Eps 3 Pedang Berkarat Pena Beraksara - Tjan ID
Baca online Pedang Berkarat Pena Beraksara - Tjan ID
Cersil Pedang Berkarat Pena Beraksara - Tjan ID.
"Hanya ucapan tersebut ?"
Tok Hay-ji nampak tersengkal sengkal dan mengangguk. kembali dia menulis.
"Persoalan ini adalah menyangkut keselamatan seseorang, kau harus menyampaikannya sebelum hari kesepuluh dari hari ini."
"Andaikata dalam sepuluh hari ini aku belum juga bisa meloloskan diri ... ?"
Tanya Wi-Tlong hong. Tok Hay ji berpikir sebentar, kemudian ujarnya.
"Kalau sampai demikian, lebih baik kita bicarakan sampai waktunya nanti."
Setelah terluka parah, agaknya dia sudah kelewat banyak berbicara, napasnya nampak tersengal-sengal dan mukanya makin memucat, pelan-pelan dia memejamkan matanya kembali dan tak berbicara lagi.
Wi Tiong hong sendiripun merasa gelisah sekali karena Ting toakonya yang dibawa pergi hingga kini belum nampak juga kembali, tak ada hentinya dia mendongakkan kepala memandang kepintu dilorong ujung sana.
Mendadak dari ujung lorong sana kembali nampak cahaya api memancar masuk.
pintu di buka orang dan muncul kembali seseorang sambil membawa lentera orang itu sedang berbisik-bisik dengan orang berbaju hitam yang menjaga penjara itu.
Selang sejenak kemudian, orang berbaju hitam itu mengiakan dan segera berjalan masuk kedalam ruangan.
Keadaan tersebut tak jauh berbeda dengan apa yang dilihatnya tadi, diam-diam Wi Tiong-hong segera berpikir.
"Nampaknya Ting toako telah selesai diperiksa, entah sekarang tiba giliran siapa ?"
Sementara dia masih berpikir, orang berbaju hitam itu sudah berhenti secara tiba-tiba di depan terali besi yang dihuni Wi Tiong hong.
Menyaksikan kejadian itu, Wi Tiong hong jadi sangat tegang, segera pikirnya.
"Ternyata aku yang diundang untuk berbicara, Ting toako belum kembali, nampaknya ia sedang menunggu kedatanganku."
Sementara dia masih termenung, orang berbaju hitam itu sudah mengeluarkan anak kunci dan membuka gemboknya didepan pintu, kemudian sambil membuka pintu besi itu tanyanya.
"Kau yang bernama Wi Tiong hong ?"
"Benar, memang aku."
"Ikuti aku keluar dari sini."
"Apakah Chin congkoan kalian mengundangku untuk ber-bincang2 ... ?"
Tanya Wi Tiong-hong.
"Entah "
"Kalau bukan Chin congkoan yang mengundangku kesana, masih ada siapa lagi ?"
Dengan tak sabar orang berbaju hitam itu segera menyahut.
"Setelah keluar dari sini, kau toh tahu sendiri, kalau kau bertanya kepadaku aku harus bertanya kepada siapa ?"
Mendengar perkataannya yang dingin dan kaku itu, membara juga hawa amarahnya dalam hati Wi Tiong hong, baru saja ia hendak mengumbar hawa amarahnya, mendadak ia teringat kembali dengan pesan Ting toakonya yang wanti2 kepadanya bersabar dalam menghadapi setiap persoalan, terpaksa dia harus menekan kembali perasaan hatinya.
Setelah keluar dari pintu besi, dengan langkah lebar dia segera menelusuri lorong tersebut.
orang berbaju hitam itupun tidak banyak bicara lagi, setelah menutup pintu besi, dia segera mengikuti dibelakang wi Tiong hong.
Tiba diujung lorong sana, tampak sebuah pintu terbuka lebar, seorang dayang berbaju hijau sedang berdiri disana sambil membawa sebuah lampu lentera.
Menyaksikan wi Tiong hong berjalan keluar, dia segera mengangkat lenteranya tinggi-tinggi untuk menyoroti wajah pemuda itu, kemudian tegurnya.
"Diakah yang bernama Wi Tiong hong?"
Sementara itu Wi Tiong hong telah meminjam sinar lentera itu untuk memperhatikan pula paras muka dayang berbaju hijau itu, tapi apa yang kemudian terlihat membuatnya tertegun.
Ternyata meski dayang ini berbicara dengan suara yang merdu dan lemah lembut, namun paras mukanya justru dingin lagi jelek.
hidungnya pesek dengan bibir yang tebal, hanya sepasang matanya yang nampak jeli dan bening.
Sementara ia sedang mengawasi wajah dayang tersebut, terdengar orang berbaju hitam yang berada dibelakangnya mengiakan berulang kali.
"Benar, benar, dialah yang bernama Wi Tiong hong."
"Tak bakal salah bukan?"
Kembali dayang berbaju hijau itu bertanya. orang berbaju hitam segera tertawa paksa.
"Tak bakal salah, beberapa orang saja yang hamba urusi, masa bisa salah pilih?"
Kembali dayang berbaju hijau itu mengalihkan sinar matanya ke wajah Wi Tiong hong, tapi setelah memandangnya sekejap. ia segera berkata dengan suara dingin.
"Kau bernama Wi Tiong hong?"
Ketika didengarnya dayang itu bertanya terus menerus dengan nada tak percaya, habis sudah kesabaran Wi Tiong hong, sahutnya pula dengan suara dingin.
"Kecuali aku, disini tak ada Wi Tiong hong kedua"
"Hmmm, tentu saja aku harus bertanya sampai jelas"
Dengus dayang berbaju hijau itu.
"sekarang tentunya nona sudah jelas bukan?"
Tiba2 terdengar orang berbaju hitam itu membentak marah.
"Bocah keparat, kau berani mencari gara gara dengan nona Hong?"
"Mengapa tidak?"
Tiba-tiba dayang berbaju hijau itu berpaling dan membentak ke arah manusia berbaju hitam itu.
"Kau tak usah banyak mulut "
Kemudian kepada Wi Tiong hong katanya lagi dengan suara dingin.
"sekarang, kau boleh keluar "
Secara diam-diam Wi Tiong hong dapat merasakan meski dayang berbaju hijau ini hanya seorang dayang, namun kedudukannya justru jauh lebih tinggi daripada orang berbaju hitam itu, maka tanpa banyak berbicara lagi dia menurut dan berjalan keluar dari pintu.
"Nona masih ada pesan apa lagi ?"
Tanya orang berbaju hitam itu kemudian sambil membungkukkan badannya.
"Tidak ada urusan lagi."
Orang berbaju hitam itu segera mengiakan dan menutup kembali pintu ruangan tersebut.
Didengar dari suara pintu yang menutup rapat tadi.
Wi Tiong hong dapat mengenali kalau suara tersebut terbuat dari besi baja yang amat tebal, hal ini membuatnya menjadi tertegun.
Dia lantas mengalihkan kembali sorot matanya kedepan, ia jumpai diluar pintu baja tersebut merupakan sebuah lorong gelap yang sangat panjang, cahaya lentera hanya bisa menyinari sekitar lima enam depa sehingga tak dapat terlihat berapa panjang lorong tersebut.
Dayang berbaju hijau itu berhenti tidak bergerak.
dari sakunya dia mengeluarkan selembar kain hitam, kemudian ujarnya dangan suara dingin.
"Bila kau ingin turut aku keluar dari sini, maka sepasang matamu harus di kat lebih dahulu berdirilah disitu dan jangan bergerak. aku hendak mengikatkannya lebih dulu sebelum berangkat."
"Peraturan macam apa itu ?"
Dayang berbaju hijau itu segera tertawa lebar-lebar sehingga kelihatan dua baris giginya yang putih bersih katanya.
"Tampaknya kau seperti enggan untuk keluar dari sini ?"
"Apakah nona hendak mengajakku untuk menjumpai Chin congkoan ?"
Tanya pemuda itu. Dengan cepat dayang berbaju hijau itu menggelengkan kepalanya berulang kali.
"Kau mah tak usah menjumpai Chin congkoan."
"Lantas nona hendak mengajakku kemana ?"
Wi Tiong hong merasa keheranan.
"cerewet amat kau ini, cepat tutup matamu dengan kain ini dan aku akan mengajakmu ke luar, setibanya diluar apakah kau tak akan mengetahui dengan sendirinya? Aku tak punya banyak waktu untuk ribut denganmu."
Wi Tiong hong segera termenung dan berpikir sebentar, teringat akan pesan Ting ci-kang yang memintanya agar bersabar dalam menghadapi setiap persoalan, diapun segera manggut-manggut.
"Baiklah, silahkan nona menutupi mataku."
Setelah menutupi sepasang matanya dengan kain hitam, dayang berbaju hijau itu baru berkata sambil tertawa merdu.
"Selesai, nah ikutilah aku sekarang "
Dia segera menarik ujung baju wi Tiong hong dan mengajaknya menuju kedepan.
Wi Tiong hong membiarkan dirinya dituntun maju kedepan tapi setelah berjalan sekian lama dan belum juga berhenti, tak tahan lagi lantas bertanya.
"Nona, sebenarnya kau hendak mengajak aku pergi ke mana?"
Dayang berbaju hijau itu segera tertawa cekikikan.
"Sungguh menjengkelkan, tampaknya sebelum kuberitahukan kepadamu, kau seperti kuatir ada orang hendak melahapmu? Ketahuilah, ada orang yang telah menebusmu keluar."
"Ada orang menebusku keluar?"
Makin lama Wi Tiong hong merasa semakin keheranan, dia lantas mendesak lebih jauh.
"maksud nona kalian hendak membebaskan aku?"
"Aneh sekali pertanyaanmu itu?"
Sambil berjalan dayang berbaju hijau itu berkata.
"setelah ada orang menebusmu, kalau bukan dibebaskan, lantas mau diapakan?"
"Entah siapakah orang itu?"
"Tentu saja teman karibmu."
"Teman karibku?"
Diam-diam Wi Tiong hong merasa keheranan, sejak kapan dia mempunyai sahabat karib? Karena semakin keheranan maka diapun bertanya lagi.
"sekarang orang itu berada dimana ?"
Sementara pembicaraan berlangsung, Wi Tiong hong merasa kakinya se-akan2 sedang menginjak anak tangga batu dan selangkah demi selangkah berjalan naik keatas.
Si anak muda itu segera berpikir lebih jauh mungkinkah orang yang telah menebusnya adalah sahabat Ting toako?
Mungkinkah Ting toako juga sudah berada di atas?
Berpikir sampai disitu tak tahan lagi dia lantas bertanya.
"Aku ingin ada satu persoalan ingin kutanyakan, harap nona bersedia menjawabnya."
"Persoalan apa ?"
"Apakah Ting toako sudah keluar dari sini ?"
Mendengar pertanyaan tersebut, dayang berbaju hitam itu segera mendengus dingin.
"Hmm, kau maksudkan Ting ci kang? orang ini memang pantas untuk di habisi nyawanya."
"Kenapa dengan Ting toako ?"
"Tidak apa apa, dia masih ada urusan."
Anak tangga batu itu paling tidak mencapai ratusan lebih, mendadak dayang berbaju hijau yang berjalan di depan menghentikan langkahnya, dia seperti sedang membuka sebuah papan batu, kemudian maju lagi tiga langkah sebelum akhirnya berkata.
"Nah, sekarang kau boleh melangkah keluar"
Wi Tiong hong segera melangkah keluar dari undak-undakan batu itu dan mencapai di muka tanah datar, sekalipun matanya masih di tutup dengan kain hitam, namun angin dingin yang menghembus lewat terasa menyegarkan badan.
Dayang yang memakai baju hijau itu masih saja menarik ujung bajunya dan mengajaknya berjalan ke kiri berputar ke kanan selama seperminum teh sebelum akhirnya berhenti.
Dengan suatu gerakan cepat dia menyelinap ke belakang tubuh wi Tiong hong, membebaskan kain hitam yang menutupi matanya, kemudian mengayunkan pula telapak tangannya menghantam punggung si arak muda itu.
ooooOoooo Bab-15 Wi Tiong hong segera merasakan sekujur badannya bergetar keras dan tahu-tahu nadi pentingnya yang tersumbat telah menjadi bebas kembali, menyusul kemudian pandangan matanya menjadi silau, tahu tahu dia sudah berdiri di tengah sebuah hutan.
Terdengar dayang berbaju hijau itu berkata di sisi telinganya.
"Temanmu sedang menantikan kedatanganmu diluar hutan sana, cepatlah kesana."
Kemudian tampak bayangan hijau berkelebat lewat, dengan cepat dayang itu sudah menyelinap kedalam hutan dan lenyap tak berbekas.
Memandang bayangan punggungnya, diam2 Wi Tiong hong merasa tertegun, pikirnya.
"Hanya seorang dayang saja sudah memiliki ilmu meringankan tubuh yang begitu sempurnanya, bisa dibayangkan betapa lihaynya majikan orang itu...Thian Sat niokah orang itu?? Yaaa, selain Thian Sat nio, masih ada siapa lagi??"
Berpikir sampai disitu, dengan langkah lebar dia segera berjalan menuju keluar hutan.
Sementara itu senja sudah menjelang tiba, sinar malahan sore memancarkan sinar keemas-emasnya menyinari seluruh jagad.
Diluar pohon siong tampak seseorang sedang berdiri menanti.
orang itu mengenakan sebuah topi pet berwarna merah da rah dengan jubah berwarna hijau terbuat dari kain wool, dia sedang bergendong tangan sambil memandang kejauhan, sikapnya amat santai.
Tertegun wajah Wi Tiong-hong menyaksikan wajah orang itu, sebab orang ini bukan cuma tidak dikenal saja bahkan perjumpaannya kali inipun merupakan perjumpaan untuk yang pertama kalinya, mengapa dia tahu kalau dia ditangkap oleh Thian Sat nio dan datang menebusnya?
Sungguh tajam pendengaran orang itu, baru saja Wi Tiong hong berjalan keluar dari dalam hutan, seolah-olah punggungnya punya mata, dengan cepat dia membalikkan badan dan manggut-manggut sambil tertawa katanya.
"Saudara Wi sudah datang? Mari kita pergi"
Sikapnya bagaikan bertemu dengan sahabat karib saja, begitu berjumpa lantas menyapa.
Sekarang wi Tiong hong baru dapat menyaksikan wajah dari orang ini, dia mempunyai muka berwarna merah dengan mata yang besar danalis mata yang tebal, usianya antara puluh tahunan dan benar-benar baru dijumpai untuk pertama kalinya.
Cuma, secara lamat-lamat dia pun merasa seperti kenal wajah tersebut, hanya untuk sesaat tidak teringat olehnya dimanakah mereka pernah bersua.
Setelah ragu-ragu sejenak.
dia lantas maju dua langkah ke depan, kemudian sambil menjura katanya.
"Saudara adalah ..."
Tampaknya orang itu dapat menangkap kesangsian yang menghiasi wajah si anak muda itu, maka sebelum ia sempat berbicara orang itu sudah tertawa terbahak-bahak.
"Haaahhh ..haaahhh .. haaahhh ...agaknya saudara Wi sudah tidak teringat lagi denganku? Haaahhh ...haaahhh ..tiga hari berselang, ketika fajar baru menyingsing, bukankah kau telah mengundangku dan losam untuk minum arak ?"
Setelah disinggung kembali, secara tiba-tiba Wi Tiong hong jadi teringat kembali siapa gerangan orang itu.
Tak heran kalau dia merasaamat mengenal wajah orang tersebut, ternyata dia tak lain adalah sipengemis pemain ular yang pernah dijumpainya tiga hari berselang.
Tahu siapa orang itu, dia segera berseru tertahan kemudian sambil menjura serunya.
"oooh --ternyata saudara adalah... ."
Mendadak ia berhenti berbicara, karena bagaimanapun juga dia merasa agak rikuh untuk mengucapkan kata "sipengemis penuhi ular"
Untung saja sebelum Wi Tiong hong sempat melanjutkan perkataannya, orang itu sudah tertawa terbahak-bahak sambil menukas.
"Kau sudah teringat? Benar, siaute adalah Kam Liu cu."
Begitu mendengar nama "Kam Liu cu"
Disebutkan, sekali lagi Wi Tiong hong menjadi tertegun-Bukankan Kam Liu cu adalah jagoan lihay dari Thian sat bun ?
Bukankah dia adalah si-manusia aneh berbaju hitam dan berilmu tinggi dan bertarung melawan Ma koan tojin, Thi Lohan dan si naga tua berekor botak tempo hari?
Begitu ingatan tersebut melintas didalam benaknya, dengan wajah tertegun ia lantas mendongakkan kepala sambil berseru.
"oooh, rupanya kau anggota Thian Sat bun."
Sahut Kam Liu cu.
"baru pagi tadi bila kau sudah terjatuh ke tangan orang orang Ban kim hwee, itulah sebabnya aku sengaja datang kemari untuk memintakan pembebasan bagimu, mereka tak mencelakai dirimu bukan ?"
"perkumpulan selaksa pedang ? jadi aku bukan ditahan Thian Sat nio?"
Wi Tiong-hong nampak keheranan. Kembali Kam Liu cu tersenyum.
"Suhu telah lama pergi dari tempat ini, justru dia sebagai orang tua telah melepaskan mereka karena memandang diatas wajah saudara Wipada hari itu, masa setelah melepaskan mereka lantas ditangkap kembali ?"
Wi Tiong hong segera teringat kembali kalau orang itu datang untuk menyelamatkan dirinya dan belum menyampaikan rasa terima kasih, buru-buru dia lantas menjura seraya katanya.
"Atas pertolongan saudara yang telah menyelamatkan jiwaku, aku mengucapkan banyak banyak terima kasih."
Kam Liu cu segera tertawa tergelak.
"Haaahhh... haaaanhhh... haaaahhh... kita kan sama-sama teman, masa urusan kecil ini mesti dipikirkan terus ?"
"Ada satu hal yang sama sekali tidak kupahami, entah saudara Kam bersedia untuk menjelaskan atau tidak ? Dikarenakan persoalan apakah orang orang Ban kiam hwee membekuk begitu banyak orang dan menyekapnya ?"
"Yaa, apa lagi ? tentu saja dikarenakan mustika Lo bun si tersebut . ."
"Lo bun si, benda apakah itu ?"
Wi Tiong hong keheranan dan merasa ingin tahu. Kam Liu cu memandang sekejap kearahnya kemudian baru menjawab.
"Saudara Wi, lebih baik kau jangan mencampuri tentang persoalan ini, suasana dalam dunia persilatan diwaktu ini sudah Cukup kaCau balau, mungkin saja hal ini menimbulkan kejadian yang tak di nginkan, persoalan itu toh tak ada sangkut pautnya dengan dirimu, lebih baik jangan ditanyakan lagi."
Melihat orang itu enggan banyak berbicara, sudah tentu Wi Tiong hong merasa rikuh untuk banyak bertanya lagi. Kam Liu cu memandang sekejap lagi kearahnya, kemudian ujarnya lebih lanjut.
"Saudara Wi, tempat ini sangat berbahaya. lebih baik kita cepat-cepat meninggalkan tempat ini saja."
Mendadak Wi Tiong hong teringat pada pedang karatnya yang telah diambil oleh orang-orang Ban Kiam hwee dan belum dikembalikan kepadanya, ia lantas berseru tertahan.
"Aaaah, pedangku telah diloloskan oleh mereka dan belum dikembalikan kepadaku."
Mendengar perkataan itu, Kam Liu cu segera tertawa terbahak-bahak.
"Haahh . , haahh . ,haahh . .apa artinya sebilah pedang mustika? Berapa hari kemudian aku pasti akan menggantinya dengan sebilah yang lebih bagus."
"Tidak bisa, pedang itu merupakan benda milik pamanku dimasa lalu dan merupakan satu-satunya tanda mata yang dia tinggalkan kepadaku, aku tak dapat kehilangan benda itu, harap saudara tunggu sebentar, aku akan mencari mereka untuk meminta kembali pedang itu."
Selesai berkata, dia lantas membalikkan badan berjalan menuju ketengah hutan.
"Saudara Wi, sekalipun engkau pergi untuk mencarinya juga percuma."
Seru Kam Liu cu.
"apalagi sekarang hari sudah malam, lebih baik kita mencari tempat untuk beristirahat lebih dulu, akan kuusahakan untuk mendapatkan kembali pedang tersebut."
Tergerak hati Wi Tiong hong, buru-buru katanya.
"Aku masih ada satu hal ingin mohon petunjuk."
"Soal apa?"
"Apakah saudara Kam sangat mengenal orang-orang dari Ban kiam hwe tersebut?"
"Guruku pernah mempunyai hubungan yang baik dengan Kiamcu generasi yang lalu,jadi boleh dibilang hanya suatu hubungan persahabatan biasa saja."
"Aku terbebas berkat tebusan dari saudara Kam, maka aku masih ada seorang teman..."
"Kau maksudkan Ting ci kang dari perkumpulan Thi pit pang ?"
"Benar, Ting toako yang kumaksudkan."
"Apakah kalian mempunyai hubungan yang sangat akrab ?"
"Walaupun aku belum lama berkenalan dengannya, tapi Ting toako adalah seorang yang supel dan gagah, lagi pula aku datang bersama dia tentu saja aku tak bisa menyaksikan Ting toako masih tetap tertinggal ditangan orang orang Ban kiam hwee sementara aku berhasil dibebaskan atas jaminan dari saudara Kam."
"Maksudmu kau hendak menolongnya melepaskan diri dari mara bahaya ?"
"Aku sadar bahwa kemampuan yang kumiliki masih belum mampu untuk berbuat demikian oleh karena itu aku ingin memohon bantuan dari saudara Kam, apakah kiranya dapat menebus pula Ting toako ?"
Kam Liu cu segera memperlihatkan rasa berat hati dan serba salah, katanya kemudian.
"Kedudukkan Ting ci kang berbeda dengan dirimu, aku rasa Ban Kiam hwe tak akan membebaskan dirinya dengan begitu saja."
Wi Tiong-hong yang mendengar pembicaraan seperti menyetujui buru-buru katanya lagi.
"Segala sesuatunya tentu berkat bantuan saudara Kam."
"Persoalan ini sedikit rada sukar..."
Kata Kam Liu cu sambil termenung. Dia memandang sekejap kearah Wi Tiong hong, mendadak tertawa terbahak-bahak.
"Haaahhh ... haaahhn ...haaahhh saudara Wi, hampir saja aku lupa kalau kau membawa lencana Siu lo cin leng ?"
"Betul, betul lencana Siu-Lo-cin-leng memang berupa lencana besi, benda itu merupakan tanda pengenal dari Siu-Lo cinkun dimasa lalu, barang siapa memegang lencana tersebut dia merupakan utusan dari cinkun, bagaimana juga utusan dari Ban kiam-hwee pasti akan memberi muka kepadamu."
Wi Tiong hong sama sekali tidak menyangka kalau lencana besi rongsokan yang ditemukan dalam peti kayu milikpaman yang tak di kenalnya itu mempunyai manfaat yang besar, tak heran kalau orang tua itu memberi pesan kepadanya agar menyimpannya baik2 dan jangan sampai hilang.
Sekarang masalahnya sudah jelas, rupanya waktu itu Thian Sat-nio mengundurkan diri karena telah menyaksikan lencana besi tersebut.
