Ceritasilat Novel Online

Pedang Berkarat Pena Beraksara 9

Eps 9 Pedang Berkarat Pena Beraksara - Tjan ID

Baca online Pedang Berkarat Pena Beraksara - Tjan ID

Cersil Pedang Berkarat Pena Beraksara - Tjan ID.

"Terima kasih, terima kasih, kalau toh loko sudah setuju siaute pun tidak akan sungkau sungkan lagi."

Kata Sah Thian yu sambil menjura tiada hentinya.

Buyung Siu menjadi curiga, apalagi setelah dilibatnya Sah Thian yu masih bisa mengucapkan perkataan semacam itu kendatipun sudah berada di tengah kepungan jago-jago pedangnya, mungkinkah dia sudah sinting atau tak waras otaknya ?

Tanpa terasa dia bertanya sambil tersenyum.

"Apakah saudara Sah merasa punya keyakinan akan berhasil ?"

Sah Thian yu segera tertawa seram.

"Heeh... heeeh.... saat ini para jago pedang, anak buah loko sudah tidak berkekuatan lagi untuk melangsungkan pertarungan tentu saja siaute akan membawa pemuda she Wi tersebut untuk berlalu dari sini."

Buyung Siu menjadi tertegun sesudah mendengar perkataan itu, segera tanyanya.

"Apakah saudara Sah telah melepaskan racun secara diam-diam?"

Sambil mengangkat bahunya Sah Thian yu tertawa.

"Setelah Buyung loko mengajukan pertanyaan, siaute pun tidak berani merahasiakan lagi, sesungguhnya kalian semua telah terkena semacam obat beracun yang lambat bekerjanya, seandainya tidak mengerahkan tenaga untuk bertarung, tiga hari kemudian racun tersebut baru akan mulai bekerja sampai waktunya tenaga dalam kalian akan punah tidak berbekas tetapi oleh sebab kalian telah melangsungkan pertarungan sengit barusan maka obat beracun tersebut sudah mulai bekerja dalam tubuh kalian... Secara diam-diam Buyung Siu mencoba untuk mengerahkan tenaga dalamnya, betul juga, lamat-lamat dia merasa perutnya amat sakit. Kenyataan tersebut kontan saja menggusar hatinya, ia segera membentak keras.

"Aku sudah harusnya menduga sampai disitu!"

"Harap Buyung loko jangan salah paham racun itu bukan siaute yang lepaskan sebab ketika kalian sampai kemari, racun tersebut sudah mengeram dalam tubuh kalian,hanya saja..."

"Hanya saja kenapa?"

Kembali Sah Thian yu tertawa seram.

"Hanya saja obat beracun yang bersifat lambat kerjanya ini meski sudah bekerja saat ini hanya terbatas tak mampu mengerahkan tenaga saja, didalam tiga hari mendatang nyawa kalian masih belum terancam oleh bahaya maut."

Sementara itu, ke tiga belas orang jago pedang berpita hijau itu sudah mencoba untuk mengerahkan tenaga, dan mereka mendapatkan kalau dalam tubuh mereka telah terdapat racun tersebut, maka mereka semua berdiri tak berkutik dengan pedang terhunus.

Dua puluh enam buah mata yang tajam bersama-sama dialihkan kearah congkoan mereka, tampaknya mereka sedang menantikan perintahnya untuk bertindak lebih jauh.

Buyung Siu memandang sekejap kearah anak buahnya, kemudian pelan-pelan berkata.

"Betul, mereka semua memang telah keracunan."

Setelah berhenti sejenak, mendadak mencorong sinar tajam dari balik matanya, setelah tertawa tertawa terbahak-bahak katanya lagi.

"Sah Thian yu, aku dan segenap jago pedang meski sudah keracunan, namun kami bisa pertaruhkan jiwa kami untuk membinasakan dirimu."

"Apakah Buyung loko hendak memaksa siaute untuk menyerahkan obat penawaran racunnya?"

Tanya Sah Tnian yu sambil tertawa licik.

"Benar, siaute memang bermaksud demikian"

Sekali lagi Sah Thian yu tertawa seram.

"Harap Buyung loko suka berpikir, sekarang, posisi kita sedang bermusuhan, mungkinkah siaute akan datang kemari dengan membawa obat penawar racunnya?"

"Kalau begitu saudara Yu memaksa siaute untuk turun tangan?"

Desak Buyung Siu sambil menatap tajam-tajam.

"Bila siaute tidak mempunyai keyakinan, bagaimana mungkin akan datang kemari untuk menyerempet bahaya?"

Katanya. Kemudian setelah berhenti sejenak, lanjutnya lagi dengan suara yang dingin menyeramkan.

"Sekarang, saudara sekalian sudah tidak berkemampuan untuk melangsungkan pertarungan lagi, siaute pun tidak ingin diantara kita dua keluarga saling bertempur, asal kami telah membawa pergi orang she Wi tersebut, hal mana sudah lebih dari cukup."

Kepada ke empat orang bocah berbaju hitam yang berada dibelakangnya, ia membentak keras.

"Sekarang kita boleh berangkat!"

Buyung Siu benar-benar gusar sekali, sambil membentak keras, telapak tangannya di ayunkan kedepan untuk melancarkan sebuah bacokan maut kearah Sah Thian yu.

Pau kiam suseng Buyung Siu bukan hanya sempurna didalam permainan ilmu pedang saja, tenaga dalam yang dimilikinya pun sudah mencapai ketingkatan yang luar biasa, serangan yang dilancarkan dalam keadaan gusar ini benar-benar luar biasa sekali.

Walaupun Sah Thian yu sudah tahu kalau pihak lawan telah keracunan namun dia toh tak berani juga untuk menyambut serangan tersebut dengan kekerasan, cepat dia mengigos kesamping untuk menghindarkan dari serangan.

Siapa tahu, setelah melepaskang pukulannya itui, mendadak parahs muka Buyung Siu berubah hebat, kemudian..."Blaaamm!"

Tubuhnya jatuh terduduk keatas tanah.

Melihat congkoannya sudah turun tangan, tiga belas orang jago pedang itupun serentak menggerakan pedangnya sambil melancarkan kearah Sah Thian yu sekalian.

Sesungguhnya yang ditakuti oleh Sah Thian yu hanya Pau kiam suseng sudah roboh terduduk, tanpa terasa lagi dia segera tertawa terbahak-bahak.

Tangan kanannya dengan cepat dikebaskan dan senjata kebutannya sudah diayunkan ke arah depan.

"Traaang, traaang... traaang... !"

Suara dentingan nyaring berkumandang tiada hentinya.

Tahu-tahu tiga belas bilah pedang yang berada ditangan ketiga belas orang jago pedang tersebut sudah terlepas dari cekalan mereka.

kemudian di ringi dengusan tertahan, satu persatu terjatuh keatas tanah...

Sah Thian yu memandang sekejap kearah Bu yung Siu, kemudian setelah menjura dan tertawa katanya.

"Buyung toako, silahkan beristirahat sebentar disini, sebentar keadaanmu akan sehat kembali, maaf kalau siaute harus mohon diri lebih dulu !"

Dia mengulapkan tangannya dan keempat bocah berbaju hitam itu segera bekerja, dua di antaranya mendekati mendekati Wi Tiong-hong yang masih tergeletak tak sadar di bawah pohon dan siap menggotongnya pergi.

"Tunggu sebentar!"

Tiba-tiba Sah Thian yu berseru kembali.

"coba kalian menggeledah dulu sakunya dan mengambil keluar benda itu"

Seorang bocah berbaju hitam segera menggeledah saku Wi Tiong hong, tapi selang sejenak kemudian dia bangkit berdiri seraya berkata.

"Benda itu tidak berada di dalam sakunya!"

Sah Thian yu menjadi tertegun, dia segera berpaling, betul juga, Wi Tiong hong tergeletak disitu, bahkan pedangnya juga tak nampak. Tanpa terasa ia mendengus dingin, katanya.

"Mungkin sudah mereka dapatkan benda-benda tersebut cepat kalian geledah saku mereka satu persatu!"

Dalam pada itu.

Buyung Siu dan ketiga belas orang jago pedang berpita hijau itu sedang merasakan kesakitan yang hebat, karena harus mengerahkan tenaga dalam tadi, kini isi perutnya terasa seperti mau hancur, hawa murninya buyar sama sekali.

Dengan keadaan seperti ini, tentu saja mereka tak mampu untuk mencegah penggeledahan atas diri mereka.

Sah Thian-yu turun tangan menggeledah sendiri saku Buyung Siu, sedangkan ke empat orang bocah berbaju hitam itu menggegledah saku ke tiga belas jago pedang lainnya.

Namun meski sudah digeledah sekian lama, Lou bun-si maupun mutiara Ing kiam cu belum juga ditemukan.

Diam-diam Sah Thian yu lantas berpikir.

"Tadi, bocah beparat ini telah bersua muka dengan orang-orang dari Lam-hay bun serta Thian sat bun, jangan-jangan benda tersebut sudah diambil oleh kedua rombongan manusia itu ?"

""Hmmm, budak liar dari Lam hay bun itu sudah menaruh perasaan cinta kepada bocah keparat ini, sedangkan orang-orang Thian sat bun juga sudah bersekongkol dengannya, sudah pasti kedua rombongan itu tak bakal membegal barangnya ditengah jalan, siapa tahu kalau bocah keparat ini telah menyadari kalau dirinya akan menjadi incaran orang banyak maka dia menyerahkan barang-barang tersebut kepada mereka !"

Berpikir sampai disini, dia lantas tertawa seram, gumamnya kemudian.

"Bocah keparat, sekalipun kau licik, setelah orangmu terjatuh ke tangan kami, memangnya benda-benda itu tak akan kau serahkan dengan sendirinya !"

Dia lantas mengulapkan tangannya sambil berseru.

"Bawa dia pulang !"

Begitu selesai berkata.

dia segera berjalan lebih dulu meninggalkan tempat tersebut, sedangkan keempat orang bocah berbaju hitam itu mengikuti dtbelakangnya sambil menggotong tubuh Wi Tiong hong.

Tek lama setelah Sah Thian-yu pergi, ditengah jalan raya kembali berkumandang suara derap kaki kuda yang bergerak mendekat dari kejauhan sana.

Rombongan tersebut berjumlah dua puluhan orang lebih, mereka meluncur datang dengan kecepatan luar biasa, penunggang kudanya adalah sekawanan manusia berbaju ringkas deruan pedang berpita hitam pinggangnya.

Rupanya rombongan yang baru datang itu adalah pasukan jago pedang berpita hitam dari Ban kiam-hwee.

Orang yang berada dikuda paling depan adalah seorang kakek kurus kecil berkucir kecil yang mengenakan baju berwarna biru, dia tak lain adalah congkoan dari pasukan jago pedang berpita hitam, Siu bun-kui jiu (tangan setan pencabut nyawa) Chin Tay-seng adanya.

Dengan lengan kanan terkulai di bawah dan tangan kiri mengendalikan tali les kuda, sepasang matanya nampak berkilat tajam ditengah kegelapan malam.

Saat ini dia berjalan dipaling depan dengan sorot mata yang menyapu kian kemari dengan tajamnya.

Ketika semakin mendekat mendadak ia berseru tertahan, dengan cepat ia melejit turun dari atas kudanya, begitu melayang turun dihadapan Buyung Siu, serunya dengan terkejut.

"Mungkinkah Buyung Congkoan? Aah, betul saudara Buyung! Apakah... apakah kau terluka berat?"

Begitu ia berhenti, dua puluh orang jago pedang berpita hitam yang berada dibelakang tubuhnya ikut berlompat turun dari atas kudanya."

Sementara itu, Buyung Siu dan tiga belas orang jago pedang berpita hijau sudah berhasil mengurangi rasa sakit isi perutnya setelah bersemedi berapa saat, cuma mereka masih belum dapat mengerahkan tenaganya.

Maka setelah mendengar teguran itu, dia membuka matanya pe;an, kemudian berbisik.

"Saudara Chin kah yang telah datang ?"

Siaute mendapat perintah dari Kiamcu untuk datang memberi bantuan, bagaimanakah keadaan luka saudara Buyung?"

Tanya Chin Tay seng kembali. Pelan-pelan Buyung Siu bangkit berdiri, setelah isi perutnya tidak merasa sakit lagi, dia menggelengkan kepalanya berulang kali, katanya pelan.

"Siaute dan mereka semua terkena racun yang amat ganas"

"Keracunan?"

Seru Chin Tay seng terkejut.

"apakah saudara Buyung telah berjumpa dengan orang-orang Tok seh sia?"

"Seandainya racun itu dilepaskan dihadapanku, siaute masih dapat untuk menghadapinya tapi besar kemungkinan mereka telah mencampuri hidangan yang kami makan dengan racun"

"Oooh, telah terjadi peristiwa seperti itu?"

Seru Chin Tay seng dengan perasaan terkesiap. Dia memandang sekejap kesekeliling tempat itu, kemudian katanya lagi.

"Dari enam belas orang jago pedang yang saudara Buyung bawa, adakah yang terluka atau tewas?"

"Yaa, didalam pertarungan tadi, ada tiga orang saudara yang terluka parah dan tewas."

"Apakah saudara Buyung telah berhasil menyusul Wi sauhiap ?"

"Ketika siaute sampai disini, Wi sauhiap telah keracunan dan roboh tak sadarkan diri, anehnya baik mutiara Ing kiam cu maupun Lou bun si sudah tak ditemukan lagi dalam sakunya."

"Oooh... mana orangnya sekarang ? Apakah sudah diculik oleh orang-orang Tok seh sia"

"Aaaai, kalau dibicarakan memang memalukan, siaute bersama mereka berhasil memukul mundur orang-orang itu dalam suatu pertarungan sengit, tapi akhirnya kami keracunan dan roboh Wi sauhiap pun dilarikan oleh Sah Thian yu."

OoOooooOoo Sekilas senyuman licik segera menghiasi wajah Chin Tay-seng, serunya kemudian dengan nada gusar.

"Siaute telah datang terlambat sehingga berakibat terjadinya peristiwa ini, oooh ..apakah saudara Buyuog masih mampu untuk naik ke atas kuda ?"

"Siaute hanya terkena racun keji. asal tidak mengerahkan tenaga, keadaanku masih tidak membahayakan, aku pikir untuk menunggang kuda pun masih mampu."

"Kalau begitu silahkan saudara Buyung untuk naik ke atas kuda, kalau toh Wi sauhiap sudah terjatuh ke tangan orang-orang Tok seh sia, kejadian ini perlu segera dilaporkan kepada Kiamcu agar bisa mengambil tindakan seperlunya."

Sementara pembicaraan berlangsung seorang jago pedang berpita hitam telah muncul sambil menuntun seekor kuda, lalu memayang Buyung Siu naik keatas kuda dan menuntun kuda itu untuk meninggalkan tempat tersebut.

Tiga belas orang jago pedang berpita hijau pun dibimbing para jago pedang berpita hitam naik ke atas kuda, dua orang menunggang seekor kuda dan bersama-sama berangkat menuju ke bukit Pit bu san.

Kentongan pertama baru tiba.

Tempat ini merupakan sebuah ruang batu yang diatur sangat indah dan megah dalam lambung bukit Pit bu san.

Empat sekeliling ruangan tersebut berupa pintu batu yang tertutup rapat, diluar setiap pintu tampak dua orang jago pedang berpita hitam melakukan penjagaan.

Suasana disitu amat ketat dan serius, seakan-akan sedang menghadapi serangan musuh tangguh.

Waktu itu, beberapa orang tokoh penting dari Ban kiam hwee sedang melakukan perundingan rahasia dalam ruangan batu.

Lentera kristal diatas atap rugangan memancarkian sinar yang therang, mutiara yang berkilauan tajam memenuhi dinding batu disekeliling ruangan.

Namun setiap orang yg hadir dalam ruangan itu sedang diliputi oleh suasana yang murung dan masgul.

Ban kiam hweecu duduk dikursi utama tanpa bergerak, selembar wajahnya yang berwarna semu emas tidak nampak sedikit perubahanpun.

Tapi tiga orang gadis berpedang pita kuning yang berdiri dibelakangnya menunjukkan sikap yang amat gusar.

Dihadapan Ban-kiam hweecu terdapat dua buah kursi, disebelah kiri duduk congkoan pedang berpita hijau Pau kiam suseng Buyung Siu, sedangkan yang duduk disebelah kanan adalah congkoan pedang berpita hitam, Siu bun kui jiu Chin Tay Seng.

Paras muka kedua orang congkoan itu diliputi oleh ketegangan dan murung, seolah-olah sedang menghadapi suatu persoalan besar yang amat berat.

Suasana didalam ruangan batu itu dicekam oleh suasana hening yang berat dan menyesakkan napas, sedemikian heningnya sampai suara jatuhnya jarum pun kedengaran.

Setiap kali Ban kiam hwee cu menghadapi persoalan yang berat dan sulit, dia selalu bersikap demikian hal ini merupakan suatu kebiasaan baginya.

Bila dia butuh untuk berpikir dan merenung kan persoalan itu, maka dia duduk tenang ditempat duduknya tanpa bersuara, dalam keadaan demikian, siapapun tak berani buka suara untuk mengganggunya.

Lewat beberapa saat kemudian, Ban-kiam Hwecu baru menggerakan kelopak matanya dan bertanya.

"Sudah hampir kentongan pertama bukan?"

"Mungkin kentongan pertama sudah lewat"

Buru-buru congkoan pasukan pedang berpita hijau Chin Tay seng menjawab. Ban kiam hwe cu segera menghembuskan napas panjang.

"SAAT INI seharusnya Chin Kiu-moay sudah kembali, mungkin diapun memenuhi musibah ?"

"Kiam cu, ke mana perginya nona Cho?"

Menggunakan kesempatan itu Chin Tay seng segera bertanya. Sengaja tak sengaja Ban kiam Hwee cu melirik sekejap kearahnya, kemudian menyahut.

"Berbuhung Wi sauhiap membawa barang mestika, dan berita itu sudah tersiar kemana-mana, maka untuk mencegah orang banyak mengincar benda mestika itu, setelah Buyung congkoan berangkat aku telah menitahkan Cho Kiu moay untuk secara diam-diam menguntit orang-orang Lam hay bun itu serta menyaksikan tindak tanduk mereka."

Mendengar perkataan itu, Chin Tay seng segera tertawa seram.

"Tampaknya budak dari Lam hay bun itu sudah menaruh perasaan cinta terhadap Wi sauhiap, aku pikir tak mungkin dia akan turun tangan terhadap Wi sauhiap, cuma seandainya nona Cho sampai ketahuan jejaknya oleh kakek she Oh itu. sulitlah untuk dikatakan."

"Yang aku kuatirkan sekarang bukan masalah tersebut."

Kata Ban kiam hwe cu lagi.

"berbicara dari kepandaian silat yang dimiliki Cho Kiu moay, sekalipun dia bukan tandingan dari orang she Oh tersebut namun untuk mundur secara selamat bukanlah masalah yang sulit."

Setelah berhenti sejenak kembali dia melanjutkan.

"Bayangkan saja Buyung congkoan dengan orang-orang dari Tok seh shia telah terjadi pertarungan dan dipecundangi orang, hal ini mungkin dapat terjadi, tapi kenyataannya aku dan seluruh orang yang hadir disini ternyata telah diracuni orang pula, hal ini sudah jelas menunjukkan kalau Cho Kiu moay pun tidak terkecuali"

Rupanya Ban kiam hweecu bersama segenap anggota Ban-kiam-hwee yang hadir disana telah keracunan semua.

"Kejadian ini sangat mencurigakan"

Buyung Siu segera berseru.

"kalau sampai kita yang berada dibukit Pit bu san pun keracunan semua, hamba pikir hanya ada dua kemungkinan saja, pertama ada orang yang berhasil menyusup kemari dan meracuni hidangan yang kita makan, atau ke dua, ditempat ini memang terdapat penghianatnya...."

Salah seorang diantara tiga dayang yang berdiri dibelakang Bankiam hwee cu, yakni gadis yang berada disebelah kiri segera menimbrung.

"Betul, sudah pasti disini terdapat penghianat Chin congkoan, diantara jago-jago pedang di bawah pimpinanmu, mungkinkah terdapat orang yang tidak jelas asal usulnya?"

Congkoan pasukan pedang berpita hitam Chin Tay seng menyeka keringat yang membasahi tubuhnya. kemudian menyahut.

"Pertanyaan dari nona Jin itu sulit untuk siaute jawab, sebab dari ke tujuh puluh dua orang jago pedang pimpinanku harnpir semua nya telah berbakti kepada Ban kiam hwee semenjak sepuluh tahun berselang, sekali pun siaute tak berani mengatakan kalau tiada persoalan dengan mereka, namun untuk menyelidiki dalam waktu singkat pun rasanya sulit."

"Sekalipun ada penghianatnya kita juga tak usah kuatir kalau dia bisa terbang kelangit."

Kata Ban Kiam hweecu dingin. Chin Tay-Seng segera menundukkan kepalanya rendah-rendah katanya kembali.

"Hamba benar-benar pantas untuk mati, masa peristiwa diluar dugaan ini bisa terjadi didaerah kekuasaan hamba, aaai... termasuk hamba sendiri pun tidak tahu sejak kapan telah keracunan..."

Buyung Siu yang mendengar perkataan itu segera mendengus, pikirnya dengan cepat.

"Tampangmu seperti itu, mana mungkin mirip orang yang lagi keracunan..?"

"Menurut pendapat hamba."

Chin Tay seng kembali berkata.

"soal Kiamcu yang keracunan lebih baik jangan sampai tersebar luaskan ke tempat luaran."

Ban kiam Hwee cu kembali mendengus.

"Hmmm, seandainya ditempat ini terdapat penghianatnya, kendatipun kabar ini tak sampai kita sebarkan, kalau toh dia bisa meracuni makanan kita, memangnya tak bisa menyiarkan berita ini keluar ?"

"Bukan begitu maksud hamba..."

Buru-buru Chin Tay seng berseru agak gelagapan. Ban kiam hweecu mengalihkan sorot matanya ke wajah orang itu, kemudian ujarnya dingin.

"Aku ingin mendengar pendapat dari Chin congkoan."

"Maksud hamba, dari kita yang hadir disini sekarang termasuk Kiamcu sendiri hanya enam orang, tentu saja tak mungkin bisa terdapat penghianat."

"Sulit untuk dikatakan."

Tukas salah seorang dayang dibelakang Ban kiam Hweecu dengan suara dingin. Merah padam selembar wajah Chin Tay seng karena jengah, serunya kemudian agak tersipu-sipu.

"Kita semua sudah keracunan, sedang bukit Pit bun san merupakan maskas besar pasukan pedang pita hitam, bila nona Kho berkata demikian, bukankah hal tersebut sama artinya dengan kau menuduh siaute sebagai penghianatnya ?"

"Memangnya aku salah berbicara ?"

Jengek nona Kho.

"Adik Hui jangan sembarangan berbicara, dengarkan penjelasan Chin cengkoang lebih jauh"

Ucap Ban kiam hweecu.

Rupanya dari empat orang dayang yang mengiringi Ban kiam hweecu, selain Hek bun kun Cho Kiu moay, tiga orang yang berdiri dibelakang Ban kiam hweecu sekarang adalah Jin Kiam moay, Cho Hut moay dan Lim Thian moay.

