Ceritasilat Novel Online

Pedang Naga Hitam 3

Eps 3 Pedang Naga Hitam - Kho Ping Hoo

Baca online Pedang Naga Hitam - Kho Ping Hoo

Cersil Pedang Naga Hitam - Kho Ping Hoo.

Aku datang ke sini untuk melihat apakah kau sudah dengan selamat tiba di sini dan kedua kalinya, aku ingin bertanya kepadamu"

Han Sin bangkit berdiri dan kini dia sudah dapat menguasai jantungnya yang berdebar. Dia memandang nona itu dengan sinar mata berseri, hatinya terasa senang bukan main dan senyumnya melebar.

"Nona hendak bertanya padaku? Tanya lah, apa saja boleh kau tanyakan"

Jawabnya penuh gairah.

Kim Lan memandang dengan tajam dan gadis ini mendapat kenyataan bahwa Han Sin tidak lagi kelihatan seperti seorang pemuda tolol seperti ketika masih menjadi tawanan keluarga gila.

Ia segera dapat menarik kesimpulan bahwa pemuda ini telah bermain sandiwara dan pada hakekatnya tidaklah bodoh atau tolol.

Kini dia kelihatan sebagai seorang pemuda yang cerdik dan lincah gembira.

"Aku ingin bertanya dimana tempat tinggal keluarga gila itu?"

"Hemmm, kenapa kau ingin mengetahui tempat tinggal mereka, nona?"

"Aku ingin berkunjung ke sana"

Han Sin terkejut dan memandang gadis itu dengan mata terbelalak.

"Nona, jangan main-main"

"Siapa yang main-main? Aku memang benar akan berkunjung ke tempat tinggal mereka"

"Wah, itu berbahaya sekali. Kenapa nona hendak mengunjungi mereka?"

"Hemmm, aku hendak berusaha untuk menyembuhkan mereka dari sakit gila mereka itu"

Mata Han Sin makin terbelalak lebar "Eehhh? Tapi...... kenapa nona hendak bersusah payah mengobati orang-orang gila itu?"

Kim Lan tersenyum, tidak jengkel dengan pertanyaan"pertanyaan yang di berondongkan Han Sin Kepadanya "Heii, aku mengajukan pertanyaan satu kali belum kau jawab, malah kau menghujani aku dengan pertanyaan"

"Karena pernyataan mu itu amat aneh, nona. Nah, jawablah dulu, kenapa nona hendak mengobati mereka?"

"Aku melihat bahwa mereka itu bukanlah orang-orang jahat. Biarpun lihai dan gila, mereka tidak pernah merobohkan orang dengan luka berat, apalagi tewas. Dan aku melihat ketidak wajaran dan kegilaan mereka, bukan gila karena otaknya rusak, melainkan gila karena keracunanan. Karena itulah maka aku ingin mengobatinya. Nah, sudah jelaskah jawabanku dan memuaskan hatimu?"

Han Sin mengangguk-angguk dan pandang matanya memancarkan kekaguman "Sungguh belum pernah aku bertemu seorang yang memiliki pribadi sedemikian tingginya sepertimu nona.

Akan tetapi sebelum aku menjawab, ingin kuperingatkan kepadamu bahwa mereka benar-benar gila dan mereka lihai bukan main.

Aku khawatir, kau tidak akan dapat mengobatinya, malah kau yang akan menjadi tawanan mereka"

"Untuk apa mereka menawanku? Yang mereka butuhkan adalah seorang pemuda untuk dijodohkan dengan puteri mereka"

Kata Kim Lan "Sudahlah sobat, beritahukan padaku dimana tempat tinggal mereka itu"

"Akan kuberitahukan kalau nona sudah memperkenalkan nama nona. Nona telah bersusah payah menolongku, aku telah berhutang budi, sungguh tidak layak kalau aku tidak mengetahui namamu. Namaku sendiri adalah Cian Han Sin. Nah, maukah nona memperkenalkan nama nona?"

Dengan senyum penuh kesabaran Kim Lan menjawab "Aku bermarga Kim dan namaku Lan"

"Nona Kim Lan? Aih sebuah nama yang indah bukan main, sedap di dengar, Nah, kalau ingin mengetahui tempat tinggal mereka, di sebelah selatan bukit yang di sebut, Bukit Siluman. Di Sanalah mereka tinggal menempati sebuah rumah dari kayu dan bambu yang terpencil sendiri. Akan tetapi kuperingatkan padamu, nona Kim Lan, bahwa mendatangi mereka adalah berbahaya sekali"

"Terima kasih dan tentang bahaya, seorang yang bermaksud baik tidak takut menghadapi bahaya apapun. Aku ingin mnyembuhkan mereka dari sakit gila itu, apa yang perlu kutakuti?"

Kim Lan lalu memutar tubuhnya dan berkelebat cepat lenyap dari hutan bambu itu.

Han Sin tertegun.

