Ceritasilat Novel Online

Pedang Berkarat Pena Beraksara 5

Eps 5 Pedang Berkarat Pena Beraksara - Tjan ID

Baca online Pedang Berkarat Pena Beraksara - Tjan ID

Cersil Pedang Berkarat Pena Beraksara - Tjan ID.

Orang yang berjalan di depan adalah seorang sastrawan setengah umur yang mengenakan baju hijau, usianya antara tiga puluh tahunan, berwajah tampan, bersih tanpa kumis dan kelihatannya lemah lembut macam orang terpelajar.

Mengikuti di belakangnya berwajah licik, penuh senyuman tengik dan bersikap amat menghormati dia tak lain adalah Gho-tong hwesio, Hong-tiang baru dari kuil tersebut.

Begitu melihat kemunculan Gho-tong hwesio, Lok Khi kembali mendongkol segera teriaknya.

"Bagus sekali, keledai bangsat itu datang menghantar kematiannya, akan kubekuk batang lehernya."

Selesai berkata, dia siap menerjang ke muka.

"Adikku, tunggu dulu,"

Buru-buru Wi Tiong-hong mencegah.

"Kenapa?"

"Tunggu saja sampai mereka masuk kemari,"

Bisik Wi Tiong-hong lirih.

Sementara pembicaraan masih berlangsung, ke dua orang di luar ruangan itu sudah melewati pelataran dan melangkah masuk ke dalam pintu.

Sastrawan berbaju hijau yang berjalan di depan itu segera memandang sekejap seputar ruangan, kemudian tanyanya sambi berpaling.

"Hanya ke empat orang ini?"

Buru-buru Gho-tong hwesio membungkukkan badannya memberi hormat, lalu sambil menuding pemuda berbaju biru dan nona berbaju hijau itu, bisiknya lirih.

"Ke dua orang itu."

"Benar, kamilah yang datang mencari gara-gara, apa kalian?"

Pemuda berbaju biru itu segera menjawab dengan lantang. Sastrawan berbaju hijau itu hanya memandang sekejap ke arahnya tanpa menggubris, kembali tanyanya kepada Gho-tong hwesio.

"Dan kedua orang yang lain?"

Tentu saja yang dimaksudkan adalah Wi Tiong-hong dan Lok Khi. Gho-tong hwesio segera berkata.

"Mereka datang mencari suhengku, tapi siau ceng telah menyekap mereka di dalam ..."

Belum sampai Gho-tong hwesio menyelesaikan perkataannya, sastrawan berbaju hijau itu telah mengalihkan sorot matanya ke wajah pemuda berbaju biru, tanyanya kemudian.

"Secara beruntun kau telah melukai banyak anggota kuil kami, dari mana kau datang?"

"Hmm ... kebetulan aku-pun ingin bertanya kepadamu, saudara datang dari mana?"

Balas pemuda berbaju biru itu sambil tertawa dingin. Sastrawan berbaju hijau itu tersenyum.

"Oooh ... kau datang mencari tempat kuburan It-teng taysu, tentu saja kedatanganmu bertujuan ..."

Diam-diam Wi Tiong-hong mengangguk, tanpa terasa dia mengalihkan sinar matanya kewajah Lok Khi, seakan-akan sedang berkata begini.

"Betul tidak? Ternyata mereka datang karena suatu tujuan dan sama sekali tak ada hubungannya dengan kita."

Sementara itu, pemuda berbaju biru tersebut telah mendengus.

"Hmmm, datang karena suatu tujuan atau tidak, rasanya kau belum berhak untuk mencampurinya."

Perkataan ini ada benarnya juga, apa kedudukan orang itu dalam kuil Pau-in-si? Sastrawan berbaju hijau itu tetap tersenyum sahutnya.

"Padahal aku-pun tak usah bertanya kepadamu."

"Apa maksud dari perkataan itu?"

Lok Khi tak sabar dibuatnya, sambil berpaling dia segera berseru.

"Piauko, biarlah mereka membicarakan soal mereka, sedang kita hajar dulu keledai gundul ini kemudian pergi mencari makanan."

Wi Tiong-hong ingin mencegah tapi tak sempat lagi, tampak gadis itu melompat ke depan langsung menerjang ke arah Gho-tong hweesio.

Gerakan Lok Khi sewaktu melompat dan menerjang ke depan ini dilakukan dengan kecepatan bagaikan sambaran kilat, tahu-tahu ia sudah muncul dihadapan Gho-tong hweesio, belum lagi kakinya menempel tanah, tangannya sudah mencengkeram bahu lawan.

Sastrawan berbaju hijau itu sama sekali tidak memandang ke arahnya, dia hanya mengebaskan ujung bajunya sambil berseru dengan suara dalam.

"Bocah perempuan, tenang saja, jangan gelisah."

Ilmu silat yang dimiliki Lok Khi berasal dari ajaran Thian Sat-nio, tentu saja dia sangat tangguh dan bukan manusia sembarangan tatkala tubuhnya menerjang ke muka tadi, kendati-pun dia sudah mengetahui kalau sastrawan berbaju hijau itu mengebaskan ujung bajunya, tapi lantaran gerakannya lamban, tentu saja dia enggan menghindarkan diri dengan begitu saja.

Siapa tahu, pada saat itulah tiba-tiba ia merasakan munculnya segulung tenaga pukulan tak berwujud yang menumbuk ke atas tubuhnya tanpa menimbulkan sedikit suara-pun.

Bukan begitu saja, bahkan tenaga tak berwujud itu sempat menggulung badannya, melemparkannya ke belakang sehingga terjatuh kembali keposisi semula.

Tindakannya ini sungguh lihay dan luar biasa, orang luar yang tak tahu kejadian sebenarnya tentu mengira Lok Khilah yang mengurungkan gerakannya di tengah jalan dan melompat balik.

Padahal Lok Khi merasa terperanjatnya bukan kepalang, begitu berdiri tegak buru-buru ia menghimpun tenaganya melakukan pemeriksaan yang seksama, masih untung ia tak terluka, namun perasaan terkesiap betul sudah mencekam dadanya.

"Siapakah orang ini?"

Demikian ia berpikir.

"mengapa kepandaian silat yang dimilikinya begitu lihay? Tampaknya tidak berada di bawah kepandaian Toa suko."

Kendati-pun di hati kecilnya ia terkesiap, namun di luar ia segan tunduk dengan begitu saja. Setelah mendengus serunya.

"Aku datang mencari balas dengan bajingan gundul ini, apa sangkut pautnya dengan kau? Kau ingin menghalangi niatku? Hmm, tak ada salahnya kalau nona mencoba lebih dulu kepandaian silatmu ..."

"Kalian berdua lebih baik berdiri dulu di situ,"

Kata sastrawan berbaju hijau itu dengan suara dalam.

"Sehabis berbicara dengan mereka, tentu saja aku-pun akan menanyai kalian."

Meski usianya belum tua, namun cara berbicara serta gayanya benar-benar besar tingkahnya.

Pemuda berbaju biru itu menjengek sinis, dia menyentilkan jari tangannya ke muka, tiga gulung cahaya biru selembut rambut segera meluncur ke depan dan menghantam dada sastrawan berbaju hijau itu dengan kecepatan bagaikan sambaran kilat.

Sastrawan berbaju hijau itu seolah-olah tidak merasakan apa-apa, tiga batang jarum terbang berwarna biru itu dengan posisi segitiga langsung menerjang jalan darah Sian-ki-hiat di depan dada dan ciang-tay-hiat di kiri kanan dada.

Tapi anehnya ternyata pakaian yang dikenakan sastrawan itu sudah menggelembung besar, tatkala ia menggetarkan badannya, ketiga batang jarum beracun itu sudah rontok ke tanah.

+++ Bab 27 SASTRAWAN berbaju hijau itu mencibir sinis, dia memandang sekejap seputar arena lalu katanya setelah tertawa dingin.

"Apa hubungan kalian berdua dengan Lan Sim-hu? Dengan mengandalkan berapa batang jarum beracun keluarga Lan, kau anggap sanggup melukai aku ...?"

Gadis berbaju hijau itu mendengus dingin.

"Hmm, kau tak lebih hanya mengandalkan pakaian terbuat dari kulit, apanya yang aneh?"

Sementara itu, pemuda berbaju biru tersebut sudah menegangkan kipas peraknya, lalu sambil tertawa nyaring berkata.

"Aku adalah Lan Kun-pit dari Im lam, kalau didengar dari lagakmu tampaknya hebat, entah bagaimana dengan kepandaian silatnya?"

Mencorong sinar tajam dari balik mata sastrawan berbaju hijau itu, sambil menuding ke dua orang itu, katanya sambil tersenyum.

"Seandainya kalian bisa menyambut tiga jurus seranganku, malam ini juga aku akan melepaskan kalian."

"Sambut dulu tiga jurus seranganku ini,,"

Tukas si nona berbaju hijau itu cepat.

Tubuhnya melejit sambil menerjang ke muka, tangan kirinya diayunkan cepat ke depan belum lagi tubuhnya tiba di sasaran, jari tangannya sudah melentik melepaskan serangan mengancam tiga buah jalan darah penting di tubuh sastrawan berbaju hijau itu.

Berubah hebat paras muka sastrawan berbaju hijau itu, bahu kanannya bergerak mengegos ke samping, langkahnya tetap di tempat sementara lututnya tanpa membengkok, tahu-tahu dia sudah meloloskan diri dari sergapan kilat dari gadis berbaju hijau itu.

Kemudian sambil menatap gadis lekat-lekat, bentaknya dengan suara dalam.

"ilmu naga sakti pemotong nadi, ehm ... kau adalah murid Lam-hay-bun ...?"

Lok Khi turut tertegun setelah mendengar orang itu mengatakan kalau nona berbaju hijau itu murid Lam-hay-bun, diam-diam pikirnya.

"Tak heran kalau gerakan tubuhnya begitu aneh sewaktu bertarung melawan diriku tadi, seandainya aku tidak mengandalkan ilmu Hiat im kiu coan sin hoat dari perguruanku niscaya sulit untuk menghindarkan diri ..."

Berpikir sampai di situ, tanpa terasa ia berpaling dan menengok ke arah Wi Tiong-hong.

Tampak Wi Tiong-hong sedang menatap ke arah gadis berbaju hijau itu dengan terpesona, kontan hatinya menjadi mendongkol, setelah mendengus pikirnya.

"Kau menganggap dia cantik bukan? Huuh ... dasar siluman rase."

Sementara itu, gagal dengan serangannya nona berbaju hijau itu maju dan menerjang ke depan, serunya dingin.

"Perduli amat aku murid siapa?"

Sepasang tangannya kembali diputar menciptakan selapis bayangan jari tangan yang luar biasa, bagaikan gelombang samudra saja langsung mengurung ke muka.

Gerakan serangannya begitu aneh dan mengerikan, diantara perputaran jari tangannya dia sudah mengancam jalan darah penting di tubuh sastrawan berbaju hijau itu, selain enteng dan lincah, juga jarang dijumpai di kolong langit.

Sastrawan berbaju hijau itu segera memutar lengan kanannya melancarkan sebuah pukulan yang memaksa gadis berbaju hijau itu mundur selangkah ke belakang, kemudian sambil tertawa terbahak-bahak katanya.

"Haaahh haaahhh ... haaahhh, bila kalian berdua benar benar adalah murid Lam-hay-bun, malam ini kamu berdua tak bisa di lepaskan dengan begitu saja."

Sejak kecil gadis berbaju hijau itu sudah terbiasa dimanja, belum pernah ia dipermainkan orang atau dipandang rendah orang lain, dipukul mundur orang dalam satu gebrakan-pun baru pertama kali ini dialaminya, tanpa terasa merah sepasang matanya, air mata hampir jatuh berlinang.

Mendadak tanpa mengucap sepatah kata-pun dia menerjang ke muka, sepasang tangannya digunakan bersama melancarkan serangkaian serangan dahsyat.

Lan Kun-pit atau pemuda berbaju biru itu cukup menyadari betapa lihaynya ilmu silat yang dimiliki sastrawan berbaju hijau, dia kuatir adik misannya menderita kerugian di tangan lawan, buru-buru serunya sambil tertawanya ringan.

"Sekali-pun kau bersedia melepas kami, belum tentu kami akan melepaskan dirimu."

Kipas peraknya segera dituding ke depan di ringi tubuhnya menerjang ke muka, tangan kanannya diputar amat kencang melepaskan sebuah pukulan yang amat dahsyat ke depan.

Ketika gadis berbaju hijau itu menyaksikan kakak misannya turut terjun pula ke arena pertarungan, semangatnya segera bangkit kembali jari tangannya diayunkan ke depan berulang kali melancarkan serangkaian serangan dengan, jurus-jurus yang aneh dan tangguh, ilmu membabat jalan darah-pun dilancarkan secara beruntun.

Sastrawan berbaju hijau itu sendiri justru tetap bertarung sambil tertawa dingin tiada hentinya, serangan yang dilancarkan tetap sederhana tanpa keistimewaan apa-apa, namun sekali-pun ayunan tangan yang sederhana justru terkandungan pula jurus serangan yang hebat.

Dalam permainannya, terasa kekuatannya mengerikan sekali, bagaimana-pun kedua orang lawannya mengerubuti dia, bagaimana-pun hebatnya perubahan jurus yang dipergunakan, kesemuanya itu telah dipunahkan olehnya secara gampang dan sederhana.

Dalam waktu singkat, gadis berbaju hijau dan pemuda berbaju biru itu sudah melancarkan serangan sebanyak dua puluh gebrakan lebih, namun sastrawan berbaju hijau itu cuma menggunakan empat lima jurus serangan biasa.

Dalam pada itu, Wi Tiong-hong sudah dapat menyaksikan pula keadaan pertarungan yang sebenarnya, dia menemukan sastrawan berbaju hijau itu tak pernah melancarkan serangan balasan, tampaknya ia berniat untuk memancing kedua orang itu menggunakan segenap kepandaian yang dimilikinya.

Tanpa terasa bisiknya kepada Lok Khi sambil berpaling.

"Nah, sudah kau lihat belum, dia ..."

Lok Khi masih mendongkol terhadap pemuda itu karena ia mengawasi nona berbaju hijau itu terus menerus tanpa berkedip. Tidak menunggu ia menyelesaikan perkataannya, dengan dingin ia menukas.

"Apanya lagi yang sedap dipandang? Jika kau ingin tinggal disini, lihatlah sampai puas, aku hendak pergi."

Selesai berkata, dia lantas berpaling sambil membalikkan badan, lalu melompat pergi meninggalkan tempat itu.

Wi Tiong-hong menjadi tertegun, sebenarnya ia memperhatikan gadis berbaju hijau itu dengan serius karena ia merasa berhutang budi kepada nona ini, maka dalam hati kecilnya dia mengambil keputusan, jika mereka tak mampu menghadapi sastrawan berbaju hijau nanti, dia bersiap sedia memberikan bantuannya.

Dan barusan, dia memanggil Lok Khi karena ingin menerangkan persoalan tersebut, siapa tahu baru saja dia berkata setengah jalan, gadis itu sudah mengambek.

Buru-buru serunya lagi.

"Adikku, tunggu sebentar."

Dengan cepat dia menyusul pula di belakang Lok Khi.

Lok Khi sama sekali tidak menggubris, dengan kepala tertunduk dia maju terus ke depan dengan langkah cepat.

Baru saja tiba di depan pintu, tiba-tiba terdengar sastrawan berbaju hijau itu berseru sambil tertawa nyaring.

"Aku suruh kau tenang dan tak usah gelisah, buat apa kau mesti terburu nafsu?"

Telapak tangan kirinya segera diayunkan ke tengah udara, menyusul gerakkan itu muncul segulung tenaga pukulan langsung menerjang ke tubuh Lok Khi.

Sebetulnya Lok Khi adalah seorang yang cerdas, akan tetapi berhubung sastrawan berbaju hijau itu sedang bertarung melawan dua orang, tentu saja ia tak menyangka kalau orang itu masih sempat melancarkan serangan ke arahnya.

Baru saja suara bentakan berkumandang, segulung tenaga pukulan telah meluncur tiba.

Tadi ia pernah menderita kerugian, tentu saat ini gadis tersebut tak berani menyambut datangnya ancaman tersebut dengan keras lawan keras.

Cepat dia menyingkir lalu mengegos dari ancaman mana.

Kebetulan Wi Tiong-hong mengikuti di belakang Lok Khi, begitu gadis itu berkelit serangan dahsyat yang dilepaskan sastrawan berbaju hijau itu secara otomatis menerjang ke tubuhnya.

Lok Khi menjadi amat gelisah, buru-buru teriaknya.

"Engkoh Hong, hati-hati ..."

Baru saja Wi Tiong-hong melayang turun di atas tanah, tiba-tiba ia merasa ada segulung tenaga pukulan menerjang ke arahnya, tak terlukiskan rasa kagetnya.

Dalam keadaan demikian, tanpa berpikir panjang lagi dia merentangkan lengan kanannya, dengan sebelah telapak tangan ditegakkan, ia gunakan ilmu cay im-jiu atau tangan sakti penghadang awan menangkis ke muka secara keras lawan keras.

la segera merasakan tenaga pukulan lawan yang sangat kuat menghantam di atas telapak tangannya, tanpa terasa tubuhnya terdorong mundur selangkah ke belakang.

Dalam serangannya tadi, meski sastrawan berbaju hijau itu tidak menggunakan seluruh kekuatan yang dimilikinya, namun di dalam anggapannya, kedua orang itu tak berani menyambut dengan kekerasan.

Sebab asal pukulan yang dilancarkan itu tidak disambut dengan kekerasan paling banter tubuh mereka hanya akan terpental balik tanpa menderita luka apa-apa, akan tetapi jika disambut dengan kekerasan, niscaya mereka akan tergetar pingsan oleh tenaga pantulannya.

Siapa tahu, sewaktu kekuatan kedua belah pihak terbentur satu sama lainnya, walau-pun Wi Tiong-hong bergetar mundur sejauh selangkah, akan tetapi ia berhasil menerima serangan mana dengan keras lawan keras.

Kontan saja peristiwa ini menimbulkan perasaan terkesiap bagi sastrawan berbaju hijau itu, diam-diam pikirnya.

"Tak nyana kepandaian silat yang dimiliki beberapa orang lelaki perempuan itu yang satu lebih tangguh daripada yang yang lain.

"Serangan yang dipakai barusan mirip sekali dengan ilmu cay-im jiu dari Bu-tong-pay, tapi seperti juga Siu-lo-to ..."

Tergerak hatinya setelah berpikir sampai di situ, tanpa terasa serunya sambil tertawa nyaring.

"Sungguh tak disangka usiamu masih begitu muda, namun tenaga dalam yang kau miliki tidak lemah, coba sambutlah sekali lagi seranganku ini."

Di bawah serangan gabungan dari pemuda berbaju biru dan nona berbaju hijau itu, tangan kirinya segera menggunakan jurus Pay hong-tong im (menyapu angin mengusir angin) untuk mendesak mundur serangan gabungan musuh, kemudian tangan kanannya dari jarak satu kaki melepaskan sebuah pukulan udara kosong ke arah Wi Tiong-hong.

Wi Tiong-hong menyaksikan serangan yang dilancarkan lawan sama sekali tidak membawa deruan angin, hanya ada segulung tenaga pukulan tak berwujud yang menekan tiba, sebagai pemuda yang berdarah panas, ia segera mendengus dingin.

"Hm, kau anggap aku tak berani menghadapinya?"

Lengan kanannya berputar membuat satu lingkaran, kemudian menyongsong datangnya ancaman tersebut.

Lok Khi tahu kalau kepandaian silat yang dimiliki sastrawan berbaju hijau itu amat lihay, buru-buru teriaknya.

"Engkoh Hong, jangan kau hadapi serangannya dengan kekerasan."

Serangan yang digunakan Wi Tiong-hong masih tetap merupakan pukulan cay im jiu, begitu terbentur dengan kekuatan lawan, mendadak ia merasa tenaga pukulan tak berwujud dari sastrawan berbaju hijau itu jadi kuat sekali.

Sedemikian dahsyatnya serangan tersebut ibarat gunung karang yang jatuh dan menindih di atas kepala, kontan hawa darah dalam dadanya tergetar keras, membuatnya hampir saja tak sanggup menahan diri.

Tapi pada saat itulah, tenaga pukulan yang terpencar ke luar dari tangannya segera melesat ke muka, bagaikan "membelah awan"

Saja segera menembusi tenaga pukulan lawan yang kuat dan membelahnya dari tangan hingga terbagi menjadi aliran yang berbeda dan satu dari kiri lain dari kanan meluncurkan lewat dari ke dua belah sisi tubuh.

Sastrawan berbaju hijau itu berseru tertahan lalu mundur setengah langkah dari posisi semula, setelah itu dia menarik kembali tenaga pukulannya dan memandang ke arah lawan dengan pandangan terkejut bercampur keheranan, serunya.

"Oooh ... ternyata benar-benar adalah ilmu Siu-lo-to."

Menyambut serangan lawan, Wi Tiong-hong merasakan tubuhnya bergoncang keras, kemudian mundur beberapa langkah dan muntah darah segar.

Dalam sekejap itulah, si gadis berbaju hijau serta pemuda berbaju biru itu sudah menghentikan pula gerakannya.

Terdengar gadis berbaju hijau menjerit kaget.

"Dia ... dia ... telah terluka."

Lok Khi lebih terperanjat lagi, tanpa memperdulikan perbedaan antara lelaki dan perempuan, dia segera berteriak.

"Engkoh Hong ..."

Tubuhnya segera menubruk ke depan, tangannya berkelebat menyanggah tubuh Wi Tiong-hong agar jangan jatuh, kemudian bisiknya.

"Kau terluka?"

Wi Tiong-hong menghembuskan napas panjang dan tersenyum.

"Aaah, tidak menjadi soal, aku hanya menyambut serangannya dengan kekerasan, karena menggunakan tenaga kelewat batas, beginilah akibatnya, tapi jangan kuatir, sebentar-pun akan sembuh dengan sendirinya."

Dari cara dan nada pembicaraan orang, Lok Khi tahu kalau anak muda tersebut memang benar-benar tidak mengapa, lega juga hatinya, maka segera omelnya.

"Aku toh menyuruh kau jangan beradu tenaga dengannya, siapa suruh kau bertindak nekad?"

Berbicara sampai di situ, tiba-tiba tangan kanannya berputar dan ..."Cri ingg."

Ia telah meloloskan sebilah golok tipis yang panjang dan memancarkan cahaya tajam. Sambil mengayunkan senjata mana ke depan serunya dengan gemas.

"Kau tunggu saja disini, akan kuhadapi orang itu ..."

Ia siap menerjang kembali ke arah sastrawan berbaju hijau itu.

Pada saat itulah mendadak berkumandang suara pekikan aneh yang membelah angkasa, lalu tampak sesosok bayangan manusia meluncur masuk lewat pintu gerbang dengan kecepatan bagaikan sambaran kilat, dengan cepatnya orang itu melayang turun di hadapan sastrawan berbaju hijau itu.

Tanpa terasa si nona berbatu hijau dan pemuda berbaju biru itu sama-sama mundur dua langkah.

Lok Khi-pun tanpa terasa menghentikan gerakan tubuhnya, golok tipisnya disilangkan di depan dada menghadang di muka Wi Tiong-hong.

Semua orang tidak tahu pendatang tersebut seorang kawan atau lawan, maka setiap orang bersiap siaga penuh, sorot mata mereka-pun bersama-sama dialihkan ke depan.

Tampak orang itu berbaju hitam bermuka buas, kecuali sepasang matanya yang tajam, wajahnya kaku tanpa emosi, dia berdiri kaku di tempat tanpa mengucapkan sepatah kata-pun.

Bukan saja dandanan dan sikapnya sangat aneh, gerak geriknya-pun aneh sekali, lagi pula kedatangannya cepat bagaikan sambaran kilat.

