Eps 8 Seruling Gading - Kho Ping Hoo
Baca online Seruling Gading - Kho Ping Hoo
Cersil Seruling Gading - Kho Ping Hoo.
"Engkau perlu mengetahui bahwa Madura merupakan pintu belakang atau perisai bagi Surabaya. Kalau Madura takluk kepada Mataram, berarti Surabaya mudah diserang dari laut, seolah dikepung. Karena itu, mau tidak mau Surabaya akan membantu Madura. Juga Kumpeni Belanda tidak tinggal diam karena kalau kekuasaan Mataram dibiarkan meluas, amat berbahaya bagi Belanda untuk meluaskan perdagangannya. Belanda dan Surabaya mempunyai kepentingan bersama, maka harus bekerja sama untuk membantu Madura. Maka, aku ingin bertemu dengan Adipati Surabaya untuk mewakili atasanku membicarakan urusan pertahanan Madura dan Surabaya dari ancaman Mataram."
Maya Dewi mengangguk-angguk dan tiba-tiba ia berhenti melangkah, lalu mengangkat muka memandang wajah Sa tyabrata yang lebih tinggi sekepala daripadanya.
"Akang Satya, engkau masih begini muda, bagaimana bisa mendapatkan kedudukan tinggi sehingga dipercaya ole Kumpeni Belanda?"
Satyabrata tertawa sehingga tampa deretan giginya yang rapi dan putih. Dia tidak ragu-ragu lagi untuk mengaku kepada gadis itu, karena jelas bahwa Maya Dewi juga seorang yang memusuhi Mataram.
"Aku mau bicara terus terang kepadamu, Maya, karena aku yakin bahwa engkau adalah seorang sahabat yang dapat kupercaya sepenuhnya. Aku telah dianggap sebagai anak sendiri oleh seorang perwira tinggi Kumpeni Belanda yang bernama Willem Van Huisen yang dulu tinggal di sebuah kapal kumpeni yapg beroperasi di Cirebon. Nah, dari dialah aku menerima kedudukan sebagai telik sandi kumpeni ini dan tentu saja dia percaya sepenuhnya kepadaku yang dia anggap sebagai anak sendiri."
"Ah, begitukah? Akan tetapi apakah warna kulit dan mata orang Belanda dapat menular, akang Satya?"
"Eh, kenapa engkau bertanya begitu, Maya?"
Maya Dewi tersenyum. Giginya yang rapi dan seputih mutiara berkilat ketika bibirnya terbuka.
"Habis, kulihat rnatamu kebiruan, tidak seperti mata orang Nusa Jawa, seperti mata orang Belanda yang pernah kulihat, walaupun warnanya tidak sebiru mata mereka."
Sudah terlanjur berterus terang, Satyabrata mulai membuka rahasia dirinya agar tidak menimbulkan kecurigaan gadis yang membuatnya bergairah dan tergila-gila itu.
"Terus terang saja, Maya, ayah kandungku adalah seorang bangsa barat akan tetapi bukan Belanda, melainkan seorang berbangsa Portugis yang bernama Henrik. Ibuku adalah seorang keturunan menak (priyayi), masih keturunan Kerajaan Banten yang langsung dari Raja Ari Ranamanggala."
Tentu saja Satyabrata hanya membual saja karena ibu kandungnya yang bernama Marsinah hanyalah seorang gadis nelayan di pantai Cirebon, sama sekali bukan menak (bangsawan) apalagi keturunan Raja Banten!
Akan tetapi karena ia sudah tertarik sekali, Maya Dewi percaya saja dan ia menjadi semakin kagum.
Kurang apa lagi pemuda ini?
Tampan dan gagah, keturunan bangsa barat yang terkenal kaya raya dan pandai dan ibunya keturunan Raja Banten, sakti mandraguna!
Masih ada satu syarat lagi!
Jangan-jangan pemuda ini sudah ada yang punya!
"Eh, akang Satya, apakah engkau sudah ada yang punya?"
Pikiran ini terlontar begitu saja dalam pertanyaannya. Satyabrata memandang gadis itu, agak heran dan bingung karena memang dia belum dapat menangkap apa yang dimaksudkan gadis itu.
"Sudah ada yang punya? Apa maksudmu, Dewi?"
"Itu... apa engkau sudah punya isteri?"
Satyabrata tersenyum dan hatinya merasa senang. Pertanyaan itu setidaknya mengungkapkan sedikit hati gadis itu yang agaknya mulai "ada rasa"
Kepadanya.
"Belum,"
Jawabnya sambil tersenyum dan menatap wajah gadis itu penuh selidik.
"Calon isteri, tunangan?"
"Juga belum."
"Pacar, gadis pilihan hatimu?"
Segera terbayang wajah Elsye Van Huisen yang manis, puteri Willem Van Huisen yang menjadi pacarnya ketika lima tahun yang lalu dia dan gadis Belanda itu masih remaja, dia berusia dua puluh satu tahun dan Elsye berusia tujuh belas tahun.
Timbul kerinduannya terhadap gadis yang denok dan jelita itu.
Kini tentu sudah dua puluh dua tahun usianya, sudah dewasa.
Dia teringat ketika dia berciuman dengan gadis itu, ketika hendak meninggalkannya.
Kemudian bayangan wajat Elsye berubah menjadi wajah manis ayi merak ati dari Muryani.
Dia harus mengaku dalam hatinya bahwa dia juga mencinta murid mendiang Nyi Rukmo Petak ini.
Gadis yang sakti mandraguna, bahkan lebih sakti daripada Maya Dewi, dan tidak kalah cantik, walaupun dalam hal pesona yang menggairahkan, Maya De memiliki daya pesona yang lebih kuat.
Jarang terdapat wanita yang demikian menggairahkan seperti Maya Dewi, seolah setiap bagian tubuhnya, sampai rambut-rambutnya, memiliki daya pesona tersendiri yang membangkitkan gairah setiap orang laki-laki.
"Hei, kenapa engkau diam saja dan termenung? Terlalu banyak pacarmu, ya, sehingga tidak dapat menjawab dan menjadi bingung sendiri?"
Maya Dewi mendesak dengan kerling mata tajam, senyum mengejek dengan bibir merah dicibirkan manja.
Ih, bibir itu!
Ingin Satyabrata menggigitnya saking gemas.
Akan tetapi dia menahan diri, bersikap seorang ksatria tulen!
"Memang banyak gadis yang tampaknya menaruh hati kepadaku, Maya, akan tetapi terus terang saja, belum ada seorangpun yang membuat hatiku tertarik., Kalau tadi aku termenung, karena aku inencari-cari untuk menjawabmu, akan tetapi ternyata memang belum ada."
Sepasang bibir yang merah basah itu terbuka lebih lebar dan sekilas ujung lidah yang meruncing merah muda berputar menjilati sepasang bibir sehingga menlndi semakin basah.
Melihat ini, Satyabrata menelan air ludah karena melihat keindahan di depannya, mulutnya kemecer (berliur) seperti orang melihat makanan rujak yang segar, manis, masam dan pedas!
"Hemm, benarkah sampai saat ini engkau belum pernah tertarik kepada seorang gadis?
Aku melihat sepasang matamu itu memandangku seperti hendak menelanku.Hi-hi-hik!"
Maya Dewi tertawa, tanpa menutupi mulutnya, tertawa bebas lepas dan sambil tertawa ia mengerling dan ia tampak genit dan manja sekali. Hampir tidak kuat lagi Satyabrata bertahan.
"Aku memang mulai tertarik, Maya Dewi, mulai tertarik begitu aku bertemu dengan engkau dan melihatmu."
Dia mulai berani merayu, namun tetap berhati-hati sehingga membatasi katakatanya bukan langsung pengakuan cinta, melainkan menggunakan kata tertarik.
"Hemm, benarkah itu?"
"Benar, Maya Dewi, dan aku mengira bahwa engkaupun suka kepadaku, benarkah itu?"
"Hemm, memang aku suka padamu akang Satya, akan tetapi itu bukan berarti bahwa aku tergila-gila kepadamu!' kata Maya Dewi manja dan jual mahal.
"Akan tetapi aku tergila-gila padamu Maya!"
"Hemm, tidak berarti bahwa aku jatuh cinta padamu."
"Akan tetapi aku jatuh cinta padatu!"
Kini Satyabrata berani mengaku terang-terangan karena dia sudah melihat titik terang dan lampu hijau!
"Huh, aku mendengar dari bapa bahwa lidah laki-laki tidak bertulang.
Rayuan laki-laki kebanyakan gombal.
Entah sudah berapa puluh laki-laki yang kubunuh karena berani merayugombal padaku.
Cintamu harus dibuktikan dulu, baru aku mau percaya!"
Satyabrata menghela napas panjang.
"Aih, Maya. Belum percayakah engkau kepadaku? Baik, akan kubuktikan nanti kalau ada kesempatan. Dan kalau engkau sudah percaya akan cintaku yang benar-benar suci kepadamu, baru engkau mau mengaku cinta padaku?"
"Kita lihat saja nanti! Aku tidak semurah dan semudah itu menjatuhkan cintaku. Sekali mencinta, akan kupertaruhkan dengan nyawaku!"
Ucapan ini terdengar manis, akan tetapi mengandung ancaman yang amat mengerikan sehingga Satyabrata sendiri yang berhati kejam itu diam-diam bergidik. Dia harus berhati-hati terhadap perempuan ini.
"Mari kita lanjutkan perjalanan kita, Maya. Surabaya sudah dekat dan aku tidak ingin terlambat sehingga tidak dapat rnenghadap Pangeran Pekik hari ini juga."
Demikianlah, pada siang hari itu mereka berdua memasuki kota Surabaya dan menjadi pusat perhatian orang, terutama orang-orang muda yang kagum kepada Maya Dewi dan gadisgadis yang kagum kepada Satyabrata.
"Anak-mas Satyabrata....!"
Satyabrata dan Maya Dewi cepat mernutar tubuh untuk melihat siapa yang memanggil itu.
Setelah melihat bahwa yang memanggil itu adalah seorang di antara empat orang perajurit yang menjadi anak buah Senopati Poncosakti yang pernah dibantunya ketika senopati Surabaya itu bertanding melawan Ki Kalingga, utusan Mataram yang membawa surat Pangeran Pekik untuk Sultan Agung.
"Ah, andika kiranya!"
Kata Satyabrata dengan sikap sedikit angkuh karena yang menegurnya itu hanyalah seorang perajurit biasa. Akan tetapi dia segera mendapat pikiran yang amat baik.
"Eh, paman perajurit! Tolong tunjukkan kepada kami di mana istana Sang Adipati Surabaya, kemudian laporkan kepada beliau bahwa kami mohon untuk menghadap!"
Perajurit itu yang sedang bebas tugas sudah mengenal bahwa pemuda yang gagah perkasa ini adalah seorang telik sandi Belanda, dan merupakan orang penting sekali, bahkan pernah membantu Senopati Poncosakti, maka dia menyatakan kesediaannya sambil membungkukbungkuk hormat kepada Satyabrata dan Maya Dewi.
Sepasang orang muda ini lalu mengikuti perajuri.t itu menuju ke istana Pangeran Pekik.
Pada saat itu, Pangeran Pekik sedang mengadakan perundingan dengan para menteri dan panglima.
Adipati Surabaya itu selalu mengerutkan keningnya, pertanda bahwa hatinya sedang tidak senang.
Tentu saja dia merasa tidak senang mendengar pelaporan Senopati Poncosakti bahwa Sultan Agung telah bertindak curang Di satu pihak membujuknya dengan kata-kata manis agar dia suka berdamai dan bersekutu dengan Mataram untuk memperkuat persatuan guna menghadapi Kumpeni Belanda.
Akan tetapi di lain pihak, dia mendengar bahwa di lain pihak Mataram kini sedang mempersiapkan pasukan besar-besaran untuk menyerang dan menaklukkan Madura.
"Mengapa Kanjeng Paman Sultan Agung bertindak demikian?"
Dia berseru setelah mendengarkan pelaporan Ki Poncosakti yang menjadi pemimpin para penyelidik.
"Baru saja beliau mengirim surat yang manis bunyinya, akan tetapi sekarang hendak menyerbu Madura tanpa memberi tahu kami? Padahal beliau juga mengetanhui bahwa para adipati di Pulau Madura adalah sekutu kami!"
"Sama sekali tidak mengherankan, gusti,"
Kata Ki Poncosakti yang sengaja membakar hati Adipati Surabaya itu.
"Mataram melihat betapa Surabaya dan Madura bersatu dan persatuan ini tentu saja menjadi penghalang yang kokoh kuat dan Mataram yang hendak mengumbar nafsu keangkara-murkaannye. Karena itu di samping membujuk paduka untuk bekerja sama, diamdiam dia mengerahkan pasukan untuk menyerbu Madura sehingga dia bermaksud memecah belah kekuatan persatuan Surabaya dan Madura."
Pangeran Pekik mengangguk-angguk dan menghela napas panjang.
"Sayang sekali mengapa Kanjeng Paman Sultan Agung berpendirian seperti itu. Padahal kalau dia hendak benar-benar berdamai dan bersekutu, kami dapat pula membujuk para adipati di Madura untuk menyudahi permusuhan dan bekerja sama."
Bagaimanapun juga, Pangeran Pekik masih mengingat akan hubungan darah kekeluargaan antara Kerajaan Mataram dan Kadipaten Surabaya.
"Hamba kira hal itu tidak perlu disesalkan, Gusti Pangeran. Pemikiran seperti itu hanya melemahkan kedudukan kita. Hamba yakin bahwa kalau Mataram belum menyerang Surabaya, adalah karena Mataram melihat kokohnya persatuan antara Surabaya dan Madura. Kalau Sultan Agung langsung menyerang Surabaya, sudah pasti semua adipati di Madura akan bangkit dan membantu Surabaya menghadapi Mataram. Oleh karena itu, setelah kini ternyata Mataram hendak menyerbu Madura, sudah sepantasnya kalau kita mengirim pasukan untuk membela Madura, kanjeng gusti,"
Kata pula Senopati Poncosakti.
"Kami kira pendapat andika itu benar, Poncosakti."
Pangeran Pekik lalu menitahkan panglimanya untuk membentuk pasukan untuk membantu Madura yang menghadapi serangan Mataram.
"Selain itu, kanjeng gusti. Hamba bertemu seorang pemuda yang sakti rnandraguna, namanya Satyabrata dan seorang temannya, gadis cantik dan sakti pula bernama Maya Dewi. Satyabrata itu teryata adalah seorang kepercayaan Kumpeni Belanda yang berkedudukan tinggi. Seorang seperti dia itu amat kita butuhkan, bukan saja untuk berhubungan dengan kumpeni, juga kesaktiannya dapat kita pergunakan untuk melawan para senopati Mataram yang tangguh dan sakti."
"Hemm, kita harus yakin lebih dulu, Poncosakti. Sekarang ini banyak orang yang pandai dan licik. Siapa tahu dia itu malah seorang ponggawa Mataram yang menyamar sebagai teliksandi kumpeni. Kebetulan sekali kami sedang kedatangan tamu agung, seorang perwira tinggi Kumpeni Belanda yang kini berada di Loji Tamu bersarna seorang puterinya. Kalau bicara dengan dia, akan kami ceritakan tentang Satyabrata dan Maya Dewi itu, untuk mendapatkan kepastian apakah benar mereka itu kepercayaan kumpeni."
Tiba-tiba seorang perajurit pengawa datang menghadap. Dia segera merangkak maju dan memberi hormat dengan sembah.
"Ampuni hamba yang berani mengganggu kesibukan paduka, gusti. Akan tetapi di luar ada seorang perajurit yang mengantarkan tamu yang mohon menghadap dan bertemu dengan paduka."
Pangeran Pekik mengerutkan alisnya Dia sedang mengadakan perundingan yang penting sekali dengan para pembantunya dan sekarang ada tamu yang datang mengganggu.
"Siapakah tamu itu, perajurit?"
Tanyanya kepada perajurit pengawal.
"Tamu itu ada dua orang, kanjeng gusti. Seorang pemuda bernama Satyabrata dan seorang gadis bernama Maya Dewi."
"Ah, itulah mereka yang hamba maksudkan tadi, gusti!"
Seru Poncosakti. Pangeran Pekik mengangguk kepada perajurit pengawal.
"Pengawal, suruh para tamu itu masuk menghadap kami!"
Setelah perajurit itu keluar, Pangeran Pekik berkata kepada para senopati.
"Kalian bersiap-siap dan waspadalah. Kalau dua orang itu membuat gerakan dan bersikap mencurigakan, kalian boleh turun tangan menangkap mereka."
Para senopati mengangguk dan mereka semua merasa tegang, kecuali tentu saja Poncosakti karena dia sudah percaya sepenuhnya kepada Satyabrata.
Ketika Satyabrata dan Maya Dewi memasuki ruangan persidangan yang luas itu, semua mata memandang kepada mereka dan suasana menjadi semakin tegang.
Satyabrata yang cerdik memasuki ruangan itu bersama Maya Dewi dan dia lalu duduk bersila sedangkan Maya Dewi duduk bersimpuh sambil memberi hormat dengan sembah kepada Pangeran Pekik.
Pangeran itu memandang dengan mata terbelalak dan dalam hatinya dia merasa heran dan juga kagum.
Sepasang orang muda yang elok.
Terutama pemuda itu.
Sepintas saja dia dapat melihat bahwa pemuda itu pasti memiliki darah orang Barat dalam tubuhnya.
Matanya yang kebiruan itu, kulitnya yang putih dan wajahnya yang tampan dengan hidung mancung berbentuk indah.
"Teja-teja sulaksana tejanya dua orang belia yang baru datang! Siapaka andika berdua dan ada keperluan apakah andika berdua minta menghadap kami?' kata Pangeran Pekik dengan suara penuh wibawa.
"Hamba bernama Satyabrata, berasal dari Cirebon. Adapun keperluan hamba menghadap paduka adalah untuk membicarakan tentang gerakan pasukan Mataram yang hendak menaklukkan Madura dan juga Surabaya. Hamba adalah seorang kepercayaan Kumpeni Belanda dan tuga hamba membantu mereka yang dimusuhi Mataram."
"Hamba bernama Maya Dewi dan ayah harnba, Resi Koloyitmo, menyuruh hamba untuk membantu Madura dan Surabaya menentang Mataram. Dalam perjalanan hamba berkenalan dengan akang Satyahrata dan karena tugas kami sama, maka hamba ikut dengan dia menghadap paduka,"
Kata Maya Dewi dengan suaranya yang merdu.
Biarpun Pangeran Pekik tidak seganteng Satyabrata, namun mengingat bahwa pria itu adalah seorang yang berkedudukan tinggi, maka tergerak juga hati Maya Dewi untuk bergaya agar dirinya lebih menarik.
Namun, dalam tubuh Pangeran Pekik masih mengalir darah biru (bangsawan) yang berwibawa, maka dia dapat melihat bahwa kecantikan wanita itu hanyalah kecantikan jasmani belaka, sehingga diapun tidak begitu terpikat.
Pangeran Pekik mengangguk-angguk Orrn sepasang matanya yang berpandangan tajam itu dapat melihat bahwa dua orang muda yang berwajah elok itu tidak memiliki sinar yang biasa dimiliki seorang ksatria dan wanita utama.
"Kami mengetahui siapa Resi Koloyitmo yang berasal dari Parahyangan itu. Akan tetapi, Satyabrata, bagaimana andika dapat membuktikan bahwa andika adalah seorang kepercayaan kumpeni?"
Satyabrata meraba pinggangnya.
Semua senopati siap dan meraba gagang keris masingmasing, berjaga-jaga.
Akan.
tetapi ternyata pemuda itu mengeluarkan sekeping uang dinar emas dari saku bajunya dan menyerahkannya kepada Pangeran Pekik.
"Inilah bukti dari hamba, gusti."
Seorang senopati menerima uang dinar itu dan menghaturkannya kepada Pangeran Pekik.
Setelah memeriksa uang dinar itu, Adipati Surabaya itu mengangguk-angguk, baru percaya bahwa pemuda itu mernang benar menyimpan sebuah dinar emas bergambar singa, sebagai tanda kekuasaan yang diberikan oleh kumpeni.
Dia sendiri pernah menerima dinar seperti itu, bukan sebagai tanda seorang penguasa kumpeni, melainkan sebagai tanda persahabatan.
Hadiah itu diteriman karena dia memperbolehkan kumpeni membeli beras dan rempa-rempah dari daerah Kadipaten Surabaya.
Dia segera mengembalikan dinar itu dan mulai percaya, walaupun rasa tidak sukanya terhadap kepribadian pemuda itu masih ada.
"Satyabrata dan Maya Dewi, kami menerima kalian sebagai tamu-tamu sahabat. Kalian tadi mengatakan bahwa kalian siap membantu Surabaya dan Madura dalam menghadapi ancaman Mataram. Lalu apa saja yang dapat kalian lakukan untuk membantu kami?"
"Gusti, dalam hal ini hamba yang tidak tahu akan siasat perang hanya ikut dan menurut saja apa yang hendak dilakukan akang Satyabrata dan akan membantunya,"
Maya Dewi mendahului.
"Sesungguhnyalah, Gusti Pangeran. Kalau hanya kami berdua saja, paling banyak kami dapat membantu pasukan Madura dan Surabaya dalam pertempuran melawan Mataram, menghadapi para senopati Mataram yang sakti mandraguna. Akan tetapi hamba dapat berbuat lebih dari itu, gusti. Hamba dapat menghubungi kapal kumpeni yang berada di lautan sekitar Madura dan Surabaya. Kapal-kapal itu dapat menghadang pasukan Mataram yang dating melalui lautan, dan hamba dapat mengajukan permohonan kepada atasan hamba agar dapat membantu Surabaya dan Madura dengan sejumlah senapan atau sepasukan serdadu, bahkan kalau perlu meriam-meriam."
Dalam lubuk hati Pangeran Pekik, memang adipati ini tidak begitu bersemangat untuk berperang melawan Mataram dan apa yang ditawarkan pemuda itu adalah urusan besar.
Kalau dia membuka tangan menerima bantuan Kumpeni Belanda, selain hal itu membuat permusuhan dengan Mataram semakin menghebat, juga membuat dia berhutang budi kepada kumpeni dan kelak pihak kumpeni dapat memaksakan kehendak mereka dengan bersenjatakan budi itu.
"Satyabrata, urusan besar ini haru kami rundingkan masak-masak dengan para pembantu kami sebelum kami mengambil keputusan. Sernentara itu, biarlah andika berdua menjadi tamu kami dan ingin kami perkenalkan kepada tamu-tamu asing kami yang kini sudah berada di Loji Tamu. Senopati Poncosakti, andika yang sudah mengenal dua orang tamu kita ini, biarkan mereka ke Loji Tamu dan perkenalkan kepada tamu-tamu kita yang sudah berada di sana."
"Sendiko, gusti!"
Kata Poncosakti dengan gembira.
"Marilah, anak-mas Satyabrata dan nini Maya Dewi."
Dua orang muda itu menyembah kepada Pangeran Pekik lalu keduanya meninggalkan ruangan itu mengikuti Poncoikti menuju ke Loji Tamu yang berada di ujung barat kompleks istana kadipaten itu.
Loji Tamu itu merupakan sebuah gedung yang istimewa dibuat untuk menerima tamu yang dihormati.
Tentu saja tidak sembarang tamu diterima dan disediakan kamar di gedung itu untuk tempat mereka menginap.
Hanya tamu yang dihormati dan dianggap tamu agung saja yang dapat menikmati keramahan Adipati Surabaya itu.
