Eps 7 Pedang Berkarat Pena Beraksara - Tjan ID
Baca online Pedang Berkarat Pena Beraksara - Tjan ID
Cersil Pedang Berkarat Pena Beraksara - Tjan ID.
Sayang, ketika ia berhasil melepaskan diri dari ancaman dan menerjang lebih kedepan meski pintu batu itu belum tertutup seluruhnya yang masih ketinggalan pun cuma sebuah celah kecil sekali.
Celah tersebut memang bisa dilewati dengan tubuh seorang manusia, akan tetapi, berhubung pintu sedang menutup maka bila perhitungan kurang berhati-hati, bisa jadi tubuhnya malah akan tergencet oleh pintu rahasia tersebut.
Dalam keadaan demikian, terpaksa Lok Khi harus menahan diri dan membiarkan pintu itu menutup rapat.
Bersamaan dengan menyelinapnya Ma koan tojin kedalam dinding sebelah kanan, Thi Lohan Khong beng hwesio yang berada disebelah kiri pun segera menempelkan punggungnya diatas dinding, kemudian dengan gerakan tubuh paling cepat menyelinap masuk kedalam.
sebaliknya Lupan beracun bertiga yang kena dipukul mundur oleh pukulan gabungan dari Ma koan tojin dan Thi lohan Khong beng hwesio, dengan cepat menerjang maju lagi, sayang keadaan sudah terlambat.
Dengan gemas Tok Hay ji berseru.
"Ternyata ketiga orang bajingan tua itu benar-benar tidak mempunyai maksud baik."
"Harap semuanya berhati-hati."
Lupan beracun segera berteriak dengan gelisah.
"setelah berhasil melarikan diri, bisa jadi mereka akan menggerakkan alat rahasia."
Belum habis dia berkata, mendadak dari bawah tanah berkumandang suara gemerincing nyaring, kemudian semua orang merasakan permukaan tanah tempat mereka berpijak tenggelam kebawah.
"Celaka!"
Jerit Lok Khi kaget.
Dalam gugupnya cepat-cepat dia menghimpun hawa murninya kemudian melompat naik keatas.
Kali ini gadis tersebut boleh dibilang telah menghimpun segenap tenaga dalam yang dimilikinya, tubuhnya segera melambung ketengah udara.
Dia sempat mendengar Tok Hay ji sekalian menjerit kaget sambil membentak marah, tubuhnya meluncur ke bawah dan melayang kedalam sebuah kerangka baja yang berbentuk kurungan, kedalam kurungan baja itulah beberapa orang itu terjatuh.
Dengan sekuat tenaga Lok Khi menghimpun hawa murninya tidak membiarkan tubuhnya meluncur kebawah, untuk sementara badannya terhenti ditengah angkasa.
Sebenarnya hal ini merupakan suatu kejadian aneh, suatu kejadian aneh yang tak mungkin terjadi.
Bila seorang melompat ke atas dengan menghimpun tenaga murninya, dia bisa melompat keatas, tapi mustahil setelah melompat keatas, tubuhnya bisa berhenti di udara, sekalipun dia menghimpun hawa murninya sekalipun, hal ini mustahil bisa terjadi.
Karena seseorang yang menghimpun hawa murni, hanya bisa mengurangi bobot badan, bukan berarti badan itu bisa berhenti sama sekali, tubuhnya tetap masih melayang ke bawah kendati dengan daya luncur yang jauh berkurang.
Tapi kali ini, Lok Khi benar-benar telah berhenti Pada mulanya dia hanya mengurusi soal mengerahkan tenaga dan sama tidak berpikir kesitu, otomatis diapun tidak merasakan sesuatu yang aneh.
Tapi sekarang, dia baru melihat meski Lu-pan beracun dan Lan Kun-pit sekalian telah mengerahkan tenaga dalamnya untuk melompat keatas, namun semuanya terjerumus kebawah hanya dia seorang yang terhenti diudara tanpa terperosok lebih kebawah lagi.
Kenyataan itu tentu saja membuat hatinya terkejut bercampur keheranan, mungkinkah hal ini disebabkan ilmu ajaran gurunya lebih hebat itu sehingga hanya dengan menghimpun tenaga dalam saja mata tubuhnya dapat terhenti ditengah udara?
Tentu saja tidak dengan cepatnya gadis itu menemukan.
kendatipun ia tidak lagi menghimpun hawa murni, tubuhnya masih tetap tidak jatuh kebawah.
Rupanya ada seutas tali yang sangat lembut telah mengikat diatas punggungnya sehingga tubuhnya tergantung ditengah udara.
Dengan perasaan terkejut ia mencoba memberontak.
namun tali yang berada dipunggungnya masih tetap mengaitnya.
Kencang kencang berada di tengah udara seperti ini, pada hakekatnya dia tak mampu lagi untuk mengerahkan tenaga nya.
Dengan cepat dia berpikir.
"Mereka semua sudah terperosok jatuh kebawah, rupanya sewaktu aku melompat tadi, lompatanku terlampau tinggi sehingga menyentuh alat rahasia dan akibatnya tubuhku jadi tergantung ditengah udara, Hmm Kalau cuma alat jebakan semacam ini saja, memangnya mampu mengurung aku?"
Mendadak dia menarik napas panjang sambil menekuk pinggang, berada ditengah udara badannya miring ke samping, lalu pedang lemasnya dibabat kearah belakang.
Babatan tersebut persis mengenai tali tersebut.
"cri ng.,"
Di ringi suara gemerincing nyaring, pedang lemas itu bergetar keras, lalu dia merasakan lengan kanannya turut menjadi kaku karena getaran tersebut, badannya yang tergantung di udara pun turut bergoncang keras, keadaannya jadi semakin menguatirkan.
Lok Khi semakin terperanjat, dia tahu pedang lemas miliknya ini terbuat dari besi baja murni, kendatipun pedang biasa juga tak akan tahan bila terkena bacokannya, tapi kenyataannya tali yang nampaknya kecil itu sama sekali tak putus, mungkinkah tali itu terbuat dan baja yang lebih kuat ?
Pada saat itulah, mendadak dari atas kepalanya kedengaran seseorang berseru.
"Bocah perempuan, jangan bergerak secara sembarangan lagi, aku . ..lohu tidak mampu menahan tubuhmu lagi, bila kau meronta lebih jauh, bila kita akan bersama-sama terperosok kebawah."
Lok Khi yang mendengar perkataan itu, segera menegur dengan perasaan terperanjat.
"Siapakan kau?"
"Lohu adalah lohu, siapa lagi?"
Jawab orang di atas sana dengan cepat.
Lok Khi dapat menangkap kalau nada suara orang itu sangat dikenal olehnya, hanya untuk sesaat tak terpikirkan olehnya siapa gerangan orang tersebut ?
Tanpa terasa dia miringkan kepalanya sambil menengok ke atas, tapi begitu dia menggerakkan tubuhnya, tali itu segera bergoncang kembali dengan kerasnya.
Walaupun ia masih tak berhasil melihat raut wajah orang yang berada di atas, tapi nona tersebut dapat melihat kalau punggungnya telah digaet orang dengan seutas tali.
Kedengaran orang yang berada diatas sana berseru dengan perasaan gelisah.
"Hei bocah perempuan lohukan suruh jangan tergerak? Mengapa banyak sekali ulahnya? Tenanglah dahulu, dengan begitu lohu masih mampu untuk menarikmu ke atas, jika kau bergoncang sekali lagi, bisa jadi lohu pun akan turut terjerembab kebawah."
"Mendingan kalau hanya kau yang terkurung dalam kurungan besi itu, bila lohu sampa ikut tersekap oleh mereka, waaah ... waah ...akan lohu taruh kemana selembar wajahku ini?"
"Jadi kau bukan anggota Ban kiam hwe?"
Tanya Lok Khi cepat.
"ci iss.. kalau lohu anggota Ban-kiam Hwee, masa akan kutolong dirimu ?"
"Lantas siapakah kau ?"
"Sudah, sudah cukup."
Teriak orang diatas dengan gembira.
"kini papan batu dibawah sana telah merapat, tunggu sebentar lagi, kita boleh bersama-sama turun ke bawah."
Kemudian setelah berhenti sejenak, terusnya.
"oya, bocah perempuan, tahukah kau engkoh misanmu sekarang berada dimana ?"
Menyinggung kembali soal Wi Tiong hong, tanpa terasa Lok Khi menjadi mendongkol kembali.
"Huuuh, aku mah tak akan mengurusi dia lagi."
Sahutnya. Meski diluar berkata demikian, padahal hati kecilnya ingin sekali mengetahui kemanakah engkoh Hongnya pergi. Maka dia bertanya lagi.
"Tahukah kau sekarang dia berada dimana ?"
Orang yang berada diatas sana segera tertawa terbahak-bahak.
"Haaah ... haaaahh ...haaahh ... tentu saja lohu tahu, nah kuberitahukan kepadamu, kau tak usah kuatir, sekarang bocah tersebut sedang menjadi tamu dari Ban-kiam hwecu."
Berbicara sampai disitu, dia berkata lagi.
"cukup, pintu kematian ternyata tak lebih hanya begitu saja."
Lok Khi merasakan tubuhnya pelan-pelan di tarik ke atas, seakan akan ada orang yang sedang menarik tali dari atas situ, dalam waktu singkat ia sudah tiba diatas sana.
"Nah, bocah perempuan, sekarang kau boleh turun."
Bisik orang itu lagi.
Lok Khi segera menengok ke bawah, betul juga permukaan tanah sekarang sudah pulih kembali seperti sedia kala, maka dia lantas mengayunkan sepasang lengannya dan melayang turun ke atas permukaan tanah, setelah itu dia melongok ke atas.
Ternyata diatas dinding batu pada langit-langit gua duduklah seseorang disitu dia bukan lain adalah si kakek gemuk pendek yang pernah menyuruh engko Hongnya membukakan pintu gerbang kuil Sik-jin-tian dan mengantar kepergiannya itu.
Kini ia sedang memegang sebatang pancingan sepanjang tujuh depa, sementara tangannya lagi menggulung seutas tali senar yang kecil, tipis serta berkilat.
Rupanya barusan, dia telah mempergunakan senar pancingan itu untuk menggaet tubuhnya dan menggantungkan diudara seperti seekor ikan besar.
Diam-diam Lok Khi merasa terperanjat, sudah jelas kakek itu menggunakan ilmu Pit-hou kang (ilmu cecak merayap) untuk menempelkan badannya diatas dinding, tapi kenyataannya ia masih mampu menariknya ke atas, dari sini bisa diketahui kalau kepandaian silat yang dimiliki orang itu benar-benar luar biasa sekali.
Sambil menyimpan kembali senar pancingannya, kakek gemuk pendek itu tertawa terkekeh-kekeh sambil berkata.
"Baru saja lohu datang dari Ban kiam hweecu sana, hei, bocah perempuan, tahukah kau piauko mu sedang mertamu ditempat Ban kiam hweecu dengan siapa ?"
Lok Khi segera berpikir.
"Hmmm, sudah pasti dengan siluman perempuan dari Lam hay itu ..."
Teringat akan siluman perempuan itu, tanpa terasa dia membuang maka sambil mendengus.
"Huuh, dari mana aku bisa tahu ?"
Dalam pada itu, si kakek gemuk cebol itu sudah melompat turun ke tanah, sepasang biji matanya melototi Lok Khi beberapa waktu, mendadak seperti menyadari akan sesuatu, dia segera tertawa terbahak-bahak.
"Haah ...haah ... haah ... benar, benar, rupanya lohu telah salah berbicara, tak heran kalau kau si bocah perempuan jadi ngambek."
"Huuh, siapa sih yang lagi ngambek ?"
Sementara itu si kakek gemuk pendek tersebut sudah selesai menyimpan tali senarnya, kini dia sedang melipat-lipat pancingannya yang tujuh depa panjangnya itu kemudian di simpan ke dalam sakunya.
Setelah itu, sambil membetulkan pakaiannya dia berkata lagi sambil tertawa.
"Sudahlah bocah perempuan, mari lohu yang menemani kau, oya ...mutiara Ya kong-cu ini berhasil lohu dapatkan dari ruangan tempat tinggal Ban kiam hweecu, ambil ah sebagai penerangan jalan."
Sambil berkata, dia membuka telapak tangannya dan menyodorkan mutiara tersebut ke depan si nona.
Kini Lok Khi baru teringat, tak heran kalau dalam goa yang gelap bisa kelihatan cahaya terang, rupanya kakek itu sedang menggenggam sebutir mutiara Ya-kong cu.
Maka diterimanya pemberian tersebut, kemudian sambil mengerdipkan matanya dia bertanya.
"Empek tua, siapa namamu?"
Kakek gemuk pendek itu mengelus jenggot kambingnya, lalu tertawa tergelak.
"Haaahhh... haaahhh...haaahhh, ...panggil saja empek tua kepadaku, kau masih menginginkan panggilan apa lagi?"
"Tidak, aku bertanya tentang namamu."
Kata Lok Khi cepat.
"aku lihat ilmu silat yang kau miliki sangat hebat sudah pasti kau adalah seorang manusia yang mempunyai asal-usul besar."
"Asal usul besar? Haah. .haa. .haaa. ."
Kakek gemuk pendek itu tertawa terbahak-bahak.
"Ehm, lohu memang mempunyai sedikit asal usul, hei bocah perempuan, inginkah kau mengangkat diriku sebagai gurumu?"
"Huh, ilmu silat yang di miliki guruku pun amat tinggi."
Jengek Lok Khi sambil mencibirkan bibirnya. Mencorong sinar tajam dari balik mata kakek gemuk pendek itu, segera tanyanya.
"Siapakah gurumu? coba kau sebutkan."
Lok Khi segera bersenandung pelan.
"cahaya terang muncul dibarat. Dunia persilatan penuh pembunuhan-Tolong tanya siapa pentolannya? Nenek Sakti Thian Sat nio."
"Thian Sat nio? Lohu belum pernah mendengar nama itu, ehmm, Thian Sat nio, betul-betul nama yang amat tidak sedap."
"Hmm, kau anggap namamu sedap didengar?"
Teriak Lok Khi dengan perasaan mendongkol.
"dengan kepandaian silat yang kau miliki itu hanya pantas untuk mengambilkan sepatunya guruku."
Tapi sewaktu mengucapkan perkataan yang terakhir itu, tak tahan lagi dia tertawa cekikikan.
"Bocah perempuan, tidak besar tidak kecil, kau anggap lohu ini manusia macam apa ?"
Kakek gemuk pendek itu segera membentak.
"Apa sih kedudukanmu ?"
"Kau anggap lohu ini siapa ?"
Diam-diam Lok Khi merasa geli, tanyanya cepat.
"Siapa sih kau ini ? Bila tidak kau katakan darimana aku bisa tahu ...?"
"Bocah perempuan, kau pernah mendengar tentang sebuah telaga langit di atas bukit Thian san?"
"Aaaa ..."
Lok Khi segera berseru tertahan.
"aku pernah mendengar dari toako, yang aku tahu, kau adalah Thian-san-tun-siu (Kakek pertapa dari bukit Thian-san)"
"Kau anggap aku adalah Lu Kian-si ? Huuh dia mah cuma seorang keponakan muridku."
Ciangbunjin partai Tian-san, si Kakek pertapa dari bukit Thian-san Lu Kian-si hanya seorang keponakan muridnya?
Lok Khi yang mendengar perkataan itu menjadi sangat terperanjat, serunya sambil menggelengkan kepalanya berulang kali.
"Waah, kalau begitu aku tidak tahu"
Serunya.
"Tentu saja kau tidak tahu, pulang dan tanyakan kepada gurumu, dia akan segera mengetahui siapakah lohu. Sudahlah, mari kita pergi. Sekarang, di depan situ akan diselenggarakan suatu pertemuan besar, kalau sampai terlambat kita bisa ketinggalan kereta."
"Aaah, tidak, aku tak mau pergi, aku tak mau memanggilmu empek tua. kau harus memberitahukan lebih dulu kepadaku, siapakah kau ?"
Seru Lok Khi tanpa beranjak dari tempatnya. Dengan cepat Kakek gemuk pendek itu menggelengkan kepalanya berulang kali.
"Bukankah barusan lohu telah mengailmu dengan pancinganku? coba kau terka siapakah lohu?"
Lok Khi segera miringkan kepalanya sambil berpikir, kemudian ujarnya cepat.
"Kau mempunyai sebuah pancingan, barusan kaupun bertanya apakah aku tahu kalau di bukit Thian-san ada telaga langit kalau begitu kau sering memancing ikan ditelaga langit bukan begitu?"
Kakek gemuk itu manggut-manggut berulang kali.
"Betul, betul sekali, lohu memang termashur kerena pandai memancing. haah, .haaaahh... haaahh... bocah perempuan kau memang menarik sekali, kini kau sudah mengetahui asal-usul lohu, bersediakah kau mengangkat lohu menjadi gurumu?"
"Hmm, setan baru tahu akan asal usulmu itu."
Batin Lok Khi dihati. Tapi diluaran dia menjawab.
"Aku belum sempat melihat kepandaian silatmu. oya, bagaimana kalau kau dibandingkan dengan Chin congkoan dari Ban kiam hwee?"
"chin Tay seng? Huuuh. dalam pandangan lohu, dia tak lebih hanya seekor ikan kecil."
Lok Khi menjadi geli setelah mendengar perkataan itu, dia hanya menganggap Chin Tay seng seperti ikan kecil, maka kembali tanya lebih jauh.
"Lantas bagaimana kalau dibandingkan dengan congkoan dari jago pedang pita hijau Po kiam suseng (sasterawan pemeluk pedang)?"
Dengan mata kepala sendiri dia pernah menyaksikan kepandaian silat yang dimiliki Po-kiam suseng Buyung Siu, bahkan kepandaiannya sama sekali tidak berada dibawah Kam sukonya, dia ingin tahu bagaimanakah jawaban orang si Kakek gemuk itu masih tetap menjawab dengan nada sinis.
"Aaah, kalau cuma kawanan angkatan muda itu mah, dengan pancingan lohu ini, aku sanggup melemparkan mereka ke tempat yang sangat jauh sekali."
"Aku tidak percaya."
Jawabnya .
"Tidak percaya ?"
Kakek gemuk itu menjadi marah.
"ayo ikut lohu, akan lohu buktikan dihadapan mata."
Katanya dengan sombong.
Diam-diam Lok Khi merasa geli dengan melihat sifat ingin menang sendiri dari kakek tersebut meski usianya sudah lanjut, baru dibakar hatinya, ia sudah mendongkol hingga wajahnya merah padam, segera dirasakan olehnya bahwa kakek ini menarik hati.
Maka ujarnya lagi sambil tertawa.
"Asal kau bisa memancing mereka dan melemparkannya jauh-jauh, tentu saja aku akan percaya."
Dengan nada bersungguh hati kakek gemuk berkata lagi.
"Apa yang mampu lohu ucapkan, tentu saja mampu pula kulaksanakan seandainya lohu mampu memancing mereka seperti memancing ikan saja, apa yang hendak kau katakan ?"
Lok Khi tertawa.
"Kalau begitu, kau harus mewariskan ilmu memancing ikan tersebut kepadaku "
"Maksudmu kau akan mengangkat lohu menjadi gurumu."
Kata si kakek gemuk.
"Kau bersedia mengajarkan kepadaku atau tidak ?"
"Aku berjanji."
Seru si kakek dengan wajah berseri-seri karena perasaan gembira. Diam-diam Lok Khi tertawa geli, pikirnya.
"Huh, siapa yang kesudian mengangkat kau sebagai guruku ? Aku mah hanya kepingin mempelajari ilmumu saja."
Tapi diluar dia segera menyahut.
"Kau berjanji, akupun berjanji, empek tua, apa yang kau katakan tak boleh di ngkari lagi, mari kita bertepuk tangan."
"Kenapa harus bertepuk tangan ?"
"Setelah bertepuk tangan, maka kau tak boleh mengingkarinya lagi."
Kakek gemuk itu manggut-manggut.
"Betul mari bertepuk tangan, mari kita bertepuk tangan."
Lok Khi segera menyodorkan tangannya ke muka dan saling bertepuk tangan sekali dengan kakek gemuk itu, Kemudian, kakek itu baru mengajak Lok Khi melanjutkan perjalanannya menyelusuri lorong.
Beberapa saat kemudian, Lok Khi berseru dengan keheranan.
"Empek tua, tampaknya kau hapal sekali dengan jalanan ditempat ini."
"Lohu tentu saja hapal dengan jalanan disini."
"Oooh, kau pernah kemari?"
"Bukan cuma pernah kemari."
Kata si kakek gemuk sambil tertawa tergelak-gelak.
"Kalau hanya pernah kemari?"
"Betul, tentu saja bukan sekali, Ehmm, bocah perempuan, tahukah kau bahwa tempat ini sebetulnya merupakan tempat Ban kiam hwee menjadi besar?"
"Bukankah Sarang mereka berada di bukit Kiam bun San?" -oooOOooo-Bab-42 KAKEK GEMUK itu tertawa.
"Yang lohu maksudkan adalah kejadian pada puluhan tahun berselang, waktu itu Ban kiam hwee didirikan disini, kemudian berhubung sudah mendapatkan Kiam bun san lebih cocok dengan nama Ban kiam hwee, akhirnya mereka pun pindah ke bukit Kiam bun san, sedangkan tempat ini dijadikan sebagai tempat tinggal para jago pedang berpita hitam yang diperkenankan bergerak ditempat luaran tentu saja tempat ini paling cocok untuk mereka."
Mendengar semuanya itu, lambat laun timbul juga kecurigaan dalam hati Lok Khi, dia segera berhenti sambil bertanya.
"Empek tua tampaknya engkau mengetahui banyak sekali tentang persoalan dalam Ban-kiam hwee?"
Kakek gemuk itu kembali tertawa ter-bahak2.
"Haaahh.,.haaahh..haaahh... tentu saja lohu mengetahui sangat banyak. Ehmm,,, sekalipun Ban kiam Hweecu Sendiripun belum tentu mengetahui Sebanyak apa yang kuketahui. Hei, bocah perempuan, jangan ngomong melulu, ayo kita berangkat"
OOOOO DISEBELAH utara bukit Pit bu san terdapat sebuah istana Pit bu kiong, orang awam menyebutnya sebagai kuil dewa, bangunan ini tidak tahu kapan berdirinya dan siapa pendirinya, bahkan dewa apa yang dipuja pun tak ada yang tahu.
Hal ini bukan dikarenakan sejarahnya terlalu tua sehingga sukar di ngat kembali, melainkan bukit sebelah utara Pit bu-san merupakan daerah yang amat terpencil, kecuali tukang penebang kayu, hampir boleh dibilang jarang sekali ada yang melewati tempat itu.
Bangunan kuil itu terdiri dari ruangan depan dan bangunan belakang.
Pada bangunan depan terdapat tiga bilik, di tengah merupakan ruang Kwan im tian, disebelah kiri Bun-bu-tian dan di sebelah kanan Sam koan-nan ...
Sedangkan bangunan disebelah belakang terdiri dari satu ruangan besar, tiga ruangan yang di rombak menjadi satu ruangan lebar, dalam ruangan tersebut hanya disembah sebuah patung malaikat berbaju kuning.
Semua orang menganggap patung tersebut sebagai dewa tanah, oleh sebab itu kuil tersebutpun dinamakan kuil dewa tanah, nama istana Pit bu klong yang sebenarnya pun jadi dilupakan orang.
