Ceritasilat Novel Online

Seruling Gading 3

Eps 3 Seruling Gading - Kho Ping Hoo

Baca online Seruling Gading - Kho Ping Hoo

Cersil Seruling Gading - Kho Ping Hoo.

"Ki-sanak, kulihat andika seperti bukan orang sini. Tentu andika seorang dari dusun lain yang datang untuk mohon berkah dari Kyai Brojo, bukan?"

Parmadi menahan seruan heran yang hampir terlontar dari mulutnya. Kyai Brojo? Demikiankah orang menyebut pohon beringin yang dikeramatkan ini? Jadi "penghuni"

Pohon keramat ini adalah Kyai Brojo? Padahal, mendiang ayahnya bernama Brojoketi! "Paman, jadi Beringin Keramat ini dihuni oleh Kyai Brojo?"

Parmadi bertanya sambil menahan gejolak hatinya.

Roh ayah kandungnya dianggap roh penasaran yang kini menghuni di pohon beringin yang dulu ditanam ayahnya!

"Benar sekali, ki-sanak.

Kyai Brojo adalah seorang tokoh besar di jaman Mojopahit, sakti mandraguna dan arif bijaksana, pula dermawan sehingga kini beliau masih suka menolong siapa saja yang mohon berkah di sini."

Hemm, orang ini berani benar berbohong, pikir Parmadi.

"Paman, kalau begitu paman adalah juru kunci (penjaga tempat keramat) di sini?"

"Benar, saya adalah Ki Jambi Pece juru kunci tempat keramat ini. Semua orang mengenal saya!"

"Kalau begitu, paman. Saya ingin sekali bercakap-cakap dengan paman. Banyak yang ingin saya tanyakan, paman."

Jambi Pece yang mengharapkan hadiah besar itu bersikap ramah.

"Kalau begitu silakan masuk ke rumah saya, ki-sanak kita bicara di dalam, lebih leluasa."

Parmadi mengikuti orang itu memasuk pekarangan menuju ke rumah yang masih dikenalnya itu.

Bambu penyalur air dari sumber di atas itu masih mengucurkan air jernih seperti biasa, ditampung di jamban air yang dulu juga di sebelah kiri rumah.

Mereka memasuki rumah dan Parmadi mempersilakan duduk di atas bangku di ruangan depan.

Mereka duduk berhadapan.

Setelah berada di ruangan tertutup, Parmadi segera bicara tanpa berpura-pura lagi.

"Paman Jambi, aku akan berterus terang saja. Aku tahu bahwa rumah ini adalah milik Ki Brojoketi dan isterinya. Mereka terbunuh pada suatu malam tanpa ada yang mengetahui siapa pembunuh mereka. Kemudian Ki Demang Wiroboyo meyerahkan rumah dan pekarangan ini kepadamu. Bagaimana sekarang tempat ini dijadikan tempat keramat yang dihuni oleh kyai Brojo? Engkau telah menipu orang banyak."

Mendengar ucapan pemuda itu, sikap Pak Jambi berobah sama sekali.

Kalau tadinya dia bersikap ramah, kini tiba-tiba dia melompat berdiri dan wajahnya berubah ganas.

Matanya yang tinggal sebelah itu memandang marah dan tiba-tiba dia sudah menyerang Parmadi dengan kedua tangan yang mencengkeram seperti seekor harimau menerkam kambing.

Sepasang tangan itu membentuk cakar dan yang kanan mencengkeram ke arah muka, yang kiri ke arah dada Parmadi!

Mulutnya menggeram dan dia benar-benar seperti telah berobah menjadi harimau.

Parmadi maklum bahwa orang ini memiliki Aji Sardu (Ilmu Harimau) yang membuat dia seperti kemasukan roh harimau yang ganas.

Dia menyambut serangan itu dengan gerakan tangan kanan dari kiri ke kanan menangkis.

"Bresss......... !"

Tubuh Pak Jambi terpelanting dan terhuyung, akan tetapi dia tidak roboh karena Parmadi tidak mempergunakan tenaga yang terlalu besar. Dia tidak ingin melukai orang itu.

"Jahanam, engkau tentu orangnya keparat Wiroboyo untuk membunuhku!"

Kakek itu berseru.

Mendengar seruan ini Parmadi merasa heran dan ketika kakek itu menyerang lagi, dia menggerakkan tangannya dengan cepat dan sekali jari-jari tangannya menepuk dada, kakek itu terkulai lemas.

Seperti dilolosi seluruh urat di tubuhnya membuatnya terkulai dan tak mampu menggerakkan tubuhnya lagi.

Ia mengaduh dan merintih.

"Paman Jambi, aku bukan orangnya Ki Wiroboyo. Andika ingat putera Ki Brojoketi, anak berusia sepuluh tahun yang kemudian dibawa pergi Ki Wiroboyo? Akulah anak itu!"

"Ahhh.... ahhh... aku... salah sangka...!"kakek itu mengeluh. Mendengar ini, Parmadi lalu mempergunakan tenaga saktinya, menepuk kedua pundak orang itu dan Pak Jambi pulih kembali kesehatannya. Dia merasa takluk kepada pemuda itu dan memandang dengan takut.

"Jangan takut, paman Jambi. Duduklah kembali dan mari kita bicara dengan baik-baik. Tadinya aku hanya datang untuk menjenguk bekas rumah tempat tinggal ayah bundaku. Sama sekali tidak menyangka tempat ini akan dijadikan tempat keramat dan nama ayahku diabadikan sebagai Kyai Brojo. Akan tetapi, paman. Bukankah paman dahulu menerima peninggalan orang tuaku ini dari Ki Wiroboyo? Akan tetapi kenapa tadi paman mengira aku orangnya Wiroboyo yang datang untuk membunuhmu? Kenapa Ki Wiroboyo memusuhimu dan ingin membunuhrnu?"

Pak Jambi tampak bingung dan ketakutan.

"Jangan takut, paman. Paman menyimpan sesuatu yang rahasia. Tentu ada hubungannya dengan orang tuaku dan Ki Wiroboyo. Hayo katakan, paman, cerita terus terang kepadaku. Aku tidak akan mengganggu paman kalau paman berterus terang, akan tetapi kalau paman tidak mau berterus terang, aku dapat memaksa paman mengaku!"

Pak Jambi menghela napas panjang.

"Anak-mas Parmadi, andika datang untuk minta kembali rumah dan pekarangan dariku?"

"Hemm, tidak, paman. Paman adalah tetangga ayah sejak dulu, tentu ayah mengenal baik paman dan paman tahu yang sesungguhnya terjadi. Aku kira paman tahu pula tentang pembunuhan terhadap ayah bundaku itu. Benarkah, paman? Ceritakan! Aku tidak akan mengambil kembali rumah dan pekarangan, aku hanya singgah sebentar."

"Tadinya aku takut bicara karena Ki Wiroboyo adalah Demang Pakis, berkuasa dan dia dapat bertindak kejam kalau ditentang. Akan tetapi setelah aku mendengar bahwa dia diusir dari Pakis dan kedudukannya digantikan orang lain, aku berani menceritakan apa yang kuketahui kepadamu, anak-mas. Hanya kadang aku khawatir dia akan mengirim orang untuk membunuhku agar aku tidak bicara tentang peristiwa itu."

"Peristiwa terbunuhnya ayah ibuku, paman? Ceritakanlah kepadaku."

"Baiklah, akan kuceritakan apa yang kuketahui, anak-mas. Orang tuamu merupakan pendatang baru di sini. Ayah ibumu dan andika yang ketika itu berusia sekitar dua tahun menjadi penghuni baru dusun Pancot ini. Karena aku menjadi tetangga terdekat, maka hubunganku dengan keluargamu juga paling akrab dan kami yang sama-sama miskin ini suka saling bantu. Orang tuamu hidup dengan aman tenteram di sini sampai bertahun-tahun, sampai engkau berusia sepuluh tahun. Selama itu tidak pernah terjadi hal-hal yang buruk."

"Yang ingin saya ketahui, apa yang paman tahu tentang pembunuhan yang terjadi pada malam hari itu?"

Tanya Parmadi. Kakek itu menggeleng kepalanya.

"Sungguh, anak-mas, sayapun tidak tahu. Semua itu begitu rahasia, begitu aneh. Tidak ada seorangpun mengetahui apa yang terjadi malam itu. Tahu-tahu pada pagi hari itu kami menemukan Ki Brojoketi dan isterinya sudah tewas dalam kamar mereka dan andika menangis dan menjerit-jerit di kamar itu. Sepatutnya andika yang lebih mengetahui, anak-mas. Bukankah hanya andika seorang yang berada di kamar itu bersama mereka?"

Parmadi menghela napas panjang da dia menggeleng kepalanya.

"Seingatku, akupun tidak tahu apa-apa paman. Pagi-pagi ketika aku bangun dari tidur di kamar sebelah, aku melihat pintu kamar orang tuaku terbuka dan ketika akan melongok ke dalam, aku melihat mereka telah menggeletak mandi darah maka aku menjerit-jerit dan orang-orang berdatangan."

Pak Jambi mengangguk-angguk.

"Ya, kami lalu mengurus jenazah orang tuamu. Kebetulan ada Ki Demang Wiroboyo dalang melayat dan dialah yang membiayai semua penguburan. Kemudian dia membawa andika ke Pakis dan rumah ini diserahkan kepada saya."

Parmadi mengingat-ingat. Dia teringat bahwa Ki Wiroboyo memang sering dating berkunjung ke rumah orang tuanya sehingra terjalin persahabatan antara ayahnya dan Ki Wiroboyo.

"Nah, sekarang ceritakan apa yang kau ketahui seperti yang kaukatakan tadi. Rahasia apa yang kauketahui, paman? Tadinya engkau takut kepada Ki Wiroboyo untuk bercerita, akan tetapi sekarang tidak lagi, bukan? Nah, ceritakan kepadaku sejujurnya."

Pak Jambi menghela napas seolah mengumpulkan keberanian untuk bercerita.

"Begini, anak-mas. Tentu anak-mas juga sudah mengetahui bahwa Ki Wiroboyo adalah seorang laki-laki yang mata keranjang dan selalu mengejar wanita cantik. Di Pancot ini terdapat banyak perawan cantik dan Ki Wiroboyo selalu berusaha untuk membujuk mereka dengan harta benda atau mengandalkan kedudukannya. Akan tetapi dia tidak berani menggunakan kekerasan dan tidak banyak perawan dusun ini yang bisa dia dapatkan. Dia berkenalan dan menjadi sahabat ayahmu, bahkan seringkali menginap di rumah ini."

"Aku tahu akan hal itu, paman. Lalu bagaimana?"

"Anak-mas, pada waktu itu, mendiang ibumu masih muda, paling banyak baru duapuluh delapan tahun usianya dan ibumu itu terkenal sebagai wanita yang amat cantik. Dan kita tahu bahwa Ki Wiroboyo itu seorang laki-laki mata keranjang... dan...."

"Dan bagaimana, paman? Jangan ragu-ragu, ceritakanlah sejujurnya."

"Pada beberapa hari sebelum terjadi pembunuhan itu, Ki Wiroboyo bertamu dan menginap di rumah ini dan pada suatu siang ketika ayahmu sedang sibuk di ladang dan saya kebetulan baru keluar dari rumah, saya melihat di belakang rumah ini ibumu dipeluk dari belakang oleh Ki Wiroboyo, Jelas tampak bahwa Ki Wiroboyo berniat kotor terhadap ibumu. Ibumu marah dan menampar muka Ki Wiroboyo, lalu berlari memasuki rumah. Pada saat itu Ki Wiroboyo menoleh dan melihat saya. Sayapun cepat-cepat pergi dan pura-pura tidak tahu."

Parmadi mengerutkan alisnya, hatinya terasa panas akan tetapi dia menenggelamkan perasaan itu.

"Lalu bagaimana, paman?"

"Nah, setelah beberapa hari kemudian terjadi pembunuhan aneh itu terhadap ayah ibumu, tentu saja saya merasa curiga kepada Ki Wiroboyo. Akan tetapi karena tidak ada bukti, sayapun tidak dapat berkata apa-apa. Sikapnya yang kurang ajar terhadap ibumu itu belum merupakan bukti bahwa dia yang melakukan pembunuhan itu. Akan tetapi setelah aku melihat dan mendengar apa yang dia lakukan kepadaku, aku yakin bahwa dia pasti tersangkut dengan pembunuhan itu. Hanya saja, selama itu aku tidak berani membuka mulut, takut akan ancamannya."

"Paman melihat dan mendengar apa? Apa yang dia lakukan kepada paman?"

Tanya Parmadi, penuh perhatian.

"Ketika Ki Wiroboyo datang melayat, mengatur dan membiayai semua keperluan pemakaman, dia sempat menemui saya seorang diri. Dia mengancam agar aku tidak bercerita kepada siapapun tentang apa yang saya lihat siang hari di belakang rumah Ki Brojoketi itu. Bahkan dia lalu menyerahkan rumah dan pekarangan ini kepadaku. Saya merasa bahwa penyerahan rumah dan pekarangan ini merupakan hadiah untuk menutup mulutku. Sejak itu, hati saya merasa yakin bahwa dia pasti tahu benar tentang pembunuhan itu, akan tetapi baru sekarang saya berani membuka rahasia itu. Ketika tadi anak-mas datang, saya kira anak-mas suruhan Ki Wiroboyo untuk membunuhku, maka saya hendak melawan."

Parmadi mengangguk-angguk.

Keterangan itu penting sekali dan bukan mustahil kalau Ki Wiroboyo berdiri di belakang pembunuhan terhadap orang tuanya itu.

Mungkin Ki Wiroboyo mendendam karena keinginan kotornya ditolak ibu.

Atau mungkin malam itu dia hendak memaksa ibunya.

Ibunya lalu menolak dan melawan sehingga dibunuh, dan mungkin saja ayahnya yang mengetahui juga dibunuhnya.

Atau dapat juga Ki Wiroboyo memang menyuruh kaki tangannya untuk membunuh ayah ibunya karena mendendam.

"Paman Jambi, tahukah paman di mana adanya Ki Wiroboyo sekarang?"

Pak Jambi menggeleng kepala.

"Saya tidak tahu, anak-mas dan saya kira tidak ada orang di Pancot yang mengetahuinya karena sejak dia diusir dari Pakis, dia tidak pernah muncul kembali, juga tidak pernah ada kabar tentang dia."

"Ada satu hal lagi yang ingin saya tanyakan kepadamu, paman, sebelum aku meninggalkan dusun ini."

"Silakan bertanya, anak-mas. Saya akan senang kalau dapat membantu anak-mas."

"Paman mengenal baik mendiang ayah saya. Tahukah paman, siapakah sesungguhnya ayah saya itu? Maksudku, apakah pekerjaannya sebelum dia pindah ke sini dan menjadi seorang petani?"

"Kami memang bersahabat baik, anak-mas, dan saya sendiripun selalu menduga bahwa mendiang Ki Brojoketi pasti bukan orang dusun biasa. Gerak-geriknya, sikapnya dan cara dia bicara, apalagi mendiang ibumu, jelas menunjukkan bahwa mereka adalah priyayi. Karena itu pula agaknya Ki Wiroboyo dapat akrab dengan ayahmu. Akan tetapi ayahmu tidak pernah mau menceritakan keadaannya ketika tinggal di Kadipaten Pasuruan, bahkan seolah dia enggan bicara tentang Kadipaten Pasuruan. Menurut dugaanku, ayah dan ibumu tentu bukan orang sembarangan dan mempunyai rahasia di Pasuruan. Mungkin di kadipaten itu anak-mas akan bisa mendapatkan keterangan tentang mereka."

Parmadi mengangguk.

"Terima kasih atas semua keteranganmu, paman Jambi. Sekarang aku pamit, hendak melanjutkan perjalananku."

"Eh". bagaimana dengan rumah dan pekarangan ini, anak-mas?"

"Biarlah sekarang sebagai ahli waris orang tuaku, aku memberikan rumah dan pekarangan ini kepadamu, paman. Pakailah dan rawatlah dengan baik-baik. Akan tetapi aku minta agar mulai sekarang paman tidak menggunakan nama mendiang ayahku untuk mengeramatkan pohon beringin itu. Aku tidak suka mendengarnya!"

"Baik, baik, anak-mas. Sebetulnya hanya karena rumah dan pohon ini dahulu milik Ki Brojoketi, dan mengingat bahwa Ki Brojoketi tewas terbunuh, maka untuk menghormatinya pohon ini disebut Kyai Brojo. Akan tetapi kalau anak-mas melarangnya, biarlah mulai sekarang kami akan menyebutnya Kyai Pancot saja."

"Terserah paman asal jangan menggunakan nama ayah. Nah, selamat tinggal, paman."

Parmadi bangkit dari bangku yang didudukinya.

"Nanti dulu, anak-mas. Tunggu sebentar."

Orang tua itu memasuki biliknya dan ketika dia keluar, dia menyerahkan sebuah henda kecil kepada Parmadi.

"Cincin ini dulu milik ibumu, anak-mas. Pada suatu hari, ketika orang tuamu membutuhkan uang untuk biaya membangun rumah ini, ibumu menyerahkan cincin ini kepadaku dengan permintaan agar aku menjualnya. Kebetulan pada waktu itu saya mempunyai simpanan uang yang sudah lama saya kumpulkan, maka cincin ini saya beli sendiri. Sekarang, rumah dan pekarangan ini andika berikan kepada saya, maka sudah sepatutnya kalau cincin ibumu ini kukembalikan kepadamu, anak-mas Parmadi."

Parmadi menerima cincin itu dan mengamatinya.

Sebuah cincin yang indah sekali.

Dari emas murni bermata mirah dan bawah mirah berbentuk hati ini ada ukiran indah huruf GA.

Tentu saja dia merasa girang sekali.

Sebuah cincin peninggalan ibunya!

Tentu saja benda seperti ini merupakan benda pusaka baginya.

Hatinya terharu ketika dia menggenggam cinci itu.

"Terima kasih, paman Jambi, terima kasih banyak! O ya, paman, tahukah paman apa artinya huruf GA pada cincin ini?"

Kakek itu menggeleng kepalanya.

"Saya tidak tahu dan karena saya buta huruf saya juga tidak menanyakan kepada ibumu, tidak menyangka bahwa ukiran itu merupakan huruf."

"Barangkali paman mengetahui nama kecil ibu saya?"

"Kalau tidak salah, mendiang ayahmu menyebutnya diajeng Mirah."

"Mirah....? Mirah ............ ?"

Parmadi mengulang dalam bisikan haru.

"Sekali lagi terima kasih. Paman seorang yang jujur. Selamat tinggal."

"Selamat jalan, den-mas."

Parmadi meninggalkan rumah itu dan langsung dia menuju ke tanah kuburan yang berada di luar dusun.

Tak lama kemudian dia sudah menemukan dua buah nisan kuburan yang berjajar itu.

Dia masih ingat letak makam ayah bundanya.

Kedua makam ini selalu merupakan bayangan terakhir baginya, seringkali muncul dalam mimpinya.

Dia lalu berlutut dan mengelus dua buah batu nisan sederhana itu, membersihkan lumut yang menempel di situ.

Kemudian dia membersihkan kedua makam itu, mencabuti semua rumput dan alang-alang.

Setelah bersih, dia lalu duduk bersila di depan makam, menjernihkan pikirannya dan menenangkan hatinya.

Setelah merasa hening, dia menujukan seluruh cipta rasa dan karsa dalam batinnya untuk mendoakan semoga Gusti Allah Yang Maha Kasih mengampuni semua dosa ayah bundanya dan memberi tempat yang layak kepada roh mereka.

Setelah kurang lebih sejam lamanya duduk tenggelam dalam doa di depan makam ayah ibunya, Parmadi lalu bangkit berdiri di depan makam, sejenak memandangi kedua makam itu lalu perlahan-lahan dia meninggalkan tanah kuburan itu.

Sambil berjalan dia mengamati cincin peninggalan ibunya.

Ternyata lingkaran cincin itu tidak utuh lagi, melainkan sudah patah bagian belakangnya.

Agaknya Pak Jambi sengaja membikin putus lingkaran cincin itu sehingga cincin yang lingkarannya kecil itu kini dapat dipakai jari yang lebih besar karena dapat direnggangkan.

Parmadi mencium cincin itu lalu memakainya pada jari manis tangan kirinya.

Andaikata lingkaran itu belum dibikin putus, tentu tidak dapat dimasuki jari manisnya, bahkan kelingkingnyapun belum tentu dapat masuk.

Demikian kecil lingkaran itu.

Dia membayang kan betapa kecil mungilnya jari manis ibunya.

Setelah Sultan Agung berhasil menundukkan seluruh daerah Jawa Timur bagian selatan, kecuali Blambangan, mulailah Mataram mengadakan persiapan untuk menundukkan Surabaya yang masih belum mau mengakui kekuasaan Sultan Agung.

Akan tetapi melihat Kadipaten Tuban masih menjadi penghalang karena Adipati Tuban masih condong berpihak kepada Surabaya, Sultan Agung mengirim pasukannya untuk menaklukkan Tuban lebih dulu.

Juga nampak tandatanda bahwa pihak Kumpeni Belanda yang amat dibenci Sultan Agung itu menghalanghalangi niat Mataram menyerbu Surabaya.

Hal ini terbukti dengan udanya kapal-kapal perang Belanda yang besar dan dilengkapi meriam-meriam besar, tidak memungkinkan penyerangan melalui laut sehingga sukar untuk mengepung Surabaya.

Memang pada waktu itu, gubernur Kumpeni Belanda yang bernama Jan Pieterszoon Coen merasa khawatir bahwa Mataram akan menguasai Nusa Jawa dan hal ini tentu saja akan merupakan halangan besar bagi Kumpeni Belanda untuk memperluas kekuasaannya dan memperlebar sayapnya untuk dapat menguasai semua perdagangan mengeduk hasil bumi yang kaya raya dari Nusa Jawa.

Karena itu Gubernur Jenderal Coen menyebar kaki tangannya untuk membujuk orang-orang cerdik pandai dan sakti untuk membantu Kumpeni Belanda, menjadi mata-mata dengan imbalan hadiah harta benda.

Juga dia selalu menggunakan siasat untuk mengadu domba dan membangkitkan semangat daerah-daerah untuk memberontak kepada Mataram.

Diam-diam Kumpeni Belanda membantu dan menyokong mereka yang mau memberontak terhadap Mataram.

Akan tetapi hal ini dilakukan dengan rahasia agar tidak ketahuan karena Kumpeni Belanda juga menjaga agar tidak mengadakan permusuhan terbuka dengan Mataram yang kuat.

Demikianlah, melihat Kadipaten Tuban menjadi penghalang, Sultan Agung mengirim pasukan menyerbu Tuban.

Dalam waktu yang tidak terlalu lama, Kadipaten Tuban jatuh dan takluk kepada Mataram.

Setelah Tuban jatuh, mulailah Mataram mengerahkan pasukan untuk melakukan penyerangan ke Surabaya.

Akan tetapi ternyata Surabaya tidak mudah ditundukkan.

Dengan bantuan dari Madura, juga secara diam-diam dibantu Kumpeni Belanda yang sengaja memasang kapal-kapalnya di sekitar pantai Gresik sehingga menutup kemungkinan penyerbun Mataram melalui laut, Surabaya mempertahankan diri sehingga berulang kali serbuan pasukan Mataram dapat digagalkan.

Selama tiga tahun, dari tahun 1620 sampai tahun 1623, berulang kali serangan dilakukan Mataram dan Surabaya tetap dapat mempertahankan diri.

