Eps 1 Pedang Berkarat Pena Beraksara - Tjan ID
Baca online Pedang Berkarat Pena Beraksara - Tjan ID
Cersil Pedang Berkarat Pena Beraksara - Tjan ID.
Pedang Berkarat PENA BERAKSARA Karya. Tjan ID Sumber .
http.//indozone.net
Bab-01.
Jago pedang baju putih.
Bukit Sian Hoa-san dalam bilangan propinsi Phu-kang, disebut pula bukit Siau Koh-san.
diatas puncak bukit terdapat sebidang tanah datar yang amat luas.
Memandang jauh kedepan, hanya bukit yang saling ber-sambung2an dengan hutan yang lebat, sungai Phu-yang-kang bagaikan sebuah rantai putih memanjang disepanjang kaki bukit.
Malam ini adalah malam Tiong-ciu, udaranya bersih, rembulan bersinar purnama dengan sangat terangnya.
Seorang manusia berbaju putih, berdiri ditanah lapang pada puncak bukit Sian-hoa-san dengan sikap yang gagah.
Orang itu berperawakan jangkung dengan alis mata yang tajam, dia berusaha tiga puluh tahunan, sebatang pedang berpita putih tersoreng dipinggangnya hingga menambah kegagahan orang itu.
Mendaki bukit dimalam Tiong-ciu, tampaknya orang itu sengaja datang untuk menikmati keindahan malam bulan purnama.
Namun sepasang matanya justru memandang ketempat jauh se-akan2 bukan datang untuk menikmati keindahan malam bulan purnama, melainkan sedang menunggu kedatangan seseorang.
"Sreet"
Bunyi lirih seperti daun kering yang rontok terhembus angin bergema di belakang tubuhnya.
Seperti merasakan sesuatu, secepat kilat orang berbaju putih itu membalikkan badannya, kemudian sambil menatap tajam asal suara itu, dia membentak berat-berat.
"Siapa disitu ?"
Gelak tertawa nyaring berkumandang dari balik hutan dihadapannya, kemudian sesosok tubuh manusia pelan-pelan menampakkan diri.
orang inipun berbaju putih dengan perawakan jangkung, alis matanya lentik dan dengan sepasang mata tajam, usianya antara tiga puluh tahunan, sebilah pedang berpita putih tersoren pula dipinggangnya.
Berbincang soal wajah, potongan badan dandanan sikap serta yang dipakai, orang ini mempunyai segala-gala yang persis seperti orang berbaju putih pertama tadi.
Andaikata kau membawa sebuah cermin besar dan menjajarkan kedua orang itu jadi satu, maka akan terasa bahwa kedua orang itu ibaratnya pinang dibelah dua.
orang berbaju putih yang datang lebih duluan itu nampak agak tertegun lalu dengan wajah serius tegurnya.
"sobat, slapakah kau ?"
Orang berbaju putih yang datang belakangan itu berkerut kening, lalu tertawa nyaring.
"Haaahh --haaahhh---haaahhh---sobat, kau toh dapat berdandan seperti aku, masa kau bertanya lagi siapakah aku? Kebetulan pada malam ini aku punya janji dengan seorang teman untuk bertemu disini, maka turutilah nasehatku, cepat-cepatlah kau tinggalkan tempat ini."
Mencorong sinar tajam dari balik mata orang berbaju putih yang pertama kemudian tertawa seram.
"Sobat, tahukah siapa yang telah berjanji dengan siaute untuk berjumpa disini malam ini"
"Haaahhh... haaahh... haaahh... siaute bisa datang kemari untuk memenuhi janji, tentu saja mengetahui pula slapa orang itu, maka siaute anjurkan kepadamu cepatlah kau tinggalkan tempat ini"
Kedua orang ini bukan cuma wajah, pakaian, sikap maupun gerak geriknya sama, malahan nada serta logat berbicaranya pun tak berbeda dengan lainnya.
orang berbaju putih yang datang duluan itu segera berkerut kening serta mendadak dia maju selangkah lalu ditatapnya orang berbaju putih yang lain lekat-lekat, kemudian tegurnya.
"Sobat, siapakah kau?"
"Haaahhh... haaahhh ..... suatu pertanyaan yang sangat bagus, pertanyaan ini kebetulan ingin siaute ajukan pula kepada dirimu"
Mendengar perkataan itu, orang pertama tadi mendongakkan kepalanya dan tertawa nyaring, suaranya keras memekikkan telinga "Sobat, mengapa kau tertawa?"
Tegur orang kedua agak tertegun. Orang pertama itu segera menghentikan gelak tertawanya, lalu sambil menjura katanya dengan serius.
"Sobat dapat menyaru persis seperti siaute, itu berarti kau adalah orang yang cukup kukenal, hanya saja pertemuan malam ini, siaute punya janji dengan seorang gembong iblis yang sudah lama termasyur karena kekayaannya dia datang dengan maksud tak baik bahkan siaute sendiripun tidak yakin menangkan dirinya. aku tak ingin menyusahkan sobat, buat apa saudara mesti menyaru sebagai siaute untuk datang kemari...."
Belum habis orang pertama berbicara, orang berbaju putih kedua sudah menukas sambil menjura pula.
"Betul, usaha saudara untuk menolong orang yang sedang kesulitan sungguh membuat siaute amat terharu, kebaikan ini pasti akan kuingat selalu didalam hati Seperti apa yang saudara katakan dalam peristiwa malam ini, siaute dipaksa oleh keadaan dan mau tak mau mesti datang untuk memenuhinya, sebab itu kuharap saudara mau menuruti anjuranku dan cepatlah tinggalkan tempat ini."
Berbicara sampai disitu, dia lantas menjura berulang kali menyatakan rasa terima kasih.
Dengan tenang orang berbaju putih pertama mendengarkan pembicaraan lawannya, sementara sepasang matanya yang tajam mengamati orang berbaju putih kedua lekat-lekat, hendaknya dia berusaha untuk menemukan titik kelemahan pada tubuh orang ini.
Mendadak dia melesat maju kedepan, dalam sekejap mata tubuhnya sudah berada dihadapan orang berbaju putih yang datang belakangan.
Setelah saling berhadapan, baru nampak kini perbedaannya, ternyata orang berbaju putih yang datang belakangan itu lebih pendek setengah bahu diripada orang pertama.
Seperti menyadari akan sesuatu, tiba-tiba orang berbaju putih yang datang duluan itu menjadi sangat emosi serunya dengan suara agak tergagap.
"Rupa... rupanya kau ... kau adalah ..."
Belum habis ucapan itu diutarakan, dari bawah bukit sana telah berkumandang suara tertawa nyaring yang amat memekikan telinga, suaranya sangat keras sehingga menggetarkan seluruh tanah perbukitan itu.
Sikap siorang berbaju putih yang datang duluan itu makin emosi, tidak sempat melanjutkan kata kata sebelumnya, ia segera membentak dengan suara dalam.
"Kenapa kau tidak segera pergi dari sini?"
Orang baju putih yang datang belakangan itupun tampak dipengaruhi emosi sahutnya dengan gelisah.
"Seharusnya kaulah yang harus pergi..."
Belum habis ucapan tersebut diutarakan, terdengar seseorang telah menukas sambil tertawa seram.
"Kaliau berdua tak usah pergi lagi dari sini"
Suaranya tajam dan melengking, amat tak sedap didengar.
Walaupun kedua orang manusia berbaju hitam itu merasakan hatinya bergetar keras dan diam-diam kaget akan kecepatan gerak lawan^namun mereka masih tetap berdiri tegak di tempat semula.
Angin malam yang berhembus lewat mengibarkan ujung baju berwarna putih kedua orang itu mereka tampak amat tenang, seolah olah tiada sesuatu ancamanpun dihadapan mereka.
Sesosok bayangan hitam dengan kecepatan tinggi meluncur tiba, ternyata dia adalah seorang kakek berusia lima puluh tahun yang mengenakan jubah warna hijau.
Diatas wijahnya yang kurus dan berwarna hitam pekat tersungging sekulum tertawanya yang menyeringai seram, ditatapnya kedua orang itu sekejap.
lalu berkata.
"Tak kusangka Pek ih kiam kek (jago pedang berbaju putih) yang begitu termasyhur namanya dalam dunia persilatan, telah mencarikan seorang pengganti untuk menghadapi kematian, haaahhh... haaahh... haaahhh... untung saja lohu tak datang terlambat, kalau tidak niscaya salah seorang diantara kalian sudah ada yang kabur dari sini..."
Berkilat sepasang mata orang berbaju putih yang datang lebih duluan itu, katanya gagah.
"Hmmm... Kau telah menganggap diriku ini sebagai manusia macam apa..?"
Orang berbaju putih yang datang belakangan ikut tertawa tergelak pula.
"Kau telah berani datang kemari untuk memenuhi janji, sebelum menghasilkan sesuatu, kaupun tak usah pergi dan sini."
Dengan sorot mata yang tajam, kakek berbaju hijau mencoba meneliti kedua orang itu dengan seksama, namun diapun tidak berhasil membedakan mana yang asli dan mana yang gadungan, maka sambil manggut-manggut dia berkata.
"Ehmm.... betul-betul hebat, tampaknya penyaruan kamu berdua memang hidup dan sempurna, namun bagi lohu mah tak acuh terhadap keaslian kalian, setelah berani datang kemari untuk memenahi janji, maka lohu hanya ingin mengajukan satu pertanyaan saja, sudahkah barang itu dibawa serta?"
"Barang milik perguruan kami tak akan dibiarkan terjatuh ketangan kaum laknat, menangkan dulu pedang ditanganku ini sebelam bertanya yang macam-macam"
Kata orang berbaju putih yang datang duluan itu ketus. Orang berbaju putih yang datang belakangan ikut berseru pula.
"Barang itu berada d isakuku, menangkan dulu pedangku ini, bila aku kalah niscaya benda tersebut akan kuserahkan kepadamu."
"Bagus, sekali."
Kakek berbaju hijau itu menyeringai seram.
"kalian terdiri dari yang asli dan yang gadungan, berarti barangnya ada yang asli ada pula yang palsu, haaahhh ...haaahhh-... haaahhh,...biar palsu maupun asli akan lohu ambil semua, nah, bila ingin turun tangan, lebih baik kalian maju bersama saja"
Dalam pembicaraan pergelangan tangannya segera digetarkan keras, sebatang ruyung lemas berkepala ular yang memancarkan sinar kehitam hitaman telah meluncur keluar dari balik bajunya, kemudian tangan kirinya digetarkan pelan, ruyung itu segera berputar sambil memancarkan cahaya kehijau-hijauan, bentaknya dengan suara dalam.
"Majulah, lohu tak sabar untuk menunggu lebih lama lagi"
"cri ing cri ing..."
Hampir pada saat yang bersamaan, kedua orang manusia berbaju putih telah meloloskan pedangnya.
Tapi orang berbaju putih yang datang belakangan maju kedepan lebih dulu, tiba dihadapan musuh dia membentak keras.
"Aku akan lebih dulu mencoba dimana kehebatanmu"
"Sreet ..."
Serentetan cahaya perak yang menyilaukan mata, secepat kilat meluncur kedepan dan melepaskan sebuah tusukan dahsyat dimana pedangnya menyambar lewat, hawa dingin yang menyayat tubuh memencar keempat penjuru.
Tetapi orang yang berbaju putih yang datang duluan telah mendahuluinya.
Sambil menghalangi jalan pergi orang berbaju putih yang datang belakangan, dia membentak dengan mata berkilat tajam.
"Kau mundur dulu"
Bentakan itu tidak begitu nyaring, akan tetapi membawa suatu kewibawaan yang tak terbantahkan-Orang berbaju putih yang datang belakangan agak tertegun, tanpa sadar ia mundur selangkah.
Orang berbaju putih yang datang duluan itu, tidak menggubrisnya lagi, ia menatap wajah si kakek berjubah hijau seraya bentaknya.
"Sekarang, kau boleh lancarkan seranganmu"
"Baik"
Kakek berjubah hijau itu segera menggetarkan lengannya, ruyung itu berputar diangkasa dengan membawa suara nyaring, kemudian di ringi kilatan cahaya tajam, kepala ular diujung ruyung itu menyambar ke dada orang berbaju putih itu dan mengancam ketiga buah jalan darah penting yang berada disana.
Dalam keadaan gusar, serangan yang dilaksanakan oleh gembong iblis tua ini selain cepat bagaikan kilat, juga ganas dan mematikan.
Terkesiap juga orang berbaju putih yang datang duluan itu setelah menyaksikan kelihayan serangan lawannya dalam jurus ternama.
"Tak heran kalau gembong iblis ini amat tersohor namanya didalam dunia persilatan ternyata kepandaian silat yang dimilikinya memang benar-benar luar biasa"
Demikian ia berpikir.
Tangan kiri mengayun miring kesamping dengan suatu taktik pancingan, sementara pedang ditangan kanannya menyongsong dengan jurus Sam seng tang hu (tiga bintang dimuka jendela).
Tatkala orang berbaju putih yang datang belakangan menyaksikan kedua orang itu sudah terlibat dalam suatu pertarungan sengit, diam-diam ia menghela napas panjang dan mudur beberapa langkah dari situ.
Dalam waktu singkat pertarungan telah berlangsung tujuh delapan gebrakan lebih.
Sementara itu kakek berjubah hijau itupun sudah merasakan pula kemampuan dan ketangguhan lawannya memainkan ilmu pedang, bahkan dia pun tahu bahwa kepandaian lawan telah mencapai puncak kesempurnaan Kendatipun di hari-hari biasa dia angkuh dan tak pernah pandang sebelah matapun terhadap lawannya, kali ini tak berani memandang remeh musuhnya.
Sebaliknya orang berbaju putih yang datang duluan itupun memahami sekali akan asal-usul kakek berbaju hijau itu, kendatipun dia mempertaruhkan nyawa pun belum tentu merupakan tandingannya, maka begitu turun tangan, ia lantas mengambil taktik bertahan menyelamatkan diri lebih dahulu.
Dihati mereka berpikir serangan tak pernah mengendor, bahkan lamat-lamat semakin menanjak hebat.
Lima puluh gebrakan kemudian, daerah seluas dua kaki sudah berada dalam lingkaran bayangan ruyung yang berlapis-lapis serta desingan angin pedang yang tajam.
Lama kelamaan kakek berjubah hijau itu menjadi naik pitam juga setelah semua usahanya tidak mendatangkan hasil, mencorong sinar hijau yang mengidikkan hati dari balik matanya, dia segera mundur dua langkah, lalu sambil tertawa seram katanya.
"Pek ih kiam kek, namamu memang benar-benar bukan nama kosong belaka, coba kau sambut lagi beberapa buah serangan ruyung dari lohu."
Jubah hijaunya dikembangkan menjadi sangat besar, lalu tubuhnya bergerak bagaikan hembusan angin, permainan ruyungnya kontan berubah sama sekali.
Sekejap mata kemudian deruan angin yang berbau amis memancar dari empat penjuru, bayangan ruyung menjadi makin gencar, bagaikan gulungan ombak dahsyat saja selapis demi selapis menggulung datang tiada hentinya....
Betul ilmu pedang yang dimiliki orang berbaju putih itu sangat lihay, namun kewalahan juga dibuatnya setelah menghadapi gelombang serangan ruyung yang maha dahsyat itu, kontan dia menjadi kalang kabut tak karuan dan mundur berulang kali.
Terkesiap amat hatinya menghadapi kejdaan demikian, pikirnya.
"Bila kugunakan suatu taktik pertarungan semacam ini terus untuk melayaninya, cepat atau lambat aku pasti akan terluka juga diujung ruyungnya, lebih baik mumpung kini masih ada kesempatan untuk melancarkan serangan balasan, baiklah aku beradu jiwa dengannya."
Berpikir demikian, hawa murninya segera di himpun semakin kuat, lalu sambil tertawa nyaring serunya.
"Suatu permainan ilmu ruyung yang sangat bagus, nah, kaupun boleh menyambut tiga buah serangan pedang ku."
Begitu selesai berkata, mendadak ia mengembangkan ilmu Pek-lek-sam leng (tiga getaran geledek) dari perguruannya untuk melancarkan serangan balasan, diantara getaran tangannya itu, secara beruntun dia telah melepaskan tiga buah serangan berantai.
Tiga buah serangan yang dilepaskan secara berbarengan ini benar-benar luar biasa sekali, tampak ujung pedang yang bergetar keras segera menciptakan selapis cahaya bianglala berwarna perak yang segera menerjang kearah bayangan ruyung tersebut.
Bagaikan amukan angin topan, di ringi suara guntur dan angin yang menggetarkan sukma, serangan itu melesat keudara dan menyongsong datangnya tubuh lawan.
"Traaang .."
Pedang dan ruyung segera saling membentur satu sama lainnya hingga menimbulkan suara getaran yang memekikkan telinga, seketika itu juga cahaya pedang dan bayangan ruyung lenyap bersama dari tengah angkasa.
Paras muka kakek berjubah hijau itu berubah menjadi mengerikan sekali, ruyung ularnya tergetar hingga lepas dari cekalan, sementara itu tubuhnya tergetar mundur sejauh tiga langkah.
Demikian pula keadaan dari si orang berbaju putih yang datang duluan itu, tiba-tiba saja dia merasakan pergelangan tangan kanannya yang memegang pedang menjadi sakit sekali, seakan-akan telah digigit oleh suatu makhluk, kemudian mulut lukanya menjadi gatal sekali, separuh lengan kanannya dari batas siku sampai pergelangan tangan kontan menjadi kaku dan mati rasa.
"Trang.."
Pedang itupun jatuh ketanah. orang berbaju putih yang datang belakangan menjadi terkejut sekali setelah menyaksikan kejadian itu buru-buru teriaknya.
"cepat kau tutup jalan darah ci ti hiat pada siku kananmu, jangan biarkan racun itu mengalir lebih keatas"
Seraya berseru, pedangnya digetarkan keras lalu diterjangnya kakek bejubah hijau itu dengan dahsyat.
"Bajingan tua, mana obat penawarnya?"
Ia membentak nyaring.
Kakek berjubah hijau itu mundur kebelakang, sementara tangan kanannya segera menggapai ketanah, ruyung panjang berkepala ulatnya yang tergeletak ditanah itu segera berputar satu kali di angkasa dan-.."weeesss"
Meluncur kembali ketangannya. Setelah senjata berada ditangan kembali ia menggetarkannya keras-keras lalu sambil tertawa seram, katanya kepada orang berbaju putih yang datang belakangan.
"Benar, masih ada kau yang tak boleh dilepaskan juga"
Orang berbaju putih yang datang belakangan tertawa dingin dihati, pikirnya.
"Heeehh ... heehh... heeehh ...kau tak akan menyangka kalau pedang yang sederhana dan sama sekali tidak membawa cahaya ini sesungguhnya adalah sebilah senjata mustika yang tajamnya bukan kepalang."
Pedangnya segera dicukil keatas, lalu tanpa berkelit dia babat datangnya senjata lawan Kedua belah pihak sama sama berindak dengan kecepatan tinggi.
"Traaang ..."
Pedang dan ruyung itu segera saling membentur satu sama lainnya.
Tiba-tiba kakek berjubah hijau itu merasakan tangannya menjadi ringan, ternyata ruyung sakti Thi-ieng-tiok-kiat-coe (ruyung sakti beruas ular bersisik baja) yang biasanya tidak mempan dibacok oleh pelbagai macam senjata itu kini sudah terlepas hingga tinggal separoh bagian saja.
Tak terlukiskan hawa amarah yang berkobar dalam dadanya, dia membentak keras, tubuhnya yang tinggi besar menerjang kemuka dengan kecepatan bagaikan sambaran petir, sementara telapak tangan kirinya dibabat keatas dada orang berbaju putih itu.
Serangan yang dilancarkan dalam keadaan gusar ini betul-betul hebat sekali kekuatannya, berbareng dengan ayunan tangan itu, gelombang angin puyuh yang maha dahsyat disertai desingan angin tajam ibarat amukan ombak besar ditengah samudra segera meluncur kedepan, kekuatannya betul-betul mengerikan hati.
Orang berbaju putih yang datang belakangan itu, meskipun berhasil memapas kutung senjata ruyung lawan, akan tetapi Thileng tlok kiat coa tersebut terhitung sebuah senjata yang lunak walaupun tubuh ruyung itu sudah kutung, bukan berarti serangannya telah hilang.
Apalagi setelah ular itu merasa kesakitan, tubuh bagian atasnya segera menubruk kedepan dengan kecepatan bagaikan anak panah yang terlepas dari busurnya.
Orang berbaju putih yang datang belakang sama sekali tidak menyangka sampai ke situ, tatkala bau amis berhembus datang, hampir saja ia kena tergigit.
Dalam kagetnya baru baru dia miringkan kepalanya ke samping, lalu memutar pedangnya untuk melindungi muka.
Ujung pedangnya segera, berputar ke atas, tubuh ular tersebut seketika, tercukil lenyap.
Tapi pada saat yang bersamaan, angin pukul dari si kakek berjubah hijau itupun telah menerjang datang ke tubuhnya, diam-diam ia menjadi amat terkesiap.
dia tak mengira kalau tenaga dalam yang dimiliki gembong iblis tua itu sedemikian sempurnanya.
Buru-buru dia menghimpun kembali tenaga dalamnya, lalu tubuhnya melambung ke udara dan melayang ke samping kiri untuk menghindarkan diri.
Saat ini, si kikek berjubah hijau itu sudah geram sekali, kalau bisa dia ingin membunuh orang berbaju putih itu dibawah pukulannya, tentu saja ia tidak memberi kesempatan lawannya untuk menghindarkan diri.
Gagal dengan serangannya yang pertama tubuh yang sedang menerjang kedepan itu sama sekali tidak berhenti, sambil berputar tangan kirinya dengan membawa tenaga pukulan yang kuat segera diayunkan ke depan, menyusul kemudian tangan kanannya diayunkan pula kedepan melepaskan serangan lain.
Angin puyuh yang amat dahsyat dari serangan lurus segera beri hati menjadi suatu sapuan yang datang dari samping, bahkan setelah mengalami penambahan tenaga ditengah jalan daya kekuatannya menjadi berlipat ganda lebih dasyat daripada serangan yang pertama tadi.
Tiba-tiba orang berbaju putih yang datang belakangan itu berdiri tegak di tanah, pedangnya yang berada ditangan kanan segera dialihkan ketangan kiri, sementara telapak tangan kanannya disilangkan kedepan dada.
Bentaknya kemudian dengan wajah serius.
"Tua bangka, kau anggap aku benar-benar merasa jeri kepadamu?"
Telapak tangan kanaknya yang semula disilangkan didepan dada itu, mendadak dibalik kemudian mendorong ke muka dengan suatu gerakan yang cepat sekali bagaikan sambaran kilat.
"Sreeet.."
Segulung desingan angin tajam memekikkan telinga, meluncur kedepan dengan dahsyatnya.
Seketika itu juga, si kakek berjubah hijau itu merasakan empat-lima depa disekeliling tubuhnya seolah-olah telah diliputi oleh angin pukulan yang kuat, dia merasa tubuhnya seakan-akan telah dibelah jadi dua bagian oleh pukulan yang dilancarkan manusia berbaju putih itu.
"Haaah, ..ilmu pukulan Siu lo lek.. ."
Tampaknya tak ringan luka yang diderita kakek berjubah hijau itu akibat serangan dahsyat yang dilancarkan musuhnya.
