Ceritasilat Novel Online

Pedang Berkarat Pena Beraksara 4

Eps 4 Pedang Berkarat Pena Beraksara - Tjan ID

Baca online Pedang Berkarat Pena Beraksara - Tjan ID

Cersil Pedang Berkarat Pena Beraksara - Tjan ID.

"Bukan saja seluruh racun keji yang bersarang dalam tubuh Wi sauhiap berhasil dipunahkan, bahkan sari obat pemunah racun itu masih tertinggal di dalam peredaran darahmu, paling tidak masih bisa bertahan selama satu jangka waktu tertentu, dalam waku-waktu itu jangan harap ada racun yang bisa menyerang tubuhmu."

"Ha-ha-ha-ha ... Wi sauhiap, tentang racun terakhir yang kau telan tanpa sengaja, dibandingkan dengan dua macam racun sebelumnya, boleh dibilang jauh sekali selisihnya, entah Wi sauhiap berhasil mendapatkan obat pemunah semujarab itu dari mana?"

Ting Ci-kang segera berpaling ke arah Wi Tiong-hong dan berkata sambil tersenyum.

"Mungkin yang lotiang maksudkan adalah obat pemunah hadiah dari si nona berbaju hijau itu."

"Nona berbaju hijau? Siapakah nona berbaju hijau?"

Heng-san Gisu segera bertanya. Merah padam selembar wajah Wi Tiong-hong mendengar ucapan itu, buru-buru dia menjawab.

"Aku sendiri-pun tidak tahu siapakah dia, semalam aku terkena jarum beracun dari keluarga Lan, berkat tiga butir pil pemunah hadiah nona berbaju hijau itulah lukaku berhasil disembuhkan."

"Sayang, sayang ..."

Kata Heng-san Gisu dengan wajah kecewa bercampur sayang.

"entah siapakah si nona itu?"

Sementara pembicaraan berlangsung, mendadak Ting Ci-kang menjadi sempoyongan hampir saja dia tak mampu untuk berdiri tegak. Buru-buru Wi Tiong-hong memayangnya dan berseru dengan terperanjat.

"Ting toako, kenapa?"

"Aku, merasa kepalaku agak pusing."

"Aaah, tampaknya Ting tayhiap-pun sudah diracuni orang tanpa kau sadari."

Seru Heng-san Gisu dengan cepat.

"aai, lohu hanya ribut berbicara terus, sudah seharusnya aku duga akan hal ini."

Sambil berkata dia lantas memegang pergelangan tangan kiri Ting Ci-kang dan memeriksanya sebentar, lalu berkata.

"Masih untung sari racunnya baru saja bekerja, tidak terlampau serius keadaannya."

Diambilnya botol porselen di meja dan dibuka penutupnya, kemudian setelah diendusnya sebentar dia manggut-manggut.

"Tak salah lagi, memang ini obat penawarnya."

Dia mengambil sedikit obat penawar itu, lalu dihembuskan ke dalam lubang hidung Ting Ci-kang.

Secara beruntun Ting Ci-kang bersin dua kali, benar juga, dia segera merasakan semangatnya menjadi segar kembali.

Heng-san Gisu segera menyerahkan botol porselen itu ke tangan Ting Ci-kang dan berkata sambil tertawa.

"Obat penawar yang berada dalam botol ini agaknya khusus merupakan obat penawar untuk memunahkan racun yang biasanya disentilkan ke dalam mulut atau lubang hidung lewat sentilan kuku. Ting tayhiap, dalam melakukan perjalanan dalam dunia persilatan, mungkin obat penawar tersebut akan sangat bermanfaat bagimu."

Ting Ci-kang segera menerimanya dan di masukkan ke dalam saku, kemudian sambil menjura katanya.

"Terima kasih banyak lotiang atas bantuan tuan, kami berdoa ingin mohon lebih dulu."

"Kebetulan lohu sendiri-pun masih ada urusan harus buru-buru diselesaikan, maaf aku tak akan mengantar kalian berdua lagi."

Kata Heng-san Gisu cepat dengan nada minta maaf.

Setelah meninggalkan rumah kediaman Heng-san Gisu, Ting Ci-kang dan Wi Tiong-hong segera berangkat menuju ke kota, tiba di kota hari sudah senja.

Buru-buru mereka kembali ke rumah penginapan, Ting Ci-kang yang berjalan di depan, sewaktu lewat di serambi di sebelah timur, mendadak di atas salah sebuah pintu kamar dia saksikan ada sekuntum bunga mawar hitam terbuat dari kertas yang ditancapkan di situ, ia nampak agak tertegun, tapi kemudian sekulum senyuman segera menghiasi wajahnya.

Setelah berada dalam kamar, pelayan datang membawakan air untuk membasuh muka, lalu bertanya.

"Kek-koan berdua masih membutuhkan apa lagi?"

Tanya si pelayan kemudian. Selesai membersihkan muka, Ting Ci-kang baru berpaling seraya menjawab.

"Kami belum bersantap, tolong pesankan dua porsi masakan dan arak untuk kami berdua."

Setelah pelayan itu mengundurkan diri, Ting Ci-kang baru berkata lebih jauh.

"Saudara Wi, beristirahatlah dahulu di kamar, aku akan pergi sebentar saja."

Wi Tiong-hong tidak tahu dia ada urusan apa, baru saja hendak bertanya Ting Ci-kang dengan cepatnya telah menyelinap ke luar meninggalkan tempat itu.

Menyusul kemudian pelayan datang mengantar air teh, sambil tertawa paksa dia berkata.

"Tadi hamba lupa untuk memberitahukan sesuatu kepada kalian berdua,"

Kata si pelayan.

"Urusan apa?"

Wi Tiong-hong menyahut.

"Sore tadi ada seorang tamu perempuan yang menanyakan diri Ting kek-koan, hamba lantas teringat akan pesanmu pagi tadi dan tahu kalau kek-koan yang satunya she Ting, maka hamba-pun bertanya kepadanya, ada urusan apa dia mencari Ting kek-koan, perempuan itu mengatakan tak ada apa-apa, hanya bertanya sambil lalu saja,"

Si pelayan menjelaskan.

"Macam apakah tamu perempuan itu? Kemudian apakah ia pergi meninggaikan tempat ini?" +++ Bab 21 PELAYAN ITU BERPALING, LALU SAHUTNYA dengan suara rendah.

"Tidak, dia berdiam di kamar nomor lima di serambi timur, oya ... tamu wanita itu berparas lumayan, berbaju hitam dan berusianya dua puluh empat tahunan, mukanya berpotongan kwaci, beralis mata panjang dan matanya jeli, bibir kecil, hidungnya mancung dengan potongan badan tinggi semampai ..."

Dia seperti belum habis berbicara ketika dari kamar sebelah terdengar ada orang memanggil pelayan, terpaksa dia ke luar dengan langkah tergesa-gesa.

Wi Tiong-hong mengira tamu perempuan itu adalah teman akrab Ting toako, maka dia-pun tidak bertanya lebih lanjut, setelah mengambil secawan air teh, dia kembali kekursinya dan pelan-pelan meneguknya.

Tak selang beberapa saat kemudian, pelayan datang menghidangkan sayur dan arak, kebetulan Ting Ci-kang juga telah balik kembali ke dalam kamar.

Pelayan itu segera tertawa ke arah Wi Tiong-hong dan mengundurkan diri sambil menutup pintu.

Kedua orang itu-pun bersantap di dalam kamar, selesai bersantap.

Wi Tiong-hong mendongakkan kepalanya seraya berkata.

"Ting Toako, menurut pelayan, katanya sore tadi ada orang datang mencarimu."

"Apakah kau telah bertanya kepadanya, manusia macam apakah itu? "

Tanya Ting Cikang dengan gelisah.

"Konon dia adalah seorang tamu perempuan yang berdiam di kamar nomor lima bilik sebelah timur."

Sekujur tubuh Ting Ci-kang bergetar keras, wajahnya menunjukkan perasaan heran, kemudian sambil tertawa hambar dia berseru.

"Tamu perempuan? Aaah, mana mungkin ada tamu perempuan yang datang mencari siau heng? Selain itu, banyak ragam manusia yang tinggal di dalam rumah penginapan, yang she Ting juga bukan hanya aku seorang, mungkin dia salah mencari orang."

Ketika Wi Tiong-hong menyaksikan cara berbicaranya agak terbata-bata dan sangsi, timbul perasaan curiga di dalam hati kecilnya, cuma dia merasa segan untuk banyak bicara.

Selesai bersantap malam, tiba-tiba Ting Ci-kang berbisik dengan suara lirih.

"Saudara Wi, mari kita beristirahat dulu, sebentar malam masih ada urusan lagi."

"Urusan apa?"

Tanya Wi Tiong-hong heran.

"Sekarang masih terlampau awal, selewatnya kentongan kedua nanti, kita akan berangkat ke An-wan piaukiok."

"Apakah dalam perusahaan An-wan piaukiok bakal terjadi suatu peristiwa."

Tanya Wi Tiong-hong terperanjat.

"Bukan begitu, perusahaan An-wan piaukiok milik Beng loko sudah dibubarkan, sedang gedungnya juga telah berganti pemilik."

Makin didengar Wi Tiong-hong merasa semakin keheranan, dengan cepat ia bertanya.

"Kalau memang begitu, buat apa kita mesti kesana?"

"Barusan aku ke luar tak lain disebabkan persoalan itu, cuma sampai sekarang keadaannya masih kurang jelas, jadi kita harus sampai ke situ dulu barulah duduknya persoalan menjadi terang."

Wi Tiong-hong tidak tahu keadaan macam apakah yang hendak dilihat olehnya?

Cuma dia yakin Ting toakonya ini pasti sudah mengetahui akan sesuatu, hanya saja enggan untuk menerangkan kepadanya.

Tanpa terasa dia lantas berpikir.

"Aku toh akan pergi bersamamu, sekali-pun tidak kau ucapkan sekarang, akhirnya aku toh akan tahu dengan sendirinya."

Berpikir sampai disitu, dia lantas manggut-manggut.

"Kalau memang demikian, siaute akan mengikuti toako untuk melihat-lihat keadaan."

Ting Ci-kang tersenyum dan tidak berbicara lagi, dia segera memadamkan lentera dan kembali ke pembaringan masing-masing untuk bersemedi mengatur pernapasan.

Ketika kentongan kedua sudah makin dekat.

Ting Ci-kang segera melompat turun dari atas pembaringan dan berkata dengan suara lirih.

"Saudara Wi, waktunya sudah tiba."

Wi Tiong-hong mengiakan dan segera melompat turun dari atas pembaringan.

Pelan-pelan Ting Ci-kang membuka jendela belakang dan melompat ke luar dengan cekatan, menanti Wi Tiong-hong sudah ke luar dari jendela, dia baru menutup kembali daun jendela itu dan melompat menuju ke arah sebelah timur.

Waktu itu kentongan kedua belum lewat, suasana di jalan raya masih ramai dengan aneka lentera yang menerangi seluruh kota.

Kedua orang itu melompati beberapa buah atap rumah dan diam-diam melompat turun ke jalan raya dan bergerak menuju ke jalan raya sebelah timur.

Jalan raya itu jauh dari jalan yang ramai, selain jauh dari keramaian kota juga jarang dilalui manusia, di sekeliling tempat itu-pun hanya ada beberapa cahaya lentera yang menerangi jalan.

Dengan langkah yang sangat berhati-hati ke dua orang itu berjalan mendekati pintu gerbang An-wan piaukiok, ketika Wi Tiong-hong mendongakkan kepalanya, tampak sepasang singa batu di depan pintu masih berada disitu, hanya papan nama An-wan piaukiok telah lenyap tak berbekas.

Sepasang pintu gerbangnya yang berwarna hitam gelap tertutup rapat, tak setitik cahaya lentera-pun yang kelihatan.

Gedung bangunan yang amat besar itu berada dalam keadaan gelap gulita, rupanya penghuni gedung itu sudah pada tidur semua.

Melihat kesemuanya itu, diam-diam Wi Tiong-hong merasa amat curiga, dia tidak habis mengerti permainan apakah yang sedang dilakukan oleh Ting toakonya itu?

Tiba-tiba Ting Ci-kang menarik ujung bajunya mengajak pemuda itu menjauhi pintu gerbang, kemudian melingkar ke dinding pekarangan sebelah kanan dan bersembunyi di balik kegelapan.

Setelah itu dia mengeluarkan dua lembar sapu tangan berwarna hitam dan menyerahkan sehelai diantaranya untuk Wi Tiong-hong, bisiknya dengan suara lirih.

"Saudara Wi, cepat tutupi wajahmu dengan sapu tangan ini,"

Sembari berkata, dengan cepat dia membungkus separuh bagian dari wajahnya hingga tinggal sepasang matanya yang nampak.

Wi Tiong-hong tahu kalau Ting toakonya adalah seorang yang jujur dan berjiwa terbuka, dia agak heran juga menyaksikan tingkah lakunya yang mencurigakan pada malam ini.

Akan tetapi karena dia sudah terlanjur ikut datang, terpaksa diterimanya saputangan itu dan menutupi pula wajahnya dengan saputangan tersebut.

Ting Ci-kang segera memandang sekejap ke sekeliling arena, setelah itu bisiknya dengan lirih.

"Saudara Wi. mari ikut aku."

Dengan cepat dia menjejakkan kakinya ke atas tanah dan melompat ketengah udara bagaikan seekor burung elang, kemudian setelah melewati dinding pekarangan, bayangan tubuhnya lenyap daripandangan.

Wi Tiong-hong ragu sejenak, akhirnya dia-pun mengerahkan tenaga dalamnya dan ikut melompati dinding pekarangan dan masuk keruangan sebelah dalam.

Ketika memandang ke depan, tampak olehnya Ting Ci-kang sudah berdiri di depan undak-undakan batu sambil menggape ke arahnya.

Suasana di sekeliling tempat itu sunyi senyap tak kedengaran sedikit suara-pun, dengan lang kah lebar dia segera maju ke depan-Dengan mengikuti di belakang Ting Ci-kang ia masuk ke ruang tengah, tapi ruangan tersebut kosong melompong, jangankan manusia, sebuah perabot-pun tidak nampak.

Melihat itu, diam diam ia berpikir lagi.

"Aah, rupanya tuan rumah yang baru belum lagi pindah kemari,."

Sementara dia masih termenung, Ting Ci-kang yang berada disisinya telah berbisik lirih.

"Saudara Wi, waktu masih pagi, mari kita mencari tempat untuk bersembunyi lebih dulu, sebentar apa saja yang kau saksikan, bilamana keadaan tidak terlalu mendesak, lebih baik janganlah bersuara dulu."

"Sebentar, apakah ada orang yang bakal datang lagi kemari?"

Tanya Wi Tiong-hong heran.

"Aku pikir kemungkinan besar ada orang yang bakal datang kemari, oleh karena itu kita harus mencari suatu tempat untuk menyembunyikan diri lebih dahulu."

Wi Tiong-hong mencoba untuk memperhatikan sekejap sekeliling tempat itu, dia merasa ruangan tengah yang amat luas itu kosong melongong danpada hakekatnya tiada tempat untuk menyembunyikan diri.

Mendadak ia mendongakkan kepalanya memandang tiang penglari di atas ruangan yang tingginya hampir dua kaki daripermukaantanah itu, bisiknya kemudian-"Ting toako, bagaimana kalau kita menyembunyikan diri di atas tiang penglari itu saja?"

Ting Ci-kang segera tertawa.

"Asal tempat itu bisa kau bayangkan, orang lainpasti dapat membayangkannya pula."

Berpikir sampai disitu, dia menjadi agak tertegun, kemudian serunya cepat.

"Waah, kalau begitu tak ada tempat lagi untuk digunakan sebagai tempat persembunyian."

"Baiklah,"

Kata Ting Ci-kang kemudian, mari kita bersembunyi di atas tiang penglari tersebut, cuma terdapat dibagian atasnya terlalu sempit, terutama bagi orang yang selalu melakukan perjalanan malam, bila hendak bersembunyi di atas tiang penglari, sudah pasti mereka bereda bersembunyi dibagian tengah-nya.

Oleh karena itu kita harus bersembunyi di samping kiri atau kanannya yang menempel dengan dinding, dengan demikian barujejak kita tidak mudah ketahuan."

Mendengar itu, diam diam Wi Tiong-hong berpikir.

"Ya, benar, tempo hari Tok Hay-ji memang bersembunyi di atas tiang penglari tersebut."

Mendengar perkataan itu, diam-diam Wi Tiong-hong mengangguk sambil memuji, katanya.

"Siaute akan mengingatnya selalu."

Ting Ci-kang tersenyum.

"Aku akan bersembunyi disebelah barat, mari kita cepat naik ke atas ..."

Wi Tiong-hong tidak berbicara lagi, dia segera menghim-pun tenaga, sepasang lengannya didayung dan melompat setinggi dua kaki lebih, tangan yang sebelah menyambar tiang, kemudian melenting dan berjumpalitan ke atas.

Dia menurut dengan duduk menempel pada dinding, kemudian memasang telinga baik-baik untuk memperhatikan keadaan di sekeliling itu.

Mendadak ia mendengar suara Ting Ci-kang dengan ilmu menyampaikan suaranya sedang berbisik dari seberang sana.

"Saudara Wi, kau sudah duduk dengan baik? sekarang kita boleh beristirahat dulu, oya ... dapatkah kau pergunakan ilmu menyampaikan suara? Kalau tak bisa, lebih baik jangan bersuara."

Wi Tiong-hong tidak bersuara, dia hanya berjongkok di atas tiang penglari dengan tenang, lewat sesaat kemudian, mendadak dari serambi sebelah kiri di luar ruangan dekat dinding secara la mat-la mat ia mendengar suara langkah kaki manusia yang amat lirih.

Kalau didengar suaranya, paling tidak ada tujuh delapan orang banyaknya, diam-diam ia merasa terkejut bercampur keheranan, segera pikirnya dengan cepat.

"Aaah, ternyata benar benar ada orang yang datang."

Kalau didengar dari suara langkah orang-orang tersebut, dapat diketahui kalau ilmu silat yang mereka miliki rata-rata amat tangguh, tapi ketika diamati lagi dengan lebih seksama, tiba-tiba saja suara langkah kaki manusia itu lenyap dengan begitu saja, seakan-akan setibanya di luar ruangan, mendadak mereka berhenti.

Berada di atas tiang penglari rumah yang tinggi, sudah barang tentu dia tak bisa melihat gerak gerik di luar ruangan sana Kurang lebih seperminum teh kemudian, suasana masih tetap hening tanpa terdengar suara apa apa, akhirnya tak tahan dia segera berbisik kepada Ting Ci-kang dengan ilmu menyampaikan suaranya.

"Ting toako, di luar ruangan telah muncul serombongan manusia."

Agak terkejut Ting Ci-kang setelah mendengar perkataan itu, dengan ilmu menyampaikan suara kembali dia bertinya.

"Apakah kau dapat melihat kehadirannya?"

"Bukan begitu, tadi siaute mendengar di serambi luar sana seperti ada orang yang sedang berjalan, jumlah mereka paling tidak mencapai tujuh delapan orang, hanya anehnya sebentar kemudian suara tersebut hilang lenyap. seakan-akan mereka semua berhenti di luar sana. Ting Ci-kang yang mendengar perkataan itu menjadi semakin terkesiap. sebagaimana diketahui antara ruangan tengah dengan serambi samping dipisahkan oleh sebuah dinding yang amat tebal, bagaimana mungkin Wi Tiong-hong bisa menangkap suara tersebut? Kalau ditinjau dari ketajaman pendengarannya, bukankah hal ini menunjukkan kalau tenaga dalamnya telah mencapai puncak kesempurnaan? Padahal berbicara soal usia, jelas dia masih jauh lebih muda daripada usia sendiri, tetapi mengapa dia bisa memiliki kemampuan yang melampaui batas kebiasaan? Bersamaan itu juga , dia-pun teringat akan lencana Siulo cinleng yang dimiliki pemuda itu, asal usulnya terasa semakin mengherankan hati, tapi kalau di dengar dari nada ucapannya dia seperti seorang yang baru terjun kedunia persilatan dan sama sekali tak berpengalaman. Berpikir demikian, terpaksa ujarnya sambil tersenyum.

"Mungkin saudara Wi telah salah dengar."

"Tak bakal salah, siaute dapat mendengar dengan jelas sekali, mungkin mereka bersembunyi di atas serambi samping, coba kalau tidak dihalangi oleh dinding yang tebal, dalam jarak beberapa kaki saja, dengusan napas mereka dapat kudengar pula dengan jelas."

Mendengar perkataan itu tanpa terasa Ting Ci-kang meningkatkan kewaspadaannya menjadi beberapa kali lipat, kemudian setelah menghela napas panjang katanya.

"Saudara Wi, ketajaman pendengaranmu sungguh membuat siauheng merasa kagum sekali."

Berbincang sampai disitu, mereka segera menghentikan pembicaraan tersebut.

Wi Tiong-hong mencoba untuk memperhatikan lagi gerak gerik diserambi samping, tapi kecuali suara langkah kaki yang tadi, tidak terdengar lagi suara yang lain-Angin malam berhembus lewat menggoyangkan daun pintu danj endela serta menimbulkan suara yang bsrisik, tapi suasana di gedung ini masih tetap hening, sepi dan tak ada suara apa-apa.

Dalam suasana seperti inilah satu kentongan lewat tanpa terasa, kini tengah malam sudah tiba, namun belum juga terlihat ada sesuatu gerakan yang mencurigakan.

Wi Tiong-hong berjongkok di atas tiang penglari rumah dengan perasaan tak sabar, mendadak.

"Sreeet, sreeet "

Terdengar beberapa kali desingan suara pelan bergema memecahkan keheningan.

Kemudian tampak bayangan manusia berkelebat lewat dan di depan undak-undakan rumah lelah muncul empat sosok bayangan manusia yang kecil dan kurus.

Dengan perasaan terperanjat Wi Tiong-hong segera berpikir.

"Sungguh cepat gerakan tubuh mereka "

Belum lagi dia bersuara, Ting Ci-kang dengan ilmu menyampaikan suaranya telah berbisik.

"Saudara Wi, ada orang datang."

Dalam waktu singkat, Wi Tiong-hong dengan meminjam sinar rembulan yang redup sudah dapat melihat raut wajah keempat sosok bayangan kurus kecil itu dengan jelas, ternyata mereka adalah empat orang bocah berbaju hitam yang berusia hampir sebaya.

Kalau di lihat dari wajah mereka, tampaknya usia mereka baru empat lima belasan-Maka kepada Ting Ci-kang dia menjawab.

"Benar, yang datang adalah empat orang bocah lelaki yang berusia antara empat lima belas tahunan."

Ting Ci-kang semakin terperanjat lagi, dengan cepat dia bertanya.

"Dalam suasana yang begini gelap gulita, apakah saudara Wi bisa melihat raut wajah mereka dengan jelas?"

"Siaute meminjam cahaya bintang dan rembulan untuk mengamati wajah mereka, aku pikir tak bakal salah lagi, cuma tak sejelas kalau melihat ditengah hari belong."

Ting Ci-kang semakin terkesiap lagi setelah mendengar ucapan itu, buru-buru dia berseru.

"sekarang mereka sudah berjalan masuk. coba lihat tindakan apa yang mereka lakukan?"

Ke empat orang bocah lelaki berbaju hitam itu nampak agak sangsi sebentar setelah dilihatnya gedung yang begitu besar berada dalam keadaan hening, tidak nampak ada yang menghalangi juga tak kedengaran sedikit suara-pun tapi akhirnya mereka melangkah masuk juga ke dalam ruangan tengah.

