Ceritasilat Novel Online

Si Teratai Merah Ang Lian Li Hiap 6

Eps 6 Si Teratai Merah Ang Lian Li Hiap - Kho Ping Hoo

Baca online Si Teratai Merah Ang Lian Li Hiap - Kho Ping Hoo

Cersil Si Teratai Merah Ang Lian Li Hiap - Kho Ping Hoo.

"Tidak perduli. Pendeknya aku hanya menghendaki murid Ong Lun, si Ang Lian Lihiap harus menebus dosa-dosa gurunya,"

Kata Lan Bwee Niang-niang dengan gemas.

"Lan Bwee Niang-niang,"

Suara Beng San Siansu terdengar keren bagaikan suara seorang guru terhadap muridnya yang nakal.

"Lupakah kau kata-kata suhumu dulu? Lupakah kau bahwa kau pernah diperingatkan gurumu sehingga kau sucikan diri di Bukit Hoa-mo-san? Mengapa kau turun gunung dan hendak mengulangi dosa-dosamu yang lalu?"

Marah sekali Lan Bwee Niang-niang mendengar ini, matanya seakan-akan menyala, mulutnya seakan-akan mengeluarkan uap panas.

"Beng San! Kau kira aku takut padamu!"

Dan perempuan tua yang galak itu menggunakan cambuknya menyabet! "Siancai, siancai!"

Beng San Siansu menyebut, tapi tidak berkelit sama sekali.

Sabetan itu hebat sekali dan dengan suara keras, cambuk panjang itu bagaikan ular melilit ke pinggang dan leher Beng San Siansu.

Tapi orang-tua itu tetap tersenyum saja.

Lan Bwee Niang-niang melihat bahwa Beng San Siansu seakan-akan tidak merasa sakit oleh cambuknya, ia kerahkan tenaga dalamnya dan sentakkan cambuk untuk mengiris kulitnya.

Tapi alangkah heran dan terkejutnya ketika ia merasa seolah-olah cambuk itu menempel dan lengket dengan kulit Beng San Siansu.

Ia mencoba lagi, tapi bahkan merasa tangannya tergetar hingga dengan sengit ia lepaskan cambuknya dan gunakan kebutannya memukul kepala Beng San Siansu, sedangkan tangan kanan mencabut pedang dari punggung.

"Eh! jangan ganggu kepalaku,"

Beng San Siansu menegur halus dan angkat tangan kirinya melindungi kepala.

Kebutan lihai itu beradu dengan lengan Beng San Siansu dan aneh sekali, kebutan itu terbalik dan membentur kepala Lan Bwee Ning-niang sendiri.

Terkejut sekali nyonya tua itu.

Ia berkelit dan menggunakan pedang menusuk.

Sekali kebutkan lengan bajunya, pedang inipun dibikin terlepas dari tangan Lan Bwee Niang-niang.

Tapi wanita nekad itu tidak kapok.

Ia merogoh ke dalam baju dan keluarkan sebuah benda yang dapat bergerak-gerak.

Ternyata benda itu adalah seekor ular hitam.

Lan Bwee Niang-niang gunakan ular itu sebagai senjata dengan pegang ekornya dan ayun kepala ular ke arah leher Beng San Siansu.

"Ganas, ganas!"

Beng San Siansu berkata dan tahu-tahu leher ular telah terjepit diantara kedua jari tangannya dan ular itu menjadi lemas tak bertenaga lagi.

Lan Bwee Niang-niang tekan per di dadanya dan tiga belas buah piauw dengan tiga belas macam racun yang paling jahat menyambar ke depan, langsung menyerang Beng San Siansu.

Tapi pertapa sakti itu kembali kebutkan lengan bajunya dan sekaligus semua senjata rahasia itu terpukul dan tertumpuk di atas tanah.

Sementara itu, melihat betapa sucinya dipermainkan, Bong Cu Sianjin menjadi marah sekali dan ia gunakan kebutannya Memukul dari belakang.

Seperti juga tadi, pukulan itu dapat dipunahkan oleh Beng San Siansu hanya dengan kebutkan ujung lengan bajunya.

Tiba-tiba Lan Bwee Niang-niang berteriak keras dan meluncurlah lima buah hui-to atau golok terbang dengan keluarkan suara mengaung keras ke arah Beng San Siansu.

Pertapa ini sudah kenal akan kehebatan golok terbang itu, maka tiba-tiba dengan ringan sekali tubuhnya melayang ke atas bagaikan kapas tertiup angin.

Semua hui-to melayang di bawah kakinya dan langsung menyerang Bong Cu Sianjin yang tadi berdiri di belakang Beng San Siansu.

