Ceritasilat Novel Online

Pedang Naga Hitam 4

Eps 4 Pedang Naga Hitam - Kho Ping Hoo

Baca online Pedang Naga Hitam - Kho Ping Hoo

Cersil Pedang Naga Hitam - Kho Ping Hoo.

Tempat itu di kelilingi pohon bambu dan begitu dia mendekati pohon bambu, dari balik bambu itu berloncatan banyak orang dan tahu-tahu dia sudah di kepung oleh puluhan orang.

Cu Sian berdiri dengan tenang dan memandang ke sekeliling.

Akhirnya dia melihat munculnya seorang laki-laki berusia limapuluh tahun lebih.

Laki-laki ini tinggi besar bermuka penuh brewok dan tangannya memegang sebatang golok besar.

Jantung Cu Sian berdebar tegang melihat orang ini.

Agaknya inilah orangnya yang dimaksudkan oleh para piau-su itu.

Orang yang menjadi kepala perampok Kwi-to-pang, orang yang telah membunuh ayahnya.

Di sebelah laki-laki yang bukan lain adalah Sin-to-kwi Ban Koan itu, berdiri adiknya, Ban Ki adalah seorang laki-laki berusia empat puluh lima tahun yang bertubuh jangkung kurus, mukanya yang kurus itu berbentuk meruncung seperti muka tikus, dan sepasang matanya bersinar kejam.

"Orang muda, siapakah kau dan mau apa kau mencari ketua Kwi-to-pang?"

Bentak Ban Koan dengan suara mengguntur.

"Namaku Cu Sian dan aku memang sengaja datang untuk bertemu dengan ketua Kwi-to-pang. Apakah kau yang menjadi ketua Kwi-to-pang?"

Ban Koan memandang penuh perhatian.

Tadi dia mendapat laporan bahwa seorang pemuda remaja hendak bertemu dengannya dan pemuda itu lihai bukan main, telah mengalahkan empat orang penjaga dan bahkan mampu menghindarkan diri dari serangan anak panah.

Dia merasa heran.

Pemuda ini masih remaja dan ternyata hanya seorang pengemis.

Tentu bukan pengemis sembarangan, pikir Ban Koan.

Dia menahan kemarahannya.

"Hemmm, benar akulah Sin-to-kwi Ban Koan, ketua Kwi-to-pang dan ini adalah wakilku, juga adikku bernama Ban Ki dan berjuluk Siang-to-kwi"

Mendengar ini, Cu Sian hampir tidak dapat menahan kemarahannya lagi.

Akan tetapi dia ingin mendapatkan kepastian "Ban-pangcu aku mendengar bahwa Kwi-to-pang berkuasa di daerah ini, di sepanjang Lembah Huang-ho selama puluhan tahun.

Benarkah itu?"

"Tidak salah. Kwi-to-pang menguasai wilayah ini sejak puluhan tahun yang lalu sampai sekarang "

Jawab Ban Koan dengan bangga.

Karena dia menduga bahwa pengemis muda ini mungkin ada hubungan dengan Huang-ho Kwi-pang, maka dia menjawab untuk menjelaskan bahwa Kwi-to-pang lah yang berkuasa di situ sejak lama dan Huang-ho Kwi-pang merupakan pihak yang melanggar batas kekuasaanya.

"Dan benarkah bahwa Kwi-to-pang merupakan perkumpulan perampok yang ganas dan jahat, bukan hanya suka merampok, akan tetapi juga tidak segan untuk membunuhi korbannya?"

"Ha-ha-ha-ha"

Sin-to-kwi Ban Koan tertawa bergelak sehingga perutnya yang besar terguncang. Melihat ketua mereka menertawakan pertanyaan itu, para anak buahnya juga tertawa sehingga ramailah keadaan di tempat itu"

Kami yang berkuasa di wilayah ini, maka siapa saja yang lewat disini, harus tunduk akan peraturan kami.

Mereka harus menyerahkan sebagian dari milik mereka kepada kami dan kalau mereka menolak dan melawan, tentu saja kami bunuh"

Sepasang mata Cu Sian berkilat. Tidak salah lagi, tentu orang ini yang telah menewaskan ayahnya"

Ban-pangcu, karena mendengar itulah aku datang mencarimu.

Kau kejam dan jahat, sudah merampok, membunuh pula.

Aku datang untuk menantangmu bertanding, hendak ku lihat sampai dimana kehebatan golok setanmu"

Sin-to-kwi Ban Koan membelalakan sepasang matanya yang sudah lebar itu, kemudian dia tertawa lagi, terbahak-bahak "Ha-ha-ha-ha. Kau.......? Anak kecil jembel kelaparan ini menantangku? Ha-ha-ha-ha"

"Twa-ko, untuk membunuh bocah gila ini, tidak perlu kau turun tangan sendiri. Cukup sepasang golokku saja yang akan mencincang tubuhnya sampai hancur"

Kata Ban Ki sambil mencabut sepasang golok tipis itu dan mengamangkannya.

"Aha, kau tikus kurus tidak perlu ikut campur"

Kata Cu Sian "Aku menantang Sin-to-kwi Ban Koan, kalau dia berani menandingiku barulah dia pantas menjadi kepala rampok.

Akan tetapi kalau dia pengecut dan tidak berani, mengakulah saja dan aku akan menghadapi kau tikus kurus ini"

Bukan main marahnya Ban Ki dimaki tikus kurus oleh seorang pengemis muda.

Dia sudah memutar dua goloknya, akan tetapi kakaknya membentak "Mundurlah.

Bocah bermulut lancang ini memang yang sudah bosan hidup.

Biar aku sendiri yang membunuhnya"

Setelah berkata demikian, ban Koan meloncat ke depan.

Agaknya dia memandang rendah kepada lawannya, maka dia tidak mencabut goloknya melainkan menyerang dengan pukulan tangannya yang besar ke arah muka Cu Sian.

Akan tetapi dengan mudah saja Cu Sian mengelak dengan menundukkan kepalanya sehingga pukulan itu lewat di atas kepalanya.

Pemuda itu melangkah ke depan dan tangannya menghantam perut lawan.

Ban Koan terkejut melihat kelincahan lawan.

Cepat tangan kirinya menangkis dan terpaksa dia melangkah ke belakang dan ketika melihat pemuda itu menusukkan dua jari tangannya ke arah matanya, dia mengerahkan tenaga untuk menangkis.

Dia mengharapkan tangkisan yang kuat itu akanmematahkan tulang lengan lawan, atau sedikitnya mendatangkan rasa nyeri.

"Duukkk"

Keduanya terdorong ke belakang dan kembali Ban Koan terkejut.

Pemuda jembel itu ternyata memiliki tenaga yang kuat, dapat menandingi tenaganya.

Dengan kemarahan yang mulai mendidih, dia menendang dengan kaki kirinya yang panjang dan kokoh.

Namun Cu Sian dengan mudah mengelak dan tiba-tiba dia sudah menusukkan tongkat bambunya menotok ke arah pinggang lawan.

"Aahhh"

Ban Koan terpaksa melempar tubuh ke belakang sehingga dia terjengkang, akan tetapi tubuh yang tinggi besar itu ternyata dapat bergerak gesit juga dan dia sudah berjungkir balik sekali ke belakang.

Kini Ban Koan tidak berani memandang ringan dan dia tahu bahwa lawannya memang lihai sekali.

Baru beberapa gebrakan saja tahulah dia bahwa dalam hal kecepatan gerakan, dan hal ini membahayakn dirinya.

Juga dia tidak dapat mengharapkan tenaganya karena pemuda itupun memiliki tenaga yang kuat.

Maka cepat dia menggerakkan tangan dan dia sudah memegang sebatang golok besar yang berkilauan saking tajamnya.

Cu Sian yang merasa yakin dia berhadapan dengan pembunuh ayahnya.

Sejak tadi sudah merasa seolah hatinya terbakar oleh dendam dan kebencian.

Akan tetapi dia tidak mau membiarkan kemarahannya menguasainya.

Dia tetap tenang dan maklum bahwa lawannya adalah seorang yang berbahaya, apalagi kalau sudah memegang goloknya.

Kiranya tidak percuma orang itu berjuluk Sin-to-kwi (Setan Golok Sakti).

Dia tetap tenang dan waspada.

Dia yakin akan mampu menandingi musuh besar ini.

Walaupun musuh besar ini telahmengalahkan dan membunuh ayahnya, akan tetapi dia merasa yakin bahwa sekarang tingkat kepandaiannya sudah jauh melampaui tingkat ayahnya dahulu.

"Siinggg"

Golok besar itu mengeluarkan bunyi mendesing ketika Ban Koan mengayunnya dalam bacokan dahsyat ke arah leher Cu Sian.

Cu Sian menekuk kedua kakinya merendahkan tubuh sehingga golok itu menyambar di atas kepalanya dan kesempatan itu dia pergunakan untuk menyerang dada lawan dengan totokan.

Ban Koan terkejut dan cepat tangan kirinya bergerakmenangkis tongkat lalu melompat mundur.

Setelah terhindar dari totokan berbahaya itu, Ban Koan kembali menyerang.

Goloknya bergerak cepat, golok yang besar dan berat itu seolah benda ringan sekali di tangannya.

Golok itu lenyap bentuknya dan menjadi gulungan sinar putih yang menyilaukan membuat tubuhnya berkelebatan bagaikan seekor burung walet sehingga sukar sekali di serang.

Juga serangan balasan Cu Sian tidak kalah hebatnya karena pemuda itu menyerang dengan totokan-totokan ke arah jalan darah yang mematikan.

Pertandingan itu sungguh menegangkan.

Golok di tangan Ban Koan itu berbahaya sekali, akan tetapi Cu Sian ternyata mampu menandinginya dengan kecepatan gerakannya.

Mereka saling serang dan tubuh mereka berkelebatan ke sana sini.

Sampai lima puluh jurus lebih belum juga ada yang roboh walaupun perlahan-lahan Cu Sian mulai dapat mendesak lawannya.

Melihat kakaknya tidak mampu mengalahkan pemuda itu bahkan terdesak, Ban Ki menjadi penasaran dan marah.

Bagi dia dan kakaknya, mereka tidak mengenal sifat kegagahan yang pantang melakukan pengeroyokan.

Ban Ki berseru keras dan meloncat memasuki gelanggang perkelahian itu dengan sepasang goloknya.

Tanpa peringatan lagi dia sudah menyerang Cu Sian dengan ganasnya.

Cu Sian mengelak dengan cepat ketika sepasang golok itu menyambar ke arah tubuhnya.

"Pengecut"

Bentaknya, namun kakak beradik itu tidak peduli dan segera mengeroyoknya.

Bahkan anak buah Kwi-to-pang mulai mengepung dan mengancam dengan golok mereka untuk mengeroyok Cu Sian.

Cu Sian terkejut sekali.

Dia telah masuk perangkap, telah di kepung dan tidak mungkin meloloskan diri dari pengepungan puluhan orang itu.

Mulailah dia merasa menyesal, karena dorongan dendam kebencian, dia lupa bahwa di berada di tengah-tengah gerombolan yang berbahaya.

Saking marahnya berhadapan dengan pembunuh ayahnya dia langsung menantang.

Padahal, seharusnya dia mencari kesempatan dulu untuk memberi isyarat kepada Huang-ho Kwi-pang yang saat itu tentu menanti-nanti isyaratnya.

Kini dia telah terkepung, tidak sempat lagi memberi isyarat dan dia lalu nekat mengamuk, tubuhnya berkelebatan ke sana sini menghadapi pengeroyokan kakak beradik itu.

Akan tetapi dia terdesak hebat karena dua orang lawannya adalah orang-orang yang ahli bermain golok.

Beberapa kalinyaris tubuhnya terbacok golok.

Cu Sian memaklumi keadaan bahaya ini, akan tetapi karena tidak melihat jalan keluar untuk meloloskan diri, dia lalu mengamuk dan membela diri sekuat mungkin.

Pada saat yang amat gawat bagi keselamatan Cu Sian itu, tiba-tiba nampak sinar dan asap di susul teriakan banyak orang "Kebakaran.

Kebakaran"

Dan sebagian dari anak buah Kwi-to-pang berlarian untuk memadamkan sebuah tenda yang terbakar.

Cu Sian merasa terheran-heran.

Mestinya dia yang membuat api sebagai isyarat kepada orang-orang Huang-ho Kwi-pang.

Akan tetapi siapapun penyebab kebakaran, hal itu menguntungkan bagi Cu Sian dan diapun mengamuk sehingga kedua orang lawan yang mengeroyoknya mundur.

Apa lagi Ban Koan dan Ban Ki juga terheran-heran melihat adanya kebakaran.

Selagi mereka meragu, terdengar sorak sorai dan puluhan orang Huang-ho Kwi-pang datang menyerbu.

Terjadilah pertempuran yang hebat.

Hek-mo-ko Coa Gu ketua Huang-ho Kwi-pang segera membantu Cu Sian yang di keroyok dua.

Kini Cu Sian hanya melawan Ban Koan seorang, sedangkan Hek-mo-ko bertanding melawan Ban Ki Gu Ma It dan Su Ciong Kun, dua orang ketua yang lain dari Huang-ho Kwi-pang memimpin anak buah mereka menyerang orang-orang Kwi-to-pang.

Terjadilah pertempuran mati-matian.

Karena orang-orang Huang-ho Kwi-pang lebih banyak, mereka di pimpin oleh dua orang ketua itu, maka pihak Kwi-to-pang menjadi terdesak hebat.

Sementara itu Cu Sian mendesak lawannya dengan sengit dan akhirnya, tongkat bambunya berhasil menotok dada Ban Koan.

Sin-to-kwi Ban Koan berseru keras dan roboh terjengkang dan sebelum dia sempat membela diri, Cu Sian sudah mengirim dua kali totokan pada leher dan dadanya dan tewaslah Ban Koan tanpa dapat mengeluarkan suara lagi.

Pertandingan antara Ban Ki dan Hek-mo-ko juga berlangsung sengit dan berimbang.

Akan tetapi, ketika Ban Ki melihat kakaknya roboh dan tewas, permainan sepasang goloknya menjadi kacau dan kesempatan ini dipergunakan oleh Hek-mo-ko untuk menusuukan tongkat bajanya ke arah ulu hati Ban Ki.

Siang-to-kwi Ban Ki terjengkang dan tewas karena tongkat baja itu telah menembus baju dan kulit dadanya.

Melihat robohnya dua orang pimpinan mereka, sisa anak buah kwi-to-pang menjadi panik dan mereka lalu melarikan diri cerai berai.

Hanya belasan orang saja diantara mereka yang dapat lolos.

Selebihnya tewas dalam pertempuran itu.

Hek-mo-ko Coa Gu, Gu Ma It dan Su Ciong kun bergembira bukan main karena kemenangan itu berarti bahwa kini merekalah yang menjadi penguasa tunggal di daerah lembah Huang-ho.

Para anak buah Huang-ho Kwi-pang juga bersorak gembiara atas kemenangan itu.

Cu Sian masih berdiri termenung memandangi mayat Ban Koan ketua Kwi-to-pang.

Hatinya merasa terharu bahwa akhirnya dia mampu membalas kematian ayah ibunya, bahkan berhasil pula membantu Huang-ho Kwi-pang untuk membasmi gerombolan Kwi-to-pang yang dahulu merampok ayahnya.

Dia masih termenung ketika Hek-mo-ko dan dua orang adiknya menghampiri dan mereka bertiga memberi hormat kepadanya.

Hek-mo-ko berkata dengan gembira "Bantuan Cu-sicu sungguh tak ternilai harganya bagi kami"

Seperti orang dalam mimpi karena masih termenung, Cu Sian berkata "Aku tidak membantu siapa-siapa, aku hanya ingin membalas kematian ayah ibuku"

"Biarpun demikian, tanpa bantuan Cu-sicu, akan sukarlah bagi kami untuk memperoleh kemenangan. Kini kami telah menang dan mulai saat ini, yang menguasai Lembah Huang-ho di daerah ini adalah kami Huang-ho Kwi-pang"

Kata Hek-mo-ko lantang sehingga terdengar oleh semua anak buahnya.

Mendadak terdengar suara yang lebih lantang lagi, suara yang bergema sampai jauh dan yang menggetarkan hutan itu "Siapa bilang Huang-ho Kwi-pang yang berkuasa.

Masih ada aku di sini"

Semua orang terkejut dan menoleh, Entah dari mana datangnya tiba-tiba saja di situ telah berdiri seorang kakek yang menyeramkan.

Kakek itu usianya paling sedikit enam puluh tahun.

Ubuhnya masih tegak dan tinggi besar, kepalanya botak dan ukuran kepala itu besar sekali.

Rambut kepalanya hanya tumbuh di bagian bawah dari belakang telinga sampai ke tengkuk dan rambut ini tebal dan hitam sekali.

Tubuhnya yang tinggi besar itu mengenakan pakaian dari bulu beruang di bagian luarnya.

Sedangkan celana dan bajunya dari kain sutera.

Tangannya memegang sebatang tongkat berkepala naga dan berwarna hitam mulus.

Sepatunya dari kulit binatang.

Penampilan kakek ini nampak lucu akan tetapi juga menyeramkan.

Mendengar ucapan kakek itu, tentu saja tiga orang pimpinan Huang-ho Kwi-pang menjadi marah sekali.

"Haiiii. Apa maksudmu dengan kata-kata tadi?"

Bentak Hek-mo-ko.

"Siapa kau, manusia lancang mulut"

Bentak pula Su Ciong Kun dengan marah.

"He-he-he-he, kalian seperti tikus-tikus selokan hendak berlagak harimau. Kata-kataku sudah jelas. Tidak ada yang berkuasa di lembah Huang-ho kecuali aku. Mulai hari ini, aku lah yang berkuasa dan siapa pun baru berhak hidup di sini setelah memperoleh ijin dariku"

"Manusia sombong. Mengakulah siapa kau sebelum kami membinasakan kamu"

Kini Gu Ma It yang berteriak marah.

"He-he-he. Namaku Ma Giok, akan tetapi mulai sekarang akulah datuk utara dan julukanku Pak-Te-Ong (Raja Bumi Utara)"

Tiga orang pimpinan Huang-ho Kwi-pang itu saling pandang dan mereka tidak mengenal nama ini diantara tokoh-tokoh kang-ouw. Maka mereka memandang rendah.

"Ma Giok, bersiaplah untuk mampus"

Bentak Su Ciong Kun dan dia sudah menyabitkan sebatang pisau yang sudah di rendam racun.

Jangankan terkena dengan tepat, baru tergores sedikit saja oleh senjata rahasia ini sudah cukup untuk merenggutnyawa orang.

Akan tetapi kakek botak itu hanya mengibaskan lengan bajunya dan pisau itu mencelat ke samping dan lenyap ke dalam semak-semak.

"Ha-ha-ha, tikus-tikus tidak tahu diri. Apakah kalian masih mempunyai permainan lain lagi?"

Hek-mo-ko tentu saja tidak rela melihat ada orang hendak merebut kekuasaan mereka begitu saja. Dia sudah menggerakkan tongkat bajanya dan berseru kepada dua orang adiknya"

Serang"

Ini merupakan aba-aba bagi kedua orang itu untuk menyerbu dan tanpa banyak cakap lagi Gu Ma It menggerakkan pedangnya dan Su Ciong Kun menggerakkan rantai bajanya.

Cu Sian menyingkir dan menjauh sambil tersenyum mengejek.

Dia muak melihat sikap tiga orang pimpinan Huang-ho Kwi-pang itu yang tanpa malu-malu lagi melakukan pengeroyokan kepada seseorang yang belum mereka kenal dan ketahui bagaimana tingkat kepandaiannya.

Dia tidak ingin mencampuri urusan itu, akan tetapi diapun tertarik dan ingin menonton pertandingan itu.

Dia melihat di sebelah kirinya terdapat sebatang pohon dan diapun meloncat ke atas cabang pohon itu dan duduk seenaknya.

Hek-mo-ko Coa Gu, Su Ciong Kun dan Gu Ma It sudah maju menerjang kakek botak itu.

Tongkat baja ek-mo-ko menyambar ke arah kepala botak itu, pedang di tangan Gu Ma It menusuk ke arah dada, sedangkan rantai baja Su Ciong Kun menyambar ke arah pinggang.

Hebat sekali serangan tiga orang secara berbarengan itu dan agaknya kakek gundul itu tidak akan mampu menghindarkan diri lagi.

