Ceritasilat Novel Online

Seruling Gading 5

Eps 5 Seruling Gading - Kho Ping Hoo

Baca online Seruling Gading - Kho Ping Hoo

Cersil Seruling Gading - Kho Ping Hoo.

"Sungguh, aku tidak memuji-muji Wi roboyo untuk menakut-nakutimu, nimas Muryani. Akan tetapi biarlah aku menceritakan keadaan yang sebenarnya. Wiroboyo itu pada tiga tahun yang lalu telah diusir keluar dari Ponorogo karena Gusti Adipati meragukan kesetiaannya. Dia dikabarkan melakukan hubungan dengan orang-orang yang memusuhi Mataram dan agaknya dia mengumpulkan orang-orang dari golongan sesat. Setelah diusir keluar dari Ponorogo, menurut penyelidikan kami, dia menguasai perkampungan yang dulu menjadi pusat perkumpulan Welut Ireng, di lereng Gunung Wilis. Agaknya dia menguasai bekas para anggauta Welut Ireng yang sudah bubar. Menurut hasil penyelidikan kami, dia mendirikan sebuah perkumpulan di sana, yang diberi nama perkumpulan pencak silat Kelabang Wilis. Kedudukannya kuat sekali karena dia telah menjadi murid seorang datuk besar yang bernama Wiku Menak Koncar, seorang datuk besar dari Blambangan yang sakti mandraguna. Bahkan kakek itu kini tinggal bersama Wiroboyo. Selain datuk ini, Wiroboyo dibantu pula oleh Warok Surosingo dan seorang sakti lain bernama Darsikun yang pernah menjadi murid Ki Harya Baka Wulung yang terkenal itu. Nah, andika bayangkan betapa kuat kedudukan Wiroboyo, nimas Muryani. Kami tidak dapat berbuat apa-apa kepada Wiroboyo karena tidask ada bukti bahwa dia melakukan pelanggaran atau kejahatan, walaupun kami semua tidak suka padanya dan tahu bahwa dia bukan orang baik-baik."

Diam-diam Muryani harus mengakui betapa kuatnya kedudukan musuh besarnya itu.

Keterangan yang jelas dari tumenggung itu amat penting baginya.

Setelah mengetahui keadaan musuh, ia dapat berhati-hati.

Ia memang tidak boleh sembrono.

Mendiang gurunya, Nyi Rukmo Petak juga telah memperingatkan kepadanya agar ia berhati-hati berhadapan dengan para datuk besar.

Kini Wiroboyo telah menjadi murid seorang datuk besar dari Blambangan yang bernama Wiku Menak Koncar.

Tentu ilmu kepandaian bekas demang Pakis itu kini tidak seperti dulu lagi, sudah meningkat tinggi.

Memang ia tidak perlu takut menghadap musuh besarnya itu, karena sekarang ia sendiripun sudah mewarisi ilmu-ilmu yang hebat dari mendiang Nyi Rukmo Petak.

Akan tetapi Wiroboyo kini memiliki banyak anak buah.

Apalagi di sana ada gurunya, datuk besar dari Blambangan itu Bahkan ada pula pembantu-pembantunyo yang bukan orang lemah, yang bernama Warok Surosingo dan Darsikun.

Ia dapat menduga bahwa yang dulu membunuh ayahnya dan melukainya tentu orang bernama Darsikun itu, yang bersama Wiroboyo telah menjebaknya, membunuh kuda dan menangkapnya kemudian dua orang itu dikalahkan mendiang Nyi Rukmo Petak.

Keadaan Wiroboyo amat kuat dan ia hanya seorang diri!

Ia harus berhati-hati.

Muryani bangkit berdiri dan membungkuk dengan hormat kepada tuan rumah.

"Paman Tumenggung, keterangan andika ini sungguh amat berharga bagi saya, maka saya mengucapkan banyak terima kasih atas kebaikan paman."

Tumenggung Jatisurya cepat bangkit berdiri.

"Kenapa terburu-buru hendak pergi nimas Muryani? Andika hendak pergi kemanakah?"

"Saya hendak pergi mencari Wiroboyo, paman."

Sikap Muryani sekarang menghormat karena ia tahu betapa bangsawan berniat baik ketika menantangnya bertanding.

"Ah, nimas! Mengapa tergesa-gesa. Duduklah dulu, kita belum berkenalan. Aku ingin sekali mengenalmu lebih baik, mengetahui dari mana andika berasal, siapa keluarga andika dan mengapa andika memusuhi orang macam Wiroboyo itu?"

"Terima kasih, paman Tumenggung, Maafkan, saya tidak dapat menunda lebih lama lagi, harus segera. mencari jahanam itu. Mohon pamit."

Ia melangkah hendak keluar dari ruangan itu.

"Nimas Muryani, tunggu sebentar,"

Kata Raden Tumenggung Jatisurya. Dia melangkah mengejar dan Muryani menghentikan langkahnya, membalikkan tubuh dan mereka berdiri saling berhadapan.

"Ada apakah, paman?"

"Nimas, aku amat mengkhawatirkan keselamatanmu. Biarlah aku akan memimpin pasukan menyertai dan membantumu menghadapi mereka!"

Muryani mengerutkan alisnya dan menggeleng kepalanya.

"Tidak, paman. Jangan bantu aku. Ini adalah urusan pribadi, sama sekali tidak ada sangkut-pautnya dengan paman atau dengan Kadipaten Ponorogo. Sudah, selamat tinggal, paman Tumenggung!"

Setelah berkata demikian, Muryani melompat keluar dengan cepat dan meninggalkan rumah itu.

Raden Tumenggung Jatisurya mengikuti bayangan gadis, itu dengan pandang matanya dan dia menggeleng-geleng kepalanya.

Kalau saja dia mampu mengalahkan kedigdayaan gadis itu, pikirnya, mungkin ada harapan baginya untuk memenangkan hati Muryani sehingga gadis itu dapat menjadi pendamping hidupnya.

Bukit di belakang perguruan silat Jausumo yang letaknya di daerah Pacitan itu sepi sekali.

Apalagi waktu itu malam hari.

Biarpun bulan purnama tampak terang, memandikan seluruh permukaan bukit dengan cahayanya yang lembut, namun tak tampak seorangpun manusia di tempat itu.

Apalagi di waktu malam, bahkan di waktu siang haripun, tidak ada murid Jatikusumo yang berani berkeliaran di bukit itu.

Sebuah sumur tua yang berada di puncak bukit itulah yang menjadi sebabnya.

Sumur tua yang menyimpan peristiwaperistiwa mengerikan di masa yang lalu.

Sumur tua penuh rahasia, yang pernah menjadi tempat tahanan seorang tokoh Jatikusumo puluhan tahun yang lalu.

TOKOH besar Jatikusumo ini menjadi sesat dan jahat seperti iblis setengah giIa.

Dia adalah mendiang Resi Ekomolo.

Karena kejahatannya dia bentrok dengan adik seperguruannya sendiri yang bernama Resi Limut Manik dan setelah melalui pertandingan mati-matian yang berlangsung lama, akhirnya Resi Ekomolo dapat dirobohkan sehingga kedua kakinya lumpuh.

Karena maklum bahwa Resi Ekomolo amat jahat dan bahkan tidak waras otaknya, terpaksa Resi Limut Manik yang menjadi ketua perguruan Jatikusumo memasukkannya dalam sumur tua di atas bukit di belakang perguruan Jatikusumo itu.

Di dasar sumur itu terdapat sebuah terowongan dan ruangan bawah tanah, Bertahun-tahun Resi Ekomolo hidup di dasar sumur itu, tidak mungkin, dapat keluar dari situ karena kedua Kakinya yang lumpuh.

Namun setiap hari dia mendapat kiriman makan minum dari Real Limut Manik dan kebiasaan ini masih dilanjutkan ketika ketua Jatikusumo itu sudah digantikan oleh muridnya yang tertua, yaitu Bhagawan Sindusakti.

Pada suatu hari, seorang murid Jatikusumo, murid Sang Bhagawan Sindusakti, dapat turun ke dalam sumur dan bertemu dengan Resi Ekomolo.

Dia membantu sang resi yang amat sakti akan tetapi gila itu keluar dari sumur dan diam-diam menjai muridnya sehingga Priyadi, demikian nama murid Jatikusumo itu, berubah menjadi seorang yang sakti mandraguna melebihi semua tokoh Jatikusumo, akan tetapi wataknya menjadi jahat dan setengah gila!

Priyadi bentrok sendiri dengan para murid Jatikusumo dan para pendekar lainnya.

Akhirnya guru dan murid yang gila itu bermusuhan sendiri.

Priyadi dengan licik telah memukul jatuh Resi Ekomolo ke dalam sumur kembali!

Dia sendiri akhirnya kalah melawan seorang murid muda Resi Limut Manik yang bernama Sutejo atau Tejomanik.

Ketika kedua orang ini bertanding di atas bukit, dekat sumur tua, Priyadi terpukul jatuh ke dalam sumur.

Di dasar sumur, dia disambut oleh Resi Ekomolo yang ternyata belum tewas dan kedua orang ini bergumul sehingga akhirnya mati sampyuh.

Priyadi mati dicekik dan Resi Ekomolo mati ditusuk keris pusaka Ilat Nogo.

Demikianlah riwayat singkat sumur tua yang menyeramkan itu, yang seolah-olah berhantu dan tempat ini menjadi tempat yang tidak pernah dikunjungi orang.

Seperti telah diceritakan di bagian depan kisah ini, Satyabrata, pemuda keturunan Portugis yang amat cerdik itu, yang oleh Willem Van Huisen, seorang perwira Kumpeni Belanda, ditugaskan menjadi mata-mata, berhasil menyusup ke perguruan Jatikusumo dan diterima menjadi murid perguruan itu.

Kini yang menjadi ketua Jatikusumo adalah Ki Cangak Awu, seorang pendekar gagah perkasa yang berwatak jujur dan kasar.

Ki Cangak Awu yang jujur dapat dikelabui sikap Satyabrata yang amat pandai membawa diri sehingga pemuda itu diterima menjadi murid.

Setelah menjadi murid Jatikusumol perlahan-lahan dengan cerdik Satyabrato menyebar cerita, memburuk-burukkan Mataram yang menindas dan menaklukkan daerah-daerah, dan memuji-muji kebaikan Kumpeni Belanda.

Saking pandainya dia bercerita, banyak murid Jatikusumo yang terpengaruh.

Mendengar tentang keanehan sumur itu, dia tertarik dan pada suatu hari dia nekat memasuki sumur itu dan menemukan kerangka Resi Ekomolo dan Priyadi.

Dia menemukan pula gambargambar dan ukiran pada ruangan bawah tanah itu dan mengambil keputusan untuk mempelajari semua ilmu itu.

Akan tetapi perbuatannya yang memburuk-burukkan Mataram dan memuji-muji Kumpeni Belanda itu akhirnya ketahuan juga oleh Ki Cangak Awu dan isterinya, Pusposari, dan tentu saja Ki Cangak Awu menjadi marah sekali lalu menyerang dan mereka bertanding di dekat sumur.

Akhirnya pemuda yang menjadi mata-mata Kumpeni Belanda itu terpukul dan terjatuh ke dalam sumur tua itu.

Semua mengira bahwa dia telah tewas.

Padahal sebetulnya pemuda itu sama sekali tidak tewas, bahkan dia dapat mempunyai kesempatan besar sekali untuk mempelajari semua ilmu peninggalan Ki Ekomolo tanpa gangguan sedikitpun juga.

Ilmu-ilmu yang aneh membuat pemuda itu menjadi amat sakti, akan tetapi juga membuat pikirannya menjadi tidak waras dan setengah gila.

Setelah tamat mempelajari semua ilmu aneh itu, pemuda itu pada malam hari terang bulan purnama itu mengambil keputusan untuk keluar dari sumur dan seterusnya meninggalkan lempat itu.

Sesosok bayangan seperti terbang keluar dari sumur itu.

Kalau pada saat itu ada orang melihatnya, tentu akan mengira bahwa iblis sendiri yang keluar dari sumur itu.

Seperti bukan manusia lagi, karena gerakannya amat cepatnya seperti terbang keluar dari dalam sumur.

Setelah bayangan itu berhenti di dekat sumur dan sinar bulan purnama menerangi wajahnya, barulah dapat dilihat .

bahwa dia adalah seorang pemuda yan amat tampan.

Pemuda yang matanya agak kebiruan dan memiliki ketampanan yang bahkan mendekati kecantikan seorang wanita.

Dia bukan lain adalah Satyabrata!

Satyabrata kini telah menjadi seorang yang amat sakti.

Ilmu-ilmu yang telah dikuasainya adalah antara lain Aji Jerit Nogo, dan ilmu menghimpun tenaga sakti dengan jalan bersamadhi jungkir balik yang diberi nama Aji Waringin Sungsang, dan selain dari itu diapun mendapatkan keris pusaka Ilat Nogo, peninggalan dari Priyadi.

Setelah tiba di atas dan memandang bulan purnama, tiba-tiba pemuda itu berdongak dan dia mengeluarkan pekik melengking yang menggetarkan seluruh permukaan bukit itu.

Kalau sekiranya ada orang yang berada di situ dan mendengarkan pekik itu, orang itu dapat roboh dan tewas seketika.

itulah Aji Jerit Nogo yang dapat membuat lawan roboh dan hancur jantungnya karena tekanan suara yang melengking tinggi.

Akan tetapi pada saat itu, tidak ada seorangpun di puncak bukit.

Betapapun juga, jeritnya itu terdengar sampai ke bawah bukit.

Tentu saja jerit itupun terdengar dari perkampungan Jatikusumo, di mana tingal semua murid Jatikusumo.

Mereka ada yang terkejut dan terbangun dari tidurnya, akan tetapi merasa seperti dalam mimpi.

Hal ini adalah karena Aji Jerit Nogo itu asing bagi mereka semua.

Mereka mengira bahwa itu adalah jerit yang keluar dari mulut hewan liar.

Bahkan Ki Cangak Awu dan isterinya, Pusposari juga terbangun dari tidurnya.

Ki Cangak Awu menggeliat dan bangun terduduk.

Dia memandang ke kanan kiri dan melihat isterinya sudah terbangun pula.

"Kau juga dengar itu tadi?"

Tanyanya kepada Pusposari.

"Ya, aku mendengarnya. Apakah itu, kakangmas? Suara apakah yang remeh itu? Dan masih terasa jantungku berdebar mendengarnya,"

Tanya Pusposari dengan heran. Ki Cangak Awu menghela napas panjang dan dia menggeleng kepalanya.

"Aku tidak tahu, diajeng. Aku juga mendengar dan aku dapat merasakan suatu tenaga yang amat kuat terkandung dalam pekik melengking itu. Akan tetapi, rasanya tidak mungkin kalau suara seperti itu keluar dari kerongkongan seorang manusia Akan tetapi andaikata keluar dari mulut seekor binatang, lalu binatang apa yang dapat memekik seperti itu? Setahuku, hanya singa dan harimau saja yang suaranya mengandung daya melumpuhkan dan pengaruh yang menyerang jantung."

"Ibliskah yang bersuara tadi, kakang-mas? Dan rasanya suara itu datang dari belakang sana, dari bukit. Jelas tampak betapa wanita gagah perkasa yangi memiliki kesaktian itu bergidik. Padahal, Pusposari adalah anak angkat dari ketua perguruan Nogo Dento yang bernarna Ki Harjodento. Pusposari telah mewarisi ilmu-ilmu dan aji kesaktian dari ayah angkatnya dan ia memiliki tingkat kepandaian yang tidak kalah hebat dibandingkan suaminya sendiri. Akan tetapi, mendengar suara jerit melengking tadi, ia merasa ngeri! "Perasaanmu tidak keliru, diajeng. Aku sendiri juga merasakan sesuatu yang tidak beres. Walaupun tidak masuk akal, akan tetapi suara itu seolah, menurut perasaanku, keluar dari sumur tua itu!"

Kata Ki Cangak Awu kepada isterinya.

"Ihh! Mana mungkin, kakangmas? Bukankah semua orang yang memasuki sumur itu telah mati? Resi Ekomolo, Priyadi, dan lima tahun yang lalu si Satya itu mereka semua telah mati. Tak mungkin mereka yang mengeluarkan jerit seperti , tadi, kecuali.... kecuali kalau.... kalau ada yang masih hidup, atau boleh jadi arwah mereka yang penasaran."

Ki Cangak Awu mengangguk-angguk.

"Setan penasaran memang dapat saja mengganggu manusia, diajeng. Bagaimanapun juga, kita harus waspada malam mi. Mari kita bersamadhi dan mengerahkan tenaga batin kita, siap dan waspada menghadapi hawa dan pengaruh jahat. Siapa tahu roh jahat berkeliaran dan hendak mengganggu kita."

"Benar sekali, kakang-mas. Akupun mempunyai perasaan yang amat tidak enak."

"Karena itu kita harus berhati-hati, diajeng. Apalagi keadaanmu sekarang inl, Engkau mengandung sudah tiga bulan, kita harus berhati-hati menjaga anak kita yang baru akan muncul setelah sepuluh tahun kita menikah dan menanti-nanti."

Pusposari mengelus perutnya.

"Semoga Hyang Maha Esa melindungi kita, melindungi anak kita "

Katanya penuh haru.

Malam semakin larut.

Bulan semakin tinggi dan semakin tegang.

Tiba-tiba terdengar suara ada benda-benda kecil menjatuhi genteng rumah itu dan suami isteri itu merasa ada semacam pengaruh yang amat kuat, yang seolah memaksa mereka agar tidur.

Mata mereka terserang rasa kantuk yang hebat.

Suami isteri yang sudah berpengalaman itu segera tahu bahwa ada pengaruh yang sama sekali tidak wajar.

Ada sesuatu yang menyerang mereka dan membuat mereka mengantuk.

Ilmu hitam, ilmu sihir.

Aji penyirepan, pikir mereka!

Dari pengalaman dan pelajaran aji kesaktian, mereka segera tahu bahwa hal tidak wajar itu disebabkan oleh aji penyirepan yang amat luat, yang hendak memaksa mereka agar tidur!

Keduanya maklum dan cepat mereka mengerahkan kekuatan batinnya, mengerahkan tenaga saktinya untuk menahan dan melawan pengaruh kantuk yang menekan perasaan mereka itu.

Dugaan suami isteri itu memang tidak keliru.

Pada saat itu, diluar bangunan induk di perkampungan Jatikusumo, berdiri sosok tubuh yang menengadahkan kedua tangannya ke atas.

Tadi dia mengambil sekepal tanah dan dilempar-lemparkan ke atap seluruh bangunan di perkampungan itu, bibirnya bergerak-gerak membaca mantera.

Bayangan itu bukan lain adalah Satyabrata dan dia sedang mempergunakan satu di antara ilmu hitam yang dipelajarinya di dalam sumur.

Ilmu hitam ini adalah aji penyirepan Begonondo, satu di antara ilmu-ilmu yang dipelajarinya dalam sumur tua.

Sebetulnya, agar ilmu hitam Aji Penyirepan Begonondo ini mencapai kekuatan sepenuhnya, yang dipergunakan untuk disebarkan ke atas atap rumah orang-orang yang hendak disirep haruslah dipergunakan tanah yang diambil dari kuburan.

Akan tetapi dengan mempergunakan tanah biasa juga sudah memiliki daya yang ampuh sekali untuk membuat semua penghuni rumah itu tidur pulas.

Satyabrata ingin melihat apakah aji penyirepan yang dilakukannya itu berhasil.

Dia menghampiri pondok yang berjajar-jajar itu dan menendangi daun pintunya.

Terdengar suara gaduh berturut-turut dan daun-daun pintu beberapa buah rumah jebol.

Satyabrata menanti sejenak dan ternyata tidak ada suara seorangpun, Dia merasa yakin bahwa semua penghuni rumah perkampungan itu telah terpengaruh aji penyirepannya dan telah tertidur pulas semua.

Perasaan girang memenuhi hatinya dan dia bertolak pinggang, menengadah lalu tertawa bergelak dengan lagak sombong.

"Hua-ha-ha-ha-ha!"

Tiba-tiba tampak dua sosok bayangan yang berkelebat keluar dari pintu rumah induk yang terbuka dari dalam dan di lain saat Ki Cangak Awu dan Pusposari telah berdiri di depan Satyabrata.

Sinar bulan purnama saat itu sedang terang sekali sehingga segera dapat saling mengenal.

"Ah, engkau".Satya"!"

Pusposari berseru, kaget dan heran karena semua orang menduga bahwa pemuda itu telah tewas, terjatuh ke dalam sumur tua.

"Jahanam busuk! Kiranya kamu, keparat!"

Ki Cangak Awu juga membentak, marah sekali mendapat kenyataan bahwa yang memasang aji penyirepan dan yang membuat gaduh adalah Satya, pemuda yang menyusup menjadi murid Jatikusumo dan telah menyebar bujukan memusuhi Mataram dan memuji-muji Kumpeni Belanda.

Satyabrata agak terkejut ketika tiba-tiba melihat suami isteri pimpinan Jatikusumo itu muncul secara tidak terdua-duga.

Akan tetapi dia segera dapat menguasai kekagetannya, maklum bahwa tentu suami isteri yang memiliki kesaktian itu telah mampu menolak daya aji penyirepannya tadi.

"Ha-ha-ha-ha, Ki Cangak Awu! Bagus sekali engkau tidak jatuh tidur. Kebetulan sekali karena aku akan membunuhmu dan engkau dapat melihat kematian datang di depan matamu!"

"Setan alas! Engkaulah yang akan mati!"

Bentak Pusposari sambil mencabut kerisnya.

"Diajeng, biar aku yang menghadapinya,"

Kata Cangak Awu yang mengkhawatirkan keadaan isterinya yang sedang mengandung dan dia sudah melompat ke depan isterinya, menghadapi Satyabrata.

Ki Cangak Awu mengamangkan sebatang tongkat penggada yang tadi memang dibawanya keluar karena dia maklum bahwa ada orang sakti datang mengacau Jatikusumo.

"Keparat Satya, manusia curang. Engkau pasti antek Kumpeni Belanda, maka bersiaplah untuk menerima hukuman dariku!"

Satyabrata masih menyeringai dengan senyumnya yang mengejek, lalu tangan kanannya mencabut sebatang keris, yang berkarat dan berwarna kehitaman.

Itulah keris pusaka Ilat Nogo peninggalan mendiang Priyadi yang tewas dalam sumur.

Karena keris itu sudah terpendam dalam tubuh mendiang Resi Ekomolo sampai tubuh itu membusuk dan hancur, maka kini menjadi semakin ampuh, racunnya semakin kuat dan ada hawa menyeramkan meliputi keris Ilat Nogo itu.

Sekali tendang saja Ki Cangak Awu teringat bahwa keris itu adalah milik bekas kakak seperguruannya yang menyeleweng, yaitu Priyadi yang tewas dalam sumur tua.

Kiranya keris itu kini telah dimiliki Satya, pemuda yang amat tampan dan pandai membawa diri, akan tetapi ternyata aneh dan jahat itu.

"Ha-ha, Cangak Awu, bagaimana engkau dapat menghukum aku kalau sebentar lagi engkau mati oleh pusakaku ini!"

Ki Cangak Awu marah sekali.

"Manusia sombong sekali engkau! Bagaimana engkau dapat menentukan kematian seseorang? Awas, lihat senjataku!"

Setelah berkata demikian, Ki Cangak Awu lalu menerjang dengan senjatanya yang berat.

Senjata itu menyambar ke arah kepala Satyabrata, dan kalau mengenai kepala, maka kepala itu pasti akan hancur lebur karena bukan saja senjata itu amat berat dan keras, akan tetapi juga tenaga yang menggerakkan itu amatlah kuatnya sehingga andaikata bukan kepala yang dihajar, melainkan batu karang, maka batu karang itupun akan hancur lebur, tidak mungkin kuat menahan pukulan sehebat itu.