Dalam jerit kagetnya yang keras, dia memekik, tubuhnya dan kabur dari situ di ringi suara pekikkan memanjang yang amat memekikkan telinga..
Dalam waktu singkat, bayangan tubuhnya telah lenyap dari pandangan mata, sementara itu orang berbaju putih yang datang belakangan itupun berdiri tersengal-sengal dengan wajah memucat, tapi ia tak sempat lagi untuk mengatur napas, sambil menyarungkan kembali pedangnya, ia segera membopong tubuh orang berbaju putih yang datang lebih dulu itu, lalu kabur turun gunung.
Bab-02.
Paman tak bernama BULAN delapan telah menjelang kembali.
Rembulan bulat dan berwarna putih keperak-perakan itu sudah muncul ditengah angkasa, begitu bulat bulatan tersebut hingga kau takkan menemukan perbedaannya.
Tapi hari baru tanggal empat belas.
Sebuah gubuk yang amat sederhana nampak berdiri dikaki bukit nanpermai, dibawah sinar rembulan tampak seorang pemuda tampan sedang menggerakkan tangannya melatih serangan jurus jurus silat.
Dilihat dari gerakannya, ia seperti tidak sertakan tenaga dalam latihannya itu, namun sepasang telapak tangannya berputar dan berputar terus saling menyambung tiada hentinya, setiap kali tangannya diayunkan, terasa ada angin lirih yang berhembus lewat.
Bagi mata seorang ahli, hanya sekilas pandangan saja dapat diketahui kalau pemuda itu sedang memainkan ilmu Tay khek ciang dari partai Bu tong yang amat termashur itu.
Setengah jam kemudian, rangkaian ilmu yang sedang dilatih pemuda itu sudah mendekati akhir.
Mendadak dia maju sambil berputar, lengan kanan menekuk kedalam sambil membuat satu gerakan lingkaran, kemudian telapak tangannya yang tegak ke atas, secepat kilat membabat ke-depan.
"Sreeet..."
Segulung angin pukulan yang kuat meluncur keluar dari telapak tangannya.
"Kraaak..."
Sebatang bambu yang besar kurang lebih enam depa dihadapan segera di sambar oleh pukulan itu sehingga patah menjadi dua bagian-Pemuda itu tampak terkejut apa yang dilakukan sekarang tak lebih hanya suatu gerakan iseng belaka, siapa sangka pukulan yang dilepaskan dengan ringan itu telah menghasilkan tenaga pukulan yang begitu dahsyat.
Dengan cepat dia memburu ketempat kejadian dan memeriksa bekas patahan pada bambu itu, ternyata bekasnya rata bagaikan disayat dengan golok tajam saja.
Entah karena kaget, entah karena gembira untuk sesaat lamanya ia berdiri tertegun disana, Lewat beberapa sant kemudian dia baru berguman lirih.
"Aai h... tidak benar."
Dikala mewariskan ilmu pukulan tersebut kepadanya, berulang kali diperingatkan kepadanya bahwa ilmu pukulan Tay-Khek bukanlah suatu kepandaian yang bersifat ganas, tapi yang diutamakan adalah menggunakan tenaga dalam sewajarnya, dengan hati menimbulkan perasaan, dengan perasaan menimbulkan tenaga, maka yang dinamakan bukan penggunaan tenaga, melainkan dengan perasaan menimbulkan tenaga, dan dengan tangan menghantam lawan...
itulah prinsip yang penting dari kepandaian tersebut.
Seperti pula dengan jurus Hud im jiu (pukulan menyapu awan) yang baru saja dipergunakan, seharusnya gerakan itu enteng seperti segumpal awan yang sedang bergerak diangkasa, tapi mengapa tenaga setajam golok yang meluncur keluar dari balik telapak tangannya?
Hal ini terasa tidak sesuai dengan teori yang diwariskan ayahnya selamanya ini.
Sebab kalau bukan suatu kekeliruan kenapa tenaga yang dipancarkan keluar tidak sesuai dengan apa yang diminta?
Untuk sesaat lamanya dia menjadi tertegun dan berdiri termangu-mangu dengan wajah penuh tanda tanya.
Dia tahu, bila seorang yang belajar ilmu sampai salah melatih diri, itu sama artinya dengan seseorang yang tersesat dijalan, makin berjalan tersesat makin jauh, dia harus segera balikan badan dan berjalan kembali dari permulaan Andaikata sampai terjadi keadaan demikian bukankah berarti pula perjuangannya selama tiga tahun ini hanya sia-sia belaka?
padahal secara teliti ayahnya telah menetapkan bahwa ilmu pukulan tersebut harus sudah berhasil dikuasahinya secara sempurna sebelum bulan Tiong ciu tahun ini.
Mendongakkan kepalanya memandang rembulan di angkasa, pelan-pelan ia bergumam lirih.
"Tanggal empat belas, besok ayah akan kembali, kepada persoalan pertama ini yang harus kusampaikan kepada dia orang tua adalah persoalan ini"
Maka dia tidak berlatih lagi dan kembali ke dalam rumah, menutup pintu dan naik ke atas ranjang untuk tidur.
Fajar telah menyingsing, kemudian siang tiba malam pun menjelang kembali.
Entah berapa kali pemuda itu berdiri didepan pintu sambil menantikan pulangnya ayahnya.
Dimasa masa lalu, bila ayahnya sedang turun gunung, maka pada saat ini pasti telah kembali kerumah, tapi hari ini, mengapa ayahnya belum juga kembali.
Mungkin dia orang tua telah menjumpai suatu musibah ditengah jalan.
Baru saja ingatan itu muncul, dengan cepat ia menghilangkan kembali ingatan itu dengan berpikir.
"Aiaah. tak mungkin, dengan mengandalkan kepandaian silat yang dimiliki ayah tak mungkin dia sampai ketimpa musibah."
Apalagi dihari-hari biasa, ayahnya memang jarang bersikap kasar kepada orang, dia selalu halus berbudi dan enggan untuk mempamerkan kepandaian silatnya dihadapan orang, itu berarti ada suatu persoalan lain yang sedang dihadapinya, membuat dia terlambat pulang ke gunung.
"Aah ..."
Tiba-tiba dia berseru tertahan, Rupanya pemuda itu telah teringat akan sesuatu, sehari menjelang keberangkatan ayahnya turun gunung, dia telah menyerahkan sesuatu benda kepadanya sambil berpesan, andaikata malam Tiong ciu nanti tak sempat kembali, maka ada persoalan yang harus dia laksanakan.
Dia orang tua menyimpan benda itu dalam sebuah kotak kayu, kemudian berpesan lagi.
"Asal kau melihatnya sendiri maka semuanya akan menjadi jelas, tapi belum tiba waktunya, dilarang untuk memeriksanya."
Kini ayahnya belum kembali, itu berarti bukan terhitung mengintip bila ia periksa isi kotak tersebut.
Begitu ingatan tersebut melintas lewat dalam benaknya, dengan copat dia lari masuk ke dalam kamar lalu dari kolong ranjang mengeluarkan sebuah anak kunci kecil, kunci itu diberikan kepadanya sesaat sebelum kepergian ayahnya.
Lalu dari kolong ranjau dia mengeluarkan pula kotak kayu berbentuk sepi panjang dan dibukanya dengan sangat berhati-hati.
Dibawah cahaya lentera, semua benda dalam kotak itu tertera jelas, mendadak pemuda itu merasakan jantungnya berdebar keras.
Dalam kotak itu berisikan sebilah pedang yang telah berkarat sebuah lencana besi yang kecil, sepucuk surat.
Pada sampul surat itu tertera beberapa huruf yang berbunyi "Surat ini tertulis untuk Tiong hiong keponakanku."
Inilah gaya tulisan dari "ayahnya"
Dalam sekilas pandangan saja dia dapat mengenalinya kembali. Tapi mengapa dia menulis "keponakan?"
Sebagai orang tua, seharusnya kalau dia orang tua menyebut "ananda"
Kepadanya? Setelah termangu sejenak. akhirnya dengan tangan gemetar dia menerima sampul surat itu dan dirobek sampulnya, setelah itu diambilnya kertas surat didalam dan dibaca isinya.
"Keponakan Tiong hong."
"Ketika membaca panggilan tersebut, kau tentu merasa terkejut bercampur keheranan bukan? Lima belas tahun lamanya, kau selalu menganggap diriku sebagai ayahmu, aku pun selalu menganggap kau sebagai anak kandungku sendiri, tapi dalam kenyataan aku bukan ayahmu, kalau dihitung kembali kau sepantasnya menyebut paman kepadaku."
Sepasang tangan pemuda itu mulai gemetar matanya berkaca-kaca dan wajahnya memucat, hampir saja ia menjerit lengking.
"Tidak, oooh tidak... ayah kau membohongi aku, kau adalah ayahku, sejak kecil ananda sudah mengikuti dirimu, suaramu, tertawamu sudah kukenal sejak kecil dulu, mengapa secara tiba tiba kau tak mengakui diriku sebagai anakmu lagi ?"
Dengan ujung bajunya ia menyeka air mata dipipi, kemudian membaca isi surat itu lebih lanjut.
"Anakku, kau jangan menangis dulu, sesungguhnya aku sudah lama hendak memberitahukan persoalan ini kepadamu, tapi aku tak ingin memecahkan perhatianmu karena ilmu silatmu belum berhasil. Untung juga belum terhitung lambat bila ku beritahukan hal ini sekarang, kau telah berusia delapan belas tahun-Delapan belas tahun, boleh dibilang sudah dewasa, yang paling ayah sayangkan ilmu silatmu telah berhasil kau kuasai, itulah satu satunya perkara yang membuatku merasa amat girang.
"Kau tidak She Wi, tapi sekarang kau masih harus menggunakan "wi thong hong"
Sebagai namamu"
"Membaca sampai disini. wi thong hong tak kuasa untuk menahan air matanya lagi, titik-titik air mata jatuh bercucuran membasahi pipinya, peristiwa ini benar benar mengesalkan sekali. Ayah yang belum pernah berpisah dengannya semenjak ia masih kecil dulu, ternyata bukan ayah kandungnya. Sedang nama yang sudah terbiasa ia pakai sejak kecil ternyata bukan nama aslinya, lalu siapakah aku yang sebenarnya.
"Nak. bila kan membaca sampai disini, pasti akan timbul pertanyaan siapakah dirimu yang sebenarnya? siapakah namamu? Dari mana asal usulmu? Dan siapa pula orang tuamu? Tapi aku hanya bisa menjawab dengan enam patah kata yakni.
"Dikemudian hari kau akan tahu sendiri, bukan aku enggan memberitahukan hal ini kepadamu karena... belum sampai waktunya. Tampak oleh Wi Tiong hong, dibawah tulisan "karena"
Itu masih ada beberapa patah kata yang telah dicoret kembali, bahkan dibubuhi dengan tinta hitam sehingga tidak nampak tulisan yang sebenarnya, sedang.
kata berikutnya tak lebih hanya kata tambahan belaka.
Dari sini dapat dilihat, sebenarnya dibawah tulisan "karena"
Dia hendak menjelaskan sesuatu, tapi kemudian dirasakan kurang tepat, maka tulisan yang sudah terlanjur ditulis dihapus kembali dengan tinta.
Wi Tiong hong segera mendekat kertas surat itu didekat lampu lentera, dia bermaksud untuk meneliti tulisan apakah yang telah dihapus itu, sayang usahanya ini tidak berhasil.
Terpaksa dia membaca lebih jauh.
"Nak. paman hanya dapat memberitahukan satu hal kepadamu, yakni ayahmu telah tewas ditangan seorang musuhnya pada lima belas tahun berselang, sedangkan ibumu masih hidup segar bugar didunia ini."
"Dikemudian hari, disaat engkau dapat berjumpa kembali dengan ibumu, saat itulah asal usulmu akan menjadi jelas, dan disaat kau membalas dendam berdarah itu... ."
Kembali dibawah tulisan mana tampak beberapa puluh huruf yang dicoret kembali dengan tinta.
"Mulai besok kau harus turun gunung, hal ini dikarenakan aku masih ada persoalan lain yang harus segera diselesalkan dan tak mungkin akan balik kembali kemari, kau harus terjun ke dalam dunia persilatan untuk melatih diri sambil mencari pengalaman. Tapi ada satu hal perlu kau ingat baik-baik, bila ada orang menanyakan tentang asal usul perguruanmu maka kau harus mengatakan sebagai murid Thian Goan-cu dari Bu-tong-pay. Dunia persilatan penuh dengan mara bahaya serta tipu muslihat yang licik, hati-hati dalam pergaulan dan mencari teman. Ilmu menyaru dari paman telah kau kuasahi sepenuhnya, selama melakukan perjalanan didalam dunia persilatan, jangan kau perlihatkan wajah aslimu. Aku rasa dengan mengandalkan kepandaian silat yang kau miliki, asal tidak terlalu menyolok aku yakin kau masih mampu untuk menghadapinya. Pedang besi dalam peti, jangan kau anggap sudah berkarat dan tumpul, sesungguhnya pedang itu tajam sekali dan merupakan benda milikku dulu, sekarang kuhadiahkan kepadamu sebagai kenangan. Bila paman tidak mati, aku pasti akan pergi mencarimu. Dalam peti terdapat sebuah lencana besi, baik-baik simpan benda itu dan jangan sampai hilang. Bila kau selesai membaca surat ini, bakarlah sampai musnah, Nah, cukup sekian dahulu semoga kau baik baik menjaga diri. Tertanda.
"Paman yang tidak dikenal namanya"
Selesai membaca surat itu, Wi.
Tiong hong merasa sukmanya seperti telah melayang tinggalkan raganya saja, untuk sesaat lamanya dia berdiri tertegun didepan ranjang.
Dendam ayahnya, asal usulnya, ibunya serta paman yang tidak dikenal namanya, kesemuanya itu bercampur aduk dalam benaknya membuat pemuda itu merasa amat kesal.
Tanpa disadari air matanya jatuh bercucuran membasahi pipinya.
Sekali lagi dia baca isi surat itu, kemudian baru mengikuti pesan dari pamannya untuk membakar surat itu hingga punah.
Kemudian dari peti kayu itu dia mengeluarkan pedang dan lencana besi tersebut, setelah itu ditelitinya dibawah sinar lentera.
Pada lempengan lencana itu, selain terukir seraut wajah setan yang sedang menyeringai seram, tak tampak sepatah katapun yang tertera disitu, dia tak tahu apa kegunaannya, tetapi mengingat pamannya telah berpesan agar "simpan baik baik dan jangan hilang"
Maka dia masukkan benda itu kedalam sakunya.
Kemudian dia meloloskan pedang berkarat itu dari sarungnya, meskipun pedang itu sudah karat, namun sama sekali tidak menunjukkan sesuatu keistimewaan apapun.
Dia mencoba membacok kearah batu, ternyata tanpa menggunakan banyak tenagapun senjata tersebut telah menancap kedalam batu cadas yang amat keras.
Sekarang dia baru terperanjat dia baru tahu dan percaya kalau pedang tersebut benar benar tajam sekali.
Sambil mencabut keluar pedang itu, dengan air mata bercucuran ia bergumam.
"Aku hendak mempergunakan pedang ini untuk membalaskan dendam ayahku, aku hendak mencari ibuku"
Berbicara sampai disini, hatinya makin sedih sehingga air mata bercucuran keluar semakin deras.
oooo00oooo UDARA AMAT CERAH, angin lembut berhembus sepoi-sepoi.
Udara dibulan delapan adalah bulan mendekati musim dingin meskipun begitu, bila kau berjalan dibawah sinar matahari, keringat akan bercucuran karena gerah.
Tengah hari sudah menjelang tiba, namun diatas jalan masih nampak banyak manusia yang melakukan perjalanan sambil bercucuran keringat.
Tampaknya mereka sedang memburu masuk kedalam kota sebelum tibanya tengah hari.
Orang-orang itu ada yang merupakan saudagar kain, ada pula pelancong yang datang untuk berpesiar.
Seorang pemuda berbaju hijau dengan membopong sebuah bungkusan kecil dipunggung serta sebuah bungkusan panjang berwarna hijau, sedang melakukan perjalanan pula dibelakang orang-orang itu.
Dia tak lain adalah Wi Tiong hong yang disuruh paman yang tak diketahui namanya untuk melakukan perjalanan dalam dunia persilatan.
Ketika meninggalkan bukit Huay Giok-san, pikirannya terasa kosong bagaikan selembar kertas putih, dia tak tahu kemana harus pergi, maka ditelusurinya jalan raya yang dijumpai.
Pintu kota yang tinggi besar telah muncul di depan mata, tampak banyak sekali manusia yg berjalan masuk kedalam kota, tapi banyak pula yang berjalan keluar meninggalkan kota.
Seorang diri Wi Tiong hong berjalan menelusuri jalan, ia belum pernah masuk kota, ketika melihat begitu banyak orang yang berlalu lalang disana, dia turut celingukan kesana kemari dengan perasaan ingin tahu, seakan-akan sedang mencari sesuatu, padahal tiada yang dicarinya.
Mendadak ia jumpai dikaki tembok kota sana, duduk seorang nenek berambut putih serta seorang gadis berbaju kasar.
Nenek itu kurus kering, sepasang kakinya sebatas lutut telah kutung, ia duduk lemas ditanah sambil mengawasi orang yang berlalu lalang disana dengan sepasang biji matanya yang berwarna putih.
Gadis itu berusia enam tujuh belas tahun, rambutnya berwarna kuning dan mukanya burik mana kuning hitam pekat lagi sehingga wajahnya kelihatan sangat jelek.
Dihadapan kedua orang itu bergerombol anak-anak kecil yang lagi menonton keramaian, diatas tanah berserakan pula dua tiga puluh mata uang yang merupakan sedekah dari orang-orang yang berlalu lalang dihadapannya.
Mendadak timbul perasaan iba dalam hati Wi Tiong hong, tanpa terasa diapun teringat dengan enam puluh tahil perak yang ditinggalkan paman tak dikenal untuknya.
"Mengapa tidak kubagikan separuh diantaranya buat mereka?"
Demikian dia berpikir.
"kasihan kalau nenek cacad ini harus duduk dibawah kaki tembok kota sepanjang hari.... ah mungkin uang yang kuberikan kepada mereka akan bermanfaat bagi kedua orang itu?"
Berpikir demikian dia lantas menurunkan buntalannya dan mengambil separuh bagian uang yang dimilikinya untuk nenek itu, kemudian dia berbisik.
"Nek, terimalah tiga puluh tahil perak ini untuk kebutuhan hidupmu."
Tatkala sepasang tangan nenek berambut putih itu meraba diatas uang perak itu, terdengar ia berseru tertahan.
Sementara itu Wi Tiong hong telah bangkit berdiri dengan wajah memerah, ketika mendongakan kepalanya, ia saksikan gadis berwajah jelek itu kebetulan sedang memandang kearahnya.
Takala empat mata saling bertemu, Wi Tiong-hong segera merasa walaupun gadis itu jelek tampangnya namun memiliki sepasang mata yang jeli dan indah sekali.
Anak muda itu menjadi gugup, seperti telah melakukan sesuatu berbuatan salah, tiba tiba ia menyambar kembali buntalannya dan kabur dengan menerobosi kerumunan orang banyak.
Setelah melewati jalan raya, dia baru merasakan hatinya rada tenang, hingga langkah kakinya turut mejadi lebih santai.
Tiba-tiba hidungnya mendengus bau harum semerbak, sudah setengah harian dia belum bersantap.
sejak tadi memang perutnya sudah lapar maka mendengus bau harum, perutnya menjadi lapar bukan main Iapun mengalihkan pandangan matanya kearah mana berasalnya bau harum tadi, tampak sebuah rumah makan yang besar berada didepan sana, rumah makan papan nama itu telah dimakan usia warna emasnya meski utuh namun sekeliling papan itu berwarna hitam pekat.
Pelan-Pelan Wi Tiong hong naik keatas loteng, pelayan segera menyiapkan tempat duduk sambil bertanya akan memesan apa.
Wi Tiong hong tak mengenal nama-nama hidangan yang ada, maka ketika dia berpaling kemeja sebelah dimana ada seorang lelaki kekar sedang mendahar sepiring daging sapi dan semangkok arak diapun lantas menuding kearah hidangan tersebut seraya berkata.
"Aku pesan seperti hidangan itu, daging sapi dan sepoci arak."
Lelaki dimeja sebenarnya itu segera berpaling tatkala mendengar perkataan tersebut, sepasang matanya yang tajam memandang sekejap ke atas wajahnya, kemudian memperhatikan pula bungkusan panjang yang diletakkan diatas meja itu.
Wi Tiong hong dapat melihat kalau orang itu berusia tiga puluh tahunan, berjubah hijau beralis tebal dengan mata yang besar, bentuk wajahnya persegi empat dengan warna hitam pekat, ia nampak gagah dan perkasa sekali.
"Dia pasti seorang pendekar besar"
Pekiknya dalam hati.
Lelaki tadi hanya memperhatikannya beberapa kejap kemudian berpaling lagi untuk melanjutkan santapannya.
Tak lama kemudian pelayan datang menghidangkan arak, witopg hong memenuhi cawannya dan meneguk setegukan, siapa tahu dia memang belum pernah minum arak.
begitu arak masuk lewat kerongkongan kontan saja dia terbatuk-batuk.
Mendadak lelaki tadi berpaling lagi, wajahnya-tampak diliputi oleh perasaan heran dan tidak habis mengerti.
Merah padam selembar wajah Wi Tiong-hong.
buru-buru ia menyumpit sepotong daging dan disuap kedalam mulutnya, setelah itu baru ia mengangkat mangkok araknya dan minum setegukkan lagi.
Setelah meneguk beberapa tegukan dia menjadi telah terbiasa, tak selang beberapa saat kemudian dua mangkok arak sudah berpindah kedalam perutnya.
Tiba tiba ia merasakan timbulnya rasa pedih dari hati kecilnya.
Dendam ayahnya, teka-teki tentang ibunya, musuh besarnya, asal usulnya ....
Menanti arak ketiga sudah habis, tanpa terasa dia memukul meja keras-keras, hampir saja dia berteriak "Sesungguhnya siapakah aku?"
Untung saja ucapan itu tak sampai diutarakan keluar, akan tetapi gebrakan diatas meja tadi telah menimbulkan suara yang cukup keras.
"Braaak..."
Dengan cepat dia menyadari kembali akan kekhilafannya.
Anak muda itu menjadi malu, mukanya semakin merah membara, sebuah bekas telapak tangan yang amat dalam telah tertera diatas permukaan meja ini.
Untuk kesekian kalinya lelaki itu berpaling tatkala menyaksikan cawan arak yang melesak masuk kedalam permukaan meja, kemudian menyaksikan pula sorot mata yang terpancar keluar dari balik mata Wi Tiong hong, mendadak ia tertawa tergelak.
serunya sambil bangkit berdiri.
"Engkoh cilik, apakah kau mempunyai suatu persoalan yang mengganjal dalam pikiranmu ? Bagaimana kalau kita minum bersama barang setegukan ?"
Pada dasarnya Wi Tiong hong memang menaruh perasaan simpatik terhadap dirinya, maka dengan wajah memerah dia lantas menjura.
"Siaute telah membuat silaf, harap saudara jangan merasa tersinggung adanya."
Sambil mengangkat cawan arak sendiri, dia pindah kehadapan lelaki itu, pelayan segera memindahkan pula semua benda ke meja orang itu. Wi Tiong hong kembali berkata.
