Eps 5 Si Teratai Merah Ang Lian Li Hiap - Kho Ping Hoo
Baca online Si Teratai Merah Ang Lian Li Hiap - Kho Ping Hoo
Cersil Si Teratai Merah Ang Lian Li Hiap - Kho Ping Hoo.
Tentu saja Kong Sin Ek dapat pula bermain seperti ini, tapi karena gerakan-gerakan Cin Han sangat aneh dan tipu-tipunya tidak terduga perubahannya, sebentar saja ia terdesak mundur.
Cin Han mengalah dan mengendurkan serangannya, tapi Kong Sin Ek sudah merasa puas.
Ia meloncat mundur dan berkata.
"Ahh, memang kau pantas disebut Hwee-thian, Kim-hong, sicu. Gerakan-gerakanmu seperti burung Hong menyambar-nyambar saja. Aku sungguh kagum dan takluk."
Cin Han buru-buru menjura.
"Terima kasih, Lo-Enghiong. Kau orang-tua sudah berlaku murah kepada yang muda dan sudah mengalah."
Nyo Tiang Pek adalah murid Kang-Lam Taihiap Kam Hong Tie yang tersohor kegagahannya.
Maka diam-diam ia terkejut juga melihat kelihaian Cin Han dan berbareng merasa malu sendiri mengapa tadi mereka memandang rendah pemuda itu.
Ia merasa gembira mendapat seorang kawan baru yang kosen ini, tapi sebagaimana halnya seorang ahli silat, hatinya belum puas kalau ia belum mencoba sendiri.
Maka ia meloncat ke depan Cin Han dan memegang lengan pemuda itu dengan tersenyum girang.
"Ah, saudara Lo. Bukan main kau ini. Sikapmu lemah lembut seperti seorang kutu buku tulen, tapi tidak tahunya ilmu silatmu hebat sekali. Maaf, saudara Lo, tadi aku sendiri tidak memandang sebelah mata kepadamu. Kebodohan ini kuakui, harap kau maafkan."
Melihat kejujuran ini, Cin Han pun merasa girang sekali dan membalas dengan ucapan kata-kata merendah.
"Bukan aku tidak percaya kepadamu, saudara Cin Han,"
Kata Nyo Tiang Pek.
"tapi kau sungguh membuat aku kagum. Selama bertahun-tahun aku berkelana, menjelajah empat penjuru, belum pernah aku menemukan orang semuda kau dengan kepandaian setinggi ini. Aku tadinya merasa kagum sekali melihat Ang Lian Lihiap yang kuanggap masih terlampau muda untuk memiliki kepandaian setinggi yang dimilikinya, tapi kau ternyata lebih lihai, jauh melampaui dugaanku semula."
"Ah, kau terlalu memuji, Nyo-Taihiap."
"Jangan menyebut aku Taihiap, sebut saja Twako, karena Lian-moi juga menyebutku demikian. Sudah (Lanjut ke
Jilid 11) Si Teratai Merah/Ang Lian Lihiap (Seri ke 01 -Serial Si Teratai Merah) Karya . Asmaraman S Kho Ping hoo
Jilid 11 sepatutnya karena aku lebih tua darimu. Saudaraku yang baik, kau ini murid siapakah?"
"Suhuku yang pertama adalan Gwat Liang Tojin."
"O, ya?? Dia adalah kawan baik guruku,"
Kata Nyo Tiang Pek gembira.
"Juga suhuku itu suheng dari Ong Lun Lo-Enghiong almarhum,"
Kata Cin Han. Lian Hwa memandang heran tetapi gadis itu diam saja.
"Guruku kedua adalah Beng San Siansu."
"Apa? Dewa pedang itu masih hidup?"
Tanya Pek Siong Tosu heran.
"Entahlah. Aku sendiri belum pernah bertemu muka dengan beliau,"
Jawab Cin Han terus terang.
"Aku berguru kepadanya dengan perantaraan kitab."
"Ah, pantas kau lihai sekali, saudara Lo. Menurut kata guruku Kam Hong Tie, Beng San Siansu tidak terlawan ilmu pedangnya dan guruku sendiri menganggapnya jago golongan tua yang lebih tinggi tingkat kepandaiannya. Mari, saudara, puaskan hatiku yang ingin sekali melihat ilmu pedang ciptaan Beng San Siansu."
Cin Han tidak sungkan-sungkan lagi, ia mencabut Kong-hwa-kiam dan menjura kepada mereka.
"Biar kita berdua main-main sebentar!"
Seru Nyo Tiang Pek gembira dan ia mencabut pedang Ceng-lun-kiam dari pinggangnya.
Kong Sin Ek dan Pek Siong Tojin juga merasa gembira sekali karena mereka tahu akan kelihaian ilmu pedang Nyo Tiang Pek.
Mereka tahu, bahwa mereka akan menyaksikan dua macam ilmu pedang yang lihai dan jarang terlihat.
Kedua jago muda itu segera bersilat saling menyerang.
Nyo Tiang Pek adalah murid Kam Hong Tie yang berilmu tinggi.
Tentu saja kiam-hoatnya pun hebat dan tenaga dalamnya terlatih sempurna.
Pula ia banyak pengalaman bertempur.
Tapi Cin Han pun bukanlah seorang ahli pedang biasa.
Ia seorang pemuda yang telah digembleng oleh tangan ahli, bahkan telah mewarisi Ilmu Pedang Naga Terbang, sehingga ilmu pedangnya boleh dikata pada masa itu jarang mendapat lawan.
Pedang Ceng-lun-kiam di tangan Nyo Tiang Pek dapat diumpamakan seekor burung garuda menyambar-nyambar, mengeluarkan angin dingin dan gerakannya cepat sekali.
Tapi pedang Kong-hwa-kiam di tangan Cin Han tidak kalah hebatnya, lembut dan indah bagaikan burung Hong terbang tapi cepat kuat dan ganas bagaikan naga sakti mengamuk!
Telah puluhan jurus mereka bersilat dan menurut pandangan orang-orang yang melihat mereka mengukur tenaga, ilmu pedang mereka sama kuatnya dan sama bagusnya, karena pedang Nyo Tiang Pek merupakan gulungan sinar hijau dan pedang Cin Han merupakan gulungan sinar putih.
Tetapi bagi Cin Han dan Tiang Pek sendiri, mereka diam-diam tahu sampai di mana keunggulan lawan.
Cin Han maklum bahwa ia masih kalah sedikit dalam hal tenaga dan keuletan, tetapi Nyo Tiang Pek maklum bahwa ilmu pedangnya masih kalah jauh dari pemuda ini, dan jika Cin Han tidak berlaku mengalah, pasti ia mudah saja digulingkan!
Cin Han sendiri mengerti akan kelemahan-kelemahan ilmu pedang lawannya, tapi mengingat bahwa Nyo Tiang Pek adalah pendekar ternama dan pendiri atau pelopor gerakan perjuangan meruntuhkan pemerintah penjajah, mana ia tega untuk menjatuhkannya.
Maka gerakan pedangnya lebih banyak bersifat menjaga diri daripada menyerang.
Tiba-tiba terdengar Nyo Tiang Pek tertawa dan ia meloncat mundur.
"Sudah, sudah! Aku menyerah, saudara Lo! Benar kata suhu dulu bahwa Hwie-liong Kiam-sut ciptaan Beng San Siansu adalah nomor satu tingkatnya di dunia ini."
"Ah, kau merendah, Nyo-Twako. Tenaga dan keuletanku masih kalah jauh,"
Jawab Cin Han merendah. Nyo Tiang Pek makin suka melihat pemuda yang lihai ini ternyata pandai membawa diri dan tidak sombong karena kepandaiannya.
"Bagaimana, Twako, kini kau mau memberikan tugas itu padanya atau tidak?"
Tanya Lian Hwa dengan wajah berseri. Nyo Tiang Pek tersenyum.
"Melihat kepandaiannya, sekarang ini selain dia tidak ada orang lain yang pantas melakukan tugas berat ini."
Mereka lalu berunding dan Kong Sin Ek yang sudah agak kenal akan keadaan Bukit Hong-lai-san, memberi keterangan-keterangan dan nasihat-nasihat kepada Cin Han.
Pada keesokan harinya, pagi-pagi sekali Cin Han berangkat menuju ke sarang Pek-Lian-Kauw di bukit Hong-lai-san.
Pada malam hari kedua sampailah ia di kaki bukit itu.
Bukit Hong-lai-san adalah sebuah bukit kecil yang tertutup penuh oleh pohon siong tua dan di sana-sini tampak pohon liu yang melambai-lambaikan ranting karena tiupan angin.
Pohon-pohon siong tua yang besar-besar pada malam hari itu tampak bagaikan raksasa-raksasa hitam berdiri megah di bawah sinar bulan purnama.
Cin Han memperkuat tali pengikat kaki dan pinggangnya.
Ia membuka baju luarnya dan meloncat ke atas sebatang pohon besar untuk menyimpan bajunya itu.
Ketika ia mau meloncat turun, tiba-tiba ia melihat sinar api di tempat jauh.
Api itu bergerak-gerak dan ia dapat menduga bahwa itu tentu sebuah obor yang dipegang orang.
Ia meloncat turun dan lari ke arah api yang dilihatnya dari atas pohon itu.
Ketika Cin Han melalui tempat yang agak gelap karena bayangan pohon tiba-tiba kakinya terlibat oleh sesuatu.
Ia cepat meloncat ke samping, tetapi terlambat.
Tali yang dipasang orang di jalan dan yang menyangkut kakinya itu telah tertarik dan bunyi hiruk-pikuk di balik pohon mengejutkan hatinya.
Dengan gesit Cin Han meloncat ke atas pohon.
Tetapi pada saat itu juga datang anak panah berhamburan menyerang tempat ia berdiri tadi.
Dan tak lama kemudian, datanglah dua orang berlari-lari dengan obor di tangan.
Dua orang itu bertubuh tegap.
Tangan kiri memegang obor dan tangan kanan memegang golok.
Yang seorang adalah Hwesio.
"Eh, Lo-sam, tidak ada bekas apa-apa di sini! Mengapa tali jerat tertarik?"
Tanya Hwesio itu kepada kawannya. Yang ditanya mengangkat pundak.
"Sudah dua kali terjadi seperti ini. Kalau binatang yang melanggarnya, pasti bangkainya telah menggeletak di sini terkena anak panah. Tetapi di sini tiada bekas apa-apa! Hm, barangkali setan yang penasaran datang mengganggu bukit ini."
"Jangan mengacau, kawan. Bukankah para Lo-Suhu sudah memesan agar mulai sekarang kita harus menjaga bukit ini dengan hati-hati! Para pemberontak sudah berkumpul dan kabarnya nanti lain bulan malam ke limabelas mereka akan menyerbu ke sini! Siapa tahu malam ini mereka mengirimkan orang berkepandaian tinggi datang menyelidik!"
Orang yang disebut Lo-sam menengok ke sana ke mari dengan wajah takut, tetapi ia memberanikan hatinya dengan mengangkat obor tinggi-tinggi dan mengayun-ayunkan goloknya.
"Siapa orangnya berani memasuki tempat ini? Biar setan sekalipun, ia takkan dapat keluar dengan selamat. Pula, kawan-kawan kita menjaga gunung ini dari delapan penjuru. Tidak mungkin orang dapat masuk tanpa terlihat."
Hwesio itu hendak menjawab, tetapi tiba-tiba matanya terbelalak ketika tahu-tahu di dalam sinar obor tampak seorang pemuda berdiri di depan mereka!
Entah dari mana datangnya dan sejak kapan sudah berada di situ!
Sebelum ia dapat memperpanjang rasa kagetnya, jari tangan kiri Cin Han sudah menotok iganya, membuat ia jatuh dengan lemas dan tak bergerak lagi!
Lo-sam yang pandai juga bersilat, segera mengayunkan goloknya membacok, tetapi entah bagaimana, sekali bergerak saja pemuda itu telah merampas goloknya.
Ia hanya merasa pergelangan tangannya sakit sekali dan karena takutnya ia membuka mulut hendak berteriak.
Tapi "Plok!"
Tangan Cin Han menampar tulang rahangnya dan mulut yang sudah terbuka itu tidak dapat tertutup pula, hanya "a-a-u-u!"
Seperti orang gagu! Cin Han memegang lengan Lo-sam sambil mengancam.
"Kalau ingin hidup, berilah keterangan sejelasnya kepadaku!"
Kemudian ia menepuk pipi Lo-sam yang segera dapat menggerakkan mulutnya kembali, berdiri dengan tubuh menggigil ketakutan.
"Jangan mencoba berteriak! Katakan padaku siapa yang berada di bukit ini dan mereka kini sedang berbuat apa."
Lo-sam tahu bahwa pemuda ini tentu orang asing yang belum pernah datang ke situ, maka ia ingin menggunakan nama besar Pek-Lian-Kauw untuk menakut-nakuti.
"Ampun, hohan, saya hanya seorang penjaga dan peronda biasa. Bukit ini adalah milik perkumpulan Pek-Lian-Kauw yang besar. Pada saat ini para Lo-Cianpwe sedang berpesta. Katanya orang-orang gagah dari selatan datang, juga para jagoan dari Kwie-coa-pai hadir. Harap hohan jangan mengganggu tempat ini, tinggalkan saja, karena kauw-cu kami bersahabat dengan orang-orang gagah di semua kalangan kang-ouw."
"Jangan banyak ngobrol!"
Cin Han membentak.
"Jawab pertanyaanku dengan singkat. Di mana disimpannya pedang kerajaan Beng-tiauw?"
"Bagaimana saya bisa tahu, hohan? Saya hanya orang rendah, tak tahu apa-apa. Mungkin di gudang pusaka..."
"Nah, sekarang antar aku ke gudang pusaka itu."
"Ampun, hohan. Ketahuilah bukit ini penjaganya berlapis sembilan. Saya dan suhu ini adalah penjaga pertama bagian timur. Naik ke atas, satu lie dari sini terdapat penjaga lapis kedua, demikian selanjutnya tiap satu lie ada penjaga sampai sembilan lapis! Maka tidak mungkin saya dapat mengantar hohan naik, karena saya tidak diperkenankan melewati penjaga lapis kedua yang tingkatnya lebih tinggi dari saya."
"Tidak bohongkah kau?"
"Siauwte yang hina tidak berani membohong, hohan."
Cin Han menggerakkan tangannya dan Lo-sam kena ditotok jalan darahnya.
Seperti kawannya yang masih rebah di tanah, iapun jatuh tak berdaya.
Biarpun pikiran dan perasaannya masih terang, tapi tidak kuasa menggerakkan tubuh atau mengeluarkan suara.
"Ingat, jika kalian tidak ditolong, dalam waktu dua belas jam kalian tentu akan mati. Tunggulah, aku pasti membebaskanmu jika keteranganmu tadi benar."
Setelah berkata demikian, Cin Han lari ke atas dengan cepat dan hati-hati.
Benar saja seperti keterangan Lo-sam tadi, kira-kira satu lie jauhnya ia maju, tampak orang-orang berjaga dengan obor di tangan.
Tapi dengan mudah saja Cin Han dapat melewati mereka ini dengan jalan meloncat dari pohon ke pohon.
Demikianpun pada tempat penjaga ketiga sampai kelima, ia dapat lewat dengan menggunakan ilmu lari cepat dan ringankan tubuh.
Tapi pada penjagaan keenam, ia mulai menghadapi kesulitan.
Penjaga di bagian keenam ini adalah orang-orang anggauta Pek-Lian-Kauw sendiri yang terhitung golongan ahli silat.
Di baju mereka terlukis gambar teratai putih dan kesemuanya memegang pedang.
Di tiap penjuru terdapat tiga orang penjaga.
Cin Han berlaku amat hati-hati.
Ia bersembunyi di atas sebatang pohon besar dan dari situ mengintai ke bawah.
Tiga orang penjaga berjalan hilir mudik sambil bercakap-cakap.
Melihat sikap dan gerakan mereka, Cin Han tahu bahwa ia tidak dapat menggunakan kecepatannya seperti tadi untuk menerobos, karena banyak kemungkinan penjaga-penjaga itu akan melihatnya, pula setelah tiba di situ ternyata pohon-pohon mulai berkurang.
Kemudian ia mendapat akal.
Tanpa mengeluarkan suara ia melompat ke bawah di bagian yang gelap dan agak jauh dari situ lalu memilih batu-batu kecil sebagai pengganti senjata rahasia.
Kemudian ia naik lagi ke atas pohon tadi.
Ia mengayun tangannya dan seorang di antara yang tiga itu tiba-tiba berteriak dan jatuh tidak berdaya.
Lehernya telah terpukul batu yang tepat menghantam jalan darah Koan-goan-hiat.
Kedua kawannya meloncat ke samping dan ketika dua buah batu kecil menyambar ke arah mereka, mereka dapat mengelak dengan menggulingkan diri di atas tanah.
Cin Han mematahkan dahan pohon dan melempar itu jauh ke bawah.
Kedua orang penjaga itu mendengar suara dahan jatuh segera memburu ke bawah pula.
Kesempatan ini digunakan oleh Cin Han untuk menerobos naik melalui tempat penjaga yang kini telah kosong.
Tapi ia segera menghadapi penjagaan lapis ketujuh.
Penjagaan mulai dari sini keras sekali.
Tembok yang tingginya tidak kurang dari empat tombak mengelilingi puncak bukit.
Dan di atas tembok tampak penjaga-penjaga dengan senjata di tangan berjalan hilir mudik.
Cin Han tidak melihat jalan masuk lain kecuali melompat naik ke tembok itu.
Maka ia melompat ke atas dengan cepat.
Baru saja kakinya menginjak tembok, lima buah senjata rahasia terbang menyambar kepala, leher, dada, pusar dan lututnya.
Ia mengelak ke kiri sambil menggunakan sebelah kakinya menendang piauw yang paling bawah sehingga piauw itu terpental kembali ke arah penyerangnya.
Tetapi penyerangnya dapat mengelak dengan mudah.
"Hai! Manusia dari mana berani lancang memasuki tempat penjagaanku?"
Penjaga itu membentak sambil menyerang dengan sebuah tombak yang ada kaitannya.
Cin Han tidak menjawab, hanya berkelit ke samping dan sekali kakinya terayun tombak itu terlepas dari pegangan penjaga itu.
Pada saat itu, tiga orang penjaga yang lain lari-lari mendatangi dengan golok dan pedang terangkat tinggi-tinggi.
Cin Han tidak mau membuang-buang waktu maka dicabutnya Kong-hwa-kiam dan sekali putar saja, semua senjata pengepungnya terpotong.
Tentu saja musuh-musuhnya terkejut sekali.
Cin Han meloncat ke sebelah dalam dan empat orang penjaga itu tidak berani mengejar karena sudah tidak bersenjata lagi, pula mereka harus mentaati perintah atasan.
Penjaga di bukit Hong-lai-san diatur berlapis-lapis sampai sembilan lapis.
Makin ke atas, penjagaan makin keras dan para penjaganya pun makin lihai.
Mereka ini bertugas menghalang-halangi musuh yang menerjang masuk.
Jika musuh dapat melewati sebuah penjagaan, ini berarti musuh itu kepandaiannya lebih tinggi daripada para penjaga di bagian itu, Maka akan sia-sia belaka jika mereka ini terus mengejar dan meninggalkan pos masing-masing.
Mereka harus mendiamkan saja agar musuh itu dilawan oleh penjaga-penjaga berikutnya yang lebih kuat.
Sedangkan mereka harus bersiap untuk mencegat musuh itu kalau keluar nanti.
Juga aturan ini diadakan untuk mencegah musuh menggunakan tipu "memancing harimau meninggalkan goa."
Dengan demikian, tiap pos penjagaan selalu tidak pernah ditinggalkan.
Inilah sebabnya maka penjaga tembok ketujuh tidak mengejar ketika Cin Han terus naik ke atas bukit.
Di depannya menjulang tembok penjagaan kedelapan.
Temboknya sama tinggi dengan penjagaan ketujuh, tapi di atas tembok kedelapan ini dipasang ujung-ujung tombak yang runcing.
Sedangkan penjaga-penjaga yang bertubuh kuat berdiri di belakang barisan ujung tombak itu.
Cin Han merasa heran melihat penjaga-penjaga di atas tembok tampak sibuk seakan-akan telah terjadi sesuatu yang mengacaukan.
Tanpa ragu-ragu lagi Cin Han mencabut pedangnya yang tadi diselipkan kembali ke pungggung dan mengayun tubuhnya melayang ke atas tembok.
Kedua kakinya dengan ringan mentotol ujung tombak di atas tembok itu dan dengan gerakan Naga Sakti Balikkan Diri, ia berjumpalitan meminjam tenaga totolan kaki di ujung tombak tadi.
Untung ia menggunakan tipu gerakan yang cepat ini karena pada saat ia berjumpalitan, dari bawah ujung tombak yang ia injak tadi banyak anak panah menyambar ke atas.
