Ceritasilat Novel Online

Pedang Berkarat Pena Beraksara 2

Eps 2 Pedang Berkarat Pena Beraksara - Tjan ID

Baca online Pedang Berkarat Pena Beraksara - Tjan ID

Cersil Pedang Berkarat Pena Beraksara - Tjan ID.

Yang tepat, suara tersebut mangalun didalam ruangan tengah dan melayang kesana kemari tiada hentinya, sehingga membuat orang tak bisameraba secara tepat.

Paras muka Ma koan lojin segera berubah sangat hebat.

Paras muka Thi Lo han Kwong beng taysu dan siNaga tua berekor botak To Sam seng juga turut berubah hebat.

Dengan kehadiran mereka bertiga disitu, ternyata orang tersebut masih berani bermain gila dengan cara yang begitu jumawa, bahkan hal ini sama halnya dengan memandang enteng mereka semua?

Beng Kian hoo sendiri, meskitahu kalau pihak lawan bukan seorang manusia yang bisa dihadapi secara mudah, toh mendongkol juga hatinya-melihat kejumawaan orang, tak tahan dia lantas melompat bangun, lalu sambil menjura tegurnya.

"Apakah kau adalah Thian Sat nio?"

Terdengar suara seorang nenek yang mirip bambu pecah segera menjawab sambil tertawa.

"Buat apa hal ini mesti ditanyakan lagi."

Jawabnya dingin mana kaku lagi, seakan-akan berasal dari depan mata semua orang, tapi para jago jago tak dapat menentukan secara tepat berasal dari manakah suara itu?

Mendadak Beng Kian hoo tertawa tergelak.

"Hahhh---hEaahh ---saudara telah mewakili Aku orang she Beng untuk mengundang datang begitu banyak teman yang sukar dijumpai hari-hari biasa sehingga mereka berkunjung kemarin kejadian mana membuat aku orang she Beng merasa amat bangga. Kini semua teman telah berkumpul kalau toh saudara telah mewakili aku orang she Beng untuk mengundang tamu, -nah kau musuh kek atau teman kek, paling tidak sepantasnya, Jika tampi kan diri untuk berjumpa dengan semua orang, aku orang she Beng sebagai tuan rumah, siap menantikan kedatanganmu"

Dia memang tak malu disebut orang pemimpin dari seluruh perusahaan angkutan yang berada dilima propinsi wilayah Selatan, kendatipun berada dalam keadaan marah, caranya berbicara tetap sopan dan sama sekali tidak keras.

"Tidak perduli"

Suara macam bambu pecah itu berkumandang lagi dingin.

"Bu Lim Siu hud "

Suara-pujian berkumandang dari kursi pertama meja perjamuan sebelah kanan.

Keng hian tootiang dari Bi tong-pay yang semenjak tadi sambil duduk di meja perjamuan tidak bicara, pelan-pelan bangkit berdiri, setelah menjura ke angkasa tanyanya sambil mendongakan kepala.

"Lo-sicu telah mewakil Beng Tayhiap mengundang kedatangan pinto suheng-te berdua, tolong tanya ada urusan apa kau?"

Pertanyaan ini merupakan persoalan yang ingin diketahui oleh setiap orang, maka begitu pertanyaan itu diutarakan semua orang segera memusatkan perhatiannya untuk mendengarkan dengan seksama.

Tapi suara parau macam bambu pecah dari Thian sat nio tidak terdengar lagi, sebaliknya suara seseorang yang kasar dan keras mengemakan gelak tertawa nyaring.

"Haahh. ...haaah....bukankah kedatangan kalian semua disebabkan oleh benda yang lenyap dari perusahaan Ban li piaukiok? sekarang aku telah mengumpulkan kalian semua disini agar bisa mati bersama, bukankah hal ini merupakan suatu keuntungan buat kalian?"

Suara orang itu kasar dan nyaring, dalam sekilas pendengaran saja dapat diketahui kalau dia adalah suara lelaki yang membawakan nyanyian nyaring tadi.

Tenaga dalam yang dimiliki orang ini benar2 anat sempurna, bukan saja suara pembicaraannya memekikkan telinga, sumber suaranya sendiripun sukar diraba.

Kang-jin tojin yang duduk disamping Kang hian tojin segera berubah muka, sambil tertawa nyaring serunya.

"Kalau didengar dari ucapanmu itu, tampaknya kalau kau yang telah membunuh Siau sute?"

Ucapan tersebut memang ingin diketahui pula oleh setiap orang, sehingga serentak para jago yang berada disinipun memasang telinga dengan wajah serius.

"Memang benar, kehadiran orang itu tak lain adalah demi benda yang hilang dari perusahaan Ban li piaukiok."

Terdengar suara kasar tadi kembali tertawa terbahak-bahak.

"Haaahhh ... haaahhh... haaahhh. ... seratus orang Siau Beng sau mampus bersamapun tak ada sangkut-pautnya dengan "kami"

"Kalau bukan kalian, siapakah yang melakukan perbuatan itu?"

Bentak Bwee hoa kiam Thio Kun kai dengan gusar.

"Dengan andalkan namaku Kan Liucu dari Thian sat bun, sekalipun sudah membunuh selaksa orang. kami juga takkan menyangkal "

Yang dimaksudkan sebagai "Kan Liu-cu dari Thian sat-bun"

Sudah jelas merupakan nama darinya. Tapi begitu banyak jago yang berpengalaman puluhan tahun dalam ruangan saat itu, ternyata tak seorangpun yang pernah mendengar tentang perguruan "Thian sat bun"

Seperti apa yang diucapkan olehnya itu, sudah barang tentu tak ada orang yang mengetahui siapa gerangan manusia bernama Kan Liu cu tersebut.

Bwee-hoa kiam ingin membuka suaranya, tapi Keng hian tojin segera menggelengkan kepalanya mencegah, kemudian sambil menjura ke tengah udara dia berkata.

"Jika kudengar dari ucapan sicu, tampaknya kau sudah tahu akan alasan yang menyebabkan kematian Siau sute kami itu, entah benda apakah yang sedang dilindungi oleh Siau sute itu? Apakah sicu bersedia untuk memberi keterangan-"

"Bukankah Thian yan cu sengaja mengutus kalian untuk memberi bantuan kepada Siau-Beng san?"

Kata Kan Liu cu cepat.

"mungkin kalian tidak tahu, tapi suhu kalian sudah pasti mengetahui hal itu dengan se-jelas2-nya."

Keng hian tojin yang mendengar perkataan itu menjadi tertegun, segera pikirnya.

"Yaa, kami benar memang mendapat tugas untuk membantu Siau sute, justru karena ditengah jalan kami dengar tentang berita kematian Siau sute, maka segera berangkat kemari, heran darimana mereka bisa mengetahui persoalan ini?"

Sementara itu, Keng jin tojin telah berkata kembali.

"Jikalau Siau sute bukan dibunuh oleh sicu, lantas apa maksud tujuan kalian yang sebenarnya?"

"Thian sat bun bertekad untuk mendapatkan benda itu "

Kata Kan Liu cu dingin.

"Kalau begitu Thian sat buu telah mengetahui siapa yang telah turun tangan?"

"Hmmm, itulah yang menjadi alasan mengapa kalian manusia-manusia kurcaci dari dunia persilatan harus mampus."

Ma-koan tojin adalah manusia yang licik, selama ini dia hanya membungkam diri belaka sambil memusatkan segenap perhatiannya guna mempehatikan asal mula suara lawan-Akan tetapi, walaupun sudah mendengarkan dengan cermat sekian lama, ternyata belum berhasil juga untuk menentukan arah sumber suara tersebut, kenyataan ini diam-diam membuat hatinya terkesiap sekali.

"Tampaknya cukup seorang anak buah Thian sat bun sudah memiliki kepandaian silat yang sangat lihay, bahkan kelihayan orang itu sedikitpun tak beradi dibawah kepandaian sendiri."

Mendadak dia mendongakkan kepalanya, setajam sembilu sorot mata yang memancar keluar dari balik matanya, dengan suara keras bentaknya.

"Kau bilang siapa yang telah turun tangan ?"

Ma koan tojin dari bukit Hong sin sudah termasyur karena kebegisannya, semenjak duduk dikursi utama tadi, kecuali sikapnya menunjukkan kelicikan dan keseraman gerak geriknya sama sekali tak menyalahi adat sopan santun.

Akan tetapi setelah mengucapkan kata2 tersebut, wajahnya segera berubah menjadi menyeringai seram, hawa napsu membunuh pun segera menyelimuti seluruh wajahnya.

"Suatu pertanyaan yang sangat bagus."

Kan Liu cu segera berseru dengan suara dingin.

"siapa kah orang yang melakukan perbuatan itu, tentunya takkan terlepas dari kalian yang berada didalam ruangan saat ini bukan ?"

"Betul2 suatu perkataan yang sangat mengejutkan"

Kontan saja semua orang yang hadir dalam ruangan itu mulai bertanya-tanya, sementara sorot mata merekapun tanpa terasa saling berpandangan muka.

Dari meja perjamuan sebelah kanan, Beng-kiam ho sebagai tuan rumah dan pemilik perusahaan An wan piaukiok yang bertindak sebagai penengah untuk menghilangkan kesalahan antara ketua Thi pit pang Ting ci kang dari pihak Bu tongpay, tentu saja bukan seorang yang dapat dicurigai.

Sedangkan Keng hian tojin, Keng Jin tojin serta Bwe hoa kiam kakak beradik dari Bu tongpay adalah pihak yang datang melakukan penyelidikan jelas mereka mustahil sebagai pembunuhnya .

Sebaliknya Thi pit pa ngcu Ting Ci kang itu, Beng kian ho yang bertindak sebagai saksi dengan mengatakan bahwa tatkala Ban li piaukiok tertimpa musibah, dia sedang berada di bukit Thian bok San, jadi diapun mustahil sebagai pembunuhnya.

Wi tiong hong baru pertama kali terjun ke dalam dunia persilatan diapun merupakan murid Thian Goan-Cu dari Bu tong pay, tentu saja anak muda inipun bukan-Itu berarti orang2 yang berada di meja perjamuan sebelah kanan hampir semuanya tak dapat dicurigai.

Berbeda keadaannya dengan mereka yang berada di meja perjamuan sebelah kiri.

Ma koan tojin, Thi Lo han Kwong Beng maupun Naga tua berekor botak, mereka boleh dibilang merupakan jago2 dari golongan hitam yang sudah termashur namanya di wilayah Kang lam.

Kang pak siang kiat juga merupakan penjahat keji yang sudah termashur namanya.

Tok Hay ji sudah dua kali melepaskan racun secara diam diam.

Selain itu masih ada lagi seorang sastrawan berbaju hijau, sejak masuk ke dalam ruangan dan kecuali dia mengaku she Pit ketika Beng Kiao-ho menanyakan namanya, dan selama ini dia cuma membungkam dalam seribu bahasa, sudah tentu manusia semacam ini jelas datang karena ada maksud tertentu.

Dalam pandangan orang-orang yang berada dimeja meja perjamuan sebelah kanan, teitu saja mereka semua merupakan orang orang yang patut dicurigai.

Sebaliknya bagi orang-orang yang berada di meja perjamuan sebelah kiri, kecuali mereka saling menduga diantara mereka sendiri, terhadap Ting Ci kang dan Wi tiong hong sekalian yang berada dimeja perjamuan sebelah kanan pun menaruh perasaan curiga.

Untuk sesaat suasana dalam ruangan itu menjadi sepi, hening dan tidak kedengaran sedikit suarapun, mereka saling mengawasi dengan penuh kecurigaan.

Thi lohan Kwong beng hwesio memandang sekejap sekeliling tempat itu, lalu tertawa terbahak-bahak.

"Haah..haah sicu,apakah kau bertujuan untuk mengadu domba, huuh, kalau didengar dari ucapanmu itu, jelas Thian sat-bun pun tak bisa terlepas dari peristiwa ini."

Si Naga tua berekor botak To Sam teng ikut bertepuk tangan keras sambungnya cepat.

"Benar kalau dilihat dari perbuatan kalian yang telah mencatut nama Beng-congpiautaw untuk memancing kami datang kemari, jelaslah sudah kalau kalian memang mempunyai rencana busuk tertentu."

Kan Liu-cu segera tertawa dingin.

"Hehhh ... heeehhh ...lebih baik kalian tak usah banyak bicara lagi, bagaimanapun juga jangan harap kalian bisa hidup selewatnya hari ini"

Si golok pengejar angin Hee-ho Nian dari Kang pak siang kiat berwatak paling berangasan, habislah kesabarannya setelah menyaksikan keadaan tersebut, mendadak ia membentak dengan suara dalam.

"sekarang apa yang hendak kau lakukan?"

Baru selesai perkataan itu diutarakan mendadak terdengar serentetan suara gadis yang merdu berseru.

"Kan toako, waktunya sudah tiba, buat apa kau mesti ribut melulu dengan mereka?"

Suara itu merdu merayu, ternyata tak lain adalah suara dari perempuan yang membawakan nyanyian merdu tadi.

Ucapannya itu se-akan2 berkumandang dari dalam ruangan, seperti orangnya berdiri dihadapan mereka saja.

ooo00ooo Bab-08 KAN LIU CU segera tertawa ter-bahak2.

"Haaaah...haaahh...haaaahh....aku hanya menerangkan perkataanku saja, agar meeka bisa mampus dalam keadaan mengerti, baiklah Sam sumoay, lebih baik kau saja yang mereka hendak mengumumkan apa? Mungkin mengumumkan nama pembunuh yang telah melakukan pembekalan dan pembunuhan itu?"

Setap orang yang berada dalam ruangan itu memusatkan semua perhatiannya dam memperhatikan dengan seksama. Terdengar gadis itu berkata lebih jauh.

"Kehadiran kalian dikota Sang-siau ini sedikit banyak tentu ada hubungannya dengan barang yang dibawa Siau Beng-san, namun suhuku tidak suka melakukan pembunuhan yang tanpa aturan, maka berikut ini ditentukan empat pasal yang akan dilaksanakan. Pertama, orang yang sudah berhasil, dibunuh tanpa ampun. Kedua, orang yang mempunyai intrik jahat, dibunuh tanpa ampun. Ketiga, orang yang tahuan dibunuh tanpa ampun. Keempat, orang yang ada hubungannya dengan peristiwa ini, dibunuh tanpa ampun ..."

Secara beruntun dia telah mengucapkan kata "dibunuh tanpa ampun"

Sebanyak empat kali namun ia berkata dengan santai, seakan-akan soal bunuh membunuh merupakan suatu kejadian atau perbuatan yang sudah lumrah dan tak periu diherankan lagi.

Suara itu merdu dan amat enak didengar akan tetapi apa dia umumkan justru merupakan kematian dari semua orang yang berada di dalam ruangan itu.

Si Naga tua berekor botak To sam-seng marah sekali, sambil tertawa seram serunya.

"Betul-betul tekebur sekali kau ini, belum pernah lohu percaya dengan segala omongan setan"

Ma-koan tojin tertawa seram.

"Heeehhh ... he.ehhh . .. heeehhh ... sekalipun pihak Thian sat bun ada niat untuk mengampuni pinto, belum tentu pinto akan menerima pengampunan"

Sambungnya cepat. Perempuan itu sama sekali tidak menggubris mereka, dengan suara yang merdu kembali sambungnya.

"Diantara kalian apakah ada yang tidak tersangkut dengan keempa tpasal diatas? Jika ada harap segera keluar, daripada turut menjadi korban."

Suatu ucapan yang amat sedap didengar, suatu ungkapan yang bermaksud baik.

Tapi sampai lama kemudian suasana tetap hening, tak seorangpun diantara mereka yang berbicara Suara yang merdu itu kembali berkumandang.

"Wi tiong hong, tempat ini tak ada sangkut pautnya dengan dirimu, keluar kau.."

Wi tiong hong yang mendengar seruan tersebut menjadi tertegun, dia tak menyangka kalau orang itu bisa memanggil namanya, bahkan suruh dia keluar dari sana?

Betulkah Thian Sat-nlo amat bijaksana dengan tidak membunuhi mereka yang tersangka.

Kalau begitu, selain dia, semua orang yang berada disini sudah dipastikan bakal mampus.

Wi tiong hong tidak menanggapi teriakan itu, sebagai seorang pemuda yang baru saja terjun kedalam dunia persilatan, pada hakekatnya dia belum ada pengalaman apa apa, waktu itu dia tak tahu haruskah keluar atau tidak.

Apa pula yang harus dilakukan?

Dalam ruangan hadir banyak orang namun tak ada yang tahu siapakah Wi tiong hong itu.

Mereka lantas saling berpandangan dengan sorot mata penuh keheranan ...

Tok Hay-ji mendengus dingin, ejeknya tiba2.

"Tak nyana kalau Thian Sat niopun mengecualikan orang yang akan di bunuh."

Si Naga tua berekor botak To Sam seng segera memandang sekejap sekeliling arena, kemudian tanyanya.

"Siapakah sih tiong hong itu?"

Pelan2 Ting ci kang berjalan kesamping wi tiong hong, lalu bisiknya.

"Saudara Wi persoalan disini memang tak ada sangkut pautnya dengan dirimu, lebih baik kau tinggalkan saja tempat ini"

"Toako, aku tak mau pergi"

Seru Wi tiong hoag dengan wajah memerah karena jengah.

Ting ci kang termenung sebentar , lalu dengan suara yang lirih bisiknya pelan-"Tampaknya apa yang sedang berlangsung kini amat berbahaya sekali, hingga sekarang kita masih belum tahu dengan jelas keadaan lawan, rasanya tak perlu kau terjunkan diri kedalam persoalan ini."

"Cuma, tujuan lawan tidak jelas, akupun kurang lega untuk membiarkan kaupergi seorang diri, begini saja, kau boleh saja tetap tinggal disini tapi entah peristiwa apapun yaag terjadi lebih baik tak usah kau campuri."

Wi tiong hong segera manggut-manggut tanpa menjawab. Dalam pada itu suara yang merdu tadi kembali berkumandang.

"Wi tiong hong, suduh kau dengar belum? Hayo cepat keluar dari ruangan itu"

"Hei, sebetulnya siapa sih yang bernama Wi-tiong hong?"

Teriak si nagatua berekor botak To Sam seng dengan kening berkerut.

"Akulah orangnya"

Wi tiong hong segera menyahut. Serentak semua orang yang berada di perjamuan sebelah kiri mengalihkan sorot matanya kearah pemuda itu.

"omintohud"

Thi Lo han Kwong beng hwee-slo segera tertawa terbahak-bahak.

"Thian Sat-nlo suruh siau sicu keluar, mengapa siau sicu belum juga keluar?"

"Aku ingin pergi dari sini"

"Siapakah Thian Sat nio itu? Kalau begitu, kau pasti tahu?"

Seru si nagatua berekor botak To Sam seng cepat.

"Aku tidak tahu"

"Kalau kau tidak kenal dengan Thian Sat nio mengapa dia menyuruh kau keluar?"

Wi tiong hong yang mendapatkan itu-terjadi tertegun.

"Soal ini . .. soal inipun aku tidak tahu"

Sahutnya. Mendadak si Naga tua berekor botak tertawa terbahak-bahak. kembali dia berseru.

"Haaaah ...haaah , ... sudah separuh hidupku lohu sudah berkelana didalam dunia persilatan, mana mungkin kau si bocah cilik dapat mengelabuhi diriku?"

"Hm, aku lihat, kemungkinan besar kau adalah orang orang yang di utus oleh Thian Sat nio untuk menyelundup kemari"

Bentak si Naga tua berekor botak dengan sorot mata berkilat tajam.

Dari ucapan tersebut semua orang segera dapat menduga maksud dari ucapan iblis tua itu.

Maka begitu dia membentak keras, serentak semua orang mengalihkan sinar matinya ke wajah Wi tiong liong dengan penuh kecurigaan.

Wi tiong hong adalah seorang pemuda yang baru terjun ke dalam dunia pers ilatan mendengar bentakan itu, paras mukanya kontan menjadi merah pa da.

"Hei, mengapa kau bicara sembarangan?"

Serunya kemudian dengan kening berkerut.

"Apakah lohu salah bicara?"

Teriak si Niga tua berekor botak dengan gusar.

"Yaa, bocah keparat itu tak boleh dilepas"

Teriak si Golok pengejar angin Hot-ho Nian pula dengan suara keras. Ting ci kang yang menyakslkan situasi sudah meruncing, buru2 menjura seraya berseru.

"Enkoh To salah paham, saudara Wi ini baru terjun kedua persilatan dia adalah sahabatku"

"Haahh ----haah ----apalagi begitu, dia lebih lebih tak boleh pergi lagi"

Seru si Naga toa berekor botak sambil tertawa ter bahak bahak.

Maksud dari perkataan itu jelas sekali, yakni kalau toh Wi tiong hong adalah komplotan Ting Ci kang mungkin Thian sat nio pun merupakan kompfotan yang kalian undang datang.

Ting ci kang sebagai ketua perkUmpulan Thi pit pang dan sudah lama terjun kedalam dunia persilatan, sudah barang tentu dapat memahami maksud dari perkataan itu, paras mukanya segera berubah menjadi membesi.

"To loko, apa maksud dari perkataanmu itu?"

Dalam pada itu, Wi tiong hong telah berkata pula.

"Aku bilang kalau aku tak pergi dari sini"

"Hmm kalau kau tak pergi, hal ini memaag lebih baik lagi"

"Perkataan dari To loko memang benar"

Kata si golok pengejar angin Hee ho Nian pula.

"asal usul dari keparat ini tidak jelas, dia memang perlu ditangkap untuk diperiksa secara teliti"

Dengan wajah penuh kegusaran Ting Ci kang segera tertawa terbahak-bahak.

"Haahnh... haaahhh... haahhn... sudah kukatakan, saudara Wi adalah teman yang semula aku orang she Ting undang kemari, bila Heeho loko berkata demikian, hal ini sama artinya dengan mencari urusan dengan aku orang she Ting."

"Bu liang siu hud"

Mendadak Keng hian lojin yang berada di meja perjamuan sebelah kanan bangkit berdiri seraya menjura, kemudian katanya.

"Wi siau sicu ini adalah murid supek pinto, harap saudara sekalian jangan salah paham."

Sebagai murid pertama dari ketua Bu tong pay, ucapannya memang jauh lebih berbobot.

Semua yang hadir diarena segera tertegun dibuatnya, mereka baru tahu sekarang kalau pemuda berbaju hijau itu adalah anak murid dari Thian Goan cu.

Srentakk terdengar perkataan demi perkataan dari si naga tua berekor botak To Sam teng serta si Golok pengejar angin He ho Nian tadi kemarahan dalam hati Wi Tiang hong telah berkobar, akan tetapi berhubung dia tahu kalau kebanyakan orang yang hadir diarena sekarang merupakan jago-jago persilatan yang sudah banyak tahun tersohor dalam dunia persilatan maka ia memaksa diri untuk menekan kobaran hawa amarah tersebut.

Maka ketika dilihatnya sekarang bahwa gara2 persoalannya membuat Ting toak bentrok dengan orang-orang itu, habis sudah kesabarannya, sambil menjura tiba2 ujarnya.

kepada Ting Ci kang "Ting taako, sebetulnya siaute tak ingin pergi tempat ini, kalau toh ada orang yang menaruh curiga kepadaku, lebih baik siaute mohon diri saja dari sini"

Selesai berkata dia lantas membalikkan badannya dan berlalu dari tempat itu. Mendadak si Naga tua berekor botak To sam teng menggebrak meja sambil membentak keras.

