Eps 6 Seruling Gading - Kho Ping Hoo
Baca online Seruling Gading - Kho Ping Hoo
Cersil Seruling Gading - Kho Ping Hoo.
Banyak wanita yang tergilagila kepadanya karena dia memang tampan gagah dan pandai membawa diri dan diapun menyambut wanita-wanita yang dianggapnya cantik menarik dengan penuh gairah Satyabrata menjadi seorang pemuda mata keranjang yang suka mengejar dan mempermain-kan wanita-wanita cantik.
Maka tidaklah mengherankan jika sekarang, bertemu dengan Muryani, dia seketika menjadi tergila-gila.
Bukan hanya kecantikjelitaan Muryani yang membuat dia tergila-gila, terutama sekali kesaktiannya.
Sepak terjang gadis itu ketika mengamuk dikeroyok banyak orang membuat dia terkagum-kagum.
Biarpun sudah banyak gadis atau janda yang terkulai dalam pelukannya, namun belum pernah dia mendapatkan seorang kekasih yang memiliki kesaktian seperti Muryani.
Dia kagum dan terpesona, dan seketika dia jatuh cinta.
Mendengar ucapan Muryani tadi, Satyabrata tersenyum.
"Tentu saja, diajeng. Urusan pribadimu tidak ada sangkut-pautnya dengan aku dan aku juga tidak berhak untuk mencampuri. Akan tetapi maafkan aku, diajeng Muryani. Tadi sebelum meninggalkan sarang Klabang Wilis, aku memaksa seorang anak buah mereka mengaku dan menurut pengakuannya tadi, ketua Klabang Wilis yang bernama Wiroboyo itu pergi menyerang Perguruan Nogodento di tepi Bengawan Solo daerah Ngawi didampingi gurunya yang bernama Wiku Menak Koncar dan membawa anak buah sebanyak lima puluh orang. Berbahaya sekali kalau engkau melakukan pengejaran, diajeng."
"Hemm, aku tidak takut!"
Kata Muryani.
"Aku tahu, diajeng. Seorang dara sakti mandraguna seperti andika ini sudah tidak takut menghadapi lawan yang bagaimanapun juga dan aku mengagumi keberanianmu. Akan tetapi ketahuilah diajeng Muryani. Aku sudah pernah mendengar tentang kakek yang bernama Wiku Menak Koncar ini. Dia adalah seorang datuk besar dari Blambangan yang benar-benar sakti mandraguna dan merupakan seorang lawan yang tangguh dan berbahaya. Belum lagi Wiroboyo yang telah menjadi murid orang sakti itu, tentu juga memiliki kepandaian yang tinggi dan jangan dilupakan bahwa mereka masih dibantu lima puluh orang anak buah Klabang Wilis."
"Kalau begitu, mengapa?"
"Begini, diajeng. Kita sudah saling berkenalan dan engkau telah kuanggap sebagai seorang sahabat. Karena itu, aku merasa tidak tega membiarkan engkau seorang diri menghadapi lawan yang demikian tangguh dan banyak. Kalau engkau tidak berkeberatan, aku ingin sekali menemanimu dan membantumu menghadapi mereka."
Muryani mengamati wajah pemuda itu dan mempertimbangkan.
Pemuda ini meniliki kepandaian tinggi.
Hal itu bukan hanya terbukti ketika dia tadi membantunya, akan tetapi juga telah dibuktikan bahwa pemuda itu memiliki ilmu berlari yang lebih cepat daripadanya!
Tadi ia suah menggunakan Aji Kluwung Sakti, namun tetap saja pemuda itu dapat tiba di kaki gunung lebih cepat daripadanya.
Bantuan pemuda ini tentu saja amat mengntungkan baginya dan pemuda inipun bersikap baik sekali dan bagaimanapun juga, Muryani harus mengakui bahwa diam-diam ia kagum dan tertarik kepada pemuda Cirebon ini.
Kalau ia menolak tawaran pemuda itu yang ingin membantunya, ia akan menderita rugi.
Kalau ia menerimanya, selain lebih besar harapanya untuk dapat mengalahkan Wiroboyo dan teman-temannya, juga ia akan dapat mengenal pemuda ini lebih baik lagi dan mengamati wataknya.
"Tapi".. aku tidak minta bantuanmu, kakangmas Satyabrata,"
Katanya meragu. Pemuda itu tersenyum.
"Aku juga tidak hendak membantumu, diajeng. Aku hanya ingin menentang Wiroboyo dan kawan-kawannya dan karena tujuan kita sama, maka apa salahnya kalau kita melakukan perjalanan bersama?"
"Akan tetapi kenapa engkau menentang mereka?"
"Kenapa? Engkau menentang mereka dan kenyataan itu saja sudah cukup bagiku. Karena engkau menentang mereka maka aku yakin bahwa mereka adalah orang-orang jahat, maka aku ingin menentang mereka."
Setelah berpikir sejenak, membayangkan bahwa tentu akan jauh lebih menyenangkan melakukan perjalanan dengan pemuda yang pandai membawa diri dan sopan santun ini daripada sendirian, Muryani berkata.
"Baiklah, kalau engkau ingin melakukan perjalanan bersama, aku tidak keberatan."
Satyabrata girang !sekali.
"Kalau begitu, mari kita lanjutkan perjalanan, diajeng Muryani. Aku mengetahui jalan yang lebih enak, cepat dan tidak melelahkan menuju ke daerah Ngawi."
"Begitukah, kakang-mas Satyabrata?"
"Benar, kita dapat mengambil jalan melalui sungai. Di barat sana, tak jauh dari sini, terdapat Kali Ngebel. Kali itu mengalir ke utara melalui Kadipaten Madiun dan terus menuju ke Ngawi. Dengan naik perahu mengikuti aliran sungai Ngebel, kita tidak akan terlalu lelah dan perlananan dapat dilakukan lebih cepat."
Muryani merasa girang.
Tidak rugi melakukan perjalanan dengan pemuda ini yang ternyata memiliki pengetahuan luas.
Mereka lalu melakukan perjalanan ke arah barat dan menjelang senja tibalah mereka di tepi sebuah sungai.
Itulah Kali Ngebel yang mengalir ke utara.
Satyabrata mencari perahu.
Setelah menemukan perahu milik seorang nelayan, dia lalu membeli perahu itu.
Dia membayar mahal dan royal sekali sehingga petani nelayan itu menerima pembayaran dengan gembira.
Hal ini menambah rasa suka dalam hati Muryani terhadap pemuda itu.
Setelah mendapatkan perahu, mereka lalu mulai perjalanan mereka ke utara melalui Kali Ngebel, naik sebuah perahu yang beratap sederhana.
Malam tiba.
Karena malam itu gelap, tiada bulan, Satyabrata tidak berani melanjutkan perjalanan mereka.
Berperahu di malam gelap seperti itu berbahaya.
Kalau perahunya menabrak sesuatu dalam gelap, perahu kecil itu dapat terbalik.
Terpaksa dia menunda perjalanan, mendayung perahu ke pinggir, melompat ke darat dan mengikatkan tali perahu ke sebatang pohon.
"Kita tidak melanjutkan perjalana kakang-mas?"
Tanya Muryani.
"Tidak mungkin, diajeng. Malam gelap sekali, kita tidak dapat melihat apa-apa didepan kita. Kalau perahu membentur sesuatu, dapat terbalik, berbahaya sekali. Terpaksa kita melewatkan malam di sini. Engkau tidurlah, diajeng, aku akan membuat api unggun ditepi sungai."
Muryani merebahkan diri dalam perahu, di bawah atap anyaman bambu.
Ia merasa lelah sekali dan rebah telentang di dalam perahu yang bergoyang-goyang sedikit itu sungguh nyaman, rasanya seperti diayun-ayun.
Satyabrata mengumpulkan ranting dan daun kering lalu membuat api unggun di tepi sungai.
Akan tetapi matanya sejak tadi memandang ke arah perahu.
Pemuda ini merasa jantungnya berdebar-debar.
Sejak tadi dia menahan perasaan hatinya.
Dia tergila-gila kepada Muryani!
Gairah nafsunya timbul dan kini bernyala, berkobar seperti api unggun yang mulai membesar.
Sinar api unggun menerangi sampai ke atas perahu dan dia dapat melihat tubuh gadis itu dari pinggang ke bawah terjulur keluar dari bawah atap.
Dia harus menundukkan gadis itu, dia ingin memiliki gadis yang membuatnya tergila-gila itu!
Diam-diam Satyabrata lalu mengerahkan tenaga batinnya, memasang Aji Pengasihan Mimi Mintuno.
Hawa yang dingin sejuk semilir ke arah tubuh Muryani yang rebah telentang di dalam perahu.
Gadis itu belum tidur.
Tiba-tiba ia merasa seluruh permukaan kulit tubuhnya merinding, jantungnya berdebar.
Gadis itu telah digembleng dengan keras oleh mendiang Nyi Rukmo Petak.
Mengalami hal aneh itu ia menjadi waspada.
Bulu tengkuknya yang meremang dan rasa dingin sejuk yang dirasakannya merupaka tanda bahwa ada sesuatu yang tidak wajar, sesuatu yang tidak baik dan merupakan tanda bahaya.
Mungkin hal ini terasa karena ia rebah di dalam perahu yang bergoyang-goyang, atau mungkin di tempat yang sunyi ini ada sesuatu yang angker.
Tempat-tempat seperti itu memang terkadang dihuni roh-roh penasaran yang suka mengganggu manusia.
Maka Muryani segera mengerahkan tenaga batinnya untuk melindungi dirinya dari pengaruh yang tidak wajar.
Melihat betapa setelah beberapa lamanya dia mengerahkan aji Pengasihan Mimi Mintuno namun gadis itu tidak tampak terpengaruh, masih tetap rebah dengan tenang, Satyabrata menghentikan pengerahan aji itu.
Dia maklum bahwa Muryani seorang gadis sakti mandraguna Mungkin saja aji pengasihannya tidak cukup kuat untuk mempengaruhinya.
Dia harus berhati-hati dan tidak boleh sembrono menghadapi gadis ini.
Kalau sampai ketahuan oleh gadis itu bahwa dia mempergunakan aji pengasihan, tentu gadis itu akan marah dan mengamuk.
Dia tidak ingin kehilangan Muryani, tidak ingin gadis itu memusuhi dan membencinya.
Dia benar-benar terpikat dan tergi-gila, jatuh cinta seperti yang belum pernah dia alami.
Satyabrata lalu mengerahkan tenaga batin untuk memasang aji yang lain sama sekali, kini ia hendak menggunakan aji Penyirepan Begonondo.
Mulutnya berkemak-kemik membaca mantera, tangan kirinya mengambil tanah, kemudian dia melemparkan tanah itu ke atas atap perahu.
Dia mendengar suara berkerotoknya tanah berpasir itu ke atas atap perahu dan menunggu.
Tidak terdengar atau tampak gadis itu bergerak.
Dia makin memperkuat pengerahan tenaga batinnya untuk membuat gadis itu pulas senyenyak-nyenyaknya.
Setelah merasa yakin bahwa gadis itu benar-benar berada dalam pengaruh aji penyirepannya, Satyabrata lalu menambahkan ranting kering pada api unggun sehingga api bernyala lebih besar.
Kemudian dia menghampiri perahu dan naik ke perahu.
Dia berjongkok dekat tubuh Muryani dan melihat bahwa gadis itu benar-benar telah tidur pulas.
Aji Penyirepannya memang ampuh bukan main.
Pernapasan yang panjang lembut dari gadis itu menunjukkan bahwa ia benar-benar tertidur pulas.
Sinar api unggun membuat penerangan cukup sehingga dia dapat memandang wajah gadis itu dengan jelas.
Muryani tersenyum dalam tidurnya tampak ayu manis menggairahkan.
Bibir itu sedikit terbuka penuh tantangan.
Tak terasa tangan Satyabrata bergerak menyentuh pundak gadis itu.
Sentuhan lembut itu membuat jari-jari tangannya tergetar dan getaran ini menjalar di seluruh tubuhnya, membangkitkan berahi dan gairahnya berkobar-kobar.
Akan tetapi ketika perlahan-lahan dia mendekatkan mukanya untuk mencium mulut yang agak terbuka itu, tiba-tiba dia seperti tersentak dan menarik kembali mukanya ke belakang.
"Tidak"..! Tidak mungkin aku melakukan ini"!"
Dia menampar kepalanya sendiri dan duduk bersila.
Dia tidak tega untuk memperkosa Muryani seperti ini!
Dia telah jatuh cinta kepada gadis itu, jatuh cinta dengan setulus hatinya.
Dia ingin Muryani menyerahkan diri kepadanya dengan suka rela, dengan tulus, bukan karena terpengaruh aji penyirepan dan aji pengasihan, apalagi bukan karena diperkosa!
Dia merindukan balasan cinta kasih Muryani.
"Jangan mengharapkan yang muluk-muluk,"
Suara lain terdengar di kepalanya.
"Kalau begitu, engkau tidak akan mendapatkannya, engkau akan kehilangan ia! Ambil saja sekarang dan ia akan menjadi milikmu. Lihat betapa indah mulutnya, betapa indah tubuhnya, betapa mulus kakinya."
Bisikan itu membuat gairahnya semakin berkobar membakarnya.
Kembali kedua tangannya bergerak ke depan, hendak memegang, memeluk.
Akan tetapi seperti juga tadi, kasih sayangnya yang tulus membuat dia tersentak kembali, menarik kedua tangannya, bahkan dia lalu bangkit berdiri.
"Tidak! Tidak boleh! Aku cinta padanya, aku menginginkan cintanya, bukan sekedar tubuhnya!"
Dia berkata dan dia melompat keluar dari perahu.
Gairahnya masih berkobar, seluruh tubuhnya gemetar dan tidak kuat menahan gelora berahinya.
Mukanya menjadi merah sekali dan matanya menjadi liar.
Setiap kali menoleh dan memandang ke arah tubuh Muryani di perahu, rasanya ingin dia menubruknya.
Akan tetapi selalu ditahannya dan akhirnya Satyabrata tidak kuat bertahan lagi dan dia melarikan diri dari tepi sungai, masuk ke dalam kegelapan malam.
Tak lama kemudian tibalah dia di tempat yang dicari-carinya, yaitu di dalam sebuah dusun.
Satyabrata mengintai dari rumah ke rumah, mencari-cari.
Akhirnya dia menemukan apa yang dia butuhkan dan cari.
Dalam sebuah bilik bambu yang sederhana itu dia melihat seorang gadis dusun sedang rebah miring dan tidur pulas.
Wajah Satyabrata tampak beringas menakutkan, terutama sepasang matanya yang bersinar-sinar seperti mata seekor harimau dalam gelap.
Dia menemukan apa yang dicarinya.
Dengan mudah dia membongkar pintu belakang rumah itu dan menyelinap masuk tanpa mengeluarkan suara gaduh.
Dengan mudah dia membuka pintu kamar gadis itu, melangkah masuk dan melihat gadis itu, dia lalu menerkamnya seperti seekor harimau kelaparan menerkam seekor domba!
Gadis itu menjerit.
Lampu kecil di atas meja, bergoyang-goyang.
Seorang laki-laki setengah tua memasuki kamar itu.
"Sumi".. ada apakah...?"
Seru laki-laki itu.
Sebuah tamparan menyambut laki-laki lalu.
Tamparan yang kuat dan cepat sekali, mengenai pelipisnya dan laki-laki dusun itupun terpelanting roboh, tak bergerak lagi.
Satyabrata yang telah merobohkan laki-laki itu lalu kembali menerobos mangsanya yang menggigil ketakutan di atas pembaringan kayu.
Nafsu berahi, seperti segala macam nafsu, apabila terkendali merupakan berkah dan nikmat, akan tetapi sekali lepas kendali, nafsu menjadi alat iblis untuk menyeret manusia ke dalam dosa sehingga manusia berubah menjadi iblis yang kejam dan jahat.
Nafsu berahi adalah sesuatu yang indah, bahkan suci bagi sepasang suami isteri yang saling mencinta suci karena selain menjadi pencurahan kasih sayang yang paling mendalam antara dua orang manusia berlawanan ke lamin, juga menjadi sarana perkembangbiakan manusia.
Akan tetapi, sekali nafsu berahi lepas kendali, menjadi alat iblis untuk memperhamba manusia, maka manusia dapat melakukan segala macam kekejian dan kehinaan sehingga terjadilah perjinaan, pelacuran, perkosaan dan sebagainya.
Pada saat itu Satyabrata sudah bukan manusia lagi, melainkan iblis sendiri yang menguasai dirinya melalui nafsu binatangnya.
Satyabrata dapat melakukan kekejian ini karena memang sejak berada di Cirebon dahulu dia sudah terlalu menuruti gairah nafsu berahinya sehingga dia menjadi hamba nafsunya, sering bermain gila dengan gadis, janda atau bahkan isteri orang yang menarik hatinya karena kecantikan wanita itu.
Maka sekarang, ketika gairah nafsunya bangkit karena dia tergila-gila kepada Muryani namun dia tidak tega memperkosa gadis yang benar-benar telah meruntuhkan hatinya itu, gairah nafsunya menuntut pelepasan maka dia lalu mencari korban wanita mana saja asal memiliki daya tarik baginya.
Dan gadis dusun yang tak berdosa itulah yang menjadi korban dan mangsanya.
Tak lama kemudian bayangan Satyabrata telah berkelebat di malam gelap, meninggalkan dusun itu, meninggalkan gadis dusun yang menangis sesenggukan, menangisi diri sendiri yang telah ternoda, dan menangisi ayahnya yang telah tewas.
Bagaikan setan Satyabrata berjalan menyusuri sungai dalam kegelapan.
Kalau ada orang melihatnya, tentu orang itu akan lari ketakutan dan mengira dia setan karena memang tingkahnya tidak seperti manusia.
Dia tertawa-tawa menyeramkan, tertawa penuh kepuasan seperti orang gila.
Memang dia bukan manusia waras lagi.
Satyabrata telah menjadi tidak waras, pikirannya telah kacau dan miring, dia telah menjadi gila setelah mempelajari semua ilmu di dalam sumur tua, ilmu-ilmu peninggalan mendiang Resi Ekomolo.
Kegilaannya memang luar biasa.
Dalam keadaan biasa dia bahkan dapat bersikap cerdik dan licik bukan main, pandai membawa diri sehingga tampak sopan santun, lembut dan bijaksana.
Akan tetapi saat itu, ketika berjalan menyusuri sungai untuk kembali ke tempat di mana dia meninggalkan Muryani dalam perahunya, dia lebih pantas disebut iblis Suara tawanya saja sudah bukan suara tawa manusia lagi.
SETELAH tiba di dekat perahu, Satyabrata dapat menguasai dirinya lagi.
Dia melihat bahwa api (Lanjut ke
Jilid 16) Seruling Gading (Seri ke 02 -Serial Pecut Sakti Bajrakirana) Karya". Asmaraman S. Kho Ping Hoo
Jilid 16 unggunnya sudah padam.
Hawa udara menjelang pagi itu dingin sekali.
Dia cepat menyalakan api dan membuat api unggun sehingga api menyala besar menerangi keadaan sekelilingnya.
Dia duduk termenung di dekat api unggun, membelakangi perahu.
Terkadang dia tersenyum-senyum dan jelas dia menahan gelak tawanya, agaknya dia masih bergembira mengenangkan kembali keganasannya di dalam bilik rumah dusun tadi.
Sementara itu, pagi sudah hampir menyingsing di sana-sini mulai terdengar kicau burung.
Satyabrata menoleh dan melihat kedua kaki Muryani, agaknya dia baru teringat kepada gadis itu.
Betapa dia amat mencinta Muryani!
Perasaan hangat memenuhi dadanya.
Akan tetapi kehangatan hatinya karena cintanya itu terganggu oleh bayangan kenangan di atas pembaringan di dalam bilik kamar tidur gadis dusun tadi.
Tiba-tiba dia merasa betapa dia telah mengkhianati cintanya terhadap Muryani!
Timbul penyesalan yang amat besar dalam hatinya, bukan menyesal karena dia telah melakukan kejahatan memperkosa gadis dusun itu, sama sekali bukan.
Dia merasa amat menyesal karena dia telah mengkhianati cinta kasihnya terhadap Muryani.
Inilah yang mendatangkan penyesalan luar biasa dan tak dapat ditahannya lagi, Satyabrata menangis di depan api unggun, menangis sampai mengguguk seperti anak kecil!
Lama sekali Satyabrata menangis, seakan untuk mengimbangi tawanya yang terbahakbahak tadi.
Dia tidak tahu bahwa suara tangisnya terdengar oleh Muryani dan membangunkan gadis itu dari tidurnya.
Muryani bangkit duduk dan merasa heran sekali melihat dan mendengar pemuda itu menangis.
Ia menjulurkan tangannya keluar perahu, menggunakan air sungai yang di bagian itu amat bening untuk membasuh mukanya sehingga ia merasa segar kembali dan sudah sadar sepenuhnya.
Ia tadinya masih ragu, merasa bahwa ia bermimpi melihat pemuda yang gagah perkasa itu menangis sampai mengguguk.
Akan tetapi setelah membasuh mukanya ia masih melihat Satyabrata menangis, ia menjadi heran dan penasaran.
Ia keluar dari perahu menghampiri pemuda yang agaknya begitu terbenam dalam kesedihannya sehingga tidak mendengar Muryani keluar dari perahu.
"Kakangmas Satyabrata !"
Muryani memanggil setelah ia berdiri di belakang pemuda itu.
Satyabrata terkejut dan menengok, mengangkat mukanya.
Muryani melihat betapa kedua mata pemuda itu merah dan agak membengkak oleh tangis, wajahrnya tampak memelas sekali sehingga merasa iba sekali.
Wajah itu seperti wajah orang yang dilanda kedukaan yang teramat mendalam.
Pada saat itu, Satyabrata telah menguasai dirinya dan dia kini menjadi seorang pemuda yang luar biasa cerdiknya.
Karena merasa iba, Muryani lalu duduk di dekat pemuda itu.
"Ohh""
Diajeng Muryani... engkau sudah bangun....? Ah, aku.... aku". maafkan aku"
Kata pemuda itu gagap dan dengan kedua tangannya dia berusaha untuk mengusap air mata yang membasahi. mukanya.
"Kakangmas, engkau kenapakah? Apa yang membuat engkau menjadi begini sedih? Hampir aku tidak percaya melihat engkau menangis tadi, kakangmas,"
Tanya Muryani dan suaranya terdengar halus karena ia merasa kasihan.
Saat itu yang berhadapan dengan Muryani bukanlah Satyabrata yang gila, melainkan Satyabrata yang cerdik luar biasa.
Mendengar pertanyaan itu, Satyabrata mengusap-usap air mata yang mulai menetes dari kedua matanya dan dia berkata dengan suara parau dan gemetar.
"Aduh.... diajeng.... terima kasih atas perhatianmu kepadaku.... Ketika tadi aku duduk seorang diri di sini, teringat olehku betapa hidupku.... sebatangkara... tak sorangpun memperdulikan diriku... aku terlunta-lunta, tersia-sia.... aku menjadi sedih, diajeng...."
Muryani merasa tersentuh hatinya dan terharu sekali.
"Kakangmas, di manakah ayah ibumu?"
Satyabrata menutupkan kedua tangan di depan matanya dan Muryani melihat betapa air mata menetes keluar dari celah-celah jari kedua tangan itu.