Kalau ia tadi berayal sedikit saja, agaknya akan sukar untuk mengelak anak panah yang menyerang dari bawah tubuh ini.
Segera lima orang penjaga datang menyerbu.
Tapi dengan lincah Cin Han mengeluarkan ilmu pedangnya.
Sehingga baru beberapa jurus saja ia berhasil merobohkan mereka dengan tendangan Soan-hong-twi dibarengi pukulan-pukulan Bi-ciong-kun, yakni kepalan menyesatkan, semacam ilmu pukulan yang penuh gaya palsu dan yang tidak terduga perubahan-perubahannya.
Cin Han meloncat turun dari tembok kedelapan.
Ia berlaku hati-hati sekali dan ketika tubuhnya turun ke tanah ia hanya menggunakan kaki kiri saja agar kaki kanan dapat siap menolong diri jika ada bahaya perangkap musuh mengancam.
Betul saja, baru beberapa langkah dia berjalan, tiba-tiba kakinya kena injak batu yang menjadi penggerak anak-anak panah beracun yang terpasang di pohon di kanan kirinya.
Cin Han mendengar suara angin senjata yang beterbangan menyambar itu segera meloncat jauh ke depan, tapi hampir saja ia terjeblos ke dalam lubang jebakan yang ditutup oleh tanah dan rumput tipis.
Baiknya ia memiliki ginkang yang tinggi sehingga secepat kilat ia dapat mengayunkan tubuhnya ke belakang.
Ketika ia memandang ke dalam lubang jebakan itu, ia bergidik dengan perasaan ngeri melihat tiga ujung pedang yang runcing terpasang dalamnya, siap menanti jatuhnya tubuh orang untuk disate.
Kini Cin Han menghadapi tembok kesembilan.
Berbeda dengan tembok-tembok penjagaan yang lain, tembok ini tingginya hanya dua tombak.
Tapi tembok itu tebalnya tiga kaki dan di atas tembok duduk Hwesio-Hwesio yang kelihatannya sedang bersamadhi.
Tiap lima tombak duduk seorang Hwesio dan di dekat masing-masing terletak sebuah pedang.
Tiba-tiba dari jurusan kiri tampak seorang berlari-lari di atas tembok.
Ketika orang itu datang dekat, Cin Han mengenal bahwa ia bukan lain adalah Thio Lok si Naga Hijau dari Selatan.
Agaknya luka di pahanya karena tusukan pedang Ang Lian Lihiap dulu itu telah sembuh kembali dan rupa-rupanya orang she Thio itu tugasnya memeriksa barisan penjaga di tembok di depan.
Cin Han tidak berani sembarangan menerjang, karena ia dapat menduga bahwa barisan penjaga tembok terakhir ini pasti kuat sekali dan di belakang tembok itulah terletak sarang Pek-Lian-Kauw di mana terdapat ahli-ahli silat tinggi.
Ketika ia bersiap-siap dan mencari jalan untuk menyerbu, tiba-tiba dari bawah tembok tak jauh dari tempatnya itu terdapat bayangan orang berkelebat dan tiba-tiba bayangan itu melemparkan tubuh seorang ke atas tembok.
Seorang Hwesio penjaga yang duduk tak jauh dari situ mengayunkan tangannya.
Terdengar orang yang dilempar ke atas itu berteriak ngeri karena sebatang piauw yang dilepas Hwesio tadi dengan tepat menembus keningnya.
Hwesio yang melepas piauw itu terkejut melihat bahwa orang yang diserang itu bukan lain ialah seorang penjaga dari tembok penjagaan di bawah.
Sebelum ia hilang kagetnya, bayangan yang melemparkan orang tadi tahu-tahu telah berada di belakangnya dan mengayunkan pedangnya yang tajam berkilau.
Hwesio itupun bukan orang lemah.
Dengan cepat ia menjatuhkan diri ke belakang dan menggelundung di atas tembok sehingga terhindar dari sabetan pedang.
Sementara itu, Thio Lok yang belum pergi jauh, segera lari mendatangi dengan beberapa orang Hwesio penjaga yang lain, lalu langsung mengeroyok bayangan yang gerakan-gerakannya luar biasa gesit dan cepat itu.
"Ang Lian siluman perempuan! Kau datang mencari mati?"
Bentak Thio Lok dengan marah dan memutar pedangnya menyerang.
Cin Han yang berada di bawah tembok mendengar ini merasa kaget sekali.
Tak disangkanya bayangan gesit dan lincah itu adalah Ang Lian Lihiap.
Entah mengapa hatinya mendadak berdebar girang.
Segera ia meloncat ke atas tembok.
Belum juga kakinya menginjak tembok, jari tangannya telah berhasil menotok seorang Hwesio sehingga roboh tidak berkutik.
Keadaan pengeroyok menjadi kacau.
Thio Lok melihat datangnya Hwee-thian Kim-hong segera bersuit memberi tanda.
"Lian-moi, tahan mereka ini, aku hendak mencari...!"
Lian Hwa mengangguk dengan tersenyum manis karena ia maklum bahwa Cin Han tentu hendak mencari pedang pusaka kerajaan itu.
Maka ia putar Sian-liong-kiam lebih cepat sehingga sebentar saja dua orang Hwesio pengeroyoknya terjungkal jatuh ke bawah tembok!
Cin Han meloncat turun ke bawah.
Cepat bagaikan kilat Cin Han meloncat ke atasnya dan sekali tangannya bergerak maka pedang Hwesio itu dapat terpukul jatuh dan si Hwesio sendiri kena ia totok pundaknya!
Kemudian ia mengempit Hwesio itu dan membawa lari ke tempat gelap.
"Hayo bawalah aku ke tempat simpanan pedang kerajaan!"
Demikian ia mengancam Hwesio itu. Karena tak berdaya, Hwesio itu segera membawanya ke bangunan sebelah belakang. Bangunan itu ternyata besar sekali.
"Di dalam kamar itulah disimpannya, tapi ada penjaga yang lain, aku tak berani masuk!"
Cin Han menotok lagi jalan darah Hwesio itu hingga ia terguling dengan tubuh lemas tak berdaya, lalu dengan tak menyia-nyiakan waktu lagi Cin Han membuka pintu kamar yang dimaksudkan.
Namun karena ia memang selalu curiga, ia berlaku hati-hati sekali.
Dengan sekali mendorong, daun pintu itu terbuka, tapi secepat kilat ia meloncat mundur.
Betul saja, dari belakang pintu itu sudah bersedia orang-orangan besi yang maju menubruk ke arah pintu yang terbuka.
Karena menubruk tempat kosong, kedua orang-orangan itu berdiri kembali ke tempat semula.
Cin Han perlahan memasuki pintu.
Tiba-tiba ketika kakinya menginjak ambang pintu, terdengar bunyi "Ser!
ser!!"
Dan dari empat penjuru menyemprot keluar pisau-pisau beracun bagaikan hujan ke arah pintu!
Cin Han segera menggunakan gerakan Wanita Cantik Membuka Payung, pedangnya terputar merupakan payung atau tameng melindungi tubuhnya hingga semua pisau beracun kena terpukul runtuh nenerbitkan suara hiruk-pikuk.
Setelah senjata rahasia habis, tiba-tiba dari atas pintu jatuh segumpal besi yang beratnya ratusan kati hendak menimpa kepalanya!
Karena datangnya besi itu cepat sekali dan sudah terlambat untuk dikelit, maka Cin Han mengerahkan tenaganya di telapak tangan lalu menggunakan telapak tangan itu mendorong besi yang jatuh menimpa.
Besi itu terdorong dan terpental ke depan, jatuh menimpa orang-orangan besi hingga hancur berantakan dan dari dalam tubuh besi meloncat keluar per-per yang menggerakkan tubuh itu Cin Han melihat ke dalam kamar.
Ternyata di situ memang terdapat banyak barang-barang pusaka dan kumpulan barang-barang antik.
Banyak pedang dan golok yang berusia ribuan tahun tergantung di dinding sebelah dalam.
Dan di atas sekali, tergantung pedang kerajaan Beng-tiauw yang dicarinya!
Ia mengenal pedang ini dari sarungnya yang berukir burung Hong dan Naga Emas!
Untuk berjaga diri, Cin Han menggerakkan kaki menendang orang-orangan besi yang satunya lagi hingga orang-orangan itu terlempar jatuh ke tengah kamar.
Betul saja, ketika orang-orangan itu menimpa lantai di tengah-tengah kamar terbuka dan orang-orangan itu terjeblos masuk, lalu terdengar suara air di bawah!
Cin Han ngeri mendengar ini tapi ia girang karena ia kini tahu sampai di mana batas lubang jebakan itu.
Sementara itu, lantai yang terbuka itu kini telah tertutup kembali.
Cin Han meloncat ke dalam kamar melewati batas lantai yang dapat terbuka lalu menurunkan kakinya dengan ringan karena ia masih curiga.
Ternyata lantai yang diinjaknya tidak apa-apa maka ia segera mengulurkan tangannya mengambil pedang pusaka kerajaan.
Setelah mencabut pedang itu untuk melihat bahwa pedang itu memang tidak palsu, ia meloncat lagi keluar melewati lantai berbahaya tadi.
Ketika tiba di atas tembok penjagaan kesembilan, Cin Han merasa terkejut sekali melihat betapa Ang Lian Lihiap berada dalam keadaan berbahaya sekali!
Gadis itu kini bertempur melawan seoang tua kurus kering yang ternyata lihai sekali gerakan pedangnya, hingga Ang Lian Lihiap hanya mengandalkan keringanan dan kegesitan tubuhnya untuk menghindarkan diri dari serangan-serangan maut dari pedang lawan itu!
Cin Han marah sekali dan meloncat ke atas tembok.
Pada saat itu lawan Lian Hwa sedang menyerang dengan gerak tipu Raja Maut Menyambar Nyawa.
Pedangnya dari bawah dengan gerakan memutar menusuk ke atas, ke arah dada gadis itu dan dibarengi tangan kirinya dengan gerakan Eng-jiauw-kang atau Kuku Garuda Mencengkeram ke arah leher Ang Lian Lihiap!
Serangan ini adalah serangan maut, karena baik tangan kiri maupun tangan kanan adalah penyebar maut yang sukar dihindarkan lagi!
Cin Han melihat keadaan ini segera berkelebat cepat.
Ia melihat bahwa dengan pedangnya, gadis itu menggerakkan tangannya dengan tipu Naga Laut Naik ke Darat dan ia tahu bahwa Lian Hwa akan berhasil menangkis pedang lawannya, tapi gadis itu tak mungkin dapat mengelit pukulan kuku garuda yang lihai dan berbahaya.
Maka tanpa ragu-ragu lagi, ia meloncat mendekat dan menggunakan tangan kanan menangkis cengkeraman orang itu.
Setelah dapat menangkis pedang lawan dan melihat Cin Han maju, Lian Hwa meloncat mundur.
Orang kurus kering itu melihat ada orang luar berani menangkis tangannya, lalu mengerahkan tenaga hendak mematahkan lengan tangan orang lancang itu dengan ilmu lweekangnya, maka terbenturlah kedua lengan dan mengeluarkan suara keras.
Cin Han terhuyung mundur tiga tindak, tapi orang-tua itupun terpaksa melangkah mundur dua langkah!
Ketika melirik ke arah lengan tangannya, Cin Han melihat lengannya merah, tapi iapun melihat lengan lawannya itu matang biru!
Maka ia menghela napas lega karena kalau hendak dikatakan kalah tenaga, maka kekalahan itu hanya sedikit selisihnya!
"Eh, siapakah kau orang muda berani campur tangan urusan orang lain?"
Tanya orang-tua kurus kering itu. Cin Han tidak menjawab, tapi melemparkan pedang pusaka kerajaan kepada Lian Hwa.
"Pegang dulu ini Lian..."
Ang Lian Lihiap menangkap pedang yang dilemparkan itu dan walaupun Cin Han membungkus pedang itu dengan sehelai kain yang didapatkan di dalam kamar tadi gadis itu tahu bahwa itulah pedang yang dicari, maka diam-diam ia merasa girang dan kagum.
Melihat pertanyaannya tak diperdulikan orang, si kurus kering menjadi marah sekali.
Ia perhatikan lebih jelas dan tiba-tiba ia melihat lukisan burung Hong di dada Cin Han.
"Ho-ho! Jadi inikah Hwee-thian Kim-hong anak kemarin sore yang jumawa itu? Rupanya suhumu tidak mengajarkan adat padamu, anak muda? Kau berani melawan aku yang sedang memberi ajaran sedikit kepada murid keponakanku sendiri?"
Cin Han heran mendengar ini. Lian Hwa murid keponakan kakek ini? Ia berpaling memandang gadis itu yang berdiri menentang lawan dengan mata menyala.
"Siapa sudi menjadi murid keponakanmu? Hm, kalau suhu masih hidup, pasti ia akan mengetok kepala sutenya yang tersesat dan menjadi pengkhianat bangsa macam kau ini!"
"Ha, ha, ha! Memang, guru kencing berdiri, murid kencing berlari! Ong Lun jahat dan galak, tapi muridnya lebih jahat dan galak lagi!"
Kini Cin Han dapat menduga siapa lawan yang tangguh ini.
"Bukankah Lo-Enghiong ini Khai Sin Tosu?"
"He, anak muda, kalau kau sudah kenal namaku, kenapa tidak lekas-lekas melempar pedang minta maaf?"
"Perkara minta maaf itu mudah saja. Yang penting harus dilihat dulu siapa yang salah. Totiang sebagai seorang pendeta mengapa berada dalam sarang Pek-Lian-Kauw dan membela perkumpulan ini?"
Kedua mata Khai Sin Tosu mengeluarkan cahaya kemarahan.
"Ada sangkut-paut apa denganmu? Aku pemeluk Agama Pek-Lian-Kauw, habis kau mau apa?"
Cin Han memperhatikan pakaian tosu itu dan diam-diam menghela napas.
Ia melihat pakaian pendeta itu sangat mewah dan terbuat daripada kain halus, rambutnya yang panjang dijepit dengan hiasan rambut emas pula.
Di dadanya, terlukis gambar teratai putih.
Jelas baginya bahwa tosu tua ini telah terpengaruh oleh harta kemewahan.
"Tosu tersesat!"
Cin Han berkata marah.
"Benar seperti kata Ang Lian Lihiap tadi, kalau Ong Lun susiok masih hidup, tentu kepalamu akan diketok sampai retak-retak."
"Bangsat kecil! Kau siapa? Kenapa kau sebut Ong Lun sebagai susiokmu?"
"Gwat Liang Tojin adalah suhuku dan karena Ong Lun susiok telah meninggal biarlah aku yang muda mewakilinya memberi sedikit hukuman kepadamu!"
"Anak setan!"
Khai Sin memaki dan kedua tangannya terayun dengan tiba-tiba.
Empat butir batu koral putih berkelebat, dua ke arah Cin Han, dan yang dua lagi ke arah Lian Hwa.
Tapi kedua orang muda itu cepat berkelit.
Tanpa sia-siakan waktu lagi Cin Han memutar pedangnya menyerang.
Khai Sin Tosu menggerakkan pedangnya menangkis dan sesaat kemudian mereka saling serang dalam pertempuran mati-matian.
Tenaga mereka berimbang, tapi Khai Sin Tosu yang sudah banyak pengalaman ternyata jauh lebih ulet dan tenang.
Namun, setelah bertempur lima puluh jurus lebih, sekali lagi Hwie-liong Kiam-sut membuktikan bahwa ilmu pedang ini memang sangat tinggi dan jarang ditemukan tandingannya.
Perlahan-lahan Khai Sin merasa bingung dan pening menghadapi ilmu pedang yang demikian aneh gerak-geriknya dan banyak sekali perubahan-perubahannya yang tak terduga.
Kalau ia tidak tenang dan waspada, pasti sudah tadi-tadi ia celaka.
Lian Hwa makin kagum melihat permainan pedang Cin Han yang mulai mendesak Khai Sin Tosu.
Ia diam-diam berpikir bahwa di dunia ini sukar ditemukan seorang pemuda seperti Cin Han.
Tinggi ilmu silatnya, pandai ilmu sastera, berwajah tampan, sikapnya lemah-lembut, herhati jujur dan tidak sombong.
Diam-diam ia membanding-bandingkan Cin Han dengan Nyo Tiang Pek.
Ketika ia bertemu dan kenal dengan Tiang Pek, ia mengagumi pemuda ini sebagai seorang pendekar dan pahlawan bangsa yang berkepandaian lebih tinggi darinya.
Nyo Tiang Pek pun suka sekali kepadanya karena menurut keterangannya, Han Lian Hwa mengingatkan ia akan adik perempuannya yang telah meninggal dunia karena penyakit panas.
Demikianlah maka Nyo Tiang Pek mengangkat Lian Hwa sebagai adik dan hubungan mereka seperti kakak dan adik saja.
Ketika Khai Sin telah terdesak dan hanya dapat menangkis saja, tiba-tiba dari bawah tembok terasa angin berdesir dan tahu-tahu seorang sai-kong pendeta pendek gemuk dan seorang wanita cantik berdiri di kanan kiri mereka yang bertempur.
Si imam membentak perlahan.
"Tahan pedang!"
Suara yang nyaring ini dibarengi dengan kebutan pertapaannya terayun dan menyabet pedang Cin Han yang sedang menyerang dan mendesak Khai Sin yang mundur menangkis.
Cin Han merasa betapa sebuah tenaga besar sekali menolak pedangnya sehingga telapak tangannya tergetar.
Ia meloncat ke samping dan memandang orang yang menangkis pedangnya itu.
Sai-kong itu bermuka bundar bagaikan bulan purnama.
Mukanya yang gemuk bulat membuat kepalanya seperti sebuah balon karet.
Kulit mukanya halus lemas seperti muka kanak-kanak.
Tubuhnya yang pendek gemuk sesuai benar dengan potongan muka yang bulat itu.
Tangan kanannya Memegang hud-tim (kebutan pertapa) dan tangan kiri memegang seuntai tasbeh yang terbuat daripada butiran-butiran mutiara.
Di dadanya terlukis teratai putih dari benang perak hingga mengeluarkan cahaya berkilauan.
Rambut di kepalanya diikatkan ke atas dan diikat dengan sebuah penjepit rambut dari emas terhias batu permata.
Biarpun kulit mukanya licin seperti kanak-kanak tapi melihat rambutnya yang putih itu ia tentu sudah berusia lebih dari enam atau tujuh puluh tahun.
Wanita itu berusia kurang lebih tiga puluh tahun, wajahnya cantik dan tubuhnya tinggi langsing dengan potongan yang menggiurkan.
Terutama sepasang matanya yang indah itu mengeluarkan sinar menggairahkan penuh kecabulan, sedangkan bibirnya yang mungil membayangkan senyum genit memikat.
Pakaiannya pun sangat mewah, bajunya dari sutera merah dan celananya berwarna biru.
Pada saat itu ia mengerling ke wajah Cin Han sambil melepaskan pandangan penuh rasa kagum.
Sekali pandang saja lalu timbul rasa benci dalam hati Lian Hwa karena pandangan mata dan sikap perempuan itu mengingatkan ia akan dua orang nikouw atau pendeta wanita cabul yang pernah mengganggu dia dan Cin Han beberapa tahun yang lalu.
Sai-kong itu bukan lain ialah Bong Cu Sianjin sendiri, ketua Pek-Lian-Kauw, seorang bekas pertapa yang lihai dan mahir ilmu silat dan ilmu hitam.
Sedangkan wanita itu adalah Kim Eng yang disebut orang si Dewi Cabul, seorang penjahat wanita yang terkenal kejam dan pandai ilmu silat.
Kim Eng mempunyai kepandaian yang sangat berbahaya, yakni melepas jarum lima racun yang disebut Ngo-tok-ciam!
Jarum ini sangat halus dan kecil dan dilepaskan menuju urat-urat dan jalan darah, maka lawannya yang bagaimana pandaipun jika terkena jarum beracun ini jangan mengharap dapat hidup lebih lama lagi.
Perempuan cantik ini telah bersatu dengan Pek-Lian-Kauw dan menjadi kawan baik Bong Cu Sianjin yang biarpun sudah tua namun masih suka bermain cinta.
Yang menarik hati Kim Eng maka ia suka berada di situ ialah karena Pek-Lian-Kauw mempunyai banyak anggauta terdiri dari pemuda-pemuda tampan dan kuat.
Dan tak seorangpun, baik ketua Pek-Lian-Kauw sendiri maupun pemimpin yang lain-lain, berani melarang Kim Eng berlaku sekehendak hatinya.
Selain daripada hal tersebut, Kim Eng juga mendekati Bong Cu Sianjin untuk dapat memetik beberapa ilmu siluman guna memperlengkap kepandaiannya.
