Eps 3 Si Walet Hitam Ouw Yan Cu - Kho Ping Hoo
Baca online Si Walet Hitam Ouw Yan Cu - Kho Ping Hoo
Cersil Si Walet Hitam Ouw Yan Cu - Kho Ping Hoo.
"Siapa melihat laki-laki? Mataku bukan khusus untuk menjaga dan melihat setiap orang laki-laki yang lewat di depanku! Kau gadis yang mengejar laki-laki mengapa tidak membuka mata lebar-lebar dan berlancang tangan menyerangku? Sampai di mana sih kepandaianmu maka kau sesombong ini?"
Gadis baju hijau yang bukan lain adalah Kim-gan-eng Coa Bwee Hwa itu berkata dengan penasaran dan mencabut pedangnya. Lee Ing menjadi marah sekali.
"Bagus! Bangsat lelaki melarikan diri, sekarang muncul bangsat perempuan! Biar kubasmi sekalian!"
Sambil berkata demikian, Lee Ing lalu menyerang dengan pedangnya.
Biarpun serangan ini hebat, namun Kim-gan-eng dapat mengelak dengan serangan yang tak kalah hebatnya.
Juga Lee Ing mempergunakan ginkangnya dan meloncat tinggi di udara hingga sabetan pedang Kim-gan-eng tak mengenai sasaran.
Lee Ing merasa penasaran sekali, dan ketika tubuhnya melayang turun, ia menyerang lagi dengan gerak tipu Garuda Putih Menyambar Ikan.
Pedangnya bergerak cepat dan meluncur membabat ke arah lawan, kakinya menendang dengan hebat.
Kim-gan-eng terkejut sekali melihat kelihaian gerakan ini dan sambil berseru keras ia menggulingkan tubuhnya ke bawah untuk menghindari serangan istimewa itu.
Setelah berdiri lagi, Kim-gan-eng lalu mengeluarkan ilmu kepandaiannya karena maklum bahwa gadis lawannya ini bukanlah seorang lemah.
Ia memainkan ilmu pedang Pat-kwa-hoan-kiam-hoat yang istimewa hingga sinar pedangnya berkeredepan dan bercahaya menyilaukan mata.
Biarpun Lee Ing tercengang juga menyaksikan lihainya ilmu pedang lawan, namun gadis yang berhati tabah ini sama sekali tidak merasa gentar.
Ia lalu memutar-mutar pedangnya dan mengerahkan seluruh kepandaian yang ia pelajari dari ayah-ibunya.
Dalam hal gin-kang, ia tidak usah takut, karena ia telah memiliki ilmu kepandaian gin-kang dari ibunya yang luar biasa sedangkan ilmu pedang yang dipelajarinya dari ayahnya juga ilmu pedang pilihan yang kuat dan cepat gerakannya.
Kedua orang muda itu bertempur seru dan hebat, seakan-akan dua ekor singa betina berebut kelinci!
Dan keduanya merasa kagum karena ternyata bahwa mereka sama kuatnya dan sama tangkasnya!
Kim-gan-eng yang belum pernah bertemu dengan seorang gadis sebaya dengannya yang memiliki ilmu kepandaian yang setingi ini, menjadi tertarik hatinya dan timbul keinginan tahunya untuk mengenal gadis lihai ini, maka ia melompat ke belakang sambil berkata.
"Sobat, tahan dulu!"
Lee Ing yang merasa marah dan penasaran karena tak dapat merobohkan lawan nya, berdiri dengan muka merah dan dada turun naik, lalu membentak.
"Kau mau apa?"
Melihat sikap Lee Ing yang masih marah itu, Kim-gan-eng lalu tersenyum dan memasukkan pedangnya ke dalam sarung pedang. Kemudian ia lalu menjura dengan sikap hormat.
"Lihiap, ilmu pedangmu hebat sekali. Bolehkah aku mengetahui siapakah lihiap ini dan murid siapa?"
Lee Ing yang memang berwatak keras menjawab.
"Apa perlunya kau hendak mengetahui namaku? Aku tidak kenal padamu dan juga kita tidak mempunyai urusan sesuatu!"
Kembali Kim-gan-eng tersenyum.
"Justeru karena kita tidak mempunyai urusan sesuatu, maka tidak seharusnya kita bermusuhan! Tadi aku hanya terkejut karena tiba-tiba kauserang dan kemudian aku hanya ingin sekali mencoba sampai di mana kepandaianmu. Ternyata benar-benar lihai. Sahabat baik, ketahuilah bahwa aku Kim-gan-eng bukanlah seorang jahat. Kalau ada sesuatu yang membikin kau penasaran, aku sanggup membantumu!"
Melihat sikap ini, lenyaplah amarah dari hati Lee Ing. Ia juga tidak suka bermusuhan dengan orang tanpa sebab, maka ia lalu berkata.
"Namaku Nyo Lee Ing dan guruku adalah ayah sendiri yang bernama Nyo Tiang Pek dari Bong-ke-san!"
Wajah Kim-gan-eng berseri mendengar ini "Ah, tidak tahunya kau adalah puteri si Garuda Kuku Emas!
Tidak aneh bagiku sekarang mengapa ilmu pedangmu demikian lihai!
Telah lama aku mendengar nama besar Nyo Lo-enghiong dan kini melihat ilmu pedangmu, dapat kubayangkan betapa hebatnya kepandaian ayahmu yang terhormat itu!"
Lee Ing merasa senang mendengar ayahnya dipuji-puji.
"Akupun merasa pernah mendengar nama Kim-gan-eng yang tersohor, akan tetapi tak pernah kusangka bahwa Kim-gan-eng yang disohorkan sebagai perampok wanita tunggal itu ternyata adalah seorang gadis secantik kau! Dan aku lebih tidak percaya lagi bahwa kau adalah seorang perampok."
Kim-gan-eng tersenyum.
"Adik Lee Ing yang manis. Biarpun usiamu hanya sedikit lebih muda dariku dan kepandaianmu tidak kalah dengan kepandaianku, akan tetapi dalam hal pengalaman hidup, kau kalah jauh.
"Oleh karena itu kau belum dapat membedakan antara perampok budiman dan perampok jahat. Aku bukan sembarang perampok yang merampas harta benda orang hanya karena ingin memiliki benda itu. Ah, untuk apa aku bicara panjang lebar tentang ini! Kau takkan mengerti. Tadi kau memaki-maki orang dan agaknya kau mencari-cari dan mengejarnya. Sebetulnya siapakah lelaki itu dan mengapa kau mengejarnya? Kulihat tadi bayangannya berlari ke arah selatan."
"Ia adalah seorang penjahat besar, seorang yang berbudi rendah! Ia adalah murid dari Kong peh-peh akan tetapi dengan kejamnya ia membunuh mati gurunya sendiri!"
Wajah Kim-gan-eng berubah merah karena marah.
"Seorang murid yang membunuh mati gurunya sendiri sama busuknya dengan seorang anak yang menyakiti hati orang tuanya sendiri! Manusia macam itu memang harus dibasmi! Mari kuantar kau menyusulnya! Aku lebih kenal keadaan hutan ini dan kita ambil jalan yang lebih dekat untuk mencegatnya di luar hutan sebelah selatan!"
Lee Ing merasa girang sekali, lalu ia mengikuti Kim-gan-eng yang berlari cepat di antara pohon-pohon dan tetumbuhan liar.
Tak lama kemudian, mereka telah menembus hutan itu dan berada di pinggir hutan sebelah selatan.
Mereka mengintai dan menanti dari balik pohon sambil menuturkan riwayat masing-masing.
Keduanya cocok dan saling suka, terutama Lee Ing merasa kagum sekali melihat Kim-gan-eng yang sudah mengalami banyak peristiwa hebat itu.
Kim-gan-eng mengaku bahwa ia adalah murid tunggal dari Pat-chiu Koai-hiap Oei Gan si Pendekar Aneh Tangan Delapan!
Oei Gan ini adalah seorang hiap-kek tua yang telah amat tersohor namanya sebagai seorang yang berkepandaian tinggi dan juga beradat aneh hingga, ia disebut Koai-hiap (Pendekar Aneh).
Tempat tinggalnya tak tentu karena Oei Gan adalah seorang pendekar perantau yang bebas lepas seperti seekor burung di udara.
Setelah Kim-gan-eng yang bernama Bwee Hwa tamat mempelajari ilmu silat dari suhunya, maka gadis inipun meniru kebiasaan suhunya dan hidup merantau ke sana ke mari.
Kepandaiannya yang tinggi dan wajahnya yang cantik, terutama, sepasang matanya yang indah dan tajam itu membuat ia mendapat julukan Kim-gan-eng atau Garuda Bermata Emas!
Setelah menanti beberapa lama, akhirnya dari dalam hutan keluarlah orang yang mereka tunggu-tunggu, Lui Tik Kong!
Perwira muda ini dengan wajah pucat dan pedang di tangan berjalan perlahan karena ia merasa lelah sekali.
Ia telah merasa aman karena menyangka bahwa Lee Ing yang mengejar-ngejarnya itu kini tentu masih tertinggal di hutan dan tak mungkin dapat menyusulnya.
Akan tetapi, Lee Ing ketika melihat Tik Kong, tak dapat menahan sabar lagi.
Ia melompat keluar dari tempat pengintaian dengan pedang di tangan sambil berteriak.
"Tik Kong manusia bangsat! Kali ini kau tentu mampus dalam tanganku!"
Kalau pada saat itu Tik Kong bertemu dengan seorang iblis mengerikan, belum tentu ia sekaget ketika melihat tiba-tiba Lee Ing muncul di situ!
Bagaimana gadis yang tadinya ditinggalkan di dalam hutan itu tiba-tiba dapat berada di luar hutan?
Ketika melihat munculnya seorang gadis lain yang kelihatan gagah perkasa, makin terkejutlah hati Tik Kong dan tanpa menoleh lagi ia lalu berlari secepatnya ke jurusan timur bagaikan dikejar setan!
"Bangsat rendah, kau hendak lari ke mana?"
Lee Ing mengejar dengan cepat, dan Kim-gan-eng juga ikut mengejar di belakang Lee Ing.
Lui Tik Kong berlari cepat dengan hati penuh khawatir dan takut karena tidak berani menghadapi Lee Ing dan gadis kedua yang dapat diduga tentu berkepandaian tinggi juga itu, mengerahkan seluruh kekuatannya untuk berlari secepat mungkin.
Napasnya telah mulai memburu kedua kakinya telah lemas, akan tetapi ia memaksa dirinya dan berpikir bahwa lebih baik mati berlari daripada mati tangan nona yang ganas itu!
Pada saat kedua orang gadis itu mulai menyusulnya, tiba-tiba dari depan datang dua orang to-kouw, yang seorang agak muda dan berwajah cantik genit, yang kedua adalah seorang tua dengan roman menyeramkan dan tahi lalatnya di ujung hidung menambah keburukannya.
Mereka ini adalah Hek Li Suthai dan Bi Mo-li!
Ketika Lui Tik Kong berlari di dekat mereka, Bi Mo-li mengulur tangan dan berhasil menangkap lengan tangan pemuda itu.
Ia memandang dengan matanya yang genit kepada wajah Tik Kong yang tampan, lalu bertanya.
"Kongcu mengapa berlari-lari ketakutan?"
Akan tetapi, tiba-tiba Hek Li Suthai berkata.
"Ah kau dikejar-kejar oleh mereka berdua itukah?"
Sementara itu Lee Ing dan Bwee Hwa telah datang dekat dan alangkah terkejut hati Lee Ing ketika melihat kedua to-kouw yang lihai itu. Hek Li Suthai tertawa terkekeh-kekeh ketika melihat Lee Ing.
"Hm, hm! Ternyata kau masih hidup. Lekas berlutut agar aku dapat mengampuni jiwamu!"
Biarpun hatinya gentar menghadapi to-kouw yang lihai itu, namun Lee Ing mana sudi berlutut. Ia bahkan berdiri dengan gagah dan berkata tenang.
"Hek Li Suthai! Jangan kau ikut mencampuri urusan pribadiku! Lepaskan laki-laki itu agar dapat kubunuh mati, karena dia adalah seorang penjahat besar!"
Tiba-tiba Bi Mo-li tertawa genit.
"Enak saja kau bicara! Kau memiliki kepandaian apakah maka sembarangan hendak membunuh kongcu ini?"
"Kau hendak membelanya?"
Lee Ing bertanya gemas. Bi Mo-li memandang gurunya karena ia tidak berani bertindak sebelum mendapat berkenan Hek Li Suthai. To-kouw tua buruk rupa ini tersenyum lalu berkata kepada muridnya.
"Bi-nio, kau telah melatih diri, sekarang cobalah lawan dia lagi!"
Bi Mo-li lalu berseru keras dan mencabut keluar hud-tim dan pedangnya. Kemudian ia melompat ke depan Lee Ing dan membentak.
"Perempuan rendah, coba kauperlihatkan kebodohanmu!"
Lee Ing ketika melihat betapa Tik Kong dengan licik sekali lalu pergi dan berlari di belakang Hek Li Suthai seakan akan minta perlindungan, menjadi marah sekali.
Tanpa berkata sesuatu ia lalu menggerakkan pedangnya menyerang Bi Mo-li dengan sengitnya.
Bi Mo-li lalu menggerakkan kebutan dan pedangnya dan setelah menangkis serangan Lee Ing, lalu membalas dengan tak kalah hebatnya.
Memang benar bahwa selama ini Bi Moli telah melatih diri dan menerima pelajaran tambahan dari gurunya, hingga kelihaiannya bertambah.
Akan tetapi, oleh karena Lee Ing mengerahkan tenaga dan kepandaiannya dan mainkan kiam-hwat dari ayahnya yang lihai, ia dapat mendesak Iblis Cantik itu dan setelah bertempur beberapa lama, sambil berseru keras pedangnya menyambar dan putuslah hud-tim lawannya.
Bulu hud-tim itu terbang berhamburan dan senjata itu kini tinggal gagangnya saja.
Bi Mo-li marah sekali dan mengayun tangan melempar gagang kebutan itu ke arah Lee Ing.
Akan tetapi gadis ini mengelak cepat dan gagang hud-tim itu meluncur cepat lewat di atas kepala Lee Ing dan menyambar leher Kim-gan-eng yang masih berdiri menonton sambil bertolak pinggang.
Ketika melihat gagang hud-tim itu menyambar ke arah lehernya, Kim-gan-eng tidak berkelit, hanya mengulur kedua jari tangan kirinya dan menyambut gagang itu dengan jepitan jarinya.
Kemudian dengan tersenyum ia melemparkan gagang itu ke atas tanah.
Tidak saja Bi Mo-li menjadi terkejut, akan tetapi Hek Li Suthai sendiri juga memandang tajam kepada Kim-gan-eng.
Kemudian Hek Li Suthai lalu menghadapi Lee Ing dan berkata.
"Gadis, ilmu pedangmu mengingatkan aku kepada Nyo Tiang Pek si kepala batu. Kau masih ada hubungan apakah dengan orang she Nyo itu?"
Sebetulnya Lee Ing cukup maklum bahwa apabila ia mengaku sebagai puteri Nyo Tiang Pek, tentu iblis wanita ini takkan mau melepaskannya, akan tetapi mendengar ayahnya dimaki-maki, hatinya telah menjadi panas dan marah sekali.
Sambil menuding muka Hek Li Suthai dengan ujung pedangnya, ia membentak.
"To-kouw iblis jangan kau membuka mulut kotor memaki ayahku!"
Tiba-tiba tertawalah Hek Li Suthai hingga suara ketawanya itu berkumandang di seluruh hutan.
"Bagus, bagus""
Aha, bangsat Nyo Tiang Pek, jangan harap kau akan dapat bertemu dengan puterimu lagi!"
Setelah berkata demikian, tiba-tiba saja tubuhnya bergerak dan tahu-tahu ia telah menyerang Lee Ing dengan kedua tangannya yang kurus akan tetapi yang mengandung tenaga menyeramkan itu.
Lee Ing berlaku waspada, dan ia cukup maklum akan kelihaian to-kouw tua ini, maka ia lalu mempergunakan gin-kangnya yang cukup mengagumkan untuk mengadakan perlawanan.
Tiba-tiba berkelebat bayangan hijau dan tahu-tahu Kim-gan-eng telah menarik tangan Lee Ing dan menghadapi Hek Li Suthai.
"Tidak baik yang tua menghina yang muda,"
Katanya hingga Hek Li Suthai menahan serangannya dan memandang tajam.
"Siapakah kau, nona?"
"Aku yang muda adalah Kim-gan-eng Bwee Hwa. Pernah aku mendengar dari suhu tentang kelihaian Hek Li Suthai, akan tetapi tak kusangka bahwa ternyata Hek Li Suthai yang gagah dan tersohor itu mau merendahkan diri dengan menyerang dan menghina yang muda."
"Siapakah suhumu?"
"Suhu adalah Pat-chiu Koai-hiap Oei Gan!"
Walaupun pada wajahnya tak nampak perubahan sesuatu, namun di dalam hatinya Hek Li Suthai terkejut juga mendengar nama yang cukup terkenal ini.
"Kim-gan-eng, aku dan suhumu tidak mempunyai permusuhan apa-apa, baiknya kau lekas mundur dan jangan ikut mencampuri urusanku dengan nona ini."
Bwee Hwa maklum bahwa nama suhunya cukup membuat iblis wanita ini sungkan menyerangnya, akan tetapi untuk melindungi Lee Ing ia berkata dengan berani.
"Hek Li Suthai, aku yang muda juga sekali-kali takkan berani mengganggumu, dan kau boleh berbuat sesukamu tanpa aku ambil perduli. Akan tetapi, nona Lee Ing ini adalah sahabat baikku dan siapa saja yang mengganggunya, tentu akan kubela."
Merahlah wajah Hek Li Suthai mendengar ini.
"Sekali lagi Kim-gan-eng, kau mundurlah. Memandang muka suhumu, biarlah aku anggap omonganmu tadi seperti tak pernah kau ucapkan."
"Tidak bisa, Hek Li Suthai. Tak mungkin aku bertega hati melihat kawan baikku diganggu."
Sementara itu, ketika mendengar ucapan Kim-gan-eng, Lee Ing berdiri memandang Bwee Hwa dengan heran.
Ia merasa kagum, berterima kasih, dan girang sekali.
Kawan dalam bahaya dan duka adalah kawan sejati, dulu ayahnya pernah berkata.
Dan kini, biarpun menghadapi seorang lawan yang demikian lihainya, tiba-tiba Kim-gan-eng membelanya dengan berani.
Gadis perampok ini benar-benar boleh dijadikan kawan yang sejati, pikirnya.
Maka ia lalu berkata kepada Hek Li Suthai.
"Dengarlah, Hek Li Suthai! Akupun tahu bahwa kau menaruh dendam kepada orang tuaku, juga kepada Ang Lian Lihiap, Hwee-thian Kim-hong dan yang lain-lain pula, oleh karena para orang gagah itu dulu pernah menghancurkan kejahatan gurumu. Dan karena kau tidak becus dan tidak berani membalas kepada mereka, orang-orang tua yang gagah perkasa itu, maka hendak menumpahkan kemarahanmu kepada kami orang-orang muda. Akan tetapi, jangan kira kami takut kepadamu. Benar ucapan ciciku Bwee Hwa ini tadi, selama ada dia disampingku, takkan ada orang boleh menggangguku, seperti juga selama aku berada disampingnya, orang tak boleh mengganggunya."
"Bagus, kalau begitu majulah kalian berdua. Jangan dikira aku orang tua akan menghina yang muda."
Hek Li Suthai sengaja menantang kepada dua orang gadis itu supaya maju bersama agar kelak apabila guru Kim-gan-eng mendengar bahwa pertempuran dilakukan dengan satu lawan dua, maka ia takkan dianggap keterlaluan, sebaliknya, karena maklum bahwa mereka menghadapi seorang lawan yang tangguh, maka mendengar tantangan ini, Bwee Hwa dan Lee Ing segera saling pandang, lalu menerjang dengan hebat.
Hek Li Suthai tersenyum dan menyambut terjangan mereka itu dengan sabetan ujung lengan bajunya yang panjang.
Agaknya Hek Li Suthai sangat memandang rendah kedua lawannya karena to-kouw tua ini menghadapi mereka dengan tangan kosong dan tidak mau mengeluarkan senjatanya.
Akan tetapi, segera to-kouw tua yang lihai itu merasa kecele dan ia telah memandang terlalu rendah kepada dua orang lawannya yang muda.
Mungkin kalau hanya menghadapi seorang saja, ia masih akan dapat melawan dengan tangan kosong, akan tetapi dua orang gadis itu maju bersama merupakan lawan yang amat tangguh dan berbahaya!
Ia tak kuat lagi bertahan maka sambil berseru marah ia lalu mencabut keluar sepasang pedang Ceng-ouw-coa-kiam yang lihai!