"Hari ini, tempat altar patung dewa tanah yang berani di bangunan belakang dekat dinding tersebut mendadak ditemukan sudah bergeser tiga depa kedepan. Bangunan itu lebar sekali, bergesernya meja altar sejauh tiga depa tak akan diperhatikan orang bila tidak diteliti, oleh sebab itu alasan di kemukakannya secara istimewa adalah untuk menunjukkan kalau tempat itu berbeda dengan keadaan biasa, atau dengan perkataan lain meja altar patung dewa tanah itu bisa digeserkan tempat duduknya. Kendatipun demikian halnya, bila tak mengetahui rahasianya, maka jangan harap meja altar tersebut bisa digeser barang seincipun kendati telah mengerahkan ratusan orang lelaki yang bertenaga raksasa ..Kalau begitu, patung tersebut dikendalikan oleh suatu alat rahasia? Tiada seorangpun yang bisa menjawab. Walaupun meja altar patung dewa tanah itu sudah bergeser tiga depa kedepan, tapi seandainya orang luar yang datang kesitu, mereka tak akan melihat akan pergeseran tempat tersebut. Waktu itu, diatas ruangan yang lebar telah tersedia banyak sekali tempat duduk, seakan-akan disitu hendak diselenggarakan suatu pertemuan besar. Dibagian tengah, terdapat sebuah kursi kebesaran yang berlampiaskan kain berwarna kuning. Di muka kursi terletak sebuah meja rendah yang berlapiskan kain kuning pula, diatas meja terdapat sebuah hlolo terbuat dari tembaga asap yang mengepul keluar menyiarkan bau harum yang semerbak. Disebelah kiri kanan meja berisi dupa tadi terdapat pula dua buah kursi kebesaran, hanya bedanya tidak terdapat sandaran yang tinggi, lagi pula kursi tersebut berbentuk agak lain, kain yang melapisi kursi tersebut berwarna merah. Disebelah kiri kanannya terdapat pula delapan buah kursi, semuanya dilapisi kain merah. Pintu gerbang kuil dewa tanah pun terpentang lebar-lebar. Didepan pintu berdiri delapan orang jago pedang berpakaian ringkas warna hitam, pita pada gagang pedang mereka pun berwarna hitam, semuanya berdiri dengan sikap angker dan wajah keren. Ditinjau dari kening mereka yang menonjol tinggi serta sorot mata yang tajam bagaikan sembilu, dapat diketahui bahwa ke delapan orang itu merupakan jagoan kelas satu di dalam dunia persilatan. Tapi, mereka hanya berhak untuk berdiri diluar pintu gerbang, siapakah mereka ? Tentu saja para jago pedang berpita hitam dari Ban kiam hwee... Entah pertemuan besar apakah yang hendak di selenggarakan dalam kuil dewa tanah itu? Tampaknya suatu pertemuan yang penting sekali artinya. Siapa-siapa saja yang akan menghadiri pertemuan tersebut? Dari jalanan kecil di depan bukit situ, tampak orang mulai berdatangan ketempat tersebut. Semua orang yang datang sebenarnya berangkat menuju kedepan bukit situ, seandainya tiada orang menyambut kedatangan mereka, rasanya mustahil orang orang itu dapat menemukan kuil tersebut. Orang menyambut kedatangan tamu-tamu itu adalah seorang lelaki berbaju hijau dengan pedang berpita hijau tersoren dipinggangnya. Langkah mereka amat tenang dan mantap. ketika berjalan ditengah perbukitan nampak begitu enteng dan cepat. Cukup dilihat dari gerakan tubuh tersebut, dapat diketahui bahwa kepandian silat yang mereka miliki lihay sekali, padahal mereka tak lebih Cuma jago-jago pedang berpita hijau dari Ban kiam-hwee. Orang yang tiba dimuka kuil lebih dulu adalah Thian Khian Khi Cu dari Bu tong pay, jubahnya hijau dengan pedang tersoren dipunggung, jenggot putihnya sepanjang dada, mukanya keren dan tubuhnya tinggi serta amat tegap ... Dibelakangnya mengikuti Keng hian tojin yang berjubah biru, murid pertama dari Bu tong pay. Orang ketiga adalah seorang lelaki setengah umur yang berwajah putih, sikapnya agak angkuh, dia adalah Bwee hoa kiam (pedang bunga bwee) Thio Kun kai. Yang berada dipaling belakang adalah seorang nona berbaju merah, wajahnya amat cantik potongan muka berbentuk kwaci, mata jeli, alis mata melentik, bibir kecil dan hidung mancung, dia adalah satu-satunya murid perempuan dari Bu tong pay, Lak jiu im (Perempuan cantik bertangan keji) Thio Man. Gadis she Thio ini sudah termashur dalam dunia persilatan sebagai sekuntum bunga mawar yang harum mana cantik lagi, hanya sayang bunganya berduri, siapa pun tak bera menyentuhnya, Anehnya, Thio Man yang dihari hari biasa selalu melototkan matanya dan bersikap angkuh, hari ini berjalan di belakang kakaknya dengan kening berkerut dan tanpa sikap angkuh, malah kelihatan memelas sekali. Dia seperti dibebani oleh suatu masalah yang amat besar, sehingga tubuhnya pun turut menjadi kurus. Rahasia hati apakah yang sedang mencekam perasaan gadis ini? Mungkin hanya dia seorang yang tahu, tentu saja Bwe hoa kiam-Thio kun kai sebagai kakaknya, sedikit banyak juga tahu. Serombongan manusia dengan dipimpin oleh jago pedang berpita hijau berjalan menelusuri jalanan kecil mendekati kuil dewa tanah. Dari dalam kuil segera berjalan keluar seorang sastrawan berusia pertengahan yang menyambut kedatangan mereka, sambil menjura katanya seraya tertawa nyaring.
"Selamat datang totiang, bila sambutan siaute agak terlambat, harap kau sudi memaafkan."
Thian Khi cu adalah salah satu diantara tiga jagoan Bu tong pay meskipun dia belum pernah bertemu dengaa kawanan jago persilatan sedikit banyak juga pernah mendengar.
Tapi orang orang Ban kiam-bwae amat jarang berkelana dalam dunia persilatan, terhadap dunia persilatan boleh dibilang terpisah sama sekali.
Ketika dilihatnya sasterawan berbaju hijau itu berwajah tampan, usianya tidak terlampau besar, terutama sepasang matanya bersinar tajam, dengan cepat di ketahui olehnya kalau orang itu berilmu sangat tinggi.
Untuk sesaat dia menjadi tertegun dan tak tahu siapa gerangan lawannya, terpaksa ujarnya sambil menjura.
"Kedatangan pinto sekalian amat mendadak, tak berani terlalu merepotkan anda untuk datang menyambut apakah sicu adalah Ban kiam hwee cu ?"
O--OOO--O SASTRAWAN berbaju hijau itu tertawa, buru-buru sahutnya.
"Siaute Buyung Siu, saat ini berhubung Hwee cu kami masih ada urusan dan tak dapat memisahkan diri, maka sengaja mengutus siaute untuk menyambut kedatangan tamu agung, silahkan totiang masuk ke dalam untuk minum air teh."
Thian Khi-cu tentu saja belum pernah mendengar nama Buyung Siu terpaksa ia manggut-manggut.
"oh, rupanya Buyung sicu, sudah lama pinto mendengar akan nama besarmu."
Buyung Siu mempersilahkan tamunya masuk kedalam ruangan, kemudian membawanya menuju kederetan kursi disebelah kiri pada bagian yang paling ujung.
Keng hian tojin dan Thio si bersaudara terpaksa hanya mendapat bagian berdiri dibelakang Thian Khi cu.
Setelah duduk, Thian Khi cu mulai memperhatikan keadaan diseliling tempat itu, ternyata didalam ruangan tersedia banyak kursi, tampaknya masih banyak orang yang turut diundang datang kesitu.
Rombongannya boleh di bilang melupakan rombongan yang datang paling awal, hal ini segera menimbulkan kecurigaan didalam hatinya yangamat tajam.
Dengan diam-diam dia mulai berpikir.
"Entah apa rencana dan maksud tujuanBan kiam hwee cu mengundang kami semua datang kemari ?"
Berpikir demikian, segera tanyanya sambil tertawa.
"Entah ada urusan apa Hwecu kalian mengundang pinto semua datang kemari? Apakah Buyung sicu bersedia memberi penjelasan?"
Buyung Siu tersenyum.
"Ketika Hweecu kami mendengar kalau ada banyak jago lihay telah berdatangan ke bukit Pit-bu-san ini, maka sengaja ia menyiapkan air teh dan mengundang saudara sekalian untuk beristirahat sebentar disini, disamping itu Hweecu kami pun ingin memanfaatkan kesempatan ini untuk berbincang-bincang, sama sekali tidak mempunyai tujuan lain."
Sudah jelas ucapan tersebut bukan muncul dari hati yang jujur, seandainya Ban-kiam Hweecu tidak mempunyai permainan busuk yang lain, bagaimana mungkin dia akan menyediakan banyak kursi disitu ?
Bahkan bentuknya seperti hendak menyelenggarakan suatu pertarungan saja ?
Disaat ia baru selesai berkata, tampak seorang jago pedang berpita hitam masuk ke dalam dengan langkah tergesa-gesa, kemudian setelah menjura kepada Buyung Siu katanya.
"Lapor congkoan, Sip-cu taysu dan Sin-ci ki Beng-tayhiap dari Siau-lim-pay telah berkunjung datang."
Buyung Siu segera bangkit berdiri sambil berkata.
"Totiang, silahkan duduk dulu, siaute akan pergi sebentar."
Tidak menunggu jawaban dari Thian Khi cu, dia segera membalikkan badan dan beranjak pergi.
Tak selang berapa saat kemudian dia muncul kembali mendampingi Sip-cu taysu, Sin-ci kiBeng Kian-hoo dan seorang hweesio kecil.
Ketika Sip-cu taysu melihat Thian Khi cu berada disitu, buru-buru dia menjura sembari menyapa.
"omitohud, rupanya totiang sudah datang lebih duluan ?"
Thian Khi-cu segera bangkit dan membalas hormat, sahutnya sambil tertawa.
"Taysu, Beng tayhiap. silahkan."
Beng Kian hoo menjura kepada Thian Khi-cu, kemudian saling menyapa pula dengan Keng hian todjin serta Thio Kun-kai dua bersaudara.
Maka semua orang pun lantas mengambil tempat duduk masing-masing, dua orang lelaki berbaju hitam muncul menghidangkan air teh dan meletakkannya ke atas meja.
Buyung Siu berbincang-bincang sebentar kemudian bangkit berdiri dan berlalu dari situ.
Sip-cu taysu dengan sorot matanya yang tajam segera memandang sekejap sekeliling arena, dia menyaksikan diluar ruangan kecuali berdiri empat jago pedang berpita hijau, dalam ruangan hanya hadir mereka beberapa orang, tanpa terasa segera tanyanya dengan suara rendah.
"Totiang, tahukah kau persoalan apa yang hendak dibahas dalam pertemuan hari ini?"
Thian Khi cu tertegun, lalu sahutnya.
"Jadi taysu juga tidak tahu ?"
"omitohud, apakah totiang juga tak mengetahui duduk persoalannya yang sesungguhnya?"
Thian Khi cu mengelus jenggotnya yang panjang, kemudian setelah termenung sejenak, sahutnya.
"Terus terang saja kukatakan taysu, sebetulnya pinto sekalian hendak pergi ke sik jin-tian untuk menyelesaikan suatu persoalan siapa tahu ditengah jalan kami telah bersua dengan orang orang Ban kiam hwee, dikatakan mereka dapat perintah dari Hwee cunya untuk mengundang pinto datang kemari, taysu dan Beng tayhiap pun muncul pula disini."
Sip cu taysu dan Beng Kian hoo segera saling berpandang sekejap. kemudian manggut-manggut.
"Nah... itulah dia, pinceng dan Beng sute juga dalam perjalanan menuju kekuil sik jin-tian setelah mendengar berita dari pihak Pau in si yang mengabarkan kematian Phit pangcu, Tin pangcu, siapa tahu ditengah jalan kami bersua dengan orang orang Ban kiam hwee, mereka mengundang kaki datang kemari, apa yang dikatakan pun persis seperti apa yang disampaikan kepada totiang. kalau ditinjau dari keadaan ini, bisa dikumpulkan kalau pihak Ban hiam hwee memang sudah mengatur pertemuan tersebut ... ."
Thian Khi cu memandang sekejap sekeliling tempat itu, kemudian berbisik.
"Perkataan taysu memang benar, menurut apa yang pinto ketahui, pihak Ban-kiam hwee sudah puluhan tahun lamanya tidak berkelana lagi dalam dunia persilatan, tampaknya sarang mereka terletak di bukit Kiam-bun-san, anehnya Ban-kiam Hwee cu mereka bisa muncul secara tiba-tiba ditempat ini, nampaknya ada suatu yang tak beres."
Sip cu taysu semakin merendahkan suaranya lati, dia berbisik.
"Konon tempat ini merupakan bekas sarang dari Ban kiam hwee dan hingga kini dijadikan markas besar jago-jago pedang berpita hitam mereka, menurut apa yang pinceng ketahui, meski Ban kiam hwe sudah banyak tahun tak pernah muncul lagi didalam dunia persilatan, namun jago-jago pedang berpita hitam mereka selalu bergerak secara diam diam dalam dunia persilatan, bahkan dari pelbagai partai besar pun terdapat murid murid murtad yang telah bergabung dengan mereka.."
"Aah. masa ada kejadian seperti ini ?"
Seru Thian Khi cu dengan mata terbelalak dan hati yang bergetar keras.
Sementara pembicaraan masih berlangsung, tampak Buyung Siu muncul kembali sambil membawa seorang tosu tua berjubah abu abu yang berperawakan kurus dan kecil, dia berjalan langsung menuju ke ruang tengah.
Dibelakang tojin itu, mengikuti empat orang tosu muda berbaju hijau, pada pinggang masing masing terselip sebuah senjata Hud tim yang terbuat dari bulu kuda, jelas senjata kebutan tersebut merupakan senjata andalan mereka.
Tojin berbaju abu-abu itu bermuka kurus dan sempit dengan tulang kening yang sempit, wajahnya nampak dingin dan licik.
Waktu itu ditemani oleh Buyung Siu ia berjalan masuk kedalam ruangan dengan langkah lebar, setelah memandang sekejap sekitar arena, mendadak serunya sambil tertawa terbahak-bahak.
"Haah, haaah, haaah, tampaknya orang-orang dari Siau lim dan Bu-tong telah berdatangan semua, kalau begitu siaute sudah datang terlambat."
Katanya kemudian.
Sembari berbicara, dia lantas menjura kepada Sipcu taysu sekalian.
Baik Thian Khi cu maupun Sipcu taysu sama sama dibikin tertegun oleh ucapan mana.
Suara orang ini sangat nyaring, sorot matanya juga tajam bagaikan sembilu, jelas tenaga lweekangnya sudah berhasil mencapai puncak kesempurnaan yang luar biasa, cuma anehnya mereka tak mengenali siapa gerangan orang tersebut.
Tapi, karena orang lain sudah menyapa maka mereka pun terpaksa ikut bangkit dan membalas memberi hormat.
Sambil tersenyum Buyung Siu segera berkata.
"Saudara ini adalah saudara Seh, sudah puluhan tahun lamanya tak pernah munculkan diri dalam dunia persilatan apa lagi sekarang muncul dengan dandanan seorang tojin, tak heran kalau kalian tidak mengenalinya, dia adalah...."
Belum sampai perkataan itu selesai diutarakan, sambil tertawa tojin berbaju hitam itu sudah menyeIa.
"Siaute Seh Thian yu ..."
Begitu mendengar nama "Seh Thian yu", Thian Khi cu dan Sip cu taysu menjadi terkesiap.
mereka tak mengira kalau orang itu adalah Hek Seng kun dari empat raja racun didunia.
Buru-buru Thian Khi cu dan Sip cu taysu berseru.
"ooooh, rupanya saudara Seh, selamat berjumpa, selamat berjumpa."
Seh Thian yu segera mengalihkan sorot matanya kembali kembali kesekeliling ruangan, kemudian setelah memandang sekejap ke altar didepan situ dia melangkah mencari tempat duduk.
katanya kemudian sambil tertawa.
"Jago lihai dari mana lagi yang telah diundang oleh hwee-cu kalian?"
Dalam pandangannya, seakan-akan Siau lim-pay dan Bu tong pay bukanah suatu perguruan yang luar biasa. Buyung Siu segera menjawab.
"siaute hanya mendapat perintah untuk menyambut kedatangan tamu agung, soal masih ada siapa lagi yang diundang datang siaute sendiripun kurang begitu jelas."
Seh Thian yu terkekeh-kekeh.
"Heeehh . .. heeeh ... heeehh..saudara Buyung adalah congkoan dari perkumpulan ini, bila dikatakan saudara Buyung tidak jelas, siaute kok merasa kurang percaya."
Buyung Siu segera tertawa nyaring.
"Bila saudara Seh tidak percaya, siaute pun merasa makin sulit untuk menjawab lagi."
"Ketika siaute baru tiba didepan bukit situ, jago pedang berpita hijau anak buah saudara Buyung telah datang menyambut kedatangan ku, bahkan mengundangku kemari, ditinjau dari hal itu,jelaslah sudah kalau saudara Buyung telah melakukan persiapan ditempat ini."
Buyung Siu tertawa hambar.
"Kalau begitu saudara Seh salah paham, hari ini Hweecu kami berada disini, maka setiap jago lihay yang kebetulan berada diseputar bukit Pit-bu san telah diundangnya tanpa kecuali... Siaute juga tahu kalau jago lihay yang berdatangan tidak sedikit jumlahnya, tapi siapakah mereka, aku baru bisa tahu setelah mereka berdatangan semua kemari."
"Ooooh, kalau begitu siautelah yang salah menuduh Buyung congkoan."
Kata Seh Thian yu sambil mengelus jenggotnya dan tertawa seram. Diambilnya cawan air teh dan diminumnya setegukan, kemudian ujarnya lebih jauh.
"Siaute masih ada satu hal ingin ditanyakan kepada saudara Buyung ..."
"Katakan saudara Seh."
Dengan senyum tak senyum Seh Thian yu berkata.
"Berhubung tadi siaute masih ada sedikit urusan, kedatanganku ini sangat terlambat datangnya, tapi sebelun siaute sebetulnya murid-muridku sudah berdatangan kemari, padahal jago pedang berpita hijau dikerahkan ke empat penjuru untuk menyambut kedatangan tamu agung, haaah, haaaah, aku rasa murid-muridku semua tentunya sudah diundang datang semua oleh saudara Buyung bukan ?"
Bukan cuma gelak tertawa nyayang luar biasa, terutama kata "diundang"
Tersebut benar-benar diucapkan amat tepat. Buyung Siu menjadi tertegun setelah mendengar ucapan mana, serunya dengan cepat.
"Tentang masalah ini siaute kurang begitu tahu, apa bila murid-murid saudara Seh telah diundang kemari, seharusnya mereka akan dihantar datang kemari."
Katanya menerangkan. Kembali Seh Thian yu tertawa seram.
"Heeeh, heeeh, heeeh, saudara Buyung benar-benar tidak tahu atau sengaja berlagak tidak tahu ? seandainya murid-muridku tak kalian undang masuk. memangnya mereka bisa lenyap di tengah udara dengan begitu saja ?"
Kali ini Buyung siu dapat menangkap arti dibalik perkataan itu, dia tertawa dan berkata.
"Kalau begitu biar kutanyakan dulu persoalan ini kepada Chin congkoan. ."
"Chin Tay-seng ?"
Mencorong sinar tajam dari balik mata Seh Thian yu.
Thian Khi cu dan Sip cu taysu sekalian yang mendengar Seh Thian yu mengucapkan nama Chin Tay seng pun nampak pada tertegun.
Sut but-kuicu (tangan setan pengejar nyawa) Chin Tay-seng sudah termashur sebagai jagoan lihay dikalangan golongan hitam pada dua puluh tahun berselang, selama dua puluh tahun belakangan ini, jarang ada orang yang mengetahui tentang kabar beritanya lagi, siapa sangka kalau dia telah menjadi seorang congkoan dari perkumpulan Ban-kiam hwee.
Pada saat itulah dari belakang meja altar kedengaran orang mendehem, kemudian menyahut sambil tertawa.
"oh, rupanya saudara Seh telah datang, maaf kalau siaute tidak menyambut kedatanganmu."
Seorang kakek berbaju biru, berambut keriting dan membawa sebuah huncwee berjalan keluar dari balik meja altar.
Orang itu bukan lain adalah congkoan dari jago pedang berpita hitam dalam Ban kiam-hwee si Tangan setan pengejar nyawa Chin-Tay seng adanya, dengan senyuman menghiasi wajahnya, dia menjura berulang kali kepada setiap orang yang berada disana.
Sesudah tertawa seram, Seh Thian yu berkata.
"Apakah murid muridku telah terjatuh lagi ketangan saudara Chin ?"
Sambil tertawa paksa Chin Toa seng berkata.
"Silahkan duduk dulu saudara Seh, tadi memang ada beberapa orang yang memaksakan diri untuk menyerbu masuk melalui pintu kematian, diantara mereka ada tiga orang yang justru berasal dari selat Tok see sia..."
"Dimana mereka sekarang?"
Tanya Seh Thian yu dengan wajah berubah membesi. Dengan senyum yang masih menghiasi ujung bibirnya Chin Tay seng menjawab.
"Saudara Seh tak usah kuatir, barusan siaute telah mendapat pesan dari Hweecu bahwasanya setiap orang mendatangi buku Pit bu-san pada hari ini adalah tamu perkumpulan kami, siaute telah mengutus orang untuk mengundang mereka, aku rasa mereka pasti akan muncul tak lama kemudian, hanya saja siaute mempunyai suatu permintaan."
"Apa permintaanmu?"
"Beberapa orang anak buah siaute telah keracunan, konon terkena pasir beracun Hu tim tok see, oleh sebab itu siaute mohon obat penawar dari saudara Seh."
"Kalau toh saudara Chin tidak mempunyai tujuan untuk bermusuhan, bawa saja mereka kemari di saku muridku tersedia obat penawarnya."
"Saudara seh, kau tidak tahu, muridmu telah terperosok kedalam perangkap karena salah menginjak alat rahasia, begitu terperosok merekapun segera menelan semua obat penawar racun yang ada."
Seh Thian yu segera tertawa terbahak-bahak "Haaahhh...haaahhh...
haaahhh...
.suatu tindakan yang bagus sekali, barang siapa mengengus pasir beracun Hu tim tok see, dalam satu jam kemudian racun itu akan mulai bekerja dan korban tak akan tertolong lagi, padahal jago pedang dibawah pimpinan audara Chin terdiri dari jago-jago pelbagai perguruan yang tidak gampang mencarinya, sayang siaute tidak membawa obat penawar, tunggu saja sampai murid muridku keluar, ampai waktunya pasti akan kuberikan obat penawar racun itu untukmu."
Sementara itu dari belakang meja altar kedengaran suara langkah kaki yang ringan bergema datang.
Menyusul kemudian muncul seorang jago pedang berpita hitam yang mengiringi seorang pemuda berbaju biru yang berwajah penuh kegusaran dan bersikap sangat angkuh, pelan-pelan berjalan mendekat.
"Sahabat, silahkan minum teh di ruang tengah."
Jago pedang berpita hitam itu segera berhenti sambil mengulapkan tangannya.
selesai berkata.
ia membalikkan badan dan mengundurkan diri dari tempat tersebut.
Pemuda berbaju biru itu mendengus dingin sorot matanya yang tajam segera dialihkan sekejap ke ruang tengah dan akhirnya berhenti diwajah Buyung Siu, kemudian serunya sambil menuding dengan kipaS peraknya.
"Apakah saudara adalah congkoan pasukan jago pedang berpita hitam Chin Tay-seng?"