"Ah, diajeng... justeru karena teringat kepada ayah ibuku maka hatiku sedih.... ayah.... ayahku seorang bangsa kulit putih, seorang Portugis... dia telah meninggal dunia.... juga ibuku, seorang Jawa.... telah meninggal dunia. Aku tidak mempunyai siapa-siapa lagi, diajeng..."
Muryani merasa jantungnya seperti diremas. Semua pengakuan pemuda itu bagaikan keris menghunjam hatinya, mengingatkan ia akan keadaan dirinya sendiri.
"Kakangmas Satyabrata..."
Suara Muryani gemetar, matanya basah dan tangan sudah berada di ujung bibirnya yang bergerak-gerak, hatinya dipenuhi keharuan.
".... engkau tidak sendirian, kakangmas, akupun.... ibuku telah tiada dan ayahku". ayah terbunuh orang". akupun hidup sebatangkara di dunia ini...."
"Aduh Gusti"" ! Tak kusangka.... kasihan sekali engkau, diajeng Muryani....."
Kata Satyabrata sambil memegang kedua tangan gadis itu. Muryani mulai menangis.
"Engkau". engkaupun kasihan sekali, kakangmas....."
Keduanya menangis dan saling rangkul, bertangisan dan saling menggunakan pundak masing-masing untuk bersandar.
Sampai lama mereka berada dalam keadaan seperti itu, bertangisan dan berangkulan, tenggelam ke dalam keharuan.
Tiba-tiba Muryani terkejut.
Ia melihat kenyataan yang terjadi dalam hatinya.
Ia bukan hanya merasa kasihan, bukan hanya terharu.
Ia merasa betapa ia telah jatuh cinta kepada pemuda ini!
Bagaikan kilat wajah Parmadi terbayang depan matanya.
Parmadi yang baik hati dan yang pernah menjatuhkan hatinya.
Akan tetapi sekarang ia melihat perbedaan yang mencolok antara dua orang pemuda itu.
Parmadi seorang pemuda yang berwatak gagah berani, akan tetapi dia seorang pemuda biasa yang lemah, sebaliknya Satyabrata adalah seorang pemuda yang sakti mandraguna!
Seorang pemuda yang juga sebatangkara seperti ia dan Parmadi, seorang pemuda yang tidak kalah tampan dibandingkan Parmadi dan yang bersikap baik sekali, lembut, sopan dan amat menarik hati di samping kesaktiannya yang mengagumkan hatinya.
Kesadaran bahwa ia telah jatuh cinta, mengejutkan hati Muryani dan dengan lembut ia merenggangkan tubuhnya, menarik kepalanya ke belakang dan melepaskan rangkulannya.
Akan tetapi dengan lembut Satyabrata memegang kedua tangannya dan Muryani tidak tega menarik lepas tangannya setelah memandang wajah pemuda itu, begitu penuh duka dan harapan.
"Terima kasih kepada Tuhan, setidaknya sekarang aku tahu bahwa di dunia ada seorang yang merasa senasib dan merasa kasihan kepadaku, yaitu engkau diajeng Muryani. Aku merasa berbahagia sekali telah dapat bertemu, berkenalan dan menjadi sahabatmu. Semoga persahabatan kita akan kekal dan aku akan mempertaruhkan jiwa ragaku untuk membelamu. Aku akan menghajar dan menangkap musuh besarmu si Wiroboyo itu untukmu diajeng. Bukankah dia yang telah membunuh orang tuamu?"
"Pembunuhnya adalah orang yang bunuh diri tadi, akan tetapi yang menyuruh adalah Wiroboyo. Dialah musuh besarku. Terima kasih untuk kesediaanmu membantuku, kakangmas. Akupun merasa berbahagia sekali dapat bersahabat denganmu."
Dapat dibayangkan betapa gembira rasa hati Satyabrata.
Dia benar-benar jatuh cinta kepada Muryani dan dia ingin sekali menguasai gadis itu secara suk rela, bukan paksaan, bukan pula dengan pengaruh aji pengasihan.
Dia ingin dicintai gadis itu dan dia tahu bahwa untuk mendapatkan cinta gadis itu, dia harus pandai mengambil hatinya, pandai merayunya.
"Mari kita lanjutkan perjalanan kita, diajeng. Nanti kalau kita lewat di sebuah dusun, kita mencari makanan untuk sarapan pagi."
Mereka naik ke perahu dan Satyabrata segera mendayung perahu ke tengah sungai.
Dia bersikap sopan, lembut dan amat menghormati dan menghargai Muryani.
Tutur sapanya semanis madu, gerak-geriknya sopan memikat dan menarik hati, rayuannya halus dan mengelus hati.
Tidak mengherankan kalau selama dalam perjalanan itu hati Muryani semakin tertarik.
Ia menganggap Satyabrata seorang pemuda yang pandai, lembut, sopan, bahkan matang pengalamannya, sedikit-sedikit menyebut nama Gusti Allah seakan dia seorang yang beribadat dan saleh.
Muryani adalah seorang gadis yang berwatak keras, apalagi setelah menjadi murid Nyi Rukmo Petak yang pada dasarnya memiliki watak aneh dan keras.
Akan tetapi gadis ini memiliki kelemahan, yaitu ia mudah sekali terbujuk oleh rayuan.
Ia menilai orang, dalam hal ini laki-laki, dari sikap dan tutur sapanya juga dari perbuatannya.
Dilihatnya pemuda yang baru dikenalnya itu selalu berbuat baik dan menentang kejahatan, bertutur sapa semanis madu, dan bersikap sopan dan lembut.
Maka, menghadapi rayuan laki-laki seperti ini, runtuhlah hatinya dan ia percaya sepenuhnya bahwa Satyabrata adalah seorang laki-laki yang pantas untuk rnenjadi sahabat, bahkan pantas untuk dicintai!
Manusia lemah pada umumnya mudah dirayu, menilai seseorang dari sikap tutur sapa, dan perbuatannya.
Mereka itu lupa bahwa sikap, tutur sapa dan perbuatan mudah diatur, dapat berpura-pura dan hanya dipakai sebagai topeng belakang.
Belum tentu semua itu mencerrninkan keadaan watak atau hati yang serupa.
Semua itu hanya kulit, tak mencerminkan isinya dan semua keindahan lahiriah itu biasanya oleh para pria dipergunakan untuk memancing hati wanita, dipergunakan sebagai umpan.
Kalau si wanita sudah terpancing dan berhasil didapatkan, lambat-laun barulah tampak belangnya, baru tampak isinya yang busuk, baru tampak apa yang berada di balik topeng yang indah.
Bagaikan musang berbulu ayam, harimau bertopeng domba.
Karena itu, seorang yang bijaksana, terutama sekali para wanita, seyogianya selalu waspada terhadap rayuan manis, sikap sopan santun dan halus berlebihan, perbuatan baik yang dipamer-pamerkan.
Waspada dan menjenguk lebih dalam apa yang terkandung di balik semua itu.
Lebih baik berhadapan dengan orang yang sikapnya kasar namun wajar, yang tutur sapanya tidak semanis madu karena kejujuran itu terkadang tampak kasar dan tidak menyenangkan hati.
Dalam perjalanan menuju ke Ngawi ini, perlahan-lahan Muryani semakin mabok dan tenggelam oleh rayuan Satyabrata.
Ia menganggap pemuda itu sakti, pandai, bijaksana dan berbudi mulia!
Perguruan Nogodento merupakan perguruan silat yang dahulu terkenal sebagai tempat penggemblengan para pendekar yang berjiwa patriot, pembela nusa dan bangsa.
Ketuanya adalah Ki Harjodento, yang sakti mandraguna dan selalu setia kepada Mataram.
Dibantu oleh isterinya Padmosari, Ki Harjodento memimpin perguruan itu dengan baik dan sudah menghasilkan banyak murid yang gagah perkasa dan yang sudah banyak berjasa terhadap Kerajaan Mataram.
Suami isteri ini hanya rnempuriyai seorang anak yang bukan lain adalah Tejomanik atau Sutejo yang kini tinggal di lereng Gunung Kawi bersama isterinya, yaitu Retno Susilo.
Kini perguruan Nogodento tidaklah sebesar dahulu.
Murid-murid yang kini masih belajar dan tinggal di perkampungan Nogodento hanya tinggal kurang lebih dua paluh orang, inipun merupakan murid-murid baru yang tingkat kepandaiannya masih rendah.
Mereka itu baru belajar silat paling lama lima tahun.
Hal ini adalah karena kini Ki Harjodento tidak lagi menerima murid baru.
Dia sudah merasa terlalu tua dan tidak bersemangat lagi.
Usianya memang sudah tua, sudah tujuh puluh enam tahun.
Isterinya, Padmosari, yang lebih muda dua puluh tahun darinya, juqa tidak muda lagi, sudah berusia lima puluh enam tahun.
Suami isteri itu ingin menikmati sisa hidup mereka dengan tenteram dan banyak istirahat.
Karena inilah maka perkumpulan atau perguruan Nogodento kini tidak sebesar dahulu.
Perkampungan Nogodento terletak di lembah Bengawan Solo, di daerah Ngawi.
Kehidupan Ki Harjodento kini lebih mirip kehidupan seorang pertapa.
Dia lebih sering duduk bersamadhi dan para murid Nogodento yang rnengerjakan cocok tanam atau mencari ikan, lebih mirip para cantrik daripada murid-murid perguruan silat.
Mereka yang menginginkan kemajuan dalam ilmu silat sudah meninggalkan perguruan itu, akan tetapi mereka yang mengutamakan ketenteraman dan kedamaian hati, menemukan semua itu di sana dan tetap tinggal di perkampungan Nogodento.
Mereka lebih banyak mendengarkan wejangan Ki Harjodento tentang kehidupan daripada berlatih pencak silat.
Pada suatu pagi, Ki Harjodento memanggil semua murid untuk berkumpul di pendopo rumah induk yang luas.
Para murid yang jumlahnya dua puluh dua orang itu merasa heran karena tidak pernah K Harjodento memanggil mereka semua berkumpul seperti itu.
Mereka yang berusia antara dua puluh sampai tiga puluh tahun itu berkumpul dan duduk bersila di lantai pendopo, menduga bahwa tentu ada hal yang amat penting maka ketua perguruan itu memanggil mereka semua untuk berkumpul.
Setelah semua murid duduk di lantai pendopo, Ki Harjodento muncul diiringi Padmosari.
Biarpun usianya sudah tujuh puluh enam tahun, Ki Harjodento masih tampak sehat, tubuhnya masih tegap dan wajahnya tidak tampak setua usianya walaupun rambut dan kumis jenggotnya sudah putih semua.
Isterinya, Padmosari yang berusia lima puluh enam tahun itu pun tampak masih anggun dan jelas tampak bekas kecantikannya, juga tampak gagah perkasa karena memang wanita ini pun seorang yang sakti mandraguna.
Kedua suami isteri itu duduk di atas kursi yang telah tersedia di situ, dihadapan dua puluh dua orang murid yang rnenduga-duga dengan heran apa gerangan yang akan diperintahkan guru mereka itu kepada mereka.
Ki Harjodento melayangkan pandang matanya kepada para murid itu, kemudian dia menghela napas panjang lalu berkata.
"Para murid Nogodento sekalian, kalian semua tentu bertanya-tanya dan merasa heran mengapa pagi hari ini aku memanggil kalian semua berkumpul di pendopo ini."
Suwondo, berusia tiga puluh dua tahun dan merupakan murid tertua di situ dan dialah yang kadang mewakili gurunya untuk membimbing para murid lain berlatih silat, mewakili teman-temannya bertanya dengan sikap hormat.
"Bapa guru, kami para murid semua sudah siap untuk menerima dan melaksanakan perintah bapa guru dengan taat."
Ki Harjodento mengangguk-angguk.
"Bagus, Suwondo, itulah yang karni harapkan. Mudah-mudahan semua murid Nogodento, sampai murid terakhir, akan tetap mengharumkan nama perguruan Nogodento kita. Dengarlah kalian baik-bai Pada wnktu ini, Mataram membutuhkan bantuan kalian. Gusti Sultan Agung sedang berusaha untuk menundukkan beberapa daerah yang belum mau bersatu, di antaranya Madura dan Surabaya, agar dapat menyusun kekuatan untuk menghadapi musuh utama nusa bangsa kita, yaitu Kumpeni Belanda. Karena itu, kami minta kepada kalian agar sekarang juga meninggalkan perkampungan kita dan menjadi pasukan sukarela membantu Mataram menaklukkan daerah daerah yang belum mau tunduk itu."
Hening setelah Ki Harjodento mengakhiri ucapannya itu.
Para murid itu sama sekali tidak pernah mengira bahwa mereka diperintahkan untuk pergi dan membantu Mataram berperang.
Ini berarti akan terjadi perubahan besar dalam kehiduprrn mereka.
Meninggalkan perkampungan Nogodento yang aman tenteram dan menjadi perajurit menempuh bahaya maut!
Padmosari dapat merasakan keheningan yang menegangkan hati ini.
Ia lalu berkata dengan suara yang nyaring namun merdu dan mengandung kelembutan.
"Murid-murid Nogodento sekalian! Ingatlah bahwa guru kalian tadi hanya meminta kalian untuk membantu Mataram, berarti bahwa kami sama sekali hendak memaksak kalian. Kami tidak memaksa kalian untuk menjadi perajurit dan membantu Mataram berperang. Akan tetapi membantu Mataram merupakan kewajiban seluruh kawula Mataram dan kalian tentu tahu, membantu nusa bangsa banyak sekali caranya, di antaranya membantu dalam perang melawan musuh, membantu negara mengamankan daerah-daerah, menentang kejahatan-kejahatan. Pendeknya, membela kebenaran dan keadilan di manapun kalian berada dengan menggunakan segala kekuatan dan kepandaian yang kalian pernah pelajari di sini. Dengan demikian kalian akan menjadi pendekar-pendekar Nogodento yang berguna bagi kepentingan bangsa dan negara. Mengertikah kalian?"
Kembali Suwondo yang mewakili kawan-kawannya.
"Kami mengerti, akan tetapi kalau kami semua pergi, lalu siapa yang akan melayani bapa guru berdua?"
"Kami justeru ingin hidup menyendiri berdua saja menikmati kesunyian dan kedamaian,"
Kata Ki Harjodento.
Pada saat itu, tiba-tiba terdengar suara banyak orang, gaduh dan hiruk-pikuk datang dari luar perkampungan Nogodento.
Semua orang terkejut.
Biarpun suami isteri itu juga kaget namun mereka bersikap tenang dan Harjodento berkata.
"Suwondo, ajak semua saudaramu keluar dan lihat apa yang terjadi. Kalau ada hal-hal yang tidak baik, laporkan kepada kami dan jangan lancang bertindak sendiri-sendiri."
"Baik, bapa guru!"
Suwondo lalu memberi isyarat kepada semua murid dan mereka keluar dari pendopo itu dengan tertib lalu menuju ke pintu gerbang perkampungan Nogodento.
Ketika Suwondo dan kawan-kawannya tiba di dekat pintu gerbang, mereka merasa terkejut dan heran karena ternyata puluhan orang telah memasuki pintu gerbang, dipimpin oleh seorang kakek berusia enam puluh tahun bertubuh sedang dengan kulit hitam sekali dan pakaian mewah.
Di samping kakek ini berdiri seorang laki-laki berusia empat puluh lima tahun bertubuh tinggi besar dan kumisnya tebal, tampak gagah.
Melihat sikap mereka yang beringas dan marah, Suwondo bersikap hati-hati.
Dia member isyarat kepada kawan-kawannya untuk berhenti dan dia sendiri maju dan memberi hormat kepada dua orang yang memimpin puluhan orang itu.
"Mohon tanya, andika sekalian ini siapakah dan keperluan apakah yang membawa andika mengunjungi perkampungan kami?"
Yang menjawab pertanyaan itu adalah kakek berkulit hitam.
Dia adalah Wiku Menak Koncar, datuk besar dari Blambangan yang kini menjadi guru Wiroboyo.
Seperti kita ketahui, datuk besar ini ditemani Wiroboyo dan lima puluti orang anak buah Klabang Wilis mendatangi perguruan Nogodento dengan niat membalas dendam kepada Ki Harjodento.
Ketua Nogodento ini sebelas tahun yang lalu telah menewaskan Ki Klabangkolo dalam sebuah pertempuran dan Ki Klabangkolo adalah saudara seperguruan Wiku Menak Koncar.
"Hayo panggil keluar Ki Harjodento untuk bertemu dengan aku!"
Demikian jawaban Wiku Menak Koncar dengan suaranya yang kecil seperti suara wanita.
"Cepat atau kami akan membunuh kalian semua dan membakar habis perkampungan ini!"
Mendengar jawaban yang nadanya marah dan penuh permusuhan ini, Suwondo dan kawan-kawannya tentu saja menjadi marah.
Akan tetapi mengingat akan pesan Ki Harjodento dan melihat bahwa jumlah para penyerbu dua kali lebih banyak daripada jumlah mereka, Suwondo menahan kemarahannya dan dia berpesan kepada kawan-kawannya.
"Kalian tunggu saja di sini, aku akan melaporkan kepada bapa guru!"
Setelah berkata demikian Suwondo melompat dan berlari menuju ke bangunan induk yang menjadi tempat tinggal Ki Harjodento dan isterinya.
"Bapa guru, celaka, bapa guru!"
Suwondo berlutut di depan gurunya dan berkata dengan sikap khawatir sekali.
"Tenanglah, Suwondo. Engkau bersikap bukan seperti seorang murid Nogodento!"
Tegur Ki Harjodento.
"Katakan dengan tenang, apa yang terjadi?"
"Bapa guru, perkampungan kita didatangi puluhan orang, banyak sekali, sikap mereka bermusuhan dan mereka dipimpin seorang kakek bermuka hitam yang bengis. Kakek itu minta agar bapa guru keluar menghadapinya dan dia mengancam akan membunuh kita semua dan membakar habis perkampungan kita."
Mendengar laporan ini, Nyi Padmosari melompat dan bayangannya berkelebat masuk ke bagian dalam rumah.
Tak lama kemudian ia sudah keluar lagi, berpakaian ringkas membawa keris di pinggang dan tangannya memegang sebatang tombak yang ia serahkan kepada suaminya.
"Mari kita keluar menemui mereka,"
Kata wanita itu dengan sikap gagah dan tenang. Ki Harjodento menerima senjata tombak yang menjadi pusakanya yang ampuh, lalu bangkit berdiri dan mengangguk.
"Mari kita lihat siapa yang datang mencari keributan itu. Suwondo, atur para murid agar jangan bergerak kalau tidak diserang."
Tiga orang itu lalu keluar dari bangunan dan berjalan menuju ke pintu gerbang perkampungan.
Biarpun Ki Harjodento sudah berusia tujuh puluh enam tahun, namun langkahnya masih gesit dan sikapnya tenang saja.
Para rnurid Nogodento memberi jalan dan akhirnya Ki Harjodento dan Padmosari berhadapan dengan Wiku Menak Koncar dan Ki Wiroboyo.
Sejenak mereka berempat berhadapan dan saling pandang, kemudian Ki Harjodento berkata, suaranya mengandung penuh wibawa dan ketenangan.
"Ki-sanak sepanjang ingatan kami rasanya kami tidak mengenal andika. Siapakah andika dan ada urusan apakah andika mencari kami?"
Wiku Menak Koncar memandang ketua Nogodento itu dengan mata bersinar.
"Hemmm, apakah andika yang bernama Ki Harjodento, ketua Perguruan Nogodento?"
"Tidak keliru, ki-sanak. Aku adalah Harjodento dan ini adalah isteriku, Nyi Padmosari. Siapa gerangan andika?"
"Aku adalah Wiku Menak Koncar!"
Kakek bermuka hitam itu memperkenalkan diri, suaranya meninggi membayangirn kecongkakan dan kesombongan karena dia yakin bahwa namanya amat terkenal.
Diam-diam Harjodento dan Padmosari terkejut.
Tentu saja mereka pernah mendengar nama ini.
Akan tetapi Harjodento masih bersikap tenang dan dia berkata sambil mengamati wajah berkulit hitam itu.
"Hemm, pernah kami mendengar bahwa Sang Wiku Menak Koncar adalah seorang datuk besar dari Blambangan yang sakti mandraguna! Akan tetapi kami tidak pernah mempunyai urusan dengan andika. Kenapa sekarang andika datang membawa sekian banyaknya anak buah berkunjung ke perkampungan kami?"
"Ki Harjodento, aku merasa yakin bahwa andika belum lupa akan nama Ki Klabangkolo, Bahurekso Gunung Ijen?"
Kata Wiku Menak Koncar dan suaranya mengandung ejekan.
"Ki Klabangkolo?"
Ki Harjodento mene ingat-ingat, lalu mengangguk-angguk.
"Ya aku masih ingat. Ki Klabangkolo adala seorang di antara para tokoh yang memberontak kepada Mataram, sepuluh tahu lebih yang lalu."
"Bagus kalau andika masih ingat. Tentu andika ingat pula siapa orangnya yang telah membunuh Ki Klabangkolo?"
Ki Harjodento mengerutkan alisny yang putih.
"Aku masih ingat bahwa dalam pertempuran antara mereka yan memberontak terhadap Mataram dan mereka yang setia kepada Mataram, Ki Klabangkolo roboh dan tewas. Tidak kusangkal bahwa dia tewas oleh senjata pusakaku ini."
"Babo-babo, keparat Harjodento. Bagus bahwa andika telah mengaku sebagai pembunuh Ki Klabangkolo! Ketahuilah bahwa dia adalah saudara seperguruanku dan sekarang aku dating untuk membalas dendam atas kematiannya di tanganmu!"
Ancaman ini tidak menggoyahkan ketenangan Ki Harjodento.
"Wiku Menak Koncar, pertempuran dalam perang hanya mempunyai dua akibat. Menang atau kalah, terluka atau tewas dalam perang merupakan hal yang biasa saja. Tidak ada persoalan pribadi dalam perang karena semua itu adalah urusan negara. Ki Klabangkolo bukan tewas karena bermusuhan dengan aku pribadi, melainkan karena dia berpihak kepada pemberontak!"
"Memang benar! Kerajaan Mataram yang menyebabkan saudara seperguruanku mati dalam perang dan karena itu pula aku akan selalu menentang Kerajaan Mataram. Akan tetapi dia tewas di tanganmu, maka aku harus membalaskan kematiannya dan membunuhmu agar arwahnya dapat tenang di alam baka!"
"Kalau itu yang telah menjadi tekadinu yang sesat, terserah kepadamu, Wiku Menak Koncar. Apakah untuk maksud itu andika membawa sekian banyaknya anak buah untuk mengeroyokku?"
"Heh, Harjodento manusia sombong. Kaukira aku tidak mampu membunuhmu dengan kedua tanganku sendiri? Maju dan bersiaplah untuk mampus dan bertemu dengan saudaraku, Ki Klabangkolo!"
"Wiku Menak Koncar, andika yang menantang bertanding, andika pula yang harus mulai!"
Kata Ki Harjodento sambil melintangkan tombaknya di depan dada.
"Baik, sambutlah ajiku Bayu Bajra. Heeeehhhhh"" !"
Kakek bermuka hitam itu mengembangkan kedua tangan, mendorong ke depan dan muncul angin yang menyambar ke depan dengan dahsyat sekali sehingga anak buah Nogodento yang berdiri agak jauh di belakang Ki Harjodento juga tak mampu bertahan dan banyak di antara mereka yang terhuyung dan terjengkang, terdorong oleh angin ribut yang keluar dari kedua telapak tangan Wiku Menak Koncar.