Mataram hanya berhasil menduduki daerah-daerah di luar Surabaya yang menjadi daerah kekuasaan Surabaya, di antaranya Kadipaten Sukadana.

Demikianlah keadaan pada waktu itu.

Surabaya masih belum dapat ditaklukkan dan melihat betapa Surabaya diperkuat oleh Madura, maka Sultan Agung mengubah siasatnya.

Mataram hendak menyerang dan menaklukkan Madura lebih dulu karena kalau Madura sudah ditaklukkan, berarti Surabaya dapat dikepung dan akan lebih mudah dikalahkan.

Sementara itu, di Kadipaten Arisbaya terjadi sedikit kekacauan setelah Adipati Arisbaya yang berjuluk Panembahan Tengah atau Pangeran Tengah wafat (1620).

Pangeran Tengah ini mempunyai seorang putera yang bernama Raden Prasena yang pada saat ayahnya meninggal dunia masih merupakan seorang pemuda remaja berusia limabelas tahun.

Menurut ketentuan adat, semestinya dia yang menggantikan kedudukan adipati di Arisbaya menggantikan ayahnya yang wafat.

Akan tetapi kedudukan ini didaulat oleh Pangeran Mas, yaitu adik mendiang Pangeran Tengah.

Tanpa menimbulkan banyak heboh karena Pangeran Mas memiliki kekuasaan, dia menggantikan kedudukan kakaknya dengan alasan bahwa Raden Prasena masih terlampau muda untuk menjadi adipati yang harus memimpin Kadipaten Arisbaya.

Betapapun juga, cara yang diambil Pangeran Mas ini diam-diam menimbulkan rasa tidak puas dan dianggap bertentangan dengan hukum.

Namun, kedudukan Pangeran Mas yang setelah menjadi Adipati Arisbaya berjuluk Pangeran Adipati Ngabehi Arisbaya amat kuat, terutama sekali karena dia didukung seorang datuk besar yang disegani dan ditakuti di Madura, yaitu Ki Harya Baka Wulung!

Datuk sakti mandraguna inilah yang membuat semua pihak yang tidak setuju, tidak berani banyak cakap lagi.

Ki Harya Baka Wulung diangkat menjadi penasihat di Kadipaten Arisbaya.

Ki Harya Baka Wulung inilah yang membujuk Adipati Arisbaya untuk memhantu Surabaya ketika berulang kali diserang oleh Mataram.

Bahkan Ki Harya Baka Wulung ini telah mengadakan persekutuan dengan Wiku Menak Koncar datuk Kadipaten Blambangan dan Kyai Sidhi Kawasa tokoh sakti mandraguna dari Kerajaan Banten.

Tiga orang datuk besar yang digdaya dan sakti mandraguna ini bekerja sama dengan satu tujuan, yaitu menentang Kerajaan Mataram.

Mereka bertiga bahkan melakukan perjalanan ke daerah Mataram, diam-diam membujuk orang-orang yang memiliki kedigdayaan dan yang memiliki perkumpulan kuat untuk membantu Surabaya menentang Mataram!

Dalam rangka kegiatan itulah mereka bertiga berada puncak Gunung Lawu dan membunuh Ki Bargowo yang tidak mau membantu Surabaya.

Memang, mereka bertiga itu bertekad untuk membunuh tokoh-tokoh yang setia kepada Mataram.

Dalam peristiwa itulah mereka bertiga bertemu dengan Resi Tejo Wening dan dalam adu kesaktian terpaksa mereka mengakui keunggulan sang resi seperti diceritakan di bagian depan kisah ini.

Setelah gagal menandingi Resi Tejo Wening, tiga orang datuk itu lalu saling berpisah, kembali ke daerah masing-masing.

Ki Harya Baka Wulung kembali ke Kadipaten Arisbaya dan dia segera turun tangan membantu Pangeran Mas yang merebut kedudukan adipati dari tangan keponakannya, yaitu Raden Prasena.

Selanjutnya Ki Harya Baka Wulung diangkat menjadi penasihat oleh adipati yang baru dan Raden Prasena oleh pamannya diharuskan meninggalkan istana kadipaten dan tinggal di Sampang agar mendapatkan pendidikan dari seorang pamannya yang lain, yaitu Pangeran Sante Merta.

Demikianlah, Ki Harya Baka Wulung menjadi seorang yang berkuasa besar, bahkan banyak kebijaksanaan yang diambil Adipati Ngabehi Arisbaya diatur olehnya.

Juga Ki Harya Baka Wulung segera menempatkan putera tunggalnya, Dibyasakti, seorang pemuda berusia duapuluh lima tahun, menjadi senopati muda di Arisbaya!

Ki Harya Baka Wulung mendapatkan sebuah rumah gedung megah dan dia hidup berdua saja dengan puteranya itu.

Isterinya, ibu Dibyasakti, sudah lama meninggal dunia, bahkan pemuda itu tidak pernah melihat wajah ibunya yang meninggal dunia ketika melahirkan dia.

Karena itu, Ki Harya Baka Wulung amat sayang kepada puteranya ini.

Hampir seluruh aji kesaktiannya diajarkan kepada Dibyasakti sehingga pemuda itu menjadi seorang pemuda yang sakti mandraguna dan amat dibanggakan ayahnya.

Setelah Ki Harya Baka Wulung menjadi penasihat Kadipaten Arisbaya dan mengangkat puteranya menjadi senopati, dia menasihatkan Adipati Pangeran Mas untuk mengadakan hubungan dengan para bupati dan adipati lain di seluruh Madura untuk bersiap-siap menghadapi Mataram.

Untuk menjadi utusan adipati, ditunjuk Dibyasakati sendiri untuk mengunjungi para adipati terutama Adipati Pamekasan yang memiliki pasukan yang besar dan kuat.

Maka pada suatu pagi, berangkatlah Dibyasakti meninggalkan Arisbaya.

Biarpun dia seorang senopati, namun dia tidak membawa pengiring atau pengawal yang dianggapnya hanya akan merepotkan saja.

Seorang diripun dia mampu menjaga diri.

Setelah membawa surat-surat dari Sang Adipati Arisbaya, dia lalu menunggang seekor kuda pilihan, yaitu kuda Arab, pemberian hadiah dari Kumpeni Belanda.

Memang pihak Kumpeni banyak memberi hadiah, terutama kuda-kuda yang didatangkan dari Arab, kuda yang besar dan kuat untuk menyenangkan hati para adipati sehingga mereka dapat membeli hasil bumi kadipaten itu, tentu saja yang mendatangkan keuntungan besar sekali untuk mereka.

Kuda yang ditunggangi Dibyasakti adalah seekor kuda Arab yang merupakan seekor di antara lima ekor kuda Arab yang dihadiahkan Kumpeni kepada Kadipaten Arisbaya.

Gagah sekali pemuda itu, sesuai dengan kuda tinggi besar yang ditungganginya.

Dibyasakti memang seorang pemuda yang tampak gagah perkasa.

Usianya sekitar duapuluh lima tahun.

Tubuhnya tinggi besar dengan kulit coklat mengkilat.

Rabutnya hitam tebal agak keriting dibungkus kain pengikat kepala yang dilibatkan di kepalanya dengan bentuk yang gagah, khas Madura.

Wajahnya kemerahan, alis tebal sepasang matanya lebar dan tajam seperti mata burung elang, hidungnya besar dan sebaris kumis tumbuh subur seperti kumis Sang Gatotkaca.

Mulutnya membayangkan kekerasan hatinya dengan dagu berlekuk.

Sepasang lengan yang memegang kendali kuda itu tampak kokoh kuat, dengan otot melingkar-lingkar.

Seorang pemuda yang tampak gagah perkasa.

Sebatang keris panjang bergagang kayu cendana bertabur intan dengan warangka terukir indah terselip di pinggangnya, menambah kegagahannya.

Kuda yang ditungganginya berlari congklang ketika dia meninggalkan Kadipaten Arisbaya dan semua orang yang berpapasan dengan dia memandang kagum dan juga takut karena semua orang mengenal pemuda yang gagah perkasa namun terkenal ringan tangan, keras hati, galak dan sombong ini.

Ki Harya Baka Wulung tidak mempunyai banyak murid.

Akan tetapi para muridnya itu, yang sudah mengeluarkan banyak harta benda untuk dapat membujuk Ki Harya Baka Wulung mengajarkan ilmu-ilmunya kepada mereka, hanya menerima satu dua macam ilmu saja.

Bahkan Raden Prasena sendiri, putera adipati yang telah wafat, juga menjadi muridnya.

Akan tetapi Raden Prasena inipun tidak sepenuhnya menerima ilmu-ilmu Ki Harya Baka Wulung yang mewariskan seluruh ilmunya kepada puteranya, yaitu Dibyasakti yang setelah menjadi senopati menggunakan sebutan Raden di depan namanya!

Para adipati yang dikunjung Raden Dibyasakti menyambutnya dengan hormat setelah mereka mengetahui bahwa pemuda gagah perkasa itu adalah senopati muda Arisbaya dan menjadi utusan Sang Adipat.

Mereka menanggapi surat dari Adipati Arisbaya dengan baik, dan menyatakan bersedia untuk bekerja sama menghadapi ancaman dari Mataram.

Juga mereka menyatakan setuju dengan ajakan Adipati Arisbaya untuk membantu Surabaya kalau Mataram menyerang lagi karena bagi mereka, Surabaya merupakan benteng pertama yang melindungi mereka dari ancaman Mataram.

Pada suatu pagi, Raden Dibyasakti tiba di luar Kadipaten Pamekasan.

Dia menjalankan kudanya perlahan dari arah barat menuju timur.

Ketika melihat debu mengepul di depan, dia menghentikan kudariya dan mengamati penuh perhatian.

Kiranya yang membuat debu mengepul itu adalah serombongan orang berkuda, terdiri dari belasan orang berpakaian sebagai prajurit, mengawal sebuah kereta yang ditarik dua ekor kuda datang dari arah timur menuju ke barat.

Setelah berhadapan, perwira komandan regu berkuda itu membentak kepada Raden Dibyasakti.

"Heii, ki-sanak yang menunggang kuda di depan! Cepat andika turun dari kuda dan minggir agar kami dapat lewat dengan leluasa!"

DIBYASAKTI adalah seorang pemuda yang berwatak angkuh.

Dia merasa dirinya besar.

Dia putera seorang tokoh sakti mandraguna yang berkedudukan tinggi di Kadipaten Arisbaya.

Dia sendiri juga seorang yang memiliki kedigdayaan dan kedudukannya sebagai senopati membuat dia tidak rela mendapat perlakuan kasar.

Andaikata perwira itu minta secara halus, mungkin dia akan minggirkan kudanya, mengalah karena merasa bahwa dia seoranng pendatang.

Akan tetapi dia tidak suka mengalah menghadapi sikap kasar seperti itu yang sama sekali tidak menghargainya.

Dia merasa direndahkan, bahkan dihina!

"Kalianlah yang harus minggir dan biarkan aku lewat dulu!"

Dia balas membentak sepasang matanya yang lebar dan tajam itu memandang galak.

"Eh, keparat! Berani engkau bersikap kurang ajar kepada kami? Bukalah mata dan telingamu! Kami sedang mengawal Gusti Tumenggung Surobayu! Hayo cepat turun dan berlutut menyembah!"

Bentak lagi komandan regu itu. Kemarahan Dibyasakti semakin memuncak.

"Aku tidak sudi menyembah orang yang bukan menjadi sesembahanku, tak perduli siapapun adanya dia!"

"Babo-babo, keparat! Kamu menantang, ya? Orang macam engkau ini harus dihajar!"

Perwira itu memajukan kudanya dan dia mengangkat cambuk kudanya menyerang dengan ayunan cambuk ke arah Dibyasakti.

"Tarrr....!"

Cambuk melecut dan meluncur ke arah kepala Dibyasakti.

Akan tetapi dengan tenang pemuda tinggi besar ini menyambut dengan tangan kirinya yan bergerak cepat menangkap ujung cambuk lalu dengan sentakan yang amat kuat dia menarik.

Perwira itu terkejut, tak mampu mempertahankan diri dan diapun terguling dari atas kudanya!

Perwira itu sesungguhya bukan seorang yang lemah.

Dia seorang yang digdaya sehingga dapat terpilih menjadi perwira.

Akan tetapi sekali ini dia bertemu dengan seorang pemuda yang sakti mandraguna.

Sentakan tadi mengandung tenaga dalam yang teramat kuat dan datangnya begitu tiba-tiba sehingga perwira itu tidak sempat mempertahankan diri dan terguling jatuh.

Limabelas orang anak buahnya melihat ini segera berlompatan dari atas kuda mereka dan mereka mencabut golok dari pinggang mereka.

Dibyasakti juga melompat turun dari atas punggung kudanya dan dia menyambut mereka dengan senyum mengejek di bibir.

Dia memandang limabelas orang perajurit dan juga perwira yang tadi jatuh dan kini sudah bangkit kembali ikut mengepungnya.

Golok mereka berkilauan tertimpa sinar matahari pagi.

"Orang muda, cepatlah menyerah sebelum kami terpaksa mencincang tubuhmu!"

Bentak perwira tadi.

Bentakan ini cukup membuat kemarahan di hati Dibyasakti agak menurun.

Bagaimanapun juga, perwira itu tidak bersikap sewenang-wenang mengandalkan pengeroyokan banyak orang dan sebelum mengeroyok memberi kesempatan kepadanya untuk menyerahkan diri.

Untung bagi seregu prajurit itu karena sikap perwira itu membebaskan mereka dari bahaya maut.

Karena kemarahannya mereda, Dibyasakti tidak berniat untuk membunuh mereka.

"Aku tidak bersalah, mengapa harus menyerah? Kalau kalian hendak mengenal siapa aku, maju dan keroyoklah. Ditambah seratus orang lagi aku tidak akan mundur!"

Mendengar jawaban yang congkak ini sang perwira memberi aba-aba nyaring.

"Serbu....!!"

Dan enambelas orang itu lalu menerjang maju.

Akan tetapi mereka di sambut tamparan-tamparan dan tendangan yang cepat sekali datangnya dan dahsyat sehingga mereka kocar-kacir dan tubuh mereka berpelantingan.

Perwira itu sendiri hanya dapat bertahan selama lima jurus saja.

Akhirnya ketika dia membacokkan goloknya, golok yang tajam itu ditangkap begitu saja oleh tangan kiri Dibyasakti dan sekali renggut, golok itu terlepas dapi tangan pemegangnya dan sebuah tendangan mengenai perut sang perwira yang terlempar dan terbanting keras.

Tiba-tiba seorang laki-laki berusia limapuluh tahun turun dan keluar dari kereta itu.

Dia seorang laki-laki tinggi kurus, berpakaian seperti seorang bangsawan.

"Tahan perkelahian dan semua prajurit mundurlah!"

Seru orang itu.

Mendengar ini, para prajurit yang sudah panik dan kocar-kacir itu lalu mundur ke dekat kereta, membiarkan laki-laki itu menghadapi Dibyasakti.

Dibyasakti sudah siap menghadapi lawan baru.

Dia tahu bahwa orang ini tentu berbeda dengan para perajurit, tentu seorang yang memiliki kedigdayaan kalau diingat bahwa pangkatnya adalah seorang tumenggung.

Tentu saja dia tidak ingin bermusuhan dengan ponggawa Pamekasan yang hendak dikunjunginya, maka ia menghadapi laki-laki yang tadi disebut namanya sebagai Tumenggung Surobayu oleh perwira itu dengan sikap tenang.

Tumenggung Surobayu mengamati pemuda gagah perkasa di depannya dengan penuh perhatian.

Diam-diam dia kagum melihat pemuda yang gagah itu, apalagi dia sudah melihat sepak terjangnya yang dahsyat ketika pemuda itu dengan tangan kosong menghadapi pengeroyokan enam belas orang perajurit dan membuat mereka yang memegang golok itu kocar-kacir.

"Orang muda, siapakah andika dan mengapa andika menghadang perjalananku?"

"Nama saya Raden Dibyasakti dan saya sama sekali tidak menghadang perjalanan andika."

"Hemm, akan tetapi aku melihat andika tadi berkelahi melawan para perajurit yang mengawal perjalananku!"

"Mereka itulah yang bersikap kasar dan sama sekali tidak menghormati saya, bahkan mereka pula yang lebih dulu menyerang saya. Saya hanya membela diri."

Tumenggung Surobayu mengangguk-angguk.

"Hemm, begitukah? Kalau benar demikian, maafkanlah para pengawalku. Agaknya andika bukan kawula Pamekasan, maka tidak mengenalku. Aku adalah Tumenggung Surobayu, panglima Pamekasan. Dari manakah andika datang dan ada keperluan apa andika hendak menuju ke Pamekasan?"

"Ah, kiranya paman Tumenggung Surobayu adalah panglima Pamekasan? Maafkan, paman, karena saya tidak mengetahui sebelumnya. Perkenalkan, saya Raden Dibyasakti adalah senopati muda dari Kadipaten Arisbaya dan saya memang hendak menghadap Sang Adipati Pamekasan untuk menyampaikan pesan Sang Adipati Arisbaya. Saya adalah utusan Kadipaten Arisbaya, paman."

Tumenggung Surobayu terkejut dan meinandang pemuda itu dengan mata terbelalak.

"Anakmas adalah seorang senopati muda dari Kadipaten Arisbaya? Ah! Tidak aneh kalau andika demikian digdaya. Sekali lagi maafkan para pengawal saya, anak-mas Dibyasakti."

"Saya juga minta maaf, paman tumenggung."

"Anakmas hendak menghadap Sang Adipati Pamekasan? Kalau begitu, biarlah saya menunda kepergian saya dan mari saya antarkan andika menghadap beliau."

"Terima kasih, paman."

Mereka berdua lalu memasuki kereta dan kuda milik Dibyasakti dituntun seoran perajurit atas perintah Tumenggung Surobayu.

Mereka memasuki Kadipaten Pamekasan dan langsung Ki Tumenggung Surobayu mengantar tamunya menghadap Sang Adipati Pamekasan.

Kereta itu berhenti di depan pintu gerbang istana kadipaten.

Tumenggung Surobayu mengajak Dibyasakti memasuki gapura berjalan kaki.

Para penjaga di depan istana kadipaten itu menyambut dengan hormat atasan mereka itu dan memberi tahu bahwa pada saat itu, sang adipati sedang berada di bagian belakang istana sedang berada di istal kuda bersama puterinya.

Sebagai seorang pembantu dekat yang dipercaya, mendengar ini Tumenggung Surobayu mengajak tamunya langsung saja menyusul ke istal yang berada di belakang istana kadipaten.

Mereka tiba di bagian tempat memelihara kuda-kuda milik kadipaten.

Tempat itu cukup luas, dengan bangunan istal-istal yang bersih dan di situ terdapat pula sebuah lapangan rumput yang luas di mana biasanya sang adipati bersama keluarganya menunggang kuda.

Ketika mereka berdua tiba di situ, Tumenggung Surobayu dan Dibyasakti terkejut melihat seekor kuda tampan yang besar sedang marah.

Di punggung kuda hitam itu duduk seorang gadis cantik yang tampak ketakutan dan berusaha mempertahankan diri agar jangan sampai terlempar dari atas punggung kuda yang sedang marah itu.

Kuda itu meringik-ringkik, mengangkat kedua kaki depan ke atas dan mengguncang-guncangkan badannya seolah berusaha melempar penunggangnya dari atas punggungnya.

Seorang laki-laki setengah tua yang melihat pakaiannya mudah dikenal sebagai Adipati Pamekasan, bersama dua orang perawat kuda, berusaha menenangkan kuda yang mengamuk itu.

Akan tetapi usaha ini sia-sia belaka, bahkan dua orang perawat kuda itu sudah terpelanting terkena sepakan kaki kuda yang mengamuk itu.

Sang Adipati Pamekasan tampak panik Ketika dia melihat munculnya Tumenggung Surobayu, dia berseru.

"Adi Tumenggung cepat tolong puteriku....!"

Tumenggung Surobayu cepat berlar menghampiri dan menangkap kendali kuda dekat mulut binatang yang marah itu.

Akan tetapi kuda itu malah menyerangnya dan berusaha menggigit lengannya.

Tumenggung Surobayu terpaksa melepaskan kendali dan kuda itu sudah menyerang dengan kedua kaki depan yang diangkatnya tinggi-tinggi.

Kuat sekali kedua kaki itu menghantam ke arah Tumenggung Surobayu.

Panglima Pamekasan ini menangkis dengan kedua tangannya.

"Bresss....!"

Dia terpelanting roboh dan, kuda yang marah itu sudah mengangkat kedua kaki depannya lagi, siap untuk menginjak tubuh sang tumenggung.

Keadaannyaa amat gawat dan gadis yang masih dapat bertahan di atas punggung kuda itu menjerit ngeri melihat kuda itu hendak menginjak tubuh sang tumenggung.

Pada saat itu, Dibyasakti cepat melompat ke depan.

Bayangannya berkelebat dan dia sudah menangkap kedua kaki depan kuda itu, mengerahkan tenaga dan kuda itu tidak mampu bergerak lagi!

Selamatlah Ki Tumenggung yang cepat menggulingkan tubuhnya dan bangkit berdiri.

Kuda yang tidak (Lanjut ke

Jilid 07) Seruling Gading (Seri ke 02 -Serial Pecut Sakti Bajrakirana) Karya". Asmaraman S. Kho Ping Hoo

Jilid 07 mampu menggerakkan dua kakinya yang ditangkap Dibyasakti itu kini meloncat-loncat dengan kaki belakangnya.

Gerakannya demikian liar dan cepat sehingga gadis yang mati-matian mempertahankan diri di atas punggung kuda itu, tidak kuat bertahan lagi dan iapun terlempar ke atas dari punggung kuda ketika binatang itu meloncat-loncat dengan dua kaki belakangnya!

Melihat ini, Dibyasakti melepaskan kedua kaki depan kuda dan mendorongnya.

Kuda itu terlempar ke belakang dan terbanting jatuh.

Sementara itu, tubuh gadis itu melayang ke bawah dan iapun menjerit ketakutan.

Dibyasakti cepat menjulurkan kedua lengannya dan tubuh gadis cantik jelita itu mendarat dengan empuk di atas kedua lengan Dibyasakti yang kokoh kuat!

Kedua lengan itu dengan tepat menyangga belakang pinggul dan belakang punggung gadis itu sehingga gadis itu berada dalam pondongan Dibyasakti.

Tubuh gadis itu terasa lunak dan hangat dalam dekapannya, ketika gadis itu mengangkat muka memandang, muka mereka begitu berdekat Dibyasakti terpesona!

Dia adalah seorang pemuda yang sudah banyak bergaul dengan wanita cantik, bahkan dia terkenal sebagai seorang pemburu wanita dan di Arisbaya banyak wanita tergila-gila kepadanya.

Akan tetapi sekali ini dia benar-benar terpesona!

Dia seperti seorang laki-laki yang belum pernah melihat wanita cantik.

Dan memang bagi Dibyasakti, dia merasa belum pernah melihat seorang perawan secantik menarik gadis dalam pondongannya itu.

Mata itu!

Hidung itu!

Bibir itu!

Dia seperti merasa dalam mimpi memondong seorang dewi dari kahyangan.

Tanpa terasa dia memeluk lebih erat dan menekan tubuh itu ke dadanya!

Hidungnya seperti mencium harum sejuta melati keluar dari tubuh gadis itu.

