Ceritasilat Novel Online

Seruling Gading 7

Eps 7 Seruling Gading - Kho Ping Hoo

Baca online Seruling Gading - Kho Ping Hoo

Cersil Seruling Gading - Kho Ping Hoo.

Kalau saja tidak ada tenaga sakti tersalur ke dalam dayung, tentu dayung kayu itu sudah patah.

Daya sedot air berpusing itu amat kuatnya.

Walaupun pertahanan Parmadi dengan dayungnya dapat memperlambat lajunya perahu yang dipaksa berputaran mengelilingi pusaran air yang pusat di tengahnya tampak dalam mengerikan, namun tetap saja dia belum dapat membebaskan perahunya dari ulekan (pusaran) air itu.

Dia merasa ngeri juga melihat potonganpotongan kayu yang tadinya hanyut di sungai itu kini ditarik pusaran air, sampai ke tengah ulekan dan disedot masuk ditelan air yang berputar-putar itu.

Kalau sampai perahunya ditarik ke pusat ulekan, celakalah dia!

Maka diapun mengerahkan seluruh tenaganya untuk menahan agar perahunya jangan tertarik ke tengah.

Tiba-tiba Parmadi melihat sinar hitam meluncur dari bawah pohon randu alas dan tahutahu sebuah besi kaitan sebesar lengan telah masuk ke dalam perahunya dan mengait pinggiran perahu.

Besi kaitan itu ternyata bersambung dengan tali yang kuat dan ada yang menarik dari bawah pohon.

Perahunya tertarik namun masih sukar untuk keluar dari cengkeraman air yang berputar.

Parmadi maklum bahwa orang menolongnya, maka diapun menggerakkan dayung sekuat tenaga dan akhirnya kerja sama ini berhasil.

Perahunya dapat tertarik keluar dari ulekan dan Parmadi segera mendayung perahunya ke tepi sungai, ke bawah pohon randu alas itu.

Ketika dia menoleh ke tengah, dia melihat seolah pusaran air itu menjadi marah dan mengamuk, ulekannya menjadi semakin besar dan kuat!

Perahunya sudah tiba di tepi sungai, lalu berhenti.

Dia memandang ke darat untuk melihat siapa orangnya yang telah menolongnya.

Dan dia terbelalak, melongo seperti orang bodoh ketika melihat seorang gadis muda sedang mengikatkan tali pada sebuah batu besar.

Kiranya tali dengan kaitan besi itu yang menahan perahunya sehingga dia tidak perlu menggunakan tali perahu lagi.

Dia melompat ke darat, menghampiri gadis yang telah selesai mengikatkan tali pada batu.

Gadis itu membalikkan tubuh, mereka berhadapan dan untuk kedua kalinya Parmadi melongo.

Terpesona!

Gadis itu berusia kurang lebih delapan belas tahun, tubuhnya bagaikan setangka bunga sedang mulai mekar, padat langsing dan kulitnya coklat bersih mengeluarkan cahaya mempesona.

Wajahnya cantik jelita, dengan rambut hitam panjang yang pada saat itu dibiarkan terurai, tidak digelung seperti wanita yang habis mandi keramas.

Rambut itu sebagian menutupi kedua pundaknya dan sebagian lagi terurai lepas di depan dada dan belakang punggung.

Indah sekali.

Sepasang matanya amat indah, besar dan bening, pandang matanya tajam dan mata itu seolah selalu bersinar gembira.

Hidungnya kecil mancung dan mulutnya!

Entah mana yang lebih kuat daya tariknya, antara matanya dan mulutnya.

Bibir itu dihias senyum, akan tetapi seperti berjebi mengejek dan menantang.

Parmadi segera dapat merasa bahwa dia berhadapan dengan seorang gadis yang bukan merupakan seorang gadis dusun biasa Ada sesuatu yang lain pada gadis ini.

Entah apanya yang membedakannya dari gadis-gadis lain, mungkin sinar matanya yang tajam dan agaknya penuh pengertian itu.

Kini mereka berdiri, saling berhadapnn dan gadis itu dengan beraninya membalas pandang mata Parmadi dengan sinar mata penuh selidik seperti sedang menilai sesuatu yang menarik.

Akhirnya Parmadi yang mendahului memberi salam, dengan senyum dan agak membungkukkan tubuhnya, lalu berkata.

"Teja-teja sulaksana! Bolehkan aku tahu siapakah andika ini yang telah menolongku keluar dari ulekan itu?"

Deretan gigi putih dan rapi itu tampak. Manis bukan main sepasang bibir yang merekah itu.

"Aku memang sering menanti di sini dengan tali kaitanku, siap menolong orang asing yang bodoh membiarkan perahunya diseret ulekan. Sebelum aku menjawab pertanyaanmu, sebaiknya engkau yang lebih dulu memperkenalkan diri kepadaku."

Parmadi tersenyum. Gadis ini pandai bicara, lincah, tidak pemalu dan agak angkuh! Diapun tidak ingin memperkenalkan namanya di sembarang tempat, maka dia lalu berkata sederhana.

"Orang-orang menyebut aku Seruling Gading. Dan andika siapakah?"

Gadis itu tersenyum, matanya terbelalak memandang wajah Parmadi lalu menoleh ke arah pusaran air.

"Andika lihat,"

Telunjuknya yang mungil meruncing itu menuding ke arah pusaran air.

"Tempat ini namanya Kedung Srengenge, lihat bentuk ulekan itu, seperti srengenge (mata hari), bukan. Juga kalau tengah hari, bayangan matahari terpantul di air. Namamu Seruling Gading? Tentu karena itu!"

Ia menuding ke arah suling terbuat dari gading, pusaka Parmadi pemberian gurunya.

"Kalau begitu sebaiknya akupun menggunakan nama sandi (rahasia). Aku adalah.... Puteri Kedung Srengenge! Nah, cocok, bukan? Si Seruling Gading bertemu dengan Puteri Kedung Srengenge!' Gadis itu tertawa geli, tawanya lepas dan tidak malu-malu, wajar dan tidak di buat-buat. Mau tidak mau Parmadi juga ikut tertawa, terseret oleh tawa gadis itu. Gadis itu menahan tawanya, akan tetapi dadanya masih terguncang oleh geli hati, kedua matanya yang tadi besar bersinar itu kini menyipit, membuat wajah itu menjadi semakin manis.

".... atau.... andika menghendaki yang lebih serem lagi? Bagaimana kalau...."

Ia menengok dan memandang kepada randu alas besar yang berdiri di situ.

"".. bagaimana kalau namaku Peri Randu alas? Hi-hik, menyeramkan sekali, bukan....?"

Tiba-tiba Parmadi mengerutkan alis nya dan dia memandang pohon randu alas yang tua dan besar itu, lalu memandang ke arah pusaran air di kedung.

Terasa olehnya ada getaran yang aneh dan tahulah dia bahwa pohon randu alas besar itu memang ada "penunggunya"

Dan inilah agaknya yang membuat ulekan air itu menjadi tidak wajar, mengandung daya yang aneh luar biasa.

Tempat seperti ini amat berbahaya dan sudah menjadi kewajibannya untuk "membersihkannya".

Lalu dia menatap tajam wajah gadis itu.

Jangan-jangan".

"Hei, kenapa andika memandangku seperti itu?"

Gadis itu menghentikan tawanya dan menegur sambil memandang de ngan sinar mata penuh selidik.

Parmadi bernapas lega.

Mata batinnya melihat bahwa gadis ini bukanlah mahluk halus, melainkan manusia biasa, bukan penunggu pusaran air atau randu alas seperti yang dicurigainya semula.

Dia merasa bersalah dan untuk menebus kesalahannya, dia memperkenalkan dirinya dengan jujur.

"Maaf, aku tadi hanya main-main. Namaku adalah Parmadi."

Gadis itu tiba-tiba bersikap sungguh-sungguh, membuat gerakan seperti tokoh wayang Srikandi sedang berjoget, lalu mengeluarkan kata-kata yang nyaring dan genit seperti Srikandi sedang bergaya di atas panggung.

"Wahai, Raden Parmadi! Apakah paduka datang ke sini untuk mencari Kakang-mbok Woro Sembodro?"

Tingkahnya itu lucu dan kewes. Pasti indah sekali kalau gadis itu bermain sebagai Srikandi di panggung wayang orang, pikir Parmadi.

"Andika memang pantas menjadi Srikandi, akan tetapi andika jelas bukan Srikandi dan akupun bukan pula Permadi atau Arjuna. Namaku Parmadi, bukan satria panengahing Pandawa. Cukuplah main-main ini, kalau andika tidak mau memperkenalkan nama, sudahlah, akupun tidak memaksa. Akan tetapi harap jangan main-main dengan kedung dan pohon randu alas ini, karena tempat ini memang berhantu!"

Gadis ini membelalakkan matanya yang indah dan memandang ke arah kedung, lalu menoleh ke arah pohon.

"Wahhh""

Berhantu...??"

Parmadi mengangguk.

"Ada penunggunya."

Gadis itu tiba-tiba merasa ngeri.

"Ih, jangan nakut-nakuti orang, Kakang Parmadi! Maafkan kalau tadi aku mempermainkanmu, namaku adalah Ayu, Ayu Puspa."

"Aku tidak main-main atau menakut-nakutimu, Ayu. Memang tempat ini berhantu dan sudah menjadi kewajiban kita untuk membersihkan tempat ini agar jangan ada yang mengganggu perahu-perahu yang lewat di sini."

"Kita? Hih, mana bisa aku melawan hantu? Engkau sajalah, kalau engkau mampu!"

Kata Ayu Puspa sambil bergiilik.

"Memang aku hendak membersihkan tempat ini, Ayu. Kalau engkau takut, mundur dan menjauhlah agar kalau pohon ini tumbang tidak dapat menjangkau dan menimpamu."

Ayu Puspa benar-benar merasa ngeri dan iapun cepat meninggalkan tempat itu sampai cukup jauh dari pohon randu alas.

Ia bersembunyi di balik batu besar sambil memandang dengan mata terbelalak dan hati tegang.

Dengan terheran-heran dan memandang tanpa pernah berkedip Ayu Puspa melihat Parmadi sekarang duduk bersila di dekat pohon randu alas dan mengeluarkan sebatang suling gading yang tadi terselip di ikat pinggangnya.

Setelah diam tak bergerak beberapa saat lamanya seperti orang bersamadhi, ia melihat pemuda itu mulai meniup sulingnya.

Terdengar suara mendayu-dayu dan Ayu Puspa terpesona.

Suara suling itu sungguh luar biasa.

Berbeda dengan suara suling yang sering ia dengar.

Suaranya lembut, halus dan merdu, mengandung alunan sepert menimang-nimang hati, membuat ia yang mendengarnya merasa nyaman dan nikmat sehingga mengantuk.

Akan tetap suara itu makin menguat sehingga melengking-lengking seperti ada ribuan orang sedang bertempur, membuat hati Ayu Puspa menjadi miris dan iapun menutupi kedua telinganya dengan tangan Tiba-tiba Ayu terbelalak melihat pohot randu alas yang tinggi besar itu tumbang ke arah Parmadi.

Ayu Puspa menurunkan kedua tangan yang tadi menutupi telinganya dan ia menjerit.

"Kakang Parmadi.... lari... cepat".?!' Akan tetapi ia melihat dengan wajah pucat betapa pohon itu telah tumbang dengan suara berkerosakan dan tampaknya menimpa tubuh Parmadi! "Kakang Parmadi ! Kakang.... !"

Ay Puspa terisak menangis, akan tetapi masih takut untuk mendekati pohon yan tumbang, hanya kedua matanya yang basah air mata itu mencari-cari.

"Ayu, kenapa engkau menangis?"

Suaras lembut itu terdengar menegur di belakangnya.

Ayu Puspa cepat membalik dan ternyata Parmadi telah berdiri di belakangnya.

Gadis itu mengeluarkan seruan setengah tawa setengah tangis dan menubruk lalu merangkul pinggang Parmadi.

Parmadi juga memeluk kedua pundak gadis itu.

Mereka berpelukan dan sesaat kemudian Parmadi terbelalak, perlahan-lahan melepaskan rangkulan mereka.

Dia terkejut dan heran.

Dia telah berpelukan dengan seorang gadis yang baru saja dikenal dan dijumpainya!

Segalanya terjadi begitu saja, seolah wajar.

Padahal, tentu saja tidak wajar seorang pemuda berangkulan dengan seorang gadis, padahal mereka baru saja berkenalan.

Semua ini mungkin digerakkan oleh rasa lega, girang, haru dan baru saja terlepas dari cengkeraman ketegangan.

Melihat Parmadi melepaskan rangkulan dan memandang ke arah belakangnya dengan alis berkerut dan mata bersinar, Ayu Puspa cepat membalikkan tubuhnya dan iapun terbelalak.

Seekor buaya yang kulitnya (Lanjut ke

Jilid 19) Seruling Gading (Seri ke 02 -Serial Pecut Sakti Bajrakirana) Karya". Asmaraman S. Kho Ping Hoo

Jilid 19 berwarna putih, besar dan panjang sekali, berjalan cepat menghampiri mereka, kini berada dalam jarak empat meter dari mereka! "Hemm, ini penunggu Kedung Srengenge kiranya,"

Parmadi berbisik dan aneh sekali, kembali dia teringat akan kisah Joko Tingkir! Ada dua macam "penunggu"

Tempat angker, yaitu roh jahat yang tidak tampak dan mahluk jadi-jadian seperti buaya putih ini.

Untuk menghadapi roh jahat yang tidak tampak, suara sulingnya dengan Aji Sunyatmaka (Berjiwa Bebas) yang dibimbing oleh Kekuasaan Roh Suci cukup untuk mengusir roh-roh jahat.

Akan tetapi untuk melawan mahluk jadi-jadian, selain kekuatan jiwa, diapun harus mempergunakan kekuatan jasmani.

Tiba-tiba Ayu Puspa dengan sigap melompat ke depan Parmadi seperti hendak melindungi, menghadapi buaya itu dan berkata, sikapnya gagah, tidak lagi ketakutan seperti tadi.

"Mundurlah, Kakang Parmadi. Biarlah yang ini serahkan saja padaku!"

Tangan kanannya bergerak dan ia sudah mencabut sebatang patrem yang tajam mengkilat dan runcing.

Senjata wanita ini tadi ia sembunyikan di balik bajunya, terselip di pinggangnya yang ramping.

Agaknya ia menyangka bahwa Parrnadi hanya pandai mengusir setan dan tidak memiliki kedigdayaan untuk melawan binatang buas itu.

Sebaliknya, melihat sikap gadis yang gerakannya cukup tangkas itu, Parmadi merasa kagum dari tersenyum, membiarkan gadis itu menghadapi buaya putih.

Tentu saja diapun selalu siap siaga untuk melindungi, kalau-kalau gadis itu terancam bahaya!

Dengan langkah ringan, agak berjungkit Ayu Puspa menghampiri buaya itu.

Matanya bersinar-sinar, bibirnya agak tersenyum dan wajahnya sama sekali tidak membayangkan rasa takut.

Buaya itu panjangnya tidak kurang dari empat meter!

Kini binatang itu tidak bergerak lagi, rnelainkan membuka moncongnya yang lebar, yang dapat memangsa manusia dengan sekali telan.

Matanya tak pernah berkedip dan tampaknya seperti mati kalau saja tidak tampak ekornya yang panjang dan bergigi kokoh seperti gergaji itu tidak bergerak-gerak sedikit.

"Awas ekornya!"

Kata Parmadi yang merasa khawatir juga karena dia pernah mendengar bahwa serangan buaya yang amat berbahaya adalah apabila ia mempergunakan ekornya untuk memukul ke depan.

Terpukul ekor seperti itu sampai saja dengan terpukul palu godam besi yang bergigi!

Mendengar seruan Parmadi, Ayu Puspa menoleh dan tersenyum sambil mengibaskan tangan kirinya, seolah memberi isyarat kepada pemuda itu agar jangan khawatir.

Seolah melawan seekor buaya putih raksasa ini merupakan permainan biasa saja baginya.

Gadis itu memandang rendah binatang buas itu!

Hal ini mengkhawatirkan hati Parmadi.

Tentu gadis itu tidak mengira bahwa mahluk yang ia hadapi itu bukan mahluk biasa melainkan seekor binatang yang sudah dikuasai roh jahat sehingga menjadi berbahaya sekali, jauh lebih berbahaya dari pada binatang buas biasa!

Melihat gadis itu menghampirinya, buaya yang tadinya diam seperti sepotong kayu itu, tibatiba, tanpa tanda apapun, sudah menerkam ke depan dengan moncongnya yang terbuka sejak tadi.

Moncong itu terbuka lebar, memperlihatkan gigi yang kokoh dan runcing, menyambar ke arah tubuh Ayu Puspa.

"Aihhh". !"

Ayu Puspa berseru lincah jenaka dan seperti bermain-main, suaranya melengking dan tubuhnya sudah mengelak ringan dan cepat ke samping sehingga gadis itu berada di samping kiri buaya itu.

Akan tetapi pada saat itu juga, ekor buaya itu menyambar dari belakang dengan kekuatan yang akan mampu memecahkan batu karang yang besar.

"Heeiiiiiitt!"

Tubuh gadis itu sudah melompat ke atas sehingga ekor buaya itu menyambar di bawah kakinya.

Parmadi tersenyum dan hilang kekhawatirannya.

Ternyata gadis itu memiliki gerakan yang cukup lincah dan cepat, terlalu cepat bagi gerakan buaya yang lamban dan hanya mengandalkan tenaga besar itu.

Tubuh Ayu Puspa mencelat ke atas dan ia turun sengaja ke atas punggung buaya yang bergigi seperti gergaji itu.

Parmadi mengerutkan alis lagi.

Betapa beraninya gadis itu!

Ayu Puspa memang lincah dan gesit Setelah kedua kakinya hinggap di atas punggung buaya yang lebar itu, ia berteriak.

"Mampuslah kau!"

Tangan yang memegang patrem itu bergerak ke bawah, menusukkan patremnya yang runcing mengkilat ke arah kepala binatang itu.

"Nuuttt trakkk!!"

Ayu Puspa menjerit kecil ketika senjatanya bertemu dengan kulit kepala yang keras dan kuat seperti baja! Patremnya membalik dan sama sekali tidak melukai kepala itu.

"Ayu"..awas".!"

Parmadi kembali berseru karena dia melihat ekor buaya itu kembali menyerang dari belakang. Ekor itu menyambar ke atas lalu menghantam ke arah gadis yang hinggap punggungnya! "Blarrr...!"

Ekor itu menghantam punggung buaya sendiri mengeluarkan suara keras ketika Ayu Puspa sudah melompat dan mengelak ke samping kiri.

Akan tetapi buaya itu menggerakkan moncongnya ke kiri dan moncong itu menyambar ke arah kaki Ayu Puspa.

Kembali gadis itu mengelak sambil melompat.

Akan tetapi kini ia kewalahan juga karena ke mana pun ia mengelak, ekor dan moncong buaya itu bergantian menyambar sehingga Ayu tidak mendapatkan kesempatan untuk balas menyerang.

Pula, apa artinya serangannya?

Kulit buaya itu amat kuatnya, tidak akan dapat ditembusi patremitya.

Ia hampir kehilangan akal, akan tetapi dasar gadis pemberani, ia malu kalau harus mundur dan menyerah.

Maka, ia pun sedapatdapatnya membalas dengan tendangan-tendangan kakinya.

Biarpun ia menggunakan tenaga dalam, tetap saja tubuh besar buaya itu tidak bergeming, bahkan kedua kakinya terasa panas dan nyeri kalau menendang dan bertemu dengan kulit buaya.

Biarpun gadis itu tidak mengeluarkan keluhan, namun Parmadi maklum bahwa gadis itu kewalahan dan merasa kedua kakinya nyeri, maka dia menjadi tidak tega.

"Ayu, serang matanya! Matanya!"

Mendengar seruan Parmadi ini, Ayu menjadi girang.

Baru ia teringat dan ketika ekor itu menyambar pula dari samping, ia melompat ke atas punggung binatang itu dan secepat kilat patremnya bergerak meluncur turun, tepat mengenai mata kanan binatang itu.

Begitu patremnya melukai mata, Ayu cepat melompat jauh.

Binatang itu mengeluarkan suara yang mengerikan.

Tubuhnya berguling-guling, ekornya menyambar-nyambar ke kanan kiri, moncongnya menyerang dengan ngawur dan mata kanannya berdarah.

Lalu dia meluncur ke arah sungai dan meluncur turun.

Terdengar bunyi air muncrat ketika tubuh buaya besar itu menimpa air.

Ayu Puspa sudah berlari ke tepi sungai.

Ia melihat buaya itu masih menongolkan kepala di permukaan air dan matanya yang kanan terobek.

"Awas kau!"

Kata gadis itu lantang sambil mengacung-acungkan patremnya.

"Kalau engkau masih berani mengganggu perahu yang lewat di Kedung Srengenge ini, aku pasti akan mencarimu dan membunuhmu!"

Buaya itu menyelam dan tidak tampak lagi. Parmadi sudah berdiri di sisinya.

"Mudah-mudahan dia takut mendengar ancamanmu tadi, Ayu,"

Kata Parmadi serius.

"Eh, apa kaukira dia mengerti katakataku, Kakang Parmadi?"

"Tentu saja dia mengerti. Dia bukan huaya biasa, Ayu. Karena itulah dia begitu kuat dan cerdik."

"Ah, betapa bodoh aku ini. Tidak ingat bahwa kelemahan buaya itu pada matanya yang tidak kebal. Aku sungguh bodoh!"

"Engkau? Bodoh? Wah, baru sekali ini aku menyaksikan seorang gadis bertanding melawan buaya putih jadi-jadian dan berhasil melukai dan mengusir binatang itu. Sungguh engkau gagah perkasa, benar-benar seperti Srikandi!"

Ayu Puspa menyimpan patremnya, setelah membersihkan noda darah dengan air di tepi sungai, lalu memandang pemuda itu sambil tersenyum.

"Mana mungkin aku seperti Srikandi? Srikandi itu kan cantik jelita, selain gagah perkasa?"

"Siapa bilang engkau tidak cantik jelita, Ayu? Baru namamu saja sudah ayu (cantik). Engkau bahkan lebih ayu mani merak ati ketimbang Srikandi!"

"Aih, rayuan gombal! Masa aku lebih cantik ketimbang Srikandi?"

"Aeh, tidak percaya? Srikandi itu kalau sudah tua dan menjadi nenek-nenek tentu tidak cantik lagi. Akan tetapi engkau, biar nanti sampai berusia seratus tahun sekalipun, masih tetap Ayu."

"Tentu saja! Memang namaku Ayu Tapi Srikandi yang ini, kakang, kalau tadi tidak ada nasihat dari Raden Permadi, tentu sudah menjadi mangsa buaya putih!"

"Ah, sudahlah, tak mungkin menang aku berbantahan denganmu. Lihat itu, sudah terjadi perubahan, bukan?"

Parmad menunjuk ke arah pusaran air.

Ayu Puspa memandang dan ia mengangguk senang.

Air ulekan yang tadinya amat kuat dan tampak mengerikan itu, kini hanya merupakan pusaran air yang lemah dan biasa saja.

Biasa terjadi pada air sungai yang menikung tajam.

"Hemm, Kedung Srengenge kini tidak merupakan tempat angker lagi bagi para nelayan dan tukang perahu."

Ia berhenti sebentar, lalu memandang ke arah pohon randu alas yang tumbang, kemudian menoleh kepada Parmadi dan bertanya dengan suara penuh keheranan, kekaguman dan ingin tahu sekali.

