Eps 2 Si Walet Hitam Ouw Yan Cu - Kho Ping Hoo
Baca online Si Walet Hitam Ouw Yan Cu - Kho Ping Hoo
Cersil Si Walet Hitam Ouw Yan Cu - Kho Ping Hoo.
"Nah, tai-ong (sebutan untuk kepala rampok), dengarlah baik-baik! Aku masih menaruh hati kasihan kepadamu, maka aku hanya akan memegang pedangku seperti ini. Kau boleh maju menyerang dengan senjatamu dan apabila aku sampai merobah kedudukan tangan atau kakiku, anggap saja aku kalah terhadapmu!"
"Pemuda gila yang bosan hidup!"
Giam Cong membentak marah, akan tetapi oleh karena pemuda itu sudah mencabut pedangnya dan sudah bersiap, ia merasa sudah cukup memberi waktu kepada pemuda aneh ini maka sambil berseru keras ia lalu menggunakan pedangnya menubruk ke depan dan menyerang ke arah kepala Lo Sin dengan gerak tipu Macan Kelaparan Menubruk Kelinci.
Giam Cong memang memiliki tenaga besar dan pedang yang digerakkan untuk menyerang ini mengeluarkan suara dan menyambar dengan cepat sekali.
Akan tetapi Lo Sin tetap tenang dan tidak mengubah kedudukannya sama sekali.
Ketika pedang Giam Cong sudah menyambar dekat, si Walet Hitam lalu menggerakkan sedikit pedang di tangannya untuk membentur pedang lawan yang menyambar dekat.
"Trang!"
Terdengar suara keras dari kedua pedang yang beradu dan tahu-tahu Giam Cong berteriak kaget oleh karena pedangnya telah terlempar dan terlepas dari pegangannya.
Pedang itu terlempar jauh dan jatuhnya menancap di atas tanah.
Semua orang memandang kejadian ini dengan mulut ternganga dan mata terbelalak.
Bahkan Giam Cong sendiri tidak mengerti mengapa pedangnya tahu-tahu terlepas dari pegangannya dan bagaimana pemuda itu dapat melakukan hal yang aneh ini.
Ia merasa amat penasaran dan kemarahannya memuncak, oleh karena ia menganggap bahwa hal ini kebetulan saja dan barang kali gagang pedangnya yang licin hingga terlepas dari pegangannya.
Ia segera mengambil pedangnya yang menancap di atas tanah itu, lalu maju lagi menyerang, kini dengan lebih hebat karena ia menggunakan gerak tipu Kilat Menyambar di Atas Kepala.
Pedangnya berkelebat cepat dan hendak membelah kepala Lo Sin dari atas sedangkan tangan kirinya tidak tinggal diam akan tetapi mengirim pukulan keras ke arah dada Lo Sin.
Semua piauwsu merasa terkejut, oleh karena diserang dengan dua tangan ini, bagaimana pemuda ini dapat menghindarkan diri?
Mereka menduga bahwa kali ini pemuda pembelanya itu pasti terpaksa mengubah kedudukan kakinya untuk mengelak dari serangan pukulan.
Akan tetapi mereka ini belum kenal betul kelihaian Lo Sin.
Si Walet Hitam tetap tenang saja bahkan bibirnya tersenyum menghadapi serangan ini.
Tadi ia bilang bahwa ia akan merobohkan Giam Cong dalam dua jurus, maka kali ini ia harus merobohkan kepala perampok sombong ini.
Ketika pedang Giam Cong menyambar turun, Lo Sin mencokelkan pedangnya ke atas dengan gerakan menggetar yang hanya dilakukan dengan pergelangan tangannya sedangkan lengan yang diluruskan itu sama sekali tidak berubah kedudukannya.
Akan tetapi ketika pedangnya membentur dan menangkis pedang Giam Cong yang menyambar turun, pedang kepala rampok itu kini terpental keras sekali dan melayang ke arah daun-daun pohon di atas mereka dan tidak turun kembali.
Ternyata pedang itu telah menancap di cabang pohon tersebut.
Sementara itu, ketika kepalan tangan kiri Giam Cong menyambar ke arah dada, Lo Sin tidak mengelak, bahkan lalu mengangkat dadanya dan mengerahkan tenaga lweekang sepenuhnya ke tempat yang akan menerima pukulan.
"Dukk!"
Kepalan itu menghantam dada dan Giam Cong meringis kesakitan lalu terhuyung ke belakang dan jatuh terduduk sambil mengeluh karena selain tangan kirinya, juga seluruh tubuhnya kesemutan dan sakit-sakit.
Ia telah kena pukulannya sendiri yang tenaganya dibentur kembali oleh tenaga lweekang Lo Sin yang tinggi.
Lo Sin masih tetap berdiri dan pukulan tadi tak membuat tubuhnya bergerak sedikitpun, bagaikan lalat menyambar batu besar.
Kini Lo Sin menundukkan ujung pedangnya menodong ke arah dada Giam Cong, dan pemuda yang gagah perkasa ini masih berdiri seperti tadi.
Kaki kanan kiri dipentang sedikit, tangan kiri bertolak pinggang dan tangan kanan memegang pedang yang lurus menodong ke depan, sedangkan bibirnya tetap tersenyum.
Melihat kelihaian sehebat itu, semua orang melongo dan tak terdengar suara sedikitpun untuk beberapa lama.
Kemudian terdengar tepuk tangan riuh dari para piauwsu yang merasa girang dan bangga.
Sebaliknya Kim-gan-eng segera maju menghampiri Giam Cong yang masih terduduk sambil meringis kesakitan tanpa berani berdiri lagi.
Gadis bermata indah itu berpaling memandang kepada Lo Sin dengan pandang mata aneh, heran, dan kagum.
Kim-gan-eng lalu memegang tangan pamannya dan setelah beberapa kali mengurut tangan kiri yang telah bengkak itu dan menotok pundak kiri untuk memulihkan jalan darah pamannya hingga Giam Cong dapat berdiri lagi dan cepat-cepat berdiri di pinggir.
Gadis cantik itu lalu maju menghadapi Lo Sin yang kini menyimpan kembali pedang di dalam sarung pedangnya.
Melihat cara penyembuhan yang dilakukan oleh Kim-gan-eng, Lo Sin dapat menduga bahwa gadis itupun adalah seorang ahli lweekeh yang tak boleh dipandang ringan.
Sebaliknya, Kim-gan-eng Bwee Hwa juga maklum bahwa anak muda yang kelihatan lemah itu ternyata adalah seorang berkepandaian tinggi sekali dan gadis ini semenjak tadi sudah menduga-duga dengan kagum siapa adanya pemuda yang lihai dan yang memakai hiasan kepala aneh ini.
Tiba-tiba ia terkejut sekali karena teringat akan sesuatu, maka setelah ia maju dan berhadapan dengan Lo Sin, ia bertanya.
"Orang gagah di depan ini apakah bukan Ouw-yan-cu?"
Lo Sin tersenyum dan ia tidak merasa heran bahwa orang telah mengenalinya.
"Benar, perhiasan kepalaku ini memang walet hitam,"
Jawabnya sederhana. Kim-gan-eng memandang kagum.
"Kalau begitu, benar kata suhuku bahwa Ang Lian Lihiap dan Hwee-thian Kim-hong adalah pendekar-pendekar tua yang gagah. Melihat kepandaian puteranya sedemikian tinggi tentu mereka itu lihai sekali!"
Kini Lo Sin merasa heran juga. Bagaimana gadis ini mengenal nama ayah ibunya? "Li-tai-ong, siapakah suhumu itu yang mengenal nama-nama orang tuaku?"
Kini Kim-gan-eng juga tersenyum dan lenyaplah sikapnya yang bermusuhan tadi.
"Suhuku adalah Pat-chiu Koai-hiap Oei Gan si Pendekar Aneh Kepalan Delapan! Tentu saja kau tidak mengenal dia, oleh karena suhu memang tidak mempunyai nama tersohor dan besar seperti nama kedua orang tuamu!"
Memang sesungguhnya Lo Sin belum pernah mendengar nama Oei Gan ini, maka ia, lalu menyimpangkan pembicaraan mereka kepada urusan yang sedang mereka bereskan.
"Sekarang bagaimana? Apakah kau berkukuh hendak menahan barang-barang yang berada di bawah pertanggungan jawab para piauwsu ini dan tidak hendak mengembalikannya, Li-tai-ong?"
Kim-gan-eng Bwee Hwa memainkan senyum pada bibirnya.
"Dengarlah, Ouw-yan-cu! Pertama-tama jangan kau menyebut aku Li-tai-ong oleh karena aku bukanlah kepala perampok dan aku hanya membantu pamanku saja. Aku bukan kepala perampok oleh karena aku tak pernah mempunyai anak buah, maka jangan kau menyebut aku kepala perampok. Tak enak sekali sebutan itu memasuki telingaku.
"Dan kedua, setelah kau bercampur tangan dan mengangkat diri sebagai pembela piauwsu-piauwsu itu, betapapun juga aku Kim-gan-eng takkan mundur setapak. Marilah kita mencoba kepandaian kita dan apabila aku kalah, sudah seharusnya aku mengembalikan barang-barang itu, akan tetapi kalau kau kalah olehku, lain kali kau jangan lancang menjadi pembela orang lain!"
Lo Sin tersenyum dan ia tidak marah oleh karena kata-kata yang dikeluarkan oleh Kim-gan-eng ini biarpun mengandung nada menantang, akan tetapi terdengar halus.
"Baiklah, Kim-gan-eng, kalau kau ingin mengukur tenaga, marilah kita main-main sebentar."
Kim-gan-eng mencabut pedang dari punggung dengan gerakan cepat dan Lo Sin juga telah menghunus pedangnya pula.
Keduanya menjura sebagai penghormatan, lalu berbareng menggerakkan tangan yang memegang pedang.
Dalam benturan pertama, Kim-gan-eng maklum bahwa tenaga lweekang pemuda ini masih setingkat lebih tinggi daripada tenaganya sendiri dan sebaliknya Lo Sin juga kagum oleh karena maklum bahwa gadis ini bukanlah lawan yang ringan.
Maka tanpa ragu-ragu dan sungkan-sungkan lagi Lo Sin lalu mengeluarkan ilmu pedangnya yang tangguh dan hebat, yakni Hwie-sian-liong-kiam-sut.
Pedangnya berkelebat dan sebentar saja gundukan sinar pedangnya menyelimuti seluruh tubuhnya dan bagaikan gelombang samudera yang dahsyat bergulung-gulung menyerang ke arah Bwee Hwa!
Kim-gan-eng terkejut sekali dan iapun lalu mengeluarkan ilmu pedangnya yang paling berbahaya, yakni ilmu pedang warisan suhunya yang disebut Pat-kwa-hoan-kiam-hoat.
Keduanya bertempur seru dan hebat, akan tetapi sebentar saja Kim-gan-eng harus mengakui keunggulan ilmu pedang ciptaan Beng San Siansu.
Ia hanya kuat bertahan sampai limapuluh jurus dan inipun telah membuktikan Pat-kwa-hoan-kiam-hoat bukanlah ilmu pedang sembarangan saja.
Oleh karena ilmu silat dari lain cabang agaknya takkan kuat menahan serangan Hwie-sian-liong-kiam-sut yang dahsyat itu.
Setelah bertempur limapuluh jurus Kim-gan-eng merasa pusing sekali dan ujung pedang di tangan Lo Sin agaknya telah mengurung tubuhnya tanpa dapat dielakkan pula.
Para penonton tidak melihat tubuh kedua orang yang bertempur itu oleh karena sinar pedang yaag berkelebatan telah menutup kedua tubuh itu dan tahu-tahu mereka melihat Kim-gan-eng melompat tinggi berjungkir balik beberapa kali di udara dan kemudian turun di tempat yang agak jauh.
"Ah, benar-benar nama Walet Hitam bukanlah nama kosong belaka!"
Katanya menghela napas, kemudian ia berpaling kepada Giam Cong dan berkata.
"Giam siok-hu, terpaksa kita harus mengembalikan barang-barang para piauwsu itu dan keponakanmu tak dapat membelamu lebih lama lagi."
Mendengar suara gadis yang agaknya bersedih itu, Lo Sin lalu berkata dengan suara menghibur.
"Kim-gan-eng, ilmu pedangmu benar-benar hebat dan bukan bohong kalau aku menyatakan bahwa belum pernah aku bertemu dengan ilmu pedang yang lebih tangguh dan lihai daripada ilmu pedangmu. Sampaikanlah hormatku kepada suhumu, karena biarpun aku belum pernah bertemu dengannya, akan tetapi kepandaiannya telah membuat aku merasa kagum sekali!"
"Ouw-yan-cu, kau memang bukanlah bangsa rendah yang suka mengagulkan kepandaian. Terima kasih atas pengajaranmu kali ini, Ouw-yan-cu. Biarlah lain kali aku minta pengajaran lagi."
Setelah berkata demikian, gadis yang bermata indah itu lalu melompat pergi meninggal"kan tempat itu.
Setelah keponakannya yang lihai itu pergi meninggalkannya, maka Giam Cong tak berdaya lagi.
Tanpa banyak membantah ia lalu mengembalikan barang-barang yang dirampas oleh Kim-gan-eng kepada para piauwsu yang menerimanya sambil mengucapkan banyak terima kasih.
Demikianlah, peristiwa ini membuat para piauwsu dan Giam Cong menjadi baik kembali hubungannya dan mereka mengadakan perjanjian untuk tidak saling mengganggu dan bahkan saling membantu sebagai sahabat.
Dengan hati puas Lo Sin melihat perkembangan ini dan iapun lalu meninggalkan mereka dan mengaburkan kudanya menuju ke Pek-ma-san.
Kudanya Pek-liong-ma dengan gembira membalap bagaikan terbang menuju ke utara.
Ketika ia tiba di Pek-ma-san dan menuju ke gua tempat tinggal Kong Sin Ek si Dewa Arak, benar saja sebagaimana penuturan piauwsu, ia melihat tubuh orang tua itu bersila tanpa bergerak bagaikan patung batu.
Akan tetapi tubuh itu demikian kurus kering dan pucat seperti mayat, sedangkan pakaiannya compang-camping tidak karuan.
Lo Sin menjadi terharu sekali oleh karena ia memang menyinta orang tua yang menjadi sahabat baik kedua orang tuanya itu.
Ia menubruk maju dan memeluk tubuh Kong Sin Ek sambil berseru.
"Kong peh-peh. Kau mengapakah sampai begini rupa?"
Akan tetapi, alangkah terkejutnya tiba-tiba tubuh yang dipeluknya itu roboh dengan lemas ternyata bahwa kakek ini telah pingsan dalam keadaan duduk bersila.
Pucatlah wajah Lo Sin yang menyangka bahwa kakek itu telah mati, akan tetapi ketika ia meraba dada kiri si Dewa Arak ia menjadi lega.
Cepat-cepat Lo Sin melakukan pertolongan dan menyadarkan kakek itu dengan pencetan-pencetan pada jalan-jalan darah tertentu.
Ketika ia meraba-raba dan mengurut-urut ini, Lo Sin mendapat kenyataan yang membuat dadanya berdebar keras dan air matanya mengucur tanpa terasa lagi.
Ternyata oleh sentuhan-sentuhan tangannya bahwa sepasang kaki tangan kakek gagah ini telah lumpuh.
Urat-urat besar pada kaki tangannya telah diputuskan orang.
"Kong peh-peh""
Bagaimana kau sampai menjadi begini?"
Beberapa kali Lo Sin mengeluh dan meratap. Akhirnya Kong Sin Ek membuka kedua matanya. Ketika melihat wajah Lo Sin yang membungkuk di atasnya, kakek ini tersenyum sedih.
"Lo Sin, anakku yang baik. Akhirnya kau datang juga"""
"Kong peh-peh. Katakanlah, siapa yang membuat kau sampai menjadi begini? Akan kupatahkan kaki tangannya! Akan kuputar batang lehernya! Bilanglah, siapa keparat itu?"
Tanya Lo Sin dengan marah dan sakit hati melihat Kong Sin Ek dianiaya orang sampai begini macam.
"Terima kasih, anakku, sikapmu ini saja sudah cukup untuk membikin aku Kong Sin Ek mati dengan puas. Tak percuma aku berteman dengan Lian Hwa dan Cin Han. Kau seperti puteraku sendiri!"
"Kong peh-peh, kau tahu aku memang menganggap kau sebagai orang tua sendiri. Sekarang katakanlah, siapa orangnya yang membikin kau begini rupa?"
"Dia""
Dia adalah""
Muridku sendiri!"
Tercengang Lo Sin mendengar pengakuan ini.
Sepanjang pengetahuannya, Kong Sin Ek tak pernah mempunyai murid dan kepandaian si Dewa Arak ini hanya pernah diturunkan kepadanya seorang!
Bahkan pada dua tahun yang lalu ketika ia berkunjung ke sini, orang tua ini masih tinggal seorang diri di dalam gua dan tidak mempunyai murid.
"Kong peh-peh, siapakah muridmu itu? Dan bagaimana seorang murid dapat berlaku begini terhadap kau?"
Melihat keadaan orang tua itu, Lo Sin lalu berlari ke kudanya dan mengeluarkan sebotol arak yang dibawanya bekal serta sedikit roti kering.
Kong Sin Ek menolak roti itu akan tetapi arak yang berada di botol segera ditenggaknya sampai habis!
Setelah Dewa Arak ini kemasukan arak sebotol, maka mukanya menjadi agak merah dan keadaannya tidak begitu lemas lagi.
Harus diketahui bahwa selain menderita luka parah yang membuatnya lumpuh, kakek ini telah berpekan-pekan tidak makan atau minum!
Kalau lain orang yang menderita seperti ini, ia pasti telah mati kelaparan.
Kemudian dengan singkat Kong Sin Ek menuturkan kepada Lo Sin tentang pengalamannya dalam dua tahun yang lalu ini.
Pada dua tahun yang lalu, sepeninggal Lo Sin yang mengunjungi orang tua ini, Kong Sin Ek sering termenung dengan murung memikirkan nasibnya.
Ia sudah tua dan lemah, tidak mempunyai murid.
Siapakah yang akan mengurusi jenazahnya kalau ia meninggal kelak?
Memang benar di situ ada Lo Sin, pemuda yang dicintainya seperti anak sendiri dan yang juga mencintai kepadanya, tetapi pemuda ini telah mempunyai tugas sebagai putera Cin Han dan Lian Hwa sehingga ia tidak berhak untuk menariknya.
Pada suatu hari ketika ia sedang termenung memikirkan nasibnya, tiba-tiba dari bawah bukit berlari seorang pemuda yang dikejar oleh tiga orang hwesio.
Pemuda itu lalu berbalik dan melawan dengan pedangnya, akan tetapi ketiga orang hwesio itu ternyata berkepandaian tangguh dan tinggi hingga sebentar saja pemuda itu terkurung rapat dan tak berdaya.
Melihat hal ini, Kong Sin Ek lalu turun tangan membantu dan dengan mudah saja ia memukul mundur ketiga orang hwesio itu.
Pemuda itu berwajah tampan dan sambil berlutut ia menghaturkan terima kasih kepada Kong Sin Ek.
Si Dewa Arak suka melihat pemuda tampan ini dan menerimanya sebagai murid.
Oleh karena pemuda ini memang telah memiliki ilmu silat cabang Go-bi-pai yang lumayan, maka selama dua tahun ia mempelajari ilmu silat dari Kong Sin Ek, kepandaiannya sudah maju pesat dan hampir semua kepandaian Kong Sin Ek telah diwariskan kepadanya!
Ternyata pemuda ini berotak cerdik sekali dan dapat menerima pelajaran silat dengan cepat.
Kong Sin Ek merasa puas dan ia mencinta sekali kepada pemuda yang selalu tunduk dan taat kepadanya ini.
Cita-citanya tercapailah dan ia merasa senang sekali oleh karena kini ia mempunyai seorang murid yang boleh diandalkan.
Akan tetapi, kebagusan di luar itu tidak selamanya mencerminkan keadaan di dalam.
Siapakah yang akan menduga bahwa pemuda yang tampan dan selalu menurut serta halus dan sopan tutur katanya itu, mempunyai pikiran jahat dan memelihara setan di dalam hatinya?
Pada suatu hari, dengan marah sekali Kong Sin Ek menerima laporan dari seorang petani bahwa muridnya itu telah mengganggu anak perempuan petani itu hingga anaknya itu saking malu dan sedihnya telah menggantung diri!
Berita ini tentu saja diterima oleh Kong Sin Ek bagaikan kilat menyambar di siang hari.
Setelah petani itu pulang dengan menangis sedih, Kong Sin Ek lalu memanggil muridnya dan setelah memaksa muridnya mengaku, Kong Sin Ek lalu memukul muridnya itu sampai bergulingan di atas tanah!