Seorang gadis yang hebat, pikirnya.

Kecantikannya luar biasa, cerdik, pandai ilmu silat dan ilmu pengobatan, bahkan kalau dia tidak salah menduga, gadis itu pun pandai ilmu sihir yang diperlihatkan ketika gadis itu menyamar sebagai pelayan datang ke kamarnya dan membuat Kui Ji tertidur sejenak.

Dan di samping semua kehebatan itu, masih di tambah lagi dengan hati yang murni seperti emas.

Akan tetapi ia berada dalam bahaya, pikir Han Sin, teringat akan aneh dan gilanya watak keluarga gila itu.

Kim Lan terancam bahaya.

Pikiran ini membuat Han Sin cepat menyambar buntalan pakaiannya, menggendongnya di punggung dan cepat diapun berlari keluar hutan itu dan membayangi perjalanan gadis berpakaian putih.

*** Pagi itu cerah sekali.

Matahari telah naik dan sinar matahari pagi yang hangat menghidupkan itu menyinari permukaan bumi.

Seekor burung yang bulunya berwarna kuning dan ekornya hitam berloncatan dari ranting ke ranting, gerakannya menggugurkan mutiara-mutiara embun yang bergantung di ujung daun-daun pohon.

Gerakannya lincah sekali dan matanya penuh kewaspadaan mengamati sekelilingnya.

Sejak dapat terbang sendiri burung ini telah terlatih oleh lingkungan dan matanya hanya memperhatikan dua hal mencari makanan dan melihat apakah ada bahaya mengancam dirinya.

Ia berhenti bergerak dan dengan kecepatan luar biasa paruhnya yang agak panjang berwarna hitam itu meluncur ke depan.

Seekor ulat telah di jepit paruhnya.

Ulat itu meronta-ronta namun tidak dapat terlepas dan setelah beberapa kali burung itu memukul-mukulkan ulat itu pada ranting pohon, ia lalu membuka paruhnya dan menelan ulat itu.

Hukum alam pun terjadilah.

Yang mati memberi kekuatan kepada yang hidup.

Tiba-tiba terdengar suara tawa terkekeh-kekeh dari bawah pohon dan burung itu secepat kilat terbang dan pergi.

Gadis itu masih terkekeh-kekeh, sejak tadi dia mengamati gerak gerik burung itu dan entah mengapa ia terkekeh.

Mungkin dia melihat sesuatu yang lucu, yang tidak akan terlihat oleh orang lain yang keadaannya tidak sepertinya.

Ia adalah Kui Ji, gadis gila itu.

Suara tawanya mengerikan bagi orang lain, apalagi tawa itu terdengar di dalam hutan yang jarang di datangi manusia.

Tentu akan di sangka tawa siluman.

Akan tetapi, suara tawa itu terhenti mendadak dan kini ia menangisi entah apa yang di tangisinya tidak ada orang mengetahui, karena ia menangis begitu tiba-tiba tanpa sebab.

Tak lama kemudian tangis itupun berubah menjadi tawa lagi.

Gadis gila itu seperti terombang-ambing diantara tawa dan tangis.

Kita manusia pada umumnya juga di ombang-ambingkan dalam kehidupan ini oleh tawa dan tangis.

Hanya jaraknya saja yang agak lama, hari ini tertawa, hari lain menangis, atau setidaknya pagi tertawa sore menangis, sedangkan gadis gila itu menangis dan tertawa bergantian.

Kim Lan sudah mendengar tawa dan tangis itu ketika ia memasuki hutan di lereng bukit siluman.

Gadis yang baru berusia delapan belas tahun ini memang bukan gadis biasa, sikapnya begitu tenang dan tabah.

Mendengar suara yang bagi orang lain akan menimbulkan rasa ngeri dan takut itu, ia malah tersenyum.

Ada kegirangan terbayang di wajahnya yang jelita.

Ia telah menemukan yang di carinya, maka tanpa ragu lagi ia cepat berkelebat ke arah suara tawa dan tangis itu.

Kim Lan melihat Kui Ji sedang memetik bunga dan mengumpulkan bunga-bunga itu di keranjang.

Ia merasa terharu, kegilaan agaknya tidak dapat melenyapkan naluri kewanitaannya yang menyukai bunga.

Ketika memperoleh setangkai bunga mawar hutan merah, Kui Ji tertawa girang ,lalu memasang bunga itu di atas rambutnya, kemudian ia menari-nari.

"Sekarang aku seperti puteri kaisar.............hik-hik-hik, aku menjadi puteri kaisar"

Ia menari-nari akan tetapi hanya sebentar dan kini ia sibuk lagi mengumpulkan bunga yang di petiknya.

Pada saat itu Kim Lan keluar dari balik pohon dan dengan lembut dan hati-hati ia menegur "Enci yang cantik seperti puteri kaisar"

Kui Ji membalikkan tubuhnya, cepat sekali dan matanya memandang kepada Kim Lan.