Chin Tay-seng tertawa serak.
"Lohu adalah Chin Tay-seng, sedang dia adalah congkoan dari pasukan berpita hijau Buyung sianseng."
Katanya. Buyung Siu segera tersenyum.
"silahkan duduk saudara Lan "
Katanya.
"Bagus sekali "
Jawab Lan Kun-pit dingin. Dia segera berjalan menuju ke kursi sebelah kiri dan duduk disana. Thian Khi cu dan Sip cu saling berpandangan sekejap. seakan-akan mereka sedang saling bertanya.
"Siapa pemuda ini? Besar amat lagaknya."
Lak jiu im eng yang berada di belakang satunya segera bertanya pada kakaknya dengan suara lirih, Bwee hoa kiam Thio Kun kai segera menggelengkan kepalanya berulang kali.
Dari belakang meja altar kembali terdengar suara pembicaraan manusia, terdengar suara seorang bocah sedang berkata dengan nada tak sabar.
"Kita inilah berjalan keluar dari lorong rahasia, buat apa kau masih mengukur kesana ukur kemari. Mengukur kentut barangkali?"
Suara yang lain segera menyahut .
"Semuanya gara-gara kau, bilang pintu itu pasti didepan bukit, akhirnya pintu tak bisa dilewati, jalan kematian yang kita jumpai, malah kena ditipu orang lagi."
"siaute toh belum pernah mempelajari segala macam ilmu jebakan atau alat rahasia..."
Suara si bocah tertawa terbahak-bahak. Kemudian terdengar lagi suara lain berbisik.
"Harap kalian berdua jangan berbicara kelewat keras, mungkin diruang depan sudah kedatangan banyak tamu."
Rupanya suara itu berasal dari sipetunjuk jalan. Suaranya dari bocah tersebut makin bertambah keras, bentaknya.
"Aku tidak ambil perduli tamu agung atau tidak, buat apa aku mengurusi mereka adalah anak kura-kura dari mana saja?"
"Wees..."
Dia segeri melompat keluar dari belakang meja altar tersebut.
Tapi begitu munculnya diri Tok Hay ji segera berdiri bodoh, mukanya berubah menjadi kuning, buru2 dia menundukkan kepalanya dan berseru dengan hormat.
"Suhu..."
Ketika Lupan beracun dan Tok si cuan menyaksikan kehadiran Seh Thian yu disitu pun buru-buru membungkukkan badan sambil berseru.
"Susiok"
Seh Thian yu segera melotot besar kepada Tok Hay ji bentaknya keras-keras.
"Bocah goblok. tampaknya nyalimu makin lama semakin besar, kalau berbicara tak tahu ukuran, kalau begini cara kerjamu persoalan apapun pasti akan menjadi berantakan akhirnya."
Tok Hay ji tak berani banyak bicara, mukanya merah padam, mengikuti dibelakang Lu pan beracun dan sipencuri beracun, ia segera berdiri dibelakang Seh Thian yu.
"Saudara Seh"
Chin Tay seng segera berkata sambil tertawa rendah.
"sekarang tentunya kau bersedia memberi obat penawarnya bukan?"
Dari dalam sakunya Seh Thian yu mengeluarkan sebuah botol kecil dan diangsurkan kedepan, katanya.
"cukup enduskan obat ini ke sisi hidung orang yang keracunan, mereka akan segera menjadi sembuh kembali."
"Terima kasih saudara Seh."
Setelah menerima obat penawar itu, dia lantas bertepuk tangan dua kali.
Dari belakang meja altar segera melompat keluar seorang bocah, Chin Tay-seng memberikan botol tersebut sambil memberitahukan Cara penggunaannya.
Bocah tersebut buru-buru mengundurkan diri.
Lewat seperminum teh kemudian, Seh Thian yu mulai habis sabarnya, tiba tiba ia berseru.
"Yang seharusnya datang mungkin sudah datang, bagaimana ? Apakah tamunya dibiarkan duduk menunggu terus ? Mana Hweecu perkumpulan kalian ?"
Chin Tay seng saling berpandangan sekejap dengan Buyung Siu, kemudian ujarnya.
"Waktunya sudah hampir tiba, mungkin memang tiada orang yang akan datang lagi, saudara Buyung, bagaimana kalau mengundang kedatangan Hweecu.. .?"
Buyung Siu termenung sebentar kemudian manggut-manggut, katanya sambil menjura.
"harap saudara se kalian suka menunggu sebentar, siaute akan segera mengundang kedatangan Hweecu kami."
Ternyata Ban kiam hweecu pun masih harus diundang datang, hal ini benar-benar menunjukkan kalau lagak mereka memang luar biasa.
Selesai berkata, Buyung Siu segera menjura berulang kali kepada semua orang yang hadir, kemudian baru membalikkan badan dan menuju kebelakang altar dengan langkah cepat.
Chin Tay seng mengikuti pula dibelakang Buyung Siu masuk kedalam ruang rahasia.
Sepeninggalan kedua orang itu, Seh Thian yu lalu tertawa seram, kepada sip cu taysu dan Beng Kian ho katanya.
"Taysu dan Beng loko berdua tentunya datang kemari disebabkan kematian dari Thi pit pangcu sebagai murid tercatat dari partai kalian bukan? Tahukah kalian berdua bahwa yang mati adalah bukan Ting ci kang yang asli.?"
Sip cu taysu maupun Beng Kian hoo menjadi tertegun, Ting ci kang sebagai murid tercatat dari Siau limpay boleh dibilang merupakan suatu kejadian yang jarang diketahui oleh umat persilatan, tapi kenyataannya Seh Thian yu berhasil mengungkapkan secara jitu.
Terutama sekali perkataannya yang mengatakan bahwa Ting ci kang yang mati bukan Ting ci kang asli, semua orang makin terperanjat lagi dibuatnya.
Buru2 Sip cu taysu merangkap tangannya didepan dada sambil berkata.
"omitohud, darimana Seh sicu mendapatkan kabar berita tersebut?"
Seh Thian yu tertawa hambar "Siaute telah melakukan pemeriksaan yang amat teliti, Ting ci kang yang tewas dalam kuil Sik-jin tian sesungguhnya adalah wakil congkoan dari pasukan pita hitam perkUmpulan Ban kiam bwee yang bernama cu Bun Wi..."
Sin-ci ki Beng Kian hoo mempunyai hubungan yang akrab sekali dengan Ting ci kang, mendengar perkataan itu. segera ujarnya dengan mata melotot besar.
"Lantas dimanakah Ting lote sekarang?"
Berkilat sepasang mata Seh Thian yu, sambil mencibir katanya dengan suara dingin.
"Mungkin saja masih berada ditangan mereka."
"Ditangan Ban kiam hwee maksudmu?"
Seru Sip cu taysu dengan wajah tertegun.
"Bukti menunjukkan kalau orang-orang dari Tok see sia pun barusan terjatuh ditangan pihak Ban kiam-hwee, dari sini bisa disimpulkan bahwa berita tertangkapnya Ting ci kang oleh pihak merekapun merupakan berita yang dapat di percaya."
"Aku pikir tak bakal salah lagi,"
Seru Seh Thian yu sambil tertawa seram.
Baru selesai dia berkata, dari bawah meja altar tersebut berkumandang gemerincing nyaring, kemudian meja altar tersaDut pelan-pelan bergeser ke sebelah kiri.
Dibelakang meja altar yang bertirai kain berwarna kuning merupakan pintu rahasia yang cukup lebar, tapi di sebelah kiri dan kanannya waktu itu masing-masing berdiri seorang dayang berbaju merah yang bertugas menyingkap kain tirai.
Pintu rahasia tersebut berbentuk bulat, didalamnya merupakan sebuah lorong rahasia yang sangat lebar, diatas dinding gUa terdapat sederet lampU model keraton yang memancarkan sinar terang.
Waktu itu, dari balik lorong rahasia yang lebar terlihat ada serombongan manusia sedang berjalan mendekati dari kejauhan sana.
orang yang berjalan paling depan adalah congkoan jago pedang berpita hitam Chin Tay seng serta congkoan jago pedang berpita hijau Buyung Siu, dibelakang kedua orang itu mengikuti dua orang muda mudi.
seorang pemuda berbaju hijau dan seorang gadis berbaju hijau pula.
Walaupun gadis berbaju hijau itu berwajah cantik dan menarik, namun tak seorangpun yang mengenalinya.
Tapi ketika semua orang menjumpai pemuda tersebut, hati mereka menjadi amat terkesiap.
pikirnya dengan segera.
"Aaah, dia telah menggabungkan diri dengan perkumpulan Ban kiam hwee."
Keng-hian tojin segera membungkukkan badan berbisik lirih dengan Thian Khi cu.
"Susiok. pemuda berbaju hijau itu adalah Wi Tiong-hong, murid Toa supek."
Sedang Sin ci ki Beng Kian hoo segera berpikir dengan kening berkerut kencang.
"Apabila orang she Wi itu adalah anggota Ban-kiam-hwee, tak heran kalau Ting lote terjatuh ketangan mereka."
Lakjiu im eng Thio Man tidak ambil perduli terhadap persoalan itu, sepasang matanya yang tajam hanya mengawasi gadis berbaju hijau yang berada dibelakang tubuh Wi Tiong hong tanpa berkedip.
Gadis berbaju hijau itu kelewat cantik, membuat dia merasa amat tidak leluasa dan kuatir sekali.
Sementara semua orang yang berada dalam ruargan masih menduga-duga setelah melihat kemunculan Wi Tiong hong, teka-teki itu segera terpecahkan.
Kedengaran congkoan dari jago pedang berpita hijau Buyung Siu mengangkat tangannya dan berkata sambil tersenyum.
"Wi sauhiap. nona Su, silahkan duduk dikursi tamu."
"Oooh ...rupanya merekapun tamu."
Semua orang baru berseru tertahan setelah mendengar ucapan mana.
Tapi paras muka Thio Man segera berubah hebat, ia tak menyangka kalau mereka sejalan, Sekujur tubuhnya kontan bergetar keras, hampir saja dia tak mampu berdiri tegak.
Wi Tiong hong dan Su Siau hui telah mengambil tempat duduk masing-masing ...
Wi Tiong hong segera memberi hormat kepada Sin cu ki Beng Kiam hoo dan Keng hian todjin sekalian baru selesai menyapa, dari balik pintu rahasia kembali muncul jago-jago persilatan.
oooooooo Bab-43 DALAM PADA ITU, Buyung Siu dan Chin Toa seng telah berdiri disebelah kiri dan kanan kursi utama.
Menyusul kemudian berjalan keluar empat orang gadis berdandan model keraton matanya jeli dan berwajah cantik tapi dingin, sebilah pedang berpita kuning tersoren dipinggang.
Walaupun perkumpulan Ban kiam hwee sudah lama tidak melakukan perjalanan didalam dunia persilatan tapi setiap orang tahu kalau para jago yang tergabung dalam perkumpulan itu terbagi dalam empat warna pita yakni hijau, merah, putih dan hitam, hanya bwee cu seorang yang memakai pita pedang berwarna kuning emas.
Sekarang, ke empat orang gadis berdandan model keraton itu memakai pedang dengan pita berwana kuning, tak heran kalau semua jago yang hadir sama-sama jadi tertegun.
Seh Thian yu sendiripun diam-diam merasa keheranan, pikirnya.
"Tak disangka kalau keempat orang dayang kepercayaan Ban kiam hweecu masih begitu muda, mana cantik jelita lagi."
Tentu saja orang yang berada dalam ruang itu bukan hanya dia seorang yang tahu kalau mereka adalah empat dayang kepercayaan dari Ban kiam Hweecu.
Ke empat orang gadis cantik itu berjalan menuju kebelakang kursi utama di tengah ruangan, kemudian berdiri berjajar dibelakangnya dengan sikap hormat.
Pada saat itu dari dalam pintu rahasia berbentuk bulat itu muncul seorang lelaki berwajah tampan yang mengenakan pakaian perlente.
Tampak dia berjalan dengan langkah lebar langsung menuju ketengah ruangan.
Lelaki berpakaian perlente itu berusia tiga puluh lima tahUnan, berwajah tampan dan gagah, kalau dilihat dari pedang panjang berpita kuning emas, yang tersoren dipinggangnya, semua orang segera mengenalinya sebagai Ban kiam hweecu.
Penampilan yang sama sekali tidak terduga ini dengan cepat semua orang yang hadir menjadi tertegun, siapapun tidak menyangka kalau Ban kiam hwee cu yang termashur namanya di dalam dunia persilatan itu kenyataannya masih begitu muda.
Waktu itu Wi Tiong hong berjalan mendekati kursi tamu pada deretan sebelah kiri dan duduk dibawah Sin ci ki Beng Kian hoo.
Tempat duduk para tamu terbagi menjadi samping kiri dan kanan, disebelah kiri terdapat delapan buah kursi yang ditempati oleh Thia Khi cu dari Bu tong pay.
Sip cu taysu dari siau limpay dan Sin ci ki Beng Kian hoo.
Sedangkan dari delapan kursi yang berada disebelah kanannya hanya ditempati Seh thian yu dan Lan Kun-pit dua orang.
Ketika Lan Kunpit menyaksikan Su siau hui mengikuti dibelakang Wi Tiong hong, dengan cepat dia berseru.
"Piau moay"
"Enmm..."
Su Siau hui menyahut dengan wajah hambar, kemudian duduk disamping Wi Tiong hong.
Menyaksikan kesemuanya, itu paras muka Lan Kun-pit yang tampan segera berubah dari merah menjadi pucat, lalu dari pucat, berubah menjadi hijau membesi, sepasang matanya merah membara, api cemburu telah membakar didalam dadanya.
Setelah duduk.
Su Siau hui sama sekai tidak menengok kearahnya apa lagi pada waktu itu Ban kiam Hwee cu sedang muncul di arena sudah barang tentu semua orang yang berada dalam ruangan tak ada yang memperhatikan perubahan mimik wajahnya.
Tidak, rupanya masih ada seseorang lagi yang sempat menyaksikan gejala tak beres itu, dia adalah Lakjiu im eng Thio Man yane sedari tadi mengamati wajah Wi Tiong hong.
Ban kiam Hwecu langsung berjalan maju ke depan kursi kebesaran yang berlampiskan kain kuning ditengah ruangan itu, kemudian baru berhenti...
Congkoan pasukan pedang berpita hijau Buyung Siu dan congkoan pasukan pedang berpita hitam Chin Toa-seng segera memisahkan diri kekiri kanan kursi kebesaran dan berdiri disisi agak depan, dimana tersedia pula dua buah kursi kebesaran beralaskan kain merah.
Tampaknya kedua buah kursi tersebut memang khusus disediakan untuk kedua orang congkoan tersebut.
Sikap maupun tindak tanduk orang-orang Ban kiam-hwee memang betul-betul kelewat sok, pada hakekatnya mereka tidak memandang sebelah mata pun terhadap para jago persilatan kalau tidak.
mana ada tuan rumah duduk diatas dan membiarkan tamunya duduk dibagian bawah ?
Setelah suasana hening untuk beberapa saat lamanya, congkoan pita hijau Buyung Siu baru menjura kepada semua orang sambil berkata dengan suara nyaring.
"Saudara sekalian, hweecu kami merasa sangat gembira dapat berkenalan dengan kalian semua, dan kabetulan saudara sekalian pun sedang berada dibukit Pit bu-san pada hari ini, oleh sebab itu dengan harapan yang besar, hwecu kali ini ingin sekali mengundang saudara sekalian untuk berbincang-bincang disini, tapi sebelum itu, biar siaute memperkenalkan lebih dulu kepada saudara sekalian."
Berbicara sampai disitu, kepada Ban kiam hwecu segera katanya.
"Yang ini adalah Thian Khi cu totiang dari Bu tong pay, yang ini adalah Sip cu taysu ketua ruang Lo han tong dari siau limpay, sedang yang ini adalah Sin cu ki Beng kiam ho, Beng tayhiap dari an wan piaukiok kota sang siau. Kemudian ke dua orang ini sudah Hweecu kenali, yang satu adalah wakil pang dari perkumpulan Thi pit pang Wi Tiong-hong, Wi tayhiap. sedang yang ini adalah nona Su dari Lam-hay bun ..."
Ketika Wi Tiong hong mendengar orang itu menyebut dirinya sebagai wakil dari ketua Thi pit pang, hatinya segera tertegun, dengan cepat pikirnya.
"Dari mana dia bisa tahu kalau aku telah menyanggupi untuk menjadi pang-cu Thi pit pang untuk sementara waktu ?"
Sementara itu ketika para jago mendengar Buyung Siu memperkenaikan Wi Tiong hong dan Su Siau hui, semua orang pun dibikin tertegun, terutama sekali terhadap si nona berbaju hijau itu, semua orang memang tak ada yang tahu asal usulnya, mereka menjadi melongo setelah tahu kalau nona itu berasal dari Lam hay.
Tampaknya Buyung Siu telah memperkenalkan deretan tamu yang berada disebelah kanan, lanjutnya.
"Yang ini adalah Hek sat kun Seh Thian yu. Seh totiang dari Tok see sia, sedang yang ini adalah Lan Kunpit, Lan tayhiap dari keluarga Lan dipropinsi In lam."
Semua tamu yang berada disebelah kiri maupun kanan, serentak bangkit berdiri.
Sambil tersenyum, Ban kiam hweecu memandang tamunya satu persatu dengan sinar mata tajam, kemudian sambil menjura katanya berulang kali.
"Selamat datang, selamat datang, silahkan duduk. silahkan saudara sekalian duduk . ."
Belum habis dia berkata, mendadak dari luar ruangan berkumandang suara gelak tertawa yang amat nyaring.
"Haaah ... haaa ... haaah ..tampaknya kedatangan siaute masih belum terlambat ..."
Ketika semua orang berpaling, tampaklah dua orang manusia berjalan masuk ke dalam ruangan di ringi gelak tertawa nyaring.
Yang berjalan didepan adalah seorang lelaki beralis mata tebal, bermata besar dan berwajah merah, dia mengenakan topi pet terbuat dari kulit yang berwarna merah, memakai jubah panjang berwarna hijau dan sepatu laras terbuat dari kulit.
Dia berdandan seperti seorang saudagar, tapi seperti pula seorang hartawan kaya dari pinggir perbatasan, sambil berkata, tangannya menjura tiada hentinya kearah semua orang didalam ruangan.
Dibelakang orang ini mengikuti seorang gadis bergaun hitam yang memakai kain cadar hitam diwajahnya, ia bertubuh ramping, dilihat dari balik kain cadarnya bisa diketahui mukanya berbentuk kwaci dengan sepasang mata yang jeli.
Kehadiran lelaki perempuan ini sangat mendadak, kecuali Wi Tiong-hong, yang lain belum pernah bersua dengan mereka.
congkoan pedang pita hijau Buyung Siu nampak tertegun, kemudian sambil menjura dan tertawa katanya.
"Maaf bila Buyung Siu tidak menyambut kedatangan kalian berdua dari tempat jauh,entah...."
Kata-kata selanjutnya tak sempat dilanjutkan dan segera terbungkam dalam seribu bahasa. Congkoan pedang pita hitam chin Tay-seng segera, mendehem berulang kali, mendadak dia menyela.
"Tentunya saudara sekalian belum pernah bersua dengan Kam tayhiap bukan? Dia adalah Kam Liu cu, Kam tayhiap dari Thian sat bun yang belakangan ini termashur namanya didalam dunia persilatan."
Ucapan pertama yang masih kedengaran enak.
tapi kata selanjutnya yang disertai ucapan "belakangan ini", jelas menunjukkan suatu penegasan bahwa orang ini baru termashur belum lama.
Agaknya diapun hanya kenal dengan Kam-Liu cu seorang, sebab siapakah gadis berbaju hitam itu, sama sekali tidak disebutkan keluar olehnya.
Tapi nama Thian sat bun tersebut tak bisa disangkal lagi merupakan guntur yang menggelegar di liang hari bolong, semua orang yang hadir disitu sama-sama dibikin terperanjat.
Dari sini bisa diketahui pula meski pertempuran yang diselenggarakan hari ini dilakukan oleh Ban kiam Hwee cu tanpa persiapan yang matang, namun semua orang diundang datang adalah jago-jago yang mempunyai nama besar.
Bukankah begitu?
Selain Siau lim-pay dan Bu tong pay, disini pun hadir jago-jago dari Lam hay bun, Tok see sia, keluarga Lan di In lam.
ditambah Thian sat bun sekarang.
Suasana dalam ruangan menjadi amat hening sepi, tak kedengaran sedikit suara pun, semua orang masih tetap berdiri tegak ditempat masing-masing.
Akhirnya Ban kian Hweecu yang memecahkan keheningan sambil menjura katanya dengan tertawa.
"Selamat datang, selamat datang, kehadiran saudara Kam sungguh membuat pertemuan pada hari ini bertambah semarak, entah siapakah nama nona ini?"
"Terima kasih atas ucapan Hwee-cu."
Kam Liu-cu tertawa bergelak.
"dia adalah ji-sumoay ku Liu Leng-poo "
Ban-kiam hweecu segera menjura, katanya cepat.
"Ooh, rupanya nona Liu, maaf jika siaute kurang hormat, hanya saja siaute mempunyai satu permintaan yang mungkin kurang pantas setelah nona Liu berada disini dapatkah kau melepaskan juga kain cadarmu, sehingga kami semua dapat menikmati raut wajahmu itu ?"
Tindak tanduknya lemah lembut dan halus amat sedap didengar.
Sin ci ki Beng Kian hoo dan Keng hian lojin sekalian sudah pernah berhadapan dengan seorang gadis berkerudung hitam dari Thian sat bun ketika berada dalam perusahaan An wan piau kiok tempo hari, dimana waktu itu gadis tersebut membawa sebuah nampan perak yang berisikan pisau terbang.
Kalau dipikir kembali, kemungkinan besar gadis itu adalah perempuan yang berada dihadapan mereka sekarang.
Tak heran kalau mereka pun ingin sekali menyaksikan raut wajah aslinya.
Hian ih lo sat Liu Leng po tertawa dingin.
"Bagaimana dengan Hweecu sendiri? Mengapa kau tak menunjukkan pula wajah aslimu dihadapan para tamu?"jengeknya. Ternyata wajah yang terlihat dari muka Ban kiam hweecu sekarang bukan wajah aslinya, ucapan tersebut segera mengejutkan banyak orang. Serta merta Ban kiam Hweecu meraba wajah sendiri dengan tangannya, kemudian berkata sambil tertawa nyaring.
"Maaf, semenjak dilahirkan siaute sudah berwajah demikian, apalagi berada di hadapan jago libay, masa aku berani memalsukannya, haah... haaah haah,,., tapi, kalau toh nona tak bersedia melepas kain kerudungmu, sudahlah."
Kemudian sambil menjura pada semua orang dia berkata.
"Saudara sekalian, silahkan duduk. siaute sengaja mengundang kehadiran kalian karena ada satu persoalan yang hendak dibicarakan dengan kalian semua."
Selesai berkata, dia lantas duduk lebih dahulu diatas kursi kebesarannya.
Buyung Siu dan Chin Tay-seng turut mengambil tempat duduk.
Semua hadirinpun bersama sama duduk kembali, Kam Liu cu kakak beradik seperguruan menempati kursi kosong disamping Lan Kun-pit.
Pelan-pelan Kam Liu cu mendongakkan kepalanya, setelah tersenyum dan manggut-manggut terhadap Wi Tiong-hong, kemudian ujarnya lagi.
"Aku orang she Kam pun hendak mengajukan suatu permintaan yang sekiranya tak pantas."
"Katakan saja saudara Kam "
Ucap Ban kiam hweecu.