Sesudah tertegun berapa saat, akhirnya ia berhasil tenangkan kembali hatinya, setelah menjura, ujarnya sambil tertawanya nyaring.

"Sobat, kau jagoan dari mana? Selamat berjumpa."

Manusia aneh itu berdiri di hadapannya bersikap seakan-akan tidak mendengar perkataan itu, bibirnya tertutup rapat tanpa berbicara namun dilihat dari posisinya berdiri, tersisa sebuah tanah kosong cukup luas di belakang tubuhnya, jelas dia ada maksud menghadang di muka sastrawan berbaju hijau itu agar semua orang dapat mengundurkan diri dari ruangan.

Akan tetapi ke empat orang muda mudi yang berada di ruangan itu boleh di bilang merupakan anak harimau yang belum takut menghadapi apa-apa.

Walau-pun mereka tak tahu siapakah orang tersebut, namun mengerti kalau manusia aneh tersebut bermaksud membantu mereka, atau paling tidak dia merupakan musuh paling tangguh bagi sastrawan berbaju hijau itu.

Maka hampir bersamaan waktu pula ke empat orang itu sama-sama berpendapat ingin mengetahui keadaan lebih jauh, tak heran kalau tak seorang-pun diantara mereka yang mengundurkan diri.

Sewaktu sastrawan berbaju hijau itu menyaksikan pihak lawan hanya berdiri kaku dan tidak menggubris tegurannya, tanpa terasa dia mendongakkan kepalanya sambil tertawa terbahak-bahak.

"Haaah, haaah, haaah, selama berkelana dalam dunia persilatan, pelbagai ragam manusia sudah pernah aku jumpai, tampaknya saudara-pun tak usah berperan sebagai setan atau manusia aneh lagi di hadapanku."

Manusia aneh itu masih tetap berdiri tenang di tempat semula, tidak berbicara tidak pula bergerak. Berkerut sepasang kening sastrawan berbaju hijau itu, kembali ia menegur sambil tertawa dingin.

"Sobat, jika kau tetap membungkam, jangan salahkan siaute akan bertindak kurang sopan."

Tangan kanannya diayunkan ke depan, sebuah pukulan dahsyat langsung menghantam ke dada orang itu.

Selisih jarak kedua belah pihak tak sampai lima depa, serangan yang dilepaskan sastrawan berbaju hijau-pun cepat bagaikan sambaran kilat, tampaknya pukulan itu segera akan mencapai depan dada manusia aneh tersebut.

Akan tetapi manuia aneh itu masih tetap berdiri tak berkutik, tidak mencoba berkelit, tidak berusaha menghindar, bahkan sikapnya seolah-olah tidak memandang kejadian tersebut.

Sikap semacam ini kontan membuat sastrawan berbaju hijau itu tertegun, tanpa sadar ia-pun menjadi ragu untuk bertindak lebih lanjut.

Namun satu ingatan segera melintas dalam benaknya, tiba-tiba saja serangannya dipercepat, telapak tangannya diputar lalu menyodok ke perut lawan dengan kecepatan tinggi.

Empat orang muda-mudi yang berada di arena sama-sama dibikin terkesiap oleh peristiwa ini, semua orang tahu kalau tenaga dalam yang dimiliki sastrawan berbaju hijau itu lihay, seandainya serangan mana bersarang telak, sekali-pun orang yang berilmu tinggi juga pasti akan terluka parah.

Diam-diam pemuda berbaju biru itu menggenggam tiga batang jarum beracun dan siap dilepaskan ke depan.

Lok Khi juga menggenggam kencang-kencang golok tipisnya, golok tersebut tanpa terasa bergoncang pelan.

Tapi di saat yang amat kritis inilah, tiba-tiba terdengar manusia aneh itu berpekik nyaring, tangan kanannya diangkat dan tahu-tahu sudah menyambut serangan dari sasterawan berbaju hijau itu dengan keras lawan keras.

Serangan orang itu cepat bukan kepalang pada hakekatnya sukar dilihat jelas oleh orang lain.

"Plaaak."

Terdengar suara bentrokan nyaring menggema, sepasang telapak kedua belah pihak sudah saling membentur satu sama lainnya, akibat dari bentrokan itu tubuh masing-masing pihak bergoncang pelan, ternyata tenaga dalam mereka seimbang.

Baik sastrawan berbaju hijau mau-pun manusia aneh itu sama-sama sadar kalau mereka telah berjumpa dengan musuh paling tangguh yang pernah dijumpainya selama ini, tanpa terasa masing-masing mundur dua langkah dengan penuh tanda tanya.

"Sebenarnya siapakah kau?"

Tegurnya dengan kening berkerut.

Sesudah terjadi benturan kekerasan, ternyata manusia aneh tersebut masih tetap berdiri kaku, tidak menjawab, tidak pula turun tangan.

Ia masih tetap berdiri kaku tanpa berkutik.

Karena tidak digubris lawannya, lama kelamaan meledak pula hawa amarah sasterawan berbaju hijau itu, sambil tertawa nyaring, serunya.

"Buyung Siu sudah banyak menjumpai jagoan lihay, tapi belum tentu memandang sebelah mata-pun terhadap kau."

Tiba-tiba ia maju selangkah, sepasang tangannya diayunkan bersama ke depan melancarkan tiga buah serangan berantai.

Serangan yang dilancarkan dalam keadaan gusar ini benar-benar luar biasa sekali, selain serangannya cepat, lagi pula setiap pukulan mengandung tenaga penghancur yang menggeledek hebatnya bukan kepalang.

Dari empat orang muda mudi yang hadir di arena sekarang, tak seorang-pun diantara mereka pernah mendengar nama "Buyung Siu".

Diam-diam semua orang merasakan keheranan.

Kalau berbicara menurut kepandaian silat yang dimiliki, seharusnya dia adalah seorang tokoh persilatan yang amat termashur, tapi anehnya mengapa nama orang ini justru tak pernah terdengar?

Meski masing-masing memikirkan persoalan itu di hati, namun sorot mata mereka tak pernah lepas menatap kedua orang tersebut lekat-lekat ...

Tiga buah serangan yang dilancarkan sastrawan berbaju hijau itu dahsyat dan mengerikan sekali, namun manusia aneh itu tidak mundur atau-pun menghindar malah sambil menjengek dingin, tiba-tiba ia maju menyongsong, sepasang telapak tangannya melancarkan serangan bersama menyambut datangnya ancaman tersebut dengan keras lawan keras.

"Blaaammm. Blaaammm ... Blaaammm ..."

Secara beruntun terjadi tiga kali benturan keras yang memekikkan telinga.

Ternyata ketiga buah serangan yang dilancarkan sastrawan berbaju hijau itu berhasil di sambut semua oleh manusia aneh tersebut.

Tenaga dalam yang dimiliki ke dua orang ini seimbang, begitu turun tangan secara beruntun mereka lakukan berapa kali bentrokan kekerasan, kejadian mana segera menggetarkan hati empat muda-mudi yang berada di dalam ruangan.

Jarang sekali mereka jumpai pertarungan adu kekerasan macam begini dalam dunia persilatan.

*** Bab 28 SELAMA ITU, Gho-tong hweesio selalu berdiri di belakang sastrawan berbaju hijau itu, sesungguhnya dia memang menggunakan sastrawan berbaju hijau itu sebagai tulang punggungnya.

Ia selalu berdiri dengan wajah berseri karena dalam anggapannya kemenangan sudah pasti berada di pihaknya.

Akan tetapi, setelah kemunculan manusia aneh tersebut secara tiba-tiba, dan kenyataan menunjukkan kalau ilmu silatnya tidak berada di bawah kepandaian sastrawan berbaju hijau itu, perubahan situasi yang mendadak ini membuat wajahnya segera diliputi perasaan tidak tenang.

Tiga kali bentrokan secara kekerasan membuat sastrawan berbaju hijau dan manusia aneh tersebut sama-sama merasakan hawa murninya tergoncang hebat, ujung baju berkibar kencang dan masing-masing mundur tiga langkah ke belakang.

Pada saat itu, tiba-tiba manusia aneh itu berpaling sambil membentak dengan mata melotot.

"Apa yang hendak kalian saksikan?"

Jelas maksud dari perkataan itu adalah menyuruh mereka cepat pergi, kalau tidak pergi lagi, maka dia tak akan mengurusi keselamatan mereka lagi.

Sementara itu sastrawan berbaju hijau tersebut sudah mundur sejauh tiga langkah, waktu itu dia sedang menghimpun tenaganya mengatur napas.

Mendengar ucapan mana, dengan mata melotot dan tertawa tergelak tegurnya.

"Sobat, kau jago lihay dari Lamhay? Atau mungkin kau adalah Siu-lo Khi-su?"

Dari permainan si nona berbaju hijau dalam menggunakan ilmu memotong nadi, dia kenali kepandaian tersebut sebagai Soh liongjiu (tangan sakti pengunci naga).

Kemudian ia menemukan juga kalau Wi Tiong-hong yang mainkan ilmu cay im jiu terselip pula ilmu Siu-lo-to, dia lantas menduga kalau manusia aneh tersebut tentu mempunyai hubungan dengan ke dua perguruan mana.

Sedang dia tahu kalau pemuda berbaju biru itu sebagai keturunan keluarga Lan di Im lan, satu-satunya yang tidak ia ketahui adalah Lok Khi sebagai murid Thian-sat-bun.

"Hmm, kau tak bisa melihatnya?"

Jengek manusia aneh itu.

Mendadak ia menyerang ke muka, tangan kirinya menyambar secepat kilat mencengkram bahu kiri sastrawan berbaju hijau itu.

Menghadapi ilmu Kimna jiu hoat yang penuh dengan perubahan aneh ini, diam-diam sastrawan berbaju hijau itu terkesiap.

Ia segera berkelit ke samping sambil membentak.

"Aaa ... ilmu Tay sui pit jiu dari Siau-lim-pay,"

Cepat-cepat dia mengeluarkan jurus Keng to paan (ombak dahsyat menghantam pantai) untuk balas menghantam datang itu.

Cengkeraman manusia aneh itu amat cepat dengan perubahan yang luar biasa hebatnya.

Begitu sastrawan berbaju hijau itu melepaskan pukulan, ia telah merobah ilmu cengkramannya menjadi sebuah kebasan, setelah membentuk satu gerakan lingkaran, ia menolak telapak tangannya ke depan.

Mendadak tangan kirinya ditegangkan bagaikan sebuah tombak, lalu disodokkan ke jalan darah Thian tu hiat di tubuh sastrawan berbaju hijau itu.

Buru-buru sastrawan berbaju hijau itu miringkan badan sambil mundur tiga langkah, bentaknya.

"Tay kek kun dari Bu-tong-pay, cuan im ci dari Go-bi-pay, haaahh ... haaahh ... haaahh ... tampaknya kau benar-benar amat berhasil menguasai pelbagai ilmu silat dari dunia."

Begitu suara bentakan dikumandangkan, tangan kananya segera menggenggam gagang pedang dan mencabut sebilah pedang berbulu hijau, dengan sorot mata yang tajam pelan-pelan dia menatap manusia aneh itu.

Lalu ujarnya sambil tersenyum.

"Tak nyana Buyung Siu dapat berjumpa dengan jago lihay seperti anda, ingin sekali aku coba kelihayanmu di ujung permainan senjata."

Gerak geriknya amat halus dan santai, kendati pedangnya sudah dicabut ke luar namun caranya berbicara masih tetap lemah lembut dan amat tenang ...

Melihat orang itu meloloskan pedangnya, manusia aneh tersebut segera mundur selangkah tangan kanannya segera merogoh ke dalam saku dan mengeluarkan sebilah pedang pendek sepanjang dua depa.

Setelah melintangkannya di depan dada, seraya bentaknya.

"Harap kalian ke luar dari sini, jangan merepotkan aku saja."

Wi Tiong-hong dapat melihat kalau pedang yang berada di tangan kedua orang itu merupakan pedang mestika, kalau pedang yang berada di tangan sastrawan berbaju hijau itu berwarna kehijau-hijauan dan bening seperti air, maka pedang pendek dari manusia aneh itu gemerlapan cahaya tajam, tujuh butir mutiara bersinar tajam memancar ke luar dari tubuh pedang tersebut.

Walau-pun selama ini sastrawan itu tetap tersenyum, namun sinar mata yang di pancarkan ke tubuh manusia aneh itu kian lama kian bertambah tajam, sementara tangan kirinya membuat gerakan dan pelan-pelan di angkat ke atas.

Begitu manusia aneh tadi selesai membentak, pedang pendeknya yang terangkat sejajar dada pelan-pelan ditudingkan ke arah lawan.

Diam-diam Wi Tiong-hong merasa terperanjat setelah menyaksikan kejadian itu, pikirnya.

"Tampaknya kedua orang ini sama-sama lagi menghimpun tenaga dalamnya, kalau serangan pedang tingkat tinggi yang mereka lancarkan sudah mulai bergerak. niscaya mengerikan sekali akibatnya. Aku lihat, apa yang diucapkan manusia itu memang benar, kehadiran kami semua disini hanya akan mengganggu mereka saja."

Sementara ingatan mana masih melintas dalam benaknya, Lok Khi telah menarik ujung bajunya sambil berkata.

"Engkoh Hong, mari kita pergi."

Wi Tiong-hong manggut-manggut, mereka berdua segera berjalan meninggalkan pintu ruangan.

Pemuda berbaju biru dan gadis berbaju hijau itu tidak berdiam lebih lama pula disana, mereka turut mengundurkan diri pula dari situ.

Di kala keempat orang itu hendak pergi meninggalkan ruang cou-su-tian, tiba-tiba dari belakang mereka berkumandang suara pekikan nyaring seperti pekikan naga, menyusul kemudian terjadi suatu bentrokan nyaring yang amat memekikkan telinga.

"Traaang Traaaang."

Tanpa sadar Wi Tiong-hong menghentikan langkahnya, dia hendak membalikkan badan untuk mengetahui siapa yang berhasil menangkan pertarungan tersebut.

Tapi sebelum niat tersebut dapat dilakukan, Lok Khi sudah menarik ujung bajunya seraya berkata dengan gelisah.

"Engkoh Hong, tak usah dilihat lagi, mari kita segera pergi."

Tanpa menghentikan langkahnya, gadis itu melanjutkan perjalanannya menuju ke depan.

Wi Tiong-hong sudah berkumpul beberapa dengan gadis itu, dia cukup mengetahui bahwa kepandaian silat dari adiknya ini jauh lebih tinggi dari kepandaian sendiri, lagi pula dia berjiwa tak sudi mengaku kalah, tapi kali ini, mengapa dia justru merecoki dirinya agar cepat-cepat pergi dari situ?

Walau-pun di dalam hatinya merasa heran, namun langkahnya tetap dipercepat untuk menyusul Lok Khi.

Terdengar suara dari sastrawan berbaju hijau itu bergema dari kejauhan sana.

"Haaa ... haaa ... haaa, ternyata kau adalah Siu-lo-si-ci ..."

Setelah melompati dinding pagar, ketika Wi Tiong-hong berpaling, ia tidak melihat si pemuda berbaju biru dan nona berbaju hijau lagi, diam-diam segera pikirnya.

"Mungkin mereka tak sejalan denganku."

Lok Khi juga tidak berbicara, dia hanya melanjutkan perjalanan dengan kepala tertunduk.

Tatkala Wi Tiong-hong melihat gadis itu tetap melakukan perjalanan menuju ke kota Sang-siau, tanpa terasa tanyanya.

"Adikku, apakah kita akan kembali lagi kota Sang-siau?"

"Sekarang sudah begini malam, kalau tidak pulang ke kota, darimana mungkin kita bisa mendapat makanan dan tempat kediaman?"

Sahut Lok Khi sambil berpaling.

Ucapan tersebut ada benarnya juga, tempat di sekitar sana gersang dan sepi, sebuah rumah-pun tak ada, tentu saja sulit untuk menemukan tempat pemondokan, apalagi setelah seharian penuh tidak bersantap.

Tak heran kalau perutnya amat lapar.

Seteleh melompati dinding kota, kedua orang itu balik kembali ke rumah penginapan Ko seng.

Waktu itu sudah mendekati kentongan pertama.

Ketika pelayan menyaksikan dua orang tamunya yang sudah membereskan rekening di pagi harinya, sekarang datang kembali, buru-buru dia menyambut sambil tertawa lebar.

"Wi ya, sampai sekarang baru kembali? Hamba mengira kalian berdua sudah pergi."

"Masih ada kamar?,"

Tanya Wi Tiong-hong.

"Kamar sih masih ada, cuma kamar yang dipakai Wi ya semalam sudah dipakai orang lain. Di halaman belakang sana masih tersedia sederet kamar, apakah ..."

"Cepat bawa kami ke sana, tak usah cerewet,"

Tukas Lok Khi tak sabaran.

Pelayan itu mengiyakan berulang kali, cepat-cepat dia mengajak kedua orang itu menuju ke kamar di halaman belakang, ruangan tersebut terdiri dari dua kamar tidur dengan sebuah ruang tamu di tengah.

Sambil melangkah masuk ke dalam ruangan, Wi Tiong-hong segera memerintahkan.

"Pelayan, cepat siapkan makanan untuk kami, lebih cepat lebih baik."

"Kalian berdua menginginkan apa? Hamba akan segera siapkan."

"Apa saja boleh, tapi harus cepat.,"

Seru Lok Khi sambil mengulapkan tangan.

Pelayan itu mengiyakan dan mengundurkan diri, tak selang beberapa saat kemudian ia sudah muncul dengan membawa dua mangkuk bakmi dan sejumlah bakpao.

Setelah mengisi cawan dengan air teh, dia baru mengundurkan diri dari situ.

Sepeninggal pelayan itu, Lok Khi baru berbisik sambil tertawa.

"Engkoh Hong, coba kalau lapar sebentar lagi, tentu aku tak bertenaga lagi untuk berjalan."

Wi Tiong-hong bangkit berdiri dan menutup pintu, kemudian seraya berpaling katanya.

"Kalau begitu, cepatlah bersantap."

Selesai bersantap, kedua orang itu baru mencuci muka dan membersihkan badan. Selesai semuanya, Wi Tiong-hong baru tak tahan berkata.

"Adikku, mengapa kau menyuruh aku cepat-cepat pergi tadi? Apakah kau berhasil menemukan sesuatu?"

Sambil tertawa rendah, Lok Khi menyahut.

"Sekali-pun tidak kau tanyakan aku-pun akan memberitahukan hal ini kepadamu, tahukah kau siapakah Buyung Siu tersebut?"

"Siapakah dia?"

"Dia adalah Pau-kiam-suseng (sastrawan pemeluk pedang), ketua dari pita hijau dalam perkumpulan Ban-kiam-hwee, dahulu aku pernah dengar toako berkata, konon tidak banyak manusia dalam dunia persilatan dewasa ini yang mampu bertahan gebrakan di ujung pedangnya."

"Pau Kiam suseng? Tampaknya aku seperti pernah mendengar juga nama orang ini disebut paman."

"Sewaktu dia menyebutkan namanya tadi, aku masih belum tahu kalau dia adalah Pau-kiam suseng, coba tebaklah kemudian bagaimana aku bisa mengetahui akan hal ini?"

"Tak bisa kutebak."

Wi Tiong-hong menggeleng.

"Huuuh, belum lagi menebak tentu saja tak bisa menebaknya, ayo cobalah ditebak dulu."

"Apakah kau baru mengingat kemudian?"

"Tidak benar, aku hanya pernah mendengar toako menyebut tentang Pau Kiam suseng, namun tidak mengetahui namanya, bagaimana dengan kau? Bukankah kau pernah mendengarnya dari pamanmu? Mengapa kau-pun tidak tahu?"

"Yaa, betul . Aku-pun pernah mendengar paman membicarakan tentang nama Pau Kiam suseng."

"Dari manusia aneh itulah aku baru mengetahui siapa orang itu,"

Kata Lok Khi kemudian sambil tertawa. Tampak Wi Tiong-hong agak tertegun oleh ucapan tersebut, serunya dengan matanya terbelalak.

"Kau maksudkan manusia aneh yang mengajak Pau-kiam suseng bertarung tadi?"

"Kalau bukan dia, masa ada manusia aneh ke dua?"

"Apa yang dia katakan?"

Wi Tiong-hong keheranan.

"Sewaktu ia menampakkan diri untuk pertama kalinya tadi, aku masih menyangka dia adalah toakoku, waktu itu perutku sudah amat lapar, karena kuanggap dia adalah toakoku, maka aku baru tinggal di situ."

"Apa lagi setelah dia bentrok beberapa kali dengan Pau Kiam suseng, aku makin percaya selain toakoku, tiada orang lain yang memiliki tenaga dalam sedemikian sempurnanya."

"Apakah dia adalah toakomu?"

Lok Khi mengerling sekejap ke arahnya, lalu tertawa cekikikan.

"Hei, bagaimana sih kamu ini? Masa arti perkataanku-pun tidak bisa kau tangkap? Kalau dia adalah toakoku, masa aku pergi dari situ meninggalkannya?"

"Lantas siapakah dia?"

"Menanti dia meloloskan pedang pendek tujuh bintangnya dan menyuruh kami pergi agar jangan mengganggu konsentrasinya, aku baru tahu kalau dia bukan toakoku, dan pada saat itu juga ia menggunakan ilmu menyampaikan suara menyuruh aku mengajakmu cepat-cepat pergi dari sini, kalau dipikir kembali sekarang, kemungkinan besar dia datang karena hendak membantumu ..."

"Membantu aku?"

Wi Tiong-hong keheranan.

"apa yang telah ia bicarakan dengan dirimu?"

"Ia bilang begini.

"Nona, mengapa tidak segera mengajaknya pergi? Kepandaian silat yang dimiliki cing sui congkoan (pengurus ruang pita hijau) dari perkumpulan Ban Kiam-hwee, Pau Kiam suseng lihaynya bukan kepalang, bila pertarungan mulai berkorbar nanti, aku tak mampu mengurusi kalian lagi, bayangkan saja kalau bukan lantaran kau, apa lantaran aku? Aku toh tidak kenal dengannya?"

"Tapi aku juga tidak kenal dengannya.,"

Seru Wi Tiong-hong.

"Oooh ..."

Mendadak seperti teringat akan sesuatu, Lok Khi berseru tertahan lalu sambil menatap Wi Tiong-hong lekat-lekat, tanyanya.

"Engkoh Hong, agaknya kau seperti kenal dengan gadis berbaju hijau itu ...?"

Wi Tiong-hong tidak menyangka dia akan mengajukan pertanyaan tersebut, sesudah tertegun baru jawabnya.

"Dia pernah menyelamatkan selembar jiwaku, sewaktu aku terkena jarum beracun dari keluarga Lan, dialah yang menghadiahkan obat penawar tersebut untukku."

Lok Khi mengerdipkan matanya berulang kali, kemudian tanyanya lagi.

"Mengapa dia menghadiahkan obat penawar kepadamu?"

Sekali lagi Wi Tiong-hong dibikin tertegun oleh pertanyaan tersebut, untuk sesaat dia menjadi gelagapan dan tak tahu bagaimana harus menjawab pertanyaan itu sebaik-baiknya.

"Soal ini ... aku kurang begitu tahu ... ,"

Sahutnya kemudian agak gugup.

"Kau tidak tahu, aku tahu ..."

Tidak menanti Wi Tiong-hong buka suara, gadis itu menyambung lebih lanjut.

"Dia tidak menyukai kakak misannya."

Wi Tiong-hong lantas teringat kembali dengan sikap si nona berbaju hijau itu di saat menghadiahkan obat penawar itu kepadanya.

Waktu itu dia-pun pernah berkata kalau merasa tidak leluasa menyaksikan keangkuhan dan kesombongan pemuda berbaju biru itu.

Diam-diam dia-pun merasa kagum sekali atas ketelitian adik misannya ini dalam menganalisa setiap persoalan.

