Eps 8 Pedang Berkarat Pena Beraksara - Tjan ID
Baca online Pedang Berkarat Pena Beraksara - Tjan ID
Cersil Pedang Berkarat Pena Beraksara - Tjan ID.
Pedang dan kipas tersebut tahu-tahu sudah membentur satu sama lainnya, suara benturan nyaring yang memekikkan telinga pun segera berkumandang memecahkan keheningan.
Sekujur badan Lan Kun-pit bergetar keras dan .."weeess "
Dia mencelat lagi setinggi satu laki ke tengah udara, setelah berjumpalitan dua kali, tubuhnya baru melayang turun kembali ke tanah.
Tidak, setelah mencapai tanah, dia masih harus mundur sejauh dua tiga langkah lagi sebelum dapat berdiri tegak.
Tampak dadanya bergerak naik turun dengan kencangnya, paras muka yang tampan berubah menjadi merah membara, sepasang matanya berapi api amarah dan rasa bencinya boleh dibilang sudah mencapai pada puncaknya.
Dengan suara yang berat dan dalam segera bentaknya.
"Bagus . .."
Baru saja ucapan itu dilontarkan, sepasang lengannya sudah digetarkan lagi, ujung kakinya menjejak tanah dan secepat petir meluncur ke depan untuk melancarkan tubrukan untuk kedua kalinya ke arah Wi Tiong hong ...
Mendadak kipas peraknya merapat menjadi satu, kemudian digerakkan kedepan dan di tarik ke belakang dengan kecepatan luar biasa, selapis hujan perak disebarkan keluar, cahaya tajam membias ke angkasa dan amat menyilaukan mata.
Di dalam melepaskan serangan ini, kembali tubuhnya meninggalkan permukaan tanah setinggi lima depa, kemudian menerjang kedepan dengan kipas yang digerakkan menciptakan beribu-ribu perubahan dengan jurus serangan yang digunakan pertama kali tadi boleh di katakan sama sekali bertolak belakang.
Kejadian ini kontan saja mengundang perhatian yang lebih seksama dari para jago.
Wi Tiong-hong masih tetap berdiri dengan posisi cu bu-poh dan gaya serangan yang tak berubah, bukan berkelit atau maju menyongsong, dia tetap berdiri tak berkutik ditempat semula kemudian pedangnya dengan cepat membentuk dua buah lingkaran cahaya yang satu besar dan yang lain kecil untuk menotok ke depan.
Inilah jurus Hu im pau yang (berhutang di neraka membayar didunia) dari ilmu pedang Ji gi kiam-hoat.
Namun gerakan yang digunakan lagi-lagi berbeda dengan jurus aslinya, kalau menurut gerakan yang asli, maka ke dua lingkaran cahaya ini seharusnya digunakan dengan ujung pedang menghadap ke bawah, lalu tubuhnya bergerak mengikuti pedang.
Berhubung Thian Khi cu yang merasa tidak seharusnya pemuda itu menggunakan jurus it goan-hu si tadi, tapi kenyataannya dengan jurus It goan husi anak muda tersebut malah berhasil mementalkan Lan Kun-pit, maka setelah dilihatnya dia menggunakan jurus Hu im pau yang yang digunakan menjadi sebuah jurus aneh, sebaliknya dia malah memperhatikan dengan penuh seksama.
Tubrukan dari Lan Kun-pit cepat sekali, dalam sekilas kelebatan saja, tahu-tahu tubuhnya sudah sampai pada sasaran.
Tapi disaat tubuhnya menubruk tiba inilah, mendadak Wi Tiong-hong menggeserkan badannya kesamping, kemudian pedangnya yang melancarkan tusukan pun ikut mencongkel ke atas secara tiba-tiba.
Mendadak saja Lan Kun-pit merasakan pandangan matanya menjadi kabur dan telinganya mendengar suara benturan nyaring "Traaang .
.."
Pergelangan tangan kanannya segera bergetar keras, tubuhnya yang ikut meluncur datang pun kena dicongkel orang ke atas sehingga tak bisa terhindar lagi badannya kena dipukul miring ke samping dan tubuhnya melanjutkan terjangannya ke depan.
Menanti dia menyadari kalau gelagat tidak beres, cepat-cepat dia menarik napas panjang, tapi tubuhnya sudah meluncur sejauh dua tiga kaki dari posisi semula bahkan langsung menumbuk ke arah dinding ruangan disebelah timur.
Perlu diketahui ilmu In li cing to atau berjumpalitan ditengah awan dari keluarga Lan di Inlam ini seperti juga dengan ilmu Im liong pat si (delapan gerakan naga mega) dari Kun-lun-pay, semuanya mengutamakan serangan tubrukan dari tengah udara.
Dasar ilmu silat yang dimiliki Lan Kun-pit sudah mencapai tingkatan yang sempurna, sewaktu dilihatnya dia sedang meluncur ke depan dan hampir menubruk diatas dinding, bahkan gerakan tubuhnya sudah tak sempat ditahan lagi, dalam gelisahnya, satu ingatan lantas melintas lewat dalam benaknya.
Mendadak dia membalikkan badannya, lalu sepasang kaki menjejak diatas dinding dan secepat anak panah yang terlepas dari busurnya meluncur balik ke tengah arena.
Kipasnya segera dipentangkan lebar-lebar, dengan membawa selapis cahaya perak sepanjang berapa depa untuk ketiga kalinya dia menerjang Wi Tiong hong.
Kali ini, serangannya dilakukan dengan kecepatan yang benar-benar tak terlukis mata.
Sewaktu Wi Tiong hong berhasil mementalkan musuhnya tadi, diapun baru saja menarik kembali pedangnya, sewaktu Lan Kunpit dengan membawa desingan angin serangan yang maha dahsyat telah menerjang kembali kehadapan mukanya.
Berada dalam keadaan demikian, tak banyak waktu lagi buat Wi Tiong hong untuk berpikir panjang, pedangnya segera digetarkan menciptakan tiga kuntum bunga perak yang gemerlapan, lalu dengan kecepatan yang sama ia sambut datangnya serangan tersebut.
Sam hoa sian teng (tiga bunga muncul dipundak) lagi-lagi sebuah perubahan jurus yang digubah dari ilmu Ji gi kiam hoat aliran Bu-tong pay.
Sekali lagi Thian Khi cu mengerutkan dahinya rapat rapat, meskipun dengan mata kepala sendiri ia saksikan Wi Tiong hong dua kali berhasil mementalkan Lan Kunpit, seakan-akan dibalik gubahan jurus serangannya tersimpan suatu kekuatan yang maha besar, namun ia tak habis mengerti dimanakah letak rahasia kekuatan itu.
"Traaang! Traang! Traaang!"
Secara beruntun terdengar tiga kali benturan nyaring yang memekikkan telinga berkumandang memecahkan keheningan.
Lan Kun-pit kena digetarkan sampai melompat tiga kali kearah atas, kipas peraknya lepas dari genggaman dan berubah sebagai serentetan cahaya yang berwarna keperak-perakan langsung meluncur keatas.
"Taaak!"
Dengan keras kipas perak itu menancap diatas dinding batu.
Kemudian dengan tubuh sempoyongan dia mundur sejauh tujuh delapan langkah kebelakang sebelum berhasil berdiri tegak, wajahnya pucat pias, bibirnya terkatup kencang tanpa mengucapkan sepatah katapun, tampaknya ia sedang mengatur pernapasan.
Wi Tiong hong sama sekali tidak melakukan pengejaran, dia berdiri dengan pedang yang tersoren agaknya dia sendiripun tidak mempunyai pegangan untuk mengungguli musuh.
Sebab berbicara yang sebenarnya, dia sendiripun merasa tertegun dan sama sekali diluar dugaan ketika menyaksikan kipas perak Lan Kunpit teriepas dari genggaman dan orangnya bergetar sampai luka dalam ...
Setiap anggota Bu tong pay segera menunjukkan wajah berseri, Thian Khi cu sendiripun sampai ikut berubah wajah.
Ban kiam hweecu yang duduk dikursi utama segera berseru tertahan kemudian bisiknya lirih.
"Kan sam ceng atau tiga getaran maut yaa, benar, inilah Kan sam cang, masa dia adalah ahli waris dari Sian soat kiam kek ?"
Sian-soat kiam kek ciang Lam san berasal dari Bu tong pay, dia merupakan salah seorang diantara delapan pelindung hukum perkumpulan Ban kiam hwee, dan merupakan salah satu diantara tiga orang yang berhasil pulang dalam keadaan hidup setelah penyerbuannya ke Lam hay.
Ke tiga orang itu adalah It teng taysu, pendiri perkumpulan Thi pit pang Tau Pek li serta Siau soat kiam kek jago pedang dari (sian soat) ciang Lam san, tapi dengan munculnya kembali si Kakek pengait dari telaga langit berarti empat orang yang berhasil lolos dari Lam-hay tempo hari.
Sementara itu Lan Kun-pit telah membuka matanya kembali setelah memejamkan mata dan mengatur pernapasan beberapa saat lamanya, dari balik matanya sekarang terpancar keluar sinar kebencian yang merasuk sampai ketulang sumsum.
Dengan penuh rasa dendam ia melototi wajah Wi Tiong hong, kemudian sumbil manggut-manggut katanya.
"orang she Wi, kau anggap dapat mengungguli pun kongcu ?"
Ia tidak membalikkan badannya untuk mengambil kipas peraknya, melainkan dengan sepasang tangan direntangkan lebar-lebar, selangkah demi selangkah berjalan mendekati Wi Tiong hong.
Dari sikap maupun mimik wajahnya yang menyeringai menyeramkan, Wi Tiong hong tahu kalau orang ini berniat untuk beradu jiwa dengannya, tanpa terasa dia mendengus gusar.
"Hmm... menang kalah sudah ketahuan, apakah kau masih belum mau mengakuinya?"
Dia menegur. Sinar buas yang amat mengerikan memancar keluar dari balik mata Lan Kunpit, setelah menyeringai dan tertawa seram sahutnya.
"Pun kongcu sudah mengatakan tadi, di antara kita berdua, hanya seorang yang boleh keluar dari sini dalam keadaan hidup."
"Hmm, kongcu apaan kau itu ? Tak tahu malu!"
Umpat Thio Man sambil meludah.
Lan Kun-pit sama sekali tidak menggubris, sepasang lengannya masih tetap direntangkan didepan dadanya, sementara tubuhnya selangkah demi selangkah bergerak mendekati Wi Tiong hong.
Jarak mereka berdua makin lama semakin bertambah dekat, sambil melintangkan pedangnya di depan dada Wi Tiong hong membentak.
"Berhenti Apakah kau hendak mencoba kepandaianku dalam permainan tangan kosong?"
"Aku menginginkan nyawa anjingmu"
Bentak Lan Kun-pit dengan penuh kebencian.
Bersamaan dengan menggemanya bentakan tersebut, tangan kanannya segera diayunkan kedepan, sekilas cahaya berwarna biru meluncur keluar dari balik ujung bajunya dan menyambar kedepan, Itulah sebilah pedang pendek yang panjang satu depa, ujung pedangnya berwarna biru gelap dan jelas sudah direndam dengan racun yang keji, kini pedang tersebut sedang menyambar ke dada Wi Tiong hong.
Cepat-cepat Wi Tiong hong memutar pedangnya untuk menangkis ancaman tersebut.
"Traaang , . ."
Di ringi dentingan nyaring, tahu-tahu pedangnya sudah terpapas kutung sepanjang tiga inci oleh bacokan pedang beracun lawan.
Dalam kejutnya, buru buru dia menarik napas panjang dan segera melompat mundur sejauh selangkah.
Lan Kun-pit tertawa terbahak-bahak, dia menarik kembali pedang pendeknya, lalu menerjang kemuka, sambil menggetarkan pergelangan tangannya, kali ini dia menusuk perut Wi Tiong hong.
Ternyata pedang pendek beracunnya ini mempunyai seutas rantai perak yang tipis pada gagang pedangnya, itulah sebabnya dia dapat segera menarik kembali senjatanya dengan cepat.
Tapi berhubung serangan yang digunakan olehnya terlampau cepat, maka siapapun tak dapat melihat jelas akan hal itu, tahu-tahu Lan Kunpit berikut pedangnya sudah menerjang lagi ke depan.
Sejak tangkisan pedangnya tidak berhasil membendung serangan lawan, bahkan ujung pedang sendiri malah terpapas sebagian, Wi-Tiong hong sudah menyadari kalau gelagat tak menguntungkan.
Walaupun dia sudah mundur selangkah, tapi Lan Kun-pit yang menerjang kemuka mengikuti terus secara ketat, bahkan pedang pendek beracunnya selalu mengancam dada Wi Tiong hong, dari kejauhan.
Sembari bergerak mundur terus, Wi Tiong-hong berputar tiada hentinya kesana kemari agaknya dia berusaha untuk meloloskan diri dari serangan dan sergapan pedang Lan Kun-Pit.
Siapa tahu Lan Kunpit sudah mata gelap sepasang matanya berapi-api penuh kebencian, dia sudah bertekad untuk membunuh Wi Tiong hong dengan menggunakan cara apa pun.
Maka kemana saja lawannya mundur dia menempel terus secara ketat pedang pendeknya juga menempel terus diatas dada lawan tanpa bergeser barang sedikitpun.
Wi Tiong hong benar benar merasa terkejut bercampur gusar, sambil menbentak keras tangan kanannya diayunkan kedepan.
Sekali lagi dia menggunakan jurus It goan bu si untuk menerjang datangnya pedang dari Lan Kun-pit.
Rupanya setelah dia mencoba kekuatan dari It goan bu si tersebut dan merasakan besarnya daya pental yang terpancar dari pedang tersebut, maka setelah menghadapi ancaman bahaya sekarang tentu saja dia berharap dapat membendung serangan lawan dengan jurus yang sama, syukur kalau bisa mementalkan pedang pendek musuh, atau paling tidak dia harus dapat memperbaiki posisinya semula.
Kalau hal ini gagal dilakukan, maka bisa dipastikan kalau dia bakal terluka di ujung pedang lawan hari ini.
Begitu serangan dilancarkan Wi Tiong hong segera menyelinap ke samping kiri.
"Traaang.."
Cahaya biru berkelebat lewat dan Wi Tiong hong segera merasakan tangannya menjadi enteng.
Ternyata pedangnya sudah kena terpapas oleh musuhnya sehingga patah sepanjang tiga inci.
Belum lagi tubuhnya berdiri tegak.
pedang pendek beracun dari Lan Kun-pit kembali sudah mengancam dadanya.
Di dalam terkesiapnya, Wi Tiong-hong melintangkan pedangnya untuk melindungi dada, sementara tangan kirinya melepaskan sebuah bacokan kilat, berbareng itu juga badannya secepat kilat mengigos ke samping kiri untuk menghindarkan diri.
Lan Kun-pit mengigos kesamping menghindarkan diri dari serangan pukulan yang dilepaskan Wi Tiong hong dari arah depan, pedang pendek ditangannya sama sekali tidak mengendor, dia tetap mengancam terus dada pemuda tersebut.
Dengan sorot mata tajam Wi Tiong-hong mengawasi terus ke arah mana perginya ujung pedang lawan, telapak tangan kirinya melepaskan bacokan berantai sementara tubuhnya mengikuti bacokan serangan tersebut mengigos ke kiri menghindar ke kanan tiada henti.
Di dalam waktu singkat, dia telah melepaskan dua belas bacokan kilat, dan kakinya menghindarkan diri dalam delapan posisi yang berbeda-beda.
Baju biru yang dikenakan Lan Kun-pit di tengah deruan angin pukulan Wi Tiong hong yang amat dahsyat itu bergerak kian kemari gerakan tubuhnya sangat aneh serta sakti, setiap kali dia berhasil menghindarkan diri dari serangan Wi Tiong hong secara tepat.
Pedang pendeknya selama ini menempel terus didepan dada lawan bagaikan bayangan tubuh saja, entah ke manapun Wi Tiong hong mencoba untuk menghindar dia tak pernah berhasil untuk meloloskan diri dari pengejaran musuh.
Pertempuran ini benar benar merupakan suatu pertarungan sengit yang jarang dijumpai dalam dunia persilatan ke dua belah pihak dengan mengandalkan ilmu meringankan tubuh tingkat tinggi saling kejar mengejar, saling hindar menghindar, seolah-olah bagaikan bermain petak saja...
Walaupun pedang pendek Lan Kun-pit terus menempel mengancam dada Wi Tiong-hong, namun jaraknya dengan Wi Tiong hong tak pernah kurang dari dua depa, dia seakan-akan tak mampu untuk memaksakan selangkah lebih ke depan, oleh sebab itu dia pun tak pernah berhasil untuk melanjutkan serangan pedangnya.
Wi Tiong hong sendiri dibawah kejaran dan desakan pedang pendek beracun lawan, terpaksa hanya bisa berkelit ke sana menghindar ke mari, sedikit terlambat saja dia bergerak.
pihak lawan dapat mendesak lebih ke depan dan jiwanya niscaya akan melayang diujung pedang lawan.
Sekarang, keadaan sudah berkembang menjadi suatu keadaan dimana ke dua belah pihak tak dapat menghentikan serangan masing-masing, terutama sekali ilmu meringankan tubuh yang dimiliki ke dua belah pihak punsama-sama lihaynya.
Oleh karena itu meski saling berkejaran dan saling menghindar kedua belah pihak masih tetap menjaga posisi masing-masing.
Secara beruntun Wi Tiong hong melepaskan belasan buah pukulan berantai akan tetapi dia tak pernah berhasil memaksa Lan Kunpit untuk mundur dari posisinya semula.
Kini dia tidak melepaskan serangan secara gegabah lagi, pedang ditangan kanannya disilangkan didepan dada, sementara sepasang matanya yang tajam mengawasi pedang pendek lawan tanpa berkedip.
asal ada kesempatan untuk melancarkan serangan, dia akan segera memanfaatkan dengan sebaik-baiknya.
Sementara itu, Lan Kun-pit yang berkelebat kian kemari dapat merasakan juga betapa tajam dan dahsyatnya serangan dari Wi Tiong hong, kendatipun posisinya sekarang berada di atas angin, namun sedikit saja ia bertindak gegabah, niscaya dia sendiri yang akan terluka diujung telapak tangan lawan.
Semua jago yang menyaksikan jalannya pertarungan itu, diam-diam mengucurkan peluh dingin karena menguatirkan keselamatan kedua orang itu.
Selain itu, sepasang mata Ban kiam Hwee cu yang tajam bagaikan sembilu itu mengawasi terus pedang pendek dari Lan Kunpit, dari kedua orang yang sedang bertarung, jelas dia lebih berpihak kepada Wi Tiong-hong.
Begitu juga keadaan Kam Liu-cu, Liu Leng-poo, Thian Khi-cu dari Bu tong pay serta seng ciu ki Beng Kian-hoo.
Tentu saja yang merasa paling tegang adalah Su Siau hui dan Lak-jiu im seng Thio Man, wajah kedua nona itu sudah basah oleh keringat saking tegangnya.
Sementara itu, kedua sosok bayangan manusia tersebut masih saja maju mundur, berkelit menghindar tiada hentinya, tapi sudah sekian lama berlangsung, belum nampak juga kedua orang itu saling melancarkan serangan lagi.
Sekalipun Wi Tiong hong membekal pedang yang tidak kuatir dikutungi pedang pendek lawan, namun dia tidak mempunyai waktu untuk membuang kutungan pedangnya dan meloloskan pedang berkarat tersebut.
Bahkan waktu untuk memecahkan perhatian guna memikirkan persoalan inipUn tidak ada.
Selembar wajahnya sudah basah oleh air keringat, tentu saja diapun tidak mempunyai waktu untuk menyeka keringat tersebut.
Demikian pula dengan wajah Lan Kun-pit, air keringat telah membasahi seluruh wajahnya, namun paras muka yang hijau membasahi itu telah diliputi oleh hawa napsu membunuh yang benar-benar mengerikan sekali.
"orang she Wi, serahkan selembar nyawamu!"
Mendadak Lan Kun-pit membentak dengan suara menggeledek.
dia menarik napas panjang panjang, lalu tubuhnya seperti anak panah yang terlepas dari busurnya meluncur kedepan, pergelangan tangan kanannya diangkat dan diantara kilatan cahaya kebiru-biruan, dia langsung menusuk ke ulu hati Wi Tiong hong.
Berada dalam posisi begini, Wi Tiong hong sudah tak mampu lagi menghindari serangan lawan, amarahnya segera membara, sambil mendengus, tangan kirinya membuat gerakan lalu pedang kutungnya disilangkan didepan dada, dengan kecepatan yang luar biasa pula dia menutul ke ujung pedang Lan Kun-pit keras-keras.
Tindakan ini kontan saja menimbulkan jeritan kaget dan terkesiap bagi setiap jago yang hadir dalam arena, sebab pertarungan beradu jiwa.
Nampaknya kedua orang itu segera akan sama-sama terluka diujung pedang lawan OoOOoO Bab-48 LAK JIU IM ENG Thio Man tidak tega menyaksikan peristiwa itu berlangsung didepan matanya, dia menjerit kaget, kemudian menutupi wajahnya dengan kedua belah tangan.
Namun pada saat yang kritis itulah mendadak dalam arema telah terjadi suatu perubahan besar.
Bukan ada turun tangan menghalau serangan maut tersebut, melainkan ditengah arena telah muncul sebuah jurus serangan aneh yang sukar dipercaya setiap orang.
Rupanya dalam keadaan kritis, Wi Tiong-hong segera melakukan gerakan aneh dengan tangan kirinya, sementara tangan kanannya melepaskan sebuah tolakan.
Jurus serangan yang dipakai adalah Giok wu-tiau thian (Giok wu memandang langit), sebuah jurus pembuka dari ilmu pedang Ji gi kiam hoat aliran Bu tong pay.
Seharusnya jurus serangan ini bukan merupakan sebuah jurus serangan yang lihay.
Dia dipaksa oleh keadaan, apa lagi tak ada jurus serangan lain yang cocok untuk menghapi ancaman lawan, maka dia pun menggunakan pedangnya untuk menutul serangan musuh.
Tapi jurus aneh tersebut justru terletak disini, ketika tangan kirinya melakukan gerakan itulah, mendadak pedang pendek Lan Kun pit yang sedang melancarkan tusukan itu terhisap oleh segulung kekuatan yang maha dahsyat sehingga miring kesebelah kanan, sedangkan pergelangan tangan kanannya yang menggenggam pedang turut terhisap oleh kekuatan Wi Tiong hong itu hingga terseret kesamping.
Maksudnya semula ingin menusuk tubuh lawan, siapa tahu pertahanan tubuhnya sama sekali terbuka.
Kedua belah pihak sama-sama menerjang ke depan dengan cepat, pedang kutung dari Wi-Tiong hong dengan kecepatan luar biasa langsung menusuk keatas bahu kiri Lan Kun pit.
Semua kejadian tersebut berlangsung dengan kecepatan luar biasa, Wi Tiong hong sama sekali tidak menyangka kalau disaat terakhir pihak lawan akan membuyarkan serangannya, dalam tertegunnya buru-buru dia merendahkan pergelangan tangannya dan menarik kembali pedangnya kebelakang.
Tapi sayang sudah terlambat selangkah, kutungan pedangnya itu sudah keburu menyambar diatas bahu kiri Lan Kun pit sehingga darah segar bercucuran dengan amat derasnya.
Perubahan yang terjadi amat tiba-tiba ini tak sempat di ikuti dengan jelas oleh siapapun, menanti semua orang dapat melihat jelas, Lan Kun pit sudah mundur dengan membawa lukanya.