Akan tetapi Cu Sian yang menonton dari atas, terbelalak melihat kakek botak yang bernama Pak-Te-Ong Ma Giok itu sama sekali tidak bergerak dari tempat dia berdiri.

"Duukkk"

Kapala botak licin itu terpukul tongkat baja Hek-mo-ko, akan tetapi kepala itu tidak apa-apa bahkan tongkat itu telah di sambar tangan kiri Pak-Te-Ong dan di rampasnya.

Ketika pedang menusuk ke arah dadanya, dia menancapkan tongkatnya sendiri ke atas tanah dan tangan kanannya mengangkap pedang itu begitu saja dan sekali tarik, pedang itupun dirampasnya.

Rantai baja itu mengenai pinggang dan melibatnya, akan tetapi sekali kakinya menendang, Su Ciong Kun terlempar dan rantai baja itu tetap melibat pinggang Pak-Te-Ong.

Kembali kedua kakinya itu menyambar bergantian dan Hek-mo-ko terlempar kebelakang sedangkan Gu Ma It juga terpelanting.

"He-he-he. Tikus-tikus kecil bertingkah. Terimalah kembali senjata kalian"

Tubuhnya bergerak, tongkat dan pedang rampasan meluncur dari kedua tangannya sedangkan begitu pinggangnya di gerakkan, rantai baja itupun meluncur bagaikan seekor ular terbang menyambar mangsanya.

Tiga macam senjata itu meluncur ke arah pemilik masing-masing dan terdengar teriakan-teriakan mengerikan ketika tiga orang pimpinan Huang-ho Kwi-pang itu baru saja bangkit terkena senjata mereka sendiri.

Demikian kuatnya tenaga yang mendorong senjata-senjata itu sehingga tongkat baja itu menembus dada Hek-mo-ko, pedang menancap di leher Gu Ma It dan rantai baja mengenai kepala Su Ciong Kun sehingga kepala itu menjadi remuk.

Ketiganya tewas di saat itu juga.

Semua anak buah Huang-ho Kwi-pang yang melihat betapa tiga orang pimpinan mereka tewas sedemikian mudahnya oleh kakek botak itu, menjadi terkejut dan ketakutan.

Mereka serta merta menjatuhkan diri berlutut di depan kaki kakek itu sambil minta ampun.

"He-he-he-he"

Pak-Te-Ong tertawa mengelak sambil mencabut tongkatnya dan mengelus perutnya yang gendut.

Boleh aku mengampuni kalian, akan tetapi mulai saat ini, kalian hanya taat kepada Pak-Te-Ong.

Akulah satu-satunya pemimpin di seluruh wilayah Lembah Huang-ho ini.

Kalian mengerti?"

Puluhan orang yang ketakutan itu mengangguk-angguk seperti sekumpulan ayam memasuki beras dan menyatakan kesanggupan mereka.

Pak-Te-Ong kembali tertawa bergelak sehingga mukanya di tengadahkan.

Akan tetapi tiba-tiba tawanya terhenti karena matanya dapat melihat Cu Sian yang masih duduk menggoyang kaki di atas cabang pohon "Heeiiii, kau, turunlah.

Apakah kau ingin membalas kematian tiga orang sahabatmu ini?"

Cu Sian tahu benar bahwa kakek botak itu memiliki kesaktian yang luar biasa.

Dari cara dia menewaskan tiga orang pimpinan Huang-ho Kwi-pang saja tahulah dia bahwa kakek itu sama sekali bukan lawannya.

Akan tetapi, dia tidak memperlihatkan sikap takut, dia meloncat turun dari atas cabang pohon dan berkata sambil lalu saja.

Aku bukan sahabat mereka dan urusanmu dengan mereka tidak ada sangkut pautnya dengan aku"

Setelah berkata demikian Cu Sian menyeret tongkat bambunya dan melangkah pergi dari situ.

Melihat pengemis muda itu pergi seenaknya saja, Pak-Te-Ong berseru kepadanya "Heiii, jembel muda.

Sebelum pergi kau harus berlutut dan menyatakan takluk kepadaku, baru kau boleh pergi"

Cu Sian memiliki watak yang lincah jenaka dan gembira, akan tetapi di samping itu juga tabah sekali dan tidak mengenal rasa takut.

Mendengar ucapan kakek itu, dia berhenti melangkah dan memutar tubuhnya memandang kakek itu dengan sepasang mata yang bersinar "Pak-Te-Ong, aku bukan perampok dan aku tidak akan menakluk kepadamu atau kepada siapa pun juga"

Setelah berkata demikian, dia melanjutkan langkahnya.

"Heh. Kalian. Perintahku pertama kepada kalian. Tangkap dan seret jembel itu ke depan kakiku"

Kurang lebih lima puluh orang anggota Huang-ho Kwi-pang itu tidak berani membantah.

Dengan senjata di tangan mereka lalu bangkit dan lari menyerbu kearah Cu Sian.

Melihat ini Cu Sian menjadi marah.

Dia menyambut dan dengan gerakan cepat tongkatnya, dia telah merobohkan empat orang pengeroyok yang datang paling depan.

Akan tetapi para pengeroyok itu mengepung dan menyerangnya dari semua penjuru.

Cu Sian menjadi marah dan dia memainkan tongkatnya sedemikian rupa sehingga tongkat bambu itu berubah menjadi gulungan sinar kuning yang menyelimuti tubuhnya sehingga semua serangan itu terpental kembali.

Bahkan dia mampu merobohkan lagi delapan orang.

Melihat betapa lihainya pengemis muda itu, Pak-Te-Ong terkejut dan marah sekali.

Baru saja mengumumkan diri menjadi pemimpin tunggal di Lembah Huang-ho, sudah ada seorang yang berani menentangnya dan orang itu hanya seorang pengemis muda.

Mata Pak-Te-Ong terbelalak dan mukanya berubah kemerahan karena marahnya.

"Kalian semua mundur"

Bentaknya sengan suara mengeledek. Biar aku sendiri yang akan menghajar jembel busuk ini"

Para anggota Huang-ho Kwi-pang memang sudah merasa jerih kepada Cu Sian yang amat lihai ilmu tongkatnya itu, maka ketika kakek botak itu menyuruh mereka mundur, mereka pun dengan cepat mengundurkan diri.

Pak-Te-Ong maju beberapa langkah dan setelah jarak antara dia dan Cu Sian tinggal sepuluh meteran, dia mendorongkan tangan kirinya dengan telapak tangan terbuka ke arah pemuda jembel itu.

Angin yang kuat menyambar ke arah Cu Sian.

Pemuda itu mengenal pukulan jarak jauh yang amat berbahaya.

Dia segera mengelak ke samping akan tetapi tetap saja dia terhuyung ke belakang.

Maklum bahwa dia bukan lawan kakek sakti itu, Cu Sian lalu meloncat jauh dan melarikan diri.

"Jembel busuk"

Teriak Pak-Te-Ong sambil melakukan pengejaran. Akan tetapi Cu Sian berlari semakin cepat dan menghilang di balik pohon-pohon besar. Pak-Te-Ong juga mengerahkan ginkangnya dengan penasaran.

"Pengemis muda, kau tidak akan dapat melepaskan diri dari tanganku"

Cepat sekali tubuh kakek ini berkelebat di depan.

Akan tetapi, setelah dia memperpendek jarak antara dia dan yang dikejarnya, tiba-tiba berkelebat bayangan orang dan di depannya berdiri seorang pemuda yang pakaiannya sederhana, sinar matanya lembut dan mulutnya tersenyum-senyum.

"Sungguh memalukan seorang datuk besar mendesak seorang pemuda remaja"

Kata pemuda itu yang bukan lain adalah Han Sin. Pak-Te-Ong terpaksa berhenti dan dia memandang kepada Han Sin dengan marah "Minggir atau kau akan ku bunuh lebih dulu"

Bentaknya.

"He-he, bukan main galaknya. Pak-Te-Ong, hentikan pengejaranmu. Lawan yang sudah lari tidak baik di kejar"

Han Sin berkata dengan lagak menasehati.

"Keparat, mampuslah"

Bentak Pak-Te-Ong sambil mendorongkan tangan kirinya ke arah Han Sin dengan ilmu pukulan jarak jauh. Han Sin juga mendorong tangan kanannya.

"Deeesss"

Keduanya terdorong ke belakang dan Pak-Te-Ong terkejut bukan main.

Pemuda ini mampu menolak pukulan jarak jauhnya dan membuat dia terdorong ke belakang.

Dari bukti ini saja dapat di ketahui bahwa dia berhadapan dengan seorang pemuda yang memiliki kepandaian tinggi.

Maka, dengan hati penasaran dan marah, dia mengegerakkan tongkat kepala naganya menyerang bagaikan badai mengamuk dan setiap pukulannya dahsyat sekali.

Akan tetapi untuk kedua kalinya kakek itu merasa terkejut bukan main.

Semua pukulannya mengenai tempat kosong dan dua kali pemuda itu bahkan berani menangkis tongkatnya dengan tangan kosong.

Jarang ada lawan yang akan mampu bertahan lebih dari lima jurus kalau dengan tangan kosong menghadapi tongkatnya.

Apalagi lawan itu seorang pemuda seperti ini.

Setelah belasan jurus dia menyerang tanpa hasil, Tiba-tiba Han Sin melompat ke kiri dan melarikan diri.

"Heeiii, jangan lari"

Pak-Te-Ong membentak dan mengejar, akan tetapi pemuda itu telah lenyap tanpa meninggalkan bekas.

Han Sin memang tidak ingin berkelahi.

Kalau tadi dia menghalangi Pak-Te-Ong, hal itu dia lakukan untuk memberi kesempatan Cu Sian melarikan diri, setelah dia merasa bahwa Cu Sian telah berlari jauh dan kakek itu tidak akan dapat mengejarnya lagi, diapun meninggalkan lawan yang amat lihai itu.

Setelah gagal mencari kedua orang pemuda itu, dia melampiaskan kekecewaannya dan kemarahannya dengan mengobrak-abrik hutan, menumbangkan banyak pohon-pohon dengan tongkatnya, akhirnya Pak-Te-Ong kembali ke tempat dimana anggota Huang-ho Kwi-pang masih berkumpul.

Dan sejak hari itu, gegerlah daerah Lembah Huang-ho dengan munculnya seorang tokoh baru yang menundukkan semua golongan sesat dengan kepandaiannya yang tinggi.

Mereka yang mau tunduk dan menakluk, menjadi anak buahnya dan mereka yang berani menentang di bunuhnya.

Terkenallah nama Pak-Te-Ong di dunia kang-ouw sebagai seorang datuk utara yang sakti.

*** Harus di akui bahwa Kaisar Yang Ti meneruskan politik lebih tegas dari mendiang Yang Chien, ayahnya.

Terusan-terusan yang menghungkan kedua sungai Huang-ho dan Yang-ce di lanjutkan dan diperluas, bahkan diteruskan sampai ke Hang-couw.

Pekerjaan besar yang di mulai oleh Kaisar Yang Chien ini di lanjutkan oleh Kaisar Yang Ti.

Juga politik luar negerinya melanjutkan apa yang telah di lakukan oleh kaisar Yang Chien, yaitu menundukkan kembali daerah-daerah yang dahulu memberontak dan memisahkan diri.

Bahkan lebih luas lagi dia bertindak, bukan saja Tong-kin dan n-nam di tundukkan, juga dia melakukan gerakan di utara dan barat.

Kaisar Yang Ti mengirim pasukannya ke daerah yang kini di namakan Mongolia Dalam, Mongolia Luar, Kokonor, Sin-kiang, bahkan ke Asia Tengah yang pada waktu itu di diami bangsa-bangsa Toba, Turki dan Mongol dengan banyak suku-sukunya.

Diantara suku-suku bangsa itu terdapat banyak pertikaian dan permusuhan karena memperebutkan wilayah dan kekuasaan.

Kaisar Yang Ti mengirim banyak mata-mata memasuki daerah itu yang bertugas untuk meniup-niupkan permusuhan dan pertentangan itu.

Maka bertambah panaslah suasana diantara suku-suku bangsa itu dan karena adanya perpecahan ini, maka pasukan Sui dapat menguasai daerah-daerah itu yang kemudian di beri nama Sin-kiang atau daerah baru.

Usaha perluasan wilayah ini juga di tujukkan ke Timur Laut, yaitu daerah Mancuria Selatan dan Korea.

Namun di sini Kaisar Yang Ti mengalami pukulan berturut-turut yang menyuramkan sinar kemenangannya di daerah lain.

Sayang sekali, Kaisar Yang Ti tidak menuruni watak ayahnya yang menunjukkan seorang pendekar sejati, dahulu Kaisar Yang Chien selalu mengesampingkan kepentingan sendiri, tidak gila kedudukan dan gila kekuasaan, biarpun kaisar hidupnya sederhana dan selalu mengambil tindakan tegas terhadap siapa saja yang melakukan penyelewengan dan kesalahan.

Sebaliknya, Kaisar ang Ti mengumbar nafsu kesenangannya secara berlebihan.

Dia gemar sekali mengumpulkan wanita-wanita cantik untuk menjadi selir dan dayang, dan membangun istana-istana yang luar biasa indahnya.

Kegemaran ini menghamburkan banyak sekali uang negara dan dia banyak menerima protes dari pejabat-pejabat tinggi yang setia.

Namun, kedua telinganya seperti tuli terhadap semua protes dan kritik itu.

Untuk memuaskan nafsunya, dia mempunyai seorang permaisuri, dua orang wakil permaisuri, enam kepala selir dan tujuh puluh dua selir.

Semua itu masih belum memuaskan hatinya dan dia mengumpulkan gadis-gadis dari segalal penjuru dan suku, untuk dijadikan dayang yang jumlahnya mencapai tiga ribu orang.

Kalau semua ini hanya di sembunyikan di istana saja masih belum terlalu mencolok, akan tetapi Kaisar Yang Ti memiliki cara yang mencolok untuk menyenangkan hatinya dan memuaskan nafsunya.

Ketika pembangunan Terusan Besar yang menghubungkan utara dan selatan selesai dan dapat dipergunakan, maka untuk pembukaan pertama dia memerintahkan membuat sebuah perahu naga yang besar, kemudian, beberapa ratus gadis dayang di suruh menarik tambang yang mengikat perahu itu untuk menggerakkan perahu melawan arus.

Sambil menarik tambang, para dayang itu bernyanyi.

Di atas perahu naga, dayang-dayang cantik memainkan seruling dan Yangkim (siter) mengiringkannyanyian merdu.

Dalam kamar perahu itu, kaisar Yang Ti dilayani oleh selir dan dayang yang di pilihnya untuk menemaninya dalam perahu itu.

Tentu saja rakyat menonton peristiwa itu dengan takjub.

Dan para menteri setia hanya menarik napas panjang dan menggeleng kepala.

Keroyalan Kaisar Yang Ti mencapai puncaknya ketika dia memerintahkan Hsiang Sheng, pembuat bangunan terbesar di waktu itu, untuk membangun sebuah istana yang amat indah di Lok-Yang.

Untuk membuat bangunan raksasa yang indah dan megah mewah ini dipergunakan tenaga pekerja lebih dari lima puluh ribu orang dan pekerjaan di selesaikan dalam waktu delapan belas bulan.

Tentu saja bangunan ini memakan biaya yang luar biasa besarnya.

Di bangun di tanah yang luas, istana atau bangunan utama di kelilingi oleh tiga puluh enam istana yang lebih kecil, semua tersembunyi di dalam hutan-hutan bunga beraneka macam dan warna.

Pemandangan di sekitar istana mengingatkan orang akan dongeng tentang taman sorga.

Akan tetapi karena istana itu mempunyai banyak bangunan dan lorong bunga yang berliku-liku dan simpang siur, maka Kaisar Yang Ti memberi nama aneh kepada istana itu, yaitu Istana Lorong Menyesatkan.

Memang bagi orang yang belum mengenal betul daerah kumpulan istana ini, dia tentu akan tersesat di dalamnya dan sukar mencari jalan keluar lagi.

Bangunan utama merupakan sebuah istana yang bertingkat tiga, berkilauan dalam sinar matahari bagaikan sebuah Pagoda emas yang luar biasa besarnya.

Di dalam bangunan ini terdapat banyak kamar berbagai ukuran yang amat indah, di pisahkan oleh pintu-pintu yang berukiran halus.

Yang terbesar adalah kamar utama yang menjadi tempat tidur kaisar Yang Ti.

Kamar ini luar biasa besarnya, bisa muat seratus meja untuk berpesta.

Dinding-dindingnya di hias dengan cermin dari sudut ke sudut.

Asap dupa harum yang tipis selalu mengepul sehingga kamar besar itu berbau harum.

Tirai-tirai sutera bermacam warna bergantungan dan lentera-lentera berbagai warna yang bergantungan dengan hiasan yang mengandung daya seni tinggi.

Sungguh sayang sekali, ketika kaisar pertama Kerajaan Sui, yaitu Kaisar Yang Chien, memegang kendali pemerintahan, persatuan dapat di bina karena para pembesar di daerah tunduk dan taat kepada kaisar Yang Chien yang bijaksana, akan tetapi setelah Kaisar Yang Ti hidup bergelimang dengan kesenangan dan kemewahan, maka mulailah orang merasa tidak senang kepadanya.

Rasa tidak senang ini, terutama sekali dari pembesar-pembesar daerah, merupakan bibit-bibit pemberontakan.

Sudah berulang kali tercatat dalam sejarah, apa bila kaisarnya mulai terpengaruh kesenangan duniawi dan mementingkan kesenangan sendiri saja, maka tentu akan bermunculan pembesar-pembesar "Durna"

Alias penjilat-penjilat yang berhati palsu.

Demikian pula dengan waktu itu.

Ketika Kaisar Yang Chien berkuasa, tidak ada seorangpun penjilat berani mendekatinya, atau lebih tepat, tidak muncul pembesar yang berwatak penjilat karena kaisarnya bijaksana dan adil lagi tegas.

Akan tetapi ketika Kaisar Yang Ti berkuasa, mulailah berdatangan pembesar-pembesar penjilat yang maklum akan kelemahan Kaisar Yang Ti.

Pembesar-pembesar penjilat inilah yang bersikap penuh perhatian terhadap kebutuhan kaisar untuk memenuhi kesenangannya.

Mereka ini yang menawar-nawarkan gadis baru yang cantik dan mendorong semua keinginan kaisar untuk beroyal-royal menghamburkan uang negara.

Banyak pembesar tua yang dahulu membantu Yang Chien dengan setianya, dipensiun oleh Yang Ti, dan di gantikan dengan orang-orang muda yang lebih cocok dengan dia.

Diantara mereka ini seorang pejabat tinggi bernama Lui Couw.

Dia telah benyak berjasa dalam perang menundukkan daerah-daerah utara barat, maka diapun kini di angkat menjadi panglima besar.

Bukan hanya karena dia berjasa, akan tetapi diapun pandai menyenangkan hati Kaisar Yang Ti.

Dalam perang menundukkan daerah-daerah, Lui Couw ini tidak pernah lupa untuk menawan gadis-gadis cantik dan menyerahkan kesempatan pertama kepada Kaisar Yang Ti untuk meilih diantara gadis-gadis itu yang di senanginya.

Karena "jasa"

Inilah maka kedudukan Lui Couw cepat naik dan kini setelah menjadi panglima besar maka kekuasaanyapun bertambah kuat.

Lui Couw ini mempunyai seorang putera bernama Lui Sun Ek, yang telah berusia dua puluh satu tahun.

Lui Couw sendiri sudah berusia empat puluh lima tahun.

Dari para selirnya yang banyak Lui Couw hanya mendapatkan seorang putera itulah, sedangkan istrinya juga tidak mempunyai keturunan.

Maka biarpun hanya putera selir, Lui Sun Ek di manja dan di hormat sebagai keturunan tunggal.

Bahkan ibunya juga naik "pangkat"

Tidak lagi menjadi selir, melainkan menjadi isteri kedua yang dalam kehidupan sehari-hari mendorong kedudukan isteri pertama dan meiliki kekuasaan lebih besar dalam keluarga Lui Couw.

Lui Couw adalah seorang yang selain pandai dalam ilmu perang, juga ahli silat yang tangguh.

