurna, sehingga untuk sesaat lamanya sukar untuk ditaklukkan.

Paling tidak sekalipun harus bertarung seratus jurus lagi pun belum tentu menang kalah bisa ditentukan.

Sementara dia masih termenung sambil mencari jalan untuk mengalahkan musuhnya mendadak Be Siau soh mengerahkan tenaganya sambil secara beruntun melancarkan beberapa bacokan, begitu kabut pedang menyelimuti seluruh angkasa, dia segera membalikkan badan dan melarikan diri dari tempat itu.

Tampak perempuan itu berlarian dengan kecepatan luar biasa, dalam dua tiga kali lompatan saja ia telah tiba ditepi hutan.

Ong It sin segera berpikir.

"Sebelum sampai menderita kekalahan total, kenapa secara tiba tiba melarikan diri? Jangan jangan dibalik kesemuanya itu terdapat siasat busuk lainnya"

Sementara dia masih ragu ragu, Be Siau soh telah menyusup masuk kedalam hutan.

Menanti Ong It sin menyusul kesana bayangan tubuh orang itu sudah lenyap tak berbekas.

Ketika mereka mencoba untuk memeriksa para anggota Ki thian kau ternyata tak seorang manusiapun yang masih tertinggal di sana, semuanya telah meninggalkan tempat itu.

Si Dewa cebol Cu Lian ci segera berseru dengan mendongkol.

"Kawanan cucu kura kura itu cepat betul kaburnya"

"Mungkin pihak lawan telah mempersiapkan suatu rencana busuk menunggu kita masuk perangkap"

Kata Leng mong sinceng kemudian.

"Mungkin mereka telah menanam bahan peledak didalam tanah sekitar tempat ini!"

Seru Cing hoa loni tiba tiba.

Ucapan tersebut dengan cepat menyadarkan kembali semua orang.

Seketika itu juga semua orang menjadi gugup dan berusaha hendak menyelamatkan diri sendiri.

Dengan cepat Biau si sinni berseru.

"Harap kalian jangan gugup dan melarikan diri secara gegabah, terutama sekali tempat tempat yang tampaknya seperti bisa dipakai untuk menyembunyikan diri, tempat semacam itu lebih berbahaya lagi, cara yang terbaik adalah secepatnya mengundurkan diri dari lembah Jit hwee kok ini!"

Begitu mendengar ucapan tersebut, tidak menunggu komando lagi, serentak semua orang berlarian menyusuri jalan semula.

Lembah Jit hwe kok ini letaknya berliku liku, sekalipun tidak luas namun untuk menelusurinya memakan waktu yang cukup lama.

Belum lagi tiba di mulut lembah, dari atas puncak tebing telah terdengar seseorang berseru dengan genit.

"Dengarkan baik baik para enghiong hohan yang berkumpul disini, sekarang kalian sudah terperangkap oleh siasatku, ibaratnya ikan dalam jaring, katak dalam keranjang, jangan harap kalian bisa meloloskan diri lagi dari tempat ini, tapi bila kalian bersedia untuk menyerahkan diri, akupun tak akan merenggut jiwa kalian"

Ketika Ong It sin mendengar orang yang berbicara itu adalah Be Siau soh, cepat dia berseru.

"Andaikata kami menampik permintaanmu itu?"

"Ooh kekasihku yang manis"

Ujar Be Siau soh cepat.

"Aku kuatir kalau kau akan berubah menjadi seekor itik panggang!"

"Aku benar benar menyesal telah memberi sebuah kesempatan kepadamu untuk hidup kembali"

Seru Ong It sin dengan gusar. Kembali Be Siau soh tertawa, katanya.

"Perasaan welas macam perempuan begitu justru merupakan titik kelemahan bagi kaum pendekar macam kalian, aku mah enggan menerima kebaikanmu itu!"

"Apakah kau yakin bisa membakar mati diriku?"

"Kalau senjata api biasa mungkin masih bisa ada harapan baginya untuk melarikan diri, tapi hari ini kau telah berjumpa dengan seorang ahli dalam ilmu senjata api, aku yakin kau pasti mati!"

"Maksudmu, kau telah mengundang kedatangan Ciok yong li sin Ouwyang Yan hun?"

"Kau memang bukan seorang pemuda pikun yang bodoh, sekali tembak lantas benar sayang sekali walaupun kau memiliki kepandaian yang lihay namun tak akan lolos dari kematian yang mengenaskan, cuma... bila kau sampai mati nanti, putraku Siau poh pasti akan menyembah didepan layonmu..." 00ooood00woooo00

Jilid 33 TAMAT ONG It sin segera tertawa terbahak bahak.

"Kau tak usah membohongi orang Ciok yong li sin selamanya tinggal dalam lembah Hwe yan kok, mana mungkin dia mau diperalat olehmu?"

Be Siau soh segera tertawa cekikikan.

"Betul betul menggelikan sekali, rupanya ketajaman pendengaran kalian kurang baik ketahuilah Ciok yong li sin sudah lama menggabungkan diri dengan perkumpulan kami, malah dia bersedia untuk turun tangan sendiri menghadapi kalian"

"Aku tidak percaya"

"Kalau tidak percaya, mengapa tidak kau tengok kesana?"

Seru Be Siau soh sambil menunjuk kearah tebing seberang.

Ong It sin dan para jago menengok ke depan, betul juga seorang perempuan tua berbaju merah sedang berdiri tegak disitu.

oooodOwoooo Perempuan tua itu rambutnya telah memutih semua, dipunggungnya menggembol sebuah buli buli besar, sedang dibawah pinggangnya terdapat beberapa kantung kulit.

Dia memang tak lain adalah Ciok yong li sin.

"Kau benar benar hendak membunuh para jago dengan senjata berapimu itu...?"

Ong It sin segera mendongakkan kepalanya menegur. Mencorong sinar bengis dan dendam dari balik wajah Ciok yong li sin, dengan wajah menyeringai seram dan mata melotot penuh rasa dendam dia berteriak.

"Bocah keparat lebih baik kau tak usah berlagak lagi dihadapanku. Hmmm... ketahuilah, hari ini aku sengaja datang kemari untuk membalaskan dendam bagi kematian muridku, hayo jawab, mengapa kau bunuh murid kesayanganku itu?"

Mula mula Ong It sin agak tertegun, rupanya ia tidak mengerti apa yang dimaksudkan lawannya, tapi setelah berpikir sekian lama, mendadak satu ingatan melintas didalam benaknya, dia lantas berseru dengan suara lantang.

"Oooh... rupanya kau maksudkan Tho bin yau hu (siluman rase berwajah tho)...? Jadi kau sengaja hadir disini untuk membalas dendam atas kematian perempuan siluman itu?"

Sebagaimana diketahui, Tho bin yau hu adalah gundik kesayangan Thian tok tay ong.

Selain sebagai gundik kesayangan dari gembong iblis tersebut, sesungguhnya dia adalah murid kesayangan dari Ciok yong li sin.

Bulan berselang, ketika Ong It sin menghancurkan kota ular berbisa, pemuda ini merasa benci sekali atas kekejian lawannya yang telah menggunakan senjata rahasia berapi untuk menghadapinya dalam pertarungan tersebut akhirnya dia berhasil membunuh musuhnya itu.

Betul betul diluar dugaan, ternyata kematian dari Tho bin yau hu tersebut justru mengakibatkan munculnya gembong iblis tua ini untuk membantu pihak Ki thian kau.

Sementara itu, Ciok yong li sin telah naik pitam, dengan wajah merah membara dia berseru.

"Kau tak usah banyak berbicara lagi, seandainya lonio tidak bermaksud untuk membalaskan dendam bagi kematian muridku, memangnya kau anggap aku khusus datang kemari hanya untuk berterima kasih atau bersalam salaman dengan dirimu?"