"Akan tetapi, Kakang Parmadi, ketika tadi engkau meniup sulingmu secara aneh, kenapa pohon besar itu tiba-tiba tumbang?"

Terpaksa Parmadi berterus terang karena kiranya tidak mungkin membohongi gadis yang cerdik ini.

"Guruku mengajarkan aku meniup suling untuk mengusir setan yang biasa menggoda manusia. Pohon itu dihuni setan. Setelah aku meniup sulingku, dia tidak tahan, harus pergi dari sini dan untuk melampiaskan kemarahannya, dia menumbangkan pohon tempat tinggalnya itu."

"Bukan main! Kalau begitu, dia sengaja menumbangkan pohon itu ke arahmu, untuk menimpamu, kakang?"

Parmadi mengangguk.

"Hanya itu yang dapat dia lakukan terhadap manusia. Untung aku dapat menghindar sebelum pohon itu menimpaku."

"Aku tadi khawatir dan takut sekali kakang. Aku tidak melihat engkau menghindar. Kukira engkau tertimpa pohon."

Parmadi teringat betapa gadis itu tadi merangkulnya.

Masih terasa kehangatan tubuh yang lembut dan padat itu dan wajahnya menjadi kemerahan.

Laki-laki mana yang tidak akan terguncang hatinya kalau dirangkul ketat seorang gadis sejelita Ayu Puspa?

"Terima kasih atas perhatianmu, Ayu."

"Sudahlah, di antara kita tidak ada terima kasih-terima kasihan, bukan? Kita sudah menjadi sahabat dan karena itu kita perlu lebih mengetahui keadaan masing-masing. Mari duduk, kakang, agar lebih enak kita bicara."

Gadis itu duduk di atas batu besar dan Parmadi lalu duduk di depannya.

Sejenak mereka saling pandang.

Melihat sikap gadis itu demikian terbuka, tidak malumalu menatapnya penuh selidik, membayangkan kejujuran yang wajar, Parmadi juga merasa cepat akrab dengan Ayu Puspa.

"Nah, sekarang siapa yang akan menceritakan keadaan dirinya lebih dahulu,"

Kata Ayu.

"Kenapa kita harus saling menceritakan keadaan masing-masing?"

Tanya Parmadi.

"Lha, tentu saja! Tentu saja! Seorang sahabat harus mengetahui keadaan sahabatnya, kalau tidak begitu, perkenalan itu belum matang namanya dan mana bisa disebut sahabat kalau tidak tahu apa-anpa tentang sahabatnya?"

"Baiklah, kurasa engkau yang harus lebih dulu menceritakan keadaan dirimu karena engkau lebih muda dariku, Ayu."

"Wah, mana bisa begitu! Engkau laki-laki, kakang, dan sudah sepantasnya, bukan, kalau laki-laki itu harus selalu mengalah terhadap wanita? Apakah dalam mendahului menceritakan riwayat ini engkau sebagai laki-laki tidak mau mengalah terhadap aku?"

Gadis itu menegakkan kepalanya, membusungkan dadanya yang montok dan matanya berbinar-binar. Parmadi tertawa, tak berdaya menghadapi gadis yang pandai bicara dan pandai berdebat itu.

"Baiklah, akan tetapi engkau aka mengantuk mendengar cerita tentang diriku. Habis tidak ada apa-apanya yang menarik. Aku menjadi yatim piatu sejak usia sepuluh tahun...."

"Sama!"

Ayu memotong.

"Heh? Apanya yang sama?"

"Yatim piatunya!"

"Ah, begitukah? Aku girang sekali!"

Kata Parmadi.

"Apa?"

Ayu menteleng (memandang marah).

"Kau girang sekali mendengar aku sudah yatim piatu? Sadis kau!"

"Eh, bukan, Ayu. Bukan yatim piatu nya. Aku girang karena aku mempunyai sahabat senasib, jadi tidak menderita seorang diri."

"Huh, mementingkan diri sendiri itu namanya. Lanjutkan!"

"Mementingkan diri sendiri?"

Parmadi mengejar.

"Tentu saja. Kalau senang, mau dinikmati sendiri. Kalau susah, ingin mengajak orang lain. Apa namanya itu kalau bukan mementingkan diri sendiri? Hayo, lanjutkan ceritamu. Takkan ada habisnya kalau putar-putar begitu."

"Baiklah. Sampai di mana ceritaku tadi."

"Engkau yatim piatu."

"Oya, aku yatim piatu. Namaku Parmadi."

"Sudah tahu!"

"Hemmm oya, ketika itu aku tinggal di dusun Pakis, di lereng Gunung Lawu, setelah kedua orang tuaku meninggal, aku bekerja mengurus kuda milik demang di sana. Setelah aku berusia delapan belas, aku bertemu dengan guruku yang bernama Resi Tejo Wening dan aku hidup bersama guruku di puncak Gunung Lawu bersama guruku...."

"Sama!"

"Apanya?"

"Akupun tinggal bersama kakekku di puncak gunung! Bukan Gunung Lawu, akan tetapi Gunung Wilis!"

"Selama lima tahun aku tinggal bersama guruku di Puncak Lawu. Kemudian aku disuruh turun gunung dan aku melakukan perjalanan merantau. Nah, hari ini kebetulan perantauanku membawa sampai di sini, perahuku diseret pusaran air dan engkau menolongku lalu kita berkenalan dan sekarang kita duduk di atas batu bercakap-cakap".."

"Sudah tahu! Cuma begitu saja kisah tentang dirimu?"

"YA, hanya begitulah."

"Hemm, sama!"

Parmadi mengerutkan alisnya. Seorang pendengar cerita yang sama sekali tidak menyenangkan hati yang bercerita, celanya dalam hati.

"Sama apanya lagi?"

Dia bertanya, agak ketus.

"Sama tidak menariknya dengan cerita tentang aku."

"Aku tidak percaya. Cerita tentang dirimu pasti menarik hati sekali. Hayo veritakanlah, kini tiba giliranmu."

"Baik, dengarlah. Namaku kau sudah tahu. Usiaku sampai hari ini delapan belas tahun."

"Aku lebih tua lima tahun. Usiaku dua puluh tiga tahun!"

"Sejak usia sepuluh tahun aku ditinggal mati ayah ibuku. Aku lalu hidup bersama kakekku yang bernama Kyai Jayawijaya. Kakek juga menjadi guruku dan kami tinggal di Puncak Gunung Wilis sampai tiga bulan yang lalu. Kakek mengajak aku turun gunung dan tinggal di tepi bengawan ini sampai sekarang. Hari ini aku bermain-main di sini, melihat perahumu dibawa pusaran air, kulemparkan pengait dan kutarik ke tepi. Kau usir setan di randu alas dan kuusir buaya puti lalu kita duduk di sini bercakap-cakap..."

"Wah, ceritamu benar-benar kering!"

Parmadi mencela.

"Apalagi cerita tentang dirimu! Kering kerontang!"

Balas Ayu.

"Mending mendengar cerita tentang Srikandi, seperti Srikandi Belajar Memanah, Srikandi Mengejar Maling, dan sebagainya."

"Cerita tentang Raden Permadi lebih bagus lagi, seperti Permadi Merebut Puteri, Permadi Merampas Isteri Palgunadi dan lain-lain."

"Akan tetapi Permadi kan laki-laki gagah perkasa, satria utama arif bijaksawa!"

Parmadi membela tokoh yang namanya mirip dengan namanya sendiri itu.

"Srikandi juga wanita gagah perkasa, tidak gentar melawan siapa saja, termasuk laki-laki yang sombong dan mau menang sendiri, seperti engkau misalnya!"

Parmadi terbelalak dan melompat turun dari atas batu, berdiri tegak memandang gadis itu.

"Apa maksudmu? Engkau"engkau menantang aku?"

Tanyanya penasaran karena ucapan dan suara gadis itu terdengar semakin menggatalkan kepala dan memanaskan telinga. Ayu juga melompat turun dan berdiri berhadapan dengan pemuda itu, sikapnya menantang.

"Aku tidak menantang siapapun, akan tetapi kalau dianggap menantang, jangan dikira aku takut!"

Parmadi tertarik. Gadis ini sungguh luar biasa. Hatinya sekeras baja, kepalanya sekeras besi. Timbul keinginan hatinya untuk menguji sampai di mana kehebatan ilmu kanuragan yang dimiliki gadis ini.

"Baiklah. Engkau tidak takut, akupun tidak takut. Memang perkenalan tanpa pertandingan terasa hambar. Mengenal keadaan masing-masing termasuk kedigdayaannya, itu baru mematang-kan perkenalan. Mari, mari kita saling menguji sampai di mana kemampuan kita masing masing,"

Kata Parmadi.

"Baik! Aku sudah siap!"

Kata Ayu Puspa dan ia sudah membuat gerakan pembukaan yang indah dan gagah sekali.

Tubuhnya miring, kedua kaki ditekuk lututnya, tangan kiri diangkat ke atas punda dengan jari-jari terbuka melengkung, tangan kanan menyilang pusar dengan jari-jari terbuka pula.

"Mulailah!"

"Aku juga sudah siap. Mulailah lebih dulu!"

Kata Parmadi.

"Kau dulu!"

Bentak Ayu.

"Kau dulu!"

Kata Parmadi.

"Tidak, kau dulu!"

Ayu berkukuh. Hemm, bocah ini, segalanya tak mau kalah, pikir Parmadi.

"Baik, kau sambutlah seranganku ini!"

Dia lalu melangkah maju, tangan kirinya menampar ke arah pundak kanan Ayu.

Gadis itu dengan gerakan ringan dan gesit sekali sudah mengelak dengan merendahkan tubuh dan menggeser kaki ke samping, lalu dari samping kakinya yang mungil mencuat, menyambar sebagai tendangan kilat ke arah lambung Parmadi!

Parmadi dapat pula mengelak dengan kagum karena tendangan itu merupakan serangan balasan yang tepat, kuat dan cepat sekali.

Dia lalu membalas lagi dengan pukulan bertubi, menggunakan kedua tangannya, yang kanan menampar ke arah leher, yang kiri mencengkeram ke arah pundak.

Serangan ini juga cepat dan gerakannya mendatangkan angin tanda bahwa serangan didukung tenaga kuat.

Namun kembali Ayu memperlihatkan kelincahannya.

Ia dapat menghindarkan diri dari dua serangan itu dengan gerakan tubuhnya yang lentur, mengelak dengan indah sekaligus mencari posisi yang tepat mntuk melancarkan serangan balasan berupa tonjokan dengan tangan kanan terkepal ke arah ulu hati lawan sedangkan kembali kakinya menyusulkan tendangan yang cepat dan kuat sekali, yang dituju lutut lawan yang kalau mengenai sasaran dengan tepat tentu dapat membuat sambungan tulang terkilir.

Parmadi sekali ini tidak mengelak Dia ingin mengukur kekuatan gadis itu maka dia sengaja menangkis pukulan ke arah dadanya dan menangkis pula tendangan itu dengan kakinya yang bergerak dari samping.

Tentu saja dia membatasi tenaganya, karena dia tidak ingin membuat gadis itu malu, apalagi sampai cidera.

"Plakk! Dukkk...!!"

Parmadi merasaka betapa tenaga sakti gadis itu cukup kuat dan diamdiam dia merasa kagum.

Gadis ini, baik kecepatan, tenaga maupun keindahan permainan silatnya, jauh berada di atas kemampuan Muryani ketika dia meninggalkan Muryani kurang lebih enam tahun yang lalu!

Di lain pihak, Ayu Puspa menggigit bibir bawahnya.

Tangkisan pada tangan kanannya hanya membuat tangan itu terpental, akan tetapi ketika kakinya bertemu dengan kaki Parmadi beradu tulang betis, ia merasa tulang betisnya nyeri, kiut-miut rasanya seperti tulang betisnya itu bertemu dengan besi!

Ia menjadi penasaran dan marah.

"Heeiiiiittt!!"

Ia menyerang dan kini agaknya ia mempergunakan aji pukulan yang mengandung hawa sakti sepenuhnya sehingga angin yang dahsyat mendahului pukulan itu menerpa ke arah perut Parmadi!

Parmadi kini melawan dengan Aji Sunya Hasta (Tangan Kosong) dan ke manapun lawan menyerang, secara otomatis tangannya sudah menyambut dengan sentuhan lembut, bukan tangkisan yang menggunakan tenaga keras melawan keras.

Ayu Puspa terkejut bukan main, terkejut dan heran.

Semua pukulannya bertemu dengan tangan Parmadi seperti bertemu dengan kapas yang lembut, atau lebih tepat seperti bertemu dengan air saja.

Pukulannya itu "tenggelam"

Dan kehilangan tenaganya!

Namun, dasar ia seorang gadis yang berhati baja, ia semakin penasaran dan menyerang terus sehingga kalau ada orang biasa menonton pertandingan itu, tentu akan mengira bahwa ia yang mendesak lawan, karena ia yang terus-terusan menyerang.

"Hua-ha-ha-ha! Kalau sudah kalah maju terus, itu namanya nekat tapi bodoh! Ayu, mundurlah, orang ini bukan lawanmu, lebih pantas melawan aku!"

Mendengar ucapan itu, Ayu Puspa melompat ke belakang dan wajahnya berubah kemerahan.

Tadinya ia masih penasaran, akan tetapi setelah mendengar ucapan kakeknya ini, barulah ia sadar betul bahwa ia benar-benar bukan tandingan Parmadi dan bahwa sejak tadi pemuda itu selalu mengalah.

Sementara itu, Parmadi memandang kakek itu dengan kagum.

Seorang laki-laki berusia kurang lebih enam puluh lima tahun, bertubuh sedang, berwajah bersih tampan tanpa kumis atau jenggot, dan wajah itu tampak menarik karena cerah; dan gembira sekali, penuh senyum.

"Orang muda, mari kita main-main sebentar. Sambut seranganku ini!"

Orang tua itu menerjang ke depan, tangan kirinya menampar dan Parmadi merasa betapa ada angin yang amat dahsyat menyambar ke arahnya.

Dia maklum bahwa penyerangnya seorang yang sakti dan agaknya inilah kakek Ayu yang diceritakannya tadi.

Diapun cepat memainkan Aji Sunya Hasta dengan pengerahan kekuatan yang lebih besar.

"Plak-plak-plak". !"

Tiga pukulan berlurut-turut kakek itu ditangkisnya dengan telapak tangan dan kakek itu terkejut bukan main ketika merasa betapa serangannya seperti bertemu air ketika ditangkis tangan pemuda itu.

Dia mundur empat langkah, lalu berseru.

"Orang muda, kau sambutlah ini!"

Dan diapun mendorongkan kedua tangannya yang terbuka ke depan.

Parmadi maklum bahwa kakek itu menyerangnya dengan pukulan jarak jauh, mengandalkan tenaga sakti yang menyambar ke arahnya dengan amat kuat.

Diapun mendorongkan kedua tangan menyambut tentu saja dengan membatasi tenaga dan hanya menggunakan tenaga untuk bertahan, bukan menyerang karena sama sekali dia tidak ingin mencelakai kakek yang dia tahu hanya ingin mengujinya itu.

"Wuuuttt"desss".!"

Kakek itu mengeluarkan suara tawa kaget ketika dia terhuyung ke belakang, terdorong oleh tenaga yang lembut namun kuat bukan main.

"Lhadalah....! Aku berani bertaruh bahwa andika tentu keturunan dari Sang Resi Tejo Wening!"

Kata kakek itu sambil membelalakkan matanya.

"Benar, eyang (kakek)! Kakang Parmadi ini murid Resi Tejo Wening!"

Kata Ayu Puspa.

"Apa?"

Kakek itu terbelalak memandang kepada Parmadi.

"Namanya Permadi? Raden Janoko atau Arjuna?"

Parmadi mau tidak mau tersenyum, Kakek dan cucunya ini sama saja, seperti tidak bisa serius.

"Bukan, paman. Nama saya Parmadi dan bagaimana paman dapat menduga bahwa saya mempunyai hubungan dengan Eyang Resi Tejo Wening? "Ha-ha, mudah saja. Siapa lagi kalau bukan Kakang Resi Tejo Wening yang mampu menurunkan kesaktian seperti itu kepadamu?"

"Kalau begitu, paman...."

"Hei, Kakang Parmadi! Apa kaukira engkau ini sudah tua betul? Usiamu hanya berselisih lima tahun dariku. Sepantasnya engkau menyebut eyang kepada kukekku!"

Tiba-tiba Ayu memotong. Parmadi menjadi bingung dan salah tingkah.

"Ha-ha!"

Kakek itu tertawa.

"Ayu benar, lebih menyenangkan hatinya kalau andika menyebut eyang padaku."

"Kalau engkau menyebut paman kepada kakekku, akupun akan menyebut pakde (uwa) padamu!"

Kata lagi Ayu. Parmadi tersenyum.

"Baiklah, aku akan menyebut eyang kepada kakekmu. Eyang, kalau begitu eyang tentu telah mengenal guru saya."

"Mengenal Kakang Resi Tejo Wening? Ha-ha-ha, dia itu penolongku, dan gurumu yang membuka mataku melihat kenyataan dunia dan kehidupan. Kalau aku tidak bertemu dia, tentu aku masih terus berlomba dengan semua orang untuk mengejar kesenangan melalui kedudukan, harta, dan wanita. Dialah yang menganjurkan agar aku meninggalkan semua kesia-siaan itu dan mengasingkan diri di puncak Gunung Wilis. Dia itu boleh dibilang guruku, Parmadi, guru olah batin. Akan tetapi, yang mengherankan hatiku, mengapa kalian tadi berkelahi? Ayu, kenapa tadi engkau bertanding melawan Parmadi?"

Ayu cemberut dan mengerling ke arah Parmadi.

"Habis dia sih...!"

Katanya manja, bibirnya cemberut akan tetapi malah menjadi manis.

"Maaf, eyang. Ayu".. ia tadi menantang, terpaksa saya layani bertanding."

"Bohong! Tidak, eyang. Dia yang menantang. Malah katanya, perkenalan tanpa bertanding rasanya hambar. Memangnya aku takut?"

"Ha-ha-ha-ha! Maklumlah, Parmadi. Ayu memang begitu, kepala batu, hatinya keras, tukang membantah dan berdebat, seperti aku dulu! Ha-ha-ha, seperti aku dulu. Akan tetapi hatinya tidak seperti aku, hatinya baik sekali."

"Saya tahu, eyang, dan saya kagum dan senang sekali melihat Ayu yang terbuka, jujur, polos, biarpun berwatak keras, namun hatinya selembut kapas dan baik sekali. Ia bijaksana dan gagah. Tadipun ketika perahu saya terbawa pusaran air, Ayu yang menolong saya dengan mengait perahu saya dan menariknya dari seretan pusaran air."

"Ha-ha-ha, sudah beberapa kali cucuku ini menyelamatkan tukang perahu yang terancam bahaya di Kedung Srengeng juga dengan cara yang sama."

"Akan tetapi sekali ini aku kecelik eyang. Kakang Parmadi mempermainkan aku. Tidak tahunya dia seorang yang sakti mandraguna, kalau dia kehendaki, tentu dapat lolos dari pusaran air. Ketahuilah, eyang. Tadi dengan suara sulingnya, eh.... dia dijuluki Seruling Gading, eyang. Dengan seruling gadingnya itu dia memainkan lagu aneh dan setan penghuni randu alas itu diusirnya. Sebelum minggat setan itu menumbangkan pohon randu alas itu, hampir saja menimpa Kakang Parmadi. Dan muncul buaya putih raksasa. Aku melukai matanya dengan patremku dan buaya putih itu lari ke air dan lihat sekarang pusaran air itu kecil dan lemah saja, tidak ada bahaya lagi mengancam tukang perahu yang lewat Kedung Srengeng."

Parmadi dengan heran melihat kakek itu tampak terkejut bukan main. Mata kakek itu terbelalak lebar dan wajahnya yang selalu cerah gembira itu tampak hawatir.

"Apa katamu? Benarkah itu, Parmadi, bahwa andika telah mengusir penunggu kedung yang berada di dalam randu alas, dan Ayu telah melukai mata seekor buaya putih raksasa?"

"Eyang, buaya itu kebal sekali. Serangan patremku tidak mampu menembus kulitnya. Untung Kakang Parmadi mengigatkan aku agar menyerang matanya dan aku berhasil melukai matanya sehingga dia melarikan diri ke sungai,"

Kata Ayu.

"Benar apa yang dikatakan Ayu, eyang. Melihat bahwa randu alas ini ada penghuninya yang suka mengganggu orang, maka terpaksa saya menggunakan suara seruling gading untuk mengusirnya. Kemudian muncul buaya putih raksasa itu dan Ayu segera menandinginya dengan gagah berani."

"Aduh celaka! Celaka sekali ini!"

Kakek itu mengeluh dan mengangkat kedua tangan ke atas.

"Eh, eyang ini kenapakah? Apanya yang celaka? Bukan kita, melainkan setan penghuni randu alas dan buaya putih sialan itu yang celaka!"

Kata Ayu Puspa "Eyang, ada apakah? Harap eyang suka menjelaskan, mengapa eyang merasa khawatir?"

Tanya pula Parmadi dengan heran.

Kakek itu seorang sakti mandraguna, kenapa tampak demikian ketakutan?

"Oo, kalian tidak tahu.

Akupun baru saja mendengar dan belum sempat menceritakan kepada Ayu.

Lihat di sana itu!"

Dia menuding ke arah pohon randu alas.

Di dekat batang pohon yang tinggal beberapa jengkal tingginya karena tumbang tadi tampak tumpukan abu meninggi dan ada pula beberapa buah anglo kecil yang biasa dipergunakan orang untuk kutu (membakar kemenyan).

Juga terdapat tumpukan bunga-bunga yang telah mernbusuk.

Jelas bahwa tempat itu dikeramatkan orang dan dipuja-puja dengan kembang-menyan.

Melihat ini, Parmadi tersenyum Sulit dipercaya bahwa kakek yang sakti mandraguna ini, bahkan pernah mendapat bimbingan dalam hal olah batin dari Resi Tejo Wening, menjadi seorang yang takhyul dan takut kepada segala macam roh jahat!

"Hal itu sudah biasa, eyang.

Justeru karena dikeramatkan orang dan dipuja-puja, dikutuki, maka roh jahat yang menghuni pohon randu alas itu menjadi semakin kuat.

Tentu para penduduk dusun yang melakukannya."

Kyai Jayawijaya menggeleng kepalauya kuat-kuat.

"Bukan, bukan para penduduk dusun, akan tetapi sebuah perkumpulan gerombolan yang berbahaya. Tadinya aku mendengar dari penduduk dekat sini bahwa ada segerombolan orang aneh yang sering melakukan pemujaan di bawah pohon randu alas, terutama pada malam Jumat dan Selasa Kliwon. Karena kabarnya pernah ada lima orang penduduk dusun yang berani mengintai gerombolan itu ditemukan tewas di sini dan tubuh mereka luka-luka seperti diserang binatang buas, maka aku menjadi penasaran dan melakukan penyelidikan sendiri. Ketika aku mengintai dan melakukan penyelidikan, aku mendapat kenyataan bahwa mereka adalah gerombolan yang menamakan diri mereka Warga Bajul Petak (Warga Buaya Putih) dan mereka menyembah buaya putih dan randu alas yang tumbuh di sini. Mereka mempraktekkan ilmu-ilmu hitam yang amat berbahaya dan jumlah merekapun tidak kurang dari lima puluh orang, dipimpin ketua mereka yang bernama Bajul Sengoro yang kabarnya sakti mandraguna dan ahli sihir dan ilmu hitam yang berbahaya. Menurut penyelidikanku, gerombolan itu suka berkeliaran di sepanjang Bengawan Solo, akan tetapi sarang mereka adalah di daerah Pegunungan Kendeng tak jauh dari Randu Blatung. Sekarang, Parmadi telah mernbikin bikin randu alas tempat pemujaan mereka itu tumbang, bahkan Ayu telah melukai mata buaya putih raksasa. Hal ini pasti, akan menimbulkan akibat. Warga Bajul Petak pasti tidak akan tinggal diam saja tempat pujaan mereka dirusak dan bahkan makhluk pujaan mereka dilukai."

