Eps 1 Si Walet Hitam Ouw Yan Cu - Kho Ping Hoo
Baca online Si Walet Hitam Ouw Yan Cu - Kho Ping Hoo
Cersil Si Walet Hitam Ouw Yan Cu - Kho Ping Hoo.
Si Walet Hitam/Ouw Yan Cu (Seri ke 03 Serial Si Teratai Merah) Karya . Asmaraman S. Kho Ping Hoo
Jilid 01 Sang waktu berlalu amat cepatnya, tanpa terasa oleh siapapun juga.
Segala sesuatu ikut berputar, dan hanyut dalam aliran waktu, yang terus bergerak maju tanpa ada kekuasaan yang dapat menghentikannya.
Tak terasa, duapuluh tahun telah lewat dan mari kita menjumpai kembali pasangan-pasangan para pendekar perkasa dengan keluarga mereka itu.
Di lereng Gunung Bong-ke-san terdapat sebuah dusun yang disebut Pek-se-chung atau Dusun Pasir Putih, karena di dusun ini memang terdapat banyak sekali pasir yang keputih-putihan dan mengkilap bagaikan perak apabila tertimpa sinar matahari.
Menurut dongengan para penduduk dusun yang telah berusia lanjut, pasir-pasir itu dulu dimuntahkan oleh Gunung Bong-ke-san itu.
Akan tetapi biarpun banyak bagian dusun itu tertutup pasir, namun tanahnya subur sekali karena selain tanah yang baik, juga dari lereng gunung itu keluar mata air Sungai Han-kiang yang memuntahkan airnya ke Sungai Yang-ce-kiang.
Oleh karena ini maka biarpun dusun itu hanya ditinggali oleh beberapa puluh keluarga saja, namun nampaknya mereka hidup cukup makmur dari hasil pertanian yang mereka garap secara sederhana.
Di tengah kampung Pek-se-chung, tinggal seorang setengah tua yang gagah perkasa dan disegani oleh semua penduduk kampung sebagai seorang pendekar yang baik budi dan dermawan, dan bahkan semua penduduk kampung itu mengangkat dia sebagai kepala kampung mereka.
Pendekar ini adalah Nyo Tiang Pek, seorang tokoh persilatan yan terkenal sekali namanya di dunia kang-ouw, karena dia bukan lain adalah murid terkasih dari Kang-lam Taihiap Kam Hong Tie yang namanya telah menggemparkan empat penjuru dunia.
Biarpun usianya telah empatpuluh tahun, namun Nyo Tiang Pek masih nampak gagah dan tampan.
Tubuhnya tinggi tegap dan tindakan kakinya jelas menunjukkan bahwa dia memiliki kepandaian tinggi dan tenaga yang kuat sekali.
Di samping kegagahannya sendiri, Nyo Tiang Pek juga mempunyai seorang isteri yang bukan orang sembarangan pula, karena isterinya yang bernama Coa Giok Lie ini juga memiliki ilmu silat tinggi, terutama kepandaian gin-kangnya (ilmu meringankan tubuh), karena nyonya Nyo Tiang Pek ini adalah murid Song Cu Ling yang berjuluk Dewi Tanpa Bayangan, seorang tokoh besar dunia kang-ouw yang namanya sudah membuat bulu tengkuk para penjahat berdiri saking ngeri dan takutnya!
Selain pandai ilmu silat biarpun tidak sepandai suaminya, Coa Giok Lie juga ahli dalam hal pekerjaan kerajinan tangan, menabuh yang-kim dan meniup suling!
Hal ini tidak mengherankan, karena sesungguhnya Coa Giok Lie ini masih berdarah bangsawan tinggi, yakni dari seorang pangeran!
Nyo Tiang Pek hanya mempunyai seorang anak tunggal, maka tidak mengherankan apabila Lee Ing sangat dimanja ayah-bundanya.
Juga bukan hal yang aneh apabila gadis ini berwajah manis karena ayahnya tampan dan ibunya cantik jelita, serta memiliki kepandaian silat yang luar biasa berkat latihan-latihan yang diberikan dengan sungguh hati oleh Nyo Tiang Pek dan Coa Giok Lie.
Kepandaian Lee Ing dalam hal ilmu pedang demikian maju dan lihai sehingga jangankan ibunya, bahkan ayahnya sendiri di waktu berlatih melawan dia, diam-diam merasa kagum karena sukar baginya untuk mengalahkan puterinya ini!
Akan tetapi, sebagai seorang yang bijaksana, Nyo Tiang Pek tidak mau memuji-muji kepandaian Lee Ing, bahkan sering memberi nasihat demikian.
"Ing-ji, kepandaian silat yang kaumiliki ini masih jauh untuk dapat dikatakan sempurna. Ketahuilah bahwa di dunia ini banyak sekali orang-orang pandai yang memiliki kepandaian luar biasa. Dulu ketika ayahmu ini masih muda dan sering merantau, tidak terhitung banyaknya orang pandai yang telah mengalahkan ayahmu, maka sikap yang paling tepat ialah merendahkan diri dan jangan menjadi sombong. Oleh karena kesombongan dan pikiran yang menganggap diri sendiri terpandai hanya akan mendatangkan malapetaka belaka."
Lee Ing merasa tidak puas mendengar ucapan ayahnya ini.
Maklumlah, ia semenjak kecil tinggal di dalam sebuah kampung yang hanya mempunyai penduduk paling banyak seratus orang dan semua pehduduk kampung itu menaruh hormat yang tinggi sekali kepada ayahnya dan menganggap kepandaian Nyo Tiang Pek seakan-akan kepandaian seorang dewa.
Hal ini adalah karena dulu ketika Nyo Tiang Pek belum lama tinggal di situ, seorang diri saja Nyo Tiang Pek dengan dibantu Coa Giok Lie telah memukul hancur sejumlah besar perampok yang hendak mengganggu kampung Pek-se-chung.
Kini mendengar bahwa di dunia kang-ouw banyak sekali terdapat orang-orang pandai yang dapat mengalahkan ayahnya, hati dara muda itu merasa tidak puas.
"Ayah,"
Katanya dengan alis dikerutkan.
"kepandaian ayah sudah demikian tinggi dan lihai, mungkinkah di dunia ini ada orang yang dapat mengalahkan ayah? Siapakah orang itu, ayah?"
Nyo Tiang Pek tak dapat menahan geli hatinya dan ia tertawa lebar.
"Lee Ing, kau seperti seekor katak di dalam sumur saja."
"Eh, ayah. Benar-benarkah aku begitu buruk hingga kau anggap aku seperti seekor katak?"
Tanya Lee Ing dengan mulut cemberut.
Ketawa Nyo Tiang Pek makin lebar, memang kebahagiaan pendekar ini hanya terletak dalam diri puterinya yang tunggal dan sangat dicintanya, dan dara muda ini pandai sekali berjenaka dan membuat ayahnya tertawa geli.
"Bukan begitu maksudku, Lee Ing. Kau begini cantik jelita seperti ibumu, masa aku menyamakan kau seperti katak? Maksudku ialah bahwa pandanganmu sangat sempit dan pengetahuan serta pengalamanmu amat dangkal seperti pandangan seekor katak dalam sumur yang menganggap bahwa sumur itu adalah dunia satu-satunya di mana tidak ada lain mahluk yang lebih kuat dan berkuasa melebihi dia sendiri.
"Ketahuilah, anakku, di antara pendekar silat, tak terhitung banyaknya yang memiliki kepandaian amat lihai. Diantara mereka ialah Ang Lian Lihiap si Teratai Merah yang memiliki ilmu pedang Sian-liong-kiam-sut, seorang pendekar wanita yang menjadi kawan baikku. Sayang sekali kau belum pernah bertemu dengan dia yang sebetulnya menjadi kakak seperguruan ibumu sendiri.
"Dan diantara pendekar pria, harus disebut bahwa suami Ang Lian Lihiap yang bernama Lo Cin Han dan berjuluk Hwee-thian Kim-hong (Burung Hong Terbang ke Angkasa) memiliki kepandaian yang lebih hebat lagi, karena dia adalah murid dari Beng San Siansu, seorang pertapa setengah dewa. Apalagi setelah kedua suami isteri mendapat latihan terakhir dari Beng San Siansu hingga keduanya kini telah mewarisi ilmu pedang Hwie-sian-liong-kiam-sut (Ilmu Pedang Naga Dewa Terbang) maka kurasa ilmu pedang mereka untuk masa ini sukar sekali dicari tandingannya."
Diam-diam Lee Ing merasa penasaran sekali, karena ayahnya telah memuji-muji orang lain sedemikian rupa.
"Ayah, kau sendiri disebut Kim-jiauw-eng (Garuda Berkuku Emas), mengapa kau puji-puji orang lain setinggi langit? Apakah kau pernah dikalahkan oleh suami isteri yang memiliki kepandaian Kiam-sut itu?"
Nyo Tiang Pek tertawa lagi dan ketika ia teringat akan kedua suami isteri yang dipuji-pujinya itu, terkenanglah ia akan pengalaman-pengalamannya ketika ia masih berkumpul dengan mereka berdua.
Pengalaman-pengalamannya di waktu muda.
"Tidak, Ing-ji, aku, tak pernah bertempur melawan mereka, karena sesungguhnya mereka itu adalah kawan-kawan baikku yang boleh dibilang telah menjadi saudara-saudaraku. Bahkan mereka adalah kawan baik ibumu pula dan tentang hal ini boleh kautanyakan kepada ibumu, tentu dia akan bercerita panjang lebar tentang mereka berdua dan yang benar-benar harus dikagumi karena mereka lihai dan berbudi agung sekali."
Lee Ing masih merasa penasaran.
Ia ingin sekali bertemu muka dengan orang-orang yang dipuji ayahnya itu untuk mencoba kepandaian mereka.
Akan tetapi ia tidak berani menyatakan pikiran ini, oleh karena biarpun ia dimanja, terhadap ayahnya ia mempunyai hati segan dan takut.
Maka untuk mengalihkan percakapan mereka ia berkata.
"Ayah, telah lama aku tidak melatih Gin-san-ciang-hwat. Marilah kau memberi petunjuk kepadaku."
Mereka memang sedang bercakap-cakap di dalam kebun belakang rumah mereka, maka Nyo Tiang Pek lalu menghampiri sebatang pohon yang tak begitu besar.
Ia berdiri kira-kira setombak jauhnya dari pohon itu, lalu berkata.
"Tenagamu dalam mempergunakan Gin-san-ciang (Tangan Bubuk Perak) sudah cukup besar, akan tetapi gerakanmu yang masih canggung. Kaulihatlah baik-baik, untuk dapat mempergunakan Gin-san-ciang dengan tepat, kaki kiri harus ditekuk ke bawah dan kaki kanan diluruskan ke depan, tenaga dikumpulkan ke ujung kepalan, Seranganmu harus dilakukan dengan tipu gerakan, Raja Monyet Memetik Buah, kaulihatlah!"
Setelah berkata demikian, Nyo Tiang Pek, melakukan gerakan, itu dan ketika kedua tangannya terulur dan mendorong ke arah pohon, terdengar suara keras dan batang pohon itu menjadi patah.
Lee Ing lalu mencoba dan menuruti gerakan ayahnya.
Beberapa kali ia melakukan gerakan itu, akan tetapi pohon itu hanya terguncang-guncang saja dan tidak dapat menjadi patah.
"Salah, salah! Pukulanmu terlampau keras, akan tetapi tidak tajam. Jangan menggerakkan kedua kepalan dengan berbareng karena tenaga itu akan menjadi terlalu besar dan paling banyak kau hanya akan mendorong lawan dan membuatnya jatuh terguling saja, akan tetapi tidak akan dapat melukainya. Kepalan kanan harus bergerak dulu, lalu dengan cepat dan tepat disusul gerakan lengan kiri sehingga tenaga pukulan itu akan menggunting lawan."
Nyo Tiang Pek memberi petunjuk. Setelah berkali-kali mencoba akhirnya patahlah batang pohon itu oleh pukulan Gin-san-ciang dari Lee Ing sehingga dara muda itu berjingkrak-jingkrak girang.
"Ayah, apakah Ang Lian Lihiap dapat menahan pukulan kita ini?"
Tanyanya.
Ayahnya mengerutkan jidat mendengar ini.
Anaknya ini walaupun hanya seorang wanita, akan tetapi memiliki bakat yang baik sekali dan berotak cerdas hingga mudah saja mempelajari ilmu-ilmu silat yang tinggi, akan tetapi, mendengar pertanyaan ini, ia hanya tersenyum dan menjawab.
"Pohon tidaklah sama dengan manusia yang dapat bergerak, dapat berkelit dan dapat menangkis serangan pukulan. Lagi pula, Ang Lian Lihiap adalah seorang pendekar wanita yang, menjadi kawan baik kita, kau tidak mempunyai alasan untuk memukulnya dengan Gin-san-ciang kita!"
Lee Ing juga tersenyum dan memandang wajah ayahnya yang gagah.
"Ayah, mari kita pergi menemui ibu karena aku ingin sekali mendengar ceritanya tentang Ang Lian Lihiap!"
Sambil menggandeng tangan ayahnya, Lee Ing menarik tangan orang tua itu dan berlari-lari mencari ibunya yang sedang menyulam di ruang dalam.
"Ibu, ibu""
Ceritakanlah tentang pendekar wanita yang ditakuti ayah!"
Coa Giok Lie mengangkat muka memandang.
Ternyata nyonya ini masih nampak cantik jelita dan mempunyai gerakan yang lemah gemulai, menunjukkan bahwa ia adalah seorang wanita terpelajar.
Bibirnya yang masih merah itu tersenyum manis dan matanya yang jeli berseri.
"Lee Ing, jangan kau nakal! Pendekar wanita yang mana yang ditakuti ayahmu?"
Nyo Tiang Pek juga tertawa.
"Selain ibumu, tidak ada pendekar lain yang kutakuti!"
Katanya jenaka.
Giok Lie mengerling kepada suaminya sambil cemberut sedangkan Lee Ing memandang kedua orang tuanya dengan gembira.
Hubungan yang penuh kasih dan bahagia antara, ayah dan ibunya inilah yang memberi dia watak yang jenaka dan gembira pula.
"Ibu, tadi ayah memuji-muji seorang pendekar wanita yang bernama Ang Lian Lihiap. Katanya pendekar wanita itu lebih gagah daripada ayah atau ibu, dan aku tidak percaya!"
Katanya sambil memegang lengan ibunya dengan sikap manja.
Mendengar nama ini, Giok Lie lalu menunda kain yang sedang disulamnya dan ia memegang tangan anaknya, lalu berkata dengan wajah sungguh-sungguh.
"Ing-ji, kau harus percaya. Dan kau harus memandang tinggi kepada Ang Lian Lihiap, karena sebenarnya dia itu masih twa-ie mu sendiri." (Twa-ie adalah kakak ibu atau uwa). Kemudian ia menceritakan riwayatnya di waktu masih muda dan diceritakan pula bahwa Ang Lian Lihiap yang bernama Han Lian Hwa adalah sucinya (kakak seperguruan) dan bahkan telah menjadi cicinya sendiri. Ia menceritakan kegagahan-kegagahan Ang Lian Lihiap dan Hwee-thian Kim-hong hingga Lee Ing mendengarkan dengan hati tertarik sekali. Diam-diam gadis ini merasa kagum kepada kedua suami isteri pendekar itu dan ingin sekali ia bertemu dengan mereka, terutama sekali untuk membuktikan kegagahan mereka yang dipuji-puji kedua orang tuanya itu. Setelah selesai bercerita, baik Giok Lie maupun suaminya terkenang dan rindu sekali kepada Ang Lian Lihiap dan suaminya, hingga Giok Lie berkata kepada Tiang Pek.
"Aku merasa rindu sekali kepada mereka itu. Dimanakah sekarang mereka berada dan mengapa tak pernah memberi kabar?"
Sambil berkata demikian, karena teringat akan Han Lian Hwa yang dikasihinya, kedua mata Giok Lie yang bagus itu menjadi basah. Nyo Tiang Pek menghela napas.
"Aku sendiripun sangat rindu dan ingin berjumpa dengan Cin Han. Dulu pernah aku mendengar bahwa mereka telah pindah ke Tit-lee. Pada dewasa ini, dengan adanya bahaya penyerbuan tentara di mana-mana terjadi kekacauan maka aku tidak tahu lagi di mana adanya mereka itu."
Pada saat itu, tiba-tiba dari luar terdengar suara orang memanggil-manggil.
"Chung-cu (pak lurah), celaka, beberapa orang kawan-kawan kita sedang dikejar"kejar tentara kerajaan!"
Teriak orang itu setelah Nyo Tiang Pek berlari keluar. Nyo Tiang Pek dengan tenang bertanya.
"Dimanakah mereka itu?"
"Itu di sana di ladang sebelah selatan. Ada tujuh orang berpakaian tentara hendak menangkapi orang-orang muda di dusun kita, dan mereka sekarang sedang berkelahi!"
Nyo Tiang Pek lalu berlari keluar, diikuti oleh Giok Lie dan Lee Ing yang tidak mau ketinggalan.
Ketika mereka tiba di tempat itu, benar saja mereka melihat sebelas orang pemuda kampung yang sedang berkelahi melawan tujuh orang yang berpakaian tentara kerajaan.
Biarpun pemuda-pemuda itu hanya petani-petani biasa, namun sedikit banyak mereka telah mendapat latihan ilmu membela diri dari Nyo Tiang Pek, maka dengan tongkat, cangkul, dan pisau mereka mempertahankan diri dari serangan tentara yang bersenjata golok dan yang mengerti ilmu silat cukup baik itu.
Akan tetapi, para petani itu terdesak hebat, bahkan seorang di antara mereka telah mendapat luka di pundaknya yang mengalirkan darah dan membasahi pakaiannya.
Nyo Tiang Pek marah sekali dan hendak bertindak, akan tetapi, tiba-tiba terdengar suara kaki kuda mendatangi dan seorang perwira yang cakap dan gagah cepat melompat dari atas kudanya dan tubuhnya melayang ke tempat pertempuran.
Gerakan ini adalah gerak melompat Naga Sakti Menembus Awan yang dilakukan dengan baik sekali hingga Nyo Tiang Pek menjadi kagum juga.
Begitu perwira itu menggerakkan kaki tangannya, maka robohlah ketujuh tentara yang mengamuk itu, sedangkan para petani lalu mengundurkan diri dengan takut.
"Kamu ini sungguh orang-orang kurang ajar yang memalukan sekali!"
Perwira itu mendamprat kepada para anak buahnya yang ketika melihat bahwa yang datang adalah perwira yang tinggi kedudukannya, lalu diam tak berani berkutik sedikitpun.
"Bagaimanakah bunyi perintah yang ditugaskan kepada kalian? Kalian harus membujuk dan mencari pemuda-pemuda yang dengan suka rela mau membantu pertahanan kita untuk mengusir musuh dan dilatih menjadi tentara. Bukan sebagai orang-orang tawanan yang ditangkap dengan paksa. Kalian sungguh membikin malu kepadaku, dan awas, kalau lain kali aku melihat kalian melakukan perbuatan yang kejam ini aku takkan memberi ampun lagi. Sekarang, pergilah kembali ke markasmu!"
Bagaikan anjing-anjing kena pukul menyembunyikan ekor di bawah perut, para perajurit itu sambil tundukkan kepala memunguti golok-golok mereka yang tadi terlepas ketika perwira itu mengamuk dan mereka lalu pergi dari situ dengan tindakan kaki lemas.
Perwira muda itu lalu menjura kepada para pemuda yang masih berdiri di situ dan berkata.
"Saudara-saudara harap suka memaafkan anak buahku yang kasar. Kalau saudara-saudara tidak suka membantu kerajaan, maka kamipun takkan memaksa."
Melihat sepak terjang dan mendengar ucapan perwira itu, Nyo Tiang Pek menjadi tertarik sekali dan ia lalu menghampiri perwira itu.
Ternyata perwira itu masih muda sekali dan pakaiannya yang indah membuat ia nampak gagah.
Sebatang pedang yang gagangnya memakai pita kuning emas tergantung di pinggangnya.
Ketika melihat Nyo Tiang Pek, perwira itu sambil tersenyum lalu menjura memberi hormat yang dibalas dengan sepatutnya oleh Tiang Pek.
"Ciang-kun sungguh gagah dan berbudi. Kalau tidak menjadi halangan, sudilah mampir di pondok kami untuk bercakap-cakap,"
Kata Tiang Pek. Perwira itu balas memandang.
"Mohon tanya, siapakah lo-peh (paman) ini?"
Tanyanya dengan sikap hormat.
"Aku adalah Nyo Tiang Pek yang menjadi Chung-cu dari kampung ini dan siapakah nama ciang-kun (panglima) yang mulia?"
"Aku yang muda bernama Lui Tik Kong."