Kim-gan-eng Bwee Hwa ketika melihat iblis betina itu mencabut keluar sepasang pedang yang mengeluarkan cahaya hijau dan hitam, segera mendesak keras sambil memainkan ilmu pedang yang luar biasa, yakni Pat-kwa-hoan-kiam-hwat.
Juga Lee Ing lalu mengerahkan seluruh kepandaiannya, hingga pedang di tangannya menyambar-nyambar dengan ganasnya.
Ketika Kim-gan-eng dari arah kiri menyerang dengan gerak tipu Pohon Liu tertiup Angin menusuk leher Hek Li Suthai, Lee Ing membarengi gerakan kawannya itu dengan serangan Angin Ribut Memukul Ombak dan menyerang ke arah lambung dan dada lawan dengan gerakan pedang memutar!
Kedua serangan yang dilakukan berbareng dan dengan cepat sekali ini benar-benar berbahaya dan orang yang berkepandaian biasa tentu takkan dapat menghindarkan diri.
Akan tetapi, sambil tertawa mengejek, Hek Li Suthai menggunakan pedang di tangan kiri menyampok pedang Kim-gan-eng, sedangkan pedang di tangan kanannya cepat sekali diputar sedemikian rupa hingga ketika menempel pedang Lee Ing, pedang gadis ini telah dapat dibetot dan terlepas dari tangan!
Pedang itu melayang ke atas dan ketika turun, kebetulan sekali jatuh di dekat tempat Lui Tik Kong berdiri.
Pemuda itu lalu tersenyum dan mengambil pedang itu, terus di selipkan di ikat pinggangnya.
Lee Ing merasa terkejut dan marah sekali, dan ia terus maju menyerang Hek Li Suthai dengan tangan kosong, mempergunakan ilmunya Gin-san-ciang yang lihai.
Ketika angin pukulan Gin-san-ciang ini membuat tangan Hek Li Suthai menggetar, to-kouw tua itu terkejut sekali dan marah.
Ia memutar pedangnya berubah menjadi sinar hitam dan hijau yang mengurung tubuh Kim-gan-eng dan Lee Ing!
Ternyata Hek Li Suthai telah mengeluarkan kepandaiannya dan keadaan kedua orang dara muda itu benar-benar berbahaya sekali.
Pada saat jiwa kedua orang gadis itu terancam bahaya maut yang memancar keluar dari ujung kedua pedang, Hek Li Suthai, tiba-tiba berkelebat bayangan hitam dan bagaikan seekor ular, sehelai saputangan panjang telah meluncur dan menahan gerakan pedang Ceng-ouw-coa-kiam di tangan Hek Li Suthai!
"Suhu!"
Seru Bwee Hwa dengan girang dan ia segera melompat mundur, diturut oleh Lee Ing.
Ketika Lee Ing memandang, ia melihat bahwa bayangan hitam yang datang dan yang mempergunakan saputangan panjang secara istimewa itu adalah seorang laki-laki yang sudah tua, bertubuh kecil kurus pendek, mukanya buruk dan hidungnya mencuat ke atas.
"Ha, ha, Hek Li Suthai! Mengapa main-main dengan orang muda? Kalau kau sudah haus darah, biarlah kita tua sama tua boleh mengukur tenaga!"
Kata kakek ini yang bukan lain ialah Pat-chiu Koai-hiap Oei Gan, Pendekar Aneh Tangan Delapan! Hek Li Suthai memandang tajam.
"Apakah pinni berhadapan dengan Pat-chiu Koai-hiap?"
Oei Gan tertawa bergelak sambil memandang ke atas udara.
"Benar dugaanmu. Aku si tua bangka Oei Gan selama hidup tak suka mencari perkara, apalagi mencari permusuhan. Juga aku telah memesan kepada murid tunggalku agar jangan mencari permusuhan dengan orang-orang kang-ouw. Hari ini entah kedosaan apa yang dilakukan oleh muridku hingga Hek Li Suthai yang lihai dan berkepandaian tinggi sampai turun tangan memberi pengajaran kepadanya!"
Biarpun kata-kata ini seperti menyesalkan kesalahan murid sendiri, akan tetapi bersifat menegur dan menyindir kepada Hek Li Suthai.
Hal ini bukan tidak terasa oleh Hek Li Suthai, karena wajah iblis wanita ini menjadi merah.
"Pat-chiu Koai-hiap! Bukan pinni yang memulai pertempuran dengan muridmu ini! Pinni mempunyai persoalan pribadi dengan gadis puteri Nyo Tiang Pek, akan tetapi muridmu secara lancang lalu membantunya. Apakah pinni harus mendiamkan saja kalau diserang orang?"
Oei Gan lalu berpaling kepada muridnya "Bwee Hwa, benarkah keterangan Hek Li Suthai?"
Kim-gan-eng Bwee Hwa dengan suara lantang berkata.
"Memang benar, suhu. Teecu melihat betapa Hek Li Suthai menyerang Lee Ing yang bukan tandingannya. Teecu telah menjadi sahabat baik Lee Ing, maka sebagai orang yang menjunjung tinggi kegagahan, melihat seorang kawan baik diserang orang jahat, apakah teecu harus mendiamkannya saja? Mohon petunjuk, suhu!"
Oei Gan tertawa bergelak.
"Hek Li Suthai, persoalannya mudah saja dimengerti olehku sekarang. Kau tentu mewakili Lan Bwee Niang-niang untuk membalas dendam kepada Nyo Tiang Pek dan kawan-kawannya. Dan mungkin sekali karena kau tidak sanggup melawan mereka, kau lalu hendak mengganggu anaknya. Muridku hanya membela kawan baik, maka aku pun tidak dapat menyalahkannya. Kau seharusnya mencari Nyo Tiang Pek Si Garuda Berkuku Emas, dan jangan mengganggu anaknya yang masih hijau."
"Oei Koai-hiap! Apakah kau orang tua juga hendak ikut mencampuri urusanku sendiri?"
Teriak Hek Li Suthai dengan alis berdiri.
"Hek Li Suthai, siapa sudi mencampuri urusanmu? Aku berada di sini dan oleh karena muridku tidak bersalah, apabila ada orang yang berani mengganggunya, berarti orang itu mengganggu aku sendiri."
"Dan siapa saja yang mengganggu Lee Ing sahabat baikku ini, berarti ia mengganggu aku sendiri,"
Kata Kim-gan-eng meniru suara gurunya. Bukan main marahnya Hek Li Suthai mendengar ini. Ia berseru keras dan tiba-tiba menyerang Pat-chiu Koai-hiap dengan pedang di kedua tangannya.
"Bagus! Memang akupun ingin melihat sampai di mana keganasan Hek Li Suthai!"
Kata Oei Gan yang cepat mengelak sambil mencabut keluar pedangnya yang terselip di punggung.
Kedua ahli silat yang berkepandaian tinggi itu lalu bertempur hebat.
Oei Gan mengeluarkan kepandaian ilmu pedangnya Pat-kwa-hoan-kiam-hoat yang hebat, sedangkan Hek Li Suthai mainkan ilmu pedang Ceng-ouw-coa-kiam-hwat yang ganas.
Tubuh kedua orang tua ini lenyap terbungkus sinar pedang mereka yang bergerak-gerak seperti naga bercanda di tengah mega.
Sementara itu, ketika melihat bahwa Hek Li Suthai tidak sempat melindungi Tik Kong lagi, Lee Ing lalu melompat dan menyerang pemuda itu dengan tangan kosong, oleh karena pedangnya yang tadi dirampas Hek Li Suthai kini telah berada di tangan pemuda itu.
Namun ia tidak menjadi gentar dan serangan tangan kosongnya tak kurang hebat.
Bi Mo-li melompat dan membela Tik Kong, akan tetapi Kim-gan-eng tak mau tinggal diam.
Gadis ini lalu menyambut Bi Mo-1i sambil membentak.
"Kau juga mau turut campur?"
Makin ramailah pertempuran yang terjadi di luar hutan itu.
Biarpun sesungguhnya belum tentu Lee Ing dapat memenangkan Tik Kong dengan bertangan kosong saja, namun oleh karena Tik Kong telah merasa gentar dan takut, pemuda itu tidak mau melayani Lee Ing lebih lama lagi.
Ia melihat betapa Bi Mo-1i kena didesak oleh Kim-gan-eng, sedangkan Hek Li Suthai juga payah menghadapi desakan Pat-chiu Koai-hiap, maka Tik Kong lalu menyerang hebat dengan pedangnya dan ketika Lee Ing melompat ke samping, pemuda ini lalu membalikkan tubuh dan lari secepatnya meninggalkan tempat itu!
"Bangsat rendah, kau hendak lari ke mana?"
Lee Ing membentak dan terus mengejar! Dengan perlahan tapi tentu, Oei Gan dan Bwee Hwa berhasil mendesak kedua orang itu hingga akhirnya Hek Li Suthai berseru.
"Biang keladi pertempuran telah pergi, tak perlu kita bertempur terus!"
Oei Gan tertawa bergelak.
"Hek Li Suthai, kau cerdik! Akan tetapi akupun memang tidak ada nafsu untuk mengalahkan kau!! Bwee Hwa, lepaskan lawanmu itu!"
Hek Li Suthai merasa malu sekali oleh karena sesungguhnya memang ia dan muridnya terdesak hebat tadi.
Kalau sekiranya ia yang mendesaknya, belum tentu ia mau menghentikan pertempuran ini.
Maka dengan wajah merah ia berkata.
"Koai-hiap, lain kali kita bertemu pula!"
Lalu ia pergi dengan cepat, diikuti oleh muridnya. Setelah Hek Li Suthai dan muridnya pergi jauh, barulah Oei Gan menegur muridnya.
"Bwee Hwa, mengapa kau begitu lancang memusuhi mereka? Untung aku datang pada saat yang tepat, kalau aku tidak ada di sini, apakah kau masih bisa mengharapkan untuk hidup?"
Bwee Hwa menundukkan kepalanya dan tak dapat menjawab teguran suhunya, kemudian Oei Gan melanjutkan setelah menghela napas panjang.
"Kau tidak tahu, muridku. Diantara Hek Li Suthai dan Nyo Tiang Pek memang terdapat dendam yang besar. Hal ini terjadi ketika aku masih muda, juga ketika itu Nyo Tiang Pek masih seorang pemuda.
"Guru Hek Li Suthai yang bernama Lan Bwee Niang-niang dan susioknya bernama Bong Cu Sianjin dan menjadi ketua dari Pek-lian-kauw, pernah bentrok secara hebat sekali dengan Nyo Tiang Pek dan kawan-kawannya, diantaranya bahkan Ang Lian Lihiap dan Hwee-thian Kim-hong yang tersohor dan kini menjadi suami isteri itu, ikut pula membantu. Karena Bong Cu Sianjin membela anggauta-anggauta Pek-lian-kauw yang kebanyakan memang jahat, dan Lan Bwee Niang-niang membantu sutenya ini, maka terjadilah pertempuran yang maha hebat di puncak Hong-lai-san antara Bong Cu Sianjin dan kawan-kawannya melawan Nyo Tiang Pek dan kawan-kawannya.
"Pertempuran itu hebat sekali dan aku sebagai orang luar hanya berani mengintai saja dan diam-diam menonton pertempuran maha dahsyat.
"Akhirnya karena pihak Pek-lian-kauw terdapat Lan Bwee Niang-niang yang benar-benar sakti, pihak Nyo Tiang Pek mengalami kekalahan, akan tetapi tiba-tiba datanglah Beng San Siansu, manusia setengah dewa itu yang menjadi suhu dari suami isteri Ang Lian Lihiap dan Hwee-thian Kim-hong! Dan Lan Bwee Niang-niang dapat ditundukkan sedangkan Bong Cu Sianjin kedua lengannya terpotong! "Sakit hati inilah yang kemudian menimbulkan permusuhan antara Hek Li Suthai yang hendak membalaskan sakit hati gurunya pada pihak Nyo Tiang Pek dan kawan-kawannya. Ketika aku menyaksikan pertempuran adu jiwa yang mengerikan itu, aku diam-diam merasa beruntung bahwa aku tidak terlibat dalam urusan itu.
"Karena apakah untungnya bermusuh-musuhan dan saling membunuh? Dan kau sekarang telah menyakiti hati Hek Li Suthai, bukankah ini berarti kau menyeret gurumu ke dalam jurang permusuhan pula?"
Kembali Oei Gan menghela napas panjang.
Kim-gan-eng Bwee Hwa merasa penasaran sekali mendengar ucapan gurunya ini.
Memang ia amat disayang oleh Oei Gan yang menganggapnya seperti anak sendiri, dan Bwee Hwa telah biasa bersikap manja terhadap gurunya ini, maka ia lalu berkata.
"Akan tetapi, suhu, melihat Lee Ing yang gagah dan yang telah menjadi sahabat baikku itu terancam bahaya maut di tangan Hek Li Suthai, apakah teecu harus berdiam berpeluk tangan saja? Kalau sampai terjadi Lee Ing terbunuh dan teecu diam saja sebagai penonton, bukankah teecu percuma saja mempelajari ilmu kepandaian dari suhu dan tidak patut disebut seorang gagah?"
Oei Gan tersenyum dan berkata halus.
"Dalam hal itu aku tidak bisa mempersalahkan kau, Bwee Hwa. Hanya kusesalkan bahwa kau telah menanam bibit permusuhan dengan mereka, sedangkan aku tahu bahwa pihak mereka itu selain jahat, juga lihai sekali."
Kembali Bwee Hwa berkata dengan semangat bernyala.
"Suhu, teecu tidak takut! Menurut cerita suhu sendiri, pihak Nyo Tiang Pek lo-enghiong berada di pihak benar, dan pihak Hek Li Suthai yang jahat, maka apa salahnya kita bermusuh dengan pihak yang jahat? Teecu tidak takut dan teecu rela mengurbankan nyawa demi membela yang benar dan melawan yang jahat!"
"Ha, ha, ha! Kau anak kecil yang keras hati dan sombong! Kepandaianmu seberapa tingginyakah maka kau berani berkata demikian? Sekarang, perkara sudah menjadi begini, dan setiap waktu apabila kau bertemu dengan Hek Li Suthai dan kawan-kawannya, tentu jiwamu terancam bahaya. Maka mulai sekarang kau harus belajar silat lagi yang lebih tinggi untuk menjaga diri. Tidak selamanya gurumu akan dapat datang dalam waktu yang kebetulan dan tepat!"
Bwee Hwa lalu berlutut dan menghaturkan terima kasih dan mulai saat itu, Pat-chiu Koai-hiap Oei Gan lalu melatih lagi muridnya itu dengan ilmu silat yang lebih tinggi hingga kepandaian gadis ini makin hebat dan maju pesat.
Lee Ing dengan hati panas dan penasaran terus mengejar Lui Tik Kong ke arah timur.
Tik Kong mengerahkan tenaganya untuk cepat berlari karena ia maklum bahwa tak jauh dari situ terdapat sebuah benteng tentara dan kalau saja ia bisa masuk ke benteng itu, ia akan selamat bahkan ia akan mendapat banyak pembantu untuk melawan Lee Ing!
Tentu saja Lee Ing tidak mengetahui hal ini dan mengejar terus.
Benar saja, tak lama kemudian nampak tembok putih dan tinggi mengelilingi sebuah benteng di satu dusun yang berada di lereng bukit, hingga ketika melihat tembok ini, Tik Kong lalu berlari makin cepat.
Ketika tiba di dekat benteng, Tik Kong berteriak-teriak minta tolong dan dari pintu benteng itu keluarlah belasan orang tentara yang segera memburu ke tempatnya.
"Lekas tangkap perempuan penjahat!"
Seru Tik Kong dengan napas tersengal-sengal dan karena telah merasa lelah sekali, pemuda ini lalu berlari masuk ke dalam benteng.
Semua perajurit mengenal Tik Kong maka mereka lalu mencegat Lee Ing dengan pedang di tangan.
Melihat hal ini, bukan main marahnya Lee Ing yang segera menyerbu belasan orang perajurit itu dengan tangan kosong.
Sekali saja ia berkelebat, ia telah berhasil menendang roboh seorang pengeroyok dan merampas pedangnya.
Dan dengan pedang rampasan ini, Lee Ing mengamuk!
Pengeroyoknya terkejut sekali melihat kegagahan ini dan dari benteng itu keluarlah lebih banyak lagi tentara yang mengiringkan Tik Kong dan seorang perwira yang tinggi besar seperti seorang raksasa muda!
Perwira ini bernama Can Kok In, dan biarpun usianya masih muda dan mukanya yang lebar itu hanya ditumbuhi kumis kecil sedikit, namun tubuhnya benar-benar menakutkan, tinggi besar dan gemuk.
Can Kok In adalah seorang perwira yang berhati jujur bersuara keras dan besar, sedangkan ilmu silatnya amat tinggi oleh karena dia adalah anak murid Kun-lun"pai.
Mendengar Tik Kong dikejar-kejar oleh penjahat wanita, Can Kok In cepat membawa pedangnya yang besar panjang dan berat, lalu berlari keluar.
Ketika melihat betapa Lee Ing mengamuk bagaikan seekor banteng betina mencium darah, Can Kok In lalu berteriak keras seperti guntur, memerintahkan semua anak buahnya mundur, sedangkan ia sendiri lalu melompat maju sambil menuding dengan telunjuknya.
"Penjahat perempuan yang ganas dan kejam! Sekali ini kau berhadapan dengan Can Kok In, jangan kau menjual lagak!"
Melihat perwira yang tinggi besar dan bermata lebar ini Lee Ing lalu menubruk dan mengirim tusukan dengan pedangnya.
Can Kok In tertawa bergelak dan menangkis dengan pedangnya yang besar.
Lee Ing terkejut sekali karena sekali menangkis saja, pedangnya hampir terlepas dari pegangan!
Ia maklum bahwa perwira raksasa ini bertenaga besar sekali, maka ia lalu berseru keras dan menyerang lebih hebat mempergunakan kelincahan dan ginkangnya.
Akan tetapi, lagi-lagi ia menjadi terkejut, oleh karena perwira yang tinggi besar inipun, lalu bergerak cepat hingga sukar dipercaya bahwa tubuh yang kaku dan besar itu dapat bergerak sedemikian lincahnya.
Lui Tik Kong tidak tinggal diam saja lalu maju mengeroyok.
Lee Ing diam-diam mengeluh, oleh karena menghadapi perwira tinggi besar ini saja ia telah merasa kewalahan, apalagi ditambah dengan Tik Kong yang juga memiliki kepandaian.
Maka ia lalu putar-putar pedangnya dengan cepat sekali dan tiba-tiba melompat mundur untuk melarikan diri!
Can Kok In tertawa bergelak-gelak.
"Kejar dan tangkap dia!"
Bentak Lui Tik Kong, akan tetapi Can Kok In berkata.
"Lui-ciangkun untuk apa kita mengejar seorang perempuan? Memalukan sekali. Kalau orang lain melihatnya, bukankah kita akan menjadi bahan ejekan?"
"Tapi ia jahat dan berbahaya sekali. Kalau kali ini kita tidak membasminya, tentu lain kali ia menimbulkan bencana!"
Kata Lui Tik Kong.
"Kalau ia datang, biarlah, serahkan saja kepadaku untuk menghadapinya. Akan tetapi untuk mengejarnya, ah, aku malu, Lui-ciangkun!"
"Kau ini memang orang aneh, Can-ciangkun."
Kata Lui Tik Kong yang terpaksa menahan rasa mendongkolnya.
Kemudian ia lalu masuk ke dalam benteng itu bersama Can-ciangkun dan mengambil keputusan untuk istirahat beberapa lama di benteng itu sebelum kembali ke bentengnya sendiri.
Can Kok In berjanji hendak memberi barisan pengawal untuk mengantarnya pulang ke Le-hu-tin, markas Lui Tik Kong di Bong-kee-san.
Tik Kong mendapat ganti pakaian sebagai perwira lagi dan nampak gagah.
Kembalilah kegagahannya yang dulu, sungguhpun di dalam hatinya ia merasa berkhawatir sekali kalau mengenangkan segala perbuatannya yang menimbulkan akibat hebat itu.
Sambil membawa lari pedang rampasannya yang ia gantungkan di pinggang, Lee Ing merasa gemas sekali.
Lagi-lagi ia gagal dan lagi-lagi penjahat she Lui itu mendapat pembela yang berkepandaian tinggi!
Akan tetapi Lee Ing telah mengambil keputusan tetap untuk mengejar terus.
Ia maklum bahwa selama pemuda itu bersembunyi di dalam benteng yang dilindungi oleh banyak sekali anggauta tentara dan juga oleh perwira raksasa muda yang tangguh itu, ia tidak berdaya sama sekali.
Akan tetapi, tidak mungkin kalau Tik Kong akan bersembunyi selamanya di situ!
Lee Ing bersembunyi di sekitar itu dan menanti saatnya Tik Kong keluar dari benteng dan apabila hal ini terjadi, ia akan menyerang!
