Ceritasilat Novel Online

Seruling Gading 4

Eps 4 Seruling Gading - Kho Ping Hoo

Baca online Seruling Gading - Kho Ping Hoo

Cersil Seruling Gading - Kho Ping Hoo.

Melihat dua orang wanita setengah tua itu menangis sesenggukan di depannya, Parmadi bertanya lembut.

"Bibi berdua, apakah yang terjadi dengan anak andika?"

Ki Gitosani yang mewakili dua orang anita itu segera berkata.

"Anak-mas Seruling Gading. Tadi sudah saya ceritakan bahwa seminggu yang lalu, seorang perawan bernama Karmi menghilang dan wanita ini adalah ibunya. Kemudian, dua hari yang lalu ada perawan lain dilarikan harimau, yaitu Tiyah anak dari wanita kedua ini."

Parmadi mengangguk-angguk.

"Hemm begitukah? Baiklah, bibi berdua harap tenangkan hati. Besok pagi saya akan pergi ke candi itu dan kalau benar anak andika berdua di sana, saya pasti akan berusaha untuk membebaskan mereka. Kalau tidak berada di sana, saya akan menyelidikinya siapa yang menculik mereka dan akan berusaha untuk menyelamatkan mereka."

"Sekarang saya persilakan andika untu beristirahat, anak-mas. Kami telah mempersiapkan sebuah kamar untuk andika, kata Ki Gitosani yang disambungnya kepada semua penduduk yang berkumpul di situ.

"Saudara-saudara, sekarang harap pulang ke rumah masing-masing. Anak-mas Seruling Gading akan beristirahat dulu."

Orang-orang itu lalu bubaran dan pulang ke rumah masing-masing.

Kini mereka tidak begitu ketakutan lagi karena mulai percaya bahwa pemuda itu akan mampu melindunginya.

Setelah semua orang pergi, Parmadi.

berkata kepada Ki Gitosani.

"Paman, tidak perlu saya diberi kamar di dalam rumah ini. Tadi saya melihat di pintu masuk dusun terdapat sebuah gubuk. Saya akan bermalam di sana saja."

"Ah, mana pantas begitu, anak-mas? Andika adalah penolong kami, menjadi tamu kehormatan kami, bagaimana akan melewatkan malam di tempat itu? Gubuk itu dipakai sebagai gardu tempat para peronda. Tidak tertutup rapat. Bagaimana andika dapat beristirahat di tempat terbuka seperti itu?"

Parmadi tersenyum.

"Paman, orang yang menjadi musuh kita itu berbahaya. Saya khawatir dia tidak akan tinggal diam atas gangguan saya tadi. Kalau dia datang menyerang saya dan saya berada dalam rumah ini, hal itu akan membahayakan orang-orang lain yang berada di dalam rumah ini. Karena itulah saya memilih tinggal di gardu itu agar kalau dia melakukan penyerangan, saya dapat menghadapinya orang diri tanpa membahayakan orang lain."

Mendengar ucapan ini, Ki Gitosani terkejut dan mengangguk-angguk.

"Ah, kiranya begitu, anak-mas? Kalau begitu, terserah kepada andika. Akan tetapi harap andika berhati-hati. Resi Koloyitmo itu menyeramkan sekali."

"Saya akan berhati-hati, paman. Sayj hanya titip buntalan pakaian ini, paman Dan besok pagi, kalau saya,pergi ke candi itu, agar jangan ada orang yang ikut ke sana. Biarkan saya sendiri yang menghadapi Resi Koloyitmo dan anaknya itu. Juga malam nanti, kalau tidak teramat penting, lebih baik kalian tidak keluar rumah. Jika terdengar suara apapun di luar biarkan saja."

"Baik, anak-mas. Sekarang juga akan saya beritahukan kepada semua penduduk."

Parmadi lalu keluar dari rumah kepala dusun itu dan dia pergi ke gardu dekat batu besar di mana dia tadi duduk bersila.

Sementara itu, Ki Gitosani dibantu beberapa orang segera menyampaikan pesan pemuda penolong mereka itu kepada setiap rumah.

Parmadi duduk bersila di atas papan dalam gardu itu.

Papan beralaskan tikar itu cukup bersih dan tempat itu sebenarya cukup panjang dan lebar untuk merebahkan diri.

Akan tetapi Parmadi tidak mau lengah.

Dia maklum bahwa dia berhadapan dengan orang yang memiliki kesaktian dan ilmu sihir yang berbahaya.

Maka dia selalu waspada dan dia duduk bersila melemaskan semua anggauta tubuhnya luar dalam, namun kewaspadaannya tak pernah meninggalkannya.

Dia bersila dan memejamkan mata seperti orang tidur, namun perasaannya amat peka dan ada kejadian sedikit saja yang tidak wajar pasti akan diketahuinya.

Tengah malam telah lama terlewat.

Pada saat menjelang fajar itu merupakan saat yang paling nikmat bagi orang tidur malam, saat orang tidur sepulas-pulasnya.

Di dalam candi, dua orang masih belum tidur.

Mereka itu adalah seorang laki-laki berusia lima puluh lima tahun, bertubuh tinggi besar seperti raksasa.

Rambutnya kasar dan panjang, dibiarkan terurai di atas kedua pundak dan punggungnya.

Kumis dan jenggotnya merupakan brewok yang tebal.

Sepasang matanya besar dan bulat, demikian pula hidung dan bibirnya Agaknya setiap anggauta tubuh orang ini serba tebal dan besar.

Pakaiannya sederhana seperti pakaian seorang pertapa, akan tetapi dia memakai gelang tangan dan ikat pinggang terbuat dari emas!

Inilah Resi Koloyitmo yang ditakuti penduduk Sukuh, yang dengan kekerasan telah menggunakan candi itu sebagai tempat tinggalnya untuk sementara.

Di depan laki-laki raksasa itu duduk seorang wanita muda.

Sinar lampu yang berada di atas meja di antara mereka menerangi wajah wanita itu dan orang akan terpesona kalau melihat wajah itu.

Sinar lampu membuat wajah itu tampak kemerahan.

Gadis ini berusia kurang lebih dua puluh tahun.

Kulitnya yang putih kuning itu demikian halus lembut bagaikan gading gajah diukir indah.

Tubuhnya ramping padat, bagaikan buah yang sedang ranum,atau bunga yang sedang mekar, dengan lekuk lengkung yang sempurna, indah menggairahkan.

Sungguh, Sang Maha Pencipta amat bermurah hati terhadap gadis ini, diberinya bentuk tubuh dan wajah yang demikian indahnya.

Rambutnya tebal, hitam mengkilap dan agak berombak, sanggulnya rendah menempel di tengkuk dan dihias tusuk sanggul dari emas permata, diselipi beberapa tangkai bunga melati.

Sinom (anak rambut) berjuntai melingkar manja di dahi dan pelipisnya.

Dahinya berkulit putih mulus dan halus bagaikan lilin diraut, agak nonong akan tetapi bahkan menambah daya tariknya.

Sepasang telinganya kecil berbentuk indah.

Sepasang alisnya hitam seperti dicelaki, padahal memang rambut alis itu hitam aseli, bentuknya kecil penjang melengkung seperti bentuk bulan muda, melindungi sepasang mata yang bentuknya indah, ujung kanan kiri agak miring ke atas membuat kerlingnya setajam pedang.

Mata itu bening dan jeli, sinarnya tajam seolah dapat menembus dan menjenguk isi kepala lawan.

Hidungnya kecil lancung, cupingnya yang tipis dapat bergerak lucu, dan mulutnya!

Sungguh indah dan manis sekali sepasang bibir yang selalu merah membasah tanpa pemerah itu, penuh daya tarik dan menantang.

Sepasang bibir itu demikian hidup, kadang sedikit terbuka sehingga tampak kilatan gigi putih rapi.

Sepasang pipi itu selalu kemerahan dan dagunya meruncing menambah mahis.

Lehernya agak panjang dan kulitnya demikian putih mulus dan tipis.

Pendeknya, jarang terdapat seorang gadis yang sedemikian rupawan.

Sukar mencari cacat celanya.

Cantik jelita, ayu manis merak ati!

Sungguh merupakan gambaran kebalikan dari laki-laki yang duduk di depannya.

Kalau laki-laki itu mewakili, keburukan dan kakasaran, gadis itu mewakili keindahan dan kelembutan!

Memang aneh, namun kenyataannya adalah bahwa laki-laki itu adalah ayah gadis jelita itu.

Gadis berusia sekitar dua puluh tahun namun tampak baru enam belas tahun itu adalah Nini Maya Dewi, puteri Resi Koloyitmo!

Ayah dan anak ini belum lama berada di candi Sukuh.

Bahkan mereka baru saja memasuki daerah itu setelah mereka, atau lebih tepat, setelah Resi Koloyitmo terusir dari daerah Parahyangan.

Di tanah Pasundan itu dia dikenal sebagai seorang tokoh besar atau datuk.

Akan tetapi karena dia melakukan banyak perbuatan sesat, akhirnya dia dimusuhi, dianggap sebagai pengganggu ketenteraman umum dan dimusuhi oleh para pendekar pembela kebenaran dan keadilan.

Bahkan banyak perguruan silat yang memusuhinya.

Bukan hanya itu, bahkan pemerintah setempat juga menganggapnya sebagai seorang tokoh sesat yang membahayakan, maka dia dikejar-kejar dan dimusuhi.

Terpaksa dia melarikan diri, tidak kuat menghadapi tentangan banyak orang dan dalam pelariannya memasuki daerah Mataram dia ditemani puterinya, yaitu Nini Maya Dewi.

Gadis itu merupakan satu-satunya keluarga Resi Koloyitmo.

Menjadi puterinya dan juga muridnya.

Sejak kecil Maya Dewi digembleng ayahnya sendiri.

Gadis ini tidak pernah mengenal ibunya yang menurut keterangan Resi Koloyitmo, ibunya itu telah meninggal dunia ketika ia masih kecil berusia satu tahun.

Maya Dewi amat disayang ayahnya, disayang dan dimanja.

Apapun permintaannya, selalu dipenuhi sang ayah.

Biarpun gadis ini tidak memperlihatkan watak kasar seperti ayahnya, namun karena sejal kecil ia hidup bersama ayahnya dan melihat sepak terjang ayahnya dalam hidup ini aneh dan kadang jahat, maka tenti saja gadis itu terpengaruh dan iapun kadang berwatak aneh dan dapat bersikap keras.

Ketika Resi Koloyitmo mengajak ia untuk sementara tinggal di Candi Sukuh dan ayahnya melakukan penculikan terhadap perawan-perawan dusun, iapun menganggap hal itu biasa saja.

Maya Dewi tahu bahwa ayahnya menculik gadis-gadi dusun yang lugu itu untuk dua hal.

Pertama sebagai pelampiasan nafsu hewan laki laki raksasa itu, dan kedua, dan ini yang terpenting, untuk menyempurnakan ilmu yang sedang dilatih ayahnya.

Ilmu pukulan ini disebut Aji Rudira Wisa (Darah Beracun) dan untuk menyempurnakan ilmu pukulan dahsyat ini dibutuhkan darah perawan yang banyak untuk dihisap dan diteguk!

Ketika malam itu Resi Koloyitmo memasuki candi dengan terhuyung dan pipinya yang sebelah kiri membengkak, Maya Dewi menyambut dengan seruan heran dan khawatir.

"Ayah, apa yang telah terjadi? Ayah terhuyung dan muka ayah agak bengkak."

Resi Koloyitmo menjatuhkan diri di atas sebuah kursi. Mereka duduk saling berhadapan terhalang meja.

"Dua orang gadis tawanan itu?"

Tanyanya sambil mengelus pipi kirinya.

"Mereka masih berada di dalam dan aman, ayah,"

Jawab Maya Dewi.

"Akan tetapi, ada apakah ayah?"

"Hemm, dusun itu didatangi seorang yang merupakan lawan tangguh. Dia mengagalkan aku. Hemm, aku harus membalas dendam. Maya, ambilkan dupa dan pedupaannya."

Tanpa menjawab Maya Dewi masuk ke dalam dan tak larna kemudian ia keluar lagi membawa barang yang diminta ayahnya. Setelah menerima dupa dan pedupaanya, Resi Koloyitmo bangkit berdiri.

"Maya, engkau tunggu di sini, jaga jangan sampai dua orang tawanan itu dilarikan orang. Hatihati, agaknya orang-orang dusun itu sudah berani hendak melawan kita. Aku pergi dulu untuk membuat perhitungan dengan pengganggu itu."

Kakek itu lalu melompat keluar.

Satu di antara keanehan watak Maya Dewi adalah sikapnya yang acuh.

Biarpun ia tahu bahwa ayahnya telah bertemu lawan tangguh, namun ia seperti orang yang tidak perduli dan ia lalu menunggu, duduk bersila dan sama sekali tidak mengkhawatirkan keselamatan ayahnya.

Resi Koloyitmo menuruni bukit, menyelinap di antara batu-batu dan pohon-pohon menuju ke dusun.

Setelah tiba di luar dusun, dia berhenti dan bersembunyi di balik batu besar, mengintai.

Dia melihat ketlka Parmadi memasuki gubuk gardu.

Dia menyeringai.

Pemuda yang dibencinya itu berada di dalam sebuah gardu, seorang diri sehingga memudahkannya turun tangan membuat perhitungan dan pembalasan!

Parmadi yang duduk bersila di dalam gardu tidak tahu bahwa tak jauh dari situ Resi Koloyitmo sudah mengintai dan bersiap-siap untuk melakukan penyerangan terhadap dirinya.

Namun, dia sudah menduga lebih dulu dan sejak tadi dia sudah siap dan waspada.

Ketika tiba-tiba ada hawa yang dingin memasuki gardu dan hawa dingin ini mendatangkan rasa nyaman dan menimbulkan rasa kantuk yang sangat kuat, Parmadi segera menyadari bahwa perasaan mengantuk yang menyerangnya ini merupakan sesuatu yang tidak wajar.

Dalam keadaan biasa dia tentu tidak curiga dan akan menyerah ke dalam dekapan rasa kantuk yang nikmat itu, membiarkan diri terbuai dalam tidur.

Akan tetapi karena memang tadinya dia sudah menaruh curiga dan sudah waspada, maka begitu perasaan ini menyerangnya, tahulah dia bahwa dia telah diserang dengan aji penyirepan yang amat ampuh!

Parmadi segera mengerahkan seluruh kekuatan batinnya, menyerah dan mohon kekuatan kepada Kekuasaan Gusti Allah kemudian menggosok-gosok kedua telapak tangannya satu sama lain sampai kedua telapak tangannya terasa hangat lalu menempelkan telapak tangan itu kepada kedua matanya.

Rasa hangat itu menjalar ke dalam kedua matanya dan seketika mengusir rasa kantuk yang amat kuat itu.

Kemudian dia menurunkan kedua tangannya dan duduk bersila dengan tenang, sama sekali tidak terpengaruh lagi oleh hawa dingin yang timbul karena aji penyirepan tu.

Resi Koloyitmo menjadi penasaran sekali.

Dia telah mengerahkan aji penyirepan Atma Pralaya, aji penyirepan yang amat ampuh dan berbahaya karena aji penyirepan ini kalau sudah mencapai puncak kekuatannya, tidak hanya dapat membuat lawan tertidur pulas, bahkan dapat membuat lawan tidur untuk tidak bangun kembali!

Akan tetapi, sekali ini pengerahan ilmu sihir yang sesat ini bagaikan keris menusuk air saja!

Resi Koloyitmo menjadi marah.

Dia menghentikan pengerahan aji penyirepan itu dan mulai membakar dupa di pedupaan yang telah dibawanya sebagai persiapan.

Asap putih mengepul.

Bau harum yang khas tersebar dan suasana malam larut itu menjadi menyeramkan.

Sebentar saja harum dupa yang aneh itu sampal ke dalam gardu dan tercium oleh Parmad Pemuda ini hanya tersenyum dan dengan tenang dia mencabut seruling gading dari pinggangnya dan mulailah dia meniup suling itu.

Terdengar suara melengking-lengking merdu menyusup ke dalam kesunyian malam.

Kemudian terdengarlah bunyi ledakan-ledakan di atas atap gardu, disusul suara bendabenda kecil berjatuhan menimpa atap.

Serangan pertama berupa hujan benda-benda kecil terbuat dari besi yang berkarat itu gagal.

Benda-benda yang ditujukan untuk menyerang tubuh Parmadi rontok begitu tiba di atas gardu, seolah bertemu dengan perisai atau payung besar yang terbentuk oleh suara suling.

Tak jauh dari gardu, di balik sebuah batu besar, Resi Koloyitmo yang duduk bersila menghadapi pedupaan yang mengepulkan asap putih menjadi semakin penasaran.

Mukanya berubah merah sekali.

Ia menengadah, memandang bulan yang sudah turun ke barat.

Serangannya yang kecil juga gagal.

Suara suling yang melengking-lengking merdu itu bahkan terasa seperti hawa panas yang mulai membakar dirinya.

Dia lalu berkemak-kemik membaca mantera, ditambahkannya dupa di atas api dan asap putih yang tebal sekali bergulung ke atas.

Dia membaca mantera lagi dengan suara yang agak keras sambil mengangkat kedua tangan ke atas, ke arah asap yang bergulung-gulung.

Terjadi hal yang aneh sekali.

Asap putih bergulung-gulung itu mulai membentuk ujud-ujud yang mengerikan.

Bentuk setengah manusia setengah hewan.

Ada tujuh banyaknya dan perlahan-lahan ujud tujuh makhluk jadi-jadian ini melayang-layang ke arah gardu!

Parmadi dapat merasakan datangnya ancaman serangan ketiga ini.

Tiba-tiba dia merasa betapa hawa menjadi panas sekali seolah gardu itu terbakar.

Dan dia melihat pula bentuk-bentuk makhluk menyeramkan yang agaknya berusaha untuk memasuki ruangan bawah atap itu dari semua jurus, hendak mendobrak perisai suara yang melindunginya, Parmadi maklum bahwa lawannya yang tangguh itu agaknya hendak mempergunakan kekuatan sihir yang berhawa panas untuk melawan pertahanannya yang diciptakan oleh suara seruling gading yang berhawa panas pula.

Kalau dia bertahan dengan pertahanan itu, ada bahayanya serangan lawan ini akan berhasii.

Oleh karena itu, dia segera mengubah suara tiupan sulingnya.

Kini sulingnya mengeluarkan suara bernada rendah yang mendatangkan getaran kuat sekali.

Seketika hawa sudah berubah menjadi dingin sekali, sedingin hawa di puncak Gunung Lawu.

Bentuk-bentuk makhluk aneh dari asap putih itu tiba-tiba menjadi kacau dan mereka menjauhkan diri, kembali ke balik batu besar di mana Resi Koloyitmo mengerahkan seluruh tenaga untuk memperkuat makhluk-makhluk ciptaan ilmu sihirnya.

Akan tetapi, tiba-tiba hawa dingin yang amat hebat menyerangnya dan dia terbelalak melihat asap putih itu kini membalik dan api di pedupaannya padam!

Asa putih itupun buyar terbawa angin.

Resi Koloyitmo merasa dingin sekali dan menggigil, lalu bangkit berdiri dan lari pontang-panting mendaki bukit menuju candi yang menjadi sarangnya.

Api lampu penerangan di atas batu berbentuk meja itu bergoyang-goyang ketika Resi Koloyitmo memasuki candi.

Dia bersedakap dan masih menggigil.

Giginya berkeratakan seperti orang menderita sakit demam.

Dia menjatuhkan diri duduk bersila di dekat Nini Maya Dewi.

"Bagaimana, ayah?"

Tanya gadis itu.

Akan tetapi, yang ditanya tidak menjawab, hanya duduk bersila untuk menghimpun kekuatan melawan hawa dingin yang masih menyusup-nyusup di tulang-tulang tubuhnya.

Melihat keadaan ayahnya, Maya Dewi cepat menjulurkan kedua tangannya yang kecil mungil, ditempelkan kedua telapak tangannya ke punggung ayahnya dan iapun mengerahkan tenaga saktinya untuk membantu ayahnya menolak hawa dingin yang menembus tulang itu.

Bantuan gadis itu menolong sekali.

Tak lama kemudian tubuh Resi Koloyitmo menjadi tenang kembali dan hawa dingin itu sudah meninggalkannya.

Tubuhnya terasa hangat.

"Cukup, Maya,"

Katanya. Gadis itu melepaskan kedua telapak tangannya. Mereka duduk berhadapan.

"Bagaimana, ayah?"

Kembali Maya Dewi bertanya. Resi Koloyitmo menghela napas panjang dan wajahnya membayangkan kekecewaan.

"Sungguh tak kusangka, di dusun sepi seperti ini aku bertemu dengan lawan, yang demikian kuatnya. Semua ilmu sihirku, juga aji penyirepan, sudah kukerahkan namun semua tidak berhasil. Dia kuat sekali."

Maya Dewi mengerutkan alisnya yang indah.

"Hemm, siapakah orang itu, ayah?"

"Aku belum tahu siapa dia. Akan tetapi agaknya dia seorang pendatang dari luar dusun dan dia bahkan bermalam di dalam gardu di ujung dusun itu. Tampaknya seorang pemuda biasa saja, akan tetapi ternyata dia kuat sekali. Suara tiupan sulingnya mengandung kekuatan yang amat dahsyat, sukar kutandingi."

"Akan kubereskan dia!"

Kata gadis itu dan ia sudah bangkit berdiri dan hendak melangkah keluar.

"Maya, hendak ke mana engkau?"

Tegur ayahnya.

"Ke mana lagi, ayah? Pergi membunuh orang itu!"

Kata gadis itu sambil memegang ujung sabuknya yang tergantung panjang. Itulah Sabuk Cinde Kencana, sabuk yang terbuat dari benang emas dan merupakan senjatanya yang ampuh.

"Jangan, Maya. Malam sudah hampir fajar, bulan sudah menghilang ke barat. Cuaca di luar gelap sekali. Orang itu berbahaya. Biar aku sendiri yang akan menghajarnya nanti kalau sudah pagi. Sekarang aku akan mengaso dulu, jangan lengah, Maya. Engkaulah yang harus berjaga sampai pagi."

Setelah berkata demikian, Resi KoloItmo memasuki sebuah ruangan di sudut, ternyata di situ terdapat sebuah pembaringan besar dari kayu dan di atas pembaringan itu duduk dua orang gadis manis.

Seorang dari mereka tampak pucat dan kedua orang gadis itu seperti orang yang kehilangan semangat, duduk seperti patung.

Mereka adalah dua orang gadis dusun yang diculik Resi Koloyitmo dan mereka memang berada dalam keadaan tidak sadar, di bawah pengaruh sihir.

Ketika Resi Koloyitmo rebah di atas pembaringan dan merangkul kedua orang gadis itu di kanan kirinya, mereka sama sekali tidak memperlihatkan tanggapan apapun, seperti dua buah boneka saja.

Puncak Gunung Lawu yang menjulanj tinggi masih menyembunyikan matahari di balik punggungnya, akan tetapi sinar matahari sudah menerangi seluruh permukaan bukit-bukit.

Parmadi masih duduk bersila.

Mendengar suara banyak orang, dia membuka matanya dan memandang dengan heran melihat banyak sekali orang keluar dari dalam dusun.

Dia segera keluar dari gardu menghadang mereka.

