Ceritasilat Novel Online

Sepasang Naga Lembah Iblis 4

Eps 4 Sepasang Naga Lembah Iblis - Kho Ping Hoo

Baca online Sepasang Naga Lembah Iblis - Kho Ping Hoo

Cersil Sepasang Naga Lembah Iblis - Kho Ping Hoo.

Dia sudah berhasil menemukan tunangannya, akan tetapi kembali ada saja penghalang yang membuat gadis itu lolos lagi dari tangannya.

Bagaimana dia dapat pulang ke kota raja kalau tidak bersama Ji Goat?

Dia semakin sakit hati terhadap Hek I Kaipang yang selalu menghalanginya, tentu dia sudah dapat menawan Ji Goat dan di bawa pulang ke kota raja, dimana menurut janji Perdana Menteri akan segera menikahkan dia dengan gadis itu kalau dia mampu membawanya pulang.

Sekarang, dia harus mulai dari pertama lagi, mencari jejak gadis itu.

Lai Seng adalah murid pertama dari Toat-beng Giam-ong Lui Tat yang sekarang menjadi Koksu Kerajaan Toba.

Sejak kecil dia sudah menjadi murid Toat-beng Giam-ong ketika tokoh ini masih menjadi seorang datuk persilatan golongan sesat.

Sebetulnya Lai Seng adalah putera seorang anak buah datuk itu yang tewas ketika melakukan perampokan, tewas di tangan para pendekar dari Gobi pai.

Dia bru berusia enam tahun ketika ayahnya tewas dan ibunya mengikuti laki-laki lain dan meninggalkannya.

Melihat bakat baik kepada anak yang dapat di bilang sudah yatim piatu ini, Toat-beng Giam-ong lalu mengambilnya sebagai murid.

Ketika Toat-beng Giam-ong menjadi Koksu, Lai Seng sudah berusia delapan belas tahun dan diapun mendapat tugas dari gurunya untuk membantu pekerjaan nya, kadang menjadi penyelidik.

Karena itu ketika Ji Goat belajar silat kepada Koksu itu lima tahun yang lalu, dia jarang bertemu dengan Ji Goat yang belajar di rumahnya sendiri.

Kini, Lai Seng telah menjadi seorang pemuda berusia dua puluh tiga tahun yang gagah dan berkepandaian tinggi.

Dia seorang mata keranjang dan suka pelesir.

Hal ini di ketahui oleh Koksu sendiri, akan tetapi karena Koksu sendiri bekas datuk sesat, maka dia tidak pernah menegurnya.

Ketika untuk pertama kalinya bertemu dengan Ji Goat, sudah terkandung keinginan di hati Lai Seng agar dia dapat di jodohkan dengan Puteri Perdana Menteri ini, bukan hanya karena Ji Goat cantik jelita, akan tetapi terutama sekali karena kalau hal itu dapat terjadi, dia akan mendapatkan banyak kesempatan untuk naik pangkat dan setidaknya, sebagai menantu Perdana Menteri, dia tentu akan terpandang dan di hormati para bangsawan lain.

Maka, alangkah girangnya ketika Perdana Menteri dan gurunya menghendaki perjodohan itu berlangsung.

Akan tetapi, Ji Goat melarikan diri dan dia gagal untuk menawannya di bawa pulang.

Dia berpikir dan mencari akal.

Andaikata dia mampu menawan Ji Goat, kalau dia membawanya pulang sebagai seorang tawanan, hal itu akan amat merugikannya.

Ji Goat tentu akan membencinya dan alangkah tidak enaknya di benci isteri sendiri kelak.

Akan tetapi andaikata Ji Goat pulang bersamanya secara suka rela, tentu akan senang sekali hidupnya.

Beristrikan wanita cantik, dan menjadi menantu Perdana Menteri!

Hanya saja, bagaimana akalnya agar Ji Goat menjadi suka kepadanya dan mau di bawanya pulang dengan suka rela?.

Senja telah menjelang tiba dan Lai Seng mempercepat langkahnya.

Dia harus dapat menemukan dusun sebelum malam tiba sehingga dia bisa mendapatkan tempat bermalam.

Akan tetapi ketika dia naik ke atas pohon untuk mencari arah sebuah dusun, ternyata di sekitar tempat itu tidak nampak ada dusun.

Tiba-tiba dia melihat sebuah bangunan di lereng sebuah bukit di depan.

Dia tidak tahu bangunan apa itu, hanya nampak gentengnya dan sebagian temboknya saja.

Cepat dia turun dan menuju ke bukit itu.

Ternyata jaraknya cukup jauh dan sebelum tiba di kaki bukit itu, malam telah tiba dan cuaca menjadi remang-remang gelap.

Dia menggunakan ilmu berlari cepat dan berhasil tiba di depan sebuah bangunan besar yang sudah tua sekali, dan tidak terawatt.

Keadaan amat sunyi seolah bangunan itu kosong tidak ada penghuninya.

Dia membuka pintu depan dan tiba di ruangan depan yang amat luas dan kosong.

Di sudut ada api unggun, entah di buat oleh siapa karena di situ tidak nampak ada orangnya.

"Ada siapa di dalam?"

Tanyanya dengan suara nyaring.

Suaranya bergema dari ruangan dalam yang luas dan panjang, tersambung melalui lorong di pinggir.

Tidak ada jawaban.

Dia melihat lantai cukup bersih dan ada jerami kering di lantai ruangan depan itu, seolah di jadikan tilam.

"Heiii, kalau ada orang di dalam, harap keluar!"

Kembali dia berseru ke dalam karena dia yakin bahwa apin unggun itu tentu ada yang membuatnya.

Tiba-tiba ada suatu benda mengkilap meluncur dari balik pintu sebelah dalam.

Di bawah sinar api unggun itu dia dapat melihat bahwa benda yang terbang menyambar ke arahnya itu sebuah golok yang berkilauan saking tajamnya.

Golok itu menyambar ke arah lehernya dengan kecepatan seperti sebatang anak panah.

"Singggg...".!! "Golok itu mengeluarkan suara berdesing ketika Lai Seng mengelak dan golok terbang di dekat telinganya. Dan dia terbelalak kagum ketika golok itu terbang kembali ke arah pintu dan lenyap. Sebatang golok terbang yang agaknya di sambitkan sedemikian rupa sehingga rupa sehingga golok itu dapat terbang kembali kalau tidak mengenai sasaran. Penyambitnya tentu seorang yang berilmu tinggi. Akan tetapi tidak ada orang keluar. Padahal dia sudah siap dengan seruling peraknya. Untuk menyerbu ke dalam berbahaya sekali karena ruangan di balik pintu itu gelap. Selagi dia menanti dengan hati tegang, dia terkejut sekali mendengar suara tawa di atas!".

"Hua-ha-ha-ha-he-he-he!"

Dia sampai terloncat ke belakang saking kagetnya, apa lagi ketika dia mengangkat muka ke atas.

Hatinya penuh ketegangan dan seram.

Di atas sana di tiang yang melintang, dia melihat seorang menggantung dengan kaki di atas kepala di bawah, tertawa-tawa kepadanya.

Wajahnya ketika bersinar api unggun yang bergerak-gerak nampak menyeramkan sekali.

Kepalanya tergantung ke bawah dan rambutnya riap-riapan.

"Siapa kau!"

Bentak Lai Seng, memberanikan diri.

"Manusia atau setan?".

"Ha-ha-hah-heh-he, aku memang setan, Raja Setan ha-ha-ha kembali orang itu tertawa. Kini Lai Seng tidak begitu ngeri lagi setelah melihat bahwa yang bergantung di atas itu adalah seorang manusia, tubuhnya tinggi besar dan kepalanya besar pula, dengan rambut riap-riapan. Dengan gerakan seperti seekor kera saja. Tubuh yang menggantung membalik itu kini terayun dan kini dia sudah duduk di atas tiang melintang itu, kakinya terayun-ayun ke bawah.

"Turunlah dan mari kita bicara!"

Kata pula Lai Seng.

"Turun? Bicara? Ha-ha-ha. mudah asal engkau dapat menandingi anak buahku. Ngo Kwi (Lima Iblis), tangkap bocah lancing yang memasuki tempat kita ini!". Dari balik pintu sebelah dalam berloncatan lima orang yang wajahnya seram-seram dan mereka berlima itu masing-masing memegang sebatang golok besar yang berkilauan. Mereka segera membentuk suatu barisan segi lima. Dan entah dari mana munculnya, tahu-tahu nampak seorang gadis menambahkan kayu bakar pada api unggun dan selanjutnya di dia duduk dekat api unggun, agaknya untuk menjaga api unggun agar api unggun itu tidak padam. Gadis yang cukup cantik dengan mata yang bersinar-sinar dan mulut tersenyum-senyum. Tentu ia memiliki gerakan yang cepat sekali karena tahu-tahu ia sudah berada dekat pada api unggun itu. Sementara kakek yang tinggi besar masih nongkrong di atas balok melintang sambil tertawa-tawa. Lai Seng maklum bahwa dia harus membela diri, maka diapun sudah siap siaga dengan suling peraknya. Sebetulnya, oleh gurunya, Toat-beng Giam-ong, Lai Seng juga di latih ilmu dengan senjata lain. Bahkan gurunya seorang yang ahli memainkan senjata golok atau pedang akan tetapi dia lebih suka menggunakan sulingnya sebagai senjata dan sulingnya ini merupakan senjata yang ampuh. Ujung suling itu meruncing dan dapat dipergunakan untuk meniupkan jarum beracun. Juga, biarpun di luarnya di selaputi perak, akan tetapi di sebelah dalamnya, suling itu terbuat dari baja yang baik sehingga tidak takut untuk menangkis senjata tajam yang manapun. Kini, menghadapi pengepungan lima orang itu, Lai Seng berpendapat bahwa menyerang lebih dulu yang terbaik agar dirinya jangan terkepung. Maka, tanpa banyak cakap lagi dia lalu memutar sulingnya dan menerjang orang yang berada di sebelah kirinya. Orang itu menangkis dengan golok, akan tetapi goloknya terpental ketika bertemu suling sehingga dia terkejut sekali dan melompat ke belakang. Teman-temannya segera menyerang dari belakang. Lai Seng membalikkan tubuhnya menghadapi mereka dan pemuda itu mengamuk. Lai Seng adalah murid pertama Toat-beng Giam-ong, maka tentu saja dia lihai sekali. Pengeroyokan lima orang itu tidak membuatnya menjadi gentar bahkan setelah menendang roboh seorang pengeroyok dan memukul pengeroyok lain dengan sulingnya yang mengenai pundak, membuat golok yang di pegangnya terlepas!.

"Mundur.....!"

Teriak kakek yang nongkrong di atas balok melintang dan lima orang itu lalu berloncatan menghilang di balik pintu sebelah dalam.

"Kui Hwa, maju!"

Kata kakek di atas dan kini gadis yang duduk dekat api unggun, tiba-tiba saja meloncat dan pedang sudah berada di tangannya.

Berbeda dengan Ngo-kwi tadi, gadis yang bernama Kui Hwa itu berdiri berhadapan dengan Lai Seng, memandang Lai Seng dari kepala sampai ke kaki seperti orang sedang menaksir seekor kuda yang hendak di belinya, mulutnya tersenyum menantang dan mataknya lirak-lirik dengan sikap genit.

memang gadis ini cukup cantik sehingga sikapnya itu menarik perhatian Lai Seng yang mata keranjang.

"Sobat, siapakah namamu?"

Tanya gadis itu.

"Namaku Lai Seng."

"Kenapa engkau lancing memasuki tempat tinggal kami?".

"Aku tidak mengira bahwa rumah besar ini ada yang menempati. Ku kira rumah kosong dan aku seorang pejalan kaki yang sedang kemalaman, bermaksud untuk bermalam di bangunan ini. Tidak tahu bahwa bangunan ini tempat tinggal kalian, harap membolehkan aku melewatkan malam di sini "

"Boleh asal memenuhi syaratnya."

"Apa syaratnya?".

"Engkau harus dapat mengalahkan aku!"

Kata gadis itu dan ia melintangkan pedangnya di depan dada.

"Ah, engkau juga ingin main-main dengan aku, nona. Baik, mari kulayani!"

Kata Lai Seng gembira. Kemenangan tadi membesarkan hatinya dan membuat keangkuhannya bangkit dan dia memandang ringan kepada gadis itu.

"Awas, sambut seranganku!"

Bentak gadis yang bernama Kui Hwa itu dan ketika menyerang, terkejutlah Lai Seng.

Serangan gadis itu hebat sekali, cepat dan mengandung tenaga dahsyat sehingga pedang itu berdesing mengeluarkan angina.

Diapun cepat menangkis dengan sulingnya.

"Traanggg.....!! "Bunga api berpijar dan Lai Seng merasa betapa kuatnya tangan yang memegang pedang itu sehingga suling peraknya tergetar hebat bertemu dengan pedang. Namun dia pun melihat betapa gadis itu terkejut melihat kekuatan sulingnya. Dalam hal tenaga, dalam adu tenaga pertama ini ternyata mereka seimbang. Tahulah Lai Seng bahwa dia sama sekali salah perhitungan. Gadis ini tidak bisa di samakan dengan kelima Ngo-kwi tadi. maka, diapun berhati-hati dan memutar sulingnya sehingga terbentuk gulungan sinar perak. Gadis itu tidak mau kalah, pedangnya berkelebatan dan nampak sinar bergulung-gulung mengimbangi gulungan sinar suling. Mereka sudah saling menyerang dengan seru dan ternyata ilmu pedang gadis itu hebat bukan main. Lai Seng harus mengerahkan seluruh tenaga dan mengeluarkan semua ilmunya untuk mempu menandinginya. Kakek yang duduk di atas tertawa-tawa senang dan memuji-muji ilmu suling yang dimainkan Lai Seng. Ketika Lai Seng yang hendak mendesak lawannya memainkan Lo-hai Kiam-sut (Ilmu Pedang Pengacau Lautan) dengan sulingnya, kakek itu berhenti tawanya dan tubuhnya melayang turun, tiba-tiba saja tangannya sudah menangkis suling Lai Seng dan hamper saja dapat merampasnya kalau saja Lai Seng tidak cepat-cepat menariknya kembali dan meloncat ke belakang. Kakek itu ternyata tinggi besar sekali, sekepala lebih tinggi darinya dan Lai Seng memandang dengan agak jerih. Dari gerakan tangkisan kakek itu tadi saja yang hamper dapat merampas sulingnya, dia tahu bahwa kakek ini memiliki ilmu kepandaian yang tingkatnya jauh lebih tinggi darinya.

"Orang muda, darimana engkau mempelajari Lo-hai Kiam-sut? Hayo katakana, dari siapa?"

Suaranya membentak-bentak seperti orang marah.

kakek ini memang menyeramkan.

Tidak saja tubuhnya tinggi besar, juga wajahnya menyeramkan dengan rambut riap-riapan, matanya besar dan mulutnya menyerengai dengan gigi yang besar-besar.

Lai Seng yang cerdik maklum bahwa dia berhadapan dengan seorang sakti, maka cepat dia memberi hormat dan menjawab.

"Saya mempelajarinya dari suhu, lo-cian-pwe."

"Siapa suhumu? Apakah Toat-beng Giam-ong itu suhumu?".

"Benar, lo-cian-pwe. Suhu sekarang telah menjadi Koksu Lui Tat,"

Kata Lai Seng bangga.

"Hoa-ha-ha-ha-ha, kau kira aku belum tahu? Si Raja Maut itu telah memiliki kedudukan tinggi dan engkau muridnya tentu memiliki kedudukan tinggi pula? Kenapa berkeliaran di sini?".

"Saya hanya menjadi seorang panglima muda, lo-cian-pwe dan sekarang saya bertugas untuk mencari puteri Perdana Menteri Ji yang melarikan diri, sekalian menyelidiki keadaan para pejabat yang hendak memberontak terhadap Kerajaan."

"Ho-ho-ha-ha-ha, Kui Hwa yang begini pantas menjadi suamimu. Dengar, Lai Seng, antara aku Sin-to Kwi-ong (Raja Iblis Golok Sakti) dan gurumu Toat-beng Giam-ong terdapat hubungan baik sebelum gurumu menjadi Koksu. Aku setuju untuk menjodohkan puteriku ini denganmu, bagaimana pendapatmu? Kui Hwa, bagaimana dengan engkau? Setujukah?". Kui Hwa melirik dan tersenyum genit.

"Aku setuju, ayah."

"Nah, Lai Seng, engkau dengar sendiri, anakku Bong Kwi Hwa ini sudah banyak yang minta, akan tetapi ia tidak mau dan sekarang melihat engkau, ia agaknya sudah setuju untuk berjodoh dengan mu. Bagaimana jawabanmu?". Lai Seng adalah seorang mata keranjang. Melihat Kui Hwa cukup cantik menarik dan genit, dia sudah merasa suka. Sebetulnya dia belum ingin menikah dan agak keberatan kalau harus menikah, akan tetapi dia tahu bahwa menolak akan menimbulkan bahaya. Orang seperti kakek ini agaknya tidak boleh di tolak keinginannya. Dia harus cerdik, menarik keuntungan sebanyaknya dari setiap peristiwa yang terjadi.

"Lo-cianpwe, suhu tentu akan marah kalau saya menerima sebelum memberitahu suhu. Akan tetapi tentu suhu akan senang kalau saja Lo-cianpwe suka berjanji bahwa lo-cianpwe dan semua anak buah lo-cianpwe bersedia membantu suhu, membantu Kerajaan Mongol di Tang-an. Kalau lo-cianpwe bersedia membantu, tentu suhu tidak berkeberatan untuk menikahkan saya dengan puteri lo-cianpwe."

"Ha-ha-ha, bagus, bagus! Engkau seorang panglima yang baik sekali. Orang macam engkau ini tentu akan cepat naik pangkat dan menduduki jabatan tinggi. Engkau selalu mengingat kepentingan kerajaan. Ha-ha-ha, aku setuju sekali! Memang aku ingin membonceng kemakmuran Koksu Toat-beng Giam-ong, ha-ha-ha!". Demikianlah, Lai Seng tiba-tiba saja memperoleh isteri! Mereka di nikahkan pada beberapa hari kemudian dan setelah semua anak buah berkumpul, ternyata jumlah mereka hamper dua ratus orang. Ini adalah anak buah dari perkumpulan Kwi-to-pang (Perkumpulan Golok Setan) yang tersebar di daerah perbatasan di sepanjang Sungai Huai itu. Diam-diam Lai Seng merasa girang bahwa ayah mertuanya memiliki anak buah yang banyak juga, apalagi semua anak buahnya adalah orang-orang yang memiliki kepandaian. Setelah menikah, Lai Seng lalu minta bantuan anak buah ayah mertuanya untuk mencari-cari Ji Goat. Dia menggambarkan seorang gadis cantik yang membawa sepasang pedang pendek yang berpakaian sederhana. Dapat dibayangkan betapa girang rasa hati Lai Seng ketika beberapa hari kemudian anak buah ayah mertuanya telah dapat menemukan gadis yang di carinya. Dia lalu mengajak isterinya berunding.

"Sumoiku itu lihai bukan main ilmu pedangnya. Aku seorang diri saja akan sukar untuk menawannya. Bagaimana kalau engkau membantuku?".

"Hemm, engkau hendak membujuk adik seperguruanmu itu mau pulang dan bukankah engkau pernah mengatakan bahwa ia akan di jodohkan denganmu?".

"Kau cemburu?"

"Sama sekali tidak. Engkau boleh menikah seratus kali, akan tetapi aku harus menjadi yang nomor satu. Kalau satu kali saja engkau mengesampingkan aku dan mengalahkan aku memilih lain wanita, maka wanita itu dan engkau akan ku bunuh! Ayah tentu akan membantuku!". Diam-diam Lai Seng bergidik. Dia percaya sepenuhnya ancaman itu karena isterinya adalah seorang yang sadis dan galak sekali. Juga dia mendapatkan kenyataan bahwa ketika menikah dengan dia, isterinya bukan perawan lagi. Akan tetapi dia tidak mau ribut-ribut karena agaknya bagi golongan sesat ini perawan atau bukan, bukan masalah lagi. Bahkan kini isterinya itu mengatakan bahwa dia boleh kawin lagi sampai seratus kali! Agaknya isterinya tidak akan cemburu melihat dia mencinta gadis lain dan ini tentu ada imbalannya, yaitu diapun tidak boleh cemburu kalau melihat Bong Kwi mencinta pria lain!.

"Benar, ayahnya, Perdana Menteri Ji, sudah berjanji akan menikahkan aku dengan sumoi kalau aku mampu membawanya pulang. Akan tetapi bagaimana ia mau? Malah ia agaknya membenciku! Jangankan menikah dengan aku, pulang bersamaku pun ia tidak mau."

Isterinya tersenyum.

"Jangan pergunakan kekerasan. Kalau aku membantumu dan kemudian gadis itu tahu bahwa yang membantumu adalah isterimu, tentu ia semakin membencimu."