Pada saat itu Lui Tik Kong melihat Lee Ing dan dadanya berdebar aneh. Niatnya hendak menolak undangan Nyo Tiang Pek segera ia batalkan dan ia berkata lagi.
"Nyo Chung-cu sungguh baik hati, dan tentu saja aku tidak berani menolak undanganmu."
Maka perwira muda itu lalu pergi bersama Nyo Tiang Pek ke rumah kepala kampung itu, sedangkan Lee Ing dan ibunya telah pulang terlebih dulu untuk mempersiapkan segala keperluan menyambut seorang tamu.
"Perwira itu cakap dan gagah,"
Kata Coa Giok Lie di tengah jalan tanpa disengaja.
"Ah, gagah juga gagahnya sendiri, siapa yang peduli akan kegagahan orang lain?"
Tiba-tiba Lie Ing menjawab hingga dengan heran nyonya itu berpaling dan memandang muka anaknya. Kemudian ia tertawa, tapi Lee Ing cemberut dan berkata.
"mengapa ayah mengundang segala macam perwira ke rumah kita? "
"Hush, jangan kau berkata demikian, Ing-ji. Ayahmu memang suka berkenalan dengan orang-orang gagah dan kaulihat dari gerakan pemuda tadi bahwa ia tentulah murid seorang pandai."
Akan tetapi Lee Ing makin cemberut ketika ia berkata.
"Apakah hebatnya gerakan itu? Ibu atau aku dapat melakukannya dengan lebih baik lagi."
Ibunya tersenyum.
"Jangan kau sombong, nak!"
Mereka lalu menuju ke ruang belakang dan Coa Giok Lie membantu pelayannya dan sibuk menyiapkan hidangan di dapur hingga terpaksa dan mau tidak mau Lee Ing lalu membantu ibunya.
Sementara itu, Nyo Tiang Pek melayani tamunya di ruang depan dan bercakap-cakap dengan tamunya yang muda dalam suasana gembira sekali.
Jarang nampak Nyo Tiang Pek segembira itu, oleh karena selama tinggal di kampung jarang ia bertemu dengan orang yang pandai dan banyak pengalaman seperti perwira muda ini.
Selain pandai silat dan banyak pengalamannya ternyata Lui Tik Kong perwira muda itu, pandai pula bicara hingga Nyo Tiang Pek makin merasa suka dan kagum kepadanya.
Pemuda ini menceritakan keadaan di kota raja dan bicara tentang keadaan negara serta pertahanannya sebagai seorang ahli perang yang pandai.
01.02.
Kerinduan Dua Sahabat "Suku bangsa Turki makin berani dan kurang ajar,"
Kata Lui Tik Kong ketika menceritakan keadaan dan bahaya yang mengancam pemerintah Tang.
"mereka telah bersekutu dengan banyak suku bangsa, dan kelompok yang tidak mau bersekutu dengan mereka, mereka taklukkan. Kini mereka bahkan telah berani menyerbu dan bergerak masuk ke dalam tembok besar, merampok dan membunuh, bahkan banyak sekali bangsa kita (Han) diculik untuk dijadikan budak. Kabarnya suku-suku bangsa lain sudah ditaklukkan oleh mereka.
"Raja yang kini memimpin mereka adalah Jingar Khan yang selain kejam dan ganas, juga memiliki kepandaian tinggi sekali. Oleh karena inilah, maka kaisar lalu memberi perintah untuk memperkuat barisan kita dan untuk berjaga-jaga sambil menarik sebanyak mungkin barisan sukarela terdiri dari orang-orang gagah untuk mengusir musuh yang makin lama makin kurang ajar itu. Bahkan kini banyak sekali mata-mata musuh yang terdiri orang-orang dari Han yang berkhianat karena pengaruh harta, berkeliaran di seluruh negeri."
Nyo Tiang Pek merasa terkejut sekali.
"Sudah demikian hebatkah keadaannya?"
Lui Tik Kong menghela napas.
"Memang kelihatannya tidak terjadi sesuatu, akan tetapi sebenarnya keadaan dewasa ini berbahaya. Terutama oleh karena Jingar Khan cedik sekali. Dengan pengaruh emas dan harta benda, ia menyuruh anak buah dan mata-matanya untuk membujuk orang-orang gagah di kalangan kang-ouw untuk membantunya."
Pada saat itu hawa udara amat panasnya dan Lui Tik Kong yang mengenakan pakaian perwira yang tebal, merasa panas sekali hingga peluhnya mengucur membasahi mukanya.
Melihat keadaan pemuda ini, Nyo Tiang Pek lalu berkata.
"Lui-ciangkun, kalau kau merasa panas, tanggalkanlah baju luarmu yang tebal itu. Di sini kau tak perlu merasa sungkan dan malu."
Lui Tik Kong adalah seorang perajurit yang jujur dan oleh karena sikap tuan rumah yang peramah ini, ia tidak merasa sungkan lagi.
Sambil berkata "maaf"!
ia tanggalkan baju luarnya hingga kini hanya mengenakan baju yang berlengan pendek sebatas siku.
Baru saja lengan tangannya yang kuat itu nampak oleh Nyo Tiang Pek, orang tua ini segera berseru kaget sambil memandang ke arah lengan tangan Lui Tik Kong.
"Lui-ciangkun, kau terluka hebat!"
Lui Tik Kong terkejut sekali dan membuat gerakan dengan tangannya, akan tetapi tiba-tiba Nyo Tiang Pek sudah berada di depannya dan memegang tangan kanannya.
"Ah, benar! Kau telah terkena pukulan Ang-see-ciang (Tangan Pasir Merah) yang berbahaya sekali. Lihat lenganmu ini!"
Dengan masih heran Lui Tik Kong memandang lengannya sebelah kanan berwarna merah kehitam-hitaman dan ketika ia menyentuh dengan tangan kirinya, hampir ia menjerit karena sakit sekali.
"Kau tadi telah berkelahi dengan siapa?"
Tanya Nyo Tiang Pek sambil memandang tajam. Lui Tik Kong mengingat-ingat lalu menghela napas.
"Benar, tadi sebelum aku mendengar tentang kekurangajaran anak buahku, aku bertemu dengan dua orang to-kouw (pendeta wanita) di tengah jalan. Oleh karena aku amat terburu-buru, maka kudaku kujalankan cepat sekali sehingga debu mengebul dan mengenai tokouw-tokouw itu. Seorang di antaranya yang berusia kurang lebih empatpuluh tahun, berkata.
"Perwira kurang ajar."
"Tentu saja aku lalu melompat turun dari kudaku untuk melihat siapa orangnya yang memaki, akan tetapi ketika melihat bahwa mereka adalah dua orang to-kouw, aku lalu minta maaf. Tidak tahunya seorang diantaranya yang menegur tadi lalu mengayun tangan hendak menamparku. Aku lalu menangkis dengan lengan kanan dan hanya merasa betapa lenganku lemas sekali. Mereka saling pandang dan pergi sambil tertawa."
Nyo Tiang Pek mendengarkan dengan penuh perhatian, kemudian ia bertanya.
"Apakah seorang diantara mereka adalah seorang to-kouw yang sudah berusia limapuluh tahun lebih, bertubuh tinggi kurus dan mempunyai tahi-tahi lalat di ujung hidungnya?"
Lui Tik Kong, memandang heran.
"Betul, betul. Bagaimana lopeh dapat mengetahuinya? Dan bagaimana pula lopeh dapat melihat bahwa aku menderita luka?"
"Ah, aku tahu sekarang. Dia itu tentu Hek Li Suthai si Iblis Wanita dari San-tung dan to-kouw yang lebih muda dan yang melukaimu dengan pukulan Ang-see-ciang itu kalau bukan adik seperguruannya tentulah muridnya."
"Benar dugaanmu, lopeh. To-kouw yang muda itu menyebut guru kepadanya."
"Sudahlah, sekarang kau jangan banyak bergerak dan duduklah dengan tenang. Aku hendak menyembuhkan lukamu!"
Pada saat itu, Coa Giok Lie dan Lee Ing keluar membawa hidangan untuk tamu mereka.
Memang, biarpun keturunan bangsawan, akan tetapi setelah berpuluh tahun tinggal bersama dengan orang-orang kampung yang menuntut penghidupan sederhana, Coa Giok Lie melemparkan semua peraturan-peraturan tentang sopan santun dan yang mengikat kaum wanitanya sehingga membuat mereka itu menjadi serba canggung.
Menurut pendapatnya setelah ia hidup dengan tenteram dan leluasa diantara para petani sederhana, segala peraturan yang mengikat itu hanya menimbulkan pusing saja.
Maka ia tidak merasa keberatan untuk menemui tamu laki-laki yang muda itu, bahkan tidak keberatan pula kalau Lee Ing ikut mengeluarkan hidangan.
Kedua ibu dan anak inipun terkejut ketika mendengar tentang luka yang diderita Lui Tik Kong.
"Lee Ing, coba kau ambilkan gin-ciam (jarum perak) di kantong obat dalam kamarku,"
Nyo Tiang Pek menyuruh anaknya.
Lee Ing lalu pergi dengan cepat mengambil jarum itu, bahkan tidak lupa sekalian membawa sebungkus obat bubuk putih yang diberikan kepada ayahnya.
Baru terbukalah mata Lui Tik Kong bahwa ia berhadapan dengan keluarga yang mengerti ilmu silat bahkan menurut pandangan mata Nyo Tiang Pek yang sangat tajam sehingga sekelebat saja telah dapat mengetahui bahwa ia terluka menimbulkan dugaan dalam pikirannya bahwa orang tua ini tentulah seorang ahli.
Nyo Tiang Pek adalah seorang ahli Gin-san-ciang atau Tangan Bubuk Perak, maka tentu saja ia tahu akan segala ilmu pukulan tangan yang telah dilatih secara mujijat itu, dan dapat pula menyembuhkannya.
Dengan gerakan cepat akan tetapi tepat dan tenang, ia memberi tusukan tiga kali pada lengan tangan Lui Tik Kong di sekeliling luka yang hanya merupakan garis merah itu.
Lui Tik Kong merasa sakit.
Kemudian, Nyo Tiang Pek menggunakan tenaga pukulan Gin-san-ciang dari tangan kirinya untuk menotok dan menepuk lengan itu dan aneh, dari bekas lubang di kulit lengan yang tadi tertusuk jarum, mengalir keluar darah-darah hitam.
Nyo Tiang Pek mengulangi tepukan dan totokannya sampai darah yang mengalir keluar menjadi merah yang berarti bahwa racun pukulan Ang-see-ciang telah dikeluarkan habis.
Setelah itu barulah ia menggunakan obat bubuk putih itu untuk digosok-gosokkan pada bekas luka tusukan jarum peraknya.
Lui Tik Kong merasa betapa lengannya telah sembuh kembali karena rasa sakit dan baal telah lenyap.
Sambil memandang tajam ia bertanya.
"Sesungguhnya siapakah Nyo Chung-cu (Pak Lurah Nyo) ini? Dan mengapa diam di dusun yang terpencil ini kau bersembunyi, padahal kau memiliki ilmu kepandaian tinggi?"
Nyo Tiang Pek tersenyum dan memandang wajah yang cakap itu.
"Lui-ciangkun, aku adalah orang biasa saja, seorang kepala kampung yang hidup sederhana. Hanya saja, tentang Ang-see-ciang aku mempunyai sedikit pengetahuan. Marilah kita makan hidangan seadanya, maklum di dusun kami tidak dapat menghidangkan makanan lezat."
Lui Tik Kong makin merasa suka dan kagum.
Ia diam-diam menduga bahwa tuan rumahnya tentulah seorang pendekar gagah yang mengasingkan diri.
Juga, karena Nyo Tiang Pek memperkenankan bahkan mengajak isteri dan anaknya makan bersama, pemuda she Lui ini mendapat kesempatan baik untuk mengagumi kecantikan Lee Ing yang benar-benar telah membetot semangatnya.
Ketika Nyo Tiang Pek bertanya tentang suhunya, ia memberi tahu bahwa suhunya bernama Kong Sin Ek yang berjuluk Ciu-sian atau Dewa Arak.
Mendengar ini, bukan main girang hatinya Nyo Tiang Pek dan Coa Giok Lie.
Nyo Tiang Pek demikian gembira sehingga ia berdiri dan menepuk-nepuk bahu Lui Tik Kong sambil berkata.
"Ah""! Tak kusangka sama sekali bahwa kau adalah murid Setan Arak itu! Ha-ha-ha! Ketahuilah, ciang-kun, Kong Sin Ek adalah seorang sahabat baikku dan ketika masih muda kami berdua berjuang bersama. Ah, ah, sungguh tak kusangka! Di manakah adanya suhumu itu? Ah, kalau saja kau beritahu kepadanya bahwa kau telah bertemu dengan Kim-jiauw-eng Nyo Tiang Pek, tentu dia akan merasa girang sekali."
Mendengar bahwa kepala kampung yang berdiri dihadapannya ini adalah si Garuda Kuku Emas, Lui Tik Kong merasa terkejut sekali.
Pernah ia mendengar dari suhunya akan pendekar gagah ini, bahkan di dunia kang-ouw, nama Kim-jiauw-eng telah terkenal dan disegani, maka tanpa ragu-ragu lagi ia lalu menjatuhkan diri berlutut di depan Nyo Tiang Pek.
"Teecu bermata buta dan tidak melihat Gunung Thai-san di depan mata. Mohon cianpwe sudi memberi maaf."
Nyo Tiang Pek mengangkat bangun pemuda itu dan tertawa senang.
"Lui-ciangkun, tidak usah memakai segala macam peradatan. Kim-jiauw-eng yang kaudengar namanya itu hanyalah kepala kampung yang hidup sederhana dengan anak isterinya. Biarlah selanjutnya kausebut aku lopeh saja karena, telah lama aku tidak pernah memperlihatkan diri di dunia kang-ouw dan telah hampir lupa olehku sebutan Kim-jiauw-eng itu."
"Lui-ciangkun, hal yang terpenting belum kaukatakan. Di manakah sekarang adanya sahabat kami Kong Sin Ek itu?"
Tiba-tiba Coa Giok Lie bertanya dengan suaranya yang halus merdu. Lui Tik Kong agak terkejut mendengar pertanyaan ini akan tetapi ia dapat menekan perasaan hatinya dan berkata.
"Pehbo, hal ini sungguh menyedihkan hati. Suhu telah meninggal dunia kira-kira dua tahun yang lalu."
Tiba-tiba terdengar mangkok jatuh dan mangkok itu pecah ketika membentur lantai.
Kiranya Nyo Tiang Pek merasa demikian kaget dan sedih hingga tak terasa pula ia melempar mangkok yang sedang dipegangnya.
Juga Coa Giok Lie tidak dapat menahan air matanya yang mengucur keluar.
Lee Ing yang belum pernah kenal dengan Kong Sin Ek si Dewa Arak hanya memandang dengan heran dan ikut berduka melihat kedua orang tuanya.
Setelah menghela napas berkali-kali, Nyo Tiang Pek bertanya.
"Lui-ciangkun, di mana meninggalnya sahabatku itu dan kenapa? Usianya kukira belum melebihi enampuluh tahun."
"Beliau meninggal di daerah utara karena serangan penyakit jantung,"
Kata Lui Tik Kong dengan singkat.
Karena kedukaan ini, pembicaraan tidak dapat berjalan lancar dan Lui Tik Kong lalu berpamit untuk kembali ke markasnya yang berada di Le-hu-tin, yakni sebuah perkampungan yang dijadikan markas di daerah pegunungan Bong-ke-san dan di mana Lui Tik Kong menjadi perwira memegang pucuk pimpinan yang bertugas bergerak di daerah pegunungan itu.
Ia berjanji hendak mengunjungi lagi keluarga Nyo yang peramah itu.
Seperginya Lui Tik Kong, Nyo Tiang Pek dan Coa Giok Lie masih berduka dan akhirnya nyonya itu berkata kepada suaminya.
"Beginilah jadinya kalau kau terlalu malas untuk menghubungi kawan-kawan kita, sehingga sampai mereka matipun kita tidak mengetahuinya! Suamiku, apakah kau tidak teringat akan kebaikan mereka? Terutama kebaikan enci Lian Hwa dan koko Cin Han? Sudah tiba waktunya untuk mencari dan memberi kabar tentang kita kepada mereka itu."
Nyo Tiang Pek mengangguk-angguk.
"Memang benar kata-katamu itu. Akan tetapi keadaan sekarang begini kacau, dan aku tidak tega meninggalkan kau berdua saja dengan Lee Ing."
"Eh, eh, ayah aneh sekali. Bahaya apakah yang dapat mengancam kita? Ibu dan aku bukanlah anak-anak kecil yang lemah, kami berdua dapat menjaga diri."
Ucapan yang gagah ini hanya disambut dengan dingin oleh Nyo Tiang Pek yang sedang berduka.
"Kau tahu apa! Orang-orang jahat yang lihai dan yang dulu pernah dilukai oleh ayahmu ini, banyak sekali. Mereka ini sewaktu-waktu tentu takkan dapat melupakan sakit hati dan berusaha membalas dendam. Oleh karena inilah maka aku tidak pernah pergi jauh dan lama meninggalkan kalian."
"Kalau begitu,"
Kata Giok Lie.
"Lebih baik kau membuat surat dan menitipkannya kepada si A-kwi karena kabarnya seringkali pergi ke selatan dan bahkan sampai ke Tit-lee."
Nyo Tiang Pek menepuk pahanya.
"Lagi-lagi kau benar, isteriku. Mengapa aku begitu bodoh dan pelupa? A-kwie adalah seorang pedagang keliling, tentu mudah baginya untuk menjadi utusanku menghubungi Cin Han."
Dengan setengah berlari Nyo Tiang Pek lalu pergi ke kamarnya untuk menulis surat kepada Cin Han dan Lian Hwa, suami-isteri pendekar yang menjadi kawan baiknya itu.
Melihat sikap Nyo Tiang Pek yang agaknya bergembira seperti anak kecil, Giok Lie saling pandang dengan Lee Ing sambil tersenyum geli.
Di pinggir jalan raya sebelah barat di kota Tit-lee, terdapat sebuah rumah gedung yang kuno dan besar.
Tidak saja semua penduduk kota Tit-lee, bahkan banyak orang-orang luar kota mengenal baik gedung ini, bukan karena kebagusan gedungnya, akan tetapi karena yang tinggal di gedung ini ialah sepasang suami isteri pendekar besar yang namanya sangat tersohor.
Mereka ini adaiah Hwee-thian Kim-hong Lo Cin Han dan isterinya, yakni Ang Lian Lihiap Han Lian Hwa.
Nama kedua pendekar ini telah dikenal oleh hampir semua tokoh persilatan di dunia kang-ouw, karena di waktu muda, kedua orang ini telah menggemparkan dunia persilatan dengan sepak-terjang mereka yang gagah perkasa, di samping perjuangan Nyo Tiang Pek si Garuda Kuku Emas, Kong Sin Ek si Dewa Arak, Pek Siong Tosu, Biauw In Suthai dan masih banyak orang gagah lain lagi.
Semenjak Lo Cin Han dan Han Lian Hwa terangkap menjadi sepasang suami isteri yang saling mencinta, mereka menuju ke Kim-ma-san di mana bertapa Beng San Siansu pencipta ilmu-ilmu pedang Hwie-liong-kiam-sut (Ilmu Pedang Naga Terbang) yang menjadi suhu Lo Cin Han.
Dan kedua suami isteri ini menerima latihan lagi, yakni ilmu pedang Hwie-sian-liong-kiam-sut yang berdasar Hwie-liong-kiam-sut dan Sian-liong-kiam-sut digabung menjadi satu.
Oleh karena itu, kepandaian mereka meningkat hebat dan setelah dua tahun kemudian mereka turun dari Kim-ma-san, mereka merupakan sepasang pendekar pedang yang tak terlawan.
Di dalam perkawinan mereka, sepasang pendekar pedang ini mendapat seorang putera yang diberi nama Lo Sin.
Anak ini cerdik seperti ayahya dan berwatak keras gembira seperti ibunya, hingga ia mewarisi ilmu kepandaian ayah ibunya.
Ketika Lo Sin masih kecil dan baru mulai berlatih gin-kang (ilmu meringankan tubuh), ia mendapat latihan secara istimewa oleh kedua orang tuanya yakni ayah dan ibunya menangkap beberapa ekor burung walet yang dapat terbang dan bergerak cepat sekali.
Di dalam sebuah kamar yang tertutup rapat hingga tidak terdapat lubang bagi burung-burung itu untuk meloloskan diri, mereka melatih putera tunggal ini untuk menangkap burung-burung yang gesit sekali itu.
Dengan latihan ini, Lo Sin memiliki kecepatan yang melebihi burung walet dan sekali tubuhnya bergerak, maka burung yang hendak terbang itu kalah cepat dan dapat tertangkap dengan mudah, yakni setelah anak itu berlatih sampai dua tahun lebih.