Berpikir demikian buru2 dia merogoh ke-dalam sakunya dan mengeluarkan benda itu.
"Saudara Kam, benda inikah yang kau maksudkan sebagai lencana Siu-Lo cin leng?"
Oleh karena lencana besi itu ia simpan di dalam baju bagian dalam, maka benda tersebut tak sampai didapatkan Thi Lohan. Kam Liu cu memandang benda itu sekejap. kemudian menganguk berulang kali.
"Benar, benar, memang benda itulah yang ku maksudkan, baik, mari kita sekarang juga berangkat."
Selesai berkata, dia lantas membalikkan badan dan berjalan menuju kaki bukit.
"Saudara Kam, tadi aku masuk dari tengah hutan sana, apakah mereka tidak berada disini?"
Wi Tiong-hong segera berseru. Tanpa berpaling Kam Liu cu tertawa terbahak-bahak.
"Haaahh ... haaahhh .... mereka sengaja bermain sembunyi dan berbuat setan untuk membohongimu, dia suruh aku tinggal dibawah tebing ciang su nia, paham mereka serombongan masih berada di depan sana."
Wi Tiong hong jadi teringat sewaktu ia digandeng oleh si dayung berbaju hijau tadi, jalanan yang ditempuh memang merupakan jalanan yang tingi rendah tak menentu, hal mana persis seperti apa yang dilalui sekarang, maka diapun lantas mengikuti dibelakang Kam Liu cu berjalan menelusuri kaki bukit.
Tak selang berapa saat kemudian mereka telah tiba dibawah kaki bukit berbatu itu, tanahnya tak terhitung tinggi namun batuan cadas berserakan dimana-mana, sebuah hutan telah menghadang jalan pergi mereka ...
Baru saja Kam Liu cu menghentikan langkahnya, dari dalam hutan sudah kedengaran suara seseorang membentak keras.
"Siapa disitu?"
Seorang lelaki berbaju hitam yang menyoren pedang dan bermata angkuh muncul dari dalam hutan dengan langkah lebar, sorot matanya yang tajam memperhatikan wajah kedua orang itu sekejap lalu berdiri tak bergerak disitu.
Kam Liu cu buru buru menjura, katanya.
"Sobat, tolong beritahu ke dalam kalau Kam Liu cu dari Thian sat bun ingin berjumpa dengan chiu congkoan kalian."
Lelaki berbaju hitam itu tidak mengucapkan sepatah katapun, dia segera membalikkan badan dan menyelinap ke dalam hutan.
Sepeninggal orang berbaju hitam itu, Kam Liu cu baru mendengus sambil berkata pelan.
"Tampaknya kawanan jago pedang berwarna hitam dari Ban kiam hwee rata-rata memiliki ilmu silat yang menganggumkan ..."
Ucapan tersebut diutarakan dengan setengah bergumam, seperti merasa kagum, tapi seperti juga bernada menyindir.
Wi Tiong hong merasa rikuh untuk menjawab pertanyaan tersebut, maka dia hanya membungkam, sorot matanya dialihkan memperhatikan pandangan alam sekeliling tempat itu.
Mereka berdua menunggu sesaat lamanya namun belum ada juga yang muncul, nampaknya Kam Liu cu sudah tidak sabar menunggu.
Wi Tiong hong segera bertanya.
"Saudara Kam, sebenarnya tempat apakah ini?"
"Pit bu san..."
Sahut Kam Liu cu cepat. Sambil berkata dia awasi hutan itu lekat-lekat kemudian katanya seraya berpaling.
"Mari kita masuk saja"
Selesai berkata, dia lantas masuk dulu ke dalam hutan dengan langkah lebar.
Dalam perjalanan kali ini, sudah barang tentu Kam Liu-cu pemimpinnya, maka Wi Tiong hong menyaksikan dia berjalan masuk ke dalam hutan, serta merta diapun mengikuti di belakangnya.
Baru saja mereka berdua masuk kedalam hutan, tampak bayangan manusia berkelebat lewat, kembali ada seorang lelaki berbaju hitam yang menyoren pedang menghadang jalan pergi mereka.
"Harap kalian berdua berhenti"
Serunya dingin. Kam Liu cu mendengus dingin.
"Hmmm, kami datang kemari untuk mencari Chin congkoan kalian."
Serunya.
"Sudah ada orang yang masuk ke dalam untuk memberi laporan, sebelum congkoan mengijinkan kalian berdua masuk ke dalam, lebih baik kalian berdua menunggu saja diluar hutan."
Kam Liu cu mengerutkan dahinya, mencorong sinar merah membara dari balik matanya, dia seperti hendak mengumbar hawa amarahnya itu.
Untung saja lelaki berbaju hitam yang masuk ke dalam untuk memberi laporan tadi sudah muncul kembali pada saatnya, terdengar dia berkata dengan lantang.
"Chin congkoan mempersilahkan kalian berdua masuk kedalam."
Lelaki berbaju hitam yang menghadang dihadapan mereka berdua pun tidak banyak berbicara lagi, dia segera menyelinap kesebuah pohon. sekali lagi Kam Liu cu mendengus dingin.
"Hmm, besar amat lagak dari Chin congkoan kalian itu "
Serunya. Jalan kecil didalam hutan menghubungkan langsung dengan sebuah bangunan rumah gubuk di-depan sana, saat itulah terdengar suara teguran nyaring berkumandang keluar dari balik rumah gubuk itu.
"Kam thayhiap. setelan pergi kau muncul kembali, aku rasa pasti ada sesuatu petunjuk yang hendak kau sampaikan, kebetulan lohu sedang ada sedikit persoalan sehingga tak dapat menyambut kedatanganmu itu."
Begitu suara itu muncul, nampak pula seorang kakek berbaju hitam yang kurus kecil sambil membawa sebuah huncwe berjalan keluar dari balik rumah gubuk itu untuk menyambut kedatangan mereka.
Menjumpai kakek itu, Wi Tiong hong segera berpikir.
"Rupanya orang inilah Chin congkoan dari Ban kiam hwee, benar benar kedudukan seseorang tak bisa dinilai dari rupa, Seandainya aku tidak bersua muka disini, aku benar-benar akan menganggapnya sebagai seorang kakek dusun"
Sementara itu Kam Liu cu telah tertawa terbahak-bahak.
"Haaahhh...haaahhh.. .haaabhh.. .Chin loko kelewat merendah, yaa, benar siaute memang masih ada sedikit urusan kecil yang mesti merepotkan loko."
Chin congkoan memandang sekejap kearah Wi Tiong hong, kemudian mempersilahkan mereka berdua masuk ke dalam ruangan, setelah itu katanya sambil mempersilahkan.
"Duduklah Kam tayhiap."
"Terima kasih banyak atas kesudian Chin loko memberi muka kepada siaute dengan melepaskan Wi lote, untuk itu terimalah rasa terima kasih siaute"
Kata Kam Liu cu sambil menjura. Chin congkoan segera tertawa ter-bahak2.
"Haaahhh ... haaahhh ... haaahhh . ."
Memandang diatas wajah emas dari Kam tay-hiap. lohu mana berani tidak menuruti semua permintaan Kam tayhiap?"
Ucapannya memangamat sedap didengar. Kembali Kam Liu cu berkata.
"Saudara Wi ini merasa masih mempunyai sebilah pedang yang masih tertinggal disini, maka aku harap..."
Belum habis perkataan itu diucapkan, Chin congkoan telah menukas dengan cepat.
"Aaah, itu mah urusan kecil, itu mah urusan kecil, mungkin sebelum pergi mereka telah melupakan hal ini, baiklah lohu segera periksakan hal tersebut". Selesai berkata dia lantas bertepuk tangan sekali, dari balik ruangan segera muncul seorang bocah berbaju hitam yang berdiri dengan sikap sangat menghormat. Kata Chin congkoan kemudian.
"Pergilah ke nona Hong dan coba tanyakan kepada dia, dengan sebilah pedang yang milik Wi Tiong hong sauhiap masih tertinggal disini, suruh dia segera mengambilnya."
Bocah berbaju hitam itu segera mengiakan, dia lantas membalikkan badan dan mengundurkan diri dari situ.
Tak selang berapa saat kemudian, dia telah muncul sambil membawa sebilah pedang dan dipersembahkan dengan hormat.
Chin congkoan segera menuding kearah Wi Tiong hong sambil menambahkan.
"cepat kembalikan kepada sauhiap,"
Sedang kepada Wi Tiong hong ujarnya.
"Wi sauhiap. coba kau periksa, apakah pedang benar pedang tersebut?"
Wi Tiong hong menerima pedang tersebut dari tangan si bocah berbaju hitam, kemudian manggut-manggut.
"Yaa, benar memang benda inilah milikku, terima kasih banyak Chin cong koan."
Chin congkoan sama sekali tidak menggubris perkataan itu, dia lantas berpaling kembali kearah Kam Liu cu sambil berkata lebih lanjut.
"Maaf seribu kali maaf, bagaimanapun juga hal ini merupakan keteledoran anak buahku sehingga harus merepotkan Kam thayhiap untuk datang sendiri kemari, lohu benar2 minta maaf."
Kam Liu cu tertawa tergelak.
"Aaah, Chin loko terlalu merendah, Selain daripada itu siaute masih ada satu hal pula yang hendak dirundingkan dengan Chin loko."
Chin congkoan agaknya tertegun setelah mendengar perkataan itu, kemudian dengan senyum tak senyum dia berkata.
"Entah Kam thayhiap masih ada petunjuk apa?"
"Saudara Wi merasa masih ada seorang rekannya yang tetap ditahan di sini ..."
Sengaja dia menarik panjang nada terakhir dari perkataan tersebut kemudian tidak dilanjutkan lebih jauh.
Chin congkoan menghisap huncweenya dalam-dalam kemudian menyemburkan asap tebal ke udara, dia menatap wajah Kam Liu cu lekat lekat, kemudian katanya pelan.
"Kam tayhiap. silahkan kau utarakan dengan terang terang."
Dia sudah tau kalau yang dimaksudkan oleh Kam Liu cu adalah Ting ci kang namun dia bergelak seolah-olah tak mengerti. Kam Liu cu tertawa, lanjutnya lebih jauh.
"orang yang siaute maksudkan itu adalah Ting ci kang dari perkumpulan Thi pit pang."
Paras muka Chin congkoan tetap tenang tanpa emosi, dia mengangguk pelan.
"Jadi maksud Kam tayhiap..."
Kam Liu cu tertawa terbahak-bahak.
"Haaaahhh... haaahhh.., haaahhh... maksud kedatangan kami adalah meminta kepada Chin loko agar bersedia pula untuk melepaskan Ting ci kang."
Chin congkoan tertawa hambar.
"Pemintaan dari Kam thayhiap seharusnya siaute turuti."
Buru2 Kam Liu cu menjura sambil berkata.
"Berkat kesudian Chin loko untuk memberi muka kepada siaute, kau telah memberi suatu kebaikan kepadaku, kali ini aku tak berani memohon sendiri kepada Chin loko atas permintaan tersebut."
"Lantas hal ini menurut kemauan siapa???"
Tanya Chin congkoan agak tertegun. Kam Liu cu segera menuding kearah Wi-Tiong hong sambil menjawab.
"Atas permintaan dari saudara Wi, dia adalah murid Thian goan totiang dari Butong pay, dia memohon kepada Chin loko agar sudi memberi muka pula kepadanya."
Chin congkoan melirik sekejap kearah Wi Tiong hong, kemudian dengan senyum tak senyum dia mendengus pelan, setelah itu baru katanya dengan cepat.
"Sepantasnya kalau lohu pun memberi maka kepada Wi sauhiap. cuma saja sahabat Ting ini jauh berbeda dengan Wi sauhiap Heeehhh ... heeehh.... berbicara yang lebih jelas lagi, justru karena Wi sauhiap melakukan perjalanan bersama sobat Ting, maka kau baru ikut-ikutan terundang kemari, oleh karena itulah walaupun engkau tidak diminta oleh Kam tayhiap. lohu sendiripun dapat segera membebaskannya. Sedangkan mengenai Ting ci kang, dia merupakan orang yang diserahkan atasan kepadaku, maaf kalau lohu tak dapat menuruti permintaanmu itu."
"Jadi kalau begitu Chin loko tidak bersedia memberi muka kepada saudara Wi?"
Seru Kam Liu cu cepat. Nada suaranya sudah mulai mendesak dan menyudutkan orang.
"Tentang soal ini lohu benar-benar tak sanggup memberikan keputusannya, harap Kam-tayhiap sudi memaafkan."
Dia tidak mengucapkan kata-kata tersebut kepada Wi Tiong hong kecuali terhadap Kam Liu-cu, itu berarti dia sama sekali tidak memandang sebelah matapun terhadap Wi Tiong hong.
Kam Liu cu segera mengangkat bahunya sembari berkata.
"Soal ini sama sekali tiada hubungan dengan siaute, dan tadipun sudah siaute terangkan berulang kali, kali ini aku tak berani memohon bantuan serta kemurahan dari loko lagi, cuma entahlah saudara Wi akan menerimanya atau tidak ?"
Hanya saja secara diam-diam dia merasa heran, pemuda she Wi itu sesungguhnya dilepaskan berkat ia memberi muka kepada pihak Thian Sat bun, sedang dia sendiri sama sekali tak memandang sebelah matapun juga kepadanya.
Tapi kalau didengar dari perkataan Kam Liu cu, dia seperti mempunyai asal usul besar.
Chin congkoan adalah seorang jago kawakan yang sudah berpengalaman banyak tahun dalam dunia persilatan sudah barang tentu dia dapat memahami pula apa yang di maksudkan oleh Kam Liucu tersebut.
oooOOooo Bab-16 TIDAK.
Kam Liu Cu juga pernah berkata kalau dia tak lebih hanya muridnya Thian Goan Cu dari Bu-tong pay.
Perkumpulan Ban kiam hwee takkan memandang sebelah matapun terhadap perguruan Bu tong pay, soal ini tentu saja Kam Liu cu mengetahui dengan amat jelas, tapi mengapa dia malah melimpahkan persoalan itu kini diatas tubuh pemuda she Wi tersebut ?
Chin congkoan sudah termasuk seorang jagoan tua yang sangat lihay, tapi kali ini dia tak habis tahu dibuatnya, dia tak tahu mainan busuk apakah yang sesungguhnya sedang dilakukan oleh Kam Liu cu kepada dirinya?.
Setelah termenung sebentar dengan perasaan ragu, akhirnya dia berpaling kearah Wi Tlong hong dan tertawa tenang.
"Entah Wi sauhiap ada petunjuk apa?"
Tegurnya. Diam-diam Kam Liu cu memberi kerlingan mata kepada pemuda itu, kemudian katanya sambil tertawa.
"Saudara Wi, apa yang diucapkan Chin loko memang benar, Ting ci kang dari perkumpulan Thi pit pang merupakan orang yang diserahkan Kiam cu mereka kepadanya, tentu saja Chin loko tak bisa mengambilkan keputusannya. ."
Chin congkoan makin lama semakin keheranan, tiba tiba saja Kam Liu cu membantunya berbicara, itu berarti dibalik kesemuanya itu pasti ada sebab musababnya.
Tampak Kam Liu cu tersenyum, kemudian berkata lebih lanjut .
"Lebih baik kau keluarkan saja tanda lencana tersebut, agar Chin loko juga turut menyaksikannya, dengan begitupun dia bisa memberikan pertanggunganjawabnya kepada Kiam cu."
Wi Tiong hong memang sudah mempersiapkan sedari tadi, dia segera mengiakan dengan Cepat merogoh keluar lencana besi itu dari saku-nya, kemudian sambil berdiri lurus dia membuka telapak tangan kirinya dan memperlihatkan lencana besi yang berwarna hitam pekat itu.
Chin congkoan adalah seorang yang berpengalaman sangat luas, begitu menyaksikan lencana besi tersebut paras mukanya kontan saja berubah hebat, sambil tertawa paksa buru buru dia menjura.
"Aaah... rupanya Wi sauhiap adalah pemegang lencana Siu lo cin leng, maaf . .. maaf."
Pada saat itulah Kam Liu cu telah berbisik kembali dengan ilmu menyampaikan suara.
"Saudara Wi, sekarang kau sudah boleh menyimpan kembali lencana tersebut."
Wi Tiong hong menurut dan segera masukkan kembali lencana besi itu kedalam sakunya. Terdengar Chin congkoan berkata kembali.
"Lencana Siu lo cin leng hampir dua puluh tahun lamanya tak pernah muncul didalam dunia persilatan, kalau toh Wi sauhiap membawa lencana tersebut, tentu saja atasan kamipun harus menuruti perkataan sauhiap. cuma tidak diketahui apakah Wi sauhiap bersedia memberi waktu satu hari kepada kami sehingga lohu bisa melaporkan dulu kejadian ini kepada atasan kami sebelum dilakukan pembahasan."
"Chin congkoan akan melepaskan kapan?"
Tanya Wi Tiong hong kemudian.
"Besok tengah hari, asal Wi sauhiap meninggalkan alamat, saudara Ting pasti akan pergi mencarimu sendiri."
Wi Tiong hong termenung dan berpikir sebentar, kemudian diapun mengangguk.
"Baiklah, aku akan menantikan kabarmu dirumah penginapan Ko ciau di kota Sang siau."
"Baik, kita putuskan dengan sepatah kata ini."
"Saudara Wi"
Kam Liu cu segera berkata.
"waktu sudah tidak banyak lagi, mari kita pergi".
"Haaahhh ...haaahhh... Chin loko, maaf kalau aku telah mengganggumu."
Selesai berkata dia lantas menjura dan berjalan keluar dari dalam rumah gubuk itu.
Wi Tiong hong juga turut menjura, lalu mengikuti dibelakang Kam Liu cu berjalan keluar dari rumah gubug itu.
Sekulum senyuman licik yang menggidikkan hati segera tersungging diujung bibir Chin conkoan, tapi dia mengikuti juga dibelakang kedua orang itu, setibanya diluar rumah gubuk dia baru berseru lantang.
"Silahkan kalian berdua berjalan sendiri, maaf kalau lohu tak dapat menghantar lebih jauh."
Tak selang berapa saat kemudian, kedua orang itu sudah keluar dari dalam hutan. Sambil berjalan Kam Liu cu segera berkata.
"Saudara Wi, sewaktu kau mengeluarkan lencana tadi, mengapa tidak kau minta kepadanya untuk segera melepaskan tawanannya ?"
Wi Tiong hong menjadi tertegun setelah mendengar perkataan itu, serunya kemudian.
"Mengapa saudara Kam tidak mengatakan sedari tadi?"
"Kau yang memegang tanda lencana tersebut, tentu saja kau pula yang harus berbicara. Kebiasaan lencana Siu lo cin leng, lencana datang perintahpun datang, kecuali kalau dia menolak lain ceritanya, kalau tidak masa diberi waktu untuk mengulur ulur waktu ?"
"Apakah besok dia akan melepaskan orang?"
Tanya Wi Tiong hong dengan cepat. Kam Liu cu segera tertawa.
"Soal itu tak usah kau kuatirkan, Chin Tay-seng sudah terhitung seorang jago yang termasyhur selama banyak tahun, setelah dia menyanggupi permintaanmu untuk melepaskan orang pada esok tengah hari, tentu saja apa yang dijanjikan akan ditepati."
"Maksudku semula adalah suruh dia melepaskan orang lebih dulu kemudian baru melaporkan kejadian tersebut kepada Kiam-cu nya, tapi sekarang kejadiannya malah terbalik, dia melaporkan kejadian tersebut kepada Kiam-cu nya lebih dulu sebelum melepas orang."
Wi Tiong hong segera menghembuskan napas panjang.
"Asal apa yang dikatakannya masuk hitungan dan Ting toako benar benar dilepaskan, sekalipun terlambat sehari juga tidak jadi soal."
Kam Liu cu tersenyum.
"Hati orang siapa tahu, apalagi dunia persilatan memang merupakan suatu tempat yang amat berbahaya dengan segala macam kelicikan ada didalamnya, setiap saat bisa terjadi suatu peristiwa yang sama sekali diluar dugaan, itulah sebabnya selama melakukan perjalanan didalam dunia persilatan, jangan percaya kepada orang lain, lebih baik percaya kepada dirinya sendiri."
Berbicara sampai disitu, dia mendongakkan kepalanya memandang keadaan cuaca sejenak, kemudian katanya lagi.
"Sekarang hari sudah mulai gelap. bila saudara Wi ingin berangkat ke kota Sang siau, lebih baik cepatlah berangkat."
"Apakah saudara Kam tak akan pergi kekota Sang siau?"
"Aku masih ada urusan lain yang harus segera diselesaikan tak mungkin bagiku untuk menunda waktu lagi. Kita adalah sobat yang bertemu secara kebetulan, aku ingin sekali menyampaikan sebuah nasehat kepadamu, dan aku rasa ucapan mana mau tak mau terpaksa harus kusampaikan juga kepadamu menjelang perpisahan ini. Saudara Wi, kau baru terjun ke dalam dunia persilatan, tidak baik kalau mencampuri urusan ini, lebih baik bagaimana urusan sudah beres besok, cepatlah tinggalkan kota Sang siau ini."
"Nasehat dari saudara Kam pasti akan siaute ingat terus."
Sahut Wi Tiong-hong dengan serius.
"dan terima kasih atas pertolonganmu siaute tak tahu setelah perpisahan pada hari ini, sampai kapan lagi kita bisa berjumpa kembali??"
Kam Liu cu segera tertawa terbahak-bahak.
"Haahh...haahhh ...selama kita melakukan perjalanan dalam dunia persilatan, kesempatan untuk bersua kembali akan dijumpai setiap saat, semoga saudara Wi bisa baik baik menjaga diri dalam perjalananmu selanjutnya."
Dia segera melompat menuju kejalan raya, dan bergerak kedepan dengan cepat, didalam waktu singkat bayangan tubuhnya sudah lenyap dibalik kegelapan sana.
Menanti bayangan tubuh orang itu sudah menjauh, Wi Tiong hong baru berpikir.
"Tempo hari sebenarnya aku tidak bermaksud untuk berkenalan dengannya, padahal kalau dibilang berkenalan pun tidak tepat, sebab aku hanya kena ditipu uang sebesar berapa puluh tahil perak belaka, sungguh tak kusangka sewaktu aku menjumpai bahaya, dia justru datang membebaskan diriku. Terutama pula kegagahannya dan kesetiaan kawannya, dia benar benar seorang sahabat sejati ..."
Untuk sesaat dia merasa menjadi bimbang sekali, dalam dunia persilatan penuh dengan kejahatan dan kebaikan, ia tidak habis mengerti perguruan Thian sat bun sesungguhnya suatu perguruan yang baik ataukah perguruan jahat?
Tidak!!
Terlalu banyak persoalan yang tidak diketahui olehnya, termasuk juga asal usul sendiri, paman yang tak diketahui namanya serta serentetan kejadian yang telah berlangsung baru-baru ini.
Kini langit sudah menjadi gelap.
Wi Tiong hong tak sempat untuk berpikir lebih jauh lagi, dengan langkah lebar dia segera berangkat menuju ke arah kota Sang siau.
Sementara perjalanan sedang dilakukan mendadak dari arah depan sana secara lamat-lamat dia saksikan ada sesosok bayangan manusia sedang melakukan perjalanan pula kearah depan, tampaknya orang itupun hendak menuju kekota Sang siau pula.