"Lalu bagaimana aku harus menangkapnya?"

"Menurut keterangan anak buahku, dimana gadis itu sekarang?".

"Ia kelihatan di dalam sebuah kuil tua yang kosong."

"Bagus. Tepat sekali untuk menggunakan siasat ini."

Ia mengeluarkan sebuah bungkusan dari dalam saku bajunya dan menyerahkan bungkusan itu kepada suaminya.

"kau dekati ia dan bakar kertas pembungkus obat bius ini di dekat jendela atau pintu kuil. Pendeknya, sekali saja ia menghisap asap dari bakaran obat ini, tentu ia akan pingsan."

"Akan tetapi kalau ia siuman kembali, ia tetap tidak mau dan aku harus mengunakan kekerasan. Ia akan semakin benci kepadaku."

"Bodoh! Setelah ia pingsan, engkau tundukkan ia. Sekali ia telah menjadi milikmu, setelah sadar ia pasti bahkan memaksamu untuk mengawininya."

Lai Seng terbelalak, hamper tidak percaya.

"Kau menganjurkan aku untuk.... Memperkosanya....? Mana ada isteri menyuruh suaminya memperkosa seorang gadis kalau bukan puteri si Raja Iblis!."

Kwi Hwa terkekeh dan mengangguk.

"Itu satu-satunya jalan. Kalau ia siuman dan mengetahui bahwa ia akan menebus aib itu dengan memaksa engkau menikahinya."

"Ah, bagus sekali. Engkau seorang isteri yang baik, Kwi Hwa. Aku cinta padamu! "Lai Seng merangkul dan menciumi isterinya itu dengan girang bukan main.

"Hemm, aku sudah membantumu, ada upahnya."

"Apa upahnya? Mintalah, pasti akan ku penuhi permintaanmu."

"Tidak banyak. Aku hanya ingin menonton kalau engkau melakukannya."

Diam-diam Lai Seng menggeleng kepalanya.

Dia sendiri murid Koksu yang dulunya juga seorang datuk sesat, akan tetapi kesesatan yang di dengarnya dari isterinya ini sungguh melampaui batas, membuatnya diam-diam merasa tidak senang kepada isterinya ini.

Isterinya ternyata seorang perempuan yang tidak tahu malu sama sekali, di samping kekejaman dan kegalakannya.

Isterinya adalah seorang perempuan cabul yang tentu tidak pantang untuk berjina dengan siapapun juga.

Tidak pantas menjadi isterinya.

Dia, seorang panglima dan calon mantu Perdana Menteri!.

"Apa? Engkau menggeleng kepala? Tidak boleh?"

Kwi Hwa berkata dengan nada mengancam.

"Siapa yang tidak boleh? Tentu saja boleh, aku menggeleng kepala hanya karena heran mendengar permintaanmu yang aneh-aneh."

Demikian, malam itu juga Lai Seng pergi ke kuil tua dimana anak buah isterinya melihat Ji Goat.

Malam telah larut dan cuaca hanya di terangi jutaan bintang di langit.

Setelah melakukan pengintaian, benar saja Lai Seng melihat gadis itu tidur di ruangan kecil di sudut ruangan itu masih menyala.

Cepat dia membakar bungkusan obat bius itu dan nampak banyak asap keluar.

Dia sendiri sudah menutupi hidungnya dengan sapu tangan yang dipergunakan sebagai kedok dan cepat meninggalkan tempat itu, mengintai dari jauh betapa bungkusan yang terbakar dan yang dia lemparkan ke dalam ruangan itu mengeluarkan banyak asap.

Terdengar suara gadis itu terbatuk-batuk dan nampak bayangannya bangkit berdiri, terhuyung ke dekat pintu lalu roboh!

Asap beracun itu telah hasil baik!.

Setelah asap membuyar, Lai Seng segera menghampiri dan melihat gadis itu menggeletak dalam keadaan seperti orang tidur pulas.

Dia tidak dapat melihat wajah gadis itu dengan jelas, akan tetapi tidak salah lagi, dari bentuk tubuhnya saja dia yakin bahwa gadis itu adalah Ji Goat.

"Hayo cepat..... bawa masuk ke dalam ruangan itu.....

"bisik isterinya yang ikut mengintai. Jantungnya berdebar penuh ketegangan ketika Lai Seng memondong tubuh gadis itu ke dalam ruangan yang remang-remang itu dan selanjutnya terjadilah dua macam perbuatan terkutuk. Yang pertama di lakukan oleh Lai Seng yang memperkosa gadis yang sedang pingsan itu dan yang kedua dilakukan oleh Bong Kwi Hwa yang mengintai dan menonton adengan itu dengan muka kemerahan dan mata bersinar-sinar penuh nafsu. Semua orang memperebutkan kekuasaan dan dalam perebutan ini manusia menggunakan segala cara untuk mencapai tujuan. Karena ingin sekali menjadi mantu Perdana Menteri dan mendapatkan kekuasaan, Lai Seng tidak segan-segan melakukan perbuatan yang keji terhadap seorang gadis. bahkan manusia tidak segan untuk membunuh sesamanya demi mendapatkan kekuasaan itu. Mengapa kekuasaan diperebutkan sampai sedemikan oleh manusia? Kekuasaan menjamin kehidupan yang penuh dengan kesenangan dan kemenangan. Siapa berkuasa dia akan menang dan akan dibenarkan dalam segala hal, dan siapa berkuasa diapun dapat hidup berenang di dalam kemuliaan, kekayaan dan juga kehormatan. Semua itu sebenarnya hanya mempunyai satu tujuan, yaitu kesenangan!. Makanan nafsu, karena nafsu haus akan kesenangan. Maka, nafsu menguasai manusia untuk mengejar kesenangan sebanyak mungkin. Makin banyak yang di reguk, nafsu menjadi semakin haus. Dan untuk mendapatkan kesenangan yang di reguknya, nafsu membuat manusia lupa akan kemanusiaannya, lupa diri dan lupa bahwa sebetulnya hidup yang diberikan kepadanya bukanlah untuk menjadi budak nafsu. Manusia tidak lagi menggunakan perikemanusiaan sebagai penuntun jalan hidup, melainkan menggunakan perikebinatangan atau hokum rimba. Bagi binatang, siapa kuat dia menang dan siapa menang dia berkuasa dan siapa berkuasa dia berhak melakukan apa saja dan tidak bisa di salahkan. Yang menyalahkan akan di hantam dengan kekuasaannya. Sebetulnya, perikebinatangan atau hokum rimba ini hanya berlaku bagi binantang yang tidak memiliki akal budi seperti manusia. Akan tetapi ternyata perekebinatangan telah dipergunakan oleh manusia di seluruh dunia sebagai jalan hidupnya. Kalau kita mau membuka mata melihat kehidupan di kanan kiri kita, maka akan nampaklah bahwa hokum rimba berlaku di mana-mana. Baik di dalam rumah sendiri maupun di luar rumah. Yang lebih tinggi kedudukannya, lebih besar kekuasaannya. Siapakah yang mampu menyalahkan seorang kaisar? Kaisar tidak pernah bersalah dan kaisar tempat kebenaran, tempat penentu hokum. Seorang pembesar akan di himpit dan di kalahkan oleh atasannya dan demikian seterusnya. Persis keadaan seperti di dalam rumah sendiri. Ayah paling berkuasa, menghardik ibu. Ibu menjewer anaknya yang sulung dan si sulung menampar adiknya yang melampiaskan kejengkelannya kepada adiknya lagi sampai kepada si bungsu. Dan si bungsu mempergunakan kekuasaannya memaki pembantu rumah tangga yang karena tidak mempunyai sasaran kemarahan lalu memukul anjing peliharaan keluarga. Demikianlah, yang atas menghimpit ke bawah sesuai dengan hukum rimba. Perbuatan Lai Seng yang terkutuk itu bahkan di restui oleh isterinya. Suatu kesesatan yang tiada taranya. Namun, karena mereka berdua adalah murid dari datuk-datuk sesat, maka peristiwa terkutuk itu sudah biasa saja bagi mereka. Baru pada keesokan harinya Lai Seng melepaskan korbannya. Dan ketika gadis itu sadar dan mengetahui apa yang telah terjadi atas dirinya, dunia bagaikan kiamat baginya. Ia menangis dan menggenakan pakaian secepatnya, kemudian menyambar pedangnya yang berada di sudut ruangan dan ia mencari-cari pelakunya. Pada saat itu, Lai Seng yang baru saja harus melayani isterinya memasuki ruangan.

"Jahanam keparat!"

Gadis itu menyerangnya dengan pedang, serangannya di lakukan dengan penuh kebencian dan sakit hati.

Akan tetapi, Lai Seng menangkis dengan sulingnya membuat pedang itu terpental.

Akan tetapi diapun kaget setengah mati ketika melihat gadis yang semalam telah menjadi korban keganasannya.

Gadis itu memang cantik dan ramping seperti Ji Goat, akan tetapi sama sekali bukan Ji Goat!.

"Kau... kau siapakah, nona? "tanyanya, penuh keheranan dan kekecewaan karena ternyata yang diperkosanya semalam sama sekali bukan Ji Goat melainkan gadis lain. Walaupun dia tidak merasa menyesal karena gadis ini cantik juga, namun semua usahanya untuk menguasai Ji Goat menjadi sia-sia. Gadis itu adalah Kwee Sun Nio, murid Im Yang Tokouw ketua Thian-li-pang.

"Dan engkau siapa? Engkau jahanam busuk, apa yang telah kau lakukan terhadap diriku?"

Sun Nio menangis.

Tadi ketika pemuda itu menangkis dengan suling peraknya, dara ini merasakan betapa besar tenaga pemuda itu dan baru sekarang ia melihat bahwa pemuda itu adalah seorang pemuda yang tampan dan gagah.

Akan tetapi, begitu melihat bahwa gadis itu bukan Ji Goat, Lai Seng yang cerdik sudah mendapat akal untuk membersihkan diri.

"Ah, apa yang kau maksudkan, nona? Aku baru saja lewat di sini dan tadi aku melihat pemimpin para pengemis itu meninggalkan tempat ini dengan tergesa-gesa. Aku lalu masuk dan tahu-tahu engkau menyerangku! Aku tidak mengenalmu dan baru sekarang melihatmu, maka apa yang telah ku lakukan terhadap dirimu, nona?". Sun Nio terbelalak dan menjadi bimbang. Sudah jelas, ia telah di perkosa orang, akan tetapi ia tidak tahu siapa pelakunya, karena ketika di perkosa ia berada dalam keadaan tidak sadar atau setengah pingsan. Ia hanya teringat bahwa ada laki-laki menggaulinya, akan tetapi tidak tahu siapa.

"Pemimpin para pengemis? Benarkah engkau melihat dia meninggalkan tempat ini?".

"Benar, baru saja aku melihatnya dia melompat dari sini. Aku hendak menegurnya akan tetapi dia melompat jauh dan pergi. Orang itu memang lihai sekali, dan jahat. Yang nona katakana melakukan sesuatu, tentulah orang itu, bukan aku!". Kini jelaslah bagi Sun Nio. Ia telah salah sangka. Bukan pemuda tampan bersuling ini yang memperkosanya, melainkan pemimpin para pengemis!.

"Siapa namanya dan dimana aku dapat menemukan orang itu?"

Tanyanya sambil menahan kemarahannya dan dengan sepasang mata yang berlinang air mata.

"Nanti dulu, nona. Aku lebih dulu ingin mengetahui siapakah nona? Aku sendiri bernama Lai Seng, seorang panglima kerajaan yang sedang mengadakan perjalanan ke daerah ini. Siapa nona, dan mengapa pula berada di sini seorang diri?". Sun Nio menjadi tidak sabar, akan tetapi karena ia membutuhkan keterangan tentang pemerkosanya dari orang ini, terpaksa ia menjawab.

"namaku Kwee Sun Nio dan aku adalah seorang murid Thian-li-pang. Lai-ciangkun, harap kau katakana, siapa pemimpin pengemis itu dan dimana aku dapat menemukannya."

"Ah, dia seorang yang bernama Yang Cien, pemimpin para pengemis Hek I Kaipang."

"Dimana dia?".

"Aku tidak tahu, nona. Hek I Kaipang adalah perkumpulan pengemis liar yang berkeliaran di daerah ini. Nona, engkau membutuhkan bantuan untuk menghadapi Yang Cien dan Hek I Kaipang. Bukankah Thian-li-pang merupakan perkumpulan besar? Laporkan saja kepada ketua Thian-li-pang kalau Yang Cien melakukan sesuatu yang tidak baik, dan dengan kekuatan Thian-li-pang maka barulah engkau akan dapat menghadapi Hek I Kaipang. Akan tetapi, apakah yang telah di lakukan Yang Cien terhadap dirimu, nona?". Wajah Sun Nio berubah merah sekali.

"Tidak ada hubungannya denganmu, ciangkun. Terima kasih atas keteranganmu dan selamat tinggal, aku akan mencari Yang Cien!"

Berkata demikian Sun Nio lalu melompat pergi dari tempat itu, menghilang dalam keremangan fajar. Lai Seng tersenyum dan muncullah isterinya dari balik kuil itu.

"Apa yang terjadi? Nona itu bukan Ji Goat yang kau maksudkan?". Lai Seng menghela napas panjang.

"Ahhh, anak buahmu telah salah sangka. Gadis itu sama sekali bukan Ji Goat, melainkan murid Thian-li-pang!".

"Ahhh....! Kenapa engkau tidak mengetahuinya semalam?".

"Bagaimana aku bisa tahu? Keadaannya gelap, mana dapat membedakan antara ia dengan Ji Goat yang juga belum pernah aku mendekatinya?".

"Celaka, kita mendapatkan musuh baru, dan Thian-li-pang tidak boleh di buat main-main!"

Seru Kwi Hwa.

"Jangan khawatir. Aku telah mengalihkan permusuhan mereka itu kepada musuh kita, kepada Hek I Kaipang. Aku membuat ia menduga bahwa yang memperkosanya adalah Yang Cien, sahabat para pimpinan Hek I Kaipang."

"Dan ia percaya?".

"Tentu saja. Dalam keadaan setengah sadar itu, mana ia mengenal siapa yang telah melakukannya? Ia marah dan kini sudah pergi mencari orang yang bernama Yang Cien. Kita bahkan untung, dapat mengadu domba antara Thian-li-pang dan Hek I Kaipang."

"Bagus sekali. Engkau memang pandai, suamiku! Padahal, Thian-li-pang juga perkumpulan yang terkenal keras dan bersikap tidak bersahabat terhadap pemerintah, sama dengan Hek I Kaipang."

"Benar, dan kalau kita dapat mengadu domba di antara mereka, itu merupakan keuntungan besar bagi pemerintah."

Suami isteri ini lalu meninggalkan tempat itu dengan hati senang dan terutama sekali Lai Seng tidak jadi kecewa.

Pertama, dia telah bersenang-senang semalam, kedua, dia telah berhasil mengadu domba antara Hek I Kaipang dan Thian Li Pang.

Akauw terombang-ambing di dalam perahunya.

Dia merasa tidak berdaya dengan dayungnya karena ombak semakin membesar.

Sebetulnya, tukang-tukang perahu yang menjual sebuah perahu kecil kepadanya sudah mengatakan bahwa Pulau Naga tidak mudah di datangi dengan perahu kecil yang hanya di dayung karena seringkali di situ terjadi badai dan ombaknya besar.

Akan tetapi dengan semangat bernyala-nyala ingin mendapatkan kembali Hek-liong Po-kiam, Akauw yang pemberani itu tidak mundur.

Setelah tidak ada tukang perahu yang berani mengantarnya, bukan hanya takut badai akan tetapi juga takut karena di perairan itu terkenal adanya bajak laut yang ganas, Akauw lalu mendayung sendiri perahunya dengan penuh semangat Tenaganya besar dan perahunya meluncur cepat ke tengah samudera, ke arah Pulau Naga yang hanya nampak seperti titik hitam kecil dari pantai, di antara titik-titik hitam kecil lain.

Ternyata daerah itu merupakan gugusan pulau-pulau kecil dan satu di antaranya adalah Pulau Naga yang menjadi tempat tinggal Hek-liong-ong Poa Yok Su.

Kini, di serang badai dengan ombak-ombak besar, Akauw mulai merasa pening.

Biarpun dia memiliki tubuh yang kuat, akan tetapi dia tidak biasa dengan kehidupan di laut, maka begitu di serang badai, dia menjadi mabok laut dan merasa mual lalu muntah-muntah.

Kini dia tidak lagi dapat menguasai perahunya.

Padahal Pulau Naga sudah mulai kelihatan sebagai benda hitam yang besar,bukan lagi titik hitam.

Perahunya terbawa ombak dan dia tidak lagi dapat mengarahkan perahunya ke Pulau Naga.

Dayungnya sama sekali tidak ada artinya lagi dalam menghadapi gelombang dan terpaksa dia membiarkan perahunya di bawa ombak.

Dia merasa betapa dirinya kecil sekali, kecil tidak ada artinya di tengan gelombang lautan yang dahsyat itu.

Segala macam kepandaian, kekuatan dan pengetahuannya seolah lenyap di telan gelombang dan dia menjadi seorang mahluk yang tidak berdaya dan hanya dapat menyerahkan nasibnya ke Tangan Yang Maha Kuasa, yang menciptakan gelombang lautan itu.

Dalam keadaan setengah pingsan karena mabok laut, akhirnya perahu yang di tumpanginya dilemparkan ombak dan terdampar ke sebuah pulau!

Akauw berusaha keluar sebelum perahunya di sambar dan di seret ombak lagi.

Dia berjalan terhuyung-huyung di atas pasir danakhirnya dengan lemas dia jatuh dan rebah miring dalam keadaan pingsan di atas pasir yang panas.

Dia tidak sadar ketika banyak tangan yang berkulit putih halus namun berotot kuat mengangkatnya dan menggotongnya pergi dari pantai menuju ke pedalaman pulau.

Ketika Akauw siumanan, dia mendapat dirinya berada dalam sebuah ruangan yang penuh wanita.

Wanita-wanita itu berusia antara dua puluh sampai empatpuluh tahun, rata-rata bertubuh kuat dan berpakaian seperti wanita kangouw dan diantara mereka terdapat juga yang berwajah manis.

Dan yang duduk di dipan, dan agaknya sedang merawatnya adalah seorang wanita berusia kurang lebih limapuluh tahun, memegang sebuah mangkok berisi air yang berbau sedap obat.

"Minumlah ini, orang muda, engkau akan sehat kembali,"

Kata wanita itu dengan lembut.

Karena dapat menduga bahwa wanita tua itu menolongnya, Akauw tidak membantah.

Dia bangkit duduk dan baru dia mengetahui bahwa tubuhnya telah memakai pakaian kering, bukan pakaiannya sendiri.

Dia bergidik.

Siapa yang telah menggantikan pakaiannya?

Perempuan-perempuan itu?

Dan heran dia mengapa di antara hamper dua puluh orang wanita itu dia tidak melihat seorangpun pria.

Dia minum cairan obat itu lalu bertanya.

"Bibi, aku berada dimana dan siapakah kalian?".

"Orang muda yang gagah, engkau berada di Pulau Hiu dan kami semua adalah anak buah dari siocia".

"Siaocia adalah yang memimpin kami di Pulau Hiu ini, Engkau akan melihatnya sendiri nanti.

"Keluar dari ruangan ini, semuanya!"

Terdengar bentakan halus dan para wanita itu sambil terkekeh genit meninggalkan ruangan itu, hanya tinggal wanita setengah tua yang merawat Akauw saja yang tinggal dan wanita inipun cepat-cepat bangkit berdiri ketika semua wanita sudah keluar dan ada seorang wanita muda memasuki ruangan itu.

Begitu ia masuk, tercium bau yang harum sekali dan Akauw segera membalikkan tubuh untuk memandangnya.

Dan dia ternganga heran.

Wanita itu sungguh tidak pantas berada di tengah-tengah para wanita yang kasar tadi.

Wanita ini masih muda, paling banyak dua puluh satu tahun usianya, dan wajahnya cantik jelita, pakaiannya indah dan tidak nampak berotot seperti para wanita tadi, akan tetapi sepasang matanya mengeluarkan sinar mencorong dan di situlah terletak kewibawaannya dan menunjukkan bahwa ia bukan seorang biasa dan patut menjadi pemimpin.

"Bagaimana keadaanya, bibi?"

Tanya wanita itu, suaranya lembut namun di balik kelembutan itu terdapat ketegasan sikap yang membaja.

"Keadaannya sudah baik, Siocia."

"Kalau begitu, engkau keluarlah, bibi dan tinggalkan kami".

"Baik, siocia,"

Wanita setengah tua itu lalu pergi dari ruangan itu dan suasana menjadi sunyi.

Agaknya para wanita tadi tidak ada yang berani mendekati ruangan itu setelah di suruh pergi, dan ini menunjukkan pula betapa besar wibawa gadis ini.