Bong Cu Sianjin kaget sekali dan menangkis dengan pedangnya, tapi dua buah hui-to tepat mengenai pundaknya kanan kiri hingga kedua lengannya putus.

Bong Cu Sianjin menjerit keras dan jatuh pingsan.

Sedangkan Lan Bwee Niang-niang melihat betapa hui-tonya bahkan melukai sute sendiri demikian hebat, iapun menjerit keras dan roboh pingsan.

Dari mulutnya mengalir darah karena jantungnya mendapat getaran dan tekanan keras.

Ia sebenarnya telah bertahun-tahun meyakinkan ilmu batin yang tinggi untuk menjalani Ilmu kesucian dengan bertapa di atas bukit.

Maka bertahun-tahun ia dapat menahan dan mengendalikan segala macam nafsu yang merajalela di hati tiap orang.

Nafsu-nafsu ini karena dapat terkendali, merupakan tenaga hebat yang merupakan pendorong kuat bagi tenaga dalamnya.

Tapi sekarang, tiba-tiba saja karena menuruti nafsu hati, segala macam nafsu itu dengan serentak berbangkit merupakan perasaan marah, malu, jengkel, penasaran, kecewa dan terkejut, akhirnya ditambah kesedihan melihat betapa ia melukai sute sendiri.

Semua perasaan nafsu ini merupakan tenaga raksasa yang menyerang dari dalam hingga batinnya yang biasanya tenang tenteram menjadi tergoncang hebat dan jantungnya terkena pukulan pula.

"Siancai, siancai..."

Beng San Siansu menyebut perlahan sambil menggeleng-gelengkan kepala.

Ia segera berjongkok dan menggunakan jari telunjuk menotok ulu hati Lan Bwee Niang-niang yang segera siuman kembali.

Tanpa berkata apa-apa Beng San Siansu menghampiri Bong Cu Sianjin dan menotok pula kedua bahu ketua Pek-Lian-Kauw itu, lalu dikeluarkannya obat bubuk dan dibalurkan di luka lengan yang buntung itu.

Lan Bwee Niang-niang yang sudah berdiri melihat semua ini dengan terharu.

Ia maju menjura dan berkata dengan suara mohon dikasihani.

"Dapatkah aku yang hina ini diampuni?"

"Thian bersifat murah dan adil, Niang-niang,"

Kata Beng San Siansu.

"Bawa sutemu ini ke bukit dan peliharalah dia, pelihara lahir dan batinnya."

Lan Bwee Niang-niang mengangguk dan mengangkat tubuh sutenya, kemudian sekali berkelebat tubuhnya lenyap dari situ!

Beng San Sianjin memandang keadaan kawan-kawan Gwat Liang Tojin yang masih rebah di ruang belakang itu, karena walaupun sudah diberi obat oleh Gwat Liang Tojin namun pengaruh racun jahat itu masih saja membuat mereka menderita sakit.

Ia memberikan sebuah batu kepada Gwat Liang Tojin.

"Rendam dalam air dan berilah mereka minum!"

"Gwat Liang Tojin menghaturkan terima kasih dan segera melakukan perintah supeknya itu, dan tidak hanya mengobati kawan-kawannya, juga ia memeriksa dan mengobati luka-luka dari para korban Pek-Lian-Kauw. Sementara itu Beng San Siansu memandang Cin Han yang kembali berlutut di depannya.

"Pinto sebagai orang-tua ikut bergembira dan mengucap kiong-hi atas pertunangan kalian. Baiknya perkawinanmu dilakukan bulan depan hari kedelapan. Setelah kawin, boleh kalian datang ke Kim-Ma-San, tempat tinggal Ong Lun dulu karena sementara waktu Pinto akan berada di sana. Kalian datanglah untuk menggabungkan kedua kiam-sut itu."

Cin Han dan Lian Hwa menghaturkan terima kasih sambil berlutut.

Dalam hati mereka merasa heran bagaimana pertapa suci itu dapat tahu akan pertunangannya!

Kemudian Beng San Siansu meninggalkan tempat itu dengan perlahan turun gunung setelah menerima kehormatan dari semua orang yang kini telah dapat berjalan setelah minum obat mujijat dari pertapa itu.

Beng San Siansu meninggalkan batu mustikanya dan minta supaya Cin Han dan Lian Hwa kelak membawanya.

Biarpun pertapa sakti itu hanya berjalan perlahan saja, namun sebentar saja ia sudah lenyap dari pandangan mereka.

Cin Han diam-diam menghela napas karena kagum, tapi ia merasa girang sekali bahwa suhunya itu telah berjanji hendak menggabungkan ilmu pedangnya dengan, ilmu pedang Ang Lian Lihiap!