Karena latihan ini, maka Lo Sin menjadi suka sekali kepada burung walet yang berbulu hitam, bermata merah, dan halus sekali bulunya itu hingga ia seringkali bermain-main dengan burung walet hitam.
Bahkan saking sukanya kepada burung walet hitam, ia minta kepada ibunya supaya dibuatkan mainan dari kain berupa seekor burung walet hitam.
Ketika ia telah menjadi seorang pemuda dewasa, ikat kepalanya pun dihias dengan seekor burung walet hitam yang terbuat dari sutera hitam dan untuk menyenangkan hati putera yang tercinta itu, Han Lian Hwa membuat mainan itu dengan kedua tangannya sendiri dan menghias mainan itu dengan mata terbuat daripada dua butir mutiara yang cemerlang dan patuknya terbuat daripada emas tulen.
Dengan mengenakan pakaian serba hitam atau kadang-kadang berwarna serba biru dan kepalanya terhias burung walet hitam itu, Lo Sin yang bertubuh tinggi tegap dan berwajah tampan dan gagah itu nampak benar-benar mengagumkan karena gagah sekali.
Lo Cin Han yang memiliki darah perantau, seringkali mengajak puteranya itu merantau untuk menghadapi pengalaman-pengalaman berbahaya dan untuk mendidik puteranya itu mengulurkan tangan memberi pertolongan kepada sesama hidup yang menderita kesukaran sebagaimana layaknya seorang pendekar yang berkepandaian tinggi.
Oleh karena ini, nama Lo Sin yang muda dan gagah perwira itu segera menjadi terkenal sekali dan pakaiannya serta hiasan burung walet hitam itu membuat ia diberi julukan Ouw-yan-cu atau si Walet Hitam.
Di samping kepandaiannya dalam hal bersilat, juga pemuda itu mendapat pelajaran membaca dan menulis dari kedua orang tuanya, karena ayahnya adalah seorang terpelajar dan pandai dalam ilmu kesusasteraan.
Maka, setelah menjadi dewasa, Lo Sin dapat disebut bun-bu-cwan-chai, yakni seorang pemuda yang memiliki kepandaian bu (kegagahan) dan bun (kesusasteraan).
Akan tetapi ada sebuah hal yang memusingkan kepala Han Lian Hwa dan Lo Cin Han, yakni kekerasan kepala putera mereka itu.
Karena pada waktu itu Lo Sin telah berusia sembilanbelas tahun lebih, maka kedua orang tuanya membujuknya untuk suka dicarikan jodoh.
Akan tetapi, dengan tegas sekali pemuda itu menolak, bahkan ketika Cin Han mengeluarkan kata-kata keras untuk menegurnya yang dianggap tidak mentaati kehendak orang tua, pemuda itu menjadi marah dan diam-diam lari minggat.
Akan tetapi, belum sampai satu bulan, pemuda itu telah pulang kembali dan berlutut di depan kedua orang tuanya sambil minta ampun.
Kedua orang tua yang amat mencinta puteranya itu hanya saling pandang dan menggelengkan kepala, akan tetapi semenjak itu mereka tidak mau membongkar-bongkar lagi urusan kawin.
Telah lama Cin Han dan Lian Hwa terkenang kepada Nyo Tiang Pek dan Coa Giok Lie, akan tetapi karena mereka tidak tahu di mana tempat tinggal kedua sahabat baik itu mereka hanya sering membicarakan tentang mereka dengan kenang-kenangan manis.
Pertemuan mereka dengan Nyo Tiang Pek dan isterinya terjadi ketika Lo Sin baru berusia empat tahun dan semenjak itu mereka tidak pernah bertemu muka atau mendengar kabar tentang Nyo Tiang Pek.
Hanya mereka tahu bahwa Nyo Tiang Pek mempunyai anak perempuan, karena ketika mereka bertemu pada penghabisan kali, anak Nyo Tiang Pek telah berusia dua tahun lebih.
Kalau mereka membicarakan tentang kawan-kawan itu, seringkali Lian Hwa berkata kepada suaminya.
"Alangkah baik dan senangnya kalau Sin-ji dapat dijodohkan dengan anak perempuan Nyo-twako."
Cin Han tertawa.
"Memang hal itu baik sekali, akan tetapi bagaimana kalau puteri mereka itu terlahir buruk rupa?"
Lian Hwa menggeleng-gelengkan kepala.
"Tidak mungkin! Anak Giok Lie tidak mungkin buruk rupa! Dan tentang kegagahan, kurasa Nyo-twako dan Giok Lie takkan begitu bodoh untuk membiarkan mereka tidak berkepandaian. Pendeknya, kalau aku dapat berbesan dengan mereka, hatiku akan merasa puas sekali."
"Kau memang benar, akupun akan merasa senang sekali dapat berbesan dengan Nyo-twako yang gagah."
Akan tetapi, karena mereka tidak pernah menyangka bahwa Nyo Tiang Pek kini tinggal di lereng sebuah bukit yang terasing daripada dunia ramai, tentu saja mereka tidak pernah dapat mendengar sesuatu tentang si Garuda Kuku Emas itu.
02.03.
Akal Licik Perwira Tampan Pada suatu hari, Lian Hwa dan Cin Han duduk di ruang depan dan bercakap-cakap tentang keadaan negara di waktu itu.
Mereka membicarakan tentang kekurangajaran suku bangsa Turki yang mengacau di berbagai batas negara dan Cin Han merasa marah sekali mendengar bahwa banyak orang-orang Han telah diculik oleh mereka itu untuk dijadikan pekerja paksa.
"Agaknya kita berdua tidak boleh tinggal diam lebih lama lagi dan harus bertindak membantu usaha pemerintah membasmi bangsat-bangsat itu!"
Kata Lian Hwa penuh semangat.
Nyonya ini ternyata masih saja berhati keras dan membenci segala kejahatan.
Sebenarnya, Lian Hwa dan Cin Han pada hakekatnya tidak begitu suka dengan kaisar dan para pembesar yang pada dewasa itu kurang bijaksana dalam menjalankan pemerintahan.
Korupsi dilakukan di segala bidang, sedangkan kehidupan rakyat jelata banyak yang menderita sengsara.
Akan tetapi, mendengar tentang penyerbuan musuh-musuh asing dari luar tembok besar itu, mereka merasa penasaran juga dan timbul niat mereka hendak membasmi musuh itu.
"Kalau kaisar tidak lekas insyaf dan cepat memperkuat barisan pertahanannya, maka keadaan akan menjadi berbahaya sekali,"
Kata Cin Han.
"Memang akupun bermaksud untuk menghajar mereka, sekalian kita mencari kawan lama kita, terutama Nyo-twako dan adik Giok Lie."
"Harap jiwi maafkan aku apabila kedatanganku ini mengganggu. Benarkah di sini rumah Hwee-thian Kim-hong dan Ang Lian Lihiap?"
Terkejutlah Cin Han dan Lian Hwa mendengar julukan mereka disebut oleh orang itu. Serentak mereka berdiri dan dengan hati-hati sekali serta dengan pandangan mata penuh selidik, Cin Han bertanya.
"Siapakah saudara ini dan ada perlu apa mencari mereka?"
"Aku yang rendah bernama Gu Ma Kwi dan biasa disebut A-kwi saja, dan kedatanganku ialah membawa berita dari Garuda Kuku Emas."
Mendengar ini, bukan main girang rasa hati suami isteri itu. Cin Han hampir saja memeluk orang itu, akan tetapi ia hanya memegang tangan A-kwi dan ditariknya ke dalam.
"Saudara yang baik, masuklah!"
Mereka lalu masuk ke dalam dan A-kwi dihujani pertanyaan oleh Lian Hwa dan Cin Han.
Bahkan dari kedua mata Lian Hwa mengeluarkan dua titik air mata karena girang dan terharu.
Kemudian ia berteriak-teriak ke arah belakang rumah.
"Sin-ji! Sin-ji""! Lekas kau kemari!"
Lo Sin yang sedang duduk di ruang belakang mendengar teriakan ibunya, cepat lari keluar.
"Sin-ji, lihat! Nyo-pekhumu mengirim berita!"
Lo Sin sudah seringkali mendengar tentang Nyo Tiang Pek yang dipuji-puji oleh kedua orang tuanya maka iapun ikut bergirang.
A-kwi memang mendapat pesan dari Nyo Tiang Pek supaya dalam mencari Cin Han dan Lian Hwa, ia menggunakan nama julukan mereka agar kedua kawannya itu akan percaya penuh.
Setelah menyampaikan salam dan memberitahukan bahwa keadaan keluarga Nyo dalam selamat, A-kwi lalu mengeluarkan sepucuk surat dari buntalannya.
Cin Han menerima surat itu dengan berdebar girang, kemudian setelah ia membuka surat itu, Lian Hwa tidak mau ketinggalan karena ingin tahunya.
Nyonya ini berdiri di belakang suaminya yang duduk di kursi membaca surat itu dan iapun ikut membaca.
Bahkan Lo Sin juga ingin sekali ikut membaca, maka ia pun berdiri di sebelah ibunya, mencuri lihat dari balik pundak ibunya.
Surat Nyo Tiang Pek panjang lebar.
Pertama-tama ia menceritakan tentang keadaan keluarganya, bahwa ia kini diangkat menjadi lurah dari kampung Pek-se-chung dan bahwa puterinya yang bernama Nyo Lee Ing kini telah dewasa.
Kemudian ia menanyakan keselamatan keluarga Lo dan menyatakan kerinduan hatinya dan hati isterinya untuk bertemu muka.
Pada akhir surat, tak lupa Nyo Tiang Pek bertanya tentang berita yang diterimanya, yakni mengenai kematian Kong Sin Ek.
Wajah Cin Han dan Lian Hwa tadinya berseri-seri membaca perihal keadaan keluarga Nyo itu, akan tetapi ketika mendengar tentang berita kematian Kong Sin Ek, tiba-tiba mereka menjadi terkejut dan berduka.
Juga Lo Sin yang sudah kenal baik kepada Kong Sin Ek si Dewa Arak, berseru.
"Kong lopeh meninggal? Ah, tidak mungkin! Bukankah ia tinggal di utara dan keadaannya baik saja?"
Juga Cin Han merasa ragu-ragu dan kurang percaya, demikian Lian Hwa.
Karena mereka selalu mengadakan kontak dengan Kong Sin Ek maka andaikata kakek yang gagah itu menderita sakit, sebelum meninggal tentu ia akan memberi kabar.
Bahkan dua tahun yang lalu, seorang diri Lo Sin pernah mengunjungi Dewa Arak itu yang berada dalam keadaan sehat.
"Ayah, biarlah besok anak pergi mengunjungi dan menengok orang tua itu,"
Kata Lo Sin.
Kedua orang tuanya menyetujui dan mereka menjadi agak tenang kembali.
Karena berita dari Nyo Tiang Pek ini benar-benar menggirangkan hati mereka, maka A-kwi lalu mendapat pelayanan yang manis dan ramah, bahkan untuk kehormatan pesuruh ini, Cin Han lalu menyuruh pelayan membeli hidangan-hidangan yang lezat dan arak yang wangi.
Sudah tentu saja A-kwi merasa bersyukur sekali, dan ketika pihak tuan rumah menanyakan perihal si Garuda Kuku Emas, ia menceritakan keadaan mereka dengan sejelas-jelasnya.
"Bagaimana wajah puteri mereka yang bernama Lee Ing?"
A-kwi tersenyum.
"Pohon yang baik tentu menghasilkan kembang yang indah,"
Katanya dengan lidah terlepas karena pengaruh arak wangi yang membuat watak penyair timbul dalam hatinya.
"Kalau Nyo-siocia diumpamakan bunga, maka ia adalah bunga mawar yang harum dan indah."
Lian Hwa tertawa.
"Mengapa bunga mawar dan bukan bunga botan? Bunga mawarkan banyak durinya dan berbahaya?"
A-kwi tertawa mendengar kejenakaan nyonya rumah ini.
"Memang itulah yang kumaksudkan. Pedangnya merupakan durinya yang berbahaya!"
Mendengar ini Cin Han dan Lian Hwa merasa girang sekali karena mereka dengan mudah dapat menduga bahwa gadis itu selain cantik tentu memiliki kepandaian tinggi dan mahir bermain pedang.
Lian Hwa tersenyum-senyum dan menambahkan arak pada cawan tamunya dan diam-diam Cin Han yang melihat sikap isterinya ini maklum bahwa tentu isterinya ini makin tebal niatnya untuk menjodohkan Lo Sin dengan puteri Nyo Tiang Pek.
Mereka berdua ini tidak memperdulikan sama sekali sedikit tambahan di surat Nyo Tiang Pek yang mengabarkan bahwa Hek Li Suthai yang berjuluk San-tung Mo-li atau Iblis Wanita dari San-tung itu kini telah turun gunung bersama seorang muridnya!
Baik Lian Hwa maupun Cin Han tahu akan maksud pemberitahuan dari Nyo Tiang Pek ini karena mereka berdua juga mengenal bahwa Hek Li Suthai adalah murid dari Lian Bwee Niang-niang atau yang berjuluk Sin-kun Mo-li (Iblis Perempuan Kepalan Dewa), seorang pertapa wanita yang berada di Gunung Ho-mo-san yang dulu pernah bentrok dengan mereka.
Mereka dapat menduga bahwa Hek Li Suthai tentu turun gunung untuk mencari musuh-musuh (Lanjut ke
Jilid 02) Si Walet Hitam/Ouw Yan Cu (Seri ke 03 Serial Si Teratai Merah) Karya . Asmaraman S. Kho Ping Hoo
Jilid 02 gurunya dan di antara musuh-musuhnya itu ialah mereka sendiri!
Akan tetapi, dengan kepandaian seperti yang mereka miliki, kedua suami isteri yang perkasa ini sedikitpun tidak merasa takut.
Apalagi pada saat itu perasaan mereka telah penuh dengan rasa gembira dan kuatir, gembira karena dapat mendengar berita tentang Nyo Tiang Pek dan kuatir karena memikirkan keadaan Kong Sin Ek.
Pada keesokan harinya, Lo Sin lalu berangkat menuju ke Gunung Pek-ma-san, yakni tempat di mana Kong Sin Ek tinggal selama berpuluh tahun semenjak ia mengundurkan diri dari kalangan kang-ouw.
A-kwi juga berpamit hendak kembali ke kampungnya, dan Lian Hwa setelah mengadakan perundingan dengan suaminya, berkata kepada pedagang keliling itu.
"Saudara Gu Ma Kwi, karena kau telah kenal baik dan tahu akan keadaan Nyo twako maka kuanggap sebagai orang sekeluarga sendiri. Sekarang aku mohon kepadamu untuk menjadi orang perantaraan dalam menyampaikan lamaran kami. Harap kau sudi menyampaikan hormat kami kepada keluarga Nyo serta surat kami ini, dan dengan lisan hendaknya kau suka menyampaikan lamaran kami, yakni untuk menjodohkan putera kami yang telah kau lihat kemarin dengan puteri Nyo twako!"
Wajah A-kwi berseri.
"Ah, kehormatan besar sekali yang jiwi jatuhkan kepadaku yang rendah! Tentu saja aku merasa girang sekali karena memang puteramu itu sesuai sekali apabila menjadi pasangan Nyo-siocia yang cantik jelita!"
Suami-isteri itu merasa girang sekali dan mereka selain memberi sepucuk surat yang panjang lebar kepada Nyo Tiang Pek, juga memberi hadiah-hadiah berharga kepada pedagang keliling itu.
Dengan naik seekor kuda yang bagus pemberian Cin Han.
Gu Ma Kwi atau A-kwi kembali ke Pek-se-chung dengan cepat untuk menyampaikan warta girang ini.
Oleh karena ia menunggang kuda yang dapat berlari cepat dan tidak menunda perjalanannya, maka dalam waktu sepuluh hari ia telah tiba di kaki Gunung Bong-ke-san.
Akan tetapi, tiba-tiba ketika ia tiba di kaki gunung, ia ditawan oleh serombongan tentara kerajaan.
Memang pada waktu itu, siapa saja yang dicurigai, lalu ditawan untuk diperiksa.
Hal ini terjadi oleh karena banyak mata-mata bangsa Turki yang berkeliaran di mana-mana.
Kebetulan sekali bahwa yang berada di markas tentara adalah perwira muda Lui Tik Kong sendiri.
Pemuda ini semenjak mendapat penyerangan gelap dari to-kouw yang melukainya dengan pukulan Ang-see-ciang, menjadi sangat curiga dan melakukan penangkapan-penangkapan serta pemeriksaan keras.
Ketika mendengar bahwa ada seorang laki-laki yang tertawan dan dicurigai, lalu mengadakan pemeriksaan sendiri.
Ia memerintahkan kepada anak buahnya agar supaya tawanan itu dibawa menghadap.
Dengan tubuh menggigil karena ketakutan A-kwi menghadap Lui-ciangkun.
"Kau orang mana, datang dari mana, hendak ke mana?"
Tanya Lui Tik Kong sambil memandang tajam.
"Hamba bernama Gu Ma Kwi, tinggal di dusun Pek-se-chung di lereng bukit itu dan hamba baru datang dari Tit-lee,"
Jawabnya dan dengan suara gemetar menceritakannya bahwa dia menjadi utusan Nyo Tiang Pek untuk mengunjungi keluarga Lo di kota itu.
Mendengar bahwa orang ini adalah suruhan Nyo Tiang Pek, legalah hati Lui Tik Kong, akan tetapi ia tidak menyatakan perasaannya itu.
Kini timbul perasaan ingin tahu di dalam hatinya dan secara iseng-iseng memeriksa bungkusan yang terbawa di atas kuda A-kwi.
Diantara sekalian barang hadiah yang diberikan oleh Lian Hwa dan Cin Han kepada pesuruh itu, terdapat sesampul surat.
Tik Kong merasa tertarik dan setelah memerintahkan supaya A-kwi dibawa mundur, ia membuka dan membaca surat itu.
Alangkah terkejutnya ketika membaca bahwa keluarga Lo yang agaknya menjadi sahabat baik Nyo Tiang Pek, telah mengajukan lamaran untuk Nyo Lee Ing, gadis yang menjadi kenangannya itu.
Lui Tik Kong menggigit-gigit bibir dengan perasaan tidak karuan.
Diam-diam ia jatuh hati terhadap Nyo Lee Ing, maka tentu saja ia merasa kuatir dan menyesal sekali melihat gadis itu kini dilamar orang.
Sebenarnya perwira muda she Lui ini bukanlah seorang manusia baik-baik, akan tetapi ia amat cerdik dan pandai sekali membawa diri hingga siapa saja yang belum mengenal dasar wataknya yang buruk, tentu akan tertipu oleh gerak-geriknya yang sopan santun dan tutur katanya yang halus oleh karena selain memiliki kepandaian silat yang tinggi, Tik Kong juga telah mempelajari ilmu surat dengan baiknya.
Kini menghadapi persoalan yang membahayakan rencananya untuk mempengaruhi Nyo Tiang Pek dan mendapatkan Nyo Lee Ing, ia putar-putar otak mencari jalan.
Akhirnya ia mendapatkan sebuah jalan yang cerdik sekali akan tetapi teramat keji.
Ia diam-diam memberi tahu kepada anak buahnya bahwa tawanan itu benar-benar adalah seorang mata-mata Turki dan memerintahkan agar orang itu dibunuh.
Kemudian ia menggunakan kepandaiannya menulis dan segera menyalin surat dari Cin Han untuk Tiang Pek itu.
Ia tiru gaya tulisan Cin Han dan tidak merobah model surat, hanya di bagian pelamaran ia tiadakan dan sebaliknya ia tambahkan bahwa putera Lo Cin Han yang bernama Lo Sin telah mempunyai seorang isteri.
Pada keesokan harinya, ia sendiri membawa bungkusan pakaian dan barang-barang A-kwi dan memasukkan kembali surat Cin Han ke dalam bungkusan itu, lalu pergi ke kampung Pek-se-chung di lereng bukit.
Bukan main kagetnya Nyo Tiang Pek dan Coa Giok Lie ketika mendengar penuturan perwira muda itu.
"Kemarin sore, anak buahku menolong seorang bernama Gu Ma Kwi yang dikeroyok oleh perampok. Anak-anak buahku dapat menolong barang-barang yang dibawa oleh orang itu, akan tetapi tidak dapat menolong jiwanya karena ia telah menderita luka parah ketika pertolongan tiba. Dia telah tewas dan kami telah mengubur jenazahnya. Oleh karena sebelum mati ia meninggalkan pesan bahwa isi bungkusan ini harus diantar ke sini, maka aku sendiri lalu membawa bungkusan ini untuk dihaturkan kepada lopeh,"
Kata Tik Kong dengan wajah memperlihatkan kedukaan.
"Memang dia adalah utusan kami untuk mengunjungi seorang sahabat baikku di Tit-lee,"
Kata Tiang Pek dan ia bersama isterinya segera membuka bungkusan itu. Ketika melihat sesampul surat dari Lo Cin Han, mereka merasa girang sekali.
