Eps 4 Si Teratai Merah Ang Lian Li Hiap - Kho Ping Hoo
Baca online Si Teratai Merah Ang Lian Li Hiap - Kho Ping Hoo
Cersil Si Teratai Merah Ang Lian Li Hiap - Kho Ping Hoo.
"Jangan kaget, memang gedung ini bekas milik Pangeran Goei Tek Kong yang karena jasa-jasa perkumpulan kami lalu diserahkan kepada kami. Kini ditinggali oleh bengcu kami dan orang-orang gagah luar daerah yang datang ke kota ini dipersilakan bermalam di sini."
Gedung besar dan mewah itu terletak di pinggir kota dan di depan gedung terdapat taman bunga yang luas dan mempunyai sebuah telaga kecil penuh bunga teratai.
Memang indah sekali gedung itu dan di atas pintu gerbang terdapat papan nama dengan tulisan gagah.
"Kwi Coa Pai."
Ketika mereka berdua memasuki pintu gerbang, ternyata dalam gedung sudah berkumpul banyak sekali orang.
Mereka adalah orang gagah yang menjadi anggauta atau sahabat-sahabat baik anggauta perkumpulan itu.
Para anggauta Kwi-Coa-Pai, seperti juga Lie Thung, dapat dilihat dan dibedakan dengan adanya sebuah sabuk pinggang bergambar ular hitam yang diikatkan di pinggang masing-masing.
Tadinya Cin Han tidak memperhatikan sabuk yang melilit pinggang Lie Thung, tapi setelah melihat banyak orang memakainya, maka mengertilah ia.
Semua orang yang duduk berkumpul di satu ruangan tampaknya orang-orang yang ahli dalam ilmu silat, karena bentuk-bentuk badan mereka yang kuat, mata yang tajam dan gerak-gerik yang gesit.
Banyak mata memandang ke arah Cin Han ketika ia memasuki ruangan itu mengikuti Lie Thung.
Ia langsung dibawa ke sebuah meja bundar besar di mana duduk berkumpul beberapa orang-tua dan terpisah dari yang lain-lain.
Seorang-tua yang duduk di tengah memakai baju hitam, tubuhnya tinggi kurus, sikapnya lemah lembut tapi sepasang matanya tajam bagaikan pisau dan jika ia memandang orang seakan-akan sinar matanya menembus dan menikam jantung.
Usianya kurang lebih enam puluh tahun, di pinggangnya juga terdapat sabuk ular hitam, empat orang lain yang duduk di dekatnya semuanya beroman aneh dan menyeramkan.
Seorang di antara mereka adalah seorang Hwesio gundul tapi berpakaian mewah sekali, tubuhnya gemuk pendek dan mukanya selalu tersenyum mengejek.
Orang kedua dan ketiga berpakaian seperti pengemis karena baju yang mereka pakai semua compang-camping, bahkan yang seorang, yakni yang punggungnya bongkok, hanya memakai sepatu sebelah!
Orang keempat kelihatannya seperti seorang sasterawan, demikianpun pakaiannya, dan ia tampaknya paling mewah di antara semuanya juga ia mendapat tempat duduk di kanan orang-tua baju hitam itu, agaknya paling dihormat.
Lie Thung langsung menghadap orang-tua baju hitam itu memberi hormat.
"Bengcu-ya, siauwtee datang memperkenalkan Enghiong ini, ialah Hwee-thian Kim-hong yang meskipun muda usianya tapi telah terkenal karena kepandaiannya yang tinggi."
Jadi inikah kepala perkumpulan yang disebut sangat lihai itu? Demikian pikir Cin Han dan ketika bengcu itu berdiri, maka Cin Han segera menjura memberi hormat.
"Silakan duduk, Taihiap,"
Suara Bengcu itu nyaring dan tinggi seperti suara orang perempuan.
"Kami girang sekali mendapat kehormatan dengan kunjunganmu ini. Mari kuperkenalkan dulu dengan para Lo-Cianpwe ini."
Ia menunjuk kepada para tamu yang duduk di situ dan memperkenalkan mereka seorang demi seorang.
Ternyata Hwesio ini bukan lain adalah Tie Bong Hwesio, seorang ahli silat cabang Bu-tong yang terkenal.
Pengemis pertama yang bertubuh pendek kecil bernama Kok Pin bergelar Hoa-gu-jie si Kerbau Belang.
Pengemis yang bongkok, bernama Lok Sim Tat bergelar Si Iblis Bongkok.
Orang yang seperti sasterawan adalah bekas pegawai kota raja bernama Lam Beng Sun yang dulu memegang pangkat tinggi dan juga menjadi kepercayaan menteri durna Long Ong.
Mendengar bahwa orang-orang itu bukanlah orang sembarangan, maka Cin Han merasa gembira dapat berkenalan dengan mereka maka katanya.
"Siauwte yang muda dan bodoh merasa terhormat sekali dapat bertemu muka dengan para Lo-Cianpwe yang ternama. Dan mohon tanya nama serta julukan yang mulia dari Lo-Enghiong sendiri."
Bengcu itu tertawa bergelak-gelak.
"Tidak heran sicu belum mengenal padaku. Aku orang-tua tak berguna disebut Kwi-eng-cu Hong Su."
Cin Han terkejut mendengar nama ini.
Dulu gurunya pernah menyebut nama ini sebagai seorang gagah yang tinggi sekali ilmu kepandaiannya.
Maka diam-diam ia memperhatikan Kwi-eng-cu Hong Su si Bayangan Iblis itu.
Memang pantas dengan julukannya.
Bengcu yang tua itu biarpun wajah dan tubuhnya tidak ganjil, tapi sepasang matanya benar-benar seperti mata iblis saja!
Setelah beberapa kali sinar matanya bertumbuk dengan sinar mata Bengcu itu, Cin Han bergidik dan segera menundukkan mukanya.
Kemudian Hong Su si Bayangan Iblis dengan tertawa ramah segera memerintahkan Lie Thung untuk mengantar Cin Han ke kamar yang terindah, dan memesan pemuda itu agar nanti malam menghadiri pesta di ruang belakang.
Pesta dimulai jam tujuh.
Cin Han menyatakan kesanggupannya dan setelah mengucapkan terima kasih ia pergi mengikuti Lie Thung dan mendapat kamar yang mewah.
Lie Thung tak dapat lama menemaninya karena katanya ia masih banyak tugas.
Maka Cin Han lalu merebahkan diri di atas pembaringan yang bersih dan indah.
Ia heran melihat keadaan perkumpulan yang serba mencurigakan ini.
Tapi karena ternyata bahwa para tamu tadi terdiri dari orang-orang ternama maka iapun tak berani menyangka sesuatu.
Hanya dalam hatinya ia menetapkan hendak mencari keterangan lebih jelas lagi tentang Perkumpulan Ular Setan ini.
Jam tujuh malam, di ruang belakang dari gedung bekas istana pangeran yang kini menjadi markas besar perkumpulan Kwi-Coa-Pai itu, sangat ramai.
Ribuan lilin dan obor membuat tempat itu menjadi terang cemerlang dan indah sekali.
Tamu-tamu yang memenuhi tempat itu jauh lebih banyak daripada siang tadi.
Cin Han dari jendela kamarnya dapat mendengar suara mereka yang bicara, riuh-rendah, riang-gembira dan dengan dialek yang campur-aduk menandakan bahwa para tamu itu datang dari beberapa propinsi.
Ia segera berdandan.
Seperti biasa, ia mengenakan baju dalam sutera bersulamkan burung Hong indah buatan ibunya.
Di luar baju itu, ia mengenakan pakaian luar yang biasa dipakai oleh pelajar sastera hingga ia tampaknya sebagai seorang sasterawan muda.
Ia tidak lupa untuk membawa Kong-hwat-kiamnya, juga ia sembunyikan dalam baju di belakang punggung, tertutup oleh baju sasterawan yang lebar dan longgar.
Ketika ia bertindak keluar dari kamar, dari depan Lie Thung mendatangi dengan wajah berseri-seri.
Pakaiannya pun mewah sekali dan ia kelihatan gagah.
"He, laote kenapa kau masih belum ke sana? Semua tamu sudah berkumpul. Bahkan ada tambahan acara yang menarik hati sekali. Para Lo-Cianpwe berkenan mendemonstrasikan keahlian mereka. Hayo, jangan kau ketinggalan. Pertunjukan bagus sekali yang akan kita lihat nanti."
Mereka menuju ke ruang belakang.
Ruang ini sangat luas dan nyaman karena terbuka dan mendapat hawa langsung dari taman bunga di belakang gedung.
Kurang lebih seratus orang tamu duduk berkelompok mengelilingi meja yang penuh hidangan.
Meja ketua Kwi-Coa-Pai paling besar dan ditilami kain tenun berwarna merah.
Yang menemani dia duduk, selain empat orang-tua yang siang tadi sudah dijumpai Cin Han, masih ada seorang lagi yang berusia kurang lebih tiga puluh tahun dan nampaknya gagah sekali dengan bajunya yang berwarna biru bersulamkan naga warna hijau.
Melihat kedatangan Cin Han, si Bayangan Iblis menepuk tangan dan tertawa girang.
"Eh, Lo-sicu. Silakan duduk sini."
Cin Han merasa agak disanjung ketika melihat betapa banyak mata para tamu memandangnya. Ia maklum bahwa tidak sembarang orang diminta duduk di mejanya oleh ketua besar itu.
"Lo-Enghiong, siauwte menghaturkan selamat dan semoga Lo-Enghiong dikurniai usia panjang dan tubuh sehat,"
Kata Cin Han hormat.
"Ha-ha-ha! Terima kasih,"
Si Bayangan Iblis berdiri dan membalas hormatnya..
"Eh, hampir aku lupa, sudahkah sicu kenal dengan Thio-Taihiap?"
Si baju biru itu berdiri dan baru Cin Han tahu bahwa orang itu sangat tinggi, wajahnya membayangkan kekejaman dan tak sedikitpun senyum membayang di muka yang gelap itu.
Namun dengan hormat ia menjura dan dibalas oleh Cin Han.
Hong Su memperkenalkan mereka berdua dengan bangga.
"Ini adalah Thio Lok Taihiap yang bergelar si Naga Hijau dari selatan."
Kemudian tangannya menunjuk ke arah Cin Han.
"Dan ini adalah Hwee-thian Kim-hong Lo Cin Han, yang meskipun masih muda tapi telah menggemparkan sungai telaga."
Mendengar sebutan Hwee-thian Kim-hong, mata Thio Lok untuk sesaat memancar ke arah wajah Cin Han, tetapi tanpa berkata apa-apa dia duduk kembali.
Cin Han juga mengambil tempat duduk di meja kehormatan.
"Lo Cin Han sicu,"
Kata Hong Su dengan ramah.
"Sebelum kau datang tadi, lohu dengan para Enghiong di sini telah mengadakan persetujuan untuk saling mempertunjukan ilmu silat masing-masing agar terbuka mata kita. Bagaimana pikiranmu, Lo-sicu?"
Cin Han tersenyum girang.
"Memang hal ini baik sekali, siauwte tentu setuju sekali dan akan siauwte perhatikan untuk menambah pengetahuan yang dangkal."
"Ha-ha! Lo-sicu, siapakah yang tidak mengenal nama Hwee-thian Kim-hong? Jangan kau terlalu merendah. Lohu bahkan mohon bantuanmu untuk membuka pertunjukan ini dengan memperlihatkan ilmu silatmu!"
"Ah, Lo-Enghiong, mana siauwte yang muda berani memperlihatkan kebodohan di hadapan para Lo-Cianpwe?"
Jawab Cin Han merendah.
Para jagoan tua yang duduk di situ merasa suka melihat kesopanan dan kehalusan tutur sapa Cin Han, maka sebentar saja mereka berbicara dengan asyik dan gembira.
Tapi Thio Lok si Naga Hijau dari Selatan tampaknya tak begitu suka kepada Cin Han, atau agaknya memandang rendah pemuda sasterawan itu!
Hidangan yang serba lezat dikeluarkan dan keadaan makin ramai gembira, bahkan di meja-meja para muda terdengar suara senda gurau disertai tertawa-tawa setengah mabuk.
Di meja ketua perkumpulan Ular Setan juga kelihatan gembira sekali.
Hoa-gu-ji Kok Pin pengemis kate bertanding minum arak dengan Iblis Bongkok Lok Sin Tat.
Kedua pengemis ini sama-sama kuat dan mereka telah minum belasan cawan tanpa berhenti.
Tiba-tiba Tie Bong Hwesio mencela kedua kawan baiknya.
"Kalau kalian berdua mabok-mabokan kalian menghabiskan arak dan tidak ingat kepada yang muda-muda, memalukan sekali! Pantasnya kalian menawarkan arak kepada kedua sicu ini."
Ia mengangguk ke arah Cin Han dan Thio Lok.
Lam Beng Sun si bekas pembesar yang pada malam itu mengenakan bekas baju kebesarannya dan tampak keren sekali, segera mengambil guci-guci arak dan mengisi cawan Cin Han dan Thio Lok sampai penuh.
"Hayo, Thio-Taihiap, jangan sungkan-sungkan. Kau yang menjadi orang sendiri jika berlaku sungkan-sungkan, maka Lo-sicu ini sebagai orang baru akan lebih sungkan lagi."
Thio Lok menghaturkan terima kasih dan mengangkat cawan araknya, diikuti oleh semua orang dengan gembira.
Tapi Cin Han bukanlah seorang ahli minum, maka baru tiga cawan saja ia sudah merasa mual.
Melihat kawan-kawan lain kurang kuat minum, kedua pengemis itu menyatakan kecewanya.
Tiba-tiba karena teringat lagi bahwa sekarang sudah tiba saatnya untuk membuka pertunjukan silat, Hong Su si Bayangan Iblis mendapat akal, untuk memancing kedua pengemis itu.
"Jiwi congsu, kulihat kalian memang sama kuatnya dalam hal minum arak. Tapi kami ingin sekali melihat siapa di antara jiwi yang lebih cepat minum. Baiknya sekarang diadakan taruhan."
"Taruhan apa? Aku hanya punya kutu baju beberapa belas ekor di pakaianku,"
Kata Kok Pin si kate.
"Dan aku hanya mempunyai sebelah sepatu lapuk. Kalau aku kalah, si Kerbau Belang boleh memilikinya,"
Kata si Iblis Bongkok.
"Untuk apa sepatu hanya sebelah? Merepotkan saja,"
Bantah si kate. Kwie-eng-cu Hong Su tertawa bergelak.
"Bukan itu taruhannya! Aku akan mengisi sepuluh cawan arak wangi di atas meja dan masing-masing boleh minum lima cawan. Yang kalah cepat harus lebih dulu membuka pertunjukan silat di tengah-tengah ruangan ini. Bagaimana, setujukah kalian?"
Sambil berkata demikian, Si Bayangan Iblis mengeluarkan seguci arak simpanan.
Ia membuka tutup guci dan menuang isinya di dalam sepuluh buah cawan, harum dan wangi arak itu memenuhi ruangan.
Tentu saja kedua setan arak itu mengilar sekali.
Hidung mereka segera dapat membedakan dan mengenal arak baik.
"Setuju, setuju!"
Teriak mereka berbareng dan tanpa menanti jawaban, mereka menubruk maju, tangan mereka menyambar secawan arak dan menuangkan isinya ke dalam mulut.
Segera terdengar arak menggelogok di kerongkongan mereka dan sepuluh cawan arak itu cepat sekali habis dalam waktu yang sama cepatnya.
Kalau orang bukan ahli silat dan matanya tidak terlatih, pasti takkan melihat dengan tegas bila dan bagaimana kesepuluh cawan arak itu dihabiskan, demikian kecepatan tangan mereka bergerak.
"Ha-ha-ha! Dasar kalian ini yang seorang iblis arak, yang seorang lagi setan arak! Kalian sama-sama menang. Maka keputusannya adalah dua-duanya harus berbareng mempertunjukkan kepandaian untuk membuka hiburan ini. Hayo, jiwi mulailah, nanti kalau sudah selesai pertunjukanmu, akan lohu beri hadiah lima cawan arak wangi lagi!"
Kedua pengemis aneh itu tertawa senang lalu Lok Sin Tat memimpin tangan kawannya yang kate menuju ke tempat bermain silat yang memang sudah disediakan di tengah-tengah ruangan itu.
Semua tamu ketika melihat bahwa pertunjukan silat akan segera dimulai, lalu menunda pembicaraan mereka.
Ruangan menjadi diam dan sunyi, semua mata ditujukan ke arah si Iblis Bongkok yang memimpin tangan si Kerbau Belang dan kedua-duanya tertawa ha-ha-hi-hi tak acuh dengan pandangan para tamu.
Sesampainya di kalangan tempat bersilat, Lok Sin Tat si Iblis Bongkok segera melepaskan sabuk merah yang mengikat pinggangnya.
Kalau semua pakaiannya compang-camping, adalah sabuk sutera itu kelihatan bersih dan baru, dan setelah terlepas dari pinggang ia menyentakkan tangan ke depan.
Sabuk yang terlipat itu melayang ke depan bagaikan ular merah dan ternyata panjangnya tidak kurang dari sepuluh kaki.
Setelah ujung sabuk sutera melayang sampai lempeng, Lok Sin Tat menggerakkan tangan menarik, dan aneh sekali, sabuk itu bergulung sendiri dengan rapi.
"Hayo, kau keluarkan permainanmu!"
Teriaknya tertawa kepada pengemis kate. Kerbau Belang yang bertubuh pendek kecil itu tertawa bergelak dan menjawab.
"Mari kita main bersama. Kau gunakan penangkap lalatmu yang merah itu dan aku menjadi lalatnya. Cobalah kau tangkap aku!"
"Mari bertaruh!"
Kata si Iblis Bongkok tertawa.
"Kalau kau sampai tertangkap, lima cawan arakmu harus diberikan padaku!"
"Bagus! Dan kalau sampai tidak dapat tertangkap, arakmu harus diberikan padaku,"
Jawab si kate yang lalu meloncat menjauhi kawannya dengan gerakan jumpalitan ke belakang.
Tubuhnya ringan sekali sehingga diam-diam Cin Han terkejut melihat ginkang yang tidak boleh dipandang rendah itu.
Lok Sin Tat mengeluarkan seruan dan ketika tangannya bergerak, sabuk yang tergulung itu melayang ke atas dan turunnya bergerak-gerak hidup bagaikan naga, ketika ia menggerakkannya lagi, maka sutera itu merupakan kembang yang indah bergerak-gerak di udara lalu buyar pula.
Sebelum ujung sabuk mengenai tanah, ia menggerakkan tangannya lagi dan ujung sabuk meluncur ke depan, kini menuju ke arah pengemis kate yang sementara itu sudah mengambil sebuah kursi dan duduk di atasnya dengan tenang.
Melihat datangnya ujung sabuk sutera ke arahnya, ia tertawa dan tiba-tiba tubuhnya melesat ke samping.
Ujung sabuk seakan-akan hidup dan tahu-tahu telah melibat kaki kursi dan ketika sabuk disendal balik, kursi itu terbawa terbang ke arah si Iblis Bongkok yang menerimanya dengan tangan kiri lalu dilemparkan ke samping.
"Bagus!"
Katanya memuji kawan kate yang gesit itu.
Ia lalu menggerakkan sabuknya lagi dan tak lama kemudian sabuknya merupakan sinar merah yang berputar-putar, terus mengejar ke mana saja pengemis kate itu bergerak.
Para tamu bertepuk tangan riuh-rendah memuji.
Memang pada saat kedua orang itu bermain-main, tampak pemandangan yang indah sekali.
Selendang merah itu melambai-lambai dan menyambar-nyambar mengeluarkan angin bagaikan seekor naga terbang berlenggak-lenggok.
Dan si kate berkelebat ke sana ke mari diantara sinar merah itu bagaikan seekor kupu-kupu putih yang terbang dikejar.
Gerakannya ringan dan gesit sekali, sehingga sebegitu lama, biarpun sinar merah mengepungnya dari segenap penjuru, tetap tidak dapat menangkapnya.
Cin Han juga memandang kagum.
Ia maklum betapa lihainya kedua orang itu.
Ia tahu juga bahwa betapapun halus dan lemas adanya sehelai selendang sutera, namun di tangan si Iblis Bongkok yang menggunakannya dengan tenaga lweekang yang tinggi, maka selendang yang lemas itu dapat merupakan sebuah senjata yang sangat lihai dan berbahaya.
Kalau sampai ujung selendang dapat melibat kaki atau badan si kate, tentu Kerbau Belang itu takkan dapat melepaskan diri lagi.