Cin Han yang sudah merasakan kehebatan tenaga kebutan pendeta itu, meloncat mundur sambil menyiapkan diri dengan waspada dan hati-hati.
"Eh, eh sungguh satu kehormatan besar bagi kami yang telah didatangi oleh dua orang gagah muda belia, Hwee-thian Kim-hong dan Ang Lian Lihiap yang namanya telah menggemparkan empat penjuru dunia!"
Kata Bong Cu Sianjin dengan suaranya yang nyaring dan halus dan matanya yang bening itu bergerak-gerak memandangi wajah dan tubuh Lian Hwa.
Menerima sambaran kerling mata yang tajam dan mempunyai tenaga yang berpengaruh seakan-akan dapat menembus pakaiannya, hingga ia merasa seperti berdiri telanjang dibawah pandangan mata pendeta itu, Lian Hwa merasa malu dan marah hingga seluruh mukanya menjadi merah padam.
"Kalian sungguh berani seperti anak harimau baru keluar dari sarang! Berani dan muda, muda dan tampan dan cantik! Kenapa berani mengganggu sahabat Khai Sin Tosu? Daripada kita berselisih paham, bukankah lebih baik kalian masuk sebagai sahabat-sahabat dan minum arak wangi bersama kami?"
"Bangsat tua jangan banyak cakap!"
Teriak Lian Hwa yang merasa jemu serta benci sekali melihat tingkah sai-kong itu. Tapi Bong Cu Sianjin hanya tertawa perlahan.
"Galak benar! Bunga yang berduri harum baunya! Kalian mempunyai kepandaian apakah maka berani bertingkah?"
Cin Han yang sudah menahan sabar sejak tadi, tak memperdulikan bahaya lagi segera menyerang dengan pedangnya, juga Lian Hwa loncat menubruk.
Sian-liong-kiamnya berkilauan.
Tapi dengan tenang Bong Cu Sianjin mengelebatkan kebutannya yang sekaligus dapat menyampok kedua pedang itu hingga terpental!
Ang Lian Lihiap dan Hwee-thian Kim-hong dengan penuh semangat dan mengertak gigi maju menyerang.
Walaupun ilmu kepandaian dan tenaga Bong Cu Sianjin sudah mendekati puncak kesempurnaan karena sesungguhnya tenaganya bukanlah tenaga biasa, tapi terbantu oleh Ilmu hitam, namun menghadapi Lian Hwa dan Cin Han yang boleh diumpamakan sebagai dua ekor naga sakti mengamuk, ia tak dapat segera memperoleh kemenangan.
Kalau tadi ia hanya menggunakan kebutannya, kini tangan kirinya yang memegang tasbeh ikut menbantu.
Ternyata tasbeh ini lebih lihai daripada kebutannya!
Senjata aneh digunakan sebagai ruyung atau cambuk lemas yang mengeluarkan cahaya berkeredepan menyilaukan mata lawan.
Berkali-kali pedang kedua orang itu beradu dengan tasbeh hingga mengeluarkan bunga api, sedangkan Lian Hwa dan Cin Han merasa tangan mereka pedas dan panas!
Cin Han mengumpulkan semangat dan bersilat lebih cepat sambil mengeluarkan tipu-tipu terlihai dari Hwie-liong Kiam-sut, sedangkan Lian Hwa mengerahkan seluruh tenaga dan kegesitannya dengan mengandalkan ginkangnya yang tinggi dan ilmu pedang Sian-liong-kiam-hoat yang ganas gerakan-gerakannya.
"Bagus!"
Sai-kong itu memuji dan ia terpaksa tak berani bermain-main seperti tadi.
Baru kali ini selama turun dari gunung pertapaannya ia bertemu tandingan sedemikian tangguhnya!
Si Dewi Cabul Kim Eng merasa gatal tangan melihat "kekasih"
Atau gurunya itu terdesak oleh pengeroyokan Lian Hwa dan Cin Han, maka ia segera mencabut keluar pedang dengan tangan kanan dan tangan kirinya mencabut saputangan yang harum baunya.
Kemudian sambil tertawa genit ia menyerang Cin Han.
Serangan itu ternyata hebat juga hingga terpaksa Cin Han melayaninya dengan hati-hati dan tinggal sai-kong yang kini hanya menghadapi Lian Hwa sendiri.
Ketua Pek-Lian-Kauw itu tertawa terbahak-bahak.
"Nona, menyerahlah. Lebih baik tinggal di sini dan hidup mewah."
Lian Hwa menggigit bibir dan memaki.
"Pendeta siluman! Jangan banyak tingkah!"
Lalu ia perhebat gerakannya.
Tiba-tiba Lian Hwa melihat bahwa pedang lambang kerajaan Beng-tiauw yang tadi ditaruh di atas tembok karena hendak membantu Cin Han, kini hendak diambil oleh Thio Lok.
ia menggunakan ginkangnya melayang ke arah Thio Lok dan sekali tangannya terulur, pedang kerajaan itu sudah terampas kembali.
Berbareng dengan itu, pedangnya berkelebat ke leher Thio Lok.
Tapi Bong Cu Sianjin sudah berada di situ pula dan kebutannya bergerak melilit Sian-liong-kiam terus ditarik sehingga pedang itu terlepas dari pegangan Ang Lian Lihiap tanpa dapat ditahan pula!
"Ha-ha-ha!"
Sai-kong itu memberikan pedang Lian Hwa kepada Thio Lok, lalu menggerakkan tangan hendak menangkap Lian Hwa!
Pada saat itu, sebuah bayangan hitam berkelebat cepat dan tahu-tahu tubuh Lian Hwa sudah dipondong pergi terlepas dari bahaya pelukan Bong Cu Sianjin, dan bayangan itu sambil memondong Lian Hwa, tangannya terulur merampas pedang Sian-liong-kiam dari pegangan Thio Lok!
Gerakannya ini sungguh sangat cepat bagaikan kilat menyambar hingga sebelum dapat dilihat jelas orangnya, bayangan itu telah berhasil menyelamatkan Lian Hwa dan merampas kembali pedang gadis itu!
Ketika Lian Hwa memandang, ternyata yang menolongnya bukan lain adalah Song Cu Ling si Dewi Tanpa Bayangan, gurunya sendiri!
"Bong Cu, jangan kau berani mengganggu muridku!"
Wanita tua itu membentak.
"Cu Ling, kau?? Kau masih hidup?"
Sai-kong itu memandang heran.
"Dia ini muridmukah?"
Sementara itu, Cin Han dengan mudah mendesak keras pada Kim Eng, tetapi tiba-tiba perempuan cabul itu mengebutkan saputangan di tangan kirinya!
Cin Han mencium bau wangi yang keras sekali dan yang langsung memasuki hidung terus ke kepalanya dan membuat penglihatannya menjadi gelap.
Tubuhnya terhuyung-huyung, tapi pada saat itu ia merasa ada orang menariknya dari situ dan ternyata orang itu adalah gurunya seadiri Gwat Liang Tojin yang sudah berada di situ pula.
"Makanlah ini, Han!"
Kata Gwat Liang Tojin. Cin Han menerima pil itu dan memasukkan ke mulutnya. Seketika itu juga lenyaplah pengaruh jahat yang wangi memabokkan itu.
"Bong Cu! Tidak malukah menghina orang-orang muda?"
Bong Cu Sianjin memandang mereka berdua dengan tajam lalu tertawa besar.
"Ha-ha! Jadi Gwat Liang Tojin juga datang? Bagus, bagus? Kau dan Song Cu Ling agaknya menyangka bahwa aku takut padamu? Ha-ha! Jangan mimpi, sobat. Bong Cu sekarang bukanlah Bong Cu dua puluh tahun yang lalu!"
"Bong Cu! Kau telah menjadi seorang kauw-cu, kepala agama yang memiliki nama besar di kalangan kang-ouw. Apakah kau sudah begitu hina untuk merendahkan namamu dengan mencelakai dua orang muda yang belum berpengalaman di sarang perkumpulanmu sendiri? Pula, kau harus ingat bahwa kau sudah mengundang para hohan untuk datang ke sini pada malam kelimabelas musim Chun nanti."
Bong Cu Sianjin mengeluarkan suara jengekan.
"Bukan aku yang mengundang, tapi biarlah, karena sudah terlanjur, jangan orang kira aku takut. Tapi mengapa Ang Lian Lihiap dan Hwee-thian Kim-hong datang mengacau dan mencuri pedang kerajaan?"
Gwat Liang Tojin menghela napas.
Ia maklum bahwa ia sendiri dan Song Cu Ling takkan dapat mengalahkan Bong Cu Sianjin yang lihai, pula di situ banyak berkumpul orang-orang lihai seperti Khai Sin Tosu dan yang lain-lain.
Maka ia mengalah dan berkata.
"Kalau kau mau persalahkan yang muda-muda ini, biarlah aku yang mintakan maaf. Cin Han, kembalikan pedang itu."
Dengan penasaran dan heran melihat gurunya begitu mengalah terhadap ketua Pek-Lian-Kauw itu, Cin Han minta pedang lambang kerajaan Beng-tiauw dari tangan Lian Hwa dan memberikan pedang itu kepada Bong Cu Sianjin.
"Ha-ha-ha! Biarlah aku pandang muka Gwat Liang dan Cu Ling dan biarlah kalian hidup sampai malam kelimabelas bulan depan! Kalau kalian tak ikut datang, kuanggap kalian penakut."
"Bong-Kauwcu, bersiaplah untuk nyambut kami pada bulan purnama yang akan datang. Nah, selamat tinggal!"
Gwat Liang Tojin memberi isyarat kepada Song Cu Ling, Cin Han dan Lian Hwa, dan mereka berempat lalu turun gunung.
Mudah saja mereka melalui tempat-tempat penjagaan di mana Cin Han membebaskan para penjaga yang tadi ia bikin tidak berdaya, dan mengambil baju luarnya yang tergantung di pohon.
Tanpa banyak cakap, Gwat Liang Tojin mengajak mereka menuju ke sebuah kampung di mana terdapat bio tua yang kosong.
Setelah diperkenalkan kepada kedua orang-tua itu, Cin Han memberi hormat kepada Song Cu Ling sedangkan Lian Hwa memberi hormat kepada Gwat Liang Tojin.
Mereka berempat tidak tidur, tapi dengan gembira masing-masing menceritakan pengalamannya.
Ternyata dengan diam-diam Lian Hwa mendahului Cin Han menuju ke sarang Pek-Lian-Kauw.
Ia mengandalkan kegesitan dan kepandaiannya melalui semua penjaga dengan maksud hendak membuat jasa dan mencuri pedang kerajaan, mendahului Cin Han.
Juga dengan jalan itu ia hendak membantu Cin Han karena ia maklum bahwa di sarang Pek-Lian-Kauw itu banyak orang-orang lihai.
Tidak tahunya ia menemui batu, sehingga biarpun ia dapat bekerja sama dengan Cin Han, tetap saja mereka hampir-hampir mengalami bencana.
Baiknya gurunya dan guru Cin Han datang tepat pada saat berbahaya itu dan dapat menolong mereka.
Kemudian Song Cu Ling dan Gwat Liang Tojin menuturkan perjalanan mereka sehingga mereka bisa sampai di sarang Pek-Lian-Kauw.
Karena insyaf bahwa kedua cucunya, yaitu Kong Liang dan Mei Ling, perlu mendapat didikan ilmu kesusasteraan, Song Cu Ling mencari seorang guru sekolah yang pandai.
Kemudian ia mendengar nama Gan Keng Hiap sebagai seorang sasterawan yang selain pandai pun berjiwa patriot.
Ia senang sekali mendengar hal ini karena iapun sangsi untuk mempercayakan pendidikan kedua cucu itu dalam tangan seorang sasterawan penjilat pemerintah Boan.
Ia segera mengajak Kong Liang dan Mei Ling, anak kembar itu, menemui Gan Keng Hiap.
Sasterawan tua yang baik hati ini menerima permintaan Song Cu Ling dengan girang karena sebentar saja ia merasa sayang kepada kedua anak yang mungil dan kelihatan cerdik itu.
Untuk membalas budi Gan Keng Hiap, si Dewi Tanpa Bayangan mengangkat Giok Lie yang disangkanya puteri Gan Keng Hiap, sebagai murid.
Giok Lie yang merasa kagum melihat kepandaian Ang Lian Lihiap dan sedikit banyak mempunyai rasa iri hati, menerima pengangkatan ini dengan rasa bahagia.
Demikianlah, dengan rajin Kong Liang dan Mei Ling belajar ilmu surat kepada Gan Keng Hiap, sedangkan Giok Lie puteri pangeran itu dengan tekunnya mempelajari ilmu silat dari Song Cu Ling.
Ia makin giat belajar ketika mendengar dari gurunya bahwa Ang Lian Lihiap juga murid Song Cu Ling atau ia punya suci.
Pada suatu hari, karena terkenang kepada Cin Han, dengan disengaja Giok Lie menyebut-nyebut tentang kepandaian Ang Lian Lihiap dan tentang percekcokannya dengan Cin Han.
Song Cu Ling mendengar ini menjadi tertarik dan mendesaknya untuk menceritakan riwayat itu.
Giok Lie yang berhati jujur dan yang kini menganggap Song Cu Ling sebagai orang-tua sendiri, segera menceritakan semua riwayatnya, bagaimana ia ditolong Cin Han dan bagaimana Cin Han bertempur dengan Ang Lian Lihiap.
"Sayang sekali Lian Hwa suci itu agak keras hatinya. Kasihan koko Cin Han yang disangka pengkhianat oleh gadis pujaan hatinya yang dicintanya sepenuh hati. Tapi aku yakin suci juga menderita batinnya karena sesungguhnya ia juga cinta kepada koko Cin Han."
Demikian gadis itu mengakhiri ceritanya dengan menghela napas.
Kata-kata terakhir yang diucapkan itu menyedihkan hatinya.
Ketika mendengar bahwa Cin Han adalah pendekar muda Hwee-thian Kim-hong yang pernah ia dengar namanya dan keponakan Gan Keng Hiap sendiri, Song Cu Ling segera menemui Gan Keng Hiap.
Dari sasterawan ini ia diberi tahu bahwa Cin Han adalah murid Gwat Liang Tojin di Kong-hwa-san yang telah dikenal baik oleh Song Cu Ling di waktu mudanya.
Song Cu Ling mengaku bahwa Ang Lian Lihiap Han Lian Hwa adalah muridnya yang tersayang dan karena gadis itu yatim piatu, bahkan gurunya yang pertama Ong Lun sudah meninggal dunia pula, maka boleh dibilang ia adalah walinya.
Maka ia bertanya kepada Gan Keng Hiap suami-isteri, bagaimana kalau Cin Han dijodohkan saja dengan Han Lian Hwa.
Gan Keng Hiap suami-isteri pernah diceritakan oleh Giok Lie tentang hubungan hati yang ada antara Lian Hwa dan Cin Han, pula mereka pernah bertemu dengan Ang Lian Lihiap, dan mereka memang merasa kagum kepada gadis yang cantik, pandai dan berbakti itu.
"Bagi kami sebagai paman dan bibi Cin Han, kami merasa beruntung jika nona Lian Hwa sudi menjadi isterinya. Tapi harap toanio maklum bahwa dalam hal ini kami tidak berkuasa penuh. Masih ada dua orang yang harus ditanya pendapat mereka dulu, ialah Gwat Liang Tojin dan Cin Han sendiri, karena semenjak ditinggal orang-tuanya, Cin Han dirawat dan dididik oleh Gwat Liang Tojin."
Song Cu Ling mengangguk-angguk.
"Memang seharusnya demikian. Biarlah aku pergi dulu beberapa hari untuk membereskan hal ini dan menemui Gwat Liang Tojin. Kasihan kedua anak itu yang dipisahkan oleh kesalah pahaman. Pula, kurasa mereka itu sudah cukup dewasa untuk berumah tangga."
Maka naiklah Song Cu Ling ke Kong-hwa-san menemui Gwat Liang Tojin.
Kebetulan sekali pada waktu tiba di situ, Gwat Liang Tojin sedang menerima seorang tamu yang bukan lain adalah Nyo Tiang Pek.
Pemuda yang rajin ini sedang mengajukan permohonan kepada Gwat Liang Tojin untuk membantunya di dalam serbuan ke Pek-Lian-Kauw nanti!
Maka, melihat kedatangan jago wanita tua itu, Nyo Tiang Pek yang pandai bergaul dan pandai berbicara itu sekalian mohon bantuannya!
Karena baik Gwat Liang Tojin maupun Song Cu Ling adalah pendekar-pendekar yang berhati budiman dan mencinta negara, mereka meluluskan permintaan Tiang Pek.
Ketika mendengar dari Nyo Tiang Pek bahwa Cin Han pergi seorang diri ke sarang Pek-Lian-Kauw dan bahwa Lian Hwa juga pergi tanpa pamit dan mungkin menyusul pemuda itu ke sarang Pek-Lian-Kauw, kedua guru itu merasa khawatir sekali dan mereka lalu menyusul!
Di tengah perjalanan Song Cu Ling mengutarakan usulnya untuk menjodohkan pemuda itu dan Lian Hwa.
Gwat Liang Tojin sudah banyak mendengar nama Ang Lian Lihiap sebagai pendekar wanita yang gagah dan berbudi.
Tapi karena belum pernah bertemu muka, ia menunda keputusannya, sampai nanti setelah ia melihat sendiri gadis itu.
Demikianlah maka kedua pendekar tua ini bisa sampai di sarang Pek-Lian-Kauw pada waktu yang tepat dan berhasil menolong kedua murid mereka.
Tentu saja dalam menceritakan pengalaman mereka, kedua guru itu tidak menyebut-nyebut tentang maksud mereka menjodohkan kedua murid itu.
Han Lian Hwa mendengarkan cerita gurunya sambil memeluk dan memegang-megang tangan Song Cu Ling dengan sikap kekanak-kanakan dan manja.
"Bagaimana dengan adik Kong Liang dan Mei Ling, subo? Teecu sudah kangen sekali,"
Katanya dengan wajah berseri-seri.
Cin Han diam-diam girang mendengar bahwa Giok Lie telah menjadi murid wanita gagah itu.
Mulai sekarang gadis yatim piatu itu dapat menjaga diri sendiri.
Setelah melihat dengan mata kepala sendiri betapa cantik dan menarik gadis itu dan tadi telah disaksikannya sendiri kiam-hoat Lian Hwa yang lihai hingga memang gadis itu tepat dan pantas sekali menjadi isteri muridnya, Gwat Liang Tojin diam-diam memberi isyarat kepada Song Cu Ling dengan sebuah anggukan kepala dan tersenyum tanda setuju!
Song Cu Ling mengerti isyarat ini, maka ditariknya tangan Lian Hwa keluar dari bio itu.
Lian Hwa merasa heran, tapi sambil tertawa ia menurut saja.
Setelah sampai di luar kelenteng, Song Cu Ling menarik muridnya duduk di atas lantai batu.
"Lian Hwa, berapakah usiamu sekarang?"
"Sembilanbelas tahun. Mengapa subo bertanya demikian?"
Song Cu Ling tertawa.
"Tidak apa-apa, muridku. Hanya saja, aku dulu pada usia tujuhbelas tahun sudah dikawinkan."
Ang Lian Lihiap terkejut sekali, ia menggigit bibirnya dan menunduk, tidak berani berkata apa-apa. Gurunya memegang lengannya yang halus.
"Lian, ada orang yang menyampaikan peimintaan kepadaku dengan maksud melamar kau."
Lian Hwa memandang muka gurunya. Kulit mukanya merah.
"Coba katakan siapa dia yang kurang ajar itu? Biar kupukul mulutnya yang lancang."
"Sstt! Yang melamar adalah Gwat Liang Tojin dan Gan Keng Hiap, untuk Hwee-thian Kim-hong Lo Cin Han."
Tiba-tiba muka Lian Hwa yang sudah memerah itu menjadi makin merah sampai ke telinga-telinganya, kini bukan merah karena marah.
"Dia...? Dia...?"
Song Cu Ling memandang muridnya dengan wajah berseri-seri dan senyum menggoda.
Ia merasa beruntung dan girang bahwa ternyata benar seperti dugaannya, nama pemuda itu merupakan panah asmara yang menembus jantung hati Lian Hwa.
Untuk sejenak Lian Hwa menatap wajah gurunya, kemudian tiba-tiba memeluk gurunya sambil menyembunyikan mukanya ke dada wanita itu.
Song Cu Ling merasa betapa air mata yang hangat membasahi bajunya dan menembus ke kulitnya.
Ternyata Lian Hwa telah menangis, menangis tersedu-sedu dan tubuhnya bergoyang-goyang karena isak tangisnya.
Song Cu Ling merasa sangat terharu dan sambil memeluk muridnya, iapun ikut menangis pula!
Sementara itu, di dalam kelenteng itupun terjadilah hal sama.