"Isteriku, kita harus memberitahukan hal ini kepada keluarga A-kwi, dan oleh karena kecelakaan yang menimpa diri pedagang yang bernasib buruk itu terjadi pada waktu ia menjadi utusan kita, maka sudah seharusnya kita memberikan semua barang berharga yang agaknya pemberian keluarga Lo kepada keluarga A-kwi, juga kita sendiri harus menjamin kehidupan keluarganya."
Giok Lie setuju dengan pikiran suaminya ini.
Kemudian mereka berdua lalu membaca surat dari Cin Han dengan girang sekali.
Melihat surat yang panjang lebar ini, Giok Lie hampir tidak dapat menahan keharuan hatinya.
Ia berteriak memanggil puterinya dan ketika Lee Ing muncul dari belakang hingga Tik Kong buru-buru menjura memberi hormat dengan dada berdebar girang, Giok Lie berkata.
"Ing-ji, lihat ini, pamanmu Lo Cin Han mengirim surat!"
Mereka bertiga dengan asyiknya lalu bersama membaca surat dari Cin Han yang sebetulnya ditulis oleh perwira muda yang duduk di depan mereka dan pura-pura tidak tahu apa-apa itu, bahwa keadaan kawan baik mereka itu dalam selamat, bahkan mereka kini telah mengawinkan putera tunggal mereka.
"Sayang kita tidak dapat datang menghadiri perkawinan Lo Sin,"
Demikian kata Tiang Pek dan diam-diam Giok Lie merasa agak kecewa di dalam hatinya, alangkah baiknya kalau Lo Sin putera Cin Han itu dijodohkan dengan Lee Ing.
Ah, mengapa mereka saling berpisah demikian lama dan jauhnya hingga dia tidak mempunyai kesempatan untuk mengusahakan perjodohan puteri mereka?
Lui Tik Kong memang sering berkunjung ke situ dan bercakap-cakap dengan Nyo Tiang Pek dengan gembira.
Kini Nyo Tiang Pek tiada hentinya bercakap-cakap tentang Lo Cin Han dan Lian Hwa dan di depan Lui Tik Kong ia memuji-muji kedua kawannya itu, bahkan menceritakan riwayat mereka.
Diam-diam hati Tik Kong bercekat cemas karena tidak disangkanya sama sekali bahwa kemarin malam ia telah merampas dan mengubah surat yang ditulis oleh Hwee-thian Kim-hong dan berani menewaskan utusan Ang Lian Lihiap.
Kalau ia tahu, belum tentu ia berani bertindak sejauh itu, akan tetapi sekarang ia tidak dapat mundur lagi.
Ia harus bertindak terus, bahwa ia harus melanjutkan rencananya dengan cepat sebelum Nyo Tiang Pek sempat bertemu dengan suami isteri pendekar itu.
Oleh karena pikiran-pikiran ini sangat menekan hatinya, Tik Kong tidak dapat bercakap-cakap dan tak lama kemudian ia minta diri.
Dua hari kemudian, Tik Kong menyuruh seorang perajurit tua yang menjadi orang kepercayaannya untuk menjadi perantara dan meminang Lee Ing.
Pinangan ini walaupun amat menyenangkan hati Tiang Pek, akan tetapi pendekar ini tidak mau menerima begitu saja sebelum mendapat persetujuan dari isterinya.
Maka ia lalu memanggil isterinya untuk merundingkan soal lamaran ini.
"Lebih baik kita minta kepada Lui-ciangkun supaya bersabar dan jawaban atas pinangannya kita putuskan tiga hari kemudian."
Tiang Pek setuju akan maksud dan kehendak isterinya itu maka ia lalu minta kepada utusan itu agar disampaikan kepada Lui-ciangkun bahwa jawabannya akan diberikan tiga hari kemudian dan minta ia supaya utusan itu suka datang lagi waktu itu.
Setelah perajurit tua itu pergi, Nyo Tiang Pek lalu merundingkan hal peminangan itu dengan isterinya.
"Menurut pandangan dan pikiranku, Lui Tik Kong cukup gagah, tampan dan berbudi. Aku setuju sekali memberikan anak kita kepada pemuda gagah itu."
Akan tetapi Giok Lie berpendapat lain.
"Hal ini terserah saja kepadamu, akan tetapi, aku sendiri tidak begitu suka kepada sikap lemah lembut dari seorang pemuda, oleh karena sikap ini meragukan dan suka menyembunyikan watak aseli dari pemuda itu. Aku lebih suka kalau Ing-ji mendapat jodoh seorang pemuda yang berwatak polos dan jujur seperti kau, tanpa banyak lagak sopan yang dibuat-buat!"
"Ha-ha-ha! Mana di dunia ini ada pemuda lain yang sehebat suamimu ini?"
Tiang Pek berkelakar.
"Isteriku yang manis, anak kita itu sudah cukup dewasa, usianya sudah tujuhbelas tahun lebih. Lihatlah kepada Cin Han dan Lian Hwa, diam-diam mereka itu sudah mempunyai anak mantu dan mungkin sebentar lagi mereka akan menimang-nimang cucu mereka! Bukankah mereka itu berbahagia sekali? Aku merasa iri hati kepada mereka maka janganlah kita ketinggalan! Kita juga mempunyai anak dan kita juga sudah ingin mempunyai cucu!"
Giok Lie menghela napas.
"Sayang sekali tidak dari dulu kita berhubungan dengan mereka. Kalau saja cucu yang akan mereka timang-timang itupun menjadi cucu kita pula, alangkah akan bahagianya!"
Mendengar ucapan ini, untuk sejenak Tiang Pek termenung dan hatinya terpukul.
Memang, kalau seperti kata-kata isterinya itu, iapun akan merasa puas dan senang sekali.
Ia tidak akan meragukan kegagahan dan kebaikan putera Cin Han.
Akan tetapi, putera tunggal Cin Han dan Lian Hwa sudah beristeri, maka tidak perlu hal itu dipikir lebih jauh.
"Isteriku, hal itu tidak perlu dibicarakan lagi, oleh karena menyimpang daripada kenyataan dan hanya akan menjadi mimpi buruk belaka! Kurasa kita tidak keliru memilih apabila kita memberikan anak kita kepada Lui Tik Kong. Ingatlah, ia telah dilukai oleh Hek Li Suthai yang memusuhi kita, dan hal ini saja sudah menjadikan alasan cukup bahwa pemuda itu segolongan dengan kita."
"Nanti dulu, suamiku. Kau berbicara seakan-akan kau sendiri yang hendak kawin! Sudah lupakah kau kepada pikiran dan pendapat Lee Ing? Dia seoranglah yang harus memutuskan, dan tidak baik kalau kita memaksanya."
Nyo Tiang Pek tertawa.
"Ha, ha, biarpun hatinya setuju, tidak mungkin dia mau mengaku! Coba kau panggil dia kemari." 02.04. Kekerasan Hati Ayah dan Anak Ketika itu Lee Ing sedang pergi ke rumah keluarga A-kwi yang berada dalam kedukaan besar berhubung dengan kecelakaan yang menimpa diri A-kwi. Dengan hati sangat terharu dan penuh iba, Lee Ing menghibur mereka, bahkan berjanji bahwa dia akan membasmi perampok-perampok yang telah menjatuhkan tangan kejam terhadap A-kwi. Ketika mendengar dari seorang tetangga bahwa ibunya mencari, ia lalu segera pulang dan merasa heran melihat bahwa ayah dan ibunya telah menantinya di ruang dalam dan pada wajah mereka nampak kesungguhan seakan-akan sedang menghadapi urusan besar.
"Lee Ing,"
Kata Giok Lie, karena Nyo Tiang Pek menyerahkan urusan ini ke tangan isterinya untuk menghadapi puteri tunggal mereka.
"Tahukah kau, berapa sekarang usiamu?"
Dara jelita itu memandang kepada ibunya dengan mata dilebarkan, lalu ia tertawa manis.
"Eh, eh, tiada hujan tiada angin, datang-datang ibu bertanya tentang usiaku. Apakah ibu sendiri telah lupa?"
Giok Lie tertawa pula melihat kejenakaan anaknya, lalu dengan gerakan halus dan penuh sayang ia pegang tangan anaknya.
"Dengarlah baik-baik, anakku, dan jangan bersikap seperti seorang anak kecil. Sekarang kau telah berusia tujuhbelas tahun dan kau tahu, apa artinya itu bagi seorang gadis remaja. Orang hidup tidak akan terlepas daripada kewajiban yang mengikat, yakni tali perjodohan. Belum lama tadi telah datang orang yang maksudnya hendak melamarmu."
Tiba-tiba wajah gadis itu menjadi pu"cat dan ia melangkah mundur dua tindak sambil membetot tangannya yang dipegang oleh ibunya.
"Apa""? Tidak""
Aku tidak mau,"
Katanya. Melihat sikap anaknya yang seakan-akan seekor burung murai menghadapi ular yang hendak menyerangnya, Tiang Pek tertawa bergelak.
"Ha-ha! Ing-ji, mengapa begitu penakut? Kawin bukanlah hal yang harus ditakuti. Hal itu merupakan saat yang paling bahagia bagi seorang manusia hidup."
Lee Ing hanya geleng-geleng kepala sambil tundukkan mukanya yang menjadi merah.
"Ing-ji, terus terang saja kuberitahu padamu bahwa kau dipinang oleh Lui-ciangkun untuk menjadi isterinya. Bagaimana pikiranmu, nak?"
Lee Ing tundukkan kepalanya makin dalam tanpa berani menjawab karena malu.
"Ing-ji, menurut pendapat ayahmu, pemuda itu cukup baik dan cukup gagah. Kau takkan kecewa menjadi isterinya,"
Kata Tiang Pek dengan suara membujuk. Tiba-tiba Lee Ing mengangkat mukanya dan memandang wajah ayahnya dengan berani.
"Tidak, ayah. Aku tidak mau. Aku tidak mau menjadi isterinya, tidak mau menjadi isteri orang, tidak mau berpisah dari kalian berdua."
Ucapan yang keras ini merupakan letupan yang mengejutkan Tiang Pek dan mengherankan Giok Lie.
"Apa maksudmu? Mengapa kau menolaknya? Kurang apakah dia itu?"
Tanya Tiang Pek yang juga memiliki watak keras.
"Aku""
Aku hanya mau menjadi isteri seorang seperti""
Kau, ayah!"
Tiang Pek dan Giok Lie saling pandang dan tiba-tiba keduanya tertawa bergelak"gelak dengan hati geli.
Tiang Pek gunakan jari telunjuknya menuding Giok Lie dan tangan kirinya dikepalkan lalu tinju itu diamang-amangkan kepada isterinya, sedangkan suara ketawanya belum juga lenyap.
"Ah, kau""
Tentu kau yang mengajari dia!"
Tapi Giok Lie geleng-geleng kepala dan berkata kepada Lee Ing.
"Ing-ji, jangan kau bicara tidak karuan dalam saat seperti ini. Betapapun juga, akhirnya kau terpaksa harus kawin. Kami tidak akan memaksamu menerima pinangan Lui Tik Kong, akan tetapi kalau kau menolak, kau harus menggunakan alasan-alasanmu, jangan asal menolak dengan keras kepala saja!"
"Dia""
Dia harus lebih dulu kalahkan aku!"
Akhirnya Lee ing menjawab.
Tiang Pek merasa penasaran dan tidak senang.
Ia maklum bahwa biarpun kepandaian Lui Tik Kong cukup tinggi, akan tetapi agaknya tidak mungkin baginya akan dapat mengalahkan anaknya yang ia tahu sangat lihai, apalagi setelah Lee Ing kini melatih ilmu pukulan Gin-san-ciang.
Maka ia anggap ini hanya sebagai alasan anaknya untuk menghina dan memandang rendah Lui Tik Kong belaka.
"Lee Ing!"
Katanya dengan suara keras.
"Jangan kau bersifat sombong dan menganggap diri sendiri paling pandai. Apa kaukira yang terpenting di dunia ini hanya kepandaian silat tinggi? Apa artinya kepandaian tinggi kalau hatinya tidak bersih? "Kalau kau menolak karena kau dasarkan atas ciri-ciri dan cacad yang ada pada diri Lui-ciangkun, aku masih dapat mempertimbangkannya, akan tetapi kalau hanya berdasar bahwa kau memiliki ilmu kepandaian yang lebih tinggi dari padanya, hal itu menunjukkan betapa sombongnya kau ini! Aku tidak suka mempunyai anak yang bersikap sombong!"
Lee Ing memandang kepada ayahnya dengan wajah mengandung penasaran dan kedua matanya terbelalak, kemudian setelah ayahnya berhenti berkata-kata, ia membalikkan tubuh dan tanpa berkata sesuatu ia berlari masuk ke dalam kamarnya.
Terdengar isak tertahan ketika ia berlari tadi.
"Sabarlah, sabarlah!"
Kata Giok Lie.
"Mengapa ayah dan anak sama-sama keras kepala dan bersitegang seperti kerbau terluka? Kita sedang merundingkan hari kemudian anak kita dan mencarikan jalan baik untuk hidupnya mengapa harus ribut-ribut seperti orang-orang memperebutkan warisan?"
Nyo Tiang Pek menghela napas.
"Hm, melihat lagak anak kita itu, aku jadi teringat kepada Ang Lian Lihiap. Keras hati dan tidak mau kalah oleh siapapun juga!"
Giok Lie tersenyum.
"Tidak aneh, karena memang jarang sekali aku dapat melupakan bayangan Lian Hwa cici dari ingatanku, dan""
Aku senang kalau Lee Ing mempunyai persamaan dengan dia. Sudahlah, hal itu kita undurkan dulu saja."
"Bagaimana nanti kalau suruhan Lui-ciangkun datang minta keputusan?"
"Bilang saja terus terang bahwa anak kita belum sanggup mengikat diri dengan perjodohan dan kalau suka bersabar, biarlah dia menanti satu-dua tahun lagi."
"Hm, agaknya kalau perlu dalam waktu setahun dua tahun itu, Lui-ciangkun harus menerima pelajaran silat yang lebih tinggi untuk dapat mengalahkan Lee Ing,"
Kata Tiang Pek.
Giok Lie tidak menjawab, hanya lalu pergi ke kamar anaknya untuk menghibur hati Lee Ing.
Lee Ing semenjak kecilnya sangat dimanja, maka sedikit perlakuan keras dari ayahnya itu sangat menyakiti hatinya.
Ketika ibunya memasuki kamarnya, gadis itu rebah telungkup di atas pembaringan sambil menahan tangisnya hingga tubuhnya bergoyang-goyang.
"Ing-ji, sudahlah jangan kau marah. Ayahmu bermaksud baik dan sama sekali tak akan memaksamu kalau kau tidak setuju."
Mendengar kata-kata ibunya, Lee Ing lalu bangun duduk dan berkata sambil mengeringkan air matanya.
"Ibu, aku akan mengetok kepala perwira kurang ajar itu!"
Ibunya memandangnya heran.
"Eh, eh, apa salahnya Lui-ciangkun maka kau hendak mengetok kepalanya?"
"Mengapa ia berani melamarku?"
"Ing-ji, jangan kau bersikap begitu. Apa salahnya orang meminang? Diterima atau tidak, itu tergantung yang dipinang. Peminang bukan orang jahat yang memaksa, jangan kau persalahkan kepadanya."
"Bagaimanapun juga, dialah yang menjadi biang keladi hingga ayah marah kepadaku,"
Kata Lee Ing sambil merengut.
Ibunya tersenyum dan menganggap bahwa anaknya ini terlalu manja dan bahwa kemarahan terhadap Lui Tik Kong ini hanya gertak sambal belaka.
Maka ia lalu menghibur hati Lee Ing hingga tak lama kemudian timbul kembali sinar gembira pada wajah dara itu.
Giok Lie sama sekali tidak pernah menyangka bahwa bentakan-bentakan Tiang Pek siang tadi telah menggores dan melukai hati Lee Ing, karena pada dasarnya gadis ini memiliki perasaan halus yang mudah tersinggung.
Rasa marahnya kepada Lui Tik Kong juga tidak mudah dihilangkan dengan hiburan demikian saja, maka biarpun di depan ibunya ia memperlihatkan muka gembira, namun di dalam hatinya ia telah mengambil keputusan untuk menyerbu dan memberi hajaran kepada perwira muda itu.
Malam hari itu, bulan memancarkan sinarnya dengan penuh hingga keadaan menjadi terang dan indah.
Diantara cahaya bulan sesosok bayangan yang gesit sekali gerakannya berkelebat di bawah pohon-pohon dan berlari cepat sekali.
Bayangan ini adalah seorang gadis bertubuh kecil langsing dan berpakaian ringkas.
Pedang tergantung di pinggang dan rambutnya yang hitam tebal itu diikat dengan serangkai mutiara putih di atas kepala dan ujungnya berjuntai ke belakang dan bergerak-gerak di punggungnya dengan lucu.
Gadis ini adalah Lee Ing yang diam-diam meninggalkan rumahnya dan menuju ke benteng yang menjadi markas tentara kerajaan di bawah pimpinan Lui Tik Kong.
Benteng itu dilingkungi tembok yang tebal dan tinggi, akan tetapi dengan gerakan yang ringan cepat bagaikan seekor burung murai terbang.
Lee Ing menggenjot tubuhnya ke atas tembok sambil menghunus pedangnya untuk bersiap sedia.
Dara muda ini biarpun telah mewarisi kepandaian yang tinggi, ia belum mempunyai pengalaman apa-apa, hingga ia berlaku sembrono dan tidak hati-hati.
Ketika ia melompat ke atas tembok, tiba-tiba ia melihat bayangan beberapa orang di dalam markas.
Ia lalu berjongkok di atas tembok itu sambil memegang pedangnya erat-erat di tangan kanan.
Matanya tajam memandang ke arah bayangan orang-orang yang berdiri dan bercakap-cakap di pintu benteng itu.
Mereka ini adalah anggauta-anggauta tentara yang bermalam dan karena tiada sesuatu yang dikerjakan mereka lalu mengobrol di pintu benteng.
Biarpun belum berpengalaman, namun Lee Ing mempunyai kecerdikan dan ketabahan.
Pula ia berhati keras hingga tidak suka akan segala hal yang dilakukan dengan sembunyi, maka ia lalu berdiri lagi di atas tembok sambil berteriak nyaring.
"Hai, para penjaga yang doyan mengobrol!"
Lima orang penjaga itu terkejut sekali dan mereka menengok.
Untuk sesaat mereka mencari-cari dengan mata mereka karena tidak menyangka bahwa orang yang berseru itu berdiri di atas tembok yang tinggi itu.
Kemudian seorang di antara mereka melihat Lee Ing yang berdiri di atas tembok dengan tangan kiri bertolak pinggang dan tangan kanan melintangkan pedang di depan dadanya.
Ia lalu berseru sambil menuding dan semua kawannya kini melihat gadis itu.
Mereka lalu beramai mencabut senjata dan lari menghampiri ke arah tembok.
"Hai, iblis wanita dari mana dan apa maksudmu maka berani datang ke benteng kami?"
Tegur mereka.
"Jangan banyak cakap yang tak berguna!"
Lee Ing menjawab.
"Lekas beritahukan kepada perwira gadungan Lui Tik Kong untuk segera keluar dan naik ke sini, kalau benar-benar ia seorang laki-laki gagah!"
"Eh, bocah galak! Kau turunlah dan kami cukup jantan untuk melayanimu!"
Berkata seorang di antara kelima penjaga itu yang telah melihat kecantikan Lee Ing di bawah sinar bulan purnama. Kata-katanya ini diucapkan sambil tertawa-tawa, maka bukan main marahnya Lee Ing.
"Bangsat rendah, kalian mencari penyakit sendiri!"
Sambil berkata, tubuhnya yang langsing itu menyambar turun dengan cepatnya bagaikan menyambarnya burung rajawali ke arah orang itu.
Bukan main kagetnya lima orang penjaga itu.
Mereka lalu angkat senjata untuk mengeroyok Lee Ing, akan tetapi tubuh Lee Ing yang menyambar turun dengan gerakan Naga Hitam Terjun ke Laut ini bagaikan kilat menyambar mereka dan tiba-tiba saja mereka berlima merasa betapa pedang gadis itu menyambar tanpa dapat dikelit atau ditangkis lagi.
Untungnya bahwa Lee Ing tidak berhati kejam dan sengaja pegang pedangnya dengan dibalikkan hingga bukan tajam pedang yang membabat, akan tetapi muka pedang yang datar dan licin digunakan untuk menampar.
Namun, karena pedang itu terbuat daripada baja keras dan tenaga Lee Ing sangat besar, lima orang penjaga yang kena tampar kepala, tangan, dan pipi mereka itu, berkaok-kaok kesakitan dan lari tunggang-langgang bagaikan orang takut diserang setan.