Ketika Lok Khi menyaksikan pemuda itu hanya menunduk belaka tanpa berbicara, mendadak sambil tertawa ia mengerling sekejap ke arah Wi Tiong-hong, kemudian ujarnya lagi.

"Tahukah kau? Yang dia sukai sebenarnya adalah kakak misanku?"

Merah padam selembar wajah Wi Tiong-hong karena jengah, buru-buru serunya agak tersipu.

"Huuus, kau jangan sembarangan berbicara."

"Hm, apakah aku salah berbicara? Tadi, aku dapat melihat kalau dia sedang memandang ke arahmu dengan pandangan yang begitu hangat dan mesra."

Wi Tiong-hong tidak menjawab, dia hanya membungkam terus dalam seribu bahasa. Melihat itu, Lok Khi makin marah, sambil berpaling serunya.

"Lebih baik kau jangan berlagak bodoh. Hmm tentu saja kau-pun mempunyai maksud kepadanya kalau tidak. mengapa kau melarang aku untuk melukai dirinya?"

Sepatah demi sepatah kata gadis itu mendesak terus sang pemuda dan berusaha memojokkan dia.

Dasar perempuan, kalau sudah terlibat di dalam persoalan tersebut, biasanya dia memang enggan mengendorkan sikapnya barang sedikit-pun jua.

Paras muka Wi Tiong-hong berubah semakin memerah, akhirnya dia berkata dengan serius.

"Mungkin hal ini dikarenakan dia pernah melepaskan budi pertolongan kepadaku."

Mendadak Lok Khi mengerdipkan mata, dua titik air mata jatuh berlinang membasahi pipinya, sambil cemberut ia berseru.

"Sewaktu dia melancarkan serangan dengan gencar dan dahsyat kepadaku, mengapa kau tidak melarangnya untuk menghentikan serangan tersebut? Hm, sudah jelas kalau kau berat sebelah dan lebih condong untuk membelai dia."

"Eeeh, eeeh, adikku, harap kau jangan banyak curiga,"

Dengan gugup Wi Tiong-hong berseru.

"aku tidak begitu kenal dengan dirinya, bagaimana mungkin aku bisa menyuruhnya untuk menghentikan serangan?"

Mendadak Lok Khi membalikan badannya sambil mengomel.

"Sekali berjumpa masih asing, dua kali bertemu sudah akrab, apakah kau anggap belum akrab dengannya?"

Selesai berkata dia lantas beranjak meninggalkan ruangan itu, kemudian ..."Blaamm."

Dia menutup pintu kamar itu keras-keras. Pada hakekatnya tuduhan tersebut merupakan sebuah tuduhan tanpa dasar, tak heran kalau Wi Tiong-hong dibikin gelagapan setengah mati, dengan gugup dia berseru.

"Adikku adikku ..."

Lok Khi sama sekali tidak menggubris, dia lari terus dan kembali ke dalam kamarnya.

Wi Tiong-hong berdiri beberapa saat lamanya di depan kamar tidurnya, setelah tidak mendengar suara apa-apa lagi, mungkin gadis itu tertidur karena mangkel, terpaksa sambil menggelengkan kepalanya berulang kali ia kembali ke kamar sendiri untuk beristirahat.

*** DENGAN terburu-buru Lok Khi menerjang masuk ke dalam kamarnya, waktu itu dia hanya merasa mangkel dan terdorong oleh sifat kewanitaannya yang suka cemburu saja, padahal keadaan seperti ini sesungguhnya sudah lumrah dan seringkali dijumpai.

Biasanya setelah terjadi suatu kesalahan paham, maka hubungan kedua belah pihak akan semakin bertambah akrab dan mesra, asal Wi Tiong-hong bersedia minta maaf saja kepada si nona, maka urusan pasti akan beres dengan sendirinya, dan si nona-pun tetap akan membukakan pintu baginya.

Tapi di kala Lok Khi menerjang masuk ke dalam kamarnya dan menutup pintu kamarnya dengan sekuat tenaga itulah, mendadak dia menyaksikan ada seseorang sedang duduk di tepi pembaringannya.

Itulah seorang gadis berbaju hitam yang mengenakan kain kerudung berwarna hitam pula, waktu itu dia sedang bangkit berdiri.

Setelah berdiri terperanjat, dengan perasaan terkejut bercampur girang Lok Khi segera menubruk ke depan, serunya manja.

"Oooo ... ji-suci."

Pelan-pelan gadis berbaju hitam itu melepaskan kain kerudung hitam yang menutupi wajahnya hingga tampaklah raut wajahnya yang cantik jelita itu, kemudian bisiknya.

"Sam moy, jangan keras-keras."

"Ji suci, kapan kau datang? Hampir saja membuatku amat terperanjat ..."

Gadis berbaju hitam itu tersenyum.

"Toako bilang sam moy sudah mempunyai kekasih hati, aku agak tidak percaya, tak tahunya apa yang dia katakan memang merupakan kenyataan, kalau begitu cici harus mengucapkan selamat kepadamu."

Merah jengah selembar wajah Lok Khi, agak tersipu-sipu katanya.

"Aah, ji suci jahat, kau hanya suka menggoda aku saja ... !! "Apa sih yang kau malukan lagi?"

Tukas gadis berbaju hitam itu sambil tertawa rendah.

"Bukan cuma cici saja yang merasa gembira, bahkan suhu dia orang tua-pun ikut bergembira bagimu, Toa-suko memuji wataknya yang baik, ternyata apa yang dia katakan memang benar."

Lok Khi cepat-cepat menutupi telinga sendiri sambil menggelengkan kepalanya berulang kali.

"Ji-suci, harap kau jangan membicarakan tentang soal seperti itu, aku tak mau mendengarkan, aku tak mau mendengarkan lagi."

Padahal secara diam-diam ia merasa girangnya bukan main. Sambil tertawa ringan kembali gadis berbaju hitam itu berkata.

"Hubungan kita sebagai sesama saudara seperguruan lebih akrab daripada saudara kandung sendiri, apa gunanya kau merahasiakan persoalan itu di hadapanku? Baik, kalau tak mau dibicarakan yaaa sudahlah."

"Ji suci, secara tiba-tiba saja kau menampakkan diri di sini, sebenarnya ada urusan apa?,"

Tanya Lok Khi kemudian sambil mengangkat kepala.

"Tentu saja ada urusan, ketika suhu mendengar Lou-bun-si tersebut berhasil dirampas oleh orang-orang Ban Kiam-hwee, dia lantas mendamprat toa suko habis-habisan, kata suhu sekali-pun kita sudah lepas tangan, tapi takkan rela kalau benda itu terjatuh ke tangan pihak Ban Kiam-hwee oleh sebab itu dia menitahkan kepadamu untuk merampasnya kembali."

Sekujur badan Lok Khi bergetar keras karena terkejut, serunya agak tertahan.

"Beliau menyuruh siaumoay merebutnya kembali?"

"Benar."

Gadis berbaju hitam itu tertawa hambar.

"dewasa ini hanya kau seorang yang sanggup merampasnya kembali."

Lok Khi segera ternganga dengan penuh keheranan, dia seperti tak tahu apa yang mesti dilakukan. Sambil tertawa gadis berbaju hitam itu berkata lagi.

"Sam-sumoay, kau-pun nampaknya tolol amat bukankah dalam sakunya terdapat lencana Siu Lo Cin-leng?"

"Jadi maksud suhu ..."

Lok Khi agak ragu-ragu. Dengan suara lembut gadis berbaju hitam itu berkata.

"Jangan takut, suhu telah menitahkan kepada Toa suko dan kepadaku untuk melindungi kalian secara diam-diam, entah benda itu berhasil diminta kembali atau tidak. Semuanya tak menjadi soal, yang penting adalah kau harus berkunjung ke situ."

"Mengapa harus begini?"

Gadis berbaju hitam itu segera tersenyum.

"Tentang soal ini, kau akan mengetahui dengan sendirinya di kemudian hari ..."

Berbicara sampai di situ, sambil tertawa cekikikan dia melanjutkan.

"Nah, cukup sudah, sekarang aku hendak pergi dulu, paling baik kalau besok pagi kalian segera berangkat. Oya. Suhu juga bilang, tentang urusanmu, dia orang tua merasa setuju sekali ..."

Belum selesai berkata, gadis itu sudah melompat ke luar lewat jendela, dan bagaikan segulung asap, tahu-tahu ia sudah berlalu dari situ dan lenyap dari pandangan mata.

Keesokan harinya, sementara Wi Tiong-hong masih tertidur nyenyak.

Ketukan pintu yang sangat ramai telah membangunkannya dari tidur.

Dengan cepat dia melompat bangun dan siap menegur, tapi sebelum ia sempat membuka suara, Lok Khi sudah berteriak dari luar pintu.

"Engkoh Hong, cepat bangun." *** Bab 29 WI TIONG HONG segera melompat turun dari pembaringannya.

"Adikku, apakah telah terjadi sesuatu?,"

Serunya.

"Tidak, tidak ada sesuatu yang terjadi, kita harus segera melanjutkan perjalanan sekarang."

"Kita hendak ke mana?,"

Tanya Wi Tiong tertegun.

"Bukit Kiam-bun san."

Wi Tiong-hong semakin keheranan lagi, kembali dia bertanya.

"Ada urusan apa pergi ke Kiam-bun san?"

"Kalau kau tak mau pergi yaa sudahlah, biar aku pergi kesitu seorang diri ... ,"

Seru Lok Khi tak sabar.

Selesai berkata, dia lantas membalikkan badan dan siap berlalu dari situ.

Buru-buru Wi Tiong-hong berseri "Adikku, apakah kau masih marah kepadaku?

Kalau kau menyuruh aku pergi, tentu saja aku akan pergi bersamamu, masa cuma bertanya saja tidak boleh?"

Lok Khi mencibirkan bibirnya yang tebal hingga nampak dua baris giginya yang putih bersih, kemudian ujarnya sambil tertawa.

"Aku masih mengira kau hendak pergi mencari si nona yang datang dari Lam-hay itu, sehingga tidak bersedia melanjutkan perjalanan bersamaku."

Merah jengah selembar wajah Wi Tiong-hong, buru-buru serunya lagi dengan serius.

"Adikku, kita sedang membicarakan soal penting, mengapa kau selalu melantur ke soal yang tak karuan? Cepat beritahu kepadaku, ada urusan apa kau hendak pergi ke Kiam-bun-san?"

"Mencari orang-orang dari Ban Kiam-hwee."

"Mengapa harus begitu,"

Tanya Wi Tiong-hong lagi dengan nada amat terperanjat.

"Ting Ci-kang telah menggabungkan diri dengan pihak Ban Kiam-hwee, tahukah kau akan hal ini?"

"Tidak,"

Pemuda itu menggeleng. Lok Khi segera mendengus.

"Hmm, kau dan Ting Ci-kang bersama-sama dibekuk oleh orang-orang Ban Kiam-hwee, kemudian toakolah yang telah menanggungmu ke luar, sedangkan kau menggunakan lencana Lo Cin-leng meminta kepada pihak Ban Kiam-hwee untuk membebaskan Ting Ci-kang bukankah begitu?"

Ketika Wi Tiong-hong mendengar gadis itu berkata.

"Toako telah menanggungmu ke luar,"

Tanpa terasa hatinya menjadi amat terperanjat segera teriaknya tertahan.

"Jadi Kam heng adalah toakomu? Mengapa tidak kau beritahukan kepadaku sejak dulu?"

Lok Khi tertawa.

"Mengapa pada saat ini-pun belum terlambat, mengapa mesti bingung. Dia adalah toa-sukoku, eh mm, pertanyaanku tadi belum kau jawab, ayo jawab dulu ..."

Ketika Wi Tiong-hong mendengar kalau gadis itu adalah anak murid Thian Sat-nio, dalam hati kecilnya segera timbul suatu perasaan yang sukar dilukiskan dengan kata-kata.

Kam Liu-cu telah melepaskan budi kepadanya, Lok Khi juga pernah menyelamatkan jiwanya, kalau dibilang semestinya Thian Sat-nio adalah seorang gembong iblis yang membunuh orang itu bersikap sangat baik kepadanya.

Pemuda itu hanya melamunkan persoalan yang memenuhi benaknya saja, sambil melamun dia-pun manggut-manggut.

Terdengar Lok Khi berkata lebih jauh.

"Padahal sewaktu Ting Ci-kang mengadakan pembicaraan dengan Chin Tay-seng, congkoan pita hitam dari Ban Kiam-hwee tempo hari, dia sudah menggabungkan diri dengan pihak Ban Kiam-hwee, kemudian kau menanggungnya ke luar dengan mempergunakan lencana Siulo Cin-keng, tindakanmu itu justru telah terjebak oleh siasat mereka."

"Hal ini tak mungkin terjadi.,"

Seru Wi Tiong liong tertegun.

"Hmmm, hal ini hanya tidak diketahui olehmu saja, padahal segala sesuatunya sudah mereka atur dengan serapinya, setelah Ting Ci-kang dibebaskan waktu itu, bukankah kalian bersantap di rumah makan Hwee pia loo? Aku dan toako berada tak jauh dari kalian berdua."

"Mengapa aku tidak menyaksikan kalian?"

Tanya Wi Tiong-hong dengan perasaan keheranan. Lok Khi tidak menjawab pertanyaan itu, melainkan melanjutkan kembali kata-katanya.

"Kemudian bukankah kau pergi dahulu untuk menyampaikan pesan dari Tok Hay-ji?"

"Di kala Ting Ci-kang bangkit berdiri untuk membayar rekening, secara diam-diam dia telah menyampaikan kabar berita ke luar. Orang yang menyaru sebagai seorang saudagar itu. Sesungguhnya adalah penyaruan dari orang-orang Ban Kiam-hwee."

"Kabar apa sih yang dia sampaikan kepada pihak Ban Kiam-hwee?"

Tanya Wi Tiong-hong lagi keheranan.

"Yakni pesan dari Tok Hay-ji yang telah di sampaikan kepadamu itu, dari beberapa patah kata tersebut, terutama pada kalimat yang terakhir justru menyangkut tentang jejak Lou-bun-si tersebut, oleh karena itu di kala Ting Ci-kang merampas Lou-bun-si tersebut dari tanganmu, kesemuanya ini adalah atas perintah dari Ban Kiam-hwee ..."

"Apa mungkin untuk memintanya kembali?"

"Bukankah kau mempunyai lencana Siulo Cin-keng? Sekali-pun Ban Kiam-hwee sangat lihay, aku rasa mereka-pun tidak akan berani membangkang perintah dari lencana milik Siu lo cinkun tersebut ..."

Wi Tiong-hong tak mengetahui sampai di manakah daya pengaruh lencana Siulo Cin-keng tersebut terhadap umat persilatan?

Tapi kalau dilihat dari sikap Thian Sat-nio yang segera mengundurkan diri setelah menyaksikan lencana tersebut tempo hari, kemudian sikap Kam Liu-cu yang menyuruhnya menggunakan lencana itu untuk minta orang dari Chin congkoan, bisa ditarik kesimpulan kalau lencana mana memang benar-benar memiliki kekuasaan yang luar biasa sekali.

Namun pemuda itu menggelengkan kepalanya lagi seraya berkata.

"Sudah kukatakan sejak dulu, Lou-bun-si hanyalah benda yang kutemukan tanpa sengaja, sekali-pun berhasil diminta kembali, sesungguhnya benda tersebut tak ada manfaatnya sama sekali terhadap diriku, sudahlah, biarkan saja benda itu diperoleh mereka."

"Tidak bisa,"

Seru Lok Khi mendongkol.

"Sekali-pun Lou-bun-si sama sekali tak berguna bagimu, kita harus memintanya juga, kalau dibilang hal ini hanya dikarenakan Ting Cikang yang kemaruk harta dan kemudian merampasnya dari tanganmu, maka anggap saja hal sebagai kesalahanmu sendiri di dalam pergaulan sehingga mengenali manusia semacam ini. Tapi orang yang merampas Lou-bun-si dari tanganmu itu jelas adalah orang-orang dari Ban Kiam-hwee, mereka sudah mempunyai rencana busuk untuk merampas benda itu, bahkan sudah jelas mengetahui kalau dalam sakumu terdapat Lencana Siulo Cin-keng, jelas tahu kalau kau adalah sahabat toakoku, mereka masih bersikap begitu keji terhadap dirimu, bukankah hal ini sama artinya dengan tidak memandang sebelah mata-pun terhadap kita? Sekali-pun kita tidak membutuhkan benda itu, namun sudah sewajarnya kalau benda itu kita tuntut kembali, paling tidak kita akan menghancur lumatkan benda tersebut di hadapan mereka, agar pihak Ban Kiam-hwee tidak memungut keuntungan tersebut dengan seenaknya."

Wi Tiong-hong cukup memahami watak dari gadis tersebut dia termenung dan berpikir sebentar, kemudian serunya.

"Tentang soal ini ..."

"Tak usah ini itu lagi, orang lain telah merampas barangmu, sudah sewajarnya kalau kau-pun menuntutnya kembali, tapi kalau kau memang takut terhadap kelihayan orang-orang Ban Kiam-hwee, ya ... sudahlah ..."

Dibakar hatinya oleh gadis tersebut, Wi-Tiong-hong segera merasakan semangatnya berkobar kembali, ia segera tertawa-tawa.

"Haaa haaa haaa siapa sih yang takut dengan pihak Ban Kiam-hwee?"

"Kalau tidak takut, itu mah lebih bagus lagi,"

Seru Lok Khi sambil tertawa geli. Kemudian sambil mendorong Wi Tiong-hong, serunya lagi.

"Cepat bersihkan muka, kita berangkat sekarang juga."

Wi Tiong-hong tak bisa menangkan gadis itu, maka setelah membersihkan muka dan bersarapan pagi, buru-buru mereka membayar rekening lalu berangkat.

Ketika pelayan itu menyaksikan ke dua orang tamunya hendak ke luar pintu lagi, cepat menyusul dari belakang, kemudian katanya sambil tertawa paksa.

"Wi-ya berdua, apakah kamar kalian akan dipergunakan lagi?"

"Tidak usah, kami masih ada urusan penting yang harus segera diselesaikan,"

Sahut pemuda itu sambil tertawa.

Mereka berdua berangkat meninggalkan rumah penginapan dan menelusuri jalan raya.

Baru melewati dua buah jalan raya, mendadak dari arah belakang terdengar seseorang berseru memanggil.

"Wi sauhiap ..."

Dengan perasaan tertegun Wi Tiong-hong berpaling, tampak dua orang lelaki berbaju biru sedang memburu datang.

Wi Tiong-hong tidak kenal dengan mereka berdua, akan tetapi melihat mereka berlarian mendekat dengan keringat bercucuran seakan-akan ada sesuatu urusan penting yang hendak disampaikan saja, dia lantas tahu kalau mereka ada urusan dengannya.

Kejadian ini kontan saja membuat hatinya merasa keheranan, pelan-pelan ia bertanya.

"Ada urusan apakah kalian berdua mencariku?"

Dua orang lelaki berbaju biru itu bersama-sama membungkukkan badan memberi hormat, lalu katanya.

"Hamba adalah anggota perguruan Thi-pit-pang, sewaktu berada diperusahaan An-wan piaukiok tempo hari pernah bersua dengan Wi sauhiap, telah pergi buru-buru kami menyusul ke mari, untung saja kami berhasil menyusul Wi sauhiap."

"Engkoh Hong, kau kenal dengan mereka?"

Tiba-tiba Lok Khi bertanya. Wi Tiong-hong menggelengkan kepalanya berulang kali, kepada kedua orang itu ia lantas bertanya.

"Ada urusan apakah kalian mencari aku?"

Lelaki yang berada di sebelah kiri itu segera menjawab.

"Hamba mendapat perintah untuk mengundang Wi sauhiap."

"Kalian mendapat perintah dari siapa?"

"Dari Tam dan Ku huhoat, katanya ada urusan yang penting sekali hendak dibicarakan dengan Wi sauhiap."

Mendengar perkataan itu Wi Tiong-hong kembali berpikir.

"Aku tidak kenal dengan Tam huhoat dan Ku huhoat kalian."

Lelaki yang berada di sebelah kanan buru-buru menerangkan.

"Tam huhoat kami disebut orang persilatan sebagai Thipoan (pena baja) Tam Si-hoa, sedangkan Ku huhoat kami disebut orang To Ciok-siu (Mahluk bertanduk tunggal) Ku Tiang-sun, mereka selalu berada di dalam markas besar dan jarang sekali melakukan perjalanan di dalam dunia persilatan."

"Ada urusan apa mereka mencari aku?"

Lelaki yang berada di sebelah kiri segera menjura dalam-dalam, sahutnya.

"Hamba tak begitu tahu, tapi menurut Tam huhoat, urusan itu sangat penting sekali artinya, harap Wi sauhiap bersedia untuk berkunjung sebentar ke sana."

"Sekali-pun amat penting, itukan urusan kalian sendiri, apa sangkut pautnya dengan kami?"

Timbrung Lok Khi mendadak.

"engkoh Hong, mari kita pergi saja."

Lelaki yang berada di sebelah kiri itu menjadi gelisah sekali.

"harap sudilah kiranya ..."

Lok Khi segera mendengus dingin, tukasnya.

"Hmmm, kalau teman semacam Ting Ci-kang mah ..."

Sebenarnya ia hendak bilang.

"Kalau teman semacam Ting Ci-kang mah tak bisa dianggap seorang teman lagi,"

Namun sebelum ia menyelesaikan kata-kata tersebut, mendadak gadis itu berhenti di tengah jalan.

Dari mimik wajah ke dua orang lelaki berbaju biru itu, Wi Tiong-hong dapat merasakan kegelisahan orang, dia mengerti hal ini pasti disebabkan oleh sesuatu alasan, maka katanya kemudian.

"Adikku, mungkin mereka benar-benar mempunyai urusan yang amat penting, biar aku tanyai dahulu sampai jelas."

Lalu sambil mengangkat kepala tanyanya.

"Kini, ke dua orang huhoat kalian berada di mana?"

"Ku huhoat masih berada di istana Sik-jia-tian, sedangkan Tam huhoat telah kemari, sekarang ia berada di rumah penginapan Ko cian menantikan kedatangan Wi sauhiap."

"Adikku, bagaimana kalau kita kembali dan melihat-lihat dulu?"

Ujar Wi Tiong-hong kemudian. Lok Khi segera mencibirkan bibirnya dengan cemberut.

"Huuuuh, kau memang sukanya mencampuri urusan orang ..."

Tapi setelah mengucapkan perkataan itu, mendadak satu ingatan melintas dalam benaknya. Ia lantas berpikir.

"Jangan-jangan urusan ini ada hubungannya dengan Lou-bun-si?"

Berpikir sampai di situ dia lantas berbisik.

"Engkoh Hong, mari kita berangkat."

Mereka berdua segera berjalan mengikuti di belakang kedua orang lelaki berbaju biru itu kembali ke rumah penginapan Ko cian.

Tatkala sang pelayan menyaksikan Wi Tiong-hong dan Lok Khi yang baru ke luar rumah muncul kembali di situ, tanpa terasa ia menyambut kedatangan mereka dengan senyum dikulum, serunya.

"Wi ya, baru saja kalian ke luar rumah, sudah ada orang yang datang mencari, kini dia sedang menunggu di ruang belakang."

"Aku sudah tahu,"

Wi Tiong-hong manggut-manggut.

*** Bab 30 KEDUA ORANG LELAKI berbaju biru itu mengajak mereka berdua langsung menuju ke halaman belakang, mereka baru berhenti setelah tiba di depan pintu ruangan, ujarnya sambil menjura.

"Tam huhoat sedang menanti di dalam sana, silahkan kalian berdua masuk ..."

Kamar tersebut adalah kamar yang telah mereka gunakan selama beberapa hari ini, sambil mengangguk Wi Tiong-hong mengajak Lok Khi bersama-sama masuk keruang dalam.

Di ruang tamu duduk seorang lelaki berbaju hijau yang bermuka bersih, sepasang alis matanya berkenyit agaknya ada suatu masalah besar yang sedang mengganjal hatinya.