Lo Sin dengan hati marah sekali setelah mengamuk dan mengacau rumah Nyo Tiang Pek, mengejar dengan menunggang kudanya Pek-liong-ma, akan tetapi oleh karena ia tidak tahu jurusan mana yang diambil oleh Lui Tik Kong ketika melarikan diri, terpaksa ia harus mencari jejak pemuda itu dengan teliti.
Ia turun dari Bong-ke-san dan bertanya-tanya kepada para penduduk dusun di sekitar bukit itu barangkali diantara mereka ada yang melihat ke mana berlarinya perwira muda yang dikejar-kejar oleh seorang gadis.
Biarpun andaikata ada yang melihat Lui Tik Kong dan Lee Ing, namun orang itu tentu takkan berani menceritakannya kepada Lo Sin, maka usaha pemuda itu sia-sia belaka.
Kemudian Lo Sin mendapat akal.
Ia bertanya kepada serombongan kanak-kanak yang sedang bermain-main dan benar saja, seorang diantara anak-anak yang tidak tahu apa-apa ini, dengan sejujurnya menceritakan bahwa tadi ia melihat Nyo-siocia yang telah amat dikenal itu berlari cepat ke jurusan timur.
Lo Sin menjadi girang sekali dan ia lalu mengaburkan kudanya menuju ke timur.
Namun, ternyata bahwa kudanya mengambil jalan yang berlainan sekali dengan jalan yang ditempuh oleh Tik Kong dan Lee Ing yang berkejaran, hingga hati pemuda itu menjadi penasaran dan kecewa ketika ia tak melihat bayangan dua orang yang dicarinya itu, biarpun ia telah mengejar sehari penuh.
Terpaksa pada malam hari itu ia bermalam di sebuah kampung dan pada keesokan harinya, ia melanjutkan perjalanannya mencari-cari Lui Tik Kong dan juga mencari Lee Ing.
Ia merasa berduka kalau memikirkan gadis ini dan juga merasa berdosa.
Bukankah ia telah menghancurkan kebahagiaan gadis yang hendak menikah dan gagal oleh karena perbuatannya itu?
Dan apabila ia mengenangkan segala peristiwa yang terjadi di rumah Nyo Tiang Pek, diam-diam Lo Sin merasa bergidik!
Alangkah akan marahnya Nyo Tiang Pek, dan Coa Giok Lie!
Tentu kedua orang tua itu membenci sekali padanya, yang tentu dianggap pengacau rumah tangga!
Bukan tak mungkin bila Nyo Tiang Pek mengejarnya, atau bahkan mencari orang tuanya untuk mengadukan perbuatannya itu.
Lo Sin menghela napas dengan penuh rasa menyesal apabila mengingat akan hal ini.
Semenjak kecil ia rindu dan ingin sekali bertemu dengan Nyo Tiang Pek dan Coa Giok Lie yang seringkali disebut-sebut ayah ibunya itu.
Dan sekarang, begitu bertemu ia bertempur dengan mereka, bahkan membuat mereka marah, mendatangkan nama buruk dan mencemarkan kehormatan dan nama keluarga Nyo!
Akan tetapi, Lo Sin mengangkat dada.
Biarlah!
Biar aku yang tanggung jawab.
Kalau Nyo-pehpeh marah, biar ia marah kepadaku.
Aku rela binasa di bawah tangannya daripada Lee Ing menjadi isteri si bangsat Tik Kong!
Dengan ini, Lo Sin merasa terhibur, karena ia berpendapat bahwa ia melakukan sesuatu yang benar, oleh karenanya ia tidak takut menghadapi akibat-akibatnya yang mungkin terjadi.
Lo Sin terus mengaburkan kudanya ke Timur dan pada suatu hari ia bermalam di dusun Ki-ciang yang cukup besar dan ramai.
Yang menarik perhatian Lo Sin ialah bahwa di dusun itu kelihatan beberapa orang tentara berkeliaran.
Ia memang telah mendengar tentang gerakan suku bangsa Turki yang mencurigakan dan bahwa kini pemerintah telah memperkuat barisan pertahanannya dan bahkan mencari banyak anggauta barisan suka rela, maka ia tidak perdulikan pemandangan yang memang agak ganjil ini, karena jarang terjadi di sebuah dusun nampak anggauta tentara.
Lo Sin berpakaian seperti biasa apabila melakukan perjalanan, yakni baju yang ringkas warna biru kehitam-hitaman dengan ikat pinggang dan topi berwarna kuning emas.
Hiasan burung walet hitam di kepalanya menambah kegagahannya dan pedangnya tergantung di pinggang dihias dengan ronce-ronce merah.
Sulingnya terselip di punggung.
(Lanjut ke
Jilid 08) Si Walet Hitam/Ouw Yan Cu (Seri ke 03 Serial Si Teratai Merah) Karya . Asmaraman S. Kho Ping Hoo
Jilid 08 Melihat sekelebatan saja, orang akan dapat mengetahui bahwa dia adalah seorang pendekar perantau yang memiliki ilmu kepandaian silat.
Oleh karena itu, banyak mata memandangnya dengan kagum, karena memang Lo Sin kelihatan gagah dan cakap sekali.
Apalagi karena ia menunggang kudanya yang berbulu putih dan tinggi besar itu, hingga kuda dan penunggangnya merupakan pasangan yang sedap dipandang dan menimbulkan kagum.
Ketika Lo Sin melompat turun dari kudanya dan memberikan kuda itu kepada pelayan rumah penginapan, ia tidak tahu bahwa banyak pasang mata memandang kudanya dengan kagum dan iri.
Lo Sin lalu memilih sebuah kamar dan setelah makan malam, ia lalu beristirahat.
Malam hari itu menjelang pagi, tiba-tiba Lo Sin dikejutkan oleh suara kudanya meringkik keras.
Ia mengenal suara kuda Pek-liong-ma, maka cepat ia membereskan pakaiannya melompat keluar, langsung menuju ke kandang kuda.
Alangkah terkejutnya ketika mendapat kenyataan bahwa kudanya telah lenyap dari tempat itu!
Lo Sin cepat melompat ke atas genteng memperhatikan sekeliling tembok itu.
Tiba-tiba ia mendengar ringkik kudanya dari jauh, di arah selatan, maka ia lalu cepat melompat turun lagi bagaikan seekor burung walet hitam melayang, lalu berlari mengejar!
Ia merasa marah sekali.
Siapakah yang begitu kurang ajar berani mencuri kudanya?
Dengan mengerahkan ilmu berlari cepat, Lo Sin mengejar ke arah suara itu, karena gin-kangnya memang sudah mencapai tingkat tinggi, sebentar saja ia telah hampir menyusul.
Ia mendengar suara kaki kuda berlari cepat di sebelah depan, dan diantara kabut tebal ia melihat bayangan orang-orang berkuda dengan cepat sekali meluncur ke depan!
"Pencuri kuda yang hina dina?"
Lo Sin menegur dan memaki.
"Kalian hendak berlari ke mana?"
Melihat bahwa di belakang mereka terdapat seorang pemuda yang berlari luar biasa cepatnya mengejar, ketiga orang penunggang kuda itu lalu memecut kuda masing-masing dan membalap makin cepat.
Lo Sin melihat bahwa kudanya berada di tengah-tengah, ditunggangi oleh seorang yang bertubuh tinggi kurus, sedangkan dua orang lain yang menunggang kuda di kanan kiri berpakaian sebagai pelayan-pelayan pembesar.
"Hai, berhenti!"
Lo Sin menegur lagi akan tetapi ketiga orang itu bahkan mempercepat jalannya kuda dan kini mereka menghampiri sebuah benteng yang menghadang di depan!
Kuda Pek-liong-ma yang ditunggangi orang kurus itu maju lebih dulu dan masuk melalui pintu gerbang benteng yang terbuka, sedangkan dua orang yang berpakaian pelayan itu menanti di depan pintu benteng sambil memutar tubuh kuda mereka.
Ketika Lo Sin datang dekat, mereka berdua membentak.
"Kau ini siapakah dan mengapa berani lancang mengejar kami sampai ke benteng kami? Apakah kau tidak tahu bahwa benteng ini adalah markas tentara?"
Lo Sin tercengang dan juga marah sekali.
"Tak perduli tempat apa adanya ini, akan tetapi siapakah yang berani mencuri kudaku tadi? Hayo suruhlah dia keluar dan membawa kudaku untuk dikembalikan kepadaku!"
Seorang diantara mereka tersenyum mengejek dan berkata.
"Jangan sembarang menuduh orang, kawan. Tahukah kau siapa orang kurus yang kami iringkan tadi? Dia adalah Hwee-ma-ong (Raja Kuda Terbang) yang terkenal kaya dan memiliki banyak sekali kuda baik. Mana dia mau melihat kudamu?"
Lo Sin terkejut dan tercengang.
Ia pernah mendengar nama Hwee-ma-ong ini yang bernama Lie Cit Un, seorang hartawan besar yang terkenal sekali karena kepandaiannya yang tinggi, akan tetapi juga terkenal sebagai pemilik kuda-kuda bagus hingga kaisar sendiri sampai memesan kuda dari hartawan ini.
Akan tetapi, iapun maklum bahwa Raja Kuda Terbang ini tak segan-segan untuk mencuri kuda baik apabila ia tidak bisa mendapatkannya dengan jalan baik.
"Siapa adanya dia. Hwee-ma-ong si Raja Kuda Terbang, maupun Raja Kuda Setan, ia harus keluar dan mengembalikan kudaku."
Akan tetapi, pada saat itu, dari dalam benteng keluarlah banyak sekali anggauta tentara yang segera menerjang keluar dan mengeroyok Lo Sin.
Pemuda ini menjadi marah sekali dan ia lalu memutar pedangnya menangkis serangan ini.
Terdengar seruan-seruan kaget karena sekali saja ia memutar-mutar pedangnya, beberapa buah golok dan pedang para pengeroyoknya telah terbabat putus.
Tiba-tiba terdengar bentakan keras yang menyuruh semua perajurit mundur dan dari pintu gerbang itu melompat keluar seorang perwira tinggi besar seperti raksasa dengan pedangnya yang besar mengerikan di tangan perwira yang bukan lain orang adalah Can Kok In sendiri ini, lalu membentak sambil memutar-mutar sepasang matanya yang lebar.
"Eh, eh, orang gagah darimanakah datang-datang membikin kacau di bentengku??"
Sebelum Lo Sin dapat menjawab, dari pintu gerbang itu keluar pula seorang tinggi kurus berwajah pucat kuning dan ia kenali orang ini sebagai penunggang kudanya tadi.
Maka ia lalu menuding kepada orang itu.
"Kaukah yang bernama Lie Cit Un berjuluk Raja Kuda Terbang dan yang telah mencuri kudaku?"
Lie Cit Un tertawa bergelak sambil mencabut keluar pedangnya.
"Bangsat bermulut lancang. Apa buktinya kau berani menuduh aku sebagai pencuri kudamu?"
Juga Can Kok In merasa heran mendengar ini, lalu berkata.
"Jangan sembarangan menuduh. Orang ini adalah Lie-wangwe yang menjadi sahabat baikku dan tak mungkin ia mencuri kuda. Ketahuilah, ia ini adalah seorang pemilik banyak kuda-kuda jempolan, mana ia sudi mencuri kudamu?"
Lo Sin merasa kurang baik untuk berlaku kasar, maka sambil menekan kemarahannya, ia berkata.
"Kuda yang kau tunggangi itu adalah kudaku Pek-liong-ma yang kaucuri dari rumah penginapan."
"Gila!"
Teriak Si Raja Kuda Terbang.
"Kuda itu adalah kudaku sendiri!"
Lalu ia memberi tanda kepada dua orang pelayannya tadi untuk mengambil kuda itu.
"Coba ambil kuda putihku itu ke sini!"
Dua orang pelayan itu lalu berlari ke dalam dan tak lama kemudian mereka menuntun kuda putih yang Lo Sin kenali bukan lain adalah kudanya sendiri.
"Nah, kau lihatlah, apakah tandanya bahwa kuda ini kudamu?"
Si kurus menantang. Lo Sin tersenyum.
"Jangan kau pergunakan akal bangsat. Kuda ini adalah kudaku dan ia tentu menurut segala omonganku. Lihat!"
Lo Sin lalu berkata kepada kudanya itu.
"Pek-liong! Kau ke sinilah!"
Akan tetapi aneh, kuda itu hanya menggunakan kaki depannya untuk mencakar-cakar tanah hingga debu mengebul, akan tetapi tidak menurut perintah Lo Sin.
Pemuda ini membelalakkan mata dengan heran sekali.
Belum pernah kudanya ini membantah perintahnya.
Ia memandang lagi dengan penuh perhatian dan ternyata bahwa kuda ini benar-benar adalah kudanya Pek-liong-ma.
"Pek-liong! Siapa yang mengganggumu? Berlututlah!"
Akan tetapi kuda itu tetap berdiam dan menggaruk-garuk tanpa memperdulikan suara perintah Lo Sin.
"Ha-ha-ha!"
Lie Cit Un tertawa geli.
"Maling kecil, jangan kau memperlihatkan lelucon busuk di sini. Terang bahwa kuda itu tidak menurut perintahmu. Bukti apa lagi yang dapat kauperlihatkan bahwa kuda ini benar-benar kudamu?"
Can Kok In juga memandang marah.
"Sobat, kau seorang berpakaian begini indah dan sikapmu gagah. Mengapa kau tidak malu mengaku kuda orang lain sebagai kudamu?"
Lo Sin menjadi pucat dan serba salah. Ia sungguh-sungguh tidak mengerti mengapa Pek-liong-ma kali ini tidak mau mentaati perintahnya. Ia lalu berkata.
"Entah apa yang terjadi dengan kudaku ini. Akan tetapi, orang she Lie. Kau berkukuh mengaku bahwa kudaku ini adalah kudamu, apa pula tanda-tandanya?"
"Ha-ha-ha! Kau hendak mempergunakan senjata yang kukeluarkan? Aku tidak sedungu kau, sobat. Lihatlah ini!"
Sambil berkata demikian, ia menunjuk ke arah paha kiri kuda putih itu dan Lo Sin menjadi terkejut dan marah sekali ketika melihat bahwa kulit paha kuda itu terdapat tanda cap huruf "Lie", tanda yang selalu terdapat pada paha semua kuda milik Lie Cit Un.
Pemuda ini memandang terheran-heran.
Bagaimanakah hal ini bisa terjadi?
Mengapa kudanya telah mempunyai tanda cap itu dan mengapa pula Pek-liong-ma tidak mau menurut perintahnya?
Ia memutar-mutar otak, akan tetapi tidak mendapat jawaban.
Tentu saja ia tidak berdaya menghadapi Lie Cit Un, penggemar dan pemelihara kuda yang telah berpengalaman dan mempunyai banyak sekali akal bulus itu.
Kuda Pek-liong-ma dicap olehnya pada saat ia mencurinya dari rumah penginapan itu dan karena ia memang mahir sekali dalam hal menjinakkan kuda, maka ia mempunyai semacam obat yang apabila dimakan oleh seekor kuda, binatang itu menjadi jinak dan penurut.
Obat ini pulalah yang membuat Pek-liong-ma lupa akan suara perintah majikannya.
"Bangsat, kau telah menyihir kudaku tiba-tiba Lo Sin berkata sambil menggerakkan pedangnya. Akan tetapi pedang panjang besar di tangan Can Kok In berkelebat dan menangkis pedangnya hingga Lo Sin terkejut karena tenaga perwira raksasa itu benar-benar mengagumkan. Ia hendak mengamuk, akan tetapi, merasa bahwa ia tentu akan dianggap keterlaluan karena sudah nyata bahwa kuda itu ada tanda-tanda memang benar milik orang she Lie. Tiba-tiba Can Kok In dapat melihat perhiasan burung walet hitam di kepala Lo Sin. Matanya yang sudah lebar itu makin melebar dan ia lalu berkata.
"Hai! Bukankah kau ini si Walet Hitam?"
Ketika Lo Sin mengangguk, Can Kok In melanjutkan.
"Aneh. Aku mendengar bahwa Ouw-yan-cu si Walet Hitam adalah seorang gagah perkasa, akan tetapi tidak tahunya ia sekarang datang mengacau bentengku dan hendak merampas kuda orang. Bukankah ini aneh sekali? Atau, barangkali kau ini Ouw-yan-cu palsu?"
Lo Sin menjadi serba salah dan maklum bahwa keadaan makin sulit.
Hendak menggunakan kekerasan, selain menghadapi banyak lawan tangguh dan keroyokan ratusan tentara, juga ia merasa betapa pihaknya akan mendapat kesan buruk sekali.
Peristiwa ini tentu akan tersebar luas dan nama Walet Hitam akan menjadi rusak sebagai seorang maling kuda hina dina.
Ia lalu menjura kepada Can Kok In dan berkata.
"Maafkanlah semua kekasaranku tadi. Mungkin aku telah keliru sangka dan mungkin sekali kuda ini memang mempunyai persamaan luar biasa dengan kudaku yang hilang. Nah, selamat tinggal!"
"Ouw-yan-cu, nanti dulu! Telah lama aku mengagumi namamu, maka sudilah kau mampir sebentar agar kita bisa bercakap-cakap sambil minum arak!"
Teriak Can Kok In.
Akan tetapi, Lo Sin yang merasa amat malu, penasaran dan menyesal itu tentu saja tidak sudi menerima undangan ini.
Sambil mengucapkan terima kasih, tubuhnya lalu berkelebat cepat dan meninggalkan tempat itu.
"Sayang"""
Kata Can Kok In sambil menggeleng-gelengkan kepalanya yang besar.
"aku ingin sekali mencoba kepandaiannya."
Mereka lalu menutup pintu benteng dan kembali ke dalam benteng untuk menjamu tamunya yang baru datang, yakni Lie Cit Un si Raja Kuda Terbang!
Dengan tubuh terasa lemas, Lo Sin meninggalkan benteng itu.
Hatinya berduka dan pikirannya kacau balau.
Ia amat sayang kepada kudanya dan kini tahu-tahu kuda itu lenyap, atau bukan lenyap melainkan berubah hebat sekali.
Ia tidak merasa ragu-ragu lagi bahwa kuda yang berada di dalam benteng itu pasti kudanya Pek-liong-ma, sungguhpun ia sama sekali tidak mengerti mengapa kudanya bisa berubah seperti itu!
Sementara itu, fajar telah berganti pagi dan dengan hati tidak karuan dan pikiran ruwet, Lo Sin berjalan sambil menundukkan kepala.
Ia berjalan perlahan dan tiba-tiba ia menahan tindakan kakinya.
Ia teringat akan sesuatu dan wajahnya yang tampan itu berseri menyinarkan harapan baru.
Mengapa ia begitu bodoh dan tidak ingat akan hal ini?
Ia harus mempergunakan sulingnya!
Semenjak kuda Pek-liong-ma masih muda, binatang itu senang sekali mendengar suara sulingnya, bahkan ia mempunyai semacam lagu yang khusus untuk kuda Pek-liong-ma!
Dan setiap kali, ia menyuling dan memainkan lagu Pek-liong-ma itu, kudanya pasti akan datang menyusulnya, di manapun ia berada.
Pernah ia dan kedua orang tuanya mencoba dan mengikat kuda itu erat-erat di kandang, lalu ia pergi ke tempat yang cukup jauh lalu menyuling lagu Pek-liong-ma dan kuda itu dengan nekad lalu memberontak, memutuskan tali ikatan dan mengejar ke tempatnya.
Teringat akan hal ini, Lo Sin lalu berdiri di atas sebuah batu besar dan mencabut keluar sulingnya.
Ia menenteramkan hatinya dan mengatur pernapasannya agar pikirannya yang ruwet menjadi tenang, karena apabila pikirannya ruwet, ia takkan dapat meniup suling dengan baik.
Kemudian ia menempelkan ujung suling itu pada bibirnya dan ditiupnya perlahan suling itu.
Maka terdengarlah bunyi suling yang merdu di pagi hari itu.
Burung-burung pagi yang tadinya ramai berkicau di pohon-pohon dekat tempat Lo Sin berdiri, tiba-tiba berhenti bernyanyi seakan-akan mereka ikut menikmati bunyi suling yang ditiup Lo Sin.
Pemuda ini memang pandai sekali bersuling hingga suara sulingnya terdengar melengking nyaring dan terdengar sampai jauh.
Ia merasa yakin bahwa suara sulingnya pasti terdengar sampai di dalam benteng di mana Pek-liong-ma berada.
Ia menyuling terus memainkan lagu Pek-liong-ma yang sengaja dimainkan untuk menarik perhatian kudanya.
Ia dapat membayangkan bahwa sebagaimana biasanya, kudanya itu tentu akan mengamuk, memutuskan tali pengikatnya dan sebentar lagi berlari mendatangi ke tempat ini, maka wajah Lo Sin berseri girang dan meniup sulingnya makin kuat.
Akan tetapi, sudah habis lagu itu ditiupnya, belum juga ia mendengar kaki kudanya berlari datang.