Mereka saling pandang dan Akauw melihat sinar kagum terpancar dari sepasang mata yang indah tajam itu.

"Siapa namamu?"

Tanya wanita itu, nada suaranya adalah nada orang yang biasa memerintah dan menuntut keterangan.

"Namaku Cian Kauw Cu,"

Jawab Akauw dengan tegas pula.

Dia sudah sembuh dan tidak pusing lagi, hanya perutnya terasa amat lapar.

Dia melihat bahwa buntalan pakaiannya, yang juga ada sekantung emasnya, berada di situ pula, di atas meja.

"Darimana engkau datang?".

"Dari pantai seberang sana."

"Hendak kemana?"

Akauw merasa seperti seorang pesakitan menghadapi hakim, akan tetapi pertanyaan itu dijawabnya juga.

"Aku hendak pergi ke Pulau Naga."

Wanita itu mengerutkan alisnya.

"Mau apa ke Pulau Naga?"

"Mau mencari Hek-liong-ong."

Kerut di alis itu makin mendalam.

"Apa? Engkau mencari Hek-liong-ong? Mau apa mencarinya?".

"Mau minta kembali pedangku yang di rampasnya dariku."

Kini sepasang mata itu memandangnya dengan mencorong penuh selidik.

"Hek-liong-ong merampas pedangmu dan kini engkau hendak menemuinya untuk minta kembali pedangmu itu?".

"Benar."

"Kalau dia tidak mau mengembalikan?"

"Akan ku paksa dia mengembalikan pedangku."

"Kau berani melawannya?"

"Kenapa mesti takut? Aku tidak bersalah."

Kini gadis itu terbelalak dan matanya yang mencorong itu memandangi Akauw dari kepala sampai kaki.

"Hendak ku lihat sampai dimana kepandaianmu maka engkau berani hendak melawan Hek-liong-ong!". Berkata demikian, tiba-tiba gadis cantik itu sudah menyerang Akauw dengan sebuah tamparan kilat yang kuat sekali sehingga mengeluarkan angina pukulan besiutan. Akauw tidak terkejut dan dia sudah mengelak sambil melangkah mundur. Ketika gadis itu mengejar dan menyerangnya lagi, diapun menangkis sambil mengerahkan tenaganya.

"Duukkk!"

Keduanya terdorong ke belakang oleh beradunya kedua lengan itu.

Gadis itu mengeluarkan seruan heran dan kini dengan cepat sekali ia mengirim serangan bertubi-tubi.

Akauw dapat menangkap pergelangan tangan kanan gadisi itu.

"Tahan! Aku tidak ingin berkelahi dengan orang yang telah menyelamatkan aku dari air laut."

"Siapa berkelahi? Aku ingin mengujimu!"

Kata gadis itu dan tangan kirinya menyambar kearah dada Akauw yang terpaksa melepaskan pegangannya dan kembali mereka sudah saling serang karena kini Akauw juga membalas serangan gadis itu.

Dia dapat merasakan bahwa gadis itu lihai sekali, maka diapun harus mengeluarkan kepandaiannya.

Kalau gadis itu hendak mengujinya, dia harus tidak sampai kalah.

Kegesitan gadis itu mengingatkan dia akan Ji Goat, gadis yang di cintainya.

Diapun tidak tega untuk melukai, maka dalam pertandingan itu, dia lebih banyak mengalah.

Betapapun juga, karena makin lama serangan gadis itu semakin berbahaya, Akauw lalu mengeluarkan jurus-jurus yang dipelajarinya dari dalam gua, yang dia tidak tahu adalah Bu-tek Cin-keng.

Dan benar saja, begitu dia mainkan ilmu ini, gadis itu terdesak hebat dan akhirnya meloncat ke belakang karena hamper saja pundaknya terkena tamparan tangan yang kuat dan besar dari Akauw.

"Tahan!"

Katanya sambil memandang kagum.

"Maaf, nona. Ilmu kepandaianmu hebat, membuat aku kagum."

"Cian Kauw Cu, ilmu silatmu tangguh, akan tetapi ku kira masih tidak akan dapat menandingi ilmu silat dari guruku."

"Gurumu?".

"Ya, Guruku adalah Hek-liong-ong Poa Yok Su."

"Ahhh...""!! "Akauw terkejut dan menjadi curiga dan waspada.

"Akan tetapi kalau kita berdua menghadapinya, kurasa kita akan mampu mengalahkannya. Apalagi kita bersenjata."

"Eehh! Engkau mengaku muridnya dan sekarang hendak menghadapinya sebagai musuh? Apa artinya ini, nona?".

"Duduklah, dan aku akan memberi keterangan sejelasnya."

Mereka duduk menghadapi meja dan gadis itu bertepuk tangan memanggil anak buahnya. Dua orang anak buahnya masuk dan ia memerintahkan untuk mengambilkan minuman.

"Ambilkan arak yang baik,"

Katanya kepada dua orang perempuan yang menjadi anak buahnya itu.

"Jangan, nona. Aku tidak pernah minum arak,"

Kata Akauw cepat.

"Ah, kalau begitu ambilkan air the untuk kami."

Setelah anak buah itu datang mengantarkan the dan di suruh pergi lagi, gadis itu lalu mulai bercerita.

"Namaku Cia Bi Kiok dan sejak kecil aku telah menjadi murid Hek-liong-ong. Aku telah tidak mempunyai orang tua lagi, maka guruku itu juga sebagai pengganti orang tuaku. Tadinya aku tinggal di Pulau Naga bersama suhu, akan tetapi dua tahun yang lalu, ketika isteri suhu meninggal dunia, suhu hendak mengambil aku sebagai pengganti isterinya."

"Hemmm....

"Akauw terkejut akan tetapi tidak berkata apa-apa."

Aku tidak mau karena dia sudah ku anggap sebagai ayahku sendiri.

Dia marah-marah dan aku di usirnya.

Aku melarikan diri ke pulau ini dan membentuk kelompok yang terdiri dari wanita semua, ku latih ilmu silat dan aku menjadi bajak laut di sini."

"Ahhhh.....!"

"Tidak perlu terkejut dan heran. Kalau tidak menjadi bajak laut, habis kami sebanyak lima puluh orang wanita mau bekerja apa? Pulau ini gersang, tidak dapat di tanami apapun untuk menjadi nelayan, kami kurang keahlian. Juga, aku perlu dengan kekuatan para anak buahku untuk menahan serangan yang kadang dilakukan oleh suhu ke sini."

"Hek-liong-ong menyerang ke sini?".

"Ya, kadang dia masih penasaran dan hendak memaksa aku untuk menjadi isterinya. Akan tetapi kalau dia datang, dia menghadapi kami lima puluh orang dengan anak panah kami dapat mengusirnya sebelum dia sempat mendarat."

"Lalu sekarang engkau hendak mengajak aku untuk mengeroyoknya, mengeroyok suhumu sendiri?".

"Benar. Dan lebih dari itu, Cian Kauw Cu, aku juga telah memutuskan untuk mengambil engkau menjadi suamiku!".

"Hahhh....? Akauw merasa heran bukan main. Mana ada wanita menentukan pilihannya atas diri seorang suami? "Tidak perlu heran, Cian Kauw Cu. Untuk menolak kehendak suhu agar tidak melanjutkan paksaannya, terpaksa aku harus mendapatkan seorang suami yang cocok. Kalau engkau sudah menjadi suamiku, suhu tentu tidak akan memaksaku lagi dan andaikata dia masih hendak memaksaku lagi, kita berdua dapat melawannya dan mengalahkannya. Sudah banyak pemuda yang ingin menikah denganku, akan tetapi aku tidak merasa cocok dan baru sekarang aku bertemu denganmu. Cian Kauw Cu, maukah engkau menjadi suamiku? Kau akan menjadi raja di pulau ini dan kita dapat berbahagia di sini."

"Kalau aku tidak mau?".

"Hemmm, hanya laki-laki gila yang menolak untuk menjadi suamiku dan engkau akan menjadi tawanan kami. Mungkin kami kelak akan membunuhmu."

Suara yang tadinya lembut itu kini berubah menjadi suara yang mendesis mengandung ancaman yang mengerikan.

Akauw dapat merasakan bahwa di balik kelembutan ini tersembunyi watak yang kejam.

Pantas kalau gadis ini menjadi anak asuhan dan murid seorang datuk sesat!.

"Bagaimana, Cian Kauw Cu? Engkau memilih menjadi raja di pulau ini atau menjadi tawanan yang akan mati konyol?".

"Nona Cia Bi Kiok, urusan perjodohan adalah urusan penting, hanya satu kali seumur hidup. Karena itu harap jangan mendesakku untuk terburu-buru. Berilah aku waktu untuk memikirkannya."

"Baik, akan ku beri waktu sehari semalam untukmu. Besok pagi engkau sudah harus dapat memberi jawaban yang pasti,"

Setelah berkata demikian, Cia Bi Kiok kembali bertepuk tangan. Sekali ini ia bertepuk tangan tiga kali dan yang muncul adalah wanita yang tadi merawat Akauw bersama tujuh orang anak buah yang lain.

"Jaga dia di sini, jangan sampai dia melarikan diri. Kalau dia pergi, pukul tanda bahaya,"

Pesan pemimpin bajak laut wanita itu dan ia lalu pergi meninggalkan ruangan itu.

Akauw lalu pergi berbaring lagi di pembaringan yang tadi dan dia tidak memperdulikan delapan orang wanita yang berjaga-jaga di situ.

Otaknya bekerja keras.

Jelas dia tidak mau menjadi suami gadis tadi.

Biarpun cantik dan kadang dapat bersikap lembut, namun gadis itu sebenarnya memiliki watak yang keji.

Tiba-tiba dia mendengar suara rebut-ribut diluar.

"Ada kejadian apakah?"

Tanyanya kepada wanita yang tadi merawatnya.

"Ah, tidak apa-apa, hanya memberi hukuman kepada para pelaut yang tertawan karena melakukan perlawanan ketika di bajak,"

Kata wanita setengah tua itu, suaranya biasa saja seolah yang di ceritakan itu soal kecil yang sudah seringkali terjadi di situ.

"Apa yang dilakukan terhadap mereka?"

Tanyanya lagi.

"Engkau hendak menonton? Mari kami antar,"

Kata wanita setengah tua itu dengan tenang.

Akauw mengangguk dan diapun di antar keluar oleh delapan orang wanita itu.

Di luar Akauw melihat empat orang laki-laki di belenggu tangannya ke belakang dan mereka di giring oleh belasan orang anggota bajak laut wanita itu menuju ke bukit karang.

Karena ingin tahu dia lalu mengikuti dari belakang, dan tetap di kawal oleh delapan orang wanita itu.

Mereka telah tiba di tepi bukit karang, di tebing yang terjal.

Setelah tiba di sana, para wanita itu lalu membabat tali yang membelenggu tangan ke empat orang itu dengan golok sehingga tali-tali itu putus dan tangan mereka bebas.

Akan tetapi setelah itu mereka lalu mendorong ke bawah tebing.

"Nah, pergilah kalian berempat. Kalian bebas!"

Dan para wanita itu tertawa-tawa.

Segera terdengar jerit-jerit memilukan dari bawah tebing.

Akauw ingin tahu dan menjenguk ke bawah.

Dia melihat pemandangan yang mengerikan sekali.

Empat orang itu dikeroyok oleh ikan-ikan hiu sebesar paha orang dan betapapun mereka meronta dan hendak berenang menjauh, tetap saja mereka terkejar dan segera mereka menjadi rebutan.

Air menjadi merah dan teriakan-teriakan itupun lenyap, berikut tubuh mereka yang di tarik ke bawah oleh ikan-ikan liar itu.

Kiranya itulah sebabnya maka pulau ini dinamakan Pulau Hiu, karena banyak hiu nya itulah.

Akauw bergidik.

Akan tetapi diapun melihat hal yang menarik.

Tebing itu di tumbuhi pohon yang akarnya nampak menonjol di antara tebing karang.

Biarpun bagi orang lain tebing ini tidak mungkin di panjat, akan tetapi bagi dia yang sudah biasa dengan panjat memanjat, tebing itu akan dapat dia turuni tanpa mengandung bahaya terlalu besar.

Kalau dia dapat melarikan diri dari tebing ini, tentu mereka akan dapat mengejar dan mengira dia mati pula.

Malam itu gelap, namun udara bersih, langit biru dan nampak jutaan bintang yang memberi sinar remang-remang.

Akauw memandang ke arah delapan orang wanita yang melakukan penjagaan dengan ketat.

Dia baru saja di beri makan dan tubuhnya terasa kuat dan sehat.

Inilah saatnya untuk melarikan diri, pikirnya.

Dia bangkit berdiri dan delapan orang wanita itu ikut pula berdiri.

"Jangan mencoba untuk melarikan diri,"

Kata wanita setengah tua itu.

"Engkau tidak akan dapat lolos dari pulau ini dan kalau siocia mendengar engkau melarikan diri, tentu siocia akan marah sekali dan mungkin engkau akan di jatuhi hukuman seperti yang dilakukan kepada empat orang laki-laki tadi."

"Apa kesalahan empat orang tadi,"

Tanyanya.

"Kami membajak sebuah perahu dan mereka berempat melakukan perlawanan, maka kami tawan dan bawa ke pulau ini. Adapun yang lain, yang tidak melawan, kami biarkan pergi berlayar."

"Apakah Siocia tidak minta mereka menjadi suaminya?". Wanita setengah tua itu bangkit dan marah sekali.

"Tutup mulutmu! Kau kira siocia itu orang apa? Siocia hanya mau menikah dengan laki-laki yang gagah perkasa, bukan dengan sembarangan lelaki seperti mereka tadi!".

"Maaf....!"

Kata Akauw dan tiba-tiba saja dia menyerang wanita setengah tua itu.

Sekali tampar saja wanita yang tidak pernah menyangka itu terpelanting.

Akauw melanjutkan serangannya dan tujuh orang wanita itupun semua terpelanting roboh dan dia cepat melarikan diri keluar dari ruangan itu.

Para wanita itu bangkit, ada yang mengejar dan ada yang memukul tanda bahaya sehingga sebentar saja di Pulau itu terjadi kesibukan yang hebat.

Semua anggotanya yang berjumlah lima puluh orang itu berlarian keluar.

Cia Bi Kiok juga sudah keluar membawa pedangnya dan ketika mendengar bahwa tawanan nya lari iapun ikut pula mengejar.

Akauw sudah lebih dulu tiba di tebing dan cepat dia merayap ke bawah.

Hanya berpegang pada akar dan batu menonjol, di dalam kegelapan malam itu.

Akan tetapi jari-jari tangannya sudah terlatih, bahkan jari-jari tangan itu seperti dapat melihat saja.

Dia merayap dengan cepatnya sehingga ketika para pengejarnya tiba di tepi tebing, dia sudah merayap sampai ke bawah dan dekat dengan air, tidak nampak lagi dari atas.

"Dia sudah hilang."

"Akan tetapi tadi jelas dia berdiri di sini."

"Akan tetapi tidak terdengar teriakannya."

"Dia tentu sudah dimakan ikan hiu."

"Tapi mana teriakannya? Tak mungkin disambar hiu tidak menjerit."

Cia Bi Kiok berkata.

"Sudahlah, jangan rebut. Dia memang bukan orang biasa. Agaknya pantang baginya untuk menjerit-jerit. Dia seorang laki-laki sejati. Sayang dia harus mati seperti itu."

Akan tetapi Bi Kiok memerintahkan anak buahnya untuk mencari-cari di lain tempat malam itu dan ia sendiri lalu kembali ke tempat tinggalnya dengan hati kecewa.

Sebetulnya, ia suka sekali kepada Cian Kauw Cu yang di anggapnya seorang laki-laki sejati, yang memiliki ilmu kepandaian tinggi pula.

Dengan suami seperti itu, ia tidak takut lagi menghadapi gurunya dan ia akan dapat melang melintang sebagai bajak laut di perairan itu, di sepanjang gugusan pulau-pulau itu sampai ke daratan.

Akauw bergantung pada akar pohon sampai menjelang pagi.

Setelah itu, dengan merayap dia dapat keluar dari tebing itu melalui jalan samping dan dari jauh melihat banyak perahu yang di tinggalkan.

Dengan hati-hati, dalam kegelapan fajar, dia menghampiri sebuah perahu dan menariknya ke air lalu mendayungnya.

Para wanita itu tidak ada yang mengira bahwa buronan mereka masih hidup, apalagi dapat mencuri perahu maka tidak ada yang mencari ke situ.

Setelah matahari naik tinggi, Akauw sudah jauh meninggalkan pulau itu dan tak seorangpun di antara wanita itu yang tahu, bahkan tidak ada yang merasa kehilangan perahu karena banyak nya perahu kecil di situ.

Kelak, kalau pemiliknya akan menggunakan perahunya, mungkin baru akan ketahuan bahwa perahu itu lenyap.

Dari bentuk pulaunya, Akauw dapat mengetahui bahwa yang kini di hampiri perahunya adalah Pulau Naga.

Bentuk pulau itu memanjang dan di bagian kiri seperti bentuk kepala naga atau kepala raksasa sedangkan ekornya memanjang dan makin mengecil.

Nampaknya pulai itu kosong karena setelah perahunya mendekat dan menempel di daratan, tidak nampak seorangpun manusia.

Akauw merasa heran.

Kelirukah dia?

Apakah dia terdampar di pulau yang lain lagi?

Nampaknya pulau ini tidak berpenghuni.

Akan tetapi baru saja mengikatkan perahunya dan melangkah belum ada seratus langkah, tiba-tiba bermunculan belasan orang dari balik semak belukar dan pohon-pohon.

Pulau ini tidak gersang seperti Pulau Hiu, terdapat banyak tanaman yang bukan liar, melainikan di tanam orang.

Melihat mereka bermunculan itu, Akauw segera berhenti melangkah dan waspada, siap menghadapi segala kemungkinan.

Akan tetapi, orang-orang itu tidak mengepung dan mengeroyoknya.

Seorang yang usianya sudah mendekati lima puluh tahun, melangkah maju dan menegurnya.

"Orang muda, siapakah engkau? Ketahuilah bahwa tanpa ijin orang luar tidak boleh memasuki pulau kami ini,. Hayo cepat mengaku engkau siapa dan apa keperluanmu ke sini, atau cepat engkau tinggalkan pulau kami ini!".

"Sobat, apakah ini yang namanya Pulau Naga?"

Akauw bertanya.

"Benar, ini adalah Pulau Naga, pulau kami!".

"Dan apakah benar bahwa Hek-liong-ong tinggal di pulau ini?". Mereka nampak mengerutkan alis mereka.

"Beliau adalah Majikan pulau ini, pemimpin kami!".

"Bagus sekali kalau begitu. Aku bernama Cian Kauw Cu dan aku sengaja datang ke pulau ini untuk mencari Hek-liong-ong karena aku mempunyai urusan yang penting sekali dengan dia."

"Kalau begitu, mari kami hadapkan engkau kepada majikan kami!"

Kata orang setengah tua itu dan Akauw lalu di giring oleh mereka menuju ke tengah pulau dimana terdapat semacam perkampungan dari beberapa puluh rumah yang kokoh.

Agaknya Hek-liong-ong juga mempunyai anak buah seperti halnya Cia Bi Kiok, ketua Pulau Hiu itu.

Akan tetapi anak buahnya tidak sebanyak anak buah Pulau Hiu, karena Akauw hanya melihat belasan orang itu saja dan ketika mereka tiba di perkampungan, dia melihat banyak wanita dan kanak-kanak, tentu keluarga dari para anggota gerombolan di Pulau Naga itu.

Hek-liong-ong, kakek raksasa hitam berusia enam puluh tahun itu tertawa bergelak dan juga terheran-heran melihat munculnya Akauw.

Tadinya dia hamper lupa siapa pemuda yang menghadapnya itu.

Baru dia teringat ketika Akauw mengaku siapa dirinya.

"Aku bernama Cian Kauw Cu dan aku datang untuk minta kembali Hek-liong Po-kiam yang dahulu kau rampas dari tanganku!"

Ucapan pemuda itu dikeluarkan dengan nada berani sekali, sedikitpun tidak nampak keraguan pada pandang mata itu.

Hek-liong-ong adalah seorang datuk sesat yang menghargai kegagahan, maka sikap Akauw ini sungguh menimbulkan kekaguman di dalam hatinya.

Dia tertawa bergelak.

"Ha-ha-ha, orang muda. Engkau datang untuk minta kembali pedangmu? Aku telah merampas pedang itu dengan kepandaian, apakah engkau juga hendak memintanya kembali mengandalkan kepandaianmu dan berani melawan aku?".

"Hek-liong-ong, pedang itu adalah pedangku. Karena dasar itulah aku datang memintanya kembali, karena pedang itu sudah menjadi hakku. Sungguh bukan merupakan perbuatan gagah darimu kalau engkau merampas benda yang menjadi hakku. Karena itu, kembalikan pedangku. Kalau engkau menghendaki aku mengambilnya dengan kepandaian, baik, akan ku lakukan itu!".