Tapi ia kagum sekali melihat gerakan-gerakan si kate yang demikian lincahnya sehingga tidak memungkinkan selendang itu menangkapnya.
Sungguh satu pertunjukan yang menarik dan berbareng menunjukkan betapa tinggi kepandaian kedua orang itu.
Tiba-tiba sinar selendang merah lenyap dan si kate juga menghentikan gerakan-gerakannya.
Keduanya berdiri berhadapan dengan saling pandang, kemudian si Iblis Bongkok tertawa bergelak.
"Lo-heng, kepandaianmu makin tinggi saja,"
Ia memuji. Kok Pin tertawa.
"Kau menyindir, Lok-ko. Aku setengah mampus harus menghindarkan diri dari Hong-ang-kin mu yang lihai."
"Tapi aku tak dapat menangkapmu, maka biarlah arakku boleh kau minum."
Dengan gembira ia memegang tangan kawannya lalu berdua kembali ke meja ketua. Semua orang bertepuk tangan memuji.
"Ah, benar-benar kalian hebat,"
Memuji ketua Kwie-coa-pai.
"Patut dikagumi dengan sepuluh cawan arak!"
Maka mereka lalu minum-minum lagi dengan gembira. Si Bayangan Iblis berdiri.
"Nah, sekarang lohu minta dengan hormat sukalah Lo-sicu meramaikan pesta ini dengan sedikit pertunjukan,"
Katanya kepada Cin Han.
"Betul, betul! Harap sicu jangan menampik."
Si kate ikut mendesak.
"Harap saja yang lain bermain dulu, karena siauwte yang muda tidak berkepandaian apa-apa maka biarlah siauwte bermain paling akhir."
Cin Han menolak halus.
"Rupanya saudara Lo malu-malu, biarlah aku mendahuluinya,"
Kata Thio Lok sambil berdiri. Tetapi si Bayangan Iblis mengangkat tangannya.
"Thio-Taihiap punya ilmu pedang yang tiada tandingan, lohu harap permainan Taihiap dipertunjukkan nanti saja agar dapat menutup pesta ini dengan pertunjukan yang terindah."
Cin Han merasa heran karena sungguhpun ketua Kwie-coa-pai itu nyata sekali sangat menghormat dan mengindahkan orang she Thio itu, tapi sebaliknya bicara seakan-akan kepada orang sebawahannya.
"Atau, bagaimana kalau Thio-Taihiap dan Lo-Enghiong ini main sama-sama?"
Usul Lam Beng Sun si bekas pembesar dengan suaranya yang halus. Mendengar usul ini, mata Hong Su bersinar gembira.
"Bukankah kau juga ahli bermain pedang, sicu? Kalau begitu baik sekali, silakan kalian berdua bermain pedang, tentu indah dipandang. Tapi, agaknya Lo sicu tidak membawa pedang, biarlah lohu memberi pinjam padamu."
Cin Han buru-buru mencegah.
"Siauwte sudah membawa pedang, tapi siauwte mana berani bermain dengan Thio-Taihiap?"
Ia mengerling kepada Si Naga Hijau itu. Thio Lok memandang kepadanya dan bibirnya mengandung senyum sindir.
"Tidak apa, saudara Lo, biarlah kita main-main sebentar."
Kemudian tanpa berkata apa-apa lagi, Thio Lok menggerakkan kakinya dan tubuhnya melayang ke tengah lapangan adu silat dengan tipu Naga Sakti Sambar Mustika, satu gerakan yang indah sekali hingga ia disambut dengan tepukan tangan.
Cin Han mendongkol juga melihat kejumawaan orang she Thio itu, maka ia berdiri dari kursinya dan membuka baju luarnya dengan perlahan.
Maka kelihatanlah kini bajunya sutera putih yang bersulamkan burung Hong emas sedang terbang menempuh awan biru di bagian dadanya.
Dengan tergantinya pakaian yang ringkas dengan sulaman yang indah hidup itu, ia tampak gagah dan tuan rumah serta tamu-tamunya tercengang melihat anak muda yang cakap dan sopan-santun tapi yang kini kelihatan keren dan gagah itu.
Juga ketua Kwie-coa-pai melihat pedang Kong-hwa-kiam yang tergantung di punggung dengan wajah girang.
Ketika Cin Han sedang bingung harus menaruh di mana baju luarnya yang masih dipegangnya, tiba-tiba Lie Thung datang menghampiri dan menerima bajunya itu.
Bekas bajak ini berbisik perlahan.
"Hati-hati, kawan, orang she Thio itu adalah komandan kelas satu di perkumpulan kami, hanya bengcu saja yang lebih kuat dari padanya. Ia memang bertugas mencoba tenaga kawan-kawan baru, pedangnya lihai sekali!"
Cin Han mengangguk untuk menyatakan terima kasihnya.
Hm, jadi ia hendak dicoba?
Ia mengerling ke arah meja ketua dan dilihatnya semua muka di meja itu berseri-seri dan gembira.
Cin Han tidak mau kalah muka dengan sengaja ia memperlihatkan kegesitannya dan dengan gerakan Burung Walet Menyambar Kupu-kupu, ia meloncat berjumpalitan dengan kedua lengan terbuka.
Ketika tubuhnya tiba di atas lapangan, berjumpalitan tiga kali dari atas dan menurunkan kakinya dengan ringan bagaikan burung, tepat berhadapan dengan Thio Lok.
Tentu saja aksinya ini mendatangkan tepuk tangan yang hebat sekali dan Thio Lok memandangnya dengan mata bersinar merah.
"Thio-Taihiap, aku harap kau suka berlaku murah kepadaku,"
Kata Cin Han.
"Tak perlu kiranya kau sungkan-sungkan dan merendahkan diri, saudara Lo, kepandaianmu belum tentu berada di bawahku,"
Jawab Thio Lok, lalu tanpa banyak cakap lagi si Naga Hijau mencabut pedangnya.
"Silakan, saudara Lo,"
Katanya kepada Cin Han sambil memasang kuda-kuda dengan tipu Naga Sakti Mendekam. Cin Han lalu mencabut Kong-hwa-kiam dari sarungnya dan memasang kuda-kuda Burung Hong Hinggap di Cabang, dan berkata.
"Silakan, Thio-Taihiap!"
Thio Lok melihat Cin Han sungkan-sungkan untuk menyerang lebih dulu, segera memajukan kaki dan mengirim serangan pertama dengan tusukan pedang ke arah paha Cin Han dan terus melayangkan pedangnya itu untuk menyabet kedua kaki.
Gerakan ini adalah pancingan untuk menggempur pasangan kuda-kuda lawan dan untuk melihat perkembangan selanjutnya dari gerakan lawan.
Cin Han ingin mencoba tenaga si Naga Hijau, maka ia tidak berkelit, hanya setelah pedang lawan berada dekat, ia menangkis ke samping.
Dua pedang beradu dan Cin Han merasa telapak tangannya sedikit tergetar, maka tahulah ia bahwa lawannya memiliki tenaga yang tidak lemah.
Sebaliknya Thio Lok lebih berlaku hati-hati karena ternyata tangkisan tadi membuat lengannya kesemutan!
Maka ia segera berseru keras dan menyerang dengan hebat dan cepat.
Setelah berkelit dan menangkis serangan lawan dalam beberapa jurus, berdebar kagetlah hati Cin Han.
Ia berseru keras dan meloncat ke belakang tiga tombak lebih sambil berseru.
"Tahan, Thio-Taihiap!"
Thio Lok heran dan berdiri tegak. Cin Han menjura dengan hormat.
"Maaf, Thio Taihiap, kenalkah Taihiap kepada Ang Lian Lihiap?"
Thio Lok menggeleng-gelengkan kepala dan menjawab.
"Pernah kumendengar namanya, tapi belum pernah bertemu, maka aku tidak kenal."
Cin Han terheran.
Tadinya ia menyangka bahwa setidaknya orang she Thio ini tentu saudara seperguruan dengan Han Lian Hwa si Teratai Merah, tapi ternyata orang she Thio ini bahkan tidak kenal.
Ia hendak mencoba pula lalu bertanya.
"Dan kenalkah kau kepada Sian-kiam Koai-jin Ong Lun?"
Thio Lok memandangnya tajam lalu berkata.
"Dia adalah susiokku, ada apakah?"
Cin Han makin heran karena agaknya murid keponakan ini tidak menghormati paman gurunya, maka ia menjawab.
"Tidak apa-apa, pantas saja ilmu pedangmu hampir sama dengan ilmu pedang murid dari Sian-kiam Koai-jin."
"Apa hubungannya hal itu dengan permainan kita? Lihat, semua orang memandang kita, hayo kita lanjutkan permainan kita."
Cin Han memandang. Betul saja, semua mata memandang ke arah mereka dengan heran dan tak senang. Maka ia segera siap dan berkata.
"Nah, silakan menyerang lagi, Thio-Taihiap."
Thio Lok segera membuka serangannya lagi, kini lebih hebat, Cin Han sengaja hanya menangkis dan berkelit saja.
Serangan yang jarang ia lakukan pun hanya serangan-serangan tidak berbahaya saja.
Ia berbuat ini untuk melihat sampai di mana batas kepandaian orang ini dan sampai di mana persamaan permainan pedangnya dengan Ang Lian Lihiap pendekar wanita yang menjadi kenangannya itu.
Ternyata Thio Lok, walaupun keuletan dan kekuatannya melebihi Han Lian Hwa, namun ilmu pedangnya masih jauh di bawah permainan gadis itu.
Ilmu pedang dari Ang Lian Lihiap mempunyai banyak sekali perubahan-perubahan ganjil dan tak tersangka sungguhpun dasarnya juga sama dengan ilmu pedang Thio Lok ini ialah dari cabang Thai-san.
Tentu orang aneh Ong Lun itu telah mengadakan perubahan dan menciptakan sendiri ilmu pedangnya yang diturunkan kepada Ang Lian Lihiap, pikirnya sambil menangkis serangan Thio Lok yang makin gemas dan marah.
Thio Lok merasa penasaran sekali mengapa pedangnya yang sudah berhasil membuat ia jarang menemui lawan selama beberapa tahun, kini sama sekali tidak berdaya menghadapi anak muda yang tampak lemah ini.
"Kurasa sudah cukup Thio-Taihiap,"
Kata Cin Han sambil mengelak sebuah tikaman dan mengalah dengan bertindak mundur.
Tapi tidak tersangka sama sekali si Naga Hijau berteriak lagi dan meloncat maju menubruk, lalu langsung pedangnya menyambar dengan tipu Rajawali Mencengkeram Kelinci.
Serangan ini berbahaya sekali, dari meja ketua Kwie-coa-pai terdengar seruan tertahan.
Tapi Cin Han tak pantas disebut murid Beng San Siansu yang sudah menerima dan mengisap sari pelajaran Hwie-liong Kiam-sut kalau ia dapat dijatuhkan orang dengan tipu dan keadaan yang baru sedemikian saja.
Ia bersuit keras dan sekali pedang serta tubuhnya bergerak, dengan tipu Siang-liong-po-in atau Naga Dewa Membuka Awan ia berhasil berkelit dan memunahkan serangan Thio Lok dan berbareng mengirim tendangan kilat ke arah pergelangan tangan lawan.
Thio Lok terkejut sekali, tapi ia tak berdaya dan tak sempat berbuat sesuatu.
Pergelangan tangannya tertendang dan pedang yang dipegangnya terlempar ke udara.
Namun Cin Han dengan cepat sekali meloncat ke atas, dan sebelum pedang itu turun kembali, ia telah menyambarnya dengan tangan kiri, lalu meloncat turun dengan tenang.
Ia mengangsurkan pedang itu kepada Thio Lok yang masih berdiri terheran.
"Terima kasih bahwa kau telah berlaku murah dan mengalah, Thio Taihiap,"
Katanya.
Thio Lok menerima pedangnya dengan wajah merah.
Ia hendak marah, tapi melihat ketua Kwie-coa-pai telah datang menghampiri dengan tersenyum-senyum, ia lalu menjura kepada Cin Han dan berkata keras.
"Memang nama Hwee-thian Kim-hong bukan nama kosong. Aku mengaku kalah, Lo-Taihiap,"
Katanya. Cin Han merendahkan diri.
"Lihai sekali!"
Demikian seruan terdengar dari para tamu yang menyambut kemenangan Cin Han dengan tepukan dan sorakan.
Hong Su menghampiri Cin Han dan memimpin tangan anak muda ini ke mejanya.
Ketua ini tidak memperdulikan lagi kepada Thio Lok agaknya, dan orang she Thio ini dengan menundukkan kepala berjalan kembali ke tempat duduknya.
"Sungguh hehat sekali kau ini, Lo-Taihiap,"
Kata Hong Su memuji, dan Cin Han makin heran melihat betapa ketua itu kini sangat peramah dan penuh hormat, sedangkan sebutan untuk dirinya telah diganti pula, kini ia disebut Taihiap!
Tie Bong Hwesio mengisikan arak dalam sebuah cawan besar dan mengangsurkan cawan itu kepada Cin Han dengan membungkuk.
"Lo-Taihiap, pinceng kagum sekali padamu. Ilmu pedangmu sungguh hebat dan tanpa bertempur pinceng sudah mengaku kalah. Harap Taihiap sudi menerima tanda hormat pinceng dengan secawan (Lanjut ke
Jilid 09) Si Teratai Merah/Ang Lian Lihiap (Seri ke 01 -Serial Si Teratai Merah) Karya . Asmaraman S Kho Ping hoo
Jilid 09 arak!"
Melihat penghormatan dari seorang Hwesio tua sebesar ini, Cin Han buru-buru bangun berdiri dan menerima dengan kedua tangannya.
Tapi alangkah terkejutnya ketika ia merasa betapa cawan itu seakan-akan menempel dengan tangan Hwesio itu dan sukar sekali diambil.
Ia maklum bahwa Hwesio kepala gundul itu sedang mencoba tenaganya dan hendak mempermainkannya.
Maka diam-diam ia mengerahkan semua tenaga dalam ke arah tangannya dan sambil berkata.
"Lo-Suhu, terima kasih atas budi kebaikanmu!"
Ia menggunakan tangannya mencabut cawan itu. Ia melihat betapa kedua lengan Hwesio itu bergemetar dan akhirnya terpaksa Hwesio itu melepaskan cawan ke tangan Cin Han.
"Sungguh kau seorang pemuda yang luar biasa Lo-Taihiap."
Hwesio itu memuji dan duduk kembali ke kursinya sambil menyusut beberapa tetes arak yang tadi tumpah ke tangannya.
Si Bayangan Iblis tampaknya girang sekali melihat hal ini, dan ia mengangkat kursinya mendekat Cin Han.
Wajahnya berseri-seri ketika ia bertanya.
"Lo-Taihiap, bolehkah kami mengetahui nama guru Taihiap yang mulia?"
Ketika Cin Han menyebut nama Gwat Liang Tojin, Hong Su mengangguk-anggukkan kepala dan Tie Bong menjulurkan lidahnya.
"Oo, tidak tahunya Taihiap adalah murid dari Kong-hwa-san! Pantas saja begitu lihai!"
Pada saat itu Lie Thung datang menghampiri Cin Han dan menyerahkan baju luarnya, kemudian dengan perlahan sekali bekas bajak yang kini menjabat pangkat kepala bagian penyelidik dalam perkumpulan itu mendekati ketua Kwie-coa-pai dan berbisik.
Kwie-eng-cu Hong Su tampak terkejut dan segera berdiri.
"Saudara-saudara, ada urusan penting. Silakan berkumpul di kamar dalam dan kau juga dipersilakan ikut, Lo-Taihiap."
Semua orang yang duduk di meja itu, yakni kedua pengemis aneh, Hwesio, bekas pembesar, Thio Lok dan juga Lie Thung, berdiri dan beramai-ramai masuk ke ruangan sebelah dalam.
Cin Han tadinya ragu-ragu, tapi melihat Lie Thung mengangguk kepadanya, terpaksa ia ikut juga.
Mereka menuju ke sebuah kamar yang terletak di bagian paling dalam.
Kamar itu terhias gambar-gambar indah, merupakan kamar tamu dan di tengah-tengah terdapat sebuah meja besar dikelilingi banyak kursi.
Atas isyarat Hong Su, semua orang mengambil tempat duduk.
Kemudian ketua itu, setelah memandang mereka seorang demi seorang dengan paras muka bersungguh-sungguh, berkata kepada Cin Han.
"Saudara Lo yang gagah. Sebagai seorang baru tentu kau masih belum mengerti akan hal-hal kami, maka terlebih dulu biarlah kuuraikan secara singkat padamu. Kami yang duduk di sini adalah pendiri dan pengurus perkumpulan kami Kwie-coa-pai. Perkumpulan kami mendapat tunjangan dari rakyat dan pemerintah karena maksud dan tujuan perkumpulan kami adalah untuk melindungi rakyat dan membela pemerintah.
"Kami mengumpulkan orang-orang gagah dari seluruh propinsi dan membuat gerakan membasmi para penjahat pengacau pemerintah dan pengganggu rakyat. Kita orang-orang kasar yang hanya mengandalkan tenaga untuk membuat jasa mengapa tidak menggunakan kesempatan ini untuk berbuat sedikit kebaikan dengan mengusir segala sumber kekacauan? Maka, melihat kepandaian dan kejujuranmu, kami suka sekali menerimamu sebagai seorang saudara seperjuangan. Bagaimana pendapatmu, saudara Lo?"
Lo Cin Han biarpun memiliki kepandaian tinggi, namun ia masih sangat muda dan boleh dikata ia buta politik.
Ia hampir tidak mengerti sama sekali tentang keadaan sebenar dari pemerintah bangsa Boan yang pada waktu itu menjajah seluruh permukaan bumi Tiongkok.
Iapun tidak tahu sama sekali betapa para pembesar Boan dan para pembesar bangsa Han yang berjiwa rendah telah menjalankan penghisapan dan penindasan kepada rakyat.
Ia tidak menyangka sedikitpun juga bahwa Kaisar Boan yang cerdik, licin dan penuh tipu muslihat itu sedang mengadakan gerakan adu domba di antara para hohan yang mengancam kedudukannya.
Maka kini melihat keadaan perkumpulan Kwie-coa-pai dan mendengar pembicaraan ketua perkumpulan itu, ia merasa kagum dan tertarik sekali.
Seakan-akan dibangunkan semangat kepahlawanannya dan iapun ingin sekali menyumbangkan tenaganya guna rakyat dan negara.
"Hong Lo-Enghiong,"
Jawabnya kemudian.
"Para saudara di sini ternyata adalah orang-orang berjiwa besar yang membuat aku kagum sekali. Mana aku yang muda dan bodoh ini dapat disamakan dengan saudara-saudara? Tentu saja aku bersedia membantumu dalam usaha yang baik ini, karena memang telah menjadi kebiasaanku untuk membasmi penjahat dan pengacau keamanan rakyat."
Semua orang di situ merasa gembira sekali mendengar jawaban ini.
Kemudian Hong Su menyatakan bahwa barusan dari para penyelidiknya ia mendapat berita bahwa malam nanti gedung Pangeran Coa Kok Ong akan diserbu penjahat, dan penjahat-penjahat itu kabarnya terdiri dari beberapa orang yang berkepandaian tinggi.
"Cuwi Enghiong,"
Kata Hong Su sambil memandang kawan-kawannya.
"Sekali ini kita menghadapi perkara besar karena diantara para penyerbu itu terdapat juga Kim-Jiauw-Eng Nyo Tiang Pek si Garuda Kuku Emas!"
Terdengar seruan kaget dan Cin Han heran mengapa nama itu demikian berpengaruh, bahkan ia melihat wajah Thio Lok yang biasa tenang itu menjadi pucat.
Dua pengemis aneh itu saling pandang dan tertawa.
Si bongkok lalu berkata.
"Hm, dia juga datang? Kami berdua pernah menguji kepandaiannya dan dengan kepandaian kami digabungkan menjadi satu maka baru dapat melayaninya. Baiknya di sini kita dibantu Lo Cin Han Taihiap, maka kita tidak perlu berkhawatir lagi."
"Sebenarnya, siapakah Garuda Kuku Emas ini?"
Tanya Cin Han yang tidak dapat menahan keinginan tahunya lebih lama lagi.
"Kau belum pernah mendengar namanya?"
Kata Tie Bong Hwesio.
"Ia adalah murid dari Kang-Lam-Taihiap Kam Hong Tie dan kepandaiannya tinggi sekali."
"Murid Kang-Lam-Taihiap Kam Hong Tie? Kalau ia murid pendekar itu, mengapa kalian menyebut dia seorang jahat?"