Untuk sesaat dia tidak terlalu memperdulikan akan persoalan itu, dia hanya mempercepat langkahnya untuk menempuh perjalanan.
Dari bukit Pit bu sau san sampai di kota Sang siau, jaraknya tak lebih cuma puluhan lie.
Satu didepan yang lain dibelakang.
kedua belah pihak sama sama melakukan perjalanan dengan cepat.
Tak selang sepertanak nasi kemudian, dari kejauhan sana sudah nampak titik hitam yang merupakan dinding kota.
Mendadak orang yang berjalan didepannya itu menghentikan langkahnya, membalikkan badan dan menghadang di tengah jalan.
Wi Tiong hong sama sekali tidak menyangka kalau secara tiba-tiba dia bakal menghentikan perjalanannya dan menghadang ditengah jalan-Hatinya menjadi tertegun dan buru buru pula menghentikan perjalanannya.
sekarang dia sudah berada kurang lebih satu kaki dihadapan orang tersebut.
Di bawah sinar cahaya rembulan, dapat dilihat kalau orang itu adalah seorang pemuda berbaju biru, ditangan kanannya dia membawa sebuah kipas, usianya paling banter baru dua puluh tahunan, wajahnya ganteng dan tubuhnya tegap.
Waktu itu, pemuda berbaju biru tersebut sedang berdiri dengan wajah diliputi kegusaran, terdengar ia menegur dengan suara dingin.
"Apakah kau tidak merasa bahwa caramu menguntitku dari belakang merupakan suatu perbuatan yang sangat bodoh?"
Wi Tiong hong agak tertegun, lalu sahutnya sambil menjura.
"Saudara salah paham, aku tidak bermaksud menguntitmu, akupun sedang melakukan perjalanan .. ."
"Tutup mulutmu"
Bentak pemuda berbaju biru itu dengan kuning berkerut.
"siapakah yang akan menyebut saudara denganmu ?"
Mendengar bentakan tersebut, sekali lagi Wi Tiong hong merasa tertegun, segera pikirnya.
"Sombong amat orang ini, masa disebut saudara saja marah2? Toh aku memanggilnya sebagai saudara hanya dalam sopan santun saja?"
Sementara dia masih termenung, pemuda berbaju biru itu sudah menegur dengan dingin.
"Sepanjang jalan kau sudah menguntit diriku terus menerus, sudah pasti kau mendapat perintah dari seseorang untuk melakukan hal ini, asalkan kau bersedia mengakui terus terang aku bisa saja memberikan hukuman yang agak ringan kepadamu."
Wi Tiong hong merasa agak mendongkol juga setelah mendengar perkataan dari orang yang sama sekali tak tahu aturan itu, dengan suara dingin dia lantas berseru.
"sobat, ucapanmu itu. ."
"Siapa yang akan bersahabat denganmu?"
Sekali lagi pemuda berbaju biru itu menukas.
"aku hanya bertanya kepadamu, siapa yang memerintahkanmu untuk mengikuti aku ?"
Dua kali kena dibentak secara kasar oleh lawannya, Wi Tiong hong sudah bilang dia tak sanggup untuk menahan diri lagi, ditatapnya wajah lawannya lekat-lekat kemudian tegurnya.
"Kau hendak pergi ke mana?"
"Hmm, kau juga pantas untuk bertanya kepadaku hendak ke mana?"
Dengus orang itu. Mencorong sinar tajam dari balik mata Wi Tiong hong, dia segera tertawa nyaring.
"Haaahh ... haaahhh ...haaahhh ...itulah dia, kalau aku tidak pantas untuk bertanya kepadamu, tahukah kau bahwa kaupun tidak berhak untuk menanyai diriku."
Tampaknya pemuda berbaju biru itu agak tertegun setelah mendengar ucapan tersebut, tanpa terasa dia mengawasi wajah Wi Tiong hong sekali lagi, kemudian nada sinis serunya.
"Tampaknya nyalimu tidak terhitung kecil?"
"Yaaa, lagakmu juga tidak terhitung kecil "
Sambung wi Tiong hong dengan cepat.
"Hmmm, mungkin kau masih belum tahu siapakah aku?"
"Jalan yang terbentang disini adalah jalan pemerintah, kau boleh melewatinya, mengapa aku tidak? Aku pun tak ingin mengetahui siapakah kau, sedang kaupun tak usah tahu siapakah diriku ini."
Paras muka pemuda berbaju biru itu segera berubah hebat, mencorong sinar penuh hawa dari balik matanya, sambil tertawa dingin serunya.
"Tampaknya jika kau tidak diberi sedikit pelajaran, tentu enggan rasanya untuk berbicara terus terang?"
Wi Tiong hong tertawa.
"Kalau keadaan berbalik dan akulah yang menuduh kau yang menguntilku sepanjang jalan, apakah kau hendak mengakui akan hal ini?"
Pemuda berbaju biru itu segera mendongakkan kepalanya dan tertawa terbahak-bahak.
"Haaahhh ... haaahhh .... haaahhh ... tampaknya sebelum melihat peti mati kau takkan mengucurkan air mata ? jika kau enggan berbicara secara terus terang, itu berarti kau sedang mencari kematian buat dirimu sendiri."
Mendengar ucapan mana, Wi Tiong hong segera berpikir.
"Heran, mengapa dunia persilatan ini penuh dengan manusia yang tak tahu aturan? Baru bisa sedikit ilmu silat, sikapnya sudah sombong, jumawa dan lagaknya luar biasa, sedikit-sedikit lantas turun tangan mengajak orang berkelahi .. ?"
Berpikir demikian, dia lantas berkata sambil tertawa.
"Kalau di dengar dari pembicaraanmu itu, tampaknya kau hendak mengajakku untuk berkelahi."
"Hmmm...dengan mengandalkan kemampuan itu masih belum pantas untuk bertarung melawanku."
Wi Tiong hong masih muda, diapun berjiwa panas, maka setelah mendengar perkataan yang jelas tak memandang sebelah matapun padanya itu, kontan saja rasa mendongkolnya muncul, dengan suara keras teriaknya lantang.
"Mengapa tidak pantas ?"
Pemuda berbaju biru itu sengaja mendongakkan kepalanya memandang keangkasa dengan Sikap yang amat dingin, dan sombong.
"Dibawah ujung senjata Tan san-gin-sau (Baju biru kipas perak) tak pernah membiarkan korbannya tetap hidup, kalau kau hendak menantangku untuk bertarung maka kau bakal mampus secara mengenaskan, kau akan hal ini ?"
"Mengerti soal apa ?"
"Kau ingin menggorok leher sendiri? Atau menantangku untuk bertarung ?"
Ketika Wi Tiong hong mendengar nada pembicaraan orang itu makin lama semakin sesumbar, seakan-akan asal dia turun tangan niscaya bakal mati secara mengenaskan, kontan saja amarahnya berkobar, pikirnya dengan cepat.
"Sekalipun ilmu silatmu amat lihay, hari ini aku pasti akan mengajakmu untuk beradu kepandaian."
Berpikir demikian, dia lantas menyahut sambil tertawa nyaring.
"Sekalipun aku harus mati, mengapa tidak kau perlihatkan dulu sedikit kepandaian silatmu itu dihadapanku ?"
"Bagus sekali."
Begitu ucapan tersebut diutarakan mendadak pemuda berbaju biru itu menerjang kedepan dengan kecepatan luar biasa, pergelangan tangan kanannya diangkat, lalu dengan menggunakan senjata kipas peraknya dia menotok ke atas dada Wi Tiong hong dangan suatu serangan gencar.
"Roboh kau "
Bentaknya.
Sejak mendengar perkataan yang jumawa dan tekebur, Wi Tiong hong memang telah bersiap sedia menghadapi segala kemungkinan yang tak di nginkan.
Maka begitu dilihatnya pihak lawan menggerakan bahunya sambil menerjang kedepan, serta merta dia berkelit kesamping kiri untuk meloloskan diri.
Kemudian tangan kanannya dengan jurus ceng Liong thamjiau (naga hijau mementangkan Cakar) telapak tangannya langsung dihantamkan keatas senjata kipas lawan.
"Belum tentu begitu"
Sahutnya Cepat. Baru saja perkataan tersebut diutarakan mendadak terdengar..."
Sreet!"
Segulung desingan angin tajam sudah menyambar lewat dari depan dadanya.
Untung saja dia berkelit cukup cepat, kalau tidak andaikata jalan darahnya sampai kena terhajar oleh serangan tersebut, niscaya dia benar-benar akan roboh terkapar ke atas tanah.
Terkesiap juga hati Wi Tiong hong menghadapi kelihayan lawannya, dia segera berpikir.
"Padahal usia orang ini belum begitu besar, tapi hanya sebuah serangan yang dilancarkan sekenanya saja sudah sanggup memancarkan tenaga sergapan sedemikian dahsyatnya, tak heran kalau ucapannya begitu sombong dan tekebur."
Ketika pemuda berbaju biru itu menyaksikan serangan yang dilancarkan sama sekali tak mengenai sasarannya, diapun nampak agak tertegun, tapi kemudian serunya lagi sambil mengejek dingin.
"Kau sanggup menghindarkan diri dari serangan kipas perakku tadi, hal ini menunjukkan kepandaianmu lumayan juga, sungguh diluar dugaanku. ."
Wi Tiong hong tertawa terbahak-bahak.
"Haaahhh..haaahhh. ..haahhh... sekarang tentunya kau sudah percaya bukan?"
"Kau bilang apa ?"
"Belum tentu aku yang harus mencari kematian buat diriku sendiri."
Pemuda berbaju biru itu tertawa dingin, senjata kipas peraknya digerakkan berulang kali melepaskan tiga buah serangan berantai.
Sekalipun dia hanya melepaskan tiga buah serangan belaka, namun diantara bergetarnya ujung kipas, tampak cahaya perak yang menyilaukan mata memancar ke empat penjuru, seakan-akan banyak sekali senjata kipas yang melayang dan menerjang ketubuhnya secara bersama-sama .
Dihadapkan oleh selapis bayangan kipas yang begitu tebal, mau tak mau terpaksa Wi Tiong hong harus mundur kebelakang berulang kali, sepasang telapak tangannya diayunkan berulang kali melancarkan lima buah serangan berantai, dengan begitu dia berhasil menahan datangnya ancaman dari lawan.
Pemuda berbaju biru itu segera mendengus dingin.
"Hmm, rupanya kau adalah anggota Bu-tong pay."
Serunya. Mendengar itu, Wi Tiong hong kembali berpikir.
"Tampaknya selain ilmu silat yang dimilikipun sangat luas, nyatanya hanya didalam sekali pandangan saja dia sudah dapat mengenali asal mula dari permainan jurus pukulan ini."
Sembari mundur berulang kali dari posisi semula, sahutnya dengan segera.
"Aku bukan anggota Bu tong-pay."
Pemuda berbaju biru itu kembali mendengus dingin.
"Hmmm, sekalipun kau anggota Bu tong pay juga bukan berarti bisa menakut-nakuti orang "
Jengeknya.
Sembari berkata tubuhnya segera mengejar ke depan, kipas peraknya secara beruntung diayunkan ke depan berulang kali...
Semua serangan tersebut dilancarkan dengan gerakan yang sangat cepat, sedemikian cepatnya sehingga hampir saja Wi Tiong hong tidak berkemampuan untuk melancarkan serangan balasan.
Dalam waktu sangat, seluruh tubuhnya sudah kena dikurung dibalik bayangan senjata kipas si pemuda berbaju biru yang berlapis-lapis bagaikan bukit dan penuh disertai deruan angin tajam itu.
Wi Tiong hong baru pertama kali ini terjun ke dalam dunia persilatan, dia belum berpengalaman didalam pertarungan melawan orang lain, dengan cepat dirasakan ujung kipas lawannya mengancam hampir seluruh jalan darah penting yang berada diatas tubuhnya.
biarpun dia sudah memainkan ilmu pukulan Ji gi ciang dengan sebaik-baiknya, toh serasa tak sanggup untuk membendung datangnya serangan gencar dan dahsyat dari lawannya.
Menyaksikan cahaya kipas yang datang dari empat arah delapan penjuru, diam-diam dia merasa gelisah sekali.
Dengan cepat tangan kanannya berputar membentuk satu gerak i ngkaran dengan jurus Khi pit it goan (menghimpun tenaga dalam satu titik), telapak tangannya diluruskan kedepan sejajar dada, lalu pelan pelan membacoknya kedepan disertai ilmu cay im-jiu.
Pada hakekatnya dia tidak melihat jelas bayangan kipas dari lawannya, jurus serangan yang dilancarkan itu tak lebih hanya dimaksudkan sebagai perlindungan didalam usahanya untuk mengundurkan diri dari situ.
Siapa tahu baru saja telapak tangannya disodorkan kedepan mendadak dia merasakan ada segulung tenaga pukulan yang sangat kuat memancar keluar dari dalam tubuhnya dan tiba-tiba menembusi jari jemari tangannya langsung menghantam kemuka.
"Plaaak.."
Secara kebetulan pula serangan tersebut dengan tepat menghantam diatas kipas perak yang berada ditangan pemuda berbaju biru itu.
Seketika itu juga bayangan kipas yang menyelimuti angkasa secara berlapis-lapis itu lenyap tak berbekas, sedangkan totokan kipas perak lawan yang tertuju kearahnya juga kena tertangkis oleh serangannya sehingga mencelat kesamping kiri.
Harus diketahui lapisan bayangan yang dilancarkan oleh pemuda berbaju biru itu sesungguhnya lebih banyak tipuan daripada kenyataan, sebab bagaimanapun juga kipas perak yang dipergunakan untuk melancarkan serangan hanya sebuah tapi berhubung gerakan amat cepat sehingga memberi kesan kepada orang seolah-olah terdapat banyak sekali bayangan kipas yang menyelimuti angkasa.
Tapi sekarang, begitu kipas perak yang sebenarnya kena tertahan tenaga serangan yang di lancarkan Wi Tiong hong, otomatis seluruh lapisan bayangan kipas yang terciptakan oleh gerakannya itu menjadi punah tak berbekas.
Tanpa terasa Wi Tiong hong sendiripUn menjadi tertegun setelah menyaksiksn kejadian ini, dia masih ingat sewaktu dia melatih ilmu pukulan tersebut tempo hari, diapun merasakan juga keadaan seperti ini ketika dia lancarkan serangan mana disertai ilmu cay-imjiu.
Semua peristiwa tersebut berlangsung dalam waktu singkat, walaupun Wi Tiong hong masih kurang pengalaman dalam bertarung dengan orang, bagaimanapun juga dia telah belajar ilmu silat yang maha sakti dibawah pimpinan paman yang tak terkenal.
Sebagai seorang yang berlatih didalam ilmu silat, ketajaman mata serta kecepatan bereaksi merupakan suatu ciri yang khas, maka begitu pukulannya menghantam diatas bahu pemuda berbaju biru itu dan menyaksikan bayangan semu lawan lenyap tak berbekas, kipas perak lawan sudah kena tertangkis sehingga mencelat kesebelah kiri.
Dengan susah payah dia berhasil mendapatkan peluang yang begitu baik, tentu saja dia tak ingin melepaskannya dengan begitu saja, kelima jari tangan kirinya segera dibalikkan kedepan, kemudian mencengkeram ujung kipas tersebut.
Mimpipun pemuda berbaju biru itu tak menyangka kalau serangan lawan bisaberubah menjadi bagitu dahsyat sehingga jurus pek nio lian ong (ratusan burung menghadap raja) yang diandalkan bisakena dipukul miring kesamping.
Ia lebih terperanjat lagi setelah menyaksikan cengkeraman lawannya berhasil membetot ujung kipas nya.
Perlu diketahui bagi seseorang-yang memiliki ilmu silat yang sangat lihay, secara otomatis dia akan memberi reaksi yang cukup cepat pula dalam menghadapi keadaan, begitu kipas peraknya kena dicengkeram oleh Wi Tiong hong, dia segera mendengus dingin, telapak tangan kirinya bagaikan sebilah golok secepat kilat membabat keluar mengikuti gerakan kipas perak tersebut.
Ketika Wi Tiong hong menyaksikan pihak lawan melepaskan bacokan kearahnya, serta merta dia mengayunkan pula telapak tangan kanannya untuk menyambut datangnya ancaman tersebut.
"Plaaak..."
Begitu sepasang telapak tangannya saling bertemu terjadilah benturan keras.
Kedua belah pihak segera merasakan darah yang berada didalam tubuhnya bergolak keras tak kuasa lagi mereka saling mundur setengah langkah kebeIakang.
Akan tetapi tangan mereka yang lain masih tetap saling menggenggam kipas perak tersebut siapapun enggan untuk melepaskan tangannya lebih dulu.
Didalam bentrokan tersebut boleh dibilang kekuatan mereka berdua sama sama seimbang, alias setali tiga uang.
Dalam hati kecilnya mereka berdua sama mengerti bahwa ilmu silat yang dimiliki lawannya tidak berada di bawah kepandaian sendiri.
Selembar wajah pemuda berbaju biru itu, dari pucat berubah menjadi kehijau-hijauan, dia memandang sekejap kearah, Wi Tiong hong sambil diam-diam mengerahkan tenaga dalamnya untuk menghimpun kedalam pergelangan tangan kanannya.
Segulung tenaga kekuatan yang amat kuat dengan cepat menerjang keatas melalui kipas perak tersebut.
Wi Tiong hong merasakan ujung kipas yang dicengkeramnya itu bergetar keras, tahu-tahu tenaga serangan lawan telah berlipat ganda, tentu saja dia tak mau mengendorkan tangannya dengan begitu saja.
Diam2 hawa murninya disalurkan kembali kedepan, kelima jari tangannya yang mencengkeram ujung kipas tersebut kian lama kian bertambah kencang.
Masing-masing telah saling mengerahkan tenaga untuk beradu kekuatan, tapi keadaannya masih seimbang, siapapun tak bisa menangkan mereka.
Dengan wajah hijau membesi pemuda berbaju biru itu segera berseru dengan suara dingin.
"Hmmm, nampaknya ilmu silat yang kau miliki terhitung hebat sekali.."
"Saudara memuji."
"Kau belum juga melepaskan tanganmu ?"
Bentak pemuda baju biru itu mendadak dengan wajah gusar.
Kena dibentak tanpa terasa Wi Tiong hong mengendorkan juga cengkeramannya.
ooooOOoooo Bab-17 Dengan cepat pemuda berbaju biru itu mundur sejauh tiga langkah dari posisi semula, sorot matanya memancarkan cahaya dingin, kemudian tegurnya.
"Siapa namamu ?"
Wi Tiong-hong tidak langsung menjawab, pikirnya dahulu.
"orang ini amat dingin dan sombong, secara tiba-tiba menanyakan namaku, tampaknya perselisihan ini sudah pasti akan terikat."
Berpikir demikian, dia lantas mendongakkan kepalanya sambil menjawab.
"Aku Wi Tiong hong."
"Bagus sekali."
Sambil tertawa dingin mendadak pemuda berbaju biru itu membalikkan badan, kemudian di dalam beberapa kali lompatan saja dia sudah berlalu dari situ.
Diam-diam Wi Tiong hong menggelengkan kepalanya berulang kali, tanpa sebab musabab yang pasti orang itu mengajak berkelahi, perselisihanpun tidak terikat, kalau dipikirkan kembali kejadian ini sungguh suatu kejadian yang sama sekali tak ada harganya.
Berpikir sampai disitu, dia bersiap sedia untuk melangkah pergi dari tempat itu.
Mendadak terdengar suara dingin berkumandang datang yang mengikuti hembusan angin malam.
Sekalipun suara tertawa itu lirih, tapi dapat dibedakan kalau orang itu adalah seorang perempuan, cuma saja suaranya kedengaran agak sedikit dingin menggidikkan.
Wi Tiong hong menjadi tertegun sesudah mendengar suara itu, tanpa terasa dia segera berpaling.
Dibawah sinar rembulan tampak sesosok bayangan manusia yang ramping berjalan keluar dan balik sebuah pohon besar dan pelan-pelan berjalan mendekat.
Bayangan ramping itu makin lama semakin mendekat sehingga akhirnya dapat diketahui kalau dia adalah seorang gadis berbaju hijau yang berambut sepanjang bahu.
Dia mempunyai sepasang mata yang bening bagaikan air, sewaktu memandang orang, sikapnya mewujudkan sikap memandang rendah orang.
Dia mempunyai selembar bibir yang kecil mungil, sayang ujung bibirnya agak mengkerut kebawah, sehingga sekilas pandangan seperti seseorang yang sedang menjumpai suatu kejadian yang tak menyenangkan hatinya.
Paras mukanya boleh dibilang cantik, sekalipun tidak terlalu cantik namun boleh dibilang cukup mengesankan hati orang yang memandangnya.
Gadis berbaju hijau itu berjalan mendekat, dengan bentuk dari tubuhnya yang lemah gemulai, tangan kanannya membereskan rambutnya yang kusut terhembus angin, lalu sambil mendongakkan kepalanya dia bertanya.
"Apakah kau hendak pergi dengan begini saja???"
Suaranya merdu, sikapnya tak terhitung angkuh, tapi suaranya kedengaran dingin, hambar seolah-olah memandang enteng lawan. Diam-diam Wi Tiong hong mengerutkan dahinya, kemudian, berpikir.
"Apa yang sebenarnya terjadi malam ini? Mengapa berulang kali aku harus berjumpa dengan orang yang berbicara dengan suara sedingin salju? Ditengah malam buta apa lagi diluar kota yang sunyi, kembali aku bertemu dengan seorang gadis berbaju hijau yang dingin menggidikkan tampaknya diapun bukan orang yang sembarangan."
Gadis berbaju hijau itu hanya memandang ke arahnya tanpa berbicara, sampai lama kemudian dia baru menegur lagi dengan suara dingin.
"Sudahkah kau dengar apa yang kutanyakan kepadamu itu?"
"oooh...,jadi nona sedang mengajakku berbicara?"
Dengan gemas nona berbaju hijau itu melotot sekejap ke arahnya, sahutnya cepat.
"Kalau tidak sedang mengajakmu berbicara, apakah aku sedang berbicara dengan setan?"
Sekali lagi Wi Tiong-hong berpikir.
"Sesungguhnya nona ini mempunyai paras muka yang cantik jelita, tapi heran, kenapa berbicaranya begitu kasar dan tak sedap didengar?"
Sekalipun berpikir demikian, tapi dia toh menjawab juga.
"Aku hendak menuju ke kota Sang siau."
"Sekalipun tidak kau ucapkan, aku juga tahu tentu saja orang yang berada disini hendak menuju ke kota Sang siau semua."
"Kalau toh kau sudah tahu, kenapa mesti bertanya lagi kepadaku?"
Pikir Wi Tiong hong kemudian. Melihat pemuda itu tidak menjawab, gadis berbaju hijau itu berkata lagi.
"Aku maksudkan, apakah kau hendak pergi dengan begitu saja?"
Wi Tiong hong semakin tertegun setelah mendengar perkataan itu, kembali dia berpikir.
"Aah...bagus sekali, tampaknya nona ini pun seperti juga dengan pemuda berbaju biru itu, rupanya diapun bermaksud untuk mengajakku berkelahi."
Berpikir demikian, dia lantas menatap wajah lawannya lekat-lekat, setelah itu bertanya.
"Jadi maksud nona...?"