"Aih, eyang ini. Begitu saja mengapa hawatir? Kalau memang mereka datang hendak membalas dendam, di sini ada kita bertiga yang akan menghancurkan para pemuja setan dan iblis itu!"

Kata Ayu dengan sikap gagah.

"Benar, eyang. Penunggu randu alas dan buaya putih itu jelas tidak benar. Mereka mengganggu orang-orang berperahu yang lewat di sini maka sudah sepatutnya kalau mereka itu ditentang dan diusir dari tempat ini. Kalau ada perkumpulan gerombolan pemuja randu alas dan buaya putih hendak menuntut balas, berarti mereka itu jahat pula dan saya siap membantu eyang untuk menghadapi mereka,"

Kata Parmadi dengan tenang. Kyai Jayawijaya yang biasanya selalu tersenyum gembira itu kini memaksa diri tersenyum, walaupun sinar matanya masih membayangkan kegelisahan hati.

"Parmadi dan Ayu, ketahuilah bahwa yang tua ini sama sekali tidak merasa takut dan khawatir. Aku percaya bahwa kita akan mampu menghadapi tantangan dari manapun datangnya, apalagi ada Parmadi di sini. Akan tetapi bukan itu yang kukhawatirkan. Aku teringat akan nasihat Kakang Resi Tejo Wening. Beliau yang mengajarku mendapatkan ketenangan hidup sehingga aku mengasingkan diri selama lima tahun di Puncak Gunung Wilis lalu pindah ke tempat sunyi di Lembah Bengawan Solo ini. Semata-mata untuk menikmati kedamaian dan menjauhkan diri dari permusuhan yang pernah kulakukan dulu sebagai jagoan. Siapa kira, hari ini aku malah menyebar bibit permusuhan dengan Warga Bajul Petak yang banyak jumlahnya. Apakah aku harus terpaksa mengandalkan kedigdayaan lagi dan membunuh banyak orang? Ah"

Mengerikan sekali!"

"Maaf, eyang, kalau perbuatan saya dan Ayu membuat eyang berduka karena merasa terpaksa bermusuhan dengan Warga Bajul Petak yang hendak membalas dendam. Akan tetapi saya juga memenuhi ajaran eyang guru Resi Tejo Wening ketika saya menumbangkan randu alas dan ketika kami melawan buaya putih, hal itu kami lakukan bukan semata-mata karena kami membenci mereka. Akan tetapi karena jelas bahwa penghuni randu alas dan buaya putih itu suka menganggu orang berperahu yang lewat di sini. Yang kami tentang adalah perbuatan mereka yang jahat bukan karena membenci orangya. Demikian pula, kalau gerombolan Warga Bajul Petak itu datang menyerang kita, sudah menjadi kewajiban kita untuk menentang mereka. Tugas kita adalah menundukkan mereka dan sedapat mungkin menyadarkan mereka dari perbuatan mereka yang jahat. Demikianlah satu di antara pelajaran yang saya terima dari eyang guru Resi Tejo Wening."

"Andika benar, Parmadi,"

Kata kakek itu sambil mengangguk-angguk dan kini wajahnya menjadi cerah kembali.

"Awas".. !!"

Tiba-tiba Ayu Puspa menjerit.

Kyai Jayawijaya dan Parmadi juga telah melihat luncuran beberapa buah benda hitam ke arah mereka.

Tiga orang ini cepat melompat jauh berlindung ke belakang sekumpulan batu besar.

"Darr-darr-darr-darrr""!!"

Asap mengepul tebal menyelimuti tempat itu.

Alat peledak itu tidak mengenai tiga orang yang sudah berlindung di balik batu-batu besar.

Setelah asap membubung ke atas dan keadaan di situ terang kembali, Kyai Jayawijaya, Parmadi dan Ayu Puspa melihat segerombolan orang yang jumlahnya kurang lebih dua puluh orang berada situ, bergerombol dekat pohon randu alas yang telah tumbang.

Ayu Puspa memandang dengan mata terbelalak.

Di antara dua puluh lebih orang yang berwajah bengis itu, terdapat empat "makhluk"

Aneh yang bertubuh manusia akan tetapi kepalanya kepala buaya!

Mata mereka mencorong dan moncongnya kadang bergerak terbuka memperlihatkan gigi-gigi runcing.

Mereka semua berpakaian serba putih.

Yang kepalanya kepala manusia biasa mengenakan pengikat kepala berupa kain putih pula dan di tangan mereka tampak senjata seperti golok, akan tetapi golok itu bergigi seperti ekor buaya!

Mereka kini mendekati pohon randu alas yang telah tumbang, mengelilingi dan bicara dengan sikap marah.

Ayu tidak dapat menahan diri lagi.

Ia melompat keluar dari balik batu dan membentak.

"Hei, gerombolan pemuja setan dan iblis yang terkutuk! Tempat pemujaan kalian telah kami hancurkan. Iblis yang kalian puja sudah minggat! Kami nasihatkan agar kalian kembali ke jalan benar, baru kami akan mengampuni kalian!"

Parmadi dan Kyai Jayawijaya terpaksa berlompatan keluar karena gadis itu sudah memperlihatkan diri.

Gerombolan orang-orang itu terkejut sekali dan semua memutar tubuh menengok dan menghadapi tiga orang itu.

Seorang di antara mereka yang berkepala buaya itu tiba-tiba melemparkan tiga buah benda hitam sebesar kepalan tangan ke arah Parmadi, Ayu dan kakeknya.

Maklum betapa bahayanya alat peledak yang dilemparkan itu, Aya dan kakeknya cepat mengelak sehingga dua buah benda itu meluncur lewat.

Akan tetapi Parmadi cepat menyambar dan menangkap benda itu dengan tangan kirinya lalu melemparkan kembali kepada penyerangnya.

Terdengar tiga kali ledakan, dua jauh di belakang Ayu dan yang sebuah lagi meledak di tengah-tengah kumpulan gerombolan itu.

Asap membubung tinggi dan tiga orang anggauta gerombolan roboh!

Gegerlah gerombolan itu.

Mereka marah sekali.

Didahului empat orang berkepala buaya itu, mereka segera menyerbu dan menyerang Parmadi, Ayu Puspa dan Kyai Jayawijaya, menggunakan golok bergigi mereka.

Gerakan mereka rata-rata tangkas dan bertenaga, terutama empat orang berkepala buaya itu.

Agaknya mereka memandang rendah kepada Ayu yang hanya seorang gadis muda, maka empat orang berkepala buaya itu berpencar, dua orang mengeroyok Parmadi dan dua orang lagi mengeroyok Kyai Jayawijaya!

Selain dikeroyok dua orang berkepala buaya, Parmadi dan kakek itu masih dikeroyok oleh banyak anak buah gerombolan yang ratarata ganas.

Sedangkan Ayu dikepung dan dikeroyok oleh delapan orang anak buah gerombolan yang wajah dan sepak terjangnya beringas dan menyeramkan!

Terjadilah perkelahian yang amat seru.

Parmadi yang dikeroyok sembilan orang termasuk dua orang berkepala buaya, bergerak lincah dan dengan kedua tangan dia menangkisi golokgolok bergigi itu dan membagi tamparan dan tendangan yang merobohkan beberapa orang pengeroyok.

Dia membatasi tenaganya karena tidak ingin melakukan pembunuhan.

Demikian pula Kyai Jayawijaya.

Kakek perkasa ini agaknya juga berpendapat sama dengan Parmadi.

Dia merobohkan beberapa orang tanpa membunuh mereka.

Dan ternyata kakek ini memang gagah perkasa.

Hal ini tidaklah mengherankan karena sesungguhnya Kyai Jayawijaya mewarisi aji kesaktian peninggalan mendiang Sunan Kalijogo.

Tamparan tangan dan tendangan kakinya seperti geledek menyambar.

Yang mengamuk hebat adalah Ayu Puspa.

Gadis ini lain dengan kakeknya dan Parmadi.

Ia marah melihat ulah gerombolan yang mengeroyoknya.

Mereka tidak menggunakan golok, melainkan kedua tangan mereka seperti berebut hendak menangkapnya, dengan terkamanterkaman yang tidak sopan.

Agaknya mereka itu seperti berlomba untuk dapat mencengkeram dan mendekapnya dan mulut mereka menyeringai menjemukan.

Maka Ayu mengerahkan tenaganya dan setiap kali kaki atau tangannya menyambar mengenai sasaran, tentu ada tulang patah dan orangnya roboh terpelanting.

Selagi ramai-ramainya pertempuran berlangsung, tiba-tiba terdengar suara melengking tinggi nyaring memekakkan telinga menggetarkan jantung.

Kemudian berkelebat bayangan putih dan muncullah seorang berkepala buaya lain.

Orang bertubuh tinggi besar, pakaiannya juga putih dan bukan hanya kepala buaya yang berkulit putih, akan tetapi kulit tangan dan kaki orang itupun putih, bahkan rambutnya juga putih agak kekuningan.

Dia adalah seorang bule!

Gerakannya cepat bukan main.

Tahu-tahu dia sudah melompat dekat Ayu yang masih sibuk menghadapi pengeroyokan banyak orang.

Tangan kiri orang berkepala buaya yang bule itu menyambar ke arah muka Ayu.

Jari-jari tangan itu besar dan telapak tangannya lebar.

Ayu terkejut bukan main ketika tahu-tahu ada tangan lebar sudah mendekati mukanya.

Ia mencium bau harum seperti cendana yang membuat kepalanya terasa pening.

Cepat ia mengge.rakkan tangan kanan menangkis sambil mengerahkan tenaga saktinya.

"Wuuuttt"

Dukkk!"

Tangkisannya bertemu dengan lengan yang lunak dan lentur seperti karet.

Ayu terkejut dan sebelum ia dapat menghindarkan diri, tahu-tahu pinggangnya yang ramping telah dilibat lengan kanan orang bule berkepala buaya itu.

Ia meronta, akan tetapi orang itu sudah melompat sambil membawa tubuhnya dan terdengar air berjebur, air muncrat ke atas ketika Ayu dibawa terjun ke tengah Kedung Srengenge dan tubuh mereka berdua terseret pusaran air, atau lebih tepat lagi, orang bule itu telah menyelam sambil membawa tubuh Ayu Puspa!

"Ayu"" !"

Parmadi dan Kyai Jayawijaya berteriak hampir berbareng ketika mereka melihat kejadian itu.

Mereka berdua mengamuk dan para pengeroyok mereka mundur lalu mereka semua berlompatan terjun ke Kedung Srengenge, juga mereka yang terluka dibawa terjun dan mereka semua menyelam dan tidak muncul kembali!

Parmadi dan Kyai Jayawijaya berlari ke tepi kedung sungai itu, tertegun memandang ke tengah kedung dan muka pucat.

Semua itu rasanya seperti dalam mimpi.

Bagaimana mungkin Ayu diseret masuk ke dalam kedung?

Dan mereka semua tadi, bagaimana mereka dapat terjun dan lenyap dalam air seolah-olah mereka semua itu tadi bukan manusia melainkan segerombolan buaya?

Dua orang laki-laki itu berdiri di tepi sungai dengan bingung dan akhirnya Kyai Jayawijaya membanting kaki kanannya ke atas tanah dengan hati gundah.

"Mereka itu iblis, bukan manusia! Ah". sudah terasa olehku bahwa hal ini tentu berakibat buruk. Ayu, cucuku.... ?"

"Eyang, saya tidak percaya kalau mereka itu setan. Mereka tentu juga manusia biasa seperti kita. Tadi telah saya lihat dengan jelas bahwa kepala buaya itu hanyalah sebuah topeng yang menutup kepala mereka dan beberapa orang dapat saya robohkan dengan tamparan. Mereka itu manusia biasa, eyang, bukan iblis."

"Kalau bukan iblis, bagaimana mereka semua dapat lenyap dalam air kedung ini? Lalu bagaimana dengan cucuku Ayu?"

"Jangan khawatir, eyang. Kalau mereka itu sebagai manusia-manusia biasa dapat menyelam dan lenyap, maka saya kira sayapun dapat. Saya akan menyelidiki dasar kedung ini, pasti ada rahasianya, eyang."

"Ah, mungkin andika benar, Parmadi. Akan tetapi sayang, aku sendiri tidak pandai berenang, kalau saya terjun ke air tentu akan tenggelam."

"Biar saya saja yang melakukan penyelidikan, eyang."

Setelah berkata demikian, Parmadi lalu melompat ke dalam sungai.

Untung baginya bahwa ketika dia masih kanak-kanak, dia sering bermain-main di air sehingga biarpun bukan seorang ahli yang pandai, dia dapat berenang dan menyelam.

Apalagi dia telah melatih pernapasan sehingga dia dapat bertahan agak lama di dalam air.

Dengan gerakan kaki tangannya, dia menyelam dan membuka mata melihat ke sekeliling kedung itu.

Pusaran air menariknya, akan tetapi tidak berapa kuat dan ketika dia menyelidiki ke sebelah kiri, hatinya berdebar girang dan tegang karena seperti yang telah diperkirakannya, di bagian kiri kedung itu terdapat sebuah guha dalam air yang cukup lebar.

Tak salah lagi, pikirnya.

Mereka tentu menghilang lewat lubang guha itu!

Parmadi cepat meluncur memasuki guha yang gelap pekat.

Dia meraba-raba dan maju terus.

Tak lama kemudian dia melihat sinar terang di, depan dan ke sanalah dia berenang.

Ketika dia muncul di permukaan air, ternyata dia berada di dalam sungai bawah tanah yang merupakan ruangan yang luas dan sinar terang tadi ternyata adalah sinar obor-obor yang banyak terdapat di ruangan itu.

Dengan hati-hati, setelah melihat bahwa di daratan bawah tanah itu tidak tampak ada orang, Parmadi lalu berenang ke tepi dan mendarat.

Tampak banyak tapak kaki di situ yang menuju ke depan sana.

Terowongan sungai bawah tanah itu ternyata panjang juga dan di depan sana masih tampak sinar terang dan terdengar gemuruh suara orang banyak.

Parmadi cepat menyelinap di antara batu-batu dan bergerak maju.

Di sebuah tikungan dia mengintai dan melihat betapa di tikungan itu terdapat sebuah ruangan yang luas, diterangi oborobor dan puluhan orang yang tadi mengeroyok dia, Kyai Jayawijaya dan Ayu berkumpul di situ.

Orang-orang itu sibuk.

Ada yang mengganti pakaian yang basah kuyup dengan pakaian kering, ada yang sedang menolong kawan-kawan yang tadi terluka.

Akan tetapi Parmadi tidak melihat Ayu di situ.

Juga orang berkepala buaya yang kulitnya bule itu tidak tampak.

Dia menjadi penasaran dan cepat dia masuk ke dalam air, menyelam dan meluncur dalam air melewati ruangan di mana para anak buah gerombolan itu berkumpul.

Setelah ruangan itu dia lewati, dia muncul di permukaan air lagi dan tibalah dia di sebuah ruangan lain yang tidak seluas ruangan pertama.

Akan tetapi jantungnya berdebar tegang ketika dia melihat apa yang tampak di bawah sinar penerangan obor-obor yang tertancap di dinding ruangan itu.

Ayu rebah telentang di atas lantai ruangan itu dengan kedua tangan dan kaki terbelenggu.

Yang membuat Parmad mengepal tinju dengan marah adalah melihat keadaan gadis itu yang amat menyedihkan.

Gelung rambutnya terlepa; sehingga rambut yang panjang hitam itu terurai, sebagian menutupi dadanya yang hampir telanjang karena letak pakaiannya sudah awut-awutan.

Agaknya gadis itu tadi meronta dan melawan sehingga pakaiannya kacau dan ia berada dalam keadaan setengah telanjang!

Di sudut ruangan itu tampak buaya putih raksasa yang tadi dilukai matanya oleh Ayu.

Buaya itu menelungkup, putih panjang, dan mata kirinya masih luka berdarah dan terpejam.

Dan di depan buaya putih itu, duduk berlutut seorang laki-laki bule yang kepalanya tertutup topeng kepala buaya.

Dari bawah topeng, di belakang leher tampak tersembul rambut orang itu yang berwarna putih kekuningan.

Parmadi mendekat, menyelinap di antara batu-batu sungai yang berada di tepi dan di luar ruangan itu.

Dia melihat laki-laki itu dengan suaranya yang parau dan dalam berkata-kata kepada buaya putih raksasa.

"Duh rama Bajul Petak, maafkan saya dan anak buah yang terlambat datang hingga tidak dapat menghindarkan rama dari malapetaka ini, terluka parah. Akan tetapi kesalahan kami itu telah kami tebus, beberapa orang anak buah kami terluka. Harap rama legakan hati karena saya telah berhasil menawan perawan yang telah melukai mata rama. Sekarang perawan itu berada di sini, saya serahkan kepada rama agar rama dapat bersenang-senang dan membalas dendam."

Setelah berkata demikian, orang bule itu lalu menyembah dan keluar dari ruangan itu agaknya hendak pergi ke ruangan di mana anak buahnya berkumpul, meninggalkan buaya putih raksasa itu berdua saja dengan Ayu!

Parmadi siap siaga.

Dia menyelinap semakin dekat, siap melindungi Ayu yang agaknya akan dikorbankan, kepada buaya putih, menjadi mangsanya!

Bergidik dia membayangkan tubuh yang denok mulus itu dikoyak-koyak moncong buaya yang lebar, lalu ditelannya satu demi satu potongan daging-daging yang berdarah-darah!

Parmadi sudah siap dengan sebuah batu runcing yang pasti akan disambitkan ke arah mata kanan buaya itu yang masih sehat.

Dan dia yakin bahwa sambitannya pasti akan mengenai sasaran.

Maka, Parmadi masih tenang saja ketika buaya putih raksasa itu mulai menggerakkan keempat kakinya menghampiri tubuh Ayu.

Gadis itu terbelalak ketakutan.

Parmadi dapat memakluminya.

Hati siapakah yang tidak akan merasa takut dan ngeri melihat binatang buas itu merayap menghampiri dirinya yang terbelenggu kaki tangannya?

Kini buaya putih itu sudah tiba didekatnya dan Parmadi tertegun.

Binatang itu tidak membuat gerakan untuk menyeing Ayu, baik dengan moncongnya maupun dengan ekornya!

Mata yang tinggal satu itu menatap tubuh Ayu dan mengeluarkan sinar mencorong.

Ekornya bergerak-gerak dan buaya itu dengan gerakan lambat menyambar ujung kain gadis itu, merenggut kain itu sehingga terlepas dari tubuh Ayu Puspa.

"Aaiiiiiihhhh"" !"

Ayu Puspa menjerit dengan suara melengking dan pada saat itu, Parmadi mengayun tangannya. Batu runcing itu menyambar, tepat mengenai mata kiri buaya putih itu.

"Grottt.... !"

Darah muncrat dan buaya putih itu terpelanting.

Parmadi cepat melompat, menutupkan kain pada tubuh Ayu.

Sebelum memondong dan membawanya melompat, menjauhi buaya putih lalu dia memutus tali pengikat kaki tangan gadis itu.

Dengan isak tertahan Ayu lalu membereskan pakaiannya sambil menonton apa yang terjadi di depan matanya.

Parmadi marah sekali.

Dasar binatang jadi-jadian yang telah dirasuki iblis!

Buaya putih raksasa itu bukan hanya buas akan tetapi juga memiliki gairah nafsu yang tidak wajar, seperti seorang laki-laki yang berwatak keji dan cabul.

Binatang itu kini mengamuk.

Kedua matanya telah buta dan dia lalu mengamuk dengan ekornya, menghantam ke sana-sini, moncongnya juga menyerang secara membabi-buta, sambil mengeluarkan gerengan dan dengus aneh.

Parmadi melompat mendekat dan setelah mendapat kesempatan, dia menangkap ujung ekor buaya itu dengan kedua tangannya mengerahkan tenaganya dan mengangkat tubuh buaya yang amat berat itu lalu membantingkan kepala buaya itu pas.

lantai batu yang keras.

"Wuuuttt"blarrr".!!"

Kepala binatang jadi-jadian itu pecah dan binatang itu tewas seketika.

Parmadi menoleh dan menghampiri Ayu Puspa yang kini sudah merapikan pakaiannya yang robek di sana-sini.

Melihat pemuda yang menyelamatkannya dari maut itu telah dapat membunuh binatang buas itu, saking girang dan terharu hatinya Ayu menyambut Parmadi dengan kedua lengan terpentang dan ia pun merangkul pemuda itu sambil terisak isak.

"Kakang".!"

Jantung Parmadi berdebar. Sudah dua kali gadis ini merangkulnya seperti itu Diapun mengelus rambut kepala yang terurai itu.

"Sudah, tenanglah, Ayu. Buaya laknat itu telah mati. Akan tetapi para pemujanya itu masih mengancam kita."

Pada saat itu terdengar gerengan yang menggetarkan seluruh ruangan itu.

Parmadi dan Ayu cepat memutar tubuh dan mereka melihat manusia berkepala buaya yang kulitnya bule telah berdiri di situ.

Sepasang mata di balik lubang topeng itu mencorong penuh kemarahan.

Dia menoleh ke arah bangkai buaya putih yang telentang dengan kepala pecah, lalu menoleh kepada Parmadi dan Ayu yang kini saling melepaskan rangkulan.

Parmadi meraba pinggangnya.

Dia teringat bahwa mereka berdua menghadapi bahaya padahal Ayu tidak memegang senjata lagi.

Ia teringat akan patrem pemberian Muryani dahulu yang selalu berada di ikat pinggangnya.

Diambilnya patrem itu dan diserahkannya kepada Ayu Puspa.

(Lanjut ke

Jilid 20) Seruling Gading (Seri ke 02 -Serial Pecut Sakti Bajrakirana) Karya". Asmaraman S. Kho Ping Hoo

Jilid 20 Gadis itu menerima patrem itu de;an girang sekali.

"Kau pergunakan ini untuk membela diri,"

Bisik Parmadi dan Ayu mengangguk, siap menghadapi segala kemungkinan yang akan menimpanya.

"Aarrgghhh...! Engkau yang telah memunuh Rama Bajul Petak?"

Terdengar orang bule itu bertanya dengan suara menggereng menyeramkan.

"Benar, akulah yang membunuh binatang buas pengganggu manusia itu. Juga aku yang telah mengusir lelembut (setan) pujaan kalian yang menghuni randu alas di tepi sungai."

Parmadi sengaja mengakui hal ini dengan maksud agar semua kemarahan dan dendam ditumpahkan kepaanya, bukan kepada Ayu.

"Babo-babo, keparat! Engkau sudah bosan hidup! Katakan siapa namamu agar jangan engkau mati tanpa nama!"

"Namaku? Orang menyebutku Seruling Gading, Bajul Sengoro,"

Jawab Parmadi.

"Engkau tahu namaku?"

Orang bule itu membentak.