Sukar di duga apa yang berada dalam hatinya ketika ia melihat Kim Lan.

Ada heran, kaget, curiga akan tetapi juga gembira.

"Apa yang kaukatakan tadi?"

Tanyanya.

"Kau enci yang cantik seperti puteri kaisar"

Kata pula Kim Lan sambil melangkah maju mendekat. Sepasang mata itu berbinar-binar "Aku memang puteri kaisar, ayahku menjadi kaisar dan ibuku menjadi permaisuri, hik-hik-hik"

"Kau memang cantik dan hebat, puteri. Akan tetapi kau sedang menderita sakit dan aku datang menghadapmu untuk menolongmu dan mengobatimu"

Kui Ji berhenti tertawa dan memandang kepada Kim Lan dengan mata bingung "Apa katamu? Aku sakit? Tidak, aku tidak sakit"

Kim Lan menatap wajah itu dengan sepasang mata yang bersinar-sinar. Ia menggerak-gerakkan jari tangannya dan berkata penuh wibawa "Enci yang baik, kau sedang sakit, sakit berat sekali"

Kui Ji memandang sepasang mata yang bersinar itu dan diapun kelihatan seperti tertegun dan termenung, lalu berkata perlahan seperti orang berbisik "Ya, aku sakit, sakit berat sekali"

"Dan aku akan mengobati dan menyembuhkan mu, enci"

"Ya... ya.... kau akan mengobati dan menyembuhkan aku"

Kim Lan lalu mengeluarkan segulung tali sutera hitam dari saku bajunya dan ia mengikat kaki tangan Kui Ji dengan tali itu.

Kui Ji hanya nampak bingung sejenak, akan tetapi sama sekali tidak melawan ketika kaki tangannya diikat.

"Untuk mengobatimu, aku harus mengikat kaki tanganmu"

Katanya.

"Ya, kau harus mengikat kaki tanganku"

Kui Ji berkata seperti orang bermimpi.

"Tiba-tiba terdengar teriakan melengking dan sesosok bayangan berkelebat. Kim Lan dengan tenang bangkit berdiri sedangkan Kui Ji tetap rebah telentang dengan tangan kaki terikat. Ternyata Liu Si, nenek gila itu telah berada di situ.

"Kau.... mata-mata musuh. Kau apakan anakku? Kubunuh kau"

Teriaknya marah dan ia sudah menerjang kepada Kim Lan dengan senjata cambuknya yang meledak-ledak.

Dengan tenang namun gesit sekali Kim Lan mengelak dengan lompatan ke samping, lalu mengangkat tangannya "sabar dulu, bibi.

Aku bukan mata-mata musuh, aku datang untuk mengobati anakmu"

"Bohong kau. Mata-mata musuh dan hendak membunuh kami semua. Akan tetapi kau tidak dapat membunuh kami. Aku akan membunuhmu lebih dulu, hik-hik-hik"

Dan nenek itu menyerang lagi, kini lebih dahsyat.

Terpaksa Kim Lan melompat jauh ke belakang untuk menghindarkan diri dari pecutan cambuk dan cengkraman tangan kiri itu.

Gadis ini lalu mengerahkan kekuatan sihirnya mengangkat kedua tangan dan matanya mencorong lalu membentak dengan suara lantang berwibawa.

"Bibi, pandanglah aku. Aku harus kau taati. Nah, cepat berlutut dan tunduklah kepalamu. Hayo, taati perintahku"

Pengaruh yang amat kuat seolah menekan Liu Si.

Ia berusaha melawan akan tetapi akhirnya ia menjatuhkan diri berlutut dan menundukkan mukanya.

Rambutnya yang panjang riap-riapan itu tergantung sampai menyentuh tanah.

"Bagus, sekarang aku juga akan mengobatimu karena kau sakit, bibi. Dan untuk pengobatan itu aku harus mengikat kaki tanganmu"

Kata Kim Lan dan ia menghampiri nenek yang sudah berlutut itu.

Tiba-tiba sekali, nenek itu terkekeh dan tubuhnya yang berlutut itu dan tubuhnya yang berlutut itu bergerak bangkit dengan cepat, cambuk dan rambutnya menyambar ke depan.

Kim Lan terkejut bukan main.

Tidak di sangkanya sama sekali nenek itu dapat membebaskan diri dari pengaruh sihirnya.

Agaknya nenek ini memiliki sin-kang yang sudah kuat sekali sehingga sihirnya hanya sebentar saja dapat mempengaruhinya.

Ujung cambuk dan ujung rambut itu menyambar dengan cepat dan kuat.

Kim Lan tidak sempat lagi mengelak atau menangkis, maka ia menggerakkan kedua tangannya dan dengan jurus Burung Bangau Mematuk Ular kedua tangan itu mencuat ke depan dan ia sudah berhasil menangkap ujung cambuk dengan tangan kirinya dan ujung rambut dengan tangan kanannya.