Mereka ini bukan saja mendapatkan kamarkamar yang indah dan lengkap, akan tetapi juga dijamu makanan yang serba mewah dan masih dihibur pula dengan pertunjukan joget dan tembang yang dilakukan para seniwati yang cantik dan ahli.
Ketika Poncosakti yang diikuti Satyabrata dan Maya Dewi tiba di Loji Tamu itu, perasaan Satyabrata tidak enak.
Dia belum tahu siapa yang menjadi tamu di situ dan hendak diperkenalkan kepadanya, Kalau tamu itu merupakan perwira tinggi Belanda yang pernah singgah di rumah Willem Van Huisen, mungkin dia mengenalnya.
Akan tetapi kalau tamu itu merupakan perwira tinggi dari Batavia, mungkin dia belum pernah bertemu dengannya dan berhadapan dengan perwira tinggi yang belum dikenalnya, selalu mendatangkan perasaan tidak sedap di hati Satyabrata.
Hal ini adalah karena dia tahu benar bahwa bangsa Belanda itu amat congkak, terutama kalau berhadapan denga orang pribumi.
Bahkan Willem Van Huisen pernah mengatakan bahwa bangsa Belanda datang ke Nusa Jawa membawa kemakmuran dan akan mengajarkan peradaban kepada orang pribumi, mengajarkan hidup yang benar, bersih, beradab dan sebagainya.
Karena ibunya adalah seorang pribumi, maka tentu saja Satyabrata merasa tidak enak kalau Willem Van Huisen bicara tentang itu.
Apalagi setelah dia melihat kenyataan betapa hampir semua perwira tinggi yang baru saja dijumpainya memandang rendah kepadanya.
Dia tahu apa sebabnya, yaitu karena jelas dia bukan orang Belanda totok.
Karena rambutnya hitarn dan hanya matanya saja yang menunjukkan bahwa ada darah bule di tubuhnya.
Bahkan kulitnya juga tidak bule seperti mereka, walaupun lebih putih dibandingkan orang pribumi.
Biarpun ragu-ragu, dia tidak dapat mencegah ketika Poncosakti memberi tahu penjaga Loji Tamu itu untuk melaporkan kepada tamunya bahwa dia datang untuk memperkenalkan tamutamu lain.
"Silakan duduk menunggu di ruangan depan, akan saya laporkan kepada tuan,"
Kata penjaga itu dan dia lalu masuk dalam gedung itu.
Poncosakti mengajak Satyabrata dan Maya Dewi untuk duduk di atas kursi-kursi yang tersedia di ruangan depan itu.
Tak lama kemudian terdengar detak sepatu datang dari dalam.
Poncosakti segera bangkit berdiri dan menghadap arah pintu yang menembus ruangan dalam.
Daun pintu terbuka dari dalam dan muncullah seorang laki-laki Belanda, berusia sekitar lima puluh lima tahun dengan pakaian sebagai seorang perwira tinggi yang indah dan gagah, ditemani seorang gadis Belanda yang cantik, berusia kurang lebih dua puluh satu tahun.
"Permisi, tuan, saya Senopati Poncosakti hendak memperkenalkan anak-mas"."
Poncosakti tak melanjutkan kata-katanya karena dia melihat perwira tinggi Belanda dan gadis itu memandang kepada Satyabrata dengan mata terbelalak dan' wajah gembira sekali.
"Jan....?"
Teriak orang Belanda itu yang bukan lain adalah Willem Van Huisen perwira tinggi kumpeni itu.
Kiranya dia yang bertamu pada Adipati Surabaya!
Dua orang itu saling berjabat tangan dan berangkulan.
Kemudian Satyabrata melepaskan rangkulan dan memutar tubuhnya menghadapi gadis Belanda itu.
"Jan, ben jij dat (engkaukah itu), Jan?"
Gadis itu berseru dan mengembangkan kedua lengannya.
"Elsye, schat (sayang)....!"
Kata Satyahrata dan entah siapa mendahului, keduanya saling berangkulan dan saling berciuman pipi sampai berulang kali.
Melihat ini, api cemburu membakar hati Mava Dewi dan hampir saja ia turun tangan membunuh gadis Belanda itu!
Sambil menekan perasaannyaa yang bergejolak marah, Maya Dewi berkata kepada Satyabrata dengan suara ketus.
"Akang Satya, siapakah mereka ini?"
Teguran yang ketus ini menghentikan tiga orang yang bercakap-cakap cas-cis-cus berbahasa Belanda yang tidak dimengerti oleh Maya Dewi.
Satyabrata terkejut karena dia baru teringat akan kehadiran Maya Dewi.
Tadi dia bergembira sekali bertemu dengan Willem Van Huisen, ayah angkatnya dan dengan Elsye Van Huisen, adik angkat yang juga menjalin hubungan mesra dengannya seperti seorang kekasih itu.
Sudah lima tahun dia berpisah dari mereka dan sama sekali tidak mengira bahwa tamu Pangeran Pekik adalah dua orang yang memiliki hubungan dekat sekali dengannya.
Oleh karena it tidak anehlah kalau Satyabrata begitu bergembira sehingga sejenak dia melupakan kehadiran Maya Dewi.
Apalagi sekarang dia melihat betapa Elsye telah menjadi seorang gadis dewasa yang bertubuh denok montok menggairahkan.
Mendengar pertanyaan ketus dari Maya Dewi, barulah Satyabrata terkejut dan sadar.
"Oh, ya. Aku sampai lupa memperkenalkan mereka kepadamu, Maya. Ayah dan Elsye, ini adalah seorang sahabat baikku bernama Maya Dewi. Maya, ini adalah ayah angkatku seperti yang pernah kuceritakan padamu. Dia adalah Perwira Tinggi Willem Van Huisen, cukup kau sebut sebagai Tuan Willem saja dan yang ini"
Satyabrata menggandeng tangan Elsye yang tersenyum manja.
"... ini adalah puterinya, adik angkatku bernama Elsye Van Huisen, cukup kausebut Nona Elsye saja."
Willem Van Huisen menyodorkan tangannya mengajak Maya Dewi bersalaman.
Gadis ini menyambutnya dan ketika berjabat tangan, orang Belanda itu berkata-kata dalam bahasa Sunda yang lancar sambil menggenggam tangan mungil gadis itu.
"Maya Dewi, sungguh nama yang amat indah, seindah orangnya!"
Senang juga Maya mendengar ucapan itu karena ia melihat dari pandang mata orang Belanda itu bahwa dia bicara jujur, tidak bermaksud merayu.
Juga Elsye mengajaknya bersalaman dan biarpun ia tidak merasa rendah diri, namun Maya Dewi merasa tidak enak melihat gadis belanda itu lebih jangkung daripada ia.
Elsye hampir sejangkung Satyabrata.
Akan tetapi karena sikap Elsye ramah, iapun merasa senang berkenalan dengan mereka.
Padahal penyebab rasa senang itu adalah karena kini ia mengetahui bahwa gadis itu adalah adik angkat Satysabrata, walaupun mereka memperlihatkan kemesraan yang baginya keterlaluan dan melanggar batas kesopanan.
Masa dengan adik sendiri berciuman seperti dua orang kekasih atau dua orang suami isteri saja Mereka dipersilakan duduk kembali.
Juga Senopati Poncosakti dipersilakan duduk.
Akan tetapi Poncosakti menolak, dan berkata.
"Saya masih mempunyai banyak tugas yang harus diselesaikan dan menghadiri persidangan yang akan dibuka oleh Gusti Pangeran. Silakan anakmas berdua bercakap-cakap dan tinggal di Loji Tamu ini, akan tetapi saya amat mengharapkan agar andika berdua besok pagi suka menjadi tamu keluarga kami. Kami ingin mengadakan pesta untuk andika berdua, sebagai penyambutan selamat datang dan ucapan terima kasih kami atas pertolongan andika berdua."
Setelah Satyabrata menyanggupinya, dia lalu mengundurkan diri.
Setelah Poncosakti pergi, empat orang itu duduk melingkari meja dan kedua ayah dan anak itu seperti berlomba hendak menghujankan pertanyaan kepada Satyabrata.
Akan tetapi sebelum mereka mulai, Satyabrata menoleh kepada Maya Dewi lalu berkata kepada ayah angkatuya.
"Ayah dan Elsye, karena di sini ada Maya Dewi dan ia bukan orang lain, melainkan segolongan sendiri, maka kuharap ayah dan Elsye bicara menggunakan bahasa daerah sehingga ia dapat mengerti dan ikut dalam percakapan."
Melihat sikap Satyabrata yang serius ketika mengucapkan kata-kata ini, Willem Van Huisen mengangguk -dan berkata.
"Baiklah, akan tetapi katakan dulu mengapa engkau menganggap Maya Dewi ini sebagai orang segolongan dengan kita."
"Begini, ayah. Maya Dewi ini adalah puteri Resi Koloyitmo dari Parahyangan dan ia adalah seorang yang menerima tugas dari ayahnya untuk memusuhi Mataram dan membantu siapa saja yang menjadi musuh Mataram. Ia sakti mandraguna dan pandai, ayah, maka akan sangat menguntungkan kita kalau ia diberi kepercayaan sebagai seorang telik-sandi kumpeni."
Willem Van Huisen mengangguk-angguk ,dan tersenyum senang.
"Baiklah, akan kuusulkan kepada Gubernur Jenderal agar ia diangkat menjadi seorang pimpinan telik-sandi kumpeni. Bagaimana, Maya Dewi, maukah engkau menjadi seorang mata-mata kumpeni?"
Maya Dewi tersenyum manis. Ia mengangguk dan berkata.
"Tentu saja saya mau."
"Nah, anakku Jan, sekarang ceritakanlah apa saja yang kau alami dan ke mana saja engkau pergi selama lima tahun ini,"
Kata Willem.
"Ya, ceritakanlah, Jan. Sampai setengah mati aku menunggu dan merindukanmu. Engkau menghilang selama lima tahun, tanpa kabar sama sekali walaupun ayah telah mendengar bahwa engkau telah menghubungi beberapa orang teliksandi. Kami hanya tahu bahwa engkau masih hidup. Ceritakanlah,"
Kata Elsye. Satyabrata lalu bercerita. Akan tetapi dia tidak ingin menceritakan yang sebenarnya tentang ilmu yang ditemukannya dalam sumur tua di belakang perguruan Jatikusumo di tepi laut Pacitan.
"Ketika mendengar bahwa perguruan Jatikusumo adalah pusat para jagoan yang setia kepada Mataram, aku lalu pergi ke sana untuk melakukan penyelidikan. Aku berhasil menyusup menjadi seorang murid Jatikusumo. Pada suatu hari kebetulan sekali aku menemukan kitabkitab kuno di guha tepi lautan. Kitab-kitab itu ternyata adalah peninggalan milik Sunan Gunung Jati yang entah bagaimana dapat berada di sana. Selama bertahun-tahun, tanpa diketahui orang lain, aku mempelajari semua ilmu itu."
"Dia menjadi sakti mandraguna karena mempelajari ilmu-ilmu itu!"
Tambah Maya Dewi.
"Bagus sekali!"
Puji Willem Van Huisen.
"Kemudian dalam perantauanku menyelidiki keadaan Mataram dan memusuhi mereka yang setia kepada Mataram, aku bertemu dengan Maya Dewi ini dan kami nenjadi sahabat."
"Ya, kulihat kalian menjadi sahabat yang baik sekali, dan serasi, dan kalian dapat menjadi jodoh yang tepat sekali!"
Kata Elsye. Maya Dewi terkejut pula mendenga ucapan yang blak-blakan itu, seperti juga Satyabrata.
"Elsye, jangan goda mereka!"
Kata Willem dan dia berkata kepada putera angkatnya.
"Jan, lanjutkan ceritamu. Bagaimana engkau dan Maya Dewi dapat tiba-tiba berada di Kadipaten Surabaya ini."
"Kami berdua mengambil keputusan untuk pergi ke Madura setelah mendengar bahwa Mataram sudah siap menggempur Madura. Kami ingin membantu Madura. Akan, tetapi dalam perjalanan kami bertemu dengan Senopati Poncosakati tadi yang sedang berusaha mengadu domba antara Surabaya dan Mataram."
"Eh, menarik sekali itu! Bagairnana caranya?"
Tanya Willem.
Satyabrata lalu menceritakan tentang pengubahan pada surat Pangeran Pekik yang ditujukan kepada Sultan Agung dan mendengar ini, Willem van Huisen menjadi senang sekali dan tertawa bergelak.
"Ha-ha-ha, bagus sekali! Memang berbahaya kalau Mataram bersatu dengan Surabaya."
"Demikianlah, pertemuan dengan Poncosakti itu menimbulkan keinginan dalam hatiku untuk berkunjung kepada Pangeran Pekik dan menawarkan kerja sama. Sama sekali tidak pernah kusangka bahwa di sini aku dapat bertemu dengan ayah dan Elsye,"
Satyabrata mengakhiri ceritanya.
Sehari itu mereka bercakap-cakap dan Willem Van Huisen menceritakan keadaan kumpeni kepada Satyabrata dan bahwa kunjungannya ke Surabaya juga dalam pngka memantau keadaan Surabaya dan perrgolakan sehubungan dengan niat Mataram untuk menyerbu Madura dan Surabaya.
Malam itu Satyabrata dan Maya Dewi bermalam di Loji Tamu, mereka berdua masingmasing mendapatkan sebuah kamar.
Ketika hendak berpisah, Elsye berkata dalam bahasa Belanda kepada Satyabrata.
"Kunanti engkau malam ini dalam taman."
Maya Dewi yang selalu curiga segera bertanya setelah mereka berpisah dari gadis Belanda itu.
"Apa yang ia katakana tadi, akang Satya?"
"Ah, ia hanya mengatakan selamat malam dan sampai jumpa pula besok pagi,"
Jawab pemuda itu.
Biarpun Maya Dewi tidak membantah lagi, namun ia tetap curiga dan setelah memasuki kamar tidurnya dan merebahkan diri, ia tidak segera dapat pulas.
Pendengarannya dicurahkan untuk memperhatikan suara dari kamar di sebelah, kamar Satyabrata.
Tak lama kemudian ia mendengar suara gerakan orang.
Biarpun langkah itu perlahan, namun pendengarannya yang tajam terlatih dapat menangkapnya.
Suara itu datangnya dari samping kamarnya, dari arah taman.
Cepat ia menghampiri jendela kamarnya dan dengan hatihati membuka sedikit daun jendela kamar setelah meniup padam lampu dalam kamarnya.
Dan di bawah sinar lampu gantung yang berada dalam taman, ia melihat bayangan orang berjalan memasuki taman.
Bayangan Elsye!
Maya Dewi mengerutkan alisnya.
Mau apa gadis Belanda itu malam-malam memasuki taman?
Ia cepat membuka daun jendela dan seperti seekor burung ia melompat keluar jendela tanpa menimbulkan sedikitpun suara.
Dari luar ia menutupkan lagi jendela kamarnya kemudian ia menyelinap di dalam bayang-bayang pohon dan bergerak membayangi Elsye yang bergegas memasuki taman.
Taman itu agaknya memang dibangun sebagai pelengkap Loji Tamu, sebuah taman yang cukup indah dan penuh dengan tanaman bunga dan pohon cemara.
Di tengah taman terdapat sebuah bangku panjang dan Maya Dewi melihat dua orang duduk di bangku itu.
Ia menyelinap mendekati dan mengintai dari balik semak.
Alisnya berkerut, hatinya panas melihat bahwa yang duduk di situ adalah Satyabrata dan Elsye.
Agaknya Elsye baru datang dan langsung mereka berangkulan, berciuman sambil duduk di atas bangku itu.
"Marilah, Elsye, mari ke kamarku....!"
Satyaabrata membujuk.
Maya Dewi semakin panas hatinya karena Satyabrata bicara dalam bahasa Belanda yang tidak dimengertinya.
Ia hanya melihat Satyabrata bangkit dan mencoba untuk menyeret tangan Elsye, mengajaknya pergi.
Elsye juga menjawab dalam bahasa Belanda.
"Jangan, Jan, jangan begitu... kita dak boleh melakukan itu...."
"Akan tetapi, kita saling mencinta Elsye. Aku cinta padamu."
"Akupun cinta padamu, Jan. Akan tetapi, seperti sudah kuceritakan tadi, aku sudah bertunangan dengan seorang lain sudah menjadi calon isteri Piet...."
SATYABRATA menghentikan ucapan gadis Belanda itu dengan sebuah ciuman yang bernafsu.
Akan tetapi, setelah membiarkan dirinya tenggelam sejenak dalam kemesraan itu, Elsye lalu meronta dan melepaskan dirinya.
"Jan, aku tidak mau. Kalau engkau memaksa, aku akan lapor kepada papa!"
Satyabrata tidak berani memaksa.
Elsye bukanlah sembarang gadis yang dapat dijadikan pemuas nafsunya seperti para gadis yang pernah menjadi korbannya.
Akan tetapi diam-diam dia lalu mengerahkan aji pengasihan, mulutnya berkemak-kemik membaca mantera yang pernah dipelajarinya dalam sumur tua.
"Elsye, kekasihku !"
Dia berbisik.
"Jan.... ohh.... Jantje....!"
Elsye terkulai dalam rangkulan Satyabrata, sepenuhnya terbuai aji pengasihan Mimi-mintuna yang dikerahkan Satyabrata.
Memang pada dasarnya kedua orang muda itu saling mencinta.
Sejak remaja mereka sudah bergaul dekat dan cinta dalam hati mereka yang mula-mula merupakan cinta antara saudara, walaup hanya saudara angkat, namun setela menjelang dewasa mereka saling tertarik dan cinta itu menjadi cinta antara pria dan wanita.
Akan tetapi Satyabrata lalu pergi mengembara sampai lima tahun lebih lamanya.
Ketika ditinggal pergi Satyabrata, usia Elsye Van Huisen baru tujuh belas tahun.
Sekarang usianya sudah dua puluh dua tahun lebih, sudah dewasa.
Karena itu, perpisahannya dengan Satyabrata membuka kesempatan baginya untuk berkenalan dan saling jatuh cinta dengan seorang pemuda lain, seorang pemuda Belanda yang berpangkat letnan dan menjadi pembantu ayahnya, bernama Piet Meijer.
Willem Van Huisen menyetujui pilihan puterinya dan mereka telah ditunangkan.
Karena itu Elsye tadinya menolak ketika diajak bercumbu oleh Satyabrata.
Akan tetapi setelah pemuda itu mempergunakan Aji Pengasihan Mimi-mintuna yang ampuh, Elsye tak berdaya menolak.
Mereka saling berangkulan dan berciuman, dan gadis Belanda itupun mandah saja ketika Satyabrata memondongnya dan hendak membawanya pergi dari taman.
Sepasang mata Maya Dewi mengeluarkan sinar berapi ketika ia melihat semua ini.
Dapat dibayangkan betapa marah rasa hatinya melihat Satyabrata bercumbu dengan gadis Belanda itu.
Hatinya dibakar cemburu.
Bukankah pemuda itu mengaku jatuh cinta kepadanya?
Dan diamdiam iapun mulai tertarik dan mencintai Pemuda yang sakti mandraguna dan tampan lembut itu.
Akan tetapi sekarang ia melihat Satyabrata berangkulan dan berciuman dengan Elsye!
Ia tidak dapat lagi menahan kemarahan dan cemburunya.
Sekali melompat Maya Dewi sudah berdiri menghadang di depan Satyabrata yang berjalan sambil memondong Elsye yang memejamkan kedua matanya sambil lengannya merangkul leher pemuda itu.
Melihat bayangan berkelebat dan tiba-tiba Maya Dewi berdiri di depannya dengan sepasang mata mencorong marah tu, Satyabrata menjadi terkejut bukan main.
Saking kagetnya dia melepaskan pondongannya sehingga Elsye jatuh bedebuk dan gadis ini menjadi sadar, terbebas dari pengaruh aji pengasihan yang tadi menguasai dirinya.
Sejenak ia menjadi bingung, lalu teringat akan apa yang ia lakukan bersama Satyabrata.
Kini melihat Maya Dewi berdiri di situ, Elsye menjadi malu dan iapun bangkit berdiri dan berlari ke gedung Loji Tamu tanpa mengeluarkan sepatah katapun.
Maya Dewi kini tinggal berdua dengan Satyabrata di tengah taman itu.
Mereka berdiri saling berhadapan dan Satyabrata sudah dengan cepat dapat menguasai hatinya.
Dia tersenyum dan dengan wajah yang polos dan bersih seolah tidak pernah melakukan sesuatu yang salah, dia menegur.
"Maya Dewi! Engkau belum tidur? Kebetulan sekali engkau datang, aku pun tidak dapat tidur dan kita dapat bercakap-cakap di sini. Duduklah,"
Kata Satyabrata sambil menunjuk ke arah bangku.
"Akang Satya! Jangan berpura-pura. Apa yang kau lakukan bersama gadis Belanda itu tadi?"
"Ehh"?"
Satyabrata mengembangkan kedua lengannya dan wajahnya membayangkan keheranan seorang yang tidak mempunyai kesalahan apapun.
"Apa maksudmu? Apa yang kami lakukan?"
"Ehh"..! Masih bertanya lagi? Kalian saling berangkulan, berciuman, dan engkau memondongnya....!"
Tiba-tiba Satyabrata tertawa.
"Ha-hati! Engkau cemburu, Maya? Engkau cemburu terhadap adikku sendiri? Ha-ha, bukankah sudah kukatakan tadi bahwa peluk cium bagi bangsa Belanda adalah hal yang biasa dilakukan kakak beradik? Engkau tahu, aku berpisah dengan adikku itu selama lima tahun lebih. Setelah sekarang kami bertemu, kami menumpahkan kerinduan kami. Peluk-cium itu adalah tanda cinta kami, Maya, akan tetapi cinta antara kakak dan adiknya. Bagi bangsa Belanda, hal itu adalah biasa dan tidak melanggar kesusilaan karena peluk cium itupun bersih daripada perasaan yang tidak-tidak. Percayalah, Maya, Elsye mencintaku dan aku mencintanya, akan tetapi cintaku terhadap dirinya sungguh berbeda sekali dengan cintaku terhadap dirimu!"
Ucapan penuh semangat menggebu dan terdengar penuh kesungguhan itu menyiram padam api kemarahan dan kecemburuan di hati Maya Dewi yang biarpun sakti namun sama sekali belum berpengalaman dalam soal cinta mencinta.
Tentu saja ia sama sekali tidak mengira bahwa alasan yang dikemukakan Satyabrata tadi bohong.
Biarpun bangsa Belanda lebih terbuka dalam memperlihatkan kasih sayangnya, namun tentu saja cumbuan seorang kakak terhadap adiknya sama sekali berbeda dengan cumbuan seorang pria terhadap kekasihnya!
Akan tetapi tidak mengerti akan hal itu dan ia percaya kepada Satyabrata sehingga Maya Dewi mulai tersenyum, sinar matanya tidak mencorong lagi seperti tadi, melainkan bening dan lembut.
Sebagai pengganti perasaan cemburunya, kini ia merasa iri membayangkan kemesraan yang tadi dilihatnya antara Satyabrata dan Elsye.
"Hemm, begitukah? Apa sih bedanya antara cinta saudara dan cinta kekasih itu, akang?"
Tanyanya ingin tahu. Melihat perubahan sikap gadis itu, Satyabrata mendekat lalu memegang kedua tangan Maya Dewi.
"Kalau engkau ngin merasakannya, bolehkan aku membuktikan kasihku kepadamu, Maya?"
Kedua tangannya menggenggam erat tangan gadis itu.
