Ceritasilat Novel Online

Pedang Berkarat Pena Beraksara 6

Eps 6 Pedang Berkarat Pena Beraksara - Tjan ID

Baca online Pedang Berkarat Pena Beraksara - Tjan ID

Cersil Pedang Berkarat Pena Beraksara - Tjan ID.

Kenyataan ini segera menimbulkan kecurigaan dalam hati kecilnya.

Ia lantas berjalan menuju ke tengah hutan ...

yang ada, entah berapa saat dia sudah berjalan.

Padahal seingatnya dulu, semestinya disitulah ada sebuah gubuk yang dimaksudkan, karena mungkin datang bersama Kam Liu-cu tempat gubuk tersebut berada di tengah hutan.

Tetapi kenyataannya sekarang, bayangan rumah gubuk itu-pun sudah tak nampak lagi.

Lok Khi yang menyaksikan si anak muda itu selalu memandang kebelakang kekiri dan kanan tanpa tujuan, lama kelamaan habis sudah kesabarannya tak tahan dia lantas bertanya .

"Apakah kau sudah tak dapat mengingat lagi jalan yang pernah dilalui dulu?"

Namun begitu, jalan yang dilalui tak ada penduduk cuma rumah gubuk yang sebenarnya tak dihuni mengapa bisa lenyap tak berbekas.

"Mungkin tempat ini hanya tempat sementara yang mereka diami, sekarang orang2 itu sudah tidak berada di sini lagi."

"Lantas rumah gubuknya?"

Lok Khi segera tertawa cekikikan.

"Sebelum pergi meninggalkan tempat tentu saja rumah gubuk tersebut mereka bakar terlebih dahulu!"

Wi Tiong-hong baru tertegun sesudah dengar perkataan itu.dalam kenyataan.

sepanjang jalan menuju kesitu, dia memang tak menjumpai seorang pendekar pedang berpita hitampun, rupanya mereka benar-benar tidak berada di situ lagi.

Berpikir sampai disitu, mendadak satu ingatan kembali melintas lewat, dengan cepat menggelengkan kepalanya berulang kali.

"Tidak benar, tempat ini sudah pasti bukan tempat tinggal mereka untuk sementara."

"Darimana kau bisa tahu?"

"Tempat yang digunakan mereka untuk menyekap kami agaknya berada di dalam sebuah bukit, tempat didalam sana amat tak mungkin kalau semacam itu merupakan tempat tinggal sementara."

"Tapi kau mengatakan, tempat itu adalah hanya rumah gubuk?"

"Sewaktu aku dan Kam toako datang ke mari waktu itu, Chin congkoan memang tinggal di dalam rumah gubuk."

Lok Khi segera mendengus, tukasnya.

"Bukankah di bawah tanah sana tersedia ruangan yang besar, buat apa mereka harus tinggal di rumahh gubuk? Sudah pasti rumah gubuk itu hanya bersifat untuk mengelabui orang?"

Ketika bicara sampai di situ tiba-tiba dia ... perlahan, katanya lagi kemudian.

"Kalau benar, berita tentang di larikannya Lou bun si oleh Ting Ci-kang telah tersebar luas dalam dunia persilatan, sudah pasti mereka yang sengaja mencari arang untuk menyamar sebagai Ting Ci-kang kemudian di bawa ke kuil Sik jin tian agar semua orang menyangka Ting Ci kang tewas di bunuh orang ... Lou bu si tersebut dilarikan juga oleh pembunuh tersebut, padahal merekalah yang memangnya mendapatkan Lou-bun-si itu.

"Bukankah berita ini tersiar dalam dunia persilatan, sudah pasti ada banyak orang yang akan datang ke kuil Sik-jin-tian untuk melakukan penyelidikan padahal tempat ini tak jauh letaknya dari kuil Sin-jin tian, andaikata sarang pasukan pedang berpita hitam dari Ban kiam hwee benar-benar berada di sini, bukankah hal ini sama artinya dengan memamerkan kepada orang bahwa merekalah yang melakukan perbuatan tersebut? Oleh karena rumah gubuk itu segera dibongkar, seakan2 mereka sudah pindah dari situ, hanya dengan begitu orang lain baru tak akan menaruh curiga terhadap mereka."

Wi Tiong hong segera mengangguk berulang kali, dengan wajah serba salah dia lantas berkata.

"Lantas kita harus kemana mencari mereka?"

Lok Khi mendengus dingin.

"Kalau tokh para jago pedang berpita hitam pada menjadi kura-kura yang menyembunyikan diri. apakah kita tak dapat pergi mencari mereka? Jikalau rumah gubuk tersebut terletak di sekitar sini, berarti pintu rahasia mereka, menuju ke ruang bawah tanahpun tak akan terlampau jauh letaknya, suatu saat kita pasti menemukan jejak tersebut."

Wi Tiong hong segera berpikir.

"Waktu itu, Chin congkoan hanya bertepuk tangan dari belakang ruangan segera muncul seorang bocah. Chin congkoan menitahkan kepadanya untuk menanyakan soal pedang mestika miliknya kepada nona Hong, tak lama sesudah bocah itu pergi, dia telah muncul kembali muncul membawa pedang mestika tersebut, kalau begitu pintu masuk ke luarnya tidak berada jauh dari tempat itu. mustahil dia dapat pergi pulang sedemikian cepatnya?"

Berpikir sampai disitu, buru-buru sahutnya.

"Apa yang dikatakan adik kiki memang benar begitu, kita segera mencarinya ..."

Hutan tersebut terletak di kaki bukit, sedangdi belakang adalah bukit karang yang berkapur, dan diujung hutan sana, pepohonan nampakbegitu jarang, di sana sini penuh dengan bongkahan batu cadas sedang dari sela sela batu muncul banyak belukar yang lebat.

Wi Tiong hong mencoba untuk memeriksa sekeliling tempat itu, tapi ia gagal untuk mendapatkan dimanakah rumah gubuk tersebut pernah didirikan, sepantasnya, kalau gubuk itu dibongkar, paling tidak diatss tanah pasti ketinggalan bekas-bekasnya.

Tapi keanehan mana justru terletak dan sekakipun mereka berdua sudah memeriksa seluruh semak belukar di sekitar bukit berbatu itu, namun tak sesosok bayangan-pun yang ditemukan, apalagi menemukan pintu masuk menuju ke ruang rahasia?

Lama kelamaan Lok Khi menjadi naik pitam dia segera mendengus dingin.

"Huuuhhh, kalau cuma sebuah ruman rongsokan saja, apa sih luar biasanya? Hm, bahkan alat rahasia yang begitu sempurna It-teng tuysu-pun berhasil aku temukan masak rumah rongsokan tak bisa aku jumpai ... ?"

Gadis itu memang tidak menyombongkan diri, tempat teratai Buddba besi dari It-teng taysu memang terbuka karena sentuhan tangan nona itu namun sentuhan tersebut adalah sentuhan tanpa sengaja, bergeraknya alat rahasia tersebut-pun hanya suatu kebetulan.

Padahal suatu peristiwa yang kebetulan belum tentu bisa terulang lagi sudah barang tentu kejadian macam begini tak dapat dianggap sebagai suatu kepandaian yang sebenarnya.

Lok Khi menjadi semakin mendongkol, sambil bergumam ia lantas menendang sebutir batu menjadi remuk dan mencelat jauh sekali.

Dan justru karena tendangannya yang memecahkan batu berhamburan kemana2, Wi Tiong-hong yang sedang berjongkok sambil melakukan pencarian itu segera kepalanya dengan perasaan terkejut.

Sehingga ia mendongakkan kepalanya, dari tempat kejauhan sana ia saksikan ada dua sosok bayangan manusia sedang meluncur datang dari hutan dengan kecepatan tinggi.

Kemudian ia membentak dengan suara rendah.

"Adik kiki ada orang datang."

"kalau begitu kita tak usah repot lagi,"

Sahutnya sambil tertawa cekikikan. Ketika memandang sekejap sekeliling tempat itu, ia menarik tangan Wi Tiong-hong sambil berseru .

"Datang kemari."

Bayangannya segera berkelebat ke depan dan berada di belakang sebuah batu besar untuk sembunyikan diri.

Wi Tiong hong ikut menyembunyikan dibelakang batu, mereka berdua saling berdesakan berjongkok menjadi satu.

Baru selesai menyembunyikan diri, mendadak terdengar suara langkah kaki manusia telah berkumandang empat lima kaki dihadapannya.

Dari balik semak belukar Lok Khi munjuk untuk mengintip ke depan, dia saksikan yang berjalan dipaling depan adalah seorang bocah lelaki berbaju hitam yang kurus kecil, ternyata dia adalah Tok Hay-ji.

Sedangkan yang lain bertubuh kurus berjubah panjang berwarna biru, dalam sekilas pandangan saja dia kenali jubah biru itu sorang berjubah yang dilepas oleh San Cu yang menyaru sebagai Ku Tiang sun itu dari badan Tiang sun.

"Engkoh Hong, cepat lihat, orang yang datang bersama Tok Hay-ji itu bukankah Tok cuan Sun Cu yang berpura pura mampus."

Wi Tiong hong yang mendengar suara ...an itu merasakan lubang telinganya ga.. ..kal. buru-buru dia menghindar dan melompat sekejap ke luar, tapi dengan cepat ia me.. kepalanya berulang kali.

" ... mirip, Tok-si-cuan Sun Cu mempunyai alis mata yang terpotong, mata segi tiga, ... bundar dan berperawakan tinggi besar, sedengkan orang ini berwajah kurus."

"Orang jubah panjang berwarna biru yang dia ... jelas milik Ku Tiang sun, coba perhatikan lagi bukankah pakaian itu cocok sekali dengan ptongan badannya?"

"Jangan ... jangan berisik lagi, mereka sudah mulai dekat."

Lok Khi segera mendengus. ... padahal kalau untuk menghadapi seorang manusia tersebut kita tak perlu untuk menyembunyikan diri."

"Tidak, kita harus menyadap pembicaraan mereka lebih dulu coba kita dengarkan apa yang sedang mereka bicarakan siapa tahu mengetahui jalan rahasia tersebut?"

Setelah mendengar perkataan itu Lok Kh segera membungkam dan tidak berbicara lagi.

Sementara itu, mereka berdua telah berhenti kurang lebih dua kaki di depan sana, terdengar lelaki berwajah kurus itu berkata.

"Apakah di sini tempatnya?"

Begitu orang itu bersuara, tanpa terasa Lok Khi menyikut tubuh Wi Tiong-hong, bertanya.

"Coba kau dengar, kalau dia bukan Tong cuan Sun Cu lantas siapa lagi? Sampai2 suarnya-pun sama!"

"Bukit Pi bu san hanya terletak di te.. ini, masa aku bisa salah jalan?' seru Tok Hay-ji.

"Kau bilang, pada waktu itu kau kabur dari rumah gubuk tapi di sini tidak aku jumpai rumah gubuk yang kau maksudkan itu?"

Ternyata mereka pun datang untuk mencari rumah gubuk tersebut, sekali lagi Lok Khi menyikut tubuh Wi Tiong-hong. Wi Tiong hong segera manggut2 sementara dalam hati kecilnya berpikir.

"Kalau ditinjau dari sini, apa yang dikatakan Tok si cuan Sua Cu memang tidak salah. Setelah ia membuktikan kalau orang yang ma.. ..kan Ting Ci-kang. hal itu berarti permainan busuk dari Ban Kiam-hwee, atau dengan perkataan lain Lou ban si itu pasti berada ditangan orang-orang Ban Kiam-hwee. rupanya ... pulang dan setelah memberi laporan ia lantas mengajak Tok Hay-ji untuk mencari ... disini."

Sementara itu Tok Hay-ji-pun nampak ter.. selang sesaat kemudian ia baru berkata.

"Yaa betul, kemana larinya rumah gubuk tersebut? Masa dapat lenyap dengan begitu saja!"

"Sudah pasti rumah gubuk itu telah mereka bongkar,"

Kata Tok si cuan kemudian sambil tertawa.

"Namun sekali-pun rumah gubuk itu dibongkar apakah gunanya?"

Teriak Tok Hay-ji dengan marah, 'hmmm, kecuali kalau mereka mengangkut sekalian bukit Pit-bu san terssbut."

"Betul, mereka membongkar rumah gubuk tersebut hal mana membuktikan kalau orang2 mereka masih tetap berada di sini."

"Mari kita segera melakukan pencarian, aku masih ingat waktu itu aku harus melalui banyak sekali anak tangga berbatu sekali-pun sarang mereka amat rahasia tokh sudah pasti terdapat sebuah jalan masuknya."

"Jika pintu rahasia itu dapat ditemukan secara gampang, terhitung kepandaian macam apakah itu? Dalam sekilas pandangan tempat ini hanya penuh dengan batu-batu cadas yang berserakan kita toh tak dapat membongkar sebagian batuan cadas itu bukan?"

"Kau-pun tidak mengerti?' tanya Tok Hay-ji. Tok Si cuan atau si pencuri beracun, ..saja kepandaiannya hanya terbatas dalam hal curi mercuri saja, tapi biasanya sebagai seorang pencuri dia-pun mengerti tentang alat2 rahasia. Sambil tertawa Tok si cuan Sun Cu beerkata.

"Kalau cuma yang biasa-biasa saja, tentu saja aku mengerti, tapi kalau sudah dihadapkan dengan alat-alat rahasia yang dalam, terpaksa aku hanya bisa melototkan mata belaka."

"Eeeh, mengapa kau memandang mereka sampai sedemikim hebatnya?"

Seru Tok Hay-ji dengan perasaan tidak puas.

"Yaa, apa boleh buat? Aku dengar orang sering berkata, alat rahasia dari Ban kiam hwee, beraneka ragam jumlahnya, konon kepandaian itu berasal dari perguruan Lam hay bun, bisa dibayangkan isinya pasti mendalam sekali lebih baik kita duduk-duduk dulu sambil beristirahat. Bila Lu suko sudah datang, dia tentu akan berhasil menemukan pintu rahasia mereka."

"Menunggu Lu suko? Sampai kapan dia akan ke mari?"

"Apakah kau tidak mendengar perkataan dari susiok? Hari ini Lu suko sudah pasti akan sampai, lagipula kita toh cuma bertugas mengawasi gerak gerik mereka, bila Lu suko samapi ke mari, tentu saja dia akan menemukan tempat itu."

"Baik, menunggu yaa merunggu ..."

Seru Tok Hay-ji dengan gemas.

"Bila Chin Toa-seng sudah tertangkap, aku akan menyuruh dia rasakan dulu bagaimana nikmatnya Tok si ci kut dengan racun peremuk tulang?"

Wi Tiong hong yang mendengar perkataan itu diam2 lantas berpikir.

"Apakah yang dimaksudkan sebagai Tok si ci kut oleh Tok Hay-ji itu? Biasanua perkataan dari orang-orang Tok Seh-shia sangat kejam tak berperasaan, sudah pasti hal itu-pun tentu sesuatu yang baik."

OooOooo Bab 35

"Setelah kita berhasil membekuk seorang diantara mereka, masa ia tak akan menuruti perkatan kita?"

Kata Tok si cuan Sun Cu sambil tertawa rendah.

Setelah itu terdengar suara langkah manusia bergerak menuju kearah barat, di susul kemudian tak kedengaran suara lagi, tampaknya mereka berdua sudah mencari batu besar dan duduk.

Lok Khi segera berbisik.

"Engkoh Hong, entah siapakah Lu suko yang mereka katakan itu? Kalau didengar dari suaranya, dia seperti seseorang yang ahli dalam ilmu alat rahasia, tapi begitu-pun lebih baik asal mereka sudah berhasil membuka pintu kita-pun ikut masuk pula ke dalam."

"Enak benar kalau bicara, bila orang2 Tok see sia berhasil membuka pintu rahasia tersebut, masa mereka akan membiarkan kita ikut masuk ke dalam? Lagi pula dengan demikian, bukankah kita akan menghadapi musuh dari kedua belah pihak?"

Lok Khi segera tertawa cekikikan.

"Kalau kita harus menghadapi musuh dari kedua belah pihak, apakah mereka juga tidak sama saja mesti menghadapi musuh dari kebelah pihak?"

Sementara pembicaraan berlangsung, Wi Tiong hong merasakan Lok Khi semakin menempel diatas tubuhnya, sedemikian menempel hampir boleh dibilang pipi menempel dengan pipi, napas-pun hampir terjadi bercampur aduk.

Dalam keadaan seperti ini, bukan saja napasnya yang harum dapat terendus, bau semerbak yang tersebar dari tubuh si nona-pun dapat terendus, kesemuanya itu secara lamat2 mendatangkan perasaan aneh untuk si anak muda tersebut.

Dalam waktu singkat, pemuda itu merasakan tubuhnya menjadi panas, peluh sebesar kacang kedele telah bercucuran dengan amat derasnya.

Ketika Lok Khi merasakan napas pemuda mendadak menjadi kasar dan agak memburu, dengan keheranan ia berpaling; katanya.

"Engkoh Hong, apakah kau merasa kegerahan?"

Karena berpaling, maka topeng kulit manusia yang jelek dan penuh dengan burik itu telah menyentuh di atas pipi Wt Ttong hong, anak muda itu segera merasakan wajahnya terasa membentur di atas benda yang tebal lagi kasar, sedemikian kasarnya hampir saja membuat kulit mukanya sakit.

"Oooh, maaf,"

Lok Khi segera mengejapkan matanya.

"apakah terasa sakit? topeng ini memang kasar, bacokan golok atau pedang tak bakalan mempan ..."

Seraya berkata, tiba-tiba dia melepaskan topeng tadi. Dengan terkejut Wi Tiong-hong segera berbisik.

"Hei. mau apa kau melepaskan topengmu?"

Dengan wajah bersemu merah Lok Khi tertawa.

"Sebentar baru pakai lagi, toh sama saja. Dengan demikian, bila sampai menggesek kulit di atas wajahmu nati tak akan terasa sakit lagi."

Ucapan tersebut diutarakan dengan kobaran api cinta yang membara, benar juga, dia lantas menempelkan selembar wajahnya yang lembut dan halus itu diatas wajah pemuda tersebut.

Wi Tiong-hong merasa malu sekali, namun dia-pun rikuh untuk menampik, terpaksa membirakan gadis itu menempel ditubunya.

Semetara kedua orang itu masih dimabuk cinta, mendadak terdengar bunyi lirih bergetar memecahkan keheningan, sebutir kerikil telah meluncur melalui atas kepala kedua orang itu dan terjatuh ke atas tanah.

Dengann perasaan terkejut Wi Tiong-hong segera berpaling ke sekeliling tempat itu, namun tidak ditemukan seorang manusia-pun.

Hal ini membuat hatinya keheranan.

Dengan cepat Lok Khi mengenakan kembali topeng kulit manusianya dan membereskan rambutnya yang kusut, lalu tanyanya pelan .

"Engkoh Hong, apakah ada orang yang telah menemukan jejak kita?"

Wi Tiong hong segera menggeleng.

"Bahwa beberapa kaki di sekitar tempat ini tak nampak ada seorang manusia-pun ..."

Belum habis dia berkata, terdengar Tok si k-n Sun Cu telah membentak dengan suara rendah.

" ... ada orang datang, cepat bersembunyi."

Tok Hay-ji segera mendengus.

"Hmmm, yang datang berjumlah tiga orang mirip orang-orang Ban kiam bwee !"

Kemudian terdengar suara gemericik dengan pelan, rupanya kedua orang itu-pun sedang menyembunyikan diri di balik semak belukar. Mendadak Lok Khi mendesis lirih.

"Sekarang aku sudah tahu, yang melemparkan batu tadi tentu ji suciku setan alas itu."

"Ji-rucimu? Sekarang dia berada dimana?"

Tanya Wi Tiong-hong keheranan.

"Siapa yang tahu,"

Jawab Lok Khi manja.

"Gara2 kau, hmm, sekarang kelihatan ji-suci malu toh rasanya?" (Bersambung

Jilid 17) TAK SELANG BEBERAPA saat kemudian, dari bawah bukit situ kedengaran juga suara langkah kaki manusia yang berjalan makin mendekat, agaknya ada orang sedang berjalan sambil berbincang-bincang.

Tanpa terasa Lok Khi melongok keluar dan mengintip sekejap.

kemudian tanyanya.

"Engkoh Hong, menurut kau siapa yang telah datang? jangan mengintip. kau harus menebaknya"

Wi Tiong hong segera memasang telinga baik-baik, ia mendengar suara langkah kaki dari beberapa orang itu sudah berada tujuh delapan kaki dari hadapan mereka.

Tiba-tiba terdengar seseorang berkata dengan suara yang menyeramkan "Tentu saja mereka tak akan pernah menduga, setelah pinto dibebaskan kini pinto berani datang lagi, Chin tua seng tinggal di dalam sebuah rumah gubuk di tengah hutan sana."

Orang yang lain segera tertawa tergelak.

"To-heng memang benar-benar hebat, kalau dibicarakan sebetulnya memalukan sekali, waktu itu sepasang mata pinceng ditutup juga dengan secarik kain, tapi secara diam-diam, aku telah menghapalkan jumlah langkah kakinya, siapa tahu setelah dihitung hitung ternyata hanya sampai ditengah hutan Siong dibawah ciang-siu-nia sana, kalau dihitung dari sini paling tidak mencapai satu-dua lie lebih."

Pembicaraan yang mereka langsungkan tidak terlalu nyaring, namun dapat terdengar sangat jelas.

Wi Tiong-hong seperti membayangkan kembali pengalaman yang dialaminya tempo hari, waktu itu dia pun diajak dayang berbaju hijau itu berjalan jalan hingga sampai setengah harian lamanya, persis seperti apa yang dikatakan orang-orang itu, tanpa terasa dia tertawa geli.

Kepada Lok Khi katanya kemudian.

"Merdka adalah Ma koan tojin serta Thi-lohan Khong beng hwesio..."

"Kau sudah mendengar suara pembicaraan mereka, tentu saja segera tahu, tidak bisa dihitung. ehm, ayo coba tebak siapa yang lainnya pembicara pembicara itu?"

Wi Tiong hong segera tertawa.

"Dua sudah tertebak jitu, kalau masih ada seorang lagi tentu sudah pasti dia adalah sinaga tua berkepala botak To Sam seng."

Baru selesai dia berkata, sinaga tua berkepala botak telah berkata pula.

"Sedari tadi siaute kan sudah bilang sudah pasti apa yang kita alami hanya merupakan jebakan musuh untuk membingungkan pikiran kita, padahal jalan untuk masuk dan keluar dari bukit ini cuma satu, menurut perhitungan Khong beng taysu, semuanya mencapai tiga tikungan dan sembilan puluh enam tanjakan, persis seperti jumlah hitungan yang siaute ingat, hal ini sudah membuktikan kalau perhitungan kita ini tak bakal salah."

"Andaikata saudara To itu harus memasuki lorong rahasia bawah tanah lagi, apakah kau masih dapat mengingatnya dengan jelas?"

Naga tua berkepala botak segera tertawa.

"Soal lain siaute tak berani berbicara, tapi kalau cuma soal jalanan yang pernah siaute lewati, hampir semuanya tentu kutinggali kode rahasia."

Wi Tiong hong yang mendengar ucapan tadi itu diam-diam mengangguk, pikirnya.