Berkerut kening Ong It sin setelah mendengar perkataan itu, dia merasa ucapan itu amat tak sedap didengar. Setelah termenung sesaat, diapun berkata lagi.

"Oooh... jadi kalau begitu, kehadiranmu disini hanya bertujuan untuk mencari aku dan membalaskan dendam bagi kematian muridmu itu? Bagus, bagus sekali, memang paling baik kalau urusan ini kita selesaikan secara pribadi kita sendiri, sebab kebetulan sekali aku memang telah berhasil menguasahi semacam ilmu sakti yang tak mempan direndam dalam air, tak hangus dibakar dengan api, tentunya kau tidak keberatan untuk melayani diriku satu lawan satu bukan?"

Ciok yong li sin merasa geram sekali, kalau bisa dia ingin menerjang anak muda itu serta mencincang tubuhnya menjadi berkeping keping.

Begitu mendengar tantangan tersebut, tanpa berpikir panjang lagi dia menyahut.

"Baik, kululuskan permintaanmu itu! Hmmm, jangan kau anggap aku jeri untuk berduel melawanmu"

Menyaksikan lawannya sudah termakan oleh bandingannya yang memang bertujuan untuk memanaskan hati lawan itu, Ong It sin tidak menyia nyiakan kesempatan baik itu dengan begitu saja, dengan cepat dia berkata lebih lanjut.

"Ucapan seorang Kongcu, ibaratnya kuda yang dicambuk, sekali ucapan terlepas keluar, sampai matipun tak akan menyesal. Sebelum pertarungan dilangsungkan, aku ingin mengajukan satu syarat, dan aku harap kau bersedia menerima syaratku ini"

"Apa syaratmu itu? Cepat katakan saja berterus terang..."

Seru perempuan tua itu cepat.

"Permintaanku sederhana sekali, yakni sebelum pertarungan kita berakhir dan sebelum menang kalah diantara kita berdua berhasil ditentukan, aku minta kau jangan sembarangan menggunakan senjata rahasia berapimu untuk mencelakai para jago yang hadir disini, tentunya permintaanku ini tidak terlampau merugikan dirimu bukan?"

Ciok yong Li sin tidak langsung menjawab, dia termenung beberapa saat lamanya, setelah itu pelan pelan baru mengangguk.

"Baiklah, untuk membuktikan kalau aku memang tidak takut kepadamu, kukabulkan permintaanmu itu"

Melihat pihak lawan telah menyepakati permintaannya, paling tidak Ong It sin merasa agak lega, sebab bagaimanapun juga untuk sementara waktu dia tak perlu menguatirkan keselamatan dari para jago yang hadir disana lagi.

Sorot matanya segera dialihkan memandang sekejap sekeliling tempat itu, dilihatlah empat penjuru tempat itu berupa bukit bukit terjal yang menjulang tinggi ke angkasa.

Hanya jauh dibawah tebing diseberang sana tampak ada sebuah tanah lapang yang cukup luas, paling tidak luas tanah lapang itu mencapai beberapa ban...

Menyusul kemudian, dibelakang tanah lapang tadi terbentang sebuah hutan yang cukup lebat.

Menyaksikan keadaan medan yang terbentang disekeliling tempat itu, dengan cepat Ong It sin menyusun suatu rencana yang sempurna guna menanggulangi ancaman lawan.

Setelah termenung sejenak, dia baru berseru.

"Bagaimana kalau kita langsungkan saja pertarungan ini ditengah tanah lapang sana agar jangan sampai pertarungan tersebut mengakibatkan kerugian atau cedera pihak mereka yang tidak tersangkut dalam persoalan ini..."

Ciok yong li sin mendongakkan kepalanya memandang sekejap tanah lapang didepan sana, kemudian manggut manggut.

"Baik, kita boleh bertarung ditempat itu."

Pelan pelan Ong It sin beranjak dan menuju ketanah lapang tersebut kemudian setelah duduk bersila sambil mempersiapkan diri, diapun berkata dengan tenang.

"Nah, aku telah mempersiapkan diri sebaik baiknya, bila kau telah siap, silahkan kau lancarkan seranganmu itu"

Sebagaimana diketahui, ilmu senjata rahasia berapi yang dimiliki Ciok yong li sin sudah amat termashur namanya diseluruh kolong langit, semua orang tahu bahwa senjata rahasia tersebut sanggup menghancur lumatkan tubuh manusia.

Maka ketika dilihatnya Ong It sin bermaksud untuk menggunakan tubuhnya menghadapi serangan senjata api lawannya, sedikit banyak para jago dibuat terkesiap juga sehingga tanpa terasa peluh dingin diam diam bercucuran membasahi tubuh mereka.

Selain daripada itu, mereka semua juga tahu kalau Ong It sin berbuat demikian tak lain bertujuan untuk menyelamatkan semua orang dari bencana yang tak diinginkan.

Kebesaran jiwa dan semangat juang yang diperlihatkan anak muda itu, dengan cepat mengharukan setiap orang, diam diam para jago tersebut merasa semakin kagum lagi terhadap kegagahan dan kebesaran jiwa anak muda itu.

Kontan saja ada beberapa orang yang terpengaruh oleh dorongan emosi meluap dalam dada mereka, mendadak melompat kedepan dan siap mendekati si anak muda itu.

Ih lwee ji seng (Dua malaikat dari kolong langit) yakni Leng mong sinceng gurunya Ong It sin dan Biau Tam sinni gurunya Bwe Leng soat beserta dewa cebol menjadi terperanjat sekali.

Buru buru mereka memencarkan diri dengan niat untuk menghalangi, setelah menjamin kalau tiada mara bahaya yang mengancam, barulah perasaan mereka menjadi tenang kembali.

Sementara dipihak sini sedang ribut ribut, dari atas puncak bukit karang itu kedengaran Ciok yong li sin sedang berseru dengan suara yang keras seperti geledek.

"Bocah keparat, kau tak usah tekebur dan tidak memandang sebelah matapun kepada orang lain, coba kau rasakan dahulu beberapa butir peluru pek lek siau gi tan milikku ini, lihatlah sampai dimanakah enaknya peluru peluruku itu!"

Berbareng dengan selesaikan perkataan tersebut, tampaklah bayangan hitam dari beberapa butir peluru itu segera berhamburan ke bawah dengan kecepatan bagaikan sambaran kilat.

Ong It sin hanya duduk tenang tenang saja dibawah pohon siong, terhadap datangnya ancaman mana dia tidak ambil peduli, seakan akan serangan tersebut bukan suatu ancaman yang bisa membahayakan jiwanya.

Tapi begitu peluru peluru sakti tersebut sudah hampir menyentuh permukaan tanah, mendadak ujung bajunya dikebaskan ke depan, lalu disambar ke samping dan tahu tahu peluru peluru tadi sudah berpindah ke dalam sakunya tanpa meledak.

Menyaksikan demonstrasi yang amat mengagumkan itu, serentak para jago bersorak sorai kegirangan, teriaknya berulang kali.

"Benar benar kepandaian yang hebat! Benar benar suatu kepandaian yang luar biasa!"

Ciok yong li sin mendengus dingin ia merasa penasaran sekali menyaksikan kelihayan lawannya itu.

"Hmmm...! Aku masih mengira bocah keparat ini punya kepandaian yang amat luar biasa, rupanya hanya mengandalkan ilmu silat untuk menyambut sambitan senjata rahasia... sialan, tampaknya kau memang benar benar sudah bosan hidup,"

Serunya.

Begitu selesai berkata, secara beruntun dia lantas mengayunkan tangannya berulang kali melepaskan dua puluhan biji peluru peledak ke arah bawah bukit.

Bagaikan hujan gerimis, peluru peluru sakti itu segera bertaburan keatas tanah.