"Siapa tidak mengenal Bajul Sengoro ketua Gerombolan Warga Bajul Petak yang tersesat, penyembah setan dan iblis, pengganggu manusia untuk memuaskan nafsu rendah yang keji. Sekarang Bajul Peta (Buaya Putih) sudah mati, juga randu alas telah tumbang. Sebaiknya engkau membubarkan gerombolanmu dan selanjutnya menebus semua dosamu dengan hidup yang baik dan benar, bermanfaat bagi manusia dan dunia,"

Kata Parmadi dengan sikap tenang namun matanya bersinar seperti kilat dan berwibawa sekali.

"Jahanam keparat! Engkau telah berani menentang Bajul Sengoro, berarti engkau harus mati!"

Berkata demikian orang itu menggunakan kedua tangannya untuk mencopot kepala buaya putih yang menutupi kepala dan mukanya itu.

Tentu hal ini dia lakukan karena dia maklum bahwa sekali ini dia menghadapi seoran lawan tangguh dan amat tidak leluasa baginya berkelahi menggunakan kedok kepala buaya itu.

Kini dia berhadapan dengan Parmadi dan sepasang matanya mencorong menatap wajah pemuda itu.

Parmadi juga memandang penuh perhatian.

Wajah orang itu menyeramkan.

Sukar ditaksir berapa usianya, yang jelas belum tua sekali.

Sebetulnya bentuk wajah itu cukup tampan, akan tetapi segalanya serba putih.

Rambutnya, kumis dan jenggotnya yang pendek, alisnya, bahkan bola matanya.

Semuanya putih, putih kekuningan sehingga tampak lucu dan juga menyeramkan.

Parmadi teringat akan bepita yang pernah didengarnya tentang orang Kumpeni Belanda yang kini berada di Jayakarta.

Kata orang, orang Belanda juga bule seperti ini.

"Hemm, kiranya Bajul Sengoro itu seorang Belanda? Pantas andika memimpin gerombolan penjahat. Sudah kudengar bahwa Bangsa Belanda itu jahat, hendak rnenguasai tanah air dan bangsa kami!"

Kata Parmadi.

"Ngawur!"

Bajul Sengoro membentak marah.

"Aku memang bule, akan tetapi aku seorang Jawa, bukan Belanda. Engkau malah berani menghinaku! Terimalah kematianmu!"

Orang bule itu berkemak-kemik membaca mantera, lalu kedua tangannya yang terbuka mendorong ke arah Parmadi sambil mulutnya mengeluarkan bentakan yang menyeramkan.

"Aaarrgghhhh".. !!"

Tampak asap hitam terbawa serangkum angin yang dahsyat menyambar ke arah Parmadi. Pemuda ini hanya melipat kedua lengan di depan dada, menyambut serangan angin berasap hitam itu dengan sikap tenang.

"Wuuussshhhh". !"

Asap dan angin itu menyambar lewat tubuhnya seperti angin lalu biasa saja, hanya mengibarkan ujung pakaian dan rambutnya.

Melihat ini, Bajul Sengoro terbelala Matanya mencorong seperti mata harimau di dalam gelap, penuh rasa keheranan, penasaran dan kemarahan.

Bagaimana mungkin ini?

Kalau pemuda itu menghindarkan diri dengan mengelak atau menangkis serangannya tadi, dia masih dapat mengerti.

Akan tetapi pernuda lawannya itu sama sekali tidak mengelak atau menangkis, melainkan menyambut serangannya begitu saja dan serangannya itu tidak berbekas apa-apa!

Padahal serangannya tadi mengandung kekuatan sihir yang dapat merobohkan seorang lawan yang sakti sekalipun!

Bajul Sengoro mengeluarkan pekik melengking dan ini merupakan isyarat bagi semua anak buahnya karena segera bermunculan anak buahnya yang tinggal empat belas orang karena sebagian tadi sudah roboh terluka oleh Parmadi dan Kyai Jayawijaya, bahkan ada dua orang yang tewas di tangan Ayu Puspa.

Melihat empat belas orang ini berlompatan memasuki ruangan bawah tanah yang cukup luas itu, Ayu Puspa yang sudah cancut taliwanda (siap siaga) dengan patrem di tangan, segera membentak dengan suara nyaring melengking, menyambut mereka dengan terjangan.

Gadis perkasa ini mengamuk bagaikan seekor banteng dikeroyok belasan anjing srigala!

Sepak terjangnya menggiriskan.

Bukan hanya patrem di tangan kanannya yang menyambar-nyambar mengintai nyawa, juga tangan kirinya membagi-bagi tamparan yang dahsyat sehingga sekali saja seorang pengeroyok terkena tamparan tangan kirinya, tentu akan terpelanting dan tidak mampu bangkit kembali.

Belum lagi kedua kakinya yang mungil.

Setiap kali kaki kiri atau kanan mencuat mengirim tendangan, tubuh seorang pengeroyok tentu terpental jauh bagaikan sebuah bola karet ditendang kaki seorang anak-anak!

Ketika Bajul Sengoro rnelihat anak buahnya sudah muncul dan kini mengeroyok Ayu Puspa, dia kembali menghadapi Parmadi.

Dia merasa menyesal sekali harus menghadapi lawan tangguh di tempat terbatas seperti itu sehingga dia sendiri maupun anak buahnya tidak dapat mempergunakan bahan peledak untuk menyerang lawan karena kalau mereka menggunakan senjata ini, tentu akan melukai teman-teman sendiri.

Dia masih penasaran melihat serangan sihir pertamanya tadi tidak berhasil.

Kini dia mengerahkan seluruh kekuatan sihir dan tenaga saktinya, berkemak-kemik membaca mantera, kemudian sekali lagi mendorongkan kedua tangannya yang terbuka ke arah Parmadi.

Sekali ini, ada sinar berapi menyambar dari kedua tangan itu ke arah dada Parmadi!

Melihat ini, dengan gerakan ringan Parmadi melompat ke samping untuk mengelak.

"Syuuuutt.....darrr"!"

Bola api menghantam dinding batu karang di belakang Parmadi dan sebagian dinding itu pecah dan hancur!

Dapat dibayangkan betapa dahsyatnya serangan jarak jauh orang bule itu.

Melihat Parmadi mengelak, Bajul Sengoro mengeluarkan suara tawa meringkik yang nadanya mengejek.

Dia mengira bahwa lawannya kini gentar menghadapi serangannya yang diberi nama Aji Guntur Geni (Halilintar Api).

Kemudian dia mengulang pukulannya yang berapi dan dahsyat itu ke arah tubuh Parmadi sambil membentak.

"Mampus kau oleh Aji Guntur Geni!!"

Kembali Parmadi mengelak dengan melompat sehingga sambaran bola api itu luput dan menghancurkan permukaan dinding batu karang.

Sampai empat kali Parmadi mengandalkan kecepatan gerakan menghindarkan diri dari serangan dahsyat itu dengan cara mengelak.

"Ha-ha-ha! Heh, keparat Parmadi. Kalau engkau bukan seorang pengecut, jangan hanya lari dan mengelak, sambut pukulanku Guntur Geni ini!"

"Bajul Sengoro, kalau aku menyambut pukulanmu, engkau akan celaka dan aku tidak ingin mencelakai orang, walau sejahat engkau sekalipun,"

Kata Parmadi tenang.

"Babo-babo, keparat! Katakan saja engkau pengecut, tidak berani menyambut karena kalau engkau melakukan itu bukan aku yang celaka, melainkan engkau yang mampus terbakar! Ha-haha! Aarrgg!!!"

Kembali Bajul Sengoro menyerang, sekali ini lebih dahsyat daripada tadi.

Akan tetapi kini Parmadi tidak mengelak lagi.

Dia tadi selalu mengelak bukan karena takut menyambut pukulan lawan.

Hanya karena dia maklum bahwa tangkisannya mengandung daya untuk mengembalikan serangan lawan.

Makin dahsyat pukulan lawan, makin hebat pula serangan itu kembali menghantam penyerangnya sendiri dan hal itu dapat mencelakai si penyerang sendiri.

Akan tetapi karena dia sudah memberi peringatan dan Bajul Sengoro masih nekat, bahkan agaknya menyerangnya lebih hebat lagi dan menganggap dia takut, kini terpaksa Parmadi mendorongkan kedua tangannya menyambut dengan Aji Sunya Hasta (Tangan Kopeng).

"Syuuuuutttt""

Blarrrr". !"

Bola api besar yang tadinya meluncur dan menyambar ke arah Parmadi itu, bertemu dengan hawa yang keluar dari kedua telapak tangan Parmadi segera meluncur kembali ke arah Bajul Sengoro dengan kecepatan tinggi.

Bajul Sengoro terkejut, terbelalak dan mengeluarkan pekik mengerikan kelika terdengar ledakan dan bola api itu menghantam dirinya sendiri.

Tubuhnya terpelanting dan dia tewas seketika dengan tubuh hangus, terkena aji pukulannya sendiri yang amat dahsyat tadi.

"Duh Gusti.... ampuni hamba...."

Parwadi berbisik sambil memandang ke arah mayat Bajul Sengoro yang rebah telentang dengan wajah bulenya kini menjadi hitam arang.

Akan tetapi tidak lama Parmadi tertegun.

Dia melihat Ayu Puspa masih dikeroyok banyak orang.

Gadis ini mengamuk hebat dan sudah ada lima orang pengeroyok roboh.

Parmadi segera turun tangan, bukan takut kalau gadis itu terancam bahaya.

Tidak, dia tahu bahwa kalau dilanjutkan, semua pengeroyok itu akhirnya akan tewas semua di tangan dara perkasa itu.

"Bajul Sengoro telah tewas! Apaka kalian semua ingin mati pula?"

Bentaknya nyaring.

Semua anak buah yang tinggal sembilan orang itu terkejut.

Mereka sejak tadi memang sudah gentar menghadapi dua orang muda yang sakti mandraguna itu.

Kini mereka memandang dan benar saja.

Mereka melihat Bajul Sengoro sudah rebah dengan muka hangus.

Mereka menjadi ketakutan dan cepat mereka melompat dan terjun ke air yang mengalir di tepi terowongan bawah tanah dan menyelam.

Parmadi tidak ingin lebih lama tinggal di ruangan bawah tanah yang menyeramkan itu.

Dia memegang tangan Ayu Puspa, bertanya.

"Engkau dapat berenang dan menyelam?"

"Tentu saja! Percuma aku tinggal di tepi bengawan kalau tidak bisa berenang dan menyelam!"

Kata Ayu Puspa.

"Hemm.... kusangka tidak bisa karena kakekmu juga tidak pandai berenang."

"Kakek sudah terlalu tua, dia selalu takut dengan air. Aku sih tidak! Aku berani berlomba renang melawanmu."

Parmadi merasa heran.

Gadis ini luar biasa.

Dalam keadaan bagaimanapun juga tidak kehilangan kelincahan dan kenakalannya, berkepala batu, sikapnya menggemaskan dan juga menyenangkan!

"Sudahlah, bukan saatnya bergurau.

Mari kita keluar dari terowongan ini.

Kita harus berenang menentang arus, kemudian menyelam dan keluar dari guha di bawah permukaan air di kedung.

Eyangmu masih menunggu di tepi kedung, tentu gelisah memikirkan dirimu."

"Mari!"

Kata gadis itu dan teringat dalam pikiran Parmadi betapa gadis itu, setelah baru saja nyaris mengalami kematian yang amat mengerikan dan telah diselamatkannya, tak sepatahpun menyatakan rasa syukur atau terima kasihnya Bukan dia haus akan pujian dan balas budi, hanya dia merasa heran bagaimana di dunia ini ada gadis ugal-ugalan dan tak acuh namun tetap menarik hati dan menyenangkan seperti Ayu Puspa!

Mereka lalu masuk ke air dan berenang menentang arus.

Untung arus air itu lemah saja sehingga mereka dapat berenang dengan mudah dan laju.

Setelah tiba di mulut guha mereka mengumpulkan napas panjang lalu menyelam dan keluar dari guha bawah air itu.

Tarikan pusaran air menyeret mereka, akan tetapi karena pusaran air itu kini tidak berapa kuat, mereka dapat meluncur naik ke permukaan air.

Begitu dua kepala orang muda itu muncul di permukaan air mereka disambut seruan gembira.

"Ayu"" ! Ah, engkau masih hidup. Terima kasih, Gusti!!"

Kyai Jayawijaya yang masih menanti di tepi kedung dengan wajah muram dan khawatir itu kini memandang dengan wajah berseri gembira sekali.

Ayu Puspa berenang ke tepi, mengerahkan seluruh tenaga untuk mendahului Parmadi, untuk pamer bahwa ia pandai berenang, lebih cepat dari pemuda itu.

Setelah mendarat, Kyai Jayawijaya meyambut dengan rangkulan, tidak perduli bahwa pakaiannya menjadi basah semua terkena air yang membasahi seluruh paman dan tubuh cucunya.

"Ayu, cucuku! Ketika tadi engkau dibawa terjun ke kedung dan lenyap, aku hampir putus harapan, mengira engkau tentu akan mati. Bahkan ketika Parmadi terjun dan menyelam untuk mencarimu, hatiku masih diliputi kekhawatiran. Apalagi begitu lama kalian tidak muncul kembali, aku mengira kalian berdua sudah mati! Ah, bagaimana mungkin kalian berada di dalam air sampai begitu lamanya?"

Kakek itu memandang Parmadi dan cucunya dengan terheranheran. Sukar dia dapat percaya dua orang muda itu dapat berada di dalam air sampai hamper satu jam lamanya. Bagaimana mereka bernafas.

"Wah, eyang. Aku dan kakang Parmadi mengamuk di bawah sana dan kami telah membasmi habis gerombolan Warga Bajul Petak! Senang sekali, eyang!"

Kata Ayu Puspa.

"Begitukah? Ah, kalian berdua basal kuyup. Bisa masuk angin. Mari, Ayu dan engkau Parmadi, mari kita pulang agak kalian dapat berganti pakaian dan nanti saja kalian ceritakan apa yang terjadi."

Parmadi hanya tersenyum mendengar ucapan Ayu tadi.

Dia mengambil buntalan pakaiannya yang masih berada di perahunya.

Melihat perahunya, Parmadi menjadi ragu apakah dia harus ikut ke rumah gadis dan kakeknya itu dan meninggalkan perahunya di situ.

"Jangan khawatir, Parmadi. Perahumu sudah tertambat di sini dan kalau engkat tinggalkan, perahu itu tidak akan hilang Siapa berani mencuri perahu yang berada di kedung ini? Tinggalkan saja, Parmadi dan mari ikut ke pondok kami. Banyak yang harus kauceritakan dan kita bicarakan. Marilah."

"Mari, kakang Parmadi. Apakah engkau tidak sudi berkunjung ke gubuk kami yang butut? Kalau begitu engkau sombong!"

Ucapan gadis inilah yang membuat Parmadi tidak mampu menolak lagi dan keraguannya pun lenyap. Sambil tersenyum dia mengangguk.

"Baiklah, saya akan ikut dan berkunjung ke rumah eyang."

Mereka bertiga lalu meninggalkan tempat itu menuju ke rumah Kyai Jayawijaya.

Ternyata pondok itu tidak terlalu jauh dari Kedung Srengenge, hanya sekitar dua kilometer.

Pondok itu, terbuat dari kayu dan biarpun bentuknya sederhana, namun cukup besar dan kokoh.

Setelah masuk pondok, Ayu segera berlari ke dalam kamarnya untuk bertukar pakaian yang bersih dan kering.

Kyai Jayawijaya mempersilakan Parmadi memasuki kamarnya dan bertukar pakaian di kamar itu.

Setelah selesai bertukar pakaian, Parmadi keluar dari kamar, membawa pakaiannya yang basah.

Tak lama kemudlan Ayu juga keluar dan agaknya gadis ini telah mandi.

Ia tampak segar dan cantik sekali walaupun wajahnya tidak dihias.

Rambutnya yang masih basah itu dibiarkan terurai agar cepat kering.

Senyumnya segar dan matanya berbinar-binar kedua pipinya kemerahan.

Seperti sekuntum mawar bermandi embun.

Melihat Parmadi sudah duduk berhadapan dengan eyangnya, dan ada pakaian basah di bawah meja, Ayu segera mengambil pakaian itu.

"Eh, mau dibawa ke mana pakaianku itu, Ayu?"

"Mau kurendam di belakang, nanti akan kucuci."

"Eh, tidak usah. Biar kucuci sendiri""

Kata Parmadi akan tetapi Ayu sudah lari membawa pakaian itu ke belakang. Terpaksa Parmadi yang sudah bangkit berdiri itu duduk kembali.

"Sudahlah, Parmadi. Biarkan ia nanti mencucinya. Cucuku itu kalau sudah mempunyai kehendak, siapapun tidak akan dapat mengubahnya. Pula, sudah sepatutnya kalau seorang wanita mencuci pakaian. Apalagi ia baru saja engkau selamatkan! Ayu kembali sambil tersenyum manis, duduk di dekat eyangnya, berhadapan dengan Parmadi.

"Nah, sekarang kalian ceritakan, apa yang telah terjadi di bawah kedung itu,"

Kata Kyai Jayawijaya.

"Kauceritakanlah, Ayu,"

Kata Parmadi.

"Engkau yang menceritakan!"

Jawab Ayu. Parmadi tersenyum. Dia sudah menduga akan jawaban gadis berkepala batu itu.

"Baiklah. Begini, eyang. Ketika saya terjun ke kedung dan menyelam, seperti yang sudah saya duga, di bawah saya menemukan sebuah guha. Saya memasuki guha yang merupakan terowongan itu dan akhirnya saya dapat muncul di permukaan air, di sebelah dalam terowongan dan ternyata di situ terdapat terowongan dan ruangan di bawah tanah yang lebar dan luas. Kemudian saya melihat Ayu berada di sebuah ruangan yang luas. Ia rebah telentang dengan kaki tangan terbelenggu. Di sudut ruangan itu terdapat pula buaya putih besar yang telah dilukai matanya oleh Ayu dan orang bule yang menangkap dan melarikan Ayu berada di situ pula berlutut di depan buaya putih dan bercakap-cakap kepada buaya itu, menyerahkan Ayu kepada binatang raksasa itu!"

"Hemm, keparat!"

Kyai Jayawijaya mengutuk, menoleh ke arah cucunya.

"Engkau tentu takut sekali, Ayu."

"Bukan takut lagi, eyang. Aku merasa ngeri dan serem. Habis mata buaya yang tinggal sebelah itu seperti mata laki-laki yang kurang ajar! Coba pikir, gila tidak dia! Dia menggunakan ekornya untuk merenggut lepas kainku. Aku menjerit, ngeri setengah mati! Lanjutkan, kakang."

"Melihat Ayu terancam bahaya, saya lalu menyambitkan batu ke arah mata buaya putih yang tinggal sebelah. Dia kesakitan dan mengamuk, akan tetapi syukur saya dapat membanting dan membunuhnya, eyang. Saya lalu membebaskan Ayu dari belenggu kaki tangannya dan menyerahkan patremku kepadanya untuk membela diri. Kemudian Bajul Sengoro menyerang saya dan kami berkelahi. Anak buahnya yang jumlahnya belasan orang bermunculan, akan tetapi disambut amukan Ayu. Akhirnya saya berhasil merobohkan Bajul Sengoro yang terbakar oleh aji pukulannya sendiri dan para anak buah gerombolan itu banyak yang roboh dan sisanya melarikan diri, diamuk oleh Ayu."

"Wah, berbahaya sekali!"

Seru Kyai Jayawijaya dengan kagum dan lega hatinya mendengar cerita Parmadi itu.

"Ayu, sekarang ceritakan apa yang kaualami sebelum Parmadi datang dan menolongmu."

Gadis itu memandang kepada Parmadi lalu menjawab.

"Uh, ceritanya sudah diborong oleh kakang Parmadi, eyang. Apalagi yang dapat kuceritakan? Ketika aku dikeroyok anak buah gerombolan itu dan sudah hampir dapat menghajar mereka semua, dengan licik dan curang sekali Bajul Sengoro itu menyerangku secara mendadak. Tangannya berbau harum yang aneh dan membuat aku pening. Dalam keadaan seperti itu dia menyergap, menangkap aku lalu membawaku terjun ke kedung. Tentu saja karena tidak bersiap lebih dulu, aku gelagapan dan hampir pingsan ketika dia membawaku ke ruangan bawah tanah itu dan membelenggu kaki tanganku. Lalu jahanam busuk itu hendak membuat aku menjadi santapan buaya putih siluman itu. Untung kakang Parmadi datang."

"Bukan main! Ayu, tahukah engkau bahwa Parmadi telah menyelamatkan nyawamu? Kalau tidak ada dia, mustahil engkau dapat selamat. Aku sendiri tidak berani terjun ke kedung, dan kalau nekat terjun tentu aku akan mati tenggelam. Engkau berhutang budi, bahkan berhutang nyawa kepada Parmadi. Kita berdua berhutang budi yang amat besar kepada Parmadi. Dengan cara bagaimana kita dapat membalasnya?"

Sebelum gadis itu menjawab, Parmadi sudah mendahuluinya.

"Eyang, mengapa eyang bicara tentang budi? Siapa yang melepas budi dan siapa yang berhutang budi? Kalau ada yang menolong dan menyelamatkan, maka hanya Gusti Allah sajalah yang melakukan itu. Hanya Gusti Allah Maha Penolong dan Maha Penyelamat! Karena itu, saya kira, eyang, kita wajib mensyukuri pertolongan-Nya, penyelamatan-Nya, dan segala berkah-Nya kepada kita."

"Nanti dulu, kakang!"

Ayu memprotes.

"Yang tadi menolongku di bawah kedung, yang membunuh buaya putih dan yang membunuh Bajul Sengoro adalah engkau, bukan Gusti Allah!"

Parmadi tersenyum sabar. Dia tahu bahwa gadis itu berkata seperti itu karena tidak mengerti dan memerlukan penjelasan.

"Ketahuilah, Ayu dan yakinlah bahwa yang tadi menyelamatkanmu bukan orang adalah Gusti Allah. Benar bahwa dalam hal itu. Dia mempergunakan diriku sebagai alat dan pelaksana saja. Tidak tahukah engkau bahwa segala kemampuan yang ada pada diri kita semua ini datang dari Gusti Allah? Tanpa kekuasaan-Nya, kita ini mampu apakah? Kita ini hanya seonggokan darah daging yang tak berdaya. Hanya karena adanya kekuasaan-Nya sajalah maka kita mampu melakukan segala sesuatu yang berarti."

"Alhamdullilah". !"

Seru Kyai Jayawijaya.

"Puji syukur kepada Gusti Allah bahwa aku masih diberi kesempatan mendengarkan wejangan ini, seolah aku mendengar sendiri wejangan itu keluar dari mulut kakang Resi Tejo Wening!"

"Bagaimana sih artinya semua ini, eyang? Aku bingung dan tidak mengerti. Bukankah segala hal yang kita lakukan itu datang dari hati akal pikiran kita?"

Tanya Ayu Puspa.

"Baik sekali kalau engkau mau bertanya dan membantah, Ayu. Dengan membantah dan bertanya, engkau akan memperoleh jawaban yang akan menambah pengertianmu. Menjadi orang muda haruslah selalu menyangkal dan bertanya kalau dia belum mengerti, barulah pengertianmu akan berkembang dan jiwa menjadi matang. Parmadi, harap jangan sungkan. Tolong beri jawaban dan penjelasan kepada Ayu Puspa."

Parmadi tersenyum.

Dia ingat akan dirinya sendiri dahulu ketika masih menjadi murid Resi Tejo Wening.

Dia juga selalu mengajukan segala macam pertanyaan kepada gurunya sampai dia memperoleh jawaban yang jelas.