Kiranya mereka adalah penduduk dusun Sukuh, tua muda lakilaki perempuan, bahkan kanak-kanak dan ada wanita yang menggendong bayinya.

Agaknya seluruh penduduk yang jumlahnya seratus orang lebih, kini keluar semua dipimpin oleh Ki Gitosani!

Dan mereka itu juga yang perempuan, membawa segala macam alat untuk dijadikan senjata.

Ada yang membawa arit, pacul, parang, pisau dapur, bahkan ada yang membawa alu dan pada wajah mereka terbayang kenekatan orang-orang yang hendak berperang!

"Paman Gitosani, andika sekalian ini hendak pergi ke manakah?"

Tanya Parmadi walaupun dia sudah dapat menduga bahwa orang-orang ini agaknya sudah tidak dapat menahan kesabaran mereka dan dengan nekat mereka hendak menyerang Resi Koloyitmo yang dianggap pembawa mapetaka bagi penduduk dusun itu.

"Anak-mas Seruling Gading, pagi ini kami semua bertekad untuk menyerbu dan menolong dua orang perawan yang diculik dan mengusir manusia durjana itu dari dalam candi. Kami bertekad untuk melawan sampai orang terakhir!"

Kata Ki Gitosani dengan sikap gagah dan semua memberi dukungan dengan suara bulat seperti sekumpulan lebah yang marah. Parmadi tersenyum dan mengangguk.

"Paman Gitosani, sikap andika sekalian ini memang tepat sekali. Kalau andika sekalian sedusun bersatu-padu dan bertekad dengan hati bulat menentang kejahatan saya kira tidak akan ada orang jahat yang akan berani berlagak. Akan tetapi kenapa baru sekarang andika sekalian bergerak?"

"Semangat kami timbul setelah melihat andika berani menentang iblis itu, anak-mas Seruling Gading. Sikap andika yang gagah perkasa itu menyulut dan membakar semangat kami. Kami tidak akan mundur dan siap untuk membela kehormatan dan keselamatan kami sampai mati!"

Kembali suara gemuruh mendukung ucapan Ki Gitosani itu. Parmadi mengangguk-angguk.

"Bagus, Beginilah seyogianya semangat bangsa kita yang gagah berani. Bersatu-padu, bergotong-royong untuk mengembangkan dan membangun yang baik, dan untuk meruhtuhkan dan melenyapkan yang buruk demi kesejahteraan kehidupan bangsa. Mari kita ke candi. Akan tetapi, tidak perlu kita mengorbankan nyawa dengan sia-sia. Karena itu, saya mengharap agar andika sekalian berdiri di belakang saya dan hanya menjadi saksi saja. Kalau saya sudah cukup mampu menanggulangi mereka, saya harap andika sekalian jangan bertindak apa-apa. Kalau saya kalah baru terserah kepada andika sekalian. Hal ini perlu andika perhatikan dan taati mengingat bahwa pihak lawan memiliki aji kesaktian dan agar jangan ada korban jatuh di pihak kita."

"Kami akan mentaati pesan anak-mas Seruling Gading!"

Kata Ki Gitosani lantang dan semua orang menyetujui.

Semangat mereka memang sudah terbakar dan mereka menjadi nekat, namun harus diakui bahwa mereka merasa ngeri mengingat akan kesaktian lawan.

Sementara itu, Maya Dewi berseru dari luar ruangan tempat tidur ayahnya.

"Ayah! Ayah, bangunlah! Cepat!!"

Resi Koloyitmo terbangun dan setelah membereskan pakaiannya, dia berlari keluar dan tidak lupa membawa sebatang senjata nenggala, (semacam penggada runcing) yang berwarna hitam legam.

Teriakan puterinya mengandung kekagetan, hal yang hampir tidak pernah terjadi karena puterinya adalah seorang gadis yang tak pernah mengenal takut.

Dari teriakan itu dia tahu bahwa tentu terjadi sesuatu yang mengancam mereka.' "Ada apakah, Maya?"

Tanyanya.

"Mari keluar dan lihatlah sendiri, ayah!"

Kata Maya Dewi yang cepat berlari keluar dari kompleks candi, diikuti oleh Resi Koloyitmo.

Dari depan candi yang merupakan puncak bukit, mereka dapat melihat seratus orang lebih yang mendaki bukit itu.

Sejenak ayah dan anak ini diam saja hanya memandang dan setelah rombongrr itu semakin dekat dan suara mereka yang gemuruh mulai terdengar, mereka dapat melihat wajah mereka yang berjalan di depan rombongan.

Resi Koloyitmo mengenal Ki Gitosani dan pemuda yang dilihatnya semalam.

Biarpun dia hanya melihat samar-samar semalam, namun dia telah dapat menduga bahwa tentu pemuda yang kini memimpin rombongan orang dusun itulah orangnya.

"Babo-babo, keparat! Pemuda itu memimpin seluruh penduduk dusun untuk menyerbu ke sini!"

Kata Resi Koloyit sambil mengacungkan senjata nenggala di tangannya.

"Ayah, pemuda yang berjalan di depan itukah yang semalam telah mengalahkan semua ilmu sihirmu?"

Maya Dewi memandang penuh perhatian.

Ia kini dapat melihat Parmadi dengan cukup jelas.

Seorang pemuda yang berusia kurang lebih dua puluh tiga tahun, wajahnya yang tampan itu dhiasi senyum dan tampak cerah, lenggangnya lentur seenaknya seperti langkah seekor harimau!

"Benar, dialah keparat itu!"

"Ayah, bagaimana kita akan dapat melawan orang sebanyak itu? Tidak mungkin kita harus membunuh seratus lebih penduduk dusun berikut semua anak-anak itu!"

Kata Maya Dewi ragu.

Ia sama sekali tidak takut, akan tetapi kalau harus memunuh orang sebanyak itu, di antaranya banyak terdapat wanita lemah dan anak-anak, ia merasa tidak enak sekali.

Watak gadis ini memang sudah terbentuk keras sejak kecil, dan ia akan dapat membunuh orang yang memang dianggap sebagai musuhnya.

Akan tetapi membunuhi seratus lebih orang dusun yang sama sekali tidak bersalah dan bukan musuhnya?

Ia merasa tidak sanggup melakukannya.

"Hemm, aku akan menantang keparat itu untuk bertanding satu lawan satu dan aku harus dapat membunuhnya! Kalau para penduduk dusun itu maju mengeroyok aku masih dapat dengan mudah meloloskan diri. Karena itu, sebaiknya engkau jangan ikut campur. Kau berangkatlah dulu. Kita berpisah di sini. Pergilah engkau ke Madura, temuilah Ki Harya Baka Wulung yang pernah menghubungi kita di Kadipaten Arisbaya. Aku akan segera menyusul ke sana."

"Tidak perlukah aku membantumu?"

"Tidak usah. Sudah kukatakan aku dapat meloloskan diri kalau terpaksa. Pergilah dan cepat! Kerja sama kita dengan Ki Harya Baka Wulung lebih penting daripada urusan kecil seperti ini!"

Resi Koloyitmo membentak anaknya.

Maya Dewi tidak membantah lagi dan iapun segera pergi meninggalkan candi melalui lereng bukit di belakang candi.

Resi Koloyitmo memang pernah dihubungi Ki Harya Baka Wulung.

Ketika Harya Baka Wulung mendengar bahwa datuk dari Parahyangan itu menjadi buronan, dia sengaja mencari dan menjumpainya dan membujuknya agar suka membantu dia untuk melawan Mataram dan membela Madura dan Surabaya.

Pendeknya membela daerah mana saja yang bermusuhan dengan Mataram.

Reso Koloyitmo segera menyetujui karena selain dia sedang menjadi buron di Parahyangan dan dia mengharapkan imbalan jasa dari kerja sama itu, juga yang terutama sekali karena dia juga mempunyai dendam terhadap Mataram.

Kakaknya yang bernama Klabangkolo yang dahulu menjadi pertapa di Gunung Ijen pernah memusuhi Mataram dan Klabangkolo tewas dalam pertempuran melawan para satria dan senopati Mataram.

Kini tentu saja dia suka membantu Harya Baka Wulung untuk memusuhi Mataram dan sekalian membalaskan dendamnya atas kematian Klabangkolo, kakaknya.

Setelah Maya Dewi meninggalkan candi, Resi Koloyitmo keluar dari halaman candi di mana terdapat tanah lapang.

Kakek seperti raksasa ini berdiri dengan kedua kaki terpentang lebar, tangan kiri bertolak pinggang dan tangan kanan memegang senjata nenggalanya.

Dia menanti rombongan orang itu dengan mata mencorong dan mulutnya menyeringai, mengejek.

Sama sekali dia tidak tampak gentar menghadapi orang demikian banyaknya.

Setelah berhadapan dengan Rest Koloyitmo dalam jarak sekitar sepuluh meter Parmadi berhenti melangkah dan dia memberi isyarat kepada Ki Gitosani untuk mundur.

Lurah itu mengerti akan isyarat dan diapun menggerakkan tangan ke atas menyuruh penduduk dusun agak mundur memberi kesempatan kepada pemuda penolong mereka itu untuk menghadapi Resi Koloyitmo.

Para penduduk segera bergerak agak ke belakang.

Mereka memang sudah merasa agak tegang dan seram melihat kakek yang seperti raksasa itu, apalagi melihat kakek itu memegang sebuah senjata yang tampak besar dan berat.

Parmadi menatap wajah kakek itu.

Ketika melihat betapa pipi sebelah kiri laki-laki itu agak membengkak, yakinlah bahwa orang ini yang semalam mengubah diri menjadi seekor harimau.

Rest Koloyitmo juga memandang dengan tajam.

Pandang mata kedua orang ini bertemu dan Parmadi merasa betapa sepasang mata besar yang mencorong itu menyerangnya dengan daya yang kuat untuk menundukan batinnya.

Akan tetapi dia memandang dengan tenangnya dan serangan itu sama lekali tidak mempengaruhinya.

Resi Koloyitmo maklum bahwa tidak ada gunanya bagi dia untuk bertanding ilmu sihir.

Semalam semua ilmu sihirnya telah dia kerahkan namun tidak ada hasilnya sama sekali.

Dia melihat pemuda itu tidak memegang senjata, akan tetapi ada sebuah suling berwarna putih kekuningan terselip di ikat pinggangnya.

Dia teringat akan suara suling yang melengking-lengking semalam, suara yang mengandung getaran amat kuat dan yang telah menolak dan membuyarkan semua serangan sihirnya.

"Heh, orang muda! Siapakah engkau ini; berani datang mengganggu di tempat pertapaanku?"

Bentaknya sambil menudingkan nenggalanya ke arah muka Parmadi.

"Resi Koloyitmo, tidak penting siapa aku. Aku mewakili warga dusun ini untuk minta agar andika suka membebaskan dua orang gadis yang andika culik dan kuharap andika suka menyadari akan kesalahanmu lalu bertaubat dan kembali ke jalan yang benar. Sungguh patut disayangkan kalau seorang pertapa seperti andika yang sudah puluhan tahun bersusah payah mempelajari ilmu kini mempergunakan ilmu itu untuk perbuatan yang kotor, berarti andika mengotori dan menodai ilmu-ilmu itu."

"Babo-babo! Orang muda yang sombong. Engkau berlagak menjadi seorang satria, seorang pendekar yang gagah berani, akal tetapi sebetulnya engkau hanyalah seorang bocah pengecut yang mengandalkanseratus orang lebih untuk mengeroyok aku!"

Dengan nenggalanya dia menuding ke arah warga dusun yang berdiri agak jauh di belakang Parmadi. Parmadi tersenyum.

"Andika salah sangka, Resi Koloyitmo. Aku tidak mengerahkan warga dusun ini. Mereka memang marah dan sakit hati kepada andika yang telah menculik dua orang gadis dusun da andika dengan kekerasan menguasai candi yang menjadi tempat pemujaan bagi warga dusun. Aku tidak ingin mengeroyok, bahkan mencegah mereka melakukan pengeroyokan karena aku yakin andika akan suka menyadari kesalahan dan mau menyerahkan kembali dua orang gadis itu kemudian meninggalkan candi dan dusun ini dengan baik-baik."

"Babo-babo, keparat! Orang muda, engkau berani menentang aku? Aku adalah penjelmaan Sang Bathara Kolo dan aku berkuasa sepenuhnya atas segala yang berada di dunia ini!"

"Maaf, sang resi. Andika bukan Sang Bathara Kolo. Sang Bathara Kolo (sang waktu) hanya memangsa sesuatu atau seorang kalau memang sudah tiba saatnya bagi sesuatu atau seseorang itu untuk binasa. Akan tetapi andika mempergunakan kekerasan memaksakan kehendak andika yang timbul dari dorongan nafsu daya rendah yang menguasai hati akal pikiran andika! Sadar dan bertaubatlah sebelum terlambat."

Tiba-tiba terdengar seruan di antara para warga dusun Sukuh itu.

"Den-mas Seruling Gading, hantam saja iblis tu itu!"

Setelah terdengar seruan ini dari tengah-tengah mereka, semua orangpun berani bersuara sehingga suasana menjadi gaduh. Parmadi memutar tubuh dan mengangkat tangan memberi isyarat agar mereka tenang.

"Hemm, kiranya engkau bernama Seruling Gading?"

Tanya Resi Koloyitmo.

"Orang menyebutku demikian,"

Kata Parmadi tenang.

"Seruling Gading, kalau memang engkau gagah perkasa, aku tantang engkau untuk bertanding satu lawan satu, tidak menggunakan pengeroyokan. Beranikah engkau?"

"Resi Koloyitmo, aku bukan seorang yang suka mencari permusuhan dengan sipapun juga. Akan tetapi kalau andika tidak mau membebaskan dua orang gadis dusun yang kau culik dan tidak mau meninggalkan candi ini, terpaksa aku harus membela warga dusun dan melawanmu!"

"Babo-babo, majulah, Seruling Gadis. Bersiaplah engkau untuk mati di ujung nenggalaku!"

"Mati hidupku berada dalam tangan Gusti Allah karena aku telah menyerahkan seluruh jiwa ragaku kepada Gusti Allah. Andika tidak akan mampu memaksakan kehendakmu, Resi Koloyitmo!"

"Sombong! Sambutlah nenggalaku ini! Hyaaaaaattt". !"

Kakek itu menerjang dengan amat dahsyatnya, nenggalanya meluncur seperti kilat menyambar ke arah kepala Parmadi.

Pemuda ini maklum akan bahaya maut karena dari sambaran angin serangan itu saja dia tahu betapa dahsyat dan kuatnya serangan itu.

Akan tetapi Parmadi adalah seorang pemuda yang mendapat gemblengan dari seorang yang sakti mandraguna seperti Resi Tejo Wening.

Dia harus menyerap inti dan dasar semua aji kanuragan sehingga gerakannya adalah gerakan otomatis, tidak dikendalikan pikiran melainkan setiap anggauta tubuhnya hidup sendri-sendiri terbimbing jiwa yang luhur, jiwa yang sudah memasuki taraf "manunggaling kawulo gusti".

Kekuasaan Tuhan Yang Maha Kuasa telah sepenuhnya membimbing jiwa yang menggerakkan semua anggauta tubuh itu.

Gerakannya otomatis dan tidak disengaja lagi, seolah sepenuhnya dituntun naluri.

Ketika nenggla itu dengan cepatnya menyambar ke arah kepala, Parmadi mencondongkan tubuh atas ke kiri sehingga sambaran nenggala itu luput.

Pemuda itu mundur selangkah dan ketika tangan kanannya, bergerak, seruling gading sudah berada di tangannya Sinar matahari pagi menimpa suling itu sehingga tampak berkilauan.

Melihat serangan pertamanya dapat dielakkan lawan dengan amat mudahnya.

Rest Koloyitmo menjadi penasaran dan semakin marah.

Dia mengeluarkan suara mengaum yang menggetarkan.

Inilah Aji Singanada dan pengaruh auman seperti ini dimiliki semua singa yang mampu melumpuhkan calon mangsanya hanya dengan pekik atau auman seperti itu.

Rest Koloyitmo tidak hanya mengeluarkan Aji Singanada, melainkan dia menyusul dengan serangan nenggalanya, kini menusuk ke arah dada Parmadi.

(Lanjut ke

Jilid 10) Seruling Gading (Seri ke 02 -Serial Pecut Sakti Bajrakirana) Karya". Asmaraman S. Kho Ping Hoo

Jilid 10

"Ambrol dadamu!"

Bentaknya.

Parmadi menggerakkan seruling gadingnya.

Dia sudah bergerak dalam Aji Sunyatmaka dan sulingnya hilang bentuknya menjadi segulungan sinar kuning gading yang terang, dan dari dalam gulungan sinar itu terdengar suara melengking-lengking seolah suing itu ditiup dan dimainkan orang.

"Trang-tranggg.... !"

Dua kali nenggala bertemu seruling gading dan tampak bunga api berpijar menyilaukan mata.

Resi Koloyitmo terkejut bukan main karena ketika dua kali senjatanya beradu dengan suling, dia merasa seolah tenaganya tenggelam dan tersedot, bertemu tenaga yang lembut namun yang membuat tenaganya sendiri seperti hilang dan kosong.

Nenggalanya terpental ketika bertemu suling dan tangannya yang memegang nenggala tergetar hebat seperti kesemutan.

Dia adalah seorang sakti mandraguna yang sudah memiliki banyak pengalaman bertanding.

Namun harus dia akul bahwa belum pernah bertemu dengan lawan yang memiliki tenaga sakti seperti itu, tenaga yang menyerap dan menyedot, lembut namun menyembunyikan kekuatan dahsyat!

Pest Koloyitmo menjadi penasaran se-kali.

Dia tidak percaya bahwa seorang lawan yang masih begitu muda, patut menjadi anaknya, akan mampu mengalahkannya.

Maka dia menggereng lagi dan nenggalanya kini bergerak dengan cepat bagaikan singa mengamuk.

Dia menggunakan ilmu silat Singarodra dan serangan-serangannya memang buas.

Bukan saja nenggalanya yang menyambar-nyambar ganas, akan tetapi juga tangan kirinya membentuk cakar singa dan menyelingi sambaran nenggala dengan cakaran dan cengkeraman yang mendatangkan angin demikian kuatnya.

Serangan nenggala dan cakaran tangan kiri ini masih diseling lagi dengan tendangan kedua kakinya yang besar dan panjang.

Kedua kaki itu mencuat dan menyambar dengan tendangan susul-menyusul yang amat berbahaya bagi lawan.

Namun, dengan tenang namun ringan dan cepat sekali Parmadi menghadapi serangan yang mati-matian dan dahsyat itu.

Dia menggerakkan kedua kakinya, membuat langkah-langkah indah seperti orang menari, kedua kakinya berpindah-pindah kanan kiri, maju mundur dan anehnya, semua serangan yang bagaikan hujan lebatnya itu tak pernah dapat menyentuh tubuhnya.

Terkadang, dengan suling gadingnya dia menangkis sambaran nenggala dan dengan tangan kirinya dia menangkis cengeraman atau tendangan lawan.

Hebatnya, biarpun tangkisan tangan kirinya itu dilakukan perlahan saja, akan tetapi begitu bertemu dengan lengan lawan, Resi Koloyitmo merasa seolah tangannya bertemu dengan benda yang amat keras dan kuat, benda yang mengandung getaran demikian kuatnya sehingga dia merasa seluruh lengannya tergetar.

Karena merasa penasaran Resi Koloyitmo mengeluarkan aji kesaktiannya yang amat dahsyat yang merupakan aji pamungkasnya.

Dia berkemak-kemik dan mengumpulkan seluruh tenaga sakti ke dalam tangan kiri.

Tangan kirinya mengepulkan asap yang mengeluarkan asap putih yang mengandung ganda amis.

Inilah tenaga yang biarpun melalui antara lain menghisap darah perawan-perawan muda yang diculiknya.

Tenaga yang mengandung ilmu hitam, berbahaya dan dahsyat.

Dia mendorongkan tangan kiri itu ke arah Parmadi sambil berteriak melengking.

"Hyaaaaattt....!!"

Sejak tadi, ketika Resi Koloyitmo berkemak-kemik, Parmadi sudah merasakan sesuatu yang tidak wajar.

Maka, diapun cepat menyelipkan sulingnya di ikat pinggang dan pada saat Resi Koloyitmo mendorong tangan kirinya ke arah dadanya diapun cepat menyambut dengan dorongan tangan kanannya yang terbuka, dengan Aji Sunya Hasta.

Aji Sunya Hasta ini mengandung kekuatan alami yang amat dahsyat, Sunya berarti hampa, kosong atau sirna.

Seperti sifatnya hawa, tampak kosong namun berisi, berisi namun kosong.

Kalau hawa yang tampaknya tidak ada itu memenuhi sebuah benda kosong dan tertutup rapat, maka benda itu memiliki kekuatan yang amat hebat dan tidak ada kekuatan lain mampu melawannya.

"Wuuuuttt.... dessss.... ! Dua buah telapak tangan bertemu udara dan para penduduk dusun Sukuh yang berada di pekarangan candi itu terkejut sekali karena mereka merasa seolah bumi yang mereka pijak tergetar hebat, padahal jarak antara mereka dan dua orang yang sedang mengadu kesaktian itu cukup jauh, tidak kurang dari dua puluh meternya. Akibat pertemuan dua telapak tangan yang mengandung tenaga sakti itu, tubuh Resi Koloyitmo terhuyung ke belakang dan dia mengusap mulut dengan tangan kirinya. Tangan itu berlepotan darah! Dia sudah terluka di bagian dalam tubuhya. Hal ini membuat dia menjadi semakin arah dan bagaikan seekor binatang buas terluka dia menubruk ke depan sambil menghantamkan senjata nenggalanya. Sinar berkelebat menyambar ke arah Parmadi. pemuda ini dengan tenang namun cepat dan kuat sekali sudah mencabut seruling gading dan menangkis.

"Tranggg !!!"

Bunga api berpijar menyilaukan mata dan kembali tubuh Resi Koloyitmo terhuyung bahkan kini sampai jatuh terguling.

Akan tetapi dia cepat menlompat berdiri dan berkelebat lari ke arah belakang candi.

Gerakannya cepat sekali dan sebentar saja dia sudah lari turun dari bukit di sebelah belakang.

Melihat raksasa rambut panjang itu kalah dan melarikan diri, para penduduk dusun Sukuh bersorak dan dengan dipimpin Parmadi yang didampingi Lurah Gitosai mereka menyerbu ke gapura candi yang sempit.

Mereka berlarian mendaki tangga dan akhirnya dalam sebuah ruangan mereka menemukan dua orang gadis dusun yang kini sudah terbebas daripada pengaruh sihir dan setelah mereka menyadari keadaan mereka, kedua orang gadis itu menangis tersedu-sedu.

Karmi dan Tiyah, dua orang perawan dusun itu, telah menjadi korban kebiadaban Resi Koloyitmo.

Mereka telah dipengaruhi sihir dan dinodai.

Karmi lebih payah lagi keadaannya karena darahnya telah banyak dihisap oleh raksasa berwatak iblis itu untuk memperkuat latihan mendalami Aji Hastagraha, yaitu ilmu pukulan jarak jauh seperti yang tadi dia lakukan ketika menyerang Parmadi.