Tadinya ia hendak menghabisi nyawanya murid itu, akan tetapi ketika melihat wajah muridnya dan melihat pemuda itu mengeluh dan merintih-rintih, hatinya menjadi tidak tega dan ia mengurungkan niatnya membunuh murid murtad itu.
Ia lalu memaki-maki dan memberi peringatan serta ancaman keras, sedangkan muridnya dengan suara memilukan lalu menangis, berlutut di depannya dan memohon ampun disertai janji-janji hendak mengubah adatnya.
Oleh karena marah dan kecewa, hati Kong Sin Ek sedih sekali dan ia lalu menghibur dirinya dengan minum arak sampai mabok dan akhirnya roboh di lantai dalam keadaan tidur pulas bagaikan mati!
Dan ketika ia terjaga daripada tidurnya, ia mendapatkan dirinya telah lumpuh dan sepasang kaki tangannya tidak dapat digerakkan lagi.
Ternyata bahwa murid murtad itu telah memutuskan urat kaki tangannya selagi ia berada dalam keadaan tidur dan mabok tak ingat orang.
Dan murid yang melakukan pembalasan dendam kepada guru sendiri dan menganiaya gurunya tanpa mengenal kasihan dan secara keji telah lama minggat dari tempat itu!
Mendengar penuturan Kong Sin Ek ini, bukan main marahnya Lo Sin.
Ia bangun berdiri sambil mengepalkan kedua tangannya.
"Bangsat rendah, manusia berhati binatang! Kong peh-peh, kauberitahukan di mana adanya bangsat rendah itu! Sekarang juga akan kuseret dia ke sini untuk menerima hukuman!"
Akan tetapi pada saat itu terdengar Kong Sin Ek mengeluh dan tubuh yang telah lumpuh itu terguling.
Lo Sin cepat memeluknya dan ternyata bahwa napas kakek gagah itu telah empas-empis menanti datangnya maut.
Lo Sin bingung sekali, tidak tahu harus berbuat apa.
Kemudian ia ingat bahwa kakek ini belum memberitahukan nama murid murtad itu, maka ia lalu bertanya keras-keras.
"Kong peh-peh, siapakah nama muridmu itu?"
Bibir Kong Sin Ek bergerak hendak menjawab, akan tetapi agaknya ia telah terlampau lemah sehingga tidak ada suara yang keluar dari bibir itu.
Lo Sin menggoyang-goyangkan tubuh si Dewa Arak dan sekali lagi bertanya sambil mendekatkan mulutnya pada telinga Kong Sin Ek.
"Peh-peh, aku mohon padamu, tinggalkan nama muridmu itu kepadaku!"
Sekali lagi bibir Kong Sin Ek bergerak dan Lo Sin mendekatkan telinganya kepada mulut kakek itu. Ia mendengar kakek itu berbisik lemah perlahan sekali.
"Ia""
Ia she Lui dan""
Ber".. nama......."
Akan tetapi nama itu takkan pernah dapat terdengar dari mulut kakek yang telah membuat dunia kang-ouw tergetar karena kegagahannya itu telah meninggal dunia.
Lo Sin memeluki tubuh Kong Sin Ek dan pemuda ini menangis keras dengan hati berduka terharu.
Kemudian ia menggali sebuah lubang di tanah depan gua dan mengubur jenazah Kong Sin Ek.
Sebelum meninggalkan tempat itu, ia bersembahyang di depan kuburan si Dewa Arak dan berkata perlahan.
"Kong peh-peh, mengasolah dengan tenang dan tenteram. Aku bersumpah untuk membalaskan sakit hatimu dan percayalah bahwa pada suatu hari aku pasti akan menggunakan pedangku menabas putus leher anjing rendah she Lui itu."
Kemudian Lo Sin lalu meninggalkan tempat itu dan dengan hati berduka kembali ke kota Tit-lee.
Ia diserang hujan badai dan kebetulan sekali bertemu dengan Hek Li Suthai hingga bertempur dan semua ini dilihat oleh Lee Ing yang mengintai di balik pohon.
Hal ini sudah diceritakan pada bagian depan cerita ini.
Mendengar penuturan Lo Sin tentang keadaan Kong Sin Ek yang menyedihkan itu, Lian Hwa menangis tersedu-sedu sedangkan Cin Han lalu mengertak gigi dan membanting-banting kaki.
"Akan kuhancurkan kepala murid murtad itu,"
Geram jago tua itu.
"Awas""
Awas kau, bangsat she Lui"... akan kucabut keluar hatimu yang kotor itu dari dadamu!"
Berkata Ang Lian Lihiap setelah ia dapat bicara.
Demikianlah keluarga pendekar ini diliputi kesedihan dan Cin Han bersama isterinya lalu mengatur meja sembahyang untuk memperingati kematian sahabat yang tercinta itu.
Dalam beberapa hari selanjutnya, seakan-akan hilang kegembiraan mereka tertutup mendung kedukaan karena kematian Kong Sin Ek yang benar-benar menghancurkan hati mereka itu.
Pada hari keempat Lian Hwa dan Cin Han memanggil putera mereka dan ketika Lo Sin datang menghadap, pemuda ini melihat bahwa sebagian besar kedukaan telah menghilang dari wajah ayah bundanya, akan tetapi tidak seperti biasa, kali itu wajah kedua orang tua itu memperlihatkan sikap bersungguh-sungguh.
"Sin-ji, ayahmu dan aku telah mengambil keputusan untuk mengutusmu pergi menemui peh-pehmu Nyo Tiang Pek di Bong-kee-san. Nyo-pekhu harus diberitahu tentang kematian Kong peh-pehmu."
Sebelum Lo Sin menjawab, Cin Han berkata.
"Juga Nyo-twako harus diberi peringatan bahwa Hek Li Suthai telah berkeliaran di luar dan hendak mencari kita semua untuk membalas dendam. Aku tidak khawatirkan hal ini oleh karena kepandaian Nyo-twako cukup kuat untuk menghadapi seorang lawan seperti Hek Li Suthai, akan tetapi ada baiknya bila berjaga diri."
Lo Sin merasa gembira dan menerima perintah ini dengan baik.
"Memang telah lama aku ingin sekali bertemu dengan Nyo-pekhu, yang ayah berkali-kali memujinya sebagai seorang gagah itu,"
Katanya.
"Dia memang gagah perkasa,"
Kata Cin Han.
"siapakah yang tidak menjadi kagum mendengar nama Kim-jiauw-eng Nyo Tiang Pek, si Garuda Berkuku Emas?"
"Dan isterinya adalah sumoiku sendiri!"
Kata Ang Lian Lihiap memperingatkan kepada anaknya.
Lo Sin mendengarkan dengan gembira dan makin besar keinginan hatinya untuk cepat-cepat berangkat menemui mereka.
Sampai dimanakah kepandaian mereka?
Apakah lebih tinggi dari kepandaian ayah ibunya?
Demikian ia berpikir, akan tetapi ia tidak berani menanyakan hal ini kepada ayah ibunya.
Diluar tahunya Lo Sin, suami isteri pendekar itu bertukar pandang dan memberi isyarat dengan mata.
Dengan pandangan matanya Cin Han menyuruh isterinya yang berbicara, maka Ang Lian Lihiap lalu berkata dengan suara halus kepada Lo Sin.
"Sin-ji, kau tentu sudah cukup maklum betapa inginnya hati ayah ibumu melihat kau mengikat jodoh dengan seorang gadis yang berbudi dan bijaksana."
Lenyap kegembiraan yang tadi membayang di wajah Lo Sin ketika ia mendengar ucapan ibunya itu. Ia mengangkat muka memandang kepada ibunya dengan tajam.
"Sin-ji, sudah kuberitahukan padamu dulu bahwa Nyo-twako yang gagah perkasa itu mempunyai seorang anak perempuan yang tidak hanya cantik jelita, akan tetapi juga gagah sekali."
Baru saja ibunya bicara sampai di situ, tahulah sudah Lo Sin ke mana tujuan percakapan ini, maka ia segera memotong.
"Ibu, bagaimana ibu tahu akan kecantikan dan kegagahan puteri Nyo-pekhu sedangkan ibu atau ayah sendiri belum pernah melihatnya?"
Ang Lian Lihiap adalah seorang wanita cerdik maka tentu saja serangan anaknya ini tidak membuat ia menjadi bingung. Dengan tersenyum ia berkata.
"Mudah saja, anakku. Gadis itu adalah puteri Giok Lie, maka tidak dapat tidak ia harus cantik jelita seperti ibunya. Dan iapun anak Nyo-twako, maka sudah sewajarnya kalau ia gagah seperti ayahnya!"
Lo Sin hanya menundukkan kepala dan Lian Hwa mempergunakan kesempatan ini untuk memberi tanda dengan matanya kepada suaminya agar Cin Han suka melanjutkan keterangan ini.
"Sin-ji,"
Kata Cin Han.
"benar kata ibumu. Puteri Nyo-twako tentu cantik, gagah dan berbudi mulia. Maka, kami berdua telah mengambil keputusan untuk menjodohkan kau dengan gadis puteri kawan-kawan baik kita itu!"
Lo Sin memandang dan menatap wajah ayahnya dengan terkejut. Akan tetapi Cin Han melanjutkan kata-katanya dengan suara tetap, seakan-akan hendak menyatakan bahwa ia tidak ingin dibantah oleh anaknya.
"Sin-ji, dengarlah, ketika utusan Nyo-twako datang ke sini, ibumu dan aku telah mengambil keputusan itu, dan kami telah mengirim surat lamaran kepada Nyo-twako!"
"Ayah!"
"Diam, dan dengar kata-kataku, kali ini kau tidak boleh membantah lagi. Apakah kau selamanya akan membujang saja dan membiarkan kedua orang tuamu kecewa hati? Dan selain puteri Nyo-twako, gadis mana lagi di dunia ini yang sesuai untuk menjadi kawan hidupmu?"
"Sin-ji,"
Terdengar suara ibunya penuh kasih sayang.
"Kau harus mengerti bahwa orang tuamu hanya ingin melihat kau hidup berbahagia dan mempunyai rumah tangga sendiri! Maka, kau pergilah mengunjungi Nyo-pekhu mu itu dan sekalian menegaskan isi surat lamaran kita agar segera mendapat keputusan darinya!"
"Ah, ibu, mana bisa ada aturan begitu? Ayah dan ibu sudah mengirim surat lamaran itu, mengapa anak harus pergi ke sana pula? Bukankah hal itu memalukan sekali? Biarlah kita menanti saja surat jawaban mereka itu, ibu!"
Setelah berpikir sejenak, baik Cin Han maupun Lian Hwa menganggap alasan puteranya ini benar juga.
Biarlah mereka menanti sabar karena merasa yakin bahwa Nyo Tiang Pek tentu akan segera mengirim balasan atas pinangan mereka dulu itu.
Mereka sudah cukup merasa girang melihat bahwa Lo Sin tidak membantah lagi dan agaknya telah menurut kemauan orang tuanya melamar puteri Nyo Tiang Pek.
Setelah berada di dalam kamarnya sendiri, Lo Sin membaringkan tubuhnya di atas ranjang.
Ia rebah terlentang dan tiba-tiba bayangan gadis yang pakaiannya basah kuyup di bawah pohon dan yang ditemuinya malam tadi muncul di depan matanya.
Alangkah manisnya gadis itu.
Hatinya tertarik sekali.
Apakah puteri Nyo Tiang Pek secantik gadis itu?
Ah mengapa kedua orang tuanya begitu terburu-buru dan tidak menanti sampai ada seorang gadis yang disetujuinya seperti......
seperti misalnya gadis di seberang jalan itu?
Lo Sin tiba-tiba terkejut sekali mengikuti jalan pikirannya sendiri.
Mengapa ia selalu memikirkan gadis yang berwajah pucat, berpakaian basah kuyup dan berlaku sangat ketus dan galak terhadapnya itu?
Ia tidak mengerti dan menjadi bingung.
Ia tidak berani menceritakan keadaan gadis itu kepada ayah bundanya, khawatir kalau-kalau kedua orang tuanya menyangka yang bukan-bukan, sedangkan siapa adanya gadis itupun ia tidak tahu!
Sementara itu, Nyo Lee Ing setelah bertemu dan melihat sepak terjang Lo Sin yang gagah segera berlari dan menuju pulang.
Hatinya merasa tidak karuan rasanya.
Ia telah menyaksikan kegagahan Ang Lian Lihiap dan Hwee-thian Kim-hong dan bahkan telah pula menyaksikan kegagahan putera mereka yang disebut Ouw-yan-cu.
Ia merasa kagum sekali dan juga bergirang bahwa kawan-kawan ayah ibunya ternyata benar gagah perkasa!
Ia hendak segera pulang dan menceritakan pengalamannya kepada ayah ibunya yang tentu akan senang sekali mendengar hal ihwal kegagahan keluarga yang menjadi sahabat tercinta itu.
Akan tetapi, tiba-tiba Lee Ing teringat pula bahwa ayahnya hendak memaksa ia kawin dengan perwira muda yang dibencinya itu!
Mengingat akan hal ini, Lee Ing lalu berhenti berlari dan menangis di pinggir jalan sambil duduk di bawah sebatang pohon besar.
Mengapa nasibnya begini buruk?
Ia tidak suka kepada Lui Tik Kong yang memiliki kepandaian rendah dan yang baru melihat saja sudah menimbulkan rasa benci di dalam hatinya.
Ia sendiri tidak tahu mengapa hatinya benci dan tidak suka kepada Lui Tik Kong, walaupun harus diakui bahwa pemuda itu cukup tampan dan gagah.
Ketika Lee Ing sedang menangis, tiba-tiba terdengar suara domba mengembek.
Ia mengangkat muka memandang dan melihat dua ekor domba, biang domba dan seekor anaknya yang masih kecil.
Anak domba itu berlutut dengan dua kaki depannya dan menyusu dari perut biangnya.
Pemandangan ini menimbulkan keharuan di dalam hati Lee Ing dan ia menjadi teringat kepada ibunya.
Terbayang wajah ibunya yang tentu berduka sekali karena ia telah pergi tanpa pamit.
Hatinya menjadi sedih dan kasihan kepada ibunya, maka Lee Ing segera berdiri dan cepat melanjutkan larinya menuju pulang.
Nyo Tiang Pek dan isterinya sedang duduk dengan wajah muram dan hati duka memikirkan puterinya yang minggat tanpa pamit itu.
Nyo Tiang Pek marah sekali ketika mendengar dari Lui Tik Kong betapa gadisnya malam-malam mendatangi asrama perwira itu dan mengajaknya bertanding hingga perwira itu mendapat luka ringan pada pundaknya oleh pedang Lee Ing.
"Ah, anak kita itu terlalu keras kepala dan tinggi hati!"
Katanya penuh sesal kepada isterinya yang tidak menjawab hanya menangis menyatakan kekhawatirannya.
"Biarlah, biar ia pergi mencari pengalaman. Pahit getir hidup di perantauan tentu akan membuatnya tobat dan segera pulang. Dan jika dia pulang, perjodohannya harus segera dilangsungkan. Hanya perkawinan saja yang agaknya akan dapat membuat ia menjadi jinak dan tidak liar seperti sekarang!"
Berkata lagi Nyo Tiang Pek dengan marah.
Ketika mereka tengah bermenung memikirkan anak tunggal yang susah diurus itu, tiba-tiba saja Lee Ing mendatangi dari luar, berlari-lari dan sambil menangis lalu memeluk ibunya.
Giok Lie pun menangis dan memeluk serta menciumi wajah anaknya yang pucat, tanda bahwa gadis itu telah banyak menderita dalam perjalanan selama perantauan yang hampir setengah bulan lamanya itu.
Kemudian Lee Ing lalu menghampiri ayahnya dan berlutut di depan Nyo Tiang Pek.
"Ayah, ampunkan anakmu, ayah......"
Betapapun besar marah di hati Tiang Pek dan betapapun kerasnya hati jago tua ini, ketika melihat anaknya berlutut meminta ampun, hatinya lunak kembali.
"Ing-ji, Ing-ji""
Kau telah banyak membikin susah ibumu,"
Katanya.
"Selama ini, ke mana sajakah kau pergi?"
Lee Ing lalu menceritakan pengalamannya, betapa ia pergi ke rumah Ang Lian Lihiap dengan diam-diam dan menyaksikan pertempuran hebat antara suami isteri pendekar itu melawan Hek Li Suthai dan juga menyaksikan kegagahan Lo Sin, putera Ang Lian Lihiap.
Nyo Tiang Pek dan Giok Lie terkejut dan girang, terkejut mendengar halnya Hek Li Suthai, to-kouw yang kejam seperti iblis itu kini telah turun gunung membalaskan sakit hati gurunya, dan mereka girang mendengar bahwa keadaan Ang Lian Lihiap dan suaminya selamat-selamat saja.
"Mengapa kau tidak menghadap dengan berterang kepada mereka? Ah, kau sungguh membuat malu padaku. Baiknya Cin Han memberi obat kepadamu, kalau tidak, luka yang kau derita karena serangan Ang-jouw-ciam dari iblis itu tentu telah menamatkan riwayatmu!"
Giok Lie bergidik dan merasa ngeri memikirkan hal ini.
"Ing-ji,"
Katanya.
"sekarang kau harus menurut kata-kata ayahmu dan perjodohanmu dengan Lui-ciangkun harus dilangsungkan segera. Perwira muda itu ternyata sangat baik hati, biarpun ia telah kau lukai pada pundaknya, namun ia tidak merasa sakit hati."
"Benar, Ing-ji, kau jangan membantah lagi. Percayalah kepada ayahmu yang takkan salah pilih!"
Lee Ing tidak berani membantah, akan tetapi ia berkata.
"Aku hanya menyerahkan nasib diriku di tanganmu, ayah. Akan tetapi tentang perkawinan ini, aku minta waktu sebulan lagi."
Suami isteri itu saling memandang dan akhirnya mereka menyatakan setuju.
Bagaimana juga, kesanggupan Lee Ing telah membuat mereka merasa girang sekali.
Selama menanti datangnya hari perkawinan, Lee Ing hanya mengeram di dalam kamarnya saja dan tidak mau keluar.
Wajahnya murung dan hatinya berduka, akan tetapi di depan kedua orang tuanya ia tidak berani menyatakan ketidaksukaan hatinya.
Ia menerima nasib oleh karena ia berpikir bahwa ia harus berbakti dan taat kepada ayah ibunya.
Sementara itu, Tiang Pek lalu membuat surat-surat undangan untuk mewartakan berita baik ini kepada seluruh kenalannya.
Ia tidak lupa untuk mengirim surat undangan kepada Lo Cin Han dan Han Lian Hwa di Tit-lee, bahkan menyuruh seorang pengantar istimewa untuk menyampaikan surat itu.
Persiapan dilakukan dan kedua suami isteri itu setiap hari sibuk sekali dan bekerja dengan penuh kegembiraan.
Betapa mereka takkan gembira, hari baik puteri tunggal mereka menjelang datang, hari yang mereka impi-impikan, hari yang mereka tunugu-tunggul Juga di pihak Lui Tik Kong telah membuat persiapan.
Anak muda ini tidak lupa mengundang kawan-kawannya untuk menghadiri perayaan hari perkawinannya dengan puteri Nyo Tiang Pek, Garuda Berkuku Emas yang telah amat terkenal namanya.
"Sin-ji, biarpun di luarmu kau tunduk dan tidak membantah kedua orang tuamu, akan tetapi aku tahu apa yang terkandung di dalam hatimu. Anakku, jangan kaukira bahwa ayahmu dan aku tidak tahu akan hal yang kau susahkan. Pada hakekatnya kau tentu tidak setuju dengan lamaran kami terhadap puteri Nyo-twako, bukan?"
Tanya Lian Hwa kepada puteranya di dalam kamar Lo Sin yang kini jarang sekali keluar.
"Ayah dan ibu terlalu tergesa-gesa,"
Jawab pemuda itu sambil tundukkan mukanya.
"Lo Sin! Kau kurang percaya kepada pilihan orang tuamu dan hal ini hanya terjadi apabila kau telah mempunyai pilihan sendiri. Oleh karena ini, ayahmu minta padaku supaya bertanya kepadamu. Apakah benar dugaan kami bahwa kau telah mempunyai pilihan hati sendiri dan jika sudah, siapakah gadis itu?"
Lian Hwa menatap wajah puteranya dengan pandang mata tajam, seakan-akan hendak menembus hati pemuda itu.
Untuk beberapa lama Lo Sin tidak menjawab.
Bagaimana ia harus menjawab?
Kalau saja gadis di seberang jalan yang kehujanan itu telah ia ketahui nama dan tempat tinggalnya, tentu ia akan berani berterus terang kepada ibunya ini.
Akan tetapi, gadis itu hanya dilihatnya sekejap saja, maka ia malu untuk mengaku bahwa hatinya telah tercuri oleh seorang gadis yang tidak diketahui asal usulnya.