Secepat kilat keempat orang itu menyebarkan diri, dua menuju ke sebelah kiri dan dua lagi menuju kesebelah kanan, setelah berdiri pada posisi segi empat, masing masing lantas berdiri tak berkutik di tempat semula ...

Wi Tiong-hong mengamati sekejap orang-orang itu, kemudian baru berkata dengan ilmu menyampaikan suara.

"Mereka berdiri dibawa h sana dalam posisi segi empat, tubuh mereka tidak bergerak."

"Dalam posisi segi empat? "

Mungkin karena suasana dalam ruangan itu terlampau gelap hingga Ting Ci-kang tak sempat melihat jelas keadaan di sekeliling tempat itu, maka setelah mendengar ucapan mana dia termenung beberapa Saat, setelah itu baru katanya.

"Mungkin mereka sedang menunggu orang."

"Sreeeet "

Segulung bayangan manusia di ringi suara ujung baju yang terhembus angin segera berkelebat lewat dan melayang turun diantara ke empat orang tersebut.

Gerakan tubuh orang itu sedemikian cepatnya hingga boleh dibilang dalam sekejap saja telah tiba disasaran.

Bahkan Wi Tiong-hong sendiri-pun tak sempat melihat jelas bentuk tubuhnya, ditengah kegelapan hanya terdengar seseorang dengan suara yang rendah, berat dan parau sedang menegur.

"Tidak berjumpa dengan seseorang?"

"Benar"

Jawab keempat orang bocah berbaju hitam sambil membungkukkan badan memberi hormat. Buru-buru Ting Ci-kang bertanya lagi.

"Saudara Wi, apakah kau dapat melihat jelas macam apakah orang yang baru datang itu?"

Sorot mata Wi Tiong-hong segera dialihkan ke arah bayangan manusia diantara ke empat orang bocah berbaju hitam itu, ternyata dia adalah seorang tojin tua yang kurus dan kecil, tapi lantaran dia berada di tempat yang tinggi, maka sukar untuk melihat jelas raut wajahnya.

Maka setelah mendongakkan kepalanya dia berkata.

"Tampaknya seperti seorang tosu yang kurus dan kecil."

Belum habis dia berkata, mendadak terdengar tosu kurus itu sudah membentak keras.

"Siapa disitu?"

Ting Ci-kang amat terperanjat segera pikirnya.

"Padahal aku dan Wi Tiong-hong bercakap cakap dengan ilmu menyampaikan suara, tak mungkin pembicaraan kami bisa didengar orang lain, jikalau ia dapat mendengar suarai berarti suara itu berasal dari dengusan napas-kami berdua ..."

Teringat sampai di sana, dengan ilmu menyampaikan suara segera bisiknya lagi.

"Saudara Wi, cepat tutup napasmu rapat-rapat jangan berbicara lagi untuk sementara."

Dalam pada itu, keempat bocah berbaju hitam tersebut telah berkata setelah menjura.

"Tecu sekalian telah melakukan pemeriksaan diseluruh ruangan tak nampak sesosok manusia."

Benar-benar lihay sekali, ternyata ketika mereka baru masuk ke dalam ruangan dan berputar sekali dengan kecepatan tinggi sekali tadi seluruh ruangan telah diperiksa dengan seksama.

Tosu yang kurus kecil itu segera mendengus dingin "Hmm, dengan jelas lohu mendengar ada orang berganti napas di balik kegelapan, ehm, agaknya suara itu berasal dari sebelah barat sana."

Diam-diam Ting Ci-kang merasa malu sendiri karena orang yang berganti nafas tadi memang dia.

Sambil bergendong tangan tosu kurus kecil itu berdiri ditengah kegelapan, sementara sorot matanya yang tajam pelan-pelan menyapu seluruh ruangan itu, bentaknya kemudian-"Turun."

Baru selesai dia berkata, tiba-tiba dari arah belakang ruangan kedengaran seseorang menegur dengan suara dalam.

"Siapa disitu? Ditengah malam buta begini ada urusan apa berkaok-kaok disini?"

Suara itu berasal dari suara seorang kakek tua yang parau, bahkan diantara pembicaraan tersebut diselingi pula suara batuk.

Tosu tua yang kurus kecil itu mendengus dingin-"Hmmm.

siapakah kau?

Mengapa tidak segera munculkan diri?"

Suara tua dari belakang ruangan itu berkata.

"Apakah kalian hendak mencari orang-orang dari An-wanpiaukiok? Sejak berapa hari berselang perusahaan itu telah dibubarkan, tempat ini sudah berganti pemilik, kami hanya rakyat biasa yang tak pernah berhubungan dengan orang persilatan, kalian telah salah sasaran-."

"Soal dibubarkannya An-wanpiaukiok. mengapa lohu mesti bertanya kepadamu?"

"Lantas kau datang kemari mencari siapa?"

"Mencari siapa? "

Tosu kecil kurus itu mendengus gusar.

"apakah lohu tak boleh kemari?"

"Majikan kami belum pindah kemari, apakah tidak kau saksikan gedung ini masih kosong melompong?"

Tosu kurus kecil itu menatap ke belakang ruangan lekat-lekat, mendadak ia menegur.

"Siapakah kau?"

Orang di belakang ruangan itu terbatuk-batuk kemudian berkata.

"Bagaimana? Apakah kau hendak mencari aku?"

Tosu kurus kecil itu semakin naik darah, serunya dengan suara menahan geram.

"Lohu tidak punya waktu bergurau dengan dirimu"

Suara yang serak dan tua itu kembali tertawa ringan-"Aku toh tidak mengundang kalian datang, bukan aku yang bergurau dengan dirimu, adalah kau yang mengajak aku berbincang-bincang."

Tosu kurus kecil itu tertawa seram, mendadak tampak cahaya tajam berkelebat lewat ditengah kegelapan, kemudian meluncur ke belakang ruangan di mana suara pembicaraan tadi berasal.

"Tri ing ..."

Suara dentingan lirih berkumandang dari arah belakang ruangan, kalau di dengar dari suara tersebut, dapat diketahui kalau sitosu kurus kecil itu telah melepaskan senjata rahasia yang kecil dan lembut ke arah lawannya.

Diam-diam Wi Tiong-hong agak tertegun, pikirnya.

"Oooh, rupanya orang yang bersembunyi di belakang ruangan-pun seorang yang liehay, tadi aku masih mengira dia hanya penghuni gedung ini saja ..."

Dalam pada itu, suara yang tua tadi telah berseru lagi dengan perasaan terkejut.

"Keparat, hampir saja aku si orang tua menghantarkan selembar jiwaku ditanganmu."

Tiba-tiba tosu kecil tertawa tergelak.

"Haahhh ... haaahh ... haaahh ... sobat kau punya kemampuan sedemikian hebatnya, hal ini membuktikan kalau kau bukan manusia sembarangan, lebih baik tak usah bersembunyi di tempat kegelapan lagi, meng apa tidak segera munculkan diri agar lohu bisa melihat tampang wajahmu itu..?"

"Aku adalah pengurus rumah tangga ini, tapi jika kau bersikeras hendak meminta diriku untuk munculkan diri, tampaknya sekali-pun tidak ke luar juga tak mungkin ..."

Selesai berkata, dari belakang ruangan tampak cahaya lentera berkilat tajam, lalu seorang kakek berjubah biru dengan rambutnya penuh dengan kucir kecil melangkah ke luar dari balik penyekat.

Wi Tiong-hong memperhatikan pula wajah orang itu lekat-lekat, ternyata wajah kakek tersebut ditutup oleh selembar kain hitam sehingga kelihatan hanya sepasang matanya saja, teringat akan kain hitam yang membungkus wajah sendiri, satu ingatan segera melintas dalam benaknya.

Ketika dia memandang lagi kewajah tosu kurus kecil itu, dibawah cahaya lilin, tampak wajahnya kelihatan semakin kentara.

"Tosu toa itu berwajah kurus dan sempit dengan alis mata yang panjang, mata kecil, sepasang kening menonjol, mata seperti alang dan berjenggot panjang, dia memakai jubah berwarna abu-abu dengan sebuah senjata kebutan terselip dipinggangnya."

Waktu itu, dengan sepasang matanya yang tajam dia sedang mengawasi kakek berbaju biru itu lekat-lekat, kemudian berkata dingin.

"Sobat, kalau toh sudah munculkan diri, rasanya tak ada gunanya kau bungkus wajah asli mu lagi."

Kakek berbaju biru itu segera tertawa.

"Aku berbuat demikian karena kuatir kalau kurang berhati-hati sehingga keracunan."

"Kau kenal dengan lohu?"

Kakek berbaju biru itu segera tertawa terbahak-bahak.

"Haahh ... haahh ... haahh ... walau-pun aku belum pernah berjumpa dengan Sutok thian Liong (empat raja racun), sedikit banyak pernah juga kudengar orang membicarakannya, saudara Seh, sekali-pun kau sudah berdandan sebagai seorang tosu, suara dan wajah tak mungkin bisa berubah, siapakah didunia ini yang tidak kenal dengan dirimu?"

"Tosu she Seh? "

Satu ingatan kembali melintas dalam benak Wi Tiong-hong.

"Lo hong tiang dari kuil Pau-in-si mengatakan dia telah kedatangan seorang Seh tosu, jangan-jangan orang inilah yang dimaksudkan ... ?"

Sementara dia masih termenung, terdengar tosu yang kurus kecil itu sudah tertawa terbahak-bahak dengan suara parau.

"Haahh ... haaahhh ... haaahh ... saudara Chin terlalu memuji, siaute-pun sudah lama mengagumi nama congkoan dari perkumpulan Ban kiam-hwee .."

Sekali lagi Wi Tiong merasakan hatinya terkesiap.

"ternyata si kakek berbaju biru itu adalah Chin congkoan dari perkumpulan Ban Kiam-hwee ..."

"Mana, mana ..."

Terdengar Chin congkoan berseru sambil menjura.

"Nama siaute kalau dibandingkan dengan nama saudara Seh, apalah arti nama kami itu?"

Bab 21 Tapi lantaran ilmu silat lawan kelewat hebat apalagi pandai mempergunakan racun, mau tak mau dia merasa agak keder juga . setelah berhenti sejenak. sambungnya lebih lanjut.

"Malam-malam begini saudara Seh berkunjung kemari, entah ada petunjuk apakah yang hendak disampaikan?"

Seh tosu memandang sekejap sekeliling tempat itu, lalu pelan-pelan menjawab.

"Menurut laporan yang siaute dapatkan, konon muridku Tok Hay-ji telah melanggar persatuan perkumpulan kalian sehingga entah bagaimana ceritanya sampai kena ditangkap oleh pihak kalian, Sebab itu aku sengaja berkunjung kekota Sang-siau dengan maksud memohon maaf kepada saudara chin."

"Sungguh kebetulan perusahaan An-wan piau kiok telah menjadi sebuah gedung kosong, maksud siaute yang sebetulnya adalah ingin menggunakan tempat ini sebagai tempat untuk berteduh tak nyana malah berjumpa dengan saudara chin."

Ketika mendengar sampai disitu, Wi Tiong-hong manggut-manggut secara pelan sembari berpikir.

"Ternyata .. dia adalah gurunya Tok Hay-ji, kalau didengar dari nada bicaranya, seperti dia sudah menerima berita yang kubawa?"

Sementara itu Chin congkoan telah berlagak seakan menyadari akan sesuatu, cepat-cepat ia menjura seraya berkata.

"Oooh ... siaute tidak tahu kalau Tok Hay-ji adalah anak murid saudara Seh, maaf . , maaf itu mah soal kecil, asal saudara Seh telah memohonnya, masa siaute berani membantahnya?"

"Haaa haa haa saudara Seh telah datang dari tempat kejauhan, sudah sepantasnya jika siaute menjadi seorang tuan rumah yang baik, yaa apa daya kalau di tempat ini tidak terdapat apa apa untuk menjamu diriku ..."

"Saudara Seh, bagaimana kalau siaute menghantar dirimu untuk beristirahat di rumah penginapan saja? Segata sesuatunya biar siaute yang mentraktir."

Seakan-akan telah berjumpa dengan sahabat karib saja, orang-orang persilatan memang selalu berjiwa terbuka dan gampang bersahabat dengan orang yang dijumpainya.

"Soal ini tak perlu saudara Chin risaukan."

Tampik Seh tosu Cepat.

"Selamanya siaute sudah terbiasa hidup seadanya, disini-pun cukup baik saudara chin, siaute merasa berterima kasih sekali kepadamu atas kesudianmu membebaskan muridku, sekarang silahkan saudara Chin berlalu."

Chin congkoan agak tertegun setelah mendengar perkataan itu, setelah mendeham sebentar, dia lantas menjura seraya berkata.

"Soal muridmu timbul karena kesalahan paham, tentu saja siaute akan segera membebaskannya, cuma andaikata saudara Seh ingin tinggal disini, aku rasa hal ini malah kurang leluasa."

Sambil menarik muka, Seh tosu segera membantah.

"Tempat ini tak lebih hanya sebuah gedung kosong, apa salahnya jika siaute menumpang semalam saja di sini?"

"Saudara Seh, kau belum tahu, sejak An-wan piaukiok gulung tikar, gedung ini telah dibeli oleh pihak perkumpulan kami."

Seh tosu segera tertawa seram.

"Heeeh, heeeh, heeeh, aku mengira karena apa, rupanya gedung An-wan piaukiok ini telah dibeli oleh pihak perkumpulan kalian, bukankah hal ini lebih baik lagi? Tadi, saudara Chin malah bilang hendak menjamu siaute sebagai seorang tuan rumah yang baik? Haaah haaah, kalau begitu siaute akan menginap semalam saja disini, sebagai tuan rumah tentunya saudara Chin tak akan merasa keberatan bukan?"

Sekali-pun Chin congkoan seorang jago kawakan yang sudah termasyur selama banyak tahun, tak urung dia dibikin terbungkam perkataan tersebut.

Pada saat itulah mendadak terdengar seseorang tertawa merdu, suaranya enak didengar hanya sayang nadanya dingin menggidikkan kemudian seseorang telah berseru.

"Tidak bisa, kau tak bisa menginap disini, karena malam ini juga kami akan pindah ke mari."

Berbareng dengan selesainya ucapan tersebut dari balik penyekat muncul seorang gadis berbaju hitam.

Wi Tiong hiong mencoba untuk memperhatikan wajah gadis itu, ternyata dia mengenakan baju hitam gelap.

berusia dua puluh tiga-empat tahunan, berwajah potongan kwaci, beralis mata lengkung, bermata jeli, bibir kecil dan potongan badan langsing ...

Tanpa terasa tergerak hati anak muda itu, dia menjadi teringat kembali dengan perkataan sang pelayan rumah penginapan kepadanya menjelang bersantap malam tadi, bukankah tamu perempuan yang mencari Ting toakonya juga berpotongan badan semacam ini?

Dalam pada itu, Seh tocu telah berubah wajahnya setelah mendengar perkataan itu, dengan suara dingin dia lantas menegur.

"Siapakah nona ini? Maaf Kalau aku orang she oey bermata, tetapi tak dapat melihat."

Buru-buru Chin congkoan memperkenalkan.

"Dia adalah salah seorang di antara empat pelayan utama dari hwecu perkumpulan kami Hek-bun-kun (Bun kun hitam) Cho Kiu may, nona Cho adanya."

"Oooh ... dia adalah pelayan dari Ban Kiam-hweecu, siaute belum pernah mendengar orang membicarakannya,"

Kata Seh tosu dengan suara yang dingin dan kaku.

"Sekarang, bukankah kau telah mendengarkannya? "

Ucapnya Hek-bun-kun Cho Kiumoay dengan Cepat. Berbicara sampai disitu, mendadak dia mengalihkan sorot matanya ke arah Chin congkoan sembari berkata.

"Chin congkoan, kau boleh menyuruhnya pergi sekarang."

Belum sempat Chin congkoan buka suara, Seh tosu dengan wajah penuh kegusaran telah tertawa dingin tiada hentinya.

"Heehh ... heeh .. hee , .. mengapa lohu harus pergi lagi?"

Dengan suara dingin dan kaku Hek bun kan Cho Kiu-moay menjawab.

"perkumpulan dalam dunia persilatan mempunyai rahasia dari perkumpulan sendiri, malam ini juga kami akan pindah kemari kami tak ingin membiarkan orang luar menyusup di dalam tubuh perkumpulan kami."

Seh tosu segera menengadah dan tertawa ter bahak-bahak..

"Haaan, haaah, haaah, kalian bukan majikan gedung ini, siaute berhak untuk pindah kemari lebih dulu."

"Saudara Seh, apa maksudmu berkata begitu?"

Seh tosu mengelus jenggot dibawah dagunya lalu berkata sambil tertawa.

"Siaute dengar, An-wan piaukiok hanya mengembalikan gedung ini kepada pemilik rumahnya, belum pernah kudengar kalau gedung ini telah dijual kepada Ban Kiam-hwee kalian."

"Gedung ini justeru telah kami beli dari pemilik rumah tersebut."

Bantah Cho Kiu-moay.

"Kau tahu siapakah pemilik rumah ini? "

Kata Seh tosu sambil tertawa licik.

"Haaah, haaah. haaah, hampir separuh bagian gedung yang berada di kota Sang-siau ini menjadi milik Tang poan sia (pemilik separuh kota) Tang Pek ban, mana mungkin gedung ini dijual kepada kalian? Ketahuilah, lohu terus terang beritahu kepadamu, lohu telah menyewa gedung ini dari tangan Tang Pek ban, maka orang yang seharusnya mengundurkan diri dari sini bukan lohu melainkan pihak kalian, mengerti?"

Wi Tiong-hong yang mendengar mereka hanya memperebutkan hak menempati gedung tersebut, diam-diam merasa kegelian, hampir saja dia tertawa bergelak.

Terdengar Hek-bun-kun Cho Kiu moay berkata lagi dengan suara dingin seperti es.

"Kalau begitu kau menolak untuk pergi dari sini?"

"Lohu telah menyewa gedung ini dari pemiliknya, aku rasa tak mungkin gedung ini akan kuserahkan kepada orang lain-"

Jawab Seh tosu dengan suara berkilat. Hek-bun-kun cha Kiu-moay segera tertawa terkekeh-kekeh, kemudian dengan kening berkerut katanya lagi.

"Bagus sekali, kalau begitu silahkan kalian tetap tinggal disini,"

Tiba-tiba dia berpaling ke arah Chin congkoan dan berkata lagi.

"Chin congkoan, suruhlah mereka ke luar semua."

Chin congkoan tertawa kering, dia lantas bertepuk tangan sebanyak tiga kali.

Mendadak tampak cahaya api memancar ke mana-mana, dari luar ruangan tersebut telah muncul puluhan batang obor yang membuat seluruh ruangan itu terang benderang.

Bersamaan itu pula, dari empat penjuru sekeliling tempat itu bermunculan dua puluhan orang berpakaian ringkas warna hitam, rata rata mereka menutupi sebagian wajahnya dengan kain hitam, sementara sebilah pedang berbulu hitam tersoren dipinggang masing-masing.

Wi Tiong-hong yang menyaksikan kejadian itu merasa amat terkesiap, pikirnya.

"Aaah, rupanya di sekeliling serambi gedung ini telah di persiapkan kawanan jago yang begini banyaknya."

Seh tosu sendiri seakan-akan tak merasa kejadian itu sebagai sesuatu yang di luar dugaan, sekulum senyuman licik segera menghiasi wajahnya yang menyeramkan, sambil manggut-manggut katanya.

"Delapan belas orang jago pedang berbulu hitam, hanya mengandalkan jagoan sebanyak ini saja?"

Dia lantas mengangkat tangannya dan menuding ke arah Hek-bun-kun Cho Kiu-moay.

Empat orang bocah berbaju hitam yang berdiri di belakang Seh tosu itu serentak mencabut ke luar sebatang senjata kebutan dari sisi pinggangnya, kemudian dengan suatu gerakan tubuh yang amat cepat bagaikan sambaran kilat mengurung di sekeliling gadis tersebut.

Chin congkoan yang menyaksikan kejadian itu segera berteriak keras memberi peringatan.

"Nona cho, hati-hati dengan senjata kebutan mereka, hud tim tersebut amat beracun."

Sementara itu Hek-bun-kun Cho Kiu-moay telah mengeluarkan secarik kain berwarna hitam dan digunakan untuk menutupi mulut dan hidungnya, kemudian katanya sambil tertawa.

"Masa aku bakal tertipu oleh perbuatan mereka?"

Nona Cho Kiu-moay ini memang tak malu disebut salah seorang dayang dari ketua perkumpulan Ban Kiam-hwee, gerak geriknya dilakukan dengan kecepatan yang amat mengagumkan.

Sejak dia mengeluarkan kain hitam untuk menutupi mukanya, kemudian mencabut ke luar pedang berbulu kuning tersoren dipinggangnya, semuanya telah selesai dilakukan sebelum ke empat orang bocah berbaju hitam itu mengepung dirinya dan melancarkan serangan ke depan.

Cho Kiu-moay segera mengayunkan pedangnya menciptakan serentetan cahaya pelangi berwarna perak yang mengitari sekeliling tubuhnya, kemudian sambil menciptakan selapis cahaya berkialuan dia melancarkan serangan terpisah ke arah empat bocah berbaju hitam itu.

Tindakan serangan yang dilancarkan olehnya ini benar benar luar biasa sekali.

Sebenarnya ke empat orang bocah berbaju hitam itu sedang melancarkan serangan ke arahnya dari empat penjuru, namun setelah Cho Kiu-moay melancarkan serangan balasan, mereka dipaksa untuk merubah kedudukan sebagai penyerang menjadi kedudukan bertahan, mereka mundur terus tiada hentinya.

Seh tosu memperhatikan sekejap pedang berbulu kuning yang berada ditangan gadis itu, dia merasa amat terperanjat.

Perlu diketahui, perkumpulan Ban Kiam-hwee selama ini termashyur karena keganasan serta kehebatan permainan pedang nya, setiap anggota perkumpulan mempunyai kelompoknya masing-masing sesuai dengan tingkatan ilmu pedang yang dimiliki, mengelompokkan tersebut ditandai dengan perbedaan warna bulu pedang masing-masing.

Pada kawanan jago pedang biasa, maka perbedaan itu terbagi menjadi warna hijau, merah, putih dan hitam empat macam, sedangkan untuk kedudukan yang paling tinggi, digunakan warna kuning emas.

Konon hanya Hwecu seorang yang menggunakan bulu pedang berwarna kuning emas, namun jarang sekali ada jago persilatan yang sempat berjumpa dengan ketua perkumpulan Ban Kiam-hwee ini.

Kini Hek-bun-kun Cho Kiu-moay mempergunakan bulu pedangnya berwarna kuning tawar, dari ini menunjukkan kalau tingkat kedudukannya di dalam perkumpulan Ban Kiam-hwee hanya setingkat dibawah sang ketua sendiri, sudah barang tentu ilmu pedang yang dimilikinya-pun luar biasa sekali.

Berpikir demikian, dia lantas berseru lantang.

"Mundur semua."

Mendengar seruan itu, empat bocah berbaju hitam itu segera mengundurkan diri. Sambil memutar senjata kebutan ditangan, Seh tosu segera tertawa seram, kemudian ujar nya.

"Lohu pernah mendengar orang berkata hanya Ban kiam bwee cu seorang yang mempergunakan pedang berbulu kuning emas, kini ku lihat nona menggunakan pedang berbulu kuning tawar, tampaknya kau memiliki suatu kemampuan yang amat hebat di dalam permainan pedangmu?"