Keadaan gadis kedua, Tiyah, masih mending karena darahnya belum dihisap walaupun ia juga menjadi korban perkosaan kakek biadab itu.

Dua orang gadis itu menangis dalam rangkulan ayah masing-masing dan beramai-amai para penduduk dusun Sukuh kembali ke dusun setelah membersihkan candi dari bekas bilik yang dibuat oleh Resi Kolotrno dan puterinya, Maya Dewi.

Mereka membongkar bilik itu, membawanya keluar candi dan membakarnya.

Kemudian mereka membersihkan candi yang mereka keramatkan itu.

Setelah tiba kembali di dusun, Parmadi yang pernah mempelajari ilmu pengobatan sekedarnya dari Resi Tejo Wening, melihat Karmi yang lemah karena kehabisan darah, lalu menganjurkan kepada orang tua Karmi untuk memberi minum jamu setiap hari kepada gadis yang malang itu.

Ramuan jamu itu terdiri dari biji jintan hitam, daun gondopuro, babakan pule, dicampur dengan kuning telur dan madu.

Kemudian dia menasihatkan kepada Ki Gitosani yang menjadi kepala dusun itu.

"Paman Gitosanio, dalam sebuah dusun seperti dusun Sukuh ini, persatuan dan gotongroyong harus diperkuat. Saya melihat bahwa kalau andika sekalian bersatu-padu, andika merupakan kesatuan yang cukup kuat untuk membela diri sendiri dan mengusir semua penjahat yang mengacau dusun ini. Saya kira, biarpun seorang manusia iblis macam Resi Koloyitmo sekalipun akan gentar dan mundur kalau harus menghadapi seluruh penduduk yang bersatu-padu dan nekat melakukan perlawanan."

Ki Gitosani mengucapkan terima kasih atas pertolongan pemuda itu.

"Anak-mas Seruling Gading, kami seluruh penghuni dusun berterima kasih sekali atas pertolongan andika dan selamanya kami tidak akan melupakan. Juga nasihat anak-mas akan kami taati. Akan tetapi, kami harap sudilah kiranya anak-mas memperkenalkan nama anak-mas yang aseli karena kami mengira bahwa nama Seruling Gading itu hanyalah nama samaran karena anak-mas memiliki sebuah seruling gading sebagai senjata."

"Ah, paman. Saya, lebih senang dikeal sebagai Seruling Gading dan apa yang tadi saya lakukan itu tidak perlu dibesar-besarkan, paman. Hal itu merupakan kewajiban setiap orang dan bukan merupakan budi pertolongan."

Ki Gitosani mengerutkan alisnya, merasa tidak setuju dengan ucapan pemuda itu.

"Akan tetapi, anak-mas, apa yang andika lakukan itu merupakan budi pertolongan yang besar sekali bagi kami orang sedusun. Kalau tidak ada andika yang menolong kami, tentu gadis-gadis itu akan tewas dan lebih banyak orang lagi akan menjadi korban kekejian manusia iblis itu. Anak-maslah yang menolong kami, bagaimana kami tidak boleh berterima kasih kepada andika yang melepas budi kebaikan kepada kami?"

Parmadi menggeleng kepalanya dan tersenyum.

"Bukan, paman. Bukan saya yang menolong penduduk dusun ini."

"Bukan andika, anak-mas Seruling Gading?"

Tanya lurah itu dengan mata terbelalak heran.

"Lalu siapa yang menolong kami dan menyelamatkan para gadis itu, mengusir manusia iblis itu?"

"Gusti Allah yang telah menolong andika sekalian, bukan saya,"

Kata Parmadi dengan suara sungguh-sungguh karena apa yang diucapkannya itu keluar dari lubuk hatinya.

"Tapi""

Tapi". kami semua melihat bahwa andika yang telah mengusir iblis itu, anak-mas!"

Bantah Ki Gitosani.

"Ya, karena pada saat itu kebetulan Gusti Allah menggunakan saya untuk menolong kalian semua. Karena itu, kalau hendak berterima kasih, berterima kasihlah kepada Gusti Allah. Hanya Gusti Allah saja yang dapat menolong, hanya Gusti Allah saja yang patut dipuji, patut disyukuri. Saya ini hanya alat, paman, seperti semua manusia di dunia ini. Terjadi setiap saat dan di mana saja. Andaikata paman melihat seorang kelaparan lalu memberi makanan, bukan paman yang menolongnya melainkan Gusti Allah yang pada saat itu menggunakan paman untuk menolong orang kelaparan itu. Kita semua dapat menjadi alat Gusti Allah. Tergantung kepada kita sendiri, apakah kita bersedia menjadi alat Gusti Allah, ataukah menjadi alat setan seperti halnya Resi Koloyitmo itu. Jadi sekali lagi. Jangan berterima kasih kepada saya yang hanya alat, melainkan berterima kasihlah kepada Gusti Allah, Sang Penolong. Penyelamat yang sejati."

"Aduh, anak-mas....!"

Suara Ki Gitosani penuh keharuan.

"Andika seorang pemuda yang bijaksana, sungguh luar biasa sekali dan saya seperti mendengar wejangan seorang yang arif...."

"Sudahlah, paman. Saya kira sudah cukup. Sekarang ijinkan saya berpamit. Saya harus melanjutkan perjalanan saya. Selamat tinggal, paman."

Setelah berkata demikian, Parmadi cepat keluar dari rumah Ki Gitosani.

Setelah tiba di tengah dusun, dia mendengar suara gaduh di belakangnya dan ternyata semua penduduk dusun Sukuh mengiringnnya keluar dari dusun itu!

Dia merasa rikuh sekali dan setelah tiba di luar dusun, dia membalik menghadapi mereka, lalu berkata.

"Selamat tinggal!"

Kemudian, sekali berkelebat bayangannya telah lenyap dari situ.

Para penduduk terbelalak dan tiada sudahnya memuji pemuda itu.

Bahkan sebagian besar dari mereka percaya bahwa pemuda yang mereka kenal sebagai Seruling Gading itu bukan manusia biasa, melainkan dewa yang sengaja turun dari kahyangan untuk menolong manusia!

Sekarang kita mengikuti apa yang di alami Muryani semenjak ia ditinggal pergi Parmadi yang meninggalkan kademangan Pakis untuk mengikuti gurunya di puncak Lawu.

Hati gadis remaja ini merasa kehilangan sekali setelah Parmadi pergi.

Baru ia merasa betapa dekat hatinya dengan pemuda itu setelah ia ditinggal pergi.

Akan tetapi karena ayahnya, Ki Ronggo Bangak, oleh penduduk diangkat menjadi pemimpin kademangan sebelum datang seorang demang baru yang ditunjuk oleh kadipaten, maka Muryani mendapatkan kesibukan baru, membantu ayahnya.

Karena ia dikenal sekarang sebagai seorang gadis yang memiliki kedigdayaan, maka Muryani dianggap sebagai pemimpin para orang muda yang bertugad menjaga keamanan di kademangan Pakis.

Kemudian, Demang Warutomo yang diangkat oleh Tumenggung Wiroguno datang dan menjadi demang baru dari Pakis.

Ki Demang Warutomo menghargai Ki Ronggo Bangak, tahu bahwa orang itu terpelajar, sastrawan dan seniman maka menganggapnya sebagai pinisepuh dusun Pakis dan dianggap sebagai penasihatnya.

Kemudian terjadilah malapetaka pada malam hari itu.

Malam itu amat sunyi.

Udara mendung sehingga cuaca menjadi gelap gulita karena bintang-bintang di langit tak tampak.

Orang-orang segan keluar rumah karena selain gelap sekali, juga malam itu angin bertiup kencang.

Muryani termenung dalam kamarnya.

Sampai hampir tengah malam ia belum tidur, bahkan masih duduk di atas pembaringannya.

Ia termenung dan terkenang pada Parmadi yang telah kurang lebih setahun lamanya meninggalkannya.

Ia merasa heran ke mana perginya pemuda itu, bagaimana keadaannya sekarang.

Ia merasa kehilangan dan kesepian.

Ia tidak dapat menemukan pengganti Parmadi di dusun itu, sebagai seorang sahabat karib yang amat dipercayanya.

Tiba-tiba pendengarannya yang terlatih itu menangkap suara berkelitikan di atas atap, seperti ada kerikil dilempar ke atas atap.

Dan tak lama kemudian ia merasa amat mengantuk.

Rasa kantuk yang hampir tak dapat ditahannya.

Gadis yang telah mempelajari aji kesaktian ini merasa bahwa hal ini tidaklah wajar.

IA pernah mendengar cerita gurunya, yaitu Ki Ageng Branjang ketua perguruan Bromo Dadali di Gunung Muria akan ilmu-ilmu aneh, tentang tenung, sihir, dan aji penyirepan yang dapat membuat orang terserang kantuk lalu tertidur pulas.

Aji penyirepan ini banyak dipelajari golongan maling untuk membuat seisi rumah tertidur nyenyak sehingga dia dapat menguras isi rumah dengan leluasa.

la juga pernah mempelajari cara untuk melawan pengaruh aji penyirepan itu.

Maka iapun lalu duduk bersila, mengerahkan tenaga batinnya untuk menolak pengaruh kantuk yang amat kuat itu.

Pengaruh itu amat kuat dan hampir ia tidak tahan, akan tetapi setelah ia mengerahkan tenaga sakti Aji Bromo Dalali pengaruh itu berkurang.

Tak lama kemudian ia mendengar suara gaduh di sebelah kamarnya.

Ia terkejut.

Suara gaduh itu datang dari kamar ayahnya yang berada di sebelah kiri kamarnya sendiri!

Ia mendengar suara keluhan dan suara robohnya badan orang.

Cepat Muryani melompat turun dari atas pembaringan.

Ia terhuyung karena pengaruh aji penyirepan yang kuat itu belum dapat diusirnya sama sekali, masih ada sisa pengaruh yang membuat ia merasa agak pening dan kepalanya terasa berat, matanya berjuang melawan kantuk.

Akan tetapi karena khawatir akan keadaan ayahnya, ia memaksakan diri berlari keluar dari kamarnya dan menuju ke kamar ayahnya.

Kamar itu remang-remang, hanya menerima penerangan dari lampu yang tergantung di luar kamar.

Akan tetapi ia dapat melihat sesosok tubuh seorang laki-laki di dalam kamar Muryani "Heii, siapa engkau dan".."

Tiba-tiba hawa pukulan yang amat dahsyat menyambar ke arah tubuhnya.

Muryani yang masih pening karena pengaruh aji penyirepan itu, tidak sempat mengelak atau menangkis.

Ia sama sekali tidak mengira akan diserang sehebat itu.

Apalagi keadaan kamar itu itu gelap.

Tahu-tahu hawa pukulan itu menghantam dadanya, membuat dadanya sesak dan pandang matanya gelap.

Ia terpelanting roboh dan tidak sadarkan diri.

Ketika ia siuman, malam telah terganti.

Ia mendapatkan dirinya rebah di atas pembaringan dan di rumahnya berkumpul banyak orang, di antaranya Ki Demang Warutomo.

Dari Ki Demang Warutomo yang seorang bekas perwira yang berpengalaman dan yang telah mengobatinya Muryani mendapat keterangan bahwa ayahnya telah kedapatan tewas dalam kamar, sedangkan ia sendiri terluka oleh pukulan jarak jauh yang kuat dan ampuh!

Tentu saja Muryani terkejut bukan main dan segera memaksa diri bangkit.

Biarpun ia merasa nyeri dan sesak pada dadanya, ia memaksa diri dan dipapah oleh Ki Demang Warutomo, ia menjenguk jenazah ayahnya di dalam kamar.

Ia menubruk jenazah dan menangis.

"Ayah, aku bersumpah untuk mencari pembunuh ayah dan akan kubalas sakit hati ini! Ayah, beristirahatlah dengan tenang anakmu ini pasti akan membalas dendam ini!"

Setelah berkata demikian Muryani terguling dan jatuh pingsan lagi.

Ki Demang Warutomo yang menjadi sahabat baik mendiang Ki Ronggo Bangak dan yang merasa kagum kepada Muryani segera menolong dan merawat Muryani.

Sampai belasan hari lamanya Muryani menderita lahir batin, badannya terluka dalam oleh pukulan sakti itu, batinnya menderita karena kematian ayahnya.

Akan tetapi, setelah ia sembuh betul, ia menghilang dari kamarnya tanpa pamit kepada Ki Demang Warutomo atau kepada siapa pun juga.

Gadis itu menghilang tanpa ada yang tahu ke mana perginya.

Ki Demang Warutomo yang mempunyai banyak pengalaman itu dapat menduga bahwa gadis perkasa itu tentu berusaha untuk mencari pembunuh ayahnya dan diam-diam dia menduga bahwa besar kemungkinan Ki Wiroboyo mempunyai hubungan dengan pembunuhan Ki Ronggo Bangak itu.

Dugaan Ki Demang Warutomo memang tidak keliru.

Setelah merasa dirinya sehat kembali, Muryani pergi tanpa pamit kepada siapapun juga, dengan niat mencari Ki Wiroboyo sebagai orang pertama yang ia curigai mempunyai hubungan dalam pembunuhan terhadap ayahnya dan penyerangan terhadap dirinya.

Ia tahu bahwa penyerangnya itu bukan Ki Wiroboyo.

Penyerangnya itu seorang laki-laki bertubuh tinggi kurus.

Ia tidak dapat melihat wajahnya karena kamar itu gelap.

Akan tetapi ia berkeyakinan bahwa ia dan ayahnya tidak mempunyai musuh lain kecuali Ki Wiroboyo.

Jadi, kalau ada orang membunuh ayahnya, maka besar kemungkinannya Ki Wiriboyo yang berdiri di belakangnya.

Mungkin dia menyuruh orang lain yang memiliki kesaktian untuk melakukan pembunuhan itu.

Muryani menuruni Gunung Lawu melalui bagian timur karena ia ingat bahwa dulu Ki Wiroboyo pernah mendatangkan seorang jagoan, yaitu mendiang Warok Surobajul dari Ponorogo.

Maka iapun mengambil keputusan untuk mulai pencariannya ke Kadipaten Ponorogo.

Ketika ia menuruni lereng di timu dari atas ia melihat sebuah telaga yang besar.

Air telaga tampak berkilauan tertimpa sinar matahari dan Muryani terpesona, kagum.

Alangkah indahnya alam!

Melihat air yang demikian luasnya bukan merupakan hal baru bagi Muryani.

Dahulu ketika ia masih tinggal di Demak, kemudian menjadi murid perguruan Bromo Dadali di bawah pimpinan Ki Ageng Branjang di Gunung Muria, ia sudah sering melihat laut utara.

Kini, telaga yang tampak di bawah itu tidak seluas lautan.

Akan tetapi memiliki keindahan yang khas, sebuah telaga di antara bukit-bukit, dikelilingi hutan.

Ia pernah mendengar keterangan mendiang ayahnya tentang telaga itu yang di sebut Telaga Sarangan.

Karena tertarik akan keindahan pemandangan alam telaga itu, Muryani mengambil keputusan untuk pergi ke telaga itu dan melihatnya dari dekat.

Ia menuruni lereng dengan cepat dan tak lama kemudian ia sudah tiba di tepi telaga.

Tempat itu sunyi sekali dan di depan sana, di seberang telaga, tampak sekumpulan rumah penduduk dusun yang sederhana.

Di atas telaga timpak beberapa buah perahu kecil dan di atas perahu itu, orang-orang sedang bekerja melempar jala mencari ikan.

Mereka inilah nelayan-nelayan telaga.

Muryani duduk di atas sebuah batu besar di tepi telaga, melepas lelah.

Angin semilir mendatangkan kesejukan, mengipasi suhuhnya yang agak panas karena perjalanan naik turun tadi.

Keadaan yang sunyi, hawa yang sejuk dan semilirnya angin mengipasi tubuhnya yang kelelahan mendatangkan rasa kantuk.

Akan tetapi Muryani menahan rasa kantuknya.

Perutnya terasa lapar sekali dan ia ingin mencari makanan di dusun seberang telaga itu.

Akan tetapi ketika ia hendak turun dari atas batu, tibatiba melihat tujuh orang laki-laki datang menghampirinya.

Mereka adalah orang-orang yang berusia antara tiga puluh sampai empat puluh tahun, semua berkulit tebal dan ada yang brewokan.

Pakaian mereka serba hitam dan sikap mereka kasar.

Dari lenggang dan langkah mereka saja dapat diduga bahwa mereka adalah orang-orang yang biasa mengandalkan kekuatan.

Langkah mereka dibuat-buat sperti jagoan!

Yang berjalan paling depan adalah seorang laki-laki berusia empat puluh tahun dan dialah di antara yang lain yang bermuka penuh brewok.

Tujuh orang itu masing-masing membawa sebuah parang yang tergantung di pinggang mereka.

Di belakang rombongan ini tampak seorang pemuda remaja yang menuntun seekor kuda, agaknya milik rombongan itu, atau mungkin sekali milik pemimpin mereka yang bermuka brewok.

Ketika mereka tiba di depan Muryani yang masih duduk di tas batu besar, tujuh orang itu berhenti dan mata mereka yang bengis liar itu seolah menggerayangi tubuh gadis cantik yang duduk di atas batu.

Muryani tampak cantik jelita.

Wajah yang bulat dengan dagu runcing itu kemerahan karena sengatan matahari.

Sepasa alisnya yang hitam kecil panjang melengkung itu agak dikerutkan melihat gerombolan laki-laki di depannya itu.

Sepasang matanya yang bening dan bersinar-sinar dengan bulu matanya yang lentik, menyapu ke arah mereka penuh selidik.

Hidungnya yang kecil mancung serasi sekali dengan bentuk mulutnya yang memiliki bibir merah basah dan menggairahkan.

Mulut itu tersenyum mengejek.

Melihat tujuh orang laki-laki itu, terutama yang berdiri paling depan dan mukanya brewokan memandang kepadanya dengan mata yang kurang ajar, Muryani menjadi marah.

"Hei, kalian ini mau apa mendekati aku dan mengganggu suasana damai tenteram yang kunikmati? Hayo cepat pergi dan jangan membikin aku marah!"

"Wah, galak seperti seekor kuda betina yang, binal!"

Seru seorang di antara mereka.

"Ha-ha-ha!"

Si brewok tertawa bergelak.

"Kuda betina yang makin binal dan makin mengasyikkan dan menggembirakan untuk ditundukkan dan dijinakkan. Cah ayu, aku Mundingjaya adalah seorang laki-laki jantan sejati yang masih bujang, masih perjaka ting-ting! Ha-ha-ha! Kulihat engkau pantas sekali kalau menjadi isteriku. Bukankah begitu, kawan-kawan?"

"Pantas sekali!"

"Cocok sudah!"

"Seperti Raden Gatotkaca dengan Dyah Pergiwa!"

Muryani mengangkat mukanya, kerut alisnya mendalam, sinar matanya berkilat dan senyum manisnya makin melebar.

Orang-orang itu tidak tahu sama sekali bahwa dara yang tampak semakin manis menarik ini menjadi amat berbahaya kalau sudah seperti itu karena kerut alisnya, sinar mata dan senyum itu sesungguhnya merupakan tanda bahwa ia sedang marah sekali!

Dengan gerakan indah dan ringan tubuhnya sudah melompat turun dari atas batu dan kini ia berdiri berhadapan dengan laki-laki brewokan itu.

Ternyata dara yang baru berusia tujuh belas tahun ini tingginya hanya sedada orang yang mengaku bernama Mundingjaya itu.

Mereka berdiri dalam jarak kurang lebih empat meter.

Melihat tubuh dara itu demikian ramping dan padat, bagaikan bunga sedang mulai mekar, bagaikan buah mangga sedang ranumnya, Ki Mundingjaya memandang kagum dan tersenyum lebar memperlihatkan giginya yang besar-besar.

"Waduh, engkau denok ayu manis merak ati, bocah ayu. Mari kupondong dan kubawa pulang ke rumahku!"

Katanya tanpa malu-malu.

Muryani melihat di sebelah kanannya terdapat setumpuk kotoran kerbau yang masih baru.

Agaknya belum lama tadi ada kerbau lewat di tempat itu dan membuang kotoran di situ.

Ia lalu meraih sebatang kayu ranting pohon singkong yang tumbuh dekat batu, mematahkannya.

"Namamu Mundingjaya? Nah, silakan mandi tahi munding lebih dulu agar patut engkau memakai nama itu!"

Kata Muryani dan tanpa menanti jawaban, dengan tidak disangka-sangka dan amat cepat, tangan Muryani menggerakkan ranting kayu, dicokelkan kepada tahi kerbau itu dan sekali ranting kayu bergerak, segumpal tahi kerbau yang masih lunak menyambar ke depan itu tepat mengenai muka si brewok!

Ki Mundingjaya yang sama sekali tidak menyangka, tak sempat mengelak dan mukanya berlepotan tahi kerbau.

Bukan sekali saja karena Muryani sudah melakukan serangan tahi kerbau itu berulang-ulang sehingga seluruh pakaian Mundingjaya berlepotan tahi kerbau.

Ki Mundingjaya muntah-muntah dan menyumpah-nyumpah!

Anak buahnya menjadi kaget akan tetapi juga geli melihat pemandangan yang lucu ini.

Mereka menahan tawa, akan tetapi da beberapa orang yang tak mampu menahan dan mengeluarkan suara tawa aneh karena ditahan-tahan.

Tentu saja Mundingjaya mencak-mencak saking marahnya.

Dia, yang merupakan jagoan yang ditakuti seluruh penduduk pedusunan di sekitar Telaga Sarangan, kini dihina oleh seorang perawan remaja!

Setelah membersihkan lethong (tahi kerbau) dari muka, terutama dari mulut dan hidungnya, dia mencabut parang dari ikat pinggangnya dan mengacungkan senjata tajam mengkilap itu ke atas.

"Bocah perempuan keparat! Engkau sudah bosan hidup, berani menghina Mundingjaya?"

Bentaknya. Muryani menudingkan ranting kayu di tangannya sambil, tersenyum manis.

"Siapa menghinamu? Aku malah membikin engkau tampak gagah, dan sekarang lebih cocok kalau namamu diganti menjadi Tahi Munding (kotoran kerbau)!"

Mundingjaya yang tadinya tergila-gila kecantikan dara itu dan menghendaki ia menjadi isterinya, kini berubah pandang.

Dia tidak lagi melihat Muryani sebagai seorang dara yang ayu manis merak ati, melainkan sebagai seorang wanita yang sama sekali tidak menarik dan tidak menyenangkan hatinya, yang membuat dia berafsu untuk menyiksa dan membunuhnya.

Demikianlah keadaan hati kita.

Selama nafsu, terutama sekali nafsu benci dan marah tidak menguasai hati, maka wajah sesorang, bagaimanapun bentuk dan coraknya, akan tampak menyenangkan.

Akan tetapi sekali nafsu benci dan marah mengkeram hati, biar orang yang tadinya dicinta setengah matipun akan tampak memuakkan dan menimbulkan keinginan untuk menyiksanya!

"Perempuan keparat!

Mampuslah kau!"

Mundingjaya membentak dan diapun sudah menerkam dan menyerang dengan bacokan parang atau goloknya yang tajam mengkilap.

Namun dengan cekatan sekali Muryani melompat ke samping, agak jauh karena ia tidak ingin berdekatan dengan orang yang berlepotan tinja kerbau itu agar tidak terkena percikan dan tidak terserang bau yang memuakkan.