Lee Ing tertawa geli dan kembali mencelat naik ke atas tembok dan berdiri menanti seperti tadi.
Lima orang penjaga itu cepat berlari ke dalam benteng dan sebentar saja puluhan orang perajurit berlari keluar, mengiringkan seorang perwira muda yang memegang pedang.
Perwira muda ini bukan lain adalah Lui Tik Kong sendiri yang mengira bahwa to-kouw yang mengganggunya dulu itu telah datang menyerbu.
Maka alangkah heran dan terkejutnya ketika melihat bahwa yang berdiri di tembok dengan sikap tenang dan gagah itu bukan lain ialah Lee Ing, nona cantik jelita yang menjadi gadis impiannya dan yang telah dipinangnya.
Ia segera menjura dari bawah tembok.
"Ah, tidak tahunya Nyo-siocia yang malam-malam datang berkunjung. Sungguh merupakan kehormatan besar sekali. Silakan turun, nona, dan marilah kita bicara dengan baik di ruangan tamu kalau nona mempunyai urusan dengan kami."
"Cis! Siapa mempunyai urusan dengan kau untuk dibicarakan pada malam hari! Kau telah berlaku lancang sekali, kaukira kau ini orang macam apakah? Kalau memang kau berkepandaian, kau naiklah ke tembok ini!"
Lui Tik Kong masih belum mengerti mengapa nona manis itu datang-datang telah begitu marah, akan tetapi karena ia dihina di depan anak buahnya ia merasa malu sekali.
"Jadi kau hendak bicara di atas tembok ini saja, Nyo-siocia? Baiklah! Agaknya tembok ini belum begitu tinggi untukku!"
Sambil berkata demikian, Lui Tik Kong lalu menggerakkan tubuhnya dan melompat ke atas dengan gerakan Burung Hong Naik Sorga.
Gerakannya cukup indah dan ringan hingga anak buahnya bersorak memuji.
Akan tetapi Lee Ing tersenyum mengejek.
"Baru memiliki kepandaian sebegitu saja, kau telah anggap cukup untuk berani menghinaku?"
Mereka kini berdiri berhadapan di atas tembok yang lebarnya hanya satu setengah kaki. Kembali Lui Tik Kong menjura dan memainkan senyum manis di bibirnya.
"Maafkan aku, siocia. Sungguh mati aku tidak mengerti maksudmu. Kekurangajaran apakah yang telah kulakukan maka siocia marah-marah kepadaku?"
"Apa yang telah kaulakukan siang tadi? Kau telah berani sekali mengutus orang untuk""
Untuk melamarku!"
Lui Tik Kong tercengang.
"Eh""
Urusan ini""
Eh, mengapa nona menjadi marah-marah? Apakah utusanku mengeluarkan kata-kata kurang ajar dan menyinggung hatimu? Nona, aku meminangmu karena""
Aku cinta padamu."
"Bangsat kurang ajar!"
Wajah Lee Ing memerah, karena biarpun ucapan Lui Tik Kong itu takkan terdengar oleh para tentara yang berdiri agak jauh di bawah tembok, namun selama hidupnya belum pernah ia mendengar seorang pemuda menyatakan cinta hatinya terhadap dia, maka rasa malu dan jengah membuatnya menjadi marah sekali.
"Apa salahku maka kau marah-marah, nona?"
Tanya Tik Kong.
"Cabutlah pedangmu dan coba lawanlah pedangku kalau kau memang orang gagah dan jangan banyak cakap!"
Lui Tik Kong merasa penasaran sekali.
Ia sendiri memiliki ilmu kepandaian yang cukup tinggi, maka tentu saja ia tidak akan takut kepada Lee Ing yang belum pernah dilihat kepandaiannya.
Pula, ia dapat meraba maksud gadis ini.
Agaknya karena menerima pinangannya, gadis ini sengaja hendak mencoba kepandaiannya.
Ia tahu bahwa banyak gadis kang-ouw yang selalu ingin mengukur kepandaian calon suaminya.
Maka sambil tersenyum ia lalu mencabut pedangnya.
"Aku hanya taat pada permintaanmu dan bersedia mengiringi kehendakmu, nona,"
Katanya.
"Hah! siapa mau mengobrol denganmu? Lihat senjata!"
Lee Ing lalu mengirim serangan dan ketika Lui Tik Kong menangkis, pemuda ini menjadi pucat karena pedangnya terpental dan hampir saja terlepas dari pegangan!
Kini maklumlah ia bahwa tenaga lweekang dari dara muda ini hebat sekali dan gerakan pedangnya pun demikian cepatnya.
Diam-diam ia menjadi jerih, maka segera melepaskan ikat pinggangnya dari kain tebal dan memegang ikat pinggang ini di tangan kiri.
Inilah keistimewaan Lui Tik Kong, ia dapat memainkan pedang di tangan kanan dan ikat pinggang dari kain di tangan kiri.
Ikat pinggang ini, walaupun hanya terbuat daripada kain, akan tetapi berbahaya sekali.
Kepandaian ini ia dapatkan dari Kong Sin Ek si Dewa arak yang amat terkenal namanya oleh karena senjatanya berupa baju luar yang terbuat dari kain kasar pula!
Setelah mengeluarkan ikat pinggangnya, barulah Lui Tik Kong dapat mengimbangi serangan Lee Ing.
Akan tetapi bertempur di atas tembok itu jauh bedanya dengan bertempur di atas tanah, oleh karena mereka tidak dapat bergerak dengan leluasa, sedangkan dalam hal ginkang, pemuda itu masih jauh di bawah Lee Ing tingkatnya!
Maka Tik Kong lalu melompat turun sambil berseru.
"Nyo-siocia, di atas tembok kurang leluasa, silakan turun dan kita bermain-main di atas tanah."
"Kaukira aku takut?"
Kata Lee Ing yang menyambar turun pula dan sebelum kakinya menginjak tanah, pedangnya telah diputar dan menyerang ke arah leher Tik Kong dengan gerak tipu Han-ya-pok-cui atau Burung Gagak Menyambar Air.
Tik Kong cepat mengebut dengan kain di tangan kirinya dan membalas menyerang dengan hebat.
Pemuda ini ketika melihat betapa serangan-serangan Lee Ing bukan dilakukan secara main-main, akan tetapi dengan sengit dan bersungguh-sungguh, menjadi terkejut dan penasaran.
Iapun menjadi sengit dan menyerang sama hebatnya!
Di dalam hatinya, Lee Ing memuji kepandaian perwira muda ini yang memang cukup tinggi, akan tetapi entah mengapa, ia tidak suka kepada Tik Kong yang bersikap sopan-santun dan lemah lembut itu.
Maka sekarang ketika melihat betapa pemuda itu belum juga dapat dikalahkannya, ia merasa malu dan penasaran maka ia lalu menggerakkan pedangnya lebih cepat pula dan mengeluarkan seluruh kepandaiannya.
Pada suatu saat, ketika Lee Ing menyerang dengan sebuah tusukan ke arah dada, Tik Kong mengelak ke samping dan menggerakkan kain di tangan kirinya.
Kain ini tiba-tiba menjadi lemas dan membelit pedang gadis itu dengan erat.
Lee Ing terkejut sekali dan sebelum Tik Kong sempat menusuk dengan pedang, baru saja pemuda itu mengangkat tangan kanan untuk mengirim serangan balasan sambil menahan pedang lawan dengan kainnya, tiba-tiba Lee Ing menggerakkan tangan kiri memukul ke depan sambil berseru nyaring.
Ternyata bahwa dalam marahnya, gadis ini telah menggunakan pukulan Gin-san-ciang dengan tangan kiri ke arah pundak kanan Tik Kong yang tak menyangka sama sekali.
02.05.
Dua Musuh Orang Tua Hal ini tidak mengherankan oleh karena jarak antara kepalan Lee Ing dan pundaknya masih jauh, maka tanpa mengelak pun kepalan gadis itu takkan sampai ke pundaknya.
Tidak tahunya kelihaian pukulan Gin-san-ciang justeru kalau kepalan tangan yang memukul itu tidak mengenai sasaran, oleh karena pukulan ini dikerahkan dengan sinkang istimewa hingga angin pukulan itulah yang menyerang hebat.
Tik Kong tiba-tiba merasa pundaknya sakit sekali dan sambil berteriak keras ia melepaskan pedangnya sambil melompat mundur dan terhuyung-huyung dengan wajah pucat.
Lee Ing baru ingat bahwa ia telah kesalahan tangan melukai pemuda itu.
Tadinya ia hanya ingin mengetok kepala pemuda itu untuk memberi malu dan memberi hajaran, tidak ia sangka bahwa Tik Kong benar-benar lihai hingga terpaksa ia menggunakan Gin-san-ciang untuk merobohkannya.
Lee Ing maklum bahwa hal ini tentu akan terdengar oleh ayahnya dan ia pasti akan mendapat marah, maka ia lalu melompat ke atas tembok dan menghilang keluar, akan tetapi bahkan terus lari turun gunung.
Sambil berlari ia berpikir.
Ke mana ia akan pergi?
Mau pulang takut dimarahi ayahnya, tidak pulang, pergi kemanakah?
Tiba-tiba ia teringat kepada Ang Lian Lihiap di Tit-lee.
Lebih baik ia pergi ke sana untuk melihat keadaan mereka dan untuk mencoba kepandaian suami isteri pendekar yang amat tersohor dan sering dipuji-puji ayahnya itu.
Lee Ing tak perlu kuatir akan biaya perjalanan, oleh karena selain memakai perhiasan daripada emas di dadanya, juga gadis ini mempunyai pengikat rambut dari mutiara putih yang mahal harganya.
Ia menjual perhiasannya dan dengan uang hasil penjualan itu ia dapat membiayai penginapan dan makan.
Bahkan ia membeli beberapa stel pakaian untuk pengganti dan pakaian itu dibungkusnya merupakan buntalan besar yang diikat pada punggungnya.
Pada masa itu, biarpun pada umumnya kaum wanita jarang keluar pintu, akan tetapi banyak juga wanita-wanita gagah melakukan perjalanan seorang diri atau berkawan, yang umumnya disebut wanita-wanita kang-ouw atau banyak juga pendeta-pendeta wanita yang disebut to-kouw.
Akan tetapi, jarang sekali ada wanita kang-ouw yang semuda dan secantik Lee Ing hingga tentu saja ia menimbulkan perhatian dan keheranan di tiap kampung dan kota yang dilewatinya.
Beberapa hari kemudian, ia tiba di sebuah dusun yang hanya terpisah sejauh sehari perjalanan dari Tit-lee, dan oleh karena hari telah mulai gelap ketika ia memasuki dusun itu, ia lalu mencari tempat penginapan.
Akan tetapi, di dusun yang kecil dan jarang kedatangan orang luar dusun itu, tentu saja ia tidak berhasil mendapatkan sebuah rumah penginapan.
Akhirnya Lee Ing melihat sebuah kuil pendeta wanita di luar kampung, maka ia segera mengetuk pintu kuil yang tertutup.
Seorang nikouw (pendeta wanita yang berkepala gundul) muda menyambutnya dan menanyakan maksud kedatangannya.
Lee Ing mengangkat tangan memberi hormat.
"Aku yang muda mohon diberi kesempatan bermalam untuk malam ini di sini, dan tentu saja aku bersedia mengganti kerugian."
Nikouw itu tersenyum dan wajahnya yang berkepala gundul itu terbayang kemanisan seorang wanita cantik, hingga Lee Ing dapat menduga bahwa kalau kepala yang gundul itu ada rambutnya yang hitam dan panjang tentu nikouw itu menjadi seorang wanita yang cantik.
"Li-enghiong janganlah berlaku sungkan. Silakan masuk dan pinni kebetulan masih mempunyai sebuah kamar kosong di belakang."
Lee Ing menghaturkan terima kasih dan setelah menjura kepada meja sembahyang di depan sebuah patung Dewi Kwan Im yang berada di ruang depan, ia lalu mengikuti nikouw itu ke belakang dan ternyata bahwa kamar itu cukup bersih, walaupun sangat sederhana.
Malam itu Lee Ing tidur nyenyak karena sehari penuh ia telah berjalan kaki tanpa berhenti.
Sebelum ia jatuh pulas, lapat-lapat ia mendengar suara seorang laki-laki tertawa hingga ia menjadi heran sekali mengapa dalam sebuah kuil wanita terdapat suara laki-laki.
Akan tetapi ia terlampau letih untuk memperhatikan hal ini dan ia menduga bahwa suara itu tentu suara seorang nikouw wanita yang memiliki suara parau dan besar seperti laki-laki.
Oleh karena ini, tanpa curiga ia tidur pulas.
Akan tetapi, pada keesokan harinya, pagi-pagi sekali ia bangun dan hendak melanjutkan perjalanannya di kala fajar baru saja menyingsing karena bermaksud supaya bisa, sampai di Tit-lee sebelum gelap, ia melihat bayangan seorang laki-laki berkelebat keluar dari kamar besar tengah kuil.
Lee Ing menjadi marah sekali dan menyangka bahwa laki-laki itu tentu seorang pencuri.
Dengan sekali lompatan saja ia telah melampaui laki-laki itu dan mengirim tendangan ke arah lutut orang itu.
Laki-laki ini ternyata seorang yang masih muda dan berwajah tampan juga.
Karena tendangan Lee Ing yang cepat mengenai lututnya, ia berteriak kesakitan dan roboh tidak dapat bangun kembali, hanya memegang-megang kakinya sambil mengaduh-aduh dan memanggil.
"Aduh, tolong""
Toanio"", tolonglah""!"
Tiba-tiba kamar besar dari mana laki-laki tadi keluar, terbuka pintunya dan seorang wanita yang berpakaian sebagai seorang to-kouw (pendeta wanita pemeluk Agama To) yang rambutnya riap-riapan ke belakang keluar dengan tindakan cepat.
Wanita ini berusia tigapuluh tahun lebih akan tetapi wajahnya masih tampak cantik, sedangkan sepasang matanya galak dan genit.
Melihat betapa laki-laki kekasihnya itu dilukai orang, ia menjadi marah dan menuding kepada Lee Ing sambil memaki.
"Perempuan rendah dari manakah berani menghina orang?"
Lee Ing yang tadinya sudah marah karena menyangka bahwa laki-laki itu seorang pencuri, kini menjadi makin marah sekali oleh karena mendapat kenyataan bahwa ternyata laki-laki itu bukan seorang pencuri, akan tetapi seorang buaya darat yang mencemarkan kesucian kuil itu dengan menjadi kekasih seorang to-kouw yang tentunya hanya seorang tamu di kuil itu, karena kuil itu adalah tempat para nikouw pemuja Dewi Kwan Im.
Maka sepasang mata dara ini bersinar-sinar karena marahnya.
"Hm, tak kusangka di dunia ini ada seorang to-kouw semacam ini! Kau sendiri perempuan rendah, masih berani memaki orang lain?"
Katanya.
To-kouw ini bukan lain adalah Bi Mo-li atau Iblis Cantik yang menjadi murid Hek Li Suthai.
Bi Mo-li inilah yang dulu pernah melukai Lui Tik Kong dengan Ang-see-ciang.
Nama Hek Li Suthai sangat terkenal dan juga nama Bi Mo-li si Iblis Cantik ini tidak kalah tersohornya, maka tentu saja ia menjadi marah mendengar makian Lee Ing.
"Kau harus mampus!"
Teriaknya dan bagaikan seekor iblis wanita yang mengerikan.
Bi Mo-li bergerak dan tubuhnya melayang ke arah Lee Ing dengan tangan kanan diulur serta penuh mengandung tenaga Ang-see-ciang.
Melihat cahaya merah yang bersinar dari tangan itu, Lee Ing terkejut karena ia tahu bahwa ini tentu tangan yang mengandung Ang-see-ciang.
Ia lalu kumpulkan napasnya dan keluarkan ilmu dan tenaga Gin-san-ciang yang telah dipelajarinya dengan sempurna.
Ketika hawa tenaga Ang-see-ciang menghantam ke arah Lee Ing, maka gadis ini lalu menggerakkan lengannya menangkis.
Bi Mo-li menjerit keras dan terpental mundur oleh tenaganya sendiri.
Untung sekali bahwa latihan Gin-san-ciang dari Lee Ing belum begitu lama hingga kekuatannya masih kurang hebat.
Kalau Tiang Pek yang melakukan tangkisan ini, mungkin Bi Mo-li akan mendapat luka dalam yang hebat sekali!
Namun tangkisan Lee Ing ini cukup membuat ia terpental ke belakang dan jatuh!
Bagaikan kemasukan setan Bi Moli melompat berdiri dan dengan marah sekali ia lalu mencabut pedang dan hud-tim (kebutan pertapa) kemudian langsung menyerang Lee Ing bagaikan kerbau gila mengamuk!
Lee Ing berlaku tenang karena maklum banwa to-kouw ini bukanlah lawan yang lunak.
Ia menghunus keluar pedangnya dan melayani dengan hati-hati.
Ternyata ilmu kepandaian Bi Mo-li cukup tangguh dan tinggi hingga kalau saja Lee Ing tidak menerima gemblengan yang keras dan sungguh-sungguh dari ayahnya, tentu ia takkan kuat bertahan.
Akan tetapi, ilmu pedang Lee Ing yang menjadi warisan dari sukongnya atau kakek gurunya, yakni Kang-lam Taihiap Kam Hong Tie yang pernah disebut sebagai jago nomor satu di darat, benar-benar hebat dan dengan pedangnya itu ia dapat mendesak Bi Mo-li!
Sayang bahwa Lee Ing kalah pengalaman bertempur, kalau tidak tentu ia akan berhasil mengalahkan Iblis Wanita Cantik itu dalam waktu pendek.
Pada saat Lee Ing mendesak lawannya, tiba-tiba menyambar hawa dingin dan tahu-tahu pedang Lee Ing telah terampas orang!
Juga Bi Mo-li melompat mundur dan menjura kepada orang yang baru tiba.
Ketika Lee Ing memandang, ternyata yang merampas pedang itu adalah seorang to-kouw tua yang berkulit muka putih halus akan tetapi kedua tangan to-kouw itu hitam.
Inilah Hek Li Suthai dan kepandaiannya dapat diukur tingginya dengan kenyataan tadi bahwa dalam segebrakan saja ia berhasil merampas pedang Lee Ing!
"Nona, kali ini aku masih memberi ampun kepadamu, karena kau masih muda dan pinni sayang akan kepandaianmu.
Kalau kau masih berusia panjang dan lain kali dapat bertemu lagi.
Sebelum kau berlutut dan mengangguk delapan kali, kau takkan dapat kuampunkan!"
Sambil berkata demikian Hek Li Suthai mengangsurkan kembali pedang Lee Ing.
Gadis ini menerima kembali pedangnya, akan tetapi ia sama sekali tidak merasa takut.
Bahkan ia memandang marah sekali hingga mukanya serasa dibakar karena merasa telah dihina orang.
Akan tetapi, apa dayanya?
Sudah terang bahwa to-kouw tua ini lihai bukan main dan ia bukanlah lawan seimbang maka ia menahan nafsu marahnya dan bertanya.
"Siapakah namamu, agar lain kali aku yang muda takkan lupa lagi."
To-kouw tua itu tertawa haha-hihi dan suara ketawanya menyeramkan sekali.
"Kau benar-benar bernyali besar! Kalau kau sekarang berlutut minta ampun, dengan sekali kebut saja hud-tim ku ini tentu akan menghancurkan batok kepalamu yang bagus. Tapi kau pemberani dan pinni suka kepada orang yang berani. Dengarlah, hai anak cantik. Pinni adalah Hek Li Suthai dari Hoa-mo-san.'"
Lee Ing makin mendongkol karena tahu bahwa inilah musuh yang hendak mencari ayahnya.
Maka tanpa berkata sesuatu, ia lalu balikkan tubuhnya dan berlari keluar dengan cepat dan dengan hati gemas dan mendongkol.
Belum berapa lama keluar dari pintu, sekarang telah bertemu lawan tangguh dan kena dikalahkan bahkan menerima hinaan.
Hampir saja Lee Ing mengalirkan air mata dari kedua matanya karena gemas dan mendongkolnya.
Hari itu juga, menjelang senja hari, ia telah tiba di Tit-lee!
Dengan mudah ia dapat mencari gedung keluarga Lo, akan tetapi Lee Ing tidak berani dan malu untuk datang di waktu sore.
Ia mengambil keputusan untuk menyelidiki di waktu malam nanti dan kalau mungkin ia hendak mencoba kepandaian Ang Lian Lihiap atau Hwee-thian Kim-hong!
Gadis ini benar berhati tabah dan kekalahannya pagi tadi tidak membuatnya kapok.
Setelah mengetahui keadaan gedung keluarga Lo, ia lalu mencari kamar di sebuah rumah penginapan dan menanti datangnya malam dengan hati tidak sabar.
Malam hari itu, biarpun bulan muncul sedikit akan tetapi sinarnya masih cukup terang untuk mengusir kehitaman malam.