Berkedip sepasang mata nona berbaju hijau itu, sekarang dia baru sempat melihat jelas wajah pemuda yang berada dihadapinya dia baru tahu kalau pemuda tersebut merupakan seorang pemuda yang amat tampan.
Terutama sekali sepasang matanya yang begitu jeli bagaikan bintang timur, dari tatapan matanya yang besar seolah-olah terpancar keluar kekuatan yang membuat pipi sendiri menjadi panas.
Diam-diam dia mendesis lirih, mendadak dijumpainya entah sejak kapan kepala tersebut telah ditundukkan rendah-rendah, belum pernah diajumpai keadaan semacam ini sebelumnya.
Maka dia segera mendongakkan kepalanya lagi, kemudian dengan suara yang sengaja didinginkan, katanya.
"Tadi, bukankah kau telah saling beradu pukulan satu kali dengan dirinya?"
"Jadi nona juga telah menyaksikan akan hal ini?"
"Hmmm, tentu saja sudah kusaksikan."
Nona berbaju hijau itu mendengus dingin.
"malah mungkin kau sendiri yang belum melihatnya secara jelas."
"Apa maksud ucapan itu ?"
Wi Tiong hong menjadi terbelalak dengan mulut melongo, hampir saja dia tak sanggup menjawab pertanyaan tersebut, ketika ia sedang beradu pukulan dengan pemuda berbaju biru itu, mengapa ia tak melihatnya dengan jelas?
"Kau anggap aku salah berbicara?"
Kembali nona itu menegur. Wi Tiong-hong merasa perutnya lapar sekali, dia segera berpikir.
"Aku sudah seharian penuh tidak mengisi perut, lebih baik lanjutkan perjalanan saja dan tak usah ribut lagi dengannya, toh tak ada gunanya hanya berbicara melulu tanpa hasil?"
Berpikir demikian dia lantas manggut2, sahutnya.
"Apa yang nona katakan memang benar, mereka yang menyaksikan dari samping memang biasanya jauh lebih jelas ..."
"Tak usah menonton diri sampingpun, aku dapat mengetahui pula dengan jelas."
Makin berbicara, apa yang diucapkan gadis itu semakin aneh lagi. Wi Tiong hong ingin buru-buru melanjutkan perjalanannya, maka cepat-cepat dia menjura seraya berkata.
"Benar, benar, aku . ."
Tidak menunggu pemuda itu menyelesaikan kata-katanya, gadis berbaju hijau itu telah menukas lagi sambil mencibirkan bibir.
"Hmmm, apa yang kau ketahui ?"
Tentu saja Wi Tiong hong tidak tahu apa2, dia cuma membungkam belaka.
"Aku mengatakan kau sendiri masih belum melihatnya, apakah kau melihatnya ?"
Kata si nona lagi.
Wi Tiong hong tidak mengerti apa yang di maksudkan si nona itu sebagai belum melihatnya, apa yang belum dilihat ?
Menyaksikan si anak muda itu hanya membungkam diri belaka, kembali nona berbaju hijau itu mendengus.
"Hmm ... tampangmu adalah tampang orang pintar, sayang justru otakmu bodoh, sudah ku ucapkan maksudku dengan begitu jelas tapi kau masih belum juga mengerti. Hmm... dasar seekor angsa dungu."
Tiba-tiba dia tertawa geli sehingga wajahnya yang semula dingin dan kaku bagaikan lapisan salju itu menjadi mencair, senyuman yang kemudian menghiasi wajahnya, nampak manis dan sedap dipandang.
Tapi dia hanya tertawa manis sebentar, karena secara tiba-tiba paras mukanya kembali berubah menjadi dingin dan kaku, lanjutnya.
"Apakah kau tak bisa memeriksa telapak tanganmu sendiri?"
Oleh perkataan yang diucapkan bertubi-tubi itu lama kelamaan Wi Tiong hong menjadi curiga juga, dia segera mengangkat tangan kiri sendiri dan memeriksanya dengan seksama.
Sambil mendengus kembali gadis berbaju hijau itu berkata.
"Dasar goblok tetap goblok. sewaktu kau beradu pukulan dengangnya apakah telapak tangan itu yang kau pergunakan?"
Buru-buru Wi Tiong-hong mengganti tangannya yang lain. Terdengar gadis berbaju hijau itu berkata lagi.
"Diatas jarum, waktu itu darah yang meleleh keluar dari situ tentu sudah membeku, tapi masih tersisa setitik darah hitam, bukan begitu?"
Setelah mendengar perkataan tersebut, wi Tiong hong segera berhasil juga menemukan titik darah hitam diatas telapak tangan itu, dia tak tahu luka itu kapan timbulnya ?
Kembali nona berbaju hijau itu berkata lagi.
"Itulah luka yang dihasilkan sewaktu kau beradu pukulan dengannya, tanganmu sudah ditusuk oleh jarum Lan keh tok ciam (jarum racun keluarga Lan)nya..."
Sekarang Wi Tiong hong baru mengerti apa yang telah terjadi, segera pikirnya lagi.
"Tak heran kalau pemuda berbaju biru itu segera pergi sambil tertawa dingin setelah beradu pukulan denganku, ternyata dia telah menyembunyikan jarum beracunnya dibalik telapak tangannya."
Berpikir sampai disitu, dia lantas bertanya.
"Kalau begitu jarum pasti telah diberi racun yang amat keji?"
"Buat apa mesti ditanya lagi? Jarum yang di gunakan adalah jarum beracun keluarganya, sekali pun tak bekerja dengan cepat begitu bertemu dengan darah, namun kelihayannya luar biasa, siang tak bertemu malam, malam tak bertemu siang, kecuali obat penawar dari keluarganya, dikolong langit hanya ..."
Belum habis nona itu berbicara, dengan wajah penuh dengan kegusaran Wi Tiong hong telah berseru.
"Aku tidak mempunyai ikatan dendam ataupun sakit hati dengan dirinya, mengapa dia mencelakai aku secara diam-diam?"
"Aaah, mau mencelakai orang, masa harus diberitahu dulu."
Dari ucapan si nona tersebut, wi Tiong-hong dapat menarik kesimpulan kalau jarum beracun dari keluarga Lan memang sangat lihay sekali, bahkan setelah mendengar perkataan itu, betul juga secara lamat2 dia merasakan lengan kanannya seakan-akan menjadi kesemutan, segera berpikir lagi.
"Mumpung sekarang racunnya belum mulai bekerja, lebih baik aku sekarang berangkat ke kota Sang siau dan mencari tabib untuk menyembuhkan luka beracunku ini."
Dia adalah seorang pemuda yang baru terjun ke dalam dunia persilatan, dia tidak tahu kalau senjata beracun dari perguruan perguruan dalam dunia persilatan tak bisa disembuhkan oleh tabib-tabib biasa.
Dengan cepat dia menjura kepada nona berbaju hijau itu, lalu ujarnya.
"Aku mengucapkan banyak terima karib sekali atas pemberitahuan dari nona, sekarang aku ingin memohon diri lebih dulu."
"Tunggu sebentar."
Tukas nona berbaju hijau itu dingin.
"tahukah kau, apa sebabnya aku memberitahukan hal ini kepadamu ?"
"Soal ini aku kurang begitu tahu."
Nona berbaju hijau itu segera tersenyum, katanya.
"Aku merasa tidak senang menyaksikan sikap sombong dan tekebur dari orang itu, aku pun merasa senang sekali karena kau telah memberi pelajaran kepadanya."
"Nona, bila kau tidak ada urusan lain..."
"Kau hendak pergi bukan ?"
Tukas si nona.
"Yaa, setelah mendapat petunjuk dari nona, aku ingin menggunakan kesempatan sebelum racun itu mulai bekerja hendak berangkat ke kota Sang siau untuk memperoleh pengobatan."
"Kau kenal dengan beng san gi In ?"
Tanya si nona berbaju hijau itu dengan sorot mata berkilat.
"Budi kebaikan nona yang bersedia menghadiahkan obat penawar kepadaku sungguh membuat aku merasa berterima kasih sekali, entah..."
Sebenarnya dia ingin menanyakan siapa nama orang itu, tapi setelah perkataan tersebut sampai di ujung bibir, dia merasa kurang baik untuk menanyakan nama orang, apalagi di tengah malam buta dan diluar kota yang begini sepi.
Akhirnya dengan wajah memerah karena jengah, dia telan kembali kata-kata selanjutnya yang tak sempat diutarakan.
"Kau tak usah berterima kasih kepadaku,"
Ucap nona berbaju hijau itu hambar?
"aku sendiripun tidak bermaksud untuk menolongmu, aku hanya ingin agar dia tahu jika jarum beracun dari keluarga Lan bukanlah sesuatu senjata yang cukup untuk membuatnya menjadi sombong."
Selesai berkata, dia lantas berlalu dari situ dengan gerakan cepat.
Dengan termangu-mangu Wi Tiong hong memegang botol porselen itu sambil mengawasi nona itu berlalu dari sana, dalam waktu singkat bayangan tubuhnya telah lenyap dibalik kegelapan sana.
Mendadak dia teringat akan sesuatu, kalau didengar dari pembicaraan si nona berbaju hijau itu tampaknya dia seperti merasa sangat tidak puas terhadap pemuda berbaju biru itu, tapi agaknya pula diantara mereka berdua sudah saling mengenal cukup rapat.
Sekalipun dia merasa rikuh untuk menanyakan nama si gadis itu, tapi dari pembicaraan si nona dia toh berhasil mengetahui juga asal usul dari pemuda berbaju biru itu.
Sekarang waktu sudah semakin larut malam dia segera masukkan botol perselen itu kedalam sakunya, kemudian melanjutkan perjalanan menuju ke kota Sang siau.
Ketika tiba dibawah kaki kota, pintu kota sudah lama tertutup, maka diapun mencari suatu tempat yang sepi untuk melompati dinding kota tersebut.
Mendadak dia saksikan kurang lebih tujuh delapan kaki disampingnya terdapat juga sesosok bayangan manusia sedang melompati dinding kota dengan kecepatan bagaikan kilat, bayangan tersebut sedang bergerak menuju ke arah sebelah timur.
Sungguh hebat sekali ilmu meringankan tubuh orang itu, hanya didalam sekejap mata saja bayangan tubuhnya sudah lenyap tak berbekas.
Diam-diam Wi Tiong hong mengagumi kelihayan orang itu, pikirnya dihati.
"Sungguh cepat gerakan tubuh orang itu, cukup dilihat dari kelihayannya dalam ilmu meringankan badan, dapat diketahui kalau kemampuanku masih jauh ketinggalan jika dibandingkan dengan orang itu..."
Setelah melompat turun dari dinding kota, buru buru dia berjalan menuju ke arah jalan raya.
Waktu itu suasana dikota masih ramai, batu saja sampai dirumah penginapan Ka cian terlihat olehnya pelayan rumah penginapan yang dikenalnya telah datang menyambut sam tertawa.
"Kek koan, kau baru sampai?"
Sapanya.
"kamar yang kau tempati tempo hari kebetulan lagi kosong hari ini, silahkan, silahkan."
Ia menghantar Wi Tiong hong menuju ke kamarnya, setelah membukakan pintu, kembali katanya.
"Tampaknya kau sudah bersantap diluar? Hamba akan sediakan air teh untukmu."
"Tunggu dulu. aku belum bersantap. coba suruhlah koki untuk menyiapkan hidangan bagiku."
Pelayan itu segera mengiakan sambil mengundurkan diri dari situ.
Setelah melakukan perjalanan sekian lama, lengan kanan Wi Tiong hong sudah terasa makin berat sehingga tak sanggup diangkat kembali, kepalanya pun mulai pusing dan berat dia segera tahu kalau racun yang mengeram didalam tububuhnya telah bekerja.
Dengan cepat dia mengeluarkan botol porselin hadiah dari nona berbaju hijau itu, mengeluarkan sebutir pil berwarna hitam sebesar kelengkeng, memotong menjadi dua, setengah bagian ditelan, setengah lagi di bubuhkan ke atas mulut luka.
Baru saja ia akan menyimpan kembali botol itu, mendadak ia menyaksikan dibagian tengah botol itu terukir sebuah tulisan yang berbentuk persegi panjang, dia amati tulisan itu, dan terbacalah tulisan itu yang berbunyi.
"Su si Lian ci" (dibuat oleh Susi). Ketika ujung botol itu diperiksa kembali, disitu ditemukan kembali tulisan "Hui"
Yang lembut. Diam-diam sianak muda itu segera berpikir.
"Kalau dilihat dari tulisannya yang lembut agaknya seorang gadis, mungkin "Hui"
Adalah nama dari nona berbaju hijau itu."
Teringat sampai disitu, tanpa terasa didepan matanya terbayang kembali tubuh dari sinona itu, dan ingat pula raut wajahnya yang cantik tapi dingin dan kaku.
Tanpa terasa dia mulai mengelus botol porselin tiada hentinya.
Menanti diluar pintu kamar berkumandang suara langkah manusia, Wi Tiong hong baru dia sadar dari lamunannya, cepat dia menyimpan kembali botol porselin itu.
Selesai santap malam, dia menuruti pesan dari nona berbaju hijau itu untuk menelan dua butir pil lainnya menurut aturan, kemudian baru menyimpan kembali botol porselin itu memadamkan lampu dan tidur.
Tidurnya kali ini amat nyenyak, ketika bangun kembali, hari sudah terang benderang.
Ketika mencoba untuk menggerakan tangannya, ternyata tangan tersebut bisa digerakkan dengan leluasa tanpa perasaan kaku atau kesemutan, sekali lagi dia mencoba untuk mengatur napas, ternyata tidak ditemukan suatu gejala aneh, tahulah dia bahwa racun keji tersebut telah berhasil dipunahkan.
Maka diapun lantas duduk bersila diatas pembaringan sambil mengatur napas.
Sudah berapa hari dia tidak melakukan semedhinya, begitu latihan dilakukan segera terasa ada udara panas yang bergerak naik mencapai dua belas Liong lo, lama kelamaan diapun berada dalam keadaan lupa "aku".
Ketika sadar kembali, bayangan matahari sudah memenuhi jendela, dia segera mengenakan pakaian dan membuka pintu kamar.
Pelayan muncul membawa air untuk cuci muka, katanya sambil tertawa paksa.
"Kek koan, nyenyak amat tidurmu, hamba sudah datang berapa kali, tapi melihat pintu kamarmu masih tertutup rapat, hamba tak berani mengganggumu, sekarang sudah mendekati tengah hari."
Sambil membersihkan muka, Wi Tiong-hong berkata.
"Pelayan, sebentar jika ada seorang Ting-ya mencariku..."
Belum habis dia berkata, terdengar dari luar pintu berkumandang suara seruan seseorang yang nyaring.
"Pelayan, apakah dikamar kelas satu terdapat seseorang yang bernama Wi-ya..."
Tampaknya baru saja membicarakan soal Cho co, si Cho co telah muncul didepan mata.
Wi Tiong-hong mengenali suara pembicaraan tersebut suara Ting ci-kang, dia menjadi amat girang sekali, buru-buru ia melemparkan handuk dan memburu ke depan pintu sambil berseru.
"Ting toako, siaute berada disini"
Ting ci kang muncul dengan wajah berseri-seri, begitu melangkah masuk kedalam kamar segera ujarnya sambil tertawa.
"Saudara Wi, aku telah menyusahkan dirimu saja."
"Ting toako, cepat duduk dan beristirahat..."
Pelayan tanpa diminta telah menghidangkan air teh panas untuk kedua orang tamunya, kemudian baru mengundurkan diri.
"Ting toako, sekarang kau baru datang, sungguh membuat siaute merasa cemas sekali,"
Ujar Wi Tiong hong sepeninggal pelayan tersebut.
"Aah, aku tidak apa apa, Kalau siau heng dengar dan pembicaraan mereka, agaknya kau memegang sebuah lencana Siu lo cin leng dan memaksa mereka untuk melepaskan siau heng? Lencana Siu lo cin leng merupakan lencana yang dimiliki siu lo cinkun dimasa lalu, apakah Kam Liu cu dari Thian sat bun yang meminjamkannya kepadamu?"
"oooh bukan, benda itu merupakan peninggalan dari paman tak dikenalku, semula siaute sendiripun tidak tahu kalau benda tersebut memiliki kekuasaan sebesar ini, Untung saja Kam Liu cu bersedia memberitahukan hal ini kepadaku, Konon tempo haripun Thian Sat nio mengundurkan diri karena telah menyaksikan lencana Siu lo cin leng ini."
Tampaknya Ting ci kang sangat menaruh perhatian terhadap "paman tak diketahui namanya"
Yang diucapkan wi Tiong hong tersebut kembali tanyanya.
"Tahukah kau, siapakah paman yang tidak kau ketahui namanya itu?"
Wi Tiong hong mendongakkan kepalanya lalu menjawab.
"Bukankah tempo hari siaute pernah memberitahukan soal ini kepada toako? siaute dibesarkan sampai dewasa oleh orang itu, selama ini siaute selalu menganggapnya sebagai ayah kandungku sendiri, kemudian baru ketahui kalau dia adalah pamanku, hanya dia orang tua tidak bersedia memberitahukan namanya kepada siaute..."
Berkerut sepasang mata Ting ci kang sesudah mendengar perkataan itu, dia manggut-manggut.
"Aah, ya, betul, siau heng teringat sekarang tempo hari kau memang sudah pernan membicarakan soal ini kepadaku."
Berbicara sampai disini, dia berhenti sejenak. kemudian sambungnya lebih jauh.
"Saudara Wi, bagaimana ceritanya hingga kau bisa berkenalan dengan Kam Liu cu dari Thian sat bun?"
Mendengar pertanyaan Wi Tiong hong segera tertawa.
"Kalau dibicarakan sebetulnya hanya merupakan suatu kebetulan saja, waktu itu siaute juga tidak tahu kalau dia adalah Kam Liu cu dari perguruan Thian sat bun, lebih-lebih tak kuduga kalau dia akan menyelamatkan diriku."
Secara ringkas dia lantas bercerita bagaimana ketika pagi-pagi dia hendak berangkat keperusahaan An wan piaukiok.
ditengah jalan dia menyaksikan ada orang orang sedang mengerumuni seseorang, karena waktunya masih pagi maka diapun ikut melihat keramaian.
Ternyata disitu terlihat seorang pengemis bertelanjang dada sedang memberi minum ularnya dengan arak.
kemudian pengemis itu meminta ongkos arak kepadanya, dan diberinya puluhan tahil perak.
sejak saat itulah merekapun menjadi berkawan.
Setelah mendengar kisah tersebut, paras muka Ting ci kang baru berusaha menjadi kendor, lalu menyusul kemudian diapun tertawa terbahak-bahak.
"Haah...haah....haah...baru kali ini kudengar kalau ada orang berteman dalam keadaan seperti ini, tampaknya juga hanya saudara Wi saja yang mau tertipu."
"Siaute rasa walaupun Kam Liu cu adalah seorang anggota perguruan Thian Sat bun, sesungguhnya dia adalah seorang yang gagah dan berjiwa terbuka, dia terhitung seorang sahabat yang amat setia kawan."
Ting ci kang segera manggut-manggut sesudah mendengar perkataan itu.
"Apa yang saudara katakan memang benar"
Katanya.
"aku hanya mengatakan bahwa didalam dunia persilatan banyak sekali penipu yg tujuannya hanya untuk memperoleh uang bagi kepentingan pribadinya, seperti Kam Liu cu yang bersedia datang menolongmu dikala kau sedang mengalami kesulitan, boleh dibilang jarangnya jarang."
"Ting toaku, sesungguhnya perkumpulan macam apakah Ban kiam hwee tersebut."
Tiba-tiba Wi Tiong hong bertanya. Paras muka Ting ci kang berubah agak aneh sahutnya kemudian dengan hambar.
"Soal ini Siuheng sendiri juga kurang jelas."
"Kalau kudengar dari pembicaraan Kam Liu cu, agaknya mereka pun sedang mencari Lou bun si tersebut?"
Waktu itu Ting ci kang sedang mengangkat Cawan air tehnya siap diteguk. mendengar perkataan itu tanpa terasa dia lantas bertanya.
"Apa lagi yang dia katakan?"
Tentu saja Wi Tiong hong tak akan memperhatikan perubahan paras muka Ting ci kang, dia hanya menggelengkan kepalanya berulang kali.
"Tidak, dia tidak mengataka apa-apa, aku bertanya kepadanya benda apakah Lou bun si tersebut? Tapi dia enggan memberitahukan kepadaku."
Ting ci kang segera mendengus dingin.
"justru pihak Thian sat bun memang bermaksud untuk mengincar Lou bun si tersebut, tentu saja mereka enggan menjawab, pertanyaan yang kau ajukan kepadanya."
"Ting toako"
Ujar Wi Tiong hong keheranan.
"tahukah kau benda macam apakah yang bernama Lou bun si tersebut?"
Sekulum senyuman segera menghiasi wajah Tin ci kang.
"Siau-heng sendiripun pernah mendengar orang berCerita, meski yang kuketahui amat sedikit tapi tidak terhitung terlalu Cermat. Saudara Wi, tentunya kau masih ingat bukan, berapa hari berselang ketika kau kuajak kau pergi ke kuli Sik jin tian, tujuanku tak lain adalah untuk mencari benda itu."
"Toako, bukankah kau sedang menyelidiki sebab-sebab kematian yang menimpa orang orang Ban li piaukiok?"
Seru Wi Tiong-hong terkejut bercampur keheranan.
"Tentu saja hal mana pun merupakan salah satu dari titik terang yang bisa dilaCaki, tapi yang terutama adalah kabar berita tentang Lou bun si tersebut."
Ketika berbicara sampai disitu, mendadak sorot matanya dialihkan ke wajah Wi Tiong hong, kemudian tanyanya.
"Saudara Wi, masih ingatkah kau apa yang pernah kukatakan kepadamu tempo hari?"
Wi Tiong hong menjadi tertegun mendengar pertanyaan itu, dengan mata terbelalak serunya.
"Aaah, tidak pernah.. Ting toako pernah membicarakan tentang soal apa?"
"coba pikir lagi "
Kata Ting ci-kang tersenyum. Wi Tiong-hong mencoba untuk berpikir sebentar, lalu sahutnya.
"Aaaah, siaute teringat sekarang."
"Nah, kalau begitu coba katakan, apa yang telah kuberitahukan kepadamu "
Seru Ting-ci kang dengan mata berkilat. oooOOooo Bab-18
"TEMPO HARI toako berjongkok ditengah semak belukar dan menemukan...."
Tidak menanti si anak muda itu menyelesaikan kata-katanya, dengan Cepat Ting ci-kang telah menukas.
"Benar, bagaimana dengan dibalik semak belukar."
"Toako menemukan segumpal abu tembakau didalam semak belukar tersebut, toako pernah bilang orang itu pasti berusia lima puluh tahunan, bersembunyi dibalik semak belukar dan kemungkinan besar ada sangkut pautnya dengan kematian yang menimpa orang-orang perusahaan pengawalan barang Ban li piaukiok."
"Yaaa, benar, benar, memang siaute hanya mengucapkan perkataan ini,"
Sahut Ting cikang sambil menghembuskan napas panjang.
"Kemudian, bukankah kita lantas meninggalkan tempat itu dan berangkat menuju kerumah petani itu?"
Ting ci kang manggut2.