Seluruh ujung bajunya disebelah kiri basah kuyup oleh cucuran darah kental, paras muka Lan Kun-pit dari hijau berubah menjadi pucat, mendadak dia membalikkan badan dan mencabut kipas peraknya yang menancap diatas dinding, setelah itu sambil melotot penuh kebencian, katanya dengan suara dingin.
"Orang she Wi, aku orang she Lan mengucap kan banyak terima kasih atas kesudianmu mengampuniku, bila kita bersua kembali dilain waktu, aku orang she Lan pun pasti akan mengampuni pula dirimu satu kali !"
Selesai berkata dta membalikkan badan dan berjalan pergi meninggalkan tempat tersebut, sementara darah masih meleleh keluar dari lengannya, namun ia sama sekali tidak menggubris.
Padahal Wi Tiong hong sama sekali tidak mengetahui bagaimana kejadiannya sehingga dalam keadaan berbahaya tadi, dia malah berbalik merebut kemenangan.
Tapi kalau di dengar dari perkataan Lan Kun pit.
agaknya dia telah berbelas kasihan kepadanya dalam serangan tersebut, kesemuanya ini membuat pikirennya, bertambah bingung.
"Sungguh memalukan, syukur aku bisa lolos dari ancaman bahaya maut"
Demikian ia bergumam.
Itulah sebabnya tatkala Lan Kun pit selesai berkata segera berlalu, untuk beberapa saat lamanya dia malah tak sanggup mengucapkan sepatah katapun, dia hanya bisa memandang bayangan tubuhnya dengan wajah tertegun dan mulut melongo.
Lak jiu im eng Thio Man segera mencibirkan bibirnya sambil berseru.
"Huuuh, ngomongnya saja besar, kenyataannya tak berkemampuan apa apa ..."
Dalam pada itu Wi Tiong hong telah membuang kutungan pedangnya ke tanah, kemudian menjura kepada Thio Man sambil berkata.
"Aku telah merusak pedang nona, kejadian ini sungguh membuat hatiku merasa tidak tenang."
Thio Man menatap pemuda itu lekat lekat kemudian tersenyum, sahutnya.
"Aaaah, hanya sebilah pedang saja terhitung seberapa. Apa gunanya mesti dibicarakan !"
Sementara itu Seh Thian-yu telah mendorongkan sinar matanya yang tajam, kemudian sambil tertawa terkekeh katanya .
"Wi sauhiap, jurus serangan Tang hui hud-jiu mu yang di mbangi dengan tenaga To im ciat yang sinkang mu benar-benar sangat hebat, hari ini siaute benar benar merasa terbuka mataku."
Waktu itu, Thian Khi cu juga sedang merasa keheranan karena Wi Tiong hong menggunakan jurus pembukaan Giok cu tiau thian dari ilmu pedang Ji gi kiam hoat untuk mengatasi tusukan pedang dari Lan Kun pit dan kenyataannya berhasil.
Tapi setelah mendengar perkataan dari Seh Thian yu tersebut diam-diam dia baru mengangguk.
"Aaaah, betul, mengapa aku lupa kalau toa suheng berasal dari perguruan Siu lo bun?"
Demikian dia berpikir.
"bukankah ilmu To im ciat yang sinkang merupakan rahasia dari perguruan Siu lo bun?"
Berpikir sampai disini, maka semua rasa curiganya pun turut lenyap tak berbekas.
Padahal Wi Tiong bong sendiri sama sekali tidak mengetahui apa yang disebut To im ciat yang sin kang itu, tapi berada dihadapan Seh Thian yu dia tak banyak berbicara.
Dengan wajah memerah karena jengah katanya kemudian.
"Pujian dari Seh totiang hanya membuat aku merasa malu saja..."
Su Siau hui sendiripun menunjukkan perasaan tercengang, dia berpaling dan berbisik-bisik dengan empek Ou nya yang berdiri dibelakang.
Empek Ou tersebut hanya manggut manggut tanpa mengucapkan sepatah katapun.
Kam Liu cu juga hanya tersenyum sambil duduk ditempatnya, dia membungkam juga dalam seribu bahasa.
Pada saat itulah congkoan pedang pita hijau Buyung Siu seperti sengaja mengangkat kepalanya dan memandang sekejap kearah Ban-kiam Hwee cu.
Ban kiam Hwee cu segera manggut-manggut.
Buyung Siu tertawa nyaring, tiba-tiba dia menjura ke arah Wi Tiong hong sembari berkata.
"llmu pedang yang dimiliki Wi sauhiap amat lihay, siaute yang bodoh ingin sekali memohon beberapa petunjuk darimu."
Wi Tiong hong tertegun setelah mendengar perkataan itu, buru buru dia menjura sembari berkata.
"Buyung congkoan, harap kau jangan mentertawakan kepandaianku amat rendah, mana mungkin bisa menandingi kelihayan congkoan?"
Apa yang dikatakan memang merupakan suatu kenyataan, sebagaimana diketahui Buyung Siu bergelar Pau kiam suseng, kesempurnaannya dalam permainan pedang tentu saja luar biasa sekali, tidak banyak jago persilatan yang sanggup bertahan sebanyak sepuluh jurus di ujung pedangnya itu...
Padahal Wi Tiong hong sendiri hanya pernah mempelajari ilmu pedang Ji gi kiam-hoat saja, apapun alasannya, dia merasa bukan tandingan lawannya ini.
Sambil tersenyum Buyung Siu segera berkata "Wi sauhiap, mengapa kau harus merendah?
Dalam pertarungan yang barusan berlangsung setiap orang dapat menyaksikan kelihayanmu itu, dan siaute ingin sekali mohom petunjuk, bila Wi sauhiap menampik, hal ini sama artinya dengan tak sudi memberi muka untukku?"
Wi Tiong hong menjadi tersipu-sipu.
"Tapi siaute benar-benar bukan tandingan dari Buyung congkoan"
Katanya pelan. Ban kiam Hwee cu yang duduk dikursi utama segera mencorongkan sinar tajamnya, kemudian ujarnya sambil tersenyum.
"Kalau toh Buyung congkoan sudah mengajukan permintaan tersebut, lebih baik saudara Wi menemaninya bermain berapa jurus, Sudah lumrah bila antara umat persilatan melangsungkan suatu pertandingan."
Kam Liu cu berkerut kening, dia segera berpaling dan memandang sekejap ke arah Liu Leng-po.
Liu Leng-po yang mengenakan kain cadar hitam segera kelihatan bergerak, agaknya ia sedang menancapkan sesuatu.
Dalam pada itu, Pau kiam-suseng Buyung Siu telah berseru kembali sambil tertawa nyaring.
"Perkataan dari Hwee-cu memang benar, silahkan Wi sauhiap menghadiahkan beberapa jurus untuk siaute, kita hanya membatasi sampai saling menutul saja, tentunya Wi sauhiap tidak keberatan bukan ?"
Setelah mendengar ucapan lawan ini, Wi Tiong hong tahu kalau dia tak bisa menampik lagi, sebagai seorang pemuda yang berdarah panas, tentu saja dia segan mengaku kalah.
Maka tanpa berpikir panjang lagi dia mengangguk, katanya.
"KaIau toh Buyung congkoan telah berkata demikian, akupun hanya akan menurut perintah saja, cuma kepandaian silat siaute amat rendah, mungkin belum lagi sepuluh gebrakan, aku sudah menderita kekalahan di ujung pedang Buyung congkoan, harap congkoan berbelas kasih kepadaku nanti."
Ucapan tersebut bukan kata-kata merendah karena berbicara soal kepandaian silat bila Wi Tiong hong sanggup bertahan sebanyak sepuluh gebrakan di ujung pedang Buyung Siu pun, hal mana sudah merupakan sesuatu yang tidak gampang.
Dengan sinar mata yang memancarkan cahaya tajam, Buyung Siau tertawa ter-bahak2.
"Haa... haaaa... haaaaa... Wi sauhiap memang pandai merendahkan diri sudahlah, silahkan kau meloloskan pedangmu !"
Kembali Wi Tiong hong nampak ragu-ragu.
"Tapi pedangku ini meski berkarat dan nampak tumpul, padahal..."
Untuk menunjukkan bahwa pedangnya tajam, sewaktu bertarung melawan Lan Kun pit tadi pun tak berani memakainya, apalagi saat ini hanya saling mencoba kepandaian, tentu saja dia lebih lebih tak berani untuk menggunakannya.
Tidak menanti sampai perkataan tersebut selesai diucapkan, Buyung Siu telah manggut-manggut sambil menukas.
"Yaaa, Wi sauhiap menggeniboI pedang It sin-kiam salah satu diantara tiga pedang kenamaan dari perguruan Siu lo bun. Meski nampak tumpul dan berkarat, sesungguhnya merupakan sebilah pedang mestika. Siaute meski tak becus, namun masih bisa mengenali benda ini. Dari sini bisa diketahui bahwa kejujuran dan kebijaksanaan Wi sauhiap sangat mengagumkan sekali."
"Di dalam pertarungan kita ini, masing-masing pihak hanya ingin saling mencoba kekuatan, yang dipentingkan adalah perubahan jurus serta kekuatan tenaga, silahkan saja Wi sauhiap menggunakan pedang mana dan tidak usah ragu-ragu."
Berbicara sampai disitu, tangan kanannya menggenggam2 gagang pedangnya dan mencabut keluar sebilah pedang berpita hijau.
Senjata yang digunakan oleh seorang congkoan pedang pita hijau dari Ban-kiam hwee tentu saja bukan sembarangan senjata, begitu diloloskan segera terbias cahaya hijau yang menyilaukan mata.
Sesungguhnya Wi Tiong hong sendiripun tidak tahu tentang asal usul pedang mestika yang berbentuk tumpul dan berkarat itu.
Hari ini, setelah mendengar keterangan Buyung Siu, dia baru tahu kalau pedang ini bernama Jit sio kiam merupakan salah satu diantara tiga bilah pedang mestika perguruan Siu-lo bun.
Siu lo bun.
tiga patah kata ini segera menimbulkan banyak kecurigaan dalam hatinya.
Lencana besi yang diserahkan Paman tak dikenal kepadanya itu adalah lencana Siu lo ci leng yang merupakan benda paling berpengaruh dalam dunia persilatan, pedang yang digunakan juga merupakan Jit siu kiam, salah satu diantara tiga bilah pedang mestika Siu lo bun.
Kemudian ilmu Cay im jiu yang dua kali dipergunakan olehnya ternyata dianggap semua orang sebagai ilmu Siu lo lip.
Hinggga kini, asal usiulnya masih belhum jelas, paman tak dikenal namanya juga tak pernah menampakkan diri, tampaknya bila pamannya itu berhasil ditemukan, maka rahasia dari asal usulnya juga bakal terungkap dengan sendirinya.
Namun kalau disimpulkan dari kesemuanya ini, bisa diduga kaku paman tak diketahui namanya yang telah mendidik dan memeliharanya sejak kecil itu ada sangkut pautnya dengan Sio lo bun.
Entah dimanakah letak perguruan Siu lo bun itu ?
Untuk menemukan jejak pamannya, terpaksa dia harus mengunjungi perguruan Siu lo bun tersebut.
Sementara itu Buyung Siu telah meloloskan pedangnya, tapi ketika ia berpaling, dijumpai nya Wi Tiong-hong hanya menggenggam gagang pedang sambil berdiri termangu-mangu disitu, seakan-akan sedang memikirkan suatu persoalan.
Keadaannya ini kontan saja membuat semua orang merasa keheranan, mereka tak tahu apa yang sedang dipikirkan pemuda tersebut sehingga membuat ia nampak tak tenang.
Buyung Siu mendongakkan kepalanya dan menatap wajah Wi Tiong-hong lekat-lekat, ke mudian tegurnya.
"Wi sauhiap, harap kau segera meloloskan pedangmu"
Wi Tiong hong segera sadar kembali dari lamunannya, merah padam selembar pipinya karena jengah. buru buru dia menjura seraya menyahut.
"Aku akan segera turut perintah !"
Dia segera mencabut keluar pedang berkaratnya itu dari dalam sarung ...
Kali ini semua orang sudah mendengar dari Buyung Siu bahwasanya pedang berkarat yang tidak menarik itu sebenarnya adalah Jit siu kiam, salah satu diantara tiga pedang kenamaan dari Siu lo bun.
Oleh sebab itu, sorot mata semua orang pun bersama-sama dialihkan ke arah pedang Wi Tiong hong.
Sementara itu.
Wi Tiong hong telah mengangkat pedangnya sambil membuka pertahanan pedang ditangan kanannya diangkat tegak lurus ke atas dengan tangan kiri di silangkan ke depan dada.
"Silahkan Buyung congkoan !"
Inilah jurus pertama dari ilmu pedang Ji gi kiam hoat yang disebut Giok ca tiau thiau.
Giok ca tiau tian merupakan suatu sikap memberi hormat sebelum melancarkan suatu serangan, atau berarti bermaksud untuk mengalah, sebab harus menunggu sampai pihak lawan membuka serangan, ujung pedang mana bagru bergerak meliepaskan gerakanh berikutnya.
Hal ini merupakan suatu sikap memberi hormat, dan kebanyakan perguruan kenamaan mempunyai jurus pembukaan semacam ini.
Buyung Siu segera membuat pula gerakan menghormati katanya sambil tersenyum.
"Ada bedanya di antara tamu dengan tuan rumah, harap Wi sauhiap tidak usah sungkan-sungkan"
"Kalau begitu maafkanlah kelancanganku!"
Kata Wi Tiong hong kemudian sambil memberi hormat.
Kaki kirinya maju setengah langkah dengan tangan kiri membuat gerakan, sedangkan pedang ditangan kanannya melancarkan sodokan namun belum merupakan suatu ancaman ....
Melihat itu, Buyung Siu mendehem pelan, kemudian serunya.
"Berhati-hatilah Wi sauhiap !"
Pedangnya didorong kedepan, setitik cahaya bintang dengan membawa suara desingan tajam langsung menusuk ke dada Wi Tiong hong.
Dimulut dia masih mengatakan apa bedanya antara tuan rumah dan tamu", padahal dia sama sekali tidak bersedia mengalah.
Di dalam kenyataan, walaupun jurus serangan yang dilancarkan olehnya itu bergerak agak lamban, namun justru tiba pada sasarannya jauh lebih awal daripada gerakan lawan.
Wi Tiong hong tentu saja tak berani berayal setelah menghadapi serangan pedang lawan yang begitu cepat, tangan kirinya melakukan pancingan, dan pedangnya membabat ke arah kanan dengan jurus Ki bong lu cau (angin puyuh menyapu rumput) Gerak serangan yang dilancarkan oleh Wi Tiong hong inipun dilakukan dengan kecepatan luar biasa, tapi sebelum batang pedangnya sempat menghantam ujung pedang musuh, pedang Buyung Siu sudah miring ke samping dan mengebas ke kanan.
Padahal Buyung Siu sedang melepaskan tusukan ke depan, tentu saja dia tak akan membuyarkan ancamannya ditengah jalan tanpa sebab musabab tertentu, bukan saja hal ini tak akan membentuk gerak serangan, seakan-akan juga bukan atas dasar kemauan sendiri.
Tentu saja bagi pandangan para ahli persilatan yang hadir disitu, dalam sekilas pandangan saja mereka sudah tahu kalau keadaan mana tidak jauh berbeda dengan keadaan yang dialami oleh Lan Kun-pit tadi.
Rupanya disaat Wi Tiong hong menggunakan jurus Giok cau tiau thian tadi, secara diam-diam dia melakukan pula gerakan menghisap dengan tangan kirinya menggunakan ilmu Ti-im ciat yang sinkang.
Buyung Siau memwang tidak malu ydisebut ahli ilxmu pedang, gerakan tubuhnya benar benar sangat enteng dan cekatan.
Baru saja gerak pedangnya terhisap oleh kekuatan Wi Tiong hong, tubuhnya yang enteng sudah melambung ke udara bersamaan waktu-nya, menyusul kemudian melayang turun di samping kiri Wi Tiong hong.
"Wi sauhiap, kau memang benar-benar amat dahsyat."
Pujinya sambil tersenyum.
Ujung pedangnya miring kesamping dan melepaskan sebuah bacokan lagi.
Pada hakekatnya Wi Tiong hong tidak pernah menyangka kalau dalam gerak serangan yang pertama pun dia telah berhasil menghisap ke samping pedang lawan.
Sementara ia masih tertegun, mendadak dari depan mata sudah menyambar tiba pedang lawan, cepat dia berputar ke kiri pedangnya membentuk gerakan melingkar dan mengunci ke arah sebelah kiri Buyung Siu memang hebat sekali, pedangnya seperti seekor naga sakti saja, dalam waktu singkat pedangnya dari satu berubah jadi dua, dari dua berubah jadi empat, dalam waktu singkat muncul tujuh delapan jalur bayangan sinar yang mengurung seluruh tubuhnya.
Wi Tiong hong tak berani gegabah, dia segera memusatkan segenap perhatiannya untuk menghadapi datangnya ancaman lawan yang sangat hebat itu.
ooO^Ooo DALAM waktu singkat kedua belah pihak telah bertarung enam tujuh gebrakan lebih, ternyata masing-masing pihak tak berhasil meraih keuntungan apa-apa..Dengan suara keras Buyung Siu segera berseru.
"Wi Sauhiap, ilmu pedang Ji gi kiam hoat mu benar benar sudah hapal dan menguasai..."
Mendadak permainan pedangnya berubah, dalam waktu singkat cahaya tajam berterbangan dan hawa pedang menguasai seluruh jagad dalam waktu singkat seluruh tubuh Wi Tiong-hong sudah terkurung di balik selapis cahaya pedang yang tajam.
Wi Tiong hong merasakan dari sekeliling tubuhnya seakan muncul berpuluh bayangan pedang yang menyerang datang bersama-sama hawa pedang yang menderu-deru serta daya tekanan yang berat memaksa pedangnya hampir boleh dibilang tak mampu di kembangkan.
Tidak!
pada hakekatnya dia tak tahu bagaimana caranya untuk mengunci datangnya ancaman tersebut.
Dalam gelisahnya, tanpa terasa dia mengerahkan segenap kekuataan yang dimilikinya, tangan kirinya diayunkan berulang kali, sementara pedangnya berputar kencang lalu dibabat kearah depan.
Inilah jurus Pit juang tong keng (menutup jendela membaca doa ) sesungguhnya merupakan jurus pedang pelindung tubuh, tapi berhubung bayangan pedang tibanya cari empat penjuru dengan daya tekanan yang berat, maka ia segera mendorongnya kearah muka.
Seharusnya cahaya pedang yang melingkar diluar tubuh akan mengembang keluar, dan seharusnya bila membentur dengan bayangan pedang lawan maka akan terjadi serentetan suara benturan yang gemerincing sebelum dapat membendung datangnya berpuluh bayangan padang yang menyerang tiba itu.
Siapa tahu disaat pedangnya sedang diayunkan itulah, selapis bayangan pedang yang semula amat menyilaukan mata tadi tahu-tahu lenyap tak berbekas, yang nampak hanya sebilah pedang yang berkilauan langsung menusuk kearah kiri mengikuti gerak serangannya.
Kini, Wi Tiong hong baru mengerti, rupanya gerak serangan lawan benar-benar sudah dibuyarkan oleh ayunan tangan kirinya tadi,jelas pula membuktikan bahwa tanpa disadari dia telah mengeluarkan ilmu To-im ciat yang sinkang lagi, keadaan ini sama pula dengan beberapa kali dia lancarkan pukulan Cay im jiu yang mengandung tenaga Siu lo, semuanya muncul secsra otomatis tanpa disadari oleh dirinya sendiri.
Sebab didalam serangannya kali ini, di saat tangan kirinya diayunkan kedepan tadi, dia sudah merasakan datangnya bayangan pedang yang bertubi-tubi dan dari setiap bayangan mana terpancar keluar kekuatan yang kuat sekali.
Namun begitu ayunan tangannya dilepaskan, semua daya tekanan yang berlapis-lapis itu berubah menjadi segulung aliran berarus kuat yang segera terpancing kesebelah kiri mengikuti gerak hisapan tangan kirinya.
Gulungan kekuatan yang maha dahsyat itu dengan cepat membuat lengan kirinya tergetar hingga hampir saja menjadi kaku, jantungnya berdebar keras dan hampir saja tak mampu menahan diri.
Semua peristiwa itu berlangsung sekejap mata disaat tangan kirinya diayunkan ke kiri tadi, kekuatan maha dahsyat itupun turut meluncur ke depan dan kekuatan yang ibaratnya amukan ombak samudra itu langsung melguncur ke tengahi udara.
Itulah hbayangan pedang yang bergabung menjadi satu dan apa yang terlihat sebagai sekilas cahaya pedang yang meluncur ke tengah udara tadi.
Setelah membuktikan kalau ilmu To im Ciat yang-sinkang miliknya benar-benar hebat, kejut dan girang yang menyelimuti perasaan Wi Tiong hong pun sukar dilukiskan dengan kata-kata.
Buyung Siu yang melancarkan serangkaian serangan dahsyat itu sama sekali tidak memperlihatkan rasa kaget barang sedikitpun meski semua ancamannya kena dihisap sampai membuyar, seakan akan tindakannya itu sudah berada dalam dugaannya.
Dengan senyuman dikulum, dia manggut-manggut seperti seseorang yang mengagumi, tubuhnya juga ikut melayang mundur selangkah ke belakang.
Bagaimana juga gerak-gerik seorang jago pedang kenamaan memang berbeda dengan kebanyakan orang, coba kalau orang lain yang ilmu pedangnya kena dipangkas, niscaya dari-malu mereka akan naik pitam.
Buyung Siu segera melayang kedepan lagi mengikuti gerakan pedang tersebut, kemudian pedangnya diayunkan ke kiri dan kanan bersamaan waktunya, selapis cahaya pedang bagaikan amukan badai dalam sekejap saja telah mengurung seluruh tubuh mereka berdua.
Kini, kedua sosok bayangan manusia itu sudah terbungkus oleh selapis kabut berwarna hijau yang tebal, apa yang terlihat pun hanya dua sosok bayangan kabur yang sedang bergerak kian kemari.
Setiap orang yang hadir dalam arena dapat merasakan bahwa gerak serangan pedang yang dilancarkan Buyung Siu sekarang, tampaknya jauh lebih hebat daripada serangannya pertama.
Lak jiu im eng Thio Man melototkan matanya bulat-bulat, dia merasa amat tegang, kepada kakaknya Thio Kun kay dia berbisik.
"Jiko, ilmu pedang apakah?"
Bwee hoa kiam Tbio Kun kay menggelengkan kepalanya berulang kali, kemudian bisiknya.
"Serangan pedang yang dilancarkan Buyung Siu kelewat cepat, itulah sebabnya muncul bayangan semu seperti ini."
"Menurut pendapatmu, mungkinkah dia akan menjumpai ancaman bahaya maut ..?"
Yang dimaksudkan "dia"
Tentu saja Wi Tiong hong.
"Mereka sudah berjanji hanya akan terbatas saling menutul, aku pikir jiwanya tak akan sampai terancam bahaya maut"
Sahut Thio Kun kay cepat. Sementara mereka masih berbisik-bisik, tiba-tiba terdengar Buyung Siu berseru.
"Wi siauhiap, hati-hati!"
Cahagya pedang bayanigan hijau mendahdak lenyap tak berbekas, Buyung Siu juga ikut melejit satu kaki lebih, pedangnya segera di ayunkan dan tampak serentetan cahaya hijau yang memanjang langsung meluncur ke tubuh Wi Tiong hong.
Kali ini, bahkan Kam Liu cu pun turut melompat bangun secara tiba-tiba, serunya kaget.
"llmu pedang terbang.."