"Bagaimana pun juga jahe memang semakin tua semakin pedas, mereka sudah lama disekap disana, sebelum dibebaskan hanya tinggal disitu terus, kemudian waktu di bebaskan juga harus berjalan lebih dulu, memang tidak sulit untuk meninggalkan kode rahasia secara diam-diam."

"Asal kau sudah berbuat demikian, urusan akan lebih muda untuk di selesaikan."

Seru Khong beng hwesio kemudian.

"Apa bila kita sudah menemui pintu masuknya, biar To lo koko yang membawa jalan."

Kata Ma-koan tojin pula.

"asal kita dapat membekuk Chin Toa-seng, sehebat-hebatnya jago pedang berpita hitam anak buahnya aku rasa tak perlu dikuatirkan lagi."

"Hek bun-kun Cho Kiu-moay tidak berada disini, kalau cuma untuk menghadapi Chin Tay seng saja, dengan kemampuan toheng dan pinceng berdua pun aku rasa sudah cukup untuk menghadapinya."

Kata Khong beng hwesio kemudian.

"Benda yang diperoleh menjadi milik kita bertiga, asal ilmu silat yang berada diatas benda itu berhasil kita latih, ketua Ban kiam hwee tak nanti bisa berbuat apa apa terhadap kita."

"Bukan hanya Ban kiam hwecu saja, bahkan pihak Tok See sia maupun Thian-sat nio juga tak mungkin bisa berbuat apa-apa terhadap kita."

Berbicara sampai disitu, tak tahan lagi mereka berdua segera tertawa terbahak-bahak, Lok Khi yang mendengar perkataan itu mendengus dingin, bisiknya dengan mendongkol.

"Tampaknya mereka belum puas. Sebelum berhasil mendapatkan Lou bun-si, benar-benar manusia yang tak tahu diri."

Dalam pada itu Ma koan tojin sudah berkata lagi dengan suara yang dingin menyeramkan.

"Kalian berdua jangan keburu merasa bangga, bila dugaan pinto tak salah, mungkin bukan cuma kita saja yang datang ke bukit Pit bu san ini..."

"Sejak banyak orang mengetahui kalau benda itu sudah terjatuh ke tangan orang orang Ban Kiam hwee, banyak diantara mereka yang tahu susah dan mengundurkan diri, ada pula yang langsung menuju ke bukit Kiam bun san, siapa yang bakal kemari ?"

"Apa yang ingin kita dapatkan, tentu saja di nginkan pula oleh orang lain."

Kata Ma koan tojin sambil tertawa.

"kita bisa sampai disini, tentu saja orang lain juga dapat sampai disini."

Berbicara sampai disitu, mendadak dia mendongakkan kepalanya sambil berseru.

"Ma koan tojin dari Hong san, Khong beng taysu dari kui Thi hud si dan Naga tua berekor botak To tayhiap dari Huan yang berada disini, aku harap sobat tak usah menyembunyikan diri lagi."

Wi Tiong hong yang mendengar perkataan itu menjadi terperanjat sekali, dia tak tahu yang berhasil ditemukan jejaknya oleh orang itu adalah mereka berdua ataukah pihak Tok Hay-ji?

Tiba-tiba Lok Khi berbisik.

"Engkoh Hong. mari kita keluar, siapa yang takut kepada mereka?"

Buru-buru wi Tiong hong menarik tangannya sambil berseru.

"TUnggu dulu..."

Belum selesai dia berkata, terdengar Tok Hay ji sudah berseru sambil mendengus.

"Hmm, kalau hanya mengandalkan papan nama emas dari kalian bertiga mah masih belum dapat menyulitkan aku, siapa yang bilang kalau kami sedang bersembunyi?"

"sreet"

Sreet."

Dua sosok bayangan manusia segera melompat keluar dari balik batu.

Begitu sinaga tua berekor botak To Sam-seng mengetahui kalau yang muncul adalah Tok Hay-ji dengan cepat dia menggeserkan tubuhnya berdiri searah dengan angin, kemudian sambil menggelus jenggotnya dia tertawa terbahak-bahak.

"Haaahhh . ,haaahhh...haaaahh.. rupanya kaupun sampai disini juga."

Ma-koan tojin dan Thi-lohan Khong beng hwesio adalah jago jago persilatan yang berpengalaman luas, serentak mereka menggeserkan tubuh masing masing berdiri kearah dengan hembusan angin, dengan demikian mereka tak usah kuatir Tok Hay ji menggunakan racunnya lagi.

Tok Hay-ji segera mendengus dingin.

"Hmmm. tadi, bukankah lo tosu sudah bilang, kalian bisa datang tentu saja orang lain juga bisa datang."

Ma-koan tojin maju selangkah ke depan lalu menjura dalam-dalam.

"Siancay, siancay, siau sicu telah datang apakah Seh Toheng juga bakal datang."

"Buat apa kau menanyakan tentang soal ini ?"

Seru Tok Hay-ji dengan angkuhnya. Dengan senyum tak senyum Ma koan tojin berkata.

"Dimasa yang lampau, pinto mempunyai kesempatan untuk bertemu beberapa kali dengan Seh toheng, hampir kini sudah banyak tahun kami tak pernah bersua, berhubung pinto teringat akan sahabat lama, oleh sebab itu aku lantas menanyakannya."

Ma koan tojn dari bukit Hong san mempunyai nama yang termashur dalam dunia persilatan, kalau dia bilang kenal dengan Seh Thian yu, sudah barang tentu hal ini tak bakal salah.

Mendengar perkataan tersebut, mau tak mau Tok Hay-ji harus mempercayai juga.

dia mendongakkan kepalanya hendak berbicara, tapi secara tiba-tiba dia menyaksikan sekulum senyuman aneh menghiasi wajah Ma-koan tojin, meski kecil orangnya tapi otaknya besar,jadi orang pun cekatan, satu ingatan pengan cepat melintas dalam benaknya.

Dengan suatu gerakan cepat, bocah itu segera melompat mundur ke belakang kemudian bentaknya keras-keras.

"Kau mau ... ."

Tidak memberi kesempatan kepada musuhnya untuk mundur, Ma-koan tojin segera melompat ke depan sambil melakukan terjangan serunya dengan suara menyeramkan.

"Seh toheng belum juga datang tapi tak apalah, menahan kau disini pun sama saja."

Ujung bajunya dikembangkan, lalu tapak tangannya yang kurus kering tak berdaging, dan berwarna putih keabu abuan itu melepaskan sebuah pukulan secepat kilat, Rupanya d isaat pembicaraan dengan Tok Hay ji tadi, secara diam-diam ia telah menghimpun ilmu Pek kut ciangnya dengan tujuan membunuh lawannya dalam sekali pukulan.

Bicara soal ilmu silat tentu saja Tok Hay-ji bukan tandingan dari Ma kom tojin, apa lagi dalam keadaan tak slap.

kendatipun demikian ia merasakan adanya ancaman bahaya, namun waktunya sudah terlambat.

Tampaknya Tok Hay ji akan segera terluka oleh pukulan Pek kut ciang tersebut.

Tiba-tiba ia menjatuhkan diri dan berguling diatas tanah.

Tentu saja dia berusaha keras untuk menghindar namun dibawah kepungan serangan Pek kut ciang dari Ma koan tojin, tampaknya sulit bagi bocah itu untuk meloloskan diri.

Ditengah kepungan musuh yang amat mengerikan inilah, tiba-tiba ia tertawa ringan, kemudian tangan kirinya diayunkan keatas dan menyentil beberapa kali.

Sentilan jari tersebut tidak menimbulkan gerakan angin, juga tidak nampak suatu benda yang disentilkan.

Tapi anehnya Ma koan tojin yang siap melancarkan bacokan itu mendadak menarik, serangannya, dia buru-buru lompat ke samping.

Menggunakan kesempatan inilah Tok-hay-ji segera menggelinding sejauh tujuh delapan depa dari posisi semula menanti ia sudah melompat bangun, ditangannya telah bertambah dengan sebuah senjata berwarna hitam pekat yang mirip cambuk bukan cambuk, mirip ruyung bukan ruyung.

"Haaaahhh,.. haaah....haahhh... tosu tua padahal aku tidak menyentilkan apa2 kepadamu, mengapa sih kau kelihatan ketakutan setengah mati?"

Serunya sambil tertawa tergelak.

"memang kuatir keracunan? Lebih baik tak usah mencari gara2 dengan orang Tok-see sia. bila sampai mengusik kami, tanggung kau bakal kerepotan sendiri nantinya..."

Rupanya didalam keadaan tadi timbulnya akal ciliknya dengan manyentilkan jari tangannya ke udara, padahal tiada suatu yang disentilkan.

Ma koan tojin bisatermakan oleh tipuan tersebut oleh karena dia memang menaruh perasaan was-was terhadap orang-orang Tok-Seh sia.

tahu kalau dibohongi kontan saja dia menjadi mendongkol, serunya sambil tertawa.

"Bocah keparat, kau berani bermain gila dihadapan aku Ma-koan lojin dari bukit Hong-san ?"

Tiba-tiba ia menerjang ke muka sepasang telapak tangannya diayunkan bersama melepaskan serangkaian serangan gencar. Tok Hay ji mendengus dingin.

"Hmm, bajingan tua. kau anggap aku benar-benar takut kepadamu ?"

Sambil memutar senjatanya, selapis bayangan tajam segera menyelimuti seluruh angkasa, bagaikan titiran air hujan dia mendesak musuhnya habis-habisan.

Bersamaan waktunya ketika Ma koan tojin turun tangan, tubuh Khong beng hwesio yang gemuk ikut bergerak pula mendesak kebelakang Tok-si cuan Sun oh, kemudian bentaknya.

"Sicu, kau pun harus tetap berada di sini."

Sebuah pukulan yang maha dahsyat dengan cepat dilontarkan ke belakang punggung Tok-si cuan Sun oh.

Tok si cuan Sun oh lebih berpengalaman kalau dibandingan dengan Tok Hay-ji, semenjak ia menyaksikan ketiga orang musuhnya bergeser keposisi searah dengan hembusan angin, ia sudah menduga kalau orang orang itu tidak bermaksud baik.

Sewaktu Ma-koan tojin berjalan menghampiri Tok-i Hay ji ketika mengajak bocah itu berbicara, dia sudah tahu kalau musuh akan-berbuat licik, sebenarnya dia hendak memberi peringatan kepada rekannya.

Namun sayang Ma-koan tojin telah melancarkan serangan lebih dulu, disamping pada saat yang bersamaan dari belakang tubuhnya menyambar pula hembusan angin pukulan.

Rupanya Khong beng hwesio dengan mengandaikan Hek sat jiunya telah melepaskan sebuah bacokan kilat.

Tok si cuan Sun oh sama sekali tidak berkutik, sambil meringkukkan badan ia membuang badannya ke bawah.

Padahal Thiloh an Khong beng hwesio menerjang ke muka dengan kecepatan luar biasa, tapi dia tak mengira kalau musuh akan meringkukkan badan ke bawah, dengan gerakan mana maka..."Weeesss "

Angin pukulan itu menyambar lewat dari atas kepala Tok si cuan dan mengenai sasaran yang kosong.

Kenyataan ini segera mengejutkan lawan, buru-buru hweesio itu menghentikan gerakannya sambil menunduk.

Ternyata Tok si-cuan telah memasukkan kepalanya ke bawah dan muncul kembali dari selangkangan, malah dengan wajah yang mengejek sedang memandang kearahnya sambil tersenyum.

Keadaannya sekarang tak berbeda dengan permainan seorang akrobatik diatas panggung, sama sekali tak ada model kalau seorang yang bertarung akan menunjukkan gaya seperti ini.

Selama ini Thi-lo han Khong Beng hwesio sering menjumpai banyak jago lihay di dunia persilatan, tapi setelah menyaksikan gaya Tok si cuan yang sangat aneh itu, dia menjadi tertegun.

Thi-lohan Khong beng hwesio bukan seorang gadis cantik yang menawan hati seperti bidadari dari kahyangan, apalagi dia menerjang kemuka sambil melepaskan sebuah pukulan dahsyat dengan ilmu Heks sat-ciang, tentu saja Tok-sicuan Sun ou tak bakal melemparkan sekulum senyuman kepadanya.

Tapi dia tertawa sekarang, itu berarti dibalik senyuman itu pasti ada sesuatu yang tak beres.

Rupanya disaat sapuan Thi lohan mengenai sasaran kosong inilah, mendadak dari mulut Tok-si-cuan Sun oh yang tersenyum menyembur keluar serangan cahaya biru yang secara langsung menyambar ke atas tenggorokan hwesio tersebut.

Cahaya biru tersebut merupakan jarum racun yang amat lembut, jumlahnya bukan hanya sebatang, secara beruntun dari mulutnya segera menyembur keluar tujuh delapan belas batang jarum lembut.

Thi-lohan Khong beng hwesio dapat menyaksikan semua peristiwa tersebut secara jelas, ia menjadi amat terperanjat, sambil mengebaskan ujung bajunya buru-buru dia melompat mundur kebelakang.

"Haaah, haaah, haaah..."

Tok-si cuan Sun oh tertawa terbahak-bahak sepasang telapak tangannya segera menepuk permukaan tanah keras keras, setelah itu berjumpalitan dan melompat bangun, ketika tubuhnya dilejitkan ke muka.

"Blaamm "

Sepa sang kakinya telah menjejak di atas perut Thi lohan Khong beng hwesio yang buncit, kemudian tubuhnya secepat anak panah yang terlepas dari busurnya meluncur datar ke depan.

Thi-lohan Khong Beng hwesio tidak menyangka kalau musuhnya akan mengeluarkan jurus seaneh itu, seketika itu juga badannya terjejak secara telak.

Andaikata orang lain yang terkena jejakan itu, paling tidak dia pasti akan menderita luka dalam yang cukup parah, untung saja dia adalah Thi lo han yang Cukup termashyur, kepandaiannya boleh dibilang tangguh.

sedang kekebalan tubuhnya sudah mencapai dua belas bagian, jejakan mana sekali tak berarti baginya.

Tapi, disaat tubuhnya yang gemuk sedang melompat mundur kebelakang, mendadak tubuhnya kena ditendang orang lagi, untuk sesaat dia menjadi tak sanggup mengendalikan diri lagi, seperti bola daging, tubuhnya kontan mencelat setinggi satu kaki lebih dari posisi semula.

Untuk diceritakan semua peristiwa itu tampaknya memang panjang, padahal semua kejadian beriangsung pada saat yang bersamaan, tiba-tiba saja orang melihat ada dua tubuh yang mencelat dan saling berpisah, yang satu menyusup ke depan, sementara yang lain mencelat kebelakang.

Dalam dunia persilatan Thi-lohan Khong Beng hwesio tersohor karena kebuaSannya, dia pun termaSuk seorang jagoan kelaS satu, siapa tahu hanya menghadapi seorang anggota perguruan dari Tok see sia pun harus mengalami kekalahan berulang kali.

Lama kelamaan timbul juga kebuasannya, tubuh yang mencelat seperti bola daging itu secepat kilat melayang kembali ke tempat semula kemudian...."Cri ingg ..."

Dari balik sakunya mencabut keluar dua bilah golok yang panjangnya dua depa.

"Bocah keparat."

Serunya sambil menyeringai seram.

"Hud-ya akan segera mengirimmu pulang ke akhirat."

Cahaya golok berkilauan di angkasa, diantara kilauan sinar yang luar biasa tajamnya, dia telah membacok tubuh Tok si cuan Sun ou keras-keras.

Tok si cuan Sun ou segera melejit kesamping dengan gesit, begitu lolos dari ancaman, dia lantas berkata sambil tertawa.

"Oooh ... rupanya kau juga menggunakan golok, kalau begitu sungguh kebetulan sekali."

Sambil berkelit ke kiri kanan dengan menggunakan gerakan gerakan yang lincah, tangan kanannya cepat-cepat merogoh ke dalam bajunya mengeluarkan sebilah sarung golok berwarna hijau sepanjang dua depa.

Dengan tangan kiri memegang sarung, tangan kanan menggenggam golok.

sreet ...

Dia telah mencabut keluar golok itu.

Begitu golok itu diloloskan maka segera terlihatlah mata golok yang memancarkan cahaya biru yang berkilauan, dalam sekilas pandangan saja semua orang dapat mengetahui kalau golok itu sudah direndam dalam racun yang sangat ganas.

Sarung golok yang berada di tangan kiri Tok si cian Sun ou ternyata digunakan sebagai senjata, pelan-pelan dia mengayunnya ke samping, sementara golok beracun ditangan kanannya menciptakan selapis cahaya berwarna biru.

"Berhati-hatilah hwesio gede."

Dia segera memperingatkan sambil tertawa keras.

"golok darahku ini bukan golok sembarangan yang boleh dianggap sebegai barang mainan, asal merobek kulit manusia maka dalam setengah jam tubuh sang korban akan berubah menjadi segumpal darah kental, sekalipun Ji lay hud datangpun jiwanya tak bakal tertolong lagi."

Sudah lama Thi-lohan Khong Beng hwetlo menyadari akan kelihayan orang-orang Tok see sia didalam menggunakan racun, ia benar-benar kena tergertak oleh ucapan tersebut, sambil meningkatkan kewaspadaan, pikirnya.

"Jelas tenaga dalam keparat ini tak akan melebihi aku, namun jurus yang barusan digunakan luar biasa, ditambah lagi golok beracunnya itu, dia betul-betul seorang musuh yang tak boleh dianggap enteng."

Berbicara yang sesungguhnya, baik ilmu silat maupun tenaga dalam yang dimiliki Thi-lohan Khong beng hwesio masih jauh melebihi musuhnya, permainan sepasang goloknya juga jauh lebih dahsyat daripada permainan musuh, tapi dengan demikian berhubung seluruh perhatiannya hanya tertuju kearah golok beracun itu, maka pikirannya menjadi makin bercabang, otomatis kelihayannya pun merosot.

Akibatnya Tok si cuan merasakan serangan musuh jauh lebih enteng dan kendor, dengan sarung golok ditangan kiri golok ditangan kanan, ditambah lagi dengan kepandaian lainnya ia berhasil memaksa Thi lohan untuk bertarung seimbang dengannya.

Wi Tiong hong dan Lok Khi mengikuti terus jalannya pertarungan antara keempat orang itu dari balik semak belukar.

Tok Hay ji sudah barang tentu bukan tandingan dari Ma koan Tojin, namun setiap kali keadaan menjadi kritis, dia lantas mengayUnkan tangan kirinya, kadangkala dari jari tangannya menyemburkan asap kuning atau asap hitam, kadangkala hanya gertak sambal belaka.

Ma-koan tojin memang seorang yang berwatak banyak curiga, sekali menyaksikan Tok Hay-ji mengayunkan tangannya, dia selalu cepat-cepat mundur ke belakang, oleh karena itu Tok Hay-ji pun secara dipaksakan masih sanggup mempertahankan diri.

Tiba-tiba Lok Khi berbisik sambil tertawa.

"Engkoh Hong, Tok Hay-ji benar-benar licik dan nakal, coba kalau aku menggantikan kedudukan Ma koan tojin, niscaya dia akan ku bacok sampai mampus."

"Kalau begitu, maka kau bakal keracunan."

Lok Khi tertawa lirih.

"Tak usah kuatir, topengku ini tidak takut terhadap serangan racun atau sebangsanya."

Suara tertawanya kali ini bernada agak keras, dengan cepat hal ini menarik perhatian orang orang yang berada disebelah sana. Tiba-tiba si Naga tua berekor botak To Sam seng membentak beras.

"Siapa disitu?"

"Lohu."

Sesosok bayangan manusia menerjang turun dari atas pohon, ditangannya membawa sebuah senjata berwarna hitam pekat, bentuknya seperti sebuah penggaris besi.

Dengan membawa suatu kekuatan yang amat keras, penggaris besi itu langsung menghajar ke atas batok kepala naga tua berekor botak.

Gerakan tubuh orang itu cepat sekali, rupanya semua orang hanya memperhatikan musuh yang berada ditanah, sedang dia datang lewat atas pohon, ditinjau dari ilmu meringankan tubuhnya yang begitu sempurna, dapat diketahui kalau dia adalah seorang manusia yang luar biasa.

Lok Khi segera menjulurkan lidahnya kepada Wi Tiong hong, bisiknya lagi sambil tertawa ringan.

"Untung saja ada orang lain yang mewakili kita, coba kalau tidak kita bakal repot..."

Dalam pada itu si Naga tua berekor botak sedang merasa terkejut sekali, pada hakekatnya dia tak sempat melihat jelas bayangan orang ketika angin tajam telah menyambar tiba dan senjata penggaris besi itu sudah berada tiga depa diatas kepalanya.

Dengan cepat dia mendengus lirih, tangan kanannya menyambar ke balik pakaian lalu diayunkan keatas, tahu-tahu dalam genggamannya telah bertambah dengan sebilah senjata yang mirip cakar bukan cakar untuk menyambut ancaman tersebut.

"Traaang"

Suatu benturan nyaring bergema memecahkan keheningan, kedua belah pihak sama-sama berdiri tegak ditempat masing-masing.

Setelah terjadi bentrokan itu, si Naga tua berekor botak baru merasa betapa beratnya senjata penggaris baja lawan, bahkan tenaga dalamnya tidak berada dibawah tenaga dalam sendiri.

Cepat-cepat dia menggerakan lengannya untuk menarik kembali senjata cakarnya itu, siapa tahu senjata IHek Liongjiau (cakar naga hitam) andalannya itu seakan-akan menempel rapat-rapat diatas senjata penggaris lawan, bagaimanapun dia membetot, senjata tersebut tak berhasil ditarik kembali.

Tak terlukiskan rasa terkejut naga tua berekor botak menghadapi kenyataan itu, cepat-cepat dia mengerahkan segenap tenaga dalam yang dimilikinya, setelah bersusah payah akhirnya senjata cakar naga hitam itu baru bisa dipisahkan dari penggaris raja tersebut.

"Hm, rupanya senjata penggarismu itu terbuat dari besi sembrani."

Serunya dingin.

"Senjata ku itu amat beracun, kau mesti berhati-hati "

Kata orang itu cepat. Yang muncul lagi-lagi anggota Tok seh sia, nampaknya mereka semua memang pandai menggertak orang dengan mengandalkan kelihayan racunnya. Tok Hay ji segera tertawa terbahak-bahak.

"Haahh ..haahh ..hnahh..Lu suko telah datang, Lu suko, cepat kau lepaskan racun tak berwujud untuk merobohkan ke tiga orang itu."

"Saudara To, cepat hadang orang itu "

Ma koan Tojin membentak pula dengan suara dingin. Tampaknya si Naga tua berekor botak juga kuatir kalau musuhnya benar-benar melepaskan racun, sahutnya dengan suara dalam.

"Tak usah kuatir, siaute tak akan memberi kesempatan kepadanya untuk melepaskan racun."

Seusai berkata, senjata cakarnya kembali diputar secepat angin lalu menyerang orang itu, senjata cakar naga hitamnya diputar makin lama semakin cepat sehingga seluruh angkasa dilapisi oleh bayangan cakar yang amat tebal.

Hanya kali ini, dia tak berani saling beradu senjata lagi dengan penggaris lawan.

**** Bab-36 DALAM pada itu, Tok Hay-ji sudah terdesak sehingga berada dibawah angin, dia benar-benar dibikin kalut sehingga gelagapan setengah mati, senjata ruyung lemasnya kena terkurung oleh angin pukulan Ma koan tojin sehingga tak mampu dikembangkan sebagaimana mestinya.