"Ha-ha-ha, orang muda, kepandaianmu masih terlalu jauh untuk dapat mengalahkan aku. Melawanku berarti mencari kematian. Apakah engkau tidak sayang kepada nyawamu?".

"Untuk mempertahankan apa yang menjadi hakku, aku tidak takut mati, Hek-liong-ong. Lebih baik mati dengan gagah daripada hidup sebagai pengecut!"

Ucapan terakhir ini merupakan pelajaran yang diterimanya dari suhengnya!.

"Ha-ha-ha, belum pernah aku bertemu dengan orang senekat engkau. Engkau menggunakan perahu kecil untuk mencari aku di sini, itu sudah luar biasa. Dan engkau menantangku untuk mengadu kepandaian memperebutkan pedang, itu lebih luar biasa lagi. Engkau memiliki nyali naga! Kauw Cu, beranikah engkau menghadapi pengeroyokan lima belas orang pembantuku?".

"Sudah kukatakan, Hek-liong-ong, untuk mendapatkan kembali pedang yang menjadi hakku itu, aku tidak akan mundur melawan siapapun juga, termasuk pengeroyokan anak buahmu!".

"Ha-ha-ha, jangan tekebur, anak muda. Aku hendak menyuruh anak buahku yang lima belas orang mengeroyokmu untuk mengujinya, karena kalau aku yang maju, engkau bukanlah tandinganku. Nah, keluarkan senjatamu menghadapi pengeroyokan lima belas orang anak buahku!". Akauw memperlihatkan dua tangan dan dua kakinya.

"Karena pedangku sudah kau rampas, maka senjataku tinggal kaki dan tangan inilah. Orang-orangmu boleh maju, aku tidak takut!". Hek-liong-ong menjadi semakin kagum. Dia sendiri seorang pemberani, namun agaknya dia kalah nekat dibandingkan pemuda yang tinggi besar ini. Dia lalu berseru kepada lima belas orang pembantunya atau anak buahnya.

"Kalian keroyok pemuda ini, akan tetapi karena dia bertangan kosong, kalian juga harus bertangan kosong. Robohkan dia dengan cara apa saja, asal tidak dengan senjata."

Lima belas orang itu tentu saja memandang ringan seorang pemuda seperti Akauw.

Mereka adalah lima belas orang anak buah Pulau Naga yang sudah menerima latihan ilmu silat dari majikan mereka, rata-rata memiliki ketangguhan.

Kini, mereka yang berjumlah lima belas orang di suruh mengeroyok seorang pemuda yang masih hijau?

Akan tetapi karena itu merupakan perintah, mereka tidak berani membantah walaupun dalam hati merasa enggan untuk mengeroyok seorang pemuda karena perbuatan ini mereka anggap tidak gagah dan memalukan.

Kini mereka maju mengepung Akauw dalam ruangan yang luas itu.

Sikap mereka seperti sekumpulan orang hendak menangkap seekor ayam yang terlepas, dengan kedua tangan di buka dan di kembangkan di depan tubuh mereka, tubuh agak membungkuk.

Mereka agaknya hendak meringkus pemuda itu agar tidak berdaya lagi.

Akauw juga sudah siap-siaga.

Dia berdiri biasa saja, namun seluruh urat syarafnya siap menegang.

Bukan saja matanya yang waspada, juga pendengarannya karena dia di kepung dari depan belakang, kanan dan kiri.

Tiba-tiba dua orang menubruk dari belakang untuk meringkusnya, akan tetapi dengan sigapnya, dengan gerakan yang cepat seperti gerakan seekor kera, dia cepat menyelinap ke kiri dan tubrukan itu mengenai tempat kosong.

Dari sebelah kiri dia di sambut dengan sebuah tamparan dan sebuah tendangan yang bermaksud merobohkannya.

Akan tetapi kembali tubuhnya bergerak dan dua serangan itupun luput.

Kini, para pengeroyok itu menyadari bahwa pemuda ini memiliki gerakan yang cepat sekali.

Mereka lalu menubruk bersama-sama dalam waktu yang hamper berbareng sehingga agaknya tidak ada lagi jalan keluar bagi Akauw.

Akan tetapi, tiba-tiba tubuh Akauw meluncur ke atas, dengan cepatnya dan ketika dia membalik, tubuhnya sudah menukik, dua tangannya bergerak dan dua orang pengeroyok terpelanting!.

Para pengeroyok mulai penasaran dan marah.

Kini mereka semua menyerang dengan pukulan, bukan lagi hanya sekedar ingin meringkus melainkan ingin merobohkan pemuda yang bandel ini.

Akan tetapi, kini Akauw melayaninya, menangkis dan balas memukul.

Dia menerima beberapa kali pukulan, namun tubuhnya yang kuat dank eras itu agaknya tidak merasakan nya, sebaliknya setiap kali pukulan atau tamparannya mengenai tubuh lawan, lawan itu pasti terpelanting keras!

Akauw mengamuk, menggunakan ilmu silat monyet yang membuat tubuhnya berloncatan ke sana kemari dan kalau ada yang mengejarnya, maka pengejar itu dirobohkan dengan tendangan atau tamparan.

Dalawn waktu tidak lama, lima belas orang itu sudah jatuh bangun!

Tidak ada seorangpun yang tidak kebagian tamparan atau tendangan kaki Akauw.

Melihat amukan pemuda itu, Hek-liong-ong mengelus jenggotnya yang pendek.

Dia semakin kagum dan mengangguk-anggukkan kepalanya.

"Cukup!"

Teriaknya melihat anak buahnya jatuh bangun di hajar oleh Akauw.

Para anak buahnya berhenti menyerang dan mereka merasa malu karena dengan lima belas orang mereka tidak mampu mengalahkan pemuda itu.

Hek-liong-ong memberi isyarat kepada mereka semua untuk keluar dari ruangan itu dan kini tinggal dia dan Akauw sendiri yang tinggal.

"Kauw Cu, aku melihat engkau memang gagah perkasa dan berbakat baik sekali. Aku ingin mengambilmu sebagai murid, bagaimana pendapatmu?". Akauw mengerutkan alisnya.

"Hek lion gong, aku datang untuk minta kembali pedangku, bukan untuk menjadi muridmu. Kembalikan pedang itu kepadaku dan aku akan meninggalkan pulau ini."

"Hemmm, tidak semudah itu, orang muda. Engkau memang telah mengalahkan lima belas orang pembantuku. Akan tetapi itu hanya merupakan ujian pertama saja. Kau lihat, ini pedangmu Hek-liong Po-kiam. Apa kira-kira akan dapat merampasnya dari tangangku?"

Dia mengangkat pedang itu dengan sarungnya tinggi-tinggi di atas kepalanya.

"Ada dua jalan bagimu untuk dapat memperolehnya kembali. Pertama, engkau harus merampasnya dari tanganku, dan kedua, yang lebih mudah engkau harus menjadi muridku selama setahun. mana yang kau pilih?".

"Aku akan mencoba untuk merampasnya dari tanganmu, Hek-liong-ong!"

Kata Akauw dengan gagah.

"Bagus, engkau memang tidak pernah mau putus asa. Aku senang sekali melihat keberanian dan semangatmu yang besar. Nah, coba engkau rampas kembali pedang ini dari tanganku, Kauw Cu!". Raksasa hitam itu turun dari kursinya dan berdiri di depan Akauw sambil mengacungkan pedangnya ke arah Akauw. Akauw lalu menyambar dengan tangannya untuk merampas, akan tetapi pedang itu sudah di tarik kembali. Akauw meloncat dengan gerakan yang cepat sekali, kedua tangannya menyambar-nyambar untuk merampas pedang itu. Kemanapun pedang itu di elakkan, selalu di kejar oleh tangannya untuk merampasnya. Akan tetapi sebuah dorongan telapak tangan mengenai pundaknya, membuatnya terjengkang dan jatuh bergulingan. Akauw meloncat bangun dan sekali ini dia tidak hendak merampas begitu saja. Dia maklum bahwa dengan cara demikian dia tidak akan berhasil malah akan terkena pukulan yang amat kuat. Dia lalu mulai bersilat dengan Bu-tek Cin-keng dan menyerang raksasa hitam itu dengan pukulan kilat. Hek-liong-ong untuk kedua kalinya dibuat terkejut oleh serangan pemuda ini. Serangan itu demikian aneh gerakannya dan mendatangkan angina bersiutan. Dia mengelak dan membalas. Terjadilah serang menyerang antara mereka. Akan tetapi karena Akauw tidak memiliki tenaga sinking dari Bu-tek Cinkeng, maka serangannya itu tidak mengandung tenaga yang tepat sehingga selalu dapat tertangkis dan tak pernah dia berhasil merampas pedang. Bahkan berulang kali dia terkena hantaman tangan si raksasa hitam sehingga dia jatuh terjengkang dan terpelanting. Akan tetapi, setiap kali bangkit kembali dan menyerang dengan ganas. Melihat ini, kembali Hek-liong-ong merasa kagum dan senang. Bocah ini selain berbakat, juga memiliki semangat yang membaja. Dia memperkuat pukulannya dan membuat Akauw jatuh bangun dan babak belur. Akhirnya Akauw tidak mampu menyerang lagi, tubuhnya sakit-sakit dan lemas kehabisan tenaga. Namun, dia masih bangkit juga dan berdiri dengan lemas terengah-engah dan mandi keringat.

"Nah, kau lihat bahwa tidak mungkin engkau mendapatkan pedangmu kembali dengan kekerasan, Kauw Cu. Jadilah muridku dan engkau akan mendapatkan kembali pedangmu berikut ilmu pedang yang akan ku ajarkan kepadamu. Aku suka sekali mempunyai murid seperti engkau". Kini Akauw yakin bahwa sampai matipun tidak akan dapat merampas pedang dan jalan satu-satunya hanya suka menjadi murid. Dan pula, setelah bertanding, dia tahu bahwa kakek ini memang lihai luar biasa, maka kalau menjadi muridnya, dia tidak akan rugi. Mendapatkan kembali pedang berikut ilmu baru yang hebat!. Dia lalu menjatuhkan dirinya yang sudah lemas itu, berlutut dan memberi hormat."

Suhu.....!". Hek-liong-ong tertawa bergelak.

"Hua-ha-ha-ha, bagus, bagus sekali, muridku!"

Dan dia lalu berteriak-teriak memanggil semua anak buahnya. Ketika mereka berserabutan masuk, dia segera mengumumkan.

"Lihat baik-baik, Cian Kauw Cu ini mulai sekarang menjadi muridku. Kalian harus bersikap baik kepadanya, bahkan kalian dapat memperoleh latihan ilmu silat darinya."

Semua pembantu itu memandang dengan wajah berseri dan mereka kelihatan girang sekali.

Mereka sudah melihat betapa lihainya pemuda itu dan kalau pemuda itu mau melatih silat kepada mereka, tentu hal itu akan menguntungkan sekali.

Demikianlah, mulai hari itu Akauw tinggal di Pulau Naga dan dia menerima pelajaran ilmu pedang dari gurunya yang baru.

Hek-liong-ong sengaja merangkai ilmu pedang yang disesuaikan dengan pedang pusaka itu dan di beri nama ilmu pedang Hek-liong-kiam-sut.

Di ambil dari inti sari ilmu silatnya.

Di waktu senggang, Akauw juga melatih ilmu silat kepada para anak buah pulau Naga.

Selain berlatih ilmu silat, seringkali Hek-liong-ong mengajak muridnya bercakap-cakap.

Dia sudah mendengar akan riwayat Akauw yang aneh dan dia mendengar pula dari Akauw tentang Kerajaan penjajah yang membikin sengsara rakyat jelata.

"Tadinya akupun membantu Koksu sebagai seorang panglima, suhu. Akan tetapi aku melihat bahwa Koksu bukan manusia yang baik, dan kebanyakan pejabat adalah orang-orang yang menekan rakyat demi kepentingan diri pribadi. Kalau tidak ada orang-orang gagah yang bangkit melawan penjajah, ku kira rakyat akan semakin sengsara hidupnya."

"Hemm, maksudmu untuk memberontak terhadap pemerintah?".

"Suhu, pemerintah ini adalah pemerintah penjajah, maka memberontak terhadap penjajah adalah perjuangan untuk membebaskan rakyat dari kesengsaraaan. Suhu adalah seorang yang berkepandaian tinggi, kalau hanya tinggal di Pulau ini, tidak melakukan sesuatu, alangkah sayangnya. Coba andaikata suhu mau berjuang membela rakyat, nama suhu kelak akan di puja-puja dan di sanjung, biarpun suhu tidak berada di dunia ini lagi, suhu tetap akan di kenang sebagai seorang pahlawan!". Demikianlah, seringkali guru dan murid ini berbincang-bincang tentang keadaan Kerajaan Toba, tentang kesengsaraan rakyatnya, dan perlahan-lahan tanpa di sengaja, percakapan dengan Akauw itu mulai membakar semangat kepahlawanan dalam hati Hek-liong-ong. Dia merasa bahwa dirinya semakin tua dan bahwa selama ini dia tidak pernah melakukan sesuatu yang penting, sesuatu yang akan mengangkat namanya. Kalau saja dia dapat melakukan sesuatu yang hebat, sesuatu yang akan membuat namanya kelak di kenal dan di puja sebagai seorang pahlawan, alangkah akan senangnya! Hek-liong-ong, seperti juga kita, selalu lupa bahwa stiap perbuatan itu tidak akan meninggalkan pamrihnya. Perbuatan yang di anggap baik, kalau itu dilakukan dengan pamrih tertentu, maka perbuatan itu adalah palsu karena yang menjadi tujuan adalah pamrihnya dan perbuatan itu hanya sekedar cara untuk mendapatkan pamrih tadi. Pamrih itu adalah keinginan, dan keinginan ini adalah dorongan nafsu dan betapapun baiknya cara yang dipergunakan, kalau itu di tujukan untuk mendapatkan sesuatu, maka cara itupun palsu adanya, tidak wajar. Misalnya kita menolong seseorang, kalau pamrihnya agar orang itu dapat melakukan sesuatu untuk kepentingan kita, maka pertolongan kita kepada orang itu adalah palsu, tidak wajar dan tidak dapat dinamakan suatu kebaikan. Perbuatan barulah wajar kalau kita tidak menjenguk ke depan atau ke belakang sebagai sebab dan akibat perbuatan itu. Kita berbuat karena sudah semestinya berbuat, karena dorongan perasaan pada saat itu. Misalnya, kita melihat seseorang kelaparan dan kita merasa iba, lalu kita mengulurkan tangan menolongnya. Habis! tidak ada kelanjutannya lagi, dan hanya perbuatan beginilah yang wajar. Misalnya Hek-liong-ong melihat kesengsaraan rakyat dan penyebabnya, lalu dia berjuang untuk membebaskan rakyat dari kesengsaraan, tanpa pamrih apapun untuk diri sendiri, maka dia benar seorang pahlawan. Akan tetapi kalau dia ingin berjuang agar di cap sebagai pahlawan, agar di puja-puja kelak, maka perjuangan nya itu adalah palsu, hanya merupakan suatu cara untuk mendapatkan suatu cara untuk mendapatkan sesuatu yang menyenangkan bagi dirinya sendiri. Seorang pahlawan adalah seorang pejuang yang tidak ternama, seorang pejuang yang tidak mengharapkan imbalan apapun juga. Hasil yang di capai atau di akibatkan oleh perjuangannya untuk rakyat jelata, itulah imbalan yang cukup membahagiakan baginya. Hasil yang dinikmati rakyat, bukan di nikmati dirinya sendiri. Sayang, kebanyakan pejuang menuntut agar perjuangannya di hargai dan di beri imbalan. Ini menodai perjuangan!.

"Kauw Cu, aku sudah mengambil keputusan!"

Kata Hek-liong-ong pada suatu hari kepada muridnya.

Sudah setahun Akauw belajar ilmu pedang kepada suhunya dan Hek-liong-ong makin merasa suka kepada muridnya ini yang sungguh menggambarkan kegagahan seorang pendekar.

"Apa yang suhu maksudkan?"

"Aku hendak menghadiri pemilihan bengcu dan mencoba untuk merebut kedudukan sebagai bengcu baru! Aku mendengar bahwa pemilihan bengcu di Thai-san akan diadakan dua bulan mendatang. Kita akan menghadiri, kau harus membantuku. Aku harus menjadi bengcu baru!".

"Suhu, mengapa suhu ingin menjadi bengcu? Bukankah bengcu itu merupakan pemimpin seluruh golongan kangouw?"

"Ha-ha-ha, anak bodoh. Lupakah engkau akan percakapan kita tentang perjuangan? Aku ingin menjadi bengcu karena kalau sudah menjadi bengcu aku akan dapat menghimpun seluruh kekuatan dunia kangouw dan akan ku bawa mereka itu berjuang meruntuhkan Kerajaan penjajah Mongol dari tanah air!". Akauw mengangguk-angguk. Diam-diam dia merasa gembira bahwa gurunya, seorang datuk sesat. Kini mempunyai pendapat seperti itu. Alangkah bedanya dengan gurunya yang lain, yaitu Thian-te Ciu-kwi yang demi kemuliaan dan kesenangan rela menjadi antek Mongol, bahkan membantu pemerintah penjajah untuk menindas rakyat jelata. Sejak meninggalkan kota raja, dia mulai melihat betapa jahatnya Koksu Lui Tat, Thian-te Ciu-kwi, bahkan juga Perdana menteri Ji yang hendak mengusahakan hal yang langka, yaitu memberi kesejahteraan kepada rakyat di bawah pemerintah penjajah! Dan kini, gurunya yang baru ini bercita-cita menjadi bengcu agar dapat memimpin dunia kang-ouw memberontak terhadap pemerintah Toba.

"Aku akan membantu suhu dengan sekuat tenagaku!"

Katanya dengan penuh semangat dan tentu saja gurunya merasa gembira sekali.

Beberapa hari kemudian, guru dan murid ini meninggalkan Pulau Naga untuk pergi ke Thai-san dimana akan diadakan pemilihan bengcu yang tentu akan di hadiri oleh seluruh tokoh dan jagoan di dunia kangouw.

Lai Seng merasa penasaran sekali karena anak buah Kwi-to-pang tidak berhasil menemukan jejak Ji Goat.

Bahkan mereka telah salah memberi keterangan dan dia telah memperkosa Kwee Sun Nio, murid Thian-li-pang yang di sangka Ji Goat.

Untung dia bersikap cerdik sekali dan dapat menjatuhkan fitnah kepada Yang Cien sehingga kini Sun Nio akan mencari dan membalas dendam atau minta pertanggungan jawab kepada Yang Cien!

Dia yang makan nangkanya Yang Cien yang akan terkena getahnya!.

Kini Lai Seng mengerahkan anggota Kwi-to-pang untuk mencari para anggota Hek I Kaipang dan kalau bertemu mereka, langsung di bunuhnya!

Banyak sudah anak buah Hek I Kaipang terbunuh oleh para anggota Kwi-to-pang itu.

Akhirnya Yang Cien mendengar laporan Cu Lokai, ketua Hek I Kaipang tentang perbuatan Kwi-to-pang yang membunuhi anggota Hek I Kaipang tanpa alasan.

"Entah mengapa secara tiba-tiba saja orang-orang Kwi-to-pang mengadakan aksi pembunuhan terhadap orang-orang kita,"

Kata Cu-Lokai.

"Selama ini tidak terdapat permusuhan di antara kami dengan mereka."

"Dan anak buah kita tidak membalas?"

Tanya Yang Cien.

"Orang-orang Kwi-to-pang amat lihai dan rata-rata memiliki kelebihan dibandingkan orang-orang kita. Dan Kwi-to-pang di pimpin oleh seorang Raja Iblis..."..."

"Raja Iblis?"

"Julukan adalah Sin-to Kwi-ong (Raja Iblis Golok Sakti), seorang datuk yang sakti dan kejam. Apalagi puterinya yang bernama Bong Kwi Hwa dan di juluki Siauw Kwi, jahatnya bukan kepalang. Apalagi setelah wanita itu menikah dengan Lai Seng..."

"Lai Seng lagi! Apakah pemuda murid Toat-beng Giam-ong itu kini menjadi mantu Sin-to Kwi-pang?".

"Tidak salah, dan ku kira dialah yang menjadi gara-gara mengapa sekarang kwi-to-pang memusuhi Hek I Kaipang. Agaknya Lai Seng hendak membalas dendam kepada kita dan dia menggunakan anak buah mertuanya untuk membunuhi anak buah kita."

Yang Cien mengerutkan alisnya.

Dia teringat akan cerita Ji Goat.

Bukankah gadis itu oleh ayahnya yang Perdana Menteri juga ditunangkan dengan Lai Seng?

Dan sekarang tahu-tahu Lai Seng telah menikah dengan puteri Sin-to Kwi-ong!.