"Akan kucoba memberi keterangan sebatas kemampuanku, Ayu. Engkau benar ketika mengatakan bahwa segala perbuatan kita itu bersumber dari hati akal pikiran kita. Akan tetapi apakah hati akal pikiran kita itu, Ayu? Bukankah semua itu juga hanya alat yang dapat dipergunakan apabila perlu? Buktinya bahwa bahwa akal pikiran itu alat, selagi orang pingsan atau tertidur, maka hati akal pikiran kita sama sekali tidak bekerja, padahal orangnya masih hidup. Jadi sesungguhnya, jiwa ini bukan hati akal pikiran, bukan aku yang suka mengaku-aku. Semua angauta badan ini, luar dalam, termasuk hati akal pikiran, hanya merupakan alat belaka. Bahkan kalau kepala ini terpukul atau terbentur keras, akal pikiran bisa rusak sehingga orang akan kehilangan igatan, kehilangan akal, menjadi tidak bisa apa-apa. Sekali lagi, kita ini hanya sekadar alat, Ayu. Akan tetapi Gusti Allah Maha Pengasih dan Penyayang, Maha bijaksana dan Maha Murah. Kita masih diberi kebebasan untuk memilih, apakah kita ini suka dijadikan alat Gusti Allah ataukah lebih suka dijadikan alat Setan! Kalau menjadi alat Gusti Allah, maka hidup kita pasti bermanfaat bagi manusia dan dunia, sebaliknya kalau menjadi alat Setan, hidup kita penuh berlepotan dosa dan kejahatan. Nah, mengertikah engkau sekarang bahwa yang menyelamatkan tadi adalah kekuasaan Gusti Allah yang "meminjam"

Diriku sebagai alat untuk menyelamatkanmu?"

AYU tersenyum.

"Sulit, akan tetapi kumulai mengerti sedikit-sedikit, kakang."

"Ha-ha-ha!"

Kyai Jayawijaya tertawa bergelak.

"Mengerti sedikit-sedikit sudah merupakan suatu kemajuan, Ayu. Jauh lebih baik daripada mengaku segalanya padahal sesungguhnya masih tidak mengerti apa-apa."

"Baiklah kalau begitu, aku tidak berterima kasih kepada kakang Parmadi, melainkan kepada Gusti Allah. Dan sekarang aku akan menjadi alat Gusti Allah untuk membuat masakan yang enak-enak dan kuhidangkan kepada kakang Parmadi."

"Alhamdullilah! Itupun merupakan berkah Gusti Allah yang diberikan kepadak melalui tanganmu, Ayu."

Ayu Puspa tertawa manis dan iapun berlari ke belakang untuk menyembelih ayam dan membuatkan masakan untuk Parmadi.

Kyai Jayawijaya juga membujuk agar Parmadi bermalam di pondoknya karena hari telah menjelang senja.

"Tapi saya harus melanjutkan perjalanan saya, eyang,"

Kata Parmadi, menolak halus.

"Sekarang sudah sore, Parmadi. Sebentar lagi hari menjadi gelap. Apakah engkau akan melanjutkan perjalanan naik perahu di malam hari? Itu sungguh berbahaya. Sebaiknya engkau melewatkan malam di pondokku ini dan besok pagi pagi baru melanjutkan perjalanan. Ayu tentu akan kecewa dan marah-marah sekali kalau engkau pergi sekarang, padahal ia sedang sibuk mempersiapkan hidangan untukmu. Dan katamu sendiri rejeki itupun pemberian Gusti Allah, apakah engkau berani menolak rejeki?"

Bujukan itu membuat Parmadi akhirnya mengalah.

Tidak ada buruknya dan tidak ada ruginya kalau malam ini dia bermalam di rumah kakek yang bijaksana dengan cucunya yang manis dan bersikap akrab dengannya.

Setelah mandi, Parmadi diajak makan malam.

Dia mendapat kenyataan bahwa dara cantik manis yang memiliki kedigdayaan yang mengagumkan itu ternyata memiliki kepandaian lain yang juga mengagumkan, yaitu memasak.

Hanya beberapa macam masakan terdiri dari daging ayam dan sayur-sayuran, namun semua masakannya terasa lezat sekali, terutama sambalnya!

Lalapan mentah berupa obis (kol), kacang panjang, terong, dan mentimun dengan sambal menjadi paduan yang cocok dengan daging ayam goreng.

Juga masakan kangkung dengan daging ayam dan dua masakan sayur lain amat lezatnya.

Semua itu dilengkapi dengan minuman "rujak degan" (kelapa muda) yang manis-manis gurih.

Parmadi merasa kenyang dan nyaman.

"Wah, kalau setiap hari aku makan seperti ini, dalam waktu sebulan saja aku pasti menjadi gemuk sekali!"

Ucapan ini terdengar lebih menyenangkan dan membanggakan daripada pujian bahwa masakannya lezat.

Sepasang mata Ayu Puspa bersinar dan kedua pipinya berubah kemerahan, bibirnya tersenyum ketika ia memandang kepada Parmadi.

"Aih, masakan orang desa mana bias lezat menyamai masakan gadis-gadis kota, kakang? Bilang saja masakanku cemplang, aku juga tidak apa-apa, kok. Tidak usah merayu!!' Parmadi tersenyum.

"Ayu, mulut yang bicara memang bisa saja berbohong dan merayu, akan tetapi mulut yang makan dengan lahap sampai tambah-tambah tiga kali, tentu tidak berbohong dan menjadi bukti bahwa mulut itu menikmati apa yang dimakannya. Dan aku tadi maka dengan gembul, bertambah nasi sampai tiga kali!"

Kyai Jayawijaya tertawa bergelak mendengar ucapan Parmadi ini.

"Ha-ha-ha, engkau kalah, Ayu. Dan aku sendiri memperkuat pendapat Parmadi tadi bahwa masakanmu sekarang ini lezatnya luar biasa! Sungguh aku merasa heran. Masakanmu setiap hari juga enak, akan tetapi tidak sehebat apa yang kaumasak sore ini"

"Aih, eyang....!"

Kata Ayu tersipu dan cepat-cepat gadis itu membersihkan meja dan membawa sisa hidangan ke dapur.

Malam itu mereka bertiga bercakap-cakap di bawah sinar lampu gantung.

Terpaksa Parmadi menceritakan keadaan dirinya, tentang orang tuanya yang terbunuh ketika dia berusia sepuluh tahun, dan tentang gurunya, Resi Tejo Wening yang mengambilnya sebagai murid ketika dia berusia delapan belas tahun.

"Dan sekarang ini engkau melakukan perjalanan berperahu di sepanjang Bengawan Solo, hendak pergi ke manakah, kakang?"

Ayu bertanya.

"Eyang Resi Tejo Wening berpesan agar aku selalu membantu Mataram. Karena mendengar bahwa Mataram berusaha menundukkan Madura dan Surabaya, maka aku hendak pergi ke sana untuk membantu Mataram."

Kyai Jayawijaya mengangguk-angguk.

"Engkau benar, Parmadi. Memang Mataram harus dibantu oleh para satria dan pendekar. Mataram berusaha untuk mempersatukan semua wilayah Jawa Dwipa untuk menyusun kekuatan menentang Kumpeni Belanda! Sayang aku sudah tua renta, kalau aku masih muda dan kuat aku tentu akan membantu Mataram pula!"

"Kakang Parmadi, engkau tadi mengatakan bahwa kita harus menjadi alat yang dipergunakan oleh Gusti Allah. Apakah membantu Mataram itu sesuai dengan kehendak Gusti Allah?"

Tiba-tiba Ayu Puspa bertanya dan pertanyaan ini mengejukan eyangnya yang menganggap pertanyaan itu lancang.

Akan tetapi Parmadi tersenyum dan merasa kagum akan keterbukaan gadis itu.

Baik sekali kalau orang mau bertanya akan sesuatu yang membimbangkan hatinya.

Sungkan bertanya membuat orang tetap bodoh, bahkan mungkin menimbulkan prasangka yang bukan-bukan.

"Tentu saja, Ayu. Gusti Allah memberi berkah kepada manusia dengan adanya persamaan suatu bangsa yang mempunyai sebagian dari dunia ini sebagai tempat tinggal dan tanah airnya, di mana dia lahir hidup dan mati. Sudah sepantasnyalah kalau kita menjaga persatuan saling bantu dan saling tolong-menolong di antara sebangsa dan membela tanah air yang diberikan Gusti Allah kepada kita. Ini merupakan tugas para satria. Satria itu selalu harus mengayuhayuning bhuwana (mengusahakan keselamatan dunia) dan hal ini jelas merupakan alat Gusti Allah. Kalau menjadi alat setan tentu hanya akan merusak keselamatan dunia. Gusti Sultan Agung di Mataram berniat baik, ingin mempersatukan seluruh Nusa Jawa untuk menggalang persatuan dan menyusun kekuatan guna menentang Kumpeni Belanda, sang angkara murka. Bumi Nusantara ini diciptakan Gusti Allah untuk kita, bukan untuk Belanda yang telah dikurniai bumi tersendiri di negaranya. Namun mereka hendak menguasai tanah air kita. Hal itu berarti Kumpeni Belanda diperalat setan dan kita yang menentangnya menjadi alat Gusti Allah untuk menentang keangkara-murkaan. Karena itulah aku tidak ragu-ragu membela Mataram untuk menundukkan Madura dan Surabaya agar kedua daerah itu mau bersatu dengan Mataram untuk menentang Belanda."

Mendapat keterangan panjang lebar itu Ayu Puspa mengangguk-angguk.

"Kalau begitu, akupun ingin membantu Mataram!"

Ayu berkata penuh semangat.

"Ah, Ayu. Ingatlah bahwa engkau seorang wanita! Perang bukan tugas seorang wanita!"

"Hemm, apa bedanya, eyang? Aku ingin ikut kakang Parmadi untuk membantu Mataram. Aku juga tidak takut bertempur dalam perang. Bukankah eyang telah mengajarkan banyak aji kesaktian kepadaku?"

"Jangan, Ayu. Semua perajurit dan senopati adalah laki-laki belaka. Engkau hanya akan menjadi bahan tertawaan kalau engkau maju sebagai perajurit, Ayu!"

Parmadi dapat melihat pandang mata penuh kekhawatiran dari kakek itu dan dia maklum bahwa Kyai Jayawijaya merasa gelisah kalau-kalau ditinggalkan cucunya yang amat dikasihinya dan juga yang merupakan satu-satunya anggauta keluarganya yang menemaninya.

Maka diapun cepat berkata untuk mendukung kakek itu dan membujuk Ayu.

"Apa yang dikatakan eyang itu benar, Ayu. Selain itu, apakah engkau tega meninggalkan eyang yang sudah tua ini hidup seorang diri di sini? Siapa yang akan melayaninya? Siapa akan mencuci pakaian dan memasak makanan? Tidak kasihankah engkau padanya?"

Diingatkan demikian, Ayu Puspa memandang kakeknya dengan bimbang. Kyai Jayawijaya berkata lirih.

"Ayu, aku tidak ingin menghalangi keinginanmu. Kalau engkau hendak pergi, yah, pergilah. Aku akan berusaha semampuku untuk mengurus diriku sendiri."

Melihat pandang mata kakeknya demikian sedih, Ayu lalu duduk mendekatinya dan memegang lengannya.

"Tidak, eyang. Jangan khawatir. Aku tidak akan meninggalkan eyang. Aku tadi hanya tergugah semangatku oleh ucapan kakang Parmadi."

Hati kakek itu menjadi lega.

Memang dia sudah tua renta dan satu-satunya kegembiraan hidupnya adalah melihat cucunya.

Kalau dia ditinggalkan Ayu Puspa dan hidup seorang diri, dia akan menderita sekali, bukan hanya karena kesepian akan tetapi terutama sekali karena merasa bahwa dirinya tidak dibutuhkan siapapun lagi, tidak ada gunanya di dunia ini.

Kalau ada Ayu di sampingnya, sedikitnya dia dapat mernbimbing cucunya itu, dapat memperdalam ilmu-ilmu cucunya, dapat mengawasinya dan memberinya nasihat.

Memang paling berat bagi seseorang dalam hidupnya kalau dia sudah merasa bahwa dirinya tidak ada gunanya lagi, tidak ada yang membutuhkannya lagi!

Setelah malam tiba, Kyai Jayawijaya meninggalkan dua orang muda itu yang masih duduk bercakap-cakap di beranda depan.

Bulan mulai muncul menghujani bumi dengan cahayanya yang lembut sehingga suasananya menjadi indah dan sejuk sekali.

"Kalau terang bulan seperti ini, lebih nyaman duduk di taman bunga. Apalagi karang bunga harum dalu kesukaanku sedang berkembang. Mari kita duduk di sana, kakang,"

Ajak Ayu Puspa.

"Engkau mempunyai taman bunga?"

Tanya Parmadi sambil ikut bangkit berdiri.

"Tentu saja. Taman itu berada di kebun belakang. Aku sendiri yang merawata setiap hari. Mari kita ke sana."

Mereka berdua keluar dari pintu samng dan berjalan keluar rumah, lalu membelok ke belakang.

Benar saja, dalam cahaya bulan yang redup tampak oleh Parmadi sebuah taman bunga yang cukup mungil.

Baru memasuki taman itu dia sudah disambut harum bunga putih kecilkecil yang bernama bunga "harum dalu itu.

Memang harum bukan main, menambah keindahan malam terang bulan di taman itu.

Banyak pula bunga mawar dan melati di situ yang juga menyiarkan haruman yang khas, walaupun masih kalah oleh keharuman bunga harum dalu yang kuat itu.

Di tengah taman kecil itu terdapat sebuah empang ikan yang hanya dua meter luasnya, berbentuk bundar.

Ada setangkai bunga teratai merah di tengah kolam, akan tetapi malam itu bunganya menguncup.

Biasanya berkembang di pagi hari.

Ikan-ikan emas berenang hilir-mudik dan bulan yang terbayang di dalam kolam menari-nari.

Di dekat kolam itu terdapat sebuah bangku kayu panjang dan ke situlah Ayu mengajak Parmadi duduk.

Mereka duduk berdampingan di atas bangku.

Mereka berdiam diri dan Parmadi bahkan dapat menikmati suasana terang bulan di taman kecil itu karena mereka berdiam diri.

Udaranya demikian sejuk segar.

Yang tercium hanya keharuman bunga-bunga.

Yang terasa hanya kesejukan udara, terkadang diselingi semilir angin lembut.

Kadang kala terdengar bunyi percik air ketika seekor ikan meloncat ke atas permukaan air, mungkin untuk memandang bulan lebih jelas lagi.

Terdengar oleh Parmadi yang sedang memandang gerakan lembut ikan-ikan berenang di permukaan air helaan napas dan teringatlah dia bahwa Ayu sedang duduk di sebelahnya.

Dia menoleh dan tertegun ketika bertemu pandang dengan gadis itu.

Ayu sedang menatap wajahnya dengan mata yang demikian aneh!

Mata itu redup, bahkan setengah terpejam, seperti mata yang mengantuk.

Sinarnya kosong, seperti melamun dan bibir yang merah segar itu sedikit terbuka.

Akan tetapi pandang mata itu seolah menelannya!

Parmadi menjadi salah tingkah, sungkan dan bingung.

Dia tak sanggup menentang wajah gadis itu lebih lama lagi lalu dia menundukkan pandang matanya sehingga kini yang tampak adalah bagian dada dan perut gadis itu.

Ketika pandang matanya melihat gagang patrem yang terselip di ikat pinggang Ayu, teringatlah Parmadi bahwa itu adalah patremnya, pemberian Muryani, yang dipinjamkan kepada Ayu ketika mereka menghadapi gerombolah warga Bajul Petak di Kedung Srengenge itu.

Karena dia sedang salah tingkah dan gugup dipandang seperti itu oleh Ayu, maka begitu melihat patrem itu, langsung saja dia berkata.

"Ayu, itu patrem yang kupinjamkan kepadamu. Kembalikanlah kepadaku."

Akan tetapi gadis itu tidak menjawab dan ketika Parmadi mengangkatmu, memandang, dia mendapatkan Ayu masih bengong seperti tadi menatap wajahnya! "Ayu.... !"

Barulah gadis itu gelagapan, seper orang kaget dan sadar dari tidurnya.

"Ya ... eh... ada apa, kakang?"

Parmadi masih gugup.

"Anu""

Kuharap engkau suka mengembalikan patrem yang kau pinjam dariku itu."

"Patrem?"

Ayu memandang ke arah keris kecil yang berada di pinggangnya dan tangan kanannya meraba gagang patrem itu.

"Kakang Parmadi, patrem adalah senjata seorang wanita. Untuk apa engkau membawa patrem sedangkan seruling gadingmu merupakan senjata yang teramat ampuh? Bagaimana kalau patremmu ini kuminta untuk dijadikan kenang-kenangan dan tanda mata?"

"Tapi".. itu".. sesungguhnya bukan patremku, Ayu."

"Eh? Kalau begitu, milik siapa ini?"

Ayu mencabut patrem itu, memegang dan mengamati dalam cahaya bulan.

"Milik seorang wanita...."

"Ohh".. ! Milik seorang wanita? Lalu bagaimana dapat berada padamu, kakang?"

"Ia memberikannya kepadaku.... sebagai tanda persahabatan."

"Ah, begitukah? Pantas tidak dapat kuaberikan padaku. Nih, simpanlah!"

Katanya ketus dan mendorongkan patrem ini ke arah Parmadi.

Pemuda itu menerimanya dan menyelinapkan patrem itu di nggangnya.

Ayu diam saja, hanya mendudukkan muka.

Parmadi juga tidak berani memandangnya, tidak berani bersua karena dia merasa bersalah walaupun tidak tahu persis macam apa kesalahannya itu.

Sampai lama suasana sunyi.

Parmadi mendengar gadis itu menghela napas panas beberapa kali.

Akhirnya terdengar suara Ayu bertanya, agak kaku suaranya.

"Kakang, siapakah ia?"

"Ia siapa?"

Balas tanya Parmadi yang masih merasa tidak nyaman hatinya.

"Itu lho sahabatmu yang memberi patrem kepadamu!"

Kata Ayu ketus.

"Oh, itu? Ia adalah seorang sahabat di waktu remaja. Kurang lebih enam tahun yang lalu ketika aku meninggalkan dusun Pakis di lereng Gunung Lawu, ia memberikan patrem itu kepadaku sebagai tanda persahabatan dan sejak itu aku tidak pernah bertemu lagi dengannya."

Hening lagi sejenak lalu Ayu bertanya lagi.

"Siapa namanya?"

"Namanya? Eh.... namanya Muryani."

"Berapa usianya sekarang?"

"Usianya?"

Parmadi mengingat-ingat Muryani dua tahun lebih muda daripada dia.

"Sekitar dua puluh satu atau dua puluh dua tahun begitulah."

"Hemm, sudah tua!"

Kata Ayu Puspa masih cemberut.

Parmadi tertawa dalam hatinya.

Betapa anehnya sikap gadis ini.

Apakah semua gadis seperti ini anehnya?

Muryani dikatakannya sudah tua!

Akan tetapi dia tidak mau berbantahan dengan gadis yang kelihatannya tidak senang, bahkan seperti orang marah itu.

"Ya, sudah tua,"

Katanya singkat.

Hening lagi.

Kini agak lama dan Parmadi merasa betapa sunyi dan dinginnya alam itu.

Awan tipis berarak perlahan enutupi bulan sehingga cahaya bulan menjadi semakin redup.

Beberapa kali Parmadi melirik ke arah Ayu dan dia melihat gadis itu seperti sedang termenung, pandang matanya tertuju ke arah kolam di mana tampak ikan-ikan berenang di permukaan air.

"Cantikkah Muryani itu?"

Pertanyaan itu terdengar tiba-tiba dan gadis itu tetap memandang ke air, tidak menoleh pada Parmadi.

"Hemm".apa? O"

Ya, ia memang cantik,"

Jawab Parmadi sejujurnya dan terjadi keanehan dalam benaknya yang belum pernah dia alami sebelumnya.

Dia mulai membanding-bandingkan kecantikan Muryani dengan kecantikan Ayu Puspa!

"Cantik mana antara ia dan aku?"

Kini Ayu menoleh dan menatap matanya Parmadi agak gelagapan. Pertanyaan itu seolah menggambarkan bahwa Ayu dapat membaca apa yang berada dalam benaknya saat itu.

"Cantik mana antara ia dan engkau?"

Parmadi menatap wajah itu.

Awan telah pergi, tidak lagi menghalangi cahaya bulan.

Wajah Ayu yang dekat dengannya tampak jelas.

Betapa indah alis yang kecil hitam melengkung rapi itu.

Bulu mata yang lentik itu.

Mata yang bersinar tajam.

Hidung dan terutama mulut dengan bibirnya yang aduhai itu!

"Wah, sukar menilai, Ayu.

Ia dan engkau sama-sama cantik jelita.

Benar, aku tidak berbohong.

Bukan hanya sama cantiknya, akan tetapi juga sama digdayanya, sama"

Eh, lincahnya."

Dia mengubah kata galak menjadi lincah.

"Banyak sudah laki-laki jagoan ia kalahkan dan ketika itu ia berusia remaja, baru enam belas tahun."

Aneh! Gadis itu kelihatan marah! Matanya mengeluarkan sinar marah, bibir yang indah itu cemberut.

"Hemm, ingin sekali aku bertemu dengan Muryani dan mengajaknya bertanding! Ingin aku mengetahui apakah ia akan mampu mengalahkan aku!"

Parmadi terkejut dan menatap wajah Ayu. Dua pasang mata bertemu pandang, saling menyelidiki seolah hendak menjenguk ke dalam pikiran masing-masing.

"Ayu, mengapa engkau berkata begitu? Mengapa engkau seperti marah dan membenci Muryani? Ia tidak bersalah apapun kepadamu. Bahkan engkaupun tidak pernah berjumpa dengannya, tidak mengenalnya."

Ayu menjawab pertanyaan itu dengan pertanyaan pula.

"Kakang Parmadi, mengapa siang tadi engkau begitu baik kepauku? Mengapa engkau menyelamatkan aku, mengapa engkau membelaku?"

"Tentu saja, Ayu. Karena engkaupun cantik sekali. Engkau pantas untuk dibela, dengan taruhan nyawa sekalipun,"

Jawab Parrmadi dengan suara dan pandang mata serius.

"Akan tetapi, kenapa malam ini engkau.... begini kejam kepadaku".?"

Ayu lalu menutupi mukanya dengan kedua tangan dan menangis sesenggukan!

Tangisnya begitu mengguguk dan menyedihkan sehingga kembali Parmadi terkejut dan terheran-heran.

Dia kejam kepada Ayu Puspa?

Bagaimana pula ini?

Melihat gadis itu menangis dan kedua pundaknya bergoyanggoyang, suara tangisnya terisak-isak, dia menjadi kasihan dan digesernya duduknya mendekat, lalu disentuhnya pundak gadis itu dengan lembut.

"Ayu, kenapa engkau menangis?"

Suara pemuda itu demikian lembut dan suara ini bahkan membuat tangis Ayu semakin tersedu-sedu!

Parmadi merasa iba dan jari tangannya dengan lembut mengelus rambut kepala Ayu.

Merasakan sentuhan ini, tiba-tiba Ayu merangkul pinggang Parmadi dan merapatkan mukanya di atas dada pemuda itu sambil menangis.

Parmadi terkejut, akan tetapi mau tidak mau dia merangkul dan mengelus kepala yang bersandar di dadanya untuk menghibur.

"Ayu, engkau kenapakah?"

Tanya Parmadi hati-hati.

Jantungnya berdebar kencang.

Sekali lagi dia telah berpelukan dengan Ayu.