Ke empat orang ini sangat menguasai ilmu Hui liong kiu si (sembilan jurus naga terbangku) sedangkan nama tengah mereka pun diambil dari kata "Kiu kiam bui thian"

Atau sembilan pedang terbang dilangit.

Sesungguhnya mereka merupakan jago-jago lihay yang berkepandaian sedikit di bahwah Ban-kiam hweecu sendiri, hanya di dalam sebutan mereka adalah dayang Ban-kiam hweecu.

Sesudah mendengar ucapan dari Ban kiam hweecu tadi, buru-buru congkoan berpita hitam Chin Tay seng membungkukkan badannya seraya berkata lagi.

"Maksud hamba, tadi Buyung congkoan telah mendapat peringatan dari Sah Thian yu agar dalam tiga hari mendatang jangan mengerahkan tenaga, asal tidak mengerahkan hawa murninya maka orang keracunan tidak akan sampai terancam jiwanya."

"Menurut pendapat hamba, tugas terpenting yang harus kita laksanakan sekarang adalah Kiam cu segera mengirim surat lewat merpati pos untuk menitahkan Huan, Kiong dan Lok congkoan agar segera datang kemari memberi bantuan, mereka harus tiba disini didalam tiga hari."

Ban kiam Hwee cu tidak memberi komentar apa-apa, dia hanya mengiakan belaka. Kembali Chin Tay seng berkata.

"Sedangkan nengenai kita yang berada di-sini, asalkan kita tutup pintu Iembah kendati pun ada musuh tangguh yang menggempur kita dalam satu dua hari mendatang, mustahil mereka bisa menjebolkan pertahanan kita ini."

Kembali Ban kiam Hwecu hanya manggut-manggut tanpa mengucapkan sepatah katapun. Chin Tay seng memutar biji matanya kesana kemarin kemudian berkata lebih jauh.

"Asal kita tidak menguarkan berita ini keluar, sudah pasti tiada orang yang bakal tahu kalau Kiam cu telah keracunan, apalagi Kiamcu mengenakan topeng, mustahil orang lain bisa mengetahui akan keadaan yang sebenarnya."

Rupanya Ban kiam hweecu benar-benar mengenakan topeng, tak heran kalau wajahnya berwarna semu emas.

Melihat Ban kiam hwecu hanya membungkam diri dalam seribu bahasa, setelah berhenti sebentar Chin Tay seng berkata lebih jauh.

"Hamba rasa, bila Kiam cu dapat berjumpa lagi dengan beberapa orang pendekar pedang sehingga mereka dapat menyiarkan kabar yang mengatakan bahwa Kiam cu sama sekali tidak terluka, bukan saja kita dapat menenteramkan hati orang bila didalam markas ini benar-benar terdapat mata-matanya, kitapun bisa membuat musuh kita menjadi bingung dan tak bisa mengetahui, entah bagaimanakah pendapat Kiami-cu tentang usul hamba ini? Apakah dapat di laksanakan?"

"Menurut Chin congkoan, siapakah yang harus ku undang untuk berjumpa denganku?"

Tanya Ban kiam hwecu hambar.

"Menurut pendapat hamba, Ma koan tojin dari bukit Hong san. Thi lo han Kwong beng taysu dan si Naga berekor botak To Sam seng dari kota Huan-yang merupakan manusia-manusia yang sudah lama ternama di dalam dunia persilatan, semenjak bergabung dengan perkumpulan kita, hingga sekarang mereka belum pernah berjumpa dengan Kiam cu."

"Kau menginginkan aku untuk mengundang mereka bertiga?"

"Hamba masih ada persoalan yang hendak dilaporkan."

Chin congkoan, masih ada urusan apa?"

"Semenjak Hu congkoan kami Pak Bun siu-meninggal dalam bagian pita hitam kami masih belum menemukan penggantinya yang tepat, sedang dari ke tiga orang tersebut baik dalam soal ilmu silat. kecerdasan maupun kedudukannya dalam dunia persilatan, hamba pikir serasi sekali dengan kedudukan tersebut, hamba ingin Kiam cu memilih salah seorang diantara mereka bertiga setelah perjumpaan nanti untuk mengisi kekosongan kedudukan wakil congkoan tersebut"

Ban kiam Hweecu manggut-manggut.

"Ehmm, aku setuju dengan usulmu itu Chin congkoan, sekarang juga kau turunkan perintah dan perintahkan kepada Huan congkoan sekalian agar didalam tiga hari mendatang segera muncul disini memberi bantuan, sedangkan mengenai Ma koan tojin bertiga, kau boleh membawa mereka menghadap besok pagi saja"

"Hamba terima perintah"

Buru-buru Chin Tay seng berseru sambil bangkit berdiri.

"Kini, aku hendak beristirahat dulu, congkoan berdua boleh pergi meninggalkan tempat ini."

Buyung Siu ikut bangkit berdiri, kemudian bersama Chin Tay seng mengundurkan diri dari ruangan tersebut.

**** Ketika sadar kembali, Wi Tionghong tak tahu ia sedang berada dimana ?

Tempat itu merupakan sebuah kamar yang amat jelek, ia sedang berbaring disebuah pembaringan kayu dengan tubuhnya ditutup sebuah selimut, diujung pembaringan tersebut terletak sebuah meja dengan sebuah lentera.

Segulung bunga api meletik diujung sumbu lentera yang kecil, cahaya yang dihasilkan sedikitpun tidak cerah.

Inilah sebuah rumgah gubuk dengan jendela papa, bunyi katak bergema dari sekeliling sana, bahkan lamat-lamat masih kedengaran pula suara gonggongan anjing dikejauhan sana.

Tapi kesemuanya itu sudah cukup jelas, tampak Wi Tiong hong sudah dapat menduga kalau dia sedang berada di dalam kamar tidur seorang petani miskin.

Tapi...

mengapa dia dapat tertidur disini?

Wi Tiong hong mencoba untuk memutar otak dan mengingat kembali semua kejadian yang telah dialaminya, namun tidak berhasil ia tak dapat mengingat kembali apa gerangan yang telah terjadi.

Akhirnya Wi Tiong hong menghembuskan napas panjang dan mencoba untuk bangkit berdiri, siapa tahu baru saja dia menggerakkan tubuhnya, kepala terasa pening sekali, ke empat anggota badannya lemah tak bertenaga, ternyata dia tak sanggup untuk bangkit berdiri.

Mendadak ia tertegun, lalu segera menjadi sadar bahwa pusing dan lemasnya badan bukan dikarenakan kebetulan melainkan karena sesuatu kejadian tertentu.

Semuanya ini diketahui olehnya dari pengalamannya berkelana dalam dunia persilatan selama ini.

Pengalaman memberitahukan kepadanya bahwa pusingnya kepala karena ia telah dibius orang dengan obat tidur, sebab hanya orang yang mendusin dari pengaruh obat tidur baru akan menunjukkan gejala demikian, sedangkan mengenai ke empat anggota badannya yang ia masih tak bertenaga, hal ini dikarenakan jalan darahnya tertotok, sehingga ke empat anggota badannya itu tak mampu berkutik Iagi.

Semua kejadian tersebut dia menjadi teringat kembali dengan kakek berjubah hijau yang telah dijumpai ditengah jalan dan mengaku sebagai teman ayahnya itu, kemudian ia teringat pula kalau Kam Liu cu dan Su Siau hui sekalian datang menyusul, kemudian kakek berjubah hijau pergi dan dia berpamitan dengan semua orang karena harus menemukan paman tak di ketahui namanya itu.

Didalam menempuh perjalanan itulah....

dia merasa seperti pusing sekai , kemudian...

dia tak dapat mengingat kembali, itu menunjukkan kalau dia berbaring disini karena telah dipecundangi orang, kalau toh dia disergap orang, mengapa dirinya tidak merasakan sama sekali..

Sementara dia masih termenung, mendadak pintu kamar dibuka orang dan seorang gadis bertubuh ramping yang memakai baju hitam pelan-pelan berjalan masuk ke dalam ruangan lalu mendekati pembaringan.

Wi Tiong hong membelalakkan sepasang matanya lebar-lebar, ketika dia berpaling dijumpainya gadis tersebut bergaun hitam dengan usia dua puluh tiga empat tahunan wajahnya potongan kwaci dengan alis mata yang melentik matanya bulat indah dan bibirnya kecil mungil...

Selain itu pinggangnya tergantung sebilah pedang panjang berpita kuning, dia sedang memandang ke arahnya dengan biji mata yang jeli dan senyuman manis dikulum.

Wi Tioang hong kenal dengan gadis tersebut, karena orang itu bukan lain adalah salah seorang pelayan Ban-kiam hweecu, yakni Hek bun kun Cho Kiu moay.

Maka dengan cepat Wi Tiong hong menjadi sadar kembali, rupanya dia sudah terjatuh ke tangan orang-orang Ban kiam-hwee.

Tak heran kalau dia terkena obat tidur tanpa disadari, rupanya mereka telah mencampurkan obat tersebut di dalam air teh yang diminumnya.

Tak heran pula kalau jalan darah pada ke empat anggota badannya tertotok, rupanya mereka telah berjaga-jaga disepanjang jalan dan menunggu sampai dia jatuh pingsan sebelum membekuknya kemari.

Orang kuno bilang.

Siapa membawa mestika dia ibaratnya mengundang bencana.

Baik mutiara Ing-kiam-cu maupun pena mestika Lou-bun si.

kedua-duanya merupakan benda mestika yang di ncar setiap orang, sebuah saja sudah cukup menarik perhatian orang apalagi kedua-duanya berada didalam sakunya.

Ditambah pula kedua macam mestika itu merupakan benda untuk menaklukan pihak Ban kiam hwee, tak heran kalau mereka enggan melepaskannya dengan begitu saja.

Dengan lemah gemulai Cho Kiu moay berjalan mendekati pembaringan kemudian sambil menatap wajah Wi Tiong hong, tanyanya lembut.

"Kau telah mendusin ?"

Suaranya amat lembut dan hangat, sama sekali berbeda dengan suara dingin dan kaku di hari-hari biasa, dari suara yang begitu lembut dapat diketahui kalau dia sangat memperhatikan keadaan Wi Tiong-hong.

Bab-52 Diam-diam si anak muda itu mendengus, kemudian sahutnya dengan suara dingin.

"Yaa. aku baru saja sadar."

Jawaban tersebut diutarakan dengan nada amat mendongkol. Kemudian setelah berhenti sejenak, sambungnya lebih jauh.

"Nona Cho melaksanakan tugas atas perintah atasanmu, pahala yang bakal kau peroleh kali ini tentu besar sekali !"

Cho Kiu moay membelalakkan matanya lebar-lebar, lalu bertanya dengan keheranan.

"Kau kenal denganku ? Aaah apa yang kau katakan ?"

"Bukankah kau sedang melaksanakan perintah dari Ban-kiam hwecu untuk menangkapku?"

Cho Kiu moay segera tertawa.

"Tentu saja bukan."

"Nona Cho berhasil menangkapku hidup-hidup, sudah jelas hal ini merupakan sebuah jasa yang amat besar, masa aku salah berbicara?"

Cho Kiu-moay tertawa cekikikan.

"Aku yang menangkap dirimu ?"

Serunya.

"Memangnya bukan ?"

"Mengapa aku harus menangkapmu ?"

"Hmmm, mengapa? Memangnya aku harus menerangkan kepadamu satu persatu."

Dengus Wi Tiong-hong. Cho Kiu moay mengerdipkan matanya berulang kali, kemudian berkata.

"Tentu saja kau harus berkata, kalau tidak, bagaimana mungkin aku bisa tahu?"

"Lantas mau apa kau datang kemari ?"

Sekali lagi Cho Kiu moay tertawa cekikikan.

"Aku kemari untuk mendengarkan ucapanmu, menurut kau apa maksudku datang kemari?"

Tiba-tiba saja Wi Tiong hong naik pitam, sambil tertawa dingin serunya lantang.

"Setelah sadar tadi, aku merasa kepalaku pusing sekali, ke empat anggota badanku tak mampu bergerak, sudah pasti kalian menggunakan siasat licik dengan menggunakan obat tidur untuk merobohkanku, kemudian baru menotok jalan darahku dan membekukku kemari, adapun tujuannya...heeehh... heeeh... tentu saja untuk memperoleh mutiara Ing kiam cu serta Lo bun si tersebut."

Cho Kiu moay segera tertawa merdu.

"Kau memang cerdik sekali, dugaanmu memang tepat semuanya!"

"Membekukku dengan menggunakan siasat licik bukan perbuatan seorang enghiong..."

Teriak Wi Tiong hong sambil melotot gusar. Cho Kiu moay memutar biji matanya kian kemari, lalu berkata.

"Jadi kau menuduh aku mencelakaimu secara diam-diam atas perintah dari Kiam cu?"

"Memangnya bukan?"

"Tepat sekali, ehmm... Wi sauhiap! Bagaimanakah pandanganmu terhadap Kiam-cu kami."

"Hweecu kalian tampan, gagah dan agung, jadi orang supel dan berlapang dada, sesungguhnya dia merupakan seorang sobat yang boleh dibina, sayang sekali..."

Mencorong sinar tajam dari balik mata Cho Kiu moay, ditatapnya wajah Wi Tiong hong lekat-lekat kemudian tanyanya.

"Sayang kenapa?"

"Sayang dia telah menjadi Ban-kiam Hweecu"

"Bersediakah kau menerangkan lebih jelas lagi?"

Kata Cho Kiu moay dengan suara lembut.

"Sebagai seorang ketua dari Ban-kiam hwee, sudah barang tentu dia harus menomor satukan kepentingan perkumpulannya lebih dulu daripada persahabatan."

"Maksudmu, sebenarnya kalian bisa menjadi sahabat yang amat karib, tapi berhubung Kiamcu adalah Ban kiam hwee cu, dan lagi dia merampas mutiara Ing kiam cu serta Lou bun si milikmu demi kepentingan perkumpulan, maka kau tak dapat mengikat tali hubungan dengannya."

"Benar."

OooOooooooOooo "Kau benar-benar sahabat karib yang paling mengetahui perasaan Kiamcu kami..."

Seru Cho Kiu-moay kemudian "Tapi sayang, kami harus berhadapan sebagai musuh kini."

Cho Kiu-moay segera menepuk bebas jalan darah di lengan kiri Wi Tiong hong, kemudian ujarnya sambil tertawa.

"Wi sauhiap, coba kau periksa dulu apakah mutiara Ing kiam cu tersebut masih berada di jari tanganmu ?"

Sejak ia membebaskan jalan darah pada lengan kiri Wi Tiong hong yang tertotok, si anak muia tersebut sudah dapat melihat kalau cincin berisi mutiara Ing kiam cu tersebut masih melingkar di jari tangannya.

Sebelum ia sempat memberikan jawabannya Cho Kiu moay telah mengambil Lou bun si dari atas meja dan diperlihatkan dihadapan Wi Tiong hong kemudian katanya pula.

"Lou bun si berada disini, sudahkah Wi sauhiap lihat dengan jelas? Hal ini membuktikan kalau kami sama sekali tidak berniat untuk merampas barang mestika milikmu."

Wi Tiong hong mendengus dingin.

"Sekarang, aku sudah terjatuh ketangan kalian, sekalipun sesaat ini kalian belum mangambilnya, cepat atau lambat benda tersebut toh sudah merupakan benda yang berada dalam saku kalian?"

"Aaah, kau ini mengapa sih selalu berpikir yang jeleknya saja? Hmm, benar-benar tak tahu berterima kasih, tahukah kau untuk menolong kau seorang, kiam cu kami telah mengirim banyak orang untuk melindungimu sehingga berhasil menyelamatkan selembar jiwamu? Kau selalu menuduh kami hendak mengincar barang mestika milikmu, coba kalau tidak tahu kau masih mempunyai liangsim, dan mengatakan kiam cu kalian sebagai "orang yang pantas dijadikan sahabat"

Tentu aku tak akan sudi menggubris dirimu lagi!"

Wi Tiong hong menjadi tertegun sesudah mendengar perkataan tersebut, dengan nada setengah percaya setengah tidak katanya kemudian.

"Nona, kalau memang kau telah menyelamatkan jiwaku, mengapa pula harus menotok jalan darah pada ke empat buah anggota badanku?"

Cho Kiu moay memandang sekejap kearahnya lalu tertawa.

"Sekarang, aku belum dapat membebaskan totokanmu itu."

Katanya.

"Mengapa?"

"Sebab dengan begitu kau akan lebih jujur!"

Sahut sinona sambil tertawa ringan.

Dengan ucapan tersebut, maka bisa diartikan bila totokan jalan darah pada ke empat anggota badan Wi Tiong hong dibebaskan, maka si anak muda itu akan menjadi tak jujur.

Setelah ucapan tersebut diutarakan Cho Kiu moay baru merasa kalau dibalik ucapan tersebut sesungguhnya mengandung penyakitnya, merah padam selembar wajahnya karena jengah, buru-buru dia berkata lagi.

"Sebab racun yang bersarang di dalam tubuhmu sudah terlalu mendalam, kau harus berbaring secara baik-baik dan tidak boleh bergerak secara sembarangan, itulah sebabnya jalan, darahmu terpaksa harus kutotok."

Merah padam selembar wajah Wi Tiong hong, buru-buru dia minta maaf.

"Nona, mengapa tidak kau ucapkan sedari tadi ? Coba kalau kau terangkan, aku pasti tak akan melakukan kesalahan."

Cho Kiu moay mengerling sekejap ke arahnya, lalu serunya sambil mencibirkan bibir.

"Sekarang kau sudah mengerti tentunya ?"

"Terus terang saja, masih banyak persoalan yang tidak kupahami apakah nona bersedia memberi keterangan ?"

"Tak usah ditanyakan lagi, lebih baik aku saja yang memberitahukan kepadamu,"

Kata Cho Kiu moay sambil membereskan rambutnya yang kusut.

"Tak lama setelah kau pergi, Kiam-cu menduga orang-orang dari selat Tok-seh sia pasti tak akan melepaskan kau dengan begitu saja maka Buyung congkoan diperintahkan dengan membawa enam belas orang jago pedang pita hijaunya mengikutimu secara diam-diam."

Wi Tiong hong yang mendengar perkataan tersebut, diam-diam merasa menyesal, dia tak menyangka maksud baik orang lain telah di tanggapi secara negatif olehnya, bahkan dia telah menuduh mereka hendak mengincar benda mestika tersebut.

Terdengar Cho Kiu-moay berkata lebih jauh.

"Tapi orang yang menguntit dibelakangmu secara diam-diam masih ada orang-orang dari Lam hay bun serta Thian sat bun. Oleh sebab Buyung congkoan merasa tidak bermaksud jahat terhadap dirimu maka diapun tidak menampakkan diri. Kemudian, kau berpisah dengan mereka dan melanjutkan perjalanan seorang diri, sebetulnya orang-orang dari Lam hay bun dan Thian sat bun menguntit dibelakangmu sampai sejauh berapa puluh li, mungkin karena dianggapnya sudah tak ada urusan lagi, maka mereka pun berlalu sendiri-sendiri. Siapa sangka, baru saja kau berjalan sejauh belasan li lagi, tiba-tiba keracunan hebat dan roboh tak sadarkan diri."

"Apakah Buyung congkoan yang telah menyelamatkan aku ?"

Tak tahan Wi Tiong hong menimbrung.

"Padahal Buyung congkoan sudah mengetahui kalau Sah Thian yu mengikutinya sepanjang jalan, dia lantas menyuruh seorang jago pedangnya yang berperawakan mirip dengan kau untuk memancing meraka ke arah lain, tapi disaat Sah Thian-yu berhasil dipancing pergi itulah kau ditemukan jatuh pingsan ditepi jalan. Buyung congkoan segera memerintahkan dua orang jago pedangnya untuk menghantarmu secara diam-diam kemari, kemudian dia pun memerintahkan kepada jago pedang yang berperawakan seperti kau uatuk berperan menjadi dirimu, dan pura-pura tergeletak tak sadar disana, orang itulah yang kemudian dibawa pergi oleh orang-orang Tok seh-sia." (Paukiam suseng Buyung Siu sesungguhnya membawa enam belas orang jago pedang, setelah berlangsungnya pertarungan sengit dan sewaktu jumlahnya dihitung ia mengatakan tiada yang berkorban, namun jumlah anggotanya telah berobah menjadi tiga belas orang, rupanya satu telah menyaru sebagai Wi Tiong hong dan dua yang lain melindungi Wi Tiong hong asli menyingkir ke situ dengan begitu sekarang telah menjadi jelas duduk persoalannya). Sementara itu, Wi Tiong hong telah berkata.

"Kalau toh Buyung congkoan hendak menolongku, mengapa dia harus menyuruh orang lain untuk menyaru sebagai diriku? Bila rahasia penyaruannya sampai ketahuan, bukankah orang itu akan mengorbankan selembar jiwanya dengan percuma ?"

Cho Kiu moay tertawa.

"Orang igtu bisa menyaru sebagai dirimu, sudah barang tentu dibalik kesemuanya itu masih ada alasan lain, tindakan ini merupakan usul dari kiamcu kami, kau akan mengetahui dengan sendirinya dikemudian hari. Sedang mengenai orang yang dikirim itu, bukan saja perawakannya mirip sekali dengan dirimu, ilmu menyaru mukanya juga lihay sekali. Kendatipun Sah Thian-yu adalah orang licik yang banyak tipu muslihatnya, belum tentu dia bisa membedakan mana yang asli dan mana yang palsu, terutama sekali kelihayan ilmu silatnya, dalam kelompok pendekar pedang berpita hijau, dia boleh dihitung sebagai jagoan kelas satu, aku yakin tugas yang dilakukan olehnya saat ini pasti dapat dilaksanakan dengan sukses."

"Aku telah terkena racun jahat yang amat hebat, nonakah yang telah menyembuhkan racun tersebut?"

Cho Kiu moay tertawa rendah.

"Kalau dibicarakan yang sebenarnya, seharusnya kaulah yang telah menyelamatkan jiwaku!"

"Aaah nona suka bergurau."

"Sama sekali tidak bermaksud untuk bergurau, bukan saja kau telah menyelamatkan diriku, bahkan menolong pula dua orang jago pedang berpita hijau lainnya, malah banyak sekali anggota Ban kiam hwee yang menantikan pertolonganmu!"

Semakla mendengar penjelasan tersebut Wi Tiong hong semakin keheranan dibuatnya, ia segera bertanya.

"Nona apa maksudmu berkata begitu?"

"Racun jahat yang bersarang dalam tubuhmu disembuhkan oleh Lou bun si tersebut, hanya saja berhubung kau keracunan kelewat dalam hingga sampai sekarang baru mendusin. Aku bersama dua orang jago pedang berpita hijau yang menghantarmu kesinipun telah dicelakai orang tanpa kami sadari, kami telah terkena racun yang bersifat agak lamban cara kerjanya, untung ada Lou bun si tersebut sehingga racun mana berhasil kami punahkan. Barusan kamipun mendapat berita lewat burung merpati dikabarkan kalau orang-orang yang berada di bukit Plt bu san pun sudah terkena racun jahat, racun tersebut hanya bisa dipunahkan dengan Lou bun si tersebut."

"Masa Hwecu kalian juga kena racun tersebut?"

Cho Kiu moay melirik sekejap kearahnya, kemudian tersenyum.

"Tampaknya Wi sauhiap kalian sangat menguatirkan keselamatan dari Kiam cu kami?"