Padahal Wi Tiong hong hanya mengandalkan ilmu pedang Ji gi kiam hoat saja untuk bertarung melawan Pau kiam suseng Buyung Siu yang sudah mencapai puncak kesempurnaan dalam ilmu pedang pada hakekatnya keadaan tersebut bagaikan raksasa besar bertemu orang kecil.
Namuh ucapan dari Buyung Siu memang amat bisa dipercaya, dia telah berjanji hanya akan saling menutul belaka maka andaikata dia menyaksikan Wi Tiong hong tidak mampu untuk menahan serangannya tersebut maka dia akan segera membuyarkan serangannya sambil menarik kembali pedangnya itu.
Wi Tiong hong merasa kagum dan terkejut pikirnya kemudian.
"Kalau toh kau bermaksud mengalah, mengapa pula harus bersikeras untuk beradu kekuatan denganku ?"
Sementara itu, cahaya pedang yang mengitari disekeliling tubuh Buyung Siu telah membuyar, sepasang bahunya bergerak dan tububnya sudah meluncur satu kaki jauhnya.
Wi Tiong hong yang tidak mengetahui sebab musabab orang itu mengundurkan diri, tentu saja hatinya merasa amat keheranan.
Disaat dia masih tertegun itulah, tampak serentetan cahaya pedang berwarna hijau dengan membawa sinar yang menyilaukan mata sudah menembusi angkasa dan langsung meluncur ke arahnya.
Cahaya pedang belum sampai, segulung hawa dingin telah memancar keluar sehingga membual tubuh orang terasa sakit.
Pada saat itulah, mendadak terdengar Buyung Siu berbisik dengan ilmu menyampaikan suara.
"Wi sauhiap, cepat gunakan tangan kirimu untuk menghisap kekuatan pedang tersebut !"
Semua peristiwa itu berlangsung dalam waktu singkat, baru saja suara bisikan itu berkumandang, cahaya tajam berwarna hijau sudah menyelimuti didepan mata, hawa pedang yang kuat pun mengurung sekeliling tubuh Wi-Tiong hong seluas satu kaki lebih.
Pada hakekatnya Wi Tiong hong tidak diberi kesempatan untuk berpikir panjang lagi, terpaksa dia mengayunkan tangan kirinya membuat gerakan aneh dan menyambut datangnya cahaya pedang tarsebutw.
Kalau dibicaryakan sesungguhnxya sangat aneh, hawa pedang yang sebenarnya mengembang sampai seluas satu kaki tadi, dibawah hisapan tangan kirinya, tahu-tahu lenyap tak berbekas.
Bahkan cahaya kehijau bijauan itupun mendadak lenyap tak berbekas dan muncul sebagai bentuk aslinya yakni sebilah pedang berwarna hijau...
Begitu cahaya lenyap, entah sedari kapan tahu-tahu Buyung Siu telah berada tiga depa dihadapan Wi Tiong hong, namun pedangnya yang kena terhisap oleh Wi Tiong hong, sekarang ujung pedang sudah miring ke arah kiri.
Miringnya saja masih tak seberapa, terdengar "Sreeet!"
Segulung cahaya pedang yang tajam yang kena terhisap kesamping tadi mengikuti arah sasaran ujung pedang ini meluncur ke depan dan menghantam ke arah atap.
"Blaammmm !"
Suatu benturan dahsyat menggelegar memecahkan keheningan, tiga batang kayu tiang di atas atap rumah tersapu oleh cahaya pedang tersebut dan segera patah menjadi dua bagian, tak ampun lagi seluruh atap roboh ke bawah.
Kekuatan kedahsyatan yang terbentang di depan mata itu segera membuat semua orang yang hadir dalam arena merasa terkesiap sekali.
Buyung Siu memang tak malu disebut seorang congkoan dari perkumpulan Bankiam hwee, cukup dengan serangan pedangnya ini saja, dalam dunia persilatan sudah jarang sekali ada orang yang sanggup menghadapinya...
Tentu saja semua orang lebih terperanjat lagi terhadap kemampuan Wi Tiong hong, pada hal usianya masih muda, namun ilmu silatnya sudah mencapai tingkatan yang begitu hebat, sehingga serangan pedang terbang yang merupakan ilmu pedang paling tinggi dalam dunia persilatan pun berhasil dipatahkan.
Buyung Siu segera memutar pedangnya sambil melompat mundur sejauh beberapa depa, kemudian sambil memandang ke arah Ban kiam hweecu dia manggut-manggut.
Kemudian serunya sambil tertawa nyaring.
"Wi sauhiap memang hebat sekali, siaute mengaku kalah !"
Ucapan tersebut ternyata diutarakan oleh congkoan pedang pita hijau dari Ban kiam hwee, Pau-kiam suseng Buyung Siu, sesungguhnya keadaan mana benar-benar mengejutkan hati.
Seorang jago kenamaan yang sudah termashur selama banyak tahun ternyata mengaku kaIah didepan kawanan jago lihay dari pelbagai perguruan, tindakan semacam ini benar-benar merupakan sesuatu yang luar biasa.
Kalah, tentu saja dia yang menderita kalah.
Setiap orang yang hadir dalam arem dapat melihat kalau dia telah mempergunakan tiga macam ilmu pedang yang berbeda, namun semuanya berhasil diatasi dengan ilmu To im ciat yang sinkang yang digunakan Wi Tiong hong.
Ilmu To im ciat yang sinkang dari Wi Tiong hong lah yang membuat semua kepandaian saktinya tak berguna, tapi kalau berbicara soal kesempurnaan dalam menggunakan pedang tentu saja Wi Tiong hong sukar untuk melampaui dirinya.
Thian Khi cu dari Bu tong pay serta Sip cu taysu dari Siau lim pay sama-sama merasa tercengang dan diluar dugaan.
Terutama sekali para jago dari Bu tong pay seperti Keng hian tojin, Thio Kun kay serta Thio Man, hampir semuanya mengulumkan senyuman gembira.
Sebab bagaimana pun Wi Tiong hong telah menggunakan ilmu pedang dari Bu tong pay untuk mengungguli Lan Kun pit dan Buyung Siu secara beruntun.
Peristiwa itu bagi pihak Bu tong pay boleh dibilang merupakan suatu kejadian yang pantas dicatat sebagai suatu kejadian yang membanggakan.
Dari sekian banyak jago silat yang hadir dalam arena, hanya Kam Liu cu seorang yang menyaksikan bagaimana Buyung Siu melemparkan kerlingan mata terhadap Ban kiam Hwee cu dan manggut-manggutkan kepalanya...
Dengan kening berkerut dan alis mata berkernyit, dia lantas berpikir.
"Tindakan yang dilakukan Congkoan pedang pita hijau Buyung Siu ini sudah pasti mengandung maksud yang dalam."
Seperti diketahui tadi Wi Tiong hong berhasil mematahkan serangan pedang lawan karena dia memperoleh petunjuk Buyung Siu dengan ilmu sampaikan suaranya, maka saat mendengar Buyung Siu mengumumkan kekalahan yavg diderita jago pedang tersebut, dia segera mendongakkan kepalanya dengan tertegun.
Akhirnya dengan wajah memerah dia masukkan kembali pedangnya kedalam sarung dan berseru sambil menjura.
"Berkat sikap Buyung Siu congkgoan yang sedia imengalah, aku bharu dapat mempertahankan diri secara paksa, kalau tidak, sejak tadi aku sudah tidak mampu menahan diri, yang pantas menerima kalah sebenarnya aku."
Dengan sinar mata yang tajam, Buyung Siu kembali memandang sekejap kearah kawanan jago yang hadir dalam arena, kemudian sambil tertawa terbahak-bahak katanya.
"Hia, .haa.. haaa... walau pun sudah unggul Wi sauhiap tak sombong, jiwanya besar dan orangnya bijaksana, siaute benar-benar merasa kagum dengan manusia seperti ini. Ya, apa yang diucapkan Wi sauhiap memang benar, berbicara soal ilmu pedang, sekali pun saudara berlatih berapa tahm lagi pun sulit mengungguli aku dalam perubahan jurus serangan, dalam bidang pengalaman dalam bertarung pun siaute jauh lebih unggul "Nimun Wi sauhiap menguasahi penuh ilmu sakti To im ciat yang sinkang, hal mana membuat serangan-serangan pedang siaute hampir semuanya kena dipatahkan dan tak mampu melukai Wi sauhiap, hal ini merupakan kenyataan yang tak terbantahkan, itulah sebabnya dalam hasil pertarungan yang berlangsung sekarang. tentu saja Wi-sauhiap berada dipihak yg unggul"
Dengan perasaan tidak tenang Wi Tiong hong segera berkata.
"Pujian dari Buyung congkoan benar-benar membuat aku merasa tak punya muka untuk berbicara lagi . ."
Belum habis dia berkata, Ban kiam hweecu sudah bangkit berdiri dan menukas.
"Apa yang dikatakan Buyung congkoan memang benar dan hal ini merupakan suatu kenyataan, harap saudara Wi jangan merendah lagi."
Berbicara sampai disitu, pelan-pelan dia meninggalkan tempat duduknya dan berkata lebih jauh sambil tersenyum.
"Saudara, sudah lama aku dengar orang bilang kalau ilmu To yang ciat im sinkang melupakan ilmu rahasia dari Siu lo bun, dan ini dibuktikan sewaktu saudara Wi mematahkan serangan ilmu pedang terbang dari Buyung congkoan, kehebatanmu sungguh membuat pandangan mata kami semakin terbuka dan merasa kagum sekali . ."
Setelah berhenti sejenak, pelan-pelan dia mengalihkan sorot matanya ke wajah semua orang yang hadir disana, kemudian katanya lebih jauh.
"Perkumpulan kami selalu menggunakan Ban kiam sebagai nama panggilan dan ilmu pedang sebagai tulang punggung, meski tak berani menyebutkan diri sebagai nomor satu di dunia, namun kalau dibandingkan dengan berbagai perguruan dalam dunia persilatan, aku rasa tidak selisih jauh sekali..."
Perkataan dari Ban kiam Hwee cgu itu diutarakain cukup sungkanh, namun paras muka Sip cu taysu dari Siau-lim-pay dan Thian Kicu dari Bu tong pay segera menunjukkan perubahan aneh.
Hal ini dikarenakan lima Tat mo kiam hoat dari Siau lim-pay dan Ji-gi-kiam-hoat dari Bu tong pay merupakan ilmu pedang kaum lurus dalam dunia persilatan.
Maka berdasarkan ucapan dari Ban kiam hwee-cu barusan seolah-olah dia hendak menerangkan kalau ilmu pedangnya jauh berada diatas kelihayan ilmu pedang dua partai tersebut.
Betul Sip cu taysu dan Thian Khi cu merupakan orang beribadah yang memiliki imam tebal, toh ucapan mana menimbulkan perasaan tak enak di dalam hati mereka.
Namun Ban kiam hweecu sama sekali tidak menggubris mereka, mungkin dia memang sama sekali tidak pandang sebelah mata pun terhadap pihak Siau lim-pay maupun Bu tong pay.
Terdengar ia berkata lebih jauh.
"Oleh sebab itu aku pun turut terpancing rasa ingin tahu ku untuk bertanding berapa jurus pada dengan saudara Wi, entah bagaimanakah menurut pendapat saudara Wi ?"
Wi Tiong-hong jadi terkesiap, diam-diam dia lantas berpikir.
"Ban-kiam hweecu menyebut dirinya sebagai Ban kiam ci ong atau raja diraja dari selaksa pedang, itu berarti kesempurnaan ilmu pedangnya masih jauh melampaui kemampuan congkoan dari pedang pita hijau.
"Betul kalau ilmu To im ciat yang sin kang yang kuyakini berhasil mematahkan serangan pedang lawan secara berulang-ulang, tapi pihak lawan adalah seorang ketua dari suatu perguruan, bila berhasil mengungguli dia ? Bukankah hal ini menjadi tak enak ?"
Berpikir sampai disitu, dengan perasaan bimbang segera ujarnya.
"Ilmu pedang yang dimiliki Hwee cu mana mungkin bisa kuhadapi ? Aku tak berani menerima tantanganmu itu."
"Saudara Wi, buat apa kau merendah?"
Seru Ban kiam hweecu dengan angkuhnya.
Selesai berkata, tangan kanannya menggenggam gagang pedang dan pelan-pelan dicabut ke luar.
Begitu pedang rersebut lolos dari sarungnya, semua orang baru dapat melihat bahwa pedang yang digunakan oleh Ban kiam hweee cu ini, beiwarna kuning emas cahaya berkilauan yang tajam segera memancar ke empat penjuru.
Tampaknya Bankiam hweecu amat menyayangi pedang emasnya itu, ketika diloloskan dari sarungnya, dia lantas membelai batang pedangnya dengan tangan kirinya yang putih.
Pelan pelan diaw mengangkat kepyalanya, lalu bexrkata.
"Saudara Wi, loloskan pedangnya."
Wi Tiong hong mundur selangkah dan menjura berulang kali, serunya.
"Harap hweecu sudi memaafkan, aku tak dapat memenuhi keinginanmu itu..."
Ban-kiam-hweecu mendengus dingin, pedang emasnya digetarkan sampai mendengung nyaring. kemudian sambil mendongakkan kepala nya dia berkata pelan.
"Siaute telah mencabut pedangku, pedang yang sudah diloloskan bagaimana mungkin bisa disimpan kembali ? Tujuan kita toh hanya menjajal kepandaian ? Bila saudara Wi menampik lagi, hal mana sama artinya dengan tidak memberi muka untuk siaute !"
Wi Tiong hong menunjukkan sikap keberatan, katanya lagi dengan nada tergagap.
"Hwee cu. bila kau berkata demikian maka hal ini sama artinya dengan memojokkan orang dalam kesulitan, Aku tahu kalau ilmu silat yang kumiliki amat cetek, bagaimana mungkin bisa menandingi kehebatan hweecu ? Soal ini..."
Berkilat sepatang mata Ban kiam hweecu setelah mendengar ucapan mana, dia tertawa ringan.
"Saudara Wi tak usah menampik lagi, bila kau tidak mau meloloskan pedangmu lagi, siaute akan segera melancarkan serangan lebih dahulu!"
Karena dipaksa dan dipojokkan berulang kali, akhirnya Wi Tiong hong berpikir.
"Aku menampik karena sudah kucoba berulang kali kalau tenaga To im ciat yang sia kang bisa mematahkan serangan pedang, demi menjaga nama baikmu seandainya aku berhasil mengunggulimu. maka aku mengalah terus, hmmm... siapa tahu kau malah mendesakku. berulang kali, memangnya kau anggap aku takut kepadamu?"
Setiap anak muda memang selalu dipengaruhi oleh rasa ingin menang, maka setelah berpikir sebentar, dengan kening berkerut dia tertawa nyaring.
"Hwee cu, kalau toh kau memaksaku berulang kali, bila aku menampik terus keinginan mu ini, pastilah kau akan menganggap aku sebagai manusia yang berjiwa sempit !"
Tergerak wajah Ban kiam hwee cu yang berwarna semu kuning itu. tanyanya kemudian sambil tertawa.
"Jadi saudara Wi sudah setuju ?"
"Ya. daripada menampik lebih baik menurut perintah aaja, aku akan melayani keinginanmu itu"
Selesai berkata, dia lantas menggerakkan pergelangan tangan kanannya dan meloloskan pedang Ji siu kiam tersebut dari dalam sarungnya.
"Nah, begitulah baru kegagahan seorang enghiong sejati!"
Seru Ban kiam Hwee cu sambil memuji. Wi Tiong hong segera mengambil posisi dan pelan-pelan mengangkat tangan kirinya keatas kemudian sambil mendongakkan kepalanya ia berkata.
"Silahkan hwecu melancarkan serangan!"
Ban kiam hwecu menggerakan pedang emasnya, sementara sepasang matanya memancarkan sinar tajam yang menggidikkan hati, ditatapnya wajah Wi Tiong hong lekat-lekat, kemudian katanya.
"Mungkin pedang emas siaute ini tak akan terpengaruh oleh hisapan tenaga dalam mu, harap saudara Wi suka berhati-hati!"
Selesai berkata, pergelangan tangan kanan nya segera diangkat ke atas, dan pedang emas nya tersebut langsung didorong sejajar dengan dadanya.
Kam Liu cu yang mendengar perkataan tersebut, tiba-tiba saja teringat dengan penampilan dari congkoan pedang pita hijau Buyung-Siu tadi, rupanya penampilan tersebut merupakan maksud hati dan Ban kiam hwee cu, kemudian setelah berhasil membuktikan Buyung Siu pun manggut-manggut lagi kearahnya.
Dengan cepat dia berpikir.
"Jadi nampaknya mereka memang ada maksud untuk mencoba kepandaian silatnya!"
Dalam pada itu, Wi Tiong hong sudah memeluk pedangnya didepan dada sambil mengawasi Ban kiam hwee cu lekat-lekat, dia telah bersiap sedia menantikan datangnya serangan pedang dari lawan.
Maka disaat dia mendengar kalau pedang emas itu tak akan terpengaruh oleh hisapan ilmu To im ciat yang sinkang, dari hati kecilnya segera muncul perasaan antipatik.
Pikirnya.
"Pedang pendek beracun dari Lan Kun pit dan pedang dari Buyung Siu pun berhasil kuhisap tanpa menggunakan tenaga besar masa pedang emasmu itu tak akan terpengaruh oleh tenaga hisapanku?"
Semula dia bermaksud untuk menahan diri dan berupaya agar tak membuat malunya pihak lawan, sebab bagaimana pun juga orang itu adalah seorang ketua dari Ban Kiam hwee, bahkan dia pun bertekad dalam hati kegcilnya bila keaidaan tak terlalhu memaksa, dia akan berusaha untuk tidak menggunakaa tenaga hisapan pada tangan kirinya.
Tetapi setelah mendengar perkataan mana, tanpa terasa timbul ah perasaan ingin mencari menang sendiri di dalam hatinya, pikirnya.
"Hmmm, kau mengatakan aku tidak mampu maka aku akan membuktikan kepadamu kalau aku mampu atau tidak mampu untuk menghisap pedangmu itu!"
Pada jurus pembukaan Giok cu siu thian dari ilmu pedang Ji gi kiam hoat tersebut, seharusnya gerakan lengan kirinya melakukan serangan lebih dulu kemudian baru di susul dengan gerakan pedang.
Tiba-tiba saja satu ingatan melintas dalam benaknya, dia sengaja menggerakkan pedangnya lebih dulu, kemudian tangan kirinya baru melakukan gerakan.
Inilah yang dinamakan ada maksud menanam bunga, bunga tak mau tumbuh, tiada maksud menanam pohon liu, pohon itu menganak rimba.
Disaat bertarung melawan Lan Kun pit dan Buyung Siu tadi, Wi Tiong hong melakukan gerakannya dengan tiada tujuan, nyatanya semua serangan pedang lawan, ternyata ilmu To im-ciat yang sinkangnya seolah-olah kehilangan kemampuannya.
Walau pun gerakan pedang dari Ban kiam-hweecu dilancarkan amat lambat, tapi berhubung daya hisapan dari Wi Tiong hong tidak mendatangkan kemampuan sebagaimana mesti nya.
maka kendati pedang nya tak menyerang dengan cepat, toh setitik bayangan emas dengan cepat mendekati juga jalan darah penting di-depan dadanya.
Sekarang Wi Tiong hong merasa terkejut, merah padam selembar wajahnya karena jengah, tidak sampai tusukan pedang lawan tiba pada sasarannya, pergelangan tangan kanannya segera digetarkan, pedang Jit sin kiam tersebut langsung dibacokkan ke atas pedang emas Ban kiam hweecu.
Cepat cepat Ban kiam hweecn menarik pergelangannya dan tiba tiba mengerutkan kembali ancamannya.
"Bagaimana buktinya ?"
Dia lantas berseru sambil tertawa ringan.
Ucapan yang bernada mencemooh ini dengan cepat mengobarkan hawa amarah didalam dada Wi Tiong hong, dengan cepatnya pedang tersebut ditarik kembali kemudian sambit berputar aatu lingkaran di depan dada, ia mendorong senjatanya ke luar.
"Bagus , . ."
Bentak Ban kiam hweecu.
Dimana pergelangan tangannya dgigetarkan, segeira muncul ah behrkuntum-kuntum bunga emas yang memancar di angkasa.
Ditengah berkelebatnya cahaya pedang, tiba-tiba saja tubuhnya berputar kencang, begitu meloloskan diri dari tusukan pedang Wi Tiong hong, sebuah serangan balasan segera dilancarkan.
Serangan pedangnya yang semula melakukan tusukan dengan gerakan pelan, dalam waktu singkat telah berubah menjadi cepat sekali.
Secara beruntun dia lancarkan lima buah serangan berantai, angin pedang menderu-deru dan seluruh angkasa seraya diliputi kabut yang sangat tebal.
Wi Tiong-hong tidak menyangka kalau serangannya yang ke dua ini bisa berubah menjadi begitu cepat, dalam terkesiapnya cepat-cepat dia mundur beberapa langkah ke belakang.
Pedangnya kembali diputar kencang, menggunakan jurus ot goan bu si, cepat-cepat dia lepaskan serangan ke muka.
"Traaaaaanngg...!"
Sepasang pedang saling membentur membuat kuda kuda Wi Tiong hong menjadi tergempur, tak tahan lagi badannya, mundur setengah lang kah ke belakang.
Bukannya mundur, Ban kiam hweecu malah mendesak maju ke depan, tiba-tiba dia menerjang ke muka, pedangnya berhenti secara tiba-tiba dan segera tegurnya.
"Saudara Wi, siapa gurumu ?"
Wi Tiong hong tak mampu untuk menjawab, sebab dia memang tidak mengetahui siapakah nama paman tak bernama yang telah mewariskan ilmu silat kepadanya itu.
Sesudan termenung sejenak, akhirnya dia baru menjawab.
"Aku memperoleh pelajaran ilmu pedang ini dari Thian goan totiang dari Bu tong pay, cuma diantara kami tiada hubungan sebagai seorang guru dan murid."
"Hmm, aku rasa bukan dia ?"
Jengek Ban kiam hweecu dingin.
"Bila hwee-cu tidak percaya, buat apa mesti bertanya lagi ?"
Seru Wi Tiong hong dengan gusar.
"Sekalipun tidak kau katakan, aku pun tahu..."
Pedang emasnya didorong kedepan, tubuh dan pedangnya meluncur bersama melancarkan serangan dahsyat.
Kini Wi Thiong hong tak berani bertindak secara gegabah lagi, pedang Jit siu kiamnya digetarkan kedepan dan menyongsong datangnya ancaman lawan.
Sebagaimana diketahui dia hanya bisa memainkan ilmu Jit gi kiam hoat melulu, maka-menghadapi serawngan lawan vangy datang secara xbertubi-tubi itu, terpaksa dia harus bergerak mengikuti gerakan pedangnya, sejurus demi sejurus berputar terus tiada hentinya.
Sementara itu serangan yang dilancarkan oleh Ban kiam hweecu tersebut kian lama kian bertambah cepat, Wi Tiong hong yang harus mengandalkan ilmu padang Ji gi kiam hoat untuk menghadapi ancaman tersebut, sesungguhnya sulit bagi dia untuk menghadapi-ancaman-ancaman mana.
Dalam gerak tangkisan mana, dia merasa dibalik gulungan bayangan pedang lawan terselip desingan angin guntur yang membetot sukma.
Tapi kalau dipandang dari luar, serangan itu pun tidak begitu tangguh, hanya sambung menyambung tiada habisnya, hingga sulit bagi orang untuk membendungnya.
Diam-diam ia menjadi terkesiap sekali, pikirnya.