"Berhenti "

"Masih ada petunjuk apalagi darimu?"

Desak Wi tiong hong sangat marah. Si Naga tua berekor botak To Sam seng tertawa dingin "Walaupun kau adalah murid Bu tong pay. pada saat dan keadaan seperti inipun mesti tetap tinggal disini"

Serunya. Wi tiong hong semakin gusar, teriaknya cepat "Aku bukan murid Bu toag pay, tapi kalau aku mau pergi aku akan pergi, tak ada orang yg bisa mengurus diriku"

Si Golok pengejar angin Hee ho Nian turut melompat bangun, ejeknya sambil tertawa seram.

"Kalau To loko menyuruh kau tetap tinggal disini, kau harus tetap tinggal disini."

Begitu si Golok pengejar angin Heeho Nian bangkit berdiri, loji dari Kang pak siang kiat be ong sin ( Dewa raja kuda ) Ku Tay tong ikut melompat bangun pula.

Beng Kian hoo yang menyaksikan suasana meruncing dan datang suatu bentrokan segera bakal terjadi, buru-buru ikut bangun berdiri, dia hanya goyangkan tangannya berulang kali tanpa sempat berbicara.

sebab pada saat itulah terdengar serentetan suara pekikan yang aneh sekali.

Pekikan tersebut amat tajam dan meruncing, mula mula berada di kejauhan sana, namun makin lama semakin dekat.

Kalau didengar sepintas lalu, suara itu bagaikan suara seruling yang terhembus angin puyuh suaranya begitu keras, melengking tinggi hingga amat tak sedap didengar, terutama kecepatannya sewaktu meluncur datang benar-benar mengerikan sekali.

Semua orang tidak kenal suara apakah itu, buru-buru mereka berpaling kearah datangnya cahaya tadi, tampak sekilas cahaya putih di ringi suara desingan lengking yang memekikkan telinga meluncur dari depan wuwungan rumah.

Ternyata benda itu adalah sebilah pisau terbang Liu yap hui to yang panjangnya tujuh inci dan bersinar tajam.

Setelah meluncur masuk ke dalam ruangan, pisau terbang itu tidak jatuh ke bawah, melainkan setelah berputar satu lingkaran diatas kepala semua orang, kemudian ..."weess"

Meluncur keluar lagi dari ruangan tersebut.

Pisau terbang itu datang maupun pergi dengan kecepatan seperti sambaran kilat, kecepatannya betul-betul mengerikan sekali Meskipun semua orang yang hadir di dalam ruangan saat itu merupakan jago-jago kelas satu didalam dunia persilatan, tapi oleh karena Sewaktu pisau terbang itu meluncur masuk tadi tak ada yang tahu bakal terjatuh ke mana, maka tak seorangpun diantara mereka yang mencoba untuk menghalanginya.

Menanti pisau terbang tersebut telah membuat satu lingkaran dalam ruangan lalu melayang keluar lagi dari situ, untuk menghalanginya lagi sudah tak sempat.

Thi Lo han Kwong beng hweeslo tertawa, ia segera menyentilkan jari tangannya kedepan....?

"sreeet"

Segulung desingan angin tajam segera meluncur ke angkasa dan mengejar pisau terbang tersebut, sayang tindakannya itu terlambat setindak. serangannya tidak berhasil menghantam pisau terbang tadi.

"Cri ing ..."

Sebatang anak panah pendek yang dilepaskan wakil congpiautau, Cuan im an Lie Goan-tong juga bersamaan waktunya terpental balik oleh pisau terbang tersebut, sewaktu terjatuh ketanah, panah pendek itu sudah patah menjadi dua bagian-Dengan adanya peristiwa itu, maka semua orang lantas menduga bahwa hal itu merupakan pertanda dari gerakan Thian Sat nio.

Sejak terjun kedunia persilatan, tak seorangpun diantara sekian banyak jago yang berada di dalam ruangan itu yang pernah menyaksikan pisau terbang yang telah meluncur masuk ternyata bisa melayang keluar, lalu untuk sesaat mereka jadi terbungkam dan saling berpandangan dengan wajah tertegun.

Sementara itu, Thi Lo han Kwong beng hweeslo yang sedang menyaksikan serangannya meleset segera naik pitam, wajahnya yang gemuk dan putih itu berubah jadi hijau membesi, sepasang matanya melotot besar, agaknya ia telah bersiap sedia untuk melakukan tubrukan kedepan.

Tiba2 Ma kon tojin tertawa seram, kemudian bibirnya bergetar mengirim suaranya lewat ilmu menyampaikan suara kepada si hwesio gemuk itu.

"Taysu..."

Thi Lo han Kwang beng hwesio amat terperanjat, dengan cepat ia berpaling ke belakang. Terdengar Ma koan tojin berbisik kembali.

"Kepandaiao yang didemontrasikan oleh Thian Sat nio barusan amat mirip dengan ilmu hwe hong to (golok angin berpusing) yang amat termashur itu, sebelum pihak lawan menampakkan diri, lebih baik taysu jangan turun tangan secara sembarangan."

Dlam-diam Thi Lo han Kwong beng hwesio merasakan hatinya bergetar keras, buru buru dia mengangguk dan tidak berbicara lagi.

Ma koan tojin selama ini berbicara dengan Thi Lo han Kwong beng hweeslo melalui ilmu menyampaikan suara, sudah barang tentu lainnya takkan mendengar pembicaraan mereka.

Dalam pada itu, Wi tiong hong telah jauh dihibur oleh Ting Ci kang agar tetap tinggal disitu, dia dianjurkan jangan membuat banyak membuat keonaran sebelum pihak lawan melakukan sesuatu tindakan-Si Golok pengejar angin Hee ho Nian yang berangasan sudah tak kuasa menahan amarahnya lagi, mendadak dia berteriak dengan suara yang keras danp arau.

"Hei Thian Sat nio, Jika kau punya kepandaian hayo munculkan diri dan bertarung bersama kami, kalau mau berlagak menjadi setan dengan permainan pisau terbang mu mah lebih baik pulang kerumah saja. Ketahuilah, permainan setan dalam dunia persilatan jauh lebih baik dari pada permainanmu, lebih baik kau tak usah membuat lelucon dihadapan kami lagi ..."

"Aaaah"

Mendadak Ting ci kaog berpaling dan menjerit tertahan-Walaupun suara jeritan tertahannya amat kecil, tapi lantaran semua orang sedang berada dalam keadaan terperanjat maka suara itu kedengaran bagaikan tusukan jarum saja, seketika itu juga membuat perasaan semua orang bergetar keras.

"Siapa disitu?"

Terdengar Cuan im-an Li Goan tong membentak keras.

Bentakan tersebut makin menggetarkan semua orang.

Ketika kawanan jago itu berpaling, maka terlihatlah seorang manusia aneh berbaju hitam yang dari kepala sampai kakinya terbungkus rapat hinggi cuma kelihatan matanya saja, dengan membawa baki perak.pelan-pelan dia berjalan masuk melalui pintu depan.

Walaupun orang itu mengenakan kain kerudung hitam dan jubah hitam yang dikenakan panjangnya mencapai tanah, akan tetapi pada lengan kirinya yang memegang baki perak itu nampak putih, halus dan menyenangkan sementara potong an badannya lamat-lamat tampak ramping.

Tak bisa disangkal lagi orang itu adalah seorang perempuan, bahkan seorang perempuan yang berusia sangat muda.

Thian Sat nio, ternyata perempuan inilah yang bernama Thian Sat nio ....

Usai pisau terbang sampai dalam ruang tengah jaraknya ada belasan kaki lebih, sambil membawa baki perak itu si perempuan berbaju hitam tersebut berjalan amat lambat, sementara sorot mata semua orangpun telah tertuju keatas tubuhnya.

Tapi berhubung jaraknya masih cukup jauh, siapapun tak sempat melihat jelas benda apakah yang berada diatas baki perak itu.

Kawanan jago yang berada dalam ruangan itu baru saja dibikin keder oleh demonstrasi kepandaian dari Thian Sat nio, tak heran kalau perasaan semua orang pada saat itu diliputi oleh perasaan yang sangat berat.

Akan tetapi setelah perempuan baju-hitam berkerudung hitam itu semakin mendekat, dan mereka menduga usianya tidak terlalu besar, pelan2 para jago baru merasa agak lega.

Tiba2 Beng Kian hoo bangkit berdiri, kemudian setelah menjura tegurnya.

"Sobat, kaukah yang bernama Thian Sat nio?"

Perempuan berbaju hitam itu tidak menjawab, seakan-akan tidak mendengar perkataan itu dia melanjutkan perjalanannya melangkah masuk ke dalam ruangan.

Cuan im am Li Goan tong menjadi gusar sekali menyaksikan keangkuhan musuhnya, dengan langkah lebar dia maju ke depan menyongsong kedatangan orang itu, kemudian bentaknya lagi "Sobat, mengapa kau mesti berdandan macam setan saja dengan mengerudungi wajahmu?

Bila tidak kau sebutkan siapa namamu, jangan salahkan kalau kami dari pihak An wan piaukiok tak akan bertindak sungkan2 lagi kepadamu."

Ting Ci kang bersahabat karib dengan Beng Kian hoo maupun Cuan im an Li Goan tong, dia kuatir dua orang itu tertimpa musibah atau kejadian yang tak dlinginkan maka dengan cepat dia berpaling dan memberi tanda kepada Ko thian seng Lo Liang.

Ko thian seng Lo Liang segera melompat bangun, lalu dengan mengikuti dibelakang Cuan im an Li Goan tong menuju keluar ruangan-Perempuan berbaju hitam tadi terus melangkah maju kedepan, terhadap suara bentakan dari Cuan im an Li Goan tong sama sekali tidak menggubris.

Cuan im an Li Goan tong semakin naik darah,alis matanya yang tebal segera berkerut kencang, kemudian sambil mencabut keluar pedangnya membentuk serentetan cahaya bianglala berwarna perak, bentaknya.

"Berhenti, sudah kau dengar belum perkataanku itu?"

Terhadap cahaya pedang yang berkilauan di depan matanya itu, siperempuan berbaju hitam itu tetap berlagak seperti tak pernah melihatnya, pelan-pelan dia melanjutkan terus langkahnya menuju kedepan-Cuan im an Li Goan tong semakin naik darah, untuk kedua kalinya dia memutar pedangnya menciptakan serentetan cahaya bianglala berwarna perak yang menyilaukan mata untuk membendung gerak majunya.

"Berhenti"

Bentaknya keras-keras.

"sudah pernah dengar belum apa yung kukatakan ?"

Sudah cukup lama Cuan im-an Li Goan tong melakukan perjalanan dalam dunia persilatan tapi belum pernah iajumpai seseorang yang begitu tenangnya menghadapi ancaman, bahkan terhadap cahaya pedang yang menyambar didepan matapUn sama sekali tak ambil perduli.

Maka sewaktu dilihatnya perempuan itu masih melanjutkan perjalanannya ke depan, dengan wajah agak tertegun bentaknya lagi.

"Jika kau berani maju selangkah lagi, jangan salahkan kalau diujung pedang aku orang she Li tak punya mata"

Pada hakekatnya perempuan berbaju hitam itu sama sekali tidak memandang sebelah mata pun terhadap Li Goan tong, bagaikan tak pernah terjadi suatu kejadian apapun, pelan-pelan dia masih melanjutkan perjalananya kedepan-Perbuatan dari lawannya itu amat menggusarkan Cuan im an Li Goan tong, sambil tertawa dingin hawa murninya segera disalurkan keluar, pergelangan tangannya diangkat dan mendadak saja memancarkan selapis bayangan pedang yang secepat kilat mengurung seluruh badan perempuan berbaju hitam itu.

Betul Cuan iman Li Goan tong tersohor didalam dunia persilatan karena "Sam cian cuan-im" (tiga panah menembusi awan), namun ilmu pedang Tat mo kiam hoat yang digergUnakannya sekarang juga memiliki kesempurnaan yang luar biasa.

Begitu serangan tersebut dilancarkan kedepan, terlihatlah cahaya tajam yang berkilauan segera menyelimuti daerah seluas beberapa depa disekitar sana.

Kecuali perempuan berbaju hitam itu segera menghentikan gerakan tubuhnya, kalau dia berani maju beberapa langkah lagi, maka jangan harap dia bisa meloloskan diri dari yangan pedang yang menyambar itu secara mudah.

Bab-09 Mendadak terdengar suara dengusan dingin yang amat nyaring berkumandang datang dari balik kain kerudung hitam perempuan itu, seperti tak pernah terjadi apa apa, ujung baju sebelah kanannya segera dikebaskan pelan kedepan.

Didalam kebasan mana tidak nampak adanya desingan angin tajam tapi secara diam-diam muncul segulung tenaga pukulan berhawa dingin dan lembut memancar keluar lewat ujung bajunya tadi dan segera menahan gerakan pedang dari Cuao im an.

Seketika itu juga Cum im an Li Goan tong merasakan tangannya bergetar keras, bagaikan segulung tenaga tak berwujud yang menghisapnya, tiba-tiba saja serangannya itu terseret ke samping.

Dengan begitu, jangankan menusuk orang, sekalipun ingin memunahkan serangan saja sudah tak sempat, tak ampun lagi tubuhnya ikut menerjang kesebelah kiri mengikuti gerakan pedangnya itu.

Untung saja kepandaian silat yang dimilikinya terhitung cukup tangguh, dan lagi pengalamannya cukup matang, dia hanya turut maju sejauh dua langkah sebelum dapat berdiri tegak kembali.

Ko thian seng Lo Liang yang keluar bersama dari ruang bersamanya itu menjadi amat terkejut, sambil mendengus dingin tangannya segeia diayunkan kedepan melancarkan sebuah serangan kearah perempuan berbaju hitam itu dengan ilmu Siau thian seng ciang ( ilmu pukulan bintang kecil).

Perlu diketahui ilmu Siau thian seng ciang termasuk sejenis ilmu pukulan yang sangat mengandalkan kesempurnaan tenaga dalam, Ko-thian seng Lo Liang sebagai salah seorang dari empat pelindung hukum perkumpulan Thi pat-pang tentu saja memiliki tenaga dalam yang amat sempurna.

Sekalipun hanya suatu serangan yang dilancarkan seenaknya, akan tetapi desingan angin tajam yang dihasilkan ternyata luar biasa sekali.

Sambil menyungging baki perak.

pelan-pelan perempuan berbaju hitam itu bergerak maju ke depan, kali ini dia sama sekali tidak mendengus seperti juga yang semula, hanya ujung bajunya saja yang dikebaskan pelan ke depan.

Ternyata angin pukulan Ko Thian seng Lo Liang yang sangat kuat itu saling membentur dengan ujung bajunya, seketika itu juga darah panas didalam dadanya bergolak keras, detik itu juga ia dipaksa mundur sejauh beberapa langkah.

Perempuan berbaju hitam itu tidak menggubrisnya lagi, begitu selesai mengibaskan ujung bajunya, pelan2 dia bergerak maju ke depan, seakan-akan tak pernah terjadi sesuatu apapun selama ini.

Cuan im an Li Goan tong yang pedangnya terseret ke samping arena serta pukulan Ko thian seng Lo Liang yang tergetar mundur, meski terjadi saling berurutan, sesungguhnya kedua duanya terjadi hanya didalam waktu singkat.

Setelah tertegun sejenak.

Cuan im an segera menerjang maju lagi ke depan secepat sambaran petir, pedangnya segera diangkat bersiap-siap melancarkan serangan lagi.

Sedangan Ko thian seng Lo Liang yang dipaksa mundur sejauh tiga langkah pun segera mendengus dingin, kemudian secepat kilat tangan kanannya merogoh ke dalam sakunya dan mengeluarkan sebuah ruyang berantai perak sambil siap-siap melancarkan serangan.

"Kalian cepat kembali"

Tiba-tiba Beng Kiam-hoo berteriak keras.

Sementara itu Cuan im-an Li Goan tong sudah menyadari kalau kehebatan ilmu silat perempuan berbaju hitam itu jauh melebihi kemampuannya, sekalipun ia bekerja sama dengan Kho thian seng Lo Liang, betul tak sampai kalah, namun harapan untuk meraih kemenanganpun tipis sekali....-ooo0O0ooo-ITULAH sebabnya begitu mendengar suhengnya memanggil dia lantas menarik kembali pedangnya dan bersama-sama Ko thian seng mengundurkan diri dari situ.

Dalam pada itu, perempuan berbaju hitam tadi sudah berada lima enam kaki didepan ruangan, mendadak diapun menghentikan langkahnya.

Beng Kian ho sebagai tuan ruman juga berdiri didepan ruangan dengan wajah serius, dalam anggapannya pihak lawan pasti akan mengatakan sesuatu setelah berhenti.

Siapa tahu meski sudah dinantikan sekian lamapun, perempuan berbaju hitam yang membawa baki perak itu masih tetap tidak maju maupun berbicara dia hanya berdiri disana tanpa bergerak barang sedikitpun jua.

Habis sudah kesabaran Beng Kian hoo, dengan wajah serius pelan-pelan dia berkata.

"Sobat, sebenarnya apa tujuanmu?"

Perempuan berbaju hitam itu masih saja membungkam dalam seribu bahasa.

"Bu liang siu hud"

Mendadak Keng hian tojin bangkit berdiri, setelah memberi hormat kepada Beng Kian hoo, katanya.

"Kalau toh kedatangan Thian Sat nio disebabkan benda yang dibegal dari perusahaan Ban li piaukiok milik suteku, lebih baik biar pinto saja yang menanyai dia"

Begitu tojin itu berdiri, Keng jin tojin, Bwe hoa kiam Thio Kun kai serta Lakjiu im seng Thio Man turut bangkit berdiri pula.

Dengan demikian maka orang yang berada di meja perjamuan sebelah kiri telah bangkit berdiri.

Sebaliknya di meja perjamuan sebelah kanan, hanya Ma koan lojin Thi lohan Kwong beng hwesio, si Naga tua berekor botak To Sam seng serta sastrawan berbaju hijau saja yang masih tetap duduk ditempat semula tanpa bergerak.

Berbarengan dengan berdirinya Keng hian tojin, si Golok pengejar angin Hee ho Nian segera tertawa seram seraya berkata.

"Heeeeh , , , heeeh ..heeeh . , . mengapa kita mesti memperdulikan siapakah Thian Sat nio itu, selamanya locu memang tak kenal rasa kasihan, kalau budak ingusan ini masih berani berlagak sok rahasia didepan kita lebih baik di habisi dulu nyawanya."

Sambil membentak keras tubuhnya segera menyerobot didepan Keng hian tojin dan menerjang keluar dari ruangan itu.

Si perempuan berbaju hitam itu masih tetap berdiri tak berkutik sehingga tetap ditempat semula, walaupun paras mukanya yang tertutup kain kerudung hitam itu tak nampak jelas, akan tetapi pada saat si Golok pengejar angin Hee ho Nian menerjang keluar dari ruangan tengah itu ia segera mendengus dingin-Dengusan dingin itu dinginnya luar biasa, pada hakekatnya tidak mirip suara dengusan manusia, sehingga mendatangkan perasaan bergidik bagi siapapun yang mendengarnya.

Mendadak ...

dia mengangkat lengan kanannya, kemudian mengeluarkan telapak tangannya yang berwarna putih dari balik ujung bajunya yang lebar.

Tangan itu kelihatan sangat indah, putih bersih dan lembut dengan jari-jari tangan yang ramping dan halus, diatas kukunya tampak pula cat kuku berwarna merah.

Cukup dilihat dari telapak tangan itu saja dapat diketahui kalau perempuan berbaju hitam itu selain masih muda, kemungkinan sekali wajahnya Cantik jelita bak bidadari dari kahyangan.

Tiba-tiba perempuan berbaju hitam itu mengambil sebuah golok Liu yap-to sepanjang tujuh inci dari atas baki peraknya, kemudian segera dilemparkan ketengah udara.

Sekarang semua orang baru tahu, rupanya isi baki perak itu adalah pisau terbang, pisau terbang Liu yap bui to yang sudah pernah menyambar masuk kedalam ruangan.

Tapi, mengapakah dia melemparkan pisau terbang itu ketengah udara?

Apa maksudnya ??

Suatu peristiwa aneh pun terjadi pada saat itu.

Ternyata perempuan berbaju hitam itu memiliki suatu kepandaian ilmu melepaskan pisau terbang yang sangat lihay, ketika melemparkan pisau terbangnya tadi, senjata tersebut tertuju keatas tanpa menimbulkan sedikit suarapun, tapi ketika pisau itu berada ditengah udara, entah bagaimana berputarnya tahu tahu sudah meluncur kembali kebawah dengan disertai desingan tajam yang amat memekikkan telinga.

"Sreeeet..."

Serentetan cahaya bianglala berwarna perak secepat kilat menyambar ke muka dan menerjang ke dada si Golok pengejar angin Hee ho Nian.

Kang pak siang kiat merupakan gembong2 dari golongan hitam yang cukup termashur namanya di wilayah utara sungai besar, sebagaijagoan kenamaan yang sudah banyak tahun malang melintang dalam2 dunia persilatan, tentusaja reaksi dari si Golok pengejar angin Heeho Nian cukup cekatan.

Ketika ia menyaksikan si perempuan berbaju hitam itu mengambil pisau terbang sambil melemparkan ke tengah udara tadi, diam2 ia sudah waspada, maka tatkala dilihatnya pisau terbang itu tertuju ke dadanya-kontan saja ia tertawa terbahak bahak.

"Haaahhh ... haaahhh , ... haaahhh ... rupanya kaU hanya memiliki kepandaian semacam ini..."

Sambil mengangkatpergelangantangannya, dia memutar golok Yan leng to miliknya sambil menyambut datangnya sambaran pisau terbang tadi.

Suara bentakan belum lagi habis diutarakan dengan mendadak terdengar suara benturan nyaring bergema memecahkan keheningan-.."Traaang Traaang "

Menyusul berkumandang pula suara jeritan ngeri yang menyayatkan hati.

Cahaya perak menyambar lewat lalu lenyap.

secepat sambaran kilat pisau terbang liu yap-hui-to tadi sudah menembusi dada si Golok pengejar angin Hee ho Nian, kemudian setelah membentuk gerakan setengah busur melayang balik kembali keatas baki perak yang berada ditangan perempuan berbaju hitam itu.

Semua peristiwa ini berlangsung dalam sekejap mata, baru saja pisau terbang itu "Traang "jatuh kembali diatas baki perak.

dipihak lain tubuh si Golok pengejar angin Hee ho Niaa telah roboh terjengkang diatas tanah dengan darah segar bercucuran membasahi seluruh permukaan tanah.

Padahal sewaktu bertarung melawan Tok Hay ji tadi, semua orang sempat melihat permainan golok berantai dari si Golok pengejar angin cepat bagaikan sambaran kilat dengan perubahan yang tak terlukiskan dengan kata-kata.

Siapa tahu dalam kenyataannya sekarang, dalam waktu yang begitu singkat dan cepat dia telah tewas diujung pisau terbang lawan, Menyaksikan saudara angkatnya tewas, Si Dewa raja kuda Ku Tay tong menjadi berang, dengan sepasang mata berwarna merah menyala bentaknya keras-keras.