Ia mulai gelisah dan kecewa, dan pada saat ia mengharap-harapkan kedatangan kudanya Pek-liong-ma, tiba-tiba terdengar kaki orang berjalan ke arahnya dari kanan.
Lo Sin mengerling dan tiba-tiba suara sulingnya berhenti.
Suara sulingnya yang diharapkan akan datangnya Pek-liong-ma itu, ternyata telah mendatangkan mahluk lain yang sama sekali tak pernah diduganya akan ia lihat di situ.
Yang datang ini bukan lain ialah Lee Ing.
Lo Sin berdiri seperti patung, kedua tangan masih memegang suling dan ujung suling masih berada di dekat mulutnya.
Ia menengok ke kanan dan tak berani bergerak, seakan-akan takut kalau pandangan ini akan lenyap jika ia menggerakkan tubuhnya.
Ia melihat Lee Ing dengan cantik dan gagah sekali datang ke arahnya dengan tindakan kaki tetap dan lenggang menggiurkan.
Alangkah gagahnya gadis ini, alangkah manisnya, alangkah cantik jelita.
Tangan kiri Lee Ing berada di gagang pedang yang tergantung di pinggang dan biarpun wajah dara ini nampak agak pucat dan kurang tidur namun kecantikannya tidak berkurang, bahkan nampak sewajarnya.
Gadis itu datang menghampiri dengan mata menatap wajah Lo Sin yang bengong bagaikan patung batu itu.
"Kau...... kau""?"
Akhirnya Lo Sin hanya dapat menegur, tak lebih dari pada itu.
Sedangkan Lee Ing ketika melihat betapa pandang mata pemuda itu memancarkan cahaya aneh seperti dulu ketika mula-mula bertemu di bawah hujan badai, merasa sebal sekali.
Ia telah dapat merasakan pandang mata itu dan kembali ia menjadi marah, karena sebagai seorang yang telah beristeri, Lo Sin tidak berhak memandang dia dengan pandang mata seperti itu.
Lee Ing lalu menundukkan muka, tak berani menentang pandang mata Lo Sin, lalu katanya sambil cemberut.
"Musuh berada di dekat, dan kau enak-enakan meniup suling. Bukankah kau sedang mencari bangsat rendah Lui Tik Kong?"
Mendengar disebutnya nama ini, Lo Sin merasa betapa kepalanya seakan-akan disiram air dingin.
Lenyaplah lelah dan lesunya, dan tiba-tiba terlupa sama sekali olehnya akan peristiwa yang menimpa kudanya.
Segera seluruh urat di tubuhnya menegang dan ia siap untuk menerkam Tik Kong.
Inilah sifat yang diwarisinya dari ibunya.
"Mana......? Mana penjahat hina dina itu?"
Tanyanya dengan mata tajam hingga Lee Ing memandang kagum.
Sama benar mata pemuda ini dengan mata Ang Lian Lihiap kalau ia sedang marah.
Dengan singkat Lee Ing lalu menuturkan betapa ia mengejar-ngejar Tik Kong sampai di tempat ini dan betapa Lui Tik Kong bersembunyi dan berlindung di dalam benteng itu.
"Apa??"
Lo Sin memandang heran dan terkejut.
"Di benteng itu??"
Lee Ing merasa heran melihat sikap Lo Sin ini.
"Apakah kau takut menghadapi perwira raksasa yang lihai itu? Memang di sana banyak terdapat orang-orang pandai!"
Katanya menyindir. Lo Sin menggeleng-geleng kepalanya.
"Untuk menangkap bangsat she Lui itu, jangankan baru ada benteng yang melindunginya, biar ia lari ke neraka sekalipun, aku tidak takut untuk mengejarnya."
"Kau...... kau agaknya sangat benci kepadanya,"
Kata Lee Ing.
"Apakah kau juga tidak benci padanya?"
Jawab Lo Sin.
"Dia seorang rendah dan jahat, dia telah menganiaya Kong peh-peh. Ini masih belum hebat, akan tetapi, dia""
Dia berani sekali hendak menipu ayahmu dan hendak""
Mengawini kau!"
Kata-kata ini terdengar penuh kemarahan.
"Kalau begitu, hayo kita pergi! Mau tunggu apalagi?"
Kata gadis itu dan Lo Sin lalu selipkan suling di punggungnya dan keduanya lalu berjalan cepat menuju ke benteng.
"Dengar...... Nyo-siocia (nona Nyo)""!"
"Jangan sebut aku siocia. Bukankah kau ini putera Lo-siokhu (paman Lo)?"
Tegur Lee Ing hingga Lo Sin menjadi ma kin gugup.
"Baiklah, Ing-moi. Biar selanjutnya aku menyebutmu Ing-moi saja. Kau juga tahu bahwa bangsat she Lui itu takut sekali kepadaku maka apabila aku ikut masuk ke dalam benteng tentu ia akan menyembunyikan dirinya dan tidak berani muncul. Kalau ia tidak mau muncul, bagaimana kita bisa mencarinya di dalam benteng yang besar dan yang didiami ratusan tentara itu? Lebih baik kau masuk seorang diri dulu dan aku diam-diam mengikutimu. Kalau dia sudah keluar, barulah aku turun tangan. Setujukah kau?"
Lee Ing merasa setuju dan menganggap akal ini amat cerdik. Gadis ini dengan gagahnya lalu menghunus pedang dan menerjang pintu benteng sambil berseru keras.
"Bangsat Tik Kong pengecut besar! Apakah kau benar-benar tidak berani keluar dan sembunyi seperti seekor tikus busuk?"
Beberapa orang penjaga lalu mengurungnya, akan tetapi sambil memutar pedangnya, Lee Ing membuat mereka ini mundur dengan jerih dan gadis ini dengan cepat dan berani sekali melompat masuk ke dalam benteng.
"Bangsat perempuan tak tahu diri! Kau benar-benar datang mencari mampus!"
Teriak Tik Kong yang telah melompat keluar dengan pedang di tangan.
Sesungguhnya ia maklum bahwa kepandaian pedang gadis ini lihai sekali, namun karena ia berada di dalam benteng di mana terdapat banyak sekali kawan-kawannya, ia tidak merasa takut dan menyerang dengan gagahnya.
Can Kok In juga sudah keluar bersama Lie Cit Un dan mereka juga membawa pedang.
Perwira raksasa itu menggeleng-gelengkan kepalanya yang besar.
"Sungguh seorang gadis yang keras hati dan berkepala batu! Alangkah beraninya ia memasuki benteng ini!"
Ia selalu melarang anak buahnya yang hendak mengeroyok Lee Ing dan hanya berdiri sambil menonton pertempuran yang terjadi antara Lee Ing dan Tik Kong.
Akan tetapi, dalam kemarahannya, Lee Ing berkelahi dengan nekad dan ia mengerahkan seluruh kepandaiannya hingga baru bertempur kurang lebih tigapuluh jurus saja, Tik Kong sudah terdesak hebat dan ujung pedang Lee Ing menyambar-nyambar mengarah jiwanya.
"Ganas, ganas!"
Seru Can Kok In yang melompat maju dan menangkis dengan pedangnya yang panjang dan berat.
Tik Kong melompat mudur dengan wajah pucat sedangkan Lee Ing yang melihat betapa perwira tinggi besar itu kembali membantu Tik Kong, lalu mengertak gigi dan melawan dengan nekad.
Akan tetapi, kepandaian dan tenaga Can Kok In benar-benar mengagumkan.
Dengan tangkisan yang tepat dan yang dilakukan dengan keras, ia berhasil membuat pedang Lee Ing terlepas dari pegangan.
Akan tetapi, perwira raksasa ini hanya tertawa besar dan tidak mau menyerang Lee Ing.
Pada saat itu, dari atas tembok benteng melayang turun bayangan hitam yang berseru.
"Can-ciangkun tak baik menghina orang!"
Can Kok In cepat memandang dan ia terkejut sekali melihat bahwa yang datang ini adalah Lo Sin si Walet Hitam yang kemarin datang mengacau hendak merampas kuda.
"Ouw-yan-cu! Apakah kau datang lagi hendak merampas kuda orang?"
Bentaknya. Lo Sin tertawa geli.
"Perwira she Can! Kau hanya besar tubuhmu saja, akan tetapi pikiranmu sempit sekali. Kuda itu adalah kudaku sendiri yang harus kuambil kembali, dan kedatanganku tidak saja hendak memberi hajaran kepada maling kuda yang kaulindungi, akan tetapi juga menawan bangsat rendah Lui Tik Kong yang ternyata kaulindungi pula."
Sementara itu, melihat kedatangan Lo Sin, Lui Tik Kong menjadi pucat dan hendak melarikan diri, akan tetapi tiba-tiba Lee Ing yang biarpun telah bertangan kosong, melompat dengan cepat sambil menyerangnya dan membentak.
"Bangsat pembunuh hina dina! Jangan kau mencoba hendak lari!"
Terpaksa Lui Tik Kong mengelak dan membalas menyerang dengan pedangnya.
Ia dapat menetapkan hatinya oleh karena di saat itu terdapat banyak kawannya yang tentu akan menghalangi Lo Sin menyerangnya, maka ia lalu mainkan pedangnya dengan tetap.
Sedangkan Can Kok In ketika melihat betapa Lee Ing menghadapi Tik Kong dengan tangan kosong saja, merasa lega dan ia tidak perlu menguatirkan keadaan Tik Kong.
Ia yakin bahwa menghadapi gadis yang bertangan kosong itu, Tik Kong takkan kalah.
Akan tetapi, tetap saja Tik Kong merasa gugup dan takut.
Ia juga kuatir kalau-kalau Lee Ing membongkar rahasianya, dan ia maklum bahwa biarpun seorang perwira, namun Can Kok In adalah seorang jujur dan raksasa muda itu amat mengagumi Kong Sin Ek.
Kalau sampai Can-ciangkun tahu bahwa ia telah menyiksa dan membunuh si Dewa Arak itu, tentu keadaannya akan menjadi berbahaya sekali karena bantuan raksasa itu takkan dapat diharapkan.
Maka ia lalu membentak.
"Lee Ing, gadis liar! Tidak baik kita mengacaukan benteng. Kalau kau memang gagah, mari kita bertempur mati-matian di luar benteng!"
"Tik Kong bangsat rendah! Kaukira aku jerih kepadamu? Keluarlah dan kau akan kubinasakan di luar benteng!"
Tik Kong melompat keluar dari pintu gerbang, diikuti oleh Lee Ing dan setelah tiba di luar, Tik Kong terus berlari menjauhi benteng itu.
"He, pengecut, hendak lari ke mana?"
Seru Lee Ing yang mengejar terus. Sementar itu, Lo Sin lalu berkata kepada Can Kok In.
"Can-ciangkun, sekarang harap kau suka mengembalikan kudaku. Sekarang aku ingat bahwa ketika kuda itu terjatuh, ia mendapat luka di lehernya dan kurasa luka itu sampai sekarang masih ada, tertutup oleh bulunya. Silakan periksa kalau kau tidak percaya."
Can Kok In memang seorang jujur, maka ia lalu menyuruh orang mengeluarkan kuda itu dan ketika ia sendiri memeriksa kulit leher kuda dan menyingkap bulu-bulu yang halus dan gemuk itu, ternyata benar bahwa di situ terdapat bekas luka.
Perwira raksasa ini memandang kepada si Raja Kuda Terbang dengan muka penuh pertanyaan, akan tetapi Lie Cit Un tersenyum mengejek sambil menggerak-gerakkan pedangnya.
"Ouw-yan-cu hanya ngawur saja dan mengatakan hal yang kebetulan atau ia memang sudah tahu sebelumnya hingga mengeluarkan bukti palsu! Sudah jelas bahwa kuda ini kudaku, maka semua desakannya berarti menghinaku! Aku tantang Ouw-yan-cu untuk menentukan hak milik atas kuda ini dengan bertanding pedang!"
"Maling kuda! Tanpa ditantang akupun ingin sekali mengajar adat kepadamu!"
Bentak Lo Sin sambil mencabut pedangnya.
"Bagus! Lihat pedang!"
Lie Cut Un berseru dan menyerang dengan cepat.
Ia menggunakan ilmu pedang Pek-ho-kiam-hwat (Ilmu Pedang Burung Ho Putih) dari cabang persilatan Thai-san-pai, gerakannya cukup kuat dan cepat.
Akan tetapi Lo Sin yang merasa marah sekali kepada maling kuda yang curang ini, segera berseru nyaring sekali dan tubuhnya melompat, maka pedangnya terputar cepat menangkis pedang lawan lalu pemuda ini mengeluarkan ilmu pedang Hwie-sian-liong-kiam-sut yang hebat!
Lie Cit Un menjadi berkunang-kunang matanya ketika melihat betapa sinar pedang lawannya berkelebatan dan tubuh pemuda itu lenyap dari depannya.
Ia mencoba untuk memutar pedangnya dengan gerak tipu Dalam Hujan Membuka Payung, sebuah gerakan mempertahankan diri dari serangan lihai hingga pedangnya terputar merupakan payung yang menjadi perisai dan yang melindungi tubuhnya.
Akan tetapi ia tidak kenal akan kelihaian ilmu pedang Hwie-sian-liong-kiam-sut apabila ia mengira bahwa ia akan mudah saja menghadapi ilmu pedang dengan gerakan Dalam Hujan Membuka Payung.
Tiba-tiba pedangnya yang diputar cepat itu berhenti gerakannya seakan-akan menempel pada sesuatu yang kuat sekali dan ternyata bahwa pedangnya telah menempel dengan pedang di tangan Lo Sin, dan betapapun ia membetot dan menarik pedangnya tak dapat terlepas.
Saat itu tangan kiri Lo Sin meluncur ke depan dan dua jari tangan pemuda itu dengan cepatnya menotok jalan darah twi-hai-hiat hingga tubuhnya menjadi kaku dan ia berdiri tak dapat bergerak bagaikan patung dengan pedang masih di tangannya.
"Ha, ha, maling kuda yang jahat. Apakah sekarang kau masih mau merampas kudaku?"
"Lihai sekali!"
Tiba-tiba Can Kok In berseru keras dan perwira raksasa ini melompat maju dan dengan tangan kiri ia menepuk pundak Lie Cit Un dan dengan tangan kanannya ia menampar ke arah Lo Sin.
Si Walet Hitam melihat datangnya tamparan yang amat kerasnya itu, sengaja tidak berkelit dan bahkan iapun memukulkan tangan kirinya dengan kepalan terbuka untuk menyambut datangnya tamparan tangan Kok In.
Dua telapak tangan bertemu hebat sekali dan akibatnya adalah Lie Cit Un yang menderita celaka.
Ternyata bahwa Can Kok In yang memiliki tenaga gwakang (tenaga luar) luar biasa besarnya itu, tadinya memandang rendah dan mengira bahwa biarpun ilmu pedangnya membuat ia kagum, akan tetapi tenaga pemuda itu tentu tidak berapa hebat, maka ia membagi tenaganya menjadi dua.
Yang sebagian kecil ia gunakan melalui tangan kiri untuk membebaskan Lie Cit Un dari pengaruh totokan Lo Sin, sedangkan sebagian pula yang terbesar ia gunakan untuk menampar Lo Sin.
Akan tetapi, ketika Lo Sin yang mengerahkan tenaga dalamnya menerima pukulan ini dengan tangan hingga dua tenaga raksasa ini bertemu dengan hebat.
Can Kok In merasa terkejut dan tenaga pukulannya membalik.
Untuk menjaga agar ia jangan mendapat luka di dalam, perwira raksasa ini menyalurkan tenaga yang kembali itu melalui tangan kirinya masih terpentang dan akibatnya terdengar suara "krek!!"
Dan patahlah tulang pundak Lie Cit Un karena tekanan tangan kiri Kok In yang berat dan keras.
Si Raja Kuda Terbang yang telah terbebas dari totokan, akan tetapi bahkan menderita tulang patah ini, menjerit kesakitan dan jatuh sambil memegang-megang pundaknya yang sakit sekali.
Can Kok In terkejut dan heran.
Tak pernah di sangkanya bahwa Ouw-yan-cu selihai itu hingga tidak saja dapat menghadapi tamparannya, bahkan dapat pula mengembalikan tenaga pukulan itu hingga tanpa disengaja ia telah melukai si Raja Kuda Terbang.
Mukanya menjadi merah dan sepasang matanya mengeluarkan cahaya penasaran.
Ia lalu mencabut pedangnya yang panjang dan besar, dan membentak.
"Ouw-yan-cu! Kau benar-benar lihai sekali. Biarlah aku mencoba sampai di mana ketajaman pedangmu."
Akan tetapi Lo Sin yang merasa bahwa ia telah terlalu lama berada di dalam benteng, sedangkan si pencuri telah mendapat bagiannya dan kudanya telah kembali, dan ia ingin sekali melihat bagaimana keadaan Lee Ing dan Tik Kong, maka ia lalu menjura dan berkata.
"Can-ciangkun, tenagamu hebat sekali. Biarlah lain kali saja kita bermain-main lagi!"
Ia lalu melompat ke atas kudanya dan melarikan kuda itu keluar dari pintu benteng. Para anggauta tentara hendak mengejar, akan tetapi Can Kok In membentak.
"Jangan bergerak, biar aku sendiri yang mengejar!"
Iapun lalu melompat ke atas seekor kuda yang besar dan mengejar keluar.
Lui Tik Kong yang melarikan diri sengaja memancing Lee Ing ke sebuah tempat sunyi di mana terdapat batu-batu karang dan banyak rumput.
Setelah berada jauh dari benteng itu, tiba-tiba Lui Tik Kong memutar tubuh dan menyerang.
"Lee Ing perempuan tak tahu diri! Kau menghina suamimu sendiri!"
Marahlah wajah Lee Ing. Ia berkelit ke kiri sambil memaki.
"Bangsat rendah bermulut kotor! Siapa sudi menjadi isterimu? Kita belum melangsungkan perkawinan, maka janganlah mulutmu yang sebentar lagi akan kuhancurkan itu menyebut-nyebut tentang suami isteri. Cis, anjing tak tahu malu!"
Kebetulan sekali mereka berkelahi tempat di mana kedua orang pelayan si Raja Kuda Terbang berada.
Mereka ini sedang mencari rumput gemuk atas perintah majikan mereka untuk diberikan kepada kuda putih hasil curian itu!
Melihat dua orang bertempur mati-matian, mereka berdiri diam tak berani bergerak bagaikan patung dan hanya memandang dengan hati berdebar.
Lui Tik Kong menyerang dengan penuh kegemasan dan mainkan pedangnya dengan cepat sekali, akan tetapi Lee Ing biarpun bertangan kosong, berkat gin-kangnya yang sempurna dapat mengelak dengan cepat dan membalas dengan serangan-serangannya.
Ia mempergunakan kedua tangannya untuk membalas dengan totokan-totokan maut, bahkan kakinya juga selalu mencari kesempatan untuk mengirim tendangan maut kepada pemuda yang amat dibencinya ini.
Mereka bertempur mati-matian sampai limapuluh jurus lebih dan tiba-tiba Lee Ing teringat akan ilmunya Gin-san-ciang atau Pukulan Bubuk Perak yang lihai.
Melihat bahwa dengan tangan kosong ia sukar sekali mendesak Tik Kong, tiba-tiba ketika Tik Kong menusuk dengan gemas dan ia berjongkok hingga ujung pedang lewat di atas kepalanya, dari bawah Lee Ing memukul dengan kedua tangan ke arah dada pemuda itu!
Biarpun kedua tangannya tidak menyentuh dada lawan, namun tenaga Gin-san-ciang yang hebat itu telah menghantam dada Tik Kong dengan tepat!
Lui Tik Kong memekik ngeri dan tubuhnya terpental hingga kepalanya terbentur batu dan ia roboh pingsan sambil mengeluarkan darah dari mulutnya!
Dengan gemas dan girang, Lee Ing memungut pedangnya yang tadi dipakai oleh Tik Kong untuk menyerangnya, dan dengan pedang di tangan ia melangkah maju untuk mengirim tusukan maut!
Akan tetapi, pada saat itu terdengar suara kaki kuda dan terdengar seruan Lo Sin.
"Ing-moi, tahan!"
Lo Sin cepat melompat turun dan menghampiri gadis itu yang memandangnya heran.
Mengapa pemuda ini mencegahnya membunuh pemuda jahat itu?
"Ing-moi, aku hendak membawa bangsat ini ke Pek-ma-san, agar ia suka membuka pengakuan di depan makam Kong-pehpeh!"
Kata Lo Sin sambil memeriksa luka Tik Kong akibat pukulan Gin-san-ciang dari Lee Ing. Lo Sin menggeleng-geleng kepala dan berkata.
"Hebat sekali pukulanmu, Ing-moi. Kalau kau sudah melatih pukulan Gin-san-ciang itu dengan matang, kau akan menjadi lihai sekali!"
Keadaan Tik Kong memang payah.
Untung baginya bahwa Lee Ing memang belum matang betul latihannya dalam ilmu pukulan ini hingga ia hanya menderita luka dalam yang hebat akan tetapi yang tidak membahayakan keselamatan jiwanya.