Tapi sekali lagi Ong It sin mengayunkan ujung bajunya, betul betul aneh sekali, peluru peluru peledak yang semula berhamburan seperti hujan gerimis itu tahu tahu membentuk dua garis lurus dan masuk kedalam bajunya tanpa meledak.

Ibarat batu yang dilemparkan kedalam samudera luas, seketika itu juga lenyap tak berbekas.

Itulah kepandaian Ban liu kui tiong yang maha dahsyat dari aliran kuil Sian gwan si.

Sekali lagi terdengar suara tempik sorak yang gegap gempita memecahkan keheningan, semua jago bersorak memuji kehebatan anak muda itu.

Lama kelamaan Ciok yong li sin berkerut kening juga, apalagi serangan yang dilancarkan berulang kali mengalami kegagalan total.

Setelah termenung beberapa saat lamanya sambil menggigit bibir menahan emosi, dia lantas berteriak dengan penuh kegusaran.

"Bocah keparat, tidak heran kalau kau jumawa angkuh dan tekebur bukan buatan, rupanya kepandaian yang kau miliki terhitung hebat juga. Heeehh... heeehh... heeehh... cuma kau jangan anggap lo nio sudah kau bikin keok sehingga kehabisan akal dan tak bisa berbuat apa apa lagi... hmm bila kau sampai berpendapat demikian, maka perhitungan swiepoamu itu keliru besar sekali"

Seraya berkata tangan kirinya segera merogoh kedalam saku kulit macan tutulnya dan mengeluarkan tujuh butir benda berbentuk burung yang besar masing masing benda itu sekepalan tangan.

Burung burungan itu berwarna merah darah dan mempunyai sepasang sayap yang dipentangkan lebar lebar.

Begitu perempuan tersebut mengeluarkan benda benda tersebut, Be Ji nio yang berada disisinya menjadi keheranan, dengan perasaan tidak habis mengerti dia lantas bertanya.

"Hei, Ouyang Seng coan, benda apakah itu?"

Dengan sikap hormat Ciok yong li sin segera menjura, kemudian sahutnya pelan.

"Menjawab pertanyaan dari Tay sang kaucu, benda ini merupakan sebuah benda ciptaan mendiang guruku dimasa tuanya dulu, benda itu bernama Liat hwee sin yaa (gagak sakti menyembur api), apabila dia terbang terhembus angin maka segera akan timbul kobaran api yang besar sekali, benda apa saja yang kena disambar olehnya segera akan terbakar sangat hebat, barang siapa terkena api itu maka tubuhnya akan hancur menjadi arang, hmmm... aku akan menggunakan benda ini untuk menghadapi keparat tersebut, ingin kulihat dengan cara apakah dia hendak menanggulangi ancamanku kali ini...?"

Sambil berkata dia lantas persiapkan benda itu, kemudian dengan mempergunakan suatu kepandaian yang aneh dan luar biasa ia menyambit ketujuh ekor gagak sakti penyembur api itu ke bawah tebing dan menyambar ke arah pepohonan dimana Ong It sin berada sekarang.

Benar juga, begitu ketujuh ekor burung gagak sakti penyembur api tersebut dilepaskan ke bawah, dengan cepat mereka menukik sedalam tiga depa ke bawah jurang, setelah itu dari sekujur badannya menyembur keluar jilatan api yang amat dahsyat dan mengerikan.

Dengan membentuk satu gerakan busur yang tajam, burung burung gagak sakti itu menukik ke bawah dan langsung menyambar ke arah pepohonan siong yang tumbuh di sana.

Menyaksikan kedahsyatan dari senjata rahasia tersebut, serentak semua jago menjadi tercekat dan berdiri termangu dengan mata terbelalak besar dan mulut melongo.

Ong It sin sama sekali tidak gentar menghadapi ancaman tersebut, dia masih tetap duduk tenang dibawah pohon seperti tak pernah terjadi apa apa...

Menanti ancaman lawan sudah semakin mendekat, dia baru mendongakkan kepalanya dan tertawa terbahak bahak.

"Haaahhh... haaahhh... haaahhh... gagak api wahai gagak api, janganlah kalian hanya berhenti saja ditengah angkasa mari ke mari... datang saja kemari!"

Sepasang tangannya segera digape ke atas, seperti tujuh ekor burung gagak yang sudah memperoleh latihan yang matang saja, mendadak mereka pentangkan sayapnya dan meluncur kearah tangannya Tapi begitu menukik ke bawah, benda benda itu segera hancur menjadi abu dan berguguran ke atas tanah.

Apa yang sebenarnya telah terjadi?

Ternyata tak seorang manusiapun yang melihat jelas.

Ciok yong li sin baru merasa amat terperanjat setelah menyaksikan serangan burung gagak berapi yang selama ini paling diandalkan pun mengalami kegagalan total, tanpa terasa bulu kuduknya pada bangun berdiri dan peluh dingin jatuh bercucuran membasahi tubuhnya.

Mimpipun dia tidak menyangka kalau kepandaian silat yang dimiliki pihak lawan telah mencapai ketingkatan yang begitu hebat.

Diam diam dia lantas berpikir.

"Sudah puluhan tahun lamanya aku malang melintang dalam dunia persilatan, selama ini belum pernah ada seorang manusiapun yang sanggup meloloskan diri dari serangan dua macam senjata rahasia apiku dalam keadaan selamat, apalagi hidup segar bugar, tapi heran bocah keparat she Ong ini sama sekali tidak terpengaruh oleh serangan seranganku ini, benarkah ilmu silat yang dimilikinya telah mencapai puncak yang luar biasa sekali sehingga senjata rahasia apiku sama sekali tidak mempan terhadap dirinya? Aaai... sudah tahu begini, kenapa aku musti menghamburkan senjata rahasia apiku dengan percuma?"

Berpikir sampai disitu dia lantas memutuskan untuk menghadapi si anak muda itu dengan mempergunakan senjata yang jauh lebih tangguh lagi.

Tangannya segera merogoh ke dalam kantong kulit yang berada disebelah kanan, dalam kantong kulit itu berisikan dua belas batang anak panah Siau thian hwee siam (panah api membakar langit).

Yang dimaksudkan sebagai panah api membakar langit adalah semacam senjata api yang mempunyai daya bakar sangat tinggi, asal benda itu sudah dibidikkan maka sekalipun batu karang atau tanahpun akan terbakar hangus bila tersentuh.

Meski demikian, perempuan itu juga tahu kalau Ong It sin selain memiliki ilmu Ban liu kiu tiong yang bisa dipergunakan untuk menyambut datangnya ancaman senjata rahasia, diapun memiliki kekuatan sakti untuk menggiring serangan kearah lain.

itu berarti setiap serangan yang dilancarkan olehnya bila tidak kena ditangkap, maka kena digiring ke tempat lain dan meledak jauh dari posisi tubuhnya, dengan sendirinya semua kegunaan dan kehebatannya jadi tak berguna sama sekali.

Menyadari akan kelihayan musuhnya serta keistimewaan yang dimilikinya, Ciok yong li sin memutuskan untuk mempergunakan kedua belas batang panah api membakar langit itu dengan sebaik baiknya Mendadak satu ingatan melintas dalam benaknya.

"Aah... benar, bukankah keparat itu telah berhasil menyambut dua puluh biji peluru Liat hwee pek lek tan milikku? Betul peluru tersebut baru akan meledak bila sampai tersentuh atau membentur suatu benda, tapi bukankah itupun tak tahan menghadapi suhu yang terlalu panas? Yaa, kenapa tidak kugunakan panah berapi itu untuk menyerangnya? Asal suhu udara disana menjadi tinggi, bukankah peluru peluru yang telah disambutnya tadi akan meledak semua?"