"Walaupun aku baru pertama kali ini berjumpa dengan Hwecu kalian, namun tindak tanduk hwecu kalian maupun cara berbicaranya yang begitu halus dan menarik telah menanamkan suatu kesan yang mendalam bagiku."

Berkilat tajam sepasang mata Cho Kiu moay setelah mendengar perkataan itu, bisiknya lirih.

"Mungkinkah ini yang dinamakan saling tertarik dan mengagumi? sesungguhnya kiamcu kami menaruh kesan yang mendalam sekali terhadap Wi sauhiap."

"Kalau memang banyak dari anggota perkumpulan kalian keracunan, sedangkan aku pun telah sembuh kembali, mari sekarang juga kita kembali ke bukit Pit bu-san, persoalan seperti ini tak boleh ditunda-tunda lagi..."

"Tidak bisa."

Cho Kiu moay menggelengkan kepalanya berulang kali.

"paling tidak kita harus berdiam selama dua hari lagi disini, lusa kita baru bisa berangkat."

"Mengapa demikian ?"

"Sebab aku harus menunggu beberapa orang lagi di tempat ini."

"Bukankah banyak dari anggota perkumpulan kalian yang keracunan dan menunggu pengobatan ?"

"Tidak menjadi soal, racun yang bersarang di tubuh mereka hanya racun bersifat lambat, dalam tiga hari mendatang tak akan sampai bekerja, jadi kalau pun kita berangkat sekarang juga, ini pun tidak akan mendatangkan manfaat apa-apa..."

Kemudian setelah berhenti sejenak, dia berkata lebih jauh.

"Setelah keracunan hebat, hingga sekarang kondisi badanmu masih belum pulih kembali seperti sedia kala, lebih baik tidurlah dulu sambil memulihkan kekuatan!"

Selesai berkata, dia lantas menepuk bebas jalan darah di ke empat buah anggota badan Wi Tiong hong, kemudian membalikkan badan dan berlalu dari sana.

Wi Tiong hong berpaling kembali diatas pembaringan, betul juga kaki dan tangannya masih terasa berat, benaknya terasa kosong dan pening, tanpa sadar ia tertidur nyenyak.

Entah berapa saat kemudian, pelan-pelan Wi Tiong hong sadar kembali dari tidurnya, ia mendengar ada orang sedang berbicara dengan suara rendah diluar pintu sana.

"Nona, jawaban dari Huan congkoan telah datang, dalam dua hari mendatang ia sudah akan datang disini."

"Aku mengerti."

Suara dari Cho Kiu-moay terdengar. Kemudian terdengar pula orang itu berkata lagi.

"Barusan hamba berhasil menemukan ada orang yang sedang berjalan bolak-balik disekitar tempat ini, gerak-gerik orang tersebut sangat mencurigakan."

"Sekarang kita sudah berganti dandanan semua dan tidak akan memancing perhatian orang lain tak usah menggubris mereka, biarkan saja orang-orang itu berlalu lalang."

"Baik!"

Orang itu mengiakan.

Kemudian suasana disekitar tempat itupun berubah menjadi hening kembali.

Tak selang beberapa saat kemudian, terdengar lagi suara langkah kaki yang ramai berkumandang mendekati tempat tersebut.

Kemudian pintu dibuka orang dan muncul seorang gadis berbaju kembang dengan ikat kepala kain hijau yang membawa sebuah baki kayu.

sekalipun gadis itu memakai pakaian sederhana dengan dandanan seorang nona dusun, namun wajahnya amat bersih dan cantik, kulit mukanya yang putih nampak bersemu merah, benar-benar raut wajah seorang gadis dusun yang menggiurkan hati.

Semula Wi Tiong-bong mengira Hek-bun kun Cho Kiu-moay yang masuk kedalam, setelah menyaksikan kemunculan gadis dusun tersebut, dia malah tertegun dibuatnya, buru-buru dia bangun akan duduk.

Gadis dusun itu membelalakkan sepasang matanya yang bulat besar, kemudian agak tersipu dia berkata.

"Rupanya aku telah mengusik ketenangan tidur siangkong !"

Suara yang merdu merayu bagaikan burung nuri yang sedang berkicau, sangat menarik hati. Wi Tiong-hong melompat turun dari pembaringan, lalu menjawab sambil tersenyum.

"Nona jangan berkata begitu, aku sudah mendusin sedari tadi, memang sudah waktuku untuk bangun."

"Tempat ini hanya merupakan sebuah dusun kecil, segalanya jelek dan sederhana, mungkin siangkong tidak bisa tidur nyenyak? Nona Cho berpesan, siangkong baru sembuh dari sakit, sudah seharusnya beristirahat lebih banyak !"

Dari nada pembicaraan nona dusun itu, Wi Tiong-hong menduga kalau dia adalah putri dari tuan rumah, maka katanya sembari menjura.

"Terima kasih banyak nona, aku telah sembuh sama sekali"

Nona dusun itu meletakkan baki tersebut ke meja, kemudian katanya lagi sambil tersenyum.

"Bubur ini disiapkan nona Cho sebelum pergi meninggalkan tempat ini, katanya setelah siangkong mendusin, dipersilahkan untuk menghabiskan bubur tersebut !"

"Apakah nona Cho telah pergi ?"

Nona dusun itu menutupi bibirnya sambil tertawa cekikikan "Nona Cho dan ke dua orang paman itu sudah pergi berapa lama, dia bilang masih ada urusan yang hendak diselesaikan siangkong diharapkan beristirahat dengan tenang sambil menunggu kedatangannya di sini "

"Dia masih berkata apa lagi ?"

Gadis dusun itu miringkan kepalanya sambil berpikir sebentar, kemudian baru berkata.

"Nona Cho berkata pula, tempat ini berjarak hanya berapa puluh li dari bukit Pit-busan, di dalam satu-dua hari ini siangkong tak usah menggunakan hawa murni kalau tidak terpaksa sekalipun ada orang yang datang, kau disuruh beristirahat saja dikamar dan tak usah keluar."

Berbicara sampai disitu sambil tertawa kembali dia menambahkan.

"Padahal asal siangkong tinggal disini, tentu saja kau tak usah mengeluarkan tenaga, justeru karena aku takut ke dua orang engkohku terlalu kasar bila ditugaskan melayanimu, maka aku sengaja turun tangan untuk melayani siangkong sendiri, tentunya siangkong tak akan sampai marah-marah kepadaku bukan?"

Diam-diam Wi Tiong hong merasa kegelian apabila setelah mendengar nona dusun itu salah mengartikan Cing khi atau hawa murni menjadi hawa amarah.

Tentu saja rasa geli tersebut tak sampai diutarakan keluar, buru-buru serunya.

"Perkataan nona terlalu serius, aku sudah cukup merepotkan kalian, masa berani marah kepadamu ?"

"Asal siangkong tidak suka marah-marah, akupun mherasa lebih lega."

Kata nona dusun itu lembut."

Oya, buburnya hampir menjadi dingin, mumpung masih hangat silahkan siang-kong santap dulu, aku masih ada urusan yang harus diselesaikan."

"Silahkan nona !"

Tiba-tiba sepasang pipi nona dusun itu berubah menjadi merah, katanya dengan lirih.

"Panggil saja aku Soat-ji, siangkong jangan menyebut nona-nona terus, kurang enak didengar."

Selesai berkata, dengan kepala tertunduk buru-buru dia meninggalkan ruangan.

Wi Tiong-hong melirik sekejap ke arah meja, diatas baki terlihat semangkuk bubur, di tambah empat macam sayur.

Sudah semalaman suntuk dia tak mengisi perut, dan perutnya memang sudah lapar, maka tanpa sungkan-sungkan lagi dia melahap hidangan tersebut hingga ludas.

Selesai makan, diapun mulai membayangkan kembali ucapan dari Cho Kiu-moay semalam, katanya gadis itu masih akan menunggu beberapa orang lagi disana.

Kemudian dia pun teringat kalau segenap anggota Ban-kiam hwee telah terkena racun jahat yang bersifat lamban, tapi nona itu harus menunggu samnai besok baru berangkat, apa sebenarnya yang terjadi ?

Sudah pasti di balik kesemuanya itu ada hal-hal yang serius.

Kini, dia meninggalkan pesan agar dirinya menetap disitu sambil menunggu kedatangannya, dalam keadaan demikian tampaknya dia pun harus menunggu sampai kedatangannya.

Berpikir demikian dia lantas duduk bersila diatas pembaringan dan mulai mengatur pernapasan.

Siapa tahu begitu hawa murninya dicoba, Wi Tiong hong segera merasakan meski seluruh bagian tubuhnya sudah dapat ditembusi namun hawa murninya belum pulih kembali keseluruhannya, hal ini membuat hatinya menjadi amat terkejut.

"Heran, racun keji apakah yang bersarang didalam tubuhku? Mengapa bisa begitu hebat?"

Dia mana tahu kalau dirinya tanpa disadari telah terkena racun keji yang paling lihay dari lawannya.

Perlu diketahui pihak lawan melepaskan racun secara diam-diam, sesungguhnya mempunyai dua macam perhitungan Pertama, bertujuan untuk membekuknya sehingga bila racun itu mulai bekerja, dia telah sampai disitu dan memberi obat penawagrnya.

Ke dua.

siandainya sampai ditolong orang lain, tanpa obat pemunah darinya, sekalipun tertolong juga percuma karena racun itu tak akan bisa dipunahkan dengan obat lain kecuali obat penawarnya yaug dibuat secara khusus.

Siapa tahu, ketika Wi Tiong hong keracunan dan jatuh tak sadarkan diri, secara kebetulan ia telah bertemu dengan Buyung Siu, kemudian oleh dua orang jago pedang berpita hijau dia dikirim ke sebuah dusun yang terletak hanya kira-kira jaraknya dua tiga puluh li saja.

Itulah sebabnya dia menjadi keracunan bila karena tidak segera memperoleh penolongan.

Kendatipun akhirnya dia ditolong oleh Lou bun si yang dapat memunahkan berbagai macam racun di dunia ini, namun racun tersebut sudah terlanjur menyusup ke dalam isi perutnya hingga amat mengitari hawa murninya, hal inilah yang menjadi penyebab utama mengapa tenaga dalamnya tak bisa segera menjadi sembuh.

Sementara itu, Wi Tiong hong yang sedang mengatur napas, mendadak mendengar suara seruan nyaring dari luar rumah sana.

"Omitohud !"

Suara tersebut amat keras dan menggetarkan telinga, suaranya juja berat dan dalam, tanpa terasa Wi Tiong hong menjadi tertegun, karena suara itu amat dikenal olehnya.

Pada saat itulah, terdengar suara Soat-ji sedang menegur.

"Lo suhu, mau apa kau ?"

"Omitohud, pinceng datang untuk mencari derma."

Mendadak Wi Tiong hong teringat akan seseorang, dia segera berseru tertahan dihati.

"Aaaah. hweesio itu adalah Lohan baja Khong-Seng taysu !"

"Sekalipun kau hanya bermaksud mencari derma, toh tidak sopan memasuki rumah orang dengan semaunya sendiri ?"

Kembali Soat-ji berseru keras. oooOooooooOooo "Li-SicU, apakah kau berada dirumah seorang diri ?"

"Siapa bilang kalau cuma aku seorang ? Bukankah engkohku berdua masih berada di sawah menanam sayur ?"

"Li sicu, apakah ruangan masih ada orang lain?"

Tanya Thi Lo-han lagi. Tampaknya sembari berkata hwesio itu masih saja celingukan kesana kemari.

"Hei, apa-apaan sih kau hwesio tua? Apa yang sedang kau lihat? Ayo cepat keluar."

Suara Soat-ji kembali berkumandang.

"Li sicu tak usah takut, pinceng pasti akan pergi dari sini."

"Hmmm, siapa sih yang takut kepadamu? Kalau cuma seorang hwesio tua yang sedang mencari derma mah tak akan kutakuti !"

"Apakah didalam rumah masih ada orang ?"

"Tentu saja ada."

Suara Soat-ji masih tetap nyaring.

"dia adalah engkohku, karena badannya kurang enak maka dia sedang tidur, kau jangan mengganggu ketenangannya."

Mendengar sampai disitu, Wi Tiong-hong kembali berpikir.

"Mungkinkah yang ditanyakan Thi Lohan adalah kamar yang sedang kutempati ini?"

Sementara itu Thi Lohan sudah bertanya lagi.

"Bukan perempuan bukan ?"

Soat-ji segera tertawa cekikikan lagi.

"Masa kau masih pakai tanya lagi? Lantas menurut pendapatmu engkoh itu laki atau perempuan?"

"Li sicu, bolehkah pinceng menengok kakakmu yang sedang tak enak badan itu?"

Kembali Thi Lohan berkata.

"Hei, tampaknya kau sedang mencari orang?"

"Perkataan dari li-sicu memang tepat sekali Pinceng memang sedang datang mencari orang!"

"Apakah kau sedang mencari engkohku ?"

"Mana mungkin pinceng akan mencari kakak li-sicu?"

"Kalau memang begitu tak usah kau lihat lagi."

"Bila orang yang berada didalam kamar benar-benar adalah kakakmu, pinceng segera akan angkat kaki dan tak bakal mengusik li sicu lagi."

"Baiklah, kalau begitu lihatlah sendiri dan kemudian segera pergi dari sini."

"Ooo, tentu saja."

Wi Tiong-hong yang mendengarkan pembicaraan tersebut menjadi amat panik, pikirnya.

"Kepandaian silat yang dimiliki Thi lohan Khong Beng hwesio sudah mencapai tingkatan yang luar biasa, seandainya berada dihari-hari biasa tentu saja aku tak usah jerih terhadapnya, tapi sekarang.... tenaga dalamku belum pulih kembali, bisa jadi bukan tandingannnya."

Tiba-tiba terdengar Soat ji berteriak dari luar pintu.

"Koko, hwesio tua ini hendak menengokmu kau tak usah bangun, tiduran saja disana."

Karena nona dusun itu telah berkata demikian, terpaksa Wi Tiong-hong harus berbaringan, dia mencoba untuk meraba pinggangnya untuk mencari pedang tersebut, namun tak ada disana, rupanya sudah diambil Cho Kiu-moay dan disimpan ditempat lain.

Pada saat itulah pintu kamar terbuka.

Thi-lohan Khong beng hwesio dengan sepasang tangannya merangkap di depan dada telah berdiri di depan pintu.

Tapi dia hanya memandang sekejap kearahnya, seakan-akan tidak kenal, sorot matanya memandang sekejap ke seluruh ruangan lalu mengundurkan diri dari situ.

"Omitohud, pinceng telah mengganggu ketenanganmu."

Ujarnya pelan.

Wi Tiong hong yang menyaksikan kejadian tersebut tnetjadi sangat keheranan, sudah jelas hwesio itu kenal dengannya, tapi mengapa pula dia berlagak seakan-akan tidak kenal?

Ditutup kembali pintu kamarnya, kemudian bertanya.

"Lo siansu, sebenarnya siapa sih yang kau cari?"

"Pinceng sedang mencari seorang nona yang bergaun hitam."

Mendengar itu Wi Tiong hong segera berpikir.

"Ooh, rupanya Thi lohan sedang mencari Cho Kiu moay."

Baru saja dia berpikir sampai disitu, terdengar Soat-ji telah berseru tertahan. Sebenarnya Thi lohan sudah siap akan pergi, tapi seruan tertahan Soat-ji segera menghentikan kembali langkahnya.

"Apakah li sicu pernah berjumpa dengan nona berbaju hitam itu?"

Tanyanya cepat. Seandainya Soat ji mengatakan tidak tahu, urusan tentu akan menjadi beres, apa mau di kata ia justru malah balik bertanya.

"Lo suhu, ada urusan apa kau mencari nona berbaju hitam itu?"

"Yang bermaksud mencarinya bukan pinceng seorang, bila li sicu melihat kemanakah dia pergi, harap kau suka memberi keterangan yang sejelasnya kepadaku."

"Lo suhu, apakah nona berbaju hitam yang hendak kau cari itu membawa sebilah pedang yang berpita berwarna kuning..."

"Perkataan dari li sicu memang tepat sekali yang hendak pinceng cari adalah perempuan tersebut."

Soat ji segera tertawa cekikikkan.

"Ooh, kalau begitu nona Cho yang kau cari."

Serunya kemudian.

"Yaa, betul, betul sekali! Dia adalah nona-Cho apakah li sicu kenal dengannya?"

Soat ji tertawa ringan.

"Nona Cho justru tinggal dirumah kami ini."

Serunya cepat. Tak terlukiskan rasa gembira Thi lohan Khong beng hweesio setelah mendengar perkataan itu. dengan cepat dia berseru.

"Dimanakah orangnya sekarang?"

"Dia sedang pergi, tapi tak lama akan balik kembali kemari, silahkan duduk dulu Lo suhu, sebentar dia akan kembali". Thi-lohan Khong beng hwesio mendengus berat, betul juga dia menurut dan segera duduk.

"Lo suhu, kau tak usah sungkan-sungkan"

Kata Soat ji lagi.

"silahkan duduk diatas kursi saja, tanah disini amat lembab, bila kelamaan duduk disitu, kau bisa terserang penyakit."

Sebenarnya gadis itu bermaksud baik, siapa tahu Thi lohan Khong beng hwesio hanya duduk bersila ditanah tanpa berkutik, menggubris pun tidak. Melihat hal ini, Soat-ji segera bergumam.

"Aneh betul si hwesio gemuk ini, ada kursi dia tak mau. malahan sukanya duduk disudut pintu yang berlumpur? Betul-betul manusia yang berwatak sangat aneh."

Rupanya Thi lohan Khong beng hwesio tidak bermaksud baik, dia hanya duduk disudut pintu sambil tidak berkutik, asal Cho Kiu moay melangkah masuk agaknya dia berniat untuk melancarkan sergapan secara tiba-tiba.

Sementara itu Wi Tiong hong terpaksa hanya duduk diatas pembaringan sambil mengatur napas karena ia temukan tenaga dalamnya belum pulih kembali seperti sedia kala.

Untuk beberapa saat lamanya suasana dalam rumah gubuk itu menjadi sunyi senyap tak kedengaran sedikit suarapun.

Dari arah dapur terdengar suara Soat-ji mencuci beras, mencuci sayur lalu terdengar kuah dinaikkan ke anglo, dan seperminum teh kemudian, baru kedengaran suara langkah kaki bergema lagi diluar pintu rumah.

Menyusul kemudian terdengar seseorang menegur dengan suara yang parau tapi penuh tenaga.

"Adakah orang di dalam ?"

Wi Tiong-hong merasakan hatinya tergerak, ia dapat mengenali suara tersebut sebagai suara si Naga tua berekor botak To Sam-seng.

Soat-ji segera meletakkan tempat berasnya ke tanah, lalu tak sempit mengeringkan sepasang tangannya lagi, buru-buru dia lari menuju keluar dan bertanya.

"Empek tua, ada urusan apa kau?"

"Kau seorang diri di rumah ini ?"

Kedengaran si Naga tua berekor botak menegur.

"Heran."

Soat-ji segera agak tercengang.

"mengapa sih pertanyaan semacam itu yang kalian selalu tanyakan? Hei empek tua lebih baik aku saja yang bertanya kepadamu, apakah kau pun sedang mencari seorang nona yang memakai baju hitam ?"

Naga tua oerekor botak nampak agak tertegun, kemudian serunya.

"Nona cilik darimana kau bisa tahu ?"

"Aku mendengar hal ini dari mulut seorang hwesio gendut."

Seru Soat-ji sambil tertawa.

"Aaah, dia adalah Khong-beng taysu, dimana ia sekarang ?"

"Dia hendak mencari nona Cho, aku pun memberitahu kepadanya kalau nona Cho tinggal dirumah kami ini tapi sekarang lagi keluar karena ada urusan, dia bilang mau menunggu kedatangannya disini."

"Lantas dimanakah orangnya ?"

Katanya. Soat ji tertawa cekikikan, sambil menuding ke depan serunya.

"Coba kau lihat, bukankah suhu gemuk itu sedang duduk disitu ?"

Naga tua berekor botak maju selangkah ke depan lalu berpaling, dia jumpai Thi Lohan sedang memejamkan matanya sambil duduk bersila disudut ruangan sana meski sudah mendengar suara pembicaraannya, namun ia sama sekali tidak bergerak, seakan-akan semedinya sedang mencapai pada puncaknya.

Mendadak satu ingatan melintas didalam benaknya, dia segera menghampiri Thi-lohan itu dan bertanya.

"Taysu, bagaimana keadaanmu ?"

Thi lohan masih tetap membungkam dalam seribu bahasa, seakan-akan sama sekali tidak mendengar teguran tersebut, bahkan kelopak matanya pun sama sekali tidak bergerak.

Naga tua berekor botak To Sam-seng adalah seorang jago kawakan yang berpengalaman luas didalam dunia persilatan sekilas pandangan saja dia sudah tahu kalau jalan darah hwesio tersebut sudah ditotok orang, maka sambil menghampiri pendeta tersebut dia lantas menepuk tubuhnya dua kali.

"Aaaah, empek tua, jangan kau tepuk tubuhnya."

Cegah Soat-ji dengan cepat.

"tampaknya si suhu gendut itu sedang tertidur nyenyak !"

Secara beruntun si Naga tua berekor botak sudah menepuk tubuh Thi lohan dua kali, namun masih belum berkutik juga, kenyataan tersebut membuat dia sangat keheranan.

Dengan perasaan penasaran dia mengayunkan kembali telapak tangannya sambil menepuk beberapa buah jalan darah pentingnya.

Siapa tahu usahanya inipun sama sekali tidak mendatangkan hasil apa-apa...

Sekarang dia baru sadar kalau Thi lohan telah bertemu dengan seorang jago yang amat lihay, rupanya jalan darahnya sudah kena di totok orang dengan suatu ilmu menotok yang khusus.

Berpendapat demikian, tanpa terasa dia tertawa seram, tiba-tiba ia membalikkan tubuhnya, lalu menatap wajah Soat ji tajam-tajam, tegurnya dengan suara dalam.

"Siapa yang telah menotok jalan darah Khong beng taysu? Ayo lekas menjawab!"

Wi Tiong hong yang berada di dalam kamar segera menangkap nada suara naga tua ber ekor botak yang kurang beres, dia tahu Soat ji tidak pandai ilmu silat, jangan jangan gadis itu akan menderita kerugian yg amat besar.

Berpikir demikian, dia segera melompat turun dari pembaringan, mendekati pintu ruangan lalu mengintip keluar.

Tampak si naga tua berekor botak telah mengayunkan telapak tangannya sambil menghampiri si nona dusun tersebut.

Dengan ketakutan Soat ji mundur selangkah ke belakang, kemudian berpaling dan menengok sekejap ke arah kamar sendiri, setelah itu baru ujarnya.

"Empek tua, mengapa sih kau begitu galak? Ssttt, ..jangan kelewat berisik, kakakku sedang tak enak badan perlu beristirahat dengan tenang, kau jangan mengganggunya."

"Lohu ingin bertanya kepadamu, siapakah yang telah menotok jalan darah Khong beng taysu??"

Soat ji segera membelalakkan matanya lebar-lebar seraya menggelengkan kepalanya berulang kali.

"Tidak ada, bukankah dia duduk tenang disitu? Dia sendiri yang duduk disitu, aku tidak melihat ada orang yang mengusiknya."