Tangan kirinya sudah diayunkan berulang kali, namun ayunan tangannya tak pernah mendatangkan hasil, jelas bubuk beracun yang tersedia telah habis dipakai.

Senyum menyeringai telah menghiasi bibir Ma koan tojin, kini hawa pembunuh telah menyelimuti wajahnya, sementara serangan yang dilancarkan juga makin lama semakin bertambah berat.

Dengan keringat bercucuran mendadak Tok Hay-ji mengayunkan kembali tangan kirinya.

"Tosu tua, roboh kau"

Bentaknya keras. Lagi lagi serangannya kosong dan tidak mendatangkan hasil apa-apa. Ma koan tojin tertawa seram.

"setan cilik, kau masih mempunyai permainan kembangan apa lagi? Weees, weees,.,"

Secara beruntun dia melancarkan lagi dua pukulan dahsyat. Tok Hay ji menjatuhkan diri ketanah dan bergelinding diatas tanah. teriaknya keras2.

"susiok, cepat tolong aku."

Setelah terhindar dari pukulan dan cambuk lemas itu ditarik ke belakang, dia melompat bangun, setelah itu sambil tersenyum dia menengok ke belakang tubuh Ma-koan tojin.

Dengan perasaan terkejut Ma-koan tojin segera berpaling, Tok Hay-ji kontan saja tertawa terbahak-bahak.

"Haaahh ... haaaahh ... haaahh. , . tosu tua, tertipu kau kali ini."

Mendadak tampan kanannya diayunkan ke muka, asap berwarna abu-abu segera menyelimuti daerah seluas satu depa dan mengurung seluruh tubuh Ma koan tojin.

Padahal dalam perkiraan Ma koan tojin, racun milik musuhnya ini sudah habis terpaka sesudah beberapa kali ayunan tangannya tidak memberikan reaksi apapun, setelah menyakslkan kabut berwarna abu-abu menyambar keatas wajahnya dia terkejut dan buru-buru menjatuhkan diri ke belakang, kemudian sambil menahan napas dia melompat pergi.

Siapa tahu pada saat itulah terdengar Tok Hay ji membentak keras.

"Tosu tua, roboh kau."

Ma koan tojin melejit ke udara, sewaktu bentakan tersebut menggelegar disisi telinganya, tahu-tahu dia merasa kakinya terjirat sesuatu benda, tak ampun dia kena dijerat oleh senjata cambuk Tok Hay ji dan jatuh terpelanting diatas tanah.

Dalam keadaan seperti ini, dia lebih-lebih tak berani berayal lagi, masih tetap menahan napas, ujung kakinya segera menutuI permukaan tanah kemudian menyelinap kesamping.

Tok Hay ji tertawa semakin panas.

"Haah ... haahh ... haahh . tosu tua, pelan sedikit, tidak mengapa."

Sudah puluhan tahun lamanya Ma koan tojin malang melintang dalam dunia persilatan, tapi sekarang dia harus jatuh terpelanting oleh permainan Tok Hay ji yang masih ingusan, kejadian ini boleh dibilang benar-benar memalukan jagoan ini.

Setelah berhasil berdiri tegak.

paras mukanya yang di hari-hari biasa telah nampak menyeramkan, kini berubah jadi pucat karena marahnya, selangkah demi selangkah dia berjalan maju mendekati lawannya.

Siapa sangka, baru berapa langkah tiba-tiba dari muka sana muncul sesosok bayangan manusia yang secepat sambaran kilat menerjang kearahnya.

Gerakan tubuh orang itu sangat cepat, sedemikian cepatnya sehingga dalam waktu singkat telah berada dihadapan mereka berdua.

orang itu adalah seorang kakek berbaju pendek warna coklat yang bertangan kosong jenggot putihnya sepanjang setengah depa sedang punggungnya bungkuk.

Melihat kehadiran orang itu, Tok Hay ji segera menarik kembali senjata ruyungnya dan mundur beberapa langkah.

Dari tindakanaya ini, jelas dia hendak menyerahkan Ma koan tojin kepada orang itu, agar orang itulah yang memberi pelajaran kepada tosu tersebut.

Tadi Ma koan tojin pernah mendengar Tok Hay ji memanggil orang itu sebagai susiok, kini setelah menyaksikan kelihayan musuhnya ia baru merasa terperanjat.

Seingatnya, di dalam dunia persilatan belum pernah dijumpai seorang jagoan yang bertampang seperti ini, hal yang mana menunjukkan kalau orang itu adalah jagoan dari Tok see sia.

Sebagai seorang jagoan yang sudah termasyur selama banyak tahun dalam dunia persilatan, tentu saja dia tidak berhasrat untuk mengundurkan diri dengan begitu saja.

Walaupun paras mukanya tidak menunjukkan perubahan apa-apa, padahal secara diam-diam dia telah menghimpun segeaap tenaga dalamnya untuk bersiap siaga menghadapi segala kemungkinan yang tak di nginkan-Kepada Tok Hay ji serunya sambil tertawa seram.

"Dia adalah susiokmu ?"

"Siapa bilang ? Aku malah mengira dia adalah susiokmu "

Jawab Tok Hay-ji cepat.

Sementara itu si kakek berbaju coklat itu sudah semakin mendekat, ketika orang itu menyaksikan Tok Hay-ji sudah mundur sedangkan Ma koan tojin masih menghadang dihadapannya, tanpa terasa bentaknya keras-keras.

"Minggir kau."

Sambil mengayunkan tangan kirinya, sebuah pukulan segera dilontarkan ke tubuh Ma koan tojin.

Mimpipun Ma koan tojin tidak mengira kalau orang itu sekali tidak manggubris tentang peraturan dunia persilatan, bahkan begitu ingin bertarung, sebuah pukulan langsung dilontarkan kearahnya.

Satu-satunya yang ditakuti olehnya adalah ilmu beracun dari orang-orang Tok see sia, bagaimana mungkin ia berani menyambut serangan mana dengan kekerasan?

Tubuhnya dengan cepat melejit ke samping untuk menghindarkan diri dari ancaman mana.

Siapa sangka serangan tangan kiri kakek berbaju coklat itu tidak dilanjutkan lebih jauh, baru tiba ditengah udara tahu-tahu dia sudah dia sudah merubahnya menjadi serangan cengkeraman.

Dengan suatu gerakan yang amat cepat dia cengkeram belakang baju Ma-koan tojin, lalu serunya.

"Aku toh sudah menyuruh kau menggelinding pergi, sekarang juga kau harus menggelinding pergi dari sini."

Diantara getaran tangannya, dia sudah melemparkan tubuh Ma koan tojin ke depan.

Sungguh terperanjat hati Lok Khi setelah menyaksikan kemampuan si kakek berbaju coklat yang berhasil membekuk dan melemparkan tubuh Ma-koan tojin hanya dalam sekali gebrakan saja, segera bisiknya lirih.

"Engkoh Hong, gerak serangan yang dimiliki orang ini sangat aneh, entah siapakah dia?"

Tentu saja Wi Tiong-hong lebih-lebih tidak tahu, dia hanya menggelengkan kepalanya berulang kali dengan mulut tetap membungkam. Tok Hay ji segera bertepuk targan sambil bersorak-sorai.

"Tosu tua setelah berjumpa dengan susiokmu, mengapa kau sama sekali tak mampu berkutik ?"

Kakek berbaju coklat itu melotot sekejap kearah Tok Hay ji kemudian secara tiba-tiba ia berpaling ke arah empat orang yang sedang bertarung disebelah depan sana, dan membentak keras.

"Mengapa kalian tidak segera menghentikan pertarungan?"

Oleh bentakan yang menggeledak itu Thi lo han Khong Beng, Naga tua berekor botak To Sam-seng, Tok si cuan dan lelaki yang bersenjatakan penggaris besi sama-sama menghentikan serangan.

Kakek berbaju coklat itu segera mengalihkan kembali sorot matanya ke tempat persembunyian Wi Tiong hong dan Lok Khi, ke mudian tiba-tiba bentaknya keras.

"Kalian juga segera keluar "

Kakek ini benar-benar sangat lihay, tampaknya siapa pun tak dapat mengelabuhi dia.

Tanpa terasa sorot mata semua orang yang hadir di arena pun bersama-sama dialihkan ke situ.

Sambil tertawa dingin Lok Khi segera berkata.

"Engkoh Hong, keluar ya keluar, siapa yang takut kepada mereka ?"

Kedua orang muda mudi itu segera melompat keluar dari batu-batuan cadas.

Semua orang tidak mengenai siapa kah kakek berbaju coklat itu, semua saja tidak mengetahui maksud tujuannya.

Dalam pada itu yang bertempur telah menghentikan pertarungan sedang yang munculkan diri pun sudah muncul.

Diseputar batuan cadas itu segera berkumpul beberapa orang yang saling mengelompok pada rombongannya masing-masing, tak seorang pun diantara mereka yang bersuara.

Kini, sorot mata kawanan jago itu sudah di alihkan kembali dari wajah Wi Tiong-hong dan Lok Khi keatas wajah kakek berbaju coklat itu.

Sikakek memandang sekejap wajah orang-orang itu, kemudian tanyanya.

"Aku lihat kalian semua mungkin sudah pernah datang satu kali kemari, apakah pernah melihat toa-siocia kami datang kemari?"

"Toa siocia kalian?"

Tok Hay ji balik bertanya. Kakek berbaju coklat itu melotot besar-besar, kemudian bentaknya.

"Toa siocia kami tentu saja Su toa siocia."

"Su toa siocia."

Tiba-tiba satu ingatan melintas dalam benak Wi Tiong hong, dia jadi teringat kembali dengan sinona berbaju hijau yang pernah menghadiahkan pil penawar racun kepadanya itu, di atas botol porselen tempat obat tersebut bukankah pernah terbaca tulisan yang berbunyi;

"Buatan keluarga su."

Mungkinkah Su toa siocia yang dimaksudkan orang ini adalah si nona berbaju hijau itu. Dalam pada itu Lok Khi telah mencibirkan bibirnya yang tebal sambil tertawa dingin.

"Heeh, heeeh, heeeh, kau bertanya kepada kami, lantas kami harus bertanya kepada siapa?"

Tampaknya maksud kedatangan kakek berbaju coklat itu hanya untuk mencari Su Toa-siocianya, terhadap sindiran Lok Khi itu sama sekali tidak ambil perduli.

Dengan kening berkerut dia segera termenung sambil berpikir sejenak kemudian ujarnya lagi.

"Kalau begitu, toa siocia tidak datang kemari ?"

Makoan tojin yang kena dibikin keok dalam satu gebrakan saja benar-benar merasa amat tak puas, dia merasa nama baiknya sebagai Makoan lojin dari bukit Hong san sudah cukup lama termashur dan dikenal dalam dunia persilatan.

jika kenyataannya dia tak becus, andaikata berita ini sampai tersiar keluar, bukankah dia akan merasa sangat kehilangan muka?

Maka sambil tertawa seram pelan pelan dia menyongsong kedepan, kemudian setelah menjura katanya.

"Lo-sicu sungguh berilmu sangat tinggi, dengan memberanikan diri pinto ingin minta petunjuk kepada sicu, siapa gerangan nama dan sebutanmu ...?"

Secara diam-diam hawa murninya telah di himpun menjadi satu dalam telapak tangan meminjam kesempatan dikala menjura tadi dia lepaskan sebuah pukulan gelap ketubuh lawan.

Serangan ini boleh dibilang telah disertai dengan tenaga dalam hasil latihannya selama puluhan tahun, walaupun tanpa wujud dan tidak terdengar sedikit suara pun, namun kekuatannya sanggup menghancurkan batu karang dan melukai orang tanpa terasa.

Kakek berbaju coklat itu memandang sekejap ke arahnya.

kemudian menegur dengan dingin.

"Jadi kau masih merasa belum puas?"

Selesai mengucapkan perkataan tersebut-dia tidak menggubris orang-orang itu lagi, mendadak kepalanya didongakkan dan memperdengarkan suara pekikan nyaring.

Suara pekikannya amat keras hingga menjulang tinggi menembusi awan, kemudian memancar ke empat penjuru dan mendengung tiada hentinya.

Dalam anggapan Ma koan tojin semula dengan serangannya tersebut, kendatipun pihak lawan memiliki tenaga dalam yang sempurna.

namun tak siap.

paling tidak tubuhnya akan terpental mundur sejauh satu-dua langkah.

Kemudian dia akan menggunakan kesempatan itu untuk mundurkan diri, meminta maaf dan tak usah kehilangan muka.

Siapa tahu pihak lawan hanya mengucapkan sepatah kata kemudian tidak menggubrisnya lagi.

Tidak.

serangan gelap yang dipancarkan olehnya bukan saja tidak menemukan tenaga perlawanan juga tidak terasa hadangan apapun, seakan-akan lenyap tak berbekas dengan begitu saja.

Sekarang dia baru terperanjat, buru-buru dia terperanjat, mundur untuk menyelamatkan diri.

Kakek berbaju coklat itu sama sekali tak acuh, pada hakekatnya dia tak menganggap peristiwa tersebut sebagai suatu kejadian, bahkan melirik sekejap pun tidak.

Disaat inilah, dari empat penjuru berkumandang suara pekikan panjang yang saling bersahut-sahutan, suara itu berasal dari tempat kejauhan sana.

Jelas, dengan pekikan panjangnya tadi, kakek berjubah coklat itu sedang mengumpulkan para jagonya.

Ma koan tojin semakin terkesiap sesudah mendengar pekikan itu, hatinya dag dig dug tak keruan, sedangkan Thi lo han Khong beng hwesio dan si Naga tua berekor botak To Sam seng juga turut berubah muka.

Mereka bertiga saling berpandangan sekejap kemudian masing-masing mengundurkan diri dan bergabung menjadi satu kelompok.

Tok si cuan, Tok Hayji dan lelaki bersenjata penggaris baja itu pun dapat merasakan situasi yang tak menguntungkan, serentak mereka bersiap sedia pula menghadapi segala kemungkinan yang tak di nginkan.

Dalam pada itu, Lok Khi telah meloloskan golok tipisnya yang berbentuk bola dan digenggam dalam tangan, sementara tubuhnya masih tetap bersandar ditubuh Wi Tiong-hong sembari berbisik.

"Engkoh Hong, nampaknya kita sudah berada dalam kepungan orang lain..."

Wi Tiong-hong manggut-manggut.

"Ya, nampaknya mereka adalah orang-orang dari Lam hay bun "

Tambahnya pelan.

Sementara berbicara, suara pekikan yang berkumandang disekeliling tempat itu kian lama sudah kian mendekat, kemudian tampak empat sosok bayangan abuabu yang meluncur tiba dengan kecepatan tinggi, dalam waktu singkat mereka sudah melayang turun didepan kakek berbaju coklat itu.

Diatas punggung ke empat orang lelaki berpakaian ringkas warna coklat itu masing-masing menggembol sebuah senjata yang berbentuk aneh, mereka berhenti dan berdiri berjejer lebih kurang satu kaki dihadapan Kakek tersebut, tangannya lurus ke bawah dengan wajah serius sikapnya menghormat sekali.

Kakek berbaju coklat itu manggut-manggut kepada mereka, lalu katanya pelan.

"Toa siocia tak ada disini, mari kira pergi."

Seusai berkata.

dia mengulapkan tangannya dan kelima sosok bayangan manusia itu bersama-sama melompat pergi dengan kecepatan luar biasa.

Semua orang yang berada diarena tak menyangka sama sekali kalau orang-orang itu akan berlalu dengan begitu saja, padahal semua orang sudah merasakan ketegangan semenjak tadi.

Setelah mengalami nasib sial berulang kali pada hari ini, Ma koan lojin benar-benar geram sekali, maka begitu sikakek berbaju coklat itu pergi, semua kemarahannya segera dilimpahkan ke atas tubuh Tok Hay ji.

Dengan sorot mata berkilat dan bibir digertak kencang-kencang, serunya dengan suara menyeramkan.

"Hei, mengapa susiokmu pergi dengan begitu saja?"

Berbareng dengan ucapan itu, pelan-pelan dia bergerak mendekati Tok Hay-ji.

Thi Lohan Khong beng hwesio serta Naga tua berekor botak To Sam seng tak ketinggalan serentak mereka pun bergerak maju, Tok Hay-ji mendengus dingin, sahutnya.

"Kenapa? Apakah kau masih ingin bertarung?"

Ma koan Tojin menyeringai seram.

"Heehh ..heeehh.. heeehh, bila pinto membiarkan kau berhasil mempertahankan diri sebanyak sepuluh jurus lagi mulai detik ini aku tak akan bernama Ma koan dari bukit Hong san lagi."

Tok Hay-ji segera tertawa terbahak-bahak.

"Haaahh, .haaahh...haahh.. tak usah kuatir, kali inipun aku tak akan membiarkan kau mampu bertahan sebanyak tiga gebrakan lagi..."

Sementara itu lelaki bersenjata penggaris-baja itu telah berkata kepada Tok si cuan dengan kening berkerut.

"Kita tak punya banyak waktu lagi untuk ribut dengan mereka, siapa sih ketiga orang itu?"

Tok sicuan menuding orang-orang itu sambil menjawab.

"Dia adalah Makoan tojin dari bukit Hong san, dia adalah Thi lohan Khong beng hwesio dan dia adalah Naga tua berekor botak To Sam seng dari kota huan-yang."

"Apakah mereka termasuk manusia manusia yang punya nama?"

Tanya lelaki yang bersenjata penggaris lagi.

"Tentu saja, mereka adalah manusia-manusia yang mempunyai nama besar dalam dunia persilatan."

Pelan-pelan lelaki bersenjata penggaris baja itu mengangguk.

"Jadi mereka pun datang lantaran Lou bun si tersebut?"

"Masa ditanya lagi?"

Sela Tok Hay-ji.

"Kalau begitu, mereka tak boleh dilepaskan dengan begitu saja."

"Yaa. tentu saja, bangsat-bangsat itu memang tak boleh dilepaskan dengan begitu saja."

Seru Tok Hay-ji sambil tertawa.

Ma koan tojin adalah orang banyak curiga, selama ini ia dengarkan tanya jawab tiga orang itu dan menyaksikan sikap mereka yang seolah-olah tidak memandang sebelah matapun terhadap mereka bertiga, tanpa terasa ia berhenti sambil ucapnya dengan nada menyeramkan.

"Tahukah kalian, apakah kamipun akan melepaskan kalian dengan begitu saja?"

Lelaki bersenjata penggaris besi itu manggut-manggut, kemudian tertawa dingin.

"Heehh. .heeeh.. heeh... bagus, bagus sekali, kalau begitu mari kita mencoba bersama-sama, didalam tiga gebrakan kemudian, bila kalian membinasakan kami, tentu saja kami tak akan banyak berbicara, sebaliknya bila dalam tiga gebrakan kemudian tak mampu membunuh kami, heeehh... heehh . aku kuatir, kesempatan bagi kalian bertiga, untuk melarikan diripun mungkin sudah tak ada."

Dengan kening berkerut kencang, mendadak si Naga tua berekor botak To Sam seng membentak keras.

"selamanya lohu tidak percaya dengan segala macam tahayul"

"Betul."

Sambung Ma koan tojin sambil tertawa seram.

"paling banter, kalian toh akan mengandalkan bubuk beracun saja untuk merobohkan kami..."

"Kalau ingin bunuh, ayo kita bunuh sekarang, apagunanya banyak berbicara?"

Sambung Thi lohan Khong beng hwesio pula dengan suara yang lantang sekali.

Tangan kanannya menggenggam dua bilah golok kecil dan menerjang maju kemuka, sementara telapak tangan kirinya segera diayunkan kedepan membacok lelaki yang bersenjata penggaris besi itu.

Tenaga pukulan yang dimiliki Thi lohan Khong beng hwesio benar-benar lihay sekali begitu serangan dilontarkan.

"weees"

Segulung angin serangannya yang dahsyat segera menggulung ditengah angkasa dan menyambar ke-muka dengan kecepatan tinggi.

Lelaki yang bersenjatakan penggaris besi itu tak berani menyambut dengan kekerasan, cepat dia mengigos kesamping menghindarkan diri dari amukan serangan sedangkan senjata penggaris bajanya langsung diayunkan kedepan mengetuk sikut hwesio tersebut.

Begitu kedua orang itu bertarung, Ma koan tojin dan Naga tua berekor botak To Sam seng turut bergerak pula, masing-masing segera melepaskan sebuah pukulan dahsyat, sementara tubuhnya menerjang kemuka menghantam tubuh Tok si cuan serta Tok Hay-ji.

Enam sosok bayangan manusia saling berpencar, bayangan cambuk.

cahaya golok segera menyelimuti seluruh angkasa.

Untuk saling memanfaatkan kesempatan dan waktu yang tersedia, begitu turun tangan, ke dua belah pihak sama-sama mengeluarkan jurus serangan yang paling tangguh.

Lok Khi mendengus dingin setelah menyaksikan kesemuanya itu, sambil melengos katanya.

"Huuuh, pada hakekatnya mereka seolah-olah tidak memandang sebelah matapun pada kita."

Wi Tiong hong segera tertawa lebar.

"Ai orang lain tidak mengusik kita kenapa kita mesti marah ? Mereka toh tidak mencari gara-gara pada kita bukankah hal ini justru lebih menggirangkan ?"

Lok Khi segera mencibirkan bibirnya.

"Hmm, kau anggap mereka orang baik?"

Serunya.

"Huh, mereka ingin cepat membereskan lawannya, hal ini setengahnya dikarenakan kita."

"Apa maksudmu ?"

"Hal inipun tak pernah kau duga. perduli siapakah pihak lawannya, mereka hanya tahu cepat-cepat membereskan musuhnya agar bisa menghimpun kembali tenaga untuk menghadapi kita."

Tak tahan lagi Wi Tiong hong segera menggelengkan kepalanya berulang kali.

"Belum lagi bayangan Lou bun si ditemukan, orang-orang ini sudah saling bertarung mati-matian, betul-betul perbuatan yang bodoh."

Padahal orang-orang dari kedua belah pihak itu yang sama-sama bergunanya untuk kita, biar aku suruh mereka berhenti bertarung lebih dulu."

"Kau bilang mereka berguna untuk kita?"

Tanya Wi Tiong-hong dengan wajah keheranan.

"Tentu saja berguna sekali...."

Berbicara sampai disitu, dia segera mendongakkan kepalanya sambil berteriak lantang.

"Hei, kalian semua harap berhenti dulu."

Teriakan yang merdu dan lembut itu tentu saja dapat didengar oleh enam orang yang berada di arena, akan tetapi mereka ingin menyelesaikan pertarungan tersebut secepatnya ketika itu, siapapun berhasrat untuk menghabisi lawannya secepat mungkin, sudah barang tentu tidak ada yang mau menuruti perkataannya.

Melihat teriakannya sama sekali tak di gubris lawan, bahkan orang-orang itu masih bertempur dengan sengit, mendongkol juga hati Lok Khi dibuatnya.

"Hmmmm, kalian benar-benar tidak memandang sebelah matapun terhadapku."

Demikian ia berseru.

"engkoh Hong. tunggu saja dahulu di tempat itu."

Katanya kemudian.