Setelah memberi nasihat kepada sisa anggauta Pek-Lian-Kauw untuk membuang sifat pengkhianat dan pemeras rakyat jelata, Gwat Liang Tojin dan rombongan meninggalkan Gunung Hong-lai-san dan berpisah untuk kembali ke tempat masing-masing.

Oleh bujukan Cin Han dan Lian Hwa, Nyo Tiang Pek akhirnya tak dapat menolak lagi dan ikut mereka dan Song Cu Ling kembali ke rumah Gan Keng Hiap untuk menyaksikan perkawinan mereka pada bulan depan hari kedelapan, Karena Gwat Liang Tojin sendiri juga menetapkan hari itu, sesuai dengan kehendak Beng San Siansu, demikian pun Song Cu Ling.

Coa Giok Lie yang ditinggal pergi oleh gurunya, tiap hari rajin melatih ilmu silatnya dan ia tidak merasa kesunyian karena di samping berlatih silat ia memimpin Kong Liang dan Mei Ling dalam pelajaran mereka menulis dan membaca, dan dalam ilmu silat, kedua bocah ini dapat memimpinnya karena mereka biarpun kecil telah memiliki kepandaian dasar yang boleh juga.

Ketika Song Cu Ling datang dan Cin Han bersama Lian Hwa ikut bersama-sama, Giok Lie menjadi girang sekali.

Ia memeluk gurunya.

Ketika diperkenalkan kepada Ang Lian Lihiap oleh gurunya, ia memeluk Lian Hwa dengan terharu.

"Lihiap, aku girang sekali dapat berkenalan dengan kau yang cantik dan lihai ini,"

Katanya dengan muka merah.

"Ah, sumoi, jangan menyebut aku Lihiap. Aku bukan kenalan biasa, tapi adalah sucimu yang kasar dan buruk. Kau jauh lebih cantik dariku, sumoi,"

Kata Lian Hwa sambil balas memeluk dan tertawa.

Pada saat itu juga, lenyaplah ganjalan hati diantara kedua gadis itu.

Ketika Giok Lie diberi tahu oleh Song Cu Ling akan pertunangan Lian Hwa dan Cin Han, Giok Lie merangkul leher sucinya.

"Kau menjadi tunangan koko Cin Han? Ah, bagus sekali, cici, kiong-hi... kiong-hi...!"

Dan Lian Hwa mencubit dengan wajah merah karena malu.

Sementara itu, Nyo Tiang Pek mengobrol dengan Gan Keng Hiap, karena sasterawan tua ini pernah berjumpa dengan Kam Hong Tie dan memang semenjak dulu ia mengagumi pendekar ternama itu.

Maka tidak heran ketika mendengar pemuda she Nyo itu adalah murid Kang-Lam Taihiap Kam Hong Tie, ia menghujani berbagai pertanyaan.

Nyo Tiang Pek juga senang sekali bercakap-cakap dengan Gan Keng Hiap yang terpelajar dan halus tutur bahasanya itu.

Malam hari itu karena bulan masih muncul tiga perempat lebih Lian Hwa mengajak Giok Lie keluar dari kamar dan berjalan-jalan di kebun belakang di rumah keluarga Gan yang lebar juga.

Mereka duduk di bawah pohon Liu yang indah.

"Sumoi, aku pernah mendengar bahwa kau pandai sekali meniup suling. Maukah kau meniup satu dua lagu untukku?"

Tanya Lian Hwa.

"Aah, siapa bilang, suci? O, ya, tentu kakak Cin Han yang bilang, bukan? Siapa lagi,"

Giok Lie balas menggoda.

"Eh, kau ini! Masakan segalanya hanya dia saja yang memberi tahu padaku? Ayolah, ambil sulingmu, biar aku mendengar lagu merdu."

"Apa upahnya untuk tiap lagu suci?"

"E, e... minta diupah segala! Aku miskin tidak punya apa-apa."

"Siapa bilang kau miskin. Kepandaianmu begitu banyak."

"Hm, cerdik kau. Kau maksudkan minta diupah kepandaian silat?"

"Habis, apa lagi? Suci, maukah kau bermain sejurus dua jurus ilmu pukulan pedang setelah aku meniup suling untukmu?"

"Baiklah, ayoh, ambil sulingmu!"

Dan Giok Lie dengan riang berlari-lari masuk kamar untuk mengambil sulingnya. Sementara itu, Cin Han pun mengajak Nyo Tiang Pek keluar kamar berjalan-jalan.