"Hmm, sudah banyak tahun lohu berkelana di dunia persilatan, kau anggap aku bisa dibohongi oleh seorang bocah perempuan macam dirimu itu?"

Jengek si Naga tua berekor botak dingin.

"apakah Cho Kiu-moay sedang bersembunyi didalam ruangan dan menotok jalan darahnya secara diam-diam ?"

Sembari berkata, dengan wajah menyeringai seram dia mendesak maju selangkah lebih ke depan.

Kali ini Soat ji tidak mundur lagi, jarak kedua orang itu hanya selisih satu depa saja.

Dengan suara yang gagah perkasa ia berseru.

"Benar-benar tak ada orang disini, tadi aku pun telah memberitahu kepadanya, nona Cho sebentar akan kembeli, apakah dia hendak menunggunya di sini, malah kuambilkan sebuah kursi untuknya."

"Tapi si hwesio gendut itu cuma mendengus dan sama sekali tidak menggubris perkataanku bahkan duduk bersila dlatas tanah, padahal tanah ditempat kami ini lembab sekali, bila kelewat lama duduk di tanah bisa terserang penyakit."

Belum habis nona dusun itu berbicara, Naga tua berekor botak telah mendongakkan kepalanya dan tertawa terbahak-bahak.

Tapi, disaat dia membuka mulutnyha lebar-lebar sambil tertawa tergelak itulah, mendadak Soat-ji mengayunkan tangannya dan sebutir pil kecil berwarna hitam segera meluncur masuk kedalam mulutnya.

"Lohu sungguh... uuuhh....aaah . .."

Baru berbicara sepatah kata, mendadak dia merasa ada sebuah pil meluncur masuk ke dalam mulutnya kemudian menggelinding lewat tenggorokkannya, maka diapun "Uuh"

Dan menelan pil tadi ke dalam perut.

Setelah itu dia baru berseru tertahan, mencorong sinar tajam dari balik matanya telapak tangan kanannya diayunkan ke udara dan tampaknya siap dibacokkan ke atas tubuh Soat ji yang berdiri di hadapannya.

Tapi dia memang seorang manusia licik yang banyak tipu muslihatnya, dia belum tahu pil racun apakah yang telah tertelan olehnya, sudah barang tentu dia pun enggan turun tangan secara sembarangan.

Telapak tangan kanannya hanya membuat suatu gerakan untuk menakut-nakuti saja, kemudian bentaknya nyaring.

"Budak licik, kau telah melemparkan benda apa kedalam mulut lohu..."

Soat ji bertepuk tangan sambil tertawa cekikikan.

"Horeee, ... ternyata kau betul-betul tertawa tergelak, dugaan nona Cho memang tepat sekali!"

Gadis dusun itu seperti tak menyadari kalau bahaya maut sedang mengancamnya, seandainya cakar maut dari Naga tua berekor botak itu benar-benar diayunkan ke bawah, niscaya batok kepala Soat ji itu sudah akan muncul lima buah lubang besar.

Paras muka Naga tua berekor botak berubah menjadi seram sekali, kembali ia membentak.

"Sudah kau dengar belum pertanyaan yang lohu ajukan ?"

"Dengarnya sih sudah dengar, tentu saja pil beracun yang telah kulemparkan kedalam mulutmu tadi ?"

Naga tua berekor botak sungguh merasa gusar sekali, serunya sambil menahan geram.

"Budak cilik-tahukah kau bahwa selembar nyawamu berada ditangan lohu ?"

Gertaknya. Soat-ji sedikitpun tidak merasa takut, malahan dia sempat tertawa amat manisnya.

"Sakalipun kau bacok aku sampai mati juga percuma toh obat penawarnya tidak berada disakuku. Oyaaa, empek tua, tahukah kau kalau selembar jiwa tuamu itu sudah berada di tangan nona Cho ?"

Kata perempuan itu.

Kalau menuruti adatnya, si Naga tua berekor botak ingin sekali bacok mampus nona tersebut, tapi apa yang dikatakan lawan memang benar, selembar jiwa tuanya sekarang memang sudah berada didalam cengkeraman orang lain.

Oleh sebab itu terpaksa tanyanya sambil menahan sabar.

"Budak cilik, pil beracun apakah itu ?"

Tiba-tiba Soat-ji mencibirkan bibirnya sambil mengomel.

"Kau memanggil aku sebagai budak cilik terus menerus, kau anggap aku bersedia memberitahukan kepadamu ?"

"Lantas lohu mesti memanggil apa padamu?"

Soat-ji tertawa cekikikan.

"Aku toh tidak menyuruh kau memanggilku sebagai nenek, tapi caramu memanggil harus Iebih sopan sedikit, panggil ah aku sebagai nona, toh bukan sesuatu yang sulit bukan ?"

Wi Tiong hong yang mendengarkan pembicaraan tersebut, diam-diam merasa kegelian, pikirnya.

"Untuk menyelamatkan selembar jiwanya, walaupun harus memanggil si nona sebagai nenek pun, sudah pasti si Naga tua berekor botak itu akan melakukannya !"

Sementara itu, Naga tua berekor botak telah berkata.

"Baiklah, lohu akan memanggil nona kepadamu"

"Kalau dilihat tampangmu yang begitu mengenaskan, baiklah, akan kuberitahukan kepadamu, obat beracun itu milik nona Cho yang sengaja ditinggalkan kepadaku, dia sudah menduga kalau ada seorang hwesio gendut, seorang naga tua berekor botak dan seorang tosu tua yang kebanci-bancian bakal datang kemari untuk mencarinya, dia berpesan kepadaku, bila kau sedang membuka mulutnya lebar-lebar sambil tertawa nanti, pil tersebut harus kulemparkan kedalam mulutmu..."

"Lohu tidak pingin tahu soal tersebut, aku hanya ingin tahu pil beracun apakah itu ?"

"Eeeeh, buat apa sih mesti panik? Toh kau tak bakal segera mampus seketika ?"

Walaupun amarah yang membara didalam dada Naga tua berekor botak itu sudah mencapai pada puncaknya, namun sekilas senyuman licik masih sempat menghiasi ujung bibirnya, dia berkata kemudian.

"Apakah nona Cho meninggalkan suatu pesan kepadaku ?"

Orang ini benar-benar licik dan pintar, dari nada pembicaraan Soat-ji barusan dia sudah tahu kalau kesehatan badannya tak akan terganggu sekalipun telah menelan pil beracun.

"Dugaanmu memang benar sekali"

Kata Soat ji sambil tertawa.

"nona Cho berkata, pil beracun miliknya itu baru akan bekerja dan mencabut nyawa korbannya setelah lewat dua belas jam."

"Waktu itu seluruh daging dan tulangmu akan membusuk dan hancur, kemudian larut menjadi segumpal darah kental ... hi ih, kalau dibicarakan sungguh membuat perut orang terasa mual, lebih baik jangan dibicarakan lagi."

Tanpa terasa berubah hebat selembar wajah Naga tua berekor botak itu katanya kemudian.

"Nona masih belum menyampaikan kepadaku, pekerjaan apakah yang dipesankan nona Cho untuk kulaksanakan?"

"Aaah, benar. Hampir saja aku malupakan hal ini, Nona Cho berkata, dia suruh kau melakukan dua pekerjaan, pertama kau diharuskan memancing datang si tosu tua yang kebanci-bancian itu..."

"Ke dua?"

"Persoalan ke dua tidak kuketahui, dia bilang kau harus menunggunya disini."

"Baik, lohu akan segera melaksanakannya."

"Eeeh, tunggu dulu,"

Seru Soat-ji tiba-tiba dengan paras muka berubah.

"aku harus mengambil sesuatu barang lebih dulu."

Sesuai berkata, buru-buru dia berlari masuk kedalam ruangan belakang..."

Wi Tiong-hong yang selama ini mengikuti jalannya peristiwa tersebut sungguh merasa keheranan setengah mati, dia tak habis mengerti, mengapa si nona dusun yang sama sekali tak pandai berilmu silat itu dapat menundukkan Naga tua berekor botak sehingga takluk seratus persen?

Tak selang beberapa saat kemudian, tampak Soat-ji masuk kembali kedalam ruangan sambil membawa enam buah pedang pendek yang amat tajam, dia letakkan pedang pendek itu berjajar diatas meja dengan gagang pedangnya di biarkan tertinggal diluar meja.

Bab-53 Kemudian dia membalikan badan sambil membuat gerakan mengukur arah dengan pintu depan rumah tersebut, akhirnya dia berjalan ke depan dengan lemah gemulai sambil menghitung jaraknya.

Selesai dengan pekerjaan tersebut, dia baru berpaling dan ujarnya sambil tertawa.

"Inilah kepandaian yang diajarkan nona Cho kepadaku sebelum berangkat tadi, aku benar-benar kuatir sekali apakah cara ini bisa kulakukan atau tidak?"

Naga tua berekor botak tidak mengetahui apa yang sedang dikatakan nona tersebut, terpaksa dia hanya membungkam diri dalam seribu bahasa, sementara sepasang matanya mengawasi gerak-gerik gadis itu dengan pandangan yang licik.

Setelah kembali ke sisi meja Soat-ji berkata.

"Nah, aku sudah siap sekarang, kini kau boleh memanggil si tosu tua tersebut, cuma kau harus ingat, tosu tua tersebut harus kau pancing untuk mendekati pintu rumah tersebut. Sekarang Wi Tiong hong mengerti apa gerangan yang akan terjadi. Naga tua berekor botak juga mengerti jelas. Dilihat dari gerakan tersebut, jelaslah sudah kalau si Naga tua berekor botak diwajibkan memancing Ma koan lojin dari Hong sau untuk mendekati pintu gerbang rumah, kemudian si nona pun akan melemparkan pedang pendek tersebut ke arah tubuh Ma koan tojin. Pada hakekatnya rencana yang sedang diatur nona dusun itu seperti gurauan belaka, bayangkan saja betapa lihaynya kepandaian silat yang dimiliki Ma koan tojin, sekalipun seorang jago senjata rahasia yang ternamapun tak akan mampu melukainya dengan bidikan enam bilah pedang pendek, apalagi seorang nona dusun yang sama sekali tak pandai bersilat? SELAIN ITU, SOAT-JI juga berdiri disamping meja, diatas meja jelas terlihat ada lima bilah pedang pendek, siapakah yang tak akan meningkatkan kewaspadaannya setelah melihat senjata tersedia dimeja. Jangan lagi Ma koan tojin yang akan muncul disitu, sekalipun orang tersebut hanya seorang jago biasa pun tidak sulit rasanya untuk meloloskan diri dari ancaman. Bukankah Soat-ji hanya seorang gadis dusun yang sama sekali tak pandai bersilat? Apalah gunanya ilmu menyambit pedang yang diajarkan Cho Kiu moay sebelum pergi tadi? Naga tua berekor botak memandang sekejap kearah pedang pendek tersebut, kemudian tanya dengan suara menyeramkan.

"Nona, apakah kau hendak mengandalkan keenam bilah pedang ini untuk melukai Ma koan toyu ?"

"Siapa bilang aku hendak melukainya?"

Bantah Soat ji sambil berpaling kesamping.

"aku hanya bermaksud untuk menakut-nakuti."

Mendengar perkataan itu, si Naga tua berekor botak segera tertawa dingin.

"Nona, kau anggap dengan keenam bilah pedang tersebut, kau sudah dapat menakut-nakuti orang? Aku rasa cuma anak yang berusia tiga tahun yang bisa kau takut-takuti !"

Perkataan ini memang benar, sudah cukup lama Ma koan tojin malang melintang di dalam dunia persilatan, sudah cukup banyak pertarungan besar yang pernah dialami olehnya, dengan mengandalkan ke enam bilah pedang pendek tersebut, bagaimana mungkin dia bisa menakut-nakuti dirinya ?

Soat-ji segera cemberut, ujarnya.

"Bisa menakut-nakuti orang atau tidak, kau tak usah mencampurinya, yang penting adalah tugasmu memancing dia datang kemari, suruh dia berdiri depan pintu rumah, asal pekerjaan tersebut sudah selesai kamu kerjakan, berarti urusanmu sudah beres."

Perkataan ini memang benar, bagaimanapun juga si Naga tua berekor botak memang tidak bersungguh hati hendak membantunya, dia terpaksa melakukan pekerjaan tersebut karena sudah dicekoki pil beracun, masalah bisa menggertak Ma koan tojin dari bukit Hong san atau tidak, pada hakekatnya sama sekali tiada sangkut pautnya dengan dia.

Naga tua berekor botak tertawa dingin lalu berjalan keluar dari rumah, dia segera mendongakkan kepalanya sambil, berpekik nyaring.

Dia memang tak malu disebut sebagai naga tua, pekikan panjangnya itu sangat nyaring dan membumbung ke angkasa, persis seperti seekor naga yang sedang berpekik.

Tak selang lama setelah dia berpekik, nyata dari arah selatan sana, dari arah jalan kecil yang membentang lurus kemuka, mendadak muncul empat lima sosok bayangan manusia.

Empat orang yang berjalan di depan adalah jago-jago pedang berpita hitam yang mengenakan seragam berwarna hitam pula.

Dibelakang ke empat orang itu, mengikuti seorang tosu tua yang berbaju kuning, dengan membawa sebuah Hud-tim (senjata kebutan) dia bergerak mendekat dengan gerakan enteng.

Sepasang mata tosu tua itu tajam bagaikan kilat, keningnya tinggi dengan mulut lebar, wajahnya amat seram dan menampilkan kelicikan, dia tak lain adalah wakil congkoan terbaru dari pasukan pendekar pedang berpita hitam perkumpulan Ban-kiam hwee, Ma koan tojin dari bukit hong-san.

Dari kejauhan sana dia sudah menyaksikan si Niga tua berekor botak To Sam-seng berdiri dibawah atap rumah gubuk, menanti ia sudah mendekat barulah memberi hormat sambil menegur.

"Saudara To, apakah kau berhasil menemukan sesuatu ?"

"Nona Cho berada didalam sana."

Kata naga tua berekor botak dengan cepat.

Dia sudah dicekoki obat beracun, tentu saja ia tak berani berbicara terus terang, karenanya terpaksa dia harus mengikuti perintah dari Soat-ji dengan memancing Ma koan tojin memasuki rumah tersebut.

Begitu selesai berkata, tak sampai Ma-koan tojin mengajukan pertanyaan, ia telah membalikkan badan menuju kedalam ruangan.

Sesungguhnya kedatangan Ma-koan tojin sekalian kesitu adalah untuk melaksanakan perintah guna menemukan Cho Kiu moay, maka begitu mendengar orang yang dicari berada disana, sepasang matanya kontan membelalak lebar, serunya tanpa terasa.

"Dimanakah orangnya ?"

Menyaksikan si Naga tua berekor botak tidak menjawab pertanyaannya malahan beranjak masuk kedalam ruangan, tanpa terasa dia pun mengikuti dibelakangnya masuk pula kedalan pintu terdengar seorang perempuan berseru lantang.

"Bagus sekali, suruh dia berhenti disana dan jangan sembarangan bergerak !"

Sebenarnya Ma-koan tojin adalah seorang yang banyak curiga, ketika dia mengikuti si Naga tua berekor botak masuk ke dalam rumah gubuk tadi, ia sudah merasa curiga sekali karena secara tiba-tiba Naga tua berekor botak itu menyelinap ke samping.

Tapi setelah mendengar bentakan suara, dia toh berhenti juga sambil menengok kearah mana datangnya seruan itu.

Perlu diketahui waktu itu sudah mendekati tengah hari, cahaya matahari diluar sana sedang bersinar dengan teriknya, sementara ruangan dalam rumah gubuk gelap gulita Ma-koan tojin yang masuk dari luar, tentu saja harus berhenti sebentar sebelum bisa melihat keadaan dalam ruangan tersebut dengan lebih jelas lagi.

Begitu sinar matanya dialihkan kesamping, segera terlihat olehnya seorang gadis berikat kepala hijau sedang duduk dibelakang meja disisi kiri dari ruangan.

Di atas meja, berderet enam bilah pedang pendek dengan gagang pedangnya tertinggal di luarnya, waktu itu sepasang tangan si nona telah menggenggam dua bilah pedang pendek sambil melakukan gerakan hendak menyerang ke arahnya.

Sebagai seorang jagoan yang berilmu tinggi, tentu saja Ma koan tojin tidak memandang sebelah matapun terhadap kedua belah pedang pendek di tangan Soat-ji tersebut, tapi dia toh merasa tercengang juga oleh sikap maupun gerak-gerik dari Naga tua berekor botak tersebut, dengan kening berkerut segera tegurnya.

"Saudara To, sebenarnya apa yang terjadi?"

Naga tua berekor botak tertawa getir.

"Khong beng taysu telah ditotok jalan darahnya, ehm, ehm sedang siaute pun kena... kena... dicekoki pil beracun oleh.... oleh nona ini."

Hampir saja dia akan menyebut kata budak, untung dia segera teringat akan keadaan sendiri dan buru-buru mengganti sebutan tersebut menjadi sebutan nona.

Hampir saja Ma koan tojin tak percaya dengan apa yang dilihatnya, dia tak menyangka kalau Thi lohan Khong beng taysu dan Naga tua berekor botak yang sudah berpuluh tahun lamanya malang melintang dalam dunia persilatan ternyata dipecundangi oleh seorang nona cilik yang baru berusia delapan sembilan belas tahun.

Dengan sorot mata yang menyeramkan dia menengok kearah Soat-ji, kemudian tanyanya.

"Diakah orangnya..."

"Tosu tua!"

Tiba-tiba Soat ji berteriak keras.

"aku akan memantek kau diatas papan pintu, lihat pedang !"

Dua bilah pedang pendek yang berada di tangannya itu mendadak diayunkan kearah Ma koan tojin.

Wi Tiong hong yang mengintip dari balik celah pintu kamar, dapat menyaksikan adegan tersebut dengan jelas, dia pun dapat menyaksikan gerak serangan dari Soat ji yang sama sekali tak berbentuk sama sekali itu tanpa terasa dia berpekik dihati.

"Aduuh celaka!"

Daya serangan dari kedua bilah pedang pendek itu meski cukup gencar, namun arah sasarannya tak tepat, pedang pendek yang semula dilemparkan dengan posisi lurus, setibanya ditengah jalan mendadak yang satu miring ke-kiri sedangkan yang lain miring ke kanan, lalu terbang kemuka secara menyilang.

Ma koan tojin sama sekali tak memandang sekejap mata pun terhadap datangnya serangan tersebut, malah sambil menjengek sinis, ujung baju sebelah kirinya dikibaskan kedepan mengarah kedua bilah pedang pendek itu.

Tapi begitu kebasan itu dilakukan Ma koan tojin yang berpengalaman segera merasakan sesuatu yang tak beres.

Tatkala sepasang pedang pendek yang menyilang datang dan hampir mendekati tubuhnya itu, mendadak dari tubuh senjata mana menimbulkan suara dengungan yang teramat nyaring, cahaya pedang pun menjadi bertambah kuat secara tiba-tiba.

Tampaknya nona kecil itu sudah merupakan seorang jagoan lihay yang menguasai ilmu pedang dari seluruh dunia saja, ternyata kedua bilah pedang pendek itu bisa dikendalikan olehnya mengikuti suara hati kecilnya.

Bahkan pada mula melancarkan serangan, dia telah memperhitungkan segala sesuatunya dengan jelas, disaat pedang pendek hampir mendekati tubuh lawan inilah, tenaga dalam yang dipancarkan ke dalam tubuh senjata tersebut baru benar-benar menyebar keluar.

Pada hakekatnya kejadian ini merupakan sesuatu yang mustahil bisa terjadi.

Dalam waktu yang amat singkat itulah, Ma koan tojin merasakan datangnya ancaman bahaya maut tersebut, tapi sayang keadaan sudah terlambat.

Hawa murni yang dikebaskan keluar melalui kebutan ujung bajunya begitu dahsyat, namun nyatanya kebasan mana tidak berhasil menggeserkan sepasang pedang Soat-ji yang sedang meluncur datang.

"Cri t . ."

Dengan cepat ujung pedang tersebut menembusi ujung baju itu dan mata pedangnya melukai pula pergelangan tangan Ma koan tojin.

Tak terlukiskan rasa kaget Ma koan tojin dalam menghadapi keadaan seperti ini, dalam gugupnya buru-buru dia mengayunkan tangan kirinya, sedangkan sang tubuh sama sekali tak sempat menghindarkan diri.

"Took"

Tookk"

Di ringi dua kali benturan nyaring, cahaya tajam berkilauan didepan mata, tahu-tahu dua bilah pedang pendek yang meluncur tiba dalam gerak menyilang itu satu dari kiri yang satu dan kanan telah menancap di atas dinding pintu.

Tidak!

Yang lebih tepat lagi adalah menancap di kedua belah sisi batok kepala Ma koan tojin, jaraknya tak lebih hanya beberapa hun dari tenggorokannya.

Dalam keadaan seperti ini, pada hakekatnya Ma koan tojin sama sekali tak bisa menggerakkan tengkuknya lagi, sebab apabila dia menggerakkan kepalanya, niscaya lehernya bakal tersayat oleh mata pedang itu.

Kejadian tersebut kontan saja membuat Wi Tiong hong maupun si naga tua berekor botak menjadi tertegun dan berdiri dengan mata terbelalak besar, hatinya bergidik dan jantungnya berdebar keras.

Mereka sama sekali tak menyangka kalau Ma koan tojin dari bukit Hong-san yang berilmu tinggi bisa terpantek diatas pintu rumah dengan begitu mudah.

Sudah puluhan tahun lamanya Ma koan tojin termashur dalam dunia persilatan tapi kali ini dia telah terpantek di atas pintu oleh lemparan dua bilah pedang lawan, kejadian semacam ini pada hakekatnya baru dialaminya untuk pertama kali ini, dia benar-benar tak berani menggerakkan kepalanya lagi.

Namun dia tidak menyerah sampai di sini saja, secepat kilat tangannya digerakkan siap mencabut keluar pedang pendek tersebut.

Sambl tertawa cekikikan Soat-ji segera berseru.

"Tosu tua lebih baik begini saja, jangan mencoba untuk bergerak dari posisi itu !"

Sementara dia mengancam, sepasang tangannya telah menyambar pula kedua bilah pedang pendek yang ada dimeja secepat kilat, kemudian kedua bilah senjata itupun dilontarkan kedepan dengan cepatnya, menyusul kemudian dia menyambar lagi dua bilah pedang yang lain dan dilontarkan pula ke udara.

Empat bilah pedang pendek dengan dua batang membentuk satu kelompok segera meluncur kedepan dalam bentuk menyilang.

"Tok tok! Tok tok!"

Empat kali benturan nyaring bergema di udara, tahu-tahu sepasang tangan Ma koan tojin yang hendak dipakai untuk mencabut pedang tersebut telah terpantek pula diatas pintu oleh keempat bilah pedang tadi.

Semua peristiwa ini berlangsung dalam waktu sekejap, pergelangan tangan Ma koan tojin yang tersayat oleh mata pedangpun sekarang baru mulai mengucur darah kental.

Waktu itu si Naga tua berekor botak sudah dibikin terkesiap dan ketakutan oleh kelihayan nona tersebut.

Mimpi pun dia tak menyangka kalau si nona kecil yang berdandan sebagai gadis dusun ini memiliki kepandaian silat yang begini dahsyat, untuk beberapa saat dia hanya berdiri tertegun disamping tanpa bergerak sedikitpun juga.