Dia segera menjejakkan kakinya dan sesosok bayangan manusia dengan kecepatan luar segera menerjang ke tengah arena di mana ke enam orang itu sedang melangsungkan pertarungan seru.

Belum lagi orangnya sampai "cri ing "dari tengah udara sudah melintas lewat serentetan cahaya perak yang amat menyilaukan mata kemudian bagaikan tubuh dan pedang melebur menjadi satu, dia meluncur ke muka dengan kecepatan yang mengagumkan.

"cri ing cri ing!"

Secepat sambaran petir gadis itu sudah menyambar lewat diantara tubuh ke enam orang itu.

Meskipun Wi Tiong hong sudah tahu kalau Lok Khi memiliki kepandaian silat yang tinggi akan tetapi selamanya ia belum pernah menyaksikan gadis itu turun tangan secara benar-benar, tertegun juga hatinya setelah menyaksikan kelihayan Lok Khi, nona tersebut Diam-diam dia lantas memuji.

"Anak murid Thian Sat-ilo benar-benar luar biasa."

OooOOooo Bab-37 CAHAYA PERAK tiba-tiba sirap.

kemudian terlihat Lok Khi telah menarik kembali golok tipisnya dan melayang turun kembali ke atas permukaan tanah, sambil bertolak pinggang ia mendengus dingin tiada hentinya.

"Hm, aku toh menyuruh kalian berhenti, sudah kalian dengar belum seruanku itu ?"

Dari enam orang yang bertempur, sebetulnya mereka terbagi dalam tiga bagian pertarungan yang berbeda-beda, dalam sengitnya pertarungan itulah, mendadak semua orang merasakan cahaya perak menyilaukan mata, tahu-tahu masing-masing pihak merasa kena diserobot.

Untuk sesaat mereka menyangka kalau pihak lawan telah mendapat bantuan dari rekannya sehingga buru buru mereka mengundurkan diri ke belakang.

Begitu ke enam orang i u didesak untuk mundur selangkah, seketika itu juga semua pertarungan berhenti.

Menanti mereka sudah melihat jelas siapa gerangan musuhnya itu, barulah semua orang merasa tertegun.

Ma-koan tojin, Thi lohan dan Naga tua berekor botak pernah menyaksikan bagaimana Wi Tiong hong mematahkan serangan pisau terbang dari Thian Sat nlo ketika berada di perusahaan An-wanpiaukiok tempo hari, mereka semua sudah tahu kalau pemuda itu memiliki kepandaian silat yang lihay.

Akan tetapi siapa pun tidak menyangka kalau gadis bertampang jelek yang sama sekali tidak menyolok disisi Wi Tiong hong, justru memiliki ilmu silat yang jauh lebih hebat lagi.

Lelaki bersenjata penggaris baja itu nampak tertegun.

kemudian tanya nya dengan suara rendah.

"Siapa sih ke dua orang itu ?"

"Yang lelaki adalah Wi Tiong-hong, sedangkan yang perempuan itu tidak kuketahui siapakah dia ?"

Jawab Tok Hay-ji. Tok-si cuan yang pernah menyaru sebagai si Makhluk bertanduk tunggal Ku Tian-sun mengenali siapakah kedua orang itu, buru buru dia menyambung dengan cepat.

"Wi Tiong hong adalah wakil pangcu dari perkumpulan Thi-pit-pang sekarang, sedangkan yang perempuan adalah adik misannya bernama Lok Khi"

Dalam pada itu, Ma-koan tojin telah menjura sambil menegur.

"Li sicu benar-benar berilmu sangat tinggi, entah ada urusan apakah menyuruh kami berhenti bertarung? Harap sicu sudi menjelaskan, pinto pasti akan mendengarkan dengan seksama."

Masih tetap bertolak pinggang, Lok Khi berkata.

"Aku ingin bertanya kepada kalian, aku dan Piauko ku berdiri disini, sebetulnya sudah kalian lihat atau belum ?"

Nadanya amat mendongkol. Ma koan tojin dibuat tertegun oleh pertanyaan tersebut, tapi sebentar kemudian sudah tertawa terbahak-bahak. kembali dia menjura kemudian baru ujarnya.

"Sejak Wi sauhiap dan li-sicu menampakkan diri, pinto sekalian sudah mengetahuinya, tentu saja tahu juga akan kehadiran kalian, cuma musuh besar berada di depan mata, sehingga bila kami tidak menyapa kalian berdua, harap kalian sudi memaafkan "

"Yaa benar, apalagi Wi-lote pun sudah pernah membantu lohu sekalian untuk meloloskan diri dari kepungan orang sewaktu berada diperusahaan An-wanpiau-kiok tempo duu..."

Sambung Naga tua berekor botak sambil ketawa. Tidak menunggu sampai mereka menyelesaikan kata-katanya, sambil tertawa dingin Lok Khi telah menukas.

"Hmmm, dengan kedudukanmu si Naga tua berekor botak, kalian anggap pantas untuk menyebut saudara dengan kakak misanku?"

Paras maka Naga tua berekor botak To Sam seng segera berobah hebat, tapi dia tetap bersabar untuk menahan diri.

Sebaliknya Tok Hay-ji segera memanfaatkan kesempatan itu sambil tertawa terbahak-bahak ejeknya.

"Haaah ...haaaahh ... haaah... suatu dampratan yang tepat sekali, kau orang she To terhitung manusia macam apa ?"

Mencorong sinar tajam dari balik mata Naga tua berekor botak, tampaknya ia hendak mengumbar hawa amarahnya lagi. Lok Khi segera berpaling kearah Tok Hay ji dan mendamprat sambil mendengus.

"Hmmm, kau sendiri pun bukan manusia baik-baik "

"Bagaimana kalau kita berduel satu melawan satu?"

Tantang Tok Hay ji cepat.

"Hmmm "

Lok Khi mendengus sinis.

"aku tak akan takut menghadapi racunmu, akupun tak punya kesempatan untuk bertarung melawanku. Terus terang saja, kau masih belum pantas untuk bertarung melawanku."

"Besar amat nada pembicaraan nona."

Kata lelaki bersenjata penggaris besi itu cepat.

"sekarang aku ingin bertanya kepadamu-sebenarnya ada urusan apa kau menyurut kami berhenti bertarung ?"

Lok Khi menendang sekejap ke arahnya, kemudian katanya.

"Apakah kau she Lu?"

Lelaki bersenjata penggaris itu tertawa terbahak-bahak.

"Haah, haaah, haaah, aku bukan she Lu, tapi julukanku menggunakan kata Lu."

"Aku tidak ambil perduli apakah she Lu atau julukanmu yang menggunakan kata Lu."

"Aku adalah Tok-lu-pan (Lu-pan beracun), ada urusan apa nona mencari diriku ?"

Tanya lelaki bersenjata penggaris besi itu. Diam-diam Lok Khi mengangguk. sedang di luaran serunya setelah mendengus.

"Hmmm. siapa yang mencari kau? Aku hanya ingin bertanya kepada kalian, apa sebabnya kalian bertarung mati-matian ? Sebenarnya dikarenakan apa?"

Lu-pan beracun tertegun.

"Pertanyaan dari nona sungguh mengherankan,"

Sahutnya.

"apakah kalian berdua bukan datang untuk mencari orang-orang Ban-kiam hwee ?"

"Tentu saja kami datang untuk mencari mereka"

Jawab Lok Khi sambil tertawa.

"apakah kalian sudah menemukan orang-orang dari Ban kiam hwee itu ?"

"Aku baru saja datang, masih belum sempat melakukan pemeriksaan yang teliti."

"Hmmm, kalian datang mencari orang-orang Ban kiam bwee tak usah ditanya pun sudah tahu kalau disebabkan Lou bun si, apakah kalian sudah berhasil mendapatkan Lou bun si ? Hmm, bayangannya saja belum kelihatan, kalian sudah saling beradu jiwa?"

"Menurut pendapat nona, apa yang harus kami lakukan sekarang ?"

Tanya Ma koan tojin,.

"Tadi, kalian berarti sudah mencari setengah harian lamanya, tapi dimanakah pintu masuk mereka belum juga ditemukan, bukankah demikian ...?"

"Kalau begitu pembicaraan pinto sekalian sudah didengar semua oleh nona?"

"Buat apa ditanya lagi ?"

Kemudian sambil berpaling kearah Lupan beracun, terusnya.

"Kau bernama Lupan beracun, rupanya pintu masuk mereka sudah kau temukan bukan ?"

Lok Khi segera mendengus.

"Hmm, walau pun pintu alat rahasia yang digunakan Ban-kiam-hwe berasal dari Lam-hay tapi setelah melewati banyak tahun, sudah dapat dibayangkan banyak perubahan yang telah mereka lakukan, sekalipun kau berhasil menemukan pintu masuknya, belum tentu bisa menembusi rintangan-rintangan yang ada."

"Perkataan nona memang benar, aku memang-mempunyai keyakinan yang terlalu besar."

Lok Khi segera menyapu mereka sekejap. kemudian setelah tertawa dingin katanya lebih jauh.

"Itulah dia, belum lagi pintu masuknya ditemukan, apalagi setelah menemukan pintu rahasia itu belum tentu bisa menembusinya, belum lagi harus bertarung melawan orang orang Ban kiam-hwe dan memaksa congkoan pasukan pita hitam menyerahkan Lou-bun-si tersebut kepada kalian, tapi sekarang kalian sudah saling bertarung sendiri untuk saling beradu jiwa, benar-benar satu perbuatan yang amat menggelikan."

Mencorong sinar tajam dari balik mata Ma koan tojin, dia saling berpandangan sekejap dengan si Naga tua berekor botak, kemudian serunya sambil tertawa terbahak-bahak.

"Haaahh ...haaahh ... haaahh ....jadi nona mengharapkan agar kita saling bekerja sama?"

"Bekerja samakan jauh lebih baik daripada saling beradu jiwa tanpa hasil yang bisa diraih ?"

Jengek si nona dingin. Thi lohan Khong beng hwesio tertawa nyaring.

"Bagus, cara ini memang bagus sekali."

Teriaknya.

"bila Lou bun si berhasil kita temukan, kita bertiga rombongan baru saling menentukan siapa yang lebih unggul dan berhak mendapatkan benda mestika tersebut . ."

Cepat-cepat Wi Tiong hong menjura, katanya.

"Harap kalian jangan salah paham, aku dan adik misanku sama sekali tak berniat dengan Lou-bun-si tersebut."

"Lantas mau apa kalian datang kemari?"

Tok Hay ji sambil membelalakkan matanya lebar-lebar, seakan-akan tidak percaya. Dengan wajah serius, si anak muda itu berkata.

"Aku hendak mencari congkoan pasukan pita hitam dari Ban kiam hwee, dan memintanya agar membebaskan Ting ci kang, Ting toako kami."

Mendengar itu, Thi lo han Khong beng-hwesio segera tertawa terbahak-bahak.

"Hahh ...haah... haahh ..itu mah soal gampang, asal kita telah berhasil membekuk Chin congkoan, masa dia tak akan melepaskan orang ?"

Naga-tua berekor botak juga manggut berulang kali.

"Ya, betul Asal kita berhasil mengetahui pintu masuknya, siaute telah meninggalkan banyak kode rahasia disitu, aku percaya masih mampu untuk membungkam alat-alat jebakan mereka."

Lok Khi segera berpaling ke arah Tok Lupan sambil bertanya.

"Bagaimana dengan kalian ?"

"Soal ini tak bisa kuputuskan sendiri, harus kami rundingkan lebih dulu sebelum memberi jawaban."

Maka Lu-pan beracun segera menjejak Tok si-cuan dan Tok Hay-ji untuk menyingkir kesamping dan merundingkan persoalan itu dengan suara rendah, selang berapa saat kemudian Lu-pan beracun baru berkata.

"Kami setuju"

"Apakah ingin meracuni kami secara diam-diam ?"

Ejek Naga tua berekor botak sambil tertawa dingin.

"Setelah kami menyatakan kesanggupan kerja sama, tentu saja tak akan melakukan perbuatan semacam itu, dan lagi apa yang diucapkan tak akan dilanggar."

"Sekalipun dilanggar juga tak menjadi soal, aku punya obat penawarnya..."

Sambung Lok-Khi cepat. Dari dalam sakunya dia keluarkan dua buah botol kecil dan segera diperlihatkan ke semua orang "Kalian tak usah kuatir."

Cepat Tok si cuan menimbrung.

"obat penawar yang berada ditangan Lok lihiap adalah benda milikku."

"Tentu saja kami percaya penuh kepada Li sicu"

Sahut Ma koan tojin cepat.

"Suduh cukup, sekarang kita sudah selesai berunding, maka Tok Lupan harus mulai memperlihatkan kelihayannya."

Seru Lok Khi.

Lupan beracun manggut-manggut, dengan membawa senjata penggaris besinya dia mundur sampai beberapa langkah, kemudian memperlihatkan sekeliling tempat itu dengan seksama.

Mendadak dia melompat naik keatas sebatang pohon besar, tangannya menekan dahan pohon tersebut satu kelilingan, lalu matanya celingukan kesana kemari.

Lebih kurang satu perminuman teh kemudian dia baru menggelengkan kepalanya beruang kali sambil melompat turun.

Tok Hay ji yang menyaksikan kejadian tersebut, tak tahan lagi segera berseru.

"Lu suko, adakah kau telah menemui sesuatu."

Lupan beracun tidak menjawab tapi selangkah demi selangkah berjalan menuju ketimur, ratusan langkah kemudian berbalik menuju kearah selatan, lalu memasuki sebuah sekat lebar kearah selatan sana, Akan tetapi belum sampai berapa jauh, dia telah menggelengkan kepalanya sambil berjalan kembali.

Kemudian setelah berpikir sebentar, dengan cepat dia berjalan lurus menuju kearah batu besar di mana Wi Tiong hong berdua menyembunyikan diri tadi, tanpa mengucapkan Sepatah katapun dia mengukur Sekeliling batu besar tadi dengan penggaris besinya setelah itu berjalan kembali menuju kepohon besar.

Wi Tiong hong yang menyaksikan orang itu hanya sibuk sambil menghitung tiada hentinya, diam-diam merasa keheranan, segera pikirnya didalam hati.

"pintu rahasia itu berada disini, mengandalkan hitungan kakimu saja, masa mereka bisa ditemukan ?"

Tampaknya Tok Hay-ji juga tak sabar lagi, segera dia menegur kembali.

"Lu suko, sebenarnya apa yang terjadi ?"

Tok-si cuan segera mengulangi perbuatan rekannya itu, dia berkata.

"Dia sedang menghitung, jangan kau ganggu jalan pemikirannya." -oooOOooo-SEMENTARA itu Lu pan beracun telah berjalan balik dari pohon besar itu, dia menuding kearah batuan cadas tersebut dengan penggaris besinya, kemudian berkata.

"Coba siapakah diantara kalian yang bersedia menyingkirkan batu-batu cadas itu, coba diperiksa apakah didalamnya terdapat gelang besinya ?"

"Biar pinceng yang mencoba."

Khong beng hwesio segera berseru dengan cepat.

Sambil berkata, dia berjongkok dan telapak tangannya pelan-pelan ditolak kearah depan.

Tenaga pukulannya memang hebat sekali, tampak batuan cadas yang besar kecil bertumpuk menjadi satu itu segera terdorong pergi dari posisinya semula oleh dorongan pukulan tangannya itu.

Dari atas permukaan tanah muncul pula batuan cadas lain dalam jumlah yang lebih banyak.

Sorot mata semua oraag telah tertuju keatas batu cadas tersebut, tapi kecuali batuan cadas, disitu tak ditemukan gelang besi macam apa pun...

Melihat hal itu, Lu pan beracun bergumam.

"Masa keliru? seharusnya disinilah letaknya."

Dengan mempergunakan penggaris besi itu dia melakukan pemeriksaan lagi disekitar batu cadas tersebut, tapi kemudian sambil menggelengkan kepalanya dia segera berlalu dan mendekati pohon besar tersebut.

Dengan penggaris besi, kembali dia mengetuk badan pohon tadi, kembali ujarnya.

"Siapakah diantara kalian yang bersedia untuk mencabut pohon itu dan diperiksa bawahnya ?"

"Apakah dibawah pohon ada gelang besinya?"

Tanya si Naga tua berekor botak.

"Harus diperiksa dulu baru ketahuan."

"Baik, lohu akan mencabutnya untuk diperiksa."

Pohon besar itu tingginya mencapai berapa kaki, dengan sepasang tangan memeluk dahan pohon kencang kencang, dia segera menggoyangkannya beberapa kali, lalu sambil membentak.

"Naik!"

Pohon besar itu berikut akar-akarnya segera tercabut keluar dari atas tanah.

Dengan penggaris besinya Lupaa beracun menggali seputar tanah bekas pohon, tapi sesaat kemudian dia sudah berdiri, katanya sambil menggeleng gelengkan kepalanya.

"Pintu masuk mereka tidak berada disini."

Dengan amat kecewa Tok Hay ji berseru.

"Tidak mungkin salah, tempo hari sudah jelas aku berjalan keluar dari rumah gubuk mereka."

"Rumah gubuk?"

Lu pan beracun melototkan matanya.

"ditempat ini ada sebuah rumah gubuknya ?"

"Yaa, benar Rumah gubuk itu berada disekitar sini, tapi sekarang sudah mereka bongkar dan tak ditemukan lagi bekas-bekasnya."

"Mengapa tidak kau katakan sedari tadi ?"

"Rumah gubuknya sudah dibongkar sehingga sama sekali tak ditemukan lagi bekas-bekasnya, sekalipun dibicarakan apalah gunanya ?"

"Tentu saja ada gunanya."

Begitu selesai berkata, dia mulai menghitung lagi dengan cermat, lalu sambil berkemak-kemik menghitung angka, dia berjalan masuk kedalam hutan kecil disisi bukit, disitulah dia berhenti.

Kemudian dari sakunya dia mengeluarkan sebuah kompas kecil yang diletakkan di tanah dan diamati setengah harian lamanya.

Mendadak ia tertawa tergelak.

serunya.

"Haah .. .haah... haah . .rumah gubuk itu seharusnya berada disini Kalian segera turun tangan dan mencabut keluar dua baris pepohonan yang ada dideretan paling belakang."

Yang dimaksudkan dengan dua baris pepohonan itu, paling tidak berjUmlah dua-tiga puluh batang pohon lebih. Tok Hay ji segera berseru.

"Lo suko, kali ini kau tidak bakal salah menghitung ??"

"Kalau tidak percaya, coba saja untuk mencabut salah satu diantaranya "

Tok Hay ji segera menggelengkan kepalanya berulang kali.

"Kalau aku mah tidak memiliki tenaga kerbau sebesar itu ?"

Serunya.

"Asal kau sudah mencobanya sendiri, maka akan segera kau pahami keteranganku itu."

"Baiklah, akan segera kucoba."

Selesai berkata, dia berjalan mendekati sebatang pohon besar yang berada disebelah kiri, kemudian menyalurkan tenaga dalamnya .

ke dalam tangan, sekuat tenaga dia mencabut keluar batang pohon tersebut.

Siapa tahu pohon besar itu pada hakekatnya tidak membutuhkan tenaga sebesar itu untuk mencabutnya keluar, bahkan karena kelewat bertenaga sehingga hampir saja tubuhnya jatuh terjengkang ke atas tanah.

Dengan gugup dia menahan diri sambil menundukkan kepalanya, ternyata akar pohon tersebut berikut segumpal tanah lumpur ditanam dengan begitu saja disitu, jelas merupakan batang pohon yang sengaja dipindah dari tempat lain untuk di tanam di situ.

Dengan sangat keheranan dia lantas mengangkat kepalanya seraya bertanya.

"Lu suko, tampaknya pohon itu belum begitu lama di tanam di sini ?"

Lu pan beracun tertawa dingin.

"Heeh . .. heehh ..heeh .. .hampir saja kita ditipu mereka habis-habisan, jelas dua baris pohon yang berjumlah dua puluh tujuh batang itu baru saja dipindahkan kesitu beberapa hari berselang, ini berani rumah gubuk yang kau maksudkan berada disitu pula pada mulanya."

Seperti baru saja memahami akan sesuatu, Tok Hay ji segera berseru tertahan.

"Tak heran kalau kira tak berhasil menemukan rumah gubuk itu, rupanya bekas tempat gubuk itu sudah ditanami pohon, Aai ..tapi apakah hubungannya antara persoalan ini dengan pintu rahasia mereka. .?"

Lu pan beracun tidak menggubris pertanyaan itu, dia mengangkat kepalanya dan berkata kepada semua orang.

"Sekarang waktu sudah tidak pagi lagi, lebih baik kalau saudara sekalian segera turun tangan untuk mencabuti deretan pepohonan di belakang situ, dengan demikian aku baru bisa mulai menghitung di manakah letak rumah gubuk mereka."

Mendengar perkataan itu, semua orang segera turun tangan dan mencabuti dua baris pepohonan pada deretan paling belakang.

Dengan satu tangan memegang kompas untuk menentukan mata angin, tiada hentinya Lu pan beracun mengukur liang liang bekas pepohonan tersebut dengan penggarisnya.

Sepertanak nasi kemudian, dia mulai melukis bentuk rumah gubuk diatas tanah, kemudian baru tanyanya.

"Coba kalian perhatikan, apakah rumah gubuk itu berbentuk demikian. .. ?"

Betapa kagumnya Wi Tiong hong setelah di lihatnya letak rumah gubuk. besar kecilnya maupun bentuknya persis seperti apa yang pernah dia saksikan dengan mata kepala sendiri. Buru-buru dia mengangguk.

"Benar, rumah gubuk yang siaute lihat memang berbentuk demikian, sama sekali tak salah."

Ma-koan tojin sendiripun berseru dengan wajah kaget.

"Benar, ketika pinto melakukan penyelidikan pada malam itu, memang disinilah letak rumah gubuk tersebut."

Lu-pan beracun segera tertawa ter-bahak2.

"Haaahhh ...haaahhh ...haahh . .. itulah dia "

Ia berseru.

Dengan langkah lebar dia berjalan menuju ke salah satu liang tanah, kemudian merogoh liang tadi dengan tangan kirinya.

Siapa tahu begitu tangannya dirogohkan ke dalam liang, mendadak ia menjerit kaget dan cepat cepat ia menarik kembali tangannya.

OooooO Bab-38 DENGAN cepat semua orang mengalihkan sorot matanya, ternyata pada jari telunjuk tangan kiri Lu pan beracun telah membawa sebuah makhluk hidup, Rupanya makhluk hidup itu adalah kura-kura kecil berwarna coklat, kura-kura tersebut menggigit jari tangannya kencang-kencang, sementara kepala maupun ke empat anggota badannya telah ditarik masuk kedalan kulit kerasnya.

"Aaah ...ci-liantok ku (kura-kura beracun bergaris merah)"

Jerit Tok si cun kaget, Saking sakitnya paras muka Lu pan beracun telah berubah pula menjadi hebat sekali, dengan cepat ia menginjak keras kulit keras kura-kura tersebut, kemudian menarik tangan kirinya dengan sepenuh tenaga.

Ternyata kura-kura kecil itupun mengigit jari tangannya mati-matian, sekali pun sudah kena terbetot keluar, sepasang matanya yang kecil berwarna merah pun sudah mendelik besar, namun gigitannya sama sekali tidak menjadi kendor.