"Tadi, sam sumoayku masuk melalui pintu kematian dari bukit mestika kalian apabila hal ini menyinggung perasaan Hwee cu, harap kau sudi memaafkannya..."
"Siapakah sumoay dari saudara Kam ?"
Tanya Ban-kiam Hweecu dengan wajah tercengang. Merah padam selembar wajah Wi Tiong-hong, baru saja dia akan buka suara, Kam Liu-cu sudah keburu menjawab.
"Dia bernama Lok Khi ..."
"Oooh . ."
Ban kiam hwecu segera mengalihkan sinar matanya dan memandang sekejap kearah Wi Tiong hong, kemudian ujarnya sambil tertawa.
"Tadi, saudara Wi juga telah menanyakan persoalan ini kepadaku, siaute sudah menitahkan kepada Chin congkoan untuk mengundang setiap orang yang berada dipintu kematian untuk berkumpul semua diruangan ini, tapi anehnya hanya jejak sumoay mu saja yang tidak nampak. menurut dugaan Chin congkoan, kemungkinan besar dia sudah mengundurkan diri dari tempat tersebut."
Buru-buru Chin Tay seng congkoan dari pasukan jago pedang berpita hitam bangkit berdiri, kemudian berkata.
"Tepat sekali, keadaannya memang demikian siaute sudah menitahkan orang untuk memeriksa semua jalan tembus yang ada, namun jejak nona Lok belum juga ditemukan, bisa jadi dia sudah mengundurkan diri melalui jalan semula."
Hian ih losat Liu Leng po segera mendengus dingin.
"Hmm, siapa yang percaya dengan ucapanmu itu ?"
Serunya. Buru-buru Chin Tay seng menjura lagi seraya berseru.
"Apa yang siaute ucapkan merupakan kenyataan semua, apabila Kam tayhiap sekalian tidak percaya, yaa, apa yang bisa siaute lakukan lagi?"
"Chin Tay seng, kau tak usah bermain setan di hadapan nonamu, ketika Wi Tiong hong menggunakan lencana Siu lo Ci leng minta kepadamu untuk melepaskan Ting ci kang, kenyataannya Ting ci kang gadungan yang kau selundupkan keluar, kali ini kau apakan sam sumoay ku lagi ? Terus terang saja kuberitahukan kepadamu, jika kau berani menyalahi anggota Thian sat bun, nona bisa menyuruh kau mampus seketika, percaya tidak kau dengan perkataanku ini ?"
Selain nadanya keras dan mendesak.
juga amat tak sedap didengar.
Paras muka Soh hun kuijiu (tangan setan perenggut nyawa) Chin Tay seng berubah hebat, namun ia masih mencoba untuk menahan diri, katanya cepat-cepat.
"Nona Liu, kesemuanya ini hanya salah paham."
"Hmm "
Tukas Hian ih lo sat kembali.
"didepan maupun dibelakang bukit Pit-bu san hampir dipenuhi oleh anggota pedang berpita hitam yang melakukan perondaan, andaikata Sam sumoay kami sudah mengundurkan diri, masa kau tidak tahu?"
Ucapan tersebut segera membungkam Chin Tay seng dalam seribu bahasa...
Apa yang diucapkan gadis ini memang benar, wilayah seluas sepuluh li dari bukit Pit bu san ini ini sudah berada dibawah pengawasan yang ketat dari anak buahnya, para jago pedang berpita hitam, padahal selama ini dia tak pernah mendengar laporan yang mengatakan ada orang telah mengundurkan diri dari pintu kematian.
Namun seluruh lambung bukit dan lorong rahasia sudah diperiksa, bayangan tubuh Lok Khi tak pernah ditemukan, hal inipun merupakan suatu kenyataan-Dengan kening berkerut Ban kiam hweecu segera berkata.
"Nona Liu, harap kau jangan marah, apa yang diucapkan Chin congkoan merupakan kenyataan bahkan siaute sendiripun sedang merasa keheranan dan tidak habis mengerti . ."
Belum selesai perkataan itu diucapkan mendadak terdengar seseorang menyambung.
"Apanya yang aneh? Berhubung lohu merasa masih punya banyak waktu luang maka aku telah mengajaknya berpesiar diseluruh lorong, siapa suruh anak buahmu cuma gentong-gentong nasi yang bermata buta semua..."
Suara itu serak dan tua, jelas berasal dari seseorang yang sudah lanjut usia.
Setiap orang dapat mendengar dengan jelas ternyata suara itu berasal dari mulut patung dewa tanah yang duduk diatas meja altar tersebut.
Ban kiam hwee segera menjadi tertegun.
Congkoan pasukan pita hijau dan congkoan pasukan pita hitam juga turut tertegun.
Patung dewa tanah itu sebetulnya bukan dewa tanah yang sesungguhnya melainkan merupakan patung dari Kiam cu angkatan pertama dari perkumpulan Ban kiam hwee.
Patung yang terbuat dari besi baja tentu saja tak dapat berbicara, kalau begitu berarti dalam patung itu tersembunyi seorang jagoan yang berilmu tinggi.
Tapi suara itu jelas kedengaran kalau berasal dari patung tersebut?
Mendadak Ban kiam hweecu teringat kembali akan dengusan dingin yang amat berat sewaktu Wi Tiong hong dan Su Siau hui memasuki ruangan rahasia tadi.
Waktu itu, dia pernah memerintahkan kepada ke empat dayang kepercayaannya untuk pemeriksaan, alhasil sesosok bayangan manusia pun tidak nampak.
Ditinjau dari sini dapat diketahui bahwa ada seorang jago lihay yang berilmu tinggi sedang bersembunyi disekitar tempat itu.
Tergerak hatinya setelah berpikir sampai disini, dia segera menjura sembari berseru.
"Siapakah kau? Mengapa tidak segera munculkan diri untuk bertemu dengan kami ?"
Suara yang parau dan tua itu tertawa tergelak.
"Tahukah kau kini lohu berada di mana ? Haaah haaah. haaah, tak seorangpun diantara kalian yang tahu bukan? Hai bocah perempuan ayolah kau turut berbicara beberapa patah kata."
Tak salah lagi, suara itu memang benar-benar berasal dari mulut patung area tersebut.
Dari balik patung area tadi segera berkumandang suara tertawa cekikikan yang merdu disusul kemudian suara seorang gadis berkata.
"Kam suko, ji-suci, kalian tidak dapat melihat aku bukan? Tapi aku dapat menyaksikan kalian berdua, oh. sungguh menggembirakan."
Jelas suara itu berasal dari Lok Khi, dan tidak mungkin bisa salah lagi.
Wi Tiong-hong pun merasa berlega hati sesudah mendengar suara dari Lok Khi, Sebaliknya senyuman cerah segera menghiasi wajah Kam Liu-cu dan Hun-ih-lo-sat.
Berbeda sekali dengan Ban kiam hweecu dan kedua orang congkoannya, paras muka mereka berubah hebat dan tampak terperanjat sekali.
"Hal ini membuktikan kalau disitu masih terdapat alat rahasia lain, tapi alat rahasia mana sama sekali tidak diketahui oleh setiap anggota Ban-kiam-hwee."
Kedengaran suara kakek itu berkata lagi.
"Hai bocah perempuan sekarang kita sudah boleh keluar."
"Tunggu dulu, aku ingin menonton lagi sebentar"
Seru Lok Khi.
"Aaaai, dilihat lebih lama pun toh sama saja, bila kau tak mau pergi, lohu akan pergi dulu."
Suasana dalam ruangan ituamat hening, yang kedengaran hanya suara tanya jawab dari dalam patung itu saja.
Menanti mereka telah selesai berbicara, terdengarlah suara langkah manusia yang berkumandang dari dalam lorong rahasia.
Sementara itu kain kuning didepan mulut gua sudah diturunkan sehingga semua orang hanya mendengar suaranya tapi tidak dapat melihat apa yang terjadi didalam.
Suara langkah kaki manusia itu segera berhenti didepan pintu, kemudian terdengar kakek itu membentak lagi.
"Hei budak. mengapa tidak menyingkapkan kain tirai buat lohu ?"
Padahal pekerjaan itu amat sederhana dan bisa dikerjakan sendiri, namun orang itu tetap jual lagak.
Terpaksa dua orang perempuan berbaju merah itu menyingkapkan kain tirai berwarna kuning itu kearah samping.
Serentak semua orang mengalihkan sorot matanya kearah dalam gua rahasia tersebut.
Tampak seorang kakek cebol berbadan gemuk yang memakai jubah lebar, dengan senyuman dikulum pelan-pelan keluar, dibelakangnya mengikuti Lok Khi.
Begitu bertemu dengan kakek cebol yang gemuk itu, Wi Tiong hong segera manggut-manggut, pikirnya.
"Oooh ... rupanya lagi lagi dia."
Sementara itu Ban kiam hweecu sudah bangkit berdiri dan menyapa sambil menjura.
"Saudara adalah jagoan dari mana ? Maaf bila aku menyambut kurang hormat ..."
Kakek gendut itu tertawa terkekeh-kekeh.
"Heeh ... heehh .. heeh ... bila kau tidak kenal dengan lohu, lebih baik pulang dan tanyakan dahulu kepada orang tuamu."
Congkoan pedang pita hijau Buyung Siu segera berkerut kening, kemudian serunya sambil tertawa nyaring.
"Saudara, besar amat bacotmu."
"Masa begini pun dianggap besar bacot?"
Sementara itu Lok Khi sudah mengerdipkan matanya berulang kali sambil berseru.
"Empek tua, bukankah kita hendak memancing ikan ?"
Kakek gemuk pendek itu manggut-manggut.
"Benar, kita sudah berjanji akan memancing ikan, tentu saja kita harus memancing sekarang."
Semua orang yang mendengar menjadi keheranan, memancing ikan?
ikan apa yang hendak mereka pancing disini ?
Begitu selesai berkata, kakek gemus pendek itu segera mengeluarkan sebuah bambu tipis yang panjangnya tujuh delapan depa, lalu menyambungkan kembali seruas demi seruas, lalu mengeluarkan juga segumpal tali senar dan dipasang diujung bambu tadi.
Berbicara sejujurnya, semua orang yang hadir didalam ruangan sekarang, termasuk orang orang dari-Siao-lim-pay, Bu-tong pay, Lam-hay pay, Thian sat bun, Tok-see-sia maupun Ban-kiam-hwee ternyata tak seorang pun yang mengetahui asal-usul dari kakek gemuk pendek ini.
Akan tetapi semua orang yang hadir disitu merupakan jago-jago persilatan yang berpengalaman, tentu saja semua orang tahu kalau alat pancing yang sedang dipersiapkan kakek gemuk pendek itu besar kemungkinan adalah senjata andalannya.
Dengan suara dingin, congkoan pasukan berpita hijau Buyung Siu berseru.
"Hmm, aku lihat besar amat kegembiraan saudara."
"Oooo, rupanya kau sudah tahu kalau lohu mempunyai kegembiraan yang menyenangkan?"
Seru si kakek gemuk pendek itu sambil tertawa. Buyung siu bukan manusia sembarang, sejak tadi dia sudah tahu kalau orang ini datang dengan maksud tak baik, serunya kemudian sambil tertawa dingin.
"Bila kau ingin memancing ikan seharusnya pergi memancing diluaran sana."
"Tidak!! hari ini lohu mempunyai kegembiraan yang menyenangkan kuingin memancing akan disini saja."
"Di depan mata orang ahli lebih baik.."
Belum habis Buyung Siu berkata, kakek gemuk pendek itu sudah menukas, serunya sambil menggeleng dan tertawa cekikikan.
"Tiada orang ahli atau orang bodoh. hihihi... kau kira lohu hendak memancing siapa? Lohu dan bocah perempuan ini telah berunding, orang pertama yang harus aku pancing adalah Buyung Siu, kaukah orangnya?"
"Ya akulah orangnya.,."
Jawab Buyung Sia sambil tertawa. Kakek gemuk pendek itu segera memanggut.
"Bagus sekali"
Serunya.
Begitu selesai berkata, mendadak pancingan ditangan kanannya diayunkan kedepan, tali senar diujung pancingan dengan membawa sebuah mata kail segera menyambar ke depan dengan mengancam Buyung Siu.
Gerakannya sama sekali tak berbeda dengan gerakan yang biasa dilakukan para nelayan, bahkan sedikitpun tidak nampak sesuatu keistimewaan apa-apa pun, tapi keanehannya justeru berlangsung pada saat itu juga .
-oooOooo-Bab-44 BUYUNG SIU yang berjulukan Pau kiam suseng (sastrawan pemeluk pedang) bisa diangkat sebagai congkoan pasukan jago pedang berpita hijau dalam Ban kiam hwee, sudah barang tentu dia memiliki ilmu silat yang luar blisa sekali, tapi kenyataannya dia tak mampu menghindarkan diri dari sambaran pancingan tersebut.
Entah apa yang terjadi, tahu-tahu saja arah baju bagian belakangnya sudah kena terpancing dan tubuhnya pun tergantung ditengah angkasa.
Sambil tertawa kakek gemuk pendek itu segera berpaling dan ujarnya sambil tertawa.
"Nah. apa yang lohu katakan tadi? bocah keparat ini sudah sepantasnya dilemparkan jauh-jauh dari tempat ini."
Dia segera mengayunkan pancingannya kedepan dan "Weees"
Tubuh Buyung Siu segera terlempar keluar dari ruangan itu tanpa mampu melakukan perlawanan.
Peristiwa ini kontan saja membuat Lok Khi sendiripun merasa terperanjat, dengan mata kepala sendiri dia pernah menyaksikan ilmu silat yang dimiliki Buyung Siu meski dikolong langit tak dapat dibilang tanpa tandingannya, paling tidak orang tak akan mampu membuatnya keok secepat ini.
Tapi kenyataan sekarang, dia kena dipancing orang dalam satu gebrakan saja, bahkan kena terlempar keluar tanpa berkutik barang sedikitpun juga , ini baru aneh dan hebat namanya.
Kakek gemuk pendek itu sama sekali tidak berpaling atau memperhatikan korbannya, lalu dengan langkah lebar dia berjalan kemuka, lalu duduk ditempat duduk Buyung Siu.
Pau kiam suseng Buyung Siu memang tak malu disebut sebagai seorang jagoan lihay, dia pun tak malu menjabat congkoan jago pedang berpita hijau dari Ban kiam hwee.
Sekalipun dia kena dipancing orang dan dilemparkan sejauh tiga kaki dari posisinya semula, namun belum lagi tubuhnya mencapai permukaan tanah, sepasang tangannya segera mendayung ketengah udara, dan tubuhnya mendarat diatas permukaan tanah dengan "empuk"
"cri ng.."
Pedangnya segera diloloskan dari sarung, kemudian sambil menjejakkan kakinya keatas tanah, di ringi suara gelak tertawa yang amat nyaring, tubuhnya bagaikan serentetan Cahaya pelangi berwarna hijau seCepat kilat menyambar batok kepala kakek gemuk pendek itu.
Kakek gemuk pendek itu mengulapkan tangannya, lalu membentak dengan suara nyaring.
"Lohu sudah duduk. disini sudah tidak terdapat tempat berpijak buat kau sibocah Cilik lagi, ayo Cepat mundur."
Kalau dibicarakan kembali, sesungguhnya hal ini sangat aneh, serangan pedang yang dilancarkan Buyung Siu itu sesungguhnya lihay sekali, namun kakek gemuk pendek itu cukup mengebaskan tangannya, dimana cahaya pedang berkilauan, lalu seakan-akan membentur diatas selapis dinding hawa tak berwujud, badannya mencelat sejauh satu kaki lebih dan tak mampu untuk menyerbu kedepan lagi.
Peristiwa ini dengan capat menimbulkan perasaan terkesiap bagi semua orang yang hadir didalam arena.
"oooh, rupanya kakek ini sudah berhasil mempelajari ilmu hawa Khi-kang tanpa wujud."
Gumam mereka tanpa terasa. Kakek gemuk pendek itu segera berpaling ke arah Lok Khi dan bertanya sambil tertawa.
"sekarang sudah boleh bukan?"
OOOOooOOOO LOK KHI segera mengangkat jari tangannya dan memperlihatkan jari kelingkingnya yang kecil, kemudian sambil menggoyang goyangkan tangannya itu dia berseru.
"Empek tua. masih ada seekor ikan kecil?"
"Ehmm, benar, benar, memang masih ada seekor ikan kecil lagi Kini lohu sudah duduk, kau sebagai murid lohu sudah sepantasnya untuk memperoleh tempat duduk juga , kalau begitu lohu akan memancing ikan kecil, agar kau pun mendapat tempat duduk."
Semua orang tidak tahu siapa yang dimaksud sebagai ikan kecil, tapi semua orang tahu bahwa kakek gemuk pendek itu sudah bersiap-siap hendak turun tangan lagi.
"Hei, siapa yang menjadi muridmu ?"
Seru Lok Khi kemudian dengan perasaan gelisah. Kakek gemuk pendek itu tertawa tergelak.
"Haaahh ... haaahh... haaah ..sekarang memang belum, tapi setelah lohu pancing ikan kecil itu, kau adalah muridku."
Kemudian sambil memandang kearah Chin Toa seng, congkoan dari pasukan jago pedang berpita hitam, serunya lagi.
"Hei, yang kumaksudkan sebagai ikan kecil tadi adalah kau si bocah keparat, bersediakah kau masuk kedalam kailku?"
Padahal Toh hun sat jiu Chin Toa seng sudah berusia lima puluh tahun, tapi nyatanya masih disebut bocah keparat, bahkan dianggap pula sebagai ikan kecil yang hendak di pancing, jangankan Chin congkoan adalah seorang kenamaan, sekalipun manusia yang tak bernamapun akan naik pitam oleh cemoohan tersebut.
Dengan marahnya Chin Toa seng mendehem keras, kemudian sambil menggenggam huncweenya kencang-kencang dia melompat bangun.
Tampaknya dia seperti ikan yang mau dipancing, baru saja dia melompat bangun, tubuhnya seakan-akan kena diseret maju saja.
sebelum semua orang sempat melihat jelas apa gerangan yang telah terjadi, tahu-tahu tubuhnya sudah kena terpancing sshingga terangkat ke tengah udara.
Mungkin semua kejadian itu berlangsung terlalu cepat, menanti tubuh Soh bun kuijiu Chin Toa seng sudah terangkat sampai ditengah udara dia baru meraung gusar, sepasang kakinya berjumpalitan dan tubuhnya bersalto beberapa kali, dia bersalto menghadap keatas, sementara itu, huncwee ditangan kanannya dengan secepat kilat mengetuk ke atas tali senar yang lembut, kecil tapi berkilat itu.
"Daaang ...."
Tali senar yang tertarik hingga kencang itu hanya memantul pelan kemudian bergetar keras, nyatanya sama sekali tidak patah oleh ketukan tersebut.
Berhubung senarnya bergetar keras, otomatis tubuh Chin Toa seng yang berada ditengah udara pun turut bergetar keras, keadannya jadi mirip sekali dengan seekor ikan kecil yang kena dipancing lalu berkelejitan tak hentinya.
Sambil tersenyum kakek gemuk pendek itu segera berkata.
"Ikan kecil, sudah cukup, sudah cukup, sekarang kau sudah boleh turun kembali ..."
Berbicara sampai disitu, dia lantas berpaling kearah Lok Khi sembari berkata.
"Bocah perempuan, duduklah sekarang di kursinya Hmmm, kalau dihitung-hitung kembali, sesungguhnya kami guru dan murid merasa sangat dirugikan bila harus duduk dibangku seperti ini."
Pancingannya yang terangkat keatas itu segera digetarkan keras, begitu kaitan yang mengail baju arah belakang Chin Toa seng terlepas, tubuh Chin Toa seng pun terjatuh dari tengah udara....
Lok Khi menyahut, sambil tersenyum dia segera membuat muka setan terhadap sukonya Kam Liu cu dan sucinya Liu Leng po, kemudian sambil berpaling, dia mencibirkan bibirnya kearah Su Siau hui.
setelah itu baru berjalan ke tempat duduk Chin Toa seng dan duduk di sana.
Congkoan pedang yang berpita hitam Chin-Toa seng yang dipermainkan orang dihadapan orang banyak.
segera merasa malu sekali, sehingga selembar wajahnya berubah menjadi merah padam seperti hati babi, sepasang matanya merah membara, huncweenya menciptakan selapis bayangan hitam yang segera mengurung badan kakek gemuk pendek itu.
Kakek gemuk pendek itu masih tetap duduk dikursi sebelah kiri tatkala dia memancing Chin Toa seng sebagai seekor ikan kecil tadi segera beruntun Pau kiam suseng Buyung Siu melancarkan serangan pedang tiada hentinya.
Berhubung semua orang sedang memperhatikan Chin Toa seng, maka tiada orang yang menaruh perhatian terhadap dirinya.
Selembar wajah Buyung siu berubah menjadi merah padam, dalam berapa saat yang teramat singkat ini, secara beruntun dia telah melancarkan belasan jurus serangan berantai.
Tapi setiap kali dia melancarkan serangan, ancaman itu selalu berhasil dipunahkan oleh ayunan tangan kiri kakek gemuk pendek itu yang menciptakan selapis hawa khikang tak berwujud, sehingga sama sekali tak mampu untuk mendesak maju kedepan.
Tentu saja serangan berantai yang dilancarkan Chin Toa seng juga kena terhadang oleh kakek gemuk pendek itu disebelah kanannya, sehingga tiada yang berhasil ancaman yang menyentuh tubuhnya.
Kedua orang congkoan dari perkumpulanBan-kiam-hwee ini, sesungguhnya merupakan jago lihay kelas satu didalam dunia persilatan, tapi sekarang serangan gabungan dari mereka berdua yang datang dari kiri dan kanan itu tak pernah berhasil mendekati lawannya lebih dari lima depa, hal mana dengan cepat membuat para jago yang mengikuti jalannya pertarungan menjadi amat terperanjat.
Kakek gemuk pendek itu masih tetap duduk tak berkutik diatas kursi, meskipun senyuman masih menghiasi ujung bibirnya, tapi dibawah gencetan dan kerubutan dua orang jago lihay itu, sesungguhnya tidak enteng baginya untuk menghadapi.
Sementara tangan kirinya dikebaskan ke depan untuk memaksa mundur Buyung siu yang menyerang dari sebelah kiri, Chin Toa seng yang berada disebelah kanan segera manfaatkan kesempatan itu untuk maju melancarkan sergapan.
Menanti dia mengangkat kembali tangan kanannya untuk mendesak mundur Chin Toa-seng maka Buyung Siu yang berada disebelah kiripun segera memanfaatkan kesempatan itu untuk melancarkan desakan hebat ...
Tampaknya kedua orang jago yang berada dikiri itu sudah dipengaruhi oleh hawa napsu untuk membunuh, mereka sama-sama nekad untuk beradu jiwa.
Tanpa mengucapkan sepatah katapun, kedua orang itu memutar pedang dan senjata huncweenya sedemikian rupa sehingga terasa desingan angin tajam menderu-deru, mereka maju dan mundur secara teratur, sementara masing-masing pihak melancarkan serangan maut yang dahsyat.
Kalau dibicarakan sebenarnya amat panjang padahal sejak Buyung Siu kena dilempar keluar dan Chin Toa-seng kena terpancing, semuanya hanya berlangsung dalam seperminum teh.
Mendadak kakek gemuk pendek itu tertawa terbahak-bahak.
sambil bangkit berdiri teriaknya keras-keras.
"Kalian berdua apa apaan sih ? jika tidak segera menghentikan serangan kalian sehingga benar2 membangkitkan amarah lohu, jangan harap kalian bisa merenggut keuntungan dengan begitu saja."