Pada saat itu, terdengar suara kaki kuda dan nampak Can Kok In si perwira raksasa itu mendatangi dan melompat turun dari kudanya.
"Ouw-yan-cu! Kau telah menyerang dan melukai seorang perwira kerajaan. Sudah menjadi kewajibanku untuk menangkapmu karena kau telah memberontak!"
Sambil berkata demiklan, Kok In mencabut pedangnya.
"Can-ciangkun! Aku kenal namamu sebagai seorang perwira yang gagah perkasa dan jujur. Kau tahu bahwa aku dan adikku ini terhadap Lui Tik Kong, terdapat permusuhan yang besar sekali. Aku tidak menyerang dan menangkap seorang perwira kerajaan, akan tetapi aku menangkap seorang penjahat besar bernama Lui Tik Kong. Lihat!"
Kedua tangan Lo Sin bergerak cepat sekali dan tahu-tahu topi perwira dan tanda pangkat di dada baju Lui Tik Kong telah dicabut dan dirobek-robek, lalu dilempar ke atas tanah.
"Nah, bukankah dia sekarang Lui Tik Kong penjahat biasa saja dan bukan seorang perwira?"
Can Kok In memutar-mutar sepasang matanya yang bundar dan bulat, kemudian ia mengangguk-angguk.
"Aku memang tidak suka mencampuri urusan pribadi orang lain. Akan tetapi, aku masih ingin sekali mengadu ilmu kepandaian dengan putera Ang Lian Lihiap yang tersohor!"
"Kalau kita berdua masih sama-sama hidup, lain kali aku pasti akan mencarimu untuk bermain-main sebentar, Can-ciangkun. Akan tetapi sekarang ini aku dan saudaraku ini mempunyai urusan besar yang penting sekali. Maafkan kami!"
Setelah berkata demikian, Lo Sin lalu menangkap leher Tik Kong, menaikkan tubuh yang sudah lemas itu ke punggung Pek-Iiong-ma, lalu ia mengajak Lee Ing pergi dari tempat itu.
Can Kok In hanya menggelengkan kepala saja sambil memandang sampai bayangan Lo Sin dan Lee Ing lenyap di sebuah tikungan, kemudian ketika melihat dua orang pelayan si Raja Kuda Terbang yang masih berdiri seperti patung, ia melompat ke depan mereka dengan pedang di tangan.
"Hayo katakan sebetulnya! Kalau kalian membohong, pedangku takkan mengenal ampun! Sebetulnya, kuda putih itu milik siapakah?"
Dengan tubuh gemetar kedua pelayan itu lalu berterus terang, menceritakan bahwa kuda itu benar-benar kepunyaan Lo Sin yang dicuri oleh majikan mereka dari rumah penginapan.
Setelah mendengar ini, Kok In dorong kedua orang pelayan itu sampai terguling-guling, lalu melompat ke atas kudanya dan cepat kembali ke dalam benteng.
Dan pada saat itu juga ia mengusir keluar Lie Cit Un dari bentengnya!
Sekarang kita ikuti perjalanan Ang Lian Lihiap dan Hwee-thian Kim-hong yang mengikuti Mei Ling untuk melihat keadaan Kong Liang yang terluka oleh tendangan Bong Cu Sianjin yang lihai.
Dengan hati penuh kekhawatiran, Ang Lian Lihiap dan suaminya lalu mengajak Song Mei Ling untuk mempercepat perjalanan mereka dengan gadis cantik itu membawa mereka ke sebuah kelenteng yang terletak di luar kota Bun-ciang.
Song Kong Liang rebah di atas balai-balai dan mendapat perawatan kepala hwesio di kuil itu.
Ketika melihat kedatangan Lian Hwa dan Cin Han, Kong Liang mencoba untuk bangun dan memberi hormat, akan tetapi Lian Hwa dan suaminya buru-buru mencegahnya dan mereka duduk di dekat pembaringan pemuda itu.
Wajah yang tampan itu nampak pucat sekali, akan tetapi setelah suami isteri pendekar itu memeriksa luka pada dadanya, mereka merasa lega, oleh karena biarpun tendangan itu amat hebat hingga mematahkan sebuah tulang rusuk, namun berkat keuletan dan kekuatan tubuh Kong Liang, maka pemuda ini terhindar dari bahaya maut.
Apalagi ia cepat mendapat pertolongan pengobatan dan perawatan dari kepala hwesio yang mengerti tentang ilmu pengobatan, maka sekarang ia telah hampir sembuh, hanya tinggal menanti tersambungnya tulang rusuk yang patah.
"Jangan khawatir, Kong Liang,"
Kata Ang Lian Lihiap.
"Kita pasti akan membalaskan lukamu ini dan memberi hajaran kepada Bong Cu yang ternyata belum mau merobah adatnya yang buruk."
"Dia lihai sekali, suci,"
Kata Kong Liang.
"Biarpun ia telah buntung kedua lengannya, akan tetapi tendangannya hebat sekali dan sukar dilawan."
Lian Hwa dan Cin Han tentu saja dapat memaklumi hal ini oleh karena sebelum terbuntung kedua lengannya, memang kepandaian Bong Cu amat hebat dan lihai, bahkan lebih tinggi tingkatnya daripada kepandaian Song Cu Ling nenek kedua anak kembar itu.
Dan dulu ketika Cin Han turun tangan dibantu oleh Lian Hwa dan Tiang Pek, barulah mereka bertiga dapat mendesak Bong Cu!
Maka kini tidak mengherankan apabila pertapa buntung itu masih dapat mempergunakan kedua kakinya untuk merobohkan Kong Liang!
Beberapa hari kemudian luka di dada Kong Liang telah sembuh sama sekali dan mereka berempat lalu beramai-ramai naik ke Hoa-mo-san untuk mencari Bong Cu Sianjin dan memenuhi tantangannya!
Sebenarnya, Cin Han dan Lian Hwa terlalu sembrono dan gegabah berani naik ke bukit ini, karena betapapun juga, harus diketahui bahwa di puncak bukit itu selain ada Bong Cu Sianjin yang lihai, dan ada pula anak murid Bong Cu Sianjin dan anak murid Lan Bwee Niang-niang, juga si pertapa wanita yang amat tinggi ilmu kepandaiannya ini masih berada di situ pula!
Dulu pernah mereka mengalami sendiri betapa hebatnya ilmu kepandaian Lan Bwee Niang-niang dan apabila tidak keburu datang Beng San Siansu maka tentu di pihak mereka tidak ada yang sanggup menghadapi pertapa wanita ini.
Akan tetapi, Ang Lian Lihiap memang terkenal tabah dan pemberani sekali.
Melihat betapa Kong Liang terluka, hati nyonya ini telah menjadi demikian marahnya hingga ia tidak mengadakan perhitungan lagi dan mendesak kepada suaminya untuk naik ke Hoa-mo-san!
Cin Han juga mengerti akan kelihaian lawan yang berada di puncak Hoa-mo-san, akan tetapi pendekar pedang inipun tidak merasa jerih, oleh karena setelah kini ia memiliki ilmu Hwie-sian-liong-kiam-sut, gabungan ilmu pedangnya dan ilmu pedang Lian Hwa dan kini keduanya pergi bersama, apalagi yang harus ditakuti?
Kalau saja pada waktu itu Bong Cu Sianjin kebetulan berada di puncak bukit, pasti akan terjadi pertempuran yang dahsyat dan hebat sekali.
Akan tetapi, kebetulan sekali Bong Cu Sianjin dan Hek Li Suthai serta Bi Mo-li baru kemarin turun gunung untuk mencari tahu tentang musuh-musuh mereka, karena Bong Cu merasa penasaran mendengar betapa berkali-kali Hek Li Suthai mengalami kekalahan dari Ang Lian Lihiap dan Hwee-thian Kim-hong, bahkan telah dikalahkan pula oleh si Walet Hitam putera Ang Lian Lihiap, kemudian kalah juga menghadapi Pat-chiu Koai-hiap Oei Gan yang sebetulnya tidak mempunyai permusuhan apa-apa dengan dia.
Ketika Cin Han dan isterinya beserta sepasang muda-mudi kembar itu tiba di kuil Teratai Putih di puncak bukit Hoa-mo-san, kuil itu nampak sunyi.
Di depan kuil ini nampak seorang pemuda berusia kurang lebih sebaya dengan Kong Liang, pemuda bertubuh tinggi besar berkulit kehitam-hitaman dan pakaiannya seperti seorang petani sederhana.
Memang ia seorang petani tulen, terbukti dari kecakapannya mengayun cangkul yang pada saat itu dikerjakannya untuk mencangkul tanah di depan kuil.
Agaknya pemuda petani itu hendak menanam sayur dan sedang bekerja dengan penuh perhatian hingga ia tidak melihat kedatangan empat orang tamu itu.
Ketika Cin Han dan kawan-kawannya sudah datang dekat, barulah ia mendengar suara mereka dan ia segera menunda pekerjaannya dan menengok.
Pada wajahnya yang gagah dan tampan itu nampak sepasang matanya yang memandang heran dan sekali lihat saja Cin Han dapat mengetahui bahwa ia berhadapan dengan seorang yang berhati polos dan jujur.
Ia lalu menjura kepada petani muda itu sambil bertanya.
"Saudara yang baik, dapatkah kau memberitahu kepada kami di mana adanya Lan Bwee Niang-niang dan Bong Cu Sianjin?"
Wajah petani muda itu tiba-tiba berubah dan terang bahwa ia merasa terkejut dan heran.
Sepasang matanya yang bersinar terang itu memandang ke arah tamu-tamu itu seorang demi seorang dan secara sopan ia segera mengalihkan pandang matanya ketika ia menatap wajah Mei Ling, hingga diam-diam Lian Hwa merasa suka kepada petani muda yang tahu akan kesopanan ini.
Petani muda ini membalas memberi hormat ketika ia menjawab.
"Maaf, siauwte yang muda berlaku lancang menjadi wakil tuan rumah, karena sesungguhnya selain pekerjaan mencangkul dan menanam sayur siauwte tidak tahu apa-apa. Cuwi (saudara sekalian) ini siapakah dan ada kepentingan apa hendak bertemu dengan Niang-niang dan Bong Cu Suhu?"
Cin Han dan kawan-kawannya tercengang mendengar ucapan ini karena ucapan yang penuh kesopanan dan teratur ini menandakan bahwa petani ini bukanlah petani biasa, dan mereka menyangka bahwa pemuda petani ini tentulah murid dari Lan Bwee niang-niang atau Bong Cu Sianjin.
Akan tetapi, oleh karena petani muda itu bicara dengan sopan, Cin Han juga menjawab dengan halus pula.
"Tolong beritahu kepada Lan Bwee Niang-niang dan Bong Cu Sianjin bahwa kami berempat, Ang Lian Lihiap, Hwee-thian Kim-hong, dan kedua saudara Song datang hendak bertemu memenuhi tantangan Bong Cu Sianjin yang diucapkan bebeberapa hari yang lalu. Dan saudara ini siapakah?"
Bukan main terkejutnya pemuda itu yang bukan lain adalah Yap Bun Gai, murid dari Bong Cu Sianjin. Ia segera menjura dengan hormat sekali kepada mereka berempat, terutama kepada Cin Han dan Lian Hwa.
"Maaf, maaf, siauwte yang rendah berlaku kurang hormat. Tidak tahunya kami kedatangan pendekar-pendekar ternama yang berilmu tinggi. Siauwte yang bodoh bernama Yap Bun Gai, dan Bong Cu Sianjin adalah guruku."
Ci Han dan Lian Hwa merasa heran sekali, karena tak pernah disangkanya bahwa Bong Cu Sianjin mempunyai seorang murid yang begini sopan-santun sikapnya yang mempunyai sepasang mata demikian jujur.
Akan tetapi, ketika mendengar bahwa petani muda ini murid Bong Cu Sianjin yang telah melukai kakaknya, Mei Ling tak dapat menahan sabar lagi dan ia melompat maju dan mengirim tamparan pada muka petani muda itu.
Plok!!
Tamparan ini tepat mengenai pipi Bun Gai dan karena Mei Ling menampar dengan mempergunakan tenaga lweekang, maka apabila yang kena tangan itu bukan orang yang memiliki kepandaian, tentu tulang rahangnya akan terlepas dan giginya akan copot semua.
Akan tetapi, ketika ditampar pipinya, kulit muka Bun Gai hanya menjadi merah saja dan pemuda ini sedikitpun tidak mengeluh atau memperlihatkan rasa sakit, sungguhpun tamparan itu telah membuat ia merasa perih dan pedas pada pipinya.
Hal ini dapat menyatakan betapa tingginya ilmu kepandaian Bun Gai.
Cin Han dan Lian Hwa juga maklum akan hal ini dan hendak mencegah Mei Ling berlaku lancang, akan tetapi, gadis ini ketika melihat betapa tamparannya diterima dengan tersenyum saja oleh Bun Gai, menjadi marah sekali dan kali ini ia mengirim pukulan hebat ke arah ulu hati pemuda tani ini.
"Maaf, aku yang bodoh menjaga diri!"
Kata Bun Gai dan cepat ia mengelak dari serangan Mei Ling yang berbahaya itu. Cin Han hendak memisah mereka, akan tetapi tiba-tiba Lian Hwa memegang tangan suaminya dan berbisik.
"Biarlah kita lihat sampai di mana kelihaian murid Bong Cu ini!"
Ternyata bahwa ilmu silat Bun Gai benar-benar lihai.
Tubuhnya biarpun tidak segesit Mei Ling yang memiliki ginkang sempurna, namun ia ternyata tenang sekali dan dapat menjaga diri dengan amat baiknya.
Pertahanannya kokoh kuat dan tenaga lweekangnya cukup tinggi hingga biarpun Mei Ling telah mengeluarkan seluruh kepandaian dan tenaganya, ia tidak dapat mendesak lawannya!
Yang paling mengherankan dan membuat Cin Han dan Lian Hwa melongo karena tidak mengerti adalah sikap pemuda tani murid Bong Cu itu.
Bun Gai ternyata sama sekali tidak mau membalas serangan-serangan Mei Ling yang datang bertubi-tubi itu dan hanya menjaga diri dengan kuatnya!
Alangkah bedanya sifat pemuda ini dengan suhunya yang kejam.
Tadinya Kong Liang hendak membantu adik perempuannya, akan tetapi ketika melihat betapa pemuda tani itu sama sekali tidak mau membalas dan tidak mau menyerang Mei Ling, terpaksa ia urungkan niatnya karena merasa malu.
Terlalu sekali kalau iapun harus turun tangan mengeroyok seorang lawan yang sama sekali tidak mau membalas!
Mei Ling merasa penasaran, malu, dan gemas sekali karena mendapat kenyataan bahwa ia sama sekali tidak berdaya terhadap pertahanan pemuda tani yang kelihatan bodoh itu!
Ia malu karena iapun tahu betapa pemuda itu tidak mau membalasnya, dan bahkan kalau menangkis selalu mempergunakan ilmu lweekang hingga lengan tangan pemuda itu menjadi lunak seakan-akan pemuda itu merasa khawatir alau akan mendatangkan rasa sakit pada lengannya yang berkulit halus dan putih bersih itu!
Dalam kemarahannya, ia lalu mencabut pedangnya yang berkilau saking tajamnya!
"Mei Ling!"
Cin Han menegur akan tetapi lagi-lagi tangan isterinya menyentuh tangannya dan ketika ia menengok, ia heran sekali melihat betapa isterinya memandang dengan wajah berseri dan bibir tersenyum!
"Maaf, maaf!"
Kata lagi Bun Gai yang terkejut juga melihat kenekatan Mei Ling dan ketika ia merogoh saku bajunya yang lebar, ia telah mengeluarkan sebuah kebutan.
Ternyata pemuda ini mempelajari cara suhunya mempergunakan senjata yang istimewa, yakni sebuah kebutan.
Sebetulnya disamping kebutan ini, Bun Gai juga mempelajari permainan tasbeh dari suhunya yang lihai sekali, akan tetapi oleh karena ia entah bagaimana tidak tega untuk menyerang dan tidak senang untuk bermusuh dengan para tamunya yang didengarnya dari orang-orang berilmu tinggi yang amat tersohor, maka ia tidak mau mengeluarkan tasbeh itu dan hanya mempergunakan kebutan untuk menjaga diri.
Mei Ling cukup gagah untuk sudi menyerang orang yang bertangan kosong, maka ia tadi menanti sampai pemuda tani itu menarik keluar kebutannya, kemudian ia membentak.
"Lihat pedang!"
Dan menikam dengan hebat. (Lanjut ke
Jilid 09) Si Walet Hitam/Ouw Yan Cu (Seri ke 03 Serial Si Teratai Merah) Karya . Asmaraman S. Kho Ping Hoo
Jilid 09 Harus diketahui bahwa gadis ini mendapat latihan ginkang dari neneknya, yakni Song Cu Ling si Dewi Tanpa Bayangan dan mempunyai kepandaian ilmu pedang yang telah ditambah oleh pelajaran dan petunjuk dari Lian Hwa, maka ilmu pedangnya ini amat cepat dan gesit gerakannya!
Akan tetapi, ketika Bun Gai mempermainkan kebutan yang mengeluarkan angin menyambar, baik Cin Han maupun Lian Hwa menjadi kagum sekali.
Mereka dapat menaksir bahwa ternyata Bong Cu Sianjin yang telah buntung tangannya itu telah menurunkan ilmu kepandaiannya kepada pemuda tani ini.
Mudah mereka duga bahwa Mei Ling bukanlah lawan pemuda ini dan benar saja, setelah bertempur tigapuluh jurus lebih, pedang Mei Ling sama sekali tak berdaya dan bahkan beberapa kali pedang itu telah terlibat oleh ujung kebutan dan tak dapat dilepaskan!
Akan tetapi, tiap kali Mei Ling sudah merasa bingung dan gemas, Bun Gai sengaja melepaskan libatan kebutannya dan kembali Mei Ling menyerang dengan sia-sia, karena tak sebuahpun serangannya berhasil menyentuh ujung baju Bun Gai!
Dan seperti juga tadi, Bun Gai sama sekali tidak mau membalas menyerang.
Hal ini membuat Mei Ling penasaran dan mendongkol sekali hingga hampir saja ia menangis!
"Kalau kau memang jantan, kau balaslah!"
Teriaknya sengit dan dengan isak hingga Lian Hwa dan Cin Han diam-diam geli.
Orang sudah mengalah dan tidak mau membalas, akan tetapi gadis itu bahkan minta dibalas!
"Kita tidak bermusuh, mengapa aku harus membalas?"
Jawab Bun Gai sambil menyampok tusukan gadis itu dengan ujung kebutannya.
"Pengecut! Balaslah""
Balaslah kalau kau memang laki-laki!"
Teriak Mei Ling dan kini mengeluarkan dua butir air mata dari matanya.
Ia merasa gemas dan sakit hati sekali karena merasa betapa pemuda tani itu mempermainkannya seperti seekor kucing mempermainkan tikus.
Entah mengapa, tiba-tiba Bun Gai mengendurkan gerakan kebutannya dan ketika pedang Mei Ling menusuk ke arah dadanya, pemuda ini hanya mengelak sedikit.
Terdengar suara kain robek dan dari pundak pemuda ini mengalir darah!
Ternyata bahwa kulit pundaknya telah kena tergores pedang!
Melihat ini, tiba-tiba Mei Ling terkejut sekali dan melompat mundur.
Gadis yang tadinya merasa gemas sekali ini, tak pernah menyangka bahwa ia akan melukai lawannya dan tahu-tahu sebuah serangan yang demikian sembarangan saja telah dapat melukai pundak pemuda tani itu.
Ia seakan-akan dapat menduga bahwa pemuda itu sengaja memberikan kulit pundaknya tergores pedang.
Bun Gai menjura kepada Mei Ling dan tersenyum sambil berkata.
"Nona lihai sekali, aku Yap Bun Gai yang bodoh mengaku kalah."
Cin Han dengan kagum sekali melangkah maju dan berkata.
"Saudara Yap, kepandaianmu benar-benar hebat dan pantas sekali kau menjadi murid Bong Cu Sianjin yang lihai. Kami memang tidak mempunyai permusuhan sesuatu dengan kau, dan apabila memang ada oleh karena kau mempunyai hubungan dengan suhumu, namun sikapmu ini cukup untuk menghapus semua sikap bermusuh yang ada di dalam dada kami. Sekarang tolong kau beritahukan kepada suhumu tentang kedatangan kami."
"Maaf, terpaksa siauwte tak dapat memberitahukan di mana adanya suhu karena suhu telah pergi turun gunung kemarin bersama dengan suci Hek Li Suthai dan muridnya, entah ke mana tidak memberitahukan kepada siauwte, sedangkan Niang niang yang cuwi cari itu sedang bersamadhi di dalam kuil."