"Tidak, ibu, aku tidak tertarik kepada siapa-siapa. Hanya aku merasa sangsi oleh karena ibu dan ayah menjatuhkan pilihan pada seorang gadis yang belum pernah dilihat sendiri. Bagaimana kalau pilihan ini ternyata keliru?"
Ang Lian Lihiap menghela napas lega.
Masih baik kalau puteranya ini tidak menaruh hati kepada gadis lain.
Adapun tentang puteri Nyo Tiang Pek, biarpun belum pernah dilihatnya, ia percaya dan yakin akan kegagahan dan kecantikan gadis itu.
Maka ia hanya tersenyum dan berkata dengan suara gembira.
"Kau percayalah kepada orang tuamu, anakku."
Pada saat itu mereka tiba-tiba mendengar suara Cin Han di ruang depan yang berseru keras.
"Kurang ajar!"
Suara ini keras sekali dan mengandung penyesalan hati besar, maka baik Ang Lian Lihiap maupun puteranya menjadi terkejut dan keduanya lalu lari keluar.
Di ruang depan mereka melihat Cin Han duduk di sebuah kursi, diam bagaikan patung dan memandang kepada sehelai surat yang masih terpegang di tangannya.
Wajah jago tua ini kelihatan marah sekali.
"Han-ko, kau kenapakah?"
Tanya isterinya. Cin Han berpaling kepada mereka, kemudian berkata dengan suara gemas kepada Lo Sin yang memandang padanya dengan penuh pertanyaan.
"Dasar kau anak sial!"
"Eh, eh, ada apakah kau marah-marah seperti kebakaran jenggot?"
Lian Hwa bertanya sambil berkelakar.
"Lihat dan baca sendiri surat ini!"
Kata Cin Han sambil memberikan surat yang dipegangnya kepada Lian Hwa.
Ang Lian Lihiap menerima surat yang berwarna merah itu dan membaca cepat.
Tiba-tiba mukanya menjadi pucat sekali dan ia berkata marah.
"Sungguh terlalu sekali Nyo-twako! Mengapa ia berubah begini tak tahu adat dan berani menghina kami? Apakah ini bukan satu kekeliruan?"
"Apanya yang keliru?"
Cin Han mengulang kata-kata isterinya.
"Sudah terang mereka tak pandang mata kepada kita. Tiang Pek""
Kau benar-benar menyakiti hatiku!"
Lo Sin mendengar dan melihat ini semua dengan heran dan khawatir. Ibunya lalu memberikan surat kepadanya dan berkata.
"Kau bacalah sendiri, dan ayahmu berkata benar ketika memakimu sebagai anak sial!"
Lo Sin terima surat itu dan dengan tangan gemetar penuh kekhawatiran ia membaca surat itu.
Sehabis membaca, berbeda dengan kedua orang tuanya, tiba-tiba pemuda itu tertawa bergelak-gelak hingga kedua orang tuanya memandang dengan heran.
"Bagus, bagus! Perjodohan batal dan ini bukan karena penolakanku, ayah! Sudahlah, ayah dan ibu jangan marah-marah seperti itu. Bukan hanya seorang saja puteri yang patut menjadi menantu ayah ibu di dunia ini! Dan bukan Nyo-pekhu saja yang mempunyai anak perempuan! Sekarang anak hendak menyatakan kehendakku yang telah beberapa hari ini kusimpan dan kutahan saja. Aku ingin sekali menunaikan tugas yang telah kujanjikan kepada mendiang Kong peh-peh, yakni pergi mencari keparat she Lui itu!"
Memang dalam saat seperti itu, lebih baik puteranya melakukan sesuatu untuk melupakan urusan memalukan ini, maka baik Cin Han maupun Lian Hwa tidak melarang anaknya.
Lo Sin yang sudah bersiap sedia lalu berpamit dan setelah mendapat banyak nasihat dari kedua orang tuanya supaya berhati-hati, ia lalu menaiki kudanya Pek-liong-ma dan mulai melakukan perantauan mencari murid murtad dari mendiang Kong Sin Ek si Dewa Arak.
Sementara itu, Cin Han dan Lian Hwa membicarakan tentang isi surat yang membuat mereka penasaran, marah dan malu itu.
Surat ini ternyata adalah surat undangan dari Nyo Tiang Pek yang mewartakan tentang perayaan hari pernikahan puteri tunggalnya yang bernama Nyo Lee Ing dan yang akan diselenggarakan tiga pekan kemudian.
"Yang masih kuherankan, mengapa Nyo-twako tidak menjawab surat lamaran kita?"
Tanya Lian Hwa dengan ragu-ragu.
"Bukankah undangan ini berarti sebagai jawaban juga? Mungkin Nyo-twako merasa tidak enak hati kalau harus menjawab surat lamaran kita dengan sebuah penolakan, maka ia lalu mengirim surat undangan ini yang tentu saja sudah sangat jelas bagi kita!"
"Tentu saja pada saat Nyo-twako menerima lamaran kita, puterinya telah dipertunangkan dengan orang lain, dan penolakan terhadap lamaran kita adalah hal sewajarnya. Kita tidak boleh marah kepadanya,"
Kata pula Lian Hwa yang masih belum mau percaya bahwa Nyo Tiang Pek berani menghina mereka. Cin Han bersungut-sungut.
"Apakah kaukira aku juga sudi memaksanya untuk menerima anak kita sebagai mantunya? Bukan penolakannya yang kujengkelkan, akan tetapi caranya menyambut lamaran kita. Kalau saja ia menjawab dengan surat penolakan, sungguhpun puterinya andaikata masih bebas, aku takkan merasa sakit hati atau tidak enak hati. Di mana ada orang melamar dengan paksaan? "Akan tetapi, mengapa surat lamaran kita tidak diperdulikan dan tahu-tahu ia mengirim surat undangan ini. Bukankah ini amat memandang rendah kepada kita? Apakah yang diandalkan oleh Nyo-twako maka ia menjadi tinggi hati seperti ini?"
"Sudahlah, untuk apa kita pusingkan hal ini? Benar kata Sin-ji tadi. Di dunia masih banyak gadis yang baik dan bukan Nyo-twako saja yang mempunyai anak perempuan! Mungkin hal ini mereka lakukan tanpa disengaja. Kita tak usah datang memenuhi undangan ini dan tinggal diam saja, habis perkara. Kalau kita tidak ingat kepada kebaikan Nyo-twako, kita harus pandang muka adikku Giok Lie dan biarlah kita habiskan perkara sampai di sini."
Cin Han mengangguk-angguk dan menghela napas.
"Baiknya memang Sin-ji sudah tidak setuju dengan lamaran itu hingga hal ini diterima olehnya dengan tenang bahkan merasa lucu. Kalau saja tadinya ia telah menyetujui dan suka kepada puteri Nyo-twako bukankah hal ini akan menyakiti hatinya dan membuat ia marah sekali?"
Demikianlah, kedua suami isteri ini membicarakan persoalan itu dengan hati tidak puas dan perasaan murung.
Mereka mengambil keputusan untuk melawan sikap Nyo Tiang Pek ini dengan keangkuhan dan tidak akan menghubungi bekas sahabat baik yang telah menyinggung perasaan mereka itu.
Cin Han dan Lian Hwa keliru apabila mereka menyangka bahwa Lo Sin tidak ambil perduli akan sikap Nyo Tiang Pek itu.
Ketika tadi ia tertawa setelah membaca surat, memang hatinya bergirang oleh karena ia terbebas daripada paksaan menikah dengan seorang gadis yang belum pernah dilihatnya.
Akan tetapi, disamping kegirangannya, iapun merasa panas hati dan mendongkol akan sikap Nyo Tiang Pek, bukan oleh karena merasa diri sendiri direndahkan, akan tetapi oleh karena merasa bahwa Garuda Kuku Emas itu telah memandang rendah dan berlaku kurang ajar atau kurang menghargai kedua orang tuanya.
Inilah yang membuat ia merasa sakit hati.
Dianggapnya Nyo Tiang Pek terlalu menghina kedua orang tuanya dan penghinaan macam ini tak layak didiamkan saja!
"Awas, Kim-jiauw-eng!
Kalau sudah tiba saatnya kita bertemu, hendak kulihat sampai di mana kegagahanmu yang telah berani berlaku kurang ajar kepada kedua orang tuaku!"
Katanya di dalam hati.
Akan tetapi pada saat itu ia lebih mementingkan tugasnya mencari murid Kong Sin Ek untuk memenuhi sumpahnya membunuh pemuda kejam dan curang itu.
Lo Sin mengaburkan kudanya menuju ke kota Long-men mencari Long-men Sam-eng, yakni ketiga orang tua gagah yang memimpin Sam-eng Piauwkiok di kota itu.
Ketiga orang piauwsu tua itu menerima kedatangan Lo Sin yang mereka anggap sebagai tuan penolong dalam menghadapi Kim-gan-eng dulu itu dengan penuh kegirangan dan penghormatan.
Mereka mempersilakan Lo Sin duduk dan menghidangkan teh wangi.
"Taihiap, kami telah mendengar tentang meninggalnya Kong lo-enghiong di Pek-ma-san,"
Kata mereka dengan muka sedih.
"dan kami merasa menyesal sekali sungguhpun kami masih merasa heran apakah yang menyebabkan orang tua itu meninggal dalam keadaan demikian sengsara."
Lo Sin menghela napas dan menindas rasa terharunya ketika teringat kepada kakek yang malang nasibnya itu.
"Karena inilah maka siauwte datang mengganggu sam-wi di sini. Kong peh-peh telah teraniaya orang dan kini siauwte hendak mencari orang itu untuk membalas dendam."
Terkejut sekali ketiga piauwsu itu mendengar ini.
"Siapakah yang menganiaya Kong lo-enghiong?"
Tanya mereka. (Lanjut ke
Jilid 05) Si Walet Hitam/Ouw Yan Cu (Seri ke 03 Serial Si Teratai Merah) Karya . Asmaraman S. Kho Ping Hoo
Jilid 05 Dengan singkat Lo Sin lalu menceritakan riwayat Kong Sin Ek dan akhirnya ia bertanya.
"Barangkali diantara sam-wi ada yang pernah melihat anak muda itu?"
Untuk beberapa lama, ketiga piauwsu itu tak dapat berkata-kata hanya saling memandang dengan muka terkejut dan heran.
"Memang kami telah melihatnya. Ia adalah seorang she Lui bernama Tik Kong, seorang pemuda yang tampan dan sopan santun. Sungguh hampir tak percaya kami bahwa ia dapat berbuat demikian kejam dan jahat."
Lo Sin girang sekali mendengar ini.
"Di mana dia? Tahukah sam-wi di mana adanya orang itu sekarang?"
"Kami tidak tahu, taihiap. Pernah dulu kami mendengar bahwa anak muda itu berkeinginan memasuki ujian perwira. Mungkin sekali setelah melakukan perbuatan jahat itu ia lalu melarikan diri dan melanjutkan cita-citanya untuk menjadi seorang perwira tentara kerajaan."
Keterangan ini biarpun cukup berharga, akan tetapi masih belum dapat menolongnya hingga Lo Sin tetap mencari-cari dengan membuta, tanpa ada tujuan tertentu.
Ia lalu meninggalkan Long-men dan merantau sampai jauh ke timur mencari-cari pemuda yang bernama Lui Tik Kong ini.
Banyak markas-markas tentara kerajaan ia masuki, bahkan ia telah bertanya kepada perwira kerajaan barangkali mengenal kepada pemuda itu.
Akan tetapi oleh karena ,jumlah perwira banyak sekali dan andaikata pemuda itu benar menjadi perwira, tentu seorang perwira yang masih baru dan belum terkenal, maka tak seorangpun mengenal seorang perwira bernama Lui Tik Kong.
Hal ini tidak mengherankan, oleh karena Lui Tik Kong begitu lulus ujian dan diangkat menjadi perwira, terus ditugaskan di daerah Pegunungan Bong-kee-san hingga perwira-perwira lain jarang ada yang mengenalnya.
Memang pada masa itu, banyak sekali diangkat perwira-perwira baru dalam usaha pemerintah untuk memperkuat pertahanan karena perlu menjaga datangnya serangan bangsa Turki yang dipimpin oleh Jengar Khan yang telah menyerang di berbagai tempat di tapal batas kerajaan sebelah utara.
Sampai dua pekan lebih Lo Sin mencari-cari tanpa hasil sedikitpun hingga ia menjadi gemas dan kesal.
Akhirnya ia mengambil keputusan untuk mengunjungi kampung Pek-se-chung di lereng Gunung Bong-kee-san itu dan menjumpai Nyo Tiang Pek.
Ia teringat bahwa pernikahan puteri Nyo Tiang Pek akan dilangsungkan sepekan lagi dan ia membuat perhitungan bahwa masih ada waktu baginya untuk datang sebelum perkawinan berlangsung.
Hendak dilihatnya sampai di mana "kehebatan"
Gadis yang telah dipuji-puji kedua orang tuanya tanpa melihat rupanya lebih dulu dan hendak dilihatnya pula di mana kelihaian Nyo Tiang Pek si Garuda Kuku Emas yang berani menghina Ang Lian Lihiap dan Hwee-thian Kim-hong, kedua orang tuanya.
Demikianlah, untuk pertama kalinya kuda Pek-liong-ma dibalapkan cepat sekali ke arah tempat tertentu.
Kuda itu memang mempunyai kegemaran membalap, maka begitu penunggangnya memberi tanda supaya ia bergerak secepatnya, ia lalu pentang ke empat kakinya dan tubuhnya meluncur cepat bagaikan sebatang anak panah terlepas dari busurnya.
Tubuh si Walet Hitam yang berpakaian hitam tampak jelas sekali di atas kudanya yang berbulu putih mengkilap, sedangkan perhiasan kepala yang berupa seekor burung walet hitam itu bergoyang-goyang bagaikan hidup dan sepasang mata burung yang terbuat daripada mutiara itu berkilau tertimpa cahaya matahari.
Sungguh gagah sekali pemuda ini di atas kudanya yang gagah pula.
Tiap orang yang melihatnya tentu memandang dengan kagum dan penuh perhatian, akan tetapi Lo Sin tidak memperdulikan semua itu dan terus saja membalapkan kudanya.
Makin dekat dengan tempat tinggal Nyo Tiang Pek, ia merasa makin panas hatinya.
Ketika tiba di kaki bukit Bong-kee-san, Lo Sin melihat banyak orang mendaki bukit itu.
Melihat gerakan-gerakan orang-orang yang mendaki bukit, ia dapat menduga bahwa mereka ini adalah orang-orang kang-ouw yang memiliki kepandaian, sungguhpun diantara mereka banyak pula terdapat orang-orang yang tak mengerti ilmu silat.
Tadinya ia merasa heran akan tetapi kemudian ia teringat bahwa mereka ini tentu para tamu yang hendak menghadiri perayaan perkawinan puteri Garuda Berkuku Emas yang tersohor itu.
Makin panaslah hati Lo Sin mengingat hal ini.
Dia merantau untuk mencari musuh besar Kong Sin Ek dan membalaskan sakit hati kakek ini, sebaliknya Nyo Tiang Pek yang menurut orang tuanya juga menjadi kawan baik Kong Sin Ek, pada saat ini sedang bergembira dan berpesta pora merayakan hari perkawinan puterinya.
Kalau Lo Sin sedang sadar pikirannya, tentu ia akan mengerti bahwa pikiran yang terkandung di dalam kepalanya ini benar-benar tidak sehat dan tidak adil, akan tetapi pada waktu itu memang ia sedang jengkel dan marah karena usahanya mencari murid murtad itu belum berhasil, ditambah lagi dengan perasaan penasaran dan sakit hati teringat akan perlakuan Nyo Tiang Pek terhadap kedua orang tuanya.
Perasaaan marah memang selalu mendatangkan pertimbangan-pertimbangan tidak sehat dan menyeleweng, oleh karena itulah maka orang-orang bijaksana di jaman purba mengharamkan perasaan atau nafsu itu.
Semua orang yang mendaki Bukit Bong-kee-san memang benar orang-orang yang hendak menghadiri pesta perkawinan puteri Nyo Tiang Pek.
Diantara mereka ada pula yang hendak menghadiri tempat Lui-ciangkun yang kini berada dalam markas yang dibangun di lereng pertama dari bukit itu.
Sebagian besar dari mereka ini adalah orang dari kalangan persilatan yang nampak dari sikap mereka dan dari gagang-gagang pedang yang menghias pinggang atau punggung mereka.
Ketika kuda Pek-liong-ma meluncur lewat semua mata memandang dan mereka menduga-duga siapa adanya pemuda gagah ini.
Mereka hanya menduga bahwa pemuda ini tentulah seorang tamu juga, hanya entah tamu pihak pengantin wanita, entah pihak pengantin pria.
Lui-ciangkun menerima para tamunya yang datang dari segala penjuru oleh karena pemuda inipun mempunyai banyak sekali sahabat, terutama di kalangan liok-lim, oleh karena pemuda yang halus dan tampan ini diluar persangkaan orang, sebelum menjadi murid Kong Sin Ek, telah pernah menjadi seorang perampok tunggal.
Pada saat itu, Lui Tik Kong sedang menerima kedatangan dua orang sahabat baiknya dengan ramah tamah dan gembira.
Kedua orang sahabat ini adalah Thio Kun dan Thio Kiat, dua orang kakak beradik yang menjadi bajak di Sungai Yang-ce-kiang dan yang memiliki kepandaian tinggi hingga mereka dijuluki Mo-kiam Heng-te atau Kakak Beradik Pedang Siluman.
Dari julukan ini saja sudah dapat diduga.
bahwa mereka adalah ahli pedang yang lihai.
Tubuh, kedua orang ini tegap dan kuat, sedangkan muka mereka juga menunjukkan kegagahan, sungguhpun dari kedua pasang mata mereka menyinarkan kebuasan dan kekejaman.
Pada saat mereka berkelakar dan bergembira sebagai sahabat-sahabat lama yang baru bertemu setelah lama berpisah, di luar benteng itu terjadi keributan.
Ternyata ketika Lo Sin bersama orang-orang lain lewat di depan benteng itu, penjaga-penjaga pintu benteng yang mengira bahwa Lo Sin juga seorang tamu yang hendak mengunjungi perwira ini, segera menghadang untuk menerima dan merawat kuda tamunya.
"Minggir!"
Seru Lo Sin dengan heran hingga penjaga yang tidak menyangka bahwa kuda putih itu hendak lewat saja, hampir tertubruk kuda kalau ia tidak cepat-cepat melompat ke samping.
"Bangsat!"
Penjaga itu memaki marah.
Pada saat itu Lo Sin memang sedang dipengaruhi kemarahan dan kejengkelan hingga telinganya perasa sekali.
Begitu mendengar suara makian ini, cepat ia menahan kudanya dan memutar kuda itu kembali untuk menghampiri si penjaga yang berdiri bertolak pinggang.
"Kau tadi memaki, siapa?"
Tanya Lo Sin dengan suara tenang sambil memandang tajam.
"Siapa lagi kalau bukan kau! Kudamu hampir menubrukku!"
Belum juga mulut penjaga itu tertutup setelah mengeluarkan kata-kata ini, ujung cambuk kuda di tangan Lo Sin menyambar dan tepat mengenai pipinya hingga penjaga itu terlempar dan jatuh bergulingan dan berteriak-teriak karena sabetan itu telah membuat beberapa buah giginya copot!
Masih baik baginya bahwa Lo Sin tidak mengerahkan tenaganya, kalau demikian halnya, tentu kini ia tak dapat berteriak lagi!
Para penjaga lain menjadi marah sekali dan dengan golok di tangan mereka maju menyerbu.
"Bangsat dari manakah berani mengacau dan mengganggu perayaan yang sedang berlangsung? Apakah kau sudah bosan hidup?"
Akan tetapi dengan tenang Lo Sin lalu menanggalkan jubahnya dan dengan pakaian ringkas ini ia melompat turun dari kudanya.
Kini nampak sebatang suling terselip pada ikat pinggangnya dan pedang menempel di punggung.
Memang tiap kali melakukan perantauan, Lo Sin tak pernah lupa membawa sulingnya untuk ditiup dan melepaskan kesunyian di waktu ia berada seorang diri di tempat sunyi.
Ia menghadapi para penjaga yang tujuh orang banyaknya itu dengan sikap tenang dan bertolak pinggang.
"Kalian ini perajurit-perajurit penjaga mau apakah? Aku lewat di sini menunggang kudaku dan kawanmu itu secara sembrono menghadang di jalan hingga hampir tertubruk kudaku, akan tetapi mulutnya yang kotor lalu memaki. Aku memberi hajaran pada mulut kotor itu, kalian mau apa?"