Ki Harjodento maklum akan dahsyat dan kuatnya serangan angin ribut ini maka diapun cepat memutar tombaknya di depan dada sanibil mengerahkan tenaga saktinya.
Tombak berputar, berubah menjadi gulungan sinar yang menjadi perisai di depan tubuhnya.
Ki Harjadento merasa betapa angin serangan lawan itu menghantam gulungan sinar tombaknya.
Terasa berat, namun angin serangan itu tidak sampai mampu menembus gulungan sinar tombaknya, hanya lewat di kanan kiri tubuhnya.
Melihat serangannya, dapat digagalkan lawan, Wiku Menak Koncar menjadi penasaran.
Dia menghentikan Aji Bayu Bajra itu dan kini dia menyerang dengan aji pukulan Nandaka Kroda.
Kedua tangannya menyambar-nyambar dengan pukulan tangan terbuka atau tamparan yang luar biasa kuatnya, yang mendatangkan angin bersuitan.
Ki Harjodento cepat bergerak, mengelak dan membalas dengan tusukan tombaknya.
Namun Wiku Menak Koncar juga dapat mengelak dan terjadilah serang-menyerang yang amat seru dan mati-matian.
Karena keduanya maklum bahwa berhadapan dengan lawan tangguh, maka masing-masing mengerahkan seluruh tenaga dan melakukan serangan maut.
Gerakan kedua orang sakti mandraguna ini demikian kuatnya sehingga tidak ada yang berani mencampuri.
Bahkan mendekatpun berbahaya karena angin serangan mereka menyambar-nyambar sampai jauh.
Wiroboyo merasa penasaran.
Tak disangkanya bahwa musuh besar gurunya itu ternyata seorang yang sakti mandraguna, yang agaknya mampu menandingi gurunya sehingga mereka kini bertanding dengan seru dan sukar diduga siapa antara mereka yang akan keluar sebagai pemenang.
Dia pikir, apa artinya dia dan lima puluh orang anak buahnya ikut datang ke tempat itu kalau tidak membantu Wiku Menak Koncar?
Dia melihat isteri musuh gurunya, Nyi Padmosari, berdiri dengan gagahnya, juga para murid Nogoderito yang jumlahnya dua puluh orang lebih itu tampak sudah siap siaga.
Maka Wiroboyo lalu mencabut kerisnya dan member aba-aba kepada anak buahnya.
"Serbuuu!"
Dia sendiri, dibantu lima orang murid utama Klabang Wilis, sudah maju menerjang Padmosari.
Wanita perkasa ini dengan trengginas lalu mencabut keris dan melakukan perlawanan.
Sementara itu, anak buah Klabang Wilis sudah serentak maju menyerang anak buah Nogodento sehingga terjadi pertempuran yang hiruk-pikuk.
Akan tetapi segera ternyata bahwa pertempuran itu berat sebelah.
Pertandingan antara Ki Harjodento melawan Wiku Menak Koncar memang semula tampak ramai seolah mereka itu setanding atau setingkat.
Akan tetapi segera ternyata bahwa Ki Harjodento kini sudah amat tua dan dia pun sudah jarang berlatih olah raga, maka setelah melawan mati-matian dia mulai terdesak dan nafasnya mulai terengah-engah, sementara itu lawannya, Wiku Menak Koncar semakin beringas penyerangannya.
Aji Nandaka Kroda yang dikerahkan datuk besar Blambangan itu memang dahsyat sekali dan makin lama serangan-serangannya terasa semakin berat bagi Ki Harjodento yang mulai lelah dan kehabisan tenaga.
Melihat keadaan lawan yang mulai payah, Wiku Menak Koncar mengerahkan seluruh tenaganya dan kembali dia menyerang dengan Aji Nandaka Kroda.
Kedua tangannya didorongkan ke depan dan angin pukulan menyambar dahsyat.
Karena maklum bahwa putaran tombaknya tidak akan mampu menahan serangan dahsyat itu, Ki Harjodento lalu bertindak nekat untuk mengadu tenaga sakti.
Dia menancapkan tombaknya ke tanah lalu mengerahkan seluruh tenaga Nogo Dento, mendorong dengan kedua tangan terbuka ke depan menyambut pukulan Aji Nandaka Kroda dari lawan.
"Wuuuuttt.... blaarrrr".. !"
Hebat bukan main pertemuan kedua tenaga sakti itu.
Akan tetapi, tingkat kekuatan Wiku Menak Koncar memang lebih tinggi, apalagi pada saat itu Ki Harjodento yang sudah tua mulai kehabisan tenaga sehingga tenaga sambutannya tadi kurang kuat.
Begitu kedua tenaga itu bertemu, jarak antara kedua pasang tangan itu masi ada setengah depa, tubuh Ki Harjodento terpental dan dia terjengkang dan terbanting roboh telentang, tak mampu bergerak lagi dan dari mulutnya mengalir darah segar!
Melihat keadaan lawannya, Wiku Menak Koncar tertawa.
Dia tahu bahwa lawanmnya telah menderita luka yang parah dan nyawanya tak mungkin dapat terselamatkan lagi.
Dia lalu memandang ke arah muridnya.
Dilihatnya Wiroboyo tidak mampu menandingi kesaktian wanita itu yang biarpun dikeroyok oleh Wiroboyo dan lima orang murid kepala perguruan Klabang Wilis, Nyi Padmosari masih tampak tangguh dan sama sekali tidak terdesak.
Melihat ini, Wiku Menak Koncar menjadi penasaran sekali.
Apalagi melihat betapa para murid perguruan Nogo Dento yang hanya berjumlah dua puluh lebih itu mampu menahan serbuan lima puluh orang murid Klabang Wilis, dia menjadi marah.
"Haiiiiittt"..ahhhh!"
Dia melompat dan langsung memukul dengan Aji Nandaka Kroda ke arah Nyi Padmosari.
Wanita perkasa ini sudah merasa gelisah sekali melihat suaminya roboh.
Ia bingung dan panik, apalagi karena ia tidak mampu membantu atau menengok suaminya.
Ia hanya dapat melampiaskan kemarahanya dengan mengamuk dan pada saat itu pukulan ampuh Wiku Menak Koncar melandanya.
"Wuuuuttt...... desss!!"
Tubuh wanita itu terpental dan iapun roboh terbanting, tidak mampu bangkit kembali.
Setelah suami isteri pimpinan Nogodento itu rboh, para murid Nogodento menjadi terkejut.
Akan tetapi mereka masih melakukan perlawanan mati-matian.
Tak sorangpun dari mereka meragu untuk melawan sampai titik darah terakhir, sesuai dengan jiwa kependekaran yang telah ditanam dalam hati mereka oleh Ki Harjodento dan Nyi Padmosari.
Tiba-tiba terdengar lecutan meledak-ledak dan teriakan melengking-lengking dan banyak anak buah Klabang Wilis berpelantingan sehingga keadaan menjadi kacau.
"Tar-tar-tar-tarrr"..!!"
Tampak sinar hitam berkelebatan menyambar-nyambar sambil mengeluarkan suara meledak-ledak ketika sebuah pecut (cambuk) di tangan seorang laki-laki gagah perkasa berusia tiga puluh tiga tahun mengamuk dengan dahsyatnya.
"Haiiiittt". yaaaahhh ". !"
Segulung sinar hijau menyambar-nyambar merobohkan beberapa orang anak buah Klabang Wills dan sinar hijau itu adalah sebatang pedang yang digerakkan oleh seorang wamita cantik berusia kurang lebih tiga puluh dua tahun.
Mereka yang baru datang dan mengamuk ini bukan lain adalah Sutejo atau Tejomanik, pendekar dari lereng Gunung Kawi dan isterinya, Retno Susilo.
Seperti kita ketahui, suami isteri pendekar ini dalam perjalanan mencari anak mereka yang hilang diculik orang.
Mereka meninggalkan perguruan Jatikusumo di daerah Pacitan lalu pergi menuju perguruan Nogodento di daerah Ngawi.
Harjodento dan Padmosari adalah ayah dan ibu kandung Sutejo dan kunjungan suami isteri pendekar itu selain menengok orang tua, juga ingin menceritakan tentang diculiknya anak mereka Bagus Sujiwo dan ingin minta agar orang tua itu suka membantu mengerahkan anak buah Nogodento untuk mencari jejak penculik anak rnereka.
Dapat dibayangkan betapa kaget hati mereka ketika tiba di perkampungan Nogodento mereka melihat pertempuran hebat yang sedang terjadi di situ.
Apalagi melihat Ki Harjodento dan Nyi Padmosari telah menggeletak dan banyak pula anak buah Nogodento sudah roboh.
Tanpa banyak cakap lagi suami isteri pendekar ini menerjang dan mengamuk, merobohkan banyak anak buah Klabang Wilis dengan senjata mereka.
Sutejo mengamuk dengan senjata pusakanya, yaitu Pecut Bajrakirana yang menyarnbar-nyambar dan meledak-leda seperti halilintar.
Adapun isterinya, mengamuk dengan senjatanya yang menggiriskan, yaitu pedang pusaka Nogo Wilis yang berubah menjadi gulungan sinar hijau Sepak terjang suami isteri yang marah melihat Nogodento diserang dan kedua orang tua mereka menggeletak roboh itu bagaikan sepasang naga dari angkasa yang mengamuk.
Melihat para anak buah Klabang Wilis roboh bergelimpangan diterjang suami isteri itu, Wiku Menak Koncar dan Ki Wiroboyo terkejut dan marah sekali.
Sang Wiku Menak Koncar dan Ki Wiroboyo lalu berlompatan.
Kakek datuk Blambangan itu menghadapi Sutejo dan Ki Wiroboyo menghadapi Retno Susilo.
"Teja-teja sulaksana! Siapakah andika yang begini lancang berani mencampuri urusan kami dan menyerang anak buah kami?"
Kakek itu membentak dan mengamnati Sutejo dengan sinar mata tajam penuh selidik.
Kakek itu diam-diarn merasa heran.
Belum pernah dia bertemu dengan pria yang berusia kurang lebih tiga puluh tiga tahun, bertubuh tinggi tegap dan kokoh ini.
Wajahnya tampan gagah, matanya lebar penuh semangat, alisnya hitam tebal, hidungnya mancung dan mulutnya membayangkan keramahan.
Kulitnya bersih dan rambutnya yang panjang ditekuk menjadi gelung ke atas.
Sutejo juga memandang kakek itu penuh perhatian.
Seorang kakek yang usianya sekitar enam puluh enam tahun, tubuhnya sedang saja akan tetapi mukanya berwarna hitam arang mengerikan, dan ketika bicara tadi, suaranya melengking seperti suara wanita.
Pakaiannya mewah.
Matanya agak sipit, hidungnya pesek dan bibirnya tebal.
Sungguh merupakan wajah yang aneh akan tetapi sama sekali tidal menarik, bahkan dapat dikatakan buruk sekali dan menakutkan.
"Kakek jahat, akulah yang sepatutnya bertanya padamu. Siapakah andika yang begini jahat datang menyerang Nogodento?"
"Babo-babo! Aku adalah Wiku Menak Koncar, datuk besar Blambangan! Aku dating menyerbu Nogodento karena aku mempunyai permusuhan pribadi dengan Ki Harjodento! Siapa andika berani lancang rnencarnpuri urusan pribadiku?"
"Hemm, kiranya Wiku Menak Koncar jagoan Blambangan. Sekarang aku mengerti. Andika tentu masih ada hubungan dengan Ki Klabangkolo dan Resi Wisangkolo!"
"Benar! Mereka adalah saudara-saudara seperguruanku. Kematian Klabangkolo di tangan Harjodento yang membuat aku datang membalas dendam kepada Harjodento."
"Wiku Menak Koncar! Mereka itu tewas dalam perang karena mereka membela para pemberontak terhadap Mataram. Ketahuilah, aku adalah Sutejo, putra Bapa Harjodento!"
"Bagus, kaupun harus mampus!"
Bentak Wiku Menak Koncar dan diapun sudah menerjang ke depan, menyerang dengan Aji Bayu Bajra.
Angin yang dahsyat menyambar ke arah Sutejo.
Pendekar ini sudah siap siaga.
Dia maklum bahwa lawannya memiliki kesaktian.
Maka diapun sudah mengerahkan tenaganya dan mendorongkan kedua tangan, menyambut dengan Aji Bromokendali.
"Wuuuttt". desss ".!!"
Keduanya terorong ke belakang, dan mereka tahu betapa kuatnya tenaga lawan.
Wiku Menak Koncar terkejut dan marah.
Ki Harjodeno saja sudah dapat dia robohkan, masa dia tidak mampu mengalahkan anaknya?
"Aji Nandaka Kroda"" !"
Bentaknya dan dia menyerang lagi dengan aji yang lebih dahsyat ini. Kedua telapak tangannya mengandung tenaga yang teramat kuat.
"Wuuuttt"..tar-tar-tarrr".!!"
Sang Wiku Menak Koncar terkejut bukan main. Kedua telapak tangannya yang ampuh itu bertemu dengan ujung cambuk yang menyambar bagaikan halilintar dan kedua tangannya terasa panas sekali.
"Pecut Bajrakirana !"
Serunya dan suaranya mengandung perasaan gentar Dia sudah mendengar akan pecut sakti yang ampuh itu.
Sutejo yang mengkhawatirkan keadaa ayah ibunya yang menggeletak tak bergerak lalu menerjang dengan pecut saktinya, membuat Wiku Menak Koncar repot mengelak dan berusaha menangkis dengan kedua tangannya sambil mengerahkan tenaga sakti.
Sementara itu, tanpa banyak cakap lagi Wiroboyo sudah menggunakan kerisnya menyerang Retno Susilo.
Akan tetapi, wanita perkasa ini juga sudah marah bukan main melihat ayah dan ibu mertuanya menggeletak di atas tanah.
"Jahanam anjing keparat!"
Bentaknya dan pedangnya berubah menjadi gulungan sinar hijau menyambut serangan Wiroboyo.
"Cring-cring-traanggg""!"
Wiroboyo cepat melompat ke belakang dan matanya terbelalak, wajahnya berubah pucat Pertemuan antara keris dan pedang wanita itu membuat kerisnya terpental dan nyaris pergelangan tangannya terbabat pedang!
Maklumlah dia bahwa lawannya itu adalah seorang wanita yang sakti mandraguna.
Padahal sekarang Wiroboyo telah memperoleh kemajuan pesat dalam hal ilmu kanuragan, setelah dia menjadi murid Wiku Menak Koncar.
Namun, berhadapan dengan Retno Susilo, dia segera kewalahan.
Retno Susilo tidak memberi kesempatan kepadanya dan wanita perkasa ini sudah menerjang lagi dan pedangnya melakukan serangan maut bertubi-tubi yang membuat Wiroboyo berlompatan ke sana sini dalam usahanya untuk menghindarkar diri dari sambaran sinar hijau.
Maklumlah Wiroboyo bahwa maut mengancam dirinya, maka setelah mendapatkan kesempatan, dia melompat jauh ke belakang sambil berseru.
"Bapa Wiku, lari".!"
Mendengar ini, Wiku Menak Koncar yang juga jerih menghadapi kedahsyatan Pecut Sakti Bajrakirana, melompat dan mengejar Wiroboyo yang melarikan diri.
Para anak buahnya melihat ini segera melarikan diri ketakutan.
Retno Susilo marah dan mengamuk, merobohkan banyak anak buah Klabang Wilis yang berusaha melarikan diri.
Setelah semua anak buah Klabang Wilis lari dan dapat menyusul pimpinan mereka, jumlah mereka tinggal setengahnya atau kurang lebih tiga puluh orang saja.
Retno Susilo hendak melakukan pengejaran, akan tetapi Sutejo berseru.
"Tak usah dikejar!"
Retno Susilo menoleh dan melihat Sutejo berlutut dekat tubuh Harjodento, kemudian suaminya itu mengangkat tubuh bagian atas kakek itu dan merangkulnya.
Retno Susilo lalu cepat menghampiri Padmosari yang juga menggeletak tak jauh dari situ.
Wanita inipun masih hidup walaupun napasnya sudah terengah-engah dan darah segar mengalir keluar dari ujung mulutnya, mukanya pucat sekali.
"Bapak". !"
Sutejo yang memeluk tubuh Harjodento memanggil dan mengguncang tubuh itu.
Ki Harjodento membuka matanya, nafasnya terengah-engah dan darah keluar dari mulut, hidung dan telinganya.
Sutejo maklum bahwa ayahnya terluka parah sekali dan sulit untuk dapat menyembuhkannya.
Melihat puteranya, Ki Harjodento tersenyum.
".... Tejo.... bantulah... Mataram yang menghadapi.... Madura... dan Surabaya."
Setelah mengeluarkan ucapan itu, tubuh Ki Harjodento terkulai dan diapun tewas dalam rangkulan puteranya! "Bapak". !"
Sutejo mendekap tubuh ayahnya, maklum bahwa ayahnya telah menghembuskan napas terakhir. Padmosari yang berada dalam rangkulan Retno Susilo juga membuka matanya dan melihat mantunya, iapun berbisik.
"Mana.... mana anakku... Tejo....?"
Retno Susilo menoleh ke arah suaminya dan berseru.
"Kakangmas! Ibu memanggilmu!"
Sutejo menurunkan tubuh ayahnya dengan lembut ke atas tanah, lalu dia bangkit dan menghampiri isterinya yang masih merangkul tubuh ibunya.
Dia mengantikan Retno Susilo memeluk dan menahan tubuh atas ibunya.
Dengan hati terasa hancur pria perkasa inipun melihat kenyataan betapa keadaan ibunya parah sekali, tidak ada harapan untuk dapat ditolong seperti halnya ayahnya tadi karena orang tua ini telah terkena pukulan maut yang dahsyat sekali sehingga dari mulut, hidung dan telinganya keluar darah.
"Ibu"". !"
Sutejo memanggil lirih dan mendekap tubuh Padmosari yang lunglai. Wanita itu membuka mata memandang.
"Tejo... di mana bapakmu?"
Tanya wanita itu dengan suara berbisik.
Jantung dalam dada Sutejo seperti ditusuk oleh pertanyaan ini.
Ayahnya telah mati, baru saja hal itu terjadi dan kini ibunya yang terluka parah menanyakannya.
Bagaimana dia tega untuk memberi tahu bahwa ayahnya telah meninggal?
"Bapak".
bapak berada di sana, bu...."
Katanya sambil menggerakkan kepalanya ke arah di mana ayahnya rebah tak bernyawa lagi.
"Bawa aku dekat". bawa aku kepadanya...."
Kata wanita itu.
Sutejo tak dapat berkata apa-apa lagi dan juga tidak ingin membantah.
Dia memondong tubuh ibunya dan membawanya menghampiri jenazah ayahnya, diikuti oleh Retno Susilo yang mengerutkan alis dan menahan hatinya agar jangan menangis karena matanya sudah terasa panas dan bibirnya gemetar.
Dengan lembut Sutejo merebahkan tubuh ibunya di samping jenazah ayahnya.
Padmosari menoleh ke kiri dan menggerakkan tangan kirinya, perlahan tangan kirinya mencari sampai bertemu dengan tangan kanan Ki Harjodento lalu digenggamnya tangan itu dan ia tersenyum.
".... aku... aku tak ingin... berpisah". darinya".."
Ia memandang wajah suami isteri yang berlutut di dekatnya itu, lalu dengan napas terengah-engah ia menguati diri dan berkata.
"Tejo". Retno"
Jaga"..cucuku Bagus Sujiwo""baik-baik....."
Tubuh wanita itu terkulai dan ia menghembuskan napas terakhir, mati dengan tangan masih menggenggam tangan suaminya.
"Ibuuu".. bapaaak"". ?"
Sutejo menjerit dan menangis.
Retno Susilo juga menangis tersedu-sedu, akan tetapi ia masih berusaha untuk menghibur suaminya yang seperti anak kecil merangkul jenazah kedua orang itu bergantian sambil memanggil-manggil mereka.
"Kakangmas, ingatlah".. sebutlah nama Gusti Allah..."
Kata Retno Susilo sambil merangkul pundak suaminya dan air matanya membanjiri kedua pipinya. Sutejo menahan tangisnya.
"Duh Gusti"
Mohon kekuatan, Gusti ""!"
Keluhnya lirih dan dia merangkul isterinya.
Suami isteri itu berangkulan dan menangis.
Hati mereka seperti diremas-remas rasanya, apalagi pesan terakhir Padmosari tadi mengingatkan mereka akan putera mereka yang lenyap.
Mereka berdua kehilangan anak tunggal mereka dan mereka dating ke Nogodento hendak melapor dan bersambat kepada orang tua, mengadukan nasib mereka dan minta pertolongan.
Akan tetapi setibanya di Nogodento mereka malah dihadapkan dengan kematian ayah ibu mereka!
Tiba-tiba Retno Susilo yang tak dapat menahan kemarahannya, bangkit dan mengacungkan tangan yang terkepal di udara.
"Aku bersumpah akan membalaskan kematian bapak dan ibu, membalaskan sakit hati ini! Aku akan mencari mereka!"
Sutejo juga bangkit dan merangkul isterinya.
"Sabar dan tenanglah, diajeng. Aku telah mengetahui siapa kakek tadi. Kita bicarakan hal itu nanti saja. Sekarang, yang terpenting adalah mengubur jenazah bapak dan ibu."
Mereka lalu mengumpulkan sisa anak buah Nogodento.
Masih ada dua belas orang murid yang hidup.
Dengan dibantu para murid, Sutejo dan Retno Susilo mengubur jenazah Ki Harjodento dan Nyi Padmosari dengan baik, juga jenazah para murid Nogodento yang menjadi korban dalam pertempuran itu.
Bahkan pasangan pendekar perkasa ini rnenyuruh para murid Nogodento untuk mengubur pula jenazah para anak buah Klabang Wilis sebagaimana mestinya.
Setelah semua penguburan selesai, dari para murid Nogodento sepasang suami isteri pendekar itu mendengar akan penyerbuan gerombolan Klabang Wilis itu.
Juga mereka mendengar akan pesan Ki Harjodento kepada para murid agar pergi dan membantu Mataram dengan menjadi perajurit sukarela.
"Mendiang bapak benar,"
Kata Sutejo kepada para murid itu.
"Kalian harus mempergunakan semua ilmu yang dengan susah payah kalian pelajari untuk melakukan hal-hal yang benar. Sekarang ini Mataram sedang membutuhkan bantuan para pemuda seperti kalian, maka sudah sepantasnyalah kalau kalian membantu seperti yang dipesan mendiang bapak. Sekarang bagi-bagilah di antara kalian semua barang berharga yang ditinggalkan orang tuaku, untuk bekal kalian dalam perjalanan. Juga jangan lupa, dalam perjalanan kalian, bantulah kami dengan membuka mata dan telinga, melihat dan mendengar kalau-kalau kalian dapat menemukan jejak putera kami Bagus Sujiwo, yang diculik orang seperti telah ka ceritakan kepada kalian tadi. Nah, laksanakan perintah kami itu dan segera berangkatlah. Kami akan pergi lebih dulu."
Setelah meninggalkan pesan dan banyak nasihat kepada para murid Nogodento, Sutejo dan Retno Susilo meninggalkan tempat itu dan melakukan perjalanan ke timur.
"Kakangmas, kita sekarang melakukan pengejaran terhadap Wiku Menak Koncar yang telah membunuh ayah dan ibu? Kita harus membalas dendam itu secepatnya, kakangmas!"
Kata Retno Susilo setelah mereka keluar dari perkampungan Nogodento.
Sutejo menghentikan langkahnya dan mengajak isterinya duduk di atas batu-batu di tepi sungai.