Melihat gadis itu mengelak, Mundingjaya mengejar dan menyerang lagi, lebih kuat daripada tadi karena agaknya dia ingin sekali bacok membelah tubuh denok itu.

Sekali lagi Muryani mengelak ke kanan dengan loncatan jauh.

Ia sengaja melompat makin mendekati tepi telaga.

Mundingjaya tidak sadar bahwa gadis itu memancingnya mendekati telaga.

Dia hanya mengira bahwa gadis itu merasa ngeri menghadapi serangan-serangannya yang ampuh dan sengaja menjauh untuk melarikan diri.

Tidak, dia tidak akan membiarkan gadis itu melarikan diri!

"Lari ke nerakapun akan kukejar kau!"

Bentaknya dan dia melompat dan menngejar lalu menyerang lagi.

Setelah mengelak sebanyak lirna kali sambil melompat, Muryani telah tiba di tepi telaga.

Karena ia tidak ingin melayani orang itu bertanding dalam jarak dekat, ketika melompat yang terakhir kalinya tadi, ia menyambar sebuah batu sebesar kepalan tangannya.

Ia memindahkan ranting kayu ke tangan kiri dan kini memegang batu itu di tangan kanan.

"Haaaaahhhh!"

Mundingjaya menyerang lagi, kini membacokkan goloknya ke arah piggang Muryani.

Gadis itu kini tidak dapat melompat ke belakang karena belakangnya terdapat telaga sehingga kalau ia melompat ke belakang, ia tentu akan terjatuh ke dalam air.

Juga di kanan kirinya terdapat halangan, di kiri terdapat batu-batu besar dan di sebelah kanan terdapat semak-semak belukar yang berduri.

Mundingjaya menyeringai, agaknya sudah yakin bahwa sekali ini tubuh gadis yang berani menghinanya itu tentu akan terkena bacokannya dan pinggang yang ramping itu akan putus sehingga isi perutnya akan berceceran.

Dia sudah timbul niatnya untuk minum darah yang akan bercucuran keluar dari mayat gadis itu!

Akan tetapi, Muryani agaknya memang sudah sengaja memancing Mundingjaya ke bagian itu.

Ketika lawannya datang menyerang seperti seekor kerbau gila, ia melompat lagi, akan tetapi bukan ke belakang, ke kanan atau ke kiri, melainkan ke depan!

Tubuhnya dengan ringannya melompat tinggi bagaikan seekor kijang muda dan ia sudah me-lompat.lewat atas kepala Mundingjaya!

Tentu saja serangan kepala gerombolan itu luput dan melihat betapa gadis itu tiba-tiba saja lenyap dan dia hanya melihat sesosok bayangan berkelebat di atas kepalanya, Mundingjaya terkejut dan cepat dia membalikkan tubuhnya.

Pada saat dia membalik itu, Muryani sudah melontarkan batu di tangan kanannya sambil membentak.

"Makanlah ini!"

Mundingjaya terkejut sekali, akan tetapi karena sambaran batu itu datang cepat sekali bagai kilat menyambar pada saat dia memutar tubuh, maka dia sama sekali tidak mendapat kesempatan untuk mengelak atau menangkis.

Saking kaget dan heran dia membuka mulut dan hal nilah yang membuat dia celaka.

"Syuuutt ...........krakkk!!"

Bunyi berderak itu adalah bunyi barisan giginya yang di-terjang batu.

Karena pada saat itu dia me,mbuka mulutnya, maka batu itu mengantam giginya sehingga semua gigi atas bawah bagian depan rompal dan copot!

"Auhhhhh.....

!!"

Mundingjaya berteriak, lukanya berdarah-darah dan tubuhnya terjengkang ke belakang.

Karena dia memang berada dekat sekali di tepi telaga, maka tanpa dapat dihindarkannya lagi, tubuhnya terjatuh ke dalam air.

"Byuurrr ...... !"

Air muncrat ke atas dan Muryani tertawa-tawa!

Akan tetapi pada saat itu, enam orang anak buah Mundingjaya telah tiba di situ dan mereka semua melihat betapa pimpinan mereka terjatuh ke dalam air telaga dan mukanya tadi berdarahdarah.

Mereka terkejut akan tetapi juga marah sekali.

Dengan golok terhunus mereka lalu megepung Muryani yang kini berada di tempat lapang sehingga ia terkepung.

"Cah ayu, menyerahlah saja daripada kami harus menggunakan kekerasan!"

Kata orang di antara mereka yang agaknya masih merasa sayang kalau harus membunuh gadis cantik jelita ini.

"Kenapa kalian tidak mengikuti pemimpin kalian itu?"

Kata Muryani sambil ternyum mengejek, siap dengan ranting kayu di tangan kanannya.

Melihat betapa gadis itu hanya bersenjatakan sebatang ranting kecil, sebesar ibu jari, tentu saja enam orang itu tidak merasa takut.

"Menyerahlah, manis. Asalkan engkau suka menjadi isterinya, tentu kakang Mundingjaya akan suka memaafkanmu!"

Kata pula seorang lain. Muryani tertawa bebas lepas.

"Heh-heh-hik, dia menjadi suamiku? Bahkan untuk menjadi budakku, bahkan menjadi alas kakupun kalian masih belum pantas! Pantasnya kalian menjadi katak-katak dalam air telaga ini!"

Marahlah kini enam orang itu, apalagi mereka melihat Mundingjaya kini keluar dari dalam telaga, merangkak dan wajahnya yang basah kuyup itu masih mengeluarkan darah.

Tampak mengerikan sekali wajah itu.

"Bunuh.....! Bunuh.... perempuan itu...!"

Bentak Mundingjaya terengah-engah dan suaranya menjadi pelo karena giginya bagian depan sudah ompong semua.

Enam orang itu kini menyerang dari segala jurusan.

Golok mereka menyambar dengan bacokan dan tusukan maut.

Akan tetapi Muryani sudah siap siaga.

Ia mutar tubuhnya dan dengan kecepatan kilat ranting kayu di tangannya menyambar-nyambar.

Ranting sekecil itu dapat menangkis sambaran golok yang berat dan kuat.

Muryani membalas, tangan kirinya mendorong dengan Aji Bromo Latu.

Angin pukulan yang panas menyambar-nyambar dan enam orang itu mengeluh.

Seorang demi seorang terpelanting roboh, tidak ada yang kuat menerima pukulan Bromo Latu yang berhawa panas.

Mereka itu hanyalah gerombolan penjahat yang mengandalkan tenaga otot besar saja.

Muryani cepat menyusulkan tendangan-tendang kakinya sehingga enam orang itu terlempar ke sana-sini.

Mereka menjadi ketakutan.

Belum pernah selama hidup mereka bertemu dengan lawan yang setangguh ini.

Begitu mereka dapat merangkak bangun mereka lalu lari menjauhkan diri.

Mundingjaya yang melihat betapa enam orang anak buahnya semua roboh oleh gadis itu, menjadi terkejut bukan main dan dia juga ketakutan.

Dia mengumpulkan sisa tenaganya untuk bangkit berdiri dan melarikan diri.

Akan tetapi dengan sekali lompatan jauh Muryani telah berada di dekatnya dan sekali kakinya menendang, Mundingjaya roboh.

Ujung ranting kayu di tangan Muryani sudah menodong dan menekan leher kepala gerombolan itu.

"Tobaat.... ampunkan saya, nona..."

Kepala gerombolan itu memohon dengan wajah pucat ketakutan.

"Panggil penuntun kuda itu ke sini!"

Muryani memerintah dan menekan ujung rantingnya ke leher Mundingjaya yang sudah tidak berdaya itu.

"Heii! Kayun....! Bawa kudaku itu ke sini!"

Teriak Mundingjaya yang masih rebah menelungkup.

Pemuda remaja yang menuntun kuda dan berada agak jauh dari situ, mendengar teriakan ini lalu menuntun kuda itu mendekat.

Muryani mengambil kendali kuda dari tangan pemuda remaja itu dan membentak kepadanya.

"Hayo engkau cepat pergi dari sini!"

Pemuda remaja itu tampak meragu, akan tetapi Mundingjaya segera menghardiknya.

"Pergi tinggalkan tempat ini, tolol!"

Mendengar ini, pemuda itu lalu berlari pergi.

"Nah, sekarang aku mau mengampunimu dengan dua syarat. Pertama, kauberikan kuda ini untukku."

"Baik, nona. Ambillah kuda itu, saya. berikan kepadamu dengan senang hati."

Kata kepala penjahat itu dengan harapan agar segera dibebaskan.

"Ada satu syarat lagi yang paling penting. Hayo katakan apakah engkau mengetahui di mana adanya orang yang bernama Ki Wiroboyo, dahulu menjadi demang dusun Pakis."

Mundingjaya mengerutkan alisnya yang tebal. Dia sudah bangkit duduk sekarang lalu sambil menengadah memandang wajah Muryani, dia menggeleng kepala dan berkata.

"Maaf, nona. Saya tidak pernah mendengar nama itu."

Melihat sikap dan pandang mata laki-laki kasar itu, Muryani percaya dan ia bertanya pula.

"Akan tetapi engkau tentu mengenal jagoan Ponorogo yang bernama Warok Surobajul. Ceritakan tentang dia!"

"Warok Surobajul? Tentu saja saya megenalnya, nona. Namanya terkenal sekali dari Ponorogo sampai ke daerah ini. O ya, pernah kurang lebih sebulan yang lalu saya sempat bertemu dengan dia. Katanya ia hendak pergi ke sebuah dusun di pegunungan ini, entah apa keperluannya dia tidak bercerita kepada saya."

"Hemm, ketika itu dia pergi dengan siapa?"

Mundingjaya mengerutkan alisnya, mengngat-ingat.

"Dia melakukan perjalanan dengan seorang laki-laki yang gagah dan berpakaian mewah, berkumis tebal. Akan tetapi saya tidak mengenalnya dan diapun tidak mengenalkan diri. Orangnya tampak angkuh, sikapnya seperti priyayi."

Muryani mengangguk dan tahu bahwa yang dimaksudkan itu tentulah Ki Wiroboyo. Mereka berdua itu tentu sedang dalam perjalanan menuju dusun Pakis, pikirnya.

"Tahukah engkau di mana tempat tinggal Warok Surobajul itu?"

"Tahu, nona. Dia tinggal di Ponorogo. Semua orang tahu di mana rumah warok yang terkenal itu."

"Cukup, aku mau mengampunimu kali ini, akan tetapi ingat, engkau kawan-kawanmu harus mengubah jalan hidup kalian dan tidak melakukan kejahatan lagi. Awas, kalau aku pulang dan lewat sini mendapatkan bahwa kalian masih lakukan kejahatan, aku tidak akan memberi ampun lagi dan pasti akan membunuh kalian semua!"

Tanpa menanti jawaban penjahat itu, Muryani sudah melompat ke atas punggung kuda rampasannya dan membalapkan kuda itu meninggalkan Telaga Sarangan.

Mundingjaya bangkit berdiri dan menyumpah-nyumpah.

Bagi seorang sesat seperti dia sukarlah sekali untuk dapat bertaubat, menyadari akan dosa-dosanya dan berusaha untuk mengubah jalan hidupnya.

Dia tetap saja tidak merasa bersalah, bahkan menyumpahi Muryani yang dia anggap jahat dan kalau tadi dia menyatakan bertaubat dan bersikap lunak adalah karena rasa takut terhadap gadis sakti itu.

Sekarang, hatinya penuh dendam kebencian dan kalau ada kesempatan, tentu dia akan berusaha sekuat tenaga untuk membalas dendam kepada Muryani!

Demikian pula halnya dengan Ki Wiroyo.

Bekas demang dusun Pakis ini tidak pernah mau menyadari akan kesalahannya, tak pernah mau bertaubat, apalagi menyesali segala tingkah lakunya yang tidak baik.

Dia hanya menyesal karena dia telah dikalahkan oleh Muryani, dan sampai kehlangan kedudukannya, bahkan terusir dari Pakis.

Dia tidak pernah merasa dirinya bersalah.

Tidak, dia bahkan selalu merasa bahwa dia adalah seorang demang yang bijaksana, yang baik terhadap warga dusunnya.

Kalau dia tergila-gila kepada Muryani dan ingin mengambilnya sebagai selir, hal itu dianggapnya wajar dan sama sekali tidak salah.

Karena itu, perlawanan Muryani yang membuat dia kehilangan segalagalanya itu menimbulkan dendam dalam hatinya.

Dia menganggap Muryani seorang gadis yang tidak tahu diri, sombong dan jahat!

Apalagi setelah usahanya mendapatkan Muryani dengan kekerasan, bantu Surobajul, gagal dan menyebabk kematian jagoan itu dan mengakibatkan dia kehilangan kedudukannya.

Dia menaruh dendam dan sakit hati terhadap Muryani.

Karena itu, setelah dia membawa keluarganya pergi meninggalkan Pakis, dia pergi ke Ponorogo.

Dia mengabarkan tentang kematian Warok Surobajul kepada keluarga warok itu dan dia lalu tinggal dengan keluarganya di Kadipaten Ponorogo dari mana dia berasal.

Dia tidak pernah lupa akan dendamnya kepada Ki Ronggo Bangak dan puterinya, Muryani.

Akhirnya setelah lama mencari, dia menemukan seorang sahabat lama yang dulu pernah menjadi saudara seperguruannya dan kini orang itu tinggal di Lamongan.

Orang itu berusia lima puluh tahun, bertubuh jangkung kurus bernama Darsikun.

Kini bekas kakak seguruannya ini telah menjadi seorang jagoan yang digdaya karena dia pernah berguru lagi kepada Ki Harya Baka Wulung, datuk dari Madura itu.

Biarpun dia hanya belajar selama setahun lebih kepada datuk itu, namun dia telah memperoleh kemajuan pesat dan menjadi seorang tokoh yang terkenal di Lamongan dan sekitarnya.

Darsikun ini ditemui Ki Wiroboyo dan dengan senang hati dia mau membantu bekas adik seperguruan ini untuk membalas dendam kepada Muryani dan ayahnya.

Apalagi arena sekarang keadaan Ki Wiroboyo makmur, dapat membelikan pakaian indah dan barang-barang berharga untuknya.

Demikianlah, Ki Darsikun ikut bersama Ki Wiroboyo pergi ke Ponorogo.

Kemudian pada malam hari itu, seperti sudah direncanakan oleh Ki Wiroboyo, Ki Darsikun mempergunakan kepandaiannya, memasuki rumah Ki Ronggo Bangak dan berhasil membunuh Ki Ronggo Bangak dan melukai Muryani dengan pukulan jarak jauhnya yang dahsyat.

Dia merasa yakin bahwa gadis itu tentu juga sudah tewas karena pukulannya, maka dia pergi meninggalkan rumah itu dan kembali ke Ponorogo dengan hati bangga dan girang.

Ki Wiroboyo menyambut kakak seperguruan ini dengan girang sekali.

Mendengar bahwa Ki Ronggo Bangak telah tewas, demikian juga Muryani, hatinya puas, dendam kebenciannya telah terbalas dan terlampiaskan.

Akan tetapi ada sedikit kekecewaan bahwa dia tidak dapat menguasai Muryani yang digilainya itu.

Dia menahan Ki Darsikun untuk tinggal di rumahnya dan setiap hari menjamunya dengan pesta.

Setelah sebulan lebih Ki Darsikun tinggal di rumah Ki Wiroboyo dan dimanjakan seperti seorang tamu agung, dia mengambil keputusan untuk pulang ke Lamongan.

"Ah, kenapa tergesa-gesa, kakang Darsikun? Bukankah kakang senang tinggal sini bersama kami?"

Kata Ki Wiroboyo yang ingin menahan kakak seperguruannya selama mungkin di rumahnya karena bagaimanapun juga dia masih merasa khawatir kalau-kalau ada musuh datang untuk membalaskan kematian Muryani dan ayahnya.

"Sudah sebulan lebih aku tinggal di sini, adi Wiroboyo. Terima kasih atas sambutanmu yang baik. Biarlah lain kali aku datang lagi berkunjung. Aku sudah rindu pada keluargaku di Lamongan."

"Ya, apa boleh buat kalau begitu, kakang. Kapan engkau hendak berangkat? Aku akan mempersiapkan segala keperluanmu.

"Besok pagi-pagi aku akan berangkat, adi Wiroboyo."

Ki Wiroboyo lalu mengajak tamunya itu minum-minum. Tiba-tiba datang seorang laki-laki yang tampak gugup dan tergesa-gesa Wiroboyo mengenalnya sebagai sebagai pelayan dari mendiang Warok Surobajul.

"Ada apakah? Apakah mbak-ayu Suro yang mengutusmu ke sini?"

Tanya Wiroboyo sambil bangkit berdiri dari kursinya.

"Celaka, den-mas Wiroboyo! Celaka...!"

"Hushh! Bicara yang benar dan jelas! apakah?"

Wiroboyo membentak.

"Di rumah Nyi Suro kedatangan seorang gadis cantik yang galak sekali, den-mas. Dara itu menghajar dan merobohkan tiga orang murid mendiang ki warok yang berada di sana dan ia mengancam Nyi Suro untuk memberi tahu di mana den-mas berada!"

"Ahh?"

Ki Wiroboyo terkejut sek.

"Siapa nama gadis itu?"

"Tidak tahu, den-mas. Ia tidak menyebutkan nama. Saya masih sempat menyelinap pergi dari belakang dan cepat mengabarkan ke sini."

"Sudah, pergilah!"

Kata Wiroboyo ketika orang itu pergi, dia berkata kepada Ki Darsikun.

"Kakang, apa yang kukhawatirkan terjadi! Ada orang mencariku, orang gadis yang digdaya. Tentu ada orang hendak membalaskan kematian Muryani dan ayahnya."

"Jangan khawatir, adi Wiroboyo. Aku di sini! Pula, kalau ia hanya seorang gadis, ia akan mampu berbuat apakah terhadap kita?"

Kata Ki Darsikun dengan lagak angkuh.

"Akan tetapi kalau terjadi keributan sini sungguh tidak enak, kakang. Tentu akan menarik perhatian dan kalau Adipati Ponorogo mendengar, mungkin akan dilakukan pemeriksaan dan. penyelidikan. Hal ini bisa berkelanjutan dan amat tidak enak bagiku."

"Lalu, bagaimana kehendakmu?"

"Kita lari keluar kota kadipaten dan kita hadang ia di tempat sepi di luar sana."

Tanpa menanti jawaban Wiroboyo lalu meninggalkan pesan kepada keluarganya bahwa kalau ada seorang gadis mencarinya, jangan dilayani secara kasar dan agar diberi tahu bahwa dia baru saja keluar melalui pintu gerbang utara dan agar dikatakan bahwa dia pergi seorang diri.

Setelah meninggalkan pesan ini, Wiroboyo mengajak Darsikun untuk menunggang kuda dan melarikan diri ke luar kota Kadipaten Ponorogo dengan cepat.

Tepat di luar kota itu, di bagian utara, terdapat hutan yang lebat dan dua orang yang menunggang kuda itu lenyap ditelan hutan.

Memang benarlah laporan pelayan keluarga mendiang Warok Surobajul itu.

Muryani telah tiba di Ponorogo dan segera ia mencari rumah Warok Surobajul.

Dan mudah saja ia menemukan rumah besar itu karena nama warok itu amat terkenal di di Kadipaten Ponorogo.

Ia memasuki pekarangan rumah yang luas itu, melompat turun dari.

atas kudanya, mengikatkan kendali kudanya pada sebatang pohon yang banyak tumbuh di pekarangan, lalu melangkah menuju ke beranda depan.

Kunjungan ini segera disambut tiga orang laki-laki yang berusia kurang lebih tiga puluh tahun dan melihat bentuk tubuh mereka, tiga orang ini tergolong orang-orang yang kuat.

Di beranda berdiri seorang wanita setengah tua yang wajahnya masih membayangkan kecantikan dan wanita itu memandang ke arah Muryani dengan sinar mata tajam penuh selidik.

Tiga orang laki-laki itu menghampirinya dan menghadangnya.

Seorang di antara mereka yang berkumis tebal bertanya, suaranya berat dan parau.

"Siapakah andika dan ada keperluan apakah andika datang ke sini?"

Muryani memandang ke arah rumah besar itu dan menjawab pertanyaan itu dengan pertanyaan pula.

"Apakah benar di sini rumah Ki Surobajul?"

Wanita setengah tua yang berada beranda itu melangkah maju menuruni anak tangga dan menjawab.

"Benar, nini. Ini rumah mendiang suamiku Ki Surobajul. SIapakah andika dan ada urusan apakah?"

Muryani maju menghampiri wanita itu dan bertanya.

"Kalau begitu, bibi, katakan padaku, di mana adanya Wiroboyo bekas demang dusun Pakis?"

Wanita itu mengerutkan alisnya, tampak kaget dan bingung lalu menggelengkan kepalanya dan berkata.

"Aku tidak tahu. Aku tidak mengenal nama itu, kenapa andika bertanya kepadaku?"

"Bibi, jangan berbohong kepadaku! Engkau adalah isteri mendiang Ki Surobajul dan semua orang tahu bahwa warok itu diajak Wiroboyo pergi ke Pakis untuk membuat onar di sana dan dia tewas dikeroyok penghuni dusun. Nah, engkau pasti tahu siapa Wiroboyo dan di mana dia sekarang berada. Jawablah sebenarnya agar aku tidak harus menggunakan kekerasan."

"Heh, bocah wadon (anak perempuan) lancang mulut! Pergilah kau dan jangan membikin ribut di sini!"

Si kumis tebal itu menggerakkan tangan kanannya hendak menangkap lengan Muryani untuk ditarik keluar dari pekarangan itu.

Akan tetapi ketika dia berhasil menangkap lengan Muryani, gadis itu tiba-tiba dengan sentakan kuat memutar lengannya dan melangkah maju sambil memuntir lengan si kumis tebal.

Gerakannya demikian tiba-tiba, cepat dan kuat sekali sehingga kini keadaannya menjadi terbalik.

Lengan kanan laki-laki itulah yang dipuntir dan ditelikung di belakang tubuhnya.

Ketika laki-laki itu hendak meronta, Muryani cepat mendorong lengan itu ke atas sehingga laki-laki itu berteriak kesakitan.

Muryani menendang belakang lututnya dan orang itu tak dapat bertahan lagi lalu jatuh bertekuk lutut.

Sekali dorong tubuh laki-laki itu terjungkal, hidungnya mencium tanah keras sehingga berdarah!

Dua orang murid Surobajul yang lain menjadi marah.

Mereka cepat menerjang dan menyerang Muryani dengan pukulan tangan dan tamparan, namun Muryani cepat mengelak dengan lompatan ke kiri.

Seorang dari mereka yang berada di sebelah kiri mengejar akan tetapi dara perkasa itu menyambut dengan tendangan ke arah perutnya.

"Ngekkk!!"

Orang itu terpelanting dan setelah terbanting jatuh dia memegangi perutnya yang tiba-tiba menjadi mulas.

Orang ketiga menerkam ke depan dengan marah.

Kembali Muryani mengelak cepat dan sebelum penyerangnya itu membalik, tangan kiri Muryani yang kecil mungil itu menghantam dengan tamparan kilat.

"Wuutt.... plakkk!!"

Orang itu terputar, rasanya seperti disambar petir dan dia terguling roboh.