Setelah guru dan murid wanita itu keluar, Gwat Liang Tojin memberitahukan muridnya bahwa ia dan Song Cu Ling, juga Gan Keng Hiap, telah bermufakat untuk menjodohkan ia dengan Lian Hwa.
Ketika Cin Han mendengar berita yang tiba-tiba dan tak tersangka-sangka ini tak tahu harus berkata apa dan bersikap bagaimana.
Wajahnya memerah dan dadanya berdebar-debar.
Sampai lama ia tidak dapat menjawab gurunya.
Setelah tiga kali Gwat Liang Tojin bertanya.
"Bagaimana pikiranmu, Han?"
Ia hanya dapat mengangguk-angguk saja! Gwat Liang Tojin tersenyum lalu berkata.
"Nah, kesinikan po-kiammu itu."
Cin Han meloloskan sarung pedangnya dan memberikan itu kepada gurunya dengan hormat.
Gwat Liang Tojin membawa pedang itu keluar di mana ia melihat Lian Hwa masih terisak-isak di dada gurunya!
Diam-diam pertapa itu menghela napas dan berbisik.
"Ahh perempuan pandainya menangis saja!"
Tapi ia merasa heran dan khawatir juga melihat kedua orang itu bertangis-tangisan.
Baru hatinya menjadi lega kembali ketika Song Cu Ling berpaling kepadanya dan mengangguk kepadanya sebagai tanda bahwa urusan telah beres!
Lian Hwa melihat Gwat Liang Tojin menjadi makin malu dan tidak berani memandang.
Maka ketika gurunya minta Sian-liong-kiamnya ia meloloskan pedang itu dengan kedua tangan gemetar!
"Nah, kedua po-kiam telah ditukar sebagai lambang tertukarnya dua hati,"
Kata Song Cu Ling seperti berdoa.
"Semoga kedua po-kiam menjadi saksi dan berkah bagi pertunangan ini,"
Kata Gwat Liang Tojin yang betul-betul berdoa.
Setelah menerima pedang Cin Han dari Gwat Liang Tojin sebagai tukaran pedang Lian Hwa, Song Cu Ling memberikan pedang Kong-hwa-kiam itu kepada Lian Hwa.
Tapi Lian Hwa menunduk saja sambil ujung matanya mengerling ke arah Gwat Liang Tojin tanpa memandang mukanya.
Ia malu kalau harus menerima pedang Cin Han dihadapan orang-tua itu.
Gwat Liang Tojin yang berpengalaman tertawa bergelak lalu kembali memasuki bio.
Setelah Gwat Liang Tojin pergi, Lian Hwa menerima pedang itu dari tangan gurunya dan memandang ukiran burung Hong di sarung pedang dengan mesra.
Song Cu Ling tertawa gembira.
"Lian Hwa, kudoakan semoga kau kelak hidup berbahagia sampai di hari tua dengan suamimu..."
Dan tiba-tiba pendekar wanita tua ini memalingkan mukanya karena ia merasa air matanya hendak menetes keluar ketika ia teringat akan nasib sendiri yang ditinggal mati oleh suami di waktu muda.
"Subo, ijinkan teecu kembali lebih dulu ke Lam-hu-teng."
Dan tanpa menanti jawaban, Lian Hwa bertindak pergi.
"Anak pemalu! Baiklah, kita akan berjumpa lagi lain bulan malam kelimabelas!"
Jawab gurunya dengan mulut tertawa tetapi mata menangis.
Kemudian Song Cu Ling memasuki bio dan ia minta diri dari Gwat Liang Tojin untuk pulang ke rumah Gan Keng Hiap yang ditinggalkannya seminggu lebih dan berjanji hendak datang berkumpul lain bulan malam kelimabelas.
Si Dewi Tanpa Bayangan yang sudah cukup berpengalaman itu dapat menangkap sinar mata Cin Han yang mencari-cari, maka ia berkata dengan senyum.
"Lian Hwa telah kembali ke Lam-hu-teng dan minta aku sampaikan maaf karena tidak sempat berpamit."
Cin Han merasa tergoda, maka ia buru-buru mohon agar nyonya tua itu menyampaikan hormatnya kepada paman dan bibinya. Setelah Song Cu Ling pergi, Gwat Liang Tojin berkata.
"Nah, muridku, sekarang kitapun harus berpisah. Aku melihat kedudukan Pek-Lian-Kauw kuat sekali. Baru Bong Cu saja sudah sukar dilawan. Apalagi kalau ia berhasil membujuk sucinya turun gunung."
"Siapakah sucinya, suhu?"
"Sucinya adalah Sin-kun Mo-li Lan Bwee Niang-niang si Iblis Perempuan Kepalan Dewa. Iblis perempuan ini lihai sekali dan ilmu-ilmu yang dahsyat dari Bong Cu didapatkan dari sucinya ini."
Cin Han diam-diam merasa ngeri juga mendengar lawan-lawan berat ini.
"Maka tidak ada jalan lain bagi kita selain minta bantuan dari orang-orang berilmu tinggi. Tiang Pek sicu sudah kuberi nasihat untuk mendatangi Kun-lun-san. Aku sendiri hendak mencari Beng San supek. Aku pergi sekarang, muridku, bertemu lagi bulan depan."
Guru dan murid itu berpisah, Cin Han berpikir lebih baik ia kembali ke Lam-hu-teng untuk berkumpul dengan Nyo Tiang Pek. Apalagi kalau ia pikir bahwa "tunangannya"
Pun berada di sana.
Ia merogoh ke dalam saku bajunya sebelah dalam dan mengeluarkan sebuah teratai merah.
Barang ini adalah perhiasan Ang Lian Lihiap yang dulu dilempar oleh gadis itu ketika kalah bertempur olehnya.
Sejak teratai merah itu berada di tangannya, tak pernah ia lepaskan dari saku bajunya.
Ia memandang teratai merah itu dan memegang-megang pedang Sian-liong-kiam yang kini tergantung di pinggangnya.
Hatinya senang dan gembira sekali.
Inikah kebahagiaan?
Ang Lian Lihiap Han Lian Hwa yang malam itu juga meninggalkan gurunya dan pergi menuju ke Lam-hu-teng, di sepanjang jalan merasa hatinya senang luar biasa.
Bulan yang mengintai di balik awan tampak lebih bercahaya dan seakan-akan tersenyum manis kepadanya.
Segala apa yang terlihat di sekitarnya tampak indah menyenangkan.
Berkali-kali ia mengambil pedang Kong-hwa-kiam dan menempelkan sarung pedang indah berlukiskan burung Hong itu ke dadanya.
Kemudian karena dorongan hatinya, ia mencabut pedang Cin Han itu dari sarungnya dan bersilat pedang di bawah sinar bulan purnama.
Pedang Kong-hwa-kiam berkilat-kilat dan merupakan segulungan sinar putih membungkus dirinya ketika ia memainkan Sian-liong-kiam-hwatnya yang hebat.
Ketika ia tiba di kelenteng di luar kota Lam-hu-teng, kebetulan sekali Nyo Tiang Pek dan Kong Sin Ek telah berada di situ, baru saja datang kembali dari perjalanan mereka mencari bantuan.
Girang sekali hati si Garuda Kuku Emas melihat gadis itu.
"Eh, Lian-moi pergi ke mana saja? Kami sampai pusing dan khawatir sekali memikirkanmu,"
Tegurnya.
Lian Hwa lalu menceritakan pengalamannya di sarang Pek-Lian-Kauw dan menceritakan pula betapa Gwat Liang Tojin dan Song Cu Ling menolong dia dan Cin Han dari bencana.
Entah bagaimana tiap kali menyebut nama tunangannya, hatinya berdebar dan pipinya memerah!
Nyo Tiang Pek mengerutkan jidat dengan hati cemas mendengar tentang kelihaian pihak lawan, tapi ia girang mendengar bahwa kedua orang-tua itu hendak mencari bantuan.
Tiba-tiba Kong Sin Ek yang selalu bermata tajam dapat melihat pedang Cin Han tergantung di pinggang Lian Hwa.
"Eh, eh! Lihiap sudah berganti pedang? Kalau tidak salah, ini adalah pedang Hwee-thian Kim-hong? Mengapa Lihiap yang membawa dan Sian-liong-kiammu di mana?"
Nyo Tiang Pek pun merasa heran dan mengajukan pertanyaan.
Lian Hwa merasa begitu malu sehingga ia ingin bumi yang diinjaknya terbelah agar ia dapat meloncat ke dalam dan bersembunyi!
Ia hanya tersenyum-senyum malu dan menundukkan kepala.
Nyo Tiang Pek yang masih muda tidak segera dapat mengerti, tapi Kong Sin Ek tiba-tiba menepuk-nepuk tangannya dan tertawa senang.
"Ah... hal ini harus dirayakan dengan arak!"
Dan si Dewa Arak ini lalu menenggak guci araknya. Kemudian sambil tertawa dan keringkan mulut dengan lengan bajunya, ia menjura kepada Lian Hwa.
"Lihiap, kiong-hi, kiong-hi..."
Lian Hwa terpaksa balas memberi hormat kepada orang-tua itu dan (Lanjut ke
Jilid 12) Si Teratai Merah/Ang Lian Lihiap (Seri ke 01 -Serial Si Teratai Merah) Karya . Asmaraman S Kho Ping hoo
Jilid 12 mukanya makin memerah. Nyo Tiang Pek dengan heran dan girang maju memegang pundak Lian Hwa.
"Adikku... betulkah ini? Betulkah kau saling mengikat janji dengan Cin Han dan bertukar po-kiam?"
Lian Hwa, terpaksa dengan tunduk dan wajah kemerah-merahan menceritakan tentang pertunangannya dengan Cin Han yang diselenggarakan oleh kedua guru itu.
"Lian-moi, selamat... selamat! Cin Han memang pantas menjadi calon suamimu. Aku girang sekali, adikku!"
Merasa dirinya digoda, Lian Hwa cemberut dan memandang wajah Nyo Tiang Pek dengan marah.
"Sudahlah jangan marah, Lian-moi! Mari kita rundingkan urusan yang menjadi kewajiban kita. Aku telah pergi ke Kun-lun-san, tapi ketua Kun-lun-pai hanya menyanggupi untuk menjadi pendamai saja dan, akan menyuruh Lui Siok Totiang mewakilinya. Kurasa, karena keadaan lawan demikian lihai, lebih baik kita pergi mencari bantuan lain agar kedudukan kita kuat."
"Kau benar, Nyo-Taihiap. Aku hendak pergi ke utara mencari beberapa orang kawan,"
Kata Ciu-hiap Kong Sin Ek.
"Ya, dan akupun hendak mencari suhu yang kabarnya berada di Lun-an. Dan kau, adikku, kalau kau belum banyak berkenalan dengan orang-orang kang-ouw, lebih baik kau menjadi penyelidik saja."
"Penyelidik? Aku tidak mengerti maksudmu, Twako."
"Begini, kalau orang hendak pergi ke sarang Pek-Lian-Kauw, ia tentu akan melalui kampung Gu-lok-chung. Nah, kautinggallah di sana, lihat saja siapa yang naik ke Bukit Hong-lai-san untuk membantu Pek-Lian-Kauw, agar kita lebih waspada."
"Baik, Twako."
"Tapi kau harus menyamar menjadi laki-laki agar jangan menimbulkan kecurigaan orang."
Setelah menyiapkan pakaian dan lain-lain keperluan penyamaran, Lian Hwa merobah diri menjadi seorang Kongcu yang tampan sekali, lalu berangkat ke Gu-lok-chung.
Kemudian Nyo Tiang Pek dan Kong Sin Ek berangkat untuk mencari bantuan.
Mereka sejurusan dan berangkat bersama-sama.
Baru saja mereka keluar dari kota Lam-hu-teng, mereka bertemu dengan Cin Han yang hendak ke kota itu.
Nyo Tiang Pek segera memeluk pemuda itu.
"Lauwte, kiong-hi!"
Katanya sambil memandang pedang Sian-liong-kiam yang kini tergantung di pinggang Cin Han.
"Eh, eh... mengapa kau berkata begitu, Twako?"
Tanya Cin Han yang berlagak bodoh.
"Ahh, berpura-pura lagi!"
Kata Tiang Pek, dan Kong Sin Ek tertawa bergelak-gelak sambil mengucapkan selamat pula.
Akhirnya Cin Han tidak dapat menyangkal pula dan menerima pemberian selamat mereka dengan gembira.
Rasa cemburu terhadap Nyo Tiang Pek yang tadinya menggoda hatinya, kini lenyap sama sekali, bahkan tiba-tiba ia teringat sesuatu.
Alangkah baiknya kalau orang she Nyo yang muda dan gagah perkasa ini dijodohkan dengan Coa Giok Lie yang cantik jelita!
Ia ingat bahwa Song Cu Ling si Dewi Tanpa Bayangan itu tinggi sekali ilmu ginkangnya hingga Ang Lian Lihiap sendiri setelah menjadi muridnya sekarang memiliki ginkang yang luar biasa.
Kini Giok Lie menjadi murid Song Cu Ling, tentu gadis inipun akan memiliki ilmu kepandaian silat yang lihai, biarpun gadis itu tadinya tidak mengerti ilmu silat.
Sedangkan dalam hal ilmu kesusasteraan, juga ilmu pekerjaan tangan, gadis itu boleh dikatakan seorang ahli.
Maka sambil tersenyum ia mulai menjalankan peranannya sebagai perantara.
"Nyo-Twako, aku baru saja bertemu dengan piauw-moiku. Ah, anak nakal dan bandel betul piauw-moiku itu. Karena memiliki kepandaian tinggi ia menjadi jumawa sekali dan ketika paman ingin mengawinkan piauw-moiku berkata bahwa ia hanya mau diperisteri oleh seorang hohan yang dapat mengalahkannya!"
"Eh, Lauwte, siapakah piauw-moimu itu dan apa maksudmu menceritakan semua ini kepadaku?"
"Piauw-moiku adalah sumoi dari... dari... Ang Lian Lihiap,"
Ia sukar sekali menyebut nama Lian Hwa.
"Dan maksudku menceritakan kepadamu, Twako, tidak lain aku akan senang sekali bila kau menjadi piauw-moi-hu ku!"
Kong Sin Ek tertawa bergelak-gelak.
"Betul, betul! Nyo-Taihiap perlu dipasangi kendali, sudah tiba waktunya!"
"Eh, ada-ada saja, apa maksudmu, Kong Lo-Enghiong?"
Tanya Tiang Pek tertawa.
"Kuda kalau tidak dipasangi kendali pada hidungnya, akan tetap binal dan liar. Maka kaupun perlu dipasangi kendali, dan agaknya baik sekali kalau yang memasang kendali itu adik Lo Cin Han Taihiap sendiri, apa pula kalau itu sumoi dari Ang Lian Lihiap. Biarpun belum bertemu dengan orangnya, aku berani memastikan ia bukan orang sembarangan dan pasti tidak mengecewakan!"
Baru tahulah kini Nyo Tiang Pek akan maksud-maksud mereka itu.
Ia hanya tertawa dan menggeleng-geleng kepala.
Tapi diam-diam dalam hatinya timbul juga keinginan tahu yang besar.
Ingin ia melihat adik misan Cin Han itu.
Ingin ia mencoba kepandaian gadis jumawa itu.
Ingin ia "menaklukkannya"!
Tapi sedikitpun tiada terdapat keinginan kawin, biar dengan siapa juga.
Hatinya belum pernah tercuri oleh wanita.
Tadinya ia sangka bahwa ia cinta kepada Lian Hwa, tapi kemudian ternyata bahwa perasaannya terhadap gadis itu hanya cinta kasih seorang kakak terhadap adiknya sendiri, tak mungkin ia mencintanya sebagai seorang kekasih.
Kini adiknya itu mendapat jodoh seorang pemuda yang gagah perkasa seperti Cin Han, tentu saja ia sangat girang.
"Lauwte, kau pergilah ke Gu-lok-chung, selidiki baik-baik siapa yang naik ke Hong-lai-san membantu Pek-Lian-Kauw. Ada seorang kawan kita sudah menjaga di situ, tapi kukhawatir ia akan menemui celaka jika terlihat oleh orang-orang Pek-Lian-Kauw. Aku dan Lo-Enghiong hendak pergi mencari bantuan."
Karena pikirannya penuh dengan Lian Hwa, maka Cin Han tidak memperhatikan kata-kata Tiang Pek dan tidak bertanya ke mana perginya Ang Lian Lihiap, tapi ia tidak kuasa membuka mulut karena malu.
Terpaksa ia pergi menuju ke Gu-lok-chung untuk melaksanakan tugasnya.
Di kampung itu ia menyewa kamar dalam rumah penginapan Chian-lok, satu-satunya rumah penginapan yang ada di kampung itu.
Kamarnya berada di ujung belakang.
Maka mulailah ia memasang mata dan memperhatikan para tamu.
Ia dapat melihat nama-nama para tamu di buku daftar, dengan pura-pura mencari teman.
Ada dua nama yang mencurigakan hatinya.
Seorang bernama Ma Kie Liang dan seorang lain bernama Siauw Han.
Ia curiga karena Ma Kie Liang datang dari Kang-Lam dan Siauw Han dari daerah selatan.
Mengapa dua orang yang bertempat tinggal sejauh itu datang ke sini?
Malam itu Cin Han meloncat ke atas genteng dan mengintai ke dalam kamar Ma Kie Liang, tapi kamar itu kosong.
Pada waktu itu kentongan peronda kampung berbunyi duabelas kali.
Cin Han heran melihat keadaan begitu sunyi karena tadi jelas terdengar olehnya suara kaki menginjak genteng.
Suara itulah yang membuat ia meloncat ke luar dari kamarnya.
Ia lalu meloncat ke atas kamar Siauw Han, tapi baru saja menginjak genteng bagian itu, dari jendela Siauw Han meloncat keluar seorang berpakaian hitam yang disusul oleh seorang berbaju putih.
Pengejar berbaju putih itu berlari sambil membentak.
"Bangsat rendah jangan lari!"
Cin Han kaget mendengar suara ini, tapi berbareng ia merasa girang sekali, karena ia mengenal suara ini bukan lain adalah suara Ang Lian Lihiap!
Hampir saja ia memanggil, tapi tiba-tiba ia ingat akan hubungannya dengan gadis itu dan rasa malu mencegah mulutnya yang sudah terbuka hendak memanggil namanya.
Ia melihat orang yang dikejar oleh Lian Hwa itu gerakannya cukup gesit dan larinya cepat, tapi Lian Hwa mengejar dengan secepat tenaga pula hingga sebentar saja kedua orang itu telah lenyap dari pandangan.
Cin Han merasa khawatir akan keselamatan Lian Hwa, karena ternyata mereka yang berkejar-kejaran itu menuju ke Bukit Hong-lai-san, sarang Pek-Lian-Kauw!
Maka iapun segera meloncat dan lari cepat mengejar pula.
Ketika ia mengejar sampai di kaki bukit, ternyata Lian Hwa telah dapat mengejar lawannya dan mereka sedang bertempur dengan hebat.
Melihat Lian Hwa dapat mengurung dan mendesak lawannya dengan sinar pedangnya, hati Cin Han agak lega.
Tapi tiba-tiba ia melihat seorang Hwesio berdiri di bawah pohon menonton pertempuran itu dan melihat lawan Lian Hwa terdesak, Hwesio itu memungut sebuah batu kecil lalu menyambit ke arah Lian Hwa.
Tapi baru sampai di tengah jalan, batu itu tertumbuk oleh lain batu hingga menerbitkan suara dan kedua batu jatuh ke tanah.
Hwesio itu cepat berpaling dan memandang kepada Cin Han dengan marah.
"Bangsat kecil, majulah!"
Ia menantang dan memalangkan tongkat besinya di depan dada.
Cin Han mencabut pedangnya dan meloncat ke depan Hwesio itu lalu menyerang.
Tangkisan tongkat menunjukkan bahwa lawannya bertenaga besar juga, tapi Cin Han terus mendesak dengan hebat.
Tiba-tiba ia mendengar Lian Hwa berteriak.
"Aya!!"
Dan gadis itu roboh pingsan.
Cin Han menahan napas dan meloncat ke arah lawan Lian Hwa, tapi Hwesio itu menghalanginya.
Lawan Lian Hwa mengebut-ngebutkan saputangan yang tadi dipakai untuk membuat Lian Hwa pingsan, lalu tetawa bergelak-gelak.
"Sute, tahan bangsat kecil itu dulu, aku hendak bawa bunga ini ke atas gunung untuk dihadiahkan kepada twa-suheng."
Cin Han terkejut sekali, karena ia maklum bahwa penjahat itu adalah anggauta Pek-Lian-Kauw dan sudah tahu bahwa Lian Hwa yang berpakaian sebagai laki-laki itu adalah wanita yang menyamar.