Cho Kiu-moay segera menggetarkan pergelangan tangannya sehingga tubuh pedang itu memperdengarkan suara dengungan yang sangat nyaring, kemudian sorot matanya ditujukan ke ujung pedang, sementara tangan kirinya meraba tubuh pedang itu pelan-"Apakah kau ingin mencoba kelihayanku?"

Tantangnya dengan kening berkerut kencang.

Seh tosu menjadi panas hatinya melihat sikap jumawa dari gadis itu, meski pedangnya dipegang dalam suatu sikap yang seenak hatinya, namun dia tahu bahwa tenaga dalam yang dimiliki gadis itu cukup tangguh.

Tanpa terasa dia mendongakkan kepalanya dan tertawa seram.

"Haaahhh ... haaahhh , ... haaahhh ... lohu memang bermaksud demikian."

"Hmmm, kalau begitu perhatikan saja baik-baik"

Seru Cho Kiu-moay sambil mendengus dingin-Begitu selesai berkata, tanpa pembukaan tanpa memasang kuda-kuda, pedangnya langsung disodok ke depan melancarkan sebuah tusukan ke tubuh tosu itu.

Serangan pedangnya ini ternyata di lancarkan selain ganas juga amat cepat, begitu dahsyatnya hingga menggetarkan sukma setiap orang yang memandangnya.

cepat-cepat Seh tosu memutar senjata kebutan yang berada ditangan kanannya menciptakan selapis cahaya hitam yang amat tebal untuk mengunci datangnya ancaman pedang Hek-bun-kun, berbareng itu juga "Sreet "

Segulung desingan angin tajam diayunkan ke depan untuk membelenggu telapak tangan kanan lawan yang menggenggam pedang.

Dengan cekatan Cho Kiu-moay melejit ke samping untuk menghindarkan diri, seperti Seekor ular sakti ke luar dari sarangnya pedang itu berganti tiga jurus serangan secara beruntun, semuanya dilakukan dengan keCepatan luar biasa dan mengancam tiga buah jalan da rah penting di tubuh Seh tosu.

"Benar-benar ilmu pedang yang amat bagus."

Puji Seh tosu sambil tertawa seram.

Senjata kebutnya diputar membentuk satu lingkaran busur, kemudian dengan jurus Hong imsu hap (angin dan mega berkumpul diempatpenjuru) dia bendung ketiga serangan lawan yang tertuju ke arahnya itu.

Cho Kiu-moay mendengus dingin, permainan pedangnya semakin diperketat, tiba-tiba saja cahaya dingin memancar keempat penjuru dan menciptakan bayangan pedang yang berlapis-lapis, dalam waktu singkat dua kaki di-sekel ling tempat itu sudah diliputi oleh hawa pedang yang menggidikkan hati ..."

Wi Tiong-hong yang bersembunyi di atas tiang belandar menjadi terkejut sekali setelah menyaksikan kenyataan itu, diam-diam pikirnya "llmu pedang macam apaan ini?

Tak kusangka begitu ganas, keji dan menggidikkan hati."

Ketika memandang pula ke arah Seh tosu, tampak seluruh tubuhnya telah diliputi oleh selapis kabut hitam yang amat tebal, diantara desingan angin tajam, permainan senjata kebutannya tetap sama cepatnya sehingga sulit dilihat jelas.

Wi Tiong-hong benar benar dibikin terkesima oleh pertarungan tersebut, tanpa terasa dia lantas bertopang dagu dengan tangannya menopang badannya, lalu seluruh perhatiannya dicurahkan kemedan pertarungan untuk mengawasi perubahan pedang dan senjata kebutan lawan.

Sementara dia sedang mencurahkan perhatiannya untuk memperhatikan jalannya pertarungan itu, mendadak jari tangan kirinya seperti lagi menekan di atas sebuah benda yang dingin dan keras.

Dalam pada itu, pertarungan yang berlangsung antara dua orang jago di bawah sana telah berlangsung dua tiga puluh gebrakan lebih, kini masing-masing pihak sedang mengerahkan segenap kemampuannya untuk menguasahi lawan, jurus serangan yang mematikan dike luarkan beruntun, perubahan jurusnya tak terlukiskan dengan kata-kata.

Dalam keadaan demikian, anak muda itu enggan untuk melepaskan pandangannya dari arena pertarungan.

perhatiannya juga masih dicurahkan ke arena, tentu saja tidak akan memperhatikan benda apakah yang dingin dan keras itu, namun jari tangannya tanpa disadari masih saja meraba, mengorek dan mendongkel benda tersebut.

Agaknya benda itu tertanam di dalam tiang belandar sedalam tiga hun lebih, ketika diraba terasa halus dan licin sehingga sukar untuk mengoreknya ke luar.

Sementara itu, Cho Kiu-moay yang sedang bertarung sengit tiba-tiba membentak nyaring, titik titik cahaya tajam memancar berbareng dengan munculnya bunga pedang, kemudian dengan menciptakan serentetan cahaya tajam yang menggidikkan hati langsung menembusi bayangan hitam yang tebal disekitar tubuh lawan.

Dengan cepat Seh tosu menyadari datangnya ancaman bahaya maut, untuk membendungnya jelas tak sempat lagi, buru-buru dia menarik hawa murninya dari dalam tan-tian, lalu sambil mengeraskan hati menyusup mundur sejauh satu depa lebih ke belakang.

Di mana cahaya tajam berkelebat lewat "Sret"

Jubah tosu yang dipakai Seh tosu telah robek dari atas dada hingga kebawah oleh goresan mata pedang, masih untung dia, berkelit cukup cepat, coba kalau terlambat selangkah saja, niscaya dadanya susah terbelah menjadi dua dan berakibat suatu kematian yang mengenaskan Wi Tiong-hong yang menyaksikan kejadian itu menjadi terperanjat tangan kirinya yang sementara itu masih mengorek ke luar benda dingin di atas tiang belandar, karena secara tiba-tiba hatinya menjadi tegang, tanpa terasa jari tangannya ikut mengerahkan tenaga lebih besar lagi, ternyata secara paksa dia berhasil mengorek ke luar benda itu, namun masih tidak diketahui olehnya benda apakah itu?

Sebab pada saat itu dua orang yang sedang bertarung dibawah sana telah mengalami suatu perubahan besar.

Seh tosu telah bermandikan keringat dingin karena kaget, buru-buru dia melayang mundur sejauh dua kaki ke belakang, kemudian dengan suara yang parau tertawa terbahak-bahak sembari berkata.

"llmu pedang yang nona miliki benar-benar sangat lihay, lohu telah merasakan kehebatanmu."

Kemudian setelah memandang sekejap sekel ling tempat itu, bentaknya lebih jauh.

"Ha ha ha ha ... , . anak-anak, mari kita pergi."

Sementara itu, tatkala Cho Kiu-moay berhasil merobek jubah dibagian dada Seh tosu, mendadak tubuhnya menjadi sempoyongan kemudian kakinya lemas dan tubuhnya roboh terjengkang ke belakang.

Sedang Seh tosu begitu selesai membentak.

dia segera melejit keudara dan melayang pergi meninggalkan tempat itu.

Ke empat orang bocah berbaju hitam yang berada di belakangnya tak berani berayal, Sreet sreeeeet, sreeeeet, sreeeeet empat sosok bayangan hitam segera mengikuti di belakang gurunya menyelinap ke luar dari ruangan tersebut.

Semua kejadian itu berlangsung dalam sekejap mata, sedemikian mendadaknya sampai congkoan dari perkumpulan Ban Kiam-hwee, Sin hun kuijiu (tangan setan pembetot sukma) Chin Toa seng turut menjadi gelagapan dan tak tahu apa yang mesti dilakukan-Tapi setelah menyaksikan Hek-bun-kun Cho Kiu-moay jatuh tak sadarkan diri dan Seh tosu serta keempat orang bocah berbaju hitam itu melejit ke luar dari ruangan, dia baru membentak keras dengan perasaan gusar.

"Hadang perjalanannya."

Sepasang telapak tangannya segera diayunkan kemuka melancarkan dua buah pukulan dahsyat, sementara ujung kakinya menjejak permukaan tanah dan segera mengejar dari belakang.

"Haaah, haaah, haaah,"

Seh tosu yang baru ke luar dari ruangan segera membalikkan badan sambil tertawa terbahak-bahak. serunya.

"Chin heng, kau tak usah menghantar lebih jauh lagi."

Tangan kirinya segera diayunkan ke depan, segulung asap berwarna abu-abu dengan cepat memancar keempat penjuru dan menggulung ke arah Chin congkoan.

Tentu saja Chin congkoan tahu lihay, sewaktu melakukan pengejaran tadi ia sudah membuat persiapan yang matang, melihat kejadian tersebut dengan cepat tubuhnya menjatuhkan diri ke belakang, lalu setelah menutup napas, ia meminjam tenaga jejakan pada kedua belah kakinya dan menyingkir sejauh delapan depa dari posisi semula dengan gerakan ikan leihi melejit.

Tadi justru karena waktunya tertunda, Seh tosu telah menerjang dari ruangan tersebut.

Di luar ruang, cahaya api menerangi seluruh penjuru tempat, delapan belas orang jago pedang berbulu hitam dengan senjata yang terhunus telah menanti sedari tadi.

Begitu menyaksikan Seh tosu menerjang ke luar dari kepungan, serentak mereka membentak keras, cahaya pedang segera berkilauan, lima sosok bayangan hitam bagaikan sebuah jaring yang terpentang menerjang ke arah depan.

Tapi jaring pedang tersebut seperti bunga yang mekar sesaat, tahu-tahu lenyap kembali tak membekas.

Delapan belas jago pedang berbulu hitam merupakan jago-jago pedang yang berilmu tinggi, akan tetapi baru satu gebrakan berlangsung, beberapa orang yang berada di barisan terdepan telah roboh terjengkang ke atas tanah tanpa menimbulkan sedikit suara-pun.

Kenyataan ini membuat beberapa orang lainnya menjadi tertegun, belum sempat mereka lancarkan penghadangan lebih jauh, Seh tosu dengan membawa keempat orang anak muridnya telah menerobos ke luar dari dinding pekarangan seperti hembusan angin.

Wi Tiong-hong terkejut sekali setelah menyaksikan kejadian itu, pikirnya.

"Entah racun apa yang telah dipergunakan Seh tosu ini? sungguh lihay sekali."

Berpikir sampai disitu, tiba-tiba dia merasa dalam genggamannya seperti memegang sebuah benda, tanpa terasa ia menundukkan kepalanya untuk memeriksa.

Begitu dipandang, hampir saja dia menjerit kaget, ternyata di dalam genggamannya telah bertambah dengan sebatang pena kemala berwarna hijau yang panjangnya antara lima inci.

"Lou-bun-si. Mungkinkah pena mustika ini adalah Lou-bun-si (pena beraksara)? Tapi mengapa benda tersebut bisa tersimpan di atas tiang belandar rumah? Aaih. Bukankah di mana-mana dia berada sekarang tak lain adalah tempat persembunyian Tok Hay-ji waktu itu? Yaa, kalau begitu sudah pasti dialah yang menyembunyikan disini."

"Benar, bukankah diantara pesan rahasia yang harus disampaikan terdapat kata kata yang berbunyi.

"Gua dalam tanah masuk dalam kayu?""

Berpikir sampai disitu, untuk sesaat dia tak berani mengusik Ting Ci-kang cepat-cepat pena kemala tersebut disimpan ke dalam sakunya.

Semua peristiwa itu hanya berlangsung dalam sedetik, sementara itu dari kejauhan sana telah terdengar suara Seh tosu sedang berseru dengan suara parau.

"Tak usah kuatir saudara Chin, cara siaute turun tangan masih tahu diri, asal saudara Chin sekalian segera mengundurkan diri dari gedung ini dan membebaskan muridku, tentu akan siaute kirim orang untuk menghantarkan obat pemunahnya buat kalian."

Suara pembicaraan tersebut makin lama makin menjauh, nampaknya orang itu sudah berada jauh sekali dari sana.

Menanti Siu-hun-kui-jiu (tangan setan pembetot sukma) Chin Toa-seng menyusul ke depan ruangan, pihak lawan telah lenyap tak berbekas.

Kejadian ini seketika itu juga membuat congkoan dari pasukan pedang hitam ini menjadi gembar-gembor keras, mencorong sinar tajam dari balik matanya, dia segera menjejakkan kakinya ke atas tanah membuat ubin yang kena dijejak hancur berantakan.

Kemudian setelah melirik sekejap ke atas tiang belandar, dia membopong Cho Kiu-moay dan berseru dengan suara dalam.

Kawanan jago pedang yang berada di luar ruangan, masing-masing segera membopong rekannya yang keracunan, cahaya api menjadi padam dan belasan sosok bayangan manusia itu mengundurkan diri semua dari situ, dalam waktu singkat tak sesosok manusia-pun yang tertinggal.

Menanti semua orang sudah meninggalkan tempat itu, Wi Tiong-hong baru berseru dengan cemas.

"Ting toako ..."

Ting Ci-kang segera melompat turun, kemudian buru-buru serunya.

"Saudara Wi, mari kita segera pergi."

Wi Tiong-hong turut melompat turun, ujarnya penuh rasa gembira.

"Ting toako, aku ..."

Tangannya segera merogoh ke dalam saku siap mengeluarkan pena kemala tersebut. Dengan wajah serius Ting Ci-kang segera mengulapkan tangannya sembari menukas.

"Bila ada persoalan lebih baik dibicarakan setibanya di rumah nanti, sekarang kita harus segera meninggalkan tempat ini,"

Selesai berkata, dia lantas melompat ke luar ruangan dan berlalu lebih dulu.

Wi Tiong-hong tak sempat banyak bicara lagi dia segera menyusul di belakangnya berlalu dari situ.

Tampak dua sosok bayangan manusia berkelebatan dengan cepatnya menuju ke rumah penginapan, kemudian mereka menerobos masuk ke dalam kamar lewat jendela.

Wi Tiong-hong benar benar tak sadar lagi, dengan suara lirih segera bisiknya.

"Ting toiko, cepatlah memasang lentera, siaute ada persoalan yang hendak dibicarakan denganmu."

Sambil memasang lentera, Ting Ci-kang menghembuskan nafas lega, tanyanya.

"Saudara Wi, kau ada urusan apa?"

Dari dalam sakunya Wi Tiong-hong mengeluarkan pena kemala tersebut, kemudian dengan wajah berseri katanya.

"Ting toako, coba kau lihat, bukankah benda ini adalah pena beraksara Lou-bun-si?"

"Lou-bun-si?"

Tiba-tiba mencorong sinar aneh dari balik mata Ting Ci-kang, dengan cepat dia mengambil benda tersebut dari tangan Wi Tiong-hong, kemudian tanyanya.

"Darimana kau dapatkan benda ini?"

"Tanpa sengaja siaute berhasil menemukannya sewaktu meraba-raba tiang belandar tadi."

"Oooh ... kalau begitu benda ini memang berada di An-wan piaukiok ..."

Gumam Ting Ci-kang.

"Ting toako,"

Wi Tiong-hong segera mendongakkan kepalanya sambil bertanya.

"Betulkah benda ini adalah Lou-bun-si?"

Mencorong sinar licik dari balik mata Ting Ci-kang, sambil tertawa seram sahutnya.

"Benar."

Jari tangannya segera diayunkan ke depan dan secara tiba-tiba menotok jalan darah Tiong-teng-hiat di tubuh Wi Tiong-hong.

Serangan tersebut dilancarkan secara tiba-tiba ...

Mimpi-pun Wi Tiong-hong tidak menyangka kalau Ting toakonya bakal melancarkan sergapan kepadanya.

Berhubung jarak antara kedua belah pihak begitu dekat, ditambah lagi tanpa persiapan apa-pun, kontan saja anak muda tersebut merasakan sekujur badannya menjadi kesemutan dan segera roboh terjengkang ke atas tanah.

Tak terlukiskan rasa kaget dan terkesiap yang mencekam perasaan Wi Tiong-hong ketika itu, sambil menengadah memandang Ting Ci-kang, serunya dengan suara gemetar.

"Ting toako, kau ... meng apa kau menyerang siaute ... ? Mengapa kau ..."

Dengan cepat Ting Ci-kang menyimpan pena kemala tersebut ke dalam sakunya, mencorong sinar bengis dari matanya sementara senyuman menyeringai yang menggidikkan hati menghiasi bibirnya.

Pelan-pelan dia mengangkat tangan kanannya ke udara siap menghajar batok kepala Wi Tiong-hong.

Pada saat itulah, dari luar jendela terdengar seseorang berseru sambil tertawa merdu.

"Nah, inilah yang dinamakan bencana datang karena membawa barang berharga ..."

"Cri i ttt ..."

Segulung desingan angin serangan jari yang tajam menerobos masuk lewat jendela dan menghajar tangan kanan Ting Ci-kang yang sudah terangkat ke tengah udara itu.

"Blaaammm ..."

Menyusul pula pintu kamar dibongkar orang keras-keras, sesosok bayangan manusia menerobos masuk ke dalam ruangan dengan kecepatan luar biasa.

Ting Ci-kang segera merasa telapak tangan kanannya kesakitan luar biasa, rasa sakit ini merasuk sampai ke tulang sumsum, dalam terkesiapnya tak sempat melihat jelas lagi siapa penyerangnya, ia menjejakkan kakinya ke tanah dan secepat sambaran petir menerobos ke luar lewat jendela belakang.

Tampaknya orang yang menyelinap masuk ke dalam kamar itu tidak berhasrat untuk melakukan pengejaran, dengan cepat dia menyelinap pula ke samping tubuh Wi Tiong-hong.

Dalam pada ini, paras muka Wi Tiong-hong telah berubah menjadi pucat pias seperti mayat, matanya terbelalak lebar, dia duduk tertegun di tempat tanpa mengucapkan sepatah kata-pun.

Orang itu menundukkan kepalanya memandang sekejap ke arah anak muda tersebut, kemudian sambil mendengus gusar serunya.

"Benar-benar suatu tindakan yang amat keji, bila aku datang terlambat selangkah saja, niscaya kau sudah mati di ujung telapak tangannya, atau paling tidak akan menjadi cacad."

Ia lantas menepuk pelan punggung Wi Tiong-hong.

Wi Tiong-hong memutar biji matanya sebentar kemudian menghembuskan napas panjang, tiba-tiba dia memuntahkan darah kental dan tersadar kembali dari keadaan termangu.

Secara lamat-lamat dia merasakan dadanya amat sakit sekali, dengan cepat dia berusaha untuk meronta dan bangkit berdiri.

Mendadak dari belakang tubuhnya berkumandang suara yang merdu sedang berkata.

"Kau telah menderita luka dalam yang cukup parah, sekali-pun memperoleh cara pertolongan yang tepat, paling tidak membutuhkan waktu selama tiga sampai lima hari untuk bisa pulih kembali seperti sedia kala, sekarang aku akan membantumu untuk mengatur pernapasan, duduklah dan jangan bergerak dulu."

Ketika Wi Tiong-hong mendengar orang yang berbicara itu seperti suara dari seorang perempuan, apalagi setelah ia mendongakkan kepala dan tidak menjumpai bayangan tubuh Ting Ci-kang berada disana, dengan keheranan segera tanyanya.

"Siapa nona? Di manakah Ting toako ku?"

Perlu diketahui jalan darah Tiong-tiang-hiat yang ditotok oleh Ting Ci-kang tadi merupakan salah satu dari tiga puluh enam buah jalan darah kematian di tubuh manusia, andaikata tidak segera ditolong, maka akibatnya akan terjadi pendarahan yang menyebabkan kematian.

Apalagi ketika dia hendak buka suara tadi, keburu jatuh tak sadarkan diri, sehingga dia tidak tahu kalau Ting Ci-kang telah melarikan diri lewat jendela.

+++ Bab 23 GADIS yang berada di belakangnya mendengus dingin, lalu berseru.

"Hm, kau masih menyebutnya sebagai Ting Toako? orang lain sudah menotok jalan darah kematianmu, sedari tadi-pun sudah kabur, hm ... tapi ia tak bakal terlepas, sekarang kau jangan banyak bicara dahulu."

Sementara pembicaraan sedang berlangsung Wi Tiong-hong merasa pelan-pelan ada seseorang sedang menempelkan telapak tangannya ke atas jalan darah Leng-tay-hiat di atas ulu hatinya, berbareng itu juga muncul segulung hawa hangat yang menembus jalan darahnya dan menerobos masuk ke dalam tubuhnya.

Dia segera menurut dan memusatkan seluruh perhatiannya untuk mengatur pernapasan.

Kurang lebih sepenanak nasi kemudian, dia telah selesai mengatur pernapasannya.

Terasa gadis itu menarik kembali telapak tangannya sembari berkata.

"Sudah cukup, asal kau beristirahat tiga-lima hari lagi, maka segala sesuatunya akan pulih kembali menjadi sedia kala, sekarang aku akan menyusul untuk mengambil kembali benda milikmu itu."

Begitu selesai berkata, tampak sesosok bayangan manusia yang kecil mungil menyelinap lewat dari sisi tubuhnya dan melayang ke luar lewat jendela belakang.

Buru-buru Wi Tiong-hong melompat bangun sambil berteriak.

"Nona, harap tunggu sebentar."

Waktu itu, sebenarnya bayangan kecil mungil tadi sudah berada di depan jendela, mendadak ia berhenti dan berpaling seraya berkata.

"Aku hendak mengejar Ting Ci-kang."

Menanti dia berpaling, Wi Tiong-hong baru dapat melihat jelas kalau nona yang telah menyelamatkan jiwanya ialah nona bermuka jelek yang pernah dijumpai sewaktu berada di tempat tinggal Heng-san Gisu tempo hari.

Tanpa terasa dia menjadi tertegun, buru-buru katanya sembari menjura.

"Sudah dua kali nona menyelamatkan jiwaku, untuk itu aku merasa berterima kasih sekali, aku harap nona jangan melakukan pengejaran."

"Mengapa? Masa kau biarkan barang milikmu itu dirampas olehnya dengan begitu saja?"

Wi Tiong-hong baru pertama kali ini terjun ke dalam dunia persilatan, sejak berkenalan dengan Ting Ci-kang, dia selalu menganggapnya sebagai seorang sahabat sejati.

Siapa sangka hanya dikarenakan sebatang pena kemala, sahabat yang dianggapnya sebagai saudara sendiri itu begitu tega untuk turun tangan keji terhadap dirinya, dari sini dapat diketahui kalau manusia dalam dunia persilatan sukar diduga hatinya, tahu orangnya, tahu wajahnya belum tentu mengetahui hatinya.

Berpikir sampai disini, dia menjadi murung, sambil menggelengkan kepalanya, katanya lirih.

"Pena kemala itu yang aku dapatkan tanpa sengaja, sekali-pun diperoleh kembali juga tak akan bermanfaat bagiku, kalau toh sudah diambil olehnya, biarkan saja dia ambil, memang akulah yang telah salah memilih teman, tapi dengan bekal pengalaman ini aku berharap di kemudian hari peristiwa semacam ini tak akan terulang kembali."

Gadis bermuka jelek itu tertawa cekikikan.

"Waah, kau memang seorang yang berjiwa besar, Lou-bun-si merupakan benda mestika dari dunia persilatan, setiap orang berharap bisa memperoleh mestika tersebut, betulkah kau sudah tidak mau lagi?"

"Sekali-pun pena beraksara Lou-bun-si merupakan benda mestika yang tiada taranya di dunia ini, namun benda mana tak lebih hanya merupakan benda sampingan. Bagi diriku, yang paling berharga di dunia ini adalah suatu persahabatan, orang kuno bilang.