"Kalau begitu sudah jelas. Ini gara-gara Lai Seng yang hendak membalas dendam. Kita harus hadapi dengan kekerasan pula. Tidak semestinya kalau Kwi-to-pang membunuhi anak buah kita tanpa alasan. Mari kita mendatangi Kwi-to-pang dan biarkan aku yang bicara dengan Sin-to Kwi-ong."

"Akan tetapi, dia itu berbahaya dan lihai sekali, Yang-taihiap. Juga anak buah mereka ada dua ratus orang lebih, semuanya jahat dan berbahaya."

"Paman, dalam saat seperti ini kita harus berani menghadapi lawan yang bagaimanapun. Kita pun memiliki anak buah yang banyak. Berapa orang yang kiranya dapat kau kumpulkan?".

"Karena sekarang telah berpencar, yang berada di sini kurang lebih ada dua ratus lima puluh orang "

"Sudah lebih dari cukup. Kita kabari Kiang-pangcu dari nan-king, Phang Kim dan Ciok Kui,minta bantuan mereka agar membawa anak buah sedikitnya seratus orang. Setelah itu kita baru menyerbu Kwi-to-pang. Aku yang akan menghadapi Sin-to Kwi-ong!"

Kata Yang Cien.

Cepat Cu-Lokai mengirim kabar ke Nan-king dan dalam waktu belasan hari saja sudah muncul Kiang Si Gun, Phang Kim dan Ciok Kwi bersama seratus orang anak buah Hek I Kaipang dari Nanking.

Bahkan diantara mereka itu terdapat seorang yang berjenggot panjang dan melihat orang ini, Cu-Lokai gembira sekali.

Kiranya dia adalah Song Pa yang pernah menjadi ketua di Nanking sebelum Kiang Si Gun menggantikannya karena Song Pa di undang ke kota raja oleh Cu-Lokai dan kemudian ternyata undangan itu palsu dan merupakan jebakan.

Song Pa kini kembali ke Nanking dan membantu para pimpinan baru.

Mendengar bahwa Cu-Lokai minta bala bantuan, Song Pa tidak mau ketinggalan dan ikut pula.

Dengan membawa anak buah tigaratus orang lebih, Yang Cien dan Cu-Lokai memimpin mereka menuju ke bukit di tepi Sungai Huai itu, yang menjadi pusat perkumpulan Golok Setan.

Berbondong-bondong tiga ratus lebih anak buah Hek I Kaipang dengan pakaian mereka yang hitam-hitam menuju ke bukit itu dan mendaki lereng bukit dimana terdapat sebuah bangunan tua yang besar sekali.

Tentu saja kedatangan mereka sudah diketahui oleh anak buah Kwi-to-pang yang cepat melapor ke dalam.

Sin-to Kwi-pang adalah seorang datuk yang sombong dan tinggi hati, merasa diri paling pandai.

Mendengar bahwa Hek I Kaipang datang menyerbu dengan tenang dia menyuruh semua anak buahnya bersiap-siap.

Lai Seng dan isterinya, Bong Kwi Hwa juga sudah bersiap-siap.

Rombongan Hek I Kaipang sudah tiba di depan bangunan dan Cu-Lokai lalu berteriak dengan nyaring.

"Sin-to Kwi-ong harap keluar kami ingin bicara!". Dari dalam bangunan itu keluar semua anak buah Kwi-to-pang yang berjumlah dua ratus orang lebih itu, mengiringkan tiga orang pimpinan mereka, yaitu Sin-to Kwi-tong, Lai Seng dan Siauw-kwi atau Bong Kwi Hwa. Dengan angkuhnya mereka bertiga menyambut rombongan Hek I Kaipang.

"Kalian ini golongan jembel ada keperluan apa berani datang berkunjung ke tempat kami?"

Bentak Sin-to Kwi-ong dengan suaranya yang lantang.

"Sin-to Kwi-ong, sejak dahulu antara Kwi-to-pang dan kami Hek I Kaipang tidak pernah terjadi bentrokan. Akan tetapi selama beberapa pekan ini orang-orangmu mengeroyok dan membunuhi beberapa orang anggota kami. Kami minta pertanggung-jawabmu atas kejadian itu, Kwi-ong!".

"Ha-ha-ha-ha, tanggung jawab apa, Lokai? Kalian adalah jembel-jembel busuk yang menjadi pemberontak, sudah kewajiban kami untuk membasmi kalian. Baru membunuh beberapa orang pengemis busuk pemberontak saja, apa salahnya?".

"Sin-to Kwi-ong, ucapanmu yang kotor itu hanya menunjukkan orang macam apa engkau adanya! Dengarlah baik-baik, menjadi pengemis miskin bukanlah suatu kejahatan, akan tetapi menjadi penjahat macam kalian merupakan dosa yang besar sekali. Kami rakyat miskin berjuang untuk mengusir penjajah, menunjukkan bahwa kami adalah anak bangsa yang baik. Akan tetapi kalian bahkan membela penjajah dan menjadi antek Mongol, apakah engkau tidak malu kepada nenek moyangmu?"

Kata Yang Cien dengan suara marah. Mendengar ucapan yang pedas ini, Sin-to Kwi-ong menjadi merah mukanya. Matanya melotot marah dan dia memandang kepada Yang Cien seolah hendak menelannya bulat-bulat.

"Bocah kurang ajar, siapakah engkau?".

"Namaku Yang Cien dan akulah yang memimpin para saudara ini. Sebetulnya kami datang untuk minta pertanggungan-jawabmu dan untuk menyadarkanmu bahwa menjadi antek Mongol adalah memalukan dan hina sekali. Akan tetapi kalau engkau membandel, bahkan menghina kami, terpaksa kami akan menghancurkan Kwi-to-pang dari muka bumi!".

"Tutup mulutmu, keparat! Engkau sudah bosan hidup berani menghinaku."

Datuk tinggi besar yang bermuka bengis dan rambutnya riap-riapan ini segera menerjang maju dengan pukulan tangannya yang besar ke arah kepala Yang Cien.

Dia mengira bahwa sekali pukul saja kepala pemuda itu akan hancur berantakan.

Tenaga gajahnya membuat pukulan itu mendatangkan angina yang bersiutan menyambar.

Yang Cien maklum akan kelihaian orang.

Maka dengan ringan dia melangkah mundur sehingga sambaran pukulan itu luput.

Melihat betapa pemuda itu dengan amat mudahnya menghindarkan pukulannya, raja Iblis itu menjadi penasaran dan diapun mengirimkan serangkaian pukulan yang susul menyusul dan bertubi-tubi kepada pemuda itu.

Namun Yang Cien telah siap sedia dan pemuda inipun memainkan Bu-tek Cin-keng karena dia tahu bahwa yang dihadapinya adalah seorang datuk sakti yang berkepandaian tinggi dan memiliki tenaga gajah.

"Duk-dukkk..."..!!"

Ketika kedua lengan bertemu, tubuh Sin-to Kwi-ong terpental ke belakang, membuat kakek ini mengeluarkan gerengan seperti seekor binatang buas terluka.

Dia kaget bukan main karena hamper tidak dapat percaya bahwa pemuda seperti orang yang lemah itu mampu membuatnya terpental ke belakang seperti di hanyutkan gelombang yang amat kuat.

Tahulah dia bahwa pemuda ini sama sekali tidak boleh di pandang ringan, maka dia lalu mencabut goloknya yang besar dan berat.

Melihat ini, Yang Cien juga mencabut Pek-liong Po-kiam nya dan nampak sinar putih berkelebat ketika pedang yang mencorong itu di cabut.

Biarpun dapat menduga bahwa lawannya memiliki pedang pusaka ampuh, Sin-to Kwi-ong tidak perduli dan dia sudah memainkan goloknya dengan gerakan dahsyat sekali, menyerang dengan jurus Elang Emas Menyambar Kelinci.

Golok itu berdesing nyaring ketika menyambar dan nampak gulungan sinar menyambar ke arah leher Yang Cien.

Pemuda ini dengan tenang saja mengelak lalu membalas dengan tusukan pedangnya ke arah perut lawan.

"Traannggg...".!"

Golok itu menangkis pedang dan bunga api berhamburan menyilaukan mata.

Sin-ti Kwi-ong lalu memutar-mutar goloknya dan tidak percuma dia berjuluk Sin-to (Golok Sakti) karena memang ilmu goloknya amat hebat.

Namun sekali ini dia berhadapan dengan Yang Cien yang memiliki pedang pusaka dan memiliki ilmu pedang Pek-liong Kiam-sut (Ilmu Pedang Naga Putih) yang di gubahnya sendiri berdasarkan ilmu Bu-tek Cin-keng.

Sementara itu, Cu-Lokai juga sudah memberi aba-aba kepada anak buahnya dan para anggota Hek I Kaipang menyerbu sehingga terjadi pertempuran seru antara mereka dengan para anggota Kwi-to-pang.

Lai Seng dan isterinya, Bong Kwi Hwa, juga sudah menerjang maju untuk membantu Sin-to Kwi-ong, akan tetapi Cu Lokai menghadang dan menyambut di bantu oleh para pangcu yang lain seperti Song Pa, Kiang Si Gun, Phang Kim dan Ciok Kui.

Terjadilah pertempuran seru antara sepasang suami istri yang lihai itu melawan lima orang ketua kaipang itu.

Pedang dan suling suami isteri itu lihai sekali, akan tetapi lima orang pengeroyoknya juga memiliki ilmu tongkat yang lihai sehingga pertempuran itu seimbang.

Para anak buah Sin-to Kwi-ong menggunakan golok, dan semua pengemis menggunakan tongkat sehingga pertempuran yang seru itu terjadi dengan hebat, bentrokan antara ratusan batang golok melawan ratusan batang tongkat.

Suaranya gaduh dan mulailah ada yang roboh dan suara jerit kesakitan dan pekik kemenangan bercampur dengan berdentingan suara senjata yang saling beradu.

Biarpun para anggota Kwi-to-pang rata-rata memiliki ilmu silat yang lebih lihai akan tetapi karena jumlah mereka kalah banyak, maka pertempuran itu makin lama makin merepotkan pihak Kwi-to-pang dan pihak mereka menderita kerugian yang lebih banyak.

Yang paling seru adalah pertandingan antara Sin-to Kwi-ong melawan Yang Cien.

Setelah lewat lima puluh jurus saling menyerang, mulai lah Sin-to Kwi-ong terdesak oleh pukulan-pukulan tangan kiri Yang Cien yang memainkan jurus-jurus dari Bu-tek Cin-keng.

Dia tidak mengenal ilmu silat aneh itu dan tangan kiri pemuda yang di gunakan untuk selingan pedangnya, sungguh amat dahsyat.

Sudah dua kali pundak dan dadanya terkena dorongan tangan kiri itu dan dia terhuyung-huyung merasa dadanya sesak.

Sin-to Kwi-ong meloncat ke belakang untuk melihat keadaan teman-temannya.

Sungguh tidak menguntungkan.

Puteri dan mantunya yang di keroyok lima orang ketua kaipang itu nampak kelelahan, dan anak buahnya juga kelihatan terdesak oleh lawan yang jumlahnya amat banyak.

Sekali pandang saja tahulah Sin-ti Kwi-ong bahwa kalau dilanjutkan pertempuran itu, pihaknya tentu akan kalah, bahkan keselamatan diri sendiri, puterinya dan mantunya terancam.

Pemuda yang bernama Yang Cien itu sungguh merupakan lawan yang amat tangguh.

Maka, diapun segera memberi aba-aba kepada puteri dan mantunya, juga para anak buahnya untuk mundur.

Mendengar aba-aba ini, Lai Seng dan Bong Kwi Hwa memutar pedang dan sulingnya dengan cepat sehingga para pengeroyoknya berlompatan ke belakang dan kesempatan itu mereka pergunakan untuk meloncat dan menyelinap ke dalam rombongan anak buahnya yang sedang bertempur.

Demikian pula dilakukan oleh Sin-to Kwi-ong, meninggalkan Yang Cien dan menyelinap di antara anak buahnya.

Anak buah Kwi-to-pang juga sudah kewalahan, maka perintah mundur ini mereka lakukan dengan cepat dan tak lama kemudian mereka yang masih hidup itu melarikan diri cerai berai.

Yang Cien melarang anak buahnya untuk mengejar.

Sebaliknya mereka lalu merawat yang terluka.

Pihak musuh yang terluka dan tertawan di ampuni dan di lepaskan.

Sedangkan yang mati di kubur bersama para anggota kaipang yang tewas.

Peraturan ini di pegang teguh oleh Yang Cien yang tidak ingin mengotori tempat itu dengan mayat yang dibiarkan membusuk sehingga akan amat merugikan penduduk di sekitar tempat itu.

Bekas tempat tinggal Kwi-to-pang di bakar dan para anak buah kaipang itu pulang membawa kemenangan.

Semangat mereka semakin tinggi dan mereka semua menganggap Yang Cien sebagai pemimpin besar mereka.

Kemenangan Hek I Kaipang atas Kwi-to-pang ini segera tersiar luas di dunia para kaipang sehingga ketika di adakan pemilihan bengcu yang dicalonkan para kaipang, maka semua ketua kaipang tanpa ragu lagi memilih Yang Cien.

Dari mereka semua yang hadir, hanya ada dua orang kai-pangcu saja yang masih penasaran.

Mereka adalah ketua dari Sin-tung Kai-pang (Perkumpulan Pengemis Tongkat Sakti) dan Hwa I Kaipang (Perkumpulan Pengemis Baju Kembang).

Akan tetapi, setelah dia orang ketua ini maju bersama untuk menguji kepandaian calon bengcu itu, dengan mudah saja Yang Cien mamu mengalahkan mereka dan merekapun menjadi tunduk dan takluk.

Dengan suara bulat, seluruh kai-pang yang terdiri dari puluhan perkumpulan yang tersebar di empat penjuru, menyatakan pilihan mereka kepada Yang Cien sebagai calon beng-cu.

Pemuda ini maklum bahwa tanpa adanya persatuan yang kuat dari semua kekuatan rakyat, tidak mungkin kiranya menumbangkan kekuasaan pemerintah penjajah.

Dan biarlah para perkumpulan pengemis ini menjadi pelopor, dan kemudian dia akan menarik kekuatan golongan lain.

Kalau dia berhasil menjadi bengcu, agaknya hal itu akan mudah dilakukan dan kalau semua kekuatan sudah bersatu, dia akan mulai dengan perjuangannya menumbangkan kekuasaan penjajah seperti yang dipesankan mendiang kakeknya.

Dia tidak menganjurkan Hek I Kaipang membasmi Kwi-to-pang,bahkan membiarkan mereka yang masih hidup melarikan diri dan membebaskan tawanan yang terluka.

Hal ini juga termasuk siasatnya.

Kalau dia sudah benar-benar hendak mengadakan gerakan perjuangan mengusir penjajah, dia harus mampu mengumpulkan tenaga semua pihak, tidak perduli dari golongan hitam atau putih.

Dan untuk pembiayaan perjuangannya, dia sudah memiliki harta karun, yaitu gumpalan-gumpalan emas yang berada di dalam guha, di Lembah Iblis.

Hanya dia dan Akauw yang mengetahui tempat yang kini telah di tutupnya dengan batu besar itu.

Akan tetapi dimana Akauw?

Sudah bertahun-tahun dia tidak tahu kemana perginya sutenya itu dan hatinya mulai merasa khawatir.

Mulailah dia menyuruh para anak buah Hek I Kaipang untuk mencari seorang pemuda bernama Cian Kauw Cu atau Akauw.

Demikianlah, Yang Cien yang berambisi besar itu mulai menyusun tenaga melalui perkumpulan-perkumpulan pengemis yang pada waktu itu merupakan tenaga besar yang patut diperhitungkan karena dimana-mana terdapat perkumpulan itu dan para pengemis ini merupakan penyelidik-penyelidik yang pandai dan tidak di curigai orang.

Hal ini memudahkan mereka untuk menyelidiki keadaan musuh dan keadaan di kota-kota yang ingin di selidiki.

Akan tetapi yang terutama adalah menghimpun tenaga seluruh golongan kang-ouw.

Dan nanti, tiga bulan lagi.

Pada pertemuan di Puncak Thai-san, akan diadakan pemilihan bengcu itu.

Dia akan mencoba untuk meraih kedudukan itu, atau setidaknya, kalau dia gagal, dia harus dapat mendekati bengcu baru untuk mengajaknya berjuang menggulingkan Pemerintah Toba.

Sambil menanti datangnya saat pemilihan beng-cu, Yang Cien tetap melatih para anggota kaipang dengan ilmu silat agar kelak mereka menjadi prajurit yang tangguh.

Juga dia diperkenalkan dengan pimpinan Hek I Kaipang yang lain.

Pada suatu hari datang berkunjung ketua Hek I Kaipang di Lok-yang bersama wakil ketua, yaitu Thio Cid an Thio Kui.

Kedua orang ini datang berkunjung ketika mendengar bahwa Yang Cien menyebar anak buah mencari keterangan tentang Cian Kauw Cu atau Akauw pemuda yang tinggi besar dan gagah.

"Yang taihiap,"

Kata Thio Ci yang sudah pernah bertemu dengan Yang Cien ketika pemuda ini di pilih sebagai calon bengcu oleh semua ketua kaipang.

"Kalau tidak salah, kami dapat menemukan pemuda yang taihiap cari-cari itu."

"Kamu maksudkan Cian Kauw Cu, pangcu? Dimana dia dan bagaimana engkau dapat bertemu dengan dia?". Wajah Thio Ci agak muram mendengar pertanyaan itu.

"Bukankah taihiap mengatakan bahwa yang bernama Akauw itu memiliki sebuah pedang pusaka yang bersinar hitam?".

"Hek-liong Po-kiam! Betul! Betul itu, pangcu!"

Kata Yang Cien gembira.

"Dimana dia sekarang?". Wajah Thio Ci masih murung ketika menjawab.

"Tentu saja di kota raja, dimana lagi, taihiap? Seorang panglima muda tentu tinggalnya di kota raja. Bahkan kami mendengar bahwa dia adalah panglima pembantu Koksu Lui! Dia pula yang di utus oleh kaisar untuk menangkap Gubernur Yen Kan dari Lok-yang yang berjiwa patriot. Sekarang Gubernur Yen Kan dijadikan orang tahanan di kota raja."

"Ah, tidak mungkin!"

Seru Yang Cien dengan penasaran.

"Apa yang tidak mungkin taihiap?"

Tanya Thio Kui karena mengira bahwa Yang Cien tidak mempercayai laporan kakaknya.

"Tidak mungkin Akauw menjadi antek Koksu!".

"Akan tetapi yang jelas, nama komandan itu adalah Cian Kauw Cu dan dia memiliki pedang bersinar hitam, juga ilmu kepandaiannya tinggi sekali. Kami berdua sudah membuktikannya sendiri."

"Ceritakan yang jelas."

"Ketika kami melihat panglima itu menyamar sebagai seorang biasa, bersama seorang pemuda remaja, kami langsung mengenalnya sebagai komandan yang menangkap Jendral Yen. Tentu kedatangannya dengan menyamar itu untuk menyelidiki keadaan di Lok-yang. Bersama kurang lebih tiga puluh orang anggota Hek I Kaipang di Lok-yang, kami berdua menyergapnya. Akan tetapi dia lihai bukan main, Pedang sinar hitam itu sukar di tembus bahkan kami kehilangan banyak anak buah. Akhirnya dia dapat meloloskan diri membawa temannya yang terluka. Kami berkata sebenarnya, taihiap, entah dia itu sahabat yang taihiap cari atau bukan, akan tetapi yang bernama Cian Kauw Cu berpedang sinar hitam adalah seorang panglima antek Raja Toba!". Setelah mendengar laporan itu, wajah Yang Cien selalu murung karena dia gelisah dan penasaran sekali mendengar bahwa sutenya telah menjadi komandan Kerajaan Toba. Sungguh aneh sekali. Dia mengenal betul watak sutenya yang gagah perkasa, tidak mungkin kiranya mau di peralat oleh Kaisar Toba, tidak mungkin gila harta atau gila kedudukan. Kalau benar orang yang di ceritakan ketua Hek I Kaipang di Lok-yang itu benar Akauw, tentu ada sebab-sebab tertentu yang membuatnya menjadi komandan!". Malam itu terang bulan dan Yang Cien keluar dari perkampungan Hek I Kaipang, berjalan-jalan seorang diri di lereng pantai Sungai Huai. Dia melamun karena pikirannya penuh dengan Akauw. Dia harus menyelidiki sendiri keadaan sutenya itu di kota raja dan kalau benar Akauw telah menjadi komandan, dia harus menyadarkan sutenya itu dari kekeliruannya. Sutenya tidak boleh menjadi antek Mongol!. Tiba-tiba ada suara tidak wajar di belakangnya dan kesadaran Yang Cien kembali membuatnya waspada. Dia membalikkan tubuhnya dan berhadapan dengan seorang wanita muda yang cantik. Di bawah sinar bulan yang remang-remamng, dia tidak mengenal siapa gadis itu.

"Yang-taihiap....

"terdengar suara gadis itu memanggil lirih.