Dengan muka berubah kemerahan dan senyum menantang namun malu-malu, Maya Dewi mengangguk, jantungnya berdebar kencang karena selama hidupnya belurn pernah ia merasa begini dekat dengan seorang pria.
Dekat lahir batinnya yang menimbulkan perasaan mesra.
Ia pun mengangguk dan menengadahkan mukanya, siap menerima perlakuan mesra seperti yang dilihatnya tadi didapatkan gadis Belanda itu dari Satyabrata.
Satyabrata tidak menyia-nyiakan ke sempatan itu.
Dipeluknya Maya Dewi dengan lembut, lalu diciuminya bibir gadi itu dengan sepenuh perasaan cintanya dengan mesra namun lembut karena dia tidak ingin mengejutkan gadis itu.
Pada dasarnya Maya Dewi adalah seorang gadis yang sejak kecil terdidik dan berada dalam lingkungan para hamba nafsu, adalah seorang yang lemah terhadap nafsu-nafsunya sendiri.
Oleh karena itu, bagaikan daun kering yang tersentuh api yang dinyalakan Satyabrata, ia segera terbakar dan berkobar diamuk api nafsu berahinya sendiri.
Ia terkulai dan terlena oleh kenikmatan yang baru saja dikenalnya.
Namun, gadis yang cerdik ini setelah beberapa saat membiarkan dirinya hanyut meronta dan melepaskan diri dari dekapan.
"Hemm... kenapa, Maya? Engkau baru mengenal apa artinya cinta. Marilah, kekasihku, kita pindah ke kamar di Loji, d sana kita aman, tidak khawatir terlihat orang lain...."
Satyabrata yang sudah merasa menang, menggandeng tangan gadis tu. Akan tetapi Maya Dewi melepaskan tangannya dan menggeleng kepalanya.
"Tidak, belum lagi, akang! Aku masih belum yakin benar akan cintamu. Engkau harus membuktikan itu dengan nyata, baru aku akan percaya dan mau menyerahkan jiwa ragaku kepadamu."
"Membuktikan cintaku? Ah, adindaku yang tersayang, bukti apa lagi yang harus kulakukan untuk meyakinkan hatimu? Katakanlah, semua kehendakmu tentu akan kupenuhi untuk membuktikan cintaku."
Maya Dewi tersenyum dan kini ia yang memegang tangan Satyabrata.
"Tenang dan sabarlah, akang. Beri aku waktu unluk memikirkan apa yang harus kaulakukan untuk membuktikan cintamu yang tulus padaku. Sekarang aku ingin tidur. Lihat, tubuhku masih gemetar karena perbuatanmu yang nakal tadi!"
Gadis itu melepaskan tangannya dan membalikkan tubuh, lalu berlari pergi ke bangunan loji sambil tertawa kecil.
Satyabrata berdiri tertegun.
Kecewa dan kesal memenuhi hatinya.
Dia merasa seolah buah segar yang sudah menempel di bibir luput termakan olehnya.
Dan itu terjadi dua kali di malam itu.
Pertama Elsye yang gagal didapatkannya karena kemunculan Maya Dewi.
Kemudian Maya Dewi sendiri, padahal sudah jelas terasa olehnya betapa Maya Dewi membalas belaian dan cumbuannya, yang berarti bahwa gadis itupun membalas cintanya.
Kalau dia tadi mempergunakan aji pengasih annya, alangkah akan mudahnya Maya Dewi terjatuh ke dalam dekapannya.
Akan tetapi berbeda dengan terhadap Elsye, dia tidak mau mempergunakan aji pengasihan terhadap Maya Dewi.
Dia menginginkan cinta kasih murni gadis itu, ingin gadis itu menyerahkan diri kepadanya dengan suka rela, tanpa paksaan tanpa pengaruh luar.
Dia ingin mendapatkan Maya Dewi yang diharapkan menjadi isterinya.
Kalau Elsye, gadis Belanda itu tidak mungkin menjadi isterinya karena pertama, Willem Van Huisen tidak mungkin menyetujui puterinya menjadi isteri seorang blasteran, seorang peranakan, seorang Indo, bukan Belanda tulen yang totok.
Kedua, Elsye sudah bertunangan dengan laki-laki lain, seorang pemuda Belanda totok.
Ketiga, dia sendiri hanya suka akan kecantikan gadis itu, tidak mencintanya dan tidak mengharapkannya menjadi isterinya.
Dia hanya ingin menggauli Elsye sebagai kekasihnya, untuk sementara saja.
Dengan hati kecewa Satyabrata kembali ke kamarnya.
Diam-diam dia merasa heran dan bertanya-tanya, bukti apa yang dikehendaki Maya Dewi nanti untuk membuktikan cintanya.
Pada keesokan harinya, Satyabrata dan Maya Dewi berpamit kepada Willem Van Huisen yang masih berada di Loji Tamu sebagai tamu kehormatan Pangeran Pekik, untuk memenuhi undangan Senopati Poncosakti yang mengundang mereka untuk bermalarn di rumahnya.
Ketika berpamit ini, Satyabrata berunding dengan ayah angkatnya, mengatakan bahwa dia hendak pergi ke Madura untuk membantu Madura menghadapi penyerbuan pasukan Mataram.
Willem Van Huisen juga berjanji untuk mengatur bantuan kepada Madura melalui kapal perang, juga berjanji akan mengusulkan kepada atasannya di Batavia untuk mengangkat Maya Dewi menjadi mata-mata kumpeni tingkat tinggi yang dipercaya.
Setelah berpamit, di mana Elsye hadir dengan sepasang alis berkerut dan tidak banyak cakap, Satyabrata dan Maya Dewi mengikuti Senopati Poncosakti yang sudah dating menyambut mereka.
Mereka lalu mohon diri dari Pangeran Pekik.
Rumah tinggal Senopati Poncosakti cukup besar dan mewah walaupun tentu saja tidak sebesar dan semewah istana Sang Adipati.
Akan tetapi Senopati Poncosakti menyambut dua orang tamunya itu dengan penuh keramahan dan penghormatan.
Dia bahkan mengajak isterinya dan puterinya yang bernama Mintarsih untuk menyambut.
Keramahan keluarga senopati itu membuat Satyabrata dan Maya Dewi merasa lebih senang dan leluasa tinggal di rumah gedung sang senopati.
Mintarsih adalah seorang gadis yang ramah dan lincah, juga wajahnya ayu manis.
Sebentar saja ia merasa akrab dengan Maya Dewi dan mengajak Maya Dewi tinggal bersama di kamarnya.
Satyabrata mendapatkan sebuah kamar di bagian bangunan samping, sebuah kamar yang cukup indah karena kamar itu memang diperuntukkan para tamu yang dihormati.
Maya Dewi juga merasa suka kepada Mintarsih yang kenes dan ramah.
Tentu saja kecantikan wajah Mintarsih dan bentuk tubuhnya yang menggairahkan bagaikan sekuntum bunga sedang mekar itu tak luput dari incaran pandang mata Satyabrata!
Melihat pandang mata Mintarsih yang menyinarkan kekaguman, senyum yang malu-malu namun ada daya tarik yang menantang itu, timbul gairah Satyabrata dan dia mengambil keputusan untuk mendekati puteri senopati itu.
Dia tidak akan melewatkan kesempatan baik itu!
Ketika sore hari itu keluarga senopati menjamu pesta makan, mereka berlima makan di satu meja.
Kebetulan Satyabrata duduk tepat berhadapan dengan Mintarsih.
Diam-diam ketika pandang mata Mintarsih bertemu dengan panidang matanya, dia mengerahkan aji pengasihannya, diam-diam membaca mantera.
Tiba-tiba kedua pipi Mintarsih menjadi kemerahan, matanya redup dan ia menjadi salah tingkah.
Akan tetapi Satyabrata tidak melanjutkan ajinya karena maksudnya hanya untuk menarik perhatian gadis itu dan membuatnya tidak lagi mampu melupakannya.
Bahkan diam-diam kakinya dijulurkan ke depan dan dia berhasil menyentuh kaki Mintarsih dengan ujung jari kakinya.
Gadis itu tersenyum malu-malu dan menarik kakinya.
Akan tetapi Satyabrata merasa yakin bahwa gadis itu tentu tidak akan melupakan semua kejadian kecil ini.
Malam itu Mintarsih bercakap-cakap dengan Maya Dewi sambil rebah di atas pembaringan dalam kamar puteri senopati itu.
Mintarsih yang ramah dan lincah itu menghujani Maya Dewi dengan pertanyaan.
"Benarkah engkau bukan adik dari kakangmas Satyabrata, mbakayu Maya Dewi?"
Tanya Mintarsih dengan suara penuh keinginan tahu.
"Bukan, sama sekali bukan. Sudah kukatakan itu tadi, untuk apa aku berbohong?"
Jawab Maya Dewi.
"Lalu bagaimana kalian dapat bertemu dan melakukan perjalanan bersama?"
Sebetulnya Maya Dewi merasa agak tidak senang didesak seperti itu tentang hubungannya dengan Satyabrata, akan tetapi karena sikap Mintarsih demikian ramah dan terbuka, iapun merasa tidak enak kalau tidak menjawab.
Maka iapun menwab dengan singkat.
"Kami saling bertemu di jalan dan karena mempunyai tujuan sama, yaitu membantu Madura dan Surabaya menentang Mataram, maka kami melakukan perjalanan bersama dan kebetulan bertemu dengan ayahmu."
"O, begitukah? Kalian tampak serasi sekali, mbakyu. Kakangmas Satyabrata demikian ganteng dan engkau begini cantik. Kukira kalau bukan kakak dan adik kalian tentu suami isteri, tunangan atau setidaknya kekasih!"
Setelah berkata demikian, Mintarsih memandang wajah Maya Dewi penuh selidik.
Maya Dewi mengerutkan alisnya, akan tetapi mulutnya tersenyum.
Tentu saja ia tidak mau membuka rahasia hatinya kepada setiap orang.
"Ah, kami hanya bersahabat,"
Katanya singkat.
Akan tetapi jawaban ini agaknya amat menggirangkan hati puteri senopati itu.
Maya Dewi sama sekali tidak mengira bahwa Mintarsih masih terpengaruh sekali oleh aji pengasihan yang diarahkan kepadanya oleh Satyabrata ketika makan bersama sore tadi dan sentuhan kaki itu pun tak pernah lepas dari kenangannya.
Mintarsih memegang lengan Maya Dewi.
"Benarkah itu, mbakayu? Ah, girang sekali hatiku. Aku ingin mengenal dia lebih dekat lagi! Mau engkau membantu mbakayu?"
Maya Dewi merasa sebal dan kesal.
Ingin ia menghardik, akan tetapi karena ingat bahwa ia seorang tamu, maka ditahannya kemarahannya.
Ia tidak menjawab, melainkan membalikkan tubuhnya membelakangi Mintarsih dan menghadap ke dinding sambil berkata lirih.
"Ah, aku lelah sekali, ingin tidur sekarang...."
Mintarsih tidak berani mengganggu lagi.
Akan tetapi gadis ini gelisah di atas pembaringan, tidak dapat tidur.
Ia merasa betapa suara Satyabrata memanggil-manggilnya.
Telinganya tidak mendengar suara itu, namun ia merasa sekali tarikan panggilan itu yang membuatnya semakin gelisah.
Ia tidak berani turun, takut kalau diketahui Maya Dewi.
Ia menanti dengan tidak sabar dan akhirnya ia merasa yakin bahwa Maya Dewi sudah tidur pulas.
Pernapasan gadis itu panjang-panjang teratur.
Mintarsih memadamkan lampu, lalu memanggil-manggil nama Maya Dewi.
Akan tetapi Maya Dewi benar-benar (Lanjut ke
Jilid 23) Seruling Gading (Seri ke 02 -Serial Pecut Sakti Bajrakirana) Karya". Asmaraman S. Kho Ping Hoo
Jilid 23 telah pulas.
Kalau disentuh sedikit saja tubuhnya, pasti ia terbangun.
Akan tetapi karena hanya dipanggil, ia tidak dapat terjaga dan terus tidur nyenyak.
Sementara itu Mintarsih merasa betapa suara panggilan Satyabrata semakin kuat berdengung dalam hatinya, menariknya dan membayangkan kemesraan yang rnembuatnya seperti mabok.
Akhirnya Mintarsih tidak kuat bertahan lebih lama lagi dan iapun keluar dari kamarnya.
Seperti orang mimpi ia berjalan dengan mata terpejam.
Sesungguhnya itulah pengaruh ilmu santet yang dilakukan Satyabrata semacam ilmu sihir memanggil semangat yang membuat gadis itu berjalan seperti dalam mimpi dan tidak sadar.
Mintarsih berjalan perlahan menuju ke sebuah kamar, di bangunan samping, kamar di mana Satyabrata tidur!
Biarpun langkah gadis itu hampir tidak menimbulkan suara, namun begitu tiba di depan pintu kamar itu, daun pintu terbuka dari dalam dan Satyabrata sudah berdiri menyambut di ambang pintu sambil tersenyum.
"Kakangmas... aku... datang memenuhi panggilanmu...."
Mintarsih berbisik seperti dalam mimpi, lalu melangkah masuk mengikuti Satyabrata yang melangkah mundur ke dalam kamar.
Satyabrata mengembangkan kedua lengannya, merangkulnya dan menutup daun pintu kamar itu.
Di antara nafsu-nafsu daya rendah yang amat berbahaya bagi manusia adalah nafsu kemurkaan akan harta benda dan gairah nafsu berahi.
Betapa banyakya orang-orang cerdik pandai, orang-orang gagah perkasa, yang jatuh oleh pegaruh kedua macam nafsu ini.
Oleh karna itu, setiap orang manusia haruslah berhati-hati sekali menghadapi godaan blis berupa nafsu materi dan nafsu berahi ini.
Setiap saat iblis menggoda kita, dengan pameran kesenangan dan kenikatan yang bisa dirasakan melalui harta benda dan pemuasan berahi sehingga kita seringkali lupa bahwa kita diperbudak oleh nafsu dan melakukan perbuatan-perbuatan yang menyimpang dari kebenaran.
Tentang Satyabrata kita tidak perlu bicara lagi.
Dia adalah seorang pemuda yang sejak kecil sudah terdidik menjadi hamba nafsunya sendiri.
Dia gila kedudukan, gila kekayaan dan mata keranjang, menjadi hamba dari nafsu-nafsunya sehingga tidak pantang melakukan kejahatan apapun juga untuk mencapai apa yang diinginkannya.
Akan tetapi Mintarsih sebetulnya adalah seorang gadis baik-baik.
Sayang ia terlalu centil dan hatinya mudah tertarik dan jatuh melihat pemuda tampan.
Penampilan Satyabrata yang pantas disebut seorang ksatria muda yang halus budi, ramah, sopan, dan sakti mandraguna itu telah membuat ia tertarik sekali.
Andaikata tidak demikian, andaikata ia tidak terpikat, kiranya tidak akan mudah bagi Satyabrata untuk menyihirnya dengan ilmu pelet atau aji pengasih.
Hati yang bersih selalu memiliki daya tolak yang kuat terhadap serangan tenaga sihir yang kotor.
Pada keesokan harinya, pagi-pagi sekali Maya Dewi terbangun dari tidurnya.
Ia merasa tubuhnya segar karena tidurnya cukup dan semua kelelahannya lenyap.
Ia bangkit duduk dan menggelinjang seperti seekor kucing.
Kamar itu cukup terang.
Ia menengok dan melihat lampu di meja telah padam, akan tetapi ada seberkas sinar memasuki kamar lewat lubang hawa di atas jendela.
"Kakangmas... kakangmas Satya...."
Maya Dewi cepat memandang ke arah tubuh yang rebah telentang di sampingnya.
Tubuh Mintarsih.
Maya Dewi mengerutkan alisnya melihat keadaan gadis puteri senopati itu.
Pakaian gadis itu awut-awutan, kembennya terlepas dan hanya dilibatkan dan diselipkan sembarangan di pinggangnya.
Gelung rambutnya terlepas dan rambut itu terurai di atas bantal.
Muka gadis itu pucat, akan tetapi bibirnya tersenyum dalam tidurnya.
Bagaimana mungkin ini, pikir Maya Dewi.
M.alam tadi ia melihat sendiri betapa pakaian gadis itu rapi, rambutnya juga digelung rapi, wajahnya dibedaki, bibirnya juga memakai gincu Akan tetapi kini mukanya pucat tidak ada lagi bekas bedak dan gincu, rambutnya acak-acakan dan pakaiannya awut-awutan!
Apa yang terjadi?
Kalau gadis itu banyak bergerak di waktu tidur, sungguh tidak mungkin, karena tentu ia akan tersentuh dan hal ini akan membuat ia terbangun dari tidurnya.
Dan gadis ini tadi menyebut nama Satyabrata, dengan suara yang berdesah manja!
Api cemburu membakar hati Maya Dewi.
Sekali ini benar-benar marah.
Apalagi yang terjadi kepada puteri senopati ini kalau bukan seperti yang ia gambarkan?
Malam tadi, ketika ia sedang tidur, pasti gadis ini keluar kamar dan mengadakan pertemuan dengam Satyabrata!
Keadaan diri dan pakaiannya menunjukkan hal itu.
Dan gadis ini sebelum tidur semalam telah jelas menyatakan kekagumannya kepada Satyabrata, ingin mengenal pemuda itu lebih dekat!
"Mintarsih !
Mintarsih"..
Dengan gemas Maya Dewi mengguncang pundak gadis yang sedang tidur nyenyak itu.
Mintarsih terbangun dan membuka matanya.
Ketika dalam kagetnya ia melihat bahwa yang menggugahnya adalah Maya Dewi, ia berkata setengah sadar, masih digelut rasa kantuk yang berat.
"Aih.... saya mimpi.., wah, kakangmas Satyabrata amat mencintaku, mbakayu Maya Dewi.... amat mencintaku.... aah . ."
Gadis itu rebah miring dan segera pulas lagi.
Maya Dewi mengepal tinju.
Kini tidak ragu lagi.
Satyabrata mengkhianati cintanya!
Pemuda itu pasti mengadakan hubungan dengan Mintarsih malam tadi.
Entah dengan jalan bagaimana dia dapat membujuk Mintarsih yang agaknya memang sudah jatuh cinta.
Tiba-tiba Maya Dewi ingat bahwa Satyabrata adalah seorang pemuda yang sakti mandraguna.
Bukan tidak mungkin pemuda itu mempergunakan aji pameletan atau aji pengasihan yang amat kuat sehingga membuat wanita yang dipeletnya menjadi tergila-gila!
Makin dipikir, makin panas hatinya dan akhirnya ia tidak dapat menahan kemarahannya lagi.
Ia melompat turun dari atas pembaringan lalu keluar dari kamar itu.
Ternyata sinar yang masuk ke kamar melalui lubang di atas jendela itu adalah sinar lampu penerangan yang digantung di luar kamar.
Keadaan dalam gedung masih sunyi sekali.
Waktu masih terlalu pagi, fajar belum menyingsing dan orang-orang belum bangun dari tidurnya.
Ia langsung menuju ke bangunan samping, kamar Satyabrata.
Diketuknyna daun pintu itu, cukup kuat sehingga mengejutkan Satyabrata.
Pemuda itu bangkit duduk dan memandang ke arah daun pintu.
Baru saja dia menyuruh Mintarsih kembali ke kamarnya karena ayam jantan pertama sudah berkeruyuk, tanda bahwa fajar akan segera menyingsing.
Dan dia baru saj tertidur melepaskan lelah ketika pintu itu diketuk orang.
Mintarsih datang kembali?
Gila!
Ini berbahaya, bisa ketahuan orang.
"Siapa?"
Tanyanya ketika ketukan itu berhenti.
"Aku! Bukalah pintunya!"
Terdengar suara Maya Dewi.
Satyabrata bernapas lega.
Kiranya Maya Dewi yang dating.
Mau apa gadis itu datang mengetuk daun pintu kamarnya sepagi itu?
Satyabrata menggosok kedua matanya mengusir rasa kantuk yang masih menekan matanya, lalu turun dari pembaringan dan menghampiri daun pintu dan dibukanya.
Maya Dewi berdiri di luar pintu dan memandang kepadanya dengan sinar mata mencorong marah.
Berdebar jantung Satyabrata, merasa tidak enak, teringat akan apa yang terjadi dalam kamarnya semalam.
Janganjangan gadis ini mengetlahuinya!
Akan tetapi tidak mungkin.
Kalau ia mengetahuinya, tentu sudah didobraknya pintu kamarnya semalam!
"Aeh, Maya, engkau mengejutkan aku!
Sepagi ini mengetuk pintu.
Ada apakah, nimas?"
Tanya Satyabrata sambil tersenyum manis.
"Apa yang kaulakukan dengan Mintarrih?"
Maya Dewi bertanya dengan sikap menuduh, suaranya ketus.
Diam-diam Satyabrata terkejut.
Akan tetapi dia segera dapat menduga bahwa Maya Dewi belum mengetahui akan peristiwa itu, hanya baru curiga saja.
Untung tadi dia bersikap hati-hati dan setelah Mintarsih meninggalkan kamarnya, dia membereskan pembaringannya sehingga tidak tampak tanda-tanda hadirnya orang lain di situ.
Dia mengerutkan alisnya dan mundur lagi, memasuki kamarnya.
"Sstt.... Maya, jangan ribut-ribut. Engkau dapat membuat semua orang terbangun. Sebetulnya ada apakah? Mari kita bicarakan di dalam dan jangan rebut-ribut."
Diperingatkan begitu, Maya Dewi teringat bahwa mereka berada di rumah senopati Poncosakti sebagai tamu, maka ia pun memasuki kamar Satyabrata. Pemuda itu lalu menutupkan daun pintu dan berkata.
"Maya, duduklah dan ceritakan apa yang terjadi."
"Tidak perlu duduk!"
Jawab Maya Dewi sengit.
"Dan bukan aku yang harus bercerita, melainkan engkau! Katakan apa yang kaulakukan dengan Mintarsih malam tadi! Hayo mengaku saja bahwa engkau telah mengadakan hubungan gelap dengan Mintarsih. Engkau telah mengkhianati pengakuanmu sendiri bahwa engkau cinta padaku!"
Satyabrata mengembangkan kedua tangannya, membelalakkan kedua mata seperti orang terheran-heran dan kaget. Dia lalu berkata.
"Aeh, Maya. Apa, engkau mimpi? Apa artinya semua tuduhan gila ini? Semalam aku tidur, tidak pergi ke mana-mana."
Dia menoleh ke arah pembaringan dan Maya Dewi juga memandang ke sana. Beres saja pembaringan itu, tidak acakacakan.
"Bagaimana engkau tega menuduh aku melakukan hubungan dengan puteri paman senopati yang baru saja kita kenal? Ah, Maya Dewi, engkau tahu bahwa hanya engkaulah satusatunya wanita yang kucinta. Bagaimana aku dapat mengadakan hubungan dengan wanita lain? Aku bersumpah bahwa semalam aku tidak meninggalkan kamar ini dan aku tidur pulas karena merasa lelah."
Maya Dewi menjadi ragu.
Pembaringan pemuda itu beres, tidak ada tanda tanda kusut atau tanda-tanda ditiduri berdua.
Akan tetapi ia belum percaya sepenuhnya.
Tiba-tiba ia mendapatkan sebuah pikiran yang amat baik menurut penilaiannya.
Mintarsih jelas jatuh cinta kepada Satyabrata sehingga hal itu menimbulkan kebencian di dalam hatinya.
Ia harus mendapatkan bukti nyata agar yakin akan cinta Satyabrata kepadanya, dan inilah cara yang amat baik untuk membuktikannya!