"Bangsat, hayo kau menghadap ciang-kun untuk memohon maaf!"
"Ah, memang mulutmu semua kotor dan perlu dihajar!"
Setelah berkata demikian, tiba-tiba tubuh Lo Sin bergerak dan menyambar-nyambar.
Terdengar teriakan-teriakan kesakitan dan sebentar saja ke tujuh orang penjaga itu rebah malang melintang dan menjerit-jerit kesakitan sambil memegang pipi mereka yang kena ditempiling oleh telapak tangan Lo Sin!
"Manusia-manusia sombong!
Jangan mengandalkan ciang-kun mu untuk menghina orang!"
Bentak Lo Sin dan ia segera berjalan perlahan dan tenang ke arah Pek-liong-ma yang menjauhi mereka ketika terjadi keributan tadi dan kini sedang enak-enak makan rumput.
Semua tamu yang kebetulan baru tiba dan melihat pertengkaran ini, berdiri memandang dengan mata terbelalak, bahkan beberapa orang lalu berlari ke dalam untuk memberi tahu kepada Tik Kong.
Ketika itu Tik Kong sedang minum arak dan bersenda-gurau dengan kedua saudara Thio.
Tiba-tiba datang seorang perajurit yang melaporkan bahwa di luar ada seorang pemuda mengamuk dan memukuli para penjaga.
Tik Kong marah sekali, dan demikian juga Thio Kun dan Thio Kiat.
Mereka bertiga lalu bertindak cepat keluar untuk melihat siapa adanya orang yang berani mengacau itu.
Pada saat mereka bertiga tiba di luar, Lo Sin telah menghampiri kudanya dan siap menunggang kudanya lagi, akan tetapi tiba-tiba ia mendengar suara yang nyaring sekali membentak dari belakangnya.
"Berhenti dan turun!"
Lo Sin sudah menaikkan kakinya ke atas itu lalu menahan gerakannya.
Ia mendongkol sekali oleh karena suara orang yang berseru ini mengandung perintah yang keras, seakan-akan orang ini sudah biasa memerintah.
Ia menurunkan kakinya dan dengan perlahan menengok.
Maka mengertilah dia ketika melihat pakaian seorang pemuda tampan yang berdiri sambil bertolak pinggang.
Orang ini tentu perwira yang berkuasa di markas itu, maka Lo Sin dengan tindakan perlahan lalu menghampirinya.
"Kau mau apa?"
Tanyanya sambil mengangkat kedua tangannya bertolak pinggang pula menghadapi perwira muda yang gagah itu.
"Kau orang kurang ajar dari manakah berani sekali mengacau di sini?"
"Anak buahmu yang mengacau, bukan aku! Kau kurang pandai mendidik mereka hingga mereka berani berlaku kurang ajar dan tidak sopan kepada orang lewat, seharusnya kau menegur mereka itu, bukannya menegur aku!"
Jawab Lo Sin dengan sikap seperti seorang guru mengajar murid.
Melihat kegagahan anak muda baju hitam ini, Lui Tik Kong sudah dapat menduga bahwa anak muda ini tentu memiliki kepandaian tinggi, maka timbul kegembiraannya hendak mencoba.
Ia lalu tersenyum sabar dan berkata.
"Harap dimaafkan kalau anak buahku yang berlaku kurang hormat. Akan tetapi kaupun lancang sekali turun tangan, agaknya untuk memperlihatkan kepandaian. Mari, marilah, orang gagah, kita main-main sebentar sekedar perkenalan!"
Sambil berkata demikian Lui Tik Kong mengejapkan matanya kepada kedua saudara Thio itu, lalu ia mencabut keluar pedangnya.
Melihat sikap yang tabah dan kata-kata, yang halus dari perwira muda itu, kemarahan Lo Sin agak mereda.
"Kau hendak menguji kepandaian? Boleh, boleh!"
Iapun lalu menghunus pedangnya dan bersiap menghadapi perwira itu.
"Lihat pedang!"
Tik Kong berseru keras dan maju menyerang dengan lagak sombong oleh karena ia memandang rendah kepada pemuda baju hitam yang tampan ini.
Akan tetapi, ia tidak tahu bahwa Lo Sin telah merasa suka kepadanya hingga pemuda ini tidak mau membuatnya malu dan sengaja menangkis dengan perlahan.
Kalau Si Walet Hitam menghendaki, dalam dua-tiga gebrakan saja mungkin Tik Kong akan dapat dirobohkan!
Mereka lalu bertempur dengan ramai dan cepat hingga membuat kagum semua yang menonton.
Akan tetapi, tiba-tiba Lo Sin menjadi pucat ketika mengenal bahwa ilmu pedang yang dimainkan oleh perwira ini adalah ilmu pedang Kong Sin Ek!
Ia melompat ke belakang dan bertanya.
"Tahan dulu! Bolehkah aku mengetahui she dan nama Ciang-kun yang gagah?"
Lui Tik Kong tidak menyangka apa-apa dan hanya menduga bahwa pemuda baju hitam yang gagah ini merasa kagum kepadanya. Maka sambil tersenyum ia berkata.
"Aku bernama Lui Tik Kong dan siapakah""?"
Belum juga habis ia bicara, Lo Sin sudah melompat maju dan mengulur tangan hendak menangkapnya sambil berseru.
"Keparat rendah! Akhirnya aku dapat juga menangkapmu! Hayo kau ikut menghadap makam Kong Sin Ek untuk mengakui dosa-dosamu!"
Lui Tik Kong cepat mengelak dan menyerang dengan pedangnya "Kau siapakah?"
Tanyanya.
"Tak perlu kau yang hina mengetahui siapa adanya aku. Aku adalah utusan Kong Sin Ek untuk menabas batang lehermu dan menamatkan riwayatmu yang kotor dan jahat. Pembunuh rendah, manusia tak kenal budi!"
Sambil memaki-maki Lo Sin menyerang lagi dengan pedangnya dan kali ini ia tidak berlaku sungkan lagi hingga dalam segebrakan saja pedangnya telah hampir, menembusi leher Lui Tik Kong.
Baiknya perwira ini berlaku cepat dan miringkan tubuhnya hingga ujung pedang Lo Sin hanya menyerempet pundaknya dan mendatangkan luka ringan saja!
Melihat kelihaian pemuda baju hitam ini, Tik Kong terkejut sekali, apalagi ketika Lo Sin mengaku sebagai utusan suhunya, ia menjadi ketakutan dan melompat ke belakang.
"Bangsat she Lui, jangan kau lari!"
Teriak Lo Sin yang segera mengejar dengan pedang di tangan.
Akan tetapi pada saat itu, dari kanan kiri berkelebat dua batang pedang yang berbareng menyerangnya.
Kedua pedang ini adalah pedang saudara Thio yang menyerang Lo Sin dalam usaha mereka membela Lui Tik Kong.
"Pengacau jahat, jangan kau kurang ajar!"
Bentak Mo-kiam Heng-te sambil menggerakkan pedang mereka.
Lo Sin cepat menangkis dengan pedangnya dan ketika ia melihat tubuh Lui Tik Kong melompat ke atas pagar yang tinggi, cepat tangan kiri Lo Sin mengeluarkan dua batang piauw hitam dan menyambitkannya ke arah tubuh Lui Tik Kong itu.
Akan tetapi, gerakan Tik Kong cukup gesit dan telinganya cukup tajam hingga sebelum dua batang piauw menyambar ke arah leher dan punggungnya itu mengenai sasaran, ia telah menjatuhkan dirinya ke belakang tembok hingga terhindar dari bahaya maut.
Melihat lenyapnya tubuh musuh besarnya ke belakang tembok, Lo Sin menjadi marah sekali.
Pedangnya diputar cepat dalam gerakan-gerakan terhebat dari Hwie-sian-liong-kiam-sut hingga berubah menjadi sinar pedang berkelebat cepat yang menyambar bagaikan kilat kepada Mo-kiam Heng-te hingga kedua saudara ini terkejut sekali dan melompat mundur.
Akan tetapi terlambat, pedang Lo Sin telah diputar sedemikian rupa sehingga mengurung tubuh Thio Kun dan Thio Kiat dan sejurus kemudian kedua saudara itu berteriak kesakitan dan pedang mereka terlepas dari tangan oleh pedang Lo Sin.
Mereka cepat menjatuhkan diri ke belakang dan bergulingan, tetapi sebetulnya gerakan ini sia-sia saja oleh karena memang Lo Sin tidak bermaksud mengejar mereka.
Kalau Lo Sin memang menghendaki jiwa mereka, tentu ujung pedangnya tidak hanya menggores di lengan tangan mereka dan mengarah sasaran yang lebih tepat.
Setelah mengalahkan Mo-kiam Heng-te, Lo Sin lalu secepat kilat melayang naik ke atas tembok di mana tubuh Lui Tik Kong menghilang tadi lalu langsung masuk ke dalam markas itu.
Ia tidak melihat Tik Kong, akan tetapi sebaliknya melihat banyak sekali anggauta tentara dan para tamu yang berkepandaian menyerbu ke arahnya.
Ia putar-putar pedangnya melakukan perlawanan dan sebentar saja banyak pengeroyoknya dibikin terpental senjata mereka dan dirobohkan oleh dorongan tangan kiri atau tendangan kedua kakinya.
Orang-orang yang mengeroyoknya biarpun berjumlah banyak, akan tetapi merasa jerih juga melihat sepak terjang pemuda yang luar biasa lihainya itu.
Akan tetapi oleh karena para anggauta tentara itu harus membela komandan mereka, maka mereka berlaku nekad dan terus maju mengeroyok.
Jumlah mereka ratusan orang, maka Lo Sin berpikir apabila ia terus mengamuk, tidak saja ia akan membunuh banyak orang tidak berdosa, bahkan ia akan membuang-buang waktu dan memberi kesempatan kepada Lui Tik Kong untuk kabur.
Maka ia lalu mengulur tangannya menangkap seorang perajurit dan melompat keluar tembok secepat kilat.
Sambil mengempit tubuh perajurit itu, Lo Sin berlari ke arah kudanya dan melompat ke atas punggung Pek-liong-ma yang segera berlari cepat sekali ke depan hingga para pengejar tak dapat mengejar terus.
"Kau bilang saja terus terang. Ke mana perginya perwira she Lui itu tadi? Awas, kalau kau membohong, pedangku akan menabas batang lehermu!!"
Lo Sin mengancam tawanannya. Perajurit itu menggigil ketakutan.
"Lui-ciangkun lari ke dusun Pek-se-chung,"
Katanya dengan suara gemetar.
"Di mana ia bersembunyi?"
"Entahlah, tapi kalau tidak salah tentu di rumah kepala kampung dusun itu mencari perlindungan."
Setelah mendengar keterangan ini, Lo Sin melemparkan tubuh tawanannya ke atas tanah dan ia terus menghamburkan kudanya menuju ke kampung Pek-se-chung.
Sementara itu hari telah mulai menjadi gelap, akan tetapi kebetulan sekali pada malam itu bulan keluar sepenuhnya hingga keadaan terang dan indah sekali.
Lo Sin terus menghamburkan kudanya dengan hati girang dan kecewa.
Girang oleh karena tanpa diduga-duga ia telah dapat menemukan Lui Tik Kong, kecewa oleh karena ia tidak berhasil membekuk pemuda keparat itu.
Mudah saja bagi Lo Sin untuk mencari keterangan di mana adanya rumah Chung-cu atau kepala kampung dusun Pek-se-chung.
Setiap orang, wanita maupun pria, anak-anak maupun kakek-kakek, tahu belaka di mana rumah gedung kepala kampung itu.
Setelah mendapat tahu, Lo Sin lalu meninggalkan kudanya di sebuah rumah penginapan di dusun itu, dan ia lalu berlari cepat menuju ke rumah kepala kampung, sama sekali tidak mengira bahwa kepala kampung itu adalah Nyo Tiang Pek.
Bahkan ia lupa pula akan bunyi surat Nyo Tiang Pek kepada orang tuanya dulu bahwa si Garuda Kuku Emas ini menjadi kepala kampung di Pek-se-chung.
Lui Tik Kong yang ketakutan memang melarikan diri ke Pek-se-chung dan dengan napas terengah-engah ia menghadap calon mertuanya.
Kebetulan sekali Lee Ing berada dalam kamarnya dan sedang dirias oleh karena besok pagi akan dirayakan pertemuannya dengan calon suaminya.
Gadis ini semenjak pagi tadi telah menangis saja dengan sedihnya, dan ini dianggap biasa oleh para tamu wanita yang menjenguk ke dalam.
Oleh karena ini Lee Ing tidak melihat dan tak tahu akan kedatangan calon suaminya yang menghadap Nyo Tiang Pek di dalam kamarnya dengan wajah pucat.
"Gak-hu (ayah mertua), celaka!"
Katanya dan Nyo Tiang Pek terkejut sekali melihat pundak calon mantunya mengucurkan darah.
"Eh, eh, apa yang terjadi, Hian-sai?"
Tanyanya dengan heran.
"Celaka, musuh besarku telah mengejarku dan hampir saja aku binasa dalam tangannya."
"Siapakah dia?"
Tanya Nyo Tiang Pek dengan penasaran.
"Dan mengapa dia hendak membunuhmu?"
"Dia adalah seorang perampok muda yang dulu pernah bentrok denganku ketika ia mencoba merampok dan kuhalang-halangi. Celaka, kepandaiannya sekarang tinggi sekali hingga aku tak kuat melawannya. Harap Gak-hu sudi menolongku!"
Nyo Tiang Pek menjadi marah sekali.
"Biarlah kau bersembunyi saja di sini dan kalau ia berani datang, pedangku akan menyambutnya."
Oleh karena ia harus melayani tamu-tamu yang sudah banyak terdapat di situ, terpaksa biarpun dengan hati tidak enak dan bingung, Nyo Tiang Pek lalu memberi sebuah kamar untuk calon mantunya dan meninggalkan mantunya ini dengan kata-kata hiburan yang membesarkan hati.
Dan pada malam hari itu, bayangan Lo Sin berkelebat cepat di atas genteng rumah keluarga Nyo itu.
Karena di bawah sangat ramai dengan suara para tamu, maka gerakan Lo Sin yang ringan ini tidak ada yang mendengar atau mengetahuinya.
Pada saat itu Nyo Tiang Pek sedang sibuk melayani tamu-tamunya sedangkan Giok Lie sebagaimana biasanya kaum wanita, sedang sibuk sekali mengatur barisan dapur untuk keperluan esok hari, maka Lee Ing ditinggal seorang diri dalam kamarnya.
Gadis ini merasa panas sekali ditinggal di kamar dan ingin keluar menikmati angin malam.
Oleh karena tak mungkin baginya untuk keluar dari kamar tanpa terlihat oleh para tamu yang memenuhi ruang depan yakni tamu-tamu laki-laki dan ruang belakang pun penuh dengan tamu wanita yang membantu ibunya, maka gadis ini lalu membuka jendela kamarnya dan melompat keluar dari jendela itu ke atas genteng.
Ketika ia tiba di atas genteng, ia melihat bayangan hitam sedang berjongkok di belakang wuwungan.
Inilah bayangan Lo Sin yang sedang terheran melihat banyaknya tamu di rumah ini.
Akan tetapi pemuda itu tidak mau ambil pusing dan matanya mencari-cari kalau-kalau diantara tamu di ruang depan itu terdapat Lui Tik Kong yang dicari-carinya.
Tiba-tiba ia mendengar suara angin di belakang.
Cepat ia melompat dan membalikkan tubuh dan""
Ia berhadapan dengan gadis cantik jelita yang berdiri dengan matanya yang lebar terbelalak memandangnya.
Kebetulan sekali Lee Ing berdiri menghadapi bulan hingga cahaya bulan menyinari mukanya yang cantik.
Melihat wajah ini, Lo Sin lalu menuding dengan telunjuknya.
"Kau""? Kau""? Eh, nona kembali kita bertemu di tempat yang tak disangka-sangka. Kau siapakah nona, dan ada apa kau bisa berkeliaran sampai ke sini?"
Marahlah Lee Ing mendengar dirinya disebut "berkeliaran"
Dan dengan muka cemberut ia menjawab.
"Aku tak perIu memperkenalkan diriku kepada segala maling!"
"Eh, eh, mengapa tiba-tiba kau menyebutku maling? Barangmu yang manakah pernah kucuri?"
"Kalau kau bukan pencuri, mengapa kau mengintai di atas rumah orang lain?"
Gadis ini merasa heran sekali melihat putera Ang Lian Lihiap mengintai di atas rumahnya, diam-diam ia teringat kepada diri sendiri yang dulu pernah juga mengintai seperti maling di rumah keluarga Lo Sin.
"Kau salah sangka, nona. Aku bukan mengintai untuk mencuri, akan tetapi aku mencari bangsat she Lui!"
"Apa? Siapa katamu tadi?"
"Aku mencari Lui Tik Kong, hendak kutabas batang lehernya dan kubawa kepalanya!"
Pucat wajah Lee Ing mendengar ini.
"Mengapa kau mencari dia di sini?"
"Karena kata orang dia berlari ke sini! Eh, nona, kau tahu-tahu muncul di depanku, apakah kau tinggal di rumah ini?"
Lo Sin bertanya penuh harapan oleh karena mungkin dari gadis ini ia akan mendapat keterangan tentang Lui Tik Kong.
"Memang aku tinggal di sini dan pemilik rumah ini adalah ayahku!"
Lo Sin terkejut dan air mukanya berseri.
"Jadi, benar-benarkah Lui Tik Kong berada di sini?"
Gadis itu menggelengkan kepalanya.
"Aku tidak tahu."
Lo Sin menjadi marah.
"Nona, jangan kau main-main dalam hal ini. Aku perlu sekali mengetahui hal ini. Apakah kau mengenal kepada orang she Lui itu?"
"Tentu saja kenal padanya."
"Dan kau tidak melihat dia datang di sini?? Ingat, nona, jangan kau membelanya."
Kedua mata dara itu mengeluarkan sinar marah.
"Siapa hendak membela dia?"
"Nah, janganlah marah dulu, nona. Dengarlah pemuda perwira yang gagah itu sebenarnya adalah seorang pembunuh kejam dan seorang yang berjiwa rendah! Dia telah membunuh Kong Sin Ek yang menjadi gurunya sendiri dan Kong Sin Ek adalah peh-peh ku. Maka aku harus menangkapnya untuk membalas dendam ini, katakanlah terus terang."
"Kau jangan mencari di sini, akan sia-sia saja dan kau lekas pergilah! Kalau ayah mengetahui kau datang hendak membunuh Lui Tik Kong, kau akan mendapat celaka!"
"Aku tidak takut! Bagaimanapun juga, Lui Tik Kong harus mampus dalam tanganku!"
Seru Lo Sin dengan geram. Tiba-tiba terdengar bentakan kasar.
"Bangsat perampok kurang ajar! Kau berani bermain gila di sini?"
Dan berbareng dengan bentakan ini, Nyo Tiang Pek dengan pedang di tangan tahu-tahu telah melompat dan menyambar ke arah Lo Sin dengan serangan pedangnya yang lihai!
Lo Sin terkejut sekali melihat seorang setengah tua tiba-tiba menyerang dengan gerakan demikian kuat dan cepat, maka ia cepat mengelak samping dan menangkis dengan pedangnya.
"Ayah!"
Teriak Lee Ing.
"Dia...... dia adalah si Walet Hitam""
Dan".. dan""
Tik Kong"""
Akan tetapi oleh karena Nyo Tiang Pek telah yakin betul bahwa pemuda ini adalah musuh yang mengejar dan hendak membunuh Tik Kong, ia tidak memperhatikan seruan anaknya, lalu langsung menyerang lagi terlebih hebat pula.
Lo Sin kaget ketika mendengar bahwa orang tua yang gagah ini adalah ayah si nona, maka ia tidak mau melayani lebih lama lagi.
Dengan cepat ia melompat turun dan berkata.
"Maaf dan sampai bertemu lagi, nona!"
Akan tetapi, mendengar kata-kata ini yang ditujukan kepada puterinya makin marahlah Nyo Tiang Pek yang mengira bahwa pemuda itu berlaku kurang ajar dan berani berkenalan dengan puterinya, maka secepat kilat ia mengejar turun sambil membentak.
"Bangsat perampok, kau hendak lari ke mana?"
"Ayah""!"
Lee Ing berseru lagi sambil melompat turun juga, akan tetapi pada saat itu, di bawah tembok Nyo Tiang Pek sudah menyerang lagi dengan gerak tipu Malaikat Menyambar Nyawa!
Gerakan ini bukan main cepat dan hebatnya hingga Lo Sin makin terkejut saja.
Tidak disangkanya bahwa di tempat ini terdapat orang yang begini tinggi ilmu pedangnya!
Ia berkelit lagi secepatnya dan belum berani membalas oleh karena ia merasa segan untuk melawan ayah gadis yang menarik hatinya itu.