"Kita belum pernah bersua muka, belum ku tanyakan siapakah nama saudara...?"
Lelaki itu tertawa.
"Aku Ti ci kang, dan engkoh cilik ?"
"Siaute Wi Tiong hong, baru kali ini terjun dalam dunia persilatan, harap saudara Ting bersedia banyak petunjuk kepada diri siaute ., ."
Setelah Ting ci kang menyebutkan namanya, dan melihat pemuda itu seperti belum mendengar namanya, bahkan mengucapkan "selamat berjumpa pun tidak,"
Dia lantas berpikir.
"Tampaknya dia memang benar seorang yang baru terjun kedalam dunia persilatan-"
Dia lantas mengangkat cawan sendiri dan minum setegukan kemudian katanya.
"Saudara Wi, tampaknya kau tak pandai minum arak. mari, mari, kurangi sedikit arakmu."
Menyaksikan kegagahan orang, Wi Tiong hong semakin simpatik terhadap orang ini, buru-buru diapun mengangkat cawan dan minum setegukan pula, setelah itu baru katanya.
"Siaute merasa amat bangga hati dapat berkenalan dengan seorang enghlong seperti saudara Ting."
Sambil bersantap mereka bercakap-cakap ternyata semakin lama merasa makin cocok, hingga pembicaraan pun makin meluas dan makin akrab.
Tiba tiba Ting ci kang menatap wajah Wi Tiong-hong lekat-lekat, setelah itu ujarnya.
"Aku lihat, walaupun saudara Wi baru terjun kedalam dunia persilatan tampaknya kau seperti mempunyai suatu rahasia dalam hati kecilmu."
Setelah ditanya dua kali, paras muka Wi Tiong hong baru berubah menjadi sedih, katanya.
"Saudara Ting, terus terang kukatakan, siau-te mempunyai dendam kesumat yang dalam bagaikan lautan, tapi hingga kini belum kuketahui asal usulku sendiri, maka sewaktu terbayang kembali persoalan itu tadi, aku menjadi silaf dan membuat saudara Ting menjad kaget."
Ting ci kang yang mendengar keterangan itu menjadi kaget bercampur keheranan, katanya sambil manggut-manggut.
"Tak heran kalau rasa sedih saudara Wi segera timbul setelah arak masuk kedalam perut."
Berbicara sampi disitu, mendadak dia mengeluarkan sebatang pena baja dan diserahkan kepada Wi Tiong hong sambil katanya dengan wajah serius.
"Aku merasa cocok sekali dengan dirimu, sayang pada saat ini aku masih ada urusan yang harus segera diselesaikan, besok tengah hari. silahkan saudara Wi datang ke perusahaan An-wan piaukiok dijalan Tang heng untuk mencari diriku"
Dia lantas memanggil pelayan untuk membereskan rekening. Kemudian mereka turun bersama dan keluar diri rumah makan, kembali Ting ci kang berkata.
"Saudara Wi, jangan lupa, selewatnya tengah hari besok. aku akan menantikan kedatanganmu dalam perusahaan An-Wan piaukiok"
Selesai berkata dia lantas menjura dan buru-buru meninggalkan tempat itu. Menyaksikan kehalusan budi dan kehangatan orang itu. wi Tiong hong lantas berpikir.
"Saudara Ting ini benar-benar gagah dan menyenangkan, tampaknya ilmu silat yang miliki termasuk tangguh sekali, bisa berkenalan dengan seorang teman seperti dia, bagaimana-pun juga termasuk pekerjaan yang baik"
Kemudian ia berpikir kembali "Kalau dilihat kepergiannya yang tergesa-gesa.
tampaknya dia memang benar-benar ada urusan penting, yaa ...
bagaimanapun juga aku toh tiada suatu tujuan tertentu, apa salahnya kalau menginap sehari lagi disini dan besok siang pergi menjumpainya?"
Berpikir sampai disitu, dia lantas mencari sebuah rumah penginapan dikota itu dan beristirahat.
Baru selesai membersihkan badan, pemuda itu mendengar pelayan penginapan itu telah masuk kembali membawa dua orang tamu.
Kalau didengar dari panggilan mereka, agaknya kedua orang itu adalah bersaudara, si lelaki jarang berbicara, suaranya dingin dan angkuh.
Sebaliknya yang perempuan cerewet dan suaranya lembut dan amat merdu.
Kamar mereka berdua tepat berada dikedua belah sisi kamarnya.
Wi Tiong hong adalah seorang lelaki yang mengerti akan sopan santun apa lagi setelah dikamar sebelah tinggal seorang nona ia merasa rikuh akan celingukan lagi maka sambil merapatkan pintu kamarnya dia mengambil secawan air teh dan duduk ditepi jendela sambil menghirupnya pelan-pelan.
Tak lama kemudian terdengar dari luar kamar sana berkumandang suara langkah manusia menuju ke kamar sebelah kanan kemudian terdengar suara saag pelayan berkata sambil tertawa.
"Tuan, apakah kau adalah Tio tayhiap dari Bu tong pay, diluar ada orang yang menghantar kartu undangan"
Ketika mendengar nama "Bu tong pay"
Disebut orang, tanpa sadar Wi Tiong hong melompat bangun. Dari kamar sebelah kanan segera terdengar suara lelaki yang dingin dan angkuh menjawab.
"Benar, akulah Thio Kun-kai, kau suruh orang mau mengantar kartu undangan itu masuk kemari"
Pelayan itu mengiakan berulang kali dan buru-buru berjalan keluar dari sana.
"Blaaam ..."
Dari pintu kamar sebelah segera terdengar pintu kamar dibanting orang keras-keras, kemudian terdengar suara seorang perempuan bertanya dengan cemas.
"Jiko, siapa yang menghantar kartu undangan kemari?"
"Mungkin orang she Ting itu, hmm... tajam betul pendengaran bangsat ini"
Tergerak hati Wi Tiong hong setelah mendengar perkataan itu, buru-buru dia mendekati jendela dan mengintip keluar.
Tampak diatas undak-undakan batu berdiri seorang lelaki yang berjubah hijau yang berusia tiga puluh tahunan, sinar matanya tajam dan sifatnya angkuh.
Disebelah kirinya berarti seorang gadis berbaju merah yang berusia dua puluh satu dua tahunan, wajahnya cantik sekali, bibirnya mencibir keatas, dibalik kecantikan wajahnya terdapat pula keangkuhannya.
Diam-diam Wi Tiong-hong berpikir, entah murid siapakah kedua orang ini?
Tapi sebagai jago Bu-tong-pay, sudah pasti kepandaian silat yang dimilikinya lihay sekali.
Sementara dia berpikir sampai disitu, tampak pelayan itu sudah muncul kembali sambil membawa seorang lelaki berbaju kasar.
Setibanya didepan Tiong Kun-kai, orang itu menjura dalam-dalam, kemudian sambil mempersembahkan dua lembar kartu undangan berwarna merah, dia berkata.
"Pangcu kami tahu kalau Thio tayhiap berdua pasti akan datang pada hari ini, maka beliau khusus memburu kemari untuk menjumpai kalian, sebetulnya pangcu hendak berkunjung sendiri kemari, namun karena kuatir timbulnya kesalahan paham, maka sengaja mengutus aku yang kemari untuk menyampaikan kartu undangan, diharapkan besok siang kalian berdua sudi mengunjungi perusahaan An wan piaukiok."
"Kau adalah anggota perkumpulan Thi pit-pang (perkumpulan pena baja)."
Tegur nona berbaju merah itu dengan wajah dingin.
"Benar"
Lelaki itu lalu membungkukkan badan dalam-dalam. Thio Kun kai melirik sekejap keatas kartu undangan tersebut, kemudian jengeknya sambil tertawa dingin.
"Sejak kapan Beng Kian hoo dari perusahaan An Wan piaukiok bersekongkol dengan perkumpulan pena baja kalian?"
Walaupun ucapan tersebut kurang sopan, tetapi lelaki itu tetap menjawabnya sambil tertawa dengan sopan santun.
"Berhubung peristiwa ini timbul karena suatu kesalahan maka pangcu akan tampilkan diri untuk menjelaskan kesalah pahaman ini. Hingga kedua belah pihakpun tak usah sampai terjadi bentrokan sendiri"
"Tutup mulut"
Hardik Thio Kun kai "kalian anggap setelah orang-orang Thi pit pang membegal barang kawalan dan membunuh orang, urusan bakal selesai dengan begitu saja setelah dilerai oleh orang Siau-lim-pay?"
"Harap Thio Tayhiap jangan marah, Siau tay hiap dari partai kalian dan In huhoat dari perkumpulan kami mati bersama ditempat kejadian, peristiwa itu nampak sangat aneh dan mencurigakan itulah sebabnya pangcu kami hendak melakukan penyelidikan terhadap duduknya peristiwa tersebut..."
Tiba-Tiba nona berbaju merah itu menjerit lengking "Enak benar kalau bicara, Thi pit pang adalah komplotan pencoleng yang kerjanya cuma membegal barang dan membunuh orang, apanya lagi yang hendak dia selidiki?"
Paras muka lelaki itu berubah menjadi merah padam, namun dia tetap berusaha keras untuk menahan diri, katanya.
"Lihiap. kenapa kau sembarangan memfitnah perkumpulan kami ... ."
"Kenapa ?"
Jawab nona berbaju merah itu dengan mata melotot "Thi-pit-pang memang komplotan pembegal yang kerjanya cuma merampok dan membunuh, buktipun sudah didepan mata, masa nona sengaja menfitnah kalian ?
Pulang dan beritahukan kepada pentolan kalian, delapan belas lembar jiwa anggota Ban-piau-klok akan kami balas dengan seratus delapan puluh orang anggota Thi-pit pang, jangan harap kalian pencoleng pencoleng biadab bisa lolos dalam keadaan hidup."
Ooo00ooo "CRIING "
Pedangnya dicabut keluar dan diantara kilatan cahaya perak terdengar lelaki itu mendengus tertahan, lengan kanannya telah terpapas kutung menjadi dua, darah segar segera memancar keluar bagaikan semburan mata air.
Peristiwa ini membuat penginapan itu menjerit kaget, dengan ketakutan dia mundur berulang kali kebelakang.
Paras muka lelaki itu pucat pasi seperti mayat, namun ia tetap berdiri tegak.
dengan tangan kiri dia merobek ujung bajunya untuk segera berusaha untuk membalut mulut luka, kemudian sambil membungkukkan badannya mengambil kutungan lengan tersebut, ia melangkah pergi dengan tindakan lebar.
Nona berbaju merah itu tertawa dingin, sambil menyeka noda darah dari ujung pedangnya dan masukan kembali kedalam sarung, ia berkata.
"Jiko, coba kau lihat keparat itu, betul betul jumawa sekali, sudah pasti pentolannya jauh lebih bengis"
"Tak menjadi soal"
Kata Thio Koen kay dengan angkuhnya.
"besok siang, mungkin para suheng dari angkatan "Keng"
Akan berdatangan semua kemari."
Sambil berbincang-bincang kedua orang itu masuk kembali kedalam kamarnya.
Wi Tiong-hong pun mengundurkan diri dari situ dan kembali kekursinya, sedang dihati kecilnya dia merasa tidak begitu mengerti.
Agaknya Ting ci-kang, sahabat yang baru di kenalnya itu adalah pangcu dari perkumpulan Thi pit pang yang dimaksudkan dua bersaudara dari Bu-tongpay.
bukankah dia telah serahkan sebatang pit besi dan memintanya untuk pergi mencarinya selewatnya besok siang ?
Kini dia baru mengerti, rupanya berhubung besok tengah hari dia masih ada janji dengan orang-orang Bu tongpay, diapun tak ingin membiarkan dirinya terlibat dalam peristiwa tersebut, maka janji pertemuan yang diberikan kepadanya adalah selewatnya kejadian itu.
Selain daripada itu, menurut pengamatannya, Ting toako tidak mirip seorang pembegal dan perampok yang kerjanya membunuh orang, dia tampak seperti seorang jagoan kaum lurus.
Apalagi dari pembicaraan Thio Kun kai tadi, jelas didengar kalau congpiautau dari perusahaan An wan piaukiok.
Beng Kian hoo bersedia untuk tampilkan diri guna mendamaikan masalah tersebut.
Bab-03 Ular beracun yg gemar arak BETUL dia tidak dengar manusia yang bernama Beng Kian-hoo, tapi ia tahu kalau Siau lim-pay adalah pemimpin dunia persilatan disiplin maupun peraturan perguruan itu amat ketat, sebagai anggota Siau limpay, apalagi bersedia untuk mendamaikan persoalan yang dihadapi Thi pit pang, bisa ditarik kesimpulan kalau Beng Kian hoo adalah sahabat karib ketua Thi-pit-pang, atau dengan perkataan lain perkumpulan Thi pit pang bukanlah perkumpulan kaum pencoleng atau bandit-bandit seperti apa yang dituduhkan kepada mereka sekarang.
Dua bersaudara yang tinggal di kamar angkuh dan jumawa, terutama sekali sinona berbaju merah yang kejam dan berhati buas, coba kalau bukan diketahui lebih dulu kalau mereka adalah anggauta perguruan Bu tong pay, ia telah turun tangan untuk memberi pelajaran kepada mereka.
Tapi.....
Dalam suratnya, paman yang tak dikenal namanya telah berpesan, jika ada orang menanyakan asal usul perguruannya maka harus diakui sebagai muridnya Thian Goan ci dari Bu tong pay, itu berarti antara Thian Goan-ci dengan paman yang tidak diketahui asal usulnya itu pasti terikat suatu hubungan yang erat.
Besok.
pihak Bu tong pay akan mengirim orang-orangnya kesana, mengapa dirinya tidak berlagak pilon dengan mencarinya diperusahaan An-wan piaukiok lebih awal dari waktu yang di tetapkan?
Andaikata suasana kedua belah pihak berubah menjadi tegang paling tidak ia bisa bertindak sebagai penengah.
Dasar memang tak berpengalaman Wi Tiong-hong merasa jalan pemikirannya itu bagus sekali.
Hari makin larut malam, pelayan telah datang mengantar lentera, Wi Tiong hong segera berpesan untuk mengantar hidangan malamnya kekamar, selesai bersantap dia memadamkan lampu, naik keatas pembaringan dan mulai bersemedi.
Entah berapa waktu sudah lewat, ketika pikirannya sudah mulai semakin kosong dan melupakan segala-galanya, mendadak ia seperti merasakan sesuatu yang tak beres.
Kewaspadaannya segera ditingkatkan ia merasa seperti ada orang yang berhenti didepan jendela kamarnya.
Wi Tiong hong sangat terkejut, untung dia sedang bersemedi itupun hanya muncul karena perasaan tak enak, bukan sebab dia mendengar suatu gerakan suara yang mencurigakan.
Coba kalau dia tidak memusatkan perhatiannya.
sudah pasti tak akan disadarinya akan kehadiran orang itu.
Ditinjau dari segi kemampuan orang tersebut sewaktu menjalankan tanpa menimbulkan suara apapun, bisa diketahui kalau ilmu meringankan tubuh yang dimilikinya jelas berada jauh diatas kepandaiannya.
Tapi siapakah orang itu, mengapa dia mengintip dirinya.
Berpikir demikian tak tahan lagi dia mendongakkan kepalanya, tampaklah ada sepasang mata yang jeli memang sedang mengawasinya tanpa berkedip...
Mendadak sepasang mata yang jeli itu lenyap tak berbekas, seakan akan orang itu merasakan sesuatu dan berlalu dari sana.
Sementara Wi Tiong-hong sedang keheranan tiba tiba terdengar Thio Kun kai yang berada dikamar sebelah membentak keras.
"Siapa disitu?"
Menyusul terdengar suara jendela dibuka orang rupanya mereka sudah melompat keluar melewati jendela .
Sekarang Wi Tiong hong baru tahu rupanya orang itu melenyapkan diri karena menemukan kalau Thio Kun kai yang berada dikamar sebelah belum tidur.
Berbareng dengan menggemanya suara bentakan dari Tio Kun kai, dari kamar lain terdengar lagi suara si nona berbaju merah yang melompat keluar dari jendela sambil meloloskan pedangnya.
"Ji ko, siapa yang datang?"
Bentaknya nyaring.
"Entahlah, barusan kulihat ada bayangan manusia berkelebat lewat diluar jendela, tapi orang itu sudah kabur dengan cepat"
"Apakah jiko tak lihat jelas siapakah dia ? Mungkin pencoleng dari perkumpulan Thi pit-pang?"
"Huuuh... kalau cuma Thi pit pang saja mah tak nanti mereka bisa memilik ilmu gerakan tubuh yang begitu lihay."
"Hmm... kalau begitu sudah pasti dia adalah orang yang diundang untuk membantu mereka, besok. kalau tak diberi sedikit pelajaran niscaya dia akan menganggap partai Bu tong adalah sebuah partai yang bisa dipermainkan dengan seenaknya."
Sesudah mendengar tanya jawab itu, wi Tiong hong pun berpikir.
"Mungkin orang itu benar benar untuk menyelidiki gerak gerik mereka dan sama sekali tiada sangkut pautnya dengan diriku."
Maka diapun tidak menggubris lagi, sambil memejamkan mata, ia melanjutkan lagi semedinya.
Keesokan harinya, ketika Wi Tiong hong bangun dari tidurnya dia baru menemukan diatas meja dekat jendela tertera secarik kertas panjang.
Ketika diambil, maka terbacalah beberapa huruf diatas kertas itu yang berbunyi.
"Fajar menyingsing keluar dari kota, jangan membuang waktu lagi."
Ditinjau dari gaya tulisannya yang lembut dapat diduga kalau tulisan itu ditulis oleh orang perempuan.
Wi tiong hong menjadi tertegun, kemungkinan besar kertas itu ditulis oleh orang yang mengintipnya semalam.
Tapi, ia baru pertama kali ini terjun kedunia persilatan kecuali Ting ci kang yang dikenal kemarin, dalam dunia persilatan tak ada yang dikenal lagi, padahal ia janji padanya untuk bertemu tengah hari nanti, mustahil dia meninggalkan surat yang meminta kepadanya untuk meninggalkan kota pagi ini.
Terutama sekali sepasang biji mata yang mengintipnya semalam amat jeli, jelas tidak mirip Ting ci-kang, lantas siapakah orang itu ?
Mengapa dia menganjurkan pergi keluar kota?
Jangan-jangan dia salah kamar?
Kertas surat itu seharusnya ditujukan buat Thio Kun kai yang berada dikamar sebelah ?
Dia masukkan kertas itu kedalam saku, membuka pintu kamarnya, tampak sang pelayan sedang datang membawa air untuk mencuci muka, terdengar pelayan itu menegur sambil tertawa.
"Siang kong, mengapa tidak tidur lebih lama lagi ? Sekarang, hari masih amat pagi."
"Aku punya janji dengan seorang temanku, sekarang juga akan keluar ... ."
Selesai membersihkan muka, Wi Tiong-hong keluar dari penginapan dan sarapan disebuah warung pinggir jalan.
Waktu itu hari masih pagi, banyak toko masih tutup, orang yang berlau lalangpun amat sedikit.
Sejak kecil Wi Tiong hong dibesarkan diatas gunung, dia sudah terbiasa bangun pagi tidak diketahui olehnya kalau orang kota memang sudah biasa bangun lambat.
Sebenarnya dia bermaksud untuk langsung menuju ke perusahaan An wan piaukiok untuk mencari Tiang Toako, tapi setelah menyaksikan keadaan dijalan raya hatinya menjadi agak sangsi.
Dia menyesal kenapa tidak menunggu agak lama lagi didalam rumah penginapan.
Berjalan menelusuri jalan raya, akhirnya sampailah dia disebuah persimpangan jalan, tampak ada segerombol manusia sedang berkerumun di tepi jalan melihat keramaian.
Karena merasa heran dia ingin tahu, tanpa terasa dia berjalan menghampiri pula tempat ke ramalan itu.
Ternyata ada seorang pengemis yang memakai celana butut dan bertelanjang dada sedang duduk diatas tikar sambil meneguk arak dari dalam buli-bulinya.
Disamping pengemis itu terletak sebuah tabung bambu sebesar mangkuk yang panjangnya empat depa, tabung bambu itu di kat dengan seutas tali rami yang hitam dan kasar.
Tampaknya tabung bambu itu sudah terlalu lama menyembol pada punggungnya sehingga tubuh tabung itu telah berkilat tajam.
Wi Tiong hong tidak mengerti apa sebabnya banyak orang mengerumuni pengemis tersebut baru saja akan pergi, mendadak dari sisi tubuh pengemis itu terdengar suara "Kook .."
Seperti suara mengokok seekor binatang, dia menjadi heran dan ingin tahu, sehingga tanpa terasa segera berhenti kembali.
Dalam pada itu, pengemis tersebut telah meletakkan buli-bulinya ke lantai, kemudian sambil menjilat sekeliling bibirnya, ia berpaling sambil berkata.
"Tadi engkau toh sudah minum seteguk ? kenapa engkau menjerit-jerit terus ? Arak ini baru kudapat semalam, diminum seorang diripun tak cukup, masa mesti dibagi dua dengan kau"
Pengemis itu berusia empat puluh tahunan, mukanya penuh cambang dua dengan yang berbintik-bintik penuh codet bekas luka, pada leher bagian kanan tumbuh bisul sebesar bakpao sedangkan dadanya penuh dengan bulu berwarna hitam.
Wi Tiong Hong tak tahu siapa yang sedang di ajak bicara oleh orang itu, sebaliknya orang yg berkerumun disekeliling tempat itu sudah tertawa tergelak karena geli.
Baru selesai pengemis itu berbicara.
"koookk koookkk..."
Kembali bergema suara nyaring.
sekarang wi Tiong hong dapat mendengar dengan jelas bahwa suara itu berasal dari dalam tabung bambu tersebut, hal ini membuat hatinya semakin keheranan.
Pengemis itupun berkerut kening lalu sambil memandang tabung bambu itu ia berseru.
"Hei, Lo sam. Bila kau bersikeras ingin minum baiklah. akan kuberi tapi hanya, ooh setegukan saja, jangan banyak-banyak yaa.."
"Koookkk..."
Dari balik tabung bambu itu kembali berkumandang suara mengokok yang keras.
"Baiklah"
Ujar pengemis itu sambil tertawa.
"akan kupersilahkan kau untuk keluar."
Rupanya mulut tabung itu disumbat dengan segumpal kain kumal, sambil berkata, pengemis itu segera mencabut keluar sumbatan itu dari tabungnya.
Begitu penyumbat ditarik keluar, pelahan muncul ah seekor kepala ular berwarna warni yang berkepala segi tiga dari dalam tabung itu, lidah nya yang berwarna merah dan bercabang itu menjulur keluar dan bergerak klan kemari sepanjang empat lima inci, keadaan maupun bentuknya mengerikan sekali.
Wi Tiong-hong baru terperanjat setelah menyaksikan binatang itu, dari paman yang tak dikenal namanya, ia pernah mendengar tentang perihal ular ular berbisa, dia tahu bila ular berkepala segi tiga, maka dapat dipastikan kalau ular itu adalah seekor ular berbisa.
Ular itu berpanca warna dengan besar badannya selengan bocah, kepalanya saja hampir sebesar kepalan dengan sisik yang berkilauan, bisa dibayangkan betapa berbisanya binatang itu.