Akan tetapi Satyabrata dapat mengelak dengan kecepatan kilat sehingga serangan pertama itu luput dan menyambar di samping kepalanya.

Setelah penggada itu lewat, secepat kilat Satyabrata membalas dengan tusukan kerisnya ke perut lawan.

Hampir saja Ki Cangak Awu terkena keris pada perutnya, akan tetapi sebagai seorang yang banyak sekali pengalaman bertanding, dia dapat melompat ke belakang dan kembali penggada dan menyambar dari samping, kini menyerampang ke arah kaki lawan.

"Heiiiiit !"

Ki Cangak Awu membentak keras sekali ketika penggadanya menyambar, akan tetapi kembali Satyabrata dapat mengelak dengan lompatan ke samping lalu tangan kirinya yang menyambar dengan pukulan ke arah kepala.

Pukulan itu adalah pukulan yang mengandung tenaga sakti sehingga anginnya menyambar ke arah dada Ki Cangak Awu, akan tetapi Ki Cangak Awu juga mampu menghindarkan pukulan sakti itu dengan menggulingkan tubuh ke kanan.

Dia memutar tubuh ke kiri dan kembali penggadanya menyambar, kini didorongkan ke perut dengan kekuatan yang dahsyat.

"Haaiiitt !"

Kini Satyabrata yang rnengeluarkan.teriakan keras karena penggada itu sungguh merupakan ancaman maut baginya.

Kakinya diangkat ke kanan dan sambil mengubah kedudukan kaki dia telah mengirim tendangan ke arah lambung lawan.

Kalau tendangan itu mengenai sasaran, tentu akan membahayakan nyawa Ki Cangak Awu.

Melihat suaminya terserang dan terdesak, Pusposari cepat maju dan menggerakkan kerisnya membantu, sehingga kini pemuda itu dikeroyok dua oleh suami isteri itu.

Satyabrata menggerakkan keris dengan pengerahan tenaga sakti, dua kali keris menyambar dan menangkis dua senjats lawan.

"Trang ! Tranggg !!"

Tiga orang itu terdorong mundur sampai terhuyung saking kuatnya senjata-senjata itu bertemu.

Karena gerakan mereka didukung tenaga sakti yang amat kuat, maka ketiganya terhuyung ke belakang.

Akan tetapi yang lebih terkejut adalah suami isteri itu karena bukan saja mereka terhuyung ke belakang, bahkan senjata merekapun terlepas dari pegangan.

Satyabrata cepat menyarungkan kerisnya dan sambil melompat berdiri dia mengerahkan tenaga sakti yang mujijat, yang terbentuk dari latihan Aji Waringin Sungsang, yaitu cara bersamadhi dengan jungkir balik, kepala di bawah dan kaki di atas.

Begitu dia memukulkan kedua tangannya yang terbuka, didorongkan ke arah dua orang suami isteri yang sudah berdiri berhadapan dengannya itu, dari kedua tangannya menyambar hawa pukulan yang amat dahsyat!

"Ciaaaaattt".!!"

Itulah pukulan Aji Margopati yang amat dahsyat.

Ki Cangak Awu dan Pusposari terkejut bukan main.

Karena maklum bahwa mereka menghadapi serangan pukulan jarak jauh yang amat berbahaya, keduanya cepat mengerahkan tenaga sakti mereka.

"Haiiiittt"!"

Pusposari mendorong dengan tangan kanannya untuk menyambut serangan lawan dan ia mengerahkan aji pukulan Nogodento! "Aaarrhhhhhh".!"

Ki Cangak Awu juga mengeluarkan teriakan nyaring dan mengerahkan tenaga sakti dalam tangan kanannya yang didorongkan menyambut serangan Satyabrata dengan aji pukulan Gelap Musti.

"Wuuuuttt blaaarrr !!"

Tenaga dahsyat Aji Margopati bertemu di udara lengan Aji Gelap Musti dan Aji Nogodento!

Hebat bukan main pertemuan antara tiga tenaga sakti itu.

Tenaga yang menggetarkan sekeliling tempat itu terasa.

Akibatnya juga hebat.

Ki Cangak Awu dan Pusposari terjengkang dan roboh telentang keras, sedangkan Satyabrata terhuyung-huyung ke belakang.

Satyabrata merasa dadanya sesak dari agak nyeri.

Ketika dia merasa bibirnya basah, dia mengusap dengan tangannya dan melihat bahwa yang membasahi bibirnya itu adalah darah.

Dia terluka dalam.

Akan tetapi melihat suami isteri itu roboh telentang tak bergerak, dia menjadi girang dan bangga sekali.

Diat mengeluarkan suara tawanya yang me, nyeramkan, lalu mencabut keris pusakq Hat Nogo dan melangkah maju, maksudnya hendak menyusulkan serangan dengan tikaman kerisnya pada dua orang suami isteri yang sudah tak berdaya itu.

"Heii! Apa yang terjadi di sini?"

Tiba-tiba terdengar suara dan tampak dua sosok bayangan berkelebat cepat sekali menuju tempat itu.

Satyabrata terkejut.

Maklum bahwa dua orang yang datang itu memiliki ilmu kepandaian tinggi dan dia dalam keadaan terluka.

Maka, tanpa banyak cakap lagi dia memutar tubuhnya dan melompat jauh lalu berlari cepat meninggalkan perkampungan Jatikusumo itu.

"Hei, siapa kamu? Berhenti!"

Terdengar bentakan suara wanita melengking dan satu di antara dua sosok bayangan itu hendak mengejar larinya Satyabrata.

"Diajeng, jangan kejar! Lihat ini, kita harus menolong mereka!"

Kata bayangan kedua yang sudah berjongkok dekat tubuh Cangak Awu dan Pusposari. Wanita itu menahan langkahnya lalu menghampiri laki-laki yang berjongkok itu. Iapun ikut berjongkok.

"Mereka siapakah, kakangmas?"

Tanyanya.

"Lihat baik-baik. Mereka adalah kakang Cangak Awu."

"Ah, benar! Dan ini mbakayu Pusposari!"

"Mereka terluka dan pingsan. Mari kita bawa mereka masuk,"

Kata laki-laki itu.

Dia lalu memondong tubuh Cangak Awu yang tinggi besar itu dengan ringannya seperti memondong seorang bayi saja.

Wanita itupun memondong tubuh Pusposari dan mereka membawa suami isteri yang pingsan itu memasuki rumah induk.

Ruangan dalam rumah itu masih diterangi sinar lampu.

Siapakah pria dan wanita itu?

Mereka adalah seorang pendekar perkasa dan pembela Mataram yang setia dan berjasa besar, bernama Sutejo atau Tejomanik, putera Ki Harjodento ketua perguruan Nogodento.

Adapun wanita itu adalah isterinya yang bernama Retno Susilo, juga seorang pendekar wanita yang sakti karena ia adalah murid Nyi Rukmo Petak yang kemudian mematangkan ilmunya di bawah bimbingan suaminya.

Sutejo berusia kurang lebih tiga puluh tiga tahun dan Retno Susilo berusia dua puluh sembilan bilan tahun.

Biarpun kedua orang ini seperti juga para pendekar lain telah membantu Sultan Agung dalam menundukkan semua daerah, terutama sekali daerah Jawa Timur, namun suami isteri ini juga tidak mau menerima anugerah pangkat.

Setelah perang selesai dan Jawa Timur dapat ditundukkan dan menakluk, suami isteri ini lalu meninggalkan Mataram dan berdiam di lereng Gunung Kawi.

Sutejo memilih tinggal di lereng Gunung Kawi, yang menjadi tempat tinggalnya dahulu ketika masih hidup bersama gurunya, mendiang Bhagawan Sidik Paningal.

Mereka hidup tenteram di lereng gunung itu sebagai petani.

Setelah memondong tubuh Cangak Awu dan Pusposari masuk ke dalam rumah, mereka merebahkan tubuh suami isteri pimpinan Jatikusumo itu di atas pembaringan.

Setelah keduanya memeriksa keadaan suami isteri yang pingsan itu, tahulah mereka bahwa suami isteri itu tidak terluka parah, (Lanjut ke

Jilid 13) Seruling Gading (Seri ke 02 -Serial Pecut Sakti Bajrakirana) Karya". Asmaraman S. Kho Ping Hoo

Jilid 13 hanya terguncang sehingga pingsan oleh hawa pukulan yang amat dahsyat.

Untung bahwa mereka berdua memiliki tenaga sakti yang cukup kuat sehingga daya pukulan lawan itu dapat tertangkis dan tidak membuat mereka terluka parah.

Sutejo dan Retno Susilo tahu apa yang harus mereka lakukan.

Akan tetapi agar tidak keliru, Retno Susilo bertanya kepada suaminya.

"Kakangmas, kita harus membantu mereka, menggunakan tenaga sakti untuk memulihkan tenaga mereka sehingga jalan darah mereka menjadi lancar kembali. Benarkah?"

Sutejo mengangguk.

"Benar, diajeng. Mari kita bantu mereka."

"Aku harus berhati-hati, kakangmas, karena kulihat bahwa mbakayu Pusposari tampaknya sedang mengandung."

"Begitukah? Kalau begitu, jangan meng gunakan tenaga terlalu besar, cukup untuk menghangatkan dan melancarkan jalan darahnya saja."

Retno Susilo lalu menempelkan tangan kanannya ke pundak kiri Pusposari dan ia mengerahkan tenaga saktinya sehingga keluar getaran tenaga memasuki tubuh Pusposari yang pingsan, menggetarkan jantung dan jalan darahnya.

Sutejo juga menempelkan tangannya ke dada Cangak Awu dan mengalirkan hawa sakti ke dalam tubuh pendekar tinggi besar itu.

Tidak sampai lima menit, suami isteri itu telah siuman.

Mereka mengeluh dan membuka mata mereka.

Mula-mula mereka terkejut mendapatkan diri mereka rebah di atas pembaringan dan ada orang duduk dekat mereka.

Akan tetapi ketika mengenal Sutejo den Retno Susilo, keduanya menjadi girang sekali, lalu bangkit duduk.

"Ah, adi Sutejo...!"

Seru Cangak Awu.

"Retno Susilo...!"

Kata pula Pusposari.

"Tenanglah, kakang Cangak Awu dan mbakayu Pusposari,"

Kata Sutejo lembut.

"Andika berdua baru saja siuman dari pingsan, agaknya terkena pukulan yang ampuh. Mari kita duduk dan bicara."

Mereka berempat lalu turun dari atas pembaringan dan duduk di kursi-kursi dalam ruangan di luar kamar itu.

Pada saat itu terdengar suara gaduh dan beberapa orang murid Jatikusumo memasuki ruangan itu.

Wajah mereka memperlihatkan ketegangan.

Lima orang itu adalah murid-murid kepala atau adik-adik seperguruan Ki Cangak Awu.

"Syukurlah kalau kakang Cangak Awu berdua dalam keadaan selamat,"

Kata seorang dari mereka dengan lega ketika melihat Cangak Awu dan Pusposari duduk di situ dalam keadaan sehat. Cangak Awu memandang kepada mereka dan bertanya.

"Wiro, apa yang telah terjadi?"

Wiro mewakili saudara-saudara seperguruannya, menjawab.

"Kami juga tidak tahu apa yang telah terjadi, kakang. Kami semua serentak terbangun seperti dibangunkan sesuatu dan kami keluar. Ternyata ada beberapa buah pondok yang daun pintunya jebol, juga daun pintu rumah andika sudah jebol dan terbuka. Kami tidak tahu apa yang telah terjadi, maka kami berlima memasuki rumah andika untuk melapor. Apakah yang telah terjadi, kakang?"

"Besok saja kami ceritakan. Sekarang keluarlah dan malam ini atur penjagaan yang ketat. Malam ini kami tidak ingin diganggu,"

Kata Cangak Awu dan lima orang itu mengangguk lalu keluar lagi dari rumah itu. Setelah mereka keluar, Retno Susilo berkata.

"Kakang Cangak Awu dan mbakayu Pusposari, sebetulnya apakah yang telah terjadi?"

Cangak Awu menghela napas berulang-ulang. Wajahnya membayangkan kemarahan dan penyesalan, kemudian diapun bercerita.

"Peristiwa malam ini merupakan akibat dari kebodohan dan kecerobohanku sendiri. Sekitar lima tahun yang lalu, seorang pemuda yang mengaku bernama Satya datang ke sini dan mohon kepadaku agar dia diterima menjadi murid Jatikusumo. Dia pandai membawa diri, tampan sopan dan lembut; dan ketika aku mencoba memukulnya, dia sama sekali tidak dapat melawan seolah dia sama sekali tidak pernah mempelajari ilmu kanuragan. Akan tetapi baru beberapa lama di sini, dia telah menyebar bujukan kepada para murid Jatikusumo, memburuk-burukkan Gusti Sultan Agung dan memji-muji Kumpeni Belanda! Mendengar laporan ini, aku menjadi marah. Tentu dia itu seorang telik sandi Kumpeni Belanda, Aku mencarinya dan mendapatkan dia berada di bukit larangan, di belakang perkampungan kami. Aku menyerangnya dan dia juga menyerangku dengan senjata api. Akan tetapi diajeng Pusposari menolongku dengan lemparan batu pada tangannya dan aku berhasil menyerangnya sehingga dia terjatuh ke dalam sumur setelah dia berhasil menembak mati seorang murid Jatikusumo. Dia terjatuh ke dalam sumur tua. Karena sumur itu merupakan sumur maut yang berhantu, maka kami mengganggap dia sudah mati."

"Pengkhianat seperti si Satya itu memang layak mati!"

Kata Retno Susilo gemas. Cangak Awu menghela napas panjang.

"Sayang sekali, dia sama sekali tidak mati! Malam ini kami berdua tiba-tiba terserang kantuk yang luar biasa kuatya. Kami menduga bahwa rasa kantuk itu tentu tidak wajar dan agaknya ada orang mengerahkan aji penyirepan. Maka kami lalu menolaknya dengan pengerahan tenaga sakti. Kemudian, terdengar suara tawa seperti iblis dan terdengar suara gaduh seperti runtuhnya pintu-pintu perumahan kami. Kami berdua lalu mengambil senjata dan melompat keluar. Dan in berada di sana, di luar rumah kami."

"Si Satya jahanam itu?"

Tanya Retno Susilo.

"Ya, dialah orangnya,"

Kata Pusposari yang sejak tadi diam saja.

"Kami segera mengenalnya dan menyerangnya, akan tetapi dia memiliki kepandaian yang hebat sekali, gerakannya cepat seperti setan!"

"Hemm, kakang Cangak Awu, bagaimana dalam waktu lima tahun lebih saja dia sudah dapat menjadi sepandai itu? Bukankah ketika mula-mula datang dia tidak pandai ilmu silat seperti ceritamu tadi?"

Tanya Sutejo heran.

"Benar, ketika dia datang dan sengaja kucoba memukulnya, dia sama sekali tidak mampu mengelak atau menangkis. Tentu saja kini aku tahu bahwa dia hanya bermain sandiwara dan sebetulnya dia sudah memiliki ilmu silat yang tinggi. Hanya kalau tingkatnya sudah tinggi saja maka dia mampu berpura-pura seperti itu, maklum bahwa pukulanku itu hanya hendak mengujinya saja."

"Akan tetapi, kalau dia memang merupakan telik sandi Kumpeni Belanda dan bermaksud untuk menyerangmu, kenapa tidak dia lakukan ketika dia datang melainkan menanti sampai setahun bahkan membiarkan dirinya kau serang sampai terjatuh ke dalam sumur?"

Cangak Awu menghela napas.

"Itulah kebodohanku yang kedua kali. Kebodohku pertama kali adalah ketika aku dapat dia kelabui dan menerimanya sebagai murid Jatikusumo. Kemudian, kebodohanku yang kedua adalah ketika aku percaya bahwa dia telah terjatuh ke dalam sumur maut dan mati! Sekarang aku mengerti. Agaknya dia memang sengaja menjatuhkan diri dalam sumur itu. Agaknya dia menemukan pelajaran ilmu-ilmu yang ditinggalkan paman Eyang Guru Ekomolo dalam sumur itu dan sempat mempelajarinya. Ketika kami tadi menyerangnya, dia memang memiliki kesaktian seperti iblis sendiri. Semua serangan kami tak mengenai sasaran dan ketika senjata kami beradu dengan kerisnya yang kukenal kenal sebagai keris pusaka Ilat Nogo mllik mendiang kakang Priyadi, kami terpental ke belakang. Ketika kami bangkit, dia menyerang kami dengan pukulan jarak jauh yang dahsyat. Kami sudah mengerahkan aji pukulan kami untuk melawannya, akan tetapi kami roboh terbanting ke belakang dan tidak ingat apa-apa lagi."

"Tahu-tahu aku sudah siuman di kamar tadi,"

Sambung Pusposari.

"Apa yang terjadi ketika kami pingsan itu? Bagaimana andika berdua dapat datang malam-malam, tepat pada waktunya dan agaknya andika berdua yang telah menolong kami?"

Kini giliran Sutejo dan Retno Susilo, sepasang suami isteri dari lereng Gunung Kawi itu, yang menghela napas panjang mendengar pertanyaan ini.

"Seperti juga andika berdua, kakang Cangak Awu, kamipun tidak membawa kabar baik,"

Kata Sutejo dengan wajah muram.

"Heh, apakah yang telah terjadi, adimas Sutejo? Ketika kami berdua mengunjungi kalian di lereng Gunung Kawi, kalian berdua hidup dengan tenteram bahagia di lereng yang subur indah itu, bersama putera kalian""

Eh, siapa namanya""

O ya, Bagus Sajiwo. Anak yang mungil dan lucu itu berusia dua tahun ketika kami berkunjung ke sana, lima tahun yang lalu. Kini dia tentu telah menjadi seorang perjaka kecil yang tampan!"

Kata Ki Cangak Awu.

"Itulah, kakangmas Cangak Awu. Kabar buruk itu mengenai anak kami Bagus Sajiwo..."

Kata Retno Susilo dengan suara sedih.

"Hei....! Apa yang terjadi dengan keponakanku itu?"

Teriak Ki Cangak Awu sambil bangkit berdiri dari kursinya.

"Tenanglah, kakangmas,"

Bujuk Pusposari.

"Biar kita dengarkan dulu cerita mereka."

Mendengar bujukan isterinya, Ki Cangak Awu yang berwatak kaku dan keras seperti Bimasena itu mengangguk dan duduk kembali.

"Ceritakanlah, adimas Sutejo. Ceritakan yang jelas!"

Katanya. Setelah menghela napas panjang Sutejo lalu bercerita.

"Terjadinya kurang lebih setahun yang lalu. Ketika itu, Ragus Sajiwo berusia kurang lebih enam tnhun. Pada suatu pagi, seorang penduduk dusun di kaki Gunung Kawi datang berlari-lari, melaporkan kepada kami bahwa dusun itu diserbu gerombolan perampok. Karena sudah beberapa kali kami menentang para gerombolan di sekitar daerah Gunung Kawi dan berhasil mengusir mereka, maka kami dikenal sebagai orang-orang yang mampu menolong para penduduk dusun yang diganggu gerombolan jahat. Kami berdua lalu pergi turun gunung menuju dusun itu. Kami meninggalkan Bagus Sajiwo berdua dengan bibi Sikem, pembantu rumah tangga kami. Kami berhasil menghalau gerombolan penjahat yang mengganggu dusun itu. Bahkan mereka melarikan diri ketika kami datang. Setelah kami pulang ke rumah kami, baru kami tahu bahwa gangguan gerombolan ke dusun itu hanyalah merupakan siasat licik untuk menjauhkan kami dari rumah kami...."

"Hemm, siasat memancing harimau meninggalkan sarangnya?"

Kata Cangak Awu. Sutejo mengangguk.

"Benar, kakangmas Cangak Awu. Ketika kami tiba di rumah, bibi Sikem pembantu kami telah tewas dan Bagus Sajiwo telah hilang..."

"Hilang???"

Cangak Awu dan Pusposari berseru kaget.

"Anakku Bagus Sajiwo hilang, agaknya diculik orang."

Kata Retno Susilo, suaranya menggetar menahan isak. Cangak Awu sudah bangkit berdiri dan tinjunya yang besar bergerak menimpa meja.

"Keparat! Jahanam dari mana berani menculik keponakanku? Katakan, adi Sutejo, katakan siapa penculik itu! Aku akan mencarinya, merampas kembali Bagus Sajiwo dan meremukkan kepala penculik itu!"

"Kakangmas, tenanglah dulu dan biarkan adimas Sutejo melanjutkan ceritanya,"

Kata Pusposari sambil menarik tangan suaminya agar duduk kembali.

"Kalau aku mengetahul siapa jahanam itu, tentu sekarang sudah kupenggal kepalanya dan anakku sudah dapat kurampas kembali!"

Kata Retno Susilo dengan suara gemas.

Barulah Cangak Awu menyadari bahwa Sutejo dan Retno Susilo merupakan orang-orang yang sakti mandraguna.

Tadi dia hampir lupa akan kenyataan ini dan sikapnya didorong oleh kemarahan yang membakar hatinya mendengar Bagus Sajiwo diculik orang.

Maka diapun duduk kembali.

"Kami tidak tahu siapa penculik itu,"

Kata Sutejo.

"Satu-satunya orang yang menyaksikan penculikan itu tentulah bibi Sikem, akan tetapi ia telah terbunuh, tentu penculik itu pula yang membunuhnya."

"Hemm, kalau begitu penculik itu tentu seorang pengecut. Dia membunuh pembantu rumah tangga tentu dengan maksud agar wanita itu tidak akan dapat membuka rahasianya. Jelas dia takut kalau kalian mengetahui siapa dia,"

Kata Cangak Awu.

"Benar, tentu begitu,"

Kata Pusposari.

"Dan penculik itu jelas takut kepada kalian maka dia menggunakan siasat memancing kalian keluar dari rumah. Mereka tidak berani melakukan penculikan itu sewaktu kalian berada di rumah,"

Kata Pusposari.

"Heii! Ada cara untuk mengetahui siapa jahanam itu!"

Tiba-tiba Cangak Awu, berteriak.

"Adi Sutejo, kita cari para perampok yang memancing kalian keluar ineninggalkan rumah itu karena mereka itu tentu disuruh oleh penculik dan mengetahui siapa penculik itu!"

Isterinya membenarkan dan mengangap usul suaminya ini baik sekali. Akan tetapi Sutejo menggeleng kepala dan menghela napas.

"Hal itu sudah kami lakukan, kakang Cangak Awu. Kami sudah pergi mencari para perampok itu, bahkan berhasil menangkap kepala perampok. Kami memaksanya untuk mengaku siapa yang menyuruh mereka melakukan perampokan itu. Akan tetapi dia mengaku bahwa penyuruhnya adalah seorang laki-laki tinggi besar yang menutupi mukanya dengan topeng hitam dan dia tidak tahu siapa penyuruh itu. Mula-mula dia tidak mau, akan tetapi setelah dihajar setengah mati dan anak buahnya juga diamuk, kepala perampok itu terpaksa memenuhi perintah orang yang sakti mandraguna itu. Jadi, tidak ada seorangpun yang tahu siapa penculik itu. Hanya diketahui bahwa dia seorang laki-laki yang bertubuh tinggi besar."

"Akan tetapi bisa saja dia membohongimu, adi Sutejo!"

"Tidak mungkin dia berbohong!"

Kata Retno Susilo.

"Aku sudah mematahkan kedua tulang kakinya! Tak mungkin dia berani berbohong!"

"Benar, kakang Cangak Awu,"

Kata Sutejo.