"Agaknya kau tidak mau mengganggu Lan Bwee Niang-niang. Baiklah biar aku sendiri yang memanggilnya keluar."
Setelah berkata demikian, Lian Hwa lalu mengerahkan tenaga khikang pada suaranya lalu memanggil ke arah kuil itu.
"Lan Bwee Niang-niang!! Aku Ang Lian Lihiap telah datang menghadap! Kalau Niang-niang suka menerima kami, silakan keluar!"
Yap Bun Gai terkejut sekali mendengar suara ini yang mengandung tenaga dalam demikian hebatnya.
Untung bahwa pendekar wanita ini tadi tidak turun tangan, kalau turun tangan ia merasa tak sanggup melawannya.
Tiba-tiba berkesiur angin dari dalam kuil dan mendengar suara halus.
"Siancai!"
Dan tahu-tahu tubuh Lan Bwee Niang-niang telah berada di depan mereka dengan tasbeh di tangan kiri dan kebutan di tangan kanan.
Semua orang memandang kagum dan Cin Han serta isterinya maklum bahwa ilmu kepandaian pertapa wanita tua ini hebat sekali.
Cin Han berkata sambil menjura.
"Niang-niang, apakah semenjak kita berpisah, Niang-niang selalu dalam keadaan baik?"
Pertapa wanita itu tertawa dengan suara ketawanya yang halus dan merdu.
"Hwee-thian Kim-hong! Makin tua kau makin gagah dan isterimu juga masih cantik saja. Kau belum berubah dan masih tetap sopan santun seperti dulu, ha, ha!"
"Maaf, Niang-niang,"
Kata Lian Hwa.
"Kami datang memenuhi undangan Bong Cu Sianjin pada beberapa hari yang lalu ketika ia melukai adikku ini dengan tendangannya."
Lan Bwee Niang-niang memandang kepada Kong Liang, lalu berkata.
"Undangan apakah yang kaumaksudkan, Ang Lian Lihiap?"
"Dia menantang kami."
Lan Bwee Niang-niang menghela napas.
"Memang Bong Cu masih berdarah panas. Pinni makin tua makin bernasib buruk hingga masih saja terbawa-bawa dan tersangkut oleh urusan permusuhan yang menjijikkan ini."
"Hek Li Suthai juga sudah memberi penghormatan dan berkunjung di tempat kami!"
Kata Ang Lian Lihiap dengan suara tegas karena ia bermaksud bahwa dari pihak Lan Bwee Niang-niang masih ada sikap bermusuhan itu. Kembali Lan Bwee Niang-niang menarik napas panjang.
"Ya, ya, memang aku tahu dan aku harus mempertanggungjawabkan segala sepak terjang mereka. Akan tetapi, Bong Cu yang mengundang kalian, kebetulan sedang turun gunung. Kalau kalian bertemu dengan dia atau dengan muridku di jalan dan terjadi pertempuran, aku orang tua yang sudah hampir mati tidak mau ambil perduli. Sebaliknya kalau kalian tetap hendak mengadakan pertandingan di atas puncak Hoa-mo-san ini, sekarang akulah yang mengundangmu dan datanglah di sini tiga bulan lagi pada saat bulan sedang purnama!"
Setelah berkata demikian, pendeta wanita yang tua sekali itu lalu menganggukkan kepala tanda memberi salam, lalu berjalan kembali memasuki kuil dengan perlahan.
Cin Han dan Lian Hwa saling memandang, kemudian mereka turun gunung setelah mengucapkan terima kasih kepada Bun Gai.
Pemuda tani ini berkata.
"Siauwte juga merasa berduka sekali dengan adanya permusuhan-permusuhan yang tidak sehat ini. Mengapa orang harus bermusuhan? Apakah kita mempelajari sedikit ilmu kepandaian hanya untuk saling melukai dan saling membunuh?"
Sambil berkata demikian, ia melirik ke arah Mei Ling dengan pandangan mata yang jujur sehingga gadis itu menundukkan kepala dengan wajah merah. Cin Han berkata.
"Saudara Yap, kau memang baik sekali dan kamipun akan merasa gembira dan beruntung apabila suhumu memiliki kejujuran dan kemuliaan hati seperti kau! Dalam hal ini, agaknya kau harus menjadi guru dari Bong Cu!"
Bun Gai tercengang dan ia memandang kepada empat orang itu sampai keempatnya lenyap di bawah gunung.
Pemuda ini berdiri termenung dan bayangan Mei Ling yang manis serta gagah itu terbayang di depan matanya.
Entah mengapa, selama hidupnya baru kali ini ia tertarik dan suka sekali kepada seorang gadis!
Ia berdiri termenung lama sekali, kemudian ia mengambil cangkulnya dan mencakul tanah demikian kerasnya seakan-akan ia merasa gemas terhadap sesuatu, sehingga air lumpur memercik ke atas dan mengotori pakaiannya namun tidak dihiraukannya sama sekali!
Setelah berhasil menawan Tik Kong, Lo Sin bersama Lee Ing pergi meninggalkan perwira raksasa Can Kok In, lalu berhenti di sebuah jalan perempatan dan Lo Sin berkata kepada Lee Ing.
"Ing-moi, sekarang kita harus berpisah. Kau harus segera pulang dan menuturkan segala pengalamanmu kepada orang tuamu. Aku hendak mengantar bangsat ini ke Pek-ma-san agar ia mengakui semua perbuatannya di depan makam Kong-pehpeh. Setelah itu, jangan khawatir, aku tentu akan pergi menghadap Nyo-pekhu untuk memohon maaf dan aku akan menerima saja apabila Nyo-pekhu hendak memberi hukuman kepadaku."
Akan tetapi Lee Ing memandangnya dengan matanya yang indah dan gadis ini menggeleng kepala.
"Ing-moi, jangan begitu. Kau pulanglah. Tidak kasihankah kau kepada ayah-ibumu? Mereka tentu merasa berkhawatir sekali karena kau pergi tanpa pamit. Lebih baik kau pulang sekarang juga agar mereka merasa tenteram dan girang."
Kembali gadis itu menggeleng kepala, kali ini keras-keras dan sambil menggigit bibirnya.
"Eh, kenapa Ing-moi?"
Tanya Lo Sin dengan heran sekali.
Pertanyaan yang diucapkan dengan suara halus dan mengandung penuh perhatian ini merupakan dorongan terakhir bagi Lee Ing sehingga gadis ini tidak kuat lagi menahan tangisnya!
Ia berdiri dengan tubuh bergoncang-goncang dan kedua tangannya menutupi muka.
Dari celah-celah jari tangannya, butiran-butiran air mata menitik turun.
Lo Sin terkejut sekali dan ia mendiamkan saja kudanya yang makan rumput sedangkan Tik Kong masih pingsan dan rebah melintang di atas punggung kuda bagaikan seikat kayu.
Pemuda ini merasa kasihan sekali dan ia tidak dapat menahan hatinya melihat gadis ini menangis demikian sedihnya dan tak terasa lagi kedua tangannya lalu terulur ke depan dan memegang kedua pundak gadis itu dengan sentuhan mesra.
"Ing-moi...... jangan menangis, Ing-moi""
Ak""
Aku tidak tahan melihatmu"..."
Mendengar suara ini dan merasa betapa pundaknya terpegang dengan mesra, entah mengapa, Lee Ing merasa hatinya seperti diremas-remas dan tangisnya makin menghebat lagi.
Ia menangis sampai tersedu-sedu dan tubuhnya menjadi lemas dan kakinya menggigil karena perasaan hatinya yang menggelora.
Ia merasa berduka sekali walaupun pada saat itu ia sendiri tidak mengerti mengapa ia merasa demikian sengsara dalam hatinya!
"Ing-moi......
diamlah, Ing-moi......
tenangkanlah hatimu"""
Bisik Lo Sin dan ia mendekap kepala itu ke dadanya!
Untuk beberapa lama Lee Ing tidak bergerak dan menangis di atas dada pemuda itu.
Ia merasa amat senang, aman dan sentausa dalam dekapan pemuda itu seakan-akan seorang anak kecil dipeluk ibunya.
Tiba-tiba ia tersentak kaget dan merenggutkan kepalanya dari dada Lo Sin.
Ia melangkah mundur dua tindak dan ketika melihat pandang mata Lo Sin yang mesra dan penuh perasaan itu, ia membelalakkan mata seperti seekor kelinci melihat ular!
Bencinya timbul seketika terhadap pemuda ini.
"Kau""
Kau""
Orang kurang ajar. Laki-laki tidak sopan""!"
Jari telunjuknya menuding ke arah muka Lo Sin dan jari itu gemetar. Lo Sin terkejut sekali.
"Ing-moi...... mengapa kau begitu marah? Apakah salahku terhadapmu?"
"Kau""
Kau""
Laki-laki kurang ajar! Kau mempergunakan kelemahan hatiku untuk berbuat kurang ajar dan memelukku! Lo Sin, kau seorang suami yang tidak setia! Kau mengkhianati dan mencurangi isterimu!"
Gadis ini lalu menutup mukanya dan menangis lagi.
Tentu saja Lo Sin menjadi bengong dan memandang ke arah gadis itu dengan khawatir.
Gilakah gadis ini karena kesedihannya?
Ia melangkah maju dan mendekati.
"Ing-moi, tenanglah dan sadarlah kau! Aku tidak mengerti apa arti kata-katamu tadi. Suami tidak setia? Mencurangi isteri? Apa...... apa maksudmu?"
"Penipu busuk! Kau masih mau bersandiwara di depanku?"
Gadis itu memandang dengan mata merah.
"Bukankah kau sudah beristeri? Dan kau masih memandang padaku dengan mata seperti itu? Cih, tidak tahu malu!"
Lo Sin merasa seakan-akan ada pedang tajam ditodongkan ke dadanya. Tak terasa lagi ia melangkah mundur dua tindak. Matanya terbelalak menatap wajah Lee Ing.
"Ing-moi, apa maksudmu? Siapakah yang sudah beristeri? Dari siapa kau mendengar berita gila ini? Aku belum pernah beristri! Apa kau mengimpi?"
Kini Lee Ing yang merasa terheran sehingga ia lupa untuk menangis.
"Apa? Kau belum beristeri? Dan""
Dan surat orang tuamu dulu""?"
Kini tahulah Lo Sin bahwa tentu terjadi sesuatu yang tidak beres. Ia melangkah maju dan berkata dengan suara sungguh-sungguh.
"Ing-moi, apakah yang kau baca dalam, surat orang tuaku?"
Setelah menelan ludah beberapa kali, gadis ini berkata.
"Dulu orang tuamu mengirim surat kepada orang tuaku, malah A-kwi, pesuruh kami itu terbunuh oleh perampok akan tetapi surat orang tuamu itu berhasil ditemukan oleh Tik Kong""
Dan......"
Tiba-tiba Lee Ing menjadi pucat sekali dan memandang dengan mata terbelalak, ke arah tubuh Tik Kong yang masih menggantung di punggung kuda.
Kemudian, tiba-tiba gadis ini tertawa bergelak-gelak dengan keras sehingga Lo Sin harus menangkap tangannya dan membentak.
"Lee Ing! Diamlah! Kau seperti mayat tertawa!"
Lee Ing masih menahan geli hatinya dan dengan air mata masih bercucuran, ia mendekap mukanya lagi dan suara ketawanya masih terdengar.
"Aku tahu...... ha, ha, aku tahu sekarang""
Ha, ha""
Alangkah bodohnya kita""
Ha-ha......"
"Ing-moi, sabarlah dan ceritakan padaku dengan tenang!!"
"Ah, Sin-ko""
Kami sekeluarga ternyata telah menjadi korban pengkhianatan dan kejahatan bangsat rendah itu!
Dulu kami menyuruh A-kwi untuk memberi surat kepada orang tuamu, kemudian A-kwi pulang sambil membawa surat orang tuamu sebagai balasan.
Dan A-kwi terbunuh oleh perampok, yakni menurut cerita bangsat itu, dan surat orang tuamu itu dibawa oleh Tik Kong.
Dan""
Dan isi surat itu menyatakan bahwa kau""
Kau telah beristeri."
Lo Sin tiba-tiba melepaskan lengan Lee Ing dan ia membanting-banting kaki.
"Keparat busuk! Jahanam besar!! Kalau saja tidak hendak membawanya ke Pek-ma-san, sekarang juga kuhancurkan kepala jahanam ini! Dengarlah, Ing-moi! Kau belum mengetahui semuanya. Di dalam surat orang tuaku sama sekali tidak disebut bahwa aku telah beristeri, bahkan ayah ibuku telah mengajukan...... lamaran padamu! Dapat kaubayangkan betapa menyesal hati ayah dan ibu ketika surat lamaran itu tidak dibalas oleh orang tuamu, bahkan tahu-tahu datang surat undangan bahwa kau""
Akan menikah! Memang jahat benar Lui Tik Kong ini, tentu dia yang telah membunuh A-kwi dan telah mengubah isi surat orang tuaku!"
Keduanya diam untuk beberapa lama, memikirkan kecurangan yang jahat dari perwira she Lui itu, yang telah berhasil membuat Nyo Tiang Pek tertipu. Akhirnya dengan wajah kemerah-merahan Lee Ing bertanya.
"Tidak""
Tidak salahkah kata-katamu tadi?"
"Kata-kata yang mana?"
"Bahwa""
Bahwa keluarga Lo""
Melamar aku""?"
Ia menundukkan muka dan tidak berani menentang pandang mata Lo Sin yang memandangnya dengan tersenyum.
"Mengapa salah? Agaknya tidak ada kebahagiaan yang lebih besar bagi ayah, terutama bagi ibu, untuk berbesan dengan Nyo-pehpeh dan menjodohkan aku dengan kau!"
Lee Ing mengerling tajam tanpa berani memandang langsung.
"Dan kau sendiri?"
"Lebih-lebih aku! Ing-moi""
Aku""
Aku......"
Lo Sin merasa betapa hatinya berdebar, mulutnya kering dan ia tak kuasa menggerakkan bibirnya lebih lanjut.
"Kau""
Apakah, Sin-ko? Teruskan kata-katamu!"
"Aku suka kepadamu, Ing-moi,"
Akhirnya Lo Sin berbisik perlahan. Lee Ing menundukkan kepala makin dalam hingga dagunya menempel di dada dan wajahnya makin merah sampai ke telinganya.
"Mungkinkah putera Ang Lian Lihiap yang gagah perkasa, putera pendekar besar yang terkenal pandai, suka kepada seorang bodoh, berkepandaian rendah dan bermuka buruk seperti aku?"
Bisiknya. Lo Sin melangkah maju dan memegang kedua tangan gadis itu.
"Ing-moi,"
Bisiknya dengan suara gemetar karena penuh perasaan.
"aku tidak perduli kau ini siapa dan puteri siapa, yang terpenting bagiku ialah kau sendiri, pribadimu yang menarik hatiku, semenjak aku melihatmu di dalam hujan badai itu sungguhpun aku belum tahu siapa adanya kau, aku""
Aku telah yakin"""
"Teruskan, Sin-ko,"
Bisik Lee Ing tanpa berani mengangkat muka.
"Aku""
Aku telah yakin bahwa kaulah orangnya, bahwa kau seoranglah dan bukan gadis lain, yang patut menjadi pujaanku"""
Mengalirlah air mata di kedua pipi dara itu, karena hatinya merasa terharu, girang, berduka, dan amat berbahagia.
Tanpa terasa lagi, jari-jari tangannya membalas pegangan tangan Lo Sin hingga jari-jari tangan sepasang anak muda ini saling menekan dengan erat dan mesra.
Pada saat mereka saling memandang dengan mesra dan penuh rasa cinta kasih, tiba-tiba mereka dikejutkan oleh suara bentakan keras.
"Bangsat muda kurang ajar! Kau mencemarkan nama orang tuamu!"
Dan tiba-tiba Nyo Tiang Pek dengan mata liar karena marahnya dan pedang di tangan telah berdiri di dekat mereka.
Kemesraan tadi telah membuat Lo Sin dan Lee Ing tidak tahu dan tidak mendengar akan kedatangan orang tua gagah ini!
"Ayah""!"
Seru Lee Ing dengan wajah pucat dan tubuh menggigil.
"Jangan menyebut ayah kepadaku, anak yang membikin cemar nama orang tua!"
Katanya dan dua butir air mata mengalir dari kedua mata si Garuda Kuku Emas ini. Kemudian ia memandang kepada Lo Sin seakan-akan hendak menelan pemuda itu bulat-bulat lalu berseru.
"Lo Sin, kau mengandalkan kepandaianmu dan kegagahan orang tuamu untuk menghina dan merendahkan aku! Kau telah melukai calon mantuku, merusak nama baikku dan kini kau menggoda puteriku! Bagus, hari ini kalau bukan kau tentu aku Nyo Tiang Pek yang mati di ujung pedang!"
Setelah berkata begitu, ia menerkam maju, melakukan serangan kilat dengan pedangnya ke arah dada pemuda itu.
"Nyo-pehpeh, tahan dulu!"
Seru Lo Sin dengan terkejut sekali dan cepat mengelak.
"Siapa sudi menjadi peh-pehmu?"
Seru Nyo Tiang Pek yang menyerang lagi lebih hebat.
"Nyo-pehpeh!"
Teriak Lo Sin dengan bingung sekali, akan tetapi ia cepat melompat jauh menghindarkan serangan yang hebat dan berbahaya itu.
Akan tetapi, Nyo Tiang Pek dengan marah yang meluap-luap mengejar dan menyerangnya lagi.
"Ayah""!"
Lee Ing berteriak ngeri sambil menangis.
Akan tetapi, Nyo Tiang Pek yang sudah seperti gila karena marahnya, mendengar teriakan puterinya ini, menjadi makin marah dan terus menyerang makin hebat.
Lo Sin sibuk juga menghadapi serangan ini dengan tangan kosong, dan untuk mencabut pedangnya, ia tidak berani, karena maklum bahwa hal ini bahkan akan menambah kebencian orang tua ini kepadanya.
Sambil mengelak cepat ia lalu berseru.
"Nyo-pehpeh, dengarlah keteranganku!"
"Tutup mulut dan cabutlah pedangmu kalau kau memang gagah!"
Si Garuda Kuku Emas mendesak terus.
"Ayah""! Aku""
Aku cinta padanya"..."
Kata Lee Ing tanpa disadarinya dengan suara memilukan. Nyo Tiang Pek tersentak kaget. Tangannya menjadi lemas dan ia berhenti menyerang, memandang kepada puterinya dengan wajah pucat.
"Apa......? Anak durhaka, anak put-hauw (tidak berbakti)! Kau memalukan orang tua! Kau""
Kau tergila-gila kepada seorang yang sudah beristeri? Jahanam rendah...... ah, Tiang Pek...... dosa apakah yang telah kaulakukan dulu......?"
Pendekar ini menundukkan kepala dengan wajah sedih sekali.
"Nyo-peh-peh, dengarlah...... aku...... belum......"
"Diam kau, diam!! Jangan membuka mulutmu yang busuk dan penuh tipu muslihat! Pergilah kau!"
Ia menuding kepada Lee Ing dan membentak marah.
"Pergi kau dari padaku. Pergi!!"
"Ayah""!"
Lee Ing menjerit lagi.
"Cukup""!"
Pergi lekas, kalau tidak, akan terjadi ayah membunuh anaknya!"
"Marilah, Ing-moi."
Lo Sin menghampiri gadis itu dan menarik tangannya.
"Marilah kita pergi saja dulu. Tak ada jalan lain......"
Sambil terisak-isak Lee Ing menurut saja tangannya ditarik pergi oleh Lo Sin. Nyo Tiang Pek berdiri tak bergerak, memandang ke bawah seperti patung. Tiba-tiba terdengar rintihan dan suara lemah.
"Gak-hu (ayah mertua)"""
Pendekar tua ini menengok dan pada saat itu, Lui Tik Kong yang sudah siuman kembali lalu mencoba untuk bergerak, akan tetapi karena tubuhnya lemah sekali, ia bahkan terguling dari atas punggung kuda.
"Tik Kong...!"
Seru Nyo Tiang Pek perlahan dan ia memburu kepada pemuda itu.
Sedangkan Pek-liong-ma ketika merasa betapa beban di punggungnya telah lenyap dan melihat Lo Sin pergi meninggalkan tempat itu, lalu meringkik dan tiba-tiba ia berlari mengejar ke arah majikannya yang telah pergi jauh.
Sementara itu, Lee Ing yang ditarik tangannya oleh Lo Sin, berkali-kali menoleh dan memandang ayahnya dengan muka pucat dan mata penuh air mata.
Tiba-tiba ia membetot tangannya hendak berlari kembali kepada ayahnya, akan tetapi Lo Sin memegang lengannya erat-erat dan pemuda ini menghibur.
"Jangan kau ganggu dia, Ing-moi. Ayahmu sedang marah sekali dan kemarahan telah menggelapkan pikirannya. Biarkanlah dulu, kelak kalau ia telah sadar dan dapat melihat duduknya persoalan, tentu dia akan menyesal dan akan mencarimu."