Tindakan yang diambil Lu-pan beracun amat cepat sekali, sambil menahan rasa sakit dia menarik tangan kirinya sehingga kepala kura-kura itu turut terbetot keluar, kemudian penggaris besi ditangan kanannya secepat kilat menghantam leher kura-kura tersebut hingga putus menjadi dua bagian.

Darah kental segera berhamburan kemana mana, kepala kura-kura itu kena dibabat sampai putus jadi dua, namun kepalanya yang menggigit jari tangan Lu pan beracun belum juga mau dilepaskan.

Terpaksa Lu pan beracun menggunakan sebilah pisau kecil dari sakunya kemudian mencongkel mulutnya dengan gigi yang tajam sebelum berhasil melepaskan diri dari gigitan.

Dalam waktu singkat, mulut lukanya itu telah berubah warna menjadi hitam pekat sementara jari tangannya makin lima turut membesar berlipat ganda.

Tidak sempat berbicara lagi, Lu pan beracun merogoh ke dalam sakunya dan mengeluarkan sebuah botol kecil, membuka penutup botolnya dengan gigitan, lalu menuang bubuk obat tersebut ke dalam mulutnya.

Selesai minum obat, dia baru mendengus dingin seraya berkata.

"Benar-benar suatu perbuatan yang amat keji, rupanya mereka sudah memperhitungkan kalau aku bakal datang kemari, maka sengaja mereka persiapkan kura-kura beracun bergaris merah dalam liang pohon itu, hmmm.. sekali pun ada kura-kura beracun bergaris merah, memangnya mereka mampu mengapa-apakan diriku ?"

Orang-orang yang berasal dari Tok see sia tentu saja tak takut makhluk beracun, tetapi semua adegan tersebut cukup membuat ciut hati Ma koan tojin dan Wi Tiong hong sekalian.

"Lu suko, apakah dibawah situ ada gelang besinya ?"

Tanya Tok Hay ji kemudian.

"Menurut pendapatmu. mungkinkah ada gelang besinya ?"

Lu pan beracun balik bertanya.

"Waah, kalau begitu kitakan tak bakal berhasil menemukan pintu masuknya ?"

Lu pan beracun tidak menjawab, dia hanya termenung sambil membungkam. Mendadak dari belakang tubuh mereka berkumandang seruan seorang dengan nada dingin.

"Tujuh langkah ke kiri, tiga belas mundur ke belakang melompat sembilan depa, gelang tersebut akan temukan."

Meskipun suarnya dingin tapi kedengaran merdu, jelas berasal dari suara seorang gadis.

Waktu itu, semua orang sedang memusatkan perhatiannya kearah Lu pan beracun, siapa pun tidak memperhatikan belakang tubuh mereka, ketika mendengar ada suara pembicaraan orang, buru-buru dia membalikkan badannya sambil memeriksa.

Lebih kurang dua kaki dibawah pohon, tampak seorang gadis berbaju hijau sedang berdiri anggun disitu.

Ma-koan tojin Thi-lohan Khong Beng hwesio dan naga tua berekor botak menjadi terkesiap sekali.

Lu pan beracun membelalakan matanya lebar-lebar dan menatap lawan tanpa berkedip.

sebaliknya Lok Khi segera mendengus dan melengos ke arah lain-..

Kemunculan nona berbaju hijau itu sama sekali tidak mengagetkan atau mengherankan, sebab berita tentang terjatuhnya Lou bun si ke tangan orang orang Ban kiam hwe sudah tersebar luas dalam dunia persilatan, tentu saja orang-orang akan berbondong bondong datang kesitu.

Tapi yang membuat mereka terkejut adalah kemunculan si nona berbaju hijau sampai pada jarak dua kaki dibelakang mereka, ternyata tidak diketahui oleh siapapun, dari sini dapat diketahui kalau ilmu meringankan tubuh yang dimiliki pihak lawan luar biasa sekali "Apakah yang kau maksudkan adalah gelang besi untuk membuka pintu rahasia ?"

Seru Tok Hay-ji kemudian. Nona berbaju hijau itu mendengus dingin "Hmm, apakah kalian bukan mencari gelang besi tersebut ?"

Tok Hay-ji segera berpaling ke arah rekannya sambil berseru.

"Lu suko, biar aku pergi mencarinya, coba kita lihat apakah yang dia ucapkan itu benar ?"

Lu pan beracun tidak menjawab, dia hanya menggunakan kompasnya untuk membetulkan arah, setelah itu serunya dengan terperanjat.

"Seandainya gelang besi tersebut berada disitu, seharusnya tempat itu merupakan pintu mati."

"Hmmm, kau anggap mereka bisa meninggalkan pintu hidup buat kalian, sebelum pergi dari sini?"

Jengek si nona dingin.

Dalam pada itu Tok Hay ji telah mengikuti petunjuk nona berbaju hijau itu berjalan tujuh langkah ke kiri, tiga belas langkah mundur kebelakang dan persis mundur dibawah sebatang pohon yang besar.

Dengan suara lantang dia lantas bertanya.

"Apakah gelang besi itu berada diatas pohon?"

"Buat apa mesti ditanya lagi?"

Jawab nona itu lagi dingin.

Tok Hay ji segera melompat setinggi sembilan depa.

dimana persis merupakan cabang dahan pohon yang tertutup rapat oleh ranting maupun dedaunan.

Sambil menerobos masuk kedalam, Tok Hay ji segera berteriak dengan suara lantang.

"Lu suko, disini benar-benar terdapat gelang besinya."

Lu pan beracun segera mendongakkan kepalanya sambil berseru.

"Kanan berputar tiga kali, terbuka pemandangan seram. berputar lima kali ke kiri, tidak luka tentu mampus."

"Hei, Lu suko, apa yang kau katakan?"

"Putarlah tiga kali ke kanan, lalu putar lagi kesebelah kiri."

"Baik"

Sahut Tok Hay-ji.

Dia segera melakukan apa yang diperintahkan.

Mendadak dari tujuh delapan kaki di arah barat laut segera berkumandang suara gemerincing nyaring.

Suara gemerincingan itu berasal dari dalam dasar tanah saja, tidak begitu keras tapi dapat terdengar nyata.

Tapi Ma koan lojin dan Lu pan beracun sekalian memiliki ketajaman pendengaran yang luar biasa, begitu mendengar suara tersebut, sorot mata mereka segera dialihkan kearah mana berasalnya suara tersebut.

Ternyata suara itu berasal dari semak belukar diatas sebuah tumpukan batu cadas.

Waktu itu tumpukan batu cadas yang berada dibagian tengah itu sedang pelan-pelan bergeser kebelakang, kemudian muncul ah sebuah lapisan batu cadas.

Wi Tiong hong yang menyaksikan kejadian itu diam diam merasaamat kagum, pikirnya.

"Pintu masuk menuju keperut bukit ini benar-benar dibuat amat sempurna seandainya tidak ada petunjuk dari nona berbaju hijau itu, mungkin Lu pan beracun sendiripun tidak mudah untuk menemukannya..oooh, sewaktu aku dibawa keluar dari dalam tanah dengan mata tertutup dulu, apakah tempat ini juga yang telah kulewati ?"

Sementara itu Naga tua berekor botak To sam seng telah tertawa terbahak-bahak, kemudian serunya.

"Benar, benar, menurut ingatan siaute tak bakal salah lagi, malam itu seharusnya aku memang keluar dari situ."

Selesai berkata dia lantas maju lebih dulu.

Ma koan tojin, Thi lohan Khong-beng hwesio serentak turut maju kedepan, tapi baru saja mencapai dua kaki dari lapisan batu besi itu, mereka berhenti sendiri.

Tok Hay-ji yang berada di pohon juga segera melompat turun kuatir ketinggalan dia berebut didepan naga tua berekor botak dan slap menerjang lebih kemuka.

"Cepat berhenti"

Mendadak Lu pan membentak.

Dalam tertegunnya Tok Hay-ji berdiri melongo, untung Lu pan beracun yang berada dibelakangnya segera menariknya dari situ, kemudian dengan cepat dia mengambil sebutir batu, ditimpuk kearah batu datar tadi dan cepat-cepat menjatuhkan diri menggelinding ke samping.

Batu itu menggelinding kemuka menimbulkan suara nyaring, ternyata perhitungan Lu pan beracun tepat sekali, ketika menggelinding sampai dimuka lapisan batu cadas tersebut daya mengglindingnya habis dan berhenti dengan sendirinya.

Didalam anggapan Tok Hay-ji, Lu sukonya hendak menggunakan batu besar itu untuk membuka pintu, maka melihat batu itu berhenti tepat diatas pintu, diapun berseru.

"Lu suko, biar aku..."

Belum selesai dia berkata, kembali terdengar suara gemerincingan nyaring berkumandang memecahkan keheningan, mendadak batu besar itu menyusup kedalam tanah dan muncul ah sebuah mulut gUa.

Begitu mulut gua itu muncul, suara desingan angin tajam pun bergema memecahkan keheningan, segulung panah beracun segera berhamburan keluar dari balik pintu itu dan meliputi wilayah seluas satu kaki lima enam depa lebarnya.

Seandainya ada orang yang mendekat secara gegabah, dibawah terjangan panah-panah beracun yang meluncur cepat itu, sudah pasti jarang ada yang berhasil meloloskan diri.

Saking terkejutnya Tok Hay-ji sampai mundur sejauh beberapa langkah, teriaknya tertahan.

"Maknya, tak heran kalau pintu ini di namakan pintu kematian."

Sementara itu, Lok Khi yang menyaksikan Ma-koan tojin sekalian bertiga berhenti sendiri setelah tiba dua kaki dari lapisan batu cadas itu, seakan-akan mereka sudah tahu kalau dari balik mulut gua bakal menyembur keluar senjata rahasia, kecurigaannya segera membara, dengan suara lirih dia berbisik.

"Engkoh Hong, tampaknya si hidung kerbau sekalian seperti telah tahu kalau disitu terdapat alat rahasianya."

"Mungkin mereka menyaksikan lapisan batu itu belum juga membuka, maka tak berani sembarangan bergerak."

Dalam pada itu, Lu-pan beracun telah beranjak maju lebih dulu, sepanjang jalan dia menyingkirkan panah panah beracun itu dengan mempergunakan senjata penggaris besinya, kemudian setelah meneliti sekejap sekeliling gua itu, dia baru berpaling sambil berkata.

"Sekarang kalian boleh masuk. bukankah kalian sudah bilang kalau sepanjang lorong telah ditinggali tanda rahasia ?"

"Benar"

Sahut Naga tua berekor botak To Sam seng.

"ketika siaute keluar dari lorong rahasia, diam-diam telah kutinggalkan tanda rahasia disitu, biarlah siaute yang akan membawa jalan untuk kalian."

Selesai berkata, dia lantas memandang sekejap ke arah Ma koan tojin dan Thi lohan sekalian, kemudian tanpa sangsi lagi dia berjalan-lebih dahulu memasuki gua tersebut.

Ma koan lojin dan Thi Lohan tanpa ragu-ragu segera mengikuti di belakangnya masuk ke dalam gua.

Tiba-tiba sekulum senyuman menghiasi wajah Tok Hay-ji, tapi Lu-pan beracun melotot sekejap ke arahnya dan turut menuruni anak tangga gua tersebut.

Ketika Lok Khi menyaksikan semua orang sudah masuk ke dalam lorong rahasia tersebut buru-buru dia berseru.

"Engkoh Hong, mari cepat kita menyusul mereka."

Belum sempat Wi Tiong hong beranjak pergi, mendadak terdengar gadis berbaju hijau itu berseru.

"Tunggu sebentar."

Dengan tanpa terasa anak muda itu berhenti.

"Nona, kau masih ada petunjuk apa lagi ?"

Tanyanya. Dengan sorot mata yang hangat dan mesra gadis berbaju hijau itu memandang sekejap ke wajah Wi Tiong hong lalu tertawa.

"Biarkan mereka masuk lebih dulu, sebentar akupun hendak masuk ke dalam, aku akan menjadi petunjuk jalan bagi kalian."

Lok Khi yang mendengar perkataan itu segera mencibirkan bibirnya, kemudian mendengus.

"Hmmm, engkoh Hong, orang lain toh sudah siap menemani dirimu, kalau begitu biarlah aku pergi dulu."

Selesai berkata seperti segulung hembusan angin dia sudah lari menuju ke mulut gua.

Wi Tiong hong tahu, gadis berbaju hijau itu menyuruh dia menunggu sebentar pasti disebabkan suatu persoalan, maka cepat-cepat dia berteriak keras.

"Adikku harap tunggu sebentar."

Waktu itu Lok Khi sudah tiba di mulut gua ketika dilihatnya Wi Tiong-hong masih ragu dan sama sekali tidak menyusulnya dia menjadi semakin mendongkol serunya kemudian dengan gemas.

"Baik biar aku saja yang menyingkir agar kalian punya kesempatan untuk berduaan, aku... aku tak usah kau urusi lagi..."

Selesai berkata, dengan cepatnya dia sudah menyelinap masuk kedalam gua tersebut.

"Adikku adalah seorang gadis yang berwatak kasar, harap nona sudi memaafkan."

Buru-buru Wi Tiong hong berseru kemudian.

Seusai berkata, dia pun membalikkan badan dan siap menyusul kedalam gua tersebut.

Merah padam selembar wajah gadis berbaju hijau itu karena jengah, mendadak bentaknya lagi dengan suara dingin.

"Eeeh, tunggu sebentar."

Ketika Wi Tiong hong lihat Lok Khi sudah turun ke dalam gua, hatinya makin gelisah akan tetapi setelah mendengar suara bentakan dari gadis berbaju hijau itu, mau tak mau dia berhenti juga , katanya seraya berpaling.

"Nona..."

Selangkah demi selangkah nona berbaju hijau itu berjalan mendekat, tidak menanti pemuda itu berbicara, sambil tertawa dia telan mendongakkan kepalanya sembari berkata.

"Aku mengetahui kalau hatimu sangat gelisah, bukan demikian ?"

"Adikku sudah masuk ke dalam lorong rahasia, kemungkinan besar jiwanya akan terancam, tentu saja aku harus menyusulnya."

Nona berbaju hijau itu segera menarik kembali senyuman, lalu berkata dengan sedih.

"Tampaknya kau si kakak misan baik juga hatinya "

Setelah berhenti sejenak.

mendadak paras mukanya berubah menjadi dingin, kemudian bayangan hijau berkelebat lewat, ia sudah melewati disamping Wi Tiong hong dan menuju ke depan pintu gua, katanya dingin.

"Mari, ikut aku."

Sambil menjinjingnya dengan cepat dia telah menuruni lorong rahasia tersebut.

Memandang wajah si nona yang sebentar tertawa ringan, sebentar dingin dan kaku, diam-diam Wi Tiong hong menggelengkan kepalanya berulang kali, pikirnya.

"Watak nona ini gampang berubah-ubah, tampaknya sukar amat untuk menghadapinya."

Sementara ia masih tertegun, nona berbaju hijau itu sudah menuruni sepuluh undakan lebih, dari dalam gua terdengar dia sedang menegur dengan suara dingin.

"Hei, mengapa kau tidak turun ?"

Buru-buru Wi Tiong hong membungkukan badan dan menerobos masuk ke dalam lorong rahasia tersebut, baru beberapa langkah, ia sudah menyaksikan gadis berbaju hijau itu dengan membawa sebutir mutiara yang memancarkan cahaya tajam sedang berdiri menanti di situ.

Di dalam gua yang gelap terpancar segulung mutiara yang lembut dan melapisi nona berbaju hijau itu dibalik lingkaran sinar mutiara, hal ini membuat gadis itu nampak lebih cantik dan menawan hati, sedemikian cantiknya sehingga terasa agak misterius.

Wi Tiong hong tak berani memandang terlalu lama, cepat-cepat dia menuruni anak tangga lorong tersebut.

Pelan-pelan cahaya mutiara itu bergeser, gadis berbaju hijau itu bagaikan bak sekuntum awan sedang pelan-pelan bergerak turun kebawah.

"Sudah kau lihat namaku yang tercantum dalam botol kemala yang kuberikan kepadamu tempo hari?"

Mendadak gadis berbaju hijau itu bertanya memecahkan keheningan.

Wi Tiong-hong tidak menyangka kalau gadis itu bakal menanyakan tentang botol perselen tersebut, terutama nama yang terukir di atasnya, dengan wajah memerah karena jengah segera sahutnya.

"Melihat sih sudah melihat."

"Tapi kau tidak tahu kalau itu namaku bukan? sekalipun demikian kau toh sudah tahu bahwa aku she Su ...Hmmm."

Di tengah ucapan tersebut, mendadak dia mendengus dingin lalu mendamprat keras.

"Benar-benar bedebah."

Wi Tiong hong tertegun, baru saja bicara secara baik-baik, mengapa gadis itu mendengus secara tiba-tiba. Sementara itu Su Siau-hui telah mendekatkan mutiaranya ke atas dinding gua, kemudian katanya.

"coba kau lihat, bukankah tanda tersebut merupakan tanda rahasia yang ditinggalkan tua bangka she To itu ?"

Mengikuti arah yang ditunjuk.

Wi Tiong-hong segera menyaksikan sebuah guratan kuku diatas dinding batu tersebut, guratan itu melengkung seperti Cacing, tapi kalau diperhatikan lebih seksama, bentuknya persis seperti seekor naga terbang.

Sebagaimana diketahui To Sam-seng berjulukan Naga tua berekor botak, tentu saja naga terbang itu merupakan kode rahasianya.

Terdengar nona Su Siau hui berkata lagi.

"Kalau bukan dia yang sengaja hendak memancing semua orang masuk jebakan, sudah pasti orang lain yang sengaja membiarkan dia meninggalkan kode rahasia tersebut agar dia masuk perangkap."

"Kini mereka sudah menuju keperangkap?"

Seru Wi Tiong-hong dengan perasaan terperanjat.

"kalau begitu Lu-pan beracun sekalian juga sudah terangkap?"

Kembali Su Siau hui mendengus dingin.

"Kau maksudkan manusia yang membawa penggaris besi itu? Hmm. dari mana dia bisa menduga akan perubahan yang terdapat di balik kesemuanya ini ?"

Wi Tiong hong menjadi teringat kembali akan perkataan dari Tok si cuan tentang peralatan rahasia yang dipakai orang orang Ban-kiam-hwee, konon peta lukisannya berasal dari Lam-hay-bun seandainya ucapan itu benar, berarti gadis inipun mengetahui tentang peralatan rahasia tersebut.

Terdengar Su Siau hui berkata lebih jauh.

"Bukankah tadi sudah kukatakan bahwa pintu ini adalah pintu mati ? Bila dia mengikuti cara lewat pintu kematian untuk masuk dari sini, dari pintu ini, tentu saja hal tersebut tak salah lagi. Tapi alat rahasia yang dipasang ditempat ini justeru saling berlawanan meski satu sama lainnya saling berkaitan bagaimana mungkin dia bisa menghitungnya menurut cara perhitungan itum . , .? kalau orang lain memang sengaja hendak memancingmu masuk jebakan, sekalian menurut perhitunganmu jalan yang dilalui benar, toh disiapkan memang sengaja diatur demikian."

"Apakah kita masih dapat menyusulnya?"

Tanya Wi-Tiong hong dengan perasaan gelisah. Su Siau-hui mendengus.

"Hmm, ikutilah diriku."

Tempat itu merupakan sebuah lorong sempit yang luasnya cuma berapa depa, jalannya berliku-liku dan menjulang terus ke dalam.

Su Siau-hui dengan membawa mutiara ditangan berjalan amat cepat sekali di muka, sedangkan Wi Tiong hong mengikuti dibelakangnya, sekalipun dia telah mengerahkan segenap kemampuannya untuk memandang, apa yang dilihatpun cuma memandang sebatas dua kaki saja.

Lorong sempit itu amat sepi seperti sebuah lorong buntu, tiada cabang atau persimpangan jalan lainnya.

Mereka berdua sudah berjalan sekian lama dengan kecepatan tinggi, namun dari depan sana belum nampak juga bayangan tubuh dari rombongan yang telah masuk lebih dulu tadi, kenyataan ini membuat Wi Tiong-hong merasa gelisah sekali.

Sementara perjalanan masih berlangsung dengan cepat, tiba-tiba Su Siau hui berhenti.

Wi Tiong-hong tidak menyangka kalau gadis itu akan berhenti secara tiba-tiba, hampir saja dia menubruk tubuh gadis tersebut.

Mendadak Su Su Siau hui menarik tangannya sambil berbisik.

"cepat kemari."

Dia lantas menyelinap ke samping dan menyembunyikan diri kebalik celah-celah batu.

Wi Tiong hong tertegun lalu cepat-cepat ikut menyelinap ke samping, ternyata di balik tikungan sana terdapat sebuah lorong kecil yang bercabang ke samping, andaikata Si Siau hui tidak menyelinap kesana lebih dulu, siapa pun tak akan menyangka kalau disana ada lorong kecil yang menyabang.

Pada saat itulah dari depan situ berkumandang suara bentakan nyaring.

"Siapa disana ?"

Sesosok bayangan manusia menghadang di tengah jalan, dibalik kegelapan tampak setitik cahaya pedang berkelebat lewat langsung menusuk ke dada Su Siau-hui.

"Hati-hati nona "

Seru Wi Tiong hong cepat. Sambil tertawa Su Siau-hui berpaling, lalu sahutnya.

"Tidak mengapa, aku sudah menduga kalau ditempat ini bakal menjumpai penghadangan."

Belum selesai dia berkata, tangan kirinya sudah menyentil pelan ke muka.

"cring"

Sentilan tersebut persis menghajar di atas pedang orang itu sehingga tusukannya miring ke samping dan melesat sampai beberapa depa jauhnya.

Wi Tiong-hong yang menyaksikan kejadian itu menjadi terperanjat, pikirnya.

"Kepandaian apaan itu? sementara masih berpaling dan bercakap-cakap denganku, dia bisa menyentil secepat itu. tampaknya ilmu silat Lam hay bun tidak boleh dianggap enteng" . 000oooo000 Bab-39 YANG melakukan penghadangan itu seorang lelaki berbaju hitam yang bertubuh kecil dan pendek. ketika tusukan pedangnya berhasil disentil oleh Su Siau hui sehingga miring kesamping, dia nampak agak tertegun, tapi kemudian sambil tertawa dingin, pergelangan tangannya digetarkan kembali, tusukan kedua secepat sambaran petir kembali dilontarkan ke muka. Tiga titik cahaya tajam segera berkelebat lewat dan lenyap dari pandangan mata. Sungguh cepat serangan yang dilancarkan orang ini, kalau berbicara dari kepandaian yang dimilikinya, boleh dibilang dia seorang j ago-kelas satu didalam dunia persilatan. Dengan nada sinis Su siau-hui segera berseru.

"Huuh, rupanya cuma seorang jago pedang berpita hitam."

Tangan kirinya dikibaskan, kali ini dia menyambut datangnya ancaman tersebut dengan sebuah kebasan kilat.

Tindakannya kali ini benar-benar cepat sekali, bahkan Wi Tiong-hong pun tak sempat melihat jelas gerakan tubuhnya, diantara ayunan tangannya, tahu-tahu dia sudah merampas pedang milik manusia berbaju hitam itu.

Bukan, bukan begitu.

sewaktu gagang pedangnya disodok ke depan, terdengar orang itu mendengus tertahan lalu roboh terduduk ke atas tanah.