Tanya Cin Han karena ia telah mendengar betapa gurunya memuji-muji nama Kam Hong Tie sebagai seorang pendekar gagah berani yang berbudi dan bijaksana.
Tie Bong Hwesio tidak bisa menjawab, tapi Hong Su mewakilinya dengan cepat.
"Ah, kau rupanya belum banyak merantau ke timur, saudara Lo. Memang Kang-Lam-Taihiap Kam Hong Tie adalah seorang Lo-Cianpwe yang gagah perwira. Dan muridnya inipun tadinya seorang hiap-kek yang budiman. Namun, entah apa sebabnya, ia berubah dan kini menjalankan pekerjaan sesat dan terkutuk. Ia mengacau rakyat dan negara, membunuh orang tidak berdosa dan melakukan segala macam perbuatan jahat mengandalkan ilmu silatnya yang tinggi."
Cin Han mengangguk-angguk.
"Kalau ia begitu jahat, harus kita tentang. Baik serahkan saja dia kepadaku, barangkali aku masih dapat melawannya."
Setelah membagi-bagi tugas menjaga dan menghadapi datangnya musuh malam nanti, Hong Su lalu mengajak kawan-kawannya untuk terlebih dahulu menjumpai pangeran itu dan mengatur siasat selanjutnya.
Beramai-ramai mereka menuju ke gedung pangeran yang letaknya hanya beberapa lie dari situ.
Cin Han kagum ketika masuk ke halaman gedung mentereng dan indah dan mempunyai taman bunga yang luas pula.
Ketika masuk, yang mula-mula menarik perhatiannya ialah bunyi suling yang merdu tertiup angin.
Suara itu datangnya dari arah taman bunga di belakang gedung.
"Hrn, Coa-siocia masih saja bersenang-senang meniup sulingnya, tak tahu hahwa bahaya besar mengancam di atas kepala,"
Hong Su berkata dengan tersenyum. Lam Beng Sun bekas pembesar itupun tersenyum dan berkata.
"Memang Coa-siocia selalu gembira dan suara sulingnya memang merdu tiada bandingnya di seluruh daerah ini."
Pangeran Coa Kok Ong yang bertubuh tinggi dan berkumis seperti kucing menyambut mereka dengan wajah gembira.
Ternyata di ruang tamu telah duduk seorang yang bertubuh tinggi besar dan wajahnya gagah sekali.
Pakaiannya menunjukkan bahwa iapun seorang pembesar dan melihat sikap Pangeran Coa yang agaknya sangat menghormatinya, dapat diduga bahwa ia tentu seorang pembesar yang tinggi juga pangkatnya.
Setelah mempersilakan mereka duduk, Pangeran Coa Kok Ong lalu memperkenal tamunya yang bersikap tinggi hati itu.
Ternyata ia adalah Biauw Su Hai yang berpangkat ciang-bu atau kapten dari pasukan penjaga keamanan kota raja dan menjadi panglima kepercayaan kaisar.
Maka segera Lam Beng Sun dan semua orang gagah, kecuali Cin Han, menyatakan hormat mereka terhadap Biauw Su Hai yang mereka sebut Biauw-Ciangkun.
Kemudian mereka diberi tahu bahwa Biauw-Ciangkun telah diterima lamarannya dan kini menjadi calon mantu Pangeran Coa atau tunangan Coa-siocia yang tiupan sulingnya terdengar tadi.
Ketika mendengar tentang adanya bahaya penyerbuan, Biauw Su Hai tertawa bergelak-gelak dan berdiri menepuk-nepuk dada.
"Saudara-saudara tidak perlu demikian sibuk. Ada aku di sini, masa menghadapi beberapa gelintir maling kecil itu saja harus demikian berhati-hati?"
Tapi Lam Beng Sun berkata hati-hati.
"Kami percaya bahwa Biauw-Ciangkun pasti dapat memukul mundur mereka, tapi berhati-hati lebih baik, dan lagi, kiranya tidak perlu Biauw-Ciangkun sendiri yang menghadapi penjahat-penjahat kecil itu. Serahkanlah saja kepada Hong Su bengcu dan kawan-kawannya pasti beres."
Biauw Su Hai tertawa keras.
"Kau benar, Lam-Twako. Kau benar!"
Cin Han merasa sebal sekali melihat kecongkakan dan kekasaran kapten itu.
Ingin sekali ia tahu betapa tinggi kepandaian kapten dogol ini.
Tapi ia diam saja tidak ikut bicara sampai Hong Su mengajak mereka pulang.
Malamnya, baru saja jam delapan, Hong Su mengajak kawan-kawannya yang telah siap dengan pakaian ringkas dan senjata masing-masing.
Cin Han diharuskan menjaga di taman bunga belakang gedung.
Thio Lok di taman bunga depan, Tie Bong Hwesio, Liok Sin Tat, Kok Pin dan Hong Su sendiri terbagi-bagi menjaga di atas genteng sambil bersembunyi.
Karena harus menjaga taman bunga yang luas, maka Cin Han berjalan-jalan di dalam kebun itu, mengagumi bunga-bunga yang sedang mekar di dalam taman dan di dalam empang kecil yang penuh dengan ikan emas terlihat beberapa bunga teratai merah.
Ia teringat kepada Ang Lian Lihiap Han Lian Hwa, gadis yang belum pernah meninggalkan lubuk hatinya itu.
Diam-diam ia menghela napas.
Tiba-tiba di taman yang sunyi terdengar suara orang bercakap-cakap.
Cin Han merasa heran dan terkejut karena sejak tadi ia berlaku waspada dan tidak dilihatnya seorangpun memasuki taman itu.
Maka segera ia dengan hati-hati menghampiri ke arah suara itu mendatang.
Ternyata bahwa orang-orang yang bicara itu berada di dalam sebuah bangunan kecil yang mungil dan indah sekali, agaknya sengaja dibangun di ujung taman itu untuk tempat mengaso.
Kini terdengar jelas olehnya suara percakapan itu.
Yang berbicara adalah dua orang wanita dan menurut kata-kata yang diucapkan, ternyata mereka adalah seorang majikan dan bujangnya.
Cin Han menyembunyikan diri ketika terdengar bujang itu menyebut "Siocia."
Ia dapat menduga bahwa wanita di dalam bangunan kecil itu tentu puteri pangeran sendiri, yakni Coa-siocia yang tadi telah meniup suling demikian merdunya.
Tapi hatinya ingin sekali melihat wajah puteri itu, pula ia berpendapat bahwa sudah menjadi kewajibannya untuk minta gadis itu supaya masuk ke dalam gedung dan sekali-kali jangan keluar pada malam ini.
Maka ia memberanikan diri dan berdiri menanti di luar pintu.
Ia mendengar siocia yang berada di dalam menangis terisak-isak dan pelayannya dengan suara pilu menghiburnya.
Karena ingin tahu, Cin Han melangkah maju dan mendekati pintu.
Kini terdengar olehnya suara di dalam berkata keras.
"Tidak, A-bwee, tidak! Lebih baik aku mati saja... A-bwee, pergilah ke kamarku, di laci meja riasku ada sebuah botol kecil, ambillah dan bawa ke sini...! Cepat, A-bwee..."
"Tidak, siocia, jangan begitu! Masih ada jalan lain, nona."
"Jalan lain yang mana? Watak ayah kukuh dan keras... dan orang she Biauw si jahanam kasar itu... ia berpengaruh... ah... jangan membantah, A-bwee... ambillah botol itu..."
Terdengar A-bwee menangis tersedu sedan.
"Saya tidak sanggup, siocia, saya tidak... tidak mau..."
"Kau tidak mau ambilkan?? Baik, tinggal saja di sini, aku akan mengambil sendiri!"
"Jangan, nona... jangan... tolong..."
A-bwee menjerit!
Cin Han terkejut dan hendak menolak daun pintu, tapi pada saat itu, daun pintu terbuka dari dalam dan hampir saja ia bertubrukan dengan seorang yang berlari keluar.
Baiknya Cin Han cepat memiringkan tubuhnya, dan orang itu karena terkejut, kakinya terkait ambang dan terhuyung ke depan akan jatuh.
Cin Han berlaku sebat dan dengan tangan kiri ia menangkap lengan orang itu untuk mencegahnya jatuh.
Tapi, setelah orang itu berdiri, Cin Han cepat-cepat melepaskan pegangannya dan wajahnya merah, hatinya berdebar.
Ternyata orang itu adalah seorang gadis muda yang cantik sekali dan kini tengah memandangnya dengan sepasang mata yang indah dan jeli bagaikan mata burung Hong.
Mulut yang kecil dengan bibir merah itu menggigil dan bergerak-gerak, tapi untuk sejenak gadis itu tidak dapat berkata-kata.
Cin Han mengangkat tangan dan menjura.
"Nona, maafkan aku..."
"Kau... kau siapakah? Mengapa berani memasuki tempat ini?"
Akhirnya siocia itu dapat juga membuka mulut bertanya.
"Aku ditugaskan oleh Hong Su Lo-Enghiong untuk menjaga taman ini. Kuharap siocia suka masuk saja ke dalam gedung dan jangan keluar-keluar untuk semalam hari ini, karena berbahaya sekali."
Coa Giok Lie memandang pemuda itu dengan penuh perhatian.
Ia tertarik oleh sikapnya yang sopan-santun, dan terutama sulaman burung Hong di dada anak muda itu membuatnya kagum.
Ketika pandangan matanya bertemu dengan pandangan mata Cin Han, ia menundukkan kepala dan kulit mukanya merah padam.
"A-bwee! Hayo kita masuk!"
Dari balik pintu itu muncul keluar seorang perempuan muda yang masih menyusut air mata dari pipinya. Ia memandang Cin Han dengan heran dan penuh curiga, kemudian menuntun tangan siocianya.
"Marilah, siocia."
Sebelum mereka pergi, Cin Han maju selangkah dan menjura lagi.
"Siocia, maafkan aku. Maksudmu itu kurang benar, siocia. Di dunia ini tidak ada persoalan yang tidak dapat dibikin beres. Jalan pendek dan sesat itu hanya bisa dilakukan oleh seorang bodoh dan picik, dan saya yakin siocia bukan termasuk golongan orang-orang demikian."
Coa Giok Lie memandang Cin Han dengan marah, sepasang mata yang indah itu seakan-akan mengeluarkan api, bagaikan mata burung rajawali yang mengintai kurbannya.
Kemudian tanpa bicara apa-apa, ia membalikkan tubuh dan lari masuk ke dalam gedung.
Cin Han menghela napas dan melanjutkan perjalanannya meronda di taman bunga itu.
Ia tidak menyangka bahwa Coa Kok Ong mempunyai seorang gadis yang demikian cantiknya!
Seumurnya belum pernah ia melihat wanita secantik itu.
Begitu lemah lembut, halus gerak-geriknya, tubuhnya bergoyang lemas bagaikan pohon Yang-liu tertiup angin, dan mata itu!
Diam-diam Cin Han membandingkan gadis itu dengan bayangan Han Lian Hwa yang tidak pernah meninggalkan alam pikirannya.
Baginya, gadis perkasa itu lebih menarik dan sikapnya yang gagah mendatangkan rasa kagum dan perindahan darinya, tetapi mengenai kecantikan dan sifat halus kewanitaan, harus ia akui bahwa Coa Giok Lie siocia ini masih menang jauh.
Tiba-tiba ia merasa malu kepada diri sendiri.
Mengapa ia harus memikirkan gadis itu?
Pada saat itu terdengar bunyi suitan keras.
Cin Han tahu bahwa itu adalah tanda dari kawan-kawannya bahwa musuh telah tiba.
Suitan itu datang dari atas genteng, maka Cin Han segera mengayun tubuhnya ke atas genteng.
Dengan berlari cepat ia menuju ke wuwungan tengah, dan di situ ia melihat sepasang pengemis sedang bertempur melawan seorang pemuda baju hijau yang bersilat dengan pedang panjang.
Sekilas saja tahulah Cin Han bahwa permainan pemuda itu lihai sekali, dan sepasang pengemis itu hanya dapat menangkis dan berkelit saja.
Liok Sin Tat menggunakan selendang merahnya yang hebat, dan Kok Pin menggunakan senjata joan-pian lemas yang menyerupai cambuk.
Sebenarnya permainan senjata kedua pengemis ini sudah mencapai tingkat yang tinggi juga, tapi ternyata pemuda baju hijau itu lebih hebat gerakan-gerakannya.
Cin Han dapat menduga bahwa pemuda itu tentu murid Kam Hong Tie yang disebut orang Garuda Kuku Emas.
Pantas saja ia disegani, kiranya ilmu pedangnya memang luar biasa.
Cin Han melihat sekeliling.
Ternyata bahwa semua kawan-kawannya sedang bertempur.
Hong Su si Bayangan Iblis sedang bertempur melawan seorang yang bertubuh kecil ramping.
Cin Han sekali lagi merasa terkejut karena permainan pedang lawan Hong Su sangat hebat.
Dan ketika ia melihat lebih tegas, ia dapat menduga bahwa orang itu tentu seorang wanita.
Tapi permainan pedangnya agaknya tidak di sebelah bawah dari Garuda Kuku Emas.
Ketua Kwi-Coa-Pai yang bersenjata sepasang siang-kek, semacam tombak pendek bercagak, bermain dengan cepat dan kuat sehingga lawannya tidak dapat terlalu mendesak, tapi sebaliknya si Bayangan Iblis yang terkenal gagah perkasa itupun tidak dapat berbuat banyak!
Cin Han mengerutkan jidat dan ia cemas sekali.
Masih banyakkah lawan-lawan lihai ini?
Selagi ia hendak membantu sepasang pengemis mengeroyok Garuda Kuku Emas yang mendesak kedua pengemis itu, tiba-tiba terdengar seruan panjang dan muncullah seorang yang bersenjatakan baju luar yang digulung!
Orang yang datang ini sudah tua dan brewokan, tapi ketika ia menyerbu dan mengeroyok Hong Su, Cin Han merasa kagum melihat betapa baju luar yang digulung dan dipakai sebagai senjata itu sungguh lihai dan hebat sekali.
Sabetan baju itu mendatangkan angin menderu dan teringatlah Cin Han akan cerita gurunya dulu bahwa di dunia persilatan terdapat seorang hiap-kek yang terkenal dengan sebutan Ciu-sian Kong Sin Ek dan yang mempunyai senjata luar biasa, yakni baju luarnya!
Dengan majunya Dewa Arak Kong Sin Ek itu, maka segera Hong Su terdesak mundur.
Tapi pada saat itu juga, tampak Thio Lok melayang naik dan membantu sepasang pengemis menggempur Garuda Kuku Emas sehingga keadaan mereka kini berimbang.
Cin Han hendak meloncat membantu Hong Su, tapi ia melihat bayangan orang tinggi besar berkelebat memasuki gedung!
Ia mengurungkan niatnya membantu Hong Su, dan secepat kilat ia mengejar bayangan tadi yang pasti bermaksud jahat.
Tapi ternyata bayangan itu bergerak cepat sekali sehingga ketika Cin Han mengejar ke dalam gedung, bayangan itu telah lenyap.
Ia memandang tajam ke kiri, dan tiba-tiba dari kamar di ujung kanan ia mendengar suara orang.
Dengan gerakan Naga Sakti Mengejar Awan ia meloncat ke arah kamar itu dan dengan berpok-sai ia menggantungkan kedua kaki di balok melintang.
Dari lobang di atas jendela ia dapat mengintai ke dalam.
Alangkah terkejutnya ketika ia melihat bahwa kamar itu adalah kamar Coa-siocia dan pada saat itu terdapat pemandangan yang membuat ia hampir berteriak marah!
Coa-siocia berdiri angkuh dan matanya yang seperti mata burung Hong itu memandang hina kepada seorang Hwesio tua tinggi besar yang berdiri di hadapannya dengan toya di tangan!
A-bwee tampak berlutut dan menutupi muka karena takut.
Cin Han tidak dapat mendengar apa yang mereka bicarakan, tapi dari keadaan mereka ia dapat tahu bahwa Hwesio penjahat itu tentu sedang memaksa dan menanyakan sesuatu yang tidak dijawab oleh Coa-siocia.
Diam-diam Cin Han kagum sekali melihat keberanian nona yang lemah lembut itu.
Melihat nona cantik itu berdiri bagaikan seorang ratu memandang rendah seorang penjahat!
Dengan gerakan Naga Sakti Memutar Ekor Cin Han meloncat dan membalikkan tubuh, terus meloncat ke kamar melalui jendela yang didorongnya dengan tangan kiri.
"Pendeta cabul jangan mengganggu anak gadis orang!"
Teriaknya dan dengan gemas ia menggunakan kepalan kanan memukul.
Hwesio itu cepat berkelit dan Cin Han memandang ke arah sepasang mata yang sangat tajam.
Tapi ia heran melihat wajah Hwesio yang tampaknya alim dan agung.
Hwesio itu meloncat keluar dengan cepat sekali, dan Cin Han mengejar sambil berteriak.
"Hwesio jahat hendak lari ke mana?"
Hwesio itu memutar toyanya dan segera Cin Han merasakan angin toya menyambar dadanya.
Ia meloncat ke samping dan berbareng mencabut keluar pedangnya.
Mereka segera bergebrak seru dan ternyata ilmu pedang Cin Han yang luar biasa itu sebentar saja sudah dapat mendesak dan membuat Hwesio itu sibuk menangkis.
Kalau ia mau, agaknya tidak sukar bagi Cin Han untuk mengirim serangan maut, tapi karena ia tadi melihat wajah Hwesio ini bukan seperti orang jahat, maka ia tidak tega membunuhnya dan timbul kekhawatirannya membunuh orang baik-baik.
Pada saat ia hendak menyudahi pertempuran itu dan membuat lawannya tidak berdaya, sebuah bayangan orang berkelebat datang dibarengi bentakan halus nyaring.
"Jangan sibuk, suheng, aku datang membantumu!"
Dan bayangan ini segera menggerakkan pedangnya.
Cin Han menangkis keras untuk membabat pedang lawan baru ini, tapi ketika kedua pedang beradu, tidak saja pedang lawan tidak terbabat buntung, bahkan ia merasakan tenaga besar membuat pedangnya sendiri terpukul!
Ia heran dan terkejut sekali, tetapi pada saat itu, lawannya berseru kaget dan meloncat mundur.
"Kau...??"
Lawannya yang ternyata seorang wanita muda itu bertanya ragu. Cin Han memandang dan... ternyata yang berdiri di depannya bukan lain ialah Ang Lian Lihiap Han Lian Hwa.
"Moi... Lihiap... kaukah ini?"
Tanyanya gagap. Lian Hwa memandang tajam dan mulutnya mengejek.
"Hm... jadi kaupun menjadi pembela, menjadi anjing penjilat? Kau?? Ah... tidak kusangka..."
Terdengar elahan napas mengandung isak, kemudian pendekar wanita itu mengertak gigi.
"Baiklah! Biar saat ini kita tentukan, siapa yang harus mampus di ujung pedang!"
"Nanti dulu, Lihiap... agaknya..."
"Jangan banyak cerewet!"
Lian Hwa membentak.
"Agaknya... ada salah paham... aku bingung..."
"Ah! Alasan palsu. Suheng, hayo kita basmi anjing ini!"
"Moi-moi!!"
Cin Han berteriak pilu.
"Pengkhianat! Gunakan pedangmu, bukan mulutmu!"
Dan Ang Lian Lihiap dengan gemas dan marah sekali menggerakkan pedangnya menusuk.
Cin Han terpaksa menangkis, tapi segera ia merasakan betapa banyak kemajuan yang diperoleh gadis ini.
Gerakan-gerakannya demikian lincah dan cepat hingga harus ia akui bahwa ginkang atau ilmu ringankan tubuh dari gadis ini bahkan berada di atas kepandaiannya sendiri.
Maka sudah tentu saja ilmu pedang Sian-liong-kiam-hwat pelajaran aseli dari Sian-kiam Koai-jin Ong Lun yang dimainkan oleh gadis itu makin hebat dan lihai saja.
Pula terasa olehnya dalam benturan pedang bahwa tenaga lweekang dari gadis itu sudah jauh lebih maju daripada ketika bertempur dengannya dulu.
Kini, ditambah lagi dengan permainan toya dari Hwesio yang cukup lihai, tentu saja kedua lawan ini merupakan lawan yang tangguh.
Baiknya ia sudah mencangkok sari pelajaran dari Beng San Siansu dan sudah mahir mainkan Hwie-liong Kiam-sut, maka ia dapat menutup dirinya dengan sinar pedangnya sehingga tidak mungkin terluka, biarpun dirinya dikurung toya dan pedang yang dimainkan hebat bagaikan disulap menjadi ratusan mengeroyok dirinya.