Demikian pula puteranya, Lui Sun Ek, telah di gemblengnya sendiri sejak anak itu masih kecil sehingga kini Sun Ek menjadi seorang pemuda dewasa yang lihai sekali.

Sebagai seorang panglima tinggi yang kedudukannya sudah sama dengan seorang menteri, Lui Couw memiliki sebuah rumah gedung yang megah.

Pada suatu pagi, para menteri dan panglima menghadap Kaisar Yang Ti karena Kaisar mengundang mereka dalam sebuah sidang pertemuan.

Para pembesar itu sudah lama menghadap ketika Kaisar masih bersenang-senang dengan para wanitanya dalam taman istana.

Setelah para pembesar itu merasa kesal menanti, barulah kaisar keluar diiringkan para thaikam (sida-sida) dan pengawal pribadi.

"Hidup Yang Mulia Kaisar"

Terdengar seruan mereka yang segera menjatuhkan diri berlutut menghadap kaisar.

Kaisar Yang Ti memandang kepada semua pejabat itu, mengangguk senang karena mereka semua hadir selengkapnya, lalu duduk dan menggerakkan tangannya.

"Kalian semua boleh duduk"

"Terima kasih, Yang Mulia"

Serentak mereka menjawab lalu bangkit dan duduk di bangku-bangku yang sudah di sediakan untuk mereka.

Kemudian Kaisar memberi kesempatan kepada mereka untuk satu demi satu menyampaikan pelaporan tentang jalannya pemerintahan, dan juga tentang gerakan pasukan Sui yang berusaha menundukkan daerah-daerah di Timur Laut.

Dengan kecewa dia menerima laporan bahwa gerakan pasukan di Timur Laut mendapat perlawanan yang amat kuat dari mereka, terutama sekali dari bangsa Korea.

"Hemmm, kalau demikian, lebih baik tarik mundur dulu pasukan dari sana karena kami mendengar bahwa daerah utara Shan-si juga para suku bangsa bar-bar mulai melakukan gerakan. Kami sendiri yang akan memimpin pasukan besar mengadakan pembersihan di Shan-si utara"

"Ampun Yang Mulia. Akan tetapi hamba kira sebaiknya kalau paduka menyerahkan saja tugas itu kepada hamba atau kepada para panglima lainnya. Tidak perlu paduka berangkat sendiri memimpin pasukan. Daerah sana itu berbahaya sekali bagi paduka dan sebaiknya paduka tidak menempuh bahaya itu"

Kata Lui Couw.

Kaisar Yang Ti mengerutkan alisnya dan wajahnya nampak marah ketika dia memandang kepada panglimanya itu "Liu-Ciang-kun.

Lupakah kau siapa kami ini?

Mendiang ayah kami adalah seorang pejuang yang gagah perkasa, dan sejak muda kami juga sudah bergelimang dengan pertempuran.

Apa artinya bahaya bagi seorang kaisar yang memimpin pasukannya sendiri melakukan pembersihan?

Kami akan berangkat sendiri"

"Ampun, Yang Mulia. Hamba hanya mengkhawatirkan keselamatan paduka saja maka mengusulkan agar kami para panglima yang diperintahkan pergi. Akan tetapi kalau demikian kehendak paduka, hamba tentu saja tidak berani membantah"

Kata Liu Couw.

"Pendeknya laksanakan perintah kami, yaitu, tarik mundur pasukan yang berperang di timur laut, dan kerahkan pasukan besar yang akan kami bawa asendiri ke utara Shan-si. Berapa lamakah pasukan itu dapat berkumpul?"

Lui Couw saling pandang dengan para panglima yang hadir, kemudian setelah menghitung-hitung, dia menjawab"

Kalau pasukan yang berada di timur laut itu di haruskan kembali ke kota raja lebih dahulu, maka hal itu akan makan waktu lama, Yang Mulia.

Akan tetapi kalau di kirim perintah agar pasukan itu langsung saja pergi ke Tai-goan di Shan-si dan bertemu dengan pasukan dari sini, maka dalam waktu yang tidak terlalu lama pasukan dapat terkumpul di Tai-goan.

"Baik, laksanakan perintah itu agar mereka segera di tarik ke Tai-goan"

"Hamba siap melaksanakan perintah paduka"

Jawab Lui Couw. Setelah menerima laporan hal-hal lain dari berbagai menterinya, kaisar lalu berkata "Nah, sekarang kami hendak membicarakan sebuah persoalan penting"

Dia memberi isyarat kepada seorang Thaikam yang maju berlutut dan menyerahkan sebatang pedang bersarung kepada Kaisar Yang Ti.

Setelah menerima pedang itu dari seorang thai-kam, Kaisar Yang Ti lalu mengangkat pedang itu ke atas, memperlihatkannya kepada semua yang hadir lalu bertanya"

Tahukah kalian pedang apa ini?"

Semua orang memandang penuh perhatian.

Pedang itu memiliki sarung yang indah terukir sebuah naga, juga gagang pedangnya di ukir kepada naga dan warnanya putih seperti perak.

Para menteri yang sudah menghambakan diri sejak dahulu tentu saja mengenal pedang itu.

"Pek-liong-kiam (Pedang Naga Putih)"

Terdengar seruan beberapa orang. Kaisar Yang Ti mengangguk "Benar ini adalah Pek-liong-kiam, Pedang pusaka milik mendiang ayah yang telah berjasa besar. Lihatlah baik-baik"

Kaisar menghunus pedang itu dan nampak sinar berkilauan yang menyeramkan "Sekarang pedang ini menjadi milik kami, maka kami juga harus berani bertindak tegas, membasmi semua pemberontakan dan kerusuhan dengan pedang ini.

Akan tetapi ada satu hal yang merisaukan hati kami.

Pedang ini mempunyai saudara yang di sebut Hek-Liong-Kiam (Pedang Naga Hitam).

Hek-Liong-Kiam itu dahulu menjadi milik mendiang panglima besar Cian Kauw Cu.

Kami menghendaki agar pedang itu dapat menjadi pusaka negara.

Karena itu, kami memerintahkan kau, panglima muda Coa Hong Bu, untuk mencari Hek-Liong-Kiam dan membawanya ke sini, menyerahkan kepada kami"

Coa Hong Bu adalah seorang panglima muda yang bertugas di istana.

Dia seorang laki-laki berusia tiga puluh lima tahun yang bertubuh jangkung kurus.

Sebagai seorang murid yang pandai dari Hoa-san-pai, dia memiliki ilmu silat yang tinggi.

Ketika mendengar perintah ini, Coa Hong Bu memberi hormat dan berkata dengan suara tegas seorang panglima "Hamba akan melaksanakan perintah paduka, hamba hanya mohon petunjuk, siapa yang kini memiliki pedang pusaka itu"

Kaisar memandang kepadanya dengan marah "Hek-Liong-Kiam adalah milik mendiang Panglima Cian Kauw Cu.

Setelah meninggal dunia, tentu saja pusaka itu berada di tangan keluarganya.

Dan ada satu hal lagi.

Ingat baik-baik, di dunia ini hanya dua orang yang mengenal ilmu yang ditemukan bersama sepasang pedang Pek-liong-kiam dan Hek-Liong-Kiam.

Ilmu itu hanya dikenal oleh mendiang ayah dan mendiang Panglima Cian Kauw Cu.

Karena ayah tidak meninggalkan kitab ilmu itu kepada kami, maka sangat boleh jadi bahwa kitab itu pun tadinya berada di tangan Panglima Cian.

Maka, kau, Panglima Coa Hong Bu, kalau sudah menemukan Hek-Liong-Kiam, tanyakan pula adanya sebuah kitab yang di tinggalkan oleh Cian-Ciangkun dan serahkan padaku.

Kalau pemegangnya menuntut penebusan uang, berikan kepadanya berapa saja yang dia minta"

"Akan hamba laksanakan, Yang Mulia. Dapatkah Paduka memberitahu kepada hamba nama ilmu itu?"

"Kitab itu berisi ilmu yang di sebut Bu-tek-cin-keng. Usahakan sampai pedang dan kitab dapat kau serahkan kepada kami, Coa-ciangkun. Kau akan mendapat hadiah besar dari kami"

Setelah berkata demikian, Kaisar Yang Ti membubarkan pertemuan itu.

Para pembesar, menteri dan panglima mengundurkan diri dan bersiap melaksanakan semua perintah yang dikeluarkan pada pertemuan itu oleh kaisar.

Semua perintah yang diberikan kaisar dapat dilakukan dengan mudah oleh para pembesar, kecuali tugas yang diberikan oleh Panglima Coa Hong Bu.

Panglima yang biarpun sudah berusia tiga puluh lima tahun akan tetapi masih hidup membujang ini setelah meninggalkan istana tidak langsung pulang ke rumahnya, akan tetapi segera melakukan penyelidikan untuk mengetahui dimana adanya Nyonya Cian Kauw Cu yang sudah pindah meninggalkan kita raja itu bersama puteranya.

Setelah mengetahui kemana pindahnya keluarga Cian yang di carinya itu, Panglima Coa Hong Bu lalu membuat persiapan untuk pergi berkunjung ke rumah janda itu yang menurut keterangan yang dia peroleh telah pindah keluar kota dekat kuil Siuw-lim-si.

*** Ji Goat, yaitu Nyonya Cian Kauw Cu yang hidup menyendiri di bukit dekat kuil, merasa prihatin dan kesepian sejak puteranya ia suruh pergi ke utara untuk mencari pedang pusaka Naga Hitam dan pembunuh suaminya.

Kini ia hidup kesepian, hidup sederhana dari sisa bekal peninggalan suaminya, bercocok tanam seperti seorang petani.

Namun, wanita yang kini sudah berusia lima puluh lima tahun itu tidak pernah merasa berduka.

Ia hanya berdoa setiap hari agar puteranya selamat dan berhasil melaksanakan kewajibannya membalaskan kematian ayahnya.

Satu-satunya orang yang menemani dan membantunya, adalah seorang wanita dusun sebelah yang sudah berusia lima puluh tahun.

Wanita pembantu itu datang di waktu pagi sekali dan pulang ke rumahnya sendiri setelah hari menjadi gelap.

Cio Si, demikian nama pembantu itu, adalah seorang dusun sederhana yang dapat menghibur hati Ji Goat di kala ia merasa kesepian teringat kepada puteranya.

Biarpun kini hidup menyendiri, Ji Goat tidak pernah melupakan ilmu silatnya.

Hampir setiap hari sekali ia berlatih silat sehingga tubuhnya tetap sehat dan kuat dan gerakannya tetap lincah.

Biasanya ia berlatih di waktu pagi sekali, di belakang rumahnya yang merupakan kebun dan ladang yang cukup luas dan udaranya segar sejuk karena terpencil, jauh dari tetangga.

Pada suatu pagi yang sejuk, ketika ayam jantan mulai berkokok dan matari sendiri belum keluar walaupun sinarnya sudah mulai mengusir kegelapan malam, seperti biasa Ji Goat berlatih silat di belakang rumahnya.

Dan pada saat yang sama, Cio Si, wanita pembantu itupun meninggalkan rumah keluarganya menuju ke rumah Ji Goat yang tidak terlalu jauh letaknya dari rumah keluarganya.

Karena pintu depan masih tertutup, seperti biasa Cio Si menuju ke kebun belakang karena ia tahu bahwa pada saat seperti itu nyonya majikannya tentu sedang berlatih silat di kebun belakang dan pintu belakang sudah dibuka.

Akan tetapi ketika pembantu rumah tangga itu tiba di kebun belakang ia terkejut bukan main melihat nyonya majikannya sedang berkelahi melawan seorang laki-laki yang tidak dikenalnya.

Ia menjadi ketakutan, kedua kakinya terasa lemas dan iapun berjongkok di belakang semak-semak.

Apa yang telah terjadi dengan nyonya janda itu?

Ketika Ji Goat sedang berlatih silat, seperti biasa ia memainkan ilmu silat Lo-hai-kun.

Ilmu silat ini merupakan ilmu silatnya yang dahsyat dan yang dipelajarinya ketika ia masih muda dahulu dari gurunya, Toat beng Giam Ong yang menjadi Kok-su (Guru Negara) dari Kerajaan Toba.

Ketika Ji Goat berlatih, daun-daun pohon yang berdekatan bergoyang-goyang karena sambaran angin yang timbul dari gerakan kedua tangan Ji Goat.

Tiba-tiba saja terdengar seruan orang.

"Bagus. Lo-hai-kun yang kau kuasai semakin lihai saja, suci"

Ji Goat terkejut dan menghentikan gerakannya.

Ketika ia menengok, ia melihat seorang pria berusia empatpuluh lima tahun, bertubuh sedang dan tegap, telah berdiri di situ.

Ia tidak mengenal pria ini dan tentu saja ia merasa heran di sebut suci (kakak seperguruan) oleh orang itu.

"Siapa kau?"

Tanyanya curiga. Pria itu tertawa pendek "Ha-ha suci, lupakah kau kepadaku? Aku Lui Couw"

"Lui Couw...?"

Ji Goat mengulang nama itu sambil mengerutkan alisnya mengingat-ingat.

Kemudian teringatlah ia.

Ketika ia masih menjadi murid Toat beng Giam Ong Lui Tat, gurunya yang berpangkat tinggi itu mempunyai seorang putra dari seorang selirnya bernama Lui Couw.

Ketika itu Lui Couw baru berusia enam tujuh tahun.

"Kau.... putera suhu Toat Beng Giam Ong?. Hemmm, apa maksud kedatanganmu ini, Lui-sute?"

"Suci, sudah lama aku menjadi seorang panglima dari Kerajaan Sui"

Ji Goat mengerutkan alisnya. Ia sama sekali tidak tahu dan tidak mengira bahwa putera gurunya itu kini menjadi panglima "Lalu, apa maksud kedatangamu ke sini?"

"Suci, Kaisar bermaksud untuk merampas kitab Bu-tek Cin-keng dari tanganmu, karena itu aku mendahului mereka datang ke sini menemui suci. Ku harap suci suka menyerahkan kitab itu kepadaku"

Mereka saling berpandangan dengan sinar mata penuh selidik "Sute, kitab itu tidak ada padaku"

Jawab Ji Goat dengan tegas.

"Suci, ingatlah Kaisar dan Kerajaan Sui adalah musuh kita. Mendiang ayahmu adalah Perdana Menteri Kerajaan Toba dan ayahku adalah Kok-su-nya. Maka Kerajaan Sui adalah musuh kita. Maka harap jangan ragu, serahkan kitab itu kepadaku agar jangan sampai terjatuh ke tangan Kaisar Yang Ti"

Suara Lui Couw terdengar keras dan mendesak.

"Sudah ku katakan, kitab itu tidak ada padaku"

"Kalau begitu, katakan dimana kitab itu? Ah, ya. Kau mempunyai seorang putera, bukan? Dimana dia? Apakah kitab itu kauberikan kepadanya?"

Kerut diantara alis Ji Goat makin mendalam dan ia menggeleng kepalanya keras-keras "Tidak, aku tidak akan memberitahukan kepadamu atau kepada siapapun juga"

"Suci. Sekali lagi kuminta kau memberitahu dimana adanya kitab Bu-tek Cin-keng"

Kini Lui Couw membentak marah. Akan tetapi Ji Goat memandang dengan mata berapi dan menjawab tegas, Tidak akan kuberitahu"

"Kalau begitu apakah aku harus mempergunakan kekerasan?"

"Terserah. Jangan di kira aku takut atau kepada siapapun juga", Ji Goat marah bagaikan seekor singa betina. Wataknya yang dahulu di waktu ia masih gadis muncul kembali dan ia sudah mengepal kedua tinjunya.

"Kau perempuan bandel"

Lui Couw sudah menyerang dengan pukulan dahsyat kearah muka Ji Goat.

Wanita ini mengelak dan membalas dengan tidak kalah dahsyatnya.

Lui Couw menangkis pukulan itu dan keduanya segera bertanding dengan seru.

Karena kedua orang ini menggunakan ilmu yang sama, yaitu Lo-hai-kun, tentu saja keduanya sudah saling mengenal gerakan masing-masing dan perkelahian yang sesungguhnya itu nampak seperti dua orang sedang berlatih saja.

Ketika mereka bertanding inilah Cio Si, pembantu rumah tangga itu, memasuki kebun dan segera bersembunyi dengan tubuh gemetar.

Akan tetapi ia dapat menonton perkelahian itu lewat calah-celah daun semak-semak.

Setelah lewat tigapuluh jurus, mulailah Lui Couw terdesak.

Bagaimanapun juga, dia masih kalah pengalaman oleh Ji Goat dan terutama sekali karena Ji Goat rajin berlatih setiap hari.

Dalam hal kegesitan gerakan, Lui Couw kalah maka mulailah dia terdesak mundur.

Tiba-tiba Lui Couw meloncat ke belakang dan ketika dia maju lagi tangannya sudah memegang sebatang pedang yang mengeluarkan sinar hitam yang menyeramkan.

Ji Goat terbelalak dan menudingkan telunjuknya kearah muka Lui Couw.

"Lui-sute. Jadi kaukah pengkhianat itu? Kau pembunuh suamiku dan pencuri Hek-Liong-Kiam?"

Teriak I Goat penuh perasaan terkejut, heran dan marah sekali.

"Karena kau tidak mau menyerahkan kitab itu, kaupun akan ku kirim ke akhirat menyusul suamimu"

Bentak Lui Couw yang segera menerjang dengan pedangnya.

Ji Goat memang sedang berlatih silat tangan kosong, maka ia tidak bersenjata.

Pedangnya tertinggal di dalam kamarnya.

Menghadapi serangan itu, iapun mengelak cepat dan terjadilah perkelahian lagi.

Akan tetapi sekarang Ji Goat yang terdesak hebat.

Pedang suaminya itu terlalu ampuh baginya dan setelah lewat belasan jurus, akhirnya ia kewalahan juga.

"Mampuslah kau"

Bentak Lui Couw dan pedangnya menyambar seperti kilat kearah kedua kaki Ji Goat.

Wanita itu melompat ke atas, akan tetapi Lui Couw juga melompat mengejar dan sekali pedang Hek-liong-pang menyambar, tanpa dapat di hindarkan lagi pedang itu telah menusuk lambung Ji Goat.

"Cappp""

Ji Goat terkulai dan roboh mandi darah.

Lui Couw menyerengai, menyimpan kembali pedangnya, memandang kepada wanita yang sudah roboh tak berkutik lagi itu dan memasuki rumah melalui pintu belakang.

Dia hendak mencari Kitab Bu-tek Cin-keng, juga putera sucinya itu.

Akan tetapi dia tidak dapat menemukan keduanya, maka segera pergi meninggalkan rumah yang sunyi itu.

Setelah Lui Couw pergi, barulah Cio Si berani keluar dari balik semak-semak.

Ia menghampiri nyonya majikannya, memandang dengan muka pucat dan mata terbelalak.

Melihat nyonya majikannya menggeletak mandi darah dan sudah tidak bergerak lagi, tahulah ia bahwa Ji Goat telah tewas.

Maka dengan kedua kaki gemetaran ia lalu lari ke rumah tetangga yang agak jauh dari situ sambil menangis.

Sebentar saja semua penduduk di lereng bukit itu berlari-lari menuju ke rumah Ji Goat.

Dari mulut ke mulut mereka bercerita tentang kematian Ji Goat seperti yang di ceritakan oleh Cio Si tadi, bahwa nyonya janda itu di bunuh orang.

Hanya itu yang dapat di ceritakan Cio Si.

Wanita dusun ini takut untuk mengatakan apa yang ia dengar dalam percakapan dua orang tadi.

Ia takut kalau-kalau pembunuh itu akan mencarinya dan membunuhnya pula.

Maka ia hanya bercerita bahwa majikannya terbunuh oleh seorang laki-laki yang tidak di kenalnya.

Tiong Gi Hwesio, ketua kuil Siauw-lim-si yang berada di puncak bukit itu segera datang ketika mendengar bertita itu.

Dia merasa ikut bersedih atas kematian ibu dari muridnya itu mati di bunuh orang selagi puteranya, Han Sin tidak berada di rumah.

Karena dia mengenal baik wanita yang tewas itu sebagai ibu dari muridnya, maka Tiong Gi Hwesio mengatur pemakamannya.

Kemudian rumah dan swah lading itu oleh Tiong Gi Hwesio di serahkan kepada Cio Si untuk di urus dan di rawat sampai kembalinya Han Sin.