"Bila mempunyai seorang teman yang sehati, sekali-pun harus mati juga tak perlu menyesal.""

Sebetulnya perkataan itu diutarakan oleh Wi Tiong-hong karena selama ini dia selalu menganggap Ting Ci-kang sebagai toakonya, akan tetapi Ting Ci-kang telah menghianati persahabatan itu hanya dikarenakan sebuah benda sampingan, karena kesal, maka ucapan mana baru diutarakan.

Siapa tahu ucapan tersebut disalah tafsirkan oleh si nona berwajah jelek itu, meski mukanya tidak berobah menjadi merah, namun telinganya justeru berubah menjadi merah padam.

Selang sejenak kemudian, gadis bermuka jelek itu baru berkata lagi dengan bibir dicibirkan.

"Aku sudah lama mengetahui kalau orang she Ting itu bukan manusia baik-baik, tentunya kau belum mengetahui bukan. Kalau secara diam-diam ia telah bersekongkol dengan pihak Ban Kiam-hwee? Hm, siapa suruh kau enggan mendengarkan nasehatku dan cepat-cepat tinggalkan kota Sang sau ini."

Tampaknya ia seperti merasa sudah terlanjur membuka rahasia, untuk dibatalkan perkataan itu tak sempat lagi.

Sebaliknya ketika Wi Tiong-hong mendengar kalau dia pernah menasehati kepadanya agar segera meninggalkan kota Sang-siau, tanpa terasa terbayang kembali kejadian yang dialami sewaktu berada dalam rumah penginapan, di mana dia menemukan sepucuk surat dan orang yang memasukkan gulungan kertas ke dalam sakunya ketika dia disenggol orang di mulut pintu gerbang kota.

Tatkala dia membayangkan kembali bayangan tubuh kecil kurus yang pernah di ngatnya terasa olehnya kalau lamat-lamat bayangan tubuh itu memang mirip sekali dengan gadis ini.

Tanpa terasa dia mendongakkan kepalanya memandang gadis bermuka jelek itu katanya.

"Jadi nona yang dua kali meninggalkan surat peringatan kepadaku."

Ketika sepasang mata si nona jelek yang amat jeli itu saling membentur dengan mata Wi Tiong-hong, tiba-tiba saja dia melengos ke samping, kemudian sambil tertawa katanya.

"Asal kau sudah tahu yaa sudahlah."

Suaranya amat merdu disertai tiga bagian sifat manja, sayang wajahnya kelewat jelek sehingga senyumnya itu kurang sepandan untuk dinikmati. Wi Tiong-hong segera menjura dalam-dalam kemudian katanya.

"Nona berulang kali memperingatkan kepadaku agar berhati-hati, kebaikan hatimu itu sungguh membuat aku merasa berterima kasih sekali."

Tampaknya lantaran pihak lawan berwajah kelewat jelek, maka dia menjadi lebih leluasa untuk berbicara. Gadis bermuka jelek itu segera tertawa cekikikan.

"Aaah, lagi-lagi soal berterima kasih,"

Serunya.

"justru karena aku ingin berterima kasih kepadamu, maka berulang kali aku memberi peringatan kepadamu."

Wi Tiong-hong menjadi termangu-mangu. Terdengar gadis berwajah jelek itu berkata lagi.

"Padahal aku menasehatimu karena kulihat kau adalah seorang pemuda yang baru terjun ke dalam dunia persilatan, sebab itu aku menganjurkan kepadamu agar cepat-cepat meninggalkan dunia persilatan, daripada mendatangkan kesulitan di kemudian hari."

Berbicara sampai di situ, dari luar jendela sana sudah terdengar suara ayam berkokok, buru-buru katanya.

"Hari sudah hampir terang, keadaan lukamu kini belum begitu sembuh, cepatlah atur pernapasanmu, aku-pun harus segera pergi meninggalkan tempat ini."

Mendengar gadis itu hendak pergi, teringat pula kalau orang telah menolongnya berulang kali, dia merasa berkewajiban untuk menanyakan nama penolongnya ini. Sambil mengangkat kepala dia lantas katanya.

"Nona, berulang kali jiwaku telah kau selamatkan, bilamana nona tidak berkeberatan, bolehkah aku mengetahui siapa nama nona?"

Walau-pun nona itu berwajah jelek, tapi toh seorang gadis muda, maka setelah mengucapkan perkataan itu, merah padam selembar wajahnya karena jengah.

Gadis berwajah jelek itu-pun nampak jengah, telinganya nampak berubah merah padam, agak tersipu katanya.

"Besok saja akan kuberitahukan kepadamu, sekarang aku akan pergi dahulu."

Sepasang kakinya segera menjejak tanah dan secepat kilat menyelinap ke luar dari kamar itu.

Dengan wajah termangu-mangu, Wi Tiong-hong memandang gadis itu hingga lenyap dari pandangan mata, meski-pun gadis ini berwajah jelek.

Sesungguhnya mempunyai hati yang suci dan bersih.

Lama sekali anak muda itu termangu-mangu, akhirnya naik kembali di atas pembaringan dan melanjutkan latihannya untuk mengatur pernapasan dan menyembuhkan luka yang dideritanya.

Tapi sayangnya, walau-pun dia telah berusaha keras untuk menghilangkan pelbagai pikiran yang berkecamuk dalam benaknya, namun apa yang dijumpainya selama ini satu persatu melintas dalam benaknya.

Terutama sekali akan tindakannya yang bermaksud baik untuk menyampaikan pesan yang dititipkan Tok Hay-ji kepadanya, tetapi diam-diam ia telah meracuni dirinya dengan maksud untuk membinasakan dirinya.

Pemuda berbaju biru itu sama sekali tidak kenal dengan dia, bahkan boleh dibilang mereka tak punya ikatan dendam atau sakit hati apa-pun, tapi nyatanya dia telah menyembunyikan jarum beracun dari balik telapak tangannya.

Selama ini Ting Ci-kang selalu dianggap sebagai toakonya, tapi pada akhirnya toh memperlihatkan juga wajahnya yang menyeringai dengan turun tangan keji untuk menotok jalan darah kematiannya.

Dan akhirnya bayangan tubuh si nona berbaju hijau yang menghantar obat pemunah baginya segera muncul di dalam benaknya, kemudian muncul pula bayang tubuh dari si gadis jelek berbibir tebal tadi, kesemuanya itu membuat dia tak bisa tenangkan hati.

Dengan susah payah akhirnya pelbagai pikiran itu berhasil disingkirkan dari benaknya, sementara hari terang tanah.

Setelah menerima bantuan tenaga dalam dari si gadis berwajah jelek tadi, luka dalam yang dideritanya jauh membaik, maka begitu dia duduk bersemedi dan pikiran kalut bisa teratasi, hawa murni yang berada dalam pusarnya pelan-palan menyebar ke seluruh nadi dalam tubuhnya membuat semua anggota badannya menjadi segar kembali.

Tak lama kemudian, ia sudah berada dalam keadaan lupa akan segala-galanya.

Menanti dia sadar kembali dari semedinya tengah hari sudah lewat, ketika membuka mata, dia saksikan gadis berwajah jelek itu sedang duduk di atas kursi dekat jendela sambil mengawasi ke arahnya dengan sorot mata yang amat lembut.

Jelas nampak kalau dia menaruh perhatiannya yang amat besar terhadap keselamatannya.

Tatkala dia menjumpai Wi Tiong-hong telah sadar kembali dia segera beranjak dan mendekati ke depan pembaringan, kemudian ujarnya sambil tertawa.

"Kau sudah mendusin? Lama benar semedimu kali ini, sekarang hari sudah mendekati siang, aku telah mempersiapkan hidangan makan siang untukmu, hayo cepatlah bersantap."

Selain nadanya lemah lembut, sikapnya juga hangat dan amat mesra.

Wi Tiong Tiong mencoba berpaling, betul juga di atas meja telah siap lima macam sayur dengan sebakul nasi putih.

Dengan wajah tertegun dia lantas bertanya.

"Nona, apakah kau sudah datang sedari tadi?"

"Dewasa ini sudah banyak jago persilatan yang berdatangan di kota Sang-siau, kebanyakan jago liehay itu berdatangan karena pena beraksara Lou-bun-si,"

Kata gadis berwajah buruk lirih.

"apalagi Ting Ci-kang dan Ban Kiam-hwee telah bersekongkol, aku kuatir ada musuh yang mencelakai dirimu bila membiarkan kau bersemedi seorang diri tanpa ada yang melindungi."

"Semalam aku berdiri terus di muka pintu kamarmu, hingga pagi tadi baru masuk kemari, karena kulihat kau belum mendusin, maka aku menyuruh pelayan untuk menyiapkan hidangan, ternyata kau belum juga sadar."

Beberapa patah kata itu, kontan saja membuat Wi Tiong-hong merasa terharu.

Sejak kecil hingga dewasa, belum pernah ada seorang anak gadis yang begitu menaruh perhatian terhadapnya, dia merasa walau-pun gadis ini berwajah buruk, namun dia bersikap kelewat baik kepadanya.

Pada dasarnya dia memang seorang pemuda yang amat berperasaan tanpa sadar serunya.

"Nona, begitu baik kau kepadaku, hal ini sungguh membuat aku merasa berterima kasih."

"Sudahlah, jangan berbicara lagi,"

Kata gadis berwajah buruk itu sambil tertawa.

"aku toh tidak memberi sesuatu kepadamu, mana mungkin bisa dianggap melepaskan budi kepadamu? Kau ini memang sukanya berpikir yang bukan2 saja, itulah sebabnya setelah berjumpa denganmu semalam, aku selalu merasa tak tega untuk melepaskan kau dengan begitu saja."

Mendadak ia merasa ucapannya kelewat berterus terang, maka dengan cepat ia berhenti berbicara, setelah mengerdipkan matanya berulang kali, katanya.

"Sudahlah, cepat bersantap. Jangan membuat kesehatan badanmu terganggu, apalagi lukamu belum sembuh, yang penting adalah menyembuhkan dahulu lukamu itu."

Berbicara sampai di situ, dia lantas berjalan menuju kemeja dan mengambilkan nasi baginya. Wi Tiong-hong segera melompat turun dari atas pembaringan, serunya dengan terharu.

"Aku tak berani merepotkan nona."

Gadis bermuka jelek itu tertawa, tiba-tiba bisiknya dengan suara lirih.

"Barusan aku mengatakan pada pelayan kalau kau ... kau adalah ... piauko ku. Sebentar jangan lupa kau memanggil aku sebagai piau-moay."

Ketika beberapa patah kata itu selesai di ucapkan, sekali lagi telinganya berubah menjadi merah.

"Bagus sekali,"

Diam-diam Wi Tiong-hong berpikir.

"namanya saja belum aku ketahui tapi dia sudah menjadi piau-moayku."

Tapi teringat kalau antara lelaki dan wanita ada batas-batasnya, sekali-pun nona itu berwajah jelek, toh dia adalah seorang gadis muda, berada bersama di dalam kamar bisa jadi akan memancing pemilik rumah penginapan, maka segera dia manggut-manggut seraya sahutnya.

"Baik, baik, aku akan mengingatnya selalu perkataan nona."

"Aaaah, lagi-lagi memanggil nona kepadaku, orang lain akan segera mengetahui kalau kita tak punya hubungan apa-apa."

"Tak punya hubungan apa-apa?"

Wi Tiong-hong dapat melihat, meski-pun gadis itu berparas jelek, namun tak dapat menutupi kelincahannya sebagai seorang gadis remaja, dia segera tertawa.

"Ucapan Piau-moay memang tepat sekali."

Justeru karena gadis itu berparas muka jelek, maka dalam perasaannya dia menjadi tak terlampau canggung.

Betapa hangatnya perasaan si nona bermuka jelek itu, setelah mendengar sebutan Piau-moay tersebut bisiknya kemudian.

"Piauko, nasimu sudah dingin, cepatlah bersantap."

Baru pertama kali ini dia memanggil orang dengan sebutan begitu mesra, tak heran pipinya terasa menjadi panas setelah menyebut nama "piauko"

Tadi, jantungnya terasa berdebar amat keras.

Wi Tiong-hong yang berhasil mendapat seorang piau-moay (adik misan), hatinya gembira sekali, berbicara sesungguhnya dia sama sekali tidak merasa muak terhadap kejelekan wajahnya, bila hati seseorang baik dan mulia, apa urusannya dengan baik atau buruknya paras muka seseorang.

Sambil tersenyum dia lantas duduk dan mengambil mangkuk nasinya, tiba-tiba sambil mendongakkan kepalanya dia bertanya.

"Bagaimana dengan kau? Sudah bersantap?"

"Aku sudah bersantap sedari tadi, hidangan itu memang sengaja aku siapkan bagimu?"

Sambil bersantap. Wi Tiong-hong lantas berkata.

"Piau-moay, sekarang kau boleh ..."

Gadis bermuka jelek itu tidak membiarkan ia berbicara lebih lanjut, sambil membereskan rambutnya yang berwarna kuning katanya sambil tertawa cekikikan.

"Aku mengerti apa yang sedang kau tanyakan, tak usah terburu-buru, jawab dahulu sebuah pertanyaanku tapi kau-pun mesti menjawab dengan jujur."

"Apa yang ingin kau tanyakan kepadaku?"

Gadis bermuka jelek itu berdiri di hadapannya lalu dengan wajah serius ujarnya.

"Kau harus menjawab pertanyaanku ini dengan sejujur-jujurnya."

Wi Tiong-hong mengangguk.

"Tanyakan saja berterus terang, asal aku tahu, pasti akan kujawab dengan sejujurnya kepadamu."

Gadis bermuka jelek itu memperhatikan wajah Wi Tiong-hong sekian lama, kemudian katanya.

"Baik aku ingin bertanya kepadamu, apakah wajahku terlampau jelek?"

Apa lagi yang mesti ditanyakan?

Berambut kuning, bermuka penuh burik, ditambah lagi berwajah kuning tak sedap, apakah ia tak dapat bercermin wajah sendiri?

Wi Tiong-hong tidak menyangka kalau dia akan mengajukan pertanyaan semacam itu, ia tertegun wajahnya sementara hati kecilnya merasa serba salah.

Gadis bermuka jelek itu memperhatikan wajahnya lekat-lekat, kemudian tegurnya lagi.

"Mengapa kau tidak berbicara? Apakah wajahku kelewat jelek sehingga kau merasa sungkan untuk mengatakannya?"

Berbicara sampai di situ, tiba-tiba ia mendengus sambil berkata.

"Padahal sekali-pun tidak kau katakan, aku-pun tahu jika wajahku buruk, banyak orang yang melihat aku seperti melihat siluman saja."

Wi Tiong-hong tahu, bila seseorang berwajah jelek, dia pasti mempunyai perasaan rendah diri yang sangat parah, mungkin juga dia akan menjadi marah karena melihat ia tidak menjawab pertanyaannya.

"Tidak,"

Katanya sambil mengangguk.

"Cantik atau jeleknya wajah seseorang bukan sesuatu yang mutlak. Sebab wajah hanya merupakan suatu lahiriah saja, padahal menilai manusia bukan dari baik buruknya wajah, sebaliknya dari buruknya watak dan jiwa seseorang, nona seorang yang suci dan berhati mulia."

"Aaah, lagi-lagi memanggil nona,"

Tegur nona bermuka jelek itu sambil mendengus.

"Hmm, berbicara pulang pergi, tampaknya kau masih tetap menganggap wajahku kelewat jelek."

Wi Tiong-hong mempunyai niat untuk mengalah kepada gadis ini, maka terhadap sikapnya yang marah dan senang tak menentu, dia sama sekali tidak memikirkannya di hati.

Mendengar perkataan itu, segera ujarnya dengan wajah bersungguh-sungguh.

"Aku sama sekali tidak bermaksud demikian berbicara yang sebenarnya, dalam dunia ini aku tak punya seorang sanak keluarga-pun, aku merasa amat gembira karena bisa menganggap kau sebagai adik misanku?"

"Apakah perkataanmu itu muncul dari hati yang tulus dan jujur?"

Tanya gadis bermuka jelek itu dengan hati gembira.

"Yaa, aku berbicara dengan sejujurnya."

"Tampaknya kau tidak seperti lagi berbohong,"

Kata gadis itu pelan.

"hmm, padahal sekarang aku masih belum tahu apa yang kaupikirkan di dalam hati."

Tampaknya gadis itu sedang merasa gembira sekali, tapi nampak juga agak tersipu-sipu, sementara pembicaraan berlangsung, dia sudah melengos ke arah lain.

Wi Tiong-hong yang menyaksikan kejadian itu, diam-diam merasa kegelian, dia merasa setiap anak gadis kebanyakan suka dipuji cantik, ternyata apa yang dibuktikan sekarang memang benar, nyatanya gadis itu merasa amat gembira.

Berpikir sampai di situ, dia lantas menundukkan kepalanya dan melanjutkan acaranya makan.

Mendadak gadis berwajah jelek itu tertawa cekikikan, dengan cepat dia membalikan badannya sambil berteriak.

"Piauko, coba kau perhatikan sekali lagi, benarkah wajahku amat jelek?"

Wi Tiong-hong mendongakkan kepalanya, tiba-tiba saja dia merasa matanya menjadi silau, setelah itu dia berdiri tertegun umuk beberapa saat lamanya.

Ternyata paras muka si nona bermuka jelek yang amat tak sedap dipandang tadi, dalam sekejap mata telah berubah menjadi cantik dengan alis mata yang tipis, mata yang jeli, hidung yang mancung dan bibir yang kecil mungil Benar-benar wajah cantik seorang bidadari dari khayangan.

Tampak gadis itu menarik rambutnya yang berwarna kuning sehingga terlepas dari kepalanya, berbareng mengayunkan topeng kulit manusia tadi, ujarnya sambil tersenyum.

"Piauko, sekarang yang kau saksikan adalah paras muka asliku, tapi selama berkelana di dalam dunia persilatan, belum pernah topeng ini kulepaskan. Padahal topeng ini selain bisa menghindarkan diri dari serangan racun, tidak mempan pula terhadap bacokan senjata, apa salahnya dengan wajah jelek? Toh aku bukan bermaksud untuk memamerkan mukaku untuk dilihat orang?"

Wi Tiong-hong sama sekali tidak merasa terkejut atau-pun keheranan, sebab dia pernah mempelajari ilmu merias muka dari paman tak diketahui namanya itu.

Cuma perubahan dari seorang gadis berparas jelek menjadi seorang gadis cantik jelita secara tiba-tiba ini cukup membuatnya menjadi gelagapan setengah mati.

Untuk sesaat lamanya dia tak tahu apa yang mesti diucapkan, pemuda itu hanya bisa memandang paras muka si nona dengan terkesima, saking gelagapannya dia sampai membungkam dalam seribu bahasa.

Melihat pemuda itu memandang ke arahnya dengan wajah termangu, tiba-tiba paras muka gadis itu berubah menjadi merah padam karena jengah, serunya dengan perlahan.

"Mengapa kau tidak berbicara lagi? Mengapa sih memperhatikan wajahku terus menerus? Jika aku tahu kalau kau tidak jujur, tak akan kulepaskan topeng ini."

Sembari berkata dia segera mengenakan kembali topeng kulit manusia itu ke atas wajahnya kemudian dengan cepat pula mengenakan kembali rambut palsunya, semua gerakan dilakukan dengan cepat dan cekatan.

Hanya dalam waktu singkat, kembali gadis cantik itu berubah menjadi jelek, kini gadis itu berubah lagi menjadi gadis berwajah buruk.

Wi Tiong-hong berseru tertahan, seperti baru bangun dari impian paras mukanya kontan saja berubah jadi merah padam, lalu serunya.

"Nona ..."

Tapi sampai ditengah jalan, buru-buru dia mengganti lagi panggilannya.

"Piau-moay, kau amat cantik."

Gadis berwajah jelek itu mengerling sekejap ke arahnya, kemudian sambil menutupi mulut sendiri dan tertawa katanya.

"Cepatlah bersantap, jangan nona, piau-moay terus menerus, aku bernama Lok Khi."

"Oooh, namamu seindah orangnya, betul-betul membikin hati orang terpesona."

Kata Wi Tiong-hong tertawa. Lok Khi berdiri di samping Wi Tiong-hong dan melirik sekejap ke arahnya dengan wajah tersipu-sipu, seperti girang, seperti juga malu, katanya sambil tertawa.

"Tak kusangka kalau kau masih mempunyai kepandaian untuk memberi topi kebesaran di atas kepala orang."

Wi Tiong-hong merasa terperanjat, setelah menghabiskan dua mangkuk nasi, ia berhenti bersantap.

Kebetulan pelayan datang menghidangkan air teh panas.

Tiba-tiba Wi Tiong-hong teringat kembali dengan Hek-bun-kun Cho Kiu-moay yang pernah dijumpainya semalam dan dirasakan mirip dengan tamu perempuan yang mencari Ting Ci-kang, tanpa terasa tanyanya.

"Pelayan, apakah tamu perempuan di kamar nomor lima sudah pergi?"

"Oooh, tamu perempuan itu? "

Ucap si pelayan sambil tertawa.

"Semalam, hari belum lagi gelap dia sudah kembali, setelah membayar rekening lantas pergi."

Wi Tiong-hong manggut-manggut dan tidak berbicara lagi. Bab 24 Sepeninggal pelayan itu, Lok Khi dengan membelalakan matanya segera bertanya.

"Siapa tamu perempuan yang kau maksudkan?"

"Aku rasa dia adalah Hek-bun-kun Cho Kiu-moay dari Ban Kiam-hwee."

Secara ringkas dia lantas menceritakan bagaimana ada orang mencari Ting Ci-kang semalam. Lok Khi segera mendengus dingin.

"Hmm, aku sudah bilang, Ting Ci-kang telah berkomplot dengan pihak Ban Kiam-hwee. Ah, sebetulnya pena beraksara Lou-bun-si itu kau temukan dibagian mana dari perusahaan An-wan piaukiok?"

"Di atas kayu belandar rumah."

Menyusul kemudian dia-pun lantas bercerita bagaimana tanpa sengaja telah menyentuh pena kemala di tempat persembunyiannya dan secara kebetulan tempat di mana dia bersembunyi adalah tempat di mana Tok Hay-ji menyembunyikan diri ..."

Lok Khi segera bertepuk tangan dan berseru.

"Aaah, kalau begitu tak salah lagi, itu berarti benda mana telah berada di saku Tok Hay-ji waktu itu, setelah mengetahui kalau dia tak dapat meloloskan diri, maka benda tersebut disembunyikan di atas tiang belandar, kemudian minta kau menyampaikan pesannya."

Wi Tiong-hong menjadi keheranan, pikirnya.

"Aaah, pesan yang disampaikan Tok Hay-ji kepadaku ini hanya kuberitahukan kepada Ting Ci-kang serta Hong-tiang dari kuil Pau-in-si, apa lagi Tok Hay-ji telah berpesan kalau persoalan ini penting sekali artinya, karena kuatir terdengar orang lain, dua kali aku menulis dengan mencelupkan tanganku ke dalam air, heran, darimana dia bisa tahu?"

Berpikir sampai di situ, dia lantas bertanya.

"Darimana kau bisa tahu? "

Lok Khi tertawa.

"Semua pembicaraanmu dengan Ting Ci-kang sewaktu berada di rumah makan tempo hari telah didengar semua oleh toakoku, tentu saja tulisan yang kau tulis di meja-pun tak dapat lolos dari penglihatan toakoku."

"Siapakah toakomu? "tanya Wi Tiong-hong semakin keheranan. Lok Khi tertawa.