"Budak keparat, serahkan selembar jiwamu"

Sepasang kakinya segera menjejak tanah sambil menubruk kearah perempuan berbaju hitam itu, begitu orangnya tiba golok pun tiba, dengan ganas dia menusuk dada perempuan berbaju hitam itu.

Kali ini semua orang tak sempat menyaksikan bagaimana caranya perempuan berbaju hitam itu turun tangan hanya terdengar desingan angin tajam yang menyertai kilatan cahaya tajam membelah angkasa, tahu-tahu pisau terbang itu kembali sudah beraksi.

cahaya perak berkelebat lewat, jeritan ngeri berkumandang saling menyusul, dan kemudian "Tiaang"

Pisau terbang tadi sudah melayang balik keatas baki perak.

Dewa raja kuda Ku Tay tong yang berperawakan tinggi besar itu tahu-tahu sudah roboh terkapar diatas tanah, darah segera menyembur keluar dari punggungnya.

Peristiwa ini benar-benar menggetarkan hati setiap orang, kontan saja paras muka semua orang berubah hebat.

Dengan sorot mata yang tajam tapi jeli, perempuan berbaju hitam itu memandang Sekejap ke arah dua sosok mayat yang terkapar ditanah itu, kemudian sambil mendengus jengeknya.

"Walaupun kau sanggup menghindari beribu ribu kali bacokan tetapi jangan harap bisa menghindari bacokan dari Thian Sat nio"

Suaranya dingin menyeramkan seakan-akan angin dingin yang berhembus keluar dari dalam gudang es, setiap patah kata dapat membekukan suasana, membuat setiap orang merasakan hatinya bergidik.

Paras muka Tok Hayji berubah manjadi pucat pias seperti mayat.

sambil bersembunyi dipojok ruangan tengah, jeritnya berulang kali dengan suara-keras.

"Pembantaian sudah dimulai... pembantaian sudah dimulai..."

"Siancay, Siancay ..."

Keng hian tojin merangkap tangannya didepan dada sambil menjura ke langit, kemudian dengan kening berkerut dia meloloskan pedangnya dari sarung dan menegur dengan suara nyaring.

"Nona, siapakah kau, hatimu sungguh amat keji dan buas, terpaksa pinto harus mencoba sampai dimanakah kekejaman dari pisau terbangmu."

Begitu dia meloloskan pedangnya, terdengar "cri ing"

"cri ng"

Keng jin tojin, Bwe hoa kian Thio Kun kai serta Lakjiu im eng Thio Man bersama-sama meloloskan pula pedangnya .

Suasana tegang segera menyelimuti seluruh ruangan, nampak suatu pertarungan sengit segera akan berlangsung disana.

Ma koan tojin yang selama ini memejamkan matanya dengan wajah hambar, mendadak mendongakkan kepalanya dan memandang sekejap kewajah semua orang, kemudian bentaknya keras-keras.

"Toyu dariBu tong pay harap tunggu sebentar."

Keng hian tojin tertegun, kemudian sambil menjura dia bertanya.

"To tiang masih ada petunjuk apa ?"

Ma koan tojin tertawa seram, katanya.

"Aku lihat dibelakangan perempuan ini tampak masih ada seorang jago lihay yang mengendalikan pisau terbang itu "

Mendengar perkataan itu, si Naga tua berekor botak To Sam seng segera tertawa ter-bahak2.

"Haahh ...haaah -..lohu tidak percaya dengan segala macam permainan setan"

Dia segera melejit ketengah udara, kemudian bagaikan seekor burung rajawali raksasa ecepat kilat dia meluncur ke bawah dan menerjang batok kepala perempuan berbaju hitam itu.

Keng hian tojin sebetulnya sudah tiba didepan pintu ruangan, tapi berhubung dilihatnya si Naga tua berekor botak sudah menyerang mendahului dia, terpaksa ia harus mengurungkan niatnya.

"Blaaammm ..."

Semua orang tak sempat melihat jelas apa yang terjadi, didepan ruangan telah terjadi suara benturan keras yang memekikkan telinga, menyusul kemudian tampak angin puyuh menderu-deru menyapu seluruh jagad.

Sambil melayang turun ke atas tanah, si naga tua berekor botak To Sam seng segera membentak keras.

"Bangsat, siapa yang telah menyergap lohu?"

Ternyata dalam waktu yang amat singkat, di-hadapan telah bertambah lagi dengan sesosok tubuh manusia.

orang itupun seorang manusia aneh berbaju serba hitam yang hanya nampak sepasang matanya saja.

Sejak beradu tenaga dengan musuhnya ditengah udara barusan, si Naga tua berekor botak To Sam seng sudah merasakan betapa sempurnanya tenaga dalam yang dimiliki orang itu, diam-diam dia tertegun, kemudian dengan sinar memancarkan cahaya berkilat, dia tertawa terkekeh kekeh.

"IHeehhh ... heeeehhh ... heeeehhh ... bagus, bagus sekali ..."

Sambil bergelak maju kedepan, sebuah pukulan dahsyat kembali dilontarkan kedepan.

Si Naga tua berekor botak To Sam seng sudah lama menjagoi wilayah Huan yang, tentu saja kepandaian silat yang dimilikinya luar biasa sekali.

Tampak tubuhnya melompat kedepan sejauh beberapa kaki, ketika telapak tangannya diayunkan kedepan, secara tepat sekali mengancam dada manusia aneh berbaju hitam itu.

Kelima jari tangannya setengah ditekuk dan kemudian dengan telapak tangan, ia cengkeram tubuh manusia aneh berbaju hitam itu, selain gerakan cepat, jurus ancamannya juga aneh, kesempurnaan tenaga dalamnya jarang sekali dijumpai di-dunia ini.

Melihat pihak lawan menerjang tiba, manusia berbaju hitam itu tidak berdiam diri belaka, sambil memutar badan diapun melepaskan sebuah bacokan kemuka.

Begitu pertarungan berlangsung, kedua belah pihak sama-sama saling menyerang dengan kecepatan yang luar biasa, sedemikian cepatnya sehingga sukar untuk di kuti dengan pandangan mata, Dalam waktu singkat hawa pembunuhan menyelimuti seluruh arena, jangan toh terkena serangan secara telak.

sekalipun tersambar oleh ujung baju masing-masingpun bisa jadi akan mengakibatkan suatu kematian yang mengerikan.

Pertempuran ini segera memancing perhatian dari semua orang yang berada dalam arena itu, melihat kelihayan dari jalannya pertarungan, semua orang segera menahan napas sambil membelalakan matanya lebar-lebar.

Bila menjumpai suatu gerakan yang indah atau hebat, semua orang bersorak memuji, tapi bila menjumpai keadaan yang menegangkan syaraf, semua orang membelalakan mata dengan pandangan terkesiap.

Ditengah ketegangan yang mencengkam seluruh jagat itulah, mendadak berkumandang suara desingan angin tajam memekikkan telinga.

"Sreeeet..."

Menyusul kemudian jeritan ngeri yang memilukan hati berkumandang dalam ruangan..."Blaaamm"

Seseorang kembali jatuh kelantai dan menemui ajalnya secara mengerikan-"Traaaaag"

Itulah utara pisau terbang Liu yap to yang jatuh kembali keatas baki perak.

Semua orang merasakan hatinya tercekat dan buru-buru berpaling, ternyata yang jadi korban kali ini ialah cuan iman Li Goan tong wakil Congpiautau dari perusahaan An wan piaukiok ia dijumpai sudah terkapar ditanah bermandikan darah segar.

Tak bisu disangkal lagi, dadanya telah ditembusi oleh pisau tarbang Liu yap hui to, atau dengan perkataan lain, perempuan berbaju hitam itu lagi-lagi meminta korban.

Melihat adik seperguruannya tewas secara mengenaskan, Beng Kian ho menjerit keras, kemudian bentaknya.

"Budak keparat, lohu akan beradu jiwa denganmu!!"

Sepasang telapak tangannya segera diayunkan kedepan, kemudian kakinya menginjak tanah dan menerjang ke muka.

Ting ci kang menjadi terperanjat sekali setelah menyaksikan kejadian tersebut.

Ia tahu Beng Kiaa ho sebagai tuan rumah tentu takkan menggembol senjata, padahal perempuan berbaju hitam itu memiliki ilmu silat yang sangat lihay, dia kuatir sahabatnya itu tertimpa musibah.

Tanpa sangsi lagi dia mencabut keluar sebatang senjata Bin cong pitnya dan menerjang pula ke depan, teriaknya.

"Beng loko, serahkan saja budak ini kepada siaute"

Semua kejadian itu berlangsung dalam waktu singkat, baru saja Beng Kian ho menerjang ke muka, mendadak terdengar seseorang membentak dengan suara merdu.

"Kembali"

Segulung cahaya putih meluncur datang diri depan wuwungan rumah, namun tak nampak jelas bayangan apakah itu hanya terasa desingan angin tajam menyambar datang dan tahu tahu ia tak sempat untuk berkelit lagi.

Dengan gusar Beng Kian ho membentak keras, sepasang telapak tangannya segera didorong ke depan menghantam bayangan itu dengan sepenuh tenaga.

Pada saat itu, hawa amarah Beng Kian ho sudah mencapai pada puncaknya, tanpa perdulikan segala sesuatu lagi dia menyerang dengan sepenuh tenaga, kedahsyatannya cukup untuk menghancurkan sebuah batu gunung ...

Siapa tahu, baru saja tenaga serangannya dilontarkan kemuka, bagaikan menumbuk diatas sebuah benda yang amat lunak saja, ketika tubuhnya termakan oleh getaran lawannya yang pelan, badannya segera rontok kembali keatas tanah.

Dengan hati tertegun dia lantas mendongakkan kepalanya memperhatikan benda yang menyerang dirinya dari wuwungan rumah sebelah depan itu, ternyata dia adalah seorang manusia berbaju putih yang kurus kecil dan mengenakan pakaian serba putih dengan kain kerudung berwarna putih pula ...

Ditangan orang berbaju putih itu membawa sebuah angkin (ikat pinggang) sepanjang belasan kaki yang menari-nari diudara seperti bianglala, waktu itu orang tapi sedang bertarung melawan Ting ci kang.

Bagaimanapun juga Beng Kian ho adalah seorang kenamaan, tentu saja dia enggan untuk bertarung dua lawan situ, dengan cepat dia meninggalkan lawannya itu dengan menerjang kearah si perempuan berbaju hitam.

Siapa tahu baru saja dia menggerakan tubuhnya manusia berjubah putih itu sudah membentak keras.

"Berhenti kau ini..."

Angkin warna warni itu mendadak menyambar kedepan di ringi suara desingan angin tajam kemudian dengan dahsyatnya menggulung ke-arah tubuh Beng Kian ho.

Ting ci kang membentak keras, pena emasnya ditutulkan kemuka denganjurus Hong hong tiam tau (burung hong memangguk) selapis cahaya emas yang menyilaukan mata segera menyerang tubuh manusia berbaju putih itu.

pada saat yang bersamaan, Beng Kian ho melepaskan pula sebuah pukulan dahsyat kearah tubuh manusia berbaju putih itu.

Menghadapi dua ancaman yang datang dari dua arah yang berlawanan, manusia berbaju putih itu menggetarkan tangan kirinya, ujung angkin berwarna-warni itu segera menggulung kemuka mengunci datangnya ancaman totokan pena emas dari Ting ci kang sementara tangan kirinya digetarkan pula dengan mempergunakan ujung angkin yang lain untuk menghalau serangan Beng Kian ho serta mendesak mundur terjangan tubuhnya.

Ting ci kang tidak menyerah sampai disitu saja, sambil memutar senjata kembali dia menerjang temuka, pena emasnya dengan menciptakan bertitik cahaya tajam mengurung seluruh angkasa, kecepatannya bagaikan titiran air hujan.

Beng Kiam ho tidak ambil diam, sepasang telapak tanganyapun bekerja keras, dalam waktu singkat dia telah melancarkan lima buah serangan berantai.

Manusia berbaju putih itu segera menggerakkan sepasang tangannya berbareng angkin warna warni sepanjang beberapa kaki itu digerakkannya dengan gerakan sebentar memanjang Sebentar memendek, cahaya bianglala menyilaukan mata, dengan perubahan yang beraneka ragam dia hadapi serangan gabungan dari dua lawannya secara santai, seolah-olah ancaman dari kedua orang itu masih tak berarti baginya.

Keng hian tojin adalah murid dari perguruan Butongpay, dia jadi orang teliti dan serius menghadapi semua persoalan.

Diam-diam dia telah memperhatikan keadaan disekitar arena, dan dijumpainya suatu peristiwa yang dirasakan aneh sekali.

Ketika si Naga tua berekor botak To Sam-seng menyerobot didepan untuk menerjang si perempuan berbaju hitam tadi, belum lagi berhasil mendekati sasarannya, tahu-tahu ditengah jalan orang itu sudah dihadang oleh seorang manusia berbaju hitam.

Kemudian menyusul Beng Kian ho dan Ting-ci kang ikut keluar dari ruangan, tapi keadaan yang mereka alamisama yaitu dihadang oleh seorang manusia berbaju putih.

Diam-diam ia lantas ia menarik suatu kesimpulan, agaknya setiap orang yang berada dalam ruangan itu, asal keluar meninggalkan ruangan itu tentu akan memperoleh hadangan, tujuan dari penghadangan mana sudah jelas adalah tidak membiarkan mereka keluar dari situ, padahal sudah ada tiga korban yang tewas diujung pisau terbang, sementara perempuan berbaju hitam yang berdiri di depan ruangan, berdiri tengah disitu sambil memegang baki peraknya.

Benarkah suatu pembantaian secara besar-besaran telah dimulai?

Benarkah pihak Thian Sat nio tidak mengijinkan seorang manusiapun diantara mereka meninggalkan ruangan ini dalam keadaan hidup?

Ditinjau dari semua yang telah berlangsung, perempuan berbaju hitam yang berdiri di muka ruangan sekarang adalah sipelaksana pembantaian tersebut, benarkah dia adalah Thian Sat nio pribadi?

-ooo00ooo-Bab-10 Dengan wajah serius dan pedang tersoren di tangan pelan-pelan Keng-hian tojin berjalan menuruni anak tangga depan pelataran.

Begitu dia melangkah kedepan, Keng jin to-jin dan Bwe hoa kiam kakak beradik mengikuti pula dibelakangnya.

Tujuan Kheng hian tojin adalah mengawasi gerik gerik lawan, oleh sebab itu dia bergerak sangat lambat, dia tahu tiga orang yang berada di belakangnya adalah sute dan sumoynya, mereka pasti saja tidak akan berani mendahului, itulah sebabnya segenap tenaga dalamnya dihimpun menjadi satu untuk mengamati empat penjuru, kemudian pelan2 menuruni anak tangga pertama.

Betul juga , pada saat itulah perempuan berbaju hitam yang berada dihadapannya itu menyambitkan pisau terbang yang berada diatas bakinya secara tiba tiba dan melemparkannya ke atas.

Dari Ma koan lojin tadi, Keng hian tojin telah mendengar kalau dibelakang perempuan itu masih ada orang lain yang mengendalikan pisau terbang itu secara diam-diam.

Maka begitu dilihatnya pihak lawan melepaskan pisau terbangnya, dia segera menghimpun segenap perhatiannya untuk mengawasi kearah pisau terbang tersebut dengan seksama, Tapi langit amat cerah, hanya setitik awan putih yang menghiasi angkasa.

Tentu saja tak mungkin ada orang yang berada di angkasa, yang nampak olehnya hanyalah pisau terbang Liu yap hui to itu moIuncur ke tengah udara, setelah mencapai ketinggian tiga kaki, kemudian membalik dan menukik ke bawah.

Kejadian anehpun segera berlangsung sejak itu, tatkala pisau terbang tadi menukik sampai ketinggian satu kaki, mendadak gerakan pisau terbang tadi membentuk seperti gerakan busur, setelah melakukan suatu perputaran ditengah udara, desingan angin tajampun berkumandang memekikkan telinga.

cahaya tajam segera memancar keempat penjuru, desingan angin dingin menderu-deru, dengan keCepatan yang luar biasa melancur ke-arah dadanya.

cukup mendengar desingan tajam yang memekikkan telinga, dapat diketahui kalau serangan tersebut benar-benar mengerikan sekali.

Keng hian tojin amat terperanjat, lalu pikirnya.

Kalau dilihat dari keadaan tersebut, agaknya benar-benar ada orang yang mengendalikan gerakan pisau terbang itu secara diam-diam.

Waktu itu, pedang telah disilangkan di depan dada, segenap tenaga dalam yang dimilikipun telah dihimpun diujung pedangnya dengan tatapan mata tak berkedip dia mengikuti terus gerakan dari pisau terbang itu tajam-tajam.

Menanti ujung pisau terbang tadi sudah hampir mendekati dadanya, ia baru menggetarkan pergelangan tangannya dan menghantam ujung pisau terbang itu dengan ujung petangnya.

"Traaang ..."

Benturan nyaring memekikkan telinga.

Kali ini, ancaman dari pisau terbang tersebut berhasil dipikul mundur oleh tangkisannya, akan tetapi akibat dari bentrokan mana, Keng hian tojin merasakan lengannya menjadi kesemutan dan tubuhnya tanpa terasa mundur selangkah ke belakang.

Perempuan herbaju hitam itu mendengus dingin, tangannya kembali diayunkan kedepan, kali ini pisau terbang Liu yap to yang kedua telah dilontarkan ke angkasa.

Bukan hanya sebilah saja yang disambitkan ke udara kali ini, tampaknya karena dia melihat pihak Bu tong pay terdiri dari 4 orang maka secara beruntung dia lepaskan tiga bilah pisau terbang lagi.

Serangan itu benar2 menyambar tiba dengan kecepatan bagaikan sambaran petir, dalam waktu singkat cahaya perak menyelimuti seluruh angkasa, desingan tajam memekikkan telinga, empat bilah pisau terbang secepat kilat mengancam ke empat orang itu bersamaan waktunya.

Menyaksikan datangnya ancaman itu, Keng-hian tojin merasa amat terkesiap.

Rupanya bukan cUma ke empat bilah pisau terbang itu saja yang datang mengancam, pisau terbang yang berhasil dipentalkan olehnya tadi pun setelah membentuk gerakan busur ditengah udara, sekali lagi menerjang kearahnya.

cepat-cepat dia berseru.

"Sute sekalian berhati hatilah kalian --"

Dalam keadaan tergopoh-gopoh dengan jurus Kim ciam hui tok (jarum emas terbang menyeberang) diayunkan ke muka, cahaya pedang segera memancar ke empat penjuru dan menyongsong datangnya ancaman pisau terbang tadi "Traaang, traaang, traaang"

Menyusul kemudian berkumandang empat kali suara bentrokan nyaring memecahkan keheningan.

Keng hian Tojin, Bwe hoa kiam Thio Kun kai dan Lakjiu im eng Thio Man berhasil menangkis datangnya ancaman tersebut.

Tapi ditengah desingan nyaring yang beruntun itu, tiba-tiba terdengar pula sekali jeritan kaget serta sekali jeritan kesakitan yang memilukan hati.

"Traaang..."

Salah sebilah pisau terbang di antaranya telah berhasil menyelesaikan tugas pembantaiannya dan jatuh kembali diatas baki perak itu.

Percikan darah segar kembali membasahi seluruh permukaan lantai ruangan itu, kemudian terdengar seseorang roboh terkapar keatas tanah.

Mengikuti jeritan ngeri itu, dengan hati terkesiap semua orang buru-buru berpaling.

Ternyata yang menjerit kaget tadi adalah Lak jiu im eng Thio Man, walaupun ia berhasil menyambut datangnya ancaman pisau terbang itu, tapi berhubung tenaga pantulan yang memancar keluar dari ujung pisau terbang itu sangat kuat, serta merta tubuhnya digetarkan sampai mundur kebelakang berulang kali.

Padahal pada waktu itu dia baru saja menuruni anak tangga mengikuti para suhengnya, dasar pengalamannya memang cetek, meski pisau terbang itu berhasil disambutnya, dia lupa kalau dibelakang tubuhnya masih ada tiga buah trap undak undakan batu, tak ampun lagi dia terpeleset dan terjatuh ke bawah.

Saking kagetnya itulah dia lantas menjerit keras.

Sebaliknya orang yang menjerit kesakitan adalah pelindung hukum dari perkumpulan Thi pit pang, Ko thian-seng Lo Liang, dalam keadaan tak menduga, dadanya kena ditembusi pisau terbang itu dan terkapar diatas lantai dalam keadaan tak bernyawa lagi.

ooo0O0ooo SUASANA pertempuran di-pelataran disebelah kanan depan ruangan tengah masih berlangsungamat seru, Beng Kian hoo membetak berulang kali sambil melancarkan pukulan demi pukulan dengan kekuatan yang amat mengerikan.

Ting ci kang tak mau kalah, senjata pena emasnya juga diayunkan berulang kali menciptakan bertitik-titik bintang emas.

Dari mereka berdua, yang satu adalah jagoan yang sangat lihay dari Siau limpay, sedang yang lain adalah murid kesayangan dari pendiri perkumpulan Thi pit pang, Thi pit teng kan kun (pena baja penenang jagad).

Tapi dalam kenyataan, walaupun mereka berdua telah bekerja sama, jangankan melukai manusia berbaju putih itu, menjawil ujung bajunyapun tak dapat, masih untung saja mereka tak sampai menderita kekalahan secara tragis.

Berbeda dengan situasi pertarungan dipelataran sebelah kiri.

Si Naga tua berekor batok To Sam seng yang mesti bertarung melawan manusia berbaju hitam itu lambat laun makin terdesak dibawah angin, bahkan pada akhirnya ia terdesak sedemikian parahnya Sehingga praktis tidak memiliki kekuatan lagi untuk melancarkan serangan balasan-Dari sekian banyak jago yang hadir dalam ruangan saat itu nama nama besar Ma koan to jin, Thi Lo han Kwong beng hwesio dan si naga tua berekor botak To Sam leng boleh dibilang paling tenar, dan ilmu silat mereka juga yang paling tinggi.

Kini, Beng Kian ho dan Ting ci kang yang bersama-sama mengerubuti manusia berbaju hitam itu tidak berhasil meraih keuntungan apa-apa.

Para jago dari Butongpay juga telah menyelesaikan pertarungan meski nyaris pisau terbang itu berhasil dipatahkan.

Kang pak siang kiat, cuan im cun Li Goan tong dan Ko thian seng Lo Liang empat orang telah menjadi korban diujung pisau terbang lawan.

Bila sekarang si naga tua berekor botak To sam seng terluka pula diujung telapak tangan manusia berbaju hitam itu sudah dapat dipastikan kekuatan dari kawanan jago yang berada di ruangan itu akan semakin minim.

Thi Lo han Kwong beng hwesio memandang sekejap kearah Ma koan tojin, mendadak sambil bangkit berdiri ujarnya.

"Toheng, tampaknya Jika kita tak segera turun tangan sehingga Tolo sicu terluka ditangan lawan, kita akan kehilangan seorang pembantu yang tangguh didalam pertarungan untuk menghadapi Thian Sat nio nanti."

Agak berubah paras muka Ma koan Tojin yang kurus dan seram itu, pelan-pelan ia mengangguk.

"Ucapan taysu memang benar, kepandaian silat yang dimiliki manusia berbaju hitam itu sangat lihay sedang si To lojin sudah mulai panik, menurut pengamatan pinto, jangan-jangan sebelum Thian Sat nio menampakkan diri, kita sudah terjepit lebih dulu posisinya. Baik, mari kita kerja sama untuk melenyapkan orang terlebih dahulu . ."