Ketika menyaksikan kedatangan kedua orang itu, dia segera bangkit berdiri dan menjura seraya berkata.

"Aku rasa saudara tentunya Wi tayhiap bukan? Siaute Tam Si-hoa."

Buru-buru Wi Tiong-hong balas memberi hormat.

"Aku adalah Wi Tiong-hong, dan dia adalah adik misanku Lok Khi, entah ada urusan apa saudara Tam mengundang kami kesini?"

Si pena baja Tam Si-hoa kembali menjura kepada Lok Khi sambil berkata.

"Oooh, kiranya Lok Lihiap, silahkan duduk silahkan duduk."

Sementara berbicara, dia telah merapatkan pintu depan dari ruangan tersebut.

Wi Tiong-hong melihat di luar pintu sana sudah ada dua orang lelaki berbaju biru melakukan penjagaan, maka menyaksikan Tam Si-hoa merapatkan pintu ruangan, dia lantas berpikir.

"Tadi, kedua orang lelaki berbaju biru itu sudah bilang kalau ada urusan maha penting yang hendak dibicarakan, kini dia-pun bersikap begitu serius dan berhati-hati, seakan-akan kuatir kalau pembicaraan mereka disadap orang, entah masalah apa yang hendak ia bicarakan denganku?"

Dengan penuh tanda tanya dia bersama Lok Khi segera mengambil tempat duduk.

Pelan-pelan Tam Si-hoa membalikkan badannya, tiba-tiba dengan wajah yang amat menghormat dia menjura kepada Wi Tiong-hong dalam-dalam, lalu serunya lirih.

"Hamba Tam Si-hoa menjumpai pangcu."

"Pangcu?"

Suatu sebutan yang amat aneh dan sama sekali di luar dugaan, Wi Tionghong tertegun.

Begitu pula dengan Lok Khi, dia turut tertegun.

Kedua orang itu hampir saja mencurigai telinga sendiri yang mungkin salah mendengar, tapi di hadapan mereka masih terlihat jelas Tam Si-hoa, pelindung hukum dari perkumpulan Thi-pit-pang sedang menjura bangkit berdiri.

Dengan gugup Wi Tiong-hong berkelit ke samping, kemudian sambil mengawasi Tam Si-hoa, serunya dengan terperanjat.

"Saudara Tam, mungkin kau telah salah melihat orang."

Masih berada dalam posisi menjura, Tam Si-hoa berkata.

"Mulai dari sekarang, Wi tayhiap adalan pangcu dari perkumpulan Thi-pit-pang kami."

Benar-benar suatu peristiwa yang sangat aneh dan sama sekali di luar dugaan siapa saja.

"Saudara Tam, kau tak boleh berbuat demikian,"

Seru Wi Tiong-hong cepat.

"Sebenarnya ada urusan apakah yang hendak kau bicarakan denganku?"

Pelan-pelan Tam Si-hoa meluruskan badannya, lalu menjawab dengan hormat sekali.

"Pangcu kami yang lalu telah meninggalkan pesan terakhirnya yang menetapkan bahwa jabatan pangcu selanjutnya akan diwariskan kepada Wi tayhiap. Kini hamba datang kemari untuk melaksanakan perintah tersebut."

Wi Tiong-hong semakin keheranan, berbagai kecurigaan segera berkecamuk dalam benaknya, dia tak tahu apa gerangan yang sebenarnya telah terjadi?

Lok Khi sendiri-pun sangat keheranan setelah termenung sebentar, dia-pun bertanya dingin.

"Jadi Ting Ci-kang telah tewas?"

Sekilas rasa sedih dan murung segera menghiasi wajah Tam Si-hoa, sahutnya lirih.

"Perkataan lihiap memang benar, Ting pangcu telah terbunuh ..."

"Kapan terbunuh nya?"

Seru Wi Tiong-hong setelah tertegun beberapa saat lamanya.

"Kemungkinan pada tiga hari berselang, hanya belum bisa dipastikan secara tepat."

Wi Tiong-hong adalah seorang pemuda yang jujur dan polos, walau-pun persahabatannya dengan Ting Ci-kang dinodai oleh sebatang Lou-bun-si, namun bagaimana-pun jua persahabatan tersebut pernah berlangsung.

Maka setelah mendengar tentang berita kematiannya, dia menjadi turut berduka, segera tanyanya.

"Ting toako mati dibunuh siapa?"

"Di atas kepala Ting pangcu tampak bekas pukulan beracun, mayatnya ditemukan di Sik-jin-tian, hamba dan Ku huhoat mendapat kabar dan menyusul ke sana, paling tidak Ting pangcu sudah kedapatan mati selama dua hari, siapakah pembunuhnya hingga kini masih belum diketahui."

"Aaaah ... lagi-lagi di Sik-jin-tian, kalau ada peristiwa pasti terjadi di tempat itu, sesungguhnya hal ini karena suatu kebetulan saja? Ataukan ada orang yang sengaja mengatur begini?"

Wi Tiong-hong hanya berpikir dalam hati kecilnya, sementara mulutnya membungkam dalam seribu bahasa. Kembali Tam Si-hoa berkata.

"Sebelum menemui ajalnya, tampaknya Ting pangcu sudah merasa kalau dia bakal ketimpa musibah tersebut, dalam saku bajunya telah disimpan surat yang berisikan pesan terakhirnya."

"Aaaaah, masa iya?"

Dengan wajah sangat berduka Tam Si-hoa menundukkan kepalanya rendah-rendah, ujarnya.

"Yang ditinggalkan adalah surat berdarah. Ia bilang, seandainya dia sampai tertimpa musibah, maka lencana pena baja harus diserahkan kepada Wi tayhiap."

"Lencana pena baja yang harus aku simpan menurut keinginan Ting toako itu sesungguhnya benda macam apa?"

"Lencana pena baja adalah barang pengenal dari ketua perkumpulan Thi-pit-pang, jadi sesungguhnya Ting pangcu berpesan agar Wi tayhiaplah yang menjabat kedudukan pangcu tersebut."

"Tapi menurut surat berdarah yang ditinggalkan Ting toako, bukankah dia hanya menyuruh aku menyimpankan lencana pena baja tersebut? Dia toh tidak menyuruh aku menjadi ketua dari Thi-pit-pang."

"Wi tayhiap hanya tahu satu tak tahu dua, bagi perkumpulan kami, barang siapa memegang lencana pena baja tersebut dialah pangcu kami, sekarang Ting pangcu meminta kepada Wi tayhiap."

Tiba-tiba Lok Khi tertawa dingin, jengeknya sambil melengos.

"Ting Ci-kang telah menotok jalan darah kematianmu, sayang usahanya itu gagal total, mana mungkin menjelang kematiannya ia masih teringat lagi denganmu? Huuh, siapa sih yang tertarik dengan kedudukannya sebagai seorang pangcu itu. Engkoh Hong, lebih baik kita pergi saja dari sini ..."

Mendongkol juga hati Tam Si-hoa setelah mendengar ejekan dari Lok Khi tersebut, namun memandang di atas wajah Wi Tiong-hong ia merasa kurang baik untuk mendamprat gadis tersebut, maka sambil memandang anak muda itu katanya.

"Sekarang Ku Huhoat masih menanti di ruang Sik-jin-tian, hamba sengaja datang kemari untuk menantikan tayhiap. Wi tayhiap, kendati-pun kau sama sekali tidak memandang sebelah mata-pun terhadap perkumpulan Thi-pit-pang, paling tidak kau harus memandang pada dalam persahabatanmu dengan Ting pangcu dulu. Ikutlah kami menuju ke Sik-jin-tian."

Sebelum Wi Tiong-hong sempat menjawab, sambil mendengus Lok Khi telah menukas.

"Kakak misanku sama sekali tidak mempunyai hubungan apa-apa dengan Ting Ci-kang."

Ucapan mana kontan saja membuat Tam Si-hoa jadi serba salah dibuatnya, untuk sesaat dia menjadi tertegun.

Menurut pesan terakhir Ting pangcu, dia menunjuk adik angkatnya Wi Tiong-hong untuk meneruskan jabatan sebagai ketua Thi-pit-pang, akan tetapi kalau didengar dari nada pembicaraan Lok Khi, nampaknya antara Wi Tiong-hong dengan Ting pangcu telah terjadi suatu kesalah pahaman yang amat mendalam.

Bagaimana mungkin hal ini bisa terjadi?"

Setelah mendehem pelan, dia lantas berkata.

"Mungkin Wi tayhiap telah menaruh salah paham terhadap Ting pangcu, tapi kini Ting pangcu telah terbunuh."

"Salah paham? Hmm, kejadian ini sudah bukan disebut salah paham lagi ...,"

Dengus Lok Khi.

"hampir saja selembar nyawa kakak misanku melayang di tangan Ting Ci-kang, hmm tahukah kau apa sebabnya Ting Ci-kang terbunuh?"

"Apakah lihiap tahu?"

Dengan mata terbelalak dan tubuh bergetar keras, Tam Si-hoa berseru.

"Tentu saja aku tahu, beritahu kepadamu-pun tak menjadi soal, empat hari berselang tanpa disengaja kakak misanku telah mendapatkan Lou-bun-si, dengan riang gembira ia menceritakan kejadian tersebut kepada Ting Ci-kang, kejadiannya di rumah penginapan ini juga. Siapa tahu Ting Ci-kang kemaruk harta, mendadak ia turun tangan keji dan menotok jalan darah kematian di tubuh kakak misanku, kemudian tergesa-gesa ia melarikan diri lewat jendela. Mungkin akhirnya peristiwa tersebut ketahuan orang lain, maka dia-pun di bunuh orang di Sik-jin-tian."

"Sudah lama sekali siaute mengikuti pangcu, siaute amat memahami watak Ting pangcu, ia adalah seorang yang setia kawan berjiwa besar, sampai mati-pun siaute tak akan percaya dengan perkataanmu itu."

Lok Khi segera mendengus dingin.

"Memangnya aku sengaja mengarang cerita bohong untuk menipumu? Terus terang kuberi tahukan kepadamu sewaktu kakak misanku menanggungnya ke luar dari tangan Ban Kiam-hwee, padahal dia sudah tertipu, sebab sejak semula dia sudah tergabung dengan pihak Ban Kiam-hwee."

"Ting pangcu adalah seorang lelaki sejati, dia gagah dan perkasa tak nanti dia akan bertekuk lutut terhadap orang-orang Ban Kiam-hwee."

"Huuh mau percaya atau tidak terserah kepadamu sendiri, toh bagaimana-pun juga diantara kita memang tak ada sangkutpautnya,"

Seru Lok Khi kemudian sambil mencibir.

Walau-pun perkenalan Wi Tiong-hong dengan Ting Ci-kang belum berlangsung lama, namun Ting Ci-kang telah memberikan kesan yang mendalam sekali baginya, dia selalu merasa sahabatnya itu berjiwa besar, gagah, setia kawan dan bijaksana, maka ia merasa tercengang juga sewaktu sahabatnya itu tiba-tiba turun tangan keji kepadanya.

Kini, setelah mendengar perdebatan dari ke dua orang ini.

Tanpa terasa timbul kembali kecurigaan di dalam hatinya.

Terbayang kembali di dalam benaknya sikap Ting toakonya semenjak dibebaskan dari sekapan orang-orang Ban Kiam-hwee, pada waktu itu juga dalam hati kecilnya telah muncul suatu perasaan yang sukar dilukiskan dengan kata-kata.

Ia selalu merasa baik dalam tingkah laku mau-pun dalam sikap berbicara, Ting toakonya ini terdapat banyak sekali perbedaan kalau dibandingkan dengan sikapnya sewaktu mereka berkenalan untuk pertama kalinya.

Waktu itu ia tidak terlalu memperhatikan akan gejala tersebut, tapi setelah dibayangkan kembali sekarang, ia merasa hal itu benar-benar mencurigakan sekali.

Berpikir demikian, dia lantas berkata kepada Lok Khi.

"Adikku, mari kita ke Sik-jin-tian."

Mendengar nada suara pemuda itu amat tegas, tanpa terasa Lok Khi berpaling dan memandang sekejap ke arahnya.

"Apakah kau hendak memeriksa luka beracun apakah yang diderita Ting Ci-kang, kemudian membalaskan dendam baginya?"

"Aku telah teringat akan suatu hal yang sangat penting, sekarang juga aku hendak membuktikannya."

"Kau teringat akan soal apa?" *** "SAMPAI detik ini aku hanya menduga-duga saja, sesampainya di sana segala sesuatunya baru akan menjadi jelas,"

Ucap Wi Tiong-hong.

Lok Khi segera teringat pula dengan perintah gurunya yang menitahkan kepadanya untuk mendatangi Kiam-bun-san dan minta kembali Lou-bun-si yang berhasil dirampas orang-orang Ban Kiam-hwee itu.

Tapi kini, Ting Ci-kang ditemukan tewas di tengah jalan, itu berarti pena Lou-bun-si telah dilarikan orang dan Kiam-bun-san tak perlu dikunjungi lagi.

Sekarang engkoh Hongnya bersikeras hendak menuju ke Sik-jin-tian, siapa tahu dari situ dia akan berhasil mendapatkan berita tentang Lou-bun-si tersebut?

Tatkala Tam Si-hoa mendengar Wi Tiong-hong tersedia untuk pergi kesana, dengan cepat ia perintahkan orang untuk menyiapkan kuda.

Mereka bertiga segera berangkat meninggalkan rumah penginapan itu dan membedal kudanya menuju ke luar kota, kurang lebih setengah jam kemudian sampailah mereka di Sik-jin-tian.

Kuil kecil yang di hari-hari masa sama sekali tak berpenghuni itu, kini sudah dipenuhi oleh puluhan orang lelaki berpakaian ringkas warna biru yang menggembol golok, sekilas pandangan segera diketahui kalau mereka adalah anggota Thi-pit-pang.

Pada pinggang mereka semua melilit seutas ikat pinggang berwarna putih, tentu saja hal ini melambangkan duka cita mereka atas kematian ketuanya.

Baru saja ketiga ekor kuda itu mendekati orang-orang itu menyingkir ke samping sambil membungkukkan badan memberi hormat, sikapnya menghormat sekali.

Kuda berhenti di muka kuil, belum lagi Wi Tiong-hong turun dari kudanya, dari dalam kuil telah memburu ke luar seorang lelaki berperawakan tinggi besar.

Lelaki itu langsung memburu ke depan kuda dan menjura sambil berkata pelan.

"Hamba Ku Tiang-sun menjumpai pangcu."

"Wi tayhiap, dia adalah Ku huhoat,"

Buru-buru Tam Si-hoa menerangkan. Buru-buru Wi Tiong-hong melompat turun dari kudanya sambil balas membalas memberi hormat.

"Harap saudara Ku jangan banyak adat, siaute telah datang memenuhi undangan, bila ada persoalan mari kita bicarakan di dalam saja."

Sementara berbicara, sepasang matanya mengawasi wajah orang itu lekat-lekat.

Ternyata dia adalah seorang lelaki yang tinggi besar, alis matanya tebal, matanya besar dan berwajah gagah, tidak malu kalau dijuluki orang sebagai Makhluk bertanduk tunggal.

Menyusul kemudian Tam Si-hoa perkenalkan Lok Khi, Ku Tiang-sun-pun berbasa basi sebentar sebelum menghantar Wi Tiong-hong berdua memasuki ruang kuil.

Sie-jin-tian sesungguhnya adalah sebuah kuil kecil dikaki bukit, saat itu di tengah ruangan membujur sebuah peti mati berwarna hitam, di depannya diatur sebuah meja altar dengan sesaji buah-buahan, bunga dan dupa.

Ternyata kembali hubungan persahabatannya dengan Ting Ci-kang, setelah melihat peti mati itu, Wi Tiong-hong menjadi sedih, hingga titik air mata jatuh bercucuran.

Ia segera maju ke depan layon dan memberi hormat beberapa kali dengan perasaan tulus.

Lok Khi berdiri di belakangnya berlagak seakan-akan tidak melihat.

Makhluk bertanduk tunggal Ku Tiang-sun sekalian menanti hingga Wi Tiong-hong selesai membeli hormat baru serunya sembari menjura.

"Silahkan pangcu beristirahat dulu, hamba masih ada urusan yang hendak dibicarakan."

Sambil berkata, ia persilahkan pemuda itu menuju ke ruangan sebelah kiri..

Ternyata disini telah tersedia beberapa buah kursi dan sebuah meja kecil dengan beberapa cawan air teh.

Ketika Wi Tiong-hong mendengar orang itu berulang kali menyebut dirinya sebagai "pangpcu", tanpa terasa keningnya segera berkerut, katanya sembari menjura.

"Saudara Ku, harap kau jangan menggunakan istilah pangcu lagi untuk memanggilku, siaute tak berani menerimanya."

Makhluk bertanduk tunggal Ku Tiang-siu agak tertegun, lalu ujarnya.

"Tapi ini atas permintaan terakhir dari Ting pangcu, kami semua-pun mendukung atas keputusan tersebut, harap pangcu jangan menampik lagi ..."

Wi Tiong-hong tertawa.

"Siaute belum lama terjun ke dalam dunia persilatan, pengalaman serta pengetahuanku masih sangat cetek. Bagaimana mungkin aku dapat memikul jabatan yang begini berat? Di samping itu, ada-pun kedatangan siaute kemari hanya ingin membuktikan beberapa persoalan yang mencurigakan hatiku, bila saudara Ku menyebutku lagi dengan panggilan itu, terpaksa siaute harus mohon diri."

Tam Si-hoa diam-diam mengerling sekejap ke arah Makhluk bertanduk tunggal memberi tanda, lalu katanya.

"Saudara Ku, harap kau ambil ke luar surat wasiat dari Ting pangcu dan perlihatkan kepada Wi tayhiap. Kemudian segala sesuatunya baru dirundingkan lagi."

Selesai berkata ia lantas mempersilahkan kedua orang itu duduk di kursi dalam ruang sebelah kiri, kemudian mengambilkan dua cawan air teh dan diletakkan di depan kedua orang itu.

Buru-buru Wi Tiong-hong bangkit sambil mengucapkan terima kasih, sementara itu Makhluk bertanduk tunggal Ku Tiang-sun telah mengambil ke luar sebuah bungkusan kuning dari atas altar, lalu dengan wajah serius membawa bungkusan tersebut ke depan Wi Tiong-hong.

Kemudian setelah membuka bungkusan kuning itu, dia mengeluarkan sebuah kotak kayu dan diserahkan kepada Tam Si-hoa.

Dengan wajah serius pula Tam Si-hoa menerima kotak tadi dan membukanya, setelah itu dia baru mempersembahkannya ke hadapan Wi Tiong-hong, ujarnya dengan sikap hormat.

"Wi tayhiap, inilah surat darah tulisan Ting-pangcu serta lencana pena baja yang diserahkan kepada tayhiap untuk menyimpannya, silahkan tayhiap periksa."

Melihat kedua orang pelindung hukum itu satu berdiri di sebelah kiri yang lain berdiri di sebelah kanan dengan sikap yang serius dan menghormat, buru-buru pemuda itu berdiri dan siap menerima pemberian tersebut.

Mendadak terdengar Lok Khi mendengus dingin, lalu berteriak keras.

"Engkoh Hong, jangan kau terima, mereka sedang melakukan upacara penyerahan tanda pengenal pangcu kepadamu."

Wi Tiong-hong menjadi tertegun setelah mendengar perkataan itu, sambil mengangkat kepalanya dia segera berseru.

"Saudara Tam, saudara Ku, jabatan pangcu dari perkumpulan kalian ini tak berani siaute terima."

Makhluk bertanduk tunggal Ku Tiang-sun segera berpaling ke arah Tam Si-hoa, lalu katanya.

"Kami hanya melaksanakan pesan terakhir dari Ting pangcu, harap Wi Tayhiap jangan menampik lagi. Bila kau tak mau menerimanya terpaksa kami hanya bisa membubarkan perkumpulan ini."

"Sekali-pun Wi tayhiap keberatan untuk memangku jabatan ini, tapi sebelum meninggal Ting pangcu telah menitipkan perkumpulan kami kepadamu, bagaimana-pun jua Wi tayhiap toh tak bisa membiarkan perkumpulan kami ..."

Sebelum Tam Si-hoa menyelesaikan kata-katanya, dengan tegas Wi Tiong-hong telah menukas.

"Dalam hal ini sulit rasanya bagi siaute untuk mengabulkan."

Dengan agak sedih Makhluk bertanduk tunggal Ku Tiang-sun berbisik.

"Saudara Tam ..."

Sambil memegang kotak kayu itu, Tam Si-hoa mendehem pelan, baru berkata.

"Kalau toh Wi tayhiap bersikeras enggan menerimanya. Siaute mempunyai suatu cara yang lebih baik lagi untuk mengatasi persoalan ini, entah bagaimana menurut pendapat Wi tayhiap?"

"Harap saudara Tam berbacara."

Tam Si-hoa memandang sekejap rekannya si Makhluk bertanduk tunggal, katanya.

"Yang ditolak oleh Wi tayhiap apakah jabatan dalam perkumpulan kami ini ...?"

"Benar, siaute baru terjun ke dunia persilatan, aku tak berani memikul tanggung jawab sebagai seorang ketua, di samping itu siaute pribadi masih mempunyai banyak persoalan yang belum terselesaikan, harap kalian berdua sudi memaafkan."

Tam Si-hoa langsung mengerti, setelah termenung sejenak, lalu ujarnya.

"Barusan siaute dengar dari pembicaraan Lok lihiap yang mengatakan bahwa antara Wi tayhiap dengan Ting pangcu agaknya sudah terjadi kesalahan pahaman, kini Ting pangcu sudah tiada. Wi tayhiap sebagai enghiong, seorang bijaksana sejati tentunya tak akan mempersoalkan lagi tentang kesalahan paham itu bukan? Benarkah pendapat siaute ini?"

Wi Tiong-hong segera manggut-manggut.

"Ucapan saudara Tam memang benar, peristiwa itu memang sudah tidak siaute pikirkan."

"Saudara Tam,"

Tiba-tiba Makhluk bertanduk tunggal Ku Tiang-sun menimbrung dari samping.

"Sebenarnya kesalahan paham apakah yang telah terjadi antara Ting pangcu dengan Wi tayhiap?"

Tam Si-hoa mengerdipkan matanya berulang kali ke arah rekannya, kemudian berkata lebih lanjut.

"Nah itulah dia, bagaimana-pun juga Ting pangcu dan Wi tayhiap adalah sahabat karib yang melebihi hubungan saudara, bagi umat persilatan kesetiaan kawan adalah hal yang nomor satu. Sekarang Ting pangcu telah menyerahkan lencana pena baja serta keutuhan perkumpulan Thi-pit-pang kepada Wi tayhiap, sekali-pun Wi tayhiap enggan menerima jabatan sebagai pangcu dari perkumpulan kami. Tetapi rasanya kalau cuma menyimpankan saja lencana baja tersebut bukan sesuatu yang memberatkan hati tayhiap bukan?"

"Tentang soal ini ..."

Tidak menunggu anak muda itu menyelesaikan perkataannya, Tam Si-hoa segera menyambung kembali kata-katanya sambil tertawa.

"Oleh karena itu, menurut pendapat siaute lebih baik kita laksanakan seperti apa yang di tulis Ting pangcu dalam surat wasiatnya saja. Harap Wi tayhiap suka menerima lencana pena baja ini dan menyimpankan untuk sementara waktu. Anggaplah kau menyimpankan benda itu demi perkumpulan kami, entah bagai manakah menurut pendapat Wi tayhiap?"

Mendengar sampai di situ, si Makhluk bertanduk tunggal-pun segera memahami maksud tujuan Tam Si-hoa, dia-pun tidak turut menimbrung di dalam pembicaraan tersebut.

Wi Tiong-hong ragu-ragu sejenak, akhirnya dia-pun mengangguk.