Liu Si menarik-narik cambuk dan rambutnya akan tetapi Kim Lan mempertahankan.

Selagi mereka tarik itu tiba-tiba Liu Si menggerakkan kedua tangan ke depan, membentuk cakar setan hendak mencengkram dada Kim Lan.

Pada saat yang amat berbahaya bagi Kim Lan itu mendadak muncul Han Sin di belakang Liu Si dan sekali Han Sin menggerakkan jari tangannya menotok, nenek gila itu mengeluh dan roboh terkulai.

"Sudah kukatakan bahwa mereka itu berbahaya sekali, nona Kim Lan"

Kata Han Sin.

"Ah, kau? Terima kasih atas bantuanmu"

Kata Kim Lan lalu mengeluarkan tali sutera hitam dan mengikat pula kedua kaki tangan Liu Si.

"Mengapa kau lakukan itu, nona?"

"Kulakukan apa?"

Balas tanya Kim Lan.

"Mengikat kaki tangan mereka"

"Hemmm, dengan menotok mereka sudah cukup membuat mereka tidak akan memberontak, mengapa harus mengikat mereka?"

Han Sin bertanya pula sambil memandang dengan alis berkerut karena dia tidak setuju dengan cara mengikat mereka itu.

Kim Lan melanjutkan mengikat kaki tangan Liu Si tanpa menjawab.

Setelah selesai, barulah ia bangkit berdiri, memandang Han Sin dengan matanya yang indah lalu berkata dengan tenang "Aku sendiri juga tidak suka harus mengikat kaki tangan mereka, akan tetapi apa boleh buat, terpaksa ku lakukan.

Kalau menotok mereka hal itu akan mengganggu pengobatanku"

Kini kedua orang wanita, ibu dan anak itu sudah menyadari akan keadaan diri mereka yang terikat, maka mereka mulai meraung-raung dengan marahnya.

Kui Ji berteriak-teriak sambil menangis sedangkan Liu Si berteriak-teriak sambil memaki dan mengancam.

"Kasihan mereka"

Kata Han Sin.

"Sengaja ku biarkan mereka berteriak-teriak untuk mengundang datangnya kakek gila itu. Diapun harus di tangkap dan di ikat seperti ini. Setelah itu barulah aku dapat melaksanakan pengobatan tanpa gangguan"

Kata Kim Lan.

"Sebaiknya kalau kita bersembunyi dulu, menanti kedatangannya"

Gadis itu menyelinap ke balik pohon dan terpaksa Han Sin mengikutinya walaupun hatinya masih ragu apakah perbuatan gadis itu benar.

Dia pun bersembunyi di balik pohon, tak jauh dari tempat Kim Lan bersembunyi.

Dia memandang kepada gadis itu.

Ketika Kim Lan menoleh, dua pasang mata bertemu pandang dan agaknya gadis itu dapat melihat keraguan terbayang dalam pandang mata pemuda itu.

Kim Lan tersenyum dan berkata "Bersabarlah, nanti kau akan melihat sendiri caraku ini yang terbaik untuk mengobati mereka"

"Sssshhhh"

Desis Han Sin karena dia sudah mendengar teriakan-teriakan dari jauh.

Teriakan ini makin dekat dan tak lama kemudian muncullah Kui Mo dengan tongkat di tangannya.

Biarpun hatinya merasa tidak puas dengan cara yang dipakai Kim Lan untuk mengobati keluarga gila itu, akan tetapi melihat munculnya Kui Mo, Han Sin menjadi khawatir kalau gadis baju putih itu akan celaka di tangan orang gila yang amat lihai ini.

Karena itu dia mendahului keluar dari persembunyiannya menghadapi Kui Mo.

Kui Mo menggereng marah melihat isterinya dan anaknya dibelenggu, tak berdaya rebah di atas rumput.

Ketika tiba-tiba Han Sin muncul, kemarahannya lalu di timpakan kepada pemuda ini.

"Kau....? Kau telah melarikan diri dan sekarang kau menangkap isteri dan anakku?"

Kau memang pantas di hantam dengan tongkatku"

Dia menerjang dengan gerakan dahsyat sekali kepada Han Sin.

Kim Lan yang bersembunyi dan mengintai itu mengenal serangan yang amat dahsyat dan ia terkejut bukan main.

Tak disangkanya bahwa orang gila itu demikian hebat ilmu silatnya.

Ia mengkhawatirkan keselamatan Han Sin dan siap-siap untuk membantunya.

Akan tetapi dengan cekatan Han Sin sudah mengelak dari serangan dahsyat itu dengan memainkan ilmu silat Lo-hai-kun (Silat Pengacau Lautan).

Dia tidak hanya mengelak, akan tetapi juga membalas dengan serangan untuk merobohkan lawan.

Perkelahian itu berlangsung seru dan nampaknya ilmu silat Lo-hai-kun itu masih belum mampu menandingi ilmu tongkat Kui Mo.