Berpendapat demikian, dia lantas bertindak cepat.

Enam batang panah berapi yang maha dahsyat tadi dengan cepat dibidikkan kesekeliling tempat duduk Ong It sin.

Panah panah berapi itu memang luar biasa dahsyatnya, begitu menyentuh tanah, kobaran api segera membakar semua benda yang dijumpainya.

Hanya didalam waktu singkat, sekeliling tubuh Ong It sin sudah dikurung oleh api yang makin lama semakin membara itu.

Pada mulanya Ong It sin masih belum memahami maksud dan tujuan dari lawannya ini, akan tetapi ketika tangannya menyentuh kedua puluhan biji peluru Pek lek tan yang belum meledak dan masih berada dalam sakunya itu, dengan cepat dia menjadi paham, apa gerangan yang sebenarnya diharapkan oleh pihak lawan.

Diam diam Ong It sin menjadi amat geli pikirnya.

"Oooh... rupanya kau mengandung maksud jahat kepadaku? Kau anggap peluru peluru yang berada dalam sakuku ini akan meledak bila tersentuh oleh udara panas yang sengaja kau ciptakan disini? Haaahh... haaahh... haaahh... percuma saja semua perbuatanmu itu kau tak pernah akan menyangka kalau didalam sakuku aku menyimpan bola inti es yang tak terlukiskan dinginnya"

Setelah berhenti sebentar, kembali dia berpikir lebih jauh.

"Sebetulnya santai saja untuk bertarung adu kemampuan dengannya tapi... seandainya pihak lawan sampai naik pitam lantaran malu kemudian mengingkari janji dan menyerang kawanan jago yang berkumpul disitu, bukankah suatu pertumpahan darah yang mengerikan akan segera terjadi disana? Yaa, aku tak boleh tidak harus sedia payung sebelum hujan, kalau terjadi apa apa dengan mereka, akulah yang bakal menanggung dosanya"

Karena berpendapat demikian, sepasang matanya segera diputar memandang sekejap sekeliling tempat itu, kemudian dengan suatu gerakan yang cepat mempergunakan ilmu Ciu sui bu liang (air sejuk tanpa riak) dia menyelinap ke arah hutan belukar di samping arena pertarungan itu.

Sebelum meninggalkan tempat itu, dia pun sengaja meninggalkan beberapa butir peluru Pek lek tan yang maha dahsyat itu ke atas tanah, dengan demikian bila dia sudah meninggalkan tempat itu, maka peluru peluru mana akan meledak keras, seolah olah dirinya yang terjebak.

Betul juga, belum lama dia melompat pergi meninggalkan tempat itu, mendadak terdengarlah suara ledakan keras yang amat memekikkan telinga bergema memecahkan keheningan.

Untuk memberikan kesan seakan akan peristiwa itu benar benar terjadi, bersamaan dengan menggemanya suara ledakan itu, dia segera menjerit ngeri seakan akan menderita luka yang parah.

Dengan terjadinya keadaan itu, kontan saja semua jago menjadi terperanjat sekali dibuatnya, semua orang mengira si anak muda itu benar benar sudah tewas oleh ledakan yang luar biasa tadi Terutama Bwe Leng soat dan Bwe Yau mereka menyangka pemuda kekasihnya telah tewas ditengah ledakan, isak tangis yang memilukan hati segera berkumandang memecahkan keheningan.

Tapi pada saat itulah, mendadak mereka dengar ada seorang berbisik dengan suara lirih.

"Adik Soat adik Yau, kalian tak usah bersedih hati, aku tidak mati sungguhan, aku hanya bermaksud untuk membohongi pihak lawan belaka... tapi, tak ada salahnya bila kalian hendak berlagak seakan akan bersedih hati, agar pihak musuh mengira aku betul betul menemui ajalnya... dalam keadaan demikian Ciok yong li sin pasti akan mengendorkan kewaspadaannya nah menggunakan kesempatan yang amat baik itulah aku akan berusaha untuk membekuknya. Sebab bila aku tidak berbuat demikian maka keadaan kita semua akan berbahaya sekali!"

Setelah mendengar bisikan itu, dua orang gadis cantik itu baru merasa lega.

Seperti apa yang diminta Ong It sin dengan berlagak sedih, mereka sengaja menuding ke arah Ciok yong li sin sambil mencaci maki.

"Siluman perempuan tua yang berhati hitam bertangan kejam... kau perempuan laknat perempuan sialan, tak tahu malu... kalau berani hayo bertarung secara jagoan... kau telah membakar engkoh Sin dengan cara yang rendah dan terkutuk, ingat saja dendam sakit hati ini, suatu ketika aku pasti akan membalas dendam akan kucincang tubuhnya menjadi hancur berkeping keping."

Ciok yong li sin tertawa terbahak bahak.

"Haaahhh... haaahhh... haaahhh... kau anggap aku si nenek adalah seorang yang takut urusan? Hmm, bila aku takut urusan, sudah sejak lama aku hidup mengasingkan diri dan tak pernah keluar dari rumah lagi... Ong It sin saja mampus ditanganku, apalagi kalian... haaahhh... haaahhh... memangnya kalian bisa berbuat apa kepada diriku...?"

Sementara itu dari arah tebing seberang sana, terdengar ketua dari perkumpulan Ki thian kau, Be Siau soh sedang berseru sambil menyampaikan selamat.

"Ciok yong li sin kau memang hebat dan berjasa besar sekali buat perkumpulan kita kiong hi, kiong hi! Atas jasamu itu, pun kaucu memberi kedudukan yang paling mulia dalam perkumpulan untukmu, selain akan menerima pula keinginanmu, semua kebutuhan serta rasa hormat dari segenap perkumpulan kami!"

Mendengar ucapan tersebut, diatas wajah Ciok yong li sin yang penuh keriput terlintas rasa bangga yang amat tebal, sambil tertawa sahutnya cepat.

"Kuucapkan banyak banyak terima kasih lebih dulu atas kebaikan hati kaucu itu"

"Terhadap kawanan manusia berotak udang berkepala baja dalam lembah itu, apakah kaupun mempunyai suatu cara yang baik untuk menyelesaikannya?"

Kembali Be Siau soh bertanya dengan suara lantang. Ciok yong li sin segera menepuk buli buli besar yang berada dipunggungnya kemudian menjawab.

"Soal itu tak usah kau murungkan benda ini merupakan senjata api yang paling lihay didalam lembah Hwee gan kok kami yang disebut Ngo lui liat hwee biau (bibit api lima geledek), hanya cukup dengan setitik cahaya api saja, seluruh padang rumput bisa terbakar sampai musnah, apalagi kalau kusiramkan lebih banyak bibir api lagi, niscaya seluruh lembah Jit hwee kok ini akan berubah menjadi larutan api, jangankan manusia, semut yang berada didalam tanahpun akan turut musnah pula menjadi abu dan arang... Dengan suara lantang Be Siau soh segera berseru kembali dari tebing seberang sana.

"Ciok yong li sin, kenapa tidak kau demonstrasikan kelihayanmu itu, agar semua anggota perkumpulan kita bisa membuka matanya lebar lebar serta menambah pengetahuan serta pengalaman mereka."

Dengan penuh kegembiraan Ciok yong li sin segera menyahut.

"Jangan kuatir kaucu, hamba memang ada maksud untuk membasmi kawanan manusia yang menganggap dirinya sebagai jagoan golongan lurus dan kaum pendekar dari golongan putih ini menjadi abu, tak perlu kaucu perintahkan lagi!"

Setelah berkata sampai disitu, wajahnya segera menunjukkan sikap buas, kejam dan menyeringai mengerikan, pelan pelan dia menurunkan buli buli besarnya dari atas punggung, kemudian sambil menghadapkan moncong buli bulinya itu kehadapan kawanan jago, dia mengejek dingin.