Setelah menjulurkan kepalanya keluar dari tabung, dengan sorot mata yang menggidikkan ular itu mengawasi sang pengemis, lalu..."Koookkk"
Kembali dia mengokok.
Pengemis itu lantas menepuk-nepuk kepala ular itu, sementara tangan kanaanya mengambil buli-buli berisi arak.
menekankan ibu jarinya dimulut buli buli dan menuangkan setetes arak ke mulut ular itu.
Tampaknya dia kuatir menuang kelewat banyak, maka ibu jarinya dipakai untuk menahan arak yang mengalir kelewat deras itu.
Tampaknya ular berbisa itu sudah terbiasa minum arak.
lidahnya menggulung-gulung seperti menikmati arak tersebut dengan penuh kenikmatan, ternyata tak setetes arakpun yang tertumpah dari mulutnya.
Hanya dua tegukan kemudian, pengemis itu telah menyimpan kembali buli-buli araknya.
"cukup, cukup, sudah hampir habis buli-buli ini."
Serunya.
"biarlah yang masih tersisa untukku."
Agaknya ular itu masih ingin minum lebih banyak lagi, ketika buli buli itu disimpan kembali oleh majikannya, lidah yang merah dan bercabang itu segera menjilati sisa arak yang bertumpah di ibu jari pengemis tadi.
Pengemis itu segera menepuk nepuk kepala ularnya dengan tangan kiri, sementara tangan kanannya mengalihkan buli buli arak itu ke tempat lain, kemudian dia tak ambil perduli apakah jari tangannya sudah ternoda oleh liur ular atau tidak, dia segera memasukkannya ke mulut dan menghisapnya dalam-dalam.
Hampir tumpah Wi Tiong-hong saking muaknya, namun penonton yang lain malahan tertawa terbahak-bahak.
Sehabis menghisap ibu jari sendiri, pengemis itu, berkata lagi kepada sang ular.
"coba lihat kali ini betul betul sudah kehabisan arak. hayo cepat kembali kedalam tabung, kita akan mencari teman untuk minta sokongan uang untuk arak. mencari tambahan arak barulah merupakan persoalan yang sebenarnya.."
Ternyata ular itu memang penurut sekali, dia benar-benar menarik badannya kembali ke-dalam tabung.
Pengemis itu mengambil kembali penyumbatnya dan menyumbat mulut tabung bambunya, setelah itu sambil menggeliat bangun berdiri.
Penonton yang mendengar kalau pengemis itu akan minta uang segera membubarkan diri dan berlalu cepat-cepat dari situ.
Tiba-tiba sorot mata pengemis itu, dialihkan kewajah Wi Tiong hong, katanya kemudian.
"Siang kong bagaimana kalau kau menyumbang uang arak untuk kami berdua...?"
Dari kata-kata yang halus dan penuh sopan santun Wi Tiong hong segera mengerti kalau dia bukan pengemis sembarangan, segera tangannya merogoh kedalam saku dan mengeluarkan sekeping perak yang beratnya mencapai lima tahil lalu diangsurkan kedepan.
Beberapa orang penonton yang menyaksikan pemuda itu mengeluarkan uang seberat lima tahil perak untuk diberikan kepada seorang pengemis, kontan saja mereka jadi terbelalak dengan wajah tertegun Perlu diketahui pada masa itu uang berharga sekali, satu mata uang tembaga saja dapat membeli satu dua biji bakpau, tiga mata uang tembaga bisa membeli setengah kati gandum maka sekalipun memberi satu mata uang tembaga buat seorang pengemis pun sudah berlebihan apalagi lima tahil perak Siapa tahu pengemis itu segera menggelengkan kepalanya berulang kali setelah menimang-nimang berat uang perak itu, katanya segera.
"Aaah, ini baru empat tahil tujuh rence. lima tahilpun tak sampai, masa engkau hendak mengandalkan empat tahil tujuh rence ini untuk mencari teman? Aku tahu, dalam saku siang-kong paling tidak masih ada dua puluh delapan tahil perak. bila dibagi rata maka seharusnya kau memberi tambahan delapan sampai sepuluh tahil perak lagi, tapi kaupun tak usah kuatir, asal mau menderma buat aku si pengemis, tanggung banyak keuntungan yang bakal kau raih."
Seraya berkata telapak tangannya masih dijulurkan kemuka dan sama sekali tak berniat untuk menarik kembali.
Ibaratnya singa membuka mulut lebar-lebar, belum pernah rasanya ada pengemis yang menentukan berapa tahil perak yang harus didermakan orang kepadanya.
Wi Tiong hong sudah tahu kalau dia bukan pengemis sembarangan, maka katanya sambil tersenyum.
"Aku sih tidak mengharapkan kebaikan apa apa, tak ada salahnya bila kita bersahabat saja."
Dari sakunya dia lantas mengeluarkan lagi sekeping uang perak sebesar sepuluh tahil dan diserahkan ketangan pengemis itu.
Para penonton disekitar arena menjadi semakin terbelalak malah diam-diam mereka berpikir.
"Bocah muda ini, betul betul tolol, masa uang sebanyak itu diberikan semua untuk seorang pengemis?"
Berbeda dengan sang pengemis, setelah menerima uang dengan wajah berseri dia manggut-manggut lalu berseru.
"Siang kong, kau memang berjiwa sosial, seorang anak sekolahan bisa berjiwa besar seperti ini, benar-benar sesuatu yang luar biasa"
Berbicara sampai disitu, dia lantas menggulung tikar bututnya dan dijapit dibawah ketiak lalu sambil mengambil tabung bambu bambu tersebut, serunya sambil berpaling.
"Lo-sam, mari kita mencari arak"
Tanpa mengucapkan terima kasih lagi kepada Wi Tiong-hong, dia lantas berajak pergi meninggalkan tempat itu. Diantara penonton yang berkerumun disitu, segera terdengar seseorang berseru.
"Engkoh cilik, kau telah tertipu, pengemis pemain ular begitu tak pantas ditolong, coba lihat, setelah mendapat uang, tanpa berterima kasih dia sudah kabur dengan begitu saja."
Seorang buka suara, yang lain pun ikut-ikutan.
"Betul, aku lihat orang itu pasti seorang penipu yang ulung, karena sudah terbiasa mengakali orang dengan tipu muslihat licik, maka ia sengaja menipu orang-orang jujur. Engkoh cilik, rupanya kau belum keluar rumah ? Setelah kena ditipu sekali, semoga saja lain kali lebih berpengalaman lagi."
Paras muka Wi Tiong-hong berubah menjadi merah jengah sesudah mendengar kata-kata itu, sambil tertawa dia lantas membalikkan badan dan beranjak pergi, sementara dari belakang sana ia masih mendengar orang menuduhnya sebagai seorang pemuda ingusan yang tolol.
Akhirnya sampailah pemuda itu dijalan raya sebelah timur.
Perusahaan An Wan piaukiok terletak disebuah gedung yang amat luas, didepan pintu tampak sepasang singa batu yang berdiri angker di kedua belah sisi pintu gerbang.
Diatas pintu gerbang sebelah kiri tergantung sebuah papan nama yang terbuat dari tembaga putih, diatas papan nama tadi tertera empat huruf besar yang berbunyi.
"An-Wan PIAU KIOK"
Tulisan itu berkilauan terang karena tiap hari digosok bersih, hal mana menambah keangkeran, tempat itu.
Dibalik pintu sebelah kiri terletak sebuah bangku panjang, dua orang lelaki berpakaian ringkas sedang duduk disana.
Wi Tiong hong berjalan mondar mandir sejenak untuk memeriksa keadaan sekeliling tempat itu, kemudian diapun menaiki undak-undakan batu didepan gedung.
Salah seorang diantara dua orang lelaki yang sedang duduk dibangku panjang itu segera bangkit berdiri tatkala dilihatnya Wi Tiong hong mendekatinya, sambil manggut tegurnya.
"Engkoh cilik, kau hendak mencari siapa?"
Buru-buru wi Tiong hong menjura sambil menjawab.
"Aku hendak mencari Ting ci kang, Ting Toako"
Lelaki itu memperhatikan sekejap seluruh badan Wi Tiong hong akhirnya sorot mata itu berhenti diatas pedang berkarat yang tergantung dipinggangnya, dengan suara dingin ia menegur.
"Ada urusan apa kau datang mencarinya?"
Wi Tiong hong belum berpengalaman, dia baru saja terjun ke dalam dunia persilatan, tentu saja tidak diketahui pula kalau situasi disana kurang menguntungkan.
Apalagi kawanan Tang cu jiu dari perusahaan pengawalan barang itu, mana sudi mereka memandang sebelah mata tarhadap pemuda ingusan yang membawa pedang berkarat?
Mendengar pertanyaan itu, dia lantas menjawab.
"Aku diundang kemari oleh Ting-toako, hanya tak diketahui dia berada dimana sekarang, tolong lo ko bersedia memberi kabar kedalam.."
Lelaki itu kurang percaya kalau Wi Tiong-hong seorang yang diundang oleh perkumpulan Thi-pit-pang, sekali lagi pemuda itu diawasinya dari atas sampai kebawah, kemudian baru bertanya lagi.
"Engkoh cilik, kau she apa ?"
Dari dalam sakunya Wi Tiong-hong mengeluarkan sebatang pena baja dan diangsurkan ke depan seraya menjawab.
"Aku Wi Tiong hong, Ting toako telah mengundang atas kedatanganku kemarin, nah inilah tanda pengenal yang dia serahkan kepada kami."
Setelah menyaksikan pena baja itu, lelaki tersebut baru tertegun, tapi sikapnya juga otomatis menjadi lebih sopan dan menaruh hormat, Lelaki kedua yang selama ini banyak duduk melulu serentak bangkit berdiri, kemudian sambil tertawa katanya.
"Ting tayhiap berada didalam, silahkan sauhiap duduk didalam, Thio-longo, cepat masuk dan memberi kabar."
Lelaki yang pertama tadi segera mengiakan dan beranjak masuk dengan langkah cepat.
Wi Tiong hong pun beranjak masuk kedalam gedung itu.
Tak lama kemudian, tampak Ting ci-kang telah muncul dari dalam ruangan dengan langkah lebar, serunya sambil tertawa terbahak-bahak.
"Haaahhh ... haaahhh ... haaahhh ... , saudara Wi, benar kau sudah sampai disini "
"Ting toako "
Sapa Wi Tiong hong pula. Ting ci kang segera menggandeng tangannya mengajak masuk sambil katanya.
"cepat masuk dan duduk didalam, mari kuperkenalkan beberapa orang teman kepadamu."
Dia melangkah masuk keruang kiri dimana terdapat sebuah ruang tamu kecil.
Pada waktu itu sudah ada tiga orang sedang duduk berbincang disana, melihat kedatangan mereka berdua, serentak orang-orang itu bangkit berdiri.
Sambil tertawa Ting ci kang memperkenalkan "Dia adalah saudara cilik yang baru kukenal Wi Tiong hong adanya..."
Kemudian diapun menunjuk kearah seorang kakek bermuka merah berbaju biru yang duduk dikursi utama sambil memperkenalkan.
"Saudara ini adalah congpiautau dari perusahaan An wanpiau kiok Beng Kian hoo"
Lalu menunjuk pula kearah seorang lelaki berperawakan sedang dengan wajah yang putih sambil menambahkan.
"Dan saudara ini adalah wakil congpiautau perusahaan An wan piaukiok, Cuan im nu (gendewa penembus awan) Li Goan tong"
Akhirnya menujuk kearah seorang lelaki berperawakan pendek dan ceking sambil berkata.
"Dan dia adalah pelindung hukum dari perkumpulan Thi pit pang, Ko Thian seng ( bintang penembus langit) Lo Hang"
Wi Tiong hong segera menjura kearah tiga orang itu sambil mengucapkan beberapa patah kata merendah, kemudian Ting Ci kang menariknya agar duduk disampingnya.
Beng kiam hoo memandang sekejap ke arah Wi tiong hong, lalu ujarnya sambil tersenyum.
"Wi siauhiap masih muda lagi tampan, tenaga dalamnya sempurna lagi, entah kau berasal dari perguruan mana?"
Wi Tiong hong mencoba untuk mengawasi Congpiautau keluaran Siauw-lim-pay ini, dia disaksikan orang itu berusia sudah 50 tahun mukanya merah segar, semangatnya berkobar-kobar, sepasang keningnya menonjol amat tinggi, sekilas pandangan saja dapat diketahui kalau dia adalah seorang jago yang berkepandaian tinggi.
Tapi, dalam sekilas pandangan saja dia dapat, mengetahui kalau tenaga dalamnya telah mencapai puncak kesempurnaan, ketajaman mata macam ini boleh dibilang luar biasa sekali.
Buru buru dia menjura seraya berkata.
"Congpiautau terlalu memuji, guruku adalah Thian goan."
Sambil mengelus jenggotnya yang memutih, sengaja tak sengaja Beng Kian ho melirik sekejap kearah Ting ci Kang, kemudian sambil tertawa manggut-manggut.
"Oooh ... rupanya Wi-siauhiap adalah murid Thian goantootiang, dari Bu tong pay, maaf, maaf?"
Perlu diketahui, Thian goan cu tak lain adalah kakak seperguruan Thian Yancu, ketua partai Bu tong pay saat ini merupakan salah seorang dari Bu-tong-sam-loo (tiga tua dari Bu-tong), tingkat kedudukannya didalam partai tinggi dan amat terhormat.
Menurut berita yang tersiar dalam dunia persilatan, konon dimasa mudanya dulu Thian Goan cu berasal dari perguruan kaum sesat, kemudian entah mengapa dia telah mengangkat ci yang cinjin dari Bu tong pay sebagai guru nya.
Oleh karena dia memiliki dua macam kepandaian dari aliran sesat maupun lurus, tak heran kalau ilmu silatnya sangat lihay dan merupakan pemimpin dari Bu-tong sam loo, hanya saja tosu ini bersifat hambar, tak suka mencampuri urusan partai dan sepanjang tahun berpesiar ditempat luaran.
Hanya suatu ketika, pada tiga puluh tahun berselang, entah bagaimana ceritanya seorang anggota Bu tong pay telah melukai murid Tiang pek Hekpek siang mo (sepasang iblis hitam putih dari bukit Tiang pek san), didalam gusarnya Hekpek siang mo telah menyerbu ke Bu tong pay, tapi kebetulan berjumpa dengan Thian Goan cu.
Hanya mempergunakan satu jurus ilmu pedang, tosu itu telah berhasil menggetar lepas senjata yang dipergunakan sepasang iblis tersebut.
Mulai detik itulah orang persilatan baru tahu kalau kepandaian silat yang dimiliki Thian Goan cu dari Bu tong pay telah mencapai puncak kesempurnaan tapi ada pula yang mengatakan kalau jurus pedang yang digunakannya itu bukan berasal dari aliran bu-tong pay.
Betul atau tidak cerita tersebut, tentu saja hanya dia seorang yang tahu, sebab baik ilmu pukulan, ilmu telapak tangan maupun ilmu pedang aliran Bu-tong pay lebih mengutamakan kelembutan untuk menaklukkan kekerasan .
...Sementara itu, ketika Ting Ci kang mendengar kalau Wi Tiong hong adalah murid Thian Goan Cu, tanpa terasa lagi dia mendongakkan kepalanya sambil tertawa terbahak-bahak.
"Haaahh ... haaahhh..,. saudara Wi, jadi kau adalah anggota Bu-tong pay? Waah, kalau begitu kebetulan sekali."
Wi Tiong hong adalah seorang pemuda yang amat cerdas, dilihat dari nada ucapan Ting Cikang tersebut, ia telah mendenga rada tak senang dibalik ucapan tersebut, maka buru buru katanya.
"Ting Toako salah paham, ilmu silat siaute berasal dari insu, namun bukan berarti aku adalah anggota Bu tong pay."
"Wi-sauhiap. aku rasa kau pasti sudah tahu bukan akan perselisihan perkumpulan kami dengan pihak Bu tong pay?"
Tegur Ko thian seng Lo Liang dengan dingin.
"Saudara Wi, saudara Lo ini, adalah pelindung hukum perkumpulan kami"
Kata Ting Ci kang sambil tertawa bergelak. Wi Tiong hong segera menjura lagi kepada Lo Liang. kemudian baru ujarnya.
"Setelah siaute berpisah dengan toako kemarin, aku baru tahu kalau antara perkumpulan anda dengan pihak Bu tong pay telah terjadi kesalahan paham padahal Siaute merata cocok sekali dengan toako itulah sebabnya dengan lancang siaute telah datang lebih awal, karena tak lain ... tak lain."
Ketika berbicara sampai disitu, dia baru teringat kalau dirinya tak lebih hanya seorang pemuda ingusan yang baru terjun kedunia persilatan ucapannya saja tak dipercaya orang, mana mungkin bisa melerai perselisihan orang lain?
Untuk sesaat wajahnya berubah menjadi merah padam dan ia tak sanggup untuk melanjutkan kembali kata-katanya.
Bab-04 Ketua Perkumpulan pena baja Mendengar perkataan itu, Seng Lo Liang segera tertawa, ujarnya dengan cepat, Kalau begitu Wi siauhiap kemari untuk membantu pangcu kamu....?"
Warna selembar wajah Wi Tiong-hong berubah makin merah lagi lantaran amat jengah.
"Soal ini...."
Ting Ci-kang kuatir anak muda itu mendapat malu, maka sambil tertawa tergelak ujarnya.
"Maksud kedatangan saudara Wi amat mengharukan hatiku, cuma kedatangan orang2 Bu-tong-pay adalah bermaksud untuk mencari balas, aku rasa tak mungkin persoalan ini dapat diselesaikan hanya dengan sepatah dua patah kata saja."
"Bagaimanakah duduk persoalannya yang sesungguhnya tidak Siaute ketahui, apakah Ting Toako bersedia untuk menerangkannya sedikit kepadaku?"
Sambil tertawa getir Ting Cikang menggeleng.
"Aaaai... siapa yang tahu?"
Katanya.
"hakekatnya peristiwa ini merupakan peristiwa pembunuhan yang penuh diselubungi teka-teki, walaupun Siau-siang sudah melakukan penyelidikan selama banyak waktu, itupun hanya kuketahui delapan belas anggota perusahaan Ben-Lipiau klok dari kota Ciu ciu pimpinan Kan-kunjiu (tangan jagad) Siauw Beng-san telah tewas dibunuh orang dekat ruang Sikjin tian. Diantara mayat yang ditemukan ternyata salah seorang di antaranya adalah mayat pelindung hukum perkumpulan kami Thi jiau tonglong (Belalang bercakap baja) Lu Yun cun. Konon semua korban tewas pada bagian yang mematikan seperti terluka oleh tusukan pena baja, padahal disekitar wilayah Kanglam hanya siau heng seorang yang menggunakan pena baja. Kan kun jiau Siau Beng san merupakan murid pertama dari Bu tong pay. maka pihak Bu-tong pay pun lantas menuduh siau heng lah yang telah melakukan pembunuhan berdarah itu, aaai, untung saja Beng loko bersedia menjadi saksiku..."
Baru saja bicara sampai disitu, kembali nampak seorang lelaki berjalan masuk sambil membawa selembar kartu undangan, katanya.
"Bwee hoa kian (pedang bunga sakura ) Tio kun kai serta Sak jiu ing eng (gadis cantik bertangan keji) Tio Man datang berkunjung."
Beng Kian hoo segera bangkit berdiri seraya mengulapkan tangannya.
"Undang mereka masuk."
Ting Ci kang pun segera bangkit berdiri kemudian bersama Beng Kian hoo beranjak keluar dari ruang tamu, sementara cuan im nu Li Goan-tong, Ko thian-seng Lo Liang serta Wi Tiong hong mengikuti dibelakang kedua orang tersebut.
Tampak Bwe hoa kiam Thio Kun kai mengenakan jubah panjang berwarna hijau dengan sebilah pedang tersoren dipmggang, sepasang matanya memandang deatas dengan sikap yang angkuh.
Dibelakang adalah Lak-jiu im-eng Thio Man yang mengenakan pakaian ringkas berwarna hijau dia menyandang pedang pada punggungnya wajah yang berbentuk kwaci itu dilapisi oleh hawa dingin yang menggidikkan hati.
Beng Kian hoo dan Ting ci-kang berdiri di depan pintu gerbang menyambut kedatangannya.
Pertama-tama Beng Kian hoo yang menjura lebih dulu sambil berkata.
"Kedatangan Thio tayhiap berdua kerumah kami sungguh membuat aku merasa amat bangga."
Kemudian diapun memperkenalkan kedua belah pihak sambil katanya.
"Tong lote, kedua orang ini adalah Swee hoa kiam Thie thayhiap dan Thio lihiap dari Bu-tong samseng (tiga orang gagah dari Butongpay)"
Kemudian katanya pula.
"Saudara ini adalah sobat baikku, ketua partai Thi pit pang dari wilayah Kanglam Ting ci kang."
Segera menjura kedua orang itu seraya berkata.
"Sudah lama kudengar nama besar dari bu tong sam eng, sungguh beruntung siaute dapat menjumpainya hari ini."
Dengan pandangan dingin bwee hoa kiam Thio kun kay memperhatikan lawannya sekejap lalu dengan suara tertawa dingin.
"Hmm... heeehh... heeehee rupanya kaulah Ting pangcu dari perkumpulan Thi-pit-pang, bila Bu tong pay masih berada dalam pandangan mata kau Ting Pangcu, tak nanti kau akan membinasakan semua anggauta perusahaan Ban li piaukiok secara keji."
Begitu berjumpa muka ia telah mendamprat Ting Ci kang dengan kata-kata yang tajam dan tak sedap didengar. Paras muka Ting Ci kang masih tenang seperti tak pernah terjadi apa2 dia tertawa tergelak.
"Haaahhh . .. haaahh setelah Thio tayhiap berdua datang berkunjung kemari, sebodoh-bodohnya aku orang she Ting juga pasti akan memberi pertanggungan jawab kepadamu. Nah, silahkan kalian berdua masuk dulu untuk minum teh."
Wi Tiong hong yang melihat kejadian itu diam-diam merasa sangat kagum, pikirnya.
"Ting toako memang tak malu untuk disebut seorang ketua dari suatu perkumpulan besar, baik sikap maupun caranya berbicara benar-benar sangat luwes dan halus bersopan santun."
Bwee hoa kiam Thio Kun kai tertawa dingin, dengan kepala didongakkan dia masuk ke dalam ruangan.
Secara beruntung Beng Kian hoo memperkenalkan pula Cuan in tiu Li Goan tong, Ko-thian seng Lo liang dan wi Tiong hong, kemudian semua orang mengambil tempat duduk dan pelayanpun datang menghidangkan air teh.
Melihat tamunya sudah hadir semua, Beng-Kian hoo kembali menitahkan orang untuk mempersiapkan perjamuan.
Tak lama kemudian arak dan sayur telah dihidangkan diatas meja semuanya merupakan hidangan pilihan.
Beng Kian hoo mempersilahkan Bwee hoa-kiam dan adiknya menempati kursi utama, kemudian disusul wi Tiong hong.
Ting Ci kang dan Lo Liang berlima, sedangkan Beng Kian hoo dan Cuan im nu Li Goan tong sebagai tuan rumah sibuk melayani tamunya.
Setelah meneguk beberapa cawan arak, Bwee hoa kian Thio kun kai mulai tak tahan, dia segera bangkit berdiri dan menjura kepada Beng Kian hoo, katanya.