"cepat pergi"

Seru Su Siau hui kemudian sambil tertawa. Begitu selesai berkata, dia segera berjalan lebih dahulu menuju kedalam dorong sempit itu.

"Ilmu silat yang nona miliki lihay sekali, aku merasa benar-benar amat kagum."

Puji Wi Tiong hong. Su Siau hui mendengus manja, sambil mengerling katanya pula sambil tertawa.

"Ilmu silat yang dimiliki adik misanmu juga lumayan, kau mengaguminya tidak ?"

Ditanya demikian, Wi Tiong-hong tertegun dia tak mampu menjawab pertanyaan tersebut. Mendadak Su Siau hui seperti teringat akan sesuatu hal, dia lantas membalikan badan sambil bertanya.

"Aku ingin bertanya kepadamu, bukankah adik misanmu itu mengenakan topeng kulit manusia ?"

Tampaknya dia benar-benar amat menaruh perhatian terhadap Lok Khi yang memakai topeng atau tidak. Wi Tiong hong sangsi sejenak. kemudian menjawab.

"Setelah nona menanyakan hal tersebut aku pun tak baik untuk merahasiakannya. Benar, adik misanku memang mengenakan topeng kulit manusia."

Su Siau-hui tertawa manis.

"Jujur sekali jawabanmu ini, sudah kuduga semenjak semula kalau dia pasti mengenakan topeng kulit manusia."

Berbicara sampai disitu, biji matanya segera berputar, kemudian ujarnya dengan sedih.

"Wajahnya amat cantik bukan ?"

"Soal ini. ."

Wi Tiong hong menjadi ragu-ragu untuk menjawab pertanyaan tersebut. Su Siau-hui segera mendengus dingin.

"Hmmm, kalau cantik katakan cantik, sekalipun tidak kau katakan aku juga tahu "

Selesai berkata dia lantas membalikkan badan dan berlalu dari tempat itu.

Gerakan badannya kali ini dilakukan dengan kecepatan luar biasa, selain ringan, juga cepat dalam sekali kelebatan saja, bayangan tubuhnya sudah lenyap dari pandangan mata.

Mendadak dari depan sana terdengar lagi seseorang membentak dengan suara dingin.

"Siapa?"

"Aku."

Su Siau hui menyahut.

"Aaah, yang datang apakah nona Hong?"

Seru orang itu terkejut.

"Aku adalah aku."

Jawab Su Siau hui dingin.

"Kau adalah..."

Menanti Wi Tiong hong memburu ke situ, orang tersebut sudah jatuh terduduk dilantai. Sambil mendengus dingin Su Siau hui bergumam.

"Hmm, hanya mengandalkan kepandaian yang dimiliki jago-jago pedang yang berpita hitam mereka juga ingin menghalangi kepergianku?"

Wi Tiong hong yang mengikuti dibelakangnya diam-diam merasa terperanjat sekali, pikirnya.

"Kepandaian dan cara kerja nona ini benar-benar cepat sekali."

Berpikir demikian, tak tahan lagi dia segera bertanya.

"Nona Su, apakah merekapun datang kemari melalui jalan ini ?"

"Bukan."

Sahut Su Siau-hui sambil menggeleng.

"mereka berjalan melalui pintu kematian, sedangkan kita sudah bergeser kepintu Siu bun?"

"Jika kita tidak melalui jalanan yang sama dengan mereka, bagaimana mungkin bisa menyusul mereka ?"

Tiba-tiba Su Siau-hui berkata lirih.

"Aku tahu kalau kau selalu rindu akan adik misanmu itu "

Setelah berhenti sejenak dan mendengus, katanya lebih jauh.

"Bila kita masuk melalui pintu mati, mana mungkin bisa menyusul diri mereka lagi?"

Sementara pembicaraan berlangsung, lorong sempit itu sudah berakhir diujung sana, dia segera menyelinap berjalan keluar dari celah dinding, seketika itu juga pandangan menjadi terang, didepan situ terbentang scbuah lorong yang jauh lebih lebar.

Bahkan pada kedua belah sisi dinding lorong dipasang lentera, sehingga suasana menjadi terang benderang.

Seandainya lorong yang mereka lalui ketika masuk tadi adalah jalan lurus, maka jalan sempit yang baru dilalui adalah jalan melintang, kini jalan lorong yang terbentang didepan mata adalah jalan lurus kembali.

Baru saja mereka berjajan keluar, dua orang lelaki berbaju ringkas yang berwarna hitam telah muncul dengan senjata terhunus.

"Siapa kalian? Ayo cepat berhenti!"

Bentak mereka kemudian. Su Siau hui berseru tertahan, sambil berpaling tiba-tiba bisiknya lirih.

"Kali ini harus berhati-hati, yang datang adalah jago pedang berpita hijau."

Wi Tiong hong sudah pernah mendengar kalau dalam perkumpulan Ban-kiam-hwee terdapat jago pedang yang terbagi menjadi pita hijau, pita merah, pita putih dan pita hitam, kini yang muncul adalah jago pedang berpita hijau, tentu saja hal ini merupakan sesuatu yaig luar biasa, tanpa terasa tangan kanannya meraba gagang pedang sendiri.

Dengan wajah sedingin es, pelan-pelan Su Siau hui berjalan menghampiri mereka, katanya dingin.

"Aku ingin berjumpa dengan Chin Tay-seng."

Jago pedang yang berada disebelah kiri itu segera mengulapkan tangan sambil membentak.

"Chin congkoan tidak berada disini, ayo kalian segera mengundurkan diri dari sini."

"Oooh, galak amat kau, aku justeru mau berjalan kemari, mau apa kau...?"

"Cari mampus rupanya kau!"

Bentak jago pedang itu dengan kemarahan yang meluap.

Cahaya pedang berkilat, tahu-tahu dari balik dinding berkelebat serentetan Cahaya hijau yang langsung menyambar ke tubuh Su Siau hui.

Wi Tiong hong telah mempersiapkan diri dari tadi, serta merta dia maju selangkah ke muka, pergelangan tangannya diputarkan dan pedang berkaratnya telah diloloskan dari sarung.

Secepat petir dia melepaskan tiga kuntum bunga pedang yang secara cepat menyongsong datangnya serangan pedang lawan.

"Nona, harap mundur dulu, biar aku yang menghadapi orang ini."

Serunya lantang.

Ketika bunga pedang bercahaya hijau itu saling membentur dengan pedang berkarat tersebut, kedua belah pihak sama-sama mundur sejauh satu langkah dari posisi semula.

Sekulum senyuman manis segera menghiasi wajah Su Siau hui begitu melihat pemuda itu menghadang dihadapannya, ia segera menarik kembali serangannya dan melangkah mundur.

Dalam pada itu, jago pedang tersebut telah mendengus dingin selesai beradu kekerasan dengan Wi Tiong hong, jengeknya.

"Hmmm, satu ilmu pedang yang amat bagu."

Pedangnya secepat samberan petir diayunkan kembali ke muka melepaskan sebuah tusukan kilat.

Orang itu memang tak malu disebut jago pedang kelas satu dalam perkumpulan Ban kiam hwee, bersamaan dengan menyambarnya senjata tersebut, segera terciptalah bertitik-titik bunga bintang yang dengan cepat menyebar kemana-mana.

Berpuluh-puluh bunga-bunga bintang yang beterbangan di udara itu tentu saja berupa ujung pedang semua, hampir boleh dikata seluruh jalan darah penting di tubuh bagian depan Wi Tiong hong telah terkurung rapat.

Wi Tiong hong benar-benar sangat terkesiap.

pedangnya segera dirubah dan secara beruntun dia lancarkan tiga buah serangan berantai.

"Tri ing, tri ing. tri ing, . ."

Diantara tiga kali getaran nyaring kedua orang itu sama-sama tergetar mundur sejauh dua langkah dari tempat semula.

Didalam bentrokan kekerasan kali ini Wi Tiong hong merasakan pergelangan tangan kanannya linu dan kaku, terutama sekali pedang yang dipergunakan itu walaupun nampaknya berkilat dan tumpul, padahal yang betul merupakan senjata mestika yang tajamnya bukan kepalang.

Tapi kenyataannya, pedang lawan tidak terpapas kutung akibat bentrokan kekerasan itu, dari sini bisa diketahui kalau lawannya pun mempergunakan sebilah pedang mestika.

Sesudah mundur sejauh dua langkah, dengan cepat jago pedang berpita hijau itu menundukkan kepalanya untuk memeriksa senjata sendiri, ternyata mata pedangnya telah gumpil tiga bagian oleh papasan pedang Wi Tiong hong barusan.

Tak terlukiskan rasa kaget yang mencekam perasaannya sekarang, dengan wajah berubah hebat dia membentak.

"Hei bocah keparat, kau anggap dengan mengandalkan tiga jurus kan sam ceng (tiga getaran maut) dari Siau-soat-bun, maka kau lantas tidak memandang sebelah mata pun terhadap lohu? Hmmm, lihat pedang!"

Begitu kata "pedang"

Diutarakan cahaya senjata bagaikan rantai perak yang sudah menggulung ke atas dengan kecepatan luar biasa.

Wi Tiong hong hanya merasakan kiri, kanan serta bagian muka tubuhnya dalam waktu singkat telah terkurung oleh cahaya pedang musuh.

Untuk sesaat pemuda itu menjadi bingung dan tak tahu bagaimana harus menghadapi ancaman itu bahkan sekalipun dia ingin menangkis pun rasanya tak tahu bagaimana caranya menangkis, kini hatinya baru betul-betul terkesiap.

Tiba-tiba ia teringat kembali akan kesombongannya sewaktu menyuruh Su Siau-hui mundur dan dia yang hendak maju menghadapi lawan, bila membayangkan kembali sikap sinona yang mundur sambil tertawa, jelas dia telah menaruh kepercayaan penuh atas kemampuannya.

Bila kenyataannya sekarang dia hanya mampu menerima dua jurus serangan lawan tapi tak mampu menghadapi serangan yang ke tiga bukankah ketidak mampuannya ikut bakal ditertawakan orang?

Berpikir sampai disitu, semangatnya segera berkobar kembali sambil membentak, tangan kirinya melakukan suatu gerakan aneh sementara pedang ditangan kanannya melakukan gerakan melingkar ia tak menggubris apakah tangkisannya bakal berhasil atau tidak.

dengan jurus Hu im-jat-siu (awan mengapung keluar dari poros) menyongsong datangnya ancaman dengan sepenuh kekuatan.

Daya pikat seorang perempuan kadang kala memang bisa mendatangkan sesuatu pengaruh.

Sebenarnya Wi Tiong hong sudah tidak berkemampuan untuk mematahkan serangan lawan tapi berhubung ia terbayang kembali akan senyuman manis Su Siau-hui ketika mengundurkan diri tadi, hal mana segera menimbulkan daya rangsangan yang besar dalam hatinya untuk melakukan penangkisan sedapat mungkin, dan akibatnya terjadilah suatu keanehan yang belum pernah terjadi sebelumnya didalam dunia persilatan.

Tampaklah berbareng dengan munculnya lingkaran cahaya pedang yang diluncurkan olehnya, titik titik cahaya tajam yang diciptakan oleh jago pedang berpita hijau itu seketika lenyap tak berbekas.

sebatang bayangan pedang tanpa sinarpun dengan suatu kecepatan luar biasa menusuk kedepan.

Mimpi pun jago pedang berpita hijau itu tak mengira kalau serangan dahsyat yang di-lancarkan olehnya dapat dipatahkan dengan begitu saja oleh serangan Wi Tiong hong, ia baru terkesiap setelah menyadari kalau pertahanan tubuh bagian depan terbuka.

Dalam keadaan demikian, meskipun dia ingin menghindarkan diri pun keadaan tak sempat lagi.

Tapi, bagaimanapun jua dia adalah seorang jago pedang yang berilmu tinggi, menyaksikan datangnya bayangan pedang dari Wi Tiong hong yang menusuk tiba, ia tahu bahwa tiada harapan lagi baginya untuk meloloskan diri dari ancaman mana.

Didalam gugupnya, tubuh bagian atasnya diputar kekanan secara paksa, kemudian lengan kirinya dibalik dan tiba tiba melepaskan bacokan balasan ke muka.

Satu dengusan tertahan segera bergema memecahkan keheningan menyusul kemudian darah segar berhamburan ke mana-mana.

Jago pedang berpita hijau itu sudah melompat kearah kanan dan kabur ke dalam lorong sempit tersebut, namun lengan kirinya sebatas sikut sudah terlanjur terpapas kutung oleh sambaran pedang Wi Tiong-hong dan terjatuh ketanah.

Rekannya menjadi terkesiap dan ikut mundur ke belakang setelah menyaksikan rekannya terluka, buru-buru ia mengeluarkan sebuah sumpritan perak dari dalam sakunya dan siap ditiup.

Sambil tersenyum manis, Su Siau hui segera maju ke muka kemudian serunya lembut.

"Jangan terburu-buru pergi dulu, bawalah sedikit tanda mata sebelum pulang kerumah?"

Tangannya yang lembut segera diayunkan ke muka dan menghantam kearah dadanya.

Menyaksikan datangnya ancaman tersebut jago pedang itu mendengus dingin, tidak menghindar tidak berkelit, pedangnya langsung menebas pergelangan tangan gadis tersebut.

Su Siau hui yang melepaskan kebasan tangan tiba-tiba membatalkan ancamannya sampai di tengah jalan, kemudian sambil menarik kembali telapak tangannya dia berseru sambil tertawa dingin.

"Buang pedangmu, dan duduklah disini dengan tenang."

Sungguh aneh sekali kalau dikatakan, ternyata jago pedang itu menurut sekali, dia lantas membuang pedangnya dan benar-benar duduk disitu dengan tenang.

Wi Tiong-hong yang menyaksikan kejadian itu merasa sangat keheranan, ia segera memeriksa tubuh lawan dengan seksama, barulah di ketahui kemudian rupanya jalan darah cian keng hiat dibahu kiri maupun kanan orang itu sudah terhajar oleh sebatang jarum perak yang panjang.

Kini, ia jatuh terduduk dengan wajah penuh kegusaran matanya yang berapi-api melototi kedua orang itu tanpa berkedip.

Su Siau-hui segera memutar biji matanya yang jeli sambil tersenyum, katanya.

"Mari kita pergi."

Sorot mata yang lembut penuh perasaan cinta, dan nadanya yang penuh nada mesra, sungguh membikin hati orang berdebar.

Lorong sempit itu lebarnya mencapai satu kaki, lagi pula lurus tanpa belokan, pada hakekatnya merupakan jalan tembus yang menyenangkan ...

Pada ke dua belah dinding lorong masing-masing tergantung lentera yang menyinari sekeliling tempat itu, jalan yang datar tanpa hambatan sudah barang tentu dapat dijalani lebih cepat.

Tak selang berapa saat kemudian, mereka telah sampai diujung lorong tersebut.

Dihadapan mereka kini terbentang sebuah dinding batu yang menghadang jalan pergi mereka, disitu tak nampak jalan lembut lagi.

Senyuman yang semula menghiasi terus wajah Su Siau-hui, lambat laun berubah hebat, akhirnya agak sangsi dia bergumam.

"Aneh, sebetulnya disinilah letak pintu siu bun, mengapa bisa berubah menjadi pintu Ti bun?"

Dari ucapan mana, Wi Tiong hong segera tahu kalau gelagat tidak beres, mungkin perlengkapan dalam lorong itu sudah mengalami perubahan sehingga nona itu sendiripun telah salah jalan.

Tanpa terasa dia berpikir.

"Nona, bagian manakah yang tak beres?"

Su Siau hui mendengus dingin.

"Hmm, aku tak percaya kalau mereka bisa memutar balikkan kedudukkan pintu dan berhasil mengurung kita disini."

Walaupun dia tak mau mengalah dalam bibir namun tubuhnya tetap berdiri dimuka dinding batu itu dengan wajah agak sangsi.

Melihat sinona berdiri dengan kening berkerut dan ujung kaki dibentak-bentakkan diatas tanah.

untuk sesaat diapun tak berani mengusik ketenangan gadis tersebut.

Untuk sesaat dia hanya berdiri saja disampingnya sanbil memandang gadis itu dengan termangu.

Perlu diketahui, meskipun Wi Tiong hong sudah berapa kali berjumpa dengan Su Siau hui, tapi selama ini dia belum pernah memperhatikan si nona dengan seksama, dalam benaknya pun hanya tertinggal setitik bayangan yang kabur, dia hanya tahu gadis itu cantik tapi dingin dalam gerak mimiknya.

Tapi sampai dimanakah kecantikan wajahnya?

oleh karena dia tak berani memandang lebih seksama, tentu saja pemuda itu tak dapat menjelaskan lebih terperinci lagi.

Sementara itu Su Siau hui sedang memutar otak untuk memecahkan persoalan yang dihadapi, sedangkan Wi Tiong hong pun ingin cepat-cepat tahu bagaimana caranya menembusi lorong tersebut, seandainya dia mendongakkan kepala memperhatikan wajahnya si nona sebetulnya tindakannya ini merupakan suatu tindakan yang lumrah.

Padahal jarak diantara mereka berdua cuma berapa depa, maka setelah dia berpaling, wajah kedua orang itupun menjadi saling berhadapan raut muka si nona kelihatan lebih jelas.

Hampir saja anak muda itu terpikat oleh kecantikan nona itu, untuk sesaat lamanya dia sampai berdiri tertegun termangu.

Mendadak So Siau hui seperti menyadari akan sesuatu.

wajahnya kontan berubah menjadi merah padam karena jengah.

Untuk menghilangkan rasa malunya, dia mulai meraba sekitar dinding batu dihadapannya, tak selang berapa saat kemudian, terdengarlah bunyi gemerincingan nyaring menggema memecahkan keheningan, pelan-pelan dinding batu itu bergeser ke samping dan muncul ah sebuah pintu rahasia.

Dengan hati gembira Su Siau-hui segera berseru.

"Akhirnya pintu rahasia disini berhasil kutemukan, mari kita masuk kedalam."

Kedua orang itu bersama sama melangkah masuk ke dalam pintu rahasia, terendus bau harum semerbak berhembus lewat.

Ternyata tempat itu merupakan sebuah ruangan tempat tinggal yang luas, diatas keempat dindingnya tersebar empat butir mutiara sebesar buah kelengkeng, sedang diatas langit-langit ruangan tergantung sebuah lentera-terbuat dari kaca yang memancarkan sinar terang benderang.

Ketika mutiara yang berada di keempat dinding termakan oleh sorotan cahaya lentera tersebut, segera berpantulah selapis cahaya lembut yang berwarna putih susu.

Diatas sebuah meja yang terbuat dari kemaia, nampak cawan emas berjajar disitu, segala perlengkapan yang ada disitu rata-rata mewah, megah dan mentereng.

Ruangan tersebut sangat bersih tak nampak sedikit debupun, juga tidak kedengaran suara apa-apa, tapi begitu mereda berdua melangkah masuk.

muda-mudi tersebut segera berhenti dengan pandangan kaget.

Ternyata di atas kursi berlapis kain beledru halus, duduk seorang lelaki berbaju perlente.

Orang itu berwajah semu emas, mempunyai alis mata yang melentik dengan sepasang mata yang tajam, dia berusia dua puluh empat lima tahunan, ditangannya memegang sebuah cawan air teh yang terbuat dari batu kemala putih, waktu dia duduk bersandar sambil memandang kearah mereka berdua dengan senyum dikulum, sikapnya amat tenang dan manis.

Dengan perasaan terkesiap Wi Tiong hong segera berpikir.

"Siapakah orang itu ?"

Disaat yang teramat singkat inilah, terdengar dua kali bentakan nyaring berkumandang memecahkan keheningan, bayangan manusia berkelebat lewat, di ringi endusan bau harum, terlihat dua rentetan cahaya pelangi berwarna perak.

satu dari kiri yang lain dari kanan bagaikan gunting secepat kilat menyambar tiba, hawa dingin yang merasuk tulang benar-benar terasa menggidikkan hati.

Dua bilah pedang yang melancarkan tusukan sambil menggunting itu datang dengan kecepatan luar biasa, pada hakekatnya sama sekali tak sempat buat Wi Tiong hong untuk meloloskan pedangnya, Su Siau-hui pun nampak agak terkejut, cepat-cepat dia menyambar lengan Wi Tiong hong dan diajak mengundurkan diri ke luar pintu.

"Jangan lukai mereka."

Terdengar manusia bermuka emas yang duduk dikursi itu membentak dengan suara rendah.

Cahaya pedang segera sirap.

berbareng itu juga terdengar suara gemerincing nyaring, rupanya kedua belah pedang tersebut telah dimasukkan kembali kedalam sarungnya.

Sewaktu menyerang, mereka dapat menyerang dengan kecepatan tinggi, sewaktu menyarungkan kembali pedangnya, mereka pun dapat menyarungkan senjata nyatak kalah cepatnya.

Bahkan gerakan tubuh mereka pun sama cepatnya, sebab menanti Wi Tiong hong dapat mendongakkan kepalanya lagi, dua orang gadis berdandan seperti putri keraton, dengan pedang tersoren sudah berdiri dibelakang manusia bermuka emas itu dengan sikap menghormat.

Su Sian hui sama sekali tidak melepaskan rangkulannya pada lengan Wi Tiong hong, tapi dengan suara dingin dia segera menegur.

"Kau anggap mereka benar-benar bisa melukai aku ?"

Berkilat sepasang mata manusia bermuka emas itu, ditatapnya kedua orang itu dengan lembut dan hangat, lalu tersenyum, ujarnya.

"Kalian berdua bisa menerjang sampai ke-tempatku ini, berarti kalian telah menjadi tamu agungku, silahkan duduk di dalam."

Su Siau hui mendengus dingin.

"Hmm, masuk yaa masuk. memangnya kami takut kepadamu?"

Teriaknya penasaran.

Sambil menggandeng tangan Wi Tiong hong, bagaikan sepasang kekasih yang amat mesranya, mereka berjalan masuk kedalam ruangan.

Wi Tiong-hong merasa rikuh sekali sewaktu lengannya digandeng gadis itu, tapi lantaran gadis tersebut tidak melepaskan gandengannya, sudah barang tentu dia tak dapat melepaskan diri atau mendorong gadis itu dengan begitu saja, tak heran kalau mukanya menjadi merah padam lantaran merasa jengah.

Manusia bermuka emas memandang sekejap ke arahnya, kemudian sambil mengulapkan tangannya berkata.

"Silahkan duduk "

Wi Tiong-hong mencoba untuk memandang kearah dua orang gadis berdandan model keraton yang berdiri dibelakang lelaki muda tersebut, ketika melihat pedang berpita kuning yang tersoren dipinggangnya, sekali lagi si anak muda itu merasa terperanjat.

Dengan cepat ia teringat kembali akan Hek bun-kun Cho Kiu-moay, pedang yang tersoren perempuan itupun berpita kuning, malah sewaktu mendengar perkenalan dari Chin congkoan pernah disebutkan kalau perempuan itu merupakan salah satu diantara empat dayang yang mengawal Ban Kiam hwee Cu.

Satu ingatan dengan cepat melintas didalam benaknya tanpa terasa tegurnya sambil mendongakkan kepalanya.

"Apakah kau adalah Ban Kiam hwee cu ?"