Yang pertama Ayu merangkulnya karena girang melihat dia tidak mati tertimpa pohon randu alas yang tumbang.

Dan kini gadis itu kembali merangkulnya sambil menangis sedih.

Dan dia merasa jantungnya berdebar kencang merasakan betapa tubuh yang hangat, lunak dan padat itu mendekap dadanya.

Timbul gairah dalam hatinya untuk mendekap lebih erat, untuk menciumi muka yang basah air mata itu.

Dia sudah menundukkan mukanya, mendekat muka gadis itu, akan tetapi tiba-tiba dia menyadari bahwa nafsu berahi menguasainya dan kalau dorongan berahi itu dia turuti, maka akan tidak baiklah jadinya.

Sebelum hidung dan bibirnya menyentuh muka Ayu yang dengan mata setengah terbuka dan pandang sayu seolah menanti datangnya ciuman, Parmadi menguatkan hatinya dan dia memindahkan arah mukanya dan mencium rambut yang hitam lebat itu.

Rambut itu halus sekali dan keharuman melati menyegarkan hidungnya.

Dalam beberapa detik lamanya terjadi pertarungan hebat dalam hati Parmadi.

Sebagai seorang pria yang usianya sudah dua puluh tiga hampir dua puluh empat tahun, wajarlah kalau gairah berahinya sedang kuat-kuatnya.

Nafsu ini mendorongnya dengan amat kuat.

Akan tetapi dia menyadari bahwa kalau diperturutkan, hal itu amatlah tidak baik.

Ayu bukan apa-apanya, dan dia pun teringat akan Muryani yang sampai kini masih diaanggap sebagai gadis yang dicintainya, walaupun dia tidak yakin benar akan hal itu karena kini gadis itu hanya tinggal kenangan.

Kalau nanti dia bertemu dengan Muryani, barulah dia akan dapat memastikan apakah dia mencinta gadis itu ataukah tidak.

Dia suka dan kagum kepada Ayu Puspa, akan tetapi cinta?

Dia sendiri tidak tahu.

Ketika merasa kepalanya dicium, Ayu merangkul pinggang Parmadi lebih erat lagi.

"engkau"engkau kejam, kakang...."

Mendengar suara ini, Parmadi merasa lega karena dia merasa bahwa kini dia telah dapat menguasai gejolak nafsu berahinya.

Gurunya pernah memberi penjelasan kepadanya tentang nafsu-nafsu, antaranya, nafsu berahi dan sekarang barulah dia mengalami sendiri gejolak nafsu berahi yang amat kuat dan yang menjatuhkan banyak orang, bahkan orang bijaksana, orang pandai, para raja dan satria banyak yang tergelincir dan jatuh karena pengaruh nafsu berahi yang teramat kuat ini.

Nafsu berahi, seperti semua nafsu dalam jasmani manusia, memang menjadi peserta manusia sejak mausia dilahirkan.

Nafsu-nafsu ini mutlak penting bagi kehidupan manusia di dunia, demikian dahulu Resi Tejo Wening menegangkan.

Tanpa adanya nafsu-nafsu daya rendah yang bertingkat-tingkat ini dalam diri manusia, maka manusia takkan dapat hidup di dunia seperti sekarang ini.

Dengan bekerjanya nafsu dalam hati akal pikiran manusia, maka manusia dapat memperoleh kemajuan karena nafsu membuat pikiran menjadi pandai membuat segala sesuatu demi kesejahteraan dan kesenangan hidup di dunia.

Nafsu merupakan peserta yang baik kalau dibiarkan menjadi peserta, menjadi hamba, menjadi pelayan.

Akan tetapi manusia tidak boleh lengah.

Sekali nafsu dibiarkan merajalela, maka dia akan menguasai hati akal pikiran manusia sehingga keadaannya menjadi terbalik.

Manusia yang akan diperbudak nafsu sehingga dia akan melakukan apa saja, bahkan yang sejahat-jahatnya, demi untuk memuaskan keinginan nafsu.

Kalau nafsu berahi menjadi pelayan, manusia dapat memanfaatkannya sebagai pencurahan kasih sayang yang paling mendalam antara suami isteri, bahkan nafsu berahi menjadi sarana terpenting bagi perkembang-biakan manusia.

Akan tetapi kalau nafsu berahi dibiarkan memperbudak manusia, maka akan terjadilah perjinaan, perkosaan, pelacuran dan sebagainya, tindakan penuh kemaksiatan yang semata-mata dilakukan untuk memuaskan nafsu berahi.

Demikian pula dengan nafsu-nafsu daya rendah lainnya.

Kalau dibiarkan menguasai kita, maka kita akan terseret ke dalam lembah dosa.

Kita harus selalu waspada dan hati-hati karena nafsu-nafsu itu mempergunakan segala macam kesenangan dan keenakan sebagai umpan untuk memancing kita.

"Hanya Dewa Ruci saja yang dapat menolong kita,"

Demikian Resi Tejo Wening berkata.

Parmadi tahu bahwa yang dimaksudkan Dewa Ruci itu adalah Roh Suci, yaitu Kekuasaan Gusti Allah.

Hanya dalam bimbingan Dewa Ruci sajalah manusia akan mampu melawan pengaruh nafsu-nafsunya sendiri yang teramat, kuat.

"Aku kejam kepadamu, Ayu? Apa maksudmu?"

Tanya Parmadi dan dengan lembut dia merenggangkan tubuhnya dan membantu gadis itu duduk kembali di sampingnya. Ayu duduk dan menghapus air matanya.

"Engkau mencinta gadis itu! Engkau mencinta Muryani!"

Kata Ayu dengan mulut cemberut.

"Ah, jangan berkata begitu, Ayu. Murayani dan aku hanya bersahabat, persahabatan di waktu kami remaja,"

Parmadi berkata jujur karena sesungguhnya dia nendiri belum yakin apakah dia benar-bewar mencinta Muryani, ataukah itu hanya angan-angan seorang remaja saja.

Kalau dia bertemu dengan Muryani sekarang, barulah dia akan dapat memastikan apakah ada cinta di antara mereka.

Mendadak saja terjadi perubahan pada wajah Ayu.

Kecemberutannya sirna, terganti wajah yang berseri dan mata yang bersinar, walaupun kedua pipinya rnasih basah.

Bibirnya tersenyum manis dan ke dua tangannya menangkap kedua tangan Parmadi.

"Kalau begitu".. engkau suka kepadaku, kakang?"

"Tentu saja, Ayu,"

Kata Parmadi sejujurnya.

"Aku kagum dan suka padamu.' Gadis itu tampak semakin gembira Genggaman kedua tangannya pada tangan Parmadi semakin kuat.

"Kakang Parmadi". ah, kakang! Apakah cintamu padaku sebesar cintaku kepadamu?"

Bukan main kagetnya hati Parmad mendengar pertanyaan itu.

Gawat, pikirnya.

Jawabannya tadi, yang menyatakan bahwa dia kagum dan suka kepada Ayu agaknya disalah-artikan oleh gadis itu.

Rasa suka dianggapnya cinta!

Akan tetapi sebelum dia menjawab, tiba-tiba terdengar suara tawa bergelak dan muncullah Kyai Jayawijaya.

"Ha-ha, ha, bagus sekali! Sungguh berbahagia sekali hatiku mendengar bahwa kalian berdua saling,,mencinta! Ah, ini merupakan anugerah Gusti Allah yang paling besar, bagi hidupku. Parrnadi, aku berterima kasih sekali bahwa engkau mencinta Ayu dan suka menerima cucuku sebagai calon isterimu. Sebaiknya pernikahan segera dilangsungkan karena kalian berdua juga sudah cukup dewasa!"

Parmadi terkejut bukan main.

Lebih gawat .lagi sekarang!

Bukan hanya Ayu Puspa yang salah sangka, melainkan kini bahkan Kyai Jayawijaya juga salah kira.

Dia cepat melepaskan pegangan kedua tangan Ayu dan bangkit berdiri lalu mundur ke belakang sampai empat langkah.

"Tidak... tidak" ! Bukan begitu maksudku, eyang dan Ayu. Aku tidak ingin menikah, aku tidak jatuh cinta....!"

Ayu melompat berdiri, mukanya yang tertimpa cahaya bulan tampak pucat, matanya terbelalak.

"Apa... apa maksudmu, kakang Parmadi? Engkau tadi memelukku, mengatakan bahwa engkau suka dan kagum kepadaku! Mengapa kini engkau mengingkarinya?"

"Parmadi! Jangan kaulumuri budi kebaikanmu dengan mempermainkan cucuku!"

Kyai Jayawijaya membentak marah.

"Avu dan Eyang Kyai, harap suka mengerti akan perbedaan antara suka dan cinta. Rasa suka kepada seseorang membuat orang ingin menjalin persahabatan yang akrab, sedangkan rasa cinta dapat menjalin hubungan perjodohan. Aku kagum dan suka kepada Ayu, bukan mencinta seperti yang Ayu maksudkan."

"Kau.... kau".."

Kyai Jayawijaya lari memasuki rumah dan keluar lagi membawa buntalan pakaian Parmadi, lalu melemparkan buntalan pakaian itu kepadanya.

"Nah, bawalah pakaianmu dan pergilah tinggalkan kami! Engkau memikat kemudian menghancurkan hati cucuku. Enyahlah!"

P armadi menghela napas panjang dan hendak melangkah pergi, akan tetapi Ayu Puspa menghadang di depannya.

"Tunggu! Enak saja engkau hendak pergi setelah berani menghina aku! Engkau harus menebus dengan nyawamu!"

Setelah berkata demikian, Ayu lalu menyerang Parmadi dengan dahsyat, mengerahkan seluruh tenaganya.

Parmadi mengelak ke kiri, akan tetapi dari kiri Kyai Jayawijaya menyambutnya dengan serangan yang lebih dahsyat lagi.

"Siapapun tidak boleh menghina cucuku!"

Bentaknya.

Kembali Parmadi mengelak dan dia lalu mengerahkan kesaktiannya untuk melompat jauh dan melarikan diri.

Gerakannya cepat bukan main, seperti terbang saja.

Biarpun kakek dan cucunya itu melakukan pengejaran, namun Parmadi telah jauh meluncurkan perahunya ketika mereka tiba di tepi kedung.

Perahu pemuda itu tidak tampak lagi.

Ayu hanya dapat menangis ketika dituntun kakeknya (Lanjut ke

Jilid 21) Seruling Gading (Seri ke 02 -Serial Pecut Sakti Bajrakirana) Karya". Asmaraman S. Kho Ping Hoo

Jilid 21 pulang ke pondok mereka.

Pondok itu berada di tempat terpencil, di luar sebuah hutan di perbatasan daerah Kadipaten Surabaya.

Biarpun terpencil, pondok itu cukup bagus dan kokoh, terbuat dari kayu jati yang kuat.

Keadaan di sekitar pondok itu sunyi.

Biarpun tidak mencurigakan, namun ternyata pondok itu yang biasanya merupakan tempat peristirahatan kaum bangsawan kalau sedang berburu di hutan, merupakan tempat yang amat penting bagi para petugas Kadipaten Surabaya yang memimpin jaringan para penyelidik atau mata-mata yang selalu mengamati gerakan yang dilakukan Kerajaan Mataram.

Yang memimpin jaringan para penyelidik ini adalah Senopati Poncosakti.

Panglima ini selain digdaya, sakti mandraguna, juga amat cerdik sehingga dia menjadi orang kepercayaan Pangeran Pekik, Adipati Surabaya.

Bahkan sesungguhnya Senopati Poncosakti ini masih paman sendiri dari Pangeran Pekik, atau uwanya karena senopati ini adalah kakak dari ibu Pangeran Pekik.

Senopati Poncosakti berusia kurang lebih lima puluh lima tahun.

Tubuhnya tinggi besar dan wajahnya jantan dan gagah seperti Sang Gatotkaca dengan kumisnya yang sekepal sebelah.

Biarpun dia seorang senopati, akan tetapi karena tugasnya sebagai pimpinan jaringan penyelidik, dia selalu mengenakan pakaian biasa, tidak seperti seorang panglima.

Seringkali Ki Poncosakti berada di pondok itu, terutama kalau mengadakan pertemuan dengan anak buahnya yang tersebar di wilayah Mataram sebagai penyelidik atau kalau dia menerima tamu rahasia terutama sekali dari utusan para sekutu Surabaya, di antaranya Madura dan tentu saja Kumpeni Belanda.

Ki Poncosakti dahulu adalah seorang.

senopati Kadipaten Pasuruan yang gigih mempertahankan Pasuruan ketika diserbu pasukan Mataram.

Setelah Pasuruan kalah dan jatuh menakluk kepada Kerajaan Mataram, Ki Poncosakti melarikan diri dengan hati mendendam kepada Mataram.

Dia lalu melarikan diri ke Surabaya di mana dia diterima oleh keponakannya, yaitu Pangeran Pekik, Adipati Surabaya, bahkan diangkat menjadi senopati yang dipercaya dan diserah tugas penting memimpin jaringan telik sandi untuk menjaga keselamatan dan keamanan Kadipaten Surabaya.

Ketik masih menjadi senopati Kadipaten Pasuruan dahulu, dia terkenal sebagai Senopati Brojowiro yang dengan gigih mempertahankan Pasuruan dalam perang melawan pasukan Mataram.

Setelah diterima oleh Pangeran Pekik, dia diangkat menadi senopati dan diberi nama Senopati Poncosakti.

Dia tidak pernah lagi menggunakan nama lamanya, yaitu Brojowiro karena pekerjaannya sebagai pemimpin jaringan telik sandi mengharuskan dia merahasiakan masa lalunya agar tidak sampai ketahuan oleh pihak Mataram.

Pada suatu hari, pagi-pagi sekali, seorang kakek berusia kurang lebih enam puluh lima tahun, kepalanya yang tanpa kain penutup itu kecil dan botak, rambut yang tumbuh di bagian kanan kiri dan belakang keriting dan masih hitam, mukanya bersih tanpa kumis atau jenggot, hidungnya pesek dan mulutnya kecil, kedua pergelangan tangannya memakai akar bahar hitam, melangkah memasuki pekarangan pondok terpencil dan sunyi itu.

Kakek ini tampaknya biasa saja, bahkan seperti seorang tua yang lemah.

Akan tetapi siapa yang sudah mengenaliya, akan merasa terkejut melihat kehadirannya.

Kakek ini bukan orang sembarangan.

Dia seorang datuk besar dari Banten, bekas seorang senopati kenamaan dari Kerajaan Banten, bahkan sekarang pun masih berpengaruh sekali di Banten dan sering dimintai nasihat oleh Raja Banten.

Dia adalah Kyai Sidhi Kawasa yang sakti mandraguna.

Biarpun pondok itu tampak sunyi seolah tidak ada penghuninya, akan tetaapi Kyai Sidhi Kawasa cukup waspada untuk dapat menduga bahwa tempat itu merupakan tempat yang "angker"

Dan berbahaya. Maka setelah tiba di depann beranda rumah itu, dia berhenti, lalu dengan suaranya yang lemah lembut dia berseru.

"Sampurasun".!!"

Biarpun suaranya lembut dan tidur nyaring, namun ternyata suara itu bergaung dan dapat terdengar sampai jauh karena ketika berseru, dia menggunakan tenaga saktinya.

Sampai lama dia menanti, namun tidak ada jawaban.

Dia mengulang salamnya dengan suara yang lebih menggema lagi.

"Sampurasun (salam yang berarti 'maafkan saya')!!"

Sebagai jawaban, tiba-tiba dari empat penjuru meluncur belasan batang anak panah ke arah tubuh kakek itu.

"Syuuuttt.... serr-serr-serrr....!"

Kakek botak itu dengan tenang namun cepat memutar tubuhnya ke empat penjuru sambil memukulkan kedua telapak tangannya ke depan.

Tampak sinar berapi menyambar dari telapak tangannya dan runtuhlah semua anak panah yang menyambar ke arah dirinya dan bahkan ada beberapa batang anak panah kayu yang terbakar!

Kyai Sidhi Kawasa tertawa terkekeh, akan tetapi sepasang matanya yang agak sipit itu mengeluarkan sinar kemarahan.

"Heh-heh-heh, beginikah caranya orang Surabaya menyambut datangnya sahabat? Kalau begitu, majulah kalian semua. Mari tandingi Kyai Sidhi Kawasa, jangan menyerang secara menggelap seperti pengecut."

Senopati Poncosakti yang bersembunyi dalam rumah itu menjadi terkejut bukan main mendengar kakek itu memperkenalkan namanya.

Setelah mengetahui bahwa kakek itu adalah Kyai Sidhi Kawasa dari Banten, tergopoh-gopoh dia merapikan pakaiannya dan keluar untuk menyambut tamu agung yang namanya amat terkenal itu.

Dia sudah mendengar bahwa datuk Banten itu seorang yang sakti mandraguna dan juga bersikap memusuhi Mataram maka dapat dianggap sebagai seorang yang sehaluan.

Setelah pakaiannya rapi dia lalu keluar dari pintu depan pondok itu dan pada saat itu, para pengawalnya yang merupakan pasukan kecil terdiri dari lima belas orang juga sudah muncul dari empat penjuru dan mengepung Ky Sidhi Kawasa.

Melihat para anak buahnya mengambil sikap memusuhi kakek itu, Senopati Poncosakti menghardik.

"Kalian semua mundurlah dan siapkan pesta perjamuan untuk menyambut tamu agung!"

Mendengar perintah ini, lima belas orang anak buah itu segera mengundurkan diri dan menuju ke belakang pondok.

Senopati Poncosakti sendiri lalu cepat menghampiri tamunya dan memberi hormat dengan sembah.

"Kami mohon maaf yang sebesarnya karena tidak mengenal andika maka kami telah bersikap kurang hormat. Saya, Senopati Poncosakti, atas nama Gusti Pangeran Pekik mohon maaf dan mempersilakan andika masuk agar kita dapat bicara di dalam."

"Heh-heh-heh, aku mendengar dari Ki Harya Baka Wulung bahwa di sini terdapat jaringan telik sandi Surabaya yang dipimpin oleh seorang bekas senopati Pamekasan yang bernama Ki Brojowiro. Andikakah orangnya?"

Senopati Poncosakti kembali memberi hormat dan menyembah, lalu menoleh ke kanan kiri.

"Saya persilakan andika untuk masuk dan sebaiknya kita bicara di dalam saja, kakang Kyai Sidhi Kawasa."

Kakek dari Banten itu terkekeh dan mengangguk-angguk tanda bahwa dia mengerti akan sikap sang senopati yang agaknya hendak merahasiakan asal-usulnya itu..

Dia lalu mengikuti tuan rumah memasuki pondok dan tak lama kemudian mereka sudah duduk berhadapan di dalam sebuah ruangan tertutup.

"Benar dugaan andika, kakang Kyai, dahulu saya adalah seorang senopati Pasuruan yang membela Pasuruan dari serbuan Mataram. Setelah Pasuruan jatuh saya melarikan diri ke Surabaya dan oleh Gusti Pangeran Pekik saya diangkat menjadi senopati mengepalai para telik sandi yang mengamati gerak-gerik Mataram dan mendapatkan nama Senopati Poncosakti. Demi menjaga keamanan tugas saya, saya tidak lagi menggunakan nama Brojowiro. Tentu andika mengerti apa yang saya maksudkan."

"Heh-heh-heh, aku mengerti, adi Poncosakti."

"Harap kakang Kyai memaklumi akan sikap kami yang berhati-hati. Tempat kami ini merupakan tempat rahasia yang hanya dikunjungi kawan-kawan sehaluan yang menentang Mataram. Karena kemunculan andika tadi yang tiba-tiba dan kami belum mengenal andika sebelum andika menyebut nama, maka kami mengira bahwa andika adalah dari pihak musuh yang hendak melakukan penyelidikan, maka kami langsung menyerang andika."

"Hemm, aku mengerti, adi senopati. Aku juga mengetahui tentang tempat ini dari petunjuk Ki Harya Baka Wulung."

"Kakang Harya Baka Wulung memang pernah berkunjung ke sini, dan kedatangan andika ini tentu membawa berita penting sekali. Saya siap untuk mendengarkan, kakang Kyai."

"Sesungguhnyalah. Aku hanya hendak menyampaikan pesan dari Ki Harya Baka Wulung. Dia yang mengundangku dari Banten ke Madura untuk membantu Madura menghadapi ancaman Mataram dan dia minta kepadaku untuk menghubungi andika karena ada tugas yang penting sekali."

"Tugas apakah itu, kakang Kyai? Harap ceritakan dan saya siap melaksanakan kalau hal itu demi membela Surabaya."

"Bukan semata-mata membela Surabaya, melainkan terutama sekali untuk menentang Mataram."

"Wah, itulah tujuan utamaku dalam membela Surabaya, kakang Kyai. Saya akan menentang dan melawan Matararn, membantu mereka yang memusuhi Mataram, sampai Mataram jatuh atau saya yang mati!"

Kata senopati itu penuh semangat.

"Begini, adi senopati. Menurut keterangan Ki Harya Baka Wulung, Mataram sedang berusaha untuk membujuk Surabaya agar jangan membantu Madura yang akan diserbu oleh Mataram. Sultan Agun akan membujuk Pangeran Pekik untuk bekerja sama dan mengikat perdamaian di antara mereka, kemudian bersama-sama menentang pemerintah Kumpeni Belanda di Jayakarta. Kalau hal ini sampai terjadi, maka tentu saja kedudukan Madura menjadi lemah dan Mataram menjadi semakin kuat. Menurut penyelidikanku ketika aku melakukan perjalanan ke sini, utusan Sultan Agung yang membawa surat yang ditujukan kepada Pangeran Pekik itu sudah meninggalkan Mataram. Karena itu, Ki Harya Baka Wulung ingin minta bantuanmu agar mengatur rencana bagaimana baiknya untuk menggagalkan usaha Mataram untuk berdamai dan bekerja sama dengan Surabaya."

Poncosakti menghela napas panjang.

"Saya sudah mengkhawatirkan hal ini akan terjadi. Memang Gusti Pangeran Pekik agak lemah menghadapi Sultan Agung. Akan tetapi, serahkan hal ini kepada saya, kakang Kyai Sidhi Kawasa. Saya akan dapat mengatur agar usaha Sultan Agung itu tidak akan berhasil."

Kyai Sidhi Kawasa lalu dijamu pesta makan oleh Senopati Poncosakti.

Setelah puas bercakap-cakap, datuk dari Banten itu lalu meninggalkan tempat itu untuk melanjutkan perjalanan ke Madura memenuhi undangan Ki Harya Baka Wulung.

Setelah tamunya pergi, Senopati Poncosakti memanggil beberapa orang kepercayaannya untuk merundingkan persoalan yang disampaikan oleh Kyai Sidhi Kawasa kepadanya itu.

Dia maklum bahwa Pangeran Pekik memang tidak begitu keras sikapnya terhadap Mataram dan kalau Sultan Agung benar-benar hendak membujuknya, bukan tidak mungkin Pangeran Pekik akan menjadi lunak hatinya.

Poncosakti lalu mengatur siasatnyca.

Dia sudah merencanakan sebaik-baiknya untuk menggagalkan usaha Sultan Agung.

Dengan menyebar anak buahnya, muda saja baginya untuk segera dapat menemukan orang yang menjadi utusan Sulta Agung untuk pergi menghadap Pangera Pekik dan menyampaikan surat Raja Mataram itu.

Diam-diam Poncosakti mengatur agar utusan itu selalu dibayangi.

Utusan yang dimaksudkan itu adalah seorang perwira Kerajaan Mataram, yaitu Tumenggung Alap-alap yang dibantu ole seorang perwira rendahan bernama Katawengan.