"Bila sudah bersua, kau akan segera mengenalinya."

Kemudian dia melanjutkan.

"Waktu itu toako masih mengajak aku berdebat, aku bilang dari kedua patah kata yang disampaikan Tok Hay-ji, kata pertama "dibawah undak-undakan kiam-bun"

Mengartikan dia sudah ditangkap orang-orang Ban Kiam-hwee dan menjadi tawanan, sedang kata kedua "gua dalam tanah masuk dalam kayu", kata gua dalam tanah merupakan huruf bagian atas dari An-wan, berarti dia bilang barang itu di An-wan piaukiok.

Sedang kata "masuk dalam kayu"

Berarti barang itu disimpan dalam peti kayu atau benda terbuat dari kayu tadinya.

Tapi toakoku bersikeras mengatakan, karena dia sudah ditawan Ban Kiam-hwee, benda itu pasti sudah dikurung dalam tanah di bawah kamar penjaranya."

"Berhubung suhuku sudah bilang akan melepaskan persoalan ini, maka aku dan toakoku hanya berbicara belaka."

"Hmm, menurut apa yang kau ucapkan sekarang, berarti barang itu kaulah yang dapatkan, maka sudah sepantasnya kalau barang itu menjadi milikmu, bila luka yang kau derita sudah sembuh nanti, aku akan menemanimu mencari Ting Ci-kang, benda itu harus direbut kembali."

Mendadak dari belakang tubuh mereka terdengar seseorang bertanya.

"Apakah Ting Ci-kang yang kalian maksudkan adalah anggota Ban Kiam-hwee?"

Lok Khi amat terperanjat sambil membalikkan badan dia membentak nyaring.

"Siapa?"

Ketika berpaling, tanpaklah seorang kakek yang pendek dan gemuk telah berdiri di depan pintu.

Orang itu berjubah lebar, berwajah penuh senyuman dan kelihatannya ramah sekali.

Lok Khi merasa amat terkesiap, ia tak tahu sedari kapan kakek gemuk itu memasuki kamarnya, mengapa ia tak merasakan barang sedikit-pun jua?

Setelah mendengus dingin kembali ujarnya.

"Aku tidak kenal dirimu, lebih baik cepatlah pergi dari sini."

Tubuhnya segera bergerak ke depan secepat kilat, tangan kirinya langsung menghantam tubuh kakek tersebut.

Sekali-pun serangan itu tampaknya dilancarkan dengan ayunan tangan belaka, padahal bayangan telapak tangan yang terpancar ke luar lelah menyelimuti beberapa depa di sekeliling tempat itu.

Di dalam kamar yang begini sempitnya, kecuali mengundurkan diri dari dalam kamar, tiada tempat lain lagi untuk menghindarkan diri.

Kakek gemuk pendek itu mendehem pelan, tubuhnya segera miring ke samping, bukannya mundur dia malah maju, dengan cepat badannya menyelinap diantara bayangan telapak tangannya yang rapat.

Ternyata gerakan tubuhnya itu amat cekatan dan lihay, hanya sekali berkelebat saja, tahu-tahu dia sudah menghindarkan diri dari ancaman Lok Khi tersebut.

"Kalian berdua tentu saja tak akan kenali siapakah lohu, lohu hanya ingin bertanya kepadamu, apakah Ting Ci-kang adalah anggota Ban Kiam-hwee ... ?"

Walau-pun orang itu berbicara sok berlagak, namun sikap gerak geriknya amat ramah dan halus.

Sewaktu Lok Khi menyaksikan serangan yang dilancarkan tidak berhasil menyentuh ujung baju lawannya, tanpa terasa dia mundur selangkah.

Kemudian sambil melototkan matanya lebar-lebar, katanya sambil mendengus.

"Aku tidak tahu, jangan kau anggap setelah memiliki tenaga khikang pelindung badan, maka kami lantas takut kepadamu."

Begitu selesai berkata, dia bersiap-siap lagi untuk melancarkan tubrukan. Kakek gemuk pendek itu segera menarik wajahnya dan berkata.

"Hmmm, sekali-pun kalian enggan berbicara, lohu juga dapat menemukannya ..."

Tiba-tiba dia melejit, kemudian dengan gerakan tubuh secepat kilat dia menyelinap pergi. Memandang bayangan tubuhnya yang menjauh, Wi Tiong-hong berdiri termangu-mangu, kemudian gumamnya.

"Cepat benar gerakan tubuh orang ini."

"Tenaga khikang pelindung badan yang dimiliki kakek ini sudah mencapai enam tujuh bagian, sewaktu aku lancarkan sebuah pukulan tadi, tubuhku segera dipentalkan balik oleh tenaga khikangnya. Hmmm, seandainya aku menduga akan hal itu, jangan harap tubuhku bakal dipentalkan olehnya."

"Aku pernah mendengar pamanku berkata, orang yang pandai ilmu khikang pelindung badan dewasa ini sudah tidak banyak lagi, lagi pula sebagian besar telah mengasingkan diri, entah siapakah orang itu?"

"Itu mah tidak sulit, dia mempunyai perawakan tubuh yang gemuk dan pendek, lagi pula memelihara jenggot kambing, itulah suatu ciri yang khas, asal ditanyakan kepada toako, dia pasti tahu."

Berbicara sampai di situ, dia lantas menyelinap ke luar dari pintu kamar tersebut.

Ketika Wi Tiong-hong melihat gadis itu bilang akan pergi lantas pergi, bahkan pergi dengan begitu cepat, dia mulai berpikir siapa gerangan toakonya itu?

Diam-diam ia menjadi curiga, tapi bila teringat kembali bagaimana orang lain selain memberi peringatan kepadanya, bahkan dua kali menampakkan diri untuk menyelamatkan jiwanya, sudah pasti gadis itu tak akan menaruh maksud jahat apa-apa.

Tak selang berapa saat kemudian, tampak bayangan manusia berkelebat lewat, Lok Khi telah muncul kembali.

"Toako telah pergi,"

Katanya dengan wajah cemberut.

"dia hanya meninggalkan sepucuk surat, dia bilang demi keselamatan jiwaku, maka aku baru ditinggal di kota Sang-siau, dia-pun mengatakan semalam orang-orang dari Ban Kiam-hwee telah pergi dari sini, orang-orang dari selat Tok Seh-sia baru hari ini berangkat meninggalkan tempat ini, itulah sebabnya dia-pun turut pergi."

"Sebetulnya siapa sih toakomu itu? "

Tanya Wi Tiong-hong ingin tahu.

"Toako adalah toakoku, di kemudian hari kau toh akan mengenali sendiri orangnya."

Kemudian setelah tertawa manis, katanya lagi.

"Aku sudah menyuruh pelayan untuk menyiapkan kamar di sebelahmu ini, selama ada aku di sini sebagai pelindungmu, kau boleh merawat lukamu itu dengan hati lega."

Selesai berkata dia lantas membalikkan badan, menutupkan pintu kamarnya dan menuju ke kamar sebelah.

Secara beruntun mereka tinggal selama tiga hari di situ, sesudah melakukan semedi selama tiga hari, luka dalam yang diderita Wi Tiong-hong-pun telah sembuh kembali.

Dalam waktu tiga hari tersebut, betul juga, suasana amat tenang dan tak pernah terjadi sesuatu apa-pun, kecuali sebagai pelindung yang baik, ternyata Lok Khi-pun memperhatikan soal-soal yang lain dengan amat teliti dan hangat.

Pada hari ke empat, pagi sekali, ketika Wi Tiong-hong baru mendusin dari semedinya dia merasakan hawa murni dalam tubuhnya telah beredar kembali seperti semula, jalan darahnya tembus semua, kesehatan badannya boleh dibilang sudah pulih seperti dahulu.

Dia lantas melompat turun dari pembaringan dan membuka pintu.

Terdengar Lok Khi yang berada di kamar sebelah telah berseru dengan manja.

"Piauko (kakak misan), sepagi ini kau sudah bangun tidur?"

Pintu kamar dibuka, Lok Khi yang telah selesai membersihkan badan melangkah ke luar dari kamarnya. Wi Tiong-hong segera tersenyum.

"Aku telah sehat kembali, selama tiga hari tiga malam ini, semuanya berkat perawatan dari piau-moay ..."

Belum sempat pemuda itu selesai berbicara, Lok Khi telah menukas sambil tertawa manis.

"Aaaa ... berbicara pulang pergi, yang kau katakan hanya melulu kata-kata bernada terima kasih."

Didahului oleh sang nona, terpaksa Wi Tiong-hong hanya menyengir kuda belaka. Tiba-tiba Lok Khi mengerdipkan matanya, lalu berkata lagi.

"Piauko, benarkah lukamu telah sembuh kembali? Kalau begitu hari ini juga bisa berangkat."

"Berangkat? Kita akan kemana?"

"Tentu saja mencari Ting Ci-kang, ia bersikap tidak setia kawan kepadamu, menghianati kepercayaanmu kepadanya, bahkan turun tangan kejam kepadamu. Apakah kau rela membiarkan barang itu dirampas olehnya dengan begitu saja?"

"Sudah, biarkan saja, toh pena beraksara Lou-bun-si tak ada manfaatnya bagiku, salahku sendiri mencari teman tidak betul. Sehingga mendapat pengalaman kali ini, tak perlu di cari lagi."

"Jika kau enggan pergi, biarlah aku yang pergi, manusia semacam ini harus diberi pelajaran yang sebaik-baiknya. Sekali-pun dia telah bersekongkol dengan pihak Ban kiam-hwee, lihat saja nanti, sanggupkah dia meloloskan diri dari cengkeramanku?"

Setelah bergaul selama beberapa hari dengan gadis itu, Wi Tiong-hong sudah mengetahui bagaimanakah wataknya.

Ia tahu untuk membujuk gadis itu agar mengurungkan niatnya pada saat ini, selain tak bakal dituruti, bisa jadi pura-pura menjadi sungguhan.

Sementara dia masih serba salah dibuatnya, mendadak anak muda tersebut teringat janjinya dengan ketua kuil Pau-in-si yang memintanya datang kembali lima hari kemudian, konon ada sesuatu urusan hendak dititipkan kepadanya.

Kebetulan hari ini adalah hari ke lima, dan dia-pun telah menyanggupi permintaan tersebut, tentu saja janji mana harus dipenuhi.

Kepada Lok Khi, dia-pun lantas berkata.

"Hari ini aku masih mempunyai beberapa persoalan yang harus segera diselesaikan."

"Kau masih ada urusan apa?"

Tanya Lok Khi dengan wajah tertegun.

"Waktu itu, Lo Hong-tiang dari kuil Pau-in-si berjanji kepadaku agar lima hari kemudian datang lagi ke situ, kebetulan hari ini adalah hari ke lima dan aku-pun telah menyanggupi permintaannya, bagaimana-pun juga aku harus ke situ untuk memenuhi janji."

"Kau maksudkan Gho-beng siansu, lo hong tiang kuil Pau-in-si? Dia adalah anggota dari Siau-lim-pay, ada urusan apa kau mengadakan perjanjian dengannya?"

"Aku sendiri-pun tidak tahu, dia cuma bilang ada suatu persoalan yang hendak disampaikan kepadaku."

"Dia mempunyai persoalan yang hendak dititipkan kepadamu?"

Lok Khi keheranan.

"hmmm, kau memang orang yang paling suka mencampuri urusan orang lain."

Berbicara sampai di situ, mendadak dia mendongakkan kepalanya sambil bertanya.

"Maukah kau mengajakku bersama?"

"Jika kau ingin pergi, mari kita pergi bersama-sama, pemandangan alam di situ memang bagus sekali."

Lok Khi menjadi girang setengah mati sampai mulutnya terbuka lebar dan nampak dua baris giginya yang putih bersih, katanya sambil tertawa.

"Piauko, kau baik sekali, toakoku selalu menganggap aku seperti anak kecil, dia tidak pernah membiarkan aku turut kemana-pun dia pergi, padahal aku takut kepada siapa?"

Ucapan mana diutarakan dengan polos dan manja, bisa dibayangkan betapa girang dan gembiranya wajah gadis tersebut di balik topeng kulit manusianya.

Tanpa terasa Wi Tiong-hong teringat kembali dengan gadis berbaju hi au yang menghadiahkan obat penawar kepadanya malam itu, di balik kelembutannya terselip sikap dingin dan hambar, jauh berbeda dengan sikap hangat dari Lok Khi.

Ketika Lok Khi melihat pemuda itu hanya memandang ke arahnya dengan wajah tertegun tanpa terasa panas pipinya, dia lantas berpaling sambil berkata.

"Hei, memangnya kau sudah tidak kenal diriku lagi? Mengapa sih menatap wajahku terus menerus? Malu amat rasanya ..."

Kemudian sambil mendorong tubuh itu, serunya dengan penuh kemanjaan.

"Piauko, cepat pergi membersihkan muka. Selesai bersantap, kita harus segera berangkat."

Sekembalinya ke dalam kamar, Wi Tiong-hong-pun mencuci muka, kemudian selesai bersarapan mereka membayar rekening dan berangkat menuju ke pintu kota sebelah selatan.

Perjalanan yang mereka tempuh cepat, tak selang berapa saat kemudian sampailah mereka berdua di depan kuil Pau-in-si.

Mendadak Lok Khi memperlambat langkahnya sambil berbisik.

"Piauko, hwesio tua itu bilang ada urusan hendak disampaikan kepadamu, bila dia melihat aku datang bersamamu, mungkinkah dia tak mengatakannya?"

Wi Tiong-hong memang telah menduga kalau Lo Hong-tiang itu mengundangnya datang, sudah pasti ada suatu persoalan.

Sekarang dia datang memenuhi janji tersebut bersama Loh Khi, bisa jadi dia enggan mengutarakan persoalannya di hadapan gadis tersebut.

Baru saja dia akan bilang, sebentar setelah tiba di dalam kuil, gadis itu disuruh menunggu di luar ruangan, siapa sangka gadis tersebut telah berbicara lebih dulu, maka setelah termenung bsberapi saat dia-pun berkata.

"Soal ini aku tidak tahu, andaikata Hong-tiang tua tersebut sampai ..."

Tidak memberi kesempatan kepada pemuda itu untuk menyelesaikan kata-katanya, Lok Khi telah menukas sambil mendengus.

"Aku ada maksud untuk mencoba dirimu saja, ingin kulihat apakah kau benar-benar akan menganggap diriku sebagai adik misanmu? Padahal, apa salahnya untuk berbuat demikian? Toh dia yang menitipkan persoalannya kepadamu, bukan kau yang memohon kepadanya, apakah kau tak bisa memberitahukan kepadanya kalau aku adalah adik misanmu? Dan bila ada persoalan dia bisa mengutarakannya terus terang."

Melihat kesungguhan hati si gadis tersebut, diam-diam Wi Tiong-hong merasa amat geli, tampaknya ia itu selalu menganggap darinya sebagai engkoh misan yang sebenarnya.

Sambil tersenyum dia lantas berkata.

"Aah, kau terlalu memikirkan yang bukan-bukan, sebentar bila Hong-tiang tua itu merasa kurang leluasa untuk membicarakan masalahnya dihadapanmu, tentu saja aku akan berkata demikian."

Lok Khi segera mengerdipkan sepasang matanya yang besar dan bulat, kemudian ujarnya sambil tersenyum.

"Aku masih mengira kau takut orang mengejek wajahku kelewat jelek, sehingga kau tak punya muka. Tak mau mengakui diriku sebagai adik misanmu lagi. Beberapa hari ini aku memang ingin sekali melepaskan topeng mana dan tidak mengenakannya lagi."

"Eeeh ... jangan kau lepaskan, lebih baik begini saja,"

Buru-buru Wi Tiong-hong berseru.

"Benar, suhulah yang menyuruhku mengenakan topeng ini,"

Ujar Lok Khi lagi dengan sedih.

"dia orang tua berkata, usiaku kelewat kecil sedang orang persilatan rata-rata berhati busuk dan licik, lebih banyak orang jahatnya daripada orang baik, bila ada orang tidak jijik dengan kejelekanku, benar-benar baik kepadaku ..."

Nona kecil ini baru saja menanjak dewasa, sesungguhnya sejak pertemuan yang pertama, ia telah memberikan seluruh hati dan cintanya untuk pemuda idaman hatinya ini.

Karena usianya masih kecil, apa yang diketahui tentang hubungan laki perempuan-pun tidak banyak, ditambah pula sejak kecil ia sudah mengikuti gurunya, dalam segala persoalan dia selalu sikapnya lebih hambar daripada gadis sebayanya, meski demikian, setelah berkata sampai di situ, ia merasa sulit juga untuk melanjutkan perkataannya.

Lantaran malunya, ia sampai tak sanggup untuk melanjutkan perkataannya lebih jauh.

Wi Tiong-hong merasakan hatinya bergetar keras, buru-buru dia berkata cepat.

"Sstt, ada orang yang munculkan diri, mari kita segera menuju kesana."

Di depan pintu gerbang telah muncul seorang pendeta berjubah abu-abu yang merangkapkan tangannya di depan dada. Begitu menghampiri kedua orang tersebut, dia lantas menjura seraya berkata.

"Apakah sicu berdua datang kemari untuk memasang hio?"

Ketika Wi Tiong-hong menyaksikan pendeta penerima tamu itu bukan Gho-tong hwesio, dia-pun menjura seraya menjawab.

"Aku akan mencari Hong-tiang dari kuil ini."

Pendeta itu memperhatikan sekejap wajah kedua orang tamunya, kemudian berkata lagi.

"Sicu berdua mencari Hong-tiang kami karena urusan apa?"

"Lima hari berselang, aku pernah berjumpa dengan Hong-tiang kalian, dan ia mengundangku untuk datang lagi hari ini, harap taysu suka masuk ke dalam melaporkan kedatangan kami ini."

"Oooh ..."

Pendeta itu memutar biji matanya dan sekali lagi melirik sekejap wajah ke dua orang itu, kemudian ujarnya sambil tertawa.

"Sicu, siapa namamu?"

"Aku Wi Tiong-hong dan dia adalah piau-moayku."

"Oh, rupanya Wi sicu, harap kalian berdua suka menunggu sebentar di ruang depan, pinceng akan segera masuk ke dalam untuk memberi laporan."

Sembari berkata dia lantas membawa kedua orang tamunya memasuki ruang tengah, kemudian buru-buru masuk ke dalam.

Sementara itu Lok Khi telah berjalan ke depan patung Buddha yang dipuja dalam kuil tersebut, lalu menjatuhkan diri menyembah, mulutnya berkemak kemik seperti membaca doa, anak gadis memang sukanya berbuat demikian apa lagi kalau sudah ketemu jodohnya.

Terpaksa Wi Tiong-hong hanya berdiri di depan meja altar sambil bergendong tangan.

Lok Khi bangkit berdiri, sambil memandang ke arah Wi Tiong-hong ujarnya malu bercampur girang.

"Piauko, marilah kemari, kau-pun harus menyembah kepada Budha maha pengasih."

Baru selesai dia berkata, dari belakang ruangan sudah berkumandang suara langkah kaki manusia, ternyata pendeta berbaju abu-abu itu sudah balik kembali ke ruangan depan.

Kepada kedua orang tamunya dia menjura, lalu berkata.

"Hong-tiang mempersilahkan sicu berdua masuk ke dalam."

Selesai berkata dia membalikkan badan dan berjalan lebih dulu meninggalkan tempat tersebut.

Wi Tiong-hong dan Lok Khi mengikuti di belakangnya langsung masuk keruangan belakang.

Mendadak pendeta itu menghentikan langkahnya seraya berkata.

"Hong tiang menantikan kehadiran kalian disana, silahkan sicu berdua masuk ke dalam?"

Wi Tiong-hong mengucapkan terima kasih, lalu mengajak Lok Khi masuk ke dalam ruangan.

Dia merasa ruang Hong-tiang ini jauh berbeda dengan perabotan yang diatur pada lima hari berselang, kini kursinya terbuat dari kayu cendana berpemadani merah, segalanya amat mewah dan mempesona hati yang melihatnya.

Saat itulah seorang pendeta berbaju kuning berdiri dari kursi kebesarannya dan maju menyongsong snmbil menjura, katanya sambil terbahak-bahak.

"Haaa ... haaa ... haaaa ... maaf jika pinceng tak menyambut kehadiran Wi sicu."

Ternyata pendeta berbaju kuning itu bukan Hong-tiang tua, melainkan Gho-tong hwesio.

Tanpa terasa Wi Tiong-hong menjadi tertegun, belum sempat dia buka suara, Gho-tong hwesio telah berkata lagi sambil tersenyum.

"Sicu berdua, silahkan duduk."

Dalam hati kecilnya Wi Tiong-hong merasa tidak habis mengerti, sambil menjura dia berkata lagi.

"Toa suhu, lima hari berselang, Hong-tiang tua mengundang aku untuk datang lagi kemari hari ini apakah ..."

"Omintohud,"

Tukas Gho-tong hwesio sambil menjura.

"kalau toh toa suheng memang ada janji dengan Wi sicu, harap kalian berdua suka duduk lebih dahulu."

Kemudian sambil berpaling serunya.

"Ambilkan air teh."

Seorang hwesio cilik segera muncul sambil membawa air teh.

Wi Tiong-hong berpaling, ternyata hwesio kecil yang pernah dijumpainya tempo hari.

Gho-tong hwesio mengangkat tangannya, kemudian berkata lagi.

"Silahkan kalian berdua minum teh, toa suheng telah berpulang ke alam baka dua hari berselang, apabila Wi sicu ada persoalan, katakan saja kepada pinceng."

Dari keadaan yang tertera di depan mata, Wi Tiong-hong memang sudah menduga sampai kesitu, apa lagi bila teringat perkataan si hwesio cilik waktu itu, dia-pun menduga jika hubungan di antara sesama saudara perguruan ini seperti diliputi satu rahasia.

Meski dia curiga, namun lantaran persoalan ini adalah urusan mereka yang sama sekali tak ada sangkutpaut dengan dirinya, dia-pun menjura seraya berkata.

"Kedatanganku kemari sebenarnya adalah untuk memenuhi janjiku dengan Hong-tiang tua, kalau toh Lo Hong-tiang telah berpulang ke alam baka, aku-pun tak ada urusan lagi, aku hendak mohon diri lebih dulu."

Gho-tong hwesio agak tertegun, tapi dengan cepat dia berkata lagi sambil tertawa.

"Lima hari berselang, pinceng pernah berbuat kasar terhadap sicu, harap Wi sicu jangan marah karena persoalan tersebut. Bagaimana-pun juga, kalian berdua toh ... sudah datang ke mari, sekali-pun tidak bersantap dulu, paling tidak juga harus minum secawan air teh sebagai rasa hormat pinceng terhadap kalian."

"Toa suhu tak usah sungkan-sungkan."

Berbicara sampai disini, lantas berpaling seraya berkata.

"Adikku, mari kita pergi."

Sekilas senyuman licik segera menghiasi wajah Gho-tong hweesio, kembali dia berkata.

"Bila Wi sicu buru-buru hendak pergi, pinceng-pun tak akan menahan lebih jauh, cuma kalau toh Wi sicu datang untuk memenuhi janjimu dengan toa suheng, hal ini berarti kau adalah sahabat karib toa suheng semasa hidupnya. Kini toa suheng tiada, paling tidak Wi sicu harus mengunjungi tempat penyimpan tulang belulang sebagai tanda hormat kepada yang telah tiada, entah bagaimanakah menurut pendapat sicu?"

"Tulang belulang Lo hongsiang disimpan di mana?"