Sementara itu, Lee Ing berdiri di dekat tembok menyaksikan pertempuran itu dengan tak berdaya dan bingung.
Ia tak tahu harus berbuat apa dan hanya memandang dengan hati sedih dan tidak karuan, oleh karena ia masih terpukul oleh kata-kata Lo Sin yang menerangkan bahwa bakal suaminya adalah seorang penjahat rendah dan kejam yang telah menganiaya Kong Sin Ek, si Dewa Arak yang namanya telah seringkali didengar dari ayah ibunya sebagai seorang gagah perkasa dan kawan baik kedua orang itu!
Melihat betapa dua kali serangannya yang paling berbahaya dengan mudah dapat dielakkan oleh pemuda baju hitam itu, diam-diam Nyo Tiang Pek merasa terkejut juga dan mengertilah ia mengapa Lui Tik Kong tidak dapat melawan dan takut kepada pemuda lihai ini.
Ia berseru keras dan menyerang lagi dengan sebuah tusukan Kera Putih Memetik Bunga.
Serangan ini ditujukan ke arah perut Lo Sin sambil melompat maju dengan kaki kiri melangkah ke depan, kaki kanan terangkat dan bersiap mengirim tendangan susulan, sedangkan tangan kiri diangkat ke belakang tinggi-tinggi untuk mengimbangi tenaga tusukan pedangnya!
Lo Sin terkejut lagi.
Inilah sebuah serangan maut yang benar-benar berbahaya oleh karena pemuda ini maklum bahwa serangan ini akan disusul dengan tendangan dan pukulan tangan kiri.
Maka tidak ada lain jalan baginya selain mempergunakan kelincahan dan ginkangnya yang tinggi.
Sambil berseru nyaring tiba-tiba tubuh Lo Sin telah melayang ke atas dengan kaki ke atas dan kepala di bawah ia berjungkir balik dan menggunakan pedangnya untuk menangkis pedang lawan dan berbareng gerakannya ini telah mematahkan kehendak lawan yang hendak menyusul dengan sebuah tendangan.
Inilah gerakan Naga Terbang Memutar ekor yang sungguh indah dipandang dan juga lihai sekali.
Nyo Tiang Pek makin terheran dan kagum sekali melihat gerakan Naga Terbang Memutar Ekor ini dan sebelum ia dapat menyerang lagi, tahu-tahu tubuh Lo Sin sudah melayang naik ke atas genteng dan menghilang cepat sekali!
Nyo Tiang Pek menghela napas dan berkata.
"Sungguh lihai. Sayang ia jahat."
Kemudian orang tua ini memandang kepada gadisnya yang masih berdiri tanpa dapat bergerak di dekat tembok dan ia makin marah ketika melihat betapa dari kedua mata Lee Ing mengalir keluar air mata.
"Sungguh memalukan kau ini! Apa kerjamu di atas genteng dan bercakap-cakap dengan seorang penjahat? Apakah kau kenal padanya? Ah, Ing-ji, kalau para tamu mengetahui hal ini, bukankah kita semua akan mendapat malu? Hayo kau masuk ke kamarmu!"
"Ayah""
Dia itu""
Pemuda tadi""
Adalah Ouw-yan-cu si Walet Hitam. Dia adalah Lo Sin, putera dari Ang Lian Lihiap!"
Pucatlah muka Nyo Tiang Pek mendengar pernyataan yang tak disangka-sangkanya ini.
"Apa katamu??"
"Benar, ayah. Aku tidak membohongimu. Dia adalah putera tunggal dari Lo Siok-hu di Tit-lee. Dan menurut katanya, Tik Kong adalah seorang jahat!"
Tiba-tiba sinar mata Nyo Tiang Pek menjadi tajam dan ia marah sekali.
"Dan kau percaya kepadanya? Anak bodoh! Pemuda itu, biarpun ia anak Cin Han, akan tetapi ia telah tersesat dan menjadi perampok! Lihat saja pakaiannya, lihat saja sepak terjangnya! Ia mengejar-ngejar Tik Kong untuk membunuhnya oleh karena dulu pernah bermusuhan! Kau tahu apa? Biar dia anak Ang Lian Lihiap sekalipun, kalau dia bermaksud jahat dan hendak mencelakakan keluarga kita, aku tak rela dan takkan membiarkan saja!"
"Tapi ayah""
Mungkinkah putera Ang Lian Lihiap menjadi orang jahat?"
"Hm, siapa tahu? Ang Lian Lihiap di waktu mudanya ganas dan menjagoi di dunia kang-ouw, ia keras hati dan bagaikan seekor naga betina. Tidak heran apabila darahnya yang liar itu menurun kepada puteranya! Kalau ia memang datang dengan maksud baik mengapa dia tidak mau datang pada siang hari menemuiku yang sudah selayaknya mendapat penghormatannya oleh karena aku bagaimanapun juga lebih tua daripada ayah ibunya? Mengapa ia datang malam-malam sebagai seorang penjahat dan sama sekali tidak menghargai aku? Dia kurang ajar dan kelakuannya seperti seorang maling!"
"Tapi, ayah""
Aku dulupun masuk ke rumah orang tuanya seperti maling pula!"
"Diam dan jangan sebut-sebut hal itu lagi. Kau telah membuat aku malu setengah mati! Jangan kau membela Walet Hitam si penjahat kurang ajar itu!"
Nyo Tiang Pek marah sekali oleh karena ia merasa terhina oleh kedatangan Lo Sin yang seperti maling dan dadanya panas memikirkan bahwa Lo Sin datang hendak membunuh calon mantunya!
"Betapapun juga, ayah, apakah tidak lebih baik kalau kita selidiki keadaan Tik Kong?
Menurut kata Ouw-yan-cu, Tik Kong telah membunuh Kong Sin Ek supek!"
Makin marah Nyo Tiang Pek mendengar ini.
"Bohong besar! Si kurang ajar itu sengaja memburukkan nama Tik Kong di depanmu. Mana ada seorang murid membunuh gurunya? Tak mungkin! Apakah kau lebih percaya kepada penjahat itu daripada calon suamimu sendiri?"
"Tapi, ayah"""
Lee Ing yang keras kepala hendak membantah lagi, akan tetapi ayahnya memotong.
"Tutup mulut, dan kaumasuklah! Jangan sampai terdengar oleh tamu kita. Atau, apakah kau sengaja hendak membuat cemar dan malu nama keluarga kita?"
Melihat kemarahan ayahnya yang meluap-luap ini, Lee Ing tak berani membantah lagi dan ia lalu melompat ke atas genteng untuk kembali ke dalam kamarnya melalui jendela, dan setibanya di dalam kamar, gadis ini duduk diam bagaikan patung dengan wajah pucat dan nampak air matanya mengalir turun dengan derasnya!
Sementara itu, Nyo Tiang Pek lalu menemui calon mantunya yang bersembunyi di dalam kamar dan menuturkan akan kedatangan Ouw-yan-cu yang telah diusirnya.
Kemudian untuk menjaga keselamatan Tik Kong, Nyo Tiang Pek mengusulkan agar supaya calon pengantin ini tidak pergi lagi dari rumah situ dan besok hari melangsungkan pertemuan pengantin langsung saja dari rumahnya.
Pada malam itu juga, Tik Kong lalu menyuruh seorang utusan untuk pergi ke bentengnya dan minta kepada semua tamu supaya langsung pergi menghadiri perayaan kawin di rumah kepala kampung Nyo dan sekalian membawa alat-alat keperluan kawin.
Maka sibuklah keadaan di rumah Nyo Tiang Pek dan para pelayan merasa terheran-heran akan adanya perubahan ini, akan tetapi tak seorangpun diantara mereka dan para tamu tak pernah menyangka bahwa telah terjadi hal yang mengejutkan di atas genteng rumah keluarga Nyo pada malam hari itu.
Ketika Nyo Tiang Pek memberitahukan hal itu dengan muka marah kepada Giok Lie, nyonya ini terkejut sekali dan ia segera berlari ke dalam kamar anaknya.
Namun Lee Ing sedikitpun tidak mau memberi keterangan apa-apa, oleh karena gadis ini marah sekali terhadap keputusan ayahnya yang dianggap kurang bijaksana.
"Sudahlah, sudahlah! Ibu dan ayah memaksaku kawin dengan siapa juga aku tidak perduli! Biar ayah dan ibu bergirang dengan pilihannya, dan aku menderita dibawah paksaanmu berdua!"
Kata Lee Ing sambil membanting-banting kaki dengan marah dan sambil menangis bagaikan seorang anak kecil.
Dengan sia-sia Giok Lie menghibur anaknya, kemudian nyonya ini menemui suaminya yang masih marah.
"Apakah kita tidak salah melihat? Agaknya memang tidak mungkin anak Lian Hwa cici menjadi seorang penjahat?"
"Apakah kau juga sudah dipengaruhi oleh anak setan itu? Apakah kau lebih percaya kepadanya yang belum kita kenal daripada calon mantu kita?"
Ucapan ini dikeluarkan sambil melototkan matanya kepada Giok Lie hingga nyonya ini yang baru pertama kali melihat suaminya demikian marahnya, lalu mundur sambil menundukkan mukanya dengan bingung dan duka.
Kemarahan Nyo Tiang Pek ini memang dapat dimengerti.
Orang tua ini sedang bergirang dan berbahagia sekali menghadapi perkawinan puteri tunggalnya dan ia percaya penuh bahwa Tik Kong adalah calon suami puterinya yang tepat dan bijaksana.
Perkawinan akan dilangsungkan esok hari dan semua tamu dari semua jurusan telah berkumpul, segala-galanya telah siap tinggal menerima kedua pengantin saja.
Lalu tiba-tiba datang Lo Sin yang mengacau dan membawa berita buruk dan mengejutkan!
Sudah tentu saja Nyo Tiang Pek menjadi marah sekali karena ia menganggap bahwa Lo Sin sengaja datang mengacaukan dan hendak menghancurkan kebahagiaannya!
Apalagi ketika mendapat kenyataan bahwa Lo Sin adalah putera Cin Han, maka kemenyesalannya memuncak.
Ia mengharapkan kedatangan kedua kawan baiknya itu dan saat ini telah dinanti-nantinya dengan hati gembira karena ia memang telah rindu sekali kepada kedua suami isteri kawan baiknya itu.
Akan tetapi, apa yang terjadi?
Kedua suami isteri itu tidak datang, bahkan yang datang adalah puteranya yang mengacau!
Kalau kedatangan Lo Sin secara baik-baik sebagai tamu, tentu akan disambutnya dengan pelukan mesra, akan tetapi pemuda itu datang malam-malam dengan pedang di tangan dan dengan maksud membunuh calon mantunya!
Memikirkan ini semua, tentu saja Nyo Tiang Pek menjadi bingung, marah dan menyesal.
Ia hendak cepat-cepat melangsungkan pernikahan anaknya, lalu kemudian ia hendak segera mencari Cin Han dan mengadukan kekurangajaran Lo Sin itu.
Malam hari itu dilewati oleh keluarga Nyo tanpa dapat memeramkan mata dan dalam keadaan tidak bahagia dan semua ini adalah gara-gara Lo Sin.
Maka bertambah bencilah Nyo Tiang Pek kepada pemuda itu.
Lo Sin meninggalkan rumah keluarga Nyo dengan penuh keheranan.
Ia tidak pergi jauh, bahkan lalu kembali dan bersembunyi di atas sebatang pohon yang tinggi dan besar dan dari situ ia mengintai ke arah genteng dan pintu rumah Nyo Tiang Pek, mengintai dengan penuh perhatian oleh karena ia menanti munculnya Lui Tik Kong dari dalam rumah itu.
Sambil menanti, tak habis ia heran memikirkan kelihaian tuan rumah atau ayah gadis itu.
Ia benar-benar merasa heran oleh karena belum pernah ia menghadapi seorang lawan segagah orang tua tadi.
Kalau saja ia tidak berlaku cepat, dalam tiga jurus yang berbahaya itu saja pasti ia akan dirobohkan.
Ternyata ia menanti dengan sia-sia.
Sampai fajar menyingsing dan matahari mulai muncul, ia tidak melihat bayangan Lui Tik Kong keluar dari rumah gedung itu, hingga Lo Sin merasa benar-benar kesal dan gemas.
Kemanakah perginya penjahat itu?
Ia takkan mau berhenti mencari sebelum berhasil membekuk batang leher Lui Tik Kong.
Ia mempunyai kecurigaan sepenuhnya bahwa pemuda keparat itu tentu masih bersembunyi di dalam rumah kepala kampung itu.
Maka dengan hati-hati ia menghampiri rumah itu dari depan.
Lo Sin merasa heran sekali melihat bahwa rumah itu ternyata terhias indah dan banyak tamu yang bermalam di situ telah nampak duduk-duduk di ruang depan.
Siapakah tuan rumah ini?
Lo Sin lalu menemui seorang penduduk kampung dan bertanya kepada orang yang sudah tua ini.
"Lopek, mohon tanya, siapakah pemilik rumah ini dan sedang diadakan pesta apakah di situ?"
Kakek petani itu memandang kepada Lo Sin dengan heran.
"Bukankah tuan juga hendak bertamu? Rumah itu adalah rumah Nyo-chungcu yang sedang merayakan perkawinan puterinya."
Tiba-tiba bagaikan baru sadar dari mimpi, Lo Sin teringat akan bunyi surat Nyo Tiang Pek kepada orang tuanya, maka cepat-cepat dan dengan wajah berubah ia bertanya.
"Lopek yang baik, siapakah nama kepala kampung she Nyo ini dan siapa pula nama puterinya, hendak dikawinkan dengan siapa?"
Pertanyaan yang datang bertubi-tubi ini membuat kakek itu tercengang, akan tetapi kemudian ia tersenyum sambil menjawab.
"Pertanyaan-pertanyaanmu ini aneh, Nyo-chungcu bernama Nyo Tiang Pek, seorang pendekar gagah yang berjuluk Kim-jiauw-eng si Garuda Kuku Emas. Sedangkan puterinya yang hendak dikawinkan adalah nona Nyo Lee Ing yang cantik dan yang gagah pula. Calon suami Nyo-siocia juga bukan sembarangan orang. Dia adalah seorang perwira yang cakap dan gagah serta berkedudukan tinggi. Namanya Lui Tik Kong dan"""
"Terima kasih, lopek!"
Lo Sin memotong kata-kata ini dengan muka pucat sekali, lalu ia lari dari depan kakek itu yang memandangnya dengan melongo keheranan.
Sambil berlari Lo Sin merasakan betapa jantungnya memukul keras.
Ah, jadi orang tua yang gagah perkasa adalah Nyo-pekhu, pikirnya.
Pantas saja ia demikian gagah dan ilmu pedangnya demikian tinggi.
Dan gadis itu, gadis yang dulu dilihat di dekat rumahnya, yang berdiri kehujanan di tepi jalan, gadis yang menarik hatinya, yang selalu terbayang di depan matanya gadis itu adalah Nyo Lee Ing, puteri Nyo Tiang Pek.
Amboi""
Gadis ini adalah gadis pilihan kedua orang tuanya, yang telah dilamar untuk dijodohkan dengannya dan yang telah membuat ia marah kepada ayah ibunya.
Kini gadis ini hendak dikawinkan dengan Lui Tik Kong si keparat yang hendak dibunuhnya.
Memikirkan semua ini Lo Sin menjadi pening dan debar jantungnya makin mengeras.
Tidak bisa!
Tidak bisa!
Ia harus menghalangi perkawinan ini, biarpun ia harus berkorban dengan nyawa sekalipun.
Puteri Nyo-pekhu tidak boleh menjadi isteri bangsat penjahat pengkhianat itu.
Lo Sin berlari cepat menuju ke rumah Nyo Tiang Pek.
Ia marah sekali, marah kepada Lui Tik Kong.
Bencinya terhadap pemuda itu meluap dan membuatnya menjadi seperti orang gila.
Ketika ia tiba di depan pintu rumah keluarga Nyo dan melihat betapa para tamu telah duduk dengan wajah gembira, ia tidak dapat menahan kemarahannya lagi.
Sambil menerjang masuk dan menendang roboh meja-meja yang terpasang di situ hingga meja kursi beterbangan ke sana ke mari membuat para tamu terkejut dan geger, ia berteriak-teriak bagaikan orang gila.
"Lui Tik Kong, bangsat hina dina! Keluarlah untuk terima binasa!"
Sebagian besar para tamu itu terdiri dari orang-orang yang mengerti ilmu silat, hingga mereka yang merasa diri berkepandaian dan berkewajiban membela tuan rumah yang mereka hormati, lalu berdiri dengan muka tidak senang.
Dua orang muda yang mengerti ilmu silat lalu maju menghalang di depan Lo Sin sambil menuding dan memaki.
"Bangsat gila dari mana berani datang membuat kekacauan?"
Mata Lo Sin menjadi merah melihat adanya orang-orang yang berani menghadang. Ia menubruk sambil berseru.
"Minggir kamu!"
Dua orang tamu muda itu mencoba untuk mengelak dan membalas menyerang akan tetapi tanpa mereka ketahui bagaimana Lo Sin bergerak, tahu-tahu leher mereka telah tertangkap oleh kedua tangan Lo Sin dan sekali pemuda ini menggerakkan kedua tangannya, tubuh mereka terlempar jauh ke kanan kiri dan roboh menimpa tamu-tamu lain!
Empat orang tamu yang menjadi marah maju lagi, akan tetapi dalam dua gebrakan saja, kembali empat orang ini dibikin jatuh tunggang langgang oleh Lo Sin yang sedang marah dan mengamuk.
"Bangsat besar Lui Tik Kong! Hayo keluarlah menebus dosa!"
Kembali Lo Sin berseru dengan keras bagaikan orang kemasukan setan.
Kembali ia menendang-nendang meja kursi di kanan kirinya hingga keadaan menjadi makin kalut.
Memang pada saat itu Lo Sin sudah lupa akan segala-galanya, yang teringat hanyalah malapetaka yang menimpa keluarga Nyo dengan datangnya penjahat she Lui yang entah bagaimana telah berhasil memikat hati mereka hingga hendak diambil mantu, dijodohkan dengan gadis keluarga Nyo yang manis dan menarik hati itu!
Malapetaka yang mengancam ini terlampau berat menekan perasaan Lo Sin yang masih muda, maka hal ini menggelorakan semangat perlawanannya dan menambah rasa bencinya kepada Lui Tik Kong!
"Bangsat she Lui!
Benar-benarkah kau begitu pengecut tak berani keluar?
Kong peh-peh telah menantimu di pintu akhirat!"
Diantara para tamu yang berkepandaian tinggi, terdapat pula dua orang kakek pendekar yang menjadi kawan baik Nyo Tiang Pek, bahkan juga menjadi kawan baik Kong Sin Ek dan Ang Lian Lihiap serta Cin Han di waktu para pendekar itu masih muda.
Mereka ini dulu ketika mudanya tinggal di Tit-lee dan mendapat julukan Sepasang Naga dari Tit-lee.
Mereka adalah dua orang hiap-kek bersaudara yang bernama Ong Su dan Ong Bu.
Keduanya merupakan anggauta rombongan Nyo Tiang Pek yang dulu ketika masih muda menyerbu dan menghancurkan perkumpulan jahat Pek-lian-kauw dan boleh dibilang bahwa Ong Su dan Ong Bu ini adalah sahabat-sahabat kekal dari Nyo Tiang Pek, juga sahabat-sahabat baik Cin Han dan Lian Hwa.
Keduanya membuat nama besar di kalangan kang-ouw ketika muda oleh karena permainan tombak mereka memang lihai sekali.
Kini kedua kakek ini sengaja datang memenuhi undangan Nyo Tiang Pek, maka mereka hadir di situ pada saat Lo Sin mengamuk.
Ketika Sepasang Naga dari Tit-lee melihat amukan seorang pemuda berpakaian hitam yang sedang marah bagaikan kemasukan iblis mereka menjadi tidak senang.
Apalagi setelah Lo Sin menjatuhkan beberapa orang tamu dengan mudahnya, mereka lalu melompat maju sambil membentak keras.
"Pengacau muda tak tahu adat! Jangan berlaku kurang ajar!"
Mereka ini lalu maju menyampok tangan ke arah muka Lo Sin. (Lanjut ke
Jilid 06) Si Walet Hitam/Ouw Yan Cu (Seri ke 03 Serial Si Teratai Merah) Karya . Asmaraman S. Kho Ping Hoo
Jilid 06 Si Walet Hitam berkelit ke kiri dari sampokan tangan Ong Su, akan tetapi hampir saja ia terkena pukulan tangan Ong Bu hingga cepat-cepat ia menangkis.
Tangkisan ini membuat keduanya terkejut oleh karena Ong Bu merasa betapa lengan tangannya sakit sekali sedangkan Lo Sin juga terhuyung beberapa langkah!