Soat-ji menghembuskan napas panjang, kemudian setelah bertepuk tangan dan tertawa ringan, katanya.

"Bagus sekali kepandaian ini, ternyata aku benar-benar mampu untuk memantek sitosu tua itu diatas pintu sehingga sama sekali tak mampu untuk berkutik lagi !"

Setelah lehernya dipantek dengan dua bilah pedang, lalu sepasang tangannya juga dipantek diatas pintu, Ma-koan tojin benar-benar tak mampu untuk berkutik lagi.

Sebagai seorang manusia yang pada dasarnya memang berotak licik dan banyak tipu muslihatnya, bukan marah oleh ulah si nona, dia malahan tertawa terbahak-bahak, serunya kemudian dengan suara yang bernada dalam.

"Saudara To bagus amat perangkap yang kalian persiapkan ini sungguh tak nyana kalau pinto bakal tertipu oleh akal muslihatmu ini..."

"To heng, persoalan ini tiada sangkut pautnya dengan siaute."

Buru-buru si Naga tua berekor botak menyangkal.

"Akulah yang suruh dia memancing kedatanganmu kemari."

Sela Soat-ji dengan cepat.

"dia telah menelan sebutir pil beracunku, tentu saja semxua perkataanku harus dituruti olehnya.

"Nona licik!"

Seru Ma koan tojin dengan seramnya.

"hanya mengandalkan enam bilah pedang terbang, ternyata kau mampu menguasai pinto, kepandaianmu ini benar-benar luar biasa sekali."

Soat-ji segera berseru setelah mendengar pujian itu dengan senyum manis dikulum ujarnya.

"lnilah kepandaian yang diajarkan nona Cho kepadaku!"

"Mana nona Cho? Pinto datang kemari untuk mencari dia"

"Bersabarlah menunggu sebentar dia segera akan kembali kesini."

"Apa yang hendak kau lakukan terhadap pinto?"

"Menanti sampai kembalinya nona Cno, dia tentu akan membebaskan dirimu."

Sementara itu.

ke empat jago pedang berpita hitam yang bertugas meajaga diluar ruangan mulai curiga, karena sejak Ma koan tojin masuk kedalam ruangan tersebut, hingga kini belum juga ada suara maupun kedengaran teriakannya, tak tahan meraka lantas melongok ke dalam ruangan itu.

Begitu melongok, mereka baru mengetahui kalau wakil congkoan nya telah dipantek hidup-hidup diatas pintu rumah.

Dalam terkejutnya ke empat orang itu segera saling memberi tanda, kemudian..

Cring !

Cri ng !

Cri ng !

serentak mereka meloloskan senjatanya dan siap menerjang masuk ke dalam ruangan rumah.

Sambil bertolak pinggang Soat ji segera membentak nyaring.

"Berhenti, tiada urusan dengan kalian ditempat ini, mau apa kamu berempat ?"

Ke empat orang jago pedang berpita hitam itu merasakan pancaran sinar tajam mencorong keluar dari balik sepasang matanya yang bulat besar, kewibawaan yang besar membuat orang-orang tak berani beradu pandangan lebih jauh, tanpa sadar mereka menghentikan langkah perjalanannya.

"Nona, apa maksudmu berbuat demikian ?"

Akhirnya salah seorang diantara ke empat jago pedang pita hitam itu menegur.

"Apa maksudmu ?"

"Nona, tahukah kau siapa orang yang kau pantek di atas pintu rumah itu ?"

"Siapakah dia ?"

"Dia adalah wakil congkoan pasukan pedang berpita hitam dari perkumpulan Ban kiam hwee !"

"Apakah kalian pun anggota Ban-kiam hwe?"

Soat ji bertanya kurang percaya.

"Tentu saja kami adalah anggota Ban-kiam hwee"

"Masa kalian masih merupakan anggota Ban kiam hwee ?"

"Siapa bilang tidak ?"

Sahut jsso pedang itu dengan gusarnya.

"Kalian telah menghianati perkumpulan Ban kiam hwee, secara diam-diam meracuni Kiamcu sendiri hmmm . .. sudah berbuat demikian masih tak malunya mengakui dirinya sebagai anggora Ban kiam hwee..?"

Ke empat orang jago pedang itu saling berpandangan dengan wajah tertegun, kemudian terdengar orang itu berkata lagi.

"Hei, apa yang sedang kau igaukan ?"

"Hmmm, kalian tidak keracunan ?"

Soat ji mendengus.

"Tidak."

"Anggota jago pedang berpita hitam yang ada tidak keracunan semua bukan ?"

"Tentu saja tidak"

"Nah, itulah dia, kalau toh kalian jago pedang berpita hitam tidak keracunan, bagaimana mungkin para jago pita hijau dibawah pimpinan congkoan pita hijau bisa keracunan semua? Mengapa pula Kiamcu serta ke empat dayangnya bisa keracunan pula ?"

"Siapa yang berkata demikian ?"

Seru jago pedang tersebut dengan tubuh bergetar keras.

"Bukankah dalam perkumpulan kalian terdapat seorang nona yang bernama Hek bun kun Cho-Kiu moay? Semalam dia tinggal dirumah kami, dialah yang menyampaikan hal tersebut kepadaku, aku rasa tak bakal salah lagi."

Jago pedang itu dibikin setengah percaya setengah tidak, kembali ia bertanya.

"Dimana nona Cho sekarang ?"

"Dia sedang keluar, tapi sebengtar lagi akan kembali kesini."

Kembali ke empat jago pedang berpita hitam itu saling berpandangan sekejap, kemudian diwakili oleh orang tadi, dia berkata lagi.

"Apa lagi yang dikatakan nona Cho?"

Soat-ji segera tertawa.

"Nona Cho bilang ... ."

Dia sengaja menarik perkataan yang terakhir panjang-panjang sementara biji matanya yang jeli melirik sekejap ke arah Ma koan tojin yang terpantek diatas pintu, kemudian baru lanjutnya.

"Dalam peristiwa kali ini, dimana Kiam Cu kalian beserta para jago pedang berpita hijau diracuni orang, terdapat hal-hal yang luar biasa, bisa jadi di dalam tubuh perkumpulan Ban kiam hwee memang terdapat penghianatnya, tapi kalian jago pedang berpita hitam sudah sepuluh tahun lebih berbakti kepada Ban kiam hwee..."

"Di hari-hari biasa kalian begitu setia dan berbakti untuk partai, mustahil kalau ada orang yang berhianat atau sengaja bersekongkol dengan orang-orang luar, oleh sebab itu hanya Ma-koan tojin dari bukit Hong san, Thi lohan dan Naga tua berekor botak bertiga saja sebagai anggota baru yang pantas dicurigai..."

Meski tubuhnya terpantek diatas pintu sehingga tak mampu berkutik, namun Ma-koan tojin bisa mendengarkan pembicaraan tersebut dengan jelas sekali.

Selesai mendengar ucapan mana, kontan saja dia melotot besar dan berteriak dengan gusar.

"Berani amat Cho Kiu-moay menuduh aku dengan kata-kata yang bukan-bukan ?"

Soat-ji segera mencibir.

"Memangnya aku salah berkata ? Hmmm, menurut enci Cho. kalian bertiga semuanya orang jahat, terutama sekali kau, jahatnya bukan kepalang dan ahli sekali dalam mencelakai orang secara licik. Dan kalian bertiga pula yang telah meracuni Kiam-cu kali ini."

Dari ketiga orang tersebut hanya si Naga tua berekor botak seorang yang telah menelan pil beracun, dengan cemas dia lantas berseru.

"Tuduhan ini benar-benar membuat hatiku penasaran, karena siaute sama sekali tidak mengetahui akan peristiwa tersebut."

"Hmm, masa kau tidak tahu? Diantara kalian bertiga, hanya kau seorang yang pandai menggunakan obat pemabuk, bukan demikian?"

"Meskipun siaute pandai menggugnakan obat pemaibuk, namun racuhn yang mengeram adalah racun yang bekerjanya lambat selama hidup siaute tak pernah menggunakan racun."

Bantah naga tua berekor botak cemas. Soat-ji tertawa cekikikan.

"Nah, sudah kalian dengar belum? Racun berdaya kerja lambat yang mengeram dalam tubuh Kiamcu kalian pun diketahui olehnya, heeh... hee... heeh... setan baru percaya kalau kau tidak turut serta didalam menyusun rencana busuk itu, makanya encie Cho suruh aku mencekoki pil beracun yang paling jahat di dunia ini untukmu seorang."

Kini ke empat jago pedang berpita hitam baru agak percaya dengan perkataan mana, namun semuanya tetap membungkam dalam seribu bahasa. Sambil menyeka keringat naga tua berekor botak kembali berseru.

"Bukankah kau mengatakan nona Cho hendak menyuruh aku melaksanakan persoalan? Bila persoalan telah selesai kulakukan maka kau akan memberi obat penawarnya ?"

"Benar, mungkin persoalan kedua yang harus kau lakukan adalah membuat pahala untuk menebus dosa."

Naga tua berekor botak menghembuskan napas panjang.

"Siaute pasti akan berusaha dengan segala kemampuan yang kumiliki untuk menyelesaikan tugas itu, biar harus terjun ke lautan api, aku.... aku tak akan menampik."

"Setelah nona Cho mencekoki pil beracun untukmu, tantu saja dia tak akan menghendaki nyawamu, dan dia suruh aku memantek tosu tua tersebut di atas pintu, mungkin hal ini dikarenakan dialah biang keladinya sehingga harus diselesaikan sendiri."

"Hei, kau mengatakan siapa biang keladinya ?"

Mendadak Ma koam tojin berteriak.

"Tentu saja kau, hei, naga tua berekor botak bukankah dia biang keladinya ?"

"Soal ini. .. siaute benar-benar tidak tahu."

Cepat-cepat naga tua berekor botak menjawab sambil menggaruk-garuk kepadanya yang tidak gatal.

"Kau bilang tidak tahu, kalau begitu pun dialah orangnya..."

Mendadak Ma-koan lojin mendongakkan kepalanya dan tertawa terbahak-bahak, tapi baru saja dia bergelak, lehernya yang bergetar segera menyentuh mata pedang menancap silang diatas lehernya, kontan saja lehernya tergores sehingga terluka, darah segar segera bercucuran dengan derasnya.

Mengetahui akan hal itu, buru-buru ia segera hentikan gelak tertawanya sampai ditengah jalan.

"Apa yang kau tertawakan?"

Soat ji segera menegur.

"Pinto mentertawakan Cho Kiu moay karena dia sudah salah taksir."

Kata Ma koan tojin sambil tertawa seram.

"Ban kiam hwecu masih muda dan tak mampu bekerja."

"Apakah maksud perkataanmu itu?"

Soat-ji membelalakkan matanya lebar-lebar. Ma koan tojin mendengus dingin.

"Sudah sepuluh tahun lebih para jago pedang berpita hitam berbakti kepada Ban kiam bwee, tapi sayang sekali orang-orang yang sudah berbakti sepuluh tahun keatas itu hampir seluruhnya telah diancam dan disandera orang pada dua puluh tahun sebelumnya, sehingga keadaan mereka pada hakekatnya tak bebas lagi."

Salah seorang diantara ke empat jago pedang berpita hitam itu segera melompat kedepan, kemudian bentaknya.

"Hidung kerbau tua, kau jangan memfitnah orang semaunya sendiri..!"

Bersama dengan terjangan tersebut, sekilas cahaya tajam segera menyambar kedepan langsung menusuk kedada Ma koan tojin.

Hampir setiap jago pedang berpita hitam memiliki ilmu pedang yang sangat lihay, bila berada dihari-hari biasa, mungkin Ma koan-tojin masih mampu untuk menghadapi mereka tapi sekarang, tubuhnya masib terpantek diatas pintu dan sama sekali tak berkutik.

Serangan dari jago pedang berpita hitam itu dilancarkan dengan kecepatan luar biasa, cahaya pedang menyambar lewat, tampaknya Ma koan tojin dari bukit Hong san bakal tewas di ujung pedangnya.

Namun baru saja jago pedang itu melompat bangun, mendadak ia mendengus tertahan kemudian ..."Blaam..."

Jatuh terduduk diatas tanah dan tak mampu merangkak bangun lagi.

Seperti terserang penyakit menular saja, tahu-tahu tiga orang jago pedang berpita hitam lainnya yang berada diluar pintu ikut bertumbangan pula keatas tanah, setelah itu tak seorangpun diantara mereka yang mampu merangkak bangun lagi.

Soat-ji hanya berdiri disisi meja sambil membelalakkan matanya lebar-lebar lalu serunya.

"Aah. dia hendak membunuhmu untuk melenyapkan saksi, hai! Naga tua berekor botak, kaukah yang telah menyelamatkan tosu tua tersebut..."

Dengan cepat Naga tua berekor botak menggelengkan kepalanya berulang kali.

"Sungguh aneh, pada hakekatnya siaute tak sempat untuk turun tangan !"

Sementara itu Ma koan tojin masih tetap memicingkan matanya, namun sorot mata yang terpancar kemudian setelah ia membuka matanya setajam sembilu, dengan suara menyeramkan dia menegur.

"Saudara To, dia telah dihajar jalan darahnya, coba kau bebaskan totokannya dan tanya kepadanya telah mendapat perintah dari siapa?"

Naga tua berekor botak mengiakan dan segera maju mendekat, setelah di periksanya dengan seksama, segera ditemukan sebutir batu kecil di atas jalan darah Hian-ki-hiat pada dada jago pedang itu.

Diam-diam ia menjadi amat terkejut, serunya tanpa terasa.

"Aaaah, Mi-lik-tih-hiat atau memukul jalan darah dengan butiran beras..."

Cepat dia menepuk bebas jalan darahnya sembari membentak keras.

"Ayo cepat bilang, kau mendapat perintah siapa?"

Baru saja tangannya yang menepuk bebas jalan darah orang itu digeserkan tempatnya mendadak sekujur tubuh jago pedang tersebut mengejang keras, lalu meleleh darah hitam dari mulutnya, setelah itu terkulailah dia dan tewas.

"Aaah, dia telah bunuh diri dengan menelan racun!"

Seru Naga tua berekor botak kemudian. ooooOOoooo Bab-54

"Kalau begitu dalam mulut orang-orang itu tentu sudah dipersiapkan obat beracun."

Ucap Ma koan tojin dengan suara menyeramkan.

"Yaa, dia takut membocorkan rahasianya maka ia baru bermaksud membunuhmu untuk menghilangkan saksi."

Kata Soat-ji.

"tapi kini dia sudah menelan racun dan mati, tentunya kau tak usah kuatir untuk berbicara segpuasnya bukan?"

Ma koan lojin tertawa seram.

"Setelah mereka siap turun tangan terhadap pinto, tentu saja pinto akan membeberkan pula rahasianya, tapi Ma koan dari bukit Hong san tak sudi berbicara selama ada di bawah ancaman orang, sekalipun akan kubeberkan juga mesti menunggu sampai kau mencabuti semua pedang pendek itu."

Kembali Soat-ji mencibirkan bibirnya.

"Dengan diriku, masalah mana tiada sangkut pautnya sama sekali, aku toh tidak menyuruh kau mengatakannya? Lebih baik tunggu saja sampai kedatangan enci Cho, hmm! Apa yang dikatakan enci Cho memang benar kau bukan otaknya, sudah pasti pelakunya, kalau tidak, mengapa orang lain tidak bermaksud membunuh naga tua berekor botak melainkan hendak turun tangan terhadap dirimu ?"

Kembali Ma koan tojin tertawa seram.

"Sayang sekali pinto tidak doyan dengan cara mengumpakan seperti ini, bila nona ingin bertanya, lebih baik tanyakan saja secara langsung kepada orang yang telah menelan racun ini, apa yang dia ketahui tak bakal lebih sedikit daripada apa yang pinto ketahui."

Soat-ji segera berpaling dan bertanya kepada Naga tua berekor botak.

"Kau benar benar tidak tahu ?"

Naga tua berekor botak menggaruk-garukkan kepalanya yang gatal, kemudian menyahut.

"Bila nona bersikeras ingin tahu, baiklah lohu akan mengutarakannya keluar, sesungguhnya semua persoalan ini adalah hasil kerja Chin Tay seng seorang."

"Bukankah Chin Tay seng adalah congkoan pasukan pita hitam? Mengapa dia dapat berkhianat?"

Dia seperti memahami semua seluk beluk dari perkumpulan Ban kiam hwee.."

"Dihadapan umum Chin Tay-seng telah mengutungi lengan kanan sendiri, terhadap Ban-kiam hweecu dia merasa tak berkenan dihati.

"Apa sangkut pautnya hal ini dengan Ban-kiam Hweecu?"

Tanya Soat-ji keheranan.

"Dengan nama serta kedudukan Ban kiam-hwee dalam dunia persilatan, dia merasa mengapa harus tunduk pula dibawah perintah Siu lo ci leng? Dia menganggap hal semacam ini merupakan ketidak becusan Ban kiam hweecu!"

"Ooh .,.. jadi dia bersekongkol dengan orang-orang Tok seh sia lantaran membenci Ban kiam Hweecu!"

"Bukan begitu, orang-orang Tok seh sia lah yang bersekongkol dengannya, konon pihak Tok seh sia mempunyai semacam rumput beracun yang dapat membantunya huntuk memulihkan kembali lengan kanannya yang lumpuh."

"Jadi dia bersedia menggabungkan diri dengan pihak Tok seh sia, sehingga Kiamcu sendiripun diracuni?"

"Bukan begitu, dia meracuni jago-jago berpita hitam lebih dulu."

Naga tua berekor botak menerangkan.

"Tapi, bukankah kawanan jago berpita hitam tiada yang keracunan...?"

Soat-ji kembali keheranan.

"Racun yang dicekokkan ketubuh kawanan jago berpita hitam itu konon tiada obat yang bisa memusnahkannya, tetapi setiap setengah bulan sekali harus mengambil sebutir obat penawar darinya, dengan begitu racun mana tak akan bekerja."

"Cara ini memang sangat liehay, kalau tidak, sulit memang baginya untuk mengendalikan segenap jago pedang berpita hitam."

Berbicara sampai disitu, dia lantas manggut-manggut dan berkata kembali.

"Obat beracun semacam ini tentu saja atas pemberian dari orang-orang Tok Seh sia, tapi apa sebabnya dia tidak mempergunakan tersebut terhadap Ban kiam hweecu dan para jago berpita hijau?"

Sebaliknya menggunakan racun yang lambat daya kerjanya?"

"Soal ini lohu kurang begitu tahu."

Ma koan tojin segera tertawa seram sambil menimbrung.

"Soal itu mah gampang sekali, racun itu hanya digunakan terhadap para jago berpita hitam karena tujuannya yang terutama adalah mengendalikan mereka, tentu saja dia tidak akan mampu untuk mengendalikan Ban kiam-hweeecu serta para jago berpita hijau."

"Benar juga perkataan ini, lantas mengapa pula dia melepaskan racun yang lamban daya kerjanya kedalam tubuh Ban kiam hweecu sekalian...?"

"Racun itu baru akan bekerja selewatnya tiga hari."

Kata Ma koan tojin sambil tertawa dingin.

"dia berharap Ban kiam hweecu bisa mengetahui kalau semua orang telah keracunan, dalam situasi yang kritis ini, dia pasti akan meminta bantuan ke Liong bun sia."

"Aku tidak mengerti dengan perkataan ini, bila dia membiarkan Ban kiam hweecu mengundang datang jago-jago lihaynya dari Liong bun sia sehingga kawanan jago itu berdatangan semua, bukankah hal ini justru tidak menguntungkan bagi posisinya..."

Ma-koan lojin mendengus dingin.

"Kekuatan inti dari Ban kiam-hwee, selain terdiri dari jago berpita hijau, masih ada jago-jago berpita merah dan putih, jumlah orang maupun ilmu silatnya masih jauh diatas kemampuan jago-jago berpita hitam, apabila mereka bisa berdatangan semua kesana, bukankah dia dapat bertindak dengan meringkus mereka sekaligus ?"

Tergetar keras tubuh Soat-ji setelah mendengar perkataan itu dengan wajah berubah serunya.

"Aaah, inilah siasat racun dari Chin Tay seng? sungguh berbahaya dan keji !"

"Siapa tidak keji dia bukan lelaki sejati."

Kata Ma-koan lojin sinis.

"dalam dunia persilatan memang berlaku tradisi siapa kuat dia menang, terhitung seberapa hal tersebut ?"

"Tak heran kalau enci Cho menahan kalian bertiga disini, rupanya kalian memang benar-benar mengetahui latar belakang dari siasat busuk tersebut..."

Ucap Soat-ji. Kemudian setelah mendongakkan kepala dan memandang cuaca, mendadak serunya lagi dengan gelisah.

"Aaaah, tengah hari sudah lewat, dan enci Cho sudah hampir pulang, aku belum menanak nasi untuknya."

Selesai berkata dia lantas membalikkan badan dan lari menuju ke dalam dapur. Wi Tiong hong dapat mendengar semua pembicaraan tersebut dengan jelas, segera pikirnya.

"Tampaknya semua pertanyaan yang diajukan Soat ji merupakan ajaran dari Cho Kiu moay, ini berarti Cho Kiu moay yang selalu berada di sekitar tempat ini, tak heran tahu ke empat jago pedang berpita hitam itu berhasil dibekuk dalam waktu singkat!"

Tarbayang kalau Cho Kiu moay berada disekitar sana, apa lagi Ma koan tojin bertiga serta ke tiga orang jago pedang berpita hitam telah di kuasai semua, dia pun kembali kepembaringan dengan perasaan lega, kemudian bersemedi lagi untuk secepatnya memulihkan kondisi tubuhnya.

Soat ji yang berada dalam dapur nampaknya repot sekali, terdengar suara merajang, suara memasak bergema tiada hentinya.

Tak selang berapa saat kemudian pintu kamar dibuka orang dan Soat ji muncul dengan membawa sebuah baki kayu, ucapnya sambil tersenyum manis.

"Siangkong, perutmu tentu sangat lapar, cepatlah bersantap dulu..."

"Terima kasih nona."

Kata Wi Tiong hong sambil melompat turun dari pembaringan. Merah selembar wajah Soat-ji karena jengah, ucapnya lagi dengan suara lirih.

"Mungkin masakanku kurang enak dan tidak mencocoki seleramu..."

"Bagaimana dengan nona sendiri? Tentunya kau belum bersantap bukan ?"

"Aah, tidak mengapa, aku harus mengantar nasi untuk ke dua orang kakakku dulu, terpaksa siangkong harus mengurusi diri sendiri."

"Silahkan nona, aku bisa membereskan diriku sendiri."

"Kalau begitu aku akan pergi dulu!"

Ucap Soat-ji sambil tersenyum manis.

Selesai berkata, dia membalikkan badan dan berjalan keluar.

Kali ini dia tidak merapatkan pintu kamarnya, sehingga Wi Tiong hong dapat menyaksikan keadaan diluar.

Gadis itu kembali kedapur dan mengambil sebuah keranjang bambu, kemudian setelah mengenakan topi lebar, selangkah demi selangkah dia meninggalkan ruangan.

"Nona, kau hendak kemana ?"

Naga tua berekor botak segera menegur cemas.

Oleh karena didalam perut bersarang sebutir pil beracun, mau tak mau dia pun harus menaruh perhatian khusus terhadap setiap gerak-gerik Soat-ji.