Dia sampai lupa bahwa terlalu lama dia membiarkan tubuh yang harum, lembut dan lentur itu dalam pondongannya.

"Lepaskan aku....!"

Gadis itu berkata, kaki tangannya bergerak-gerak hendak melepaskan diri.

Barulah Dibyasakti teringat.

Dia melepaskan tubuh itu dengan gerakan lembut dan hati-hati seolah menurunkan seorang bayi dari pondongannya.

Begitu diturunkan dari pondongan, gadis itu lalu berlari ke dalam rangkulan ayahnya.

"Syukur kepada Gusti Allah engkau selamat, nini!"

Kata Adipati Pamekasan sambil merangkul puterinya. Tumenggung Surobayu segera berkata.

"Wah, sungguh beruntung andika dapat Menyelamatkan sang puteri, anakmas! Kakangmas Adipati, orang muda ini adalah utusan dari Sang Adipati Arisbaya yang mohon menghadap paduka, maka saya bawa dia menyusul ke sini."

Dengan lengan kiri masih merangkul puterinya, adipati itu memandang Dibyasakti, lalu berkata.

"Utusan Sang Adipati Arisbaya? Siapa namamu, orang muda yang gagah? Dan apa kedudukanmu di Arisbaya?"

Dibyasakti memberi hormat dengan sembah.

"Saya bernama Raden Dibyasakti dan menjadi senopati muda di Arisbaya gusti."

"Senopati muda Arisbaya? Ah, pantas engkau begitu tangkas. Engkau telah menyelamatkan puteriku. nini Sriyatun, Dibyasakti, untuk itu kami berterima kasih sekali kepadamu dan tentu kami akan memberi hadiah kepadamu. Akan tetapi kulihat engkau tangkas dan sakti mandraguna, dapat menaklukkan Si Gagak Cemeng denga mudah, padahal kuda ini amat kuat dan tadi sedang mengamuk dan liar. Tentu engkau memiliki seorang guru yang sakti!"

"Saya menerima gemblengan dari ayah saya sendiri, gusti."

"Ah, begitukah? Dan siapa ayahmu yang sakti mandraguna itu?"

"Ayah saya menjadi penasihat di Kadipaten Arisbaya, nama ayah saya Ki Harya Baka Wulung."

"Jagad Dewa Bathara....!"

Adipati Pamekasan itu berseru dan wajahnya tampak gembira.

"Kiranya putera Kakang Harya Baka Wulung sendiri? Ha-ha-ha, kalau begitu engkau masih keponakanku sendiri, Dibyasakti. Kakang Harya itu seperti kakakku sendiri. Jangan sebut aku gusti, panggil paman saja! Sriyatun, sapa kang-masmu ini, dia ini seperti keponakanku sendiri!"

Dengan sikap malu-malu dan rikuh gadis itu membungkuk ke arah Dibyasakti dan mulutnya yang berbibir merah basah clan mungil itu berkata lirih.

"Kakangmas Dibyasakti.... !"

"Diajeng Sriyatun, aku girang andika tidak cidera tadi."

"Berkat pertolonganmu, kakangmas...."

"Ha-ha-ha, Dibyasakti. Engkau keponakanku sendiri dan utusan adimas Adipati Pangeran Mas di Arisbaya. Mari kita masuk dan bicara di dalam. Adimas Tumenggung, atur supaya penjinak kuda dapat menjinakkan Si Gagak Cemeng. Kuda itu belum jinak benar. Tadi ketika Sriyatun berkeras hendak mencoba menungganginya, dia menjadi binal dan mengamuk."

"Sendika, Kakangmas Adipati!"

Kata Tumenggung Surobayu sambil menyembah.

"Mari, anak-mas Dibya!"

Sang Adipa mengajak tamunya sambil menggandeng tangan puterinya, menuju ke istana kadipaten melalui pintu belakang, terus menuju ke ruangan tengah di mana dia mempersilakan pemuda itu duduk berhadapan dengan dia, sedangkan Sriyatun sudah mengundurkan diri masuk ke ruangan keputren.

Setelah menyerahkan surat dari Adipati Arisbaya, Dibyasakti disambut dengan ramah oleh Adipati Pamekasan.

Sang Adipati menyatakan persetujuannya denga penuh semangat.

"Memang kita harus menyatukan kekuatan untuk melawan Mataram!"

Kata nya.

"Sampaikan kepada adimas Adipati Arisbaya bahwa kami sudah siap dan harap jangan khawatir. Kalau pasukan Mataram berani mendarat di pesisir kita, aku sendiri yang akan memimpin pasukan untuk melawan mereka!"

Setelah berbincang-bincang kemudian disambut dengan perjamuan selamat datang, Dibyasakti mohon diri berpamit dari tuan rumah.

"Ah, kenapa tergesa-gesa, anak-mas? Engkau bukan hanya utusan adimas Adipati Arisbaya, melainkan engkau adalah keponakanku sendiri. Anggaplah engkau berkunjung ke rumah pamanmu sendiri dan engkau harus tinggal bermalam di sini selama dua tiga hari. Aku masih kangen dan banyak yang ingin kubicarakan denganmu, anak-mas!"

Adipati Pamekasan membujuk Dibyasakti dan akhirnya pemuda ini menerima juga tawaran Adipati Pamekasan untuk bermalam di situ selama dua malam.

Ssesungguhnya, kalau Dibyasakti menerima tawaran itu adalah karena dia ingin sekali bertemu lagi dengan Sriyatun!

Dia merasa rindu karena semenjak pertemuan pertama yang amat mengesankan hatinya itu, Sriyatun tidak pernah lagi menampakkan dirinya.

Bahkan sampai lewat malam pertama di kadipaten, dia belum juga dapat bertemu perawan itu.

Dia merasa penasaran sekali, akan tetapi untuk bertanya tentang gadis itu kepada Sang Adipati, tentu saja dia merasa rikuh.

Pada malam kedua, malam terakhir dia tinggal di Kadipaten Pamekasan, dia tidak tahan lagi.

Malam itu dia harus dapat bertemu atau setidaknya melihat Sriyatun untuk mengobati rasa rindunya.

Malam ini terang bulan.

Langit bersih dan cerah.

Malam sejuk yang indah sekali.

Sinar bulan mendatangkan suasana yang romantis.

Tentu saja Dibyasakti tidak betah berada dalam kamarnya.

Tanpa diketahui orang malam itu dia keluar dari kamarnya dan memasuki taman bunga yang letaknya di belakang kadipaten, di sebelah kiri tempat pemeliharaan kuda.

Taman itu luas sekali, penuh dengan beraneka bunga.

Bunga mawar beraneka warna, dan banyak bunga melati dan menur yang menyebarkan keharuman yang khas.

Ada pula pohon bunga arum-dalu, kenanga, dan kantil yang membuat taman sari itu semerbak harum.

Ketika memasuki taman yang bermandikan cahaya bulan purnama itu, Dibyasakti merasa seperti tenggelam ke dalam lautan bunga yang harum memabokkan.

Semangatnya seperti melayang-layang dan terbayanglah semua kemesraan dengan wanita-wanita cantik yang pernah dialaminya.

Wajah-wajah cantik itu seperti meleyang-layang di depan matanya, kemudian semua wajah wanita cantik itu menghilang dan yang tinggal hanya sebuah wajah.

Wajah Sriyatun!

Dan rasa rindunya semakin menekan.

Aku harus menemuinya, pikirnya berbisik.

Kalau perlu, aku akan menyusup ke dalarn keputren, seperti maling!

Tidak akan sukar baginya.

Dia harus menemuinya malam ini juga.

Sekedar pamit, sekedar untuk menatap wajah itu sekali lagi!

Dia harus!

Tiba-tiba dia mendengar suara orang.

Cepat sekali tubuhnya sudah menyelinap ke balik serumpun bambu kuning yang tumbuh di situ dan mengintai.

Dua sosok bayangan orang berjalan perlahan menuju ke situ.

Ketika dua bayangan itu lewat dekat, jantungnya berdegup dan dia memusatkan kekuatan pandang matanya untuk dapat melihat lebih jelas lagi.

Di bawah sinar bulan yang lembut, dia melihat Sriyatun sebagai satu di antara dua bayangan itu.

Dan perawan yang dirindukannya itu tampak demikian cantik jelita, ayu manis merak ati.

Tubuhnya seperti terbungkus cahaya bulan, seolah memancarkan kehangatan yang terasa olehnya.

Ketika dia memperhatikan bayangan kedua, alisnya berkerut.

Orang kedua itu adalah seorang muda yang bertubuh sedang, pakaian rapi dan wajahnya membuat dia merasa hatinya panas oleh cemburu karena wajah itu tampan sekali!

Mereka melangkah perlahan melewatinya, dekat sekali sehingga dia dapat mendengar jejak langkah merek mendengar berkereseknya kain yang dipakai Sriyatun.

Setelah mereka lewat, Dibyasakti cepat bergerak, menyusup-nyusup dan membayangi kedua orang muda itu.

Hatinya yang sudah panas itu menjadi semakin penasaran lagi ketika kini dia melihat pemuda itu memegang tangan kiri Sriyatun dan menggandengnya dengan sikap mesra.

Dia mendengar sendiri degup jantungnya sehingga dia khawatir kalau-kalau degup jantungnya itu akan terdengar oleh dua orang yang dibayanginya.

Di tengah taman itu terdapat sebuah pondok bambu mungil tanpa dinding, han lantai dari papan, tiang dan atap saja.

situ terdapat bangku-bangku panjang d biasanya keluarga sang adipati sering duduk di pondok ini, terutama kalau siang hari panas.

Dua orang muda yang bergandengan tangan itu menuju ke pondok ini dan mereka duduk di atas bangku panjang, berdampingan.

Mereka bercakap-cakap sambil duduk berdempetan dan kini lengan kanan pemuda itu merangkul pundak Sriyatun dengan amat mesra.

Karena mereka bicara lirih sekali, terpaksa Dibyasakti harus bergerak mendekati dan bersembunyi di balik pohon kecil kemuning yang tumbuh di dekat pondok.

Kini dia dapat mendengar suara mereka dengan jelas.

"". ah, benarkah kata-katamu itu, diajeng?"

Kata pemuda itu.

"Kakang-mas Karyadi, pernahkah aku berbohong kepadamu? Aku merasa yakin bahwa dia itu bukan orang baik-baik. Ketika dia menyelamatkan aku dan memondongku, aku dapat merasakan sentuhannya dan sinar matanya""huh, mengerikan, kakangmas....!"

Pemuda bernama Karyadi itu tertawa.

"Ha-ha-ha, kukira engkau hanya salah sangka saja, diajeng. Dia itu bukan orang biasa. Dia utusan Sang Adipati Arisbaya, dan itu seorang senopati muda! Dia sudah menyelamatkan dirimu, diajeng. Bagaimana engkau malah mencurigai dan tidak percaya kepadanya? Bukankah Kanjeng Paman Adipati sendiri menerimanya dengan ramah dan menganggap dia keponakan sendiri karena dia putera Ki Harya Baka Wulung yang amat terkenal karena sakti mandraguna itu? Di seluruh Madura, siapa yang tidak mengenal Ki Baka Wulung?"

Gadis itu mencibir.

"Terkenal kesesatannya maksudmu, kakang-mas?"

"Ssstt....! Kenapa engkau bilang begitu diajeng?"

Karyadi menyentuh bibir yang mungil dan merah basah itu seolah hendak mencegah gadis itu bicara yang bukan-bukan.

"Aku mendengar dari cerita ibuku sendiri, kakang-mas! Menurut cerita ibuku, Harya Baka Wulung itu dahulu di waktu mudanya, ketika berkunjung ke sini, sudah berani mencoba untuk menggoda ibuku. Karena itulah maka ibuku berpesan kepadaku agar jangan dekat-dekat dengan puteranya itu."

"Sudahlah, diajeng. Jangan khawatir dan jangan takut. Ada aku di sini, aku calon suamimu yang akan selalu melindungimu. Kalau ada aku di sampingmu, siapa yang akan berani mengganggumu?"

Setelah berkata demikian, pemuda itu merangkul dan memeluk kekasihnya.

SriAun menghela napas manja dan lega, enyandarkan kepalanya di dada tunanginya itu.

Dibyasakti yang sejak tadi mengintai dan mendengarkan percakapan itu, tentu saja menjadi marah bukan main.

Gadis itu berani mencela nama ayahnya, berarti penghinaan!

Dia memang terpesona dan tergila-gila kepada Sriyatun, akan tetapi kini kegandrungannya itu bercampur dendam kemarahan.

Apalagi mendengar bahwa pemuda itu adalah calon suami gadis yang digandrunginya itu, habislah harapannya ituk dapat mempersunting Sriyatun.

Otaknya yang licik itu diputar dan tiba-tiba ia sudah mengambil sebuah keputusan yang hanya dapat dipikirkan seorang yang dah kemasukan iblis.

"Maling hina! Berani mati engkau mengganggu sang puteri!"

Tiba-tiba Dibyasak melompat dan membentak.

Sepasang muda-mudi yang sedang bermesraan itu terkejut bukan main.

Raden Karyadi, pemuda itu, adalah putera Tumenggung Surobayu dan sebagai putera tumenggung, tentu saja dia bukan seoral pemuda lemah dan mahir olah keperwiraan.

Melihat ada orang melompat dan membentak, diapun cepat melepaskan rangkulannya dari pundak Sriyatun lalu melompat dan berdiri melindungi kekasihnya.

Akan tetapi Dibyasakti tidak memberi kesempatan kepadanya untuk bicara karena dia sudah menerjang dengan serangan pukulan tangan kanan yang dahsyat.

Karyadi melihat pukulan itu cepat menangkis sambil miringkan tubuhnya.

"Wuuttt... dukkk...!!"

Ternyata kekuatan Karyadi belum mampu mengimbangi tenaga Dibyasakti yang dahsyat.

Pertemuan kedua lengan itu membuat tubuh Karyadi terpelanting sampai keluar dari dalam pondok!

Melihat kejadian ini, Sriyatun terkeiut bukan main.

Tadinya ia terbelalak memandang orang yang datang itu, akan tetapi ketika ia mengenal bahwa orang itu adalah Dibyasakti yang menjadi tamu ayahnya, dan melihat Dibyasakti membuat tunangannya terpelanting keluar pondok, ia menjerit.

"Kakang-mas Dibyasakti! Dia bukan maling, bukan penjahat. Dia itu kakang-mas Karyadi, tunanganku, calon suamiku!"

Akan tetapi Dibyasakti seolah tidak mendengar ucapan ini, atau memang dia tidak mau mendengarkan.

Dia sudah melompat keluar dari pondok dan menyerang lagi ke arah Karyadi.

Karyadi sudah siap siaga.

Melihat Dibyasakti tetap menyerangnya walaupun Sriyatun telah memperkenalkan dirinya, dia tahu bahwa orang ini memang sengaja berniat jahat.

Maka diapun mengerahkan tenaga dan kepandaiannya untuk menghindar dari serangan yang kedua itu.

Dia tidak berani menangkis, maklum bahwa tenaganya kalah kuat.

Elakannya yang cepat membuat pukulan Dibyasakti tadi luput dan Karyadi berseru nyaring.

"Ki-sanak, Ki-sanak, tahan dulu....!!"

Akan tetapi Dibyasakti yang sudah mengambil keputusan bulat untuk membinasakan pemuda yang menjadi kekasih Sriyatun itu, menggosok kedua telapak tangannya.

Tampak asap hitam mengepul dan dia mendorongkan kedua telapak tangannya ke arah Karyadi sambil membentak.

"Aji Kukus Langking.... !"

Aji pukulan sakti ini dahsyat bukan main.

Asap hitam yang menyambar itu selain membawa hawa pukulan maut, juga kalau mengenai kulit lawan, asap itu dapat membakar seperti api!

Karyadi terkejut dan cepat dia membuang diri ke atas tanah dan berguling menghindar sampai jauh.

Ketika dia bangkit berdiri, dia sudah mencabut kerisnya.

Pemuda ini mengambil keputusan untuk melawan mati-matian, bukan untuk menyelamatkan dirinya, melainkan terutama sekali untuk membela dan melindungi kekasihnya, Sriyatun.

Kalau saja di situ tidak ada Sriyatun, dia tentu sudah melarikan diri karena dia maklum sepenuhnya bahwa dia tidak akan mampu menandingi lawan yang sakti mandraguna ini.

Akan tetapi dia harus membela dan melindungi kekasihnya dengan taruhan nyawa.

Maka, dia mencabut kerisnya dan masih berusaha untuk mengingatkan pemuda yang gagah seperti Gatotkaca itu.

"Ki-sanak, andika tentu Senopati Dibyasakti! Aku adalah Karyadi, putera Tumenggung Surobayu, bukan penjahat dan bukan musuh!"

Akan tetapi Dibyasakti tidak perduli.

Dia melompat ke depan dan dalam posisi setengah berjongkok dia siap menyerang.

Melihat ini, Karyadi menjadi marah dan diapun maju dan menusukkan kerisnya.

Pada saat itu, Dibyasakti membentak.

"Aji Cantuka Sakti!"

Dan kedua tangannya mendorong ke depan, dari perutnya terdengar bunyi kok-kok nyaring.

Aji ini merupakan aji pamungkas andalan Ki Harya Baka Wulung yang telah diturunkan kepada puteranya itu.

Dahsyat bukan main aji pukulan ini.

Serangkum tenaga sakti yang menggiriskan menyambar dan menghantam Kariadi yang menusukkan kerisnya.

Diterpa hawa pukulan ini, tubuh pemuda itu melayang seperti daun kering dihembus angin dan dia terbanting roboh dan tidak mampu bergerak lagi!

Sriyatun berlari menghampiri kekasihnya lalu berlutut di dekat tubuh yang teentang itu.

"Kakangmas Karyadi....! Kakangmas".!"

Ia mengguncang-guncang tubuh pemuda itu dan matanya terbelalak memandang darah yang mengucur keluar dari mulut Karyad Akan tetapi yang dipanggil dan diguncang tidak bergerak dan tidak menjawab.

"Kakangmas Karyadi.... kau""kau... mengapa, kakangmas?"

"Dia sudah mati!"

Tiba-tiba Dibyasak yang sudah berdiri di dekatnya berkata.

"Mati....?? Kau.... kau.... membunuhnya.... oohhh....!"

Sriyatun terkulai lemah dan roboh pingsan.

Melihat gadis itu rebah miring dan kain yang dipakainya tersingkap ketika tadi berlari lalu menjatuhkan diri sehingga tampak sebagian pahanya, nafsu berahi yang memang sejak tadi menguasai hati akal pikiran Dibyasakti menjadi berkobar.

Dia membungkuk dan memondong tubuh Sriyatun, lalu tanpa sangsi dan ragu, tanpa rasa takut atau rikuh, dia melangkah pergi membawa tubuh Sriyatun dalam pondok.

Sesungguhnyalah bahwa segala macam gairah nafsu merupakan anugerah yang tak ternilai besarnya dari Tuhan Yang Maha Kasih.

Gairah nafsu ini yang mendatangkan kenikmatan mata memandang sehingga nampak bentuk-bentuk dan warna-warna yang indah, membuat telinga menikmati pendengaran suara yang merdu, hidung menikmati penciuman yang sedap dan harum, mulut menikmati makanan yang lezat dan sebagainya.

Termasuk nafsu berahi.

Nafsu ini dianugerahkan kepada setiap makhluk hidup, terutama manusia dan gairah nafsu inilah yang membuat manusia dapat berkembang biak.

Segala macam gairah nafsu merupakan anugerah yang mutlak diperlukan dalam kehidupan, merupakan peserta, merupakan abdi bagi manusia untuk mempertahankan hidup ini dan menikmati anugerah Tuhan.

Akan tetapi, gairah nafsu dapat menjadi abdi yang baik selama kita mendekatkan rohani kita, batin kita, hati akal pikiran kita, dengan Tuhan sehingga Kekuasaan Tuhan akan selalu membimbing kita dan menguatkan batin kita sehingga kita akan mampu menjadi majikan dari nafsu-nafsu kita sendiri, mengendalikan gairah nafsu kita sendiri.

Celakalah kita kalau kita lengah, jauh dari bimbingan Kekuasaan Tuhan, karena nafsu-nafsu itu akan selalu berusaha untuk menaklukkan kita.

Kalau abdi-abdi nafsu itu telah berubah menjadi majikan kita, dan sebaliknya kita diperhamba olehnya, kita akan diseret ke dalam perbuatan-perbuatan sesat.

Gairah nafsu berahi yang pada dasarnya merupakan anugerah terbesar dan mempunyai fungsi yang suci itu kalau sudah menjadi majikan dan memperhamba kita akan menyeret kita untuk melakukan perbuatan yang kotor dan jahat.

Lahirlah perbuatan seperti perkosaan, perjinaan, pelacuran, dan sebagainya.

Demikian pula halnya dengan Dibysakti yang sejak kecil terdidik secara salah oleh Ki Harya Baka Wulung.

Sejak kecil dia menjadi hamba nafsu-nafsunya, selalu mengejar kesenangan.

Dalam peristiwa malam itu, dia sudah menjadi hamba nafsunya.

Bukan saja dia telah membunuh Karyadi yang tidak berdosa, hanya karena dia menganggap Karyadi merupakan penghalang untuk mendapatkan Sriyatun, akan tetapi dia melakukan perbuatan yang lebih keji lagi, yaitu dia menggagahi Sriyatun, memperkosa gadis yang sedang pingsan itu!

Sungguh perbuatan biadab seorang manusia yang sudah dikuasai sepenuhnya oleh iblis.

Semua pertimbangannya sebagai manusia telah hilang, yang ada hanyalah nafsu kebinatangan semata-mata.

Setelah gairah nafsu tersalurkan, saat mana nafsu sudah tidak lagi menguasai hati akal pikiran karena sudah terpuaskan, barulah kesadaran kemanusiaannya kembali dan mengingatkan, membuat si pelaku menyadari akan perbuatannya.

Demikian pula dengan Dibyasakti.

Setelah kekejian yang dilakukannya selesai, barulah dia termenung, memikirkan akibat daripada semua perbuatannya itu!

Dan muncullah penyesalan dalam hatinya.

Dia maklum bahwa perbuatannya ini akan mendatangkan akibat yang hebat.

Seluruh Kadipaten Pamekasan akan geger dan akibat perbuatannya ini, bukan saja dia akan dimusuhi seluruh kadipaten, bahkan bukan tidak mungkin Kadipaten Pamekasan akan menganggap Kadipaten Arisbaya sebagai musuh karena dia adalah senopati muda Arisbaya.

Pada saat dia termenung itu tiba-tiba Sriyatun yang masih rebah telentang di atas bangku, bergerak, merintih dan ia bangkit duduk.

Agaknya ia baru menyadari akan keadaannya.

Ia terbelalak kemudian menjerit-jerit.

Dalam keadaan bingung dan takut kalau jeritan itu akan menarik perhatian orang, Dibyasakti menggerakkan tangan kirinya dan sekali jari-jari tangannya menampar tengkuk Sriyatun, gadis itu terkulai roboh dan tewas seketika.

Dibyasakti yang tadi sudah memutar otak mencari jalan keluar terbaik, cepat melompat keluar pondok.

Dia mengangkat mayat Karyadi dan membawanya ke dalam pondok lalu merebahkannya di atas lantai pondok, dekat bangku di mana mayat Sriyatun menggeletak.

Setelah itu dia berlari ke bagian pemeliharaan kuda dan melakukan pengintaian.