"Mengapa engkau diam saja, Maya?
Apakah engkau masih tidak percaya kepadaku?
Aku sanggup membuktikan bahwa hanya engkau satu-satunya wanita yang kucinta.
Apa saja permintaanmu akan kulaksanakan untuk membuktikan cintaku seperti yang pernah kukatakan padamu."
Inilah saatnya, pikir Maya Dewi.
"Hemm, benarkah itu? Nah, aku mempunyai satu permintaan, kalau engkau tidak sanggup dan tidak mau melaksanakan jangan lagi bicara tentang cinta dengan aku. Sebaliknya kalau engkau mau melasanakannya sampai berhasil, barulah aku yakin akan cintamu dan aku"."
Maya Dewi tersipu.
"Dan, engkau dengan rela mau menyerahkan diri kepadaku, menyerahkan jiwa ragamu kepadaku, Maya?"
Dengan kedua pipi berubah kemerahan Maya Dewi mengangguk.
"Kalau begitu katakan sekarang, apa yang harus kulakukan? Biar harus menyeberangi lautan api, akan kulaksanakan."
Kata Satyabrata penuh semangat.
"Tidak demikian sulitnya, akang. Permintaanku hanya sederhana saja, yaitu kalau benar engkau tidak berhubungan dan tidak mencinta Mintarsih, kalau benar engkau hanya mencinta aku seorang. Nah, kau bunuhlah Mintarsih!"
Mendengar ini, Satyabrata terbelalak dan merasa seolah disambar petir.
Sama sekali tidak disangkanya bahwa Maya Dewi akan mempunyai permintaan segila itu!
"Hemm, engkau terkejut dan tidak sanggup melakukan, bukan?
Hal itu karena engkau mencintanya dan pernyataan cntamu kepadaku hanya gombal belaka!"
"Eh, tidak, Maya! Sama sekali bukan begitu. Hanya.... bagaimana aku dapat mernbunuhnya? Ia adalah puteri Paman Senopati Poncosakti yang merupakan sekutu kita!"
"Huh, katakan saja engkau sayang kepada Mintarsih. Nah, kalau begitu, kawini Mintarsih dan jangan sekali-kali berani bicara tentang cinta lagi dengan aku!"
Maya Dewi marah sekali.
"Ah, baiklah, Maya Dewi. Demi cintaku kepadamu, aku akan melaksanakan permintaanmu itu. Kita tunggu saat terbaik dan untuk itu, terpaksa kita harus tinggal di sini lebih lama. Dan engkau harus membantuku. Kita rencanakan siasat agar paman senopati tidak tahu bahwa aku yang melakukan itu."
Maya Dewi tersenyum dan wajahnya berubah cerah gembira.
Nafsu telah melenyapkan semua pertimbangan tentang baik buruk, benar salah, sehingga apa yang dilakukannya, dianggapnya benar dan tepat, bahkan adil dan baik!
Maya Dewi membenci Mintarsih karena gadis itu berani mencinta Satyabrata, maka dalam anggapannya, puteri senopati itu harus dibunuh dan ini sudah adil dan benar menurut pendapatnya.
Juga Satyabrata menganggap rencana pembunuhan itu sudah benar karena hal itu dilakukan untuk meyakinkan Maya Dewi akan cintanya dan selain itu, sebagai akibat dari apa yang telah terjadi semalam antara dia dan Mintarsih,, maka tentu akan menimbulkan akibat.
Setidaknya Mintarsih tentu akan terus mengejarnya dan menuntut pertangungan jawabnya.
Maka sudah tepat dan baik sekali kalau gadis itu dibunuh!
Setelah mengatur siasat, Satyabrata menghampiri Maya Dewi dan hendak memeluknya.
Akan tetapi Maya Dewi menghindar dan berkata.
"Jangan tergesa-gesa, akang Satya. Laksanakan dulu permintaku sebagai bukti cintamu!"
Setelah berkata demikian, ia lalu keluar dari dalam kamar pemuda itu.
Mintarsih baru bangun setelah matahari naik tinggi.
Setelah bangun, ia bangkit duduk dan termenung.
Timbul perasaan gelisah dan sesal dalam hatinya.
Ia teringat akan semua yang terjadi malam tadi.
Biarpun hal itu terjadi seperti dalam mimpi yang indah, namun ia tahu dan merasa bahwa semua itu bukan mimpi!
Ia telah pergi ke kamar Satyabrata malam tadi, ia telah membiarkan dirinya digauli pemuda itu.
Ia telah ternoda!
Ia menagis, menutupi muka dengan kedua tangannya.
Mengapa ia melakukan hal sehina itu?
Belum menikah telah menyerahkan diri kepada seorang laki-laki yang baru saja dikenalnya?
Akan tetapi semua itu telah terjadi!
Dan ia mencinta Satyabrata.
Juga pemuda itu tentu rnencintanya.
Kalau tidak, tentu tidak terjadi hal semalam.
Ia harus menghubungi pemuda itu.
Ia harus menuntut agar Satyabrata menikahinya!
Akan tetapi hal itu harus dilakukan secara diam-diam agar tidak ada seorangpun tahu bahwa ia telah digauli pemuda itu.
Mintarsih lalu mandi dan berdandan.
Ia tidak melihat Maya Dewi dalam kamar.
Timbul rasa khawatirnya.
Jangan-jangan mereka, Maya Dewi dan Satyabrata, telah pergi meninggalkan gedung keluarganya!
Celaka kalau begitu.
Ia bergegas, berdandan rapi lalu keluar.
Hatinya lega.
Dilihatnya Satyabra dan Maya Dewi sedang duduk bercaka-cakap dengan ayah dan ibunya di ruangan tengah.
"Wah, engkau baru bangun, Tarsih!"
Tegur Senopati Poncosakti kepada puterinya.
"Hemm, sungguh tidak semestinya seorang gadis bangun begini siang!"
Isteri senopati itu menegur.
Ia adalah seorang wanita yang jauh lebih muda dari suamia, baru berusia kurang lebih tiga puluh tahun.
Ia memang isteri baru sang senopati, atau ibu tiri Mintarsih.
Senopati Poncosakti datang ke Surabaya hanya bersama anaknya, Mintarsih, karena isterinya telah meninggal dunia ketika terjadi perang antara Pasuruan dan Mataram.
Setelah menjadi senopati di Kadipaten Surabaya, baru dia menikah lagi dengan Kartinah.
Wanita ini cantik dan biarpun lahirnya ia tidak berani bersikap kasar kepada Mintarsih, anak tirinya, namun dalam batinnya tentu saja ia merasa tidak begitu suka, apalagi Mintarsih yang kenes dan lincah itu memang tidak begitu taat kepadanya.
Maya Dewi tertawa dan berkata.
"Aku lihat tidurmu nyenyak sekali, maka aku tidak menggugahmu, adik Mintarsih. Mari, duduklah."
Mintarsih duduk dan sejenak ia menatap wajah Satyabrata.
Pemuda itupun memandangnya sekilas, lalu mengalihkan pandang matanya.
Maya Dewi yang diam-diam memperhatikan Mintarsih, menjadi semakin panas dan benci melihat betapa Mintarsih memandang Satyabrata dengan sinar mata penuh kagum dan mesra.
Senopati Poncosakti merasa gembira sekali ketika mendengar kesanggupan Satyabrata dan Maya Dewi untuk menginap satu malam lagi di gedungnya.
Malam tu kembali dia menjamu kedua orang muda itu dengan pesta makan minum.
Akhirnya Mintarsih berhasil memperoleh kesempatan untuk bicara berdua dengan, Satyabrata.
Sebelum ia sempat mengatakan sesuatu, Satyabrata sudah berbisik.
"Malam nanti kutunggu engkau di kamarku. Kita dapat bicara dengan panjang lebar dan leluasa."
Mintarsih merasa girang dan ia mengangguk sambil tersenyum.
Memang agak sukar membicarakan rahasia mereka berdua di tempat terbuka, di mana besar bahayanya percakapan mereka didengar orang lain.
Kalau di kamar pemuda itu tentu ia dapat bicara secara terbuka mengajukan tuntutan agar pemuda itu meminang dan menikahinya, di samping itu mereka dapat mengulang kemesraan yang mereka nikmati malam tadi.
Malam itu, tidak seperti biasa, hawanya dingin menusuk tulang.
Sejak sore Mintarsih sudah menanti datangnya malam dengan jantung berdebar.
Ketika makan malam tadi, ia menangkap isyarat pandang mata Satyabrata seolah mengingatkan janji mereka dan tanpa diketahui orang lain ia mengangguk.
Mintarsih menanti sampai Maya Dewi tertidur.
Setelah memanggil-manggilnya namun Maya Dewi tidak bangun, yang berarti Maya Dewi telah tidur pulas, Mintarsih turun dari pembaringan, mematikan lampu dan membuka daun pintu kamar, lalu berindap-indap ia menuju ke bangunan samping, ke kamar Satyabrata!
Jantungnya berdebar tegang, seperti jantung setiap orang yang akan melakukan perbuatan yung tidak benar.
"Tok-tok-tok...!"
Ia mengetuk perlahan daun pintu kamar Satyabrata tiga kali.
Pintu terbuka dan Satyabrata menarik tangan gadis itu ke dalam kamar dan Mintarsih menurut saja, tersipu malu ketika Satyabrata menutupkan kembali daun pintu kamar itu.
Akan tetapi, seperti telah direncanakan sebelumnya, sekali ini kedua lengan Satyabrata bergerak untuk melakukan pelukan maut itu.
Kedua lengan merangkul, akan tetapi jari-jari tangannya mengetuk tengkuk Mintarsih dengan kuatnya sehingga seketika itu juga gadis puteri senopati itu terkulai dalam rangkulan Satyabrata dan pingsan.
Satyabrata memondong tubuh gadis itu keluar dari kamar, menengok ke kanan kiri.
Malam itu sunyi dan dingin.
Tak tampak sesuatu yang mencurigakan dan Satyabrata membawa tubuh Mintarsih ke dalam taman.
Tidak seperti orang yang baru saja melakukan kejahatan, sikap Satyabrata tenang saja.
Bulan sepotong yang berada di langit menjadi saksi bisu ketika dia merebahkan tubuh Mintarsih ke atas sebuah bangku di dekat kolam ikan di tengah taman itu.
Satyabrata lalu menanti sebentar.
Seperti yang sudah diatur dan dijanjikan sebelumnya, pada saat itu terdengar suara orang dan muncullah Maya Dewi dan seorang penjaga keamanan yang biasa menjadi perajurit pengawal dan bertugas jaga di depan gedung sang senopati.
Perajurit ini bertubuh tinggi besar, usianya sekitar tiga puluh tahun.
Dia tadi sedang bertugas jaga seorang diri ketika tiba-tiba Maya Dewi menghampirinya dan mengatakan bahwa akan terjadi sesuatu yang amat penting untuk diketahui dia sebagai penjaga keamanan.
Sebagai seorang petugas yang bertanggung jawab, perajurit itu tentu saja tertarik dan dia mengikuti tamu yang dihomati itu memasuki taman di belakan gedung.
Setelah tiba di dalam taman, perajurit itu bertanya.
"Ada terjadi apakah den-ajeng?"
"Mari kita lihat di sana, dekat kola ikan itu!"
Jawab Maya Dewi. Ketika mereka tiba dekat kolam, perajurit itu melihat tubuh Mintarsih yang rebah telentang di atas bangku, seperti orang tidur atau mati.
"Den-ajeng Mintarsih".. kenapa ?"
Penjaga itu menghampiri dan membungkuk untuk melihat keadaan Mintarsih. Pada saat itu Maya Dewi menggerakkan tangannya menghantam kepala perajurit itu.
"Prakk!"
Perajurit itu terjungkal dan roboh, tewas seketika karena kepalanya retak oleh pukulan tangan miring Maya Dewi yang ampuh itu.
"Akang Satya, sekarang lakukanlah!"
Kata Maya Dewi.
Satyabrata tidak meragu lagi.
Dia menghampiri mayat perajurit itu, mencabut kerisnya, lalu menghampiri tubuh Mintarsih yang masih rebah pingsan di atas bangku.
Sekali dia mengayun, keris itupun menancap dada Mintarsih, menembus jantungnya.
Gadis yang dalam keadaan pingsan itu tidak bergerak lagi dan darah muncrat dari dadanya ketika keris dicabut.
Satyabrata lalu menaruh gagang keris ke dalam genggaman tangan kanan perajurit yang sudah mati.
"Sekarang, cepat bangunkan mereka!"
Kata lagi Maya Dewi yang merasa girang bahwa Satyabrata benar-benar tega membunuh Mintarsih untuk membuktan cintanya kepadanya!
Satyabrata berlari ke arah gedung dan dia memukul kentungan yang tergantung di sudut bangunan.
Bunyi kentungan dipukul bertalu itu tentu saja mengejutkan semua orang.
Beberapa orang perajurit pengawal yang bertugas jaga di depan gedung datang berlarian dan bertanya ke pada Satyabrata apa yang terjadi.
"Pembunuhan, nimas Mintarsih dibunuh orang! Cepat laporkan kepada Paman Senopati Poncosakti! Dan seorang dari kalian lanjutkan pukul kentungan ini!"
Par perajurit pengawal lalu mengikuti Satyabrata berlari memasuki taman.
Di dekat kolam mereka melihat Jalu, seorang perajurit rekan mereka telah menggeletak tewas dengan darah mengalir dari telinga, hidung dan mulutnya dan mayatnya masih memegang sebatang keris.
Sedangkan di atas bangku menggeletak mayat Mintarsih yang letak pakaiannya tidak karuan; kembennya hampir lepas, kainnya tersingkap sehingga pahanya yang putih mulus tampak, dan bajunya berlepotan darah yang mengalir keluar dari dadanya.
Melihat ini, Satyabrata melirik ke arah Maya Dewi, maklum bahwa gadis itu yang sengaja membuat pakaian Mintarsih seperti itu sehingga siapa saja yang melihatnya akan mudah menduga bahwa gadis itu akan diperkosa orang!
Tak lama kemudian muncul Senopati Poncosakti dan isterinya.
Kartinah, isteri Poncosakti, menjerit dan menangisi anak tirinya.
Maya Dewi maklum bahwa tangis itu terlalu dibuat-buat.
Senopati Poncosakti sendiri berdiri dengan muka merah karena marah sehingga beberapa saat lamanya dia tidak mampu mengeluarkan kata-kata.
Kemudian dia memandang kepada Satyabrata dan suaranya menggetar penuh kesedihan dan kemarahan ketika dia bertanya.
"Anak-mas Satyabrata, andika yang memukul kentungan, andika yang mengetahui apa yang terjadi. Ceritakanlah, apa yang terjadi dengan anakku?"
"Maaf, paman. Terpaksa saya mengabarkan peristiwa buruk yang menyedihkan. Tadi ketika tidur, saya dikejutkan suara jeritan. Saya lalu membereskan pakaian dan berlari keluar, memasuki taman dari mana suara jeritan itu terdengar. Setelah tiba di sini, saya melihat Maya Dewi sedang berkelahi melawan laki-laki ini dan masih sempat melihat Maya Dewi merobohkannya dengan sebuah pukulan pada kepalanya dan saya melihat nimas Mintarsih sudah rebah mand darah dan tewas di atas bangku itu."
Senopati Poncosakti lalu menoleh ke pada Maya Dewi.
"Nini Maya Dewi, kalau begitu andika yang datang lebih dulu Apa yang terjadi di sini?"
"Sayapun terkejut mendengar jeritan dan saya segera berlari ke sini. Mungkin karena letak kamar adik Mintarsih di mana saya tinggal lebih dekat, maka saya lebih cepat tiba di sini. Juga karena ketika terbangun saya tidak melihat adi Mintarsih, saya merasa khawatir dan berlari secepatnya memasuki taman. Dan disini dengan kaget sekali saya meliha orang ini...."
Ia menuding ke arah mayat perajurit pengawal itu.
"""
Ia seda bergulat dengan adik Mintarsih.
Tiba-tiba adik Mintarsih terkulai dan darah muncrat dari dadanya.
Agaknya dalam pergumulan di atas bangku itu, jahanam itu menggunakan kerisnya untuk mengancam dan keris itu digunakan untuk menusuk dada.
Saya marah sekali, akan tetapi jahanam ini melawan dengan keris di tangan, maka saya menggunakan pukulan maut untuk menghantam kepalanya.
Pada saat itu, akang Satya datang dan saya minta agar dia melapor dan membangunkan semua orang.
Demikianlah, paman senopati, apa yang saya lihat tadi."
Senopati Poncosakti menjadi marah, mengepal tinju dan tiba-tiba dia menghampiri mayat perajurit itu dengan langkah lebar.
"Jahanam busuk, keparat tak mengenal budi! Berani kamu hendak memperkosa anakku?"
Dan senopati itu lalu mengamuk, menendangi kepala dan tubuh mayat itu berulang-ulang sampai kepala itu menjadi pecah dan remuk!
Untuk menghormati keluarga sang senopati, Satyabrata dan Maya Dewi menginap satu malam lagi di gedung itu.
Dan malam itu, Satyabrata menagih janjinya dan Maya Dewi yang kini sudah yakin sepenuhnya akan cinta.
pemuda itu, dengan senang hati dan suka rela menyerahkan diri kepada Satyabrata!
Kalau keluarga Senopati Poncosakti berkabung dan berduka, malam itu Satyabrata dan Maya Dewi berpesta-pora, bersenang-senang dan berenang-renang dalam lautan nafsu berahi mereka, seolah mereka menjadi sepasang pengantin baru yang sedang berbulan madu!
Dan semenjak malam itu, nafsu berahi dalam diri Maya Dewi bagaikan seekor kuda liar yang dilepas dari kendalinya!
Nafsunya mengamuk, merajalela dan menguasai diri Maya Dewi sepenuhnya, sehingga sejak saat itu, Maya Dewi telah menjadi budak dari nafsu berahinya sendiri.
Pada keesokan harinya kedua orang itu melanjutkan perjalanan mereka menuju ke Madura dengan berperahu.
Mereka langsung pergi menghadap Sang Adipa Pangeran Mas di Arisbaya yang pada saat itu sedang mengadakan perundingan dengan para menteri dan para senopatinya.
Tentu saja di sana hadir pula dua orang pembantu terpenting dari Arisbaya, yaitu Ki Harya Baka Wulung yang menjadi penasihat, dan puteranya, Raden Dibyasakti yang menjadi senopati muda.
Di situ hadir pula para pembantu yang di datangkan Ki Harya Baka Wulung, di antara mereka terdapat Sang Wiku Menak Koncar datuk Blambangan dan juga Kyai Sidhi Kawasa datuk dari Banten.
Mereka sedang merundingkan tentang ancaman balatentara Mataram yang hendak menyerbu Madura.
Ketika pengawal melapor bahwa ada seorang pemuda dan seorang gadis mohon menghadap, Adipati Pangeun Mas mengerutkan alisnya dan membentak.
"Apakah engkau tidak tahu bahwa kami sedang mengadakan perundingan yang amat penting? Jangan ganggu kami, hai pengawal bodoh dan katakan kepada mereka untuk menghadap lain kali saja."
"Ampunkan hamba, gusti. Hamba sudah mengatakan hal itu akan tetapi pemuda yang mengaku utusan kumpeni..."
"Cukup! Usir mereka atau engkau yang akan dijatuhi hukuman!"
Adipati Arisbaya membentak marah.
Hatinya sedang risau oleh ancaman pasukan Mataram yang kabarnya sudah bergerak untuk menyerbu Madura, maka gangguan itu membuatnya marah.
Akan tetapi mendengar laporan itu, Dibyasakti teringat dan dia cepat menyembah dan berkata.
"Kanjeng adipati hamba mengenal pemuda itu!"
"Hamba juga mengenalnya!"
Kata pula Wiku Menak Koncar, lalu bertanya ke pada pengawal.
"Bukankah dia pemuda tampan yang matanya agak kebiruan?"
Dengan takut-takut pengawal itu berkata.
"Benar, dia juga mengatakan bahwa dia mengenal Raden Dibyasakti dan Sang Wiku Menak Koncar."
"Tidak salah lagi. Dialah yang pernah hamba ceritakan kepada paduka, kanjeng. Pemuda utusan kumpeni yang sakti mandraguna. Tentu kedatangannya ada hubungannya dengan ancaman penyerbuan pasukan Mataram. Karena itu, hamba kira sebaiknya kalau paduka mengijinkan mereka masuk,"
Kata Dibyasakti.
"Hemm, begitukah? Hai, pengawal, siapakah nama dua orang yang hendak menghadap itu?"
"Menurut pengakuan mereka, pemuda itu bernama Satyabrata dan gadis itu bernama Maya Dewi, gusti."
"Maya Dewi?"
Seru Ki Harya Baka Wulung.
"Kanjeng adipati, gadis itu adalah puteri Adi Resi Koloyitmo yang hamba undang dan dia sudah sanggup untuk membantu kita!"
Adipati Pangeran Mas mengangguk-angguk senang.
"Kalau begitu, persilakan mereka masuk, pengawal!"
Pengawal itupun merasa lega karena tidak jadi mendapat marah.
Dia menyembah lalu mengundurkan diri untuk mengantar Satyabrata dan Maya Dewi datang menghadap.
Dua orang muda itu diterima dengan ramah oleh Adipati Pangeran Mas setelah tahu bahwa kedatangan mereka berdua adalah untuk membantu Madura.
Satyabrata memberi tahu bahwa Willern Van Huisen sudah siap membantu dengan kapal perangnya, juga dia siap membantu untuk menghadapi para ksatria gagah dan sakti yang akan membantu pasukan Mataram.
Maya Dewi juga menceritaka bahwa ia memang diutus ayahnya untuk membantu Madura dan ayahnya akan menyusul segera ke Madura.
Persidangan dilanjutkan dan tak lama kemudian, para adipati lain yang diundang untuk bermusyawarah berdatangan.
Mereka adalah para bupati di seluruh Madura yang dating bersama pasukan mereka sehingga tergabunglah pasukan mereka menjgdi pasukan besar yang siap menghadapi penyerbuan balatentara Mataram.
Mereka yang berdatangan itu adalah para bupati dari Aribanggi, Bali, Sumenep, Pamekasan, Pekacangan, dan Raden Prasena, keponakan Sang Adipati Pangeran Mas dari Arisbaya yang berusia sembilan belas tahun itu datang memenuhi undangan.
Akan tetapi karena Raden Prasena ini memang disingkirkan pamannya dan di Sarnpang hanya diberi kekuasaan kecil dan hanya mempunyai pasukan kecil, maka pasukan yang dibawanya tidak ada artinya.
Dalam pertemuan itu diadakan perundingan untuk merencanakan cara pertahanan untuk menyambut penyerbuan pasukan Mataram.
Mereka semua bertekad untuk mempertahankan Madura.
Akan tetapi Raden Prasena yang masih muda itu diam-diam tidak setuju dengan mereka semua.
Hal ini adalah karena dia menaruh dendam kepada Adipati Arisbaya yang menyerobot kedudukan adipati di Arisbaya.
Sebetulnya, dialah yang berhak menggantikan kedudukan adipati setelah ayahnya, Adipati Teguh Arisbaya wafat.
Akan tetapi karena ketika itu dia dianggap terlampau kecil, baru berusia sekitar empat belas tahun, maka kedudukannya diambil alih pamannya yang kini menjadi Adipati Arisbaya dan dia sendiri disingkirkan ke Sampang.
Diam-diam dia mengambil keputusan untuk tidak membantu pamannya melawan Matararn!