Wi Tiong-hong bertanya tanpa terasa. Kembali Gho-tong hwesio tertawa licik.

"Di belakang bukit kuil kami ini, pinceng akan segera mengajak Wi sicu kesana."

Wi Tiong-hong manggut-manggut.

"Kalau begitu, harap toa suhu suka membawa jalan."

"Sicu kelewat sungkan, harap kalian berdua suka mengikuti pinceng ..."

Dia lantas membalikkan badan dan berjalan ke luar ruangan.

Wi Tiong-hong dan Lok Khi menyusul di belakang Gho-tong hwesio meninggalkan ruang hong tiang, menuju kebukit sebelah belakang.

Tak lama mereka tiba di belakang bukit kuil Pau-in-si.

Di antara tebing karang yang menjulang, terdapat sebuah undakan lebar yang menembusi bukit karang tadi, hanya dua puluhan langkah mereka telah tiba di atas tanah datar.

Di atas bukit terdapat sebuah bangunan kuil di depan pintu terpancang sebuah papan nama yang bertuliskan "Cou-su-tong", pintu gerbangnya yang berwarna merah tertutup rapat dan dikunci dengan sebuah gembok besar.

Gho-tong hwesio membuka gembokkan itu, lalu mendorong pintu itu sampai terbuka, katanya sambil mempersilahkan tamunya.

"Sicu berdua, silahkan masuk."

Ketika melihat Gho-tong hwesio mengajaknya datang ke situ tadi, Wi Tiong-hong sudah menaruh perasaan curiga, apalagi setelah menyaksikan ruangan Cou-su-tong itu dibangun di dalam bukit berkarang yang kokoh, kecurigaannya semakin melipat ganda.

Baru saja dia akan bersuara, Lok Khi telah menghalangi jalan perginya.

Gho-tong hwesio sambil tertawa.

"Tentu saja pinceng harus berjalan lebih dahulu, silahkan saudara berdua ..."

Selesai menjura, betul juga dia lantas masuk lebih dulu ke dalam ruangan itu.

Ruangan Cou-su-tong tersebut letaknya agak tinggi, ruangan yang terdiri dari tiga bagian itu mencakup luas tanah sepuluh kaki lebih, meski dibangun di lambung bukit namun amat terang benderang.

Ditengah ruangan terdapat sebuah patung Buddha terbuat dari baja yang tingginya seperti manusia, patung itu berwajah lebar, bertelinga lebar, berwajah keren dan seperti manusia hidup.

Dengan sikap yang sangat menghormat Gho-tong hwesio berjalan ke depan patung Buddha itu, kemudian menyembah beberapa kali, setelah itu dia baru berkata.

"Siecu berdua, dia adalah mendiang guru kami It-tong taysu, tubuhnya telah menjadi Buddha, maka dipuja dalam ruangan ini, sedang tulang belulang toa suheng berada di ruangan sebelah kiri."

Sambil berkata dia lantas berjalan ke meja altar yang ada disebelah kiri.

Ketika Wi Tiong-hong mendongakkan kepalanya dan memperhatikan meja altar tersebut, di atas meja terdapat sebuah kotak yang terbuat dari bahan tembikar, mungkin di situlah disimpan abu dari Gho-beng siansu, lo Hong-tiang dari kuil Pau-in-si.

Tanpa berpikir panjang, dia lantas berjalan menuju kesitu.

Dalam pada itu, Gho-tong hweesio sudah berada di muka meja altar dan menyulut tiga batang hio yang ditancapkan di atas hiolo, kemudian sambil merangkap tangannya di depan dada, dia berkata.

"Toa suheng, Wi siecu telah datang memenuhi janji, hanya sayang dia datang terlambat dua hari sehingga hanya dapat menjenguk abumu belaka."

Lalu sambil menuding ke arah meja altar, dia melanjutkan.

"Wi sicu, harap kau lihat, dalam baki kemala itulah terletak Han liou dari Toa suheng."

Sesuai berkata, dia lantas mengundurkan diri ke samping.

Mengikuti arah yang dituijuk.

Wi Tiong-hong berpaling ke situ, benar juga di atas meja altar itu terdapat sebuah baki kumala, dalam baki terdapat puluhan biji Han li cu yang besar kecil tak menentu dengan aneka warna tapi semuanya memancarkan sinar berkilauan.

Tanpa terasa timbul rasa hormatnya yang amat mendalam terhadap lo siansu yang telah tiada itu.

Lok Khi berjalan ke sisi Wi Tiong-hong, lalu bisiknya lirih.

"Piauko, apa sih yang dinamakan Han li cu?"

Pada saat itulah, mendadak Gho-tong hwesio tertawa seram, dia melompat ke depan dan secepat sambaran petir meluncur ke luar dari ruangan tersebut.

Reaksi dari Lok Khi terhitung cepat pula, dia segera membentak nyaring.

"Mau kabur ke mana kau?"

Tubuhnya melejit ketengah udara dan meluncur ke depan dengan kecepatan seperti sambaran petir, sementara tangan kanannya diayunkan ke depan mencengkeram pakaian bagian belakang dari Gho-tong hwesio.

Tapi sayang tindakannya itu masih terlambat satu langkah, Gho-tong hwesio telah miringkan badan dan meluncur ke luar dari ruangan tersebut, menyusul kemudian ..."Blaamm."

Sepasang pintu gerbang itu merapat sendiri.

Gagal dengan cengkeramannya, nyaris tubuh Lok Khi yang melayang di tengah udara itu menumbuk di atas pintu gerbang.

Buru-buru dia menahan gerakan tubuhnya dan melayang turun ke atas tanah, lalu sepasang telapak tangannya digetarkan keras-keras menghajar pintu gerbang ruangan itu.

"Blaamm ..."

Sepasang pergelangan tangannya tergetar sampai terasa sakit, secara lamat-lamat sedang kedua belah pintu gerbang itu masih tetap tak bergeming barang sedikit-pun jua.

Bersamaan waktunya Wi Tiong-hong tiba pula di tempat kejadian, dia melepaskan juga sebuah bacokan dahsyat.

"Blaamm,"

Sekali lagi terdengarlah suara benturan keras yang memekakkan telinga, namun pintu gerbang itu masih tetap utuh tanpa cacat.

Menghadapi kejadian ini, paras muka anak muda itu berubah hebat, dia segera menarik napas panjang-panjang dan mengerahkan kembali tenaga dalamnya siap melancarkan serangan lagi.

Buru-buru Lok Khi menghalangi niatnya itu ujarnya sambil menggelengkan kepalanya berulang kali.

"Tak perlu membuang tenaga dengan percuma, pintu batu ini sangat tebal dan kuat sekali."

"Hmm, ternyata hwesio itu benar-benar tidak bermaksud baik."

Kata Wi Tiong-hong.

"Sejak dia menahan kita berulang kali, kemudian memancingmu dengan perkataan, aku sudah menduga kalau dia tidak bermaksud baik, oleh karena itulah aku meminta kepadanya untuk masuk lebih dahulu, aai, tapi akhirnya toh masih tetap terlambat selangkah, ia berhasil juga meloloskan diri. Piauko tahukah kau apa sebabnya dia bersikap tidak menguntungkan bagi kita berdua?"

"Aku pikir, dia pasti mempunyai suatu rahasia yang takut diketahui orang lain, aaah ... , betul, delapan puluh persen lo Hong-tiang tersebut mati dicelakai olehnya, karena kuatir aku mengetahui duduk persoalan yang sebenarnya, maka ia baru berniat membunuhku untuk menghilangkan jejak ..."

"Kau memang dasarnya suka mencampuri urusan orang lain, sekarang lihat saja akibatnya, kena disekap di tempat seperti ini, apa tidak bakal mati kelaparan?"

"Kita harus mencari akal untuk membongkar pintu itu dan menerjang ke luar dari sini."

"Mustahil,"

Lok Khi menggelengkan kepalanya berulang kali.

"pintu batu ini tebal dan sangat kuat, apa lagi dia berani memancing kita ke sini, berarti hal ini sudah berada dalam perhitungannya, tak bakal semudah itu ... apalagi sampai memberi kesempatan buat kita untuk menjebol pintu batu itu?"

Wi Tiong-hong menjadi tertegun.

"Lantas, apakah kita harus duduk termenung belaka sambil menanti saat kematian tiba."

Lok Khi berpikir sebentar, kemudian menjawab.

"Aku pikir, kalau toh kalau kedua belah pintu batu ini begitu kuat dan tebal, sudah pasti beratnya bukan kepalang, biasanya benda yang berat tak akan secepat itu merapat kembali, tapi sewaktu kabur tadi, pintu tersebut menutup amat cepat, dari sini bisa ditimbulkan kalau pintu mana dihubungkan dengan alat rahasia."

"Tampaknya dia telah memperhitungkan waktunya secara tepat, ia segera memancing kita untuk melihat Han li cu tersebut, kemudian ia menekan tombol rahasianya, menanti pintu hampir menutup, ia melompat ke luar dari sini, buktinya aku yang melompat setelah dia-pun terlambat satu langkah, baru tiba dipintu, pintu batu itu kebetulan sedang merapat."

"Betul, pintu batu itu pasti sudah dikendalikan oleh semacam alat rahasia."

Lok Khi tertawa.

"Asal kita dapat menemukan alat rahasia yang mengendalikan buka tutupnya pintu batu itu, keadaan pasti lebih baikan."

"Kalau begitu kita cepat-cepat mencarinya, ooh, tidak betul, mustahil alat rahasia tersebut berada disini."

"Mengapa?"

"Seandainya tombol rahasia yang mengendalikan alat rahasia pintu gerbang itu berada di sini, bukankah sia-sia saja dia mengurung kita di tempat ini? "

Lok Khi kembali tertawa.

"Aku rasa, alat rahasia tersebut sudah pasti berada disini."

"Coba katakanlah."

"Tentu saja aku mempunyai alasan,"

Kata Lok Khi sambil tertawa.

"masa tidak kau lihat, sewaktu Gho-tong keledai gundul itu masuk ke mari, dia mendorong pintu terbuat dengan ilmu Tay-lek-kim-kong-ciang aliran Siau-lim-pay, tapi sewaktu ke luar sama sekali tidak mempergunakan tenaga sama sekali, sedangkan pintu ruangan itu menutup dengan sendirinya, dari sini terbuktilah sudah alat rahasia yang digunakan untuk membuka dan menutup pintu batu itu berada di dalam, bukan di luar."

Wi Tiong bong yang mendengar perkataan itu merasa kagum sekali, meski sifat kekanak-kanakan dari gadis itu belum hilang namun jalan pikirannya sangat cermat, pengalamannya dalam dunia persilatan-pun jauh lebih banyak daripada pengalaman sendiri.

Tadi, dia memang melihat kalau Gho-tong hwesio mendorong pintu ruangan tersehut dengan sepasang tangannya dan nampak sangat kepayahan, tapi tidak sempat melihat kalau ilmu yang dipergunakan adalah ilmu Tay-lek-kim-kong-ciang.

Tak nyana gadis tersebut telah mengetahui kejadian mana dengan sejelas-jelasnya.

Berpikir sampai di situ, tanpa terasa dia manggut manggut, katanya lagi.

"Perkataanmu memang benar, kalau begitu, mari kita segera mencarinya di sekitar sini."

Melihat pemuda itu membuang pendapatnya dan setuju dengan pendapat sendiri, bahkan memujinya, Lok Khi merasa amat gembira, sambil tertawa segera ujarnya.

"Aku dengar dari toako, konon semua alat rahasia yang berada dalam dunia persilatan rata-rata di pasang dalam suatu tempat yang amat rahasia, orang yang tidak mengetahui keadaan yang sebetulnya sulit untuk menemukan tempat mana. Betul kita juga tahu kalau letaknya berada dalam ruangan ini, tapi untuk menemukannya bukanlah suatu pekerjaan yang terlampau gampang ..."

Sementara pembicaraan berlangsung, mereka berdua sudah mulai melakukan pemeriksaan yang seksama di sekitar ruangan itu.

Setengah jam kemudian, seluruh ruangan telah diperiksa dengan seksama, namun tombol rahasia itu belum juga ditemukan.

Tiba-tiba Lok Khi melompat bangun, setelah membereskan rambut kuningnya, ia berseru manja.

"Piauko, tak usah dicari lagi."

"Sudah kau temukan?"

"Belum, sekarang aku baru teringat, sekali-pun kita berhasil menemukan tombol rahasianya juga percuma."

"Mengapa?"

"Apakah kau tidak melihat kalau di luar pintu gerbang tadi masih dipasang dengan sebuah gembokan besar?"

"Perkataan itu memang benar, jika digembok dari luar, sekali-pun tombol rahasia ditemukan juga apa gunanya?"

Wi Tiong-hong berseru tertahan, lalu membungkam dalam seribu bahasa ... +++ Bab-25 PELAN-PELAN LOK KHI BERJALAN mendekat, lalu katanya dengan lembut.

"Tampaknya kita benar-benar akan mati kelaparan disini."

"Tidak,"

Sela Wi Tiong bong bersungguh sungguh.

"pintu ini harus dijebol dan kita harus ke luar dari sini, aku tak ingin mati kelaparan di tempat ini."

"Tentunya kau masih mempunyai urusan lain yang lebih penting bukan?"

Kata Lok Khi dengan mata melotot besar.

Wi Tiong-hong mendongakkan kepalanya memandang langit-langit ruangan itu, ternyata semuanya terdiri dari besi berwarna keemas-emasan.

Dia mengangguk dan gumamnya.

"Benar, lima belas tahun berselang ayahku telah tewas di tangan musuh besarnya, hingga kini dendam sakit hatiku belum terbalas, meski ibuku masih hidup tapi aku tak berhasil menemukan dia orang tua, bahkan hingga sekarang-pun aku masih belum mengetahui nama margaku yang sebenarnya."

Lok Khi menghela napas pelan, terpancar sinar kelembutan dari balik matanya, pelan-pelan dia mengulurkan tangannya dan menggenggam tangan Wi Tiong-hong, lalu katanya dengan gelisah.

"Lantas bagaimana baiknya? Aku tidak berhasil menemukan cara yang tepat untuk menjebol pintu dan meloloskan diri dari sini."

Kemudian sambil mengerdipkan matanya dia bertanya lagi.

"Ooooh ... engkoh Wi, entah seorang manusia bisa menahan lapar selama berapa hari sebelum mati?"

"Mungkin dua tiga hari juga belum mati kelaparan, tapi waktu itu pasti badan kita sudah lemas dan tak bertenaga lagi."

Mendadak Lok Khi melepaskan topeng kulit manusia serta rambut palsunya, kemudian membuangnya ke atas tanah, setelah itu sambil menyandarkan tubuhnya ke atas tubuh Wi Tiong-hong, ia berkata sambil mendongakkan kepalanya.

"Engkoh Hong, seandainya dua tiga hari lagi kita masih belum bisa ke luar dari sini, makanlah tubuhku ini."

Meski-pun ucapan mana diutarakan dengan bersungguh-sungguh, namun penuh dengan nada cinta.

Wi Tiong-hong agak tertegun sesudah mendengar perkataan itu, sebenarnya dia hendak mendorong tubuh si nona yang bersandar perkataan itu.

Sebenarnya setelah menyaksikan wajahnya yang tersipu-sipu malu dan sepasang matanya yang melotot besar memandang ke arahnya, ia menjadi tak tega untuk mendorong tubuhnya tersebut.

Satu ingatan segera melintas di dalam benaknya, diam-diam ia berpikir.

"Nona ini masih polos dan sangat lincah, dalam benaknya masih belum terlintas pikiran jahat, seandainya aku dorong tubuhnya itu, mungkin saja tindakanku ini akan melukai perasaan hatinya."

Berpikir sampai di situ, terpaksa dia membentangkan tangannya dan balas memeluk tubuh si nona yang menyandar di tubuhnya itu, katanya sambil tersenyum.

"Aaaah, kau ini ada-ada saja, masa ada manusia makan daging manusia didunia ini."

Kembali Lok Khi mendongakkan kepalanya dan tertawa.

"Daripada kita berdua sama-sama mati kelaparan, kan lebih baik tubuhku untuk isi perutmu, mungkin dua tiga hari lagi penjahat gundul tersebut akan datang lagi untuk menengok kita, nah pada saat itulah kau bisa menerjang ke luar dari sini."

Wi Tiong-hong dibuat terharu sekali oleh perkataan tersebut, tanpa terasa dia memeluk gadis itu lebih kencang lagi.

"Sudahlah, kau tak usah membicarakan soal semacam itu lagi,"

Bisiknya.

"Bagaimana-pun juga kita toh masih punya kesempatan untuk memikirkan akal lain."

"Tapi semua akal sudah kita pikirkan ... ,"

Kata Lok Khi sedih.

Sewaktu berpaling, dia menyaksikan patung Buddha baja di atas meja altar seakan-akan sedang memandang ke arahnya sambil tersenyum.

Pada mulanya dia masih tidak menaruh perhatian khusus, apa lagi ruangan besar itu di bangun dalam dinding bukit, dan pintu gerbangnya tertutup rapat, seharusnya dalam keadaan demikian suasananya gelap gulita, tapi sekarang terang benderang bagaikan di siang hari saja, darimana datangnya cahaya tersebut?

Ternyata di atas atap ruangan tersebut terdapat beberapa biji mutiara yang berserakan memancarkan cahaya tajam, di bawah sorot sinar mutiara inilah lambung bukit yang seharusnya gelap lagi lembab itu menjadi terang benderang dan sedikit-pun tidak mengerikan.

Diam-diam dia keheranan, kalau ruangan ini saja digunakan mutiara yang tak ternilai harganya sebagai bahan penerangan, itu berarti pemiliknya pasti kaya raya, namun mungkinkah kejadian seperti ini terjadi dalam kuil hwesio?

Tanpa terasa gadis itu membereskan rambutnya yang kusut dan berbisik lirih.

"Engkoh Hong, tempat ini agak aneh tampaknya."

"Apakah kau telah menemukan sesuatu?"

Tanya Wi Tiong-hong sambil mengendorkan pelukannya.

"Aku pikir, di hari-hari biasa Gho-tong penjahat gundul itu pasti jarang sekali masuk ke mari, coba kau lihat, cukup mutiara-mutiara yang berada di langit-langit ruangan, nilainya sudah luar biasa sekali, masa dalam kuil hwesio bisa terdapat kemewahan dan kemegahan seperti ini?"

Wi Tiong-hong mendongakkan kepalanya memandang langit-langit itu sekejap, kemudian mengangguk.

"Benar, ruangan ini dibangun sangat megah dan mewah, jauh berbeda dengan bangunan kuil lainnya, sepertinya ruangan ini baru belakangan dirubah namanya menjadi ruangan Cou-su-tong."

"Itulah dia, andaikata sewaktu dibangun tempat ini sudah bernama ruangan Cou-su-tong, maka alat rahasia yang mengatur buka tutupnya pintu-pun seharusnya dipasang di luar, tapi buktinya tombol rahasia itu berada di dalam ruangan. Hal ini membuktikan kalau semula tempat ini didiami seseorang dan di hari-hari biasa melarang siapa-pun untuk masuk kemari, kemudian walau-pun sudah dirubah menjadi ruangan cousu-tian, namun pintu ruangannya masih tetap terkunci terus, itulah sebabnya Ghotong si keledai gundul bajingan itu-pun kurang jelas."

Wi Tiong-hong manggut-manggut.

"Ehmmm, masuk diakal juga perkataan ini, tapi tidak diketahui siapakah orang itu?"

"Kuil Pau-in-si sudah berdiri sejak beberapa ratus tahun berselang, orang ini bisa membangun ruangan istana yang begini indah di lambung bukit belakang kuil, sudah barang tentu orang itu adalah orang yang paling berkuasa di dalam kuil ini, selain Hong-tiangnya, siapa pula orang itu?"

"Oooh,"

Mendadak gadis itu seperti teringat akan sesuatu, kembali ujarnya.

"engkoh Hong, sering kali kudengar toako bilang, banyak kuil hwesio dalam dunia persilatan yang sepintas lalu tampaknya seperti biara kau m pendeta, padahal yang sesungguhnya mereka adalah perampok-perampok ganas."

"Konon, sering kali mereka membangun ruang rahasia di dalam kuil lalu pergi ke luar untuk menculik kau m wanita dan anak gadis orang, kemudian memperkosa dalam ruangan rahasianya, malah kadangkala bila ada perempuan cantik yang bersembahyang dalam kuil sering pula lenyap tanpa sebab ... aku lihat kuil yang dibangun di tempat ini-pun bukan sebuah kuil baik-baik."

Seperti dimaklumi, gadis ini hanya setengah mengetahui urusan tentang muda-mudi, maka apa yang diucapkan-pun diutarakan tanpa rikuh atau ragu-ragu.

Bagaimana-pun juga Wi Tiong-hong lebih besar satu-dua tahun dibandingkan dengan gadis itu, berbicara secara blak-blakan tentu saja ia segan untuk menegur atau untuk menghalanginya.

Menanti dia sudah selesai berkata, pemuda itu baru menggelengkan kepalanya berulang kali sambil berkata.

"Tentu saja kuil semacam itu terdapat pula dalam dunia persilatan, tapi kuil Pau-in-si adalah kuil cabang dari Siau-lim-si, peraturan perguruan dari Siau-lim-si selamanya dilaksanakan dengan ketat, mustahil bisa terjadi peristiwa semacam ini."

"Jadi menurut kau , dalam kuil Siau-lim-si tak ada orang jahatnya?"

Seru Lok Khi sambil mencibir.

"Bagaimana dengan Gho-tong si bajingan gundul itu? Apakah dia bukan orang jahat? Kalau orang baik, mengapa kita disekap disini?"

Wi Tiong-hong termenung dan berpikir sebentar, lalu katanya.

"Aku pikir, Gho-tong hwesio sebetulnya sudah bersekongkol dengan pihak Tok She-shia, membunuh lo Hong-tiang tak lebih cuma suatu intrik belaka."

"Oalah, siapa yang perdulikan soal-soal seperti itu? Ehmmm, engkoh Hong, coba kau tebak siapa yang membangun kuil ini?"

"Menurut pendapatmu siapa?"

"Itu dia, Buddha baja tersebut.,"

Kata Lok Khi sambil menuding patung pemuja tersebut. Wi Tiong-hong berpaling dan memandang sekejap ke arah patung Buddha baja yang angker itu, kemudian katanya.

"It-teng taysu maksudmu? Dulu aku pernah mendengar pamanku bercerita, katanya It-teng taysu adalah pendeta yang saleh dari Siau-lim-si."

"Konon, puluhan tahun berselang, ketua Siau-lim-pay yang lalu telah mewariskan segenap kepandaian silatnya kepada orang ini dan menitahkan kepadanya untuk melanjutkan jabatannya sebagai ketua Siau-lim-pay, namun dia menolak tawaran tersebut dan rela menyerahkan jabatan ciangbunjin itu kepada sutenya, dan kemudian dia-pun menjadi ketua di kuil sini."

"Kemudian dia-pun membangun ruangan rahasia yang megah dan mewah dalam lambung bukit ini."

Sambung Lok Khi.

"Darimana kau bisa tahu?"

"Apa susahnya untuk mengetahui hal ini, bukankah semasa hidupnya ia tinggal disini? Kalau tidak, mengapa dia membuat sebuah patung baja di tempat ini?"

Wi Tiong-hong segera tertawa.

"It-teng taysu adalah seorang yang menjadi Buddha berikut daging dan tubuhnya, maka dari itu orang harus mengguyur tubuhnya dengan cairan baja sehingga tubuhnya tetap utuh selama beribu-ribu tahun."