"Hari ini jangan harap kalian semua dapat meninggalkan tempat ini dalam keadaan selamat..."

Baru saja ia hendak membuka penutup buli buli besarnya itu, mendadak..

"Aku rasa belum tentu demikian!"

Seorang mengejek sinis dari belakang tubuhnya diiringi suara tertawa dingin yang mendirikan bulu roma.

Dengan cepat dia berpaling ke belakang begitu mengetahui siapa yang berada dihadapan itu, kontan saja sekujur badannya gemetar keras, serunya agak tergagap.

"Kau... kau adalah sukma gentayangan dari Giok bin sin liong... kau belum mati?"

Giok bin sin liong (naga sakti berwajah kemala) Ong It sin segera tertawa dingin, dengan suatu gerakan yang cepat dia merampas buli buli besar itu dari tangannya, kemudian mengejek dingin.

"Aku sama sekali tidak menyangka kalau hatimu sebenarnya begitu busuk dan kejam... Hmmm! manusia terkutuk macam kau tak boleh dibiarkan hidup lagi didunia ini, sebab kau hanya akan menyebarkan dosa belaka bagi umat manusia, nah sekarang, kaupun tak usah hidup terlalu lama lagi, sana, turun saja ke bawah!"

Sebuah pukulan yang amat dahsyat segera diayunkan kedepan dan tepat menghajar punggung Ciok yong li sin.

Seketika itu juga perempuan berhati kejam itu menjerit lengking dengan suara yang memilukan hati, darah kental muncrat keluar dari mulutnya, sementara seluruh tubuhnya terpental ke udara dan jatuh ke dalam jurang dibawah sana.

Mungkin karena perbuatan jahat yang dilakukan sudah kelewat banyak, maka ketika terjatuh ke bawah tadi, persis tubuhnya terjatuh ke dalam arena yang sedang terjilat api.

Seketika itu juga seluruh tubuhnya terbakar hebat, diiringi jeritan jeritan yang memilukan hati dia berguling ke sana kemari Tapi api bukannya padam malahan berkobar makin dahsyat, akhirnya hancurlah perempuan kejam itu menjadi abu arang Si kelabang hitam Be Ji nio yang menyaksikan adegan seram itu menjadi ketakutan setengah mati, dia merasa bulu kuduknya berdiri semua sementara badannya gemetar keras tanpa banyak pikir lagi dia membalikkan badan dan segera melarikan diri terbirit birit Ong It sin tertawa dingin.

"Heeehhh... heee... heeehhh... kau ingin kabur?"

Jengeknya.

"manusia macam kau lebih lebih tak boleh dibiarkan kabur, nah, roboh saja kamu disitu!"

Sebuah totokan segera dilancarkan kedepan.

Desingan angin serangan yang maha dahsyat dengan cepat meluncur kedepan dan menghajar telak ditubuh lawan.

Seketika itu juga si Kelabang hitam Be Ji nio merasakan jalan darahnya menjadi kaku, tubuhnya tergeletak dan tak mampu berkutik lagi tapi mulutnya masih bisa bersuara dia berseru.

"Bocah keparat Lo nio merasa menyesal sekali mengapa tidak kubunuh dirimu ketika aku datang kelembah keluarga Li dulu"

"Itulah yang dinamakan perhitungan manusia tak bisa menangkan perhitungan takdir, memang beginilah takdir yang akan menentukan nasibmu..."

Sementara itu, empat orang toa huhoat dari perkumpulan Ki thian kau, yakni Say siu jin mo, Tee leng kun, Tee lwe siong mo menyaksikan Ciok yong li sin tewas dalam keadaan mengerikan sedang Tay sang pangcu mereka sudah terjatuh ketangan lawan, serentak berbondong bondong maju kedepan untuk memberi pertolongan.

Ong It sin segera mempersiapkan sebutir peluru Pek lek tan sambil mengancam.

"Siapa berani bergerak secara sembarangan, akan segera kuperseni sebutir peluru peledak untuknya!"

Ancaman ini segera menggetarkan hati keempat orang iblis itu tanpa banyak berbicara lagi mereka berpekik nyaring kemudian bersama sama melarikan diri kebelakang.

Menanti musuhnya sudah pergi, Ong It sin baru mengempit tubuh kelabang hitam Be Ji nio menuju keatas bukit karang itu, tanpa membuang waktu lagi dia segera turun tangan membasmi kawanan pemanah yang berada disana Dimana cahaya emas berkelebat lewat, kepala manusia bergelindingan keatas tanah, kejadian ini membuat musuh musuh lainnya menjadi ketakutan dan segera melarikan diri terbirit birit.

Dalam waktu singkat, seluruh bagian diatas tebing karang sebelah sini telah bersih dari musuh.

Ketika Ki thian kaucu yakni Be Siau soh yang berada dibukit seberang menjadi terkejut sekali menghadapi serentetan perubahan situasi yang sama sekali tak diduga olehnya itu.

Mimpipun dia tak pernah menyangka kalau segala persiapan yang telah diaturnya dengan rapi dan matang ini, akhirnya harus berantakan tak karuan lagi bentuknya.

Padahal kemenangan seharusnya sudah berada dipihaknya, tapi kenyataannya sekarang bukan saja jago jago andalannya banyak yang tewas, bahkan dari pihak yang menang sekarang dia terdesak hebat.

Yang lebih payah lagi adalah ibunya berhasil ditawan musuh dan anak buahnya dijagal dia hanya bisa menyaksikan semua peristiwa itu berlangsung tanpa sanggup memberi pertolongan, untuk sesaat menjadi gelagapan dan tak tahu apa yang musti dilakukan.

Akhirnya dengan sorot mata memancarkan sinar kegusaran, dia bersumpah dalam hatinya.

"Bangsat, tunggu saja tanggal mainnya, aku akan menggunakan gigi untuk membalas dengan gigi"

Sesungguhnya didalam lembah Jit hwe kok tersebut sudah ia persiapkan bahan peledak yang ditanam dalam lembah tersebut.

Tapi setelah para jago mengambil tindakan lebih baik berdiri ditanah lapang daripada menyembunyikan diri ditempat yang tersembunyi, sehingga sebagian besar diantara mereka tidak berada dalam lingkaran tanah yang ditanami bahan peledak, maka pertama dia tak ingin "memukul rumput mengejutkan ular"

Kedua dia percaya dengan kemampuan Ciok yong li sin, akhirnya langkah itu tidak dipersiapkan lebih jauh.

Siapa tahu usaha Ciok yong li sin mengalami kegagalan total, bukan keuntungan yang berhasil diraih malah sebaliknya Ong It sin berhasil menyelundup keatas bukit diseberang sana dan menghabisi semua orang orangnya yang dipersiapkan di sana.

Dalam keadaan yang sangat terdesak ini, akhirnya ia turunkan perintah untuk melancarkan serangan.

Dalam waktu singkat dari atas bukit berjatuhan batu batu cadas dan kayu kayu balok yang amat besar, selain itu dicampuri pula hujan panah dan senjata api yang berhamburan keseluruh lembah.

Tentu saja bahan peledak yang ditanam dalam bumi yang diledakkan sekaligus.

Suara gemuruh yang memekikkan telinga diikuti goncangan gempa yang dahsyat seketika itu juga membuat suasana dalam lembah itu menjadi kacau balau tak karuan.

Menghadapi ancaman semacam ini, Giok bin sin liong Ong It sin segera berpekik nyaring dan melejit ketengah udara dan segera melesat kedepan sana.

Dalam waktu singkat dia sudah berhasil menembusi beberapa bukit karang itu mencapai tepian seberang.

Pedang naga emasnya segera bekerja keras, tidak mengenal ampun lagi ia tebas segenap musuh musuhnya yang dijumpai sepanjang jalan.