Para senopati yang gagah perkasa dari daerah-daerah itu dikumpulkan untuk memimpin pasukan gabungan.
Di antara mereka terdapat Dibyasakti, Jayengbadra, Jagapati, Rangga Gobag-gabig Mangundaka, Tumenggung Surobayu, Demang Rujak-beling dan para pembantu mereka yang merupakan perwira-perwira yang gagah.
Selain itu, masih ada para datuk yang membantu mereka, yaitu Ki Harya Baka Wulung, Wiku Menak Koncar, Kyai Sidhi Kawasa, Satyabrata dan Maya Dewi yang menggantikan ayahnya karena Resi Koloyitmo belum datang.
Mereka semua telah siap siaga menanti datangnya pasukan musuh.
Sementara itu Muryani yang ditinggalkan Satyabrata di rumah perguruan Bromo Dadali di Gunung Muria, setelah lewat beberapa hari saja menjadi gelisah Apalagi mendengar bahwa pasukan Mataram akan berperang melawan Madura dan Surabaya.
Mendiang ayahnya, Ki Ronggo Bangak adalah seorang yang setia kepada Mataram dan selalu bercerita kepada puterinya itu tentang kebijaksanaan Sultan Agung, seorang raja yang agung binathara dan sakti mandraguna, bahkan dinggap sebagai wali, seorang manusia pilihan Gusti Allah.
Hebatnya, menurut cerita ayahnya, Sultan Agung bahkan memperisteri Kanjeng Ratu Kidul, yaitu ratu kerajaan siluman yang menguasai Laut Selatan!
Biarpun belum pernah melihat sang prabu yang kabarnya arif bijaksana dan sakti mandraguna itu, ada yang mengabarkan bahwa beliau adalah seorang yang pernah berguru kepada seorang Wali yang amat terkenal dan amat dihormati, baik oleh umat agama baru, Islam maupun oleh umat agama lama Hindu dan Buddha.
Kanjeng Sultan Agung itu pandai menyesuaikan agama Islam dengan dua agama itu yang sudah mendarah daging dalam kehidupan rakyat Jawa.
Dengan cara ini, maka rakyat yang menjadi umat agama Hindu dan Buddha melihat persamaan atau ada yang sejalan antara agama Islam dengan agama mereka, dan dengan demikian mereka tidak memusuhi agama baru itu, malah banyak yang mau menerima agama Islam.
Bahkan Sultan Agung menulis kitab Sastra Gending yang berisi pelajaran Aliran Tashawwuf yang bercampur dengan pelajaran kitab-kitab Weda yang intinya ajaran Manunggali Kawula Gusti atau yang disebut Kejawen.
Selain keterangan yang didapat dari mendiang ayahnya dahulu, juga guru Muryani, Ki Ageng Branjang ketua Bromo Dadali, juga berpihak kepada Mataram.
Oleh karena itu, Muryani menjadi tidak betah tinggal diam di Muria dan pada suatu hari iapun berpamit dari gurunya untuk pergi ke Madura membantu pasukan Mataram.
"Muryani, kalau engkau pergi membantu Mataram, hal itu baik sekali aku amat menyetujuinya. Akan tetapi kalau engkau pergi untuk menyusul aatu mencari pemuda yang bernama Satyabrata itu dan melakukan perjalanan bersamanya, sungguh hal itu membuat hatiku merasa resah."
Ucapan gurunya ini baru sekali ini terdengar sebagai pernyataan tidak suka pada Satyabrata.
Biarpun sejak semula Ageng Branjang merasa tidak suka kepada pemuda itu, namun dia tidak pernah menyatakannya kepada Muryani.
Maka, mendengar ada nada yang tidak suka dalam ucapan gurunya itu, Muryani merasa heran.
"Kenapa, bapa guru? Kenapa bapa merasa resah kalau saya melakukan perjalanan bersama kakangmas Satyabrata?"
"Entahlah, Muryani. Ada sesuatu yang aneh pada diri pemuda itu yang mendatangkan kecurigaan dalam hatiku. Dia memang tampan, akan tetapi ketampanannya itu aneh, matanya agak kebiruan dan..., dan sikapnya terlalu lembut dan sopan santun sehingga seperti dibuat-buat. Selain itu, tentang kesaktiannya. Dia mengaku bahwa dia menemukan kitab-kitab berisi aji-aji kesaktian peninggalan mendiang Sunan Gunung Jati yang selain terkenal sakti, juga terkenal sebagai seorang yang arif bijaksana dan tinggi tingkat rohaninya. Akan tetapi aku dapat melihat sinar sesat dalam pandang mata pemuda itu. Ada lain hal lagi yang mencurigakan hatiku. Mengapa dia mengajak kau nonton perang antara Mataram dan Madura kemudian baru akan memilih pihak mana yang harus dibantu? Kenapa tidak langsung membantu Mataram? Nah itulah yang meresahkan hatiku, Muryani. Karena itu, kalau engkau bertemu dengan dia, berhatihatilah dan jangan mudah terbujuk rayuan manis."
Muryani menundukkan mukanya karena ia merasa bahwa memang Satyabrata telah merayunya dan bahkan menyatakan cintanya kepadanya.
"Baiklah, bapa, akan saya perhatikan nasihat bapa dan saya akan waspada."
Setelah berkemas dan berpamit, berangkatlah Muryani meninggalkan Gunung Muria dan melakukan perjalanan cepat menuju ke timur.
Di sepanjang perjalanannya Muryani sudah mendengar akan berita bahwa Mataram sudah siap untuk menyerbu Madura.
Di daerah Tuban yang sudah ditundukkan Mataram beberapa tahun yang lalu, ia mendengar bahwa pasukan daerah-daerah pesisir utara juga sudah siap untuk diperbantukan kepada pasukan besar Mataram.
Dari Kadipaten Tuban, Muryani melakukan perjalanan cepat menyusuri pantai utara menuju ke timur.
Pada suatu pagi tibalah ia di dusun Pangkah, di mana terdapat muara Kali Solo.
Di sinilah Bengawan Solo yang melakukan perjalanan amat panjang itu mengakhiri alirannya dan semua air bengawan itu terjun ke laut yang menjadi tempat asalnya.
Muryani berhenti di tepi muara sungai yang lebar.
Ia menjadi bingung, dan memandang ke kanan kiri.
Bagaimana ia harus menyeberangi muara sungai yang lebar ini?
Tiba-tiba wajahnya berseri gembira, ia melihat sebuah perahu di tengah muara.
Perahu itu meluncur dari seberang dan baru saja tiba, maka ia tadi tidak melihatnya.
Agaknya sebuah perahu nelayan karena penumpangnya yang dua orang laki-laki itu kini bersiap-siap untuk menebarkan jala.
Melihat mereka, Muryani segera berseru memanggil.
"Heiii! Ki-sanak tukang perahu! Tolong seberangkan aku, berapa upahnya akan kubayar!"
Karena Muryani mengerahkan tenaga saktinya, maka teriakannya itu kuat sekali dan dapat terdengar oleh dua orang itu dengan jelas dan mereka segera memandang ke arah Muryani.
Biarpun jarak di antara perahu dan gadis itu tidak dekat, namun mudah kelihatan oleh mereka bahwa yang memanggil adalah seorang wanita muda yang cantik sekali.
Mereka saling berbisik, lalu mendayung perahu menghampiri tepi di mana gadis itu berdiri.
Setelah tiba di tepi sungai, mereka mendarat dan seorang dari mereka memegangi tali perahu agar tidak hanyut dibawa air sungai.
Muryani memandang dan melihat bahwa dua orang itu adalah laki-laki yang berusia antara tiga puluh sampai tiga puluh lima tahun.
Keduanya bertubuh tinggi besar, yang seorang berwajah penuh brewok dan yang kedua bermuka hitam.
Dua muka pria yang sama sekali tidak menarik hatinya.
Akan tetapi, karena ia membutuhkan bantuan mereka maka ia tersenyum manis.
"Ki-sanak, aku ingin menyeberang. Tolong seberangkan aku dengan perahu kalian dan aku akan memberi upah secukupnya.". Kata Muryani kepada si muka brewok yang berdiri di depannya. Si brewok menoleh dan memandang kepada kawannya, si muka hitam yang memegangi tali perahu, lalu sambil tersenyum lebar menyeringai sehingga tampak deretan gigi yang besar-besar dia bertanya.
"Mas ayu, kalau kami mau meyeberangkan, apakah upahnya?"
Suaraya dibuat-buat, seperti seorang pemain ketoprak sedang bergaya di atas panggung, jelas sekali dia menirukan gaya Yuyu Kangkang ketika hendak menyeberangkan para gadis keluarga Kleting dan minta upah ciuman!
Muryani juga merasakan hal ini dan diam-diam ia merasa gemas, akan tetapi masih ditahannya.
Ia tahu dari pandang rnta, senyuman dan gerak gerik mereka bahwa dua orang ini bukanlah orang-orang yang berwatak sopan dan baik.
Akan tetapi ia menahan kemarahannya dan menjawab tenang.
"Berapa upah yang kalian minta akan kubayar."
"Benarkah? Wah, kalau begitu kami minta upah ciuman saja, tiga kali untuk kami masingmasing. Ha-ha-ha! Bagaimana, mas ayu?"
Kini kedua orang laki-laki kasar itu tertawa-tawa.
Akan tetapi sungguh di luar dugaan mereka.
Gadis itu tidak marah atau tersipu malu mendengar tuntutan upah mereka, sebaliknya gadis itu mengangguk dan berkata tenang.
"Mari kita berangkat!"
Dan Muryani segera melangkah memasuki perahu kecil itu!
Tentu saja dua orang laki-laki yang tadinya hanya hendak menggoda secara kurang ajar, menjadi heran dan juga girang.
Bagaimana tidak akan girang kalau dijanjikan akan menerima hadiah ciuman tiga kali dari seorang gadis secantik ini.
Mereka dapat merasakan kekesenangan seperti yang alami Yuyu Kangkang ketika menyeberangkan para gadis Kleting Abang, Kleting Biru dan Kleting Ungu dalam dongeng "Si Kleting Kuning"
Itu!
Si muka hitam mendayung perahu itu dan si brewok hanya duduk sambil mengamati wajah dan tubuh indah gadis Yang duduk di depannya itu.
Membayangkan betapa nanti gadis itu akan menciumnya tiga kali membuat si brewok bergairah sekali dan bangkitlah nafsunya.
Dia tidak sabar lagi lalu menggeser duduknya mendekati Muryani.
"Nimas ayu, aku minta bagianku sekarang saja!"
Katanya dan tiba-tiba dia menangkap lengan kanan Muryani dan hendak menarik dan merangkulnya.
Muryani mengayun tangan kirinya ke arah sisi leher si brewok itu.
Demikian cepat gerakan tangannya sehingga si brewok tidak sempat mengelak atau menangkis.
"Wuuuttt"kekkk!!"
Seketika si brewok menekuk tubuhnya yang tinggi besar berotot itu. Kedua tangannya memegangi leher yang rasanya patah-patah, panas dan nyeri seperti ditusuki ratusan batang jarum..
"Aduhh... aduhhh... tobaat... aduuuhhh"!"
Si brewok merintih kesakitan, tubuhnya rnenggeliat-geliat dan kedua tangannya menekan bagian leher yang terpukul tangan miring Muryani tadi.
Melihat keadaan temannya, si muka hitam yang duduk di belakang Muryani menjadi terkejut dan juga marah.
Dia mengangkat dayungnya dan menghantamkan dayung itu ke arah kepala Muryani!
"Wuuuttt"plakk"dukkk!!"
Tanpa mengubah duduknya, Muryani hanya memutar tubuh atasnya, menyambut dayung itu dengan kedua tangannya dan sekali mengerahkan tenaga ia telah mendorong dayung itu sehingga gagang dayung terdorong dan menghantam ulu hati si muka hitarn.
"Hekkkk.... !"
Si muka hitam juga melipat tubuhnya, membungkuk dan menggunakan kedua tangan memegang dan menekan uluf hatinya yang terasa nyeri dan sukar dipakai bernapas!
Dua orang itu mengaduh-aduh dan menyatakan bertobat.
Karena tidak ada yang mendayung lagi, perahu itu hanyut terbawa air dan berputar.
Melihat ini, Muryani menggepokkan tangan, menepuk tengkuk si brewok dan menampar punggung si muka hitam sehingga mereka tidak tersiksa rasa nyeri yang hebat lagi, hanya tinggal sedikit rasa nyeri yang dapat mereka tahan.
"Nah, cepat dayung perahu sampai ke seberang kalau kalian tidak ingin mampus?"
Bentak Muryani.
Kini dua orang kasar itu merasa kecelik.
Tahulah mereka bahwa mereka berhadapan dengan seorang gadis yang sakti.
Mereka tidak berani main-main lagi.
Mereka lalu menggunakan dua buah dayung untuk mendayung perahu ke seberang.
"Maafkan kami den ajeng.... ?"
Kata brewok.
"Andika tentu seorang puteri pendekar dari Mataram."
MURYANI tersenyum mengejek setelah melihat sikap si brewek yang kini amat hormat.
"Kalau sudah tahu, jangan banyak cerewet lagi dan cepat dayung ke seberang"
Dua orang itu tidak berani bicara lagi, akan tetapi diam-diam mereka saling menukar isyarat dengan pandang mata.
Muryani tidak tahu bahwa mereka mendayung perahu agak menuju ke hilir, mendekati muara di bagian tepi laut.
Setelah tiba di seberang, di tepi laut, Muryani melompat ke darat, lalu berpang kepada dua orang itu dan berkata.
"Aku berterima kasih kepada kalian yang telah menyeberangkan aku ke sini. Akan tetapi akupun hendak memperingatkan kalian agar kalian bertaubat dan jangan lagi bersikap kasar dan kurang ajar terhadap wanita. Kalau kelak kita berjumpa lagi dan aku masih melihat kalian bersikap kurang ajar terhadap wanita, aku pasti tidak akan mengampunimu lagi!"
Setelah berkata demikian, Muryani melanjutkan perjalanannya ke timur.
Ia sama sekali tidak tahu siapa sebenarnya dua orang itu dan menganggap mereka itu hanyalah nelayan-nelayan yang berwatak kasar.
Sama sekali ia tidak mengira betapa setelah ia pergi kedua orang itu cepat memberi isyarat ke arah lautan di mana terdapat sebuah kapal.
Dua orang itu ternyata adalah dua orang anak buah mata-mata Kumpeni Belanda!
Seperti kita ketahui, Satyabrata telah berunding dengan Komandan Willem Van Huisen dan perwira kumpeni itu sudah menjanjikan akan mengirim sebuah kapal perang untuk membantu dengan diam-diam pihak Madura yang hendak diserang pasukan Mataram.
Kapal inilah yang dijanjikan itu, sudah siap di lautan, siap untuk menuju ke Madura kalau saat perang tiba.
Kapal itu telah diperlengkapi dengan meriam-meriam besar dan senjata-senjata api lainnya, dipimpin oleh seorang kapten kapal bernama Kapten Johan Van Dalen.
Begitu isyarat dua orang matamata itu terlihat dari kapal, oleh sang kapten yang menggunakan teropong, sebuah perahu diturunkan dan dua belas orang menumpang perahu itu yang berlayar cepat ke pantai.
Muryani sedang berjalan menyusuri pantai.
Tiba-tiba ia.
melihat sebuah perahu meluncur cepat dan mendarat di pantai sebelah depan.
Tadinya ia tidak begitu memperhatikan, akan tetapi tiba-tiba ia mendengar suara orang berteriak dari arah belakangnya.
"Perempuan itu seorang telik-sandi mata-mata Mataram!!"
Muryani cepat menengok dan mukanya berubah kemerahan karena marah.
Kiranya yang berteriak itu adalah dua orang laki-laki yang kurang ajar tadi, yang telah dihajarnya dan yang menyeberangkannya di muara Bengawan Solo!
Mereka berdua agaknya mengikutinya dengan berperahu di laut dan kini memberi peringaan kepada belasan orang yang berlompatan keluar dari perahu di depannya.
Muryani berhenti melangkah dan berdiri dengan sikap tenang walaupun ia dapat menduga bahwa belasan orang itu tentu tidak berniat baik, apalagi dilihatnya tiga orang di antara mereka adalah orang-orang kulit putih yang memegang senapan.
Dari Satyabrata ia sudah banyak mendengar keterangan tentang ampuhnya senjata api.
Menurut Satyabrata, peluru senjata api amat cepat dan hanya mungkin dapat dielakkan dengan merebahkan diri.
Kalau pelurunya biasa, mungkin dapat disambut dengan aji kekebalan, aksn tetapi kalau peluru dari perak apalagi emas, aji kekebalan tidak dapat diandalkan.
Biarpun maklum bahwa dirinya terancam, Muryani bersikap tenang saja.
melihat bahwa dari dua belas orang itu hanya tiga orang yang berkulit putih dan memegang senapan.
Yang sembilan orang agaknya orang-orang Madura, melihat dari pakaian dan ikat kepalanya.
Sembilan orang ini membawa senjata golok atau clurit di pinggangnya dan sikap mereka mengancam.
Akan tetapi mereka semua tersenyum dan memandang ringan ketika orang yang diisyaratkan oleh dua orang itu sebagai mata-mata Mataram, ternyata hanya seorang gadis cantik!
Yang menjadi pimpinan selosin orang ini adalah seorang Madura yang berusia sekitar empat puluh tahun, bertubuh tinggi kurus dan tampak kokoh kuat, berkumis melintang sekepal sebelah, matanya lebar dan bengis, bernama Sumbaga.
Dia adalah seorang jagoan dari Arisbaya, dan menjadi seorang senopati anak buah Ki Harya Baka Wulung.
Dialah yang kini melangkah maju menghadapi Muryani, memandang gadis itu penuh selidik.
"Gadis muda dan cantik ini seorang telik-sandi Mataram yang berbahaya?"
Dia bertanya seperti kepada diri sendiri dan nada suaranya tidak percaya. Dua orang anak buahnya yang menyamar sebagai nelayan, sudah berada di situ pula, ikut mengepung Muryani. Si brewok berkata.
"Harap jangan rnemandang ringan. Gadis ini sungguh sakti dan tangguh sekali!"
Dengan pandang mata masih tidak percaya, Sumbaga mengamati Muryani. Kemudian dia bertanya dengan suaranya yang nyaring.
"Heh, nona muda. Siapakah engkau dan kenapa engkau berada di sini seorang diri?"
Muryani tersenyum.
"Aku tidak mempunyai urusan dengan kalian, maka tidak perlu aku memperkenalkan namaku. Aku berada di sini adalah urusanku sendiri. Ini tempat umum, tak seorangpun boleh melarangku!"
"Waduh sombongnya!"
Sumbaga berseru penasaran.
"Hei, dengar gadis sombong. Aku adalah Sumbaga, seorang senopati Arisbaya. Benarkah engkau seorang telik-sandi Mataram?"
Muryani tersenyum mengejek.
"Kalau benar, kalian mau apa?"
Sumbaga menjadi marah.
"Kalau engkau seorang laki-laki, tentu akan kami bunuh! Akan tetapi karena engkau seorang perempuan, engkau harus kami tangkap!"
"Begitukah? Hemm, coba tangkap aku kalau mampu!"
Muryani menantang dan ia segera memasang kuda-kuda atau jurus pembukaan dari ilmu silat Bromo Dadali, yaitu dengan Jurus Dadali Anglayang.
Ia berdiri berjingkat, tubuhnya agak ditundukkan, kedua lengannya dikembangkan seperti seekor burung hendak terbang.
Sumbaga yang masih memandang rendah sudah menubruk sambil mengeluarkan seruan panjang.
"Haiiiiiiiitt.... !."
Kedua lengannya yang panjang itu sudah menerkam dari kanan kiri, tidak memberi jalan bagi gadis itu untuk mengelak.
Dia yakin bahwa sekali terkam gadis itu sudah akan dapat ditangkapnya dengan mudah.
Akan tetapi Muryani diam-diam megerahkan Aji Kluwung Sakti yang membuat tubuhnya menjadi ringan sekali sehingga ia dapat bergerak cepat bagaikan serekor burung walet.
Ketika kedua tangan Sumbaga menerkam dari kanan kiri, tubuh gadis itu berkelebat ke atas sehingga tubrukan itu luput.
Akan tetapi yang diserang oleh Muryani adalah dua orang yang menyamar sebagai nelayan tadi.
Dari atas tubuhnya meluncur ke arah dua orang itu dan sekali kedua tangannya bergerak, dua orang itu berteriak dan roboh, tak mampu bangkit kembali karena kepala mereka telah terkena tamparan Muryani yang mempergunakan Aji Pukulan Gelap Sewu yang amat ampuh.
Isi kepala dua orang itu terguncang hebat sehingga mereka roboh dan tewas seketika.
Matinya dua orang ini membikin semua pengepung menjadi terkejut dan marah.
Serentak mereka lalu mencabut golok dan celurit, menyerang dan mengeroyok Muryani dari berbagai jurusan.
Muryani memperlihatkan kegesitannya, mengamuk dikeroyok sembilan orang yang memegang senjata tajam.
Pengeroyokan yang kacau-balau ini malah menguntungkan Muryani karena tiga orang anak buah kumpeni yang memegang bedil itu sampai sekali tidak memperoleh kesempatan untuk mempergunakan senjata api mereka Kalau mereka menembak dalam keadaan seperti itu, besar kemungkinannya peluru mereka akan mengenai teman sendiri.
Muryani mengandalkan Aji Kluwung Sakti untuk bergerak cepat.
Tubuhnya berkelebatan dan dapat menghindarkan diri dari semua serangan golok dan celurit.
Lewat belasan jurus, ia telah mampu merobohkan dua orang pengeroyok lagi.
Tamparan Aji Gelap Sewu membuat yang tertampar roboh tidak mampu bangkit kembali.
"Dorr-dorrr!!"
Dua kali letusan ditembakkan dua orang serdadu Belanda. Seorang di antara tiga serdadu Belanda ini yang sudah pandai berbahasa pribumi, berseru.
"Menyerah atau kami tembak!"
Akan tetapi, Muryani yang berkelebat di antara para pengeroyoknya yang tinggal tujuh orang itu sukar untuk dijadikan sasaran.
Ia mengerti bahwa di antara mereka semua, yang paling berbahaya adalah tiga orang serdadu Belanda itu.
Ia tidak tahu peluru apa yang mereka gunakan dan ia harus berhati-hati sekali.
Maka, ia terus bergerak cepat di antara para pengeroyoknya dan ketika mendapat keempatan, ia menyambar sebatang golok yang terlepas dari tangan seorang di antara para pengeroyok yang telah dirobohkannya, lalu secepat kilat ia melontarkan golok itu ke arah seorang serdadu Belanda yang berada paling dekat dengannya.
Serdadu itu sama sekali tidak pernah mengira bahwa dia akan diserang lemparan golok.
Tahu-tahu golok itu telah menyambar dan menancap di perutnya.
Dia berteriak keras, senapannya terlepas dan tubuhnya roboh lalu berkelojotan dan mati!
"Semua mundur, biar kami menembaknya!"
Seru seorang serdadu Belanda yang sudah siap dengan bedilnya.
Pada saat itu, Muryani sudah merobohkan pula seorang pengeroyok dengan tendangan kakinya yang mengenai dada.
Beberapa tulang iga orang itu patah dan diapun roboh tak mampu bergerak lagi.
Enam orang itu terkejut dan mendengar teriakan serdadu Belanda tadi, Sumbaga lalu berseru kepada anak buahnya.
"Mundur!!"