"Baik, siaute bersedia menyimpankan benda itu untuk sementara waktu."

"Engkoh Hong,"

Lok Khi segera menimbrung.

"lencana pena baja adalah barang yang paling berharga dari perkumpulan mereka, benda itu merupakan benda pengenal dari pangcu mereka, bagaimana mungkin kau bisa menyimpan buat mereka?"

"Aku tak lebih hanya menyimpankan bagi mereka untuk sementara waktu, menanti mereka sudah mengambil keputusan untuk memilih pangcu yang baru, maka kewajibanku untuk menyimpankan benda itu-pun akan berakhir."

"Huuuh, kau memang sukanya mencampuri urusan orang lain,"

Omel Lok Khi sambil cemberut. Sementara itu Tam Si-hoa sedang mengangguk tiada hentinya sambil berkata.

"Benar, benar, siaute memang bermaksud demikian."

Berbicara sampai di situ, dia lantas melanjutkan.

"Kalau toh Wi tayhiap telah mengabulkan harap kau menerima kembali benda tersebut."

Sambil berkata, dia mengangsurkan kotak kayu tersebut ke tangan Wi Tiong-hong. Oleh karena persoalan sudah menjadi jelas, maka Wi Tiong-hong-pun menerima pemberian tersebut, katanya kemudian.

"Saudara Tam, saudara Ku, silahkan duduk dan mari kita berbincang."

Tam si-hoa berpaling ke arah Ku Tiang-sun kemudian tersenyum, mereka berdua segera duduk di tempat masing-masing.

Wi Tiong-hong meletakan kotak kayu itu ke atas meja, terlihat olehnya benda yang berada dalam kotak itu adalah sebatang pena besi yang panjangnya delapan inci dan besarnya se ibu jari, pada ujung pena terukir empat huruf yang berbunyi.

"THI-PIT-LENG-GI."

Membaca tulisan itu, Wi Tiong-hong merasa keheranan, pikirnya.

"Seharusnya tulisan yang dicantumkan di situ adalah Thi-pit-leng, mengapa di bawah tulisan tersebut harus ditambah pula dengan sebuah huruf Gi?"

Sementara ia masih termenung Tam Si-hoa telah berkata sambil tertawa.

"Pena baja ini sebenarnya merupakan senjata andalan dari lo pangcu perkumpulan kami, di masa lalu lo pangcu pernah memang ku jabatan seorang Leng-gi (camat) di kota Tong kwau itulah sebabnya senjata andalannya dinamakan Thi-pit-leng-gi, setelah lo pangcu wafat, perkumpulan kami-pun mempergunakan pena itu, sebagai tanda kekuasaan bagi pangcu dengan menyebutnya sebagai lencana pena baja."

"Oooooh, kiranya begitu."

Dia lantas mengambil pena baja itu sembari berkata lagi.

"Untuk sementara waktu pena ini akan siaute simpan, semoga saja kalian bisa cepat-cepat memilih pangcu baru hingga pena ini-pun bisa secepatnya aku kembalikan kepada kalian."

Berbicara sampai di situ, dia lantas menyimpan pena baja itu ke dalam sakunya.

Terasa olehnya meski pena baja tersebut amat kecil akan tetapi bobotnya justru jauh lebih berat dari pada senjata lain yang seukuran dengan benda itu, malah boleh dibilang bobotnya satu kali lipat lebih berat.

Melihat itu, kembali dia berpikir.

"Sebagai senjata andalan dari Thi pit tin-kan kun (pena baja yang menenteramkan Jagad) Tau Pek-li, kemungkinan besar pena ini dibuat dari bahan baja asli, tak heran kalau bobotnya amat berat."

Karena itu dia-pun tidak memperhatikannya lebih jauh.

Di bawah pena baja tadi terlihat sebuah lipatan kain berwarna hijau, di atas kain itu tertera beberapa huruf yang ditulis dengan darah.

Jelas sekali itu berasal dari robekan pakaian yang dikenakan Ting Ci-kang pada waktu itu, maka diambilnya lipatan kain tadi, kemudian dibaca isinya, terbaca olehnya tulisan tersebut berbunyi demikian.

"Bila aku menemui celaka, serahkan lencana pena baja ini kepada adikku Wi Tiong-hong, tertanda Ci-kang."

Agaknya tulisan itu dibuat dengan goresan jari tangan, hurufnya awut-awutan dan darah yang dibuat menulis-pun tebal tipisnya tak menentu.

Namun kegagahannya masih terpancar dari balik tulisan sana, persis seperti watak yang sebenarnya dari Ting Ci-kang.

Membaca beberapa huruf yang tertera di atas kain itu, tanpa terasa Wi Tiong-hong teringat kembali akan kegagahan dari Ting Ci-kang di masa lalu, bersama itu juga dia terbayang kembali senyum licik diperlihatkan Ting Ci-kang sewaktu hendak menotok jalan darah kematiannya pada malam itu.

Tanpa terasa sambil mendongakkan kepala, dia berpikir.

"Mungkinkah bukan dia?"

Tam Si-hoa dan Ku Tiang-siu yang menyaksikan anak muda ini mendongakkan kepalanya sambil termangu-mangu setelah membaca tulisan berdarah itu, seperti lagi mengenangkan kembali sahabat karibnya itu untuk sesaat.

Mereka-pun merasa tak baik untuk mengganggu.

Lewat sesaat kemudian, mendadak Wi Tiong-hong berseru keras.

"Saudara Tam, saudara Ku ..."

"Wi tayhiap ada petunjuk apa?"

Kedua orang itu berseru bersama.

"Apakah kalian berdua mengenali tulisan berdarah yang tertulis di atas robekan kain ini adalah tulisan tangan dari Ting toako?"

Tam Si-hoa agak tertegun, lalu sahutnya.

"Tak bakal salah, siaute dapat mengenali gaya tulisan dari Ting pangcu dalam sekali pandangan saja."

Makhluk bertanduk tunggal Ku Tiang-sun turut manggut-manggut pula sambil menjawab.

"Walau-pun tulisan dari Ting pangcu tak bisa dibilang baik, tapi gaya tulisannya memancarkan suatu sikap yang gagah dan mentereng, orang lain tak mungkin bisa menirukan gaya tulisannya itu."

"Kalau memang tulisan darahnya benar, maka bagaimana dengan jenasahnya?"

Tanya Wi Tiong-hong lagi.

"apakah kalian berdua telah melihat jelas bahwa mayat itu adalah mayat dari Ting toako pribadi?"

Mendapat pertanyaan tersebut, Tam Si-hoa mau-pun makhluk bertanduk tunggal Ku Tiang-sun sama-sama merasakan hatinya bergetar keras. Setelah termangu beberapa saat, Tam Si-hoa baru berkata.

"Apakah Wi tayhiap mencurigai orang yang telah tewas ini bukan Ting pangcu yang sesungguhnya?"

"Hal ini mustahil bisa terjadi,"

Sambung Makhluk bertanduk tunggal Ku Tiangsun cepat.

"perawakan mau-pun raut wajah Ting pangcu sangat kami kenali, bagaimana mungkin hal ini bisa mengelabuhi kami berdua?"

Tam Si-hoa termenung sebentar, tiba-tiba dia berkata lagi.

"Saudara Ku, persoalan ini memang agak mencurigakan?"

"Saudara Tam, maksudmu wajah Ting pangcu yang telah membengkak itu ..."

Ku Tiang-sun jelas amat terkejut. Tam Si-hoa manggut-manggut.

"Raut wajah yang telah membengkak membuat orang sukar untuk membedakan asli tidaknya orang itu. bila Wi tayhiap tidak bertanya, tentu saja siaute tak akan berpikir sampai ke situ, tapi setelah mendengar pertanyaan dari Wi tayhiap, siaute baru merasa bahwa di balik semua peristiwa ini sesungguhnya terdapat hal-hal yang amat mencurigakan."

"Luka Ting pangcu berada di kepala bagian belakang, namun tengkorak kepalanya masih utuh, dia mati karena keracunan, mukanya membengkak besar sekali, tapi kalau berbicara dari soal perawakan mau-pun bentuk wajahnya memang mirip sekali dengan wajah Ting pangcu yang sebenarnya. Jika dibilang dia bukan Ting pangcu, mengapa pula dia bisa memiliki perawakan mau-pun bentuk wajah yang serupa?"

"Justru disinilah letak ketidak pahaman siaute ..."

Sambung Tam Si-hoa cepat. Berbicara sampai di situ, mendadak ia berpaling ke arah Wi Tiong-hong, kemudian tanyanya.

"Aku tahu, Wi tayhiap bisa bertanya demikian karena kau menaruh curiga terhadap kasus pembunuhan itu, bolehkah aku mengetahui pendapatmu?"

"Sesungguhnya persahabatan siaute dengan Ting toko belum berlangsung lama, tapi kalau dipikirkan kembali dengan seksama, dalam waktu yang relatip singkat ini rasanya ..."

Kembali pemuda itu membungkam. Dengan agak emosi Tam Si-hoa berseru.

"Wi tayhiap. silahkan kau utarakan dengan sejelas-jelasnya ..."

"Aku hanya mengemukakan kemungkinan-kemungkinan saja, bila siaute mengenang kembali kejadian di masa lalu, agaknya tanpa sengaja dia telah memperlihatkan beberapa tindakan yang mencurigakan sekali, seandainya aku tidak membaca surat berdarah yang ditinggalkan Ting toako barusan, tak mungkin siaute akan merasa curiga."

"Sebenarnya persoalan apa yang menimbulkan kecurigaan Wi tayhiap ...? "

Desak Ku Tiang-sun.

"Siaute merasa seperti bertemu dengan dua orang Ting toako."

Perkataan itu ibaratnya dua buah martil berat yang menghantam dada Tam Si-hoa dan Makhluk bertanduk tunggal Ku Tiang-sun, tubuh mereka nampak bergetar keras, serunya hampir berbareng.

"Benarkah telah terjadi peristiwa semacam ini?"

Lok Khi-pun ikut berseru dengan mata ter-belalak.

"Engkoh Hong, mengapa aku tak pernah mendengar kau berkata demikian?"

Bab 31

"Dahulu, aku belum pernah berpikir sampai di sini, tapi setelah kudengar saudara Tam dan saudara Ku semuanya mengatakan kalau Ting toako adalah seorang enghiong seorang lelaki sejati yang berjiwa besar, maka aku lantas mengenang kembali kejadian di kala kami berkenalan, ia memang seorang yang gagah dan berjiwa besar. Tetapi kemudian aku merasa seakan-akan telah bertemu dengan orang lain, bila kubandingkan mereka satu sama lainnya, maka segera aku temukan beberapa persoalan yang mencurigakan."

"Persoalan ini harus dibicarakan mulai dari pihak Ban Kiam-hwee membebaskan toako, sebagaimana diketahui sejak kecil aku dibesarkan oleh seorang paman, hingga kini riwayat hidupku masih merupakan tanda tanya besar, bahkan siapakah pamanku ini-pun tidak aku ketahui. Persoalan ini sudah diketahui Ting toako sejak kami berkenalan, sebab aku pernah menceritakan hal ini kepadanya. Tetapi setelah dia dibebaskan oleh pihak Ban Kiam-hwee ternyata ia bertanya lagi kepadaku, siapakah pamanku ini? Padahal dia tahu kalau Siu Lo Cin-leng adalah barang peninggalan pamanku, tapi dia bertanya pula kepadaku sekitar asal usulnya."

Dari balik mata Tam Si-hoa, tanyanya tiba-tiba.

"Masih ada yang lain, Wi tayhiap?"

"Masih ada satu hal lagi, perkenalanku yang pertama dengan Ting toako terjadi di atas loteng rumah makan Hwepia lo waktu itu, mendadak ia berkata begini kepadaku.

"Hwepia lo adalah rumah makan yang paling ternama di kota ini, sayur dan araknya baik, mari kita kemari saja."

Padahal kami baru dua tiga hari berpisah, mustahil kalau dia lupa bahwa loteng Hwe pia lo adalah tempat kita berkenalan."

"Aaah, tak salah lagi kalau begitu,"

Mahluk bertanduk tunggal segera berseru.

"Apakah waktu itu Wi tayhiap tidak berpikir sampai kesitu?"

Tanya Tam Si-hoa pula.

"Tidak,"

Wi Tiong-hong menggeleng setelah berhenti sebentar, dia melanjutkan.

"Masih ada satu hal lagi, kedatanganku dan Ting toako di kuil Sik-jin-tian adalah dikarenakan Ting toako telah menyanggupi pihak Bu-tong-pay untuk menyelidiki sebab kematian orang-orang Ban-li piaukiok, di sekitar kuil Sik-jin-tian di mana sebatang pena baja milik Ting toako juga ditemukan di sana, ketika itu Ting toako telah menyanggupi paling cepat tiga bulan, paling lama setahun untuk mencari tahu perbuatan siapakah pembunuhan tersebut dan memberi pertanggungan jawabnya kepada pihak Bu-tong-pay."

"Oleh karena itulah Ting toako datang ke kuil Sik-jin-tian guna melakukan penyelidikikan, jadi kedatangannya kesitu bukan untuk mencari Lou-bun-si. Tapi kemudian dia justru mendesak aku terus menerus untuk memberitahukan kepadanya, apa saja yang pernah dia katakan kepadaku. Hmmm, bayangkan saja, apa yang pernah dia katakan sendiri. Masa ditanyakan kepadaku? Bahkan kalau didengar dari nada pembicaraannya, tampaknya dia seperti menaruh perhatian yang besar sekali tentang Lou-bun-si tersebut."

Tam Si-hoa manggut-manggut tiada hentinya lalu bertanya.

"Masih ada yang lain?"

"Beberapa persoalan yang siaute katakan sekarang, kalau dipikirkan kembali kini telah berubah menjadi hal-hal yang mencurigakan terutama sekali di saat aku temukan Lou-bun-si secara tidak sengaja pada malam itu, mendadak saja ia turun tangan keji kepadaku, bukan saja wajahnya memperlihatkan rasa bangga, bahkan senyuman licik yang menghiasi wajahnya tak mungkin bisa muncul di atas wajah seorang lelaki yang berjiwa gagah dan bijaksana."

Mahluk bertanduk tunggal Ku Tiang-sun segera berpaling ke arah Tam Si-hoa sambil berkata.

"Kalau begitu, pasti ada orang yang telah menyaru sebagai Ting pangcu."

"Ketika siaute membaca surat berdarah ini, seolah-olah aku telah bertemu lagi dengan Ting toako, aku dapat merasakan dalam setiap patah kara tersebut semuanya mencerminkan sifat gagah diri Ting toako, bahkan sampai menjelang ajalnya dia masih tetap menganggap diriku sebagai adik angkatnya."

Suaranya kedengaran agak sesenggukan lanjutnya lebih jauh.

"Seandainya dia adalah orang yang merampas Lou-bun-si dari tanganku dan menotok jalan darah kematianku, sudah pasti ia sudah tidak mempunyai perasaan persaudaraan lagi denganku, mustahil dia akan menyebutku sebagai adik angkatnya, dia-pun tak mungkin akan menyerahkan lencana pena bajanya kepadaku, oleh sebab itu siaute lantas menduga kalau di antara seluruh kejadian tersebut sudah pasti telah muncul seorang gadungan."

"Kalau begitu, Ting pangcu yang telah meninggal sekarang belum tentu adalah Ting pangcu yang asli?"

Kata Tiang-sun. Tam Si-hoa termenung dan berpikir sebentar, kemudian katanya.

"Kemungkinan juga yang mati ini bukan Ting pangcu, orang itu berhasil merampas Lou-bun-si dari tangan Wi tayhiap. Mungkin karena takut ada orang mencarinya, maka dia baru berlagak seakan-akan Ting pangcu telah mati terbunuh. Sementara ia sendiri memanfaatkan kesempatan itu untuk melarikan diri."

"Tidak benar,"

Bantah Ku Tiang-sun.

"Orang ini berwajah mirip dengan Ting pangcu, kemungkinan juga setelah berhasil merampas Lou-bun-si, dia kena dikejar orang dan terbunuh di tengah jalan. Tapi, di manakah Ting pangcu yang asli?"

Lok Khi yang selama ini membungkam, tak tahan segera menimbrung.

"Seandainya orang menyaru sebagai Ting Ci-kang, maka orang itu sudah pasti anak buah Ban Kiam-hwee, pada hakekatnya Ban kiam-hwee belum pernah melepaskan Ting Ci-kang dari kurungan mereka, atau mungkin juga ia sudah tewas di tangan orang-orang Ban kiam-hwee, lantaran mereka tak dapat menyerahkan orang yang diminta, terpaksa dikirimlah seseorang sebagai Ting Ci-kang gadungan. Meringkus lagi anak buahnya untuk membunuh Ting Ci-kang gadungan agar rahasianya tak pernah terbongkar."

Melotot besar sepasang mata Makhluk bertanduk tunggal Ku Tiang-sun setelah mendengar perkataan itu, ditatapnya wajah Tam Si-hoa dengan sinar mata tajam, kemudian katanya.

"Saudara Tam, apa yang dikatakan Lok lihiap ini ada benarnya juga ..."

"Bagian muka dari mayat Ting pangcu berada dalam keadaan membengkak, memang sulit rasanya untuk membedakan apakah dia yang asli atau yang gadungan ... ,"

Kata Tam Si-hoa. Berbicara sampai di situ, mendadak dia mengalihkan sinar matanya ke wajah Ku Tiang-sun, kemudian tanyanya lagi.

"Saudara Ku, masih ingatkah kau di atas tubuh Ting pangcu terdapat ciri apa?"

"Apakah saudara Tam ingin membuka peti dan memeriksa mayat?"

Seru Ku Tiang-sun terkejut.

"Yaaa, kecuali membuka peti dan memeriksa mayat, rasanya tiada cara yang lebih baik lagi buat kita, sekarang kita harus meyakinkan lebih dahulu orang ini sesungguhnya Ting pangcu asli atau bukan, kemudian baru menyusun rencana berikutnya."

"Perkataan saudara Tam memang benar, siaute jadi teringat kembali dengan kasus pembunuhan tanpa kepala yang terjadi di desa kita tempo hari ..."

Tam Si-hoa manggut manggut.

"Siaute masih ingat, perbuatan itu adalah hasil karya dari orang-orang Huan-yang-pang, Ting pangcu harus turun tangan sendiri mengejar sampai di wilayah Kang sau sebelum berhasil membekuk orang itu. Bahkan bahunya pernah termakan sebatang paku cu-bu-ting dan melukai otot serta tulangnya, yaaa, di atas bahunya memang terdapat sebuah codet sebagai ciri khasnya ..."

Berbicara sampai di situ, dia lantas membalikkan badan dan berjalan menghampiri peti mati itu.

"Saudara Tam, tunggu sebentar,"

Tiba-tiba Ku Tiang-sun berseru. Kemudian dengan suatu gerakan cepat dia menyelinap ke depan pintu, kepada orang-orang yang berada di luar ruangan, bentaknya.

"Entah siapa-pun, sebelum mendapat ijinku dilarang memasuki ruangan ini ..."

Para anggota Thi-pit-pang yang berada di luar pintu bersama-sama mengiakan.

Makhluk bertanduk tunggal Ku Tiang-sun segera merapatkan kembali pintu ruangan.

Wi Tiong-hong dan Lok Khi ikut beranjak dan mendekati peti mati tersebut.

Tam Si-hoa tidak banyak berbicara lagi, dia berjalan ke depan peti mati, mengerahkan tenaga dalamnya pada lengan kanan kemudian mencengkeram penutup peti mati itu dan diangkatnya ke atas.

"Kraaks,"

Penutup peti mati itu segera terbuka. Wi Tiong-hong menundukkan kepalanya.

"orang yang berbaring tenang dalam peti mati itu bila bukan Ting Ci-kang lantas siapa?"

Bukan saja bentuk tubuhnya serupa bahkan sangat dikenal olehnya, sekali-pun wajahnya sudah membengkak akibat terhajar pukulan beracun hingga warnanya berubah menjadi hijau kehitaman, namun raut wajahnya masih mencerminkan wajah Ting Ci-kang yang sebenarnya tak mungkin bisa salah.

Tanpa terasa bisiknya pada Lok Khi.

"Adikku, coba kau perhatikan ... benarkah dia pribadi?"

Lho Khi berkerut kening, lalu menjawab pula lirih.

"Sulit untuk dikatakan, dari toako aku pernah mendengar kalau dalam dunia persilatan terdapat semacam ilmu menyaru muka yang bisa merubah seorang persis seperti lainnya. Tak usah memakai obat khusus tapi dicuci-pun tak akan hilang."

Sementara dia masih berbicara, Si Pena baja Tam Si-hoa telah merobek baju bagian bahu kiri yang dikenakan Ting Ci-kang, ternyata di atas bahu itu benar-benar terdapat sebuah codet.

Si Makhluk bertanduk tunggal Ku Tiang-sun segera menjadi amat sedih, serunya tertahan.

"Ooooh, Ting pangcu, ternyata orang yang terbunuh benar-benar adalah Ting pangcu."

Setelah terbukti kalau orang yang tewas adalah Ting toakonya, Wi Tiong-hong turut merasakan hatinya menjadi kecut, tanpa terasa titik air mata jatuh berlinang membasahi pipinya.

Ketika Thipoan Tam Si-hoa melihat luka codet dibahu Ting Ci-kang, mula-mula dia-pun nampak tertegun, tapi kemudian sambil tertawa dingin ia maju selangkah ke depan, lalu dengan cepat menyambar kaki kanan Ting Ci-kang, melepaskan sepatunya dan merobek kaos kakinya setelah dirobek, mendadak dia mendongakkan kepalanya dan tertawa terbahak-bahak, Wi Tiong-hong menjadi tertegun.

Sebelum anak muda itu sempat mengucapkan sesuatu, dengan melototkan matanya bulat-bulat si Mahluk bertanduk tunggal Ku Tiang-sun telah menegur keras.

"Saudara Tam, apakah kau berhasil menemukan sesuatu?"

Hawa amarah telah menyelimuti seluruh wajah Thipoan Tam Si-hoa, dengan sorot mata berkilat teriaknya keras-keras.

"Orang ini bukan Ting pangcu."

Sekujur tubuh Makhluk bertanduk tunggal Ku Tiang-sun gemetar keras, buru-buru tanyanya dengan cemas.

"Lantas siapakah dia?"

"Kalau bukan Ting pangcu, tentu saja dia adalah orang yang telah merampas pena mestika Lou-bun-si dari tangan Wi tayhiap."

"Saudara Tam dari hal apa kau bisa mengetahui kalau orang ini bukan Ting pangcu?"

Thipoan Tam Si-hoa menjengek dingin.

"Setelah bangsat ini ingin menyaru yang persis, tentu saja dia tak akan tidak memperhatikan hal-hal yang terkecil dalam mensukseskan penyaruannya, bekas codet di bahu Ting pangcu telah diketahui setiap orang, hal tersebut sudah bukan termasuk suatu rahasia lagi."

"Tapi dengan mata kepala sendiri siaute pernah menyaksikan kalau di kaki kanan Ting pangcu terdapat sebuah tahi lalat hitam, coba kalau dia tidak membuka sepatunya secara kebetulan, siapa-pun tak akan menyangka sampai kesitu, tapi justru disinilah titik kelemahannya berhasil diketahui."

"Kalau dia bukan Ting pangcu, mengapa lencana pena baja dan surat wasiat darah itu asli?"

Tanya Makhluk bertanduk tunggal Ku Tiang-sun dengan perasaan terkesiap.

"Apa yang dikatakan Lok Lihiap tadi benar, mungkin Ting pangcu sudah menemui bahaya, tapi kemungkinan juga dia masih berada di tangan orang-orang Ban Kiam-hwee."

Mendadak terdengar suara gelak tertawa nyaring berkumandang memecahkan keheningan lalu seseorang berseru.

"Akhirnya berhasil dibuktikan juga."