Pada keesokan harinya, muncullah Coa Hong Bu, Panglima yang di tugaskan oleh Kaisar untuk mencari Hek-Liong-Kiam dan kitab Bu-tek Cin-keng, di rumah nyonya Cian Kauw Cu.

Dapat di bayangkan betapa kagetnya ketika dia melihat peti mati di rumah itu, dan sejumlah orang yang melayat.

Sebagai orang yang berpendidikan, dia memberi hormat kepada peti jenazah dan mengangkat hio.

Setelah selesai upacara penghormatan itu, dia di sambut oleh Tiong Gi Hwesio yang yang mengenalnya sebagai seorang panglima istana.

"Lo-suhu, apa yang telah terjadi dengan Nyonya Cian?"

Tanya panglima itu kepada Tiong Gi Hwesio.

"Omitohud. Hanya seorang saja yang mengetahui dan orang itu adalah Cio Si, Cian-hujin berkelahi dengan seorang laki-laki yang tidak dikenalnya dan Cian-hujin roboh terbunuh oleh laki-laki itu"

Tentu saja Coa Hong Bu menjadi penasaran sekali "Lo-suhu, terus terang saja, aku di utus oleh Sri baginda Kaisar untuk menemui Nyonya Cian dan minta beberapa benda darinya.

Karena itu, maka tentu saja peristiwa pembunuhan in penting sekali bagiku.

Dapatkah aku bicara dengan wanita pembantu itu?"

"Omitohud. Ternyata Ciang-kun membawa tugas yang demikian pentingnya. Tentu saja Cian-kun dapat berbicara sendiri dengan Cio Si. Mari, Ciang-kun, silahkan masuk ke dalam dan pin-ceng akan memanggil Cio Si"

Coa Hong Bu melangkah masuk dan duduk di ruangan dalam rumah itu. Tak lama kemudian seorang wanita tua memasuki ruangan itu dan memberi hormat kepadanya.

"Apakah ". Apakah ciangkun memanggil saya ""?"

Tanya Cio Si dengan suara gemetar.

"Benar, akan tetapi jangan takut, bibi. Duduklah, aku hanya ingin mendengar cerita bibi tentang peristiwa pembunuhan itu. Apa bibi mengenal orang yang berkelahi dengan majikanmu?"

Cio Si duduk dan mengusap air matanya "Saya tidak mengenalnya, Ciang-kun. Saya belum pernah melihat orang itu"

"Bagaimana air mukanya dan bentuk tubuhnya?"

"Wajahnya gagah dan tubuhnya tegap"

"Usianya?"

"Tentu lebih dari empatpuluh tahun, ciangkun"

"Bagaimana pakaiannya?"

"Dia berpakaian biasa, warna "". kalau tidak salah ingat, biru"

"Coba ceritakan dari awal ketika kau melihat peristiwa pembunuhan itu bibi"

Kata Coa Hong Bu dengan lembut sehingga wanita itu tidak lagi ketakutan.

"Seperti biasa setiap pagi, kemarin pagi-pagi sekali saya berangkat dari rumah menuju ke rumah Coan-toako dimana saya sudah bertahun-tahun bekerja sebagai seorang pembantu. Dan seperti biasa pula, karena pintu depan belum di buka, saya menuju ke kebun belakang untuk memasuki rumah lewat pintu belakang. Biasanya setiap pagi toanio tentu berada di kebun berlatih silat. Akan tetapi kemarin pagi saya melihat toanio berkelahi dengan seorang laki-laki yang memegang pedang. Saya ketakutan dan hanya bersembunyi di balik semak-semak sambil mengintai dan saya melihat toanio roboh mandi darah terkena tusukan pedang lawannya itu"

Coa Hong Bu mengerutkan silatnya.

Dia tahu bahwa janda Cian itu adalah seorang wanita yang memiliki ilmu silat tinggi dan tidak sembarangan orang dapat mengalahkannya.

Akan tetapi diapun maklum bahwa wanita itu di waktu mudanya membantu perjuangan Kaisar Yang Chien, maka tentu saja mempunyai banyak musuh.

"Setelah membunuh Cian-toanio, lalu apa yang dilakukan laki-laki itu?"

"Dia memasuki rumah ini lewat pintu belakang. Setelah dia keluar kembali dan melarikan diri barulah saya berani keluar dari tempat persembunyian saya dan lari minta tolong kepada para tetangga"

"Lamakah dia memasuki rumah ini?"

"Lama juga, ciangkun"

"Ketika dia keluar, dia membawa apa?"

"Tidak membawa apa-apa, dan pedangnya juga sudah di sarungkan di punggung"

Tiba-tiba Coa Hong Bu teringat akan sesuatu "Ketika mereka berkelahi, orang itu memegang pedang, bagaimana dengan Cian-toanio? a memegang senjata apa?"

"Cian-toanio tidak memegang senjata, ciangkun"

"Hemmm, dan pedang orang itu, adakah sesuatu yang aneh pada pedang itu? Bagaimana bentuknya?"

Cio Si ragu-ragu sejenak"

Seperti pedang biasa """

Akan tetapi, saya pernah melihat pedang-pedang itu putih mengkilat, akan tetapi pedang orang itu, warna hitam dan mengerikan"

Hampir Coa Hong Bu terlonjak dari tempat duduknya. Dia menenangkan hatinya dan bertanya pula "Apakah ketika berkelahi mereka tidak mengeluarkan kata-kata?"

Kembali Cio Si ragu-ragu sampai lama.

Ia masih merasa takut.

Kalau ia membuka rahasia pembunuh itu dengan menceritakan apa yang di dengarnya, ia takut kalau pembunuh itu marah kepadanya dan membunuhnya "Tidak, ciangkun"

Akhirnya ia berkata.

Coa Hong Bu merasa heran sekali.

Pedang itu agaknya Hek-Liong-Kiam yang di carinya.

Akan tetapi kenapa pedang itu tidak berada pada Nyonya Cian, melainkan berada di tangan pembunuh itu?

Dan pembunuh itu setelah melakukan pembunuhan lalu memasuki rumah, tentu hendak mencari sesuatu.

Kitab Bu-tek Cin-keng.

Apalagi yang di cari pembunuh itu selain kitab ini?.

"Bibi. mari tunjukkan padaku kamar-kamar di rumah ini, akan ku periksa"

Di temani Cio Si sebagai penunjuk jalan, Coa Hong Bu lalu mengadakan penggeledahan dalam usahanya mencari kitab Bu-tek Cin-keng.

Akan tetapi dia tidak menemukan kitab itu dan akhirnya dia bertanya lagi kepada Cio Si.

"Bibi, setahuku Cian-toanio mempunyai seorang putera?"

"Benar, ciangkun. Namanya Cian Han Sin"

"Dimanakah dia?"

"Sudah setengah tahun ini Cian-Kongcu pergi. Menurut keterangan dari mendiang Cian-toanio, kong-cu pergi merantau ke utara"

Coa Hong Bu mengangguk-angguk"

Berapa usia Cian-kongcu?"

"Kurang lebih dua puluh tahun, Ciangkun"

"Coa Hong Bu termenung. Pemuda itu sudah dewasa, tentu ilmu silatnya juga tinggi karena suami isteri Cian terkenal sebagai orang-orang yang memiliki ilmu kepandaian tinggi. Sangat boleh jadi kalau pedang dan kitab oleh Cian-toanio diberikan kepada puteranya yang telah dewasa itu. Akan tetapi bagaimana pedang itu dapat berada di tangan si pembunuh?. Setelah selesai dengan pemeriksaannya, Coa Hong Bu keluar dan menemui Tiong Gi Hwesio yang masih berada di luar. Dia dipersilahkan duduk dan mereka bercakap-cakap.

"Lo-suhu tentu mengenal Cian Han Sin, putera keluarga Cian ini, bukan?"

"Omitohud. Tentu saja mengenalnya, seorang pemuda yang baik seorang murid yang baik"

"Ah, jadi dia itu murid lo-suhu?"

"Dulu ibunya menitipkan Han Sin di kuil kami untuk diberi pelajaran silat, sastra dan agama"

"Lo-suhu, saya di utus oleh Sribaginda Kaisar untuk mencari tahu tentang pedang Hek-Liong-Kiam milik mendiang Cian-ciangkun dan tentang sebuah kitab yang bernama Bu-tek Cinkeng, pernahkah lo-suhu melihat pedang dan kitab ini?"

"Omitohud. Apa lagi melihat, mendengarpun belum pernah?"

"Lo-suhu, saya mendengar dari Cio Si bahwa Han Sin pergi merantau. Tentu lo-suhu mengetahui kemana dia pergi"

"Han Sin memang berpamit kepada pin-ceng ketika setengah tahun yang lalu dia hendak berangkat merantau. Katanya dia hendak merantau untuk meluaskan pengalamannya dan selain itu dia hendak menyelidiki tentang kematian ayahnya"

Coa Hung Bu termenung. Dia masih ingat akan kematian Panglima Cian Kauw Cu. Dia tewas ketika memimpin pasukannya ke utara, gugur dalam pertempuran. Hanya itu yang di ketahuinya.

"Bukankah Cian-ciangkun tewas dalam pertempuran?"

"Benar, akan tetapi menurut Cian-toanio, kematian suaminya itu mencurigakan terkena anak panah yang datang dari belakang. Berarti pembunuhnya bukan pihak musuh, dan itulah yang akan di selidiki oleh Han Sin"

Coa Hong Bu mengangguk-angguk.

Dengan kematian Nyonya Cian, maka tinggal Cian Han Sin orang satu-satunya yang mungkin dapat menerangkan tentang kitab dan pedang.

Akan tetapi pemuda itu kini sedang merantau ke utara untuk mencari pembunuh ayahnya.

Karena tidak ada hal lain lagi yang perlu di selidiki, Hong Bu segera kembali ke istana dan menghadap Kaisar untuk melaporkan semua hasil penyelidikannya itu.

"Kalau begitu, rahasia kitab dan pedang itu tentu di ketahui oleh putera mereka. Coa-ciangkun, carilah pemuda itu dan tanya dimana adanya kitab dan pedang. Ini adalah perintah Kaisar"

"Hamba siap melaksanakannya perintah paduka. Akan tetapi karena Cian Han Sin itu pergi ke utara, maka hamba juga harus menyusul ke sana dan akan memakan waktu agak lama"

"Tidak mengapa, cari dia sampai dapat dan kembalilah ke sini setelah membawa kitab dan pedang"

Coa Hong Bu mengundurkan diri, karena dia hidup membujang, maka pada keesokan harinya dia berangkat melaksanakan tugasnya yang tidak mudah.

Mencari seseorang di daerah utara merupakan pekerjaan yang sukar sekali.

Dan agar memudahkan perjalanannya, dia mengenakan pakaian rakyat biasa, membawa buntalan pakaian dan pedangnya, lalu berangkat meninggalkan kota raja.

*** Cu Sian berhenti berlari setelah kakek yang amat lihai itu tidak mengejarnya.

Dia menyusup-nyusup hutan menuju ke tepi sungai Huang Ho.

Kepuasan hatinya setelah berhasil membalaskan kematian ayah bundanya terganggu oleh kekecewaan bahwa Han Sin tidak membolehkan dia menemani sahabat itu dan membantunya mencari Hek-Liong-Kiam dan pembunuh ayahnya.

Teringat akan pemuda itu, hatinya merasa resah dan kesepian.

Juga terkandung kekhawatiran besar dalam hatinya.

Baru menghadapi orang-orang Huang-ho Kwi-pang saja, Han Sin sudah dapat tertawan dengan mudah.

Apalagi kalau menghadapi lawan lebih tangguh, pemuda itu pasti celaka, pikirnya, ingin dia membantu Han Sin, ingin dia melindunginya.

Ayah dan kakeknya dulu seringkali bercerita tentang kehebatan dan kegagahan ayah pemuda itu.

Kakeknya merupakan sahabat karib Panglima Cian Kauw Cu, bahkan teman seperjuangan.

Akan tetapi kini puteranya tidak mau bersahabat dengannya, buktinya tidak mau di temaninya mencari pedang dan musuh ke utara.

"Sudahlah"

Dia mendengus marah "Mau apa kalau dia tidak mau?

Dasar orang tak tahu diri, orang lemah seperti dia bagaimana dapat merantau ke utara mencari musuh besarnya?

Dia mencari celaka sendiri.

Untuk apa aku harus memikirkan orang yang tinggi hati seperti dia?

Lebih baik aku kembali ke selatan"

Dia lalu melangkah cepat menuju ke tepi sungai untuk mencari perahu yang berlayar ke hilir untuk menumpang pergi ke selatan.

Akan tetapi kebetulan pada hari itu tidak ada perahu yang lewat minggir.

Semua berada di tengah dan jarang.

Percuma saja meneriaki perahu yang berada jauh di tengah itu.

Selain belum tentu terdengar, juga tukang perahu tidak akan mau meminggirkan perahu.

Tempat itu merupakan hutan, bagaimana mungkin perahu yang muat barang-barang dagangan itu mau berhenti hanya untuk mengangkut seorang penumpang tambahan?

Jangan-jangan dia akan di sangka penjahat.

Cu Sian duduk di atas batu di tepi sungai dengan hati kesal.

Tiba-tiba terdengar suara orang bernyanyi dan Cu Sian menjadi tertarik sekali.

Dia mendengarkan dan memperhatikan kata-kata dalam nyanyian itu.

"Kata-kata yang jujur tidak bagus, Kata-kata yang bagus tidak jujur. Orang yang cerdik tidak banyak bicara, Orang yang banyak bicara tidak cerdik. Orang yang tahu tidak sombong, Orang yang sombong tidak tahu. Orang bijaksana tidak menyimpan, Dia menyumbang sehabis-habisnya. Tapi semakin menjadi kaya, Dia memberi sehabis-habisnya Tapi semakin berlebihan. Jalan yang di tempuh langit Menguntungkan, tidak merugikan Jalan yang di tempuh orang bijaksana Memberi, tidak merebut"

Cu Sian segera mengenal kata-kata dalamnyanyian itu.

Itu adalah kata-kata pelajaran agama To, bagian terakhir dari Kitab To-tek-keng.

Hemmm, tentu penyanyinya seorang Pendeta To, seorang Tosu.

Di samping pelajaran ilmu silat, sejak kecil Cu Sian juga belajar sastra dan membaca kitab-kitab agama To dan Budha.

Andaikata dia mendengar sajak itu dinyanyikan orang di dalam kota, tentu dia tidak akan tertarik.

Apa anehnya kalau seorang tosu mengulang ujar-ujar dalam kitab agama mereka?

Akan tetapi karenanyanyian itu di dengarnya di tempat yang sunyi selagi dia duduk termenung dengan hati kesal, maka hatinya menjadi tertarik dan diapun turun dari atas batu, lalu melangkah kearah suara itu.

Setelah tiba di tepi sungai, dia tertegun.

Bukan tosu yang di dapatkannya seperti yang di sangkanya semula, melainkan seorang pemuda yang duduk di atas batu tepi sungai memegangi sebatang bambu panjang dengan tali kail menggantung di ujungnya.

Pemuda itu sedang memancing ikan di tepi sungai.

Akan tetapi bukan itu yang membuatnya terkejut heran dan juga girang, melainkan ketika dia mengenal pemuda itu yang bukan lain adalah Cian Han Sin.

Timbul wataknya yang ugal-ugalan.

Saking gembiranya dapat bertemu dengan Han Sin di tempat yang tidak di sangka-sangkanya itu, dia lalu berjalan perlahan, berindap-indap menghampiri pemuda yang sedang tenggelam dalam lamunan, perhatiannya sepenuhnya di arahkan kepada ujung joran.

Kemudian Cu Sian mengambil sebongkah batu dan melemparkannya ke air, tepat ke ujung joran pancing Han Sin.

"Byyuurrrr"

Air muncrat dan Han Sin tersentak kaget sambil menarik tangkai pancingnya, agaknya mengira bahwa suara itu adalah berkecopaknya seekor ikan yang besar.

Tentu saja kailnya terangkat tanpa membawa hasil apapun dan ketika mendengar suara tawa di belakangnya, dia menoleh.

Ketika Han Sin melihat Cu Sian yang tertawa-tawa di belakangnya, tahulah dia apa yang telah terjadi "Ah, Sian-te, kiranya kau.

Ku kira tadi ada ikan besar hendak menyambar umpanku"

Kata Han Sin.

"He-he-he, Sin-ko, memang umpanmu telah menarik datangnya ikan besar. Akan tetapi bukan umpan di ujung kailmu itu, melainkan umpan berupanyanyian dari To-tek-keng tadi. Dan akulah ikannya yang tertarik olehnyanyianmu dan datang ke sini"

"Aih, kau mengejutkan hatiku Sian-te. Bagaimana kau tiba-tiba saja meninggalkan Huang-ho Kwi-pang itu?"

Han Sin melepaskan pancingnya di atas tanah dan memandang sahabat itu.

Cu Sian memandangnya dengan mata bersinar-sinar "Ah, aku telah berhasil membalas kematian ayah ibuku, Sin-ko.

Aku telah membunuh Sin-to-kwi Ban Koan.

Dialah yang dahulu membunuh ayahku.

Juga para pembantunya dan semua anak buahnya di basmi oleh Huang-ho Kwi-pang"

"Hemmm, sudah puaskah hatimu? Tahukah kau bahwa kau telah bekerja sama dan membantu Huang-ho Kwi-pang padahal perkumpulan itu hanya gerombolan perampok dan bajak sungai?"

"Aku tidak membantu mereka. Ketika mereka di basmi kakek yang amat sakti itu, aku tidak membantu mereka. Ah, kakek itu sungguh mengerikan Sin-ko. Pernahkan kau mendengar akan seorang datuk berjuluk Pak-Te-Ong?"

"Belum. Mengapa dia?"

"Dia muncul setelah Huang-ho Kwi-pang membasmi gerombolan Kwi-to-pang, dan tiga orang pimpinan Huang-ho Kwi-pang itu di bunuhnya dengan mudah. Aku sendiripun akan celaka di tangannya kalau saja aku tidak dapat berlari cepat sekali"

Han Sin tersenyum. Kalau dia tidak turun tangan menghadang kakek itu belum tentu Cu Sian dapat lolos dari pengejarannya.

"Wah, kalau begitu kau jago lari, Sian-te"

Katanya menggoda.

Wajah pemuda remaja itu menjadi merah "Habis, apakah aku harus mati konyol?

Melarikan diri dari ancaman bahaya yang tidak dapat dilawannya adalah perbuatan cerdik, bukan karena takut.

Sebaliknya kalau sudah tahu diri tidak mampu menandingi lawan akan tetapi nekat terus, dia akan mati konyol karena kebodohannya.

Melihat sahabatnya itu berbicara keras dan matanya menyinarkan kemarahan, Han Sin berkata "Aku tidak bermaksud mengejekmu, Sian-te.

Maafkan aku.

Setelah kau berhasil membalas dendam orang tuamu, bahagiakah rasa hatimu?"

Cu Sian menjatuhkan diri duduk di atas batu di depan Han Sin lalu dia menghela napas panjang dan menggeleng kepala.

Aku tidak mengerti apa itu yang dinamakan bahagia, Sin-ko.

Ku rasa kebahagiaan hanya menjadi sebutan, buah bibir belaka.

aku meragukan apakah ada di dunia ini seorang yang berbahagia benar-benar, sudah bebas daripada segala masalah dan kedukaan.

Sudah wajar kalau hidup ini seperti permukaan samudera yang sebentar ke kanan sebentar ke kiri, sebentar suka dan sebentar duka"

"Kau benar, Sian-te, Tak kusangka semua ini kau sudah pandai berfilsafat. Hati akal pikiran kitalah yang menjadi gelombang itu, yang mengacaukan batin dengan kesenangan dan kesusahan. Kita biasanya keliru mengenal kesenangan sebagai kebahagiaan. Padahal kesenangan itu hanyalah terpuaskannya nafsu dan bersifat sementara saja karena kesenangan mempunyai saudara kembar yaitu kesusahan yang sewaktu-waktu akan menggantikan kedudukannya. Kalau ada senang tentu ada susah dan sebaliknya, seperti gelombang tentu ke kanan dan ke kiri, berganti-ganti. Kebahagiaan tidak mengenal senang dan susah seperti itu, kesenangan dan kesusahan hanya permainan pikiran sendiri belaka"

"Aduh, kalau saja aku tidak melihatmu, mendengar ucapanmu tadi tentu aku mengira seorang pertapa yang tua renta yang bicara. Sin-ko, kau ini orang aneh. usiamu tidak berselisih banyak dengan usiaku, akan tetapi bicara mu seperti kakek pertapa yang berusia seratus tahun"

Kata Cu Sian sambil tertawa.