"Kepala perampok itu tidak berbohong. Aku sudah menanyai beberapa orang anggauta perampok dengan ancaman dan hasilnya sama. Mereka hanya tahu bahwa yang memaksa mereka mengganggu dusun itu adalah seorang laki-laki bertubuh tinggi besar yang memakai kedok sehingga mereka bahkan tidak tahu berapa kira-kira usia laki-laki itu."

"Hemm, kalau begitu, sukar juga melacak jejaknya,"

Kata Cangak Awu.

"Memang tidak mudah, semenjak anak kami diculik, kami berdua sudah meninggalkan rumah dan mencari-cari namun tidak ada hasilnya. Karena itulah kami ingat kepadamu, kakang Cangak Awu. Engkau memiliki banyak anggauta perguruan, siapa tahu engkau dan para anggauta Jatikusumo dapat membantu kami untuk mendengar-dengarkan, barangkali di antara mereka ada yang kebetulan mendengar tentang anak kami itu. Anak kami Bagus Sajiwo itu kini berusia kurang lebih tujuh tahun."

"Menurut pendapatku, sementara mencari Bagus Sajiwo, kalian tidak perlu gelisah. Orang itu hanya menculik anak kalian, dan hal ini menunjukkan bahwa dia tidak bermaksud membunuhnya. Kalau dia bermaksud demikian, tentu pembunuhan itu telah dia lakukan seperti yang dilakukan kepada pembantu rumah tangga itu, tidak perlu bersusah payah melakukan penculikan,"

Kata Pusposari dengan nada menghibur kepada Retno Susilo.

"Dan aku yakin bahwa yang melakukan penculikan ini tentulah seorang yang mendendam sakit hati kepada kalian, adi Sutejo,"

Kata pula Ki Cangak Awu. Sutejo mengangguk.

"Apa yang andika berdua katakan itu memang benar. Penculik itu tentu melakukan penculikan atas diri anak kami untuk membalas dendam, dan dia tentu tidak bermaksud membunuh anak kami. Yang kuherankan, mengapa Bagus Sajiwo mengalami nasib seperti bapaknya. Aku sendiri dulu juga diculik orang dari orang tuaku, bahkan aku diculik ketika masih kecil sehingga tidak ingat lagi siapa orang tuaku. Hanya berkat kemurahan Gusti Allah saja akhirnya aku dapat juga bertemu dengan ayah bundaku."

Sutejo termenung dengan sedih, teringat akan pengalamannya sendiri.

Ketika dia masih kecil, berusia tiga tahun, diapun diculik oleh seorang wanita bernama Ken Lasmi yang kemudian dikenal sebagai Nyi Rukmo Petak karena wanita itu mendendam sakit hati terhadap ayah dan ibu kandungnya, yaitu Ki Harjodento ketua perguruan Nogo Dento dan Padmosari.

Sakit hati Ken Lasmi itu karena cintanya ditolak oleh Ki Harjodento.

Karena tidak kuasa menandingi Ki Harjodento dan Padmosari, Ken Lasmi lalu menculiknya pada waktu dia berusip tiga tahun dan tidak ingat siapa orang tuanya.

Bahkan yang diingat dari namanya, yaitu Tejomanik, hanyalah "Tejo"

Saja.

Dia ditolong dan dibebaskan dari tangan Ken Lasmi oleh Bhagawan Sidik Paningal yang kemudian menjadi gurunya, bahkan menjadi ayah angkatnya.

Karena dia mengaku bernama Tejo, maka Bhagawan Sidik Paningal memberinya nama Sutejo.

Baru setelah dia dewasa, dia tahu bahwa penculiknya adalah Nyi Rukmo Petak yang menjadi guru Retno Susilo yang kini menjadi isterinya, dan diapun tahu dari Nyi Rukmo Petak sendiri bahwa dia adalah putera Ki Harjodento dan Padmosari.

Kisah tentang peristiwa itu dapat diikuti dalam cerita "Pecut Sakti Bajrakirana".

"Sudahlah, jangan terlalu berduka, adi Sutejo. Percayalah bahwa Gusti Allah akan senantiasa melindungi keponakanku Bagus Sajiwo dan aku berjanji akan mengerahkan anak buahku agar memasang mata dan telinga baik-baik untuk mendengarkan tentang anak kita itu. Akan tetapi kalian belum menceritakan bagaimana kalian dapat datang berkunjung malam-malam begini dan kebetulan sekali dapat menolong kami."

Sutejo menoleh kepada isterinya.

"Diajeng, ceritakanlah peristiwa tadi kepada kakang Cangak Awu dan mbakayu Pusposari."

Retno Susilo mengangguk dan melanjutkan cerita suaminya.

"Ketika kami tiba di Ponorogo, kami teringat akan perguruan Jatikusumo di sini. Akan tetapi hari telah sore. Walaupun begitu, karena ingin sekali bertemu dengan kalian di sini dan minta bantuan mencari jejak anak kami, kami melanjutkan perjalanan. Ketika kami tiba di sini, malam telah tiba. Akan tetapi kami melanjutkan perjalanan ke perkampungan Jatikusumo, yakin bahwa kami pasti tidak akan mengganggu kalian, bahkan kami mungkin akan merupakan kejutan yang menggembirakan."

"Memang, kami akan terkejut dan gembira sekali menerima kalian berkunjung malam-malam begini kalau saja tidak terjadi penyerangan tadi,"

Kata Pusposari.

"Ketika kami memasuki perkampungan, kami merasa heran sekali akan kesunyiannya dan melihat dua orang anggauta Jatikusumo tertidur di atas bangku depan gardu penjagaan. Kami merasa heran dan curiga, lalu berlari cepat menuju ke rumah induk. Pada saat itu kami melihat seorang memegang keris dan hendak menyerang kalian yang sudah roboh. Agaknya orang itu terkejut dan melihat kami dia lalu melarikan diri. Kemudian kami mendapat kenyataan bahwa dua orang yang roboh pingsan adalah kalian berdua, maka kami cepat memondong kalian masuk ke rumah ini yang daun pintunya sudah jebol."

"Ah, kedatangan kalian sungguh kebetulan sekali. Kalau tidak, tentu kami telah mati di tangan jahanam keparat Satya itu. Agaknya Gusti Allah sendiri yang menuntun kalian sehingga malammalam begini datang berkunjung untuk menyelamatkan kami secara tidak disengaja,"

Kata Cangak Awu.

"Akan tetapi, rasanya sukar sekali dapat kupercaya bahwa ada seorang pemuda yang terjungkal ke dalam sumur, dalam waktu lima tahun saja telah berubah menjadi seorang yang sakti mandraguna dan mampu merobohkan dua orang seperti kakangmas Cangak Awu dan mbakayu Pusposari!"

Kata Retno Susilo dengan suara mengandung penasaran.

"Hemm, diajeng, apakah engkau sudah lupa kepada mendiang Priyadi dan betapa hebat kesaktiannya? Bahkan selama hidupku belum pernah aku bertemu dengan lawan yang setangguh Priyadi. Nah, menurut cerita kakang Cangak Awu tadi, pemuda bernama Satya itu terjerumus ke dalam sumur tua di mana dahulu mendiang Priyadi terjatuh. Bahkan Satya itu juga telah mempunyai keris Ilat Nogo yang dulu menjadi milik Priyadi. Siapa tahu dalam waktu lima tahun itu dia telah mampu mempelajari ilmu-ilmu yang dulu dikuasai Priyadi, entah melalui kitab atau mungkin juga tulisan atau gambar dalam sumur itu. Kalau benar demikian, tidak aneh kalau dia berubah menjadi seorang pemuda yang memiliki kesaktian hebat,"

Kata Sutejo.

"Aku sependapat dengan adi Sutejo. Pasti jahanam Satya itu telah mewarisi ilmu-ilmu dari mendiang kakang Priyadi dan keris pusakanya. Karena itu aku mengambil keputusan untuk besok pagi memasuki sumur itu dan melakukan pemeriksaan,"

Kata Cangak Awu.

"Ihhh"..!"

Seru Pusposari dengan wajah membayangkan kengerian.

"Itu berbahaya sekali, kakangmas! Sumur tua itu berhantu!"

Ia bergidik.

"Bukankah engkau pernah mengatakan bahwa sejak dahulu bukit tempat sumur itu berada menjadi tempat larangan bagi para murid Jatikusumo?"

Cangak Awu menghela napas panjang.

"Sesungguhnya, kalau mau jujur, aku juga merasa ngeri dan takut memasuki sumur keramat itu. Akan tetapi dengan munculnya kasus jahanam Satya, aku harus memasuki sumur itu untuk menyelidiki. Bagaimanapun, aku berhak karena aku adalah murid Jatikusumo."

"Bagus! Kalau begitu, aku akan menemanimu turun ke sumur itu besok, kakang Cangak Awu!"

Kata Sutejo. Retno Susilo yang juga merasa seram, berseru.

"Akan tetapi, orang luar mana boleh memasuki tempat terlarang itu?"

Sutejo tersenyum.

"Siapa orang luar? Aku bukan orang luar. Aku juga murid Jatikusumo. Guruku yang pertama, Bapa Bhagawan Sidik Paningal, adalah adik seperguruan Uwa Guru Bhagawan Sindusakti yang dulu menjadi ketua Jatikusumo. Kemudian, guruku yang kedua, Eyang Guru Resi Limut Manik, malah menjadi tokoh besar Jatikusumo. Aku juga keturunan perguruan Jatikusumo dan seperti juga kakang Cangak Awu, aku berhak memasuki sumur tua itu."

"Itu baik sekali! Hilang rasa takut dan ngeri dalam hatiku kalau adi Sutejo mau menemaniku masuk ke sumur melakukan pemeriksaan. Kalian berdua jangan khawatir. Kalian boleh menjaga di luar sumur. Kami tidak akan terancam karena bukankah yang berada di dalam sumur itu hanyalah sisa-sisa jenazah Paman Kakek Guru Ekomolo dan kakang Priyadi? Apalagi kami memasuki sumur besok siang. Tidak ada hantu berani muncul di siang hari, bukan?"

Kata Cangak Awu kepada dua orang wanita gagah perkasa yang merasa seram itu.

Dua pasang suami isteri itu bercakap-cakap dengan asyik, mereka saling menceritakan pengalaman masing-masing selama mereka berpisah.

Selama ini, Sutejo dan Retno Susilo tinggal di lereng Gunung Kawi yang sunyi dan jauh dari kota sehingga mereka berdua tidak tahu banyak tentang perkembangan yang terjadi di Mataram.

Cangak Awu yang lebih banyak mengetahui banyak bercerita tentang Mataram, tentang usaha Mataram untuk menaklukkan Madura, Surabaya dan Giri.

"Kami tinggal menanti berita dari Gusti Puteri Wandansari. Begitu kami dipanggil, kami akan segera berangkat untuk membantu gerakan Mataram kalau sekiranya membutuhkan bantuan kami. Ketika Mataram menundukkan Tuban, kami tidak dipanggil."

"Eh, kakangmas Cangak Awu. Bukankah Sang Puteri Wandansari itu masih murid Jatikusumo dan menjadi adik seperguruanmu? Kenapa engkau menyebutnya Gusti Puteri?"

Tanya Retno Susilo yang pernah merasa cemburu kepada sang puteri itu karena dahulu Sutejo pernah jatuh cinta kepada puteri istana itu.

"Kenapa engkau bertanya begitu, diajeng?"

Kata Sutejo.

"Bagaimanapun juga, ia adalah puteri Kerajaan Mataram, tentu saja kita semua menyebutnya Gusti Puteri."

Cangak Awu melanjutkan keterangannya.

"Akan tetapi untuk menghadapi Madura, Surabaya dan Giri, agaknya Mataram membutuhkan bantuan banyak orang yang sekiranya memiliki kemampuan. Aku mendengar bahwa Madura itu kuat sekali karena selain diam-diam dibantu Kumpeni, juga di sana terdapat banyak orang sakti mandraguna, di antaranya adalah Ki Harya Baka Wulung yang menjadi tokoh besar dan penasihat di Kadipaten Arisbaya."

"Aku merasa heran mengapa Mataram masih hendak menaklukkan Madura dan Surabaya? Bukankah daerah-daerah yang menentangnya sudah ditundukkan semua?"

Tanya Retno Susilo. Suaminya segera memandangnya dengan tatapan mata tajam.

"Diajeng, bukankah sudah sering kuceritakan kepadamu tentang cita-cita Gusti Sultan Agung? Mataram sama sekali bukan berniat menaklukkan untuk menguasai, melainkan mengajak semua daerah bersatu-padu untuk menghadapi kekuasaan Kumpeni Belanda yang merupakan ancaman bagi tanah air. Tentu saja yang tidak mau bersatu lalu ditundukkan. Tujuan Gusti Sultan Agung hanya agar seluruh Nusantara menjadi satu kesatuan yang utuh, karena hanya dengan begitu maka setiap daerah akan menjadi perisai yang kokoh untuk mencegah berkembangnya kekuasaan Kumpeni Belanda di Nusantara. Kalau ada daerah, terutama di pasisiran, yang tidak mau bersatu dengan Mataram kemudian terbujuk Kumpeni dan mau menerima Kumpeni Belanda, maka hal itu menjadi amat berbahaya bagi Mataram. Mengertikah engkau, diajeng?"

Retno Susilo mengangguk dan mengalah, tidak ingin berbantah dengan suaminya karena dia tahu bahwa suaminya adalah seorang yang amat setia kepada Kerajaan Mataram, seorang berjiwa pahlawan sejati yang mencinta tanati air dan siap untuk membelanya sampai mati sekalipun.

Kalau tadi ia mengajukan rasa penasarannya terhadap Mataram, hal itu sebenarnya hanya menyembunyikan perasaan cemburunya kepada Sang Puteri Wandansari!

Setelah puas bercakap-cakap, mereka lalu mengaso dan tidur, mempersiapkan diri untuk melaksanakan keinginan mereka memasuki sumur keramat dan melakukan pemeriksaan.

Matahari telah naik tinggi ketika dua pasang suami isteri itu mendaki bukit di belakang perkampungan Jatikusumo.

Tidak ada murid Jatikusumo lain yang diperkenankan ikut.

Para murid ikut kaget dan kini melakukan penjagaan ketat setelah mereka semua mendengar keterangan Ki Cangak Awu bahwa semalam mereka semua telah menjadi korban aji penyirepan dan bahwa Ki Cangak Awu dan isterinya diserang oleh Satya yang tadinya dianggap telah tewas dalam sumur tua akan tetapi dapat diusir dari situ.

Matahari telah naik tinggi dan sinarnya yang cerah menerangi seluruh permukaan bukit itu.

Terangnya sinar matahari itu mengusir semua kesan seram dan ngeri dari hati Retno Susilo dan Pusposari.

Memang tepat kata orang-orang tua bahwa setan tidak akan muncul di siang hari dan didongengkan bahwa bangsa setan demit iblis takut akan sinar matahari!

Buktinya, di waktu siang hari, ketika matahari bersinar terang, perasaan takut terhadap setanpun lenyap dari hati orang.

Karena munculnya di waktu malam gelap itulah maka setan kadang disebut kuasa kegelapan, yang samar-samar atau merupakan bayangan atau juga suara tanpa rupa.

Padahal sesungguhnya, setan demit iblis yang suka muncul di waktu malam itu hanya menakut-nakuti saja dan sama sekali tidak berbahaya.

Yang amat berbahaya sekali adalah setan yang tidak tampak, setan yang bercokol dalam hati akal pikiran kita, yang menyalahgunakan nafsu-nafsu kita untuk mencengkeram dan menguasai kita, menyeret kita ke dalam pengejaran kesenangan dengan menghalalkan segala cara sehingga tanpa kita sadari kita melakukan perbuatanperbuatan yang jahat.

Setan yang tak tampak itu menyeret kita ke dalam dosa dengan mempergunakan nafsu-nafsu daya rendah kita sebagai umpan.

Dan setan iblis yang bercokol dalam hati akal pikiran kita inilah yang sesungguhnya teramat berbahaya sekali bagi kita.

Pertama-tama iblis yang bercokol dalam pikiran kita membayangkan kesenangan-kesenangan dengan segala kenikmatannya sehingga kita lupa diri, tertarik dan mengejar-ngejar.

Pengejaran kesenangan menjadi tujuan utama dan untuk mendapatkannya terkadang kita mempergunakan segala macam cara, menghalalkan segala cara.

Pengejaran kesenangan yang didatangkan oleh materi, dalam hal ini intinya adalah uang karena segala materi dapat diperoleh dengan uang, menimbul, kan kejahatan-kejahatan seperti pencurian, perampokan, penipuan, korupsi, manipulasi, dan lain-lain (gayus&cirus pisan deh-editor).

Pengejaran kesenangan yang didatangkan oleh sex sering menimbulkan tindak kejahatan seperti perkosaan, perjinaan, pelacuran, dan sebagainya.

Sekali lagi.

Setan yang tak tampak inilah yang berbahaya karena dia muncul kapan saja dan di mana saja, tak perduli siang atau malam.

Kita tidak usah takut terhadap setan yang muncul menakut-nakuti kita di waktu malam gelap, namun kita harus selalu waspada dan hati-hati terhadap godaan setan yang bercokol dalam benak kita sendiri.

Dengan kekuatan kita sendiri, kita tidak mungkin dapat mengusir setan yang bercokol dalam pikiran kita.

Yang dapat mengusir setan agar meninggalkan kita hanyalah Kekuasaan Gusti Allah yang Maha Kuasa, Sang Maha Pencipta.

Kalau kita selalu mendekatkan diri kepada Gusti Allah, batin kita selalu memuja dan memujiNya, dengan kepasrahan lahir batin, doa dalam batin yang terus-menerus tiada hentinya sehingga setiap pernapasan kita merupakan nyanyi pujaan kepada-Nya, sehingga setiap perbuatan kita merupakan kebaktian kepadaNya dan kita lakukan atas namaNya, maka Kekuasaan Gusti Allah akan selalu menyertai kita, selalu melindungi dan menuntun kita dan kalau sudah begitu, setan iblis sudah pasti melarikan diri ketakutan dan kekuasaannya atas diri kita hilang.

Akan tetapi, setan takkan pernah berhenti mengamati kita, bagaikan harimau mengintai calon mangsanya.

Sedikit saja kita lengah, sebentar saja kita menjauhkan diri dari Gusti Allah sehingga hubungan kita dengan-Nya menjadi renggang, iblis akan segera menyergap masuk untuk menerkam dan menguasai hati akal pikiran kita, bagaikan harimau kelaparan menerkam mangsanya!

Dua pasang suami isteri itu telah tiba di tepi sumur tua.

Ketika mereka menjenguk ke bawah, hanya tampak kegelapan menghitam.

"Ihh, gelap pekat di bawah sana!"

Seru Retno Susilo.

"Kita tidak tahu berapa dalamnya sumur ini. Jangan-jangan tidak ada dasarnya!"

Kata pula Pusposari yang seperti juga Retno Susilo, kembali merasa ngeri setelah menjenguk ke dalam sumur dan tidak dapat melihat apa-apa kecuali hitam gelap.

"Tak mungkin ada sumur tanpa dasar,"

Kata Sutejo.

"Kita coba dengan ini!"

Dia melemparkan sebuah batu sebesar kepala orang ke dalam sumur dan mereka semua menghitung dalam hati dan menanti penuh perhatian yang mereka kerahkan pada pendengaran mereka.

"Bukk....!"

Setelah lewat belasan detik, terdengar suara berdebuk.

"Nah, agaknya tidak terlalu dalam dan dasarnya tanah lunak. Biarlah aku akan turun dulu, kakang Cangak Awu. Turunkan tali itu,"

Kata Sutejo.

"Jangan, adi Sutejo. Ini adalah tugas dan kewajabanku. Aku yang akan turun dulu. Setelah aku berada di dasar sumur dan keadaannya aman, aku akan memberi isyarat dengan tarikan pada tali dan andika baru menyusul turun,"

Kata Cangak Awu dan suaranya yang tegas menunjukkan bahwa dia tidak mau dibantah.

"Biar aku yang menurunkan dan memegangi tali,"

Kata Pusposari. Mereka memang sudah mempersiapkan dan membawa segulung tali yang kuat dari rumah. Kini Pusposari membuka gulungan dan membiarkan ujung tali menuruni sumur.

"Sebaiknya ujung yang lain diikatkan pada pohon itu!"

Kata Sutejo dan diapun membawa ujung lain dari tali itu ke pohon yang tumbuh tak jauh dari sumur, lalu mengikatkan ujung tali pada batang potion.

"Sekarang turunlah, kakangmas,"

Kata Pusposari sambil memegangi tali, dibantu oleh Retno Susilo.

Ki Cangak Awu lalu memegang tali itu dan merayap turun memasuki sumur.

Setelah kedua kakinya menginjak tanah dasar sumur, dia melihat bahwa di depan sana terdapat cahaya dan tampak ada terowongan yang menembus dasar sumur itu.

Cepat dia memberi isyarat ke atas dengan menarik-narik tali.

Pusposari yang memegangi tali merasakan tarikan itu dan ia berkata girang.

"Dia sudah sampai di dasar sumur dengan selamat dan memberi isyarat dengan tarikan pada tali ini."

"Kalau begitu, aku akan menyusulnya!"

Kata Sutejo. Dia lalu menuruni sumur rnelalui tali yang dipegang oleh Puspo5ari yang dibantu Retno Susilo. Tak lama kemudian Sutejo telah berdiri di dasar sumur seperti Cangak Awu.

"Adi Sutejo, lihat. Itu tentu kerangka Paman Kakek Resi Ekomolo dan kakang Priyadi!"

Cangak Awu menunjuk ke depan.

Bagian itu sudah tersentuh cahaya yang berada di depan sana.

Sutejo memandang dan melihat tulang-tulang kerangka dua orang manusia bertumpuk di situ.

Dia mengangguk, kemudian berkata.

"Kakang Cangak Awu, apakah andika tidak melihat itu? Agaknya ada orang yang membuat jalan untuk keluar, dari sumur ini."

Cangak Awu melihat ke arah dinding sumur yang ditunjuk Sutejo dan baru sekarang dia dapat melihat setelah pandang matanya terbiasa dengan cuaca yang remang-remang itu.

Ada lubang-lubang pada dinding itu menuju ke atas, seperti tangga.

Dengan memanjat dinding dengan bantuan lubang-lubang itu, seorang yang memiliki ilmu meringankan tubuh akan dapat dengan mudah merayap ke atas tanpa bantuan tali.

Dari atas, lubang-lubang itu sama sekali tidak tampak karena gelap.

"Terowongan ini menuju ke tempat yang terang. Mari kita masuk dan memeriksa ke sana,"

Kata Cangak Awu.

Mereka lalu melangkah maju memasuki terowongan, melangkah agar jangan sampai menginjak tulang-tulang itu.

Makin ke dalam cuaca semakin terang dan akhirnya mereka tiba di sebuah ruangan yang terang.

Kiranya sinar matahari masuk ke dalam ruangan bawah tanah itu melalui celah-celah yang terdapat di antara batu-batu bukit.

Ruangan itu cukup luas dan Sutejo berkata.

"Lihat, kakang Cangak Awu. Dinding-dinding ini dirusak orang!"

Cangak Awu melihat ke arah dinding dan benar saja.

Dinding-dinding itu agaknya dirusak orang.

Masih tampak sisa-sisa coretan huruf dan gambar yang terlewat sehingga belum terhapus.

Agaknya tadinya ada coretan gambar dan huruf-huruf di atas dinding dan ada orang yang telah menghapus semua itu dengan cara merusak dengan bacokan-bacokan senjata tajam.

"Hemm, sekarang aku tahu. Si jahanam Satya itu tentu telah memasuki sumur ini dan menemukan pelajaran ilmu-ilmu peninggalan Paman Kakek Guru Ekomolo yang ditulis dan digambar pada dinding. Dia mempelajarinya, dan setelah menguasai semua ilmu itu, dia merusak dinding lalu keluar dan menjadi orang yang sakti mandraguna."