"Kami berdua merasa banyak banyak terima kasih sekali atas hidangan serta perjamuan yang Congpiautau selenggarakan buat kami, cuma kedatangan kami berdua adalah dalam rangka mencari tahu siapakah pembunuh keji dari kakak seperguruan kami yang telah mati terbunuh, bila Congpiautau hendak mengemukakan sesuatu, ditinjau silahkan saja diutarakan keluar."
"Ketika kakak seperguruan kalian kau-kunjiu Siau tayhiap masih hidup dulu, siaute pernah beberapa kali bersua muka dengannya"
Ucap Beng Kian hoo sambit menjura.
"tak nyana Bian li-piaukiok telah tertimpa musibah dan kedelapan belas orang pengikutnya telah tewas terbunuh. dalam suasana tenang yang sudah lama melanda dunia persilatan, peristiwa ini boleh dibilang amat mengejutkan sekali, semua umat persilatan turut berduka cita atas kematian mereka..."
Berbicara sampai disini, dia lantas berpaling dan memandang sekejap kearah Ting Ci kang, kemudian melanjutkan.
"Ting lote sendiri pun khusus datang kemari untuk menyelidiki latar belakang terbunuhnya pelindung hukum perkumpulan Thi pit pang, siBelalang bercakar baja Lu Yaw. cun, suhu di ruang Sik jim tian, siapa tahu partai anda telah menaruh kesalahan paham terhadap apa yang di lakukan pihak Thi pit pang, bahkan berkata hendak mencari Ting lote untuk membuat perhitungan..."
Dengan kening berkerut, Lak jiu im eng tertawa dingin, tukasnya.
"Siapa hutang uang harus bayar uang, siapa membunuh orang harus bayar nyawa apakah kami tidak perbolehkan membalas dendam bagi kematian delapan belas orang anggota Bau-li-piaukiok yang telah mati terbunuh itu ...?"
"Apa yang dikatakan Lihiap memang benar, siapa telah membunuh orang dia harus membayar dengan nyawa pula, dan sepantasnya bila kau membuat perhitungan dengan pembunuh itu. Tapi aku kuatir kalau dalam peristiwa ini telah terjadi kesalahan paham, itulah sebabnya sengaja ku undang kehadiran kalian berdua untuk membicarakan persoalan ini secara baik-baik daripada kedua belah pihak harus saling gontok-gontokan tanpa sesuatu alasan yang kuat."
Mencorong sinar tajam dari balik mata Bwe hoa kiam Thio kun kai, katanya kemudian.
"Beng Congpiautau, maaf bila aku hendak mengucapkan beberapa patah kata yang kurang sedap didengar,perkumpulan Tit Pit pang tak lebih hanya merupakan suatu perkumpulan kecil dalam dunia persilatan, masih jauh kalau dibilang ingin mengajak damai Bu tong pay, apalagi membegal barang membunuh orang sudah merupakan suatu kenyataan, maka aku harap Beng Congpiautau sebagai seseorang yang bernama baik dimata umum lebih baik melepaskan diri dari persoalan ini saja."
Mendengar ucapan yang menghina perkumpulan Tit Pit pang ini kontan saja pelindung hukum dari Tit Pit pang, Ko thian seng Lo-Liang menjadi naik pitam.
Sebaliknya Ting Ci kang masih tetap tenang seperti sedia kala, malah ujarnya sambil tersenyum.
"Aku bersedia untuk mendengarkan pernyataan seperti yang disinggung oleh Thio tayhiap barusan."
Lakjiu im eng Thio Man mendengus dingin.
"Hmm, Ting pangcu toh jauh lebih jelas dari pada kami, buat apa sudah tahu pura-pura bertanya lagi."
"Ucapan nona memang benar, mungkin lantaran luka pada semua korban terletak pada bagian tubuh yang mematikan mulut lukapun sebesar totokan pena baja maka kau menganggap hal ini sebagai suatu bukti yang jelas. Hanya saja, ada satu hal yang belum kupahami, toh dalam wilayah Kang lam yang begini luas bukan hanya Siaute seorang yang menggunakan pena baja, siapa tahu..."
Belum selesai ucapan itu diutarakan, Lakjiu im eng Thio Man telah menukas.
"Orang She Ting, sungguh memalukan kau. Sebagai seorang ketua suatu perkumpulan besar ternyata tak berani mengakui perbuatan yang telah kau lakukan sendiri."
Ting Ci kang tertawa terbahak-bahak.
"Haaahhh .... baaahhh .... haaahhh .,. kalau aku merasa pernah berbuat, pasti akan ku ketahui"
"Bagus sekali"
Seru Lakjiu im-eng dengan penuh kebencian "jika, mana barang itu? Bawa keluar dan perlihatkan kepadanya, kita lihat apa yang dikatakannya."
Tio Kun kai mendengus dingin, dari sakunya dia mengeluarkan sebuah bungkusan kecil dan diserahkan kepada Beng Kian hoo. serunya "Beng Congpiautau, Coba kau periksa benda ini."
Beng Kian hoo, menerima bungkusan itu dan dibukanya ternyata isinya adalah sebilah pena baja sepanjang lima inci, diatas pena itu terukir sebuah lingkaran dalam lingkaran tercantum sebuah huruf yang berbunyi "Kang"
Ting Ci kang memang bermata tajam dalam sekilas pendangan saja ia telah mengenali pena baja itu sebagai barang miliknya.
Bila diatas pena itu tercantum huruf "Ting maka benda itu dipakainya dengan sebagai tanda pengenal seorang ketua perkumpulan Thi-pit-pang, tapi benda itu mencantum kan huruf "Kang"
Berarti senjata tersebut biasanya digunakan sebagai senjata atau senjata rahasia.
Bentuk pena itu sesungguhnya sama hanya diantara kedua benda itu berbeda dalam huruf, dalam hal ini orang lain tak akan mengerti.
Itulah sebabnya dia menjadi tertegun setelah menyakslkan pena baja tersebut, pikirnya kemudian.
"Sudah jelas ada orang telah mencuri pena bajaku dengan tujuan menfitnah diriku, hm.... sayang persoalan ini takkan sampai menyusahkan aku orang she Ting."
Berpikir demikian, dia lantas manggut-manggut kearah Bwee-hoa-kiam berdua.
"Yaa, betul, pena baja itu memang milikku."
Katanya. Tiba-tiba Bwee hoa kiam Thio Kun kai tertawa terbahak bahak.
"Hahahh... haaahhh... haaahh..jika Ting pangcu bersedia mengakui, hal ini akan lebih baik lagi, pena baja itu justru kudapatkan disamping tumpukan mayat yang berserakan dalam ruang Sik jin tian tersebut."
Ting Ci-kang kini tertawa tergelak pula "Aku orang she Ting memang selalu bersifat terbuka, asal benda itu milikku, pasti akan ku-akui, tapi orang2 Ban-li piaukiok bukan mati di tanganku, siapakah yang telah melakukan perbuatan keji ini, aku orang she Ting percaya, suatu ketika persoalan ini pasti akan menjadi terang dan jelas."
"Tapi ada satu hal ingin kukemukakan, dengan kepandaian silat yang kumiliki, apakah aku sanggup untuk membunuh suhengmu, sekalian delapan belas orang secara bersama sama ? Mana aku orang she Ting bisa berbuat demikian, maka dengan pengalaman yang kumiliki masa tak kupahami teori penghilangan jejak setelah melakukan pembunuhan? Bodoh sekali bila pena bajaku ini sengaja kutinggal ditempat kejadian."
Mendengar sampai disana, semua orang menghembuskan napas panjang.
Bwee hoa kiam dan Lakjiu im eng juga tertegun dibuatnya setelah mendengar ucapan tadi.
Beng Kiam ho segera membungkus kembali pena baja itu dan diserahkan kembali ketangan Thio Kun kai, kemudian sambil tertawa tergelak dia berkata.
"Nah, disinilah letak kesalahan pahaman yang kumaksudkan tadi, ketika Siau-tayhip sekalian mengalami musibah diruang Sikjin tian tempo hari, kalau dihitung saatnya adalah tiga hari sebelum hari Tiong Ciu."
"Haaahhh... haaahhh... siaute sengaja mengundang kalian berdua datang kemari menerangkan kejadian tersebut."
"Berapa hari sebelum hari Tiong Ciu, kebetulan siaute baru pulang dari kota Hang-ciu, ketika lewati Thiau-bok, Tinglote telah menahanku untuk menginap di rumahnya dan berpesiar bersama-sama, malah malamnya Ting lote mengajakku untuk menginap di kuil Kay san si di atas gunung, bersama kami hadir juga Si cu suheng."
"Oleh karena itu siaute berani menjamin kalau orang yang telah membunuh Siau-tayhiap sekalian bukanlah Ting lote, melainkan orang lain"
Yang dimaksudkan sebagai "Sip cu suheng"
Tak lain adalah Sip cu taysu yang bertugas dalam ruang Lo han tong di kuil Siau lim si, cukup berdasarkan hal ini, bisa diketahui kalau apa yang dikatakannya bukan cuma isapan jempol belaka."
Lakjiu im eng segera memandang sekejap kearah Bwee hoa kiam, kemudian ujarnya.
"Jiko, bagaimana menurut pendapatmu?"
Thio Kun kie berkerut kening dan termenung beberapa saat lamanya kemudian katanya.
"Beng congpiautau berani menjamin akan hal ini, sudah barang tentu ucapan itu boleh dipercaya, aku lihat lebih baik menunggu sampai kedatangan para suheng dari angkatan Keng lebih dulu baru membicarakan persoalan ini lebih lanjut."
Ketika Beng Kiang-hoo menyaksikan kesalahan paham dipunahkan, ia merasa gembira sekali, segera dia ambil poci arak dan memenuhi sendiri cawan Thio-kun-kiu.
Ting Ci-kang dan cawan sendiri, kemudian sambil tertawa tergelak ujarnya.
"Thio tayhiap. Ting lote, orang kuno menggunakan cawan arak sebagai pelenyap kecurigaan, kali ini siaute ingin menghormati kalian dengan secawan arak untuk menghilangkan pula kecurigaan kalian, nah, aku tak sungkan-sungkan lagi, mari, mari, kita keringkan cawan ini."
Selesai berkata dia lantas mengangkat cawan dan siap untuk menghabiskan isi cawan tersebut. Mendadak Ting Ci kang mencengkeram pergelangan tangan Beng kian hoo sambil berseru.
"Beng loko, harap tunggu sebentar..."
Belum habis dia berkata, Bwee hoa kiam Thio Kun kai telah membanting cawan arak itu ketanah, kemudian sambil berkerut kening dia melompat bangun, bentaknya.
"Orang she Beng, cara kerjamu benar2 amat keji dan memalukan."
Cawan telah pecah dan isi cawan berhamburan ketanah, seketika itu juga terdengarlah suara desisan nyaring muncul dari lantai, jelas arak itu mengandung racun yang amat keji.
Dengan perasaan terkesiap buru2 Beng Kian-hoo menundukkan kepala dan memeriksa isi cawan sendiri, ternyata arak yang berada didalam cawannya juga berwarna hitam pekat dan mengandung racun yang teramat keji.
Teko arak diletakkan diatas meja, bahkan semua orang telah meneguknya tadi tanpa terjadi suatu kejadian apa apa, mengapa tanpa sebab araknya bisa berubah menjadi sepoci arak beracun.
Kendatipun Beng Kian hoo adalah seorang jago kawakan yang berpengalaman luas dalam dunia persilatan, tak urung dibikin gelagapan juga sehingga tak mampu berbuat apa-apa.
"Soal ini,.."
Matanya terbelalak lebar, Lakjiu im eng serentak meloloskan pedangnya, kemudian sambil berkerut kening bentaknya.
"Beng Kian hoo, rupanya kau telah bersekongkol dengan Thi pit pang untuk membegal barang kawalan dan membunuh orang, rupanya kau hanya seorang tukang tadah belaka? hmm tak kusangka seorang tukang tadahpun menggunakan merek perusahaan An wan piaukiok untuk menutupi jejaknya...? Kalau benar punya kepandaian, mari kita beradu kepandaian secara jujur,janganlah menggunakan arak beracun untuk mencelakai orang, kalau perbuatan semacam itu mah bukan terhitung perbuatan seorang enghiong."
Paras muka Beng Kian hoo menjadi pucat pias seperti mayat, dia masih memegangi cawan araknya sendiri dengan wajah kebingungan kemudian katanya.
"Apa maksudmu berkata demikian?"
Dengan sorot mata berkilat, Bwee-hoa kiam Thio-Kun-kai tertawa keras.
"Kini bukti sudah didepan mata,apakah kau mau mungkir lagi ? Dari sini dapatlah diketahui kalau apa yang kau katakan tadi, tak lebih hanya kata kata bohong belaka."
"Tadi, kita semua telah minum arak yang berasal dari poci ini, sedang poci inipun berada di atas meja tanpa dipindahkan siapapun, kalau di bilang aku orang she Beng bermaksud jahat dan ingin mencelakai kalian, mengapa pula siaute hendak meneguknya lebih dulu ? Coba kalau saudara Ting tidak menghalanginya dengan cepat, yang bakal keracunan lebih dahulu sudah pasti aku sendiri."
Perkataan ini memang benar dan masuk diakal, mana ada orang yang ingin meracuni diri sendiri lebih dahulu sebelum meracuni orang lain?"
Tapi, Thio Kun kai enggan menerima alasan tersebut, dia lagi diapun tidak percaya sambil, mendengus dingin katanya.
"Enak benar kalau berbicara, kalau kau minum obat penawarnya lebih dahulu, tentu saja kau tak bakal mati karena keracunan."
Ting Ci kang segera bangkit berdiri, katanya.
"Harap kalian berdua jangan marah lebih dulu, aku lihat peristiwa ini sangat mencurigakan."
Tapi belum habis dia berkata, Lakjiu ini eng telah membentak dengan penuh kegusaran.
"Perkumpulan Thi pit pang tak lebih hanya gerombolan penyamun belaka, orang she Ting, hari ini nonamu tak akan mengampuni kau dengan begitu saja"
Ujung pedangnya yang memancarkan cahaya ke-hijau2an langsung ditusukkan ke tubuh Ting Ci kang. Dengan cekatan Ting Ci-kang mundur setengah langkah, ia tidak membalas, sambil goyangkan tangan serunya.
"Thio lihiap, sekalipun kau enggan melepaskan siaute, paling tidak duduknya persoalan ini harus kau selidiki dulu sampai jelas... ."
"Hmmm, sekalipun kau berbicara sampai lidahmu busukpun nona akan tetap akan membunuhmu lebih dulu sebelum berbicara."
Ia telah memperoleh warisan ilmu pedang dari Bu tong-pay, begitu serangan yang pertama mengenai sasaran kosong, ujung pedangnya segera digetarkan dan menciptakan kembali serentetan cahaya perak sebesar cawan arak, kemudian secepat kilat menusuk ke dada kiri Ting Ci kang.
Tusukan ini selain cepat juga ganas, angin serangannya menderu-deru.
Tapi baru saja ancaman tersebut sampai ditengah jalan, tahu2 senjatanya kena dijepit orang.
Itulah perbuatan dari wi Tiong hong yang duduk disebelah kiri Ting-Cu kang, tak seorang pun yang melihat caranya dia turun tangan tahu2 saja pedangnya gadis itu sudah dijepitnya dengan jari tengah dan jari telunjuknya.
"Nona, setiap persoalan lebih baik dibicarakan secara baik2 saja, buat apa mesti mempergunakan kekerasan?"
Bujuknya.
Sekuat tenaga Lak-jiu-im-eng berusaha untuk membetotnya, namun tidak berhasil melepaskan diri dari cengkereman lawan, ia baru tertegun dan segera mendongakkan kepalanya.
Ternyata orang yang menjepit ujung pedangnya adalah seorang pemuda tampan berusia dua puluh tahun, kenyataan ini membuat hatinya semakin gusar.
Ketika selesai mengucapkan kata-kata itu, wi Tiong-hong segera mengendorkan pula jepitannya dan melepaskan ujung pedang tersebut.
Lakjiu im eng segera membentak keras.
"Bajingan cilik, rupanya kaupun seorang benggolan dari Thi pit-pang, baik, akan nona jagal dirimu lebih dulu"
Pedangnya membentuk gerakan setengah busur, kemudian cahaya tajam berkilauan dan ujung pedang tersebut ditusukkan kearah tenggorokan si anak muda itu.
Sejak kecil Wi Tiong hong memang melatih ilmu pedang ji gi kiam hoat, tentu saja dia menguasai inti sari dari jurus ilmu pedang itu, tak heran kalau diapun mengetahui bahwa jurus serangan yang digunakan gadis itu bernama Ci cui sengcu (melempar betu menjadi mutiara) Diam-diam ia lantas berpikir "Aku sama sekali tiada dendam sakit hati denganmu, tetapi begitu turun tangan kau telah melancarkan serangan sekeji ini, perbuatanmu betul-betul terlampau buas."
Dengan membuang tubuh bagian atasnya ke belakang, dia menggerakkan tangan kanan dan menjepit lagi ujung pedang lawan dengan ujung jari telunjuk dan jari tengahnya.
"Aku bukan anggota perkumpulan Thi pit-pang, harap nona jangan salah paham."
Ujarnya sambil mendongakkan kepala.
Ia belum pernah bercakap-cakap dengan seorang gadis, selesai berkata sepasang pipinya telah berubah menjadi merah padam karena jengah.
Lakjiu imseng semakin naik darah, apa lagi dia memang seorang yang berangasan, melihat dua kali serangannya kena dijepit jari pemuda itu, keningnya makin berkerut, dengan sinar mata tajam diawasinya pemuda itu tanpa berkedip, sementara hawa pembunuhan menyelimuti seluruh wajahnya.
Sekuat tenaga dia mencabut kembali pedangnya, lalu sambil menuding dengan ujung pedangnya ia berseru sambil tertawa dingin.
"Bajingan cilik, nonamu tak ambil perduli siapakah kau, cepat loloskan pedangmu, nonamu ingin tahu sampai dimanakah kehebatan dari ilmu silat yang kau miliki."
Sementara itu. Ting Ci kang telah menarik lengan wi Tiong hong sambil berbisik.
"Saudara cilik, disini tak ada urusanmu."
Beng Kian hoo berteriak pula keras-keras.
"Harap kalian berdua menghentikan pertarungan, dengarkan dulu sepatah kata dariku."
"Orang she Beng"
Bentak Lak-jiu im eng,"
Nanti aku akan membuat perhitungan pula dengan kalian."
Sekonyong-konyong ia berpaling, lalu membentak keras.
"Bajingan cilik, apa gunanya kau mengundurkan diri dari situ? Jika kau tak segera meloloskan pedangmu, jangan salah kalau nona merenggut selembar nyawamu."
Mencorong pula sinar mata tajam dari balik mata Ting Ci kang, katanya "kalian berdua datang kemari karena mencari aku Ting Ci-kang, mengenai adanya racun dalam arak sudah jelas dibalik kejadian ini ada hal-hal yang tak beres, mumpung kira semua masih berkumpul disini, maka lebih baik hal ini harus kita buat terang dulu duduknya persoalan kemudian baru membicarakan soal lain, tapi bila nona memang bersikeras hendak bertarung, silahkan saja turun tangan, aku orang she Ting takkan berpeluk tangan belaka."
Dalam keadaan gusar, Lakjiu itu eng sama sekali tak ambil perduli terhadap seruan tersebut bahkan memandang sekejap kearahnyapun tidak, dengan wajah hijau membesi, serunya dengan penuh kegusaran.
"Nona tak ambil perduli terhadap urusan lain, hei, bajingan cilik, berani tidak menerima tantanganku ?"
Makian demi makian yang dilancarkan dengan penggunaan kata "bajingan cicik"
Itu amat menusuk pendengaran orang,jangankan manusia yang terdiri dari darah daging, sekalipun manusia yang terdiri dari tanah liatpun lama kelamaan dibuat gusar pula.
Dengan wajah merah membara, Tiong-hong segera berteriak lantang.
"Kenapa tidak berani? cabut pedang yaa cabut pedang,jangan kau anggap aku jeri kepadamu."
"Kalau tidak jeri hayo menggelinding keluar."
"Saudara wi, hal ini tiada sangkut pautnya dengan dirimu"
Seru Ting Ci kang cemas.
"Tidak"
Kata Wi Tiong hong membandel.
"dia menantang aku untuk turun tangan, maka hari ini SiaUte memberi pelajaran yang sebaik-baiknya kepada orang ini ...."
Seraya berkata dia lantas maju ke muka dengan langkah lebar. -oooOOooo-"CRING ..,"
Sebilah pedang berkarat yang sama sekali tidak bersinar telah diloloskan dari sarungnnya, kemudian sambil mengangkat kepalanya dia berkata.
"Kau hendak bertarung dengan cara bagaimana ?"
Selapis hawa napsu membunuh telah menyelimuti wajah Lak jiu im eng, serunya sambil menggertak gigi.
"Nona menginginkan selembar nyawamu "
Ia memang termashur karena kekejiannya, begitu selesai berkata pedangnya segera digerakkan melancarkan sebuah tusukan kilat kedepan.
Sebelum kejadian sekarang, wi Tiong hong belum pernah bertarung dengan siapapun, dia hanya tahu sebelum pertarungan ia mesti membuka pertahanan diri lebih dahulu.
Jurus pertama dari ilmu pedang ji gi kiam hoat adalah giok hu tiau thian (lempengan pualam menghadap langit), ujung pedangnya menghadap ke udara dengan tangan kiri melindungi dada, maksudnya adalah sungkan dan memberi hormat-kepada musuhnya, setelah itu ujung pedang mana baru menuding kemuka dan mulai melancarkan serangan.
Sudah barang tentu jurus pambukaan ini cuma jurus tipuan belaka, seharusnya bila gadis itu teliti maka dari jurus pembukaan itu dia akan segera mengetahui kalau jurus itu merupakan pemulaan dari ilmu pedang ji gi Kiam hoat, atau dengan perkataan lain pemuda itupun berasal dari Bu-tong pay.
Dalam keadaan begini mestinya Lakjiu Im-eng akan membatalkan serangannya dan mencari tahu keterangan yang sejelasnya.
Siapa tahu Lakjiu im eng adalah seorang yang berangasan, apalagi apa saat ini dia berhasrat untuk menembusi dada pemuda itu dengan tusukan pedang nya, tentu saja dia tak ambil perduli terhadap semua persoalan tersebut, begitu Wi Tiong hong membuka serangan, Lak jiu im eng telah melepaskan sebuah tusukan kilat.
Wi Tiong hong sama sekali tidak berani berayal tangan kirinya membuka gerak tipuan, lalu pedangnya ditusuk ke muka menyongsong datangnya ujung pedang lawan.
Suatu peristiwa aneh segera terjadi.
Tatkala ujung pedang Lakjiu im eng menusuk sampai diseparuh jalan, mendadak senjata itu miring ke samping, serta merta pergelangan tangan kanannya yang memegang pedang jadi kena tersampok miring oleh gerakan tangan kiri wi Tiong hong.
Dengan terjadinya keadaan tersebut, maka pertahanannya menjadi sama sekali terbuka, dadanya menjadi tanpa perlindungan lagi.
Dengan begitu, ketika ujung pedang wi Tiong hong meluncur ke depan, senjata itu langsung mengancam dadanya.