Cin Han mengakui bahwa kalau saja ia tidak menguasai Hwie-liong Kiam-sut, jangankan dikeroyok, melawan Ang Lian Lihiap sendiri saja pasti ia akan kalah.
Kini ia menjadi bingung dan serba salah.
Diluar kehendaknya, ia sekali lagi bertempur melawan Ang Lian Lihiap.
Bahkan ia dianggap pengkhianat.
Apakah artinya semua ini?
Tapi Lian Hwa tidak menghendaki perundingan, tidak sudi mendengarkan pembelaannya, maka ia menindas kesedihan dan kebingungannya, lalu mengertakkan gigi dan memusatkan perhatiannya di ujung pedang.
Setelah bertempur lima puluh jurus lebih, ia dapat memunahkan semua serangan dan keadaan mereka berimbang.
Lian Hwa dengan nekat dan mati-matian terus menyerang, sedangkan Hwat Kong Hwesio, suheng gadis itu, sudah mulai mengeluarkan keringat.
Tiba-tiba datang pula seorang yang gerakannya cukup gesit, tapi orang ini bukan hendak mengeroyok, bahkan dengan tergesa-gesa bersuit keras.
"Ah, mengapa harus mundur? Aku belum puas kalau belum membunuh pengkhianat ini."
Terdengar Ang Lian Lihiap mengeluh kepada suhengnya.
"Sudahlah, sumoi. Hayo kita pergi!"
Dan Hwat Khong mendahuluinya meloncat mundur. Cin Han juga meloncat mundur dan menanti dengan pedang di tangan. Lian Hwa menuding dengan pedang ke arahnya.
"Pengkhianat she Lo! Biar kau hidup sampai besok malam untuk menyesali pengkhianatanmu!"
Kata-kata ini dibarengi pandangan mata yang penuh sinar kebencian tapi yang dihiasi dengan dua butir air mata menitik turun di sepanjang pipinya.
"Lihiap, dengarlah dulu..."
Tapi Ang Lian Lihiap, dan suhengnya sudah meloncat pergi.
Cin Han hanya menghela napas berulang-ulang, kemudian ia meloncat ke atas genteng untuk menemui kawan-kawannya.
Ternyata Hong Su si Bayangan Iblis mendapat luka ringan di pundaknya.
Ketika ketua Kwi-Coa-Pai ini bertempur melawan Ang Lian Lihiap, keadaan mereka seimbang, tapi setelah datang Ciu-sian Kong Sin Ek si Dewa Arak, ia mulai terdesak dan ujung pedang Lian Hwa melukai pundaknya.
Gadis itu melihat lawan sudah terluka, lalu meninggalkannya untuk membantu suhengnya, sedangkan Hong Su terus bertempur melawan Kong Sin Ek.
Sedangkan sepasang pengemis dengan bantuan Thio Lok ternyata telah berhasil membuat Garuda Kuku Emas menjadi sibuk juga.
Melihat kekuatan penjagaan yang demikian besar, akhirnya si Garuda Kuku Emas yang memimpin penyerangan ini memberi perintah mundur.
Cin Han menghampiri Thio Lok.
"Saudara Thio, tahukah kau siapa penyerang wanita yang bertempur melawan Hong Su Lo-Enghiong tadi?"
Thio Lok menggelengkan kepala.
"Ia adalah saudara seperguruan dengan kau,"
Kata Cin Han.
"Apa katamu?"
Thio Lok terkejut dan heran.
"Ia adalah murid Sian-kiam Koai-jin Ong Lun yang disebut orang Ang Lian Lihiap."
"Oo, begitukah?"
Dan heran sekali, orang she Thio itu menjebirkan bibir seakan-akan mengejek.
Maka Cin Han tak sudi berkata apa-apa lagi hanya merasa heran sekali mengapa saudara seperguruan ini agaknya saling membenci.
Walaupun di dalam hati merasa sangat penasaran dan penuh kecurigaan akan kebersihan orang-orang yang ia bela tapi Cin Han tak banyak cakap.
Ia hanya berlaku waspada dan mengambil keputusan untuk menyelidiki sendiri keadaan orang-orang yang ia anggap "gagah dan patriotik"
Ini.
Kalau kawan-kawannya ini benar-benar orang baik-baik, mengapa Ang Lian Lihiap dan murid Kam Hong Tie sampai memusuhinya?
Mungkin juga Garuda Kuku Emas itu bisa tersesat.
tapi apakah Ang Lian Lihiap juga berlaku sesat dan buta?
Ah, ia tidak percaya.
Dan mengapa ia disebut pengkhianat oleh Han Lian Hwa?
"Cuwi,"
Tiba-tiba Hong Su berkata dengan suara sungguh-sungguh.
"Musuh yang datang kali ini sangat kuat. Baiknya kita masih dapat memukul mundur mereka. Tapi, kurasa besok malam mereka tentu datang lagi dan pasti mereka membawa lebih banyak kawan. Maka, kuharap Thio Taihiap dan Tie Bong Lo-Suhu sekarang juga pergi mengundang beberapa kawan dari Kie-ciu."
Kedua orang itu mengatakan baik dan langsung berangkat menuju ke selatan.
Pada saat itu, dari bawah meloncat naik seseorang dan ketika dilihat, ternyata dia adalah Biauw Su Hai yang memegang sebuah golok besar di tangan.
Sikapnya sombong sekali.
"Bagaimana, cuwi?"
Tanyanya.
"Sudah kaburkah semua penjahat tadi? Sayang golokku tidak kebagian sedikit darah. Aku menjaga di dalam kamar khawatir kalau-kalau ada penjahat yang memasuki kamar calon mertuaku!"
Biarpun agaknya gemas, Hong Su menceritakan juga kepada kapten ini tentang datangnya musuh tadi.
Di depan seorang kepercayaan kaisar, ia tidak berani berlaku kurang ajar.
Tapi Cin Han tak dapat menahan muaknya, dan dengan suara mengandung sindiran ia berkata.
"Sayang sekali Biauw-Ciangkun tidak muncul tadi. Kalau Ciangkun ada di sini, tentu. Hong Su Lo-Enghiong takkan terluka. Sayang sekali. Biauw-Ciangkun muncul setelah semua lawan sudah pergi!"
Biauw Su Hai memandangnya dengan marah, lalu tanpa berkata apa-apa ia meloncat turun kembali.
Kedua pengemis tertawa ha-ha-hi-hi melihat keadaan ini.
Semua lalu turun dan pergi ke kamar masing-masing untuk beristirahat.
Pada keesokan harinya, sore hari, Thio Lok dan Tie Bong Hwesio datang dengan dua orang Hwesio lain.
Cin Han yang duduk diam dalam kamarnya, hanya mendengar suara mereka bercakap-cakap, tapi ia tidak ada nafsu untuk keluar menemui mereka.
Setelah hari menjadi gelap, Hong Su mengetuk pintu kamarnya, dan ketika pintu dibukanya, ketua perkumpulan Kwi-Coa-Pai itu memesan agar mulai jam sembilan nanti ia suka bersiap dan berjaga di posnya yang kemarin juga, yakni di dalam taman bunga belakang.
Cin Han menyanggupi dengan sabar tak banyak cakap.
Kurang lebih jam delapan ia sudah keluar dari kamarnya dan menuju ke taman belakang.
Tapi ketika sampai di ruang tengah dan mendengar suara orang bercakap-cakap di dalam kamar, ia tiba-tiba mendengar suara orang yang agaknya telah dikenalnya.
Maka diam-diam ia meloncat naik ke atas genteng dari celah-celah genteng itu mengintip ke dalam.
Bukan main kagetnya ketika ia melihat bahwa dua tamu yang diundang itu tak lain ialah Bong Lam Hwesio dan Bong Gak Hwesio, kedua Hwesio dari Pek-Lian-Kauw yang dulu pernah mengeroyok Gwat Liang Tojin gurunya!
Semua pengurus Kwi-Coa-Pai berada di situ mengadakan perundingan.
Pada saat itu ia melihat Bong Lam Hwesio mencabut golok dan bangun berdiri, diikuti oleh Bong Gak yang juga menyambar toya.
"Apa kaubilang?"
Teriak Bong Lam kepada Hong Su.
"Hwee-thian Kim-hong berada di sini? Ia musuh kami!"
Hong Su berdiri dan memberi tanda kepada dua orang itu supaya berlaku tenang. Kemudian ia bertanya bagaimana asal mulanya maka terdapat dendam permusuhan di antara mereka.
"Tahukah kalian? Ia adalah murid Gwat Liang dan Gwat Liang itu adalah suheng dari Ong Lun yang menjadi musuh keturunan kami. Pendeknya, Pek-Lian-Kauw telah bersumpah untuk membasmi mereka ini, terutama Ang Lian Lihiap karena ia itu adalah murid Ong Lun!"
Kata Bong Gak dengan suara marah tertahan.
Lam Beng Sun yang sebenarnya menjadi perantara untuk mengumpulkan orang-orang gagah dan memusuhi para patriot-patriot bangsa, ikut menyatakan pendapatnya dengan suara tenang.
"Saya harap jiwi suhu berlaku tenang dan bijaksana dalam hal ini. Pada waktu ini, teristimewa malam hari ini, kita menghadapi lawan-lawan yang tangguh, dan kita membutuhkan bantuan dari luar. Sedangkan Hwee-thian Kim-hong benar-benar merupakan tenaga bantuan yang berharga. Maka, menurut pendapatku yang bodoh, biarlah jiwi jangan jumpai dia dulu, tunggu kalau bahaya dan ancaman musuh sudah dihalau pergi, mudah saja melakukan balas dendam. Pula kawan-kawan yang saya datangkan dari Barat mungkin beberapa hari lagi tiba di sini untuk menggabung kepada kita dan memperkuat kedudukan kita. Sabarlah, jiwi suhu."
Biarpun Lam Beng Sun hanya seorang biasa saja, namun besar sekali pengaruhnya, karena dialah yang memegang kunci keuangan yang mengalir dari istana kaisar untuk membiayai para orang gagah yang dapat dipikat dan ditarik menjadi orang yang pro kaisar.
Maka usulnya ini tak seorangpun berani membantahnya.
Cin Han yang mendengar semua inl merasa sesak napasnya!
Ah, ia telah terjeblos ke dalam gua ular berbisa!
Ia telah membantu orang-orang jahat, telah membantu Pek-Lian-Kauw dan Kwi-Coa-Pai yang ternyata bermaksud jahat.
Baru insaflah dia akan kesalahannya, sungguhpun masih belum dimengerti mengapa Ang Lian Lihiap dan kawan-kawannya menyerang Pangeran dan mengapa pula Pek-Lian-Kauw dan Kwi-Coa-Pai membela pangeran ini.
Betapapun juga, kini ia yakin bahwa pihak Ang Lian Lihiap yang malam ini akan datang menyerang pula adalah pihak yang benar.
Hal ini ia yakin setelah melihat macamnya orang-orang di pihak pangeran.
Ia marah sekali dan besar sekali hasratnya untuk mendobrak pintu dan menerjang semua orang itu, tapi perasaan ini ditahannya karena ia merasa takkan ada faedahnya menghadapi sekian banyak orang-orang yang berkepandaian tinggi.
Maka ia meloncat pergi dengan maksud meninggalkan tempat itu agar dapat membantu rombongan Ang Lian Lihiap kalau mereka datang.
Tapi tiba-tiba, entah apa yang menggerakkan, kakinya menyeleweng dan menuju ke atas kamar Coa Giok Lie.
Tepat sekali pada saat ia tiba di atas kamar dan mengintai ke dalam, dilihatnya siocia itu telah mengikat dan menyumpal mulut A-bwee!
"A-bwee, menyesal sekali hal ini harus kulakukan, karena kalau tidak, kau tentu akan menggagalkan maksudku dengan menghalanginya atau berteriak-teriak.
Keputusanku sudah tetap.
Tak perlu aku hidup lebih lama di dunia ini.
Ayah mabok pangkat dan harta, dikelilingi bangsa penjahat, bahkan lamaran manusia macam orang she Biauw itupun diterimanya agar ia mudah mendapat kedudukan.
Sekarang jiwa sekeluarga kami terancam.
Orang-orang jahat menghendaki jiwa kami.
Ah, ini semua salah ayah sendiri.
Air mataku tak dianggapnya.
Sayangnya kepada anaknya telah luntur.
Maka, A-bwee, untuk apa aku hidup lebih lama lagi untuk menderita hidup di samping orang she Biauw itu?"
Cin Han melihat Giok Lie mengambil sebuah botol kecil dari atas meja, membuka tutup botol dan mengeluarkan dua butir obat lalu memasukkan obat yang berwarna hitam itu ke dalam cangkir terisi air.
Kemudian, setelah berdongak ke atas dan menyebut.
"Ibu, selamat tinggal, ibu..."
Ia mengangkat cangkir itu ke mulutnya. Tapi sebelum bibirnya dapat mengecup pinggir cangkir, tiba-tiba sebuah batu kecil melayang dan "Prak!"
Cangkir itu pecah dan jatuh ke atas lantai. Isinya tumpah keluar dan Giok Lie mendekap dadanya dengan terkejut. Kedua matanya bersinar marah ketika ia melihat Cin Han masuk ke kamarnya.
"Siocia, kenapa kau tetap ingin mati bunuh diri? Tak malukah kau?"
Suara Cin mengandung penasaran.
"Malu? Mana lebih malu menjadi bini Biauw Su Hai? Ah, kau tak tahu... mengapa pula kauhalang-halangi maksudku? Kau pernah menolongku ketika penjahat-penjahat itu datang. Apakah... apakah kali ini kau hendak membuatku hidup sengsara?"
Sebelum ia dapat menjawab, tiba-tiba dari luar terdengar suara bentakan.
"Bangsat kurang ajar! Berani betul kau masuk kamar tunanganku. Hayo keluar untuk terima binasa!"
Giok Lie memegang lengan Cin Han.
"Celaka! Itu suara bajingan she Biauw! Kau pasti akan mendapat celaka... koko... kau... lekas kau pergi, larilah sebelum terlambat..."
Tapi Cin Han ragu-ragu karena ia khawatir kalau-kalau gadis ini tetap akan bunuh diri nanti apabila ia pergi meninggalkannya.
Di luar kamar terdengar banyak orang mendatangi dan sebentar kemudian pintu kamar Giok Lie diketuk keras-keras.
"Giok Lie! A-bwee!! Hayo buka pintu... cepat!"
"Ah, ayah juga datang... bagaimana ini baiknya, koko? Ah, daripada aku mendapat malu, maka bunuhlah aku lebih dulu, kemudian terserah padamu, hendak lari atau mengadu jiwa. Tapi bunuhlah aku... namaku akan tercemar... bunuhlah..."
Giok Lie mencoba untuk merebut pedangnya, tapi Cin Han memegang lengannya.
"Nona! Jangan takut. Kalau memang kau berjanji tidak akan bunuh diri, serahkanlah semua ini kepadaku. Aku akap melindungimu. Tunggu di sini, hendak kubereskan mereka semua."
Kemudian dengan sekali mengayunkan tubuh Cin Han melesat keluar dari jendela sambil memutar pedangnya.
Begitu tiba di luar, ia dikeroyok, tapi dengan mempergunakan ilmu pedang Hwie-liong Kiam-sut, sebentar saja ia berhasil membabat patah toya berikut sebuah lengan Bong Gak Hwesio.
Namun kepungan makin rapat, diantaranya Hong Su juga menyerangnya sambil memaki.
"Hem, Hwee-thian Kim-hong, kau manusia tak mengenal budi. Kami memperlakukan kau baik-baik, tapi sebaliknya kau bahkan mau mengganggu gadis orang. Sungguh bagus perbuatanmu."
Cin Han sambil bersilat memperdengarkan suara ejekan.
"Kwi-eng-cu! Tadinya aku mengagumi kalian karena mataku seakan-akan buta. Kini aku tahu siapa kalian ini, dan dapat terduga olehku mengapa kalian menggabung dengan bangsat-bangsat gundul dari Pek-Lian-Kauw. Pendeknya, kalian mau apa? Biarkan aku pergi dari sini dengan aman, atau aku membuka jalan darah."
Kata-kata Cin Han disambut dengan serangan-serangan hebat.
Payah juga Cin Han melayani semua ini, karena sesungguhnya, biarpun kepandaiannya cukup tinggi, namun ia menghadapi enam orang yang kesemuanya memiliki kepandaian istimewa.
Kok Pin yang memiliki ginkang yang tinggi dapat memainkan joan-piannya dengan baik sekali, dibarengi permainan ang-kin merah dari Lok Sin Tat yang telah terkenal kelihaiannya.
Tie Bong Hwesio kemarin malam tak sempat ikut bertempur karena ditugaskan menjaga pintu belakang kalau-kalau ada musuh menyerobot, tapi kini Hwesio yang mahir sekali ilmu lweekangnya itu ikut mengeroyok dengan sebatang tongkat besi di tangan.
Juga Thio Lok yang memang membencinya, tampak memutar pedangnya dengan gerakan yang mengingatkan Cin Han akan ilmu pedang Ang Lian Lihiap.
Dan pada saat itu ia berkenalan pula dengan sepasang siang-kek dari Hong Su.
Semua itu masih ditambah lagi dengan adanya Bong Lam Hwesio dengan goloknya yang memainkan Pat-kwa-to-hwat yang dulu pernah ia rasakan kelihaiannya.
Sungguh yang bukan ringan.
Tapi Cin Han bagaikan seekor banteng terluka, ia bergerak lincah dan gesit sekali.
Pedangnya Kong-hwa-kiam menyambar-nyambar bagaikan naga terbang mengeluarkan suara ngaungan nyaring yang menyeramkan.
Tubuhnya lenyap digulung sinar pedangnya dan menerobos ke sana ke mari diantara sekian banyak senjata yang mengurungnya.
Melihat bahwa biarpun mengeroyok dengan enam orang masih juga belum dapat membinasakan pemuda itu, Tie Bong Hwesio merasa penasaran dan malu.
Ia menggereng keras dan goloknya melesat ke arah Cin Han, berusaha menerobos gulungan sinar pedang.
Serangan ini dilakukan dengan tenaga penuh, maka Cin Han yang sedang sibuk menangkis banyak serangan-serangan lihai itu, hanya sempat menowel lengan Tie Bong agar golok itu melejit ke samping.
Namun, tenaga dalam Hwesio itu cukup hebat hingga biarpun gerakan goloknya agak mencong karena towelan itu, namun masih saja mengancam pundaknya.
Dalam keadaan terdesak Cin Han menggunakan tangan kiri menangkis sambil mengerahkan tenaga.
Tangkisan tangan ke arah golok ini kalau bukan seorang ahli yang melakukan, sangat berbahaya, karena mana kuat kulit dan daging dipakai menangkis golok yang keras dan tajam.
Gerakan ini disebut Burung Garuda Mengibas Sayap dan tangkisan itu lebih menyerupai sampokan ke arah pinggir golok.
Namun biarpun Cin Han dapat menyelamatkan pundaknya, masih saja lengan kirinya mendapat luka dan mengalirkan darah.
Tapi dengan mengertak gigi Cin Han menubruk maju dan "Bres!"
Ujung pedangnya memasuki perut Bong Lam Hwesio yang tak sempat menangkis lagi.
Dengan berteriak keras Hwesio itu roboh mandi darah.
Untuk sesaat para pengeroyoknya terkejut dan mundur, tapi mereka maju mendesak pula.
Biarpun Cin Han masih gesit dan kuat, namun ia telah terluka dan pengeroyoknya masih bersemangat dan berusaha keras membinasakannya, maka anak muda itu menjadi sibuk juga.
Tiba-tiba terdengar suitan keras dan beberapa bayangan orang berkelebat di atas genteng.
"Mereka datang!"
Teriak Hong Su dan lima orang yang mengeroyok Cin Han segera meninggalkan anak muda itu untuk menyambut penyerang-penyerang yang telah datang.
Cin Han bernapas lega, dan terasa kini betapa sakit dan perihnya tangannya yang terluka.
Tapi tiba-tiba ia teringat bahwa Biauw Su Hai yang ia benci itu tadi tidak ikut mengeroyok.
Kemanakah perginya jahanam itu?
Ia menjadi khawatir akan keselamatan Giok Lie, maka segera ia loncat menuju ke kamar gadis itu.
"Tidak, aku tidak mau pergi. Kau pengecut besar, seharusnya kau bantu mereka menghalau musuh. Pergi dari sini, pergi!!"