Empat orang yang berada dalam ruangan sama-sama merasa amat terperanjat, buru-buru mereka mendongakkan kepalanya sambil mengalihkan perhatiannya ke arah mana asalnya suara itu.

Tampak bayangan manusia berkelebat lewat, dari belakang dua buah patung batu melayang turun seorang kakek gemuk pendek yang berjubah kedodoran.

"Siapakan kau?"

Mahkluk bertanduk tunggal Ku Tiang-sun segera membentak nyaring.

Thipoan Tam Si-hoa juga bergerak mundur dengan gerakan cepat lalu berjaga-jaga di depan pintu gerbang, dengan cepat tangan kanannya meloloskan sepasang senjata Poan-koan pitnya sambil bersiap siaga, bentaknya keras-keras.

"Saudara Ku, hari ini kita tak boleh melepaskan orang itu dengan begitu saja."

Kakek gemuk pendek itu tersenyum.

"Lohu hanya ingin membuktikan orang yang telah tewas ini Ting Ci-kang yang sesungguhnya atau bukan? Kini sudah terbukti bukan, tentu saja lohu-pun tak ingin bermusuhan dengan kalian, ayo cepat menyingkir dari situ ..."

Thipoan Tam Si-hoa tertawa dingin.

"Jika saudara adalah anggota dunia persilatan, artinya kau juga tahu bukan menyadap pembicaraan orang lain merupakan pantangan yang paling besar, kau tahu bagaimana harus menghukum diri atas dosa yang telah dilakukan."

Kakek gemuk pendek itu tetap tersenyum.

"Selamanya lohu pergi datang sekehendak hati sendiri, perduli amat dengan soal hukuman atau tidak."

"Heeh ... heeh ... heeh ... bila saudara merasa berkepandaian tinggi, silahkan saja mencoba untuk menerjang ke luar dari hadapan kami."

Kembali kakek pendek itu tertawa hambar.

"Belum ada seorang manusia-pun di dunia ini yang sanggup menahan lohu di suatu tempat."

Seraya berkata dia lantas berjalan maju ke depan.

Wi Tiong-hong mengenali kakek ini sebagai si kakek yang muncul di rumah penginapan tempo hari dan bertanya kepadanya apakah Ting Ci-kang adalah anggota Ban kiam-hwee.

Waktu itu, dia pernah menyaksikan kelihayan gerakan tubuhnya, ilmu silat yang dimiliki kakek itu memang lihay sekali, dia masih ingat Lok Khi pernah bilang kalau dia berhasil melatih ilmu khikang pelindung badan.

Karena menguatirkan keselamatan Thi-poan Tam Si-hoa dan tahu kalau orang itu bukan tandingan si kakek, tanpa terasa dia maju mendekat dengan langkah pelan.

Lok Khi-pun merasa kurang puas setelah kena dipukul mundur selangkah oleh si kakek tempo hari, pikirnya.

"Baik atau buruk, hari ini aku harus bertarung melawannya."

Tampak olehnya dalam kuil kecil tersebut tiada jalan ke luar lain kecuali pintu gerbang, maka setelah dilihatnya engkoh Hongnya menuju ke arah Thipoan cepat-cepat dia menyusul dari belakang.

Si kakek gemuk pendek itu masih tetap mengelus jenggot sambil tersenyum, selangkah demi selangkah dia masih melanjutkan langkahnya menuju ke arah Thipoan Tam Si-hoa.

Merasa lawannya semakin mendekat, Thi-poan Tam Si-hoa mengangkat lengan kanannya dan menyodorkan mata pena poan koan-pitnya ke depan, lalu bentaknya keras-keras.

"Bila saudara berani maju selangkah lagi, jangan salahkan jika senjata aku orang she Tam tidak bermata."

Kakek gemuk pendek itu masih berlagak acuh tak acuh, bahkan sama sekali tidak memandang sekejap mata-pun.

dia masih tetap melanjutkan perjalanannya menuju ke arah pintu, pada hakekatnya sama sekali tidak menggubris ancaman lawan.

Thipoan Tam Si-hoa tertawa dingin, hawa murninya diam-diam disalurkan ke luar, pergelangan tangannya digetarkan menciptakan selapis bayangan pena, kemudian mengurung seluruh tubuh kakek gemuk pendek itu.

Serangan tersebut dilancarkan amat cepat dengan jurus serangan yang keji dan ganas, beberapa titik cahaya tajam dengan cepat menyelimuti sejauh beberapa depa.

Padahal selisih jarak kedua belah pihak dekat sekali, begitu pena baja itu melepaskan serangan dengan kecepatan bagaikan sambaran kilat, untuk berkelit kembali dari ancaman bayangan pena lawan, rasanya hal itu bukan satu hal yang gampang.

Akan tetapi si kakek gemuk pendek itu masih berlagak acuh, seakan-akan sama sekali tidak melihat ancaman itu, senyuman masih menghiasi wajahnya, sambil mengelus jenggot dia menggerakan tangan lainnya.

Dengan cepat muncul segulung tenaga pukulan yang maha dahsyat menyambar ke depan dan langsung menghambat gerak maju pena dari Thi-poan Tam Si-hoa.

Dengan cepat Thipoan Tam Si-hoa merasakan datangnya segulung tenaga hisapan yang kuat sekali menghisap senjata Poan koan pit di tangannya, hingga sama sekali tak bergerak.

Jangankan dipakai untuk melukai orang, sekali-pun ingin digerakan-pun bukan sesuatu yang gampang, tanpa terasa ia menjadi terperanjat sekali.

Lok Khi mendengus dingin, serunya.

"Itulah hasil permainan setan dari hawa khi kang pelindung badan, bukan terhitung suatu kepandaian yang kelewat mengejutkan hati manusia ..."

Dengan cepat dia menggerakkan serangannya melepaskan sebuah pukulan ke tubuh si kakek. Kakek gemuk pendek itu memandang sekejap ke arahnya, lalu serunya sambil tertawa.

"Hei bocah perempuan, rupanya kau mengenakan topeng kulit manusia untuk menutup wajah aslimu."

Dia bergerak ke samping menghindarkan diri dari serangan Lok Khi, kemudian dengan suatu gerakan yang manis melesat lewat persis dari sisi tubuh si Pena baja Tam Si-hoa.

Gerakan tubuh yang dipergunakan oleh kakek itu sungguh lihay dan hebat, tampak dia menggerakkan sedikit tubuhnya dan tahu-tahu ia sudah sampai di depan pintu gerbang dan membuka pintu.

Melihat kakek itu hendak membuka pintu untuk menerobos ke luar, Wi Tiong-hong segera melompat ke depan dan menerjang ke arahnya, sementara itu Lok Khi yang gagal menyerang telah membalikkan tubuhnya dengan cepat, kemudian menyerobot di depan Wi Tiong-hong langsung menerjang ke arah kakek itu.

Telapak tangan kirinya secepat kilat diayunkan ke muka, sementara tangan kanannya merogoh ke dalam saku mengeluarkan segumpal bola perak.

"Cri ing."

Serentetan cahaya pelangi berwarna perak telah menegang keras dalam bentuk sebilah pedang, sebuah bacokan kilat langsung dilontarkan.

Menghadapi bacokan yang datang, kakek gemuk pendek itu menyingkir kesebelah kanan melepaskan diri dari bacokan mata pedang, kemudian tangan kanannya menyambar ke muka tiba-tiba mencengkeram pergelangan tangan kiri Lok Khi.

Cengkeraman tersebut dilancarkan dengan kecepatan luar biasa, hal ini memaksa Lok Khi mau tak mau harus bergeser dua depa ke samping untuk meloloskan diri dari ancaman.

Menggunakan kesempatan itu si kakek gemuk pendek itu maju selangkah ke depan mendesak ke samping tubuh Wi Tiong-hong.

Pada waktu itu Wi Tiong-hong sudah menyadari kalau orang ini memiliki ilmu silat yang amat lihay, maka sewaktu menyaksikan dia menerjang ke arahnya secara tiba-tiba, dia segera mengayunkan telapak tangannya siap melepaskan bacokan.

Tapi di saat si kakek gemuk pendek itu mendekati sisi tubuhnya itulah, mendadak terdengar dia berbisik.

"Bocah cilik, cepat berhenti, lohu hendak memberitahukan satu rahasia kepadamu."

Sementara Wi Tiong-hong masih tertegun, pedang lembeknya diputar sambil melancarkan serangan dengan gerakan aneh, selapis cahaya pedang segera berhamburan kemana-mana seperti hujan gerimis, bertitik-titik cahaya tajam langsung mengurung seluruh badan kakek pendek gemuk itu dan mengancam kedelapan belas buah jalan darah pentingnya.

Kakek gemuk pendek itu menerobos maju ke depan, lalu menyembunyikan diri di belakang punggung Wi Tiong-hong, buru-buru bentaknya keras.

"Bocah cilik, mengapa kau tidak segera menyuruh adik misanmu menghentikan serangan?"

Wi Tiong-hong tidak tahu rahasia apakah yang hendak dia sampaikan kepadanya, terpaksa serunya.

"Adikku, tunggu dulu."

Lok Khi agak tertegun, benar juga dia segera menghentikan gerakan pedangnya, kemudian sambil mendongakkan kepala tanyanya.

"Engkoh Hong, ada urusan apa?"

Kakek gemuk pendek yang bersembunyi di belakang tubuh Wi Tiong-hong segera berbisik lirih.

"Bocah cilik, cepat kau suruh mereka mengundurkan diri dari situ, rahasia yang hendak kusampaikan kepadamu tak boleh sampai diketahui oleh mereka."

Wi Tiong-hong manggut-manggut kepada Lok Khi dia-pun berseru.

"Adikku, mundurlah beberapa langkah lebih dulu."

Lok Khi gelisah sekali, dia menegur.

"Engkoh Hong, apakah kau telah dikuasai oleh bajingan tua itu?"

Kakek gemuk pendek itu segera melongokkan kepalanya dari sisi tubuh Wi Tiong-hong kemudian jengeknya.

"Huuh, bocah perempuan, tidak yang besar tidak yang kecil, kau anggap makian bajingan tua boleh sembarangan muncul dari mulutmu?"

Sementara itu Wi Tiong-hong telah berkata kepada Lok Khi.

"Tidak, aku hanya ingin berbincang sebentar dengannya, dia minta kau mundur beberapa langkah lebih dulu."

Dengan perasaan setengah percaya setengah tidak Lok Khi segera mundur beberapa langkah ke belakang. Kembali Kakek gemuk pendek itu berkata.

"Coba kau-pun suruh orang she Tam dan orang she Ku ini mundur beberapa langkah."

"Sebenarnya kau ada urusan apa?"

Tanya Wi Tiong-hong sambil berpaling ke belakang "Persoalan yang hendak lohu sampaikan menyangkut masalah rahasia besar, mau didengar atau tidak terserah kepada dirimu sendiri,"

Bisik kakek gemuk pendek ini lirih. Terpaksa Wi Tiong-hong harus mendongakkan kepalanya seraya berkata.

"Saudara Tam, saudara Ku, bagaimana jika kalian-pun turut mundur berapa langkah?"

Berhubung lencana pena baja sudah berada di tangan Wi Tiong-hong, maka si pena baja Tam Si-hoa mau-pun si Makhluk bertanduk tunggal Ku Tiong-sun telah menganggap dia sebagai wakil pangcu, mendengar perkataan tersebut tanpa terasa mereka mengundurkan diri ke belakang.

Setelah itu, Wi Tiong-hong baru membalikkan tubuhnya seraya berkata lagi.

"Lotiang, kalau ingin menyampaikan sesuatu sekarang boleh kau sampaikan."

Kakek gemuk pendek itu tersenyum kepadanya, kemudian bertanya.

"Bukankah lencana pena baja dari perkumpulan Thi-pit-pang berada di tanganmu?"

"Benar lencana pena baja memang berada di sakuku."

Kakek gemuk pendek itu segera manggut-manggut.

"Bagus sekali, sekarang bukalah pintu gerbang dan hantarlah lohu pergi dari sini."

Kontan saja Wi Tiong-hong tertawa dingin.

"Hanya beberapa patah kata inikah yang hendak lotiang sampaikan kepadaku?"

Serunya. Sekulum senyuman yang ramah dan lembut seperti selalu menghiasi wajah si kakek gemuk pendek itu, dia memandang sekejap ke arah Wi Tiong-hong, kemudian serunya dengan nada tak senang.

"Kau anggap lohu sedang membohongi? Padahal jika lohu benar-benar pingin pergi, dengan mengandalkan kemampuan kalian beberapa orang, siapa-pun tak akan sanggup menahanku aku rasa kau pasti mempercayai akan kenyataan tersebut bukan?"

Teringat akan gerakan tubuhnya yang liehay dan ilmu silatnya yang tinggi, tanpa terasa Wi Tiong-hong mengangguk.

"Yaaa, mungkin saja benar,"

Katanya.

"Kalau mungkin benar, berarti mungkin juga tidak benar?"

Jengek si kakek gemuk pendek itu sambil mendesis.

"Bocah kecil, kau anggap kepandaian silatmu mampu menahan lohu? Hehehehe ... lohu tidak ada waktu untuk berbicara lagi denganmu, ayo cepat bukakan pintu gerbang dan antar lohu ke luar dari pintu, lohu cuma ada sepatah kata saja. Selesai sampaikan lantas akan pergi, bila tidak percaya lohu-pun tak akan berbicara, tapi lohu tetap akan pergi dari sini, coba lihat saja apakah kalian sanggup menghalangi diriku atau tidak?"

"Kalau toh lotiang menganggap kami tak sanggup menghalangi dirimu, buat apa kau minta kepadaku untuk membuka pintu dan mengantar kau ke luar dari sini?"

"Suata pertanyaan yang bagus sekali."

Kakek gemuk pendek itu mengelus jenggotnya sambil tertawa.

"pertama dengan kedudukan lohu sekarang, setelah datang, sudah sepantasnya kalau kepergianku diantar orang secara hormat. Kini lencana pena baja berada di tanganmu, paling tidak kedudukanmu sekarang adalah wakil ketua dari perkumpulan Thi-pit-pang. Bila kau yang diminta menghantar lohu ke luar dari sini, tentu saja hal ini paling tepat."

Wi Tiong-hong diam-diam merasa geli sesudah mendengar perkaraan itu, pikirnya.

"Kakek ini benar-benar aneh sekali, rupanya dia suruh aku yang menghantarnya ke luar karena dia ingin meninggikan derajat sendiri."

Terdengar kakek gemuk pendek itu berkata lebih jauh.

"Kedua, bila kau yang mengantar lohu ke luar, setibanya di depan pintu nanti dan selesai lohu menyampaikan rahasia tersebut, kau bisa segera membalikkan badan sambil menurunkan perintah bagi dirimu, bisa menghadang sendiri di depan pintu gerbang, tentu saja hal ini paling baik."

Makin didengar Wi Tiong-hong merasa semakin keheranan, belum sempat ia berbicara kembalisi kakek gemuk pendek itu berkata lebih jauh.

"Lohu telah selesai berbicara, dan sekarang-pun boleh segera membuka pintu."

Wi Tiong-hong memandang sekejap ke arahnya, akhirnya dia-pun manggut-manggut.

"Baik. aku mempercayai lotiang."

Dengan wajah gembira kakek gemuk pendek itu berseru.

"Tak kusangka kau si bocah masih mempunyai pandangan mata yang cukup tajam."

Wi Tiong-hong segera membalikkan tubuh dan membuka pintu gerbang tersebut.

Dengan langkah lebar kakek gemuk pendek itu mengikuti di belakang Wi Tiong-hong dan berjalan ke luar dari situ.

Lok Khi yang menyaksikan kejadian tersebut segera berteriak.

"Engkoh Hong, sebenarnya apa saja yang telah kau bicarakan dengannya? Mengapa dia kau lepas?"

"Hei, siapa bilang lohu dilepas olehnya? Adalah dia yang sedang menghantar lohu dengan hormat."

Bantah si kakek cepat. Dengan cepat Lok Khi melompat ke muka dan menyerobot ke hadapannya, ia berteriak keras.

"Engkoh Hong, jangan sampai tertipu oleh akal muslihatnya?"

"Adikku jangan bertindak kurang hormat,"

Tegur Wi Tiong-hong cepat. Kemudian sambil mementang pintu gerbangnya lebar-lebar, dia berkata dengan lembut.

"Silahkan lotiang."

Kakek gemuk pendek itu berpaling sambil tertawa, tanpa mengucapkan sepatah kata-pun dia melangkah ke luar dari pintu gerbang.

Tapi begitu melangkah ke luar, mendadak ia berpaling kemudian bisiknya disisi telinga Wi Tiong-hong.

"Di belakang patung arca tersembunyi seseorang."

Sementara Wi Tiong-hong merasa terkejut, kakek gemuk pendek itu sudah melesat pergi. Tapi, pada saat itu juga kembali ia mendengar bisikan yang lirih dan lembut.

"Jangan lupa, Tutup pintu gerbang, keluarkan lencana pena bajamu dan perintahkan kepada orang she Tam untuk membawa ke luar orang itu, kejadian selanjutnya lihat saja menurut perkembangan selanjutnya."

Wi Tiong-hong tidak tahu siapakah orang yang bersembunyi di belakang patung arca tersebut, maka sesudah mendengar perkataan tersebut, segera timbul kecurigaan dalam hati kecilnya.

Menyaksikan kakek gemuk gemuk itu semakin menjauh, Lok Khi menjadi mendongkol sekali, tak tahan segera teriaknya.

"Engkoh Hong, sebenarnya apa yang telah ia sampaikan kepadamu?"

Walau-pun Thipoan Tam Si-hoa dan Makhluk bertanduk tunggal Ku Tiangsun tidak mengucapkan sepatah kata-pun, dalam hati kecil mereka-pun sama-sama merasa keheranan, sementara itu mereka berdua juga turut ke luar dari ruangan.

Mendadak Ku Tiang-sun berseru tertahan lalu ujarnya.

"Saudara Tam, temanilah dulu Wi tayhiap, siaute akan pergi sebentar."

Selesai berkata, dia lantas beranjak pergi meninggalkan tempat tersebut.

Wi Tiong-hong masih teringat dengan pesan si kakek gemuk pendek yang memintanya "jangan lupa menutup pintu gerbang", maka ketika dilihatnya si Makhluk bertanduk tunggal Ku Tiang-sun pergi secara terburu-buru, hatinya segera tergerak.

Buru-buru serunya.

"Ku heng, harap tunggu sejenak."

Waktu itu si Makluk bertanduk tunggal sudah berada sejauh tujuh delapan langkah, mendengar teguran itu dia-pun berhenti, tanyanya.

"Wi tayhiap, ada urusan apa?"

Walau-pun pengalaman Wi Tiong-hong dalam dunia persilatan masih cetek.

namun dalam dalam soal ilmu sifat dia tak bodoh, dalam sekilas pandangan saja ia dapat melihat kalau sepasang telapak tangan Ku Tiang-sun berhenti persis di depan matanya, jelas dia menaruh perasaan was-was terhadap dirinya.

Kenyataan mana membuat hatinya semakin punya penghitungan sendiri.

Buru-buru dia tersenyum, kemudian katanya sambil menjura.

"Saudaraku, aku masih ada urusan penting yang harus diselesaikan, karena itu setelah menyampaikan beberapa patah kata nanti akan segera pergi, aku harap saudara Tam dan saudara Ku bersedia masuk dulu untuk membicarakan beberapa masalah penting."

Mendengar perkataan tersebut, tahulah si makhluk bertanduk tunggal Ku Tiang-sun bahwa dia mau tak mau harus balik dulu.

Maka semua orang-pun masuk kembali ke dalam ruang Sik-jin-tian, Wi Tiong-hong segera membalikkan badan sambil mengunci pintu gerbang rapat-rapat.

Makhluk, bertanduk tunggal Ku Tiang-sun nampak gelisah sekali, dengan tidak sabar dia menegur.

"Wi tayhiap, persoalan apakah yang hendak dibicarakan? Harap segera disampaikan."

"Saudara Ku, paling tidak kita harus persilahkan Wi tayhiap untuk duduk lebih dulu sebelum berbicara,"

Tegur Tam Si-hoa cepat. Wi Tiong-hong membalikkan badan dengan berdiri membelakangi pintu, lalu ujarnya.

"Tak usah, berbicara dalam keadaan begini-pun sama saja."

Dari gerak gerik engkoh Hongnya, Lok Khi sudah merasa ada sesuatu yang tak beres, dia merasa keheranan sekali, segera tegurnya.

"Sebenarnya apa sih yang diucapkan kakek itu kepadamu?"

Wi Tiong-hong tidak menjawab melainkan sambil mendongakkan kepala ujarnya kepada Tam Si-hoa.

"Saudara Tam, pergilah ke belakang patung arca itu dan gusur ke luar orang yang bersembunyi di sana."

Ucapan itu munculnya sangat mendadak dan sama sekali di luar dugaan siapa-pun, ternyata di belakang patung arca tersembunyi seseorang, suatu kejadian yang sama sekali tak terduga oleh siapa-pun.

Paras muka si Makhluk bertanduk tunggal Ku Tiang-sun berubah hebat setelah mendengar perkataan itu.

Seluruh tubuh si Pena baja Tam Si-hoa juga bergetar keras karena tercengang bercampur kaget.

Terutama Lok Khi, dia sampai membelalakkan matanya lebar-lebar dengan mulut melongo.

Tam Si-hoa segera mengiakan dan berangkat ke belakang patung arca yang dimaksudkan.

Berkilat sepasang mata Ku Tiang-sun, dengan wajah terkejut mendadak ia membentak keras.

"Siapakah di situ? Berani benar bersembunyi di belakang sana?"

Sambil berseru dia memutar badannya kencang-kencang, tiga gulung cahaya biru serentak meluncur ke depan, satu menyerang dada Wi Tiong-hong, yang satu lagi menyerang jalan darah Tay-yang-hiat dikening Lok Khi (gadis itu berdiri agak miring) dan senjata rahasia ketiga mengancam punggung Tam Si-hoa.

Ketiga titik cahaya biru meluncur ke depan tanpa menimbulkan sedikit suara-pun, kecepatannya bagaikan sambaran kilat sukar di kuti dengan pandangan mata.

Siapa sangka Wi Tiong-hong justru sudah memperhatikan hal ini semenjak tadi, baru saja cahaya biru menyambar lewat, sambil tertawa nyaring dia sudah mengayunkan telapak tangannya melancarkan sebuah pukulan amat dahsyat.

***

Jilid 16 Bab 32

"WEEESSS ... !"

DERUAN ANGIN TAJAM"

Menyambar lewat, seketika itu juga ke tiga batang senjata Toci-li yang beracun itu sudah kena tersambar sehingga rontok ke tanah.

Gerakan tubuh Lok Khi lebih cepat lagi, tidak nampak bagaimana dia menggerakkan tubuhnya, tahu-tahu gadis itu sudah tiba di hadapan Ku Tiang sun, lalu setelah mendengus dingin katanya.

"Rupanya kau memang tidak bermaksud jujur."

Mendadak jari tangannya diayunkan ke depan melepaskan sebuah totokan kilat.

Gerak serangan tersebut dilancarkan dengan kecepatan luar biasa, si Makhluk bertanduk tunggal hanya merasakan bayangan bayangan manusia berkelebat lewat pada hakekatnya dia tak sempat untuk menghindarkan diri lagi, tahu tahu jalan darah pada Cian keng hiatnya terasa kaku, lalu segenap tenaganya punah tak berbekas dan tubuhnya terjatuh keras keras ke atas tanah ...

Sambil berpaling Lok Khi berseru amat mendongkol.

"Engkoh Hong, orang ini tak boleh diampuni lagi!' Baru selesai dia berkata. Tam See hoa sudah muncul sambil menyeret tubuh seorang manusia dan melompat turun dari atas meja altar. Tapi ia menjadi amat terperanjat setelah menyaksikan Ku Tiang sun duduk kaku diatas tanah, segera tegurnya.

"Saudara Ku, mengapa kau?"