"Eh, siapakah nona?"

"Hemm, benarkah taihiap telah lupa kepadaku?"

Tanya gadis itu dengan suara mengandung penasaran.

"Kita sudah pernah saling bertemu di rumah Gubernur Gak di Nam-kiang dan malam itu.....

"Ia tidak melanjutkan kata-katanya.

"Ah, sekarang aku ingat. Nona tentulah Nona Kwee Sun Nio, murid dari Iam Yang To-kouw dari Thian-li-pang itu, bukan? Selamat malam, nona. Apa yang membawa nona datang ke sini?".

"Taihiap, aku sengaja datang mencarimu dan beruntung sekali aku mendapatkan engkau seorang diri di tempat ini."

"Maafkan kalau aku menyambut dalam cara begini, nona. Marilah kita pergi ke tempat tinggal kami dan di sana kita dapat berbincang-bincang....".

"Tidak perlu. Aku justeru ingin bicara di tempat sunyi denganmu, empat mata saja."

"Terserah kepadamu, nona. Apakah nona di suruh oleh guru nona menemuiku?".

"Yang Cien, jangan berpura-pura terus!"

Tiba-tiba suara Sun Nio berubah penasaran dan ketus.

"Aku datang menemuimu untuk minta pertanggung jawabmu!". Yang Cien tentu saja terkejut sekali mendengar ini. Minta pertanggung-jawab? Seingatnya, tidak pernah ada terjadi sesuatu dengan nona ini atau gurunya, kecuali ketika guru nona ini dahulu meminta surat peninggalan Kam Lo-kai dan di tolaknya sehingga terjadi pertempuran antara dia dan Im Yang To-kouw. Dan itupun ternyata hanya merupakan ujian saja dari tokouw itu untuk melihat apakah dia memang setia akan mempertahankan surat wasiat dari Kam Lokai, seperti di ketahuinya ketika ia sudah menghadap Gubernur Gak. Ternyata Thian-li-pang juga merupakan perkumpulan yang condong membantu pergerakan pejuang melawan penjajah. Ada urusan apa lagi antara dia dengan gadis Thian-li-pang ini?".

"Nona, apa artinya semua ini? pertanggung-jawab apakah yang nona minta dariku?".

"Yang Cien, ketika pertama kali aku mengenalmu bersama subo, kukira engkau seorang pendekar budiman yang bijaksana dan bertanggung jawab. Tak ku sangka sekarang ini ternyata engkau seorang pengecut yang tidak segan untuk pura-pura tidak tahu apa yang telah kau perbuat terhadap diriku!"

Gadis ini sudah demikian kecewa dan marahnya sehingga suaranya tercampur isak yang di tahan-tahannya.

"Sungguh mati, nona. Aku tidak mengerti apa yang nona maksudkan! Aku bukanlah seorang pengecut dan aku Yang Cien pasti akan mempertanggung-jawabkan semua perbuatanku sampai yang sekecil-kecilnya. Nah, jelaskan, perbuatan apakah yang telah ku lakukan terhadap dirimu, nona Kwee Sun Nio?". Sun Nio menjadi merah sekali mukanya.

"Apakah benar engkau sudah lupa atau pura-pura lupa apa yang kau lakukan di kuil tua itu pada waktu malam hari beberapa pekan yang lalu?".

"Di kuil tua? Malam hari beberapa pekan yang lalu? Aku tidak pernah berkunjung ke kuil tua, nona".

"Bohong! Ada orang yang melihatmu meninggalkan kuil dengan tergesa-gesa."

"Sungguh heran, aku benar tidak pernah ke kuil. Orang itu pasti telah salah lihat. Dan apa katanya yang ku lakukan di dalam kuil itu?"

"Dia tidak berkata apa-apa, akan tetapi akulah yang menjadi korban kebiadabanmu. Yang Cien, sebagai laki-laki gagah tidak pelu kau ingkari lagi. Engkau telah memperkosa aku selagi aku pingsan!"

Seperti di sambar ular Yang Cien melangkah dua tindak, akan tetapi lalu maju lagi mendekati Kwee Sun Nio dengan mata terbelalak.

"Apa..."? Apa yang kau katakana ini? Sungguh fitnah keji sekali!".

"Fitnah? Aku yang menderita! Aku yang kehilangan kehormatan, kehilangan yang lebih daripada nyawa. Aku yang terkena aib. Apakah aku akan melakukan fitnah kalau tidak terjadi benar atas diriku?".

"Nanti dulu, nona. Coba ceritakan yang lebih jelas. Engkau berada didalam kuil tua, lalu datang memperkosamu......"

"Kau lebih dulu melepaskan asap pembius sehingga aku menjadi pingsan, dan kau lalu...."

"Hemmm, kau jatuh pingsan di dalam kuil tua lalu aku datang memperkosamu? Bagaimana kau tahu bahwa aku yang memperkosamu kelau engkau pingsan?".

"Aku memang tidak melihat dengan mataku sendiri. Setelah sadar, aku melompat keluar kuil dan bertemu seseorang yang mengatakan bahwa dia melihat engkau pergi dari kuil dengan tergesa-gesa "

"Fitnah keji! Kalau dia mengatakan bahwa ada laki-laki berlari dari kuil, bagaimana engkau bisa tahu bahwa laki-laki itu aku orangnya?".

"Yang Cien, tidak perlu engkau mengelak lagi. Orang itu telah mengenalmu, maka tahu siapa engkau dan dia yang menceritakan kepadaku."

"Nona Kwe, siapakah orang itu? Siapakah orang yang mengatakan bahwa dia melihat aku lari meninggalkan kuil?". Melihat gadis itu meragu, dia menyambung.

"Aku perlu mengetahui untuk dapat meyakinkan hatiku tentang ceritamu".

"Orang itu bernama Lai Seng! Nah, engkau tidak boleh pungkir sekarang, Yang Cien, engkau harus mempertanggungjawabkan perbuatanmu yang terkutuk kepadaku."

"Mempertanggung-jawabkan bagaimana?".

"Engkau harus menikahi aku atau engkau harus mati di tanganku."

"Keduanya tidak dapat ku terima. Aku tidak mau mempertanggung-jawabkan perbuatan yang tidak kulakukan. Nona, pertimbangkan baik-baik. Aku tidak melakukan itu, apakah engkau tidak percaya kepadaku dan lebih percaya kepada keterangan laki-laki jahanam itu? Ingat, Lai Seng adalah seorang penjahat besar yang menjadi mata-mata Kerajaan Mongol, dia pernah hendak menyeludup ke dalam Hek I Kaipang dan ketahuan, lalu di usir. Apakah laki-laki penjilat Mongol itu lebih kau percaya dari pada aku? Aku bersumpah tidak melakukan perbuatan itu!". Kwe Sun Nio mencabut pedangnya. Ia sudah nekat. Kalau bukan Yang Cien yang melakukan, lebih celaka lagi baginya. Kalau Yang Cien, ia menuntut dinikahi dan ia akan suka menjadi isteri pemuda ini. Kalau orang lain bagaimana? Mungkin ia memilih mati! Kekecewaan dan penasaran membuatnya nekat.

"Yang Cien, aku adalah murid Thian-li-pang yang sejak kecil di latih dengan peraturan keras. Aku telah kehilangan kesucianku sebagai seorang gadis dan hukumnya hanyalah menikah atau mati ternoda aib. Kalau engkau tidak mau menikahiku, biarlah aku mati di tanganmu atau engkau mati di tanganku!"

Setelah berkata demikian, gadis itu lalu menyerang dengan dahsyatnya, menusukkan pedangnya kearah dada Yang Cien. Pemuda ini cepat mengelak dan meloncat ke belakang.

"Bersabarlah, nona. Aku tidak ingin bermusuhan denganmu, bahkan aku merasa iba sekali kepadamu, dan aku bersedia membantumu untuk menyelidiki siapa yang melakukan perbuatan terkutuk itu!". Makin nyeri rasa hati Kwe Sun Nio. Pemuda ini tetap menyangkal, mengecewakan hatinya dan mematahkan semua harapannya agar pemuda yang dikaguminya ini mau menikahinya.

"Kalau bukan engkau siapa lagi!"

Bentaknya dan kembali ia menyerang dengan nekad bahwa kalau ia tidak dapat membunuh pemuda itu, biarlah ia tewas di tangannya untuk menubus aib.

Kembali Yang Cien mengelak dan dia tahu bahwa dengan bujukan kata-kata saja, gadis ini yang agaknya sudah nekat dan penasaran tidak akan reda kemarahannya.

Diam-diam, mendengar nama Lai Seng di sebut, dia sudah curiga bahwa pemuda ini tentu melempar fitnah dan sangat boleh jadi bahwa perbuatan terkutuk itu di lakukan oleh sendiri.

Biarpun ilmu pendang yang dimainkan Sun Nio cukup hebat, namun berhadapan dengan Yang Cien, sama sekali tidak ada artinya.

Setelah mengelak selama belasan jurus, akhirnya dia menangkap pedang itu dalam jempitan antara kedua jarinya dan pedang itu seperti melekat di situ, tidak dapat di tarik kembali oleh Sun Nio.

"Nona, engkau salah sangka, hentikanlah!"

Kata Yang Cien dan dia melepaskan jepitannya.

Akan tetapi, Yang Cien tidak menduga sama sekali bahwa gadis itu sudah nekat benar, begitu pedangnya di lepas sudah menyerang lagi dengan tusukan yang cepat dan mengandung tenaga.

Yang Cien memiringkan tubuhnya dan tangannya menyambar dari atas ke bawah.

Tangan yang miring itu menghantam pedang yang menyambar di dekat perutnya.

"Traakkk....! "Pedang itu patah menjadi dua potong seperti di hantam palu godam yang berat. Sun Nio terbelalak pucat, membuang sisa pedangnya dan menyerang dengan pukulan tangan kosong. Yang Cien meloncat ke belakang lalu menghilang.

"Nona, engkau salah sangka....

"terdengar suaranya dari jauh, suara yang mengandung penasaran dan juga iba hati. Sun Nio menangis. Ia menjatuhkan diri menutupi mukanya dengan kedua tangan, menangis sesungukan dengan hati hancur. Satu-satunya harapan telah pudar dan ia meraba-raba dalam kegelapan tidak tahu kepada siapa ia akan minta pertanggungjawabnya.

"Subo.... Ah, subo..."

"Tangisnya dan ia lalu bangkit berdiri melangkah terhuyung untuk pergi melapor kepada subonya. Ia akan minta bantuan subonya untuk membujuk Yang Cien agar mempertanggung-jawabnya. Mengingat akan kemungkinan ini, timbul pula sedikit harapan di hati Sun Nio. Mungkin subonya akan berhasil. Gubernur Yen di bebaskan dari tahanan di kota raja! Dia diperbolehkan pulang ke Lok-yang. Hal ini adalah karena nasehat dan siasat Koksu dan Perdana menteri yang di ajukan kepada kaisar. Pertama, untuk meredakan ketegangan kedua, agar pasukan di Lok-yang terkecoh dan tidak siap siaga. Padahal, beberapa hari setelah dia dipulangkan ke Lok-yang, puluhan ribu pasukan yang di pimpin oleh Koksu sendiri menyerbu Lok-yang! Hanya terjadi sedikit perlawanan dari para penjaga pintu gerbang, karena memang Gubernur Yen melarang pasukan di wilayahnya mengadakan perlawanan terhadap pasukan kerajaan. Pemberontakan belum waktunya dimulai karena perimbangan kekuatan masih jauh selisihnya. Dia memerintahkan kedua orang anaknya, Yen Gun dan Yen Sian, untuk melarikan diri dan bergabung dengan Hek I Kaipang melarikan diri meninggalkan Lok-yang, dan menyusun kekuatan bersama perkumpulan-perkumpulan lain yang condong memberontak terhadap pemerintah Toba. Tanpa melakukan perlawanan Gubernur Yen kembali di tawan, kini berikut seluruh keluarganya, kecuali Yen Gun dan Yen Sian yang sudah lebih dulu melarikan diri. Juga para panglima di tawan dan seketika di ganti oleh panglima-panglima yang di tunjuk oleh Koksu. Penyerbuan sehari itu selesai dan hamper semua pejabat di Lok-yang di tangkap dan dig anti, kecuali beberapa orang yang memang sebelumnya sudah ada kontak dengan kerajaan dan bahkan merupakan mata-mata yang mengawasi gerak-gerik mereka yang condong memberontak. Ketika pasukan menyerbu, Yen Gun dan Yen Sian, dengan mengenakan pakaian biasa, menyelinap diantara orang-orang yang mengungsi karena takut akan peperangan, dan melarikan diri keluar kota. Akan tetapi baru saja tiba di luar kota, serombongan prajurit kerajaan menghentikan mereka yang lari mengungsi. Jumlah prajurit ini tidak kurang dari seratus orang dan jumlah pengungsi sedikitnya lima puluh orang.

"Berhenti! Kalian hendak lari kemana?"

Semua orang ketakutan dan Yen Gun mewakili mereka menjawab.

"kami hendak lari mengungsi karena takut akan adanya perang. Mengungsi keluar kota agar jangan ikut terlanda perang."

"Hemm, kami harus menggeledah dulu kalian. Hayo berkumpul di sini!"

Kata pemimpin rombongan prajurit itu dengan sikap angkuh dan memerintah.

Semua orang menaati perintah itu dan mulailah diadakan penggeledahan.

Dan penggeledahan itu bukan lain hanyalah perampokan dan perampasan.

Setiap menemukan benda berharga, lalu di sita begitu saja oleh para penggeledahnya.

Dan yang lebih memuakkan hati lagi, kalau yang di geledah seorang wanita muda, tangan-tangan para penggeledah lalu mulai berbuat kurang ajar dan tidak sopan, meraba sana sini sehingga mulai terdengar jerit tangis mereka yang dipermainkan dan mereka yang barang-barangnya di rampas.

"Heekkk, kalian ini menggeledah atau merampok?"

Bentak Yen Gun dengan marah.

"Dan lepaskan perempuan itu!"

Bentak pula Yen Sian ketika seorang menggeledah hamper menelanjangi seorang wanita muda yang manis.

"Kau mau melawan, ya? Kamu pemberontak, ya? "bentak orang yang sedang mengantungi kalung emas dari seorang wanita yang di geledahnya dan langsung saja dia mengangkat tangannya untuk menampar muka Yen Gun.

"Dukkk!"

Yen Gun menangkis dan sekali tangannya bergerak, orang itu terpelanting roboh.

Seorang prajurit lain yang melihat kecantikan Yen Sian, juga sudah menubruk dan memeluk pinggangnya dari belakang.

Yen Sian menjerit karena jijik, kakinya menendang ke belakang dan pemeluknya jatuh tersungkur, bergulingan memegangi bawah perut yang mendadak terasa seperti akan hancur.

Tentu saja keadaan menjadi geger melihat Yen Gun dan Yen Sian merobohkan dua orang prajurit.

Komandan pasukan itu lalu memberi aba-aba untuk mengeroyok.

Yen Gun dan Yen Sian yang sudah di pesan oleh ayahnya untuk tidak melakukan perlawanan dan lari bergabung dengan Hek I Kaipang, tidak kuat menahan hati mereka melihat tindakan sewenang-wenang dari para prajurit Toba, maka kini mereka menghadapi pengeroyokan itu dengan pedang di tangan!.

Dua orang kakak beradik ini adalah murid dari ayah mereka sendiri.

Gubernur Yen Kan adalah seorang pewaris ilmu silat keluarga Yen yang sudah turun temurun memiliki ilmu silat dari Gobi-pai.

Dan Gubernur Yen Kan dahulunya di kala muda pernah menjadi pendekar Gobi-pai yang di segani orang karena ilmu silatnya yang tinggi.

Bagaikan sepasang rajawali mengamuk, Yen Gun dan Yen Sian membabati para prajurit Mongol itu dan puluhan orang prajurit sudah menjadi korban pedang mereka.

Para pengungsi lain menggunakan kesempatan itu untuk lari cerai berai, ada yang kehilangan suaminya kehilangan anaknya karena mereka berpencaran saking takutnya.

"Sian-moi, lari....!"

Mereka lari memutar pedang, menjatuhkan para pengeroyok terdepan, kemudian berloncatan jauh dan menggunakan ilmu berlari cepat meninggalkan tempat itu.

Untung bagi mereka bahwa peristiwa itu terjadi di luar kota.

Andaikata terjadi di sebelah dalam kota, akan sulitlah bagi mereka untuk dapat meloloskan diri.

Biarpun demikian, para prajurit segera melakukan pengejaran dan mereka yang mengejar dengan menunggang kuda dapat menyusul mereka dan kembali mereka terkepung.

Akan tetapi pengepungnya hanya dua-tigapuluh orang yang memiliki kepandaian lebih tangguh dibandingkan para pengeroyok pertama.

Inilah para prajurit yang membantu dari kota dan mereka adalah prajurit pilihan, di pimpin oleh Lai Seng dan Bong Kwi Hwa.

Begitu Lai Seng dan Bong Kwi Hwa berloncatan turun dari atas kuda mereka dengan berjungkir balik di udara beberapa kali dan berhadapan dengan Yen Gun dan Yen Sian, tahulah kedua kakak beradik ini bahwa mereka berhadapan dengan lawan yang pandai.

Dan Lai Seng segera mengenal kedua orang itu.

"Ha-ha-ha, kiranya putera dan puteri Gubernur sendiri yang melakukan pemberontakan di sini! Menyerahlah kalian untuk kami tawan, kalau kalian tidak menghendaki mati di tempat ini."

"Kami tidak akan menyerah selama nyawa masih di kandung badan! "kata Yan Gun dengan gagah.

"Gun-ko, kita hajar saja antek-antek Mongol ini!"

Seru pula Yen Sian.

"Ha-ha-ha, nona yang cantik bernyali besar, Kwi Hwa, kau tangkap yang laki-laki, biar aku hadapi nona ini!"

Kata Lai Seng yang segera menggerakkan suling peraknya menyerang Yen Sian.

"Trangg-tranngg-criingg...!"

Bunga api berhamburan ketika suling itu di tangkis pedang Yen Sian.

Gadis ini segera memainkan ilmu pedang Gobi-kiam-hoat untuk menandingi Lai Seng dan terjadilah perkelahian seru sekali antara mereka.

Sementara itu Bong Kwi Hwa juga menggerakkan pedangnya menyerang Yen Gun.

Ia tahu bahwa suaminya sudah tergila-gila kepada gadis jelita itu, akan tetapi ia tidak peduli karena ia pun akan senang sekali untuk dapat menawan pemuda yang jangkung tampan ini.

Yen Gun menangkis pedang lawan dan keduanya juga segera bertanding dengan serunya.

Ternyata tingkat ilmu pedang mereka semua seimbang sehingga perkelahian itu terjadi sengit dan melihat ini, Lai Seng merasa khawatir kalau sampai mereka lolos.

Maka dia lalu meneriakan aba-aba kepada anak buahnya untuk mengeroyok dan mengepung.

Setelah di kepung puluhan orang prajurit, sementara harus melawan Lai Seng dan Kwi Hwa yang tangguh, maka kedua orang putera dan puteri Gubernur Yen itu merasa kewalahan juga.

Pada saat keadaan mereka sudah gawat dan peluh sudah membasahi seluruh badan walaupun mereka belum terluka, tiba-tiba dengan tak terduga juga datang serombongan orang berpakaian hitam dan menggunakan tongkat.

Mereka menyerbu dari luar kepungan dan para prajurit itu jatuh bergelimpangan!.

Hek I Kaipang muncul, sebanyak tidak kurang dari lima puluh orang, di pimpin oleh Thio Cid an Thio Kui, ketua dan wakil ketua Hek I Kaipang wilayah Lok-yang.

Ketika terjadi penyerbuan ke kota Lok-yang, Hek I Kaipang juga merasa gelisah.

Akan tetapi mereka mendengar akan perintah Gubernur Yen agar jangan mengadakan perlawanan, melainkan mengundurkan diri untuk menyusun kekuatan.

Maka, Thio Ci lalu memerintahkan anak buahnya untuk berjaga di luar kota dan membantu para pengungsi melarikan diri.

Hanya itu yang dapat mereka lakukan karena andaikata mereka akan menyerbu masuk kota, tentu pasukan kerajaan yang besar jumlahnya itu bukan merupakan tandingan mereka yang hanya berjumlah ratusan orang.

Thio Cid an Thio Kui menggunakan jarum-jarum, pisau dan paku beracun merobohkan banyak prajurit.

Dan ketika mereka terjun ke dalam perkelahian, Thio Ci membantu Yen Gun dan adiknya Yen Sian, pihak pasukan kerajaan segera terdesak.

Betul ada pula datang bala bantuan yang jumlahnya hanya tigapuluh orang.

Namun Lai Seng maklum bahwa orang-orang berpakaian hitam ini berbahaya sekali maka dia segera memerintahkan pasukannya untuk menahan diri dan hanya melakukan perlawanan sambil mundur.