Mendengar bentakan Giok Lie dan bujukan-bujukan Biauw Su Hai yang hendak membawa pergi gadis itu dengan alasan bahwa keadaan sangat berbahaya Cin Han menjadi marah sekali.
"Pengecut!"
Teriaknya dan ia meloncat memasuki kamar dari jendela.
"Eh, bangsat kecil, kau belum mati?"
Teriak Su Hai dan Coa-siocia menjerit kecil ketika melihat tangan Cin Han berlumuran darah.
Cin Han mengangkat pedangnya menangkis datangnya golok besar yang menyambarnya.
Segera mereka berkelahi mati-matian.
Tenaga orang she Biauw itu sesungguhnya besar sekali, ditambah pula goloknya yang berat membuat serangan-serangannya berbahaya dan mematikan.
Tapi bagi Cin Han, kapten ini merupakan makanan lunak.
Dengan kelincahannya ia dapat menghindarkan diri dengan mudah dan balas menyerang secepat kilat.
Baru saja bertempur belasan jurus, pedangnya telah berhasil melukai pundak kapten itu yang roboh mandi darah.
Tapi Cin Han juga merasa sangat lemah dan pening karena banyak mengeluarkan darah dari lukanya.
Ia melapangkan dadanya dan menarik napas dalam-dalam sambil bersandar ke tembok.
Coa Giok Lie siocia memburu dan memegang lengannya.
"Kau luka?"
Cin Han hanya mengangguk dan Giok Lie segera menggunakan saputangan sutera membungkus tangan kiri Cin Han.
Tiba-tiba terdengar bentakan nyaring dan seorang berbaju putih meloncat masuk dengan pedang di tangan.
Melihat Biauw Su Hai merintih-rintih di lantai, ia berkata.
"Nah, inilah orangnya."
Lalu dengan sekali sabetan, kepala orang she Biauw itu terpisah dari tubuhnya. Dengan cekatan sekali ia sambar rambut kapten itu dan membawa kepala Biauw Su Hai ke jendela. Dari situ ia berteriak.
"Nyo-toako, anjing Biauw telah kubereskan. Ini kepalanya, terimalah!"
Dan kepala itu lalu dilemparkan keluar.
Kemudian ia membalikkan tubuh dan memandang ke arah Cin Han dan Giok Lie dengan mata beringas.
Coa Giok Lie hampir mengeluarkan teriakan kaget.
Ternyata orang itu adalah seorang wanita muda yang sangat cantik, tapi pada saat itu wajah yang cantik itu merah padam dan kedua mata yang jeli seakan-akan mengeluarkan api.
Cin Han membuka matanya.
"Lan-moi..."
Katanya perlahan.
"Siapa sudi kau sebut adik!"
Ang Lian Lihiap Han Lian Hwa membentak.
"Pengkhianat rendah. Angkat pedangmu untuk terima binasa."
Cin Han tersenyum lemah.
"Kau mau, bunuh padaku? Bunuhlah... memang aku telah salah sangka dan tersesat. Kau wanita gagah, patriot sejati, aku hanya orang rendah yang buta dan bodoh. Bunuhlah!"
Han Lian Hwa mengertak gigi.
"Jangan banyak cerewet. Hayo angkat senjatamu. Demi Tuhan... kutusuk dadamu dengan pedang ini, hayo... hayo lawan!!"
Giok Lie mendengar dengan heran dan ia merasa penasaran sekali melihat Cin Han dihina tapi tak mau melawan. Maka ia memegang lengan pemuda itu.
"Koko, mengapa kau tidak melawan dia? Lawanlah, masakah kau kalah oleh perempuan galak ini? Kau dihina, koko lawanlah, kalau kau tidak mau, biar aku wakilnya!"
Dan Giok Lie mencoba untuk mengambil pedang Kong-hwa-kiam dari tangan Cin Han.
Gadis yang lemah lembut ini karena gemas melihat Cin Han dihina dan dimaki, telah melupakan kelemahan sendiri.
Sikap ini membuat Cin Han malu dan bangunlah semangatnya.
Ia memandang Han Lian Hwa dengan sayu lalu berkata perlahan.
"Ang Lian Lihiap... kau tidak memberi kesempatan padaku untuk menerangkan dan membela diri. Kau salah sangka, nona. Aku bukan pengkhianat seperti yang kau kira..."
"Kau berada di sini, di sarang para pengkhianat bangsa. Masih saja tidak mau mengaku? Mana ada maling mau mengaku? Dan kau... agaknya anak keluarga Coa penjual negara ini... kekasihmu! Mau berkata apa lagi? Nah terimalah pedangku!"
Dengan hebat Lian Hwa menutup kata-katanya dengan sebuah serangan kilat.
Cin Han menangkis dan segera ia sibuk menangkis dan berkelit menghindarkan diri dari serbuan Ang Lian Lihiap yang nekad dan marah itu.
Sedikitpun ia tidak balas menyerang!
Diam-diam Lian Hwa mengakui bahwa ilmu pedang Cin Han jauh lebih hebat daripada dulu dan ia maklum bahwa ia bukanlah lawannya, tapi ia penasaran sekali mengapa pemuda itu tidak mau balas menyerang?
Karena penasaran ia menjadi marah dan malu, merasa dirinya dipandang rendah sekali.
Ia malu karena perempuan yang kelihatannya mesra sekali hubungannya dengan Cin Han itu berada di situ dan melihat jalannya pertempuran.
Sedikitpun ia tidak menyangka bahwa perempuan itu sama sekali tidak pandai bersilat dan tentu saja tidak tahu bahwa Cin Han dalam pertempuran itu selalu mengalah.
Dalam pandangan Giok Lie, Cin Han selalu terdesak, maka diam-diam ia meraba-raba ke arah dinding.
Biarpun Cin Han dapat menggunakan ilmu pedangnya yang lihai untuk menjaga diri, tapi karena ia sudah terluka dan lagi karena jiwanya merasa tertekan serta kesedihan membuat pikirannya bingung, maka gerakannya tak selincah biasanya.
Maka pada satu saat Ang Lian Lihiap berhasil melukai pundak kirinya dan darah mengalir lagi membasahi bajunya dan membuat burung Hong di dadanya seakan-akan mengalirkan darah!
Cin Han terhuyung-huyung mundur dan Giok Lie maju memeluknya dan menariknya ke arah dinding.
Lian Hwa dengan napas terengah-engah berdiri memandang ke ujung pedangnya yang menjadi merah karena darah pemuda itu.
Tidak terasa olehnya, dua butir air mata membasahi pipinya, tapi ia menahan perasaannya dan membentak.
"Hayo jangan bersembunyi di balik baju kekasihmu! Majulah, biar seorang diantara kita mati di ujung pedang!"
Tiba-tiba Giok Lie memekik.
"Kau... kau perempuan kejam!"
Lian Hwa menjadi marah dan meloncat maju.
Tapi tiba-tiba terdengar suara keras dan dinding di belakang Giok Lie terbuka!
Gadis itu dengan cepat menarik lengan Cin Han memasuki pintu rahasia itu, dan ketika Lian Hwa mengejar, pintu itu cepat sekali tertutup pula seperti sebelum terbuka dengan tak tersangka itu.
Lian Hwa menggunakan pedang Sian-liong-kiam membacok, tapi ternyata di balik dinding itu terdapat daun pintu besi yang sangat tebal.
Lian Hwa membanting-banting kakinya dan memaki.
"Perempuan siluman! Hayo buka dan biarkan kupenggal leher laki-laki pengkhianat itu!"
Berkali-kali ia membacok pintu besi itu dengan pedang sampai tangannya merasa panas.
Akhirnya ia menjatuhkan diri di atas sebuah kursi dan menangis.
Pertempuran di luar kamar berjalan dengan seru dan hebat.
Tapi di pihak penyerang ditambah seorang tosu yang lihai, ialah Pek Siong Tosu, ketua Hoei-san-pai, termasuk golongan anti kaisar.
Maka, karena di pihak Kwi-Coa-Pai telah kacau oleh perlawanan Cin Han tadi, mereka tak dapat menahan desakan para penyerang, dan setelah Hong Su dan kedua pengemis menderita luka-luka, mereka melarikan diri.
Sebenarnya yang dikehendaki jiwanya oleh rombongan penyerang anti kaisar ini tak lain ialah Biauw Su Hai dan Lam Beng Sun.
Yang pertama itu dibenci karena ia adalah kepercayaan kaisar dan terkenal kejam serta telah membinasakan banyak orang gagah.
Sedangkan orang she Lam telah dikenal sebagai seorang penghasut yang licin dan banyak berhasil dalam hasutan dan bujukannya terhadap banyak orang gagah sehingga mereka itu berbalik pikiran akibat pengaruh hasutan dan pengaruh sogokan harta dan uang.
Karena Biauw Su Hai terbunuh oleh Lian Hwa dan Lam Beng Sun juga terbunuh oleh rombongan itu, sedangkan para kauwsu penjaga telah lari pergi, maka Kim-Jiauw-Eng Nyo Tiang Pek si Garuda Kuku Emas yang memimpin serbuan itu, mengajak kawan-kawannya pergi.
Tapi Lian Hwa tidak kelihatan di situ sehingga semua orang menjadi bingung lalu mencari-cari dengan terpencar.
Ke manakah perginya Ang Lian Lihiap?
Sebetulnya, tadi setelah Cin Han diselamatkan dan dibawa pergi melalui pintu rahasia oleh Coa Giok Lie siocia, pendekar wanita itu merasa penasaran sekali.
Hatinya telah kecewa dan sedih melihat kenyataan bahwa pemuda yang dikagumi itu kini telah tersesat dan menjadi pengkhianat, kini ditambah pula melihat Coa Giok Lie demikian mencinta pemuda itu bahkan berhasil melarikannya, hatinya seakan-akan dipotong-potong pedang tajam.
Rasa sayangnya terhadap Cin Han yang ada sejak dulu di dalam hatinya kini berubah rasa benci, ya, benci sekali hingga kehendak satu-satunya kini hanya ingin membunuh.
Biarpun ia sendiri tidak tahu apakah ia akan sanggup membunuh pemuda itu karena tadi baru melukai pundaknya saja ia sudah merasa dadanya perih dan sakit karena iba hati!
Tapi, mengingat pula bahwa kini mungkin gadis yang membawa lari Cin Han itu tengah merawat pundak yang terluka oleh tusukannya tadi, ah, tak kuat menahan hatinya yang bergelora dan tinggal berpangku tangan saja.
Ia harus membunuh Cin Han, membunuh perempuan itu, dan kalau perlu membunuh diri sendiri!
Dengan hati-hati dan cermat diperiksanya seluruh dinding dan tiang.
Akhirnya dapat juga olehnya rahasia pintu itu, ialah sebuah lukisan harimau yang tergantung di dinding.
Diputar-putarnya lukisan itu dan tiba-tiba dengan mengeluarkan suara keras pintu rahasia itu terbuka.
Lian Hwa meloncat masuk sambil siap dengan pedang di tangan.
Jalan rahasia itu merupakan sebuah terowongan yang menembus tanah di bawah taman.
Ia terus maju merayap dan tahu-tahu terowongan itu membawanya keluar dari pekarangan dan sampai di hutan kecil di belakang gedung.
Dengan bernafsu Lian Hwa maju terus.
Ia mencari-cari, tapi keadaan di sekeliling hutan sunyi saja.
Ia maju terus ke tengah.
Tiba-tiba dilihatnya cairan warna hitam tertimpa cahaya bulan.
Diperhatikannya benda cair itu.
Darah!
Hatinya berdebar dan rasa iba menusuk hatinya.
Darah Cin Han!
Sekali lagi air matanya menitik keluar dari pelupuk mata.
Ia membungkuk mengamat-amati jejak kaki yang menyatakan bahwa orang-orang yang dikejarnya lari ke arah utara.
Setelah berlari lagi beberapa lamanya di sepanjang lorong kecil dalam hutan itu, ia melihat sebuah pondok bambu di tengah hutan, dan ketika ia datang mendekat, terdengar olehnya suara orang bicara.
Hatinya panas lagi ketika ia mendengar suara Giok Lie.
Ingin sekali ia menerjang membuka pintu pondok dan menyerang, tapi tiba-tiba ia mendengar suara Cin Han berkata-kata.
Ia jadi ingin tahu apakah yang mereka bicarakan, maka dengan diam-diam ia memasang telinga mendengarkan dari luar.
"Kau bilang dia itu Ang Lian Lihiap? Ah, pernah aku mendengar nama ini disebut orang sebagai seorang pendekar wanita berhati mulia. Tapi mengapa ia, demikian kejam dan jahat?"
"Dia tidak jahat, nona. Dia benar-benar wanita gagah yang berhati mulia,"
Terdengar Cin Han menjawab dengan suara lemah.
"Tapi... mengapa dia begitu membencimu?"
Terdengar Cin Han mengeluh dan menarik napas dalam.
"Ia salah paham... dan karena kebodohanku sendiri..."
"Koko, aku merasa seakan-akan kau ini kakakku sendiri. Aku bukan orang luar lagi, maka berterus teranglah, koko... kau... kau, cinta pada Ang Lian Lihiap, bukan?"
Ketika Lian Hwa mendengar ini dadanya berdebar-debar dan ia mengertak giginya menekan gelora hatinya. Ia memasang telinga baik-baik, tapi tidak terdengar jawaban Cin Han.
"Koko, kau cinta padanya,"
Terdengar Giok Lie berkata lagi.
"Hal ini mudah diketahui, ketika ia hendak membunuhmu kau menyerah saja seakan-akan bagimu senang mati di tangannya. Tapi, mengapa sebaliknya ia begitu membencimu? Ada salah paham apakah diantara kau dan dia?"
Kembali terdengar Cin Han menghela napas.
"Semua salahku sendiri. Aku memang bodoh, mudah saja tertipu oleh Hong Su si Bayangan Iblis! Kusangka benar belaka pengakuan mereka bahwa mereka membentuk perkumpulan untuk membasmi pengacau dan penjahat yang mengganggu rakyat. Aku sama sekali tidak menyangka bahwa mereka ini adalah pengkhianat-pengkhianat dan penjilat kaisar. Siapa dapat mengira? Bahkan Thio Lok si Naga Hijau yang masih ada hubungan saudara seperguruan dengan Ang Lian Lihiap sendiri, terdapat pula di situ, Tentu saja ketika mereka minta pertolonganku untuk membantu melindungi ayahmu dari serangan penjahat-penjahat yang datang, aku tidak menolaknya. Ternyata yang datang bukanlah penjahat-penjahat, sebaliknya adalah Ang Lian Lihiap dan para pendekar kang-ouw. Aku tertipu tapi betapapun juga, aku tidak pernah melakukan kejahatan..."
"Tidak, Cin Han koko, kau bukan penjahat. Kau bahkan telah menolongku dari si jahanam Biauw itu... biarpun ayah termasuk golongan penjilat kaisar juga, hal ini kuakui, tapi aku sebagai anaknya belum begitu jahat untuk tak dapat membedakan mana penjahat mana orang baik. Biarlah, kalau aku bisa berjumpa dengan Ang Lian Lihiap, akan kujelaskan kepadanya bahwa kau putih bersih tak ternoda dosa... Ah, kasihan kau, koko, semua orang memusuhimu. Pihak Pek-Lian-Kauw dan Kwi-Coa-Pai pasti akan mencari-carimu untuk membalas dendam, sedangkan Ang Lian Lihiap dan kawan-kawannya tetap akan mengejar-kejarmu sebagai seorang pengkhianat."
Lian Hwa mendengarkan semua percakapan itu dengan tubuh gemetar.
Ia terharu sekali.
Ia merasa telah berlaku sewenang-wenang terhadap Cin Han.
Dan Giok Lie demikian baik, demikian lemah lembut, tidak seperti dia, wanita kasar dan kejam.
Tiba-tiba ia tersedu dan segera ditahannya tangis yang telah menerjang keluar dari dadanya, tapi suara isaknya telah keluar dari kerongkongannya.
Cin Han yang mendengar suara di luar ini lalu mengumpulkan tenaga dan meloncat keluar.
Ia masih dapat melihat Han Lian Hwa lari pergi dengan cepat sambil menangis.
"Lian-moi...! Adik Lian... berhentilah...?"
Ia lari mengejar, tapi gerakan Ang Lian Lihiap cepat luar biasa hingga sebentar saja ia telah lenyap ditelan malam gelap.
Sementara itu terdengar suara Giok Lie memanggil-manggil, maka Cin Han segera lari ke pondok.
"Lihat, koko, barang ini melayang masuk dari jendela,"
Kata gadis itu sambil memperlihatkan sehelai kain putih. Cin Han mengambil sutera itu dengan dan membaca tulisan darah di atas sutera putih yang berbunyi.
"Maafkan aku yang ceroboh."
Di bawah itu terlukis bunga teratai. Tulisan dan lukisan itu terang sekali dibuat dengan darah! Cin Han memandang sutera itu dengan terharu. Tiba-tiba Giok Lie memegang lengannya.
"Koko, dia... dia cinta padamu."
Cin Han menengok dengan pandangan bodoh dan sedih.
"Lihat koko. Kain ini adalah potongan ujung baju, dan tulisan ini ditulis dengan darah. Tentu ia merasa menyesal sekali telah melukaimu maka ia menggigit ujung jarinya untuk menulis surat ini!"
Cin Han makin terharu.
Kalau benar pendekar wanita itu menyesal dan cinta padanya, mengapa ia lari pergi?
Karena merasa sedih ditambah lukanya terasa lagi karena ia mengeluarkan tenaga ketika lari tadi, kepalanya menjadi pening, matanya berkunang-kunang dan ia terhuyung-huyung hampir jatuh.
Baiknya Giok Lie segera memburu dan gadis itu memeluknya lalu membawanya ke pembaringan.
Dengan sangat teliti Giok Lie merawat luka Cin Han, mencuci dan membalut pundak dan lengan yang luka itu, hingga dua hari kemudian Cin Han merasa tubuhnya segar kembali, biarpun lengan kiri dan pundaknya masih agak sakit karena lukanya belum kering betul.
Baiknya ia selalu membawa obat luka buatan gurunya yang dapat menghentikan jalannya darah dan mencegah masuknya racun dalam luka.
Ia merasa berterima kasih sekali atas kebaikan hati gadis itu yang menganggapnya sebagai kakak sendiri.
Setelah badannya kuat kembali, pertama-tama yang dilakukan ialah menyelidik di gedung Pangeran Coa Kok Ong.
Ia mendapat keterangan bahwa selain (Lanjut ke
Jilid 10) Si Teratai Merah/Ang Lian Lihiap (Seri ke 01 -Serial Si Teratai Merah) Karya . Asmaraman S Kho Ping hoo
Jilid 10 orang-orang she Biauw dan Lam Beng Sun si dorna, keluarga Coa semua tidak ada yang diganggu oleh rombongan penyerang.
Tapi karena takut, Pangeran Coa berikut keluarganya semua pindah ke kota raja di mana mereka mempunyai sebuah gedung pula.
Tidak ada diceritakan orang tentang kehilangan Coa siocia.
Agaknya Coa Kok Ong hendak merahasiakan tentang lenyapnya gadis itu untuk menjaga nama.
Mendengar bahwa orang-tuanya telah meninggalkan dirinya, Coa Giok Lie menangis sedih.
"Adikku yang baik, jangan kau bersedih. Ayahmu baru kemarin berangkat, marilah kita susul saja pasti kita akan dapat mengejarnya."
Cin Han berkata dengan suara menghibur. Giok Lie mengangkat mukanya dengan girang.
"Kau mau mengantarku, koko?"
Cin Han mengangguk dan gadis itu segera menyusut kering air matanya.
Karena Giok Lie memakai beberapa perhiasan berharga, maka mudah saja mereka mendapatkan dua ekor kuda bagus yang mereka tukar dengan emas perhiasan.
Maka berangkatlah mereka naik kuda mengejar rombongan Coa Kok Ong.
Biarpun tidak pandai ilmu silat, namun Coa Giok Lie biasa naik kuda, bahkan boleh dikatakan pandai, karena sejak kecil ia suka sekali naik kuda dan permainannya ini dituruti saja oleh ayahnya yang memanjakannya.
Hal ini ternyata menguntungkan mereka pada saat itu, karena mereka dapat dengan cepat melakukan pengejaran.
Setiap kali memasuki sebuah kota dan kampung, Cin Han bertanya tentang rombongan Pangeran Coa kepada penduduk di situ, maka tahulah ia bahwa rombongan itu tidak dapat berjalan cepat karena membawa kereta yang diduduki anggauta keluarga wanita.