"Agaknya dugaanmu itu memang tepat, kakang Cangak Awu. Akan tetapi aku yakin bahwa sebelum mempelajari semua aji kesaktian yang hebat itu, si Satya itu tentu telah memiliki dasar kesaktian yang cukup. Tanpa dasar itu, tidak mungkin dia mampu menguasai ilmu-ilmu tinggi melalui tulisan saja, apalagi hanya dalam waktu beberapa tahun."

Ki Cangak Awu mengangguk dan menghela napas panjang.

"Itulah kelengahan dan kebodohanku yang pertama. Dia dapat mengelabui aku. Ketika aku mengujinya dengan menyerangnya, dia diam saja seolah tidak memiliki kepandaian silat apapun dan aku percaya. Kiranya dia hanya berpura-pura!"

"Sudahlah, kakang Cangak Awu, hal yang sudah lalu tidak perlu disesalkan. Aku berdua isteriku akan membantumu, akan kami cari keterangan pula tentang orang bernama Satya itu dan kalau kami bertemu dengan dia yang menjadi mata-mata Kumpeni Belanda itu, pasti akan kami hajar dia!"

"Adi Sutejo, akupun akan mengerahkan para murid Jatikusumo untuk mencari keterangan tentang anakmu yang diculik orang itu."

Dua orang gagah itu lalu meneliti semua bagian ruangan bawah tanah itu, akan tetapi mereka tidak menemukan sesuatu yang penting.

Ketika kembali ke ternpat di mana dua kerangka manusia itu berada, Cangak Awu mengamati kerangka itu dan berkata.

"Agaknya Uwa Kakek Guru Resi Ekomolo dan kakang Priyadi saling bunuh dan mati sampyuh. Lihat, ini tentu tengkorak kakek itu karena kedua tulang pahanya bekas remuk dan dia mencengkeram dengan kedua tangannya ke leher kakang Priyadi. Tentu kakang Priyadi juga membunuh kakek itu dengan senjatanya, yaitu Keris Ilat Nogo yang kini berada di tangan Satya. Tentu pemuda jahat itu telah mengambil keris pusaka itu."

Setelah merasa yakin bahwa tidak terdapat apa-apa lagi yang perlu mereka ketahui, kedua orang itu lalu merayap naik keluar dari sumur tua itu.

Ketika mereka tiba di atas, kedua orang isteri mereka menghujani mereka dengan pertanyaan.

Cangak Awu lalu menceritakan segala yang ditemukannya di dasar sumur kepada Pusposari dan Retno Susilo.

Mendengar cerita kedua orang yang memasuki sumur tua itu, Pusposari menghela napas.

Ia berkata kepada suaminya.

"Hemm, tidak terduga sama sekali bahwa kakek bernama Resi Ekomolo yang dihukum ke dalam sumur karena kejahatannya itu, merupakan kutukan bagi perguruan Jatikusumo. Ilmu-ilmu sesatnya dulu menurun kepada Priyadi, setelah Priyadi dapat dibinasakan, kini mendadak muncul Satya itu."

Cangak Awu juga menghela napas panjang.

"ADI Sutejo sudah berjanji bahwa dia berdua isterinya akan membantu mencari keterangan tentang Satya itu dalam perjalanan mereka, dan sebaliknya aku berjanji membantu mereka dengan mengerahkan para anggauta Jatikusumo untuk rnencari keterangan tentang keponakanku Bagus Sajiwo yang hilang diculik orang. Akan tetapi sumur terkutuk ini akan kututup saja, kusuruh menimbuni batu dan tanah sampai rata dengan tanah agar semua kebusukan itu terpendam dan tempat ini tidak berhantu lagi,"

Kata Cangak Awu.

"Kukira memang sebaiknya begitu, kakang Cangak Awu,"

Kata Sutejo dan dua orang wanita perkasa itupun merasa setuju.

Cangak Awu segera memanggil para anggauta perguruan Jatikusumo dan puluhan orang anak buah itu bekerja menguruk sumur dengan batu dan tanah.

Sebentar saja sumur itu telah tertutup dan rata dengan tanah.

Semenjak saat itu bukit itu tidak menjadi bukit larangan lagi.

Kesan angkernya lenyap, bahkan para murid mulai menggarap tanah permukaan bukit yang subur itu dan menjadikannya sebagai tegalan.

Sutejo dan Retno Susilo berpamit dan meninggalkan perguruan Jatikusumo dan menuju perkampungan Nogodento yang terletak di tepi Bengawan Solo, di daerah Ngawi.

Ketua Nogodento adalah Ki Harjodento, ayah kandung Sutejo.

Mereka akan berkunjung ke sana dan mengabarkan tentang terculiknya anak mereka agar para murid perguruan itu dapat ikut mencari keterangan tentang hilangnya Bagus Sajiwo.

Setelah berhasil menolong penduduk dusun Sukuh dari gangguan Koloyitmo, Parmadi melanjutkan perjalanannya menuruni lereng Gunung Lawu.

Di setiap dusun yang dilaluinya, dia bertanya-tanya kepada penduduk, barangkali ada yang melihat Muryani.

Akan tetapi tidak ada seorangpun yang mengenal gadis seperti yang digambarkan Parmadi.

Dia tidak menjadi putus asa dan melanjutkan perjalanannya dan terus mencari keterangan di sepanjang perjalanan.

Dia melewati Batujamus dan tiba di daerah Sukowati.

Daerah di lembah Bengawan Solo ini subur sekali.

Sawah ladang terbentang hijau di antara hutan-hutan kecil yang bergerombol.

Ketika memasuki sebuah hutan di tepi Bengawan Solo, tiba-tiba telinganya mendengar suara orang.

Dia cepat menyelinap di antara rumpun bambu dan pohon jati, mendekat ke arah datangnya suara.

Setelah dekat dia mengintai dari balik tiemak belukar dan dengan heran melihat bahwa yang bicara itu adalah seorang pemuda dan seorang gadis.

Pemuda itu cukup tampan dan tubuhnya tegap, sedangkan gadis itu hitam manis.

Keduanya mengenakan pakaian sebagai orang dusun yang sederhana, akan tetapi yang membuat Parmadi merasa heran dan penasaran adalah ketika dia melihat bahwa kedua pergelangan tangan gadis itu terikat tali yang panjang dan ujung tali itu dipegang si pemuda!

Maka diapun mendengarkan dengan penuh perhatian.

"Sarti, mengapa engkau membuat aku kecewa dan sedih sekali? Sungguh mati aku merasa kasihan sekali dan tidak enak harus mengikat kedua tanganmu seperti ini. Akan tetapi kalau tidak kuikat, engkau selalu hendak memberontak dan melarikan diri. Aku takut kehilangan engkau, Sarti,"

Kata pemuda itu, suaranya lembut dan terdengar penuh kasih sayang "Kakang Parno, apa yang hendak kau lakukan kepadaku?"

Tanya gadis itu, suaranya mengandung kemarahan akan tetapi juga ketakutan.

"Engkau tentu tahu bahwa sampai matipun aku tidak akan mencelakaimu, Sarti. Engkau tahu bahwa aku mencintaimu dan selamanya akan tetap mencintamu. Cintaku setia, Sarti, tidak seperti engkau. Kita dulu sudah saling menyatakan cinta kita masing-masing, akan tetapi mengapa engkau kini selalu menjauhiku dan engkau menolak pinangan orang tuaku? Mengapa engkau menolak untuk menjadi isteriku, padahal engkaupun dahulu menyatakan cintamu kepadaku? Sekarang aku akan menahanmu dan mengajakmu pergi, entah ke mana. Pendeknya kita akan hidup bersama, engkau akan ikut denganku dan walaupun aku tidak akan memaksamu menjadi isteriku, akan tetapi engkau tidak kuperkenankan berpisah lagi dariku."

"Kakang Parno, engkau tidak berhak memaksaku hidup bersamamu! Kita tidak dapat menjadi suami isteri, karena kalau itu kita lakukan, kelak kita akan hidup sengsara dan penuh derita."

"Siapa bilang begitu? Kita saling mencinta dan kita pasti akan hidup sebagai suami isteri yang berbahagia,"

Kata Parno dengan kukuh.

"Kakang, menjadi suami isteri tidak bisa kalau hanya berbekal cinta. Terus terang saja, aku memang suka kepadamu, aku mempunyai perasaan cinta padamu. Akan tetapi sejak engkau menjadi seorang pemuda yang malas menggarap sawah, setiap hari hanya berkeliaran, berjudi dan adu jago, sampai bosan aku mengingatkan namun engkau masih saja tidak berubah, aku yakin bahwa tidak mungkin aku menjadi isterimu. Setelah menjadi isterimu dan kautinggalkan berkeliaran bermain judi dan bergerombol dengan pemuda-pemuda malas lainnya, aku pasti akan menderita dan perasaan cinta saja tidak akan dapat menolongku. Akhirnya kehidupan rumah tangga kita tentu akan hancur karena perbedaan paham dan cara hidup. Dan akulah yang paling menderita karena aku seorang perempuan, sebaliknya engkau mendapatkan hiburan dari temanteman gerombolanmu. Karena itu, kakang, lepaskanlah aku, biar kita mencari jalan hidup masingmasing dan aku hanya mendoakan semoga engkau kelak memperoleh seorang jodoh yang lebih cocok."

"Tidak bisa, Sarti! Aku cinta padamu. Sungguh mati, aku cinta padamu. Tahukah engkau bahwa setiap kali aku tidur, aku selalu memimpikan dirimu? Bayangan wajah dan tubuhmu tak pernah meninggalkan hati dan pikiranku, betapa manis ayu merak ati engkau, betapa rinduku untuk selalu berdekatan denganmu, Sarti."

Gadis itu cemberut dan memandang kepada pemuda itu dengan alis berkerut. Matanya yang bening dan jeli itu bersinar.

"Hemm, sekarang aku tahu betul bahwa cintamu kepadaku selama ini hanya merupakan cinta nafsu belaka, kakang Parno. Bukan aku seutuhnya yang kaucinta, melainkan wajah dan tubuhku yang kauanggap ayu manis dan menarik hatirnu. Cintamu yang seperti itu hanya setebal kulit, kakang. Andaikata hidungku ini gruwung (putus) atau bibirku robek, mataku pece (juling, cacad) atau kakiku pincang, aku yakin cintamu pasti akan menghilang dan mungkin cintamu berubah menjadi kemuakan dan kebencian. Cintamu dangkal sekali sehingga harga diriku kauanggap lebih rendah daripada kesukaanmu berjudi dan berkeliaran. Engkau bukan seorang laki-laki yang baik untuk dijadikan suami, kakang dan biarpun rasanya pahit, aku harus berani menutupi rasa cintaku kepadamu dengan kenyataan tentang dirimu ini."

Diam-diam Parmadi yang mengintai dan mendengarkan, tertegun.

Perawan desa ini sungguh luar biasa, pikirnya.

Di seolah sedang mendengarkan wejangan seorang yang arif bijaksana!

Ucapan gadis sederhana, seorang perawan desa bernama Sarti itu telah membongkar rahasia cinta antara pria dan wanita yang penuh kepalsuan!

Setebal kulit saja!

Yang dicinta hanyalah kecantikan wajah dan tubuh belaka.

Cinta nafsu!

Dan Parmadi seperti terbuka matanya dan melihat dengan jelas betapa tepat dan benarnya ucapan gadis itu.

Cinta nafsu merupakan perasaan suka akan suatu yang merangsang dan menarik hatinya, menimbulkan keinginan untuk memilikinya, untuk menikmatinya.

Akan tetapi kalau daya tarik itu berkurang, karena cacad dan lain sebagainya yang membuat orang yang "dicinta"

Itu menjadi kurang menarik, cinta nafsu itu pun kabur, bahkan mungkin terganti benci yang muncul dari rasa tidak suka.

Gadis itu jujur sekali dan mungkin cintanya terhadap pemuda itu lebih murni.

Ia dengan jujur menyatakan cinta, akan tetapi cintanya bukan cinta nafsu, bukan sekedar ingin memiliki dan dimiliki, melainkan cinta dari hati yang mendorong keinginan melihat orang yang dicintanya itu berbahagia.

Bukan kesenangan karena tercapai gairah nafsunya, melainkan berbahaia karena hidup dalam garis kebenaran.

Parno mengerutkan alisnya, mukanya berubah merah.

Agaknya dia menjadi marah mendengar ucapan yang panjang dari gadis itu.

"Hemm, engkau sudah ketularan kakekmu Kyai Brenggolo Sidhi, pandai memberi wejangan! Pendeknya, aku cinta padamu dan aku tidak ingin berpisah lagi darimu. Biarpun aku tidak akan memaksamu untuk menjadi isteriku, akan tetapi engkau tidak boleh meninggalkanku lagi. Kita harus hidup bersama karena aku tidak dapat hidup tanpa engkau, Sarti!"

"Kakang Parno, aku merasa sedih sekali kalau melihat engkau melakukan hal yang menyimpang dari kebenaran. Kalau engkau memang mencintaku dengan tulus, buktikanlah. Buktikanlah bahwa sejak hari ini, selama satu tahun, engkau akan mengubah jalan hidupmu, tidak mabok-mabokan, tidak bermain judi, tidak berkeliaran dengan gerombolanmu. Nah, kalau setelah setahun kulihat engkau sudah benar-benar berubah, suruh orang tuamu meminangku dan aku pasti akan menerimamu sebagai calon suamiku dengan hati berbahagia."

Pemuda itu menggeleng kepala.

"Tidak, Sarti. Aku tidak mau melepaskanmu lagi dari sampingku. Engkau tentu akan dinikahkan dengan pemuda lain oleh kakekmu."

"Tidak, kakang. Kalau engkau memegang janjimu, selama setahun akupun berjanji untuk menunggumu dengan setia."

"Tidak, aku tidak percaya padamu!"

"Kakang Parno?"

"Sudahlah, mari ikut denganku, Sarti,"

Kata pemuda itu sambil menarik ujung tali sehingga gadis yang diikat kedua pergelangan tangannya itu terpaksa melangkah maju mengikuti pemuda yang sudah nekat itu.

"Perlahan dulu, sobat!"

Terdengar teguran lernbut dan sesosok bayangan berkelebat. Parmadi sudah berdiri berhadapan dengan Parno, menghadang jalannya. Dengan alis berkerut dan muka marah Parno menatap wajah Parmadi.

"Hei, ki-sanak, siapa andika dan mau apa andika menghadang perjalanku!"

Bentak Parno dengan marah.

"Siapa namaku tidak penting,"

Kata Parmadi dengan sikap tenang.

"Aku sudah mendengar bahwa namamu Parno dan yang terpenting adalah bagimu untuk menyadari bahwa engkau telah bersikap sebagai sorang laki-laki yang tersesat, menyimpang dari kebenaran dan tidak mengenal budi! Juga engkau adalah seorang laki-laki pengecut yang tidak tahu malu!"

Saking marahnya Parno melepaskan ujung tali panjang pengikat kedua pergelanan tangan Sarti dan dengan kedua tangan terkepal dia maju menghampiri Parmadi.

Mereka berdiri berhadapan dalam jarak dekat, hanya satu meter.

Tubuh mereka sama tegap dan sedang dan keduanya juga tampan walaupun dalam sikapnya Parno tampak kasar dan marah.

Juga kulit Parno lebih gelap.

Parno memandang dengan mata berapi, alis berkerut dan mulut cemberut, sebaliknya Par madi memandang dengan sikap tenang dan mulutnya mengembangkan senyum.

"Keparat! Lancang sekali ucapanmu. Tidak tahukah engkau dengan siapa engkau berhadapan? Aku adalah Parno, Macan Sukowati berotot kawat bertulang besi! Tiada seorangpun di daerah Sukowati yang tidak mengenal aku dan engkau berani memaki-maki aku sebagai seorang tersesat, tak mengenal budi dan pengecut? Apa engkau sudah bosan hidup?"

Parmadi tersenyum.

"Aku sama sekali bukan memaki, melainkan mengatakan yang sebenarnya. Engkau tidak tahu diri, padahal engkau dicinta oleh seorang gadis yang bijaksana dan berbudi mulia. Sepatutnya engkau bersyukur karena orang dengan watak macam engkau dapat dicinta seorang gadis yang wataknya seperti dewi! Kekasihmu ini berkata benar Parno. Sadar dan bertaubatlah, penuhilah permintaannya dan berjanjilah bahwa engkau akan mengubah jalan hidupmu dalam setahun ini, kemudian nikahi ia dan hidup berbahagia bersama isterimu yang bijaksana."

"Tutup mulutmu! Tak seorangpun di dunia ini yang boleh mengatur cara hidupku! Sarti ini adalah milikku dan ia harus ikut denganku, hidup bersamaku karena kami saling mencinta dan tak seorangpun boleh menghalangiku!"

"Aku yang akan menghalangimu, Parno. Sarti ini hanya boleh ikut denganmu kalau ia memang suka rela menghendaki demikian. Akan tetapi kalau engkau mempergunakan cara memaksa seperti ini, akulah orangnya yang akan menghalangimu."

"Apa? Engkau".. engkau berani menentangku?"

Parno bertanya heran. Selama ini, tidak ada orang berani menentangnya, akan tetapi pemuda asing ini berani menghalangi kehendaknya.

"Tentu saja aku berani menentang segala kejahatan. Apa yang kaulakukan ini jahat, maka aku akan menentangnya. Ke jahatanmulah yang kutentang, bukan engkau."

"Jahanam! Kubunuh engkau!"

"Kakang Parno, jangan! Dia hanya ingin mengingatkan dan menyadarkanmu.Jangan ganggu dia, kakang! Ki-sanak pergilah dan jangan berkelahi dengan kakang Parno. Aku tidak ingin dia membunuh orang dan aku tidak ingin meliha andika terluka. Pergilah dan jangan korbankan dirimu untukku,"

Kata Sarti. Parmadi makin kagum kepada gadis itu. Seorang gadis dusun sederhana namun memiliki kebijaksanaan seperti itu. Dia tersenyum.

"Betapa aneh dan besar kekuasaan Cinta! Seorang bidadari dapat jatuh cinta kepada seorang pria yang tersesat! Kisanak Parno, engkau seorang yang berbahagia sekali menerima kasih saying seorang gadis seperti Sarti ini. Karena itu bersihkanlah batinmu untuk menerima anugerah Gusti Allah yang amat membahagiakanmu ini. Bertaubatlah."

"Keparat, sambutlah ini!"

Parno menjawab ucapan Parmadi dengan ayunan tangan kanannya yang memukul ke arah muka Parmadi.

Tangan kanan itu dikepal dan pukulannya cukup kuat, mendatangkan angin menyambar.

Namun dengan amat mudahnya Parmadi mengelak.

"Sadarlah!"

Kata Parmadi.

Akan tetapi pukulan yang luput itu membuat Parno menjadi semakin marah.

Dia lalu menerjang lagi, bahkan kini mengirim pukulan dan tendangan dengan kedua pasang kaki tangannya secara gencar dan bertubi-tubi.

Namun, biarpun Parno dianggap jagoan di daerah Sukowati, bagi Parmadi gerakan pernuda itu masih terlalu lambat sehingga mudah saja baginya untuk menghindarkan diri dari semua sambaran pukulan dan tendangan itu.

Kalau saja dia tidak ingat bahwa di situ terdapat seorang gadis budiman yang benar-benar mencinta Parno, tentu dia sudah menjatuhkan hajaran keras kepada pemuda keras kepala itu.

Akan tetapi Parmadi merasa kasihan kepada Sarti maka dia masih bersikap sabar dan selalu mengelak.

Setelah melihat betapa Parno tetap nekat, walaupun semua serangannya gagal, namun pemuda itu tidak mau menyadari kenyataan bahwa lawannya merupakan orang yang digdaya, melainkan terus (Lanjut ke

Jilid 14) Seruling Gading (Seri ke 02 -Serial Pecut Sakti Bajrakirana) Karya". Asmaraman S. Kho Ping Hoo

Jilid 14 menyerang seperti kerbau bila, Parmadi menangkap pergelangan tangan kanan Parno yang memukul, memuntir dan menarik dengan sentakan kuat.

Tak dapat dihindarkan lagi, tubuh Parno terputar dan terpelanting, terbanting keras ke atas tanah dan terguling-guling sampai ke dekat kaki Sarti.

"Kakang !"

Sarti segera menghampiri, berjongkok dan dengan kedua tanganya yang terbelenggu ia menyentuh pundak pemuda itu.

Akan tetapi Parno menepis tangan gadis itu, bangkit kembali dan dengan muka merah dan rnata melotot dia menghampiri Parmadi.

Agaknya Parno memiliki tubuh yang kuat dar kebal sehingga bantingan keras tadi seperti tidak terasa olehnya.

Akan tetapi agaknya pemuda Sukowati itu kini menyadari bahwa lawannya memang tangguh maka dia tidak berani memandang rendah dan bersikap congkak.

"Babo-babo, kiranya andika memiliki kesaktian. Nah, coba sambut pusakaku ini. Hayo, keluarkan pusakamu kalau andika memang seorang gagah!"

Parno menentang sambil mencabut sebatang keris luk tujuh yang tadi terselip di pinggangnya.

"Kakang Parno, ingatlah! Jangan bunuh orang yang tidak bersalah!"

Sarti berseru dengan cemas melihat pria yang dicintanya itu mencabut keris dan mengancam Parmadi. Parmadi masih tersenyum dan berkata kepada Sarti.

"Jangan andika khawatir, Parno tidak akan dapat membunuhku."

Parno yang sudah memuncak kemarahannya itu membentak.

"Hayo cepat keluarkan senjatamu!"

Parmadi menatap wajah pemuda yang marah itu.

"Ah, andika masih belum mau menerima kenyataan bahwa andika bersalah dan karenanya maka andika kalah? Minta aku menggunakan senjata? Baiklah, ini senjataku!"

Permadi.SH mencabut seruling gading yang terselip di pinggangnya.

Melihat lawannya memegang sebatang seruling, Parno mengerutkan alisnyaa "Aku bukan orang licik yang menggunaka pusaka menyerang orang yang tidak bersenjata.

Yang andika pegang itu sebuah seruling, alat gamelan, bukan senjata?"

Parmadi tersenyum. Pemuda ini keras kepala dan agaknya terseret oleh lingkungan yang tidak sehat, namun berwatak gagah. Pantas Sarti jatuh cinta kepadanya.

"Parno, menjadikan sebuah benda menjadi benda bermanfaat atau menjadi benda jahat yang mengerikan, tergantung dari orang yang menggunakannya. Keris di tanganmu itupun dapat menjadi hiasan dinding yang indah atau menjadi pelengkap pakaian yang baik. Akan tetapi kalau hendak andika pergunakan untuk membunuh orang, ia menjadi senjata yang jahat dan mengerikan. Seruling Gading tanganku inipun dapat menjadi senjata yang siap menandingi kerismu itu."

"Baik, andika sendiri yang menentukan. Nah, sambutlah serangan pusakaku ini!"

Parno lalu menyerang dengan tusukan kerisrnya.

Gerakannya yang tangkas dan kuat menunjukkan bahwa dia memang seorang yang rnahir menggunakan senjata keris.

Seperti tadi, Parmadi menggunakan kecepatan gerakan badannya untuk mengelak.

Parno mengejar dengan tusukan-tusukan berikutnya.

Dia menyerang bertubi-tubi, menusuk dengan keris di tangan kanannya diseling pukulan-pukulan tangan kirinya.

Parmadi sengaja mengelak sampai belasan jurus, kemudian setelah merasa cukup "memberi rnuka"

Di depan Sarti agar tidak tampak Parno dikalahkan dengan cepat, tiba-tiba dia menggerakkan seruling gadingnya. Tampak sinar kuning berkelebat.