"Minggir, minggir!
Aku tidak ingin berkelahi dengan siapa juga!
Minggirlah semua!
Aku hanya ingin menangkap bangsat Lui Tik Kong!"
Teriak Lo Sin tanpa memperdulikan kedua kakek yang tangguh itu.
"Bangsat muda, apakah kau ingin mati?"
Sambil berseru demikian, Ong Su lalu maju menyerang lagi dengan pukulan ke dada Lo Sin, akan tetapi kembali Lo Sin menangkis dengan tangannya sambil mengerahkan tenaga hingga Ong Su terpental dengan penuh heran dan terkejut.
Tak disangka sama sekali oleh Sepasang Naga dari Tit-lee ini bahwa anak muda yang mengamuk itu demikian tangguhnya!
Memang semenjak pergi dan pindah dari Tit-lee belasan tahun yang lalu, kedua orang kakek ini tak pernah menginjakkan kaki di Tit-lee hingga mereka tidak kenal kepada Lo Sin dan tidak tahu akan keadaan di kota itu.
Namun, sebagai sepasang pendekar tua yang telah membuat nama besar di dunia kang-ouw, mereka merasa malu kalau sampai mundur dan jerih menghadapi seorang pemuda, maka keduanya lalu mengeroyok.
"Jiwi, mundurlah! Aku tidak ingin bertempur melawan kalian!"
Lo Sin berseru sambil menendang-nendang meja yang masih malang melintang di situ.
Ia menendang meja kursi hingga beterbangan bukan saja untuk melampiaskan marah dan mendongkolnya, akan tetapi juga untuk mencari tempat yang agak lega oleh karena ia maklum bahwa ia tentu akan menghadapi pengeroyokan sedangkan kedua orang kakek yang mengeroyoknya ini saja sudah berkepandaian begini tinggi!
Ketika Ong Su dan Ong Bu tetap mendesaknya dengan pukulan-pukulan maut.
Lo Sin lalu memperlihatkan ketangkasan dan kegesitannya.
Dengan ginkang warisan ibunya dan lweekang warisan ayahnya ia dapat mempermainkan kedua orang kakek gagah ini bagaikan seekor kucing mempermainkan dua ekor tikus!
Tubuhnya berkelebat ke sana ke mari dan tiap kali ia mendapat kesempatan untuk melancarkan serangan maut, ia hanya mendorong saja tubuh kakek itu hingga Ong Su dan Ong Bu beberapa kali terdorong sampai menabrak kursi atau meja!
Kedua Naga dari Tit-lee menjadi kagum dan juga marah sekali.
Diam-diam mereka teringat kepada Ang Lian Lihiap ketika melihat sepak terjang pemuda ini di dalam hati mereka menduga-duga siapa adanya pemuda baju hitam yang luar biasa lihainya ini.
"Tik Kong, keluarlah kamu!!"
Lagi-lagi Lo Sin berteriak dan ia lalu mendesak kedua pengeroyoknya dan lari ke dalam dengan maksud hendak mencari ke dalam rumah!
Akan tetapi pada saat itu, dari dalam rumah keluarlah seorang tua gagah perkasa dengan pedang di tangan dan orang tua ini tak lain ialah Nyo Tiang Pek sendiri!
Wajah orang tua ini merah karena marah dan matanya menyinarkan cahaya yang seakan-akan hendak membakar tubuh Lo Sin yang segera memandangnya dengan sikap hormat.
"Nyo-pekhu, maafkan aku dan harap kau orang tua suka menyerahkan bangsat she Lui itu kepadaku!"
Kata Lo Sin dengan sikap menghormat.
"Anak muda, apakah benar kau bernama Lo Sin dan putera dari Lian Hwa dan Cin Han?"
Tanya Nyo Tiang Pek dengan suara keren dan ia menahan marahnya sedapat mungkin.
"Benar, Nyo-pekhu. Akan tetapi kedatanganku ini atas kehendakku sendiri dan aku harus menangkap dan membinasakan bangsat she Lui itu. Serahkanlah dia kepadaku dan lain waktu aku bersama kedua orang tuaku tentu akan datang menghaturkan maaf atas kelancanganku ini."
Semua orang, terutama Ong Su dan Ong Bu, terkejut mendengar bahwa anak muda ini benar-benar adalah putera Ang Lian Lihiap dan Hwee-thian Kim-hong yang sangat terkenal.
"Lo Sin! Perbuatanmu kali ini sungguh mencemarkan nama orang tuamu! Kau minta hal yang bukan-bukan. Tidak tahukah kau bahwa Lui Tik Kong adalah calon mantuku dan hari ini kami sedang merayakan perkawinannya dengan puteriku?"
"Inilah celakanya! Perkawinan ini harus dibatalkan! Harus, kataku! Puterimu tidak boleh kawin dengan bangsat pengkhianat rendah itu! Dia itu telah membinasakan Kong Sin Ek pek-hu! Dia itu telah menganiaya Kong peh-peh hingga orang tua itu menemui kematiannya. Dia harus dihukum."
"Kau bohong dan jangan mengandalkan kegagahan orang tuamu untuk mengacau di sini!"
Seru Nyo Tiang Pek dengan marah.
"Aku tidak membohong, Nyo-pekhu, dan orang tuaku jangan dibawa-bawa dalam hal ini!"
Jawab Lo Sin yang menjadi marah dan tidak sabar melihat bahwa orang tua ini tidak mau mengerti dan demikian kukuh.
"Anak muda kurang ajar! Jangan kau hendak berlagak di depan Nyo Tiang Pek!"
Seru si Garuda Kuku Emas dan secepat kilat ia menyerang dengan pedangnya ke arah dada Lo Sin.
"Nyo-pekhu, aku tidak berani mengangkat senjata terhadap kau orang tua!"
Seru Lo Sin yang cepat menangkis serangan berbahaya itu.
Akan tetapi Nyo Tiang Pek yang sudah menjadi marah sekali oleh karena merasa malu mendengar calon mantunya dihina di depan orang banyak, lalu melancarkan serangan bertubi-tubi dan setiap serangannya adalah gerakan ilmu pedang kelas tinggi yang amat berbahaya dan lihai!
Tentu saja Lo Sin harus curahkan seluruh perhatian dan kepandaiannya untuk menghindarkan diri dari ancaman pedang pendekar tua itu.
Sampai duapuluh jurus Nyo Tiang Pek menyerang, akan tetapi berkat kegesitannya yang luar biasa, Lo Sin dapat melesat ke sana ke mari mengelak tanpa berani membalas menyerang!
Nyo Tiang Pek merasa gemas, malu dan juga kagum, lalu mendesak makin keras sambil mengertak gigi karena marahnya.
Pedangnya berkelebatan bagaikan seekor harimau mengamuk dan mengurung diri Lo Sin dengan sinar pedangnya.
Akan tetapi Lo Sin yang sudah menerima latihan dan gemblengan dari ibunya dalam ilmu gin-kang hingga kepandaiannya dalam hal ini masih lebih tinggi daripada Nyo Tiang Pek, dapat bergerak lebih cepat lagi hingga tubuhnya lenyap dari pandangan mata, merupakan gulungan sinar hitam yang berkelebatan di antara sinar pedang lawannya.
Semua penonton melongo menyaksikan pertempuran hebat yang berlangsung di tengah-tengah ruang pesta perkawinan ini, sedangkan Ong Bu dan Ong Su yang maklum bahwa Nyo Tiang Pek sukar sekali menundukkan pemuda itu, merasa tidak enak kalau tinggal diam saja.
Mereka tadi memang ragu-ragu ketika mendengar bahwa anak muda adalah putera Ang Lian Lihiap dan Hwee-thian Kim-hong dan tidak berani segera turun tangan, akan tetapi kini setelah melihat betapa Nyo Tiang Pek betul-betul hendak menjatuhkan anak muda itu, sebagai dua orang tamu, mereka merasa mempunyai kewajiban untuk membantu tuan rumah menghalau seorang pengacau.
Apalagi tuan rumah ini adalah sahabat karib mereka.
Cepat sekali kedua jago tua ini lalu mencari tombak dan dengan tombak di tangan mereka lalu menyerbu.
Ilmu silat tangan kosong Sepasang Naga dari Tit-lee memang tidak seberapa tinggi maka mereka tadi dipermainkan oleh Lo Sin, akan tetapi setelah mereka memegang tombak, maka tombak mereka segera terputar mengeluarkan angin dingin dan menambah tebal dan kuatnya sinar pedang Nyo Tiang Pek ketika mereka maju dari kanan kiri mengurung Lo Sin.
Bukan main terkejutnya Lo Sin melihat kehebatan ilmu tombak ke dua saudara Ong yang tua ini.
Dengan cepat pemuda ini lalu merobah ilmu pedangnya dan ia lalu menggunakan kepandaiannya dan memainkan ilmu pedang Hwie-sian-liong-kiam-sut bagian mempertahankan diri, yakni gerak tipu Naga Sakti Mandi di Air.
Tubuh Lo Sin berdiri di tengah-tengah bagaikan seekor naga sakti melingkar dan pedangnya digerakkan sedemikian rupa sehingga seluruh tubuhnya tertutup oleh sinar pedang dan ketika ia mainkan Ilmu Pedang Naga Sakti Mandi di Air ini, segera terasa hawa yang amat dingin menjalar keluar dari angin gerakan pedangnya.
Nyo Tiang Pek dan kedua saudara Ong menjadi heran dan terkejut sekali.
Mereka merasa betapa hawa dingin itu menyerang lengan tangan mereka hingga terasa kesemutan.
Dilihatnya bahwa Lo Sin seakan-akan tidak bergerak, akan tetapi pedang di tangan pemuda itu berada di mana-mana dan selalu dapat menangkis dengan tenaga luar biasa pada tiap saat senjata ketiga pengeroyoknya mengancam.
Inilah kemujijatan Hwie-sian-liong-kiam-sut yang jarang diperlihatkan kepada umum hingga biarpun Nyo Tiang Pek dan kedua saudara Ong itu sendiri selamanya belum pernah menyaksikan ilmu pedang yang luar biasa ini.
Dengan ilmu pedangnya yang mujijat, Lo Sin dapat menahan serangan ketiga jago tua itu, biarpun ia sama sekali tidak pernah membalas menyerang.
Tiba-tiba dari dalam berkelebat bayangan putih yang gerakannya cepat sekali dan sebatang pedang tipis menyerbu masuk dan berhasil memasuki tembok baja yang dibuat oleh pedang Lo Sin.
Hampir saja pundak Lo Sin terluka oleh pedang ini dan ia menjadi terkejut sekali.
Ketika ia memperhatikan, ternyata yang menyerang nya adalah seorang wanita setengah tua yang berwajah cantik dan bergaya lembut.
Wajahnya ini hampir sama dengan wajah Lee Ing dan melihat ilmu gin-kang yang hebat itu Lo Sin dapat menduga bahwa wanita ini tentulah Coa Giok Lie isteri Nyo Tiang Pek, atau sumoi dari ibunya sendiri.
"Ie-ie""! Kau tentu Ie-ie Giok Lie!"
Lo Sin berseru dengan terharu.
Memang Ang Lian Lihiap menganggap Giok Lie sebagai adik kandung sendiri maka ia menyuruh anaknya menyebut ie-ie atau bibi kepada nyonya Nyo Tiang Pek itu.
Mendengar seruan ini, terdengar isak tangis dari mulut Giok Lie karena hatinya terharu, dan nyonya ini berkata dengan suara halus.
"Lo Sin, janganlah kau melawan pek-humu. Menyerahlah, nak dan mari kita berunding secara baik-baik!"
Lo Sin memikir bahwa ia takkan dapat bertahan terus dengan mempertahankan diri tanpa membalas menyerang, sedangkan untuk menyerang, tidak berani.
Apalagi setelah ie-ienya yang berkepandaian tinggi dan memiliki ilmu gin-kang luar biasa itu ikut menyerbu, ia tidak tahu berapa lama pertempuran ini akan berlangsung.
Akhirnya ia tentu akan membalas dan kalau sampai ia kesalahan tangan melukai pek-hunya atau ie-ienya, hal ini tentu akan menimbulkan keributan besar.
Setelah memutar otaknya, ia lalu berseru keras.
"Awas pedang!"
Dan tiba-tiba saja ia merobah ilmu pedangnya dan kini ia mainkan Hwie-sian-liong-kiam-sut bagian menyerang, yakni gerakan Naga Sakti Mandi di Api.
Hawa pedangnya tiba-tiba berubah panas dan gerakannya ganas dan dahsyat sekali.
Terkejut sekali para pengeroyoknya dan untuk sesaat mereka melangkah mundur dengan tercengang.
Memang inilah yang dikehendaki oleh Lo Sin.
Ia memang hanya ingin menggertak saja agar kepungan itu menjadi terbuka.
Saat itu digunakan olehnya untuk melompat cepat ke dalam rumah.
Kecepatannya memang luar biasa dan gerakannya tiada ubahnya seperti seekor burung walet hitam menyambar.
Suami isteri Nyo dan kedua saudara Ong terkejut sekali dan Nyo Tiang Pek dengan suara parau lalu berseru.
"Kejar!"
Lalu mereka beramai mengejar dengan cepat ke dalam rumah.
Para tamu di luar menjadi geger dan bingung, tak tahu harus berbuat apa.
Yang bernyali kecil diam-diam keluar dan tergesa-gesa meninggalkan tempat itu.
Yang rakus lalu mempergunakan kesempatan pada saat semua orang tidak ada yang memperhatikannya, menyambar makanan dan memenuhi mulutnya dengan hidangan-hidangan terbaik.
Ketika Lo Sin melompat ke dalam ruang dalam, ternyata keadaan di situ sepi oleh karena semua pelayan laki-laki dan wanita telah lari bersembunyi ketakutan ketika di luar terjadi pertempuran tadi!
Lo Sin memandang ke sana ke mari mencari-cari, dan ketika itu melihat seorang pelayan hendak melarikan diri dari pintu belakang.
Ia cepat melayang dan menangkap pundak pelayan itu, ia menempelkan pedangnya di leher orang lalu membentak dengan suara mengancam.
"Di mana adanya calon pengantin laki-laki? Hayo cepat beritahukan padaku!"
"Dia""
Dia telah semenjak tadi melarikan diri ke belakang!"
Dalam keadaan yang tegang itu, Lo Sin masih teringat kepada Lee Ing, maka ia lalu bertanya lagi.
"Dan di mana nona Lee Ing?"
"Nyo-siocia""
Berlari mengejar pengantin laki-laki dengan pedang di tangan!"
Lo Sin lalu mendorong pelayan itu hingga terjengkang, dan saat itu Nyo Tiang Pek dan yang lain-lain telah mendatangi dengan pedang terangkat.
"Bangsat muda she Lo jangan lari!"
Teriak Nyo Tiang Pek sambil mengirim serangan hebat.
Lo Sin menangkis dengan keras hingga Nyo Tiang Pek merasa telapak tangannya tergetar, kemudian Lo Sin melompat pergi melalui pintu belakang sambil berteriak.
"Nyo-pekhu, lain waktu aku akan datang memohon maaf darimu!"
Ketika Nyo Tiang Pek, Giok Lie dan kedua saudara Ong mengejar ke belakang, mereka tidak melihat lagi bayangan Lo Sin.
Giok Lie segera berlari memasuki kamar Lee Ing, akan tetapi dengan terkejut ia mendapatkan pakaian pengantin telah rusak dan tersobek berhamburan di atas pembaringan, sedangkan gadis itu sendiri telah pergi entah ke mana!
Pedang Lee Ing yang biasanya tergantung di dinding juga turut lenyap!
Giok Lie menjatuhkan diri di atas pembaringan sambil menangis dan memanggil-manggil nama puterinya!
Nyo Tiang Pek berlari ke kamar di mana Lui Tik Kong bersembunyi akan tetapi ia juga tidak dapat menemukan bayangan calon mantunya ini!
Nyo Tiang Pek dan Giok Lie lalu bertanya kepada para pelayan dan ketika semua pelayan melihat bahwa pengacau telah pergi, mereka datang berkerumun dan ramai menceritakan peristiwa yang terjadi di ruang dalam pada saat di luar terjadi pertempuran itu.
Ternyata bahwa pada saat Lo Sin berteriak-teriak memaki-maki nama Lui Tik Kong dan mengamuk di ruang tamu, Lee Ing mendengar juga.
Gadis ini dengan hati tidak karuan rasa lalu menjenguk ke luar dan melihat betapa Lo Sin dikeroyok oleh ayah ibunya dan oleh kedua orang tua she Ong.
Ia merasa malu sekali oleh karena peristiwa hebat yang terjadi pada saat perkawinannya dirayakan ini tentu akan menjadi buah tutur orang-orang dan memalukan nama keluarganya.
Aneh, ia tidak menjadi marah kepada Lo Sin yang dianggapnya telah menolongnya daripada bahaya dikawin oleh seorang penjahat!
Bahkan ia menumpahkan kemarahannya kepada Lui Tik Kong.
Pada saat itu, Tik Kong yang ketakutan dengan wajah pucat sekali keluar pula dari kamarnya dan ketika melihat Lee Ing, ia lalu berkata.
"Niocu, marilah kita melarikan diri!"
"Ah, orang tak tahu malu! Mengapa melarikan diri? Hayo kau keluar dan lawanlah dia kalau kau memang laki-laki gagah!"
"Niocu, jangan begitu. Dia""
Dia mau membunuhku. Bukankah aku suamimu? Hayo kau pergi ikut aku melarikan diri!"
"Bangsat hina!"
Lee Ing berseru sambil memaki-maki dan berlari masuk ke dalam kamarnya sendiri.
Di situ Lee Ing lalu melepaskan baju pengantin dan merobek-robeknya hingga berkeping-keping, kemudian dengan cepat ia mengenakan pakaian ringkas dan mengambil pedangnya terus digantung di pinggang.
Pada saat itu, kembali terdengar suara Lui Tik Kong di luar kamarnya.
"Niocu, isteriku yang manis, marilah kita pergi meninggalkan tempat yang berbahaya itu!"
Bukan main marah dan sebal hati Lee Ing mendengar ini. Ia menendang daun pintu kamarnya dan mencabut pedangnya.
"Tutup mulutmu yang kotor! Siapa sudi menjadi isterimu?"
Bukan main kagetnya Tik Kong melihat bahwa Lee Ing telah berganti pakaian dan bahkan kini berdiri dengan sikap mengancam dan pedang di tangan, maka ia lalu melarikan diri.
"Bangsat jangan kau lari, kau harus membuat pengakuan dulu tentang terbunuhnya Kong Sin Ek!"
Mendengar ini, Lui Tik Kong makin takut oleh karena maklum bahwa rahasianya telah diketahui oleh calon isterinya itu, maka tanpa menoleh lagi ia berlari makin keras meninggalkan tempat itu.
Lee Ing sambil memaki-maki lalu lari mengejar dengan pedang di tangan!
Melihat bahwa Lui Tik Kong telah melarikan diri oleh karena takut kepada Lo Sin dan betapa Lee Ing juga melarikan diri, sedangkan Lo Sin yang menjadi biang keladi kekacauan itu tidak tertangkap, maka saking marah dan malunya Nyo Tiang Pek berseru keras dan roboh pingsan!
Giok Lie menangis dengan sedih, bingung dan juga malu.
Akan tetapi nyonya ini yang mempunyai kesabaran lebih besar dan mempunyai kebijaksanaan lalu bertindak tegas.
Dengan segera ia mengangkat tubuh suaminya yang pingsan itu ke dalam kamar, merebahkannya di atas pembaringan dan minta kepada semua orang supaya jangan mengganggu dan semua pelayan lalu diperintahkan pulang meninggalkan rumahnya.
Setelah itu, nyonya ini lalu bertindak keluar dan menjura kepada semua tamunya dan dengan hormat berkata.
"Cuwi sekalian yang mulia. Kami merasa sangat menyesal bahwa kami telah mengecewakan cuwi sekalian oleh karena terpaksa kami mengumumkan bahwa perayaan ini dibatalkan. Cuwi maklum bahwa telah terjadi peristiwa yang semua timbul oleh karena kesalahpahaman dan kami harap sudilah kiranya cuwi memandang muka kami untuk tidak menyiarkan berita mengenai peristiwa ini agar jangan sampai ditambah-tambah dan dibesar-besarkan oleh mulut orang-orang yang tak tahu malu dan jail! Namun kami percaya penuh bahwa cuwi tentu bukan tergolong orang-orang yang jail seperti itu.
"Pernikahan puteri kami dibatalkan dan anggaplah bahwa perkawinan ini tidak jadi diadakan. Kami minta maaf sebanyak-banyaknya kepada cuwi sekalian oleh karena suami saya tidak dapat mengantar cuwi keluar dan tidak dapat menghaturkan maaf sendiri oleh karena suami saya menderita sakit dengan tiba-tiba. Sekali lagi maaf dan banyak-banyak terima kasih kami haturkan atas budi kebaikan cuwi sekalian."