Maka ia mengajak Giok Lie mempercepat larinya kuda.
Pada keesokan harinya menjelang senja, mereka dapat mengejar rombongan pangeran itu dalam sebuah hutan.
Tapi alangkah kaget mereka ketika melihat bahwa rombongan itu tengah diserbu oleh segerombolan perampok.
Terdengar jeritan minta tolong dari kaum wanita.
Suara beradunya senjata tambah menyeramkan suasana.
Pengawal-pengawal dengan nekad mengangkat senjata dan mencoba membela majikan mereka dari serangan penjahat.
Giok Lie berseru kaget ketakutan.
Cin Han meloncat turun dari kuda.
"Siocia jangan bergerak. Tunggu saja di sini, biar aku menolong keluargamu!"
Kemudian ia lari secepat terbang ke tempat pertempuran itu.
Datangnya pemuda pendekar ini mengacaukan para perampok.
Di mana saja bayangan Cin Han berkelebat di situ tentu terdengar pekik kesakitan dan tubuh seorang anggauta perampok jatuh terguling.
Karena tidak mau membinasakan banyak orang, Cin Han hanya menggunakan tangan kosong dan bergerak bagaikan seekor garuda menyambar-nyambar dengan Hun-kin-coh-kut yakni ilmu pukulan putuskan otot lepaskan tulang, sehingga sebentar saja para perampok jatuh rebah bergulingan, bertumpuk-tumpuk dan mulut mereka merintih-rintih.
Cin Han melihat ke arah kereta.
Dilihatnya bahwa Pangeran Coa Kok Ong dan isterinya telah rebah di atas tanah dan seorang penjahat sedang mengangkat golok dan mengayunkan itu ke arah leher Coa Kok Ong.
Jarak antara tempat berdirinya dengan penjahat itu terpisah lima tombak lebih, maka untuk dapat menolong ayah Giok Lie, pendekar muda itu memungut batu kecil dan mengayunkannya ke arah lengan penjahat.
Dengan menjerit kesakitan penjahat itu melepaskan goloknya dan menggunakan tangan kiri meraba-raba lengan kanan sambil merintih-rintih.
Bagaikan kilat menyambar, Cin Han meloncat datang dan mengirim tendangan.
Penjahat itu terlempar jauh dan jatuh tak bergerak lagi.
Tiba-tiba terdengar bentakan keras.
"Anjing dari mana berani datang mengacau?"
Bentakan ini diikuti berkelebatnya golok besar menyambar ke leher Cin Han.
Tapi Cin Han berkelit dan mengayun kakinya menendang.
Ternyata penyerangnya gesit juga dan dapat meloncat ke samping menghindari tendangan.
Cin Han mengerling dan melihat bahwa penyerangnya adalah seorang tinggi kurus berwajah kejam.
Tenaga orang itu besar dan goloknya berwarna merah dan basah oleh darah!
Cin Han melayaninya dengan tenang dan gesit.
Pada saat itu ia melihat Giok Lie lari mendatangi dan menuju ke kereta sambil berteriak-teriak memanggil ayah-ibunya, lalu menubruk dua tubuh yang rebah di atas tanah itu.
Cin Han terkejut sekali.
"Kau bunuh mereka?"
Bentaknya kepada penyerangnya.
"Ha-ha! Dan sebentar lagi kuantar kau menyusul mereka!"
Cin Han marah sekali mendengar sindiran yang sombong ini, kaki kirinya diayun lagi dengan seruan keras.
Lawannya mencoba berkelit dan menangkis dengan tangan kiri, tapi tendangan ini hebat sekali dan dilakukan dengan sepenuh tenaga karena gemas.
Dengan menjerit ngeri kepala perampok itu terlempar jauh dan jatuh berdebuk tidak berkutik lagi karena tulang iganya patah-patah dan mati seketika itu juga!
Cin Han memandang sekeliling, tetapi semua perampok yang masih hidup sudah melarikan diri, gentar melihat kehebatan sepak terjangnya.
Beberapa belas perampok rebah berguling-guling dan merintih-rintih.
Di pihak rombongan pangeran, hanya tinggal empat orang pengawal yang masih hidup, tetapi sudah hampir mati lemas kelelahan.
Cin Han segera menghampiri Giok Lie.
Hatinya terharu melihat gadis itu memeluki tubuh ibunya yang rebah mandi darah dan sudah mati di dekat kereta.
Nyonya tua itu telah mati karena bacokan golok pada lehernya!
Tiba-tiba Coa Kok Ong menggerak-gerakkan tubuhnya.
Cin Han cepat menghampiri dan menotok pundak kiri orang-tua itu untuk menghentikan jalan darah ke arah dada yang terluka sehingga pangeran itu tidak menderita sakit terlalu hebat.
Tetapi melihat keadaannya, diam-diam Cin Han maklum bahwa jiwanya takkan tertolong lagi.
Giok Lie lari dan menubruk ayahnya.
"Ayah...!"
Coa Kok Ong memandang puterinya.
"Kau... Giok Lie...?"
Ia lalu memandang Cin Han yang berjongkok di dekatnya.
"Hwee-thian Kim-hong...? Kau yang menolong kami? Terima kasih... janganlah kepalang kau menolong... tolonglah juga anakku ini... lindungi ia... aku serahkan Giok Lie... kepadamu...!"
Dan pangeran itu menghembuskan napas terakhir diikuti pekik Giok Lie yang lalu jatuh pingsan.
Cin Han dengan tidak sungkan lagi memijit urat leher gadis itu sehingga terdengar ia menjerit perlahan dan sadar dari pingsannya lalu menangis sedih, dihibur oleh kata-kata halus dari Cin Han.
Setelah memesan kepada empat pengawal yang masih hidup itu untuk mengurus semua jenazah dan minta bantuan orang-orang kampung yang dekat dengan hutan itu, Cin Han dan Giok Lie naik kuda dan pergi dari situ.
Sebenarnya Giok Lie amat berat hatinya meninggalkan jenazah orang-tuanya tanpa menanti sampai dikebumikan, namun ia maklum bahwa Cin Han tidak aman berada di tempat itu, di daerah yang dikuasai Kwi-Coa-Pai.
Maka dengan sedih ia ikut pemuda yang telah dipercayai ayahnya untuk menjadi pelindungnya.
Kalau ia teringat ucapan terakhir dari ayahnya bahwa dirinya telah di"serahkan"
Kepada Cin Han, ia merasa seluruh mukanya panas, hatinya berdebar-debar dan ia tidak berani memandang wajah Cin Han.
Beberapa hari kemudian mereka tiba di rumah Gan Keng Hiap, paman dan guru pemuda itu.
Cin Han lalu menuturkan pengalamannya dan riwayat Giok Lie.
Paman dan bibinya merasa terharu mendengar nasib gadis cantik itu, maka ketika Cin Han minta pertolongan mereka untuk menerima Giok Lie yang sebatang kara tinggal di situ, mereka tidak ragu-ragu berkata.
"Siocia, jangan sedih. Biarlah kami berdua menjadi pengganti orang-tuamu."
Giok Lie menubruk dan memeluk nyonya Gan sambil menangis tersedu-sedu.
Sejak saat itu ia menyebut ayah dan ibu kepada suami-isteri Gan yang budiman itu.
Dari Gan Keng Hiap, Cin Han mendengar akan keadaan pemerintah di saat itu.
Kini dia tahu akan siasat kaisar yang sangat licin, yaitu siasat mengadu domba untuk melemahkan semangat pemberontakan rakyat Tiongkok yang tertindas.
Ia kini tahu peranan apakah yang dipegang oleh Kwi-Coa-Pai dan Pek-Lian-Kauw sebagai pelopor barisan pro kaisar.
Ia kini dapat menduga bahwa Ang Lian Lihiap dan kawan-kawannya yang menyerbu gedung Pangeran Coa Kok Ong adalah golongan anti kaisar.
Maka ia menyesal sekali mengapa ia demikian bodoh hingga mudah saja tertipu oleh Lie Thung dan Hong Su ketua Kwi-Coa-Pai itu.
"Cin Han, kau adalah keturunan seorang berjiwa besar, dan kau sudah seperti anakku sendiri,"
Kata sasterawan tua itu bersemangat.
"maka agaknya arwah orang-tuamu akan tersenyum bangga jika kali ini kau dapat menyumbangkan tenaga dan kepandaianmu demi kepentingan rakyat dan negara. Ketahuilah, kaisar lalim yang menjajah negeri kita ini sedang berusaha untuk menghancurkan atau sedikitnya mengurangi tenaga para patriot yang anti pemerintahannya. Ia menggunakan siasat mengadu domba dan menghasut para cerdik pandai dan para orang gagah untuk memihak kepadanya. Ia tidak segan-segan menggunakan tipu-tipu keji dan pengaruh emas dan perak.
"Dan yang menjadi tulang punggung kaisar penghisap rakyat itu dalam hal ini terutama adalah para dorna-dorna bejat moral yang menggunakan Pek-Lian-Kauw dan Kwi-Coa-Pai kedua perkumpulan iblis itu. Maka, jangan gentar, anakku, kaupergilah dan carilah hubungan dengan orang-orang gagah untuk membasmi mereka ini."
Cin Han kagum sekali mendengar kata-kata pamannya yang bersemangat.
Tidak disangkanya bahwa pamannya, seorang ahli sastera yang lemah itu, ternyata bersemangat sebagai seorang pahlawan bangsa dan mencinta tanah airnya.
Ia menghaturkan terima kasih, kemudian setelah mengaso dua hari, ia minta diri dari paman dan bibinya.
Bibinya berkata.
"Hati-hatilah dalam perantauanmu, Han. Dan... kau sudah cukup umur dan... dan... kulihat gadis itu..."
Gan Keng Hiap tertawa bergelak.
"Betul juga kata bibimu. Anak itu walaupun keturunan pangeran penyokong kaisar, tapi kulihat selain pandai ilmu sastera, juga berwatak baik... dan cantik. Kalau kau suka..."
Cin Han menundukkan kepala dan seluruh wajahnya memerah. Tiba-tiba ia teringat Ang Lian Lihiap dan kedua matanya menjadi basah. Maka tanpa menjawab lagi ia hanya menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Mengapa, Han? Apa kau tidak setuju?"
Tanya bibinya.
"Adik Giok Lie cukup berbudi, cukup berharga untuk diriku yang rendah ini..."
Kata Cin Han cepat-cepat.
"Apa barangkali hatimu sudah terisi orang lain?"
Tanya pamannya. Cin Han makin terdesak dan bingung, akhirnya dapat juga ia mencari alasan.
"Siok-hu, perkara ini kurasa baik dibicarakan kelak saja. Sebagaimana siok-hu telah pesan tadi, aku menghadapi urusan besar yang bukan ringan dan yang berbahaya. Maka dalam keadaan begini, siapakah yang mau meributkan urusan kawin?"
Gan Keng Hiap dengan ketawa memukul kepalanya sendiri dan mencela isterinya.
"Dasar kau yang mulai dulu. Dia benar, biarlah, hal ini kita tunda dulu, kelak masih banyak waktu untuk diurus!"
Ketika berpamit kepada Giok Lie, Cin Han merasa malu untuk memandang muka gadis itu akibat usul paman dan bibinya.
Maka ia tidak melihat betapa mata gadis itu merah karena tangis dan ia hanya mendengar Giok Lie berkata halus.
"Pergilah dan semoga kau bertemu dan berbaik kembali dengan dia, koko."
Ia heran mendengar suara Giok Lie mengandung isak, tapi ketika ia angkat muka memandang, ternyata gadis itu telah memutar tubuhnya dan lari masuk ke kamar.
Ia hanya dapat mengangkat pundak dan menarik napas dalam.
Sungguh baginya, wanita-wanita muda mempunyai watak yang ganjil dan tidak mudah dimengerti!
Tempat pertama-tama yang dituju oleh Cin Han adalah Hun-kap-teng, tempat di mana perkumpulan Kwi-Coa-Pai berada.
Ia merasa sangat penasaran kepada Hong Su dan kawan-kawannya yang telah menipunya sehingga dalam pandangan Ang Lian Lihiap ia telah menjadi seorang pengkhianat bangsa!
Ia hendak membalas dendam dan membasmi sarang Ular Iblis itu untuk membersihkan namanya.
Tapi alangkah kecewa dan menyesalnya ketika ternyata bahwa sarang perkumpulan itu kosong, gedung besar itu sudah ditinggalkan dan tidak nampak bayangan seorangpun anggauta Kwi-Coa-Pai.
Ia pergi ke rumah makan di mana ia berjumpa dengan Lie Thung dahulu, tapi rumah makan itu telah diurus oleh orang baru.
Dengan putus asa ia pergi mencari kamar dan menyewa sebuah kamar di hotel Liang-an.
Malam hari itu ia masih merasa penasaran, lalu keluar dengan diam-diam dari jendela.
Ia berjalan di atas genteng dan pergi menyelidik ke bekas gedung perkumpulan.
Lama ia menanti di atas genteng itu.
Tetapi ternyata ia tidak menanti dengan sia-sia, karena lama kemudian dari jurusan timur berkelebat bayangan orang.
Ketika tiba di situ, ia melihat tiga orang Hwesio dan yang dua tak lain ialah kedua pengemis, si bongkok dan si kate!
Kelima orang itu gesit sekali gerakannya dan ringan kakinya, lebih-lebih ketiga Hwesio itu, sehingga diam-diam Cin Han terkejut dan mengeluh karena di pihak Kwi-Coa-Pai telah datang orang-orang begini pandai untuk membantu.
Mereka meloncat turun dan memasuki kamar besar.
Si pengemis bongkok memasang sebuah lilin.
Cin Han diam-diam mengintai dari atas genteng.
Mereka berlima duduk mengelilingi meja, seakan-akan ada yang mereka nantikan.
Benar saja, belum lama mereka duduk, terdengar suitan nyaring.
Sin Tat si bongkok membalas suitan itu dan sekejap kemudian seorang bertubuh tinggi meloncat turun memasuki kamar itu.
Cin Han melihat bahwa yang masuk itu adalah Hong Su si Bayangan Iblis sendiri, ketua dari Kwi-Coa-Pai!
Ketiga Hwesio itu saling memberi hormat dengan Hong Su dan ketua ini melayaninya dengan penuh hormat.
Kemudian Hong Su bertanya kepada Kok Pin si pengemis kate.
Cin Han tidak begitu mendengar pertanyaan ini, hanya ia tahu bahwa Hong Su menanyakan seseorang.
"Ia benar-benar kembali, sekarang di hotel Liang-an,"
Jawah si kate.
Jawaban ini membuat Cin Han terkejut.
Sudah tahukah mereka ini bahwa ia datang mencari mereka?
Kemudian orang-orang dalam kamar itu bangun dari tempat duduk mereka dan berjalan keluar.
Dengan cepat sekali mereka meloncat naik ke atas genteng dan berlari-larian bagaikan terbang.
Cin Han masih terus mengikuti jejak mereka.
Seperti yang ia duga mereka itu menuju ke hotel di mana ia bermalam!
Ia menjadi marah sekali dan selagi ia hendak meloncat keluar dan membentak mereka, tiba-tiba dari belakang hotel itu meloncat naik dua orang yang bersenjata pedang yang segera menyerang keenam orang itu!
Perkelahian terjadi ramai karena walaupun dikeroyok enam, kedua orang itu tidak terdesak.
Ilmu pedang mereka lihai sekali dan sebentar saja mereka berhasil mematahkan semua serangan dari enam orang itu.
Cin Han merasa gatal tangan dan biarpun ia tidak kenal siapa adanya kedua orang itu, namun karena yang mengeroyok adalah musuh-musuhnya, maka ia mencabut Kong-hwa-kiam dan menyerbu bagaikan naga muda menyambar.
Keenam orang Kwi-Coa-Pai itu terkejut.
Mereka sudah mengenal kelihaian anak muda itu, dan biarpun ketiga Hwesio kawan-kawan Hong Su belum pernah bertempur melawan Cin Han, namun gerakan-gerakan pedang, pemuda itu cukup menginsyafkan mereka akan kehebatan kiam-sut dari Hwee-thian Kim-hong!
Mereka ini merasa keder juga menghadapi Cin Han dan dua orang kosen itu, maka atas tanda suitan Hong mereka meloncat ke belakang dan melarikan diri!
Cin Han hendak mengejar, tetapi kedua orang itu berkata.
"Tidak perlu dikejar, masih banyak waktu untuk membasmi mereka!"
Cin Han menahan kakinya dan ketika ia hendak menanyakan nama mereka, kedua orang itu hanya tertawa dan meloncat pergi di dalam gelap!
Melihat orang itu tidak suka bertemu dan bercakap-cakap dengan dia, Cin Han hanya menggerakkan pundak dan meloncat memasuki kamarnya.
Di dalam kamarnya ia melihat sehelai kertas, di atas meja yang berisi tulisan .
"Sarang Kwi-Coa-Pai pindah ke Lam-hu-teng dan kedudukannya sangat kuat. Tunggu serbuan kawan-kawan pada malam limabelas."
Surat itu tidak ditanda-tangani, tetapi Cin Han dapat menduga bahwa yang menulis tentu dua orang tadi.
Ia dapat juga menduga bahwa dua orang gagah tadi tentu golongan anti kaisar dan kawan-kawan Ang Lian Lihiap.
Malam limabelas ialah lusa malam dan Lam-hu-teng terletak di selatan, pikirnya.
Kalau berkuda, maka dua hari tentu ia sampai di sana.
Esok harinya, pagi-pagi sekali, Cin Han mencari seekor kuda yang kuat dan melarikan kuda itu menuju ke Lam-hu-teng.
Karena kuda itu kuda murah, maka ia tidak berani memaksanya untuk membalap, takut kalau-kalau mogok di tengah jalan, karenanya ia sering berhenti dan membiarkan kudanya beristirahat.
Hal ini memperlambat perjalanannya, sehingga pada hari keduanya, ia memasuki kota Lam-hu-teng pada waktu hari sudah gelap.
Ia mendapat kamar di sebuah penginapan.
Ketika ia memasuki kamar dan membuka jendelanya karena hawa dalam kamar itu agak panas, sehelai kertas melayang masuk kamar dari jendela.
Cin Han memungut kertas itu yang ternyata berisi lukisan peta kota dan yang menunjukkan di mana letaknya sarang Kwi-Coa-Pai!
Ia merasa girang sekali melihat bahwa orang-orang sehaluan sedang membantunya, tapi ia penasaran juga mengapa mereka itu tidak mau datang menjumpainya dengan berterang.
Agaknya mereka masih mencurigaiku, pikirnya.
Setelah ganti pakaian dan tidak ketinggalan lukisan burung Hong menghias dada, Cin Han meloncat ke atas genteng menuju ke sarang Perkumpulan Ular Iblis sebagaimana yang tersebut di dalam surat tadi.
Ketika tiba di tempat yang dimaksud, ia heran dan bimbang karena tempat itu ternyata adalah sebuah kelenteng besar.
Apakah perkumpulan jahat itu bersarang di tempat suci ini?
Tetapi ia tetap waspada dan hati-hati.
Gesit laksana kucing ia meloncat tanpa mengeluarkan suara ke bagian belakang.
Tiba-tiba dari sebuah kamar di bawah ia mendengar suara mendesis-desis.
Suasana sunyi sekali, maka suara itu terdengar nyata.
Suara itu tidak keras, tapi kecil dan tajam menyakitkan telinga.
Cin Han menggunakan gerakan Naga Sakti Menembus Awan, meloncat turun dari bubungan ke tiang yang melintang di atas jendela kamar itu, kemudian dengan sekali berjumpalitan, ia mengaitkan kakinya ke tiang itu dan tubuhnya bergantung ke bawah.
Ia telah bergerak dengan gerakan Ular Emas Lilitan Ekor.
Dari situ ia dapat mengintai ke dalam kamar dengan leluasa sekali.
Ia melihat di dalam kamar itu terdapat belasan orang duduk mengelilingi sebuah meja besar.
Mereka diam tidak bersuara dan tidak bergerak sedikit juga, bagaikan patung-patung.
Hanya seorang saja diantara mereka, yaitu Hong Su ketua Kwi-Coa-Pai, yang tampak bergerak perlahan, mengikuti gerakan-gerakan seekor ular hitam yang melingkar bulat di tengah meja, dengan kepala dan leher tegak ke atas dan bergoyang-goyang bagaikan menari.
Suara mendesis-desis tajam tadi keluar dari mulut ular yang mengembang-kempiskan lehernya.