Han Sin juga tertawa.

Heran dia, setiap bertemu dengan pemuda remaja ini, dia merasakan kegembiraan yang luar biasa.

Seolah kelincahan dan kejenakaan pemuda yang menyamar sebagai pengemis itu menular kepadanya.

"Aih, Sian-te. Aku juga sama dengan kau, hanya membacakan dari kitab-kitab. Akan tetapi aku tidak berhenti mempelajarinya, mencari bukti kebenarannya"

"Hemmm, bagaimana caranya?"

"Dengam mengalaminya sendiri. Dengan mengamati kehidupan sendiri dan kehidupan di sekeliling kita karena kenyataan itu hanya dapat di alami bukan hanya diketahui melalui ajaran kitab. Pelajaran dari Kitab tentang kehidupan hanya mengenal kulitnya saja. Isinya kita dapatkan dengan pengamatan dalam kehidupan sehari-hari. Kita selalu harus meragukan kebenaran apa yang di ajarkan kitab"

"Meragukan? Kitab-kitab itu di tulis oleh orang-orang jaman dahulu yang bijaksana"

"Keraguan akan kenyataan hidup perlu selalu terdapat dalam hati, karena tanpa keraguan tidak akan ada usaha pencarian tentang kebenaran itu"

"Wah, wah. kau memang hebat, Sin-ko. Tadipun ketika aku mendengar nyanyian tentang o-te-keng, aku mengira yang bernyanyi itu seorang kakek pendeta To. Kiranya kau. Sekarang kita bicara tentang hal lain, Sin-ko. Kalau terus kau ajak bicara tentang kehidupan dan filsafatnya, aku khawatir sebentar saja rambutku akan berubah putih"

Han Sin tertawa "Tanpa kau sengaja kau sudah melakukan hal yang terbaik dalam hidup, yaitu selalu bergembira.

memang, pada akhirnya kita akan menemukan bahwa kita ini mahluk yang berbahagia.

karena Tuhan telah memberikan segalanya untuk kita.

Kita harus menikmati dan menyukuri pemberian uhan yang berlimpah untuk kita.

Nah, kau hendak bicara tentang apa, Sian-te?"

"Begini, Sin-ko. aku telah berhasil membalas dendam atas kematian ayah bundaku. Karena itu, sekarang tidak ada lagi penghalang bagiku untuk membantumu. aku akan membantumu mencari pedang pusaka Hek-Liong-Kiam milik ayahmu yang hilang itu. aku akan mencarinya sampai dapat dan menyerahkannya kepadamu"

Han Sin terkejut, akan tetapi tidak diperlihatkannya"

Akan tetapi dimana hendak kau cari pedang itu?"

"Tentu saja di daerah utara, dimana ayahmu dahulu gugur dalam pertempuran. Kurasa pasti ada yang mengetahuinya siapa yang mengambil pedang itu"

Hemm, Kalau Cu Sian mencarinya sendiri, amat berbahaya bagi pemuda itu, pikir Han Sin.

Dia sudah melihat akan kelihaian, keberanian dan kederdikan Cu Sian ketika berhadapan dengan Huang-ho Kwi-pang.

Cu Sian dapat menjadi seorang kawan dan pembantu yang boleh diandalkan.

"Sian-te, mencari pedang pusaka ayahku itu merupakan tugasku, tidak semestinya kau menjadi repot karenanya. Biarlah aku yang mencarinya sendiri"

"Sin-ko, kenapakah kau selalu menolak uluran tanganku untuk membantumu? Apakah kau tidak suka bersahabat denganku? Atau barangkali kau tidak percaya kepadaku?"

"Ah, sama sekali tidak, Sian-te. Aku senang sekali dapat bersahabat denganmu. Dan tentu saja aku percaya sepenuhnya kepadamu, bukankah kau cucu Lo-kai yang menjadi sahabat karib mendiang ayahku? Dan bukankah kau sudah berulang kali menolongku, dari tangan keluarga gila kemudian dari tangan para pimpinan Huang-ho Kwi-pang? Aku hanya tidak ingin membikin susah kepadamu, merepotkanmu"

"Kalau aku tidak merasa dibuat susah dan merasa tidak merepotkan, bagaimana? Kalau aku dengan suka rela ingin membantumu mencari pusaka itu sampai kau mendapatkannya, bagaimana? Apakah kau juga masih menolakku?"

Han Sin menghela napas.

Memang lebih baik membiarkan pemuda remaja itu bersama dia agar dia dapat melindunginya kalau ada marabahaya"Tentu saja tidak, Sian-te.

Aku akan berterima kasih sekali, akan tetapi""""""

"Akan tetapi apa?"

"Aku harap kau tidak melakukan penyamaran lagi"

Cu Sian menatap wajah Han Sin penuh selidik, seolah hendak menjenguk isi hati pemuda itu "Apa maksudmu, Sin-ko?"

Akhirnya dia bertanya.

"Kau bukan seorang pengemis, mengapa menyamar sebagai seorang pengemis? Lebih baik memakai pakaian biasa saja, tidak usah berpakaian pengemis"

Cu Sian mengerutkan alisnya "Akan tetapi itu perlu untuk menyembunyikan keadaan asliku. Eh Sin-ko, apakah kau merasa jijik dan malu bersahabat dengan seorang yang berpakaian seperti pengemis?"

"Sama sekali tidak, Sian-te. Akan tetapi justeru dengan penyamaranmu ini, kau menarik perhatian banyak orang. Coba pikir dengan baik, bukankah orang-orang akan tertarik melihat kita bersahabat dan melakukan perjalanan bersama karena keadaan kita yang berbeda? Kalau kau berpakaian biasa seperti aku, tentu tidak akan menarik perhatian orang. memang benar kalau kau melakukan perjalanan seorang diri, mungkin saja kau tidak akan menarik perhatian orang"

"Hemm, benar juga pendapatmu, Sin-ko. baiklah, aku akan menanggalkan penyamaranku dan berpakaian seperti orang biasa"

Cu Sian akhirnya mengalah.

Han Sin tersenyum senang "Kalau begitu mari kita menyusuri sungai ini ke utara sampai kita tiba di sebuah kota dimana kita dapat membeli pakaian untukmu.

aku juga membawa bekal pakaian, akan tetapi tentu terlalu besar kalau kau pakai"

"Tidak perlu repot-repot, Sin-ko. Aku sudah mempersiapkan segalanya. Kau tunggu sebentar"

Pemuda remaja itu lalu berlari dan lenyap di balik semak belukar dalam hutan di tepi pantai sungai itu.

Han Sin mengikutinya dengan pandang heran.

Kalau Cu Sian sudah mempersiapkan segalanya, juga pakaian biasa, hal itu berarti bahwa memang pemuda remaja itu sudah bermaksud untuk menanggalkan penyamarannya.

Dia tersenyum duduk lagi di atas batu, kini tidak memancing lagi hanya memandangi air yang mengalir tiada putusnya itu, menghayutkan segala macam benda dipermukaannya.

Han Sin termenung.

Pikirannya seolah ikut hanyut bersama air, sampai jauh.

Kehidupan seperti mengalir air sungai itu.

Mengalir terus, bergerak terus sampai berakhir di samudera.

"Sin-ko, dengan melamun seperti itu mana bias kau memperoleh ikan?"

Teguran dengan suara nyaring ini mengejutkan Han Sin dan menyeretnya kembali kepada kenyataan.

Dia segera menoleh dan memandang pemuda remaja yang berdiri di depannya dan dia terpesona.

Demikian tampan dan eloknya pemuda remaja itu, seperti seorang pangeran dalam dongeng, walaupun pakaiannya hanya sederhana.

"Eh, Sin-ko. Apakah ada yang tidak benar dengan pakaianku?"

Cu ian mengamati pakaiannya dan tidak menemukan sesuatu yang aneh.

"Sian-te "., hampir aku tidak mengenalmu. Kau begitu. Kau begitu tampan, kau seperti """. seorang putera bangsawan tinggi. Eh, Sian-te, kau tentu seorang pengeran atau putera bangsawan tinggi"

Cu Sian tersenyum dan Han Sin semakin kagum. Bukan main tampannya pemuda ini kalau tersenyum, pikirnya.

"He-he, Sin-ko. Kau mimpi. Sudah kau ketahui bahwa aku cucu seorang ketua pengemis. Kalaupun aku pangeran, barangkali pangeran pengemis, putera dari raja pengemis, ha-ha-ha"

Han Sin juga tertawa, dan dia menjadi tenang kembali. Hilang sudah pesona yang tadi sempat membuatnya tertegun "Ah, Sian-te, kalau saja aku ini seorang wanita, tentu aku sudah jatuh hati kepadamu"

Cu Sian juga tertawa geli "Dan aku akan melarikan diri, seperti kau ketika melarikan diri dari keluarga gila yang hendak memaksamu kawin"

"Uhhh. Kau anggap aku sama dengan gadis gila itu?"

"Biarpun tidak gila, kau jauh lebih tua dariku. Sudahlah, simpan saja pujian itu untuk lain kali. Sekarang katakan bagaimana pendapatmu setelah aku mengenakan pakaian biasa? Kau tidak keberatan lagi melakukan perjalanan bersamaku?"

"Aku tidak pernah merasa keberatan, Sian-te. Hanya canggung kalau kau menyamar sebagai pengemis. Kalau seperti ini, aku tidak ragu lagi, bahkan bangga mengaku kau sebagai adikku"

"Sebagai adik, atau sebagai pengawalmu, Sin-ko?"

"Pengawal?"

Han Sin memandang wajah tampan itu penuh selidik.

"Ya, pengawal. Tanpa pengawalanku, kau tentu akan menghadapi banyak bahaya dalam perjalanan. akan tetapi dengan adanya aku di dekatmu, jangan khawatir, Sin-ko. Aku yang akan membasmi semua halangan yang akan mencelakaimu"

Kata Cu Sian dengan sikap gagah.

Han Sin tersenyum "Benar sekali, Sian-te.

Kau ku anggap adikku, juga pengawal dan pelindungku.

Akan tetapi aku pesan agar kau tidak terlalu keras hati sehingga dimana-mana kau menghadapi keributan dan perkelhian seperti yang terjadi dalam rumah makan itu"

Cu Sian berdiri di depan Han Sin dan mengangguk sampai dalam seperti sikap seorang hamba terhadap majikannya "Baik, Sin-ko. Akan kulaksanakan perintahmu"

Mau tidak mau Han Sin tertawa melihat sikap pemuda remaja itu.

Hatinya merasa senang sekali.

Cu Sian bagaikan sinar matahari yang membuat dunia nampak cerah dan indah.

Sejak berpisah dari pemuda itu, hatinya selalu merasa tidak enak dan khawatir kalau-kalau sahabt muda ini akan teancam bahaya karena wataknya yang nakal dan terlalu berani.

Maka diam-diam dia selalu membayanginya sehingga dia berhasil melindunginya ketika pemuda remaja itu terancam oleh Pak-Te-Ong.

Setelah itu, dia sengaja menghadangnya, sambil memancing ikan dan menyanyikan sajak tadi.

Kini, dia tidak perlu merasa khawatir lagi.

Dengan melakukan perjalanan bersama, diam-diam dia dapat melindungi Cu Sian.

"Nah, sekarang sebelum kita melanjutkan perjalanan, aku ingin mengetahui kemana kita akan pergi, sin-ko"

"Seperti telah ku ceritakan kepadamu, Sian-te, aku hendak mencari pedang pusaka ayahku yang hilang ketika ayah memimpin pasukan di shansi utara. Karena aku tidak tahu persisi dimana pertempuran itu terjadi ketika itu, maka aku harus mencari keterangan di Tai-goan. Peristiwa itu sudah terjadi sepuluh tahun yang lalu, maka untuk menyelidikinya hanya para pejabat tinggi di Tai-goan saja yang dapat memberi keterangan"

"Jadi kita pergi ke Tai-goan sekarang? Hayo kita berangkat, Sin-ko"

Kata Cu Sian penuh semangat.

"Ah, kau kelihatan amat bergembira, Sian-te. Ada apakah?"

"Bagaimana hatiku tidak akan bergembira dapat melakukan perjalanan bersamamu, Sin-ko? Tadinya aku selalu mengkhawatirkan keselamatanmu. Untuk melakukan perjalanan berbahaya ini orang harus membekali dirinya dengan ilmu silat tinggi. Kau yang tidak memiliki itu, tentu setiap saat terancam bahaya. akan tetapi sekarang aku tidak khawatir lagi. Kau dekat dengan aku yang selalu dapat melindungimu"

Han Sin tersenyum.

Sungguh terdapat persamaan dalam hati mereka.

Dia pun selalu mengkhawatirkan keselamatan pemuda remaja itu.

Tiba-tiba mereka melihat sebuah perahu meluncur di atas air sungai, tidak terlalu jauh dari tepi sehingga mereka dapat melihatnya dengan jelas.

Seorang pria muda mendayung perahu itu, seorang diri saja, akan tetapi perahu itu dapat meluncur cepat melawan arus.

"Hemmm, dapat mendayung perahu melawan arus secepat itu menunjukkan bahwa orang itu memiliki tenaga yang kuat sekali"

Kata Han Sin "Dia tentu seorang yang berkepandaian tinggi"

Cu Sian memandang penuh perhatian.

Orang yang mendayung itu seorang pemuda yang gagah, bertubuh tinggi besar dan kekar, kulit mukanya agak hitam, hidungnya besar, matanya lebar dan mulutnya juga lebar.

Di punggungnya tergantung sebatang pedang bersarung indah.

"Dia tentu bukan orang baik-baik"

Kata Cu Sian lirih, kemudian dia bangkit berdiri dari atas batu yang di dudukinya"

Ah, aku ingat sekarang. Dia adalah pemuda sombong yang menghinaku di rumah makan tempo hari"

Han Sin memperhatikan dan kini diapun teringat.

Pemuda yang pernah rebut mulut dengan Cu Sian di rumah makan, yang mengatakan bahwa sepantasnya semua pengemis di basmi itu.

Kini makin yakinlah dia bahwa pemuda tinggi besar itu tentu seorang yang berkepandaian tinggi.

"Heiii"""

Cu Sian berteraik kearah penunggang perahu itu, akan tetapi Han Sin menarik lengannya.

"Sssttt, Sian-te. Biarkan dia berlalu, jangan mencari keributan di sini"

Tegurnya.

"Akan tetapi si sombong itu ""

"Sudahlah, perjalanan kita masih jauh, untuk apa mencari gara-gara? Dan ingat akan janjimu, katanya kau akan menaati semua perintahku"

Cu Sian yang tadinya masih penasaran, kini tersenyum mengangguk "Baiklah, Sin-ko. Maafkan aku"

"Nah, begitu baru namanya adik yang baik"

Kata Han Sin senang dan tersenyum.

"Dan pengawal yang taat"

Sambung Cu Sian.

Ke duanya tertawa lalu melanjutkan perjalanan mereka menuju ke ke kota Taigoan yang dari situ terletak di Timur laut.

*** Pada waktu itu, propinsi Shan-si merupakan daerah perbatasan paling utara dari Kerajaan Sui.

Di sebelah utara Shan-si adalah daerah luas dan menjadi perebutan antara bangsa dan suku yang hidupnya mengembara tidak mempunyai tempat tinggal yang tetap.

Mereka adalah bangsa dan suku Tartar, Mongol, Merkit, Karait, Naiman dan Ugur serta masih banyak lagi suku-suku bangsa yang kecil.

Para suku bangsa dari utara inilah yang oleh Kerajaan Sui dianggap sebagai ancaman dari utara sehingga di sepanjang perbatasan itu di bangun benteng pertahanan yang kokoh.

Propinsi Shan-si di pimpin oleh seorang gubernur atau kepala daerah yang telah memegang kedudukan itu sejak Kaisar Yang Chien masih hidup.

Gubernur itu bernama Li Goan.

Dia mempunyai lima orang anak laki-laki dan empat orang anak perempuan.

Akan tetapi yang paling di sayangnya justeru puteranya yang dilahirkan oleh seorang selirnya, yaitu Puteri seorang kepala suku bangsa Turki.

Puteranya itu bernama Li Si Bin dan memang putera inilah yang paling menonjol diantara saudara-saudaranya.

Keadaan di utara selama ini tenang saja.

Hal ini berkat hubungan baik antara Gubernur Li Goan dengan suku"suku bangsa di utara, terutama sekali dengan suku bangsa Turki yang di pimpin oleh keluarga isterinya, karena masih ada hubungan keluarga inilah maka banga Turki menghentikan gerakannya yang mengganggu keamanan perbatasan utara.

Juga dengan suku-suku lain, Gubernur Li Goan mengambil sikap bersahabat sehingga orang-orang dari selatan dapat melakukan hubungan perdagangan dengan suku-suku bangsa itu tanpa ada gangguan.

Gubernur Li Goan maklum bahwa kedudukannya sebagai kepala daerah di perbatasan utara itu merupakan kedudukan yang berbahaya.

Dialah yang bertanggung jawab atas keamanan daerah itu, dan kalau sampai daerah itu di kuasai oleh suku asing, tentu kerajaan akan menyalahkan dia.

Oleh karena itu, Gubernur Li Goan selalu memperkuat pasukannya untuk menjaga keamanan di daerahnya, walaupun perbatasan telah ada perbentengan Pasukan Sui yang menjaga.

Dia memerlukan banyak pembantu yang pandai, maka hampir setiap tahun dia mengadakan pemilihan bagi tenaga-tenaga baru untuk di jadikan opsir-opsir atau tentara.

Dia memberi kedudukan yang cukup tinggi sesuai dengan kepandaian masing-masing.

Karena ini, dia berhasil menarik perhatian banyak tokoh persilatan yang ingin memperoleh kedudukan tinggi dalam pasukan gubernur itu.

Dengan adanya banyak ahli silat yang berilmu tinggi menjadi perwira-perwira pasukan ayahnya, Li Si Bin yang sejak kecil gemar mempelajari ilmu silat itu, dengan mudah memperdalam ilmu silatnya dengan belajar dari para perwira itu.

Bahkan lebih dari itu, pemuda ini sering berkelana mengunjungi gurun-gurun dan bukit-bukit sunyi di utara, menjumpai para pertapa sakti dan kalau menemukan seorang yang sakti dan ahli dalam ilmu silat, dia lalu menjadi muridnya.

Dengan cara demikian, setelah dia menjadi seorang pemuda dewasa, dia telah memiliki ilmu silat yang tinggi.

Selain ilmu silat, Li Si Bin juga mempelajari ilmu perang dan sastra.

Gubernur Li Goan yang merasa bangga akan kelihaian puteranya, lalu menyerahkan kepada Li Si Bin bilamana diadakan pemilihan perwira.

Pemuda itulah yang mengatur ujian bagia para peserta.

Dan sejak Li Si Bin yang mengatur ujian, jaranglah ada calon yang berhasil di angkat menjadi perwira.

Kebanyakan hanya berhasil lulus sebagai tentara saja karena untuk menjadi perwira, syaratnya amat berat dan harus memiliki ilmu silat yang tinggi.

Akan tetapi kalau ada yang lulus, tentulah dia menjadi seorang perwira yang gagah perkasa dan dapat diandalkan.

Pada suatu pagi, dua orang pemuda tampan memasuki pintu gerbang kota Taigoan.

Mereka in iadalah Cian Han Sin dan Cu Sian.

Setelah melakukan perjalanan berhari-hari lamanya, meninggalkan Huang-ho menuju ke timur, sampailah mereka berdua di kota terbesar di daerah Shan-si itu.

Begitu memasuki kota Taigoan mereka sudah melihat keadaan yang ramai seolah-olah di kota itu sedang diadakan pesta.

Cu Sian bertanya kepada seorang dengan bahasa daerah utara dengan lancar sehingga diam-diam Han Sin kagum sekali.

Agaknya sahabat mudanya ini mengenal pula bahasa daerah utara.