"Kalau begitu mungkin aku benar-benar tak membicarakan soal apa-apa lagi, aaai ... padahal pelbagai ingatan dan persoalan serasa berkecamuk dalam benakku, aku benar-benar merasa tak tahu harus membicarakan tentang apa."
Wi Tiong hong mengetahui kalau toakonya sedang murung dan risau karena tidak berhasil menemukan sesuatu titik terang apapun, maka segera hiburnya.
"Toako, sekalipun kau telah memberikan janjimu kepada pihak Bu tong pay, namun aku rasa kaupun tak usah terlalu tergesa-gesa cepat atau lambat persoalan ini pasti akan menjadi terang juga dengan sendirinya ..."
Walaupun dimulut dia berkata demikian, hatinya selalu memikirkan tentang masalah "Lo bun si"
Tersebut, tak tahan dia lantas bertanya.
"Ting toako, kau masih belum menerangkan kepadaku, benda macam apakan yang dinamakan Lou bun si tersebut?"
Ting ci kang segera tertawa hambar.
"Konon bentuk Lou bun si itu menyerupai sebuah pena kemala."
"Pena kemala?"
Seru si anak muda itu keheranan.
"apa anehnya dengan benda semacam itu?"
Ting ci kang memandang sekejap ke arahnya lalu tertawa, katanya kemudian.
"Kalau Cuma sebatang pena kumala saja. tentu saja benda tersebut tak bisa disebut benda mestika."
"Lantas apakah mempunyai suatu kegunaan yang lain ?"
"Tentu saja."
Jawab Ting ci-kang sambil mendehem.
"menurut berita yang tersiar dalam dunia perailatan, barang siapa berhasil mendapatkan pena kemala tersebut, maka dia akan menjadi seorang jagoan yang tiada tandingannya di dunia ini."
Tanpa terasa Wi Tiong-hong menjadi tertarik sekali, dengan mata terbelalak lebar serunya.
"Aah, benarkah ada kejadian semacam ini?"
"orang pertama yang berhasil menemukan Lou bun si paling awal adalah ayah angkatku Thi pit teng kan kun (pena baja penenang jagad) Tan Pek-li, yaitu pangcu angkatan yang lalu dari perkumpulan Thi pit pang, kejadian ini berlangsung pada tiga puluh tahun berselang, waktu itu dalam dunia persilatan sedang terjadi kekacauan yang amat hebat, orang-orang yang hidup pada jaman itu saling memperebutkan kekuasaan dan kedudukan sehingga banyak pertumpahan darah dan permusuhan yang terjadi pada jaman itu."
Sinar matanya dialihkan kelangit langit ruangan seperti lagi mengenang kembali kejadian lampau, kemudian setelah berhenti sejenak katanya lebih lanjut.
"Ayah angkatku merasa amat gusar sekali menyaksikan kerakusan orang-orang persilatan waktu itu yang sama-sama mengincar pena wasiat yang berhasil ditemukan olehnya, dalam marahnya pena tersebut segera dihancur lumatkan menjadi bubuk. Baru pada saat itulah semua orang tahu kalau pena Lou bun si yang berhasil diperoleh ayah angkatku itu tak lebih cuma sebatang Lou bun si palsu... Konon Lou bun si semuanya terdiri dari tiga batang, dua palsu dan satu asli, yang didapatkan ayah angkatku tak lebih adalah yang palsu.... Dalam gusarnya ayah angkatku lantas mendirikan perkumpulan Thi pit pang, dia orang tua membangun perkumpulan pena besi itu tak lain ingin memberitahukan kepada semua orang kalau dengan mengandalkan sebatang pena bajapun dia masih bisa malang melintang dalam dunia persilatan tanpa bantuan dari Lou bun si."
"Ayah angkat toako ini benar-benar berjiwa gagah dan tak malu disebut sebagai seorang enghiong"
Puji wi Tiong hong dengan wajah Serius.
"Aaah, saudara Wi terlalu memuji, sewaktu ayah angkatku mendirikan perkumpulan Thi pit pang, diapun menetapkan pula peraturan."
"Peraturan apakah itu?"
"Setiap anggota perkumpulan Thi pit pang dilarang untuk mengincar Lou bun si lagi untuk selamanya."
"Mungkin maksud ayah angkat toako dengan menurunkan peraturan ini adalah dengan harapan agar anggotanya tidak sampai terlibat lagi didalam persoalan perebutan pena tersebut."
Berkilat sepasang mata Ting cikang, katanya setelah tertawa terbahak-bahak.
"Hahahaha, tapi tiga puluh tahun kemudian, Thi-pit-pang toh terlibat kembali didalam pertikaian ini..."
"Kalau begitu benda yang dikawal oleh Ban li piaukiok sebenarnya adalah pena mestika Lou bun si ?"
Ting ci kang segera tertawa dingin.
"Perusahaan Ban li piaukio pada dasarnya dibuka oleh pihak Bu tong pay, sedangkan kunjiu Siau Beng san tak lebih hanya ditugaskan untuk mengurusinya belaka, kau anggap barang kawalan apa yang mereka bawa kali ini ?"
"Menurut berita yang tersiar dalam dunia persilatan, entah dari mana mereka telah berhasil mendapatkan Lou bun si dan sedang dalam perjalanan menuju ke Bu tong san-Keng-hian, Keng jin jelas merupakan jago jago Bu Tong pay yang khusus dikirim untuk menyambut kedatangan adik seperguruannya."
"Tapi, bukankah Ma koan tojin, Thi-lohan serta sinaga tua berekor botak sekalian juga telah terjatuh ketangan pihak Ban kiam hwee? Sudah pasti kedatangan mereka pun di karenakan soal Lou bun si tersebut, sungguh tak ku sangka hanya disebabkan sebatang pena kemala, begitu banyak orang yang berubah matanya karena ingin mendapatkannya?"
Ting ci kang hanya mengiakan pelan, sambil bangkit berdiri segera ujarnya.
"Saudara Wi, kini waktu sudah menunjukkan tengah hari, mari kita keluar untuk bersantap. siauheng masih ada persoalan yang hendak dirundingkan denganmu."
"Ting toako masih ada urusan apa lagi?"
Ting ci kang tertawa.
"Pada hal juga tak ada apa-apa, mari sambil bersantap kita berbincang-bincang lagi."
Setelah keluar dari rumah penginapan itu, mereka berdampingan menelusuri jalan raya.
Sepasang mata Ting ci kang tiada hentinya celingukan kesana kemari sambil memperhatikan orang-orang yang berlalu lalang disepanjang jalan raya itu.
Tidak selang berapa saat kemudian, mereka sudah mendekati rumah makan Hweepeng loo, dari kejauhan sana suara teriakan para pelayan dan suara koki mencincang daging sudah kedengaran amat jelas.
Sambil berpaling Ting ci kang segera berkata.
"Dalam kota Sang siau, rumah makan Hwee Peng lo boleh dibilang rumah makan paling terkenal dan tamu paling banyak. mari kita menuju kesana saja."
"Bukankan siautepun berkenalan dengan Ting toako dirumah makan Hwee pang lo juga? Hari ini tentu saja kita harus berkunjung ketempat itu lagi."
"ooooh, benar, setelah berada ditempat perkenalan, kita berdua sudah seharusnya minum beberapa cawan arak."
Sahut Ting ci kang sambil tertawa.
setibanya diatas loteng, betul juga hampir semua tempat telah berisi tamu.
Pelayan segera membawa mereka berdua menuju kedepan sebuah meja yang masih kosong.
Ting ci kang memperhatikan dulu semua tamu yang berada dalam ruangan itu, kemudian baru duduk.
memesan sayur dan arak.
Menanti pelayan itu sudah pergi, dia baru berbisik kepada Wi Tiong hong.
"Selama beberapa hari belakangan ini, setiap saat kemungkinan besar kita akan bersua dengan umat persilatan di kota Sang siau ini, kalau berbicara harap sedikitlah berhati hati."
"Ting toako, kau telah menjumpai siapa ?"
"Dalam rumah makan yang begini luas, pelbagai macam manusia berkumpul semua disini aku hanya memperingatkan kepadamu saja."
"Akan siaute ingat selalu ?"
Mendadak dia berseru tertahan, kemudian katanya lagi.
"Aaah, tadi siaute hampir lupa memberitahukan kepada toako, semalam hampir saja aku kena dicelakai orang."
"Manusia macam apakah yang hendak mencelakai dirimu ?"
Tanya Ting ci kang sambil menatap wajah pemuda itu.
Secara ringkas Wi Tiong hong lantas menceritakan pengalamannya sewaktu berjumpa dengan pemuda berbaju biru semalam.
Selesai mendengarkan penuturan itu, dengan kening berkerut Ting ci kang segera berkata dingin.
"Tampaknya keluarga Lan dari in lam juga telah berdatangan kemari."
Kemudian setelah mendongakkan kepalanya dia berkata lagi.
"Jarum beracun dari keluarga Lan jahat dan berbahaya sekali, barang siapa terkena serangannya maka tak sampai satu jam seluruh badannya akan menjadi kaku dan akhirnya lumpuh, bahkan Siang tak bertemu malam, malam tak bertemu Siang, orang-orang Thian sat bun mustahil bisa memunahkan racun keji itu. Saudara Wi, mengapa kau bisa selamat tanpa mendapatkan gangguan apa apa?"
Mendengar perkataan itu, diam-diam Wi Tiong hong berpikir.
"Ternyata jarum beracun dari keluarga Lan betul-betul sedahsyat itu, kalau begitu nona berbaju biru itu memang tidak sengaja membohongi aku"
Berpikir sampai disitu, dengan wajah memerah segera sahutnya.
"Tak lama setelah pemuda berbaju biru itu pergi, muncul kembali seorang nona berbaju hijau, dia menghadiahkan tiga butir pil kepada siaute, katanya tiga jam kemudian nyawa siaute tak akan berbahaya lagi..."
Tapi berhubung diatas botol porselennya terukir nama nona berbaju biru itu, apa lagi dla, masih muda dan malu-malu kucing, maka pemuda tersebut merasa rikuh untuk mengeluarkan botol tersebut dan diperlihatkan kepada Ting toakonya.
Ting ci kang kelihatan tertarik sekali akan nona berbaju hijau itu, kembali dia bertanya.
"Waktu itu apakah kau, dapat melihat jelas berapa usianya dan bagaimanakah tampang mukanya?"
Sekali lagi paras muka Wi Tiong hong berubah menjadi merah padam karena jengah.
"Nona itu berbaju hijau, usianya diantara tujuh delapan belas tahunan dan berwajah amat.. .. amat cantik..."
Melihat paras muka pemuda itu merah padam sampai ke telinganya, Ting ci kang menjadi amat geli, serunya kemudian.
"Apalagi yang dia katakan kepadamu ?"
Ditertawakan orang, wi Tiong hong semakin tersipu-sipu dibuatnya, dia tak mampu berbicara lagi, maka sambil menggelengkan kepalanya berulang kali katanya.
"Tidak, tidak. nona itu tidak berkata apa-apa lagi, setelah memberi tiga butir pil itu kepadaku, diapun segera berlalu meninggalkan aku?"
Sekilas perasaan kaget dan keheranan menghiasi wajah Ting ci kang, setelah termenung sejenak dia berkata lagi.
"Siapakah nona berbaju hijau itu? padahal racun jarum dari keluarga Lan hanya bisa di bebaskan oleh obat penawar kasusnya, siapa pula yang bisa memunahkan racun itu?"
Sementara pembicaraan berlangsung pelayan telah datang menghidangkan sayur dan arak.
maka mereka berduapun tidak banyak berbicara lagi.
Wi Tiong-hong mengambil poci arak dan memenuhi cawan Ting ci kang terlebih dulu dan kemudian baru memenuhi cawan sendiri, setelah itu sambil mengangkat cawannya dia berkata.
"Tiong toako, siaute menghormati secawan arak untukmu,"
Ting ci-kang tertawa bergelak.
"Haaahh... haaahhh... haaahhh... hari ini sepantasnya kalau siau-heng yang menghormati dirimu lebih dulu."
Mereka berdua saling menghormati dan meneguk habis isi cawan masing-masing.
"Ting toako."
Tanya Wi Tiong hong kemudian.
"tadi bukankah kau bilang ada sesuatu persoalan yang hendak dibicarakan kepada siaute ? persoalan apakah itu ?"
"Aaah, tidak ada apa-apa, siau-heng bermaksud untuk pulang dan memberesken beberapa persoalan perkumpulanku, maka dari itu aku bermaksud untuk mengajakmu untuk menginap beberapa hari dalam perkumpulanku, aaai., .selanjutnya siau heng pun masih banyak memohon bantuanmu."
Wi Tiong hong segera teringat kembali dengan pesan Kam Liu cu sebelum pergi meninggalkannya, agar jangan menceburkan diri di dalam persoalan tersebut.
Tapi Ting toako adalah sahabat pertama yg dikenalnya,jadi orang berhati lurus dan gagah apa lagi setelah dia menyatakan sendiri keinginannya untuk memohon bantuan, sudah barang tentu sulit rasanya baginya untuk menampik permohonan tersebut.
Berpikir sampai disini, dia lantas mendongakkan kepalanya dan menjawab cepat.
"Ting toako, mengapa kau harus berkata begitu, siaute baru terjun kedalam dunia persilatan, dengan toako akupun merasa seperti sahabat lama saja, asal kau membutuhkan bantuan siaute, silahkan saja toako utarakan maksudmu."
Perasaan terima kasih segera menghiasi raut wajah Ting ci kang.
"Aku orang she Ting merasa beruntung sekali dapat berkenalan dengan seorang teman seperti kau, hal ini Sungguh luar biasa sekali."
Selesai berkata ia meneguk habis isi cawannya, lalu berkata lebih lanjut.
"Saudara Wi, aku sudah berapa hari datang kemari, sekarang kau perlu buru-buru pulang kerumah, bagaimana kalau kita berangkat selesai bersantap nanti?"
Mendadak Wi Tiong hong teringat kembali dengan pesan Tok Hay-ji yang meminta agar menyampaikan kabar, maka dia lantas berseru.
"Ting toako, bagaimana kalau besok saja kita baru berangkat ?"
"Apakah kau masih ada urusan ?"
"Siaute masih harus menyampaikan pesan dari seseorang lebih dulu."
"Pesan? Pesan dari siapa ?"
Tanya Ting ci kang keheranan. oooooo "PESAN dari Tok Hay-ji"
Wi Tiong-hong secara berbisik lirih.
"Tok Hay-ji ?"
Sekujur tubuh Ting ci kang tergetar keras, sorot matanya memandang wajah Wi Tiong-hong lekat-lekat, kemudian tanyanya dengan Cepat.
"Dia minta kepadamu untuk menyampaikan pesan itu kepada siapa ?"
"Kepada hongtiang dari kuil Pau in si di pintu kota sebelah selatan..."
Ting ci kang semakin tercengang lagi, setelah termenung dan berpikir sebentar kembali dia berkata.
"Ketua dari kuil Pau in si adalah murid Siau limpay, masa Tok Hay ji menyuruhmu menyampaikan pesannya pada orang Siau lim si?"
Setelah berhenti sejenak, kembali tanyanya.
"Apa yang dia sampaikan kepadamu ?"
"Dia hanya menyampaikan beberapa patah kata saja."
"Perkataan apakah itu ?"
Ting ci kang mendesak lebih jauh. Wi Tiong hong segera mencelapkan jari tangannya kedalam cawan arak lalu menulis di atas meja.
"Diatas undak undakan pintu kiam bun, dalam gua masuk kayu", Ting ci-kang memperhatikan tulisan itu beberapa saat, membacanya dengan suara lirih, kemudian dengan kening berkerut katanya.
"Apakah hanya tulisan itu? Mungkinkah kata-kata itu merupakan suatu sandi rahasia?"
"Mungkin saja, karena siaute sendiripun tidak berhasil menebak maksud tulisan tersebut."
"Jika setiap orang tak bisa menebaknya, itu berarti tulisan tersebut bukan suatu kata sandi,"
Kata Ting ci kang sambil tertawa.
"Yaa, kalau dibilang memang mirip... misalkan saja tulisan dibawah undak undak pintu Kia in bun.,.sudah jelas yang dimaksudkan adalah penjara bawah tanah dari perkumpulan Ban kiam hwee, tapi apa pula arti kata dari dalam gua masuk kayu? Bagaimana penjelasannya..?"
Melihat Ting ci kang membungkam diri sambil termenung, Wi Tiong hong juga membungkam diri sambil termenung.
Beberapa saat kemudian, mendadak Ting ci kang mendongakkan kepalanya dan menatap wajah Wi Tiong hong lekat-lekat, kemudian katanya.
"Saudara Wi, apakah kau tetap akan menyampaikan pesannya itu sampai ketempat tujuan?"
"Tentu saja, mendapat titipan dari orang merupakan kebaktian seseorang terhadap masyarakat, apalagi setelah siaute sanggupi, tentu saja aku harus melaksanakan dengan se-baik2nya."
"orang orang dari Tok Seh Sia tiada seorang pun yang tidak beracun..."
Dia seperti hendak mengucapkan sesuatu, tapi setelah sampai ditengah jalan tiba-tiba dia merubah kata-katanya.
"Apa yang kau ucapkan memang benar, setelah menyanggupi memang sudah sepantasnya kalau kabar tersebut disampaikan ketempat tujuan... tapi yang membuat orang tidak habis mengerti adalah Go beng hoatsu tersebut, sudah jelas dia berasal dari partai Siau lim, mengapa bisa berhubungan dengan orang orang dari selat pasir beracun?"
Beberapa kata yang terakhir itu hanya digumamkan seorang diri saja.
Untuk sesaat Wi Tiong hong tak tahu bagaimana harus menjawab pertanyaan itu, terpaksa dia hanya membungkam diri dalam seribu bahasa.
Ting ci kang segera mengalihkan kembali sorot matanya kearah si anak muda itu, kemudian bertanya lagi.
"Saudara Wi, kau berencana kapan akan pergi ke Kuil Pau in si untuk menyampaikan pesan tersebut ?"
"Tok hay-ji pernah mengatakan kalau persoalan ini sangat penting artinya dan menyangkut keselamatan seseorang, dia minta kepada siaute agar menyampaikan kabar tersebut didalam sepuluh hari mendatang, karena itu siaute pikir seusai bersantap nanti aku hendak mengajak toako untuk bersama sama berangkat ke sana."
Ting ci kang segera tertawa dingin.
"Dia sudah menjadi tawanan orang dipenjara bawah tanah, pesan itu sudah pasti merupakan pesan memohon bantuan yang menyangkut pula dengan keselamatan jiwa seseorang. Kata-kata sandi rahasia itu meski tak bisa kupecahkan artinya, namun kemungkinan besar menyangkut sesuatu rahasia besar, Banyak persaalan dalam dunia persilatan yang tidak ingin diketahui orang luar, apalagi Tok Hay-ji minta kepadamu untuk menyampaikan pesan pentingnya, siau heng rasa kurang baik kalau aku turut serta, Saudara Wi, lebih baik kau berangkat saja lebih dulu, sebentar aku akan menantikan dirimu diluar kuil saja dari pada memancing kecurigaan orang."
"Perkataan toako ada benarnya juga, soal ini siaute tak pernah memikirkannya."
Maka setelah selesai bersantap.
Wi Tiong hong segera bangkit berdiri dan menuruni lo teng tersebut.
Memandang hingga bayangan punggung si anak muda itu lenyap dari pandangan mata, Ting ci kang tersenyum, sinar matanya seperti sengaja tak sengaja melirik sekejap kemeja yang berada disebelah kanannya, kemudian ia berdiri, pelan pelan menuju ke meja kasir dari membayar rekeningnya.
orang yang duduk dimeja sebelah kanan adalah seorang lelaki yang berdandan sebagai seorang saudagar, belum habis araknya diminum, mendadak dia bangkit berdiri pula, dan buru-buru menuju kemeja kasir untuk membereskan rekeningnya pula.
Kedua orang itu hampir pada saat yang bersamaan tiba didepan meja kasir itu.
Ting ci kang tidak buka suara, tapi dia berpaling dan berpandangan mata dengan lelaki berdandan saudagar itu, kemudian setelah membayar diapun berlalu.
Lelaki berdandan saudagar itu turut membayar rekening dan berlalu pula dari situ.
Dirumah makan, membayar rekening pada saat yang bersamaan merupakan suatu kejadian yang lumrah dan tidak menarik perhatian orang, tapi justru pada waktu itu ada orang yang memperhatikannya dengan seksama.
Mereka adalah kakak beradik dua orang yang sedang duduk ditepi jendela.
Kakak beradik itu seperti orang dusun yang masuk kota untuk menengok famili.
Si kakak lelaki berwajah kuning dan berbaju warna biru, dandanannya seperti seorang siucay yang tidak lulus ujian negara.
Sedang si adik perempuan berwajah desa dan memakai baju yang amat kasar.
Waktu itu si adik sedang makan bakmi dengan menundukkan kepala, mendadak ia berbisik sambil mengerdipkan matanya.
"Toako, sudah kau lihat belum ?"
Si siucay itu segera menghentikan cawan araknya sambil bertanya.
"Melihat apa ?"
"Tampaknya Ban Kiam hwee masih belum mau melepaskannya dengan begitu saja."
"Tentu saja tak akan melepaskannya dengan begitu saja"
Sahut si siucay acuh tak acuh.
"Lantas kau...."
"Tentu saja tak akan melepaskannya dengan begitu saja."
"Lantas kau..."
"Kita buka pengawalan saja bagaimana?"
Kata si siucay sambil tertawa.
"Jadi toako sudah tak mau campur lagi?"
Siucay itu berkerut kening, lalu katanya.
"Aku sudah berulang kali menasehati dirimu, lebih baik cepat-cepatlah meninggalkan kota Sang siau dan jangan menceburkan diri didalam pertikaian ini."
"Tapi, apa yang mereka bicarakan apakah tidak kau dengar semua?"
Seru si adik.
"Kalau dari jarak sedekat ini masih tak kedengaran, kecuali kalau telinga kita sudah tumbuh diatas batu."
"Toako, kalau begitu coba katakan kepadaku, mereka telah pergi ke mana?"
"Kuil Pau in si di kota selatan."
"Aku pun ingin menengok kesana."
"Baik, baik, kalau kau ingin pergi, pergilah sendiri, aku mah takpunya waktu untuk menemanimu."
"Baik, aku akan pergi sendiri."
"Sam-moay."
Tiba tiba siucay berkata sambil mengangkat bahunya.
"Heran, tak pernah kulihat kau menaruh perhatian seserius ini terhadap orang lain."
Merah padam selembar wajah si adik karena jengah, bisiknya jengkel.
"Toako, kau pandai sekali menggoda."
"Sudahlah, kalau hendak pergi, pergilah cepat. Mungkin persoalannya akan lebih rumit lagi."
Waktu itu si adik sudah bangkit berdiri. Mendadak dia berhenti lagi dan katanya seraya berpaling.
"Sebenarnya kau masih sempat mendengar apa lagi ?"
Siucay itu mengangkat cawannya dan mengeringkan isinya, kemudian sambil membersihkan bibir dia menyahut.
"Biar kupikirkan dulu, nanti kita bicarakan lagi."
Si adik segera mendepak-depakkan kakinya dengan mangkel, meski dimulut tidak mengatakan apa-apa, namun dalam hati dia mendamprat.
"Huuuh, dasar setan arak..."