Ketika dia melihat dua orang perawat kuda yang pernah dilihatnya tempo hari, dia cepat menghampiri mereka.

"Kalian cepat bantu aku. Ada pencuri masuk ke dalam taman!"

Katanya. Dua orang perawat kuda itu memandang dengan kaget. Mereka segera mengenal pemuda gagah perkasa ini.

"Ah, andika, Raden? Di mana malingnya?"

Tanya mereka.

"Cepat ambil senjata kalian dan mari bantu aku menangkapnya!"

Kata Dibyasakti.

Dua orang itu menjadi berani untuk membantu karena mereka maklum bahwa pemuda yang menjadi tamu ini adalah seorang yang digdaya.

Mereka cepat mengambil parang dan siap siaga dengan sikap gagah.

"Mari, ikut aku!"

Kata Dibyasakti dan mereka bertiga lalu berlari memasuki taman yang memang berdekatan dengan bagian pemeliharaan kuda itu.

Setelah tampak pondok itu dari situ, Dibyasakti memberi isyarat agar mereka berhenti.

"Kulihat tadi malingnya bersembunyi di pondok itu. Mari kita ke sana, hati-hati, perlahan saja jangan membuat gaduh."

Mereka bertiga melangkah berindap-indap menghampiri pondok.

Setelah tiba luar pondok, Dibyasakti yang sengaja berjalan di belakang, mengayun kedua tangannya.

Dengan pengerahan tenaga sakti dia memukul ke arah kepala mereka dan dua orang perawat kuda itu roboh dan tewas tanpa sempat mengeluarkan suara lagi.

Dengan sikap tenang, seolah membunuh empat orang itu baginya merupakan perbuatan biasa saja, Dibyasakti lalu mengambil dua buah parang yang terlepas dari tangan mereka, lalu memasuki pondo Kemudian, dengan mata tak berkedip sedikitpun dia menusukkan parang ke dada mayat Karyadi.

Parang itu menancap situ sampai ke gagangnya.

Kemudian dia menggunakan parang yang sebuah lagi untuk membacok punggung mayat Sriyatun yang rebah miring dan membiarkan parang itu menancap di punggung wanita itu.

Setelah mengamati ke kanan kiri dan merasa yakin bahwa tidak ada orang lain yang melihat perbuatannya, Dibyasakti lari arah istana kadipaten.

Di bagian belakang gedung itu dia melihat sebuah kentongan tergantung.

Kentongan ini biasanya dipukul para peronda yang meronda mengelilingi gedung.

Cepat dia mengambil pemukul dan memukuli kentongan itu dengan suara titir, yaitu dipukul bertalu-talu tiada hentinya.

Tentu saja suara ini menimbulkan kegemparan.

Para penjaga berlari menghampiti, bertanya-tanya.

Akan tetapi Dibyasakti memukul terus kentongan itu dan baru berhenti setelah Adipati Pamekasan sendiri muncul.

"Anak-mas Dibyasakti! Apa yang terjadi? Kenapa andika memukuli kentongan seperti ini?"

"Aduh, paman Adipati, celaka, paman. Ada rajapati (pembunuhan) besar!"

"Rajapati? Apa yang andika maksudkan? Rajapati? Di mana? Siapa?"

Sang adipati Pamekasan bertanya, bingung.

"Mari, silakan ikut dengan saya, paman!"

Kata Dibyasakti dan dia lalu melangkah memasuki taman.

Adipati itu mengikutinya dan di belakang mereka, para pengawal kadipaten berbondong-bondong mengikuti dengan rasa ingin tahu sekali.

Setelah tiba di depan pondok, Sang adipati melihat mayat dua orang perawat kuda menggeletak di atas tanah.

"Eh, kenapa mereka berada di sini dan siapa yang membunuh mereka?"

"Saya yang membunuh mereka, paman."

"Andika yang membunuh mereka, anak-mas Dibyasakti? Kenapa?"

"Karena mereka berdua telah melakukan kejahatan yang amat besar, mereka telah melakukan pembunuhan. Silakan memeriksa ke dalam pondok, paman."

Adipati Pamekasan cepat memasuki pondok.

Cuaca kini terang sekali karena banyak perajurit pengawal yang membawa obor ketika mereka memasuki taman itu.

Sang Adipati masuk dan dia terbelalak ketika melihat puterinya menggeletak miring di atas bangku panjang, sebatang parang masih menancap di punggungnya.

Dan dia lebih terkejut lagi melihat mayat Karyadi menggeletak telentang di dekat bangku, di atas lantai dan dada pemuda ini pun ditembusi sebatang parang yang masih menancap di situ.

"Nini Sriyatun".. ! Ahhh, apakah yang telah terjadi? Mengapa begini....?"

Dia menubruk puterinya.

"Nini""kenapa begini......? Siapa yang membunuhmu? Siapa...?"

Sejenak lamanya Sang Adipati memeluk mayat puterinya dan menangis. Akan tetapi dia dapat menenangkan hatinya. Dia bangkit berdiri dan memutar tubuhnya menghadapi Dibyasakti yang masih berdiri di situ.

"Anak-mas Dibyasakti, apa yang telah terjadi di sini? Kenapa anakku dibunuh?"

"Begini, paman. Tadi saya tidak dapat tidur dan melihat dari jendela bahwa malam indah sekali, bulan bersinar gemilang, saya tertarik dan keluar dari kamar menikmati keindahan taman di malam terang bulan. Ketika tiba di dekat pondok, saya mendengar jeritan dan suara gaduh. Saya cepat berlari ke sini dan melihat dua orang tadi berloncatan keluar pondok. Karena saya menaruh curiga, saya tegur mereka. Akan tetapi kedua orang itu bahkan menyerang saya. Melihat serangan mereka terhadap diri saya itu nekat dan bermakud membunuh, maka saya lalu merobohkan mereka dengan pukulan dan mereka tewas. Saya lalu cepat masuk ke pondok ini dan menemukan diajeng Sriyatun dan pemuda ini telah menggeletak dan telah tewas. Saya menjadi terkejut sekali dan dalam kebingungan saya, ketika saya melihat kentongan itu, saya lalu memukul kentongan bertalu-talu. Demikianlah, paman. Saya merasa yakin bahwa yang membunuh puteri paman dan pemuda ini adalah dua orang itu. Silakan paman memeriksa dua buah parang itu. Milik siapa kedua buah senjata tajam itu."

Sang adipati memberi isyarat kepada kepala pengawal untuk bantu memerik kedua buah parang itu. Kepala pengawal mengangguk-angguk.

"Benar, gusti. Ini adalah parang-parang yang biasa mereka pakai di tempat pekerjaan mereka."

"Jahanam keparat!"

Sang Adipati marah sekali.

"Gantung mayat kedua jahanam itu di alunalun agar semua orang melihat mereka!"

Suasana berkabung meliputi seluruh kadipaten.

Tumenggung Surobayu juga terkejut dan berduka sekali atas kematian puteranya.

Puteranya, Raden Karyadi memang dipertunangkan dengan Sriyatun.

Kedua orang muda itu saling mencinta, juga orang tua kedua pihak sudah merestui, mereka tinggal menanti perayaan pernikahan saja.

Sungguh tidak disangka dua sejoli yang tampak berbahagia itu mengalami kematian yang demikian menyedihkan.

Dibyasakti harus berkali-kali mengulang ceritanya.

Akan tetapi hal ini dia lakukan dengan tenang dan semua orang percaya akan ceritanya.

Siapa yang akan meragukan ceritanya?

Dia adalah seorang senopati muda, utusan Adipati Arisbaya, bahkan putera Ki Harya Baka Wulung yang terkenal!

Dan pula, bukti-buktinya sudah jelas bahwa pembunuh dua orang sejoli itu tidalah dua orang perawat kuda kadipaten.

Buktinya amat kuat.

Parang yang dipergunakan membunuh sepasang kekasih itu adalah parang mereka, dan mereka berdua kedapatan berada di taman, hal yang tidak semestinya.

Ditambah pula kesaksian Dibyasakti, siapa yang akan meragukan kebenaran cerita pemuda dari Arisbaya tu?

Memang ada yang merasa heran dan penasaran di dalam hatinya.

Orang itu adalah Tumenggung Surobayu.

Dalam kedukaannya kehilangan puteranya, tumenggung ini merasa heran dan penasaran bagaimana puteranya sedemikian mudahnya dibunuh oleh dua orang perawat kuda!

Padahal puteranya itu memiliki kedigdayaan dan tidak sembarang orang akan mampu mengalahkan dan membunuhnya.

Keheranan dan rasa penasaran ini dia katakan kepada Dibyasakti.

Akan tetapi pemuda yang cerdik ini dengan tenangnya berkata.

"Paman Tumenggung, saya tidak merasa heran. Ketika dua orang itu menyerang saya, saya mendapat kenyataan bahwa mereka berdua memiliki ilmu kepandaian yang tinggi. Mereka cukup tangguh sehingga hanya dengan aji pamungkas saya saja akhirnya saya dapat merobohkan mereka"

"Akan tetapi, anak-mas, mereka itu hanya perawat kuda yang sudah bertahun-tahun bekerja di sini dan tidak pernah mereka memperlihatkan bahwa mereka itu orang-orang digdaya,"

Bantah Tumenggung Surobayu penasaran.

"Ah, paman. Siapa tahu kalau mereka itu menyimpan rahasia? Kita tahu bahwa Mataram memusuhi kita. Saya curiga bahwa mereka berdua itu adalah orang-orang yang sengaja diselundupkan oleh Mataram untuk bekerja di kadipaten ini, sebagai telik sandi (mata-mata)."

Ki Tumenggung mengangguk-angguk, agaknya dapat menerima pendapat ini.

"Akan tetapi andaikata benar dugaan andika itu, andaikata mereka itu memang telik sandi dari Mataram yang diselundupkan ke sini, mengapa mereka membunuh puteraku dan Sriyatun? Apa alasannya?"

Dibyasakti mengerutkan alisnya.

"Alasannya jelas, paman. Tentu untuk mendatangkan suasana kacau di Kadipaten Pamekasan. Yang dibunuh justeru putera paman dan puteri paman Adipati, berarti memberi pukulan kepada dua orang terpenting di Pamekasan dengan maksud agar mendatangkan kelemahan. Selain itu"."

"Selain itu apa, anak-mas? Alasan apalagi yang membuat mereka melakukan pembunuhan itu?"

"Anu, paman. Diajeng Sriyatun adalah seorang wanita yang amat cantik. Bukan mustahil kalau dua orang jahanam itu tertarik, mereka berniat keji, hendak menganggu diajeng Sriyatun. Mungkin karena ketahuan putera paman, mereka lalu melakukan pembunuhan untuk menghilangkan jejak."

Akhirnya Tumenggung Surobayu dapat menerima pendapat ini dan dia menumpahkan semua rasa penasaran dan dendamnya kepada Mataram.

Keterangan Dibyasakti membuat dia yakin bahwa dua orang pembunuh itu tentu orang-orang Mataram!

"Awas kalian orang-orang Mataram!

Kalau terjadi perang, aku akan membalas dendam dan membunuh sebanyak mungkin orang Mataram!"

Dia mengancam dengan tangan dikepal.

Dibyasakti tidak lama tinggal di Pamekasan.

Setelah ikut melayat dia lalu berpamit dan kembali ke Arisbaya, membawa jawaban para adipati di seluruh Madura untuk Adipati Arisbaya bahwa mereka semua telah siap.

untuk bekerja sama dalam menghadapi ancaman dari Kerajaan Mataram.

Di dekat Pacitan terdapat sebuah perguan pencak silat Jatikusumo.

Perkumpulan ini mempunyai murid-murid atau anggauta yang tidak kurang dari seratus orang jumlahnya dan mereka tinggal di sebuah perkampungan.

Karena perkampungan ini merupakan perkampungan yang khusus menjadi tempat tinggal mereka, maka dikenal sebagai dusun Jatikusuman yang letaknya di pantai Laut Kidul.

Perguruan Jatikusumo adalah sebuah guruan silat yang sudah tidak asing lagi.

Namanya bukan hanya dikenal di daerah Pacitan dan Kadipaten Madiun, bahkan terkenal sampai ke Mataram.

Bahkan, yang patut dicatat, Sang Puteri Wandansari, putri Sultan Agung Mataram, merupakan murid andalan perguruan Jatikusumo.

Perguruan ini sudah berusia lebih dari setengah abad dan banyak melahirkan pendekar-pendekar yang juga menjadi pahlawan yang membela Mataram.

Sejak dahulu, para pendekar Jatikusumo selalu membela Mataram dengan setia.

Pada waktu itu, yang menjadi ketua Jatikusumo adalah seorang pendekar yang gagah perkasa, yang dulu merupakan murid andalan perguruan ini.

Setelah Bhagawan Sindusakti, ketua Jatikusumo meninggal dunia kurang lebih sepuluh tahun yang lalu, yang menggantikannya menjadi ketua adalah Ki Cangak Awu, ketuanya yang sekarang.

Ki Cangak Awu adalah seorang laki-laki berusia kurang lebih tigapuluh lima tahun, bertubuh tinggi besar dan berwatak jujur kasar seperti Harya Werkudara tokoh Pandawa dalam cerita wayang Mahabharata.

Dia terkenal digdaya dengan senjatanya berupa tongkat.

Wajahnya tidak sangat tampan, namun gagah dengan kumis dan jenggotnya yang membuat dia tampak jantan.

Dia menjadi ketua Jatikusumo, dibantu isterinya.

Isterinya ini juga seorang wanita yang gagah perkasa dan sakti bernama Pusposari.

Orangnya hitam manis namun dalam hal kedigdayaan, ia tidak kalah jauh dibandingkan suaminya.

Pusposari bukan murid Jatikusumo, akan tetapi ia juga menjadi anak angkat dari ketua perguruan Nogo Dento yang cukup terkenal.

Perguruan Nogo Dento ini berpusat di daerah Ngawi, di Lembah Bengawan Solo.

Pusposari yang berusia kurang lebih tigapuluh tahun itu, setelah menikah dengan Ki Cangak Awu selama hampir sepuluh tahun, belum juga dikurniai anak.

Ketika Mataram melakukan serangan ke Tuban dan menundukkan Tuban, memang perguruan Jatikusumo tidak dimintai bantuan karena untuk menyerang Tuban tidak dibutuhkan bantuan banyak tenaga.

Akan tetapi ketika Mataram berusaha meiyerang Surabaya, Ki Cangak Awu dan Pusposari sendiri pergi ke Mataram untuk membantu.

Akan tetapi selama tiga tahun, semua usaha Mataram untuk menundukkan Surabaya mengalami kegagalan.

Setelah Sultan Agung menghentikan usahanya menundukkan Surabaya dan mengalihkan perhatiannya kepada Madura, Ki Cangak Awu dan isterinya kembali ke Jatikusuman.

Di perkampungan ini mereka melatih para murid dan mempersiapkan diri kalau sewaktu-waktu tenaga mereka dibutuhkan oleh Mataram.

Kita kembali kepada peristiwa aneh yang terjadi kurang lebih lima tahun yang lalu, yaitu sebelum Mataram menyerang Surabaya, atau setelah Mataram berhasil menundukkan sebagian besar kadipaten d Jawa Timur.

Pada waktu itu, mendengar betapa Mataram semakin memperkuat wilayahnya dan menundukkan para kadipaten di Jawa Timur, pihak Kumpeni Belanda merasa khawatir.

Gubernur Jenderal Jan Pieterszoon Coen memerintahkan para perwira bawahannya untuk memperluas pula jaringan mata-mata mereka.

Orang-orang yang dipercaya dan memiliki kesaktian dan kesetiaan kepada Kumpeni disebar di tempat-tempat penting untuk mengobarkan semangat anti Mataram.

Di antara para telik sandi (mata-mata) itu terdapatlah seorang pemuda yang luar biasa.

Dia seorang pemuda yang tampan sekali, berusia sekitar duapuluh satu tahun.

Pemuda ini bertubuh tinggi tegap, tidak terlalu besar namun dadanya bidang.

Gerak-geriknya lembut sesuai dengan wajahnya yang tampan.

Rambutnya keriting berombak, manik matanya tidak hitam benar agak kecoklatan, mata yang tajam dan bentuknya indah dan lebar.

Hidungnya mancung dan bentuk bibirnya juga manis.

Kebanyakan wanita tidak akan mudah melupakan wajah ini karena memiliki daya tarik yang kuat sekali bagi wanita.

Senyumnya memikat dan giginya putih berderet rapi.

Ditambah kegantengannya dengan hiasan kumis tipis yang tumbuh rapi di bawah hidungnya.

Ketampanannya memang agak berbau asing, terutama matanya yang agak coklat, hidungnya yang amat mancung dengan rambutnya yang berombak itu.

Bukan ketampanan khas Jawa.

Memang sesungguhnya pemuda ini bukan seorang Jawa aseli, melainkan seorang yang biasa disebut Indo.

Ibunya memang seorang wanita Jawa, akan tetapi ayahnya seorang kulit putih totok berbangsa Portugis.

Ketika itu bangsa Portugis sudah datang ke Nusa Jawa sebelum Kumpeni Belanda datang.

Orang-orang Portugis itu datang sebagai pedagang.

Akan tetapi kebanyakan dari mereka adalah pria-pria petualang yang kasar dan tidak pandai mengambil hati penduduk aseli sehingga banyak mendapat tentangan, tidak seperti Kumpeni Belanda yang pandai bersiasat mengambil hati rakyat.

Bahkan ada orang-orang Portugis yang mempergunakan kekerasan menculik gadis-gadis yang cantik untuk diperisteri.

Di antara mereka, terdapat seorang pemimpin atau jagoan orang Portugis bernama Henrik.

Henrik inipun berhasil mempersunting seorang gadis pesisir utara yang cantik bernama Marsinah.

Akan tetapi setelah Marsinah melahirkan seorang anak laki-laki, karena melihat anak itu tidak bule seperti dirinya, lebih mirip seorang bocah pribumi, Henrik lalu meninggalkan Marsinah dan anaknya begitu saja!

Marsinah yang menjanda merawat anaknya ya diberi nama Satyabrata (setia akan janji) untuk mengingatkan dirinya bahwa ia setia akan janjinya, tidak seperti ayah anak itu yang ingkar janji dan meninggalkannya.

Sebagai seorang anak laki-laki yang hanya dididik seorang ibu yang memanjakannya dan karena kurang terawasi sehingga dia berbaur dengan lingkungan yang tidak sehat, maka Satyabrata berangkat besar sebagai seorang anak yang manja dan nakal.

Akan tetapi ketampanannya dan mata yang kecoklatan, hidung yang mancung itu membuat ketampanannya berbau orang barat, ketika dia berusia empatbelas tahun seorang pemimpin bangsa Belanda, orang Kumpeni, tertarik dan suka kepadanya.

Belanda ini bernama Van Huisen dan dengan perkenan Marsinah, Van Huisen lalu rnengambil Satyabrata sebagai anak angkat.

Mulai saat itu berobahlah kehidupan Satyabrata.

Dia mendapatkan pakaian indah, juga menerima pendidikan dan ternyata dia cerdas sehingga memperoleh banyak kemajuan.

Dia pandai bahasa Belanda, pandai membaca menulis, bahkan dia berbakat sekali mempelajari ilmu kanuragan.

Dia mempelajari cara bertinju dan berkelahi orang kulit putih, bahkan mempelajari cara mempergunakan senjata api.

Di samping itu, Satyabrata juga belajar ilmu pencak silat dari para guru yang banyak terdapat di daerah pesisir, tepatnya di daerah Cirebon di mana ibunya tinggal.

Bahkan dia pernah menjadi murid perguruan Dadali Sakti yang berada di Galuh.

Karena dimanjakan ayah angkatnya yaitu Van Huisen, dan hidup berkecukupan Satyabrata tumbuh menjadi seorang pemuda yang congkak.

Akan tetapi harus diakui bahwa dia pandai menyimpan kecongkakannya, pandai membawa diri dengan sikapnya yang lembut.

Ketampanan dan sikapnya yang lembut ini menjatuhkan hati banyak wanita dan Satyabrata menyambut wanita yang cantik dengan penuh gairah.

Maka terkenallah pemuda ini sebagai seorang perayu yang menjatuhkan hati banyak wanita, bahkan dia tidak segan untuk merusak pagar-ayu, merayu wanitawanita yang sudah bersuami.

Kelakuannya ini membuat dia banyak dimusuhi orang dan beberapa kali dia dikeroyok.

Akan tetapi karena dia memiliki kedigdayaan dan selalu dilindungi Van Huisen, dia selalu dapat meloloskan diri.

Tibalah saatnya Van Huisen mempergunakan dan memanfaatkan pemuda yang diangkat sebagai anak itu ketika Kumpeni Helanda membutuhkan banyak tenaga cakap untuk menjadi mata-mata.

Satyabrata diangkat menjadi mata-mata dan dia ditugaskan untuk memata-matai perguruan Jatikusumo yang dianggap sebagai musuh Kumpeni.

Tugasnya adalah memata-matai, melihat keadaan dan kekuatan Jatikusumo, kemudian berusaha agar perguruan itu dapat berbalik menentang Mataram dan suka bekerja sama dengan Kumpeni Belanda.

Kalau usaha ini tidak berhasil, akan diusahakan mengacau dan memporak-porandakan Jatikusumo.

Setelah menjelaskan tentang tugas penting dan berat yang harus dijalankan, Willem Van Huisen memberi nasihat kepada anak angkatnya dalam sebuah kamar di gedungnya.

"Jan,"

Opsir Kumpeni ini memang telah memberi nama baru kepada Satyabrata, yaitu Jan Van Huisen sebagai anak angkatnya.

"engkau ingatlah selalu bahwa biarpun engkau seorang pemuda Jawa, akan tetapi engkau berdarah orang kulit putih, orang Eropa. Juga engkau harus ingat bahwa engkau telah kuangkat menjadi anakku, dan aku yang telah memberimu pendidikan dan segala macam kepandaian. Karena itu, sudah sepatutnya kalau engkau setia kepada Kumpeni Belanda. Ingat, bangsa Belanda ingin mendatangkan kemakmuran kepada rakyat Nusa Jawa, mendidik rakyat yang bodoh agar menjadi pintar Engkau sendiri sudah merasakan betapa engkau yang tadinya bodoh kini menjadi pintar setelah kami didik. Karena ingin melindungi rakyat, maka kami menentang Mataram yang murka dan yang menaklukkan dan menindas semua kadipaten. Engkau mengerti, bukan?"

"Saya mengerti, vader (ayah)."

Kata Jan Van Huisen atau Satyabrata sambil menganggukangguk.

"Nah, kalau sudah mengerti benar, berangkatlah dan bawalah ini sebagai bekal."

Dia menyerahkan sekantung uang emas dan juga sebuah pistol. Satyabrata menerima barang-barang itu.

"Kalau tidak terpaksa sekali untuk melindungi diri dari ancaman bahaya yang tak dapat kauhindarkan, jangan pergunakan pistol itu. Dan kalau uang ini habis dan engkau kekurangan, engkau tahu kepada siapa dapat memintanya. Asal engkau perlihatkan uang dinar gambar sepasang singa itu, engkau pasti akan diterima dan dibantu oleh semua telik sandi yang telah kami sebar di mana-mana. Engkau sudah tahu siapa yang dapat kauhubungi di Pacitan dan Madiun."

"Baik, vader. Saya berangkat sekarang,"

Kata Satyabrata sambil bangkit dari kursinya.

Willem Van Huisen menjabat tangannya dan pemuda itu lalu keluar dari ruangan itu.