Sambil tertawa Soat ji segera menyahut.

"Aku hendak mengirim nasi untuk kakakku yang berada disawah, sebentar lagi nona Cho juga akan datang, tunggu saja disini dengan perasaan lega !"

Sembari berkata, dia lantas melangkah keluar dari pintu rumah.

"Hmmm ...pandai amat bersandiwara."

Gumam Ma koan tojin dengan suara menyeramkan sepeninggal gadis itu.

"padahal ilmu silat yang dimiliki dayang tersebut sama sekali tidak berada dibawah kepandaian kita semua !"

"Maksud toheng, dia adalah penyaruan diri anggota Ban kiam hwee...?"

Seru Naga tua berekor botak dengan perasaan terkesiap.

"Benar, pinto tidak bisa menduga siapa gerangan orang tersebut..."

"Mungkinkah Hek bun kun ?"

"Tidak mirip, wajaihnya sama sekali tidak memakai bahan obat-obatan untuk menyamar diri, usianya masih begitu muda, namun kesempurnaan tenaga dalam yang dimiliknya luar biasa, sungguh membuat hati orang tidak habis mengerti... ehmm, saudara To! Sekarang tentunya kau bisa membebaskan pinto bukan?"

"Maksud toheng, kau hendak menyuruh siaute untuk mencabut pedang tersebut ?"

"Bagi kemampuan yang dimiliki To heng, semestinya hal ini hanya merupakan suatu pekerjaan yang gampang sekali."

Naga tua berekor botak tertawa kering.

"Memang, bagi siaute mencabut ke enam bilah pedang tersebut merupakan pekerjaan yang gampang, tapi siapa pula yang akan memunahkan racun yang mengeram didalam perut siaute."

Baru selesai dia berkata, mendadadak terdengar serentetan suara merdu bergema memecahkan keheningan.

"Tidak sulit bila kau menginginkan obat penawar racun itu, cuma hal ini tergantung bagaimanakah penampilanmu sendiri !"

Menyusul suara tertawa itu tampak sesosok bayangan manusia melangkah masuk ke dalam rumah. Bagaikan berjumpa dengan bintang penolongnya, dengan girang Naga tua berekor botak berseru.

"Bagus, bagus sekali, akhirnya nona Cho muncul juga !"

Berbicara sampai disitu, mendadak dia teringat akan perkataan nona tersebut, maka sambil berseru tertahan, buru-buru dia membungkukkan badannya sembari berkata.

"Apa yang dipesankan nona, hamba telah melaksanakan dengan sebaik-baiknya, sekarang harap nona menyampaikan perintah yang kedua."

Cho Kiu moay tertawa terkekeh-kekeh.

"Bagus, sekarang lepaskan dulu orang itu !"

Tentu saja nona itu tidak ragu Ma koan tojin dari bukit Hong san itu bakal melarikan diri dari hadapannya.

Ketika Naga tua berekor botak saling bertatapan pandangan dengan nona tersebut, diam-diam ia merasa amat terperanjat segera pikirnya didalam hati.

"Bukankah dia pun sudah terkena racun bersifat lamban dari Chin Tay-seng sehingga tenaga dalamnya telah punah? justru karena itu Chin Tay seng baru mhengutus kami bertiga untuk datang membekuknya, tapi heran, mengapa dia tidak menunjukkan gejala keracunan?"

Kini, didalam perutnya telah bersarang sebutir pil beracun padahal tanpa ancaman yang bisa merenggut jiwa itu, asal kepandaian silat Cho Kiu moay belum punah saja, mustahil mereka bertiga mampu menandingi kelihayannya.

Mendengar perkataan tersebut, si Naga tua berekor botak segera mengiakan berulang kali, ia segera mendekati pintu rumah, dan mencabut ke enam bilah padang pendek itu, lalu dengan hormat sekali meletakkannya keatas meja.

Sementara itu, Cho Kiu moay telah mengambil tempat duduk dibelakang meja, sembari mendongakkan kepalanya kembali dia berkata.

"Sekarang, bebaskan pula totokan jalan darah Thi lohan!"

"Tadi hamba telah mencoba untuk membebaskan totokan jalan darahnya, namun tak berhasil membebaskan totokan Khong beng taysu."

"Tepuk dulu Leng tay hiatnya, kemudian baru menotok jalan darah Hian ki-hiat."

Perintah Cho Kiu moay dingin.

Naga tua berekor botak menurut, dia menepuk dahulu jalan darah Leng tay-hiat ditubuh Thi lohan Khong beng hwesio kemudian baru menotok jalan darah Hian ki-hiat pada dadanya.

Benar juga, baru saja jari tangannya menyodok, Thi lohan Khong beng hwesio telah memuntahkan segumpal riak kental, kemudian memutar biji matanya dan bangkit berdiri.

Cho Kiu moay sama sekali tidak memandang sekejap marapun kearahnya, dengan suara dingin ia berseru kemudian.

"Ma-koan tojin, kau tahu akan kesalahanmu?"

Mao koan tojin sudah malang melintang didataran Tionggoan banyak tahun, dia pun termashur karena kekejiannya, namun setelah berhadapan muka dengan nona berwajah cantik tapi berhati kejam ini, ia seolah-olah mati kutunya, pada hakekatnya dia seperti tak berani menyalahi nona tersebut.

Bukan hanya begitu, dilihat dari sikap Cho Kiu moay yang bebas dari pengaruh racun saja sudah membuatnya tak berani bertindak sembrono, dengan wajah serius dia lantas berkata hambar.

"Entah dosa apakah yang telah hamba lakukan?"

Cho Kiu moiu mendengus dingin.

"Kalian telah menggabungkan diri dengan Ban kiam hwee, berkat perhatian dan menghargai dari Kiam cu, kau bahkan diberi jabatan sebagai wakil congkoan, seharusnya atas kebaikan tersebut kau berbakti dan setia kepada partai, ketika Chin Tay seng meracuni Kiamcu, seharusnya kau yang tahu akan rahasia ini melaporkan jalannya peristiwa kepada pemimpinmu, mengapa kau tidak melaporkan hal mana kepada Kiamcu ?"

Thi lohan Khong beng hwesio segera merangkap sepasang lengannya didepan dada.

"Omiotohud ! Hamba sekalianpun telah diracuni pula oleh Chin congkoan, sesungguhnya kami sudah tidak bebas lagi."

"Semua persoalan yang kalian lakukan telah kuketahui."

Kata Cho Kiu moay dingin.

"Chin Tay seng berani mengkhianati perkumpulan, hmm! Tak nanti ia bisa meloloskan diri dari cengkeraman kami."

Berbicara sampai disitu, dia lantas bangun berdiri, pedang berpita kuningnya dilololoskan dari sarung dan diantara getaran tangannya.

"Cri ng !"

Di ringi suara nyaring, selapis cahaya bianglala berwarna perak telah muncul dihadapan mukanya.

Setajam sembilu sorot mata Cho Kiu moay, mendadak dia merentangkan tangannya ke depan, terdengar angin pedang menderu-deru, sekilas cahaya perak telah meluncur dari genggamannya.

Tatkala cahaya pedang itu hampir sampai didepan pintu, tampak tangannya membuat gerakan ditengah udara, pedang yang sudah meluncur sejauh tujuh depa tadi mendadak memutar arahnya dan meluncur kembali ketangannya dengan kecepatan luar biasa.

Cho Kiu-moay menyambut kembali pedangnya dan menancapkan ke atas tanah, lalu dari sakunya dia mengeluarkan dua butir pil berwarna hitam dan diletakkan di atas meja, serunya kemudian sambil tertawa dingin.

"Kalau toh kalian telah menelan pil beracun dari Chin Tay-seng, maka sekarang aku mendapat perintah dari Kiam-cu, disini terdapat dua butir pil beracun yang kalian telan, tentu saja kalian boleh menolak untuk menelan pil tersebut, cuma kamu harus mampu menerima sembilan buah seranganku, asal berhasil maka kalian boleh meninggalkan ruangan ini dalam keadaan hidup."

Walaupun ilmu melepaskan pedang terbang tadi belum mencapai titik kesempurnaan tapi bagaimanapun juga kepandaian tersebut merupakan ilmu pedang terbang yang jarang dijumpai dalam dunia persilatan.

Ma koan tojin dan Thio lohan Khong beng hwesio sama sekali tak menyangka kalau seorang dayang dari Ban kiam hwecu pun bisa mempelajari ilmu pedang yang sempurna.

Dia bilang, asal dia mampu bertahan sebanyak sembilan gebrakan maka mereka boleh mennpgalkan tempat tersebut, tentu saja ucapan mana bukan kosong belaka, akan tetapi merekapun tahu kalau tenaga gabungan mereka bertiga pun belum tentu akan berhasil memenangkan pertarungan itu.

Ma koan tojin memang pada dasarnya seorang manusia licik yang banyak tipu muslihatnya, setelah menyaksikan situasi disana, pelan-pelan dia maju mendekati meja dan mengambil pil itu sambil diletakkan pada telapak tangannya, kemudian sambil mendongakkan kepalanya dia bertanya.

"Nona, dapatkah kau memberitahu kepadaku, bagaimanakah sifat dari racun ini?"

"Dua belas jam kemudian racun itu baru akan mulai bekerja, sang korban akan merasakan tubuhnya membusuk sebelum akhirnya hancur dan meleleh menjadi air."

Mendengar ucapan mana, berubah hebat paras muka Thi-lohan Khong-beng hwesio.

Berkilat sinar tajam dari balik mata Ma-koan tojin yang sipit itu, tiba-tiba dia mengambil pil tersebut dan dimasukkan ke dalam mulutnya kemudian.

"kluuk !"

Ditelan ke dalam perut.

"Hamba siap menantikan perintah dari nona."

Katanya kemudian sambil membungkukkan badan.

Thi lohan Khong-beng hwesio tidak percaya kalau Ma-koan tojin yang dihari-hari biasa banyak curiga itu benar-benar akan menelan pil beracun itu, namun kalau dilihat dari mimik wajahnya kelihatan seakan-akan berbuat sungguhan, hatinya menjadi gelisah sekali.

Selembar wajahnya yang putih dan gemuk itu mulai dibasahi dengan peluh sebesar kacang kedelai.

Cho Kiu-moay pun tidak menyangka kalau Ma-koan tojin akan menelan pil tersebut sedemikian cepatnya, tapi ia sama sekali tidak memandang ke wajah Ma-koan tojin barang sekejap pun, sepasang matanya yang tajam bagaikan sembilu segera dialihkan ke wajah Thi lohan, setelah itu serunya sambil tertawa dingin.

"Taysu kau enggan menelan pil beracun ini berarti kau ada maksud untuk meminta pelajaran ?"

Saking gelisahnya, Thi-lohan membungkukkan badannya berulang kali.

"Hemm, hamba tidak berani."

"Kecuali menelan pil beracun itu, kau harus menyambut sembilan buah seranganku, hanya ada dua jalan ini yang bisa kau tempuh."

"Apakah saudara To juga telah menelan?"

Tanya Thi lohan sambil berpaling.

"Siaute telah menelan pil tersebut sedari tadi, aaai, bila dua belas jam kemudian racun itu akan bekerja, maka siaute bakal mampus satu jam lebih awal daripada kalian berdua."

"Saudara, kau... kau benar-benar telah menelan pil itu?"

Kembali Thi-lohan bertanya. Ma koan tojin tertawa seram.

"Apakah taysu tidak melihat jelas ?"

Cho Kiu moay segera tertawa terkekeh-kekeh.

"Heeh, heeeh, heeeh, dari dulu hingga sekarang, tiada manusia yang dapat lolos dari kematian, taysu, sudahkah kau mengambil keputusan ?"

Sambil bermuram durja Thi-lohan segera mengulurkan tangan, jari tangannya waktu itu sudah gemetar hampir kaku, sahutnya berulang kali.

"Kalau memang kalian berdua telah menelannya, berarti tinggal pinto, pinto seorang tentu saja aku aku pun harus menelannya juga."

Dengan memberanikan diri dia mengambil pil beracun itu dari atas meja, lalu sambil memejamkan matanya memasukkan pil itu kedalam mulut, Setelah itu ditelannya kedalam perut secara paksa.

Pada hakekatnya kejadian seperti ini jauh lebih menegangkan daripada suatu pertempuran, selain harus memeras otak, juga banyak mengeluarkan tenaga.

Begitu pil tadi masuk ke mulut, paras mukanya telah berubah menjadi pucat keabu-abuan, sepasang kakinya menjadi lemah dan gemetar keras.

Akhirnya sambil terkulai lemas diatas tanah, Thi lohan berkata dengan lemah.

"Omitohud, habis... habis sudah riwayat pinto ...? oooOooo Bab-55 MENANTI Thi lohan telah menelan pil beracun tersebut, Ma koan tajin baru menjura kepada Cho Kiu moay sembari berkata.

"Hamba berdua telah menurut perintah dengan menelan pil beracun itu, entah apakah yang hendak nona berikan sekarang ?"

Orang ini benar-benar berotak licik dan banyak sekali akal muslihatnya, sebelum Thi-lohan menelan pil tersebut, ia selalu menahan diri dan tidak mengucapkan sepatah katapun.

Setelah mendengar perkataan tersebut, tanpa terasa Tni lohan merasakan semangatnya berkobar kembali, buru-buru dia merangkak bangun dari atas tanah.

"Bila kalian bersedia mendengarkan perintahku, tentu saja ada persoalan yang harus kalian lakukan, cuma sebelum hal ini dilakukan aku hendak menerangkan dulu, sesungguhnya pil beracun itu tiada obat penawarnya."

Kontan tubuh Thi lohan yang gemuk itu lunglai dan roboh ke tanah dengan lemas, serunya sambil bermuram durja.

"Kalau memang begitu, mengapa kau tidak membiarkan kami mati keracunan saja?"

Naga tua berekor botak pun merasa sangat gelisah, serunya dengan suara parau.

"Nona, kau telah berjanji kepada hamba, mengapa kau hendak mengingkari janji?"

Sedangkan Ma-koan tojin segera menegur dengan kening berkerut.

"Taysu, saudara To, bagaimana sih kalian ini? Bagaimanapun juga kita toh sudah diracuni oleh Chin Tay-seng, cepat atau lambat bakal mati juga akibat keracunan, kini kita sudah berbakti dengan Ban kiam hwee, dan nona Cho pun ada tugas yang harus kita kerjakan, sekalipun dia memberi pil beracun lebih dulu, hal ini tidak menjadi masalah buat kita. Nah, nona Cho ada perintah apa? silahkan saja di utarakan !"

Sembari berkata, diam-diam dia mengerlingkan matanya berulang kali kearah mereka berdua. Naga tua berekor botak segera menyadari akan hal itu, buru-buru katanya pula sambil mengangguk.

"Perkataan saudara To memang benar, kecuali mati tiada urusan besar lainnya, silahkan nona memberi perintah."

"Kalau toh kalian berdua telah berkata demikian, apa lagi yang bisa pinto....pinto ucapkan?"

Sambung Thi lohan. Cho Kiu moay segera mendengus.

"Sudah kukatakan kalau tiada obat penawarnya, hal ini benar-benar memang tiada obat penawarnya, tapi asal kalian bisa melaksanakan tugas tersebut dengan baik, setelah kucekoki kalian dengan racun tentu saja mempunyai cara pula untuk memunahkan racun itu, coba kalian lihat benda apakah ini?"

Pelan-pelan dia mengeluarkan sebatang pena kemala berwarna hijau dari sakunya, kemudian diperlihatkan dihadapan ketiga orang itu.

Mencorong sinar terang dari balik mata si Naga tua berekor botak, serunya tertahan.

"Aaah, Lou bun si!"

Thi-lohan melompat bangun pula dari atas tanah, sambil merangkap tangannya di depan tiada ia berseru.

"Buddha maha pengasih, pinceng tertolong sudah dari ancaman maut. ..!"

Cho Kiu moay menyimpan kembali pena kemala tersebut kemudian katanya lagi.

"Lou bun si dapat memunahkan segala macam racun keji yang ada di dunia ini, bila tugas kalian sudah selesai dikerjakan, bukan saja racun yang kalian telan akan segera punah, sekalipun racun yang mengeram dalam tubuh kalian akibat ulah dari Chin Tay-seng pun dapat dipunahkan sama sekali."

Ma koan tojin segera manggut-manggut.

"Hamba toh sudah bilang, setelah menggabungkan diri dengan Ban kiam hwe, tentu saja selama hidup tak akan berubah pendirian lagi, bila nona ada urusan silahkan saja disampaikan."

Dari sakunya Cho Kiu moay mengeluarkan sepucuk surat rahasia, kemudian dengan wajah serius katanya.

"Surat ini menyangkut masalah gagal atau berhasilnya perkumpulan kita, karena itu harap Hu congkoan melaksanakan semua tugas sesuai dengan apa yang kutulis dalam surat rahasia ini, bila ada kesalahan maka akibatnya cukup luar biasa."

Ma koan tojin menerima surat rahasia itu sembari berjanji.

"Bila hamba melakukan suatu kesalahan, Ma koan tojin dari Hong san akan mempersembahkan batok kepalanya!"

Cho Kiu moay tertawa.

"Jika Ban kiam hwee bisa membebaskan diri dari mara bahaya dan menjadi selamat, maka pahala Hu congkoan lah yang terutama, aku dapat mengajukan kepada kiamcu agar menaikkan pangkatmu, sudah barang tentu pada saat itu kedudukan congkoan pedang pita hitam akan menjadi milik Hu congkoan."

"Terima kasih atas perhatiannya dari nona."

Buru-buru Ma koan tojin berseru.

"Biar harus terjun ke lautan api pun pinceng tak akan menampik."

Sambung Thi lohan Khong beng hwesio pula.

"nona, tugas apa yang hendak kau berikan kepada pinceng?"

"Taysu dan Hu congkoan serombongan dalam surat itu sudah kujelaskan semua persoalan secara terperinci. nah, kalian boleh berangkat lebih dulu."

Ma-koan tojin menyimpan surat itu kemudian bersama Thi Lohan berangkat meninggalkan ruangan.

Baru tiba di depan pintu, dia saksikan didepan pintu telah berdiri menunggu empat orang jago pedang berpita hitam.

Tidak, disamping mereka berdiri pula seorang kakek berkepala botak, berwajah merah dan memelihara jenggot kambing.

Ketika menyaksikan Ma koan tojin dan Thi lohan telah berjalan keluar dari ruangan gubuk, orang itu segera maju menyongsong lalu sambil tersenyum dan menjura katanya.

"To-heng, taysu, rupanya kalian bersembunyi dirumah ini, bikin siaute kebingungan saja."

Menjumpai orang ini, Ma koan tojin serta Thi lohan Khong Beng hwesio menjadi terperanjat sekali.

Di dalam rumah gubuk itu terdapat seorang Naga tua berekor botak To Sam-seng yang telah menelan pil beracun, sedang dari luar rumah gubuk muncul kembali seorang Naga tua berekor botak To Sam-seng.

Kejadian tersebut kontan saja membuat dua orang jago kawakan yang sudah berpengalaman ini dibikin kebingun setengah mati.

Sesungguhnya dari dua orang Naga tua berekor botak yang berada diluar rumah dan di dalam rumah, manakah yang asli dan mana pula yang gadungan ?"

Soal asli gadungannya bisa tak usah diurus, tapi yang terpenting sekarang adalah orang ini seorang teman atau musuh ?

Semgentara kedua oriang itu masih bherdiri tertegun, Naga tua berekor botak itu sudah maju kemuka sambil tertawa misterius, kemudian ujarnya.

"Bukankah kalian berdua mendapat perintah dari nona Cho untuk melaksanakan pekerjaan? Untuk sementara waktu siaute akan ditugaskan di bawah komando Hu-congkoan dan menuruti perkataan kalian berdua..."

Ma koan tojin adalah seseorang yang banyak menaruh curiga baru saja dia akan kembali kerumah untuk minta petunjuk dari Cho Kiu moay.

Mendadak terdengar suara dari Cho Kiu moay telah berkumandang dari dalam rumah.

"Hu congkoan tak usah banyak curiga, bawa saja mereka pergi bersamamu."

Sepeninggalan Ma koan tojin sekalian, si-Naga tua berekor botak To Sam seng baru tak sanggup menahan sabarnya, dia segera menegur.

"Nona, hamba..."

"Tak usah bertanya..."

Tukas Cho Kiu moay sambil tertawa.

"tugasmu tidak kalah pentingnya dari mereka, aku akan serahkan pula sepucuk surat rahasia kepadamu, laksanakan saja menurut apa yang kutulis didalam surat tersebut."

Selesai berkata benar juga, dia mengeluarkan sepucuk surat rahasia dari sakunya dan diangsurkan kedepan.

Setelah menerima surat rahasia itu, Naga tua berekor botak baru membungkukkan badan sembari berkata.

"Kalau begitu hamba akan memohon diri lebih dulu."

"Tidak, kau tak boleh berangkat sekarang, kini masuk dulu ke kamar sebelah kanan dan baca isi surat rahasia tersebut hingga selesai, kemudian bakarlah surat mana dengan api."

Naga tua berekor botak To Sam seng tidak mengetahui obat apa yang dijual dalam cupu-cupunya, terpaksa menurut perintah dan menuju ke kamar sebelah kanan.

Oleh karena pintu kamar Wi Tiong-hong terbentang lebar, maka si anak muda tersebut dapat menyaksikan semua kejadian dengan jelas, diam-diam ia merasa kagum sekali.

Nona Cho selain pandai ilmu siasat perang, juga pandai mengatur persiapan, tampaknya dia seperti mempunyai rencana yang matang sekali.

Begitulah, selesai memberikan perintahnya, Cho Kiu moay membenahi rambutnya dan menuju kedalam kamar, sambil mendongakan kepala dia bertanya.

"Wi shauhiap, bagaimanakah perasaanmu sekarang?"

"Aku sudah merasa sembuh kembali"

Cho Kiu-moay tertawa.

"Bagus sekali kalau begitu."

Katanya.

"mungkin malam nanti masih ada persoalan lagi, sauhiap, pedangmu kusembunyikan dibawah pembaringan, mumpung masih ada waktu setengah hari. baik-baiklah beristirahat dulu, sekarang aku harus pergi karena masih ada urusan lain."

"Nona. silahkan saja pergi."

Ucap Wi Tiong-hong, Cho Kiu-moay berpaling sambil tertawa, kemudian membalikkan badan dan berlalu dari situ.

Pada saat inilah, dari kejauhan sana berkumandang suara derap kaki kuda yang amat ramai, suara tersebut makin lama semakin mendekati rumah gubuk ini.

Tak lama kemudian, suara tadi telah sampai didepan pintu, kemudian tampak seorang kakek kurus kecil berjubah hijau dengan mengempit sebuah kotak emas berjalanl masuk ke dalam.

Kepada Cho Kiu moay dia memberi hormat lalu katanya.

"Sesudah memperoleh perintah, hamba segera menyusul kemari, dibandingkan dengan Kiam..."

"Thia sianseng bisa sampai disini pada saatnya, hal ini memang paling baik..."

Tukas Cho Kiu moay cepat. Kakek kurus kecil itu berseru tertahan, lalu sahutnya sambil tertawa.

"Yaa, kalau dihitung hitung masih lebih awal setengah jam dari pada waktu yang ditentukan nona, sebenarnya ada urusan penting apa?"

"Bukankah kau pernah berjumpa dengan Hek sat seng Sah Thian yu..?"