Dia lantas membalikkan badan dan dengan kepala tertunduk meninggalkan loteng itu.
oooOOooo Bab-19 DALAM PADA ITU, Wi Tiong hong telah berangkat ke kota sebelah selatan sepeninggal dari rumah makan Hwee-peng-lo, tampak pegunungan membenteng didepan mata, pepohonan amat rimbun dan pemandangan alamnya sangat indah.
Berapa lie kemudian, tampaklah kuil Pau-in si berdiri angker didepan mata.
Diantara pepohonan siong yang lebat, berdiri sebuah bangunan kuil yang melekat pada kaki bukit, memandang dari kejauhan bangunan tersebut kelihatan angker sekali.
Wi Tiong hong segera mempercepat langkahnya melewati sebidang tanah kosong dan sampailah didepan kuil itu.
Didepan pintu gerbang terpampang sebuah papan nama besar yang bertulis kan "PAU-IN SIAN-SI."
Diam-diam dia lantas berpikir.
"Tampaknya kuil Pau-in-si ini mempunyai pamor yang cukup besar, menurut toako, ketua kuil ini Gho-beng hoatsu berasal dari kuil Siau lim si, tapi, mengapa Tok Hay ji suruh aku menyampaikan pesannya kepada ketua kuil ini? sungguh janggal dan mencurigakan sekali peristiwa ini..."
Sambil berpikir dia lantas berjalan masuk kedalam pintu kecil, melewati ruangan utara dan menaiki anak tangga batu, tampak asap dupa memenuhi seluruh ruangan utama.
Sementara dia masih celingukan kesana kemari memperhatikan sekeliling tempat itu mendadak terdengar suara pujian kepada sang Buddha bergemu dari sisi tubuhnya.
"Omitohud, sicu hendak memasang hio ataukah hendak membayar kaul ?"
Karena mendengar ada suara orang yang menegur, Wi Tiong hnng segera berpaling, tampak olehnya seorang pendeta berusia pertengahan dengan sepasang tangan merangkap di depan dada pelan-pelan berjalan menghampirinya.
Walaupun pendeta itu wajah penuh senyuman, namun kerdipan matanya memperlihatkan kelicikan orang itu.
Buru-buru Wi Tiong-hong menjura sambil menjawab.
"Bukan, bukan, aku datang untuk mencari ketua kuil kalian."
Dengan sorot mata sengaja tak sengaja sinar mata pendeta setengah umur itu melirik sekejap pedang berkarat yang tersoren dipinggang Wi Tiong hong, kemudian sambil menarikkan balik senyuman, ia berkata dengan dingin.
"Sicu, ada urusan apa kau datang mencari hongtiang kami?"
Betul-betul seorang hwesio yang mata duitan, karena Wi Tiong hong hanya mengenakan jubah panjang berwarna hijau dengan menyoren sebilah pedang yang telah berkarat, maka paras mukanya segera berubah menjadi dingin dan hambar.
Wi Tiong hong sama sekali tak ambil perduli terhadap sikap lawannya, ia tetap menjawab sambil tersenyum.
"Aku mendapat pesan dari seseorang untuk berjumpa dengan hongtiang kalian."
Sekali lagi mencorong sinar tajam dari balik mata pendeta setengah umur itu, buru-buru serunya.
"Hongtiang kami jarang sekali bertemu dengan tamu, bila sicu ada persoalan katakan saja kepada pinceng, hal ini toh sama saja."
Wi Tiong hong tidak menjawab, dia hanya menunjukkan keragu-raguannya. Kembali pendeta berusia pertengahan itu berkata.
"Pinceng Giotong, Hongtiang kuil ini adalah suhengku, tentunya sicu sudah percaya bukan sekarang ? Mari, ikutilah pinceng menuju ke ruang tamu."
Timbul kecurigaan didalam hati Wi Tiong hong, dia sama sekali tidak bergerak. hanya katanya sambil tertawa hambar.
"Tentu saja aku percaya dengan Toa suhu, cuma aku mendapat titipan dari seseorang untuk disampalkan sendiri kepada Hongtiang,sebab itu bagaimanapun juga aku harus bertemu dahulu dengan Hongtiang sebelum dapat membicarakannya."
Pendeta setengah umur itu kembali mengerdipkan matanya berulang kali, senyuman licik sekali lagi menghiasi wajahnya.
"Sicu kalau kau bersikeras hendak berjumpa Hongtiang, tolong beritahukan lebih dulu kau telah mendapat titipan dari siapa, agar pinceng bisa memberi laporan ke dalam."
Mendengar perkataan itu, diam-diam Wi Tiong-hong berpikir.
"Perkataan ini ada benarnya juga, untuk memberi laporan memang sehurusnya kuberitahukan lebih dulu titipan tersebut berasal dari siapa."
Baru saja ingatan tersebut melintas dalam benaknya, mendadak tampak sesosok bayangan manusia berkelebat masuk dari ruang belakang, kemudian muncul ah seorang hwesio cilik berusia lima enam belasan tahun yang berwajah bersih.
Begitu munculkan diri, dia lantas merangkap tangannya didepan dada memberi hormat, lalu berkata.
"Sicu apakah kau hendak berjumpa dengan guruku? Mari siau ceng membawa jalan untukmu."
Hawa amarah segera melintas diatas wajah pendeta setengah umur itu, tapi hanya sebentar saja, kemudian sambil tertawa dia pun berkata.
"oooh, suheng telah bangun? Sicu, bila kau ingin berjumpa dengan Hong-tiang, silahkan saja masuk mengikutinya."
Sekalipun Wi Tiong hong sama sekali tidak berpengalaman dalam dunia persilatan, namun diam diam dia merasa keheranan juga, secara lamat-lamat dia dapat merasakan pula sesuatu suasana yang serba aneh didalam kuil Pau in si tersebut.
Maka dia segera menjura seraya berkata.
"Kalau begitu harap siau suhu suka membawa ku kedalam."
Hwesio cilik itu tidak berbicara lagi dia segera membalikkan badan dan membawa Wi Tiong hong menuju kehalaman belakang.
Setelah melewati dua buah halaman luas dan melangkah masuk kebalik pintu bulat, mendadak hwesio cilik itu berpaling sambil bertanya.
"Tadi membicarakan apa-apa, taysu itu hanya bertanya ada urusan apa aku datang menjumpai Hongtiang?"
Hwesio cilik itu segera mendengus.
"Hmm, dia memang selamanya tak pernah berpikiran baik."
Wi Tiong hong merasa kurang leluasa buat menjawab perkataan itu, maka itu dia hanya membungkam saja. Kembali hwesio cilik itu berkata.
"Sicu, obat penawarnya sudah kau bawa?"
Sekali lagi Wi Tiong hong menjadi tertegun dibuatnya.
"Aku hanya mendapat pesan dari seseorang untuk disampaikan kepada hongtiang kalian, siau... suhu, mungkin kau salah melihat orang ?"
Hwesio cilik itupun kelihatan agak tertegun setelah berpaling dan memandang sekejap kearah Wi Tiong-hong, katanya lagi.
"Jadi kau bukan suruhan tosu she Seh tersebut ?"
"Bukan,"
Jawab wi Tiong hong menjelaskan. Hwesio cilik itu kelihatan agak kecewa, dia segera berguman seorang diri.
"Seputuh hari kemudian ia bilang bakal ada orang datang, bukan kau orangnya yang dimaksudkan ?"
Begitu mendengar kata "sepuluh hari kemudian", wi Tiong hong segera teringat kembali dengan pesan Tok Hay-ji yang menyuruhnya menyampaikan ditempat tujuan sepuluh hari kemudian, bukankah hal itu tempat sekali kalau dicocokkan satu sama lainnya.
Tapi berhubung dia tidak mengetahui keadaan yang sesungguhnya, maka si anak muda itu hanya membungkam diri.
Tak selang beberapa saat kemudian, mereka sudah berada didalam sebuah halaman yang tenang.
hwesio cilik itu segera bertanya lagi.
"Sicu, siapakah namamu Siau-ceng harus mengetahuinya sebelum melaporkan pada suhu."
"Aku adalah Wi Tiong-hong."
"Harap sicu menunggu sebentar."
Selesai berkata dia lantas menyelinap masuk kedalam sebuah ruangan didepan sana. Tak lama kemudian ia sudah mencul kembali seraya berkata.
"Suhu mempersilahkan wi sicu masuk."
Setelah melangkah ke dalam ruangan tampak diatas sebuah pembaringan kayu duduk dengan bersila seorang hwesio tua yang kurus kering tinggal kulit pembungkus tulang, sepasang matanya terpejam rapat, tampaknya sedang bersemadi.
Ketika mendengar suara langkah dari Wi-Tiong hong, dia segera membuka matanya dan mengawasi si anak muda itu sekejap.
sambil merangkap tangannya memberi hormat, dia berkata.
"Wi sicu, maaf kalau lolap tak leluasa untuk berjalan sehingga tidak dapat menyambut kedatanganmu."
"Tidak usah sungkan-sungkan Lo suhu, maaf jikalau kedatangan aku ini telah mengganggu ketenanganmu."
Buru-buru wi Tiong hong balas memberi hormat.
"Sicu silahkan duduk."
Hwesio tua itu menunjuk kesebuah kursi disisi pembaringannya. Wi Tiong hong menurut dan segera duduk. hwesio cilik itu segera menghidangkan air teh.
"Wi sicu, silahkan minum air teh."
Kembali hwesio tua itu berkata.
"dari muridku, lolap dengar sicu mendapat titipan dari seseorang dan ingin berjumpa dengan diriku, entah persoalan apakah itu ?"
"Aku mendapat titipan dari seseorang untuk menyampaikan sepatah kata pesanan."
Belum habis dia berkata, mendadak hwesio tua itu sudah mendongakkan kepalanya, lalu dengan sepasang mata memancarkan cahaya kilat bentaknya dalam-dalam.
"Siapa yang berada diluar? "
Wi Tiong hong menjadi, tertegun setelah mendengar bentakan itu, pikirnya.
"hwesio tua ini bertubuh kurus kering tinggal kulit pembungkus tulang, tak nyana kalau tenaga dalamnya telah mencapai puncak kesempurnaan yang luar biasa."
Mendadak dari luar pintu kedengaran seseorang menjawab.
"Siaute Gho-tong, apa penyakit yang suheng derita sudah agak baikan? "
Pelan-pelan paras muka hwesio tua itu pulih kembali seperti sedia kala, dia berkata.
"Sutekah? Ih-heng sudah merasa agak baikan, ada urusan apa sute datang kemari?"
"Aaah, tidak, siaute hanya ingin menanyakan keadaan suheng saja."
Kemudian kedengaran suara langkah pergi dan makin lama suaranya semakin menjauh. sekali lagi Wi Tiong-hong berpikir.
"Hmmm, tampaknya Gho tong memang sengaja datang kemari untuk menyadap pembicaraanku."
"Pesan yang dibawa oleh Wi sicu sudah tentu untuk lolap. entah siapakah yang memberikan pesan tersebut kepadamU?"
"Dia bernama Tok Hay ji "
"Tok Hay-ji?"
Hwesio tua itu termenung sebentar.
"diantara orang-orang yang lolap kenal, sama sekali tidak terdapat seseorang yang bernama Tok Hay ji...."
Wi Tiong hong menjadi tertegun setelah mendengar perkataan ini, jelas sekali Tok Hay ji suruh dia membawa kabar itu buat Hongtiang dari kuil Pau in si, mungkinkah dia keliru?
"Suhu, mungkin Tok Hay ji itu memang berasal satu komplotan dengan tosu she Seh tersebut?"
Si hwesio cilik itu mengemukakan pendapatnya. Hwesio tua itu segera manggut-manggut.
"Yaa, mungkin memang begitu, dia pernah bilang dalam sepuluh hari mendatang bakal ada orang datang kemari... ."
Berbicara sampai disitu, dia lantas mendongakkan kepalanya sambil bertanya.
"Wi sicu, tolong tanya pesan apakah yang dia titipkan agar disampaikan kepadaku?"
Wi Tiong-hong memandang sekejap kearah hwesio cilik itu, kemudian menjawab.
"Dia menuliskan kata-kata tersebut diatas tanganku, konon persoalan ini penting sekali artinya, selain lo-suhu tak boleh diketahui orang lain... ."
"Ooh,"
Hwesio tua itu segera berpaling ke arah hwesio cilik itu kemudian pesannya.
"Berjaga-jagalah didepan pintu, jangan biarkan ada orang yang menyadap pembicaraan kami."
Dengan pandangan gusar hwesio cilik itu melotot sekejap kearah Wi Tiong hong, kemudian dengan uring-uringan dia mengundurkan diri dari tempat itu.
"Nah, Wi-sicu sekarang katakanlah."
Ujar si hwesio tua itu kemudian-Wi Tiong hong celupkan tangannya kedalam cawan teh, kemudian menulis beberapa huruf diatas meja.
"Dibawah undak undakan pintu Kiam-bun, dalam gua masuk kayu."
"Hanya beberapa huruf ini?"
Tanya si hwe slo tua itu setelah membaca huruf-huruf tersebut.
"Ya, Benar, hanya huruf-huruf tersebut."
Wi Tiong-hong mengangguk.
"Apakah ia tidak memesan sicu, pesannya itu harus lolap sampaikan kepada siapa?"
"Tidak."
"Wi sicu masih ingat, apa lagi yang dia katakan? "
Kembali hwesio tua itu bertanya. oooOOooo "DIA BERPESAN agar dalam sepuluh hari, pesan itu harus sudah disampaikan pada tujuan."
Jawab wi Tiong-hong. Pelan-pelan hwesio tua itu mengangguk.
"Kalau begitu tidak bakal salah lagi, sudah pasti si tosu she Seh itulah yang memerlukan pesan ini. Aaai...lolap benar-benar tidak tahu pesan yang diperlukan olehnya ini sebenarnya apa?"
Wi Tiong hong tak mengetahui siapakah tosu she Seh yang dimaksudkan karena merasa pesanannya itu sudah disampaikan maka diapun bersiap-siap untuk mohon diri.
Mendadak hwesio tua menatap wajah Wi-Tiong hong, kemudian bertanya.
"Sicu apakah kenal dengan Tok Hay ji?"
"Aku hanya pernah berjumpa sekali, jadi tak bisa dibilang saling mengenal."
Hwesio tua itu termenung sebentar, kemudian tanyanya lagi.
"Lantas mengapa dia bisa menitip pesan kepada sicu?"
"Dua hari berselang aku telah di tangkap orang dan secara kebetulan di sekap bersama dengan Tok Hay-ji, kemudian beruntung aku mendapat kebebasan, maka dia pun menitipkan pesan buat lo suhu."
"Dia benar-benar telah menuliskan pesannya diatas telapak tanganmu?"
Tanya si hwesio tua lagi dengan kening berkerut.
Wi Tiong hong yang mendengar pertanyaan itu diam-diam merasa keheranan, ia merasa sejak awal pembicaraan tadi ia sudah menerangkan kalau Tok Hay ji menulis pesannya diatas telapak tangannya, tapi pendeta itu menandaskan berulang kali, mungkinkah dia merasa kurang percaya?
Sekalipun berpikir demikian dia toh menjawab juga .
"Yaa. benar."
"Apakah dia juga beritahu kepadamu seandainya dalam sepuluh hari berita itu tak sampai disini, maka apa yang harus sicu lakukan?"
Wi Tiong hong makin keheranan lagi setelah mendengar perkataan itu, pikirnya lebih jauh.
"Dia toh menitipkan pesan kepadaku, andai kata aku tak bisa menyampaikan pesannya, apa pula yang bisa kulakukan? "
Dalam hati dia berpikir demikian, diluar katanya.
"Soal ini dia tidak mengatakan apa-apa."
"omitohud."
Hwesio toa itu segera memuji keagungan sang Buddha.
"orang itu betal-betul berhati keji, bahkan jauh lebih keji dan beracun daripada Seh tosu."
OooOOooo
Jilid 10 KEMUDIAN sambil mendongakkan kepala dan menatap pemuda itu, dia bertanya lagi.
"Apakah Wi sicu tidak merasakan sesuatu yang tak beres dengan tubuhmu."
"Aku sama sekali tidak merasakan apa-apa."
Sahut pemuda itu dengan perasaan tercengang. Hwesio tua itu menghela napas panjang.
"Aaai, tak salah lagi, paling tidak lima hari kemudian kau baru akan merasakan sesuatu yang tak beres, sampai kejadian hari ini Wi sicu baru melewati sehari, tentu saja kau tak akan merasakan apa-apa."
"Losuhu, apa maksud ucapanmu itu?"
"Sewaktu Tok Hay-ji menulis huruf-huruf tersebut di atas telapak tangan sicu, dia pasti telah melepaskan pula sejenis racun yang amat keji, racun mereka itu bernama Sip-jit-san (bubuk sepuluh hari buyar), selain tidak berwarna juga tidak berbau, siapa yang terkena sama sekali tak akan merasakan apa-apa, tapi sepuluh hari kemudian bila racun itu mulai bekerja, maka tiada obat lagi yang bisa menyelamatkan jiwamu."
Setengah percaya setengah tidak Wi Tiong-hong setelah mendengar keterangan itu, dia lantas bertanya.
"Darimana losuhu bisa mengetahui hal ini?"
Hwesio tua itu menghela napas panjang.
"Aai, lima hari berselang, ada seorang Seh tosu datang mencari lolap, dia-pun mengatakan ada suatu persoalan rahasia yang hendak dititipkan kepada lolap. Bahkan tak boleh sampai terdengar oleh pihak ketiga."
"Lolap setengah percaya setengah tidak, dia minta lolap ulurkan tanganku, maka diapun menulis beberapa huruf di situ, tulisan itu berbunyi.
"Sepuluh hari lagi, nantikan jawaban."
"Sebelum berlalu dia menerangkan kepada lolap kalau ia telah melepaskan racun Sip-jit-san yang amat dahsyat ke dalam tubuhku, sepuluh hari kemudian bila sari racun itu mulai bekerja, maka tiada obat lagi yang bisa menolong jiwaku, tapi dia akan muncul kembali sepuluh hari kemudian dengan membawa obat penawarnya, asalkan aku bisa memberikan jawaban kepadanya."
Mendengar itu, Wi Tiong-hong segera berpikir.
"Kalau begitu Seh tosu itu telah memperalat Hong-tiang dari kuil Pau-in-si untuk menyampaikan kabar berita."
Sementara dia masih termenung, hwesio tua itu sudah berkata lebih lanjut.
"Waktu itu lolap tidak mengerti apa yang dimaksudkan sebagai jawaban. Tapi setelah mendengar perkataan dari sicu, barulah aku ketahui kalau kabar yang dibawa siculah yang mereka maksudkan sebagai jawaban."
"Setelah aku ketahui pula kalau Tok Hay-ji juga menulis huruf-huruf itu di atas telapak tangan sicu, maka lolap menarik kesimpulan kalau sicu-pun sudah terkena pula racun Sip-jit-san dari Tok Hay-ji."
"Oooh, masa begitu?"
"Setiap manusia yang berkelana dari dunia persilatan kebanyakan adalah manusia-manusia licik yang tak bisa diketahui jalan pemikirannya, lebih baik mempercayai segala sesuatu dari pada tidak mempercayainya. Lolap sudah lama mengidap penyakit, kendati-pun dia tidak memberi obat penawar tersebut, kehidupanku memang tak akan seberapa lama lagi, berbeda dengan sicu yang masih muda, seandainya benar-benar sampai terkena racun Sip-jit-san, wah bisa berabe."
"Mengapa aku tidak merasakan apa-apa?"
"Kalau harus menunggu sampai racun itu mulai bekerja, saat itu pasti keadaannya pasti sudah terlambat."
Berbicara sampai di sini, dia segera memejamkan mata sambil termenung sebentar, kemudian katanya lagi.
"Menurut yang lolap ketahui, dipintu utara kota Sang-ciau berdiam seorang tokoh sakti, orang ini bukan cuma pandai dalam ilmu pertabiban, bahkan sangat mengusai tentang pelbagai ilmu beracun yang ada di dunia ini, bila sicu bersedia mendengarkan nasehat lolap. Entah benar keracunan atau tidak, mumpung racun itu belum mulai bekerja, lebih baik mohonlah bantuannya."
Mendengar pendeta itu dengan serius, tanpa terasa Wi Tiong-hong teringat kembali akan peristiwa semalam, ketika racun dari jarum beracun keluarga Lan mulai bekerja dalam tubuhnya, keadaannya memang mengerikan sekali, maka dia lantas bertanya.
"Lo suhu, siapakah nama tokoh sakti itu? Dan bagaimana cara untuk menemukannya?"
"Tiada orang yang mengetahui nama sebetulnya dari tokoh persilatan tersebut. Tapi oleh karena dia berdiam di bawah bukit Heng-san, maka orang menyebutnya Heng-san Gisu (pertapa dari bukit Heng-san), di depan pintu rumahnya terdapat pagar bambu, tempat itu gampang sekali ditemukan."
Mendengar nama Heng-san gisu, tanpa terasa Wi Tiong-hong teringat kembali akan si nona berbaju hijau yang pernah dijumpainya semalam, agaknya gadis itu-pun pernah menyebut nama itu, dari sini dapat ditarik kesimpulan kalau Heng-san gisu adalah seorang manusia yang benar-benar ternama.
Berpikir sampai di situ, dia lantas bangkit berdiri seraya berkata.
"Terima kasih banyak atas petunjuk dari lo suhu, aku hendak mohon diri lebih dahulu."
"Sicu jauh-jauh datang untuk membawakan berita buat loolap, untuk itu loolap merasa berterima kasih sekali, lima hari kemudian silahkan Wi sicu mampir lagi kemari, lolap pasti akan menunggu kedatangan dari sicu."
Tentu saja Wi Tiong-hong dapat menangkap maksud dari ucapan si hweesio tua itu, gara-gara hendak menyampaikan pesan kepadanya, pemuda ini harus keracunan, maka andaikata Heng-san Gisu tidak dapat menyembuhkan racun Sip-jit-san tersebut, maka dia rela, memberikan bagian obat penawarnya untuk pemuda tersebut.
Mengetahui akan maksud baik pendeta tersebut, timbul perasaan kagum dan hormatnya terhadap hweesio itu, ujarnya kemudian sambil menjura.
"Lo suhu, apakah kau ada sesuatu urusan?"
"Bila sampai waktunya Wi sicu bisa datang kemari, lolap memang ada sesuatu persoalan hendak disampaikan kepadamu."
"Jikalau lo suhu memang berkata begitu, sampai waktunya aku pasti akan datang kemari."
"Maaf, gerak gerik lolap kurang leluasa, jadi tak bisa mengantarmu lebih jauh."
"Tak berani merepotkan diri taysu."
Setelah berjalan ke luar dari ruangan itu, dia langsung menuju ke kuil bagian depan.
Berhubung dia telah berjanji, untuk berjumpa dengan Ting Ci-kang di luar kuil, maka seke luarnya dari kuil Pau-in-si, dia lantas celingukan kesana kemari, tapi bayangan tubuh Ting Ci-kang tidak nampak.
Agaknya dia belum lagi menyusul kesitu.
Sepanjang jalan dia merenungkan kembali apa yang diucapkan hweesio tua tadi, tanpa terasa langkahnya lambat laun semakin lamban sekali.
Sementara dia masih berjalan, mendadak terdengar suara pujian pada Sang Buddha.
"Omintohud?"