"Persoalan tak dapat ditunda-tunda lagi, biar pinceng yang turun tangan membantunya lebih dulu "

Seru Thi Lo han kemudian.

Begitu selesai berkata tubuhnya yang gemuk segera melejit keudara dan menyambar kedepan dengan kecepatan tinggi, dalam waktu sekejap saja ia telah tiba dibelakang tubuh manusia berbaju hitam itu, serunya keras-keras.

"To lo sicu, jangan panik, pinceng akan membantu mu "

Sedahsyat hembusan angin puyuh, telapak tangannya diayunkan kedepan menghantam punggung manusia berbaju hitam tadi.

Tak usah membalikkan badanpun manusia berbaju hitam itu sudah tahu kalau orang yang melancarkan-serangan ialah Thi Lo han Kwong-beng hwesio, sambil mengejek sinis, sepasang kakinya menjejak tanah, kemudian dengan menghimpun tenaganya sebesar sembilan bagian, dia membalikkan badan sambil melepaskan pukulan.

Waktu itu, sebenarnya si Naga tua berekor botak To Sam seng sedang terdesak hebat, gerak geriknya hampir terbelenggu semua dan posisinya amat kritis.

Melihat Thi Lo han terjun ke arena untuk membantu pertarungan, semangatnya segera bangkit kembali, bentakan keras bergema berulang kali, permainan jurus serangannya segera berubah, diantara getaran telapak tangannya ia mulai melancarkan serangkaian serangan balaSan yang tak kalah dahSyatnya.

Manusia berbaju hitam itu tertawa keras, serunya.

"Sekalipun kalian bertambah dengan beberapa orang lainpun, aku Kan Liu cu tak akan memikirkannya didalam hati."

Ternyata dialah yang bernama Kan Liu cu dari perguruan Thian sat bun ..."

Ditengah bentakannya yang menggeledek.

benar juga , serangannya yang satu lebih dahyat dari serangan sebelumnya, semua serangan di sertai dengan kekuatan yang luar biasa, pertarungan adu kekerasan ini segera merubah situasi pertarungan makin lama semakin sengit.

Perlu diketahui Thi Lo han Kwong beng hwesio dan si naga tua berekor botak To Sam seng adalah jago2 kenamaan dalam dunia persilatan.

Sebaliknya Kan Liu cu tak lebih hanya seorang anggota dari perguruan Thian sat bun, dalam kenyataan meski harus satu melawan dua, ternyata dia masih tetap tangguh bagaikan banteng bahkan sama sekali tidak nampak akan menderita kalah, kenyataan ini kontan saja menggetarkan hati kawanan jago lainnya.

Ditengah pertarungan yangamat sengit itu mendadak Kan Liu cu mengayunkan tangannya melepaskan sebuah pukulan dahyat.

Berhubung tak mungkin dihindari lagi, si naga tua berekor botak To Sam Seng dipaksa untuk mengayunkan telapak tangannya dan menyambut serangan tersebut dengan kekerasan-"PIaaak .."

Akibat dari benturan sepasang telapak tangan itu, si naga tua berekor botak To Sam seng merasakan kuda2nya gempur sehingga mundur lima langkah dengan sempoyongan, darah panaS didalam dadanya bergolak keras, dan darah segar segera menyembur naik lewat tenggorokan.

Sebaliknya Kan Liu-cu juga turut mundur selangkah akibat dari bentrokan itu meski tenaga dalam yang dimilikinya cukup sempurna.

Belum sempat berdiri tegak.

bagaikan harimau kelaparan Thi Lohan Kwong beng hwesio telah menerjang tiba sambil melancarkan sebuah pukulan dahyat.

Kan Liu cu tertawa terbahak-bahak sambil menghimpun tenaga dalamnya sebesar delapan bagian, dia balikkan badannya sambil menyambut datangnya ancaman dari Thi Lohan itu.

"Blaaam ..."

Suatu benturan keras kembali berkumandang memecahkan keheningan, kuda-kuda mereka berdua sama-sama tergempur dan mundur selangkah, bekas telapak kaki yang dalam segera muncul diatas tanah.

Kan Liu cu mundur dua langkah lagi kebelakang, kemudian tubuhnya berputar secepat sambaran petir tiba2 ia menerjang lagi kearah si Naga tua berekor botak sambil membentak keras.

"Mundur kau kedalam ruangan "

Akibat dari bentrokan kekerasan tadi, siNaga tua berekor botak To Sam seng menderita luka dalam, waktu itu dia sedang mengatur pernapasannya dan berusaha untuk menyembuhkan luka yang dideritanya, melihat datangnya serangan tersebut, cepat cepat dia mundur beberapa langkah sambil mengegos ke samping.

Tentu saja Kan Liu cu tidak akan melepaskan musuhnya itu dengan begitu saja, sambil mengayunkan telapak tangannya ia mengejek sinis.

"Enggan mundur ? Kalau begitu berbaring saja."

Baru selesai dia berkata, mendadak terasa olehnya ada seseorang mendekati tubuhnya dari belakang.

Dengan sigap dia membalikkan badan sambil bersiap sedia, ternyata orang itu adalah Ma Koan tojin.

Tampak tosu bengis itu memperlihatkan wajah menyeringai mengerikan, lalu dengan suara menyeramkan katanya.

"Sobat, agaknya kau sedikit tekebur "

"Haaahhh --haaabhh -..haaahh ... sama sekali tidak tekebur, apakah kaupun ingin mencoba ?"

Seru Kan Liu cu sambil tertawa terbahak-bahak.

Dengan jurus Huang hong sau yap (angin puyuh menyapu daun), telapak tangannya yang besar secepat kilat menghantam kearah Ma koan tojin dengan disertai tenaga dalam.

Ma koan tojin segera tertawa seram.

"Heeeh ...heeeh ...heeeh ... sampai dimana sih kemampuan silat yang kau miliki sehingga berani tekebur didepan pinto ... ?"

Ejeknya.

Ujung bajunya segera dikebaskan kedepan untuk mengunci datangnya ancaman tersebut.

Pada waktu itu, kemarahan dari si Naga tua berekor botak To Sam seng sedang mencapai pada puncaknya, melihat Ma koan tojin turut serta didalam serangan tersebut, dia segera tahu kalau kasempatan baik tak boleh disia-siakan, dalam keadaan demikian ia tak ambil perduli lagi apakah isi perutnya sedang terluka atau tidak?"

Ditengah bentakan nyaring, telapak tangannya segera diayunkan kedepan menyergap tubuh Kan Liu cu.

Thi Lohan Kwong beng hwesio tidak diam belaka, diapun turut menerjang kedepan dan melancarkan serangan dahysat.

Kan Liu cu tertawa seram, ejeknya.

"Mau main kerubutan, Silahkan IHmmm, kalau tidak kusuruh kalian saksikan kelihayan dari ilmu silat aliran Thian sat bun, kalian pasti tak akan mati dengan mata meram"

Belum habis ucapannya diutarakan tiga gulung angin pukulan yang maha dahsyat telah menyerang tiba.

Kan Liu cu tertawa seram, telapak tangan kirinya segera diayunkan kedepan untuk memunahkan kebasan ujung bajudari Ma koan tojin, sementara tangan kanannya dengan jurus cun lui keng o ci (guntur disiang hari mengejutkan ular) menyerang Thi Lohan dan sebuah tendangan menyepak tubuh si naga tua berekor botak.

Dalam satu jurus serangan dengan tiga gerakan dahsyat, hanya didalam sekali perputaran badan diposisi semula ia telah berhasil mendesak mundur Ma-koan tojin, Thi Lo han Kwong beng hwesio serta si naga tua berekor botak To Sam seng sejauh satu langkah.

Ma koan tojin mendengus dingin menyusul tubuhnya mundur ke belakang mendadak tangan kirinya membentuk gerakan aneh sementara tangan kanannya diayunkan kemuka melepaskan sebuah bacokan.

Tubuhnya tetap kaku tak berkutik.

tapi diantara pergelangan tangannya, muncul ah telapak tangannya yang kurus kering dari balik ujung bajunya, selapis cahaya putih keabu-abuan menyelimuti telapak tangannya itu.

Begitu serangan dilontarkan ternyata sedikitpun tidak membawa suara angin yang menderu, keadaan tetap tenang seolah-olah tak pernah terjadi suatu apapun.

Thi Lo han Kwong beng hwesio yang menyaksikan kejadian tersebut segera menghentikan pula tubuhnya tidak menyerang, pelan-pelan telapak tangan kirinya diangkat keatas.

Dalam waktu singkat tangan kirinya yang gemuk putih itu telah membengkak besar dan berubah menjadi hitam pekat, keadaan tersebut merupakan perbedaan yang amat kontras dengan telapak tangan Ma koan tojin yang kurus kering itu.

Si Naga tua berekor botak To Sim seng menyilangkan sepasang cakarnya didepan dada dengan mengawasi Kan Liu-cu tanpa berkedip.

ia tiada hentinya menarik napas panjang, sinar matanya tajam menggidikkan hati, seakan-akan ia berniat untuk melancarkan suatu sergapan dan kalau bisa membunuh Kan Liu-cu dalam satu pukulan-Menghadapi kepungan dari ketiga orang jago tersebut, Kan Liu-cu tetap berdiri tenang, ujarnya dingin.

"Tosu tua, ilmu Pek kut clang (pukulan tulang putih) yang kau yakini paling banter baru mencapai lima bagian kesempurnaan. sedang Het satjiu (pukulan malaikat hitam) dari si-hwesio lebih cetek lagi, paling banter baru mencapai tiga bagian, sekalipun digabungkan dengan tok liong jin (cakar naga beracun) dari si Naga tua berekor botak juga takkan mampu berbUat apa apa terhadap diriku"

"Sebatulnya pinto tidak ada nlat untuk membunuh eng kau, tetapi sayang ucapanmu kelewat menyakitkan hati orang, mau tak mau terpaksa pinto harus .."

La tidak menyelesaikan ucapan tersebut, sambil membentak keras bayangan mautnya berkelebat lewat, empat sosok bayangan manusia mendadak tergabung menjadi satu dan bertarung dengan serunya.

Dalam waktu sing kat masing-masing pihak berusaha keras untuk saling merebut posisi yang menguntungkan, perubahan demi perubahan jurus serangan yang bertubi-tubi menciptakan pertarungan tersebut sebagai suatu pertarungan antara mati hidup yang mengerikan-Tampaklah empat sosok bayangan manusia saling menyambar bayangan hitam menyilaukan mata.

Semua ancaman tersebut dilepaskan dengan kecepatan tinggi, angin pukulan yang menderu menyapu seluruh jagat dan menerbangkan pasir dan debu, keadaan yang berlangsung diarena ketika itu cukup membetot sukma siapapun yang melihatnya.

Sungguh hebat dan seng it sekali pertarungan yang berkobar antara keempat orang itu, jurus-jurus serangan yang tangguh dan sakti dipergunakan semua untuk saling merobohkan, barang siapa kurang gesit atau terlalu lamban dalam bergerak.

niscaya akan tewas tergelepar diatas tanah.

Kecuali mereka berempat menghentikan pertarungan itu bersama-sama, kalau tidak sulit rasanya untuk meng hentikan pertarungan itu ditengah jalan ...

Padahal tiga orang diantara mereka adalah jago kelas satu dari kalangan hitam dalam dunia persilatan sedang yang dikerubuti tak lebih cuma seorang anggota perguruan Thian Sat bun belaka.

Waktu itu, Wi tiong-hong berdiri disamping Ko thian seng Lo i ang, dengan amat jelas ia menyaksikan pisau terbang berayun datang, belum sempat pedang diloloskan, badannya sudah kecipratan darah rekannya, hal ini membuat kemarahannya ssgera berkobar.

"cri ng -."

Dia segera meloloskan pedang karat yang sama sekali tiada pancaran sinarnya itu.

cahaya perak masih berkelebat lewat di depan mata dengan membawa suara desingan yang memekikkan telinga.

Pisau terbang yaog kena dipukul balik oleh orang2 Butong pay tadi, kini kembali meluncur tiba dengan keCepatan tinggi.

Lima buah pisau berwarna perak.

secepat sambaran kilat meluncur datang ...

Dalam keadaan seperti ini, Keng hian tojin sama sekali tak sempat untuk mengurusi suara jerit kesakitan yang berkumandang datang dari belakang tubuh nya, dia terpaksa harus pusatkan segenap perhatiannya untuk mengawasi pisau terbang yang telah tertangkis tapi kembali meluncur datang itu ...

Dalam perasaannya serangan pisau terbang itusemakin berat, makin lama semakin cepat, berapa besar tenaga tangkisan yang digunakan untuk memukul balik pisau tadi, mata sewaktu meluncur balik kembali, tenaga maupun kecepatannya juga turut berlipat ganda.

Sekarang, pisau terbang itu datang menyergap untuk ketiga kalinya, buru-buru dia menghimpun segenap hawa murni yang dimilikinya dan mengayunkan pedangnya membabat pisau terbang tersebut.

Keng jin tojin beserta IHwe hoa kiamThio-Kun kaisama-sama menganyunkan pedang masing-masing untuk melancarkan bacokkan, hanya Lakjiu im leng Thio man yang terpeleset kakinya sehingga terjatuh keatas undak-undakan batu belum sempat bang kit berdiri, cahaya pelangi yang menyinari mata langsung menyambar kedepan dadanya.

Melihat sambaran cahaya perak itu, tampaknya pisau terbang itu segera akan menembusi dadanya.

Nona Thio yang dihari hari biasanya selalu berhati kejam dan buas, kini sudah merasakan pergelangan tangannya kaku dan kesemutan, mana mungkin ia masih bertenaga untuk mengangkat pedangnya lagi?

Jangankan pertolongan orang lain, sekalipun ketiga orang suhengnya yang berada didepan matapun tak sempat menggubris dirinya waktu itu apa lagi bantuan dari orang lain?

Lakjiu im eng memang cukup keji, mendadak ia menggertak giginya dan memejamkan mata untuk menerima kematian.

Perduli amat apa yang bakal terjadi, ia sudah pasrahkan dadanya untuk ditembusi oleh pisau terbang tersebut.

"Trang..."

Tiba-tiba berkumandang suara benturan keras yang memekikkan telinga.

Kemudian terdengar ada orang menjerit kaget, ada pula yang membentak keras.

Hancuran pedang bagaikan air hujan berhamburan ketanah, pisau terbang yang sedang mengganas pun turut rontok ketanah.

Seluruh wajah Keng hian tojin basah oleh keringat, secara beruntun ia mundur sejauh tiga langkah, pedang dalam genggamannya tahu-tahu tinggal separoh bagian.

Paras muka Keng hian tojin berubah menjadi pucat pasi seperti mayat napasnya tersengkal-sengkal seperti kerbau, dia sudah jatuh terduduk diatas undak-undakan batu, sedang kutungan pedangnya sudah mencelat terlepas diri genggamannya ..Keadaan Bwee Hoa kiam Thio Kun kai paling mengenaskan, dengan sempoyangan ia mundur tujuh delapan langkah dari tempat berdirinya, pedangnya sudah terlepas dari genggaman, tangannya pecah dan bercucuran darah, seluruh lengan kanannya sudah tak mampu diangkat lagi saking kaku dan sakitnya.

Bagaimana dengan Lak jiu Im eng nona Thio Man?

Apakah dadanya sudah ditembusi pisau terbang ?

Ataukah sudah terkapar ditanah dengan beriumur darah segar ?

Ternyata tidak.

sejak dia terpeleset dan jatuh terduduk diatas undak2kan batu, tubuhnya tak bergeser lagi, sampai sekarang pun ia masih duduk disana dengan keadaan segar bugar.

cuma saja, paras mukanya telah berubah menjadi kuning kepucat-pucatan karena ketakutan, sepasang matanya yang sebenarnya sudah terpejam rapat2 kini telah membuka kembali bahkan terpentang lebar-lebar serta memancar kaget bercampur keheranan.

Suara desingan yang amat tajam memekikkan telinga itu mendadak lenyap.

cahaya tajam yang menyilaukan mata pun lenyap tak berbekas.

Tahu-tahu diatas permukaan lantai didepan undak-undakan batu telah tergeletak empat bilah pisau terbang yang sudah kutung menjadi beberapa bagian-Didepan undak-undakan, kini bertambah pula dengan seorang pemuda berbaju hijau yang menyilangkan pedangnya didepan dada.

Dia, pah lawan yang telah menyelamatkan empat lembar nyawa dari Bu tong pay serta sekaligus merontokkan serangan dari ke empat bilah pisau terbang itu, tidak lain adalah Wi-tiong hong.

Ia turun tangan secara tiba tiba hanya dikarenakan rasa gusar dan mendongkol yang membara didalam dadanya, bahkan dia sendiripun sama sekali tak menyangka kalau empat bilah pisau terbang yang bisa bergerak melebihi naga sakti itu dapat dirontokkan hanya dalam sekali serangan saja.

Didalam ruangan gedung kini tak ada orangnya lagi, termasuk pula sastrawan berbaju hijau yang selama ini tak pernah berbicara, entah sejak kapan telah ikut keluar pula, sekarang dia sedang menggendong tangan sambil berdiri dibelakang Wi Tiong hong, sikapnya begitu santai seakan-akan sedang menonton keramaian saja.

Sementara itu, Lakjiu imseng Thio Man telah memungut kembali pedangnya dan pelan-pelan bangkit berdiri.

Dia adalah seorang gadis yang berhati keras, tadi dia masih sempat bertarung melawan orang itu dan kini selembar jiwanya telah ditolong olehnya, kenyataan ini membuat wajahnya menjadi merah padam.

Dia hanya melirik kearah Wi tiong hong, kendatipun dihati dia pingin mengucapkan beberapa patah kata terima kasih, namun bibirnya merasa rikuh untuk mengatakannya keluar, terpaksa dia hanya mengangkat tangannya untuk membereskan rambutnya yang kusut.

Keng hian lojinpun merasa terkejut dan keheranan setelah menyaksikan kejadian itu, dengan kekuatan sendiri yang begitu besarpun ia gagal untuk membendung serangan pisau terbang tersebut, dia tidak menyangka Wi Tiong hong secara mudah dapat mematahkan serangan dari keempat bilah pisau terbang itU sekaligus Dari sini bisa dinilai kalau kepandaian silat dari Toa supeknya betul-betul sudah mencapai tingkatan yang luar biasa, buktinya pemUda itu belum sempat melangkahkan kakinya kedalam pintu gerbang Bu tong pay, tapi kepandaian silat yang dimilikinya telah berhasil mencapai ke taraf yang begini hebat.

Tapi entah bagaimanapun juga , dia toh anggota perguruan Bu tong pay juga, sedikit banyak dengan perbuatannya itu berarti dia telah mengangkat derajat serta nama baik dari Bu tong pay.

Setelah mengatur napas dan memulihkan kembali tenaga dalamnya, ia segera maju ke depan menghampiri Wi Tiong hong, sambil tertawa dan menjura sapanya.

"Wi siau sute..."

Ternyata dia telah berganti sebutan dengan memanggilnya sebagai "Siau sute."

Perguruan Bu tong pay sudah mempunyai sejarah selama beratus-ratus tahun lamanya , orang persilatan yang pandai mempergunakan ilmu silat Bu tong pay juga amat banyak.

tapi kalau bukan anggota perguruan Bu-tong pay, biasanya pihak Bu tong pay tak mengakuinya.

Maka panggilan "Siau sute"

Dari Keng hian tojin ini boleh dibilang luar biasa sekali.

Tapi, belum selesai dia berkata, mendadak dari tengah udara diluar gedung telah berkumandang suara tertawa aneh yang menggidikkan hati.

Suara tertawa aneh itu amat menusuk pendengaran dan tak sedap didengar siapa saja dapat mengenali kalau suara itu adalah suara dari Thian Sat-nio.

Begitu suara tertawa itu berhenti, terdengarlah seseorang membentak dengan suara yang parau bagaikan bambu retak.

"Semuanya berhenti "

Bentakan tersebut diutarakan dengan nada penuh kemarahan, membuat semua orang merasakan hatinya bergetar keras dan tanpa sadar, mereka yang sedang bertarung pun serentak menghentikan serangannya.

Beng Kian hoo dan Ting ci kang berdua masih tetap berdiri saling berhadapan dengan orang berbaju putih itu, mereka tetap bersiap sedia penuh untuk menghadapi segala kemungkinan yang tak di nginkan.

Paras muka Mi koan tojio tampak suram, bersama Thi Lo han Kwong Beng dan Naga tua berekor botak To Sam seng mereka bertiga segera mengundurkan diri pula kesamping.

Keng jin tojin, Bwe hoa kiam Thio kun kai, Lakjiu im eng Thio Man pelan2 menggeserkan pula badan mereka bergabung dengan toa suhengnya Keng hian tojin.

Dalam waktu singkat, suasana didepan ruang gedung itu menjadi amat hening sehingga hampir boleh dibilang tak kedengaran sedikit suara pun.

Sikap yang tegang dan penuh waspada seakan-akan sedang menantikan tibanya bencana besar saja.

Terdengar suara parau dari Thian Sat nio, kembali membentak keras.

"Bocah muda she Wi, karena kau tak tersangkut dalam suatu peristiwa ini, lo nio baik-baik memberi jalan kehidupan kepadamu dan suruh kau meninggalkan tempat ini siapa tahu kau begitu berani menentang aku, bahkan mematahkan pula pisau terbang milik lo nio "

Wi Tiong hong menyarungkan kembali pedangnya ke dalam sarung, kemudian sambil mendongakkan kepalanya dia menjawab.

"Thian Sat nio, dengan mengandaikan beberapa bilah pisau terbang, kau telah melakukan pembunuhan seCara brutal, itulah sebabnya kupatahkan keganasan pisau terbangmu itu, meski hal ini kulakukan tanpa maksud apa apa tapi setelah kupatahkan sekarang, mau apa kau?"

Bagaimanapun juga dia belum pengalaman di dalam dunia persilatan, meski ucapannya ketus, namun nada suaranya justru amat lembut. Thian Sat nio segera tertawa terkekeh-kekeh dengan seramnya.

"Bocah keparat, kau berani mencari gara gara dengan lo nio ?"

Teriaknya keras-keras.

"Mengapa tidak?"

Thiao Sat nio mendengus dingin.

"Hmm, tampaknya kau tidak takut mati?"

"Kalau tidak takut mati lantas kenapa ?"

"Bagus sekali, kau memang tidak takut mati, keluarlah dari situ dan jumpai aku diluar pintu rumah."

"Keluar yaa keluar, memangnya aku takut kepadamu?"

Selesai berkata, dia benar-benar melangkah keluar dengan langkah lebar. Ting ci kang segera meloloskan pena emasnya dan menyongsong kepergian Wi Tiong hong.

"Siau heng akan pergi bersamamu "

Dengan Cepat Keng hian tojin merampas pedang ditangan Lakjiu im-eng dan berseru pula sambil tertawa nyaring.

"Wi Siau sute, tunggu sebentar, pinto akan mengikuti dirimu pula"

Begitu dia melangkah pergi, Keng jin tojin dan Bwe hoa kiam bersaudara ikut beranjak pula. suara dingin dari Thian Sat-nio kembali berkumandang.

"Hmm, kalian anggap kamu semua juga pantas untuk bertemu dengan aku ? Hei bocah muda aneh Wi, jika kau tidak takut mati, keluarlah seorang diri."