Kedua orang ini menunggang kuda dan memasuki Kadipaten Surabaya tanpa halangan.

Mereka sama sekali tidak tahu bahwa sejak dari perbatasan mereka diam-diam dibayangi beberapa orang kepercayaan Poncosakti.

Sebagai utusan Mataram, dengan mudah Tumenggung Alap-alap bersama pembantunya diperkenankan menghadap Pangeran Pekik yang menerima mereka berdua dengan ramah.

Tumenggung Alap-alap merupakan tokoh yang cukup terkenal sehingga Pangeran Pekik juga mengenalnya.

Dia seringkali menjadi senopati Mataram dan namanya terkenal ketika Mataram menaklukkan daerah-daerah di Jawa Timur.

Karena yang datang menghadap adalah seorang utusan Mataram, maka Pangeran Pekik tentu saja ingin pula memperlihatkan keangkeran Kadipaten Suranya.

Dia menyambut utusan itu di ruangn yang besar dan megah dan di situ berbaris rapi dan tampak kokoh kuat berwibawa sepasukan pengawal yang berjumlah dua losin perajurit berpakaian mewah.

Karena utusan itu adalah utusan pribadi Sultan Agung, bukan utusan kerajaan dengan urusan yang terbuka, maka tidak ada menteri atau senopati yang hadr, juga tidak ada keluarga kadipaten.

"Ah, kiranya paman Tumenggung Alap-alap yang datang menghadap sebagai utusan Pamanda Sultan Agung di Mataram. Bagaimana kabarnya, paman? Baik-baik sajakah selama dalam perjalanan ke Surabaya?"

Tumenggung Alap-alap memberi hormat dengan sembah.

"Berkat pangestu paduka, keadaan hamba baik-baik saja dan dapat sampai di sini dengan selamat. Hamba menghaturkan sembah sujut dan hormat hamba, gusti."

"Terima kasih, paman TumenggunSebagai utusan Pamanda Sultan, berita apakah yang andika bawa ke sini? Pamanda Sultan mengutus andika untuk menyampaikan apakah?"

"Pertama-tama Kanjeng Gusti Sultan Agung menyampaikan salam dan kabar selarnat dan selain itu hamba diperintahkan untuk menyampaikan sebuah sur at kepada paduka."

"Begitukah, paman? Mari, berikan surat itu kepadaku."

Tumenggung Alap-alap lalu mengeluarkan segulung surat dan menyerahkan kepada Pangeran Pekik dengan kedua tangan dan surat itu diterima oleh Pangeran Pekik.

Suasana menjadi hening ketika sang pangeran membaca surat itu.

Diam-diam Tumenggung Alap-alap yang tidak pernah kehilangan kewaspadaann itu menggunakan kesempatan selagi Pangeran Pekik membaca surat dari Sultan Agung untuk mengerling ke kanan kiri untuk menyelidiki apakah ada sesuatu yang mencurigakan.

Dia mengetahuf benar bahwa biarpun pada hakekatnya Pangeran Pekik sendiri tidak terlalu keras memusuhi Mataram, namun banyak tokoh Surabaya yang diam-diam amat menentang Mataram, apalagi Surabaya dijadikan tempat pelarian dari banyak tokoh dari para kadipaten-kadipaten yang telah ditaklukkan oleh Mataram dan mereka ini mendendam kepada Mataram.

Ketika pandang matanya menyapu ruangan itu dan memandangi para perajurit pengawal satu demi satu, dia melihat pandang mata seorang perajurit pengawal yang bersinar-sinar penuh kebencian kepadanya.

Akan tapi begitu bertemu pandang, perajurit pengawal itu segera menundukkan mukanya.

Pada saat itu terdengar suara tawa Pangeran Pekik.

Ketika Tumenggung Alap-alap memandang, dia melihat bangsawan itu tampak bergembira dan tersenyum lebar.

"Ahh, paman Tumenggung, senang sekali hati kami menerima surat Pamanda Sultan Agung ini. Tunggu sebentar, paman, akan langsung kami buatkan surat balasannya."

Pangeran Pekik lalu meninggalkan tempat duduknya, melangkah ke lain ruangan dan untuk beberapa saat lamanya dia duduk menunggu.

Ketika dia mengerling, beberapa kali dia bertemu pandang dengan perajurit pengawal yang sinar matanya penuh kebencian memandang kepadanya itu.

Dia harus berhati-hati, pikirnya.

Ketika berangkat meninggalkan Mataram, diapun sudah berhati-hati.

Dia tahu bahwa dia membawa surat yang amat penting, surat dari Sultan Agung yang isinya membujuk Pangeran Pekik untuk berdamai dan bekerja sama.

Hal ini tentu mendatangkan rasa tidak suka dalam hati mereka yang menentang Mataram.

Karena itu diapun sudah amat berhati-hati bahkan selain membawa Katawengan, seorang perwira yang tangguh, dia juga diam-diam menyuruh seorang kepercayaannya bernama Kalingga untuk membayangi dan mengawasi mereka kalau-kala ada pihak lawan yang hendak mengganggu.

Setelah dia dan pembantunya, Katawengan, tiba di perbatasan Kadipaten Surabaya, Tumenggung Alap-alap memanggil Kalingga dan memesan agar pembantunya itu menanti di perbatasan itu sampai dia dan Katawengan keluar dari Suabaya.

Kalau terjadi apa-apa dengan dia dan Katawengan, maka Kalingga harus segera kembali ke Mataram dan melapor kepada Sultan Agung.

Tak lama kemudian Pangeran Pekik masuk lagi ke ruangan itu dan dengan senyum ramah dia menyerahkan segulung surat balasan yang ditujukan kepada Sulan Agung di Mataram.

"Paman Tumenggung, sampaikan surat balasan kami ini kepada Paman Sultan Agung di Mataram, disertai sembah hornat kami kepada beliau."

"Sendika, gusti. Hamba mohon pamit agar secepat mungkin hamba dapat menghaturkan surat paduka ini kepada Gusti Sultan!"

"Baik, paman. Berhati-hatilah dalam perjalanan."

Tumenggung Alap-alap dan perwira Katawengan lalu menghaturkan sembah dan mohon diri, lalu keluar dari istana kadipaten.

Setibanya di luar, mereka menerima dua ekor kuda tunggangan mereka dari para penjaga yang sudah mengurus dan memberi makan kuda mereka itu.

Kemudian mereka berdua lalu melarikan kuda mereka keluar dari kota kadipaten Setibanya di perbatasan, mereka di sambut oleh Kalingga yang dengan patuh menunggu di tempat sunyi itu.

Tumenggung Alap-alap mengajak kedua orang pembantunya untuk berunding.

"Aku mendapat firasat kurang enak adi Katawengan dan adi Kalingga. Aku hampir merasa yakin bahwa ada pihak yang memusuhi kita akan melakukan sesuatu untuk mencelakakan kita. Bagaimanapun juga, yang lebih dulu dan lebih penting untuk diselamatkan adalah surat balasan dari Gusti Pangeran Pekik kepada Gusti Sultan Agung ini. Karena itu adi Kalingga. Andika kuserahi tugas ini, tugas yang amat penting dan harus kau laksanakan dengan taruhan nyawa. Andika tadi tidak ikut ke Surabaya, tentu mereka yang berniat jahat terhadap kita tidak mengenalmu dan andika tidak akan diganggu sehingga dapat menghaturkan surat ini kepada Gusti Sultan dengan selamat. Sementara itu, kami berdua yang tentu sudah dikenal dan diancam, akan mengambil jalan lain untuk memancing dan mengalihkan perhatian mereka agar jangan sampai mengganggumu."

Kalingga menaati perintah atasannya itu, menerima gulungan surat dan menyimpannya dalam balik bajunya.

Kemudian Tumenggung Alap-alap dan perwira Katawengan melanjutkan perjalanan mereka melalui jalan ke arah barat yang merupakan jalan besar menuju Mataram akan tetapi Kalingga lalu membalapkan kudanya ke selatan, mengambil jalan pintas.

Dugaan Tumenggung Alap-alap yang banyak pengalaman itu memang benar, akan tetapi hanya separuhnya benar.

Dia tidak tahu bahwa pemimpin jaringan telik-sandi (mata-mata), yaitu Senopati Poncosakti yang amat membenci Mataram, merupakan orang yang cerdik bukan main.

Ia tidak tahu bahwa bukan hanya dia dan Katawengan yang selalu dibayangi, bahkan Kalingga juga sudah dibayangi.

Maka ketika dia bersama Katawengan berpisah dari Kalingga, Senopati Poncosakti cepat memecah pasukannya menjadi dua.

Dia menyuruh selosin perajuritnya mengejar Tumenggung Alap-alap dan Katawengan sedangkan dia sendiri bersama tiga orang perajurit mengejar Kalingga yang membawa surat Pangeran Pekik untuk Sulta Agung.

Ki Kalingga yang membalapkan kudanya, setelah cukup jauh dari perbatasan memperlambat larinya kuda yang suda ngos-ngosan.

Dia merasa lega karena kini sudah berada di daerah Mataram, d daerah sendiri yang tentu aman.

Aka tetapi ketika kudanya berjalan perlahan tiba-tiba terdengar derap kaki banya kuda berlari cepat dari arah belakangnya Dia masih tidak menaruh curiga karena ketika dia menengok, dari belakang datang empat orang penunggang kuda yang pakaiannya seperti petani biasa.

Dia meminggirkan kudanya agar binatang itu jangan terkejut atau takut kalau empat orang penunggang kuda itu lewat.

Akan tetapi begitu empat orang itu melewatinya, tiba-tiba mereka menahan kuda mereka dan membalikkan kuda menghadapinya, kemudian mereka berlompatan turun.

Seorang dari mereka, yang gagah pcrkasa, tinggi besar seperti Gatotkaca dengan kumisnya yang sekepal sebelah, cepat melompat ke depan dan menarik kendali kuda.

Kuda yang ditunggangi Kalingga meringkik, mengangkat kedua kaki depannya ke atas dan Ki Kalingga terpaksa melompat ke belakang, berjungkir balik tiga kali dan turun ke atas tanah dengan tegak.

Gerakannya ini membuat Senopati Poncosakti, yang memimpin tiga orang perajuritnya, tertegun dan maklumlah dia bahwa lawannya adalah seorang yang tangguh.

Ki Kalingga marah, mengira bahwa vmpat orang itu adalah segerombolan perampok, maka dia membentak nyaring.

"Heh, orang-orang sesat! Buka mata kalian baik-baik dan lihat siapa aku! Aku adalah seorang perwira jagabaya di Mataram, kepercayaan Gusti Sultan Agung. Apa maksud kalian berani menghadang perjalananku?"

Senopati Poncosakti tertawa. Dia sengaja bersikap seperti seorang kepala gerombolan perampok, seperti yang telah dia rencanakan.

"Ha-ha-ha! Kami tidak perduli siap engkau! Akan tetapi siapapun juga yang lewat di daerah kekuasaan kami ini, harus membayar pajak dengan meninggalkan semua harta kekayaannya. Nah, berikanlah semua hartamu, baru engkau boleh pergi dari sini dengan nyawa utuh!"

Ki Kalingga adalah seorang perwira yang digdaya.

Tentu saja dia tidak takut menghadapi segala macam perampok apalagi kalau hanya empat orang banyaknya.

Pula, bagaimana mungkin dia menyerahkan semua barang yang dibawanya.

Berarti dia harus menyerahkan pula gulungan surat dari Pangeran Pekik yang harus dilindungi dan dibelanya dengan taruhan nyawa.

"Babo-babo, keparat! Berani kalian merampok seorang perwira pasukan jagabaya Kerajaan Mataram? Agaknya kalian berempat sudah bosan hidup!"

"Kawan-kawan, serang dia!"

Senopati Poncosakti memberi komando dan dia sendiri sudah melompat ke depan dan langsung mengayun tangan kanannya memukul ke arah dada Ki Kalingga.

Perwira Mataram itu mengerahkan tenaga dan menangkis.

"Wuuuttt... dess!"

Kedua orang itu terdorong mundur dan keduanya terkejut.

Ki Kalingga sama sekali tidak mengira bahwa orang yang disangkanya perampok itu memiliki tenaga yang demikian kuatnya, setingkat dengan tenaganya sendiri!

Sebaliknya Poncosakti juga sama sekali tidak mengira bahwa perwira Mataram yang tidak terkenal itu demikian kuatnya.

Tiga orang anak buahnya juga menerjang ke arah Kalingga.

Namun, dengan tamparan dan tendangan kakinya, Kalingga dapat membuat tiga orang itu terpelanting.

Melihat ini, Poncosakti lalu mencabut sepasang trisula gagang pendek dan dengan senjata ini diapun menerjang dengan hati marah dan penasaran.

Aknn tetapi, Kalingga juga mencabut sebatang klewang (golok) dari punggungnya dan memutar senjata itu menangkis serangan sepasang trisula itu.

"Trang".. cringgg". !"

Bunga api berpijar ketika sepasang trisula itu bertemu klewang.

Kembali keduanya merasa betapa tangan mereka yang memegang senjata tergetar.

Tiga orang anak buah Poncosakti sudah bangkit dan mereka kini menyerang pula dengan senjata pedang mereka.

Kalingga maklum bahwa dirinya terancam bahaya maut.

Mengingat bahwa tiga orang yang tadi dirobohkan merupakan lawan yang paling lemah, maka kini sambil berloncatan mengelak dan menangkis serangan Poncosakti, dia cepat menggerakkan klewangnya mendesak tiga orang itu.

Terdengar suara berkerontang ketika klewangnya berhasil membuat pedang di tangan tiga orang lawan ini terlepas dan dengan tendangan-tendang kakinya yang disertai tenaga sakti, tiga orang anak buah Poncosakti itupun terlempar dan terbanting roboh.

Mereka menjadi jerih dan juga tendangan tadi membuat mereka tidak mampu untuk menngeroyok lagi.

Kini Poncosakti harus melawan seorang diri.

Terjadilah perkelahian yang seru dan seimbang.

Tiga orang anak buah Poncosakti itu hanya menonton dari jarak aman karena mereka merasa tidak mampu untuk membantu menghadapi lawaan yang amat tangguh itu.

Mereka tahu, pengeroyokan mereka hanya akan mengganggu gerakan Poncosakti, pula mungkin saja merupakan bunuh diri bagi mereka.

Selagi tiga orang anak buah yang kesemuanya merupakan perajurit Kadipaten Surabaya yang menjadi anggauta pasukan yang membantu Poncosakti itu menonton tiba-tiba seorang dari mereka disambar sesosok bayangan dan lenyap.

Kejadian ini berlangsung cepat dan perajurit itu tidak sempat dan tidak mampu mengeluarkan suara sehingga dua orang rekannya yang asyik menonton pertandingan seru itu tidak tahu bahwa seorang teman mereka lenyap diculik orang!

Ketika perajurit yang diculik itu diturunkan tak jauh dari situ dan dilepaskan, namun pundaknya dicengkeram tangan yang amat kuat sehingga dia menyeringai kesakitan, dia melihat di situ berdiri seorang pemuda yang tadi melarikannya dan kini mencengkeram pundaknya, bersama seorang gadis yang amat cantik manis.

Pemuda itu bukan lain adalah Satyabrata dan gadis itu adalah Maya Dewi!

"Aduh....

ampun" !"

Perajurit itu mengeluh.

"Cepat katakan, siapa yang sedang bertanding itu dan jangan berbohong. Sedikit saja berbohong, semua tulang dalam badanmu akan kuhancurkan!"

Kata Satyabrata sedangkan Maya Dewi hanya memandang dengan senyum manis, seolah melihat suatu pertunjukkan yang menyenangkan hatinya.

Merasa betapa jari-jari tangan itu mencengkeram pundaknya sehingga tulang pundaknya mengeluarkan bunyi berkeretakan dan terasa nyeri seolah-olah hendak patah-patah, perajurit itu tak berani berbohong.

"Yang bersenjata sepasang trisula adalah atasan kami, Senopati Poncosakti dari Kadipaten Surabaya. Sedangkan yang bersenjata sebatang klewang itu adalah seorang perwira Mataram."

Mendengar pengakuan ini, tiba-tiba Satyabrata melepaskan cengkeraman tangannya. Orang ini adalah perajurit Surabaya yang harus dibantunya karena Surabaya menentang Mataram.

"Hemm, begitukah? Kalau begitu, kita adalah orang sendiri. Biar aku membantu Senopati Poncosakti untuk membunuh perwira Mataram itu!"

"Akang Satya, serahkan saja jahanam itu kepadaku. Aku akan membunuhnya,"

Kata Maya Dewi sambil tersenyum manis sekali. Mendengar dua orang itu akan membunuh perwira Mataram, perajurit itu segera berkata.

"Raden, harap jangan membunuh perwira Mataram itu! Justeru atasan kami tidak ingin membunuhnya, hanya merobohkan dan membuat dia tidak berdaya."

"Hemm, mengapa begitu?"

Tanya Satyabrata.

"Karena Senopati Poncosakti ingin melakukan sesuatu terhadap surat dari Pangeran Pekik kepada Sultan Agung yang dibawa oleh perwira Mataram itu."

"Hemm, begitukah? Akan kubantu dia merobohkan perwira Mataram itu. Mari nimas, kita ke sana!"

Dua orang itu berkelebat dan lenyap dari depan perajurit itu yang ternganga dan terbelalak, lalu diapun kembali ke tempat perkelahian tadi.

Poncosakti masih bertanding melawan Kalingga yang mempertahankan diri mati-matian.

Perlahan-lahan Poncosakti mulai terdesak, bahkan pundak kirinya sudah tercium ujung klewang sehingga baju dan kulit pundaknya terobek berdarah.

Untung baginya luka itu tidak dalam.

Namun cukup perih untuk membuat gerakan trisula di tangan kirinya kurang lincah dan mulailah dia terdesak.

Tiba-tiba tampak bayangan yang cepat sekali berkelebat.

Bayangan itu menerjang ke arah Kalingga.

Gerakannya begitu cepat dan tangan kiri bayangan itu meluncur ke arah muka Kalingga dengan cengkeraman ke arah mata!

"Ahhh".

!!"

Kalingga terkejut buka main.

Cepat dia membuang diri ke belakang untuk menghindarkan diri, dan siap untuk membalas serangan itu dengan bacokan goloknya.

Akan tetapi tiba-tiba sesosok bayangan lain berkelebat di belakangnya dan sebuah tangan kecil hal menepuk dan mengenai tengkuk Kalingga.

"Plakk!"

Perlahan saja tangan halus Maya Dewi itu menepuk tengkuk, akan tetapi seketika tubuh Kalingga terkul dan diapun roboh tak sadarkan diri.

Senopati Poncosakti tentu saja merasa girang, akan tetapi juga amat kagum dan heran melihat pemuda yang tampan dan gadis yang cantik jelita itu, yang begitu mudahnya merobohkan perwira Mataram.

Dia segera memberi hormat dan bertanya.

"Banyak terima kasih atas barttu andika berdua. Siapakah andika berdua yang telah membantu kami, kalau boleh kami mengetahui nama andika berdua yang terhormat."

Satyabrata mengeluarkan sekeping uang dinar emas dan memperlihatkannya kepada Poncosakti.

"Paman Senopati Poncosakti, apakah andika mengenal ini?"

Poncosakti memandang dan dia terkejut.

Dia sudah pernah mendengar bahwa seorang yang memegang dinar emas istimewa bergambar singa itu adalah seorang telik-sandi (matamata) Kumpeni Belanda yang berkedudukan tinggi!

Dia cepat memberi hormat.

"Ah, kiranya andika datang dari Jayakarta!"

"Paman Poncosakti, karena mendengar bahwa yang kaulawan adalah seorang perwira Mataram dan andika tidak ingin membunuhnya, maka kami sengaja menbantumu. Aku bernama Satyabrata dan ini adalah Maya Dewi. Nah, apa yang hendak kaulakukan terhadap orang Mataram ini?"

"Dia membawa surat dari Gusti Pangeran Pekik untuk Sultan Agung yang membujuknya untuk bekerja sama. Karena itu, kami ingin mengubah isi surat untuk mendatangkan keretakan antara Mataram dan Surabaya."

"Bagus sekali. Nah, lakukanlah cepat sebelum orang itu sadar kembali."

"Hi-hik, jangan khawatir! Sebelum kukehendaki, dia tidak akan bisa sadar!' Maya Dewi tersenyum. ---------------------------------------------------------------------------------------------------------------Maaf Ada Halaman Yang Hilang .

Jilid 20 tidak ada ---------------------------------------------------------------------------------------------------------------"BABO-BABO, bocah lancang!

Seruling Gading, kami adalah orang-orang yang membela Kadipaten Surabaya.

Pergilah dan jangan mencampuri urusan kami kalau engkau ingin selamat!"

Bentak Kyai Sidhi Kawasa.

Pasukan Surabaya yang masih siap dengan senjata mereka, yang kini berbesar hati karena muncul kakek Nakti yang membantu mereka, kini mulai mengurung Parmadi dan siap menyerang.

Mendengar ini, Parmadi merasa heran mengapa kakek sakti ini membantu Surabaya dan siapa pula orang gagah perkasa yang diserang ini dan yang temannya tewas.

Maka untuk memperoleh penjelasan, dia lalu bertanya kepada Tumenggung Alap-alap.

"Ki-sanak, siapakah andika dan mengapa berkelahi di sini?"

Tumenggung Alap-alap merasa bahwa dia telah ditolong pemuda ini, bahkan telah diselamatkan nyawanya, dan melihat penampilan Parmadi yang berjuluk, Seruling Gading itu, dia lalu menjawab, terus terang.

"Orang muda, aku adalah Tumenggung Alap-alap, senopati dan utusan Kanjeng Gusti Sultan Agung di Mataram. Baru saja, aku diutus junjunganku menghadap Gusti Pangeran Pekik di Surabaya yang menerimaku dengan baik, menyerahkan surat yang dibalas pula oleh sang pangeran. Akan tetapi tiba-tiba datang pasukan ini yang katanya mendapat perintah sang pangeran untuk menangkap aku. Tentu saja aku yang tidak merasa bersalah melawan dan kakek ini datang membantu pasukan, membunuh seorang pembantuku dan nyaris membunuhku."

Parmadi kini maklum siapa yang harus dibantunya.

Tentu saja senopati Mataram itu yang harus dibantunya.

Akan tetapi agar persoalannya jelas, dia lalu menghadapi Kyai Sidhi Kawasa dan dua belas orang pasukan itu.

"Kenapa Gusti Pangeran Pekik menyuruh kalian membunuh utusan Gusti Sultan Agung?"

"Bocah, jangan ikut campur!"

Bentak Kyai Sidhi Kawasa.

"Madura adalah musuh Mataram, tahukah kamu?"

"Akan tetapi, menurut Ki Tumenggung ini, Pangeran Pekik telah menerimanya dengan baik,"

Bantah Parmadi.

"Kami diperintah Gusti Pangeran untuk menangkap Tumenggung Alap-alap dan membawanya kembali ke Surabaya karena kami mendengar bahwa Mataram sudah sia-siap untuk menyerang Madura vang menjadi sekutu Surabaya. Karena dia menolak, maka kami mendapat tugas untuk membunuhnya!"

Kata perwira yang inemimpin pasukan itu.

"Kalau begitu, kalian yang tidak benar! Aku akan membela Ki Tumenggung!"

Kata Parmadi dengan sikap tenang. Kyai Sidhi Kawasa menjadi marah sekali. Dia memutar tasbehnya sehingga terdengar bunyi berkeritikan yang nyaring. Parmadi berkata kepada Tumenggung Alap-alap.