Mereka mendapatkan penjelasan orang itu bahwa di lapangan depan gedung Gubernur memang sedang di adakan semacam pesta, yaitu ujian bagi mereka atau tentara.

"Ah, paman. Tontonan apa saja yang di adakan di sana?"

Tanya Cu Sian, sementara itu Han Sin hanya mendengarkan dan memandang sahabatnya yang kelihatan gembira sekali.

"Tentu saja seperti biasa, ada pertunjukan kekuatan, keahlian menunggang kuda dan memanah, dan yang terakhir pertunjukkan ilmu silat. Bagi mereka yang ingin menjadi perwira harus bertanding melawan Li-Kong-cu sebagai pengujinya. Sepasang mata Cu Sian bersinar-sinar dan Han Sin memaklumi hal ini. Semua pendekar tentu saja gembira mendengar akan ada pertunjukkan ilmu silat. Dia sendiri pun tertarik.

"Siapa sih Li-kongcu itu?"

Cu Sian bertanya.

"Hemm, tentu ji-wi (Kalian berdua) datang dari jauh sekali maka tidak mengenal Li Kong-cu"

Kata orang itu "Kalau ji-wi tinggal di daerah Shan-si tentu sudah mengenal atau setidaknya mendengar nama ini.

Li Kong-cu adalah seorang pemuda yang paling hebat dan paling tangguh ilmu silatnya akan tetapi paling popular dan dekat dengan rakyat jelata.

Dia adalah putera Kepala Daerah Shan-si, yaitu Gubernur Li Goan"

"Wah, tentu ramai sekali. Sin-ko, kita harus nonton pertunjukkan itu"

Kata Cu Sian gembira, lalu tanpa menanti jawaban sahabatnya, dia sudah menarik tangan Han Sin di ajak pergi kearah lapangan seperti yang di tunjukkan orang tadi.

Han Sin tersenyum dan menurut saja.

Kalau sedang bergembira seperti itu, Cu Sian sungguh kelihatan seperti seorang kanak-kanak.

Selama melakukan perjalanan bersama Cu Sian, dia semakin tidak mengerti akan sikap Cu Sian yang suka berubah-ubah.

Kadang begitu akrab, akan tetapi kadang-kadang juga seperti orang asing baginya.

Selama dalam perjalanan itu, Cu Sian tidak pernah mau tidur dekat dengannya.

Juga kalau membersihkan badan di sumber air atau anak sungai, selalu dia ingin menyendiri dan mencari tempat yang agak jauh.

Tingkahnya kadang-kadang seperti seorang kanak-kanak yang manja dan mudah tersinggung.

Maka ketika diajak nonton pertunjukkan itu, dia tidak membantah karena bantahan hanya akan membuat pemuda remaja itu ngambek.

Ketika mereka tiba di lapangan rumput yang luas, di depan sebuah bangunan besar, mereka mendengar tambun dan gendering di pukul orang sehingga suasana menjadi ramai meriah.

Ratusan orang sudah berkumpul untuk menonton.

Akan tetapi tempat itu dilingkari tali karena untuk ujian itu di butuhkan tempat yang luas.

Di tengah-tengah lapangan terdapat sebuah panggung dari papan setinggi dua meter.

Di dekat panggung itu terdapat dua kelompok orang.

Mereka semua adalah orang-orang muda yang gagah.

Kelompok pertama terdiri dari seratus orang lebih, sedangkan kelompok kedua hanya ada dua belas orang.

Setelah bertanya-tanya, Cu Sian mendapat keterangan dari seorang penonton bahwa kelompok besar itu adalah mereka yang ingin menempuh ujian sebagai tentara, sedangkan kelompok kecil itulah calon-calon perwira.

Tiba-tiba Cu Sian memegang lengan Han Sin, kuat sekali sehingga Han Sin terkejut dan memandang kepadanya.

sahabatnya itu sedang memandang kearah tengah lapangan dimana dua kelompok calon itu berkumpul dekat panggung maka diapun memandang ke sana.

Setelah memandang dengan teliti barulah dia tahu mengapa sahabatnya mencengkram lengannya demikian kuatnya.

Ternyata di dalam kelompok duabelas orang itu terdapat pemuda tinggi besar yang sudah dua kali mereka lihat.

Pertama di dalam rumah makan ketika pemuda itu rebut mulut dengan Cu Sian, dan kedua kalinya ketika mereka berdua melihat pemuda itu mendayung perahu melawan arus.

"Dia ada di sini"

Bisik Cu Sian demikian sungguh-sungguh sehingga Han Sin menjadi geli.

"Kalau di sini mau apa?"

Katanya tersenyum "Tenanglah, Sian-te. kita lihat saja sampai dimana kelihaian pemuda itu nanti"

Cu Sian mengangguk, akan tetapi alisnya berkerut "Hemm, aku ingin menandinginya dalam ujian ini"

Bisiknya.

"Hushh, apa-apaan kau ini? apakah kau ingin masuk menjadi perwira di Shan-si?"

"Tidak, aku hanya ingin mengukur kepandaian orang sombong itu"

"Ingat, Sian-te, kita ini hanya penonton saja. Jangan membikin rebut di sini. Apalagi aku membutuhkan bantuan Gubernur Li. Ibuku berpesan agar aku menghadap Gubernur Li dan minta keterangan darinya. Siapa tahu dia akan dapat memberi banyak keterangan tentang kematian ayahku, karena menurut ibuku, Gubernur Li adalah seorang sahabat baik mendiang ayah"

"Hemmm, baiklah, Sin-ko"

Ratusan orang yang menjadi penonton dan yang tadi ramai saling bercakap sendiri, tiba-tiba menjadi diam ketika ujian itu di mulai.

Ujian bagi para calon tentara tidaklah terlalu menarik bagi Han Sin dan Cu Sian.

Ujian itu hanyalah ujian tenaga mengangkat sebuah arca singa dari batu, kemudian ujian memanah orang-orangan dari jerami dalam jarak seratus li, kemudian ujian ilmu silat yaitu setiap orang calon di haruskan memainkan ilmu silatnya menggunakan senjata golok atau tombak.

Hampir seluruh calon lulus dengan baik.

Agaknya para penonton juga tidak begitu memperhatikan ujian bagi para calon tentara ini karena merekapun ingin sekali nonton ujian bagi calon perwira yang lebih seru.

Akhirnya, setelah calon tentara sudah di uji semua dan lulus lalu di kumpulkan dan di ajak masuk rumah gedung lewat jalan samping untuk di daftar sebagai tentara, maka ujian perwira di mulai.

Dua belas orang calon itu di uji satu demi satu.

Mula-mula mereka di haruskan melompat ke atas panggung yang dua meter tingginya itu.

Di atas panggung sudah tersedia sebuah busur yang besar dan berat dan mereka di haruskan menggunakan busur itu untuk memanah orang-orangan dari jerami dalam jarak dua ratus kaki.

Singa batu yang tadi di angkat oleh para calon tentara juga sudah di taruh di panggung dan para calon perwira di haruskan mengangkat arca singa itu dan melemparkannya ke atas dan di terima lagi dengan tangan.

Setelah itu mereka di haruskan menunggang kuda sambil melepaskan anak panah pada orang-orangan jerami dalam jarak lima puluh kaki.

Setelah semua itu lulus, barulah si calon akan di uji oleh Li Kong-cu sendiri dengan bertanding ilmu silat.

Satu demi satu maju untuk menempuh ujian itu.

Akan tetapi ternyata bahwa ujian itu amat berat.

Delapan orang dari mereka gugur.

ada yang gagal baru dalam babak kedua ketika menggunakan busur yang berat itu untuk memanah orang-orangan jerami.

Ada pula yang gugur ketika melemparkan arca singa dan menerimanya kembali, karena mereka tidak kuat dan terpaksa melepaskan singa itu.

Ada pula yang gugur ketika menunggang kuda sambil melepaskan anak panah.

Tiga orang dari mereka, dengan susah payah, berhasil lulus, tinggal menanti ujian ilmu silat dan mereka di persilahkan menunggu di sudut panggung.

Orang kesebelas adalah pemuda tinggi besar yang selalu diperhatikan Cu Sian.

Ketika orang ini melompat ke atas panggung, jelas kelihatan bahwa dia memiliki gin-kang yang jauh lebih baik daripada para peserta lainnya.

Dia melompat tinggi, jauh lebih tinggi dari panggung itu dan berjungkir balik dua kali baru turun ke atas panggung tanpa mengeluarkan suara ketika kakinya menginjak panggung, seolah tubuhnya itu ringan sekali.

Tentu saja lompatan istimewa ini mendapat sambutan paling meriah dari para penonton.

"Huh, lompatan begitu saja apa artinya?"

Cu Sian mengomel tak senang melihat orang yang tidak di sukainya itu mendapat sambutan dan pujian begitu meriah.

Peserta terakhir itu lalu berjalan dengan lenggang seperti harimau menghampiri busur dan anak panah yang berada di atas meja.

Tiga orang peserta yang berhasil tadi, ketika menarik busur melepaskan anak panah kelihatan berat sekali dan mereka mengerahkan seluruh tenaga mereka.

Akan tetapi peserta terakhir dengan mulut tersenyum memasang anak panah pada busur berat dan berat itu dengan sekali tarik dengan seenaknya, dia telah berhasil membuat busur itu melengkung dan ketika dia melepaskan anak panah, anak panah itu meluncur bagaikan kilat kearah orang-orangan dari jerami dan menembus badan orang jerami itu, bahkan setelah menembus masih melayang cukup jauh.

Sorak sorai menggegap gempita menyambut pameran memanah yang istimewa itu.

Tak dapat di ragukan lagi, pemuda tinggi besar itu memiliki tenaga yang hebat.

Pemuda itu tersenyum bangga dan mengangkat kedua tangannya sebagai isyarat agar semua orang tidak membuat gaduh.

Kemudian dia menghampiri singa batu dan semua orang mengikuti gerak geriknya tanpa berkedip.

Pemuda itu memegang singa batu dengan kedua tangan lalu mengangkatnya ke atas, melemparkannya dan menerimanya kembali sampai tiga kali, kelihatan demikian ringannya.

Kembali orang-orang bersorak sorai dan bertepuk tangan.

"Huh, apa sih anehnya pertujunkkan seperti itu? Sombongnya"

Cu Sian mendengus marah sehingga Han Sin menoleh kepadanya dan tersenyum.

"Sian-te, kau lihat? Orang itu boleh juga"

Kata Han Sin "Tenaganya seperti gajah. Dia pasti lulus dengan baik"

Mendengar ini, Cu Sian menjadi semakin gemas "hemm, apa hebatnya semua itu? Permainan anak kecil"

"Sssttt, lihat, Sian-te, lihat gayanya menunggang kuda"

Bisik Han Sin.

Peserta terakhir itu sudah meloncat ke atas punggung kuda yang disediakan untuk ujian itu sambil membawa busur dan anak panah.

Kuda dibalapkan kearah orang-orangan jerami dan setelah jaraknya lima puluh kaki seperti telah ditentukan dia melepas anak panah yang menyambar cepat dan menancap tepat di ulu hati orang-orangan itu.

Kembali para penonton menyambut dengan tepuk tangan.

Tak usah di sangsikan lagi, peserta terakhir ini lulus dengan baik dan diapun dipersilahkan berkumpul dengan tiga orang yang lain di sudut panggung.

Seorang yang berpakain perwira dan menjadi juru bicara, melangkah ke tengah panggung dan mengangkat kedua tangan, suaranya terdengar lantang sekali "Para penonton harap jangan gaduh.

Sekarang ujian ilmu silat akan dimulai.

Empat orang yang telah lulus dan akan menghadapi ujian ilmu silat, peserta pertama di minta maju"

Peserta pertama itu seorang pemuda berusia sekitar dua puluh lima tahun dan dia melangkah maju ke tengah lapangan, siap menghadapi ujian.

Semua penonton kini nampak gembira dan kagum karena dari bawah panggung melompat seorang pemuda yang amat gagah dan tampan.

Pemuda ini masih muda sekali, paling banyak delapan belas tahun usianya akan tetapi tubuhnya tegap dan dadanya bidang, sepasang matanya mencorong seperti mata naga.

Pakaiannya dari sutera, akan tetapi tidak terlalu mewah dan pakaian itu ringkas.

Begitu dia berada di atas panggung, terdengar orang-orang berseru.

"Hidup Li-kongcu """""

Han Sin dan Cu Sian memperhatikan ketika mendengar orang menyebut pemuda itu Li Kong-cu.

Jadi pemuda itulah putera Gubernur Li.

Mengapa pakaiannya tidak mewah dan mentereng?

Juga sikapnya sederhana sehingga mendatangkan rasa kagum dalam hati Han Sin dan Cu Sian.

Pemuda itu memang Li Si Bin atau lebih dikenal dengan sebutan Li-Kongcu (Tuan muda Li) oleh rakyat.

Ketika die mendengar teriakan menyambutnya, dia lalu menghadapi penonton dan membungkuk sambil berkata "Harap saudara sekalian menonton dengan tenang.

Ini bukan pertandingan, melainkan ujian bagi calon perwira"

Suaranya nyaring namun lembut dan mendengar ucapannya itu, semua penonton diam.

Han Sin juga dapat merasakan suatu wibawa yang besar terkandung dalam suara itu.

Dia semakin kagum.

Pemuda ini sungguh bukan orang biasa.

Gerak geriknya demikian matang dan penuh kepercayaan kepada diri sendiri, wibawanya amat besar.

Kini Li Si Bin berhadapan dengan peserta pertama yang bertubuh pendek tegap "Saudara menghendaki ujian tangan kosong atau kah senjata?

Silahkan pilih"

Terdengar Li Si Bin bertanya ramah.

Sama sekali tidak nampak sikap congkak seperti layaknya putera bangsawan tinggi.

Peserta pendek itu memberi hormat.

Agaknya dia adalah orang daerah Shan-si yang sudah tahu dengan siapa dia berhadapan"

Saya bertangan kosong saja, kong-cu"

"Baiklah, mudah-mudahan kau berhasil"

Kata Li Si Bin, lalu setelah melihat peserta itu memasang kuda-kuda yang kokoh kuat, dia berseru"

Lihat seranganku"

Li Si Bin menyerang dengan tamparan tangannya ke arah pundak lawan.

Peserta pendek itu cepat mengelak dan membalas dengan tendangan kakinya.

Akan tetapi Li Kong-cu dapat pula menangkis tendangan itu dan melancarkan serangan kedua.

Kedua orang ini sudah cepat saling menukar serangan.

Sementara itu, Cu Sian sibuk bertanya kepada seorang penonton yang berdiri di sebelahnya tentang peraturan ujian ilmu silat itu.

"Yang kalah sebelum dua puluh lima jurus dinyatakan gagal dan harus di terima sebagai prajurit kelas satu. Yang dapat melampaui dua puluh lima jurus akan tetapi tidak sampai empat puluh jurus akan di angkat menjadi seorang perwira, yang mampu bertahan sampai empat puluh jurus akan tetapi tidak melampaui lima puluh jurus menjadi perwira yang lebih tinggi kedudukannya, akan tetapi yang mampu bertahan sampai lima puluh jurus lebih, diberi kedudukan perwira yang paling tinggi. Akan tetapi selama dua tahun ini, tidak ada peserta yang mampu bertahan sampai lebih dari lima puluh jurus melawan Li Kong-cu"

Cu Sian mengangguk-angguk dan kembali melihat ke atas panggung.

Dia kagum sekali melihat gerakan Li Si Bin.

Jelas bahwa pemuda itu memiliki ilmu silat yang hebat, akan tetapi putera gubernur itu membatasi tenaga dan kecepatannya.

Agaknya dia memberi kelonggaran kepada lawannya karena menurut perhitungan Cu Sian, kalau Li kong-cu itu menghendaki ,dalam sepuluh jurus saja peserta pendek itu akan terjungkal.

Dugaan Cu sian memang benar, Li Kong-cu memberi kelonggaran, akan tetapi tidak lebih dari dua puluh empat jurus.

Pada jurus ke dua puluh empat, tiba-tiba saja peserta pendek itu terkulai roboh, cepat Li Kong-cu menjulurkan tangan kanannya, memegang tangan orang itu dan mengangkatnya bangun.

Dia tersenyum ramah ketika berkata "sayang kau gagal.

Akan tetapi dengan bekal tenaga dan kepandaianmu, kalau kau mau masuk menjadi prajurit kelas satu, dalam waktu singkat kau tentu akan memperoleh kenaikan pangkat asal kau suka berlatih dengan baik"

Peserta pendek itu memberi hormat.

Dia tidak nampak terpukul perasaannya karena di kalahkan Li Kong-cu, bahkan sikap Li Kong-cu yang demikian ramah dan baik, membuat dia menjawab dengan suara tegas "Saya mau menjadi prajurit, kong-cu, dengan harapan mendapat petunjuk kong-cu untuk memperoleh kemajuan"

Peserta pertama mundur di gantikan peserta kedua yang seperti juga peserta pertama, memilih bertanding dengan tangan kosong.

Akan tetapi, tidak seperti peserta pertama, pserta kedua yang bertubuh jangkung kurus ini ternyata memiliki sin-kang yang cukup kuat dan juga ilmu silatnya tanggung sekali.

Cu Sian yang memperhatikan gerakan Li Kong-cu, mendapat kenyataan bahwa pemuda bangsawan itu menambah takaran tenaga dan kecepatannya, namun sampai lewat dua puluh lima jurus si jangkung itu masih bertahan dan akhirnya dia tertotok lemas dalam jurus ke tiga puluh.

Dia lulus sebagai perwira pertama dan juga seperti perserta pertama dia di kalahkan tanpa menderita luka dan Li Kong-cu bersikap bersahabat dengannya.

Maka, peserta ini pun tidak menderita malu dan dia lalu mengundurkan diri setelah mengucapkan terima kasih.

Peserta ke tiga adalah seorang pemuda berusia hampir tiga puluh tahun, berkumis dan perawakannya sedang saja, namun dari gerak geriknya jelas nampak oleh Cu Sian bahwa peserta ke tiga ini lebih lihai dari pada dua peserta terdahulu.

Dugaannya tepat karena setelah mereka bergebrak, pertandingan kini berjalan dengan ramai dan seru.

Peserta ke tiga dapat mengimbangi gerakan Li Kong-cu sehingga penonton memandang dengan gembira dan dengan hati tegang.

Akan kalahkah jago mereka, yaitu Li Kong-cu?

Akan tetapi Cu Sian dengan kagum dapat menilai gerakan mereka berdua dan dia tahu bahwa Li Kong-cu tidak akan dapat di kalahkan orang itu.

Perhitungannya memang tepat.

Peserta ketiga ini memang lihai dan mampu bertahan sampai lima puluh jurus.

Akan tetapi tetap saja dia harus mengakui ke unggulan Li Kong-cu karena dalam jurus ke lima puluh lima, dia pun terpelanting jatuh.

Walaupun dia tidak menderita luka, tetap saja kejatuhannya sudah menunjukkan bahwa dia memang kalah.

Li kong-cu nampak gembira sekali.

Dia mengangkat bangun peserta itu dan memberinya kedudukan perwira menengah, tidak seperti dua orang peserta terdahulu yang mendapatkan kedudukan perwira rendah.

Kini peserta ke empat yang maju.

Cu Sian yang tidak senang melihat pemuda tinggi besar yang di anggapnya sombong itu memandang dengan mata bersinar-sinar.

Dia melihat betapa pemuda tinggi besar itu menghadapi Li Kong-cu dengan lagak yang angkuh, tidak mau tunduk.

Li Si Bin hanya tersenyum melihat lagak pemuda tinggi besar itu dan setelah mereka berdua mengangkat kedua tangan depan dada sebagai salam, Li Si Bin bertanya "Sobat, kau memilih ujian silat dengan senjata apa?"

Berbeda dengan tiga orang peserta yang memilih di uji ilmu silat tangan kosong, pemuda tinggi besar itu menjawab lantang "Setiap orang pendekar sejati tidak akan pernah melepaskan pedangnya, demikian pula seorang panglima harus pandai menggunakan berbagai macam senjata.

Aku memilih pedang untuk bertanding ilmu"

Setelah berkata demikian, si tinggi besar itu menggerakkan tangan kanannya ke belakang punggung dan "sing """"

Dia telah memegang sebatang pedang yang berkilauan.

Para penonton memandang dengan mata terbelalak dan hati tegang, akan tetapi Li Si Bin masih tersenyum dengan tenang.