Ia tahu pula maksud jahat orang itu, maka dengan kertak gigi pusatkan perhatiannya kepada pedangnya lalu percepat gerakannya.
Beberapa kali pedangnya berkelebat dan tiba-tiba lawannya menjerit keras karena tongkatnya terpotong berikut lengan kirinya.
Melihat lawannya tak berdaya lagi, Cin Han segera mengejar penjahat yang memondong tubuh Lian Hwa dan sedang lari ke bukit itu.
Ternyata penjahat itu dapat lari cepat, tapi karena Cin Han sedang marah dan gemas, pula karena penjahat itu harus memondong tubuh Lian Hwa, sebentar saja Cin Han dapat mengejarnya dan hanya berada beberapa tombak di belakangnya.
Sementara itu mereka telah mendekati tempat penjagaan pertama dari Pek-Lian-Kauw.
Cin Han maklum bahwa jika penjahat itu sudah melewati tempat penjagaan akan sukar baginya untuk menolong Lian Hwa karena ia harus menghadapi lawan-lawan baru.
Maka karena terburu-buru, ia merogoh sakunya, mengeluarkan bunga teratai merah itu dan mengayunkan lengannya.
Bunga teratai itu meluncur cepat ke arah betis lawan dan dengan keras sekali menusuk betis penjahat yang memondong Lian Hwa hingga orang itu berteriak kesakitan dan jatuh tersungkur.
Sementara itu, Cin Han sudah memburu ke depannya dan sekali tendang ia membikin orang itu terlempar beberapa kaki jauhnya dan tak bergerak, pingsan.
Lian Hwa yang tadi dipondong dan ikut jatuh tersungkur tampak tak bergerak bagaikan mati.
Cin Han lupa akan perasaan malu.
Ia menubruk gadis itu dan menggoyang-goyangkan tubuhnya sambil menangis.
"Lian moi... Lian Hwa..."
Tapi Lian Hwa tetap rebah tak bergerak dengan kedua mata tertutup.
Dari tempat penjagaan turun dua orang membawa golok.
Melihat kedua kawan yang terluka dan rebah merintih-rintih itu, kedua penjahat itu lalu lari ke arah Cin Han dengan golok terangkat.
Cin Han yang merasa bingung dan marah segera berdiri dan sekali berkelebat, tubuhnya telah berada di depan kedua penjaga itu.
Mana kedua penjaga kasar itu dapat melawan Cin Han.
Biarpun hanya bertangan kosong, Cin Han sekali gebrak saja dapat menendang seorang sehingga remuk tulang kakinya dan yang seorang pula ia ketok hingga putus sambungan tulang pundaknya.
Setelah merobohkan lawannya, Cin Han memondong tubuh Lian Hwa dan lari turun gunung.
Tiap tiga langkah, ia memanggil nama Lian Hwa.
Tiba-tiba Lian Hwa bergerak perlahan-lahan.
Segera Cin Han membaringkan tubuh Lian Hwa di atas rumput dan ia pergi mengambil air anak sungai yang mengalir di dekat situ.
Dengan sehelai saputangan ia membasahi muka Lian Hwa.
Kini wajah Lian Hwa yang tadi tampak pucat sudah mulai merah lagi.
Tiba-tiba Cin Han teringat sesuatu, dan ia berlari meninggalkan Lian Hwa menuju, ke tempat pertempuran tadi.
Empat orang penjaga yang baru saja turun dari bukit dan sedang menolong kawan-kawan mereka, melihat kedatangan Cin Han segera ramai-ramai mengepung tapi Cin Han kembali mengamuk hingga dalam beberapa jurus saja, empat penjaga yang tadinya datang dengan maksud menolong orang-orang luka itu kini mereka sendiri rebah merintih-rintih dengan tulang putus dan kepala bengkak!
Setelah merobohkan semua lawannya, Cin Han mengambil perhiasan teratai merah yang masih menancap di betis penjahat yang menjatuhkan Lian Hwa tadi, karena sebenarnya hanya untuk itulah ia datang kembali.
Lalu sebelum meninggalkan tempat itu, lebih dulu ia berkata kepada lawan-lawannya yang menggeletak malang melintang di atas tanah.
"Hai kalian penjahat-penjahat Pek-Lian-Kauw! Karena mengingat hari ini belum sampai saatnya pertempuran yang telah dijanjikan, maka aku mengampuni jiwamu sekalian. Biarlah ini menjadi pelajaran bagimu agar kalian jangan terlalu sewenang-wenang dan bersimerajalela melakukan segala kejahatan, seakan-akan dunia ini tiada orang yang akan berani melawan dan menumpasmu!"
Kemudian secepat terbang ia kembali ke tempat di mana Lian Hwa berbaring.
Ia bingung sekali melihat Lian Hwa masih diam tak bergerak!
Diraba-rabanya kening gadis itu dan dipegangnya pergelangannya.
Tapi keningnya tidak terasa panas dan pergelangan tangannya berdetik biasa.
Cin Han merasa heran dan makin bingung.
Gadis ini terang sekali telah menahan napas menghadapi pertempuran yang hebat dan mencium bau racun yang memabukkan dari saputangan penjahat itu.
Bagaimana kalau sampai Lian Hwa mati karena ini?
Cin Han makin bingung, belum pernah selama hidupnya ia merasa bingung seperti ini.
Hampir ia menangis dan memanggil-manggil nama tunangannya.
Sebenarnya Lian Hwa telah semenjak tadi sadar dari pingsannya.
Gadis ini timbul kenakalannya karena gembira.
Ia sengaja diam saja untuk menggoda Cin Han dan melihat sikap pemuda itu.
Kini melihat kesedihan dan kebingungan Cin Han, ia merasa kasihan.
Tiba-tiba Cin Han yang masih memegang lengan gadis itu merasa bahwa lengannya terpegang pula oleh tangan yang halus dan ia mendengar suara yang halus merdu berkata.
"Koko... jangan bingung, aku tidak apa-apa..."
Cin Han memandang ke bawah dan heran melihat wajah Lian Hwa tersenyum malu-malu sambil memandangnya dengan mata setengah terkatup.
Untuk sesaat Cin Han mempererat pegangan tangannya pada lengan Lian Hwa, tapi ia ingat bahwa ia sejak tadi memegangi lengan orang, maka cepat-cepat ia menarik kembali tangannya dan wajahnya terasa panas bagaikan terbakar karena malunya!
Lian Hwa bangun duduk dan menundukkan kepala.
"Lian... kau... terkena racun penjahat itu."
"Baiknya kau cepat datang menolong, koko."
"Ketika tadi melihat kau mengejarnya, aku sama sekali tidak menyangka bahwa pemuda baju putih itu adalah engkau."
"Bukankah dahulu pernah kau berjumpa dengan aku dalam pakaian seperti ini?"
"Dulu lain lagi, kau dulu menjadi seorang pemuda sasterawan, sedangkan sekarang. menjadi pemuda pendekar!"
Mereka mulai merasa biasa dan lenyap rasa malu dan sungkan.
Hanya sewaktu-waktu bila tanpa sengaja mata mereka saling memandang, maka menjalarlah warna merah di wajah masing-masing dan selalu Lian Hwa menundukkan muka lebih dulu, tapi diam-diam ujung matanya mengerling!
Lama juga mereka duduk di atas rumput dan mereka agaknya lupa akan maksud mereka di situ, akan keadaan sunyi di sekeliling, dan lupa akan segala-galanya!
Sinar bulan mulai suram karena terhalang oleh mega putih.
"Lian-moi, ini perhiasanmu. Semenjak dulu kusimpan saja, padahal aku tak berhak..."
"Mengapa tidak berhak, koko? Memang dulu kutinggalkan dengan maksud..."
"Dengan maksud...??"
"Supaya kau menyimpan, yaitu, kau menyimpan untukku, supaya..."
"Supaya... apa...?"
"Supaya kau takkan melupakan aku."
Dada Cin Han berdebar keras, jantungnya seakan-akan menari-nari dan berloncat-loncatan dalam rongga dadanya. Jadi kalau begitu, Lian Hwa semenjak perjumpaan pertama itu telah "ada hati"
Padanya? Rasa terharu menghapus semua rasa malu-malu. Ia memegang lengan Lian Hwa dan berkata perlahan.
"Dan semenjak itu, Lian-moi... semenjak kau pergi itu, teratai merah inilah yang menjadi penawar rindu hatiku."
"Aah, kau bohong, koko!"
Dan dengan tersenyum Lian Hwa bangun berdiri, tapi Cin Han menarik lengannya hingga ia terduduk kembali.
Tenaga tarikan itu membuat ia terduduk dekat sekali dan karena mesranya pegangan tangan Cin Han, ia menyandarkan kepalanya di bahu pemuda itu.
"Lian, bilanglah, bagaimana pendapatmu tentang... pedangku itu? Sukakah kau kepada... pedang itu?"
"Dan, koko, bagaimana dengan engkau? Sukakah kau kepada... teratai merah dan pedangku pula?"
Cin Han mengangguk-angguk.
"Di dunia ini tak ada yang lebih kusuka daripada itu."
Lama mereka berdiam diri tak bergerak hingga mereka dapat mendengar bunyi detik jantung masing-masing. Kemudian Lian Hwa berkata dalam bisikan.
"Koko, tahukah kau bahwa telah dua kali aku merasa... cemburu padamu hingga aku jadi membencimu?"
Cin Han dapat menduga bahwa yang dimaksudkan tentu Giok Lie, tapi ingin mendengar kekasihnya membuat pengakuan sendiri, maka ia menggelengkan kepala.
"Pertama aku merasa cemburu padamu ketika kita ditawan oleh dua nikouw di kelenteng dulu itu. Kedua kalinya, yakni ketika ketika kau menolong anak pangeran she Coa itu."
"Kau maksudkan Giok Lie sumoimu?"
Lian Hwa tertawa.
"Ya, sekarang ia menjadi sumoiku. Aku harus minta maaf padanya."
"Dan tahukah kau, bahwa akupun pernah merasa cemburu padamu?"
Lian Hwa mengangkat kepalanya dari bahu Cin Han dan memandang pemuda itu dengan heran.
Mega penghalang bulan telah pergi dan bulan memancarkan cahaya penuh ke wajah Lian Hwa hingga tak habis kagumnya mata Cin Han mengagumi wajah yang cantik, kulit muka yang halus, mata yang bening dan lebar bagaikan mata burung Hong, dan tiada habisnya hidungnya menikmati harum yang membuatnya berdebar, yang keluar dari rambutnya yang hitam itu.
"Kau cemburu, koko? Siapa yang membuatmu cemburu?"
Cin Han berdehem perlahan, ia merasa terlanjur bicara.
"Aku cemburu kau dengan... Nyo-Twako!"
"Iihh! Ada-ada saja kau ini. Nyo-Twako telah menjadi kakakku sendiri. Tahukah kau, aku katanya mirip dengan adik perempuannya yang telah meninggal dunia. Kau kejam sekali menuduhnya."
"Karena itu, maka untuk menebus kedosaanku itu, aku hendak mencoba menjodohkan dengan Giok Lie."
Kedua mata Lian Hwa memancarkan cahaya gembira.
"Bagus! Baik sekali. Aku akan membantumu, koko!"
Demikianlah dengan gembira dan bahagia taruna dan remaja itu bercakap-cakap di atas rumput di bawah bulan yang tinggal separoh.
Kemudian mereka berjalan menuju ke kampung Gu-lok-chung sambil bergandengan tangan.
Berhari-hari mereka melakukan penyelidikan dan pengawasan.
Mereka kini bekerja dengan hati-hati sekali sehingga dapat menghindarkan segala bentrokan dengan orang Pek-Lian-Kauw.
Ternyata dalam beberapa hari itu, hanya ada tiga orang yang naik ke Bukit Hong-lai-san, dua orang Hwesio dan seorang tosu yang, bermuka merah.
Pada hari keduabelas dari bulan yang telah ditetapkan untuk pertandingan itu, berturut-turut datang Nyo Tiang Pek, Kong Sin Ek, Hwat Khong Hwesio, Pek Siong Tosu, Lui Siok Tojin wakil dari Kun-lun-pai.
Pada hari ketigabelas datanglah berturut-turut Song Cu Ling dan Gwat Liang Tojin.
Mereka semua beramai-ramai berkumpul dalam kelenteng tua yang telah disiapkan oleh Nyo Tiang Pek.
Pada sore harinya datanglah bala bantuan yang diundang oleh Tiang Pek, yakni Biauw In Suthai, seorang pendeta wanita kawan baik Kam Hong Tie, dan dua orang balabantuan yang didatangkan oleh Kong Sin Ek, yaitu Sepasang Naga dari Tit-lee bernama Ong Su dan Ong Bu, dua orang hiap-kek yang telah menggemparkan dunia persilatan dengan permainan tombak mereka.
Song Cu Ling tak berhasil mengundang seorang pun, dan semua orang bernapas lega ketika Gwat Liang Tojin memberitahukan bahwa ia berhasil menghadap supeknya yaitu Beng San Siansu, dan setelah menceritakan duduknya segala hal.
Supek yang sudah lepas tangan dari urusan dunia itu janji bahwa beliau hendak datang melihat-lihat dan sedapat mungkin menolong mereka jika menghadapi bencana.
Demikianlah, pada malam kelimabelas, jam sembilan malam, ketika bulan purnama telah naik tinggi, semua orang tersebut berangkat beramai-ramai mendaki Hong-lai-san menuju ke sarang Pek-Lian-Kauw.
Malam itu sungguh terang.
Tak sedikitpun awan menjadi penghalang bagi sang ratu malam membanggakan cahaya bumi.
Di Bukit Hong-lai-san sedikit angin pun tiada, seakan-akan sang angin ikut prihatin melihat apa yang akan dilakukan oleh orang-orang berkepandaian tinggi di puncak bukit itu.
Keadaan sunyi sepi, seekor jangkerikpun tak berani berkerik, agaknya mereka tahu bahwa sebentar lagi akan banjir darah merah menakutkan sehingga siang-siang mereka telah mengungsi ke lain daerah aman.
Sepuluh orang terkemuka di kalangan kang-ouw, duabelas dengan Cin Han dan Lian Hwa, berjalan dengan tenang mendaki bukit.
Ketika mereka tiba di tempat penjagaan pertama, para penjaga di situ berdiri merupakan barisan di kanan kiri dengan golok dilintangkan di dada, memberi jalan kepada para tamu dengan sikap menghormat sekali.
Demikianpun di tempat penjagaan kedua, ketiga dan seterusnya.
"Mereka tentu mendapat bantuan orang luar biasa hingga bernyali besar dan tidak mengganggu perjalanan kita ke sarang mereka,"
Gwat Liang Tojin berbisik kepada Nyo Tiang Pek.
Cin Han mendengar ini merasa betapa seluruh urat tubuhnya menjadi tegang, belum pernah ia menghadapi pertempuran yang dapat dibayangkan betapa dahsyatnya ini.
Sebenarnya, semua orang yang sedang naik ke bukit itu, kecuali Kong Sin Ek yang masih enak-enak menenggak arak sambil berjalan, diliputi ketegangan.
Ketika mereka sampai di tembok penjagaan kesembilan dan yang terakhir, di depan pintu gerbang tembok ini yang terbuka lebar, berdiri beberapa orang menyambut mereka.
Pihak Pek-Lian-Kauw yang menyambut ini adalah Bong Cu Sianjin ketua Pek-Lian-Kauw, di kanannya berdiri Kim Eng si Dewi Cabul, di sebelah kirinya berdiri Khai Sin Tosu, Hong Su ketua Kwi-Coa-Pai yang ternyata belum mampus dan rupa-rupanya telah dapat disembuhkan luka berat di pundaknya, dua orang Hwesio yakni Beng Beng Hwesio dan Beng Leng Hwesio dari cabang Tiauw-san-pai yang terkena bujukan juga, dan seorang tosu mata satu yaitu Kin Pin Tosu dari Gunung Liang-kek-san.
Tosu ini mata kanannya telah buta, tapi mata tunggalnya yang sebelah kiri bersinar-sinar bagaikan bintang pagi.
Melihat di situ tidak ada Lan Bwee Niang-niang si Iblis Perempuan Kepalan Dewa, Gwat Liang Tojin bernapas lega.
Sebagai orang tertua, ia menjadi pemimpin rombongannya dan sambil menjura kepada para penyambut.
"Cuwi yang terhormat, kami telah datang memenuhi undangan cuwi."
"Selamat datang, selamat datang!"
Bong Cu Sianjin berkata sambil tertawa.
"Silakan masuk ke tempat kami yang buruk!"
Gwat Liang Tojin dengan kawan-kawannya memasuki sarang Pek-Lian-Kauw dengan berani.
Di gedung yang besar dan megah itu ternyata telah dipersiapkan untuk menyambut mereka.
Beratus lilin besar menerangi ruangan mengalahkan cahaya bulan di luar gedung.
Sebuah meja panjang dan lebar dipasang di tengah ruang depan dan lebih dari tiga puluh buah kursi mengitari meja itu.
"Silakan duduk saudara-saudara yang mulia!"
Demikian Bong Cu Sianjin mempersilakan tamu-tamunya dengan senyum masih menghias mukanya yang seperti boneka.
Tanpa ragu-ragu lagi Gwat Liang Tojin mengambil tempat duduk, diturut oleh semua kawannya.
Mereka tak gentar sedikit juga walaupun mereka melihat betapa puluhan orang yang berpakaian seragam, yakni dengan gambar bunga teratai putih di dada masing-masing, mengepung gedung itu dengan senjata lengkap.
Pihak tuan rumah yang terdiri dari tujuh orang itupun mengambil tempat duduk di meja itu, menghadapi para tamu.
Pelayan-pelayan wanita yang cantik-cantik dan muda-muda datang berlari-larian sambil membawa tempat arak, dan segala macam masakan yang masih mengebulkan asap dan yang menghamburkan bau sedap memenuhi ruangan.
Bong Cu Sianjin berdiri dan memperkenalkan kawan-kawannya kepada para tamu.
Bong Cu Sianjin lalu mempersilakan tamu-tamunya makan dan minum seadanya.
"Nanti dulu, Bong Cu to-yu! Makan dan minum adalah urusan kecil. Mari kita selesaikan urusan besar lebih dulu. Sebulan yang lalu kau undang kami datang pada malam hari ini. Nah, kami sudah datang, apakah kehendakmu?"
Bong Cu Sianjin tertawa keras.
"Ah, semangatmu benar-benar masih seperti anak muda, Gwat Liang! Kau ingin tahu maksudku mengundang kalian? Selain ingin menjamu minum arak, juga hendak minta penjelasan mengapa kalian selalu mengganggu kami, dan kalau perlu kami hendak menagih hutang-hutangmu beberapa jiwa orang anggauta kami."
"Itukah kehendakmu? Bagaimana dengan jiwa beratus rakyat yang menjadi korban para anggautamu?"
Tanya Gwat Liang dengan suara tenang. Bong Cu masih tertawa. Ia menuang arak wangi dalam cawannya lalu minum itu dengan sekali tenggak.
"Kau orang-tua usilan sekali, masih suka ikut campur urusan orang lain. Yang kami basmi rakyat pemberontak, rakyat yang jahat, untuk membela yang benar."
"Hem, Bong Cu, ucapanmu yang kosong ini hanya dapat digunakan untuk membujuk para anggautamu dan membodohi mereka yang tak berpikiran saja! Semua Enghiong tahu belaka bahwa kau dan kawan-kawanmu tak lain hanya penjilat-penjilat rendah yang menghianati bangsa dan negara sendiri untuk dapat mengeduk harta benda dan kemuliaan. Kalian bukan lain adalah anjing-anjing kaisar Boan yang telah melupakan asal usul leluhur dan nenek moyang sendiri."
"Tutup mulutmu yang lancang itu!"
Khai Sin Tosu membentak marah.
"Hm, kau juga menjadi kaki tangan Pek-Lian-Kauw? Kalau saja suhumu masih hidup, atau kalau saja suhengmu masih hidup, belum tentu kau akan tersesat seperti sekarang ini!"
"Aah... adu mulut hanya laku perempuan, mulut diadakan untuk makan minum, bukan untuk diadu! Minum saja dulu, nanti mau berkelahi boleh saja."
Terdengar Kong Sin Ek berkata mencela dan ia sambar guci arak di atas meja terus diminum habis. Lui Siok Tojin wakil dari Kun-lun-pai berdiri dari kursinya. Ia menjura kepada semua orang dan berkata.
"Pinto datang ini atas undangan Nyo Tiang Pek Taihiap yang kami kenal lama sebagai seorang pendekar muda yang banyak melakukan perbuatan baik. Maka undangan itu diterima oleh ketua kami dan pinto mewakilinya datang ke sini. Tapi bukan sekali-kali kami dari pihak Kun-lun-pai hendak mencampuri urusan kalian hanya kami mengingat bahwa kita sekalian adalah orang-orang kang-ouw yang berarti masih segolongan pula, maka kami harap sudilah kiranya cuwi memandang muka kami dan menghapuskan saja perselisihan paham yang tak berarti ini. Tak tahukah cuwi bahwa pengaruh asing sedang berusaha keras untuk mengadu dombakan para Enghiong di kalangan kang-ouw?"