"Hamba bukan cuma sekali saja bertemu dengannya."

Sahut kakek kurus kecil itu tertawa.

"Masih ingat?"

Kakek kurus kecil itu mengangkat bahu.

"Asal hamba pernah bersua sekali saja, maka selamanya tak akan melupakan kembali."

"Bagus sekali, kalau begitu ikutilah aku."

Selesai berkata dia membalikkan badan dan menuju ke kamar sebelah kanan.

Buru-buru kakek kurus kecil itu masuk pula ke dalam ruangan tersebut, kurang lebih seperminum teh kemudian Cho Kiu moay baru keluar dari kamar sebelah kanan dan buru-buru menuju keluar pintu.

Matahari hampir tenggelam di ujung langit, Soat-ji dengan membawa keranjang bambu pulang dari sawah, kembali dia sibuk didapur untuk menanak nasi dan membuat sayur.

SEBELUM hari menjadi gelap, Soat-ji muncul dikamar Wi Tiong-hong sambil menghidangkan hidangan malam, katanya kemudian.

"Tadi nona Cho telah berpesan, sebelum malam tiba nanti mungkin ada kejadian disini, harap siangkong selekasnya bersantap dulu !"

Tampaknya ia sibuk sekali, setelah meletakkan baki itu ke meja, ia segera mengundurkan diri.

Seorang diri Wi Tiong hong menyantap hidangan malamnya, kemudian baru mengambil pedang dari bawah pembaringan tampak pada gagang pedang tersebut terdapat pita berwarna merah.

"Bagus sekali."

Ia segera berpikir.

"tak nyana kalau aku bakal menjadi jago pedang berpita merahnya !"

Mendadak tergerak hatinya, dia berpikir.

"Sudah tentu Cho Kiu moay tak akan memasang pita merah pada gagang pedangku bila tanpa sebab musabab tertentu, ini berarti perbuatannya pasti mempunyai maksud-maksud tertentu."

Berpikir demikian, ia lantas meletakkan pedang itu keatas pembaringan, kemudian duduk sambil bersandar.

Cuaca makin lama semakin bertambah gelap, suasana remang-remang sudah menyelimuti seluruh jagad.

Ditengah remang-remangnya cuaca inilah, tampak sesosok bayangan manusia dengan gerakan tubuh yang paling cepat meluncur ke arah rumah gubuk tersebut.

Gerakan tubuh orang itu cepat sekali, dalam waktu singkat ia sudah tiba didepan rumah gubuk itu, mendadak kakinya menjadi lemas kemudian roboh terjengkang ke atas tanah.

Waktu itu Soat-ji sedang mencuci mangkuk didalam dapur, ketika mendengar suara benturan keras itu, tergopoh-gopoh dia lari keluar begitu menyaksikan orang itu tergeletak ditanah, dengan terkejut segera serunya.

"Kenapa dengan orang ini ? Koko, kalian cepat datang kemari !"

Wi Tiong hong yang mendengar suara itu segera membuka pintu siap beranjak keluar. Tapi sebelum dia melangkah keluar, terdengar Soat ji telah berseru dengan nada gelisah.

"Siangkong, kau jangan turut keluar, bila kau keluar maka urusan akan menjadi terbengkalai!"

Karena mendengar perkataan itu terpaksa Wi Tiong hong harus mengundurkan diri kedalam ruangan lagi.

Dari balik bilik nomor satu disebelah kanan rumah gubuk tampak ada dua orang lelaki sedang berjalan pulang sambil membawa cangkul, ketika mendengar teriakan dari adiknya, mereka segera mempercepat langkahnya memburu datang.

Soat-ji segera memeriksa dengusan napas orang itu, kemudian sambil mendongakkan kepalanya dia berseru.

"Dia masih bisa bernapas, ia belum mati."

Ketika dua orang itu tiba di depan rumah, Soat ji berseru kembali.

"Koko kalian cepat menggotongnya masuk kerumah, aku akan mengambil semangkuk kuah."

Selesai berkata dia lantas masuk ke dalam rumah dengan cepat, Ketika melewati depan pintu ruangan Wi Tiong hong, mendadak bisiknya dengan suara lirih.

"Siangkong, cepat kau tutup pintu kamarmu, bila aku tidak memanggilmu. harap kau jangan keluar."

Wi Tiong hong tahu kalau perempuan ini sangat cerdas dan cekatan, mendengar perkataan tersebut, dia segera menutup pintu kamarnya rapat-rapat.

Dua orang lelaki petani itu segera meletakkan cangkulnya yang kemudian menggotong orang itu masuk ke ruang tamu dan membaringkannya keatas lantai, setelah itu memasang lentera.

Agaknya ke dua orang itu agak gelagapan dan gugup, yang seorang memeriksa dadanya sedangkan yang lain menguruti otot kakinya, namun orang itu tetap tergeletak tak sadarkan diri.

Wi Tiong hong yang menyaksikan kejadian tersebut diam-diam menjadi keheranan, dia tak habis mengerti apa sebabnya Soat-ji melarangnya keluar dari ruangan tersebut?

Tak selang berapa saat kemudian.

Soat-ji telah muncul kembali dengan membawa semangkuk kuah yang masih panas.

Tampaknya dia dapat menyaksikan sikap gugup dan gelagapan dari kedua orang kakaknya, tanpa terasa dia tertawa cekikikan.

"Kalau begini cara kalian sama sekali tak ada gunanya, coba lolohkan dulu kuah tersebut kemulutnya, bila keadaan kurang beres, kita harus mencari Ong tay hu dikota."

Seusai berkata, dia lantas berjongkok sambil teriaknya lagi.

"Jiko, cepat kau pentangkan mulutnya !"

Jiko yang berada disisinya segera mendongkel mulut orang itu, dengan susah payah akhirnya dia berhasil juga membuka mulut orang ini."

Soat ji segera berjongkok keatas tanah dari menyuapi orang itu dengan kuah, setelah itu katanya lagi.

"Kasihan benar orang ini, bahkan untuk menelan saja tidak mampu toako, coba ambil ah sebuah sumpit dan tahanlah kepalanya. Toako yang berdiri disampingnya segera mengiakan, dengan cepat dia lari masuk kedalam dapur. Pada saat itulah terasa angin lembut berhembus lewat dalam ruangan, tiba-tiba saja disisi nona Soat-ji telah muncul seorang tosu kecil berbaju hitam. Sembari menghadang, tiba-tiba orang itu berseru.

"Lebih baik kalian menyingkir saja."

Soat ji tidak tahu kalau orang yang berada disisinya bukan toako, tanpa berpaling dia mengulurkan tangan kirinya sembari berseru.

"Cepat serahkan sumpit itu kepadaku."

Kemudian dia mendorong pergelangan tangan orang itu. Tojin kecil berbaju hitam itu mendehem sinis, kemudian serunya secara tiba-tiba.

"Aku suruh kalian cepat menyingkir !"

Soat ji baru terkejut setelah meidengar seruan itu, buru-buru dia menarik kembali telapak tangannya.

Tangannya yang ditarik itu bukan di tarik kebelakang, melainkan menggunakan kesempatan tersebut kelima jari tangannya menyambar dan mencengkeram pergelangan tangan kanan tosu kecil berbaju hitam itu, kemudian sambil bangkit berdiri tegurnya.

"Siapakah kau ?"

Tojiu berbaju hitam itu tidak mengira kalau gadis itu bakal mencengkeram pergelangan tangannya, setelah tertegun sambil tertawa dingin tangan kirinya diayunkan ke depan menghantam tubuh Soat ji.

Namun Soat ji mencengkeram pergelahngan tangan kanannya erat-erat, sambil miringkan badannya dia mengayunkan kuah dalam mangkuk ditangan kanannya dan diguyurkan ke wajah tojin tersebut.

oooOooo Bab-56

"AAAH, siapa kau? berani memukul orang?"

Teriaknya keras keras.

"Toako, jiko, cepat tutup pintu rapat rapat, jangan biarkan dia kabur keluar !"

Wi Tiong hong merasa terkejut sekali, diam-diam pikirnya.

"Mungkinkah orang ini adalah Sah Thian-yu?"

Tapi Soat ji telah berpesan kepadanya agar jangan keluar dari ruangan, meski dia merasa keheranan namun pemuda itu merasa lebih baik memang jangan keluar.

Sang toako dan jiko tersebut benar-benar lari menuju kepintu setelah mendengar teriakan dari Soat-ji.

Terdengar sang Jiko berseru.

"Adikku, diluar pintu masih ada empat orang tosu kecil."

"Kalau begitu berjagalah dimuka pintu dan jangan biarkan mereka masuk kemari."

Toako dan Jiko segera mengiakan, mereka benar-benar menutup pintu dan berjaga diluar pintu.

Sementara itu, serangan yang dilancarkan Sah Thian yu berhasil dihindari Soat ji, tapi guyuran kuah panas dari Soat ji segera mengenai seluruh tubuh Sah Thian yu.

Tampaknya Sah Thian yu tak mengira kalau seorang nona dusun bisa begitu cekatan, meski dia sudah mengerahkan tenaga, nyatanya gagal untuk melepaskan diri.

Dengan perasaan kaget segera bentaknya.

"Siapakah kau sebenarnya? Bila tidak lepas tangan lagi, jangan salahkan kalau aku takkan mengenal ampun lagi!"

Sembari mencengkeram pergelangan tangan kanannya erat-erat, Soat-ji tertawa geli.

"Sah Thian yu!"

Serunya lantang.

"mungkin kau tak kenal aku, tapi aku mengenalmu!"

Selesai berkata dia lantas tertawa terpingkal-pingkal kemudian membungkukkan tubuhnya, tapi disaat dia berdiri kembali....Sambil tertawa geram Sah Thian yu berseru.

"Aku mengira siapa, ternyata Hek bun kun nona Cho!"

Rupanya setelah Soat-ji membungkukkan badan tadi, kini telah berubah menjadi Hek bun kun Cho Kiu moay.

Ternyata Hek bun kun Cho Kiu moay adalah Soat-ji.

Dengan sorot mata memancarkan cahaya tajam, Cho Kiu moay berseru sambil tertawa dingin.

"Sayang kau terlambat mengetahui hal ini!"

Sah Thian yu tertawa seram.

"Nona Cho, jangan lupa kalau banyak jago dari Ban kiam hwee kalian telah keracunan hebat, termasuk hweecu kalian juga."

"Hal ini tidak usah kau pusingkan."

Sahut Cho Kiu moay tertawa.

"Tampaknya nona ingin beradu jiwa dengan siaute?"

Cho Kiu moay tertawa merdu.

"Kini, kau sudah tiada kesempatan lagi untuk beradu jiwa denganku."

Oleh karena pergelangan tangan kanannya sudah dicengkeram lawan lebih dulu, sudah barang tentu Sah Thian yu jauh lebih menderita rugi daripada lawannya, mendengar ucapan mana dia lantas tertawa seram.

"Heeh.... heeh... aku orang she Sah tak percaya kalau nona Cho bisa berbuat sesuatu terhadap diriku."

Ditengah bentakan mana, pergelangan tangan kirinya di ayunkan, jari tangannya bagaikan tombak menyerang Cho Kiu moay dengan kecepatan bagaikan sambaran kilat.

Angin serangan jari yang tajam menciptakan selapis bayangan jari tangan yang menyilaukan mata, hampir saja seluruh jalan darah ditubuh Cho Kiu moay terkurung rapat.

Cho Kiu moay tertawa dingin, tangan kanannya segera membuat gerakan jurus pedang, dengan gerakan Han-bwee eng cun (bunga bwee menyambut musim semi) dia babat miring kedepan.

Babatan tersebut segera menimbulkan deruan angin pedang yang tajam dan mengerikan, seketika itu juga bayangan jari tangan dari Sah Thian-yu hancur berantakan.

Sah Thian-yu sangat terperanjat, segera pikirnya.

"Tak nyana kalau jurus serangan perempuan ini mengandung bawa pedang yang mengerikan, dari sini bisa diketahui sampai dimanakah kesempurnaan ilmu pedang yang dimilikinya, aku tak boleh memandang enteng akan dirinya !"

Berpikir demikian, tiba-tiba saja serangan jari tangannya berubah menjadi serangan telapak tangan, secara beruntun dia melepaskan delapan buah serangan berantai.

Dengan tangan kanan menyambut serangan lawan tentu saja gerakan Cho Kiu moay jauh lebih leluasa dan bebas, secara beruntun dia menggerakan tangannya untuk membendung kedelapan buah serangannya, lalu melancarkan tiga buah serangan balasan.

Sebaliknya pergelangan tangan kanan Sah Thian-yu dicengkeram Cho Kiu moay dengan erat, dengan demikian masing-masing pihak hanya mengandalkan tangan sebelah untuk saling melancarkan serangan, kecepatan geraknya membuat orang tak sanggup untuk mengikutinya.

Dalam waktu singkat, dia sudah melancarkan dua puluh jurus lebih.

Sudah banyak tahun Sah Thian yu termashur dalam dunia persilatan, dia merupakan salah satu diantara Su tok thian ong (Empat racun-raja langit) dari Tok seh sia, sudah barang tentu ilmu silat yang dimilikinya sangat tinggi.

Akan tetapi setelah bertarung sekian lama dengan Cho Kiu moay, dijumpainya makin lama ilmu silat yang dimiliki gadis itu semakin tinggi, jurus serangan yang digunakan pun makin bertarung semakin bertambah aneh.

Dimana serangannya menyambar, angin serangan tajam bagaikan pedang, hawa udara pun serasa dingin mencekam, hatinya kontan menjadi bergidik.

Serangan yang dilancarkan Cho Kiu moay sangat aneh, meskipun bertarung dengan tangan kosong.

namun pergelangan tangan kanan nya bagaikan sebilah pedang begitu enteng, lincah dan luar biasa.

Empat puluh gebrakan kemudian, Sah Thian yu sudah didesak sehingga cuma bisa menangkis belaka tanpa memiliki kekuatan untuk melancarkan serangan balasan.

Sembari turun tangan, Cho Kiu moay berseru sambil tertawa merdu.

"Sah Thian yu, sekarang tentunya kau sudah percaya bukan, sudah kukatakan kalau kau tidak mempunyai kesempatan untuk beradu jiwa, benar bukan..."

Berbicara sampai disitu, dia lantas berpaling kearah kiri kanan ruangan dan berteriak lagi.

"Wi sauhiap, Thia Sianseng, sekarang kalian boleh keluar semua...!"

Mendengar teriakan mana, Wi Tiong hong membuka pintu sambil berjalan keluar, sedangkan dari ruang depan pun muncul seorang kakek kurus berbaju hijau yang menjinjing sebuah peti emas kecil.

Pada saat itu juga dari dalam kamar sebelah kanan menerjang keluar sesosok bayangan hitam dan langsung kabur ke arah pintu luar.

Tampaknya dia tak sempat untuk membuka pintu lagi, begitu sampai di depan pintu kakinya segera menjejak...

"Blaaam !"

Pintu tersebut segera tertendang sehingga hancur menjadi empat-lima bagian, kemudian dengan membuat sebuah lubang besar, dia menerobos keluar dari sana.

Wi Tiong hong hanya melihat orang itu berbaju hitam, berperawakan kurus kecil, belum sempat melihat jelas wajahnya, orang itu sudah kabur keluar.

Untuk sesaat dia tak tahu siapakah orang yang kabur itu, baru saja akan mengejar...

Tiba-tiba terdengar Cho Kiu moay berseru sambil tertawa terkekeh-kekeh.

"Wi sauhiap, kuserahkan orang ini kepadamu."

Dengan meliukkan pinggangnya tahu-tahu dia sudah menyelinap kehadapan Wi Tiong-hong, kemudian tangan kirinya ditarik, tahu-tahu dia sudah menyeret Sah Thian yu ke depan si anak muda tersebut.

Wi Tiong hong sangat terkejut melihat Sah Thian-yu disodorkan kehadapannya oleh gadis tersebut, buru-buru dia menggerakkan tangannya dan mencengkeram pergelangan tangan Sah Thian-yu.

Semua kejadian tersebut dilakukan dengan kecepatan bagaikan sambaran kilat, begitu melepaskan Sah Thian yu, Cho Kiu moay telah meluncur kedepan bagaikan anak panah yang terlepas dari busurnya.

Sembari menerobos keluar melalui lubang itu, bentaknya keras-keras.

"Sah Thian-yu, kau hendak kabur kemana?"

Wi Tiong hong menjadi tertegun.

"Kalau yang kabur adalah Sah Thian yu, lantas siapakah yang dia serahkan kepadaku ini ?". Berpikir demikian dia lantas mendongakkan kepalanya sambil menengok ke depan tampak orang yang dicengkeram pergelangan tangan kanannya itu kalau bukan Hek-sat seng kun Sah Thian-yu lantas siapa lagi ? Tampak lengan kirinya terkulai kebawah kecuali melotot gusar kearahnya, dia sama sekali tak mampu meronta, sudah jelas jalan darahnya telah ditotok oleh Cho Kiu moay. Dia masih belum merasa lega, dengan cepat ditotoknya kembali dua buah jalan darahnya, kemudian baru melepaskan cengkeramannya. Sekarang dia baru dapat melihat jelas orang yang tergeletak diatas tanah itu, baik wajah mau pun potongan badan ternyata persis sekali dengan dirinya, tanpa terasa sekali lagi dia menjadi tertegun. Tapi setelah teringat akan perkataan dari Cho Kiu moay semalam, dengan cepat dia sadar kembali apa yang telah terjadi. Rupanya orang ini adalah salah seorang anggota Buyung Siu, congkoan pedang pita hijau yang menyaru sebagai dirinya dan kemudian ditangkap oleh para jago Tok-seh sia. Kini orang tersebut berada dalam keadaan tak sadar, mungkin sudah diracuni mereka. Tampak kakek berjubah hijau yang menenteng peti emas itu berdiri disitu tanpa mengucapkan sepatah kata pun, kemudian membuka pintu yang jebol dan berjalan keluar. Tak selang berapa saat kemudian terdengar suara derap kaki kuda berkumandang memecahkan keheningan makin lama suara itu semakin menjauh, rupanya dia sudah berlalu dengan menunggang kuda tersebut. Saat itulah dari luar pintu berjalan masuk Toako dan Jiko dari Soat-ji yang menyaru sebagai dua lelaki petani, dengan cepat mereka menyeret Sah Thian yu memasuki ruangan sebelah kanan. Wi Tiong hong segera berpikir.

"Cho Kiu moay telah menyaru sebagai Soat-ji, kalau begitu dua orang lelaki ini adalah penyaruan dari jago-jago pedang berpita hijau. Bagaikan segulung angin Cho Kiu moay meluncur masuk kedalam ruangan, sedangkan dua orang lelaki itu sudah mundur kedalam ruang kanan dan menutup pintu kamar rapat2.

"Thia sianseng telah pergi?"

Tanya Cho Kiu moay sambil berpaling kearah Wi Tiong hong. Wi Tiong hong tahu kalau dia sedang menanyakan si orang kakek berbaju hijau itu, sambil manggut-manggut sahutnya.

"Sudah pergi, apakah nona berhasil menyusulnya ?"

"Tidak. biarkan saja dia pergi!"

Kata Cho-Kiu moay kemudian sambil tertawa hambar.

"Sebenarnya siapa sih yang berhasil melarikan diri itu?"

Kembali Cho Kiu moay tertawa.

"Dia toh sudah berhasil melarikan diri, apa gunanya untuk dibicarakan lagi?"

Sembari berkata dia berjalan mendekati jago pedang berpita hijau yang menyaru sebagai Wi Tiong hong itu, kemudian sembari berpaling dan tertawa katanya.

"Bukankah sudah kukatakan dia akan kembali sendiri kemari."

"Dia telah keracunan?"

"Itu mah gampang"

Kata Cho Kiu moay, Sembari berkata, kepada kedua orang lelaki berdandan petani itu perintahnya.

"Cepat ambilkan air"

Orang yang menyaru sebagai Sam-ko itu mengiakan, lalu mengambil setengah mangkuk air dan dipersembahkan.

Cho Kiu moay menerima mangkuk berisi air itu, kemudian dengan berhati-hati sekali mencelupkan Lou bun si tersebut kedalam mangkuk berisi air itu, setelah itu dia baru membungkukkan badan sambil mengangkat pena Lou bun si ke udara, dan setelah itu ditujukan kemulut jajo pedang berpita hijau yang tak sadarkan diri itu.

Tak selang beberapa saat kemudian dari ujung pena itu menetes keluar setitik butiran air berwarna hijau pupus dan menetes kemulut jago pedang berpita hijau itu.

Setelah meneteskan air itu tiga tetes, Cho Kiu-moay bangkit berdiri dan membuang sisa airnya, kemudian menyimpan Lou bun si itu ke dalam sakunya.

Kepada Wi Tiong hong katanya kemudian sambil tertawa.

"Wi sauhiap tak usah kuatir, selewatnya besok, akan kuserahkan kembali Lou bun si ini kepadamu."

Sesungguhnya Wi Tiong hong sama sekali tidak mengetahui kegunaan dari Lou bun si tersebut, tanpa terasa dia bertanya.

"Cukupkah hanya tiga tetes ?"

"Lou bun si merupakan benda yang khusus untuk memunahkan berbagai macam racun di dunia ini, hanya tiga tetes saja sesungguhnya sudah lebih dari cukup bahkan selama tiga tahun dia tidak akan mempan diracuni orang lagi, bila terlalu banyak dipakai, bukankah hanya membuang mestika dengan percuma?"

"Nona membuang sisa air tersebut dari dalam pena, apakah ini tidak lebih pantas disayangkan?"

"Mendengar perkataan itu, Cho Kiu moay tertawa terkekeh-kekeh.

"Rupanya kau masih belum mengetahui kegunaan dan Lou bun si tersebut, sebenarnya yang kubuang itu hanya air biasa saja, air yang sudah masuk ke batang pena baru berkasiat memunahkan racun apabila menetes keluarnya melalui ujung pena."

"Ooooh, rupanya begitu."

Sementara pembicaraan masih berlangsung, tiba-tiba jago pedang berpita hijau itu membuka matanya dan duduk di atas tanah, begitu menyaksikan kehadiran Cho Kiu moay disitu, dia menggerakkan bibirnya seperti hendak mengucapkan sesuatu.

Cepat-cepat Cho Kiu moay mencegah.

"Racun kejimu baru saja punah, cepat atur pernapasan dan jangan sembarangan berbicara."

Jago pedang berpita hijau manggut-manggut, benar juga, dia memejamkan matanya lalu duduk bersemedi dan mengatur pernapasan.

Cho Kiu moay menghembuskan napas panjang, sambil memandang dua orang lelaki berdandan petani itu katanya sambil tertawa.

"Pekerjaan yang kita lakukan, akhirnya berhasil juga diselesaikan."

"Yah, kesemuanya ini berkat perhitungan nona yang hebat."

Seru dua orang lelaki itu sembari menjura.

"Ilmu menyaru muka dari nona sungguh luar biasa sekali."

Puji Wi Tiong hong pula.

"belum pernah terbayang olehku bahwasanya nona Soat-ji sesungguhnya cuma nona, aku malah menyangka disini benar-benar terdapat nona Soat-ji sungguhan."

"Siapa bilang tak ada orangnya ? Dikemudian hari kau akan berjumpa sendiri dengannya."

Seru Cho Kiu-moay sambil tertawa.