Apa yang dikatakan memang benar dan setiap jago persilatan dapat melihat kalau kakek gemuk pendek itu memang belum turun tangan secara bersungguh-sungguh, coba kalau tidak begitu, mungkin Buyung Siu dan Chin Toa-seng sudah keok semenjak tadi.
Dalam pada itu.
keempat orang gadis berpakaian ala keraton yang berada dibelakang Ban kiam hweecu sudah bersiap siaga penuh, tangan mereka masing-masing sudah menetap diatas gagang pedang masing-masing sudah bersiap untuk melepaskan serangan.
Ban kian hweecu sendiri masih tetap duduk dikursi utama dengan sikap yang anggun, sejak awal sampai sekarang dia tidak membentak untuk menghalangi jalannya pertarungan juga tidak mengungkapkan perkataan apapun selembar wajahnya berwarna kuning emas dan siapa pun menduga bagaimanakah perubahan mimik wajahnya.
Tapi Sepasang matanya yang tajam dan jeli masih saja mengawasi wajah si kakek gemuk pendek itu tanpa berkedip.
dia seakan-akan sedang memikirkan satu hal.
Bentakan kakek gemuk pendek itu sama sekali tidak ditanggapi oleh Buyung Siu maupun Chin Toa seng, kedua orang jagoan lihay ini tak seorang pun yang bersedia menghentikan serangannya dengan begitu saja..Untunglah disaat yang kritis, Ban kiam hweecu telah buka suara, terdengar dia membentak keras.
"Harap congkoan berdua segera menghentikan serangan!"
Pau kiam suseng Buyung Siu dan Soh-hun sat jiu Chin Toa seng tak berani membantah bentakan dari Kiam cu nya, serentak mereka menarik kembali serangannya dan mundur.
Kakek gemuk pendek itu pun mengangkat bahunya dan berjalan menuju ke tempat duduknya lagi dengan langkah lebar.
Mendadak Ban kiam hweecu bangkit berdiri dari tempat duduknya, lalu menjura dalam-dalam terhadap kakek gemuk pendek itu, kemudian katanya dengan hormat.
"Rupanya locianpwe yang telah berkunjung kemari, maafkanlah ketidaktahuan boanpwe."
Kakek gemuk pendek itu masih tetap duduk tak berkutik ditempat semula, sambil memicingkan mata dia berkata sambil tertawa.
"Bocah Cilik, apakah kau sudah teringat siapa kah lohu?"
Mungkin di dunia ini tiada orang lain yang berani menyebutkan Ban-kiam hweecu sebagai bocah cilik lagi.
Tapi kakek itu menganggap Buyung siu dan Chin Toa seng sebagai seorang bocah keparat maka kalaupun dia menyebutkan kiam hweecu sebagai bocah, sesungguhnya hal ini bukan sesuatu yang terlalu aneh.
Benar juga , Ban kiam hweecu sama sekali tak marah atau tersinggung oleh sebutan itu, malah sahutnya dengan hormat.
"Walaupun boanpwee sudah teringat akan seorang cianpwe, hanya tidak aku ketahui benar atau tidak?"
Kakek gemuk pendek itu manggut-manggut sambil mengelusjenggot kambingnya dia menyahut sambil tertawa.
"Tak ada salahnya untuk kau utarakan, haa aah, haaah, haaah, mungkin tiada seorang manusia pun di dunia ini yang mengetahui siapakah lohu ?"
Ucapan ini memang cepat sekali.
Buktinya Sim-cu taysu dari Siau-limpay dan Thian Khi-cu dari Bu tong pay sama sekali tidak kenal dengan orang ini, bahkan Hek sat sang Seh Thian yu yang merupakan su tok thian ong (empat raja langit beracun) serta Kam Liu cu yang berpengetahuan sangat luas pun tak ada yang mengetahui asal usul orang ini.
Ketika congkoan pedang berpita hijau Bu yung Siu dan congkoan pedang berpita hitam Chin Toa-seng menyaksikan Kiam cu mereka bersikap begitu hormat terhadap tamunya, tanpa terasa mereka saling berpandangan sekejap dengan cepat, sementara hati kecilnya merasa amat terkejut bercampur keheranan.
Sementara itu Ban kiam bweecu sudah membungkukkan badan memberi hormat sembari berkata.
"Apabila dugaan boanpwee tidak salah, lo-cianpwee adalah salah seorang dari delapan toa-kong bong dari ruang Thian cu tong tempo dulu."
Walaupun orang luar tidak banyak yang mengetahui tentang delapan toa kong hong dari ruang Thian cu tong, tapi bagi pendengar jago-jago Ban kiam hwee, hal ini segera membuat hati mereka bergetar keras sekali karena terperanjat.
Delapan toa kong bong dari ruang Thian cu tong tak lain adalah delapan orang pelindung hukum pada masa jayanya Ban kiam hwee tempo dulu.
Seperti misalnya It teng taysu, toa supek dari ketua Siau limpay sekarang dan ketua dan pendiri dari perkumpulan Thi pit pang, yakni Thi pit teng kan kun Tay Pek li, semuanya merupakan salah satu dari delapan pelindung hukum perkumpulan Ban kiam hwee tempo dulu, berbicara soal umur, mungkin usianya berada diatas seratus tahun.
Mendadak kakek gemuk pendek itu tertawa terbahak-bahak.
"Haaaaaa... .haaaaa ... haaaa.... bocah cilik, anggap saja ketajaman matamu memang mengagumkan-Haah, haah, haah... Padahal seandainya lohu tidak memancing dua ekor ikan kecil sehingga alat pancingan Thian san thi tiok klu ciat tiau kan atau pancingan sembilan raut bambu besi dari Thian-san milik lohu berhasil kau kenali, siapa yang akan menduga kalau Thian ti tiau siu atau kakek pengail dari telaga langit masih hidup di dunia ini?"
Walaupun dia sendiri telah menyebutkan nama julukannya sebagai kakek pengail dari telaga langit, namun tiap jago yang hadir disitu belum pernah mendengar nama tersebut.
Tapi semua orang dapat menduga kalau kakek itu sudah pasti ada hubungannya dengan pihak Thian-san-pay.
bahkan merupakan seorang angkatan tua dari Ban-kiam-hwee.
Thian-ti-siau-siu mengalihkan sorot matanya kearah Buyung Siu dan Chin Toa seng, kemudian katanya sambil tertawa.
"Bagaimana ? Walaupun lohu guru dan murid telah merebut tempat duduk kalian berdua, tentunya hal ini tidak terhitung memalukan bukan? Padahal delapan puluh tahUn berselang, ketika lohu masih duduk dalam kursi kebesaran dengan segala kemegahannya, kalian masih belum keluar dari perut ibumu."
Setelah mengetahui siapakah lawan, tentu saja Buyung Siau dan Chin Toa seng tak berani bersikap kurang ajar, buru-buru mereka membungkukkan badan memberi hormat seraya berseru.
"Hamba benar-benar pantas mati, kami tak tahu kalau lo-huhoat telah datang, harap lo huhoat sudi memaafkan."
Thian-ti-tiau-siu segera tertawa ter-kekeh2.
"Heeeehhh... heehhh, , . heeeh... disini tiada urusanmu lagi, lohu hanya bergurau saja."
Kemudian sambil berpaling kembali ke arah Ban-kiam hweecu, katanya lebih jauh.
"Mari kita kembali kepokok pembicaraan semula, kau si bocah telah mengundang begitu banyak orang untuk berkumpul disini, bila ada urusan silahkan saja diutarakan, lohu hanya akan duduk sebentar saja kemudian akan segera pergi."
Dengan amat hormatnya Ban kian hweecu mengiakan, dengan masih tetap berdiri, katanya kemudian.
"Dalam pertemuan hari ini, boanpwe mempunyai satu urusan penting yang hendak di umumkan kepada para hadirin locianpwe adalah seorang tokoh yang berkedudukan paling tinggi, kehadiran cianpwe tampaknya memang cocok sekali, oleh sebab itu menurut pendapat boanpwe biar locianpwee saja yang memimpin pertemuan ini agar terasa lebih serius dan berbobot."
Tampaknya Ban-kiam hweecu benar benar mempunyai suatu masalah penting yang hendak diumumkan kepada semua orang. Dengan cepat Thian ti-tiau-siu menggoyangkan tangannya berulang kali sambil berseru.
"Tidak bisa kecuali memancing ikan, lohu sudah tidak mencampuri urusan dalam dunia persilatan lagi, kini untuk memancing ikan saja rasanya sudah malas, maka aku ingin mencari orang untuk mengirim pergi pancinganku ini, entah ada urusan apa pun boleh kau utarakan saja, anggap saja lohu tidak hadir ditempat ini."
Buru-buru Ban-kiam hweecu membungkukkan badannya memberi hormat, katanya kemudian,"Kalau toh locianpwe sudah berpesan demikian, boanpwe akan turut perintah saja."
Berbicara sampai disitu, dia lantas berpaling seraya berkata.
"Bawa kemari benda tersebut."
Seorang gadis berdandan keraton yang berada dibelakangnya segera maju sambil meletakkan sebuah kotak diatas sebuah meja kecil didepan Ban kiam hweecu.
Para jago tidak mengetahui apa benda yang berada dalam kotak itu, tanpa terasa semua orang mengalihkan sorot matanya ke atas benda tersebut.
Ban kiam hweecu mendongakkan kepalanya dan menjura kepada para jago, lalu ujarnya.
"Para hadirin semua, aku khusus datang ke Pit bun san ini karena menurut berita yang tersiar dalam dunia persilatan, Lou bun si sudah terjatuh ke tangan perkumpulan kami, itulah sebabnya aku sengaja kesini.. ."
Belum habis perkataan tersebut diutarakan, Lok Khi sudah melompat bangun sambil menukas.
"Perkataanmu itu tidak benar, kejadian tersebut merupakan kenyataan, bukan berita sensasi belaka, sudah jelas Lou bun si itu berhasil kalian rampas dari tangan Wi toako dengan menyaru sebagai Ting Ci kang."
"Harao Lok-lihiap mendengarkan dahulu penjelasanku hingga selesai, kemudian baru berbicara lebih jauh."
Setelah berhenti sejenak, dia pun menyambung lebih jauh.
"Aku tak ingin membohong, Lou bun-si memang merupakan benda yang bertekad hendak kami peroleh sampai dapat, dan kali ini, gara gara urusan Lou bun si, mungkin partai kami telah membuat kesalahan terhadap Wi Tayhiap. untuk itu aku mohon agar Wi Tayhiap sudi memaafkan ..."
Lok Khi melotot sekejap kearah Wi Tiong hong dengan gemas, kemudian sambil mencibirnya dia berseru seraya mendengus.
"Hmm enak benar kalau bicara, hampir saja kalian membuat jiwanya melayang, apa gunanya kalau cuma meminta maaf belaka?"
Ban kiam hwecu sama sekali tak memperdulikan dia, kembali ujarnya lebih jauh.
"Bukan hanya satu dua hari saja perkumpulan kami mencari jejak Lou bun si tersebut, karenanya kemunculan Lou bun si dalam dunia persilatan tentu saja harus dibuntuti secara ketat dan Ching congkoan harus melakukan penyelidikan dengan sepenuh tenaga. Tentang bagaimana cara Chin congkoan setelah sampai disini hari ini, itulah sebabnya pula aku minta maaf kepada Wi tay hiap pada saat ini."
Berhubung tempat duduk buat congkoan pedang berpita hijau Buyung Siu dan congkoan pedang berpita hitam Chin Toa seng telah ditempati oleh Thian ti tiau siu dan Lok Khi, maka kedua orang itu mengundurkan diri dari sana dan berdiri dikedua belah sisi Ban kiam hweecu.
Ketika Chin Toa seng mendengar hweecunya berulang kali menyinggung tentang jasanya, dia nampak gembira, berseri dan kelihatan merasa bangga sekali.
Terdengar Ban kiam hweecu berkata lebih lanjut.
"Tiga hari berselang, Chin congkoan telah mengirim orang yang secara diam-diam menghantar Lou bun-si kembali ke markas kami, ketika itu sekeliling Kiam bun san kami segera ditemukan banyak sekali jago lihay yang secara diam-diam melakukan pengintaian. Berita itu nampaknya begitu cepat tersiar dalam dunia persilatan diantaranya sudah pasti ada pihak-pihak musuh perkumpulan kami yang sengaja menyebar luaskan berita itu kemana-mana, itulah sebabnya aku mengatakan kalau kalian datang karena mendengar berita yang tersiar dalam dunia persilatan yang kumaksudkan sebagai berita angin tidak lain adalah hal ini. Setelah aku menerima Lou bun-si yang di kirim Chin congkoan tersebut, oleh karena tak isgin mengusik ketenangan ayahku, maka sengaja aku datang kemari dan bermaksud untuk mengadakan pembicaraan secara terbuka dengan para umat persilatan."
Rupanya Ban-kiam bweecu masih mempunyai ayah, bila didengar dari ucapannya itu, jelas ayahnya sudah mengasingkan diri dan sama sekali tak pernah mencampuri urusan keduniawian lagi.
Kini di tempat tersebut hanya hadir congkoan pedang berpita hijau dan congkoan berpita hitam, itu berarti congkoan pedang berpita merah dan congkoan pedang berpita putih tidak ikut hadir, tentu saja mereka ditugaskan untuk menjaga Kiam-bun-san.
"Bu-Liang-siu-hud."
Thian Khi cu dari Bu-tong pay segera berseru sambil bangkit berdiri.
"Hwecu, bolehkah pinto menimbrung sebentar untuk mengungkapkan maksud kedatangan pinto ?"
Berkilat sepasang mata Ban kiam hwee cu, kemudian manggut-manggut.
"Katakan saja totiang "
Katanya. Bab-45
"Terima kasih hweecu, pinto merasa perlu untuk menjelaskan bahwa partai kami sama sekali tidak berminat untuk turut mengincar Lou bun si tersebut, kemudian menurut apa yang kuketahui, Lou bun si pernah muncul diwilayah Kanglam dan pada mulanya diperoleh Siau Beng-san, seorang anggota perguruan pinto, Siau Beng-san cukup mengetahui kalau benda ini sudah lama dianggap sebagai benda mestika bagi umat persilatan dan akan diperebutkan bila ada yang tahu, oleh sebab itu dia tak berani bertindak gegabah dan bermaksud untuk mengirimnya kembali keperguruan. Siapa sangka delapan belas orang rombongan ditemukan di kuil Sik jin tian, padahal partai kami sama sekali tidak berminat untuk mendapatkan Lou bun si tersebut, namun setelah ada anggota partai kami menjadi korban ataS periStiwa tersebut, mau tak mau partai kami pun harus mencampurkan diri dalam masalah ini, sekarang Pinto sudah datang kemari atas undangan Hwee-cu. pinto harap hweecu sudi memberi petunjuk dan penjelasan kepada kami."
Dari ucapan mana, bisa didengar kalau pihak Bu tong pay sudah secara resmi menegur dan menuduh Ban kiam hwee. Ban kiam hweecu segera berpaling sembari berkata.
"Chin congkoan, coba kau memberi penjelasan kepada Thian khi totiang lantas kejadian tersebut, dari pada kedua belah pihak harus saling bentrok sendiri."
Congkoan pedang berpita hitam Chin Toa seng membungkukkan badan menerima perintah, setelah menjura kepada Thian Khi cu, katanya kemudian.
"siaute tak berani mengelabuhi waktu itu orang pertama yang berhasil mendapatkan berita tersebut adalah pelindung hukum dari Thi pit pang yakni Thi ji tong long atau belalang bercakar baja Lu Yau cun serta To ciok siu atau makhluk bertanduk tunggal Ku Tiang siu, kedua orang itu tak lain adalah anggota dan jago pedang berpita hitam kami. Sewaktu kami mendapat laporan yang mengatakan bahwa Lou bun si sudah terjatuh di tangan Siau Beng san dari Ban lipiaukiok dan kini Siau Beng sau telah mengerahkan jago-jago lihay dari perusahaan Ban li piaukioknya untuk mengirim benda itu ke bukit Bu tong, siaute pun menitahkan kepada kedua orang ini untuk melakukan pengintaian. Siapa tahu ketika Siau Beng-san sekalian sedang mencapai kuil Sikjin tian, tiba-tiba saja mereka roboh dan tewas, Thi jiau-tong long Lu Yau cun yang berjarak paling dekat dengan mereka pun pada saat yang bersamaan ditemukan tewas, apa yang menjadi penyebab dari kematian mereka sama sekali tidak diketahui, tapi siaute menegaskan bahwa perbuatan ini bukan hasil karya dari perkumpulan kami."
Ketika Wi Tiong hong mendengar apa yang dikatakan orang itu persis sama dengan apa yang dia dengar, dengan cepat ia bangkit sembari berkata.
"Apa yang diucapkan Chin congkoan memang benar, apa yang boanpwe dengarpun begitu pula, sesungguhnya orang-orang dari Ban-li-piau-kiok telah mati keracunan karena menginjak racun tanpa wujud yang sengaja disebarkan orang-orang Tok-see sia diatas permukaan tanah seputar tempat kejadian."
Mencorong sinar tajam sepasang mata Sah Thian yu sesudah mendengar perkataan itu, dia segera mendongakkan kepalanya dan tertawa terbahak-bahak.
"Haaaahh ...haaahh ...haaahh ...untuk merebut Lou bun si dari tangan orang lain, kebanyakan jago persilatan telah mempergunakan pelbagai macam cara yang keji untuk mendapatkannya, kami orang orang dari Tok see sia juga tidak takut menyalahi perguruan mana pun, tentu saja kami pun tak akan menyangkal atas perbuatan yang telah kami lakukan."
"Benar, orang-orang Ban li piaukiok memang mati akibat keracunan, tapi lou bun si yang berhasil kami peroleh, akhirnya terjatuh kembali ke tangan orang orang Bankiam-hwee."
Su tok thian ong memang selama ini termashur karena racunnya yang amat keji, walaupun mereka sudah membunuh orang-orang Bu tong pay, tentu saja peristiwa tersebut sama sekali tidak dipikirkan didalam hati mereka.
Itulah sebabnya dia lantas mengaku, sebab seperti apa yang dia katakan, orang orang Tok see sia memang tak pernah takut untuk menyalahi perguruan mana pun.
Thian khi cu sama sekali tidak menyangka kalau Sah Thian yu akan mengakui dengan berterus terang, bahkan kalau didengar dari nada suaranya dia seperti sama sekali tak memandang sebelah matapun terhadap pihak Bu tong pay, tanpa terasa wajahnya jadi tertegun.
Tapi selang berapa saat, dia pun menjura seraya berkata kembali.
"Siancay, siancay, kalau toh toheng sudah mengakui atas tanggung jawab tersebut, kita perhitungkan kembali dikemudian hari saja."
Beberapa patah kata ini di ucapkan tanpa meninggikan diri, tak pula merendahkan diri, selain luwes juga penuh dengan sopan santun.
Karena pada saat ini dia adalah seorang tamu dari Ban kiam hwee, dengan kedudukannya tentu saja dia tak bisa bermusuhan secara langsung dengan Seh Thian yu, disamping itu diapun telah memberikan pendiriannya bahwa Bu Tong pay tak akan berpeluk tangan belaka atas peristiwa terbunuhnya anggota Bu Tong-pay.
Sebagai seorang jagoan yang berpengalaman sudah barang tentu Seh Thian-yu juga dapat menangkap nada pembicaraan dari Thian Khi-cu, dia tertawa hambar lalu menyahut.
"Ucapan To heng memang benar, siaute akan menurut perintah saja."
Yang dimaksudkan "menurut perintah"
Tentu saja setiap saat dia bersedia menantikan pembalasan dendam dari lawan.
Tiga orang anggota Bu tong-pay yang berdiri dibelakang Thian Khi cu segera berubah muka, sebaliknya Thian Khi cu sendiri sama sekali tidak dibikin gusar oleh kejadian itu, malah sambil tersenyum ia duduk kembali.
Setelah Thian Khi cu dari Bu tong pay duduk kembali, Sip cu dari Siau lim-pay segera bangkit berdiri lalu sambil merangkap tangannya didepan dada katanya.
"omitohud, pinceng pun harus menerangkan juga kepada Hweecu bahwa sebagai orang beragama, pantangan yang paling besar adalah mengincar barang milik orang, dan sekali pun Lou bun-si dianggap oleh sementara umat persilatan sebagai benda mestika yang tak ternilai harganya, namun pinceng tak berani mengincarnya. Pinceng dan Beng sute datang kemari karena kami dengar Ting pangcu dari Thipit pang telah terbunuh di kuil Sik-ji tian. Tapi menurut berita yang kemudian pinceng dengar ditengah jalan, yang tewas ternyata bUkan Ting pangcu pribadi, melainkan hanya seorang manusia gadUngan. Antara Ting pangcu dengan kuil kami sesungguhnya terjalin suatu hubungan yang erat, apa lagi kejadian inipun berlangsung ditempat yang terletak begitu dekat dengan markas besar jago-jago pedang berpita hitam, itulah sebabnya pinceng memberanikan diri untuk minta pendapat dari hweecu."
Kali ini rupanya orang-orang Siau lim-pay menampilkan diri untuk menuntut keadilan buat Ting Ci kang.
Selapis perasaan tak sabar segera menghiasi raut wajah Ban kiam hweecu tampaknya teguran dan tuntutan dari pihak Bu tong pay dan Siau limpay yang secara beruntun membUat hatinya merasa tak tenang, sorot matanya lantas di arahkan congkoan pedang berpita hitam dan manggut-manggut.
Congkoan pedang berpita hitam Chin Toa-seng segera menjura, kemudian ujarnya.
"Tentang yang menyangkut ketua Thi pit pang Ting tayhiap. tadi Wi tayhiap menurunkan perintah Siu lo Ci leng tempo hari dan menitahkan kepada siaute untuk membebaskan Ting tayhiap. berhubung siaute mencurigai Loa bun si sudah terjatuh kepihak Thi pit pang, maka sudah barang tentu kami tak dapat membebaskannya dengan begitu saja. Terpaksa kami pun mengutus wakil congkoan yakni cu Bun wi untuk menyamar sebagai Ting tayhiap. menurut pikiran siaute semula, kami hanya ingin menyelidiki jejak Lon Bun si itu kemudian baru membebaskannya, dalam hal ini kami telah memperoleh pengertian dari Wi tayhiap tadi."
Dengan tak sabar Thian ti tiau siu segera menukas.
"cukup, Cukup, justeru karena lohu mendapat berita tentang hal inilah maka lohu menyusul kemari, sekarang sudah seharusnya kita membicarakan tentang masalah pokoknya."
Ban kiam hweeCu tak banyak berbicara lagi, dia segera merogoh kedalam sakunya dan mengeluarkan sebuah rantai emas, diujung rantai itu terlihat sebuah anak kunci kecil yang terbuat dari emas dan dipakainya untuk membuka kotak kecil itu.
Walaupun para jago yang hadir dalam ruangan tersebut tak tahu benda apakah yang disimpan dalam kotak itu, tetapi kalau dilihat dari perbuatan Ban kiam hweeCu yang merogoh ke dalam saku hanya untuk mengambil sebuah rantai emas, dan di ujung rantai emas itu hanya terdapat sebuah anak kunci emas, dengan kunci emas itulah dia membuka kotak emas mana bisa disimpulkan kalau benda yang tersimpan didalam kotak itu sudah pasti merupakan sebuah benda yang tak ternilai harganya.
Tanpa terasa timbul ah perasaan ingin tahu dalam hati setiap orang, walaupun mereka masih tetap duduk tak berkutik ditempat semula namun sorot mata mereka yang tajam telah tertuju keatas kotak tersebut.