"Apa yang dimaksudkan dengan menjadi Buddha berikut daging tubuhnya?"

"Dia adalah seorang pendeta yang saleh, setelah mati mayatnya tidak membusuk, keadaannya persis dia selagi bersemedi, maka murid muridnya-pun menempakan selapis baja yang disusupkan ke atas tubuh kasarnya."

Lok Khi menjadi keheranan sesudah mendengar perkataan itu, dia berseru tertahan.

"Tak heran kalau patungnya persis seperti manusia hidup, engkoh Hong, mari kita tengok yang lebih jelas."

Selesai berkata, dia lantas membalikkan badan dan berjalan menghampiri patung itu.

Menyaksikan tingkah laku gadis tersebut, agaknya Wi Tiong-hong-pun dibuat lupa oleh peristiwa yang menimpa dirinya, dia seperti lupa kalau dirinya sudah tersekap dalam ruangan rahasia.

Meski-pun tidak tertarik, dia-pun tak tega menampik permintaan gadis itu, terpaksa dia mengikuti di belakangnya.

Sifat kekanak-kanakan pada Lok Khi sama sekali belum hilang, ia merasa tertarik sekali oleh cerita It-teng taysu yang "menjadi Buddha bersama tubuh kasarnya", terdorong oleh rasa ingin tahunya.

tanpa terasa dia menowel patung itu lalu memperhatikannya dengan seksama.

Mendadak dia mengalihkan pandangan matanya, dia menemukan patung besi itu berwarna serba hitam, hanya tangan kanannya yang menggenggam sebuah tasbeh yang terdiri dari tujuh belas biji mutiara, besarnya seperti buah kelengkeng dan berwarna keperak-perakan.

+++ MENYAKSIKAN kesemuanya itu, tanpa terasa dia berteriak.

"Engkoh Hong, coba kau lihat, biji tasbeh itu semuanya masih putih dan bersih? Ah, semestinya tasbeh ini ada delapan belas biji, tapi disini hanya terdapat tujuh belas biji. Engkoh Hong, coba kau tebak, mengapa bisa kurang sebiji?"

"Mungkin benda itu merupakan senjata rahasia andalan It-teng taysu dimasa lampau, karena salah satu diantaranya tak bisa ditemukan lagi setelah dipakai umuk menyerang, maka biji tasbeh itu tinggal tujuh belas biji."

"Ya betul, aku-pun berpendapat demikian."

Ternyata biji tasbeh itu masih bisa digerakkan, begitu ditarik, sebiji tasbeh tersebut terjatuh ke telapak tangan patung besi itu dan ..."Pluk"

Seakan akan sebiji batu terjatuh dari perut patung dan terjatuh di atas teratainya.

"Engkoh Hong, mungkin disinilah terletak tombol rahasia yang mengendalikan pintu gerbang tersebut."

Seru Lok Khi amat terkejut. Buru-buru ia berpaling, namun pintu tersebut masih tetap tertutup rapat, sama sekali tidak bergerak.

"Masa bukan?"

Di mulut Lok Khi bergumam demikian, sementara tangannya kembali menarik pelan.

"Pluuk ..."

Kembali terdengar biji tasbeh yang terjatuh ke dalam perut patung besi itu.

Semakin di dengar Lok Khi merasa semakin keheranan, tanpa terasa satu demi satu dia menarik terus tali biji tasbeh tersebut, sementara biji tasbeh berwarna putih keemas-emasan itu-pun satu demi satu terjatuh ke bawah ...

Secara beruntun dia menarik tujuh belas kali dan tujuh belas biji tasbeh terjatuh ke bawah dengan menerbitkan suara nyaring.

Menanti dia menarik untuk ke delapan belas kalinya, suara "pluk"

Dalam perut Buddha itu sudah tak kedengaran lagi, namun kedua belah pintu gerbang tersebut masih tertutup rapat.

Dia mencoba untuk menarik beberapa kali lagi, tapi tidak terdengar suara lain, tanpa terasa ujarnya dengan kecewa.

"Adikku, tak usah ditarik lagi,"

Kata Wi Tiong-hong kemudian.

"apa yang kau ucapkan benar, sekali-pun kita berhasil menemukan tombol rahasianya, bila pintu ini digembok dari luar, toh tak akan bisa terbuka juga pintunya."

Dengan marah dan mendongkol, Lok Khi menarik lagi berapa kali sebelum dilepaskan.

Sementara itu tangan yang lain telah meraba sebuah tongkat baja sebesar telur itik yang berada di sisi patung itu, sambil dipegang dia berkata lembut.

"Engkoh Hong, mungkin toya ini adalah senjata tajam yang dipakai It-teng taysu dimasa lampau, coba kau lihat toya tersebut, wouw ... sungguh besar sekali, dari sini dapat diketahui kalau tenaganya paling tidak di atas ratusan kati?"

Tangannya yang telah meraba toya tersebut segera mencobanya untuk mengangkat, siapa tahu toya mana seperti berakar saja, ternyata sama sekali tak berkutik.

Pada dasarnya Lok Khi adalah seorang gadis yang beradat keras, apalagi berada dihadapan "engkoh Hong"

Nya, kalau cuma sebatang toya, saja tak sanggup diangkat, kejadian ini benar-benar memalukan sekali. Dengan wajah merah karena jengah, dia berseru dengan gemas.

"Kalau aku tak mampu mengangkatnya, baru aneh namanya."

Sebenarnya Wi Tiong-hong ingin mencegah perbuatannya itu, tapi gadis itu sudah keburu menarik napas panjang-panjang dan mengerahkan tenaga dalamnya ke dalam pergelangan tangan kanan, lalu terdengar ia membentak keras.

"Naik."

Seluruh tenaganya dikerahkan untuk mengangkat toya tersebut.

Betul juga, kali ini toya tersebut memang berhasil terangkat olehnya, tapi baru terangkat satu depa lebih, dari bawah tanah seolah-olah muncul suatu daya hisap yang besar sekali, menyusul kemudian ..."Blaamm,"

Terdengar suara benturan nyaring.

Suara ledakan mana ternyata sempat menggetarkan seluruh ruangan tersebut, sehingga goncang amat dahsyat, bahkan secara lamat-lamat disertai pula dengan suara gemuruh.

Suara gemuruh itu amat dahsyat sekali.

Lok Khi menjadi sangat terperanjat.

Kendati-pun begitu, dia masih belum puas bila toya mana hanya terangkat satu depa belaka lalu tidak mampu di angkat lebih jauh, sambil tertawa dingin dia siap mengerahkan tenaga untuk mengangkatnya kembali.

Siapa tahu, di tengah suara gemuruh yang amat keras itulah, tiba-tiba patung baja dari It-teng taysu itu pelan-pelan bergeser ke samping kiri ...

Lok Khi sama sekali tak menyangka kalau patung besi itu bakal membalikkan tubuhnya, dia amat terkejut sambil berseru tertahan, cepat-cepat gadis itu mundur ke belakang dan menubruk ke dalam pelukan Wi Tiong-hong.

Wi Tiong-hong sendiri-pun amat terperanjat buru-buru dia memeluk tubuh Lok Khi yang menerjang tiba, lalu setelah mundur beberapa jangkah serunya kaget.

"Ke ... kenapa kau?"

Berada dalam pelukan anak muda itu, Lok Khi berkata kemalu-maluan.

"Ooooh .. hampir mati aku saking kagetnya."

Kali ini Wi Tiong-hong telah memeluk tubuhnya kencang-kencang, dia merasa sepasang payudara gadis itu amat empuk, hangat dan lembut, dua hati di balik dada-pun berdenyut sangat cepat.

Pemuda itu merasa agak terpesona, begitu pula dengan si nona, maka kedua orang itu-pun, saling berpelukan dengan mesra dan hangatnya siapa-pun enggan memisahkan diri.

Lambat laun, suara gemuruh hampir lirih dan akhirnya sama sekali terhenti.

Sambil berpelukan, kedua orang itu berpaling ke samping, ternyata patung besi itu sudah bergeser kesebelah kiri, sedang dinding batu tepat dihadapannya terbuka sebuah pintu berbentuk bulat, melongok ke dalam tampak di situ-pun merupakan sebuah ruangan istana yang gemerlapan.

Pelan-pelan Lok Khi melepaskan diri dari pelukan Wi Tiong-hong, kemudian dengan cepat merogoh ke dalam sakunya dan mengeluarkan sebuah bulatan bola berwarna perak.

"Cri ing."

Sekilas cahaya perak memancar bulat tersebut tahu-tahu sudah menjadi lurus, seperti sebilah golok panjang.

"Engkoh Hong, mari kita masuk,"

Katanya. Sekarang dia sudah tidak canggung lagi memanggil pemuda itu sebagai "engkoh Hong"

Bahkan tidak malu lagi.

Sebaliknya Wi Tiong-hong juga telah terbiasa dengan panggilan itu, dia tidak aneh pula.

Begitu mendengar seruan tersebut, dia-pun turut berjalan masuk ke dalam liang rahasia itu.

Ternyata tempat itu merupakan sebuah lorong rahasia, kedua belah dindingnya licin seperti cermin, setiap jarak satu kaki, terlihat sebutir mutiara sebesar buah kelengkeng memancarkan sinar lembut.

Lorong tersebut tidak terlalu panjang, dua orang berjalan bersama-pun cukup.

Belum berapa jauh, sebuah ruangan istana telah muncul di depan mata, dari balik ruangan itu terpancar ke luar cahaya terang yang amat menyilaukan mata.

Tempat itu merupakan sebuah ruangan batu bergaya istana, luasnya beberapa kaki dan mirip sekali dengan sebuah ruangan tamu, namun dekorasi mau-pun perabotnya sangat megah dan indah, tak kalah dengan kemewahan rumah seorang raja muda.

Suasana di situ amat sepi dan tak kedengaran sedikit suara-pun.

Wi Tiong-hong mau-pun Lok Khi belum pernah menyaksikan dekorasi yang begini indah dan mewah, untuk sesaat mereka berdiri tertegun.

Ketika menengok ke sisi kiri dan kanan ruangan tamu, masing masing terdapat sebuah pintu berbentuk bulat, ternyata batu kepala putih dipakai sebagai pintunya.

Di atas pintu terukir banyak sekali gambar Buddha, ukirannya hidup dan sangat indah.

Dengan perasaan terkejut bercampur curiga Wi Tiong-hong segera berseru.

"Aneh, sebenarnya siapakah yang berdiam disini?"

Lok Khi menyimpan kembali golok tipisnya lalu sambil tertawa berkata.

"Tentu saja tempat tinggal kau m hweeslo. Hhmm ... aku rasa Gho-tong bajingan gundul itu pasti belum pernah masuk ke mari. Kalau tidak, mungkin sedari dulu dia sudah berdiam di tempat ini."

Wi Tiong-hong manggut-manggut, setelah termenung sebentar dia berkata lagi.

"Aku rasa dia pasti mengetahui sedikit tentang tempat ini, ah, betul, lo Hong-tiang juga pasti tahu. Kalau tidak, Gho-tong hwesio tak akan bersekongkol dengan orang luar untuk mencelakai kakak seperguruannya."

"Tak usah berpikir yang bukan-bukan, mari kita periksa ruangan lebih dalam, entah apa yang bisa kutemukan dalam kedua ruangan lainnya?"

Dia lantas berjalan lebih dulu menuju ke pintu gua sebelah kiri, mendorong pintu kemala putih itu dan masuk.

Ruangan batu itu tidak begitu besar, tampaknya sebagai tempat tidur, namun dekorasi mau-pun perabotnya sangat indah, mewah dan megah, di tengah-tengah ruangan diletakkan sebuah pembaringan berukir yang sangat mempersonakan.

Di sisi kiri pembaringan dekat dinding terdapat pula sebuah lemari kayu, lemari itu di kunci dengan kunci emas kecil, tapi tidak berada dalam keadaan tergembok.

Dengan rasa ingin tahu Lok Khi melepaskan gembokan itu dan membuka almari tersebut.

Begitu di buka, ke dua orang muda mudi itu segera berdiri tertegun.

Ternyata almari tersebut terdiri dari empat lapis, setiap lapis tersimpan dua puluh macam lebih intan permata serta mutu manikam yang tak ternilai harganya.

Pokoknya setiap benda berharga yang ada di situ, hampir semua bernilai sangat tinggi.

Lok Khi yang menyaksikan kesemuanya itu, dengan kejut bercampur girang segera berseru.

"Engkoh Hong, entah darimana It-teng taysu berhasil mendapatkan mutiara dan intan permata yang tak ternilai harganya itu?"

"Mungkin dia mempunyai suatu kegemaran menyimpan benda-benda berharga ..."

"Mempunyai kegemaran menyimpan benda-benda berharga? "

Lok Khi tertawa cekikikan.

"enak benar kalau bicara, sudah pasti benda-benda itu berasal dari sumber yang tak jelas."

Sementara dia berbicara, matanya telah memandang ke atas sebuah kotak kecil dalam almari tersebut, dalam kotak tadi terdapat sepasang mainan terbuat dari batu kemala hijau.

Sepasang mainan tersebut bukan cuma berwarna hijau aneh dan bercahaya tajam, lagi-pula yang satu berukirkan naga yang lain berukirkan burung hong, namun ke dua-duanya tertera empat huruf yang berbunyi.

"Ing liong ho beng."

Mendadak Lok Khi mengambil benda itu sambil berkata.

"Setelah kita sampai disini, sudah sepantasnya kalau pulang tidak dengan tangan hampa, mari kita ambil sebuah sebagai tanda mata."

Dia mengambil satu dan memberikan yang lain kepada Wi Tiong-hong. Sebenarnya Wi Tiong-hong hendak mengatakan.

"Kalau toh kau menyukainya, ambil dan simpanlah untukmu."

Tapi setelah berpaling, ia baru menemukan wajah Lok Khi merah padam dan kepalanya tertunduk rendah-rendah, nampak sekali kalau dia merasa amat jengah.

Dengan cepat pemuda itu menyadari akan sesuatu, kontan paras mukanya turut pula berubah menjadi merah padam.

Sementara itu Lok Khi sudah membalikkan badan berjalan ke luar, sembari beranjak, dia berkata.

"Disini sudah tak ada apa-apa lagi, mari kita periksa isi kamar diseberang sana."

Wi Tiong-hong menundukkan kepalanya dan memandang mainan itu sekejap, kemudian disimpan dalam sakunya, setelah itu mengikuti Lok Khi mengundurkan diri dari ruangan batu dan menuju ke gua sebelah kanan.

Ruangan batu disana-pun sama besarnya dengan ruangan disebelah kiri, tampaknya tempat ini digunakan sebagai kamar baca.

Dalam rak buku banyak terdapat kitab-kitab Buddha di meja tersedia alat-alat tulis, sedangkan di tengahnya nampak sebuah kotak gepeng dari kayu merah.

Lok Khi memandang sekitar sana lalu menghampiri meja tulis, dibukanya kotak kayu itu sambil berseru.

"Engkoh Hong, cepat kau lihat."

Wi Tiong-hong tak tahu apa yang telah ditemukan gadis tersebut, dengan cepat dia memburu ke sana.

Ternyata isi kotak itu adalah kertas surat yang penuh dengan tulisan, hanya kertasnya sudah berwarna kuning, mungkin sudah dimakan jaman.

"Mungkin inilah tulisan tangan dari It-teng taysu?"

Bisik Lok Khi kemudian. Wi Tiong-hong mengangguk, mereka berdua bersama-sama membaca isi surat tersebut yang isinya antara lain berkata begini.

"Sejak kecil aku sudah menjadi pendeta di kuil Siau-lim-si. Karena amat disayang oleh guruku, selama dua puluh tahun aku melatih diri terus dengan tekun dan tak pernah meninggalkan barang selangkah-pun."

"Oleh karena aku adalah murid pertama dari angkatan "it"

Dalam Siau-lim-si, maka akulah yang berhak mendapatkan warisan kedudukan ciangbunjin perguruan."

"Tapi menurut peraturan aku harus turun gunung dan mencari pengalaman selama tiga tahun sebelum kembali ke kuil."

Ketika berbicara sampai disini, Lok Khi lantas berkata.

"Kalau dilihat dari tulisan tersebut, tampaknya dia memang It-teng taysu yang kau duga?"

Wi Tiong-hong tak menjawab, dia hanya manggut-manggut dan membaca isi surat itu lebih jauh.

"Setelah turun gunung, tampaknya dia belum tahu akan kelicikan dan bahayanya dunia persilatan. Karena salah dalam pergaulan akhirnya dia terpancing untuk menggabungkan diri dengan suatu organisasi rahasia, yakni perkumpulan Ban Kiam-hwee."

Membaca sampai di situ, Wi Tiong-hong ganti berseru tertahan, serunya keheranan.

"Ban-Kiam-hwee? Ternyata pada waktu itu-pun sudah terdapat perkumpulan Ban Kiam-hwee?"

"Aku dengar dari suhu, konon Ban Kiam-hwee sudah berdiri sejak seratus tahun berselang, katanya kiam cu mereka yang lampau memiliki ilmu silat yang sangat lihay, terutama sekali dalam ilmu pedang. Tiada tandingannya di kolong langit waktu itu."

Sambil berbicara, kedua orang itu membaca isi surat itu lebih jauh.

"Sampai pada akhirnya, It-teng taysu baru tahu kalau orang-orang Ban Kiam-hwee sudah lama mengincarnya, mendekatinya, memancing dan akhirnya menjebak, tujuan mereka adalah agar pengaruh Siau-lim-si turun temurun bisa berada di tangan mereka. Di samping mengincar pula ilmu pedang Tat m o hui kiam yang hanya diwariskan kepada murid pertama calon ketua partai Siau-lim. Ketua Ban kiam bwee memang pandai dalam ilmu pedang, dia sudah mengumpulkan hampir segenap ilmu pedang dari pelbagai perguruan, Tat mo hui kiam dari Siau-lim-si yang diciptakan oleh Tat mo cousu merupakan kepandaian paling top diantara tujuh puluh dua macam ilmu silat Siau-lim-pay, tak heran kalau dia selalu mengincarnya. Dalam gertakan, ancaman dan pancingan lawan, akhirnya dia persembahkan ilmu pedang Siau-lim-pay itu dan memperoleh kedudukan salah seorang dari delapan pelindung hukum perkumpulan Ban Kiam-hwee. Tapi sejak dia terjerumus ke dalam perkumpulan Ban Kiam-hwee, hatinya mulai menyesal, selain itu dia-pun kuatir bila jabatan ketua Siau-lim-pay sampai terjatuh ketangannya, hal ini justeru akan membahayakan perguruannya, maka diputuskan dia enggan menjadi ketua Siau-lim dan rela menjadi ketua dari kuil Pau-in-si ini. Sedang mestika yang tersimpan di ruangan ini, tak lain adalah benda berharga yang dikumpulkan selama puluhan tahun. Dan secara beruntun ketua dari Kun-lun-pay, Bu-tong-pay, Go-bi-pay dan Hoa-san-pay kena dikalahkan oleh seorang jago pedang berkerudung. Siapa orang itu? Dia adalah Kiamcu atau ketua dari perkumpulan Ban Kiam-hwee. Kendati-pun demikian, tak seorang manusia-pun yang pernah berjumpa dengan raut wajah ketua Ban Kiam-hwee yang sebenarnya, termasuk juga kedelapan orang pelindungnya. Membaca sampai disini, tanpa terasa Lok Khi berpaling seraya berkata.

"Engkoh Hong, menurut dugaanmu, siapa saja yang dia maksudkan sebagai kedelapan orang pelindung tersebut?"

"Entahlah,"

Wi Tiong-hong menggeleng. Lok Khi tertawa ringan.

"Aku pikir kedelapan orang itu sudah pasti adalah manusia-manusia ternama pada waktu itu,"

Katanya.

"kalau tidak, dengan mengandalkan ilmu silat Ban-Kiam-hwee cu, mana mungkin mereka diundang sebagai delapan pelindungnya?"

Wi Tiong-hong segera manggut-manggut.

"Ucapan adik memang benar, aku pikir, kemungkinan besar kedelapan orang itu adalah jago-jago lihay dari pelbagai perguruan besar."

"Itulah dia, aku-pun berpendapat demikian,"

Kata si nona seraya berpaling ke samping.

Pada dasarnya kedua orang itu memang berdiri sangat dekat, begitu si nona berbicara sambil berpaling, maka terenduslah bahu harum semerbak yang sangat aneh dari mulut gadis itu.

Wi Tiong-hong jadi tercengang, buru-buru dia menundukkan kepalanya rendah-rendah.

Selang berapa saat kemudian, mereka-pun membaca isi surat itu lebih lanjut.

"Ban Kiam-hwee cu dengan mengandalkan ilmu pedangnya malang melintang dalam dunia persilatan tanpa tandingan, entah dari mana memperoleh kabar, konon di perguruan Lamhay terdapat sebutir mutiara mestika yang dinamakan Ing-kiam-cu (mutiara pemancing pedang), benda tersebut merupakan satu-satunya benda yang sanggup menghadapi dirinya."

"Mutiara Ing-kiam-cu?"

Tanyanya.

"engkoh Hong, apa sih yang dimaksudkan dengan Ing-kiam-cu tersebut?"

"Sudah, jangan menukas dulu, asal kau baca isi surat itu lebih jauh, segala sesuatunya akan bakal diketahui."

Ing-kiam-cu dihasilkan di pulau Tong ya-to di lautan Selatan, batu gunung dari bulan itu memiliki daya magnet yang kuat, konon batu magnit tercebur ke laut dan ditelan tiram raksasa, di mana akhirnya batu itu berubah menjadi mutiara yang dapat dipakai untuk menahan senjata tajam.

"Waah, masa ada kejadian seperti ini?"

Gumam Lok Khi kemudian.

"ehm, jika aku berhasil mendapatkan Ing-kiam-cu tersebut, mutiara itu pasti akan aku bikin menjadi cincin yang dikenakan di atas jari, dengan begitu pelbagai macam senjata rahasia tak bakal bisa melukai aku, bukankah hal mana bagus sekali."

Sementara berbicara dia lantas mengulurkan tangannya sambil menggoyang-goyangkannya di depan.

Tiba-tiba sorot matanya membentur dengan cincin berwarna hitam di atas jari manis pemuda itu, lalu tanyanya dengan keheranan.

"Engkoh Hong, cincin apa sih yang kau kenakan itu?"

"Oooh, cincin ini disebut Ji-gi-huan, dipakai untuk menghadapi senjata rahasia."

Berbicara sampai disini, mendadak dia teringat kembali dengan pesan wanti-wanti paman tak dikenalnya.

Waktu itu pamannya berpesan agar ke dua batang cincin Ji-gi-huan tersebut jangan digunakan bilamana keadaan tidak mendesak, selain itu hanya cincin di tangan kanannya saja yang boleh digunakan, sedang cincin yang berada di tangan kirinya tak boleh dilepaskan setelah dikenakan olehnya.

Terdengar Lok Khi berseru dengan gembira.

"Ah, benar, cincin dipakai untuk menangkis senjata rahasia, suatu cara yang unik tapi jitu, bila ada waktu aku-pun akan membuat beberapa batang untuk dikenakan. Ah, betul, engkoh Hong, aku teringat sekarang kau adalah murid Thian Goan-cu dari Bu-tong-pay, dari suhuku aku pernah mendengar konon Thian Goan-cu berasal dari Siu-lo-bun, apakah ia pernah mengajarkan ilmu silat aliran Siu-lo-bun kepadamu?"

Wi Tiong-hong belum pernah bersua dengan Thian Goan-cu, untuk itu menjadi terbungkam dan tak sanggup menjawab barang sepatah kata-pun jua.