Karena sedihnya melihat betapa ayahnya tadi memaki-makinya, memandangnya dengan penuh kebencian, bahkan lalu mengusirnya, Lee Ing berseru perlahan dengan hati hancur dan roboh pingsan.
Lo Sin cepat memeluk dan memondong tubuhnya.
Pada saat itu, Pek-liong-ma berlari mendatangi dan Lo Sin sambil memondong tubuh Lee Ing lalu melompat ke atas kudanya dan melarikan kuda itu secepatnya meninggalkan tempat itu.
Dengan hati marah sekali dan sakit hatinya kepada Lo Sin makin besar, Nyo Tiang Pek menolong Tik Kong, kemudian ia mempergunakan kepandaiannya untuk mengobati luka di dada Tik Kong.
Oleh karena luka ini terjadi karena pukulan Gin-san-ciang yang dilakukan oleh Lee Ing, maka tentu saja Nyo Tiang Pek tahu cara pengobatannya.
Telah dua kali dengan sekarang ini Lui Tik Kong terkena pukulan Gin-san-ciang dari Lee Ing, akan tetapi kali ini amat hebat hingga biarpun telah diobati oleh Nyo Tiang Pek, pemuda ini tetap saja harus digendong ketika Nyo Tiang Pek membawanya pulang.
Nyo Tiang Pek membawa perwira muda itu kembali ke Bong-kee-san dan ia disambut oleh isterinya dengan khawatir.
Ketika dengan marah sekali Nyo Tiang Pek menceritakan kepada isterinya betapa ia telah mendapatkan Lee Ing dan Lo Sin yang telah melukai Lui Tik Kong dan menceritakan pula betapa telah mengusir Lee Ing karena gadis itu dengan cara tidak tahu malu telah mengaku akan cintanya kepada si Walet Hitam.
Giok Lie menangis tersedu-sedu.
"Mengapa kau sekejam itu......?"
Tegurnya kepada suaminya.
"Kau mengusir anak kita, ke mana aku harus mencarinya......?"
Ia menangis dengan sedih sekali.
"Biarlah, dia lebih cinta kepada bangsat rendah itu daripada kepada kita! Dia pergi melarikan diri dengan Lo Sin, pemuda liar itu! Kalau aku bertemu lagi dengan mereka, akan kubunuh kedua-duanya! Jahanam benar!!"
Nyo Tiang Pek murka sekali dan kedua matanya menjadi merah.
Coa Giok Lie memandang kepada suaminya dan ketika melihat betapa dari ke dua mata suaminya itu turun menitik dua butir air mata dan melihat betapa dibalik kemarahan itu terbayang kedukaan yang maha hebat dan yang membuat mukanya menjadi nampak tua, tiba-tiba ia memeluk suaminya dan menjatuhkan mukanya di dada suami itu sambil menangis tersedu-sedu!
Nyo Tiang Pek mendekap kepala isterinya dan iapun menangis dan menyembunyikan mukanya di rambut isterinya.
"Nasib kita yang buruk, Giok Lie......"
Bisiknya.
Giok Lie tidak menjawab, hanya menangis terisak-isak, akan tetapi di dalam lubuk hati nyonya ini, terdapat rasa girang dan puas yang aneh sekali, yang merupakan nyala lampu yang menerangi keadaan yang gelap.
Perasaan ini timbul ketika ia mendengar bahwa anaknya mencinta Lo Sin, dan bahwa anaknya pergi bersama pemuda putera Lian Hwa itu!
Nyo Tiang Pek merawat luka Tik Kong dengan telaten.
Ia merasa kasihan sekali melihat Lui Tik Kong yang bernasib malang.
Ia menganggap pemuda ini telah disakitkan hatinya oleh Lee Ing, akan tetapi tak sepatahpun kata penyesalan pernah diucapkan oleh pemuda itu kepadanya.
Tik Kong hanya berkali-kali menghela napas dan kelihatan sedih.
Bahkan Giok Lie juga tertipu oleh sikap Tik Kong ini dan nyonya inipun timbul perasaan iba di dalam hatinya kepada pemuda ini.
Setelah sembuh dari lukanya, Nyo Tiang Pek lalu memberi pelajaran silat kepada pemuda itu.
Ia menganggap bahwa Tik Kong patut dikasihani dan oleh karena ilmu kepandaian pemuda itu masih belum sempurna hingga berkali-kali ia mengalami kekalahan dan penghinaan, maka Nyo Tiang Pek lalu menurunkan ilmu kepandaian pedang dan juga Gin-san-ciang kepada pemuda ini.
Tik Kong merasa girang sekali dan ia melatih diri dengan giat.
Oleh karena ia memang telah mempunyai dasar kepandaian yang cukup, maka ia dapat menerima pelajaran itu dengan mudah dan cepat.
Sebulan kemudian, Lui Tik Kong berpamit karena ia hendak kembali dan mengurus tugasnya sebagai perwira penjaga dan ia menyatakan bahwa ia akan keluar dari pekerjaan itu untuk pergi mencari Lo Sin dan membalas dendamnya.
"Baik, kau pergilah, Tik Kong!"
Kata Nyo Tiang Pek.
"Dan mungkin sekali kau masih belum dapat melawan Lo Sin yang berkepandaian tinggi, akan tetapi jangan khawatir, orang yang benar tentu akan menang."
Nyo Tiang Pek yang merasa kasihan dan terharu melihat keadaan pemuda ini, bahkan lalu memberikan pedangnya Ceng-lun-kiam yang tak pernah terpisah dari tubuhnya itu kepada Tik Kong.
Tentu saja Lui Tik Kong merasa girang sekali dan ia pergi turun gunung dan setelah menyerahkan kembali tugasnya sebagai perwira kepada perwira lain, pemuda ini lalu pergi mulai dengan perantauannya untuk membalas dendam kepada Lo Sin.
Padahal sebenarnya ia merasa jerih sekali kepada si Walet Hitam dan ia bukan hendak membalas dendam dengan tangan sendiri, akan tetapi mau mencari kawan-kawan untuk bersekutu dan kemudian baru bersama-sama mencari dan mengeroyok Lo Sin si Walet Hitam yang gagah.
Pada suatu hari, Tik Kong tiba di dalam sebuah dusun yang ramai.
Pemuda ini kini telah bebas dari tugas sebagai perwira, telah memiliki kepandaian tinggi karena pelajaran yang diterima dari Nyo Tiang Pek, bahkan kini memiliki pedang Ceng-lun-kiam yang ampuh, maka timbullah kembali nafsu jahatnya.
Ia merasai bahwa ia kini menjadi seorang gagah yang tidak takut kepada siapapun juga.
Dan ia merupakan seekor burung alap-alap yang garang dan buas.
Ketika ia sedang lewat di depan sebuah rumah seorang hartawan itu, tiba-tiba ia melihat seorang gadis menjenguk dari jendela loteng rumah itu.
Hatinya berdebar karena wajah gadis itu amat cantiknya.
Gadis itu ketika melihat bahwa di bawah ada seorang pemuda tampan dan gagah sedang memandangnya, ia lalu cepat menarik kepalanya dari tirai jendela dengan wajah berubah merah.
Pemandangan ini sudah cukup untuk menggelorakan darah di dalam tubuh Lui Tik Kong dan menimbulkan pikiran jahat dalam kepalanya.
Ia tidak jadi melanjutkan perjalanannya, bahkan lalu mencari rumah penginapan di dusun itu.
Dan pada malam harinya, ketika suasana menjadi sunyi, ia lalu mempergunakan kepandaiannya melompat ke atas genteng dan menuju ke rumah hartawan di mana terdapat gadisnya yang cantik itu.
Ia sama sekali tak pernah menduga bahwa di dalam rumah gedung itu pada malam hari itu sedang menerima tiga orang tamu yang lihai yakni tiga orang tosu dari Kun-lun-san.
Seorang diantara tosu ini adalah kakak daripada tuan rumah.
Maka, bukan main terkejutnya ketika baru saja ia mencari-cari di atas genteng, tiba-tiba dari bawah berkelebat bayangan yang gesit sekali dan tahu-tahu seorang tosu berdiri di depannya sambil membentak.
"Penjahat dari mana berani datang main gila?"
Dalam gugupnya, Tik Kong lalu mencabut Ceng-lun-kiam dan menyerang tosu itu.
Karena keadaan pada malam hari itu gelap sekali, maka ia tidak dapat melihat muka orang dengan jelas, demikian pun tosu itu tidak tahu sedang menghadapi siapa.
Melihat berkelebatnya pedang yang bersinar hijau itu, tosu ini menjadi terkejut dan cepat-cepat mencabut pedangnya dan menangkis.
Akan tetapi begitu pedangnya bertemu dengan Ceng-lun-kiam, pedang itu menjadi patah.
Tik Kong memang berhati kejam sekali.
Melihat hasil ketajaman pedangnya ini, ia lalu menusuk dengan serangan maut ke arah dada lawannya.
Tosu itu terkejut dan mengelak sambil mengangkat kaki menendang.
Tik Kong amat gesit dan dengan mudahnya ia dapat pula mengelak, lalu tiba-tiba ia berseru keras sambil mengayun tangan kirinya ke arah dada musuh.
Inilah pukulan Gin-san-ciang yang baru saja dipelajarinya.
Namun, pukulan ini cukup lihai karena tubuh tosu dari Kun-lun-san itu terhuyung, setelah ia mengeluarkan seruan kaget.
Dan pada saat tubuhnya terhuyung ke belakang, Tik Kong melangkah maju dan pedang Ceng-lun-kiam lalu menusuk tepat ke dada tosu itu hingga tembus!
Si tosu berteriak mengerikan dan mencoba untuk mencengkeram tangan Tik Kong yang memegang pedang.
Tik Kong terkejut sekali karena ia tidak menyangka bahwa dalam keadaan dada tertembus pedang, tosu itu masih sempat menggunakan ilmu Houw-jiauw-kang (Cengkeraman Kuku Harimau).
Terpaksa pemuda ini melepaskan pegangannya pada gagang pedang, untuk menghindarkan cengkeraman hebat itu dan tubuh tosu itu lalu jatuh menggelinding ke bawah genteng dengan pedang masih tertancap di dadanya.
Lui Tik Kong merasa menyesal sekali mengapa ia melepaskan pedangnya dan ia lalu cepat melompat turun untuk mengambil pedang itu dari tubuh tosu yang telah tewas itu.
Akan tetapi, pada saat itu, dari dalam rumah berkelebat keluar dua orang tosu lain dengan pedang di tangan.
Tik Kong terkejut sekali karena melihat betapa gerakan dua orang tosu ini bahkan lebih hebat dan cepat dari pada gerakan tosu yang ia bunuh tadi, maka tanpa dipikir panjang lagi ia melarikan diri.
Ia mendengar seruan-seruan kaget dan menduga bahwa kedua orang tosu itu tentu mendapatkan kawan mereka yang mati, maka ia lalu melarikan diri lebih cepat lagi menuju ke rumah penginapannya, mengambil barang-barangnya dan malam itu juga ia pergi melarikan diri keluar dari dusun itu.
Hatinya menyesal sekali karena baru beberapa hari saja pedang Ceng-lun-kiam pemberian Nyo Tiang Pek itu telah ia bikin hilang.
Sementara itu, kedua orang tosu setelah mencari-cari Tik Kong dengan sia-sia, lalu memeriksa keadaan saudara mereka yang tewas.
Ketika melihat luka di dada bekas-pukulan Gin-san-ciang, dan terutama melihat pedang Ceng-lun-kiam, tosu-tosu terkejut sekali.
"Hei! Bukankah ini perbuatan Nyo Tiang Pek si Garuda Kuku Emas?"
Teriak Cu Bin Tosu, kakak tuan rumah. Kawannya, Cu Gi Tosu. Mengangguk-angguk sambil mengerutkan kening.
"Tak salah lagi,"
Katanya.
"pukulan Gin-san-ciang dan pedang Ceng-lun-kiam ini adalah bukti-bukti nyata. Hanya aku merasa heran sekali mengapa Nyo Tiang Pek memusuhi kita orang-orang Kun-lun? Hal ini harus kita laporkan segera kepada su-couw!"
Dan pada keesokan harinya, kedua tosu dari Kun-lun-pai ini setelah mengurus jenazah kawannya, segera membawa pedang Ceng-lun-kiam kembali ke Kun-lun-san dan berita itu disambut oleh seluruh pendeta Kun-lun dengan marah!
Mereka mengambil keputusan untuk membalas dendam ini kepada Nyo Tiang Pek!
Sementara itu, dengan menyesal sekali Lui Tik Kong melanjutkan perjalanannya.
Ia mengunjungi sahabat-sahabatnya yang banyak terdapat di tiap kota besar dan ia bertanya-tanya dan mencari-cari Hek Li Suthai.
Memang Tik Kong mempunyai maksud hendak bersekutu dengan to-kouw yang lihai itu.
Akhirnya, ia dapat mencari to-kouw itu dan bertemu dengan Hek Li Suthai dan Bi Mo-li yang menjadi girang sekali karena Setan Cantik ini memang merasa suka kepada Tik Kong, yang muda dan tampan.
Lui Tik Kong merasa berbesar hati oleh karena melihat bahwa Bong Cu Sianjin, pertapa buntung itupun berada bersama Hek Li Suthai.
Ia telah mendengar tentang kelihaian kakek buntung ini dan dari Kong Sin Ek dulu seringkali ia mendengar tentang permusuhan yang ada antara kakek buntung ini dengan Ang Lian Lihiap dan kawan-kawannya.
Kalau ia mendekati kakek ini, berarti ia mendapat seorang pembela yang tangguh, bahkan seorang yang menjadi musuh Ang Lian Lihiap, hingga dengan sendirinya Lo Sin juga menjadi musuh mereka.
Ia kini tak perlu merasa takut lagi, bahkan ia pergunakan kepandaiannya untuk menarik dan mengambil hati Bong Cu Sianjin.
Dan betul saja, baru saja beberapa hari berkumpul, Bong Cu Sianjin, seperti juga Kong Sin Ek, Nyo Tiang Pek dan yang lain-lain, telah terpikat oleh sikap Tik Kong yang pandai membawa diri dan mengambil hati hingga Bong Cu Sianjin merasa senang sekali dan bahkan melatih pemuda ini dengan berbagai ilmu silat.
Tentu saja Tik Kong merasa girang dan ilmu kepandaiannya makin maju.
Dan dengan berterang ia lalu menjadi kekasih Bi Mo-li, hingga hubungan mereka makin erat saja.
Hek Li Suthai yang tidak perdulikan sama sekali tentang hal ini, juga menaruh kepercayaan kepada Tik Kong dan menganggap pemuda ini sebagai orang sendiri.
Bong Cu Sianjin dan Hek Li Suthai mempergunakan sebuah kuil kosong dan kuno sebagai tempat tinggal sementara.
Dengan pandai, Tik Kong lalu menuturkan perihal permusuhannya dengan Lo Sin, berpura-pura tidak tahu akan permusuhan yang ada antara mereka dengan keluarga Lo.
Tentu saja ketiga kawannya makin suka dan percaya kepadanya, dan mereka lalu bermufakat untuk mencari dan membalas dendam kepada si Walet Hitam.
Pada suatu hari mereka berempat bertemu dengan Kim-gan-eng Coa Bwee Hwa, gadis perantau yang perkasa itu.
Kim Gan Eng sedang berjalan seorang diri karena ia hendak mencari Lee Ing, kawan barunya yang menarik hatinya itu.
Ia lalu mendengar bahwa Lee Ing tinggal di Bong-kee-san dengan ayahnya, Nyo Tiang Pek yang tersohor, maka ia lalu mengambil keputusan untuk berangkat ke Bong-kee-san mencari Lee Ing dan sekalian bertemu dengan si Garuda Kuku Emas yang telah lama ia kagumi namanya.
Akan tetapi, ketika lewat di dalam hutan, tak tersangka-sangka ia berhadapan dengan Tik Kong, Hek Li Suthai, Bi Mo-li, dan seorang pendeta buntung.
Tentu saja Kim-gan-eng terkejut sekali oleh karena ia maklum bahwa mereka ini adalah, orang-orang jahat musuh Lee Ing yang lihai sekali.
Maka ia lalu bermaksud hendak melarikan diri, akan tetapi, Hek Li Suthai melompat dan mencegatnya, sambil tersenyum iblis dan berkata.
"Kim-gan-eng. Gurumu dulu menghinaku dan sekarang kaulah yang harus menebus penghinaan itu!!' Dalam keadaan terjepit, Bwee Hwa timbul ketabahannya dan ia berlaku nekad, lalu mengeluarkan pedangnya dan membentak.
"To-kouw jahat! Kau takut menghadapi suhuku, dan hendak mendesak aku! Boleh, boleh! Apa kaukira aku, takut kepadamu?"
Lalu ia menubruk dan menyerang dengan hebat.
Ilmu kepandaian Bwee Hwa sudah maju pesat sekali setelah perjumpaannya dengan gurunya akhir-akhir ini karena Pat-chiu Koai-hiap Oei Gan telah melatihnya lagi dengan ilmu-ilmu silat yang tinggi, maka serangannya juga luar biasa berbahayanya.
Hek Li Suthai terkejut dan cepat mengeluarkan ilmu sepasang pedangnya yang lihai dan membalas serangan Bwee Hwa dengan tak kalah serunya.
Mereka lalu bertempur ramai dan biarpun Bwee Hwa masih kalah setingkat ilmu kepandaiannya apabila dibandingkan dengan Hek Li Suthai, namun kegesitan dan kenekadannya membuat Hek Li Suthai sukar sekali untuk dapat mengalahkannya.
Melihat hal ini, Lui Tik Kong yang tertarik oleh kecantikan Bwee Hwa, menjadi tidak sabar dan ia lalu melompat maju hendak mengeroyok, akan tetapi Bong Cu Sianjin lalu menegurnya.
"Jangan main keroyokan, memalukan aku saja!"
Kemudian, kakek buntung ini berseru kepada Hek Li Suthai.
"Ceng Hwa, kau mundurlah dan biarkan aku menangkap gadis ini."
Mendengar seruan ini, Hek Li Suthai lalu melompat mundur dan tiba-tiba Bwee Hwa melihat berkelebatnya bayangan yang luar biasa gesitnya dan tahu-tahu kakek buntung itu telah berdiri di depannya dengan senyum lebar!
Ia maklum bahwa kakek ini adalah Bong Cu Sianjin yang ternama sekali karena lihai dan jahatnya maka tanpa banyak cakap lagi ia lalu menyerang dengan pedangnya.
Betapapun lihainya, masa ia akan kalah oleh kakek yang sudah tidak bertangan ini, pikirnya!
Akan tetapi, tiba-tiba ia terkejut sekali oleh karena kaki kiri Bong Cu Sianjin melayang ke atas dan menendang pergelangan tangannya yang memegang pedang!
Hampir saja pergelangan tangannya kena tendangan, sedangkan angin tendangan itu saja sudah menggetarkan tangannya!
Ia berlaku hati-hati dan menyerang lagi dengan mengeluarkan ilmu pedangnya yang lihai.
Akan tetapi, tanpa pindah dari tempatnya sambil masih tetap tersenyum, lagi-lagi Bong Cu Sianjin menggerakkan kakinya menendang ke arah pergelangan gadis itu.
Dengan perlawanan begini saja, Bwee Hwa sudah tak berdaya oleh karena setiap serangannya selalu dipecahkan oleh tendangan kaki yang benar-benar hebat itu.
Selagi ia merasa sibuk, tiba-tiba tubuh Bong Cu Sianjin bergerak maju cepat sekali dan kakinya digerakkan berganti-ganti mengirim tendangan-tendangan kilat!
Tentu saja Bwee Hwa menjadi sibuk sekali, ia mencoba untuk memutar pedangnya membabat kaki yang mengancamnya itu, akan tetapi ketika pedangnya terbentur oleh kaki itu, pedangnya melayang karena terlepas dari pegangannya, dan sebelum ia dapat mengelak, ujung kaki kiri Bong Cu Sianjin telah melayang ke atas dan tahu-tahu ujung kaki itu telah dapat menotok jalan darahnya hingga ia roboh tak dapat bergerak lagi!
Bi Mo-li segera melangkah maju dengan pedang di tangan.
Ia bermaksud membunuh Kim-gan-eng, akan tetapi tiba-tiba Hek Li Suthai mencegahnya.
"Bi-niang jangan kau bunuh dia! Pat-chiu Koai-hiap tidak pernah mengganggu kita, hanya menghinaku sedikit. Kitapun harus membalas hinaan itu dan untuk sementara waktu menahan Kim-gan-eng sampai Oei Gan datang menolong muridnya ini!"
Biarpun hatinya merasa gemas karena cemburu melihat betapa Tik Kong selalu menujukan pandang matanya dengan penuh gairah kepada gadis itu, namun Bi Mo-li tidak berani membantah perintah gurunya, maka ia mengeluarkan sabuk suteranya dan mengikat kedua tangan Kim-gan-eng dengan sabuk itu.