Bengawan Solo yang mulai mengalir ke utara di bagian itu cukup lebar dan banyak airnya karena telah bertemu dan bersatu dengan Kali Madiun yang mengalir dari selatan.
"Diajeng, kita tidak akan mengejar Wiku Menak Koncar."
Wanita itu memandang wajah suaminya dengan heran.
"Apa? Kakek jahat itu telah membunuh bapak dan ibu, dan engkau tidak akan membalas dendam?"
"Diajeng, Wiku Menak Koncar menyerang mendiang bapak juga karena hendak membalas dendam atas kematian saudaranya, yaitu Ki Klabangkolo yang roboh oleh mendiang bapak. Tidak, diajeng, kitia tidak akan membalas dendarn karena kalau begitu, tiada bedanya antara dia dan kita, sama-sama diracuni dendam. Ada urusan yang jauh lebih penting bagi kita, yaitu pertama, kita harus membantu usaha Mataram menundukkan Madura dan Surabaya seperti yang dipesankan mendiang bapak kepada para muridnya. Dan kedua, kita masih harus mencari anak kita. Tentang Wiku Menak Koncar, kita akan menentangnya mati-matian kalau dia melakukan kejahatan, bukan karena dendam."
Retno Susilo menghela napas panjang.
Dulu, sebelum menjadi isteri Sutejo, dia adalah seorang gadis perkasa yang berhati sekeras baja, galak dan selalu bersikap keras dan membenci orang yang dianggapnya jahat.
Ia tidak mengenal ampun kepada mereka.
Akan tetapi setelah ia menjadi isteri Sutejo, ia berubah banyak.
Ia mulai dapat melihat bahwa menuruti kekerasan hati adalah menuruti nafs sendiri yang pada akhirnya akan merugikan diri sendiri.
Ia mulai dapat meliha kebijaksanaan suaminya dan semenjak menjadi isteri Sutejo, ia selalu mentaatinya.
Kini, diingatkan tentang puteranya yang hilang, Retno Susilo menjadi sedih sekali, sedih dan gelisah.
"Duh, kakangmas.... bagaimana dengan Bagus? Siapakah yang menculiknya dan kenapa? Di mana dia sekarang, kakangmas dan bagaimana keadaannya? Aku khawatir sekali...."
Sutejo merangkul isterinya.
"Tenanglah, diajeng. Yang jelas, kita yakin bahwa Bagus masih hidup. Kalau penculiknya ingin membunuhnya, tentu hal itu sudah dilakukannya dan tidak perlu dia bersusah payah membawa anak itu, pergi."
"Akan tetapi siapa yang begitu kejam menculik anak kita? Sudah setahun anak kita hilang dan belum juga kita dapat menemukan jejaknya"."
Suara wanita itu gemetar.
"Ingatlah bahwa aku sendiri ketika masih kecil diculik dari ayah ibu dan baru dapat berjumpa kembali dengan mereka setelah aku dewasa. Aku yakin bahwa penculikan anak kita ini dilandasi dendam kepada kita. Engkau sendiri tahu hahwa kita berdua dahulu telah menentang banyak orang jahat, apalagi sehubungan dengan pemberontakan mereka terhadap Mataram. Oleh karena itu, aku herpendapat bahwa yang menculik anak kita tentulah seorang di antara mereka yang pernah bermusuhan dengan kita seperti halnya Wiku Menak Koncar mendendam kepada mendiang bapak."
"Lalu apa yang harus kita lakukan, kakangmas? Ke mana kita harus mencarinya?"
"Tenanglah, diajeng. Menghadapi kehilangan Bagus ini, hanya ada dua hal yang dapat kita lakukan. Pertama, kita menyerahkan Bagus kepada Gusti Allah dan selalu berdoa dan percaya bahwa Gusti Allah pasti akan melindunginya. Kedua, kita harus berusaha mencari terus, akan tetapi karena kita belum tahu harus mencari ke mana, maka kita harus mendahulukan urusan yang sudah jelas yaitu membantu Mataram. Kita membantu Mataram sambil memasang mata dan telinga kalau-kalau dapat menemukan jejak anak kita itu."
Retno Susilo hanya dapat menyetujui dan mengangguk.
Suami isteri itu lalu melanjutkan perjalanan rnereka, menyusuri Bengawan Solo.
Rombongan yang berjurnlah tiga puluh orang lebih itu, yang tadinya lari ceral berai meninggalkan perkampungan Nogodento, akhirnya berkumpul dan melakukan perjalanan yang sunyi menuju kembali ke Gunung Wilis.
Mereka telah menderita kekalahan besar ketika menyerbu Nogodento.
Sama sekali di luar dugaan Wiku Menak Koncar dan Wiroboyo yang memimpin lima puluh orang lebih anak buah itu bahwa setelah mendapatkan kemenangan dan hampir dapat membasmi semua murid Nogodento, tiba-tiba muncul Sutejo dan Retno Susilo yang membuat mereka semua lari cerai-berai meninggalkan dua puluh lebih kawan yang tewas dalam penyerbuan itu.
Wiku Menak Koncar berjalan di depan rombongan bersama Wiroboyo.
Wajah kakek ini tampak cerah, sebaliknya wajah Wiroboyo tampak muram.
Hal ini tidaklah aneh karena Wiku Menak Koncar merasa puas bahwa dia telah berhasil membunuh musuh besarnya Ki Harjodento bersama isterinya.
Sebaliknya, Wiroboyo merasa rugi karena kehilangan banyak sekali anak buah.
"Sudahlah, anakmas Wiroboyo, tidak perlu bermuram durja. Setelah kita tiba di Gunung Wilis nanti, kita dapat menyusun lagi kekuatan dan menambah anggauta Klabang Wilis agar menjadi kuat kembali."
Wiku Menak Konear menghibur.
"Akan tetapi saya merasa penasaran sekali, Bapa Wiku. Sebagian besar anak buah saya terbunuh oleh wanita itu dan saya merasa penasaran karena tidak dapat membunuhnya. Perempuan itu begitu ganas seperti iblis!"
Kata Wiroboyo sambil mengepal tangan kanan dengan gemas.
"Hemm, jangan penasaran, anakmas. Andika tidak tahu siapa mereka. Yang laki-laki itu lebih sakti lagi dan setelah dia mengeluarkan Pecut Sakti Bajrakirana, baru aku ingat dan tahu siapa dia. Dia adalah seorang pendekar yang sakti mandraguna, murid mendiang Resi Limut Manik. Dialah yang dahulu membela Mataram dan mengalahkan banyak orang digdaya yang memusuhi Mataram. Untung Ki Harjodento dan isterinya sudah kurobohkan lebih dulu. Kalau kita terlambat sedikit saja, belum tentu kita berdua dapat meloloskan diri! Masih untung kita dapat selamat dan lebih untung lagi aku berhasil membunuh musuh besarku dan isterinya."
Pada saat itu, terdengar bentakan suara wanita nyaring.
"Jahanam keparat Wiroboyo. Sekarang saatnya engkau mampus di tanganku!"
Dua sosok bayangan berkelebat dan tahu-tahu di depan Wiroboyo dan Wiku Menak Koncar telah berdiri Muryani dan Satyabrata.
Mula-mula kelua orang itu terkejut karena mengira bahwa yang muncul itu adalah Sutejo dan Retno Susilo.
Akan tetapi ketika melihat bahwa yang muncul di depannya itu adalah Muryani dan seorang pemuda tampan yang tidak dikenalnya, Wiroboya menjadi riang.
Setelah sekian lamanya, dia masih tetap tergila-gila kepada gadis itu dan kini Wiku Menak Koncar berada di depannya, maka tentu saja dia tidak merasa takut sama sekali.
"Bapa Wiku, tolong tangkapkan gadis ni untuk saya. Sudah lama saya mengnginkan ia menjadi isteri (Lanjut ke
Jilid 17) Seruling Gading (Seri ke 02 -Serial Pecut Sakti Bajrakirana) Karya". Asmaraman S. Kho Ping Hoo
Jilid 17 saya,"
Kata wiroboyo.
Mendengar permintaan muridnya itu, Wiku Menak Koncar tertawa.
Dia tahu bahwa muridnya itu sebagai ketua Klabang Wilis merasa kecewa karena kehilangan lebih dari dua puluh orang anak buah, maka dia ingin menyenangkan atau menghibur hati muridnya itu dengan memenuhi permintaannya.
Memang gadis yang menghadang mereka itu cukup cantik jelita sehingga tidaklah mengherankan kalau Wiroboyo tergila-gila kepadanya.
"Heh-heh-hik-hik!"
Dia terkekeh seperti seorang nenek-nenek.
"Cah ayu dhenok dhebleng! Mari-mari, menurutlah andika menjadi isteri anakmas Wiroboyo!"
"Tua bangka hitam elek sinting, rnampuslah!"
Muryani yang sudah marah sekali melihat Wiroboyo, menjadi semakin marah melihat sikap dan mendengar ucapan Wiku Menak Koncar itu.
Ia sudah menerjang ke depan dan menyerang kakek berkulit hitam arang itu dengan pukulan Gelap Sewu yang dahsyat mematikan!
"Uh-uhhh galak juga"
Seru Sang Wiku Menak Koncar kaget dan cepat dia pun menyambut pukulan sakti itu dengan mendorongkan kedua telapak tangannya sambil mengerahkan tenaga Bayu Bajra.
"Wuuuuttt ".desss"". !!"
Tubuh Wiku Menak Koncar tergetar hebat, akan tetapi tubuh Muryani terdorong ke belakang sampai tiga langkah!
Hal ini saja membuktikan bahwa gadis itu masih kalah kuat dibandingkan lawannya.
Wiku Menak Koncar tertawa terkekeh dan sudah cepat menerjang ke depan dengan niat untuk menangkap gadis yang terhuyung itu.
Akan tetapi tiba-tiba sesosok bayangan berkelebat dan Satyabrata sudah menjulurkan tangan menahannya.
Melihat pemuda itu berani menghalanginya, Wiku Menak Koncar cepat memukul dengan telapak tangan terbuka ke arah dada pemuda itu.
Satyabrata menyambut dengan telapak tangannya.
"Wuuuttt"..desss"".!!"
Keduanya saia-sama terdorong ke belakang.
Tentu saja Wiku Menak Koncar terkejut bukan main karena mendapat kenyataan bahwa pemuda itu ternyata memiliki tenaga sakti yang tidak kalah kuat.
Satyabrata menatap penuh perhatian.
Dia pernah mendengar tentang datuk Blambangan yang berkulit hitam arang dan suaranya seperti wanita ini.
Terkenal sebagai datuk yang selalu menentang Mataram.
Dari logat bicaranya saja dia sudah dapat menduga bahwa kakek ini tentu orang Blambangan dan melihat kulitnya, mudah diduga bahwa dia tentu Wiku Menak Koncar.
Segera otaknya yang memiliki kecerdikan luar biasa itu bekerja dan dia berkata kepada kakek itu dengan nada mengejek.
"Hemm, kakek muka hitam. Tidak tahu malu andika menyerang seorang wanita. Kalau memang andika berani dan bukan pengecut, hayo lawanlah aku!"
Wiku Menak Koncar adalah seorant datuk besar. Tentu saja tantangan itu memanaskan perutnya.
"Siapa takut padamu, bocah kemarin sore?"
Bentaknya dan dia sudah menerjang dan menyerang dengan pukulan Aji Nandaka Kroda yang amat dahsyat dan mematikan.
Namun, dengan gerakan vang lincah sekali Satyabrata melompat ke belakang menghindar sambil mengejek.
"Luput, kek! Gerakanmu lambat seperti keong (siput) dan lunak seperti gudir! Hayo keluarkan semua aji-ajimu dan tandingi aku kalau memang andika berani dan bukan pengecut!"
Wiku Menak Koncar marah sekali. Dia mengejar dan menyerang lagi dengan lebih dahsyat, ingin membunuh pemuda yang berani mengejek dan menghinanya itu dengan sekali pukul.
"Hyaaaatttt"".. ahhhh....!"
Satyabrata mengelak lagi dengan lompatan yang lebih jauh ke belakang.
"Luput lagi, kek. Apakah tubuhmu sudah buyutan dan andika tidak mampu bergerak lebih cepat lagi?"
Dia mengejek sambi menjauh dan Wiku Menak Koncar terus mengejar, tidak tahu bahwa dia memang sengaja dipancing oleh pemuda itu.
Sementara itu, melihat kakek yang sakti itu kini sudah bertanding melawan Satyabrata, Muryani segera melompat ke depan Wiroboyo.
Kemarahannya sudah berkobar lagi, teringat akan kematian ayahnya.
Walaupun ia sudah berhasil membunuh, atau setidaknya merobohkan dan membuat Darsikun, pembunuh ayahnya itu membunuh diri, namun ia tahu bahwa Darsikun hanyalah suruhan dan yang menyuruh bunuh ayahnya adalah Wiroboyini ini.
"Wiroboyo jahanam busuk, aku bersumpah untuk membunuhmu!"
Teriaknya marah. Akan tetapi Wiroboyo masih rnemandang rendah gadis itu. Kini setelah dia mempelajari aji kesaktian dari Wiku Menak Koncar, tentu saja dia tidak takut kepada Muryani.
"Heh-heh, manis. Sekarang engkau pasti akan tunduk dan menjadi milikku!"
Wiroboyo sama sekali tidak tahu bahwa gadis itu telah mendapat gemblengan hebat dari Nyi Rukmo Petak.."Haiiiiittt".!"
Muryani menerjang dengan aji pukulan Gelap Sewu.
Dari kedua tangannya meluncur hawa pukulan yang amat dahsyat.
Wiroboyo yang masih memandang rendah, sambil tersenyum menyambut pukulan itu dengan dua tangan, siap untuk menangkap apabila gadis itu terhuyung oleh tenaganya yang tentu jauh lebih kuat.
"Wuuuttt".. bresss ""..!"
Senyum itu lenyap dari muka Wiroboyo yang berubah pucat.
Pertemuan tenaga itu membuat ia terhuyung ke belakang, bahkan nyaris dia terjengkang kalau saja dia tidak cepat berjungkir balik ke belakang.
Melihat pemimpin mereka terhuyung, empat orang anak buah Klabang Wilis menyerbu dengan golok mereka, membacok ke arah gadis itu dari empat jurusan.
"HYAAAAHHH !"
Muryani bergerak dengan Aji Kluwung Sakti.
Tubuhnya berlelebatan sedemikian cepatnya bagaikan berubah menjadi bayang-bayang, kaki tangannya menyambar dan empat orang itu berteriak kesakitan dan roboh terpelanting, tak mampu bangkit lagi!
Melihat ini, sisa anak buah Klabang Wilis menjadi gentar dan giris hatinya.
Ternyata gadis itu tidak kalah ganasnya disbanding Retno Susilo!
Mereka.
hanya memandang terbelalak dengan muka pucat, tidak berani mengeroyok lagi.
Wiroboyo juga terkejut bukan main.
Sama sekali tidak disangkanya bahwa kini Muryani memiliki kesaktian yang demikian hebat, mengingatkan dia akan wanita cantik yang mengamuk bersama suaminya di perguruan Nogodento.
Dia tidak tahu bahwa antara Muryani dan Retno Susilo memang ada hubungan tunggal guru, walaupun mereka tidak pernah saling jumpa.
Yang menggembleng kedua orang wanita itu adalah mendiang Nyi Rukmo Petak.
Melihat empat orang anak buahnya roboh dan yang lain tampak gentar, Wiroboyo cepat berteriak.
"Maju semua! Serbu! Keroyok!"
Dua puluh orang lebih itu timbul kembali semangat mereka setelah mendengar perintah Wiroboyo.
Dengan senjata golok mereka lalu menyerbu Muryani dari segala jurusan, menghujani gadis itu dengziri bacokan golok.
Namun, Muryani sudah siap siaga.
Ia bergerak dengan Aji Kluwung Sakti sehingga tubuhnya seperti lenyap berubah menjadi bayangan yang berkelebatan di antara puluhan batang golok itu.
Sambil berkelebat menghindarkan diri, kaki tangannya bergerak.
Berturut-turut para anak buah itu berteriak mengaduh dan roboh.
Dalam waktu beberapa detik saja lima orang sudah terjungkal.
Wiroboyo terbelalak dan maklum betapa bahayanya gadis perkasa itu.
Dia lalu melompat jauh dan melarikan diri, tidak memperdulikan lagi anak buahnya yang diamuk Muryani, juga tidak memperdulikan Wiku Menak Koncar yang tadi bertanding melawan Satyabrata dan kini tidak tampak lagi.
"Keparat busuk, hendak lari ke mana kau?"
Tampak bayangan berkelebat di samping Wiroboyo dan angin menyambar dahsyat menyerangnya. Wiroboyo cepat mengelak dan menggerakkan kedua tangan untuk menangkis pukulan yang dahsyat dari gadis itu.
"Wuuuuttt.... desss...!"
Wiroboyo kembali terdorong dan terhuyung ketika lengannya bertemu dengan tangan gadis itu.
Akan tetapi ketika Muryani hendak mengejar dan rpengirim serangan susulan, anak buah Klabang Wilis sudah datang lagi dan mengeroyoknya.
Wiroboyo menggunakan kesempatan itu untuk mengeroyok pula, dengan maksud untuk dapat merobohkan gadis perkasa itu dengan mengandalkan banyak orang.
Muryani mengamuk, mulutnya mengeluarkan bentakan melengking-lengking dan setiap kali tangan atau kakinya menyambar, tentu ada seorang anak buah gerombolan itu yang roboh terpelanting.
Sementara itu, Satyabrata berhasil memancing Wiku Menak Koncar untuk terus mengejar dan menyerangnya.
Kini mereka berdua telah berada agak jauh dari Muryani yang dikeroyok banyak orang.
Wiku Menak Koncar merasa penasaran sekali karena untuk kesekian kalinya, serangannya selalu dapat dielakkan lawan.
"Hyaaaattt"".ahhh!"
Dia menyerang lagi dengan aji pukulan Nandaka Kroda yang amat dahsyat.
Sekali lagi, Satyabrata tidak mengelak melainkan menyambut pukulan itu dengan aji pukulan Margopati.
Dia sengaja memapaki pukulan lawan dan hendak mengadu tenaga sakti mereka.
"Wuuuuttt.... plakkk!"
Dua pasang telapak tangan bertemu dan akibatnya, Wiku Menak Koncar terhuyung ke belakang dan napasnya memburu karena terasa sesak.
"Tahan...!"
Seru kakek itu dan memandang tajam.
"Orang muda, siapakah andika?"
Satyabrata tersenyum.
"Andika tentulah Sang Wiku Menak Koncar, datuk besar Blambangan itu, bukan? Katakan dulu, paman Wiku, apakah engkau sekarang masih tetap menentang dan memusuhi Mataram?"
Tentu saja Wiku Menak Koncar terbelalak heran mendengar pertanyaan itu.
Dia memandang penuh selidik, akan tetapi tidak merasa kenal dengan pemuda ini, seorang pemuda aneh yang sakti mandraguna, yang bola matanya berwarna aneh pula, agak kebiruan.
"Sebelum aku menjawab, katakan dulu siapa andika!"
Katanya.
Satyabrata menoleh ke kanan kiri.
Setelah merasa yakin bahwa di situ tidak ada orang lain kecuali mereka berdua, dia mengeluarkan sesuatu dari ikat pinggangnya.
Benda itu adalah sebunh dinar emas, uang logam terbuat dari emus murni yang dia dapatkan dari Willem Van Huisen ayah angkatnya dan benda itu juga menjadi tanda rahasia bagi seorang wakil Kumpeni Belanda yang tinggi ke-"
Dudukannya. Satyabrata menunjukkan uang logam emas itu kepada Wiku Menak Koncar dan bertanya.
"Andika tentu mengenal ini, bukan?"
Wiku Menak Koncar semakin heran.
Tentu saja dia mengenal baik tanda itu walaupun dia belum pernah menjadi antek Kumpeni.
Setidaknya dia pernah berhubungan dengan pihak Kumpeni dan mengenal tanda-tanda para wakil kumpeni yang bertugas mengadakan hubungan dengan para pejabat di pedalaman, terutama mereka yang menentang Mataram.
"Ah, andika petugas Kumpeni?"
Tanyanya.
"Benar, namaku Satyabrata, dari Cirebon. Andika belum menjawab pertanyaanku tadi, paman Wiku Menak Koncar."
"Tentu saja aku memusuhi Mataram. Selamanya aku akan memusuhi dan menentang Mataram!"
"Bagus! Kalau begitu kita sepaham dan segolongan. Karena itu, tidak perlu kita melibatkan diri dengan pertikaian pribadi antara Muryani dan Wiroboyo itu, paman Wiku. Tak perlu kita bertanding lagi. Kewajiban kita adalah menentang Mataram demi kepentingan Kumpeni dan juga Blambangan. Atau paman akan nekat melanjutkan perkelahian? Ingat, paman, kalau aku menghendaki, sudah sejak tadi aku dapat membunuhmu dengan ini!"
Satyabrata menyingkap bajunya, memperlihatkan sebuah pistol yang terselip di ikat pinggangnya.
"Peluru emas pistol ini tentu takkan dapat ditahan kekebalan paman. Juga aku memiliki banyak aji kesaktian yang cukup untuk menandingi kesaktianmu."
Wiku Menak Koncar memandang ragu.
Dia maklum bahwa pemuda itu memang digdaya sekali, belum tentu dia akan mampu mengalahkan pemuda itu, apalagi dia memiliki senjata api yang berbahaya.
Selain itu, tidak perlu pula dia harus bermusuhan dengan seorang petugas Kumpeni.
"Lalu apa kehendakmu sekarang, anakmas Satyabrata?"
"Begini, paman Wiku Menak Koncar. Tentu andika mengetahui bahwa sekarang Mataram sedang mengancam untuk menyerang Madura dan Surabaya. Karena itu, kita harus membantu Madura untuk, menentang Mataram. Kumpeni juga secara diam-diam akan membantu Madura. Maka, saya harap paman suka meninggalkan pertempuran ini dan pergi ke Madura, membantu Kadipaten Arisbaya dan kadipaten-kadipaten lain di Madura. Saya sendiri juga akan segera menyusul ke sana. Percayalah, Kumpeni pasti akan menghargai sekali bantuan paman, dan saya akan melaporkan ke atasan di Batavia. Atau kalau paman menolak, paman melanjutkan pertempuran ini dan akan berhadapan dengan saya!"
Wiku Menak Koncar masih ragu.
"Akan tetapi bagaimana dengan Wiroboyo? Dia sudah menjadi muridku...."
"Aahh, paman. Mengapa memusingkan urusan kecil itu kalau urusan yang jauh lebih besar menunggu bantuan paman?"
Akhirnya Wiku Menak Koncar setuju.
Memang diam-diam kakek ini sudah mempunyai keinginan untuk membantu Madura melawan Mataram atas permintaan sahabatnya, yaitu Ki Harya Baka Wulung yang sudah mengirim utusan menemuinya.
"Baiklah, anakmas Satyabrata. Aku berangkat sekarang juga dan kuharap akan dapat segera bertemu dan bekerja sama denganmu di Madura."
Setelah berkata demikian, kakek itu lalu berlari cepat meninggalkan tempat itu, tidak perduli lagi akan pasib Ki Wiroboyo dan sisa anak buah Klabang Wilis.
Satyabrata mengikuti bayangan Wiku Menak Koncar sambil tersenyum.
Dia merasa girang sekali dan senyumnya membuat wajahnya tampak tampan sekali.