+++ Bab 26 SETELAH hening untuk berapa saat lamanya, Wi Tiong-hong mengalihkan pokok pembicaraan ke soal lain, katanya.

"Mari kita cepat lihat, bagaimana dengan It-teng taysu selanjutnya ...?"

Lok Khi tidak berani berbicara lagi, selesai membaca halaman pertama, mereka membaca halaman kedua ...

Selama ini perguruan Lam-hay bun termashur karena ilmu silatnya yang sangat aneh, anggota perguruan mereka-pun jarang sekali melakukan perjalanan di dunia persilatan, sebab itu kebanyakan jago persilatan hanya pernah mendengar nama tak pernah berkunjung ke Lam-hay.

Setelah Ban Kiam-hwee mengetahui kalau Ing-kiam-cu merupakan satu-satunya benda yang bisa menandinginya, sudah barang tentu tak akan melepaskan mestika tersebut dengan begitu saja.

Tak lama kemudian dia memilih ratusan orang jago pedang dan membawa kedelapan orang-orang pelindungnya berangkat ke Lam-hay.

Dalam pertarungan tersebut, kedua belah pihak sama-sama jatuh korban, segenap jago yang dibawa Ban Kiam-hwee cu telah punah tak berbekas, cuma ada tiga orang yang pulang dengan membawa luka.

Ban Kiam-hwee cu sendiri-pun terkena pukulan Thian hui ciang lawan, tak lama kemudian dia mati karena lukanya.

Yang betul-betul beruntung bisa pulang dengan selamat hanya aku, Tau Pek-li dan Ciang Lam-san bertiga, tapi aku-pun menjadi cacad karena kaki kiriku terluka parah dalam pertarungan mana ...

Membaca sampai di situ tanpa terasa Lok Khi mendongakkan kepalanya seraya berkata.

"Engkoh Hong, bukankah Tau Pek-li adalah Thi Pit-teng kan kun (Pena baja yang memenangkan jagad) pendiri dari perkumpulan Thi-pit-pang? Dia adalah ayah angkat Ting Ci-kang, ternyata orang itu adalah pelindung hukum dari Ban Kiam-hwee ... lantas siapa pula yang disebut Ciang Lam-san tersebut?"

Anak muda tersebut tidak berbicara, dia membaca lebih jauh.

"Setelah terjadinya peristiwa itu, ia lantas bertobat dan memahami semua kesalahan yang pernah dilakukannya dahulu. Setelah pikiran kemaruk hilang, pikiran menjadi terang dan gua batu itu-pun segera ditutup. Ia sengaja meninggalkan surat yang bertuliskan pengalamannya karena dia berharap generasi yang akan datang bisa turut mengetahui. Kendati-pun bisa mengumpulkan banyak harta kekayaan, toh sewaktu, pulang ke alam baka tak bisa membawa apa-apa. Inilah contoh yang paling baik bagi anggota perguruannya yang kemaruk akan harta. Di bawah surat tertulis tanda tugasnya.

"Ditulis oleh. It-teng."

Sambil menutup kembali kotak surat itu. Lok Khi berpaling seraya berkata.

"Dalam dunia persilatan, It-teng taysu mempunyai reputasi yang cukup baik, semua orang mengatakan dia adalah pendeta agung dari Siau-lim-si, tapi tiada seorang-pun yang tahu bahwa sesungguhnya dia adalah anggota perkumpulan Ban Kiam-hwee, dan anehnya mengapa dia harus menulis pengalamannya itu agar semua orang mengetahui rahasianya itu?"

Wi Tiong-hong berpikir sejenak, kemudian menjawab.

"Mungkin sebelum dia menulis riwayat hidupnya, pendeta itu merasa malu pada diri sendiri dan amat menyesal, siapa tahu dia beranggapan jika riwayat hidupnya tidak ditulis, hal mana kurang menunjukkan rasa sesalnya?"

"Oooh engkoh Hong, kalau begitu tak salah lagi."

Tiba-tiba Lok Khi berseru.

"Sudah pasti Hong-tiang tua mengetahui rahasia di tempat ini. Sedang Gho-tong si bajingan gundul itu merebut kedudukkan Hong-tiang, karena dia-pun sedang mengincar harta kekayaan tersebut."

"Benar,"

Sahut Wi Tiong-hong dengan kening berkerut.

"Gho-tong si keledai gundul itu sudah bersekongkol dengan pihak selat pasir beracun, sudah pasti Hong-tiang tua terbunuh olehnya."

"Coba lihat tampangmu itu."

Lok Khi tertawa ringan.

"mereka sama-sama saudara seperguruan saling bunuh membunuhi apa sih urusannya dengan kau? Mengapa kau turut marah-marah?"

Kemudian dengan kening berkerut dia berbisik lagi.

"Engkoh Hong, mungkin saat ini hari sudah malam, perutku lapar sekali, kau merasa lapar tidak?"

Kalau gadis itu tidak menyinggung Wi Tiong-hong masih melupakan soal itu, tapi begitu disinggung kembali, betul juga, dia merasakan perutnya lapar sekali.

Tanpa terasa ia memandang sekejap ke arah si nona, lalu katanya dengan nada minta maaf.

"Lebih baik kita ke luar dari sini lebih dahulu, baru kemudian mencari akal."

Pelan-pelan Lok Khi menjatuhkan diri ke dalam pelukan pemuda itu, kemudian sambil mendongakkan kepalanya dia berkata dengan manja.

"Engkoh Hong, sejak kecil sampai besar, baru aku ketahui bahwa menahan lapar adalah suatu peristiwa yang paling menyiksa badan, aku pikir, bila kita harus menahan lapar sampai besok. Sudah pasti esok lebih menderita daripada hari ini. Daripada kita berdua sama-sama sengsara, lebih baik bunuhlah aku dengan pedangmu, kemudian makanlah dagingku. Kita berdua akan selalu bersatu untuk selamanya, aku tak akan membencimu ..."

"Haaaahh ... haaahh ... haaahh ..."

Tiba-tiba Wi Tiong-hong mendorong tubuh Lok Khi dan tertawa terbahak-bahak.

"aku benar-benar berotak bebal dan lamban untuk berpikir ..."

Lok Khi tidak menduga sampai kesitu, ia kena didorong sampai mundur beberapa langkah dengan sempoyongan, serunya dengan wajah tertegun.

"Engkoh Hong, kau tidak menyukai diriku?"

Sewaktu mendorong si nona tadi, Wi Tiong-hong sama sekali tak berperasaan apa-apa, dia baru sadar akan kesilafannya itu, tanpa terasa merah padam selembar pipinya, buru-buru dia berseru.

"Maaf adikku, aku kelewat gembira sehingga hampir saja membuatmu terjerambab."

"Engkoh Hong, persoalan apakah yang membuatmu kelewat gembira?"

Tegur Lok Khi dengan mata terbelalak lebar-lebar. Kembali Wi Tiong-hong tertawa terbahak-bahak.

"Haahh, haah ... haah ... bila kau tidak menyinggung soal pedang, hampir saja aku melupakan pedang mestika milikku ini."

"Cri ing."

Ia segera mencabut ke luar pedang berkaratnya yang sama sekali tak sedap dipandang itu, kemudian ditusukkan di atas tanah.

Betul juga, permukaan tanah yang terdiri dari batu gunung keras dan kuat itu segera tertusuk tembus tanpa meninggalkan sedikit suara-pun.

"Sudah kau lihat,"

Kata Wi Tiong-hong sambil menengok ke arah si nona.

"meski pedangku ini nampaknya berkarat dan tumpul, sesungguhnya tajam sekali, bayangkan sendiri walau-pun pintu batu itu amat tebal, apakah pintu itu sanggup menahan pedang mestikaku ini?"

Wajah Lok Khi segera berseru.

"Betul, aku-pun hampir melupakan hal ini, tempo hari kau-pun pernah menggunakan pedang ini untuk mematahkan pisau terbang Hwee-hong-to milik gu ... guu ..."

Tanpa sengaja gadis itu telah salah berbicara dengan mengucapkan kata "Gu"

Sebetulnya ia hendak bilang "pisau terbang Hwee-hong-to milik guruku", tapi untung saja ia segera sadar akan kesilafannya dan cepat-cepat memperbaiki kesalahan tersebut.

Ternyata Lok Khi adalah murid Thian Sat-nio, namun hingga kini si nona masih tak ingin Wi Tiong-hong mengetahui riwayatnya.

Padahal saat itu Wi Tiong-hong sedang bergembira, bagaimana mungkin ia bisa memperhatikan nada pembicaraan orang?

Sambil meloloskan pedangnya, pemuda itu lantas berseru.

"Mari kita segera ke luar, adikku."

Mereka berdua segera meninggalkan ruang belakang, baru saja berjalan ke luar dari lorong, mendadak terdengar suara gemerincing nyaring patung besi dari It-teng taysu itu secara otomatis telah bergerak kembali dan bergeser ke posisi yang semula.

Tampaknya alat rahasia tersebut benar-benar amat hebat pembuatannya, asal orang yang masuk ke lorong rahasia sudah mengundurkan diri dari tempat itu, secara otomatis patung besi mana bergeser kembali ke tempatnya semula.

Wi Tiong-hong dengan pedang terhunus langsung menerjang ke pintu gerbang ruangan.

Buru-buru Lok Khi mengambil kembali rambut palsu dan topeng kulit manusia miliknya dari tanah, kemudian serunya.

"Engkoh Hong, tunggu dulu, aku akan mengenakan ini lebih dulu baru kita sama-sama mendobrak pintu."

Sambil berkata dengan cepat dia mengenakan kembali topeng kulit manusia serta rambut palsunya, kemudian langsung berjalan menghampiri Wi Tiong-hong.

Tapi pada saat itulah dari luar pintu gerbang secara lamat-lamat kedengaran suara gemerincing nyaring, tampaknya ada orang sedang membuka pintu tersebut.

"Engkoh Hong, tunggu sebentar,"

Buru-buru Lok Khi berseru.

"tampaknya ada orang membuka pintu?"

Suara tersebut tentu saja didengar juga oleh Wi Tiong-hong, pelan-pelan dia mundur ke belakang lalu mengangguk.

"Benar, suara tersebut memang suara orang melepaskan gembokan di muka pintu."

"Aku rasa Gho-tong si keledai bangsat itu tak mungkin datang menghantar makanan buat kita bukan?"

Kata Lok Khi lagi sambil berpaling dan tertawa.

"Blaaammm ..."

Tiba-tiba pintu terbuka lebar, seorang lelaki berbaju biru telah berdiri tegak di depan pintu. Terdengar orang itu mendengus dingin, kemudian berkata.

"Kukira disini telah dipasangi alat rahasia yang amat lihay, tak tahunya cuma dua belah pintu batu yang berat saja ..."

Mendadak sorot matanya membentur wajah Wi Tiong-hong, ia nampak seperti tertegun kemudian dengan suara dingin serunya lagi.

"Jadi kau belum mampus?"

Dalam pada itu, Wi Tiong-hong juga sudah melihat jelas wajah pendatang itu, ternyata dia tak lain adalah pemuda berbaju biru yang pernah dijumpai di luar kota Seng-siau tempo hari, dan mengaku sebagai Lan-san-gin-san (kipas perak baju biru) tersebut.

Kontan rasa mendongkolnya muncul kembali, setelah mendengus dingin, serunya.

"Hmmm, jarum beracun dari keluarga Lan."

Sebetulnya dia hendak bilang begini.

"Jarum beracun dari keluarga Lan masih belum mampu berbuat apa-apa terhadap diriku, nyatanya aku toh tetap sehat walafiat?"

Tapi baru saja berbicara sampai di setengah jalan, mendadak ia menyaksikan pula seseorang berdiri tak jauh di belakang pemuda berbaju biru itu.

Orang itu tak lain adalah si nona berbaju hijau yang menghantar obat penawar racun baginya itu.

Tanpa terasa ia menjadi tertegun, andaikata tiada obat penawar pemberian gadis tersebut, niscaya dia sudah mati keracunan.

Itulah sebabnya kata-kata selanjutnya rikuh dilanjutkan.

Setelah terhenti sesaat, dia-pun berkata lagi.

"Aku tak sampai tewas oleh perbuatan kejimu itu apakah kau merasa di luar dugaan?"

"Tempo hari kau tak sampai mampus, bila hari ini kutambahi dengan sebuah tusukan jarum lagi, bukankah urusan akan beres?"

Tiba-tiba Lok Khi menyelinap ke depan sambil bertanya.

"Jadi kau yang telah mencelakai engkoh Hong dengan jarum beracun keluarga Lan tempo hari?"

Agak tertegun juga pemuda berbaju biru itu tatkala dihadapannya mendadak muncul seorang gadis yang bertampang sangat jelek. Segera tegurnya keheranan.

"Siapa kau?"

"Hmmm, jangan perduli siapakah aku? Aku adalah adik misannya."

Tiba-tiba pemuda berbaju biru itu mendongakkan kepalanya lalu tertawa terbahak-bahak.

"Hei, apa yang kau tertawakan? "

Lok Khi segera menegur sambil mendengus marah. Pemuda berbaju biru itu berhenti tertawa, ditatapnya si nona berbaju hijau yang berdiri di belakangnya, lalu menjengek.

"Adik misan ..."

Gadis berbaju hijau itu bersikap dingin, ia berdiri disana tanpa ambil perduli terhadap ucapan pemuda tersebut, hanya sepasang matanya yang jeli mengawasi wajah Lok Khi berapa kejap, lalu melirik pula ke arah Wi Tiong-hong, kemudian dia membalikkan badan dan pergi meninggalkan tempat itu.

Buru-buru pemuda berbaju biru itu membalikkan badannya pula sambil berseru tertahan.

"Piau moay, kau ..."

"Hei, berhenti kau? "

Bentak Lok Khi keras-keras.

"Mau apa kau?"

"Barusan, apa yang kau tertawakan? sebelum kau jelaskan, jangan harap bisa pergi meninggalkan tempat ini."

"Haaah, haaah, haaah, apa yang kutertawakan, apa urusannya dengan dirimu?"

Kembali Lok Khi mendengus.

"Hm, kau mempunyai adik misan yang cantik, lantas mentertawakan tampangku yang jelek? Hmm. Sudah pasti kau adalah lelaki hidung bangor yang tak tahu malu, bila nona tidak memberi pelajaran kepadamu hari ini, tentu kau anggap orang persilatan semuanya jeri terhadap keluarga Lan kalian."

Begitu selesai berkata, tiba-tiba dia mengayunkan tangannya ke depan menghadiahkan sebuah tamparan ke wajah pemuda berbaju biru itu.

Sebetulnya si nona berbaju hijau itu sudah pergi meninggalkan tempat itu, akan tetapi setelah mendengar perkataan terakhir dari Lok Khi begitu berkata turun tangan lantas turun tangan, bahkan serangan tersebut datangnya begini cepat.

Buru2 dia mengegos ke samping meloloskan diri dari serangan Lok Khi, kemudian dengan kening berkerut serunya petuh kegusaran.

"Budak, kau ..."

Belum sempat kata "pingin mampus"

Diutarakan serangan berikutnya telah meluncur datang.

Lok Khi membalikkan badannya secepat kilat, telapak tangannya kembali diayunkan ke muka menampar pipi anak muda tersebut, serunya sambil tertawa ringan.

"Kau tak akan bisa menghindar."

"Plook."

Sebuah tamparan bersarang telak di atas wajah lawan.

Mimpi-pun pemuda berbaju biru itu tak mengira kalau gadis bertampang jelek yang berada dihadapannya ini memiliki gerakan tubuh sedemikian cepatnya, tanpa terasa dia bergeser setengah langkah ke kiri.

Apa yang terjadi dengan cepat mengobarkan hawa pembunuhan di wajah anak muda tersebut, sambil membentak ia mencabut ke luar kipas peraknya dari saku, kemudian bersiap siaga melancarkan tubrukan.

"Piauko, tunggu sebentar?"

Tiba-tiba gadis berbaju hijau itu berseru keras. Dengan wajah tertegun pemuda berbaju biru itu menghentikan langkahnya, lalu bertanya seraya berpaling.

"Ada apa?"

"Aku hendak bertanya kepadanya."

"Lebih baik kubekuk orang itu lebih dulu, kemudian baru kau tanyai."

Sementara itu Lok Khi sudah kembali ke samping Wi Tiong-hong, mendengar ucapan mana, ia segera tertawa dingin.

"Hehehehehehe ... dengan mengandalkan sedikit kepandaianmu itu, kau hendak membekuk aku?"

Di pihak lain, gadis berbaju hijau itu-pun sedang berseru dengan gemas.

"Aku hendak bertanya kepadanya atau tidak, tak usah kau campuri, mengerti?"

Sambil berkata, dengan langkah lemah gemulai dia berjalan menghampiri Lok Khi.

"Sebenarnya ada persoalan apa yang hendak kau bicarakan dengan diriku?"

Tanya Lok Khi kemudian sambil mengerdipkan matanya. Nona berbaju hijau itu menatap wajah Lok Khi tajam-tajam, kemudian tanyanya.

"Bukankah kau menggunakan topeng kulit manusia?"

"Sejak dilahirkan aku sudah bertampang demikian, buat apa meski mengenakan topeng?"

Sahut Lok Khi seraya berpaling.

Gadis berbaju hijau itu menatap sejenak ke wajah Wi Tiong-hong, lalu menatap pula wajah Lok Khi, dia tak percaya kalau seorang pemuda tampan bisa mempunyai adik misan yang berwajah begitu jelek.

Tanpa terasa ia mendengus dingin.

"Hmmm, aku tidak percaya."

"Hmmm, siapa yang suruh kau percaya?"

Lok Khi mendengus pula.

"Aku ingin menyaksikan raut wajah aslimu."

"Sekali-pun aku pakai topeng kulit manusia, apa urusannya dengan dirimu?"

"Sudah kubilang aku hendak melihatnya, aku tetap akan melihatnya."

"Dengan cara apa kau hendak melihatnya?"

Nona berbaju hijau itu menjengek sinis.

"Kau anggap aku tak bisa mencopot topeng kulit manusia yang kau kenakan itu?"

Lok Khi segera mencibirkan bibirnya yang tebal dan menuding ke wajah sendiri, serunya.

"Hmm, kalau memang begitu, ayo cobalah."

"Kau anggap aku tak berani?"

Tiba-tiba ia bertekuk pinggang, menyusul ucapan mana tubuhnya segera menubruk ke arah Lok Khi, gerakannya aneh, cepat dan enteng, hanya tampak bayangan hijau berkelebat lewat, tahu-tahu orangnya sudah melayang tiba sementara tangannya menyambar wajah Lok Lhi dengan kecepatan bagaikan sambaran kilat.

"Hmmm, kau benar-benar sudah sudah bosan hidup,"

Dengus Lok Khi.

Telapak tangan kanannya setajam golok langsung dibacokkan ke tubuh gadis berbaju hijau itu.

Sungguh cepat gerakan tangan kedua nona itu, baru saja jari tangan nona berbaju hijau itu menyentuh kulit wajah Lok Khi, tangan kanan Lok Khi telah menyambar pula dada si nona berbaju hijau itu dengan sangat cepat.

Peristiwa ini membuat Wi Tiong-hong merasa amat terperanjat buru-buru ia menarik tangan Lok Khi seraya berseru cemas.

"Adikku, jangan kau lukai dia."

Padahal sekali-pun tidak ditarik, si nona berbaju hijau yang sedang menerjang ke hadapan Lok Khi itu tetap tidak merubah gerakan tangan kanannya, sementara tangan kirinya secepat sudah menangkis tangan kanan Lok Khi.

Berbareng itu pula tangan kiri Lok Khi telah membalik mencengkeram pergelangan tangan kanan si nona berbaju hijau yang menyambar tiba, tapi berhubung Wi Tiong-hong menarik tangan Lok Khi, akibatnya sama-sama kedua belah pihak sama-sama mengenai sasaran kosong.

Begitu cengkeramannya mengenai sasaran kosong, tanpa terasa sepasang mata si nona berbaju hijau yang jeli itu mengerling sekejap ke arah Wi Tiong-hong, menyusul kemudian tubuhnya menerjang maju lagi ke depan, tangan kanannya diayunkan ke depan menciptakan selapis bayangan jari tangan dan mengancam jalan darah penting di tubuh Lok Khi.

Diam-diam Wi Tiong-hong berkerut kening sesudah menyaksikan kejadian tersebut, tanpa terasa pujinya di dalam hati.

"Kepandaian silat yang dimiliki nona ini benar-benar luar biasa hebatnya ..."

Lok Khi tidak melancarkan serangan balasan kali ini, dia hanya melompat dan menyingkir ke samping.

Agaknya gadis berbaju hijau itu merasa amat mendongkol, sambil tertawa dingin sepasang tangannya melancarkan serangan bersama, bayangan tangan membumbung berlapis-lapis di angkasa, seperti bidadari yang sedang menyebar bunga saja.

Tampak Lok Khi menggerakkan sepasang bahunya sambil berkelit beberapa kali, ternyata ia berhasil menghindarkan diri dari kepungan angin pukulan si nona berbaju hijau yang berlapis-lapis.

Dalam sekejap mata gadis berbaju hijau itu sudah melancarkan tiga buah serangan berantai, jurus serangan yang satu lebih hebat daripada serangan berikutnya, namun semuanya berhasil dihindari lawan.

Sadar kalau menghadapi musuh yang tangguh tanpa terasa ia menghentikan gerakan serangannya, lalu menegur dingin.

"Mengapa kau tidak membalas?"

"Tidakkah kau dengar, piaukoku melarang aku melukai dirimu?"

"Hm, penurut amat kau dengan perkataannya?"

Dengus gadis berbaju hijau itu.

"Apakah kau tidak menuruti perkataan piaukomu?"

Lok Khi balas menggoda sambil tertawa.

Merah padam selembar wajah nona berbaju hijau itu karena jengah, dari balik matanya yang jeli terpancar ke luar sinar cahaya kegusaran dan sambil mendepak kakinya berulang kali, dia berseru dingin.

"Aku bersumpah hendak mencopot kulit wajahmu itu."

Sambil melompat ke depan, ia lepaskan sebuah pukulan dahsyat. +++ "MANUSIA yang tak tahu diri."

Lok Khi berseru pula dengan gusar.

"kau anggap aku takut kepadamu?"

Tangan kanannya diayunkan pula ke depan menyongsong datangnya ancaman tersebut.

"Blaaam."

Ketika sepasang telapak tangan saling beradu, segera terjadilah suara benturan keras yang memekikkan telinga, pusaran angin berpusing memancar ke empat penjuru, kedua belah pihak sama-sama tergetar mundur selangkah.

Tatkala Wi Tiong-hong menyaksikan kedua orang gadis itu sama-sama mengumbar nafsu dan kedua belah pihak sama-sama tak mau mengalah, ia merasa salah, mendadak sorot matanya menangkap sesuatu, buru-buru teriaknya.

"Piau moay, cepat tahan, ada orang datang."

Begitu mendengar "ada orang datang", Lok Khi mau-pun gadis berbaju hijau itu sama-sama berpaling ke arah luar pintu.

Pemuda berbaju biru yang semula memperhatikan pertarungan antara dua orang gadis itu dengan kipas perak terganggam di tangan-pun, kini turut berpaling pula dengan cepat.

Dari luar ruangan tampak ada dua orang manusia sedang berjalan mendekat.

Baca Juga: Pendekar Super Sakti Kho Ping Hoo

Baca Juga: Pusaka Gua Siluman 7

Cari Blog Ini

Diberdayakan oleh Blogger.

Parnert