Oo0O0ooo Bab-11 Wi Tiong Hong segera merasakan munculnya suatu semangat keberanian dari dasar hatinya dan langsung menerjang keatas sambil membusungkan dada ia segera berteriak keras.

"Seorang diri ya seorang diri, memangnya aku takut ?"

Dengan cepat dia membalikkan badannya dan menjura kepada Keng hian tojin serta Ting ci kang, kemudian katanya.

"Totiang, Ting toako, harap berhenti sampai disini saja, kalau toh Thian Sat nio minta keluar seorang diri, biarlah keluar seorang diri untuk menjumpainya."

Ting ci kang memperhatikan wajah Wi Tiong hong dengan termangu, untuk sesaat dia merasa bahwa saudara yang baru dikenalnya ini benar-benar memancarkan suatu kemisteriusan yang sukar diduga dengan akal sehat.

Dia mengakui dirinya sebagai ahli waris Thian-Goan Cu dari Bu tong pay, apalagi baru terjun ke dalam dunia persilatan sudah barang tentu pemuda itu tak mungkin mempunyai hubungan dengan Thian Sat nio, tapi apa sebabnya Thian Sat niojustru meminta kepadanya untuk meninggalkan tempat itu sebelum pembantaian dilakukan ?"

Kali ini dia telah mematahkan serangan pisau terbang dari Thian Sat nio, akan tetapi Thian Sat nio masih meminta kepadanya untuk keluar seorang diri entah hal ini dikarenakan ada maksud jahat ataukah karena tujuan lain?"

Dengan cepat dia teringat dengan kepandaian silat yang dimiliki mereka semua, Sekalipun mereka menemani Wi Tiong Liong keluar dari gedung ini, tapi dengan kepandaian mereka yang jauh dibawah kemampuan Thian Sat nio pergi atau tidak sesungguhnya sama saja.

Berpikir sampai disitu, tanpa terasa dia lantas menghentikan langkah kakinya, setelah ragu sejenak.

dia pun mengangguk.

"Kalau memang saudara Wi hendak keluar seorang diri, silahkan, tapi kau mesti berhati-hati,"

Katanya kemudian. Lakjiu im eng Thio Man menjadi amat cemas mendengar ucapan itu, dia melirik sekejap kearah Wi Tiong hong kemudian tak tahan serunya.

"Masa kita akan biarkan dia menyerempet bahaya seorang diri ?" -ooo00ooo-Begitu ucapan tersebut diutarakan keluar, dia jadi malu sendiri, mengapa secara tiba2 ia menjadi menaruh perhatian atas keselamatan jiwanya? Tanpa terasa pipinya menjadi merah paam. Agaknya Keng-hian Tojin mempunyai pendapat yang sama seperti Ting Ci-kang, setelah termenung sebentar katanya.

"Apa yang diucapkan Ting-tayhiap memang benar, Wi-siau sute tak boleh terlalu mengu,bar napsu, segala sesuatunya harus dihadapi dengan ber-hati2, kami akan menunggumu disini."

Sekali lagi Lak-jiu Im-eng membelalakkan sepasang matanya sambil berseru dengan gelisah.

"Hal ini mana boleh jadi, bila dia..."

Belum habis dia berkata, suara dari Thian Sat-nio kembali sudah berkumandang datang.

"Sudah selesai belum perundingan kalian?"

Wi Tiong-hong tidak bicara lagi, dia segera membalikkan badannya dan berjalan menuju kepintu keluar.

Ketika itu, mendadak dari sisi telinganya berkumandang suara bisikkan seseorang dengan suara yang amat lembut.

"Bukankah dalam sakumu terdapat sebuah lencana besi? cepat keluarkan Sebelum mencapai pintu gerbang nanti, letakkan diatas tangan sebelah kiri, jangan buka suara atau mengucapkan sepatah katapun"

Suara bisikkan itu sangat lembut sekali dan halus melayang masuk kedalam telinganya bagaikan bisikan, Wi Tiong hong tak dapat mengenali suara siapakah itu, sehingga tanpa terasa dia menjadi tertegun-"Lencana besi?"

Yang dimaksudkan orang itu sudah pasti lencana besi milik paman yang tak di ketahui namanya dan memerintahkan padanya untuk "menyimpan jangan sampai hilang"

Itu.

Dia masih ingat, kecuali pada permukaan sebelah depannya berukiran sebuah wajah setan yang serang menyeringai seram.

diatas lencana besi tersebut tidak ditemukan sebuah tuIisanpun.

dia sendiri tidak jelas apa kegunaan dari lencana tersebut, tapi berhubung paman tak diketahui namanya telah berpesan agar "penyimpanan baik-baik jangan sampai hilang", maka selama ini benda tersebut disimpannya dalam saku.

Entah siapa pula orang yang membisikan pesan tersebut tadi?

Dari mana dia bisa tahu kalau dalam sakunya terdapat lencana besi?

Tapi kalau dilihat caranya berbicara amat serius, sudah paSti besar Sekali kegunaannya.

Sementara ia berpikir sampai kesitu, tubuhnya sudah berada didepan pintu gerbang dengan cepat dia merogoh kedalam sakunya dan mengeluarkan lencana besi itu, kemudian diletakkan pada lengan kirinya.

"Diatas lencana besi itu, hanya pada permukaan depan yang berukiran muka setan, itu berarti lukisan muka setan lah yang meletakkan didepan"

Demikian ia berpikir.

Dengan jari tangannya dia lantas meraba permukaan lencana yang berukir muka setan tadi kemudian menghadapkannya kedepan, setelah itu sambil mengepalkan tinjunya, berbusung dada dia keluar dari pintu.

Ketika sorot matanya diangkat kedepan, tampak diluar pintu suasana amat hening, sesosok bayangan manusia pun nampak.

apalagi Thian-Sat nio?

Wi Thio-hong mengingat terus pesan dari orang yang tak dikenalnya itu, dia tahu meski dirinya tidak melihat Thian Sat nio, kemungkinan besar Thian Sat nio bersembunyi disekitar tempat itu tentu saja dia dapat menjumpai kehadirannya.

Maka dia pun berhenti dan berdiri serius, sementara tangan kirinya yang di genggam tadi, dibuka kembali.

Ternyata tindakannya itu benar benar mendatangkan hasil yang diluar dugaan-Terdengar Thian Sat nio tertawa ringan kemudian serunya.

"Bocah muda, kau memang hebat, cepat simpan kembali, sekarang kau sudah boleh kembali kedalam."

Suara tersebut berkumandang dari hadapan matanya, namun Wi Tiong hong tidak berhasil menemukan tempat persembunyian Thian Sat nio.

Wi Tiong hong betul2 merasa tercengang dan tidak habis mengerti menyaksikan semuanya itu.

Tanpa terasa dia kembali berpikir.

"Sebenarnya apa yang telah terjadi? Apakah dia menyuruhku keluar hanya bermaksud untuk menyaksikan lencana besi ini?"

Dia ingat terus dengan pesan orang yang tak dikenalnya itu agar jangan bersuara, maka dia tak berani banyak bertanya meski pelbagai kecurigaan berkecamuk didalam benaknya.

Thian Sat nio menyuruhnya menyimpan kembali, tentu saja yang dimaksudkan adalah lencana besi itu, maka dia menyimpan kembali lencana tersebut, kemudian tanpa mengucapkan sepatah katapun dia membalikkan badan dan masuk kembali kedalam gedung.

sementara dia membalikkan badannya itulah, terdengar suara Thian Sat nio yang parau macam bambu pecah itu berseru kembali di ringi suara tertawa ringan.

"Memandang diatas wajah bocah she Wi itu, kita lepaskan mereka pada hari ini, anak-anak mari kita pergi"

"Sreeet, sreeet sreeet..."

Begitu mendengar perintah dari Thian Sat nio ketiga orang anak buah Thian Sat nio, didepan pelataran itu segera menggerakkan tubuh masing-masing, bagaikan tiga gulung asap mereka melejit ketengah udara dan melenyap dibalik dinding pekarangan sana.

Menyaksikan gerakan tubuh mereka itu, diam-diam Wi Tiong hong memuji tiada hentinya.

"cepat nian gerakkan tubuh mereka bertiga."

Semua peristiwa berlangsung cepat dan didalam waktu singkat, semua orang yang berada didalam gedung masih belum tahu apa yang telah terjadi ketika mereka saksikan Wi Tiong-hong berjalan keluar dari pintu gerbang hati semua orang lantas berdebar keras menguatirkan keselamatannya.

Kemudian secara tiba-tiba Thian Sat nio memerintahkan anak buahnya untuk mundur, kejadian ini makin diluar dugaan semua orang, siapapun tidak habis mengerti apa gerangan yang sebenarnya telah terjadi?

Pada saat inilah, sastrawan berbaju hijau yang selama ini hanya berdiri diatas undak undakan batu sambil bergendong tangan itu melayang keluar dari pintu gerbang.

Tapi berhubung perhatian semua orang sedang ditujukan pada Wi Tiong hong seorang, maka tak seorang pun yang memperhatikan gerak-gerik orang tersebut.

Selesai itu, Ting ci kang, Beng Kian ho, Keng hian, Kengjin tootiang-serta Bwe hoa kiam bersaudara juga sedang maju ke depan menyongsong kedatangan Wi Tiong hong.

Dengan demikian, Wi Tiong bong berjalan dari muka masuk ke dalan, sedang sastrawan berbaju hijau itu berjalan dari dalam menuju keluar, kedua orang itu segera berpapasan muka.

Tapi pada saat itulah, disisi telinga Wi Tiong hong kembali terdengar suara bisikan lirih.

"Nak. selama melakukan perjalanan dalam dunia persilatan, janganlah mendekat bila bertemu dengan orang selat Tok sah sia"

Begitu mendengar perkataan itu, Wi Tionghong segera merasakan hatinya bergetar keras, dengan cepat dia membalikkan badannya sambil berteriak keras.

"Paman ... paman-.."

Sambil berteriak. tubuhnya laksana sambaran petir segera menerjang keluar dari balik pintu.

"Paman, harap kau orang tua menghentikan langkahmu ..."

Teriaknya lagi.

Tapi setibanya didepan pintu, tak terlihat lagi ke mana perginya sastrawan berbaju hijau itu.

Wi Tiong-hong segera berdiri kaku didepan pintu itu, sepasang matanya berkaca-kaca, tak tertahan lagi titik air mata jatuh berlinang membasahi pipinya, dia bergumam.

"ooh paman, mengapa kau orang tua tak bersedia untuk bertemu muka dengan Hong-ji ? Mengapa kau orang tua pergi dengan begitu cepat ?"

Ia tak salah mendengar.

Suara terakhir sewaktu mengucapkan kata2 tersebut kedengaran begitu mesra, begitu hangat dan begitu dikenal Itulah suara dari paman yang tak diketahui namanya selama lima belas tahun selalu menganggapnya sebagai anak sendiri, ternyata dia adalah sastrawan yang berbaju hijau itu.

oleh teriakan serta isak tangis dari Wi Tiong hong yang bergema secara tiba-tiba itu, semua orang sama-sama dibuat tertegun.

Dengan cepat Ting ci-kang memburu ke depan dan dia mendekati Wi Tiong-hong kemudian tegurnya lirih.

"Saudara Wi, siapakah pamanmu?"

"Pamanku adalah sastrawan berbaju hijau tadi."

Kata Wi Tiong hong sambil menyeka matanya.

"siaute dididik dan dipeliharanya hingga dewasa, sungguh tak kusangka dia orang tua..."

Sementara pembicaraan itu berlangsung, Beng Kian hoo, Keng hian toojin dan sekalian jago lainnya telah memburu pula keluar, maka Wi-Tiong-hong segera menutup mulut rapat-rapat.

Ting ci-kang adalah seorang jago kawakan yang sudah lama melakukan perjalanan dalam dunia persilatan, dalam hati keCilnya dia telah menduga kalau Wi Tiong hong mempunyai kesulitan yang tak dapat diutarakan maka buru2 ujarnya untuk melamurkan keadaan tersebut.

"Walaupun saudara datang karena mencari pamanmu, kini pamanmu telah pergi jauh, aku rasa saudara Wi juga tak perlu memburu napsu, lebih baik masuk dulu kedalam, setelah beristirahat sejenak. persoalan baru dibicarakan kembali."

"Benar"

Sambung Beng Kian ho cepat.

"silahkan saudara cilik masuk kedalam untuk minum teh lebih dulu"

Didengar dari na da pembicaraan Thian Sat-nio menjelang kepergiannya tadi, ia dapat menarik kesimpulan bila kesudahan dari pertarungan hari ini tak lain karena memandang diatas wajah Wi Tiong hong, tahu kalau pemuda itu adalah tuan penolongnya, sudah barang tentu kakek itu tak memperkenankannya pergi dengan begitu saja.

Keng hian lojin menjura kepada Beng Kian hoo, kemudian ujarnya.

"Bu liang siu hud, gara gara urusan sute ku, hampir saja mendatangkan bencana besar untuk perusahaan anda, terutama sekali atas kematian dari Li Hu congpiautau serta Lo tayhiap sekalian, kesemuanya ini membuat pinto merasa tak tenang, sekarang Thian Sat nio telah pergi jauh, pinto juga mesti buru buru pulang ke gunung untuk memberi laporan, sebab itu pinto sekalian ingin mohon diri lebih dulu kepada congpiautau"

Beng Kian hoo masih ingin menahannya, tapi dia pun tahu akan gawatnya situasi, terutama atas kemunculan dari Thian-Sat nio dalam dunia persilatan Keng hian tojin memang perlu untuk melaporkan hal ini kepadanya.

-ooo0O0ooo-Maka dia pun segera menjura seraya berkata.

"Totiang terlalu merendah,justru dalam peristiwa hari ini, aku orang She Beng sebagai tuan rumah merasa malu dan menyesal sekali, kau memang Totiang masih ada urusan, siautepun takkan menahan lebih jauh, bila pelayananku sebagai tuan rumah kurang memadahi, kuharap saudara sekalian suka memaafkannya."

"Tidak berani. ."

Buru-buru Keng hian lojin menyahut. Dia lantas berpiling kearah Wi Tiong hong dan berkata lebih jauh.

"Wi siaute berasal dari murid toa supek. betul belum pernah menjadi anggota Bu tongpay secara resmi, toh hubungannya dengan Butong pay tetap ada, sebab itu dalam perjalanan siau-sute didunia persilatan mendatang, bila berkesempatan berkunjunglah keatas bukit Bu tong san"

"Terima kasih banyak atas undangan tootiang"

Buru buru Wi Tiong hong membalas hormat.

"asal ada kesempatan aku tentu akan berkunjung keatas bukit Butong."

Kengjin lojin dan Bwe hoa kiamThio Kun kay segera berpamitan pula kepada semua orang.

Hanya Lakjiu im eng Thio Man tetap menundukkan kepalanya rendah-rendah, sementara sepasang matanya yang jeli selalu melirik secara diam2 kearah Wi Tiong hong.

Kalau sewaktu datang tadi, ia selalu memakinya sebagai "bajingan Cilik,"

Tapi entah mengapa, sewaktu mau pulang halnya malah terasa berat untuk berpisah.

Tentu saja Bwe hoa kiam Thio Kun kai dapat menyaksikan tingkah laku dari adiknya ini.

Wi Thiong hong selain ganteng dan gagah diapun ahli waris dari Toa supeknya, coba kalau saat ini tiada permainan pedangnya yang cepat, mungkin dua lembar nyawa mereka sudah lenyap diujung pisau terbang Thian Sat nio Ia cukup tahu, dihari-hari biasa adiknya ini mempunyai pandangan yang kelewat tinggi, terhadap siapapun sikapnya selalu dingin dan sinis, baru kali ini dia saksikan adik perempuannya itu menunjukkan sikap maupun pandangan mata yang lemah lembut penuh rasa cinta.

Satu ingatan segera melintas dalam benaknya sambil menjura dan tertawa katanya kemudian.

"Rumah kami berada di kota ciu bong tin dibawah bukit Butong san, bila Wi sute ada kesempatan silahkan mampir dirumah kami, dengan senang hati kami dua bersaudara akan menyambut kedatanganmu."

"Bila sempat, aku pasti akan berkunjung kesana "

Setelah berpamitan dengan semua orang, Keng hian tojin dengan mengajak Keng jin tojin serta bwee hoa kiam bersaudara segera berlalu dari tempat itu.

Sebelum pergi meninggalkan tempat itu, Lakji im eng sempat berpaling dan ujarnya kepada Wi Tiong hong.

"Kalau kau sudah berjanji, jangan di ngkari lagi ..."

Setelah keempat orang jago dari Bu tong pay berlalu, Ma koan tojin, Thi Lo han Kwong-Beng, si naga tua berekor botak To sam seng sekalian juga mohon diri dari Beng Kian hoo.

Sambil tertawa seram, Ma koan tojin berpaling kearah Wi Tiong hong sambil ujarnya.

"Dalam peristiwa hari ini, semuanya menjadi selamat berkat muka emas dari siau sicu, untuk itu pinto merasa banyak terima kasih sekali."

"Omitohud"

Kata Thi Lo han Kwong Beng pula sambil menjura.

"terimalah salam hormat pinceng sebagai rasa terima kasih kami"

Sedangkan si naga tua berekor botak To Sam seng segera menepuk-nepuk bahu Wi Tiong-hong sambil tertawa terbahak-bahak.

"Haaahhh .... haaahhh ... saudara cilik sampai jumpa lagi dilain kesempatan."

Selesai berkata mereka segera berlalu meninggalkan tempat itu. Mendadak paras muka Ting Ci kang berubah hebat, buru-buru bisiknya dengan suara lirih.

"Saudara Wi, cepat kerahkan tenaga dalammu untuk mencoba, coba diperiksa apakah ada sesuatu bagian didalam tubuhmu yang terasa tidak beres ...?"

Wi Tiong hong menurut dan segera mengerahkan tenaga dalamnya untuk mencoba, ternyata dia tidak berhasil menemukan sesuatu gejala yang kurang beres, maka dengan keheranan segera tanyanya.

"Aku tidak merasakan sesuatu yang beres, Ting toako, apakah kau telah menyaksikan sesuatu yang tidak beres?"

Mendengar jawaban tersebut, Ting ci kang baru menghembuskan napas lega.

"DimaSa lalu, si naga tua berekor botak adalah seorang jagoan dari perkumpulan Pay-kau yang sangat lihay dalam permaian ilmu "Ian-jiu"

Atau pukulan hawa dingin, biasanya dia dapat melukai orang tanpa berwujud, karena kudengar ucapannya bernada kurang baik, maka kusangka seCara diam-diam dia telah melepaskan serangan untuk mencelakai dirimu"

Dengan wajah balik tertegun Wi Tiong hong segera berkata.

"Antara siaute dengan dirinya sama sekali tidak terikat dendam sakit hati apapun, mengapa tanpa sebab dia hendak melancarkan serangan untuk melukai siaute?"

"Hati dan jalan pikiran seorang jago silat sukar diduga, kau anggap apa yang diucapkan ketiga orang itu sebelum pergi tadi, benar-benar adalah ucapan untuk menyampaikan rasa terima kasihnya kepadamu"

"Apakah mereka mengandung maksud jahat?"

Ting ci-kang menghela napas panjang.

"Apa yang diucapkan saudara Wi memang benar, ketiga orang gembong iblis ini telah mencatatkan dendam sakit hati mereka terhadap Thian Sat nio atas nama saudara Wi, maka bila dikemudian hari kau sampai berjumpa lagi denga mereka dalam dunia persilatan, lebih baik kau bertindak lebih hati-hati"

"Aaaah, pada hakekatnya persoalan ini sama sekali tak ada sangkut pautnya dengan siaute"

Kata Wi Tiong hong penuh kegusaran-"hmmm, Sekalipun mereka hendak mencatatkan sakit hatinya pada hari ini atas nama siaute, aku juga tak bakal takut kepada mereka."

Sambil berkata mereka masuk kembali ke ruangan dalam.

Dalam pada itu, si Tok hay ji, si bocah beracun itu sudah lenyap tak berbekas, entah dia pergi sejak kapan.

Sementara jenazah dari cuan iman Li Goan tong serta Ko thian seng Lo ciang dan Heng-pak siang kiat sekalian telah dibereskan oleh anggota perusahaan, para Tang cujupun sibuk membersihkan lantai dari noda darah.

Setelah semua orang mengambil tempat duduk, dengan amat sedih Beng Kian ho berkata.

"sepanjang hidup, aku Beng Kian ho sudah banyak mengalami kejadian besar maupun pertaruhan sangit, akupun pernah berapa kali menderita kekalahan besar, tapi belum pernah menderita kalah seperti hari ini aaai ... kali ini, aku orang she Beng benar-benar telah dipecundangi orang."

"Beng loko tak usah putus asa."

Kata Ting ci kang dengan cepat.

"walaupun serangan yang dilancarkan oleh Thian Sat nio amat ganas dan keji, tapi kedatangan mereka toh bukan ditujukan kepada lo-koko, ai . kematian Li toako yang begitu mengenaskan benar-benar membuat siaute merasa sedih sekali". Beng Kian hoo menghela napas panjang.

"Walaupun apa yang dikatakan Ting lote benar, tapi dilihat dari kematian Siau Beng san dari perusahaan Ban-li Piaukiok yang memancing kemunculan Thian Sat nio, dapat disimpulkan kalau inilah awal dari suatu pertikaian serta badai yang akan melanda dunia persilatan."

"coba bayangkan, siapakah umat persilatan yang tidak tahu kalau tulang punggung dari Siau Bing San dengan perusahaan Ban lipiau-kloknya adalah partai Bu tong? Seperti juga An wan Piaukiok dari engkoh tua yang mempunyai hubungan dengan Siau lim-si semua orang hampir memberi muka kepadanya."

"Tapi setelah Ban-li Piaukiok menemui musibah kemudian ternyata manusia seperti Ma koan tojin dari bukit Hong San, Thi Lo han serta naga tua berekor botak sekalian pun turut bermunculan semua."

"Betul kemunculan mereka lantaran tergiur oleh benda mustika, tapi tindakan mereka itu toh sama artinya dengan tidak memberi muka kepada pihak Bu tong pay? Kalau mereka saja tak pandang sebelah mata terhadap Ban lipiau klok, apakah mereka mau memberi muka pula kepada An piautok milik engkoh tua?"

Terutama sekali diantara pendatang itu terdapat pula orang-orang Tok seh sa, walaupun Thian Sat nio tidak muncul, persoalannya juga telah berkembang meluas.

Dunia memang akan kaCau bia tidak diatur, kalau sudah kaCau pasti akan diatur, apakah kejadian ini pun bisa dikecualikan?"

"Kalau kudengar dari nada pembicaraan Beng loko, tampaknya kau ada maksud untuk mengundurkan diri dari dunia persilatan?"

Tanya Ting ci-kang kemudian.

"KekaCauan sudah mulai menyelimuti dunia persilatan, bila aku tidak segera mengundurkan diri, Ban li Piaukiok merupakan contoh yang paling nyata bagiku."

Ting ci-kang segera manggut manggut.

"Yaa, siaute pun merasa dengan munculnya Tok seh sia dan Thian sat-bun dalam dunia persilatan, hal ini menunjukkan kalau dunia persilatan bakal dilanda oleh kekacauan dan kekalutan, apa yang engkoh tua katakan memang benar, tapi entah bagaimanakah rencana dari engkoh tua?"