Akan tetapi karena Muryani tidak ingin membunuh orang, maka ketika ia merobohkan tiga orang itu, ia membatasi tenaganya sehingga mereka tidak terluka berat.

gaknya mereka tidak menjadi jera, batin merasa penasaran sekali.

Mereka bangit berdiri dan mencabut senjata pisau belati panjang yang terselip di pinggang mecka.

Pada saat itulah pelayan Nyi Surobajul lari dari pintu belakang dan pergi melapor kepada Wiroboyo.

Muryani menjadi marah melihat tiga orang itu tidak mundur, bahkan mereka kini memegang pisau besar mengancamnya.

Akan tetapi beberapa gebrakan tadi saja sudah membuat ia tahu bahwa tigag oran itu bukan merupakan lawan tangguh.

Maka iapun bersikap tenang saja.

Ketika tiga orang yang mengepung dari depan, belakang dan kiri itu mulai bergerak menerjangnya.

Muryani bergerak cepat sekali, menghindar sambil menggerakkan kaki tangannya.

Hampir berbareng saatnya, tangan kirinya menampar kepala orang pertama, tangan kanan menonjok dada orang kedua, dan kaki kanannya menyambar dan menenda perut orang ketiga.

Gerakannya sekali ini lebih kuat daripada tadi.

Tiga orang itu mengaduh dan bergelimpangan.

Yang ditampar kepalanya merasa kepalanya pecah dan bintang bertaburan di depan matanya yang menjuling.

Yang ditonjok dadanya terengah-engah karena napasnya seperti berhenti tersumbat, dan yang ditendang perutnya merasa perutnya mulas dengan hebat sehingga dia bergulingan sampai mengaduh-aduh.

Nyi Surobajul memandang dengan muka pucat.

Ia hendak berlari masuk, akan tetapi sekali melompat Muryani telah berada di depannya.

"Bibi, aku tidak ingin bertindak kasar terhadap seorang perempuan tua sepertimu, akan tetapi katakanlah, bibi. Di mana adanya Wiroboyo? Bibi pasti mengetahuinyal."

Wanita itu berkata lirih.

"Dia""dia berada di rumahnya sendiri...."

"Di mana rumahnya, bibi?"

Tanya Muryani, hatinya girang karena akhirnya ia dapat mengetahui rumah musuh besarnya "Di ujung utara kota ini, tanyakan semua orang di sana tentu mengetahuinya."

"Terima kasih, bibi!"

Setelah berkata demikian, tanpa memperdulikan tiga orang yang masih merintih kesakitan, Muryani melepaskan tambatan kudanya, melompat ke punggung kuda lalu melarikan kudanya keluar dari pekarangan itu.

Dengan cepat menuju ke ujung utara kota dan setelah bertanya-tanya, dengan mudah ia dapat menemukan rumah besar tempat tinggal Ki Wiroboyo.

Ia menambatkan kudanya di pekarangan lalu berlari menuju ke serambi depan.

Di situ ia melihat dua orang wanita muda yang cantik dan berpakaian mewah bangkit berdiri dan memandangnya.

Muryani menduga dua orang wanita muda cantik dan pesolek ini tentu isteri-isteri Wiroboyo, maka iapun cepat bertanya.

"Mbakyu, aku ingin bertanya, apakah Ki Wiroboyo berada di rumah? Kalau dia berada di rumah, harap dipanggil keluar. Katakan bahwa aku mempunyai urusan penting sekali dengan dia!"

Dua orang wanita itu saling pandang. Mereka bersikap tenang, akan tetapi Muryani dapat melihat dari pandang mata mereka bahwa mereka merasa tegang dan takut.

"Kakangmas Wiroboyo baru saja keluar rumah,"

Kata seorang dari mereka sedangkan yang lain ikut mengangguk membenarkan.

"Ke mana dia pergi? Dengan siapa?" ' "Menurut katanya tadi, dia hendak pergi ke Madiun dan perginya seorang diri."

"Hemm, benarkah ucapanmu ini? Tidak bohong?"

Muryani membentak, nada suaranya mengancam.

"Mengapa mesti bohong?"

Wanita itu berkata dengan alis berkerut.

"Di mana letaknya Madiun?"

"Di sebelah utara. Tadi kakangmas Wiroboyo menuju ke pintu gapura utara itu,"

Kata wanita itu sambil menudingkan telunjuknya ke arah utara.

"Dia menunggang kuda? Atau naik kereta?"

Muryani mendesak. Dua orang wanita itu menggeleng kepala.

"Dia tadi berjalan kaki."

Setelah mendengar keterangan ini dan melihat sikap dua orang wanita itu tenang dan agaknya tidak berbohong, tanpa parnit Muryani sudah lari menghampiri kudanya dan tak lama kemudian ia sudah membalapkan kudanya keluar dari pintu gapura sebelah utara, melakukan pengejaran.

Matahari sudah mulai menggulir ke ar,ih barat ketika Muryani membalapkan kudanya memasuki hutan yang lebat itu.

Jalan itu sunyi, tak tampak ada orang lain di atas jalan raya itu.

Tiba-tiba Muryani melihat seorang laki-laki berjalan di sebelah depan.

Ketika mendengar derap kaki kuda, laki-laki itu memutar tubuhnya memandang.

Pada saat itu Muryani melihat dan mengenal laki-laki itu yang bukan (Lanjut ke

Jilid 11) Seruling Gading (Seri ke 02 -Serial Pecut Sakti Bajrakirana) Karya". Asmaraman S. Kho Ping Hoo

Jilid 11 lain adalah Ki Wiroboyo!

Tubuhnya yang tinggi besar.

Kumisnya yang sekepal sebelah seperti Gatutkaca!

Tak salah lagi.

Orang itu adalah Ki Wiroboyo!

Agaknya lakilaki itupun mengenalnya karena tiba-tiba dia membalikkan tubuhnya dan berlari cepat sekali ke arah depan, menjauhinya.

"Berhenti! Hendak lari ke mana kau keparat?"

Muryani membentak marah dan membedal kudanya agar lari lebih kencang lagi.

Jarak di antara mereka paling jauh sekitar lima puluh meter.

Muryani adalah seorang gadis yang telah digembleng di perguruan Bromo Dadali sehingga memiliki kedigdayaan.

Namun bagaimanapun juga, ia masih amat muda dan kurang pengalaman.

Ia tidak tahu atau belum mengenal benar keadaan di dunia sesat.

Dunia sesat memiliki banyak orang yang sakti, akan tetapi yang lebih berbahaya lagi, mereka adalah orang-orang yang licik dan curang, memiliki banyak tipu muslihat berbahaya.

Ia sama sekali tidak pernah curiga atau menduga bahwa sesungguhnya sejak tadi ia telah terancam bahaya.

Kemunculannya telah diketahui musuh, bahkan musuh telah mengatur siasat licik untuk menjebaknya.

Kemunculan Wiroboyo itu memang disengaja, merupakan pancingan untuk membuat gadis itu kehilangan kewaspadaannya dan seluruh perhatiannya ditujukan untuk menangkap orang yang melarikan diri di depan itu.

Karena itu, ia kurang peka akan keadaan di sekelilingnya pada saat dua batang anak panah menyambar dari samping.

"Srrtttt!"

Dua batang anak panah meluncur dengan cepatnya dari arah kiri.

Muryani yang sejak tadi menujukan panting mata dan seluruh perhatiannya ke depan, tidak melihat sambaran anak panah dari kiri yang menyusur rendah itu.

Tahu-tahu dua batang anak panah itu telah menancap di perut dan dada kuda yang ditungganginya.

Kuda itu meringkik dan mendengus, melompat miring dan roboh.

Muryani yang sama sekali tidak bersiaga, terbawa roboh dan gadis itu terbanting keras, kepalanya terbentur tanah keras dan iapun roboh pingsan!

Ketika melihat Muryani jatuh pingsan Ki Wiroboyo menjadi girang sekali.

Bersama Darsikun bekas kakak seperguruan yang membantunya dan yang tadi melepas anak panah merobohkan kuda.

yang ditunggangi Muryani, Darsikun sudah mencabut kerisnya untuk membunuh gadis yang jatuh pingsan itu, akan tetapi Wiroboyo memegang lengannya.

"Jangan bunuh, kakang!"

"Eh, adi Wiroboyo! Gadis ini berbahaya sekali, ia tentu mendendam kepadamu dan tentu akan berusaha membunuhmu!"

Darsikun memperingatkan.

"Benar, kakang Darsikun., Akan tetapi aku tidak ingin membunuhnya sekarang. Aku bersumpah untuk mendapatkan dirinya sebelum aku membunuhnya!"

Kata Wiroboyo sambil memandang ke arah tubuh gadis yang rebah telentang pingsan itu penuh gairah. Darsikun tersenyum maklum.

"Terserah kalau begitu. Akan tetapi, jangan pandang ringan gadis ini, adi. Sebaiknya kau ikat dulu kaki tangannya sebelum engkau membawanya."

"Aku tahu, kakang, aku tahu!"

Kata Wiroboyo dan dia mengeluarkan segulung tali yang kokoh kuat.

Mulailah dia mengikat kedua tangan gadis itu ke belakang tubuhnya.

Akan tetapi belum selesai dia mengikat dua pergelangan tangan itu"..

"". demi para dewata! Apa yang kalian lakukan terhadap gadis itu? Kalian dua orang laki-laki gagah sungguh tidak tahu malu, mengganggu seorang gadis muda. Hayo cepat lepaskan ia dan tinggalkan tempat ini!"

Wiroboyo dan Darsikun terkejut bukan main mendengar suara teguran di belakang pekarangan itu.

Mereka yang tadinya berjongkok, cepat melompat berdiri sambil membalikkan tubuh.

Kiranya yang berhadapan dengan mereka dalam jarak tiga meter adalah seorang nenek tua renta.

Usianya tentu sudah tujuh puluh tahun lebih.

Wajahnya masih halus tanpa keriput, akan tetapi rambutnya yang panjang dibiarkan terurai putih mengkilap seperti benang perak.

Tangan kanannya memegang sebatang tongat dari seekor ular kobra kering.

Biarpun usianya sudah tujuh puluh tahun lebih, nenek itu masih tampak jelas bahwa dahulu ia tentu seorang wanita cantik.

Melihat bahwa yang menegur mereka hanya seorang nenek tua, walaupun nenek itu tampak menyeramkan karena memegang sebatang tongkat bangkai ular kobra kering, tentu saja Wiroboyo dan Darsikun tidak merasa takut.

Wiroboyo bahkan berjongkok kembali untuk melanjutkan mengikat kedua pergelangan tangan Muryani karena dia khawatir kalau-kalau gadis keburu siuman.

"Laki-laki bandel! Lepaskan gadis itu nenek itu membentak dan begitu tanan kirinya digerakkan mendorong ke arah Wiroboyo yang sedang berjongkok hendak mengikat kedua pergelangan tangan Muryani dengan tali, tiba-tiba saja tubuh Wiroboyo terpental dan bergulingan seperti sebuah bola ditendang! Tentu saja dua orang laki-laki itu kejut bukan main. Darsikun yang merupakan seorang jagoan yang berpengalam maklum bahwa nenek ini ternyata memiliki kesaktian, maka diapun sudah mencabut kerisnya dan menghampiri nenek itu. Wiroboyo yang tidak terluka, hanya terkejut saja, sudah melompat dekat di samping Darsikun, siap untuk mengeroyok nenek itu. Nenek itu tertawa melihat sikap mereka ketika tertawa, tampak deretan giginya yang masih utuh dan putih bersih sehingga wajahnya tampak muda dan manis.

"Heh-heh-hi-hik, kalian ini dua orang laki-laki gagah memegang pusaka (keris) di depan seorang nenek mau apakah? Mau bunuhku? Sungguh kalian jahat sekali. Bertaubat dan sadarlah dari kejahatan kalian pergilah dari sini dengan aman."

Tentu saja dua orang itu tidak mau pergi begitu saja.

"Nenek yang lancang suka mencampuri urusan orang lain! Andika siapakah?"

Tanya Darsikun dengan suara menghentak.

"Hemm, orang-orang yang tidak menghormati orang tua! Sepatutnya kalian yang memperkenalkan nama kepadaku. Kalian ini siapakah, berani melakukan kekerasan terhadap seorang wanita tanpa merasa malu sedikitpun!"

"Nenek lancang. Buka telingamu baik-baik! Aku adalah Ki Darsikun, jagoan nomor satu di Lamongan dan murid Bapa Guru Ki Harya Baka Wulung! Dan ini adalah adik seperguruanku bernama Ki Wiroboyo dari Ponorogo!"

"Aha, kiranya murid Ki Harya Baka Wulung? Akan tetapi, Ki Harya setahuku adalah seorang datuk sakti dari Madura yang gagah perkasa, mengapa sekarang muridnya seorang laki-laki pengecut yang suka mengganggu wanita?"

"Nenek keparat! Mengakulah siapa, andika!"

Bentak Ki Wiroboyo marah.

"Orang-orang macam kalian ini tidak pantas untuk mengenal namaku. Anggap saja aku orang yang menentang kalian melarang kalian mengganggu gadis itu!"

Ki Darsikun dan Wiroboyo tak dapat menahan kemarahan mereka lagi dan bareng mereka menerjang ke depan, menggerakkan keris mereka menyerang nenek itu.

Tiba-tiba tampak bayangan berkelebat dan nenek itu sudah lenyap dari depan mereka!

Dua orang itu terbelalak dan lagi mereka kebingungan, ada suara di belakang mereka.

"Kalian mencari apa? Aku berada di sini!"

Mereka cepat membalik dan ternyata nenek itu telah berdiri di belakang mereka sambil tersenyum.

Kembali mereka menerjang dan tiba-tiba nenek itu menghilang untuk muncul di belakang mereka sampai lima kali kedua orang itu menyerang, akan tetapi yang diserangnya seperti bayangan saja, tahu-tahu lenyap dan muncul di tempat lain.

Dengan kaget Darsikun menyadari bahwa nenek itu memiliki ilmu meringankan tubuh dan kecepatan yang luar biasa, yang membuat ia seolah dapat menghilang!

Mereka mengerahkan seluruh tenaga dan menggunakan seluruh kecepatan lalu menerjang lagi, bukan hanya rnenggunakan keris di tangan kanan, akan tetapi juga tangan kiri mereka bergerak, memukul dengan tenaga sakti untuk mencegah nenek itu menghilang.

Akan tetapi kini dengan kecepatan kilat, nenek itu sudah lenyap pula.

Ketika mereka berdua membalik, nenek itu tidak berada di belakang mereka.

Mereka mencari-cari, tetapi tetap saja tidak menemukan nenek itu.

Tiba-tiba terdengar suara tawa nenek itu dan ketika mereka memandang ke arah suara yang datang dari atas, nenek itu telah duduk dengan kedua kakinya ongkang-ongkang sambil tersenyum mengejek.

"Nenek keparat! Jangan bermain gila. Kalau memang engkau berani turunlah dan lawan kami, jangan hanya main mengelak."

Bentak Darsikun yang merasa malu dan penasaran sekali.

"Hi-hik! Kalau beberapa tahun yang lalu kalian bertemu dengan aku, tentu sekarang kalian sudah menggeletak tanpa nyawa. Akan tetapi sekarang aku tidak suka membunuh dan kalau kalian ingin mendapatkan pelajaran, sambutlah!"

Tiba-tiba tubuh nenek itu melayang turun dan menyambar ke arah dua orang itu seperti seekor burung garuda menyambar calon mangsanya.

Dua orang itu terkejut dan mereka menyambut bayangan putih yang menyambar ke arah mereka itu dengan tusukan keris mereka.

Akan tetapi dengan gerakan yang luar biasa cepatnya, nenek itu menggerakkan tongkat ularnya dua kali yang dengan tepat memukul pergelangan tangan kanan mereka yang memegang keris.

"Tukk! Tukk!!"

Dua orang itu berteriak kesakitan karena tulang lengan mereka telah retakretak ketika terpukul tongkat.

Dengan sendirinya keris itu terlepas dari pegangan mereka dan karena maklum bahwa mereka tidak mungkin melanjutkan perlawanan setelah lengan kanan mereka patah tulangnya, tanpa dikomando lagi kedua orang itu lalu melompat dan melarikan diri tunggang-langgang.

Pada saat itu Muryani sudah siuman dari pingsannya.

Ia sempat melihat dua orang itu bertanding melawan nenek rambut putih yang sakti itu.

Ia berhasil melepaskan tali yang belum sempurna mengikat kedua lengannya.

Akan tetapi ketika bangkit berdiri, kedua orang itu sudah melarikan diri.

"Hendak lari ke mana kalian, jahanam-jahanam busuk?"

Muryani memaki dan ia melompat untuk melakukan pengejaran.

Akan tetapi tiba-tiba ia jatuh tersungkur karena kedua kakinya dihalangi tongkat ular di tangan nenek itu.

Muryani melompat berdiri dan memandang nenek itu dengan heran dan penasaran.

"Nenek yang aneh! Andika tadi menolongku akan tetapi kenapa sekarang menghalangi aku mengejar dua orang penjahat itu?"

"Nini, aku menghalangi engkau melakokan pengejaran karena kalau kubiarkan, tidak urung engkau akan terjatuh lagi ke tangan mereka. Mereka itu orang-orang berbahaya sekali, nini. Apalagi kalau Harya Baka Wulung berdiri di belakang mereka!"

"Ki Harya Baka Wulung?"

Muryani bertanya heran, tidak berniat mengejar karena iapun teringat bahwa kalau ia melakukan pengejaran, selain belum tentu dapat menyusul karena hutan itu lebat sekali, juga siapa tahu ia akan terjebak dan tertangkap lagi seperti tadi.

"Siapakah itu, eyang (nenek)?"

"Dia itu datuk yang sakti mandraguna dari Madura, dan orang tinggi kurus yang bernama Ki Darsikun tadi adalah muridnya. Juga yang seorang lagi"...."

"Si Wiroboyo itu?"

Muryani memotong.

"Hemm, jadi engkau sudah mengenalnya nini?"

"Tentu saja! Dia itu musuh besarku, orang jahat yang telah membunuh ayahku,"

Jawab Muryani.

Nenek itu tersenyum melihat sikap Muryani yang keras.

Gadis cantik jelita yang keras hati ini mengingatkan ia akan keadaan dirinya sendiri dahulu puluhan tahun lalu ketika ia masih jadi seorang gadis muda.

Hatinya tertarik dan ia lalu duduk di atas sebuah batu yang berada di tepi jalan itu.

"Nah, kalau begitu cepat ceritakan kepadaku mengapa engkau bermusuhan dengan mereka dan bagaimana engkau tadi sampai tertangkap. Dan ini tentu kudamu, bukan?"

Ia menuding ke arah bangkai kuda yang rebah di situ.

Muryani mengerutkan alisnya.

Ia menyadari bahwa laki-laki jangkung bernama Darsikun tadi tentulah orang yang memantu Wiroboyo sehingga sampai berhasil membunuh ayahnya dan dulu melukainya.Orang itu sakti dan dua orang musuhnya itu berbahaya sekali.

Akan tetapi betapa mudahnya tadi ia melihat nenek ini mengalahkan mereka.

Setelah berpikir sejenak, ia lalu menjatuhkan diri berlutut depan batu yang diduduki nenek itu dan berkata.

"Saya akan menceritakan semua kalau eyang sudah menerima saya menjadi murid. Eyang, sudilah kiranya eyang menerima saya sebagai murid!"

Sejenak nenek itu termangu, memandang kepada gadis yang berlutut sambil menundukkan mukanya itu.

"Coba angkat mukamu dan pandang aku!"

Perintahnya.

Muryani mengangkat muka dan memandang wajah nenek itu dengan sinar mata tajam.

Matanya yang mencorong itu agaknya menyenangkan hati nenek itu.

Sejenak dua pasang mata itu bertemu pandang saling selidik.

Nenek itu mengamati wajah yang ayu manis itu dan ia tersenyum.

Bukan hanya sikap keras gadis itu yang menarik hatinya, juga wajah ayunya pun menyenangkan hatinya.

"Agaknya engkau seorang gadis yang pernah mempelajari ilmu kanuragan. Murid siapakah engkau?"

"Saya pernah belajar ilmu silat di perguruan Bromo Dadali, eyang."

"Ah, heh-heh-heh! Kiranya engkau murid Ki Ageng Branjang ketua Bromo Dadali di Gunung Muria? Coba kauperlihatkan apa yang pernah kaupelajari di sana.agar aku mengetahui sampai di mana tingkatmu. Hayo mulai!"

Kembali nenek itu memerintah.

Muryani yang merasa yakin bahwa nenek ini seorang sakti mandraguna, tidak ragu-ragu lagi.

Setelah menyembah, ia lalu bangkit berdiri dan rnulai bersilat di depan nenek itu.

Ia membuka gerakannya dengan pasangan kuda-kuda Dadali Anglayang, kemudian mulai bersilat dan sengaja mengerahkan seluruh kecepatan dan tenaganya.

Bahkan beberapa kali ia memukul dengan dengan Aji Bromo Latu sehingga terasa oleh nenek itu hawa panas keluar dari pukulan itu.

"Cukup!"

Nenek itu berseru dan Muryani menghentikan gerakannya, lalu menjatuhkan diri lagi duduk bersimpuh di depan batu yang diduduki nenek itu.

"Kemampuan saya masih rendah, eyang,"

Kata Muryani merendah.

"Hemm, memang masih belum dapat diandalkan dan mengandung banyak kelemahan. Ki Ageng Branjang agaknya masih belum pandai mengajarkan ilmu silat pada muridnya, atau memang barangkali hanya sampai sekian saja tingkat kepandaiannya."

Ucapan nenek itu mengandung ketinggian hati yang memandang rendah kemampuan orang lain sehingga diam-diam Muryani merasa tidak senang dan mengerutkan alisnya.

Ia menganggap nenek itu terlalu sombong dan merendahkan gurunya yang menjadi ketua Bromo Dadali.

Akan tetapi tentu saja ia diam saja, tidak berani menyatakan perasaan tidak senangnya dengan kata-kata.

"Aha, engkau tidak percaya padaku dan menganggap aku membual?"

Tiba-tiba nenek itu bertanya. Muryani menjadi terkejut.

"Ah, bukan begitu, eyang, akan tetapi..."

"Sudahlah, hayo bangkitlah, cepat!"

Perintah ini mengandung suara sedemimikian penuh wibawa sehingga mau tidak mau Muryani bangkit juga.

"Hayo serang aku dengan ilmumu yang paling ampuh, pergunakan pukulanmu yang mengandung hawa panas tadi!"

Muryani terkejut.

"Akan tetapi...."

"Tidak ada tapi! Apa kau tidak percaya bahwa aku akan mampu menahan pukulanmu? Hayo cepat pukul!"

Terpaksa Muryani lalu mengerahkan Aji Bromo Latu, yaitu ilmu pukulan yang merupakan aji pamungkas yang menjadi andalan perguruan Bromo Dadali, kemudian memukul ke arah dada nenek itu.

Akan tetapi ia hanya mengerahkan sebagian dari tenaganya saja karena ia tidak ingin melukai nenek tua renta itu.

"Awas serangan saya, eyang!"

Ia masih memperingatkan dan pukulan tangan kanannya yang terbuka itu menyambar ke depan.