"Nah, itulah kata-kata yang sehat,"
Menyambung Gwat Liang Tojin.
"Tapi agaknya Lui Siok Toyu sendiri belum tahu bahwa yang berusaha mengadu domba kita adalah kaisar Boan dan bahwa Pek-Lian-Kauw justru adalah kaki tangan kaisar? Bagi kami, tidak ada perlunya kami mencampuri urusan Pek-Lian-Kauw. Biar Pek-Lian-Kauw mempelajari agama dan kepercayaannya sendiri, biar andaikata mereka ini hendak menjilat-jilat kaisar asing. Tapi, bila mereka sudah mulai berani menganggu rakyat jelata, hal ini tak dapat kami biarkan saja! Asal Pek-Lian-Kauw suka berjanji bahwa mulai saat ini tidak akan mengganggu rakyat, dan juga asalkan Bong Cu suka mengembalikan pedang pusaka kerajaan Beng-tiauw kepada kami karena ia tidak berhak atas pedang itu, kami akan pergi dari sini dan akan menghabiskan perkara sampai di sini saja."
Lui Siok Tojin memandang kepada Bong Cu Sianjin dengan girang.
"Nah, pinto rasa permintaan Gwat Liang Toyu ini cukup pantas dan mudah dilaksanakan. Bukankah Bong Cu Kauwcu takkan keberatan untuk berjanji agar selanjutnya anggauta Pek-Lian-Kauw tidak menganggu rakyat jelata? Dan pinto rasa soal pedang pusaka kerajaan Beng-tiauw, tak patut diributkan dan diserahkan saja kepada Gwat Liang Toyu."
"Hm, kau ini pendamai macam apa? Janganlah pura-pura menjadi pendamai tapi bertindak berat sebelah! Kalau kau mau membantu Gwat Liang, terus terang sajalah, kami tidak takut!"
Lui Siok Tojin menjadi marah.
Ia mengangkat kursi yang didudukinya tadi dan membenturkan kursi kayu itu pada kepalanya.
Terdengar suara keras dan kursi itu pecah berkeping-keping!
"Dasar aku yang bodoh, yang tak tahu diri.
Pantas saja Gwat Liang Toyu dan semua hohan datang menyerbu ke sini, tak tahunya Pek-Lian-Kauw seperti ini isinya!
Tapi ketua kami tidak memperkenankan aku ikut campur, maka biar aku yang bodoh dan tak tahu diri pergi saja!"
Pendeta tua itu segera mengangguk kepada semua orang dan sekali berkelebat tubuhnya sudah mencelat keluar dan berlari turun gunung.
"Ha-ha-ha! Orang macam itu jadi pendamai. Eh, Gwat Liang kalau pihakmu takut, lebih baik tidak usah datang ke sini. Buat apa dibawa-bawa badut seperti itu? Sebenarnya ia takut berkelahi dan mendapat kepala benjol, maka ia berlari pergi dengan seribu macam alasan. Ha-ha-ha!"
"Bong Cu! Tak perlu banyak bercakap angin. Bagaimana, bisakah kau memenuhi dua permintaanku itu? Atau, akan kita teruskan sajakah permusuhan ini?"
"Eh, betul-betul kau ini orangnya tua tapi hatinya muda! Segala apa ingin buru-buru saja. Sabarlah, kawan. Kau mengajukan dua tuntutan. Tapi dengarkan dulu tuntutan kami! Kau sendiri tahu bahwa si jahat Ong Lun adalah musuh kami, bahwa ia sudah banyak hutang jiwa dan sebelum kami dapat menagihnya, ia telah keburu mampus. Sekarang muridnya, Ang Lian Lihiap si setan kecil ini, mengikuti jejak gurunya dan memusuhi kami pula dibantu oleh Hwee-thian Kim-hong. Maka kami minta supaya kamu menyerahkan dua setan itu kepada kami! Tentang yang lain-lain yang telah bentrok dengan Kwi-Coa-Pai dan orang-orang kami, biarlah itu kami anggap sebagai salah paham kecil saja."
Cin Han dan Lian Hwa saling memandang dengan senyum tertahan. Tiba-tiba terdengar Kong Sin Ek tertawa bergelak-gelak dan melempar guci arak yang telah kosong ke atas meja.
"Aya...! Memang tuan rumah lihai sekali! Baru saja menghabiskan dua guci arak wangi yang harganya hanya beberapa tail saja, sekarang sudah minta dibayar Teratai Merah dan Burung Hong!! Di dunia ini mana ada aturan seperti itu?"
Ia berdiri dan menggerak-gerak kedua lengannya lalu membuka baju luarnya.
Orang-orang di pihak Pek-Lian-Kauw yang telah mengenal Dewa Arak ini tahu bahwa baju luar itu adalah senjatanya yang lihai, maka mereka inipun bersiap sedia dengan tangan meraba-raba gagang senjata!
Keadaan menjadi tegang, semua memandang uap yang mengepul dari masakan di atas meja yang belum terjamah itu!
"Cuwi Lo-Suhu sekalian,"
Tiba-tiba terdengar suara Ang Lian Lihiap yang merdu dan nyaring.
"Bong Cu Sianjin tadi minta kami berdua, seakan-akan kami berdua adalah barang-barang yang tidak berjiwa dan mudah diminta begitu saja!"
Ia mengerling ke arah Cin Han dan pemuda itu yang mengerti maksudnya mengangguk perlahan.
"Kalau memang dia menghendaki kami berdua, biarlah dia mencoba menawan dan mengalahkan kami. Atau, barangkali Bong Cu Sianjin raja siluman Pek-Lian-Kauw ini gentar dan tidak berani menandingi Ang Lian Lihiap dan Hwee-thian Kim-hong, kedua musuhnya itu?"
Merah muka Bong Cu Sianjin mendengar ucapan gadis ini, tapi ia dapat menekan perasaannya dan tersenyum mengejek.
Gadis yang cerdik ini pernah bertempur dengannya bersama-sama dengan Cin Han, dan pada waktu itu memang keadaan mereka berimbang, bahkan ia harus mengakui bahwa sepasang taruna remaja itu memang merupakan tandingan yang sangat berat.
Sebenarnya tak usah ia merasa jerih terhadap mereka berdua ini, tapi ia harus berlaku hati-hati karena pihak lawan bukanlah orang-orang yang lemah, terutama Gwat Liang Tojin, Song Cu Ling, Kong Sin Ek dan yang lain-lain.
Bahkan Nyo Tiang Pek yang muda itupun tidak boleh dibuat gegabah karena pemuda itu adalah murid dari Kang-Lam Taihiap Kam Hong Tie.
"Melawan kamu berdua bukanlah pekerjaan berat,"
Katanya kemudian.
"tapi ini adalah tidak adil. Masa aku harus memborong sendiri permainan ini? Aku harus memberi kehormatan kepada yang lain-lain dulu."
"Hayo jangan banyak mengobrol yang bukan-bukan. Bagaimana penyelesaiannya? Kau mau berdamai, boleh asal memenuhi permintaan Gwat Liang Toyu, atau kau mau menyelesaikan dengan kepalan dan senjata, hayo, jangan buang-buang waktu dengan sia-sia."
Kong Sin Ek berkata.
"Ha-ha! Tamu-tamuku sungguh orang-orang gagah dan bernafsu. Mari, mari, mari kita pergi ke tempat yang khusus untuk itu."
Semua tamu yang tinggal sebelas orang mengikuti pihak tuan rumah yang menuju ke lian-bu-thia, yakni ruang tempat bermain silat.
Ruang ini letaknya di belakang menghadapi sebuah taman yang penuh bunga dan sangat luas.
Juga di ruang silat dan taman bunga itu, selain sinar bulan, ratusan lilin dipasang menerangi seluruh tempat.
Di empat sudut lian-bu-thia terdapat rak tempat senjata yang penuh dengan delapanbelas macam senjata.
Di pinggir ruangan itu tersedia bangku-bangku dan semua orang menduduki bangku-bangku itu yang dipasang berjajar.
Tuan rumah dan kawan-kawannya di sebelah kiri dan para tamu duduk di sebelah kanan.
"Nah, Gwat Liang. Rupa-rupanya di antara kita tidak ada persesuaian paham, maka persoalan ini harus diselesaikan secepat mungkin melalui urat dan kepalan. Baiknya diatur begini. Jika pihakmu kalah, kami hanya minta kepala Ang Lian Lihiap dan Hwee-thian Kim-hong. Yang lain-lain, kalau belum mampus dalam pertandingan, boleh pulang."
Gwat Liang Tojin tersenyum.
"Kalau pihakmu yang kalah, kami tidak menghendaki kepala orang, hanya minta pedang pusaka kerajaan dan janjimu untuk membubarkan gerombolan penjahat yang berkedok agama Pek-Lian-Kauw ini."
Bong Cu Sianjin menepuk tangan dan dari dalam keluarlah delapan orang dengan senjata lengkap.
Mereka ini adalah jagoan-jagoan dari golongan muda yang dipimpin oleh Thio Lok sendiri.
Kini di pihak tuan rumah terdiri dari limabelas orang jagoan, belum dihitung para penjaga yang berjumlah puluhan dan kesemuanya memiliki kepandaian yang tak dapat dikata rendah.
Setelah menenggak arak dari guci yang selalu tergantung di pinggangnya, Kong Sin Ek berseru keras dan sambil meloloskan bajunya yang diputar-putar di tangannya, ia meloncat ke tengah-tengah ruang silat sambil menantang.
"Biarlah kumulai saja. Hayo orang Pek-Lian-Kauw siapa yang sudah bosan hidup?"
Dari pihak Pek-Lian-Kauw, seorang jagoan muda bernama Boan Sai menerima tantangannya.
Boan Sai bersenjata golok besar dan segera kedua orang itu mulai bertempur.
Tapi ternyata Boan Sai sekali-kali bukan, lawan Kong Sin Ek yang pun tua tapi gagah perkasa.
Baju luarnya berputar mendatangkan angin menderu-deru dan menjadi keras kaku bagaikan pentungan besi, hingga golok Boan Sai setelah bertempur beberapa jurus saja kena tersapu dan terpental jauh dan ujung senjata luar biasa dari Kong Sin Ek menghantam pundak Boan Sai sehingga remuk tulangnya!
Orang-orang Pek-Lian-Kauw menggotong pergi Boan Sai yang rebah pingsan, dan seorang tinggi besar brewokan menggantikan Boan Sai menyerang Kong Sin Ek.
Si tinggi besar ini bersenjata toya kuningan dan tenaganya besar, tapi ilmu silatnya masih kalah jauh dibandingkan dengan Kong Sin Ek, sehingga dalam limabelas jurus saja kembali senjata Kong Sin Ek yang hebat telah menyapu kaki si tinggi besar itu hingga terlepas sambungan lututnya.
Ia digotong pergi sambil merintih-rintih.
"He, Bong Cu! Apakah tidak lebih baik kau sendiri saja yang maju? Jangan majukan orang-orang tak berguna, kasihan!"
Kong Sin Ek mengejek sambil memutar-mutar baju luarnya yang ternyata merupakan senjata yang ampuh sekali itu.
Bong Cu mulai marah, tapi dari pihaknya loncat keluar Beng Beng Hwesio yang bersenjata sebuah kebutan dan pedang.
Melihat gerakan Koai-liong-hoan-sin atau Siluman Naga Jumpalitan yang dilakukan dengan gesit itu, Kong Sin Ek berlaku hati-hati.
Ia tadi telah diperkenalkan dan ia telah mendengar bahwa Beng Beng Hwesio adalah orang kedua dari cabang Tiauw-san-pai yang terkenal dengan ilmu silat Chian-chiu-koan-im atau Dewi Koan Im Tangan Seribu ciptaan cabang itu.
Beng Beng Hwesio maklum akan kelihaian senjata Kong Sin Ek, maka ia menggunakan kebutannya untuk menangkis dan berbareng mencoba menyabet dan memutuskan baju luar itu dengan pedangnya.
Mereka berputar-putar dan bertempur lebih dari lima puluh jurus, tapi keadaan mereka berimbang.
Pada suatu saat ketika Kong Sin Ek dengan gerakan Topan Mengamuk Kilat Menyambar mengayun bajunya menghantam ke arah kepala Beng Beng Hwesio, lawannya ini menggunakan kebutan di tangan kiri membelit ujung baju.
Mereka mengerahkan tenaga tapi kedua senjata itu seakan-akan menjadi satu dan tidak dapat dipisahkan.
Beng Beng Hwesio tidak menyia-nyiakan kesempatan baik ini, ia mengayun pedang di tangan kanannya menusuk leher Kong Sin Ek.
Tapi si Dewa Arak tak kurang gesit, ia miringkan kepala dan ketika pedang lewat dekat kulit lehernya, ia mengulur tangan kiri dan menangkap pergelangan tangan kanan Beng Beng.
Beng Hwesio cepat menggunakan kaki kanan menendang, sedangkan saat itu Kong Sin Ek dengan tiba-tiba melepaskan baju luar dari pegangannya dan melayangkan pukulan keras dengan tangan kanan itu ke pundak lawan.
Maka ia tidak keburu berkelit dari tendangan Beng Beng Hwesio.
Hampir berbareng jatuhnya tendangan dan pukulan itu.
Kong Sin Ek yang tertendang iga kanannya terpental jauh dan jatuh pingsan, sedangkan Beng Beng Hwesio terkena pukulan Chian-kin-lat atau Pukulan Seribu Kati dari tangan Kong Sin Ek, jatuh terjengkang dan muntahkan darah segar.
Cin Han dan Nyo Tiang Pek, segera menolong Kong Sin Ek dan menggotongnya ke tempat Gwat Liang Tojin yang segera memeriksanya.
Gwat Liang yang pandai ilmu obat-obatan, menyatakan bahwa tulang iganya patah dan paru-parunya mendapat getaran hebat, tapi tidak membahayakan jiwanya.
Ia menggunakan jari tangan menotok jalan darah mengurangi rasa sakit, lalu memasukkan dua butir pil ke dalam mulut Kong Sin Ek.
Sementara itu, dari pihak Pek-Lian-Kauw keluar Beng Leng Hwesio, suheng dari Beng Beng Hwesio yang dijatuhkan Kong Sin Ek tadi.
Berbeda dengan sutenya, Beng Leng Hwesio bersenjata tombak panjang.
Dari pihak Gwat Liang Tojin keluarlah Hwat Kong Hwesio suheng dari Ang Lian Lihiap yang bersenjata tongkat.
Hwat Kong adalah murid tersayang dari Hun Beng Siansu sute dari Ong Lun, maka tentu saja kepandaiannya pun tidak lemah.
Pula karena sejak puluhan tahun ia menjadi seorang pertapaan yang benar-benar membersihkan batinnya hingga untuk bertahun-tahun ia pantang membunuh, maka tenaga batinnya menjadi kuat hingga lweekangnya dengan otomatis pun naik tingkatnya.
Namun Beng Leng Hwesio jauh lebih lihai daripada sutenya dan permainan tombaknya adalah yang disebut Ngo-heng-chio-hwat atau Ilmu Tombak Lima Anasir yang mempunyai perubahan-perubahan luar biasa.
Kedua Hwesio ini bertempur sampai ratusan jurus, tapi akhirnya tombak Beng Leng Hwesio dapat dibikin terpental dan terlepas dari tangannya hingga Beng Leng Hwesio yang tidak diserang terus mengerti bahwa lawannya tidak mau melukainya.
Maka ia menjura sambil berkata malu.
"Hwat Khong suhu sungguh murah hati. Pinceng mengaku kalah."
Thio Lok dengan marah meloncat ke tengah menghadapi Hwat Kong Hwesio.
"Kudengar kabar bahwa kau adalah murid dari Hun Beng supek, ingin aku membuktikan sendiri. Majulah, kepala gundul!"
"Hm, murid tersesat!"
Kata Hwat Kong yang masih tersenyum dan tidak menjadi marah karena hinaan itu. Tapi sebelum ia bergerak, lebih dulu Ang Lian Lihiap melesat dari tempat duduknya dan berdiri menghadapi Thio Lok.
"Suheng, mengasolah, biarkan sumoimu bereskan anjing hina ini!"
Thio Lok pernah merasai kelihaian Ang Lian Lihiap, maka ia merasa serba salah.
Mau mundur, malu kepada semua orang, hendak melawan merasa tidak kuat.
Tapi sebagai laki-laki ia pantang mundur menghadapi lawan apa pula lawan seorang gadis muda, maka dengan nekat ia memutar pedangnya.
Lian Hwa memang benci sekali melihat Thio Lok, maka sekali pedang Kong-hwa-kiam berkelebat, Thio Lok telah terdesak mundur.
Pedang pemuda itu hanya dapat menangkis saja, sedangkan Lian Hwa, makin besar semangatnya.
Ia menyerang dengan tipu-tipu mematikan dan pada saat Thio Lok agak terdesak sehingga penjagaannya terbuka, Kong-hwa-kiam menyambar ke arah lambungnya!
Khai Sin Tosu berseru keras dan meloncat dengan pedang di tangan hendak menolong muridnya, tapi tiba-tiba bayangan seorang pemuda berkelebat dan menghalang di depannya.
Ternyata Cin Han dengan Sian-liong-kiam di tangan telah mencegatnya sambil berkata.
"Jangan main keroyokan, satu lawan satu!"
Sementara itu pedang Lian Hwa telah berhasil merobohkan Thio Lok.
Melihat muridnya terluka, Khai Sin Tosu marah sekali.
Ia menjerit sambil menerjang kepada Cin Han dengan pedangnya.
Serangannya hebat dan berbahaya sekali karena ia mainkan Tat Mo Kiam-hoat dan diseling dengan Liang Gie Kiam-hoat dari cabang Bu-tong, permainan pedang campuran ini telah ia yakinkan puluhan tahun sehingga amat lihai.
Tapi Cin Han berlaku tenang dan mainkan ilmu pedang Hwie-liong Kiam-sut yang luar biasa dahsyatnya!
Ilmu pedang tunggal ciptaan Beng San Siansu ini memang luar biasa.
Tiap tangkisan selalu dibarengi gerakan membabat atau menusuk, pendeknya tidak ada tangkisan yang sifatnya hanya membela diri.
Tiap tangkisan itu adalah merupakan awal sebuah serangan berbahaya.
Gerakan cepat lawan dimatikan dengan serangan kilat.
Tusukan-tusukannya berbahaya dan kuat sekali karena selain menggunakan tenaga sendiri, juga meminjam tenaga lawan ketika menangkis serangan.
Sudah tentu Khai Sin Tosu merasa bingung dan terdesak.
Terpaksa untuk kedua kalinya ia mengakui kehebatan lawan yang masih muda ini.
Pada jurus keseratus sepuluh, Cin Han mengeluarkan gerakan istimewa yang jarang ia keluarkan, yakni Hwie-liong-pok-sui atau Naga Terbang Menyambar Air.
Ujung pedangnya menukik ke bawah dan bergerak-gerak ke kiri kanan membingungkan lawan.
Khai Sin tak kuasa menangkis karena gerakan Cin Han ini dibarengi tendangan kaki yang dilayangkan susul menyusul.
Pendeta itu hanya menujukan seluruh perhatiannya kepada kedua kaki Cin Han dan berkelit sambil menangkis, maka ujung pedang Cin Han sudah melayang dekat sekali.
Tiba-tiba terdengar suara Lian Hwa.
"Koko, awas belakang!"
Dan berbareng dengan suara itu Cin Han mendengar suara angin berdesir dari belakangnya.
Ia menarik kembali pedangnya yang telah mendekati dada Khai Sin Tosu, lalu menyabetkan pedang itu ke belakang tubuhnya.
Tapi berbareng dengan itu, secepat kilat tangan kirinya meluncur menghantam dada Khai Sin.
Gerakan ini cepat sekali dan tidak terduga, maka terdengar suara "bukk!"
Dan Khai Sin berdiri tegak seperti patung dan menggigit bibirnya.
Kemudian ia jatuh terjengkang, rebah terjengkang dengan kaku.
Sementara itu Cin Han membalikkan tubuh dengan cepat untuk menghadapi penyerangnya yang ternyata bukan lain adalah si Dewi Cabul Kim Eng.
Perempuan cantik ini memegang pedang di tangan kanan dan saputangan hijau di tangan kiri.
"Awas saputangannya, koko,"
Kembali Lian Hwa berteriak, tapi Cin Han hanya tersenyum saja. Sedangkan Gwat Liang Tojin berkata kepada Lian Hwa.