Semua tamu mendengar suara yang diucapkan dengan halus, tetapi nyaring dan mengandung sindiran yang melarang mereka menyiarkan terjadinya peristiwa itu, tidak ada yang berani membuka mulut dan kemudian mereka pergi seorang demi seorang berpamitan dan meninggalkan tempat itu pulang ke tempat masing-masing.
Setelah semua orang pergi, Ong Su dan Ong Bu juga berpamitan sebagai orang-orang yang terakhir.
Ketika menghadapi kedua saudara Ong, yang telah menjadi sahabat baiknya itu, tiba-tiba sikap Giok Lie berubah.
Tadi ia bersikap gagah dan tidak mau memperlihatkan kelemahannya terhadap para tamu, akan tetapi sekarang menghadapi kedua saudara Ong yang telah dikenalnya sebagai sahabat-sahabat baik, ia tidak dapat menahan lagi jatuhnya air mata dan menangis tersedu-sedu sambil menjatuhkan dirinya di atas sebuah kursi!
Ong Bu dan Ong Su saling memandang sambil menghela napas.
"Sudahlah jangan terlalu bersedih, toanio,"
Hibur Ong Su.
"hal ini harus kau hadapi dengan tabah dan tenang. Lebih baik segera dapat dibereskan."
"Benar, toanio. Berduka saja tidak ada artinya bahkan akan merusak semangat dan kesehatan sendiri. Sekarang perkenankanlah kami berdua kembali dulu,"
Berkata Ong Bu.
Giok Lie mengangkat muka dan mengangguk, bibirnya bergerak menyatakan terima kasihnya.
Setelah kedua saudara Ong ini pergi, ia lalu kembali ke kamar suaminya dan ternyata Nyo Tiang Pek telah sadar dari pingsannya dan kini duduk di atas pembaringan sambil menghela napas panjang pendek.
Ketika melihat isterinya masuk, ia lalu berkata dengan tetap.
"Isteriku, kita harus segera pergi ke Tit-lee untuk membalas sakit hati ini kepada Cin Han dan Lian Hwa. Kalau kedua orang itu tidak bisa mengajar anak mereka, biarlah kita yang menghajar mereka. Biarlah, betapapun pandai dan lihainya Ang Lian Lihiap dan Hwee-thian Kim-hong, aku Nyo Tiang Pek kalau disinggung kehormatanku, tidak merasa takut dan hendak mengadu jiwa dengan mereka!"
Giok Lie terkejut, lalu dengan gerakan halus duduk di samping suaminya.
"Suamiku, di mana ketenanganmu yang dulu, dan jangan melakukan sesuatu menuruti nafsu marah yang sedang menggelombang. Siapa tahu kalau cici Lian Hwa dan suaminya tidak tahu menahu dalam hal ini, hingga kalau kita tiba-tiba muncul sambil marah-marah bukankah kita yang keterlaluan? Dalam hal ini kita harus berlaku hati-hati dan berpikir luas.
"Memang tindakan Lo Sin itu keterlaluan dan terlalu menghina kita, sama sekali tidak memikirkan akibat yang ditimbulkan oleh pengacauannya itu hingga kita mendapat malu besar. Akan tetapi, bukankah lebih baik kita selidiki secara teliti sebab-sebab yang menjadikan ia bersikap demikian? Dan mengapa pula anak kita sampai lari mengejar Tik Kong sambil membawa pedang? Semua ini terlalu aneh dan membingungkan bagiku, maka lebih baik kita berlaku hati-hati."
Untuk sejenak Nyo Tiang Pek berdiam saja, tanda bahwa ia sedang berpikir keras. Kemudian ia menghela napas dan berkata.
"Dasar anak kita yang keras kepala! Kita jangan terlalu percaya kepada anak kurang ajar she Lo itu! Memang, kalau kita memikirkan keadaan orang tuanya, kita bisa menjadi lemah. Bukankah kau dan aku sudah tahu sampai habis sikap Tik Kong yang benar-benar jujur dan baik? Sudahlah, kalau kau tidak setuju kita menyerbu ke Tit-lee, sedikitnya aku mau menulis surat tegoran kepada Ang Lian Lihiap dan Hwee-thian Kim-hong agar mereka mau menyelidiki keadaan putera mereka yang tidak tahu adat itu!"
Giok Lie menghela napas dan ia cukup tahu akan kekerasan hati suaminya.
Sedikitnya ia telah berhasil menahan maksud Nyo Tiang Pek yang hendak menyerbu dan mengadu jiwa dengan Ang Lian Lihiap dan suaminya.
Nyo Tiang Pek lalu membuat sepucuk surat kepada Cin Han dan Lian Hwa.
Oleh karena ketika menulis surat itu hatinya masih panas dan marah, maka sudah tentu saja suaranya berbunyi keras dan marah pula.
Ia lalu menutup surat itu dan menyuruh seorang kampung untuk segera berangkat ke Tit-lee pada hari itu juga untuk mengantar surat itu kepada Lo Cin Han.
Ia bahkan memberi seekor kuda kepada pesuruh itu agar dapat segera sampai di Tit-lee.
Oleh karena mendapat pesan dari Nyo Tiang Pek agar cepat-cepat mengantar surat tanpa banyak menunda perjalanan, maka pesuruh itu lalu membalapkan kudanya menuju ke Tit-lee.
Sepekan kemudian, dengan pakaian penuh debu dan lelah sekali, pesuruh itu tiba di Tit-lee lalu menyerahkan surat Nyo Tiang Pek kepada Lo Cin Han suami isteri.
Kebetulan sekali pada waktu itu Lian Hwa dan suaminya sedang duduk di ruang depan dan mereka heran melihat datangnya seorang penunggang kuda.
Ketika penunggang kuda itu sudah turun dari kudanya dan menanyakan nama mereka, lalu ia mengeluarkan sepucuk surat dan menyerahkannya kepada Cin Han.
"Terima kasih, akan tetapi saya terpaksa tidak dapat menerima kebaikan taihiap, oleh karena saya setelah memberikan surat ini harus segera kembali tanpa menanti balasan,"
Jawab penunggang kuda itu yang terus menaiki kudanya kembali dan pergi dari situ.
Cin Han dan Lian Hwa saling memandang dan mengangkat pundak karena merasa heran dan tidak mengerti melihat sikap penunggang kuda itu.
Keduanya segera ingin sekali mengetahui apakah gerangan isi surat Nyo Tiang Pek.
Dibukanya surat itu dan dibaca oleh mereka berdua dengan berbareng.
Alangkah terkejut mereka membaca surat yang keras bunyinya itu sehingga keduanya menjadi merah mukanya dan menahan napas.
Bunyi surat itu memang keras sekali.
Saudara Lo Cin Han dan Han Lian Hwa!
Kalau sekiranya aku tidak ingat bahwa kalian adalah sahabat-sahabat baikku dan kalau saja isteriku tidak mencegahku, mungkin bukan surat ini yang kini berada di hadapan kalian, akan tetapi aku sendiri dengan pedang di tangan!
Seperti kalian ketahui, kami merayakan hari perkawinan anak kami Lee Ing, dan kalian pun sudah kami undang, sungguhpun kalian tidak mau datang menjenguk.
Hal ini bukan apa-apa dan aku takkan merasa menyesal sedikitpun, akan tetapi ketahuilah bahwa pada saat perayaan perkawinan dilakukan, tiba-tiba datang seorang pemuda yang mengacaukan pesta dan mengandalkan kepandaiannya menghina kami sekeluarga!
Tahukah kalian apa yang dilakukan oleh pemuda itu?
Ia memaksa hendak membunuh mati calon mantuku!
Bahkan ia telah berani menghadapi dan bertempur dengan aku, bahkan telah menyerang pula saudara Ong Bu dan Ong Su, kawan-kawan lama kita itu!
Entah apa yang terjadi antara pemuda itu dengan calon mantuku yang bernama Lui Tik Kong, akan tetapi menurut penuturan Tik Kong pemuda itu adalah seorang perampok jahat!
Hal ini aku belum dapat membuktikan kebenarannya.
Akan tetapi yang sudah pasti dan terbukti ialah bahwa pemuda itu benar-benar kurang ajar, tidak memandang mata kepada kami dan bahkan menghina kami, membuat kami malu dan mencemarkan nama keluarga kami.
Dengan pengacauannya yang kurang ajar itu perkawinan menjadi batal, calon mantuku melarikan diri, karena takut, bahkan anak perempuanku juga melarikan diri sehingga sekarang belum kembali.
Sayang kami tidak dapat membekuk batang leher pemuda pengacau itu!
Dan tahukah kalian siapa orang muda tak tahu adat itu?
Dia bukan lain adalah puteramu!
Dia adalah Lo Sin, yang mengandalkan kepandaian dan mungkin mengandalkan nama orang tuanya untuk menghina aku, Nyo Tiang Pek.
Kalian tentu mengerti bahwa aku marah dan menyesal kepadamu berdua.
Tak dapatkah kalian mengajar adat kepada anakmu itu?
Dengan terjadinya peristiwa yang mencemarkan nama keluarga kami itu, mulai sekarang aku tidak menganggap keluargamu sebagai kawan lagi dan harap kalian menjaga jangan sampai bertemu dengan Nyo Tiang Pek, oleh karena pertemuan itu hanya akan diakhiri dengan pertumpahan darah kita!
Sekian dan harap maklum!
Dari aku, Nyo Tiang Pek Dapat dimengerti bahwa bunyi surat itu membuat wajah kedua suami isteri ini merah sampai ke telinga.
Mereka heran, bingung, marah dan menyesal sekali.
Bahkan tangan Cin Han yang memegang surat itu sampai menggigil.
Sampai tiga kali mereka berdua membaca isi surat itu seakan-akan tidak percaya kepada mata sendiri, akan tetapi makin sering dibaca makin memerahkan telinga.
Cin Han yang biasanya lebih sabar saja tidak kuat menahan marahnya, apalagi Ang Lian Lihiap yang terkenal keras hati.
"Brakk!!"
Tiba-tiba meja di depan nyonya ini roboh dan remuk berkeping-keping terkena pukulan tangan Ang Lian Lihiap.
"Nyo Tiang Pek! Kau orang tua tak tahu diri! Makin tua kau tidak makin bijaksana, sebaliknya kau berpemandangan sempit dan berotak gelap! Apakah kau kira aku Ang Lian Lihiap takut kepadamu?"
Muka yang cantik itu merah bagaikan kepiting direbus sedangkan kedua tangannya mengepal tinju.
Sepasang matanya bersinar-sinar memandang ke arah jauh tanpa berkedip, seakan-akan pada saat itu Nyo Tiang Pek berdiri di depannya.
"Sabar, sabar, isteriku! Tenanglah kau!"
"Sabar? Kaukata aku masih harus bersabar sedangkan orang seperti si Garuda Kuku Emas itu menghina kita?? Apakah kau belum dapat mengerti atau menduga akan timbulnya peristiwa yang ia sebutkan itu? Sudah jelas bahwa calon mantunya adalah Lui Tik Kong, murid murtad dari Kong-twako yang membunuh dan menganiaya gurunya sendiri, seorang pemuda palsu dan durhaka. Maka ketika Sin-ji mencari-cari dan mendapatkan jejaknya, lalu mengetahui bahwa Tik Kong berada di tempat Nyo-twako dan bahkan akan dipungut mantu, tentu saja Sin-ji merasa marah dan hendak menghalangi perkawinan itu untuk menolong puteri Nyo-twako dan juga untuk membinasakan bangsat she Lui itu.
"Akan tetapi, agaknya mata Nyo Tiang Pek telah menjadi buta, tidak dapat melihat mana yang benar mana yang salah dan bahkan menyangka anak kita itu perampok dan pengacau. Ah, sungguh terlalu! Hendak kulihat sampai di mana kepandaian tua bangka she Nyo itu!"
Sambil berkata demikian cepat sekali tangan Han Lian Hwa mencabut pedang yang akhir-akhir ini selalu dipakainya setelah terjadi penyerhuan Hek Li Suthai.
Cin Han terkejut melihat ini.
Ia mengangkat kedua tangannya dan berkata.
"Eh, eh, kau mencabut-cabut pedang segala ini mau apakah?"
"Hendak kulihat kelihaian orang she Nyo yang telah menghina dan mencaci maki anakku yang berarti ia menghina aku sendiri!"
"Sabar, sabar! Nyo-twako tidak berada di sini, mengapa kau mengamuk tidak karuan dan mencabut pedang? Sadarlah isteriku, kalau dilihat orang dari luar, dikira kau marah-marah dan mencabut pedang hendak menikam aku!"
Cin Han mencoba untuk meredakan kemarahan isterinya dengan berkelakar.
Ia telah dapat menekan kemarahannya dan dapat pula berlaku tenang, oleh karena ia yakin bahwa di sini tentu telah terjadi kesalah pahaman.
Setelah dihibur-hibur suaminya, Lian Hwa mulai sabar dan memasukkan kembali Kong-hwa-kiam di sarung pedangnya.
"Marilah kita bicarakan dengan kepala dingin!"
Kata Cin Han sambil menarik tangan isterinya untuk duduk di sampingnya.
"Jangan kita meniru-niru Nyo-twako yang tidak dapat menahan marahnya itu. Kita bukanlah anak-anak kecil yang sedikit-sedikit lalu menjadi marah tidak karuan. Kita cukup tahu bahwa Nyo-twako tidak biasanya menghina orang, apalagi kepada kita yang menjadi kawan baiknya."
"Tidak ingatkah kau akan surat undangan itu?"
Tiba-tiba Lian Hwa yang masih panas hatinya itu memotong bicaranya.
"Semenjak semula pun Nyo-twako telah memandang rendah kepada kita! Kita dengan baik-baik melamar puterinya, akan tetapi ia tidak perduli sama sekali, bahkan menjawabpun tidak! Tahu-tahu ia mengirim surat undangan dan memberitahukan bahwa puterinya hendak dikawinkan dengan orang lain tanpa menyebut-nyebut perihal peminangan kita.
"Bukankah itu sudah cukup menghina? Kita sudah cukup bersabar dan tidak menyatakan penyesalan kita, akan tetapi sekarang ia menulis surat macam ini, memaki-maki anak kita! Kau masih mau bilang bahwa Nyo Tiang Pek tidak biasa menghina orang? Suamiku, kesabaran ada batasnya dan kalau kau memaksa-maksa aku supaya bersabar menghadapi penghinaan yang berkali-kali ini, jantungku bisa meledak!"
Cin Han memegang tangan isterinya dengan mesra dan tersenyum.
"Jangan isteriku. Kalau jantungmu meledak, siapa yang akan susah selain suamimu?"
Akan tetapi Lian Hwa menarik tangannya dan cemberut.
"Memang sikap Nyo-twako yang tidak menjawab surat lamaran kita itu sangat keterlaluan dan hal itu perlu penjelasan sejujurnya apabila kita bertemu dengan mereka. Aku akan bertanya kepadanya secara laki-laki dan secara sahabat baik. Adapun peristiwa yang terjadi dengan Sin-ji inipun perlu pula diselidiki lebih jauh. Mungkin Sin-ji yang ketularan adat keras darimu, tidak dapat menahan marah melihat Tik Kong sehingga berlaku kasar di depan Nyo-twako.
"Harus diingat bahwa pengacauan yang dilakukan oleh Sin-ji untuk menangkap Tik Kong itu telah membatalkan perkawinan anak mereka, dan tentu saja mereka menjadi malu sekali! Hal ini harus kita pertimbangkan masak-masak dan baiklah kita menanti sampai Sin-ji datang kembali untuk ditanya bagaimana duduknya peristiwa yang sebenarnya."
Di dalam, hatinya, Lian Hwa mengakui kebenaran pandangan suaminya ini, maka hatinyapun menjadi agak sabar, akan tetapi mulutnya tetap mengomel.
"Mengapa Sin-ji tidak membiarkan saja? Biarlah, biar Nyo Tiang Pek tahu rasa dan mendapatkan seorang menantu bajingan, besar!"
"Sttt, isteriku, apakah kau tidak kasihan kepada mereka? Apakah kau tidak ingat kepada Giok Lie yang begitu mencintaimu? Ingatlah, surat itu ditulis oleh Nyo-twako, bukan oleh Giok Lie. Mungkin sekali pada saat ini Giok Lie sedang menangis sedih menyesalkan sikap suaminya dan ia sedang terkenang kepadamu."
Mendengar disebutnya nama Giok Lie, tiba-tiba Lian Hwa lalu menjatuhkan mukanya di pundak suaminya dan menangis terisak-isak.
"Giok Lie...... kasihan kau, Giok Lie ,"
Keluhnya dengan suara perlahan.
"Nah, nah, kau sekarang menangis! Kau mengingatkan daku akan Ang Lian Lihiap, gadis jelita yang bisanya hanya dua macam saja itu, yakni menangis dan marah-marah!"
Kata Cin Han sambil mengusap-usap rambut isterinya. Setelah agak reda tangisnya, Lian Hwa lalu berkata kepada Cin Han.
"Kita tidak boleh mendiamkan hal ini begini saja oleh karena rasa tidak enak hati dan permusuhan akan makin mendalam. Lebih baik sekarang juga kita berangkat ke Bong-kee-san mencari Nyo-twako untuk menjelaskan dan membereskan semua perkara ini dengan damai,"
Katanya dengan suara perlahan. Cin Han mengangguk.
"Demikian pula pendapatku. Biarpun Nyo-twako telah mengeluarkan ancaman, akan tetapi jalan satu-satunya untuk membikin terang perkara yang ruwet ini hanyalah menjumpainya dan bicara dari hati ke hati sebagai sahabat-sahabat lama."
Tiba-tiba pada saat itu, dari pintu luar berkelebat masuk bayangan orang dengan gesitnya dan terdengar seruan seorang wanita dengan suara nyaring.
"Lian Hwa cici, tolonglah kami!"
Cin Han dan Lian Hwa terkejut sekali dan serentak bangkit dari tempat duduk mereka.
"Mei Ling kau kenapakah?"
Tanya Han Lian Hwa sambil memandang kepada seorang gadis cantik yang berusia kurang lebih duapuluh lima tahun dan yang segera menubruk dan memeluknya dengan menangis. Juga Cin Han terkejut sekali.
"Mei Ling duduklah dengan tenang dan ceritakan mengapa kau datang-datang menangis dengan sedih."
Gadis ini adalah seorang dara pendekar yang berilmu silat tinggi.
Namanya Song Mei Ling, dan dia ini bukan lain adalah cucu dari Song Cu Ling si Dewi Tanpa Bayangan yang menjadi guru Han Lian Hwa.
Oleh karena Mei Ling juga menjadi murid neneknya, maka Lian Hwa boleh dibilang adalah sucinya (kakak seperguruan).
Song Cu Ling atau Dewi Tanpa Bayangan adalah seorang li-hiapkek yang terkenal sekali di waktu masih hidup.
Akan tetapi nasibnya malang dan ia ditinggal mati suami dan puteranya yang meninggalkan sepasang anak kembar, yakni cucunya yang bernama Kong Liang dan Mei Ling, sepasang anak kembar laki perempuan.
Oleh karena ayah kedua anak ini telah meninggal, maka Song Cu Ling memberi she Song kepada mereka, dan ia menggunakan seluruh kepandaiannya untuk mendidik kedua anak kembar ini hingga menjadi sepasang hiap-kek yang berkepandaian tinggi.
Kakak beradik ini setelah ditinggal mati oleh nenek mereka, lalu hidup sebagai perantau-perantau yang seringkali menolong sesama hidup hingga terkenal sebagai sepasang pendekar budiman.
Lian Hwa dan suaminya sudah sering kali minta supaya kedua anak yatim piatu ini tinggal saja bersama mereka, akan tetapi Kong Liang dan Mei Ling tidak mau, bahkan ketika mereka mengunjungi Nyo Tiang Pek Coa Giok Lie yang juga terhitung suci mereka, keluarga Nyo minta mereka di Bong-kee-san, akan tetapi keduanya lebih suka melakukan pengembaraan berdua.
Anehnya sepasang anak kembar ini tidak mau kawin, agaknya mereka ini belum menemukan jodoh yang cocok sehingga pada waktu itu Kong Liang telah berusia duapuluh lima tahun, demikianpun adiknya, dan mereka masih tinggal membujang.
Seringkali keduanya datang mengunjungi Lian Hwa untuk beberapa hari, kemudian pergi lagi merantau, bagaikan dua ekor burung yang bebas lepas di udara tidak mempunyai tempat tinggal tertentu.
Oleh karena belum pernah sekali juga melihat Mei Ling datang seorang diri, maka Lian Hwa lalu bertanya.