"Kalau aku harus menghadapi cahaya pedang yang datang secara berantai seperti ini, maka lama kelamaan aku bakal tak mampu untuk menahan diri, lebih baik aku menyerempet bahaya dan memaksakan pertarungan kekerasan saja... Berpikir demikian, dia lantas mengerahkan tenaga dalamnya, lalu diantara getaran pergelangan tangannya, ujung pedang itu berputar dua lingkaran ditengah udara, kemudian sambil membentak keras pedangnya langsung menerobos masuk ke balik cahaya pedang yang berlapis-lapis dari Ban kiam Hweecu tersebut. Inilah jurus Pau im bu yang dari ilmu pedang Ji gi kiam hoat.
"Traaang, traaaang..."
Di tengah selapis kabut pedang yang menyelimuti angkasa, segera terdengar suara benturan nyaring yang amat memekik telinga.
Akibat dari benturan tersebut, Wi Tiong-hong segera tergetar mundur sejauh dua langkah.
Tetapi dia maju kembali setelah mundur, begitu mendesak ke hadapan Wi Tiong hong, ujarnya tertawa.
"Sudah jelas saudara Wi adalah murid dari Sian soat kiam kek, mengapa kau tak mau mengakuinya?"
OoOoo Bab-49
"SIAN soat kiam kek?"
Seru Wi Tiong hong keheranan.
"aku belum pernah dengar nama Sian soat kiam kek tersebut."
"Dari Kan sam ceng yang barusan kau pergunakan, bukankah masih ada satu getaran yang belum kau gunakan?"
Pedangnya digetarkan lagi sehingga muncul bunga pedang yang menyelimuti angkasa, dia langsung mengurung seluruh tubuh Wi Tiong-hong...
Selama ini, Wi Tiong hong boleh di bilang belum pernah mendengar tentang Kan-sam-ceng, tapi kalau didengar dari nada ucapannya itu, agaknya tadi ia telah mempergunakan dua kali serangan menggetar ?
Padahal di dalam melancarkan serangannya tadi, pertama kali dia menggunakan jurus lt goan bu si dan pada kedua kalinya menggunakan jurus Pau im hu yang.
Betul kalau memang masih ada satu jurus lagi yang bernama Sam hoa ki teng atau tiga bunga mengumpul dipuncak, jurus itupun merupakan sebuah jurus serangan yang khusus dipakai untuk menggetarkan pedang atau senjata lawan.
Ingatan mana melintas dalam benaknya, dia pun tak berani berayal lagi, pergelangan tangannya digetarkan ujung pedang Jit siu kiam sudah berputar tiga lingkaran di tengah udara untuk menyongsong datangnya ancaman tersebut.
"Traaang..."
Sewaktu dia memutar senjata untuk ketiga kalinya, mendadak terasa getaran keras menggelegar diudara, kemudian pergelangan tangannya menjadi kaku dan pedangnya terlepas dari genggaman...
Dalam terkejutnya, buru-buru dia melompat mundur ke belakang.
Di dalam anggapannya, pertarungan itu merupakan suatu pertarungan adu kekuatan, apabila sudah dijanjikan hanya saling menutul dengan terlepasnya senjata tersebut dari cekalannya, sudah sewajarnya Ban kiam-hweecu pun menghentikan serangannya.
Siapa tahu ketika ia mendongakkan kepalanya, tampak Ban-kiam hweecu sudah menggetarkan pedang emasnya ditengah udara, kemudian tubuh berikut pedangnya menyerang ma ju ke muka.
Pedang emasnya itu menyebar ditengah udara bagaikan beribu-ribu cahaya emas yang ber hamburan di tengah udara.
"Pedang yang berada dalam genggaman Wi Tiong hong telah terlepas, sekarang dia berada dalam keadaan tak bersenjata, mimpipun tidak diduga olehnya kalau Ban kiam Hwee cu akan menyusulnya dengan serangan lain yang jauh lebih dahsyat. Tindakan tersebut kontan saja membuat hatinya gusar bercampur terkesiap. Tampak cahaya emas itu meluncur datang dengan amat cepatnya, dia segera mundur berulang kali, sementara tangan kirinya tanpa terasa melakukan gerakan untuk melancarkan hisapan, sementara tangan kanannya berputar membentuk satu lingkaran di depan dadanya daa "weess"
Sebuah pukulan telah dilontarkan. Menyaksikan pemuda itu lagi lagi melakukan gerakan menghisap. taapa terasa Ban kiam bwee cu tertawa geli, ejeknya.
"Pedang naga mestika ini tak akan mempan untuk di hlsap dengan mutiara penghisap pedang.."
Baru saja dia selesai berkata, mendadak terasa ada segulung tenaga pukulan yang sangat dahsyat membacok datang, ternyata tenaga tersebut menghantam kearah pedangnya dan membuat serangan tersebut tahu-tahu terhenti ditengah jalan.
Dengan perasaan terkesiap, dia berpekik.
"Serangan yang dilancarkan orang ini ternyata mampu menahan serangan pedangku, ilmu pukulan macam apakah ini?"
Diam-diam ia menghimpun tenaga murninya, kemudian pedang emas itu melancarkan serangkaian serangan memantul ketengah udara.
Sekarang, dia telah menghimpun segenap tenaga dalam yang dimilikinya keujung pedang.
Tampak beribu-ribu buah benang emas mendadak memancarkan angin pedang yang dahsyat seperti anak panah yang terlepas dari busurnya meluncur kedepan dan menyambar kemana-mana bagaikan hujan badai.
Wi Tiong hong mundur terus kebelakang berulang kali, dengan sekuat tenaga, ia melancarkan dua buah bacokan dahsyat untuk membendung serangan lawan, sementara tubuhnya melompat mundur ke belakang.
Darimana dia tahu kalau Ban kiam hweecu telah mengerahkan segenap tenaga dalamnya dan menyalurkan keujung pedang tersebut karena angin pukulannya berhasil menahan gerakan pedangnya tadi ?
Sekarang, Ban kiam nweecu telah mengeluarkan hawa pedang kiam khi nya ke ujung senjata tersebut, bayangkan saja, bagaimana mungkin Wi Tiong hong bisa membendung serangannya tersebut dengan kekuatan tenaga pukulannya.
Tampak beribu benang emas itu meluncar datang dengan cepatnya dan mendesak tiba secara bertubi-tubi, ia menjadi terperanjat sekali, tangan kirinya diputar kencang, kemudian membacok lagi dengan jurus Ngo ting kay san (Ngo ting membuka gunung).
Baru saja serangannya dilancarkan terasa desingan angin tajam hampir saja menyentuh telapak tangannya.
setiap jalur benar emas itu semuanya terasa tajam bagaikan sayatan pedang, buru buru dia menarik kembali telapak tangan kirinya yang sedang melepaskan serangan tersebut.
sementara dia menjadi sangat kaget, beribu benang emas yang membawa kilauan cahaya tajam tersebut sudah meluncur ke hadapan tubuhnya dengan kecepatan luar biasa.
Dengan demikian, depan belakang, kiri mau pun kanan tubuh Wi Tiong hong sudah terku rung rapat oleh cahaya pedang lawan.
Sementara itu, seluruh perhatian dari kawanan jago yang berkumpul diseluruh arena telah tertarik oleh permainan jurus Ban kiam ki hui (selaksa pedang menghimpun sinar) yang sedang digunakan oleh Ban kiam hweecu tersebut, mereka boleh dibilang terpukau oleh jalur-jalur benang emas yang terpancar dari pedang jagoan tersebut.
Wi Tiong hong yang dipaksa mundur berulang kali benar-benar dibuat marah sekali, menyaksikan datangnya cahaya emas yang menyambar ke hadapannya, padahal dia sama sekali tak bersenjata apa-apa, dia menjadi bingung dan tak tahu dengan cara apakah harus menyongsong datangnya ancaman tersebut.
Mendadak ia teringat kalau dalam sakunya masih terdapat sebatang pena baja (pena itu merupakan lencana pena baja yang merupakan tanda pengenal dari Thi pit pangcu), dalam keadaan begini tanpa berpikir panjang lagi dia merogoh kedalam sakunya dan mencabut keluar benda mana.
Semua peristiwa itu berlangsung dalam sekejap mata, begitu pena tersebut digenggam, dalam benaknya pun terlintas pula jurus Hong-nong sam tian tau (burung hang mengangguk tiga kali) yang dilukis Thi pit pangcu dalam kotak tersebut.
Pada saat itu, pada hakekatnya dia tidak mempunyai waktu lagi untuk berpikir panjang, tangan kirinya segera melakukan gerakan aneh sambil maju ke depan, sementara pena baja ditangan kanannya menyongsong datangnya cahaya emas itu dan melancarkan sebuah serangan.
Sesungguhnya Ban kiam hwecu sama sekali tidak mempunyai maksud untuk melukai Wi Tiong hong, justru karena pukulan Siu lo ik yang dilepaskan si anak muda tadi terhenti ditengah jalan, maka dalam kejut dan terkesiap dia salurkan segenap hawa murninya ke ujung senjata.
Tatkala menyaksikan Wi Tiong hong terdesak mundur berulang kali tadi, dia pun berencana untuk menarik kembali serangannya.
Siapa sangka pada saat inilah Wi Tiong hong telah mengayunkan pergelangan tangannya dan tahu-tahu di tangannya telah bertambah dengan sebatang pena baja yang secara beruntun meledakkan tiga titik bayangan pena yang menyilaukan mata.
"Tri ing Tri ng... Traang..!"
Kalau pada dua dentingan yang pertama berasal dari benturan ujung pena dengan ujung pedang, maka pada benturan yang terakhir itu merupakan benturan nyaring yang memekikkan telinga.
"Trang..!"
Sekali lagi terdengar suara bunyi nyaring yang memekikkan telinga.
Hawa pedang dan cahaya emas segera lenyap tak berbekas, Ban kiam bweecu cepat mundur dua langkah dan menundukkan kepalanya untuk memeriksa senjata sendiri.
Tiba-tiba ia menjerit kaget.
Ternyata pedang emas mestikanya yang tajam luar biasa itu pedang naga emas, kini sudah terpotong oleh babatan pena Wi Tiong-hong sehingga patah dan tinggal separuh.
Peristiwa ini bukan saja membuat Ban kiam kweecu merasa terperanjat sekali, Wi Tiong hong yang berada di hadapannya pun dibuat tertegun sampai berdiri termangu-mangu.
Setiap jago yang hadir dalam arena pun merasakan kejadian itu sebagai suatu peristiwa yang sama sekali diluar dugaan, rata-rata mereka menunjukkan rasa kaget dan tercengang yang luar biasa.
Ban kiam hweecu membelalakkan matanya lebar-lebar dan mengawasi tangan Wi Tiong hong tanpa berkedip, lewat berapa saat kemudian ia baru berkata dengan nada terkesiap.
"Lou bun si ? Benda yang berada ditangan mu itu adalah Lou bun si.?"
Dengan cepat Wi Tiong hong menggeleng.
"Bukan, pena milikku ini merupakan lencana pena baja, benda pengenal dari ketua Thi pit pang"
Sembari berkata, tanpa terasa dia mengangkat tangannya tinggi tinggi.
Dengan diangkatnya pena tersebut ke udara maka semua orang dapat menyaksikan dengan lebih jelas lagi, Pada ujung pena baja yang berada ditangan Wi Tiong hong tersebut sudah jelas kena terpapas sebagian oleh ketajaman pedang Kim liong kiam sehingga nampak ujung pena lainnya yang berwarna kehijau hijauan..
Seh Thian yu yang menyaksikan hal tersebut segera tertawa terbahak-bahak.
"Haaahh...haaahb..haaabh... ternyata memang Lou bun si yang asIi!"
Wi Tiong hong memeriksa lagi pena bajanya sekejap, kemudian sembari menjura kepada Ban kiam bwecu, dia berkata.
"Aku benar-benar tidak mengetahui keadaan yang sesungguhnya, sehingga pedang mestika milik Hwe cu telah rusak."
BAN KlAM HWEE CU mengulurkan tangannya yang putih ke depan, kemudian pelan-pelan berkata.
"Bawalah kemari, berikan kepadaku untuk kulihat!"
Meskipun Wi Tiong hong merasa keberatan dalam hati kecilnya, namun dia toh menurut juga dan memberikan benda tersebut kepada Ban-kiam hweecu.
Setelah menerima pena tersebut, sekali lagi Ban kiam Hwee cu memeriksa benda itu dengan seksama, akhirnya sambil mendengus dingin ujarnya dengan cepat.
"Lencana pena baja", betul-betul suatu penyaruan yang luar biasa, ternyata pada lapisan luar dari Lou bun si telah dilapisi dengan selapis kulit baja yang mengelabuhi pandangan orang lain..."
Berbicara sampai disitu, mendadak dia mengambil kutungan pedangnya lalu ditebaskan ke atas pena baja tersebut. Dengan perasaan terkejut Wi Tiong hong segera menegur.
"Hwee cu, apa yang hendak kau lakukan ?"
"Aku hendak membersihkan pena tersebut dari lapisan bajanya"
Sahut Ban-kiam hwee cu dengan suara dingin.
"Tapl pena ini merupakan tanda pengenal dari perkumpulan Thi pit pang yang sudah di turun temurunkan pada anggota perkumpulan nya, sedangkan aku tak lebih hanya menyimpankan benda tersebut bagi mereka untuk sementara waktu..."
"Kalau toh di dalam pena baja tersebut disimpan Lou bun si yang asli, apa salahnya jika benda tersebut diperlihatkan kepada semua orang yang hadir..?"
Sementara berbicara, tangannya tak pernah berhenti bekerja, jangan dilihat pedang yang di pergunakan hanya sebilah kutungan pedang belaka, namun di dalam kenyataan tajamnya bukan kepalang, hanya di dalam berapa kali sayatan saja, lapisan luar yang membungkus pena baja tersebut telah berhasil disayat habis.
Dengan cepat muncul ah sebilah pena kemala yang berwarna kehijauan.
Benar juga, benda tersebut adaglah Lou bun-si iyang asli, baikh warna maupun bentuk tidak jauh beda dengan Lou bun si yang palsu.
Sambil membuang pedang kutungnya ketanah, dengan tiga jari tangannya Ban kiam-hwee cu memegang pena kemala tersebut, kemudian ujarnya.
"Hitung-hitung, tidak sia-sia belaka kalian datang menghadiri suatu pertemuan hari ini, kalau tadi Thio lo-huhoat telah memusnahkan sebatang Lou bun si yang palsu, maka sekarang benda yang asli telah muncul di depan mata.
"Dari sini dapat dibuktikan kalau dua buah Lou bun si yang palsu dan sebuah yang asli telah terjatuh semua ke tangan Tou Pek li dimasa lalu, ketika ia menghancurkan sebuah Lou bunsi yang asli pada tiga puluh tahun berselang, rupanya yang asli telah dia lapisi dengan kulit baja yang kemudian dijadikan tanda pengenal dari perkumpulannya."
"Kemudian secara sengaja pula dia mengeluarkan Lou bun-si yang palsu ke dalam dunia persilatan hingga menciptakan badai pembunuhan yang amat dahsyat tiga puluh tahun kemudian..."
Dengan sorot mata yang licik dan memancarkan sinar serakah, Sen Thian-yu menatap Lou bun si itu lekat-lekat, kemudian katanya.
"Atas undangan dari Hwee cu, kami memang datang kemari untuk Lou bun si tersebut sekarang benda tersebut sudah muncul didepan mata, bolehkah siaute ikut meminjam sebentar untuk dinikmati ?"
"Pena tersebut bukan milikku, sehingga sulit untuk memenuhi harapanmu tersebut."
Sahut Ban-kiam-hwee cu dingin.
"bukankah kalian telah menyaksikan dengan cukup jelas, pena yang asli dan pena yang palsu berbentuk persis sama, diatas pena inipun terukir huruf Thian-hee-tit-it, totiang, mungkin yang kau kuatirkan sekarang adalah kepandaian silat yang tersimpan dalam pena tersebut bukan ?"
Sambil mengelus jenggotnya Thian yu tertawa seram.
"Heeehh... heeehh... heeehhh... menurut berita yang tersiar dalam dunia persilatan, dalam Lou bun si tersimpan sebuah jurus ilmu pedang yang sangat hebat, dalam ilmu pedang tersebut terkandung seluruh inti sari ilmu pedang yang berada dikolong langit dewasa ini, apakah Hwee cu tidak ingin menyaksikannya?"
Ban kiam hwee cu tertawa dingin, mendadak dia membalik pena kemala tersebut, lalu katanya.
"Di balik batang pena tersebut mungkin saja tersimpan kepandaian silat, seandainya ada mungkin sudah diambil orang sedari dulu, yang tertinggal sekarang tak lebih hanya sebuah batang pena kosong bila tidak gpercaya, silahkian kalian memerhiksanya sendiri!"
Ketika semua orang mengalihkan perhatiannya kearah batang pena itu, betul juga batang pena itu sudah kosong, tiada sesuatu benda apa pun yang terdapat disana.
Mendadak satu ingatan melintas dalam benak Wi Tiong hong, segera pikirnya.
"Yang mereka maksudkan sebagai sebuah jurus ilmu silat itu, jangan-jangan adalah ukiran jurus Hong bong sam tiam tau yang terukir diatas kotak pena tersebut?"
Bayangkan saja, pancaran sinar ke emasan yang dipancarkan oleh pedang Ban kiam hweecu tadi begitu dahsyat dengan hawa pedang yang mengerikan mana mungkin jurus serangan biasa dapat dipergunakan untuk memecahkan serangan tersebut ?
Bahkan untuk menangkis pun belum tentu akan mampu untuk menangkisnya.
Tapi buktinya jurus serangan pedang yang begitu dahsyat pun tanpa disengaja telah berhasil dipecahkan olehnya...
Di dalam hal ini, tampaknya Ban kiam hwee cu serta semua yang hadir di sana telah tertarik perhatiannya oleh patahnya pedang Kim liong kiam serta munculnya Lou bun si yang asli tersebut sehingga siapa pun telah melupakan jurus serangan yang telah dipergunakan olehnya tadi...
Sementara dia masih termenung, tampak Ban kiam hwee cu telah menyodorkan kembali Lou bun si tersebut di hadapannya sembari berkata.
"Lou bun-si merupakan sebuah benda mestika dalam dunia persilatan, saudara Wi harus baik baik menyimpannya !"
Wi Tiong hong menerima kembali pena tersebut dan segera dimasukkan kedalam saku, setelah itu katanya hambar.
"Pena tersebut merupakan pena baja milik perkumpulan Thi pit pang, aku tak lebih hanya akan menyimpannya untuk sementara waktu."
Ban kiam hwee cu tersenyum, katanya lagi dengan suara lembut.
"Kecuali Lou bun si, bukankah dalam diri saudara Wi juga terdapat sebutir mutiara Jip kiam cu? sekalipun semua orang tidak menyinggung tentang persoalan tersebut, tapi aku yakin hal ini tak akan bisa mengelabuhi semua orang."
"Saudara Wi, apabila kau tak ada urusan penting, siaute ingin mengundangmu untuk mengunjungi Kiam bun san selama beberapa hari, terhadap saudara Wi mungkin merupakan suatu bantuan kecil, entah bagaimanakah pendapat saudara Wi?"
Ucapan tersebutw diutarakan denygan suara yang xpelan sekali, sehingga kecuali Wi Tiong hong, boleh dibilang orang lain tak akan bisa mendengarnya.
Wi Tiong hong menjadi tertegun, kecuali Lou bun si masih ada sebutir mutiara Ing-ki-amcu ?
Sejak kapan dalam sakunya terdapat sebuah mutiara Ing-kiam cu?
Sembari menjura dia segera menyahut.
"Aku masih ada urusan pentirg lainnya yang harus segera diselesaikan biarlah maksud baik Hwee cu kuterima dalam hati saja."
Berhubung jarak diantara para hadirin dengan kedua orang itu berselisih agak jauh, maka siapa pun tidak mendengar apa gerangan yang mereka bicarakan.
Tapi semua orang dapat melihat kalau Wi Tiong hong sedang menjura berulang kali, tentu saja hal ini disebabkan dia sedang meminta maaf kepada Ban kiam Hwee cu karena telah mematahkan pedang mestika orang itu.
Dengan tatapan mata yang tajam Ban kiam Hwee cu mengawasi wajah Wi Tiong hong beberapa saat, dia seperti merasa sayang dan kecewa, katanya kemudian.
"Kalau toh saudara Wi masih mempunyai urusan penting lainnya, siaute pun tidak akan menahanmu lebih jauh,"
Sementara itu seorang dayang telah muncul ditengah arena, memungutkan pedang Jik siu kiam milik Wi Tiong hong dari atas tanah dan mempersembahkan kehadapannya.
Wi Tiong hong segera menjura sambil menyatakan rasa terima kasihnya, setelah menerima kembali pedangnya lantas dimasukkan kembali kedalim sarung.
Mendadak Seh Thian yu bangkit berdiri, kemudian katanya sembari menjura.
"Sekarang, Lou bun si yang palsu sudah punah, yang aslipun sudah muncul, aku pikir pertemuan pada hari ini pun sudah berakhir sampai disini, apabila hwee-cu tiada petunjuk yang lain, siaute ingin mohon diri lebih dulu."
Ban kiam Hwee cu segera balas memberi hormat, sahutnya sembari tertawa.
"Terima kasih banyak atas petunjuk dari Seh too tiang, siaute ucapkan banyak terima kasih pula atas kesudianmu untuk menghadiri pertemuan ini."
Dengan sorot mata yang licik dan keji Seh Thian yu memandang sekejap ke arah semua orang, kemudian ujarnya sambil menjura.
"Lo heng sekalian, maafkan bila siaute harus berangkat selangkah lebih dulu."
Selesai berkata, dengan membawa anggota perguruannya ia lantas beranjak keluar dari ruangan tersebut dengan langkah lebar.
Wi Tiong hong sendiri yang memikirkan asal usulnya, diapun ingin buru-buru mengunjungi perguruan Siu lo bun untuk menyelidiki jejak dari pamannya yang tak diketahui namanya untuk ditanya tentang riwayat hidupnya, maka menyaks kan Seh Thian yu beranjak pergi.
diapun segera menjura kepada Ban kiam hwe cu sembari berkata.
"Sekarang, aku sendiripun masih ada urusan penting yang harus segera diselesaikan, maaf bila akupun harus berangkat selangkah lebih dulu.."
Ban kiam hwe cu memandang sekejap ke-sekeliling arena, kemudian katanya.
"Kepergian Seh Thian yu secara tergesa-gesa sudah pasti mempunyai maksud dan tujuan yang kurang baik, sepanjang jalan nanti harap saudara Wi sudi bertindak lebih berhati hati lagi."
"Terima kasih banyak aias perhatian dari hweecu, aku bukan seorang manusia yang takut urusan!"
Su Siau hui segera bangkit berdiri pula, tanyanya sambil menatap wajah pemuda itu lekat-lekat.
"Wi sauhiap, kau hendak pergi kemana ?"
Wi Tiong hong yacg ditegur dihadapi orang banyak segera merasakan paras mukanya berubah menjadi merah padam karena jengaj, sahutnya cepat-cepat.
"Aku masih mempunyai persoalan lain yang harus diselesaikan maka aku ingin melanjutkan perjalanan cepat..."
Lak jiu-im eng Thio Man menjadi gelisah sekali setelah menyaksikan kejadian itu, buru-buru buru dia menarik ujung baju kakaknya sembari memberi tanda.
Thio Kun kay yang berpengalaman tentu saja memahami maksud hati adiknya ini, buru buru dia pun berseru.
"Saudara Wi, bagaimana kalau kita menempuh perjalanan bersama-sama..?"