"Wuuutttt..., dess.... !!"

Tubuh Muryani terpental ke belakang dan ia terhuyung-huyung.

Hawa pukulannya yang mengandung panas tadi seperti membentur sesuatu yang lunak namun lentur, yang membuat tenaga pukulannya membalik sehingga ia tak datat mempertahankan diri lalu terhuyung.

Muryani terkejut sekali.

"Ke sinilah kau!"

Nenek itu membentak dan Muryani melangkah maju menghampiri.

"Hemm, bocah tolol! Kalau engkau tidak percaya akan kemampuanku, mau apa engkau ingin menjadi muridku? Engkau memukul hanya dengan tenaga sebagian saja. Engkau takut kalau, aku terluka. Begitu rendahkah engkau menilai aku?"

Muryani beradu pandang dengan nenek itu dan ia terkejut. Sinar mata nenek itu mencorong seolah menembus sampai hatinya! "Saya tidak berani, eyang,"

Katanya lirih.

"Kalau tidak berani memandang rendah hayo pukul lagi aku dengan seluruh tenagamu. Aku ingin mengukur tingkatmu, tahu?"

Muryani lalu memasang kuda-kuda mengumpulkan seluruh tenaganya.

Ia kini percaya penuh akan kesaktian nenek itu.

Setelah mengerahkan seluruh tenaga, memukul dengan dorongan kedua tela pak tangannya ke arah tubuh nenek yang masih duduk di atas batu itu sambil berseru.

"Maafkan saya, eyang!"

Dahsyat sekali Aji Bromo Latu yang dipergunakan Muryani untuk melakukan pukulan itu. Dari kedua telapak tangannya menyambar hawa yang amat panas, mendahului tenaga pukulan yang dahsyat.

"Wuuuttt.... blarrr....!"

Tubuh Muryani tepental jauh dan ia terbanting jatuh, tidak dapat bangkit kembali karena ia telah jatuh pingsan lagi!

Nenek itu turun dari atas batu, menghampiri Muryani dan berjongkok di dekatnya, menggunakan jari tangan kanan menotok tiga kali ke arah ulu hati, di antara sepasang payudaranya, kemudian mengurut bagian tengkuknya.

Muryani mengeluh lirih dan membuka matanya.

Ketika melihat nenek itu berjongkok di dekatnya, ia cepat bangkit lalu duduk menyembah dengan hormat.

"Maafkan saya yang bodoh dan lemah,"

Katanya lirih.

"Hik-hik, sekarang aku telah mengukur tingkatmu. Engkau boleh juga, sudah mewarisi dasar-dasar aji kesaktian yang lebih tinggi. Tidak sukar bagimu untuk melatih dan menguasai ilmu-ilmuku yang tinggi."

"Ah, kalau begitu eyang menerima saya menjadi murid?"

Nenek itu tersenyum dan mengangguk. Muryani girang sekali dan ia lalu menyembah-nyembah.

"Eyang guru, terimalah sembah sujud saya!"

Katanya. Nenek itu menyentuh pundaknya dan bagaikan kemasukan hawa yang amat kuat Muryani tersentak bangun berdiri. Nenek itupun sudah berdiri lalu duduk kembali di atas sebuah batu.

"Duduklah di sini dan sekarang ceritakan semua tentang dirimu, siapa engkau dan apa yang terjadi denganmu sampai kita saling berjumpa di sini."

Muryani lalu mengambil tempat duduk di atas batu, di sebelah nenek itu.

"Eyang guru yang mulia. Nama saya Muryani. Mendiang ayah saya tinggal di dusun Pakis di Gunung Lawu. Sejak kecil saya ikut nenek saya di Demak sedangkan mendiang ayah meninggalkan Demak dan pergi merantau sampai ke Gunung Lawu. Ketika saya ikut nenek itulah saya menjadi murid perguruan Bromo Dadali. Ketika saya berusia enam belas tahun, baru setahun lalu, nenek saya di Demak sakit dan meninggal dunia. Ayah lalu membawa saya ke Pakis."

Muryani lalu bercerita tentang Ki Demang Wiroboyo yang hendak mengambilnya sebagai selir dan betapa ia memberi pelajaran kepada Ki Wiroboyo yang mata keranjang itu.

Diceritakannya pula tentang warok Surobajul yang diundang Ki Wiroboyo untuk menculiknya dan betapa akhirnya Warok Surobajul tewas dikeroyok penduduk dan Ki Wiroboyo diusir dari dusun.

"Akan tetapi ternyata Wiroboyo menaruh dendam. Pada suatu malam, kurang lebih sebulan yang lalu, rumah kami kedatangan penjahat yang telah membunuh ayah dan melukai saya. Ayah saya, Ki Ronggo Bangak, tewas oleh pukulan jarak jauh. Setelah saya sembuh, saya lalu pergi meninggalkan Pakis untuk mencari Wiroboyo, dan saya menduga bahwa tentu dia yang berdiri di belakang pembunuhan terhadap ayah dan penyerangan terhadap saya itu. Dari rumah mendiang Warok Surobajul saya mendapatkan keterangan tentang rumah Wiroboyo dan ketika saya mengunjungi rumahnya, saya mendapat keterangan bahwa Wiroboyo baru saja meninggalkan rumahnya menuju ke utara. Saya lalu mengejarnya dan di hutan ini saya melihat dia berlari di depan. Saya mengejar, akan tetapi tiba-tiba kuda saya roboh terkena anak panah. Saya ikut terbanting dan tidak ingat apa-apa lagi. Ketika siuman, saya melihat eyang guru berkelahi melawan mereka dan mengusir mereka. Demikianlah eyang, keadaan saya. Menyaksikan kesaktian eyang, maka saya mohon menjadi murid agar saya memiliki kesaktian seperti eyang sehingga dapat membalas dendam kematian ayah saya dan membasmi penjahat-penjahat yang berkeliaran di permukaan bumi ini."

"Hemm, setelah engkau menjadi muridku, Muryani, engkau harus dapat memenuhi syarat-syarat yang harus kautaati."

"Apakah syarat-syarat itu, eyang guru?"

"Yang pertama, walaupun dalam berapa tahun ini aku ingin mewariskan semua ilmuku kepadamu, akan tetapi terlarang keras padamu untuk memperkenalkan aku sebagai gurumu. Orang menyebut aku Nyi Rukmo Petak (Rambut Putih) dan namaku sendiri dulu adalah Ken Lasmi. Akan tetapi hanya telingamu saja yang mendengar nama dan julukanku itu. Engkau tidak boleh mengatakannya kepada siapapun juga sebelum aku mati!"

"Perintah eyang guru ini aneh sekali, akan tetapi saya berjanji untuk mematuhinya,"

Kata Muryani dengan tegas dan janji ini memang keluar dari lubuk hatinya.

"Syarat kedua, engkau tidak boleh sekali-kali mempergunakan ilmu-ilmu yang kau pelajari dariku untuk melakukan kejahatan."

"Saya bukan orang jahat yang suka melakukan kejahatan, eyang guru!"

Kata Muryani tegas karena kata-kata ini menyinggung perasaannya.

"Bagus kalau begitu. Syarat ketiga, kau tidak boleh jatuh cinta kepada seorang pria yang tidak mencintaimu. Kalau engkau memaksakan cintamu kepada seorang pria yang tidak mencintaimu, hidupmu akan terkutuk dan selama hidupmu engkau akan menderita sengsara!"

Wajah Muryani menjadi kemerahan. Entah mengapa, tiba-tiba saja wajah Parmadi membayang di depan pelupuk matanya. Ia mengeraskan hatinya dan berkata.

"Saya bukan seorang wanita yang tidak tahu malu, eyang. Saya tidak akan sudi memaksakan cinta saya kepada seorang pria yang tidak mencintai saya!"

NENEK itu tersenyum.

"Heh, mudah saja berkata begitu. Akan tetapi sekali engkau jatuh cinta dan tergila-gila kepada seorang pria, baru engkau tahu apa yang kumaksudkan. Sekarang syarat yang keempat atau yang terakhir. Ingat baik-baik pesanku yang terakhir ini. Aku ingin agar engkau tidak melupakan dua nama, yaitu Retno Susilo dan suaminya yang bernama Tejomanik atau Sutejo. Mereka itu, terutama Retno Susilo, adalah orang yang kukasihi, bahkan wanita itu dahulu pernah menjadi muridku yang terkasih. Karena itu aku berpesan padamu, kalau engkau kelak bertemu Retno Susilo, bantulah ia dalam segala hal seperti engkau membantu aku sendiri."

"Baik, eyang guru. Akan saya ingat selalu pesan eyang guru."

"Nah, mulai sekarang engkau ikut denganku ke manapun aku pergi, dan engkau harus mentaati semua perintahku, dengan tekun melatih semua aji kanuragan yang kuajarkan,"

Kata nenek itu dan nada suaranya masih mengandung kekerasan yang tidak dapat dibantah lagi.

Muryani mengikuti nenek itu menuju ke timur dan ternyata nenek yang berjuluk Nyi Rukmo Petak itu tinggal sebagai seorang pertapa di Bukit Ular yang terletak di Pegunungan Anjasmoro.

Nyi Rukmo Petak ini dahulu bernama Ken Lasmi, seorang gadis cantik jelita dan terkenal di mana-mana sebagai seorang gadis yang sakti mandraguna.

Kemudian Ken Lasmi bertemu dengan seorang pemuda gagah perkasa bernama Harjodento yang kemudian menjadi ketua perguruan Nogo Dento di daerah Ngawi.

Ken Lasmi tergila-gila kepada Harjodento.

Akan tetapi pemuda yang semula mencintanya, akhirnya meninggalkannya setelah mengetahui Ken Lasmi memiliki watak yang kejam dan mudah membunuh orang yang dia nggap bersalah atau menentangnya.

Harjodento meninggalkannya, kemudian pendekar ini menikah dengan seorang gadis lain bernama Padmosari yang juga seorang wanita yang digdaya.

Ken Lasmi merasa sakit hati sekali ditinggalkan Harjodento yang dicintanya, apalagi mendengar pemuda itu menikah dengan gadis lain.

Pada malam pengantin, Ken Lasmi menyerbu rumah Harjodento dan berusaha membunuh Padmosari dianggap telah merebut kekasihnya.

Akan tetapi ia dapat dikalahkan oleh Harjodento yang membantu isterinya.

Ken Lasmi masih penasaran.

Berulang kali dicobanya untuk membunuh Padmosari, namun selalu gagal karena selain Padmosari juga bukan wanita lemah, terutama karena tingkat kepandaian Harjodento lebih tinggi daripada tingkat kepandaian Ken Lasmi.

Hal ini membuat Ken Lasmi jengkel, sakit hati dan berduka serta mendadak rambut di kepalanya berubah putih semua!

Sejak saat itulah ia lebih dikenal dengan sebutan Nyi Dewi Rukmo Petak!

Ia mendendam sakit hati yang amat mendalam dan meningkatkan ilmu kepandaiannya.

Namun tetap saja ia tidak dapat mengungguli suami isteri itu.

Empat tahun telah lewat sejak Harjodento menikah dengan Padmosari dan suami isteri ini mendapatkan seorang anak laki-laki yang diberi nama Tejomanik yang telah berusia tiga tahun.

Dan terjadilah malapetaka bagi suami isteri itu.

Tejomanik yang baru berusia tiga tahun itu pada suatu hari lenyap!

Tentu saja penculiknya adalah Rukmo Petak.

Akan tetapi, anak itu ditolong oleh orang pendeta sakti bernama Bhagawan Sindusakti yang kemudian merawat mendidik anak itu karena tidak diketahui siapa orang tuanya.

Adapun Nyi Rukmo Petak lalu mengambil seorang anak perempuan bernama Retno Susilo sebagai murid.

Ia menyayangi anak itu dan menurunkan semua ilmunnya.

Setelah Retno Susilo menjadi gadis Nyi Rukmo Petak mengutusnya untuk membunuh Harjodento dan Padmosari!

Akan tetapi apa yang terjadi?

Retno Susilo bertemu dan saling jatuh cinta dengan seorang pemuda bernama Sutejo yang bukan lain adalah Tejomanik!

Mengetahui ini, Nyi Rukmo Petak berhasil membujuk Sutejo, menceritakan betapa jahatnya Harjodento dan Padmosari, sehingga Sutejo mau membantu Retno Susilo untuk membunuh suami isteri yang sesungguhnya orang tuanya sendiri itu.

Nyi Rukmo Petak merasa girang dan puas bukan main.

Ia dapat mengadu suami isteri musuh besarnya itu dengan anak mereka sendiri!

Dan usahanya itu hampir berhasil.

Namun kemudian gagal karena ulahnya sendiri.

Ia mengintai dan menonton pertempuran itu.

Melihat betapa Harjodento dan Sutejo samasama terluka, ia keluar dan menertanwakan suami isteri itu!

Setelah Sutejo dan Harjodento tahu bahwa mereka adalah ayah dan anak, mereka menandingi Nyi Rukmo Petak.

Biarpun sudah terluka, mereka berempat, Sutejo, Harjodento, Padmosari dibantu Retno Susilo yang menentang gurunya sendiri yang dianggapnya jahat.

Nyi Rukmo Petak kalah dan melarikan diri.

Sejak saat itulah ia menjadi pertapa dan perlahan-lahan dapat menyadari kesalahannya dan ia bertaubat tidak lagi mau berbuat kejam, tidak mau membunuh orang, biarpun wataknya yang keras masih ada bekasnya.

Kebetulan pada hari itu ia melihat Muryani tertawan oleh Wiroboyo dan Darsikun.

Ia marah, akan tetapi tidak mau membunuh mereka.

Melihat Wajah dan watak Muryani yang keras, timbul rasa sukanya dan ia lalu mengambil gadis itu sebagai muridnya, mengajaknya pulang ke Bukit Ular di Pegunungan Anjasmoro, Kurang lebih empat tahun lamanya!

Muryani digembleng oleh Nyi Rukmo Petak di Bukit Ular.

Ia belajar dengan tekin sekali dan mewarisi berbagai aji kesaktian yang hebat.

Nyi Rukmo Petak terkenal sekali dengan ilmunya meringankan tubuh sehingga ia dapat bergerak cepat seperti menghilang.

Ilmu ini disebut Aji Kluwung Sakti yang kini dapat dikuasai Muryani.

Selain itu iapun menguasai Aji Gelap Sewu, semacam pukulan tenaga sakti dahsyat dan juga ilmu pukulan yang mengerikan, yang disebut Aji Wiso Sarpo, (bisa Ular).

Pukulan ini kalau dipergunakan dengan aji tersebut, mengandung hawa racun sehingga akibatnya, yang terkena pukulannya akan keracunan seperti tergigit ular berbisa!

Selain tiga ilmu yang dahsyat ini, Muryani juga diberi ilmu pawang ular.

Semua ular, betapa liar dan berbisapun, akan menjadi jinak dan tunduk kepadanya!

Setelah ia tamat belajar, pada suatu malam Nyi Rukmo Petak mengajukan permintaan yang amat aneh bagi Muryani.

"Muryani, malam ini aku ingin engkau menemaniku. Aku ingin tidur sepembaringdan sebantal denganmu!"

Tentu saja Muryani merasa heran sekali.

Akan tetapi ia tidak berani membantah.

Ketika malam tiba, ia merebahkan diri di samping gurunya, tidur berbagi bantal.

Muryani merasa terharu sekali ketika Nyi Rukmo Petak merangkul dan menciuminya sambil berulang kali berbisik.

"Anakku..., cucuku..., yang terkasih".!"

Dan ia merasa betapa pipinya basah terkena air mata, yang keluar dari mata nenek itu.

Gurunya, Nyi Rukmo Petak yang berhati sekeras baja itu menangis!

Teringat akan keadaan dirinya sendiri.

Neneknya telah meninggal dunia.

Ibunya telah meninggal dunia sejak ia kecil, dan ayahnya juga meninggal dunia dibunuh orang.

Ia menyadari bahwa pada saat itu ia tidak mempunyai siapa-siapa lagi di dunia ini kecuali Nyi Rukmo Petak sebagai gurunya dan pengganti nenek atau ibunya!

Maka, keharuan mendorongnya untuk balas memeluk tubuh nenek itu dan keduanya bertangisan!

Setelah reda tangisnya, Muryani bertanya kepada Nyi Rukmo Petak yang masih merangkulnya.

"Eyang guru, apakah eyang tidak mempunyai anak atau cucu?"

"Aku""

Aku tidak pernah menikah Muryani,"

Jawab nenek itu lirih dan suaranya menjadi parau karena tangis.

"Akan tetapi kenapa, eyang? Eyang dahulu tentu seorang wanita yang amat cantik. Sekarangpun masih tampak bekas kecantikan eyang, tentu banyak pria yang jatuh cinta kepada eyang."

Nenek itu menghela napas dan melepaskan rangkulannya untuk menyusut air matanya.

"Pria yang kucinta membelakangiku.... dia menikah dengan wanita lain dan sejak itu aku tidak pernah berdekatan dengan pria lain. Aku tidak mau menikah dengan pria lain."

"Ah, dia jahat sekali, membikin hidup eyang merana dengan menolak cinta eyang!"

Kata Muryani penasaran. Ingin ia menghajar laki-laki yang membuat eyang gurunya patah hati dan sengsara seperti itu.

"Tidak, Muryani. Dia sama sekali tidak jahat. Bahkan dia seorang pendekar gagah perkasa dan bijaksana. Akulah yang jahat. Dahulu aku seorang gadis yang galak, liar dan kejam. Aku yang jahat dan karena itulah dia menolak cintaku. Masih ingat akan syarat ketiga yang kuajukan kepadamu?"

Muryani mengangguk.

"Saya tidak boleh jatuh cinta kepada seorang pria yang tidak mencintaiku. Ah, jadi itukah sebabnya mengapa eyang mengajukan syarat seperti itu?"

"Benar, Muryani. Aku sangat sayang kepadamu dan aku tidak ingin engkau kelak hidup menderita seperti aku. Muryani, muriqku, anakku, cucuku, peluk dan ciumlah aku sekali lagi setelah itu tinggalkan aku, tidurlah di kamarmu sendiri."

Muryani memeluk dan menciumi kedua pipi gurunya.

"Eyang, saya ingin menemani eyang semalam penuh, tidur di sini. Saya juga amat sayang kepada eyang."

"Tidak, Muryani. Cukup sudah bagiku Kasih sayangmu membahagiakan aku. Sungguh. Aku berterima kasih kepada Gusti Allah yang mempertemukan aku denganmu. Aku lelah sekali. Tinggalkanlah aku sendiri, aku akan bersamadhi."

Terpaksa Muryani turun dari atas pembaringan. Akan tetapi sebelum ia keluar dari kamar itu, gurunya berkata, suaranya lirih dan tersendat, agaknya napasnya sesak.

"Muryani, jangan lupa... besok, setelah sinar matahari menyentuh pondok, kaubakarlah pondok ini sampai semua menjadi abu."

Muryani terkejut bukan main.

"Eyang guru! Apa artinya ini? Kenapa saya harus membakar pondok ini?"

"Sudahlah, jangan banyak bertanya. Taati saja semua pesan dan perintahku. Engkau akan mengerti sendiri besok. Tidurlah, Muryani, sayangku...."

Muryani ingin merangkul lagi, akan tetapi takut kalau gurunya yang keras hati itu marah.

Ia lalu keluar dari kamar itu, dengan hati-hati menutupkan daun pintunya, kemudian memasuki kamarnya sendiri.

Akan tetapi semalam itu ia tidak dapat tidur pulas.

Ia selalu ingat kepada gurunya, ingat kepada keadaan diri sendiri, ingat akan semua pesan gurunya dan bertanya-tanya apa yang akan dilakukan gurunya besok.

Kenapa ia harus membakar pondok!

Pagi-pagi sekali ia keluar dari kamarya, dengan tubuh terasa lesu karena kurang tidur.

Ia melangkah dengan hati-hati agar jangan mengagetkan gurunya yang sedang tidur.

Ia pergi mandi di pancuran air yang berada di belakang pondok.

Berganti pakaian lalu memasak air untuk membuatkan minuman bagi gurunya.

Ia tidak melihat Nyi Rukmo Petak keluar dari kamarnya.

Padahal, biasanya nenek itu sudah bangun pagi-pagi sekali dan kesukaannya duduk di luar pondok, di atas bangku menikmati kesejukan udara pagi.

Setelah, ia menyelesaikan semua pekerjaan pagi dan melihat sinar matahari mulai mengintai dari balik puncak dan menyinari pondok, Muryani menjadi kaget karena ia teringat akan pesan gurunya agar ia membakar pondok setelah sinar matahari menyentuh pondok!

Jantungnya berdebar tegang dan cepat ia memasuki pondok.

Ada perasaan tidak enak di hatinya.

Di depan pintu kamar gurunya ia meragu.

Biasanya, ia tidak pernah berani memasuki kamar gurunya tanpa dipanggil.

Akan tetapi hatinya merasa tidak enak dan jantungnya berdebar.

Diketuknya pintu kamar itu perlahan.

"Tok-tok-tok"

Muryani menunggu, mengerahkan pendengarannya.

Tidak ada jawaban, bahkan tidak terdengar gerakan sedikitpun juga di dalam kamar itu.

Muryani merasa semakin tegang dan tidak enak hatinya.

Biasanya, gurunya itu memiliki pendengaran yang peka sekali.

Dalam keadaan tidur sekalipun, kalau terdengar suara yang tidak wajar gurunya pasti terbangun.

Setelah mengetuk pintu sekali lagi dan tetap tidak ada jawaban, ia memberanikan diri mendorong daun itu perlahan.

Daun pintu yang tak pernah diganjal, selalu hanya ditutup begitu saja dengan mudah terbuka.

Muryani melangkah masuk.

Cuaca dalam kamar masih gelap remang-remang karena jendela kamar itu masih tertutup dan tidak ada lampu penerangan di dalam kamar.

Setelah pandang matanya dapat disesuaikan dengan keremangan kamar itu, Muryani dapat melihat sosok tubuh gurunya duduk bersila menghadap ke luar.

Sepasang mata nenek itu terpejam, agaknya tenggelam ke dalam samadhinya.

Muryani tidak berani mengganggu gurunya yang tampaknya sedang bersamadhi itu.

Akan tetapi, perasaan tidak enak dalam hatinya memaksa ia memberanikan diri melangkah maju menghampiri pembaringan itu.

"Eyang". Panggilnya lirih. Sosok tubuh nenek itu tidak menjawab, tidak bergerak dan yang membuat hati Muryani berdebar tegang dan gelisah adalah ketika ia mengerahkan pendengarannya, ia tidak menangkap pernapasan gurunya! "Eyang". ?"

Ia memanggil lagi, agak keras. Nenek berambut putih itu tetap tidak menjawab dan tidak bergerak, seolah tubuhnya telah menjadi arca.

"Eyang". Ia menghampiri dan menyentuh pundak nenek itu. Ketika ia mendorongnya, tubuh Nyi Rukmo Petak terjengkang dan roboh telentang dalam keadaan kedua kaki masih bersila dan kedua tangan menyembah di depan dada! "Eyang". !"

Muryani merangkul dan ternyata tubuh gurunya itu telah kaku dan dingin. Gurunya telah mati dalan keadaan duduk bersila! "Eyanggg..... ah, eyang telah mati"".. !"