"Tak usah ditanya lagi,"

Tukas Lok Khi cepat.

"ia menghadiahkan senjata rahasia beracun kepada kita bertiga, dan sekarang giliran aku yang menghadiahkan sebuah totokan untuknya. Hampir saja si Pena baja Tam Ssee hoa tidak percaya akan peristiwa itu, dia memandang sekejap tubuh Ku Tiang-sun, lalu memandang pula ketiga batang senjata rahasia beracun Tok-ci-li yang tergeletak di tanah, kemudian serunya kurang perrcaya.

"Saudara Ku, mengapa kau berbuat demikian?"

Sementara itu Wi Tiong-hong telah memutar otaknya memikirkan persoalan tersebut, ia dapat merasakan bahwa Ku Tiang sun mereka bertiga dengan senjata rahasia beracun, karena mereka berbasil menemukan kalau dibalik patung arca tersembunyi seseorang, mungkinkah kedua masalah ini ada sangkut pautnya?

Mungkin dia melakukan pembunuhan karena persoalan itu?

Tergerak hatinya, dia lantas angkat kepala sambil bertanya.

"Saudara Tam, kau kenal dengan orang ini?"

Si Pena baja Tam See-hoa membaringkan orang yang diseret ke luar itu ke atas tanah, sesudah memandangnya sekejap, dia lantas menggelengkan kepalanya berulang kali.

"Siaute tidak kenal."

Wi Tiong-hong coba mengamati orang itu, dia adalah seorang lelaki tinggi besar yang berwajah hitam pekat, sepasang matanya terpejam rapat-rapat, dalam hati kecilnya dia-pun berpikir.

"Mungkin dia-pun datang ke mari untuk mencari kabar dan bersembunyi di belakang patung arca, siapa tahu datang lagi kakek gemuk pendek itu yang menotok jalan darahnya."

Belum habis dia berpikir. Lok Khi sudah bertanya .

"Engkoh Hong, si kakek itukah yang memberitahukan kepadamu bahwa di belakang patung arca tersembunyi seseorang?' Wi Tiong hong mengangguk, kepada Tam See hoa katanya kemudian.

"Sewaktu siaute menyuruh saudara Tam menuju ke belakang patung dan menyeret keluar orang ini, tiba-tiba saja saudara Ku turun tangan keji menyergap kita dari belakang, bila dugaan siaute tak salah, sudah pasti orang ini ada hubungannya dengan saudara Ku."

Pena baja Tam See hoa manggut-manggut.

"Yaaa, tindakan dari saudara Ku sungguh diluar dugaan siapa-pun, menurut apa siaute ketahui, agaknya saudara Ku belum pernah mempergunakan senjata rahasia ..."

"Siapa tahu Ku huhost kalian telah bersekongkol secara diam-diam dengan pihak Ban-kiam-hwee? Berhubung orang ini adalah mata-mata yang diutus pihak Ban kiam hwee, maka ia baru membantunya,"

Kata Lok Khi mengemukakan pendapatnya. Sekali lagi si pena baja Tam See hoa memandang sekejap lelaki yang tergeletak di tanah itu, kemudian baru ujarnya.

"Jalan darah orang ini tertotok, asal kita tanyai dia, segala sesuatunya tentu akan terungkap."

Selesai berkata, dia lantas mencengkeram tubuh lelaki yang tergeletak di tanah itu dan menepuk pelan punggungnya.

Pelan-pelan lelaki itu membuka matanya memandang beberapa orang itu sekejap, mendadak dia melompat bangun.

Si Pena baja Tam See hoa sudah menyiapkan diri sedari tadi, sambil tertawa, ia turun tangan, secepat kilat dicengkeramnya nadi pada pergelangan tangan kanan orang itu, kemudian serunya dengan suara dalam.

"Sobat, sudah kau lihat jelas keadaan di sekelilingmu?"

Lelaki itu-pun kelihatan tertegun setelah pergelangan tangan kanannya dicengkeram Tam See-hoa dengan suara keras dia berteriak .

"Lo Tam, lepaskan tanganku, bagaimana sih kau ini?"

Ucapan tersebut kedengarannya sangat aneh, tetapi seluruh badan Tam See-hoa segera gemetar keras.

Suara teriakan tersebut sangat dikenal olehnya, kalau ditanya suara siapa yang paling dikenal, maka suara inilah yang ditunjuk, sebab suara tersebut jelas suara teriakan dari Makhluk bertanduk tunggal Ku Tiang sun.

Tapi, buksakah Ku Tiang-sun telah tertotok jalan darahnya dan duduk kaku di situ?

Tanpa terasa dia memandang sekejap kearah Ku Tiang-sun, lalu memperhatikan pula lelaki yang suaranya mirip suara Ku Tiang-sun itu, ia merasa raut wajah orang ini-pun mirip sekali dengan wajah Ku Tiangsun cuma warna mukanya berbeda dan garis alis matanya agak berbeda.

Dengan perasaan keheranan dan mata terbelalak lebar-lebar dia lantas bertanya .

"Siapa kau sebenarnya?"

Dengan marah lelaki itu tergelak keras.

"Anjing geladak peliharaan kunyuk telah menyaru sebagai diriku, saudara Tam, kendati kau tak kau kenali wajahku, masa suaraku kau tak bisa bedakan?"

Kali ini, Tam See-hoa yang terkenal karena banyak akal muslihat ini benar-benar dibikin kebingungan seteagah mati!

Ku Tiang sun yang tertotok itu bukan cuma raut wajahnya adalah wajah Ku Tiang sun, bahkan nada suaranya-pun suara Ku Tiang sun, sudah jelas mustahil kalau dia gadungan, tapi suara yang berada di hadapannya sekarang yang mengaku sebagai Ku Tiang sun, paling tidak ia mempunyai nada suara yang mirip sekali.

Untuk sesaat dia jadi kebingungan sendiri, dengan kening berkerut ujarnya kemudian .

"Saudara, bagaimana siaute bisa mempercayaimu dengan begitu saja?"

Jika si Pena baja Tam See hos saja tak dapat membedakan, sudah barang tentu Wi Tiong hong dan Lok Khi lebih-lebih tak bisa membedakan hal tersebut.

Saking gelisahnya lelaki itu sampai mencak-mencak macam monyet kepanasan, serunya berulang kali.

"Lo Tam, kau betul-betul monyet goblok, cepat lepaskan aku. Siaute punya cara untuk memaksanya berbicara sejujurnya."

Tidak susah bila menginginkan siaute lepas tangan, tapi kau mesti memberikan keterangan lebih dulu yang sejelas-jelasnya."

"Ketika kau berangkat ke kota Sang-siau untuk menyambut kedatangan Wi pangcu, tanpa aku sadari jalan darahku telah ditotok oleh bangsat tersebut dari belakang, kemudian aku diseret ke belakang parung arca dan pakaian aku dilucutinya, kemudian dia mempoleskan pula sesuatu diwajahku, setelah itu siaute-pun tidak tahu apa yang terjadi."

Sambil berkata dia mengusap wajahnya sekuat tenaga dengan tangan kirinya, tapi meski gudah digosok sampai merah, wajahnya masih seperti sedia kala.

Tam See hoa berusaha untuk mengamati wajahnya dengan seksama, akan tetapi ia sama sekali tak berhasil menemukan suatu titik kelemahan apapun jua, maka segera tanyanya.

"Anggap saja kau memang saudara Ku, coba beri keterangan dulu, bagaimana keadaan kita sewaktumenerima kabar buruk dari Ting pangcu?"

"Jadi kau masih belum percaya?"

"Asal jawabanmu benar, tentu saja aku akan mempercayai dirimu."

"Ketika kami menerima berita duka dari Ting pangcu, waktu itu hari sudah malam, dengan kaki telanjang kau menyerbu ke luar, malah sambil mengancing pakaianmu dengan tangan kanan, pertanyaan pertamamu kepadaku adalah begini.

"Saudara Ku, apakah berita ini dapat dipercaya?"

"Siaute-pun menjawab.

"Berita ini di kirim kilat oleh anggota perkumpulan kita sendiri, jadi tak mungkin salah."

"Lantas kau-pun berkata lagi.

"Dari mana kau bisa berkata demikian?"

"Nah, betul bukan ucapanku itu ... ?"

Tam See hoa agak percaya juga dengan perkataannya itu, sambil angkat kepala dia langsung berkata.

"Sebelum aku bebaskan dirimu, ada satu yang hendak aku peringatan dulu kepadamu, yaitu sebelum siapa asli dan gadungan kauketahui dengan pasti, kau tak boleh menyerang orang yang menyaru sebagai dirimu itu."

"Tentu saja, tidak ada salahnya kalau kita saling bertaruh, anjing geladak peliharaan kunyuk ini sudah pasti orang dari selat Tok Sea sia!"

Sejak mendengar nada pembicaraannya tadi Tam See hoa sudah percaya beberapa bagian terutama ucapan "anjing geladak peliharaan kunyuk", kata makian itu memang merupakan ciri khas dari si Makhluk bertanduk tunggal.

Sebaliknya Ku Tiang sun yang sekarang duduk kaku di tanah itu justru tidak pernah melontarkan kata-kata mutiara tersebut hari ini.

Ditinjau dari sini bisa diketahui kalau masalah tersebut hari ini, ditinjau dari sini bisa diketahui kalau masalah itu mencurigakan.

Berpikir demikian, dia-pun siap melepaskan cengkeramannya dari tangan orang itu.

Mendadak Lok Khi menyelinap datang seraya berseru.

"Sebelum siapa asli siapa gadungan ketahuan ada baiknya kau-pun duduk beristirahat lebih dulu."

Seraya berkata dia lantas menotok jalan darahnya. Lelaki itu berseru lirih kemudian jatuh terduduk di atas tanah.

"Adikku, mau apa kau?"

Wi Tiong-hong segera menegur.

"apa salahnya kalau hadapkan mereka satu sama lainnya?"

Lok Khi tertawa lirih.

"Kalau sampai begitu, maka yang satu akan berbicara satu, yang dua akan berbicara dua, mana mungkin urusan dapat dibikin jelas? Sekarang aku sudah mempunyai cara baik untuk mengungkap siapa yang asli dan siapa yang gadungan, kemudian mereka baru ditanyai, bukankah soal ini akaa menjadi beres?"

"Apa caramu?' tanya Wi Tiong-hong.

"Tadi, bukankah dia mengatakan wajahnya dipolesi sesuatu oleh orang yang menyamar sebagai Ku huhoat? Tapi dia sendiri telah mencoba untuk membersihkan dengan gosokan bajunya tanpa hasil, hal ini menunjukkan kalau obat penyaru yang digunakan tak akan bisa dihilangkan sebelum dibersihkan dengan obat khusus buatan mereka, jikalau disakunya tersedia obat penyaru berarti dia-pun membawa obat pembersih wajah, Tam guhoat, apa salahnya kalau kau menggeledah saku orang itu. Bukankah segala sesuatunya akan beres?"

Si Pena baja Tam See-hoa segera menepis kepala sendiri sambil tertawa terbahak-bahak.

"'Haaahhh ... haaahhh ... haaahhh ... kalau bukan Lok lihiap yang memperingatkan, siaute-pun tak akan berpikir sampai ke situ!"

Dia lantas mendekati si Makhluk bertanduk tunggal Ku Tiang-sun dan menggeledah tubuhnya, dari dalam sakunya segera ditemukan sebuah kotak kayu kecil dan dua buah botol kecil.

Begitu melihat botol kecil itu, Lok Khi segera mengenalinya sebagai botol kecil yang pernah ditemukan juga dari saku orang yang menyaru sebagai Heng-san gisu tempo hari, tanpa terasa dia mendengus dingin.

"Hmmm, tampaknya orang ini benar-benar berasal diri selat Tok-Seh-shia ..."

Tam See-hoa membuka kotak kayu itu, ternyata dalam kotak berisikan belasan macam obat yang berwarna warai, setiap butir sebesar buah kelengkeng.

Ia lantas mengenalinya sebagai obat untuk menyaru muka.

Hanya sayang dia-pun tidak mengetahui cara penggunaannya, maka sambil mendongakkan kepalanya dia berkata .

"Lok lihiap, tahukah kau cara penggunaannya?"

Lok Kui segera menggeleng.

"Meskipun aku pernah mendengar semuanya dari toako, namun belum pernah aku melihat penggunaan obat tersebut secara langsung."

"Cara menyaru yang digunakan umat persilatan berbeda satu sama lainnya."

Ucap Wi Tiong hong kemudian.

"ada yang menggunakan campuran obat, ada yang menggunakan bubuk obat ada pula yang memberi warna dulu di atas topeng kulit manusia lalu tinggal digunakan, mesti caranya berbeda padahal teorinya sama, kalau ingin membersihkan obat penyaru tersebut yang dipakai selalu oil berwarna abu-abu, coba saja saudara Tam, segalanya toh akan menjadi jelas."

Dia membuka kotak kayu itu dan mengambil obat berwarna abu-abu, kemudian diserahkan ke tangan Tam See hoa.

Melihat Wi Tiong-hong dapat menerangkan garis besar ilmu menyaru muka secara rinci tanpa terasa Lok Khi mengerdipkan mata berulang kali, segera tanyanya keheranan.

"Engkoh Hong, kau pandai menyaru muka?"

"Pamanku sangat pandai dalam ilmu menyaru muka, semenjak kecil aku sering mendengar dia orang tua membicarakan tentang hal itu."

Lok Khi menjadi amat girang, segera tanya.

"Suhuku, toakoku semuanya bisa kepandaian tersebut, tapi mereka selalu keberatan untuk mengajarkan kepadaku, katanya sekali dipelajari juga tak banyak manfaatnya, kapan-kapan kau bersedia bukan mengajarkan kepandaian tersebut kepadaku?"

Wi Tiong-hong segera tertawa.

"Aku sendiri-pun belum pernah mempelajari kepandaian tersebut, aku hanya mendengar pamanku bercerita saja. Jadi kepandaianku tak lebih cuma kulit luarnya belaka."

Tam See hoa lantas meremas obat itu dengan tanggannya, kemudian dengan jari tangannya menggosokkan obat tadi ke wajah si Manusia bertanduk tunggal.

Dengan digosok, segera nampak pula hasilnya.

Kulit wajah Ku Tiang sun yang sebenarnya nampak, kini kena tergosok hingga mengelupas sebagian.

Melihat itu, Tam See hoa berteriak gusar .

"Kurang ajar, rupanya bangsat ini sedang menyaru sebagai orang lain."

Sambil mengomel, jari tangannya bekerja dengan mengusap seluruh wajahnya, dalam waktu singkat alis tebal Ku Tiang sun, matanya yang besar dan wajahnya yang memerah sudah seketika bersih hingga muncul ah raut wajah aslinya yaitu seorang lelaki berwajah putih kekuning-kuningan, bermata segitiga dan beralis mata terputus.

Berhubung jalan darahnya tertotok, ia tak dapat berkutik, tapi orangnya tetap segar, dan ia sedang melototkan sepasang matanya memperhatikan Tam See hoa menggosok wajahnya, tapi sinar buas yang berapi-api memandang seram sekali.

Kemudian Tam See hoa bekerja keras membersihkan pula wajah lelaki yang mengaku bernama Ku Tiang-sun itu dari pengaruh obat penyaru.

Seperti juga tadi, begitu wajahnya dicuci dengan obat pembersih, seketika itu juga lapisan obat penyarunya, terkelupas sehingga munculah alis matanya yang tebal, matanya yang besar dan wajahnya yang merah, siapa lagi kalau bukan Makhluk bertanduk tunggal Tiang sun?

"Haah ...

haah ...

haah ...

rupanya benar-benar adalah saudara Ku!"

OooOooo Bab 33 BURU-BURU dia membebaskan jalan darahnya yang tertotok, lalu katanya sambil menjura.

"Bila siaute berbuat kesalahan kepadamu tadi, harap saudara Ku, bersedia memaafkan."

Ku Tiang-sun melompat bangun dan tertawa terbahak-bahak.

"Haah ... haah ... haah ... tadi wajah siaute telah dipolesi obat penyaru oleh bajingan itu, sehingga berganti rupa, masa hal ini kesalahan saudara Tam?"

Kemudian sambil menuding ke arah Wi Tiong-hong berdua tanyanya.

"Siapakah kedua orang ini?"

"Dialah Wi tayhisp saudara angkat dari Ting pangcu!"

Buru2 Ku Tiang sun membungkukkan badan memmberi hormat, katanya cepat.

"Ohh, rupanya Wi pangcu, maaf kalau hampir tidak tahu diri."

"Harap saudara Ku jangan menyebut demikian,"

Kata Wi Tiong-hong sambil balas menghormat.

"Siaute hanya mendapat perintah dari Ting pangcu lewat surat wasiatnya agar menyimpan lencana pena baja untuk sementara saja."

Ku Tiang sun segera berpaling ke arah Tam See hoa dan serunya keras.

"Lo Tam hal ini mana boleh jadi? Menurut permintaan Ting pangcu ... hei. 1o tam, mengapa peti mati Ting pangcu berada dalam keadaan terbuka ... ?"

Secara ringkas Pena baja Tam See hoa menerangkan kembali apa yang telah berlangsung. Kejut dan girang Ku Tiang sun setelah mendengar cerita itu, serunya.

"Rupanya mayat itu bukan mayat Ting pangcu, kalau begitu Ting pargcu belum mati."

Setelah berhenti sejenak, dengan mata melotot besar teriaknya lagi.

"Benar, si anjing geladak peliharaan kunyuk ini bisa menyamar sebagai siaute, sudah barang tentu bisa pula menyamar sebagai Ting pangcu, mari kita tanya dia!"

Ia menghampiri lelaki beralis kutung itu dengan langkah lebar, kemudian langsung menghadiahkan sebuah bogem mentah ke atas tubuhnya.

Lelaki beralis mata kutung itu mendelik lebar, dia memandang sekejap kewajah Ku Tiang sun dengan dingin, kemudian sambil memejamkan matanya ia membungkam dalam seribu bahasa.

Sambil tertawa nyaring Makhluk bertanduk tunggal Ku Tiang sun berseru lagi.

"Anjing geladak peliharaan kunyuk, setelah terjatuh ke tangan kami, ingin terlagak pilon-pun percuma saja, itu mah soal gampang!"

Lelaki beralis mata kutung itu hanya tertawa dingin, kembali dia membungkam dalam seribu bahasa.

"Bukankah kau di utus oleh pihak Tok See sia? Dengan menyaru menjadi aku orang she Ku?"

Lelaki itu melengos ke arah lain dengan sikap yang angkuh jumawa dan amat tak sedap dipandang. Ku Tiang sun semakin naik darah, teriaknya.

"Sobat, jika kau masih saja tak tahu diri jangan salahkan kalau aku orang she Ku ..."

Lelaki beralis mata kutung itu cuma tertawa dingin, terhadap perkataan dari Makhluk bertanduk tunggal Ku Tiang sun, dia berlagak seolah2 tidak mendengar.

Paras muka Ku Tiang-sun yang pada dasarnya memang merah padam, kini berubah menjadi merah darah seperti babi panggang karena marah, sambil berpaling serunya.

"Lo Tam, anjing geladak peliharaan kunyuk, kau tidak percaya kalau tubuhnya terdiri dari bahan kawat tulang besi, kalau tidak diberi sedikit pelajaran, dia masih mengira kita adalah orang2 yang berwelas kasih ..."

Lok Khi yang mendengar ucapan tersebut tidak sanggup menahan diri lagi, dia segera menutup mulutnya dan tertawa cekikikan.

Si Pena Tam See-hoa sendiri-pun sudah habis kesabarannya karena pihak lawan membungkam terus, katanya kemudian sambil manggut.

"Benar, mati hidup Ting pangcu belum diketahui, tapi mereka sudah bertindak dengan menggunakan pelbagai cara yang keji, menghadapi keadaan seperti ini, tentu saja tak bisa disalahkan kalau kami tak akan sungkan2 lagi untuk turun tangan ... !' Berbicara sampai disitu, ujarnya kemudian dengan suara dalam.

"Sobat, menurut anjuran aku orang she Tam asal kau bersedia menjawab beberapa persoalan yang kami ajukan, aku orang she Tam jamin tiada orang yang akan melukai seujung rambutmu pun."

Lelaki beralis mata potong itu temwa dingin mendadak serunya sambil melotot.

"Kau anggap aku adalah seorang yang tak manusia?"

"Tak usah kuatir,"

Kata Ku Tiang sun dingin.

"walau-pun kau tidak takut mati kami-pun akan membiarkan kau mati dengan perasaan lega dan tenteram!"

Mendadak lelaki beralis mata kutung itu tertawa terbahak-bahak.

"Haha-ha-ha ... soal itu mah aku tak takut, yang jelas kedatanganku kali ini benar2 telah berhasil mengorek banyak rahasia!"

"Sobat, bila kau bersedia menjawab dengan jujur, maka selesai memberi keterangan kepada kami, kau segera akan kami bebaskan."

"Aku sama sekali tidak mengharapkan pembebasan dari kalian,"

Tukas lelaki itu dingin.

"Jadi kau segan menjawab?' teriak Ku Tiang sun dengan berangnya, telapak tangannya segera diayunkan ketengah udara. Kembali lelaki beralis mata kutung itu memperlihatkan senyuman yang licik.

"Bicara sih bicara, bila latar belakang yang kauketahui tidak dimuntahkan ke luar, rasanya memang kurang leluasa!"

"Latar belakang apa saja yang ingin kalian ketahui?"

Jawab lelaki itu angkuh.

"Jika sobat bersedia menjawab, itu sudah cukup!"

Lelaki beralis kutung itu berpaling kearah Tam See hoa, kemudian ujarnya.

"Kalau begitu, tanyalah!"

"Sobat, coba kau sebutkan dulu asal-usulmu?"

"Bukankah kalian sudah mengetahui asal usulku?"

"Jadi kau berasal dari selat Tok see sia."

"Benar Tok si cuan Sun Cu adalah diriku."

Tok si cuan (si ahli racun) Sun Cu? Nama tersebut belum penah didengar oleh siapun.

"Oooh, rupanya saudara Sun,"

Kata Tam See hoa kemudian.

"ada satu hal ingin siaute ketahui, yakni benarkah Ting pangcu dari perkumpulan kami telah terjatuh ketangan kalian?"

"Soal ini aku tidak tahu."

Ku Tiang sun menggerang gusar.

"Lo Tam, aku sudah tahu kalau anjing geladak peliharaan kunyuk ini tak akan bicara sejujurnya, bila tidak diberi sedikit pelajaran yang setimpal."

"Jangan tergesa-gesa saudara Ku,"

Cegah Tam See hoa.

"siaute percaya saudara Sun ini belum tentu mengetahuinya."

Si ahli racun Sun Cu tertawa dingin, tiba2 dia berseru.

"Tujuan kedatanganku yang sebenarnya kesini adalah ingin tahu, apakah pangcu kalian benar2 mati atau pura-pura mati? Dalam hal ini aku baru tahu setelah saudara membawa mati dan menemukan pembuktiannya dan diantaranya tahi lalat pada kakinya, andaikata pangcu kalian sudah terjatuh ke tangan kami buat apa aku mesti ke mari lagi untuk melakukan penyelidikan?"

Tam See hoa menjadi tertegun setelah mendengar perkataan itu, dari perubahan mimik wajahnya dia tahu kalau musuhnya tidak berbohong, maka setelah termenung sebentar, katanya kemudian.

"Kalau begitu, ia benar-benar sudah terjatuh ke tangan orang-orang Ban Kiam-hwee?"

"Aku tokh sudah bilang,"

Sedari timbrung Lok Khi.

"pihak Ban Kiam-hwee tak nanti akan membebaskan dia dengan begitu saja."

Tam See hoa lantas bertanya lagi.

"Kedatangan saudara Sun ke mari, selain untuk menyelidiki mati hidupnya Ting pangcu, apakah masih mempunyai tugas lain?"