Jeritan jeritan ngeri yang memilukan hati segera bergema memecahkan keheningan, darah segar berhamburan membasahi seluruh permukaan bumi, kutungan badan, kaki, tangan berserakan disana sini, tumpukan mayat membukit, darah menganak sungai, pemandangan ditempat itu benar benar mengerikan sekali.

Menyaksikan keganasan dari si anak muda itu, siapa lagi yang berani menentang maut untuk membendung serbuannya?

Apalagi setelah menyaksikan rekan rekan mereka yang berada di bukit seberang terbasmi tak terampunkan lagi kontan saja semua orang lari tunggang langgang berusaha menyelamatkan diri sendiri.

Dalam keadaan demikian, peduli amat dengan tugas, yang penting adalah menyelamatkan selembar jiwa sendiri...

Dengan meredanya serangan dari kawanan iblis perkumpulan Ki thian kau, keadaan para jago yang terjebak dalam lembah Jit hwe kok baru agak mendingan, mereka bisa bernafas lega dan beristirahat sebentar untuk menghimpun tenaga baru.

"Lebih baik manfaatkan kesempatan yang sangat baik ini untuk mengundurkan diri dari lembah ini"

Kata Biau tam nikou mengusulkan.

"Benar!"

Sahut Leng mong sinceng pula.

"biarlah sebagai panglima pembuka jalannya adalah lolap sendiri"

"Kalau begitu, pinni akan berada pada barisan yang terbelakang..."

Kata tam nikou lagi.

Diiringi teriakan yang menggetarkan udara, puluhan orang jago lihay dari dunia persilatan itu serentak maju ke depan dan menyerbu ke mulut lembah itu.

Kawanan iblis dari perkumpulan Ki thian kau yang ditugaskan menjaga mulut lembah itu tentu saja bukan tandingan dari Leng mong sinceng sekalian, keadaan mereka sekarang ibaratnya domba yang bertemu dengan harimau, dalam waktu singkat korban berjatuhan tiada hentinya.

Betul Leng mong Sinceng berwelas kasih dan tak ingin membunuh umatnya terlampau banyak, sehingga selama pertarungan berlangsung, dia hanya mengandalkan ilmu menotok jalan darah untuk merobohkan kawanan anggota perkumpulan Ki thian kau.

Berbeda sekali dengan para jago dunia persilatan yang baru saja terjebak dalam lembah dan harus menghadapi ketegangan serta ancaman jiwa, mereka tidak berbelas kasihan lagi.

Setiap musuh yang dijumpainya segera dibunuh secara keji, tak seorangpun yang sudi memberi ampun kepada lawannya, sehingga dalam waktu singkat mayat menggeletak membukit, darah segar menganak sungai, jeritan ngeri demi jeritan ngeri yang menyayatkan hati bergema saling susul menyusul dan tiada hentinya.

Tiba tiba si dewa cebol Cu Lian ci berseru kepada Say siu hud sim yang berada disampingnya.

"Hei, buat apa kita musti ikut meramaikan suasana disini? Mari ke atas puncak tebing saja untuk membantu It sin lote"

Belum lagi Say siu hud sim menjawab, Thian hiang siancu Bwe Leng soat telah melompat mendekat sambil berseru.

"Betul! memang itulah atraksi yang paling menarik untuk kita. Hmmm... bagus sekali, rupanya kalian ingin diam diam ngeloyor ke situ? Kenapa sampai melupakan nonamu?"

"Nona, kalau kau ingin turut, hayolah kita berangkat bersama sekarang juga"

Seru si Dewa cebol Cu Lian ci kemudian.

Tiga sosok bayangan manusia dengan kecepatan bagaikan sambaran kilat segera meluncur ke depan sana dan melambung ke atas puncak bukit.

Baru tiba di punggung bukit, mereka telah bersua lebih dulu dengan empat orang iblis yang tergabung sebagai para pelindung hukum perkumpulan Ki thian kau.

Dalam suatu pertarungan yang kemudian berlangsung, Say siu hud sim berhasil mengalahkan Tee leng kun setelah melewati suatu pertarungan yang cukup seru, dengan cepat kepandaian silat yang dimiliki gembong iblis itu dipunahkan.

Menyusul kemudian si Dewa cebol Cu Lian ci pun berhasil membekuk batang leher Say siu jin mo.

Sebaliknya Thian hiang siancu Bwe Leng soat yang bertarung sendirian melawan Tee lwee siang mo berhasil pula memenggal batok kepala kedua orang iblis itu dengan jurus Hui pau nu to (air terjun berombak dahsyat) yang luar biasa.

Tatkala mereka mencapai atas puncak, maka tampaklah Giok bin sin liong Ong It sin sedang ditakuti oleh Be Siau soh ketua dari perkumpulan Ki thian kau kemudian ketua pertama Sangkoan Bu cing wakil kedua Seng Meh cu wakil ketua ketiga Siau mi lek Thian tok tau ong Ang yan tongcu yakni Ang hun lo sat Hoa Long jin Ui kiok tongcu yakni Hong liu kua hu Sin Cing ciu serta Pek bwe tongcu si dewi berdarah dingin Lau Yan hoa sekalian berdelapan.

Empat lelaki dan empat perempuan maju menyerang bersama dengan kedahsyatan yang mengerikan.

Betul Ong It sin memiliki kepandaian silat yang luar biasa, diapun bertarung dengan gagah perkasa namun delapan orang iblis yang mengerubutinya merupakan kelompok iblis yang paling top dalam golongan kaum hitam tak heran kalau mereka bukanlah manusia sembarangan.

Terutama sekali Be Siau soh dan Sangkoan Bu cing yang telah berhasil mempelajari ilmu Hu si jit si yang maha dahsyat itu, kekuatan mereka betul betul diluar dugaan.

Baru untuk pertama kali ini Ong It sin harus bertempur dengan sangat berhati hati dan penuh kewaspadaan.

Seandainya kedelapan orang itu bekerja sama terus menerus untuk mengurung dan mengerubutinya, andaikata bala bantuan dari luar tidak segera datang tepat pada waktunya tak bisa disangkal lagi pemuda itu pasti akan menghadapi sesuatu ancaman bahaya maut.

Untunglah disaat yang serba tidak menguntungkan itu, dia saksikan si dewa cebol Cu Lian ci, Say siu hud sim dan Thian hiang siancu Bwe Leng soat berdatangan dengan langkah cepat.

Menjumpai musuhnya memperoleh bala bantuan, Be Siau soh makin kalap, dia menyerang Ong It sin secara membabi buta, pedang mestika Hu si ku kiam yang berada ditangannya diayunkan kesana kemari, dengan disertai sambaran angin tajam Bwe Leng soat yang menjumpai keadaan itu menjadi naik pitam, dengan cepat dia membentak keras sambil bersiap siap untuk maju kedepan membantu anak muda itu.

Tiba tiba Si Dewa cebol Cu Lian ci membentak dengan suara dalam dan berat.

"Jangan bertindak secara gegabah, lebih baik kita rundingkan dulu taktiknya dalam menghadapi kerubutan mereka sebelum turun tangan melancarkan serangan"

"Bagaimanakah menurut pendapat Ay sian didalam menghadapi situasi semacam ini?"

Tanya Say siu hud sim kemudian.

"Aku rasa lebih baik nona Bwe khusus bertarung melawan Sangkoan Bu cing, sedang lohu akan bertarung melawan Seng Meh cu dan Siau Mi lek, sebaliknya ketiga orang tongcu yang cabul dan genit itu kuserahkan kepada saudara Kwik untuk menghadapinya, aku percaya tak sampai sepuluh gebrakan kemudian, Be Siau soh sudah pasti akan menderita kekalahan total ditangan Ong lote. Begitu pentolan mereka keok dan keteter hebat, situasi ini pasti akan mempengaruhi pula anak buahnya. nah, pada saat itulah semangat tempur mereka pasti akan bertambah kendor, pikiran mereka tentu kalut tak karuan dan perasaannya kacau dan kebingungan itulah saat yang terbaik buat kita untuk bertindak dan menyikat mereka sampai ludas..."