Pemuda itu mulai terdesak oleh hujan serangan tongkat yang dilakukan oleh kakek gila itu.

Selagi Kim Lan merasa khawatir dan hendak turun tangan membantu, tiba-tiba Han Sin mengubah gerakan silatnya.

Ketika tongkat menyambar dan menusuk ke arah ulu hatinya.

Han Sin menangkis dengan dengan gerakan lengan memutar sambil mengeluarkan suara melengking.

"Krraaakk"

Tongkat itu patah-patah dan sebelum kakek itu hilang kagetnya, Han Sin telah berhasil menotok pundaknya, membuat kakek itu terpelanting dan lemas tak mampu bergerak lagi.

Han Sin telah mengeluarkan jurus ilmu silat Bu-tek-cin-keng yang hebat.

Bukan main kagumnya hati Kim Lan melihat betapa Han Sin dapat merobohkan kakek gila itu tanpa melukainya.

Ia sendiri setelah melihat ilmu tongkat kakek itu, merasa tidak sanggup menandinginya.

Segera ia meloncat dan sudah siap dengan tali suteranya yang amat kuat itu dan dibantu oleh Han Sin, ia segera mengikat kaki dan tangan Kui Mo.

Tanpa berkata apapun Kim Lan segera mulai melakukan pemeriksaan kepada tiga orang itu, denyut nadi mereka, pernapasan mereka dan ketika ia menekan tengkuk mereka, tiga orang gila itu mengeluh kesakitan.

"Hemmm, sudah kuduga. Mereka keracunanan. Sobat Cian Han Sin, apakah tempat tinggal mereka masih jauh dari sini?"

Han Sin sejak tadi memandang gadis itu yang melakukan pemeriksaan dan dia merasa kagum sekali.

Begitu tenang dan percaya penuh kepada diri sendiri.

Gadis yang hebat, tentang kepandaiannya mengobati, dia tidak sangsi lagi karena dia sendiri yang mengalami kesembuhan dari pengaruh racun ketika di obati oleh gadis bernama Kim Lan ini.

"Tidak, rumah mereka di lereng sana"

Jawabnya.

"Kalau begitu, bantulah aku mengangkut mereka ke sana. Tidak enak mengobati mereka di tempat terbuka seperti ini"

"Baik, akan ku bawa suami isteri ini dan kau membawa gadis itu"

Kata Han Sin sambil mengangkat tubuh Kui Mo dan Liu Si lalu di panggul di kedua pundaknya.

Kim Lan memandang dengan senang dan sikap Han Sin ini menambah rasa sukanya kepada pemuda yang pandai membawa diri itu.

Kalau Han Sin memilih untuk memanggul Kui Ji, maka kesannya tentu lain.

Ia pun cepat mengangkat tubuh Kui Ji yang lemas dan memanggulnya.

Tiga orang yang tidak waras otaknya itu memaki-maki di sepanjang perjalanan, akan tetapi karena mereka tidak mampu menggerakkan kaki tangan mereka, mereka pun tidak dapat berbuat sesuatu.

Setelah tiba di rumah besar sederhana itu, mereka lalu merebahkan tiga orang gila itu di atas pembaringan.

Han Sin mengeluarkan tiga pembaringan dari dalam kamar dan menjajarkan tiga tempat tidur di ruangan tengah dan di situlah tiga orang itu direbahkan.

Dengan demikian, Kim Lan akan lebih mudah mengobati mereka dalam waktu yang bersamaan.

"Tolong jaga mereka, aku akan mencari air"

Kata Kim Lan.

Han Sin mengangguk dan gadis itu lalu pergi ke bagian belakang rumah itu, mencari dapur karena disana tentu ada persediaan air minum keluarga itu.

Ketika ia memasuki dapur rumah itu, ia mengerutkan alisnya dan hidungnya yang macung itu berkembang kempis karena ia mencium sesuatu yang baunya aneh dan keras.

Kemudian setelah mencari-cari, ia menemukan sumber bau itu, di atas tanah, tumbuh banyak sekali jamur yang warnanya merah darah.

Kim Lan tertarik sekali, lalu berjongkok memeriksa jamur-jamur itu dan ia lalu mengangguk-angguk.

Kini mengertilah ia mengapa keluarga itu menjadi gila.

Gurunya pernah bercerita kepadanya tentang "jamur darah"

Ini, semacam jamur langkah yang mengandung racun.

Racun jamur merah ini dapat membikin orang yang memakannya menjadi mabok dan lama kelamaan menjadi kacau pikirannya.

Akan tetapi menurut gurunya, jamur darah ini rasanya memang lezat sekali.

Kim Lan mencabut sebatang jamur, lalu setelah menemukan tempat air dan membawa air sepanca dan membawa pula sebuah mangkok kosong, ia kembali keruangan tengah "Aku telah menemukan sebab dari kegilaan mereka"

Katanya lembut kepada Han Sin sambil menyerahkan sebatang jamur merah itu.