"Cringgg".!"

Keris di tangan Parno terlempar jauh setelah terlepas dari tangannya karena tangkisan seruling gading itu.

Parno terkejut bukan main, akan tetapi pada saat itu, jari-jari tangan kiri Parmadi sudah mengusap dan menekan pundak kanannya.

"Aduhhh"!"

Parno rnerasa betapa tiba-tiba tubuhnya seperti kemasukan hawa yang amat panas dan pundak kanannya terasa nyeri sekali, rasa nyeri yang menjalar ke seluruh tubuhnya, membuat ubun ubun kepala rasanya berdenyut-denyut dan jantung seperti ditusuk-tusuk.

"Aduhhh.... tobaaattt....!"

Dia mengeluh, menggunakan kedua tangan untuk meraba pundak kanan dan ubun-ubun kepala.

"Kakang"!"

Sarti cepat lari menghampiri dan berjongkok di dekat pemuda yang sudah jatuh mendeprok itu.

"Kakang""

Engkau kenapa ?"

Tanya Sarti sambil meraba-raba pundak dan punggung Parno dengan kedua tangannya yang terbelenggu.

Melihat pemuda itu tampak tersiksa sekali, peluh besar-besar memenuhi mukanya yang berkerut-kerut menahan rasa nyeri, Sarti lalu menoleh kepada Parmadi.

"Den-mas". tolonglah.... ampuni kesalahan kakang Parno"!"

Parmadi menghampiri mereka.

"Hem Parno, tidak malukah akan kelakuanmu sendiri? Lihat, Sarti begini setia dan mencintarnu, rnengapa andika tidak mau bertaubat dan menuruti permintaannya? Biarlah dengan melihat Sarti, aku akan membebaskanmu dari hukuman ini!"

Parmadi lalu menepuk pundak kanan, menggunakan jari tangannya menekan dan seketika Parno pulih dan sehat kembali.

Rasa nyeri itu menghilang.

Akan tetapi dasar wataknya amat keras, dia menepis tangan Sarti yang menyentuh pundaknya, lalu bangkit berdiri, memandang Parmadi dengan alis berkerut, lalu memutar tubuhnya dengan cepat dan dia lari dari situ tanpa mengeluarkan kata-kata.

"Kakang Parno". !"

Sarti berseru memanggil, akan tetapi pemuda itu tidak menjawab, juga tidak menoleh.

Sarti berlari, menangis dan menutupi muka dengan kedua tangan yang pergelangannya masih terikat tali.

Tiba-tiba ia merasa sentuhan pada kedua pergelangan tangannya dan tahu-tahu tali yang mengikat kedua pergelangan tangannya itu telah putus dan terlepas.

Ia menurunkan kedua tangannya yang telah bebas dan memandang kepada Parmadi yang sudah berdiri di depannya.

Sepasang mata bening itu kini kemerahan dan bibir yang bentuknya indah itu agak gemetar.

"Sarti,"

Kata Parmadi lembut.

"maafkanlah aku kalau aku telah membuat engkau berduka karena aku telah menghajar Parno sehingga dia lari meninggalkanrnu."

"Oh, tidak tidak, den-mas.... '"

"Sarti, aku juga hanya seorang pemuda pegunungan, jangan sebut den-mas padaku."

"Tapi, ki-sanak"

Jangan andika minta maaf karena andika benar dan apa yang telah andika lakukan tadi benar.

Kakang Parno yang bersalah dan harap andika suka memaafkan sikap dan kelakuannya yang kasar.

Agaknya dia memang membutuhkan pelajaran keras seperti itu karena dengan bujukan halus dia tidak pernah menurut."

"Akan tetapi engkau menangisinya?"

Gadis itu menyusut sisa air matanya dan mengangguk.

"Aku kasihan kepadanya."

"Hemm, dan engkau tetap cinta padany?"

Kembali Sarti mengangguk.

"Cinta adalah keadaan perasaan hati. Bagaimana dapat berubah? Aku tetap cinta padanya, ki-sanak."

"Kalau begitu, engkau ingin bersamanya dan menjadi isterinya?"

Kini Sarti menggeleng kepala kerascras.

"Tidak, aku tidak mau menjadi istrinya selama dia tidak mau mengubah kelakuannya karena aku akan hidup menderita kalau menjadi isterinya."

"Sungguh andika seorang gadis yang luar biasa sekali, Sarti. Andika seorang gadis dusun yang masih muda namun memiliki kebijaksanaan dan pendapat yang lain sama sekali dengan orang lain. Dari manakah andika memperoleh pandangan aneh seperti itu?"

"Eyang yang mengajarkan bagaimana harus menghadapi kenyataan hidup, ki-sanak. Aku adalah seorang anak yatim piatu dan sejak kecil aku hidup bersama eyang. Sejak kecil aku mengenal kakang Parno. Kami teman sepermainan. Setelah dewasa, aku merasa bahwa aku mencintanya dan diapun mencintaku. Kalau saja kemudian dia tidak berubah kelakuannya hidup ugal-ugalan, bergerombol dengan orang-orang yang tidak bersusila, mabok-mabokan dan suka berjudi dan adu ayam tidak mau bekerja di sawah. Kalau saja dia masih lugu seperti dulu, tentu saja aku akan merasa bahagia sekali hidup menemaninya untuk selamanya, sebagai isterinya. Akan tetapi dia tidak pernah mendengar nasihatku, maka aku menjauhkan diri. Dan pagi tadi, dia"dia memaksaku pergi bersamanya. Ketika aku menolak dan memberontak, dia mengikat kedua pergelangan tanganku. Bahkan dia pun tidak mau berjanji untuk mengubah kehidupannya selama setahun sebagai syarat aku mau menjadi isterinya."

"Akan tetapi sekarang engkau telah terbebas darinya. Biarlah aku akan mengantarmu pulang, Sarti. Di mana eng tinggal?"

"Aku tinggal di sebelah utara sana ki-sanak, di seberang bengawan. Aku tinggal bersama kakekku."

"Siapakah kakekmu itu?"

"Dia adalah Kyai Brenggolo Sidhi yang mengasingkan diri dan bertapa di lembah bengawan di pondok yang terpencil. Aku menemaninya."

Parmadi tertarik.

Kiranya Sarti, gadis dusun ini tinggal bersama seorang pertapa yang menjadi kakeknya.

Pantas saja ia memiliki pandangan hidup yang luar biasa dan bijaksana.

Tentu Kyai Brenggolo Sidhi itu yang memberi wejangan kepadanya.

Dia menjadi ingin sekali bertemu dengan Kyai Brenggolo Sidhi itu.

"Mari kuantar engkau pulang, Sarti."

"Terima kasih sebelumnya atas kebaikan andika, ki-sanak. Akan tetapi, andika telah menolongku dan terutama sekali andika telah memberi pelajaran dan mau memaafkan kakang Parno, kini andika tidak mengantarku pulang, akan tetapi aku belum mengenal siapa andika. Hal iin amat janggal dan eyang tentu akan menegurku kalau mengetahui bahwa aku belum rnengenal nama penolongku."

Parmadi tersenyum. Gadis ini bijaksana, pandai membawa diri dan juga pandai bicara. Sungguh seorang gadis dusun yang luar biasa.

"Sarti, aku adalah seorang perantau dan apa yang telah kulakukan semua ini merupakan tugas kewajiban bagiku. Karena itu aku tidak ingin dikenal karena semua perbuatan itu. Selama ini aku hanya dikenal rnelalui serulingku ini,"

Parmadi menyentuh suling yang terselip pinggangnya.

"dan biarlah aku dikenal sebagai Seruling Gading."

"Nama yang indah sekali. Akupun akan menyebutmu kakangmas Seruling Gading. Marilah, kangmas, aku akan memperkenalkanmu dengan eyangku."

Mereka lalu keluar dari hutan itu dan Sarti menjadi penunjuk jalan.

Setelah btia di tepi Bengawan Solo yang airnya sedang pasang, mereka menumpang perahu seorang nelayan yang mengantar mereka ke seberang.

Kyai Rrenggolo Sidhi tinggal di buah pondok padepokan yang berdiri seberang bengawan sebelah utara.

Pondok itu berada di lembah yang sunyi jauh dari tetangga dan memang tempot itu merupakan tempat yang baik sekali bagi orang yang bertapa dan menjauhkan diri dari kerarnaian.

Keheningan di lembah bengawan yang indah dan amat subur tanahnya.

Juga bagian yang menjadi tempat tinggal itu merupakan bukit kecil yang cukup tinggi sehingga di waktu musim hujan dan air bengawan naik tinggi, tidak sampai air menghampiri pondok yang berdiri arnan di atas bukit kecil di tepi bengawan itu.

Ketika Parmadi dan Sarti tiba di depan pondok, dari dalam pondok muncul seorang kakek yang langsung menarik perhatian Parmadi.

Kakek itu berusia kurang lebih tujuh puluh tahun, rambut, kumis dan jenggotnya yang panjang berwarna putih, pakaian hitam sederhana membungkus tubuhnya yang tinggi kurus, namun sepasang matanya mencorong tajam dan lembut.

"Eyang.... !"

Kata Sarti sambil berlari menghampiri kakek itu. Kakek itu menaruh kedua tangannya di pundak Sarti dan berkata.

"Syukurlah engkau telah terlepas diri bahaya. Tentu anak-mas ini yang telah menolongmu!"

"Eyang mengetahui bahwa saya dipaksa lari bersama kakang Parno?"

Tanya gadis itu. Kakek itu mengangguk-angguk.

"Aku tahu engkau dalam bahaya, akan tetapi aku tahu pula bahwa akan ada orang yang menolongmu terlepas dari bahaya."

"Eyang memang benar, ki-sanak ini yang menolongku dan dia mengantarkan aku pulang. Dia bernama Seruling Gading, eyang."

Parmadi membungkuk dengan sikap hormat kepada kakek itu. Kyai Brenggolo Sidhi, kakek itu, memandang ke arah seruling gading yang terselip di pinggang Parmadi dan dia terkekeh.

"Heh-heh, apa artinya sebuah nama? Bukan nama, bukan pakaian, bukan rupa, bukan pula sikap dan perbuatan, yang menentukan mutu seorang manusia."

"Wah, eyang! Memang bukan nama, pakaian, rupa, kekayaan atau kedudukan seseorang yang menentukan baik buruknya orang itu, akan tetapi mengapa bukan pula sikap dan perbuatan? Bukankah baik buruknya seseorang itu dapat dinilai dari sikap dan perbuatannya?"

"Heh-heh-heh, bantahan dan pertanyaan yang bagus, Sarti. Akan tetapi ketahuilah bahwa sikap dan perbuatan itu dapat dibuat-buat, dapat dipergunakan sebagai kedok yang menyembunyikan wajah aselinya. Sikap dan perbuatan dapat saja berlawanan dengan isi hatinya. Karena terlalu percaya akan sikap dan perbuatan inilah banyak manusia terkecoh dan tertipu, terutama sekali para wanita yang mudah terpikat dan tunduk kepada bujuk rayu, sikap manis, tutur kata halus dan sopan."

"Akan tetapi, eyang"."

"Heh-heh-heh, Sarti, tahan rasa penasaran dan pertanyaanmu sampai kita duduk di dalam pondok. Apakah engkau akan membiarkan saja penolongmu berdiri mendengarkan perdebatan kita sambil berdiri di luar pondok?"

"Ooo.... iya, saya sampai lupa! Maafkan saya, kakangmas Seruling Gading, dan mari, silakan memasuki pondok agar kita dapat bicara dengan leluasa,"

Sarti berkata kepada Parmadi.

Sejak tadi Parmadi memandang kagum.

Dugaannya tidak salah.

Kakek gadis itu memang seorang yang arif bijaksana, dan Sarti adalah seorang gadis muda yang kritis, suka bertanya dan agaknya belum puas kalau belum mendapatkan keterangan yang sejelasnya.

Tidak mengherankan kalau gadis itu memiliki pandangan yang luas dan bijaksana.

Dia mengikuti kakek dan cucu itu masuk ke dalam pondok yang sederhana namun terjaga kebersihannya dan duduk di ruangan depan, di atas lantai bertilamkan tikar, mengelilingi sebuah meja bundar rendah.

Setelah mereka duduk, Sarti langsung saja mengeluarkan isi hatinya yang sejak tadi membuatnya merasa penasaran.

"Eyang, kata-kata eyang tadi membuat Sarti merasa penasaran dan ingin sekali mengajukan pertanyaan."

Kyai Brenggolo Sidhi mengelus jenggotnya dan tersenyum lebar sambil melirik ke arah Parmadi.

"Maafkan ia, anak-mas. Bocah ini selalu merasa penasaran tidak dapat tenang kalau pertanyaan yang mengganggu pikirannya belum terjawab. Nah, Sarti, katakanlah apa yang menjadi uneg-uneg hatimu?"

"Begini, eyang. Kalau menurut ucapan eyang tadi, sikap dan perbuatan orang tidak menentukan baik buruknya orang itu. Kalau begitu, mengapa semua orang menekankan pelajaran murid atau anaknya agar bersikap dan bertindak baik?"

Kyai Brenggolo Sidhi rnemandang kepada Parmadi yang duduk di depannya lalu tertawa.

"Heh-heh, pertanyaanmu ini mungkin mewakili pertanyaan sebagian orang di jagad ini, Sarti. Akan tetapi aku merasa yakin bahwa anak-mas Seruling Gading ini dapat memberi penjelasan kepadamu. Bukankah begitu, anak-mas?"

Diam-diarn Parmadi merasa kagum.

Kakek ini agaknya mampu menjenguk dan melihat isi hatinya!

Tentu saja dia dapat memberi penjelasan karena gurunya, Resi Tejo Wening, sudah banyak membicarakan hal ini sehingga membuat dia mengerti, mengerti yang bukan hanya terbatas kepada pengertian akal, melainkan mengerti karena mengalaminya sendiri.

Akan tetapi dia berkata hormat.

"Kanjeng eyang, saya juga ingin sekali untuk memperdalam pengertian saya."

"Heh-heh, tunduk rendah seperti batang padi yang subur. Kerendahan hati yang bijak! Dengarlah Sarti. Orang-orang condong mementingkan sikap dan perbuatan karena semua orang menilai baik buruknya seseorang dari sikap dan perbuatan itu. Karena itu, orang berusaha keras untuk bersikap dan berbuat baik agar disebut orang baik. Keinginan dianggap baik inilah yang menimbulkan kepalsuan sikap dan perbuatan baik, dipergunakan sebaai pakaian bersih untuk menutupi badan yang kotor, atau pakaian indah untuk menutupi cacad badan. Sikap dan perbuatan baik bahkan menjadi semacam umpan untuk menipu orang lain, menjadi bujuk rayu yang di kalangan orang muda di sebut rayuan gombal."

"Kalau begitu eyang, apakah kita tidak perlu berusaha untuk bersikap baik dan berbuat baik?"

Sarti mendesak.

"Sarti, sikap dan perbuatan hanyalah merupakan akibat, merupakan buah. Sebab atau pohonnya batin. Kalau pohonnya baik, pasti akan mengeluarkan buah yang baik. Kalau batinmu penuh kasih dan iba kepada orang lain, pasti sikap dan perbuatanmu terhadap orang itu baik dan benar. Sebaliknya, kalau hatimu penuh kebencian kepada orang lain, sikap dan perbuatanmu terhadap orang itu sudah pasti tidak baik dan jahat. Kalau hatinya kotor akan tetapi perbuatanmu bersih jelas bahwa perbuatan dan sikaprnu yang bersih itu hanya palsu belaka. Atau kalau pohonnya tidak baik akan tetapi buahnya tampak baik, tentu buah itu tampak baik karena diasap, hanya kulitnya saja yang baik akan tetapi sebelah dalamnya busuk. Mengertikah engkau, Sarti?"

"Saya mengerti, eyang. Akan tetapi lalu apakah yang harus kita lakukan, eyang? Bagaimana agar pohon itu menjadi sehat dan baik, bagaimana agar batin kita selalu dipenuhi kasih sayang dan iba terhadap sesama kita?"

Kyai Brenggolo Sidhi memandang Parrnadi dan kini suaranya terdengar mendesak ketika dia berkata.

"Anak-mas, sekali ini aku minta sukalah kiranya anak-mas yang menjawab pertanyaan Sarti. Aku meminta kepadamu karena aku tahu bahwa andika dapat memberi jawaban yang tepat."

Parmadi merasakan adanya desakan pada permintaan kakek itu, maka dia lalu berkata dengan tenang.

"Akan saya coba, eyang, kalau keliru harap eyang betulkan dan maafkan. Nimas Sarti, pohon itu baru dapat menjadi sehat dan buruk, batin itu baru dapat selalu dipenuhi kasih saying dan iba terhadap sesama kita apabila jiwa kita manunggal dengan kekuasaan gusti Allah, karena hanya Gusii Allah saja yang akan dapat membimbing dan menghidupkan pohon kebajikan dalam batin kita. Kalau sudah begitu, kita manusia ini akan menjadi alat Gusti Allah yang mendatangkan berkah bagi manusia seperti halnya sinar matahari, hawa udara, air, tanah dan tumbuh-tumbuhan."

"Kakangmas Seruling Gading, apakah yang kita harus kita lakukan agar kita dapat menjadi alat Gusti Allah?"

Sarti mengejar.

"Kita tidak melakukan apa-apa, nimas. Kita hanya dapat berserah diri, pasrah dengan sepenuh iman dan keikhlasan sehingga apapun yang kita lakukan adalah berkat bimbingan-Nya dan Pohon Kasih akan tumbuh subur dalam jiwa kiia karena Kasih adalah satu di antara sifat-sifatNya. Gusti Allah itu Maha Kasih, nimas. Eyang, harap maafkan kalau pernyataan saya ini tidak benar."

"Alhamdullilah". ! Puji syukur dan terima kasih kepada Gusti Allah bahwa kami berdua diberi kesempatan untuk mendengarkan kenyataan yang keluar melalui ucapanmu tadi, anak-mas Seruling Gading. Semoga Gusti Allah Yang Maha Kasih akan sudi menerirna penyerahan ketawakaan dun keikhlasan kita, amiin."

"Amin?"

Kata Parmadi dan Sarti berbareng.

"Sarti, sekarang ceritakan apa yang telah terjadi maka engkau pulang bersama anak-mas Seruling Gading ini."

"Bukankah eyang sudah mengetahui semuanya? Eyang tadi sudah mengatakan bahwa saya terancam bahaya dan ada yang menolong...."

"Hanya itu yang kuketahui karena perasaanku rnengatakan demikian. Akan tetapi aku tidak tahu apa yang sesungguhnya terjadi. Ceritakanlah, Sarti."

"Eyang, tadi ketika saya pergi memetik daun kangkung, tiba-tiba muncul kakang Parno dan dia memaksa saya unuk ikut dia pergi. Ketika saya menolak, dia mengikat kedua pergelangan tanganku dan menarik aku pergi menyeberangi bengawan dan hendak diajak pergi entah ke mana."

"Hemm, bocah itu semakin jauh tersesat,"

Kata Kyai Brenggolo Sidhi.

"Setelah kami tiba di dalam sebuah hutan, tiba-tiba muncul kakangmas Seruling Gading ini yang menegur kakang Parmadi. Mereka bertanding dan kakang Parno terpukul roboh. Akan tetapi kakangmas ruling Gading memaafkannya dan menyembuhkannya. Dia lalu pergi eyang, dia pergi meninggalkan saya."

"Hemm, sayang bocah yang dahulu begitu baik kini menjadi berubah seperti itu,"

Kata pula Kyai Brenggolo Sidhi.

"Dia tidak menggangguku, eyang. Dia hanya mengajak saya pergi bersamanya karena selama ini saya sengaja menjauhinya. Saya sudah membujuknya berulang kali agar dia menjauhi pergaulan sesat menghentikan kebiasaan berjudi, adu ayam dan mabok-mabokan dan saya berjanji akan menerimanya kembali dalam waktu setahun. Akan tetapi dia tidak percaya dan bersikeras mengajak saya pergi."

"Heh-heh, Parno itu sebetulnya bocah yang watak dasarnya baik. Dia takut kehilangan engkau, Sarti."

"Memang begitulah yang dia katakan eyang."

"Nah, ini merupakan bukti kuatnya iblis dan betapa ringkihnya manusia. Dengan umpan segala macam kesenangan iblis memancing manusia sehingga manusia tanpa disadarinya menyimparig dari jalan kebenaran. Pengaruh lingkungan amatlah kuatnya, maka benarlah kata nenek moyang kita bahwa kita harus mencari pergaulan yang baik dan menjauhi pergaulan dengan orang-orang yang menjladi hamba napsu sendiri. Satu-satunya jalan bagi manusia agar kuat menanggulangi semua godaan iblis hanyalah berserah diri kepada Gusti Allah sehingga Kekuasaan Gusti Allah yang akan melindungi dari godaan iblis. Akan tetapi, percayalah bahwa akan dating saatnya Parno akan sadar, bertaubat dan kembali kepadarnu, Sarti."

"Mudah-mudahan begitu, eyang,"

Kata Sarti dengan nada suara mengandung penuh harapan.

"Begitulah, eyang, setelah kakang Parno lari pergi, kakangmas Seruling Gading mengantar saya pulang."

Kakek itu mengangguk-angguk dan memandang kepada Parmadi.

"Anak-mas telah menolong cucuku Sarti, kami berterima kasih sekali."

"Kanjeng eyang, seyogianya kalau kita semua berterima kasih kepada Gusti Allah, karena hanya Dia Maha Penolong, bukan kepada saya."

"Heh-heh-heh, andika seorang pemuda yang bijaksana. Dari mana andika datang dan hendak ke manakah, anak-mas?"

"Saya berasal dari lereng Gunung Lawu, eyang dan baru saja saya turun gunung untuk pergi merantau. Ketika saya melihat nimas Sarti hendak dipaksa ikut pergi pemuda itu, terpaksa saya turun tangan dan niendengar bahwa ia tinggal di sini bersama eyang, hati saya tertarik ingin bertemu dengan eyang yang arif bijaksana."

"Dan ke manakah andika hendak pergi."

"Ke mana saja kedua kaki ini membawa saya pergi, eyang."

"Aku melihat bahwa andika seorang pemuda yang sakti mandraguna. Akan sia-sialah andika mengorbankan sekian banyak waktu, tenaga dan pikiran kalau semua kepandaian itu tidak andika pergunakan dengan benar. Juga dia yang pernah mendidik dan mengajarmu tentu akan menjadi kecewa kalau apa yang selama ini andika pelajari tidak andika manfaatkan untuk pekerjaan yang berguna."

"Kanjeng eyang adalah seorang yang arif bijaksana, oleh karena itu saya mohon petunjuk eyang."

Kyai Brenggolo Sidhi mengangguk-anguk, lalu dia menundukkan mukanya dan memejamkan kedua matanya, seolah hendak menutup kedua mata badan yang hanya menghalangi ketajaman mata batinya.

Dengan kedua mata masih terpejam dia berkata lirih dan lembut.

"Kanjeng Sultan Agung sedang menghimpun kekuatan untuk menentang bangsa kulit putih yang hendak menguasai nusantara. Tidak ada pekerjaan lebih sempurna bagi seorang satria selain mengabdi kepada raja yang arif bijaksana untuk membela tanah air dan bangsa. Berangkatlah andika dan pergunakan perahu mengikuti aliran Bengawan Solo. Gusti Sultan sedang berusaha menundukkan Madura, Surabaya dan Giri untuk menyusun dan mempersatukan kekuatan. Bantulah Mataram, anak-mas Seruling Gading."

Setelah berkata demikian, kakek itu membuka kedua rnatanya, memandang pemuda itu dan bertanya.

"Sudah mengertikah andika akan petunjuk tadi, anak-mas?"

Parmadi mengangguk.