Belum sempat Wi Tiong-hong menjawab, kakek Ou yang berdiri disamping Su Siau hui telah berkata sambil mendengus dalam-dalam.
"Siapa membawa mestika dia akan tertimpa bencana, denfifin mengandalkan kemampuan dari kalian beberapa orang, memangnya sanggup untuk menghadapi hadangan dari musuh tangguh ?"
Pada dasarnya Ti o Kun kay gadalah seorang ilelaki tinggi hhati, ketika dilihatnya orang itu berbicara kepada mereka, dimana sudah jelas dari sikapnya kalau orang itu tidak memandang sebelah mata pun terhadap kemampuan dari Bu tang pay, kontan saja dia mendengus gusar dan berseru.
"Hm, kepada siapa kau sedang berbicara ?"
"Lohu sedang berbicara dengan kalian"
Sahut kakek Ou dingin.
"sekarang, bocah ini membawa mutiara ing kiam cu yang sudah lama di ncar oleh setiap anggota dunia persilatan di samping Lou bun si yang sudah merupakan bencana besar. Kecuali melakukan perjalanan bersama tama toa siocia kami dan lohu yang melindungi keselamatan jiwanya, siapa pula yang mampu melindungi keselamatannya tanpa terjadi suatu peristiwa apapun ?"
Kam Liu cu yang mendengar perkataan tersebut segera mendongakkan kepalanya dan tertawa seram.
"Haah, haah, haah, lotiang, tidakkah kau merasa bahwa ucapanmu itu kelewat sombong sehingga kurang sedap kedengarannya ?"
Kakek Ou memandang sekejap ke arah Kam Liu cu berdua, kemudian katanya.
"Kalian adalah anggota Thian sat bun, hah haah... haah... masih mendingan juga ucapan tersebut diutarakan oleh guru kalian."
Liu Leng poo mendengus dingiu, tantangnya dengan suara dingin.
"Kau ingin mencoba ?"
Menyaksikan semua orang hendak bentrok sendiri gara-gara urusannya, dengan cepat Wi Tiong-hong menjura berulang kali sembari berseru.
"Nona So, saudara Kam saudara Thio, harap kalian jangan sampai timbul kesalahan paham gara-gara urusan siaute, terus terang saja kukatakan kepada saudara sekalian, hingga kini asal usul siaute masih merupakan sebuah tanda tanya besar, maka sekarang aku ingin terburu buru mencari pamanku yang telah memelihara siaute selama ini untuk ditanyai asal usulku yang sebenarnya, itulah sebabnya siaute harus berangkat lebih dahulu."
Berbicara sampai disitu, dia lantas menjura kepada Thian Khi, Sip-cu taysu Sin ci ki Beng Kian hoo sekalian sembari berseru.
"Harap dimaafkan kalau aku terpaksa harus berangkat lebih dahulu."
Selesai berkata ia segera membalikan badan lalu beranjak pergi meninggalkan ruangan tersebut.
Agaknya dia memang ada maksud untuk menghindari orang-orang tersebut gerakan tubuhnya cepat sekali.
Dalam waktu tinggkat bayangan tuibuhnya sudah behrada tujuh delapan kaki dari posisi semula dan bergelak ke depan tanpa berpaling lagi.
Dengan kecepatan yang luar biasa Wi Tiong hong bergerak meninggalkan kuil tersebut, dalam-waktu singkat dia sudah berada belasan li jauhnya dari tempat semula.
Kini didepannya muncul sebuah persimpangan jalan.
Tanpa terasa dia berhenti sejenak untuk menentukan arah tujuannya, baru saja hendak melanjutkan perjalanan..
Meundadak dari balik hutan disisi kiri jalan muncul tiga orang manusia...
Orang yang berjalan di barisan terdepan adalah seorang kakek berjenggot putih yang memakai jubah hijau, sedangkan dua orang kakek yang mengikuti di belakangnya adalah dua orang kakek berjubah abu-abu, sepasang tangan mereka lurus ke bawah, agaknya merupakan pengiring dari kakek berjubah hijau tersebut.
Kakek berjubah hijau itu muncul dengan wajah penuh senyuman, dengan sorot matanya yang dalam dia mengawasi Wi Tiong-hong beberapa saat lamanya, kemudian berkata sembari menjura.
"Yang datang apakah Wi Tiong hong, Wi sauhiap ?"
Belum pernah Wi Tiong hong berjumpa dengan kakek berjenggot putih yang memakai-jubah hijau ini, sudah barang tentu dia pun tidak kenal siapa gerangan mereka.
Sesudah tertegun beberapa saat, sahutnya sambil menjura.
"Aku adalah Wi Tiong hong, entah ada urusan apa lotiang datang mencariku?"
"Atasan kami ingin sekali bersua muka dengan Wi sauhiap, oleh sebab itu sengaja mengutus lohu untuk menyambut kedatanganmu disini."
"Siapa sih atasanmu itu?"
Seru Wi Tiong bong tercengang.
"aku sama sekali tidak kenal dengannya, mengapa dia mengutus kau untuk menyambut kedatanganku disini?"
"Mungkin atasan kami mengetahui tentang Wi sauhiap, kalau tidak, mustahil dia akan mengutus lohu untuk datang menyambut kedatanganmu.."
Mendengar perkataan itu, Wi Tiong hong segera berpikir di dalam hati.
"Siapa majikan dari kakek berjubah hijau itu dan dari mana datangnya? Lebib baik aku tanyai dulu sampai jelas sebelum bertindak."
Berpikir demikian, dia lantas mendongakkan kepala sambil bertanya.
"Siapa sia atasanmu? Dapatkah lotiang memberi petunjuk?"
"Atasan kami tawk memesan apa-aypa, sebab itu lxohu pun merasa kurang leluasa untuk sembarangan berbicara."
Mendengar itu, Wi Tiong hong segera tertawa dingin.
"Heeheehee kalau toh siapa nama atasan lotiang pun tak sudi diberitahu ada urusan apa dia mempunyai sesuatu urusan,"
"Harap lotiang sudi menyampaikan kepada atasanmu, katakan kalau aku masih ada urusan penting sehingga tak bisa memenuhi undangannya itu..."
Seusai berkata, dia lantas menjura dan bersiap-siap meninggalkan tempat itu.
Dua orang kakek berbaju abu-abu yang berdiri dibelakang kakek berjubah hijau itu segera berkelebat ke depan menghadang jalan pergi Wi Tiong hong.
Diam-diam Wi Tiong hong tertegun lagi di buatnya, dengan cepat dia berpikir.
"Gerakan tubuh yang dimiliki kedua orang kakek itu sungguh cepat sekali, tampaknya ilmu silat yang dimiliki tidak lemah !"
Berpikir demikian, dengan kening berkerut segera serunya.
"Mau apa kalian berdua sekarang ?"
"Atasan kami sedang menunggu di depan sana, harap Wi sauhiap sudi mengunjungi sebentar."
Sahut kakek berbaju hijau itu tertawa. Wi Tiong hong tertawa dingin.
"Yang ingin berjumpa dengan diriku toh atasanmu sedang bersedia atau tidak menjumpai atasanmu adalah urusanku, atas dasar apa kalian bertiga hendak memaksaku dengan kekerasan ?"
"Lobu hanya mendapat perintah untuk menyambut kedatangan sauhiap, kami tidak berminat untuk memaksa dengan menggunakan kekerasan?"
"Bagus sekali, boleh saja aku kesitu, namun kalian mesti menjelaskan lebih dahulu siapakah atasan kalian itu. ada urusan apa mengundang kedatanganku? setelah itu baru akan kupertimbangkan lagi..."
Kakek berjubah abu-abu yang berada di-sebelah kiri itu segera membentak.
"Lengcu, orang ini enggan minum arak kehormatan, tampaknya kita harus suguhi arak hukuman!"
"Benar"
Sambung seorang yang lain.
"kita sudah tidak banyak memiliki waktu lagi, bagai mana kalau kita bekuk saja dengan kekerasan?"
Nada pembicaraan kedua orang itu dingin, kaku dan sombong.
seakan-akan tidak memandang sebelah matapun terhadap lawannya.
Wi Tiong-hong dapat mendengar kalau mereka menyebut kakek berjubah hijau itu sebagai "leng cu"
Namun dia tidak mengetahui darimana datangnya sang Leng cu tersebut?
Selama ini.
si kakek berjubah hijau itu hanya tersesyum belaka, sepintas la'u tidak mirip orang jahat, tapi dua orang pengiringnya itu sudah jelas itukan manusia baik-baik.
Kakek berjubah hijau itu sama sekali tidak menggubris ucapan kedua orang pengiringnya, dengan kening berkerut katanya lagi.
"Wi sauhiap harap kau sudi memaafkan kami, sudah banyak tahun atasan kami tak pernah melakukan perjalanan didunia persilatan, sehingga lohu memang agak kurang leluasa untuk memberitahukan siapa namanya, tapi lohu telah mendengar atasan kami berkata bahwa kepandaian silat sauhiap seperti berasal dari seorang sahabat karibnya, itulah sebabnya dia ingin sekali berjumpa dengan sauhiap."
Waktu itu Wi Tiong hong memang sedang risau dan kesal karena tidak mengetahui asal usulnya, mendengar perkataan tersebut, kontan saja semangatnya berkobar kembali, desaknya lebih jauh.
"Apa lagi yang dikatakan atasanmu itu?"
"Lohu hanya mendengar atasan kami berkata demikian saja, keadaan yang lebih jelas tidak lohu ketahui. paling baik kalan sauhiap menjumpai atasan kami sendiri dan bertanya lebih jelas."
Ucapan tersebut memang manjur sekali.
"Sekarang, atasanmu berada di mana ?"
Wi Tiong hong segera bertanya dengan bernapsu. Kakek berjubah hijau itu segera menuding ke depan sana.
"ltu dia, berada didepan sana, tak jauh dari tempat ini !"
Sahutnya cepat.
"Aku bersedia untuk menjumpai atasanmu itu"
"Bagus sekali"
Seru kakek berjubah hijau itu sambil tersenyum.
"harap Wi sauhiap sudi mengikuti lohu."
"Silahkan!"
Seru Wi Tiong-hong sambil mengangkat tangannya.
Kemudian tanpa banyak berbicara lagi dia berjalan mengikuti dibelakang kakek berjubah hijau itu, sementara ke dua orang kakek berbaju abu abu itu lalu mengikuti pula di belakang.
Setelah berjalan kurang lebih gsepertanakan naisi kemudian, sahmpailah mereka disebuah dusun kecil dibawah bukit.
Kakek berjubah hijau itu mengajak Wi Tiong hong mendekati sebuah gubuk dekat selokan, kemudian berhenti secara tiba-tiba, Kemudian setelah menjura serunya.
"Hamba telah mengundang datang Wi sauhiap"
"Silahkan dia masuk!"
Suara serak seseorang berkumandang dari dalam rumah gubuk itu.
"Baik"
Sahut kakek berjubah hijau itu cepat, sambil membalikan badan ia berkata lagi.
"Atasan kami mempersilahkan Wi sauhiap untuk masuk!"
Wi Tiong hong segera beranjak masuk ke dalam rumah gubuk tersebut.
Waktu itu senja sudah menjelang tiba, matahari telah condong ke sebelah barat, suasana diluar ruangan masih tidak seberapa gelap, namun suasana dalam ruangan itu cukup redup.
Tampak disisi sebelah kiri dinding terdapat sebuah kursi bambu, seorang kakek berjubah lebar dan berjenggot putih duduk disitu dengan sangat angkernya.
Ditengah kegelapan, sepasang mata kakek itu memancarkan sinar tajam yang menggidikkan hati, bagaikan sembilu dia mengawasi wajah Wi Thiong hong lekat-lekat, ternyata ia tidak bangkit berdiri untuk menyambut kedatangannya.
Sepasang mata Wi Tiong hong dapat dipakai untuk melihat dalam kegelapan, dalam sekilas pandangan saja dia dapat melihat kalau kakek itu mengenakan jubah panjarg berwarna hijau tua, wajahnya pucat dan daging tubuhnya kaku sehingga sekilas pandangan tidak mirip dengan manusia hidup.
Pengalaman yang dimiliki Wi Tiong hong sekarang sudah amat luas, pengetahuannya tentang dunia persilatan juga sudah maju pesat, sekilas pandangan saja dia sudah melihat kalau kakek itu mengenakan selembar kulit manusia.
Dari gerak-gerik maupun tingkah lakunya itu, deruan cepat anak muda itu mengambil kesimpulan kalau kakek yang dihadapinya sekarang sudah jelas bukan orang dari golongan lurus, diam-diam ia segera meningkatkan kewaspadaannya.
Ketika kakek berjubah hijau tua itu menyaksikap Wi Tiong-hong hanya berdiri saja dalam ruangan rumah, dia mengira pemuda itu tak dapat melihat jelas keadaan didalam karena silau, maka sambil tertawa dalam tegurnya.
"Saudara cilik, silahkan duduk, disisi sebelah kananmu terdapat sebuah kursi bambu."
Wi Tiong-hong segera menjura, katanya.
"Terima kasih banyak atas undangan lotiang, bolehkah aku tahu siapa nama lotiang dan ada urusan apa mengundang kehadiranku kemari?"
Sejak perjumpaan pertama kali gtadi, sepasang imata si kakek bherjubah hijau tua itu tak pernah terlepas dari wajah Wi Tiong-hong mendengar pertanyaan tersebut, ia segera tertawa terbahak bahak.
"Haah... haah... haah... sudah banyak tahun lohu tak pernah melakukan perjalanan dalam dunia persilatan, harap saudara cilik memanggilku dengan sebutan lotiang saja"
"Ada urusan apa lotiang mengundang kehadiranku ke sini ? Harap kau sudi menjelaskan kepadaku"
"Lohu memang ada suatu persoalan yang hendak dibicarakan denganmu, saudara cilik, siIahkan duduk lebih dulu sebelum pembicaraan mau dimulai..."
Wi Tiong hong menurut dan segera duduk dikursi yang berada di hadapannya. Setelah mengawasi si anak muda itu beberapa saat, pelan-pelan kakek berbaju hijau tua itu berkata.
"Saudara cilik, kaukah yang bernama Wi Tiong hong ?"
"Benar, aku bernama Wi Tiong hong"
"Wi Tiong.. Hong !"
Kakek berjubah hijau tua itu tertawa terkekeh-kekeh dengan suara yang aneh sekali, berapa saat kemudian ia baru berkata lagi.
"Saudara cilik, pikirku kau bukan she Wi?"
Wi Tiong hong merasa amat terperanjat, dengan cepat ia teringan kembali akan sepatah kata yang tercantum dalam surat yang ditinggalkan paman tanpa nama padanya tempo hari.
"Kau bukan dari Marga Wi, tapi sekarang kau harus tetap mempergunakan nama Wi Tiong hong sebagai pengganti namamu."
Setiap tulisan yang ditinggalkan paman tanpa nama didalam suratnya.
boleh dibilang telah hapal diluar kepala, sekarang kakek itu mengatakan pula bahwa dia bukanlah she Wi, bukankah hal ini menunjukkan kalau dia memang bukan she Wi?
Tapi darimana dia bisa tahu akan hal ini..?
Tapi pengalaman yang dimiliki Wi Tiong-hong kini sudah cukup luas, oleh sejak awal dia sudah merasa kalau orang ini bukan berasal dari golongan lurus, maka sesudah tertegun sejenak, katanya sembari menjura.
"Lotiang, atas dasar apa kau berkata demikian?"
Mencorong sinar tajam yang menggidikkan hati dari balik mata kakek berjubah hijau tua itu, dengan cepat dia mengerling sekejap ke-arah Wi Tiong hong, kemudian katanya seraya tertawa terbahak bahak.w "Raut wajah sayudara cilik menxgingatkan lohu dengan seorang sahabat karibku..."
Sekali lagi Wi Tiong hong merasakan hatinya tergerak, katanya hambar.
"Bukan hanya seorang saja yang berwajah mirip didunia ini, mungkin lo tiang telah salah melihat orang?"
"Tentu saja lohu tak akan menganggap saudara cilik sebagai sahabat lohu haa... haah... haaa sahabat lohu itu paling tidak sudah berusia empat puluh lima tahunan saat ini, maksud lohu kemungkinan besar saudara cilik adalah putra dari sahabat lohu itu sebab..."
Ketika berbicara sampai di situ, mendadak ia menutup mulut dan tak melanjutkan kata-katanya lagi. Wi Tiong hong segera berkata.
"Mengapa lotiang tidak melanjutkan perkataanmu itu?"
"Sebab sahabat lohu itu sudah hampir lima belas tahun lamanya tak pernah berhubungan dengan putra kandungnya itu."
Ketika ucapan "lima belas tahun"
Tersebut menyusup ke dalam telinga Wi Tiong hong, hampir saja dia melompat saking kagetnya. Dia jadi teringat pula dengan tulisan paman tanpa nama didalam suratnya dulu.
"Selama lima belas tahun ini, kau selalu menganggapku sebagai ayahmu, namun dalam kenyataannya aku bukan ayah kandungmu, kalau dihitung-hitung, kau seharusnya memanggil paman kepadaku..."
Lima belas tahun, mungkinkah yang dia kakek berjubah hijau tua itu maksudkan adalah dirinya sendiri ?
Tidak tidak benar, menurut dia, sahabatnya sudah lima belas tahun tak pernah berhubungan dengan putra kandungnya, itu berarti sahabat lamanya belum mati.
Padahal ayah sendiri sudah mati di tangan musuh besarnya pada limabelas tahun berselang...
ini menurut tulisan dari paman tanpa nama dalam suratnya.
Sementara dia masih termenung, terasa olehnya kakek berjubah hijau tua itu sedang menatapnya dengan sorot mata yang tajam, maka ujarnya kemudian sambil menyangkal kepalanya.
"Mendiang ayahku sudah lama berpisah denganku..."
"Menurut apa yang lohu ketahui, sahabat karib lohu itu pernah memiliki sebutir mutiara, mutiara tersebut berada didalam saku saudara cilik sekarang..."
Mendengar sampai disitu, Wi Tiong hong segera berpikir.
"Yang dimaksudkan sebagai mutiara mestika tersebut pastilah mutiara Im kiam cu menurut Ban kiam hweecu, mutiara Im kiam cu berada disakuku, kemudian si kakek Ou dari Lam hay bun juga berkata demikian. Kalau dibilang Lou bun si berada disaku ku memang benar, tapi bagaimana dengan mutiara Im kiam cu tersebut ?"
Berpikir sampai disitu, maka tanyanya sambil tertawa dingin.
"Apakab lotiang maksudkan mutiara Im-kiam cu?"
Kakek berjubah hijau tua itu seperti merasa tercengang dan diluar dugaan oleh pertanyaan lawan secara terang-terangan itu, setelah tertegun sejenak, katanya sambil tertawa seram.
"Benar memang mutiara itu yang lohu maksudkan."
Sekarang Wi Tiong hong baru mengerti, meskipun kakek tersebut tidak muncul dalam kuil tersebut, kemungkinan besar dia telah bersembunyi disekitar ruangan tersebut dan menyadap pembicaraan antara Ban kiam hweecu dan kakek Ou dari Lam hay bun, sehingga dianggapnya ia benar-benar memiliki mutiara Ing kiam cu tersebut.
Mungkin dikarenakan alasan itulah, maka dia sengaja mengirim orang untuk memancing datang kesitu.
Dari sini, dapat disimpulkan pula kalau dia sengaja mencatut nama ayahnya dengan tujuan untuk mengincar mutiara Ing kiam cu tersebut.
Berpikir sampai disitu.
tanpa terasa lagi ia tertawa nyaring, katanya kemudian.
"Kalau Lou bun si yang menggetarkan dunia persilatan mah benar-benar berada disakuku, sayang sekali dalam sakuku tidak terdapat mutiara Ing kiam cu tersebut."
Kakek berjubah hijau tua itu turut tertawa terbahak-bahak.
"Haah... haah... haaah... apakah saudara cilik menganggap lohu sedang mengincar mutiara lng kiam cu milikmu itu ?"
"Memangnya bukan ?"
Berkilat sepasang mata kakek berjubah hijau tua itu, serunya setelah tertawa seram.
"Betul, lohu hanya ingin membuktikan apakah saudara cilik benar-benar merupakan putera sahabat karibku Hong Thian jin atau bukan, selain itu, aku tidak mempunyai maksud tujuan lain."
"Hong Thian-jin ?"
Wi Tiong hogng termenung saimbil bepikir sehjenak.
"aku tidak kenal dengan orang itu."
Sekali lagi kakek berjubah hijau tua itu menatap wajah Wi Tiong hong lekat-lekat, kemudian tanyanya lagi dengan suara menyeramkan "Kalau begitu, tentunya saudara cilik pernah mendengar orang membicarakan tentang Sian soat Kiam-kek ( jago pedang dari Sian saat ) Ciang Lam-san bukan ?"
"Sian-soat kiam-kek Ciang Lam-san ?"
Wi Tiong hong jadi teringat bagaimana Ban kiam hweecu pun pernah mengira dirinya sebagai anak murid Sian-soat kiamkek, dengan cepat dia menggeleng kembali.
"Aku pernah mendengar Ban kiam hwee-cu menyinggung tentang nama Sian soat kiam kek, tapi sebelum itu belum pernah kudengar tentang nama tersebut, bersediakah lotiang untuk menjelaskan lebih jauh...?"
Dengan sorot mata yang tajam kakek berjubah hijau itu menatap wajah Wi Tiong hong lekat-lekat, dia menjadi agak tercengang sewaktu dilihatnya pemuda itu seperti tidak berbohong.
Selang berapa saat kemudian dia baru berkata lagi.
"Ciang Lam san berasal dari partai Bu tong, kalau dihitung masih termasuk paman gurunya ketua Bu tong pay saat ini Thian Yan cu. Tetapi kemudian dia bergabung dengan Ban kiam bun dan menjadi salah satu diantara delapan pelindung hukum perguruan tersebut"
Wi Tiong hong segera berpikir kembali.
"Dari delapan pelindung hukum Ban kiam-bun yang pernah kuketahui hingga kini diantaranya terdapat It teng taysu, lo pangcu dari Thi pit pang Tau pek li serta Thian sao tiau siu, nampaknya orang-oranng yang tergabung dalam delapan pelindung hukum tersebut rata rata merupakan manusia pilihan"
Sementara itu kakek berjubah hijau tua itu sudah melanjutkan kembali kata-katanya.
"Ban kiam hwee cu waktu itu mendapat kabar yang mengatakan bahwa di Lam hay bun terdapat sebutir mutiara Ing kiam cu yang bisa dipergunakan untuk mematahkan jurus pedang, konon benda mana merupakan satu-satunya benda yang bisa menandingi Bin-kiam bun, maka dia lantas mengutus jago-jago lihay nya untuk melakukan serbuan ke Lam-hay, tentu saja tujuan yang terutama adalah untuk merebut mutiara mestika itu."
"Siapa sangka, ilmu silat yang dimiliki orang orang Lam-hay bun amat lihay, jago tangguhpun banyak sukar dihitung, dalam pertarungan mana kedua belah pihak sama sama jatuh korban yang parah, konon dari kawanang jago yang menyierbu ke Lam hayh, kecuali Ban kiam hwee cu sendiri, hanya berapa orang saja dari kawanan jago lihay yang dibawanya berhasil mundur dengan selamat."
Wi Tiong hong manggut-manggut.
"Yaa, tentang soal itu memang pernah kudengar"
Kakek berjubah hijau itu tidak menggubris ucapannya, kembali dia berkata lebih jauh.
"Beratus orang jago lihay yang dibawa Ban kiam hwee cu, akhirnya tumpas dalam pertarungan mana, mutiara Ing kiam cu juga gagal didapatkan, sejak menderita pukulan berat itu, Ban kiam bun ikut lenyap pula dari peredaran dunia persilatan hampir puluhan tahun lamanya."