Muryani menangis sambil memeluk tubuh nenek itu dan menciumi mukanya sehingga muka jenaza nenek itu basah oleh air matanya. Setelah tangisnya mereda, ia teringat akan pesan nenek itu.

"Eyang guru ingin mati dalam keadaan duduk bersamadhi dan ingin jenazahnya dibakar bersama pondok ini."

Setelah berkata kepada dirinya sendiri, Muryani lalu merangkul kedua pundak nenek itu dan membangkitkannya kembali, duduk bersila seperti tadi.

Jenazah itu kaku dan ketika didudukkan, seperti arca, tidak terguling kembali.

Kamar itu mulai terang dan Muryani melihat bahwa nenek ilu telah berganti pakaian, mengenakan pakaian serba putih yang bersih.

Rambutnya yang putih digelung rapi, dan tongkat ular kobra kering berada di dekatnya.

Betapa hebat gurunya, pikir Muryani kagum.

Pasti sudah tahu bahwa saat kematiannya segera tiba, maka ia berpesan kepada muridnya untuk membakar pondok itu.

Muryani berlutut di depan pembaringan, di depan jenazah nenek yang duduk bersila itu, menyembah dengan sikap hormat.

"Baiklah, eyang. Saya akan mentaati pesan dan perintah eyang. Saya akan membakar pondok ini."

Setelah memberi hormat, Muryani berkemas, mengumpulkan pakaiannya, membungkusnya dengan kain, memasukkan perhiasan-perhiasan emas, milik yang dibawanya ketika meninggalkan Dusun Pakis dan selama ini tak pernah dipakainya.

Kemudian ia menggendong buntalan itu dan kembali memasuki kamar Nyi Rukmo Petak.

Je'nazah itu masih duduk bersila seperti arca.

Muryani menjatuhkan diri berlutut lagi di depan jenazah itu.

"Eyang, saya akan melaksanakan pesan dan perintah eyang, membakar pondok ini. Selamat tinggal, eyang."

Ia meragu, masih berlutut karena pada saat itu ia teringat akan wejangan mendiang ayahnya, Ki Ronggo Bangak.

Ayahnya dulu pernah berkata bahwa kematian merupakan kelanjutan daripada kehidupan Yang mati dan akhirnya lenyap menjadi tanah hanyalah jasadnya, badannya.

Namun rohnya tidak akan lenyap, melainkan ke alam lain, ke alam baka.

Jadi, bukan ia yang meninggalkan gurunya.

Yang akan ia tinggalkan hanyalah bekas tubuh yang tadinya dihuni roh gurunya dan kini tubuh itu ditinggalkan karena sudah lapuk, sudah tua.

Roh gurunyalah yang meniggalkannya!

"Selamat jalan, eyang"..

La berkata lagi, bangkit dan mencium wajah jenazah itu lalu keluar dari situ, keluar dari pondok yang didiaminya bersama Nyi Rukmo Petak selama kurang lebih empat tahun.

Setelah tiba di luar pondok, Muryani menggantungkan buntalan pakaiannya padasebatang pohon, kemudian ia mengumpulkan daun dan kayu kering, ditumpuk di dalam dan sekeliling pondok.

Setelah merasa cukup, ia menyalakan api dan membakar tumpukan daun dan jerami serta kayu kering di luar pondok.

Pondok itu segera terbakar.

Api bernyala, berkobar, membubung ke atas disertai bunyi ledakan-ledakan kayu dan bambu yang dimakan api.

Muryani menonton dari bawah pohon, hatinya terharu dan ketika atap pondok yang terbakar itu runtuh, ia memejamkan matanya.

Suara menggelegarnya guntur membuat Muryani membuka matanya dan baru ia melihat bahwa di angkasa terdapat banyak awan mendung.

Ia tadi tidak memperhatikan dan tidak merasa bahwa cuaca semakin gelap.

Hal ini tidaklah aneh karena memang pada waktu itu sudah ada musim hujan.

Melihat mendung yang bergumpal tebal di atas itu timbul kekhawatiran dalam hati Muryani.

Diam-diam ia berdoa dalam hatinya agar hujan jangan turun dulu sebelum jenazah gurunya terbakar sempurna menjadi abu.

Mungkin doanya terkabul.

Kenyataanya, hujan belum juga turun sedangkan nyala api semakin lahap memakan pondok dan semua isinya.

Akhirnya, nyala api padam dan yang tinggal hanya asap yang makin lama semakin berkurang.

Muryani melihat bahwa bekas pondok itu kini telah menjadi abu semua, rata dengan tanah.

Tentu jenazah gurunya sudah menjadi abu dan hancur ketika tertimpa atap yang runtuh.

Ia belum dapat mencari abu jenazah gurunya karena asap masih mengepul di sana-sini tanda bahwa masih terdapat api yang membara.

Ketika asap mulai menipis dan ia sudah melangkah dari bawah pohon hendak menghampiri tumpukan puing dan abu itu, tiba-tiba tampak kilat menyambar disertai geledek yang menggelegar.

Muryani sudah mendengar cerita tentang bahayanya kilat dan geledek itu, maka cepat ia surut kembali ke bawah pohon besar.

Pada saat itu, hujan turun dari langit seperti dituangkan.

Kandungan mendung agaknya sudah terlampau berat sehingga akhirnya bobol dan air yang berjatuhan merupakan tetesan yang besar-besar dan deras sekali.

Melihat ini, Muryani menyambar buntalannya dan larilah secepatnya ke arah barat.

Tak jauh dari situ terdapat sebuah guha yang cukup besar dan ke guha inilah ia berlari untuk berlindung.

Dalam hujan sederas itu, pohon takkan mampu melindunginya dan ia akan basah kuyup, termasuk pakaian dalam buntalannya.

Hujan turun dengan deras sekali dan cukup lama.

Muryani melihat betapa air yang berwarna kuning kemerahan, air hujan bercampur tanah, membanjir di depan guha, mengalir ke bagian yang lebih rendah.

Ia tidak dapat melihat bekas pondok gurunya dari dalam guha itu.

Hatinya gelisah.

Ia tahu bahwa pondok itu didirikan di bagian paling tinggi dari puncak Biasanya, di waktu turun hujan deras, ia sering melihat air hujan menjadi sunga yang membanjir turun dari sekeliling pondok.

Ia tidak dapat membayangkan apa yang terjadi dengan puing dan abu pondok yang terbakar habis itu sekarang.

Hampir setengah hari lamanya hujan turun.

Deras dan tiada hentinya.

Ketika akhirnya hujan reda dan langit sudah mulai bersih dari awan mendung, tampak sinar matahari yang sudah mulai condong ke barat.

Sudah lewat tengah hari.

Muryani meninggalkan buntalan pakaiannya dalam guha ketika ia keluar dari tempal perlindungan itu karena masih turun gerimis kecil mengakhiri hujan lebat.

Ia langsung menuju ke tempat di mana pondok itu terbakar.

Ketika ia tiba di situ, ia tercengang terpukau berdiri seperti berubah menjadi arca.

Matanya terbelalak, mulutnya te nganga.

Pondok itu tak tampak bekasn sama sekali!

Puing dan abu pondok itu tidak ketinggalan sedikitpun juga!

Agaknya semua disapu bersih oleh banjir, terhawa hanyut air hujan yang menjadi seperti sungai itu.

Habis sama sekali, tinggal bekas lantai pondok dari tanah liat yang tampak mengkilap licin dicuci air hujan!

Abu jenazah Nyi Rukmo Petak sudah lenyap, tidak ada bekasnya sedikit pun juga.

Akhirnya Muryani dapat mengatasi guncangan hatinya dan ia menjadi sadar dan tenang kembali.

Ia berdiri dan merangkap kedua tangan dalam bentuk sembah, menyentuh ujung hidungnya dengan sepasang ibu jari dan berbisik.

"Selamat jalan, eyang".. !"

Hujan telah berhenti sama sekali.

Matahari tersenyum cerah.

Hawa udara menjadi demikian hangat, nyaman dan bersih.

Semua kotoran telah disapu bersih oleh air hujan.

Daun-daun pohon berkilauan dalam warna hijau yang segar dan bersih.

Bau tanah dan tanam-tanaman menghambur sedap dan menyehatkan.

Muryani menuruni puncak sambil menggendong buntalan pakaiannya.

Ia harus berjalan hati-hati sekali karena banya tanah lereng yang longsor dan hujan membuat tanah menjadi licin.

Terpeleset dapat membawa maut karena terjerumus ke dalam jurang!

Akan tetapi Muryani sekarang berbeda sekali dari Muryani empat tahun yang lalu.

Kalau dulu Muryani sudah merupakan seorang gadis murid Perguruan Bromo Dadali yang digdaya, sekarang ia adalah seorang gadis dewasa yang sakti mandraguna!

Nyi Rukmo Petak telah mewariskan seluruh aji kesaktiannya kepada Muryani.

Ilmu meringankan tubuh yang amat terkenal dari Nyi Rukmo Petak, yang membuat ia dapat bergerak cepat sekali yaitu Aji Kluwung Sakti, telah dikuasai Muryani.

Juga pukulan jarak jauh berdasarkan tenaga sakti, yaitu Aji Gelap Sewu, dan pukulan yang mengandung hawa beracun, yaitu Aji Wiso Sarpo.

Bukan saja kesaktian gadis itu yang bertambah hebat, akan tetapi juga kecantikannya.

Bagaikan bunga, ia telah mekar indah.

Bagaikan buah, ia telah masak.

Ia telah menjadi seorang gadis dewasa berusia duapuluh satu tahun.

Sepasang matanya yang seperti bintang itu kini dapat mencorong penuh wibawa yang amat kuat.

Begitu sempurna Muryani menguasai Aji Kluwung Sakti sehingga licinnya tanah yang dilaluinya ketika ia menuruni puncak, tidak merupakan halangan baginya.

Kedua kakinya demikian ringan melangkah, bahkan makin lama tubuhnya meluncur turun semakin cepat bagaikan terbang saja!

Muryani menuruni Bukit Ular di Pegunungan Anjasmoro.

Bukit Ular itu merupakan bukit yang ditakuti orang.

Tidak ada orang berani mendaki bukit itu, baik dia pemburu atau pencari kayu, karena bukit itu terkenal dihuni banyak ular.

Ada ular yang besar sekali yang mampu menelan tubuh seekor babi hutan, dan banyak ular-ular kecil yang berbisa.

Ketika menuruni bukit, Muryani melihat banyak ular.

Agaknya mereka itu hanyut terbawa air yang membanjir.

Akan tetap ia sama sekali tidak merasa takut atau ngeri.

Setelah ia menguasai ilmu pawing ular yang diajarkan oleh Nyi Rukmo Petak, ia sudah biasa bermain-main dengan ular-ular berbisa.

Karena ia menuruni Bukit Ular dengan menggunakan Aji Kluwung Sakti maka sebentar saja ia sudah tiba di kaki bukit.

Tiba-tiba ia mendengar suara jerit ketakutan seorang anak kecil.

Cepat berlari menuju ke arah suara itu.

Ia melihat seorang anak lakilaki yang usianya sekitar delapan tahun dan agaknya tadi bermain-main dan mandi di air hujan yang tergenang di selokan tepi sawah.

Anak laki-laki itu telanjang bulat dan dia berdiri terbelalak dengan muka pucat.

Di depannya, hanya dalam jarak kurang dari dua meter, tampak seekor ular kobra sebesar lengan orang dewasa, mengangkat kepala dan lehernya yang mekar itu ke atas, moncongnya mendesis-desis dan binatang itu siap mematuk.

Pengetahuannya tentang ular membuat Muryani maklum bahwa ular berbisa itu sedang marah dan siap untuk menyerang.

Cepat sekali tubuh Muryani berkelebat ke depan dan in sudah mengerahkan Aji Wiso Sarpo.

Ular itu terkejut dan menjadi semakin marah ketika melihat ada orang menghadapinya dan melindungi bocah itu.

Akan tetapi ketika Muryani menggerak-gerakkan kedua lengannya yang melenggok seperti dua ekor ular, ular kobra itu tiba-tiba menurunkan kepalanya.

Muryani berjongkok di depan anak itu, menghadapi ular yang berada dekat sekali di depannya.

Agaknya ular kobra itu seperti terpesona, lalu dengan perlahan merayap mendekati Muryani yang mengulurkan tangan kirinya dengan telapak tangan terbuka.

Ular itu menghampiri tangan kiri Muryani lalu menjilati telapak tangan itu!

Muryani tahu bahwa ular itu tentu terbawa hanyut oleh air hujan dan ketika tiba di selokan, tanpa sengaja anak laki-laki itu menginjaknya sehingga ular itu menjadi marah dan hendak mematuknya.

Muryani memegang leher ular itu, mengangkatnya ke depan mukanya, matanya mencorong memandang muka ular itu dan ia berkata lirih.

"Tidak boleh engkau menyerang manusia yang tidak mengganggumu. Hayo pergi, kembali ke bukit!"

Setelah berkata demikian, ia melepaskan ular itu yang segera merayap naik ke atas bukit dengan cepat, sepertl ketakutan! Muryani memandang anak lak-laki yang masih ketakutan itu.

"Di mana rumahmu, le (nak)?"

Anak laki-laki itu menunjuk ke arah belakangnya di mana terdapat sebuah dusun. Atap rumah-rumah sederhana di dusun itu tampak dari situ.

"Cepatlah pulang dan katakan kepada teman-temanmu agar jangan bermain-main dulu di tempat ini. Banyak ular hanyut oleh air hujan turun dari bukit."

Anak itu mengangguk-angguk dan dia pun lari ke arah dusun sambil membawa pakaian yang belum dikenakannya.

Muryani mengikuti larinya anak itu sambu tersenyum geli.

Muryani melanjutkan perjalanannya, Setelah ditinggal mati ayahnya, kini ditinggal mati gurunya, ia tidak mempunyai siapa-siapa lagi di dunia ini.

Neneknya di Demak juga sudah meninggal dunia dan selain nenek itu, tidak ada sanak keluarga lain.

Ia benar-benar hidup seorang diri di clunia ini.

Kembali ke Pakis?

Ah, di sana ia hanya akan terkenang kepada ayahnya yang telah tiada.

Parmadi juga tidak ada di dusun itu.

Tidak, ia tidak akan kembali ke Pakis, entah kalau kelak ada kesempatan untuk itu dan ada keinginan untuk mengunjungi makam ayahnya.

Sekarang ia harus melaksanakan tugas pertamanya, yaitu mencari pembunuh ayahnya!

Ia tahu bahwa Wiroboyo berdiri di belakang layar pembunuhan ayahnya dan bekas demang itu dibantu seseorang yang digdaya.

Ia harus mencari Wiroboyo dan memaksa orang itu mengaku siapa orang yang telah menjadi algojo ayahnya dan yang telah menyerangnya dengan pukulan ampuh.

Dengan hati penuh dendam ia segera pergi ke Ponorogo.

Ia akan membunuh Wiroboyo!

Tiba-tiba Muryani yang sedang berlari cepat itu menahan kakinya dan berhenti berlari.

Sebuah pikiran seperti cahaya kilat memasuki benaknya.

Ia hendak membunuh orang.

Jahatkah ini?

Gurunya meninggalkan pesan kepadanya agar ia tidak menggunakan ilmunya untuk berbuat jahat.

Ia harus membela kebenaran dan keadilan dan ia harus membela orang-orang yang namanya Sutejo dan Retno Susilo.

Tidak, ia tidak berbuat jahat.

Ia bahkan hendak menentang dan membasmi seorang penjahat besar yang membahayakan kehidupan banyak orang tak berdosa, terutama sekali kaum wanita.

akan menentang dan membunuh Wiroboyo dan kawan-kawannya, bukan hanya karena Wiroboyo dan para pembantunya telah membunuh ayahnya dan telah menyerang, dan melukainya, bahkan ia telah dijebak ditangkap dan nyaris diperkosa kalau tidak ditolong gurunya.

Ia akan membasmi Wiroboyo dan kawan-kawannya seperti membasmi segerombolan binatang yang amat berbahaya dan jahat bagi manusia.

Mereka itu merupakan sampah dunia yang memang sudah semestinya disapu bersih dari permukaan bumi!

Dengan membunuh orangorang macam Wiroboyo dan kawan-kawannya, ia tidak melakukan kejahatan.

Sebaliknya, ia bahkan akan membasmi kejahatan dan melakukan kebaikan!

Jalan pikiran Muryani seperti ini adaIah akibat pengaruh pendidikan mendiang Nyi Rukmo Petak yang selama empat tahun menjadi gurunya dan membimbingnya.

Nyi Rukmo Petak adalah seorang wanita yang sejak mudanya berwatak keras dan pernah menjadi datuk yang ditakuti karena kekerasan dan kekejamannya.

Ia pernah menderita kekecewaan besar yang membuat hatinya diracuni dendam walaupun di hari tuanya dengan susah payah ia sudah dapat meredakan dendamnya.

Namun sisa kekerasan yang menjadi dasar wataknya sejak muda masih ada dan kekerasan inilah yang kini menguasai hati Muryani.

Balas kebaikan orang dengan kebaikan, berikut bunganya!

Juga balas kekerasan orang dengan kekerasan pula berikut bunganya!

Orang jahat harus diperlakukan jahat pula.

Orang kejam harus diperlakukan kejam.

Ini namanya adil!

Beginilah seharusnya pendirian seorang gagah, seorang pendekar demikian jalan pikirannya yang dianggapnya sudah tepat dan benar.

Muryani agaknya sudah lupa akan wejangan-wejangan mendiang ayahnya.

Mendiang Ki Ronggo Bangak, biarpun tidak dapat mengajarkan aji kanuragan, namun telah mengajarkan ilmu-ilmu yang jaul lebih indah dan lebih bermanfaat sebaga bekal untuk perjalanan di sepanjang jalan raya yang dinamakan hidup ini.

Dia mengajarkan kesusastraan, kesenian, dan terutama sekali, pengertian tentang kehidupan, tentang isi kehidupan dan bagaimana sebaiknya mengisi kehidupan ini.

Bukan (Lanjut ke

Jilid 12) Seruling Gading (Seri ke 02 -Serial Pecut Sakti Bajrakirana) Karya". Asmaraman S. Kho Ping Hoo

Jilid 12 sekedar pelajaran menghafal filsafat-filsafat jiplakan yang sudah mapan dan sudah ada, kemudian hanya untuk dihafal di luar kepala sehingga kemudian hanya menjadi semacam peribahasa atau motto.

Ki Ronggo Bangak memaklumi bahwa puterinya telah menguasai aji kanuragan telah menjadi seorang gadis yang sakti mandraguna, penuh dengan kekuatan dan kekerasan.

Karena itu dia pernah menasihati puterinya ketika Muryani mengatakan bahwa kekerasan harus dihadapi dengan kekerasan pula, pembunuhan harus dibalas dengan pembunuhan juga.

Ki konggo Bangak ketika itu berkata.

"Muryani, kalau kita membalas kekerasan dengan kekerasan, membalas pembunuhan dengan pembunuhan pula, lalu apa bedanya di antara kita dengan mereka yang melakukan kekerasan dan pembunuhan itu? Kalau kita membunuh seorang pembunuh, bukankah kita menjadi pembunuh juga?"

"Akan tetapi jelas tidak sama, ayah!"

Bantah Muryani.

"Kita membunuh karena ia seorang yang jahat sedangkan dia...."

"Diapun tentu mempunyai alasan terentu untuk membenarkan perbuatannya itu, anakku. Semua itu hanya alasan yang dicari dan dipergunakan orang untuk menutupi kesalahannya atau perasaan bersalahnya."

Muryani masih merasa penasaran.

"Kalau begitu, lalu untuk apa orang bersusah payah belajar aji kanuragan selama bertahun-tahun dan menjadi pendekar?"

"Nah, di sinilah letak salah pengertian yang harus dipahami semua orang yang mempelajari aji kanuragan dan yang menganggap dirinya sebagai pendekar. Aji kanuragan berarti ilmu olah raga yang tujuannya jelas untuk manfaat raga, yaitu kesehatan. Jadi aji kanuragan adalah untuk membuat raga menjadi sehat dan kuat menolak serangan penyakit, dan intinya yang lebih mendalam adalah menyehatkan lahir dan batin. Ilmu pencak silat adala ilmu bela diri sebagai pelindung dan penyelamat diri terhadap ancaman serangan dari luar yang kuat. Bela diri ini dapat dikembangkan menjadi membela orang lain yang terancam kekerasan sehingga orang yang terancam itu luput dari tindak kekerasan. Jadi ilmu pencak silat adalah ilmu membela diri, bukan ilmu memukul orang! Sekarang mengenai arti pendekar. Pendekar berarti seorang yang berani membela kebenaran dan keadilan yang bersifat umum, bukan kebenaran dan keadilan menurut penilaian sendiri atau penilaian golongan sendiri. Membela kepentingan pribadi atau kepentingan golongan sendiri. Siapa saja dapat menjadi pendekar asal dia berjiwa pembela rakyat dan berani berkorban untuk tindakannya itu tanpa penyesalan. Dia harus berprinsip berdasarkan bimbingan Gusti Allah, berlandaskan kebenaran dan kalau perlu berani menentang arus. Kalau orang hanya mengandalkan kekuatan main pukul dan main bunuh, belum tentu dia pendekar. Tukang pukul dan penjahat tukang bunuh juga berbuat seperti itu dengan dalih dan alasan masing-masing. Mengertikah engkau, Muryani? Sungguhpun aku tahu bahwa engkau memiliki kebaktian, aku tidak ingin anakku menjadi tukang pukul atau pembunuh!"

Pada waktu mendengar petuah itu, Muryani terkesan sekali.

Nasihat itu diucapkan ayahnya setelah terjadinya peristiwa pengusiran Wiroboyo dari Dusun Pakis, dan ia amat memperhatikan nasihat itu.

Akan tetapi sejak ayahnya terbunuh, kemudian ia terluka parah oleh pembunuh ayahnya, apalagi setelah ia menjadi tangkapan dan nyaris diperhina Wiroboyo, semua itu mendatangkan rasa sakit hati yang mendalam.

Ditambah lagi selama empat tahun ia menjadi murid Nyi Rukmo Petak yang masih berwatak keras walaupun sudah mampu mengatasi kekejamannya, hati Muryani penuh kekerasan dan tekadnya membulat untuk mencari dan membunuh Wiroboyo.

Dengan melakukan perjalanan cepat tanpa menanggapi atau melayani segala macam gangguan atau penghalang, ia menuju ke Ponorogo.

Kalau ada yang menghalanginya dalam perjalanan, ia menggunakan Aji Kluwung Sakti untuk menghindar dan aji itu dapat membuat ia berkelebat menghilang dari para penghalangnya.

Ia tidak ingin terganggu dan tertunda oleh hal-hal yang dianggapnya tidak ada artinya dibandingkan usahanya mencari Wiroboyo yang amat dibencinya.

Pada suatu pagi tibalah ia di depan pintu gerbang kota Kadipaten Ponorogo.

Tak tampak banyak perubahan pada kota itu.

Bangunan-bangunannya masih seperti empat tahun yang lalu.

Ia langsung saja melangkah menuju ke rumah Wiroboyo yang pernah dikunjunginya empat tahun yang lalu.

Begitu ia melihat rumah itu, jantungnya berdebar tegang.

Seolah-olah ia telah melihat musuh besarnya telah menantinya di depan rumah!