Ucapan "Ban Kiam hwee cu"

Yang disebutkan anak muda tersebut dengan cepat mengejutkan pula Su Siau hui, cepat dia melepaskan pergelangan tangan Wi Tiong hong, kemudian tegurnya sambil berpaling.

"Kau kenal dengan dia ?"

"Tidak kenal, aku hanya pernah mendengar tentang pembagian tingkat didalam perkumpulan Ban kiam hwee dengan perbedaan warna pita pedangnya, konon hanya ke empat dayang yang pengawal Ban kiam hwee cu saja yang memakai pedang berpita kuning, oleh karena pita pedang yang dipakai kedua orang nona tersebut berwarna kuning maka akupun lantas menduga kalau saudara ini adalah Ban kiam-hwee cu."

"Oooh .. .tak heran kalau serangan yang mereka lancarkan tadi, benar-benar bisa ditonton kebagusannya."

Kata Su Siau hui sambil manggut-manggut. Yang dimaksudkan sebagai "bisa ditonton kebagusannya."

Berarti kepandaian lawan belum mencapai tingkatan yang sempurna, sudah jelas gadis itu bermaksud untuk memandang enteng serta mencemooh kemampuan lawan.

Dua orang gadis berdandan model keraton dibelakang manusia bermuka emas itu segera berubah wajah setelah mendengar perkataan itu, sebaliknya Manusia bermuka emas itu hanya tertawa hambar.

"Perkataan saudara ini memang benar, siaute adalah pemimpin tertinggi dari selaksa pedang."

Sekali lagi Su Siau hui mendengus dingin.

"Hmm, Ban kiam-hwee juga paling paling begitu, huuh... apakah kau tidak merasa terlampau sombong menyebut dirimu sebagai Ban-kiam ci cu (Pemimpin dari selaksa pedang)?"

Mencorong sinar kilat dari balik mata Ban kiam hwee cu, lalu dia tertawa ringan.

"Ban kiam ci cu adalah Ban kiam ci cu, masa ada perbedaannya?"

OooooOOoooooo "TENTU saja ada perbedaannya "

Sahut Su Siau hui cepat.

"Siaute bersedia mendengarkan pendapatmu itu. Haah . .. haaah... haah ...mengapa kalian berdua tidak duduk lebih dulu sebelum melanjutkan perbincangan?"

Sambil berkata dia lantas menuding dua buah kursi yang berada dihadapannya, jelas maksudnya mempersilahkan tamu untuk duduk, Wi Tiong-hong dapat menyaksikan jari tangannya yang putih nan lembut tak ubahnya seperti jari tangan gadis.

Su Siau hui tanpa ragu duduk diatas kursi yang dimaksudkan, setelah itu, ujarnya.

"Ban kiam hwee cu adalam pemimpin dari perkumpulan Ban kiam hwee, oleh sebab itu terlepas apakah kau benar-benar memimpin selaksa orang jago pedang atau tidak, berhubung nama perkumpulanmu adalah Ban kiam hwee dan suatu perkumpulan pasti ada Hweecu (pemimpinnya), maka sekalipun kau menyebut diri sebagai Ban kiam hweecu pun orang lain tak bakal memprotes. Sebaliknya berbeda sekali dengan sebutan Ban kiam ci cu (pemimpin dari selaksa pedang) sebab Ban kiam atau selaksa pedang bukan mengartikan suatu perkumpulan yang bernama demikian, melainkan menunjukkan jago jago persilatan yang menggunakan pedang dalam dunia persilatan bila kau menyebut diri sebagai Pemimpin dari selaksa pedang, bukan sama artinya dengan kau menganggap kemampuanmu sudah mencapai tingkatan nomor wahid yang tak terkalahkan diantara para jago yang menggunakan pedang lainnya dalam dunia persilatan ?"

Ban kiam hwee cu yang mendengar uraian tersebut segera tersenyum.

"Perkataan nona memang benar, sedikitpun tak keliru, Ban kiam ci cu memang bermaksud demikian."

"Tidakkah kau merasakan kelewat latah dan sombong dengan sebutan tersebut ?"

Jengek si nona cepat. Ban kiam Hwee cu tertawa terbahak-bahak.

"Haahh... haahh... haahh... sedikitpun tidak latah, sedikitpun tidak sombong, karena dalam permainan ilmu pedang, siapakah manusia dalam dunia persilatan dewasa ini yang sanggup mengalahkan kemampuan dari Ban-kiam ci cu ?"

"Aku justru ingin mencoba sampai dimanakah kelihayan ilmu pedang yang kau miliki itu?"

Kembali Ban kiam Hweecu tersenyum.

"Nona berani mengucapkan perkataan semacam itu dihadapan siaute, berarti kau bukan seorang manusia sembarangan hanya saja berhubung jago lihay yang berdatangan di bukit Pit bu san hari ini berjumlah cukup banyak. sedangkan siaute pun baru saja datang, bagaimana kalau sebentar lagi kita bicarakan kembali soal itu diruang depan sana ?"

Berbicara sampai disitu, sambil tertawa nyaring dia menambahkan. -oooOooOooo-Bab-40

"WALAUPUN JAGOAN LIHAY YANG berdatangan dibukit Pit bu san hari ini berjumlah amat banyak, tapi hanya kalian berdua yang sanggup memasuki ruanganku ini, maka hari kalian berdua adalah tamu agung bagi Ban-kiam Hwee kami..."

Belum habis dia berkata mendadak terdengar ada orang mendengus berat-berat. Paras muka Ban kiam Hweecu berubah hebat sambil mengangkat kepalanya ia menegur.

"Masih ada jago lihay siapa lagi?"

Namun orang tersebut hanya mendengus, kemudian suasana menjadi hening kembali.. Ban kiam Hweecu segera menitahkan kepada dua orang pembantunya.

"Coba kalian keluar dan melakukan pemeriksaan, siapakah orang tadi ..?"

Dua orang gadis berdandan model keraton itu mengiakan.

dengan cepat mereka menyelinap keluar dari dalam ruangan.

Tak selang berapa saat kemulian.

dua orang ayang itu sudah berjalan masuk kembali.

kemudian setelah membungkukkan badan memberi hormat kepada Ban kiam Hwetju mereka berkata.

"Budak mendapat perintah untuk melakukan pemeriksaan. namun di empat penjuru tak nampak sesosok bayangan manusia pun !"

Ban-kiam hweecu mendengus dingin.

"Hmmm. bukan saja orang itu memiliki ilmu gerakan tubuh yang cepat sekali. bahkan sangat hapal dengan jalan rahasia disini. sudah barang tentu kalian tak akan berhasil menyusulnya."

Selesai berkata, kembali dia mengulapkan tangannya.

Dua orang dayang tersebut bersama-sama segera mengundurkan diri dari situ.

Ban-kiam-hweecu segera mengalihkan kembali pandangan matanya kearah dua orang tamunya, kemudian sambil tersenyum dia bertanya;

"Siaute belum sempat menanyakan nama besar kalian berdua?"

"Aku Wi Tiong hong !"

Kata sang pemuda. Ban-kiam hweecu tertegun. lalu dengan membukakan matanya lebar-lebar dia mengawasi wajah Wi Tiong-hong beberapa kejap. lalu manggut-manggut, katanya.

"Ooohh, rupanya saudara Wi, kalau begitu nona adalah nona Lok...?"

Bukan saja dia mengetahui nama Wi Tiong-hong bahkan mengetahui juga tentang Lok-khi, tapi Su Siau hui telah salah dianggap sebagai Lok Khi ...

Tak ampun lagi.

paras muka Su Siau hui berubah menjadi sedingin es, serunya ketus.

"mm, aku mah bukan adik misannya. aku bernama Su Siau hui !"

"Oooh! nona Su datang dari Lam-hay?"

"Betul, aku memang datang dan Lam-hay mau apa kau?"

Ban kiam hwee cu tertawa hambar.

"Dewasa ini kalian berdua merupakan tamu agungku, untuk sementara lebih baik kita tak usah membicarakan masalah budi dendam luhur kita dulu."

Setelah berhenti sejenak, sambungnya lebih jauh;

"Kalian berdua datang ke bukit Pit bu san ini sudah pasti dikarenakan Lou bun si bukan? Siaute pun datang kemari khusus disebabkan masalah tersebut..."

Wi Tiong hong segera dapat merasakan betapa supel dan hangatnya sikap Ban kiam hweecu ini terhadap orang lain, tanpa terasa dia pun sudah menanamkan beberapa bagian kesan baik terhadap orang ini.

Belum sempat ia menyelesaikan kata-katanya pemuda itu sudah menggeleng dan menukas.

"Aku bukan datang dikarenakan Lou bun si"

"Aku juga bukan."

Sambung Su Siau hui.

"hm"

Sekalipun Lou bun si adalah benda yang berasal dari keluargaku tapi aku sama sekali tak tertarik akan benda itu."

Tampaknya Ban kiam hweecu benar-benar merasa diluar dugaan atas jawaban tersebut sambil memandang wajah kedua orang itu, tanyanya kemudian dengan keheranan.

"Lantas di karenakan persoalan apa kalian berdua datang kemari?"

Paras muka So Siau hui segera berubah menjadi merah padam, rupanya dia merasa kurang leluasa untuk memberikan jawabannya. Dengan cepat Wi Tiong hong menjura, kemudian menjawab.

"Aku memang ada satu persoalan yang ingin mohon bantuan hweecu, harap sudi memberi muka untukku."

"Asal siaute sanggup untuk melakukannya, sudah pasti tak akan kutampik keinginanmu."

Selama ini, Ban kiam Hwee selalu dianggap sebagai suatu perkumpulan rahasia, sungguh tak disangka bahwa gerak geriknya memancarkan kegagahan yang sangat mengagumkan.

Dengan perasaan berterima kasih Wi Tiong hong segera berkata.

"Kalau begitu, kuueapkan banyak terima kasih lebih dulu."

"Saudara Wi, sebenarnya kau ada persoalan apa? silahkan saja diutarakan keluar."

Kata Ban kiam Hweecu sambil menatap tajam wajah Wi Tiong hong. Wi Tiong hong termenung sejenak. kemudian sahutnya.

"Saudara angkatku, ketua Thi pit pang Ting ci kang telah di tangkap oleh perkumpulan kalian sejak bulan berselang, waktu itu aku pernah menggunakan lencana Siu lo ci-leng untuk meminta Chin congkoan membebaskannya. Sungguh tak disangka Chin congkoan mengatakan, dia perlu minta persetujuan dari Hweecu lebih dulu sebelum membebaskannya, meski keesokan harinya dilepaskan juga , namun yang muncul adalah seseorang yaag menyaru sebagai toakoku, bahkan dia berhasil merampas Lou bun si dari tanganku. Semula aku tidak mengetahui benar tidaknya persoalan itu tapi kini berhubung Ting-toako terbunuh yang mayatnya ditemukan dikuil Sik jin tian, hasil pemeriksaan oleh pelindung perkumpulan itu menunjukkan kalau yang tewas bukan Ting toako, itulah sebabnya kami lantas menduga kalau Ting Toako masih berada ditangan kalian. Dengan memberanikan diri, aku mohon kepada hweecu agar sudilah kiranya membebaskan Ting Toakoku itu."

Berkilat sinar tajam dari balik mata Ban kiam hweecu, ditatapnya wajah Wi Tiong hong lekat-lekat kemudian baru berkata.

"Terus terang kukatakan kepadamu saudara Wi, persoalan partai selama ini diselesaikan sendiri oleh kelima orang congkoanku, sangat jarang siaute mencampuri urusan ini..."

Diam-diam Wi Tiong-hong mendengus setelah mendengar perkataan itu, pikirnya.

"Bagus sekali, aku mengira kau benar-benar bersedia melepaskan orang, rupanya kau hanya mengucapkan kata tersebut sebagai basa-basi saja."

Sementara itu Ban kiam hwecu telah melanjutkan kembali kata-katanya setelah berhenti sejenak.

"Kali ini, Chin congkoan mengirim orang untuk menghantar Loa bun-si tersebut, tapi sebagai akibatnya memancing perhatian banyak jago yang berbondong-bondong meluruk kesini, itulah sebabnya siaute mendapat perintah untuk menyusul kemari."

"Mengenai bagaimana cara Chin congkoan mendapatkan benda itu, berhubung siaute baru datang dan belum mendengar penuturan yang sebenarnya, maka aku tak bisa berkata apa-apa, tapi seandainya Ting ci-kang yang dimaksudkan saudara Wi benar-benar berada dalam perkumpulan kami, sudah pasti siaute akan menurunkan perintah untuk membebaskannya, harap saudara Wi jangan kuatir."

Mendengar ucapannya bersungguh-sungguh tidak mirip lagi berbohong, diam-diam Wi Tiong hong merasa amat bersyukur, pikirnya.

"Syukur kalau ia bersedia membebaskan Ting toako dari sekapan, sebagai Ban kiam hweecu semestinya dia adalah pemimpin tertinggi dari perkumpulan Ban kiam hwee, tapi mengapa dia mengatakan kalau kedatangannya untuk melaksanakan perintah ? Siapa yang memerintah dia ?"

"Aaaah. Lok Khi..."

Baru saja dia teringat akan Lok Khi, tiba-tiba tirai pintu disebelah kiri bergoyang kemudian berjalan masuk seorang gadis berpakaian ringkas berwarna hitam gelap dalam sekilas pandangan, agaknya perempuan itu melihat Wi Tiong-hong dan Su Siau-hui berada dalam ruangan tersebut, wajahnya segera kelihatan agak tertegun.

Wi Tiong-hong mengenali perempuan berbaju hitam gelap itu sebagai Hek bun-kun Cho Kiu moay.

"Bagaimana hasil pemeriksaannya ?"Ban-kiam Hweecu segera mendongakkan kepalanya sambil menegur. Hek bun kun Cho Kiu moay segera menjura.

"Budak mendapat perintah...."

Dia sengaja menarik kata yang terakhir panjang-panjang, sementara sorot matanya memohon persetujuan dari pimpinannya dulu.

Tentu saja hal ini disebabkan dalam ruangan masih hadir orang luar yang tak dikenal.

Ban-kiam Hweecu segera berseru.

"Tidak menjadi soal katakan saja."

"Budak berhasil menemukan jejak beberapa rombongan musuh dibukit sebelah depan sana, diantaranya terdapat Seh Thian yu dari selat Tok see sia, Thian Khi cu dari Bu tong pay, Sip cu hwesio, hongtiang ruang Lohan wan dari siau lim si dan tampaknya orang-orang dari Lam hay bun pun turut berdatangan... Sambil tersenyum Ban kiam hweecu memandang sekejap kearah Su Siau hui, lalu katanya.

"Nona Su inipun berasal dari Lam hay,"

Setelah mangggut-manggut, terusnya.

"Tujuan mereka datang kemari adakah untuk menjumpai jagoan lihay yang berdatangan dari berbagai tempat, suruh mereka membuka pintu gerbang lebar-lebar didepan bukit situ dan perintahkan kepada Buyung congkoan untuk mewakiliku menyambut kedatangan tamu-tamu tersebut."

Hek bun kun membungkukkan badan sambil menerima perintah, dengan cepat dia mengundurkan diri. Tiba-tiba muncul lagi seorang dayang berdandan model keraton dalam ruangan itu, setelah menjura katanya.

"Chin congkoan ingin bertemu."

"Baik, aku segera akan keluar."

Sahut Ban-kiam Hwee cu, kemudian setelah berdiri, dia menjura pada Wi Tiong hong berdua sambil ujarnya pula.

"Harap kalian berdua sudi menunggu sebentar disini, siaute hanya pergi sebentar saja."

Ternyata ruangan batu itu merupakan tempat beristirahat sementara bagi Ban kiam hwecu, sedang tempat untuk menerima bawahannya terletak di bagian lain.

Dari sini dapat di tarik kesimpulan, kecuali empat dayang kepercayaannya sekalipun selesai seorang congkoan pun tak boleh masuk ke situ secara sembarangan.

Wi Tiong-hong ikut berdiri, katanya.

"Aku pun masih ada urusan."

"Saudara Wi masih ada urusan apa ?"

Tanya Ban-tiam hweecu sambil tertawa, sementara matanya memancarkan sinar tajam.

"Adik misanku masuk melalui pintu kematian, kemungkinan besar kini sudah terjebak..."

Belum selesai dia menyelesaikan perkataannya. Ban-kiam hweecu sudah menukas sambil tertawa ringan.

"Tak usah kuatir saudara Wi, barusan siaute telah berpesan kepada mereka, setiap orang yang datang dibukit Pit bu san hari ini semuanya akan disambut sebagai tamu. Aku pasti akan menyuruh Chin congkoan untuk mengundangnya datang kemari."

Sementara masih berbicara, pelan-pelan dia sudah beranjak keluar dari ruangan tersebut.

== ooo == Dalam pada itu, Lok Khi yang masuk kedalam lorong dalam keadaan mendongkol segera merasakan gua tersebut gelap gulita setelah memasuki separuh bagian diantaranya sorot cahaya yang masuk melalui arah belakang kian kebawah kian bertambah lirih, apa lagi setelah tiba dibawah sana, pada hakekatnya makin ia masuk semakin gelap.

Bagaimana pun juga.

dia adalah seorang gadis muda, tak urung timbul juga perasaan ngerinya setelah berada dalam kegelapan, dia mulai menyesali tindakannya yang kelewat gegabah, coba kalau tidak mendongkol terhadap engkoh Hong, bukankah diapun tak usah masuk kemari seorang diri ?

"Tidak Aku tak sudi ditemani olehnya."

Hatinya segera berpekik.

"sudah jelas ia telah terpikat oleh perempuan siluman dari Lam-hay, kalau tidak. bukankah dia sudah menyusul kemari ?"

Sebagai seorang gadis yang bersifat keras kepala, kendatipun dalam hati kecilnya merasa ketakutan namun rasa mendongkol dan gemasnya terhadap Wi Tiong hong memaksanya meneruskan perjalanan menembusi lorong gua yang gelap itu.

Untung saja lorong rahasia tersebut mempunyai ukuran lebar yang bisa ditempuh beberapa orang, permukaan tanahnya pun sangat datar, kendatipun banyak tikungan, bukan berarti sukar untuk dilewati.

Baru berjalan beberapa saat, mendadak ia menemukan dari belakang tubuhnya muncul sesosok bayangan manusia yang menempuh perjalanan bersama searah dengannya.

Lok Khi segera mengira yang datang adalah Wi Tiong hong, betul hatinya masih mendongkol, tapi diam-diam iapun merasa girang hingga tanpa terasa menghentikan langkahnya Menanti bayangan manusia yang berada dibelakang itu sudah makin mendekat, ia baru menegur sambil tertawa dingin.

"Mau apa kau datang kemari?"

Tampaknya orang itu merasa amat terkejut serentak dia melompat mundur sambil membentak.

"Siapakah kau?"

"Aaah. rupanya dia bukan engkoh Hong."

Lok Khi segera membatin.

"suara itu bukan engkoh Hong, yaa ...dia adalah si lelaki busuk she Lan tersebut..."

Mendongkol dan gemas yang bercampur aduk membuat Lok Khi bertambah geram, dia, segera mendengarkan arah orang tersebut kemudian dengan suatu gerakan cepat menerjang ke arahnya dan tangannya langsung diayunkan kedepan melepaskan sebuah tamparan.

Kepandaian silat yang dimilikinya kini memperoleh warisan langsung dari Thian Sat nio, kecepatan maupun kejituan tamparannya kali ini benar-benar luar biasa.

Sebagaimana diketahui, gua itu gelap gulita hingga lima jari sendiripun susah dilihat, menanti Lan Kunpit menyadari ada orang yang menerjang datang, untuk menghindar sudah tak sempat lagi.

"Plaaakkk"

Tahu-tahu pipi orang itu sudah kena ditampar sekali dengan kerasnya.

Tak terlukiskan kemarahan yang mambara di dalam dada Lan Kun-pit waktu itu, sambil membentak.

tangannya diayunkan kedepan melepaskan dua batang jarum beracun dari keluarga Lan.

Lok Khi sudah tahu siapakah dia, sudah barang tentu ia telah melakukan persiapan, begitu Lan Kun pit menggerangkan tangan kirinya , dia lantas meningkatkan kewaspadaannya tangan kanannya diayunkan pula bersamaan waktunya.

"cri ing..."

Cahaya tajam berkilauan, dua batang jarum beracun itu sudah rontok ketanah.

Sementara gadis itu segera membahkan badan dan kabur kedalam gua.

Lan Kun-pit yang tanpa sebab ditampar orang sudah barang tentu tak akan melepaskan musuhnya dengan begitu saja setelah diketahui gadis itu melarikan diri, dengan suara menggeledek ia membentak.

"Mau kabur kemana kau?"

Dia melompat kedepan dan melakukan pengejaran yang sangat ketat,padahal maksud Lok Khi hanya ingin menyusul rombongan yang sudah berangkat lebih duluan itu, dia tidak takut kepada Lan Kun-pit sekalipun pemuda itu melakukan pengejaran secara ketat.

Makin lama dia berlari semakin cepat, tiba tiba didepan sana muncul tikungan yang menuju kearah kanan.

Baru saja dia menikung, didepan sana telah muncul sekilas cahaya api dan muncul ah sebuah obor yang menerangi sekitar lorong.

Dengan memancarnya sinar obor tersebut, maka segala sesuatu yang berada disekeliling tempat itu dapat terlihat jelas.

Lok Khi mendongakkan kepalanya.

ia menyaksikan beberapa orang yang berada dihadapannya berada hanya empat lima kaki saja dari hadapannya, orang yang berjalan dipaling depan adalah si Naga tua berekor botak To Sam seng, kedua adalah Thi lo han Khong beng hwesio, kemudian Ma koan tojin dari bukit Hong san.

Tok Lu-pan mengikuti dibelakang ketiga orang itu, penggaris besinya masih digunakan untuk mengukur ke timur, mengukur ke barat, sedangkan Tok Hay ji dan Tok Si-cuan mengikuti dibelakangnya.

Mereka berdiri pada kedua belah sisi yang berbeda, satu rombongan disebelah kiri, sedangkan yang li nada disebelah kanan, waktu itu mereka sedang berjalan menuju ke balik kegelapan.

Setelah memegang lampu lentera, si Naga tua berekor botak To Sam seng berkata dengan suara parau.

"Apa bila daya ingat siaute tak salah, tempat ini merupakan tikungan yang kedua puluh empat, tujuh ratus dua puluh langkah kemudian pasti ada kode rahasianya."

"Kini kita sudah berada didalam lambung pintu kematian,"

Lupan beracun menimbrung.

"posisi kita sekarang teramat berbahaya, setiap saat kemungkinan besar akan terjebak atau kena perangkap. kalau toh loko memang meninggalkan tanda rahasia disini, cepatlah diperiksa, daripada kita terlanjur terancam oleh bahaya maut."

Naga tua berekor botak tertawa terbabak-bahak.

"Haah, haaah, haaah, dari kedua puluh empat buah tikungan yang kita lewati tadi, disetiap tikungan pasti ditemukan tanda rahasia siaute, masa aku bisa salah?"

Dia mengangkat tinggi-tinggi obornya untuk menerangi dinding lorong, kemudian sambil menuding ke depan serunya.

"Saudara sekalian, coba kalian perhatikan, kode rahasiaku berada disini."

"Tempo hari siaute dibebaskan setelah orang she Chin itu menanyai asal usulku, jalanan yg dilalui juga jalanan ini, seingatku lorong ini langsung menghubungkan ruang batu tempat tinggal orang she Chin tersebut."