Setelah berhenti sejenak. dia berkata lebih jauh.
"Dari delapan orang jago lihay yang berhasil kabur dari pengepungan di Lam hay, akhirnya merekapun menyebarkan diri ke mana-mana, menurut berita, sewaktu melakukan penyerbuan ke Lam hay bun tempo hari, Ciang-Lam San san berhasil merampas sebuah kertas berisi ilmu pedang yang tidak utuh, sejak itu dia mengasingkan diri di bukit Sian Soat nia.
"Sejak itulah orang menyebutnya sebagai Sian soat kiam kek, sedangkan ilmn silat andalannya adalah Pek lek sam ceng (tiga getaran geledek) yang khusus untuk menggetarkan senjata tajam lain, konon ke tiga jurus ilmu pedang tersebut berasal dari lembaran kitab pusaka yang sudah tak lengkap lagi itu!"
Tergerak hati Wi Tiong hong setelah mendengar perkataan itu, pikirnya kemudian.
"SeteIah Ban kiam hweecu menyakinkan jurus it goan hu si. Pau im cu yang dan Sam hoa ki teng yang kumainkan, dia lantas menganggap jurus-jurus tersebut sebagai Kam-sam ceng dari Sian soat kiam kek, mungkin ilmu tersebutlah yang dimaksudkan olehnya sekarang sebagai Pak lek sam ceng?"
Kemudian setelah berhenti sejenak, dia berpikir lebih jauh.
"Ooooh"
Rupanya Sian soat kiam kek bermula dari Bu tong pay, kalau begitu adakah sesuatu hubungan antara ketiga jurus ilmu pedangku itu dengan dirinya?"
Sementara dia termenung, terdengar kakek berjubah hijau itu sudah tertawa terbahak-bahak.
"Haaahh... haaahh... haaah... dengan susah payah Ban kiam hweecu mengirim orang-orangnya untuk menyerbu Lam hay bun, akhirnya dia tidak berhasil mendapatkan mutiara lng kiam cu tersebut, coba kau tebak, akhirnya mutiara tersebut terjatuh ditangan siapa ?"
Tanpa berpikir panjang Wi Tiong hong segera berkata.
"Kalau didengar dari nada pembicaraan lo tiang, mungkinkah ia adalah Sian soat kiamkek?"
Kakek berbaju hwijau tua itu seygera manggut-maxnggut.
"Benar, peristiwa ini baru diketahui puluhan tahun kemudian, saat ita Sian soat kiamkek sudah mati, dan orang persilatan baru tahu kalau mutiara Ing kiam cu tersebut sebenarnya terjatuh di tangannya."
Wi Tiong hong hanya mendengarkan dengan tenang, tak sepatah katapun yang diucapkan. Dengan tajam kakek berjubah hijau itu mengawasi sekejap wajah Wi Tiong hong, kemudian setelah tertawa seram katanya.
"Setelah Sian soat kiam kek meninggal dunia, tentu saja mutiara Ing kiam cu tersebut terjatuh ke tangan Hong Thian-jin, anak muridnya, peristiwa itu terjadi lima belas tahun berselang dan kini mutiara Ing-kiam cu tersebut muncul pula disaku saudara cilik, kebetulan sekali paras muka saudara cilikpun mirip sekali dengan raut wajah Hong Thian jin."
Sesudah mendengar uraian tersebut, lambat laun Wi Tiong hong mulai mempercayai perkataannya, diam-diam ia berpikir.
"Jangan-jangan Hong Thian jin benar-benar adalah ayah kandungku ?"
Berpikir demikian, dia lantas mendongakkan kembali seraya berkata.
"Tapi didalam sakuku benar-benar tidak terdapat mutiara Ing kiam cu tersebut."
Kakek berbaju hijau itu segera mengalihkan sorot matanya ke atas tangan kiri pemuda itu, lalu katanya sambil tertawa seram.
"Saudara cilik, kau mengenakan apa pada jari tengah tangan kirimu itu?"
"Oooh, benda itu adalah cincin Ji gi huan !"
Kakek berbaju hijau itu segera tertawa terbahak-bahak.
"Haaah... haaah... haahh... Ji gi-huan merupakan senjata rahasia dari Bu-tong pay aku yakin hal ini tak salah, tapi mengapakah diatas cincin yang melingkari jari tangan kirimu itu terdapat sebutir mutiara besi sebesar kacang kedelai?"
"Yaa cincin ditangan kananku juga terdapat mutiara besinya"
Bantah pemuda itu cepat. Kakek berjubah hijau itu kembali tertawa aneh.
"Mutiara Ing kiam cu terletak pada cincin yang melingkar jari tangan kirimu, sedangkan mutiara besi yang berada cincin ditangan kananmu hanya sebagai tipuan belaka. Tentunya kau mengerti akan perkataan lohu bukan?"
Sekarang Wi Tiong hong semakin mempercayai perkataan orang itu, namun dia hanya membungkam saja sambil termenung. Bab-50 Kembali kakek berjubah hijau itu berkata.
"Saudara cilik, apakah kau masih belum percaya kalau kau adalah putra sahabat karibku itu?"
"Tentang soal ini..."
"Saudara cilik tak usah merasa kesulitan"
Tukas kakek berjubah hijau itu sambil tertawa licik.
"lohu masih mempunyai sebuah cara untuk membuktikan hal ini."
"Silahkan kau utarakan."
"Sudah lohu katakan tadi, Sian soat kiam khek mempunyai tiga jurus ilmu pedang yang disebut Pek lek sam ceng, tentunya kau mampu mempergunakan jurus pedang tersebut bukan?"
"Aku hanya bisa memainkan ilmu pedang Ji gi kiam kek, tidak kuketahui tentang Pek lek sam ceng, namun didalam ilmu pedang Ji gi kiam kek memang terdapat jurus serangan yang khusus dipakai untuk menggetar lepas senjata orang, apakah jurus serangan tersebut mengandung ilmu Pek lek sam ceng atau tidak, soal tersebut tidak kuketahui dengan jelas."
Sepasang mata si kakek berbaju hijau yang licik hanya mengawasi Wi Tiong-hong selama ini tanpa berkedip, menanti pemuda tersebut menyelesaikan kata-katanya ia baru berkata sambil tersenyum.
"Soal itu mah gampang, lohu akan mencoba beberapa gebrakan denganmu, asal kau gunakan ilmu mana. maku lohu akan segera dapat mengenalinya..."
Berbicara sampai disitu, pelan-pelan dia beranjak dari tempat duduknya, kemudian berkata lagi.
"Ayo berangkat, mari kita mencoba diluar ruangan !"
Baru saja ucapan tersebut diutarakan dan Wi Tiong hong belum sempat menjawab, tampak bayangan manusia berkelebat lewat segulung asap ringan, entah dengan gerakan apakah dia berkelebat, tahu-tahu saja sudah menyambar melalui sisi Wi Tiong hong dan tak nampak lagi bayangan hidungnya.
Diam-diam Wi Tiong hong merasa terkejut atas kejadian tersebut, segera pikirnya.
"Sungguh cepat gerakakan tubuh orang ini, hampir saja aku tak sempat untuk melihat jelas, ditinjau dari hal ini bisa dibuktikan kalau tenaga dalamnya telah mencapai puncak kesempurnaan..."
Buru-buru dia membalikkan kepalanya tampak Kakek berjubah hijau itu sudah berdiri tiga kaki diluar pintu sambil berkata.
"Saudara cilik, cepatlah ikut keluar !"
Wi Tiong hong segera turut berjalan keluar dari gubuk tersebut, ditengah remang-remangnya cuaca tampaklah di kiri kanan rumah gubuk itu berdiri empat orang kakek berjenggot putih yang berjubah hijau, dibelakang setiap kakek berjubah hijau itu, masing masing berdiri dua orang kakek berjubah abu-abu yang berdiri dengan sepasang tangan diluruskan ke bawah.
Wi Tiong hong merasa keheranan sekali, karena ke empat orang kakek berjenggot putih berjubah hijau itu baik wajah maupun bentuknya hampir serupa semua sehingga sulit baginya untuk membedakan manakah kakek berjubah hijau yang menyuruhnya keluar tadi.
Walaupun ke empat orang kakek berjenggot putih berjubah hijau serta ke delapan kakek berjubah abu-abu itu hanya berdiri tak berkutik disitu dengan wajah yang sangat serius, namun Wi Tiong hong yang menyaksikan kejadian tersebut mau tak mau harus meningkatkan kewaspadaannya.
Sebenarnya apa maksud dan tujuan kakek berbaju hijau itu terhadap dirinya ?
Salah seorang diantara ke empat kakek ber jubah hijau itu segera tersenyum, ujarnya sambil mengangkat kepalan.
"Saudara cilik. silahkan loloskan senjatamu!"
"Lotiang, apakah kau mengajakku bertarung hanya dikarenakan ingin membuktikan bahwa aku pandai ilmu Pek lek-sam kiam atau tidak?"
Tanya Wi Tiong hong agak ragu.
"Yaa, memang begitulah."
Sahut kakek berjubah hijau itu sambil manggut-manggut.
"Kalau memang begitu, buat apa lotiang mesti turun tangan sendiri ? Asal kumainkan sekali dihadapan lotiang, bukankah hal mana sudah lebih dari cukup ?"
"Tidak salah"
Kata kakek berjubah hijau itu sambil menggeleng.
"keampuhan dari Pek lek-sam ceng terletak didalam hal menggetar, tanpa terjun sendiri ke arena, kalau hanya menonton saja mah tak mungkin bisa dirasakan."
"Oooh, rupanya begitu, lotiang suruh aku meloloskan pedang, apakah lotiang sendiri tidak meloloskan senjata ?"
"Tentu saja lohu akan menggunakan senjata"
Selesai berkata, tangan kanannya segera di getarkan dan dari pinggangnya meloloskan se buah ikat pinggangnya.
Tapi didalam getaran itulah, ikat pinggang tersebut telah digetarkan sehingga tegak lurus seperti sebatang pit, katanya kemudian sambil mengangkat kepala.
"Lohu akan mempergunakan ikat pinggang ini untuk bertarung bertarung beberapa gebrakan dengan saudara cilik." 000 OO 000 TENTU SAJA Wi Tiong-hong tahu, tanpa ditunjang oleh tenaga dalam yang sudah mencapai puncak kesempurnaan mustahil ikat pinggang yang lemas tersebut bisa digetarkan hingga keras bagaikan sebuah ruyung tembaga. Maka dia pun tidak banyak berbicara lagi, setelah mundur selangkah, dari sakunya dia cabut keluar pedang Jit-siu-kiam. Dengan sorot mata tajam kakek berbaju hijau itu mengawasi pedang karat Wi Tiong-yang sama sekali tak bersinar itu. Kemudian setelah memandang tangan pemuda itu lekat-lekat, dia mendongakkan kepalanya dan tertawa seram.
"Haaah, haaah, haaah, pedang bagus ! pedang bagus !"
Serunya sambil manggut-manggut. Wi Tiong hong merasakan gelak tertawa tersebut amat keras dan nyaring sehingga menggetarkan sukma orang, tanpa disadari timbul perasaan seram didalam hati kecilnya.
"Saudara cilik, berhati-hatilah, lohu akan segera turun tangan !"
Seru kakek berjubah hijau itu tiba-tiba.
Dengan langkah lebar dia maju ke depan, ikat pinggangnya diputar di tengah udara sehingga menimbulkan desingan angin serangan yang tajam, kemudian segera munculIah selapis bayangan hitam yang mengurung seluruh tubuh anak muda tersebut."
Dengan perawakan tubuh yang tinggi besar, meski getaran ikat pinggang itu dilakukan dengan suatu gerakan yang lamban, namun dalam kenyataannya menimbulkan kekuatan yang luar biasa.
Wi Tiong hong semakin terkesiap lagi setelah menyaksikan permainan ikat pinggang lawan bisa menimbulkan kekuatan yang begitu dahsyat, dengan cepat tangan kirinya membuat gerakan aneh, menyusul kemudian tubuh berikut pedangnya meluncur ke muka, begitu lolos dari sambaran lawan, dengan jurus Thian lo tiap bo (ajaran langit diamalkan) dia melancarkan serangan balasan.
"Jurus serangan ini merupakan jurus pedang dari Bu tong kiam hoat..!"
Bentak kakek berjubah hijau itu dengan suara dalam.
Tangan kanannya segera diputar, mendadak permainan ikat pinggang tersebut berubah, dalam waktu singkat kedahsyatannya terasa berlipat ganda, tampaknya bayangan ikat pinggang bermunculan dari empat arah delapan penjuru dan menggulung bersama-sama ke depan.
Ditengah lapisan bayangan ikat pinggang yang tebal, terdengar kakek berjubah hijau itu membentak dengan suara yang dingin dan berat.
"Spudara cilik, mengapa tidak kau gunakan ke tiga jurus ilmu pedang tersebut ?"
Waktu itu, Wi Tiong hong sedang merasakan kepayahan untuk membendung datangnya lapisan bayangan ikat pinggang yang begitu berlapis-lapis, mendengar bentakan mana, dia merasakan semangatnya berkobar kembali, dengan cepat dia mundur setengah langkah, pedangnya diputar kencang dan melancarkan serangan dahsyat.
Dia sendiripun ingin cepat-cepat membuktikan apakah ke tiga jurus ilmu pedang penggetar senjata lawan yang terdapat dalam ilmu pedang Ji gi kiam-hoat tersebut benar-benar adalah Pek lek-sam ciang seperti apa yang di katakan kakek tersebut.
Seandainya benar, itu berarti teka-teki sekitar asal-usulnya akan segera terungkap.
Berpikir sampai disitu, secara beruntun dia segera mengeluarkan jurus It goen hu si, Pau-im hu yang dan Sam hoa ki teng.
Ke tiga jurus pedang tersebut dilancarkan secara berantai, tampak bayangan padang segulung demi segulung memancar keluar dari ujung pedangnya dan segera menyambar ke-arah bayangan ikat pinggang yang sedang menyelimuti seluruh angkasa.
Seharusnya bentrokan antara pedang dengan ikat pinggang tersebut tidak akan menimbul suara apa-apa, namun sewaktu pedang W Tiong hong saling membentur dengan ikat pinggang lawan, ternyata berkumandanglah tiga kali suara benturan yang amat nyaring.
"Traang! Traang!"
Tentu saja ikat pinggang tak bakal menimbulkan suara, suara tersebut ditimbulkan karena pedang itu memperoleh sentilan keras yang menimbulkan suara getaran.
Namun didalam tiga kali bentrokan mana.
dalam perasaan Wi Tiong hong, senjata yang berada ditangan lawannya justru seakan-akan tidak mirip dengan ikat pinggang.
Bagaikan membentur diatas sebuah senjata baja yang mempunyai daya tahan kuat, separuh badannya bergetar keras sampai kesemutan, pergelangan tangan kanannya yang menggenggam pedangpun hampir saja menjadi lumpuh, tak bisa dikuasai lagi, tubuhnya terdorong mundur sejauh tiga langkah lebih.
Yang lebih aneh lagi adalah pedang karat yang berada ditangannya ini, Jit siu kiam yang termashur karena ketajamannya itu ternyata tak mampu mengapa-apakan sebuah ikat pinggang.
Bayangan ikat pinggang yang menyelimuti seluruh angkasa itu tahu-tahu menjadi sirap dan lenyap.
Tampak kakek berjubah hijau itu memutar sepasang tangannya lalu mengikat kembali ikat pinggangnya diatas pinggangnya, kemudian sambil memandang ke arah Wi Tiong bong dengan sorot mata yang membesi dia tertawa terkekeh-kekeh, katanya.
"Kau masih muda, namun memiliki kepandaian yang luar biasa. sungguh merupakan suatu peristiwa yang tidak gampang."
Buru-buru Wi Tiong hong segera menarik kembali pedangnya, setelah itu tanyanya.
"Lotiang, apakah berhasil kau ketahui apakah ilmu yang kugunakan itu adalah pek-lek-sam kiam ?"
Hilang lenyap senyuman yang menghias wajah kakek berjubah hijau itu, katanya dengan suara menyeramkan.
"Sulit untuk dibicarakan !"
"Kalau begitu bukan ?"
Seru Wi Tiong hong agak kecewa. Dengan senyum tak senyum kakek berbaju hijau itu berkata lagi.
"Belum tentu demikian, bila ditinjau dari gerakan pedang yang saudara cilik gunakan, nyata kalau bukan ilmu Pek lek sam ceng, tapi kalau dilihat dari tenaga dalam yang dipancarkan dibai k pedang tersebut, jelas merupakan simhoat dari ilmu Pek lek sam ceng."
Berbicara sampai disini, mendadak ia berhenti sejenak sambil mengawasi Wi Tiong hong dengan tenang, agaknya dia sedang menantikan reaksinya..
Ketika Wi Tiong hong mendengar kakek berjubah hijau itu pun tak mampu memastikan tentu saja dia mengira hal ini sebagai kenyataan.
Sementara itu kakek berjubah hijau tersebut telah berkata lebih jauh setelah berhenti sejenak.
"Namun menurut dugaan lohu, orang yang mewariskan ketiga jurus ilmu pedang itu kepada saudara cilik sudah pasti memahami sekali ilmu pedang Bu tong pay, setelah melalui pemikiran yang cermat, rupanya dia memang sengaja hendak merahasiakan indentitas ilmu pedang yang sebenarnya, entah siapakah yang mewariskan ilmu pedang tersebut kepada saudara cilik?"
Wi Tiong hoig hendak menjawab kalau orang itu adalah paman tanpa nama yang telah memelihara sejak dari kecil dulu, tapi tiba tiba saja tergerak hatinya, dia teringat kembali dengan peringatan yang berulang kali gdisinggung pamain tanpa nama ithu dalam suratnya.
Di dalam surat mana diperingatkan bila ada orang menanyakan tentang asal usul perguruannya, maka dunia persilatan amat berbahaya dan licik, asal usul yang sesungguhnya tak boleh disiarkan kepada orang lain secara sembarangan.
Tindak tanduk kakek berjubah hijau yang sangat aneh itu segera menimbulkan kewaspadaan, ucapan yang sudah berada diujung bibir nya terasa ditelan kombali, katanya kemudian dengan cepat.
"Guruku adalah Thian Goan cu, tentu saja ilmu pedangku juga kupelajari dari guruku itu"
Sebagai seorang jago kawakan yang sudah berpengalaman dalam dunia persilatan tentu saja tindak sang pemuda yang membuka mulutnya ingin berbicara yang kemudian diurungkan itu tak dapat mengelabuhi sepasang mata kakek berjubah hijau tersebut, setelah tertawa seram gumamnya.
"Dulu, Sian-soat-kiam kek Ciang Lam sam juga berasal dari perguruan Bu tong pay, tentu saja anak muridnya pandai pula mempergunakan pedang Bu tong pay !"
Walaupun ucapan mana hanya di utarakan secara bergumam belaka, namun secara diam-diam seperti hendak menegur Wi Tiong hong bahwa apa yang diucapkan olehnya bukan kata kata yang jujur.
Mendadak sepasang matanya berkilat tajam, ditatapnya Wi Tiong-hong dengan sorot mara setajam sembilu, kemudian dia berkata dengan nada yang tenang.
"Lohu hanya kangen dengan sahabat lamaku dan sama sekali tidak mempunyai maksud-maksud tertentu. baiklah, soal ini saudara cilik boleh terangkan nanti saja, setelah kau memahami asal usul lohu yang sebenarnya."
Dibongkar kebohongannya, kontan saja paras muka Wi Tiong hong berubah menjadi merah padam. Kembali kakek berjubah hijau itu berkata.
"Thian goan cu berasal dari Siu lo, dia merupakan seorang dedengkot dari golongan lurus dan sesat, saudara cilik sebagai anak murid Thian Goan cu, tentunya menguasai ilmu golok Siu lo to bukan?"
"Ooh, rupanya dia tak percaya kalau aku adalah anak murid Thian Goan cu maka sengaja menanyakan soal ilmu silat dari Siu lo bun kepadaku..."
Demikian pikir Wi tiong hong. Dia lantas menjura sambil menyahut.
"Tenaga dalam yang kumiliki terbatas sekali bisanya sih bisa, cuma kurang sempurna."
"Tak menjadi soal coba gunakanlah agar lohu saksikan....."
"Apa yang harus kulakukan sehingga lotiang dapat mencobanya?"
Kakek berjubah hijau itu tertawa seram.
"Dahulu lohu sudah pernah berjumpa beberapa kali dengan Thian Goan cu, konon ilmu Siu lo to merupakan ilmu khikang yang dipancarkan seperti babatan golok yang mampu untuk membobolkan serangan pukulan orang, tentu saja lohu harus melancarkan serangan untuk membuktikannya sendiri."
Berbicara sampai disini, pelan-pelan dia mengangkat tangan kanannya kedepan kemudian membentak.
"Saudara cilik, apakah kau sudah mempersiapkan diri baik baik...?"
Wi Tiong hong tahu, setelah dia mengucapkan perkataan tersebut berarti dia harus menyambut pukulan itu dengan kekerasan, terpaksa segenap tenaga dalamnya dihimpun, telapak tangan kanannya di silangkan di depan dada, lalu berkata dengan serius.
"Aku akan menuruti perintah saja, nah, bersiap siaplah secara baik-baik."
"Baik..."
Seru kakek berjubah hijau itu dengan suara dalam.
Telapak tangannya yang sudah terangkat itu pelan-pelan di ayunkan kedepan melancarkan sebuah pukulan dahsyat.
Jarak antara Wt Tiong hong dengannya sekarang paling tidak mencapai satu kaki lebih, begitu serangan lawan dilontarkan, dia segera merasakan datangnya segulung angin pukulan yang meluncur ke arah depan tubuhnya.
Tenaga pukulan tersebut sangat kuat bagaikan bukit dan menyelimuti daerah seluas tujuh delapan depa lebih.
Wi Tiong-hong tak berani berayal lagi, telapak tangan kanannya yang disilangkan di depan dada segera diayunkan pula ke depan melepaskan sebuah bacokan kilat.
Tampaknya tenaga dalam yang dimiliki kakek berjubah hijau itu sudah mencapai tingkatan mengerahkan dan menarik serangan sekehendak hatinya sendiri.
Begitu angin pukulan dilepaskan segera meluncur ke depan dengan kecepatan luar biasa namun ketika baru saja mencapai di hadapan Wi Tiong-hong, mendadak gerak serangan tersebut melamban dan pelan-pelan mendorong ke muka.
Sebaliknya serangan yang dilancarkan Wi Tiong hong dibacokkan secara langsung, tentu saja gerakannya cepat sekali, kedua gulung angin pukulan itu langsung bersentuhan satu sama lainnya hanya empat depa dihadapan Wi Tiong hong.
Bentrokan mana segera menimbulkan suara desingan yang amat nyaring..."Cri ng !"
Kemuwdian disusul beyrubah menjadi dxesingan yang memanjang..."
Enam tujuh depa disekeliling kakek beriubah hijau itu segera diliputi dergan angin pukulan yang menderu-deru, seperti memotong kertas saja, semuanya kena dibabat oleh desingan angin pukulan Wi Tiong hong yang tajam itu.
Angin golok menembus langsung ke dalam dan akhirnya..."Blaamm !"
Persis menghajar dada kakek berjubah hijau itu. Jubah hijau yang dikenakan kakek itu menggelembung besar dan bergoyang kencang mesti tidak terhembus angin, serunya sambil tertawa terbahak-bahak.
"Lohu yang menggunakan tenaga sebesar tiga bagianpun tak mampu untuk menahan seranganmu, ilmu Siu lo-to memang benar-benar luar biasa sekali..."