Mendengar sampai disitu, Thian hiang siancu Bwe Leng soat segera berseru keras.

"Bagus, bagus sekali, cara ini memang paling baik untuk kita laksanakan..."

Begitu selesai berkata, dia lantas menggerakkan pedangnya dan langsung menyergap Sangkoan Bu cing, kemudian serangkaian serangan berantai yang paling dahsyat dilontarkan secara bertubi tubi.

Dengki dan cemburu dengan cepat menyelimuti perasaan Sangkoan Bu cing begitu diketahuinya Bwe Leng soat yang menyerang dia, kontan saja dia mencaci maki kalang kabut.

"Perempuan rendah, perempuan sialan yang tak tahu malu, tak kusangka kalau kau pun rela menjual nyawa untuk dirinya...!"

"Kalau aku rela menjual nyawa kepadanya apa urusannya dengan dirimu? Kau iri? Kau dengki? Siapa suruh tampangmu macam monyet dan tingkah lakumu macam harimau buas sehingga bapak sendiripun dibunuh...? Hmmm, manusia biadab seperti kau lebih baik dienyahkan saja dari muka bumi!"

Walaupun dimulut dia memaki, tangannya sama sekali tidak berhenti bergerak.

Sreet sreeet!

Secara beruntun dia lancarkan sembilan buah pukulan ditambah tujuh belas buah tusukan dan bacokan.

Demikian dahsyat dan rapatnya ancaman itu, membuat Sangkoan Bu cing menjadi kelabakan setengah mati.

Dalam pada itu, si Dewa cebol Cu Lian ci telah menemukan pula incarannya dan melibatkan diri dalam suatu pertarungan seru melawan Seng Meh cu dan Siau mi lek.

Sedangkan Say siu hud sim pun tidak menganggur belaka, dengan cepat dia melibatkan diri dalam suatu pertarungan yang sengit pula melawan tiga orang perempuan jalang.

Ketiga perempuan jalang itu tak lain adalah Ang hun lo sat Hoa long jin, Hong liu kua hu Sin Cing hiu serta Leng hian sian ku Lau Yan hoa.

Dengan terbaginya kelompok iblis itu untuk menghadapi tiga medan pertarungan sekaligus, maka situasi diarena pertarungan pun segera mengalami perubahan besar.

Sebab dengan berlalunya enam orang jago yang harus bertarung melawan tiga lawan kini hanya tinggal dua gelintir manusia saja yang bertempur melawan Giok bin sin liong Ong It sin, mereka tak lain adalah Be Siau soh, ketua dari perkumpulan Ki thian kau serta Thian tok tay ong Hek lian Jin.

Begitu daya tekanan yang menghimpit tubuhnya berkurang banyak, semangat tempur Ong It sin semakin berkobar, tidak sampai tiga gebrakan kemudian, sebuah bacokan pedangnya yang dilancarkan dengan kecepatan bagaikan sambaran kilat berhasil menebas kutung lengan kiri dari Thian tok tay ong Hek lian Jin.

Sambil menjerit kesakitan dan darah segar jatuh bercucuran membasahi seluruh tubuhnya, iblis tua beracun itu buru buru mundur kebelakang dengan wajah memucat dan tubuh sempoyongan.

Rupanya meski sudah terluka dia tak mau menyerah dengan begitu saja, tangan kanannya yang masih utuh dengan cepat diayunkan pula kedepan secepat kilat.

Seekor ular bergaris merah yang memiliki sayap pada bagian perutnya, segera meluncur keangkasa dan menyambar ketubuh Ong It sin.

Ular aneh itu memang amat lihay sekali, tiba tiba binatang tersebut berpekik aneh, kemudian sambil melejit ke udara dia melancarkan sebuah pagutan maut.

Buru buru Ong It sin menarik tangannya, sambil menyapu ke bawah dengan kekuatan penuh.

Tampaknya ular aneh itu cukup mengetahui akan kelihayan musuhnya, menghadapi sambaran tajam mana, buru buru dia melesat ke udara secepat hembusan asap, kemudian menyergap kembali ke bawah.

Dengan terjadinya peristiwa ini, Be Siau soh jadi memperoleh kesempatan baik untuk menolong posisinya yang amat terdesak itu, pedangnya segera digerakkan dengan kecepatan luar biasa dan menghujani lawannya dengan titiran sambaran pedang.

Ong It sin cukup mengetahui kelihayan manusia dan ular tersebut, ia sama sekali tak berani bertindak gegabah, dengan suatu ingatan cepat dia berpikir.

"Ternyata, dia hendak mengajakku untuk melangsungkan pertarungan mati matian..."

Begitu ingatan mana berkelebat lewat didalam benaknya, mendadak ia mendongakkan kepalanya sambil berpekik nyaring, bagaikan harimau kelaparan dia menerkam ke depan, lalu pedang emasnya dengan menciptakan selingkaran cahaya tajam langsung membabat ke bawah.

Bersamaan itu pula, jari tangannya disodok ke depan sambil membentak keras.

"Kena!"

Segulung desingan angin tajam segera menyembur keluar lewat ujung jari tangannya.

Ular aneh bersayap itu sesungguhnya masih terhitung sejenis raja ular yang sangat lihay, akan tetapi bagaimana mungkin dia bisa tahan menghadapi serangan jari tangan yang batu cadaspun bisa ditembusi itu?

"Kraaakk...!"

Belum sempat berpekik keras, ular itu sudah terhajar serangan tadi dan mampus.

Thian tok tay ong Hek lian Jin baru merasa amat terperanjat setelah menyaksikan ularnya dibunuh, dengan penuh kegusaran bentaknya keras keras.

"Ong It sin, lohu akan beradu jiwa denganmu!"

Pada saat ini dia tidak mempedulikan luka pada lengan kirinya yang kutung lagi. sambil menggertak gigi menahan diri, makinya.

"Selama kau masih hidup didunia ini, berarti kami orang orang dari golongan hitam tak mungkin akan turut hidup!"

Berkenyit sepasang alis mata Ong It sin menghadapi ucapan lawannya itu, dengan cepat dia berkata.

"Perbedaan antara golongan putih dan golongan hitam berarti perbedaan pula antara yang lurus dan yang sesat, padahal baik atau busuk hanya tergantung pada jalan pikiran masing masing pihak, apakah mulai sekarang kau bisa bertobat dan tidak melakukan kejahatan lagi?"

Thian tok tay ong segera tertawa dingin.

"Heeehhh... heeehhh... heeehhh... kau tak usah mencoba untuk membujuk aku lagi, ketahuilah bumi bila berubah, watak lohu akan tetap begini untuk selamanya"

"Perkataan dari saudara Hek lian memang tepat sekali"

Sambung Bwe Siau soh cepat cepat.

"kalau kau merasa punya kepandaian, hayo datanglah kemari dan bunuhlah aku, cuma... kau pun jangan harap bisa mengecap ketenangan dalam waktu yang lama"

Ong It sin mendengus dingin, serunya kemudian.

"Jadi kau anggap aku tak mampu...?"

"Sekalipun kau mampu untuk melakukannya, itupun harus dibayar dengan harga yang sangat mahal"

Sembari berkata diam diam dia mencoba pasang telinga untuk memperhatikan sekeliling tempat itu, namun hasilnya, kecuali pertarungan yang sedang berlangsung ditempat ini, tempat yang lain agaknya sudah sepi dan tak kedengaran lagi suaranya.