Sementara itu Cu Sian sudah tidak mampu menahan kemarahannya melihat sikap congkak itu.

Dia tahu bahwa Li Si Bin adalah seorang yang bijaksana.

Ketika mengalahkan tiga orang lawannya tadi saja sudah menunjukkan bahwa dia seorang yang rendah hati dan baik budi.

Kini melihat si congkak itu mencabut pedang yang berkilauan, dia merasa khawatir akan keselamatan putera gubernur itu.

Tanpa dapat di cegah Han Sin yang sama sekali tidak menduganya, Cu Sian sudah melompat memasuki batas tali, kemudian dengan mengerahkan ginkangnya dia melompat tinggi dan membuat poksai (salto) sampai tiga kali baru turun ke atas panggung dengan ringan sekali.

Tentu saja perbuatannya itu mengejutkan semua orang, dan Li Si Bin sendiri memandang dengan heran.

"Siapakah kau dan apa artinya kau naik ke atas panggung ini?"

Tanya Li Si Bin sambil memandang tajam, suaranya penuh wibawa.

Sementara itu Han Sin terkejut sekali karena dia dapat menduga bahwa sahabatnya itu tentu akan menimbulkan keributan.

Akan tetapi sudah terlambat dan dia tidak dapat berbuat lain kecuali menonton dengan hati tegang dan khawatir.

Cu Sian mengangkat kedua tangan ke depan dada untuk memberi hormat kepada putera gubernur itu lalu berkata "Maafkan aku, kong-cu.

Karena ku lihat kong-cu sudah melayani bertanding sampai tiga kali berturut-turut, maka perkenankanlah aku untuk mewakili kongcu dalam pertandingan ini.

Dengan melihat jalannya pertandingan antara orang sombong ini dan aku, tentu kong-cu sudah dapat menilai apakah dia pantas di terima ataukah tidak"

Li Si Bin menjadi tertarik sekali.

Belum pernah dia melihat seorang pemuda remaja yang tampan dan halus seperti ini memperlihatkan keberanian yang luar biasa.

Dia ingin sekali melihat bagaimana lihainya pemuda ini, maka sambil tersenyum dia menoleh kepada peserta ke empat yang tinggi besar itu.

"Tentu saja aku tidak keberatan dan pertandingan itu tentu akan menarik sekali dan menambah semaraknya ujian ini. Akan tetapi entah bagaimana dengan pendapat peserta keempat ini"

Pemuda tinggi besar itu mengerutkan alisnya karena dia tidak mengenai Cu Sian, lalu menjawab ucapan Li Si Bin, dia berkata dengan lantang "Li Kong-cu, saya tidak takut menghadapi siapapun juga, akan tetapi yang berhak naik ke panggung adalah mereka yang lulus ujian yang telah di tetapkan.

Karena itu, saya ingin melihat apakah bocah ini mampu melakukan syarat yang telah di tentukan.

Kalau dia dapat melakukan itu semua dengan baik, baru dia ada harganya untuk menguji ilmu silat saya.

Kalau tidak, sebaiknya kong-cu melemparkan bocah pengacau ini keluar panggung"

Li Si Bin menoleh kepada Cu Sian sambil tersenyum "Apa sih sukarnya melakukan itu semua? Aku dapat memenuhi persyaratan itu jauh lebih baik daripada yang dia lakukan tadi"

Mendengar ini, Li Si Bin lalu berkata "Baiklah, sekarang ditetapkan begini.

Saudara ini akan memenuhi semua persyaratan, yaitu ujian tenaga dan ketangkasan, kemudian kalau dia lulus, kalian berdua akan saling menguji ilmu silat.

Bagaimana, apakah kalian berdua setuju?"

Pemuda tinggi besar itu menjawab hampir berbareng dengan jawaban Cu Sian "Aku setuju"

Li Si Bin lalu meninggalkan panggung dan duduk di kursinya, sedangkan pemuda tinggi besar itu berkata mengejek "Bocah pengacau, sekarang perlihatkan kemampuanmu, hendak kulihat apakah kemampuan tenaga dan kecekatanmu sama besarnya dengan mulutmu"

Setelah berkata demikian, diapun mundur dan berdiri di sudut panggung sambil bertolak pinggang dan mulutnya tersenyum mengejek.

Cu Sian kini menghadapi penonton dan tersenyum geli ketika dari situ dia melihat wajah Han Sin yang kerut merut dan matanya melotot kepadanya.

"Saudara sekalian, saudara yang menjadi saksi apakah saya dapat lulus lebih baik daripada manusia sombong ini ataukah tidak. Pertama, melompat ke panggung. Tadi sudah kulakukan dan semua orang telah menyaksikannya. Sekarang akan kulakukan ujian kedua, memanah dengan busur itu. Silahkan kalian semua melihat"

Dengan langkah gagah Cu Sian menghampiri meja dan mengambil busur yang besar dan berat itu.

Para penonton melihat betapa pemuda remaja yang bertubuh kecil dan gerak geriknya halus itu mengerahkan tenaga pada kedua tangannya untuk mengangkat busur itu.

Pemuda tinggi besar itu tertawa terkekeh melihat ini dan para penonton juga mengerutkan alis karena kecewa.

Bagaimana mungkin pemuda itu mampu memanah orang jerami yang jauh itu dengan busur yang demikian beratnya?

Mengangkat busur itu saja dia harus menggunakan kedua tangannya.

Semua penonton memandang dengan hati tegang dan suasana menjadi hening sekali.

Ketika Cu Sian menahan busur dengan tangan kirinya lalu mengambil tiga batang anak panah, memasang tiga batang anak panah itu kepada busurnya, semua orang mulai terbelalak.

Cu Sian lalu memasang kuda-kuda, mengangkat kaki kiri tinggi lalu di langkahkan ke depan lebar-lebar, membentuk pasangan kaki menunggang kuda, kemudian dia mementangtali busur sepenuhnya.

"Kena"

Serunya sambil melepas anak panah. Tiga batang anak panah itu menyambar ke depan secepat kilat dan menancap di orang jerami itu, tepat mengenai leher, dada dan pusar.

"Ahhhh ""

Penonton berseru dan meledaklah sorak sorai dan tepuk tangan mereka.

Kiranya ketika mengangkat busur dengan kedua tangannya, Cu Sian hanya berpura-pura saja.

Dan tentu hebat dan menganggumkan.

Li Si Bin sendiri sampai bangkit dari tempat duduknya dan memandang dengan mata bersinar-sinar.

Bukan main pemuda remaja itu pikirnya.

Melepas tiga batang anak panah dengan sekali luncuran merupakan ilmu memanah tingkat tinggi.

Di daerah Shansi ini mungkin hanya dia seorang yang mampu melakukannya.

Han Sin yang tadinya marah dan gelisah melihat ulah sahabatnya itu, juga merasa amat kagung.

Tak di sangkanya bahwa Cu Sian memiliki ilmu memanah yang demikian hebat dan melihat semua orang bersorak dan bertepuk tangan, tak dapat di tahannya lagi diapun ikut"ikutan bertepuk tangan.

Kegaduhan penonton itu tiba-tiba berhenti dan suasana menjadi sunyi kembali ketika semua orang melihat pemuda remaja itu kini menghampiri singa batu yang berada di sudut panggung.

Cu Sian mengangkat singa batu itu dengan sebelah tangan saja, lalu melontarkan ke atas, tinggi dan menerimanya kembali lalu melontarkan kembali lagi sampai lima kali.

yang hebat, pada lemparan terakhir, ketika singa batu itu meluncur turun, bukan di sambut dengan tangannya melainkan dengan kepalanya.

Dengan menggunakan tenaga lembut, kepala itu menempel singa batu dari samping lalu membuat gerakan melengkung ke bawah lalu ke kiri sehingga daya luncur singa batu itu dapat di salurkan ke atas dan hilang.

Beberapa saat lamanya singa batu itu tertahan di atas kepala Cu Sian, baru di ambil oleh kedua tangan dan di turunkan di atas panggung.

Sorak sorai menyambut demonstrasi yang luar biasa ini dan tanpa di ucapkan dengan suara, semua orang juga sudah tahu bahwa apa yang diperlihatkan pemuda remaja ini jauh lebih hebat daripada apa yang tadi dipamerkan pemuda tinggi besar.

Cu Sian tersenyum, mengangguk kepada penonton di empat penjuru lalu tiba-tiba tubuhnya melayang turun dan tahu-tahu dia sudah berada di atas punggung kuda, di atas mana telah tersedia anak panah dan busurnya.

Cu Sian menggeprak kuda itu sehingga kuda berlari congklang menuju ke orang jerami.

Dalam jarak lima puluh kaki, tiba-tiba Cu Sian melompat dan berdiri di atas punggung kuda yang berlari itu, dan anak panahnya dengan tepat menancap di dada orang jerami.

Kembali penonton menyambut dengan gembira.

Cu Sian lalu melompat lagi ke atas panggung dan menghadapi si pemuda tinggi besar sambil tersenyum-senyum.

"Nah, semua persyaratan telah ku penuhi, bukan? sekarang kita harus saling menguji ilmu silat dan aku ingin sekali melihat apakah ilmu silatmu setingkat dengan kesombonganmu"

Pemuda tinggi besar itu berseru "Bagus. Keluarkan senjatamu aku akan menggunakan pedangku ini"

Pemuda itu kembali mencabut pedang yang tadi sudah di simpannya kembali "Hemmm, aku menghadapimu tidak perlu aku mengggunakan senjata yang tajam dan runcing.

Cukup sebatang tongkat saja.

Eh, Sin-ko, tolong carikan sebatang tongkat untukku"

Dia berteriak ke arah Han Sin.

Pemuda itu bersungut-sungut.

Ulah Cu Sian mendatangkan kekhawatiran dalam hati Han Sin, kalau-kalau ulah itu akan menggagalkan niatnya bertemu dengan gubernur Li dan minta keterangan tentang ayahnya.

Akan tetapi sebelum dia menanggapi permintaan Cu Sian, seorang perwira atas perintah Li Si Bin sudah naik ke panggung dan menyerahkan sebatang toya.

Toya itu merupakan senjata tongkat yang terbuat daripada besi.

"Terima kasih, ciangkun. Aku hanya membutuhkan sebatang tongkat bambu atau kayu saja, yaitu tongkat pemukul anjing. Kalau menggunakan toya ini, anjing yang ku pukul bisa mati"

Tentu saja ucapan ini merupakan ejekan dan sekaligus makian terhadap pemuda tinggi besar yang di anggapnya sebagai anjing yang layak di pukul.

Para penonton merasakan hal ini dan mereka semua tertawa.

Seorang penonton kebetulan melihat sebatang bambu di bawah lalu di ambilnya bambu itu dan di lemparkannya ke atas panggung.

Cu Sian menyambut bambu itu dan memutarnya dengan tangan kanan, menghadapi pemuda tinggi besar sambil berkata"

Nah, inilah senjataku"

Sebelum mereka bergerak saling serang, Li Si Bin berseru dari bawah panggung, suaranya terdengar gembira karena peristiwa ini sungguh belum pernah terjadi dan membuat penyelenggaraan ujian pemilihan perwira yang menjadi meriah "Kedua orang saudara yang hendak bertanding, di minta memperkenalkan diri masing-masing"

Cu Sian segera menyambut seruan ini dengan suara lantang sambil melintangkan tongkat bambunya di depan dada "Aku bernama Cu Sian dari Tiang-an"

"Saya bernama Bong Sek Toan, dari Nan-king"

Pemuda tinggi besar itu berseru pula dengan suaranya yang mengguntur dari Tiang-an dan Nan-king, suasana menjadi semakin ramai karena para penonton mengerti bahwa dua orang muda itu datang dari luar daerah Shansi.

"Sekarang kalian mulailah"

Seru Li Si Bin "akan tetapi ingat bahwa pertandingan ini hanya untuk menguji kepandaian silat, bukan perkelahian"

Cu Sian tersenyum memandang lawannya lalu berkata "Orang she Bong, sudah siapkah kau untuk di pukul dengan tongkatku"

Sejak tadi pemuda tinggi besar bernama Bong Sek Toan itu sudah merasa panas hatinya dan marah bukan main.

Dia merasa di pandang rendah dan dipermainkan pemuda remaja itu.

Akan tetapi agaknya diapun maklum bahwa pemuda remaja yang ugal-ugalan itu merupakan seorang lawan tangguh, dapat di lihat dari cara dia memperlihatkan tenaga dan kecepatannya tadi.

"Sambut pedangku ini"

Katanya dan menyerang dengan dahsyat sekali.

Bagaimanapun juga dia merasa lebih untung karena dia memegang sebatang pedang sedangkan lawannya hanya memegang sebatang tongkat bambu.

Akan tetapi dengan gerakan yang gesit sekali Cu Sian dapat mengelak dan diapun menggerakkan tongkatnya menotok kearah pinggang lawan.

Bong Sek Toan cepat menangkis sambil mengerahkan tenaga, bermaksud untuk mematahkan tongkat itu, akan tetapi tongkat itu hanya terpental dan sama sekali tidak menjadi rusak oleh pedang yang tajam itu.

Segera terjadi serang menyerang yang amat seru.

Biarpun kalah untung dalam hal senjata, namun Cu Sian dapat mengimbangi lawannya dengan kecepatan gerakannya.

Tubuhnya berkelebat diantara sinar pedang dan ujung tongkat bambunya menotok ke tempat berbahaya sehingga Bong Sek Toan tidak mampu mendesak lawannya itu.

Saling serang sudah berlangsung tigapuluh jurus lebih dan belum ada diantara mereka mereka yang terdesak.

Tiba-tiba Bong Sek Toan mengeluarkan bentakan nyaring dan pedangnya berputar menyambar-nyambar kearah tubuh bagian atas dari lawannya.

Hebat bukan main serangan ini, bagaikan gelombang samudera yang menerjang kearah Cu Sian.

Pemuda remaja inipun terkejut dan maklum akan hebatnya serangan pedang, maka diapun bergulingan di atas papan panggung sehingga pedang itu menyambar-nyambar di atas tubuhnya.

Dari bawah, tongkat Cu Sian mengirim serangan balasan ke arah kaki dan perut.

Dengan perlawanan seperti ini, terpaksa Bong Sek Toan mengubah lagi gerakan pedangnya.

Diam-diam dia terkejut sekali.

Ternyata tongkat bambu yang di pandang rendah itu merupakan senjata istimewa di tangan lawannya.

Sebaliknya, Cu Sian juga terkejut.

Tak di sangkanya bahwa lawannya yang di anggap sombong itu ternyata tangguh bukan main.

Keduanya mengeluarkan seluruh kemampuan dan mengerahkan seluruh tenaga sehingga pertandingan itu berlangsung seru, bukan lagi merupakan pertandingan menguji ilmu, melainkan perkelahian yang sungguh-sungguh untuk merobohkan lawan.

Jurus"jurus terampuh dari mereka dikeluarkan.

Penonton menahan napas menyaksikan pertandingan yang amat seru itu.

Li Si Bin sendiripun sampai bangkit dari kursinya.

Dia merasa girang dan juga khawatir.

Girang karena dia merasa mendapatkan dua orang calon perwira yang akan menjadi pembantu-pembantu yang boleh diandalkan.

Akan tetapi khawatir karena pertandingan itu menjadi sungguh-sungguh menjadi perkelahian untuk saling bunuh.

Yang merasa amat kaget dan heran adalan Cian Han Sin.

Ketika Bong Sek Toan mengeluarkan ilmu pedang mendesak Cu Sian dengan jurus yang seperti gelombang, dia segera mengenal ilmu pedang itu.

Bahkan semua gerakan ilmu silat Bong Sek Toan itu tidak asing baginya karena bersumber pada ilmu silat Lo-hai-kun.

Pada hal ilmu silat Lo-hai-kun (Silat Pengacau Lautan) adalah ilmu ibunya yang pernah diajarkan kepadanya.

Berarti masih ada hubungan antara orang bernama Bong Sek Toan ini dengan ibunya.

"Haiiii"

Tongkat di tangan Cu Sian bergerak seperti ular dan mematuk"matuk ke arah kedua mata lawan. Bong Sek Toan terkejut dan dia harus berlompatan ke belakang untuk menghindarkan matanya dari bahaya.

"Yaahhhhh"

Dia membentak dan pedangnya menyambar dengan sapuan ke arah kedua kaki Cu Sian.

Pemuda remaja itu meloncat tinggi sehingga pedang itu lewat di bawah kakinya, kemudian tubuhnya berjungkir balik dan menukik sambil menusukkan tongkatnya kearah ubun-ubun lawan.

"Hiaatttt """. traanggg ""

Pedang itu menangkis tongkat dan keduanya melompat mundur setelah pertemuan antara tongkat dan pedang itu membuat Bong Sek Toan terhuyung dan Cu Sian juga melayang turun hampir terjatuh.

Akan tetapi setelah keduanya melompat mundur, kini mereka sudah siap lagi untuk saling serang.

Pertandingan sudah berlangsung tujuh puluh jurus lebih dan Han Sin yang merasa khawatir kalau-kalau kedua orang itu celaka, padahal Bong Sek Toan itu masih mempunyai hubungan dengan ibunya.

Maka diapun memasuki lapangan yang di lingkari tali dan berlari menuju ke panggung.

Pada saat itu, Li Si Bin juga mengangap bahwa pertandingan itu sudah lebih dari cukup dan kedua orang itu dapat di terima sebagai perwira maka diapun melompat ke atas panggung.

Pada saat itu, kedua orang itu sudah mulai menyerang lagi.

Ketika Li Si Bin melompat dan tiba diantara keduanya, dengan sendirinya dialah yang menjadi sasaran tongkat dan pedang.

Akan tetapi dengan tenang Li Si Bin menangkap tongkat dan menangkis pedang dari samping sehingga pedang terpental dan Cu Sian tidak mampu menarik lepas tongkatnya.

Dari gerakan melerai ini saja sudah dapat diketahui bahwa ilmu kepandaian Li Si Bin memang hebat dan lebih tinggi tingkatnya di bandingkan kedua orang yang sedang bertanding itu.

"Cukup, kalian sudah cukup bertanding"

Kata Li Si Bin sambil tersenyum ramah.

"Akan tetapi aku belum kalah"

Kata Cu Sian penasaran.

"Sian-te. Turunlah dan jangan bertanding lagi atau aku akan marah kepadamu"

Terdengar teriakan Han Sin dari bawah panggung.

Bong Sek Toan juga menoleh dan memandang kepada Han Sin.

Melihat pemuda ini, dia teringat.

Tadi dia sudah berpikir siapakah pemuda remaja yang bertanding dengannya itu.

Dia merasa sudah pernah bertemu.

Setelah kini melihat Han Sin, maka diapun teringat bahwa lawannya bukan lain adalah pengemis muda yang kurang ajar itu.

"Ah, kiranya kau jembel itu"

Bentaknya sambil menudingkan telunjuknya ke arah muka Cu Sian. Cu Sian membelalakan matanya dengan marah "Dan kau anjing sombong itu"

Dia balas memaki "Mari kita lanjutkan pertandingan sampai seorang diantara kita roboh tak bernyawa"

"Sudahlah, harap ji-wi (anda berdua) bersabar. Pertandingan ini hanya untuk ujian bukan berkelahi"

Kata Li Si Bin. Bong Sek Toan yang juga sudah marah sekali memandang kepada Cu Sian dengan mata mendelik. Pada saat itu, Han Sin dari bawah panggung berseru.

"Saudara Bong Sek Toan, kau ada hubungan apakah dengan mendiang Toat-beng Giam-ong?"

Han Sin bertanya demikian karena melihat ilmu pedang Lo-hai Kiam-Sut tadi dan menduga bahwa pemuda itu tentu ada hubungan dengan mendiang Toat-beng Giam-ong, guru dari ibunya.

Bong Sek Toan terkejut bukan main, wajahnya berubah kemerahan dan dia memberi hormat kepada Li Si Bin, berkata "Kong-cu, sebaiknya saya pergi saja"

Dan dia melompat turun dari panggung, setelah tiba di bawah dia memandang kepada Cu Sian sambil berseru "Bocah setan, lain kali aku aku tidak memberi ampun lagi kepadamu"

Setelah berkata demikian dia meloncat jauh dan lenyap diantara penonton yang banyak itu.