Dalam hatinya dia merasa girang sekali karena petunjuk yang diberikan kakek itu sungguh sejalan dengan pendiriannya.

Gurunya, Ki Tejo Wening adalah seorang yang mendukung Mataram, walaupun hal itu tidak dinyatakan dengan terang-terangan.

"Terima kasih, kanjeng eyang. Saya akan melaksanakan apa yang eyang tunjukkan."

"Akan tetapi, kakangmas Seruling Gading tentu tidak akan berangkat sekarang juga, bukan? Kami.... saya ingin kakangmas tinggal lebih lama di sini agar kami dapat mengenal andika lebih baik!"

Kata Sarti.

"Terima kasih, Sarti. Aku harus melanjutkan perjalananku karena masih banyak yang harus kulakukan,"

Kata Par madi.

"Anak-mas Seruling Gading benar, Sarti. Menurut perhitunganku, dia bahkan harus berangkat sekarang juga dan hal ini justeru demi kebaikanmu sendiri,"

Kata Kyai Brenggolo Sidhi.

"Demi kebaikan saya, eyang? Apa yang eyang maksudkan?"

"Jangan bertanya, tak dapat aku memberi tahu, percaya sajalah! Nah, anak-mas Seruling Gading, berangkatlah sekarang juga. Kebetulan kami mempunyai sebuah perahu di tepi bengawan. Pergunakan perahu itu, kami berikan kepadamu."

"Tapi, eyang. Eyang sendiri dan nimas Sarti tentu membutuhkan perahu itu. Biar saya berjalan kaki saja menyusuri tepi bengawan."

"Ah, tidak, anak-mas. Berjalan kaki akan makan waktu terlalu lama. Pakailah perahu kami itu. Tak lama lagi kami akan mendapatkan perahu lain."

Parmadi masih meragu.

"Terima saja kakangmas. Eyang selalu berkata benar, dan akupun percaya bahwa kami akan mendapatkan perahu lain seperti kata eyang, walaupun aku tidak tahu dari mana dan bagairnana datangnya."

"Sarti, ajak anak-mas Seruling Gading ke tepi bengawan dan serahkan perahu itu kepadanya. Berangkatlah sekarang juga, anak-mas. Selamat jalan dan semoga Gusti Allah akan selalu membimbingrnu."

"Mari, kakangmas!"

Kata Sarti.

"Terirna kasih atas budi kebaikan eyang...."

"Heh-heh, bukankah kita sudah sepakat bahwa hanya kepada Gusti Allah saja kita berterima kasih? Berangkatlah anak-mas. Kelak kalau Gusti Allah menghendaki, kita akan dapat saling berjumpa pula."

"Selarnat tinggal, eyang. Assalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh."

Parmadi memberi salam.

"Waalaikum salaam""!"

Gumam kakek itu yang mengantar sampai di pintu dan mengikuti bayangan Parmadi dan Sarti yang berjalan menuju ke tepi bengawan.

Setelah tiba di tepi bengawan, Sarti lalu.

menyerahkan sebuah perahu kecil dengan dayungnya kepada Parrnadi.

Perahu itu ditarnbatkan kepada sebatang pohon di tepi bengawan.

Setelah pemuda itu duduk di dalarn perahu, Sarti berkata sambil tersenyurn.

"Selamat jalan, kakangmas. Andika seorang pemuda satria yang gagah perkasa dan budirnan. Aku kagum sekali kepadamu andika, kakangmas Seruling Gading."

Parmadi juga tersenyum.

"Akupun kagum sekali padarnu, nimas Sarti. Andika seorang gadis dusun yang luar biasa, ayu, pintar, bijaksana dan setia. Semoga engkau hidup berbahagia bersama Parno kelak. Selamat tinggal, Sarti."

Perahu meluncur ke tengah lalu hanyut terbawa aliran air.

Parmadi menoleh dan melihat gadis itu melambaikan tangan.

Diapun melambaikan tangan.

Gadis pilihan, satu di antara seribu, pikirnya.

Tidak akan mudah melupakan seorang gadis seperti Sarti.

Karena perahu kecil itu sudah hanyut terbawa aliran air bengawan, maka ditambah tenaga dayungnya, perahu meluncur dengan cepat sekali ke depan.

Parmadi menghela napas panjang dan merasa bersyukur.

Benar juga ucapan Kyai Brenggolo Sidhi.

Kalau dia berjalan kaki menyusuri sungai, selain lelah, juga akan memakan banyak waktu.

Apalagi terkadang tepi sungai merupakan daerah yang sukar dilalui dengan jalan kaki, ada yang merupakan rawa, ada pula dipenuhi semak belukar dan ada yang berupa tebing yang curam.

Dengan perahu, maka perjalanannya tidak melelahkan dan juga tidak menghadapi kesulitan di samping dapat cepat sekali.

Matahari mulai condong ke barat dan Parmadi merasa perutnya lapar.

Tiba-tiba dia melihat lima buah perahu meluncur dari pinggir bengawan dan memotong jalan menghadangnya.

Dia melihat seorang pemuda di atas sebuah perahu terdepan memberi isyarat dengan tangan agar supaya dia menepi.

"Minggir! Cepat mendarat di tepi bengawan atau kami terpaksa akan menggulingkan perahumu!"

Bentak pemuda dan kalau tadinya Parmadi tidak mengenal pemuda itu, kini suara pemuda mengingatkannya dan tahulah dia bahwa pemuda itu bukan lain adalah Parno!

Lima buah perahu itu siap menghadangnya dan agaknya ucapan Parno itu bukan gertakan kosong belaka.

Parmadi mendayung perahunya ke tepi dan setelah melompat ke darat, dia menyeret perahunya ke tepi bengawan yang landai.

Ketika dia menengok, dia melihat Parno datang menghampirinya.

Di sampingnya berjalan seorang laki-laki berkepala gundul, bermuka bulat dan semua anggauta tubuhnya mendatangkan kesan bulat, bermata lebar, berusia kurang lebih lima puluh tahun.

Di belakang kedua orang ini terdapat pula tujuh orang laki-laki yang dari sikapnya seperti jagoan-jagoan yang suka mengandalkan kekuatan dan kekerasan.

Hemm, agaknya Parno nembawa kawan-kawannya, piker Parmadi yang herdiri dengan sikap tenang waspada.

Dengan cepat sembilan orang itu tiba di depan Parmadi.

Setelah dia berdiri berhadapan dengan Parno dan kawan-kavamnya, Parmadi bertanya dengan suara lembut.

"Kiranya andika, Parno? Ada urusan apakah andika rnenghadang perjalananku dan rnenyuruhku minggir?"

Wajah Parrno yang tampan itu tampak marah.

"Ki-sanak, sebelum kita bicara lebih lanjut, katakana dulu siapa namamu?"

"Sebut saja aku Seruling Gading,"

Kata Parmadi. Parno memandang ke arah suling yang terselip di pinggang Parmadi dengan alis berkerut.

"Seruling Gading, engkau tahu mengapa aku menghadangmu. Kita harus menyelesaikan urusan kita!"

"Parno, di antara engkau dan aku tidak ada urusan apapun. Lebih baik kau tinggalkan kawan-kawanmu ini kembalilah kepada Sarti. Ia menunggumu dengan hati penuh kasih dan kesetiaan."

"Tutup mulutmu!"

Parno membentak nyaring. Agaknya ucapan Parmadi itu bagaikan minyak menyiram api, membuat kemarahannya berkobar.

"Justeru kelancanganmu mencampuri urusanku dengan kekasihku sendiri yang memaksaku harus membuat perhitungan denganmu. Engkau harus membayar apa yang kaulakukan kepadaku tadi, merendahkan aku di di mata kekasihku!"

"Parno, tenang dan sabarlah. Sarti sama sekali tidak memandang rendah kepadamu. Bahkan ia memujimu sebaga seorang pemuda gagah. Akan tetapi kukira dia benar-benar akan merasa kecewa dan memandang rendah padamu kalau ia kini lihat betapa engkau menghadangku dengan kawan-kawanmu ini. Engkau yang dianggapnya gagah berani itu ternyata hanya seorang pengecut yang hendak mengandalkan banyak orang untuk mengeroyok aku!"

"Manusia sombong!"

Bentak Parno.

Siapa yang hendak mengeroyokmu?

Aku bukan pengecut seperti yang kaukira.

Aku memang sudah kalah bertanding melawanmu.

Paman Gandarwo, guru teman-temanku, merasa penasaran dan marah mendengar akan kekalahanku dan dialah yang akan mewakili aku memberi hajaran padamu yang telah lancang mencampuri urusan pribadiku!"

Parmadi kini memandang kepada laki-laki berusia sekitar lima puluh tahun yang berdiri di sebelah kanan Parno itu.

Orang itu rnemiliki tubuh yang serba bulat sehingga tampak lucu.

Setelah mendengar ucapan Parno, laki-laki yang disebut bernama Gandarwo itu menanggalkan bajunya sehingga tampak tubuh atasnya yang gendut bulat, dada yang mempunyai dua tonjolan buah dada seperti wanita.

"Uhh.... badanku pegal-pegal. Anak-anak, coba kalian pijiti dulu badanku sebelum aku bertanding supaya segar!"

Mendengar ini, dua orang laki-lak yang berdiri di belakangnya lalu mencabut senjata mereka.

Seorang mencabut sebuah klewang (golok) dan yang kedua mencabut sebatang keris.

Kemudian, setelah si gundul itu menganggukkan kepalanya yang bulat kelimis, dua orang muridnya itu lalu menyerangnya dengan klewang dan keris mereka.

Keris meluncur dan menusuk perut pada saat klewang menyambar membacok leher.

"Plak! Tuk!"

Klewang dan keris itu terpental seolah serangan tadi mengenai benda dari karet yang kenyal dan kuat sekali!

Dua orang itu menyerang terus secara bertubi-tubi keris itu menusuk-nusuk dan klewang itu membacok-bacok di bagian tubuh sebelah atas, dari pinggang sampai kepala.

Kepala yang gundul itupun tidak luput dari sasaran, akan tetapi kalau dibacok atau ditusuk, hanya terdengar suara tak-tuk-tak-tuk dan kepala itu sama sekali tidak terluka.

Parmadi tersenyum dalam hatinya.

Kepala gundul itu memiliki kekebalan, namun hal itu baginya seperti mainan knak-kanak saja.

Setelah belasan kali dikeroyok klewang dan ditikam keris yang kesemuanya tidak dapat melukai tubuhnya yang gendut, Gandarwo menyuruh dua orang muridnya berhenti.

"Sudah, cukup!"

Dia menggeliat.

"Hemm, sekarang enak rasanya badanku."

Dia melangkah maju mendekati Parmadi.

"Heh, bocah, siapa namamu tadi? Seruling Galing?"

Matanya yang bundar lebar itu memandang ke arah suling yang terselip di ikat pinggang Parmadi.

"Hemm, agaknya namamu diambil dari benda itu? Itukah senjatamu? Hayo pukulkan senjatamu itu pada tubuhku, boleh kaupilih yang mana saja!"

"Paman Gandarwo, di antara kita tidak ada persoalan, mengapa aku harus memukulmu? Aku tidak mencari musuh,"

Kata Parmadi dengan suara tenang penuh kesabaran.

"Tidak ada persoalan? Heh, bocah! Kamu mendengar sendiri ucapan Parno tadi. Kamu telah mencampuri urusannya dan mengalahkannya, berarti kau sudah menghinanya. Menghina dia yang menjadi kawan kami berarti menghina kami. Maka aku yang akan membalaskan penghinaanmu atas dirinya. Hayo maju dan lawan aku Gandarwo, jagoan duk-deng, gegeduk Bengawan Solo!"

"Paman, aku tidak mencari permusuhan dengan siapapun, akan tetapi itu bukan berarti aku takut menghadapi tantangan siapapun. Kalau paman hendak. menyerangku, silakan!"

"Kamu menantangku? Keparat, kamu sudah bosan hidup. Tunggu sebentar!"

Gandarwo lalu duduk bersila, bersedakap, mulutnya kemak-kemik, matanya terpejam.

Tak lama kemudian tiba-tiba dia mengeluarkan suara pekik menyeramkan, parau menggetar, seperti bukan suara manusia lagi dan seluruh tubuhnya menggigil, kemudian dia melompat berdiri dan sikapnya berubah sama sekali.

Kini wajahnya berubah menyeramkan, menyeringai, matanya melotot hampir keluar, rnulutnya berbusa dan air liur menetes dari ujung bibirnya, kedua tangannya membentuk cakar.

Dia lebih pantas disebut iblis atau siluman daripada manusia.

"Aarrrggghh".!"

Sambil menggereng dia menyerang, menubruk dengan cepat dan dari kedua lengannya menyambar angin pukulan yang dahsyat.

Parmadi menghindar dengan tenang namun cepat dan dia maklum bahwa orang ini memiliki ilmu yang disebut prewangan seperti yang pernah dia dengar dari gurunya.

Ilmu ini membuat Gandarwo membuka diri memasukkan roh jahat yang mengambil alih ubuhnya sehingga sepak terjangnya bukan manusia lagi, melainkan roh jahat yang memasukinya, roh jahat yang membantunya.

Parmadi maklum bahwa dia tidak akan dapat melukai roh jahat.

Kalau dia menggunakan aji kesaktian, yang akan menderita dan cidera adalah tubuh Gandarwo dan dia tidak menghendaki hal tu.

Gandarwo hanya membela Parno maka tidak perlu dia melukainya walaupun ilmu prewangan itu saja sudah membuktikan bahwa orang ini mempelajari dan menguasai ilmu sesat yang akan menyeretnya untuk melakukan perbuatan yang menyimpang dari kebenaran.

Setelah tubrukan pertamanya luput, Gandarwo menjadi semakin marah dan dia mengamuk, menyerang kalang kabut dan dahsyat, bahkan kini serangannya ditambah semburan dari mulutnya yang mengeluarkan air ludah panas seperti air mendidih!

Akan tetapi dengan kecepatan yang membuat tubuhnya seperti berubah menjadi bayangan, Parmadi dapat selalu mengelak.

Setelah belasan jurus serangan Gandarwo dapat dia elakkan, ketika kakek bulat itu menubruk lagi, Parmadi melompat ke samping sehingga tubrukan itu luput dan secepat kilat kaki Parmadi menyambar ke arah lutut.

"Dukk!"

Karena sambungan lututnya tercium kaki Parmadi yang menendang dengan kuat, tak dapat dihindarkan lagi Gandarwo jatuh berlutut dengan kaki kanan yang tertendang.

Dia tidak terluka dan sudah hendak bangkit lagi, akan tetapi pada saat tubuhnya merendah itu Parmadi sudah menggerakkan tangan kirinya menepuk punggungnya sambil berseru dengan suara mengandung penuh wibawa.

"Demi Allah, kernbalilah ke tempa asalmu!"

Hebat tepukan itu karena selain di sertai tenaga dalam yang amat kuat, juga seruan tadi mengandung kekuatan yang timbul dari jiwa.

Gandarwo mendeprok dan terdengar lengkingan tinggi keluar dari mulutnya.

Wajahnya berubah seperti biasa lagi, akan tetapi dia tidak cidera.

Dia bangkit berdiri dan memandang Parmadi dengan alis berkerut.

Kuasa roh jahat yang tadi menyusup ke dalam dirinya telah meninggalkannya seperti ketakutan akan tetapi tubuhnya yang kebal belum mengalami cidera.

"Paman Gandarwo, harap sudahi saja pertandingan ini,"

Kata Parmadi membujuk.

"Babo-babo, jangan dulu merasa menang karena kamu dapat memunahkan satu ajianku, Seruling Gading. Mari kita mengadu tebalnya kulit kerasnya tulang. Kamu boleh memukulku dengan senjatamu sebanyak tiga kali, kemudian aku akan membalas memukulmu dengan senjata kepalaku ini sebanyak tiga kali. Siapa yang roboh dia kalah!"

"Aku tidak suka memukul orang, juga tidak suka dipukul. Begini saja, paman Gandarwo. Engkau mengandalkan aji kekebalanmu. Nah, aku tidak akan menggunakan senjata, akan tetapi hanya akan menamparmu dengan sebelah tangan, satu kali saja. Kalau engkau mampu menahan satu kali tamparanku, maka aku mengaku kalah. Akan tetapi sebaliknya kalau engkau tidak kuat menahan satu kali tamparan tanganku, berarti engkau yang kalah. Bagaimana?"

"Heh-heh-heh-ha-ha!"

Si gundul itu terkekeh-kekeh saking geli hatinya.

"Sarapan pagiku tusukan keris, makan siangku bacokan klewang dan makan malamku pukulan penggada! Bagaimana aku dapat roboh oleh satu kali tamparan tanganmu yang kecil itu? Baik, aku terima tantanganmu!"

"Nanti dulu, paman. Kalau paman dapat menahan tamparannya lalu dia hanya dinyatakan kalah begitu saja, terlalu enak buat dia dan hanya rasa penasaran buatku. Taruhannya harus ditambah. Kalau paman kalah, kita habiskan saja urusan dengannya, akan tetapi kalau dia yang kalah, dia harus berlutut dan menyembahku tujuh kali sambil minta maaf atas kelancangannya tadi!"

Kata Parno yang masih penasaran karena dia merasa kalahkan dan dibikin malu di depan kekasihnya.

"Bagus! Itu usul yang bagus! Bagaimana, Seruling Gading, beranikah kamu menerima taruhan itu?"

Tanya Gandarwo. Parmadi tersenyum. Tentu saja dia sudah "mengukur"

Kekuatan dan kesaktian lawan. Dia mengangguk.

"Baiklah, kalau hal itu akan dapat memuaskan hati Parno. Kuterima taruhan itu."

"Bagus! Nah, kalian semua lihat baik-baik. Bocah ini bersumbar dapat mengalahkan aku dengan satu kali tamparan tangan, heh-heh-heh!"

Tujuh orang laki-laki muda yang beraida di situ ikut tertawa bergelak, hanya Parno yang tidak tertawa melainkan menandang dengan alis berkerut karena dia tahu bahwa Seruling Gading adalah seorang pemuda yang sakti mandraguna.

Gandarwo lalu memasang kuda-kuda.

Kedua kakinya terpentang, agak ditekuk dan dia menggunakan kedua telapak tangan untuk menekan di atas pusar.

Keika dia mengerahkan tenaga, maka tubuh atasnya yang tidak berbaju itu mulai bergerak-gerak seolah ada sesuatu yang hidup di bawah kulitnya.

Agaknya sesuatu ang bergerak-gerak di bawah kulitnya itu adalah hawa yang melindungi kulitnya dan membuat kulit itu kebal.

"Seruling Gading, aku sudah siap. Lakukanlah tamparanmu!"

Terdengar Gandarwo berseru.

"Awas, paman, aku akan menampar pundak kananmu!"

Kata Parmadi sambil mengangkat tangan kirinya yang terbuka ke atas.

Din melihat betapa pundak kanan Gandarwo dilindungi sesuatu yang bergerak-gerak di bawah kulit pundak, akan tetapi dia tidak khawatir gagal.

Dia sengaja memilih pundak, bagian yang tidak berbahaya karena dia tidak ingin menc.elakai orang.

Diam-diam dia mengerahkan Aji Sunya Hasta dan tangan kirinya rnenyambar turun dan menimpa pundak Gandarwo dengan tamparan yang tampaknya tidak begitu kuat.

"Wuuuttt"plakk".!"

Biarpun tangan kiri itu menimpa pundak dan tampaknya tidak terlalu kuat, namun seketika tubuh yang gendut itu terkulai dan terjerembab di atas tanah, sedangkan tubuh itu menggigil dan mulut Gandarwo mengaduh-aduh.

"Aduuhhh.... tobaat.... adduuhhh...."

Begitu Gandarwo roboh, tujuh orang muridnya serentak mencabut senjata mereka.

Ada yang mencabut keris, ada yang mencabut klewang dan ada pula yang memegang ruyung.

Mereka serentak maju menerjang dan mengeroyok Parmadi.

"Heii"" ? Apa-apaan ini? Mundur semua kalian! Mundur dan jangan melakukan pengeroyokan!"

Parno melompat ke depan dan mengangkat kedua tangan ke atas memberi isyarat kepada tujuh orang kawannya itu agar tidak mengeroyok Parmadi.

Akan tetapi tujuh orang itu tidak mau mundur.

Mereka semua marah melihat Gandarwo roboh dan ingin membunuh pemuda yang mengalahkan guru mereka.

Parmadi cepat mengelak dengan lonmpatan ke sana-sini, menghindarkan diri dari hujan serangan.

"Mundur, atau terpaksa kuhajar kalian?"

Teriak Parno. Akan tetapi dua orang di antara mereka yang memegang ruyung menjadi marah melihat Parno membela musuh.

"Parno, pengkhianat kau!"

Bentak mereka dan dua orang itu menggunakan ruyung atau penggada untuk menyerang Parno.

Pemuda ini mengelak dan melakukan perlawanan.

Terjadilah perkelahian dua kelompok.

Dua orang mengeroyok Parno dan lima orang yang lain mengeroyok Parmadi.

Melihat betapa Parno terdesak oleh serangan ruyung kedua orang pengeroyoknya, Parmadi merasa khawatir.

Dia mempercepat gerakannya, bukan hanya mengelak melainkan berkelebatan membagi-bagi tamparan.

Lima orang pengeroyoknya berpelantingan dan roboh tak mampu bangkit kembali, hanya mengaduh-aduh memegangi bagian tubuh yang terkena tamparan, seperti keadaan Gandarwo.

SEMENTARA itu, Parno yang tadinya mencabut sebatang keris dan melakukan perlawanan, sudah terdesak hebat.

Kerisnya terpukul jatuh, lengan kirinya terluka berdarah ketika dia pergunakan untuk menangkis ruyung dan pipi kanannya membengkak karena terpukul ujung ruyung.

Akan tetapi dia masih melakukan perlawanan mati-matian.

Melihat keadaan Parno, Parmadi yang telah berhasil merobohkan lima orang pengeroyoknya segera melompat dan dua kali tangannya bergerak menampar.

Dua orang pengeroyok Parno itu pun terpelanting roboh.

Kini mereka saling berhadapan, Parno dengan pipi kanan bengkak dan lengan kiri berdarah berdiri memandang Parmadi dengan kagum.

Sama sekali tidak pernah disangkanya bahwa pemuda yang telah menghalangi dia melarikan Sarti itu memiliki kesaktian yang sedemikian hebatnya.

Bukan saja mampu mengalahkan Gandarwo yang dianggapnya digdaya, bahkan mampu merobohkan tujuh orang kawannnya secara demikian mudahnya.

Padahal pemuda itu hanya bertangan kosong!

Di lain pihak Parmadi juga memandang Parno sambil tersenyum senang karena sikap pemuda yang menentang para pengeroyok itu saja sudah menunjukkan bahwa pemuda ini pada dasarnya memang berwatak gagah.

Sementara itu, delapan orang yang terkena tamparan tangan Parmadi masih mengeluh kesakitan.

"Aduh.... ampun".."

"Tobat".

"Den-mas""

Ampuni kami"..!"

Gandarwo juga mengeluh karena tubuhnya terasa nyeri bukan main, seperti ditusuk-tusuk jarum di sebelah dalam.

Parmadi merasa kasihan dan dia pun menghampiri mereka.

Satu demi satu dia tepuk dan raba.

Seketika orang-orang itu sembuh.

Yang terakhir disembuhkan adalah Gandarwo sendiri.

Setelah pundaknya ditotok dan tengkuknya diurut, lenyaplah rasa nyeri yang menyiksanya.

Jagoan gundul itu bangkit berdiri dan membungkuk terhadap Parmadi.

"Den-mas Seruling Gading, terima kasih dan maafkan kami,"

Katanya dengan sikap merendah.