Lee Ing mengenakan pakaian yang singset dan indah karena ia tidak mau kelihatan kurang rapi.
Dengan hati tabah dan gerakan cepat, ia melompati tembok rendah yang mengelilingi gedung keluarga Lo di bagian belakang.
Ia masuk ke dalam kebun di belakang gedung itu dan dengan berani menghampiri gedung dari belakang.
Ia merasa heran mengapa gedung itu sunyi sekali, apalagi setelah ia berhasil masuk ke dalam gedung, yakni di bagian belakangnya, ia makin heran karena tak seorangpun pelayan nampak di situ.
Tentu saja ia tidak tahu bahwa pada malam hari itu Han Lian Hwa dan Lo Cin Han, sepasang suami isteri pendekar ini sengaja menyuruh semua pelayan keluar dari gedung itu oleh karena mereka berdua tengah menanti kedatangan tamu-tamu istimewa yang siang tadi telah mengirim kartu nama bergambarkan tangan hitam dan tengkorak.
Juga Lo Sin tidak nampak karena pemuda ini belum kembali dari perjalanannya menuju ke tempat kediaman Kong Sin Ek si Dewa Arak.
Lee Ing dengan hati-hati sekali menuju ke ruang tengah, lalu bersembunyi di balik sebuah pintu belakang dan mengintai ke ruang tengah.
Ternyata ruang itu luas sekali dan dipasangi lampu teng yang amat terang.
Di sudut terdapat sebuah meja bundar besar dan di belakang meja itu duduk dua orang berdampingan, seorang wanita yang sangat cantik dan seorang laki-laki yang gagah sekali.
Mereka berdua duduk tanpa mengeluarkan suara sedikitpun dan mereka memandang ke arah pintu depan yang terbuka lebar, seakan-akan mereka siap menanti datangnya tamu-tamu agung.
Lee Ing melihat bahwa wanita dan laki-laki itu usianya sebaya dengan ayah ibunya, dan melihat kecantikan wanita itu dan kegagahan yang pria, mudah saja baginya untuk menduga bahwa mereka ini tentulah Ang Lian Lihiap Han Lian Hwa dan Hwee-thian Kim-hong Lo Cin Han.
Lee Ing memandang kagum sekali dan seketika itu juga lenyaplah niatnya hendak mencoba kepandaian mereka.
Wajah dan sikap kedua orang itu sudah cukup untuk menundukkan wataknya yang keras hati dan ingin mencoba setiap orang.
Diam-diam ia memandang dengan penuh segan dan hormat, dadanya berdebar girang, akan tetapi ia tidak berani keluar oleh karena jika ia keluar secara tiba-tiba tentu mereka ini akan menganggapnya kurang ajar.
Tiba-tiba Lee Ing menjadi takut kalau sampai ketahuan kedatangannya.
Ia merasa betapa ia telah berlaku lancang sekali, berani datang ke tempat Ang Lian Lihiap dan Hwee-thian Kim-hong seperti seorang maling.
Bagaimana kalau mereka berdua ini mengetahui bahwa ia adalah puteri Nyo Tiang Pek, sahabat baik mereka?
Ah, mereka tentu akan mencelanya dan ia akan membikin malu nama orang tuanya.
Memikir demikian, Lee Ing cepat mengeluarkan sebuah saputangan yang lebar dan menggunakan saputangan lebar ini untuk mengikat rambut kepalanya dan menutup sebagian mukanya sebelah bawah agar jangan sampai terlihat dan dikenal mukanya, kalau sampai terjadi mereka tahu akan kedatangannya.
Akan tetapi, melihat betapa kedua orang itu sama sekali tidak bergerak dan hanya mencurahkan perhatian ke pintu depan, Lee Ing menjadi heran sekali.
Ia lalu mengambil keputusan hendak meninggalkan tempat itu secara diam-diam, akan tetapi pada saat itu terdengar suara Cin Han berkata dengan halus kepada isterinya.
"Nah, mereka akhirnya datang juga."
Lee Ing terkejut dan mengintai kembali ke ruang itu.
Tiba-tiba dari pintu depan berkelebat bayangan orang dan tahu-tahu di situ telah berdiri dua orang to-kouw yang bukan lain adalah Hek Li Suthai dan muridnya, Bi Mo-li yang dijumpainya di kuil pagi tadi.
Lee Ing menjadi tertarik sekali karena ia segera dapat mengerti bahwa to-kouw yang lihai itu sengaja datang mencari musuh-musuhnya dan suami isteri pendekar itu telah siap menanti kedatangannya.
"Selamat malam, Hek Li Suthai,"
Kata Ang Lian Lihiap kepada tamunya dengan suara yang merdu dan terdengar gagah.
Hek Li Suthai tertawa haha-hihi dan suara ketawa itu bergema memenuhi ruangan itu, Lee Ing terkejut sekali karena suara ketawa ini mengandung getaran yang mendebarkan dadanya.
Ia maklum bahwa to-kouw itu hendak memamerkan khikangnya dan sengaja mendemonstrasikan ketawanya itu, maka buru-buru Lee Ing mengatur napasnya untuk menolak getaran itu.
"Ang Lian Lihiap dan Hwee-thian Kim-hong. Alangkah lamanya pinni menunggu-nunggu datangnya saat pertemuan ini." (Lanjut ke
Jilid 03) Si Walet Hitam/Ouw Yan Cu (Seri ke 03 Serial Si Teratai Merah) Karya . Asmaraman S. Kho Ping Hoo
Jilid 03
"Hek Li Suthai, sudah sempurna benarkah kini pelajaranmu dari Sin-kun Moli Lan Bwee Niang-niang?"
Terdengar Cin Han berkata dengan suaranya yang sabar tapi berpengaruh itu.
"Tentu saja, mengapa tidak?"
Jawab Hek Li Suthai dengan senyum sindir.
"Kalian tentu telah maklum akan maksud kedatangan pinni, bukan?"
Ang Lian Lihiap bangun berdiri dan Lee Ing melihat bahwa potongan tubuh pendekar wanita itu hampir sama dengan ibunya, akan tetapi sikap Ang Lian Lihiap ini lebih gagah oleh karena ibunya mempunyai sikap lemah lembut dan halus gerak-geriknya.
"Hek Li Suthai, siapa yang tidak ketahui maksudmu yang buruk? Semenjak dulu, gurumu yang selalu mencari permusuhan dan agaknya kini kaulah yang melanjutkan usaha buruk itu. Akan tetapi, ketahuilah bahwa kami selamanya takkan takut menghadapi kalian, oleh karena kami yakin bahwa kami berada di pihak benar. Sekarang kau sudah tiba di sini dan aku sebagai tuan rumah akan menyambutmu sepantasnya. Katakanlah, apa kehendakmu?"
Lee Ing merasa kagum sekali mendengar kata-kata ini dan melihat sikap Ang Lian Lihiap.
Benar patut disebut pendekar wanita yang gagah perkasa!
Ia memandang dengan dada makin merasa tegang dan tertarik.
"Hm, kau masih sombong dan keras seperti dulu,"
Kata Hek Li Suthai. Kemudian ia berpaling kepada Bi Mo-li dan berkata.
"Kaulawanlah dia!"
Bi Mo-li mencabut keluar pedang dan kebutannya, akan tetapi karena ia maklum bahwa ia berhadapan dengan Ang Lian Lihiap yang tersohor akan kelihaiannya, ia tidak berani berlaku sombong, bahkan lalu menjura dengan hormat dan berkata.
"Lihiap, mohon pengajaran sedikit."
Ang Lian Lihiap tersenyum.
"Kau tenangkanlah hatimu dan majulah, aku telah siap."
Akan tetapi pendekar wanita ini sama sekali tidak mengeluarkan pedangnya yang terkenal, yakni Kong-hwa-kiam, pedang pemberian suaminya ketika mereka masih bertunangan dulu.
Bahkan pakaian pendekar wanita ini tidak leluasa sekali karena jubahnya yang berwarna putih itu panjang sekali dan juga lengan bajunya panjang sampai menutupi kedua tangannya.
"Lihiap, harap suka keluarkan senjatamu!"
Kata Bi Mo-li yang masih berlaku sungkan karena jerih. Sekali lagi Ang Lian Lihiap tersenyum dan tampak oleh Lee Ing betapa manisnya wajah pendekar wanita itu jika tersenyum.
"Gurumu sengaja menyombong dan menyuruh kau maju melawanku, maka kalau aku mempergunakan senjata berarti aku kurang hormat dan tidak suka menerima maksud baiknya itu."
Kata-kata ini walaupun diucapkan dengan halus, akan tetapi merupakan sindiran tajam kepada Hek Li Suthai.
"Bi-niang (si Cantik), jangan banyak tingkah. Seranglah dia!"
Kata Hek Li Suthai sambil memandang ke sana ke mari agaknya mencari tempat duduk di ruang yang luas itu.
Cin Han dapat menduga maksud tamunya.
Ia lalu menyambar sebuah bangku yang berada di dekatnya, lalu mengayunkan bangku itu ke arah Hek Li Suthai sambil berkata.
"Hek Li Suthai, kau duduklah!"
Bangku itu berkaki tiga dan dilempar perlahan oleh Cin Han, yakni nampaknya saja perlahan, karena sesungguhnya bangku itu meluncur cepat ke arah to-kouw tua itu dengan ketiga kakinya di depan dan ketiga kaki itu dengan cepat sekali menyerang merupakan totokan berbahaya, karena sekaligus kaki yang segitiga kedudukannya itu menyerang jalan darah di ulu hati dan kedua pundak.
Akan tetapi, dengan tenang sambil berkata.
"Terima kasih!"
Hek Li Suthai menggunakan sebuah jari telunjuknya menyentil kaki bangku yang menyerangnya itu hingga bangku itu terlempar sambil berputar-putar ke atas, kemudian jatuh ke bawah dan diterima dengan sebelah tangan, lalu diduduki oleh to-kouw itu, seakan-akan tidak pernah terjadi sesuatu!
Melihat pertunjukkan yang hebat dari kedua ahli itu, Lee Ing di tempat persembunyiannya menahan napas saking kagumnya!
03.06.
Untung "".
Tidak Tertangkap.
Sementara itu, mendengar perintah gurunya, Bi Mo-li lalu bergerak dan menyerang hebat dengan gerakan berbareng, yakni dengan pedang di tangan kanan menyabet leher dan kebutan di tangan kiri menotok iga!
Tapi, dengan sedikit gerakan tubuh Ang Lian berhasil menghindarkan diri dari serangan ini.
Bi Mo-li maju menyerang lagi dan kini mengeluarkan seluruh kepandaiannya, dan menggunakan tipu-tipu yang paling dahsyat dalam ilmu silatnya.
Akan tetapi, tiba-tiba sambil berseru nyaring, tubuh Ang Lian Lihiap lenyap dan tahu-tahu berada di belakang Bi Moli.
Ang Lian Lihiap menggerakkan kedua tangan menyentuh pundak kanan kiri lawannya dari belakang dan tiba-tiba kedua senjata Bi Moli terlepas dari pegangan dan jatuh di atas lantai.
Bi Mo-li tak kuasa memegang kedua senjatanya lagi karena sentuhan pada kedua pundaknya itu membuat kedua lengannya menjadi kaku dan terasa lumpuh!
Segera, ia melompat mundur dengan wajah pucat dan menjura kepada Ang Lian Lihiap sambil berkata.
"Pengajaran lihiap telah kuterima dan terima kasih!"
Ia lalu maju dan memungut kedua senjatanya dengan wajah berubah merah. Hek Li Suthai menjadi merah mukanya karena malu.
"Dungu!"
Ia memaki muridnya.
"Mudah saja diperdayakan dengan pertunjukan gin-kang sebegitu saja!"
Muridnya tidak berani membantah dan hanya mundur berdiri di pinggir dengan kepala tunduk.
"Ang Lian Lihiap, keluarkanlah senjatamu dan jatuhkanlah pinni!"
Katanya sambil melangkah maju dan mengeluarkan siang-kiam (sepasang pedang) yang berkilauan dan kedua pedang ini mengeluarkan sinar yang berlainan.
Pedang kiri mengeluarkan cahaya hijau dan pedang kanan mengeluarkan cahaya hitam.
Inilah sepasang pedang ular hijau dan hitam yang ampuh!
Tiba-tiba Cin Han tertawa dan berkata kepada isterinya.
"Kau beristirahatlah dan biarkan aku mencoba kehebatan Hek Li Suthai!"
Ang Lian Lihiap tersenyum dan berkata.
"Suamiku ini memang selalu ingin merasai lebih dulu jika ada sesuatu yang baru dan aneh datang kepada kami. Kau hadapi dia baik-baik Hek Li Suthai!"
Lalu ia pergi duduk di tempatnya tadi, menonton suaminya yang kini telah maju ke muka menghadapi Hek Li Suthai.
"Pedangmu sungguh hebat,"
Kata Cin Han dan tangan kanannya bergerak.
Hampir tak dapat diikuti oleh mata Lee Ing gerakan tangan Hwee-thian Kim-hong ini, dan tahu-tahu Cin Han telah mencabut pedangnya yang mengeluarkan cahaya putih berkilauan, karena yang dipegangnya ini adalah Sian-liong-kiam.
"Sian-liong-kiam di tanganmu juga pedang bagus. Mari, kaumajulah!"
Kata Hek Li Suthai, akan tetapi sambil berkata demikian ia mendahului lawannya menyerang dengan ganas.
Cin Han maklum akan kelihaian lawannya, maka iapun tidak mau berlaku lambat atau sungkan lagi, dan mengeluarkan kepandaiannya.
Ia mainkan pedangnya dalam ilmu pedang Hwie-sian-liong-kiam-sut atau gabungan dari ilmu pedang isterinya seperti yang diciptakan oleh suhunya.
Pertempuran ini bukan main hebatnya hingga Lee Ing merasa pandangan matanya kabur dan kepalanya menjadi pening.
Ia melihat betapa gerakan kedua pedang di tangan Hek Li Suthai luar biasa sekali dan amat sukar diduga perubahannya, juga to-kouw tua itu memiliki gin-kang yang tinggi hingga tubuhnya berkelebat ke sana ke mari bagaikan seekor burung garuda menyambar-nyambar dari setiap jurusan.
Akan tetapi, gerakan Cin Han tenang dan bertenaga.
Agaknya pendekar itu tak banyak bergerak, berdiri di tengah-tengah dengan kedua kaki tetap dan setiap gerakannya mengeluarkan tenaga besar hingga anginnya sampai terasa oleh Lee Ing di tempat persembunyiannya.
Kalau Hek Li Suthai boleh diumpamakan sebagai seekor garuda sakti yang menyambar-nyambar dari segala jurusan dengan cepat sekali.
Cin Han adalah sebagai seekor ular naga sakti yang melingkar di tengah dan menjaga diri dari serangan garuda itu sambil mengebut-gebutkan ekor dan membalas menyerang dengan kepalanya.
Pertarungan yang sengit dan mati-matian ini tak dapat diketahui oleh Lee Ing siapa yang menang dan siapa yang terdesak, hanya dapat dirasai oleh kedua orang yang sedang bertempur itu, dah tentu saja dapat dilihat dan diketahui oleh Ang Lian Lihiap.
Setelah bertempur limapuluh jurus, tahulah Hek Li Suthai bahwa ilmu pedang Cin Han benar-benar, merupakan tembok baja yang tidak mungkin ditembus, dan terutama karena tenaga Cin Han yang luar biasa, membuat ia tidak berdaya sama sekali.
Makin lama ia makin merasa dingin karena gerakan pedang Cin Han mendatangkan hawa dingin yang luar biasa dan Lee Ing juga merasa akan serangan hawa dingin ini hingga bibirnya menggigil.
Memang ilmu pedang Hwie-sian-liong-kiam-sut mempunyai dua bagian, yakni bagian menyerang dan mempertahankan.
Bagian menyerang disebut gerakan Naga Sakti Mandi di Api dan jika dimainkan, maka gerakan pedang ini mengeluarkan hawa panas akan tetapi kehebatannya juga luar biasa sekali.
Sebaliknya bagian kedua adalah gerakan Naga Sakti Mandi di Air dan digunakan untuk bertahan, dan apabila gerakan ini dimainkan, maka keluarlah hawa dingin dari gerakan pedang itu.
Inilah kemujijatan Hwie-sian-liong-kiam-sut.
Cin Han memang sengaja mendemonstrasikan bagian mempertahankan diri, yakni Naga Sakti Mandi di Air, maka percuma saja bagi Hek Li Suthai walaupun ia kini telah mengerahkan seluruh tenaga dan kepandaian, karena sedikitpun ia tidak dapat menembus benteng pertahanan Cin Han yang luar biasa itu.
Akhirnya ia tidak tahan pula, maka ia lalu melompat mundur sambil berkata.
"Cukup! Pinni telah merasakan kelihaian Hwee-thian Kim-hong dan memang kepandaianmu luar biasa. Akan tetapi, oleh karena pinni telah sampai di sini, akan sia-sialah perjalananku apabila belum mencoba kepandaian Ang Lian Lihiap."
Ang Lian Lihiap mendongkol sekali, sungguhpun bibirnya tersenyum.
To-kouw ini perlu diberi pelajaran, pikirnya.
Ia lalu berdiri dan menghampiri Hek Li Suthai, menggantikan Cin Han yang sudah mundur dan duduk kembali di bangkunya.
"Hek Li Suthai, kau sungguh tak mengenal kemurahan hati suamiku. Jangan kau menyesal kalau pedangku tak bermata!"
Sambil berkata demikian, pendekar wanita itu mencabut pedangnya dari punggung dan kembali terlihat sinar berkelebat ketika pedang Kong-hwa-kiam dicabut! "Nah, kau bersiaplah dan rasai seranganku!"
Setelah berkata demikian tubuh Ang Lian Lihiap berkelebat dan lenyap terbungkus sinar pedangnya yang dimainkan dalam gerakan Naga Sakti Mandi di Api!
Hek Li Suthai terkejut sekali dan iapun memperlihatkan ginkangnya yang tidak rendah, maka kedua wanita yang bertempur itu lenyap dari pandangan mata dan yang tampak hanyalah sinar pedang mereka.
Kalau tadi Lee Ing merasa pening melihat pertempuran antara Hwee-thian Kim-hong dan Hek Li Suthai, kali ini matanya menjadi berkunang dan terpaksa ia meramkan mata beberapa kali agar sinar pedang jangan terlalu menggelapkan pandangannya.
Betapapun tinggi ilmu gin-kang Hek Li Suthai namun menghadapi Ang Lian Lihiap yang sudah mendapat latihan ginkang dari Song Cu Ling si Dewi Tanpa Bayangan, ia kalah jauh.
Apalagi karena Ang Lian Lihiap memainkan Hwie-sian-liong-kiam-sut bagian menyerang, maka baru bertempur tigapuluh jurus saja, Hek Li Suthai telah merasa bingung sekali.
Muka menjadi pucat dan keringat memenuhi kulit tubuhnya karena panasnya hawa yang keluar dari gerakan pedang Ang Lian Lihiap.
Bukan main rasa kagum di hati Lee Ing melihat permainan pedang Ang Lian Lihiap, dan ia terpaksa membuka sapu tangan yang tadi digunakan untuk menutupi mukanya karena iapun merasa panas.
"Sudah puaskah kau, Hek Li Suthai?"
Tiba-tiba terdengar suara Ang Lian Lihiap yang merdu dan tiba-tiba sebatang pedang di tangan kanan Hek Li Suthai terlempar dan jatuh di atas lantai menerbitkan suara nyaring sedangkan lengan tangan to-kouw itu mengalirkan banyak sekali darah merah oleh karena Kong-hwa-kiam telah digunakan oleh Ang Lian Lihiap untuk menggurat luka di kulit lengan itu dari siku sampai ke pergelangan tangan.
Luka yang sengaja dibuat hanya untuk memberi hajaran ini dirasakan lebih perih daripada bacokan pedang pada lehernya, maka dengan muka pucat sekali karena menahan marah.
Hek Li Suthai memungut pedangnya tanpa memperdulikan darah yang mengalir dari luka di kulit lengannya dan yang menetes-netes di atas lantai.
"Ang Lian Lihiap, Hwee-thian Kim-hong, terima kasih atas kebaikanmu dan kelak kita tentu bertemu pula!"
Ia lalu memberi tanda kepada muridnya dan keduanya lalu melompat dari situ. Lee Ing juga hendak pergi dari tempat itu, akan tetapi tiba-tiba terdengar suara Cin Han berkata.
"Orang yang bersembunyi di balik pintu, kau keluarlah!"
Kalau pada saat itu ada petir menyambar kepalanya, belum tentu Lee Ing akan merasa sekaget itu. Ia cepat menggunakan saputangannya menutupi mukanya lagi dan melompat pergi secepat mungkin.
"Hai, kau hendak lari ke mana?"