Wi Tiong hong merasa amat terperanjat ketika dilihatnya serangan tersebut bersarang telak diatas dada lawan, dengan wajah memerah katanya kemudian.
"Aaaah, rupanya aku telah salah turun tangan, apakah telah melukai lotiang ?"
Sekilas rasa bangga menghiasi wajah kakek berjubah hijau itu, ujarnya sambil tertawa.
"Aaaah, kalau hanya Siu lo to mah belum dapat melukai lohu..."
Sembari berkata mendadak tubuhnya mendesak maju ke depan, sepasang matanya memancarkan cahaya hijau, serunya sambil tertawa seram.
"Saudara cilik, rupanya kau adalah ahli waris dari Pit Ki beng..."
Tangan kirinya segera diayunkan kemuka dan menyambar bahu Wi Tiong hong dengan kecepatan tinggi.
Betapa terkejutnya Wi Tiong hong menyaksikan serbuan lawan, apalagi setelah di ihatnya paras muka kakek berjubah hijau itu menyeringai seram dan seakan-akan tidak mengandung maksud baik.
Tubuhnya mundur ke belakang dengan cepat, mendengar nama "Pit Ki beng"
Hatinya merasa terkejut sekali.
"Jangan-jangan orang itu mempunyai dendam kesumat dengan paman tanpa nama ?"
Demikian ia berpikir. Lolos dari cengkeraman lawan, dia segera berteriak keras.
"Lotiang, mau apa kau ?"
Gagal dengan cengkeramannya yang pertama, sebenarnya kakek berjubah hijau itu berniat untuk mengejar lebih jauh, mendadak berkilat sepasang matanya seperti telah menemukan sesuatu, sambil menghentikan langkahnya dia tertawa terbahak-bahak.
"Haah... haah... haah... lohu hanya berniat untuk mencoba reaksi dari saudara cilik saja !"
Belum habis berkata, seseorang telah menyambung sambil mendengus "Hmm, belum tentu !"
Sesosok bayangan manusia meluncur datang dengan kecepatan luar biasa, baru saja ucapan tersehut diutarakan, bayangan manusia tadi sudah melesat lewat dari sisi tubuh Wi Tiong hong.
Baru saja orang itu muncul, dari sisi kiri telah muncul kembali dua sosok bayangan manusia yang meluncur datang.
Menyusul kemunculan orang itu, terdengar seseorang berseru sambil tertawa nyaring.
"Saudara Wi, Kam Liu cu telah datang!"
Yang datang lebih duluan itu tertawa mengejek.
"Hmm... tidak terhitung lambat kedatangan dari kalian dua bersaudara !"
Salah seorang diantara dua orang yang datang belakangan segera mendengus lalu mengejek pula dengan suara dingin tapi merdu.
"Kau pun tidak lebih cepat banyak !"
Wi Tiong-hong berpaling ke arah di mana munculnya bayangan manusia tersebut, ternyata yang datang lebih duluan adalah si kakek berbaju coklat itu, kakek Ou yang berilmu tinggi dari Lam hay bun, dia melayang turun disebelah kanannya.
Dua orang yang datang belakangan adalah Kam Liu cu serta Liu Leng poo, mereka melayang turun di sisi kirinya.
Jelas ke tiga orang itu datang untuk memberi bantuan kepadanya Tajam amat sepasang mata kakek berjubah hijau itu, sekilas pandangan saja dia dapat melihat kalau kakek Ou serta Kam Liu cu sekalian yang berada di arena memiliki tenaga dalam tidak berada di bawah sendiri, kenyataan mana membuat hatinya amat terkesiap.
SESUDAH tertawa seram, tegurnya.
"saudara cilik, siapakah ketiga orang ini?"
Tidak sampai Wi Tiong-hong menjawab, Kakek Ou sudah menyela sambil tertawa seram.
"Sobat, lebih baik kau menyebugtkan dulu asal iusulmu sendiri h!"
"Hmmmm... sudah banyak tahun lohu tak pernah berkelana dalam dunia persilatan sekalipun kuutarakan juga belum tentu sobat ketahui.."
Mendadak mencorong sinar tajam dari balik mata kakek Ou, katanya sambil tertawa terbahak-bahak.
"Haaahh... haaaah... haaahh... bagus sekali kalau begitu, lohu pun sudah banyak tahun tak pernah berkelana dalam dunia persilatan, apakah sahabat pernah mendengar nama Kim pit-ciang (Panglima berlengan emas) yang menjaga pintu langit selatan ? Nah itulah lohu."
Panglima berlengan emas Ou Huan yang bertugas menjaga pintu langit selatan adalah petugas yang menjaga jalan utama menuju ke Lam-hay, sejak Lam-hay-bun menderita serbuan dari Ban kiam hwee dan menderita korban amat banyak, pihak Lam hay.^un kuatir kalau partai lain dilain dunia persilatan memanfaatkan kesempatan itu untuk melancarkan serbuan lagi, maka dijalan utama menuju ke Lam hay tersebut diberi petugas yang berfungsi untuk menahan serangan.
Waktu itu, tidak sedikit jagoan kenamaan dari dunia persilatan yang menderita kekalahan diujung telapak tangannya, karena kelihayan l mu silatnya maka dia disebut orang sebagai panglima berlengan emas...
Begitu mendengar nama panglima berlengan emas dari pintu langit selatam kakek berbaju hijau itu berkerut kening, namun tidak menunjukkan perubahan apa-apa diatas wajahnya yang menyeramkan, serunya kemudian dengan tertawa seram.
"Ooh, rupanya Ou lotoa, siapa pula kedua orang ini ?"
Kam Liu cu segera tertawa bergelak.
"Hiaah, haah, haaah, Kam Liu cu dan Liu Leng-poo dari Thian sat bun, sudah pernah mendengar namaku ?"
Jawab Kam Liu cu Kakek berjubah hijau itu segera berpikir.
"Thian Sat nio merupakan tokoh persilatan yang paling sukar dihadapi dalam dunia persilatan dewasa ini, heran, mengapa orang Lam hay bun bisa muncul bersama dengan orang-orang dari Thian sat bun ?"
Katanya kemudian Berpikir sampai disitu, dia tertawa seram, lalu sambil berpaling ke arah Wi Tiong hong kemudian tanyanya dengan tenang.
"Saudata cilik apakah mereka datang karena mutiara Ing-kiam-cu serta Lou bunsi itu?"
"Hmm! Kau sendiri baru datang untuk mendapatkan mutara Ing kiam cu serta Lou bun si tersebut!"
Bersamaan dengan berkumandangngya suara ejekani merdu itu, darhi balik hutan disebelah kiri berjalan keluar seorang gadis berbaju hijau yang bermata amat jeli.
Sambil berjalan mendekat, kembali gadis itu berkata "Empek Ou, siapa sih orang ini?
Dia menghadang jalan pergi Wi sauhiap, sudah jelas tidak bermaksud baik, buat apa kau mesti banyak berbicara dengan manusia semacam ini?
Dibelakang gadis berbaju hijau itu mengikuti empat orang lelaki berbaju coklat, kening mereka rata-rata pada menonjol amat tinggi, sudah jelas kepandaian silat yanng dimiliki orang-orang itu lihay sekali.
Berkilat sepasang mata kakek berjubah hijau i u, serunya kemudian sambil tertawa terbahak-bahak.
"Haaahh... haaaah... haaaah... lohu adalah sahabat ayahnya, masa aku akan mengincar benda miliknya? kalau toh kalian mencurigai lohu sebagai manusia bermaksud jelek, baiklah, lebih baik lohu akan mohon diri lebih dulu, dengan begitu tentunya kalian boleh berlega hati bukan?"
Begitu selesai berkata, tanpa menunggu jawaban dari semua orang lagi, dia mengulapkan badan dan berlalu dari situ.
Disaat dia beranjak pergi dari situ itulah mendadak Wi Tiong hong mendengar serentetan suara yang lembut berkumandang disisi telinganya.
"Saudara cilik, ayahmu masih hidup didunia ini. lohu tentu akan mengirim orang untuk memberi kabar padamu."
Wi Tiong hong merasakan hatinya bergetar keras, buru-buru dia mengangkat kepala sambil berseru.
"Lotiang, harap tunggu sebentar!"
Tapi ditengah gelapnya suasana, bayangan tubuh dari sikakek berjubah hijau itu sudah lenyap tak berbekas.
Bahkan empat orang kakek berjubah hijau dan delapan kakek berjubah abu-abu yang berdiri luar rumah gubuk pun, kini lenyap tak berbekas.
Sekalipun Wi Tiong hong tidak tabu apakah ayahnya benar-benar masih hidup didunia ini, namun hatinya gelisah juga setelah mendengar kabar tersebut.
Baru saja ia akan melakukan pengejaran, Kam Liucu segera menariknya sambil menegur.
"Saudara Wi. apa gunanya kau menyusulnya?"
"Tadi, dia bilang ayahku masih hidup didunia ini, maka aku hendak menanyakan persoalan ini hingga jelas."
Dengan lemah gemulai Su Siau hui berjalan mendekat pula, kemudian tanyanya sambil tesenyum.
"Wi sauhiap, apakah kau kenal dengannya."
"Tidak aku tidak kenal."
Pemuda itu menggeleng. Kam Liu cu segera tertawa tergelak.
"Haaah... haaah... haaaah... bila saudara Wi-tidak kenal dengan orangnya, ini berarti apa yang dia katakanpun tak boleh dipercaya dengan begitu saja."
"Betul"
Sambung Su Siau hui lagi.
"orang itu berwajah licik dan tipu muslihatnya. manusia semacam ini sudah pasti bukan orang baik-baik."
Setelah berpaling kembali dia menambahkan.
"Empek Ou, tahukah kau tentang asal usul dari orang itu?"
Kim pit ciang Ou Han menggelengkan kepalanya berulang kali.
"Orang ini belum pernah kujumpai didalam dunia persilatan."
Sahutnya cepat.
"Betul."
Kata Kam Liu cu pula.
"akupun belum pernah berjumpa dengan orang ini."
"Menurut dugaan siaumoay, besar kemungkinan kalau orang ini berasal dari selat Tok seh sia"
Timbrung Liu Leng poo tiba-tiba. Wi Tiong hong termenung beberapa saat lamanya, setelah itu katanya lagi.
"Tapi kalau didengar dari apa yang dia katakan, rasanya ada juga bagian-bagian yang dapat dipercaya."
Liu Leng po mendengus dingin.
"Tentu saja Thian yu telah menceritakan keadaanmu yang sebenarnya kepadanya, untuk mengarang sebuah cerita, memangnya kau anggap susah ?"
Su Siau hui memandang sekejap kearah Wi Tiong-hong, kemudian bertanya.
"Wi sauhiap, sebenarnya kau hendak kemana ?"
OoooOoooO SETELAH mendengar perkataan dari kakek berjubah hijau itu. hasrat Wi Tiong hong untuk menemukan paman tanpa namanya semakin besar, mendengar pertanyaan teriebut dia lantas menyahut.
"Hingga kini, asal usulku masih belum jelas maka aku ingin mencari seorang pamanku untuk menanyakan tentang masalah ini. Terima kasih banyak atas bantuan dari nona Su, Ou lotiang, saudara Kam dan nona, kebaikan kalian pasti akan selalu kuingat di dalam hati, baiklah untuk sementara waktu aku ingin mohon diri lebih dulu."
Selesai berkata, dia lantas menjura kepada semua orang, kemudian membalikkan badan dan berlalu dari sana.
Memandang bayangan punggung sang pemuda yang menjauh, Su Siau-hui nampak amat murung, serunya kemudian sambil mendepak-depakkan kakinya ke atas tanah.
"Empek Ou, mari kitapun pergi !"
Selesai berkata dia beranjak pergi lebih dulu menuju ke hutan pohon liu itu.
Angin malam berhembus lewat mengibarkan ujung gaunnya, tapi dia berjalan terus dengan kepala tertunduk, dari sikap mau pun gerak-geriknya bisa diketahui kalau dia sedang diliputi rasa sedih dan murung amat tebal.
Kakek Ou segera membungkukkan badan dan mengikuti dibelakangnya, sementara ke empat orang lelaki berbaju coklat itu mengikuti dibelakang kakek Ou, mereka semua membungkam dalam seribu bahasa, siapa pun tidak mengucapkan sepatah katapun Tak selang berapa saat kemudian, beberapa orang itupun sudah pergi jauh.
Memandang bayangan punggung orang-orang itu, Liu Leng-poo menghela napas panjang, gumamnya kemudian.
"Aai, sam moay telah bertemu dengan musuh tangguh !"
Mendengar ucapan mana, Kam Liu cu segera tertawa.
"Jika persoalan semacam ini yang dihadapi, jangan harap orang lain bisa membantunya lagi"
Dia berkata. Liu Leng poo kembali mendengus.
"Hmm, tindakan suhu menyuruh sam moay mengikuti Thian ti tiau sia benar-benar merupakan suatu tindakan yang keliru besar l"
Setelah berpamitan dengan So Siau hui dan Kam Liu cu sekalian, Wi Tiong hong melanjutkan perjalanannya dengan cepat, dalam waktu singkat dia sudah menempuh perjalanan sejauh enam tujuh li.
Mendadak kepalanya terasa pusing sekali, menyusul kemudian badannya jadi lemah dan robohlah tubuhnya ke atas tanah.
Baru saja Wi Tiong hong roboh gke tanah, dari ibelakang tubuhnhya segera muncul belasan sosok bayangan hitam yang meluncur mendekati dengan kecepatan luar biasa.
Bayangan hitam yang melayang turun disamping tubuh Wi Tiong hong itu berjumlah enam belas orang, mereka adalah lelaki berbaju ringkas berwarna hijau yang menggembol pedang semua.
Begitu mencapai permukaan tanah, serentak orang-orang itu menyebarkan diri disekeliling pemuda tersebut dan berdiri dengan tangan memegang pada gagang senjata.
Salah satu diantaranya segera berjongkok disamping Wi Tiong hong dan meneliti dengan seksama, beberapa saat kemudian ia lalu menghembuskan napas panjang, bangkit berdiri disitu dengan tangan diluruskan ke bawah, seakan-akan sedang menantikan kedatangan dari seseorang...
Tak selang berapa saat kemudian muncul kembali seorang sastrawan berpedang yang mengenakan jubah berwarna hijau.
dengan langkah kaki yang enteng dan cepat dia bergerak mendekat.
Ternyata orang itu tak lain adalah congkoan pasukan pedang berpita hijau dari perkumpulan Ban-kiam-hwee.
Pau kiam suseng (sastrawan membawa pedang) Buyung Siu adanya.
Enam belas orang jago pedang berpita hijau itu serentak membungkukkan badan memberi hormat.
Buyung Siu memandang sekejap sekeliling tempat itu kemudian tegurnya.
"Apakah Wi sauhiap telah menderita suatu luka parah ?"
Jago pedang yang berdiri disisi Wi Tiong hong itu segera membungkukkan badannya, kemudian menjawab sambil tertawa.
"Diatas badan Wi sauhiap tidak dijumpai cedera atau luka apapun, tampaknya dia keracunan kini kesadarannya telah hilang dan berada dalam keadaan pingsan."
"Mungkinkah keracunan ?"
Seru Buyung Siu dengan kening berkerut. Dia lantas mengangkat kepalanya sambil mengulapkan tangan, kembali serunya.
"Cepat kalian gotong dia menuju ke dalam hutan sana untuk diberi pertolongan seperlunya."
"Baik !"
Jawab ke enam belas orang jago pedang itu bersama-sama.
Dengan cepat muncul dua orang untuk menggotong tubuh Wi Tiong hong dan mengundurkan diri kedalam sebuah hutan disisi jalan.
Pau-kiam suseng Buyung Siu sendiri segera duduk diatas batu didepan hutan dengan senyum dikulum sementara sepasang matanya yang tajam bagaikan sembilu dengan sengaja tak sengaja memandang sekejap ke sekelilingg tempat itu.
Piada waktu itu chuaca sudah gelap, suasana diluar kota amat hening, sejauh mata memandang hanya bukit menjulang nun di kejauhan sana.
Dengan sikap yang amat tenang Buyung Siu mendongakkan kepalanya, kemudian berkata.
"Sobat, jejakmu sudah ketahuan, aku pikir kaupun tak usah sembunyikan diri lebih jauh !"
"Haah... haaah... haaaah..."
Gelak tertawa panjang yang bernada parau tiba-tiba berkumandang dari atas sebuah pohon, lebih kurang tiga kaki dihadapan sana, menyusul gelak tertawa itu nampak sesosok bayangan manusia melayang turun dengan kecepatan luar biasa.
Begitu orang itu mencapai diatas tanah, menyusul kemudian muncul pula empat sosok bayangan hitam kecil berlompatan turun dari dua batang pohon lainnya.
Buyung Siu segera bangkit berdiri, katanya sembari menjura.
"Siaute mengira siapa yang datang, rupanya saudara Seh yang menguntilku disepanjang jalan. ehmm. ... aku lihat kalian memang benar-benar tahu seni..."
Rupanya orang yang baru saja melayang turun dari atas pohon itu adalah Hek sat seng kun Seh Thian-yu.
Dibelakangnya sekarang berdiri empat orang tosu kecil berbaju hitam yang membawa senjata kebutan.
Seh Thian-yu tertawa seram, katanya kemudian.
"Buyung loko, entah darimana datangnya ucapan seperti itu ? Yang menguntil siaute sepanjang jalan sesungguhnya diriku atau Bu-yung loko sendiri ?"
Buyung Siu kembali tersenyum.
"Bukankah siaute sedang duduk disini ? Sebaliknya Saudara Seh begitu datang lantas menyembunyikan diri diatas pohon, bagaimana mungkin bisa dikatakan kalau siaute yang sedang menguntit saudara Sah?"
Sah Thian yu tertawa terkekeh-kekeh.
"Heeehh... heeehh... heeeh... congkoan dari pasukan pedang berpita hijau memang hebat sekali, tak nyana kalau siaute bisa termakan siasat memancing harimau turun gunungmu sehingga terpancing pergi dan akhirnya datang terlambat, didalam hal ini mau tak mau aku memang harus mengagumi atas kecerdasan dari Buyung loko."
Buyung Siu nampak tertegun, serunya dengan cepat.
"Saudara Sah, apa maksud dari perkataanmu itu?"
Sah Thian yu tertawa terbahak-bahak.
"Haaahh... haaawhh... haaah... ydidepan mata orxang pinter, lebih baik tak usah berlaga pilon bukankah Buyung loko telah menitahkan kepada anak buah mu untuk menyamar sebagai Wi Tiong hong dan memancing beberapa orang murid bodohku menuju kejalan lain? Memang nya ucapanku ini keliru?"
"Saudara Sah salah paham, sejak kapan sih anak buah siaute menyaru sebagai Wi sauhiap?"
"Tentu saja bukan menyaru."
Kata Sah Thian yu sambil tertawa seram, mencorong sinar tajam dari balik matanya.
"mereka memang cuma memakai pakaian yang sama dengan perawakan yang sama pula, didalam suasana gelap seperti ini, dandanan macam begitu sudah lebih dari cukup."
Buyung Siu tertawa hambar, katanya kemudian dengan wajah bersungguh-sungguh.
"Saudara Sah, kau telah apakan anak buahku?"
"Apa yang bisa dilakukan murid-murid bodohku terhadap jago pedang berpita hijau dari Ban kiam hwee ? Setelah menyadari kalau mereka salah mengejar mengejar orang, tentu saja urusan disudahi dengan begitu saja..."
Kembali Buyung Siu tertawa dingin.
"Akhirnya saudara Sah mengakui juga kalau sekarang menguntit diriku hingga kemari."
Ejeknya. Sah Thian yu tertawa.
"Ya, aku memang sedang menguntit Wi Tiong hong, buat apa siaute mesti berbohong ?"
Kemudian setelah berhenti sejenak, kembali dia bertanya.
"Apakah Buyung loko dengan membawa para jago pedang berpita hijau pun bukan lagi menguntil Wi Tiong hong juga ?"
"Tentu saja begitu"
Berkilat sepasang mata Sah Thian yu, katanya lagi dengan cepat.
"Tadi, Buyung loko telah menggunakan sedikit siasat untuk memancing siaute mengambil jalan yang sama, tampaknya kalian telah berhasil menyusulnya bukan?"
"Yaa, memang telah berhasil kami susul."
Buyung Siu mengangguk.
"Dimana orangnya sekarang?"
Buru-buru Sah Thian yu bertanya. Buyung Siu tersenyum.
"Terus terang saja kuberitahukan kepada Sah, dia telah berhasil ditangkap oleh anak buah siaute."
Baru saja berbicara sampai disitu, tampak seorang jago pedang berpita hijau muncul dari dalam hutan dengan langkah tergesa-gesa, setelah memberi hormat kepada Buyung Siu serunya.
"Lapor Congkoan."
Mendadak dia berhenti berbicara, rupanya sorot matanya telah menangkap kehadiran Sah Thian yu sekalian disitu, maka buru-buru dia menutup mulut.
"Ada urusan apa ? Katakan saja secara berterus terang"
Perintah Buyung Siu dengan wajah tenang.
"Benda tersebut tidak berada dalam sakunya."
Ucap jago pedang berpita hijau itu dengan suara lirih. Buyung Siu nampak tertegun.
"Aaaah, masa bisa begitu? Sudah kau geledah dengan seksama?"
"Yaa, hamba telah menggeledahnya dengan seksama !"
"Waaah, aneh kalau begitu !"
Seru Buyung Siu setelah termenung sejenak.
Berbicara sampai disana, tangan kanannya segera diulapkan pelan.
Jago pedang berpita hijau itu segera membungkukkan badan memberi hormat, kemudian mengundurkan diri dari situ.
Sah Thian yu berdiri satu kaki dihadapannya, dengan sepasang mata yang tajam dia mengawasi terus tubuh jago pedang berpita hijau itu lekat-lekat, dengan tenaga dalamnya yang sempurna, kendatipun nada suara dari jago pedang berpita hijau itu amat rendah, ia masih dapat mendengar dengan jelas.
Diam-diam ia mendengus dingin, katanya.
"Keparat sialan, berada di hadapanku pun kau juga ingin bermain gila..."
Namun paras mukanya sama sekali tidak berubah, bahkan berlagak seolah-olah tidak mendengar.
Menanti si jago pedang berpita hijau itu sudah mengundurkan diri, ia baru mengangkat kepalanya sembari menegur.
"Tentunya saudara Buyung sudah tahu bukan apa maksud tujuanku datang kemari ?"
"Tentu saja siaute mengerti."
Jawab Buyung Siu hambar.
"Asal saudara Buyung sudah tahu, ini memang lebih baik, haha, siaute mendapat perintah untuk melaksanakan tugas ini dan kamgi di perintahkain untuk berusahha sampai dapat."
Buyung Siu segera mendongakkan kepalanya dan tertawa tertawa terbahak-bahak.
"Haah... haah... haah... ucapanmu memang betul, dan kebetulan juga siaute pun sedang melaksanakan tugas dengan catatan harus berusaha sampai dapat? "Saudara Buyung"
Seru Sah Thian-yu kemudian dengan gusar.
"seharusnya kau tahu bukan, bahwa orang she Wi itu terkena bubuk tujuh bintang Jit seng hiang kami ? Kalau tidak, bagaimana mungkin kalian bisa membekuknya secara mudah ?"
"Tapi orangnya sudah berada ditangan siaute sekarang."
"Heeh... heeh... heeheh... setelah kudengar cara saudara Buyung berbicara, tampaknya kau sudah tidak memperdulikan hubungan antara dua keluarga lagi ?"
Sah Thian yu tertawa seram.