"Setelah menutup pintu perusahaan, aku ingin berkunjung kebukit siong-san, siapa tahu kalau pihak kuil masih belum tahu akan peristiwa yang telah terjadi sekarang itu, terutama atas kematian Li sute yang mengenaskan, aku mesti laporkan sendiri jalannya peristiwa ini kepada ciangbunjin."

Berbicara sampai disini, dia lantas mendongakkan kepalanya sambil tanyanya.

"Ting lote, bagaimana dengan dirimu? Menurut penglihatanku, peristiwa misterius yang mencekam perusahaan Ban li Piaukiok bukan saja takkan menjadi reda, bahkan akan berkembang lebih jauh, selama melakukan didalam dunia persilatan, kau harus bersikap lebih berhati-hati."

Ting ci kang segera tertawa getir.

"Siaute ucapkan banyak terima kasih atas kesediaan engkoh tua untuk bertindak sebagai saksi didalam peristiwa ku ini sehingga semua kecurigaan dan tuduhan atas diriku bisa terselesaikan, walaupun pihak Bu tong pay sudah bisa memahami keadaanku, tetapi dalam anggapan siaute masalah belum selesai, tugas siaute tetap ada, lagi pula siaute telah menyetujui permintaan pihak Bu tong pay untuk membongkar kasus ini hingga tuntas, maka sebelum kedudukan perkara terbongkar, siaute takkan berdiam diri belaka."

Beng Kian ho menatap sekejap ke arahnya, kemudian baru ujarnya lagi.

"Kegagahan lote sangat mengagumkan, ucapanmu berat bagaikan bukit karang, tentu saja engkoh tua mengetahui akan hal ini, cuma..."

Berbicara sampai disitu, dia berhenti sebentar, kemudian baru melanjutkan lebih jauh.

"cuma saja persoalan ini mempunyai akibat sampingan yang sangat luas, aku kuatir dibalik dibegalnya barang kawalan Ban li Piaukiok masih tersembunyi sebuah rahasia lain. Bila lote dapat membongkar rahasia ini, tentu saja lebih baik, kalau tidak ... aku harap kaupun sedikit tahu batas-batas diri."

"Nasehat dari engkoh tua, pasti akan siaute ingat terus didalam hati..."

"Lote, apa rencanamu selanjutnya tantang persoalan ini?"

Ting ci kang termenung dan berpikir sebentar kemudian sahutnya.

"Siau Beng san dan rombongannya terluka oleh semaCam senjata pena, sedang ditempat kejadian ditemukan pena baja milik siaute, sudah jelas peristiwa ini bukan suatu kebetulan, sebab itu siaute ingin berangkat ke sikjin tan besok untuk melakukan pemeriksaan sekali lagi, siapa tahu aku bisa menemukan sesuatu pertanda yang bisaku pakai untuk membongkar rahasia ini ?"

Beng Kiam hoo segera manggut-manggut, dia seperti hendak mengucapkan sesuatu, tapi kemudian niat tersebut dibatalkan. Sementara itu, Ting ci kang sudah berpaling ke arah Wi Tiong hong sambil bertanya.

"Saudara Wi, kau hendak pergi ke mana?"

"Siaute tidak mempunyai suatu tujuan tertentu, bila Ting toako hendak pergi ke Sek jin tiao siaute bersedia untuk mengiringi kepergianmu itu, agar ditengah jalanpun ada teman berbicara, entah bagaimana pendapat Ting toako?"

Ting ci kang menjadi gembira sekali.

"Bila saudara Wi bersedia ikut kesana, sudah barang tentu tawaranmu itu akan kusambut dengan senang hati."

Dalam pada itu, orang2 dalam perusahaan telah mempersiapkan hidangan malam, tapi berhubung Beng Kian ho dan Ting ci kang mempunyai persoalan dalam hati, mereka hanya bersantap tanpa banyak berbicara, kemudian oleh Ting ci kang, Wi Tiong hong dihantar menuju ke kamar tamu untuk beristirahat.

Semalam tiada kejadian apa apa, keesokan harinya Ting Ci kang dan Wi Tiong hong pun berpamitan kepada Beng Kian ho untuk melanjutkan perjalanannya.

Waktu itu fajar baru saja menyingsing, sang surya telah memancarkan sinarnya dilangit sebelah timur.

Banyak orang yang berdatangan dari luar kota untuk berjualan dipasar, tapi banyak pula yang keluar kota untuk melakukan perjalanan, pintu kota yang sempit menjadi penuh sesak dengan manusia yang berlalu lalang.

Tampaknya kesempatan semacam ini tak pernah disia-siakan oleh kaum pengemis untuk mencari sedekahnya, tampak banyak gembel yang meminta uang sedekah dari mereka yang lewat.

Ting Ci kang dan Wi Tiong hong berdua keluar pintu utara, suatu ketika tiba2 anak muda itu merasa tubuhnya segera didesak oleh seseorang, ketika dia berpaling, lamat-lamat dapat dilihat bahwa orang itu adalah seorang pengemis kecil yang kurus kering, saat itu dia pun tak menaruh perhatian yang khusus.

Sik jin tian terletak di ujung pegunungan Huay jlok san, jaraknya dengan kota Sang siu hanya puluhan lie, dengan kecepatan lari kedua orang itu, tak satujam mereka telah sampai ditempat tujuan.

Yang dimaksudkan Sikjin tian tak lebih cuma sebuah kuil kecil tanpa penghuni dibawah kaki bukit, kalau dibilang kuil, sesungguhnya sedikitpun tidak mirip kuil.

Diatas ruangan tengah berdiri sepasang patung manusia, tak tampak api hio, tidak nampak pula pengunjung atau penjaga, sehingga sepintas lalu tempat itu mirip gardu yang dipakai orang untuk tempat beristirahat daripada sebuah rumah beribadah.

Ting Ci kang sengaja berkunjung kesana karena disekitar tempat itulah Siau Beng san serta anggota perusahaan Ban liPiaukioknya menemui musibah, dia berharap dari sekeliling tempat kejadian itu bisa ditemukan sesuatu petunjuk.

Begitu sampai ditempat tujuan, mereka mulai lakukan pemeriksaan yang seksama, bahkan setiap rumput setiap jengkal tanah diperiksa semua dengan seksama.

Sayang jaraknya dengan saat kejadian sudah cukup banyak selisihnya, hingga sekalipun waktu peristiwa meninggalkan bekas, setelah melewati sekian banyak waktu akhirnya punah juga.

Setengah harian mereka berdua melakukan pemeriksaan dengan seksama, akan tetapi tiada sesuatu yang mereka temukan, namun Ting Ci kang tak mau menyerah dengan begitu saja, dengan kuil Sikjin tian sebagai pusat, mereka mulai melakukan pencarian ke empat penjuru sekeliling tempat itu...

Satu jam sudah iewat, namun mereka belum juga menemukan sesuatu yang sangat mencurigakan mereka berdua.

Sambil merangkak keluar dari balik semak belukar dan meluruskan pinggangnya pegal, Ting Ci kang menghembuskan napas panjang katanya sambil menghela napas.

"Tampaknya orang yang melakukan pembegalan barang kawalan itu betul-betul mempunyai rencana yang amat masak .... Belum habis dia berkata mendadak ia berseru tertahan, kemudian dengan cepat membungkukkan badannya. Semak belukar yang tumbuh ditempat itu sebenarnya amat lebat, tumbuhan ilalang tingginya mencapai sebatas pinggang, maka begitu dia jongkok, seketika itu juga badannya lenyap tak berbekas. Wi Tiong hong bermata tajam bertelinga tajam, mendengar seruan tertahan itu, dengan cepat dia memburu kedepan, lalu tegurnya.

"Ting toako, apa yang telah kau temukan."

Dimana sorot matanya dialihkan tampak olehnya Ting Ci kang dengan sepasang matanya yang tajam bagalkan sembilu sedang mengawasi balik semak belukar tanpa mengucapkan sesuatu apa pun, kenyataan ini membuat hatinya menjadi amat keheranan.

Tiba-tiba Ting Ci kang mengambil sedikit hancuran rumput bercampur tanah dan didekatkan ke hidungnya, setelah mengendus sejenak.

akhirnya dia bergumam.

"Tembakau Aaah, orang ini menghisap tembakau... ."

Wi Tiong hong ikut mengawasi benda tersebut, betul juga , diantara semak belukar dia temukan ada bekas2 yang terbakar, tak tahan segera ujarnya.

"Banyak sekali orang menghisap tembakau, apa anehnya dengan kejadian ini?"

"Orang yang menghisap tembakau memang tak sedikit jumlahnya."

Sahut Ting Ci kang sambil mendongakkan kepalanya.

"Cuma tempat ini bukan tapi jalan raya, disini pun bukan jalan penting yang dilewati setiap orang, apalagi semak belukar ditempat itu tubuh amat dan setinggi pinggang, mengapa orang itu mesti menghisap tembakau sambil bersembunyi dibalik semak belukar? Ditinjau dari hal ini bisa disimpulkan kalau peristiwa ini sangat mencurigakan."

"Betul, biasanya orang yang menghisap tembakau adalah orang orang yang telah lanjut usia."

Wi Tiong hong menambahkan. Ting Ci kang manggut2, sambil beranjak katanya.

"Sekalipun kita tahu kalau orang itu penghisap tembakau, usianya diantara lima puluh tahunan, namun tanda tersebut masih terlalu minim, mau mencari orang itu dalam masyarakat ibaratnya mencari jarum di dasar lautan..."

Setelah mengamati sebentar posisi matahari di langit, sambungnya lebih jauh.

"Kini waktu sudah mendekati tengah hari, mungkin saudara Wi juga sudah lapar, disekitar tempat ini hanya terdapat sebuah rumah petani dekat kaki bukit sana mari kita suruh mereka buatkan nasi untuk kita, setelah melepaskan lelah kita baru berbicara lagi."

Seusai berkata, dia lantas mengajak Wi Tiong hong berjalan keluar dari hutan rendah itu menuju ke sebelah kanan kiri bukit.

Setelah berjalan kurang lebih beberapa li, betul juga , didepan sebuah hutan bambu, diatas gundukan tanah berdiri sebuah rumah gubuk, disekeliling rumah gubuk itu penuh ditanami sayur.

Baru saja mereka berdua mendekat, dari dalam rumah gubuk itu telah berjalan keluar seorang nenek berambut putih.

Ting Ci kang segera maju selangkah kemuka kemudian sambil menjura katanya.

"Permisi nenek"

Nenek berambut putih itu manggut-manggut.

"silahkan duduk kek koan."

Katanya sambil mempersilahkan. Sambil maju selangkah ke depan, dengan suara keras dan satu persatu Ting Ci-kang berkata.

"Kami datang mengganggumu lagi, harap nenek bersedia membuatkan hidangan untuk kami."

Ooo0O0ooo Bab-12 Tampaknya nenek berambut putih itu sudah tuli, buktinya dia mesti miringkan kepala dan mendengarkan setengah harian dengan seksama sebelum akhirnya dia manggut2.

"Cuma diatas gunung tiada hidangan yang lezat, harap Kek koan menjadi maklum adanya."

"Terima kasih nenek!"

Dengan mengikuti dibelakag nenek berambut putih itu, mereka berdua berjalan masuk ke dalam rumah gubuk.

Dalam ruangan, tengah, di atas pembaringan bambu tampak seorang kakek berambut putih sedang berbaring, sebuah selimut kumal menutupi badannya, dia seperti lagi mengidap penyakit yang parah.

Nenek berambut putih itu segera mempersilahkaa kedua orang tamunya untuk duduk disamping sebuah meja, setelah mengambil dua mangkuk air teh, ujarnya dengan rasa rikuh.

"Kek koan sudah melakukan perjalanan jauh sudah pasti kalian sangat haus, sayang di tempat terpencil seperti ini tak ada daun teh, silahkan minum semangkuk air putih saja"

Sambil bangkit berdiri Ting Ci kang menerima pemberian tersebut.

"Terima kasih banyak nenek, berapa hari berselang orang tua ini masih segar bugar, apa sekarang lagi meaderita sakit?"

Sambil membungkukkan badannya, nenek meninju beberapa kali punggungnya, kemudian menyahut.

"Aaah, tidak apa apa, kalau sudah tua memang banyak penyakitnya, aaai ... pernah mengidap sesuatu penyakit, bila cuaca berubah, penyakit pun turut kambuh.... ia berbatuk-batuk semalaman suntuk,... sekarang baru dapat menjadi tenang... mungkin ia sudah tertidur nyenyak."

Wi Tiong hong mengangkat cawannya dan minum melegukan, kemudian baru ujarnya.

"Ting toako, kau kenal dengan mereka?"

Tampaknya Ting Ci kang merasa haus sekali dalam waktu singkat dia telah minum semangkuk sampai habis, setelah meletakkannya kembali, ia baru berkata.

"tiga hari berselang, aku pernah berkunjung kemari untuk menyelidiki sebab kematian dari sahabat dari perkumpulan kami, waktu itu tengah hari seperti saat ini, disektiar tempat ini tidak kujumpai rumah penduduk lain, maka kamipun bersantap siang disini, sikap maupun tingkah kedua orang tua baik sekali."

Nenek berambut putih itu tuli, ia tak mendengar apa yang dibicarakan kedua orang itu, maka sambil memandang kedua orang itu, dengan senyuman dikulum, ujarnya agak tergetar.

"Kek koan berdua, silahkan duduk se bentar aku si nenek akan segera menyiapkan hidangan."

Selesai berkata dia lantas berjalan menuju dapur.

Ting Ci kang beranjak dan mengambil sebuah poci dari meja, kemudian setelah menuang semangkuk air, kembali ia minum dengan lahap.

Mendadak sorot matanya dialihkan kepembaringan, di atas dinding dekat pembaringan tergantung sebuah hucwe yang telah berwarna hitam, pada ujung hucwe tergantung sebuah bungkusan yang berisi tembakau.

Tak usah diperiksapun Ting Ci kang bisa duga kalau isi bungkusan itu adalah tembakau tentunya dihari hari biasa kakek itu terbiasa mengisap hucwee.

Maka tanpa terata gumamnya dihati.

"Tembakau?"

Setelah berpikir sampai disitu, dia sama sekali tidak mempunyai ingatan untuk menaruh rasa curiga, sebab kedua orang tua itu tidak lebih cuma rakyat biasa.

Hingga pada saat itulah mendadak Wi Tiong hong menjerit kaget.

Dengan cepat Ting Ci kang berpaling, dia menemukan Wi Tiong hong sedang memegang secarik kertas, waktu itu kertas tadi sudah dibuka lipatannya dan sedang diamati dengan seksama.

ia tak tahu apa isi surat itu, tapi jelas kalau kertas itu berisi beberapa huruf.

Wi Tiong hong sesudah memandang sekejap kertas itu, segera mendongakkan kepalanya berseru.

"Ting toako, cepat kau lihat !"

Ting Ci kang menerima kertas itu dan membaca isinya.

"Jangan melakukan perjalanan bersama orang she Ting "

Gaya tulisannya indah, jelas tulisan dari seorang gadis muda. Dengan perasaan keheranan dia segera bertanya.

"Saudara Wi, darimana kau dapatkan kertas tersebut didalam sakuku!"

"Jadi kau tak tahu sedari kapan orang itu masukkan kertas tersebut kedalam sakumu."

"Keanehannya justru terletak di sini, orang dapat masukkan gulungan kertas ke dalam saku siaute, namun siaute sama sekali tidak mengetauinya."

"Mungkinkah semalam..."

Belum habis dia barkata, wi Tiong hong telah menggelengkan kepalanya berulang kali.

"Tidak mungkin, hal ini tak mungkin terjadi, pagi tadi siaute telah memeriksa sakuku, namun tidak kujumpai gulungan kertas ini"

Sekali lagi Ting Ci kang memperhatikan tulisan diatas kertas itu dengan seksama, kemudian ujarnya.

"Gaya tulisan orang ini sangat indah dan halus agaknya ditulis oleh seorang gadis, lagi .... dilihat dari gaya tulisannya, tak mungkin pembuatnya sudah tua. saudara Wi, apakah kau kenal dengan seorang gadis muda? "

Cepat muka Wi Tiong hong segera berubah merah padam, dengan cepat dia menggelengkan kepalanya berulang kali.

"Tidak, aku tidak kenal gadis muda, siaute baru terjun kedalam dunia persilatan orang persilatan yang kukenal adalah Ting toako, sedang Lak jiu im eng nonaThio dari Bu tong pay baru kujumpai kemarin boleh dibilang merupakan gadis pertama yang siaute kenal, lainnya tidak ada ..."

Sewaktu membicarakan soal Lak jiu im eng, tanpa terasa dia membayangkan kembali sikap angkuh dan tinggi hati dari gadis tersebut, walaupun kemudian dengan wajah memerah dan senyuman dikulum ia mengundangnya untuk berkunjung kekota Cing hong tin, baginya, boleh dibilang dia tidak menaruh kesan baik terhadap gadis itu.

Ting Ci king tahu kalau jawaban dari Wi Tiong hong itu merupakan jawaban yang sejujurnya, tapi jelas kalau tulisan itu ditulis seorang perempuan, mana mungkin...

Mendadak ia teringat kembali dengan perempuan penyanyi dari perguruan Thian sat bun yang pernah dua kali menganjurkan kepada Wi Tiong hong agar pergi dari situ daripada mati secara konyol, mungkin perbuatan dari gadis itu.

Walaupun Wi Tiong hong baru terjun dalam dunia persilatan, namun asal usulnya mempunyai banyak rahasia besar, bahkan sampai manusia macam Thian sat nio pun menaruh sikap yang luar biasa dan lain dari yang lain terhadap dirinya...

Dari surat peringatan itu, tanpa terasa dia memikirkan soal asal usul Wi Tiong hong, kemudian membayangkan pula tingkah laku dari Thian sat nio tempo hari, untuk sesaat lamanya menjadi termenung tanpa mengucapkan sepatah kata pun.

Sementara dia masih termenung, tampak nenek berambut putih itu sudah muncul kembali sambil menghidangkan sayur dan nasi, katanya sambil tertawa setelah hidangan itu diletakkan diatas meja.

"Kek koan berdua, diatas gunung cuma ada sayur mayor belaka, bila hidangannya kurang berkenan didalam hati, harap kalian berdua jangan marah, silahkan bersantap!"

Ting Ci Kang memperhatikan hidangan yang ditaruh di meja dalam sekilas lintas, tampaknya kecuali rebung, sayur mayur, masih ada sepiring ikan asin dan sepiring daging.

Berbicara buat orang gunung, hidangan semacam itu boleh dibilang sudah cukup mewah.

Buru2 ujarnya sambil barterima kasih.

"Waah, nenek kelewat sungkan, beginipun sudah baik sekali."

Diatas wajah si nenek yang penuh keriput segera dihiasi dengan senymuan lebar, kembali dia berkata.

"Kini tengah hari lewat, silahkan kalian berdua cepat bersantap, akan kumasakkan lagi air bening buat kalian."

Dia lantas membalikkan badan dan berjalan masuk kedalam.

Waktu itu Ting Ci kang dan Wi Tiong hong sudah merasa lapar sekali, setelah mengucap terima kasih, merekapun tanpa sungkan segera bersantap dengan lahap.

Dalam waktu singkat Ting Ci kang menghabiskan dua mangkok nasi, sekarang sedang mempersiapkan nasi yang ketiga.

Mendadak Wi Tiong hong menghentikan sumpitnya sambil berkata.

"Ting toako, beberapa malam berselang waktu siaute masih menginap di rumah penginapan, telah kutemukan pula secarik kertas.

"Ooh. apakah tulisan perempuan juga?"

Tanya Ting Ci kang sambil menatapnya lekat lekat. Wi Tiong hong segera mengangguk. Ting Ci kang segera bertanya lebih jauh.

"Apa yang ditulis dalam surat itu? "

"Setelah fajar keluar kota, jangan menunda-nunda."

"Setelah fajar keluar kota. jangan menunda nunda..."

Gumam Ting Ci kang, mendadak mendongakkan kepalanya sambil bertanya.

"Apakah kau tahu siapa yang mengirim surat itu?"

"Tidak."

Keesokan harinya, ketika siaute bangun, surat tersebut baru kutemukan."

Diapun lantas menceritakan bagaimana malam sebelumnya ada orang mengintipnya dari luar kamar, kemudian pada keesokan harinya diatas meja ditemukan surat peringatan.

Ketika selesai mendengar peringatan tersebut Ting Ci kang segera merasa kalau dugaannya mungkin tak salah lagi, maka setelah termenung beberapa saat lamanya, mendadak dia berkata.

"Saudara Wi, ketika hari ini kita akan keluar kota tadi, adakah seorang yang lewat dari sampingmu dan sengaja menumbuk badanmu?"

Wi Tiong hong berpikir sebentar, lalu sahutnya.

"Aaah, betul, sekarang Siaute sudah ingat, yaa, betul ketika ia berada didepan pintu kota memang ada orang mendesak badanku."

"Apakah kau melihat jelas manusia macam apakah itu?"

Tanya Ting Ci kang sambil melirik.

"Sewaktu siaute berpaling, orang itu sudah pergi jauh, aku hanya sempat menangkap bayangan punggungnya, dia seperti seorang pengemis cilik yang dekil sekali pakaiannya."

"Pengemis cilik ?"

Seru Ting Ci kang terperanjat.

"Apakah dia seorang perempuan?"

Wi Tiong hong segara menggelengkan kepalanya berulang kali.

"Tentang soal ini, siuate kurang begitu jelas"

"Kemungkinan besar adalah perempuan, sebab perawakan badan perempuan biasanya kecil kurus, kalau dipandang dari belakang...."

Belum selesai dia berkata, mendadak matanya yang tebal berkernyit, kemudian..."Blaamm!"

Dia memukul meja keras-keras sambil melompat bangun, serunya dengan gusar.

"Ada yang tak beres...."

Sebelum dia berkata, tahu-tahu badannya limbung dan roboh terkapar keatas tanah. Wi Tiong hong menjadi terkejut sekali buru2 panggilnya.

"Ting toako, mengapa kau ?"

Terhampar ditanah, Ting Ci kang masih sempat mendesis dengan suara rendah dan berat.

"Dalam sayur...."

"Dalam sayur kenapa..."

Buru-buru Wi Tiong hong Tanya dengan sangat gugup.

"Bagaimana dengan sayur itu?"

Wi Tiong hong yang tak sempat menyelesaikan kata2nya.

Karena seperti juga Ting Ci kang, dia turut terjungkal keatas tanah dalam keadaan lemas.

Suasana didalam rumah gubuk itu menjadi hening, sepi dan tak kedengaran sedikit suarapun.

Dua orang yang tergelepar diatas tanah itu jatuh tak sadarkan diri.

Si nenek berambut putih yang berwajah penuh keriput itu sudah berubah menjadi pucat karena ketakutan, dengan tubuh membungkuk berjalan keluar dari rumah gubuk menggoyang goyangkan tangannya kearah sebelah kiri hutan.

Dari balik hutan segera berkumandang suara gelak tertawa yang amat keras, menyusul kemudian tampak tiga sosok bayangan manusia melayang masuk kedalam rumah gubuk itu ...

Ternyata mereka adalah seorang tosu tua seorang hwesio gemuk dan seorang kakek bermuka merah yang berkepala botak.