Terdengar Cin Han membentak, dan Lee Ing dengan takut dan gugup sekali mempercepat larinya, keluar dari gedung itu dan lari ke kebun belakang.
Ketika ia tiba di bawah sebuah lentera yang dipasang di pojok kebun, tiba-tiba ada angin menyambar dari belakang dan tahu-tahu Cin Han telah berdiri di depannya dengan pedang Sian-liong-kiam di tangan.
Bukan main terkejutnya Lee Ing, dan dengan gugup ia mengangkat pedangnya membacok.
Juga Cin Han merasa tercengang ketika melihat bahwa orang yang tadi mengintai di balik pintu ternyata adalah seorang gadis muda yang menutupi kepala dan mukanya di bagian bawah dengan saputangan, sedangkan sepasang mata yang bening seperti mata burung Hong itu memandang dengan gugup dan terkejut.
Maka ia tidak mau menangkis dengan pedangnya, hanya berkelit ke samping saja, akan tetapi kembali Lee Ing melanjutkan serangannya dengan mengayun pedang dari samping.
Melihat gerakan ini, terkejutlah Cin Han, karena ini adalah ilmu pedang yang bukan sembarangan.
Tadi ketika duduk menantikan Hek Li Suthai dengan isterinya, mereka berdua sudah tahu akan kedatangannya Lee Ing, akan tetapi oleh karena menghadapi urusan yang lebih besar, mereka mendiamkan saja tamu yang tak diundang itu.
Sama sekali tidak pernah disangkanya bahwa yang datang adalah gadis muda yang berusaha menyembunyikan dirinya.
Akan tetapi pada saat Lee Ing mengayunkan pedang, Cin Han melihat titik merah sebanyak dua buah di pergelangan gadis itu, hingga ia terkesiap.
"Baiklah kalau kau tidak mau memperlihatkan diri, akan tetapi biar kuobati lukamu yang berbahaya itu,"
Katanya. Akan tetapi Lee Ing yang merasa malu dan gugup sekali, sudah meloncati tembok pekarangan itu dan berlari keluar. Cin Han mengejar dari belakang sambil berteriak-teriak.
"He, nona muda! Kau telah mendapat luka dengan Ang-jouw-ciam (Jarum Rumput Merah) dan kalau tidak segera diobati dalam tiga hari, jarum itu akan menjalar ke jantung dan kau akan mati."
Mendengar ucapan ini, Lee Ing terkejut sekali, akan tetapi ia tidak berani berhenti.
Yang sangat ditakutinya ialah kalau-kalau Cin Han akan tahu bahwa ia adalah puteri Nyo Tiang Pek dan hal ini tentu saja akan membuat ibu dan ayahnya merasa malu sekali.
Ia memegang pedang di tangan kanan dan menggunakan tangan kiri untuk menjaga agar saputangan penutup mukanya jangan sampai terlepas, lalu berpaling sebentar.
Ketika melihat bahwa Cin Han masih tetap mengejar dengan pedang di tangan, gadis itu berlari makin cepat lagi.
"Baiklah, baiklah! Aku takkan mengejarmu! Terimalah bungkusan ini, makanlah obat bubuknya dengan air, lalu urut-urutlah dengan keras urat di lengan tanganmu agar jarum itu dapat didesak keluar."
Kembali Lee Ing berpaling dan ia melihat sebuah benda kecil putih menyambarnya.
Ia hendak berkelit, akan tetapi mendengar kata-kata tadi ia ulurkan tangan kiri menyambuti dan benar saja, benda itu adalah bungkusan kertas kecil dan ia melihat bahwa Cin Han tidak mengejar.
Lee Ing berlari terus sambil menggenggam bungkusan kertas itu.
Setelah jauh dan tiba di luar kota Tit-lee, ia berhenti sambil terengah-engah.
Ia merasa malu sekali akan tetapi hatinya lega karena Cin Han tidak mendesaknya, karena kalau Hwee-thian Kim-hong sengaja hendak menangkapnya, biarpun ia dapat terbang ke langit tentu ia akan dapat dikejar.
Ia teringat akan ucapan pendekar itu yang membingungkannya.
Ia menderita luka?
Di bawah sinar bulan yang kadang-kadang tertutup mendung hitam tebal, ia memeriksa lengan kanannya dan alangkah terkejutnya ketika ia melihat bahwa di pergelangan tangannya benar-benar terdapat dua bintik merah yang ketika dirabanya terasa sakit.
Ia lalu duduk di bawah sebatang pohon dan mengingat-ingat.
Maka teringatlah ia akan ucapan Hek Li Suthai yang berkata bahwa jika usianya panjang maka ia akan dapat bertemu dengan to-kouw itu.
Ah, tentu to-kouw siluman itu yang diam-diam melukainya dengan Ang-jouw-ciam ketika to-kouw itu merampas pedangnya di kuil itu dulu.
Ia segera menggulung lengan bajunya dan sambil meraba-raba ia dapat merasa bahwa jarum yang halus dan lihai itu telah menjalar sampai di bawah sikunya.
Cepat ia membuka bungkusan obat pemberian Cin Han, dan pada saat itu terdengar petir menyambar-nyambar dan mendung yang hitam bergulung-gulung tadi kini berkumpul menjadi satu.
Dengan mengeluarkan suara keras, angin besar datang bertiup dibarengi dengan hujan yang besar-besar.
Lee Ing lalu berteduh di bawah sebatang pohon dan mengambil air hujan dengan sehelai daun.
Dicampurnya obat itu dengan air hujan lalu diminumnya sampai habis.
Terasa hawa panas memasuki seluruh tubuhnya.
Ia lalu duduk menanti redanya hujan di bawah pohon yang gelap itu sambil mengurut-urut lengannya.
Hujan turun makin deras dan kini bahkan datang angin badai yang keras hingga daun-daun pohon yang telah tua tertiup rontok menerbitkan suara berisik.
Pakaian dan rambut Lee Ing basah kuyup, akan tetapi biarpun angin meniup kencang dan hawa udara menjadi dingin sekali, berkat obat bubuk pemberian Cin Han yang telah ditelannya, Lee Ing tidak merasakan dingin, bahkan hawa hangat di seluruh tubuhnya menjalar makin keras.
Lengan di mana jarum rumput merah itu mengeram telah mulai terasa sakit ketika ia berhasil mengurut jarum itu dan mendorongnya mundur dan kembali ke luka di pergelangan tangannya.
Jarum-jarum rumput yang melukainya ada dua buah dan dengan tekanan dua buah jari telunjuk dan jari tengah, perlahan-lahan ia dapat mendorong dua benda itu keluar.
Jidat gadis itu sampai berpeluh karena menahan sakit dan peluhnya bercampuran dengan air hujan turun membasahi mukanya.
Akhirnya nampak ujung jarum yang warnanya merah itu tersembul keluar dari lubang kecil di pergelangan tangannya.
Lee Ing merasa girang bercampur gemas dan menggunakan kukunya untuk mencabut keluar jarum-jarum itu.
Dengan hati-hati sekali ia membungkus kedua batang jarum rumput merah itu dengan sehelai saputangan dan menyimpannya.
Kemudian turunkan kembali lengan bajunya yang tadi digulung ke atas.
Pada saat itu terdengar suara kaki kuda mendatangi dari jauh.
Lee Ing cepat bersembunyi di balik batang pohon.
Di dalam gelap ia melihat seorang penunggang kuda datang cepat sekali.
Dan tiba-tiba dari jurusan lain datang pula dua orang penunggang kuda lain.
Terkejutlah Lee Ing ketika melihat bahwa penunggang kuda yang dua orang ini bukan lain ialah Hek Li Suthai dan muridnya, Bi Mo-li!
Hati Lee Ing berdebar, penuh rasa kuatir dan gemas, akan tetapi ia tidak berani memperlihatkan diri dan hanya mengintai di antara daun-daun pohon.
Juga kedua to-kouw itu melihat kedatangan penunggang kuda yang melarikan kudanya cepat sekali itu.
Mereka menahan kuda mereka dan menanti di tengah jalan.
Ketika penunggang itu telah datang dekat, Lee Ing melihat bahwa ia adalah seorang pemuda berpakaian hitam yang gagah sekali.
Pemuda ini juga merasa heran melihat dua orang to-kouw yang naik kuda dan menghadang di tengah jalan itu maka dari jauh ia memperlambat larinya kuda dan segera menegur.
"Jiwi suthai diharap suka minggir!"
Hek Li Suthai waktu itu sedang marah dan mendongkol sekali karena kekalahan yang dideritanya dari suami isteri pendekar yang baru saja dikunjunginya, maka melihat pemuda ini ia bermaksud hendak mengganggunya untuk melampiaskan rasa mendongkolnya.
Sebaliknya Bi Mo-li ketika melihat wajah pemuda yang tampan sekali dan tubuhnya yang gagah, timbul pula keinginannya untuk mempermainkan.
Akan tetapi ketika dua to-kouw itu melihat perhiasan kepala pemuda itu, mereka menjadi terkejut berbareng girang.
Hek Li Suthai lalu bertanya.
"Pemuda di depan bukankah Ouw-yan-cu si Walet Hitam dan putera Ang Lian Lihiap?"
Pemuda ini memang benar Lo Sin yang baru saja kembali dari perjalanannya mencari Kong Sin Ek dan telah tertimpa hujan badai di jalan hingga ingin buru-buru sampai ke rumah.
Mendengar pertanyaan ini, ia memandang dengan lebih teliti.
Ketika melihat sikap kedua to-kouw ini dan melihat bahwa to-kouw yang tua mempunyai tai lalat di ujung hidungnya, hatinya bercekat.
"Apakah siauwte berhadapan dengan Hek Li Suthai?"
Tanyanya.
"Ha-ha-ha! Kebetulan sekali, agaknya Thian (Tuhan) telah membantu kami hingga kebetulan sekali pinni bertemu dengan kau! Ha-ha! Ouw-yan-cu, bersedialah untuk mati di tangan pinni!"
Sambil berkata demikian, to-kouw tua itu meloloskan pedang dan kebutannya, juga Bi Mo-li mencabut pedangnya!
Lee Ing ketika mendengar bahwa pemuda ini adalah putera Ang Lian Lihiap, memandang dengan penuh perhatian dan hatinya tertarik sekali.
Jadi inikah putera mereka itu?
Kelihatannya memang gagah perkasa!
Akan tetapi dapatkah pemuda itu melawan Hek Li Suthai yang lihai?
Diam-diam ia merasa kuatir sekali akan keselamatan pemuda itu, akan tetapi apa dayanya?
Kalau ia keluar membantu, itu berarti hanya akan mencari bencana saja, maka ia hanya menonton dan tak terasa lagi keluar dari balik pohon.
Lo Sin maklum bahwa musuh orang tuanya ini tentu takkan memberi ampun, maka iapun cepat mencabut pedang yang tergantung di punggungnya, lalu berkata dengan gagah.
"Hek Li Suthai, kaukira aku yang muda takut kepadamu?"
Hek Li Suthai didahului oleh muridnya oleh karena Bi Mo-li hendak membalas kekalahannya terhadap Ang Lian Lihiap tadi dan ia kira bahwa betapapun juga pemuda ini tak mungkin memiliki kepandaian tinggi.
Akan tetapi ia salah duga karena ketika ia memajukan kudanya menyerang, terdengar Ouw-yan-cu berseru keras dan tahu-tahu tubuh pemuda itu telah melayang dari atas kudanya dan siap sedia menghadapi pertempuran mati-matian!
Melihat gerakan pemuda ini, Hek Li Suthai maklum bahwa muridnya bukanlah lawan pemuda itu yang memiliki kegesitan dan gin-kang seperti ibunya, maka to-kouw tua itupun lalu melompat turun diikuti oleh Bi Mo-li.
03.07.
Gadis Kehujanan di Bawah Pohon Sekali lagi Bi Moli menerjang dengan pedangnya, akan tetapi sekali memutar pedang menangkis, Bi Mo-li merasa telapak tangannya sakit sekali dan hampir saja pedangnya terlepas!
Ia terkejut dan jerih, lalu mundur membiarkan gurunya menghadapi pemuda yang gagah perkasa itu.
Hek Li Suthai tidak tahu bahwa Lo Sin telah mewarisi kepandaian kedua orang tuanya hingga kepandaian pemuda ini lihai sekali, oleh karena dari ayah dan ibunya ia mendapat gemblengan secara bergantian hingga ia memiliki tenaga besar dan ketenangan ilmu silat ayahnya dan memiliki kelincahan dan gin-kang dari ibunya.
Bahkan ilmu pedang Hwie-sian-liong-kiam-sut telah ia pelajari dengan sempurna, hingga kalau hendak dibandingkan dengan kepandaian ayah atau ibunya, mungkin ia takkan berada di bawah tingkat mereka.
Hal ini tentu saja sama sekali tak pernah disangka oleh Hek Li Suthai, dan setelah ia menyerang dan bentrok dengan pemuda itu, barulah ia mengeluh di dalam hati karena ternyata bahwa gerakan pemuda ini gesit luar biasa dan tenaga lweekangnya amat dahsyat.
Mereka berdua bertempur dengan sengit dan ramainya di dalam hujan badai itu dan perlahan-lahan Lo Sin dapat mendesak lawannya dan mengurung to-kouw tua itu dengan ilmu pedangnya.
Diam-diam pemuda ini berpikir bahwa to-kouw ini tentu telah bertemu dengan orang tuanya dan telah dikalahkan, kalau tidak, tentu ia takkan meninggalkan Tit-lee.
Kalau orang tuanya melepaskan to-kouw ini tanpa melukainya, maka iapun tidak mau menurunkan tangan jahat.
Setelah berpikir demikian, ia lalu mengeluarkan ilmu pedang Naga Sakti Mandi di Api, yakni ilmu pedang yang tadi telah digunakan oleh Ang Lian Lihiap dan yang membuat Hek Li Suthai merasa pusing dan bingung.
Kini menghadapi pemuda yang menjalankan ilmu pedang itu sama baiknya dengan permainan Ang Lian Lihiap, untuk kedua kalinya Hek Li Suthai dibikin pusing dan bingung hingga gerakannya menjadi lemah dan ilmu pedangnya kalang kabut.
Pada saat yang tepat, Lo Sin mengirim tendangan ke arah pergelangan tangan kanan to-kouw itu hingga pedang yang dipegangnya terlempar ke atas tanah.
Hek Li Suthai memang tidak mempergunakan sepasang pedangnya, oleh karena tadinya ia memandang ringan kepada Lo Sin.
"Hek Li Suthai, pungutlah pedangmu dan jangan mengganggu aku lebih jauh. Kau mempunyai urusan dengan kedua orang tuaku, kalau kau memang berani, mari ikut aku dan bertemu dengan mereka!"
Kata Lo Sin sambil melompat ke atas kudanya pula.
Hek Li Suthai tidak menjawab, dan dengan hati panas terbakar ia menyuruh muridnya mengambil pedangnya yang terlempar itu, kemudian tanpa berkata sesuatu ia lalu melompat ke atas kudanya, diturut oleh muridnya dan kedua pendeta wanita itu mengaburkan kuda cepat-cepat dari tempat itu.
Hati dan perasaan mereka pada saat itu hanya setan yang tahu!
Lo Sin tertawa bergelak, lalu memajukan kudanya hendak melanjutkan perjalanan pulang.
Akan tetapi, tiba-tiba ia melihat Lee Ing yang masih berdiri di bawah pohon.
Melihat seorang gadis muda yang cantik berdiri dengan pakaian basah, kuyup di bawah pohon, Lo Sin merasa heran dan menghentikan kudanya lalu maju mendekati.
"Eh, nona kau sedang bekerja apa di situ?"
Tegurnya karena mengira bahwa gadis itu tentu gadis kampung di dekat situ.
Akan tetapi setelah datang dekat Lo Sin tercengang melihat seorang gadis yang luar biasa cantiknya dengan pakaian yang indah pula, sayang bahwa pakaian dan rambutnya basah kuyup, walaupun hal ini tidak mengurangi kecantikannya.
"Aku""
Sedang berteduh dari hujan,"
Jawab Lee Ing gagap karena tak menyangka akan terlihat dan akan ditanya. Lo Sin merasa kasihan.
"Kalau kau suka, mari kuantar pulang, nona."
Ucapan ini sebenarnya adalah sewajarnya, timbul dari hati yang mengandung iba dan kuatir kalau-kalau gadis itu yang berada seorang diri di situ akan bertemu dengan orang jahat dan akan terserang penyakit karena kehujanan dan kedinginan.
Akan tetapi, bagi Lee Ing ucapan ini terdengar kurang ajar sekali, dan berubahlah pandangannya terhadap Lo Sin.
Pemuda ini memang gagah perkasa dan pantas menjadi putera Ang Lian Lihiap, akan tetapi mengapa sikapnya begini ceriwis?
Apalagi kalau diingat bahwa dia sudah beristeri!
Marahlah hati Lee Ing dan ia menjawab dengan ketus.
"Apakah kau hendak menggunakan kegagahanmu untuk menghina seorang gadis?"
Melihat kegalakan gadis ini, Lo Sin tersenyum dan ia bahkan melompat turun dari kudanya karena merasa penasaran.
"Eh, eh, mengapa menjadi marah? Kau siapakah, nona?"
Kini ia melihat makin jelas wajah gadis itu, biarpun keadaan di situ gelap.
"Perlu apa kau tahu siapa aku? Akupun tidak perduli seujung rambut siapa adanya kau! Pergilah dan jangan mengganggu aku!"
Lo Sin makin merasa penasaran, bahkan agak marah karena melihat sikap permusuhan yang tiada alasan dari gadis itu, Maka tertarik hatinya untuk mengetahui siapa adanya orang ini.
"Nona, aku hanya bermaksud menolongmu. Kau kedinginan dan pakaianmu basah kuyup, mari kuantar pulang agar kau tidak menderita sakit. Pulanglah dan berganti pakaian kering."
Melihat desakan Lo Sin, makin teballah sangkaan Lee Ing bahwa pemuda ini benar-benar ceriwis dan mata keranjang.
Hatinya makin gemas dan marah, bercampur kecewa yang entah disebabkan oleh apa, dia sendiri tidak tahu mengapa tiba-tiba hatinya menjadi tidak karuan dan ingin marah kepada putera Ang Lian Lihiap yang tampan, gagah, dan berkepandaian tinggi ini.
"Keadaanku mempunyai sangkut-paut apakah dengan kau? Biar aku mati kedinginan di sini, kau tak perlu ikut campur!"
Setelah berkata demikian, Lee Ing lalu membalikkan tubuh dan berjalan pergi.
Lo Sin tiba-tiba merasa terkejut karena baru sekarang ia melihat sebatang pedang tergantung di pinggang nona itu.
Ia hendak mengejar dan belajar kenal karena menyangka bahwa gadis itu tentulah seorang gagah, akan tetapi Lee Ing telah melompat dan berlari cepat sekali di dalam gelap!
Lo Sin menghela napas.
Ia merasa sayang sekali tak dapat berkenalan dengan dara jelita itu yang secara aneh sekali telah dapat menarik perhatiannya.
Padahal biasanya ia tidak mengacuhkan gadis cantik, bahkan kalau orang tuanya membicarakan tentang gadis-gadis cantik untuk dipilih sebagai isterinya, ia merasa sebal dan marah.
Kini, gadis yang berdiri seorang diri di bawah pohon dan yang muncul secara aneh sekali, telah berhasil menarik hatinya.
Ia lalu melompat ke atas kudanya dan berlari pulang.
Lian Hwa dan Cin Han, kedua suami isteri pendekar itu menyambutnya dengan girang dan ketika mendengar penuturan Lo Sin tentang Hek Li Suthai, Cin Han menghela napas.
"Hm, to-kouw itu tentu akan melatih diri lebih hebat lagi. Siapa tahu, ia akan bersekutu dengan orang-orang pandai yang berhati jahat untuk mencari permusuhan dengan kita."
"Biar dia mendatangkan bala bantuan, asal kita berada di pihak benar, mengapa harus takuti dia?"
Kata Ang Lian Lihiap dengan penuh semangat, hingga Lo Sin memandang kepada ibunya dengan kagum.
"Lo Sin, bagaimana dengan keadaan si Dewa Arak?"
Cin Han bertanya setelah Lo Sin mengganti pakaiannya dengan pakaian kering.
Lo Sin lalu menceritakan pengalaman dan perjalanannya.
Agar supaya lebih jelas, baiklah kita ikuti sendiri perjalanan Lo Sin ketika mengunjungi Kong Sin Ek si Dewa Arak di Bukit Pek-ma-san di daerah utara.
Ketika menerima surat dari Nyo Tiang Pek yang mengabarkan bahwa Kong Sin Ek telah meninggal dunia karena sesuatu penyakit, hati Lo Sin berkuatir sekali.