Dia memasuki kamarnya, menyimpan kantung uang emas dan pistol dalam buntalan pakaiannya.

Karena dia akan melakukan perjalanan sebagai seorang pemuda Jawa biasa, maka dia membawa pakaian yang dibuntal sarung.

Di ruangan depan seorang gadis Belanda menghadangnya.

Gadis ini berusia sekitar tujuhbelas tahun, cantik jelita dengan rambut keemasan dan bermata biru.

"Heii, Jan! Aku dengar engkau akan pergi, betulkah? Engkau akan pergi ke mana, Jan?"

Gadis itu dengan akrabnya menggandeng tangan Satyabrata dan ditariknya pemuda itu, dibawanya duduk berhadapan dengannya di kursi yang berada di ruangan depan itu.

"Elsye, aku akan pergi, melakukan tugas yang diberikan oleh ayah kita,"

Kat.

Satyabrata sambil mengamati wajah gadis cantik itu.

Dia selalu terangsang gairahnya kalau berhadapan dengan Elsye yang demikian cantik manis dan manja, juga sikapnya yang demikian terbuka dan bebas berani merangkul dan menciumnya tanpa rikuh.

Akan tetapi dia tahu diri, dia tidak berani melangkah terlalu jauh terhadap gadis yang menganggapnya seperti kakak ini.

Dia dapat celaka kalau berani menodai gadis yang dimaksudkan untuk menjadi adik angkatnya ini dan membatasi sekedar menikmati pelukan dan ciuman saja.

"Tapi, ke mana engkau akan pergi melakukan tugas, Jan?"

Elsye bertanya manja sambil mengguncang-guncang tangan Satyabrata.

Satyabrata adalah seorang pemuda yang sudah mendapat pendidikan sebagai mata-mata dan dia memang cerdik.

Dia tahu bahwa dalam melaksanakan tugasnya ini, dia harus merahasiakannya dari siapapun, karena tugas ini adalah tugas rahasia.

Membuka rahasia ini, terhadap Elsye sekalipun, merupakan bahaya besar.

"Aku sendiri belum tahu ke mana aku harus pergi, Elsye."

"Akan tetapi, berapa lama engkau akan pergi meninggalkan aku, Jan?"

"Mudah-mudahan tidak terlalu lama, Elsye. Setelah selesai tugasku, aku tentu segera pulang."

Elsye bangkit berdiri dan merangkul leher pemuda itu.

"Jan, aku akan sangat kehilangan kau!"

Satyabrata merasa senang sekali kalau dirangkul gadis manis itu. Jantungnya berdebar.

"Akupun akan sangat rindu padamu, Elsye. Nah, sekarang selamat tinggal. Ayah kita akan marah kalau aku berlama-lama menunda kepergianku."

Satyabrata menciumnya.

Akan tetapi tidak seperti biasa kalau dia mencium gadis ini tentu mencium kedua pipinya, sekali ini dia mencium bibirnya.

Hal ini dilakukan seolah tidak sengaja.

Akan tetapi betapa kaget, heran dan juga senang hatinya ketika merasa betapa gadis itu membalas ciumannya dengan hangat dan penuh kemesraan!

Sampai beberapa lama mereka berciuman dan ketika akhirnya mereka saling merenggangkan muka, keduanya bermerah muka.

Akan tetapi mata mereka bersinar-sinar aneh seolah mereka telah menemukan sesuatu yang membahagiakan.

"Jan, selamat jalan dan jangan lupakan aku, Jan!"

Satyabrata keluar dari gedung diantar Elsye sampai keluar serambi depan.

Dia, melanjutkan perjalanan setelah menoleh beberapa kali dan saling melambaikan tangan dengan Elsye.

Di luar gedung telah menanti seorang pelayan yang sudah mempersiapkan seekor kuda yang besar.

Dia melompat ke atas punggung kuda kemudian melarikan kuda itu keluar dari halaman.

Berbekal banyak uang dan kepandaian yang cukup tangguh, akhirnya pada suatu hari Satyabrata muncul di perguruan Jatikusumo.

Dia berhenti di depan gapura perkampungan Jatikusuman sebagai seorang pemuda dusun yang berpakaian sederhana, membawa buntalan sarung butut berisi pakaian.

Tentu saja dia telah menitipkan kuda dan uang emasnya kepada kaki tangan Kumpeni yang berada di Pacitan, sedangkan pistolnya dia simpan di sebelah dalam bajunya, terikat kuat-kuat pada badannya.

Perguruan Jatikusumo kini merupakan sebuah perkumpulan yang teratur dan anak buahnya dilatih seperti pasukan perajurit.

Di pintu gapura perkampungan itu, siang malam dijaga oleh dua orang penjaga secara bergiliran.

Melihat seorang pemuda yang tidak dikenal berdiri di depan pintu perkampungan, tentu saja dua orang penjaga itu menjadi curiga dan keduanya sudah keluar dari gardu penjagaan menghadapi Satyabrata.

"Ki-sanak, engkau siapakah dan ada keperluan apa engkau berdiri di depan pintu perkampungan kami?"

Tanya seorang di antara mereka.

Satyabrata tersenyum dan seperti biasa, senyumnya yang manis dan ramah itu rnenghangatkan hati kedua orang murid Jatikusumo itu.

Dia membungkuk dengan sopan dan menjawab.

"Maafkan saya, akan tetapi apakah benar di sini perguruan Jatikusumo?"

Dua orang murid Jatikusumo itu saling pandang dan mereka melirik ke arah papan yang tergantung di gapura itu. Papan itu tertulis dengan huruf besar dan jelas "Perguruan Jatikusumo"

Dan orang ini masih bertanya. Ini membuktikan bahwa pendatang ini adalah seorang dusun bodoh yang buta huruf.

"Benar sekali. Di sini perguruan Jatikusumo. Andika siapa dan ada keperluan apa?"

"Nama saya Satya,"

Satyabrata memperpendek namanya agar terdengar sederhana karena dia tahu bahwa nama lengkapnya terlalu gagah dan indah bagi seorang pemuda dusun.

"Dan kedatangan saya ini ingin menghadap ketua atau guru perguruan Jatikusumo. Saya harap andika berdua sudi membantu saya untuk menghadapkan saya kepada guru andika."

"Kami sudah tidak mempunyai guru di sini. Guru tua kami sudah meninggal dunia kurang lebih sepuluh tahun yang lalu. Kini hanya ada ketua atau pemimpin kami."

"Kalau begitu, saya ingin menghadap pemimpin andika."

"Nanti dulu, ki-sanak. Hanya kalau ada urusan penting orang boleh menghadap ketua kami. Kalau urusan kecil cukup diselesaikan oleh kami para murid atau anggauta. Karena itu, beritahukan dulu apa kepentinganmu agar kami pertimbangkan apakah engkau pantas menghadap ketua atau cukup berurusan dengan kami saja."

"Saya kira saya harus menghadap ketua sendiri karena saya bermaksud untuk minta agar diterima menjadi seorang murid Jatikusumo,"

Kata Satyabrata.

"Ah, begitukah? Kalau begitu, tentu saja engkau harus menghadap pimpinan kami karena hanya ketua yang dapat memutuskan apakah engkau dapat diterima atau tidak. Mari, ikut aku, Satya,"

Kata orang pertama.

Ia lalu mengajak Satya memasuki perkampungan sedangkan orang kedua tetap berjaga di situ.

Sambil berjalan di sisi penjaga tadi, Satyabrata memperhatikan keadaan perkampungan itu.

Rumah-rumah yang sederhana namun cukup bagus berada di perkampungan itu.

Juga terdapat wanita dan kanak-kanak yang semuanya berpakaian cukup pantas.

Agaknya keadaan para murid atau anggauta Jatikusumo cukup baik, Dia teringat akan ibunya yang pada malam keberangkatannya itu dia pamiti.

Ibunya tinggal di rumah kecil sederhana bersama seorang wanita tua yang membantu ibunya.

Ketika dia berpamit dan mengatakan bahwa dia hendak pergi melaksanakan tugas yang diberikan oleh ayah angkatnya, tanpa memberitahukan apa tugas itu dan ke mana dia akan pergi, ibunya memberi nasihat kepadanya.

"Anakku Satyabrata, ingatlah selalu bahwa biarpun ayahmu adalah seorang kulit putih, namun ibumu ini seorang wanita Jawa dan engkau dilahirkan pula di Nusa Jawa. Karena itu, engkau harus selalu membela nusa dan bangsa Jawa."

Dia tidak menentang nasihat ibunya itu.

Bukankah dia kini sedang bekerja untuk Kumpeni yang sedang berusaha untuk memakmurkan bangsanya menentang Mataram yang angkara murka?

Ketika akhirnya dia dihadapkan kepada suami isteri yang menjadi pimpinan perguruan Jatikusumo, dia merasa tegang juga.

Suami isteri yang berpakaian sederhana iu begitu gagah dan berwibawa.

Sebelumya dia sudah mendapatkan banyak keterangan tentang pimpinan Jatikusumo.

Dia tahu bahwa ketua Jatikusumo bernama Ki Cangak Awu dan isterinya bernama Nyi Pusposari.

Dan sekarang kedua orang itu telah berhadapan dengan dia.

Dia memandang mereka dan merasa kagum.

Ki Cangak Awu yang berusia kurang lebih tigapuluh lima tahun itu bertubuh tinggi besar, wajahnya penuh kejantanan, sepasang matanya bersinar tajam memandang penuh selidik.

Di sampingnya duduk Pusposari yang berusia kurang lebih tiga puluh tahun, hitam manis dan pandang matanya lembut.

Penjaga itu membungkuk dan memberi hormat dengan sembah, lalu melapor.

"Ki raka, inilah si Satya yang ingin menghadap."

Ki Cangak Awu memberi isyarat kepada anggauta itu untuk mundur, kemudian kepada Satyabrata dia berkata, suaranya tenang dan besar seperti suara Sang Harya Sena.

"Duduklah, orang muda!"

"TERIMA KASIH, paman,"

Kata Satyabrata sambil duduk bersila di atas lantal yang ditilami tikar pandan.

Dia melirik dan melihat betapa wajah suami isteri itu tampak tenang dan biasa saja yang berarti bahwa sebutan paman darinya itu tidak menyinggung perasaan mereka.

Sebutan yang dipergunakan murid Jatikusumo tadi, yang usianya sudah tiga puluh lebih, yaitu sebutan Ki-raka terhadap pemimpinnya menunjukkan bahwa ketua Jatikusumo ini memang seorang yang sederhana.

"Menurut laporan penjaga, andika bernama Satya dan ingin menjadi murid Perguruan Jatikusumo. Dari manakah andika berasal?"

Tanya Ki Cangak Awu.

"Saya berasal dari Kabupaten Kendal, paman,"

Kata Satyabrata, sengaja mengaku dari Kendal yang dia sudah pelajari logat bicaranya dan dia sudah mempelajari pula keadaan kabupaten itu.

Cangak Awu mengangguk-angguk.

Pada waktu itu, yang menjadi Bupati Kendal adalah Ki Baurekso yang juga menjadi seorang senopati Mataram yang setia.

"Kenapa andika ingin menjadi murid Jatikusumno? Apa yang kauketahui tentang Jatikusumo?"

"Saya hanya mengetahui bahwa Perguruan Jatikusumo dipimpin oleh paman Ki Cangak Awu dan bibi (Lanjut ke

Jilid 08) Seruling Gading (Seri ke 02 -Serial Pecut Sakti Bajrakirana) Karya". Asmaraman S. Kho Ping Hoo

Jilid 08 Pusposari yang sakti mandraguna dan bahwa Jatikusumo mengaajarkan ilmu-ilmu pencak silat dan aji kanuragan yang ampuh kepada para muridnya.

Karena itu jauh-jauh saya datang ke sini untuk mohon diterima menjadi murid, paman,"

Kata Satyabrata dengan suara lembut dan sikap hormat dan manis budi. Cangak Awu saling pandang dengan Pusposari. Mereka berdua tertarik oleh gaya bicara dan sikap pemuda itu.

"Akan tetapi tidak mudah untuk menjadi murid dan anggauta keluarga besar Jatikusumo, Satya. Berat syarat-syaratnya!"

Kata Pusposari sambil menatap wajah tampan itu dengan tajam penuh selidik.

"Saya siap menerima semua syarat dan sanggup melaksanakannya, bibi."

"Satya, pernahkah engkau mempelajari aji kedigdayaan?"

Tiba-tiba Cangak Awu bertanya.

"Belum, paman."

Tiba-tiba Cangak Awu mendorongkan telapak tangan kirinya ke arah pemuda itu.

Serangkum angin pukulan menyambar ke arah Satyabrata.

Pemuda ini diam-diam terkejut, akan tetapi dia amat cerdik.

Dia merasa yakin bahwa seorang ketua perguruan seperti Cangak Awu tidak mungkin akan mencelakai orang yang tidak diketahui kesalahannya, maka diapun menerima saja ketika diserang angin pukulan itu.

Tubuhnya terjengkang dan bergulingan ke belakang.

Akan tetapi dia tidak terluka dan dia tahu bahwa ketua itu sengaja mengujinya untuk melihat apakah benar dia tidak pernah mempelajari ilmu bela diri.

Diapun pura-pura terkejut dan ketakutan.

Setelah bangkit dan bersila di tempat dia menyembah.

"Paman, mengapa paman melakukan itu? Apa kesalahan saya?"

Tanyanya dengar wajah heran dan penasaran, juga takut-takut. Cangak Awu tertawa lalu menggapai.

"Majulah dan duduk di tempatmu tadi, Satya. Aku hanya ingin melihat apakah benar engkau tidak pernah mempelajari ilmu kanuragan. Nah, sekarang tentang syarat-syarat itu. Kalau engkau sanggup melaksanakan syarat-syarat itu, engkau dapat kami terima menjadi murid Jatikusumo."

Satyabrata memperlihatkan muka girang.

"Apakah syarat-syarat itu, paman?"

"Ada dua syarat utama yang harus dilaksanakan setiap murid Jatikusumo. Pertama, dia harus selalu menentang kejahatan dan membela kebenaran dan keadilan, Dan kedua, dia harus selalu membela Kerajaan Mataram. Kalau sebagai murid Jatikusumo kelak engkau melanggar dua syarat ini, engkau akan menerima hukuman mati oleh pimpinan Jatukusumo. Nah, sanggupkah engkau menerima dan melaksanakan dua syarat itu?"

Dengan suara tegas Satyabrata menjawab.

"Saya terima dan saya sanggup melaksanakan, kanjeng paman!"

Demikianlah, Satyabrata diterima menjadi murid Jatikusumo.

Dia diperbolehkan mengikuti latihan pencak silat dari perguruan itu, tentu saja sebagai permulah hanya mempelajari dan melatih dasar-dasar gerakan ilmu pencak silat Jatikusumo.

Semua berjalan dengan baik dan lancar karena Satyabrata pandai membawa diri, rajin berlatih, juga rajin bekerja di sawah ladang seperti para murid lain.

Di belakang perkampungan Jatikusumo terdapat perbukitan dan di lereng sebuah bukit terdapat sebuah sumur tua.

Bukit kecil dan sumur tua ini merupakan daerah yang dianggap keramat bahkan menjadi larangan bagi para murid Jatikusumo untuk mengunjunginya.

Karena tidak ada orang berani datang ke situ, maka daerah bukit kecil dengan sumur tuanya itu terkenal angker dan menakutkan.

Bahkan ada desas-desus di antara para murid Jatikueumo bahwa ada rohroh penasaran liaran di perbukitan itu, berasal dari sumur tua dan roh-roh penasaran ini suka mengganggu orang.

Satyabrata tertarik sekali mendengar tentang sumur tua di bukit belakang perkampungan itu.

Setelah tinggal di perkampungan Jatikusumo selama tiga bulan, dia dapat akrab dengan para murid lain karena dia pandai mengambil hati dan pandal membawa diri.

Semua orang, termasuk Cangak Awu dan Pusposari, menganggap dia seorang pemuda yang rajin, ramah dan menyenangkan.

Mulailah Satyabrata memancing-mancing percakapan dengan murid-murid tertua, mengarahkan percakapan kepada gerakan yang dilakukan Mataram untuk menundukkan semua kadipaten dl Jawa Timur, termasuk Madiun dan Pacitan sendiri.

Dia memancing dengan halus dan tidak kentara untuk melihat apakah para murid yang menjadi kawula Kadipaten Madiun dan Pacitan itu rela melihat daerah mereka kini dikuasai Mataram.

Dengan percakapan yang nadanya miring ini perlahan-lahan Satyabrata berhasil mengusik hati para murid yang sebagian besar berasal dari daerah-daerah di Jawa Timur dan yang daerahnya sudah dikuasai Mataram.

Ia berhasil menimbulkan kesan bahwa Mataram bersikap angkara murka dengan menaklukkan semua daerah kadipaten itu.

Melihat keadaan bukit kecil dengan sumur tua yang dianggap angker itu demikian sepi tak pernah dijenguk manusia, Satyabrata segera memanfaatkannya.

Diam-diam dia seringkali mendaki bukit itu dan melakukan penyelidikan.

Sumur tua itu tak tampak dasarnya dan memang menyeramkan, seolah ada hawa yang aneh keluar dari lubang sumur.

Satyabrata menganggap tempat ini baik sekali sebagai tempat persembunyian atau sebagai pusat pertemuan.

Ia sudah mengambil uang emas dan pistolnya dan menyimpan benda-benda ini di sebuah guha kecil yang terdapat di dinding batu gunung dekat sumur kecil tua itu.

Kalau kelak dia berhasil menghasut para murid Jatikusumo, tempat itu baik sekali untuk dipergunakan sebagai tempat mengadakan pertemuan, pikirnya.

Karena tertarik, pada suatu siang ketika dia mengaso dari bekerja di ladang membantu seorang murid lain yang usianya sudah lima puluh tahun lebih, bernama Sakimun.

Ada peraturan di perguruan Jatikusumo bagi para murid untuk saling menyebut "raka"

Kepada yang lebih tua dan "rayi"

Kepada yang lebih muda.

Bahkan Cangak Awu sendiri juga mempergunakan aturan itu karena dia tidak mau dianggap sebagai guru.

Satyabrata mempergunakan kesempatan mengaso itu untuk bertanya kepada murid yang sudah lama menjadi anggauta keluarga besar Jatikusumo tentang sumur tua yang dikeramatkan itu.

Mereka duduk di bawah pohon yang teduh, yang melindungi mereka dari sinar matahari yang panas menyengat.

"Ki-raka Sakimun, sebetulnya ada apakah dengan sumur tua di bukit belakang itu. Kata beberapa orang raka, di sana pernah terjadi hal-hal yang hebat dan mengerikan. Akan tetapi merekapun tidak tahu dengan jelas apa yang terjadi karena hal itu sudah berlalu selama bertahuntahun. Andika yang lama menjadi murid Jatikusumo, tentu mengetahui. Sudikah andika menceritakannya kepadaku?"

Sakimun menghela napas panjang.

"Sebetulnya kisah itu merupakan rahasia Jatikusumo yang tidak pantas terdengar orang lain karena hal itu menjadi noda hitam bagi Jatikusumo. Akan tetapi karena andika kini telah menjadi anggauta keluarga besar Jatikusumo, baiklah akan kuceritakan secara singkat saja."

"Ceritakanlah, Ki-raka, dan aku sebelumnya mengucapkan banyak terima kasih atas kepercayaanmu kepadaku,"

Kata Satyabrata.

"Rayi Satya, berpuluh tahun yang lalu, yang menjadi ketua Jatikusumo adalah Eyang Buyut Guru Resi Limut Manik. Pengangkatannya itu menimbulkan rasa iri dalam hati saudara seperguruannya yang bernama Resi Ekomolo. Resi Ekomolo yang jahat ini memperkosa isteri Eyang Buyut Guru Resi Limut Manik sehingga wanita itu membunuh diri. Lalu terjadi perkelahian antara kedua orang tokoh besar dan datuk Jatikusumo itu. Akhirnya Resi Ekomolo dapat dikalahkan, kedua kakinya lumpuh dan dia dibuang ke dalam sumur tua itu."

"Ah, dia dibuang hidup-hidup ke dalam sumur itu, Ki-raka?"

"Ya, akan tetapi dia tidak mati. Aku masih ingat dulu, seringkali di waktu malam hari terdengar teriakan melolong-lolong dari sumur itu. Mendiang Bapa Guru Bhagawan Sindusakti selalu mengirim makanan, memasukkannya ke dalam sumur itu. Kemudian, sekitar sepuluh tahun lebih yang lalu, terjadi kegemparan ketika seorang murid Jatikusumo, yaitu adik seperguruan Kiraka Cangak Awu yang bernama Priyadi, tahu-tahu telah dapat mengeluarkan Resi Ekomolo dari dalam sumur dan Priyadi ini menjadi muridnya."

"Wah, tentu dia menjadi sakti mandra guna, Ki-raka!"

Seru Satyabrata tertari sekali.

"Demikianlah, rayi Satya. Resi Ekomolo memang sakti mandraguna dan semua aji kesaktiannya dia turunkan kepada Priyadi itulah. Setelah Priyadi menjadi sakti madraguna, dia berkhianat, membantu Kadipaten Wirosobo dan menentang Mataram. Tentu saja para satria yang membela Mataram menentangnya dan terjadi pertempuran hebat. Akan tetapi akhirnya Priyadi dapat dikalahkan. Sementara itu, Priyadi telah melemparkan kembali gurunya, yaitu Resi Ekomolo ke dalam sumur tua. Dan ketika dia bertanding dengan para satria ia melarikan diri ke bukit di belakang itu. Kemudian, dia terkena pukulan dan terjatuh ke dalam sumur tua. Hanya terdengar jerit mengerikan bercampur suara tawa menyeramkan seperti iblis, lalu sunyi. Agaknya Priyadi yang pengkhianat dan Resi Ekomolo yang jahat itu mati dalam sumur tua dan roh mereka menjadi roh penasaran yang menghantui sumur itu."

Satyabrata terkesan sekali dengan cerita yang hebat itu.

"Akan tetapi, Ki-raka, kenapa tempat itu menjadi tempat terlarang untuk dikunjungi?"

"Tempat itu menyimpan rahasia yang menodai nama besar Jatikusumo, maka sebaiknya disimpan dan dijauhi. Nah, mari kita lanjutkan pekerjaan kita!"

Mereka bekerja kembali, akan tetapi cerita itu selalu terbayang dalam benak Satyabrata.

Pada suatu siang, ketika dia mendapatkan kesempatan, dia mendaki bukit yang sunyi itu dan menjenguk ke dalam sumur.

Gelap, tidak tampak apa-apa dari atas.

Akan tetapi harus diakuinya bahwa ada sesuatu yang membuat bulu kuduknya meremang, seolah ada hawa yang menyeramkan keluar dari lubang sumur itu.

Satyabrata adalah seorang pemuda pemberani dan pendidikan dari ayah angkatnya, Willem Van Huisen membuat dia tidak gentar menghadapi segala macam ketahyulan.

Dia memang sudah mempunyai niat yang teguh untuk menyelidiki sumur tua yang mengandung cerita yang luar biasa dan menyeramkan itu.

Karena itu, dia sudah mempersiapkan diri ketika siang hari itu dia mendaki bukit dan mendatangi sumur itu.

Dia sudah mempersiapkan segulung tali, bahkan sudah mempersiapkan sebatang obor.