"Nah, lihat adik perempuanku tadi. Bagaimana pendapatmu? Bukankah ia secantik bidadari? Tapi sayang, nakalnya bukan main. Ilmu silatnya cukup tinggi."

Memang tadi telah dilihatnya Giok Lie yang cantik jelita itu dan diam-diam hati Tiang Pek tertarik sekali.

Tapi ia tidak percaya bahwa gadis itu nakal, lebih-lebih tidak percaya gadis itu berkepandaian tinggi, biarpun ia mengaku murid Song Cu Ling.

Maka mendengar kata-kata Cin Han ia hanya tersenyum saja.

Tiba-tiba mereka mendengar suara tiupan suling yang sangat merdu.

Nyo Tiang Pek terpesona dan kagum sekali.

Ia berdiri diam mendengarkan.

Suara suling itu bagaikan ayunan ombak samudra yang mengombang-ambingkan hatinya, membuat seluruh tubuhnya merasa lemas dan nikmat.

"Alangkah indah dan merdunya,"

Tiang Pek berkata sambil menghela napas setelah suara suling berhenti.

"Siapakah peniup suling sepandai itu?"

"Ia adalah tukang kebun pamanku, seorang laki-laki tua yang hidup sunyi. Kau ingin belajar menyulingkah?"

Cin Han bertanya sambil senyum.

"Orang-tua? Kasihan, suara sulingnya demikian halus dan mengandung kesedihan. Mari bawa aku padanya, ingin aku bertemu."

"Maaf, Twako. Masuk sajalah dan temui sendiri. Aku ada sedikit keperluan dengan paman untuk dibicarakan."

Dan Cin Han meninggalkan kawannya itu.

Tiang Pek tanpa ragu-ragu lagi segera memasuki taman.

Sementara itu, Lian Hwa pun sudah meninggalkan Giok Lie seorang diri dengan alasan mau mencari dan memanggil nyonya Gan Keng Hiap untuk diajak bercakap-cakap di taman.

Coa Giok Lie yang ditinggal seorang diri segera meniup sulingnya lagi, sedikit pun tidak tahu bahwa sepasang mata memandangnya dengan kagum.

Itu adalah sepasang mata Nyo Tiang Pek yang datang menghampiri dari belakang.

Pemuda itu sama sekali belum tahu bahwa yang meniup suling adalah seorang gadis cantik jelita, disangkanya seorang kakek sebagaimana yang dikatakan Cin Han tadi.

Kebetulan pada saat itu bulan bersembunyi di balik awan hingga keadaan agak gelap.

"Pak tua, tiupan sulingmu sungguh merdu,"

Tiang Pek berkata dan Giok Lie dengan terkejut melepas sulingnya dari bibir dan membalikkan tubuh.

Tiang Pek hampir berteriak kaget ketika melihat bahwa yang ditegurnya adalah seorang gadis yang pada saat itu memandangnya dengan mata indah yang terbelalak heran.

"Ah, oh... maaf, nona... kukira..."

"Nyo-Taihiap, kaukah?"

Tegur Giok Lie yang tadi siang sudah diperkenalkan kepada pendekar muda ini.

"Maaf nona. Kakakmu berkata bahwa peniup sulingnya bukan kau..."

"Kau maksudkan koko Cin Han?"

"Ya, bukankah kau adik saudara Cin Han?"

Giok Lie mengangguk dan memandangnya dengan senyum sindir ketika dilihatnya betapa pendekar yang dipuji-puji oleh Cin Han dan Lian Hwa itu kini berdiri di depannya dengan sikap kemalu-maluan.

Melihat senyum sindir yang membayang di bibir gadis itu, teringatlah Tiang Pek akan keluhan Cin Han bahwa adiknya itu sangat nakal dan jumawa karena memiliki kepandaian tinggi!

"Nyo-Taihiap, ada perlu apakah kau memasuki taman ini?"

Tiba-tiba Giok Lie bertanya karena merasa tidak enak kalau diam saja. Tiang Pek makin bingung.

"A... aku... pernah saudara Cin Han ceritakan padaku bahwa kau memiliki bu-gee yang tinggi, tapi sama sekali tak kusangka kaupun memiliki kepandaian meniup suling demikian hebatnya!"

"Aah, kau hanya menyindir, Nyo-Taihiap. Aku baru saja belajar silat, belum ada seperseratus dari Lian Hwa cici! Bahkan di kemudian hari banyak mengharap petunjuk Taihiap dalam hal ilmu silat."

Nyo Tiang Pek merasa gemas kepada Cin Han.

Masakan gadis yang begini sopan santun merendah dan cantik jelita dikatakan sombong, nakal dan jumawa?