Han Sin menerima jamur itu dan memeriksanya dengan heran.

Belum pernah dia melihat jamur dengan warna seperti itu.

Merah darah.

"jamur apakah ini?"

Tanyannya sambil memandang kepada gadis itu.

"Namanya jamur darah yang rasanya lezat. Kalau orang membiasakan diri makan jamur ini, lambat laun pikirannya akan menjadi kacau. Akan tetapi mudah-mudahan saja aku akan dapat menyembuhkan mereka"

Kim Lan mengeluarkan sebungkus obat bubuk berwarna kuning, menuang sedikit obat itu ke dalam mangkok lalu mencampurnya dengan air seperampat mangkok.

"Saudara Han, tolong kau minumkan ini kepada kakek itu. Tentu dia akan menolak, akan tetapi buka mulutnya dan tuangkan semua isinya sampai memasuki perutnya"

Han Sin menerima mangkok itu dan menghampiri Kui Mo. Kakek gila ini memandang kepadanya dengan mata melotot "Kau bocah gila, mau apa kau?"

"Paman yang baik, Nona Kim Lan yang budiman ini akan mengobati kau sekeluarga, maka silahkan minum obat ini"

"Tidak, aku tidak sudi. Minum obat. Ha-ha-ha, aku tidak sakit, minumlah sendiri"

Akan tetapi dengan tangan kirinya Han Sin memegang rahang Kui Mo dan memaksanya membuka mulut, lalu dituangkan isi mangkok kedalam mulutnya.

Kui Mo tersedak-sedak dan terbatuk-batuk, akan tetapi semua obat itu tertelan olehnya.

"Ugh-ugh, bocah gila. Kubunuh kau........."

Dia memaki-maki.

Kim Lan lalu memaksa pula Liu Si dan Kui Ji minum obat dari mangkok, Tak lama kemudian, ketiga orang ini sudah terkulai lemas dalam keadaan pingsan atau tertidur.

Kiranya obat yang ia berikan kepada keluarga gila itu adalah semacam obat bius yang kuat sekali.

"Kenapa mereka harus dibikin tidak sadar?"

Han Sin bertanya heran.

"Mereka adalah orang-orang yang pikirannya kacau. Kalau tidak di bius dulu, mereka tentu akan melawan pengobatan itu sendiri. Nah, sekarang tolong kau buka baju kakek itu. Cukup asal kelihatan pundak dan tengkuknya saja"

Kata Kim Lan sambil mempersiapkan jarum-jarum emas dan peraknya.

Han Sin membuka baju atas Kui Mo, menurunkannya sedikit agar pundak dan tengkuknya terbuka, sedangkan Kim Lan menurunkan baju atas Kui Ji dan ibunya, Liu Si.

Setelah itu, dengan hati-hati namun cekatan sekali, Kim Lan mulai menancapkan jarum-jarumnya pada pelipis, atas kepala, tengkuk dan dada mereka.

Sampai habis semua jarumnya di tancapkan di tubuh atas mereka.

Lalu secara bergiliran ia menjepit jarum dengan ibu jari dan telunjuknya, menggetarkan sejenak.

Setelah itu, ia duduk menanti dan hanya memandang kepada tiga orang yang rebah seperti orang tidur itu.

Suasana menjadi hening dan sejak tadi Han Sin mengamati dengan hati kagum.

Gadis itu melakukan penusukan jarum-jarum dengan gerakan yang demikian mantap tanpa ragu sedikitpun dan ini hanya menunjukkan bahwa gadis itu telah mahir sekali dengan cara pengobatan itu.

Setelah melihat gadis itu duduk, tidak bicara apapun dan sama sekali tidak menoleh kepadanya, Han Sin tidak dapat menahan hatinya untuk tenggelam ke dalam keheningan itu.

"Nona Kim Lan, berapa lamakah mereka akan pulas dan apakah pengobatan ini akan dapat menyembuhkan mereka?"

Kim Lan menoleh dan dua pasang mata bertemu pandang.

Pandang mata gadis itu demikian lembut dan bibirnya yang merah basah itu tersenyum penuh kesabaran.

Wajah itu demikian cantik dan agung sehingga untuk kesekian kalinya Han Sin terpesona.

Akan tetapi wajah seperti itu tidak menimbulkan gairah rangsangan birahi, melainkan membuat orang tunduk dan menaruh hormat.

"Obat bius yang mereka minum tadi kuat sekali dan sebelum tiga jam, mereka tidak akan sadar. Sementara itu, penusukan jarum-jarum ini akan membuka jalan darah mereka. Dalam obat bius tadi juga terdapat obat penawar racun yang kuat. Melihat bahwa mereka telah memiliki sin-kang yang kuat, maka sekali mereka dapat sadar kembali, dengan sin-kang mereka itu mereka akan dapat mengusir pengaruh racun itu dari tubuh mereka.

"Dan mereka akan sembuh?"