Wi Tiong hong sama sekali tak menyangka kalau gadis itu secara tiba-tiba bisa membuyarkan serangan ditengah pertarungan bahkan membuka dadanya dari perlindungan, apakah dia memang menginginkan agar dadanya kena tertusuk?
Pertarungan yang dilangsungkan olen kedua orang itu sama sama dilakukan dengan kecepatan tinggi, seandainya pedang tersebut benar-benar menembusi dada gadis itu, niscaya didunia ini akan kehilangan seorang Lakjiu im seng, tapi julukan Lakjiu hoa (tangan keji penghancur bunga) pasti akan terjatuh kepundak wi Tiong hong.
Bab-05 Jurus pedang aneh Sedemikian cepatnya peristiwa itu berlangsung, hampir saja semua orang tak sempat melihat jelas apa yang telah terjadi, menanti apa yang terjadi dapat dilihat, pedang berkarat di tangan Wi Tiong hong telah menempel diatas dada nona itu.
Bwee hoa kiam Thio Kun kai menjadi terkejut sekali.
Beng Kian hoo dan Ting Cing kang juga sama-sama merasa terperanjat.
Siapapun tak sempat untuk turun tangan mencegahnya, tiada pula yang berteriak untuk menghentikan gerakan itu.
Padahal Wi Tiong hong sendiripun tidak jelas, ketika pedangnya ditusuk ke depan tadi, tiba tiba pihak lawan membuka sama sekali pertahanannya, hal ini membuat hatinya turut terperanjat buru buru dia menggetarkan pergelangan tangannya ke bawah sambil membuyarkan serangan, sebisanya dia menarik kembali senjatanya itu.
Lakjin im eng menyangka anak muda itu berniat untuk mempermainkan dirinya dihadapan orang banyak, dari malu dia menjadi gusar.
Maka begitu rasa kagetnya menjadi hilang kembali bentaknya keras-keras.
"Nona akan beradu jiwa denganmu"
Suaranya menjadi parau karena gusar, tubuhnya melejit ke muka dan "Sreet sreet, sreet,"
Cahaya pedang berkilauan secara beruntun dia lancarkan serangkaian serangan yang membabi buta.
Menghadapi keadaan seperti ini, Wi Tiong hong tak berani gegabah, buru-buru dia menggerakkan pedangnya untuk mematahkan setiap ancaman yang tertuju kearahnya.
Tapi diapun cukup mengerti, walaupun pedang berkarat miliknya kelihatan jelek seperti barang rongsok, padahal merupakan sebilah pedang yang tajamnya bukan kepalang, padahal dia tak ada ikatan dendam atau sakit hati apa-apa dengan gadis itu, tentu saja dia enggan memapas kuntung senjata lawan, itulah sebabnya dia hanya menangkis serangan lawan dengan punggung pedang.
Betul ilmu pedangnya hebat, tetapi bagaimanapun juga pertarungannya kali ini baru dilakukan untuk pertama kalinya, soal pengalaman menghadapi musuh masih cetek, dan lagi dia pun musti berhati-hati jangan sampai memapas kuntung senjata lawan, otomatis kesemuanya itu menjadi semacam belenggu baginya.
Tujuh delapan gebrakan kemudian ia sudah dibikin agak repot dan gelagapan.
Tentu saja keadaan semacam itu bukan berarti ilmu silatnya masih belum mampu menandingi Lakjiu im eng, bila baru terjun kearena untuk pertama kalinya, tak urung pasti mengalami keadaan yang seperti itu.
Sebaliknya Lak-jiu-im eng menyerang semakin gencar, pedangnya berputar kekiri kekanan dengan amat dahsyatnya.
Ditengah serangan yang bertubi tubi, terdengar gadis itu mendengus dingin.
"Hmmm ... Bajingan cilik, rupanya kau hanya mempunyai kepandaian secetek itu, lepas tangan"
Tiba-tiba permainan ilmu pedangnya diper-gencar, sreet, sreet, sreet...
Secara beruntun dia melepaskan tiga jurus serangan dahsyat.
Betul juga, termakan oleh ketiga buah serangan si nona yang amat gencar itu, seketika itu juga wi Tiong hong kena terdesak sehingga mundur sejauh dua langkah.
"Cri ng..."
Ditengah bentakan yang amat nyaring, tiba2 terjadi benturan nyaring yang memekikkan telinga, lalu menyusul sebilah pedang mencelat sejauh tiga kaki dan terlepas dari cekalan.
Tatkala bayangan manusia itu berpisah, maka tampaklah wi Tiong hong yang "Berilmu tak seberapa"
Itu masih memegang pedang berkaratnya yang mirip barang rongsok itu.
Sebaliknya Lakjiu im eng berdiri dengan tangan kosong belaka, pedangnya telah terpental dari cekalannya.
Semua peristiwa l u berlangsung dalam sekejap mata, untuk sesaat Lakjiu im eng termangu-mangu belaka.
Tapi kemudian, dia menjejakkan kakinya ke tanah dan menerjang kearah wi Tiong hong.
Kepalan dan kakinya secara beruntun melancarkan serangkaian ancaman yang bertubi tubi bagaikan hujan deras.
Melihat gadis itu dari malu menjadi marah dan mengajaknya untuk beradu jiwa, wi Tiong hong tak berani bertarung lebih lanjut, sambil berkelit kesana kemari, bentaknya.
"Nona, mengapa kau tak segera menghentikan seranganmu ?"
Bwee hoa kiam Thio Kun kai yang di hari2 biasa selalu angkuh dan tinggi hati, sesungguhnya adalah orang yang ternama.
Ia dapat menyaksikan dengan jelas, bahwa jurus-jurus serangan yang digunakan Wi Tiong hong tadi adalah serangkaian ilmu pedang Ji-gi kiam hoat, selain itu diapun merasa bahwa jurus Giok bu tiau thian (Lempengan pualam menghadap Lang it) yang dipergunakan anak muda itu aneh sekali.
Kemudian diapun menyaksikan pemuda ini mengeluarkan jurus It goan bu li (hawa murni beralis kai), bunga pedang yang berputar di-udara semestinya cuma sebuah jurus pertahanan belaka, mustahil bisa menggetar lepas pedang adiknya seperti apa yang kemudian terjadi.
Maka timbul ah kecurigaan didalam hatinya, buru buru dia membentak nyaring.
"Adikku, kau bukan tandingannya, hayo cepat mundur."
Sementara itu, semakin tak mampu menghajar Wi Tiong-hong, Lakjiu im eng merasa semakin mendongkol,jeritnya keras-keras.
"Tidak, hari ini aku harus bertarung habis-habisan melawannya."
Bwe hoa kiam Thio Kun kai berkerut kening, kemudian bentaknya lagi keras-keras.
"Berhenti dulu, aku ada persoalan yang hendak ditanyakan kepadanya."
Dibentak oleh kakaknya seperti itu, terpaksa dengan uring-uringan Lak Jiu Im eng mengundurkan diri kebelakang, kemudian memungut lagi senjatanya yang terlepas.
Selama hidup belum pernah dia alami kejadian yang begini memalukannya, paras mukanya dari kuning telah berubah manjadi hijau membesi, sepasang matanya menjadi merah, untung saja tak sampai menangis.
Pelan-pelan Bwee hoa kiam Thio Kun kai mengalihkan sorot matanya ke wajah Wi Tiong hong kemudian tegurnya dingin.
"Ilmu pedang ji gi kiam hoat yang kau pergunakan itu berasal dari mana ... ."
Sejak menyaksikan keangkuhan kedua orang itu, Wi Thiong hong sudah merasa tak senang, apa lagi setelah mendengar orang yang begitu dingin seakan-akan kepandaian itu berasal dari curian saja dia maka mendongkol.
Sambil mengangkat kepalanya dia berseru.
"pokoknya kepandaian itu bukan kudapatkan dengan cara mencuri"
Nada pembicaraannya juga kedengaran amat tak sedap. Paras muka Bwee hoa kiam berubah menjadi dingin dan kaku, kembali tegurnya.
"Aku ingin tahu, dari mana aku dapat kepandaian tersebut?"
"Darimana aku berhasil mendapatkannya, apa pula sangkut pautnya dengan dirimu."
Bwee hoa kiam menjadi naik pitam.
"Kurang ajar"
Teriaknya aku adalah anggota Bu tong pay, aku berhak untuk mencari tahu asal mula dari ilmu pedang yang kau miliki sekarang itu."
"Maaf, aku bukan anggota Bu tong pay-"
Tukas Wi Tiong hong ketus. Suatu jawaban yang sangat aneh, kalau bukan anggota Bu tong pay, darimana dia dapatkan ilmu pedang dari aliran Bu tong pay. LakJiu Im eng segera mendengus dingin.
"Hmm ---Jiko, sudah jelas dia peroleh kepandaian silat itu dengan jalan mencuri."
Serunya.
"Mencuri? Buat apa aku mesti mencuri?"
Seru wi Tiong hong dengan mata melotot.
"Ciss, tahu malu, sudah mencuri belajar ilmu pedang kami masih ingin mungkin?"
Damprat gadis itu lebih jauh.
"Aku bukan anggota Bu tong pay, tapi orang yang memberi pelajaran ilmu pedang kepadaku adalah anggota Bu tong pay."
"Coba katakan, siapa yang memberi pelajaran itu kepadamu?"
Bentak Bwee hoa kiam.
"Walaupun dia orang tua bukan guruku, tapi mempunyai budi kepadaku karena memberikan ilmu pedang, dia bergelar Thian goan."
"Haaah ..masa toa supek?"
Seru Bwee hoa kiam Thio Kun kai dengan perasaan terkesiap.
Baru selesai dia berkata, tiba2 dari atas ruangan itu bergema suara hembusan angin berpusing yang amat kencang.
Pusaran angin berpusing itu timbulnya dari atas kepala semua orang, dan lagi datangnya sangat aneh.
Enam orang manusia yang hadir di ruangan, kecuali wi Tiong hong, lainnya merupakan jago kawakan yang sudah berkelana didalam dunia persilatan, ketika merasa datangnya angin berpusing itu sangat aneh, serentak semua orang menengadah ke atas.
Tapi bersamaan dengan gerakan itu, tiba-tiba dari empat penjuru sekeliling tempat itu berkumandang suara desisan nyaring kemudian muncul kepulan asap berwarna kuning.
Keadaan seperti ini tak ubahnya dengan keadaan ketika arak beracun dituangkan keatas lantai.
Semua orang menjadi terkesiap dan sorot matanya bersama-sama dialihkan keatas lantai.
Ketika semua orang menengadah tadi, diatas lantai bergema suara aneh, mata sekarang ketika semua orang menundukkan kepalanya dari atas ruangan berkumandang lagi suara aneh.
Suara itu mirip sekali dangan suara dengusan seseorang.
Dengan kening berkerut tiba2 Beng kan hoo membentak keatas.
"Siapa disitu?"
Mengikuti bentakan itu, serta merta semua orang menengadah lagi keatas ruangan.
"Pletak"
Dari permukaan lantai bergema lagi suara nyaring.
Kali ini semua orang dapat melihat jelas kalau benda itu adalah segumpal bayangan hitam yang terjatuh lurus dari atas atap rumah-Ternyata bayangan hitam itu adalah seorang manusia, seorang manusia berbaju hitam yang kecil dan ceking.
Tampaknya bantingan itu cukup berat, selain tertelentang, punggungnya lebih dulu yang menghantam lantai itulah sebabnya terdengar suara benturan yang sangat nyaring.
Beng Kiam hoo sama sekali tak menyangka kalau ditengah hari bolong, apa lagi dikala dia sedang menjamu tamu, ada orang yang menyadap pembicaraan mereka dari atas wuwungan rumah.
Bila kejadian ini sampai tersiar keluar dikemudian hari sudah pasti nama baik perusahaan Ang wan piaukiok akan ternoda.
Dengan suatu gerakan cepat, wakil Congpiautau Cuan im nu Li Goan tong memburu ke depan, sekarang dia baru ketahui kalau orang itu adalah seorang bocah yang berusia empat lima belas tahunan.
Bocah itu berwajah hitam pekat dengan celana yang berwarna hitam pula, sepasang matanya bulat besar dan mukanya menunjukkan kekerasan hati.
Ketika itu dia sedang duduk dilantai dengan wajah penuh kegusaran.
Cuan im nu Li Goan tong tampik agak tertegun, kemudian bentaknya keras-keras.
"Siapakah kau? Mau apa datang kemari? Hayo cepat bangun"
Sambil tertawa dingin Bocah berbaju hitam itu menjawab.
"Siauya mau datang akan datang, mau pergi akan pergi, siapakah aku tak usah kau ketahui, toh sekalipun kuberitahukan kepadamu, kau juga tak bakal tahu."
"Bocah keparat"
Maki Cuan im nu Li Goan tong sambil menarik muka.
"kau ang gap tempat ini tempat umum yang bisakau datangi dengan semau hatimu sendiri?"
"Tempat ini tempat apa?"
Bocah berbaju hitam itu mendengus sambil menengadah menantang, ia masih tetap duduk ditempat semula.
"huuuh, kalau cuna An wan piaukiok mah masih tidak berada dalam pandangan muka siauya..."
Li Goan tong semakin naik darah, kembali bentaknya.
"Bocah keparat, kau pingin mampus ..."
Telapak tangannya segera diayunkan ke atas dan siap2 dihantamkan ketubuh bocah itu.
Walaupun di bawah ancaman, ternyata bocah berbaju hitam ini menunjukkan sikap yang amat sinis, ia tidak bermaksud untuk menghindar atau berkelit, bahkan memanriang sekejap kearahnya pun tidak, Beng Kiam hoo yang berpengalaman dengan cepat menyadari kalau bocah berbaju hitam itu bukan manusia sembarangan.
Buru-buru dia menggoyangkan tangan berulang kali sambil membentak.
"Li lote, tunggu sebentar"
Pada saat yang bersamaan tiba-tiba Ting-Ci kang menyelinap maju kedepan, kemudian sambil membungkuk, dia menepuk bahu bocah berbaju hitam itu, serunya.
"Saudara cilik, bila ada persoalan mari dibicarakan sambil berdiri saja,jangan duduk dilantai"
Tatkala tangannya menepuk bahu bocah itu tadi, dengan cepatnya ia berhasil mencabut keluar dua batang jarum perak dari bahu dan lekukan kaki bocah tadi.
Tiba-tiba bocah berbaju hitam itu melompat bangun, kemudian sambil mengalihkan sorot mata nya kearah Ting Ci kang, dia manggut-manggut, katanya.
"Jadi kaulah ketua dari perkumpulan Thi pit pang. Ting Ci kang?"
Orangnya memang kecil, namun lagaknya betul-betul bukan alang kepalang besarnya. Ting Ci kang sama sekali tidak marah, malah sahutnya dengan tertawa lebar.
"Benar, akulah Ting Cing kang, Saudara cilik, siapakah kau? Dan siapa namamu?"
"Aku bernama Tok Hay ji (bocah racun), pernah mendengar orang menyebutkan?"
Kata si bocah sambil memandangnya sekejap.
Pertanyaan ini segera membuatnya Ting Ci-kang menjadi tertegun dan tak mampu menjawab, sebab nama Tok Hayji baru didengarnya pertama kali ini.
Mendadak terdengar Beng Kian hoo tertawa tergelak.
"Haahh,. haahh,. haahh,. saudara cilik menyebut diri sebagai Tok Hay-ji, aku rasa racun dalam arak dan pasir beracun yang ditebarkan disekitar tempat ini tadi, pastilah merupakan hasil karyamu...?"
Tok Hay-jie tertawa terkekeh-kekeh.
"Betul, memang aku yang melakukan."
Paras muka Beng Kian hoo agak berubah, tapi dengan cepat menjadi tenang kembali, katanya kemudian sambil menatap wajahnya tajam-tajam.
"Antara kami dengan saudara cilik toh tak pernah teejalin hubungan dendam atau sakit hati, apa sebabnya kau meracuni kami?"
"Kenapa mesti menunggu sampai ada dendam sakit hati baru boleh turun tangan? Kalian boleh merampas benda itu dari tangan Kian kun jiu Siau Beng san, apakah aku tak dapat mengambil pula benda tersebut dari tangan kalian semua... ?"
Dengan cepat Lakjiu im eng melirik sekejap kearah Bwee hoa kiam Thio Kun kai, namun mulutnya tetap membungkam dalam seribu bahasa.
"Saudara cilik, jangan sembarangan berbicara lagi?"
Kata Beng Kiam hoo dengan wajah serius "siapa yang telah merampas barang milik Siau tayhiap .. ?"
Tok Hay ji segera tertawa terbahak-bahak.
"Setiap umat persilatan berkata demikian, memangnya aku sengaja mengarang cerita untuk memfitnah kalian?"
Berbicara sampai disitu, tiba2 ia berpaling kearah Ting Ci kang dan berseru.
"Kau telah membantuku untuk mencabut keluar kedua batang jarum perak tadi, kelak akupun tak akan mencarimu, cuma aku kuatir orang yang sedang mencarimu sekarang tak sedikit jumlahnya."
Mendengar perkataan itu. Ting Ci kang segera mendongakkan kepalanya dan tertawa tergelak.
"Dalam peristiwa berdarah yang menimpa perusahaan Ban li piaukiok, mungkin ada orang sengaja melimpahkan abu hangat ini kepadaku, padahal kami Thi pit pang tak pernah membegal barang kawalan tersebut, aku orang datang mencariku", Lakjiu im eng segera mendengus berat-berat.
"Yang dibegal dari Siau Beng san bukan barang kawalan perusahaannya."
Seru Tok Hay ji sambil tertawa tergelak, Ucapan ini segera menbuat Beng Kian hoo maupun Bwee hoa kiam Thio Kun kai sekalian menjadi tertegun. Dengan keheranan Ting Ci kang segera bertanya.
"Kalau bukan barang kawalan perusahaan Ban-li piaukiok yang dibegal, lantas barang apa yang kena dirampok?"
Agaknya Tok Hayji telah sadar kalau dia sudah salah berbicara, maka buru-buru dia menggelengkan kepalanya berulang kali.
"Aku sendiripun tidak tahu, pokoknya bukan barang kawalan perusahaannya ..."
Setelah memandang sekejap sekeliling tempat itu, serunya.
"Maaf, aku tak dapat menemani terlalu lama"
Begitu berkata hendak pergi dia lantas pergi sepasang kakinya menjejak permukaan tanah dan secepat sambaran kilat berlalu dari sana.
"Berhenti"
Bentak Bwee hoa kiam Thio Kun kai dengan suara menggeledek, Menanti dia hendak menyusulnya, keadaan sudah terlambat, bayangan tubuh Tok Hayji tahu2 sudah lenyap dari pandangan mata.
Tapi pada saat itu juga ia telah menyaksikan didepan pintu gerbang An-wan piaukiok telah muncul dua orang tojin berjubah biru yang menggembol pedang dipunggungnya.
Melihat itu dengan girang dia lantas berpaling kearah adiknya, kemudian berbisik.
"Coba lihat, para suheng dari angkatan Keng telah datang."
LakJiu Im eng berseru tertahan, belum sempat dia berbicara, seorang lelaki telah datang melapor.
"Keng hian dan Kengjin totiang dari Bu tong pay telah tiba didepan pintu..."
Buru buru Beng kiam hoo bangkit keluar untuk menyambut, tak lama kemudian dia telah masuk kembali mendampingi dua orang totiang yang memakai jubah biru.
Yang didepan seorang tosu berjenggot hitam, dia adalah murid pertama dari ketua Bu tong-pay saat ini, Keng hian toojin adanya, sedang dibelakangnya seorang tosu berusia tiga puluh tahunan, berwajah bersih, dia adalah sutenya, Kengjin toojin.
Bwee hoa kiam Thio kun kai dan Lakjiu Im-eng Thio Man buru-buru memberi hormat.
Sambil tersenyum Keng hian toojin berkata.
"Thio sute sumoay, ternyata kalian benar benar sudah datang lebih duluan."
Beng Kian hoo lantas memperkenalkan Ting Ci kang, Khok Thian seng Lo Liang dan Wi-Tiong hong sekalian pada kedua orang tosu itu.
Keng hian tojin mengira Kok thian seng dan Wi Tiong hong adalah anggota Thi Pit pang semua, setelah memberi hormat sambil tertawa, kepada Ting Ci kang ujarnya kemudian.
"Nama besar Ting pangcu sudah lama pinto kagumi."
Buru-buru Ting Ci kang mengatakan tidak berani. Bwee hoa kiam Thio kun kai yang berada di sisinya segera menimbrung.
"Toa suheng, konon Wi siauhiap ini adalah murid Toa supek."
Ucapan itu membuat Keng hian tojin segera tertegun, sorot matanya segera dialihkan ke wajah Wi Tiong hong, kemudian ujarnya sambil tersenyum.
"Oooh ... rupanya siau ciu adalah murid Toa supek, kalau begitu kita berasal dari satu keluarga."
Dengan wajah memerah buru buru Wi Tiong hong menjura seraya tertawa, sahutnya.
"Aaaah, aku hanya mendapat warisan beberapa macam kepandaian pelindung diri saja dari Thian goan lo totiang, sebelum mewariskan ilmu silat tersebut, dia orang tua berulang kali menyatakan bahwa antara beliau denganku tiada ikatan hubungan sebagai guru dan murid, jadi akupun tidak terhitung anggota perguruan Bu-tong pay."
Bab-06 Rupanya beberapa patah itu sudah disusun lebih dulu sebelumnya sehingga ketika diutarakan kedepannya luwes dan amat leluasa.
Meski ucapan itu hanya karangannya sendiri, tapi katanya justru sangat tepat.
Thian Goan-cu adalah Toa-suheng dari ketua Bu-tong-pay dewasa ini, tingkat kedudukannya dalam perguruan tinggi sekali, tapi berhubung ia berasal dari perguruan hitam dimasa musanya, sehingga ilmu silat yang dipelajarinya amat beraneka ragam, maka selama ini tak pernah mau menerima seorang muridpun, itulah sebabnya ketika Keng-hian Tojin mendengar perkataan Wi Tiong-hong ia menjadi percaya sekali, pikirnya.
"Yaa, sudah pasti kepandaian yan diwariskan Toa-supek kepadanya adalah beberapa macam kepandaian silat gado2nya."
Berpikir demikian dia lantas tertawa ter-bahak2, kemudian katanya dengan nyaring.
"Sekalipun siau-sicu tak mempunyai hubungan sebagai guru dan murid dengan Toa-supek namun kenyataannya mempunyai hubungan yang erat dengan Bu-tong-pay, hitung2 kita masih mempunyai ikatan persahabatan sebagai sesama anggota perguruan."
Lakjiu im eng merasa sangat tidak puas oleh sikap toa suhengnya yang sama sekali tidak mencurigai pemuda itu, sebaliknya malah segera mengakuinwa sebagai sesama arggota perguruan.
Baru saja dia akan berbicara, Keng hian to jin telah memberi hormat kepada Beng Kiau-hoo seraya berkata.
"Pinto bersaudara datang kemari atas perintah dari suhu untuk menyelidiki tentang hilangnya barang kawalan Ban li piaukiok, sebenarnya kami tak ingin mengganggu ketenangan Beng Cong piautau, tapi oleh karena Cong piautau begitu sungkan-sungkan dengan mengutus orang untuk menyambut kedatangan kami, terpaksa pinto berdua harus berkunjung kesini, atas kebaikan ini terlebih dulu pinto ucapkan banyak terima kasih."