"Tentu saja orangnya adalah nona sendiri?"

"Bukan."

Ucap Cho Kiu-moay serius.

"aku hanya menyaru sebagai wajahnya belaka, padahal nona Soat-ji dengan Cho Kiu moay bukan seorang manusia yang sama. Berkata sampai disitu, dia lantas berpaling sambil perintahnya.

"Sekarang waktu sudah tidak pagi lagi, cepat bereskan segala sesuatunya, kita harus segera berangkat."

Kedua orang lelaki kekar itu mgengiakan, lalu menuju ke ruang sebelah kanan.

"Apakah nona masih ada urusan lain ?"

Tanya Wi Tiong hong kemudian.

"Jejak kita ditempat ini sudah ketahuan orang, kita tak boleh berdiam terlalu lama lagi disini."

Sementara berbicara, dia sudah masuk ke dalam ruangan dengan langkah tergesa-gesa.

Menanti dia muncul kembali, nona tersebut telah berganti dengan seperangkap pakaian berwarna hitam gelap dengan ikat kepala berwarna hitam pula, selain mengenakan cadar hitam, sebilah pedang berpita kuning tersoren dipunggungnya.

Dua orang lelaki kekar itupun telah berganti pakaian dengan mengenakan dandanan sebagai jago pedang pita hijau, mereka berdua menggotong sebuah karung besar yang dibawa dari ruang sebelah kanan.

Diam-diam Wi Tiong hong manggut-manggut pikirnya.

"Rupanya isi karung goni itu adalah Hek sat kun Sah Thian yu !"

Pada saat itulah jago pedang pita hijau yang sedang duduk bersemedi itu menghembuskan napas panjang, kemudian bangkit berdiri. Sembari berpaling Cho Kiu moay segera bertanya.

"Kau telah sembuh kembali ?"

"Hamba telah sembuh kembali"

Jago pedang pita hijau itu membungkukkan badannya.

"Bagus sekali"

"Hamba telah mendengar satu berita, kokcu dari Tok seh sia agaknya telah berkunjung sendiri ke daratan Tionggoan..."

"Ooh, aku sudah tahu."

Ucap Cho Kiu moay. Selesai berkata dia berpaling ke arah Wi Tiong-hong dan berkata sambil tersenyum.

"Wi sauhiap, mari kita berangkat lebih dulu."

Dia membalikan badan dan berjalan menuju ke pintu luar.

Wi Tiong hong merasakan nona Cho ini bertubuh ramping, dibalik kerampingannya justru terpancar kegagahan, dan kewibawaan yang besar, jauh berbeda setali bila dibandingkan ketika sedang menyaru sebagai Soat ji yang lemah lembut tapi manja dan lincah itu.

Berpikir demikian, dia lantas mengikuti di belakang tubuhnya berjalan keluar dari rumah gubuk tersebut.

Cho Kiu moay berjalan dipaling depan, langkahnya semakin lama semakin cepat sedangkan Wi Tiong hong yang berjalan mengigkuti dibelakangnya tentu saja harus mempercepat pula langkahnya.

Makin lama gerakan tubuh Cho Kiu moay semakin bertambah cepat, ujung kakinya hanya menutul pelan diantara semak belukar, tubuhnya telah meluncur kedepan dengan kecepatan luar biasa.

Dalam keadaan begini terpaksa Wi Tiong hong harus menghimpun hawa murninya dan mengerahkan ilmu meringankan tubuhnya untuk mengejar.

Ternyata ilmu meringankan tubuhnya tidak kalah dengan kepandaian Cho Kiu moay, dia selalu dapat mempertahankan jaraknya kurang lebih satu depa dibelakangnya.

Sementara itu kentongan pertama telah tiba, dari ufuk timur nampak rembulan muncul dalam bentuk purnama.

Dibawah sinar rembulan, kedua orang itu bergerak satu didepan yang lain dibelakang dengan kecepatan tinggi.

Tak selang berapa saat kemudian, sampailah mereka di bawah sebuah tebing yang curam, sembari berpaling dan tertawa merdu seru Cho Kiu moay.

"Hebat sekali ilmu meringankan tubuh yang kau miliki !"

Sehabis berkata kembali dia meneruskan perjalanannya menaiki bukit itu.

"Bagus sekali."

Pikir Wi Tiong hong kemudian.

"aku masih mengira kau ada urusan penting lainnya sehingga harus berjalan sedemikian cepatnya, ternyata kau memang bermaksud untuk beradu kecepatan lari dengan diriku!"

Sebagai anak muda yang berdarah panas, sudah barang tentu Wi Tiong hong enggan mengaku kalah, buru-buru dia menarik napas panjang-panjang, kemudian sambil menutulkan ujung kakinya keatas tanah, dia meluncur pula keatas dengan kecepatan tinggi.

Bukit tersebut tidak terlalu tinggi, dalam waktu singkat mereka sudah tiba di puncak bukit tersebut.

Baru saja Cho Kiu moay melayang turun diatas puncak ini, Wi Tiong hong melayang pula disisi tubuhnya.

Dada Cho Kiu moay nampak naik turun tak beraturan agaknya dia dia agak tersengkal dengan sepasang biji matanya yang jeli dia mengawasi sekejap wajah Wi Tiong hong, bisiknya sambil tertawa.

"Kita sudah sampai !"senyuman yang begitu syahdu serta pandangan mata yang begitu lembut dan penuh cinta kasih membuat perasaan Wi Tiong-hong terkesiap, buru2 dia menghindari tatapan matanya dan bertanya.

"Nona, tentunya kau ada urusan penting sehingga datang ketempat ini bukan?"

Sambil membereskan rambutnya yang kusut, Cho Kiu moay manggut-manggut.

"Benar, kedua orang congkoan akan sampai disini malam ini. aku telah berjanji dengan mereka untuk berjumpa ditempat ini."

"Apakah congkoan pedang berpita merah serta congkoan pedang berpita putih?"

"Bukan."

Cho Kiu moay tersenyum.

"mereka adalah congkoan istana bagian dalam Huan Koan ho serta congkoan pedang berpita putih Lok Im lin..."

"Aku pernah mendengar orang berkata kalau perkumpulan kalian terbagi menjadi jago-jago pedang berpita hijau merah, putih dan hitam empat macam, aku pikir congkoan istana bagian dalam itu tentunya congkoan yang memimpin para jago pedang berpita merah bukan?"

"Bukan, congkoan istana bagian dalam merupakan congkoan yang menguruti urusan dalam tubuh partai, dulu ketika Chin Tay seng sedang diubar-ubar oleh gabungan jago utara dan barat sehingga melarikan diri terbirit-birit, Huan congkoanlah yang mengajaknya bergabung dengan perkumpulan kami, oleh sebab itu Huan congkoan harus turut hadir pula dalam peristiwa ini."

"Oleh karena Huan congkoan ikut datang, maka Congkoan pedang berpita merah Kiong Thi su tidak dapat ikut, oleh sebab itulah aku mohon kepada Wi sauhiap agar menyaru sebagoi Kiong congkoan kami untuk sementara waktu."

Diam-diam Wi Tiong hong mengangguk, pikirnya bertanya.

"Tidak heran kalau di atas gagang pedangku telah dipasang dengan pita berpita merah."

Berpikir sampai disitu. iapun lantas bertanya.

"Miripkah aku?"

Katanya kemudian, Cho Kiu moay tertawa terkekeh-kekeh.

"Dibelakang bukit sana terdapat sebuah kolam, kenapa kau tidak bercermin dulu?"

Bab-57

"Kalau begitu, aku pasti mempunyai beberapa bagian muka yang mirip dengan Kiong congkoan."

Katanya penuh kelakar kesombongan. Sekali lagi Cho Kiu moay tertawa-tawa.

"Sebenarnya hanya mirip beberapa bagian, tapi sekarang kau sudah mirip sekali."

Apakah nona telah merubah raut wajahku ?"

Tanya Wi Tiong hong kemudian. Dia mencoba untuk meraba wajah sendiri, namun sama sekali tidak ditemukan sesuatu yang aneh, Cho Kiu moay segera mendorongnya dan berkata sambil tertawa.

"Cepatlah bercermin dulu dikolam tersebut, coba lihatlah mirip tidak dengan kau ?"

Wi Tiong hong keheranan oleh perkataan tersebut namun dia menurut dan menuju ke bukit bagian belakang.

Kolam itu berada di punggung bukit, waktu itu kebetulan sinar rembulan bersinar terang, air kolam yang jernih bagaikan cermin.

Wi Tiong hong segera bercermin di atas permukaan air kolam itu.

Begitu ditengok, dia baru mengetahui kalau wajahnya nampak lebih tua dari semula, rambutnya telah memutih dan wajahnya penuh dengan kulit yang menjadi berkeriput-keriput.

Secara garis besarnya wajah ini ada beberapa bagian mirip dengan dirinya, tapi bila diperhatikan lagi dengan seksama, ternyata seperti tidak mirip.

Wi Tiong hong tahu kalau Cho Kiu moay pasti telah memperhitungkan segala sesuatunya maka sebelum ia menjadi sadar tadi telah mengubah dulu paras muka sendiri.

Kalau bukan demikian, bagaimana mungkin dia sendiri pun tidak merasakan apa-apa?

Tak heran pula Thi lohan Khong beng hwesio dan Sah Thian yu yang berjumpa dengannya pun seakan-akan bersikap tidak kenal.

Kembali kepuncak bukit, Cho Kiu moay telah duduk bersemedi di bawah pohon besar, ketika mendengar suara langkah kaki dari Wi Tiong hong, dia membuka matanya kembali dan berkata dengan suara rendah.

"Mumpung waktu masih pagi, duduklah istirahat sebentar, setelah fajar menyingsing nanti kita harus melanjutkan perjalanan, bisa jadi pertarungan sengit pun akan berkobar."

Selesai berkata, dia memejamkan matanya dan tidak menggubris Wi Tiong hong lagi.

Wi Tiong hong dapat menyaksikan kalau paras mukanya serius, keningnya berkerut kencang, agaknya dia seperti lagi memikirkan suatu persoalan yang berat.

Dia tahu, Ban kiam hweecu sekalian telah terkena racun bersifat lambat daya kerjanya dari orang orang Tok seh sia, congkoan pedang berpita hitam Chin Tay seng juga berniat untuk berkhianat, pada hakekatnya hweecu mereka sekarang telah terjatuh ketangan penghianat, tak heran kalau gadis ini nampak murung.

Berpikir demikian, dia pun duduk di suatu tempat tak jauh dari situ, kemudian bersemedi dan mengatur pernapasan Entah berapa saat sudah lewat, tiba-tiba dari puncak bukit itu berkumandang suara ujung baju yang terhembus angin, tampaknya ada orang sedang meluncur naik keatat puncak bukit itu.

Dengan cepat Wi Tiong hong merasakan hal tersebut, tiba-tiba terdengar Cho Kiu moay sedang menegur.

"Yang datang apakah Huan congkoan serta Lok congkoan berdua?"

"Hamba Huan Kong phu dan Lok Im liu menghunjuk hormat kepada Kiamcu."

Cepat Wi Tiong hong membuka matanya, terlihatlah didepan mata tak jauh dihadapan Cho Kiu moay berdiri seorang kakek berjubah biru yang berjenggot panjang dan berwajah merah serta seorang lelaki setengah umur berjubah putih, orang itu bermuka pucat dan bertubuh kurus lagi lemah, pada hakekatnya tak mirip sebagai seorang yang belajar silat.

Buru-buru Cho Kiu moay membalas hormat sambil menyahut.

"Kiamcu tak datang, tentunya congkoan berdua telah lelah menempuh perjalanan."

"Oooh..."

Kakek berjubah biru itu berseru tertahan, kemudian sairbil menjura dan tertawa katanya.

"Asal ada nona disini pun sama saja."

Lelaki berbaju putih itu segera menyela.

"Hamba dan saudara Huan mendapat perintah khusus untuk segera datang kemari, bagaimanakah keadaan yang sesungguhnya? Harap nona sukt memberi petunjuk."

Wi Tiong-hong yang menyaksikan sikap ke dua orang itu terhadap Cho Kiu-moay begitu menghormat, diam-diam ia menjadi sangat keheranan.

Dia masih teringat dengan pertemuan yang diadakan Ban kiam hweecu dengan para jago tempo hari, waktu itu dia duduk dikursi utama, sedangkan dua kursi yang berada dikiri kanannya masing-masing duduk congkoan dari pedang berpita hijau Buyung Siu serta congkoan pedang berpita hitam Chin Tay-seng, sedangkan keempat dayang tersebut hanya kebagian tempat berdiri dibelakang hweecu nya.

Seharusnya kedudukan seorang congkoan masih jauh lebih tinggi daripada kedudukan seorang pelayan, dan Hek bun kun Cho Kiu moay tak lebih hanya seorang dayang dari Ban kiam hweecu, tapi apa sebabnya kedua orang congkoan tersebut justru bersikap begitu menghormat kepadanya, bukankah tindakan ini hanya akan menurunkan kedudukan sendiri ?

Sementara itu Cho Kiu moay telah berkata sambil tertawa hambar.

"Huan congkoan, Lok congkoan, mari kuperkenalkan kalian berdua dengan seorang sauhiap."

Kemudian sambil menuding kearah Wi Tiong hong, katanya lagi.

"Dia adalah Wi Tiong hong, Wi sauhiap yang membekali ilmu silat dari Siu lo bun serta Bu tong pay, dia merupakan murid kesayangan dari Thian Goan-cu?"

Menyusul kemudian dia menuding kearah kakek berjubah biru serta lelaki berbaju putih itu sembari berkata lagi.

"Sedangkan mereka adalah congkoan istana bagian dalam Huan Kong-phu, orang menyebutnya sebagai Kim jiu ji lay (Ji Lay bertangan emas). Sedangkan yang ini adalah congkoan pasukan pedang berpita putih Lok Im-lin, orang menyebutnya sebagai Im li bui (terbang dibalik awan) dia termashur dalam dunia persilatan karena ilmu meringankan tubuhnya yang hebat."

"Sudah lama kukagumi nama kalian"

Wi Tiong hong segera menjura. Dua orang itu buru-buru membalas hormat. Sambil mengelus jenggotnya yang panjang dan tertawa bergelak, congkoan istana bagian dalam Hian Kong phu berseru.

"Nona telah membesar-besarkan nama lohu serta saudara Lok saja, harap Wi sauhiap jangan mentertawakan"

Cho Kiu moay turut tertawa pula.

"Kita semua bukan orang luar, apa salahnya jika kuperkenalkan kalian agak lebih jelas kepadanya ?"

Sekilas cahaya tajam memancar keluar dari balik mata Huan Kong phu, setelah memandang sekejap ke arah Wi Tiong hong tanyanya.

"Apakah nona meminta kepada Wi sauhiap untuk menyaru sebagai Kiong congkoan ?"

"Benar, pertama dewasa ini Wi sauhiap tak boleh terlampau memperlihatkan identitasnya, kedua menurut perintah kiamcu, kalian congkoan bertiga diminta datang bersama-sama, maka oleh karena Kiong congkoan tidak datang, terpaksa kita harus meminta kepada Wi sauhiap untuk mewakilinya, agar orang mengira congkoan bertiga telah datang semuanya."

Berbicara sampai disitu, dia mendongakkan kepalanya dan bertanya lagi.

"Congkoan berdua telah membawa berapa orang ?"

"Hamba menuruti perintah dari nona dengan membawa delapan orang jago pedang istana yang berilmu silat paling tinggi."

Sahut Huan Kong phu cepat. Lok Im lin segera menyambung pula.

"Tiga puluh enam orang jago pedang berpita putih telah siap menerima perintah nona."

Cho Kiu moay segera manggut-manggut.

"Ehmm, jumlahnya memang sudah cukup."

"Nona, sebenarnya apa yang terjadi ditempat ini?"

Tiba-tiba Huan Kong pbu berseru sambil berkerut kening.

"Chin tay seng telah berkhianat dan bersekongkol dengan orang orang Tok seh sia..."

Sekujur tubuh Huan Kong phu yang tinggi besar segera bergetar keras setelah mendengar ucapan itu, serunya sambil membelalakan matanya lebar-lebar.

"Masa telah terjadi peristiwa semacam ini."

Ketika mengucapkan perkataan tersebut, rambut dan jenggotnya pada berdiri kaku persis seperti landak, sepasang matanya memancarkan sinar yang menggidikkan hati.

Sesudah tertawa nyaring, dia berseru lagi.

"Silahkan nona beristirahat dulu disini, hamba cukup membawa delapan jago dari istana untuk melakukan penyerbuan, hamba yakin tidak sampai satu jam saja tua bangka tersebut sudah dapat kubekuk."

"Harap Huan congkoan jangan marah, aku sudah mempunyai rencana yang matang dikejadian ini dan aku yakin dia tak bakal bisa melarikan diri dari sini setelah fajar menyingsing nanti, kita boleh segera berangkat bersama-sama."

"Apakah nona beranggapan kalau hamba tak mampu membekuk batang leher tua bangka tersebut ?"

Cho Kiu moay tersenyum.

"Dengan kepandaian silat yang dimiliki Huan congkoan sekalipun ada sepuluh orang Chin Tay seng pun pasti akan terbekuk semua, lagipula mereka sudah dikuasahi semua oleh Chin Tay seng."

"Betul kita dapat membekuk Chin Tay seng tapi bila kita kurang berhati-hati dalam menghadapi ratusan jago pedang berpita hitam tersebut, besar kemungkinannya mereka akan menggabungkan diri dengan pihak selat Tok seh sia, apalagi masih banyak orang yang berada di tangan mereka, oleh sebab itu kita hanya boleh bertindak dengan akal muslihat, tak boleh sekali-kali menggunakan kekerasan."

"Menurut pendapat nona, apa yang harus kita lakukan?"

Tanya Huan Kong phu kemudian. Cho Kiu moay tertawa.

"Kiamcu menurunkan perintah kilat memerintahkan congkoan bertiga segera berangkat ke bukit Pit bu san, tentu saja hal ini bukan atas dasar keinginan kiamcu sendiri."

Congkoan jago pedang berpita putih Lok-Im lin tertegun setelah mendengar ucapan itu.

"Masa Chin Tay seng yang mengajukan surat perintah tersebut..?"

"Sekalipun bukan Chin Tay seng yang memajukan surat perintah tersebut, tapi sudah pasti muncul atas ideenya."

"Hal ini membuat hamba semakin tidak mengerti lagi."

Ucap Lok Im lin cepat.

"sekalipun Chin Tay seng sudah berniat mengkhianat, apalagi kiamcu beserta rombongan pedang berpedang berpita hijau dan anak buahnya telah keracunan semua, bukankah kesempatan semacam itu merupakan kesempatan yang terbaik baginya untuk berkhianat? Jika kita bersama-sama datang ke sana, sudah pasti hal ini akan merugikan posisinya."

Cho Kiu moay tertawa.

"Di dalam perkumpulan kita, kecuali anak buah yang diperintah oleh congkoan bagian istana, berbicara soal jumlah manusia, boleh dibilang jumlah jago pehdang berpita hitam yang paling banyak, sedangkan berbicara soal ilmu silat, maka jago pedang berpita hijau yang paling tinggi. Namun jumlah anggotanya boleh dibilang pasukan jago pedang berpita hijau yang paling sedikit, dewasa ini dari enam belas jago yang ada, hanya tiga orang yang mengikuti aku sedangkan sisanya telah keracunan semua dan terjatuh ke tangan mereka. Tapi kecuali para jago pedang berpita hijau, masih ada dua puluh empat jago pedang berpita berwarna merah dan tiga puluh enam jago pedang berpita putih, boleh dibilang mereka semua merupakan kekuatan inti dari Ban-kiam hwee atau merupakan pula musuh paling tangguh dari pihak jago pedang berpita hitam, bila mereka tidak berhasil membasmi kalian semua, bagaimana mungkin Chin Tay seng bisa hidup dengan aman dan tenteram?"

Paras muka Lok Im-lin berubah hebat.

"Dengan mengandalkan kemampuan yang dimiliki Chin Tay seng, masa dia bisa membasmi kami semua?"

"Penghianatannya belum terbongkar, Kiam-cu berada pula ditangannya, inilah kesempatan terbaik baginya untuk bertindak, itulah sebabnya dengan memalsukan perintah, dia ingin memanggil congkoan bertiga masuk perangkap."

Berbicara sampai disitu, dia berhenti sejenak kemudian terusnya.

"Seandainya aku tidak berhasil mencegat burung merpati yang dilepas Kiamcu ditengah jalan, dan mencegah kalian bertiga datang bersama-sama, setelah menerima perintah bahaya dari kiamcu, sudah pasti congkoan bertiga akan memimpin segenap kekuatan yang ada untuk berangkat menuju ke bukit Pit bu-san. Asal Chin Tay seng memanfaatkan kesempatan itu untuk mengatur perangkap, bahkan semua kekuatan inti dari Ban kiam hwee akan mengikuti jejak para jago pedang berpita hijau."

"Tua bangka ini benar-benar licik, berhati busuk dan berbahaya sekali."

Seru Hoan Kong phu dengan gusar.

"Lantas apa yang harus kita lakukan sekarang ?"

Tanya Lok Im-lim pula. Cho Kiu moay tersenyum.

"Itulah sebabnya aku meminta kepada Wi sauhiap untuk menyaru sebagai Kiong congkoan, kita anggap saja seakan-akan tidak tahu kejadian tersebut dan memburu kesana mendapat perintah dari Kiamcu, semua orang tak usah menunjukkan perubahan sikap, kita lihat dulu bagaimanakah sikapnya kemudian baru mengambil tindakan selanjutnya."

"Hamba pernah mendengar kalau pihak Tok seh-sia memiliki semacam racun tak berwujud..."

Sebelum Lok Im-lin menyelesaikan kata-katanya, Cho Kiu moay telah berkata sambil tertawa ringan.

"Soal ini tak usah congkoan kuatirkan, aku telah mempersiapkan segala sesuatunya !"

"Kecerdasan nona memang melebihi orang lain, tapi hamba masih sedikit tidak mengerti."

"Sampai waktunya Lok congkoan akan tahu dengan sendirinya."

Tukas Cho Kiu moay tertawa ringan. Huan Kong phu segera mengelus jenggotnya dan menimbrung dengan senyuman dikulum.

"Sejak kecil nona memang sudah berwatak demikian, baiklah, kami semua akan menuruti perkataanmu."

Cho Kiu moay segera berpaling dan tertawa katanya lagi.

"Congkoan berdua telah menempuh perjalanan siang malam sekarang, silahkan duduk untuk beristirahat dulu, setelah fajar menyingsing nanti, kita masih harus melanjutkan perjalanan lagi."

Habis berkata dia lantas duduk diatas batu, kepada Wi Tiong hong ujarnya pula.

"Mari, kau pun boleh duduk sebentar, waktu masih cukup pagi...!"

Wi Tiong hong, Huan Kong phu dan Lok In lin segera menurut dan duduk diatas batu.

Seorang jago pedang berpita hijau menghidangkan air teh dan diletakkan didepan keempat orang itu.

Cho Kiu moay segera mengambil poci air teh dan menuang dua cawan kemudian katanya.

Baca Juga: Nona Berbaju Hijau Kho Ping Hoo

Baca Juga: Si Teratai Merah Ang Lian Li Hiap 4

Cari Blog Ini

Diberdayakan oleh Blogger.

Parnert