"Kalau Tuhan menghendaki"

Jawaban ini membuat Han Sin tertegun. Gadis ini pandai sekali akan tetapi ia rendah hati dan bersandar kepada Tuhan.

"Apa maksudmu mengatakan kalau Tuhan menghendaki?"

Han Sin sengaja memancing.

"Kalau Tuhan menghendaki, tidak ada penyakit yang tidak dapat disembuhkan, akan tetapi kalau Tuhan menghendaki pula, tidak ada obat yang dapat menyembuhkan suatu penyakit. Semua bergantung kepadanya"

Mendengar pendapat yang sama dengan yang selama ini dia pelajari dari gurunya, Han Sin menjadi semakin tertarik "Nona Kim Lan, bukankah obat-obat untuk menyembuhkan penyakit itu ditemukan oleh manusia dan penyembuhan juga dilakukan oleh manusia menggunakan obat-obat tertentu?"

"Benar, memang manusia berkewajiban untuk berusaha menjaga kesehatannya dan menyembuhkan penyakit. Akan tetapi keputusan terakhir berada di tangan Tuhan dan manusia tidak mungkin dapat mengubah keputusan itu. Semua usaha dan sepak terjang manusia, baru akan menghasilkan suatu kebaikan kalau di dukung dan di bimbing kekuasaan Tuhan"

"Aih, Nona Kim Lan. Kau bicara seperti seorang pendeta saja"

Kata Han Sin kagum.

Kim Lan tersenyum "kehidupan adalah pengalaman setiap orang manusia, apakah untuk mengenalnya kita harus lebih dulu menjadi pendeta?

Saudara Cian Han Sin, setiap orang sepatutnya menyadari akan kekuasaan Tuhan yang berada di dalam dan diluar dirinya, yang menguasai dan mengatur segala yang nampak"

Kalau wajah dan sikap gadis itu sudah mendatangkan kekagumannya, kini ucapan gadis itu membuat Han Sin menghormatinya. Dia bangkit dari kursinya dan memberi hormat.

"Pandangan hidup yang diucapkan nona sungguh tepat dan menganggumkan, aku menaruh hormat yang mendalam"

Kim Lan masih tersenyum "Sudahlah, saudara Han, kau sendiri seorang pendekar yang gagah perkasa dan budiman, tentu sudah mengetahui akan semua itu.

Kau pandai dan lihai akan tetapi rendah hati.

Akupun kagum padamu.

Nah, sekarang kita harus bersiap-siap untuk meninggalkan mereka"

"Meninggalkan mereka?"

Tanya Han Sin heran.

"Tentu saja. Apakah kau ingin melihat mereka terbangun dalam keadaan sadar bahwa mereka berpakaian aneh-aneh dan bersikap tidak wajar? Mereka tentu akan merasa malu sekali. Aku akan meninggalkan surat untuk menjelaskan semua keadaan mereka agar mereka tidak menjadi bingung. Sementara itu, harap kau suka pergi ke dapur dan mencabuti dan membuang jauh-jauh semua jamur darah itu"

Han Sin mengerti apa yang dimaksudkan gadis itu dan diapun mengangguk "Baik, akan ku basmi semua jamur berbahaya itu"

Han Sin pergi ke belakang dan mudah saja baginya untuk menemukan jamur yang tumbuh di sudut belakang dapur itu.

Dicabutinya semua jamur merah itu, dimasukkan dalam sebuah keranjang besar yang terdapat di situ.

Setelah semua jamur habis dia cabuti, dia lalu membawa keranjang itu keluar melalui pintu dapur dan membuangnya ke dalam jurang yang dalam, kemudian dia kembali ke ruangan tengah dimana Kim Lan baru saja selesai menulis sehelai surat.

Surat itu ia letakkan di atas meja dan dari tempat dia berdiri Han Sin dapat melihat betapa indahnya coretan tulisan tangan gadis itu.

Mereka lalu melepaskan semua ikatan tiga orang itu.

"Nah, sekarang kita harus pergi. Kalau kita berada di sini sewaktu mereka terbangun dalam keadaan sadar, hal ini tentu akan membuat mereka malu sekali dan mungkin akan membuat mereka menjadi bingung, bahkan marah. Dari sini, kita harus berpisah, saudara Han Sin"

"Berpisah?"

Han Sin tertegun "Mengapa harus berpisah, nona?"

"Tentu saja, kita harus melanjutkan perjalanan kita masing-masing"

Han Sin tersenyum "Aih, nona mengapa kita harus berpisah. Kita dapat melakukan perjalanan bersama. Aku masih ingin bersamamu lebih lama lagi, ingin lebih mengenalmu"

Rasa kagumnya itu jelas nampak dalam pandang matanya.

Kim Lan menundukkan mukanya "Tidak baik bagi kita untuk melakukan perjalanan bersama, saudara Han Sin dan kau tentu mengetahui itu.