Ucapan tersebut segera membuat Beng Kian-hoo menjadi tertegun, segera pikirnya.
"Lagi-lagi suatu kejadian aneh,jangan toh mengundang mereka datang, mengetahui kalau Keng hian dan Kengjin dua orang tosu ini akan datang kemari pun aku tak tahu, bagaimana mungkin bisa mengutus orang untuk menyambut kedatangan mereka?"
Tentu saja perkataan tersebut tak dapat diutarakan secara langsung, maka setelah termenung dan berpikir sebentar, sahutnya sambil tertawa.
"Berhubung siaute mengetahui kalau antara partai anda dengan Ting lote telah terjadi kesalahan-paham gara-gara dibegal barang kawalan Siau tayhiap dari Bau-li piaukiok oleh seseorang, maka kemarin sewaktu kuketahui kalau Thio tayhiap kakak beradik telah datang kemari, kukirimkan dua lembar undangan kepada Thio tayhiap agar datang kemari berbincang-bincang dengan Ting lote sekalian berusaha untuk menghilangkan kesalahan paham tersebut, kini Kebetulan toheng berdua telah datang, tentu saja hal ini semakin kebetulan lagi."
Ting Ci kang adalah seorang ketua Thi pit pang yang berpengetahuan luas, semenjak kemunculan Tok Hay-ji atau bocah beracun tadi, dengan cepat dia sadar kalau dibegalnya barang kawalan Kan kunjiu (tangan sakti jagad ) Siu beng san dari Ban li piaukiok merupakan suatu pemula dari suatu peristiwa yang maha besar.
Maka ketika mendengar perkataan dari Beng Kian hoo barusan, kuatir kalau Keng hian tojin yang baru datang tak dapat menangkap maksud sebenarnya dari ucapan tersebut, buru-buru dia bangkit sembari menjura, lalu katanya.
"Beng loko, kedua orang toheng ini baru datang, mungkin mereka masih belum mengetahui peristiwa yang telah berlangsung disini dan lagi sebelum kejadian loko juga tak tahu kalau totiang berdua akan datang kemari, tentu saja mustahil kalau bisa mengutus orang untuk menyambut kedatangan mereka."
"Oleh karena itu, siaute merasa orang yang telah menyambut kedatangan tooheng itu amat mencurigakan, entah bersediakah toheng untuk menerangkan kejadian pada saat itu dengan lebih jelas lagi?"
Beng Kian hoo segera manggut-manggut sambil berkata pula.
"Perkataan dari Ting Lote memang benar, peristiwa ini sungguh mencurigakan sekali"
Keng hian lojin tertegun beberapa saat lamanya, kemudian dari salah sakunya dia mengeluarkan sepucuk kartu undangan berwarna merah dan diserahkan kepada Beng Kiam hoo ujarnya.
"Orang itu menyebut dirinya sebagai anggota An wan piaukiok yang mendapat perintah dari Beng Congpiautau untuk menyambut kedatangan pinto, diberitahukan juga sute kami Thio Kun kai kakak beradik telah menunggu pula dalam kantor, nah silahkan Beng Congpiautau periksa kartu undangan tersebut."
Beng Kian hoo segera menerima kartu undangan itu dan diperiksa isinya dengan seksama, terbaca diatas kartu undangan tadi tercantum beberapa patah kata yang berbunyi.
"Tengah hari nanti tersedia hidangan berpantang dengan kantor kami. mengharapkan kedatangan kalian berdua. Tertanda Beng Kian hoo."
Diatas kartu undangan tersebut tercantum pula nama dari Keng hian dan Kengji lotiang berdua. Paras mukanya kontan saja berubah hebat, setelah termenung sebentar, ujarnya.
"Heran, permainan busuk dari siapakah ini?"
Ting Ci kang segera tertawa terbahak-bahak.
"Haaahh ... haaah ... siapa tahu kalau hasil permainan busuk dari Tok Hayji dan komplotannya"
Kongjin tojin segera berkerut kening, kepada Bwee hoa kiam tanyanya kemudian.
"Thio sute, apa yang telah terjadi disini tadi?"
Secara-ringkas Thio kun kai segera menceritakan usaha Beng kian hoo untuk melerai kesalah pahaman tu serta bagaimana Tok Hayji meracuni mereka secara diam-diam ...
Selesai mendengar keterangan tersebut, Keng hian tojin segera berkata.
"Kalau toh Beng Congpiautau sudah menampilkan diri sebagai penengah dalam peristiwa ini, bahkan ada Sip-cu taysu dari Siauw limpay sebagai saksi, tentu saja ucapan ia bisa dipercaya."
Berbicara sampai disini, dia lantas bangkit berdiri dan memberi hormat kepada Beng Kian hoo serta Ting Ci kang, kemudian ujarnya.
"Tindakan dari Beng congpiautau ini selalu dapat menghindarkan kesalahan paham antara dua keluarga, dan lagi bisa mengurangi pula banyak kesulitan bagi pinto berdua dalam tugasnya melacak peristiwa pembegalan atas perusahaan Ban li piaukiok, sebelumnya pinto ucapkan banyak terima kasih, duduk perkara yang sebenarnya telah diketahui, pinto pun berharap Ting pangcu jangan sampai marah oleh kesalahanpaham ini."
Buru2 Tiang Ci kang balas memberi hormat katanya.
"Terima kasih atas ucapan toheng itu, dalam peristiwa terbunuhnya Siau tayhiap dari Ban li piaukiok, nama baik aku orang she Ting ikut tersangkut, betul berkat bantuan Beng loko, kecurigaan terhadap diriku bisa terhapus, tapi tindakan orang itu dengan membegal barang kawalan dan membunuh orang lalu sengaja meninggalkan pena baja milikku.jelas2 untuk memfitnah aku, maka sebelum pembunuh yang sebenarnya berhasil dibekuk, aku orang she ting pun tak bisa melepaskan diri dari tanggung jawab ini.
"Paling cepat dalam tiga bulan, paling lama dalam satu tahun, aku orang she Ting bersumpah akan menemukan orang itu dan memberikan sesuatu pertanggung jawab terhadap partai anda dan Beng loko". Bwe hoa kiam memandang sekejap kearah dua orang suhengnya, lalu menimbrung.
"Kini sudah terbukti kalau dalam peristiwa terbunuhnya Siauw suheng, Ting pangcu sama sekali tidak tersangkut, hanya apa yang terjadi selama inipun hanya suatu kesalahan paham biasa, aku yakin bagaimanapun liciknya pembunuh terse ut, Bu tong pay tak akan melepaskannya dengan begitu saja, harap Ting pangcu tak usah repot-repot". Ketika Beng kian ho menyaksikan kesalah paham telah berhasil di lerai dan lagi kuatir kalau terjadi peristiwa lain karena pembicaraan yang tak tepat, smabil tertawa terbahak-bahak segera katanya.
"Perjamuan baru saja diselenggarakan Tok Hay ji telah datang dan mengacau dengan racunnya sehingga kalian kehilangan selera untuk bersantap, kini mumpung ada toheng berdua disini, siaute telah perintahkan orang untuk menyiapkan hidangan berpantang, mari kita duduk kembali di meja perjamuan."
Seraya berkata dia lantas mempersiapkan Keng Hian dan Keng jin tojin untuk mengambil tempat duduk kembali di meja perjamuan."
Seraya berkata dia lantas mempersilahkan Keng hian dan Keng jin tojin untuk mengambil tempat duduk dikursi utama.
tentu saja Keng hian tojin menampik.
Sementara semua orang sudah saling mengalah, mendadak tampak sesosok bayangan manusia berjalan masuk lewat pintu depan dengan langkah sempoyongan.
Walaupun langkah orang itu sempoyongan ternyata gerakan tubunya amat cepat, dalam waktu singkat dia telah melewati pelataran depan terus menuju keruangan tengah.
Ternyata dia adalah Tok Hayji Hanya kali ini dia muncul dengan luka bekas bacokan pada bahu kanan serta paha kirinya, darah segar bercucuran tak hentinya,jelas bocah itu baru saja terlibat dalam suatu pertarungan yang seru sehingga wajahnya nampak amat letih.
Dia langsung masuk keruangan tengah, kemudian tanpa berbicara segera duduk bersila ditanah, merogoh sakunya mengambil keluar sebuah botol dan menaburkan bubuk obat yang berwarna putih pada mulut lukanya.
begitu Lakjiu im eng melihat kemunculan Tok Hayji, dia segera berteriak keras.
"Toa suheng, sam suheng, dia... dialah orangnya, dialah Tok Hayji itu"
Walaupun Tok Hay ji masih kecil, ternyata wataknya binal lagi kasar, sekalipun sudah letih, setelah mendengar ucapan itu matanya langsung melotot besar lagi.
"Kalau betul aku ada apa?"
Teriaknya.
"Saudara cilik, mengapa kau balik kembali?"
Tegur Beng Kiau-ho dengan kening berkerut. Tok Hayji segera mendengus dingin dengan acuh tak acuh sahutnya.
"Setiap orang yang memasuki pintu gerbang An wan piaukiokmu ini jangan harap bisa pergi lagi dari sini dalam keadaan hidup "
Selesai berkata, pelan2 dia memejamkan matanya untuk mengatur pernapasan.
Walaupun wataknya keras kepala, namun berhubung darah yang mengalir keluar kelewat banyak, tubuhnya sudah menjadi lemah sekali.
Oleh perkataannya yang tanpa ujung pangkal itu, semua orang menjadi tertegun dibuatnya.
Pada saat itulah dari depan pintu gerbang An wan piaukiok telah muncul kembali sekelompok manusia.
Orang pertama adalah seorang tosu tua berjubah kuning berkopiah tinggi yang membawa senjata kebutan, wajahnya suram menyeramkan.
Orang kedua adalah seorang pendeta yang gemuk lagi pendek, Orang ketiga adalah seorang kakek berkepala botak, bermuka merah dan memelihara jenggot kambing.
Orang ke empat adalah seorang lelaki berbaju hitam yang menyandang golok.
Orang kelima adalah seorang lelaki yang berperawakan tinggi besar seperti pagoda kecil.
Orang ke enam adalah seorang sastrawan yang berbaju hijau, berwajah putih bersih dan berusia empat puluh tahunan.
Kemunculan ke enam orang ini selain mendadak, juga sama sekali diluar dugaan.
Beng Kian-hoo yang menyaksikan kejadian itu menjadi tertegun, sebab dari enam orang tamu yang tak diundang itu, kecuali sastrawan yang berbaju hijau yang berjalan paling belakang, lainnya cukup dikenal olehnya.
Beberapa orang itu merupakan wakil dari Jago-jago kelas satu yang ada diutara maupun selatan sungai Tiangkang dewasa ini.
Orang pertama, si tosu tua tersebut tak lain adalah Ma koan Tojin dari bukit Hang san yang tersohor karena kekejian hatinya dan kebuasan cara kerjanya.
Orang kedua, si paderi gemuk itu adalah Thi lo-han (Lohan baja) Kiong beng taysu dari kuil Thi hud si dibukit Kan swan san.
Orang ketiga, si kakek botak itu adalah Tu wi-lo-liong (naga tua berekor botak) To sam teng dari kota Huan yang.
Orang ke empat dan orang kelima adalah Kang pak siang knt (sepasang orang gagah dari utara sungai) yang terdiri dari Tui hong-to ( golok pengejar angin) Hee ho Nian serta Se ong sia ( dewa raja kuda ) Ku Tay tong.
Hanya sastrawan yang berbaju hijau yang berada dibarisan terakhir saja yang tidak diketahui indentitasnya, tapi ditinjau dari kehadiran orang-orang yang ternama itu, bisa diketahui kalau diapun bukan seorang manusia sembarangan.
Setelah tertegun sesaat, Beng Kian hoo baru maju menyongsong kedatangan mereka, serunya sambil menjura.
"Kehadiran saudara sekalian..."
Tidak menanti dia menyelesaikan kata-katanya, sambil tertawa seram Ma koan tojin dari bukit Hang san telah menjura sambil menukas.
"Beng Congpiautau tak usah banyak bicara, setelah menerima panggilanmu terpaksa pinto mesti mengganggumu sebentar "
"Omintohud"
Seru Thi lo han Kwong beng taysu pula sambil merangkap tangannya memuji keagungan sang Budha.
"Beng losicu memang tak malu disebut pemimpin dari perusahaan piaukiok dilima propinsi selatan sungai besar, beritamu sungguh amat tajam, baru saja kaki kiri pinceng melangkah masuk ke kota Siausia, tangan kanannya telah menerima undangan dan losicu, konon losicu sedang menyelenggarakan suatu perjamuan besar, tolong tanya perjamuan apakah itu?"
Ucapan tersebut kontan saja membuat Beng Kian ho menjadi tertegun.
Sudah jelas sekarang, kedatangan orang2 itu adalah menerima kartu undangannya, tapi siapakah orang yang secara diam-diam telah mencatut namanya untuk membagi kartu undangan itu?
Dan apa pula maksud tujuannya?
Tapi dilain keadaan begini tak sempat lagi baginya untuk berpikir panjang, sambil menjura berulang kali, katanya.
"Kehadiran saudara sekalian sungguh membuat siaute merasa bangga, silahkan duduk, silahkan duduk"
Setelah semua orang dipersilahkan masuk ke ruang tengah, suasana pun menjadi ramai sekali.
Ting Ci kang yang menyaksikan kejadian ini diam-diam berkerut kening, dia tahu kehadiran orang-orang itu disana sudah pasti bukan lantaran suatu kebetulan saja, melainkan ada suatu tujuan tertentu.
Tanpa terasa ia menjadi teringat kembali dengan perkataan dari Tok Hayji tadi.
"Orang yang datang mencarimu bukan cuma satu dua orang saja..."
Jangan-jangan kedatangan orang orang inipun lantaran untuk mencari dirinya?.
Lantas benda berharga apakah yang sebenarnya telah dibegal orang dari perusahaan Ban-li piaukiok?
Mengapa bisa memancing incaran begitu banyak jago persilatan di dunia ini?
Tak selang berapa saat kemudian dalam ruangan tengah telah ditambah lagi dengan sebuah meja perjamuan, Beng Kian hoo segera mempersilahkan tamu-tamunya untuk duduk, Pada meja perjamuan sebelah kanan duduk pada kursi utama adalah Keng Hian tojin dan Keng jin tojin dari Bu tong pay, menyusul kemudian Bwe hoa kiam Thia Kun kai, Lakjiu im eng Thio Man.
Wi Tiong hong.
Ting Ci kang, Kok thian seng Lo Liang dan ditemani oleh wakil congpiautau Cuan im itu Li Goan.
Sedangkan pada meja perjamuan sebelah kiri duduk Ma-koan Gwat, Thi lo han Kwong beng taysu, Tu wi lo liong To Sam-seng, Kang pak siang kiat Hee ho Niao dan Ku Tay tong, sastrawan berbaju hijau dengan didampingi Beng Kian ho.
Tok Hayji selama ini duduk bersila dilantai sambil memejamkan mata dan mengatur pernapasan itu, mendadak membuka matanya lebar2, kemudian setelah tertawa terbahak serunya.
"Bagus sekali Orang yang datang menghantar kematian ternyata satu persatu telah datang menghantar dirinya"
Pada waktu itu, antara Thi lo han Kwong-nong taysu dengan Tu wi lo liong To Sam seng mengalah tempat duduk, baru saja Thi lo han-duduk dan Tu wi lo liong belum sempat duduk Tok Hayji telah menyerobot menduduki kursi tersebut.
Dalam keadaan demikian, terpaksa Tu wi lo liong To sam seng harus menempati kursi paling buncit.
Tiba-tiba To sam seng berpaling kemudian tegurnya.
"Saudara cilik, apa yang barusan kau katakan?"
Padahal perkataan dari Tok Hayji tadi diucapkan cukup nyaring, semua orang dapat mendengarnya dengan jelas, itu berarti pertanyaan dari Tu wi liong sengaja ditanyakan lagi.
Ternyata Tok Hayji sama sekali tidak sungkan-sungkan, setelah mengangkat cawan araknya dan minum satu tegukan, dia menyumput sepotong daging babi dan dikunyahnya, kemudian baru berkata sambil tertawa.
"Aku bilang, orang yang datang menghantar kematian, ternyata satu persatu telah berdatangan semua"
"Saudara cilik, kau mengatakan siapa yang datang mengantar kematiannya?"
Kembali Tu-Wi lo liong bertanya.
Dengan tangan kanan menyumpit paha ayam Tok Hayji menggigit dulu daging ayam itu dan mengunyah, kemudian setelah memandang sekejap seluruh ruangan, sahurnya sambil tertawa.
"Yang kumaksudkan tentu saja setiap orang yang hadir dalam ruangan sekarang"
"Bocah cilik kau berasal dari perguruan mana?"
"Huuh, pokoknya aku tak akan berbuat goblok dengan membuat beberapa buah lubang tatoo diatas batok kepalaku sendiri."
Bocah ini betul-betul hebat sekali, orangnya memang kecil tapi nyalinya betul-betul besar dan mulutnya tajam, dia sama sekali tidak ambil perduli apakah Thi lo han Kwong beng taysu adalah seorang pendeta yang saleh atau bukan.
Betul juga , diatas wajah Kwong beng taysu yang putih dan gemuk segera terlintas rasa gusar, akan tetapi bagaimanapun juga ia mesti memberi muka kepada Beng Kian ho, terutama sekali dengan nama besarnya tentu saja dia enggan melakukan banyak ribut dengan seorang bocah cilik, Maka dia letakkan saja sumpitnya diatas meja.
Kalau hanya sumpit itu saja yang diletakan dimeja masih mending an, tiba tiba cawan arak yang berada dihadapan Tok Hayji itu-melayang keudara setinggi satu depa, sedang arak yang berada dalam cawan itu sama sekali tidak tumpah barang setetespun.
Menanti tangannya yang menekan pada sumpit itu ditarik kembali, cawan arak tadi baru melayang turun kembali ketempat semula.
Demontrasi kepandaian ini segera membuat para jago merasa terkejut bercampur tertegun diam diam mereka lantas berpikir.
"Tampaknya pendeta bengis yang ternama ini benar benar memiliki tenaga dalam yang amat sempurna, jago itu tak boleh dianggap sebagai musuh enteng."
Paras muka Tok Hayji sama sekali tidik berubah, malah sambil tertawa dingin katanya.
"Sayang sekali, walaupun kau memiliki ilmu silat yang sangat lihay, akan tetapi jangan harap bisa lolos dari kematian "
Mencorong sinar buas dari Thi Lohan Kwong beng taysu, dengan gusar segera bentaknya.
"Bocah cilik, kau ingin mampus ...."
Dia memang duduk berjajar dengan Tok Hayji begitu selesai membentak mendadak ia membalikkan badannya sambil mengayunkan telapak tangan kanannya.
Ma koan tejin yang duduk dikursi utama mendadak berseru dengan suara menyeramkan "Taysu, harap tunggu sebentar"
Thi Lo han menjadi tertegun.
"Apakah toheng dengan bocah ini...."
"Oooh tidak"
Tukas Mo koan tojin sambit tertawa.
"pinto cuma ingin tahu mengapa kami beberapa orang datang kemari untuk menghantar kematian saja ?"
Apa yang dia ucapkan memang merupakan persoalan yang ingin diketahui oleh setiap orang. Mendadak Tok Hayji mendongakan kepalanya dan tertawa terbahak bahak, katanya.
"Haaah ... hsaah .... haaahh... apalagi yang mesti ditanyakan? Bukankah kedatangan kalian disebabkan oleh benda yang di-bawa oleh Siau beng sau dari perusahaan Bau-li piaukiok ?"
Ucapan tersebut benar-2 mengejutkan semua orang yang hadir, tanpa terasa paras muka semua orang berubah hebat.
Sekarang Beng kiam hoo baru mengetahui duduknya persoalan tak heran kalau orang orang itu bisa berdatangan ketempat ini Namun dalam hati kecilnya masih ada beberapa hal yang tidak mengerti, dia tak tahu mengapa orang-orang mencatut nama dengan menyebar undangan pada orang-orang itu telah mengundang mereka untuk berkumpul dalam An Wan piaukiok?
Dan apa pula maksud tujuan orang itu yang sebenarnya?
Terdengar Ma koan tojin berkata lagi sambil tertawa seram "Pinto ingin tahu, mengapa kami beberapa orang bisa datang kemari hanya untuk mengantar kematian?"
"Setelah kalian masuk kedalam pintu gerbang An wanpiaukiok, apakah dianggap masih bisa meninggalkan tempat ini dalam keadaan hidup?"
Tu wi lo liong To Snm sang segera terbawa terbahak-bahak.
"Haah ... haaah ... kalau begitu tujuan Beng loko mengundang kami kemari adalah bertujuan untuk meringkus kami semua."
Buru-buru Beng Kian hoo menjura, katanya agak keder.
"Harap To loko jangan salah paham, kehadiran kalian sekalian cukup membuat siaute merasa bangga, tapi terus terang saja, siaute sama sekali tidak tahu menahu tentang undangan yang telah kalian terima itu."
Dengan sorot mata setajam sembilu Thi Lo han segera mengalihkan sorot matanya ke wajah Ting Ci kang, kemudian serunya dengan suara lantang.
"Kalau begitu siapakah yang telah mewakili Beng lo sicu untuk mengemukakan usul tersebut.?"
Beng Kian hoo segera tertawa getir.
"Sampai detik ini, siaute masih belum tahu siapakah orang yang secara diam-diam telah mencatut nama siaute itu?"
"Tentu saja kau tak akan tahu"jengek Tok-Hayji sinis. Mendadak Bwee hoa kiam Thio Kun kai segera bangkit berdiri, lalu sambil menuding ke arah Tok Hayji bentaknya.
"Tadi dua kali kau pergunakan racun untuk mencelakai kami, hayo jawab, siapa pula yang telah memerintahkan kepada dirimu untuk berbuat demikian?"
"Apa yang kupikirkan dalam hati, kulakukan tanpa canggung-canggung, kenapa mesti menuruti perintah orang? Hmm, kau anggap dalam dunia persilatan ada orang yang pantas untuk memerintahkan aku?"
"Bocah keparat"
Bentak Thio Kun kai kemudian.
"akan kubekuk dirimu, ingin kulihat kau akan berbicara atau tidak?"
"Huuuh, dengan andalkan kemampuanmu itu kau hendak membekuk aku?"
Tok Hayji segera tertawa dingin.
"bukankah akupun telah kembali kemari lagi? Terus terang kuberitahukan kepadamu, bahkan aku saja tak sanggup menerjang keluar, jangan harap manusia macam kalian bisa keluar dari sini"
Perkataannya makin lama semakin aneh dan mengherankan hati orang saja.
Apa yang diucapkan memang benar,jelas ia sudah pergi tadi, tapi sewaktu balik kemari, tubuhnya sudah penuh dengan luka.
Ting Ci kang segera merasakan kejadian ini sedikit agak mencurigakan, tak tahan dia lantas bertanya.
"Saudara cilik, bukankah tadi kau sudah keluar dari sini? Mengapa balik kemari lagi?"
"Bukankah tadi sudah kukatakan. barang siapa yang sudah memasuki pintu gerbang An Wan piaukiok,jangan harap lagi bisa keluar dari sini dalam keadaan hidup"
"ltu berarti ada orang yang berjaga didepan pintu sana?"
"Tentu saja"
"Siapakah dia?"
Tanya Beng Kian hoo kemudian dengan suara dalam.