Karena yakin bahwa di tempat larangan itu tidak akan ada orang datang, dia lalu mengikatkan ujung tali ke sebatang pohon waru yang tumbuh di dekat sumur, kemudian tanpa ragu dia merayap turun melalui tali yang dijulurkan ke dalam sumur.

Kakinya menginjak dasar sumur yang kering namun keadaan di situ remang-remang karena hanya menerima sinar matahari yang menyorot ke dalam sumur.

Dia meraba-raba dan mendapat kenyataan bahwa dasar sumur itu menembus ke sebuah terowongan yang cukup besar, lebarnya tidak kurang dari satu meter dan tinggi dua meter.

Akan tetapi di depan sana remang-remang, maka dia lalu menyalakan obor yang dibawanya turun untuk menerangi terowongan.

Kemudian dengan tabah dia memasuki terowongan.

Dia tiba di sebuah ruangan setelah berjalan agak jauh, sebuah ruangan yang luas seperti sehuah kamar.

Cahaya obor menerangi ruangan itu dan dia melihat pemandangan yang membuatnya bergidik karena amat menyeramkan.

Di atas batu yang rata dan lebar itu terdapat dua kerangka manusia.

Kerangka yang berada di atas menggunakan kedua tangan mencekik leher kerangka yang berada di bawah, dan kerangka yang berada di bawah itu memegang sebatang keris yang menusuk masuk di antara tulang iga kerangka yang berada di atas.

Mudah saja membayangkan keadaan dua kerangka itu.

Tentu kedua orang itu dulu saling membunuh.

Yang satu mencekik yang lain dan orang yang dicekik itu menusukkan sebatang keris ke dada orang pertama.

Agaknya dengan cara ini, keduanya tewas.

Satyabrata teringat akan kisah yang diceritakan Sakimun kepadanya, tentang Resi Ekomolo dan Priyadi.

Dia dapat menduga bahwa orang yang mencekik itu tentu Resi Ekomolo dan yang menusukkan keris itu tentu Priyadi.

Keris itu mencorong ketika tertimpa sinar obor dan Satyabrata tertarik sekali.

Dia mendekati dua kerangka itu dan menjulurkan tangan untuk mengambil keris itu.

Dia.

memegang gagang keris dan mencabut.

Akan tetapi ternyata keris itu terjepit di antara tulang iga dan sukar dicabut.

Satyabrata mengerahkan tenaganya dan menarik kuat-kuat.

Keris dapat tercabut akan tetapi dua kerangka itu runtuh menimbulkan suara berkelotakan!

Satysabrata melompat ke belakang agar jangan tertimpa reruntuhan tulang.

Dia mengamat keris di tangan kanannya.

Gagang keris itu berbentuk sebuah kepala naga dan mata keris itu menjadi lidahnya.

Keris itu seperti lidah naga, tidak berlekuk namun pamornya mencorong dan mudah diduga bahwa keris itu merupakan sebatang keris pusaka yang ampuh!

Dia menemukan warangka (sarung) keris itu di antara reruntuhan tulang, dan diambilnya warangka yang masih baik itu kemudian dimasukkan keris ke dalam warangka.

Setelah itu, dengan obor di tangannya, dia memeriksa dinding ruangan itu.

Ternyata di sana terdapat banyak coretan gambar berbentuk manusia dan ada pula tulisan huruf-huruf yang jelas.

Dia merasa girang sekali.

Ternyata tulisan dan gambar-gambar itu merupakan pelajaran ilmu pencak silat!

Gambar-gambar itu merupakan gerakan-gerakan dari jurus-jurus ilmu silat Aji Margopati!

Dan tulisan-tulisan ilu mengajarkan berbagai aji kesaktian yang hebat, yang disebut Aji Jerit Nogo dan Aji Tunggang Maruto.

Membaca sepintas naja Satyabrata maklum bahwa Aji Jerit Nogo adalah sebuah aji yang mempergunakan tenaga sakti iewat suara untuk melumpuhkan lawan, sedangkan Aji Tunggang Maruto adaiah sebuah aji untuk meringankan tubuh dan berlari cepat.

Akan tetapi tiga ilmu ini cukup rumit, perlu penelitian mendalam untuk mempelajarinya dan melatihnya, dan di sudut kiri terdapat tulisan yang mengajarkan cara bersamadhi untuk menghimpun tenaga sakti yang aneh, karena dilakukan dengan jungkir balik, kepale di bawah kaki di atas!

Satyabrata tertarik sekali dan timbul keinginannya untuk mempelajari semua ilmu itu.

Dia menduga bahwa ilmu itu tentu sengaja dibuat oleh Resi Ekomolo dahulu.

Tiba-tiba obor di tangannya padam.

Gelap sekali di situ.

Karena minyak obor itu agaknya sudah habis dan tidak dapat dinyalakan lagi, Satyabrata duduk bersila di lantai dan berpikir, bagaimana caranya untuk dapat mempelajari semua ilmu itu.

Sampai lama dia duduk melamun dan dia merasa betapa keadaan tidak segelap tadi.

Kini menjadi remang-remang dan bahkan setelah matanya biasa dengan keremangan itu, dia dapat melihat gambar dan tulisan di dinding dengan baik, dan dapat membaca semua tulisan itu.

Kiranya ruangan itu mendapat penerangan dari atas.

Ada retak-retak memanjang di langit-langit batu itu dan sinar matahari dapat masuk melalui celah-celah retakan.

Pada waktu siang, tempat ini tidaklah begitu gelap, pikirnya.

Tentu saja kalau mata sudah terbiasa dengan keremangan itu.

Pemuda yang cerdik itu lalu membuat rencana.

Dia harus dapat mempelajari semua ilmu itu dengan sembunyi.

Tidak akan ada orang mengetahui kalau dia masuk ke sumur ini.

Akan tetapi kalau dia masuk dengan tali, terdapat kemungkinan ada orang melihat tali itu kalau kebetulan ada yang mendaki bukit, walaupun kemungkinan itu sedikit sekali.

Dia harus dapat masuk dan keluar dari sumur itu tanpa tali.

Untuk masuk ke sumur, tidak sukar.

Dia dapat melompat turun karena dasarnya dari tanah, tidak mengandung air.

Akan tetapi untuk naik tanpa tali itulah yang sukar.

Dia lalu mendapat gagasan yang baik.

Dia bangkit berdiri, menghunus keris yang ditemukan tadi dan ketika dia menusukkan keris pada dinding sumur, tepat di dasar sumur, senjata runcing itu dapat menembus tanah padas yang keras dengan amat mudahnya!

Ternyata benar dugaannya.

Keris itu merupakan senjata yang ampuh sekali.

Timbul kegembiraannya dan mulailah dia menusuk dan mencokel dinding padas dari bawah ke atas dengan bergantungan pada tali yang diikatkan pada batang pohon di atas.

Dia membuat semacam anak tangga pada dinding padas itu, untuk dipergunakan sebagai panjatan .

Dengan adanya anak tangga itu, tanpa talipun dia akan dapat naik turun sumur.

Satyabrata lalu merayap naik melalui lubang-lubang yang dibuatnya pada dinding padas.

Dengan mengaitkan jari tangannya dan menginjakkan kakinya pada lubang-lubang itu, dia merayap naik bagaikan seekor kera.

Tentu saja untuk merayap seperti itu membutuhkan kekuatan dan kecekatan dan ini dimiliki oleh Satyabrata yang sejak kecil sudah melatih diri dengan olah kanuragan.

Setelah tiba di luar sumur, hatinya merasa lega karena tidak ada orang di bukit itu, seperti biasanya.

Tiba-tiba dia teringat bahwa keris itu masih ada padanya, di dalam warangka dan terselip di ikat pinggangnya.

Dia teringat bahwa keris itu akan mendatangkan kecurigaan orang yang melihatnya.

Tentu akan timbul pertanyaan dari mana dia memperolehnya dan lebih berbahaya lagi kalau ada orang di Jatikusumo yang mengenal keris itu.

Dia menduga bahwa keris itu tentulah milik orang yang namanya Priyadi, murid Jatikusumo yang berkhianat itu.

Dugaannya ini memang tidak keliru.

Keris itu adalah keris pusaka Kyai Ilat Nogo (Lidah Naga) yang dulu diberikan oeh Adipati Wirosobo kepada Priyadi sebagai hadiah karena pemuda itu membantu gerakan Wirosobo yang menentang Mataram.

Mengingat akan bahayanya kalau orang melihat keris itu ada padanya, Satyabrata lalu melempar keris itu kembali ke dalam umur.

Biarlah keris itu berada di dasar umur karena sewaktu-waktu dia dapat saja mengambilnya, pikirnya.

Dia lalu menarik tali yang tergantung ke dalam sumur, menggulungnya dan menyingkirkannya dari itu.

Demikianlah, mulai hari itu, setiap mendapat kesempatan, Satyabrata tentu memasuki sumur tua itu.

Bahkan dia juga membawa uang emasnya dan menyimpannya di dalam sumur tua.

Hanya pistolnya yang masih disimpan dan disembunyikan di antara batu-batu bukit itu, dipersiapkan kalau-kalau dia membutuhkannya.

Setiap kali memasuki sumur, dia mempelajari tulisan dan gambar-gambar itu.

Karena tahu bahwa yang menjadi dasar dari semua aji kanuragan adalah tenaga sakti, tanpa dorongan tenaga sakti maka semua aji itu tidak ada gunanya, maka diapun pertam-tama mempelajari cara bersamadhi jungkir balik untuk menghimpun tenaga sakti.

Dengan cara bersamadhi jungkir balik seperti itu dan mengatur pernapasan seperti yang diajarkan oleh tulisan di dinding, Satyabrata mulai dapat menghimpun tenaga sakti secara aneh sekali.

Dia dapat membangkitkan tenaga dalam yang muncul dari bawa pusarnya.

Kemudian dengan otak yang dialiri banyak darah itu pikirannya menjadi kuat dan dia dapat menggunakan pikirannya untuk menguasai tenaga dalam yang berputar-putar itu sehingga mampu mengalirkan tenaga dalam ini ke manapun kehendaki.

Akan tetapi, tanpa disadarinya, jalan darah ke dalam otaknya yang berlebihan ini yang mengalir secara tidak wajar, juga mendatangkan akibat, sedikit demi sedikit rusak jaringan syarafnya dan mendatangkan kelainan pada pikirannya.

Sering kali muncul bayangan-bayangan aneh dalam benaknya yang membuat dia kadang ingin sekali tertawa karena geli dan merasa lucu, dan ada kalanya membuat dia ingin sekali menangis karena sedih dan rasa duka.

Bagaimanapun juga, hatinya merasa gembira sekali karena setelah berlatih beberapa bulan lamanya, dia merasa betapa tenaganya bertambah kuat sekali dan kini dia dapat memanjat atau merayap naik turun sumur itu dengan mudah sekali dan dengan kecepatan melebihi seekor kera.

Setelah banyak murid Jatikusumo mulai terusik pikirannya oleh percakapan mereka dengan Satyabrata yang membangkit rasa setia kepada daerah mereka dan menganggap bahwa daerah mereka dikuasai dan "dijajah"

Oleh Mataram, Satyabrata mulai dengan bujukannya tingkat kedua mulai memompakan anggapan dalam pikiran mereka bahwa Kumpeni Belanda bermaksud baik terhadap bangsa di Nusa Jawa.

Mereka datang untuk memberi pendidikan, dan untuk mendatangkan kemakmuran dengan berdagang, membeli rempah-rempah dan hasil bumi!

Dia mulai menceritakan tentang kehebatan dan kemajuan bangsa Belanda, tentang kehebatan bedil dan meriam mereka, tentang harta benda dan barang-barang indah mereka, tentang kapal-kapal mereka yang besar, kuat dan mewah.

Pendeknya, dia melempar segala keburukan kepada Mataram dan segala pujian kebaikan kepada Kumpeni Belanda!

Akan tetapi, di antara para pendengar itu, terdapat Sakimun yang merasa curiga.

Bukan saja dia merasa aneh sekali mendengar nada bicara Satyabrata memburuk-burukkan Mataram dan memuji-muji Kumpeni Belanda, bahkan dia juga melihat sesuatu yang aneh pada sikap pemuda itu.

Kadang dia melihat sinar mata pemuda tu mencorong dan mengerikan!

Mulailah Sakimun merasa curiga dan mulai dia diam-diam memperhatikan murid baru itu.

Dan kecurigaan serta keheranannya bertambah ketika dia melihat pemuda itu apabila sedang berada seorang diri, suka tertawa-tawa sendiri seperti orang yang miring otaknya!

Pada suatu siang Sakimun melihat Satyabrata mendaki bukit larangan itu.

Tentu saja dia merasa terkejut dan heran bukan main.

Ki Cangak Awu sendiri mengeluarkan larangan keras bagi para murid untuk mendaki bukit itu dan selama ini tidak ada seorangpun murid berani melanggar larangan.

Akan tetapi dia melihat murid baru yang mencurigakan itu mendaki bukit itu seorang diri!

Sungguh amat mencurigakan sekali!

Karena itu, bergegas dia pergi menghadap pemimpin perguruan Jatikusumo.

Pada saat itu, Cangak Awu sedang berada di ruangan tengah bersama Pusposari.

Kebetulan sekali mereka memang sedang rnembicarakan murid baru itu, Satya yang tampak sebagai murid yang menyenangkan.

Pusposari melaporkan kepada suaminya bahwa Satya itu rajin sekali, tanpa diperintah suka membersihkan rumah dan pekarangan, membantu semua pekerja.

Cangak Awu juga bercerita kepada isterinya betapa pemuda itu selain rajin membantu pekerjaan di sawah ladang, juga amat tekun berlatih dasar-dasar ilmu pencak silat Jatikusumo dan tampaknya memiliki bakat yang baik sekali di samping tenaga yang besar.

"Dia kelak akan menjadi seorang murid yang tangguh dan dapat diandalkan,"

Antara lain Cangak Awu memuji.

Kedatangan Sakimun yang tiba-tiba menghadap mereka itu mengejutkan suami isteri pimpinan Jatikusumo itu.

Apalagi mereka dapat melihat betapa wajah dan pandang mata Sakimun membayangkan kegelisahan.

"Raka Sakimun, kepentingan apakah yang andika bawa maka siang hari begini andika menemui kami?"

Tanya Ki Cangak Awu.

Biarpun dia dan isterinya diangkat menjadi pimpinan, namun pendekar ini selalu bersikap ramah dan hormat kepada orang yang lebih tua dalam perguruan itu.

Hal ini membuktikan bahwa para murid Jatikusumo bukan hanya mendapatkan pendidikan olah kanuragan, akan tetapi juga pendidikan tata susila yang baik.

"Rayi Cangak Awu, ada kejadian yang amat aneh dan juga amat mencurigakan terjadi dalam perguruan kita, maka saya cepat datang menghadap untuk melaporkan kejadian itu."

"Ada apakah, Ki-raka? Ceritakanlah!"

Kata Cangak Awu pendek dan tegas, seperti yang telah menjadi wataknya.

"Saya hendak melaporkan tentang rayi Satya, murid baru itu."

"Raka Sakimun, ada apa dengan Satya? Bukankah dia seorang murid dan pembantu yang amat baik? Cepat ceritakan, ada apakah dengan dia?"

Tanya Pusposari.

"Akhir-akhir ini, dalam percakapannya dengan para murid lain, rayi Satya dalam kata-katanya bernada menyalahkan Mataram yang dikatakannya menjajah kadipaten-kadipaten daerah lain, bahkan bernada membujuk para murid agar membela daerah masing-masing dari penindasan Mataram."

"Ah, benarkah itu, Raka Sakimun?"

Teriak Cangak Awu kaget.

"Benar, saya mendengarnya sendiri. Juga, selain mernburuk-burukkan Mataram, dia memujimuji Kumpeni Belanda yang dikatakannya datang membawa kemakmuran kepada rakyat dan membantu rakyat untuk menentang Sultan Agung yang dikatakannya angkara murka."

"Jahanam keparat!"

Ki Cangak Aw bangkit dari kursinya dan berdiri dengan marah sambil mengepal tangannya.

"Tenang dan bersabarlah, rakanda!"

Kata Pusposari yang juga bangkit dan menyentuh lengan suaminya.

"Biarkan Raka Sakimun melanjutkan laporannya."

"Apalagi yang perlu dilaporkan? Semua itu sudah cukup!"

Kata Cangak Awu dengan kasar.

"Masih ada, rayi. Ada yang lebih aneh lagi. Tadi saya melihat rayi Satya mendaki bukit larangan. Karena tidak berani mengikutinya mendaki bukit larangan, maka saya langsung menghadap rayi untuk memberi laporan."

"Cukup! Mari kita pergi, diajeng! Kita harus mengurus bocah itu! Andika juga ikut, Raka Sakimun, untuk menjadi saksi!"

"Akan tetapi, rayi. Saya... tidak berani mendaki bukit...."

"Tidak apa. Sekali ini, bersama kami andika boleh mendaki bukit larangan itu. Mari kita cepat mengejarnya ke sana!"

Kata Cangak Awu.

Mereka bertiga lalu bergegas menuju ke bagian belakang perkampungan Jatikusuman dan mendaki bukit larangan.

Beberapa orang anggauta Jatikusumo yang melihat ini, memandang dengan bengong, ai.an tetapi mereka tidak berani bertanya.

Mereka hanya menduga bahwa pasti terjadi hal yang hebat di bukit keramat itu sehingga suami isteri pimpinan mereka bersama Sakimun mendaki bukit itu dan tampak tergesa-gesa.

Dengan mengerahkan tenaga, tiga orang itu berlari cepat mendaki bukit dan tak lama kemudian mereka sudah berdiri dekat sumur tua, melongok ke dalam sumur.

Akan tetapi keadaan di sumur itu biasa-biasa saja, masih sunyi dan ketika melo'ngok ke bawah sumur, masih gelap dan tidak tampak apa-apa.

Tidak ada sesuatu yang mencurigakan.

Mereka bertiga mengamati keadaan sekeliling, akan tetapi sunyi saja.

"Di rnana dia?"

Tanya Cangak Awu.

"Tidak ada orang di sini,"

Kata Pusposari.

"Akan tetapi saya melihat sendiri dia mendaki bukit ini tadi. Dia pasti berada di sini, mungkin lebih ke atas sana,"

Kata Sakimun penasaran.

"Mari kita cari ke puncak bukit,"

Kata Cangak Awu.

Mereka bertiga lalu berjalan cepat mendaki ke puncak.

Ketika tiga orang itu pergi, Satyabrato merayap naik keluar dari sumur.

Tadi dia sudah mendengar kedatangan mereka, bahkan mendengarkan ucapan tiga orang itu.

Dia keluar dari sumur dan cepat bersembunyi di antara batu-batu tak jauh dart sumur dan untuk berjaga diri, dia mengambil pistolnya.

Dia tidak berani turun bukit karena kalau hal itu dia lakukan mungkin saja akan tampak dari atas.

Dari percakapan mereka bertiga tadi, dia hanya tahu bahwa Sakimun melihat dia mendaki bukit lalu melaporkan kepada suami isterl pimpinan itu yang kemudian mengejarnya.

Mereka tentu belum mengetahui akan semua rahasianya.

Kesalahannya hanya melanggar pantangan mendaki bukit itu.

Satyabrata menunggu dengan jantung berdebar, pistolnya siap diselipkan di ikat pinggang, tertutup bajunya.

Setelah tiba di puncak, tiga orang itu mengamati keadaan sekeliling.

Ternyata tidak tampak bayangan seorangpun di seluruh permukaan bukit yang dikeramatkan itu.

"Bagaimana ini, Raka Sakimun? Dia benar-benar tidak berada di bukit ini,"

Tegur Ki Cangak Awu.

"Tentu dia sudah turun lebih dulu. Sebaiknya kita sekarang menemuinya di dalam perkampungan dan kita desak die agar mengakui semua perbuatannya. Saya yang menjadi saksi, dan saya kira masih banyak murid Jatikusumo yang bersedia menjadi saksi,"

Kata Sakimun penasaran juga.

Mereka menuruni puncak dan ketika mereka tiba di dekat sumur tua, pendengaran Cangak Awu dan Pusposari yang tajam menangkap gerakan orang.

Mereka memutar tubuh dengan cepat dan masih sempat melihat berkelebatnya bayangan orang di antara batu-batu tak jauh dari situ.

"Siapa di sana?"

Pusposari membentak nyaring.

Akan tetapi tidak ada jawaban.

Suami isteri itu saling pandang dan dengan pandang matanya, Cangak Awu memberi isyarat kepada isterinya untuk meneari dan menghampiri ke arah kumpulan batu-batu besar itu dari kiri sedangkan dia menghampiri dari kanan sehingga mereka membuat gerakan mengepung dari kanan kiri agar bayangan yang bersembunyi di balik batu-batu itu tidak dapat melarikan diri.

Sakimun tetap berdiri di dekat sumur tua.

Akan tetapi ketika suami isteri yang berpencar itu memutari kumpulan batu-batu besar, bagaikan seekor kera gesitnya, Satyabrata berloncatan ke atas batu-batu itu dan langsung menghampiri Sakimun yang berdiri di dekat sumur.

Melihat pemuda itu, Sakimun cepat menegur.

"Rayi Satya, engkau dicari pimpinan!"

"Raka Sakimun, tentu andika yang membocorkan rahasiaku kepada para pimpinan!"

Kata Satyabrata dan matanya mencorong aneh ketika dia memandang Sakimun.

"Tentu saja!"

Sakimun menjawab dengan berani karena dia memandang rendah kepada murid baru ini yang dianggapnya tidak akan mampu berbuat apa-apa terhadap dirinya.

"Engkau telah bersikap seperti pemberontak, memburuk-burukkan Mataram dan memuji-muji Belanda. Engkau malah berani melanggar pantangan mendaki bukit larangan ini!"

Tiba-tiba Satyabrata menyeringai, bukan tersenyum biasa, melainkan menyeringai aneh dan ketika tangan kanannya bergerak, dia sudah mencabut pistolnya dari ikat pinggangnya lalu menodongkannya ke arah dada Sakimun.

"Heh-heh, Sakimun, kalau begitu berarti engkau sudah bosan hidup!"

Sakimun terkejut.

Dia belum pernah melihat pistol, akan tetapi sudah mendengar akan keampuhan senjata api itu.

Maka, melihat dirinya ditodong, dia cepat menerjang dengan loncatan untuk mendahului dan menyerang pemuda itu.

"Darrrr !!"

Bunga api berpijar dari mulut pistol dan tubuh Sakimun tersentak ke belakang lalu roboh telentang dan tewas seketika!

Satyabrata sering berlatih menembak, namun baru sekali ini dia merobohkan orang dengan tembakan pistolnya.

Maka dia lalu menghampiri tubuh Sakimun yang menggeletak di dekat sumur.

Dia berjongkok dan sambil menyeringai senang dia melihat dada yang tembus oleh peluru pistolnya itu.

"Satya, murid durhaka! Engkau telah membunuh Raka Sakimun!"

Terdengar bentakan nyaring di belakangnya.

Satyabrata bangkit berdiri dan dengan tenang dia membalikkan tubuhnya dan berdiri berhadapan dengan Cangak Awu yang mengerutkan alisnya, mukanya kemerahan dan sepasang matanya berapi saking marahnya.

"Ah, kiranya Raka Cangak Awu yang datang?"

Satyabrata berkata dengan tenang sekali sambil menyeringai.