Enam orang itu berlompitan ke belakang sehingga kini Muryani ditinggal sendiri.
Pada saat itu, seorang serdadu Belanda menembakkan senapannya.
Pada detik itu, dengan kepekaannya, cepat sekali Muryani merebahkan dirinya ke atas tanah dan pada saat itu, terdengar ledakan dari tembakan itu.
"Darrr....!"
Muryani menggulingkan tubuhnya dengan cepat dan sebelum serdadu itu dapat menembak lagi, ia sudah rnelompat dan sebuah pukulan Gelap Musti menghantam kepalanya.
Serdadu itu tak sempat mengeluh, terpelanting dan roboh, tewas seketika.
Akan tetapi pada saat itu, serdadu yang ketiga sudah membidikkan senapannya ke arah Muryani dari jarak paling jauh tiga meter.
"Dorrr....!!"
Api muncrat, asap mengepul, akan tetapi tembakan itu meleset jauh karena pada saat dia menarik pelatuk senapan, tiba-tiba sebuah batu menyambar dan mengenai tangannya sehingga senapan itu miring dan kehilangan arah.
Serdadu itu terkejut akan tetapi pada saat berikutnya, sebuah tangan terbuka menghantam pelipisnya.
Pukulan itu perlahan saja, akan tetapi akibatnya tubuh serdadu Belanda itu terpelanting dan dia tidak dapat bangkit atau bergerak lagi.
Sumbaga dan lima orang pembantunya menjadi marah dan juga terkejut melihat betapa tiga orang serdadu Kumpeni Belanda itu roboh dan tiga orang anak buahnya juga sudah roboh.
Mereka melihat bahwa yang merobohkan serdadu terakhir tadi adalah seorang pemuda.
Kini Muryani mengamuk.
Ia hanya melihat bahwa ada seorang pemuda membantunya, akan tetapi ia (Lanjut ke
Jilid 24) Seruling Gading (Seri ke 02 -Serial Pecut Sakti Bajrakirana) Karya". Asmaraman S. Kho Ping Hoo
Jilid 24 tidak mengenal siapa pemuda itu.
Sumbaga dibantu oleh seorang anak buahnya kini mengeroyok pemuda yang bertangan kosong itu sedangkan empat orang anak buahnya yang lain mengeroyok Muryani dengan senjata mereka.
Tiga orang memegang golok dan seorang bersenjata sebatang celurit panjang.
Sambil melayani pengeroyokan empat orang yang marah dan nekat itu, beberapa kali Muryani menggunakan kesempatan untuk menoleh dan memandang pemuda yang menolongnya.
Di antara para pengeroyok, Sumbaga yang berkumis melintang memiliki kepandaian yang paling tinggi, maka Muryani khawatir kalau-kalau pemuda yang membantunya itu akan kalah.
Akan tetapi ia melihat sesuatu yang aneh terjadi.
Pemuda itu agaknya bergerak lambat saja untuk menghindarkan diri dari golok besar di tangan Sumpaga dan celurit panjang di tangan anak buahnya, akan tetapi anehnya, kedua senjata itu tidak pernah dapat menyentuhnya!
Yang lebih terkejut dan heran adalah Sumbaga dan pembantunya.
Pemuda itu bergerak lambat dan senjata tajam mereka begitu tepat menyambar ke tubuh pemuda itu, akan tetapi setelah dekat, senjata mereka melenceng dan menyimpang ke samping sehingga tidak pernah mengenai tubuh pemuda itu.
Biarpun demikian, melihat gerakan pemuda itu lambat, Muryani menjadi khawatir kalaukalau orang yang telah membantunya itu akan celaka, maka iapun mengeluarkan bentakanbentakan nyaring.
Satu demi satu para pengeroyoknya itu terkena sambaran kedua tangannya yang memukul dengan Aji Gelap Musti!
Setelah merobohkan empat orang pengeroyoknya, Muryani memutar tubuh dan terbelalak heran melihat betapa pemuda itu sudah berdiri memandangnya.
Dua orang yang tadi mengeroyok pemuda itu, Sumbaga dan seorang anak buahnya, telah menggeletak tak bergerak lagi dengan tubuh tanpa luka.
Kini mereka berdiri saling berhadapan dalam jarak lima meter, saling pandang dengan bengong, seperti dalam mimpi dan hampir tidak mempercayai pandangan mata mereka sendiri.
Mereka merasa asing satu sama lain, namun setelah sepasang mata mereka bertemu, bertaut dan seakan saling menyelami, mereka seperti terpesona karena masing-masing mengenal pandang mata itu dengan baik sekali.
"An.... andika".. ??"
Pemuda itu berkata gagap.
"Andika....!!"
Muryani juga berseru dengan sangsi dan ragu.
Biarpun pandang mata itu menerangi semua ingatannya, mengembalikan kenangannya sehingga mengenal pemuda itu sebagai Parmadi, namun hal yang meragukannya adalah melihat Parmadi begitu mudahnya mampu merobohkan seorang serdadu Belanda, Sumbaga senopati Arosbaya dan seorang pembantunya!
Padahal ia tahu benar bahwa Parmadi, sekitar lima enam tahun yang lalu, adalah seorang pemuda remaja ,yang lemah dan sama sekali tidak memiliki kesaktian.
Sekarang, dia sudah tampak dewasa dan agaknya memiliki kesaktian, menjadi seorang pemuda yang digdaya!
Karena merasa ragu, Muryani mengamati penuh perhatian.
Pemuda itu sudah matang, tubuhnya sedang namun tegap dan ia dapat melihat bahwa tubuh itu menyimpan tenaga sakti yang kuat.
Wajahnya tampan walaupun pakaian dan sikapnya masih sederhana seperti dulu, sikap seorang pemuda dusun akan tetapi wajahnya anggun berwibawa seperti wajah seorang pemuda priyayi.
Mata yang lembut itu terkadang mencorong penuh kekuatan batin, hidungnya mancung, mulutnya selalu membayangkan senyum sehingga tampak cerah dan ramah.
Sebatang seruling putih kekuningan terselip di ikat pinggangnya sebelah kiri dan gagang sebatang patrem terselip di pinggangnya sebelah kanan.
Gagang patrem itu!
Tak salah lagi.
Ia masih ingat benar.
Itu patrem miliknya!
Tidak ada patrem lain di dunia ini yang gagangnya berbentuk kepala burung seperti patremnya.
Tidak salah lagi!
"Kakang Parmadi".!!"
"Adi Muryani".. !!"
Entah siapa yang lari lebih dulu.
Keduanya merasa demikian gembira dan bahagia, merasa seperti bertemu dengan kakak dan adik yang sudah amat lama dirindukannya, bertemu dengan orang yang selama ini menjadi bayangan yang tidak pernah meninggalkan hatinya, orang yang dicintanya.
Hanya pengertian cinta itu masih kabur dalam perasaan mereka, cinta di antara remaja.
Karena perasaan cinta remaja yang lebih condong kepada cinta saudara inilah yang membuat Muryani bingung dan ragu ketika Satyabrata menyatakan cintanya kepadanya!
Dua orang muda itu berlari saling menghampiri dan tahu-tahu mereka sudah saling rangkul, persis seperti ketika mereka akan berpisah dulu.
Tanpa dapat ditahannya saking terharu, Muryani menangis di dada Parmadi.
"Aduh, kakang Parmadi"
Ke mana saja engkau selama ini"..?"
Muryani terisak dalam rangkulan pemuda itu.
"Adi Muryani, aku juga amat gelisah mendapatkan engkau tidak berada lagi di Pakis dan aku mendengar bahwa paman Ronggo Bangak terbunuh orang dan engkaupun terluka parah. Kemudian Ki Demang Warutomo menceritakan bahwa engkau pergi tanpa pamit. Ah, aku menjadi khawatir sekali. Puji syukur kepada Gusti Allah bahwa engkau dalam keadaan selamat dan sehat walafiat, Muryani."
Muryani menghela napas panjang, lalu menghapus air matanya, lalu merenggangkan diri dan memandang kepada Parmadi dengan kedua pipi masih basah, akan tetapi mulutnya tersenyum.
"Maaf, kakang. Aku menjadi anak yang cengeng. Aku terharu dan girang sekali bertemu denganmu, maka aku menangis. Ketahuilah, setelah ayahku dibunuh orang, aku lalu pergi mencari pembunuhnya yang didalangi oleh Ki Demang Wiroboyo."
"Hemm, belum juga bertaubat orang tu? Betapa jahatnya."
"Aku bertemu dengan seseorang dan dalam keadaan terancam bahaya dalam tangan Wiroboyo dan temannya, aku ditolongnya kemudian menjadi muridnya. Setelah guruku meninggal, aku lalu melanjutkan usahaku mencari musuh besarku sehingga aku berhasil menemukan dan membunuh Wiroboyo dan temannya, pembunuh ayahku. Temannya itu bernama Darsikun."
"Siapa gurumu yang baru itu, adi Murani?"
"Mendiang guruku itu bernama Nyi Rukmo Petak yang bertapa di Bukit Ular, Pegunungan Anjasmoro."
"Pantas engkau menjadi begini sakti mandraguna! Aku pernah mendengar nama Nyi Rukmo Petak itu. Lalu bagaimana engkau dapat berada di sini dan dikeroyok orang-orang ini?"
"Setelah berhasil membalas dendam kematian ayah aku lalu pergi ke Muria untuk mengunjungi guru pertamaku Ki Ageng Branjang ketua Perguruan Bromo Dadali dan sempat membantu perguruan kami yang sedang diserang musuh."
"Siapakah musuh itu?"
"Dia bernama Dibyasakti, katanya seorang senopati dari Arisbaya, Madura yang membujuk agar Perguruan Bromo Dadali berpihak kepada Madura dan menentang Mataram. Karena bapa guru tidak mau maka terjadi perkelahian. Setelah tinggal beberapa hari di Muria, akhirnya aku tidak betah dan mendengar bahwa akan ada perang antara Mataram dan Madura, maka aku lalu melakukan perjalanan ke sini. Tadi ketika menyeberangi muara, aku diserang dua orang tukang perahu. Aku mengalahkan mereka, akan tetapi ketika tiba di sini, aku dikepung banyak orang dan engkau datang membantuku. Sama sekali aku tidak menyangka bahwa engkaulah yang membantuku kakang. Aku tadi sama sekali tidak mengenalimu!"
Parmadi tersenyum.
"Akupun hampir tidak mengenalimu, adi Muryani. Engkau berubah, bukan lagi seorang gadis remaja seperti ketika berpisah dahulu. Sekarang engkau seorang gadis dewasa yang sakti mandraguna dan.... cantik jelita!"
Mendapatkan pujian yang ia tahu keluar dari hati yang tulus, Muryani tersipu. Ia tadi sengaja tidak bercerita tentang Satyabrata.
"Apalagi engkau, kakang! Engkau berubah sekali. Siapa sangka engkau yang dulu merupakan seorang pemuda yang biarpun pemberani namun lemah, kini berubah menjadi seorang pemuda yang digdaya! Aku benar-benar merasa terkejut, heran dan kagum sekali."
Kembali Parmadi tersenyum.
"Dan bagaimana engkau dapat mengenal kembali aku?"
Muryani juga tersenyum dan menudingkan telunjuk kanannya ke arah pinggang Parmadi sebelah kanan.
"Melihat patrem itu, aku tidak ragu lagi dengan siapa aku berhadapan! Dan engkau, bagaimana engkau dapat mengenaliku, kakang?"
"Sinar matamu, adi Muryani. Pandang matamu itu amat kukenal dan segera aku dapat menduga siapa gadis cantik sakti mandraguna yang berdiri di depanku."
"Ahh, kakang Parmadi, betapa bahagia hatiku dapat bertemu denganmu. Hayo sekarang giliranmu untuk menceritakan semua pengalamanmu sejak kita saling berpisah, sejak engkau meninggalkan aku, kakang."
"Mari kita duduk, Muryani. Tidak enak bicara sambil berdiri saja."
Parmadi mengajak gadis itu duduk dan mereka berdua duduk di atas pasir yang putih dan bersih.
"Seperti engkau tentu masih ingat ketika meninggalkan dusun Pakis dahulu itu, aku berpamit dan mengatakan bahwa aku hendak merantau dan meluaskan pengalaman dan pengetahuan. Sebetulnya aku pergi mengikuti seorang kakek yang sakti mandraguna dan bijaksana, yang mengambil aku sebagai murid. Ketika itu, aku tidak berani bercerita tentang beliau karena memang beliau tidak ingin diketahui keadaannya oleh orang banyak. Beliau adalah Eyang Resi Tejo Wening. Aku diberi pelajaran tentang hidup dan diberi ilmu-ilmu untuk bekal hidup dan selama kurang lebih lima tahun kami berdua tinggal di puncak Gunung Lawu."
"Wah, tidak begitu jauh kalau begitu! Kalau tahu begitu, tentu aku sudah mencarimu ke sana!"
Seru Muryani terheran-heran, sama sekali tidak menyangka bahwa selama ini Parmadi berada di puncak Gunung Lawu, tidak begitu jauh dari Pakis, hanya membutuhkan pendakian beberapa jam saja!
"Setelah Eyang Resi Tejo Wening memerintahkan agar aku turun gunung, aku langsung kembali ke Pakis dan di sana aku mendengar tentang engkau dan ayahrnu.
Aku lalu turun gunung dan berusaha rnencari jejakmu, namun tidak berhasil.
Kemudian aku mendengar juga tentang akan terjadinya perang antara Mataram dan Madura, maka aku lalu pergi ke timur dengan maksud untuk menyumbangkan tenagaku membantu Mataram.
Tadi aku melihat engkau terancam bahaya kelika serdadu Belanda itu hendak menembakmu, maka biarpun aku tadi belum mengenalimu, aku cepat membantumu."
Parmadi juga tidak menceritakan pengalamannya bertanding melawan orang-orang lain yang tidak ada hubungannya dengan Muryani. Tiba-tiba Muryani berseru.
"Ah, dia itu belum mati!"
Dan cepat ia mengambil sebatang golok yang menggeletak di de katnya, lalu ia menyambitkan golok itu ke arah anak buah Senopati Sumbaga yang tadi dirobohkan Parmadi.
"Syuuuuttt....!"
Golok itu meluncur dengan cepat ke arah tubuh orang yang sudah bangkit duduk sambil memegang kepalanya yang pening dengan kedua tangan, sama sekali tidak menyadari bahwa ada sebatang golok meluncur ke arahnya bagaikan tangan maut.
"Wuuuutt plakkk!"
Golok yang sedang meluncur itu tiba-tiba saja runtuh seperti tertolak sesuatu yang amat kuat.
"Ehh...?"
Muryani terbelalak kaget. Ia melihat Parmadi tadi menggerakkan tangan ke arah golok yang meluncur itu dan ada hawa pukulan yang kuat menyambar ke depan, ke arah golok dan meruntuhkan golok itu.
"Kenapa engkau lakukan itu, kakang?"
"Maaf, adi Muryani, aku tadi memang sengaja tidak membunuh orang itu, hanya membuat dia roboh pingsan. Kurasa kami membutuhkan orang itu."
"Mengapa? Untuk apa? Mereka adalah orang-orang dari Arisbaya, Madura yang agaknya bergabung dengan kumpeni!"
"Justeru karena itulah. Kita ingin membantu Mataram, bukan? Nah, mari kita tanya dia."
Parmadi bangkit dan menghampiri orang itu, diikuti oleh Muryani yang belum mengerti benar apa yang dikehendaki pemuda itu.
Orang itu agaknya sudah tidak pening lagi dan dia kini mengangkat muka memandang dua orang muda yang datang menghampirinya.
Dia terbelalak, lalu bangkit berdiri, agaknya siap untuk membela diri!
"Tenanglah, ki-sanak!"
Kata Parmadi dengan halus.
"Kami memang sengaja membiarkan engkau hidup dan sebaliknya kami harap agar engkau suka memberi keterangan sejujurnya kepada kami."
"Hemm, aku sudah kalah. Kalau kalian hendak membunuhku, lakukanlah. Aku tidak takut mati untuk membela Madura!"
Kata orang itu dengan sikap gagah.
Parmadi menghela napas panjang.
Dia tahu bahwa sukar untuk berdebat tentang kebenaran dengan seorang musuh dalam perang.
Semua orang tentu saja mempertahankan kebenaran masing-masing yang menganggap dirinya benar karena membela pihaknya sendiri sebagai sebuah perjuangan yang suci dan benar.
"Akan tetapi mengapa kalian mengeroyok seorang wanita?"
Dia memancing sambil menoleh kepada Muryani. Orang Madura itu memandang Muryani dengan sinar mata penuh kebencian "Karena ia seorang telik-sandi Matara yang harus dibunuh!"
Parmadi diam-diam mengakui bahwa orang ini, mungkin demikian pula dengan semua temannya yang telah tewas, adalah orang-orang gagah yang membela tanah air mereka dengan gigih sebagai seorang pejuang yang mencinta tanah air dan bangsa.
Ah, betapa menyedihkan kalau bangsa di Nusantara itu terpecah pecah seperti ini.
"Akan tetapi, ki-sanak. Mengapa kalian orang-orang Arisbaya bersekongkol dengan orang orang Kumpeni Belanda itu untuk mengeroyok seorang wanita yang sebetulnya masih bangsa sendiri? Dari manakah tiga orang serdadu kumpeni itu datang?"
Orang itu tersenyum mengejek.
"Kumpeni Belanda suka membantu kami untuk menghadapi Mataram, maka kami bekerja sama dengan mereka. Kalian boleh membunuhku, akan tetapi kalian tidak akan terlepas dari mereka!"
Orartg itu menunjuk ke arah lautan di mana terdapat sebuah kapal. Tiba-tiba orang itu mengampil golok yang tadi dilontarkan Muryani dan menggeletak di situ, lalu menyerang gadis itu dengan nekat.
"Hyaaaaaehhhh" !"
Orang itu membacokkan goloknya ke arah kepala Muryani dengan mengerahkan seluruh tenaganya.
Golok itu menyambar dengan suara berdesing.
Akan tetapi dengan mudah saja Muryani dapat menghindarkan diri dari bacokan itu dengan elakan ke samping dan sekali kakinya mencuat ke arah pergelangan tangan kanan penyerangnya, orang itu mengeluh dan golok itupun terlepas dan terpental dari tangannya.
"Cukup, Muryani. Jangan bunuh dia."
Kata Parmadi. Muryani merasa heran sendiri mengapa ia begitu mentaati seruan Parmadi ini. Ia merasa ada sesuatu yang amat kuat dan berwibawa sehingga secara otomatis ia melompat ke belakang.
"Ki-sanak, kami tidak akan membunuhmu. Kalau engkau memang seorang pejuang yang membela Arisbaya, engkau tentu memiliki kesetiakawanan untuk mengubur jenazah para kawanmu itu. Mari adi, kita pergi,"
Kata Parmadi dan Muryani menurut saja ketika Parmadi menghampiri perahu kecil milik dua orang mata-mata Arisbaya yang menyamar sebagai nelayan tadi.
Muryani merasa semakin heran.
Ia perti berubah menjadi seorang anak kecil yang menurut saja dituntun seorang dewasa!
Tanpa bicara Parmadi mengajak ia naik perahu kecil yang didayung ol Parmadi menuju ke muara!
Baru setelah mereka jauh meninggalkan tempat pertempuran tadi dan tidak tampak dari sana terhalang batu-batu karang dan bukit pasir, Muryani dapat bicaran.
Ia bertanya dengan suara keheranan.
"Kakang Parmadi, apa artinya ini semua? Kenapa aku... aku menurut saja apa yang kaukatakan?"
Parmadi tersenyum dan mendayung perahunya ke tepi muara, lalu mendarat dan menarik perahu itu ke darat. Setelah itu barulah dia duduk di atas batu karang dan mempersilakan gadis itu duduk di depannya.
"Engkau menuruti kata-kataku berarti bahwa engkau percaya padaku, adikku, dan aku girang sekali."
"Ya, akan tetapi kenapa, kakang? Kenpa engkau melarang aku membunuh orang tadi? Bukankah dia itu musuh dan dia pun berniat membunuh aku?"
"Benar katamu, Muryani. Akan tetapi ingat, dia ingin membunuhmu karena menganggap engkau telik-sandi Mataram dan dia berjuang untuk membela Madura. Dia juga seorang pejuang, seorang gagah, walaupun sayang sekali kerajaan measing-masing bermusuhan sehingga membuat dua pihak yang sama-sama patriot, sama-sama pejuang, sama-sama orang gagah yang sebagai seorang kawula membela negaranya, terpaksa harus berhadapan sebagai musuh. Aku tidak tega melihat dia terbunuh. Pula, kalau dia terbunuh, lalu siapa yang akan menguburkan semua jenazah itu?"
"Kakang Parmadi, sungguh aku tidak mengerti. Kenapa engkau memperdulikan mayat-mayat para musuh itu? Kalau kita yang kalah dan mati, belum tentu mereka mau memperdulikan jenazah kita."
"Hal itu hanya akan membuktikan bahwa mereka adalah manusia-manusia yang tidak berperikemanusiaan, adi Muryani. Di waktu hidup, nafsu dan keadaan mungkin memaksa kita untuk bermusuhan dengan mereka. Akan tetapi setelah mereka mati, permusuhan apalagi yang ada. Mereka telah menjadi jenazah dan ingat itu adalah jenazah manusia. Tak mungkin kita biarkan terlantar begitu saja."
"Aduh, bicaramu mengingatkan aku kepada mendiang ayahku, kakang Parmadi."
"Tentu saja. Bukankah beliau adalah guruku yang pertama?"
"Akan tetapi mengapa pula engkau mengajakku ke sini, kakang? Agaknya engkau seperti sedang merencanakan sesuatu."
"Engkau masih tetap cerdik seperti dulu, Muryani. Sesungguhnyalah. Melihat tiga orang serdadu Belanda yang membantu orang-orang Madura itu, aku menjadi curiga. Kapal Belanda di sana itu pasti bermaksud untuk membantu Madura. Hal itu akan berbahaya sekali. Kalau kita ingin membantu Mataram, inilah kesempatan yang amat baik itu."
"Apa maksudmu?"
"Kita harus dapat naik ke kapal itu dan melumpuhkan kekuatannya. Ketahuilah, adi Muryani. Dari percakapanku deirgan beberapa orang bijaksana yang setia kepada Mataram, aku mengetahui bahwa musuh utama kita adalah Kumpeni Belanda yang hendak menguasai bumi nusantara. Gusti Sultan Agung tidak memusuhi daerah-daerah, melainkan hendak mempersatukan semua kekuatan senusantara untuk bersatu padu menyusun kekuatan menghadapi Kumpeni Belanda. Yang menolak persatuan terpaksa ditundukkan. Dan pihak Belanda tentu saja tidak suka melihat persatuan semua daerah dengan Mataram, maka mereka selalu berusaha untuk memecah belah agar kekuatan kita menjadi lemah. Kapal itupun tentu ingin membantu Madura agar jangan sampai bersatu dengan Mataram. Karena itu, kalau kita ingin membantu Mataram kita harus berusaha untuk melumpuhkan kapal itu."
"Wah, itu sukar dan berbahaya sekali kakang Parmadi!"
Seru Muryani sambil memandang ke arah kapal besar itu. Moncong beberapa buah meriam tampak dari situ.
"Dan mengapa pula engkau bersembunyi di antara batu karang ini?"