"Tidak ada apa-apa di antara kita. Kalau hendak minta ampun, mintalah ampun kepada Gusti Allah. Bertaubatlah dan mulai saat ini, jangan lagi bertindak sewenang-wenang mengandalkan kekuatan dan kekerasan."

Gandarwo mengangguk-angguk.

"Kami mohon pamit, den-mas."

"Pergilah,"

Kata Parmadi. Gandarwo nenoleh kepada Parno.

"Parno, mari kita pergi,"

Kata jagoan berkepala gundul itu.

"Tidak!"

Seru Parno dengan marah.

"Mulai sekarang aku tidak sudi berdekatan dengan kalian lagi. Kalian membikin malu, bersikap pengecut dan main keroyokan. Aku bukan kawan kalian lagi!"

"Mari kita pergi!"

Kata Gandarwo kepada tujuh orang muridnya dan mereka lalu mendorong perahu-perahu mereka ke sungai, naik perahu dan mendayung perahu mereka pergi dari situ.

Kini Parno kembali berhadapan dengan Parmadi.

"Parno, kenapa engkau tidak ikut mereka? Bukankah mereka itu teman-temanmu yang baik yang selama ini memberi banyak kesenangan padamu?"

Kata Parmadi sambil mengamati wajah yang pipinya membengkak itu dengan penuh perhatian. Parno menggeleng kepala.

"Tidak! Baru sekarang aku menyadari. Mereka itu palsu dan curang, main keroyokan, memalukan sekali. Mereka bukan orang-orang gagah seperti yang kukira selama ini. Sebaliknya andika, ah, andika seorang satria yang sakti mandraguna. Mataku seperti telah menjadi buta selama ini."

"Bagus, aku senang sekali melihat engkau tadi menentang mereka dan kini engkau menyadari. Parno, justru pergaulanmu dengan mereka itulah yang merusakmu sehingga engkau suka berkeliaran dengan mereka, bermain judi, mabok-mabokan, malas bekerja. Kalau kaulanjutkan, akhirnya engkau akan terjerumus ke dalam perbuatan jahat dan sewenang-wenang seperti mereka, menjadi penjahat. Inilah yang membuat Sarti menjauhkan diri darimu karena kalau engkau terus tersesat seperti itu, engkau tidak akan menjadi suami yang baik dan ia akan menjadi isteri yang menderita sengsara. Ia mencintamu dengan hati tulus, Parno, bukan cinta yang hanya terdorong nafsu berahi semata. Ia ingin engkau bertaubat, ingin melihat engkau kembali ke jalan benar. Kenapa engkau menyia-nyiakan cinta murni seorang gadis bijaksana seperti Sarti?"

"Aku.... akupun amat mencintanya...."

Kata Parno.

"Kalau begitu, mengapa tidak kautunjukkan cintamu itu secara benar? Kenapa tidak kautunjukkan kepadanya bahwa engkau mampu bertaubat, mampu mengubah jalan hidupmu yang tadi tersesat itu? Tunjukkanlah bahwa engkau mampu menjadi seorang calon suami yang baik. Aku yakin ia akan menantimu dengan setia."

"Aku".. aku akan menuruti nasihatmu. Aku sudah menyadari, aku akan bertaubat dan menjadi seorang petani yang rajin dan baik, seperti dulu sebelum aku berkawan dengan gerombolan tadi. Aku".aku minta rnaaf dan berterima kasih kepadamu, den-mas Seruling Gading."

"Hemm, aku bukan den-mas, akan tetapi aku girang sekali melihat sikapmu ini, Parno. Nah, cepatlah engkau kembali ke dusunmu dan buktikan janjimu tadi. Semoga engkau akan dapat hidup berbahagia dengan Sarti, ia seorang gadis yang amat baik dan kakeknya juga seorang yang amat bijaksana. Engkau seorang yang beruntung, Parno. Sekarang aku harus melanjutkan perjalananku. Selamat berpisah dan sampaikan salamku kepada Sarti dan hormatku kepada Kyai Brenggol Sidhi!"

Parno terkesima memandang pemuda yang membuatnya terpesona dan kagum itu mendorong perahunya ke air kemudian perahu itu terbawa arus air dan meluncur ke timur.

Sikap, sepak terjang dan ucapan Parmadi telah menggugah hatinya, telah membuatnya sadar betul akan kesesatannya yang lalu.

Setelah perahu makin menjauh dan mengecil akhirnya lenyap dari pandangannya, Parno (Lanjut ke

Jilid 15) Seruling Gading (Seri ke 02 -Serial Pecut Sakti Bajrakirana) Karya". Asmaraman S. Kho Ping Hoo

Jilid 15 menghela napas panjang lalu memutar tubuh dan melangkah pergi.

"Sarti".. maafkan aku, Sarti.... ?"

Dia mengeluh dan melangkah dengan cepat, hatinya dipenuhi harapan.

Seperti telah diceritakan di bagian awal kisah ini, Ki Bargowo, Ketua Perkumpulan Welut Ireng, ketika bertemu dengan Ki Harya Baka Wulung di puncak Gunung Lawu, telah terbunuh oleh tokoh sakti datuk dari Madura itu.

Anak buah perkumpulan Welut Ireng yang kehilangan pimpinan itu menjadi cerai berai dan mereka tidak mampu mempertahankan sarang mereka ketika Wiroboyo dan kawan-kawannya menyerbu perkampungan mereka di lereng Gunung Wilis itu.

Mereka terpaksa meninggalkan perkampungan itu karena mereka tidak sudi menyerah dan.

menjadi anak buah orang-orang yang memusuhi Mataram itu.

Demikianlah, bekas perkampungan Welut Ireng itu kini diambil alih oleh Wiroboyo yang mendirikan perkumpulan Klabang Wilis di lereng Gunung Wilis itu.

Seperti telah diceritakan Tumenggung Jatisurya, senopati Ponorogo itu, kepada Muryani, kini Wiroboyo telah menjadi murid Wiku Menak Koncar, datuk dari Blambangan yang sakti mandraguna itu.

Setelah menerima gemblengan Wiku Menak Koncar, Wiroboyo menjadi semakin tangguh dan sakti.

Dia menjadi Ketua Klabang Wilis, dibantu Warok Surosingo, yaitu adik mendiang Warok Surobajul dan Darsikun, kakak seperguruannya yang pernah selama lebih dari setahun menerima gemblengan dari Harya Baka Wulung.

Wiroboyo mengumpulkan gerombolan sesat di sekitar daerah Gunung Wilis untuk dijadikan anak buahnya.

Juga Wiku Menak Koncar yang menjadi gurunya masih berada di perkampungan Klabang Wilis.

Pada suatu hari, pagi-pagi Wiku Menak Koncar duduk bercakap-cakap dengan Ki Wiroboyo.

Bekas demang Dusun Pakis ini sekarang tampak lebih gagah daripada dahulu ketika masih menjadi demang.

Tubuhnya tinggi besar mengenakan pakaian ringkas serba hijau sebagai tanda bahwa ia adalah Ketua Klabang Wilis.

Semua anak buah Klabang Wilis mengenakan pakaian hijau.

Kumisnya masih tebal, sekepal sebelah dan dalam usia empat puluh lima tahun itu rambutnya sudah bercampur uban.

Ketiga orang isterinya yang dahulu sudah diceraikan semua dan kini dia mempunyai seorang isteri baru yang masih muda belia.

Wiku Menak Koncar yang duduk di depannya kini sudah berusia enam puluh enam tahun.

Tubuhnya sedang dan wajahnya tidak tampak tua karena kulitnya yang hitam arang.

Pakaiannya mewah, pasang matanya sipit dan hidungnya pesek bibirnya tebal.

Wajahnya yang tidak tampan itu tidak menyembunyikan kenyataan bahwa dia seorang sakti karena sepasang matanya mencorong mengeluarkan sinar yang penuh wibawa.

"Wiroboyo, sekarang tiba saatnya bagiku untuk membalas dendam kepada musuh besarku seperti yang pernah kuceritakan padamu,"

Kata Wiku Menak Koncar dengan suara kecil seperti suara perempuan.

"Maksud bapa Wiku, orang yang bernama Harjodento, ketua perguruan Nogodento itu?"

Tanya Ki Wiroboyo.

"Benar, kurang lebih sebelas tahun yang lalu, si Harjodento itu telah membunuh kakang Klabangkolo, kakak seperguruanku. Karena Harjodento mempunyai banyak murid di perguruan Nogodento sampai sekarang aku belum sempat membalas dendam kematian kakang Klabangkolo. Akan tetapi sekarang ada engkau dan anak buahmu dan musuh besar itu berada tak jauh dari sini. Selama ini aku bersabar untuk menanti saat terbaik dan. mengajarkan ilmu kepadamu. Sekarang kulihat engkau sudah cukup kuat dan engkau dapat membantu aku membalas dendam. Kita serbu Nogodento dan akan kubunuh si Harjodento!"

"Akan tetapi bapa Wiku belum menceritakan mengapa dan bagaimana pembunuhan atas diri kakak seperguruan bapa itu terjadi,"

Kata Wiroboyo.

"Hemm, si Harjodento itu adalah sorang yang membantu Mataram dan ketika itu terjadi pertempuran antara orang-orang yang setia kepada Mataram melawan orang-orang dari daerah yang akan ditundukkan Mataram. Kakang Klangbangkolo menentang Mataram dan dia terbunuh oleh tombak Harjodento si keparat!"

"Baik bapa, saya akan mengerahkan anak buah dan ikut membantu bapa menyerbu perguruan Nogodento,"

Kata Wiroboyo yang hendak membuktikan bahwa dia adalah seorang murid yang setia.

"Tidak perlu semua anak buah diajak. Sebaiknya panggil Darsikun dan Warok Surosingo ke sini untuk diajak berunding,"

Kata Wiku Menak Koncar. Wiroboyo bertepuk tangan tiga kali dan seorang anak buah berlari memasuki ruangan itu memenuhi tanda panggilan ketuanya.

"Cepat minta kepada kakang Darsikun dan kakang Warok Surosingo untuk datang ke sini, diundang bapa Wiku,"

Kata Wiroboyo.

Anak buah itu mengangguk dan cepat keluar.

Tak lama kemudian dua orang yang diundang itu memasuki ruangan lalu mereka mengambil tempat duduk berhadapan dengan Wiku Menak Koncar.

Darsikun yang bertubuh tinggi kurus itu duduk di sebelah kiri Ki Warok Surosingo yang bertubuh pendek akan tetapi kekar berotot, Mereka berdua memandang kepada Wiroboyo dengan mata bertanya.

"Adi Wiroboyo, ada keperluan apakah andika memanggil kami?"

Tanya Ki Darsikun.

"Bapa Wiku yang mengundang kalian berdua. Saya persilakan bapa Wiku yang memberi penjelasan kepada kalian,"

Kata Wiroboyo.

"Begini, Darsikun dan Surosingo,"

Kakek bermuka hitam itu berkata.

"Aku dan Wiroboyo akan pergi menyerbu perguruan Nogodento dan membunuh ketuanya yang menjadi musuhku. Kami akan membawa anak buah Klabang Wilis, akan tetapi tidak semua. Cukup lima puluh orang saja. Sisanya tinggal di sini dan kalian berjagalah di sini memimpin mereka selagi Wiroboyo pergi."

"Bapa Wiku, saya pernah mendengar bahwa perguruan Nogodento di daerah Ngawi itu amat kuat dan ketuanya kalau tidak salah bernama Ki Harjodento yang terkenal sakti mandraguna. Karena itu, ijinkanlah saya ikut pergi membantu,"

Kata Warok Surosingo.

"Tidak perlu, Surosingo. Aku sendiri sudah cukup untuk membunuh Harjodento. Wiroboyo dan anak buah Klabang Wilis kuajak untuk menghadapi pengeroyokan anak buah Nogodento. Engkau dibutuhkan di sini karena selagi Wiroboyo pergi, perkampungan Klabang Wilis ini harus dijaga. Engkau dan Darsikun bersama sisa anak buah yang bertanggung jawab untuk keamanan di sini,"

Kata Wiku Menak Koncar.

Dua orang itu mengangguk menyetujui.

Wiroboyo lalu membuat persiapan.

Dia memilih lima puluh orang anak buah dan memerintahkan mereka mempersiapkar diri dan membawa senjata.

Setelah semua siap, berangkatlah rombongan itu menuruni lereng Gunung Wilis menuju ke perguruan pencak silat Nogodento yang berada di tepi Bengawan Solo di daerah Ngawi.

Ki Darsikun dan Warok Surosingo tinggal di perkampungan Klabang Wilis bersama sisa anak buah yang berjumlah sekitar tiga puluh orang.

Beberapa jam setelah rombongan Wiku Menak Koncar pergi, tampak seorang wanita muda berjalan seorang diri mendak Gunung Wilis.

Matahari telah naik tinggi Gadis cantik jelita yang dengan langkah tegap dan tangkas berjalan mendaki lereng Gunung Wilis itu bukan lain adalah Muryani!

Seperti kita ketahui, Muryani mendapat keterangan dari senopati Ponorogo yaitu Tumenggung Jatisurya bahwa kini Wiroboyo menjadi Ketua Perkumpulan Klabang Wilis yang sarangnya berada dekat puncak Gunung Wilis.

Mendengar ini, dara perkasa ini segera berangkat meninggalkan Ponorogo menuju ke Gunung Wilis dan siang hari ini ia mendaki gunung itu.

Perjalanan mendaki gunung bagi seorang yang tidak mengenal medan, bukan merupakan pekerjaan mudah.

Namun dara perkasa ini menggunakan kepandaiannya dan ia dapat mendaki dengan cepat.

Ia bersemangat sekali untuk mencari orang yang telah membunuh ayahnya.

Bagi orang biasa yang tidak mengenal daerah Gunung Wilis, tentu akan sukar menemukan perkampungan Klabang Wilis.

Akan tetapi tidak demikian bagi seorang dara perkasa yang sakti mandraguna serti Muryani.

Dengan ilmu berlari cepat dan meringankan tubuh, ia dapat berloncatan seperti seekor kijang, dapat mengayun tubuh dari pohon ke pohon seperti seekor kera dan melakukan pendakian cepat sekali.

Jurang dan tebing curam tidak dapat merintanginya, juga bukit yang terjal dapat didakinya dengan mudah.

Akhirnya tibalah ia di depan pintu pagar perkampungan Klabang Wilis.

Dua orang laki-laki muda berpakaian serba hijau segera berlari-lari dari dalam menyambut gadis yang berdiri di luar pintu pagar itu.

Mereka berdua tertegun melihat bahwa yang datang adalah seorang gadis yang cantik jelita.

Seorang gadis yang bertubuh ramping padat dalam usia dua puluh satu tahun, bagaikan bunga sedang mekar.

Wajahnya bulat dengan dagu runcing sehingga tampak manis.

Sepasang alis hitam dan kecil panjang melengkung melindungi sepasang mata bintang yang jeli dan bersinar tajam dihias bulu mata lentik.

Hidungnya mancung kecil dan sepasang bibirnya merah membasah dan menggairahkan.

Kulitnya putih kuning mulus.

Dua orang anak buah Klabang Wilis itu terpesona, merasa seolah melihat seorang bidadari yang tiba-tiba berada di depan pintu pagar perkampungan mereka Biarpun hati mereka terangsang dan timbul keinginan untuk menyapa dan menggoda dara jelita itu, namun mereka berdua meragu dan tidak berani lancang Siapa tahu dara ini masih sanak dekat Ki Wiroboyo, atau Ki Darsikun atau juga Warok Surosingo.

Lebih-lebih kalau dara itu masih sanak Wiku Menak Koncar.

Mereka berdua tentu akan celaka kalau berani menggoda gadis yang menjadi sanak keluarga para pimpinan itu.

Karena itu, mereka menghampiri dan seorang dari mereka bertanya dengan sikap sopan walaupun pandang matanya seolah melahap semua kecantikan itu.

"Andika siapakah dan andika datang ke sini hendak mencari siapa?"

Muryani tidak menjawab pertanyaan itu, sebaliknya ia malah bertanya.

"Apakah ini sarang perkumpulan Klabang Wilis?"

Dua orang anak buah Klabang Wilis itu saling pandang dan seorang dari mereka menjawab.

"Benar, ini adalah perkampungan kami, Perguruan Klabang Wilis."

"Dan siapakah ketuanya? Apakah Ki Wiroboyo?"

Muryani bertanya lagi. Dua orang anak buah Klabang Wilis itu menduga bahwa gadis ayu ini tentu masih kerabat ketua mereka, maka mereka makin tidak berani bersikap kasar atau kurang ajar.

"Benar sekali. Ki Wiroboyo adalah ketua kami. Apakah andika sanak keluarga beliau yang datang berkunjung?"

Muryani memandang tajam kepada dua orang itu.

"Dan kalian tentu anak buah Klabang Wilis, bukan?"

"Benar, kami berdua adalah murid Klabang Wilis!"

Dua orang itu mengaku dengan suara mengandung kebanggaan.

Akan tetapi pada saat itu, tubuh Muryani bergerak ke depan dengan kecepatan yang luar biasa.

Dua orang itu bahkan sama sekali tidak menyadari bahwa mereka di serang.

Tahu-tahu mereka telah terpelanting roboh dalam keadaan pingsan!

Pada saat itu, tiga orang murid Klabang Wilis lain yang berada tidak jauh dari pintu pagar melihat robohnya dua orang teman mereka.

Mereka terkejut dan segera berteriak-teriak memberi tanda bahaya.

Bermunculanlah para murid lain dan tiga puluh lebih anak buah Klabang Wilis kini memenuhi pekarangan yang luas itu, mengepung Muryani yang sudah memasuki pekarangan dengan sikap tenang.

Tiga puluh orang lebih itu marah sekali melihat dua orang kawan mereka menggeletak di atas tanah tak bergerak seperti sudah tewas.

Mereka sudah mencabut senjata mereka masing-masing, ada yang memegang klewang, ada yang mencabut pedang atau keris, dan ada pula yang membawa ruyung.

Akan tetapi sebelum mereka bergerak menyerang karena mereka agak ragu melihat betapa orang yang dianggap membikin kacau itu ialah seorang gadis yang demikian ayu, tiba-tiba terdengar bentakan.

"Tahan semua senjata!"

Mengenal suara ini, para murid Klabang Wilis membuka jalan dan muncullah Warok Surosingo yang bertubuh pendek kekar itu.

Dia menghampiri dua orang anggauta Klabang Wilis yang masih menggeletak di atas tanah.

Setelah dilihatnya bahwa dua orang itu tidak mati melainkan pingsan, dia lalu menghampiri Murini dan berdiri berhadapan dengan gadis itu.

Sejenak keduanya saling pandang dan melihat kakek pendek kokoh itu mempunyai sebuah kolor (ikat pinggang) dari lawe yang besar, tahulah Muryani bahwa ia berhadapan dengan seorang warok.

Warok Surosingo mengerutkan alisnya dengan marah akan tetapi juga heran melihat orang yang membuat dua orang anggauta Klabang Wilis roboh pingsan dan yang kini dikepung puluhan orang tanpa kelihatan takut itu hanyalah seorang gadis muda yang cantik.

"Nona, siapakah engkau dan mengapa engkau membikin ribut di sini?"

"Panggil Wiroboyo keluar, aku hanya mau bertemu dan bicara dengan dia!"

Kata Muryani.

"Hemm, aku pembantunya. Katakan apa yang menjadi keperluanmu hendak bertemu dengan Ki Wiroboyo?"

Muryani tersenyum.

"Keperluanku? Aku hendak membunuhnya!"

Mendengar ucapan ini, tentu saja Warok Surosingo dan semua anak buah Klabang Wilis terkejut dan marah sekali. Akan tetapi Warok Surosingo tertawa bergelak.

"Ha-ha-ha, engkau ini bocah ayu sungguh lancang mulut! Engkau hendak membunuh Ki Wiroboyo? Ha-ha-ha! Apa yang kauandalkan? Dengan adanya aku, Warok Surosingo di sini, tak seorangun dapat berbuat sesuka hati. Bocah ayu, sebaiknya engkau menyerah untuk kelak kuhadapkan ketua kami. Engkau telah mendatangkan keributan, merobohkan dua orang anggauta kami!"

"Warok Surosingo, kalau engkau hendak menghalangi, engkaupun akan kuhajar!"

Bentak Muryani. Si pendek itu membelalakkan mata dan membuka mulutnya tertawa.

"Ha-ha-ha, kalian dengar itu, kawan-kawan? Bocah ayu ini hendak menghajar aku!"

Mereka semua tertawa karena merasa lucu.

Seorang gadis muda cantik jelita yang kelihatan ringkih seperti itu hendak menghajar Warok Surosingo yang digdaya?

Muryani mengerutkan alisnya melihat betapa semua orang mentertawakannya.

Tibatiba ia memutar tubuh, mengerahkain tenaga dan mendorongkan telapak tangan kirinya ke arah sebatang pohon yang tumbuh di depannya.

Jarak antara ia dan pohon itu sekitar dua meter.

Angin bersiutan menyambar ke arah pohon itu.

"Wuuuttt krakkkkk....!"

Pohon sebesar pinggang manusia itu patah dan tumbang! "Oohhhhh !"

Banyak mulut itu ter nganga mengeluarkan seruan keget ini.

"Warok Surosingo, kalau engkau membela Wiroboyo, engkau akan tumbang seperti pohon itu!"

Kata Muryani sambil bertolak pinggang menghadapi jagoan pendek kokoh itu.

Surosingo adalah seorang warok, seorang jagoan kawakan yang digdaya.

Melihat demonstrasi yang dipamerkan Muryani tadi, tahulah dia bahwa gadis itu bukan orang sembarangan dan gertakannya bukan sambal belaka.

Akan tetap tentu saja dia tidak gentar karena dia sendiri juga seorang gemblengan yan memiliki kesaktian.

Dia tidak ingin dipandang rendah dan ditertawakan para anggauta Klabang Wilis.

Maka mendengar ucapan Muryani tadi, dia segera memutar kolornya yang panjang dan besar sehingga senjata istimewa yang diputar-putar itu mengeluarkan suara bersiutan.

"Bocah sombong! Engkaulah yang akan tumbang oleh pusakaku ini!"

Katanya dan tanpa banyak cakap lagi dia sudah menerjang ke depan dan kolornya berubah menjadi gulungan sinar kuning yang menyambar ke arah dada Muryani.

Melihat sikap warok yang menyerangnya dengan senjata pusakanya padahal ia sendiri bertangan kosong itu, Muryani sudah dapat menilai bahwa warok itu bukan seorang yang berwatak gagah dan hal ini sudah menunjukkan bahwa kepandaiannya tentu belum seberapa.

Dia masih berwatak sewenang-wenang dan licik.

Bagaimanapun juga, sambaran senjata pusaka kolor itu bukan tidak berbahaya.

Muryani cepat mengelak ke belakang dan sambil memutar tubuhnya, ia balas menyerang dengan tamparan tangannya yang mengandung Aji Gelap Sewu.

Karena dara perkasa itu mengerahkan Aji Kluwung Sakti, maka gerakannya cepat sekali, tubuhnya menjadi ringan dan saking cepatnya ia bergerak, tubuh itu seolah berubah menjadi bayangan.

Hampir saja pelipis Warok Surosingo terkena tamparan.

Warok itu terkejut setengah mati.

Gerakan gadis itu demikian cepat sehingga sukar dia mengikuti dengan pandangan matanya.

Bagaikan seekor burung srikatan, gadis itu berkelebatan di sekeliling dirinya.

Warok Surosingo menyerang bertujbi-tubi dengan ngawur.

Ujung kolornya menyambar-nyambar ke arah bayangan yang berkelebatan itu, namun tak pernah mengenai sasaran.

Tiba-tiba kaki kiri Muryani mencuat dan dapat mencuri bagian yang kosong.

"Wuuuttt bukkkk!"