Lupan beracun memeriksa dan mengukur sebentar kedua sisi lorong tersebut. kemudian katanya.

"Terdapat persimpangan diantara Tu dan Siu, kalau begitu yang sebelah kiri adalah pintu siu bun, sedangkan orang she Chin berdiam dipintu Tu-bun."

"Tepat sekali,"

Seru naga tua berekor botak dengan terkejut bercampur gembira.

"kita memang harus menuju ke arah kiri. jalanan tersebut tidak terdapat banyak tikungan, semuanya berjumlah dua ratus dua puluh satu langkah,jangan padamkan obor ini."

Tampaknya obor yang dibawa beberapa orang itu sudah tidak banyak lagi jumlahnya, maka mereka harus mempergunakannya secara berhemat.

Pada saat itulah Lan Kun-pit telah menyusul ke situ, wajahnya yang ceking penuh dilapisi hawa pembunuhan yang tebal, di tatapnya Lok Khi tajam-tajam kemudian setelah mendengus dingin serunya.

"Jadi kau si budak jelek yang telah menyergap kongcumu tadi ?"

Sebenarnya Lok Khi sudah mangkel sekali, makian "sibudak jelek"

Itu bagi kedengarannya ibarat api yang bertemu minyak. amarahnya kontan saja semakin berkobar. Dia mendengus lalu serunya.

"Masih terhitung sungkan nona cUma menamparmU sekali hmmm, apakah kau tidak terima ?"

Lan Kun-pit adalah seorang pemuda tampan yang selamanya memandang tinggi diri sendiri, tapi sekarang, rahasia ditamparnya dia oleh seorang gadis jelek diungkapkan dihadapan orang banyak, sudah barang tentu kejadian tersebut membuat hatinya benar-benar tak tertahankan.

Dengan wajah hijau membesi, dia segera membentak gusar.

"Budak jelek. hari ini kongcumu tak akan mengampuni jiwamu dengan begitu saja."

Tangan kanannya segera diulapkan ke depan, diantara kebasan kipasnya yang mengembang tampak sekilas cahaya perak meluncur kedepan dan menyongsong tubuh Lok Khi.

"Hmm, memang tepat sekali."

Dengus Lok Khi dingin.

"hari ini kau memang tak boleh diampuni."

"crinng ..."

Cahaya pedang berkilauan tajam, dalam genggamannya telah bertambah dengan sebilah pedang lemas yang tajam sekali, diantara getaran senjatanya itu tampak sekuntum bunga pedang meluncur kedepan dan memukul kebalik bayangan kipas Lan Kun-pit.

"Tri ing ..."

Terdengar suara dentingan nyaring bergema memecahkan keheningan, kedua orang itu sama-sama mundur setengah langkah dari posisi semula.

Mendadak cahaya api obor ditangan Naga tua berekor botak To Sam seng menjadi padam, seketika itu jago lorong rahasia tersebut berubah menjadi gelap gulita sehingga untuk melihat ke lima jari tangan sendiripun sukar.

Terdengar Naga tua berekor botak berteriak keras.

"Sudah cukup, jangan berkelahi lagi sekarang waktu lebih berharga daripada segala-galanya, harap kalian segera mengikuti siaute."

Menyusul ucapan mana, terdengar suara langkah kaki manusia yang bergerak menuju ke depan.

Lorong rahasia tersebut amat sepi bagaikan dalam kuburan, walaupun suara langkah Naga tua berekor botak sangat enteng, kedengaran juga suara langkah kakinya.

Maka Thi-lohan Khong-beng hwesio, Ma-koan tojin dari Hong-san dan Lu-pan beracun bertiga ikut gerak maju lagi kedepan-Sambil mendengus Lok Khi segera berseru.

"Bajingan cilik she Lan, untuk sementara waktu nona akan mengampuni dulu jiwa anjingmu itu."

Selesai berkata, buru2 dia menyusul kedepan.

Lan Kun-pit adalah seorang manusia yang licik dan punya banyak tipu muslihat,pada mulanya dia mengikuti Lok Khi seperti juga, dia sendiri, masuk kesitu seorang diri untuk menyerempet bahaya, tapi setelah dilihatnya disana masih ada enam tujuh orang yang membentuk satu rombongan lagi pula ada yang menjadi petunjuk jalan, sudah barang tentu dia tak akan menyia-nyiakan kesempatan tersebut dengan begitu saja.

Tanpa banyak berbicara lagi dia mengintil secara diam-diam dibelakang orang itu dan meneruskan perjalanannya kedepan.

Kini.

dibalik lorong rahasia yang gelap gulita, hanya terdengar suara langkah kaki manusia yang bergerak menujU ke depan, siapa pun tidak ada yang bersuara.

Tapi dalam hati masing-masing merasa keheranan, kini mereka sudah berada jauh didalam sarang musuh, padahal tempat ini merupakan sarang dari para jago pedang berpita hitam dari Ban kiam hwee, herannya mengapa sampai kini belum ada orang yang menghadang mereka ?

Beberapa puluh langkah kembali sudah di lewati.

Mendadak Lupan beracun membentak keras.

"Harap kalian semua berhenti."

Waktu itu, semua orang sedang melakukan perjalanan dalam kegelapan, begitu mendengar suara bentakannya yang menggema secara tiba-tiba, betul juga , mereka semua segera berhenti.

Kemudian terdengar Ma koan tojin berkata dengan suara menyeramkan.

"Lu sicu, apakah kau telah menemukan sesuatu yang luar biasa ?"

"Sun-sute, cepat memasang api."

Perintah Lupan beracun.

Dari dalam sakunya Tok si cuan mengeluarkan tabung api seribu li dan menyulutnya, bentuk dari tabung apinya ini kelihatan istimewa meski bentuknya kecil mungil, namun sinar apinya bisa menerangi wilayah seluas beberapa kaki dengan terang benderang.

Naga tua berekor botak segera tertawa seram.

serunya.

"Heeeh...heeehh ,.heeehh,, rupanya kau juga membawa tabung api"

"Tentu saja membawa."

Jawab Tok si cuan, tadi sepanjang jalan kau telah berebut memasang obor, maka akupun tak usah repot-repot membuang tenaga, apa lagi kita sedang memasuki sarang dari Ban kiam hwee, musuh berada dalam kegelapan kita berada ditempat terang, kalau bisa tak usah menyulut api memang paling baik jangan."

Sebagai Tok si cuan (pencuri beracun), tentu saja dalam sakunya selalu tersedia tabung api seribu li.

Namun kalau dipikirkan dengan seksama ucapannya memang betul.

Kini mereka sedang memasuki sarang harimau, bila sepanjang jalan mereka harus berjalan sambil menyulut lampu bukankah kedatangan mereka sangat mudah menarik perhatian orang lain?

Dengan dibantu sinar api yang memancar keluar dari tabung api tersebut, semua orang dapat melihat kalau mereka kini berada di dalam sebuah lorong yang lebar, lorong tersebut tiba-tiba melebar ke samping dan dihadapan mereka terbentang sebidang tanah datar seluas empat lima kaki ...

Dengan cepat Lupan beracun mengambil tabung api itu dari tangan Tok si-cuan, kemudiau tanpa mengucapkan sepatah katapun maju ke depan sembari menghitung.

Kalau tadi, Naga tua berekor botak To Sam seng, Thi-lohan Khong beng hwesio dan Ma-koan tojin bertiga yang memimpin perjalanan, maka sekarang mereka telah berhenti diujung jalan dari tanah datar tersebut Rupanya sewaktu cahaya api memancar tadi, mereka sudah menyebarkan diri kesamping, ketiga orang itu berdiri para selisih jarak tujuh delapan depa dan membentuk posisi segi tiga.

Si Pencuri beracun atau Tok-si-cuan telah menggenggam sebilah golok pelebur darah yang memancarkan sinar biru, sementara Tok Hay ji menggenggam cambuk lemas yang melingkar dan mengawasi ke tiga orang lawannya lekat-lekat,jelas ke dua rombongan maausia itu meski melanjutkan perjalanan bersama-sama, namun masing-masing tetap waspada dan tidak saling menaruh kepercayaan.

Paras muka Ma-koan rojin berubah tak menentu, ketika dilihatnya Lupan beracun masih berjalan sambil menghitung dengan suara menyeramkan dia berseru.

"Kini, kita sudah berada didalam sarang harimau situasi yang kita hadapi kini adalah hidup dan mati bersama-sama ada rejeki dibagi bersama ada bencana yang dihadapi berbareng, Bila Lu sicu berhasil menemukan sesuatu hal yang tak beres, sepantasnya kalau kau utarakan keluar secara blak-blakan?"

Paras muka Lupan beracun berubah menjadi amat serius, dia menarik napas panjang-panjang, lalu sambil mendongakkan kepalanya menjawab.

"Sejak masuk melalui pintu gerbang hingga sampai tempat ini, kalau dihitung-hitung maka semestinya kita sudah berada dalam lambung markas mereka, sepantasnya kalau pihak lawan telah mengetahui kehadiran kita sejak pintu di buka tadi, namun kenyataannya tak nampak seorang manusia pun yang menghalangi kedatangan kita, seolah-olah kita sedang berada disuatu tempat yang tak bertuan, kejadian semacam ini boleh dibilang sama sekali diluar kebiasaan..."

Paras muka si Pencuri beracun segera berubah hebat, serunya dengan rasa ngeri.

"Betul, kecuali kalau tempat ini merupakan perangkap yang sengaja mereka persiapkan, maka sengaja mereka tidak melakukan penghadangan agar kita semua bersama sama masuk perangkap."

"Menurut penghitunganku, bila kita masuk melalui pintu sebelah kiri maka tempat tersebut seharusnya merupakan pintu siu bun, siapa tahu yang kita lewati sekarang nyatanya merupakan pintu kematian yang sesungguhnya, aku kuatir kita semua sekarang benar-benar telah berada dalam perangkap lawan.. ." =oooooooo= Bab-41

"LU SUKO "

Tok Hay-ji segera berseru dengan wajah berubah.

"kalau begitu mari kita mundur cepat cepat dari sini."

Ia pernah disekap oleh Chin congkoan dari Ban kiam-hwee ditempat itu, seandainya Hek bun kun Cho Kiu moay tidak keracunan akibat ulah gurunya, sehingga gurunya dapat memaksakan suatu pertukaran antara dia dengan obat penawar, mungkin sampai sekarang pun dia masih tersekap dalam lorong rahasia itu.

Tidak heran kalau paras mukanya segera berobah hebat setelah mendengar bahwa mereka terperangkap.

Naga tua berekor botak segera berkata.

"Tidak mungkin, sepanjang jalan hingga kemari, siaute meninggalkan kode rahasia diatas dinding, mana mungkin bisa salah jalan ?"

Sembari berkata tangan kirinya segera mengeluarkan sebatang senjata cakar naga hitam dan digerak gerakkan ditengah udara, meski tidak segera terjadi bentrokan namun dilihat dari keadaannya,jelas kalau setiap saat suatu pertarungan bisa berkobar.

Mendadak saja Lok Khi teringat akan perkataan dari nona berbaju hijau tersebut, bukankah nona dari lam hay bun itu memperingatkan agar dia dan engkoh Hongnya tak usah mengikuti mereka masuk kemari?

Bahkan nona itu berkata, bila ingin masuk dia yang akan menjadi petunjuk jalan buat mereka ?

Mungkinkah tempat ini benar merupakan perangkap yang sengaja diatur oleh pihak Ban kiam hwe?

Sejak kecil dia mengikuti Thian Sat nio, meski pengalamannya masih sedikit, namun banyak sudah yang didengar olehnya.

Perasaan hatinya segera tergerak sesudah mendengar ucapan tersebut, diam-diam dia mulai menyesali tindakkan gegabah yang diambilnya tadi, tidak seharusnya dia menerjang kesitu dengan menuruti emosi.

"Aaah, tidak Aku justru tak sudi mengikuti petunjuknya, sekalipun disini adalah pintu kematian, dia bisa berbuat apa terhadapku?..."

Demikian dalam pikirannya kemudian, Kalau seorang gadis sudah diburu oleh api cemburu, maka dia tak akan ambil perduli perangkap atau bukan. Setelah mendengus dingin, mendadak serunya.

"Aku justru tidak percaya dengan segala macam permainan busuk. jika kalian tidak mau pergi. tinggal saja selamanya disini."

Seusai berkata, dia lantas menggerakkan tubuhnya dan menerjang masuk kedalam lorong tersebut. Mendadak Naga tua berekor botak menghadang dihadapannya, kemudian membentak.

"Nona, jangan bertindak gegabah!"

Meski dimulut ia berkata demikian tangan kanannya segera diayunkan kedepan melepaskan sebuah pukulan dahsyat ke tubuh Lok Khi.

Tampaknya si nona tidak menduga kalau iblis tua itu bakat menghalangi jalan perginya, begitu berhenti segera bentaknya dengan gusar.

"Mau apa kau ?"

Lu-pan beracun tertawa terbahak-bahak.

"Haah ..haah ...haah... sedari tadi aku sudah curiga kalau bangsat ini tidak mempunyai maksud baik, ternyata memang dia yang main gila . ."

"Kenapa dengan dia ?"

Tanya Lok Khi sambil berpaling, wajahnya nampak agak tertegun. Sambil menuding kedepan, Lupan beracun berkata.

"Tanpa kode rahasianya, kita tak bakal masuk perangkap dengan begini gampang...cepat halangi dia."

Tok si cuan dan Tok Hay-ji segera menerjang kemuka begitu mendengar suara bentakan dari Lupan beracun. Naga tua berekor botak tertawa terbahak-bahak.

"Percuma saja kau menyebut diri sebagai Lupan beracun. haaah, haah, haaa, sayang kau mengetahui kejadian ini kelewat terlambat, kini kau sudah menjadi ikan dalam tempurung."

Mendadak tubuhnya miring ke samping lalu menyelinap kebalik lorong rahasia. Lok Khi menjadi naik darah setelah mendengar ucapan mana segera bentaknya keras-keras.

"Bajingan keparat, mampus kau."

Dia melancarkan serangan secepat angin, bahkan jauh lebih cepat daripada Tok Si-cuan maupun Tok Hay-ji, begitu menerjang ke depan, tangan kanannya segera diayun kemuka dan "cri ing."

Sebilah pedang lemas sudah meluncur keluar dari balik telapak tangannya. Tapi sayang tindakannya itu terlambat selangkah, mendadak terdengar suara.

"Kraak"

Pintu dinding menuju ke lorong rahasia sudah menutup rapat.

Dengan begitu ujung pedang Lok Khi yang tajampun hanya sempat menggurat diatas dinding batu sehingga memercikan bunga api.

Ma koan tojin serta Thi Lohan Khong beng hwesio sebetulnya berdiri bersama dengan Naga tua berekor botak dalam posisi segi tiga, hanya saja kedua orang itu berdiri dikiri kanan dengan punggung menghadap kedinding batu tersebut.

Kini si Naga tua berekor botak telah menerobos masuk ke dalam lorong pintu batupun telah menutup kembali, dengan demikian kedua orang itu segera tersekap diluar pintu.

Tampaknya tindakan ini sama sekali diluar dugaan mereka berdua maka setelah saling berpandangan sekejap.

mereka tetap berdiri tak bergerak ditempat semula.

Di tempat lain, Lan san gin sau (kipas perak berbaju biru), Lan Kun-pit juga tak mengetahui jelas akan asal usul beberapa orang itu, walaupun dia menyaksikan pintu batu menuju kelorong rahasia tersebut menutup kembali, tapi berhubung dihadapannya masih hadir banyak orang, maka diapun cuma berdiri tenang ditempat semula sambil menggoyangkan kipasnya.

Dilain pihak Lok Khi mendepak-depakkan kakinya berulang kali ketanah, kemudian serunya.

"Bajingan tua ini betul-betul licik sekali, sayang dia berhasil melarikan diri."

"Aku sama sekali lupa kalau dia bisa bertindak demikian."

Keluh Lupan beracun.

"padahal sejak dia berdiri menghadang didepan pintu lorong, aku sudah seharusnya dapat berpikir sampai kesitu . ."

"Kita kejar."

Seru Tok Hay ji, Tapi Lupan beracun segera menggeleng.

"Dalam pintu kematian penuh dengan alat jebakan yang sangat berbahaya, tak mungkin kita bisa mengejarnya lagi?"

Berbicara sampai disitu, mendadak ia mendongakkan kepalanya dan tertawa terbahak-bahak.

Ma koan tojin adalah seorang yang berwatak dingin tapi licik, sambil mengelus jenggot panjangnya dengan senyum tak senyum dia bertanya.

"Apakan Lu sicu telah berhasil menemukan sebuah akal bagus?"

"Alat rahasia yang disiapkan ditempat ini berbahaya sekali. perubahannya pun sama sekali diluar dugaan, orang yang tidak memahami alat rahasia sesungguhnya jauh lebih menguntungkan daripada mereka yang tahu. Aku benar-benar sudah jatuh dipecundangi orang."

"Lantas mengapa Lu sicu tertawa terbahak-bahak."

Tanya Ma-koan tojin cepat.

"Sebelum memasuki ruangan gua ini, aku telah menyebarkan segenggam bubuk beracun dimuka pintu, jangan harap bajingan itu bisa lolos selama satu jam mendatang..."

Thi lohan Khong-beng hwesio segera melotot besar, kemudian bentaknya keras-keras.

"Jadi kau pun telah meracuni kami semua?"

"Benar."

Sahut Lupan beracun sambil tersenyum.

"bubuk beracun ini biasanya melayang di udara dan tak bisa dilihat dengan mata telanjang, bila telah terhisap ke dalam tubuh kalian satu jam kemudian racun itu akan mulai bekerja dan tak bisa tertolong lagi, itulah sebabnya aku minta kalian berdua sudi membawa jalan...."

Lok Khi yang mendengar perkataannya itu segera manggut-manggut, pikirnya kemudian.

"Rupanya Lu-pan beracun telah mengetahui kalau Ma koan tojin dari Bukit Hong san serta Thi Lohan merupakan komplotan dari pihak Ban kiam-hwee. .."

Sementara itu Ma koan tojin telah tertawa seram, serunya.

"Lu sicu, mengapa kau mencurigai pinto?"

Lupan beracun tertawa dingin.

"Memangnya aku salah berbicara ?"

Dia balik bertanya. Mencorong sinar tajam dari balik mata Thi Lohan, segera bentaknya penuh kegusaran.

"Mana obat penawarnya ?"

"Obat penawarnya berada didalam sakuku."

Cepat Ma-koan tojin menggoyangkan tangannya berulang kali, serunya kemudian sambil tertawa seram.

"Taysu tak usah terburu napsu, asal Lu sicu sudah mengucapkan perkataan tersebut, hal ini sudah lebih dari cukup, buat apa kita mesti membunuh ayam mengambil telur ?"

Berbicara sampai disitu, ujung bajunya segera dikebaskan ke depan, tahu-tahu sebuah pukulan dilepaskan kearah tubuh Lupan beracun dari jarak dekat.

Thi Lohan Khong beng hwesio segera tertawa terbahak-bahak.

"Haah ... haaahh . .. haaahh ... ucapan yang memang benar . ."

Sebuah babatan maut segera dilontarkan ke depan.

Tenaga dalam yang dimiliki kedua orang itu amat sempurna.

serangan yang dilancarkan secara beruntun ini sungguh luar biasa sekali.

Tampak dua gulung angin pukulan yang maha dahsyat dengan membawa suara desingan tajam bagaikan amukan gelombang dahsyat di tengah samudra langsung menghantam ke tubuh semua orang.

Tentu saja Lupan beracun tak berani menyambut serangan tersebut dengan kekerasan dengan cepat dia menarik hawa murninya lalu mundur kebelakang dengan cepat.

Tok si cuan dan Tok Hay-ji turut berkelebat lewat dan melompat mundur kedua belah samping.

Sebagai seorang gadis yang pintar, sejak Ma koan tojin mengatakan hendak "Membunun ayam mengambil telur", dia sudah tahu kalau pihak lawan hendak merampas obat penawar racun dan mengajak Thi Lohan untuk turun tangan bersama-sama.

Untuk sesaat dia menjadi ragu-ragu dan tak tahu apakah dirinya turun tangan atau tidak?

Disaat dia sedang ragu-ragu dan berpaling kesamping, dengan cepat diketahuinya kalau gelagat tidak beres.

Semestinya, untuk merampas obat penawar dari tangan musuh, meski serangan gencar yang dilancarkan Ma koan tojin berhasil dihindari Lupan beracun, tapi dalam keadaan terpengaruh oleh hawa napsu membunuh, dia pasti akan mendesak maju lebih jauh dan tidak memberi kesempatan pada lawannya untuk membalas.

Didalam hal ini, Ma koan tojin dan Thi lohan sudah pasti masih sanggup untuk melakukannya.

Akan tetapi Ma koan tojin tidak berbuat demikian, setelah berhasil mendesak mundur Lupan beracun, tiba-tiba saja tubuhnya bergerak menuju ke dinding setelah depan.

Satu ingatan segera melintas didalam benak Lok Khi, serunya dengan suara nyaring.

"Hidung kerbau tua, mau apa kau?"

Berbareng dengan suara bentakan tersebut serentetan cahaya keperak-perakan segera membabat kemuka. Ma koan lojin segera menempelkan punggungnya ke atas dinding, kemudian terdengar suara "krak"

Dinding batu itu segera terbuka tapi serentetan cahaya pedang dari Lok Khi tengah membacok tiba dengan kecepatan luar biasa.

"Bocah perempuan, mundur kau."

Bentak Ma koan tojin dengan suara sedingin es.

ujung bajunya segera dikebaskan kemuka segulung angin pukulan yang maha dahsyat segera menyambar ke depan.

Menggunakan kesempatan tersebut tubuhnya segera melompat masuk kebalik dinding batu itu.

Ternyata serangan yang dilancarkan, olehnya ini telah mempergunakan segenap tenaga dalam yang dimilikinya, dibandingkan dengan pukulan yang digunakan untuk memukul mundur Tok Hay-ji tadi, pada hakekatnya masih lebih dahsyat beberapa kali lipat.

Lok Khi sudah menduga, kalau dia melakukan pangejaran sudah pasti Ma-koan tojin akan bertindak dengan melepaskan pukulan sepenuh tenaga, tapi sebagai seorang manusia yang berkepandaian tinggi, sudah barang tentu dia tak akan memandang sebelah mata pun terhadap Ma-koan tojin ...

Sepasang bahunya segera digerakkan berulang kali, dengan menggunakan ilmu langkah Hian im kiu coan hoat dia menyambut datangnya serangan tersebut, kemudian bagaikan ikan yang bermain di air, dia menerjang ke muka lebih jauh.

Cahaya pedang berkilauan "Sreet."

Tahu-tahu ia sudah berhasil merobek pakaian yang dikenakan Ma koan tojin.

Sebetulnya Lok Khi terlampau lambat mengetahui akan hal ini, tapi untuk menghindari angin pukulan dari Ma koan tojin, maka dia harus menggunakan ilmu Kiu coan sin hoat untuk berkelit kesamping.

Baca Juga: Pendekar Penyebar Maut 5

Baca Juga: Pendekar Budiman 3

Cari Blog Ini

Diberdayakan oleh Blogger.

Parnert