"Menurut berita yang tersiar dalam dunia persilatan. Lou-bun-si sudah terjatuh ke tangan Ting pangcu kalian, tak lama kemudian tersiar lagi berita tentang kematian Ting pangcu, sesungguhnya mati hidup pangcu kalian tak ada sangkut pautnya dengan Kami, tapi berhubung soal itu menyangkut jejak dari Lou-bun-si, maka mau tak mau terpaksa harus melakukan penyelidikan yang seksama, apakah semua ini masih belum cukup?"

"Tadi Sun-heng mengatakan tahu banyak rahasia, rahasia apa sih yang kau maksudkan?"

Lelaki beralis kutung itu mendongakkan kepalanya, lalu berkata.

"Aku adalah seorang yang hampir matim biarlah akan aku beberkan semua rahasia yang aku ketahui kepada kalian."

"Kau ingin bunuh diri? Hmmm, tak akan gampang itu!"

Seru Ku Tiang sun sambil tertawa dingin. Buru-buru Tam See-boa berkata.

"Sun-heng, harap kau jangan salah paham, perkumpulan kami tak pernah terikat dendam kesumat apa-pun dengan pihak Tok-see-sia. Mengapa kami berniat mencelakai Sun-heng?"

Tok-si-cian Sun Cu tertawa hambar.

"Bagi anggota Tok see sia yang tertawan musuh, maka kejadian ini sama artinya dengan tiada kesempatan bagiku untuk kembali dalam keadaan hidup."

Berbicara sampai di situ, mendadak dia mengangkat kepalanya sambil berkata lagi.

"Tahukah kau, siapakah orang yang pertama medapatkan pena mustika Lou-bun-si itu?"

Tergerak hati Wi Tiong-hong, dia segera menyambung.

"Orang itu tentu Tok Hay-ji!"

Tok si cian Sun Cu tertawa terbahak-bahak .

"Hhaaahh ... haaahh ... haaahh, aku dan Tok Hay-ji sendiri-pun memperolehnya dari tangan orang lain, kalau ditanya siapakah orang pertama yang mendapatdan Lou-bun-si, maka harus dibilang anggota Thi pit pang kalian!"

Ucapan tersebut sama sekali berada di luar dugaan Wi Tiong-hong.

"Kau jangan mengaco belo!"

Bentak Kun Tiang sun gusar. Tok Si cian San Cu tertawa dingin, kembali ujarnya .

"Waktu itu aku sendiripun merasa heran mengapa orang-orang Thi pit-pang bersedia tenaga untuk pihak Ban kiam-hwee, sayang orang itu datang terlambat hingga akhirnya kami berhasil, kini kami baru tahu ternyata dalam Thi-pit-pang terdapat penghianat."

"Kau maksudkan Lu huhoat?' seru Ku Tiang sun dengan tubuh tergetar keras dan mata melotot. Sun Cu tertawa dingin.

"Orang yang sudah mati susah dijadikin saksi, anggap saja orang itu adalah Thi-jian th.. long (Belalang bercakar baja). Lu Yau l.., sebetulnya dia berada dipihak yang amat beruntung, sebab menggunakan kesempatan di rapat anggota Ban li piaukiok satu persatu rontok ke tanah, dia sambar Lun bun-si tersebut."

Kembali Wi Tiong-hong merasakan hatinya bergerak, pikirnya .

"Heran, mengapa anggota Ban-li-piaukiok bisa roboh satu persatu? Jangan jangan ..."

Berpikir sampai di situ, dia lantas angkat kepala sambil bertanya.

"Apakah Siau Beng-san serombongan terkena racun kejimu?"

"Soal ini kenapa mesti ditanyakan lagi? Mereka semua telah menginjak racun tanpa rupa yang sengaja kami sebarkan ke atas tanah ... haaah ... sekali-pun si Belalang bercakar baja tak terkecuali ..."

"Ooh, jadi Lu huhoat mati di tangan kalian!"

Tanya Ku Tiang sun dengan gusar.

"Dia sendiri bersedia diperalat orang-orang Ban Kiam hwee, sekarang mau salahkan siapa lagi?"

Jawab Sun Cu dingin.

"heeh ... heeh ... yang kumaksudkan adalah orang yang menyaksikan si Belalang bercakar baja roboh binasa di tanah, kemudian segera berlalu dengan tergesa2 dan melaporkan kejadian ini kepada ...-tay-seng, congkoan dari Ban kiam bun."

"Bangsat, kau berani bicara sembarangan!"

Bentak Ku Tiang sun dengan gusar, sepasang matanya melotot besar.

Lalu tangannya diayun ke depan dan menghajar batok kepala Sun Cu.

Tam See hoa ingin menghalangi perbuatannyam, tapi sayang tak sempat lagi.

Agaknya Sun Cu sudah mempersiapkan sejak tadi, sambil tertawa dingin dia mengegos ke samping menghindarkan diri dari sambaran angin pukulan Ku Tiang-sun, kemudian sambil mengeluarkan sebuah lencana tembaga dari balik sepatunya dia berseru lagi dengan keras.

"Siapakah orang itu, aku rasa kau pasti tahu daripada aku, nah dari dalam saku ...bat inilih aku berhasil mendapatkan ini, tak bakal salah lagi ..."

Belum selesai dia berkata mendadak tubuhnya menggelepar diudara dan terbanting keras ke tanah, lencana tembaga itu-pun terjatuh ke atas tanah.

Semua perubahan peristiwa itu berlangsung sangat mendadak dan sama sekali di luar dugaan.

Wi Tiong-hong dengan cepat mengarahkan matanya ke atas lencana tembaga tersebut, di atas lencana itu terukir sebilah pedang, dan di bawah pedang terdapat sebuah lingkaran hitam yang bertuliskan huruf "enam belas".

Dalam sekilas pandangan saja dapat diketahui bahwa lencana tersebut merupakan tanda anggota dari Ban-kiam hwee, tanpa terasa dia berpaling ke arah Lok Khi.

Lok Khi segera manggut-manggut sambil tersenyum.

Dalam hati si Pena baja Tam See-hoa memperhatikan Sun Cu seraya berteriak keras.

"Saudara Sun, sebenarnya kejadian apakah yang kau maksudkan ... ?"

Pelan2 Sun Cu menutup kelopak matanya, darah kental berwarna hitam nampak mengalir keluar dari ujung bibirnya, dia sudah mati karena keracunan.

Membaringkan kembali jenasah tersebut ke tanah Tam See hoa menghela napas panjang.

"Betul2 obat beracun yang sangat keji, nyawa terhadap orang sendiri-pun mereka dapat bersikap seperti ini ..."

Dengan kalap Si Makhluk bertanduk tunggal Ku Tang su menyambar lencana tembaga itu, kemudian membentak keras-keras .

" ... hitam nomor enam belas keparat, anak geladak peliharaan kunyuk ..." -Sekuat tenaga lencana tembaga itu dibanting keras-keras ke atas tanah. Termakan oleh tenaga lemparannya yang kuat itu, sambil menimbulkan suara dentingan nyaring, lencana tersebut menancap diatas tanah sedalam tiga hun lebih. Pena baja Tam See hoa tertegun, tak kuasa sinar matanya dialihkan kewajah Mahluk bertanduk tunggal, namun dia masih tetap bungkam dalam seribu bahasa. Tiba-tiba Ku Tiang sun menututupi wajahnya dengan kedua belah tangan, dan teriaknya keras-keras.

"Aku Ku Tiang sun telah berbuat salah, pada Thi-pit-pang ..."

Telapak tangannya segera diayunkan menghantam ubun-ubun sendiri sekuat tenaga.

Pada hal sejak tadi Tam See hoa sudah menangkap arti dari perkataan Sun Cu, ia menjadi terperanjat setelah menyaksikan kejadian itu, cepat bentaknya.

"Saudara Ku ... !"

Lok Khi bertindak lebih cepat lagi seperti anak panah yang terlepas dari busurnya menerjang kemuka, lalu menotok jalan darah ... pada lengan Ku Tiang sun, kemudian mendengus dingin .

"Semua orang seharusnya kau yang memberi kepadamu?"

Belum sempat telapaak tangannya menghantam batok kepala, Ku Tiang sun merasakan tubuhnya menjadi kaku dan tak berkutik.

Tetapi mendadak saja dia membentak, lalu muntah darah kental ke luar dari mulutnya, kemudian setelah berkelejitan beberapa kali tubuh Ku Tiang sun yang tinggi besar itu roboh ketanah.

Waktu itu Lok Khi telah menotok jalan darah pada lengannya, tapi gadis itu tidak menyangka kalau dia bakal menggigit putus lidahnya sendiri untuk bunuh diri, melihat kejadian tersebut dia baru merasa terperanjat.

Sementara itu Tam See hoa telah manerjang kehadapannya, tapi Ku Tiang sun telah jatuh berguling-guling di atas tanah kemudian dirinya tak sadar.

Tam See hoa membuka paksa mulutnya, nampak darah kental bercucuran terus amat deras lidahnya sudah putus dua dan jiwanya tak mungkin tertolong lagi.

Menghadapi keadaan seperti ini, ia menghela napas panjang lalu mengeluh.

"Saudara Ku, buat apa kau mesti berbuat demikian?"

Dia lantas menotok jalan darah sim hiatnya agar sebelum ajalnya tiba.

Ku Tiang sun tak usah merasakan penderitaan yang hebat lagi.

Hanya di dalam sekejap mata, sudah nyawa manusia lenyap dalam ruangan tersebut, tentu saja Tam See hoa merasakan hatinya sangat berat.

Wi Tiong hong melihat dirinya sudah tak ada urusan lagi di sana, kepada Lok Khi segera ujarnya.

"Adikku, mari kita-pun harus pergi."

Lok Khi mengambil kotak obat penyaru dari saku Sun Cu dan disimpan ke dalam saku sendiri, kemudian katanya.

"Yaa. benar, memang kita harus pergi, Tam hu hoat, kami akan pergi dahulu !"

"Wi tayhiap, Lok lihiap, harap duduk dulu,"

Buru-buru Tam See hoa berseru.

"setelah mengubur jenasah mereka berdua, masih ada urusan yang hendak aku bicarakan dengan kalian berdua."

Selesai berkata, dia membalikkan badan untuk menutup kembali peti mati tersebut, setelah itu membuka pintu dan menitahkan anak buahnya untuk menggusur ke luar jenazah dari Ku Tiang sun serta Sun cu.

Setelah iti dia baru berkata lagi dengan wajah bingung .

"Dewasa ini. meski-pun kami belum tahu Ting pangcu sudah mati atau belum, tetapi sejak Ting pangcu terjatuh ke tangan orang-orang Ban-kiam hwee, mati hidupnya menjadi tanda tanya besar. Kini Wi tayhiap telah mendapat pesan Ting pangcu lewat surat berdarahnya untuk menyimpan lencana pena baja, hal ini berarti untuk sementara waktu Wi tayhiap adalah menjadi pangcu kami ..."

"Siaute hanya ..."

"Hingga sekarang, mati hidup Ting pangcu kami merupakan tanda tanya besar, dari empat pelindung hukum tinggal siaute seorang yang tinggal. Wi-tayhiap sebagai pendekar yang berberbudi besar, sebagai adik angkat dari Ting pangcu apakah merasa tega untuk membiarkan perkumpulan Thi pit pang bubar dengan begini saja? Anggaplah sebagai bantuan, jadilah pangcu kami untuk sementara agar segenap anggota perkumpulan kami dapat merasakan sekedar ketenangan, Wi tayhiap, tentunya kau tak menampik bukan?"

Wi Tiong-hong menjadi serba salah, hanya setelah termenung beberapa saat.

"Siaute tidak tahu apa-apa, bagaimana mungkin ..."

Sambil tertawa Tam See-hoa menyela.

"Wi tayhiap sebagai kedudukan sebagai adik angkat Ting pangcu menjadi pangcu kami untuk sementara waktu, tujuan tak lain agar angggota kami tidak putus asa dan membubarkan diri dengan begitu saja. Tayhiap tak usah kuatir, soal urusan perkumpulan dan masalah sehari-hari, siautelah yang akan bereskan, dan Wi tayhiap tak usah terlalu pusing memikirkan hal tersebut."

Katanya seolah memohon.

"Maksud siaute, paling penting adalah menolong orang, sudah pasti Ting toako masih berada di tangan orang-orang Ban Kiam-hwee."

"Ban kiam hwee berpengaruh yang sangat luas, jagoan lihaynya banyak tak terhitung sekali-pun Ting pangcu belum mati, rasanya sulit juga untuk menolongnya ke luar dari cengkeraman mereka ..."

"Soal menolong orang, biar siaute yang bertanggung jawab, sedang soal arusan partai siaute benar2 tak sanggup melaksanakan. Dan mengapa kalau tujuannya hanya agar anggota perkumpulan jadi tenang dan tidak putus asa, baiklah untuk sementara waktu biarlah siaute menggunakan nama sebutan tersebut. Tam See hoa menjadi sangat gembira.

"Bagus sekali kalau begitu."

Serunya. Tapi baru sampai setengah jalan, tampak seorang anggota perkumpulan berlari2 masuk rke dalam ruangan dengan napas tersengkal2 kemudian sambil memberi hormat kepada Tam See-hoa, serunya.

"Lapor huhoat, mayat itu mendadak melarikan diri."

Laporan yang tiada ujung pangkalnya ini membingungkan Tam See hoa, tanpa terasa tegurnya .

"Mayat yang mana?"

"Mayat lelaki bermuka kuning itu, ketika kami berdua menggotongnya ke tepi hutan, tiba2 ia duduk lalu melarikan diri secepat terbang, hamba beberapa orang tak mampu mengejarnya, sebab itu kami datang mohon bantuan."

"Sudah pasti dia adalah Sun Oh"

Lok Khi berseru.

"Yaa, tak aku sangka bangsat itu hanya pura2 mati, semuanya ini adalah gara2 keteledoran siaute, aku kira dia benar-benar mati keracunan ..."

Kemudian sambil mengulapkan tangannya kepada anggota perkumpulan itu, katanya .

"Disini sudah tak ada urusan lagi, kau bisa mengundurkan diri.' Orang itu memberi hormat, lalu buru2 mengundurkan diri dari sana ... Pelan pelan Tam See hoa mengambil sebuah gulungan kain dari meja abu, lalu berkata.

"Wi tayhiap adalah seorang pendekar ... seorang lelaki yang pegang janji, siaute mewakili segenap anggota perkumpulan menghaturkan banyak-banyak terima kasih kepadamu, mulai sekarang, Wi tayhiap sudah merupakan pangcu kami. Sebagai seorang pangcu, sejak dulu hingga sekarang berlaku suatu kata-kata sandi yang mesti dibaca, karena kata-kata sandi ini merupakan sebuah jurus serangan, kendatipun jurus serangannya amat sederhana, namun meruakan peraturan yang ditetapkan lo pangcu, apalagi dibuat sendiri oleh lo pangcu, semuanya silahkan Wi tayhiap membacanya sendiri."

Sembari berkata, pelan-pelan dia membuka gulungan kain tersebut dan digantungkan diudara, sehingga Wi Tiong-hong bisa melihat lebih jelas lagi.

Karena ucapan mana diutarakan dengan wajah serius, Wi Tiong hong segera mengalihkan pandangannya ke depan.

Dalam gulungan kertas itu tertera sebuah lukisan manusia, tubuhnya sedang berbungkuk kedepan, tangan kiri diayunkan membentuk sebuah gerakan, sementara tangan kanan setengah ditekuk memperlihatkan gaya pena emas melakukan totokan.

Dalam lukisan mana, tertera empat bait tulisan yang berbunyi demikian.

"Burung hong manggut tiga kali, Cahaya tajam sirap dengan sendirinya. Bila tiada bermaksud di hati. Akan diperoleh tanpa bersusah payah ... tertanda. Thi-pit-leng-gi."

Sesungguhnya gerakan serangan tersebut merupakan suatu jurus yang amat umum, dan sederhana, justru itu disebut Burung hong manggut tiga kali.

Bait-bait syair tersebut sesungguhnya merupakan pemecahan pula uniuk jurus serangan tersebut, di mana dapat disimpulkan kalau harus memusatkan pemikiran, dengan niat menciptakan hawa kekuatan.

Namon rahasia itu bersifat umum dan diketahui setiap orang yang pernah belajar silat, sehingga boleh dibilang tiada sesuatu yang aneh dan baru.

Diam-diam Wi Tiong hong membaca beberapa bait syair tersebut beberapa kali ia merasa gaya tulisan dari lo pangcu perkumpulan Thi Pit teng-kan-kun (Pena menenangkan jagad) ToPek li betul-belul dan bersemangat, tidak malu disebut si pena baja."

Tanpa merasa dia memandang beberapa kejap lagi ke atas tulisan mana ...

Ketika Tam See hoa menyimpan kembali gulungan kain tersebut, para anggota perkumpulan telah datang menghidangkan nasi dan sayur.

Mereka bertiga segera bersantap didalam ruangan.

Selesai bersantap, Wi Tiong hong segera bangkit berdiri seraya berkata pelan.

"Saudara Tam, seandainya tak ada urusan, siaute hendak mohon diri lebih dulu."

"Wi tayhiap hendak kemana?"

Tanya Tam See hoa sambil beranjak dari tempat duduknya.

"Ting toako telah dipalsukan orang lain, hal ini menunjukan kalau Ting toako yang asli masih berada di tangan orang-orang Ban-kiam hwee, sekarang siaute akan berangkat ke situ untuk minta orang."

Dia merasa mempunyai sebuah lencana Siu-...

sebagai andalan, dia kuatir orang2 Ban kiam hwee akan membangkang permintaannya.

Lok Khi sendiri-pun merasa bahwa Loau bun si kemungkinan besar masih berada di tangan orang2 Ban Kiam-hwee.

sebab Tiang Ci-...

hingga kini masih berada di tangan mereka, kebetulan suhunya memerintahkan kepadanya untuk menemani Wi Tiong hong menuntut kembali benda tersebut, dengan wajah berseri2 serunya.

"Banar, sekarang juga kita pergi menjumpai perkumpulan Ban Kiam-hwee! "Wi tayhiap benar-benar seorang pendekar besar yang bijaksana dan berjiwa besar,"

Ujar -Tam See hoa kemudian sangat terharu.

"gara2 persoalan Ting pangcu, kau bersama pergi ke Ban kiam hwe, budi ini betul2 besar sekali. Wi tayhiap, ijinkanlah siaute mengikuti kalian berdua, biar mesti terjun ke lautan api, siaute bersedia untuk melakukan."

Cepat-cepat Wi Tiong-hong menggoyang tangannya berulang kali.

"Kepergian siaute hanya bertujuan untuk mengajak mereka membicarakan persoalan jika orang yang kesitu kelewat banyak, aku rasa malah kurang leluasa. Sampai kini, mati hidup Ting toako masih merupakan tanda tanya besar, padahal perkumpulan anda masih memerlukan petunjuk dan bimbingan saudara Tam, lebih baik kita bertugas pada pekerjaan masing2 saja."

Sementara Tam See hoa hendak berkata lagi, Wi Tiong-hong telah menjura seraya berkata.

"Urusan ini tak bisa ditunda-tunda lagi, siaute akan berangkat lebih dulu."

Selesai berkata, dia lantas mengajak Lok Khi berlalu dari dalam ruangan.

Tam See hoa seger menitahkan orang untuk mempersiapkan kuda, menanti kedua orang itu sudah pergi jauh.

dia baru menitahkan semua untuk mengubur peti mati itu, lalu meminta anak buahnya kembali ke markas.

oooOooo Bab 34 SEMENTARA itu, Wi Tiong-hong dan Lok Khi sepeninggal kuil Sik-jin-tian segera melarikan kudanya kencang-kencang menempuh perjalanan cepat ke depan.

Mendadak Wi Tiong-hong menarik tali les kudanya berbelok ke sebuah jalan kecil ke sebelah timur.

"Engkoh Hong, akan kemana kau?"

Lok Khi segera menegur.

"Kuil Pit-bu san !"

"Kuil Pit-bu san ? Tempat manakah itu?"

"Kuil Pit-bu san adalah markas besar pasukan pi... hitam dari perkumpulan Ban Kiam-hwee, tempat hari aku bersama Ting toako dan Tok Hay-ji ... disekap di tempat itu.

"Dapat aku tahu sekarang, tempo hari aku .... toako ke situ, tapi toako tidak akan aku turut, apa-pun yang aku katakan juga tak mau menjelaskan di manakah Chin koan itu berada, katanya tempat itu belum dapat ditemukan dan harus dicari lebih dahulu. Sekarang, apakah kau hendak mencari orang Chin itu?"

"Kalau kita ingin mengetahui kabar berita tentang Ting toako, tentu saja kita harus mencari Chin congkoan."

"Kalau begitu kita tak usah pergi ke Kiam bun?"

"Bila kita tak berhasil mendapatkan sesuatu berita di sini, rasanya belum terlambat berkunjung ke Kiam bun."

Lok Khi berpikir sebentar, akhirnya ia mengangguk juga.

"Baiklah!"

Kedua orang itu meneruskan kembali perjalanannya hampir setengah jam lamanya seringkali Wi Tiong-hong celingukan memandang sekeliling tempat itu.

Dia merasa hutan siong yang terbentag didepan mata memang bukit Ciang siu nia, dapat di mana Kam Liu-cu menantikan kedatangannya tempo hari, pemuda itu lantas tahu kalau jaraknya dengan bukit Pit bu san sudah tak jauh lagi.

Belangan ini sudah banyak peristiwa besar yang dialaminya, pengetahuannya dan pengalamannya dalam dunia persilatan-pun telahmemperoleh kemajuan yang pesat, begitu tiba di lingkungan hutan, dia lantas melompat turun dari kudanya.

Lok Khi ikut melompat turun dari kudanya, kemudian menegur dengan suara lirih .

"Sudah sampai?"

"Kami harus menempuh perjalanan yang sangat jauh, tapi ada baiknya kita tambatkan dulu kuda2 tersebut dalam hutan tersebut, dari pada memancing perhatian orang lain!"

Lok Khi manggut-manggut, mereka berdua terus menuntun kuda masing-masing dan menambatkannya dalam hutan pohon siong itu kemudian meneruskan perjalanan dengan berjalan kaki.

Tak selang berapa saat kemudian, mereka sudah sampai di bawah kaki bukit karang, didepan sana terbentang sebuah hutan menghalangi jalan pergi mereka.

Wi Tiong-hong tahu kalau mereka sudah tiba di tempat tujuan, tempo hari.

ketika dia datang bersama Kam Liu cu, di sinilah kedatangan mereka dihadang oleh seorang pendekar pedang ...

hitam.

Karena kedatangannya hari ini bermaksud untuk menjumpai Chin congkoan dengan adat sopan santun, sudah barang tentu dia tak akan memasuki wilayah orang dengan begitu saja tanpa terasa dia lantas menghentikan peerjalanannya.

Lok Khi yang mengikut di belakangnya, segera bertanya.

"Engkoh Hong, di sini?"

Katanya kemudian.

"Kita meucari orang untuk memberi tahukan lebih dulu, daripada menimbulkan kesalahan paham orang lain."

Lok Khi segera memperhatikan sekejap sekeliling tempat itu, kemudian dia bertanya .

"Di manakah mereka?"

Wi Tiong-hong menunggu beberapa saat di luar hutan, benar juga. ternyata tidak mendengar ada orang yang menegur, dalam hati segera pikirnya.

"Mungkin pendekar pedang berpita itu masih berada di dalam sana ..."

Berpendapat demikian, dia lantas berpendapat seraya berkata.

"Mari kita masuk kedala tuk melihat keadaan."

Selesai berkata, dengan langkah lebar masuk kedalam hutan tersebut, namun belum ada juga seseorang yang menghalangi jalannya.

Baca Juga: Pendekar Penyebar Maut 9

Baca Juga: Nona Berbaju Hijau Kho Ping Hoo

Cari Blog Ini

Diberdayakan oleh Blogger.

Parnert