"Paman Tumenggung, minggirlah dan tanggulanggi saja kalau para perajurit ini hendak melakukan pengeroyokan. Biar saya yang menghadapi kakek ini."

Kemudian dia menghadapi kakek itu dan berkata kepadanya.

"Kakek yang baik, andika sudah tua mengapa memusuhi Mataram? Siapakah andika dan dari mana andika datang?"

"Seruling Gading! Memang sebaiknya engkau mengenalku agar tidak mati penasaran dan tahu siapa yang membunuhmu nanti. Aku adalah Kyni Sidhi Kawasa, mantan senopati Kerajaan Banten. Akulah datuk di Banten!"

Parmadi mengangguk-angguk.

Dia per.nah mendengar dari gurunya, Resi Tejo Wening, bahwa ada tiga datuk besar yang memusuhi Mataram dan bahwa dia harus berhati-hati menghadapi mereka.

Mereka adalah Ki Harya Baka Wulung datuk dari Madura, Sang Wiku Menak Koncar datuk dari Blambangan dan ketiga adalah Kya Sidhi Kawasa dari Banten.

Kiranya inilah orangnya!

"Ah, kiranya andika yang bernama Kyai Sidhi Kawasa dari Banten!

Sudah lama sekali aku mendengar bahwa engkau selalu memusuhi Mataram, bahkan ketika Raja Banten hendak berbaik dengan Gusti Sultan Agung, engkau mengundurkan diri dari kedudukanmu sebagai seorang senopati agung."

"Bagus kalau engkau sudah tahu akan hal itu. Setelah engkau mengetahui bahwa aku musuh Mataram, kenapa engkau musih berani untuk membela Mataram di depanku? Apakah engkau sudah bosan hidup, orang muda?"

"Kyai Sidhi Kawasa, aku adalah seorang kawula Mataram, sudah sepantasnya kalau aku membela Mataram dengan taruhan nyawaku. Kalau engkau membela Banten mati-matian, hal itu masih dapat kurnengerti. Akan tetapi kini engkau membela Surabaya dan Madura, apa artinya ini? Apa engkau sudah menjadi tukang pukul yang menerima bayaran dari sana-sini?"

"Bocah sombong lancang mulut! Aku membantu siapa saja yang memusuhi Mataram! Kalau engkau membantu dan membela Mataram, berarti engkau musuhku dan harus mati di tanganku!"

Dia masih memandang rendah pemuda yang bernama seperti alat gamelan yang dijadikan senjata di tangannya, yaitu Seruling Gading dan mengalungkan tasbeh di lehernya, kemudian dia sudah rnenerjang ke depan menggerakkan kedua tangannya.

Kedua telapak tangan itu bertepuk tiga kali, terdengar suara nyaring dan kedua telapak tangan itu mengeluarkan bunga api yang berpijar, seolah yang diadu itu bukan telapak tangan, melainkan dua lempengan baja.

Diam-diam Parmadi menjadi waspada.

Dia tahu bahwa kakek itu sungguh seorang yang sakti mandragrrna, seperti pernah diceritakan oleh Resi Tejo Wening kepadanya.

Dia dapat menduga bahwa kedua tangan kakek itu mengandung hawa sakti yang panas.

Gurunya yang amat menyayangnya telah menurunkan dua rnacam aji yang amat hebat kepadanya, yaitu Aji Sunya Hasta (Tangan Kosong) dan Aji Sunyatmaka (Berjiwa Bebas) yang dapat dia kerahkan melalui tiupan seruling gading pemberian gurunya.

Dua ilmu ini sudah lebih dari cukup untuk menghadapi ilmu yang bagaimanapun hebatnya, baik ilmu silat maupun ilmu sihir yang berbahaya.

Kini, menghadapi terjangan kakek itu yang menggunakan Aji Hastanala (Tangan Api), dengan tenang Parmadi mengelak ke samping lalu menggerakkan tangannya menggapai sebagai tangkisan dengan pergelangan tangan diputar.

Tampaknya gerakan ini kosong saja, tidak rnengandung tenaga apapun, akan tetapi ketika Kyai Sidhi Kawasa hendak menggunakan tangannya yang panas itu untuk menggempur tangan Parmadi, dia merasa terkejut bukan main.

Seluruh tubuhnya tergetar dan tangannya yang bertemu dengan tangan Parmadi seperti api yang dimasukkan air dingin, terasa dingin menyusup tulang!

Tentu saja dia terkejut bukan main dan melompat ke belakang.

Namun, ternyata Parmadi tidak bermaksud mencelakainya, karena tangan kirinya tidak cidera.

Kyai Sidhi Kawasu merasa penasaran dan dia lalu menggosok-gosok lagi tangan kirinya dengan tangan kanan sehingga tangan kiri itu menjadi panas membara kembali!

Dia lalu menyerang dengan ganas sekali, mengeluarkan seluruh kecepatannya dan mengerahkan seluruh tenaganya.

Namun, dengan gerakan yang tampaknya lambat saja, Parmadi dapat menghindarkan diri dari semua serangan dan juga dia mampu membalas dengan tamparan-tamparan yang tampaknya perlahan saja, akan tetapi setiap kali ditangkis oleh tangan Kyai Sidhi Kawasa, kakek itu terdorong dan tubuhnya terguncang keras!

Sementara itu, Ki Tumenggung Alap-alap sudah dapat mengambil kerisnya yang tadi terpental dan berdiri tegak menjaga agar dua belas orang perajurit itu tidak ada yang bergerak mengeroyok.

Para perajurit itu agaknya juga tidak berani sembarangan turun tangan karena tadi mereka sudah merasakan betapa tangguhnya sang senopati dari Mataram itu.

Mereka hanya mengharapkan Kyai Sidhi Kawasa memenangkan pertandinga melawan pemuda yang menyebut dirinya Seruling Gading itu karena kalau kakek itu menang, akan mudah saja menangkap atau rnembunuh Tumenggung Alap-alap.

Kyai Sidhi Kawasa menjadi semakin penasaran dan akhirnya menjadi marah sekali.

Sungguh tidak pernah disangkanya sama sekali bahwa seorang yang masih begitu muda dapat menandingi Aji Hastanala yang jarang bertemu tanding itu, bahkan dia mulai terdesak setelah mereka bertarung selama tiga puluh jurus lebih.

Dia tahu bahwa sekali saja dia terkena tamparan tangan yang kelihatan tak bertenaga itu, belum tentu dia akan dapat bertahan.

"Aji Analabanu! Augghhhh""!!"

Dia berteriak dengan suara nyaring dan serak seperti auman seekor binatang buas.

Kedua tangannya mendorong ke depan dan tampak sinar berapi meluncur dan menyerbu ke arah Parmadi.

Ini merupakan aji pukulan jarak jauh yang amat dahsyat.

Parmadi maklum akan kehebatan pukulan ini, maka diapun merentangkan kedua kakinya, lutut agak ditekuk dan menggunakan kedua tangan mendorong ke depan untuk menyambut serangan lawan sambil berseru lirih.

"Hehhh".!"

"Syuuuuttt.... byarrrr". !!"

Sinar berapi itu seperti pecah berhamburan menjadi bungabunga api dan tubuh Kyai Sidhi Kawasa terhuyung ke belakang, wajahnya pucat dan keringat membasahi dahinya.

Dasar orang yang sudah terbiasa mengagulkan diri sendiri dan memandang rendah orang lain, Kyai Sidhi Kawasa tidak merasa kalah, bahkan menjadi semakin marah.

Dia mengambil tasbeh dari lehernya dan memutar senjata aneh yang biasa dipakai untuk bersembahyang itu.

Terdengar bunyi berkeritikan dan ketika dia menggerakkan tasbeh itu, tampak sinar hitam menyambar-nyambar ke arah Parmadi.

Pemuda ini sudah siap siaga.

Seruling gading telah berada di tangannya dan kini dua orang itu bertanding, mempergunakan dua senjata mereka yang aneh.

Kalau tasbeh itu berubah menjad sinar hitam bergulung-gulung, seruling gading itupun berubah menjadi sinar kuning putih yang terang.

Kalau tasbeh itu mengeluarkan suara berkeritikan, suling itu mengeluarkan suara melengking-lengking seperti ditiup.

Suatu pertandingan yang aneh dan para perajurit Surabaya menjadi pening mendengar dua suara yang amat berbeda itu.

Bahkan Ki Tumenggung Alap-alap harus mengerahkan tenaga saktinya untuk melindungi telinganya agar dia jangan sampai terserang dan menjadi pening pula.

Kedua senjata itu beberapa kali bertemu dengan kuatnya dan setiap kali beradu, tubuh Kyai Sidhi Kitwasa tergetar hebat.

Akhirnya saking marahnya, hampir putus asa karena makin lama tenaganya semakin berkurang, kakek itu melompat ke belakang lalu mengeluarkan suara tawa yang aneh namun yang amat hebat pengaruhnya!

Suara itu seperti gelombang melanda telinga dan jantung.

Dua belas orang perajurit itu jatuh bergulingan, bahkan Tumenggung Alap-alap kini duduk bersila mengerahkan tenaga sakti untuk menolak pengaruh suara yang dahsyat itu.

Tiba-tiba terdengar suara lengkingan merdu ditiup oleh Parmadi, mengalunkan lagu yang amat indah menyenangkan, sejuk rasanya di telinga dan hati dan perlahan-lahan pengaruh suara tawa iblis itupun reda dan lenyap.

Ketika Tumenggung Alap-alap mengangkat muka, dia melihat bahwa kakek itu telah melarikan diri tunggang-langgang, meninggalkan dua belas orang perajurit yang sudah tak bergulingan lagi, namun dengan wajah pucat mereka masih duduk di atas tanah seperti orang bingung dan ketakutan.

Parmadi sudah siap untuk mencegah kalau-kalau senopati Mataram itu hendak membunuh mereka.

Akan tetapi ternyata tidak.

Tumenggung Alap-alap hanya berkata kepada mereka.

"Cepat kalian gali lubang dan kuburkan jenazah Ki Katawengan ini dengan baik-baik?"

Dua belas orang perajurit yang ketakutan itu segera melaksanakan perintah itu. Mereka menggali lubang dengan cepat. Sementara itu, Tumenggung Alap-alap menghampiri Parmadi dan berkata dengan kagum.

"Orang muda, banyak terima kasih atas pertolonganmu. Bolehkah aku mengetahui siapa nama andika?"

Mereka bicara agak jauh dari tempat di mana para perajurit Surabaya itu menggali lubang agar percakapan mereka tidak sampai terdengar oleh mereka.

"Paman tumenggung, nama saya adalah Parmadi dan orang yang tidak mengenal saya menyebut saya Seruling Gading."

"Engkau memang pantas menggunakan sebutan Seruling Gading. Ilmu kepandaianmu tinggi sekali. Kenapa engkau tidak mengabdi kepada Gusti Sultan Agung? Melihat kemampuanmu, tentu Kanjeng Gusti Sultan Agung akan memberi kedudukan yang tinggi kepadamu."

"Saya tidak mencari kedudukan, paman tumenggung. Akan tetapi saya memang siap membantu Mataram menghadapi musuh-musuhnya."

"Bagus kalau begitu. Aku menganjurkan agar andika membantu gerakan Mataram yang sudah bersiap-siap untuk menyerbu Madura, anakmas Parmadi. Kepandaiamu diperlukan sekali karena Madura dibantu banyak orang-orang pandai dan sakti mandraguna, di samping bantuan pihak Kumpeni Belanda yang agaknya tidak tinggal diam melihat Madura dan Surabaya akan ditundukkan Mataram."

"Akan tetapi saya masih merasa heran, paman. Tadi paman mengatakan bahwa sebagai utusan Kanjeng Gusti Sultan Agung, paman telah diterima dengan baik oleh Pangeran Pekik, Adipati Surabaya. Mengapa sekarang paman hendak dibunuh oleh pasukan Surabaya?"

Tumenggung Alap-alap menghela napas panjang.

"Itulah yang membuat hatiku merasa penasaran sekali, anak-mas. Agaknya Pangeran Pekik mendapat bujukan orang-orang jahat seperti kakek tadi yang membenci Mataram sehingga dia bertindak plintat-plintut. Hal ini harus kulaporkan segera kepada Gusti Sultan Agung."

Pada saat itu, penggalian lubang kuburan telah selesai dan Tumenggung Alap-alap lalu mengubur jenazah Ki Katawengttn secara sederhana sekali.

Setelah itu, Tumenggung Alap-alap mengijinkan dua belas orang perajurit Surabaya itu untuk kembali ke Surabaya dan diapun berpisah dari Parmadi.

Pemuda itu melanjutkan perjalanannya ke pantai untuk mencari penyeberangan ke Madura.

Sementara itu, Tumenggung Alap-alap menggunakan seekor kuda yang dirampasnya dari seorang perajurit karena kudanya sendiri sudah kabur entah ke mana, melakukan perjalanan cepat kembali k; Mataram.

Ketika Ki Kalingga, pembantu Tumenggung Alap-alap tiba di Mataram, dia langsung mohon menghadap Sang Prabu Setelah menghadap dan menyerahkan surat dari Pangeran Pekik, Sultan Agung membaca surat itu dan seketika mukanya berubah kemerahan saking marahnya.

Surat itu sungguh mengandung tantangan.

Bukan sekedar penolakan kerja sama, akan tetapi juga isinya merendahkan Mataram!

"Hemm, keparat.

Berani benar dia membuat surat seperti ini kepadaku?"

Geram Sultan Agung sambil mengepal surat itu.

Surat itu seketika hancur terkena cengkeraman tangan yang sakti, menjadi debu berhamburan.

Tak lama kemudian datang laporan bahwa Tumenggung Alap-alap datang dan rnohon menghadap.

Sultan Agung cepat menerima utusannya itu dan makin memuncak kemarahannya mendengar betapa Pangeran Pekik tidak hanya mengirim surat yang isinya kurang ajar, bahkan mengirim pasukan untuk mengejar dan membunuh utusannya itu.

"Hamba nyaris binasa, gusti. Untung bahwa berkat pangestu paduka hamba masih dilindungi oleh Gusti Allah. Pasukan itu dibantu oleh Kyai Sidhi Kawasa, datuk dari Banten yang sakti mandraguna dan hamba sudah kalah dan roboh, nyaris terbunuh oleh datuk itu. Akan tetapi tiba-tiba muncul seorang pemuda perkasa bernama Parmadi yang berjuluk Seruling Gading dan dia telah menyelamatkan hamba dan mengusir Kyai Sidhi Kawasa. Hamba sudah menganjurkan din untuk mengabdi kepada paduka, akan tetapi dia mengatakan bahwa dia tidak menginginkan kedudukan, hanya ingin membantu Mataram menghadapi musuh-musuh sebagai sukarelawan."

Sultan Agung mengangguk-angguk.

"Sejak dulu Kyai Sidhi Kawasa memang memusuhi Mataram, terutama memusuhi kami karena dia pernah kami halangi dan kami kalahkan ketika hendak melakukan perbuatan yang jahat dahulu puluhan tahun lalu ketika kami masih muda."

Kemudian Sang Prabu berpaling kepada senopati kepercayaannya, yaitu Ki Suroantani dan memberi perintah.

"Suroantani', catat nama Parmadi atsiu Seruling Gading itu. Kelak jangan lupa ingatkan kami untuk memberi anugerah kepadanya!"

"Sendika, gusti,"

Jawab Suroantani.

"Sekarang, balatentara harus dipersiapkan untuk menyerbu Madura! Panggil para menteri dan panglima untuk semua menghadap pada kami hari ini untuk persiapan itu!"

Suroantani lalu memerintahkan para pembantunya mengundang seniua panglima dan menteri dan pada hari itu juga rnereka semua menghadap Sultan Agung.

Setelah semua ponggawa menghadap, Sultan Agung lalu mengatur siasat dan membagi-bagi perintah.

Di antara mereka terdapat pula Jayasupanta yang telah memimpin pasukan menaklukkan Kadipaten Tuban dan Sultan Agung memberi anugerah kepadanya dengan mengangkatnya menjadi Tumenggung Sujanapura.

"Tumenggung Sujanapura, andika kami serahi tugas memimpin pasukan menyerbu dan menaklukkan seluruh Pulau Madura, dengan dibantu oleh Senopati Bragola dan Senopati Sumedang. Para Panglima yang menjadi bawahanmu harus memimpin pasukan masing-masing. Mereka adalah Tumenggung Jagabaya, Panji Nirabumi, Ngabei Patrabangsa, Demang Suradaksa, Rangga Awu-awu, dan Ki Panji Singajaya. Berangkatkanlah pasukan kalian melalui Majaranu, menyeberang ke Madura."

"Sendika dhawuh paduka, gusti!"

Kata Tumenggung Sujanapura yang diikuti para panglima yang namanya disebut tadi.

"Dan andika, Senopati Bragola. Dalam membantu pasukan yang dipimpin Tumenggung Sujanapura, andika bawalah balatentara dua laksa banyaknya dan andika serbu Madura lewat laut, berangkatlah dari Juwana dibantu para panglima dari Pati, yaitu Patih Harya Mangunjaya dan Patih Harya Sindureja. Adapun para panglima yang membantu andika memimpin pasukan masing-masing adalah Harya Sawunggaling, Ki Demnng Prawiratan, Ngabei Wirasraya, Rangga Penantang Yuda, Rajamenggala dan masih ada beberapa orang perwira yang dapat andika pilih sendiri di antara kalian. Dari Juwana andika bawa pasukan melalui lautan dan menuju ke Sedayu. Di sana baru pasuka andika bergabung dengan pasukan Sujanapura dan melanjutkan penyerbuan ke Madura dengan naik perahu. Nah, sudah mngertikah kalian semua?"

Para senopati dan perwira itu menyanggupi dan menyatakan sudah mengerti.

Setelah mengadakan persiapan selama sehari penuh, pada keesokan harinya pagi-pagi berangkatlah balatentara Mataram yang dibagi menjadi dua barisan besar terdiri dari pasukan-pasukan yang dipimpin para panglima dengan nama sandi masing-masing.

Ada pasukan anak panah, pasukan tombak, pasukan golok, pasukan pedang dan pasukan keris yang terdiri dari ahli-ahli dalam mempergunakan senjata masing-masing.

Di samping pasukan-pasukan berbagai senjata ini, juga terdapat pasukan perawat yang bertugas menolong dan merawat mereka yang terluka dalam perang, pasukan ahli masak, perawat kuda dan sebagainya lagi.

Balatentara Mataram mulai bergerak dengan segala perlengkapannya.

Mereka tidak membawa ransum, karena di daerahdaerah yang telah mereka kuasai telah didirikan pusat pengumpulan ransum untuk gerakan ini.

Sepasang orang muda itu memasuki Kadipaten Surabaya.

Mereka menarik perhatian semua orang karena memang Satybrata dan Maya Dewi rnerupakan seorang pemuda dan seorang dara yang serasi sekali.

Pemuda itu tampan dan gagah bukan main, tubuhnya yang tinggi tegap, kulitnya yang putih bersih dan matanya agak kebiruan, rambutnya hitam berombak, membuat mata setiap orang wanita yang bertemu dengannya memadangnya dengan kagum dan penuh perhatian.

Dara yang berjalan di sampingnya itupun cantik jelita, ayu manis merak ati.

Rambutnya hitam panjang berombak pula, terurai lepas, wajahnya bulat, kulit putih mulus dan matanya lebar seperti sepasang bintang, hidung mancung dan bibirnya menggairahkan, tubuhnya denok ramping padat.

Satyabrata dan Maya Dewi memasuki kota Surabaya dan menjadi perhatian banyak orang.

Namun kedua orang muda itu tidak perduli karena rnereka berdua sudah terbiasa menghadapi pandangan kagum seperti itu.

Bahkan dengan penuh kesadaran akan keelokan wajah mereka yang membuat banyak orang tergila-gila, mereka tampil dengan anggun, membayangkan senyum semanis-manisnya dan setiap gerak bibir, kerling mata, dan gerak-gerik mereka lakukan dengan daya tarik yang amat kuat.

Seperti diceritakan di bagian depan, dua orang muda yang memiliki watak dasar yang tak jauh berbeda ini saling jumpa secara kebetulan sekali dan mereka saling tertarik.

Kecantikan dan kemulusan tubuh Maya Dewi seketika membuat Satyabrata yang memang mata keranjang itu tergila-gila, apalagi melihat bahwa Maya Dewi memiliki ilmu kepandaian yang cukup tangguh.

Sebaliknya, Maya Dewi sebetulnya tidak mudah tertarik kepada seorang pria dan selama ini ia belum pernah bergaul dengan pria.

Akan tetapi, setelah mendapat kenyataan betapa Satyabrata dapat mengalahkannya, bahkan dapat mengalahkan sabuk cindenya dengan mudah, ia merasa bahwa pemuda ini memiliki segala-galanya yang membuatnya amat berharga untuk menjadi sahabatnya, bahkan menjadi pasangannya.

Pemuda itu tampan dan gagah, juga sakti madraguna.

Lebih-lebih lagi setelah ia mendapat kenyataan bahwa pemuda itu seorang telik-sandi Kumpeni Belanda yang memiliki kedudukan tinggi, terbukti dari dinar emas berukir singa itu, hatinya menjadi semakin tertarik dan sebentar saja hubungan mereka menjadi akrab, seperti dua orang sahabat yang sudah lama saling berkenalan.

"Akang Satyabrata, kenapa sih kita harus singgah dulu di.Kadipaten Surabaya? Bukankah kita akan (Lanjut ke

Jilid 22) Seruling Gading (Seri ke 02 -Serial Pecut Sakti Bajrakirana) Karya". Asmaraman S. Kho Ping Hoo

Jilid 22 membantu Madura yang akan diserang pasukan Mataram?"

Tanya Maya Dewi dengan suara manja sehingga hati pemuda itu menjadi gemas.

Sudah seringkali dia merasa gemas dan ingin merangkul dan menciumi gadis yang manja dan amat menggairahkan hatinya ini, namun dia menyabarkan hatinya.

Untuk mendapatkan gadis sembarangan saja, dia tidak segan melakukan kekerasan karena dia hanya ingin menikmati untuk sekali atau sementara saja.

Akan tetapi, tidak mudah mendapatkan seorang dara seperti Maya Dewi yang bukan saja dapat menjadi pasangan yang amat menggairahkan dan mengasyikkan, akan tetapi juga dapat menjadi sekutu dan pembantu yang dapat diandalkan.

Karena itu, dia harus berhati-hati dan tidak merusak keadaan.

Dia harus mendapatkan diri gadis ini dengan perlahan-lahan, dan baru akan memiliki gadis ini kalau benar-benar Maya Dewi sudah memperlihatkan tanda-tanda menyerah kepadanya.

Akan tetapi sekarang Maya Dewi hanya kadang-kadang bersikap manja dan pandang mata maupun senyum dan suaranya yang manja seperti minta dibelai dan dirayu, masih jinakjinak merpati dan belum meyakinkan.

Kalau sampai dia ter,gesa-gesa dan gadis yang masih hijau dalam pergaulan antara pria dan wanita ini menjadi terkejut dan takut, lalu menjauhkan diri terlepas darinya, dialah yang akan rugi.

Dia ingin mendapatkan Maya Dewi sebagai kekasihnya bukan untuk sementara, melainkan selama mungkin.

"Ini penting sekali, Dewi,"

Kata Satyabrata yang kadang memanggil Dewi, terkadang memanggil Maya, kedua panggilan itu terasa sama enak dan sedapnya didengar.

Baca Juga: Mutiara Hitam 7

Baca Juga: Kisah Sepasang Rajawali 10

Cari Blog Ini

Diberdayakan oleh Blogger.

Parnert