Kesempatan ini dipergunakan oleh Thio Ci untuk mengajak kedua putera Gubernur Yen ini melarikan diri.

"Terima kasih atas pertolongan ji-wo pangcu,"

Kata Yen Gun dan Yen Sian yang sudah mengenal baik mereka.

"Tidak perlu berterima kasih, kongcu dan sio-cia. Bagaimana dengan Yen-taijin? Sungguh kami tidak mengerti mengapa taijin tidak melakukan perlawanan...".

"Ayah kami tahu akan kekuatan sendiri. Kalau melakukan perlawanan berarti menghancurkan kekuatan pasukan sendiri dan hal ini dapat melemahkan semangat. Sekarang belum saatnya melakukan perlawanan. Ayah memerintahkan kami untuk melarikan diri dan bergabung dengan Hek I Kaipang, lalu menyusun kekuatan untuk kelak melakukan pemberontakan."

Thio Ci menghela napas panjang.

"Yen-taijin terlalu mengkhawatirkan keadaan, terlalu menyayang rakyat dan pasukan, sehingga rela mengorbankan diri sendiri di tangkap.

"Koko, bagaimana dengan ayah dan ibu dan semua keluarga? Ah, aku khawatir sekali, koko,"

Kata Yen Sian dan suaranya terdengar bergetar.

"Harap Yen-siocia tenangkan diri. Kami kira Yen-taijin dapat menjaga diri sindiri dan keluarganya. Bagaimanapun semua ini tentu telah masuk perhitungan beliau, karena bagaimana beliau akan dapat di tuntut sebagai pemberontak kalau tidak ada bukti pemberontakan? Kini kami mengerti. Justeru inilah sebabnya maka beliau melarang diadakannya perlawanan, agar jangan ada bukti bahwa beliau pemberontak."

"Akan tetapi hatiku khawatir sekali,"

Kata Yen Sian.

"kaisar Kerajaan Toba memiliki banyak penjilat dan kabarnya para penjilat inilah yang berbahaya suka membujuk kaisar untuk menghukum siapa saja yang mereka anggap tidak dapat di jadikan sahabat atau sekutu."

"Jangan khawatir, nona. Kami akan mengirim mata-mata ke kota raja untuk mendengarkan berita tentang ayah nona kalau sudah di bawa ke kota raja,"

Thio Ci menghiburnya.

"Sekarang, sebaiknya ji-wi ikut dengan kami untuk mengadakan perundingan lebih jauh. Kebetulan sekali pemimpin besar kami akan datang berkunjung."

"Siapakah pemimpin besar kalian? Apakah bukan Cu-Lokai yang dahulu menjadi ketua pusat Hek I Kaipang di Tiang-an? "Tanya Yen Gun.

"Dia juga akan datang, akan tetapi kami sekarang mempunyai pemimpin besar, bahkan yang kami calonkan sebagai bengcu, dia adalah taihiap Yang Cien. Mari, kongcu dan sioci, kita cepat pergi agar jangan sampai ada pasukan datang mencari lagi."

Mereka segera pergi dengan cepat menuju ke tempat persembunyian Hek I Kaipang di bukit dekat Sungai Huai.

Sementara itu, dengan sikap gagah dan tegak Gubernur Yen duduk di kursinya di ruangan besar, di kelilingi keluarganya kecuali kedua orang puteranya, dan sikapnya berwibawa sekali ketika Panglima Su yang menjadi pemimpin pasukan yang di suruh Koksu menghadap Gubernur menyampaikan perintah kaisar untuk menangkapnya.

Koksu hanya ikut untuk menjaga kalau-kalau Lok-yang melakukan perlawanan dan bukanlah menjadi tugas seorang Guru Negara untuk memimpin pasukan.

maka begitu melihat bahwa tidak ada perlawanan, Koksu lalu lebih dulu kembali ke Tiang-an dan yang memasuki gedung gubernuran adalah Su-ciang kun.

"Gubernur Yen, atas perintah Yang Mulia Kaisar, kami datang untuk menangkapmu, berlututlah dan menyerahlah untuk kami tangkap!".

"Apakah alasannya aku akan di tangkap?"

Tanya Gubernur itu dengan wajah tenang sekali.

"Alasannya sudah jelas. Mengadakan usaha pemberontakan!"

Kata Su-Ciangkun.

"Fitnah keji. Mana buktinya? Apakah ketika ciang-kun memasuki tempat ini ada yang menentangmu?". Su-ciangkun nampak bingung. Memang dia tidak melihat perlawanan berarti atau pemberontakan, hanya kesalahpahaman saja antara pasukannya dengan para penjaga keamanan yang berhak mempertahankan tempat yang mereka jaga. Akan tetapi tidak ada tanda-tanda pemberontakan.

"Aku tidak tahu, pendeknya aku datang perintah kaisar untuk menangkapmu."

"Jangan harap aku akan menyerahkan diri kalau perintah tidak ada buktinya!".

"Gubernur Yen, kami membawa perintah Kaisar itu. Lihat ini! "Su-ciangkun mengeluarkan segulung surat dan setelah surat itu di baca oleh Gubernur Yen, dia segera bangkit berdiri.

"Baik, kami menaati perintah Sri Baginda Kaisar untuk di bawa ke kota raja!"

Katanya gagah.

Dua orang prajurit segera menghampiri atas isyarat Su-ciangkun dan akan memborgol kedua tangan Gubernur itu.

Akan tetapi sekali menggerakkan kaki tanganya, dua orang prajurit itu telah di tendang dan di tampar roboh oleh Gubernur Yen.

"Aku tidak perlu di borgol, aku bukan penjahat dan tuduhan pemberontakan itu tidak ada buktinya. Aku akan menghadap kaisar dengan keadaan seperti seorang bawahan menghadap atasan, bukan sebagai seorang pemberontak atau penjahat. Juga keluargaku kalau hendak di bawa, harus menggunakan keretaku sendiri. kalau semua ini tidak di penuhi sampai mati aku tidak akan menyerah!". Sikap dan ucapan gubernur itu berwibawa sekali sehingga Su-ciangkun sendiri merasa gentar. Terpaksa dia memenuhi permintaan gubernur itu agar tidak menimbulkan kesulitan. Demikianlah, gubernur dan keluarganya dibawa ke kota raja bukan sebagai tawanan perang, bukan sebagai pemberontak, melainkan sebagai tamu saja yang dikawal pasukan besar Kerajaan! Suatu kehormatan yang besar dan yang hanya mungkin terjadi karena keberanian Gubernur Yen. Akan tetapi, setelah menghadap Kaisar, Gubernur Yen dimarahi oleh Kaisar.

"Biarpun belum ada bukti bahwa engkau melakukan pemberontakan, akan tetapi menurut penyelidikan, engkau mengumpulkan para pengemis dan melakukan hubungan baik dengan Hek I Kaipang, padahal Hek I Kaipang jelas berusaha memberontak. Ada gejalanya engkau berpihak kepada pemberontak, karena itu kamu di tahan sambil menanti sidang pengadilan. Demikian pula keluarga akan di tahan di penjara!"

Keputusan kaisar tidak dapat dibantah dan demikianlah, Gubernur Yen Kan dan tiga orang isterinya lalu lalu di masukkan ke dalam tahanan.

Gubernur itu tidak kelihatan sedih, bahkan merasa bersukur bahwa kedua orang anaknya berhasil lolos dari tangkapan dan dia percaya bahwa mereka berdua tentu akan melanjutkan perjuangannya untuk menumbangkan kekuasaan Kerajaan Toba dari tanah air.

Dia tidak akan menyesal andaikata dia harus mati sekalipun!.

Penangkapan atas diri Gubernur Gak di Nam-kiang kemudian di susul penangkapan atas diri Gubernur Yen di Lok-yang menimbulkan kegemparan.

Banyak pejabat tinggi menjadi khawatir.

Bagaimanapun juga, belum ada bukti-bukti bahwa kedua Gubernur itu melakukan pemberontakan.

Juga di terima kabar bahwa Coa-ciangkun tidak jadi berangkat ke kota raja atau jelasnya mengabaikan panggilan kaisar untuk menarik pasukan dan kembali ke kota raja!

Memang panggilan itu di anggap tidak masuk akal oleh para pejabat tinggi.

Coa-ciangkun adalah seorang panglima yang berjasa besar, panglima yang selama ini telah menahan serangan Kerajaan Sun di perbatasan.

Kalau tidak karena kehebatan Coa-ciangkun mengatur pasukan, tentu sudah lama musuh di selatan itu memasuki wilayah Toba karena pasukan Sun di kabarkan amat kuat.

Hanya berkat kegagahan Coa-ciangkun saja maka Kerajaan Sun dapat di tahan.

Dan sekarang kaisar menyuruhnya mundur dan menarik pasukan.

Tidak masuk di akal!

Penangkapan atas diri kedua Gubernur itu menimbulkan perasaan tidak puas di kalangan pejabat tinggi, apalagi penagkapan itu menjalar dengan di tangkapinya dan digantinya para panglima yang tadinya berkedudukan di Lok-yang.

Semua pejabat khawatir kalau-kalau pada suatu hari mereka akan mengalami nasib yang sama.

Dan mereka semua juga tahu bahwa semua ini adalah hasil ulah Koksu Lui Tat dan juga Perdana Menteri Ji.

Dunia kang-ouw juga geger.

Mereka semua seperti sudah dapat merasakan mulainya api pemberontakan berkobar di mana-mana, ledakan-ledakan pemberontakan hanya tinggal menanti saatnya saja.

Akan tetapi para tokoh kang-ouw sendiri masih bingung harus berpihak siapa.

Dan untuk melegakan hati mereka, untuk mendapatkan pegangan, mereka memandang kepada pemilihan beng-cu yang segera akan tiba dan di adakan di Thai-san.

Kalau sudah ada seorang beng-cu yang bijaksana dan pandai, tentu beng-cu itu akan dapat mengambil keputusan melalui musyawarah, tindakan apa yang sebaiknya harus di ambil oleh dunia kang-ouw menghadapi peristiwa dalam negeri itu.

Jauh hari sebelum hari pertemuan besar pemilihan beng-cu, Thai-san sudah mulai di banjiri pengunjung.

Mereka terdiri dari banyak macam orang, ada yang aneh-aneh, ada pengemis, pendeta hwe-sio, to-su, ada pendeta wanita, dan ada pula yang berpakaian seperti petani, ada pula yang seperti sastrawan, dan seperti orang kalangan persilatan.

Mereka ada yang datang berkelompok, ada pula yang perorangan.

Karena pertemuan itu adalah pertemuan yang dikehendaki semua orang, tanpa ada tuan rumah, akan tetapi undangan dilakukan oleh Hek I Kaipang, maka juga mereka tidak menerima penyambutan seperti biasa.

Mereka mendirikan sendiri gubuk-gubuk darurat untuk tempat itnggal sambil menanti datangnya hari yang di tentukan.

Yang Cien yang mewakili golongan pengemis sudah tiba lebih dulu di ditu bersama Cu Lokai yang mewakili Hek I Kaipang yang lain.

Mereka pun mendirikan gubuk-gubuk di dalam hutan di puncak pegunungan yang dingin itu karena pemilihan bengcu baru akan di adakan tiga hari kemudian.

Tempat untuk melakukan pemilihan sudah dipersiapkan oleh Hek I Kaipang, yang menebangi pohon dan membuka sesuatu dataran yang cukup luas, dengan mendirikan panggung yang besar.

Pada hari itu, pagi-pagi sekali, seorang anggota pengemis memberitahu kepada Yang Cien bahwa ada seorang tokouw (Pendeta To) dan seorang gadis minta berjumpa dengannya.

Yang Cien mengerti bahwa itu tentulah Kwe Sun Nio yang menuduhnya memperkosa dan gurunya.

Maka dia bergegas keluar, menerima mereka di depan gubuk di bawah pohon besar dan dia memberi isyarat kepada semua pengemis untuk menjauhkan diri karena maklum bahwa apa yang di bicarakan tidak boleh terdengar orang lain.

"Selamat pagi, lo-cian-pwe,"

Kata Yang Cien sambil memberi hormat.

"Dan Nona Kwe."

Kedua orang wanita itu membalas penghormatannya dan wajah Sun Nio kemerahan, bahkan matanya juga menunjukkan bahwa gadis ini banyak menangis dan dalam keadaan bersedih sekali sehingga dia merasa kasihan.

"Selamat pagi, Yang-taihiap. Kami kira engkau sudah tahu apa maksud kunjungan kami ini,"

Kata Im-yang To-kouw dengan suara tajam dan pandang mata penuh selidik. Yang Cien bersikap serius.

"Kalau tidak salah, tentu ada hubungannya dengan peristiwa yang menimpa diri nona Kwe?".

"Yang-taihiap, kami bukan hendak mencari keributan. Antara engkau dan kami ada hubungan baik, yaitu sama-sama mendukung perjuangan untuk mengusir penjajah Mongol dari tanah air. Bahkan kita bersama menghadapi peristiwa besar pemilihan beng-cu dan kami pun mendukung kalau engkau yang dapat menjadi beng-cu untuk memimpin kita semua. Akan tetapi, peristiwa yang menimpa diri murid kami menjadi ganjalan dan kami harap agar taihiap suka mempertanggung-jawabnya. Ketahuilah, kehidupan kami sebagai pendeta mempunyai peraturan yang amat keras. Apa yang menimpa diri Sun Nio yang malang ini hanya dapat dibersihkan dengan dua jalan, yaitu ia menikah dengan yang bertanggung-jawab atau ia menghabisi nyawa sendiri untuk menebus aib dan tidak menodai nama perkumpulan kami. Nah, tegakah taihiap bersikap tidak adil dan membiarkannya menghabiskan nyawa sendiri?".

"Aduh, lo-cian-pwe, apa yang dapat saya katakana? Sungguh mati, saya berani bersumpah bahwa saya bukanlah pelakunya. Bukan saya yang melakukannya dan saya tidak tahu menahu sama sekali, bahkan tidak pernah lagi bertemu dengan nona Kwe sejak kami saling jumpa di rumah Gubernur Gak dulu itu. Lalu bagaimana saya harus mempertanggungjawabkan perbuatan yang tidak saya lakukan?"

"Akan tetapi muridku ini mengatakan bahwa ada orang yang melihatmu!"

Desak Im-Yang To-kouw karena pertapa ini juga setuju sepenuhnya kalau muridnya menjadi isteri pemuda yang dikaguminya ini.

"Lo-cian-pwe, saya bukanlah orang macam itu. Saya tidak mungkin dapat melakukan perbuatan sekeji dan terkutuk itu, dan sayapun seorang yang bertanggung-jawab sepenuhnya atas segala perbuatan saya. Menurut keterangan nona Kwe, ketika peristiwa itu berlangsung ia sedang dalam keadaan pingsan. Berarti ia tidak melihat siapa pelakunya, artinya, boleh jadi saya, boleh jadi pula orang lain! Kemudian, ia bertemu seseorang yang mengatakan bahwa orang itu melihat saya melarikan diri! Ketahuilah, lo-cian-pwe, orang yang mengatakan itu adalah Lai Seng, dia kabarnya murid Toat-beng Giam-ong, Koksu Lui Tat dan dia seorang yang jahat sekali. Dia pernah menyusup ke dalam Hek I Kaipang dan membikin kacau sehingga terusir keluar. Orang macam dialah yang besar kemungkinan melakukan perbuatan terkutuk itu dank arena ia memang mendendam kepadaku karena kukalahkan dan kuusir dari Hek I Kaipang maka dia lalu menyebut namaku. Mungkin ini juga lalu menyebut namaku. Mungkin ini juga suatu cara untuk mengadu domba antara Thian-li-pang dengan Hek I Kaipang. Pertimbangkanlah baik-baik, lo-cian-pwe dan engkau, Nona Kwe Sun Nio. Aku bersumpah tidak melakukan perbuatan itu!". Terdengar isak tangis Sun Nio dan Im-Yang To-kouw termenung. Ia dapat menerima alasan-alasan Yang Cien dan menjadi ragu.

"Aihhh, Sun Nio, jangan-jangan anjing keparat Lai Seng itu yang justru melakukannya! Kita harus menyelidiki dulu sebelum menjatuhkan suatu keputusan."

"Aihhhh, subo... bagaimana teecu ini....?"

Sun Nio tersedu-sedu.

"Kwee-siocia, saya berjanji akan membantumu menyelidikinya!"

Kata Yang Cien dengan gemas.

"Karena ini menyangkut fitnah atas nama saya pula. Tunggulah saja sampai pemilihan beng-cu ini selesai, aku akan menemui Lai Seng dan kalau perlu akan ku paksa dia mengaku bahwa semua itu fitnah belaka!". Sun Nio tidak menjawab lalu lari meninggalkan tempat itu sambil menangis. Hatinya hancur karena dengan hadirnya subonya tetap saja tidak dapat membujuk Yang Cien untuk mengawininya. Dan kalau benar Lai Seng yang melakukannya, ah, ia lebih baik mati daripada harus menikah dengan orang sejahat itu, melakukan fitnah kepada orang lain! Ia harus mengetahui yang sebenarnya dan kalau sudah yakin bahwa Lai Seng yang melakukannya, ia harus membunuh jahanam itu. Kalau pelaku itu sudah dibunuhnya, maka baru impas dan ia sudah terlepas dari ada hukuman yang menjadi peraturan Thian-li-pang. Kalau ia melakukan perjinaan ia memang harus mati, akan tetapi ia tidak berdaya dan diperkosa orang selagi pingsan. Kalau ia sudah dapat membunuh pelakunya, maka impaslah sudah.

"Maafkan kami, taihiap. Pin-ni percaya akan semua keteranganmu dan hal ini akan kami selidiki lebih lanjut,"

Kata Im-Yang To-kouw. Yang Cien menjadi girang sekali dan dia cepat memberi hormat.

"Lo-cian-pwe adalah seorang bijaksana yang dapat mempertimbangkan dengan adil. Sayapun berjanji akan membantu sekuat tenaga, lo-cian-pwe."

Pendeta wanita itu lalu pergi meninggalkan Yang Cien dan mengejar muridnya.

Akan tetapi, sampai di tempat tinggal para anggota Thian-li-pang, ia tidak menemukan muridnya.

Di cari kemanapun tidak ada dan tidak ada seorangpun murid yang mengetahui.

Ketika akhirnya ada yang memberitahu bahwa muridnya itu pergi menuju ke perkemahan yang kabarnya menjadi tempat tinggal sementara dari rombongan dari kota raja yang di hadiri pula oleh Koksu Lui, ia merasa khawatir sekali.

Tahulah ia bahwa muridnya itu agaknya hendak mencari Lai Seng!

Maka tergesa-gesa ia kembali k etempat tinggal Yang Cien.

"Ada apakah lo-cian-pwe kembali ke sini?"

Tanya Yang Cien khawatir.

"Yang-taihiap, tolonglah kami. Sun Nio pergi ke tempat tinggal Lai Seng dan gurunya. Aku khawatir sekali......"

"Mari kita susul ke sana, lo-cianpwe!"

Kata Yang Cien yang mengkhawatirkan keselamatan gadis itu Sementara itu, Sun Nio memang sudah mendengar bahwa rombongan Koksu juga menghadiri pemilihan bengcu itu, dank arena ia mendengar bahwa Lai Seng adalah murid Koksu, maka ia tidak pulang ke perkemahan Thian-li-pang melainkan langsung saja menuju ke perkemahan Koksu dengan semua pengikutnya!

Ia mengambil keputusan untuk menyelesaikan urusannya hari itu juga, tidak menanti sampai pemilihan bengcu.

Ia harus menemui Lai Seng.

Tak jauh dari perkemahan itu, bertemulah ia dengan seorang wanita cantik yang pesolek.

Wanita itu bukan lain adalah Bong Kwi Hwa, isteri Lai Seng yang juga ikut datang ke tempat itu.

Begitu melihat Kwe Sun Nio, Kwi Hwa segera teringat bahwa inilah gadis yang dulu di sangka Ji Goat dan menjadi korban perkosaan suaminya!

Maka ia menyambut dengan senyum mengejek di mulutnya.

"Ada urusan apa engkau datang mendekati perkemahan kami? Tanpa ijin engkau tidak boleh memasuki daerah perkemahan kami!"

Bentaknya ketus.

ia tidak cemburu karena gadis ini pernah di gauli suaminya, akan tetapi mendongkol karena ternyata gadis ini bukan Ji Goat seperti yang di kehendaki suaminya.

Kalau suaminya menjadi mantu Perdana Menteri, setidaknya iapun akan terangkat derajatnya.

Akan tetapi gadis ini bukan Ji Goat dan hal itu menyebalkan hatinya.

Sun Nio sedang marah dan sedih, melotot ketika di sambut ucapan kasar itu.

"Aku tidak memasuki daerah perkemahan siapa-siapa, aku datang untuk mencari orang yang namanya Lai Seng!".