Melihat ini, Li Si Bin menjadi heran dan menyesal karena pemuda tinggi besar itu dapat menjadi perwira yang tangguh.

Dia lalu menghadapi Cu Sian dan berkata "Biarlah, kalau dia tidak ingin menjadi perwira, kamipun tidak akan memaksanya.

Dengan mendapatkan kau sebagai perwira, kami sudah cukup puas, saudara Cu Sian"

"Tapi ". Tapi ". Aku sama sekali tidak ingin menjadi perwira, kong-cu"

Li Si Bin mengerutkan alisnya dan merasa dipermainkan "Apa artinya semua ini?

tanyanya dengan suara tidak senang.

Pada saat itu Han Sin yang berada di bawah panggung segera berkata dengan suara lembut dan penuh hormat.

"Kami mohon agar Li-Kongcu suka memberi kesempatan kepada kami untuk menceritakan semua ini, tanpa di dengar banyak orang"

Li Si Bin menjadi semakin heran dan penasaran.

Akan tetapi melihat sikap Han Sin yang penuh hormat itu dan sikap Cu Sian yang seperti orang kebingungan, diapun tersenyum "Baiklah, mari jiwi ikut bersamaku"

Li Si Bin lalu melangkah pergi menuju gedung di depan lapangan itu.

Cu Sian mengikutinya dan Han Sin mengambil jalan mengitari panggung dan mengikuti pula.

Dia melirik kearah Cu Sian yang juga sedang melirik kepadanya.

Han Sin melihat Cu Sian cengar cengir sehingga mau tidak mau hatinya yang sedang mendongkol itu agar mencair.

"Kau jangan buka mulut sembarangan, biar aku saja yang bicara"

Kata Han Sin lirih dan singkat.

"Baiklah, Sin-ko. Aku menaati perintahmu"

Jawaban itu demikian di buat-buat untuk melucu sehingga Han Sin terpaksa tersenyum gemas.

Setelah memerintahkan para pembantunya untuk membubarkan ujian itu dan menampung para calon yang lulus, Li Si Bin mengajak kedua orang muda itu memasuki sebuah ruangan di bagian samping gedung besar itu.

Ruangan itu cuku luas dan hanya terisi kursi"kursi dan meja, agaknya ruangan pertemuan atau ruangan rapat.

Setelah mempersilahkan kedua orang tamunya duduk, Li Si Bin segera berkata "Nah, sekarang kalian ceritakan sebetulnya apa artinya saudara Cu Sian ingin naik ke panggung kalau bukan untuk mengikuti ujian sebagai calon perwira"

Pandangan matanya mencorong penuh selidik.

Diam-diam Cu Sian merasa ngeri juga.

Pandang mata pemuda bangsawan ini sungguh penuh wibawa.

Han Sin menoleh kepada sahabatnya dengan pandang mata memperingatkan agar Cu Sian tidak sembarangan bicara.

Dia khawatir sekali Cu Sian bicara seenaknya, akan terjadi keributan pula.

"Sebelumnya kami mohon maaf sebesarnya kepada kong-cu bahwa tanpa disengaja kami telah merepotkan kong-cu dan mengacaukan ujian tadi. saya bernama Cian Han Sin dan adik Cu Sian ini adalah sahabat saya. Sebetulnya kedatangan kami ke Shansi ini sama sekali tidak mempunyai maksud untuk ujian perwira. Akan tetapi, dalam perjalanan kami ke sini, kami pernah bertemu dengan pemuda bernama Bong Sek Toan tadi dan dia bersikap kasar terhadap Sian-te. Inilah sebebnya mengapa Sian-te, ketika melihat Bong Sek Toan tadi berlagak di atas panggung, lalu nekat naik untuk menandinginya. Jadi yang mendorong dia naik ke panggung semata-mata karena ingin menandingi Bong Sek Toan. Untuk itu, sekali lagi kami mohon maaf kepada kong-cu. Li Si Bin mengangguk-anggukkan kepalanya. Biarpun dia seorang putera bangsawan, akan tetapi dia mengetahui akan watak para pendekar yang kadang aneh. Dia memang tidak suka akan sikap Cu Sian yang ugal-ugalan itu, akan tetapi mendengar ucapan Han Sin dan melihat sikap pemuda ini merasa suka dan tertarik.

"Hemmm, begitukah? Kami amat mengagumi ilmu kepandaian saudara Cu, akan tetapi kau tentu memiliki ilmu yang lebih lihai lagi"

"Ah, saya tidak dapat dibandingkan dengan Sian-te, kong-cu"

"Sin-ko adalah seorang ahli sastra yang lemah dan sayalah yang menjadi pengawal yang melindunginya, kong-cu"

Kata Cu Sian tanpa dapat di cegah lagi oleh Han Sin. Li Si Bin mengangguk-angguk, akan tetapi pandang matanya meragukan kebenarannya ucapan Cu Sian tadi"

Karena ayah kami menjadi kepala daerah di Shan-si, sudah sepatutnya kalau aku bertanya kepada kalian apa maksud kunjungan kalian ke Shan-si?"

"Terus terang saja Li Kong-cu, yang mempunyai kepentingan di sini adalah saya sedangkan Sian-te ini hanya mengawal dan menemani saya. Saya bermaksud untuk mencari keterangan tentang tewasnya mendiang ayah saya dalam pertempuran di daerah Shan-si"

Li Si Bin memandang tajam "Hemmm, siapakah ayahmu?"

"Kong-cu, kakak Cian Han Sin ini adalah putera mendiang Panglima besar Cian Kauw Cu"

"Ahhhh """

Li Si Bin bengkit berdiri "Panglima besar Cian Kauw Cu yang telah berjasa besar dalam mendirikan Kerajaan Sui itu? Teman seperjuangan mendiang Kaisar Yang Chien?"

Karena sudah di di dahului Cu Sian, terpaksa Han Sin bangkit berdiri dan mengangguk"

Mendiang Panglima Cian Kauw Cu adalah ayah saya, kong-cu"

"Ah, senang sekali dapat berkenalan denganmu, saudara Cian"

Kata Li Si in sambil mengangkat kedua tangan depan dada yang cepat di balas oleh Han Sin "Silahkan duduk dan ceritakan apa yang kau kehendaki. Apa yang hendak kau tanyakan kepada ayah?"

Han Sin duduk kembali "Menurut keterangan ibuku, mendiang ayah tewas dalam pertempuran di daerah Shan-si ini, gugur ketika terkena anak panah musuh.

Akan tetapi ibu mendengar desas-desus di kalangan prajurit pasukan yang di pimpin ayah bahwa anak panah itu mengenai punggung ayah, yang berarti bahwa anak panah itu dilepaskan dari belakang.

Tidak mungkin pihak musuh melepaskan anak panah dari belakangnya.

Maka saya ingin menyelidiki, apa yang sebenarnya terjadi dengan kematian ayah itu"

"Hemmm, maksudmu kau hendak mencari pembunuhnya untuk membalas dendam kematian ayahmu?"

Tanya Li Si Bin.

"Sama sekali tidak, kong-cu"

Han Sin kagum kepada pemuda bangsawan itu dan menaruh kepercayaan sepenuhnya "Sebetulnya saya ingin mencari pedang pusaka Hek-Liong-Kiam milik ayah yang lenyap ketika ayah gugur.

Kalau saya dapat menemukan siapa yang membunuh ayah, agaknya saya dapat menemukan siapa pencuri Hek-Liong-Kiam"

Li Si Bin mengangguk"angguk "Peristiwa itu telah terjadi kurang lebih sepuluh tahun yang lalu maka aku sendiri tidak dapat menceritakan apa-apa.

Ketika itu usiaku masih kecil, tidak jauh bedanya denganmu, saudara Cian.

Sebaiknya kalau kau bertanya kepada ayahku"

"Memang demikianlah maksud saya, kong-cu. Menurut ibu, Gubernur Li dahulu juga teman seperjuangan ayah dan karena dia bertugas di sini, sangat boleh jadi ayahmu itu akan dapat memberi keterangan yang lebih jelas"

"Memang benar perkiraanmu itu, saudara Cian. Marilah kalian ikut denganku menghadap ayah"

Kembali dua orang muda itu mengikuti Li Si Bin memasuki gedung besar itu dan akhirnya mereka memasuki sebuah ruangan yang penuh kitab, agaknya ruangan baca dan Gubernur Li berada di ruangan itu.

Han Sin memandang penuh perhatian.

Gubernur itu seorang laki-laki yang berusia lima puluh tahun berwajah tenang dan penyabar, berbeda dengan wajah puteranya yang penuh semangat.

"Ayah, coba ayah terka siapa yang aku bawa menghadap ayah ini"

Kata Li Si Bin. Gubernur Li memandang kepada Han Sin dan Cu Sian, alisnya berkerut dan dia menggeleng kepalanya.

"Ayah, saudara ini adalah Cian Han Sin, putera dari mendiang Panglima Besar Cian Kauw Cu"

Sepasang alis berkerut itu terangkat, sepasang mata itu berseri. Han Sin yang diperkenalkan cepat memberi hormat, di turut pula oleh Cu Sian.

"Ah, begitukah?"

Kata Gubernur itu sambil mengamati Han Sin dari kepala sampai ke kaki.

Cu Sian yang tidak diperkenalkan merasa dikesampingkan, segera memperkenalkan dirinya sendiri "Dan saya bernama Cu Sian, sahabat dan pengawal dari Kakak Cian Han Sin"

Gubernur itu memandang Cu Sian sejenak dengan heran, lalu menggerakkan tangan mempersilahkan mereka duduk "Aih, betapa cepatnya waktu berlalu.

bagaimana kabarnya dengan keadaan ibumu yang gagah perkasa itu, Han Sin?"

"Terima kasih, tai-jin, keadaan ibu saya baik-baik saja"

Jawab Han Sin dengan sikap hormat "Dan mohon tai-jin suka memaafkan kalau kunjungan saya ini mengganggu kesibukan tai-jin"

"Ah, tidak mengapa. Apakah keperluanmu datang menemuiku? Apa yang dapat kami Bantu untuk putera sahabat baik kami, Cian-ciangkun?"

"Saya mohon keterangan tai-jin tentang kematian mendiang ayah saya ketika memimpin pasukan di daerah Shansi ini. Ibu menyuruh saya untuk menhgadap tai-jin dan mohon keterangan dari tai-jin"

"Apakah ibumu belum mendapat pelaporan tentang kematian ayahmu?"

"Sudah tai-jin. Akan tetapi laporan resmi itu hanya mengatakan bahwa ayah gugur dalam pertempuran. Desas"desus di kalangan pasukan mengatakan bahwa kematian ayah tidak wajar, terkena anak panah yang datangnya dari belakang. Ibu mencurigai dan menyuruh saya mohon penjelasan dari tai-jin"

Gubernur Li menghela napas panjang "Peristiwa itu sudah terjadi sepuluh tahun yang lalu. Kenapa ibumu baru menyelidikinya sekarang?"

"Agaknya ibu menanti sampai saya dewasa sehingga dapat melakukan penyelidikannya sekarang?"

"Akan tetapi peristiwa itu telah terjadi sepuluh tahun yang lalu. Apa yang kau kehendaki "". aahhh, aku mengerti, agaknya kau hendak menyelidiki siapa pembunuh ayahmu dan hendak membalas dendam?"

Tanya Gubernur Li.

"Bukan itu benar yang penting bagi saudara Han Sin, ayah. Dahulu, mendiang Cian-ciangkun memiliki sebatang pedang pusaka yang di sebut Hek-Liong-Kiam. Nah ketika dia gugur, pedang pusaka itu lenyap di curio rang. Saudara Han Sin ingin menyelidiki siapa pencuri pedang itu, ayah agar dia dapat merampasnya kembali"

Kata Li Si Bin, menjelaskan "Dan dengan menyelidiki siapa pembunuh ayahnya, dia mengharapkan akan dapat menemukan kembali pedang pusaka itu"

Gubernur Li mengelus jenggotnya dan mengangguk-angguk "Hemmm, begitukah?"

"Benar, tai-jin dan saya mohon petunjuk tai-jin mengingat bahwa mendiang ayah adalah sahabat tai-jin, mungkin tai-jin mengetahui tentang peristiwa itu"

Gubernur Li mengeluskan alisnya, mengingat-ingat "Pada waktu itu kami juga menerima laporan dari Panglima Lui yang menjadi pembantu mendiang Panglima Cian, yang melaporkan bahwa Panglima Cian telah tewas dalam pertempuran.

Kami juga mendengar desas-desus itu bahwa Panglima Cian tewas karena terkena anak panah di punggungnya.

Akan tetapi pada waktu itu kami tidak menaruh curiga.

Sedangkan tentang pedang pusaka milik Panglima Cian, kami tidak pernah mendengarnya.

Sayang sekali, Han Sin, kami tidak dapat banyak membantu dalam hal ini.

Apalagi terjadinya sudah sepuluh tahun yang lalu"

Biarpun hatinya kecewa, Han Sin tidak memperlihatkannya. Dia lalu berpamit dari Gubernur Li. Han Sin dan Cu Sian mengundurkan diri dan di antar oleh Li Si Bin sampai keluar gedung"

Sayang sekali bahwa ayah tidak dapat memberi keterangan tentang kematian ayahmu dan pedang pusaka itu, saudara Han Sin.

Akupun merasa prihatin dan ikut memikirkan hal itu.

Dan menurut pendapatku, ada beberapa macam cara bagimu untuk dapat menyelidiki siapa pembunuh ayahmu itu"

"Ah, Li kong-cu, saya akan berterima kasih sekali kalau kau suka memberi petunjuk kepada saya"

Kata Han Sin.

"Tolonglah, Li kong-cu"

Cu Sian juga memohon "Sin-ko sudah jauh-jauh dari selatan pergi ke sini, kasihan kalau dia tidak mendapatkan petunjuk"

Li Si Bin tersenyum dan memandang Cu Sian dengan kagum "Aku kagum kepadamu, saudara Cu Sian.

Kau seorang pemuda yang tampan dan gagah sekali, juga ternyata merupakan seorang sahabat yang setia dan baik.

Begini, saudara Han Sin, setelah kau tiba disini, sebaiknya kalau kau melakukan penyelidikan di tempat dimana dahulu terjadi pertempuran yang mengorbankan nyawa ayahmu itu.

Banyak suku-suku mongol berada di daerah utara itu, akan tetapi pada data ini, yang menguasai daerah itu adalah suka Yakka.

Mereka juga ikut bertempur melawan pasukan pasukan Sui pada waktu itu, siapa tahu dari mereka kau bias memperoleh keterangan.

Sekarang suku Yakka itu bersikap baik dan tidak pernah mengganggu, bahkan terdapat jalur yang menghubungkan para pedagang yang menuju ke sana.

Aku tahu bahwa para pimpinan suku Yakka yang tua-tua semua mengenal nama mendiang ayahmu dan mengangguminya.

Akan saya perhatikan nasihat Li kong-cu ini.

Apakah masih terdapat petunjuk lain?"

"Masih ada dua cara, sepanjang yang aku dengar, mendiang Panglima Cian Kauw Cu adalah seorang yang memperoleh kedudukan tertinggi dalam pasukan, menjadi sahabat mendiang Kaisar Yang Chien dan merupakan tangan kanan beliau. Hal ini mungkin saja menimbulkan iri hati kepada para tokoh perjuangan lainnnya sehingga sangat boleh jadi ayahmu itu terbunuh oleh usaha perebutan kedudukan. Maka kau dapat melakukan penyelidikan diantara para panglima dan perwira kerajaan. Dan Kenyataan kedua adalah bahwa sewaktu muda, menurut yang ku dengar, ayahmu adalah seorang pendekar kang-ouw. Dengan sendirinya ayahmu tentu mempunyai banyak musuh dari kalangan sesat, maka dapat juga kau melakukan penyelidikan di dunia kang-ouw. Nah, hanya itulah yang dapat aku bantu"

Han Sin merasa kagum dan senang sekali.

Sungguh seorang pemuda yang bijaksana sekali Li Si Bin ini, memiliki pandangan yang tajam dan tepat.

Dia cepat mengangkat kedua tangannya memberi hormat "Sungguh tepat semua nasihat kong-cu.

Saya tentu akan melaksanakan semua petunjuk itu"

"Ahh, Saudara Han Sin terlalu memuji. Aku akan ikut merasa gembira kalau kau dapat menemukan siapa pembunuh ayahmu yang curang itu dan mendapatkan kembali pedang pusaka ayahmu"

"Li Kong-cu sungguh seorang yang amat cerdas dan bijaksana. Sekarang aku baru mengerti mengapa rakyat Shansi menyangjung-nyanjungmu"

Kata Cu Sian.

Dua orang pemuda itu lalu berpamit dan mereka meninggalkan kota Taigoan menuju ke utara.

Setelah melihat sepak terjang Cu Sian ketika bertanding melawan pemuda bernama Bong Sek Toan itu, Han Sin lebih percaya bahwa Cu Sian memiliki kepandaian yang cukup untuk menjaga dan melindungi diri.

Dia tidak merasa khawatir lagi dan mereka melakukan perjalanan ke utara dengan gembira.

Tidak mungkin bagi Han Sin untuk tidak terbawa gembira melakukan perjalanan bersama Cu Sian yang selalu lincah dan riang itu.

*** Jalan yang dilalui para pedagang yang membawa barang dagangan dari daerah utara ada dua jalur.

Kalau para pedagang itu membawa dagangan ke utara, mereka melalui jalan darat yang melalui jalan darat yang melalui bukit-bukit.

Akan tetapi kalau mereka membawa dagangan dari utara, mereka lebih suka mempergunakan jalan air Sungai Huang-ho yang mengalir ke selatan.

Baik jalan melalui darat maupun melalui sungai, sama saja resikonya.

Kadang muncul perampok atau bajak sungai yang mengganggu para pedagang itu.

Maka, biasanya rombongan pedagang itu membayar piauw-su (pengawal barang) untuk melindungi mereka dari gangguan penjahat.

Tentu saja terdapat semacam permusuhan diantara para piauw-su dan para penjahat itu.

Akan tetapi akhir-akhir ini mereka menempuh jalan damai.

Para gerombolan itu tidak lagi mengganggu rombongan para pedagang asal saja mereka di beri imbalan sebagai "pajak jalanan"

Para piauw-su tentu saja lebih suka kehilangan sebagian dari penghasilan mereka untuk diberikan kepada penjahat-penjahat itu daripada mereka harus bertempur.

Demikian pula para penjahat itu, lebih baik menerima imbalan dari mereka yang lewat.

Pertempuran hanya akan merugikan kedua pihak, ada yang luka-luka, bahkan tidak jarang ada kematian diantara mereka.

Pada suatu pagi yang cerah serombongan orang menunggang kuda melewati jalan yang sunyi iyu.

Mereka terdiri dari belasan orang yang dari pakaiannya menunjukkan bahwa mereka adalah orang-orang suku Yakka Mongol.

rata-rata bertubuh ramping kokoh menunjukkan bahwa mereka adalah orang-orang kuat yang biasa bergerak atau bekerja keras.

Yang menunggang kuda terdepan adalah dua orang gadis berusia tujuhbelas dan dua puluh tahun.

Mereka berpakaian indah, baju dan topi dari bulu dan wajah mereka cantik sekali.

Akan tetapi dilihat dari sikap mereka menunggang kuda, dapat diketahui bahwa dua orang gadis ini juga sudah biasa menunggang kuda dan bertubuh kuat.

Hal ini tidaklah aneh karena para wanita yakka juga biasa melakukan pekerjaan kasar, rata-rata pandai berburu binatang mempergunakan anak panah, tombak maupun pedang bengkok model Turki.

Dua orang gadis itu adalah kakak beradik, puteri ketua suku Yakka.

Ayah mereka adalah kepala suku Yakka yang terkenal karena kuat dan pandai memimpin sukunya, bernama Tar-sukai.

Adapun dua orang puterinya itu, yang pertama bernama Loana, berusia duapuluh tahun, sedangkan yang kedua bernama Hailun, berusia tujuhbelas tahun.

Suku Yakka menguasai daerah yang luas dan subur.

Mereka berpusat di lembah antara sungai Kerulon dan Sungai Onon yang amat subur.

Baca Juga: Pemberontakan Taipeng 8

Baca Juga: Petualang Asmara 10

Cari Blog Ini

Diberdayakan oleh Blogger.

Parnert