"Jangan kau khawatir! Cin Han sudah menyimpan sebutir pil penawar hawa beracun dalam mulutnya. Ini, kaupun harus menyimpan sebutir dalam mulutmu, karena iblis-iblis itu selalu menggunakan racun. Lian Hwa menerima sebutir pil merah dan masukkan itu ke dalam mulut. Rasanya manis dan baunya harum dan sedap sekali. Kembali ia menengok ke arah kekasihnya yang sedang bertempur. Kim Eng bukanlah lawan Cin Han. Sebentar saja perempuan itu terdesak dan sibuk menangkis serangan-serangan Cin Han yang hebat. Tiba-tiba Cin Han mencium bau wangi tanpa merasa pusing seperti dulu. Melihat saputangan wasiatnya tidak menjatuhkan lawan, Kim Eng terkejut sekali. Ia berseru keras dan tiba-tiba, dari ujung pedangnya yang menangkis pedang Cin Han, melayang tiga buah jarum beracun ke arah leher Cin Han! Baiknya Cin Han berlaku awas dan pendengarannya tajam. Ia melihat jarum berkelebat lalu cepat menundukkan kepala sehingga jarum-jarum itu melayang di atas kepalanya. Cin Han marah sekali dan ia memutar pedangnya dengan gemas hingga Kim Eng hampir tidak, kuat menahan lagi. Pada saat itu, dari pihak Pek-Lian-Kauw keluarlah Kik Pin Tosu si mata satu. Tosu ini begitu sampai di belakang Kim Eng, segera menggunakan kedua tangannya. Ujung baju kanan digerakkan menangkis pedang Cin Han dan tangan kirinya membetot Kim Eng ke belakang.
"Mundurlah, nona, biarkan lohu main-main dengan Hwee-thian Kim-hong sebentar."
Tapi Nyo Tiang Pek meloncat menggantikan Cin Han.
"Biarlah aku menerima pengajaran dari Lo-Suhu,"
Katanya. Mata Kik Pin yang hanya sebelah itu memancar ke wajah Tiang Pek.
"Hm, hm! Pantas Kang-Lam Taihiap Kam Hong Tie mempunyai murid segagah ini! Sudah lama aku mendengar nama besar Kam Hong Tie, tapi belum pernah mendapat kehormatan mencoba kesaktiannya. Kini kau muridnya yang hendak melawanku, bagus. Majulah, anak muda."
Cin Han terpaksa mundur ketika Nyo Tiang Pek menggantikannya tadi dan ia berdiri di pinggir.
Ia melihat tosu itu menggerak-gerakkan tangan dan menggulung lengan bajunya ke atas sampai di sikunya.
Cin Han yang memperhatikan lengan tosu yang kurus kecil itu, tiba-tiba terkejut melihat kedua lengan itu berwarna merah kehitam-hitaman!
Celaka, imam ini adalah ahli Ang-see-chiu atau Tangan Pasir Merah, pikirnya!
Ia merasa khawatir sekali karena ia cukup maklum akan kelihaian tangan yang sudah terlatih menjadi sepasang tangan yang selain kuat bukan main, juga sangat jahat itu.
Tapi Tiang Pek kelihatan tenang saja.
Cin Han tidak tahu bahwa Nyo Tiang Pek telah digembleng oleh Kam Hong Tie sehingga memiliki ilmu menguatkan urat dan kulit lengannya yang disebut Lengan Bubuk Perak.
Untuk memiliki ilmu kesaktian ini, latihannya digunakan bubuk perak halus dan digosok-gosokkan di kedua lengan.
Latihan ini dilakukan terus menerus sampai bertahun-tahun sehingga kalau sudah meresap betul-betul kedua lengan itu selain kuat juga berani digunakan menangkis senjata tajam ataupun senjata beracun!
Kik Pin tosu berseru.
"Awas kepalan!"
Dan mulai membuka serangan.
Tiang Pek berkelit dan membalas memukul.
Lweekang dari pemuda ini sudah hampir menyamai gurunya sendiri, maka dapat dibayangkan betapa hebat pukulannya.
Kik Pin melihat pukulan Tiang Pek demikian kerasnya, segera mengerahkan tenaga Tangan Pasir Merahnya menangkis.
"Plak!"
Dan kedua lengan mereka tergetar karena hebatnya pertemuan tenaga yang saling membentur ini.
Kik Pin merasa girang karena ia menduga bahwa lengan pemuda itu pasti terkena racun tangannya.
Tiang Pek seakan-akan tidak merasa apa-apa dan terus menyerang dengan gerak tipu Siok-lui-kik-ting atau Petir Menyambar Atas Kepala.
Kik Pin berkelit ke samping dengan gerakan loh-be yaitu gerakan membalik sambil kakinya terayun memutar menjadi tendangan tan-twie!
Tapi Tiang Pek meloncat ke samping dan menyambar pula dengan pukulan Sian-jin-ci-louw atau Dewa Tunjukkan jalan, dengan dua jari tangan ia menusuk leher lawan.
Kik Pin menangkis tusukan dan balas memukul dada dengan tangannya yang lihai.
Tiang Pek tahu bahwa tenaga pukulan ini sedikitnya mempunyai kekuatan seribu kati, tapi ia sengaja mencoba tenaga lawan dan menyampok lengan itu sekuat tenaga.
Sekali lagi dua tenaga raksasa bertemu dan kini keduanya terhuyung ke belakang.
"Bagus!"
Kik Pin Tosu berseru memuji dan kini tahulah ia bahwa Tiang Pek mempunyai tangan yang "berisi"
Juga dan tidak takut kepada Tangan Pasir Merahnya.
Maka ia memperhatikan lengan lawannya yang samar-samar mengeluarkan cahaya berkilau warna putih bagaikan perak, hingga ia terkejut dan berlaku hati-hati.
Setelah saling menyerang lagi, Kik Pin Tosu mengubah gerakan-gerakannya dan kini ia menggunakan pukulan Eng-jiauw-kang, yakni Pukulan Kuku Garuda.
Ilmu silat ini dilakukan dengan sepuluh jari tangan terbuka merupakan kaki garuda hendak mencengkeram.
Tenaga cengkeraman ini hebat sekali, karena biarpun kayu keras kalau tercengkeram bisa hancur berkeping-keping.
Apa pula kulit daging biasa yang lunak.
Tapi Tiang Pek yang sudah banyak pengalaman dapat menghadapinya dengan sikap tenang.
Ia menggunakan ilmu silat Ho-kun dan gerakan-gerakannya menjadi tenang, dan lemas bagaikan burung Ho hendak terbang.
Biarpun lemas tapi ia lincah sekali dan pukulannya mengandung tenaga besar.
Ber puluh-puluh jurus mereka berkelahi tapi belum juga dapat menjatuhkan lawan.
Tiang Pek merasa penasaran dan segera ia mengeluarkan kepandaian simpanannya, yakni Ilmu Silat Angin Ribut.
Benar saja, kecepatan yang ia gunakan dalam melakukan serangan ini membuat Kik Pin yang hanya bermata satu menjadi pusing.
Mereka berdua berputar-putar cepat dan tahu-tahu Kik Pin berteriak dan terlempar dua tombak lebih, tapi jatuhnya masih berdiri tegak.
"Aku mengaku kalah,"
Katanya dengan wajah pucat.
Tiang Pek menjura dan napasnya agak terengah-engah.
Sebenarnya, baru saja ia berhasil menotok dada lawannya yang tidak dapat menangkis pula tapi yang mengerahkan tenaga dalam untuk membentur totokan ini, namun tetap saja pendeta itu terluka di sebelah dalam, sedangkan Tiang Pek yang terlalu banyak mengeluarkan tenaga, menjadi lelah sekali.
Melihat kekalahan-kekalahan di pihaknya, para pengurus muda dari Pek-Lian-Kauw menjadi marah dan dengan seruan keras, lima orang maju dengan senjata di tangan.
Tiang Pek biarpun sudah lelah, melihat mereka maju pedangnya dan siap menghadapi mereka.
Tapi tiba-tiba terdengar bentakan nyaring.
"Nyo-Taihiap, mengasolah!"
Dan Biauw In memutar pedangnya.
Juga Ong Su dan Ong Bu, Sepasang Naga dari Tit-lee, tak senang mereka melihat pihak Pek-Lian-Kauw hendak mengeroyok, segera maju dengan tangan memegang tombak.
Maka bertempurlah lima orang Pek-Lian-Kauw itu melawan Biauw In Suthai dan kedua orang saudara Ong.
Tapi biarpun jumlah mereka banyak, pengurus-pengurus Pek-Lian-Kauw itu tidak dapat menandingi Biauw In, Ong Su dan Ong Bu.
Lebih-lebih Biauw In Suthai, pedangnya berkelebat ke sana-sini dan sebentar saja lengan seorang lawan terbabat putus.
Empat orang kawannya segera mengeluarkan senjata rahasia dan dengan berbareng mereka menyambit.
Delapan buah piauw beracun melayang ke arah Biauw In Suthai dan kedua Naga itu.
Masih lebih baik kiranya kalau orang-orang Pek-Lian-Kauw itu tidak menggunakan senjata rahasia, karena Biauw In Suthai adalah seorang ahli am-gi atau senjata rahasia yang terkenal.
Sekali ia berseru nyaring tubuhnya bergerak ke kanan kiri dan dari delapan senjata piauw itu, lima telah berada di tangannya sedangkan yang tiga telah dapat disampok jatuh oleh Kedua Naga dari Tit-lee.
"Ini, makan senjatamu sendiri,"
Kata Biauw In Suthai dan ia mengayunkan kedua tangannya.
Empat piauw melayang ke arah empat orang Pek-Lian-Kauw tadi, dan yang sebuah lagi melayang cepat ke arah Bong Cu Sianjin.
Ketua Pek-Lian-Kauw ini dengan perlahan menggunakan kebutannya menyabet dan piauw itu terpukul jatuh.
Tapi diantara empat orang, hanya dua orang yang dapat berkelit dengan bergulingan, sedangkan yang dua orang lagi tidak keburu berkelit sehingga dada masing-masing tertancap piauw sendiri.
Racun piauw itu jahat sekali, karena segera tubuh mereka menjadi biru dan mereka rebah tidak berkutik lagi.
Bong Cu Sianjin marah sekali.
Ia meloncat, keluar dari ruang itu ke dalam taman.
"Gwat Liang kalau kau berani, ikutlah aku!"
"Mengapa tidak berani?"
Gwat Liang menjawab dan meloncat mengejar.
Cin Han dan yang lain-lain merasa khawatir kalau Gwat Liang Tojin mendapat celaka oleh tipu muslihat ketua Pek-Lian-Kauw itu, segera berloncatan menyusul.
Di tengah-tengah taman bunga itu ternyata ada sebuah telaga kecil penuh bunga teratai.
Tapi bunga-bunga yang terapung di atas air itu agaknya memang diatur karena jarak dari yang satu kepada yang lain tepat dua kaki jauhnya.
Benar saja, ketika diperhatikan, ternyata di bawah tiap bunga dipasangi ujung tombak yang runcing sekali.
Tapi Bong Cu Sianjin dengan gerakan Burung Kepinis Sambar Capung, meloncat ke tengah telaga dan kaki kirinya menginjak setangkai bunga.
Sebetulnya bukan bunga yang diinjaknya, tapi ujung sebuah tombak.
Maka dapat dibayangkan betapa tinggi ginkangnya, karena orang dengan kepandaian yang belum tinggi mana berani meloncat dan berdiri di atas ujung tombak yang runcing.
"Aha, baru bisa begini saja kau sombong."
Dan tahu-tahu sehabis berkata begini, Song Cu Ling, sudah berada di atas sebuah ujung tombak pula.
Gwat Liang Tojin tidak keburu mencegah tindakan berbahaya ini.
Ia maklum bahwa walaupun Song Cu Ling memiliki ginkang yang tak usah menyerah kalah dari Bong Cu, namun kepandaian silatnya masih lebih rendah daripada ketua Pek-Lian-Kauw itu.
"Song Cu Ling, kauantar kematianmu!"
Kata Bong Cu Sianjin mengejek. Tapi Song Cu Ling sudah mengayun tangannya sambil berseru.
"Awas piauw!"
Dan dua buah piauw berkeredepan melayang dari kedua tangannya, sebuah menyambar leher Bong Cu dan sebuah lagi menyambar kakinya.
"Bagus!"
Kata Bong Cu yang segera meloncat ke belakang dan pindah ke atas teratai lain, tapi segera ia mengayunkan tangannya membalas.
Sebuah pelor hitam menyambar dada Song Cu Ling yang dapat berkelit dengan baik pula.
"Rasakan ini!"
Bentak pula nyonya tua itu dan ketika kedua tangannya terayun, enam buah piauw menyambar.
Dua ke arah tubuh Bong Cu, dua lagi ke sebelah kiri dan dua buah ke sebelah kanan Bong Cu Sianjin.
Menghadapi serangan piauw yang luar biasa dan berbahaya ini, Bong Cu memperlihatkan kepandaiannya.
Ia tahu bahwa ia tidak dapat berkelit, maka ia menggunakan kebutannya menyabet sehingga kedua piauw yang mengarah tubuhnya dapat dipunahkan.
Sedangkan piauw yang menyambar di kanan kirinya didiamkan saja.
Berbareng dengan itu Bong Cu Sianjin menggerakkan kedua tangannya dan empat butir pelor melayang ke arah Song Cu Ling.
Nyonya tua ini mengandalkan ginkangnya yang luar biasa.
Ia meloncat ke atas dan berjumpalitan dengan gerakan Naga Sakti Bermain di Awan, dan ia berhasil mengelit empat pelor itu.
Tapi sebelum kakinya dapat turun ke atas ujung tombak, tiba-tiba melayang lagi empat buah pelor.
Dua pelor menuju ke tubuhnya dan yang dua menggempur ujung tombak sehingga ujung tombak yang sedianya menerima kaki Song Cu Ling, kini menjadi patah!
(Lanjut ke
Jilid 13-Tamat) Si Teratai Merah/Ang Lian Lihiap (Seri ke 01 -Serial Si Teratai Merah) Karya . Asmaraman S Kho Ping hoo
Jilid 13 (Tamat) Serangan ini betul-betul berbahaya, karena biar pun nyonya itu dapat menghindarkan diri dari sambaran pelor, namun sukar baginya untuk turun, karena ujung tombak yang hendak diinjak telah lenyap.
Tapi Song Cu Ling benar-benar mempunyai kepandaian ginkang yang mengagumkan sekali.
Ia berhasil berkelit hingga dua buah pelor melewati pinggir tubuhnya ketika kakinya turun, tiba-tiba ia melihat ujung tombak itu dipatahkan oleh lawan, maka ia menyentakkan tubuhnya hingga kedua tangannya terulur ke depan dan dapat mencapai ujung tombak di depannya, lalu dengan tenaga lweekangnya ia menekan ujung tombak itu dengan tangan hingga tubuhnya melayang lagi ke atas, untuk kemudian turun perlahan di atas tombak lain!
"Bagus benar ginkangmu!"
Bong Cu memuji, tapi kini ia berada dekat dan menyerang dengan pedangnya.
Song Cu Ling menangkis dengan pedang dan membalas menyerang.
Sebenarnya dalam hal ilmu pedang, Bong Cu Sianjin masih lebih tinggi dari nyonya tua itu, tapi Song Cu Ling benar-benar memiliki ginkang yang hebat hingga dengan mengandalkan kegesitan dan kelincahannya, ia masih dapat mengimbangi permainan pedang lawannya.
Nyonya itu berkelebat ke sana ke mari di atas ujung-ujung tombak sehingga merupakan seekor kupu-kupu terbang bermain-main di atas sekian banyak bunga teratai itu, diserang dan terbungkus oleh sinar pedang Bong Cu Sianjin yang cepat, bagaikan ular menyambar.
Tiba-tiba Bong Cu Sianjin membentak.
"Roboh!"
Dan tangannya melepaskan barang hitam yang menyambar ke arah pundak Song Cu Ling.
Ketika nyonya itu membacok barang itu dengan pedangnya, tiba-tiba barang itu meledak dan dari dalamnya menyambar ber puluh-puluh piauw dan pelor besi ke arah Song Cu Ling!
Tentu saja nyonya itu terkejut sekali dan dengan gugup mumbul ke udara tapi karena serangan senjata mujijat itu tidak tersangka-sangka datangnya dan dalam jumlah yang banyak, tidak urung sebuah piauw menancap di kaki Song Cu Ling!
Nyonya itu merasa kakinya panas sekali dan kepalanya pening, maka dari atas terjatuh ke bawah dengan kepala lebih dulu.
Semua kawannya mengeluarkan suara kaget, lebih-lebih Ang Lian Lihiap yang cepat bergerak hendak meloncat menolong, tapi nona itu ditahan Cin Han.
"Jangan khawatir."
Kata pemuda itu.
Ketika Lian Hwa memandang ke arah gurunya, ternyata Song Cu Ling biarpun sudah terluka dan terkena racun piauw itu, ia masih dapat mengumpulkan tenaganya.
Ketika tubuhnya melayang jatuh, ia mengulurkan tangan kanannya dan dapat memegang ujung tombak sebelum tombak itu memakan dirinya, kemudian dengan mengerahkan tenaga terakhir ia mengayunkan tubuhnya hingga melayang ke pinggir.
Ia turun di dekat kawan-kawannya dengan terhuyung-huyung dan pingsan dalam pelukan Lian Hwa.
Gwat Liang Tojin cepat memeriksa.
"Ia terkena racun, tapi jangan takut. Beri makan pil ini yang mencegah menjalarnya racun dalam darah."
Lian Hwa menerima pil itu dan memasukkan ke dalam mulut gurunya.
"Awas!"
Tiba-tiba Tiang Pek dan Cin Han berteriak hampir berbareng dan dari jurusan kiri taman itu datang menyambar ratusan anak panah ke arah mereka.
Cin Han dan kawan-kawannya cepat menggunakan pedang menangkis hujan anak panah itu.
"Bong Cu jangan berlaku curang!"
Teriak Gwat Liang Tojin. Tapi hanya terdengar suara Bong Cu tertawa seram dan tiba-tiba dari jurusannya melayang enam buah barang hitam seperti yang tadi digunakan untuk menyerang Song Cu Ling.
"Jangan tangkis!"
Gwat Liang Tojin memberi ingat kawan-kawannya tapi terlambat.
Ong Su dan Ong Bu yang merasa marah sekali melihat kecurangan lawan, menggunakan tombaknya menusuk barang itu yang meledak hebat dan dari dalamnya menyambar puluhan senjata rahasia beracun.
Sebenarnya barang hitam itu adalah bungkusan senjata-senjata rahasia yang dipasangi per dan jika pecah maka obat peledak yang dipasang di dalamnya akan meledak dan per-per bekerja hingga sekian banyak senjata beracun di dalamnya akan dilontarkan keluar ke segenap penjuru.
Ong Su dan Ong Bu mencoba berkelit, tapi sia-sia.
Ong Su terkena senjata piauw beracun pada lehernya dan sebuah pelor besi runcing menghantam paha Ong Bu.
Bahkan Pek Siong Tosu yang berada dekat dengan dua saudara Ong ini terkena juga oleh sebuah piauw yang menancap di punggungnya.
Ketiga orang ini sebentar saja merasa pening dan panas tubuhnya, lalu tak tertahan lagi mereka jatuh pingsan.
Sibuk juga Gwat Liang Tojin menolong mereka dengan pilnya anti racun itu.
Sementara itu, Cin Han, Lian Hwa, dan Tiang Pek dengan marah sekali loncat mengejar Bong Cu.
Ketua Pek-Lian-Kauw itu melihat hasil senjata rahasia yang dilepasnya tadi tertawa bergelak-gelak.
Tapi segera ia tidak dapat melanjutkan tawanya ketika tiba-tiba tiga bayangan cepat berkelebat dan tiga buah pedang tajam bergerak menyerangnya.
Ia angkat kebutannya menangkis.
Biarpun Bong Cu Sianjin memiliki kepandaian tinggi dan karena kini ia menggunakan kebutan di kiri dan tasbeh di tangan kanan, senjata yang aneh yang sangat berbahaya sekali, namun dikeroyok tiga ahli pedang tingkat tinggi ini, ia menjadi sibuk juga.
Tadi ketika melawan Song Cu Ling, Bong Cu Sianjin menggunakan pedang, karena sebenarnya ia segan mengeluarkan tasbehnya.
Tasbeh ini selain merupakan senjata yang sangat ampuh darinya, juga merupakan barang perhiasan yang jarang terlihat dan tak ternilai harganya, karena terbuat daripada empat puluh sembilan buah mutiara yang besar dan indah.
Tapi kini menghadapi tiga orang pemuda pemudi ini, terpaksa ia gunakan kebutan dan tasbehnya.
Biarpun demikian, masih saja ia sangat terdesak.