"Mei Ling, mengapa kau datang seorang diri? Mana Kong Liang?"
Mendengar nama kakaknya disebut, kembali Mei Ling mengalirkan air mata, sehingga Lian Hwa memandang wajah yang cantik itu dengan khawatir.
"Mei Ling, lekas ceritakan apakah yang telah terjadi?"
"Cici Lian Hwa, kami mendapat kecelakaan. Kami telah bertemu dengan si iblis wanita Hek Li Suthai dan muridnya yang bernama Bi Mo-li. Ketika mereka tahu bahwa Liang-ko dan aku adalah murid dan cucu Song Cu Ling, mereka lalu menyerang kami. Akan tetapi kami berdua berhasil memukul mundur mereka. Tidak tersangka sama sekali, pada malam harinya mereka kembali bersama seorang pendeta tua sekali yang kedua lengan tangannya buntung."
"Bong Cu Sianjin!"
Kata Lian Hwa dan Cin Han dengan suara berbareng dan kaget sekali.
"Benar, pendeta itu adalah Bong Cu Sianjin yang dulu pernah menjadi ketua Pek-lian-kauw yang dipecahkan oleh cici dan kawan-kawan lain, termasuk pula nenek kami itu. Biarpun kedua lengan tangannya telah buntung, akan tetapi Bong Cu Sianjin ini lihai sekali. Setelah bertempur mati-matian, akhirnya Liang-ko terkena tendang olehnya sehingga mendapat luka parah pada dadanya."
Lian Hwa dan Cin Han terkejut.
"Dan di mana sekarang kakakmu itu berada?"
Tanya Cin Han penuh hati khawatir.
"Liang-ko kusembunyikan dalam sebuah kelenteng dan dirawat oleh kepala hwesio di kelenteng itu. Setelah Liang-ko kena tendang, aku berhasil menolong dan melarikannya di dalam gelap, sedangkan Bong Cu Sianjin lalu berkata menantang Song Cu Ling, cici dan cihu berdua, Nyo-twako berdua dan semua orang yang pernah menyerbu dan menghancurkan Pek-lian-kauw."
"Bangsat tua Bong Cu sombong sekali,"
Ang Lian Lihiap memaki.
"Apakah ia mengatakan di mana ia menantang kita?"
Tanya Cin Han yang juga merasa gemas.
"Ya, dia mengatakan bahwa dia menanti kita di Bukit Hoa-mo-san."
"Hm, tentu Lan Bwee Niang-niang masih berada di sana. Agaknya Sin-kun Mo-li (Iblis Perempuan Kepalan Dewa) itu masih belum mengubah sifatnya!"
Kata Cin Han lagi.
"Marilah kita mengunjungi Kong Liang untuk melihat keadaannya. Kemudian kita pergi ke Hoa-mo-san untuk melihat sampai di mana kelihaian mereka!"
Kata Ang Lian Lihiap yang tabah dan keras hati. Cin Han menghela napas.
"Belum juga urusan pertama kita bereskan, datang lagi urusan kedua."
"Biarlah, urusan dengan Nyo-twako kita tunda dulu dan menengok Kong Liang serta membalaskan sakit hatinya lebih penting lagi."
Inilah sifat Ang Lian Lihiap, selalu mementingkan keperluan orang lain dan membelakangkan keperluan sendiri.
Apalagi, pendekar wanita ini memang sayang sekali kepada Kong Liang dan Mei Ling yang ia anggap sebagai adik-adiknya sendiri.
Setelah mengadakan persiapan, Lian Hwa dan Cin Han lalu berangkat bersama Mei Ling hari itu juga, pergi ke kelenteng di mana Mei Ling menyembunyikan Kong Liang untuk diobati dari luka di dalam dadanya.
Memang benar dugaan Cin Han suami isteri dan keterangan Mei Ling.
Pertapa buntung yang lihai dan melukai Kong Liang itu adalah seorang pertapa tua yang tinggi ilmu kepandaiannya dan bernama Bong Cu Sianjin.
Bong Cu Sianjin dulu pernah mendirikan perkumpulan rahasia Pek-lian-kauw (Agama Teratai Putih) dan oleh karena perkumpulan ini diperalat oleh kaisar yang hendak mengadu domba dan membasmi para enghiong dan anak buah Pek-lian-kauw banyak yang melakukan kejahatan mengandalkan pengaruh perkumpulan dan kepandaian mereka, maka perkumpulan ini lalu bentrok dengan Ang Lian Lihiap, Hwee-thian Kim-hong dan kawan-kawannya.
Ketika itu suami-isteri ini masih muda, bahkan kawin, mereka berdua bersama Tiang Pek si Garuda Kuku Emas, Kong Sin Ek si Dewa Arak, Ong Su dan Ong Bu Sepasang Naga dari Tit-lee dan dengan bantuan para locianpwe yang luar biasa seperti Song Cu Ling si Dewi Tanpa Bayangan guru Lian Hwa, Gwat Liang Tojin guru Cin Han, bahkan akhirnya mendapat bantuan dari seorang pertapa sakti setengah dewa yang bernama Beng San Siansu yang akhirnya menjadi guru suami isteri Lo Cin Han dan Han Lian Hwa.
Mereka semua ini naik ke sarang Pek-lian-kauw dan di situ terjadi pertempuran-pertempuran yang luar biasa hebatnya dan yang berakhir dengan runtuhnya Pek-lian-kauw.
Di dalam pertempuran hebat ini pulalah Bong Cu Sianjin kehilangan kedua lengan tangannya hingga menjadi buntung.
Ia lalu ditolong oleh kakak seperguruannya yang bernama Lan Bwee Niang-niang dan berjuluk Sin-kun Mo-li (Iblis Perempuan Kepalan Dewa) dan yang memiliki ilmu kepandaian lebih tinggi daripada Bong Cu Sianjin.
Tentu saja kekalahan-kekalahan hebat ini membuat Bong Cu Sianjin dan Lan Bwee Niang-niang menjadi sakit hati.
Bong Cu Sianjin dibawa oleh sucinya ini ke atas puncak Gunung Hoa-mo-san dan di situ ia mendapat rawatan sehingga luka-lukanya sembuh.
Biarpun kedua lengannya telah buntung, akan tetapi karena dorongan ingin membalas dendam kepada musuh-musuhnya, Bong Cu Sianjin tiada bosannya melatih diri, bahkan ia melatih kedua kakinya yang menjadi anggauta yang kini amat diandalkan oleh karena ia tidak berlengan lagi.
Ia melatih bermacam-macam ilmu tendangan yang hebat-hebat hingga ilmu kepandaiannya bahkan lebih tinggi daripada dulu sebelum lengannya buntung!
Kini tenaga lweekangnyapun makin kuat dan seluruh tenaganya dikumpulkan pada dua kakinya.
Lan Bwee Niang-niang sebetulnya sudah kapok dan bosan mengurus urusan dunia yang selalu mendatangkan kecewa dan duka, maka urusan sakit hati ini tidak terlalu mendalam menggores hatinya.
Pertapa yang berkepandaian tinggi ini mengerti bahwa ia telah makin tua dan dalam usianya yang tua ia tidak mau mencari perkara dan bertempur.
Oleh karena itu, ia lalu menerima seorang murid yang berbakat dan ia melatih murid ini menjadi seorang yang lihai sekali.
Muridnya ini bukan lain ialah Hek Li Suthai yang berkepandaian tinggi.
Juga Bong Cu Sianjin menerima seorang murid lelaki.
Akan tetapi berbeda dengan Hek Li Suthai yang sudah berusia tinggi juga, murid Bong Cu Sianjin ini adalah seorang pemuda yang berusia paling banyak duapuluh enam tahun dan belum kawin.
Pemuda ini bernama Yap Bun Gai dan berasal dari keluarga tani.
Oleh karena pemuda ini berbakat baik, maka Bong Cu Sianjin lalu menerimanya sebagai murid dan menurunkan seluruh kepandaiannya.
Ketika mula-mula diterima menjadi murid Yap Bun Gai baru berusia limabelas tahun.
Yap Bun Gai ini selain berwajah tampan gagah dan bertubuh tinggi besar, juga ia mempunyai pikiran yang baik dan hati yang jujur.
Juga ia amat setia kepada suhunya, oleh karena ia memang kasihan sekali melihat kakek berilmu tinggi yang buntung ini.
Baik Bong Cu Sianjin, maupun Lan Bwee Niang-niang, mendidik kedua orang murid itu dengan sungguh-sungguh dan dengan maksud agar supaya murid-murid ini mewakili mereka membalas sakit hati kepada musuh-musuhnya.
Oleh karena kepandaian Hek Li Suthai telah tinggi, maka Lan Bwee Niang-niang lalu menuturkan siapa adanya musuh-musuhnya yang harus dibalas oleh murid ini, bahkan ia lalu memerintahkan muridnya ini untuk turun gunung dan pergi menyelidiki di mana adanya musuh-musuhnya itu.
Sedangkan Bong Cu Sianjin yang memang seorang berpikiran licin dan pintar, biarpun kepandaian Bun Gai tidak lebih rendah daripada Hek Li Suthai, namun kakek buntung ini tidak mau melepaskan Bun Gai pergi lebih dulu.
Bong Cu Sianjin hendak mendengar dulu keadaan musuh-musuhnya dari Hek Li Suthai, kalau to-kouw ini sudah kembali.
Oleh karena itu ia tidak mau menyuruh muridnya turun gunung untuk kemudian dikalahkan oleh musuh-musuhnya!
Maka Yap Bun Gai belum mengerti tentang sakit hati dan usaha pembalasan dendam dari gurunya ini.
Pemuda ini selain mencintai dan kasihan kepada gurunya, juga ia taat dan takut sekali, maka iapun tidak berani banyak bertanya.
Beberapa hari yang lalu, Hek Li Suthai dan muridnya yang bernama Bi Mo-li dengan cepat naik ke atas puncak Hoa-mo-san.
Sambil menangis Hek Li Suthai menceritakan kepada gurunya bahwa ia bertemu dengan sepasang saudara kembar yang bernama Kong Liang dan Mei Ling di sebuah dusun di kaki bukit Hoa-mo-san ini.
Karena ia mendengar bahwa kedua saudara kembar ini adalah adik-adik seperguruan Ang Lian Lihiap, maka ia segera menyerangnya, akan tetapi sungguh celaka, kedua saudara kembar itu terlampau tangguh dan ia tidak kuat melawannya.
Pada saat itu, Lan Bwee Niang-niang tengah duduk bercakap-cakap dengan sutenya, yakni Bong Cu Sianjin.
Mendengar kekalahan muridnya, pendeta wanita yang kini sudah banyak sabar ia tersenyum dan berkata.
"Ceng Hwa mengapa kau begitu bersedih hanya oleh karena sebuah kekalahan saja? Ketahuilah bahwa kepandaian manusia memang tidak ada batasnya, siapa yang pandai tentu ada orang lain yang melebihinya. Kau kalah dengan murid-muridnya Song Cu Ling? Jangan kau bersedih, sekarang jangan kau kembali merantau. Kau tinggal saja di sini untuk menerima pelajaran-pelajaran baru. Kutanggung dalam beberapa bulan saja kepandaianmu akan meningkat dan kau takkan dapat dikalahkan oleh murid-murid Song Cu Ling."
Akan tetapi, Bong Cu Sianjin yang mendengar tentang kekalahan murid keponakannya dan bahwa dua murid Song Cu Ling berada di bawah gunung, segera mengajak Hek Li Suthai untuk melihat sendiri sampai di mana kehebatan murid-murid Song Cu Ling itu!
Lan Bwee Niang-niang tak dapat mencegah sutenya, hanya tertawa melihat betapa sutenya itu masih saja berdarah panas!
Demikianlah, ketika Bong Cu Sianjin dengan diantar oleh Hek Li Suthai dan Bi Mo-li turun gunung dan bertemu dengan Kong Liang dan Mei Ling, akhirnya mereka bertempur dan tentu saja Kong Liang dan (Lanjut ke
Jilid 07) Si Walet Hitam/Ouw Yan Cu (Seri ke 03 Serial Si Teratai Merah) Karya . Asmaraman S. Kho Ping Hoo
Jilid 07 Mei Ling tidak kuat melawan Bong Cu Sianjin yang berilmu tinggi hingga akhirnya Kong Liang kena ditendang oleh kaki Bong Cu Sianjin yang, lihai dan dahsyat!
Baiknya Mei Ling dapat menolong dan membawa lari kakaknya dan berkat ginkangnya yang tinggi ia dapat menghilang di dalam kegelapan malam hingga mereka berdua tak sampai dibinasakan oleh tangan musuh-musuh mereka itu!
Lee Ing yang mengejar Lui Tik Kong, tak mau melepaskan pemuda yang dibencinya itu.
Tik Kong maklum bahwa apabila ia melawan, ia takkan menang menghadapi nona yang gagah perkasa itu, maka ia berlari secepat mungkin, akan tetapi Lee Ing tetap mengejar dan merupakan bayangan yang menakutkan!
Berpuluh lie mereka lalui dan ketika mereka tiba di luar sebuah hutan yang gelap akhirnya Lee Ing dapat menyusul Tik Kong.
Sebenarnya ilmu berlari cepat Lee Ing masih lebih tinggi setingkat jika dibandingkan dengan ilmu kepandaian Lui Tik Kong, akan tetapi oleh karena pemuda yang ketakutan itu mempergunakan taktik berlari sambil bersembunyi, maka kadang-kadang Lee Ing dapat ditipunya dan gadis ini terpaksa mencari-cari pemuda yang bersembunyi itu.
Setelah tidak terdapat tempat persembunyian lagi dan tersusul di luar hutan, terpaksa Tik Kong berlaku nekad dan mencabut pedangnya.
"Bangsat pengecut Lui Tik Kong! Kau hendak lari ke mana?"
Bentak Lee Ing sambil menyerang dengan pedangnya.
Tik Kong menangkis dan tanpa berkata-kata ia melakukan perlawanan mati-matian sambil mengerahkan seluruh kepandaiannya!
Biarpun kepandaiannya masih kalah jika dibandingkan dengan Lee Ing yang lihai, namun berkat latihan-latihan yang ia terima dari Kong Sin Ek si Dewa Arak, ia dapat juga melakukan pertahanan yang kuat dan untuk beberapa lama ia dapat menghindarkan serangan-serangan maut yang dilancarkan oleh Lee Ing dengan pedangnya.
Sementara itu senja telah mendatang dan karena hutan itu penuh dengan pohon pohon besar, maka keadaan di situ menjadi gelap dan matahari telah tertutup oleh daun-daun pohon.
Beberapa kali Tik Kong mencari kesempatan untuk melarikan diri, akan tetapi pedang Lee Ing tidak mengenal kasihan karena hati gadis ini telah menjadi gemas dan marah sekali kepada Lui Tik Kong.
Ia berpikir bahwa kalau pemuda yang dibencinya ini tidak membuat gara-gara melamar dirinya, tentu takkan terjadi peristiwa hebat itu, di mana ayah ibunya sampai berkelahi melawan Lo Sin, putera Ang Lian Lihiap!
Dan ia sendiri tak usah menderita malu.
Maka sambil mengertak gigi Lee Ing mengirim serangan-serangan paling berbahaya.
Tiba-tiba Tik Kong berteriak kesakitan karena pundak kirinya termakan ujung pedang Lee Ing.
Pakaian di pundaknya robek oleh ujung pedang Lee Ing yang langsung melukai kulit pundaknya.
Ia merasa betapa pundaknya terasa perih dan sakit, maka tiba-tiba ia lalu membentak.
"Mampus kau!"
Bentakan ini dibarengi dengan ayunan tangan kiri dan Lee Ing cepat mengelak oleh karena Tik Kong menyambitnya dengan sebuah batu yang cepat dipungutnya dari bawah kaki.
Kesempatan ini digunakan oleh Tik Kong untuk melompat jauh ke dalam hutan dan melarikan diri!
"Anjing rendah, jangan lari!"
Teriak Lee Ing yang cepat mengejar.
Hutan itu benar-benar gelap dan terdapat banyak tetumbuhan liar.
Tik Kong yang sudah merasa bingung lalu melompat dengan nekad ke dalam serumpun alang-alang yang liar dan banyak durinya.
Ia lenyap di balik rumput yang tinggi itu dan dengan nekad terus maju ke dalam.
Terpaksa Lee Ing mengambil jalan memutar.
Matanya tajam dan mencari-cari.
Di dalam bingungnya, Tik Kong mempergunakan akal.
Ia memungut batu karang dan melemparkan ke arah lain.
Mendengar suara ini, karena keadaan telah menjadi suram dan gelap, Lee Ing mengejar ke arah jatuhnya batu itu dan Tik Kong melihat akalnya berhasil baik.
Diam-diam ia lalu melarikan diri menjauhi gadis yang kosen itu.
Lee Ing merasa gemas sekali.
Ia memaki-maki dan memanggil nama Tik Kong menyuruh dia keluar.
Akan tetapi, yang menjawabnya hanyalah gema suaranya sendiri.
Akhirnya keadaan menjadi demikian gelapnya hingga terpaksa Lee Ing keluar lagi dari hutan dan melewatkan malam itu di atas sebatang pohon besar di pinggir hutan.
Ia mengambil keputusan untuk menanti di situ sampai besok, karena iapun yakin bahwa di dalam hutan gelap itu, tak mungkin Tik Kong akan melanjutkan larinya.
Besok aku akan menangkap dan membunuhnya, demikian gadis ini berpikir dengan gemas.
Semalam suntuk Lee Ing duduk di cabang pohon sambil melamun sedih.
Ia dapat membayangkan betapa ayahnya tentu marah sekali dan ibunya tentu amat berduka dan tak terasa lagi dari kedua mata gadis ini mengalir air mata.
Peristiwa itu telah merusak nama baik keluarga Nyo.
Tentu ayahnya akan merasa marah sekali kepada Lo Sin dan mengambil sikap memusuhi keluarga Lo dan ini hebat sekali.
Hubungan baik antara ayah ibunya dengan Ang Lian Lihiap dan suaminya yang telah menjadi sahabat baik semenjak masih muda, kini menjadi rusak oleh karena dia?
Ini semua adalah kesalahan Tik Kong!
Lee Ing bergidik kalau mengingat ucapan Lo Sin yang menceritakan bahwa Tik Kong telah menjadi pembunuh Kong Sin Ek yang menjadi guru pemuda itu sendiri!
Dan diam-diam ia merasa beruntung bahwa ia tidak jadi kawin dengan pemuda jahat itu.
Sedikitpun ia tidak meragukan keterangan Lo Sin dan entah bagaimana, ia mempunyai kepercayaan besar sekali kepada Lo Sin.
Dan diam-diam Lee Ing menghela napas panjang tanpa ia ketahui sebabnya ketika ia teringat bahwa Lo Sin telah mempunyai isteri!
Pada keesokan harinya pagi-pagi Lee Ing telah melompat turun dari atas pohon, untuk mulai mencari dan mengejar Tik Kong.
Sambil mencari-cari dan membawa pedang di tangan gadis ini memaki-maki.
"Tik Kong, bangsat besar! Keluarlah untuk terima binasa!"
Ia masuk makin dalam di hutan yang liar itu dan tiba-tiba ia mendengar suara kaki menginjak daun kering sebelah depan.
Bukan main girangnya karena ia merasa pasti bahwa itu tentu Lui Tik Kong yang sedang dicarinya.
Sambil memegang pedangnya erat-erat di tangan kanan, ia lalu berlari ke arah suara itu.
Ia melihat seorang sedang duduk membelakanginya sambil makan buah.
"Tik Kong, mampuslah kau sekarang!"
Bentak Lee Ing sambil melompat lalu menubruk dari belakang, menyerang dengan pedangnya. Orang itu menengok kaget lalu menggerakkan tubuh berjungkir-balik di udara.
"Eh, eh, apakah kau gila?"
Teriaknya sambil melempar buah yang dimakannya tadi ke atas tanah.
Lee Ing berdiri sambil memandang heran.
Ternyata bahwa orang yang disangkanya Tik Kong adalah seorang gadis yang cantik dan gagah, berpakaian warna hijau.
Karena keadaan masih agak gelap, maka tadi ia menyangka bahwa orang ini Tik Kong adanya.
"Perempuan liar dari manakah datang-datang menyerang orang?"
Kata gadis baju hijau itu sambil memandang dengan sepasang matanya, yang indah dan tajam.
"Berani benar kau bermain gila dihadapan Kim-gan-eng!"
"Aku tadi salah sangka, harap kau tidak menjadi marah,"
Kata Lee Ing dengan suara ketus karena hatinya masih panas dan marah.
"Kalau kau tadi melihat seorang laki-laki muda lewat di sini, harap kau suka memberitahukan padaku. Aku mencari dia!"
Baca Juga: Kisah Sepasang Naga 4
Baca Juga: Rajawali Emas 1