Dia merasa telah mendapatkan dua keuntungan.
Pertama, dia dapat membantu Muryani, dan kedua, dia berhasil membujuk.
Wiku Monak Koncar untuk segera pergi ke Madura membantu perlawanan terhadap Mataram, sesuai dengan politik Kumpeni Belanda.
Dia diam-diam sudah bertemu dengan para pimpinan telik sandi Kumpeni dan mempelajari keadaan politik waktu itu karena telah terjadi perubahan-perubahan selama dia mempelajari, ilmu-ilmu di sumur tua perguruan Jatikusumo.
Sambil tersenyum-senyum dia lalu berlari, kembali ke tempat pertempuran tadi dengan niat mencegah Muryani membunuh Wiroboyo.
Pria itu adalah murid Wiku Menak Koncar, maka sudah sepatutnya kalau diselamatkan karena dia dapat diharapkan untuk menjadi sekutu menentang nentang Mataram.
Akan tetapi ketika tiba di tempat itu, Satyabrata melihat bahwa sudah terlambat baginya untuk menyelamatkan Wiroboyo.
Dia melihat betapa Muryani mengamuk dan sudah merobohkan banyak sekali anak buah Klabang Wilis dan kini Wiroboyo sudah terdesak hebat.
Tak mungkin lagi dia mencampuri perkelahian itu untuk menyelamatkan Wiroboyo tanpa menyinggung perasaan Muryani.
Kalau dia menolong Wiroboyo, dia harus menggunakan kekerasan melindunginya dan hal ini tentu akan membuat Muryani marah kepadarrya.
Tentu saja dia tidak mau kehilangan Muryani hanya untuk menyelamatkan Wiroboyo.
Pada saat itu, memang Muryani sudah mendesak hebat kepada musuhnya.
Tidak kurang dari sepuluh orang anak buah Klabang Wilis yang berani mencoba untuk membantu Wiroboyo dan mengeroyoknya telah ia robohkan dan kini sisa para anak buah itu tidak berani lagi mendekat walaupun berulang kali Wiroboyo memerintahkan mereka untuk membantunya.
Terpaksa dia sendiri yang melawan, akan tetapi dia hanya dapat mengelak dan menangkis sambil terdesak mundur terus, tanpa dapat membalas sama sekali.
Tiba-tiba Muryani bergerak cepat, tubuhnya berkelebat ke depan, tangan kirinya menyambar ke arah muka Wiroboyo.
Wiroboyo terkejut sekali, hidungnya mencium bau harum-harum amis keluar dari kukukuku tangan gadis itu.
Dia mengelak dengan menarik mukanya ke belakang.
"Heiiiittt....!"
Muryani membentak, tangannya meraih dan kuku-kuku jari tangannya mencengkerarn ke leher lawan.
Darah muncrat dan tubuh Wiroboyo terhuyung ke belakang.
Kaki kanan Muryani menyusul dan tubuh Wiroboyo terpental oleh tendangan kaki.
Dia roboh dan bergulingan, berkelojotan.
Rasa nyeri menghentak-hentak ke dalam kepalanya.
Dia telah terkena cengkeraman Wiso Sarpo yang amat berbisa, sebuah aji pukulan yang dahsyat dan ganas sekali yang merupakan aji pamungkas dari mendiang Nyi Rukmo Petak.
Saking keji dan ganasnya pukulan ini, Muryani yang telah menguasainya hampir tidak pernah mempergunakannya.
Sekarang saking sakit hati dan, bencinya kepada Wiroboyo, ia menggunakan aji itu dan memandang musuhnya yang kini berkelojotan dan mukanya berubah kehitaman mengerikan!
Anak buah Klabang Wilis yang tinggal belasan orang itu lari kocar-kacir melihat pemimpin mereka roboh.
Muryani tetap berdiri memandang musuh besarnya sampai Wiroboyo tidak bergerak lagi, tewas dalam keadaan yang mengerikan.
Setelah musuhnya tewas, baru Muryani mendengar langkah Satyabrata yang menghampirinya.
Ia memutar tubuh, siap menghadapi lawan baru.
Akan tetapi ketika melihat bahwa yang menghampirinya adalah Satyabrata, ia menghela napas panjang dan memandang kepada mayat Wiroboyo yang menggeletak telentang dengan seluruh muka berubah hitam.
"Aku telah berhasil membunuhnya Berhasil membunuh jahanam ini yang menyebabkan kematian ayahku,"
Katanya suaranya gemetar penuh keharuan, teringat akan ayahnya. Satyabrata mengangkat tangan kanannya dan menyentuh pundak gadis itu dengan lembut dan mesra.
"Syukurlah, dia jeng, aku ikut merasa gembira engkau telah dapat membalas sakit hatimu."
Muryani merasa girang.
Ia menganggap pemuda itu amat baik dan bersikap lembut dan sopan kepadanya.
Sentuhan, tangan pemuda itu di pundaknya mendatangkan getaran dan ia membiarkan saja tangan itu hinggap di pundaknya.
Ia teringat akan lawan pemuda itu, kakek bermuka hitam arang yang sakti mandraguna tadi.
"Kakangmas Satyabrata, bagaimana dengan lawanmu, kakek yang mengerikan tadi?"
Satyabrata melepaskan tangannya dan mengerutkan alis, menggelengkan kepalanya.
"Dia sungguh sakti dan licik, diajeng. Dia berhasil lolos dari tanganku dan melarikan diri. Aku tidak berani mengejarnya karena khawatir engkau akan mengalami celaka kalau kutinggalkan, maka aku terpaksa membiarkan dia lari."
"Tidak mengapa, kakangmas. Aku tidak mempunyai urusan dengan kakek itu. Wiroboyo inilah yang kucari dan sekarang , aku berhasil membunuhnya. Semua ini berkat pertolonganmu, kakangmas. Kalau tidak ada engkau yang membantuku, mungkin bukan dia, melainkan aku yang menggeletak tak bernyawa di sini karena kakek muka hitam itu sakti sekali. Sekali lagi aku amat berterima kasih kepadamu, kakangmas. Berulang kali engkau telah menyelamatkan dan menolong aku. Aku berhutang budi dan nyawa kepadamu."
Satyabrata tersenyum dan merasa senang sekali.
Akan tetapi dia menahan gelora hatinya yang membuat dia ingin sekali merangkul dan mencumbu gadis itu Dia ingat bahwa saat itu dia harus menjadi seorang pemuda yang baik hati, lembut dan sopan di mata Muryani.
"Aah, diajeng, kenapa engkau berkata begitu? Aku senang sekali dapat membantumu, bahkan aku akan rela mengorbankan nyawaku demi menyelamatkandan membantumu, diajeng."
Suaranya mengandung getaran perasaan yang membuat Muryani terguncang hatinya dan ia memandang wajah pemuda itu yang tampan ganteng dan penuh daya tarik.
Detak jantungnya membuat wajah gadis itu menjadi kemerahan karena perkataan pemuda itu jelas mengandung isyarat bahwa pemuda itu mencintanya dengan tulus dan murni sehingga rela mengorbankan nyawa untuknya!
Akan tetapi ia masih belum puas, dengan isyarat itu, ingin mengetahui mengetahui lebih jelas.
Ia berdiri menghadapi pemuda itu dalam jarak hanya satu meter dan menatap tajam wajah itu.
"Kakangmas Satyabrata""."
"Hemmm? Ada apakah, diajeng Muryani?"
Kata pemuda itu dengan suara lembut sekali.
"Aku merasa heran, kakangmas. Kenapa engkau begini baik kepadaku? Tidak ada hubungan apapun antara kita, dan kitapun baru saja saling bertemu dan berkenalan, akan tetapi mengapa engkau begini baik kepadaku sehingga engkau mengatakan akan rela mengorbankan nyawamu untukku? Kenapa, kakangmas?"
Satyabrata menjulurkan kedua tangannya dan menangkap kedua tangan yang mungil dan berkulit hangat dan lembut itu.
Dia mengangkat kedua tangan itu dan ditempelkan pada dadanya sendiri.
Suaranya mengandung penuh getaran hati yang tidak dibuat-buat ketika dia berkata lirih seperti berbisik.
"Diajeng Muryani, bolehkah aku berkata terus terang. Tidak marahkah kalau engkau mendengar pengakuan yang tulus keluar dari hati sanubariku? Engkau belar-benar tidak akan marah?"
Dua pasang mata itu saling pandang, sinar mata itu bertaut dan seolah saling nelekat. Muryani merasa betapa jantungnya berdebar penuh ketegangan dan iapun menggeleng kepala sambil berkata lirih pula.
"Tidak, kakangmas, aku tidak akan marah, apapun yang akan kaukatakan."
"Kalau begitu, perkenankan aku menyatakan isi hatiku kepadamu, diajeng. Semenjak pertemuan kita pertama kali, aku"
Aku telah jatuh cinta kepadamu, diajeng, aku"
Cinta padamu dengan segenap jiwa ragaku. Nah, lega sudah hatiku setelah menyatakan perasaan ini kepadamu, mudah-mudahan engkau dapat menerima dan membalas cintaku, diajeng."
Sejenak Muryani merasa begitu nyaman dan bahagia.
Jantungnya berdebar.
Alangkah senangnya mendengar pemuda yang tampan gagah, dan demikian baik hati kepadanya, yang berkali-kali menolongnya itu menyatakan cinta kepadanya!
Merasa betapa kedua tangannya yang ditekan pada dada pemuda itu dapat mengenal debar jantung dalam dada itu, debar jantung penuh gairah cinta!
Akan tetapi tiba-tiba wajah seorang pemuda lain terbayang di depan matanya.
Seorang pemuda remaja, berusia delapan belas tahun berdekapan dengan ia yang ketika itu berusia enam belas tahun sambil bertangisan karena akan berpisah.
Masih teringat betapa ia memberikan sebuah patrem (keris kecil) kepada Parmadi, pemuda itu dan pemberiannya itu selama ini ia anggap sebagai tanda cintanya, waIaupun mereka berdua belum pernah menyatakan cinta melalui kata-kata.
Betapapun juga, begitu wajah Parmadi terhayang ia lalu dengan lembut menarik kedua tangannya terlepas dari pegangan Satyabrata dan ia melepaskan pula pandang matanya dengan menundukkan mukanya.
Kedua pipinya merah dan ia memaksa diri tersenyum agar tidak mengecewakan hati pemuda yang sesungguhnya telah mulai membakar gairah cintanya itu.
"Kakangmas Satyabrata, terima kasih atas perasaanmu yang murni terhadap diriku. Akan tetapi maafkanlah aku, kakangmas, sesungguhnya saat ini aku sama sekali belum memikirkan tentang hal itu. Aku masih belum siap untuk sebuah pernikahan."
"Diajeng, engkau pernah mengatakan bahwa usiamu kini sudah dua puluh satu tahun dan aku sendiri kini sudah berusia dua puluh enam tahun. Kita berdua sudah cukup dewasa, diajeng. Dan akupun tidak tergesa-gesa mengajakmu menikah. Aku sudah merasa cukup berbahagia kalau saja engkau dapat menerima cintaku dan membalasnya. Tentang pernikahan, kita dapat bicarakan kelak kalau saatnya sudah tiba."
"Maafkan aku, kakangmas, aku benar-benar belum siap. Sebaiknya kalau kita tidak membicarakan urusan itu lebih dulu. Aku masih bingung melihat kenyataan diriku. Aku telah kehilangan ayah dan ibu, juga nenekku telah tiada, kemudian guruku yang kedua dan yang amat menyayangku, telah meninggal dunia pula. Aku masih bingung menghadapi kenyataan ini, karena itu, harap engkau suka maafkan aku dan tidak membicarakan urusan itu yang hanya akan menambah kebingungan hatiku."
Satyabrata menghela napas panjang.
'"Kasihan engkau, diajeng.
Baiklah, akupun sebetulnya ingin sekali menjadi pengganti semua orang yang kaucinta dan yang telah tiada itu.
Akan tetapi kalau engkau belum siap, akupun tidak berani nengganggumu lagi.
Sekarang, bagaimaia, diajeng?
Ke mana engkau hendak pergi?
Aku akan selalu menemanimu, tentu saja kalau engkau tidak keberatan."
"Aku hanya akan mengganggu saja, cakangmas Satyabrata. Silakan engkau melaksanakan tugas kewajibanmu sendiri, dan jangan pusingkan urusanku."
"Tidak, diajeng. Kebetulan akupun tidak mempunyai urusan penting. Bagaiman engkau dapat mengatakan bahwa aku jangan memusingkan, urusanmu? Urusanmu bagiku berarti urusanku juga, bahkan lebih penting. Karena itu, biarpun engkau belum dapat menerima cintaku, janganlah menolak kalau aku ingin menyertaimu dalam perjalananmu dan membantumu dalam segala urusan."
Muryani merasa tidak enak untuk menolak lagi.
Pula, di lubuk hatinya ia memang sudah terpikat oleh semua ucapan yang merayu dan amat manis terdengarnya itu sehingga sesungguhnya iapun merasa berat untuk berpisah dari Satyabrata dan ingin terus didampingi pemuda yang tampan dan gagah perkasa itu.
"Baiklah kalau begitu, kakangmas Satyabrata. Seperti kukatakan tadi, kini aku hidup sebatangkara di dunia ini. Akan tetapi masih ada seorang yang dapat kuanggap sebagai pengganti orang tuaku yaitu guruku...."
"Eh, bukankah tadi kaukatakan bahwa gurumu juga sudah meninggal dunia?"
Potong Satyabrata.
"Oh, yang telah meninggal dunia itu adalah guruku yang kedua, yaitu Nyi Rukmo Petak. Guruku yang pertama adalah Ki Ageng Branjang, ketua perguruan Bromo Dadali yang berada di Gunung Muria kakangmas."
"Hemm, begitukah? Jadi sekarang engkau hendak pergi ke Gunung Muria?"
"Begitulah."
"Baik, mari kita berangkat. Aku akan menemanimu pergi berkunjung ke rumah gurumu itu."
Dua orang muda itu lalu berangkat menuju ke Gunung Muria.
Dalam perjalanan itu, Satyabrata selalu bersikap lembut, manis, dan sopan, bahkan sama sekali tidak menyinggung lagi tentang perasaan cintanya terhadap Muryani sehingga gadis itu merasa senang dan semakin tertarik.
Biarpun ia seorang gadis yang sakti mandraguna, namun Muryani masih hijau dalam pergaulan antara pria dan wanita sehingga mudah ia terpesona oleh rayuan manis seorang pemuda yang memang tampan dan gagah seperti Satyabrata.
Tak terhitung banyaknya wanita yang jatuh terjerumus karena rayuan ini karena memang telah menjadi kelemahan wanita pada umumnya untuk menjadi lunak dan tertarik hatinya apabila menghadapi pria yang pandai merayu.
Bahkan banyak wanita yang jatuh oleh rayuan maut pria yang tidak tampan sekalipun.
Apalagi rayuan seorang pemuda seperti Satyabrata, tentu saja daya tariknya amat besar dan kuat.
Karena mendapat keterangan dari para mata-mata bahwa Mataram sudah bersiap-siap untuk menyerbu Madura lebih dulu dalam usahanya menyerang Surabaya, maka Harya Baka Wulung tiada henti-hentinya berusaha untuk membujuk para adipati untuk membantu Madura dan memberontak kepada Mataram.
Bahkan puteranya sendiri, Raden Dibyasakti, dijadikan utusan istimewa untuk menghubungi dan membujuk seluruh kadipaten di Madura dan pemuda tinggi besar dan gagah itu berhasil dengan baik sehingga, semua adipati di daerah Pulau Madura telah berjanji untuk bersama-sama melawan Mataram kalau Mataram mengadakan penyerbuan ke Madura.
Ki Harya Baka Wulung yang menjadi sesepuh dan penasihat di Kadipaten Arisbaya masih belum puas dengan bersatunya Madura.
Dia bahkan mengutus Raden Dibyasakti untuk menyeberang ke Jawa Timur di sepanjang pesisir utara, menghubungi siapa saja yang memiliki kecenderungan mendendam dan memusuhi Mataram dan yang mau untuk membantu Madura.
Bukan hanya para adipati yang dibujuk, melainkan juga perkumpulan-perkumpulan yang dianggap kuat.Tentu saja tidak semua adipati atau ketua perkumpulan dapat dibujuk untuk mendukung Madura, akan tetapi setidaknya Raden Dibyasakti sudah berusaha untuk mempengaruhi mereka, menanamkan kebencian dan sikap memberontak kepada Mataram.
Bahkan Kadipaten Tuban yang baru saja ditundukkan Mataram juga tidak lepas dari bujukan Raden Dibyasakti walaupun tidak berhasil.
Usaha Raden Dibyasakti bahkan membuat dia pada sua.u pagi tiba di Gunung Muria karena dia nendengar bahwa di situ terdapat sebuah perguruan silat yang terkenal, yaitu perguruan Bromo Dadali yang diketuai oleh Ki Ageng Branjang.
Perguruan ini mempunyai kurang lebih seratus orang murid, laki-laki dan wanita yang tinggal di situ sehingga merupakan sebuah perkumpulan yang memiliki perkampungan cukup besar.
Ada pula murid-murid Bromo Dadali yang sudah berkeluarga dan mempu.yai anak-anak yang masih kecil.
Baru sekitar lima tahun para murid itu menikah dan kini anak-anak mereka yang paling besar berusia sekitar empat tahun.
Dengan adanya keluarga ini, maka perguruan Bromo Dadali kini berubah menjadi sebuah perkampungan.
Mereka bekerja sebagai petani, mengerjakan tanah Pegunungan Muria yang subur.
Kehidupan, mereka tenteram dan damai dan perguruan ini dikenal baik oleh penduduk sekitar Gunung Muria.
Bahkan Bromo Dadali menjadi sumber pertolongan bagi para penduduk dusun-dusun itu kalau terjadi penindasan oleh orang-orang yang mempergunakan kekuasaan untuk bertindak sewenang-wenang terhadap rakyat.
Dengan adanya Bromo Dadali, maka para gerombolan perampok dan pencuri tidak berani beraksi.
Kalau mereka beraksi maka tentu orang-orang gagah yang menjadi para murid Bromo Dadali akan bertindak menumpas mereka.
Pagi itu udara cerah sekali.
Matahari telah agak lama muncul di balik puncak gunung sebelah timur dan kini sinarnya yang tadi kemerahan sudah berubah terang, putih kekuningan menghiduprkan segala yang tampak di permukaan bumi.
Embun-embun yang bergantungan di ujung-ujung daun bagaikan mutiara mulai berjatuhan.
Tanah dan daun-daun pohon yang semalam disiram hujan, kini tertimpa sinar matahari, menguapkan hawa yang membawa bau sedap, bau sehat dari tanah dan tumbuh-tumbuhan.
Burung-burung yang berloncatan dari ranting ke ranting, meruntuhkan sisa air embun yang agaknya enggan meninggalkan pucuk daun-daun.
Beberapa ekor bajing berloncatan di antara buah-buah kelapa, berkejaran dengan riang gembira.
Beberapa orang murid Bromo Dadali yang bertubuh sehat kokoh, laki-laki berusia antara dua puluh lima sampai tiga puluh tahun, bertelanjang dada, hanya mengenakan celana hitam sebatas bawah lutut, memanggul pacul dan memakai caping lebar, berjalan beriringan seperti baris di atas tanggul sawah.
Di belakang mereka tampak tiga orang laki-laki lain menggiring sembilan ekor kerbau dan dua ekor sapi, berjalan di tepi sawah ladang, agaknya sedang digiring ke lereng di mana tumbuh rumput hijau yang lebat.
Sebelas ekor hewan peliharaan itu tampak gemuk dan sehat.
Dari jauh tampak beberapa orang murid lain sedang mencangkul tanah dan seorang di antara mereka bertembang.
Lagu yang ditembangkan Sekar Pangkur dan beberapa orang lain menyelinginya dengan senggaan, ada pula yang menirukan suara kendang dan kenong.
Para murid Bromo Dadali itu bekerja dengan hati gembira sehingga tubuh yang sehat dan yang sudah bersimbah peluh itu tidak terasa lelah.
Pada saat seperti itu, kita memandang kesemuanya itu tanpa adanya pikiran yang melayang-layang dan kita melihat kenyataan betapa semua itu, awan putih, sinar mentari, daun-daun pohon yang masih bawah, burung-burung, binatang peliharaan, tupaitupai, dan orang-orang itu, mereka semua merupakan kesatuan yang tak terpisahkan, seperti dilindungi oleh puncak-puncak gunung yang menjulang tinggi menghadang awan.
Selagi para murid Bromo Dadali itu memusatkan seluruh perhatian mereka pada kaki tangan mereka yang sibuk bekerja, dengan pikiran terpusat, hening dan tenggelam ke dalam kebahagiaan tanpa keinginan apapun, pada saat orang yang bertembang itu berhenti, tiba-tiba terdengar suara wanita bertembang, menyelingi penembang tadi, dengan tembang Sekar Pangkur yang menghanyutkan.
"Hardaninq kang pancadria Pan kuwasa amagreh kanang diri Angrubeda mrih tan tulus Saged rumesep ing tyas Amiluta ing dria amrih kepencut Anilepken kawaspadan Lir tiyang ningali ringgit."
Semua murid Bromo Dadali yang berada di sawah ladang itu, juga yang sedang menggiring kerbau dan sapi, hanyut oleh suara tembang ini.
Ketika suara itu berhenti dan wanita yang menembang muncul dekat, mereka semua menghentikan pekerjaan mereka dan memandang dengan heran dan kagum.
Ternyata yang muncul itu seorang pemuda tampan dan seorang gadis cantik jelita.
Karena suara tembang tadi jelas suara wanita, maka semua orang maklum bahwa gadis cantik, itulah tentu yang tadi bertembang.
Dan semua murid Bromo Dadali mengenal betul tembang itu.
Tembang Pangkur yang seringkali ditembangkan Ki Ageng Branjang.
Guru mereka, ketua perguruan Bromo Dadali adalah seorang yang mengagumi kisah Arjuna Wiwaha yang diceritakan dalam tembang itu.
Bahkan Ki Ageng Branjang mengajarkan filsafat dari tembangtembang itu kepada para muridnya.
Karena itu, mereka terkejut dan heran melihat ada seorang gadis kini menyanyikannya dengan suara yang teramat merdu.
Tembang itu mempunyai kandungan filsafat yang tinggi, yang sudah pernah mereka dengar uraiannya dari Ki Ageng Branjang seperti berikut.
Rangsangan panca-indera berkuasa memerintah diri pribadi menghalangi agar cita luhur gagal dapat meresap ke dalam hati sanubari mempengaruhi indera agar terpikat menqhilanqkan kewaspadaan seperti orang nonton wayang.
Tiba-tiba seorang murid Bromo Dadali, seorang gadis berusia dua puluh tiga tahun yang hitam manis sedang memetik daun semanggi yang tumbuh di sekitar sawah, berseru girang.
"Adi Muryani....!!"
Mendengar seruan ini, para murid lain segera mengenal gadis cantik jelita yang meninggalkan perguruan selama lima tahun lebih yang lalu.
Mereka segera berlari-lari menghampiri dan berseru memanggil nama gadis itu.
"Muryani".! Muryani....!"
Mereka berteriak-teriak sambil melambaikan caping atau tangan dan berlari menghampiri.
Muryani berdiri melambaikan tangan dan tersenyum lebar penuh kegembiraan.
Setelah mereka dekat, baru ia mengenal mereka satu demi satu walaupun sudah lima tahun ia berpisah dari mereka.