Ban kiam hweecu tersenyum, dengan jari tangannya yang langsing dan putih, dia mengeluarkan sebuah pena kemala berwarna hijau yang panjangnya hanya enam inci dari dalam kotak tersebut.
Dalam waktu singkat, mencorong sinar tajam dari balik mata semua orang, diam-diam mereka berpekik keras.
"oooh, Lou bun-si....!"
Benar, benda yang berada ditangan Ban kiam hweecu sekarang bukan lain adalah Lou bun-si yang di ncar dan beberapa kali menjadi benda perebutan dari umat persilatan.
Sambil tertawa Ban kiam hweecu segera memperlihatkan Lou bun si tersebut kepada semua orang, kemudian katanya.
"Aku rasa kalian semua pasti sudah tahu bukan bahwa pena kemala ini tak lain adalah Lou-bun-si ..."
Belum habis dia berkata, mendadak terdengar suara desingan angin tajam berkelebat lewat, menyusul kemudian munculnya serentetan bayangan abu-abu yang secepat sambaran kilat menerobos masuk lewat ruang depan dan melalui atas batok kepala manusia langsung menerjang kearah Ban-kiam hweecu.
Kecepatan gerak orang itu benar-benar luar biasa, sedemikian banyak jago lihay yang hadir dalam ruangan itu, ternyata tiada seorang manusiapun yang sempat melihat jelas raut wajah dari bayangan manusia tersebut.
"Tunggu dulu!"
Suara itu berasal dari mulut Thian ti tiau siu. Menyusul suara teguran tersebut dari tengah udara segera berkumandang suara benturan yang amat keras.
"Blaaammm ..."
Ditengah bentrokan yang nyaring, hawa pukulan menggulung ke empat penjuru, keadaannya mengerikan sekali.
"Tua bangka celaka."
Terdengar suara seorang kakek mendengus dengan suara dalam.
"cring "
Empat cahaya pedang berwarna keperak-perakan pada saat yang bersamaan menyambar sekeliling tubuh Ban kiam hweecu, Empat orang dayang perempuan yang berada dibelakang Ban kiam hweecu tahu-tahu telah bertindak.
meski serangan yang mereka lancarkan tak bisa di bilang amat cepat, tapi sekarang mereka sudah merupakan benteng pertahanan terakhir, paling tidak tindakan yang mereka ambil tidak sampai lebih lambat dari orang lain.
Tapi mereka toh terlambat selangkah juga, tidak, bukan hanya selangkah, buktinya orang itu sudah saling beradu kekuatan satu kali dengan Thian ti tiau siu, bahkan sekarang tubuhnya sudah melayang mundur sejauh satu kaki lebih dari tempat semula.
Bayangan manusia begitu turun kepermukaan tanah, segera muncul ah seorang kakek berbaju coklat yang berpunggung bungkuk.
sepasang matanya yang tajam dan menggidikkan hati kini sedang mengawasi wajah Thian ti Tiau siu lekat-lekat, kemudian sambil tertawa katanya.
"Sungguh tak kusangka kalau dalam dunia persilatan di daratan Tionggoan ini masih terdapat jagoan yang hebat seperti kau."
"Huh, selama lohu hadir disini, memangnya aku akan memberi kesempatan kepadamu untuk merebutnya ?"
Jengek Thian-ti-tiau-siu dengan suara dingin.
Ucapan ini memang tidak salah, bagaimana pun juga Ban-kiam Hweecu merupakan seorang jagoan pedang yang disebut sebagai jagoan nomor wahid di kolong langit, tapi percuma saja kepandaian tersebut pada saat ini.
Dalam ruanganpun hadir Kam Liu-cu bersaudara dari Thian-sat-bun, disana hadir juga Seh Thian-yu salah seorang dari Su-tok-thian-ong, tapi kenyataannya kepandaian silat mereka yang amat lihaipun seolah-olah sama sekali tak berguna.
Hari ini seandainya disitu tidak hadir Thian ti tiau siu, kemungkinan besar Lou bun si sudah berpindah ke tangan orang lain.
Sekalipun semua orang kemudian meningkatkan kewaspadaannya namun siapakah yang mampu menghalangi perbuatannya itu?
"Benda itu merupakan benda milik majikan tua kami, siapa yang mengatakan kalau aku sedang merampas ?"
Seru kakek baju coklat itu.
"Sret, sret, sret sret"
Kembali muncul empat bayangan manusia didepan ruangan, mereka adalah enapat orang lelaki kekar yang mengenakan pakaian ringkas berwarna coklat.
Tapi berhubung baru saja terjadi peristiwa perampasan Lou-bun-si oleh kakek berbaju coklat itu, maka keempat orang jago pedang berpita hijau yang berdiri didepan pintu ruangan segera mencabut keluar pedang mereka dengan gerakan cepat kemudian menghadang jalan pergi orang-orang itu.
Pada saat itulah So Siau-hui yang duduk di samping Wi Tiong hong telah bangkit berdiri kemudian sambil menggapai teriaknya.
"Empek Ou, jangan ribut lagi dengan mereka."
Kakek berbaju coklat itu segera berjalan mendekati Su Siau-hui, kemudian katanya sambil tersenyum.
"Nona besar, mengapa kau datang kemari seorang diri? Kau bikin budak tua harus lari kesana kemari untuk mencarimu."
So Siau hui duduk kembali, lalu sambil menepuk kursi disampingnya dia berkata.
"Empek Ou, kau pun boleh duduk disisiku kemari."
"Nona besar lagi duduk disitu, mana ada tempat duduk buat budak tua."
Sahut kakek berbaju coklat itu dengan suara lirih.
Sorot matanya segera dialihkan kesekeliling tempat itu, sewaktu melihat Lan Kun-pit berada dideretan bangku sebelah depan, buru-buru dia membungkukkan badannya sembari berkata.
"oooh, rupanya Siau sauya juga berada disini."
Jangan dilihat Lan Kun-pit dihari hari biasa selalu bersikap sombong dan tinggi hati, tapi setelah berjumpa dengan kakek berbaju coklat itu sikapnya segera berubah menjadi amat menghormat.
"orang tua Ou, baik-baikkah kau?"
Serunya pula sambil membalas hormat. So siau hui segera mendongakkan kepalanya memandang Ban kiam hwee cu kemudian sambil tertawa.
"sekarang sudah tak ada urusan lagi, harap hwee cu jangan menyalahkan kami."
Suasana dalam ruangan berubah menjadi tenang kembali, ke empat jago pedang berpita hijau yang berada didepan rua nganpun segera menyimpan kembali pedangnya dan mundur ketempat semula.
Ke empat orang lelaki berbaju coklat itu segera masuk kedalam ruangan dan berdiri dibelakang kakek berbaju coklat itu.
Sambil tersenyum dan manggut-manggutkan kiam hwee cu berpaling kearah Su Siau-hui kemudian katanya.
"Sudah lama kudengar kalau ilmu silat aliran Lam hay bun lihay sekali, baru hari ini sepasang mataku benar benar terbuka."
Kakek berbaju coklat itu berdiri disamping su Siau hui, sambil mengelus jenggotnya yang warna putih, katanya angkuh.
"Kalau dilihat dari gerak seranganmu itu, nampaknya kau pun tidak lamban, serangan jari tanganmu itupun sudah memiliki hawa pedang sebesar tiga empat bagian, coba kalau berganti orang lain, sudah pasti mereka tak akan tahan."
Semua orang hanya mengira Tian ti tiau siu saja yang telah beradu kekuatan dengannya, siapa tahu Ban kiam hweecu pun telah melancarkan pula serangan dahsyatnya.
Dengan suara lembut Su Siau hui berkata.
"Empek ou harap kau jangan berbicara lagi, aku adalah tamu agung dari Ban kiam hwecu, mari kita mendengarkan pembicaraan dari Ban kiam hwee cu lebih dulu."
Maka semua orang pun mengalihkan kembali sorot matanya kearah Ban kiam hweecu.
Selembar wajah Buyung Siu, congkoan dari pasukan jago pedang berpita hijau nampak sangat suram, sedangkan sikap Chin Toa seng, congkoan pedang berpita hitam pun berubah menjadi amat lesu dan lemas.
Sekali lagi Ban kiam hwecu mengeluarkan Lou bun si itu, kemudian berkata dengan suara nyaring.
"Lou bun si ini baru kuterima pada tiga hari berselang ketika cin congkoan mengutus orang untuk menyampaikannya kepada kami, setelah pena ini diperlihatkan kepada ayahku, benda tersebut kukunci terus di dalam kotak ini dan tiada orang ketiga yang pernah melihatnya. Sekarang, aku ingin sekali mengundang dua orang saksi untuk memeriksa benda ini dan membuktikan apakah benda ini benar-benar merupakan benda yang asli atau bukan."
Semua orang tidak tahu siapakah kedua orang saksi yang dimaksudkan oleh sebab itu siapa pun tidak bersuara. Sesudah berhenti sejenak. Ban kiam hwe cu mendongakkan kepalanya dan berkata lagi.
"Menurut apa yang kuketahui pada mulanya pena ini ditemukan lebih dahulu oleh Siau Beng san dari Bu tong pay di wilayah Kang lam, akan tetapi berhubung Siau Beng san telah tewas, maka dimanakah dia berhasil menemukan benda tersebut, hingga kini tiada seorang pun yang mengetahuinya secara jelas."
Sewaktu mengucapkan perkataan itu, sorot matanya seperti sengaja tak sengaja dialihkan kearah Thian Ki-cu dan perkataan itupun sengaja dihentikan artinya tentu saja mempersilahkan Thian Khicu untuk membuka suara.
Jika dilihat dari tindakan Siau Beng san setelah menempatkan "Lou-bun-si"
Tersebut dan menghantarnya sendiri pulang gunung, disamping itu Keng hian dan Keng jin totiang telah diutus untuk turun gunung dan menyambut kedatangannya, tentu saja hal ini bukan merupakan suatu kejadian yang kebetulan saja.
Ditinjau dari sini, bisa jadi Siau Beng san telah mengirim orang untuk melaporkan kejadian ini kepartainya, itu berarti Thian Ki cu mengetahui juga dari manakah siau Beng san berhasil mendapatkan benda mestika tersebut.
Akan tetapi Thian Khi cu hanya duduk saja sambil memejamkan mata, mulutnya membungkam dalam seribu bahasa.
Tampaknya dia enggan untuk memperbincangkan tentang persoalan tersebut.
Terdengar Ban kiam hweecu berkata lebih jauh.
"Rombongan yang dipimpin siau Beng-san akhirnya tewas di kuil Sik jin tian karena di atas permukaan tanah diseputar tempat itu sudah diberi racun tanpa wujud, sehingga barang siapa yang menginjak racun itu maka tanpa disadari mereka tewas. Setelah peristiwa itu terjadi, maka Lou bun si pun segera berpindah tangan dan terjatuh ke tangan Tok Hay ji dari perguruan Seh to tiang. Tapi belum lama setelah Tok Hay ji berhasil mendapatkan pena mestika tersebut, dia telah dikejar-kejar dua orang manusia berkerudung yang memiliki ilmu silat sangat tinggi, haaah ...haah ...kalau dipikirkan kembali sekarang, ternyata manusia berkerudung itu tak lain adalah Kam tayhiap dan nona Liu dari Thian sat bun."
"Haah...haaah... haaah ....Hweecu benar-benar amat lihay."
Kam Liu cu tertawa. Terdengar Ban kiam hweecu berkata lebih jauh.
"Tok Hay ji menyembunyikan diri didalam perusahaanan Wan piaukiok dalam kota Sang siau, dibawah pengawasan Kam tayhiap yang amat ketat, ta tak berani munculkan diri, maka benda itu pun segera di sembunyikan di atas tiang rumah..."
Diam-diam Sim cu ki Beng kiam ho manggut-manggut, pikirnya.
"oooh, rupanya demikian."
Terdengar Ban kiam hweecu berkata lebih lanjut.
"Kemudian tanpa sengaja Wi Tayhiap telah mendapatkannya, akan tetapi Wi tayhiap yang berjiwa besar telah memberitahukan hal ini kepada saudara angkatnya Ting ci kang, tadi aku sudah menyatakan permintaan maaf yang sedalam-dalamnya, karena Ting ci kang yang hadapi sesungguhnya bukan lain adalah hasil penyaruan dari Hu congkoan perkumpulan kami. Maka pena mestika inipun terjatuh kembali ke tangan orang orang perkumpulan kami, Nah, begitulah kisah terjadinya Lou bun-si sejak di temukan hingga bertukar tangan berulang kali, aku percaya sekali pun kalian belum pernah mengalami sendiri. paling tidak pasti sudah mendengarnya bukan? Ada pun tujuan dari penuturanku tadi tak lain adalah ingin meminta bantuan dari Tok Hay-ji dan Wi tayhiap untuk membuktikan kebenaran dari benda tersebut, sekarang harap kalian berdua tampilkan diri dan cobalah diperiksa dahulu apakah benda ini benar-benar merupakan benda yang berhasil kalian berdua temukan."
Mendengar perkataan tersebut, Wi Tiong hong benar-benar segera bangkit berdiri.
Tok Hay-ji tak berani maju secara sembarangan karena disitu hadir gurunya.
Ketika Seh Thianyu sudah menganggukkan kepalanya, dia baru beranjak dan maju ke depan.
Ban kiam Hwecu menyerahkan Lou bun-si itu kepada Wi Tiong-hong lebih dulu, katanya.
"Wi tayhiap silahkan kau periksa."
Wi Tiong-hong menerima benda tersebut dan diamatinya beberapa saat, kemudian sambil mendongakkan kepalanya dia berkata.
"Menurut apa yang kudengar, benda ini semuanya berjumlah tiga buah, dua buah yang palsu dan yang satu asli..."
Ban kiam Hwe cu tertawa ringan.
"Apa yang diucapkan Wi tayhiap memang benar, Lou bun si memang terdiri tiga buah dua yang palsu dan satu yang asli, bentuk dari ke tiga benda tersebut sama antara yang satu dengan lainnya hingga siapapun tak dapat membedakan palsu dan aslinya, kini, aku bukan meminta kepada Wi tayhiap untuk membuktikan asli dan tidaknya, aku hanya mohon kepada Wi tayhiap agar memeriksa benda ini, apakah benar benda ini merupakan benda yang berhasil kau temukan tempo hari."
Sekali lagi Wi Tiong hong memeriksa benda itu beberapa saat, akan tetapi ia tidak berhasil menemukan sesuatu yang aneh, maka katanya kemudian.
"Aku tak berani memastikan, kalau dilihat dari bentuknya, aku pikir tak bakal salah lagi."
"Baik. kalau begitu silahkan Wi tayhiap ke tempat duduknya semula."
Wi Tiong hong menyerahkan kembalipena mestika itu, kemudian membalikkan badan dan mengundurkan diri dari situ.
Kemudian Ban kiam Hweecu menyerahkan Lou bun si tersebut ke tangan Tok Hay ji seraya berkata.
"Wi tayhiap tak bisa menentukan, sekarang giliranmu yang harus memeriksanya."
Tok Hay ji menerima benda itu dan diamatinya sejenak, kemudian sahutnya.
"Benar, memang pena ini."
"Sudah kau periksa dengan seksama?"
Seru Seh Thian yu tiba-tiba dengan suara lantang. Tok Hay ji tertawa bangga.
"Tecu telah memeriksa dengan jelas sekali, waktu itu tecu telah melumurkan segumpal lumpur diatas huruf "it"
Dari tulisan "Thian hee-tit it"
Yang ada diatas tubuh pena tersebut, sampai sekarang lumpur tersebut masih melekat diatas pena, jadi aku berkesimpulan kalau hal ini tidak bakal salah lagi."
Ban kiam hweecu tertawa gembira, katanya kemudian sambil mengangguk berulang kali.
"Bila kau dapat membuktikan akan kebenaran dari pena ini, hal mana akan jauh lebih baik lagi dan ku ucapkan banyak terima kasih atas kesediaanmu ini."
"Kaiau hanya berterima kasih saja apa gunanya?"
Jengek Tok Hay ji cepat.
Dia meletakkan kembali pena tersebut kemeja, kemudian mengundurkan diri ke belakang Seh Thian yu.
Sambil mengangkat Lou bun si tersebut ke-atas, Ban kiam hwee cn kembali berkata.
"Setelah mendapat kepastian dari Tok Hay-ji, anak murid Seh totiang bahwasanya pena yang diperolehnya adalah pena tersebut, maka hal ini membuktikan pula kalau pena yang kemudian terjatuh ke tangan Wi tayhiap kemudian terjatuh kembali ketangan perkumpulan kami adalah pena tersebut, berarti perkumpulan kami tidak membuat benda palsu untuk menukar benda yang asli tersebut."
"Apakah Lou bun si itu bukan benda palsu?"
Tiba-tiba Seh Thian yu bertanya. Ban kiam Hwee cu menggelengkan kepalanya berulang kali.
"Tentang soal ini, aku merasa kurang tahu."
Seh Thian yu segera melirik ke arah Su Siau hui, kemudian katanya lagi.
"Nona ini kalau toh berasal dari Lam hay, tentunya kau bisa membedakan mana yang palsu dan mana yang asli bukan?"
"Tadi, bukankah Wi siauhiap sudah bilang bahwa Lou bun si semuanya terdiri dari tiga buah dengan dua yang palsu dan satu asli, sampai sekarang aku toh belum pernah menyaksikan benda itu sendiri, bagaimana mungkin aku bisa mengetahuinya?"
Jawab Su Siau hui dengan suara yang dingin sekali. Seh Thian yu yang terbentur batunya hanya bisa tertawa kering dan tidak berbicara lagi. Wi Tiong hong segera buka suara katanya.
"Menurut apa yang kuketahui, pada tiga puluh tahun berselang Tou lopang cu dari Thi-pit-pang pernah mendapatkan sebuah, waktu itu konon terjadi suatu badai kekalutan yang kacau dan perebutan mestika yang ramai sekali. Akhirnya karena Tau lo pangcu merasa gusar sekali atas kerakusan orang-orang pada waktu itu, dia telah menghancur lumatkan pena tersebut, waktu itulah semua orang baru tahu kalau benda itu palsu, kalau dilihat dari sini dapat berarti kini hanya tinggal satu palsu dan satu asli."
Seh Thian-yu mendehem beberapa kali lalu tertawa seram.
"Heeeh, heeeh, heeeh menurut cerita orang persilatan tempo dulu, pihak Ban-kiam-hwee pernah menyerbu ke Lam-hay dan ke tiga batang Lou bun-si tersebut telah didapatkan semua oleh Toa lotou."
Tampaknya dia bermaksud untuk menghasut memancing terjadinya suatu pembalasan dendam antara Lam hay bun dengan Ban kiam hwee, maka sembari berkata sorot matanya dingin dan licik itu memandang sekejap ke arah Su Siau hui.
Kemudian setelan berhenti sejenak.
lanjutnya.
"Konon di dalam serbuan Ban kiam hwee ke Lam hay waktu itu, kedua belah pihak sama-sama jatuh korban banyak. kawan jago lihay yang dibawa Ban kiam Hweecu untuk melancarkan serbuan pun hanya tiga orang yang berhasil mundur dalam keadaan utuh. Dari ke tiga orang itu dan si toa Too, rupanya mereka sembari mundar sambil menyambar barang dengan merampas Lou bun-si dari tangan orang orang Lam hay, tentu saja yang lain tak akan membiarkan dia mengangkangi benda tersebut seorang diri. Untung saja Lou-bun si itu terdiri dari tiga batang dan satu sama lainnya berbentuk sama, karena siapa pun tak dapat membedakan mana yang asli dan mana yang palsu, akhirnya masing-masing orang mendapatkan seorang sebatang. Tentu saja persoalan ini merupakan suatu peristiwa yang teramat rahasia, hingga tiga puluh tahun berselang, dalam dunia persilatan baru mulai tersiar kembali kabar berita tentang Lou bun si, banyak orang berbondong-bondong mulai datang mencari benda tersebut, dalam keadaan terpaksa akhirnya dia menghancurkan lumat pena kemala tersebut, padahal dia sudah tahu semenjak lama kalau benda yang diperolehnya hanya benda palsu belaka."
"Ehmmm, cerita mu itu memang ada yang benar"
Kata Thian ti tiau siu kemudian.
"hubungan lohu dengan si tua Tau sudah berlangsung puluhan tahun lamanya, aku paling memahami tentang wataknya, Ya, betul. si tua Tau memang berhasil mendapatkan sebatang Lou bun si dari pihak Lam-hay, tapi tidak berjumlah tiga batang, juga tiada orang yang memaksanya untuk membagi benda tersebut dengannya sebab Lou bun si tersebut tak lain adalah benda palsu belaka. Berbicara dari watak si tua Tau, benda itu akan dibuangnya semenjak dahulu, akhirnya dia bisa menyimpannya didalam saku tak lain tak bukan adalah atas anjuran lohu, sebab walaupun lou bun si itu palsu, bahan kemalanya justru merupakan kemala hijau yang amat bagus. Itulah pena kemala yang pada akhirnya dia hancur lumatkan itu, tapi benda tersebut dihancurkan olehnya setelah tiga puluh tahun lamanya dia simpan secara baik-baik, benda itu dihancurkan karena seperti apa yang kau katakan tadi, ada orang mulai mengincar benda tersebut secara terus menerus."
Seh Thian yu segera tertawa hambar.
"Ah. siaute sendiripun hanya mendengar dari cerita orang saja."
Katanya.
"Huuuh."
Si kakek pamancing dari telaga langit kembali meludah sambil melotot besar.
"Kaupun berani menyebut saudara dengan lohu ? Kau masih selisih amat jauh bila dibandingkan dengan lohu, mengerti ?"
Lok Khi segera tertawa cekikikan kegelian, Seh Thian-yu cukup menyadari akan kehebatan ilmu silat lawannya, dia takut mencari gara-gara dengannya karena kuatir akan dipanclng seperti ikan pula olehnya dihadapan orang banyak.
Maka sembari mengelus jenggotnya dia lantas berpaling kearah lain dan tak berani banyak bicara lagi.
Dalam pada itu, terdengar Ban kiam Hweecu telah berkata lagi.
"Aku sengaja mengundang kehadiran saudara sekalian kemari, pertama, ingin menentukan asli atau tidaknya pena tersebut, kedua, aku pun ingin mengungkap rahasia dunia persilatan yang beredar selama banyak tahun ini."
"Heeeh, heeeh, heeeh, Hwee-cu, kau tak akan berbicara lain dimulut lain dihati bukan?"
Sindir Seh Thian-yu sambil tertawa seram. Ban kiam Hweecu tertawa hambar.
"Sekarang, Lou bun si sudah berada dihadapan kalian, dan lagi muridmu sudah membuktikan sendiri kalau benda tersebut adalah benda yang pernah dldapatkan olehnya, dari mana kau bisa menuduh aku berbicara lain dimulut lain dihati ?"
"Aku tahu kalau kedatangan Seh Tootiang dibukit Pit bun san ini untuk mendapatkan Lou bun si, oleh sebab itu kupersilahkan kepada Seh tootiang untuk duduk beberapa saat lagi, asal aku sudah dapat menentukan asli atau tidaknya pena kumala ini serta mengungkapkan rahasia dibaliknya, kita boleh segera berunding untuk mendapatkannya, baik secara kekerasan atau pertandingan untuk menentukan siapa yang berhak mendapatkan pena ini. Bagaimana menurut pendapat tootiang?"
Seh Thian yu segera tertawa terbahak-bahak.
"Haaahh ..haahh...haahh... bagus.. Bagus sekali! Mari kita laksanakan dengan begitu saja."
"Bu liang siu hud."
Thian Khi cu turut angkat bicara, katanya.