Semua orang dalam ruangan itu memandang dengan wajah tegang ke arah Hong Su yang menghadapi ular itu dan yang berusaha menjinakkan binatang buas itu.
Tapi ketua Kwi-Coa-Pai ini menghadapi ular itu dengan senyum simpul, agaknya dia sudah biasa dengan permainan ini!
Cin Han memperhatikan orang-orang yang mengelilingi meja itu.
Ia meiihat Thio Lok si Naga Hijau dari Selatan, sepasang pengemis aneh Kok Pin dan Liok Sin Tat, Tie Bong Hwesio, tiga Hwesio yang ia lihat bersama kedua pengemis kemarin dulu, dan beberapa orang lain yang tidak dikenalnya, tetapi yang kesemuanya kelihatan terdiri dari orang-orang ahli silat.
Ketika ia memandang ke arah Hong Su, ternyata ketua ini telah mengeluarkan sepotong bambu dan memegangnya di tangan kiri.
Lalu ia menjulurkan kepala mendekati ular itu dan mengeluarkan suara desisan meniru-niru bunyi ular.
Ular itu menjadi marah, dan sekali membuka mulut maka keluarlah uap hitam kehijau-hijauan dari mulutnya!
Uap racun itu menyambar ke arah Hong Su.
Si Bayangan Iblis ini cepat memiringkan kepalanya dan menggunakan bambu itu untuk menutup kepala ular.
Tapi ular hitam itu biarpun tubuhnya besar ternyata dapat mengelak dengan gesit dan ia membalas menyerang.
Kepalanya meluncur merupakan senjata berbisa dan menyambar ke arah leher Hong Su!
Si Bayangan Iblis memperdengarkan suara ketawa mengejek dan mengulur tangan kanan lalu menggunakan dua jarinya hendak menjepit leher ular itu!
Tapi karena ular itu tiba-tiba melengkungkan lehernya, maka jari tangan Hong Su tidak dapat menjepit dengan tepat pada bagian lehernya, tetapi agak ke bawah di bagian perut.
Ular itu menggerakkan ekornya, menyabet ke atas mengarah kepala Hong Su dan berbareng leher dan kepalanya yang masih bebas itu bergerak membalik dengan mulut terbuka lebar hendak menggigit lengan Hong Su yang memegang perutnya!
Serangan ini berbahaya sekali dan semua orang berseru kaget, bahkan Cin Han yang berada di luar juga merasa terkejut melihat kelihaian ular itu.
Tapi pada saat itu terlihat bayangan putih berkelebat dan tahu-tahu kepala dan ekor ular hitam yang menyerang Hong Su itu telah hancur dan tubuhnya terkulai lemas, bergantung di tangan Hong Su yang masih menjepit perut ular!
Semua orang memandang kepada seorang laki-laki bopeng yang dengan tenang mengebut-ngebutkan saputangannya.
Orang itu berusia kurang lebih tiga puluh tahun dan wajahnya belang-belang bagaikan kedok, kulitnyapun hitam dan bolong-bolong bekas penyakit cacar, sedangkan hidungnya menjungat ke atas sehingga ia kelihatan selalu berdongak ke atas.
Semua orang memuji ketangkasannya karena dengan sekali kebut saja, kain yang lemas halus itu telah dapat menghancurkan kepala dan ekor ular tadi.
Diam-diam Cin Han kagum juga dan ia mengeluh karena kali ini ia akan berhadapan dengan seorang yang benar-benar merupakan lawan berat.
Tetapi Kwi-eng-cu Hong Su si Bayangan Iblis memandang tamunya dengan senyum dingin dan jelas kelihatan air mukanya membayangkan tidak senang hati.
"Oei Koai-hiap sungguh lihai, tapi sayang ular lambang perkumpulanku telah mati dan tidak mudah dicari gantinya. Sayang aku tidak segagah Oei Koai-hiap untuk dapat mencari pengganti ular perkumpulanku..."
Hong Su mengeluh dan suaranya penuh penyesalan.
Orang yang buruk mukanya itu ialah Pat-chiu Koai-hiap Oei Gan si Pendekar Aneh Kepalan Delapan.
Ia selain terkenal berkepandaian tinggi, juga terkenal mempunyai adat yang aneh, maka ia disebut Koai-hiap.
Ketika mendengar keluhan Hong Su, hidungnya yang berdiri ke atas itu mengeluarkan suara ejekan dan sambil memutar-mutar saputangannya ia berkata, suaranya nyaring dan tinggi.
"Dibantu tidak menerima bahkan menyesal, beginilah adat dunia. Di luar ada musuh kuat bahkan bermain-main dengan ular berbisa, beginilah kelakuan orang-orang ceroboh. Aku kenal ularmu itu, Hong-pai-cu, bukankah itu disebut Ouw-kwi-coa atau Ular Iblis Hitam yang hanya terdapat di daerah barat? Kau agaknya lebih sayang ular itu daripada jiwamu, dan aku telah salah tangan membunuh kekasihmu itu. Biarlah, kucarikan gantinya."
Oei Gan berjalan ke pintu. Diam-diam Cin Han terkejut karena ternyata orang aneh itu telah tahu bahwa ia bersembunyi dan mengintai di luar. Hong Su buru-buru mengejar.
"Tidak usah, Koai-hiap. Biarlah yang sudah mati biar mati, tapi kita sedang menghadapi perkara besar, janganlah kau pergi!"
"Ha-ha. Urusanmu bukan urusanku. Perkaramu bukan perkaraku. Aku datang hanya ingin berkenalan dan coba-coba kepandaian orang-orang gagah yang kaukatakan jahat dan telah menjadi musuh-musuhmu. Tapi aku telah salah tangan dan aku paling benci mempunyai hutang. Sekarang boleh dikata aku berhutang kepadamu. Hutang seekor ular Ouw-kwi-coa. Harus kubayar secepat mungkin."
Sambil berkata demikian ia mengepal-ngepal saputangan tadi menjadi bulat dan tiba-tiba ia menimpukkan kain itu keluar jendela.
Cin Han melihat datangnya kain bulat itu cepat sekali bagaikan sebuah pelor besi ke arah tubuhnya yang bergantung, tentu saja ia merasa terkejut sekali.
Tapi ia segera menahan napas di dadanya dan menggunakan tenaganya meniup ke arah pelor kain itu yang segera kehilangan tenaga luncurannya dan melayang ke bawah merupakan sehelai saputangan.
Oei Gan tertawa bergelak-gelak.
"Eh, tuan-tuan yang gagah perkasa. Ada tamu lihai datang, kenapa tidak segera disambut? Sebetulnya tamu yang datang ini cukup berharga untuk dipakai mengukur tenaga, sayang hutangku belum lunas. Nah, sampai ketemu lain kali!"
Kemudian tanpa menoleh ia meloncat pergi dari situ.
Hong Su dan kawan-kawannya kini tahu bahwa di luar ada orang mengintai, maka mereka segera mengambil senjata masing-masing dan meloncat keluar.
Cin Han mendahului mereka meloncat ke atas wuwungan dengan Kong-hwa-kiam di tangan.
Baru saja kakinya menginjak genteng, telinganya dapat menangkap suara angin senjata rahasia yang menyambar dari tiga jurusan ke arah leher, dada dan lambungnya.
Cin Han mengulur kedua tangan untuk menangkap dua batang piauw yang menyambar dada dan lambung, sedangkan piauw yang menyambar lehernya ia kelit.
Pada saat itu datang pula menyambar tiga batang piauw.
Ia mengayun tangan menyambit dengan kedua piauw yang ditangkapnya tadi dan lemparannya tepat mengenai piauw yang datang menyambar sehingga semua senjata rahasia terpukul jatuh ke atas genteng.
"Hong Su manusia iblis, jangan berlaku pengecut! Keluarlah terima binasa!"
Teriak Cin Han gemas. Sembilan orang meloncat ke depannya, dan Hong Su berada di depan sendiri sambil memegang sepasang siang-kek di kedua tangan berkata marah.
"Hm, kukira siapa, tidak tahunya Hwee-thian Kim-hong si burung Hong mau mampus dan penculik anak gadis orang! Kebetulan sekali. Banyak tamu datang dan aku tidak mempunyai hidangan istimewa. Sekarang ada burung Hong datang karena bosan hidup, mari kawan-kawan! Kita tangkap burung ini dan dipanggang dagingnya!"
"Manusia tak tahu malu!"
Cin Han memaki dan sesaat kemudian Kong-hwa-kiam di tangannya telah menyambar-nyambar dan mengeluarkan cahaya putih berkilauan karena ia mengeluarkan ilmu pedang simpanannya yaitu Hwie-liong Kiam-sut.
Hong Su yang maju berbareng dengan Kok Pin dan Liok Sin Tat sepasang pengemis, segera terdesak hebat.
Kawan-kawan yang lain segera maju mengepung Cin Han dan sebentar saja delapan orang, kecuali tiga Hwesio gundul itu, telah mengeroyoknya.
Pengepungnya terdiri dari jagoan-jagoan dan cabang-cabang atas yang semuanya memegang senjata mustika, maka dapat dibayangkan betapa lihai dan berbahayanya mereka itu.
Tapi, kali ini Cin Han mengerahkan seluruh tenaga dan kepandaiannya, ia memainkan Hwie-liong Kiam-sut dengan baik dan cermat sehingga tubuhnya lenyap terbungkus sinar pedangnya yang baru anginnya saja sudah sangat tajam mengiris kulit.
Inilah kehebatan ilmu pedang ciptaan Beng San Siansu yang telah dimiliki Cin Han lebih dari tiga perempat bagian.
Pada saat itu terdengar suitan nyaring dan lima orang meloncat naik ke atas genteng.
Seorang diantaranya yang bertubuh kecil ramping, langsung menerjang kepungan dan membantu Cin Han.
Pedangnya berkelebat cepat dengan gerakan-gerakan aneh sehingga sebentar saja pengeroyok Cin Han menjadi kacau balau dan terbagi menjadi dua rombongan.
Cin Han melihat bahwa yang datang itu bukan lain adalah Ang Lian Lihiap, maka tidak terkira besarnya rasa girang dalam hatinya.
Ia memperhebat gerakan pedangnya dan karena sekarang yang mengurungnya telah terbagi dua, gerakan pedangnya yang menyerang secara hebat akhirnya berhasil juga.
Dengan tipu Naga Terbang Mengejar Mustika, Kong-hwa-kiam nya berkelebat dibarengi tendangan ke arah Hong Su, serangan ini hebat karena tipu gerakan pedang itu sudah sangat lihai dan berbahaya, ujung pedang meluncur maju mengarah dada orang dengan cepat dan sedikit terputar, ditambah lagi dengan tendangan yang dila-kukan dengan ilmu tendangan Siauw-cut-wi, yakni tendangan berantai yang jika dapat dikelit lalu terus disusul dengan tendangan kaki lain bertubi-tubi dengan cepat dan berat.
Sungguhpun Hong Su dijuluki orang Bayangan Iblis dan sangat gesit gerakannya sehingga dapat juga ia mengelit tusukan pedang Cin Han, tapi pada gerakan tendangan ke tiga ia tidak sempat berkelit lagi sehingga pergelangan tangannya tertendang dan sebatang tombak cagaknya terpental ke atas.
Ia merasakan lengannya sakit sekali dan sebelum ia dapat meloncat pergi, ujung Kong-hwa-kiam telah menyambar dan membacok pundaknya!
Si Bayangan Iblis, ketua Kwi-Coa-Pai menjerit ngeri dan ia jatuh menggelundung ke bawah dari atas genteng.
Empat kawan Lian Hwa yang ikut datang itu ternyata adalah Kim-Jiauw-Eng Nyo Tiang Pek, Pek Siong Tosu, Ciu-san Kong Sin Ek dan Hwat Kong Hwesio suheng dari nona itu.
Mereka berempat juga telah bertempur melawan tiga Hwesio dan sebagian orang yang tadi mengeroyok Cin Han.
Tiba-tiba Kong Sin Ek berseru.
"Saudara-saudara! Tahan dulu!"
Semua orang yang sedang bertempur mendengar seruan yang keras sekali ini merasa heran dan menahan senjata masing-masing.
"Bukankah sam-wi suhu ini Sam Lojin dari Ki-lee?"
Tanya Kong Sin Ek kepada tiga Hwesio yang tadi bertempur dengan kawan-kawannya. Ketiga Hwesio membalas bertanya.
"Dan congsu bukankah Ciu-sian Enghiong Kong Sin Ek?"
"Ha-ha! Kita bertempur melawan orang sendiri!"
Si Dewa Arak berkata keras.
"Tapi maaf, sam-wi suhu, mengapa sam-wi yang hidup penuh damai dan bahagia di kelenteng Kok-sin-bio, bisa sampai di sini dan membantu para anjing penjilat kaisar lalim ini?"
"Eh, congsu jangan sembarangan menuduh!"
Jawab seorang daripada tiga orang-tua gagah dari Ki-lee itu.
"Kami tidak ada hubungan dan tidak kenal dengan kaisar yang mana juga. Kami datang karena mendengar bahwa murid Sian-kiam Koai-jin Ong Lun, yang disebut Ang Lian Lihiap, katanya melanjutkan keganasan suhunya dan mengumpulkan kawan-kawan untuk membasmi habis semua anggauta perkumpulan Kwi-Coa-Pai dan Pek-Lian-Kauw! "Kami bertiga walaupun tidak ada hubungan dengan kedua perkumpulan ini, namun kami tidak bisa bersamadhi dengan hati tenteram mendengar bahwa orang-orang hendak mengandalkan kegagahan dan membasmi orang-orang lain bagaikan membunuh semut saja. Terpaksa kami turun tangan membela yang lemah dan tertindas sebagaimana telah menjadi tugas bersama yang mau menyebut diri orang-orang kang-ouw!"
"Ha-ha! Tidak salah kata orang bahwa kaisar lalim ini memang cerdik dan licin sekali. Sam-wi telah terbujuk orang. Perkumpulan Kwi-Coa-Pai dan Pek-Lian-Kauw bukanlah perkumpulan-perkumpulan bersih sebagaimana yang kebanyakan orang kira. Kedua perkumpulan ini telah makan suapan dan kini menjadi kaki tangan para dorna untuk memeras rakyat dan mengadudombakan para Enghiong di seluruh Tiongkok. Masih belum sadarkah sam-wi?"
"Tutup mulutmu yang kotor!"
Tiba-tiba Thio Lok si Naga Hijau dari Selatan meloncat maju dan memaki Kong Sin Ek.
"Akulah anggauta Pek-Lian-Kauw. Jangan kau sembarangan memburukkan nama perkumpulanku dihadapan lain orang! Hinaanmu ini harus dibalas dan dicuci dengan darah. Tapi karena anggauta Pek-Lian-Kauw yang ada malam ini hanya aku seorang sedangkan di pihakmu banyak, maka aku mewakili Pek-Lian-Kauw untuk menantang kalian. Beranikah engkau dan kawan-kawanmu ini datang ke Gunung Hong-lai-san pada nanti musim chun malam ke limabelas untuk menentukan siapa diantara kita yang lebih unggul?"
"Baik, baik! Bagi kami mau sekarang boleh juga, kalau kau tidak berani sekarang, mau nanti malam ke limabelas bulan satu musim chun boleh saja. Kami pasti datang, tapi jangan kau main-main dan diam-diam meninggalkan tempat itu!"
Thio Lok mendengar sindiran ini merasa gemas sekali, tapi karena lawan demikian banyak dan semuanya lihai, ia hanya mengeluarkan suara jengekan dari hidung lalu memutar tubuhnya hendak pergi.
"Eh, eh, nanti dulu,"
Tiba-tiba Ang Lian Lihiap Han Lian Hwa meloncat menghalangi jalannya.
"Bukankah kau ini yang bernama Thio Lok dan bukankah benar seperti kata orang bahwa kau adalah murid dari Khai Sin Susiok?"
"Benar, aku adalah murid tunggal dari Khai Sin Tosu, apa hubungannya dengan kau?"
"Ah, mengapa begitu? Guruku Ong Lun adalah supekmu sendiri dan kau terhitung masih adik seperguruan dengan aku biarpun usiamu lebih tua."
"Kau? Hm, siapa yang mempunyai saudara seperguruan dengan kau? Guruku pun tidak mempunyai murid keponakan macammu ini."
"Kurang ajar! Mengapa Khai Sin Susiok mempunyai murid macam ini? Saudara, sekali lagi kuperingatkan bahwa kau bertindak salah sekali telah menjadi anggauta Pek-Lian-Kauw! Gurumu akan marah kalau tahu akan hal ini!"
"Ha-ha-ha!"
Tiba-tiba Thio Lok yang biasanya bermuka masam itu tertawa geli.
"Guruku sendiri menjadi pengurus Pek-Lian-Kauw, masa ia akan marah? Ah, sudahlah, barangkali otakmu miring, seperti gurumu yang gila itu!"
Mendengar gurunya yang tercinta dimaki orang, naiklah darah Lian Hwa.
Ia mencabut Sian-liong-kiam dan menusuk dengan cepat sekali kepada Thio Lok.
Thio Lok menangkis dan mereka saling menyerang dengan sengit.
Orang-tua gagah dari Ki-lee yang paling tua meloncat untuk memisah mereka, tapi Ang Lian Lihiap membentaknya.
"Aku bertempur dengan sute sendiri, ada hubungan apa dengan kau?"
Terpaksa Hwesio ini meloncat mundur.
Lian Hwa maju lagi dan menyerang dengan menggunakan ilmu silatnya yang aneh.
Biarpun kepandaian mereka didapat dari satu cabang, namun karena gerakan-gerakan Lian Hwa adalah ciptaan Ong Lun sehingga mengalami banyak perobahan serta mempunyai keistimewaan-keistimewaan tersendiri, maka sebentar saja Thio Lok terdesak hebat dan hanya dapat menangkis saja.
Pada jurus kedua puluh empat, tiba-tiba pedang Lian Hwa dapat melukai paha Thio Lok yang roboh tidak berdaya.
Lian Hwa akan menyusul dengan satu tusukan mematikan, tapi tiba-tiba Hwat Kong Hwesio membentak.
"Sumoi, jangan!!"
Dan Lian Hwa yang sudah biasa mentaati perintah suhengnya, mengurungkan tusukannya.
"Biarlah peristiwa ini akan dapat menyadarkanmu,"
Kata Hwat Kong dengan sabar kepada Thio Lok.
"Karena, kalau betul kau murid Khai Sin Susiok, kaupun terhitung suteku sendiri."
Thio Lok sambil memegang-megang pahanya yang berdarah, memandang mereka dengan benci dan marah.
"Tak usah banyak cakap, kalau memang kalian berani, tidak perlu mengandalkan banyak tenaga untuk menghina seseorang, datanglah saja pada saat yang ditentukan di tempat kami!"
Hwat Khong Hwesio menghela napas.
"Dasar kau mencari mampus sendiri."
Sementara itu Kong Sin Ek menjura kepada ketiga Lojin dari Ki-lee itu.
"Sam-wi, maafkan kami yang telah mengganggu malam ini. Harap saja sam-wi dapat insyaf bahwa sebenarnya sam-wi telah kena dibujuk orang. Nah, sampai ketemu lagi, sam-wi suhu."
Kong Sin Ek dan kawan-kawannya, berikut Cin Han yang mendapat isyarat mata dari Lian Hwa supaya ikut meninggalkan tempat itu dan menuju ke kelenteng di luar kota.
Ketika mereka sedang berjalan, Lian Hwa sengaja berjalan di sebelah Cin Han dan dengan perlahan dan halus berkata.
"Cin Han Twako, kau sudah memaafkan aku?"
Cin Han tersenyum.
"Aku yang salah dan aku yang minta maaf padamu, Lian-moi."
Lian Hwa diam saja dan mukanya menjadi merah. Kemudian, tiba-tiba ia bertanya.
"Dia ada di mana, Twako?"
"Dia...? Siapa...??"
"Siapa lagi? Tentu Coa-siocia kawan baikmu itu..."
"Oh... dia..., dia kini menjadi anak Gan-siokhu."
Kemudian dengan ringkas Cin Han menceritakan betapa sengsara keadaan Coa Giok Lie yang ditinggal mati oleh orang-tuanya.
Fajar telah menyingsing ketika mereka tiba di kelenteng Khun-lim-bio yang diketuai oleh seorang Hwesio kenalan Hwat Kong.
Semua orang segera beristirahat.
Pada sore harinya, setelah mengaso sehari, Nyo Tiang Pek si Garuda Kuku Emas mengundang semua kawan berkumpul di ruang belakang, yaitu di tempat berlatih silat, untuk diajak berunding.