"Keparat busuk! Engkau memburuk-burukkan Mataram dan memuji-muji Belanda. Kiranya engkau seorang telik-sandi (matamata) Belanda yang terkutuk! Dan engkau telah melanggar pantangan mendaki bukit ini, bahkan telah membunuh seorang murid Jatikusumo! Aku tidak dapat mengampunimu, keparat!"

"Ki Cangak Awu!"

Kata Satyabrata dengan senyum mengejek berkembang di bibirnya.

"Sebaiknya engkau memimpin Jatikusumo untuk membebaskan daerah dari cengkeraman Mataram dan bekerja sama dengan Kumpeni Belanda menentang Mataram. Engkau akan mendapatkan imbalan harta benda yang besar dan kedudukan yang tinggi dan mulia. Atau engkau memilih mati di tanganku!"

Satyabrata menodongkan pistolnya ke arah ketua Jatikusumo itu.

Cangak Awu menjadi marah sekali dan dia sudah mengerahkan Aji Gelap Musti dalam kedua tangannya, lalu menerjang dengan mendorongkan kedua tangan ke arah pemuda itu.

Akan tetapi dengan tenang Satyabrata sudah membidik dengan pistolnya.

Pada saat dia menarik pelatuk pistolnya, sebutir batu sebesar kepalan tangan menyambar dan tepat mengenai tangannya yang memegang pistol.

"Darrr.... !!"

Karena batu yang menghantam tangannya, bidikan pistol itu bergoyang dan miring sehingga pelurunya menyimpang dari sasaran.

Satyabrata terkejut sekali.

Dia lupa akan kehadiran Pusposari yang datang dari arah kirinya.

Wanita perkasa ini maklum akan bahaya maut yang mengancam suaminya, maka ia cepat memungut batu dan melontarkan batu itu ke arah tangan Satyabrata yang memegang pistol sehingga bidikan itu meleset dan suaminya lolos dari maut.

Sementara itu, melihat Cangak Awu menyerangnya dengan pukulan kedua tangan yang didorongkan, yang membawa angin pukulan dahsyat, Satyabrata cepat mengerahkan tenaga yang dilatihnya di dalam sumur dan diapun menyambut dorongan kedua tangan lawan itu dengan kedua tangannya sendiri.

"Wuuuttt dessss !!"

Tubuh Satyabrata terlempar ke belakang, ke dekat sumur.

Dia terkejut dan kecerdikannya membuat dia maklum bahwa walaupun pertemuan tenaga itu tidak membuat dia terluka parah, namun dia tahu bahwa dia tidak akan menang melawan ketua Jatikusumo ini, apalagi masih ada isterinya yang juga kabarnya amat digdaya.

Dia tidak akan mampu melarikan diri.

Karena itu, ketika tubuhnya terpental ke dekat sumur dia membuat seolah dirinya terguling dan terjatuh ke dalam sumur!

Pusposari cepat menghampiri suaminya yang agak terhuyung ke belakang.

Wajat Cangak Awu agak pucat dan napasnya agak terengah.

Cepat ketua.

Jatikusumo inl duduk bersila dan mengatur pernapasannya untuk memulihkan kesehatannya, agar isi dadanya tidak terluka oleh guncangan hebat tadi.

Setelah merasa bahaya telah lewat, dia menghela napas panjang dan bangkit berdiri.

"Bagaimana, kakang-mas?"

Tanya Pusposari. Cangak Awu menggeleng kepala perlahan.

"Tidak apa-apa, akan tetapi sungguh tidak pernah menyangka bahwa si Satya itu ternyata memiliki tenaga sakti yang cukup kuat. Syukur bahwa Aji Gelap Musti agaknya dapat merobohkannya."

"Dia terpental dan terguling ke dalam sumur,"

Kata Pusposari. Keduanya lalu menghampiri sumur dan menjenguk ke dalam. Gelap dan sunyi saja.

"Kukira dia tentu tewas. Ketika memukul tadi, aku mengerahkan seluruh tenagaku. Dia terjerumus ke dalam sumur ini, tidak mungkin dapat bertahan hidup. Andaikata masih hidup sekalipun, dia tidak akan dapat keluar dari sumur dan akan mati kelaparan. Biarlah rohnya yang sesat itu menjadi roh penasaran bersama para pengkhianat yang lain,"

Kata Cangak Awu.

Dia melihat pistol yang tadi dipergunakan Satyabrata menggeletak di dekat sumur.

Dia mengambil senjata api itu kemudian dengan pengerahan tenaga dia membanting benda itu ke dalam sumur.

Kalau Satyabrata berada tepat di dasar sumur dan kepalanya terkena hantaman pistol dari atas itu, tentu akan pecah kepalanya!

Cangak Awu lalu menghampiri tubuh Sakimun yang menggeletak dekat sumur.

Setelah memeriksanya sejenak dan mendapat kenyataan bahwa orang itu telah tewas, Cangak Awu lalu memondong mayat itu dan mengajak isterinya meninggalkan bukit larangan itu.

Para murid Jatikusumo menjadi gempar ketika melihat ketua mereka turun dari bukit larangan memondong Sakimun yang sudah menjadi mayat.

Setelah jenazah itu dirawat, Cangak Awu mengumpulkan semua murid ke ruangan pendopo yang luas.

"Para raka dan rayi sekalian!"

Katanya dengan suara lantang berwibawa.

"Kami sudah tahu bahwa di antara kalian ada yang sudah mendengar kata-kata yang diucapkan murid baru Satya yang pada dasarnya bernada menghasut, memburuk-burukkan Mataram dan di samping itu memuji-muji Kumpeni Belanda. Ucapan-ucapannya itu menunjukkan bahwa dia seorang pengkhianat dan ketahuilah kalian bahwa setelah kami menyelidikinya, ternyata Satya itu adalah seorang telik-sandi Kumpeni Belanda yang sengaja menyelundup ke sini dan menjadi murid perguruan kita!"

Terdengar desah dari banyak mulut itu.

"Diapun melanggar larangan, mengunjungi bukit larangan yang agaknya akan dijadikan tempat persembunyiannya. Setelah kami memergokinya di sana, dia tidak membantah bahwa dia telik-sandi Kumpenl Belanda, malah dia menggunakan senjata api pistol untuk membunuh Raka Sakimun!"

Kembali terdengar desahan dan gumam penasaran. dan kemarahan di antara para murid Jatikusumo.

"Diapun berniat membunuh kami dengan pistolnya. Beruntung bagi kami bahwa Gusti Allah masih melindungi kami sehingga kami berhasil merobohkannya dan dia terjerumus ke dalam sumur tua. Rohnya yang jahat tentu berkumpul dengan roh-roh jahat lainnya, membuat sumur tua itu menjadi semakin angker. Karena itu kami peringatkan sekali lagi, jangan ada murid Jatikusumo yang mendaki bukit larangan itu. Dan kalian tahu sekarang bahwa semua hasutan Satya itu adalah siasat busuk Kumpeni Belanda, maka kami harap kalian waspada dan jangan sampai dapat terbujuk omongan seperti yang diucapkan pengkhianat Satya itu. Ingat akan janji dan persyaratan Jatikusumo. Pertama, menjadi pendekar yang membela kebenaran dan keadilan menentang kejahatan dan kedua, setia membela Mataram!"

Demikianlah peristiwa hebat yang terjadi kurang lebih empat lima tahun yang lalu di perkampungan Jatikusuman itu.

Peristiwa itu sudah mulai dilupakan orang setelah lewat beberapa tahun itu.

Peristiwa yang dilanjutkan larangan keras untuk mendaki bukit itu membuat tempat larangan itu semakin angker dan tiada seorangpun berani lancang mendaki bukit itu, apalagi mendekati sumur yang dianggap menjadi tempat tinggal roh-roh penasaran para pengkhianat yang jahat itu.

Dan keadaan ini sungguh amat menguntungkan Satyabrata.

Orang-orang Jatikusumo sama sekali tidak pernah mimpi bahwa pemuda yang mereka kenal sebagai Satya itu sesungguhnya sama sekali belum tewas!

Ketika pistolnya terlepas dari tangannya karena sambaran sebuah batu, Satyabrata yang melihat dirinya diserang pukulan sakti Cangak Awu, cepat mengerahkan tenaga saktinya untuk menyambut.

Pada waktu itu dia telah berlatih menghimpun tenaga sakti dengan cara Samadhi jungkir balik dan secara aneh telah terhimpun tenaga dalam yang luar biasa dan dahsyat dalam dirinya.

Maka, ketika dia mengerahkan .

tenaga menyambut aji pukulan Gelap Musti dari perguruan Jatikusumo, dia mampu menahan pukulan lawan yang hanya membuat dia terpental dan dengan cerdik, dia lalu menggulingkan diri masuk ke dalam sumur tua.

Dia sama sekali tidak tertuka dan setelah tiba di.

dasar sumur dia mendengar ucapan Cangak Awu yahg bicara dengan isterinya.

Ketika Cangak Awu membanting pistol ke dalam sumur, Satyabrata dapat melihat dari bawah dan dia cepat menyelinap ke dalam terowongan sehingga sambitan pistol itu tidak mengenai dirinya.

Mulai hari itu, Satyabrata dengan tekun mempelajari semua ilmu yang tertulis dan terlukis di dinding bawah tanah.

Kalau siang dan keadaan dalam ruangan bawah tanah itu cukup terang, dia berada di dalam sumur dan mempelajari serrdua ilmu itu.

Kalau malam dia berada di luar sumur dan melewatkan malam di dalam guha di balik puncak.

Dia merasa aman karena tidak pernah ada orang berani mendaki bukit itu.

Untuk makannya setiap hari, dia mempergunakan ilmunya mendatangi telik-sandi Kumpeni Belanda di Pacitan tanpa diketahui orang dan membawa bekal makanan dari sana.

Demikianlah, sampai bertahun-tahun dia mempelajari ilmu-ilmu itu sehingga Satyabrata menjadi seorang pemuda yang sakti mandraguna dan berbahaya sekali.

Akan tetapi karena dia menjalani latihan menghimpun tenaga sakti secara sesat, ada akibat sampingan yang amat hebat pula.

Pemuda itu kini menjadi seorang yang terkadang berwatak aneh seperti orang gila!

Dan dia menyimpan dendam terhadap Perguruan Jatikusumo, terutama kepada Cangak Awu dan Pusposari yahg mengalahkannya.

Niatnya yang pertama adalah membunuh kedua orang itu setelah dia selesai mempelajari semua ilmu itu, selain untuk melampiaskan dendamnya, juga untuk memenuhi tugasnya yang dibebankan kepadanya oleh ayah angkatnya, Willem Van Huisen!

Kita kembali mengikuti perjalanan Parmadi.

Baru pertama kali "turun gunung"

Berpisah dari gurunya, pemuda itu sudah.

mengalami guncangan batin yang berat berturut-turut.

Pertama mendengar akan kematian ayah Muryani dan juga gurunya, Ki Ronggo Bangak, dan kepergian Muryani tanpa ada yang mengetahui ke mana, Kemudian, ketika berkunjung ke dusun Pancot, dia mendengar dari Pak Jambi Pece tentang kematian ayah dan ibu kandungnya dan mendengar bahwa Ki Wiroboyo pernah berbuat kurang ajar terhadap mendiang ibunya sehingga Ki Wiroboyo patut dicurigai tentang pembunuhan terhadap ayah ibunya itu.

Dia menuruni lereng Gunung Lawu sebelah barat dan menggunakan ketangkasannya untuk berjalan cepat menuruni jurang-jurang yang dalam dan mendaki tebing-tebing yang curam.

Karena perjalanan itu amat sukar, maka setelah matahari condong ke barat, dia masih belum tiba di kaki gunung, melainkan tiba di lereng agak ke bawah.

Tibalah dia di sebuah dusun dan karena hari sudah mulai remang-remang, dia mengambil keputusan untuk melewatkan malam di dusun itu.

Akan tetapi ketika dia mulai memasuki dusun, dia melihat keadaan yang amat aneh.

Dusun itu hanya mempunyai sekitar tiga puluh rumah.

Rumah-rumah sederhana kaum tani.

Ketika tadi hendak memasuki dusun Parmadi melihat sebuah candi berdiri di atas sebuah bukit kecil yang berada di luar dusun, tidak jauh dari dusun itu.

Bangunan candi yang cukup besar itu tampak angker dan menyeramkan.

Akan tetapi Parmadi hanya melihatnya dari jauh dan dia langsung memasuki dusun.

Begitu memasuki dusun, terasalah suasana yang aneh itu.

Hari belum gelap benar, baru menjelang senja, akan tetapi keadaan dusun itu sunyi sekali.

Terdengar berkokoknya ayam dan beberapa kali ada suara kambing mengembik.

Akan tetapi tidak terdengar suara manusia, juga tidak tampak bayangan manusia.

Rumah-rumah sederhana ini tidak ada yang terbuka pintu ataupun jendelanya, semua tertutup rapat.

Anehnya, tidak tampak ada penerangan sedikitpun dari rumah-rumah itu.

Akan tetapi, walaupun keadaan demikian sunyi dan tidak tampak adanya seorangpun manusia, Parmadi dapat merasakan bahwa ada banyak pasang mata mengintainya dari rumahrumah itu.

Bahkan dia sempat melihat bayangan di balik dinding bambu rumah-rumah itu dan pendengarannya yang tajam dapat menangkap gerakan dari dalam rumah.

Dalam rumah-rumah sederhana itu bukan tidak ada orangnyai.

Akan tetapi mereka agaknya sengaja bersembunyi, dan tidak ada yang menyalakan penerangan.

Agaknya semua orang ketakutan melihat dia datang!

Tentu saja keadaan ini membuat Parmadi merasa penasaran dan heran sekali.

Mengapa orangorang dusun itu ketakutan melihat dia datang?

Mengapa mereka semua bersembunyi dan tidak ada yang berani menyalakan penerangan?

Padahal selama hidupnya belum pernah dia datang ke dusun itu dan tidak mengenal seorangpun dari penduduk di situ.

Parmadi berhenti di depan sebuah rumah yang dilihatnya paling besar di antara rumah-rumah di situ.

Kalau rumah lain terbuat dari dinding anyaman bambu, rumah ini dindingnya dari papan kayu dan ukurannya juga lebih besar.

Dia memasuki pekarangan dan berdiri di depan rumah itu.

Dia merasa penasaran sekali.

Andaikata penduduk dusun itu tidak mau menerimanya dan tidak mau memberinya tempat untuk menginap malam itu, dia tidak perduli.

Dia dapat tidur di mana saja, di bawah pohon atau bahkan di tempat terbuka mana saja.

Akan tetapi sikap mereka itu membuatnya heran dan penasaran.

Mengapa mereka semua bersembunyi, seolah dia dianggap iblis yang menakutkan?

Biarpun dalam rumah besar itupun gelap, namun Parmadi dapat mendengar gerakan-gerakan orang di dalamnya.

Dia tahu bahwa di dalam rumah itu terdapat eukup banyak orang.

Bahkan dia mendengar suara berbisik-bisik.

Kemudian terdengar anak kecil menangis dan suara wanita berbisik-bisik menyuruhnya diam.

Menghadapi semua ini, Parmadi tidak kuat menahan keinginan tahunya.

Dia harus tahu apa yang terjadi sehingga orang-orang sedusun takut kepadanya!

Dengan hati tetap dia menghampiri pintu depan dan mengetuknya perlahan.

"Tok-tok-tok....!"

Tidak terdengar jawaban dan ada beberapa orang bersuara "sstt"ssttt". ssttt....!"

Member tanda agar semua orang diam. Hal ini tentu saja membuat Parmadi menjadi semakin penasaran. Dia mengetuk lagi daun pintu itu lebih kuat dan disambung dengan seruannya.

"Tok-tok-tok! Saya tahu andika sekalian berada di dalam. Harap suka membuka pintu. Saya bukan orang jahat! Saya adalah seorang tamu dari luar dusun dan saya ingin bicara dengan andika sekalian!"

Hening sekali setelah Parmadi mengeluarkan seruan ini.

Lalu terdengar lagi suara berbisikbisik di dalam seolah ada beberapa orang yang sedang berunding.

Tak lama kemudian terdengar suara yang besar parau, suara laki-laki dewasa dan suara itu agaknya digagah-gagahkan akan tetapi tetap saja mengandung getaran tanda ketakutan.

"Kami mohon agar andika mencari korban di lain tempat saja. Kalau andika memaksa, kami akan nekat melakukan perlawanan. Harap andika pergi sekarang juga!"

Tentu saja Parmadi menjadi bengong karena heran. Mencari korban? Apa yang mereka maksudkan? "Andika sekalian keluarlah. Mari kita bicara dengan baik-baik. Saya tidak mencari korban apapun juga!"

Kembali hening sesaat.

.Kemudian, tiba-tiba daun pintu dibuka dari dalam dan lima orang laki-laki yang membawa senjata, ada yang memegang tombak, ada yang membawa parang, berlompatan dari dalam dan tanpa berkata apa-apa lagi mereka menerjang dan menyerang Parmadi kalang-kabut!

Tentu saja Parmadi merasa terkejut bukan main.

Akan tetapi dia juga tidak ingin menjadi bulan-bulanan serangan mereka.

Andaikata dia dapat melindungi tubuhnya dengan aji kekebalan, dia tidak akan mampu mencegah pakaiannya rusak dan robek-robek oleh senjata-senjata itu.

Sebatang tombak yang panjang lebih dulu meluncur ke arah perutnya.

Parmadi miringkan tubuh.

Ketika tombak itu meluncur di samping perutnya, cepat tangan kirinya menangkap tombak dan kaki kanannya menyambar ke arah si pemegang tombak dan diapun menarik tombak itu dengan sentakan.

Tombak itu telah berpindah ke tangannya.

Ketika dua batang parang, sebilah keris dan sebatang tombak menyambar, dia mempergunakan tombak yang dirampasnya itu, digerakkan dengan pengerahan tenaga menangkis.

"Traeng-traagg-trang-trang""""

Empat batang senjata para pengeroyok itu beterbangan terlepas dari tangan mereka.

Parmadi lalu menggunakan kedua tangannya, menekuk-nekuk patah tombak itu seperti orang mematahkan sebatang lidi saja!

Melihat ini, lima orang laki-laki itu menjadi pucat, mata mereka terbelalak dan kaki mereka menjadi lemas.

Mereka jatuh bertekuk lutut dan menyembah-nyembah ketakutan.

Seorang laki-laki berusia limapuluhan tahun yang berpakaian lebih rapi daripada yang lain, dengan suara gemetar dan tubuh menggigil menyembah dan berkata dengan hormat.

"Pukulun, mohon paduka sudi mengampuni kami orang-orang dusun yang miskin dan papa. Hamba semua berjanji akan memuja paduka dan kasihanilah hamba, bebaskan anak-anak hamba agar jangan dijadikan korban...."

Mengertilah Parmadi bahwa ada kekeliruan di sini.

Dia disangka orang lain, atau bahkan dia disangka makhluk lain, bukan manusia!

Hal ini terbukti dari sebutan orang tua itu kepadanya yang memanggilnya dengan sebutan "pukulun", sebutan yang biasanya diberikan kepada para dewa!

Dia tersenyum.

"Paman yang baik, dan saudara-saudara sekalian. Agaknya andika semua telah salah mengenal orang! Harap andika sekalian bangkit dan marilah kita bicara dengan baik. Saya sama sekali bukan orang yang berniat jahat. Kebetulan saja saya lewat di sini dan hanya membutuhkan tempat untuk melewatkan malam. Silakan andika sekalian bangkit berdiri."

Orang setengah tua yang agaknya menjadi pemimpin di antara mereka itu mengangkat muka dan memandang wajah Parmadi, ragu-ragu.

"Andika.... andika bukan utusan.... San Pukulun Syiwamurti....?"

Parmadi tersenyum dan menggeleng kepalanya.

"Saya manusia biasa, bukan utusan dewa manapun, paman. Bangkitlah dan mari kita bicara. Saya ingin sekali mengetahui apa yang terjadi di dusun ini dan mengapa pula andika sekalian bersikap begini aneh, menyerang seorang tamu yang baru datang seperti saya ini."

Agaknya lima orang itu baru mau percaya. Didahului oleh orang setengah tua itu, mereka semua bangkit berdiri dan berani menatap wajah Parmadi.

"Maafkan sikap kami tadi, ki-sanak. Kami tadi mengira andika datang hendak menjemput korban...."

Kata orang tua yang bertubuh tinggi kurus itu.

"Mari silakan masuk ke dalam rumah. Kita bicara di dalam saja."

Parmadi mengikuti lima orang itu memasuki rumah dan dia melihat dalam keremangan rumah itu bahwa ada beberapa orang wanita dan kanak-kanak mengintai dari ruangan dan kamar lain.

Dalam ruangan itu terdapat beberapa buah kursi kayu dan Parmadi dipersilakan duduk.

Parmadi duduk berhadapan dengan lima orang itu.

"Paman, mengapa paman tidak menyalakan lampu penerangan? Sungguh tidak enak duduk bercakap-cakap dalam cuaca gelap begini,"

Kata Parmadi.

"Menyalakan lampu? Ah, jangan.... kami.... kami takut...."

Kata orang itu, juga yang lain mengeluarkan suara tidak setuju dan mereka semua ketakutan.

Parmadi menjadi semakin penasaran.

Orang-orang dusun ini semua merasa takut akan sesuatu yang mengerikan, pikirnya.

Diapun tidak mendesak mereka untuk menyalakan lampu.

"Paman, sebetulnya apakah yang terjadi di dusun ini? Kenapa semua rumah menutup pintu dan tidak menyalakan penerangan? Juga mengapa paman sekalian tampak ketakutan, bahkan tadi menyerang aku tanpa alasan? Apa artinya semua ini?"

"Sebelum kami menjawab pertanyaanmu dan menerangkan segalanya kepadamu, kami ingin mengetahui lebih dulu siapa andika, ki-sanak, dan keperluan apakah yang membawa andika datang ke dusun Sukuh ini?"

Parmadi hanya kebetulan lewat di dusun itu dan dia tidak ingin namanya dikenal, apalagi menghadapi peristiwa aneh yang agaknya harus dicampurinya.

Dia harus membantu para penduduk yang ketakutan itu menghadapi sesuatu yang agaknya mengerikan.

Dan untuk itu dia pikir tidak perlu memperkenalkan dirinya.

Gurunya, Resi Tejo Wening, pernah berpesan kepadanya bahwa kalau dia turun tangan menolong orang, dia tidak perlu menonjolkan namanya, bahkan lebih baik kalau yang dia tolong itu tidak mengenal namanya!

"Saya adalah seorang perantau, paman dan hanya kebetulan saja saya lewat di dusun ini dan kemalaman.

Karena itu saya ingin melewatkan malam ini di sini, mohon kebaikan hati seorang di antara penduduk untuk memberi sekedar sehelai tikar untuk saya tidur.

Nama saya?

Sebut saja saya Seruling Gading, paman.

Nah, sekarang harap paman suka menceritakan semua keanehan ini kepada saya.

Siapa tahu saya akan dapat membantu andika sekalian untuk membikin terang semua kegelapan ini."

"Sesungguhnya, anak-mas!"

Kata orang setengah tua itu dan suaranya mengandung penuh harapan.

"Setelah mengetahui bahwa andika bukan lawan melainkan kawan, dan melihat bahwa andika seorang yang sakti mandraguna, kami seluruh warga dusun Sukuh ini mengharapkan pertolongan andika. Ketahuilah bahwa dusun kami ini sedang menghadapi malapetaka yang besar sekali, agaknya kami menerima amarah para dewa sehingga kami dikutuk."