"Usul dari hweecu sangat bersimpatik sekali, selama seratus tahun ini, dunia persilatan sudah dipenuhi oleh berbagai macam cerita tentang Lou bun si tersebut, semua orang menganggap berita dan cerita mana tak dapat dipercaya, malah ada yang mengatakan barang siapa berhasil mendapatkan pena ini maka dia menjadi seorang jagoan yang tiada tandingannya dikolong langit. oleh sebab itulah setiap umat persilatan selalu berusaha untuk mendapatkan pena itu dan akibatnya terjadilah pertikaian, perebutan dan pertarungan untuk saling mendapatkan benda mana. Apabila Hweecu bersedia untuk mengungkap rahasia dari pena tersebut hari ini dan melenyapkan suatu pertikaian diakibatkan benda mana tindakan yang terpuji."
"Terima kasih banyak atas perkataan dan to-tiang, dalam dunia persilatan terdapat dua versi cerita yang berbeda satu sama lainnya. Menurut versi cerita yang pertama, dikatakan kalau diatas pena Lou bun si tersebut terukir serangkaian ilmu silat yang maha dahsyat konon barang siapa berhasil mempelajari ilmu silat tersebut, dia akan menjadi manusia nomor wahid di kolong langit. Dalam hal ini, aku rasa saudara sekalian sudah melihat sendiri, diatas pena Lou bun si sama sekali tiada ukiran ilmu silat seperti apa yang di beritakan kecuali empat huruf besar yang berbunyi.
"THIAN THE TI IT" (Nomor wahid dikolong langit), oleh karena itu berita yang pertama sudah tak bisa diterima dengan begitu saja. -Menurut cerita kedua, konon di dalam pena Lou bun si ini tersimpan selembar kertas yang berisikan catatan ilmu silat, dalam hal ini sulit rasanya untuk dikatakan, namun pena ini berbentuk polos, sekalipun didalamnya terdapat rahasia, apabila kita tidak mengetahui cara untuk membukanya, jangan harap rahasia tersebut bisa diperoleh."
Seh Tian yu tertawa seram, timbrungnya.
"Siaute pernah mendengar orang berkata, konon ditengah pena tersebut sebetulnya terdapat ruang kosong yang digunakan untuk menyimpan lembaran kertas yang berisi catatan ilmu silat, dibilang serangkaian ilmu silat, padahal cuma satu jurus ilmu pedang saja, namun di balik jurus pedang mana tercakup seluruh intisari dari semua ilmu pedang yang terdapat di dunia ini. Perkumpulan Ban kiam hwee menyebut diri sebagai perkumpulan yang memiliki ilmu pedang nomor wahid di kolong langit, oleh sebab itu kalian kuatir jika jurus pedang itu sampai terjatuh ke tangan orang lain, Hwecu mengapa kau tidak menambahkan keterangan mengenai hal ini."
Ban kiam hweecu tersenyum.
"Setiap orang persilatan, bisa saja berkata demikian, cuma berita yang tersiar belum tentu kebenarannya, aku pun pernah mendengar kalau Lou bun si bisa memunahkan berbagai macam racun keji yang ada di kolong langit, benda itu sesungguhnya merupakan satu-satunya benda yang bisa menandingi keampuhan Tok se sia kalian, mungkin itulah yang menyebabkan kalian bertekad untuk mendapatkannya ?"
Begitulah, ke dua orang itu saling menyerang dengan menggunakan kata-kata yang tajam, tapi dengan demikian pula terungkap sudah apa yang menyebabkan kedua belah pihak sama sama ngotot untuk mendapatkan Lou bun si tersebut.
Rupanya pena mestika itu mempunyai pengaruh yang besar sekali atas hidup atau matinya perkumpulan mereka, Seh Thian yu segera tertawa terbahak-bahak.
"Haaa ..haaa . , haa ..hah .. Hweecu terlampau memandang rendah kepada kekuatan Tok see sia kami, kendatipun Lou bun si itu juga dapat memunahkan racun, belum tentu dia merupakan tandingan dari Tok seh sia kami."
"Makanya kita tak usah ribut dahulu disebabkan masalah yang sepele itu."
Seru Ban siam Hwee cu lagi.
"menurut pendapatku, lebih baik kita berdaya upaya untuk membuktikan dulu asli atau tidaknya pena mestika tersebut, kemudian baru menyelidiki kegunaan yang sesungguhnya dari pena itu ..."
"Asal bisa ditentukan asli atau tidaknya, secara otomatis akan diketahui pula kegunaan dari pena tersebut"
Sela Su Siu hui tiba-tiba dengan suara dingin. Mendadak Ban kiam hweecu berseru tertahan lalu buru-buru menjura dan berseru sambil tertawa.
"ooooh, hampir saja aku lupa kalau nona Su berasal dari Lamhay, tentu saja kau tahu tentang rahasia Lou bun si tersebut apakah nona Su bersedia memberi petunjuk?"
"Tentu saja aku tahu."
Sahut Su Siau hui cepat. Kakek berbaju coklat yang berdiri disampingnya, mendadak menimbrung dengan suara lirih.
"Toa siocia, Lou bun si merupakan benda milik kita, mengapa kita harus memberitahukan kegunaannya kepada mereka?"
"Tidak!! masalah ini tidak terhitung suatu rahasia yang terlampau besar, aku pikir tak ada salahnya untuk memberitahukan kepada mereka agar bisa dicoba asli atau tidaknya pena itu."
Berbicara sampai di situ, dia lantas mendongakkan kepalanya memandang kearah Ban kiam hwee cu dan bertanya.
"Ingin dicoba atau tidak?"
"Apabila nona bersedia memberi petunjuk. tentu saja harus dicoba untuk dibuktikan dihadapan umum asli atau tidaknya." -ooOoo-Bab-46
"MENURUT apa yang tercatat dalam buku, Lou bun si adalah sejenis benda yang terbuat dari logam keras, bukan saja dapat memotong emas membelah kemala, dapat pula menghindari api dan memunahkan racun, oleh sebab itulah ular beracun atau benda beracun lainnya yang berada setengah li darinya akan hilang lenyap dan kabur terbirit-birit."
"oooh... rupanya mempunyai kegunaan sejauh itu"
Seru Ban kiam Hwee cu sambil manggut-manggut. Lok Khi tak mau kalah, sembari mencibirkan bibirnya dia turut berseru keras.
"Makanya semua orang menggunakan siasat yang paling licik dan perbuatan paling keji untuk mendapatkan benda tersebut rupanya benda tersebut mempunyai kasiat yang luar biasa."
Pelan-pelan Ban kiam Hwee cu memandang sekejap wajah para yang hadir disana, kemudian pelan pelan ujarnya.
"Lou bun si dikatakan bisa memotong emas membelah kemala tidak takut api dan bisa memunahkan racun, apakah kita akan mencobanya satu per satu ? Aku mohon diantara saudara sekalian sudi menampilkan dua orang wakil untuk menyelenggarakan percobaan ini, entah bagaimanakah menurut pendapat kalian?"
"Menurut pendapat lohu."
Kata sin ci ki Beng Kian hoo cepat.
"lebih baik kita memohon kepada Wi lote dan nona Su berdua untuk mewakili segenap hadirin yang ada untuk mencoba Lou bun si tersebut."
Begitu ucapan tersebut diutarakan serentak usulnya itu memperoleh dukungan dari beberapa orang.
Dalam waktu singkat, sorot mata semua orang pun bersama sama dialihkan kewajah Su Siau-hui.
Sambil tersenyum Ban-kian Hwee-cu menjura dan berkata.
"Kalau toh semua orang memilih dua orang saudara ini, sekarang kumohon kepada kedua orang itu untuk segera tampil kedepan."
Wi Tiong-hong dan Su Siau-hui segera bangkit berdiri dan bersama-sama menuju kemuka.
Lok Khi yang menyaksikan hal tersebut kontan saja mencibirkan bibirnya, dengan wajah hijau membesi dia segera melengos kearah lain.
Sementara itu Wi Tiong-hong telah menjura sembari bertanya.
"Hweecu entah bagaimana cara mencobanya ?"
Ban-kiam Hwee cu tertawa ringan, sahutnya.
"Tentang soal ini, lebih baik nona Su saja yang mengambil keputusan ... ."
Su Siau hui yang ada bersama-sama Wi Tiong hong merasa gembira sekali, wajah yang semula nampak murung dan kesepian, kini tersungging sekulum senyUman yang amat manis.
Mendengar ucapan tersebut, dia melirik sekejap kearah Wi Tiong hong, lalu sahutnya sambil tersenyum.
"Lou bun si merupakan benda yang bisa memotong emas membelah kemala, sekali pun pedang atau golok yang terbuat dari baja aslipun tak akan tahan menghadapi guratannya. lebih baik kita menggunakan pedang dan golok dan sebagai barang percobaan."
Congkoan dari pasukan jago pedang berpita hijau Buyung siau segera mengulapkan tangannya, seorang jago pedang berpita hijau tampil ke depan dan menyodorkan sebilah pedang panjang.
"Berikan kepadanya."
Perintah Su Siau hui sambil menuding kearah Wi Tiong hong.
Mendengar suara si nona yang begitu mesrah terhadap Wi Tiong hong, paras muka Lok Khi segera berubah menjadi kehijau-hijauan, tak tahan dia segera mendengus berat-berat.
Wi Tiong hong menerima pemberian pedang tersebut dari jago pedang berpita hijau itu, kemudian sambil mendongakkan kepalanya dia bertanya.
"Nona, bagaimana cara kita untuk mencobanya?"
Su siau hui tertawa, dia mengambil Lou bun si tersebut untuk membuat guratan diatas tubuh pedang tersebut, hasilnya kan ketahuan.
Wi Tiong menurut dan menggunakan Lou-bun si itu untuk membuat suatu guratan diatas tubuh pedang tersebut.
Kini semua sorot mata para jago telah tertuju keatas tubuh pedang itu, semua orang ingin cepat cepat tahu apakah pena kemala itu yang tulen atau bukan.
Tampak ujung pena tersebut menggurat diatas tubuh pedang tersebut dan lewat dengan begitu saja, sama sekali tidak nampak sesuatu gejala yang aneh.
Wi Tiong hong segera mendongakkan kepalanya memandang kearah Su Siau hui.
Sebelum dia mengeluarkan sesuatu Seh Thian yu sudah tak sanggup menahan diri lagi segera tanyanya.
"Nona Su sudah berhasil kau coba ?"
"Tentu saja telah kucoba "
"Asli atau tidak ?"
Tanya Ban-kiam hwee cu. Su Siau hui memandang sekejap kearah nya, kemudian menjawab.
"Tentu saja asli."
"Yang asli ?"
Seluruh badan Ban kiam hweecu nampak tergetar keras sekali. Kontan saja Su Siau hui tertawa dingin.
"Heeeh, heeeh, heeh. asli atau tidaknya Lou bun si tersebut seharusnya hweecu sudah mengetahui sedari tadi bukan ?"
Jengeknya.
"Seandainya aku sudah tahu, tak bakal kurepotan kalian berdua."
Su Siau hui mendengus dingin.
"Hmm. Hweecu lebih pantas kalau mengatakan sudah merepotkan semua orang."
Berbicara sampai disitu, dia lantas berpaling kearah Wi Tiong hong sambil ujarnya lagi.
"Wi siauhiap. kau harus mundur sekarang."
Dari pembicaraan nona tersebut, Wi Tiong hong merasa Lou bun si tersebut seperti bukan yang asli, hal mana membuat hatinya bingung dan merasa tidak habis mengerti.
Menyaksikan Su Siau-hui sudah membalikkan badan dan mengundurkan diri dari situ, terpaksa ia letakkan kembali pedang dan Lou bun si itu keatas meja, kemudian turut mengundurkan diri.
"Kalau begitu benda tersebut palsu."
Seru Seh Thian yu tiba-tiba sambil tertawa kering.
"Heeh, heeh. heeeh, sudah siaute duga, seandainya benda yang asli sudah terjatuh ketangan pihak Ban kiam hwee, masa dia akan bersikap begitu terbuka dan sosial untuk mengundang kehadiran semua orang ?"
"Tapi hari ini, bagaimanapun juga kita sudah membantu pihak Ban kiam hwee,"
Sambung Su Siau hui kemudian. Kam Liu cu tertawa terbahak-bahak, katanya pula setelah berhenti dari tertawanya.
"Benar, dalam dunia persilatan dewasa ini sudah tersebar berita yang mengatakan kalau Lou-bun si telah terjatuh ketangan orang orang Ban kiam hwee, dan sekarang Ban kiam hweecu telah mengUmpulkan kita semua disini, tentu saja maksudnya untuk menghilangkan berita sensasi tentang Ban kiam hwee mereka melalui mulut kita-kita ini."
"Sesungguhnya kenyataan memang demikian, tapi Ban kiam hweecu sebagai seorang pemimpin dari suatu perkumpulan besar tentu saja tak akan mengakui begitu,"
Buru-buru katanya sembari menjura.
"Apabila kalian semua menuduh begitu, aku pun tak bisa berbicara apa-apa lagi."
Kakek pengait dari langit tertawa terbahak-bahak.
"Haaah ... haaahh ... haaah ... tiga puluh tahun berselang, lohu mendapat undangan dari si tua Tau, meskipun waktu itu aku sudah tahu kalau pena kemala yang diperolehnya cuma barang palsu, namun aku toh menghadiri juga pertemuan besar Lou bun si tersebut, tiga puluh tahun kemudian ternyata muncul kembali kejadian yang sama dengan munculnya sebatang pena gadungan lagi, padahal lohu sama sekali tidak berminat untuk turut memperebutkannya, aku datang karena rasa ingin tahu, aku ingin melihat benda macam apakah Lou bun si tersebut, mari Mari. berikan benda palsu tersebut untuk kuperiksa."
Ketika tangannya menggapai sungguh aneh sekali pena kemala yang terletak diatas meja tersebut mendadak melayang ke tengah udara dan meluncur ketangannya.
Setelah menangkapnya, Kakek pengawal dari telaga langit itu menggosok dan memandangnya beberapa saat, akhirnya sambil menggeleng dia berguman.
"Yaa benda ini tak berbeda sedikitpun bentuknya dengan pena yang diperoleh si tua Tau pada tiga puluh tahun berselang, benda ini benar-benar sudah mencelakai banyak orang, lebih baik lohu memusnahkannya saja,,."
Rupanya dia masih belum percaya kalau Lou bun si itu palsu, maka ingin dicobanya sendiri untuk membuktikan keasliannya.
Begitu selesai berkata, ke dua jari tangannya segera menyentil kuat kuat .."Pleetak!"
Pena kemala yang berwarna hijau itu seketika itu juga hancur dan berubah menjadi bubuk. Sambil menghela napas panjang Kakek pengail dari telaga langit berkata.
"Aaai . .. ternyata memang benar-benar palsu. Tapi begini pun ada baiknya, setelah dua batang pena palsu remuk semua, maka bila dalam dunia persilatan muncul sebuah Lou bun-si lagi, sudah dapat dipastikan benda itu yang asli Aaaai . .. sayang sekali lohu sudah tak berjodoh untuk menyaksikannya kembali."
Selesai berkata, dia lantas bangkit berdiri dan menggapai kearah Lok Khi sembari berkata.
"Muridku mari kita pergi."
"Siapa yang menjadi muridmu ? ooh.... sekarang kau belum boleh pergi dulu, paling tidak kau harus mengajarkan dahulu kepadaku bagaimana caranya mengail ikan"
"Hei anak perempuan!"
Seru kakek pengail dari telaga langit dengan mata melotot besar.
"kau bilang apa ? Kau bukan murid lohu?"
"Tentu saja bukan."
"Kau hendak mengingkari janji? Kita sudah saling bertepuk tangan tadi.?"
"Kau sendiri yang telah mengingkar janji, aah benar, soal bertepuk tangan malah aku yang mengusulkan, waktu itu aku kuatir kau ingkar janji, kenyataannya sekarang kau memang mau mengingkar janji, hmm... tak tahu malu."
Senyuman yang menghiasi wajah si Kakek pengail dari telaga langit itu segera lenyap tak berbekas, dengan marah dia mendesis.
"Siapa yang hendak mengingkar janji? Bocah perempuan. bagaimana janji kita tadi? coba katakan, bagaimana janji kita tadi?"
Seru Lok Khi sambil tertawa lebar.
"Kau jangan licik, biar lohu pikirkan dulu ehmmm, lohu bilang hendak memancing dua orang siaupwiee tersebut seperti memancing ikan, kau pun bilang..."
"Waktu itu aku bilang.
"Kalau begitu ajarkanah kepandaian memancing ikan itu kepadaku, bukan begitu ?"
Kakek pengail dari telaga langit manggut2.
"Yaa, dan lohu berkata lagi. Kalau begitu kau angkatlah aku sebagai gurumu."
"Itu kan kau sendiri yang bilang dan aku sama sekali tidak menyatakan mengiakan atau tidak?"
Seru Lok Khi. Kontan saja kakek pengail dari telaga langit bertolak pinggang, kemudian serunya dengan mata melotot.
"Kau masih bilang tidak mengiakan ?"
Menyaksikan keadaan si kakek yang begitu lucu, Lok Khi menjadi semakin bergairah untuk mempermainkannya, sambil tertawa dia lantas berkata.
"Tentu saja, waktu itu aku toh cuma bertanya. 'Apakah kau bersedia mengajarkan kepada ku?' -Kau lantas bilang begini; 'Baik, kita berjanji begini,' Aku pun berkata lagi; 'Empek tua, kalau sudah berjanji kau tak boleh mengingkarinya lagi, mari kita bertepuk tangan sebagai tanda setuju.' Kau bertanya; 'Buat apa kita mesti bertepuk tangan?' jawabku; 'Bila sudah bertepuk tangan maka siapapun tak boleh mengingkarinya...' Kau lantas berseru. 'Betul, betul, mari kita bertepuk tangan, mari kita bertepuk tangan.' -Nah. aku toh tidak mengurangi atau menambahi perkataanmu barang sepatah katapun bukan ?"
"Masa semuanya itu belum cukup?"
Sahut kakek pengail dari telaga langit cepat. Lok Khi tertawa.
"Sekarang kau pikirkan kembali, aku toh mengajakmu bertepuk tangan karena kau hendak mewariskan ilmu mengait ikan kepadaku? Kapan aku pernah membicarakan soal pengangkatan guru ?"
Kakek pengait dari telaga langit itu bergumam sambil mengulangi kembali kata-kata tersebut mendadak paras makanya berubah hebat, kemudian serunya dengan gusar.
"Baik, hei budak cilik, rupanya kau bermaksud untuk membohongi lohu ?"
"Kau sendiri toh yang setuju untuk bertepuk tangan? Siapa yang membohongi dinmu? Kau toh sudah punya jenggot yang telah memutih semua, memangnya kau masih seorang bocah berusia tiga tahun yang gampang ditipu?"
"Lohu tidak ambil perduli, pokoknya kau harus mengangkat diri lohu sebagai gurumu."
Seru kakek pengait dari telaga langit dengan penuh kegusaran.
"Kalau mau mengingkar yaa sudahlah, siapa sih yang kesudian dengan ilmu mengait ikanmu itu? Hmm kau hendak menyuruh aku mengangkat dirimu menjadi guruku ? Huuh, dengan sedikit kepandaian yang kau miliki itu, untuk menjadi tukang pembersih sepatu guruku pun belum cukup."
Hawa amarah benar-benar telah menyelimuti seluruh wajah kakek pengait dari telaga langit, segera bentaknya.
"Budak cilik, kau berani bersikap kurang ujar kepada lobu., . ."
Belum habis dia berkata, terdengar dari atas ruangan tersebut telah berkumandang suara tertawa aneh yang amat menyeramkan menyusul kemudian terdengar suara perempuan tua berkata dengan nada melengking.
"Anak Khi, jangan kurang ajar, Thio locianpwe bisa tertarik kepadamu, hal ini sudah merupakan rejeki yang besar sekali untukmu."
Dengan perasaan kejut dan girang Lok Khi segera berteriak.
"Ooh. suhu. .."
Kam Liu cu dan Liu Leng poo yang duduk di kursi tamupun serentak melompat bangun. Sekujur badan si kakek pengait dari telaga langit bergetar keras, sambil membelalakkan matanya dia berseru.
"Kau adalah Thian Sat nio? Dari... dari mana kau bisa mengetahui nama margaku?"
Kembali Thian Sat nlo tertawa ter-kekeh2
"Tentu saja aku tahu, Thio-loji kalau toh kau ingin merebut muridku itu, baiklah, aku akan menjual muka kepadamu dengan memberikan anak Khi untukmu."
Dengan perasaan gelisah Lok Khi berseru.
"Jangan, jangan suhu, . tecu tak mau mengangkat dia Sebagai guruku."
"Anak pintar, kepandaian silat yang dimiliki Thio-loji lihay sekali, dia bersedia menerimamu sebagai muridnya, hal ini merupakan kemujuranmu. dengarkan perkataanku dan cepat memberi hormat kepadanya."
Tiba-tiba Kakek pengait dari telaga langit mendesis, dan serunya.
"Bagus sekali, rupanya kalian guru dan murid telah bersekongkol Untuk membohongi orang? Lohu tak bakal terperangkap oleh siasat kalian itu..."
Lok Khi mendengus dingin.
"Hmm Kita sudah berjanji lebih dulu, bahkan diperkuat dengan saling bertepuk tangan yang pasti aku tidak akan mengangkat dirimu sebagai guruku dan kaupun harus mewariskan mewariskan kepandaian itu kepadaku. Apa yang diucapkan guruku sekarang tak lalu karena hendak memberi muka untukmu, coba kalau tidak, aku tak akan sudi memanggilmu sebagai suhu. Nah, sekarang ayo jawab, kau ingin tidak aku memanggil kau sebagai suhu?"
Suara dari Thian Sat-nio segera berkumandang lagi.
"Anak Khi, jangan kurang ajar, ayo cepat maju dan menyembah kepadanya..."
Sembari mencibirkan bibirnya Lok Khi segera maju kedepan, sahutnya sambil mengomeli.
"Menyembah yaa menyembah, nah duduklah kau."
Selesai berkata ternyata ia benar-benar menjatuhkan diri berlutut dan menyembah.
Kakek pengail dari telaga langit kegirangan setengah mati, sambil mencak-mencak seperti orang gila, dia menangkap tangan Lok Khi erat-erat latu sembari memicingkan matanya ia bertanya.
"Kau benar benar hendak mengangkat lohu menjadi gurumu ?"
"Kali ini sudah barang tentu sungguh2."
Kakek pengail dari telaga langit segera memandang sekejap wajah semua orang, lalu sambil tertawa terbahak-bahak serunya.
"Haaah, haaah, haaah, kalian sudah mendengar semuanya bukan? Mulai saat ini. si bocah perempuan ini adalah murid lohu."
"Locianpwe, kiong-hie atas keberhasilanmu mengangkat seorang ahli waris."
Seru Bankiam Hweecu cepat. Kakek pengail dari telaga langit tidak menggubris ucapan itu, dia segera menjura ke udara sembari berseru.
"Thian Sat nio, terima kasih banyak atas kerelaanmu."
Thian Sat nio tertawa terkekeh-kekeh.
"Thio-loji, kalau berbicara yang jelas, aku hanya mengalah dalam soal murid, dalam soal ilmu silat, aku tak pernah mengaku kalah kepada siapapun."
"Benar, benar. haaah, haaah, muridku mari ikut lohu pergi dari sini."
"Tunggu dulu!"
Seru Lok Khi cepat.
"aku jadi muridmu karena ingin mempelajari ilmu mengait ikan, apakah kau menjamin aku bisa mengait mereka semua ?"