"Bila saudara Sah ingin berkata demikian, siaute pun tak bisa berbuat apa-apa."
"Apakah Buyung lote menganggap sudah pasti dapat mengungguli siaute ?"
"Siaute hanya melaksanakan tugas atas perintah"
Kata Buyung Siu dengan hambar.
"soal menang atau kalah adalah masalah lain, jadi andaikata saudara Sah ingin merampas orang dari tangan kami, aku pikir hal tersebut bakau suatu pekerjaan yang gampang."
"Bagus sekali kalau begitu mari kita menunggang keledai sambil membaca buku, lihat saja akhirnya nanti!"
Tiba-tiba Buyung Siu menggerakan tangan kanannya, dengan senyum tak senyum ia berseru.
"Daripada harus menunggu sampai akhirnya nanti, lebih baik kalau dibereskan sekarang juga, silahkan saudara Sah meloloskan senjatamu."
"llmu pedang Buyung lote amat lihay, siaute menyadari kalau bukan tandinganmu."
Seru Sah Thian yu cepat sambil menjura berulang kali.
"Kalau begitu saudara Sah ingin menggunakan racun?"
Kembali Sah Thian yu menjura berulang kali.
"Seandainya siaute menggunakan racun, mungkin saudara Buyung..."
Buyung Siu segera berkerut kening, kemudian tertawa terbahak-bahak.
"Haah.. haa... haa... apakah siaute sudah berhasil kalian bekuk sedari tadi? Hmm, saudara Sah, silahkan saja turun tangan!"
Sah Thian yu menggoyangkan tangannya berulang kali.
"Harap Buyung loko jangan gusar dulu, sesungguhnya dalam peristiwa hari ini, yang memegang peranan sesungguhnya adalah orang lain, siaute tak lebih hanya bertindak sebagai perantara saja untuk menjaga hubungan harmonis antara selat Tok seh shia dengan Ban-kiam hwee, itulah sebabnya aku mengajak Buyung-loko untuk berbicara dengan cara yang baik dan damai."
"Kalau begitu, saudara Sah tak usah berbicara lagi."
Untuk kesekian kalinya Sah Thian yu menjura, kemudian berseru.
"Untuk sementara siaute akan mohon diri lebih dulu, harap Buyung loko sudi berpikir tiga kali sebelum bertindak."
Selesai berkata lalu dia melompat mundur ke belakang. Buyung Siu segera membentak keras.
"Sah Thian-yu, kau mempunyai siasat busuk apa? Keluarkan saja semua, aku orang she Buyung yakin masih mampu untuk menerimanya."
Cepat sekali Sah Thian yu berlalu dari sana, sambil mundur dia tertawa terbahak-bahak-katanya.
"Buyung loko, kalian sudah terkepung rapat!"
Buyung Siu adalah seorang jago kawakan yang sudah berpengalaman, dari bayangan hitam diempat penjuru dia sudah tahu kalau disitu sudah ada pasukan lawan, kehadiran orang-orang itu tentu saja tak akan mengelabuhi ketajaman mata dan pendengarannya.
Maka sesudah mendengar perkataan itu, dia mendengus dingin dan sama sekali tidak memikirkan persoalan itu didalam hati.
Tapi, disaat Sah Thian yu dengan membawa ke empat orang bocah itu mundur kebelakang, mendadak berkumandang suara desingan tajam meleset ketengah udara, menyusul kemudian munculnya segulung cahaya api berwarna biru yang membumbung tinggi ke tengah udara.
Buyung Siu merasakan hatinya tergerak, segera pikirnya.
"Mungkin itulah pertanda dari mereka untuk melakukan pengepungan !"
Baru saja ingatan tersebut melintas lewat di dalam benaknya, tampak tujuh delapan sosok bayangan abu-abu meluncur datang dengan kecepatan luar biasa.
Buyung Siu segera mencabut pedangnya sambil membentak keras.
"Berhenti!"
Gerakan tubuh dari ke tujuh delapan sosok bayangan abu-abu itu cepat sekali, dalam waktu singkat mereka sudah tiba di depan mata.
Rupanya mereka adalah delapan orang kakek berjubah abu-abu yang membawa senjata penggaris baja di tangannya.
Disaat Buyung Siu membentak nyaring tadi empat orang diantara mereka segera berhenti dihadapannya, sedangkan-empat orang yang lain memencarkan diri secara tiba-tiba dan mengambil posisi dikiri dan kaynan Buyung Siu.
Perlu diketahui, orang persilatan pada umumnya hanya tahu tentang nama besar Tok seh-sia, tapi bagaimanakah kenyataannya yang sesungguhnya boleh dibilang jarang diketahui orang.
Agak tertegun Buyung Siu setelah menyaksikan kecepatan gerak kedelapan orang kakek berbaju abu-abu itu, apalagi setelah menyaksikan sikap dingin dan seram yang menyelimuti wajah mereka, diam-diam pikirnya dihati.
"Entah apa kedudukan mereka didalam selat Tok seh sia?"
Berpikir demikian dengan kening berkerut ia tertawa terbahak-bahak, kemudian ujarnya.
"Hanya mengandalkan kalian berdelapan saja untuk menantang aku orang she Buyung?"
Delapan orang kakek berjubah abu-abu itu tidak menjawab, mendadak salah seorang diantaranya berpekik rendah, delapan bilah senjata penggaris baja itu serentak bergerak secara bersama-sama, bayangan senjata meluncur memenuhi angkasa dan maju mengurung kedepan.
Buyung Siu tertawa nyaring, pedangnya digetarkan dengan jurus Jian-kun-pit-gi (seribu prajurit menghindari maut), tampak selapis cahaya pedang yang tebal segera melindungi seluruh tubuhnya.
Benturan nyaring yang memekikkan telinga segera berkumandang memecahkan keheningan, bayangan-bayangan senjata yang menyerang tiba dari kiri kanan depan mau pun belakang tubuhnya itu segera terhajar miring oleh sapuan pedangnya.
Namun Buyung Siu juga merasakan betapa mantap dan beratnya kedelapan bilah pedang lawan yang bersama-sama menekan ke atas tubuhnya itu.
Bukan begitu saja, malah dari ujung kedelapan senjata penggaris itu muncul segulung tenaga hisapan yang sangat kuat.
Untung saja dia sendiri yang menghadapi serangan tersebut, coba kalau berganti orang lain, niscaya pedang mereki sudah kena terhisap hingga terlepas.
Dengan perasaan amat terkejut dia lantas berpikir.
"Kendatipun tenaga dalam yang dimiliki ke delapan orang ini amat sempurna, mustahil mereka dapat memancarkan tenaga hisapan disaat sedang melancarkan serangan ketubuh lawan, jangan-jangan senjata penggaris mereka mengandung alat pengisap yang kuat ? Waaaaah, kalau betul begini, aku tak boleh menghadapinya secara gegabah !"
Bagaimanapun juga pengalaman serta pengetahuannya memang sangat luar, hanya berpikir sebentar saja ia sudah dapat menduga kalau senjata yang mereka pergunakan mengandung besi semberani.
Bab-51 Delapan orang kakek berbaju abu-abu itu nampak tertegun pula dikala jurus serangan mereka berhasil dipukul sampai mental oleh sambaran pedang Buyung Siu, untuk beberapa saat lamanya mereka jadi termangu dan berdiri kaku.
Tapi, tampaknya mereka pun memiliki ilmu kerja sama yang amat hebat, walau pun senjata mereka kena dipentalkan oleh Buyung Siu, namun tubuh mereka tetap berdiri tak bergerak, bahkan sama sekali tak bermaksud untuk mengalah atau mundur.
Senjata mereka segera diputar kembali untuk saling menolong rekan lainnya, mereka berusaha agar Buyung Siu tak sempat melancarrkan serangan berikutnya.
Dalam waktu singkat, ke delapan orang itu memencarkan diri dengan tugas masing-masing.
Empat orang diataranya seakan-akan bertugas untuk mencegat pedang Buyung Siu dan memaksa untuk melakukan bentrokan-bentrokan secara kekerasan, sedangkan empat orang lainnya khusus melancarkan serangan-serangan maut yang dilepaskan dari kiri kanan, depan dan belakang.
OOO000ooo Sebagai seorang congkoan pasukan pedang pita hijau dalam perkumpulan Ban kiam hwee, Buyung Siu memang memiliki kepandaian ilmu pedang yang amat sempurna, namun dibawah serangan kerja sama dari delapan orang kakek berbaju abu-abu itu, dia toh merasa terdesak juga sehingga hampir boleh dibilang setiap kali dia melancarkan serangan, jurus serangannya selalu dicegat lebih dulu ditengah jalan oleh mereka, dengan keadaan seperti ini, tak heran kalau kelihayan ilmu silatnya hampir tak dapat dikembangkan sama sekali.
Pertempuran yang berkobar sekarang benar-benar amat seru, terdengar suara bentrokan nyaring yang memekikkan telinga berkumandang tiada hentinya.
Disaat Buyung Siu sedang seru melawan ke delapan orang kakek berbaju abu-abu itu, suitan nyaring berkumandang dari empat penjuru, menyusul kemudian nampak dua tiga puluh sosok bayangan hitam bermunculan dari empat penjuru dan sama-sama menerjang masuk ke dalam hutan.
Kalau jago pedang berpita hijau di bawah pimpinan Buyung Siu merupakan sekawanan jago pedang pilihan yang berilmu tinggi, begitu menyaksikan datangnya serbuan musuh, serentak mereka meloloskan senjata sambil menyongsong datangnya serangan tersebut.
Dalam waktu singkat dalam hutan tersebut berkumandang suara bentrokan senjata.
Pau kiam suseng Buyung Siu yang berada di bawah kerubutan senjata penggaris dari delapan orang kakek berjubah abu-abu itu praktis tak mampu berkutik secara leluasa, gerakan pedangnya selalu kena dibendung dan dihambat gerakan selanjutnya.
Bagaimana pun jua, dia memang seorang jago kawakan yang sudah amat berpengalaman dalam menghadapi musuh, begitu menyaksikan senjata penggaris mereka yang khusus dilengkapi dengan besi semberani, dengan cepat ia menyadari akan duduk soal yang sebenarnya.
Sudah jelas orang-orang Tok seh-shia itu memang khusus dipersiapkan untuk menghadapi orang-orang Ban-kiam hwee, dari sini pula dapat ditarik kesimpulan kalau rencana tersebut bukan dipersiapkan dalam sehari dua hari saja, atau dengan perkataan lain mereka telah menganggap Ban kiam hwee sebagai musuh paling tangguh didalam perjuangan mereka untuk menguasai seluruh dunia persilatan.
Memahami situasi yang dihadapi, Buyung Siu segera berpikir.
"Walaupun aku telah bermaksud untuk menggunakan siasat melawan siasat dalam menghadapi situasi hari ini, namun bila aku tidak memberi sedikit kelihayan, tentu kejadian ini akan melemahkan dan merosotkan pamorku sebagai Pau kiam suseng !"
Walaupun Buyung Siu tak mampu membendung hawa amarahnya dibawah serangan yang bertubi-tubi dari musuhnya, namun di hati kecilnya dia telah menyiapkan suatu rencana "siasat melawan siasat", tapi apa gerangan rencananya itu, siapapun tak ada yang tahu dengan pasti...
Sembari mengerahkan tenaganya untuk dihimpun ke dalam pedangnya, secara diam-diam dia mulai mengamati serangan gencar yang dilakukan kedelapan orang kakek berbaju abu-abu itu, mendadak ia temukan kalau serangan orang-orang itu seperti mempunyai suatu perubahan yang tertentu.
Empat orang yang bertugas mengajak dia beradu kekerasan itu meski bertugas untuk menghadang setiap perubahan gerak pedang sendiri, tapi yang penting adalah untuk mengimbangi ke empat orang rekannya yang melancarkan serangan ke arahnya itu.
Sebab justru karena gerakan pedangnya terhambat, mereka baru mempunyai peluang untuk dimanfaatkan dengan sebaik-baiknya.
Walaupun demikian, tak bisa dipungkiri kalau ilmu silat yang dimiliki kedelapan orang kakek berbaju abu-abu ini memang luar biasa hebatnya.
Buyung Siu mendengus dingin, mendadak ia memperketat permainan pedangnya, dengan jurus Liu im sia beng (bayangan melintas gerakan terhadang) ia serang si kakek yang berada disayap kanan.
Menyaksikan datangnya serangan pedang dari Buyung Siu seorang kakek lain segera menggetarkan senjatanya untuk menghalau sementara kakek disebelah kanan itu segera menutulkan senjatanya dan memmanfaatkan kesempatan tersebut untuk menerobos masuk kedalam.
Dengan serangan pedangnya ini, sesungguhnya Buyung Siu memang berniat untuk memancing lawannya menggunakan peluang tersebut, maka begitu melihat musuhnya yang satu menghalau yang lain menyerang pada saat yang bersamaan dengan tibanya sergapan itu mendadak ia membentak keras, pedangnya disodok lurus ke depan, hawa murni yang disalurkan ketubuh dikerahkan semua ke tangan, tiba-tiba saja gerakan tubuhnya menjadi lebih cepat.
Berbareng itu pula, dia miringkan sedikit tubuhnya sambil mendesak lebih kedepan, Oleh sebab dia maju sembari miringkan badannya, otomatis serangan yang dilancarkan kakek disebelah kanan mengenai sasaran kosong, padahal gerakan tubuh dari Buyung Siu cepatnya bukan kepalang sudah barang tentu dia tak akan membiarkan lawannya sampai menarik kembali ancamannya itu.
Tangan kirinya berkelebat kedepan langsung mencengkeram tubuh senjata penggaris itu.
Kejadian ini segera mengejutkan beberapa orang kakek berjubah abu-abu lainnya, mereka berusaha memberi perlindungan secepatnya sayang keadaan sudah terlambat Tahu-tahu senjata penggaris kakek disebelah kanan itu sudah kena dicengkeram, melihat datangnya sambaran pedang yang mengancam tubuhnya, mau tak mau dia harus lepaskan senjata sambil melompat mundur kebelakang.
Sayang keadaan sudah terlambat di mana ujung pedang tersebut menyambar lewat, bahunya segera terbacok telak, darah kental pun bercucuran keluar dengan deras.
Semua kejadian tersebut berlangsung dalam sekejap mata, tahu-tahu Buyung Siu dengan senjata peoggaris ditangan kirinya telah melancarkan serangan kekerasan lagi keatas senjata lawannya.
"Traang!"
Benturan nyaring yang memekikkan telinga berkumandang memecahkan keheningan, kakek berjubah abu-abu itu segera merasakan pergelangan tangannya menjadi kaku dan kesemutan, senjata penggarisnya terpental kesamping sementara tubuhnya terhuyung mundur setengah langkah ke samping.
Begitu berhasil dengan serangannya, Buyung Siu tertawa nyaring, tubuhnya berputar mengikuti gerakan pedang tersebut, dengan jurus To pit thian loo (menggulung hancur jaring langit) dia ciptakan selapis cahaya tajam yang menggulung kedepan.
Sedang senjata penggaris ditangan kirinya di ayunkan kearah dua batang senjata penggaris disisi kiri tubuhnya.
Serangan balasan yang dilancarkan olehnya sekarang benar-benar luar biasa, cahaya pedang berputar seperti roda lapisan hawa pedang menyelimuti angkasa, semuanya itu memaksa beberapa orang kakek berjubah abu-abu itu harus mundur dengan ketakutan.
Dari delapan orang kakek berjubah abu-abu itu, ada dua orang diantaranya yang sudah kehilangan senjata, enam orang lainnya menjadi kacau balau tak karuan, mereka tak berdaya untuk menolong keadaan lagi, kerja sama mereka yang tangguh segera jadi berantakan.
Tampaknya mereka sama sekali tidak menyangka kalau Buyung Siu berhasil mematahkan kerja sama mereka berdelapan dalam waktu sesingkat ini, kontan saja mereka jadi terkesiap dan mundur ke belakang.
Pada saat itulah, dari kejauhan sana berkumandang suara peluit yang dibunyikan dengan suara tinggi melengking di tengah kegelapan malam yang mencekam, suara peluit itu kedengaran amat menusuk pendengaran orang...
Begitu bunyi peluit tersebut berkumandang tiba-tiba saja ke delapan orang kakek berjubah abu-abu itu mengundurkan diri dari arena pertarungan.
Dua tiga puluhan lelaki berbaju abu-abu yang bersama-sama melancarkan serangan ke dalam hutan tadipun serentak mengundurkan diri dan berlalu dari situ dengan cepat.
Buyung Siu tidak mengerti apa sebabnya mereka mundur secara tiba-tiba, disamping itu dia pun kuatir apabila Wi Tiong hong berhasil di culik mereka sementara pertarungan sengit sedang berlangsung tadi maka bentaknya dengan suara menggeledek.
"Berhenti kalian !"
Agaknya delapan orang kakek berbaju abu-abu itu ada maksud untuk melindungi kawanan lelaki berbaju abu-abu tersebut untuk mundur dari situ, oleh sebab itu kendatipun mereka sedang mundur, namun mundur agak pelan.
Tiba-tiba terdengar salah seorang diantara mereka berseru dengan suara menyeramkan.
"Walaupun ilmu pedang yang kau miliki sangat lihay, namun jangan harap bisa menahan lohu sekalian."
Buyung Siu tertawa nyaring.
"Sekalipun Buyung Siu tak mampu menahan berdelapan, paling tidak masih mampu untuk menahan beberapa lembar nyawa kalian."
"Buyung congkoan, memangnya kau masih memiliki kekuatan untuk bertarung kembali?"
Jengek kakek itu sinis.
"Bila kau tidak percaya, mari kita buktikan bersama !"
"Hmmm, aku lihat tak usah.."
Seru kakek itu dingin.
Begitu selesai berkata, ke delapan sosok bayangan manusia itu segera meluncur ke tengah udara dengan kecepatan bagaikan anak panah yang terlepas dari busurnya.
Sekarang Buyung Siu baru tahu kalau mereka hanya takut bila dikejar olehnya, maka secara sengaja mengulur waktu dengan mengajaknya berbincang-bincang, hal mana membuatnya tertawa terbahak-bahak...
Sementara itu, dari balik hutan di belakang tubuhnya, secara beruntun berjalan keluar tiga belas orang pendekar pedang berpita hijau, mereka bersama-sama berdiri disitu dengan sepasang tangan diluruskan kebawah.
Buyung Siu berpaling dan memandang sekejap, dia saksikan korban yang jatuh dari pihaknya cuma berapa orang saja, itupun cuma terluka ringan, jumlahnya sedikitpun tidak berkurang, padahal sewaktu datang berjumlah enam belas jago pedang.
Sambil manggut-manggut katanya kemudian.
"Bagaimana dengan Wi sauhiap? Apakah kena diculik oleh mereka...?"
Salah seorang diantara jago pedang tersebut segera membungkukkan badannya memberi hormat, sahutnya.
"Hamba belum memperoleh perintah dari congkoan..."
Buyung Siu segera menjatuhkan sorot matanya memandang ke depan, ia saksikan Wi Tiong hojg berbaring dibawah pohon besar dalam keadaaa tak sadar, tanpa terasa keningnya berkerut kencang.
Tidak sampai jago pedang itu menyelesaikan kata-katanya, dia telan mengulapkan tangan seraya berkata.
"Asalkan tidak sampai diculik oleh mereka hal ini sudah cukup...!"
Disaat dia sedang berpaling itulah, tampak beberapa sosok bayangan manusia sedang bergerak mendekat dengan kecepatan luar biasa.
Dengan kening berkerut Buyung Siu segera mendengus, tangan kirinya diulapkan memberi tanda kepada jago pedang yang berada dibelakang tubuhnya.
Semua kejadian berlangsung dalam sekejap mata, tiba-tiba saja terdengar seseorang yang tertawa keras dengan suara yang parau, kemudian menegur keras.
"Buyung loko, kau belum pergi?"
Buyung Siu tertawa dingin.
"Jago lihay dari Tok seh sia masih belum mampu untuk mengurungku, saudara Sah, setelah berlalu tadi, mau apa kau datang lagi kemari, persoalan apa yang hendak kau sampaikan?"
Ternyata yang muncul adalah Hek sah seng tua Seh Thian-yu bersama ke empat orang tosu kecil itu.
Seh Thian yu baru berhenti berjalan setelah berada satu kaki dari hadapan lawannya, seraya menjura katanya sambil tertawa.
"Siaute dengar delapan orang anak buah lotoa kami telah menderita kekalahan diujung pedang Buyung loko, bahkan dua puluh delapan bintang pun kalah semua ditangan jago pedang berpita hijau dibawah pimpinan loko sehingga banyak yang terluka, oleh sebab itulah sengaja siaute kemari untuk menyampaikan selamat kepadamu."
Diam-diam Buyung Siu berkerut kening, pikirnya.
"Orang ini licik seperti rase, entah permainan busuk apakah yang sedang dipersiapkan olehnya?"
Berpikir demikian dia pun mendengus dingin tanpa mengucapkan sepatah katapun.
Sementara berbicara tadi, Seh Thian yu sudah berjalan semakin mendekat, tapi pada saat itulah ke tiga belas orang jago pedang berpita hitam itu sudah maju mengurung dengan kecepatan luar biasa, dalam waktu singkat kelima orang lawan sudah terkurung rapat-rapat.
Tiga belas bilah pedang dengan pancaran sinar yang membuat pagar melingkar disekitar situ, asal Buyung Siu menurunkan perintah nya, niscaya Sah Thian-yu berlima akan terluka diujung senjata tersebut.
Ternyata paras muka Sah Thian yu masih tetap tenang-tenang saja seakan-akan tak pernah terjadi sesuatu ancaman pun, pelan-pelan dia berkata lagi.
"Buyung loko, mengapa sih kau mempersiapkan barisan seperti ini untuk menghadapiku?"
"Tadi, bukankah saudara Sah pugn telah memperli hatkan kelihayhan ilmu barisan mu terhadap siaute?"
Sah Thian yu segera tertawa terbahak-bahak.
"Haaaahh... haaaah... haaahh sudah lama siaute mendengar tentang kelihayan jago-jago berpita hijau dibawah pimpinanmu, maka soal musIihat barisan tersebut atau tidak sesungguhnya sama saja..."
"Saudara Sah, mumpung kesempatan sudah berada didepan mata, bagaimaaa kalau kau coba saja kenyataannya ?"
Seru Buyung Siu dengan suara sedingin es.
"Siaute pikir tak perlu untuk dicoba lagi."
"Kalau begitu, ada urusan apa saudara Sah datang kemari ?"
Sah Thian yu tertawa licik.
"Berada didepan orang yang berpengalaman, tak ada gunanya berbohong, tentu saja kedatangan orang siaute gara-gara orang she Wi tersebut, aku bermaksud untuk mengajak Lo-ko merundingkan persoalan ini."
"Heeehh... heeehh... heehh... kini orang she Wi tersebut sudah terjatuh ketangan orang-orang Ban kiam hwee, tampaknya saudara Sah masih belum mau memadamkan niatmu untuk mengincar Lou bun si tersebut?"
Jengek Buyung Siu sambil tertawa dingin. Kembali Sah Thian yu tertawa seram.
"Bukan hanya Lou bun si saja, masih ada pula sebutir mutiara Ing kiam cu terus terang saja kukatakan kepada loko, siaute benar-benar berada dalam keadaan kepepet untuk melaksanakan tugas ini atas perintah."
Buyung Siu segera manggut-manggut.
"Orang she Wi itu berada disini, apabila saudara Seh memang berkepandaian hebat, silahkan untuk membawanya pergi."
Baca Juga: Pedang Sinar Emas 12
Baca Juga: Tangan Geledek Kho Ping Hoo