"Tidak. ada dewa mengutuk manusia, paman. Kalau ada suatu akibat terjadi, pasti ada sebabnya dan kita berkewajiban untuk mencari tahu dan melenyapkan penyebabnya itu. Nah, ceritakanlah. Apa yang telah terjadi?"

"Saya akan memperkenalkan diri lebih dulu, anak-mas Seruling Gading. Saya bernama Gitosani dan saya diangkat oleh penduduk di dusun Sukuh ini menjadi kepala dusun karena saya dianggap sebagai sesepuh yang sudah tinggal di sini sejak eyang buyut saya. Bahkan nenek moyang saye menjadi juru kunci dari Candi yang menjadi tempat pemujaan kami untuk, mohon berkah keselamatan, kesuburan, kesehatan, rejeki dan semua kebutuhan kami. Kemudian tiba-tiba dating malapetaka itu, malapetaka yang". mengerikan...."

Lurah Gitosani menggigil dan semua orang yang berada di situ juga ketakutan seolah-olah hawa dalam ruangan itu tiba-tiba menjadi dingin sekali.

Dari dalam kamar di sebelah kiri terdengar suara bayi menangis, akan tetapi agaknya mulut bayi itu segera dijejali puting susu ibunya karena ia terdiam dengan cepat.

(Lanjut ke

Jilid 09) Seruling Gading (Seri ke 02 -Serial Pecut Sakti Bajrakirana) Karya". Asmaraman S. Kho Ping Hoo

Jilid 09

"Hemm, ceritakanlah saja, paman Gitosani dan jangan takut. Ada saya di sini yang akan menjaga keselamatan semua orang,"

Kata Parmadi dan suaranya yang tenang dan penuh kepercayaan kepada diri sendiri terdengar amat menghibur bagi semua orang itu.

"Terjadinya dimulai dengan datangnya dua orang di dusun ini, kurang lebih satu bulan yang lalu. Seorang kakek tinggi besar seperti raksasa menyeramkan yang mengaku bernama Koloyitmo bersama seorang anaknya perempuan bernama Nini Maya Dewi yang cantik seperti dewi kahyangan. Mereka berdua memasuki candi dan mendudukinya, tidak mau keluar dari candi. Kakek yang bernama Resi Koloyitmo itu mengaku bahwa dia titisan Sang Bathara Kolo dan dia bilang bahwa dia sengaja memilih Candi Sukuh untuk tempat tinggalnya sementara waktu. Kami berusaha mengusirnya, akan tetapi kakek dan anaknya itu sakti mandraguna. Belasan orang dari kami diterbangkan angin ketika hendak menyerangnya. Bahkan anak perempuan itu mengancam akan membunuh kami semua kalau kami berani mengganggu mereka."

Parmadi mengerutkan alisnya.

"Akan tetapi, agaknya kalau mereka tidak diganggu, mereka tidak akan berbuat apa-apa, bukan?"

"Mula-mula mereka memang hanya minta dikirim sesajen sehari tiga kali, nasi dan laukpauknya, juga minuman untuk mereka. Akan tetapi tak lama kemudian, seminggu yang lalu, Resi Koloyitmo itu minta agar diberi korban seorang perawan."

"Hemmm..., ini sudah keterlaluan!"

Kata Parmadi mulai merasa tidak senang hatinya.

"Lalu bagaimana?"

"Tentu saja kami menolak permintaannya yang aneh itu. Akan tetapi, Resi Koloyitmo diam saja dan tidak marah oleh penolakan kami dan kami hanya berjaga-jaga dengan khawatir. Dan malam harinya, seorang anak perawan dusun kami lenyap! Ada seorang warga dusun yang kebetulan keluar dari rumahnya malam itu melihat betapa perawan itu berjalan setengah berlari menuju ke candi dan ketika ditegur tidak menjawab. Kami mengerahkan seluruh tenaga laki-laki di dusun ini dan pergi ke candi, menuntut kembalinya gadis itu. Akan tetapi Resi Koloyitmo mengatakan bahwa perawan itu sudah dipilih oleh Sang Bathara Kolo dan kami disuruh pulang. Kami nekat hendak menyerbu ke dalam candi mencari gadis itu. Akan tetapi kembali kami roboh berpelantingan oleh sihir ayah dan anak itu."

"Hemm, begitukah? Dan mengapa andika sekalian tidak berani menyalakan penerangan dan bersembunyi dalam kegelapan?"

"Dua malam yang lalu, kembali seorang perawan dusun ini menghilang dan menurut mereka yang sempat melihatnya, terjadinya lebih aneh lagi. Mereka, ada tiga orang saksi, melihat betapa gadis itu menunggang seekor macan loreng besar menuju ke candi itu! Nah, mulai malam itulah, kami semua tidak berani membuka pintu kalau sudah senja dan tidak berani menyalakan penerangan agar macan utusan dewa itu tidak dapat masuk rumah dan tidak dapat melihat sehingga tidak akan dapat menculik anak-anak gadis kami."

Parmadi mengerutkan alis dan memejamkan mata.

Keadaan ayah dan anak itu sungguh mencurigakan!

"Akan tetapi malam ini bulan bersinar terang.

Mungkin bulan purnama karena tadi malam bulan juga sudah penuh,"

Kata Parmadi.

"Tanpa adanya lampu peneranganpun, malam tidaklah begitu gelap."

"Itulah yang kami khawatirkan. Tadi malam langit mendung sehingga bulan terhalang dan malam gelap. Akan tetapi malam ini...."

"Jangan khawatir, paman. Saya akan melakukan penjagaan malam ini dan kalau iblis itu berani muncul, akan saya hadapi dan usir dia!"

Kata Parmadi.

"Bukan iblis, anak-mas, melainkan dewa...."

"Dewa berkewajiban melindungi, bukan mengganggu manusia. Yang mengganggu manusia hanya iblis. Sekarang, mari kita serukan kepada semua rumah agar menyalakan penerangan agar lebih mudah bagi saya untuk melakukan perondaan dan dapat melihat jelas kalau terjadi sesuatu."

"Akan tetapi...."

Ki Gitosani berkata ragu dan takut.

"Sudahlah, paman. Percaya dan serahkan kepada saya. Lebih baik sekarang kita memelopori semua penduduk dan menyalakan lampu di rumah ini agar mereka juga menjadi berani."

Karena sikap Parmadi yang tegas dan tenang, akhirnya Ki Gitosani menyalakan lampu-lampu di rumah itu.

Kemudian, ditemani Parmadi, lima orang laki-laki itu lalu berjalan dari rumah ke rumah, berseru kepada pemilik rumah untuk menyalakan lampu.

"Saudara-saudara, nyalakan lampu-lampu di setiap rumah! Jangan takut! Ada anak-mas Seruling Gading yang akan melindungi kita!"

Seru Ki Gitosani.

"Seruling Gading?"

Semua orang membisikkan nama ini, merasa heran dan ingin tahu siapa orangnya yang berani melindungi mereka dari ancaman "dewa"

Yang mengerikan itu, yaitu Sang Bathara Kolo!

Yang agak pemberani keluar dari pintu rumah untuk melihat orang bernama Seruling Gading itu, yang penakut mengintai dari balik pintu.

Mereka menjadi ragu ketika melihat betapa yang dijagokan untuk melindungi mereka itu hanya seorang pemuda tampan yang sikapnya amat sederhana.

Mulailah mereka merasa ngeri dan takut kalau-kalau dewa yang kini berada di candi itu akan makin marah dan mengamuk.

Biarpun mereka sudah menyalakan lampu, akan tetapi setelah melihat Parmadi yang berjalan bersama Ki Lurah Gitosani dan empat orang laki-laki lain, mereka mulai menutupi daun-daun pintu lagi dan menanti dalam rumah dengan jantung berdebar tegang dan takut.

Malam itu langit bersih.

Ketika bulan purnama -muncul, cuaca menjadi terang.

Terang-terang redup dan sejuk.

Angin malam semilir lembut.

Biasanya, pada malam bulan purnama seperti itu, anak-anak banyak yang bermain-main di luar, suara mereka menembang dolanan mendatangkan kesyahduan pada malam bulan purnama.

Akan tetapi malam ini tidak ada yang keluar rumah.

Jangankan anak-anak, orang tuapun tidak ada yang berani keluar pintu, bahkan semua pintu rumah ditutup rapat.

Akan tetapi, yang agak pemberani mulai mengintai dari celah-celah pintu atau jendela untuk dapat melihat keadaan di luar.

Suasana amat sunyi.

Tidak ada suara manusia.

Hanya suara angin lembut berdesah di antara daun-daun pohon yang bergoyang-goyang seperti hidup, mengiringi bunyi kutu-kutu walang atogo (serangga-serangga yang berbunyi di waktu malam).

Bahkan Ki Gitosani sendiripun tinggal di dalam rumah dengan daun pintu tertutup karena demikianlah yang dikehendaki Parmadi.

Untuk memudahkan penjagaannya, dia minta agar semua orang tinggal di rumah dengan pintu tertutup.

Parmadi sendiri berada di luar.

Tadi dia sudah dijamu makan malam oleh keluarga Ki Gitosani.

Dia menitipkan buntalan pakaiannya kepada kepala dusun itu, kemudian dia keluar hanya berkalung sarung dan membawa seruling gading yang diselipkan di pinggangnya.

DUSUN itu tidak besar.

Rumah-rumah bordir di sepanjang jalan satu arah sehinga mudah bagi Parmadi untuk menjaganya.

Andaikata terjadi sesuatu di ujung dusun itu, dapat terlihat dari ujung yang lain.

Akan tetapi karena menurut cerita Ki Gitosani, ancaman bahaya datang dari arah candi, maka Parmadi yang tadinya berjalan-jalan di sepanjang jalan dusun itu, kini berhenti dan duduk bersila di atas sebuah batu besar yang berada di ujung dusun yang berhadapan dengan bukit kecil di mana candi itu berada.

Dari situ tampak batu candi yang tampak seram di bawah sinar bulan purnama itu.

Bagi para penduduk dusun Sukuh, malam itu tetasa amat menyeramkan.

Mereka semua menduga dengan was-was bahwa sang dewa yang ditakuti itu tentu akan marah sekali melihat bahwa penduduk dilindungi seorang jagoan!

Mereka membayangkan bahwa kalau sang jagoan itu sudah kalah, tentu sang dewa akan menimpakan kemarahannya kepada mereka!

Karena itu, semua orang berada dalam keadaan tegang dan tak seorangpun dari mereka, kecuali anak-anak yang belum tahu urusan, tidak ada yang tidur walaupun waktu sudah menjelang tengah malam.

"Kulik-kulik-kulik....!"

Suara burung malam seolah berputaran di atas setiap atap rumah.

Parmadi memandang ke atas da melihat beberapa ekor burung malam terbang lewat.

Suara mereka memelas dan agaknya mereka melihat kehadirannya maka mereka memekik-mekik.

Kemudian orang-orang dalam rumah mendengar suara kepak sayap dan suara itu mendatangkan perasaan takut.

Parmadi yang berada di luar melihat bahwa itu adalah suara beberapa ekor kalong yang beterbangan mencari makan.

Akan habislah buah-buahan yang sudah tua dan matang oleh binatang malam yang rakus ini.

Ketika terdengar suara anjing membaung (meraung), berdiri bulu tengkuk banyak orang dalam rumah-rumah tertutup itu.

Sudah menjadi kepercayaan umum di dusun itu bahwa kalau ada anjing membaung seperti itu, tandanya ada "makhluk halus"

Lewat.

Suasana menjadi semakin menyeramkan dan hati mereka menjadi semakin tegang.

Mereka membayangkan betapa saat itu sang jagoan mereka sedang disergap dan dicabik-cabik para setan bekasakan.

Besok pagi-pagi mereka akan menemukan tubuh pemuda itu membujur mati kehabisan darah yang disedot para iblis melalui leher yang terkoyak-koyak.

Mengerikan!

Akan tetapi Parmadi melihat anjing yang membaung itu.

Binatang itu tidak melihat setan, melainkan berdongak memandang ke arah bulan purnama lalu mengeluarkan suara meraung panjang yang kerdengar amat menyedihkan itu.

Seolah-olah anjing itu mengeluh akan keadaan dirinya sebagai seekor anjing!

Benarkah anjing itu mengeluh dan menangis?

Dia tidak tahu.

Ah, kalau saja dia memiliki kepandaian seperti Sang Prabu Anglingdarma yang pernah dibacanya dalam sebuah kitab milik mendiang gurunya, Ki Ronggo Bangak, alangkah senangnya.

Sang Prabu Anglingdarma itu dapat mengerti bahasa hewan!

Kalau dia menguasai kepandaian itu, tentu dia mengerti apa artinya suara menyedihkan yang dikeluarkan anjing itu!

Tiba-tiba Parmadi merasa betapa tengkuknya dingin dan bulu tengkuknya meremang.

Ini merupakan tanda bahwa ada sesuatu yang tidak wajar.

Ada kekuatan sihir lewat, pikirnya dan diapun mencurahkan perhatiannya ke arah rumah-rumah yang berjajar di sepanjang jalan dusun itu.

Tiba-tiba di rumah kelima dari ujung dusun di mana Parmadi duduk terdengar kegaduhan.

Parmadi melompat turun dari atas batu besar dan memandang ke arah rumah itu dengan penuh perhatian.

Tiba-tiba daun pintu rumah terbuka dan sesosok bayangan berlari keluar dari pintu itu, Terdengar jeritan wanita dari dalam rumah yang pintunya terbuka itu, lalu disusul teriakan suara laki-laki.

"Tinem".! Kembalilah, Nem".! Toloonggg....!"

Akan tetapi tidak ada orang yang keluar dari pintu itu, bahkan daun pintunya ditutup kembali.

Agaknya para penghuni rumah itu ketakutan dan hanya dapat menangis dan memanggil-manggil gadis yang berlari keluar.

Parmadi melihat bahwa yang berlari keluar itu seorang gadis remaja yang rambutnya panjang awut-awutan terlepas dari gelungannya.

Ia berlari keluar ke arahnya, angaknya hendak pergi ke candi itu dari mana dia merasakan adanya hawa dingin aneh.

Agaknya hawa itulah yang memiliki daya tarik kuat dan yang kini membuat perawan dusun itu kehilangan kesadarannya dan seolah ditarik oleh kekuatan gaib untuk datang ke candi!

Parmadi cepat mencabut seruling gading dari pinggangnya dan diapun sudah tenggelam ke dalam penyerahan, membiarkan seluruh jiwa raganya terbimbing oleh Kekuasaan Tertinggi dan terdengarlah lengkingan suara suling ketika di luar kehendak hati akal pikirannya suling itu telah ditiup dan dimainkan oleh bibir dan jarijari tangannya!

Suara suling melengking-lengking dan mengandung getaran gaib yang amat kuat dan alami, terasa oleh alam sekitarnya di mana suara itu dapat ditangkap.

Kuat dan wajar seperti desau angin seperti cahaya bulan, seperti suara kutu kutu walang atogo.

Kini perawan dusun itu sudah tiba dekat, tinggal sejauh tigapuluh meter dari tempat Parmadi berdiri Dan tiba-tiba saja dara itu berhenti berlari seperti tersentak keget, seperti orang baru terbangun dari tidur, kembali ke alam sadar dari alam mimpi.

"Ohhh.... !"

Ia menutupkan kedua tangan depan mulut dan matanya terbelalak.

"........ bapak""simbok !"

Ia mengeluh dan sudah memutar tubuh hendak kembali ke rumah orang tuanya.

Pada saat itu, terdengar suara mengaum dahsyat dan Parmadi melihat bayangan hitam sebesar gudel (anak kerbau), meluncur cepat dari arah belakangnya.

Dia menghentikan tiupan sulingnya dan melihat betapa bayangan Itu bukan lain seekor harimau loreng yang besar sekali.

Macan itu sudah tiba di depan gadis yang menahan jeritnya, lalu gadis itu terkulai, pingsan karena kaget dan takut.

Harimau itu menggigit punggung baju gadis itu lalu membawanya pergi menuju ke arah candi!

Akan tetapi Parmadi telah menghadangnya, seruling gading berada di tangan kanannya.

Dia dapat menduga bahwa harimau loreng ini adalah makhluk seperti yang telah diceritakan Ki Gitosani kepadanya, yang dapat melarikan seorang perawan dusun yang duduk di atas punggungnya.

Tentu gadis itu berada dalam keadaan tersihir.

Sekarang, gadis ini yang sudah tidak terpengaruh sihir, pingsan ketakutan dan digondolnya seperti biasanya seekor harimau menggondol mangsanya.

Parmadi dapat menduga bahwa mahluk ini tentulah mahluk jadi-jadian, bukan harimau aseli.

Pernah dia mendengar dari gurunya, Resi Tejo Wening, bahwa di daerah Parahyangan dan daerah Banten banyak tokoh sesat yang menguasai ilmu sesat itu, yakni dapat mengubah dirinya menjadi satu hewan seperti harimau, celeng (babi hutan), srigala dan sebagainya.

Karena itu, menduga bahwa mahluk yang dihadapinya adalah seorang manusia yang menggunakan ilmu sihir sesat mengubah dirinya menjadi seekor harimau, diapun membentak sambil mengerahkan kekuatan batinnya.

"Manusia dursila! Bebaskan gadis itu atau terpaksa aku harus menghajarmu agar engkau sadar akan kejahatanmu!"

Sepasang mata harimau itu mencorong dan agaknya dia marah sekali.

Dia menggerakkan kepalanya dan melepaskan gigitannya sehingga tubuh perawan yang pingsan itu terlempar ke samping.

Harimau itu mengaum dengan garang.

Suara aumannya menggetarkan dusun itu dan semua penduduk yang bersembunyi dalam rumah menggigil ketakutan.

Mereka merasa ngeri karena membayangkan betapa harimau yang kabarnya sebesar kerbau itu kini tentu sedang mencabik-cabik tubuh pemuda jagoan mereka.

Sementara itu, ayah dan ibu perawan yang tadi melarikan diri keluar dari rumah hanya dapat bertangis-tangisan saja.

Kini harimau itu menggereng dan gerengannya juga menggetarkan jantung.

Parmadi bersikap tenang saja dan menentang pandang mata harimau itu.

Dia bahkan menyelipkan seruling gading di ikat pinggangnya lagi karena bagaimanapun juga, dia tidak ingin membunuh atau melukai binatang jadi-jadian yang sesungguhnya adalah seorang manusia itu.

Harimau itu merendahkan tubuhnya sampai perutnya menyentuh tanah, kemudian tiba-tiba dia melompat dan menerkam ke arah Parmadi dengan sepasang kaki depannya.

Moncongnya siap menggigit, taringnya mengkilap terkena cahaya bulan purnama.

Dengan gerakan kilat Parmadi rnengelak ke kanan dan ketika tubuh harimau itu meluncur ke sebelah kirinya, tangan kirinya dengan terbuka dan miring menghantam ke arah muka harimau itu.

"Wuuttt".plakkk!"

Walaupun tamparan tangan kiri itu tidak terlalu kuat, akan tetapi karena mengandung Aji Sunya Hasta, tubuh harimau itu terpelanting.

Dia rnenggereng kesakitan lalu melompat ke kanan dan melarikan diri menuju ke arah bukit di mana berdiri candi itu.

Parmadi lalu menghampiri gadis yang masih rebah miring di atas tanah itu.

Dia meraba dan menekan tengkuk gadis itu beberapa kali.

Gadis itu mengeluh lirih lalu membuka matanya.

Ketika melihat seorang laki-laki berjongkok di dekatnya, ia terkejut bukan main.."Jangan takut.

Aku telah mengusir pergi harimau jadi-jadian tadi."

Gadis itu tidak jadi menjerit karena ia tadipun ikut mengintai ketika Parmadi bersama Lurah Gitosani dan empat orang lain berkeliling ke rumah-rumah untuk menganjurkan semua rumah menyalakan lampu.

Inilah jagoan yang dikabarkan hendak menolong dusun Sukuh!

"Hayo kuantar engkau pulang,"

Kata Parmadi.

Gadis itu tidak menjawab, hanya mengangguk kemudian bangkit berdiri dan berjalan dikawal Parmadi.

Peristiwa Parmadi dengan harimau itu ternyata disaksikan banyak pasang mata yang mengintai dari dalam rumah.

Melihat, betapa Parmadi benar-benar dapat mengusir harimau dan menyelamatkan Satinem,gadis yang digondol macan itu, mereka berani membuka pintu dan keluar menyambut.

Ayah dan ibu gadis itu keluar dan Satinem lari sambil menangis.

Kemudian berangkulan dengan ibunya.

Kini semua orang keluar.

Dusun Sukuh menjadi ramai di malam terang bulan itu.

Mereka tidak merasa takut lagi karena telah terbukti bahwa pemuda itu mampu mengusir harimau dan menyelamatkan Satinem.

Ki Lurah Gitosani menghampiri Parmadi sambil tersenyum senang dan memandang penuh kagum.

"Anak-mas Seruling Gading! Ternyata andika adalah seorang dewa penyelamat kami! Mari kita bicara dl rumah."

Parmadi lalu diiringkan semua penduduk menuju ke rumah besar Ki Gitosani.

Dia dipersilakan duduk dan semua prang merubungnya.

Yang tidak kebagian bangku atau kursi duduk di atas lantai.

Nuasana dalam rumah ki lurah menjadi riuh dan gembira.

Akan tetapi ketika Ki Gitosani mulai bicara dengan Parmadi, semua orang diam mendengarkan.

Semua mata memandang kepada pemuda itu.

"Anak-mas Seruling Gading, tadi kami mendengar suara suling yang melengking-lengking amat anehnya dan menggetarkan hati kami. Apakah andika yang meniup suling itu, anak-mas?"

Parmadi mengangguk.

"Benar, paman. Saya meniup suling itu untuk melawan pengaruh sihir yang membuat gadis tadi kehilangan kesadarannya dan berlari keluar rumah."

"Tapi makhluk apakah harimau besar tadi, den-mas?"

Tanya seorang tetangga yang tadi kebetulan mengintai peristiwa yang terjadi tepat di depan rumahnya.

"Harimau tadi menggigit dan menggondol Satinem. Huuhh, mengerikan sekali!"

"Harimau tadi adalah mahluk jadi-jadian. Ketika gadis tadi tidak lagi dipengaruhi sihir dan sudah sadar, tiba-tiba ia melihat harimau besar dan roboh pingsan Harimau itu menggigit punggung bajunya dan hendak membawanya pergi. Saya menghadangnya dan berhasil mengusirnya,"

Kata Parmadi singkat tanpa menonjolkan jasanya.

"Jadi-jadian? Andika maksudkan, harimau itu adalah seorang manusia yang berlatih rupa?"

Tanya Ki Gitosani.

"Benar, paman. Dia adalah seorang manusia yang menguasai ilmu beralih rupa menjadi harimau."

"Huh, menyeramkan sekali! Siapakah orangnya, anak-mas?"

Parmadi menggeleng kepalanya.

"Saya tidak tahu, paman. Dia keburu melarikan diri sebelum saya dapat mengetahui siapa orangnya."

Pada saat itu, dua orang wanita tiba-tiba maju dan menjatuhkan diri bersimpuh di depan Parmadi sambil menangis dan mereka berkata dengan keluh kesah.

"Den-mas, tolonglah anak saya".tolonglah, den-mas...."

Baca Juga: Suling Naga 15

Baca Juga: Pedang Kayu Harum 3

Cari Blog Ini

Diberdayakan oleh Blogger.

Parnert