"Entahlah"
Tok Hayji menggeleng.
"yang jelas lihay sekali, bahkan akupun tak mampu untuk menangkan dia"
Ucapannya itu benar benar berlagak-besar, maksudnya tak seorang jagopun yang hadir di situ dipandang sebelah mata olehnya. Ma koan tojin segera tertawa seram.
"Heehh .. heehh .. heehh .. sungguh menarik, sungguh menarik sekali serunya.
"macam apakah orang itu? Bersediakah kau untuk menerangkannya kepada kami?"
"Aku tak sempat melihat wajahnya"
"Kalau kau tak melihat wajahnya, dari mana mungkin bisa bertarung lawan dirinya?"
Ma-koan tojin semakin memperhatikan. Agaknya Tok Hayji tak ingin menyinggung kembali soal luka yang dideritanya itu, setelah berhenti sejenak katanya.
"Aku dengar mereka bilang, kesemuanya ini adalah ide dari Thian Sat nio, barang siapa telah memasuki perusahaan An wan piaukiok, tak seorangpun boleh dilepaskan dalam keadaan hidup."
"Thian Sat nio?"
Ma koan tojin bergumam dengan suara lirih, agaknya dia seperti mulai percaya.
Dari sekian banyak orang yang berada dalam ruangan itu, kecuali Wi Tiong hong yang baru muncul dalam dunia persilatan, lainnya merupakan jago-jago kawakan yang mempunyai banyak pengalaman, namun tak seorangpun diantara mereka yang pernah mendengar kalau dalam dunia persilatan masih terdapat seorang manusia yang bernama Thian Sat nio.
Tui hong tong (golok pengejar angin) Hee ho Nian dari Kang pak siang kiat segera tertawa terbahak bahak, serunya.
"Haaaahhh... haaaahhh... haaaahhh,.. masa didunia ini terdapat kejadian Seperti itu?"
"Mengapa tidak?"jawab Tok Hay ji.
"kalau tidak percaya, Cobalah sendiri, tanggung kau akan lebih tak becus daripada diriku."
"Bagaimana bisa lebih tak becus daripada dirimu?"
"Kalau aku masih dapat balik kemari, maka jika kau yang keluar,jangan mimpi bisa lagi kesini dalam keadaan hidup."
Si Golok pengejar angin Hee ho Nian menjadi naik pitam, serunya dengan gusar.
"Bocah keparat, kau berani memandang hina diriku?"
"Apakah kau ingin mencoba beberapa jurus diujung telapak tanganku...?"
Tantang Tok hayji.
Seketika itu si Golok pengejar angin Hee ho Nian bang kit berdiri, bentaknya "Berdiri kau bajingan cilik, aku Hee ho Nian ingin mencoba sampai dimanakah taraf kemampuan yang kau miliki ?"
Mendadak Tok Hayji menggunakan sumpitnya untuk mengambil sepotong daging, lalu sambil mengunyah dengan asyiknya dia berkata.
"Tak usah dicoba lagi, akupun segan untuk bertarung melawanmu, jika kau tidak puas, mengapa tidak menyerbu keluar dari pintu gerbang dan mencobanya sendiri?"
Kegusaran si Golok pengejar angin Hee ho Nian benaK2 telah mencapai pada puncaknya, dia segera mendengus dingin.
"Sudah banyak tahu aku Hee ho Nian berkelana dalam duina persilatan, belum pernah ada suatu tempat yang tidak berani kudatangi. Hmmm, lihat saja segera kubuktikan"
Dia benar2 membalikkan badan dan berjalan keluar dari ruangan itu dengan langkah lebar. Buru2 Beng Kiam hoo maju menghalangi niatnya itu, ujarnya dengan lembut.
"Hee-ho loko, kau adalah tamu kami, harap minum beberapa cawan arak, siaute sebagai tuan rumah sudah seharusnya yang bertugas untuk menengok keluar, ingin tahu manusia macam apakah yang begitu berani memusuhi Siaute?"
Ketika Cuan im an Li goan tong menyaksikan congpiautau-nya sudah bangkit berdiri, buru-buru diapun takut bangkit sambil berkata.
"Suheng, kau harus berada disini untuk menemani tamu, lebih baik biar siaute saja yang keluar"
Kiranya Cuan im an Li goan tong pun seorang murid preman dari Siau limpay, dengan Beng kiam ho mereka adalah sesama saudara seperguruan. Beng Kiam hoo segera manggut manggut "Hati hatilah kau sute."
Pesannya. Cuan im an Li goan tong mengiakan, dia segera membalikkan badan berjalan keluar. Ting cikang turut bangkit berdiri dan berseru.
"Tunggu sebentar saudara Li, Siaute akan menemanimu untuk keluar melihat lihat keadaan"
Sepeninggal kedua orang itu, suasana dalam ruangan menjadi amat hening tak kedengaran suara sedikitpun, sorot mata semua orang hampir sama sama ditujukan ke tubuh ke dua orang itu.
Mendadak Tok Hayji meletakkan kembali sumpitnya, kemudian kepada si Golok pengejar angin Hee ho Nian ujarnya.
"Kau tidak jadi keluar, bagaimana jika kita lanjutkan pertarungan yang kau tantangkan tadi?"
"Bagus sekali"
Sahut si golok pengejar angin Hee ho Nian sambil tertawa seram. Tok Hayji segera mengalihkan sorat matanya memperhatikan sekejap wajah orang2 yang berada dalam ruangan itu, kemudian ujarnya.
"Aku pikir,jika kalian sanggup mengalahkan diriku, mungkin saja masih ada setitik kesempatan untuk melarikan diri"
Ma koan lojin yang duduk dikursi yang paling utama hanyalah mengawasi gerak gerik dari Tok Hay-ji, pada saat itulah mendadak dia bertanya.
"Siau-sicu, siapakah namamu ?"
"Tok Hay-ji"
Bab-07 Ma koan tojin tidak berkata apa-apa lagi, dia tegang memikirkan asal usul dari bocah berwajah hitam ini.
Sementara itu, si Golok pengejar angin Hee-ho Nian telah bangkit berdiri dan berjalan menuju ketempat yang longgar ditengah ruangan, lalu sambil meloloskan golok Yan leng to-nya dia membentak berat.
"Bocah keparat, kalau ingin turun tangan, hayo cepat cabut keluar senjatamu "
Meskipun Tok Hay ji-masih kecil, lagaknya sangat besar, dengan langkah yang acuh dia maju kedepan, kemudian sambil bertolak pinggang dan tertawa ejeknya.
"Marilah"
Jelek jelek begitu, si Golok pengejar ingin Hee ho Nian terhitung jagoan termashur pula diwilayah utara sungai tiangkang, menyaksikan lagak musuhnya yang begitu besar, hatinya sudah menjadi panas seperti mau meledak, tapi dia tak bisa berbuat banyak, sebab bagaimanapun juga pihak lawan tak lebih hanya seorang bocah cilik, Walaupun dalam hati kecilnya ingin mencincang tubuh bocah cilik itu menjadi berkeping-keping, namun dia tak dapat mengacuhkan tingkat kedudukan yang dimilikinya sekarang, maka sambil tertawa seram, ujarnya.
"Mana senjatamu ?"
"Aaah, kau ini betul betul cerewet"
Seru Tok Hayji tak sabar.
"jangan perdulikan aku, bukankah kau telah membawa senjata sekarang ? Bacokkan saja ketubuhku kan beres ?"
Ucapan tersebut memang ada benarnya juga, jikalau golok tersebut sudah dicabut tapi tidak dibacokkan, sebaliknya hanya berbicara melulu, bukankah hal ini sama halnya dengan menghambur-hamburkan waktu saja?
Kendatipun semua orang yang berada dalam ruangan itu merasa tingkah laku dari bocah hitam itu sangat tekebur, namun merekapun ingin mengetahui asal usulnya dari permainan silatnya nanti.
Dengan mata melotot besar, Hee ho Nian betul-betul sangat berang, dia tertawa seram lalu serunya.
"Kau sendiri yang berkata begitu,jangan kau salahkan aku nanti.." -ooo00ooo-"KALAU aku sampai mampus terbacok, anggap saja kepandaianku yang tidak becus,"jawab Tok Hay-ji dingin.
"Baik..."
Hee-ho Nian membentak keras, sambil mengayunkan golok Yan leng to miliknya, dia membacok tubuh bocah itu keras-keras.
pada dasarnya dia memang memiliki tenaga yangamat besar, ayunan golok yang dilancarkan dalam keadaan gusar ini segera mengakibatkan menderunya angin tajam.
Tok Hayji tidak membawa senjata, diapun tidak menyambut serangan tersebut dengan kekerasan, tubuhnya segera melompat ke samping untuk menghindarkan diri.
Untuk kesekian kalinya Hee ho Nian membentak keras, bacokan kedua kembali dilancarkan.
Agak terkejut juga perasaan Tok Hayji setelah menyaksikan kemantapan gerak serangan musuh serta kesempurnaan jurus serangan yang digunakan lawan, walaupun hanya sebuah jurus serangan yang amat sederhana, namun secara lamat-lamat mengandung banyak sekali perubahan.
Kali inipun ia tidak menangkis dengan kekerasan, melainkan melejit ke samping untuk menghindar.
Setelah secara beruntun melancarkan dua kali bacokan, namun Pihak lawan tidak melepaskan senjata melainkan hanya main kelit belaka, tanpa terasa Hee ho Nian menghentikan gerakannya lalu bentak keras.
"Hei, apa-apa an kau ini ? Mengapa masih belum juga turun tangan?"
Tok Hayji acuh sekali, dengan seenaknya dia menjawab.
"Aku ingin menyaksikan dulu bagaimanakah hebatnya permainan golokmu itu, kemudian baru menentukan apakah aku harus mempergunakan senjata atau tidak?"
Si Golok pengejar angin tak bisa menahan sabarnya lagi, sambil tertawa seram serunya.
"Heeeehhh -heeehhh -heehhh -bagus sekali, moga-moga saja kau masih sempat untuk mempergunakannya nanti"
Mendadak dia mendesak maju ke depan, kemudian secara beruntun goloknya diayunkan ke depan melepaskan tiga buah serangan berantai yang maha dahsyat.
Kali ini kemarahannya betul2 sudah memuncak, ke tiga jurus serangan tersebut dilancarkan berantai dan dilepaskan sekaligus dalam waktu singkat, selain jurus goloknya lihay, tenaga serangannya juga sangat hebat.
Menghadapi ancaman serangan itulah yang paling cepat dan dahsyat itu, Tok Hayji segera dipaksa mundur sejauh tiga empat depa dari tempat semula.
Si Golok pengejar angin Hee ho Nian tidak berhenti sampai disitu saja, begitu ketiga serangannya sudah berakhir, tubuhnya bergerak maju bagaikan hembusan angin, untuk kesekian kalinya dia melancarkan kembali tiga buah bacokan kilat.
Ke tiga bacokan kilat ini jauh lebih dahsyat daripada tiga buah serangan sebelumnya, selapis cahaya golok bagaikan bianglala menyelimuti seluruh angkasa, tak malu dia disebut si-Golok pengejar angin ...
Menghadapi tiga buah bacokan berantai itu, Tok Hayji segera terdesak dalam keadaan yang sangat berbahaya, hampir saja ia terluka di ujung golok lawan.
Tapi pada saat itulah terdengar bocah itu terdengar tertawa dingin, kemudian serunya.
"Satu ilmu golok yang amat bagus "
Mendadak sepasang pergelangan tangannya digetarkan denganamat keras.
"weet "
Selapis cahaya hitam menyapu keluar dengan kecepatan tinggi.
Tubuh si Golok pengejar angin Hee bo Nian yang tinggi besar itu seketika jatuh terjungkal ke atas tanah, walaupun Hee ho Nian kena dijatuhkan namun ia sama sekali tak sempat melihat jurus seperti apakah yang dipergunakan lawan juga tak sempat terlihat olehnya.
Bisa dibayangkan betapa terkejutnya dan terkesiapnya hati jagoan ini menghadapi kenyataan tersebut.
Buru-buru dia melompat bangun dari atas tanah, selembar wajahnya berubah menjadi merah padam seperti hati babi, dari malu dia makin berangasan, goloknya segera diangkat ke-atas dan siap menubruk kembali kedepan.
Mendadak Ma koan tojin yang duduk dikursi utama bangkit berdiri, kemudian bentaknya dengan suara rendah.
"Hee ho sicu, harap tunggu sebentar."
Mendengar seruan itu, Tui liong to segera menarik kembali serangannya dan mundur. Ma-koan tojin segera berpaling kembali kearah Tok Hayji lalu tegurnya.
"Siau-sicu, apakah kau datang dari Tok-seh sia atau selat pasir beracun?"
Begitu mendengar nama Tok seh-sia atau selat pasir beracun disinggung orang.
serentak semua jago merasakan hatinya tercekat.
Hal ini tak bisa salahkan mereka, sudah banyak tahun orang orang Selat pasir beracun tak pernah muncul didalam dunia persilatan, maka begitu nama tersebut disinggung otomatis semua orang menjadi terkejut bercampur heran.
Tiba-tiba saja paras muka Tok-Hayji berubah hebat dengan cepat dia menggelengkan kepalanya berulang kali.
"Bukan, aku bukan...."
Serunya gugup, Dimulut dia berseru, sementara tangannya bekerja cepat untuk menyimpan kembali senjatanya.
Semua orang hanya sempat menyaksikan benda tersebut ternyata adalah sebuah senjata lunak berbentuk cambuk bukan cambuk, ruyung bukan ruyung, panjangnya enam tujuh depa dengan tubuh berwarna hitam, besarnya seibu jari.
Dalam waktu singkat senjatanya tadi sudah digulung menjadi beberapa bagian dan di masukkan ke dalam saku.
Setelah Tok Hayji menyimpan kembali senjatanya itu, si Golok pengejar angin Hee ho Nian juga menyimpan kembali goloknya dan mereka berduapun bila kembali ke tempat duduk semula.
Wi Tiong hong baru pertama kali ini terjun ke dalam dunia persilatan, tentu saja dia tidak mengetahui asal usul dari Selat pasir beracun, ketika dilihatnya setelah Ma koan tojin menyinggung soal "selat pasir beracun", dan semua orang yang hadir di arena seakan2 seperti terpagut ular beracun dan membungkam dalam seribu bahasa, diam2 ia merasa keheranan.
Lakjiu im eng Thio Man juga sedang membisikkan sesuatu ke sisi telinga engkohnya Bwe hoa kiam Thio Kun kai dengan suara lirih, mungkin saja yang dibicarakan adalah persoalan yang menyangkut soal Selat pasir beracun.
Bwe hoa kiam yang dihari-hari biasa selalu jumawa dan tinggi hati itu, kini membungkam dalam seribu bahasa, dengan wajah serius dia menggelengkan kepalanya berulang kali, tampak nya seperti enggan untuk banyak berbicara.
Dua sosok bayangan manusia berkelebat lewat dari luar pintu gerbang, kemudian melangkah masuk dengan langkah terburu-buru.
Mereka adalah ketua partai Thi pit pang Ting ci kang serta wakil Congpiautau dari An wan piaukiok, Cuan im cun Li Goan tong yang telah kembali.
Buru buru Beng kian go bang kit berdiri menyambut kedatangan mereka, segera tegurnya.
"Ting lote apakah kaitan telah menemukan seseorang?"
Ting Ci kang menggelengkan kepalanya berulang kali, lahutnya sambil tertawa.
"Tidak, siaute dan Li heng telah melakukan pemeriksaan disekitar tempat ini, namun tak seorang manusiapun yang terlihat."
"Memangnya aku sengaja cerita bohong untuk menipu kalian.. ?"
Tok Hayji segera berteriak keras.
Betul juga perkataan itu, seandainya tiada orang yang menghalangi jalan perginya, darimana pula datangnya pula luka pada badan dan kakinya itu?
Ting Ci kang tersenyum, katanya kemudian "Mungkin orang yang kaujumpai itu telah pergi"
"Pergi? Hmmm ..."
Tok Hayji segera mendengus dingin.
Belum habis dia berkata, mendadak terdengar suara nyanyian yang merdu berkumandang datang dari kejauhan sana.
Itulah nyanyian yang dibawakang oleh seorang perempuan dan seorang lelaki, mula mula si-perempuan menyanyikan sebait syair, kemudian yang lelaki menyambung.
"Taypak muncul di barat..."
"Taypak muncul di barat..."
"Dunia persilatan penuh Pembunuhan"
"Dunia persilatan penuh pembunuhan."
"Tolong siapa yang mendalangi.."
"ToIong siapa yang mendalangi.."
"Lo tay Thian Sat nio.."
"Lo tay Thian Sat nio..."
Yang perempuan suara merdu merayu, yang pria suaranya gagah dan nyaring.
Suara nyanyian itu seolah-olah datangnya dari kejauhan sana, tapi seakan-akan pula berada didepan mata, suaranya nyaring tapi melambung sehingga sukar untuk diraba.
Suara itu tidak terasa menyeramkan, tetapi anehnya setelah terdengar dalam telinga justru mendatangkan suatu firasat jelek, timbul perasaan ngeri dalam hati kecilnya, seakan-akan suatu bencana besar segera akan muncul didepan mata.
Ternyata Thian Sat nio benar benar telah muncul, kontan saja paras muka semua jago yang hadir dalam ruangan itu berubah hebat.
Dengan perasaan tak tenang Tok Hayji mengangkat cawannya dan meneguk arak setegukan, kemudian sambil mendengus katanya.
"Sudah kalian dengar belum? Thian Sat nio telah datang"
"Yang kau maksudkan sebagai Thian Sat nio itu sebenarnya siapa?"
Tanya si naga tua berekor botak To Sam seng dengan berkerut.
"Kau bertanya kepadaku, lantas aku mesti bertanya kepada siapa?"jawab sibocah ketus. Thi Lo-han Kwong-beng taysu segera berpaling dan memandang sekejap kearah Ma-koan tojin, kemudian katanya.
"Selama ini tootiang selalu berkelana di arah tenggara, pernah kau dengar tentang manusia yang bernama Thian Sat nio ?"
Ma koan tojin yang wataknya memang dingin menyeramkan hanya tersenyum, katanya.
"Taysu saja belum pernah mendengar, dari mana pinto bisa tahu?"
Perlu diketahui, dari sekian banyak orang yang hadir dalam ruangan sekarang.
Ma koan tojin, Thi Lo han Kwong beng taysu rian Naga tua berekor botak To Sam seng termasuk orang yang paling tinggi kedudukannya dan paling tenar namanya.
Tapi kenyataannya sekarang, mereka bertiga pun tak mengetahui asal usul dari Thian Sat-nio, sudah barang tentu orang lain lebih lebih tidak mengerti.
Thi Lo han Kwong beng taysu tertawa nyaring, lalu katanya.
"Bagus sekali, hari ini marilah kita bersama-sama menyaksikan macam apakah dalang dari dunia persilatan ini"
To Sam seng mengangkat cawannya dan meneguk kering isi araknya, lalu dengan mata berkilat sambungnya.
"Perkataan Taysu memang benar, sudah setua ini lohu hidup didunia, belum pernah kudengar ada seorang dalang yang mengalir suatu pembunuhan dalam dunia persilatan."
Mendadak terdengar suara tertawa dingin yang keras dan mengerikan bagaikan sukma gentayangan saja berkumandang didalam ruangan.
Suara tersebut datangnya sangat istimewa dan aneh sekali, membuat hati orang terasa tercekat.
Semua jago yang berada dalam ruangan itu kontan merasa terkesiap, dalam sekejap mata suasana dalam ruangan berubah menjadi sunyi senyap, setiap orang dengan sorot mata kaget seram bercampur tercengang mulai melakukan pemeriksaan disekeliling tempat itu.
Waktu itu sedang tengah hari, langit cerah dan suasana terang benderang, terkecuali orang orang yang berkumpul dikedua meja perjamuan tersebut tak nampak sesosok bayangan manusiapun.
Padahal suara dingin yang menyeramkan itu jelas berkumandang dari atas ruangan, siapapun merasa yakin kalau tak salah mendengar..
Puluhan tahun hidup didalam dunia persilatan suasana seperti apapun sudah pernah dijumpai Beng Kian ho, akan tetapi baru kali ini dia menghadapi situasi seperti hari ini.
Sebagai tuan rumah, apalagi d isaat dia sedang menjamu tamu-tamunya, tentu saja keadaan semacam ini amat mengurangi kewibawaannya, tak heran kalau dia segera bangkit berdiri dan memeriksa keadaan disekeliling tempat itu dengan mata melotot besar.
Kemudian serunya dengan suara lantang.
"Sahabat dari manakah yang telah datang? Jika aku orang she Beng yang dituju, harap segera menampakkan diri agar aku orang she Beng tahu manusia macam apakah dirimu itu?"
Bentakan tersebut diutarakan dengan suara yang keras, nadanya mendengung kencang menggetarkan seluruh ruangan,jelas kemarahannya telah mencapai pada puncaknya.
Siapa tahu, walaupun bentakan telah diutarakan dan waktu berlalu dengan cepat, belum juga kedengaran suara jawaban apa-apa.
Keadaan tersebut seakan-akan memperlihatkan kalau suara tertawa dingin yang terdengar tadi, pada hakekatnya seperti tak pernah terjadi.
Ma koan tojin menggoyangkan tangannya berulang kali, kemudian sambil mendengus dingin ujarnya.
"Beng congpiautau, silahkan duduk untuk berbincang-bincang, paling tidak orang yang tertawa dingin itu memancarkan suaranya dari jarak satu li, apa yang diperlihatkan tak lebih hanya kepandaian Jian li coan im (seribu li menyampaikan suara)"
Perlu diketahui bagi seseorang yang tenaga dalamnya telah berhasil mencapai kesempurnaan, dia dapat mengubah suara yang keluar menjadi suatu gelombang suara yang keluar dari mulut pembicaraan langsung memasuki telinga lawan, sekalipun orang yang berada disampingnya juga sukar untuk mendengar kalau suara itu beraSal dari ilmu coan-im jim.
Akan tetapi suara itu hanya bisa digunakan bila orang yang bersangkutan saling berhadapan muka dengan jarak tidak begitu jauh, Bila seseorang bisa melatih ilmunya selangkah lebih maju hingga suara yang terpancar tak menyambar tapi mengumpul jadi satu garis, suara yang dikirim dari jarak satu dua li pun masih dapat terdengar jelas seperti orang yang berbicara saling berhadapan muka saja, kepandaian semaCam ini dinamakan Jim li coan im (seribu li menyampaikan suara) Dari sekian banyak orang yang hadir dalam ruangan itu yang dapat menggunakan ilmu menyampi kan suara saja tak banyak, sudah barang tentu orang yang dapat menggunakan ilmu Jian li coan im semakin sedikit lagi.
Sementara orang lagi merasa kaget juga bercampur tertegun sesudah mendengar perkataan dari Ma koan Tojin mendadak "Heeeehhh.
, .heeeehhh---heeeerhhhh---"
Didalam ruangan itu kembali berkumandang serentetan suara tertawa aneh yang amat membetot sukma, suaranya tajam menusuk pendengaran dan amat tak sedap didengar.
Kali ini semua oraag dapat mendengar dengan jelas, suara tertawa seram itu benar2 berasal dari atas ruangan tengah.
Baca Juga: Seruling Gading 7
Baca Juga: Perawan Lembah Wilis Kho Ping Hoo