Akan tetapi bukan!

Bukan Wiroboyo yang dilihatnya, melainkan lima orang perajurit yang duduk di atas bangku sebuah gardu yang berdiri di dekat pintu gerbang pekarangan rumah itu.

Keadaan rumah besar itu telah berubah!

Lima orang itu berpakaian seragam.

Mereka adalah perajurit!

Apakah Wiroboyo kini telah menjadi seorang pembesar dan berpangkat tinggi sehingga rumahnya dijaga perajurit?

Tak mungkin, pikirnya.

Wiroboyo adalah bekas demang yang telah diusir rakyat dusun yang dipimpinnya.

Namanya tentu telah dicoret oleh pemerintah sebagai seorang ponggawa yang tidak baik.

Tak mungkin kini diangkat menjadi seorang yang berpangkat tinggi.

Namun Muryani sekarang berbeda dengan empat tahun yang lalu.

Biarpun hatinya sudah merasa tegang dan panas berada di depan rumah musuh besarnya, namun ia tidak mau sembrono menggunakan kepandaiannya memasuki rumah itu.

Bagaimanapun juga, ada kemungkinan rumahi itu tidak dihuni Wiroboyo lagi.

Ia harus mendapat keterangan pasti lebih dulu.

Ia lalu memasuki pekarangan, menghampiri para penjaga yang duduk di atas bangku panjang yang berada di luar gardu.

Lima orang penjaga yang masih mudamuda itu serentak bangkit berdiri melihat masuknya seorang gadis cantik jelita ke dalam pekarangan.

Sikap mereka seolah menyambut kedatangan seorang pembesar tinggi yang harus mereka hormati!

"Selamat pagi, nona,"

Kata seorang antara mereka.

"Nona ada keperluan apakah?"

Sambung orang kedua.

"Nona mencari siapakah?"

Tanya orang ke tiga.

"Apa yang dapat saya lakukan untukmu, nona?"

Orang keempat tidak mau ketinggalan.

Dari sikap dan pandang mau mereka, jelas bahwa empat orang itu saling berebutan mencari muka dan perhatian.

Hanya orang kelima yang usianya sudah kurang lebih limapuluh tahun, diam dan hanya tersenyum geli menyaksikan ulah rekan-rekannya.

Namun sepasang matanya memandang penuh selidik.

Melihat sikap mereka, Muryani lalu memilih orang kelima yang diam saja itu untuk bertanya.

"Paman, tolong paman memberi keterangan kepadaku apakah Ki Wiroboyo berada di rumah?"

Ia menuding ke arah bangunan besar itu. Yang ditanya memandang heran.

"Wiroboyo? Siapakah itu, nona?"

"Wiroboyo dan keluarganya penghuni rumah itu. Bukankah itu rumah Wiroboyo?"

Tanya Muryani penasaran. Penjaga itu menggeleng kepalanya.

"Nona salah alamat. Penghuni dan pemilik rumah ini adalah Raden Tumenggung Jatisurya, senopati Ponorogo."

Tentu saja Muryani menjadi terkejut dan heran, juga ragu.

"Akan tetapi empat tahun yang lalu rumah ini masih menjadi tempat tinggal Ki Wiroboyo bersama keluarganya. Apakah dia sudah pinpah? Kalau dia . sudah pindah, katakanlah kepadaku ke mana dia pindah, paman."

Orang itu menggeleng kepala.

"Kami tidak tahu, nona. Kami adalah anggauta pasukan pengawal Raden Tumenggung Jatisurya yang menerima tugas Kanjeng Gusti Sultan Agung untuk diperbantukan di Kadipaten Ponorogo dan kami datang tiga tahun yang lalu. Rumah ini ketika kami datang sudah kosong lalu menjad tempat tinggal atasan kami itu."

Bingung juga hati Muryani mendengar keterangan ini.

Tak disangkanya, jahanam itu telah pergi lagi dan ia tidak tahu harus mencarinya ke mana.

Ia menjadi jengkel dan seperti biasanya, kalau hatinya kesal, tanpa disengaja ia membanting kaki kanannya sambil berseru.

"Sialan!!' Akan tetapi saking jengkel dan marahnya, ia lupa diri dan ketika membantin kakinya, ia mengerahkan tenaga saktinya seolah-olah kakinya itu sedang menginjak-injak tubuh Wiroboyo. Tentu saja kekuataan bantingan kakinya itu hebat sekali dan akibatnya, lima orang penjaga yang berdiri di depannya itu terpelanting roboh! Mereka terkejut dan berteriak-teriak. Pada saat itu dari luar masuk seorang laki-laki yang usianya sekitar empatpuluh tahun. Tubuhnya tinggi besar dan kulitnya gelap. Wajahnya ganteng gagah seperti Sang Bimasena tokoh Pandawa. Dia tadi melihat semua peristiwa yang terjadi dan diam-diam hatinya terkejut bukan main melihat seorang gadis muda cantik jelita membuat lima orang prajuritnya berpelantingan hanya dengan membanting kaki kanan ke atas tanah. Sebagai seorang ahli aji kanuragan, maklumlah dia bahwa gadis itu tentu seorang yang sakti mandraguna. Pria gagah perkasa ini adalah Raden Tumenggung Jatisurya. Dia adalah seorang senopati muda Mataram yang digdaya. Melihat munculnya seorang gadis muda yang memiliki tenaga sakti sehebat itu Lentu saja dia menjadi tertarik sekali dan curiga.

"Heii! Apa yang terjadi di sini?"

Ia membentak, suaranya nyaring penuh wibawa.

Lima orang petugas jaga tadi sudah berhasil bangkit berdiri kembali.

Mereka masih terkejut dan heran ketika terpelanting jatuh tanpa diserang tadi.

Melihat munculnya Raden Tumenggung Jatisurya mereka merasa lega.

Seorang di antara mereka segera membuat laporan.

"Raden, ketika kami sedang berjaga datang gadis ini. Ia bertanya kepada kami tentang orang bernama Ki Wiroboyo. Kami menjawab bahwa kami tidak tahu. Dia agaknya marah". lalu membanting kakinya. Entah mengapa kami berlima terpelanting roboh."

Kecurigaan dalam hati Tumengguni Jatisurya menjadi semakin besar.

Dia menatap wajah yang cantik jelita itu dengan penuh selidik.

Dia sendiri mengenal betul siapa Ki Wiroboyo.

Bekas demang Dukuh Pakis yang diusir oleh penduduknya itu dan kemudian tinggal di Ponorogo.

Orang itu telah diusir oleh Adipati Ponorogo karena diragukan kesetiaannya kepada Mataram.

Bahkan ada penyelidik kadipaten yang melaporkan bahwa beberapa kali Ki Wiroboyo menerima tamu-tamu orang Madura dan orang Surabaya.

Ketika pada suatu hari Sang Adipati mendengar bahwa Wiroboyo menerima secara diamdiam di waktu malam kehadiran Ki Harya Baka Wulung, sebagai tamu kehormatan, Sang Adipati memerintahkan agar Wiroboyo diusir keluar dari Ponorogo.

Pada waktu itu sepak terjang Ki Harya Baka Wulung sebagai seorang yang menentang Mataram sudah amat dikenal.

Adipati Ponorogo sendiri sudah pernah dibujuk-bujuk oleh tokoh Madura itu untuk memberontak terhadap Mataram dan bekerja sama dengan Madura untuk melawan Mataram.

Tentu saja bujukan itu ditolaknya dengan keras.

Maka, Ki Wiroboyo dianggap sebagai orang berbahaya yang diragukan kesetiaannya terhadap Ponorogo dan Mataram.

Setelah dia diusir dari Ponorogo, bekas rumahnya ditempati oleh Tumenggung Jatisurya, senopati muda Mataram yang diperbantukan ke Ponorogo dalam persiapan Mataram untuk menyerbu ke Surabaya dan Madura.

Dengan sepasang matanya yang lebar dan mencorong, Tumenggung Jatisurya memandang wajah Muryani dan bertanya, suaranya nyaring dan langsung tanpa basa-basi lagi.

"Nona, ada urusan apakah antara andika dan Wirpboyo maka andika mencarinya?"

Muryani sedang jengkel mendengar bahwa Wiroboyo tidak tinggal di situ ia dan tidak ada yang tahu ke mana perginya.

Maka, mendengar pertanyaan yang nadanya kasar dari pria tinggi besar itu ia memandang dengan mata galak dan alis berkerut.

"Aku mencari Wiroboyo adalah urusanku sendiri dan tidak ada sangkut pautnya sedikitpun dengan siapa juga termasuk kamu!"

Tumenggung Jatisurya tertegun.

Belum pernah ada wanita, masih muda lagi berani bersikap sedemikian galak terhadap dirinya, apalagi setelah dia menjadi seorang senopati.

Akan tetapi pandangan matanya bersinar gembira.

Gadis ini memiliki semangat berapi-api, sifat yang di kaguminya.

Dia tidak suka melihat kelemahan dan kecengengan.

Mungkin karena inilah maka setua ini dia masih belum dapat menemukan jodohnya untuk dijadikan isterinya.

"Hemm, kalau tidak ada urusannya. dengan kami, lalu kenapa kamu datang mencari keterangan ke sini?"

Jawaban yang sama kerasnya ini mem buat Muryani tertegun pula.

Biasanya para pria menghadapinya dengan sikap lembut, bahkan menjilat.

Akan tetapi pria yang satu ini demikian kasarnya!

Kalau dipikir, benar juga apa yang dikatakan pria ini.

Ia pun lalu berkata dengan mulut cemberut yang di luar kesengajaannya malah membuat wajahnya tampak semakin cantik.

"Aku mencari Wiroboyo karena ada urusan pribadi yang tak perlu kuceritaka kepada orang lain. Katakan saja kalau andika mengetahui di mana dia kini berada."

"Nanti dulu! Jawab dulu, andika mencari dia sebagai kawan atau lawan? Sebagai sahabat atau musuh?"

Muryani tidak tahu siapa pria ini sahabat Wiroboyo atau bukan. Ia tidak perduli. Andaikata sahabat musuhnya dan hendak membela Wiroboyo, akan dihajarnya sekalian.

"Sebagai musuh besar! Aku akan membunuhnya!"

Ia berkata tegas dan lantang.

Kembali tumenggung itu terkejut.

Gadis ini benar-benar seorang pemberani.

Tidaklah mudah membunuh seorang seperti Ki Wiroboyo.

Bukan saja karena dia mendengar berita bahwa akhir-akhir ini Wiroboyo telah mendapatkan seorang guru dan menjadi seorang yang digdaya, namun juga dia bergabung dengan orang-orang yang sakti mandraguna.

Dia pernah mengirim orang-orangnya untuk melakukan penyelidikan atas gerombolan Wiroboyo itu untuk melihat keadaan mereka.

Kalau sekiranya gerombolan itu akan mengadakan kerusuhan dan mengancam keamanan Ponorogo, tentu dia akan mengerahkan pasukan untuk membasminya.

Akan tetapi para penyelidiknya melaporkan bahwa Wiroboyo dan teman-temannya tidak melakukan hal-hal yang mencurigakan.

Mereka hanya mendirikan semacam perguruan pencak silat dan kini mendiami bekas perkampungan perguruan Welut Ireng yang sudah meninggalkan perkampungannya di lereng Gunung Wilis itu.

Karena mereka tidak membuat keributan, maka Raden Tumenggung Jatisurya tidak dapat berbuat apa-apa, juga Sang Adipati Ponorogo tidak ingin mengganggu dan mencari keributan.

Dan kini, gadis ini seorang diri hendak mencari dan membunuh Wiroboyo!

"Andika hendak membunuh Wiroboyof?

Hemm, kalau begitu sebaiknya kita bicara di dalam.

Aku akan dapat memberi keterangan kepadamu di mana adanya orang itu!"

Setelah berkata demikian, tanpa bicara apa-apa lagi Raden Tumenggung Jatisurya lalu memutar tubuh meninggalkan Muryani pergi ke arah bangunan besar itu.

Muryani merasa girang dan tanpa rasa takut sedikitpun ia lalu melangkah dan mengikuti laki-laki tinggi besar itu.

Agaknya Raden Tumenggunj Jatisurya memang hendak menguji gadis itu.

Kedua kakinya yang panjang itu melangkah lebar dan cepat sekali.

Akan tetapi ketika dia tiba di pendapa rumah itu dan menoleh, ternyata Muryani berada tepat di belakangnya.

"Silakan masuk!"

Kata Raden Tumenggung Jatisurya, mengajak Muryani memasuki sebuah ruangan di sebelah kiri pendapa. Ruangan itu agaknya ruangan tamu, luas dan bersih.

"Duduklah, nona,"

Kata tuan rumah.

Muryani duduk di atas kursi, berhadapan terhalang meja besar dengan laki-laki tinggi besar itu.

Sejenak mereka saling pandang dan Raden Tumenggung Jatisurya berkata, suaranya tetap tenang dan tegas, sama sekali tidak terdengar ramah.

"Sebelum kita bicara, kita perlu tahu lebih dulu dengan siapa kita saling berhadapan. Siapakah andika, nona?"

"Nama saya Muryani dan seperti sulah kukatakan tadi, Wiroboyo musuh besarku dan aku mencarinya untuk membunuhnya! Nah, kalau andika tahu di mania dia, beritahukanlah kepadaku!"

"Nanti dulu, nimas Muryani. Aku boleh menyebutmu nimas, bukan?"

"Sesukamulah!"

"Sebelum kita bicara tentang Wiroboro, perkenalkan dulu diriku. Aku Raden Tumenggung Jatisurya yang sekarang menjadi senopati di Ponorogo. Tadinya aku adalah seorang senopati muda Mataram."

"Baiklah, paman Tumenggung, sekarang kita sudah saling mengenal nama. Harap segera ceritakan di mana aku bisa mendapatkan tempat tinggal Wiroboyo."

"Wah, nimas Muryani, jangan sebut aku paman! Biarpun usiaku sudah empatpuluh tahun, akan tetapi aku belum menikah. Andika mencari Wiroboyo dan bermaksud membunuhnya? Tidak begitu mudah, nimas. Andika akan mendapatkan keterangan yang sejelas-jelasnya tentang Wiroboyo dariku, akan tetapi ada syaratnya."

"Hemm, apa syaratnya?"

Tanya Muryani, tidak mau menyebut apapun.

"Syaratnya hanya satu, yaitu andika harus dapat mengalahkan aku dalam pertandingan adu kanuragan, sekarang dan sini juga."

Muryani mengerutkan alisnya dan, sepasang matanya mencorong.

"Hemm, apa artinya ini? Mengapa andika mengajukan syarat itu? Apakah in berarti bahwa Wiroboyo adalah seorang sahabatmu yang akan andika bela?"

Tumenggung tinggi besar seperti Bimasena itu terkekeh dan jari-jari tangannya menyentuh kumisnya yang tebal.

"Semua pertanyaan itu baru akan dapat kujawab kalau andika sudah memenuhi syarat itu, ialah mengalahkan aku. Kalau andika tidak mampu mengalahkan aku, maaf, terpaksa semua itu tidak dapat kujawab."

Muryani bangkit berdiri dan mengepal kedua tangannya.

"Baik, aku terima syarat itu! Mari kita mengadu kanuragan. Kapan dan di mana kita mulai?"

Raden Tumenggung Jatisurya terkekeh girang. Dia adalah seorang senopati, seorang gagah yang paling suka mengadu kesaktian.

"Sekarang juga dan di sini, nimas Muryani. Tempat ini cukup luas dan tak seorangpun akan berani mengganggu kita."

Dia lalu mendorong meja kursi ke tepi ruangan itu agar lebih lega.

Setelah itu dia berdiri di tengah ruangan itu dengan sikap gagah, kedua kakinya terpentang lebar, kedua tangan bertolak pinggang dan dia berkata dengan lantang.

"Karena kita tidak berkelahi sebagai musuh, melainkan saling menguji kepandaian, maka kita tidak perlu mempergunakan senjata, cukup dengan kaki tangan kita saja."

"Sudahlah, tidak perlu berpanjang tutur kata, mari kita mulai, aku sudah siap!"

Kata Muryani, suaranya mengandung ketidaksabaran. Dengan senyum lebar tak pernah meninggalkan mulutnya, Jatisurya berkata.

"Andika adalah seorang wanita, masih amat muda, dan sebagai tamu pula. Oleh karena itu, tidak pantaslah kalau aku sebagai pria dan tuan rumah membuka serangan. Silakan, nimas!"

Muryani tidak sabar lagi.

"Lihat seranganku!"

Bentaknya dan tangan kirinya sudah meluncur dalam sebuah tamparan kilat yang diarahkan ke pipi kanan lawan.

Tumenggung yang sudah kaya akan pengalaman bertanding itu memandang rendah.

Diapun menggerakkan lengan kanannya untuk menangkis dan maksudnya dia hendak menangkis sekalian menangkap lengan yang berkulit halus dan kecil mungil itu.

"Wuuuttt dukkk!!"

Dua lengan yang berbeda jauh besarnya itu beradu dan seruan kaget terlepas dari mulut Jatisurya.

Pertemuan lengan itu membuat kuda-kudanya gempur dan tubuhnya terhuyung ke belakang sampai lima langkah!

Padahal, gadis itu masih tampak senyum dan sama sekali tidak terguncang.

Maklumlah senopati yang berpengalaman ini bahwa gadis lawannya sungguh-sungguh seorang yang "berisi", memiliki tenaga sakti yang amat kuat.

Tidak heranlah kalau lima orang perajuritnya terpelanting roboh begitu gadis itu membanting kakinya.

"Bagus!"

Dia memuji untuk menutupi rasa malunya dan diapun melanjutkan berseru.

"Lihat seranganku!"

Tumenggung itu tidak ragu-ragu lagi untuk mengeluarkan kepandaian dan mengerahkan tenaganya.

Serangannya dahsyat sekali, sesuai dengan tubuhnya yang tinggi besar dan kokoh.

Muryani menghadapinya dengan tenang saja.

Maklum bahwa serangan lawan ini tidak boleh dipandang ringan, iapun mengerahkan Aji Kluwung Sakti dan tubuhnya berkelebatan cepat sekali bagaikan bayang-bayang saja.

Permainan pencak silat Tumenggung Jatisurya sungguh dahsyat.

Tubuhnya bergerak dengan cepat dan kuat, serangannya sambung menyambung dan bertubi-tubi.

Tamparan, tonjokan, tendangan, serangan dengan siku, dengan lutut, semua bagian tubuhnya dapat melakukan serangan yang berbahaya.

Diam-diam Muryani harus mengakui bahwa tingkat kepandaian senopati Ponorogo ini cukup hebat.

Andaikata ia belum mendapat bimbingan ilmu dari mendiang Nyi Rukmo Petak, agaknya akan sukar baginya untuk dapat mengalahkan Raden Tumenggung Jatisurya ini.

Tingkatnya jelas jauh lebih tinggi daripada tingkat kepandaian Wiroboyo.

Setelah merasa cukup mempermainkan lawan dengan kecepatan gerakannya, Muryani membuat lawan terputar-putar mengejar bayangannya dan tubuh tinggi besar ini mulai berkeringat dan napasnya mulai memburu, Muryani menyudahi pertandingan itu.

Tangan kirinya yang dimiringkan menyambar tengkuk dan kakinya menendang belakang lutut.

"Plak! Desss"" !"

Tanpa dapat dicegah lagi, tubuh tinggi besar itu ambruk seperti sebatang pohon jati ditebang.

Raden Tumenggung Jatisurya jatuh mendeprok, menggunakan tangan kanan menekannekan tengkuknya dan tangan kirinya mengurut-urut lutut, mengeluh lirih.

Muryani berdiri bertolak pinggang dengan tangan kirinya.

"Bagaimana, paman Tumenggung. Apakah andika masih belum puas dan ingin melanjutkan pertandingan ini?"

Pria itu mengguncang-guncang kepala untuk mengusir kepeningan, kemudian berkata.

"Sudah"..sudah""aku mengaku kalah. Andika hebat sekali, nimas Muryani". Aku".. sungguh kagum sekali..."

Dia bangkit dengan susah payah, lalu menghampiri kursi dan duduk.

"Aku tidak butuh pujianmu, paman. Aku butuh keteranganmu tentang Wiroboyo,"

Jawab Muryani.

"Duduklah, akan kuceritakan semua."

Mereka duduk lagi berhadapan, terhalang meja. Setelah mengamati wajah yang cantik itu dengan sepasang mata penuh kagum, Raden Tumenggung Jatisurya menghela napas dan berkata.

"Nimas Muryani, ketahuilah. Ketika tadi bertemu denganmu dan mendengar bahwa andika hendak membunuh Wiroboyo, aku diam-diam mendukungmu karena kami semua di sini juga tidak suka kepada manusia itu."

"Hemm,"

Muryani mengerutkan alisnya dan menatap wajah tumenggung itu penuh selidik.

"Kalau begitu, kenapa andika tadi menantangku bertanding?"

"Terus terang saja, aku melakukan itu untuk mengujimu, nimas Muryani. Aku khawatir akan keselamatanmu. Tidak mudah membunuh si Wiroboyo itu, bahkan berbahaya sekali. Karena itulah maka aku sengaja menantangmu untuk menguji. Kalau andika tidak mampu menandingi aku, sama saja dengan membunuh diri kalau andika pergi menentang Wiroboyo. Maka, andaikata tadi andika kalah olehku, tentu aku tidak member tahu agar andika tidak mengantar nyawa dengan sia-sia ke sana."

"Akan tetapi aku melihat bahwa tingkat kepandaian andika jauh lebih tinggi daripada tingkat kepandaian jahanam itu, paman. Dia sama sekali tidak berbahaya bagiku dan aku pasti dapat membunuh dia!"

Tumenggung Jatisurya mengangguk-angguk dan tersenyum, matanya menatap wajah jelita itu dengan penuh kagum.

"Aku harus mengakui bahwa andika masih muda dan sakti mandraguna, juga amat pemberani. Akan tetapi agaknya andika kurang pengalaman. Wiroboyo itu orangnya licik dan dia memiliki sekutu dengan orang-orang sakti mandraguna, bahkan dia kini menjadi murid seorang datuk besar."

"Maaf, paman Tumenggung!"

Kata Muryani dengan alis berkerut, dan matanya menatap tajam penuh wibawa.

"Aku sama sekali tidak ingin mendengar andika memuji-muji keparat jahanam Wiroboyo itu. Aku hanya ingin mendengar darimu di mana sekarang dia berada!"

Raden Tumenggung Jatisurya menghela napas panjang.

Biarpun pada saat pertama kali bertemu dengan Muryani dia merasa tertarik sekali dan diam-diam telah jatuh hati, namun kini sadarlah dia sepenuhnya bahwa dia tidak dapat mengharapkan gadis seperti ini menjadi isterinya.

Gadis ini sakti mandraguna dan berwatak keras dan angkuh sehingga dia tidak akan mampu menundukkan hati gadis itu melalui kedudukannya sebagai senopati sekalipun!

Gadis seperti ini hanya dapat ditundukkan oleh perasaan cintanya sendiri, bukan oleh bujuk rayu dari luar dirinya.

Baca Juga: Kisah Pendekar Bongkok 6

Baca Juga: Suling Emas Dan Naga Siluman 15

Cari Blog Ini

Diberdayakan oleh Blogger.

Parnert