Ia hendak mengeluarkan senjata rahasianya yang berbahaya, tapi Cin Han bertiga tidak memberi kesempatan kepadanya.
Tiba-tiba Bong Cu Sianjin menyemburkan mulutnya dan hawa hitam keluar dari mulut menyambar ke arah lawan-lawannya.
Cin Han bertiga cepat berkelit, dan saat ini digunakan oleh Bong Cu Sianjin unkuk meloncat melarikan diri.
"Kejar!"
Tiang Pek memberi komando dan mereka cepat mengejar.
Kembali Bong Cu Sianjin terkurung.
Beberapa orang anak buahnya mencoba membantu, tapi baru beberapa gebrak saja mereka dengan mudah dapat dirobohkan oleh tiga pedang yang lihai.
Pada satu saat Bong Cu Sianjin menggunakan kebutannya menangkis ujung pedang Tiang Pek yang menusuk leher, Cin Han berbareng Lian Hwa gunakan pedang menyerang ke arah dadanya.
Tidak ada jalan lain bagi Bong Cu Sianjin selain menggunakan tasbehnya untuk menangkis.
Tapi kali ini agaknya Lian Hwa dan Cin Han sudah bersatu pikiran, karena tanpa berunding dulu mereka dengan gerakan berbareng telah robah jurusan pedang mereka terus menyabet ke arah tasbeh.
Dua po-kiam yang tajam dan ampuh dengan berbareng menyabet tasbeh itu sehingga kawat baja yang meronce mutiara itu tidak kuat menahan.
Kawat itu putus sehingga mutiara empat puluh sembilan butir itu terlepas dari ikatan dan jatuh ke atas tanah, tersebar ke kanan kiri.
Bong Cu kaget sekali.
Ia memutar kebutannya, mengeluarkan angin menderu-deru untuk sesaat ketiga lawannya terpaksa mundur dan menjaga diri dengan pedang mereka.
Bong Cu meloncat jauh ke belakang dengan maksud melarikan diri, tapi ketiga lawannya sambil berseru.
"Siluman tua, jangan lari!"
Terus mengejar.
Sementara itu Kim Ek si Dewi Cabul dengan dibantu oleh Hong Su ketua Kwi-Coa-Pai, mengeroyok kepada Biauw In Suthai karena Gwat Liang sedang sibuk menolong kawan-kawannya yang terluka oleh senjata beracun.
Biauw In Suthai melawan sekuat tenaga, karena kedua lawannya itu memiliki ilmu silat yang tinggi juga.
Gwat Liang melihat Biauw In terdesak, segera membantu hingga kini kedua lawan itulah yang terdesak hebat.
Berkali-kali Kim Eng melepas piauw beracun dan saputangannya yang mengandung hawa memabukkan itu dikebut-kebutkan, tapi Gwat Liang hanya tertawa mengejek saja.
Belum juga limabelas jurus mereka berkelahi, Gwat Liang Tojin dan Biauw In Suthai berhasil merobohkan Kim Ek dan Hong Su.
Bong Cu dengan sibuk sekali melayani tiga pengejarnya dan ia mulai mengeluarkan keringat dingin.
Berkali-kali ia melepaskan benda hitam yang menjadi senjata rahasianya, mereka tidak mau menangkis hanya menggunakan kesebatan mereka berkelit.
Pada saat Bong Cu sudah terdesak hebat hingga ketika tiga ujung pedang menyambarnya, ia berteriak ngeri dan tak berdaya menghindarkan diri lagi.
Tapi pada saat itu terdengar bentakan nyaring.
"Tenanglah, sute!!"
Berbareng dengan itu Nyo Tiang Pek, Cin Han, Lian Hwa merasa betapa ujung pedang mereka tertahan oleh sesuatu yang panjang bagaikan ular tapi yang mengandung tenaga besar sekali.
Kemudian benda panjang itu berbunyi "tar, tar, tar"
Dan menyambar ke arah mereka.
Tiga pendekar muda itu terkejut sekali, karena ternyata benda itu adalah sebuah cambuk panjang yang digerakkan dengan luar biasa dan yang pada saat itu dengan sekaligus dapat menyerang mereka dengan tiga sabetan.
Mereka menangkis lalu meloncat mundur.
Ternyata yang menolong Bong Cu Sianjin dan menyerang mereka adalah seorang pendeta wanita berambut panjang.
Tangan kiri pendeta, wanita itu memegang kebutan putih, tangan kanan memegang cambuk panjang dan di punggungnya terikat sebuah pedang.
Pakaian nikouw itu dari sutera biru.
Rambutnya yang panjang dikelabang dua dan tergantung di atas bahunya.
Sungguhpun usianya tidak kurang dari tujuh puluh tahun, namun sepasang matanya yang jeli dan raut mukanya yang halus membayangkan bahwa di waktu mudanya ia tentu merupakan seorang wanita yang cantik sekali.
Tapi sayang, matanya yang jeli itu, mengeluarkan sinar yang kejam dan kerut wajahnya membayangkan watak pemarah.
Pada saat itu, Gwat Liang Tojin dan Biauw In Suthai yang telah berhasil menjatuhkan Kim Eng dan Hong Su, datang pula di situ dan siap membantu kawan-kawannya.
"Hm, jadi kaukah yang menjadi biang keladinya?"
Nikouw itu mengerling kepada Gwat Liang Tojin dengan sudut matanya.
"Niang-niang pertimbangkan dulu duduknya persoalan. Sutemu mendirikan Pek-Lian-Kauw sih tidak ada sangkut-paut nya dengan pinto, tapi ternyata sutemu telah tersesat dan menjadi penjilat kaisar Boan."
Kata-kata ini diputus oleh suara tawa Lan Bwee Niang-niang yang merdu dan nyaring bagaikan suara ketawa seorang gadis cantik.
"Gwat Liang! Kau sudah tua tapi masih suka usilan sekali. Mau mencampuri urusan orang lain Apakah rugimu kalau suteku bersekutu dengan kaisar?"
"Suci, balaskan sakit hatiku. Perkumpulanku diobrak-abrik, kawan-kawanku banyak yang terbunuh mati oleh mereka ini,"
Kata Bong Cu Sianjin bagaikan seorang kanak-kanak ingin dimanja.
"Hm, kalian mengandalkan kepandaian sendiri dan menganggap tidak ada orang lain yang berani menghalangi tindakanmu yang sewenang-wenang."
Sin-kun Mo-li Lan Bwee Niang-niang menegur lagi.
"Niang-niang, dengarkan dulu,"
Gwat Liang Tojin membantah.
"pinto tidak suka mencari permusuhan. Tapi pinto sebagai seorang pembela kebenaran, tidak mungkin pinto dan kawan-kawan para hohan ini memangku tangan dan diam saja melihat betapa Bong Cu Sianjin dan kawan-kawannya berlaku sewenang-wenang terhadap rakyat, mengandalkan pengaruh para dorna keparat dan raja lalim untuk melakukan pemerasan terhadap rakyat jelata yang lemah."
"Gwat Liang, jangan memutar-balikkan duduknya perkara! Pernahkah aku mengganggu kalian? Tapi dapatkah kau memungkiri bahwa ketika masih hidup, si jahat Ong Lun selalu memusuhi perkumpulanku? Berapa banyak jiwa anggauta Pek-Lian-Kauw yang telah dibunuhnya?"
Teriak Bong Cu Sianjin.
"Ya, karena kamu dan kawan-kawanmu adalah musuh rakyat, dan Ong Lun adalah pembela rakyat,"
Jawab Gwat Liang Tojin.
Bong Cu Sianjin menjadi marah dan meloncat menerjang ke arah Gwat Liang Tojin dengan pedangnya.
Gwat Liang menangkis dan segera mereka bertempur hebat.
Lan Bwee Niang-niang memperdengarkan suara ketawa menghina, cambuknya berbunyi keras dan berkelebat menyambar-nyambar ke arah Tiang Pek dan kawan-kawannya.
Melihat lagaknya yang sombong itu, Lian Hwa menjadi marah dan maju menerjang dengan pedangnya!
Lan Bwee Niang-niang tertawa menghina dan tiba-tiba ujung cambuknya dapat menyambar membalik bagaikan bernyawa dan melibat pedang Lian Hwa!
Ang Lian Lihiap terkejut sekali ketika merasa betapa pedangnya tidak dapat digerakkan dan tak dapat ditarik kembali!
Melihat hal ini, Cin Han, Nyo Tiang Pek maju berbareng mengirim serangan kilat hingga Lan Bwee Niang-niang terpaksa melepaskan pedang Lian Hwa untuk menangkis serangan baru ini.
Maka pertempuran menjadi terpecah dua rombongan.
Gwat Liang Tojin dan Biauw In Suthai mengeroyok Bong Cu Sianjin, sedangkan Lan Bwee Niang-niang menghadapi Cin Han, Tiang Pek, dan Lian Hwa.
Lan Bwee Niang-niang yang ternyata berilmu tinggi dapat melayani tiga pendekar muda itu dengan baik, dan ia merasa kagum dan sayang melihat kepandaian mereka, maka sampai saat itu ia belum menjatuhkan tangan kejam.
Tapi sebaliknya, Bong Cu Sianjin terdesak hebat oleh Gwat Liang Tojin dan Biauw In Suthai yang memiliki kiam-sut yang lihai.
Ketika keadaan sangat mendesaknya, Bong Cu Sianjin mengeluarkan ilmu hitamnya.
Ia menatap wajah Biauw In Suthai dengan tajam, kedua matanya seakan-akan mengeluarkan api dan membawa pengaruh besar sekali, kemudian tiba-tiba ia berteriak keras!
Teriakan ini merupakan jeritan ngeri dan ganjil, hingga menusuk telinga dan mendebarkan jantung.
Lebih-lebih Biauw In Suthai yang telah terpengaruh pandangan mata Bong Cu Sianjin, tidak kuat ia menahan suara ini, tubuhnya menjadi lemas dan tak terasa pedangnya terlepas dari pegangan.
Dengan buas Bong Cu Sianjin menggunakan kebutannya untuk menyabet dan menghancurkan kepala Biauw In, tapi Gwat Liang Tojin dapat menetapkan hati dan secepat kilat menangkis.
Tapi kini, setelah Biauw In Suthai yang menjadi lemas terduduk di atas tanah tidak berdaya bagaikan seorang yang hilang ingatan, ia harus menghadapi seorang diri ketua Pek-Lian-Kauw yang lihai itu.
Lama kelamaan Gwat Liang Tojin terdesak mundur oleh pedang dan kebutan Bong Cu Sianjin dan hanya dapat menangkis saja!
Di pihak Lan Bwee Niang-niang, ketika melihat betapa sutenya telah berhasil menjatuhkan seorang lawan, ia menjadi gembira dan tak mau kalah.
Ia mengebut-ngebutkan kebutan putih di tangan kirinya ke arah lawan-lawannya dan suaranya yang lembut merdu berkata.
"Rebah, rebah... rebah!"
Heran sekali, suara ini mengandung tenaga luar biasa yang sangat berpengaruh.
Lian Hwa dan kawan-kawannya merasa betapa tenaga mereka bagaikan lenyap dan merasa tubuh mereka lemas dan lelah sekali.
Mereka ingin sekali merebahkan diri di atas rumput dan tidur dengan nyenyak dan sedapnya.
Tapi ketika Lian Hwa memandang Cin Han dan kebetulan kekasihnya itu sedang memandangnya, bentrokan sinar mata mereka menimbulkan kekuatan dan tenaga mereka seakan-akan kembali memasuki tubuh.
Rasa saling kasih dan saling membela disertai kekhawatiran akan nasib masing-masing, membuat kedua anak muda yang saling mencinta ini tertolong dari bahaya.
Mereka segera memutar pedang dan menyerang lagi.
Tapi hati mereka berdebar cemas melihat betapa Nyo Tiang Pek agaknya tidak kuasa menahan getaran pengaruh ilmu hitam Lan Bwee Niang-niang tadi dan pemuda itu melempar pedangnya terus berbaring di atas tanah sambil meramkan kedua mata.
Keadaan mereka kini berbahaya sekali.
Tapi Lian Hwa dan Cin Han, dengan hati bulat hendak saling membela atau kalau tak mungkin menang, hendak mati bersama, membuat permainan pedang mereka hebat sekali.
Memang permainan pedang Lian Hwa, yakni Sian-liong-kiam-hwat ciptaan dari Ong Lun adalah luar biasa dan jarang tandingannya, juga Hwie-liong Kiam-sut yang dimainkan oleh Cin Han bahkan lebih tinggi daripada Sian-liong-kiam-hwat.
Kini kedua ilmu pedang kelas satu itu dimainkan oleh kedua anak muda yang saling membela hingga kedua ilmu pedang itu seakan-akan tergabung menjadi satu, tentu saja kehebatannya luar biasa sekali.
Si Iblis Perempuan Kepalan Dewa Lan Bwee Niang-niang walaupun berilmu tinggi namun jika hanya menggunakan ilmu silatnya saja, agaknya takkan mungkin ia mendapat kemenangan.
Maka sekali lagi ia menggoyang-goyangkan kebutannya dan mulutnya berkemak-kemik, lalu ia tertawa bekakakan.
Lian Hwa dan Cin Han tiba-tiba mendengar suara ketawa itu datang dari mana-mana, di belakang, di kanan kiri, di depan, dari atas, bahkan dari bawah tanah.
Mereka bingung dan permainan pedang mereka kacau-balau.
Tapi Cin Han berbisik.
"Lian-moi, tetapkan hatimu, ada aku di sini."
Benar saja, Lian Hwa seakan-akan terbetot dari sebuah jurang yang dalam dan ia mulai bisa mengatur, permainannya kembali.
Namun, pada saat itu cambuk Lam Bwee Niang-niang bermain ganas sekali bagaikan seekor naga siluman mengamuk sehingga sekali Lian Hwa terkena ujung cambuk pada pundaknya, dan Cin Han terkena pada lengan kirinya.
Pada saat taruna dan remaja itu sedang repot sekali, tiba-tiba Lan Bwee Niang-niang membentak keras dan dari kebutannya yang dia putar-putar keluarlah asap hijau bergulung-gulung menyerang Cin Han dan Lian Hwa.
Asap itu berbau busuk seperti bau mayat sehingga Cin Han dan Lian Hwa segera menahan napas karena mereka maklum betapa berbahayanya asap beracun ini.
Namun, biarpun lweekang mereka sudah tinggi, asap yang lihai itu seakan-akan dapat mendobrak hidung mereka dan hendak memaksa masuk.
Keadaan mereka sungguh sangat berbahaya.
Tapi pada saat itu, terdengar suara orang berkata halus.
"Sungguh kejam, sungguh keji..."
Dan berbareng dengan ucapan itu, tiba-tiba dari atas menyambar turun segumpal asap putih yang memasuki asap racun hijau dan menjadi satu.
Cin Han dan Lian Hwa mencium bau harum dan kepala mereka yang sudah agak pening karena pengaruh racun asap hijau tadi mendadak menjadi dingin dan sembuh bahkan asap putih itu seakan-akan memberi tambahan semangat kepada mereka.
Pelepas asap putih itu ternyata adalah seorang pertapa yang berbaju putih.
Rambut dan jenggotnya sudah putih semua, menandakan usianya yang sangat tinggi.
Wajahnya tampak ramah-tamah dan alim sekali, tapi sinar matanya menyinarkan cahaya yang lembut namun mengandung pengaruh yang kuat tak terlawan.
Pertapa itu melihat betapa Gwat Liang Tojin terancam oleh pedang dan kebutan Bong Cu Sianjin, segera memanggil.
"Gwat Liang, ke sinilah."
Tangan kirinya melambai.
Mendengar suara ini, Gwat Liang meloncat mundur, tapi karena ia memang sedang terdesak, saat itu digunakan oleh Bong Cu Sianjin untuk menyabetkan pedangnya ke arah pinggang Gwat Liang Tojin, sedangkan kebutannya yang lihai terayun menghantam belakang kepala!
Cin Han dan Lian Hwa hampir berseru kaget melihat bahaya yang hendak menimpa Gwat Liang Tojin, tapi tiba-tiba pertapa baju putih itu mengebutkan lengan bajunya ke arah Bong Cu Sianjin.
Dari lengan baju itu keluarlah angin pukulan yang hebat sekali dan Bong Cu Sianjin tiba-tiba merasa tenaga raksasa mendorongnya ke belakang hingga ia terhuyung-huyung beberapa tindak!
Cin Han dan Lian Hwa saling memandang dengan heran.
Betapa takkan heran melihat bagaimana pertapa itu dari jarak jauh dapat mengundurkan Bong Cu Sianjin yang lihai hanya dengan angin pukulan saja!
Dapat diukur betapa lihainya pertapa tua ini!
Gwat Liang Tojin yang terlepas dari bahaya segera maju dan berlutut dihadapan pertapa itu sambil berkata.
"Supek!"
Bukan main terkejutnya Cin Han dan Lian Hwa mendengar ini.
Mengertilah mereka bahwa yang berdiri dihadapan mereka ini bukan lain ialah Beng San Siansu!
Dengan serta merta Cin Han membetot tangan Lian Hwa dan ia berlutut sambil mengangguk-anggukkan kepalanya.
Beng San Siansu meraba-raba jenggotnya yang putih seperti benang perak, wajahnya tersenyum gembira sekali.
"Ah, inikah Hwee-thian Kim-hong yang kebetulan menjadi muridku seperti yang kau ceritakan dulu, Gwat Liang?"
Gwat Liang Tojin mengangguk dan Cin Han lalu maju sambil berlutut serta berkata.
"Suhu, teecu menghaturkan hormat."
Kini Beng San Siansu tertawa senang.
"Sudah kulihat kiam-sutmu tadi. Memang kau sudah pandai memainkan Hwie-liong Kiam-sut, tapi masih kaku! Dan nona ini tentu Ang Lian Lihiap murid Ong Lun?"
Ketika Lian Hwa mengangguk hormat, ia lalu melanjutkan kata-katanya.
"Sudah kuduga. Permainan kiam-hwatmu tentu Sian-liong-kiam-hwat. Memang Ong Lun orang cerdik. Kalau kedua kiam-hwatmu itu digabung, maka dapat merupakan ilmu pedang yang jarang dapat dilawan di dunia ini. Namanyapun indah, coba dengar Hwie-Sian-liong-kiam-hwat, Ilmu Pedang Naga Dewa Terbang!"
Cin Han mengangguk-angguk kepala sambil berkata.
"Teecu mohon pimpinan suhu dalam hal ini."
"Ha, kau cerdik. Boleh, boleh, tapi urusan sekarang belum beres."
Ia berpaling memandang ke arah Lan Bwee Niang-niang yang berdiri dengan muka merah karena marah memandang mereka.
"Hm, jadi Lo-Suhu ini Beng San Siansu yang tersohor?"
Kata Lan Bwee Niang-niang menyindir.
"Kata orang, Lo-Suhu sudah boleh disebut manusia setengah dewa, tapi kulihat sekarang bahwa kabar itu kosong belaka. Lo-Suhu masih tertarik oleh keadaan dunia dan ikut-ikut campur urusan orang lain!"
Beng San Siansu tersenyum sabar.
"Lan Bwee Niang-niang, sedangkan Thian Yang Maha Tunggal sendiri masih mencampuri urusan dunia, mengapa orang-tua seperti aku tidak! Apa aku haruskan saja kau menyembelih semua orang-orang tidak berdosa ini?"
Jari tangannya menunjuk kepada mereka yang terluka dan terkena racun tadi yang masih rebah sambil menahan sakit.
"Salah mereka sendiri! Kenapa mereka memusuhi perkumpulanku?"
Jawab Bong Cu Sianjin dengan marah. Sinar mata Beng San Slansu yang tajam menyambar ke wajah Bong Cu dan senyumnya melebar.
"Sayang..."
Katanya bagaikan kepada diri sendiri.
"Harta benda itu bagaikan tinta hitam, ke mana saja ia datang, ia selalu mengotorkan sekelilingnya. Teratai putih pun akan menjadi kotor kalau tersiram olehnya..."
"Lan Bwee Niang-niang,"
Katanya kemudian kepada Iblis Perempuan Kepalan Dewa itu.
"Sudah terlalu banyak korban. Sudahilah saja pertempuran tiada berguna ini."
"Beng San Siansu! Jangan kau berat sebelah. Sudah banyak kawan-kawanku terbunuh mati oleh anak muridmu. Kami harus membalas dendam!"
"Ya, ya! Begitulah sifat dunia. Balas dendam, balas membalas tiada habisnya. Kalau aku orang-tua ini, andaikata dipukul orang, aku tidak akan buru-buru menuntut balas, tapi hendak kucari lebih dulu mengapa aku sampai dipukul orang. Segala akibat tentu bersebab, lupakah kau?"
Kata Beng San Siansu.
Baca Juga: Darah Pendekar 2
Baca Juga: Mutiara Hitam 5