Gadis hitam manis yang pertama kali memanggilnya tiba lebih dulu dan dua orang gadis ini segera berangkulan.
"Adi Muryani, bertahun-tahun kita tidak berjumpa! Sekarang engkau bertambah cantik saja! Ini.... dia ini... suami?"
Muryani tersenyum, mukanya beruba merah dan ia mencubit lengan gadis hitam mania itu.
"Ih, mbakayu Markonah, jangan ngaco kau! Ini adalah kakangmas Satyabrata, seorang sahabat."
"Ooo, sahabat?"
Ulang Markonah yang centil itu sambil tertawa dan menata wajah Satyabrata dengan sikap lucu dan lugu. Satyabrata membungkuk member hormat dan berkata lembut.
"Perkenalkan, saya bernama Satyabrata, dari Cirebon."
Markonah balas membungkuk dan berkata riang.
"Saya senang berkenalan dengan andika, karena andika sahabat adi Muryani. Nama saya Markonah, seorang murid perguruan Bromo Dadali."
Para murid lain berdatangan dan mereka merubung Muryani yang menjad gembira sekali.
Satyabrata juga berkenalan dengan para murid Bromo Dadali.
Karena saling merasa kangen, maka para murid itu menghujani Muryani dengan pertanyaan dan memaksanya untuk bercakap-cakap di tepi sawah itu.
Mereka duduk di bawah sebatang pohon yang rinang dan saling bertanya-jawab tiada hentinya.
Satyabrata yang tahu diri membiarkan Muryani melepas rasa kangennya dan hanya mendengarkan saja sambil tersenyum.
Tak lama kemudian, semua kepala menengok ke arah selatan.
Mereka semua mendengar derap kaki banyak kuda dan segera tampak debu mengebul dan serombongan orang menunggang kuda lewat di jalan dekat tepi sawah di mana mereka uduk bercakap-cakap.
Dua puluh orang lebih murid Bromo Dadali itu dengan heran melihat seorang pemuda tinggi besar dan gagah perkasa memimpin sekitar dua lusin orang laki-laki yang kesemuanya bertubuh kokoh kuat melarikan kuda menuju ke atas melalui jalan tanjakan itu.
Muryani mengerutkan alisnya.
"Siapakah dia itu?"
Akan tetapi tak seorangpun di antara para murid Bromo Dadali mengenalnya.
"Kami tidak mengenalnya,"
Kata seorang murid pria.
"Agaknya dia dan rombongannya itu hendak berkunjung ke perguruan kita. Mungkin dia kenalan bapa guru."
"Hemm, andaikata dia itu kenalan bapa guru, kukira dia bukan kenalan baik,"
Kata Muryani.
"Sikapnya begitu angkuh. Dia tahu berada di daerah orang, akan tetapi sama sekali tidak memperdulikan kita!"
"Mungkin dia tidak tahu kita ini murid perguruan Bromo Dadali dan mengira kita petanipetani pegunungan ini, adi Muryani,"
Kata Markonah.
"Mengapa merasa penasaran?"
"He, itu siapa yang datang berlari-lari?"
Tanya seseorang. Semua memandang ke utara. Benar saja, terlihat seorang laki-laki berusia sekitar tiga puluh lima tahun datang berlari-lari.
"Kakang Sanuri!"
Muryani menyambut dengan gembira mengenal kakak seperguruan yang menjadi satu di antara murid-murid kepala yang kepandaiannya setingkat lebih tinggi dari padanya dalam perguruan itu.
Sanuri ini dulu sering mewakili bapa guru mereka untuk melatihnya.
"Eh, kiranya engkau, Muryani? Ke mana saja engkau selama ini?"
Tanya Sanuri dengan napas agak terengah karena dia berlari-lari tadi.
"Nanti dulu, kakang. Engkau tampaknya tegang, berlari-larian. Ada apakah?"
Tanya Muryani. Yang lain juga bertanya demikian sehingga perhatian Sanuri kepada Muryani segera beralih ke hal yang dianggapnya lebih penting.
"Apakah kalian tadi tidak melihat rombongan penunggang kuda yang tentu lewat di sini?"
Tanya Sanuri sambil memandangi adik-adik seperguruannya yang berkumpul di situ.
"Kami melihat mereka!"
Serentak para murid Bromo Dadali menjawab seperti sekumpulan burung.
"Siapakah mereka itu, kakang Sanuri? Tampaknya mereka itu sombong sekali!"
Tanya Muryani.
"Ya, siapakah mereka, kakang Sanuri?"
Hanyak murid bertanya.
"Agaknya kalian belum mengenal pemimpin rombongan tadi. Dia adalah seorang senopati muda dari Kadipaten Arisbaya dan dia adalah seorang yang berwatak keras dan memiliki kesaktian yang hebat. Pada kunjungannya pertama kali, tidak banyak yang mengetahui dan ketika itu, lima hari yang lalu, kebetulan bapa guru tidak berada di rumah. Kunjungan senopati muda bernama Raden Dibyasakti itu tanpa membawa pengikut dan kebetulan yang menemuinya aku sendiri bersama empat saudara yang lain. Ketika dia diberi tahu bahwa bapa guru tidak ada, dia dengan sikapnya yang keras menuntut kami agar mencari dan memanggil bapa guru agar pulang. Tentu saja kami tidak mau dan terjadi keributan antara kami berlima dan dia sehingga terjadi perkelahian. Akan tetapi, biarpun kami maju berlima, kami tidak mampu menandinginya dan kami berlima kalah. Lalu dia pergi meninggalkan pesan bahwa lima hari lagi dia akan datang. Kami sudah melapor kepada bapa guru yang memesan agar kami tidak memberitakan peristiwa itu kepada para murid lain. Akan tetapi hari ini Raden Dibyasakti itu datang membawa pengikut yang besar jumlahnya."
"Kami melihat ada dua losin orang pengikut!"
Kata beberapa orang murid.
"Hemm, kedengarannya buruk! Siapa tahu senopati itu mempunyai niat buruk terhadap bapa guru. Mari kita ke sana untuk melindungi keselamatan bapa guru!"
Kata Muryani penuh semangat. Akan tetapi dua puluh orang lebih murid Bromo Dadali yang berkumpul di situ tampaknya enggan berdiri. Melihat ini, Muryani mengerutkan alisnya.
"Mengapa kalian ini? Mungkin bapa guru dalam bahaya! Hayo cepat kita ke sana!"
"Ah, adi Muryani. Apa yang akan dapat kita lakukan? Kalau kakang Sanuri dan empat orang murid lain maju mengeroyok senopati Madura itu dan mereka kalah, apa yang dapat kita lakukan? Kalau kita melawan senopati itu, sama saja dengan bunuh diri!"
Kata Markonah dan para murid lain mengangguk membenarkan. Mereka semua tampak ketakutan. Melihat sikap mereka, Muryani menjadi marah dan kecewa sekali.
"Kalian tidak patut menjadi murid Bromo Dadali! Melihat bapa guru terancam kalian tidak berani menolong. Kalau kalian tidak berani, biar aku yang akan membela bapa guru! Kalian yang pengecut ini memang lebih pantas berlumur lumpur di sawah ini! Mari, kakangmas Satyabrata, kita pergi!"
Setelah berkata demikian, Muryani mengajak Satyabrata berlari menuju ke perkampungan Bromo Dadali mengejar rombongan berkuda tadi.
Setelah Muryani dan Satyabrata pergi, Sanuri bangkit memandang semua adik seperguruannya.
"Kalian memang memalukan sekali. Betapa saktipun musuh, kalau bapa guru terancam bahaya apakah kita pantas tinggal diam saja? Mereka yang tidak mau menjadi pengecut, marilah ikut aku mengejar!"
Setelah berkata demikian, Sanuri berlari mengejar dan satu demi satu para murid Bromo Dadall juga bangkit dan lari mengejar, menuju pulang ke perkampungan mereka.
Mereka terutama mengkhawatirkan keselamatan keluarga mereka yang berada di perkampungan.
Sementara itu, rombongan berkuda tadi adalah pasukan pengawal dari Kadipaten Arisbaya di Madura yang diajak Raden Dibyasakti untuk berkunjung ke Bromo Dadali.
Seperti yang tadi diceritakan Sanuri kepada para murid Bromo Dadali yang lain, lima hari yang lalu dia dating seorang diri ke perkampungan perguruan itu dengan niat bertemu ketuanya, yaitu Ki Ageng Branjang.
Akan tetapi dia tidak dapat bertemu dengan ketua itu yang sedang pergi dan sebaliknya bertemu dengan Sanuri dan empat orang murid lain.
Karena sikap Dibyasakti yang kasar dan memandang rendah, terjadi percekcokan yang berlanjut menjadi perkelahian.
Akan tetapi biarpun dikeroyok lima, akhirnya Dibyasakti dapat merobohkan mereka semua.
Karena 'maksudnya adalah untuk mengajak perguruan itu bekerja sama memusuhi Mataram, maka dia tidak membunuh lima orang itu, hanya merobohkan mereka karena maksudnya hanya untuk meninggalkan kesan bahwa dia seorang yang sakti mandraguna.
Dia lalu meninggalkan pesan bahwa lima hari kemudian dia akan datang lagi menemui Ki Ageng Branjang.
Pada hari itu, datanglah dia bersama dua losin anak buahnya untuk menambah wibawa dan membuat gentar ketua perguruan itu sehingga tidak akan menolak rayuan dan ajakannya untuk memusuhi Mataram.
Para murid Bromo Dadali dan keluarga mereka yang tidak bertugas keluar perkampungan, menjadi gempar ketika dua puluh lima orang penunggang kuda yang rata-rata gagah dan menyeramkan itu memasuki perkampungan mereka.
Di antara mereka yang sudah mendengar; dari para murid yang pernah dikalahkan Dibyasakti, menjadi gentar.
Akan tetapi mereka yang belum mendengar, menjadi terkejut, penasaran dan marah.
Segera mereka mengambil senjata dan dua puluh orang itu dikepung oleh puluhan orang murid Bromo Dadali.
"Heiii! Orang-orang Bromo Dadali!"
Dibyasakti berteriak dengan suara yang lantang dan berwibawa.
"Kami dari Kadipaten Arisbaya datang bukan sebagai musuh, melainkan hendak menjalin persahabatan dengan Bromo Dadali. Aku, Raden Dibyasakti, senopati muda Arisbaya, mempersilakan Ki Ageng Branjang, ketua kalian, untuk keluar dan bicara denganku!"
Tiba-tiba terdengar suara orang, lantang kuat namun halus.
"Para murid Bromo Dadali, mundurlah! Raden Dibyasakti dari Arisbaya, akulah Ki Ageng Branjang ketua Bromo Dadali!"
Semua murid membuka jalan dan mundur sehingga guru mereka kini berhadapan dengan Dibyasakti yang sudah melompat turun dari atas kudanya yang kini dituntun kendalinya oleh seorang di antara para pengikutnya.
Pemuda yang gagah perkasa ini memandang ke depan dan dia melihat seorang laki-laki lima puluh lima tahun, bertubuh tinggi kurus, berwajah tampan dengan sepasang mata mencorong, berdiri tegak dengan sikap tenang namun gagah sekali.
Tangan kanan laki-laki ini memegang sebatang tombak yang gagangnya ditekan di atas tanah dan mata tombak itu berkilauan mendatangkan wibawa yang ampuh.
Itulah tombak pusaka Kyai Jamus yang terkenal ampuh sekali.
Melihat keadaan orang itu, Dibyasakti terpengaruh juga dan dia melangkah maju, kecongkakannya agak berkurang.
Dia tersenyum lebar dan menghampiri, lalu berdiri di depan ketua Bromo Dadali itu dalam jarak tiga meter.
Dia memberi hormat dengan membungkuk dan suaranya terdengar ramah ketika dia berkata.
"Ah, kiranya paman Ki Ageng Branjang telah berkenan menemui saya. Saya gembira sekali dapat bertemu dengan paman."
Namun hati Ki Ageng Branjang yang panas tidak dapat didinginkan begitu mudah oleh sikap ramah Dibyasakti.
"Raden Dibyasakti, entah keperluan apa yang membawa andika datang berkunjung. Akan tetapi, mendengar laporan para murid bahwa lima hari yang lalu andika memamerkan kepandaian merobohkan murid-murid kami, kami kira maksud kunjungan andika ini tidak membawa niat baik."
"Ah, sama sekali tidak, paman. Kedatangan saya ini sebagai utusan Gusti Adipati di Arisbaya dan juga mewakili ayah saya Ki Harya Baka Wulung, selain itu sebagai senopati muda Arisbaya untuk membicarakan sesuatu yang amat penting dengan paman. Marilah, paman, kita bicara di dalam saja, tidak baik membicarakan urusan penting di luar seperti ini."
"Kalau hendak membicarakan urusan penting, mengapa harus memamerkan kesaktian dan merobohkan murid-murid Bromo Dadali?"
"Itu hanya merupakan kesalahpahaman belaka, paman. Percayalah, kunjungan saya ini sebagai sahabat."
Mendengar bahwa pemuda ini adalah putera Ki Harya Baka Wulung, di dalam hatinya Ki Ageng Branjang terkejut sekali dan dia tidak merasa senang karena dia sudah mendengar betapa tokoh Madura ini menghasut banyak orang untuk memberontak terhadap Mataram.
"Hemm, Raden Dibyasakti, katakanlah saja dulu apa keperluan penting itu untuk kupertimbangkan apakah hal ini perlu dirundingkan di dalam atau cukup di sini saja,"
Kata Ki Ageng Branjang yang masih merasa penasaran mendengar betapa lima hari yang lalu lima orang muridnya dirobohkan oleh pemuda tinggi besar yang berwajah bengis ini.
Mendengar ucapan ketua Bromo Dadali yang tegas dan tidak ramah itu, Raden Dibyasakti tersenyum rnengejek, lalu tangan kirinya memuntir kedua ujung kumisnya.
"Heh-heh, baiklah, paman kalau itu yang andika kehendaki. Dengar baik-baik, paman. Gusti Adipati Arisbaya dan Bapa Ki Harya Baka Wulung mengirim salam dan mengulurkan tangan persahabatan untuk paman di sini."
"Kami menerima salam dan uluran tangan persahabatan itu, anakmas,"
Jawab Ki Ageng Branjang singkat.
"Adapun kepentingan kedua, paman. Demi persahabatan itu, kami dari Kadipaten Arisbaya mengajak perguruan Bromo Dadali untuk bekerja sama menentang Mataram yang angkara murka, yang telah menaklukkan banyak daerah namun masih belum puas dan ingin merampas daerah kita semua. Marilah kita menggalang persatuan untuk menentang Sultan Agung yang angkara murka itu, paman!"
Ki Ageng Branjang tersenyum, hatinya semakin panas. Jawaban seperti itu memang sudah diduganya lebih dahulu.
"Anakmas Dibyasakti, andika tadi mengulurkan tangan persahabatan dan sudah kami terima. Satu di antara syarat persahabatan yang baik adalah saling tidak mencampuri urusan pribadi masing-masing. Kalau Kadipaten Arisbaya atau seluruh Madura memusuhi Mataram, urusan itu sama sekali tidak ada sangkut-pautnya dengan perguruan Bromo Dadali. Perlu kami mengakui bahwa kami adalah kawula yang sudah mengakui kedaulatan dan kekuasaan Kerajaan Mataram dan kami tidak ingin memberontak. Oleh karena itu, terpaksa kami menolak ajakanmu untuk menentang Mataram itu."
Mendengar jawaban ini, sepasang mata . Raden Dibyasakti melotot, mukanya merah sekali, alisnya yang hitam tebal berkerut dan kedua tangannya dikepal.."Ki Ageng Branjang!"
Bentaknya dengan nada tidak menghormati lagi.
"Orang yang tidak mau bekerja sama dengan kami untuk menentang Mataram berarti menjadi musuh kami karena orang itu tentu menjadi antek Mataram!"
"Babo-babo, Dibyasakti! Omonganmu kementus dan mau menang sendiri! Kami bukan antek Mataram, akan tetapi sebagai kawula kami setia kepada Kerajaan Mataram! Jangan harap untuk menarik kami menjadi pemberontak. Kalau memang berani lawanlah sendiri Mataram, jangan membujuk orang lain untuk ikut-ikutan!"
"Keparat! Kalau begitu perguruan Bromo Dadali bukan menjadi sahabat kami, melainkan musuh kami!"
Kata Dibyasakti.
"Terserah kepadamu, Dibyasakti. Kami mau menjadi sahabat untuk urusan yang baik. Akan tetapi kalau untuk memberontak terhadap Mataram, kami tidak sudi dan kalau karena itu andika hendak memusuhi kami, silakan. Kami tidak takut!"
Kata Ki Ageng Branjang yang juga sudah marah.
"Ha-ha-ha! Bagus, mari kita buktikan siapa yang lebih digdaya dengan mengadu kesaktian!"
Kata Dibyasakti sambil melayangkan pandang matanya menyapu banyak murid perguruan Bromo Dadali yang sudah berkumpul di pekarangan yang luas itu.
"Ki Ageng Branjang, andika hendak bertanding satu lawan satu seperti seorang gagah atau hendak mengandalkan banyak murid untuk mengeroyok seperti watak pengecut?"
"Dibyasakti, manusia sombong! Kami bukan pengecut dan takkan mundur selangkahpun untuk melawanmu!"
"Bagus, Ki Ageng Branjang. Andika berani menantangku?"
"Andika yang datang ke sini mencari permusuhan, bukan kami!"
"Kalau begitu, hayo majulah dan siapa pun boleh melawan aku! Ha-ha, Ki Ageng Branjang, hendak kulihat sampai di mana kemampuanmu maka andika berani membuka perguruan silat di sini. Majulah, dan kalau engkau takut, boleh juga maju mengeroyokku!"
Tantang Dibyasakti.
"Kita bertanding satu lawan satu. Bersiaplah!"
Bentak Ki Ageng Branjang dan dia sudah melintangkan tombak pusaka Kyai Jamus.
"Nanti dulu! Harus memakai perjanjian lebih dulu. Kalau aku kalah dalam pertandingan ini, aku akan pergi tanpa banyak cakap lagi. Akan tetapi kalau andika yang kalah, Ki Ageng Branjang, andika harus berjanji akan membantu kami melawan Mataram bersama semua muridmu."
"Tidak sudi! Kalau aku kalah olehmu, andika boleh melakukan apa saja kepadaku, boleh membunuhku, akan tetapi kami tetap tidak sudi membantumu memberontak kepada Mataram!"
Kata Ki Ageng Branjang.
"Baiklah, kalau begitu, bersiaplah untuk mampus!"
Bentak Dibyasakti sambil mencabut keris pusakanya yang bernama Keris Pusaka Margoleno.
Sinar yang menyeramkan tampak ketika keris itu dicabut.
Pada saat kedua orang itu sudah siap untuk saling menyerang dengan senjata pusaka masingmasing, tiba-tiba terdengar seruan suara wanita yang nyaring.
"Tahan dulu!" (Lanjut ke
Jilid 18) Seruling Gading (Seri ke 02 -Serial Pecut Sakti Bajrakirana) Karya". Asmaraman S. Kho Ping Hoo
Jilid 18 Semua orang terkejut dan menoleh.
Ki Ageng Branjang juga mundur dan mengangkat muka memandang.
Seorang gadis berlari cepat ke arah tempat itu, diikuti seorang pemuda.
Setelah mereka datang dekat, Ki Ageng Branjang berseru, girang dan juga heran.
"Muryani...!"
"Bapa guru...!"
Muryani menghampiri lalu menyembah. Kemudian ia berbalik menghadapi Dibyasakti dan berkata.
"Bapa guru, apakah kadal ini mengganggu bapa guru? Biarkan saya yang akan menghajarnya!"
Semua orang terkejut mendengar gadis itu memaki kadal kepada senopati muda dari Arisbaya yang digdaya itu.
"Muryani, aku girang engkau datang. Aku sudah merasa kangen kepadamu, nak. Akan tetapi minggirlah dulu, biar kuhadapi dulu orang Arisbaya yang datang mencari keributan ini. Dia bukan lawanmu, Muryani."
"Tidak, bapa guru. Membunuh seekor cacing tanah, mengapa harus menggunakan pedang? Cukup diinjak saja akan mampus! Menghadapi kadal macam ini tidak perlu bapa guru sendiri yang maju. Untuk apa bapa mempunyai murid-murid? Biar saya mewakili bapa menghajarnya!"
Kata pula Muryani dengan sikap gagah.
Sejak tadi Dibyasakti memandang dan terpesona.
Dia memang seorang yang mata keranjang.
Matanya berminyak dan haus kalau melihat wanita cantik.
Kemunculan Muryani membuat jantungnya berdebar dan berahinya naik ke ubun-ubun.
Mendengar mulut yang manis itu mengeluarkan ucapan-ucapan yang memaki, memandang rendah dan menghinanya, dia tidak marah malah tertawa bergelak, memuntir kumisnya dan menyimpan kembali keris pusakanya.
"Ha-ha-ha, kiranya perguruan Bromo Dadali mempunyai murid yang begini denok ayu, begini manis merak ati! Engkau hendak mewakili gurumu melawanku, juwita? Bagus, majulah agar dapat kutangkap, kurangkul dan kudekap. Aku sudah rindu untuk menciumi niukamu yang jelita itu!"
Mendengar ucapan ini, beberapa orang murid pria Bromo Dadali menjadi marah sekali.
Mereka ini merasa malu kalau membiarkan Muryani sebagai murid perempuan mewakili guru mereka.
Bagaimanapun juga mereka adalah murid laki laki dan tentu saja lebih tangguh dibandingkan Muryani.
Kalau Muryani saja begitu gagah berani membela guru dan perguruannya, mengapa mereka tidak?
Seorang di antara mereka, yang bertubuh tinggi besar dan tampak kuat, bertenaga besar segera melompat ke depan Muryani, membelakangi gadis itu dan menghadapi Dibyasakti.
"Dibyasakti, laki-laki macam apa engkau ini, bisanya hanya menghina seorang wanita! Adik Muryani bukan lawanmu, akulah lawanmu. Sambut ini, hyaaaaattt"..!"
Dia sudah menerjang dengan pukulan tangan kanan, cepat dan kuat sekali serangannya itu.
Melihat seorang kakak seperguruan mendahuluinya, terpaksa Muryani melangkah mundur di samping gurunya dan menonton pertandingan antara murid Bromo Dadali melawan Dibyasakti itu.
Senopati muda putera Ki Harya Baka Wulung itu menyeringai dan menggerakkan tangan kirinya menangkis dari dalam.
"Dukkk...!"
Pukulan yang tertangkis itu terpental dan Dibyasakti menggerakkan tangan kanan menampar ke arah muka lawan.
Akan tetapi murid Bromo Dadali itupun dapat mengelak dengan cepat walaupun tubuhnya agak goyah oleh tangkisan yang terasa amat kuat itu.
Segera terjadi perkelahian tangan kosong yang hebat.
"Hmmm, dia tangguh sekali. Bukan lawanmu, Muryani. Jangan maju agar tidak sampai terhina olehnya,"
Kata Ki Ageng Branjang dan guru ini merasa prihatin karena dari pertandingan itu saja dia dapat melihat betapa tingkat muridnya jauh kalah tinggi, juga muridnya kalah jauh dalam hal kekuatan tenaga dalam.
Dugaannya benar karena setelah lima enam gebrakan, tiba-tiba Dibyasakti membentak keras, kakinya yang besar panjang mencuat dan tubuh murid Bromo Dadali itu terlempar dan terbanting ke atas tanah.