"Haah ..haah .. haah ., lohu justru tertarik kepadamu karena kau nakal, kenakalanmu itulah yang mencocoki seleraku, coba kalau tidak ... hmm, lohu tak bakal sudi."
Lok Khi segera tertawa manis kepada toa-suko dan sucinya, setelah itu sambil mencibirkan bibirnya dia berseru kearah Wi Tiong-hong.
"Sekarang kau sudah mempunyai piau moay lain, aku tak sudi menjadi piau moaymu lagi."
Selesai berkata, dengan kepala tertunduk dia berlalu dari ruangan tersebut dengan cepat.
Walaupun beberapa patah kata itu diucapkan dengan suara yang pelan, namun setiap orang yang hadir dalam ruangan dapat mendengarnya dengan jelas sekali.
Paras muka Wi Tiong hong kontan saja berubah menjadi merah padam karena jengah, belum sempat dia mengucapkan sesuatu, si nona sudah lari keluar dari sana.
Sebaliknya paras muka Lan Kun-pit berubah menjadi hijau membesi, tiba-tiba dia melompat bangun, kemudian sambil menuding dengan kipas peraknya dia membentak keras-keras.
"Wi Tiong-hong, berdiri kau!"
Dengan wajah tertegun dan tidak habis mengerti Wi Tiong hong bangkit berdiri, lalu katanya sambil menjura.
"Saudara Lan, apa urusan apa kau ?"
Sambil menggertak gigi menahan rasa gusarnya Lan Kunpit berseru.
"Pun kongcu bersumpah tak akan hidup berdampingan denganmu, sekarang mumpung berada dihadapan para enghiong dari seluruh kolong langit, mari kita beradu kepandaian sampai titik darah penghabisan!"
"Aku toh sama sekali tak ada hubungan denganmu atau sakit hati denganmu, apa maksudmu menantangku berkelahi ?"
Kata Wi Tiong hong dengan kening berkerut. Mencorong sinar tajam penuh hawa napsu membunuh dari balik mata Lan Kun-pit, setelah tertawa menyeringai dengan seramnya. ia menyahut.
"Aku tidak bermaksud apa-apa, pokoknya di antara kita berdua, hanya ada seorang yang boleh keluar dari pintu ruangan ini dalam keadaan hidup, mengerti kau?"
Sementara perkataan tersebut diutarakan, sambil menggenggam kipas peraknya selangkah demi selangkah dia berjalan mendekati Wi Tiong hong.
Menghadapi situasi seperti ini, tanpa terasa Wi Tiong hong mundur selangkah kebelakang, kemudian tegurnya.
"Mau apa kau?"
Lan Kun-pit mendesak maju satu langkah lagi, kemudian bentaknya keras-keras.
"Berhenti, orang she Wi, bila kau merasa punya kepandaian marilah bertarung mati hidup dengan Pun kongcu."
Hawa amarah sudah menyelimuti wajah Wi Tiong hong, namun dia tetap mundur selangkah, ucapnya dengan wajah bersungguh-sungguh.
"Kita belajar silat bukan untuk berkelahi, melainkan untuk menegakkan keadilan dan kebenaran dalam dunia persilatan, membantu kaum lemah dan menumpas kaum durjana, kalau soal tantang menantang hanya bermaksud untuk gagah-gagahan saja seperti kau . .. hmm, maaf! Aku orang she Wi sama sekali tak berminat untuk melayaninya."
Berkilat tajam sepasang mata Lan Kunpit mendadak ia tertawa tergelak, kemudian sambil menuding hidung lawannya dengan kipas peraknya, dia berkata dingin.
"Lelaki banci, kau anggap pun kongcu akan melepaskan dirimu dengan begitu saja karena kau mengucapkan beberapa patah kata itu. Hmmm. bila kau tidak meloloskan pedangmu lagi, jangan salahkan jika pun-kongcu tak akan berbelas kasihan lagi."
Oooooooo Bab-47 UMPATAN "Lelaki banci"
Tersebut kontan saja mengobarkan hawa amarah dalam hati Wi Tiong hong, keningnya segera berkerut lalu dengan suara lantang teriaknya.
"orang she Lan, kau anggap aku orang she Wi takut kepadamu ?"
Lan Kun-pit mendengus dingin.
"Hmm, kalau tidak takut memang lebih bagus lagi, kita bisa mengandalkan kepandaian masing-masing untuk menentukan menang kalah. Siapa yang kalah, dia hanya bisa menyalahkan kepandaian sendiri yang tidak becus."
Wi Tiong-hong merasa bahwa setiap patah kata yang diucapkan Lan Kun-pit sangat memojokkan posisinya, terutama sekali sikap lawannya yang begitu sombong dan tekebur, benar-benar membuat setiap orang yang mendengarnya merasa tak tahan.
Bagaimanapun juga adalah seorang pemuda yang berdarah panas, setelah dipojokkan terus menerus oleh lawan dihadapan orang banyak.
akhirnya meluap juga kemarahan yang membara didalam hatinya, sambil tertawa nyaring dia berseru.
"Bagus sekali, aku orang she Wi pasti akan melayani keinginanmu itu, cuma sebelum pertarungan di langsungkan kau harus menerangkan lebih dahulu apa vang menyebabkan kau memaksa aku orang she Wi untuk melangsungkan duel ini?"
Mengejang keras seluruh kulit wajah Lan-Kunpit yang kurus kering itu, kembali dia tertawa seram.
"Heeeh. .heeeh..Pun kongcu justru merasa tak leluasa menyaksikan kehadiranmu disini, mau apa kau..."
Mendadak dia mengayunkan kipas peraknya kedepan, lalu sambil menerjang ke hadapan Tiong hong bentaknya lagi.
"Sekarang kau pasti akan mengetahuinya sendiri!"
Dalam pada itu, paras muka Su Siau hui telah berubah menjadi dingin seperti es, tiba-tiba ia mendengus dingin.
Lak jiu im eng Thio Man yang berdiri dibelakang Thian Khi cu merasa penasaran juga setelah menyaksikan adegan tersebut, tak tahan tiba-tiba ia berteriak keras.
"Wi toako, cabut keluar pedangmu!"
Sementara itu Wi Tiong hong sudah dibakar hatinya oleh api kemarahan, setelah berulang kali didesak dan dipojokan lawan, dia menyerbu ke depan dan mencabut keluar pedang berkarat tak bersinarnya itu, tapi sebelum ia melancarkan serangan mendadak ia berpaling kepada semua jago yang hadir di arena tiba-tiba tanyanya.
"Siapa diantara kalian yang bersedia meminjamkan pedang untukku?"
Lak-jiu im eng Thio Man dengan cepat mencabut keluar pedangnya dan dilemparkan ke-depan, serunya.
"Wi toako, gunakan saja pedangku ini."
Lan Kun-pit memandang sekejap kearah Thio Man, lalu serunya sambil tertawa dingin.
"Benar, pertarungan ini adalah untuk menentukan mati hidupnya berdua memang paling baik akan ditukar dengan sebilah pedang yang lebih tajam."
Setelah menerima pedang tersebut Wi Tiong-hong bersenyum.
"orang she Lan, kau telah salah melihat."
"Apakah aku telah salah berbicara?"jengek Lan Kun-pit. Wi Tiong hong sama sekali tidak menggubris ocehannya, melainkan menyodorkan kembali pedangnya kehadapan Thio Man, lalu berkata.
"Nona harap kau menyimpan kembali pedangmu itu."
"Mengapa begitu?"
Seru Thio Man sambil menatap wajah si anak muda itu lekat-lekat.
"Pedang ini merupakan pedang milik nona, kurang baik jika kugunakan sampai rusak, maka dari itu aku hanya ingin mencari sebilah pedang yang tak dipakai lagi."
"Apa sih artinya sebilah pedang? Kalau memang rusak yaa sudahlah, toh tidak menjadi soal?"
Wi Tiong hong segera menjura.
"Kalau memang begitu, ku ucapkan banyak terima kasih dulu atas kebaikan nona."
Merah padam selembar wajah Lakjiu im eng Thio Man karena jengah, bisiknya lirih.
"Mengapa harus berterima kasih?"
Dalam pada itu Kun-pit sudah tak sabar lagi, tiba-tiba dia menimbrung.
"Sudah selesai belum pembicaraan kalian?"
Wi Tiong hong berkerut kening, dengan tangan kiri memegang pedang Thio Man, tangan kanan menggenggam pedang berkarat milik sendiri, dengan cepat dia membalikkan tubuhnya.
Ketika semua orang menyaksikan dia membawa sepasang pedang, segera disangkanya anak muda itu hendak bertarung menggunakan sepasang pedang tersebut.
Dengan sikap yang angkuh dan jumawa, Lan Kun-pit segera mengejek lagi dengan dingin.
"Sekalipun kau menggunakan sepasang pedang memangnya bisa bertarung berapa jurus saja diujung kipas pun-kongcu?"
Berkilat sepasang mata Wi Tiong hong, mendadak serunya dengan suara keras.
"Perhatikan baik-baik."
Mendadak pedang karat ditangan kanannya diayunkan ke atas ujung pedang milik Thio Man tersebut sembari melancarkan sebuah tebasan tajam.
"Sreet .."
Begitu pedangnya diayunkan, ujung pedang yang berada ditangan kirinya itu segera terpapas kutung satu bagian.
Kejadian ini kontan saja membuat semua orang tertegun, sekarang semua orang baru tahu kalau pedang karat yang sekali jelek dan tak menarik itu sebetulnya adalah sebilah pedang mestika yang ampuh sekali.
Sambil tertawa terbabat bahak, Wi Tiong hong berseru lagi .
"Haaa .. haaaa... haaa.... tentunya kau sudah melihat dengan jelas bukan? Berhubung aku tak ingin mencari keuntungan melalui ketajaman senjataku maka aku sengaja berganti menggunakan sebilah pedang yang lain."
Berbicara sampai disitu, dia lantas menyarungkan kembali pedang berkaratnya, lalu memindahkan pedang dari tangan kiri ke tangan kanannya dan berdiri dengan angker.
"Sekarang, kau boleh melancarkan seranganmu!"
Bentaknya sambil menatap wajah Lan Kun-pit.
Mula-mula Lan Kun-pit dibikin tertegun juga oleh kegagahan serta kewibawaan orang, mendadak hawa pembunuhan yang amat tebal menyelimuti seluruh wajahnya, sembari melancarkan sebuah totokan dengan kipas peraknya, ia membentak keras-keras.
"Kau tak usah tekebur dulu, kalau ingin membacot, silahkan berkoar-koar setelah menyambut tiga puluh jurus serangan dari pun kongcu."
Pada dasarnya dia memang memiliki ilmu silat yang sangat lihay, ditambah pula hawa napsu membunuh telah menyelimuti seluruh wajahnya, tak heran kalau totokan yang dilontarkan dengan kipas peraknya itu disertai dengan tenaga serangan yang kuat.
Sekilas cahaya perak.
dengan membawa suara desingan angin tajam langsung menyambar kedepan.
Ketika berada diluar kota Sang siau dahulu, Wi Tiong hong sudah pernah bertarung melawannya, dan tahu kalau ilmu silat yang dimiliki lawannya ini lihay sekali, karena itu dia berusaha keras untuk menghindari suatu bentrokan keras lawan keras.
Pedangnya lantas digetarkan ke atas, dengan jurus Thian-to Tiong-hoo (alur langit bertabung ditengah) menciptakan sebuah lingkaran cahaya pelangi berwarna keperak-perakan.
Tubuhnya bergerak mengikuti gerakan pedangnya, secara lincah dan gesit dia meloloskan diri dari serangan Lan Kun-pit tersebut, lalu dari posisi bertahan berubah menjadi posisi menyerang.
Jurus serangan yang digunakan ini tak lain adalah ilmu pedang Ji gi kiam hoat dari Bu tong pay.
Dari Kenghian totiang, Thian Khi cu sudah tahu kalau Wi Tiong hong adalah murid toa suhengnya, maka dia menaruh perhatian khusus terhadapnya.
Terdengar Lan Kun-pit mendengus dingin, kipas peraknya dicukil keatas kemudian membabat pergelangan tangan Wi Tiong hong.
Serangan ini dilancarkan dengan kecepatan luar biasa, kipas yang sudah jelas mencukil keatas untuk membabat pergelangan tangan Wi Tiong-hong, ketika sampai ditengah jalan tahu-tahu sudah berubah menjadi tiga kuntum bunga pedang yang sekali berkelebat telah sampai disasaran, ternyata kali ini dia mengancam tiga buah jalan darah penting disekitar tulang.
Selain ganas dan buas, serangan itu juga lihay sekali.
Kembali Wi Tiong-hong bergerak mengikuti pedangnya, secara beruntun dia berganti tiga tempat, lalu sambil menggetarkan pergelangan tangannya melepaskan serangan dengan jurus It goan bu si (Sumber hawa berpusat satu).
Ujung pedangnya yang menjangkit ke atas, segera digetarkan kemudian dengan menciptakan sebuah lingkaran kecil sebesar mata uang, dengan cepat menumbuk kipas dari Lan Kan pit.
Serangan ini dilancarkan disaat dia sedang menghindari serangan musuh, hingga kelihatannya cepat sekali.
"cri ing..."
Suatu bentrokan nyaring segera berkumandang memecahkan keheningan.
Tampaknya Lan Kun-pit sama sekali tidak menyangka sampai ke situ, seluruh tuhubnya bergetar keras, mendadak ia melejit lalu secepat kilat melompat mundur satu langkah kebelakang.
Dalam pada itu.
sepasang mata Thian Khi cu tak pernah lepas dari tubuh Wi Tiong hong, keningnya segera berkerut setelah menyaksikan peristiwa tersebut, pikirnya.
"Berbicara soal gerakan tubuh, gerakan langkah dan gerakan tangan sewaktu dia menggunakan jurus It goan bu si tadi, semestinya benar semua dan tak ada yang berbeda, tapi heran mengapa gerakan pedangnya justru berbeda jauh dengan gerakan aslinya? Mengapa toa suheng merobah jurus It goan bu si yang begitu bagus dengan penuh perubahan ini menjadi jurus serangan yang ganas dan mengerikan?"
Perlu diketahui, jurus It goan hu si tersebut merupakan himpunan dari seluruh jurus inti Ji gi-kiam hoat dari Butongpay, gerakan pedangnya hampir semua membentuk gerakan Thay kek, lingkaran yang tercipta seharusnya berada diluar badan.
Tapi lingkaran Thay kek yang diciptakan oleh Wi Tiong hong sekarang bukan cuma sebesar mata uang, bahkan tenaga pantulannya, sangat kuat dan besar.
Tak heran kalau Thian Khi cu yang menyaksikan kejadian ini diam diam harus berkerut keras.
Pada benturan ke dua Lan Kunpit sudah digetarkan oleh serangan Wi Tiong hong sehingga tanpa terasa tubuhnya mencelat setinggi tiga depa lebih, benar saja kipas yang berada di tangannya tak mampu dipegang kencang.
Kenyataan ini segera mengejutkan hatinya, buru-buru melompat mundur, kemudian pikirnya.
"Tak kusangka kalau kepandaian silat yang dimiliki bocah keparat ini benar benar sangat lihay."
Ingatan untuk memandang enteng musuhnya segera menjadi jauh berkurang, bentaknya dengan suara dingin.
"Benar-benar suatu ilmu pedang yang bagus."
Berbareng dengan seruan itu, tubuhnya menerjang maju ke depan, pergelangan tangannya digetarkan dan kipasnya menciptakan selapis cahaya perak yang segera menyelimuti seluruh angkasa, cahaya tajam mana secara bersama-sama langsung mengurung tubuh Wi Tiong hong.
Begitu berhasil mendesak mundur musuhnya da lam serangan pedangnya, Wi Tiong hong merasa semangatnya berkobar begitu melihat datangnya bayangan kipas dari Lan Kunpit yang menyerang datang secara gencar, dia pun turut membentak.
"Sebuah serangan yang amat bagus"
Pedangnya diputar ditengah udara, suara desingan tajam bagaikan pekikan naga, bersamaan dengan getaran pada pergelangan tangannya.
Ujung pedang meluncur ke atas menyongsong datangnya bayangan kipas dari Lan Kun-pit.
Tampak selapis bayangan perak menyelimuti angkasa, cahaya tajam dan bayangan kipas segera bercampur aduk menjadi satu.
Dalam waktu singkat Wi Tiong-hong dan Lan Kun-pit telah terlibat dalam suatu pertarungan adu cepat, dua puluh gebrakan sudah lewat tanpa terasa.
Ilmu pedang yang dipergUnakan Wi Tiong hong sekarang ilmu pedang Ji gi-kiam hoat dari Bu-tong-pay, semua gerakan pedangnya mengambil posisi setengah busur, semuanya terbuka gagah dan mencerminkan suatu ilmu pedang dari suatu perguruan yang lurus.
Sebaliknya permainan kipas dari Lan Kunpit bergerak ganas keji dan berbahaya, semuanya berjalan seorang dengan jurus aneh yang bermunculan setiap saat, keganasan dan ancaman bahayanya sungguh membuat hati orang bergidik.
Didalam serangan bertubi-tubi itu, Wi Tiong hong mulai merasa keteter dan bertahan sepenuh tenaga.
Tiga puluh gebrakan kemudian, Lan Kun-pit mulai habis kesabarannya dan tiba-tiba ia membentak keras, permainan kipasnya berubah dalam waktu singkat, tampak serangan makin lama semakin bertambah cepat, kipas peraknya diputar sedemikian rupa menciptakan selapis demi selapis cahaya perak berputar bagaikan roda, tubuh dan kipasnya seperti telah melebur menjadi satu.
Bayangan kipas yang menyelimuti angkasa bagaikan gulungan ombak yang melanda seluruh permukaan saja, selapis demi seltpis menyerang tiba dengan ganasnya.
Pada hal Wi Tiong hong sudah berada dalam posisi di bawah angin, apalagi setelah diteter seperti itu, keadaannya semakin mengenaskan lagi ..Dia mundur setengah langkah kebelakang kemudian memberikan perlawanan dengan gerakan yang justru merupakan kebalikan dari gerak cepat melawan cepat tadi.
Pedangnya diputar didepan dada, menciptakan sebuah lingkaran cahaya, gerakannya amat lamban dan satu jurus demi satu jurus dilontarkan secara berulang-ulang.
Kalau dibicarakan yang sesungguhnya, keadaan waktu itu memang aneh sekali, gerakan pedang yang kelihatan sangat lamban itu sama sekali tidak nampak sesuatu kejutan, bahkan seakan-akan tidak disertai dengan sedikit tenaga pun.
Tapi semua serangan dahsyat yang dilancarkan Lan Kun-pit itu justru kena terbendung semua oleh serangan pedangnya itu, bahkan keadaan yang kritispun makin berhasil dikuasai.
Thian Khi cu dari Bu tong pay mulai mengelus jenggotnya, sekulum senyumanpun mulai menghiasi wajahnya.
Tentu saja dia pun dapat melihat kalau Wi-Tiong hong yang semula berada dalam keadaan panik dan berangasan lambat laun berhasil menguasahi diri dan menjadi tenang kembali, sekarang seluruh hawa murninya dihimpun menjadi satu dan inilah inti sari yang sesungguhnya dari ilmu pedang Ji gi kiam hoat aliran Bu tong pay.
Keng hian tojin, Bwee hoa kiam Thio Kun-kay, maupun Lakjiu im eng Thio Man dari Bu tong pay juga mulai mengulumkan senyuman diatas wajah masing-masing.
Ketika mereka menyaksikan Wi Tiong hong bertempur dengan mengandaikan ilmu pedang dari perguruannya, tentu saja hal ini segera menimbulkan kebanggaan dalam hati masing-masing, terutama sekali berada dihadapan jago-jago lihay dari berbagai perguruan, mereka ingin semua orang tahu kalau ilmu pedang dari Bu tong pay pun tidak kalah hebatnya dengan kepandaian lainnya.
Kedua belah pihak kembali bertarung dua puluh gebrakan lebih, bagaimana pun gencar dan dahsyatnya Lan Kunpit melepaskan serangan, hampir semuanya berhasil dipatahkan oleh Wi Tiong hong dengan gerakan pedangnya yang mengambang seolah-olah tak bertenaga itu, seakan-akan serangan dahsyat dari orang she Lan itu telah membentur pada selapis dinding tak berwujud yang tebal.
Makin lama pertarungan berlangsung, makin cemas perasaan Lan Kun-pit, hawa amarahnya juga makin lama makin berkobar pikirnya.
"Jikalau hanya serangkaian ilmu pedang Bu-tong pay saja tak mampu kutembus, apakah-orang tak akan mentertawakan ketidak becusanku?"
Padahal darimana dia bisa tahu kalau ilmu pedang Ji gi kiam hoat dari aliran Bu tong pay ini diciptakan langsung oleh Thio Sam hong cousu, selain mengandung dua unsur thay kek yakni hawa im dan hawa yang, pemecahannya berbelit-belit dan tak terhingga luasnya, ilmu tersebut merupakan inti dari seluruh ilmu pedang perguruan lurus yang ada didunia persilatan dewasa ini.
Bayangkan saja, ilmu pedang semacam ini, mana mungkin bisa dianggap enteng.
Perasaannya pada waktu itu gelisah bercampur marah, mendadak sambil tertawa nyaring, sepasang kakinya menjejak tanah keras-keras dan meleset ke tengah udara setinggi tiga kaki lebih.
Wi Tiong hong yang baru saja mendengar suara gelak tertawa lawan tahu-tahu bayangan tubuh musuhnya sudah lenyap tak berbekas, setelah tertegun sejenak.
buru buru dia mendongakkan kepalanya.
Pada saat itulah, Lan Kun-pit dengan jurus ciong liong ji hay atau naga sakti masuk laut dalam waktu singkat sudah menerkam keatas kepalanya, sedangkan kipasnya juga pada saat itulah dipentangkan lebar-lebar membentuk gerakan setengah bulatan, lalu dengan berubah menjadi setipis cahaya tajam langsung mengurung seluruh tubuh Wi Tiong hong.
Su Siau hui cuma duduk dikursi dengan wajah dingin dan hambar, tapi setelah menyaksikan Lan Kunpit menggunakan perakan tubuh im li cing to atau berjumpalitan di tengah awan yang merupakan ilmu andalan keluarga Lan, tak urung berubah juga paras mukanya.
Sesungguhnya Wi Tiong hong hanya memiliki ilmu Ji gi kiam hoat belaka, ia tidak memiliki jurus serangan lainnya yang bisa dikatakan sebagai kepandaian hebat.
Sepasang kakinya segera berdiri pada posisi cu-ba poh, lalu pedangnya menghadap ke atas dan menatap lawannya lekat-lekat, menanti sergapan Lan Kunpit yang datangnya dari tengah udara itu sudah hampir mencapai di atas kepalanya, mendadak ujung pedangnya digetarkan menciptakan lagi sebuah lingkaran cahaya besar mata uang dan menyongsong datangnya tubrukan lawan dengan tusukan keatas.
Lagi-lagi dia mempergunakan jurus It-goan ku si.
Tindakan yang dilakukan olehnya itu, segera membuat Thian Khi cu menjadi terperanjat sekali.
Seharusnya jurus serangan lawan harus dihadapi dengan gerakan Yang-wang im ciat (memandang awan sambil mendongak) yang merupakan taktik menanti gerakan dengan ketenangan.
Tapi, mengapa si anak muda itu justeru menggunakan jurus It goan hu si yang justeru merupakan jurus serangan yang binal dan tidak bisa ditentukan arah sebenarnya?
"Aduh celaka ..."
Dalam hati kecilnya dia segera berpekik keras-keras.
"Traaang ..."
Baca Juga: Mestika Burung Hong Kemala 1
Baca Juga: Si Rajawali Sakti 6