Mereka tak lain adalah Ma koan tojin, Ma lo han Kwong Beng hwesio serta sinaga tua berekor botak To Sam seng yang secara diam diam menguntit perjalanan Ting Ci kang serta Wi Tiong hong.

Tampaknya nenek berambut putih itu belum pernah manyaksikan ada orang bisa terbang ke angkasa, dia nampak gugup, takut dan cemas secara beruntun badannya mundur terus kebelakang.

Setelah mencapai pemukaan tanah, sinaga tua berekor botak segera mengulapkan tangannya berkata dengan suara dalam.

"Nenek tua, kau tak usah takut, cepat masuk hidangkan sayur dan arak, asal kau menurut kami akan membebaskan jalan darah dari para tamu mu itu dan tak akan melukainya walau hanya seujung rambutpun..."

Dengan ketakutan nenek berambut putih itu mengangguk berulang kali, dia lantas berjalan masuk kedalam.

"Omitohud...!"

Kata Thi-lohan Khong Beng hwesio kemudian.

"tindakan yang dilakukan lo loko kali ini betul-betul sangat jitu dan tepat sekali!"

Naga tua berekor botak segera tertawa bangga.

"Taysu kelewat memuji, beberapa li disekitar Kek jin tian cuma tinggal sepasang suami istri tua itu, tiga hari berselang Ting Ci kang beristirahat disini, tentu saja hari ini pun ia akan datang kemari pula.

"Cuma sepasang suami isteri ini telah memperoleh kebaikan dari Ting Ci kang pada masa lalu, maka bila siaute tidak menotok jalan darah dari tua bangka itu, sudah pasti nenek itupun enggan mencampurkan racun kedalam sayur."

Sembari berbincang bincang mereka berdua maju kedepan memasuki ruangan gubuk.

Dilihatnya Ting Ci kang dao Wi Tiong hong masih tergelepar diatas tanah dalam keadaan tidak sadar, tubuhnya sama sekeli tak bergerak.

Tak tahan Thi-lohan Khong Beng hwesio berseru.

"Sejak kecil Ting Ci kang sudah mengikuti si rase tua dari Thi Pit pang yang bernama Thiat Pek li, segala macam permainan busuk dunia persilatan boleh dibilang sudah diketahui olehnya, masa begitu gampang dia kena dipecundangi? "

Naga tua berekor botak To Sam seng segera tertawa.

"Obat pemabuk yang dicampurkan dalam sayur adalah obat Ji ko mi (termasuk obat mabuk), sejenis obat pemabuk yang terbuat dengan resep rahasia, tidak berwarna dan juga tak berbau, kendati demikian memang memiliki kelihayan dan pengaruh yang luar biasa, jangan harap ia bisa mengetahui segala dari racunku ini, menanti dia lihat gelagat tak beres, biasanya obat itu sudah mulai bekerja."

Setelah berkata dia lantas berjongkok dan mulai menggeledah isi saku Ting Ci kang.

Thi-lohan Khong Beag hweesio tak mau ketinggalan, dia turut melakukan penggeledahan isi saku Wi Tiong hong.

Hanya Ma koan tojin seorang tetap berpeluk tangan belaka sambi mengawasi kedua orang ia dengan senyum tak tak senyum, seakan akan kedua orang rekannya yang menggeledah saku Ting Ci kang serta Wi Tiong hong sama sekali tak menarik perhatiannya.

Padahal dibalik telapak tangannya yang saling berlipat itu telah dipersiapkan tenaga pukulan Pek kut ciang sebesar sepuluh bagian, asal salah seorang diantara mereka berhasil menemukan pusaka, maka secepat kilat pula dia melancarkan serangan.

Dalam saku Ting Ci kang, si naga tua berekor botak To Sam seng hanya berhasil menemukan sebatang pena emas, sambil menghembuskan napas ia lantas bangkit berdiri, kemudian dengan wajah ragu gumannya.

"Heran, barang itu tidak berada disakunya."

Dari ucapan tersebut bisa ditarik maknanya bahwa dia seperti tidak percaya dengan kenyataan tersebut.

Dari saku Wi Tiong hong, Thi Lohan Kwong Beng hwesio pun cuma berhasil mendpapatkan sepasang pena besi, sambil bangkit berdiri tanya pula.

"Dalam saku bocah inipun tidak berhasil temukan apa apa"

Diam diam Ma koan tojin segera menegangkan kembali sepasang tangannya, dia tertawa seram, katanya.

"Sudah sejak tadi pinto berpendapat demikian, mustahil barang itu bisa berada didalam sakunya."

"Bagaimana suheng bisa berpendapat demikian?"

Tanya si Naga berekor botak dengan wajah masam. Ma Koan tojin tertawa hambar.

"Bila Ting Ci kang telah berhasil mendapatkan barang itu, dia tak akan melakukan pencarian yang teliti lagi didalam rerumputan."

Mendengar perkataan itu, diam2 si Naga tua berekor botak menyumpah didalam hati.

"Tua bangka celaka, hidung kerbau sialan, kau adalah seorang yang licik!"

Sementara itu diluaran katanya dengan nada kalem.

"Kalau begitu, usaha siaute selama ini hanya sia2 belaka? "

"Itu mah tidak, benda mestika itu ada sangkut pautnya dengan perkumpulan Thi pit pang, apalagi disaat Siau Beng san beserta kedelapan belas pengikutnya dari perusahaan Ban li piauwkiok terbunuh, Thi jiau tong long Lu Yau cun seorang dari ke 4 pelindung hukum perkumpulan Thi Pit pang yang ditemukan tewas disana. Bahkan ditinjau dari bekas lukanya mereka semua tewas diujung senjata pena baja, ini menandakan kalau peristiwa berdarah itu merupakan hasil perbuatan dari Thi pit pang."

"Bukankah toheng mengatakan kalau Ting Ci kang belum berhasil menemukannya?"

Tanya pula si naga tua berekor botak. Ma koan tojin segera tertawa seram.

"Betul, mungkin saja ketika ia selesai melakukan pembunuhan para saksi, dijumpai kalau benda yang berhasil didapatkannya ternyata palsu "

"Darimana toheng bisa tahu?"

Naga tua berekor botak makin kaget dan keheranan. Ma koan tojin segera tertawa seram.

"Heeeehhh...heeeehhhh... heeeebh pinto hanya berbicara menurut keadaan disamping memberikan pula dugaan dugaan, siapa tahu orang orang Thi Pit pang setelah membunuh Siau Beng san, tiba tiba terjadi pergolakan di dalam sehingga terjadi pembunuhan yang berakibat kematian dari Yau cun?"

"Bisa mungkin saja benda mustika yang itu disembunyikan Lu Yau cun. sedang Lu Yau cun tak pernah meningalkan sekitar tempat kejadian, hal ini dapat dibuktikan dengan kedatangan Ting Ci kang yang berulang kali ketempat kejadian siapa tahu mustika yang disembunyikan dan berhasil ditemukan kembali?"

"Pendapat toheng memang dapat diterima dengan akal sehat, cuma dari mana pula dia bisa mengetahui kalau benda yang diperolehnya itu adalah barang palsu?"

Ma tojin tertawa seram.

"Heeeh ... heeeh ... heeeh ... mungkin dia belum tahu, barang itu semuanya berjumlah tiga buah, dua palsu dan satu asli, tapi semuanya justru mirip sekali satu sama lain..."

Etika berbicara sampai disini, tiba tiba dia membungkam.

"Suheng, tahukah kau apa kegunaan dari benda itu sehingga begitu banyak umat persilatan mengincarnya ?"

Thi Lohan bertanya. Ma koan tojin mendehem pelan, kemudian menjawab.

"Soal itu mah pinto kurang begitu memahami."

"Menurut berita yang tersiar didalam dunia persilatan"

Kata si Naga tua berekor botak pula.

"barang siapa yang mendapatkannya maka dia tiada tandingannya dikolong langit, asal kita berhasil menemukannya, apa takut tak bisa menyelidiki daya kegunaannya."

Sementara pembicaraan sedang berlangsung si nenek berambut putih itu sudah muncul kembali sambil mempersiapkan sayur dan arak buat ke tiga orang itu.

Tentu saja sayur yang bisa dipersiapkan cuma sayur mayur, dadar telur serta ikan asin hanya kali ini nampak pula sepoci arak.

Diatas wajah si nenek tua berambut putih dan kering berkeriput nampak diliputi perasaan takut dan tak tenang, dengan suara agak gagap dia berkata.

"Harap dimaafkan tuan bertiga, kami ... kami orang miskin dan tinggal digunung, kam...kami tak bisa menyediakan hidangan yang lezat lezat untuk kalian, sedang...sedang arak dalam poci itupun dibeli oleh suamiku beberapa hari berselang di kota, silahkan kalian bertiga untuk mendaharnya."

Lalu si Naga tua berekor botak mengeluarkan sekeping uang perak dan diletakkan kedalam tangan lalu katanya.

"Kami telah merepotkan kau, nah terimahlah uang perak ini."

Melihat ada uang, sorot mata si nenek berambut putih itu nampak terkesima, lalu memantap dengan perasaan ingin, meski begitu dia tak berani menerimanya, malah sambil menggoyangkan tangannya dia berkata sambil tertawa.

"Ah, cuma hidangan sederhana saja.. aku nenek tak berani menerima uang loya, aku...aku hanya memohon kemurahan hati loya, untuk melepaskan suamiku..."

"Terima dulu uang ini, bila kami akan pergi nanti pasti akan kubebaskan suamimu itu."

Legalah mendengar kalau suaminya akan dibebaskan, si nenek berambut putih itu segera menerima uang perak tersebut, setelah melirik sekejap ke arah Ting Ci kang dan Wi Tiong hong berdua yang tergeletak di tanah, dengan perasaan terima kasih yang besar ia mengundurkan diri dari situ.

Si Naga tua berekor botak segera turun tangan untuk memenuhi cawan Ma koan tojin dan Thio Lo han dengan arak, kemudian diapun memenuhi cawan sendiri dengan arak, setelah itu katanya sambil tertawa.

"Toheng, taysu, silahkan sehabis bersantap kenyang nanti, kita harus mulai mencari lagi jejak tentang benda mustika tersebut."

Selesai berkata dia lantas mengangkat cawan araknya dan minum dengan tegukan besar.

Paras muka Ma koan to jin masih tetap dingin menyeramkan, ia tidak turut minum tubuhnya masih tetap duduk di tempat semula tanpa bergerak barang sedikitpun juga.

Thi Lohan paling supel orangnya, apalagi waktu itu perutnya juga sedang lapar, tapi melihat Ma koan tojin belum juga menggerakkan sumpitnya, dia jadi sangsi dan tidak berani menggerakkan sumpitnya pula.

Sudah barang tentu si Naga tua berekor botak dapat menyaksikan kejadian itu, lalu dia tertawa terbahak-bahak.

"Haahh..haahh..haahh apakah kalian masih sangsi dengan sayur dan arak ini? Apa kalian takut aku telah mencampurkan pula racun Ji ko mi kedalam sayur dan arak ini?"

Ma Koan tojin tertawa seram.

"Heehh.. heeeh.. heeeh.. Lo Bun si cuma ada satu sedang kita bertiga, apakah tidak terlalu sedikit bila benda itu dibagi tiga???"

"Betul, betul"

Seru Thio Lohan sambil mengangguk tiada hentinya.

"bila ingin selamat dalam dunia persilatan, kita memang sudah sepantasnya untuk selalu waspada dan menjaga segala kemungkinan yang tidak di nginkan."

Si Naga tua berekor botak To Sam seng tertegun sejenak, kemudian katanya dengan perasaan ngeri.

"Suheng, taysu, apabila kalian menaruh perasaan curiga kepada diriku, bagaimana mungkin siaute bisa menjelaskannya? Baiklah, aku akan membuktikan kepada kalian kalau dalam sayur sayur ini tak ada racunnya."

Selesai berkata dia lantas menggerakkan sumpitnya dan mengambil setiap sayur itu kemudian lalu dimasukkan kedalam mulutnya.

Selesai mencicipi sayur sayur tersebut, ia lalu mendongakkan kepalanya sambil berseru.

"Sekarang, apakah kalian sudah percaya ?"

Ma koan tojin mangut manggut.

"Tentu saja pinto dapat mempercayai saudara To, entah saudara To bisa mengeluarkan bubuk Ji ko mi tersebut dan memperlihatkan pada pinto?"

Bab-13 Si Naga tua berekor botak To Sam seng cukup mengenali watak Ma koan tojin yang banyak curiga, mendengar perkataan itu dia lantas mengeluarkan dua buah botol kecil berwarna putih diletakkan ke atas meja setelah itu ujarnya sambil tertawa.

"Silahkan dilihat toheng."

Ma koan tojin menerima botol perselen itu diperiksanya sebentar, tampak dalam botol pertama berisikan bubuk halus berwarna hijau, dalam botol tersebut tertera tiga huruf kecil yang berbunyi "Ji ko mi"

Sedangkan dalam botol porselen yang kedua berisikan butiran obat sebesar biji kelereng sedang didalam botol itu tertera huruf kecil pula.

"Obat penawar Ji ko mi."

Sambil mendongakkan kepalanya dan tertawa, dia lantas berkata.

"Saudara To memang benar-benar seorang yang bijaksana, entah bolehkah aku minta beberapa butir pil penawar dari bubuk pemabuk ini?"

Si naga tua berekor botak segera tertawa terbahak-bahak.

"Haaah...haaah...haaahh... kalau toheng membutuhkan silahkan saja diambil, setiap kali terkena bubuk pemabuk tersebut hanya cukup sebutir saja sudah cukup untuk memunahkan pengaruh racunnya."

"Kalau begitu pinto minta tiga butir saja."

Ucap Ma-koan Tojin sambil tertawa. Dia segera membuka penutup botol itu dan mengambil tiga butir pil penawar tersebut. Buru2 Thi-lihan Khong-beng Hweesio berseru pula.

"Pinceng juga mohon tiga butir."

"Taysu kelewat serius, kalau toh kita bersungguh hati ingin bekeja sama, tentu saja kau boleh mengambil obat penawar itu."

Thi-lohan segera mengambil pula tiga butir obat penawar untuk disimpan, setelah itu kedua buah botol porselen itu baru dikembalikan kepada si Naga tua berekor botak.

Ma-koan Tojin bangkit berdiri, kemudian ambil sebutir pil penawar di berjalan menghampiri Ting ci kang.

"To-heng, belum lagi bersantap kau sudah ingin memeriksa Ting ci kang . ."

Tegur Thi Lo-han-Ma koan tojin berpai ng dan tertawa seram, sahutnya.

"Lebih baik orang she Ting ini disadarkan lebih dulu, kemudian baru bersantap. Sementara pembicaraan berlangsung dia sudah menjejaikan pil penawar racun itu ke dalam mulut Ting ci kang. Si Naga berekor botak To sam seng sebagai seorang jago yang sangat kawakan tentu saja memahami apa arti dari tindakkan Ma-koan tejin tersebut, yang jelas bukan untuk menyadarkan Ting ci kang, melainkan hanya ingin membuktikan apakah obat penawar racun itu asli atau tidak. Diam2 ia lantas mendengus dingin, pikirnya.

"Si hidung kerbau tua ini benar-benar amat licik bagaikan seekor rase ..."

Ternyata obat penawar itu sangat manjur, tak selang seperminum teh kemudian Ting ci kang benar2 telah sadar kembali dari pingsannya.

Secepat sambaran petir, Ma koan tojin segera menyentilkan jari tangannya menotok dua buah jalan darah penting ditubuh Ting ci kang.

Begitu tertotok.

otomatis Ting ci kang tak sanggup bergerak meski ia telah sadar kembali, hanya sorot matanya saja yang sempat memperhatikan sekeliling tempat itu.

Mengetahui kalau dia, Wi Tiong hong telah dipencundangi orang, tanpa terasa ia mendengus dingin, lalu ujarnya.

"Kalian bertiga adalah jago-jago kawakkan dari dunia persilatan, dengan perbuatan kamu bertiga yang telah mencampur obat pemabuk di dalam sayur, apakah tidak takut akan menurunkan derajat kalian sendiri ..."

Ma koan tojin tertawa seram.

"Siapa suruh kalian membawa mestika? orang bilang, siapa membawa barang berharga dia bakal Celaka "

"Apa maksud totiang berkata demikian ?"

"Menurut berita yang tersiar dalam dunia persilatan dewasa ini konon mestika yang disebut Lo bun si tersebut sudah terjatuh ditangan Thi pit pang kalian, padahal mestika itu merupakan barang incaran setiap orang, bila kami tidak mencoba untuk mendapatkan, orang lain toh akan mencoba untuk mengambilnya juga . Ting pangcu Buat apa kau mesti menyangkal lagi kenyataan ini ?"

"Tapi .... aku benar2 tidak tahu."

"Tahu atau tidak tahu itu adalah sama saja."

Tukas Ma koan Tojin sambil tertawa seram.

"barusan Ting pangcu sudah makan kenyang, sedangkan pinto bertiga sudah menghamburkan tenaga setengah harian dengan sia-sia, sekarang perut pun sudah mulai lapar, baiklah ...kalau memang begitu harap Ting pangcu menunggu sebentar, bila pinto selesai bsrsantap nanti kita baru berbincang-bincang lebih jauh."

Ketika si Naga tua berekor botak To Sam-seng mendengar tojin itu baru akan berbicara lagi selesai bersantap nanti, dalam hati kecilnya lantas tahu kalau ia bermaksud untuk menguji kemanjuran obat penawar tadi, atau dengan perkataan lain rasa curiganya belum juga hilang.

Diam-diam ia lantas mendengus dingin, setelah menjura dan tertawa katanya pula.

"Saudara Ting, untuk sementara waktu terpaksa akan menyiksamu, asal saudara Ting bersedia untuk bekerja sama dengan kami, tanggung ada kebaikan untukmu."

Ting ci kang segera tertawa terbahak-bahak.

"Haaaahhhh . , . haaahhh ... haaahhh , ..kini aku she Ting sudah jatuh ketangan kalian, banyak berbicara soal kebaikan atau kejelekan juga tak ada gunanya, aku hanya minta saudara Wi yang baru kukenal belum lama ini suka dilepaskan, toh bagi kalian bertiga saudara ini tak ada kegunaannya, apalagi ketika berada dian wan-Piaukiok ia telah membantu kalian bertiga."

"Saudara Ting salah paham"

Naga tua berekor botak tertawa licik.

"kami sama sekali tak bermaksud jahat terhadap saudara Ting, selesai makan nanti, tentu saja kami akan memunahkan pengaruh obat pemabuk dari tubuh saudara cilik ini."

Sementara itu, Ma-koan tojin yang menyaksikan obat penawar yang diberikan Naga tua berekor botak To Sam seng kepadanya ituamat manjur, dia segera menelan sebutir dan menyimpan sisanya kedalam saku, sekembalinya ke meja, dia pun mulai bersantap dan minum arak dengan perasaan lega.

Tentu saja Thi Lohan Kwong Beng hwesio dengan cepat menirukan pula cara tersebut dengan secara diam-diam menelan sebutir obat penawar.

Naga tua berekor botak To Sam seng yang menyaksikan kejadian itu hanya berlagak seolah-olah tidak melihat, padahal dalam hati kecilnya tertawa dingin tiada hentinya.

Tak selang berapa saat kemudian, ke tigaorang itu sudah menghabiskan sepoci arak, si Naga tua berekor botak segera bangkit berdiripura-pura hendak mengambil nasi.

Mendadak paras muka Ma koan tojin berubah hebat, mencorong sinar buas dari balik matanya, sambil mendengus dingin bentaknya.

"To Sam seng, besar amat nyalimu "

Sambil membentak dia pun melompat bangun kemudian selangkah demi selangkah berjalan menghampiri si naga tua berekor botak.

Secepat kilat Thi Lo han turut melompat bangun pula dan melompat ke samping arena, kemudian bentaknya pula.

"Tua bangka berekor botak, apakah kau telah mencampuri sayur dan arak yang kami dahar dengan bubuk Ji ko mi ?"

Si Naga tua berekor botak mundur beberapa langkah ke belakang, kemudian sahutnya dengan tertawa menyeringai.

"Apa yang di katakan Ma koan toheng tadi memang benar, Lo bun-si hanya sebuah, bila harus dibagi menjadi tiga bagian rasanya kelewat sedikit..."

Merah padam selembar wajah Thi Lo han Kwong Beng hweesio yang gemuk dan putih, dengan gusar teriaknya.

"Jadi obat penawar yang kau berikan itu palsu ?"

"Haaahhh ... haaahhh ... haaahhh .... obat penawarnya mah tidak palsu, kalau tidak. masa saudara Ting bisa sadar secepat ini ?"

Seru si naga tua berekor botak sambil tertawa licik.

"cuma, obat pemabuk yang siaute serahkan kepada si nenek itu semuanya dua macam."

"Sewaktu menghadapi saudara Ting tadi, obat bubuk yang dicampurkan kedalam sayur adalah bubuk Ji ko-mi, sebaliknya bubuk yang dicampurkan kedalam arak kita justru adalah bubuk lain, bubuk itu bernama..."

"To Sam seng "

Bentak Ma-koan tojin sambil tertawa dingin dengan nada menyeramkan.

"tahukah kau, sekalipun pinto dan Kwong Beng taysu telah makan obat beracun, tapi dengan mengandalkan tenaga dalam yang dimiliki, belum tentu obat tersebut bisa bekerja dengan cepat, bila kami maanfaatkan kesempatan sebelum racun itu bekerja untuk merobohkan dirimu, aku yakin orang pertama yang roboh lebih dahulu adalah kau bukan kami berdua"

Sementara pembicaraan berlangsung, dia telah menghimpun tenaga dalamnya kedalam telapak tangan kanan, kemudian selangkah demi selangkah berjalan mendekati si naga tua berekor botak tersebut.

Tentu saja Thi Lo han Kwong Beng hwesio juga tahu bahwa satu-satunya jalan agar bisa mendapatkan obat penawar racun itu adalah menguasahi si naga tua berekor botak.

Maka dengan mengimbangi gerakan dari Ma-koan tojin tersebut, satu dari kiri yang lain dari kanan berbareng mendekat.

Waktu itu si Naga tua berekor botak hanya berdiri disudut ruangan sambil mengelus jenggot kambingnya dan sama sekali tidak bergerak.

sambil tertawa licik dia malah berkata.

"Siaute sudah tahu kalau tenaga dalam yang kalian berdua miliki amat sempurna, oleh sebab itu akupun menggunakan sejenis obat beracun yang lebih kuat daya kerjanya, bubuk obat ini bernama Jit poh san (tujuh langkah membuyar) asal sudah berjalan sejauh tujuh langkah maka semua tenaga dalam kalian akan membuyar haaahhh... haaahhhh..nah silahkan kalian berdua maju . .. satu, dua, tiga, empat,lima..."

Ma koan tojin merasakan hatinya amat terkesiap.

ketika mencapai langkah yang ke lima, serta merta ia berhenti sendiri, tapi ketika dilihatnya jarak lawan tinggal enam depa, begitu ia berhenti sepasang tangannya yang kurus kering tak berdaging itu langsung diayunkan ke depan.

Si Naga tua berekor botak masih tetap berdiri disana tanpa bergerak.

wajahnya pun masih tetap tenang sedikitpUn tidak berubah, bahkan ia tak bermaksud untuk menangkis, malahan memandang pun tidak.