"Hemm, orang yang namanya Lai Seng itu suamiku, tahu? Mau apa engkau mencari-cari suamiku dan apa yang engkau harapkan darinya? Hayo katakana!". Hampir meledak dada Sun Nio menghadapi wanita yang mengaku isteri Lai Seng itu. Jadi Lai Seng sudah beristeri. Hal ini membikin ia semakin marah kalau membayangkan bahwa mungkin sekali pelakunya adalah Lai Seng.

"Suamimu telah melakukan fitnah keji terhadap taihiap Yang Cien dan aku akan menanyainya tentang fitnah itu. Panggil dia ke sini!". Kwi Hwa mengerutkan alisnya. Hem, jadi akal suaminya untuk mengadu domba antara Thian-li-pang dan Hek I Kaipang agaknya juga gagal. Gadis ini agaknya tidak percaya bahwa pemerkosanya adalah Yang Cien. Kalau begitu percuma saja mereka mempergunakan siasat melakukan fitnah itu!.

"Tidak perlu engkau bertemu suamiku, kalau ada urusan, cukup dengan aku!."

"Aku tidak mempunyai urusan denganmu, panggil dia keluar!".

"Tidak sudi!".

"Kalau begitu, biar aku mencarinya sendiri!".

"Perempuan tak tahu malu, lupakah engkau bahwa Lai Seng sudah mempunyai isteri? Engkau minta di gauli lagi ya? Sun Nio tersentak kaget. Di gauli lagi? Matanya terbelalak memandang wajah wanita yang pesolek itu.

"Ahhh.... Jadi.... Jadi.... Dia yang menggauliku waktu itu? Dia yang memperkosaku waktu itu.....?"

Kwi Hwa merasa sudah kesalahan bicara, akan tetapi karena siasat mengadu domba itu tidak berhasil, tidak mengapalah ia berterus terang untuk menghina gadis ini.

"Benar, suamiku yang dulu menikmati tubuhmu. Dan engkau datang mencarinya untuk minta lagi, ya? Tak tahu malu!". Sun Nio menjerit dan pedangnya berkelebat menyerang. Ia marah dan benci sekali, kepada Lai Seng, kepada wanita yang menjadi isterinya, kepada siapa saja! Sekarang telah terbongkar rahasia itu dan ternyata benar Lai Seng yang telah memperkosanya. Lai Seng yang jahat, yang sudah memiliki isteri yang juga bukan manusia baik-baik ini. Ia menyerang dengan sengit sehingga mengejutkan Kwi Hwa yang segera mengelak dengan loncatan ke belakang, lalu ia pun mencabut pedangnya. Terjadilah perkelahian yang seru antara murid Thian-li-pang dan puteri Sin-ti Kwi-ong ini. Bunyi pedang mereka berkerontangan dan teriakan-teriakan mereka penuh kebencian. Sampai sepuluh jurus mereka berkelahi, belum juga ada yang terdesak, akan tetapi tiba-tiba muncul Lai Seng.

"Haiii, ada apa ini?"

Teriaknya.

"Ini ia perempuan itu, perempuan tak tahu malu, sekarang datang mencarimu,"

Kata Kwi Hwa sambil melompat ke belakang.

Sun Nio menahan pedangnya dan memandang kepada Lai Seng dengan penuh kebencian.

Lai Seng juga segera mengenal gadis yang dulu di sangka Ji Goat dan di perkosanya dengan bantuan isterinya itu.

"Hei, nona, ada apakah engkau mencari aku?".

"Aku hendak bertanya tentang fitnahmu terhadap Yang Cien taihiap. Dia bukan pelakunya dan engkau melakukan fitnah terhadap dirinya. Hayo mengaku terus terang bahwa engkaulah yang melakukan perbuatan biadab atas diriku itu dan bukan Yang Cien!". Lai Seng menjadi gugup, karena tidak menyangka gadis itu akan menuduhnya demikian.

"Sudahlah, siasat mengadu domba tidak berhasil, aku telah mengakuinya,"

Kata Kwi Hwa. Lai Seng tersenyum.

"memang benar, dan karena sudah terlanjur, bagaimana kalau engkau menjadi selirku, sayang?". Kemarahan Sun Nio memuncak.

"Kalian harus mati di tanganku!"

Bentaknya dan kini ia menyerang dengan sengit. Pedangnya berkelebat membacok ke arah leher pria itu, akan tetapi Lai Seng menggerakkan sulingnya untuk menangkis.

"Trannggg....! "Bunga api berhamburan dan Sun Nio agak terhuyung ke belakang. Biarpun ia tahu bahwa Lai Seng lihai sekali apa lagi di situ terdapat isterinya yang juga amat lihai, akan tetapi dendam sakit hati dan kebenciannya yang sudah memuncak membuat ia lupa diri dan lupa bahaya. Ia menyerang terus dan kini ia di keroyok dua oleh suami isteri itu!. Keadaan menjadi berat sebelah dan suatu saat suling di tangan Lai Seng menghantam pundaknya, membuat ia terhuyung dan pedang di tangan Kwi Hwa menusuk lambungnya. Sun Nio berteriak, pedangnya terlepas dan ia meloncat lari sambil mendekap lambungnya yang terluka parah.

"Sudahlah, jangan kejar, ia sudah terluka parah,"

Kata Lai Seng kepada isterinya dan mereka lalu kembali ke perkemahan rombongan Koksu.

Rombongan Koksu terdiri dari orang-orang yang memiliki kepandaian tinggi karena Koksu bermaksud menguasai dunia kang-ouw dan kalau mungkin akan menanamkan seorang pembantu agar dapat menjadi bengcu menguasai Kang-ouw.

Diantara mereka terdapat Lai Seng dan isterinya, Sin-to Kwi-ong dan Thian-te Ciu-kwi, Gu Moko si tinggi kurus muka kerbau yang bersenjata sepasang kapak, dan Huang-ho Sam-kouw yang terdiri dari tiga orang bersaudara yang tinggi besar dan lihai.

Sun Nio menahan rasa nyeri di lambungnya dan ia melarikan diri secepatnya menuju ke perkemahan Thian-li-pang.

Akan tetapi di tengah perjalanan, ia bertemu dengan Im-Yang To-kouw dan Yang Cien yang berlari hendak mengejarnya.

"Sun Nio....!"

"Subo.... Ah, subo... teecu....!"

Sun Nio terhuyung dan segera di rangkul oleh gurunya.

Im-Yang To-kouw terkejut melihat lambung itu bercucuran darah.

Cepat ia menotok beberapa jalan darah untuk menghentikan keluarnya darah, akan tetapi ia melihat bahwa luka yang di derita muridnya itu parah bukan main.

"Sun Nio, apa yang terjadi.....?"

"Subo... teecu bertemu Lai Seng.... Ternyata dia... dia yang dulu... memperkosa teecu... Yang taihiap... maafkan aku.... Subo.... Aku tidak kuat lagi....dia... dan isterinya... membunuhku... subo....

"Ia terkulai dan tewas dalam rangkulan subonya.

"Sun Nio.... Ah, Sun Nio....

"Im-Yang To-kouw menghela napas berulang-ulang.

"betapa buruk nasibmu.....".

"Kwee-siocia, tenangkan arwahmu, aku berjanji kelak akan membalaskan sakit hati ini!"

Kata Yang Cien mengepal tinju.

"Sekarangpun pin-ni akan menuntut kepada Koksu!"

Kata Im-yang To-kouw setelah merebahkan tubuh muridnya yang sudah menjadi mayat dan ia bangkit berdiri.

"Maaf, lo-cian-pwe, saya kira tidak ada manfaatnya, bahkan akan merugikan. Mereka itu licik sekali. Kalau lo-cian-pwe menuntut dan marah di sana, mereka akan menuduh lo-cian-pwe mencari keributan atau akan memberontak terhadap orang pemerintah."

"Akan tetapi ini buktinya mereka telah membunuh muridku!".

"Mereka dapat saja mengatakan bahwa murid lo-cian-pwe yang menyerbu ke sana dan menyerang lebih dulu dan hal itu mungkin terjadi. Lalu apa yang hendak lo-cian-pwe katakan? Lo-cian-pwe tentu tidak tega untuk membeberkan aib yang telah menimpa diri nona Kwe, bukan? Sudahlah, kita rawat jenazah ini dan kita terpaksa bersabar sampai pemilihan bengcu selesai. Masih banyak waktu untuk membalas dendam. Ingat, urusan perjuangan jauh lebih penting dari pada urusan pribadi bukan?". Im-yang To-kouw merangkap kedua tangannya.

"Sian-cai... engkau memang seorang muda yang bijaksana sekali, taihiap. Engkau telah menyadarkan pin-ni dari perbuatan bodoh yang terburu nafsu. Mari kita rawat jenazah ini. Yang Cien lalu memondong jenazah itu dan membawanya kembali ke perkemahan Thian-li-pang, di sambut dengan kesedihan oleh para murid Thian-li-pang. Pemakaman di lakukan secara sederhana di perkemahan itu juga. Saat yang din anti-nanti oleh semua orang itu pun tiba. Kini tempat itu sudah penuh tamu yang membuat perkemahan di sekitar panggung itu. Tepat pada hari itu setelah matahari naik, Cu Lokai sebagai pihak yang mengirim undangan naik ke atas panggung. Setelah memberi hormat kepada semua tamu yang sudah memenuhi sekitar panggung itu, bermacam-macam, Cu Lokai lalu berkata dengan suara lantang.

"Cu-wi yang terhormat, sayalah mewakili Hek I Kaipang yang mengambil kehormatan mengundang cu-wi sekalian ke tempat ini untuk mengadakan pemilihan beng-cu. Karena ini kepentingan kita semua, maka kami bukanlah penyelenggara, hanya pengundang saja dan selanjutnya biarlah lebih dahulu kita semua memilih seorang untuk dijadikan pengatur pemilihan beng-cu. Harap saudara sekalian memilih wakil masing-masing agar dapat dibentuk suatu kelompok yang akan mengatur jalannya pemilihan bengcu dan menjaga tata-tertib."

Segera terdengar sambutan suara-suara yang mengajukan calon wakil masing-masing. Cu Lokai mengangkat tangannya minta agar semua orang tenang.

"Harap mengajukannya satu demi satu agar kami di sini dapat mencatat dan mendengarnya dengan baik."

Pihak para ketua perkumpulan pengemis segera berteriak menyebut nama Cu Lokai.

"Ah, ada yang mengusulkan agar saya sendiri menjadi wakil mereka. Baiklah, saya terima pengangkatan ini, dan siapa lagi yang di usulkan?".

"Toat-beng Giam-ong Lui Tat!"

Terdengar suara dan di ikuti pula oleh suara banyak orang yang mendukungnya.

"Yang dimaksud tentu Lui Koksu yang berkenan hadir pula di sini?"

Kata Cu Lokai.

"Silahkan lo-cian-pwe Toat-beng Giam-ong untuk naik ke panggung untuk bersama kami memimpin pemilihan bengcu ini!". Terdengar suara tawa dan sesosok tubuh melayang naik ke atas panggung dan ketika tiba di atas panggung sama sekali tidak terdengar suara injakan kakinya, menunjukkan betapa lihainya orang itu yang bertubuh tinggi besar, tubuhnya tinggi besar kulit mukanya hitam dan sikapnya angkuh. Semua orang memandang, terutama mereka yang sudah lama mendengar nama besar tokoh ini, baik sebagai datuk Toat-beng Giam-ong maupun sebagai Koksu Lui Tat yang tersohor. Sambil tersenyum Giam-ong mengangguk ke empat penjuru, di sambut tepuk tangan mereka yang mendukungnya.

"Masih ada lagi? Kami kira boleh seorang lagi untuk menjadi anggota pimpinan rapat besar ini. Sesudah itu, barulah kita semua mengajukan nama calon bengcu masing-masing yang di pilih!"

Kata Cu Lokai dengan suara lantang. Terdengar teriakan wanita.

"Kami usulkan Im Yang To Kouw!".

"Bagus, kami sudah mendengar nama Im Yang To Kouw sebagai tokoh besar ketua Thian-li-pang. Silahkan Im Yang To Kouw maju ke atas panggung!". Im-Yang To-kouw yang masih berduka atas kematian muridnya tidak dapat menolak, juga ia pikir dengan menjadi anggota pimpinan yang memimpin pemiluhan bengcu, ia dapat ikut mengawasi agar jangan terjadi kecurangan di pihak Koksu dan rekan-rekannya. Maka, ia pun meloncat dan nampak berkelebatnya sesosok tubuh dan tahu-tahu tokouw yang berusia lima puluh tahun membawa kebutan putih, sudah berdiri di atas panggung.

"Sian-cai, terima kasih atas kepercayaan yang diberikan kepada pin-ni,"

Katanya.

"Nah, cu-wi yang terhormat. Sekarang kami bertiga di sini sudah siap untuk melakukan pendaftaran para calon yang akan di ajukan sebagai calon bengcu. Siapakah yang akan mendaftar nama agar kami catat."

Dari pihak pengikut Koksu segera terdengar seruan, kami mengajukan Thian-te Ciu-kwi sebagai calon bengcu!".

Cu Lokai mengerutkan alisnya.

Dia tahu bahwa Thian-te Ciu-kwi adalah pembantu Koksu, maka dengan di ajukannya orang itu jelas ada maksud dari Koksu agar kedudukan bengcu di pegang oleh orangnya sendiri.

Akan tetapi karena pemilihan bengcu itu bebas dan Thian-te Ciu-kwi juga seorang tokoh kang-ouw yang terkenal, dia tentu saja tidak dapat berkata apa-apa.

"Kami mendaftar nama Thian-te Ciu Kwi sebagai pendaftar pertama!"

Seru Cu Lokai.

"Siapa lagi yang akan di ajukan sebagai calon beng-cu?". Tiba-tiba terdengar suara yang parau dan nyaring.

"Aku Hek-liong-ong mengajukan diri sebagai calon bengcu!". Suara itu menggeledek dan mengejutkan orang, terutama sekali Lui Koksu terkejut. Dia tahu siapa Hek-liong-ong, majikan Pulau Naga yang lihai bukan main. Kalau kakek itu mengajukan diri sebagai calon bengcu, akan sukarlah bagi orang lain untuk dapat mengalahkannya, Kalau sampai terjadi pertandingan adu kesaktian. Maka diapun segera membisikkan kepada Lai Seng.

"Pendaftar kedua adalah Hek-liong-ong! Kami sudah mencatatnya!"

Teriak pula Cu Lokai yang diam-diam juga mengkhawatirkan, karena diapun sudah mendengar akan kesaktian kakek raksasa hitam itu.

"Kami mengusulkan Sin-to Kwi-ong menjadi calon bengcu!"

Kini Lai Seng berteriak memenuhi bisikan Koksu tadi.

Sin-to Kwi-ong, mertua Lai Seng kini sudah dia ajukan untuk memperkuat pencalonan Thian-te Ciu-kwi.

Dengan adanya dua calon dari mereka yang maju, maka kesempatan untuk meraih kedudukan bengcu lebih banyak lagi.

Munculnya tiga orang datuk ini saja sebagai calon bengcu sudah membuat orang-orang lain menjadi gentar.

Partai-parta besar seperti Kun-lun-pai, Gobi-pai, Kong-thong-pai dan lainnya tidak berambisi untuk menguasai dunia kang-ouw, maka mereka datang hanya sebagai penonton dan sebagai saksi saja.

Mereka semua itu merasa tidak suka melihat bahwa orang-orang yang menjadi calon bengcu sepatutnya seorang pendekar yang bijaksana dan budiman.

Kalau bengcunya seorang datuk sesat, salah-salah dunia kang-ouw akan di seret ke dalam kesesatan!.

"Cu-wi yang terhormat. Apakah masih ada lain calon lagi untuk di ajukan?"

Tanya Cu Lokai lantang. Kini dari kelompok pengemis terdengar suara nyaring.

"Kami dari seluruh kai-pang yang berada di sini mengajukan seorang calon beng-cu, yaitu taihiap Yang Cien!". Terdengar tepuk tangan dan sorak sorai menggegap gempita dari seluruh anggota kaipang yang hadir untuk menyambut nama ini. Cu Lokai lalu mengangkat tangan meminta agar suasana menjadi tenang, lalu dia berteriak.

"Calon ke empat adalah taihiap Yang Cien! Mungkin banyak yang belum mengenalnya, akan tetapi di kalangan para kaipang namanya sudah amat di kenal. Apakah masih ada lagi calon yang akan di ajukan?". Ternyata tidak ada lagi calon yang di ajukan. Yang tadinya mempunyai niat menjadi mundur teratur ketika melihat sederetan nama para datuk tadi, karena mereka menjadi gentar.

"Kalau sudah tidak ada lagi calon yang di ajukan, kami minta kepada para calon untuk maju seorang demi seorang. Sekarang peserta atau calon pertama, kami minta agar Thian-te Ciu-kwi maju ke atas panggung!".

"Ha-ha-ha-ha.....!"

Terdengar suara tawa bergerak dan nampak sesosok tubuh berjungkir balik di udara dan turun ke atas panggung.

Di atas panggung itu nampak seorang tua berusia enam puluh tahun bertubuh kecil kurus dan dia begitu tiba di situ meminum araknya dari sebuah guci arak.

"Thian-te Ciu-kwi sebagai calon pertama di persilahkan berbicara kepada semua peserta rapat pemilihan beng-cu, silahkan!"

Kata Cu Lokai. Thian-te Ciu-kwi kembali meminum araknya, kemudian dia memandang ke sekeliling dan berseru dengan suaranya yang tinggi.

"Aku sudah berdiri di sini. Apalagi yang akan di bicarakan? Aku ingin menjadi bengcu untuk memimpin kalian semua menjadi warga Negara yang baik, membantu Kerajaan dan mencari kedudukan dan kemuliaan. Kita kaum kang-ouw sudah sepatutnya membantu kerajaan, menyumbangkan tenaga dan menuntut imbalan jasa!". Ucapan ini di sambut sorak sorai para anak buah Koksu, akan tetapi mereka mendengar apa yang akan dilakukan calon itu kalau sudah menjadi beng-cu. Jelas bahwa calon ini berpihak kepada Kerajaan Toba yang menjajah, dan tentu saja sesuai dengan kedudukan Koksu yang menjadi seorang di antara pimpinan pemilihan beng-cu itu.

"Apakah sudah selesai pembicaraan peserta calon pertama?"

Tanya Cu Lokai.

"Sudah,"

Jawab Thian-te Ciu-kwi.

"Aku tidak mempunyai ucapan apa-apa lagi."

"Kalau begitu anda dipersilahkan untuk mundur dan kami memberi kesempatan kepada calon kedua untuk maju memperkenalkan diri dan bicara. Silahkan calon kedua, Hek-liong-ong!". Raksasa hitam itu muncul di atas panggung dengan suatu lompatan yang membuat jubahnya berkibar seperti sayap burung rajawali, dan kedua kakinya hinggap di panggung tanpa suara. Kakek berusia enam puluh tahun ini berdiri tegak dan kokoh seperti bukit karang dan suaranya juga terdengar keras.

"Aku adalah Hek-liong-ong Poa Yok Su Majikan Pulau Naga di Laut Timur. Aku mengajukan diri sebagai calon bengcu karena aku melihat kekacauan terjadi di mana-mana. Kalau aku di pilih menjadi bengcu, aku akan memimpin kalian semua untuk menantang kelaliman pemerintah, dan untuk menghancurkan mereka yang mendatangkan kekacauan di antara rakyat. Kini sudah tiba saatnya kita bangkit, mengandalkan kepandaian kita untuk mendatangkan ketentraman dan menghalau semua pengacau dari permukaan bumi!"

Ucapan itu gagah sekali dan terdengar penuh dengan kekerasan.

Sementara itu, Akauw yang ikut datang bersama Hek-liong-ong, tadi merasa terkejut bukan main mendengar disebutnya nama Yang Cien.

Akan tetapi dia belum tahu apakah yang di sebut itu benar Yang Cien suhengnya ataukah bukan.

Namun, dia menjadi tegang sekali, juga gembira karena mungkin dia akan bertemu dengan suhengnya yang sudah bertahun-tahun tidak dijumpainya.

Ketika gurunya, Hek-liong-ong menyatakan diri menjadi calon, dia merasa senang dan siap untuk membantu gurunya.

Dia telah berhasil membujuk gurunya agar menyadari akan buruknya pemerintahan penjajah sehingga gurunya kini ingin menjadi bengcu dan memimpin para kang-ouw untuk memberontak.

Ucapan Hek-liong-ong juga mendapat sambutan sorak-sorai dari mereka yang setuju.

Kemudian dia diminta mundur untuk memberi kesempatan bicara kepada calon ketiga, yaitu Sin-to Kwi-ong.

Sin-to Kwi-ong yang bertubuh tinggi besar, mukanya bengis, rambutnya riap-riapan itupun melompat ke atas panggung.

Baca Juga: Pendekar Remaja 8

Baca Juga: Pemberontakan Taipeng 4

Cari Blog Ini

Diberdayakan oleh Blogger.

Parnert