Dari balik pohon muncul seorang pendeta berbaju abu-abu, sambil menghadang jalan perginya dia berkata dengan suara dalam.
"Wi sicu, harap berhenti."
Wi Tiong-hong segera mendongakkan kepalanya, ternyata dia adalah Gho-tong, si pendeta penerima tamu dari kuil Pau-in-si, tanpa terasa dia lantas menghentikan langkahnya, kemudian sambil menjura tanyanya.
"Taysu, ada sesuatu urusan?"
Pelan-pelan Gho-tong berjalan mendekat, kemudian sambil tertawa seram katanya.
"Yang pinceng ingin ketahui adalah persoalan rahasia yang baru saja sicu bicarakan dengan suhengku?"
Dengan cepat Wi Tiong-hong mundur selangkah, lalu katanya dingin.
"Taysu, mengapa kau tidak kembali saja ke kuil untuk bertanya langsung kepada suhengmu?"
Gho-tong ikut melangkah maju ke depan, sahutnya sambil tertawa seram.
"Setelah berjumpa dengan sicu di tempat ini, aku rasa bertanya kepada sicu-pun sama saja."
Diam-diam Wi Tiong-hong manggut-manggut, pikirnya.
"Sudah jelas dia memang sengaja menantikan kedatanganku di luar kuil ini."
Maka setelah mendengus katanya.
"Toa-suhu, aku lihat tampaknya kau memang sengaja menantikan kedatanganku di sini."
"Wi sicu memang tak malu disebat orang yang tahu diri."
Gho-tong tertawa.
"Aku tak mengerti."
"Tidak mengerti juga tak menjadi soal, asal Wi sicu mengaku saja terus terang, maka akan beres dengan sendirinya."
"Kalau didengar dari ucapan taysu, agaknya kalau aku tidak memberitahukan kepada Toa suhu, maka bakal ada urusan."
"Omintohud,"
Gho-tong mengangkat bahunya.
"asal sicu sudah tahu, hal ini lebih baik lagi."
Berbicara sampai di situ, dia lantas menuding ke samping kirinya sambil berkata lagi.
"Sicu, bersediakah kau mengikuti pinceng untuk berbincang-bincang sebentar di dalam lembah itu?"
Mengikuti arah yang ditunjuk.
Wi Tiong-hong saksikan ada sebuah lembah yang menjorok jauh ke dalam bukit sana dengan hutan yang lebat sekali, tempat itu sepi dan mengerikan, baru saja dia hendak mengatakan.
"Aku tak mau turut."
Mendadak dilihatnya Gho-tong dengan senyuman licik menghiasi wajahnya telah melepaskan sebuah cengkeraman maut yang diarahkan ke atas bahunya.
Bagaimana-pun juga Wi Tiong-hong adalah seorang yang berilmu, reaksinya tentu saja lebih cepat dari pada orang lain, sambil berkelit ke samping dan menangkis ancaman itu dengan tangan kiri, bentaknya.
"Mau apa kau?"
Gho-tong tidak menyangka kalau Wi Tiong-hong dengan usia semuda itu sudah memiliki tenaga dalam yang sempurna, begitu tangannya kena ditangkis, serta merta badannya bergeser ke samping kanan.
Kemudian seraya berpaling dan menatap wajah si anak muda itu lekat-lekat serunya dingin.
"Sicu, ilmu silatmu memang sangat hebat, tampaknya pinceng telah salah menilai dirimu."
Mendadak dia menerjang maju ke depan, lalu mengayunkan telapak tangannya melepaskan sebuah bacokan.
Wi Tiong-hong segera miringkan badan bagian atasnya ke samping untuk meloloskan diri dari ancaman tersebut, kemudian lengannya diputar kencang, berbareng dilepaskannya sebuah pukulan, tubuhnya melompat mundur ke belakang.
Bentaknya kemudian dengan kening berkerut.
"Toa suhu, bila kau tidak segera menghentikan seranganmu, jangan salahkan kalau akan bertindak kurang sopan kepadamu."
Sementara itu hawa nafsu membunuh telah menyelimuti wajah Gho-tong, sambil menyeringai seram katanya.
"Sicu, berapa banyak kepandaian silat yang kau miliki, silahkansaja digunakan semua."
Di tengah pembicaraan tersebut, badannya menerjang ke depan, sepasang tangannya diayunkan kesana kemari dan secara beruntun melepaskan tujuh delapan serangan berantai.
Serta merta Wi Tiong-hong mengayunkan pula sepasang tangannya menangkis dan mematahkan serangkaian serangan berantai yang dilancarkan Gho-tong hwesio.
Begitu serangan yang dilancarkan Gho-tong mengendor Wi Tiong-hong segera manfaatkan kesempatan itu sebaik-baiknya untuk melancarkan serangan balasan.
Secara beruntun dia melepaskan tiga bacok dan empat pukulan yang memaksa Gho-tong mundur sejauh dua langkah.
Begitu berhasil mendesak mundur Gho-tong, Wi Tiong-hong tidak melanjutkan pengejarannya, dia menarik kembali sepasang telapak tangannya dan berdiri di tempat, hanya ujarnya dingin.
"Toa suhu, bila kau tidak ada persoalan lain yang hendak disampaikan maaf kalau aku tak bisa menemani lebih lama."
Gho-tong hwesio benar-benar tidak menyangka kalau ilmu silat yang dimiliki Wi Tiong-hong sudah mencapai ke tingkatan yang begini hebat, untuk sesaat lamanya dia menjadi tertegun.
Diam-diam dia lantas berpikir.
"Agaknya bocah keparat ini berasal dari perguruan Butong-pay, ilmu silatnya hebat sekali, dengan mengandalkan kekuatanku seorang, sudah jelas tak mungkin begitu untuk menghadangmu."
Pada saat itulah, dari arah tanah perbukitan sana muncul sesosok bayangan manusia yang meluncur datang dengan kecepatan tinggi, dalam waktu singkat ia sudah tiba di depan mereka berdua.
Begitu Gho-tong hwesio mengetahui siapa yang datang, hatinya segera bergetar keras.
Sebaliknya Wi Tiong-hong menjadi girang sekali, buru-buru teriaknya dengan suara lantang.
"Ting toako."
Ternyata yang datang adalah ketua perkumpulan Thi-pit-pang Ting Ci-kang adanya. Tampak Ting Ci-kang memandang sekejap sekeliling tempat itu, kemudian tanyanya.
"Saudara Wi, mengapa kau bertarung dengan toa-suhu ini?"
Sembari berkata sepasang matanya yang tajam dialihkan ke wajah Gho-tong hwesio, sementara tangan kanannya seperti sengaja tak sengaja diayunkan ke bawah.
Dengan jelas Gho-tong hwesio melihat bahwa di antara ayunan tangannya itu, telapak tangannya memainkan sebuah taktik ilmu pedang hal ini membuatnya semakin terperanjat.
Dengan cepat dia mundur selangkah lalu merangkap tangannya di depan dada, katanya kemudian sambil tertawa paksa.
"Oooh ... pinceng hanya ingin memohon suatu petunjuk dari Wi sicu ini, siapa tahu Wi sicu menaruh curiga kepada pinceng, jadi sebenarnya hal ini merupakan suatu kesalahan paham, untuk itu pinceng mohon maaf yang sebesar-besarnya."
"Kalau memang suatu kesalahan paham, silahkan Toa suhu berlalu,"
Ucap Ting Ci-kang. Gho-tong hweesio mengangguk berulang kali.
"Baik, pinceng mohon diri lebih dahulu."
Selesai berkata dia lantas memberi hormat, lalu membalikkan badan dan berlalu dari situ. Sepeninggalnya hweesio tersebut, Ting Ci-kang baru berkata.
"Saudara Wi, sebenarnya dikarenakan apakah kau sampai bertarung dengan hweesio itu?"
Secara ringkas Wi Tiong-hong segera menerangkan kisah pengalaman yang baru saja dialaminya. Mendengar penuturan tersebut, Ting Ci-kang segera mendengus dingin.
"Hm, ternyata mereka benar-benar ingin menggunakan Hong Hong-tiang dari kuil Pau-in-si untuk menyampaikan berita, kalau begitu Seh tosu tersebut, sudah pasti anggota dari selat Tok Seh-shia."
Sekarang Wi Tiong-hong baru teringat kembali pesan dari paman yang tak diketahui namanya itu berapa hari berselang.
Waktu itu, dengan ilmu menyampaikan suara paman yang tak dikenal namanya itu pernah memperingatkan kepadanya agar berhati-hati dengan para jago dari Tok Seh-shia, bila berjumpa dalam dunia persilatan di kemudian hari.
Maka setelah mendengar toakonya menyinggung pula tentang selat Tok She-shia tersebut, tanpa terasa dia bertanya.
"Ting toako sebenarnya tempat macam apakah selat Tok Seh-shia tersebut ... ?"
"Tentang selat Tok Seh-shia mah ... pokoknya anggota mereka pandai sekali dalam mempergunakan racun, berapa tahun tidak pernah bermunculan kembali di dunia persilatan, siau heng sendiri-pun kurang begitu tahu."
Mendadak dalam hati kecil Wi Tiong-hong timbul suatu perasaan aneh, dia merasa Ting-toako yaug dihadapinya sekarang jauh berbeda dengan Ting toakonya dulu.
Kalau dulu, Ting toakonya selalu berjiwa terbuka dan suka blak-blakan, maka sekarang Ting toakonya seakan-akan suka merahasiakan sesuatu dan menutup diri, seakan orang yang dihadapinya kini bukanlah orang yang dulu.
Tadi, dia bertanya tentang Ban Kiam-hwee, tapi dia mengatakan tak tahu, sekarang ditanya tentang selat Tok Seh-shia, kembali dia mengatakan tak tahu, padahal kalau didengar dari pembicaraannya jelas dia tahu banyak hal, cuma enggan untuk memberitahukan soal ini kepadanya.
Ketika Ting Ci-kang menyaksikan pemuda itu membungkam diri dalam seribu bahasa mendadak dengan sikap penuh perhatian dan bersungguh-sungguh ia berkata.
"Apa yang dikatakan Gho beng Hoatsu itu memang benar, lebih baik mempercayai sesuatu ada daripada tidak mempercayai adanya sesuatu, orang dari selat Tok Seh-shia memang manusia-manusia licik yang berhati kejam dan berbahaya, besar kemungkinannya juga Tok Hay-ji telah melepaskan racun Sip-jit-san ke tubuhmu, mari kita segera berangkat kebukit Heng-san sekarang juga."
"TING TOAKO, apakah kau kenal dengan Heng-san Gisu? "
Tanya Wi Tiong-hong.
"Tidak. Aku tidak kenal, konon Heng-san Gisu adalah seorang yang amat termashur di dalam dunia persilatan, selain liehay dalam pertabiban juga amat menguasai tentang berbagai ilmu beracun."
"Tapi orangnya amat sosial sekali, dia tak pernah membedakan antara golongan lurus dengan golongan sesat, dia-pun tidak membedakan antara yang jahat dan baik, asal datang ke rumahnya minta bantuan, dia pasti memberi pengobatan dengan bersungguh hati, itulah sebabnya orang persilatan menyebutnya sebagai Say Hoa-toa (Hua Tuo sakti)."
Sembari berkata mereka melanjutkan perjalanan dengan gerakan tubuh yang amat cepat.
Tak selang berapa saat kemudian, mereka sudah masuk dari pintu kota sebelah selatan dan ke luar dari pintu kota sebelah utara, langsung menuju ke bukit Heng-san.
Heng-san, seperti juga namanya, bukit itu melintang bentuknya dengan ketinggian yang tak seberapa, antara tebing satu dengan tebing yang lain semuanya saling berhubungan hingga orang akan merasa bahwa bukit itu namanya merupakan sebuah bukit melintang yang hampir sejajar bentuknya.
Dengan cepat kedua orang itu memburu ke kaki bukit Heng-san, apa yang dikatakan hwesio tua itu memang benar, rumah Heng-san Gisu berpagar bambu dengan bentuk yang sangat khas, memang tidak sukar untuk menemukan letak rumah tersebut.
Sungai kecil yang melintang di depan rumah dengan pepohonan yang rimbun menambah indahnya pemandangan alam di tempat itu.
Tanpa terasa Wi Thiong hong membayangkan kembali rumah gubuknya dibukit Huay Giok-san di mana sejak kecil sampai besar dia menetap.
Pemandangan alam di situ mirip keadaan di tempat ini.
Ayah yang hidup bersamanya sejak kecil ternyata berubah menjadi paman yang tak diketahui namanya, asal usulnya menjadi teka-teki, masa depannya merupakan tanda tanya besar, kehidupan sederhana tanpa keributan dan penuh suasana damai itu kini sudah tinggal kenangan.
Teringat kesemuanya itu, hatinya menjadi sedih kembali sehingga air matanya hampir saja jatuh bercucuran.
Ketika Ting Ci-kang merasa langkah kaki pemuda itu makin lama semakin lamban, mendadak berpaling dan memandang sekejap ke arah Wi Tiong-hong, kemudian serunya terkejut.
"Saudara Wi, wajahmu kurang beres, apakah kau merasa kurang enak badan?"
Wi Tiong-hong menggeleng.
"Tidak, memandang pemandangan alam di sekitar tempat ini, tanpa terasa siaute jadi teringat kembali dengan tempat tinggalku dulu."
"Aku ... aku ... aku tak punya rumah, aku tak punya rumah lagi." +++ Bab 20 TING CI-KANG segera tertawa terbahak2.
"Saudaraku, kau masih berusia sangat muda."
Katanya.
"Haaahh ... haaah ... haaah ... sebagai seorang lelaki, cita-cita berada di empat penjuru, mana boleh tinggal di kampung halaman melulu? Ada atau tidak ada rumah, buat apa mesti dirisaukan?"
Setelah mendengar perkataan itu, Wi Tiong-hong merasakan hatinya menjadi lega sekali, dia menganggukkan kepalanya berulang kali.
"Perkataan dari toako memang tepat sekali,"
Demikian dia berseru kemudian.
Beberapa saat kemudian mereka sudah tiba dimuka pekarangan, Ting Ci-kang segera mengetuk pintu beberapa kali, namun dari dalam tiada jawaban.
Di balik pagar pekarangan merupakan sebuah obat yang kecil, dibagian tengahnya tiga buah rumah gubuk.
Tapi sepasang pintu rumah itu tertutup rapat-rapat, karena itu tak dapat terlihat apakah di dalam rumah ada orangnya atau tidak?
Ting Ci-kang mengetuk lagi berapa kali sambil menegur dengan suara lantang.
"Ada orangkah di dalam?"
"Siapa?"
Seseorang segera menegur dengan suara yang parau, kasar dan keras.
Jika didengar dari nada pembicaraan orang itu, tampaknya dia merasa amat tidak sabaran.
Dengan kening berkerut Ting Ci-kang segera berpikir.
"Nada suara orang itu kasar dan parau, sudah barang tentu bukan Heng-san Gisu pribadi, jangan-jangan Heng-san Gisu sedang tidak berada di rumah?"
Berpikir demikian, dia lantas menjawab.
"Aku Ting Ci-kang, datang untuk berjumpa dengan Gi-su."
Suara bisikan lirih yang lembut segera kedengaran dari dalam rumah gubuk itu, menyusul kemudian seseorang dengan suara yang parau dan keras berkumandang lagi.
"Mungkinkah saudara adalah ketua perkumpulan Thi-pit-pang Ting tayhiap.?"
"Tidak berani, memang akulah orangnya."
"Harap Ting tayhiap suka menunggu sebentar, aku akan segera membukakan pintu."
Tak selang berapa saat kemudian, pintu rumah gubuk itu dibuka dan seorang lelaki berbaju hitam munculkan diri dengan langkah lebar.
Sesudah membukakan pintu pagar pekarangan sambil menjura katanya kembali.
"Silahkan kalian berdua masuk."
Ting Ci-kang mencoba untuk memperhatikan lelaki berbaju hitam itu sekejap, dia saksikan gerak gerik orang itu sangat liehay dan mantap.
Kelihatan memiliki kepandaian yang sangat hebat, diam-diam timbul kecurigaan di dalam hatinya.
Sambil membalas hormat dia lantas bertanya.
"Apakah Gisu berada di rumah?"
"Majikan kami sedang membuat obat, silahkan kalian berdua masuk dan duduk di dalam."
Setelah mendengar panggilan orang itu terhadap Heng-san Gisu, kecurigaan di dalam hati Ting Ci-kang segera lenyap sebagian.
Bagaimana-pun juga, Heng-san Gisu adalah seorang manusia yang termashur di dalam dunia persilatan, tidaklah heran jika dia memiliki ilmu silat yang sangat lihay, otomatis seorang yang menjadi anak buahnya untuk menjaga pintu tentu memiliki pula kepandaian silat yang lihay, dan hal ini tiada sesuatu yang perlu diherankan.
Sedangkan suara bisikan lirih yang terdengar tadi, tentulah suara bisikan mereka yang sedang meminta petunjuk kepada Heng-san Gisu, apakah perlu untuk membukakan pintu atau tidak.
Sementara dia masih berpikir, bersama Wi Tiong-hong dan di ringi lelaki berbaju hitam itu, mereka masuk ke dalam rumah.
Di ruangan bagian tengah dari rumah gubuk itu adalah sebuah ruangan tamu, perabotnya amat sederhana, selain meja kursi tak nampak benda apa-pun.
Sekali-pun demikian, lantai mau-pun seluruh ruangan itu nampak bersih sekali, hal ini menunjukkan kesederhanaan dan kebersihan dari seorang pertapa.
Sesudah mempersilahkan tamunya duduk, lelaki berbaju hitam itu segera menghidangkan air teh, lalu katanya.
"Saudara berdua, silahkan minum teh."
Sesudah meletakkan cawan air teh ke atas meja, dengan cepat dia mengundurkan diri lagi.
Tak selang berapa saat kemudian, dari ruang sebelah kiri kedengaran suara langkah manusia disusul pintu kamar dibuka orang, seorang kakek berambut putih dan berjenggot kambing munculkan diri dalam ruangan tersebut.
Rupanya orang inilah yang dinamakan Say Hoa-toa (Hua Tou pintar) Heng-san Gisu.
Dia mengenakan sebuah jubah berwarna biru yang amat tidak sesuai dengan potongan badannya, bahkan kancing baju-pun tak sempat dikancingkan, begitu melangkah ke luar dari kamar dengan cepat dia menutup lagi pintu kamar tersebut, seakan-akan takut kalau orang lain dapat menyaksikan rahasia di dalam kamarnya.
Hal ini dapat dimaklumi sebab dia adalah seseorang yang pandai dalam ilmu pertabiban, tentu saja dia tak akan membiarkan orang lain mencuri rahasia pembuatan obat dari keluarganya.
Begitulah, setelah menutup pintu dia baru mengelus jenggotnya dan pelan-pelan berjalan ke dalam ruang tamu.
Setelah memandang kedua orang itu sekejap sekulum senyuman menghiasi wajahnya yang kurus, ujarnya sambil menjura.
"Lohu sedang membuat sejumlah obat mestika sehingga harus menyuruh kalian menunggu cukup lama, entah yang manakah yang bernama Ting tayhiap?"
Kedua orang itu berdiri bersama, kemudian Ting Ci-kang membalas hormat seraya menyahut.
"Akulah yang bernama Ting Ci-kang, sedang dia adalah adik angkatku Wi Tiong-hong kami datang karena sudah lama mengagumi nama besar lotiang, bila kedatangan kami telah mengganggu ketenangan lotiang, harap kau sudi maafkan."
"Mana ... mana, silahkan kalian berdua segera duduk,"
Buru-buru Heng-san Gi-su berseru. Dia mengambil tempat duduk dan melanjutkan.
"Ting tayhiap. Sungguh tak disangka kau-pun berkunjung ke kota Sang-siau, entah ada urusan apakah kau berkunjung ke rumah kami? Harap sudi diutarakan."
"Ilmu ketabiban yang lotiang miliki sudah amat termasyur dalam dunia persilatan, ada satu hal siaute ingin mohon bantuanmu."
Heng-san Gisu memandang sekejap wajah ke dua orang itu, kemudian katanya.
"Tidak berani, lohu hanya mengerti sedikit ilmu pertabiban saja, jika Ting tayhiap menjumpai suatu kesulitan, asal lohu tahu, pasti akan aku jawab dengan sejujurnya."
Ting Ci-kang segera menunjuk ke arah Wi Tiong-hong sembari berkata.
"Kemungkinan besar saudaraku ini sudah diracuni orang secara diam-diam, karena itu aku mohon bantuan dari lotiang untuk memeriksakan keadaan penyakitnya."
"Entah racun apakah itu?"
Tanya Heng-san Gi-su dengan perasaan terperanjat.
"Pernahkah lotiang dengar tentang racun yang dinamakan Sip-jit-san (sepuluh hari buyar)?"
Sekujur tubuh Heng-san Gi-su nampak bergetar keras, lalu dengan wajah tercengang serunya.
"Sip-jit-san? Belum pernah lohu dengar dengan nama tersebut. Hmm, entah bagaimanakah perasaan Wi sauhiap sekarang?"
"Konon racun Sip-jit-san itu tak merasakan apa-apa, tapi sepuluh hari kemudian bila racun itu mulai kambuh, maka tiada obat yang bisa menolong jiwanya lagi,"
Kata Ting Ci-kang lagi. Berkilat sepasang mata Heng-san Gisu setelah mendengar perkataan itu, dengan cepat serunya.
"Aah, masa telah terjadi peristiwa seperti ini? Wi sauhiap, bagaimanakah kejadiannya sampai kau menderita keracunan? Dapatkah diceritakan kepada lohu?"
"Dua hari berselang aku mendapat titipan dari seseorang untuk menyampaikan sepatah kata, dan orang itu telah menulis beberapa huruf di atas telapak tanganku ..."
"Siapakah orang itu?"
Buru-buru Heng-san Gisu bertanya.
"Dia bernama Tok Hay-ji."
Dengan cepat Heng-san Gi-su menggelengkan kepalanya berulang kali.
"Tok Hay-ji? Belum pernah lohu mendengar tentang nama orang ini,"
Katanya.
"Tampaknya Tok Hay-ji ini berasal dari selat Tok Seh-shia,"
Timbrung Ting Ci-kang. Sekali lagi Heng-san Gisu merasakan tubuhnya bergetar keras, buru-buru dia berseru.
"Dan Wi sauhiap-pun keracunan hebat setelah kejadian itu?"
"Dia menitipkan pesannya kepadaku agar disampaikan kepada Hong-tiang dari kuil Pau-in-si, dari Hong-tiang tua itulah aku baru mengetahui keadaan yang sebenarnya."
"Apa lagi yang diucapkan oleh Hong-tiang itu? "
Tanya Heng-san Gisu dengan mata terbelalak.
"Menurut Hong-tiang tua itu, lima hari berselang ada seorang hendak menitipkan pula sesuatu pesan kepadanya, dan orang itu menulis beberapa huuf di atas telapak tangannya, kemudian sebelum pergi orang itu memberitahukan kepadanya kalau dia sudah terkena racun Sip-jit-san, karena itulah aku duga kemungkinan besar Tok Hay-ji melepaskan racun pula ke dalam tubuhku, itulah sebabnya aku lantas datang kemari untuk mohon bantuan dari lotiang."