Ketika serangan yang di lancarkan Ma koan-tojin itu diayunkan kedepan, entah mengapa secara tiba-tiba badannya bergoncang keras, kemudian terjatuh ke atas tanah, sepasang matanya melotot besar dan mulutnya berbuih.

Sebenarnya dia memang berperawakan kurus kering tinggal kulit pembungkus tulang, kini tampaknya kelihatan lebih menyeramkan lagi.

Thi Lo han Kwong Beng hwesio yang menyaksikan kejadian itu menjadi amat terperanjat, dia membentak marah lalu menerjang maju ke depan.

Akan tetapi, sewaktu badannya yang gemuk itu baru mencapai ditengah angkasa, tahu2 .."Blaaamm "

Ia sudah terjatuh kembali keatas tanah dan tak sanggup beranjak bangun lagi.

Ting ci kang yang menyaksikan berlangsung-nya adegan saling gontok-gontokan itu, diam-diam merasa amat terperanjat.

Imu silat yang dimiliki Ma koan tojin dan Thi Lo han berdua holeh dibilang terhitung jagoan kelas satu didalam dunia persilatan, sekalipun sudah menelan obat beracun, dengan pengerahan tenaga dalam untuk mendesak daya kerja racun tersebut, pai ng tidak mereka masih sanggup untuk bertahan selama satu jam.

Siapa sangka obat beracun Jit poh san yang dipergunakan si Naga tua berekor botak tersebut bisa sedemikian lihainya sehingga daya kerjanya pun cepat sekali.

Dalam pada itu, si Naga tua berekor botak yang menyaksikan kedua orang rekannya telah roboh, ia segera mendongakkan kepalanya dan tertawa terbahak-bahak.

"Haaaahhhh... haaaahhhh ... haaahhh..."

Dia hanya sempat tertawa tergelak beberapa saat, sebab secara tiba-tiba suara tertawanya itu terhenti sendiri, di kuti paras mukanyapun berubah hebat.

Dengan cepat tangan kanannya merogoh kedalam sakunya dan mengeluarkan sebuah botol porselen, tak sempat membuka penutup botolnya lagi, dia menggigitnya keras2 dan sekaligus menelan empat lima butir obat penawar.

Mendadak badannya mulai gontai dan sempoyongan tak menentu, peluh dingin membasahi jidatnya, bagaikan butiran kacang kedelai jatuh bercucuran tiada hentinya, sorot matanya kalut dan memancarkan rasa ngeri, kalut dan seram yang hebat.

Akhirnya ia jatuh terduduk ke atas tanah, serunya dengan suara gemetar.

"Apa ... apa yang telah terjadi?"

Perubahan ini terjadinya sangat mendadak dan sama sekali diluar dugaan Ting ci kang, taapa terasa dia mulai berpikir.

"Masakah obat penawarnya tidak majur?"

Agaknya si nenek berambut putih yang bersembunyi didalam dapur telah mendengar suara gaduh tersebut, ia segera melongok keluar dari balik pintu.

Tapi setelah menyaksikan apa yang telah terjadi, dengan terkejut serunya.

"Hey, To Loya, kenapa kau? Bukankah tadi kau telah memerintahkan kepadaku untuk mencampurkan sebungkus obat yang bernama Jit-poh san kedalam arak?"

"Berhubung diatas gunung banyak terdapat musang yang seringkali mencuri ayam peliharaanku, padahal sinenek sudah menggunakan racun apapun untuk menangkapnya, tapi setiap kali obat racun itu hanya bisa dipakai satu kali, kemudian kehilangan kegunaannya lagi."

"Maka ketika aku si nenek mendengar kalau bubuk racun Jit poh san milikmu itu tak berwarna dan tak berbau, si musang tentu tak bisa mendengusnya, maka secara diam-diam aku telah menukar racun itu dengan racun lainnya.

"Racun yang kucampurkan kedalam arak tadi adalah racun pembunuh musang yang dibeli suamiku beberapa hari berselang dari kota, konon racun itu hanya bisa dipunahkan dengan kotoran manusia, bagimanakah kalau kuambilkan semangkuk kotoran manusia dari dalam kakus untuk memunahkan racun tersebut?"

Perkataan itu memang bukan ejekan belaka, sebab menurut ajaran kuno, kotoran manusia memang bisa digunakan untuk penawar racun.

Tadi si naga tua telah menelan empat butir pil penawar dari perguruannya, sekalipun racunnya berbeda dan belum tentu bermanfaat, tapi daya kerja racun itu toh bisa dicegah untuk sementara waktu, tidak seperti Ma koan to-jin dan Thi Lo han yang segera roboh setelah terkena Serangan.

Sekarang dia hanya bisa melototkan matanya besar-besar, apa yang terpampang didepan mata masih bisa terlihat, dan apa yang bergema di-situ masih dapat didengar, akan tetapi keempat badannya telah menjadi kaku dan tak sanggup bergerak lagi, kulit mukanya terasa kaku kesemutan sehingga keinginannya untuk berbicara pun tak mampu dilakukan.

Tapi dia sadar dan mengerti apa yang dikatakan nenek berambut putih itu semuanya adalah bualan belaka.

Kalau racun yang dicampurkan dalam arak itu benar-benar adalah racun pembunuh musang jangan harap hal mana bisa mengelabuhi mereka bertiga, atau dengan perkataan lain, racun yang telah dicampur sinenek dalam poci arak itu jelas adalah racun yang jauh lebih lihay daripada Jit poh san yang diberikan kepadanya.

Ting ci kang masih tergeletak ditanah karena jalan darahnya tertotok.

diam-diam ia merasa terkejut sekali, tentu saja ia dapat mendengar semua pembicaraan itu dengan jelas.

Tapi kedua orang suami istri tua itu pernah dijumpainya pada tiga hari berselang, malah waktu itupun dia sempat bersantap dirumahnya jelas diketahui olehnya waktu itu bahwa dia bukanlah seorang pandai bersilat....

Sementara itu dia masih berpikir, mendadak terdengar si kakek yang berbaring diatas pembaringan bambu itu berseru sambil tertawa rendah.

"Ang Nio Cu, aku sikakek sudah boleh bangun bukan ?"

Sekali lagi Ting ci kang merasa tertegun, pikirnya.

"Bukankah-jalan darahnya telah ditotok oleh si naga tua berekor botak..?"

Si nenek berambut putih yang semula bungkukpun, kini berdiri tegak kembali, sahutnya sambil tertawa.

"Si tua bangka Celaka, kau enak-enak tidur berlagak mampus, sebaliknya koh nay-nay mesti bekerja keras didapur untuk masak sayur, menanak nasi dan repot setengah harian-hmm, bila kau berani mencari keuntungan lagi dengan mulut yang kotor, lihat saja kuhajar adat kepadamu."

"Aneh, suara yang semula parau dan gemetar kini sudah berubah sama sekali, malah secara tiba tiba berubah menjadi merdu dan halus. Bukan begitu saja, bahkan orangnya yang berbicara pun sama sekali telah berubah. Tampak dia menarik rambutnya yang putih itu sehingga terlepas dari kepaia, kemudian mengusap mukanya dan melepaskan pula selembar kulit topeng yang berwajah tua dan jelek. Dalam waktu singkat seorang nenek jelek yang berambut putih dan terbungkuk-bungkuk, kini telah berubah menjadi seorang nyonya muda yang cantik dan genit. Si kakek yang berbaring diatas pembaringan pura2 sakitpun telah melompat bangun pula, dia segera mengambil huncweenya dan menjura kearah nyonya muda itu, katanya sambil tertawa terbahak-bahak.

"Haaahhh...haahhh... haaahhh.... nona Cho, maaf kalau aku si orang tua telah salah berbicara."

Nyonya muda genit itu kembali tertawa cekikikan.

"Bagus sekali. Disini sudah tiada urusanku lagi, orang2 itu kuserahkan semua kepadamu."

Selesai berkata dia lantas menggerakkan badannya dan berjalan keluar dari ruangan.

Sungguh cepat sekali gerakan tubuhnya, hanya didalam sekali kelebatan saja tahu2 bayangan sudah lenyap tak berbekas.

Ting ci kang yang menyaksikan kesemuanya itu, diam-diam mengangguk, pikirnya.

"Aaaaah ... kalau begitu, mereka semua adalah orang-orang Thian Sat bun..."

Dalam pada itu, si kakek kurus kecil itu sudah mengetuk keluar abu tembakaunya dari mangkuk huncwe, kemudian mengisi tembakau baru dan menyulutnya.

Setelah menghisap beberapa kali, dia baru berjalan menghampiri Ting ci kang, katanya dengan senyum tak senyum.

"Sahabat Ting, tadi kau berjongkok dibalik semak sambil memperhatikan sesuatu, nampaknya kau berhasil menemukan abu tembakau ku disitu? Tapi anehnya, huncwee lohu justru diletakkan disamping pembaringan, mengapa sahabat Ting malah tak bisa menduga diri lohu? Heehhmm . .. heehmm ... bukan cuma sahabat Ting saja, bahkan Ma koan dari Hong san dan naga tua dari Hoan yang pun pada buta gemas matanya."

Sambil membelalakkan matanya Ting ci-kang termenung dan berpiklr beberapa saat lamanya , mendadak terlintas rasa kaget dan terCegang diatas wajahnya, ia segera berseru.

"Jangan jangan kau adalah ..."

Belum sempat ia menyebut nama orang itu, mendadak ia mengetuk dengan gagang huncweenya, begitu jalan darah pingsan Ting ci kang tertotok, kata-kata selanjutnya pun tak sanggup diteruskan lagi.

ooOOOoo Bab-14 Ketika Wi Tiong-hong mendusin kembali, ia merasa pemandangan yang berada disekeliling tempat itu telah berubah sama sekali.

Ia seperti lagi duduk bersandar diatas dinding, untuk sesaat dia tak tahu dimanakah dirinya berada ?

Ketika mencoba untuk membuka matanya, ia saksikan kegelapan mencekam disekeliling tempat itu, gelap gulita bagaikan berada ditengah malam, diam-diam ia merasa terkejut sekali.

Dengan sepenuh tenaga dia mencoba untuk mengumpulkan kembali semua daya ingatannya, dia masih ingat bagaimana dia dan Ting toako meninggalkan kota Sang siau menuju ke kuil Sik jin tian...

Ketika tengah hari tiba, mereka beristirahat dirumah seorang petani dibawah bukit, keluarga petani itu hanya terdiri suami isteri yang telah lanjut usia, yang laki berbaring diatas pembaringan sedang tidur, sedang si nenek yang berambut putih dan bertubuh bungkuk menyiapkan santapan siang bagi mereka berdua, kemudian..Kemudian dia pun tak dapat mengingatnya lagi.

Pokoknya mereka berdua seperti belum sampai meninggalkan rumah gubuk itu...

Tapi, dimanakah ia sekarang ?

Mengapa ia bisa berada disini ?

Diam2 ia mencoba untuk menghimpun tenaga dalamnya, terasa hawa murninya sukar dikerahkan se-akan2 terdapat beberapa buah jalan darahnya tersumbat, namun bila tidak mencoba untuk menyalurkan hawa murni, halmana sama sekali tidak dirasakan.

Ia mencoba untuk menggerakkan tangan dan kakinya, ternyata masih bisa bergerak dengan bebas, kontan saja kecurigaannya timbul, entah siapa kah orang itu ?

Mengapa jalan darahnya ditotok?"

"Aaah, dimanakah Ting toako ?"

Setelah memejamkan matanya, Wi Tiong hong segera mengerahkan segenap kemampuannya untuk memeriksa sekejap sekeliling tempat itu.

Kali ini, secara lamat-lamat dia dapat menyaksikan pemandangan disekeliling tempat itu, tapi apa yang kemudian terlihat membuatnya merasa terkejut sekali.

segera pikirnya dihati.

"Aaaah ... rupanya aku berada dipenjara, tapi ... kenapa aku disekap dalam rumah penjara?"

Walaupun ia belum pernah disekap didalam rumah penjara, tapi ia mengetahui dengan pasti kalau tempat ini adalah sebuah ruangan penjara yang amat kuat.

Luasnya cuma enam depa, kecuali dimana ia bersandar sekarang berupa dinding yang kokoh, tiga bagian lainnya merupakan terali besi yang sangat kuat, tepat dihadapannya merupakan sebuah pintu terali besi yang besar, pada gembokan pintu terpasang sebuah kunci yang benar sekali.

Rupanya ruang penjara berupa terali besi itu bukan cuma satu saja, sederetan memanjang kesamping paling tidak masih ada tujuh delapan buah dan disetiap bilik tampaknya ada tawanan yang disekap.

Sehingga bila dilihat sepintas lalu bentuknya persis seperti pagar terali tempat untuk memelihara binatang buas.

Sebenarnya berada dimanakah ia sekarang???

Kesalahan apakah yang telah diperbuat sehingga dijebloskan kedalam penjara???

Mendadak ia melompat bangun, hampir saja dia akan berteriak-teriak keras.

Tapi ketika sorot matanya dialihkan kearah lain, tiba-tiba dijumpainya orang yang disekap dalam ruang penjara disebelah kanannya adalah Tok Hay ji yang pernah dijumpai dalam perusahaanan wan Piaukiok, tampaknya luka yang diderita orang ini cukup parah, sebab dengan wajah yang layu dia sedang memejamkan matanya mengatur pernapasan.

"Masa dia adalah Tok Hay ji? mengapa diapun disekap ditempat ini. ..?"

Penemuan ini membuat Wi Tiong hong merata semakin keheranan, buru-buru dia mengalihkan pandangan matanya ke ruang bui disebelah kiri.

Ternyata orang yang duduk bersandar dinding ditempat itu tak lain adalah Ting toako yang bersamanya datang ke kuil Sik-jin-tian.

Pelan-pelan Wi Tiong hong menjadipaham kembali, kalau ditinjau dari keadaan ini dapat ditarik kesimpulan kalau tempat tersebut bukan penjara seperti apa yang diduganya semula, rupanya mereka ditawan oleh Thian Sat nio serta begundal-begundalnya.

Tanpa berpikir panjang lagi dia berjalan mendekati terali besi itu, kemudian sambil menarik terali besi tersebut, teriaknya keras2.

"Ting toako. ..."

Setelah ia mendekat kesitu, ia baru menjumpai kalau Ting ci kang pun sedang duduk memejamkam mata disana, tampaknya seperti juga keadaannya, beberapa buah jalan darahnya telah ditotok orang, sehingga sekarang ia sedang berusaha untuk menembusi jalan darah ini.

Butiran keringat sebesar kacang ijo nampak membasahi seluruh jidatnya.

Ketika mendengar panggilan dari Wi Tiong hong, pelan-pelan dia membuka matanya seraya menegur.

"Saudara Wi, kau pun telah mendusin?"

"Ting toako, berada dimanakah kita sekarang??"

Tanya Wi Tiong hong dengan suara yang keras.

"mengapa kita..."

Belum habis dia berkata, tiba-tiba terdengar suara membentak nyaring.

"Sttt ... .jangan keras-keras kalau ingin berbicara disini, jagalah ketenangan."

"Siapakah kau?"

Teriak Wi Tiong hong.

"tempat apa pula disini? Mengapa kami disekap ditempat ini?"

Sambil berkata dia lantas berpaling ke arah mana berasalnya suara tersebut.

Ternyata diujung barisan rumah penjara itu nampak seorang sipir bui sedang duduk disitu sambil melakukan pengawasan.

Dia adalah seorang manusia berbaju hitam, tapi karena ia duduk diujung ruangan dan lagi jaraknya teramat jauh, maka sulit untuk melihat jelas paras mukanya.

Terdengar manusia berbaju hitam itu mendengus dingin.

"Bocah keparat, masih saja ber-kaok2 keras? Nampaknya kau sudah bosan hidup?"

Wi Tiong hong masih ingin berkata lagi, tapi Ting ci kang yang disekap diruang sebelah segera menarik ujung bajunya sambil berbisik.

"Saudara Wi, bertanya lagi kepadanyapun percuma, lebih baik bersabarlah dulu untuk sementara waktu dan nantikan setiap perubahan dengan tenang, untung saya orang yang disekap dalam ruangan ini bukan hanya kita berdua."

Tampaknya Wi Tiong hong amat mempercayai perkataan Ting cin kang, sambil menahan diri segera bisiknya.

"Ting toako, tahukah kau siapa yang disekap disebelah kananku? Dia adalah Tok Hay ji."

Ting ci kang segera manggut-manggut.

"Bukan cuma Tok Hay ji saja, bahkan Ma-koan tojin, Thi Lo han dan si naga tua berekor botak pun sudah disekap semua ditempat ini."

Wi Tiong hong baru terperanjat setelah mendengar perkataan itu, kemarin ia masih menyaksikan kehebatan ilmu silat yang dimiliki ketiga orang itu, berbicara sesungguhnya, kepandaian mereka masih terhitung kelas satu dalam dunia persilatan tapi kenyataannya sekarang mereka toh disekap juga disini.

Dari sini dapat dibuktikan kalau mereka memang benar-benar ditangkap oleh Thian Sat nio.

Berpikir sampai disini, tak tahan lagi dia berseru.

"Ting toako, apakah ditangkap oleh Thian-Sat nio ?"

Ting ci kang termenung dan berpikir sebentar, lalu sahutnya dengan suara rendah.

"Mungkin saja benar, tapi sampai sekarang keadaannya masih belum begitu jelas..."

Belum habis dia berkata, mendadak dari ujung lorong sana nampak Cahaya api melintas lewat, agaknya disana terdapat sebuah pintu, seorang dengan membawa lampu lentera yang terbuat dari kertas minyak berhenti ditempat itu dan seperti lagi berbicara dengan orang berbaju hitam tadi...

Tapi lantaran jaraknya terlampau jauh, maka tidak jelas apa yang sedang mereka bicarakan.

Akhirnya mereka hanya mendengar orang berbaju hitam itu mengiakan dan membalikkan badan berjalan masuk keruang dalam.

Diam-diam Ting ci kang menitahkan Wi Tiong-hong agar duduk.

Orang berbaju hitam itu langsung berjalan menuju kedepan terali besi yang menyekap Ting ci kang dan berhenti, dari sakunya dia mengeluarkan sekelompok anak kunci dan membuka gembokan disitu.

Kemudian sambil membuka pintu besi, katanya dengan suara dalam.

"Chin congkoan kami mempersilahkan saudara Ting untuk menghadap. ada persoalan yang hendak diperbincangkan."

Ting ci kang segera bangkit berdiri berjalan menuju ke pintu, tanyanya.

"Siapakah Chin congkoan kalian itu ?"

"Maaf, aku tak dapat memberitahukan kepadamu."

"Kalau toh dia menyuruh aku orang she Ting untuk menghadap. mana boleh aku orang she Ting tidak menanyakan dulu siapakah dia ?"

Raut wajah orang berbaju hitam itu nampak kaku dan sama sekali dia itu tidak berperasaan apapun, tetap dengan sikapnya yang dingin dan menjawab.

"Aku hanya membukakan pintu besi untukmu, soal lain aku tidak tahu sama sekali."

Mendengar jawaban tersebut, Ting ci kang segera tertawa ter-bahak2, sahutnya.

"Haaaahhh... haaahhh... haaaahhhh... sekalipun kau tidak berbicara, akupun tahu, Chin congkoan kalian adalah Siautian kui jiu (tangan setan pembetot sukma) Chin Tay seng."

Paras muka orang berbaju hitam itu agak berubah. Tiba2 terdengar suara teguran merdu bergema dari ujung lorong tersebut.

"ciang losu, kenapa kau ? Mengapa tidak segera kau gusur keluar Ting ci kang ? Chin congkoan sedang menunggu."

"Baik "

Sahut orang berbaju hitam itu berulang kali, kemudian sambil mendepakkan kakinya ketanah dia berseru.

"sobat Ting, cepatan sedikit, Chin congkoan sedang menantikan dirimu ..."

Tampaknya dia seperti menguatirkan sesuatu sebab sampai suara pembicaraannya pun kedengaran gemetar.

Ting ci kang tertawa angkuh dan segera berpaling, dengan ilmu menyampaikan suara segera katanya kepada Wi Tiong hong.

"Saudara Wi, keadaan yang kita hadapi sekarang teramat kacau, sebelum aku balik kemari, ada persoalan apapun lebih baik disabarkan untuk sementara waktu."

Wi Tiong hong manggut-manggut.

Dengan langkah lebar Ting ci kang segera berjalan keluar dari balik terali besi dan menelusuri jalan lorong tersebut, menanti dia sudah keluar dari pintu diujung sana, Cahaya lentera disudut lorong segera dipadamkan dan suasana pun pulih kembali didalam kegelapan.

Tampaknya pintu disana telah dirapatkan kembali.

Setelah menghantar kepergian toakonya, Wi Tiong hong balik dan hendak duduk kembali, tiba-tiba dia seperti ada orang sedang memanggilnya.

"Ssttt..."

Ia segera berpaling, tampak Tok Hay ji sedang berjongkok disamping terali besi sambil menggape ke arahnya. Wi Tiong hong segera menghampirinya, dengan dipisahkan oleh terali besi dia bertanya.

"Ada urusan apa kau memanggilku ?"

Tok Hay ji segera menempelkan ujung jarinya ke atas bibir, lalu bisiknya lagi.

"Sstt ... kalau berbicara jangan keras2."

Didengar dari nada pembicaran yang berat, rendah dan parau, Wi Tiong hong dapat menduga kalau luka yang dideritanya tak enteng, maka dia lantas bertanya.

"Ada urusan apa ?"

"Aku ingin menitipkan satu pesan padamu, apakah kau bersedia membantuku?"

"Menitipkan soal apa?"

"Luka yang kuderita terlampau parah dan entah bisa melepaskan diri dari sini,"

Bisik Tok Hay ji.

"maka bila kau dapat melarikan diri dari tempat ini, tolong sampaikanlah pesanku ini kepada seseorang ... mau bukan ?"

"Sampai sekarang, siapakah yang menyekap diriku ditempat inipun tidak kuketahui dengan jelas, aku pikir sulit untuk melarikan diri"

Napas Tok Hay ji nampak tersengkal-sengkal, dia segera mengatur napasnya sebentar, lalu baru berkata.

"Aku percaya kau pasti dapat meloloskan diri dari sini dan kau pasti keluar dari sini lebih dulu daripada aku, itulah sebabnya aku hendak titip pesan kepadamu."

"Baiklah, kalau aku keluar lebih dulu dari sini, pasti akan kusampaikan pesanmu itu, tapi pesan itu harus kusampaikan kepada siapa dan dimana ?"

Tok Hay ji memejamkan matanya sambil menarik napas panjang, tiba-tiba wajahnya berubah menjadiamat serius, sambil merendahkan suaranya pelan2 dia berkata.

"Ulurkan tanganmu kemari, akan kutuliskan diatas tanganmu."

Wi Tiong hong segera menj ulurkan tangannya melewati terali besi dan disodorkan kedepannya, Tok Hay ji segera menulis beberapa huruf diatas telapak tangannya.

"Sampaikan kepada Hong tiang kuil Poo in si diluar pintu selatan kota Sang siau."

"Apa yang harus kuberitahukan kepadanya?"

Kembali Wi Tiong hong bertanya lagi. Tok Hay ji segera menulis kembai .

"Dibawah undak-undakan pintu pedang, gua ditanah kayu didalam."

Baca Juga: Pendekar Gila Kho Ping Hoo

Baca Juga: Harta Karun Kerajaan Sung 3

Cari Blog Ini

Diberdayakan oleh Blogger.

Parnert