Ia belum mau mempercayai berita ini dan hatinya yang amat sayang kepada orang tua itu membuat ia tak dapat menahan diri lagi dan atas perkenan orang tuanya, pada keesokan harinya ia lalu berangkat ke utara.
Lo Sin mempunyai seekor kuda yang berbulu putih dan bagus sekali, akan tetapi juga tinggi besar dan kuat hingga dapat berlari cepat tanpa berhenti untuk setengah hari lamanya.
Kuda ini adalah pemberian ayahnya dan diberi nama Pek-liong atau Naga Putih.
Lo Sin menunggang kudanya ini dalam perjalanannya menuju ke utara, kalau ia melarikan kudanya terus tanpa ada aral melintang, paling lama tiga hari saja ia sudah bisa sampai di Pek-ma-san tempat tinggal Si Dewa Arak.
Akan tetapi, terjadi sebuah peristiwa di tengah jalan yang memperlambat perjalanannya.
Ketika pada keesokan harinya ia tiba di kota Long-men di waktu senja, Lo Sin yang melarikan kudanya cepat sekali, hampir saja bertabrakan, di sebuah tikungan dengan tiga orang penunggang kuda lain.
Pertemuan antara kudanya dan kuda orang yang berada di tengah, terjadi demikian tiba-tiba dan tabrakan hampir tak dapat dihindarkan lagi.
Akan tetapi Pek-liong adalah seekor kuda yang tangkas dan kuat.
Tiba-tiba saja karena kedutan kendali yang dilakukan oleh lo Sin, kuda itu berdiri di atas kedua kaki belakangnya sambil meringkik keras.
Kuda yang menubruk dari depan tidak mampu menahan kelajuan larinya dan terus menyeruduk ke depan, akan tetapi Lo Sin telah membungkuk dan mengulurkan tangan kanannya dan dengan tangkas dan cepat ia berhasil mendorong dada kuda yang hendak menubruk itu.
Dorongan ini kuat dan hebat sekali hingga kuda yang menubruk itu seakan-akan menabrak palang besi hingga terguling ke kiri.
Penumpangnya, seorang laki-laki berusia kurang-lebih empatpuluh tahun, ternyata pun bukan orang sembarangan.
Dengan gerak tipu Burung Hong Terbang Melayang, ia dapat melompat turun dari kudanya dan berdiri di atas tanah dengan selamat, akan tetapi wajahnya menjadi pucat, oleh karena kalau ia sampai ikut terbanting di atas kudanya, tentu setidaknya ia akan mendapat luka.
Lo Sin cepat melompat turun dari kudanya dan dengan hormat ia menjura kepada tiga orang itu yang kesemuanya juga sudah melompat turun dari atas kuda.
"Sam-wi twako, harap maafkan padaku yang tidak sengaja telah mengagetkan sam-wi (tuan bertiga)."
Tiga orang itu berpakaian sebagai piauwsu (tukang pengawal barang berharga yang dikirimkan).
Orang yang hampir terbanting dari kudanya itu dengan muka merah memandang kepada Lo Sin yang berpakaian seperti anak sekolah.
Lo Sin memang memakai sebuah pakaian yang panjang dan lebar seperti yang biasa dipakai oleh para pelajar.
Hanya pakaian pelajar dan pakaian ringkas warna hitam yang disukai dan sering dipakai oleh Lo Sin.
Di waktu siang, apabila tak sedang mengurus sesuatu yang memerlukan tenaganya, ia lebih suka berpakaian sebagai seorang siucai (pelajar).
Orang itu menuding dengan marah.
"Siucai! Kalau aku tadi sampai terbanting dan mendapat luka, kau harus mengganti dengan jiwamu!"
Lo Sin tersenyum dan menjura kepada orang itu "Twako, harap kau memberi maaf karena aku tidak sengaja."
Orang itu masih marah dan hendak membuka mulut pula, akan tetapi orang pertama dari ketiga piauwsu itu yang berusia kurang lebih limapuluh tahun dan berwajah sabar, mengangkat tangan dan berkata.
"Sun-te (adik Sun), bersabarlah."
Kemudian ia membalas pemberian hormat Lo Sin dan berkata.
"Harap kau sama-sama memaafkan kami, kongcu (tuan muda). Sebetulnya kami juga bersalah karena jalan kecil ini penuh oleh kuda kami yang lari berendeng. Baiknya kau lihai sekali dan gerakanmu It-chiu-pai-san (Dengan Satu tangan Mendorong Bukit) tadi sungguh membuat aku orang tua merasa kagum sekali."
Lo Sin terkejut. Tidak tahunya piauwsu tua ini bermata tajam dan dapat melihat gerakan tangannya yang mendorong dada kuda itu.
"Lopeh, aku adalah seorang siucai yang lemah, mana aku mengerti tentang segala gerakan mendorong bukit."
Piauwsu tua itu tersenyum dan ketika melihat perhiasan di kepala Lo Sin yang berupa burung walet hitam, wajahnya menjadi terheran dan jelas kelihatan bahwa ia terkejut. Dengan sangsi ia lalu berkata.
"Kongcu, kalau mataku yang sudah tua ini tidak salah melihat, bukankah kau ini Ouw-yan-cu si Walet Hitam yang termashur?"
Lo Sin makin tercengang, akan tetapi ia lalu teringat akan perhiasan di atas kepalanya, maka dengan hati sebal ia lalu mencabut perhiasan itu dan dimasukan ke dalam saku bajunya yang lebar!
Piauwsu tua itu tertawa bergelak lalu menjura dengan hormat sekali.
"Tai-hiap, terhadap kami, kau tak perlu menyembunyikan dirimu yang sebenarnya! Bolehkah bertanya, taihiap hendak pergi kemanakah?"
"Lo-enghiong, tak kusangka bahwa kau memiliki pandangan mata yang luar biasa tajamnya. Memang benar, aku adalah Lo Sin yang disebut orang Ouw-yan-cu, dan aku hendak pergi ke Pek-ma-san mengunjungi seorang sahabat tua."
"Taihiap bukankah kau hendak mengunjungi si Dewa Arak?"
"Eh, bagaimana lo-enghiong dapat mengetahui? Memang benar, aku hendak menengok orang tua itu. Kenalkah kau kepadanya?"
Piauwsu tua itu menghela napas.
"Taihiap, perkenalkanlah kami adalah tiga piauwsu dari Long-men dan aku sendiri adalah ketuanya. Perusahaanku adalah Sam-eng Piauwkiok dan kami bertiga dikenal sebagai Long-men Sam-eng (Tiga Pendekar dari Long-men). Aku kenal baik pada Kong-cianpwe (Orang Tua Gagah she Kong), bukan kenal saja bahkan sehingga kini aku dapat memimpin perusahaanku adalah berkat pertolongan Kong-cianpwe yang berkali-kali."
"Tiap kali aku mendapat kesukaran di jalan, selalu Kong-cianpwe yang membantuku. Kali inipun kami bertiga mengharapkan bantuannya dan baru saja kami kembali dari Pek-ma-san, akan tetapi celaka, orang tua itu tak dapat membantu."
Piauwsu tua itu menghela napas dan wajahnya menjadi berduka sekali.
"Kali ini, aku Lie Kwan, dan kedua adikku ini, Lie Sun dan Lie Tiong, terpaksa mengerahkan tenaga sendiri untuk menjaga nama piauwkiok kami.". Lo Sin terkejut sekali mendengar ini dan ia tidak pedulikan urusan mereka bertiga karena perhatiannya dicurahkan kepada keadaan Kong Sin Ek.
"Dia kenapakah? Bagaimana keadaannya?"
Tanyanya dengan penuh kuatir. Lie Kwan kembali menghela napas.
"Entahlah, taihiap ketika kami datang di sana, kami melihat Kong-cianpwe duduk di dalam guanya sambil bersamadhi. Tubuhnya Kurus kering, pakaiannya tak karuan macamnya, compang-camping wajahnya pucat sekali. Kami bertanya mengapa keadaannya demikian rupa, akan tetapi ia hanya menggelengkan kepala saja.
"Ketika kami menawarkan bantuan untuk memanggil ahli obat, iapun menggelengkan kepala. Akhirnya kami menyatakan tentang kesukaran kami, dan dia membuka matanya dan berkata bahwa menyesal sekali dia tidak dapat menolong kami dan selanjutnya menyuruh kami segera pergi."
Mendengar ini teringatlah Lo Sin bahwa ketiga piauwsu yang menjadi kenalan baik Kong Sin Ek ini sedang menghadapi kesukaran, maka bertanyalah dia.
"Sam-wi kesukaran apakah yang kalian hadapi? Mungkin aku dapat mewakili Kong-lopek untuk menolongmu."
Biarpun kedua adiknya masih memperlihatkan muka sangsi dan ragu-ragu karena mereka belum percaya akan kelihaian Lo Sin, namun Lie Kwan nampak gembira sekali dan sebelum menceritakan kesukarannya, berkali-kali ia menjura dan mengangguk-anggukkan kepala menyatakan terima kasihnya.
"Apalagi kesukaran yang timbul bagi seorang piauwsu?"
Akhirnya ia mulai menuturkan dengan singkat.
"Seperti biasa, kali inipun barang antaran yang dipercayakan kepada kami telah dirampas orang jahat. Yang mengawal adalah adikku Lie Tiong ini. Akan tetapi kali ini yang merampas bukanlah orang sembarangan, karena dia adalah perampok wanita tunggal yang berjuluk Kim-gan-eng (Garuda Bermata Emas) dan bernama Coa Bwee Hwa."
Lo Sin mengangguk-angguk.
"Sudah lama aku mendengar nama ini, akan tetapi selanjutnya bagaimana?"
"Celakanya bahwa perampok wanita ini bukan sengaja menginginkan harta benda yang kami kirimkan, akan tetapi sengaja mengganggu kami oleh karena seorang sahabatnya, yakni kepala perampok yang bernama Giam Cong pada sebulan yang lalu pernah merampok kami dan dapat kami lukai. Dia sengaja datang hendak membalaskan sakit hati kawannya itu.
"Kami pernah bertemu dengan Kim-gan-eng dan pernah menyaksikan kelihaiannya, maka kami tahu bahwa kami bertiga takkan dapat menangkan dia. Dia tidak mengganggu adikku, hanya memesan bahwa apabila kami menghendaki kembalinya barang-barang itu kami harus datang bertiga mengambilnya sendiri dalam hutan di selatan itu.
"Kami hendak minta pertolongan Kong-cianpwe, akan tetapi karena orang tua itu tak dapat membantu, terpaksa kami memberanikan diri dan pergi sendiri. Maka kalau taihiap sudi mencapaikan diri membantu kami, alangkah girangnya hati kami dan budi ini tentu takkan kami lupakan oleh karena barang berharga itu adalah milik seorang pembesar dan kalau tidak dapat dirampas kembali, akan berarti hancurnya perusahaan kami bahkan kami tentu ditangkap dan dijatuhi hukuman!"
"Kalau begitu, marilah kita berangkat sekarang juga,"
Kata Lo Sin.
Mereka berempat lalu menuju ke selatan, hingga Lo Sin kembali ke jalan yang dilalui tadi.
Setelah melalui kurang lebih tigapuluh lie mereka membelok ke kanan dan memasuki sebuah hutan yang liar.
Ketika tiba di tengah hutan, tiba-tiba mereka menghentikan kuda karena di sebuah tempat terbuka dihadapan mereka telah menanti banyak anggauta perampok.
Ini adalah para anak buah perampok Giam Cong yang telah menanti di situ.
Dengan tindakan gagah Lo Sin dan Long-men Sam-eng melompat turun dari kuda lalu menghampiri mereka.
Dari sebuah bangunan yang terbuat dari pada kayu hutan, keluarlah seorang laki-laki tinggi besar yang bermuka hitam dan berusia sedikitnya empatpuluh tahun.
Wajahnya buruk dan kejam dan matanya bersinar liar.
Inilah kepala perampok Giam Cong yang ditakuti oleh para pelancong dan perantau.
Akan tetapi di sebelahnya berjalan seorang gadis berpakaian serba hijau yang berwajah cantik dan manis sekali.
Terutama sepasang matanya yang lebar itu bersinar tajam dan lincah sekali.
Usia gadis ini paling banyak sembilanbelas tahun, akan tetapi tindakan kakinya yang gesit itu menunjukkan bahwa ia memiliki ilmu ginkang yang tinggi.
Gagang sebatang pedang tersembul di belakang pundak kirinya.
Rambutnya yang hitam itu digelung ke atas dan diikat dengan sutera merah hingga wajahnya nampak manis sekali.
Karena berjalan di dekat Giam Cong yang buruk rupa dan bengis, maka mereka ini kelihatannya bagaikan seorang bidadari berdampingan dengan seorang iblis.
Ketika melihat bahwa ketiga piauwsu itu datang bersama seorang pemuda pelajar, gadis baju hijau yang bukan lain adalah Kim-gan-eng Coa Bwee Hwa sendiri, tersenyum mengejek.
"Tiga pendekar dari Long-men datang membawa pengawal seorang pelajar! Apakah dia itu bertugas untuk membuat syair duka untuk kematian atau kekalahanmu?"
Kim-gan-eng tertawa dan suara ketawanya merdu sekali, sedangkan ketika ia tertawa, giginya yang berderet rata dan berwarna putih bersih itu berkilauan.
"Mana si tua Kong Sin Ek? Bukankah dia itu pembelamu? Panggillah Kong Sin Ek ke sini agar ia mengenal adanya Kim-gan-eng dan tidak berlaku sewenang-wenang terhadap kami kaum liok-lim (perampok)!"
Lo Sin merasa tercengang dan heran melihat bahwa Kim-gan-eng yang tersohor sebagai perampok tunggal yang berani dan lihai itu ternyata hanya seorang gadis muda yang cantik jelita!
Dan alangkah sombongnya gadis ini, pikirnya.
03.08.
Penderitaan Si Dewa Arak Akan tetapi ia diam saja dan menanti ke tiga piauwsu itu menjawab.
Lie Kwan melangkah maju dan mengangkat kedua tangan sebagai penghormatan.
"Kim-gan-eng, kami bertiga tak berani mengharapkan bantuan Kong-cianpwe dan saudara kami ini memberanikan diri datang mewakilinya untuk minta kau bermurah hati dan mengembalikan barang-barang yang menjadi tanggung jawab kami."
Terang sekali bahwa piauwsu tua ini hendak membujuk karena ia merasa jerih terhadap nona muda itu! Kim-gan-eng tertawa lagi.
"Enak saja bicara! Kalian sudah tahu bahwa pekerjaan kaum liok-lim ialah minta uang jalan dari mereka yang lewat di daerahnya. Akan tetapi kalian memperlihatkan kegagahan dan bukannya membantu pamanku Giam Cong ini, bahkan telah berlancang melukainya! Apakah ini namanya mengingat perhubungan baik di dunia kang-ouw? Oleh karena itu, aku sengaja mengambil barang-barangmu untuk dipakai sebagai biaya pengobatan luka pamanku ini. Kalau kalian mempunyai kepandaian, cobalah kalian mengambil kembali barang itu melalui pedangku. Kalau kalian tidak berani, boleh kalian mendatangkan bala bantuan, kedatangan Kong Sin Ek ke sini telah kutunggu-tunggu!"
Bukan main mendongkolnya hati Lo Sin mendengar kesombongan ini. Ia segera bertindak maju menghadapi Kim-gan-eng.
"Nona, dengan alasan apakah maka kau menantang-nantang Kong Sin Ek Dewa Arak? Kesalahan apakah yang telah diperbuat oleh orang tua itu hingga kau menjadi marah kepadanya?"
Kim-gan-eng memandang pemuda yang tampan ini dengan mata tajam. Biarpun ia mengagumi kegagahan dan ketampanan Lo Sin, namun ia memandang rendah kepandaian pemuda pelajar ini.
"Kong Sin Ek terlampau mengandalkan kegagahannya dan belakangan ini dia dan terutama muridnya berlaku sewenang-wenang dan membinasakan banyak kawan dari kalangan liok-lim, seakan-akan dia tidak menghargai sama sekali kami kaum liok-lim. Hendak kulihat, sampai di mana kegagahannya. Kau ini siapa dan mau apa datang ke sini?"
"Kebetulan sekali aku boleh dibilang keponakan Kong Sin Ek dan karena orang tua itu tidak dapat datang sendiri, biarlah aku mewakili dia menerima pengajaranmu."
Kim-gan-eng tercengang, lalu tersenyum dan berkata.
"Eh, eh, agaknya kaupun memiliki sedikit kepandaian. Keluarkanlah senjatamu hendak kulihat."
Akan tetapi, Giam Cong yang telah sembuh dari lukanya ketika melihat bahwa Kim-gan-eng hendak dilayani oleh seorang pemuda lemah lembut itu, lalu membentak.
"Pemuda kutu busuk yang ingin mampus! Bwee Hwa, biarlah aku memberi hajaran kepadanya!"
Kim-gan-eng tersenyum dan mengundurkan diri membiarkan pamannya menghadapi Lo Sin, karena pikirnya bahwa pemuda ini tak mungkin merupakan lawan yang tangguh.
"Anak muda, majulah kalau kau ingin merasakan bagaimana rasanya pukulan keras!"
Kata Giam Cong dengan wajah bengis. (Lanjut ke
Jilid 04) Si Walet Hitam/Ouw Yan Cu (Seri ke 03 Serial Si Teratai Merah) Karya . Asmaraman S. Kho Ping Hoo
Jilid 04 Melihat lagak yang galak dari Giam Cong yang buruk rupa itu, Lo Sin tersenyum dan berkata.
"Bukankah kau sudah dirobohkan oleh para piauwsu? Mengapa kau masih ada muka dan berani maju pula? Mundurlah, agar jangan sampai kau roboh untuk kedua kalinya!"
Merahlah wajah Giam Cong mendengar sindiran ini. Ia membentak marah.
"Cacing buku! Jangan membuka mulut besar. Aku Giam Cong si Tangan Besi biarpun pernah dikalahkan oleh piauwsu-piauwsu pengecut itu akan tetapi mereka bertempur secara keroyokan. Majulah kalian semua seorang demi seorang, jangan main keroyokan dan lehermu akan kupatahkan semua. Apalagi kau ini, anak muda lemah yang tertiup oleh angin saja akan terguling, kutanggung dalam lima jurus, aku akan berhasil mengantar nyawamu menghadap Giam-ong (Malaikat Pencabut Nyawa)!"
Terdengar suara ketawa riuh rendah dari para anggauta perampok yang telah mengurung tempat itu dan bersikap sebagai penonton, padahal mereka ini siap sedia untuk menerima komando kepala mereka untuk maju menyerbu dan mengeroyok.
Panas juga hati Lo Sin mendengar kesombongan ini.
Ia mengeluarkan perhiasan kepalanya berupa burung walet hitam yang tadi ditanggalkan dan dimasukkan ke dalam sakunya, lalu dikenakan pada pengikat kepalanya bagian depan.
"Eh, eh, kau hendak berkelahi atau hendak bersolek?"
Giam Cong mengejek lagi hingga kembali anak buahnya tertawa.
Akan tetapi Lo Sin segera membuka baju luarnya hingga kini nampaklah pakaiannya serba hitam yang ringkas dan gagah.
Semua orang termasuk Kim-gan-eng, tercengang melihat ini dan diam-diam ia mulai memperhatikan anak muda yang gagah ini.
"Berkelahi boleh, bersolek pun perlu,"
Jawab Lo Sin dengan suara memandang rendah sekali.
"menghadapi kau saja, perlu apa tergesa-gesa dan ribut-ribut?"
"Keparat sombong. Cabut pedangmu kalau kau memang berani berkelahi!"
"Tak usah, kau maju dan pergunakanlah senjatamu, aku cukup melayanimu dengan tangan kosong saja."
Giam Cong makin marah karena merasa dihina dan dipandang rendah sekali.
"Bocah sombong. Kaukira aku Giam Cong seorang pengecut? Aku tidak sudi menghadapi seorang selemah engkau ini dengan bersenjata sedangkan kau bertangan kosong, dan tidak mau mendapat nama buruk apabila pedangku membikin kau mampus dalam keadaan bertangan kosong. Kulihat kau membawa pedang, hayo cabutlah! Atau kau memang tidak berani?"
"Kau agaknya sudah ingin sekali dirobohkan.
"Baiklah, tapi ingat, kau sendiri yang minta aku mencabut pedang dan jangan kaupersalahkan aku kalau dalam dua jurus saja kau akan jatuh bangun!"
Sambil berkata demikian, tangan Lo Sin bergerak dan sebatang pedang yang tajam dan berkilauan telah tercabut dan berada di tangan kanannya.
Pemuda ini lalu berdiri dengan kedua kaki terpentang di kanan kiri, tangan kiri bertolak pinggang, dan tangan kanan memegang pedang itu lurus-lurus ke depan ditodongkan ke arah dada Giam Cong.
Baca Juga: Kisah Si Bangau Putih 9
Baca Juga: Suling Emas Dan Naga Siluman 11