Setelah semua orang duduk, Nyo Tiang Pek murid pendekar Kam Hong Tie ini sambil memandang wajah Cin Han berkata.
"Cuwi sekalian, sekarang kita tidak perlu ragu-ragu lagi akan keadaan saudara Lo Cin Han yang tadinya mencurigakan. Ternyata ia benar-benar terkena tipu orang Kwi-Coa-Pai dan boleh dikata ia sehaluan dengan kita."
Sambil berkata begini ia mengerling ke arah Ang Lian Lihiap Han Lian Hwa yang tahu arti kerlingan ini, maka dengan menggigit bibir ia berdiri membuat pengakuan.
"Saudara Cin Han. Biarlah dihadapan semua Enghiong ini aku mengaku padamu bahwa sebenarnya akulah orangnya yang tadinya mencurigaimu, kukira kau... kau juga menjadi... pengkhianat!"
Cin Han memerah muka.
"Ah, sudahlah jangan dipercakapkan lagi hal ini yang hanya membuat aku malu saja. Semua adalah salahku sendiri, mudah saja tertipu orang..."
"Kau benar, saudara Cin Han. Biarlah kali ini menjadi pelajaran dan menambah pengalamanmu agar lain kali jangan mudah terbujuk pula,"
Kata si Garuda Kuku Emas dengan suara tetap.
"Nah, sekarang, baiklah kita membicarakan tentang tantangan Thio Lok untuk datang ke sarang Pek-Lian-Kauw pada malam kelimabelas musim chun nanti."
Kong Sin Ek berdiri dan berkata.
"Aku pernah mendengar tentang bukit Hong-lai-san ini yang mempunyai banyak tempat-tempat yang dipasang jebakan dan rahasia sehingga menjadi tempat yang berbahaya, sekali. Tidak kusangka bahwa tempat ini telah digunakan oleh Pek-Lian-Kauw sebagai sarang pusat. Sebelum sampai saat tantangan itu, kurasa lebih baik kita pergi melakukan penyelidikan dulu."
"Bagaimana kalau kita berenam pergi menyelidiki?"
Usul Pek Siong Tosu. Nyo Tiang Pek biarpun masih muda tapi sudah banyak merantau dan ia berhati-hati sekali, maka mendengar usul Pek Siong Tosu ini ia menggeleng-gelengkan kepala.
"Memang harus dilakukan penyelidikan, tetapi jangan semua pergi, hal ini kurang leluasa. Kita harus memilih seorang diantara kita yang cukup berkepandaian untuk pergi melakukan penyelidikan."
"Ada satu hal yang penting juga,"
Hwat Khong Hwesio berkata. dengan suara sabar.
"Bukankah pedang kebesaran dari kerajaan Beng-tiauw juga kabarnya terjatuh di tangan kaum Pek-Lian-Kauw? Kalau mungkin, sambil menyelidiki sarang mereka sekalian mencari pedang itu, karena pedang itu kalau berada di tangan mereka, dapat mereka gunakan untuk menipu dan membujuk para hohan untuk memihak mereka dengan mengatakan bahwa mereka berniat membangun kerajaan lama kembali dan merobohkan kerajaan Boan, padahal merekalah yang menjadi kaki tangan pemerintah Boan."
Semua orang mengangguk-anggukkan kepala mendengar keterangan yang berharga dan penting ini.
"Tugas penyelidikan ini tidak ringan..."
Kata Nyo Tiang Pek.
"Siapakah yang pantas pergi?"
Tanya Kong Sin Ek.
"Bagaimana kalau aku pergi?"
Tiba-tiba terdengar suara Ang Lian Lihiap Han Lian Hwa. Yang lain-lain saling memandang.
"Kepandaian Lihiap aku yang tua sudah mengetahuinya. Lihiap paling tinggi kepandaiannya dalam hal ginkang hingga pekerjaan ini memang tepat sekali,"
Kata Kong Sin Ek.
"Tetapi sumoi kurang pengalaman,"
Bantah Hwat Khong Hwesio biarpun dia juga sudah yakin akan kelihaian sumoinya itu. Pek Siong Tosu memegang-megang jenggotnya yang putih dan panjang.
"Menurut pendapatku, memang Lihiap boleh dipercaya dan boleh diharapkan akan berhasil. Kurasa selain Lihiap atau Nyo-Taihiap sendiri, tidak ada orang lain yang lebih cocok. Tapi Nyo-Taihiap perlu mengumpulkan kawan-kawan lain untuk menghadapi Pek-Lian-Kauw karena pinto tahu betul betapa lihainya pengurus-pengurus Pek-Lian-Kauw, jangan dikatakan lagi ketuanya yaitu Bong Cu Sianjin!"
Cin Han dengan mata tajam memandang Nyo Tiang Pek.
Dia maklum bahwa biarpun masih muda, orang she Nyo ini agaknya menjadi pemimpin golongan anti kaisar ini, dan orangnya pun sangat hati-hati.
Nyo Tiang Pek menghela napas dan memandang Lian Hwa.
"Biarlah aku sendiri saja yang pergi melakukan penyelidikan."
"Eh, mengapa? Kau tidak percaya padaku?"
Tegur Lian Hwa dan Cin Han mendengar Lian Hwa menyebut si Garuda Kuku Emas itu dengan "kau"
Saja, hatinya berdebar cemburu.
"Bukan tidak percaya, tetapi aku khawatir kau akan mendapat bencana."
Cin Han melihat ujung bibir Hwat Khong Hwesio bergerak mengarah senyum.
"Bagaimana kalau kalian berdua yang pergi? Yang seorang bertugas menyelidik dan yang Iain bertugas mencari pedang kerajaan."
Hwat Khong Hwesio mengusulkan.
Yang lain-lain hanya saling memandang dan kedua mata Lian Hwa memandang kepada Cin Han dengan mengandung pertanyaan mengapa pemuda itu berdiam diri saja.
Cin Han segera berdiri.
"Kalau Lihiap pergi, Nyo-Taihiap tidak tega sedangkan kalau Nyo-Taihiap yang pergi, maka pekerjaan di sini terbengkelai. Maka, biarlah aku yang bodoh menawarkan diri untuk pergi melakukan kedua tugas itu."
"Kau??"
Hwat Khong Hwesio tidak tahan pula untuk tidak membuka mulut.
"Saudara muda, jangan kau main-main, sarang Pek-Lian-Kauw itu berbahaya sekali dan kau masih begini muda."
"Tapi Lo-Suhu tadi mendengar sendiri bahwa sumoi-mu dipilih, sedangkan menurut pandanganku, aku tidaklah lebih muda daripada Lihiap!"
Hwat Khong tersenyum mendengar jawaban kekanak-kanakan ini, dan dia hanya berkata.
"Kalau dia lain lagi..."
"Akupun pernah mendengar nama Hwee-thian Kim-hong, dan agaknya sicu baru saja muncul di kalangan kang-ouw telah membuat nama besar, maka tentang kepandaian tidak perlu disangsikan lagi. Tapi, kuharap sicu berhati-hati, karena dalam hal ini lain lagi dengan jika kita menghadapi para bajak biasa saja. Pek-Lian-Kauw penuh orang-orang lihai dan sungguh berbahaya..."
Kong Sin Ek memperingatkan.
"Memang kalau Lihiap atau Nyo-Taihiap aku lebih merasa tenang hati karena terus terang saja aku yang tua ini tunduk betul terhadap kepandaian mereka."
Nyo Tiang Pek sendiri tidak berkata apa-apa, hanya ia memandang Cin Han dengan tajam seakan-akan hendak mengukur tenaga dan kepandaian orang, tapi Cin Han tampak lemah-lembut, lebih lagi karena pada saat itu dia telah memakai baju luar yang lebar, baju seorang sasterawan.
"Bagaimana pendapatmu, adikku?"
Akhirnya ia bertanya kepada Lian Hwa. Gadis ini dengan tersenyum memandang wajah Cin Han lalu menjawab pertanyaan Nyo Tiang Pek.
"Nyo-Twako, kepandaianmu aku sudah tahu dan pernah pula kita mencoba tenaga. Tapi saudara Lo ini orang baru dan kita belum mengenal tentang kepandaiannya. Bagaimana kalau kau mencobanya lebih dulu untuk kemudian memutuskan apakah dia cukup kuat untuk dipercayai tugas berat ini?"
Sambil berkata begini, ia memandang wajah Cin Han dengan mata lucu dan mulut tersenyum.
Cin Han mengerti bahwa gadis ini sedang mengeluarkan sifat nakalnya.
Tapi diam-diam Cin Han makin tidak senang melihat betapa akrab agaknya hubungan antara Lian Hwa dengan Nyo Tiang Pek.
Maka ia ingin mendapat kepastian dan mulai bersikap biasa terhadap Lian Hwa, yaitu ia tidak menyebut "Lihiap"
Lagi, tetapi menyebut "adik"
Dan tidak menyembunyikan kenyataan bahwa ia telah lama kenal kepada gadis itu. Dengan tenang ia berkata.
"Sudahlah, adik Lian, mengapa kau hendak mempermainkan aku? Mana aku berani mencoba tenaga dengan Nyo-Taihiap? Jangan-jangan aku akan terluka hebat dan lenyaplah harapanku untuk membantu kalian menyelidiki Pek-Lian-Kauw!"
"Eh, eh, siapa yang mempermainkan kau, Han-ko? Mereka ini belum tahu kelihaianmu, maka biarlah kau dicobanya agar semua mengerti sampai di mana tingkat kepandaianmu."
Semua orang heran sekali melihat sikap dan mendengar pembicaraan mereka, lebih-lebih Hwat Khong Hwesio, ia memandang wajah sumoinya dengan mata terbelalak, sedangkan si Garuda Kuku Emas menekan perasaan hatinya yang tidak enak.
"Eh, sumoi, jadi kau sudah kenal baik dengan saudara Cin Han? Belum pernah kauceritakan padaku sedikit juga tentang dia!"
Sumoinya tersenyum manis.
"Sudah dua kali aku bertempur melawan Han Twako! Dan kedua kalinya aku tidak berdaya sedikit juga. Yang pertama kali pedangku terampas, yang kedua kali ia melawan dengan tangan kosong."
Semua orang memandang kepada gadis itu dengan mata menyatakan tidak percaya, sementara itu Cin Han memerah muka dan mencegah gadis itu mengobrol lebih lanjut.
Ang Lian Lihiap Han Lian Hwa berdiri dan mencabut pedangnya.
"Kalian tidak percaya? Nah, saksikanlah sendiri!"
Kemudian ia meloncat ke tengah ruang bermain silat dan melambaikan tangannya kepada Cin Han.
"Twako, hayo kita main-main."
Cin Han memang sudah mendapat pikiran untuk memperlihatkan kepandaiannya agar tidak dipandang sebelah mata oleh semua hohan, juga ia melihat gerakan Lian Hwa demikian ringan dan gesit bagaikan seekor burung walet yang sesungguhnya jauh jika dibandingkan dengan dahulu, maka timbul kegembiraannya untuk mencoba-coba kepandaian gadis itu.
Maka ia berdiri dan menjura kepada semua orang.
"Cuwi harap maafkan siauwte."
Dan orang tidak melihat ia membuat gerakan, tapi tahu-tahu tubuhnya telah mencelat ke depan Lian Hwa.
"Moi-moi jangan melukai aku lagi,"
Katanya perlahan kepada Lian Hwa yang tiba-tiba tertusuk hatinya mendengar ucapan ini.
Melihat gadis itu seakan-akan tertampar mukanya dan kini kedua matanya menjadi merah, Cin Han merasa menyesal sekali mengapa ia mengingatkan kembali hal itu, maka buru-buru ia menyambung kata-katanya.
"Maafkan mulutku yang lancang, lukaku dulu tidak berarti, hanya tergores sedikit di kulit pundak!"
Ang Lian Lihiap tersenyum manis dan menarik sekali dalam pandangan Cin Han, dan terdengar olehnya merdu sekali ketika gadis itu berkata.
"Twako, selama hidup aku takkan dapat melupakan peristiwa itu, dan selama hidup aku takkan dapat memaafkan kebodohanku itu."
"Tidak... tidak, moi-moi, aku hanya main-main."
Cin Han buru-buru berkata. Lian Hwa tersenyum lagi dan berbisik.
"Twako, kau memang berhati mulia."
Sementara itu, semua orang yang ingin melihat sebuah pertempuran adu tenaga yang menarik, tentu saja heran sekali melihat mereka berdua hanya bercakap-cakap perlahan yang tidak terdengar oleh mereka.
"Eh, eh, ini mau adu tenaga atau adu lidah?"
Kong Sin Ek berkata sambil tertawa. Ang Lian Lihiap tersenyum lagi.
"Awas, Twako, perlihatkan kegesitanmu dan lawanlah aku dengan tangan kosong!"
Lian Hwa lalu menggunakan Sian-liong-kiam di tangannya menyerang hebat.
Cin Han dengan cepat membuka dan melempar baju luarnya sehingga baju dalam yang terlukis burung Hong indah itu membuat ia tampak cakap dan gagah sekali.
Serangan Lian Hwa dikelit cepat dan sebentar kemudian tidak nampak bayangan mereka, tergulung sinar pedang yang dimainkan oleh Lian Hwa secara hebat.
Sian-liong-kiam-hwat ciptaan Ong Lun sesungguhnya jarang tandingannya, tapi Cin Han yang memiliki ilmu kepandaian yang luar biasa serta otak yang cerdik sudah dapat menyelami ilmu pedang itu sehingga ia dapat berkelit sambil balas menyerang ke arah pergelangan tangan lawan untuk mencoba merampas pedang.
Namun Lian Hwa sekarang bukanlah Lian Hwa yang dulu ketika bertempur dengan dia di atas rumah Gan Keng Hiap.
Ang Lian Lihiap yang sekarang sudah menerima latihan dari Song Cu Ling si Dewi Tanpa Bayangan.
Kini melihat Cin Han ternyata jauh lebih lihai daripada dulu, diam-diam ia kagum sekali, maka ia segera mengeluarkan ilmu meringankan tubuh yang dipelajari dari Song Cu Ling, kedua kakinya seakan-akan tidak menginjak tanah lagi.
Pedang di tangan kanan dimainkan dengan ilmu-ilmu paling lihai dari Ilmu Pedang Naga Dewa sedangkan tangan kirinya masih bergerak dipakai menotok jalan darah.
Biarpun Cin Han lihai, namun menghadapi serangan hebat ini, ia menjadi sibuk juga.
Diam-diam ia terkejut dan berbareng kagum melihat kemajuan Lian Hwa.
Kini barulah Hwat Khong, Kong Sin Ek, Pek Siong Tosu, dan Nyo Tiang Pek sendiri tahu akan kehebatan pemuda itu dan diam-diam mereka menarik napas dalam, karena sedikitpun mereka tidak menyangka bahwa pemuda sekolahan yang kelihatan lemah-lembut itu ternyata demikian lihai.
Pada saat itu Lian Hwa menggunakan serangan dengan tipu Naga Dewa Sambar Harimau, pedangnya berkelebat menyerang dada Cin Han, ketika Cin Han berkelit dan membalas mengulur tangan kanan untuk mengetok lengan Lian Hwa supaya pedangnya terlepas, tiba-tiba Lian Hwa menggunakan jari tangan kiri menotok pundaknya.
Hampir saja pundaknya tertotok, maka buru-buru ia meloncat ke belakang berjumpalitan tiga kali udara dan turun di tempat yang tiga tombak jauhnya dari gadis itu sambil tersenyum.
"Aduh!! Kau hebat sekali. Lian-moi! Aku menyerah kalah!"
Lian Hwa memasukkan pedang di sarung pedangnya, menggunakan ujung lengan baju menyusut keringat dari jidat dan berpaling kepada kawan-kawannya sambil tersenyum pula.
"Nah, lihatlah! Tidakkah kepandaian Hwee-thian Kim-hong berada jauh di atas kepandaianku?"
"Lihai... lihai..."
Kata Hwat Khong yang masih terheran-heran.
"Hebat sekali. Aku tua bangka menjadi gatal tangan karena gembira. Hayo, sicu, layani aku sebentar, akupun ingin sekali merasakan sendiri kelihaianmu!"
Kata Kong Sin Ek sambil berdiri dan menghampiri Cin Han.
Cin Han tahu bahwa Kong Sin Ek si Dewa Arak ini mempunyai tenaga lweekang yang sempurna, maka untuk membuat orang-tua ini tunduk, ia harus mengeluarkan tenaga dalamnya juga.
Ia segera menjura dan berkata halus.
"Kong Lo-Enghiong sungguh membuat siauwte malu dengan pujian ini. Tapi siauwte tahu bahwa perkenalan akan menjadi makin erat setelah mengukur tenaga kawan, maka siauwte tentu tidak berani menolak permintaan Lo-Enghiong. Hanya hati-hatilah, jangan berlaku kejam terhadap siauwte!"
Kong Sin Ek tertawa bergelak-gelak.
"Terhadap aku jangan sungkan-sungkan lagi, sicu, aku bukan orang luar. Hayo keluarkan pedangmu biar aku mencobanya."
Orang she Kong ini melepaskan jubah luarnya dan sekali menyentakkan lengannya maka jubah itu meluncur merupakan sebatang toya keras!
Inilah keistimewaan Kong Sin Ek yang dengan sebuah baju luar telah menjagoi ber puluh tahun lamanya!
Cin Han tahu bahwa jika ia menggunakan pedang, maka menghadapi senjata istimewa yang bisa menjadi keras dan dapat juga menjadi lemas itu ia hanya dapat melawan dengan serangan-serangan berbahaya yang dapat melukai lawan, maka ia tidak mau menggunakan pedang.
Sedangkan kalau bertangan kosong, biarpun belum tentu ia dapat dikalahkan, namun hal itu merupakan penghinaan terhadap orang-tua gagah itu.
Setelah berpikir sejenak, ia memungut baju luarnya yang tadinya dilemparkan ke sudut dan memegang baju itu pada ujungnya.
"Biarlah siauwte mencontoh perbuatan Lo-Enghiong dan mencoba-coba belajar atau memetik satu dua macam tipu pukulan Lo-Enghiong yang sudah terkenal kelihaiannya."
Kong Sin Ek memandangnya dengan kagum karena ia dapat menerka bahwa pemuda itu tentu seorang ahli lweekeh juga, kalau tidak, tidak mungkin ia berani menggunakan baju itu sebagai senjata.
Tetapi diam-diam ia merasa lebih unggul, karena baju luarnya terbuat daripada kain yang tebal dan kuat dan memang khusus dibuat untuk senjata, sedangkan baju luar pemuda itu terbuat daripada sutera tipis dan lemas!
Tetapi ia sebagai seorang jujur tidak dapat tinggal diam, lalu berkata.
"Kau lihai, sicu, tapi apakah bajumu itu tidak terlalu tipis?"
"Biarlah, Lo-Enghiong, bukankah kita hanya main-main saja?"
Setelah saling menjura tanda hormat, Kong Sin Ek berseru.
"Awas!"
Dan senjatanya yang luar biasa itu menyambar merupakan toya, menyabet ke arah pinggang Cin Han.
Pemuda ini mengebutkan bajunya yang juga menjadi keras untuk menangkis senjata lawan, tapi karena baju itu kalah keras, maka terpental.
Tapi segera Cin Han merobah tenaganya sehingga baju itu menjadi lemas terus diputarkan mengait baju Kong Sin Ek, dibarengi tubuhnya meloncat ke atas melewati senjata lawan, terus menggunakan tenaga membetot!
Gerakan yang cepat dan tidak tersangka ini hampir saja berhasil dan Kong Sin Ek mengeluarkan seruan kaget.
Belum pernah ia bertemu tandingan seperti ini.
Tetapi ia sudah berpengalaman sehingga dapat berlaku tenang.
Ia segera mengatur tenaganya sehingga bajunya pun menjadi lemas dan baju Cin Han yang mengait dengan sendirinya lalu terlepas.
Demikianlah, mereka saling serang dengan hebat, baju mereka sebentar menjadi toya, sebentar menjadi cambuk dan gerakan mereka mengeluarkan suara angin.
Namun, Kong Sin Ek biarpun sudah mengeluarkan semua kepandaiannya, belum juga ia dapat mendesak Cin Han.
Ia merasa penasaran dan heran sekali.
Kemudian Cin Han menggunakan kedua tangan memegang tengah-tengah bajunya dan kedua ujung baju ia mainkan sedemikian rupa sehingga merupakan permainan siang-kiam atau sepasang pedang yang hebat.
Baca Juga: Suling Emas 15
Baca Juga: Pendekar Sadis 3