Gadis ini begini halus tutur bahasanya, begini sopan gerak-geriknya, bahkan jauh lebih menarik daripada Lian Hwa!

Pada saat itu terdengar suara orang tertawa-tawa.

Lian Hwa mendatangi, diikuti Song Cu Ling yang menggandeng tangan Kong Liang dan Mei Ling.

"Eh, eh, Nyo-Twako sudah berada di sini? Sudah lamakah, Twako?"

Wajah Tiang Pek memerah mendengar pertanyaan yang mengandung godaan ini. Ia pelototkan mata memandang Lian Hwa yang segera menutup mulutnya dengan tangan, menahan suara ketawanya.

"Aah, Giok Lie cici berada di taman dengan seorang kawan, pantas saja kami cari di mana-mana tidak ada!"

Mei Ling tiba-tiba menegur yang membuat Lian Hwa tertawa geli dan membuat wajah kedua pemuda pemudi itu makin merah saja.

Karena merasa serba salah, Tiang Pek segera minta maaf dan bermohon diri, keluar dari taman.

Di luar taman Cin Han menantinya dan pura-pura tidak tahu akan siasat yang diaturnya dengan Lian Hwa itu.

"Hm, kau memang terlalu, Lauwte."

Tiang Pek menegur cemberut.

"Eh, eh, apakah tukang sulingnya berlaku kurang ajar padamu, Twako?"

"Jangan begitu, Lauwte, hampir saja aku mendapat malu. Kau tukang bohong, dulu kau bilang adikmu nakal dan sombong. Tapi..."

"Tapi apa, Twako?"

Cin Han bertanya, sambil menggoda.

"Sama sekali tidak nakal, dan sedikit pun tidak sombong..."

"Jadi kau suka padanya, Twako?"

"Anak gila kau!"

Tiang Pek yang digoda memaki tapi sambil tersenyum, lalu meninggalkan Cin Han ke dalam kamarnya.

Malam itu juga Cin Han menjumpai paman dan bibinya untuk membicarakan hal usulnya untuk menjodohkan Giok Lie dengan Tiang Pek.

Kedua orang-tua itu memang suka dan kagum melihat Tiang Pek, maka tentu saja mereka senang sekali mendengar usul ini, lalu mereka ajak Song Cu Ling berunding.

Nyonya tua inipun sudah cukup kenal dan tahu akan sepak-terjang pendekar muda itu, sehingga iapun menyatakan kegembiraannya.

Untuk menyatakan hal ini kepada Giok Lie, Lian Hwa lah yang bertanggung jawab, sedangkan yang bertanya kepada Tiang Pek tentu saja diserahkan kepada Cin Han.

Kedua taruna remaja itu memang sudah merasa tertarik yang satu kepada yang lain, maka ketika ditanya mereka hanya menunduk saja dengan muka merah dan dada berdebar.

Demikianlah, pada bulan berikutnya, hari kedelapan, di rumah Gan Keng Hiap dihias indah dan diramaikan dengan gembreng dan tambur.

Tamu-tamu keluar masuk memenuhi ruang rumah Gan Keng Hiap.

Di ruang dalam, dua pasang pengantin duduk bersanding.

Lo Cin Han dengan Han Lian Hwa, dan Nyo Tiang Pek dengan Coa Giok Lie.

Baik Lian Hwa maupun Giok Lie masing-masing mengucurkan air mata karena teringat akan ayah-ibu masing-masing.

Di dalam perayaan itu, semua kawan dari kalangan kang-ouw pun datang untuk memberi selamat.

Tidak ketinggalan datang juga Gwat Liang Tojin, Kong Sin Ek si Dewa Arak, Pek Siong Tosu, Ong Su dan Ong Bu, Biauw In Suthai, dan yang lain-lain.

Bahkan ada beberapa orang pula dari pihak Pek-Lian-Kauw yang sudah sadar dan insaf akan kesalahan mereka.

Setelah pesta kawin bubar, Nyo Tiang Pek dan isterinya pergi ke Kang-Lam mencari Kam Hong Tie, sedangkan Cin Han dan Lian Hwa pergi ke Kim-Ma-San untuk menghadap Beng San Siansu.

Kedua pengantin ini berbulan madu sambil menikmati pemandangan indah di sepanjang perjalanan mereka.

Maka bahagialah penghidupan mereka sepanjang masa.

TAMAT alysa,

http.//indozone.net

/literatures/literature/1566 19 April jam 7.14am

Baca Juga: Istana Pulau Es 5

Baca Juga: Sepasang Naga Lembah Iblis 4

Cari Blog Ini

Diberdayakan oleh Blogger.

Parnert