"Ha-ha-ha, sebegini sajakah kepandaian murid Bromo Dadali?"
Dia lalu memandang kepada `Muryani dan menggerakkan tangan menggapai.
"Marilah, manis. Mari kita main-main, aku ingin merasakan kelembutan dan kehangatan tanganmu!"
Muryani sudah hendak maju, akan tetapi seorang murid laki-laki Bromo Dadali yang lain tak dapat menahan kemarahannya.
Dia sudah mendahului maju dan langsung menyerang Dibyasakti.
Terjangannya juga hebat karena dia melompat dan langsung mengirim tendangan kilat ke arah dada lawan.
Serangan itu merupakan sebuah tendangan terbang yang dalam ilmu silat perguruan mereka disebut jurus Dadali (Walet) Mencengkeram Ranting.
Kedua tangan dikembangkan ketika melompat dan kedua kaki menghantam ke arah dada lawan.
Akan tetapi Dibyasakti tidak menjadi gugup menghadapi serangan dahsyat ini.
Kakinya bergeser ke kiri, tubuhnya diputar dan kedua tangannya membuat gerakan memotong dari samping dengan pengerahan tenaga saktinya.
"Wuuuttt... krekkk...!"
Kedua tulang kering kaki itu dihantam kedua tangan miring Dibyasakti dan murid Bromo Dadali itu terpelanting roboh, tidak mampu bangkit lagi karena kedua tulang kakinya patah!
Para rekannya lalu menolongnya dan menggotongnya keluar dari arena pertandingan.
Murid ketiga hendak maju, akan tetapi Ki Ageng Branjang yang maklum bahwa para muridnya tidak akan ada yang mampu menandingi Dibyasakti dan dia tidak ingin melihat murid-muridnya berjatuhan dan cidera, membentak.
"Semua diam di tempat! Tidak boleh ada yang maju!"
Para murid, betapa marah dan penasaranpun, tidak berani bergerak. Akan tetapi Muryani memegang lengan gurunya dan berkata.
"Bapa guru, perkenankan saya mewakili bapa guru. Tidak sepatutnya bapa turun tangan sendiri menghadapi kadal buduk macam ini!"
Ketika memegang pergelangan tangan kanan gurunya, Muryani sengaja mengerahkan tenaga saktinya.
Ki Ageng Branjang terkejut bukan main ketika merasa betapa telapak tangan yang lembut dan hangat itu tiba-tiba mengeluarkan hawa yang luar biasa kuatnya.
Sebentar ada hawa panas membara kemudian tiba-tiba berubah menjadi dingin membeku, lalu panas lagi.
Dia mencoba untuk mengerahkan tenaga saktinya melawan tenaga aneh itu, akan tetapi merasa betapa tenaga saktinya tertolak balik.
Jelas bahwa Muryani memiliki tenaga sakti yang amat aneh dan jauh lebih kuat daripada tenaga saktinya sendiri.
Dia memandang heran kepada muridnya yang cantik itu dan Muryani memberi isyarat dengan kedipan mata penuh arti.
Ki Ageng Branjang mengangguk, mengerti bahwa muridnya ini sekarang telah menjadi seorang yang sakti mandraguna!
"Baiklah, Muryani, engkau boleh maju mewakili aku untuk menandingi Dibyasakti, akan tetapi berhati-hatilah dan jangan membikin malu perguruan Bromo Dadali!"
Kata Ki Ageng Branjang dengan suara lantang karena merasa gembira.
Tadinya dia sudah merasa prihatin bahkan putus asa karena dia dapat menilai bahwa tingkat kepandaiannya sendiri besar kemungkinannya tidak akan mampu menandingi kedigdayaan Dibyasakti.
Kini kemunculan muridnya yang terkasih itu, yang kini datang membawa kepandaian yang luar biasa, agaknya akan mampu mempertahankan kehormatan perguruan Bromo Dadali!
"Jangan khawatir, bapa."
Beberapa orang murid utama Bromo Dadali maju dan menyatakan keberatan mereka.
"Akan tetapi, bapa guru! Bagaimana adi Muryani diharuskan melawan dia? Biarlah kami yang menjadi korban, bukan murid perempuan!"
"Para kadang sepuh (saudara tua) seperguruan!"
Kata Muryani.
"Kuharap andika sekalian tidak khawatir. Aku merasa yakin akan dapat menghajar kadal busuk ini. Kalau dia tidak dihajar, maka dia akan menganggap Bromo Dadali perguruan yang lemah. Minggir dan silakan nonton saja."
Kemudian ia maju mendekati Dibyasakti dan menudirigkan telunjuk tangan kirinya ke arah hidung senopati muda itu.
"Heh, kamu kadal monyet anjing celeng buruk! Hayo maju kalau memang kamu berani, jangan hanya menggonggong seperti anjing budukan! Eh, kakangmas Satya, harap jangan ikut campur. Engkau nonton saja, nanti kuperkenalkan kepada bapa guru dan saudara-saudara seperguruanku!"
Satyabrata tersenyum, mengangguk dan berdiri di tepi lingkaran yang menjadi arena pertandingan itu.
Betapapun juga, diam-diam dia siap melindungi gadis yang dicintanya.
Akan tetapi juga hatinya merasa gelisah.
Tadi dia mendengar bahwa orang muda gagah itu adalah Raden Dibyasakti, selain menjadi senopati muda Arisbaya juga putera Ki Harya Baka Wulung!
Padahal saat ini Arisbaya dan seluruh Pulau Madura sedang bersiap-siap perang melawan Mataram.
Tentu saja pihak Kumpeni Belanda diam-diam mendukung siapa saja yang bermusuhan dengan Mataram.
Dengan sendirinya sebagai orang Kumpeni dia condong berpihak Dibyasakti.
Kalau saja di situ tidak ada Muryani, sudah pasti dia akan membantu Dibyasakti menghadapi perguruan Bromo Dadali yang tidak mau diajak bekerja sama menentang Mataram.
Akan tetapi saat itu, Dibyasakti berhadapan dengan Muryani sebagai lawan.
Tentu saja dia tidak mau menentang gadis yang membuatnya tergila-gila dan yang benar-benar telah merebut hatinya itu.
Maka diapun hanya berdiri menonton dengan hati bingung dan tidak tahu apa yang harus dilakukannya.
Sementara itu, betapapun cantik jelitanya gadis itu, namun kata-kata yang keluar dari mulutnya terlampau menghina, maki-makiannya terlalu merendahkan dirinya, padahal makimakian itu diucapkan di depan banyak orang, maka tentu saja wajah Dibyasakti menjadi merah padam dan bulu kumisnya seolah bangkit berdiri.
Hatinya menjadi panas sekali.
"Perawan liar! Akan kutelanjangi kau, akan kupermalukan kau, akan kuhina kau sampai menyembah-nyembah di depan kakiku!"
Bentaknya.
"Hi-hik, apa katamu? Kau berani? Kau bisa? Rupamu macam begitu, seperti anjing banyak menggonggong tidak akan menggigit. Coba berani menggigit, tumit kakiku tentu akan rnerontokkan gigimu yang besar-besar itu!"
Muryani sengaja mengejek untuk membuat lawan lebih marah lagi.
Dari gurunya yang kedua, Nyi Rukmo Petak, ia pernah diberi tahu bahwa kemarahan yang besar amat mengurangi kewaspadaan.
Maka, kalau ia dapat membuat lawan marah, maka dapat dikatakan bahwa kekuatan lawan sudah berkurang dan kewaspadaannyapun menjadi lengah.
Ia tadi juga melihat bahwa lawan ini sesungguhnya seorang yang sakti dan ia sama sekali tidak berani memandang remeh.
Kalau ia bersikap seolah meremehkan dan memandang rendah, itu hanya siasat gadis cerdik ini untuk membuat Dibyasakti diguncang kemarahannya sendiri.
Dan hasilnya memang baik.
Senopati muda yang belum pernah ada yang berani menghinanya itu, sekali ini merasa dihina dan direndahkan sehingga dia marah sekali.
Matanya mendelik, napasnya mendesis dan ketika dia mengepal kedua tangan sambil mengerahkan tenaga, terdengar bunyi berkerotokan dari buku-buku jari tangannya.
Semua murid perguruan Bromo Dadali memandang dengan hati tegang bercampur gelisah.
Mereka merasa gentar dan khawatir akan nasib Muryani yang harus melawan raksasa muda sedahsyat itu.
Bahkan Ki Ageng Branjang juga mulai menyesal mengapa dia membolehkan murid perempuannya itu menandingi Dibyasakti.
Kalau dia yang maju dengan tombak pusakanya, biarpun belum tentu menang, setidaknya ilmu tombaknya tentu akan mampu mengadakan perlawanan yang cukup gigih.
Pula, dia tidak akan menyesal seandainya dia tewas mempertahankan kehormatan Bromo Dadali.
Akan tetapi Muryani?
Kasihan kalau sampai gadis itu menjadi korban, apalagi ancaman Dibyasakti tadi sungguh mengerikan.
Gadis itu akan dipermalukan dan diperhina yang bagi seorang gadis tentu saja lebih hebat daripada kematian!
Akan tetapi dia tidak dapat melakukan apapun untuk mencegah pertandingan yang sudah akan dimulai itu.
"Perawan liar don sombong, bersiaplah engkau!"
Dibyasakti membentak marah, kedua kakinya dipentang lebar dan kedua tangannya dikepal di kedua sisi tubuhnya.
"BOCAH kementus! Aku sudah siap dari tadi! Majulah!"
Kata Muryani dan iapun memasang kuda-kuda kembangan.
Kedua kakinya berjingkat, tubuh agak bungkuk dan kedua lengan dikembangkan, sikapnya seperti seekor burung hendak terbang.
Inilah pernbukaan ilmu silat perguruan Bromo Dadali yang dikenal semua murid yang berada di situ, yaitu yang disebut jurus Dadali Anglayang (Walet Melayang)!
Gerakannya dernikian luwes dan manis, namun gagah juga.
Apalagi Muryani seperti mengejek, mulutnya tersenyum manis, matanya mengerling ke arah lawan karena kepalanya dimiringkan seperti kepala burung walet yang memandang dari angkasa!
Melihat gerakan pembukaan yang dianggapnya lemah itu, Dibyasakti lalu membuat gerakan dengan kedua tangannya.
"Sambut ini! Hyaaaaahhhh!!"
Kedua tangan itu seperti dua ekor kepala ular, dibuka dan mencengkeram ke arah dada Muryani.
Semua orang terkejut dan juga marah karena serangan pertama ini saja sudah menunjukkan betapa kurang ajar dan tidak sopannya pemuda raksasa itu, karena kedua tangan itu jelas dipergunakan untuk mencengkeram ke arah sepasang buah dada gadis itu!
"Hmmm, gerakan lambat seperti kura-kura!"
Muryani mengejek dan dengan mudah saja ia mengelak ke samping.
Gerakannya amat tangkas dan cepat sehingga tahu-tahu tubuhnya sudah berada di sebelah kiri Dibyasakti dan sebelum raksasa muda itu memutar tubuhnya, Muryani sudah membuat gerakan cepat sehingga kini ia berada di belakang tubuh lawan.
Tangan kanannya dengan jari terbuka kini menghantam ke arah punggung yang lebar dan tebal itu.
Dibyasakti tertawa mengejek.
Tubuhnya memiliki kekebalan, apalagi di bagian dada dan punggung.
Apalagi hanya tamparan tangan lembut seorang gadis rupawan, bahkan bacokan senjata tajam pun tidak akan dapat melukai kulitnya.
Andaikata Muryani menyerangnya dengan senjata tajam, tentu dia akan menangkis atau mengelak karena walaupun punggungnya yang diserang tidak akan terluka, namun bajunya tentu robek.
Akan tetapi kalau hanya dipukul tangan kosong, biar pemukulnya seorang laki-laki bertenaga gajah sekalipun, dia akan sanggup menerimanya.
Pula, di samping hendak mengejek, diapun hendak memamerkan kekebalannya kepada gadis itu dan para murid Bromo Dadali.
"Terima kasih sebelumnya atas pijatan tanganmu yang lembut dan lunak seperti gudir (agaragar)! Heh-heh!"
Dia mengejek lalu mengerahkan aji kekebalannya menerima pukulan telapak tangan kanan Muryani.
"Wuuuttt". plakk!"
Telapak tangan kanan Muryani bertemu dengan punggung yang dilindungi baju dari kain tebal itu.
"Ha-ha-ha"
Heh-heh-heh". aduuhhh"
Adduhhh".!"
Semua orang terbelalak keheranan.
Pemuda raksasa yang tadinya tertawa itu tiba-tiba berjingkrak-jingkrak dan menepuk-nepuk kearah punggung.
Di punggungnya, tampak baju itu terdapat tanda hangus dan berlubang dengan cap lima jari tangan!
"Aduuhhh....
panas...!"
Dibyasakti maklum bahwa lawan menggunakan tenaga sakti yang amat panas dan ampuh.
Dia cepat mengerahkan tenaga saktinya untuk melawan sehingga rasa panas itu berangsur hilang.
Akan tetapi baju di punggungnya sudah berlubang dengan cap tangan.
Dibyasakti menyesali diri sendiri.
Dia terlalu memandang rendah lawannya.
Sama sekali tidak pernah dia mengira bahwa gadis itu memiliki tenaga sakti panas yang demikian ampuhnya.
Dia tahu bahwa perguruan itu memang memiliki aji pukulan yang disebut Aji Bromo Latu dan berhawa panas, akan tetapi pukulan macam itu yang dilakukan para murid perguruan itu sebelumnya tidaklah seberapa kuat.
Akan tetapi pukulan gadis ini benar-benar dahsyat dan dia menjadi lengah, termakan kesombongannya sendiri.
Kini dia tahu bahwa dia harus menghadapi gadis ini dengan sungguh-sungguh karena ternyata lawannya sama sekali tidak boleh dipandang ringan.
Sementara itu, para murid Bromo Dadali juga terkejut dan heran.
Mereka tahu bahwa raksasa muda itu kebal dan sakti, akan tetapi mengapa pukulan yang tidak keras dari Muryani tadi membuat bajunya berlubang dan raksasa muda itu mengaduh kepanasan?
Ki Ageng Branjang sendiri juga heran.
Jelas bahwa Muryani menggunakan Aji Bromo Latu, akan tetapi tak disangkanya sedemikian hebat kekuatan aji tersebut.
"Keparat, engkau tidak bisa dikasih hati!"
Bentak Dibyasakti marah dan melotot memandang kepada gadis itu.
"Huh, siapa sudi mendapatkan hatimu yang kotor dan busuk itu? Diberi cuma-cuma pun aku tidak sudi!"
Muryani berkata sambil mengernyitkan hidung seolah-olah mencium bau busuk.
Mendengar ini dan melihat sikap Muryani yang begitu tabah mempermainkan lawan, para murid Bromo Dadali mulai berkurang kekhawatiran mereka, bahkan sudah ada beberapa orang yang mengeluarkan suara tawa lirih karena geli hatinya.
Mendengar ucapan gadis itu yang disusul ketawa cekikikan di sana-sini, hati Dibyasakti menjadi semakin panas.
"Perempuan sombong, bersiaplah menghadapi kematianmu!"
Bentaknya dan kini tanpa banyak cakap lagi dia sudah menerjang dan sekali ini dia menyerang cepat disertai tenaga dalam dan dia tidak menyerang seperti tadi untuk mempermainkan, melainkan menyerang dengan maksud membunuh!
Tahu bahwa musuhnya mulai menyerang sungguh-sungguh dan sedang dilanda kemarahan besar, Muryani tidak berani main-main lagi.
Ia pun cepat mengerahkan Aji Kluwung Sakti, yaitu ilmu meringankan tubuh untuk dapat bergerak cepat sekali dan dengan amat mudahnya ia mengelak dari serangan Dibyasakti yang bertubi-tubi.
Raksasa muda itu merasa penasaran dan marah sekali.
Dia tidak ingin memberi kesempatan kepada lawan untuk membalas, serangannya susul-menyusul, bertubi-tubi dan yang menjadi sasaran adalah bagian-bagian tubuh yang berbahaya dan kalau terkena pukulan dapat mematikan.
Namun, gerakan Muryani amat lincahnya, tubuhnya tidak tampak jelas, bagaikan telah berubah menjadi bayang-bayang dan semua pukulan dan tendangan yang dilontarkan Dibyasakti bagaikan mengenai bayang-bayang saja, tidak ada bekasnya!
Tentu saja Dibyasakti terkejut bukan main.
Sama sekali tak pernah disangkanya bahwa di tempat ini dia akan bertemu tanding sedemikian hebatnya, apalagi lawannya itu hanya seorang gadis muda!
Ki Ageng Branjang juga tertegun dan dia mengangguk-angguk.
Pantas saja Muryani berani bersikap demikian meremehkan lawan.
Kiranya gadis itu memang telah menjadi seorang yang sakti mandraguna!
Memang gadis itu masih mempergunakan gerakan ilmu silat perguruan Bromo Dadali, akan tetapi kecepatan gerakannya itu jelas merupakar aji kesaktian yang lain, yang aneh dan hebat sekali.
Dan pukulannya yang mengakibatkan baju di punggung lawan tadi hangus, biarpun itu merupakan Aji Bromo Latu, namun memiliki kekuatan yang luar biasa, jauh melampaui tingkat kekuatannya sendiri.
Gadis itu sudah pasti telah mempelajari aji kesaktian dari orang lain selama lima tahun ini.
Kini para murid Bromo Dadali mulai percaya bahwa Muryani mampu menandingi Dibyasakti.
Merekapun melihat betapa tubuh gadis itu berubah menjadi bayang-bayang yang berkelebatan di seputar lawannya dan mulailah mereka bertepuk dan bersorak.
Sebaliknya, dua losin anak buah Dibyasakti mulai gelisah.
Mereka juga bukan orang bodoh dan melihat betapa pemimpin mereka bertemu tanding yang sakti.
Mereka tidak berani bergerak, pertama karena tidak ada perintah Dibyasakti, kedua karena kini semua anak buah Bromo Dadali sudah berkumpul dan jumlahnya dua kali lipat lebih banyak daripada jumlah mereka.
Mereka semua sudah turun dari atas kuda, hanya menonton sambil memegang kendali kuda masing-masing.
Dibyasakti menjadi semakin penasaran dan marah.
Dia sudah mengerahkan seluruh kemampuannya, menyerang dengan ganas, dahsyat dan setiap pukulannya mematikan, namun gadis itu selalu dapat menghindarkan diri, bahkan kadang menangkis dari samping dan dia mendapat kenyataan mengejutkan betapa berat dan kuat lengan putih halus mulus kecil yang menangkisnya itu.
Beberapa kali tamparan tangan Muryani mengenai pundaknya, bahkan satu kali mengenai dadanya, namun Dibyasakti kini sudah siap siaga dan mengerahkan seluruh tenaga sakti melindungi tubuhnya dengan aji kekebalan sehingga tamparan itu tidak merobohkannya, hanya membuatnya terhuyung sedikit.
Kemarahannya kini memuncak.
"Haiiiiiittt.... pecah kepalamu!"
Dia membentak nyaring dan kepalan tangannya sudah menyambar bagaikan kilat ke arah kepala gadis itu.
Bayang-bayang lincah itu berkelebat dan tahu-tahu lenyap dari depan Dibyasakti.
Raksasa muda itu, terkejut bukan main, namun dia cukup cerdik untuk dapat menduga bahwa gadis itu tentu telah menyelinap ke belakangnya, maka cepat tubuhnya membalik, kakinya mencuat mengirim tendangan yang dahsyat sekali.
Akan tetapi Muryani telah siap siaga.
Dengan miringkan tubuh, kaki yang menendang itu lewat di samping tubuhnya dan selagi kaki itu menyambar ke atas, ia cepat menggunakan tangan kanan menyambar tumit kaki yang besar itu dan mengerahkan tenaganya mendorong ke atas.
"Heiiiiitt....!"
Bentak Muryani dan tak dapat dipertahankan lagi, tubuh Dibyasakti yang terdorong oleh kekuatan tendangannya sendiri ditambah dorongan tangan Muryani, melayang ke atas dan ke belakang!
Masih untung pemuda raksasa ini memang tangkas dan digdaya.
Biarpun tubuhnya terlempar ke atas, ketika turun dia dapat membuat salto jungkir balik sehingga dia tidak sampai terbanting jatuh, walaupun kedua kakinya hinggap di atas tanah tubuhnya terhuyung-huyung ke belakang.
Melihat ini, semua orang bersorak dan bertepuk tangan.
Ki Ageng Branjang juga tersenyum penuh kagum dan gembira melihat kemenangan muridnya.
Bukan Raden Dibyasakti putera tunggal Ki Harya Baka Wulung kalau dia menerima kalah begitu saja.
Tidak, dia sama sekali tidak merasa kalah.
Dia tadi hanya mempergunakan ilmu silat biasa saja usahanya membunuh gadis yang telah menghinanya itu.
Dia masih belum mempergunakan aji pamungkasnya yang paling hebat dan ampuh karena aji-aji ini biasanya hanya dia keluarkan kalau dia menghadapi lawan yang sakti mandraguna.
Sekarang ternyata gadis itu benar-benar tangguh maka terpaksa dia harus mengeluarkan aji-aji pamungkasnya.
Tiba-tiba mulut Dibyasakti berkemak-kemik membaca mantera, kemudian dia menekuk kedua lututnya sehingga tubuhnya merendah hampir berjongkok, sikapnya seperti seekor katak raksasa, dari dalam perutnya terdengar bunyi kok-kok-kok dan tiba-tiba dia menyalurkan semua tenaga dari bawah pusar melalui kedua lengannya lalu mendorong ke arah Muryani dengan kedua telapak tangan terbuka.
Hawa yang amat dahsyat keluar dari kedua telapak tangan itu menyambar ke arah lawan.
Inilah Aji Cantuka Sakti (Katak Sakti) yang merupakan satu di antara pukulan jarak jauh yang diandalkan oleh Ki Harya Baka Wulung dan yang hanya diajarkan kepada puteranya.
Muryani sudah waspada.
Gadis perkasa ini sudah mendapat banyak pelajaran dari mendiang Nyi Rukmo Petak.
Ia mengenal aji dahsyat yang dipergunakan lawan untuk menyerangnya dari jarak jauh.
Maka cepat tubuhnya sudah melesat ke atas dan sebaliknya kini gadis itu menyerangnya dengan aji pukulan jarak jauh yang tidak kalah dahsyatnya, menyambar dari atas bagaikan halilintar!
Cepat diapun mendorongkan kedua tangannya menyambut serangan itu.
"Wuuuuttt". blaaarrrr ....!"
Dua tenaga sakti yang dahsyat bertemu di udara dan semua orang merasakan guncangan hebat!
Akibat bertemunya dua tenaga dahsyat itu, tubuh Muryani terlontar kembali ke atas.
Bagaikan seekor burung walet yang gesit, tubuh itu membuat salto, berjungkir balik sampai lima kali baru turun ke atas tanah dengan tegak.
Hanya mukanya saja menjadi agak pucat namun mulutnya tersenyum.
Sebaliknya, Dibyasakti tidak terdorong mundur karena tenaga lawan tadi menyerangnya dari atas.
Dia dapat menyambut dan mendorong lawan terlontar ke atas, akan tetapi dia sendiri terhimpit dan untuk mempertahankan diri, kedua kakinya sampai tertekan masuk ke dalam tanah sebatas lutut!