"Aku pernah mendengar bahwa kumpeni memiliki alat-alat yang ampuh. Selain senjata api panjang dan pendek, juga meriam-meriam dan aku mendengar mereka memiliki alat yang disebut teropong yang membuat mereka dapat melihat dari jauh sehingga dengan teropong itu, mungkin mereka dapat melihat kita di sini dari kapal. Maka sebaiknya kita berhati-hati dan sembunyi di antara batu karang sehingga kita dapat mengintai kapal sebaliknya mereka tidak dapat melihat klta."
"Akan tetapi bagaimana kita dapat naik ke kapal mereka? Bukankah hal itu sukar dan berbahaya sekali?"
"Tidak ada perjuangan tanpa menghadapi kesukaran dan bahaya, Muryani. Malam nanti akan kucoba untuk menggunakan perahu mendekati kapal mereka dan mencari jalan bagaimana aku dapat menyelundup naik ke kapal itu."
"Kalau begitu aku ikut, kakang!"
Kata Muryani penuh semangat.
"Lebih baik jangan, Muryani. Pekerjaan ini berbahaya sekali dan aku tidak ingin engkau terancam bahaya. Apalagi kita berada di atas lautan."
Muryani mengerutkan alisnya.
"Kakang Parmadi! Kalau engkau berani menghadapi bahaya, apa kaukira aku tidak berani? Kita hadapi bahaya bersama dan dengan kita berdua bekerja sama, tentu kedudukan kita lebih kuat!"
Parmadi tersenyum dan menatap wajah gadis itu dengan kagum.
"Ah, engkau masih pemberani dan pantang mundur, gagah perkasa seperti dulu, Muryani."
"Hemm, aku bukan menyombongkan diri, kakang. Akan tetapi aku bukan Muryani yang dulu. Aku telah mewarisi ilmu-ilmu yang tinggi dari mendiang Ny Rukmo Petak!"
Parmadi mengangguk.
"Aku telah melihatnya tadi. Gerakanmu amat ringan dan cepat dan aji pukulanmu yang kau pergunakan tadi dahsyat bukan main."
"Selain itu, aku juga pernah belajar dan pandai berenang,"
Kata Muryani bangga.
"Baiklah, kita tunggu sampai malam tiba. Mudah-mudahan kapal itu belum pergi dan menyalakan lampu sehingga kita dapat menghampirinya dengan perahu."
Sambil menanti datangnya malam, kedua orang muda itu meninggalkan pantai dan menemukan tanaman ketela di sebuah tegalan.
Karena perutnya lapar, Muryani hendak mencabut dan mengambil beberapa pohon ketela, akan tetapi Parmadi berkata.
"Adi Muryani, walaupun kita hanya membutuhkan beberapa potong dan aku yakin pemiliknya akan rela kalau melihat kita mengambil untuk kita makan, namun sungguh akan terasa tidak enak di mulut dan perut kalau kita mengambil tanpa ijin pemiliknya. Coba bayangkan, selagi kita makan pemiliknya muncul dan melihat kita, apakah kita tidak akan malu sekali?"
Muryani tertawa.
"Wah, engkau semakin mirip ayah dahulu! Baiklah, mari kita cari pemilik tegalan (ladang) ini, itu rumahnya tidak jauh dari sini. Kita beli saja darinya beberapa potong ketela."
Mereka lalu mencari dan tak lama kemudian dapat menemukan rumah pondok bamboo sederhana.
Penghuninya adalah seorang petani berusia kurang lebih lima puluh tahun bersama isterinyri yang juga sudah setengah tua.
Mereka hanya berdua di pondok yang tidak mempunyai tetangga itu dan petani itu mengerjakan ladang, terkadang dia pergi pula menjala ikan di muara sungai.
Hidup mereka sederhana namun serba cukup dan tampaknya mereka hidup berbahagia.
Kedua orang suami isteri itu menyambut kedatangan Parmadi dan Muryani dengan hormat dan ramah sekali.
"Wah, mbok-ne! Kita kedatangan tamu-tamu priyayi!"
Seru laki-laki itu kepada isterinya yang berada di belakang.
Sang isteri datang berlari-lari dan keduanya menyambut dua orang muda itu dengan wajah riang gembira, seperti penduduk dusun yang lugu pada umumnya kalau kedatangan priyayi atau orang kota.
"Mari, den-mas dan den-roro, silakan masuk, silakan duduk!"
Pemilik rumah itu mempersilakan dengan ramah sedangkan isterinya memandang dengan tersenyum dan membungkukbungkukkan tubuh sebagai tanda hormat.
"Terima kasih, paman. Kami tidak akan mengganggu, kami hanya ingin bertanya apakah ladang di sana itu, yang ditanami ketela, milik paman?"
Kata Parmadi sambil menunjuk ke arah ladang itu.
"Oo, tegalan itu? Benar, den-mas. Kami yang menanami ketela di sana."
"Nah, begini, paman. Kami berdua membutuhkan beberapa potong ketela, maka kami datang untuk membelinya dari andika."
Suami isteri itu saling pandang, lalu sang isteri bertanya heran.
"Den-mas, untuk apakah andika berdua membutuhkan beberapa potong ketela?"
Muryani tersenyum dan ia yang menjawab.
"Untuk apa, bibi? Tentu saja untuk dibakar dan dimakan! Kami lapar sekali."
Kini suami isteri itu saling pandang dengan mata terbelalak, lalu si suami yang berseru.
"Ah, den-mas! Masa untuk beberapa potong ketela saja harus membeli? Silakan ambil secukupnya, kami berdua rela dan senang sekali, den-mas!"
"Benar, den-mas dan den-roro!"
Kata pula si isteri.
"Bahkan, kalau andika berdua sudi, silakan makan di sini bersama kami. Kami punya nasi dengan lauk sayur lodeh terong dan sambal!"
"Ah, terima kasih, bibi. Kami tidak ingin menyusahkan andika. Kalau begitu, sekali lagi kami mengucapkan terima kasih atas pemberian ketelanya dan kami mohon pamit,"
Kata Parmadi.
"Silakan, den-mas. Silakan".!"
Kata suami isteri itu sambil membungkuk-bungkuk.
Parmadi lalu pergi bersama Muryani, menuju ladang tadi dan tak lama kemudian mereka sudah mengambil delapn potong ketela ubi sebesar kepalan tangan pria.
Mereka lalu membuat api dengan kayu-kayu kering dan membakar ubi.
Tercium bau sedap bukan main, apalagi karena perut mereka sudah lapar sekali.
Setelah ketela ubi itu masak, mereka duduk dekat api dan mulai makan.
Gurih dan manis sekali rasanya.
Akan tetapi Muryani mengomel.
"Hemm, kalau saja kita menerima tawaran suami isteri yang ramah itu, tentu sekarang kita makan nasi dan sayur lodeh terong. Dengan sambal pula. Hemm, alangkah sedapnya!"
Parmadi tertawa.
"Adi Muryani, coba hentikan pikiranmu membayangkan lain rnakanan yang kauanggap lebih enak dan curahkan seluruh perhatianmu kepada makanan yang sedang kauhadapi dan makan, dengan rasa penuh syukur kepada Gusti Allah yang telah member berkah, dan makanan itu akan terasa lezat dan nikmat luar biasa!"
Muryani tersenyum.
"Aku masih ingat akan wejangan mendiang bapak tentang hal itu dan aku memang bukanlah orang rnurka yang suka mengharapkan sesuatu yang lebih daripada yang kumiliki, kakang. Akan tetapi bagaimanapun juga, kalau dibuat perbandingan, tentu makan nasi dan sayur lodeh terong lebih lezat dibandingkan sekedar ketela ubi bakar, bukan?"
"Kalau engkau menghadapi dua tiga atau lebih macam makanan, tentu saja engkau bebas untuk memilih mana yang lebih kauinginkan dan sukai. Akan tetapi kalau hanya ada satu macam makanan, apapun juga makanan itu, baik yang sederhana seperti ubi bakar ini atau yang mewah mahal, maka membandingkannya dengan makanan lain yang tidak ada, hanya akan mengurangi atau bahkan menghilangkan kelezatan makanan yang kauhadapi."
"Kenapa begitu, kakang?"
"Begitulah ulah nafsu angkara murka, selalu mendorong kita untuk mendapatkan atau menginginkan yang tidak ada pada kita. Dan biasanya, yang kita inginkan itu tentu kita anggap lebih baik dan lebih enak daripada apa yang kita miliki dan hadapi. Karena itu maka yang kita hadapi menjadi tampak tidak enak dan tidak menyenangkan."
"Hemm, engkau benar, kakang. Lalu, bagaimana kita harus berbuat kalau nafsu mendorong kita untuk menginginkan segala yang tidak ada pada kita?"
"Dengan cara menerima segala sesuatu yang kita dapatkan sebagai anugerah Gusti Allah, sebagai berkahNya dan bukti cinta kasihNya kepada kita sehingga kita selalu menerimanya dengan puji syukur yang tulus. Kalau sudah begitu, mendapatkan sepotong ketela ubi bakar ataupun sepiring nasi dengan lauk pauk mewah, akan sama saja merupakan berkah gusti Allah dan kita akan selalu menikmatinya."
"Wah, kalau begitu kita tidak akan memperoleh kemajuan dalam hidup ini, kakang. Kalau kita setiap hari hanya bisa makan ubi dan menerima begitu saja, dan sudah puas, maka selama hidup kita hanya akan makan ubi terus! Sebaliknya kalau kita tidak puas dan ingin mencari yang lebih daripada ubi, maka akan timbul keinginan untuk maju, untuk mencari agar mendapatkan yang lebih. Bukankah begitu?"
Parmadi tersenyum.
"Bagus, Muryani. Engkau sudah dapat mempergunakan pikiranmu untuk bernalar. Ketahuilah, adikku, dalam kehidupan ini, Gusti Allah telah memberi kepada kita hati akal pikiran memberi nafsu dan semua itu harus kita pergunakan! Kita gunakan hati akal pikiran, didorong oleh semangat nafsu, untuk berusaha memenuhi segala kebuluhan kita dalam kehidupan ini. Kita tidak dapat meninggalkan nafsu yang menjadi pendorong bagi kita untuk melaksanakan segala sesuatu demi kepentingan dalam hidup ini. Hidup ini berarti gerak, dan setiap gerakan merupakan usaha, ikhtiar, setiap gerakan bekerja. Seluruh alam maya pada ini bergerak dan bekerja. Kekuasaan Gusti Allah tidak pernah berhenti bekerja, sedetikpun! Lihat tubuh kita ini. Setiap bagian tubuh kita ini bergerak dan bekerja. Dari ujung rambut sampai ke ujung kaki, semua bergerak dan bekerja. Semua hidup maka hidup itu gerak dan gerak itu kerja! Bayangkan kalau jantung kita berhenti berdetak, kalau darah kita berhenti mengalir, kalau pernapasan kita berhenti, kalau otak kita berhenti. Semua itu, termasuk seluruh bagian anggauta tubuh kita, semua itu mempunyai tugas masing-masing dan bekerja yang berarti berikhtiar!"
"Nanti dulu, kakang, jangan cepat-cepat. Aku menjadi bingung. Bukankah semua itu digerakkan oleh kekuasaan Gusti Allah?"
"Benar, segala sesuatu memang terjadi menurut kehendakNya. Akan tetapi Gusti Allah tidak akan menolong rnanusia kalau manusia itu sendiri tidak mau berusaha, bergerak dan bekerja. Contohnya, adi Muryani yang manis, siapa yang menyediakan tanah, air, udara, sinar matahari, dan bibit padi?"
"Hemm, tentu saja Gusti Allah, kakang."
"Tepat, karena manusia tidak dapat membuat kesemuanya itu. Nah, biarpun Gusti Allah telah menyediakan semua itu dengan lengkap, untuk kepentingan dan kebutuhan manusia, namun manusia tidak akan dapat menikmati nasi apabila dia tidak mau bekerja. atau berusaha. Manusia harus mengolah semua yang telah disediakan Gusti Allah itu, rnencangkul tanah, mengairinya, menanam benih padinya, merawat dan sebagainya. Bahkan kalau sudah menjadi padi, dia harus melanjutkan pekerjaannya untuk menuai, menumbuk, lalu memasak beras menjadi nasi.. Semua itu adalah ikhtiar, adikku. Bahkan setelah menjadi nasi di depan kita, Gusti Allah tidak menyuapi kita. Kita sendiri dengan tangan dan mulut harus makan nasi itu. Apakah cukup dengan semua ikhtiar itu untuk membuat kita hidup dan tidak kelaparan? Masih belum. Di dalam perut kita, bagian pencernaan dan perut kita masih harus bekerja lagi agar sari makanan nasi itu dapat menyehatkan dan mempertahankan hidup kita. Nah, jelas bahwa berkah dari Gusti Allah harus kita imbangi dengan ikhtiar, dengan usaha atau bekerja. Kita bekerja sekuat tenaga sebagai kewajiban akan tetapi kita terima segala hasilnya, besar atau kecil, sebagai berkahNya dan selalu memuji syukur kepadaNya."
Muryani mengangguk-angguk.
"Aku mulai mengerti, kakang. Akan tetapi cukuplah dulu, jangan banyak-banyak, aku menjadi pusing."
Setelah selesai makan ubi bakar, mereka lalu minum dari sumber air yang terdapat di antara bukit karang.
Mereka menanti datangnya malam sambil bersembunyi di antara batu karang.
Setelah malam tiba, mereka girang melihat kapal itu masih berada di sana dan tampak lampu-lampu penerangan di kapal itu.
Malam itu tidak gelap benar.
Langit cerah dan penuh bintang.
Parmadi mendayung perahu kecil itu menuju ke kapal yang hanya tampak kelap-kelip lampunya dari situ.
Untung bahwa malam itu laut tidak berombak besar.
Air tenang dan perahu meluncur cepat ke arah kapal.
Dengan hati-hati Parmadi mendayung perahu menghampiri kapal.
Terdengar suara orang-orang di atas kapal.
Parmadi mendekatkan kapal sehingga menempel pada rantai jangkar yang dilepas dari bagian buritan kapal.
Dia memegangi rantai itu dan berbisik kepada Muryani.
"Ikatkan tali perahu ke rantai ini."
Muryani cepat melakukannya sehingga kini perahu tertahan di dekat rantai jangkar. Parmadi lalu berbisik lagi.
"Sekarang aku hendak melihat keadaan di atas kapal. Engkau tunggu saja dulu di sini, dik."
"Aku juga ikut ke atas, kang!"
Kata Muryani.
"Tunggu dulu. Kulihat tepat di atas bagian ini ada sebuah lampunya. Tentu keadaan di sana terang dan berbahaya bagi kita. Kalau aku sudah berhasil memadamkan lampu itu sehingga keadaan bagian itu gelap, baru engkau menyusul naik."
"Baiklah,"
Kata Muryani dan Parmadl lalu memanjat naik melalui rantai besat itu.
Sebentar saja dia sudah tiba di atas.
Dia tidak langsung naik ke atas geladak kapal, melainkan bergantung di pinggir permukaan geladak, di bawah pagar peng aman.
Dilihatnya sekitar tiga puluh orang Belanda di bagian tengah kapal yang diterangi banyak lampu.
Akan tetapi di bagian buritan sepi.
Melihat kesempatan ini Parmadi cepat melompati pagar besi pengaman dan berada di atas dek buritan, di bawah lampu gantung.
Dia cepat menurunkan lampu itu dan memadamkannya, lalu dia berlutut, sembunyi di balik besi tempat gulungan rantai jangkar, memperhatikan keadaan di atas kapal besar itu.
Dia melihat ada empat buah meriam besar, dua di kanan dan dua di kiri.
Ada pula beberapa buah meriam-meriam kecil.
Tak lama kemudian Muryani yang sudah melihat lampu padam dan cepat memanjat naik melalui tali jangkar, sudah berlutut pula di sebelahnya.
Mereka berdua mengintai dan melihat betapa orang-orang Belanda itu bersenang-senang, bercakap-cakap dan tertawa-tawa.
Ada yang duduk, ada pula yang berdiri.
Mereka minum-minum dengan gembira.
Seorang memetik gitar mengiringi nyanyian beberapa orang.
Ada pula yang bertepuk-tepuk tangan mengikuti irama sambil menari-nari.
Sambil berbisik-bisik Parmadi dan Murni mengatur siasat.
Kemudian mereka berpencar, Muryani ke kiri dan Parmadi ke kanan, maju berindap-indap.
Biarpun sangat hati-hati, namun mereka menyelinap maju dengan cepat sekali dan berturut-turut dua lampu di kanan kiri kapal itu padam.
Muryani dan Parmadi mengerahkan seluruh tenaga dan berhasil mendorong meriammeriam besar itu meluncur jatuh ke laut.
Agaknya ada yang mendengar suara itu.
Dua orang serdadu berlari ke arah Muryani yang sudah bersembunyi dan ketika dua orang perajurit kumpeni itu lewat, dua kali sinar senjata patremnya yang sudah dikembalikan Parmadi kepadanya itu menyambar.
Dua orang serdadu itu berseru keras, terhuyung, akan tetapi dua kali tendangan membuat mereka terlempar melewati pagar besi pengaman dan tercebur ke laut.
Tiga orang serdadu yang lain juga memeriksa di bagian kanan, akan tetapi dari dalam kegelapan menyambar sinar putih kekuningan, tiga kali sinar itu berkelebat dan tiga orang serdadu itu roboh tanpa mengeluarkan suara lagi.
Parmadi melempar-lemparkan tiga orang serdadu itu keluar dari kapal dan mereka tercebur ke dalam laut.
Akan tetapi seorang serdadu yang lain datang berlari-lari ke arah Parmadi.
Tangan kirinya membawa sebuah lampu gantung, tangan kanannya memegang sebuah pistol.
"Dar-darrr .... !"
Pistol di tangan kanannya meledak dua kali.
Akan tetapi karena tempat itu gelap, Parmadi dengan mudah bersembunyi, kemudian secepat kilat dia melompat ke depan dan sekali seruling gadingnya bergerak, robohlah serdadu itu.
Parmadi cepat menangkap lampu gantung yang terlepas dari tangan serdadu itu.
Dia melihat bayangan Muryani berkelebat ke arah buritan mendekati tali jangkar.
Maka diapun cepat melempar lampu ke arah bilik yang berada di tengah kapal.
Terdengar ledakan dan bilik itupun terbakar.
"Dar-dar-darr....!"
Terdengar tembakan berulang-ulang dan suara orang ramai dan tampak mereka berlari-lari kalang kabut dan panik, ada pula yang berusaha memadamkan kebakaran.
Melihat ini, Parmadi segera melompat ke arah tali jangkar dan menyusul Muryani yang sudah turun ke perahu kecil mereka.
Begitu Parmadi turun ke perahu keril, Muryani yang tadi sudah melepaskan tali perahunya dari tali jangkar, cepat mendayung perahu dibantu oleh Parmadi.
Para serdadu sedang panik dan mengira bahwa kapal itu diserang banyak orang, maka sebagian ada yang memadamkan kebakaran, sebagian pula berindap-indap mencari musuh sambil siap dengan senjata api mereka sehingga tidak ada yang sempat menjenguk keluar kapal.
Dengan berselimutkan kegelapan, Parrnadi dan Muryani berhasil menjauhkan diri dari kapal dan lolos, kembali ke pantai.
Setelah perahu mereka tiba di pantai, ternyata cuaca sudah mulai terang, malam telah berganti pagi.
"Lihat itu !"
Muryani menunjuk ke arah pantai.
Parmadi mengangguk, tanda bahwa dia juga sudah melihatnya.
Di atas pasir pantai itu tampak ada dua orang, seorang laki-laki dan seorang wanita, sedang dikeroyok sekitar dua puluh orang yang bersenjata golok dan tombak.
Akan tetapi gerakan dua orang itu, terutama yang pria, amat cepat dan hebat.
Biarpun dua puluh orang itu bergerak menyerang dan mengeroyok secara ganas dan buas, namun sudah ada empat orang di antara mereka yang roboh.
"Kakang Parmadi, wanita itu....!"
"Kenapa? Engkau mengenalnya?"
"Tidak, akan tetapi aku mengenal gerakan silatnya! Kecepatan gerakannya itu tentu berdasarkan Aji Kluwung Sakti dan pukulan itu! Lihat, ia merobohkan seorang dengan pukulan Aji Gelap Sewu! Ilmu-ilmunya sama dengan ilmuku! Ah, tidak salah lagi, ia tentulah Mbakayu Retno Susilo seperti yang pernah diceritakan men diang guruku, Nyi Rukmo Petak!"
"Hemm, kalau begitu, mari kita bantu mereka! Para pengeroyok itu tampak buas dan ganas sekali!"
Kata Parmadi dan mereka mendayung perahu lebih cepat lagi dan ketika tiba di tepi pantai, Muryani sudah melompat cepat dan berseru.
"Mbakayu Retno Susilo! Kakangmas Sutejo! Jangan khawatir, aku Muryani dating membantu andika!"
Setelah berkata demikian, Muryani sudah menerjang maju dengan menggunakan Aji Kluwung Sakti sehingga tubuhnya seperti gerakan seekor burung srikatan saja cepatnya dan begitu ia memukul beruntun dengan Aji Gelap Sewu, dua orang pengeroyok roboh terguling.
Sepasang suami isteri yang mengamuk itu memang benar Sutejo dan isterinya, Retno Susilo.
Seperti diketahui, suami istri perkasa ini sedang mencari putera mereka, Bagus Sajiwo, yang hilang diculik orang setahun lebih yang lalu.
Selain mencoba mencari jejak puteranya yang hilang, juga suami isteri yang setia kepada Mataram ini mendengar bahwa Mataram akan menggerakkan pasukan menundukkan Madura yang tidak mau diajak bersatu, maka mereka segera berusaha untuk membantu Mataram.
Ketika mereka tiba di pantai itu, mereka berusaha mencari perahu untuk menyeberang ke Pulau Madura yang sudah tampak dari pantai itu.
Akan tetapi bukan perahu yang datang dan dapat mereka sewa, melainkan dua puluh orang perampok atau bajak laut.
Orang-orang kasar ini mempergunakan kesempatan selagi rakyat dalam keadaan panik dan suasananya keruh, untuk berbuat jahat, merampok siapa saja yang kiranya dapat dirampok dan menguntungkan mereka.
Melihat suami isteri yang pakaiannya tampak pantas itu, mereka mungkin akan mendapatkan mangsa yang empuk, tidak tahunya mereka bertemu dengan suami isteri pendekar yang sakti.
Akan tetapi, robohnya beberapa orang kawan tidak membuat mereka menjadijera, bahkan mereka menjadi semakin penasaran dan mengeroyok suami isteri itu dengan ganas dan buas.
Akan tetapi begitu Muryani muncul bersarna Parmadi dan sekali serang, Muryani sudah merobohkan dua orang, demikian pula Parmadi, mereka menjadi ketakutan.
Dua orang yang mereka keroyok tadi sudah hebat sekali, kini datang lagi dua orang lain yang juga sakti, maka belasan orang sisa mereka yang roboh itu melarikan diri cerai berai meninggalkan tempat itu.
Sementara itu, Retno Susilo dan Sutejo yang tidak mengejar mereka yang melarikan diri, mengamati Muryani dengan heran.
Juga Sutejo memandang Muryani dan Parmadi yang baru datang itu dengan heran karena seperti juga isterinya, rasanya dia belum pernah bertemu dengan dua orang ini.
"Adik, siapakah andika?"
Tanya Retno Susilo setelah menghampiri dan kini berhadapan dengan gadis itu sambil mengamati wajah yang ayu manis itu.
"Namaku Muryani dan ini kakang Parmadi,"
Jawab Muryani memperkenalkan diri. Juga kedua nama ini asing bagi suami isteri itu.