Pada saat itu, dari jauh berlari-lari datang dua bayangan yang cepat sekali larinya seakan-akan terbang.
Setelah dua orang itu datang dekat, mereka terkejut juga karena yang datang adalah dua orang saudara kembar she Song, yakni Kong Liang dan Mei Ling!
Bagaimana kedua saudara kembar bisa kebetulan datang di tempat itu?
Ternyata bahwa setelah mereka berdua bersama suami isteri Cin Han dan Lian Hwa turun dari Hoa-mo-san karena gagal menjumpai dan mencari Bong Cu Sianjin, Lian Hwa dengan sedih menuturkan tentang surat Nyo Tiang Pek.
Mendengar hal ini, kedua saudara kembar itu terkejut sekali.
"Jangan khawatir suci, kami berdua akan pergi menemui Nyo-twako dan mendamaikan urusan ini,"
Kata Kong Liang.
"Benar, cici, ini adalah kewajiban kami berdua. Kesalahpahaman ini harus dibereskan dan diterangkan,"
Kata Mei Ling.
Maka berangkatlah kedua saudara kembar ini dengan tergesa-gesa karena mereka merasa gelisah sekali menghadapi urusan yang ruwet itu.
Dan ketika mereka tiba di hutan, mereka melihat betapa Bong Cu Sianjin, Hek Li Suthai, Bi Mo-li dan seorang pemuda tampan sedang menawan seorang gadis cantik dan gagah.
Tentu saja melihat musuh besarnya ini, Kong Liang dan Mei Ling menjadi marah sekali.
"Bagus sekali, Bong Cu. Kami mencarimu di Hoa-mo-san, akan tetapi kau tidak berada di sana. Tidak tahunya kau berada di sini melakukan perbuatan sewenang-wenang."
Melihat Kong Liang, Bong Cu Sianjin tertawa bergelak.
"Ha, ha, ha. Kong Liang, kau masih belum mampus? Majulah, anak muda agar kau dapat berkenalan untuk kedua kalinya dengan sepasang sepatuku!"
Kong Liang menjadi marah sekali, akan tetapi Mei Ling yang merasa sakit hati karena kakaknya pernah terluka oleh pendeta buntung ini, mendahuluinya dan menyerang dengan pedangnya sambil berseru.
"Pendeta rendah budi. Lihat pedang!"
Bong Cu Sianjin maklum akan kelihaian Mei Ling, maka ia cepat mengelak dan balas menyerang dengan tendangan kakinya yang lihai.
Sementara itu, ketika melihat Kim-gan-eng rebah di atas tanah dengan tangan dan kaki diikat, dan melihat betapa gadis yang cantik jelita itu memandangnya dengan mata memohon pertolongan, tergeraklah hati Kong Liang.
Secepat kilat ia lalu mencabut pedangnya dan menyerang Bi Mo-li yang sedang mengikat kaki Bwee Hwa.
Bi Mo-li terkejut sekali dan melompat jauh karena ia telah mengenal lihainya pemuda ini yang pernah mengalahkan gurunya.
Dan ketika Hek Li Suthai melangkah maju hendak menyerang, Kong Liang telah menggerakkan pedangnya dan sekali babat saja putuslah ikatan tangan dan kaki Bwee Hwa.
Melihat bahwa gadis ternyata lemas tak dapat bergerak, Kong Liang maklum bahwa gadis ini tentu terkena totokan, maka ia lalu mencabut keluar saputangannya dan dengan menggunakan kain ini ia mengebut ke arah pundak Bwee Hwa.
Seharusnya untuk membebaskan totokan, orang harus mempergunakan ujung jari tangannya, akan tetapi agaknya Kong Liang merasa malu-malu dan sungkan untuk menyentuh pundak Kim-gan-eng dengan jari tangannya, maka sebagai pengganti jari tangan, ia mempergunakan ujung saputangannya, yang digerakkan dengan lweekang.
Perbuatan ini amat mengagumkan hati Bwee Hwa, oleh karena tidak saja memperlihatkan kelihaian Kong Liang, akan tetapi juga menunjukkan bahwa pemuda yang tampan dan gagah itu ternyata berwatak sopan.
Kong Liang menolong Bwee Hwa bukan hanya karena ia merasa kasihan, akan tetapi juga karena terdorong oleh kecerdikannya.
Ia telah maklum akan kelihaian Bong Cu Sianjin dan Hek Li Suthai, maka dengan menolong gadis yang kelihatan gagah itu, berarti di pihaknya akan bertambah seorang pembantu lagi.
Memang benar dan tepat dugaannya, karena begitu terbebas dari totokan, Bwee Hwa memandangnya dengan penuh pernyataan terima kasih, kemudian, tanpa berkata apa-apa, Bwee Hwa lalu memungut pedangnya yang tadi terlempar ke atas tanah, lalu membantu Mei Ling mengeroyok Bong Cu Sianjin!
Sementara itu, Hek Li Suthai, Bi Mo-li dan Tik Kong lalu maju mengeroyok Kong Liang!
Pertempuran hebat terjadi dan kedua pihak berkelahi mati-matian.
Bong Cu Sianjin yang berlengan buntung, biarpun dikeroyok oleh Mei Ling dan Bwee Hwa, namun ia dapat bergerak cepat, bahkan kakinya yang lihai itu dapat mendesak kedua orang gadis itu.
Sebaliknya, Kong Liang juga merasa sibuk menghadapi keroyokan ketiga lawannya, terutama Tik Kong dan Hek Li Suthai.
Tik Kong telah mendapat kemajuan hebat dalam ilmu silatnya, berkat latihan-latihan yang diterimanya dari Nyo Tiang Pek dan baru-baru ini dari Bong Cu Sianjin, dan desakan-desakannya membuat Kong Liang terheran-heran, karena ia mengenal ilmu pedang Nyo Tiang Pek.
Ia menduga-duga siapa adanya pemuda tampan ini, akan tetapi ketiga orang lawannya tak memberi kesempatan padanya untuk banyak bertanya atau menaruh perhatian kepada Tik Kong seorang saja.
Terpaksa ia mempergunakan ginkang yang hebat untuk menghadapi ketiga orang lawan yang amat tangguh ini.
Lebih dari seratus jurus mereka bertempur seru dan di dalam hutan yang sunyi itu hanya terdengar suara senjata mereka berdua pihak.
Tiba-tiba terdengar Bong Cu Sianjin tertawa berkakakan dan ketika Kong Liang melihat, ia menjadi terkejut sekali karena untuk kedua kalinya, Bwee Hwa telah roboh terkena tiam-hwat (ilmu totokan) ujung kaki Bong Cu Sianjin yang benar-benar lihai.
Melihat betapa Bwee Hwa telah dirobohkan, Mei Ling menjadi marah sekali, dengan gerak tipu Naga (Lanjut ke
Jilid 10) Si Walet Hitam/Ouw Yan Cu (Seri ke 03 Serial Si Teratai Merah) Karya . Asmaraman S. Kho Ping Hoo
Jilid 10 Sakti Mengebut Ekor ia menusuk dengan pedangnya ke arah tenggorokan Bong Cu Sianjin.
Kakek buntung yang lihai ini, tiba-tiba berjongkok hingga tusukan pedang gadis lewat di atas kepalanya dan dari bawah Bong Cu lalu menyerampang kedua kaki Mei Ling dengan kaki kirinya.
Sabetan kaki ini cepat dan kuat sekali hingga Mei Ling menjadi terkejut.
Gadis ini lalu mempergunakan ginkangnya dan ketika ia mengenjot tubuhnya melayang ke atas hingga ia berhasil menghindarkan diri dari serampangan kaki lawan.
Akan tetapi, tak tersangka sama sekali, tubuh Bong Cu Sianjin yang tadi masih berjongkok, tahu-tahu telah melompat ke atas pula dan kaki kanannya bergerak cepat menendang ke arah lambung Mei Ling.
Mei Ling berseru keras dan menggunakan tangan kiri menolak tendangan ini, akan tetapi, kaki kiri kakek buntung itu telah menyusul dan dengan tepat menotok iganya hingga sambil mengeluh Mei Ling lalu roboh tak dapat bergerak lagi.
Kembali Bong Cu Sianjin tertawa bergelak.
"Ha, ha, ha! Kita tawan mereka, kita tahan keduanya, biar Ang Lian Lihiap sendiri datang menolong mereka!"
Kata Bong Cu Sianjin.
Tadinya Kong Liang hendak berlaku nekad dan mengamuk karena melihat betapa kedua orang gadis itu telah dirobohkan dan tertawan, akan tetapi ketika mendengar ucapan ini, ia mendapat pikiran lain.
Ia maklum bahwa ia tentu takkan dapat menghadapi semua lawan ini seorang diri saja, terutama Bong Cu Sianjin yang amat kosen itu, maka ia lalu melompat mundur dan melarikan diri, diikuti oleh suara tertawa dari Bong Cu Sianjin yang mengejek!
Kedua orang gadis yang tertotok itu lalu diikat kaki tangannya dan dibawa ke kuil, dimasukkan dalam sebuah kamar dan dijaga.
Mereka ini tak berdaya sama sekali.
Untung bagi mereka bahwa yang menawan mereka bukan Tik Kong sendiri.
Kalau saja mereka itu terjatuh dalam tangan Tik Kong, maka keadaan mereka berbahaya sekali.
Akan tetapi, biarpun Tik Kong merasa girang dan hatinya tergila-gila melihat kecantikan dua orang tawanan ini, namun di situ ada Hek Li Suthai dan Bi Mo-li yang membuat ia tidak berani bermain gila dan tidak berani mengganggu Mei Ling atau Bwee Hwa.
Kong Liang dengan hati bingung sekali masih berada di dalam hutan itu.
Ia tidak melarikan diri jauh dan dengan hati marah dan berduka melihat dari tempat persembunyiannya betapa adiknya dan gadis gagah itu diikat kaki tangannya dan dibawa ke dalam sebuah kuil tua.
Di dalam hatinya ia sedikit merasa lega oleh karena maklum bahwa keadaan kedua orang gadis itu untuk sementara waktu tidak sangat mengkhawatirkan oleh karena agaknya Bong Cu Sianjin hendak mempergunakan mereka sebagai orang-orang tawanan atau umpan untuk memancing datangnya Ang Lian Lihiap dan Hwee-thian Kim-hong!
Akan tetapi, sampai berapa lamakah keselamatan kedua gadis itu terjamin?
Untuk kembali ke Tit-lee dan mengabarkan hal ini kepada Ang Lian Lihiap dan suaminya, terlalu lama.
Ia tidak tega untuk meninggalkan adiknya dalam tangan orang-orang jahat itu.
Akan tetapi, untuk turun tangan menolong, juga sukar baginya oleh karena hal ini takkan berguna, bahkan besar kemungkinan ia sendiri akan roboh!
Kalau ia sendiri sampai roboh di tangan Bong Cu Sianjin atau terluka dan tertawan, akan lebih buruk lagi keadaan mereka dan akan lebih tipis harapan untuk menolong.
Maka ia duduk di dalam hutan itu sambil termenung dan berduka.
Ia Memutar-mutar otaknya mencari jalan, akan tetapi agaknya tidak ada jalan lain kecuali nekad menyerbu seorang diri atau cepat-cepat pergi ke Tit-lee mengabarkan dan minta pertolongan kepada Ang Lian Lihiap dan suaminya.
Sementara itu, hari telah menjelang senja dan keadaan telah mulai gelap.
Kong Liang telah mengambil keputusan tetap, untuk pergi ke Tit-lee, ia tidak tega meninggalkan adiknya lama-lama di tangan musuh-musuh itu.
Maka ia mengambil jalan kedua, yakni setelah hari menjadi gelap, ia hendak menyerbu dan mencoba menolong mereka.
Lebih baik mati bersama adiknya daripada adiknya terganggu oleh mereka dan ia tidak berdaya menolong.
Pada saat ia masih duduk dengan bengong, tiba-tiba terdengar suara orang menegur.
"Song taihiap, mengapa kau duduk di sini seorang diri?"
Kong Liang merasa terkejut dan tak terasa pula ia melompat berdiri sambil mencabut pedangnya.
Akan tetapi ketika melihat siapa yang berdiri dihadapannya ia mengurungkan maksud hendak mencabut pedang, dan dimasukkan lagi pedang yang sudah tercabut setengahnya itu.
"Kau di sini?"
Tanyanya dan memandang kepada wajah Yap Bun Gai dengan tajam.
Ternyata bahwa yang berdiri di depannya itu adalah pemuda petani yang dulu dijumpainya di puncak Hoa-mo-san, yakni pemuda murid Bong Cu Sianjin yang lihai.
Biarpun ia tahu bahwa pemuda ini berhati baik, namun betapapun juga pemuda ini adalah murid Bong Cu Sianjin, maka Kong Liang bersikap dingin kepadanya.
"Song taihiap, ada terjadi apakah? Kau pucat dan kelihatan khawatir sekali. Apakah kau telah berkelahi lagi dengan suhu?"
Tentu saja Kong Liang merasa malu untuk mengakui betapa ia dan adiknya kembali dikalahkan oleh Bong Cu Sianjin, maka ia lalu menjawab dengan ketus.
"Kau boleh ikut bergirang hati. Gurumu yang gagah dan baik itu telah dapat menawan adikku dan seorang gadis lain."
Tiba-tiba berubah wajah Bun Gai yang tampan dan jujur.
"Adikmu tertawan? Ah......"
Hanya demikian ia berkata dan kemudian ia cepat hendak pergi dari situ, seakan-akan ia tergesa-gesa sekali.
"Hai, kau hendak ke mana?"
Tegur Kong Liang yang merasa heran juga me-lihat pemuda ini tiba-tiba muncul di situ. Bun Gai menahan langkah kakinya.
"Aku diperintah oleh Niang-niang untuk menemui suhu di kuil dalam hutan ini."
Kemudian setelah menjura tanpa berkata apa-apa lagi pemuda itu lalu melompat pergi dengan cepat sekali.
Kong Liang menghela napas panjang.
Celaka, pikirnya.
Kini pihak mereka kedatangan seorang yang tangguh lagi.
Ia telah mengetahui kelihaian pemuda tani ini yang dengan mudah dulu telah mempermainkan Mei Ling.
Ia tahu bahwa ilmu kepandaian pemuda ini lebih lihai dari Mei Ling dan bahkan mungkin sekali lebih lihai dari kepandaiannya sendiri.
Biarpun pemuda itu dulu memperlihatkan sikap baik, namun apabila berhadapan dengan suhunya, terpaksa pemuda itu tentu harus membantu suhunya.
Kong Liang merasa makin khawatir dan harapannya untuk dapat menolong adiknya makin menipis.
Akan tetapi, hal ini tidak berarti bahwa ia menjadi takut.
Bahkan mengambil keputusan nekad untuk mengadu jiwa.
Sementara itu dengan rasa hati tidak keruan, Yap Bun Gai berlari cepat sekali ke kuil di mana Bong Cu dan yang lain-lain berada.
Melihat kedatangan muridnya, Bong Cu tertawa lebar dan bertanya.
"Bun Gai, mengapa kau menyusul ke sini? Apakah kau disuruh oleh suci?"
Sambil berlutut di depan suhunya, Bun Gai menjawab.
"Betul, suhu. Niang-niang telah memerintahkan kepada teecu untuk menghadap kepada suhu yang telah dicari oleh Ang Lian Lihiap dan Hwee-thian Kim-hong naik ke Hoa-mo-san."
Kemudian ia menceritakan semua hal yang terjadi di Hoa-mo-san, akan tetapi ia tidak menceritakan pertempurannya dengan Mei Ling.
Ketika mendengar bahwa Lan Bwe Niang-niang telah mengundang Ang Lian Lihiap untuk datang bersama suaminya ke Hoa-mo-san tiga bulan lagi, Bong Cu Sianjin tertawa bergelak-gelak.
"Bagus, bagus!"
Katanya.
"Suci memang cerdik sekali. Dia telah mengundang datang Ang Lian Lihiap untuk tiga bulan lagi di puncak Hoa-mo-san dan sementara itu, aku dapat mencari kawan-kawan untuk membantuku nanti."
"Dan Niang-niang berpesan supaya suhu dan saudara-saudara lain jangan turun tangan atau mengganggu pihak musuh sebelum tiba waktu itu, oleh karena Niang-niang khawatir kalau-kalau pihak kita akan dianggap tidak memegang teguh perjanjian."
Bun Gai berkata kembali, dan kali ini yang diucapkan adalah kata-kata menurut suara hatinya.
"Tentu, tentu!"
Kata Bong Cu Sianjin sambil mengangguk-anggukkan kepala.
"Kita juga orang-orang gagah yang dapat menghargai nama sendiri. Bun Gai ketahuilah aku menawan dua orang musuh-musuh kita dan karena hendak menjaga nama baiklah maka sehingga saat ini kedua orang musuh itu tidak kubinasakan."
Kemudian dengan suara sombong sekali Bong Cu Sianjin memamerkan kepada muridnya betapa dengan mudah ia menjatuhkan dan menawan Mei Ling dan Bwee Hwa.
Bun Gai sengaja memperlihatkan muka tidak mengacuhkan sama sekali.
Biarpun di dalam dadanya, jantungnya berdebar ketika mendengar betapa Mei Ling, gadis jelita yang secara aneh sekali telah membuat ia serba salah, makan tak sedap tidur tak nyenyak dan wajah gadis itu semenjak pertempuran dulu itu terbayang-bayang di depan matanya bahkan muncul tiap malam di alam mimpinya.
Malam hari itu, Kong Liang datang menyerbu.
Ia meloncat ke atas genteng kuil dan tentu saja kedatangannya ini telah diketahui oleh Bong Cu Sianjin dan kawan-kawannya yang segera melompat ke atas untuk menyambutnya.
Tiba-tiba, kuil di sebelah kiri nampak terbakar hingga Bong Cu Sianjin menjadi terkejut sekali.
Ia mengira bahwa Kong Liang datang berkawan maka cepat ia memberi perintah.
"Hai, kau Tik Kong dan Bi-niang menjaga di sebelah kiri dan kau Ceng Hwa, kau menjaga di belakang kuil. Biar aku sendiri menghadapi pemuda ini. Bun Gai, kau menjaga di bawah dan awas jangan sampai ada musuh menyerobot ke dalam dan merampas tawanan kita."
Semua orang melakukan tugas yang diperintahkan oleh kakek buntung itu.
Tak seorangpun menyangka bahwa pembakaran di sebelah kiri kuil tadi dilakukan oleh Bun Gai yang telah dapat tahu lebih dulu akan serbuan Kong Liang membarengi aksi pemuda itu dengan membakar kuil.
Kebetulan sekali ia diberi tugas menjaga di bawah, maka ia lalu cepat meruntuhkan pintu kamar tahanan Mei Ling dan Bwee Hwa.
Ketika Mei Ling melihat siapa orangnya yang datang dengan pedang di tangan, tiba-tiba wajahnya menjadi merah.
Apalagi ketika tanpa banyak cakap Bun Gai lalu menggunakan pedangnya untuk memutuskan semua tali yang mengikat Bwee Hwa kemudian menepuk pundak mereka membebaskan pengaruh totokan, gadis ini berbisik.
"Terima kasih!"
Akan tetapi setelah melepaskan mereka, tiba-tiba Bun Gai berseru nyaring sekali.
"Bangsat perempuan rendah! Kalian hendak lari ke mana?"
Dan ia lalu menyerang Mei Ling dengan pedang di tangan kiri, ia melempar dua batang pedang gadis itu yang tadi telah diambilnya dari ruang dalam di mana pedang kedua orang gadis itu disimpan!
Tentu saja Bwee Hwa menjadi kaget dan heran dan menyangka bahwa orang yang menolongnya ini tentu seorang gila!
Akan tetapi, sambil menangkis serangan Bun Gai dengan pedang di tangan kanan dan mengusap matanya yang tiba-tiba terasa pedas dan mengalirkan air mata karena terharu, Mei Ling lalu berkata.
"Adik Bwee serang dia!"
Biarpun ragu-ragu karena diharuskan menyerang seorang yang telah menolongnya, akan tetapi karena selama dalam tahanan dan bicara serta mengenal Mei Ling sebagai seorang wanita gagah yang lebih tinggi kepandaiannya dari dia sendiri, juga lebih tua usianya, maka Bwee Hwa segera mentaati perintah ini dan mengeroyok Bun Gai!
Bun Gai melawan mereka dengan pedangnya yang diputar hebat sekali dan tiada hentinya pemuda ini berteriak-teriak.
"Penjahat perempuan! Kali ini kalian pasti mampus di tangan Yap Bun Gai!"
Kemudian, dengan suara perlahan sekali ia berbisik kepada Mei Ling.
"Lekas melarikan diri ke atas genteng dan pada saat aku mengejar, jangan ragu-ragu kau lukai aku!"
Baca Juga: Pedang Naga Hitam 4
Baca Juga: Pemberontakan Taipeng 7