Mukanya juga menjadi pucat, akan tetapi dia cepat mencabut kedua kakinya dan sudah berdiri lagi berhadapan dengan Muryani yang menatapnya dengan senyum mengcjek.
"Heh, kodok buduk, apalagi ilmumu selain ilmu kodok budukan tadi? Keluarkan, semua kebisaanmu kalau engkau masih berani!"
Ejek Muryani dan semua murid Bromo Dadali tertawa lega dan gembira bahkan tetapi diam-diam mereka keheranan dan kagum bukan main.
Bagaimana murid muda guru mereka itu kini dapat menjadi seorang yang demikian sakti mandraguna?
Diejek demikian, Dibyasakti menjadi nekat.
Kini dia tahu bahwa gadis itu benar-benar sakti mandraguna, mampu menandingi Aji Cantuka Sakti yang selama ini jarang menemukan tandingan.
Dia menjadi nekat.
Dia menggosok-gosok ketika telapak tangannya dan membaca mantra.
Dia hendak menggunakan aji pamungkas yang terakhir dan yang paling hebat, aji pukulan yang bukan hanya mengandalkan tenaga sakti, akan tetapi juga didukung kekuatan sihir yang ampuh, yaitu Aji Kukus Langking (Ilmu Asap Hitam).
Perlahan-lahan, ketika dia menggosok-gosok kedua telapak tangannya, tampak asap hitam mulai mengepul dari kedua telapak tangannya itu.
Pada saat itu, tiba-tiba saja tampak sinar terang dan ketika semua murid menengok, mereka melihat betapa bagian belakang rumah induk perguruan mereka telah berkobar dimakan api!
"Kebakaran!
Kebakaran....!!"
Semua orang berteriak dan para murid Bromo Dadali berlarilari menuju ke tempat kebakaran untuk memadamkan api sebelum menjalar lebih luas.
Pada saat itu, Dibyasakti yang sudah mengerahkan tenaga Kukus Langking, sudah menyerang dan mendorongkan kedua, telapak tangan yang mengeluarkan asap hitam tebal ke arah Muryani.
Gadis inipun maklum akan hebatnya aji lawannya.
Dengan mengandalkan kecepatan gerakannya, tubuhnya berkelebat lenyap dan ia sudah mendahului serangan asap hitam tebal itu dan menyusup sampai ke sebelah kanan lawan, kemudian ia sudah menyerang dengan cengkeraman kedua tangannya yang membentuk cakar menyambar ke arah leher dan perut!
Bukan main kagetnya Dibyasakti.
Sebelum serangannya mengenai lawan tahu-tahu lawannya telah berada di samping kanannya dan menyerang dengan cengkeraman yang amat ganas itu.
Dia mencium bau amis dan wangi yang aneh keluar dari kedua tangan gadis itu.
Dengan hati panik dia tahu bahwa cengkeraman itu mengandung hawa beracun yang amat berbahaya, maka dia cepat membuang diri ke kiri untuk mengelak.
"Brettt".. breeettt !"
Sarung dan baju Dibyasakti tiba-tiba terobek dan tertepas dari tubuhnya sehingga tubuhnya kini hanya memakai sebuah celana hitam setinggi lutut saja.
Bukan hanya itu, juga pundaknya tergores kuku.
Hanya lecet sedikit, akan tetapi rasa panas dan gatal membakar bagian yang tergores itu, tanda bahwa luka kecil itu keracunan.
Hal ini tidak aneh karena tadi Muryani telah mempergunakan Aji Wiso Sarpo (Racun Ular), sebuah aji pukulan yang amat ganas yang ia pelajari dari mendiang Ny Rukmo Petak!
"Huh, kamu telanjang?
Manusia tak tahu malu, menjijikkan!"
Ejek Muryani.
"Kebakaran...! Hayo semua membantu, padamkan api". !"
Terdengar suara Ki Ageng Branjang.
Mendengar ini, Muryani menengok dan ia melihat betapa api berkobar memakan bagian belakang rumah gurunya.
Melihat ini, Muryani khawati kalau-kalau ada musuh yang melakukan pembakaran di sana dan mengancam keselamatan para warga, maka iapun segera melompat, meninggalkan Dibyasakti menuju ke belakang rumah yang terbakar.
Sementara itu, Dibyasakti berdiri dengan muka pucat.
Dia kebingungan, masih terkejut karena pakaiannya terobek dan terlepas dari tubuhnya dan pundaknya tergores kuku beracun.
Pada saat itu, dia melihat gadis itu dan semua murid Bromo Dadali sudah lari rneninggalkan dia untuk memadamkan kebakaran.
Tiba-tiba muncul seorang pemuda tampan.
Pemuda itu menyergapnya.
Dibyasakti hendak melawan, akan tetapi tiba-tiba pemuda itu telah menangkap kedua lengannya dan sekali dorong, tubuhnya sudah terlempar dan tepat jatuh terduduk di atas punggung kudanya yang kendalinya dipegang seorang anak buahnya.
"Andika tidak menggunakan kesempatan ini pergi secepatnya dari sini, mau tunggu kapan lagi?"
Kata pemuda tampan itu dan ketika Dibyasakti bertemu pandang dengannya, senopati muda itu, terkejut dan merasa ngeri karena sinar mata pemuda itu bagaikan mengandung api yang membakarnya!
Dia lalu memberi aba-aba pendek kepada anak buahnya.
"Kita pergi!"
Lalu dia mengeprak kudanya dan melarikan kudanya cepat-cepat meninggalkan tempat itu, diikuti oleh dua losin anak buahnya!
Muryani membantu gurunya dan para murid Bromo Dadali yang berusaha memadamkan api yang membakar bagian belakang bangunan itu.
Semua orang bertanya-tanya apa yang menyebabkan kebakaran itu sambil berusaha memadamkan api dengan menggunakan air yang disiramkan ke arah kobaran api yang mengancam ke arah bangunan tengah Tiba-tiba Muryani teringat akan Satyabrata dan selagi ia hendak bertanya-tanya ke mana perginya temannya itu, tiba-tiba semua orang terkejut melihat sesosok bayangan orang melompat naik ke atas wuwungan rumah bagian tengah, dekat tempat yang sedang terbakar.
"Kakangmas Satyabrata".!"
Muryani berseru ketika mengenal orang itu.
Satyabrata melambaikan tangan kepadanya, lalu pemuda itu mulai menggunakan kaki dan tangannya untuk membongkar bagian bangunan yang terdekat dengan tempat kebakaran.
Tembok-tembok dia runtuhkan dengan tendangan kakinya.
Semua orang memandang dengan mata terbelalak kagum.
Betapa kuatnya kaki tangan pemuda itu, meruntuhkan tembok dan melemparlemparkan balok kayu yang besar dijauhkannya dari api.
Reruntuhan tembok itu menimpa kobaran api dan ini banyak menolong.
Kobaran api yang ditimbuni reruntuhan tembok itu makin mengecil sehingga ketika para murid Bromo Dadali menyiramkan air, kebakaran itu tak lama kemudian dapat dipadamkan.
Semua orang bersorak gembira dan juga kagum ketika Satyabrata dengan gerakan indah melompat turun dari atas atap rumah.
Ki Ageng Branjang dan Muryani cepat menghampiri Satyabrata dan Muryani memperkenalkan pemuda itu kepada gurunya.
"Bapa guru, ini adalah sahabat saya bernama Satyabrata yang sudah berkali-kali menolong saya."
Ki Ageng Branjang memandang kepada pemuda itu dan Satyabrata cepat memberi hormat dengan sembah di depan dada.
"Maafkan kalau kedatangan saya ini mengganggu, paman."
Ki Ageng Branjang memandang tajam.
Dia terkejut melihat sinar mata yang mencorong itu dan dia yang berpengalaman luas melihat ketidakwajaran, seolah sikap hormat dan merendah pemuda itu berlebihan.
Akan tetapi pemuda itu sahabat Muryani dan tadi telah membantu secara luar biasa sehingga kebakaran itu dapat mudah dipadamkan, maka diapun berkata dengan ramah.
"Anakmas Satyabrata, andika sama sekali tidak mengganggu, bahkan menolong kami memadamkan kebakaran tadi. Terima kasih, anakmas. Marilah kita ajak anakmas Satyabrata masuk dan bicara di dalam, Muryani. Banyak sekali yang harus kauceritakan kepadaku semenjak kita saling berpisah. Mari, silakan, anakmas Satyabrata."
Ki Ageng Branjang lalu mengajak Muryani dan Satyabrata untuk masuk keruangan dalam dan setelah Muryani menjumpai keluarga Ki Ageng Branjang dan Satyabrata diperkenalkan kepada mereka.
Ketua Perguruan Bromo Dadali itu lalu mengajak dua orang muda itu bercakap-cakap.
"Nah, sekarang engkau harus menceritakan semua pengalaman sejak engkau meninggalkan Gunung Muria setelah nenekmu meninggal dunia dan engkau diajak pergi oleh ayahmu, Muryani. Kini, lima tahun lebih kemudian, engkau muncul sebagai seorang wanita yang sakti mandraguna! Apa saja yang terjadi denganmu?"
"Cerita saya panjang, bapa. Akan tetapi harap bapa lebih dulu menjelaskan siapakah sebenarnya Dibyasakti yang datang membuat keributan tadi dan mengapa dia memusuhi Bromo Dadali?"
Ki Ageng Branjang menghela napas panjang.
"Dia itu senopati muda Kadipaen Arisbaya di Madura dan dia juga putera Ki Harya Baka Wulung, datuk dari Madura yang amat terkenal itu. Sebetulnya Bromo Dadali tidak mempunyai urusan dengan dia atau dengan Kadipaten Arisbaya, akan tetapi orang kasar itu hendak memaksa agar Bromo Dadali membantu Kadipaten Arisbaya untuk memberontak dan melawan Mataram. Tentu saja kami tidak sudi dan dia lalu menantang."
Muryani tidak begitu tertarik hatinya mendengar tentang urusan pemberontakan terhadap Mataram.
Ia tidak mengerti akan hal-hal yang menyangkut kerajaan Mataram dan para kadipaten di daerah-daerah.
Mendiang ayahnya tidak pernah bicara tentang hal itu, bahkan gurunya yang kedua, yaitu mendiang Nyi Rukmo Petak, juga tidak meninggalkan pesan tentang hal itu.
Nenek itu sebelum meninggal dunia hanya meninggalkan empat pesan atau syarat yang harus dilakukan Muryani sebagai muridnya, yaitu pertama, ia harus merahasiakan keadaan Nyi Rukmo Petak sebagai guru selagi nenek itu masih hidup.
Kedua, ia tidak boleh mempergunakan ilmu-ilmunya untuk melakukan kejahatan.
Ketiga, ia tidak boleh jatuh cinta kepada laki-laki yang tidak mencintainya dengan tulus, dan keempat, ia harus membantu murid Nyi Rukmo Petak yang lain, yaitu wanita yang bernama Retno Susilo dan suami wanita itu yang bernama Sutejo, membantu suami isteri itu dalam segala hal seperti ia membantu gurunya sendiri.
Karena itu, yang menjadi sebab permusuhan antara gurunya dan Dibyasakti tadi tidak menarik hatinya.
"Manusia itu sombong sekali. Sayang tadi aku belum sempat membunuhnya!"
Katanya dan mendengar ini, Ki Ageng Branjang agak terkejut dan heran.
Dahulu, dia mengenal muridnya ini sebagai seorang gadis yang memang lincah dan galak, namun berhati lembut.
Akan tetapi, sekarang, ia mengatakan ingin membunuh orang dengan nada suara yang begitu dingin?
Benarkah muridnya itu kini menjadi ganas dan dingin, mudah membunuh orang?
"Ini disebabkan kebakaran itu, bapa.
Saya menjadi terkejut dan cepat meninggalkan dia untuk membantu memadamkan kebakaran.
Akan tetapi siapakah yang melakukan pembakaran itu?"
"Mungkin teman Dibyasakti itu, diajeng Muryani. Tadi aku melihat berkelebatnya bayangan orang. Aku mengejarnya dan dia melarikan diri melalui belakang bangunan ini. Larinya cepat bukan main dan dia menghilang di balik puncak, dalam hutan lebat itu. Karena melihat api berkobar aku lalu kembali dan membantu memadamkan kebakaran. Orang itu mempunyai banyak kawan yang pandai, diajeng."
Ki Ageng Branjang mengangguk-angguk dan memandang kepada dua orang muda itu dengan kagum.
"Sudahlah, aku kira Raden Dibyasakti itu tidak akan berani muncul kembali. Niatnya hanya hendak mencari kawan untuk membantu Arisbaya menghadapi Mataram, bukan untuk menambah musuh. Bagaimanapun juga, andika berdualah yang telah menyelamatkan Perguruan Bromo Dadali. Sekarang ceritakanlah, Muryani, apa saja yang kaualami sehingga engkau dapat memiliki aji kedigdayaan yang begitu hebat."
Muryani lalu menceritakan semua pengalamannya dengan singkat.
Tentang, permusuhannya dengan Ki Demang Wiroboyo yang berlarut-larut sehingga akhirnya Wiroboyo dan Darsikun berhasil membunuh ayahnya, yaitu Ki Ronggo Bangak dan melukainya.
"Ah, jadi ayahmu, sasterawan dan seniman yang baik hati itu terbunuh?"
Sela Ki Ageng Branjang kaget. Muryani mengangguk.
"Benar, bapa. Saya yang hidup sebatang kara lalu mencari Wiroboyo untuk membalas kematian, ayah. Akhirnya saya dapat menemukannya, akan tetapi karena dia dibantu Darsikun, saya malah tertawan oleh mereka dan dalam keadaan yang gawat dan berbahaya itu muncul guru saya yang kedua yang kemudian mengajarkan semua aji kedigdayaannya kepada saya."
"Siapakah nama besar gurumu itu?"
Tanya Ki Ageng Branjang.
"Mendiang guru saya itu berjuluk Nyi Rukmo Petak. Ia menyelamatkan saya dan memaksa kedua orang itu melarikan diri dan sejak itu saya ikut dengannya, menjadi muridnya selama empat tahun lebih. Pada suatu hari, guru saya meninggal dunia karena usia tua. Saya hidup seorang diri lagi dan merantau. Pertama-tama yang saya usahakan adalah mencari musuh besar saya, yaitu Wiroboyo dan Darsikun. Akhirnya, saya berhasil membunuh Darsikun dan juga si jahanam Wiroboyo, berkat bantuan Kakangmas Satyabrata ini, bapa."
"Wah, bukan main. Kiranya engkau telah bertemu dengan seorang yang sakti mandraguna dan dapat menimba ilmu yang tinggi darinya. Aku ikut merasa gembira, Muryani. Dan andika, anakmas Satyabrata, kalau boleh kami mengetahui, andika dari manakah, siapa orang tua andika dan siapa pula guru andika yang mulia?"
Ditanya demikian, tiba-tiba wajah yang tampan itu menjadi muram, menunduk dan tampak sedih sekali. Ki Ageng Bran jang terkejut dan cepat berkata.
"Ah maafkan aku kalau pertanyaanku tadi membuat andika berduka, anakmas. Bukan maksudku untuk menyinggung perasaanmu..."
"Bapa guru, Kakangmas Satyabrata adalah seorang yang hidup sebatang kara seperti saya, tidak mempunyai keluarga lagi,"
Kata Muryani menerangkan "Ahh, maafkan aku kalau begitu, anakmas,"
Kata Ketua Perguruan Bromo Dadali itu.
"Tidak mengapa, paman. Sungguh, pertanyaan paman itu wajar saja, hanya saya yang lemah setiap kali teringat akan diri saya yang sebatang kara ini. Saya berasal dari Cirebon, paman. Orang tua saya... sudah tidak ada. Adapun guru saya"
Ah, tadinya saya hanya belajar dengan teman-teman, kemudian"..alhamdullilah...
terima kasih kepada Gusti Allah yang member berkah kepada saya....
ketika saya bertapa di Pegunungan Careme dalam keadaan hampir mati kelaparan tiba-tiba saya melihat sinar terang keluar dari sebuah guha kecil.
Sambil merangkak saya mendatangi guha itu dan di sana saya menemukan kitab-kitab tua yang ternyata mengandung pelajaran aji-aji kanuragan.
Saya lalu mempelajarinya dan berlatih dengan tekun selama bertahun-tahun.
Setelah selesai baru saya turun gunung, lewat beberapa tahun."
"Wah, Kakangmas Satyabrata, baru sekarang aku mendengar ceritamu yang amat menarik itu!"
Kata Muryani.
"Dan di mana sekarang kitab-kitab itu?"
"Sebelum turun gunung, kitab-kitab yang sudah lapuk dan rusak itu kubakar agar jangan sampai terjatuh ke dalam tangan orang-orang jahat, diajeng,"
Jawab pemuda itu.
"Andika benar, anakmas. Memang sungguh berbahaya sekali kalau kitab-kitab pelajaran aji kesaktian terjatuh ke tangan orang jahat. Akan tetapi, kalau boleh aku bertanya; kitab-kitab itu merupakan peninggalan orang sakti mandraguna yang manakah?"
"Saya tidak tahu jelas, paman. Aka tetapi kalau saya tidak salah duga, mungkin sekali kitabkitab itu peninggalan mendiang Eyang Sunan Gunung Jati."
"Wah, kalau begitu andika seoran pemuda yang beruntung sekali, anakmas Satyabrata dan aku percaya bahwa andika pasti memiliki kedigdayaan seoran sakti mandraguna."
Malam itu Perguruan Bromo Dadali mengadakan penyambutan meriah kepada Muryani dan Satyabrata.
Kambing dan ayam disembelih dan pesta diadakan.
Suasana menjadi gembira sekali walaupun tadi nyaris rumah induk terbakar.
Untung hanya bagian dapur dan gudang saja yang terbakar.
Semua murid Bromo Dadali merasa kagum terhadap Muryani.
Tiada hentinya mereka membicarakan pertandingan hebat melawan dan mengalahkan Dibyasakti tadi.
Yang tadinya memandang rendah gadis itu merasa malu kepada dirinya sendiri.
Muryani tidak tega menolak permintaan Ki Ageng Branjang agar ia dan Satyabrata tinggal selama beberapa hari di perguruan Bromo Dadali sebelum melanjutkan perjalanan.
Kali Solo, demikian sungai itu dinamakan orang ketika mengalir dari mata airnya yang bersumber di pegunungan di dekat daerah selatan, dan kemudian disebut Kali Solo pula setelah mengakhiri alirannya yang amat jauh itu di pantai Laut Jawa di utara, di Ujung Pangkal daerah Kadipaten Bojonegoro, dalam perjalanannya disebut pula Bengawan Solo.
Sungai ini merupakan sungai yang amat panjang dan menampung banyak air dari sungai-sungai lain sehingga terkenal sebagai sungai yang besar dan selalu menimbulkan bencana banjir di musim hujan.
Akan tetapi sungai ini juga merupakan berkah bagi semua petani yang hidup di lembah Kali Solo yang gemah ripah loh jinawi, tanahnya subur sekali.
Juga merupakan sarana penghubung antara kadipaten dan kademangan, antara kota dan desa.
Dengan menggunakan perahu, orang dapat rnelakukan perjalanan jauh sekali tanpa banyak menggunakan tenaga seperti kalau berjalan kaki.
Pada suatu pagi yang cerah, sebuah perahu meluncur di atas permukaan Bengawan Solo.
Penumpangnya hanya seorang saja, seorang pemuda yang usianya sekitar dua puluh tiga tahun.
Melihat pakaiannya yang sederhana dan terbuat dari kain kasar, orang tentu menganggap dia seorang pemuda dusun.
Namun ada beberapa keadaan pada dirinya yang mungkin membuat orang menjadi ragu.
Wajahnya sungguh jauh berbeda dengan gerak-gerik dan sikapnya yang sederhana.
Wajah itu seperti wajah orang yang biasa disebut masih trahing kusumo rembesino madu, yaitu berdarah bangsawan atau priyayi.
Wajah tampan sederhana itu mengandung wibawa.
Mata yang dihias bulu mata lentik dan alis hitam tebal itu bersinar lembut sekali.
Hidungnya mancung dan wajah itu tampak selalu cerah karena mulutnya selalu mengembangkan senyum penuh keramahan dan kesabaran.
Tubuhnya sedang saja.
Perahu berwarna coklat itupun sederhana namun kokoh.
Dia duduk santai dalam perahu.
Sebuah bungkusan pakaian terletak di depannya dan dengan sebatang dayung kayu, dia mengatur arah perahu yang meluncur halus terbawa arus air bengawan.
Seperti biasa, air Bengawan Solo itu berwarna kecoklatan karena air bercampur tanah.
Di musim hujan, air bengawan akan naik sampai tinggi, seringkali bahkan meluap dan menjadi banjir.
Kalau sudah begitu, air menjadi semakin keruh, warnanya menjadi semakin coklat gelap.
Pemuda itu tidak perlu mendayung perahunya.
Agaknya dia tidak tergesa-gesa, membiarkan perahunya hanyut saja dan dia hanya mengemudikan perahunya.
Pekerjaan ini amat mudah dilakukan karena perahu itu sudah meluncur sendiri dengan laju dan lurus.
Hanya kadangkadang saja dia membantu luncuran perahu agar tetap lurus dengan gerakan dayungnya, atau membelokkan arah perahu agar tidak menabrak batu yang besar dan yang muncul di permukaan air.
Dia lebih banyak termenung.
Memandang air dan keadaan di kedua tepi bengawan yang sunyi dan ditumbuhi banyak pohon, pemuda, itu semakin tenggelam dalam lamunannya.
Ketika di tepi sebelah kiri bengawan itu dia melihat beberapa ekor buaya berjemur diri, dia tersenyum dan tiba-tiba dia teringat akan kisah tentang Joko Tingkir yang menaklukkan segerombolan buaya yang menghadang dan mengganggu, ketika dia naik getek, yaitu alat penyeberangan terbuat dari bambu-bambu yang diikat berjajar.
Joko Tingkir atau yang juga disebut Mas Krebet atau Panji Mas ini kemudian menjadi adipati di Pajang bernama Adiwijaya.
Perahunya tiba di sebuah tikungan sungai yang tajam.
Parmadi masih menoleh ke arah buaya-buaya di tepi sebelah kiri itu ketika tiba-tiba perahunya terseret pusaran air yang kuat sekali.
Perahunya tiba-tiba berputar ke kanan.
Parmadi, pemuda itu, bagaikan terseret dari lamunannya dan kembali ke alam kenyataan.
Dia terkejut dan cepat menggerakkan dayung untuk menahan tarikan air yang berputar itu.
Namun pusaran air itu bagaikan memiliki daya sedot yang amat kuat.
Parmadi memperhatikan keadaan di situ.
Pusaran air itu besar, berputar ke tengah sungai di bagian tikungan tajam yang merupakan kedung itu.
Di tepi kanan, tepat di tikungan berdiri sebatang pohon randu alas yang besar dan tua, bagaikan seorang raksasa yang menunggui kedung dan agaknya pohon tua itu yang memiliki daya sakti dan membuat pusaran air itu.
Parmadi merasa seolah pohon itu mengamati dan mentertawakannya.
Namun, keadaannya membuat dia tidak sempat memikirkan hal lain.
Cepat dia mengerahkan tenaga sakti untuk melawan pusaran air yang menyeret perahunya.
Kedua tangannya yang memegang dayung merasa seolah dayungnya bertemu dengan tenaga yang amat dahsyat.
Baca Juga: Sepasang Pedang Iblis 15
Baca Juga: Kisah Para Pendekar Pulau Es 13