"Kami tidak mengenal kalian. Bagaimana engkau bisa mengenal nama kami?"
Tanya pula Retno Susilo, agak ragu dan curiga karena ia tidak tahu berhadapan dengan siapa dan dari golongan rnana.
"Apakah mbakayu tidak melihat tadi aku menggunakan Aji Kluwung Sakti dan Aji Gelap Sewu merobohkan dua orang pengeroyok?"
Retno Susilo mengangguk.
"Justeru itulah yang membuatku heran. Bagaimana engkau dapat memiliki aji-aji itu dan mengenal kami?"
"Mbakayu, aku mengenalmu seketika ketika melihat engkau mempergunakan dua macam aji kesaktian itu. Ketahuilah, mbakayu, aku adalah murid guru kita Nyi Rukmo Petak dan beliau meninggalkan pesan bahwa kalau aku bertemu dengan mbakayu Retno Susilo dan suaminya yang bernama Sutejo, aku harus membantu kalian berdua."
"Ah, begitukah?"
Retno Susilo gembira.
"Di mana beliau sekarang?"
"Beliau sudah meninggal dunia, mbakayu."
"Ahhh...!"
Biarpun ia pernah membenci Nyi Rukmo Petak, akan tetapi mengingat akan budi kebaikan gurunya itu Retno Susilo merasa sedih sekali dan ia menghapus beberapa butir air mata yang membasahi pipinya.
"Bagaimana beliau meninggal? Ah, marilah kita menjauhi mereka yang terluka ini agar dapat bicara dengan leluasa."
Mereka berempat lalu menjauhi tempat itu dan Parmadi menyeret perahunya sampai mereka tiba di pantai yang agak jauh dan tidak lagi melihat delapan orang anggauta perampok yang terluka berat itu.
Di tempat sunyi ini, Muryani menceritakan tentang kematian Nyi Rukmo Petak.
Mereka duduk di atas pasir pantai yang bersih.
Setelah selesai menceritakan tentang Nyi Rukmo Petak, Sutejo atau yang nama aselinya Tejomanik berkata.
"Sungguh menggembirakan sekali bahwa kami dapat bertemu dengan adik seperguruan isteriku, dan andika ini murid siapakah, dimas Parmadi?"
"Saya adalah murid dari Eyang Guru Tejo Wening."
"Ah, maksudmu Sang Resi Tejo Wening, datuk yang sakti mandraguna dan arif bijaksana yang dulu bertapa di Gunung Sanggabuwana itu?"
Seru Sutejo heran dan kagum.
"Wah, kangmas Sutejo sudah mengenal eyang resi?"
"Belurn pernah jumpa, akan tetapi sudah sejak dulu aku mendengar nama besarnya. Dan kalian, sepagi ini datang berperahu, dari manakah kalian?"
Muryani tersenyum. Karena ingin sekali memamerkan apa yang ia dan Parmadi lakukan kepada mbakayu seperguruannya, maka ia mendahului Parmadi menjawab.
"Ah, kami berdua malam tadi mengacau dan melempar-lemparkan meriam-meriam dari kapal lalu melakukan pembakaran pada kapal itu, merobohkan beberapa orang serdadu kumpeni!"
"Wah, hebat! Jadi kiranya kalian yang membuat keributan dan pembakaran kapal kumpeni itu? Bagus, kami juga melihatnya tadi dari sini, ada api berkobat di kapal itu,"
Kata Retno Susilo sambil menuding ke arah kapal yang kini tampak bergerak ke arah barat, agaknya hendak meninggalkan tempat yang mereka anggap berbahaya itu.
"Aih, sayang pertemuan kita terlambat,"
Kata Muryani.
"Kalau saja kami bertemu dengan mbakayu Retno Susilo dan kakangmas Sutejo tadi, tentu kita berempat mungkin dapat membuat kapal itu menderita lebih parah lagi! Dan kalau boleh kami ketahui, andika berdua hendak ke manakah dan siapa mereka tadi yang mengeroyok andika?"
"Kami juga sama dengan kalian, hendak membela Mataram menghadapi musuh-musuhnya. Karena kami mendengar bahwa Mataram hendak berperang melawan Madura, maka kami bermaksud untuk membantu pasukan Mataram,"
Kata Sutejo, terus terang karena dia tidak merasa ragu lagi kepada gadis dan pemuda itu.
"Aku sudah tentu tahu siapa guru mbakayu Retno Susilo karena ia seperguruan denganku. Akan tetapi aku ingin tahu siapakah guru kakangmas Sutejo? Tentu seorang yang amat bijaksana dan sakti mandraguna,"
Kata Muryani. Sutejo tersenyum. Sikap gadis ini mengingatkan dia akan sikap isterinya, Retno Susilo, di waktu masih gadis.
"Guruku tidak terkenal. Beliau adalah mendiang Resi Limut Manik."
"Wah, saya pernah mendengar dari eyang Resi Tejo Wening bahwa Resi Limut Manik adalah seorang pertapa, yang mengasingkan diri dan bijaksana sekali!"
Seru Parmadi dengan kagum.
"O ya, siapa tahu kalian berdua pernah anak kami!"
Tiba-tiba Retno Susilo berseru, penuh harapan.
"Ya, benar! Apakah kalian pernah melihat seorang anak laki-laki berusia kurang lebih tujuh tahun dibawa orang dan orang itu memiliki sebatang pedang yang bentuknya seperti seekor naga berwarna kehijauan?"
Tanya pula Sutejo. Parmadi dan Muryani saling pandang dan keduanya menggeleng kepala.
"Kami tak pernah melihatnya,"
Kata mereka hampir berbareng, lalu Muryani bertanya.
"Apa yang telah terjadi dengan putera andika, mbakayu?"
Retno Susilo menghela napas, kecewa mendengar bahwa dua orang itu tidak pernah melihat anaknya yang diculik orang.
"Peristiwa itu terjadi setahun lebih yang lalu. Ketika itu putera kami yang bernama Bagus Sajiwo lenyap diculik orang bersama pedang pusakaku Naga Wilis. Sejak hari itu kami berdua meninggalkan rumah dan berkelana mencari jejak anak kami, namun sampai sekarang belum menemukan jejaknya. Kami tidak tahu siapa yang melakukan hal securang dan sekejam itu, tidak dapat menduga apakah orang itu laki-laki atau perempua tua atau muda,"
Retno Susilo mengusap dua titik air mata dari pipinya. Muryani merangkul mbakayu seperguruannya.
"Aku akan membantumu mencarinya, mbakayu! Akan kucari sampai dapat dan akan kuhajar orang yang berani menculiknya!"
"Terima kasih, Muryani. Engkau baik sekali, tidak rugi mempunyai adik seperguruan seperti engkau."
"Sudahlah,"
Kata Sutejo.
"Sekarang yang terpenting kita memikirkan tentang persiapan kita membantu pasukan Mataram."
"Kakangmas Sutejo benar, mari kita pusatkan perhatian kepada tugas membantu Mataram. Akan tetapi, saya kira pada saat ini seluruh Madura sudah siap siaga untuk menghadapi serangan Mataram, maka tidak akan leluasa kalau kita menyeberang dan menanti di sana, tentu akan muncul banyak gangguan. Sebaiknya kalau kita menanti di pantai dan menggabungkan diri kalau pasukan Mataram lewat. Kita dengar-dengarkan melalui mana pasukan Mataram akan lewat dan kita menunggu mereka di sana."
Mereka semua setuju dan demikinlah, mereka berempat mencari keterangan tentang kemungkinan lewat mana pasukan Mataram akan melakukan penyeberangan dan sambil menanti, mereka berempat bercakap-cakap menceritakan pengalaman masing-masing.
SULTAN AGUNG benar-benar marah setelah menerima surat balasan Pangeran Pekik dari Surabaya yang isinya memanaskan hati penuh teguran.
Setelah mengharapkan semua senopati, adipati dan bupati, Sultan Agung lalu mengangkat Adipati Sujanapura yang sebelum dinaikkan pangkatnya bernama Arya Jaya Puspita, untuk menjadi panglima balatentara yang akan menyerang Madura.
Sebagai wakilnya adalah Adipati Pragola dari Pati, dibantu Pangeran Sumedang dan pengawasnya adalah Pangeran Silarong, adik Sultan Agung sendiri.
Patih Tumenggung Singaranu bertugas mengerahkan pasukan.
Pasukan yang dipimpin panglima Adipati Sujanapura dibantu oleh Tumenggung Jagabaya, Panji Wirabumi, Ngabei Patrabangsa, Demang Suradeksa, Rangga Ngawu-awu, Ki Panji Singajaya, dan banyak lagi.
Pasukan ini melakukan perjalanan melalui Majaranu.
Wakil panglima, Adipati Pragola dari Pati memimpin pasukan kedua dibantu oleh para senopati dari Pati, yaitu antara lain Patih Harya Mangunjaya, Patih Harya Sindureja, dibantu oleh Harya Sawunggaling, Ki Demang Prawiratanu, Ngabel Wirasraya, Rangga Penantangyuda, Rajamenggala dan banyak lagi.
Mereka ini melalui Juana dan menuju ke Sedayu di mana mereka bergabung dengan pasukan pertama yang dipimpin Adipati Sujanapura.
Kemudian mereka lewat tengah malam menyeberang ke Pulau Madura.
Kesalahan Adipati Sujanapura adalah bahwa dia terlalu mengandalkan kekuatan pasukannya.
Hal ini mungkin dipengaruhi kemenangan demi kemenangan yang dicapai Mataram ketika menundukkan semua daerah di Jawa Timur, termasuk beberapa bagian di Jawa Barat dan seluruh Jawa Tengah.
Dia terlalu memandang rendah lawan dan hal ini membuat dia lengah.
Beberapa orang senopati yang berpengalaman mencoba mengingatkannya agar lebih berhatihati, namun senopati yang merasa menjadi panglima tertinggi itu mengabaikan mereka.
Dia memerintahkan pasukan terus maju mendarat pada waktu fajar dan langsung menyerang ke darat.
Akan tetapi, pasukan Mataram yang terdepan disambut oleh pasukan yang besar jumlahnya, gabungan dari pasukan Kadipaten Arisbaya, Balige, Pamekasan, Sampang, Sumenep dan juga dari para kabupaten yang lebih kecil.
Senopati-senopati seluruh Madura, memimpin semua pasukan ini di (Lanjut ke
Jilid 25 -Tamat) Seruling Gading (Seri ke 02 -Serial Pecut Sakti Bajrakirana) Karya". Asmaraman S. Kho Ping Hoo
Jilid 25 (Tamat) antaranya Senopati Jayenghadra, Jagapati, Rangga Gobag-gabig, Mangundaka, Demang Rujakbeling dan masih banyak lagi.
Sambutan dan perlawanan hebat ini mengejutkan pasukan Mataram yang sebagian besar masih berada di perahu-perahu mereka.
Sambutan balatentara Madura demikian hebat dan sengitnya sehingga pasukan Mataram menjadi kewalahan dan mereka terpaksa mundur ke perahu mereka dan pergi ke pantai lain yang lebih aman.
Setelah berperahu selama setengah hari lebih, akhirnya mereka dapat menyelamatkan diri.
Para senopati lalu mengadakan perundingan.
Adipati Pragola mencela tindakan Adipati Sujanapura yang gegabah.
Apalagi kalau mengingat betapa ketika mereka hendak meninggalkan pantai Pulau Jawa, kemunculan pendekar-pendekar yang terkenal, yaitu Sutejo dan isterinya Retno Susilo, dan Parmadi bersama teman wanitanya, yang hendak membantu pasukan Mataram, ditolak oleh Adipati Sujanapura.
"Pendekar Sutejo adalah orang sakti yang berjuluk Pecut Bajrakirana dan menjadi kakak seperguruan Gusti Puteri Wandansari, sedangkan Pendekar Parmadi tekenal dengan julukan Seruling Gading, keduanya sudah berjasa besar bagi Mataram kenapa andika menolak bantuan mereka?"
Demikian antara lain Adipati Pragola rnenegur atasannya.
"Hemm, adi Pragola, kalau kita menerima bantuan mereka, lalu muka kita akan disimpan di mana? Masa untuk menundukkan Madura saja kita harus minta bantuan mereka? Kalau Gusti Sultan mendengar akan hal ini, biarpun kelak kita memperoleh kemenangan, kita akan medapat malu, Gusti Sultan akan mencela kita dan yang mendapat pahala adalah mereka berempat itu. Jangan bodoh, adi Pragola dan jangan kekalahan pertama ini membuat kita berkecil hati. Memang aku agak tergesa-gesa melakukan penyerangan. Seharusnya penyerangan dilakukan tiba-tiba, kita mendarat di waktu gelombang pasang sehingga perahu-perahu kita dapat mendarat dengan cepat dan kita melakukan penyerangan juga ketika cuaca masih gelap, sebelum fajar menyingsing. Malam nanti kita akan membuat perhitungan dan aku yakin kita akan berhasil!"
Sebagai seorang bawahan, hanya wakil panglima, adipati Pragola tidak berani membantah lagi.
Mereka menanti sampai malam tiba dan ketika air di selat itu pasang, mereka melakukan penyerbuan yang kedua kalinya seperti diperintahkan Adipati Sujanapura.
Sekitar jam tiga sebelum fajar barisan Mataram menyerang untuk yang kedua kalinya.
Pasukan Mataram dibagi menjadi empat bagian, Pangeran Sumedang memimpin pasukan sayap kiri, dan pasukan sayap kanan dipimpin Adipati Pragola dari Pati.
Pasukan yang bergerak di tengah, yang merupakan pasukan inti dipimpin oleh Adipatj Sujanapura sendiri dan di bagian belakang terdapat pasukan lain yang dipimpin oleh Pangeran Silarong.
Sekali ini pendaratan pasukan Mataram dilakukan di Pantai Kisik.
Sekali ini perhitungan dan siasat Adipati Sujanapura berhasil baik.
Balatentara Madura dikejutkan dan setelah mereka melakukan perlawanan selama sehari penuh, dari fajar sampai sore, akhirnya pasukan gabungan dari Madura terpaksa melarikan diri dan mundur.
Walaupun kemenangan dalam pertempuran ini belum berarti Mataram telah menduduki Madura, namun cukup membanggakan hati Adipati Sujanapura.
Dia yang tadinya agak tersinggung karena kekalahan pertamanya sempat dikecam para pembantunya, kini menyombongkan hasil kemenangannya dan dia bahkan merayakan kemenangan itu dengan berpesta pora dengan pasukan yang dipimpinnya!
Para adipati dan senopati sudah mencoba untuk memperingatkan, dengan mengatakan bahwa kemenangan mereka itu belum merupakan kemenangan mutlak dan terakhir, baru kemenangan sementara saja karena pihak musuh belum menakluk.
Akan tetapi Adipati Sujanapura bahkan menjadi marah kepada para senopati yang membantunya.
"Hemm, kalian ini tahu apa? Kemenangan pertama ini yang menentukan! Orang-orang Madura sudah kabur ketakutan. Dan aku berani pastikan bahwa besok kita akan dapat memaksa mereka tunduk. Sudah sepatutnya kalau kita merayakan kemenangan ini! Kalau kalian tidak mau ikut berpesta, sudahlah, tinggalkan aku dan iangan mengganggu kesenangan kami!"
Sebagian besar para senopati, dipimpin oleh Adipati Pragola lalu menjauhkan diri tidak ikut dalam perayaan itu, bahkan pergi agak jauh untuk mengatur siasat pertempuran selanjutnya.
Mereka sama sekali tidak tahu bahwa ada gerakan tersembunyi yang amat membahayakan keamanan pasukan Mataram yang sedang berpesta pora, mabok-mabokan!
Ada sepasukan orang Madura mendekati pesanggrahan, tempat Adipati Sujanapura dan anak buahnya berpesta pora.
Mereka itu tidak merupakan pasukan besar, hanya kurang lebih lima ratus orang saja.
Akan tetapi mereka adalah para senopati pilihan yang sakti mandraguna, dipimpin sendiri oleh Adipati Pamekasan yang juga merupakan seorang tokoh Madura yang sakti.
Dan yang lebih hebat lagi, pasukan ini menjadi kuat sekali karena di situ terdapat para tokoh besar yang sakti mandraguna, yaitu Ki Harya Baka Wulung datuk Madura, Sang Wiku Menak Koncar datuk Blambangan, Kyai Sidhi Kawasa datuk Banten, Aki Somad datuk Nusakambangan, Raden Dibyasakt putera Ki Harya Baka Wulung, Resi Koloyitmo datuk Pasundan dan puterinya yang cantik jelita dan sakti Nyi Maya Dewi, dan Satyabrata, mata-mata Kumpeni Belanda yang memiliki kesaktinn.
Hampir semua orang sakti mandraguna yang berjumlah delapan orang ini rata-rata memiliki bukan saja aji kanuragan yang amat tangguh, akan tetapi juga menguasai ilmu sihir dan ilmu hitam yang menyeramkan.
Berkat ilmu sihir merekalah maka gerakan pasukan mendekati perkemahan atau pesanggrahan Adipati Sujanapura itu seperti diselimuti kabut dan tidak ada seorangpun yang mengetahuinya.
Ini berkat Aji Palimutan mereka.
Adipati Sujanapura minum tuak dan tertawa-tawa gembira karena dia merasa menang atas para senopati yang berani mencelanya.
Akan tetapi menjelang tengah malam, ketika panglima ini dan para pembantu yang mendukungnya dalam keadaan setengah mabok, tiba-tiba terdengar sorak-sorai dan tempat mereka berpesta itu diserbu orang-orang Madura yang menyerang dengan penuh dendam atas kekalahan mereka.
Terjadilah pembantaian karena perlawanan para perajurit yang agak teler itu tidak mampu membendung serbuan dan amukan para penyerang.
Apalagi amukan para datuk dan tokoh besar yang menggunakan kesaktian mereka.
Adipiti Sujanapura menjadi marah sekali.
Ketika melihat bahwa yang memimpin penyerbuan adalah Adipati Pamekasan, dengan trengginas adipati yang juga digdaya ini melompat ke depan Adipati Pamekasan, sambil mencabut pedangnya.
Dengan pedang diacungkan dan telunjuk kiri menuding ke arah muka Adipati Pamekasan, dia membentak, mukanya merah karena minuman keras ditambah kemarahan.
"Jahanam busuk! Pengecut kau! Menyerang dengan cara curang!"
Adipati Pamekasan tertawa bergelak dan juga mencabut klewang (golok) dari pinggangnya.
"Ha-ha-ha! Babo-babo, Sujanapura. Jangan asal membuka mulut! Kemenanganmu kemarin juga hasil penyerangan yang curang! Bersiaplah engkau untuk mampus malam ini!"
Kedua orang panglima ini lalu bertanding dengan mati-matian.
Keduanya merupakan adipati yang sakti dan tangguh dan mereka bertanding satu lawan satu karena para pembantu dan perajurit sudah sibuk sendiri bertanding.
Akan tetapi karena tentara Mataram diserang secara mendadak dan mereka dalam keadaan setengah mabok, sedangkan para penyerbu adalah pasukan istimewa, perajurit-perajurit pilihan dan mereka didukung delapan orang yang sakti mandraguna, maka banyak perajurit Mataram yang roboh dan tewas.
"Hyaaaattt".mampus kau!"
Adipati Sujanapura membentak marah melihat betapa anak buahnya banyak yang roboh dan dia kini menyerang lawan dengan pedangnya, mengerahkan seluruh tenaganya.
Perhatiannya terpecah dan serangannya itu merupakan gerakan yang nekat.
Adipati Pamekasan terkejut.
Sejak tadipun dia merasakan betapa hebat permainan pedang panglima pasukan Mataram itu, juga tenaganya kuat sekali.
Kini melihat pedang menyambar dahsyat ke arah lehernya, cepat dia menjatuhkan diri berjongkok dan dari bawah goloknya meluncur ke depan.
"Singgg.... cappp... dessss....!!"
Adipati Sujanapura dan Adipati Pamekasan roboh terjengkang, yang pertama perutnya tertembus golok dan yang kedua kepalanya retak oleh pukulan tangan kiri panglima Mataram.
Pasukan Mataram akhirnya terpaksa mundur melarikan diri meninggalkan banyak perajurit yang tewas.
Ketika pasukan pimpinan Adipati Pragola dan para senopati lain membantu, dengan terkejut mereka mendapat kenyataan bahwa panglima mereka telah tewas sampyuh dengan Adipati Pamekasan.
Adipati Pragola maklum bahwa di pihak musuh terdapat orang-orang sakti mandraguna dan mereka mempergunakan sihir.
Buktinya, para perajurit Madura itu seperti diselimuti kabut tebal.
Maka untuk mencegah agar pihaknya tidak jatuh lebih banyak korban, Adipati Pragola memerintahkan semua pembantunya untuk menarik pasukan ke pesisir dan membuat kubu pertahanan yang kuat.
Sebagai wakil panglima, kini pimpinan dipegang oleh Adipati Pragola.
Serbuan tengah malam yang menewaskan banyak perajurit itu benar-benar mengejutkan sekali dan membuat Adipati Pragola berhati-hati dan menunda gerakan.
Melihat banyaknya tokoh dan datuk yang sakti mandraguna berada di pihak Madura, Adipati Pragola merasa ragu-ragu dan berhati-hati sekali.
Dia lalu mengirim utusan melaporkan malapetaka yang menimpa pasukan Mataram karena kecerobohan mendiang Adipati Sujanapura.
Sambil menanti petunjuk Sultan Agung, Adipati Pragola tidak membuat gerakan dan hanya memperkuat pertahanan.
Bukan main girang rasa hati Adipati Pragola ketika pada keesokan harinya para pendekar sakti bermunculan.
Mereka adalah Parmadi, Muryani, Sutejo dan Retno Susilo yang melakukan penyebcrangan dengan sebuah perahu.
Biarpun tadinya keempat orang pendekar ini ditolak penawaran bantuan mereka oleh Adipati Sujanapura, namun setelah berunding mereka memutuskan untuk menyusul ke Madura.
"Ingat, bukan Adipati Sujanapura yang kita bantu, melainkan Mataram,"
Kata Sutejo, terutama kepada Retno Susilo dan Murynni yang mendongkol karena panglima Mataram itu rnenolak mereka.
Akhirnya, berangkatlah rnereka menggunakan sebuah perahu yang agak besar.
Dan sekali ini, mereka disambut dengan gembira oleh panglima yang baru, Adipati Pragola.
Selain mereka berempat, datang pula Ki Cangak Awu, Ketua Perguruan Jatikusumo, dan Kyai Jayawijaya, pertapa kakek Ayu Puspa yang pernah bertemu dengan Parmadi.
Ketika Parmadi ikut menyambut kedatangan Kyai Jayawijaya, mereka saling pandang dan Parmadi cepat memberi hormat.
Kyai Jayawijaya menghela napas panjang.
Diam-diam dia rnerasa kecewa mengapa pemuda sebaik ini tidak dapat menjadi suami cucunya yang amat disayangnya.
"Anak-mas Parmadi, sungguh menggembirakan dapat bertemu dengan andika di sini. Lebih menyenangkan lagi karena kita dapat membantu Mataram bersama."
"Saya juga merasa senang sakali, eyang. Akan tetapi, kenapa nimas Ayu Puspa tidak ikut?"
Kakek itu senang bahwa pemuda itu masih menanyakan cucunya, ini menunjukkan bahwa Parmadi benar-benar seorang pemuda yang baik hati dan sopun santun.
"Tidak, aku yang melarang ia ikut."
Baca Juga: Cinta Bernoda Darah 28
Baca Juga: Kisah Sepasang Rajawali 5