Perut yang gendut itu tercium kaki yang mungil itu.

Tampaknya tidak terlalu kuat tendangan dari samping itu.

Akan tetapi ternyata tubuh Warok Surosingo gelayaran (terhuyung-huyung) lalu terpelanting dan terguling-guling.

Namun agaknya tendangan itu tidak cukup kuat sehingga dia mampu melompat bangkit lagi, walaupun napasnya agak terengah dan mulutnya menyeringai menahan rasa nyeri dan mulas dalam perutnya.

Biarpun dia sudah melindungi perutnya dengan aji kekebalan tetap saja perutnya terasa mulas karena terguncang oleh kekuatan dahsyat yang terkandung dalam tendangan kaki mungil tadi.

Melihat Warok Surosingo roboh tertendang, para anggauta Klabang Wilis menjadi terkejut dan marah.

Mereka lalu maju mengepung dengan senjata siap di tangan.

Warok Surosingo juga tidak menghalangi karena diapun mulai merasa jerih terhadap dara yang ternyata sakti mandraguna itu.

Muryani hanya berdiri bertolak pinggang dan tersenyum melihat pengepungan mereka.

Pada saat itu terdengar teriakan seseorang.

"Heii, kawan-kawan! Jangan membunuh gadis itu. Mari kita menangkapnya hidup-hidup karena ketua kita menginginkan gadis ini?"

Seorang laki-laki tinggi kurus berusia lima puluhan tahun lebih muncul dan mlihat orang ini, Muryani segera teringat bahwa orang itu adalah orang yang dulu bersama Wiroboyo telah menjatuhkannya dan menangkapnya.

Untung pada waktu itu ia ditolong oleh Nyi Rukmo Petak vang kemudian menjadi gurunya selama empat tahun.

Melihat musuhnya ini, Muryani menjadi marah.

Memang orang ini yang dicarinya, orang ini dan Wiroboyo.

"Jahanam busuk, kebetulan engkau berada di sini!"

Bentaknya dan langsung saja tubuh Muryani menerjang ke arah Darsikun dengan pukulan dahsyat sekali karena dia telah menggunakan aji pukulan Gelap Sewu yang tadi telah menumhangkan sebatang pohon.

"Wuuuttt"!"

Darsikun yang kini telah menjadi semakin tangguh setelah menerima gemblengan Ki Harya Baka Wulung selama hampir dua tahun, mengenal pukulan jarak jauh yang mengandung tenaga dalam yang ampuh.

Dia cepat menghindarkan diri dengan elakan ke kanan dan lengannya menyambar ke depan untuk mencengkeram pundak kiri gadis itu.

Namun Muryani juga sudah mengelak dengan cepat.

Pada saat itu, Warok Surosingo sudah menubruk dari belakang.

Juga para anggauta Klabang Wilis sudah berlomba untuk menyergap dan meringkus gadis itu.

Agaknya mereka semua berlomba untuk dapat meringkus dan mendekap tubuh ranum menggairahkan itu.

Akan tetapi dengan trengginas Muryani menggerakkan tubuh berkelebatan di antara para pengeroyoknya, kedua tangan dan kedua kakinya menyambar-nyambar dan berturut-turut empat orang anggauta Klabang Wilis terpelanting dan roboh terbanting keras tak mampu bangkit kembali karena menderita tulang patah atau otot terkilir!

Melihat ini, para anak buah Klabang Wilis terkejut.

Muryani tidak berhenti sampai di situ saja.

Ia terus berkelebatan, sukar sekali untuk dapat ditangkap karena tubuhnya seolah telah berubah menjadi bayangan.

Kembali serangkaian serangannya membuat empat orang lain terjungkal!

Melihat ini, Darsikun terkejut sekali.

Gadis ini tidak seperti empat tahun yang lalu!

Sekarang ia memiliki gerakan yang luar biasa cepatnya dan dia teringat akan nenek berambut putih yang dulu mengalahkan dia dan Wiroboyo.

Dia dapat menduga bahwa tentu gadis yang membuat Wiroboyo tergila-gila itu telah mendapat gemblengan dari nenek berambut putih dan kini merupakan seorang lawan yang amat tangguh.

Dalam beberapa gerakan saja gadis itu telah merobohkan delapan orang pengeroyok, jadi semua sudah sepuluh orang anak buah Klabang Wilis yang roboh dan tidak mampu mengeroyok lagi.

Kalau diteruskan, mungkin tak lama lagi semua anak buah Klabang Wilis akan roboh, dan dia harus menghadapi gadis sakti mandraguna itu berdua saja dengan Warok Surosingo.

Ah, gadis ini amat berbahaya.

Mereka tidak akan menang kalau mencoba untuk menangkapnya hidup-hidup.

"Serang dengan senjata! Bunuh gadis setan ini!"

Bentak Darsikun dengan suara lantang dan diapun sudah mencabut kerisnya.

Warok Surosingo tetap menggunakan senjatanya yang istimewa, yaitu kolornya.

Dua puluh orang sisa anak buah Klabang Wilis ketika mendengar perintah ini, bangkit kembali keberanian mereka.

Mereka mencabut senjata masing-masing lalu mulai mengeroyok Muryani.

"Mampus kau!"

Bentak Darsikun dan dia menerjang dengan kecepatan tinggi, kerisnya menusuk ke arah perut gadis itu dan tangan kirinya dari bawah memukul ke atas, ke arah muka Muryani.

Pukulan tangan kiri itu hebat sekali, bahkan lebih berbahaya daripada serangan kerisnya.

Itulah aji pukulan Cantuka Sakti yang dia dapatkan dari Ki Harya Baka Wulung.

Muryani terkejut juga melihat serangan ganda itu.

Ia melangkah ke belakang sehingga tusukan keris luput, akan tetapi pukulan tangan kiri itu terus menghantam ke arahnya dengan tenaga pukulan jarak jauh yang dahsyat.

Muryani menggerakkan tangan kanannya, dengan Aji Gelap Sewu menangkis.

Pukulan tangan kiri Darsikun terpental ketika bertemu dengan hawa pukulan yang menangkis dari tangan kanan gadis itu.

Pada saat itu kolor Warok Surosingo menyambar dari atas, menghantam ke arah kepala Muryani.

"Wuuttt"

Darrr".!"

Ujung kolor bertemu dengan tangan kiri Muryani yang menangkis ke atas dan kolor itu terpental. Beberapa batang klewang dan keris sudah datang menyerbu bagaikan hujan ke arah tubuh dara perkasa itu.

"Eiiittt". !"

Muryani mengeluarkan suara melengking dan tubuhnya sudah mencelat ke atas, lalu membuat gerakan jungkir-balik di udara beberapa kali dan turun di luar kepungan.

Akan tetapi dua puluh lebih orang anak buah Klabang Wilis, dipimpin Darsikun dan Warok Surosingo sudah mengepungnya lagi dan menyerang dengan ganas.

Mereka semua menyerang dengan niat membunuh gadis yang berbahaya itu.

Muryani menggunakan kelincahan tubuhnya untuk mengelak dan terkadang menangkis dengan kedua lengannya.

Agak repot juga gadis itu karena pengeroyokan banyak orang bersenjata, terutama sekali karena Darsikun ternyata cukup tangguh, dibantu warok yang juga bukan orang lemah itu.

Muryani tidak terdesak, akan tetapi iapun menemui kesulitan untuk merobohkan para pengerokknya.

Pada saat itu tampak sesosok bayangan berkelebat disusul suara seorang laki laki mencela.

"Puluhan orang laki-laki bersenjata mengeroyok seorang gadis bertangan kosong! Huh, tidak tahu malu!"

Setelah berkata demikian, laki-laki itu mengamuk, menendangi mereka yang mengeroyok Muryani.

Hebat sekali sepak terjangnya.

Terdengar para anak buah Klabang Wilis berteriak kesakitan dan tubuh mereka berpelantingan, roboh dan tidak mampu bangkit kembali!

Muryani melihat bahwa pemuda yang membantunya itu bertubuh tinggi tegap tidak terlalu besar namun dadanya bidang.

Wajahnya tampan sekali, dengan kulit putih bersih dan rambutnya agak berombak.

Tentu saja ia tidak dapat mengamati dengan jelas dan melihat betapa pemuda itu mengamuk dengan tangkasnya, Muryani menjadi semakin bersemangat dan ia pun mengerahkan kegesitan dan tenaganya untuk merobohkan para pengeroyok sebanyak mungkin.

Dua orang muda itu kini seakan berlomba cepat merobohkan para pengeroyok!

Warok Surosingo dan Darsikun kaget bukan main melihat munculnya pemuda asing yang merobohkan banyak anak buah itu.

"Keparat! Engkau sudah bosan hidup!"

Bentak Warok Surosingo dan dia pun menerjang dengan kolornya.

Kolor itu berubah menjadi sinar kuning menyambar ke arah dada pemuda itu.

Akan tetapi pemuda itu sama sekali tidak merasa gentar, bahkan dia membusungkan dadanya menyambut hantaman pusaka berupa kolor lawe berwarna kuning itu.

"Wuuuuttt".. darrrr".!"

Kolor itu ujungnya seperti meledak bertemu dengan dada yang bidang, akan tetapi pemuda itu tidak tergetar sedikitpun juga, bahkan secepat kilat dia menangkap ujung kolor dan sekali tangannya menyentak kuat, tubuh pendek gendut Warok Surosingo yang berat itu terlontar ke atas!

Warok itu mengeluarkan teriakan kaget dan tubuhnya meluncur turun, pemuda itu memapakinya dengan pukulan tangan terbuka.

"Wuuuuttt"..dessss".!!"

Tubuh warok itu terlempar dan roboh tak dapat bangkit kembali, dari mulut, hidung, telinga dan matanya mengalir darah.

Dia tewas seketika.

Pemuda itu melanjutkan amukannya, merobohkan para pengeroyok dan tinggal beberapa orang saja itu.

Muryani juga tidak mau kalah.

Gadis ini mengamuk dan akhirnya semua anak buah Klabang Wilis yang membantu Darksikun dan ikut mengeroyoknya telah roboh satu demi satu.

Kini tinggal Darsikun seorang yang masih melawan mati-matian, menggunakan kerisnya.

Namun gerakan Muryani yang luar biasa cepatnya itu membuat Darsikun terdesak hebat walaupun gadis itu bertangan kosong saja.

Serangan keris Darsikun tak pernah mengenai sasaran karena lawannya sukar sekali diserang, berkelebatan seperti bayang-bayang.

Bahkan sebaliknya, Darsikun terdesak karena dia merasa seolah diserang oleh lawan yang bertangan banyak.

Darsikun menjadi panik dan mulai ketakutan melihat betapa semua anak buah Klabang Wilis yang berjumlah tiga puluh orang lebih itu, termasuk Warok Surosingo, telah roboh!

Pemuda sakti yang datang membantu Muryani itu kini berdiri menonton pertandingan antara dia dan Muryani.

Darsikun maklum bahwa keadannya berbahaya sekali, akan tetapi dia tidak melihat jalan untuk melarikan diri.

"Hyaaattt !!"

Sambil mengerahkan seuruh tenaganya, Darsikun menyerang ke arah bayangan di depannya.

Kerisnya meluncur cepat ke arah dada Muryani.

Akan tetapi seperti juga tadi, kerisnya mengenai tempat kosong dan sebelum dia dapat menarik kembali senjatanya, dari samping tangan kanan Muryani menepis dengan bacokan tangan miring ke arah pergelangan tangan kanan Darsikun yang memegang keris.

"Dukk'.!"

Darsikun mengeluarkan seruan tertahan.

Dia merasa tulang pergelangan tangannya seperti remuk dan tak dapat dicegah lagi keris yang dipegangnya terlepas dan mencelat.

Cepat dia melangkah ke belakang lalu mengerahkan seluruh tenaganya untuk memukul dan mendorong ke depan dengan kedua tangan terbuka.

Tubuhnya berjongkok rendah dan ketika dia mendorongkan kedua tangannya, ada hawa pukulan yang dahsyat menyambar ke depan.

"Ciaaattt".!"

Itulah aji pukulan Cantuka Sakti yang dia pelajari dari Ki Harya Baka Wulung.

Biarpun aji pukulan itu belum dikuasainya sepenuhnya, namun dia sudah dapat memukul dengan hebat sekali.

Pukulan jarak jauh ini mampu merobohkan lawan dalam jarak tiga meter.

Kini jarak antara Darsikun dan Muryani kurang dari dua meter, maka dapat dibayangkan betapa dahsyat dan berbahayanya pukulan yang dilakukan Darsikun yang sudah menjadi nekat itu.

Begitu Darsikun berjongkok rendah Muryani sudah menduga bahwa lawannya akan melakukan pukulan ampuh, maka ia pun lalu mengerahkan tenaganya dan ketika lawan memukul dengan dorongan, ia pun mendorongkan kedua tangannya depan, menggunakan Aji Gelap Sewu yang ia pelajari dari Nyi Rukmo Petak selama empat tahun menjadi murid nenek sakti itu.

"Wuuuttt".blarrr"..!"

Dua tenaga sakti yang amat kuat bertemu di udara dan akibatnya, Darsikun terpental dan roboh terguling-guling!

Muryani cepat melompat mendekatinya.

Ia tadi memang membatasi aji pukulannya karena ia ingin menangkap Darsikun hidup-hidup.

Dan ternyata memang belum tewas.

Dia menderita luka dalam yang cukup parah sehingga dia tidak mampu melawan lagi.

Sambil merintih Darsikun bangkit dan duduk bersila, mengatur pernapasan.

Dari ujung bibirnya mengalir darah.

"Hayo mengaku, siapa yang telah membunuh ayahku empat tahun yang lalu itu? Mengaku atau aku akan menyiksamu!"

Muryani membentak. Darsikun maklum bahwa tidak ada harapan lagi baginya untuk dapat lolos dari ancaman maut. Dia tersenyum mengejek dan berkata dengan tegas.

"Akulah yang membunuh Ki Ronggo Bangak malam itu atas permintaan Ki Wiroboyo!"

Muryani merasa betapa dadanya panas dan hampir meledak saking menahan marahnya, akan tetapi ia masih dapat menahan diri.

Memang hal ini sudah diduganya.

Orang yang menyerangnya malam itu memang bertubuh tinggi kurus seperti ini.

"Di mana Wiroboyo si jahanam itu sekarang? Hayo katakan atau aku akan menyiksamu sehingga engkau akan mati perlaahan-lahan!"

"Ki Wiroboyo kini sedang menyerbu Perguruan Nogodento di Ngawi. Kalau dia berada di sini, jangan harap engkau akan dapat lolos!"

"Jahanam busuk!"

Bentak Muryani.

Akan tetapi pada saat itu, Darsikun menggerakkan kedua tangannya.

Muryani menyangka bahwa orang itu akan menggunakan tenaga terakhir untuk menyerangnya, maka ia melangkah mundur.

Akan tetapi ternyata Darsikun menggerakkan kedua tangannya ke atas dan menghantam kepalanya sendiri.

"Krakk!"

Dia roboh telentang dan tewas seketika dengan kepala retak-retrik!

Muryani menghampiri seorang anggota Klabang Wilis yang belum tewas.

Muryani yang mengalami patah tulang pundaknya dan merintih-rintih itu menjadi pucat ketakutan ketika Muryani menghampirinya.

"Ampuni saya". Katanya lirih.

"Cepat katakan, di mana Perguruan Nogodento itu dan jangan bohong!"

"Di.... di tepi Bengawan Solo daerah Ngawi.... begitu yang saya dengar.... saya sendiri belum pernah ke sana, den-ajeng...."

Muryani meninggalkan orang itu.

Ia melihat pemuda yang tadi membantunya masih berdiri sambil bersedakap memandang kepadanya dengan bibir tersenyum.

Ia tidak perduli.

Bagaimanapun juga, ia tidak minta pemuda itu membantunya!

Muryani lalu masuk rumah besar untuk mencari Wiroboyo.

Akan tetapi ia hanya melihat wanita dan kanak-kanak di sebuah bangunan yang terdapat di perkampungan itu.

Tadinya ia berniat untuk membakar semua rumah, akan tetapi melihat para wanita dan kanak-kanak, diurungkan niatnya.

Mereka tidak bersalah, pikirnya, tidak semestinya menjadi korban.

Yang patut dibunuh hanyalah Wiroboyo dan Darsikun tadi, juga mereka yang membantu Wiroboyo.

Anak buah Klabang Wilis itu pun hanya bawahan saja, maka sudah cukup kalau mereka dihajar dan dirobohkan, tidak perlu dibunuh.

Setelah melakukan penggeledahan seluruh perkampungan dan tidak menemukan Wiroboyo, dan mendapat keterangan dari isteri Wiroboyo yang masih muda itu bahwa suaminya benar-benar pergi dengan Wiku Menak Koncar dan lima puluh orang anak buah untuk menyerang Perguruan Nogodento di tepi Bengawan Solo di daerah Ngawi, Muryani keluar dari rumah besar itu.

Ia telah memeriksa semua rumah di perkampungan itu dan tidak menemukan Wiroboyo, maka cepat-cepat ia berlari keluar dari perkampung itu tanpa memperdulikan pemuda yang tadi telah membantunya!

Dengan mengerahkan Aji Kluwung Sakti, tubuhnya berkelebat cepat dan sebentar saja ia sudah menuruni Gunung Wilis.

Ketika ia tiba di lereng gunung ter bawah, Muryani terkejut melihat seorang pemuda duduk di atas batu besar di tepi jalan setapak yang dilaluinya.

Pemuda tu bukan lain adalah pemuda tampan yang tadi telah membantunya!

Bagaimana mungkin pemuda itu sudah berada di situ?

Ia mempergunakan Aji Kluwung Sakti yang membuat ia dapat berlari cepat sekali.

Akan tetapi pemuda itu tahu-tahu telah ada di depannya.

Ini berarti bahwa pemuda itu dapat berlari lebih cepat daripadanya!

Bagaimana mungkin?

Pemuda itu duduk bersila dengan kedua tangan bersedakap (bersilang depan dada) seperti orang dalam samadhi!

Akan tetapi Muryan tidak perduli dan ia berlari terus.

Ia merasa tidak mempunyai urusan dengan pemuda itu!

Kini Muryani mengerahkan seluruh tenaganya menggunakan Aji Kluwung Sakti sehingga tubuhnya bagaikan terbang meluncur menuruni lereng terakhir.

Akan tetapi ketika ia tiba di kaki Gunung Wilis dan berada di jalan yang dibuat oleh penduduk daerah itu, tiba-tiba tertegun melihat pemuda yang tadi telah berdiri menghadang di depannya!

Karena pemuda itu berdiri di tengah jalan, sengaja menghadangnya, Muryani mengerutkan alisnya dan memandang marah.

"Hei, mau apa engkau menghadang jalananku?"

Tegurnya ketus. Pemuda itu tersenyum dan wajahnya sungguh tampan menarik ketika tersenyum.

"Nona, kenapa engkau begitu membenciku?"

Muryani mengerutkan alisnya, akan tetapi memandang heran mendengar pertanyaan yang tidak disangka-sangkanya itu.

"Siapa membenci siapa? Aku tidak mengenalmu, tidak ada urusan di antara kita, mengapa aku harus membencimu?"

Pemuda itu membungkuk dengan sikap hormat.

"Maafkan aku, nona. Akan tetapi kita saling berjumpa di sarang Klabang Wilis dan lereng tadi, nona sama sekali tidak menyapaku, bahkan memandangpun tidak seolah-olah engkau marah dan membenciku."

Ucapan pemuda itu lembut, sama sekali tidak mengandung teguran, hanya memberi alas an mengapa dia menganggap gadis itu membencinya.

Muryani menatap tajam wajah pemuda itu.

Kini tampak betapa tampan dan menyenangkan wajah yang penuh senyum dan matanya bersinar lembut dan sopan itu.

Akan tetapi ia seorang gadis yang keras hati, tidak mau memperlihatkan perasaannya.

"Kenapa aku seorang wanita harus menyapamu? Engkau yang pria juga tidak menyapaku!"

Jawabnya agak ketus.

"Aahh".. begitukah? Akan tetapi, nona, aku telah membantumu menghajar para pengeroyokmu tadi!"

"Hemmm, siapa yang minta? Aku tidak butuh bantuanmu!"

"Ahh.... benar juga. Engkau seorang wanita sakti mandraguna, tidak dibantu juga engkau akan dapat menghajar mereka semua. Maafkan kelancanganku, nona. Baiklah sekarang aku tidak mengaku telah membantumu, hanya, aku penasaran melihat banyak laki-laki mengeroyok seorang wanita, maka karena penasaran dan marah aku lalu menerjang mereka. Sekali lagi, harap engkau sudi memaafkan aku, nona."

Muryani merasa tidak enak juga hatinya melihat pemuda itu berulang minta maaf dan mengaku salah.

Padahal, andaikata ia tidak kalah sekalipun, namun harus ia akui secara diam-diam bahwa pengeroyokan demikian banyaknya orang tadi membuat ia repot dan agak kewalahan.

Sesungguhnya bantuan pemuda itu tadi menguntungkan dirinya.

"Sudahlah, lupakan saja. Hanya lain kali kalau ingin membantu orang, katakanlah lebih dulu,"

Kata Muryani dan wajahnya tidak cemberut lagi, bahkan suaranya juga lembut dan sedikit senyuman membayang di bibirnya yang manis.

Melihat ini, pemuda itu kembali membungkuk dengan sikap hormat dan wajahnya berseri gembira.

"Ah, terima kasih, nona. Sejak tadi akupun sudah yakin bahwa engkau adalah seorang dara perkasa yang bijaksana. Aku akan merasa bangga dan berbahagia kalau nona sudi berkenalan dengan orang hina dan bodoh macam saya. Nona, nama saya adalah Satyabrata, seorang pengembara berasal dari Cirebon. Bolehkan saya mengetahui siapa nama nona yang mulia?"

Menghadapi sikap dan ucapan yam lembut dan penuh kesopanan itu, Muryani merasa tidak enak kalau bersikap keras. Ia mulai tersenyum dan menjawab.

"Aku bernama Muryani berasal dari leeng Gunung Lawu."

"Nama yang indah sekali. Bagaimana iku harus menyebutmu? Den-ajeng Muryani, begitukah?"

"Ah, aku bukan puteri bangsawan. Sebut saja Muryani,"

Kata Muryani yang pada dasarnya memiliki watak yang ramah dan sama sekali tidak angkuh.

"Baiklah, karena aku yakin bahwa aku jauh lebih tua darimu, usiamu sudah dua puluh enam tahun, maka kalau engkau tidak keberatan, aku akan menyebutmu diajeng Muryani. Bagaimana?"

"Sesukamulah, bagiku sama saja."

"Nah, diajeng Muryani, setelah kita berkenalan dan kalau engkau sudi menganggap aku sebagai sahabat, mari kita bicara tentang niatmu melakukan pengejaran terhadap orang yang bernama Wiroboyo ketua Klabang Wilis itu."

"Hemm, kakangmas Satyabrata, apa hubungannya niatku itu denganmu? Aku melakukan pengejaran terhadap musuh besarku, kurasa tidak ada sangkut-pautnya denganmu."

Muryani terpaksa menyebut pemuda itu kakangmas, karena pemuda itu menyebutnya diajeng.

Satyabrata girang bukan main mendengar sebutan itu.

Pemuda ini sejak dewasa, beberapa tahun yang lalu ketika dia belum menemukan ilmu-ilmu yang hebat di sumur, ketika dia masih ikut dengan Willem Van Huisen perwira kumpeni Belanda sebagai anak angkatnya, telah merupakan seorang pemuda petualang cinta.

Baca Juga: Si Tangan Sakti 8

Baca Juga: Kisah Para Pendekar Pulau Es 3

Cari Blog Ini

Diberdayakan oleh Blogger.

Parnert