"Waaah ... peristiwa ini benar-benar merupakan suatu berita aneh yang belum aku dengar sebelumnya,"
Seru Heng-san Gisu sambil tertawa lebar. Berbicara sampai di sini, dia mengelus jenggot kambingnya sambil manggut-manggut, katanya.
"Kalau dilihat dari keadaan tersebut, bisa disimpulkan bahwa Wi sauhiap mungkin sudah keracunan, mungkin juga sama sekali tidak keracunan."
"Ya, memang demikian,"
Sambung Ting Ci-kang. Sekali lagi Heng-san Gi-su manggut-manggut katanya.
"Wi sauhiap, mari aku periksakan dahulu denyut nadimu."
Wi Tiong-hong segera mengeluarkan tangannya.
Heng-san Gi-su segera menempelkan ketiga jari tangannya di atas urat nadi pada pergelangan tangannya sambil memejamkan mata, lebih kurang seperminum teh kemudian dia baru membuka matanya sambil memerintah.
"Ganti pergelangan tangan yang lain."
Wi Tiong-hong menurut dan segera mengganti dengan tangan yang lain.
Sekali lagi Heng-san Gisu memejamkan matanya dan memusatkan segenap perhatiannya untuk memeriksa denyutan nadi orang, tapi di atas wajahnya yang kurus-pun lambat laun muncul selapis wajah yang amat serius.
Lebih kurang seperminum teh kemudian, tiba-tiba dia membuka matanya lebar-lebar sambil memerintahkan.
"Buka mulutmu lebar-lebar, coba akan lohu periksa lidah dan tenggorokanmu."
Wi Tiong-hong menurut dan membuka mulutnya lebar-lebar.
Heng-san Gi-su segera menggunakan sebuah jari tangan kanannya untuk menekan lidah Wi Tiong-hong dengan pelan lalu diamatinya beberapa saat.
Sesudah itu dia membuka pula kelopak mata Wi Tiong-hong dan memeriksanya beberapa saat, akhirnya dia memejamkan matanya dan membungkam dalam seribu bahasa.
Ting Ci-kang segera bertanya.
"Lotiang, apakah saudara Wi keracunan?"
Heng-san Gisu menghembuskan nafas panjang, pelan-pelan dia mengalihkan sorot matanya ke wajah Ting Ci-kang lalu menjawab.
"Menurut hasil pemeriksaan lohu atas nadi Wi sauhiap, memang aku jumpai adalah sejenis racun keji yang bersarang dalam tubuhnya, cuma saja racun keji itu agaknya seperti mengendon dalam isi perut, sebelum racun itu mulai kambuh, sulit bagi lohu untuk mengatakannya."
"Yaa, benar,"
Sambung Wi Tiong-hong.
"aku-pun pernah mendengar lo-hong-tiang itu berkata bahwa racun semacam ini paling tidak lima hari kemudian baru akan menunjukkan gejala-gejala anehnya."
Heng-san Gisu mengangguk berulang kali.
"Benar, benar, lebih baik kalau lima hari kemudian kau datang kemari lagi."
"Maksud lotiang, saat ini masih belum dapat mengeluarkan resep untuk pengobatan?"
Ting Ci-kang bertanya.
"Walau-pun ilmu pertabiban lohu tak berani dibilang sangat liehay, tapi sudah banyak penyakit aneh dan racun jahat yang berhasil aku sembuhkan, namun kasus seperti sekarang di mana racun sudah mengendon dalam isi perut akan tetapi sama sekali tidak menunjukkan gejala apa-apa, baru pertama kali ini aku jumpai, sebab itu sebelum melihat gejala racunnya sewaktu bekerja, sesungguhnya sulit buat lohu untuk membuka resep dan memberikan pengobatan."
Berbicara sampai di situ, dia lantas berpaling ke arah Ting Ci-kang, setelah memandangnya sekejap, dia membuka mulut seperti hendak mengucapkan sesuatu, tapi akhirnya niat itu diurungkan.
"Lotiang, bila ada persoalan silahkan kau utarakan saja secara berterus terang,"
Seru Ting Ci-kang dengan cepat.
"Lohu merasa kepandaian silat yang Ting tayhiap miliki luar biasa sekali, tapi aku lihat sinar matamu seperti agak sayu dan kurang bersih, sedangkan ujung hidung-pun membawa warna abu-abu, seharusnya itukah gejala dari keracunan, apakah Ting tayhiap merasakan sesuatu yang aneh di dalam tubuhmu?"
Ucapan tersebut memang merupakan yang amat mengejutkan hati, Ting Ci-kang yakin belum pernah berhubungan dengan siapa-pun, ketika mencoba untuk mengatur pernapasan, dia-pun tidak menunjukkan sesuatu gejala yang aneh.
Tapi dia tahu Heng-san Gisu adalah seorang tabib sakti yang pandai sekali menyembuhkan segala macam keracunan, tentu saja setiap perkataannya juga amat berbobot.
Maka setelah tertegun sebentar, dia mendongakkan kepalanya sambil berseru.
"Aku sama sekali tidak merasakan apa-apa, Totiang ..."
Sambil mengelus jenggot kambingnya, pelan-pelan Heng-san Gi su berkata lagi.
"Bila lohu tidak salah melihat, racun yang bersarang dalam tubuh Ting tayhiap adalah sejenis racun yang sifat kerjanya jauh lebih cepat ..."
Sambil berkata dia lantas maju mendekat dan membuka kelopak mata Ting Ci-kang untuk diperiksa, setelah itu sambungnya lagi.
"Betul, racun itu sudah menyusup sampai ke dalam darah, tak sampai enam jam kemudian racun itu pasti akan mulai bekerja, racun seganas itu boleh dibilang jarang sekali dijumpai dalam dunia persilatan ..."
Belum habis dia berkata, mendadak terdengar suara seorang perempuan yang merdu berkumandang dari luar pintu.
"Apakah sian seng berada di rumah?"
Heng-san Gisu berkerut kening lalu menggumam seorang diri.
"Hm, lagi-lagi ada orang yang datang mencariku."
Kemudian dengan mempertinggi suaranya ia berteriak.
"Siapa di situ? Silahkan masuk."
Pintu pagar pekarangan didorong orang dan seorang gadis yang berambut kusut menerjang masuk ke dalam ruangan dengan langkah cepat, setelah memandang sekejap ke arah tiga orang itu, buru-buru dia bertanya dengan cemas.
"Siapakah yang sakit? Cepat lihatkan keadaan penyakitku."
Gadis itu berambut kuning dan sangat kusut, wajahnya kuning dengan wajah penuh bopeng, jeleknya bukan kepalang, tapi potongan badannya justru amat ramping, suaranya juga merdu merayu, jauh berbeda dengan wajahnya yang menggidikkan hati.
Wi Tiong-hong hanya memandang sekejap ke arah gadis jelek itu, tiba-tiba saja dia merasa seperti pernah bersua di suatu tempat.
Pelan-pelan Heng-san Gisu mengalihkan sorot matanya ke wajah si nona bermuka jelek itu, kemudian ujarnya.
"Lohulah orangnya, entah penyakit apakah yang nona derita?"
"Aku ... aku telah terkena racun jahat."
Sebetulnya waktu itu Ting Ci-kang sedang merasa keheranan karena Heng-san Gisu mengatakan dia menunjukkan gejala keracunan, maka setelah mendengar kalau gadis jelek ini-pun keracunan pula di tangan orang, diam-diam dia menjadi tertegun, segera pikirnya.
"Entah mengapa dia bisa sampai ke ruangan pula?"
Sementara dia masih termenung, Heng-san Gisu telah berkata dengan suara pelan."Nona, silahkan duduk, lohu akan memeriksakan denyutan nadimu lebih dahulu."
Gadis berwajah jelek itu menurut dan segera duduk di atas kursi, setelah itu dia menjulurkan tangannya menunggu Heng-san Gisu memeriksakan denyutan nadinya Pelan-pelan Heng-san Gisu mengeluarkan tiga jari tangannya lalu ditekankan di atas urat nadinya, pergelangan tangan si nona jelek yang sedang diperiksa itu mendadak membalik ke atas, kemudian mencengkeram pergelangan tangan kanan Heng-san Gisu.
Selisih jarak kedua belah pihak cuma beberapa depa, tentu saja Heng-san Gi-su sama sekali tidak menyangka kalau gadis berwajah jelek menyergapnya.
Menanti dia menyadari datangnya bahaya dan berusaha untuk menghindarkan diri, keadaan sudah terlambat, tahu-tahu urat nadi pada pergelangan tangan kanannya sudah kena dicengkeram oleh perempuan jelek itu.
Semua peristiwa yang berlangsung terjadi secara tiba2, sampai Ting Ci-kang dan Wi Tiong-hong yang duduk di hadapannya-pun tak sempat untuk memberikan pertolongan meski demikian tanpa terasa kedua orang itu bersama-sama bangkit berdiri.
+++ "GERAKAN yang dilakukan gadis berwajah jelek itu cepat sekali, setelah tangan kirinya berhasil mencengkeram pergelangan tangan kanan Heng-san Gisu, tangan kanannya segera diayankan ke depan menotok jalan darah Ki bun hiat di atas tubuh Heng-san Gisu tersebut.
Kemudian dia baru mendongakkan kepalanya dan memandang ke arah kedua orang itu sambil tertawa dingin.
"Kalian menganggap dia adalah Heng-san Gisu asli?"
Serunya dingin.
Ting Ci-kang mau-pun Wi Tiong-hong menjadi tertegun setelah mendengar pertanyaan itu.
Gadis berwajah jelek itu tidak berbicara lagi, dia segera menarik jenggot kambing dari Heng-san Gisu hingga terlepas, kemudian dia-pun menarik muka orang itu sehingga terlepaskan selembar topeng kulit manusia.
Dengan cepat Wi Tiong-hong mengalihkan perhatiannya ke arah orang itu, ternyata orang yang menyaru sebagai Heng-san Gisu gadungan itu adalah seorang lelaki berusia tiga puluh-tahunan yang berwajah kurus, saat itu dia sedang melototkan sepasang mata tikusnya lebar-lebar, sementara wajahnya pucat pias seperti mayat.
"Sreeet ... sreeet ... sreeet. Mendadak terdengar tiga titik bayangan biru yang disertai tenaga kuat meluncur ke luar dari belakang rumah dan langsung menyergap ke belakang tubuh perempuan berwajah jelek itu. Ketiga titik cahaya biru tersebut tak lain adalah tiga batang senjata rahasia kecil yang lembut dan beracun, selain cepat datangnya juga disertai desingan angin yang memekakkan telinga. Dengan formasi segi tiga, ke tiga batang senjata rahasia itu langsung meluncur ke belakang tubuh gadis bermuka jelek tersebut. Yang satu mengancam jalan darah Hong gan, sementara dua lainnya satu dari kiri yang lain dari kanan mengancamjalan darah Hong Wi hiat, selain tenaga serangannya sangat kuat ketepatan jalan darahnya-pun mengagumkan. Tampaknya Ting Ci-kang enggan untuk mencampuri banyak urusan, meski dia melihat jelas kejadian tersebut, namun ia masih saja berpangku tangan seakan-akan tidak melihat akan hal tersebut. Betapa terkejutnya Wi Tiong-hong menyaksikan kejadian itu, dia segera berteriak keras.
"Hati-hati nona."
Hanya ia tak usah berteriak-pun gadis bermuka jelek itu sudah dapat merasakan akan hal tersebut.
Terdengar ia mendengus dingin, kemudian tanpa berpaling dia mengangkat topeng kulit manusianya untuk diayunkan ke belakang, bersamaan itu juga dia segera berpaling dan tertawa lebar kepada Wi Tiong-hong.
Jangan dilihat wajahnya terhitung jelek, begitu tertawa, di balik bibirnya yang tebal segera terlihat dua baris giginya yang rapih dan putih bersih.
Tiga batang senjata rahasia beracun yang meluncur ke arah belakang tubuhnya itu, mendadak lenyap tak berbekas tanpa menimbulkan sedikit suara-pun begitu termakam oleh ayunan tangannya.
Paras muka Ting Ci-kang nampak agak berubah setelah menyaksikan kejadian tersebut.
Wi Tiong-hong juga berdiri termangu-mangu, diam-diam dia lantas berpikir.
"Kepandaian macam apaan itu? Tidak nampak dia menyambut dengan tangannya, tapi kemana hilangnya ketiga batang senjata rahasia tersebut?"
Dalam pada itu, si gadis bemuka jelek itu sudah berkata sambil tertawa dingin.
"Kalau toh kalian datang untuk mencari Heng-san Gisu, mengapa tidak cepat-cepat membebaskannya? Buat apa kalian berdiri termangu belaka di sini?"
"Nona, bukankah kau-pun datang untuk mencari Heng-san Gisu?"
Tanya Ting Ci-kang. Gadis bermuka jelek itu berpaling seraya mendengus dingin.
"Hmmm, aku telah berhasil membekuk seorang, suruh kalian ..."
"Aduuh ..."
Ketika dia harus memecahkan perhatiannya untuk berbicara, tiba-tiba terdengar lelaki yang menyaru sebagai Heng-san Gisu itu menjerit tertahan kemudian roboh terjengkang ke atas tanah.
Tentu saja orang yang melancarkan serangan gelap untuk membunuh rekannya sendiri itu adalah orang yang menyergap si nona bermuka jelek tadi, dan mungkin dia kuatir rekannya itu akan membocorkan rahasia mereka, maka diambil ah tindakan untuk membungkam orang tersebut.
"Bajingan, bagus sekali perbuatanmu itu,"
Bentak gadis bermuka jelek itu dengan suara nyaring.
Sepasang kakinya segera menjejak permukaan tanah lalu melesat ke arah belakang rumah.
Pada saat dia menerjang ke luar rumah, mendadak sambil berpaling serunya dengan gusar.
"Jikalau kalian tidak segera berangkat untuk menolong orang, mungkin Hengsan Gisu asli-pun akan terbunuh juga di tangan orang."
Agaknya secara tiba-tiba Ting Ci-kang berpikir pula sampai kesitu, maka tidak menanti si gadis bermuka jelek itu menyelesaikan kata-katanya, dia menggerakkan badan dan segera menerjang ke bilik sebelah kiri dengan kecepatan luar biasa.
Buru-buru Wi Tong hong menyusul dari belakangnya.
Bilik sebelah kiri itu mungkin merupakan tempat tidur Heng-san Gisu, dekat dinding terletak pembaringan kayu, sedangkan empat penjuru dinding dipenuhi rak-rak kayu, ada yang besar ada yang kecil dan semuanya berisikan pelbagai macam botol obat.
Sementara itu Ting Ci-kang telah melompat ke samping pembaringan dan menyingkap selimut yang berada di situ, betul juga, tampak seorang kakek berjenggot kambing sedang berbaring kaku di situ.
Tentu saja orang ini adalah Heng-san Gisu yang asli.
Jika ditinjau dari raut wajah ini, kemudian ditambah pula dengan jenggot kambingnya yang berwarna putih, tampak sekarang kalau raut wajahnya memang mirip dengan orang yang menyaru sebagai Heng-san Gisu tadi.
"Ting toako, bagaimana keadaannya?"
Wi Tiong-hong segera berbisik lirih.
"Agaknya jalan darah telah ditotok orang."
Sambil berkata, dia turun tangan untuk membebaskan jalan darah Heng-san Gisu yang tertotok itu.
Heng-san Gisu memandang sekejap dua orang yang berada di hadapannya, kemudian setelah menggeliat sebentar, pelan-pelan dia bangun dan duduk di pembaringan.
Wi Tiong-hong menyaksikan orang itu mengenakan satu stel pakaian yang sempit dengan orang yang menyaru sebagai tabib sakti tadi, orang itu-pun mengenakan jubah panjang yang kedodoran.
Sudah jelas pakaian tersebut dilucuti dari badan orang ini dan dikenakan secara tergesa-gesa, tak heran kalau sampai kancing-pun lupa dikenakan lagi.
Ting Ci-kang-pun terlihat agak tertegun, dan hati kecilnya dia berpikir.
"Ternyata Hengsan Gisu yang amat termashur namanya dalam dunia persilatan itu adalah seorang yang tak pandai bersilat."
Heng-san Gisu melompat turun dari pembaringannya, lalu sambil menjura ke arah kedua orang tersebut, dia berkata.
"Lohu ucapkan banyak terima kasih atas bantuan dari kalian berdua, tentunya kalian adalah Ting tayhiap dan Wi sauhiap bukan?"
"Ooo, nampaknya lotiang telah mendengar semua pembicaraan kami?"
Kata Ting Ci-kang sambil balas memberi hormat.
"Walau-pun jalan darah lohu tertotok. mulutku tak bisa berbicara dan tubuhku tak dapat berkutik, namun semua pembicaraan kalian dapat aku dengar dengan jelas."
"Lotiang, apakah kau tahu orang itu berasal dari mana?"
Tanya Ting Ci-kang.
"Mereka mengatakan datang kemari untuk melaksanakan perintah, lohu diminta untuk pergi bersama mereka, lohu keberatan dan kebetulan Ting tayhiap tiba di sini, mungkin mereka kuatir lohu bersuara, maka jalan darahku ditotok lohu sendiri-pun tidak tahu asal usul mereka?"
Didengar dari pembicaraan tersebut, Ting Ci-kang tahu kalau orang itu enggan banyak berbicara, maka dia lantas menjura seraya berkata.
"Kalau begitu, mari kita berbincang-bincang di luar saja?"
Setelah itu dia melangkah ke luar lebih dulu dari dalam ruangan.
Sementara mereka bertiga berbincang-bincang, bayangan tubuh si nona bermuka jelek itu sudah lenyap tak berbekas.
Sedang mayat yang tergelepar di atas tanah itu sudah berubah menjadi hitam pekat, seluruh tubuhnya seperti telah digeledah orang, bahkan senjata rahasia yang menancap di badannya juga telah diambil, yang tersisa hanya sebuah mulut luka kecil yang masih mengucurkan darah berwarna hitam.
Diam-diam Ting Ci-kang mendengus dingin, pikirnya.
"Sungguh cepat gerakan tubuh dari budak berwajah jelek itu, entah dia berasal darimana."
Sementara itu, Heng-san Gisu telah berjongkok sambil memeriksa mulut luka pada mayat tersebut, kemudian dengan perasaan terperanjat serunya.
"Oooh, sungguh ganas racun yang dipoleskan di ujung senjata rahasia tersebut."
Ketika Wi Tiong-hong berpaling ke sekitar tempat itu, tiba-tiba dia menyaksikan di atas meja telah bertambah dengan sebuah botol kecil, ketika diamati lebih seksama, dijumpainya beberapa huruf tertera di atas meja, tulisan itu berbunyi demikian.
"Obat pemunah dalam botol, dihadiahkan untuk kalian berdua."
Tulisannya indah dan tampaknya ditulis dengan menggunakan ilmu Kim-kong-ci atau sebangsanya, tulisan itu melesak sedalam tiga inci dalam permukaan meja dan kelihatan nyata sekali, jelas si gadis bermuka jelek itu yang meninggalkan pesan ini.
Heng-san Gisu juga telah mengambil botol porselen tersebut, sesudah memandangnya sekejap dia berkata.
"Botol ini ditinggalkan nona tersebut, apakah kalian berdua kena dipecundangi orang?"
Ting Ci-kang segera ingat bagaimana Heng-san Gisu gadungan tadi itu pernah memeriksa lidah Wi Tiong-hong dengant jari tangannya dan membalik kelopak matanya, diam-diam ia berpikir dihati.
Berpikir sampai di situ, dia-pun lantas berkata.
"Saudara Wi, coba mintalah tolong kepada lotiang untuk memeriksakan apakah dalam tubuhmu mengidap racun Sip-jit-san?"
"Lohu belum pernah mendengar hal nama Sip-jit-san, apakah keracunan atau tidak, aku harus bisa mengetahui setelah memeriksa denyutan nadimu,"
Jawab Heng-san Gisu.
Maka dia lantas memeriksakan denyutan nadi pada pergelangan tangan kiri dan kanan dari Wi Tiong-hong, kalau dilihat dari tindak tanduknya, hal mana sama sekali tak berbeda dengan apa yang dilakukan si manusia gadungan tadi, malah dia turut memejamkan mata pula sambil termenung lama sekali.
Lewat seperminum teh kemudian dia baru membuka matanya dan berbisik dengan suara lirih.
"Aneh ... sungguh aneh ..."
Mendengar orang itu mengucap "aneh"
Sampai berulang kali, Wi Tiong-hong merasa keheranan sekali, baru saja dia hendak bertanya.
Mendadak Heng-san Gisu menatap wajah Wi Tiong-hong lekat-lekat, kemudian dengan wajah terkejut bercampur keheranan katanya.
"Tadi, tanpa sengaja Wi siauhiap memang telah menelan semacam obat beracun, tapi oleh semacam tenaga yang terpancar oleh sejenis obat penawar yang kuat dalam tubuhmu, racun tersebut telah berhasil dipunahkan semua tak berbekas."
Wi Tiong-hong segera membuka mulutnya seperti hendak bertanya sesuatu. Tapi dengan cepat Heng-san Gisu menyambung kembali kata-katanya.
"Menurut hasil pemeriksaan lohu, selama dua hari ini secara berturut-turut Wi sauhiap telah keracunan dua kali, pertama sekitar dua hari berselang, melalui telapak tangan kiri melewatij alan darah Lau-Kiong-hiat dan menyusup ke dalam badan, dan racun itu merupakan sejenis racun yang sangat keji dan bersifat agak lamban."
"Kalau begitu, racun tersebut sudah pasti adalah racun Sip-jit-san tersebut,"
Sela Ting Ci-kang.
"Sedangkan racun yang lain, masuk melalui telapak tangan kanan, menembusi jalan darah Sin-bun-hiat dan menyelusuri lengan bergerak naik ke atas ..."
Lanjut Heng-san Gisu. Mendengar sampai di situ, tak kuasa lagi Ting Ci-kang segera tertawa terbahak-bahak.
"Ha-ha-ha-ha ... kecermatan lotiang dalam melakukan pemeriksaan atas nadi sungguh membuat aku merasa kagum, semalam saudara Wi memang terkena tusukan jarum beracun keluarga Lan pada telapak tangan kanannya."
"Jarum beracun dan keluarga Lan?"
Agaknya Heng-san Gisu merasa agak terperanjat setelah mendengar nama jarum beracun dari keluarga Lan itu, tapi dengan cepat dia manggut-manggut katanya.
"Ya, kalau begitu tak salah lagi, kecuali jarum beracun dari keluarga Lan, rasanya memang tak akan bisa ditemukan lagi benda yang lebih beracun lagi."
Setelah berhenti sejenak, dia berkata lebih jauh.
"Dua macam racun jahat yang menyerang Wi sauhiap boleh dibilang merupakan racun yang benar-benar luar biasa dahsyatnya, cukup sejenis saja sudah dapat membunuh orang, tapi tampaknya Wi sauhiap telah menelan sebutir pil mestika yang dapat memunahkan racun keji itu."
"Aaaai ... sepanjang hidup lohu mencurahkan segenap pikiranku untuk memperdalam ilmu pertabiban dan memunahkan pelbagai macam racun, sungguh tak disangka menjelang usia tuaku, aku masih sempat untuk berjumpa dengan obat pemunah yang begitu hebat kasiatnya."
Baca Juga: Pedang Naga Hitam Kho Ping Hoo
Baca Juga: Sejengkal Tanah Sepercik Darah 8