Dengan perasaan tercekat dia lantas berpikir.

"Jangan jangan mereka semua sudah berhasil dihancurkan lawan? Kalau tidak, kenapa sampai sekarang tidak kudengar suara pertarungan mereka? Aaah, masa hal ini akan terjadi?"

Semakin dipikir dia merasa hatinya semakin ketakutan, sehingga tanpa terasa bulu kuduknya pada bangun berdiri, dia benar benar merasa ketakutan setengah mati.

Tapi untuk memperbesar nyali sendiri sengaja serunya kepada Thian tok tay ong ........

==halaman ga ada== ...

keadaan begini ia tidak mempedulikan soal gengsi lagi, tanpa banyak berbicara dia membalikkan badan dan segera melarikan diri terbirit birit...

Ong It sin membencinya karena pemuda itu telah membantai ayah kandung sendiri sebuah pukulan dahsyat segera mementalkan tubuhnya sehingga balik ketempat semula.

Kebetulan sekali Bwe Leng soat sedang menyerang dengan jurus Po lan Ciong heng (gulungan ombak menyapu rata), tak ampun pinggangnya segera tertabas hingga putus menjadi dua bagian.

Dengan matinya pentolan pentolan dari Ki thian kau, kontan saja Ang hun lo sat Hoa Long jin, Hong liu kua hu Sin Cing ciu dan Leng hiat sian cu Lau Yan hoa menjadi ketakutan setengah mati, buru buru mereka membuang senjata masing masing dan menyerahkan diri.

Dengan demikian tinggal Seng Meh cu dan Siau mi lek berdua yang masih hidup.

Waktu itu kerja sama dua orang gembong iblis tersebut telah berhasil meraih posisi diatas angin, tapi setelah menyaksikan kematian dari Be Siau soh dan Sangkoan Bu cing kemudian melihat pula ketiga orang tongcu tersebut menyerah kalah mereka menjadi gugup pula.

"Kalau tidak kabur akan menunggu sampai kapan lagi?"

Demikian pikir mereka.

Tiba tiba kedua orang itu melejit keudara dan secepat sambaran kilat melarikan diri dari tempat itu.

Tentu saja Ong It sin tak akan membiarkan musuhnya kabur dengan begitu saja, dengan cepat dia memburu kebelakang sambil melepaskan sebuah pukulan keatas punggung masing masing.

"Kematian boleh mereka hindari, tapi hukuman hidup jangan harap bisa terlepas"

Katanya.

"nah, tinggalkan ilmu silatmu disini, lalu enyah sejauh jauhnya dari hadapanku"

Seng Meh cu dan Siau Mi lek sama sama merasakan tubuhnya bergidik, lalu punahlah semua kepandaian mereka, akhirnya dengan penuh rasa dendam mereka berjalan menuruni bukit dan pelan pelan berlalu dari sana.

Menanti Ong It sin sekalian dengan membawa Kelabang hitam Be Ji nio dan Say siu jin mo turun dari bukit itu, markas besar Ki thian kau sudah terbakar hancur sehingga tinggal puing puing yang berserakan Sambil menghela napas panjang Ong It sin lantas berkata.

"Sayang sekali pemimpin dari Lam huang pay yau yakni Kim san sia kiam Thio Pin dan Tiang bi Lo yau dari Jit sia cap si yau ditambah Ik tianglo dari benteng Khek poo berhasil melarikan diri, padahal mereka adalah musuh musuh besar pembunuh ayahku, entah sampai kapan dendam ayahku itu baru dapat dibalas?"

Belum habis dia berkata, mendadak dari jalan bukit didepan sana telah muncul belasan sosok bayangan manusia, mereka adalah Coa Thian yan, Pek lek to To hu Hiong, Seng hong tianglo, Li ji, serta Tiong lam su hiap yang terdiri dari Ih lwee sangjin, Ho hoa siancu, Tui im kiam khek Ih Hui dan Toa tou Go Eng.

Selain itu merekapun membawa serta tiga orang.

Ternyata ketiga orang itu tak lain adalah ikan ikan yang lolos dari jaring.

Ong It sin menjadi girang sekali menyaksikan kejadian itu, buru buru dia mengucapkan terima kasihnya kepada para jago.

Menanti mereka pulang kembali kerumah Kang Tang liu, tampak tuan rumah telah menanti kedatangannya didepan pintu.

Begitu anak muda muncul, dia lantas berseru.

"Ong lote, selamat atas keberhasilanmu membalas dendam, kini gurumu sedang menantikan kedatanganmu dalam ruangan!"

Mengetahui kalau gurunya sedang menanti, buru buru Ong It sin lari masuk kedalam. Baru saja dia memberi hormat sambil memanggil "Suhu", Leng mong sinceng telah berkata.

"Persoalanmu telah kuketahui semua, walaupun dalam perjalanan menuju kekota Im kui tempo hari kau terkena obat perangsang milik Gi hay jin yau Toan Cing hun lebih dulu, namun hal ini merupakan takdir, Lo lap telah membicarakan hal ini dengan Biau tam sinni, Kim liong lojin serta Seng hong totiang, dan kini memutuskan akan menjodohkan Bwe Leng soat dan Bwe Yau kepadamu, besok kalian harus melangsungkan upacara perkawinan didepan para jago"

Sepanjang jalan Ong It sin memang sedang mencari akal untuk secara bagaimana melaporkan kejadian ini kepada gurunya setelah mengetahui kalau semua orang telah mengetahui hal ini, diapun tidak banyak berbicara lagi.

"Tecu akan turut perintah!"

Katanya kemudian dengan sikap yang amat menghormat.

Setelah hening sejenak, tiba tiba Leng mong sin ceng mengeluarkan semacam benda yang segera diserahkan kepadanya.

Ketika Ong It sin menerima benda itu, ternyata benda tadi tak lain adalah sarung pedang Cian nian liong siau beserta Hu si ku kiam, hal ini segera membuatnya tertegun.

Dengan wajah serius Leng mong sinceng segera berkata.

"Anak Sin, walaupun kau telah membunuh Be Siau soh dan Sangkoan Bu cing dua orang gembong iblis ini tapi kau telah berbuat keteledoran dengan tidak menarik kembali pedang ini seandainya pedang tersebut sampai ditemukan kembali oleh perempuan macam Be Siau soh dan berhasil menguasai ilmu pedang Hu si jit si yang maha dahsyat tersebut, bayangkan saja apa jadinya?"

Buru buru Ong It sin menjatuhkan diri berlutut seraya berseru.

"Tecu mengaku telah teledor, harap suhu sudi memaafkan"

"Sudahlah, aku harap setelah perkawinan kalian, kau musti baik baik menjaga keamanan dalam dunia persilatan, terutama menegakkan selalu keadilan dan kebenaran bagi umatnya. Nah, suhu akan pergi dulu..."

Begitu selesai berkata, dia lantas berkelebat pergi dan lenyap dari pandangan mata.

Menyaksikan kepergian gurunya, Ong It sin mengalihkan sorot matanya ke atas pedang Hu si ku kiam dan sarung Cian nian liong siau tersebut, kemudian dengan termangu mangu dia mengawasi kedua benda itu tak berkedip.

Sampai lama kemudian, dia baru mendongakkan kepalanya memandang awan di angkasa sambil bergumam.

"Oooh pedang... wahai pedang...! Sesungguhnya kau akan mendatangkan bencana atau rejeki kah bagiku?"

Dan sampai disini pula kisah "Pendekar bego"

Ini, sampai jumpa dilain cerita. TAMAT

Baca Juga: Cheng Hoa Kiam Kho Ping Hoo

Baca Juga: Pendekar Bunga Merah 5

Cari Blog Ini

Diberdayakan oleh Blogger.

Parnert