Seorang gadis melakukan perjalanan bersama seorang pemuda, bagaimanakah akan anggapan orang terhadap kita?

Pula kita memiliki tugas kita masing-masing.

Kau seorang pendekar, tentu akan selalu berusaha membela kebenaran dan keadilan, membela yang tertindas dan menentang yang jahat.

Sedangkan aku sebagai seorang yang mengerti akan ilmu pengobatan, aku akan berusaha menolong dan mengobati orang-orang yang menderita sakit"

Tiba-tiba Han Sin teringat akan tugasnya mencari Pedang Naga Hitam dan mencari pembunuh ayahnya di utara.

Dia menghela napas panjang dan berkata "Baiklah, kalau begitu nona.

Akan tetapi tugasku mengharuskan aku pergi ke daerah Shansi di utara, kalau kebetulan kau juga menuju ke sana, apa salahnya kita melakukan perjalanan berdua?

Dengan demikian, maka kita dapat saling membantu dan tentu akan lebih aman.

Adapun mengenai pendapat orang, hal ini tidaklah penting.

Yang penting kita menyadari sepenuhnya bahwa kita tidak melakukan sesuatu yang tidak pantas"

"Aku tidak sedang menuju ke utara, melainkan ke timur. Jalan kita bersimpang, saudara Han Sin. Karena itu selamat berpisah, kita harus cepat pergi sebelum mereka sadar"

Gadis itu sudah mengambil buntalan pakaiannya, lalu melangkah ke pintu.

"Nanti dulu nona. Ada satu hal lagi, sebuah permintaan dan kuharap kau suka memenuhi permintaanku ini"

"Permintaan apa? Kalau hal itu pantas dan dapat kulakukan, tentu aku tidak keberatan untuk memenuhinya"

"Aku minta agar kita berdua menjadi sahabat. Maukah kau menerimaku sebagai seorang sahabat?"

Kim Lan tersenyum manis "Kita sudah bekerjsama dan sudah menjadi sahabat, bukan?"

"Jadi kau menganggap aku seorang sahabatmu?"

"Tentu saja"

"Kalau begitu, mengapa kita masih bersungkan-sungkan satu sama lain? Bagaimana kalau kita saling menyebut kakak dan adik? Setujukah kau?"

"Tentu saja aku setuju"

"Bagus. Nah, mulai sekarang aku akan menyebutmu Lan-moi"

"Dan aku menyebutmu, Sin-ko"

Han Sin tertawa gembira"

Selamat berpisah, Lan-moi, selamat jalan dan sampai bertemu kembali "Dia mengangkat kedua tangan depan dada.

"Selamat jalan dan selamat berpisah, Sin-ko"

Kata gadis itu dan cepat sekali ia berkelebat keluar dari rumah itu.

Han Sin juga mengambil buntalan pakaiannya, akan tetapi sebelum keluar dari rumah itu, die tertarik melihat tulisan yang indah dari Kim Lan, maka diapun membawa surat yang ditinggalkan Kim Lan untuk keluarga itu.

"Salam bahagia, Kami mendapatkan kenyataan bahwa kalian bertiga keracunan hebat oleh jamur darah yang mebuat kalian kehilangan akal dan bersikap tidak wajar. Kami telah membasmi jamur darah itu dari dapur dan mengobati kalian, mudah-mudahan pengobatan kami dapat menyembuhkan kalian. Kalau kalian sembuh, tidak usah mencari kami dan berterima kasihlah kepada Tuhan Yang Maha Pengasih. Demikian bunyi tulisan itu, tanpa disebutkan nama penulisnya. Han Sin tersenyum. Kalau keluarga itu nanti sadar dan sudah waras kembali, tentu mereka bingung dan heran sekali keadaan pakaian dan tempat tinggal mereka. Dan dengan membaca surat itu mereka akan menyadari apa yang telah terjadi dengan mereka. Kim Lan memang cerdik, dan rendah hati. Kiranya sukar menemukan seorang gadis seperti Kim Lan. Sayang, gadis itu telah meninggalkannya. Dia ingin sekali mengetahui asal usul gadis itu, mendengar tentang riwayat hidupnya, dan siapa pula gurunya. Han Sin melihat Kui Mo mulai menggerakkan tubuhnya dan cepat dia melompat keluar ruangan dan rumah itu dan menggunakan ilmu berlari cepat untuk menuruni bukit itu menuju ke utara. Sementara itu, Kui Mo yang lebih dulu sadar dari pembiusan itu. Karena memang dia memiliki sin-kang paling kuat diantara mereka bertiga. Dia mengeluh lirih, menguap dan bangkit duduk, menggosok kedua matanya seperti orang baru bangun dari tidurnya. Pertama-tama yang terlihat olehnya adalah pakaiannya. Dia meloncat turun dari pembaringan sambil memeriksa seluruh pakaiannya. Dia terheran-heran.

"Kenapa aku memakai pakaian seperti ini?"

Gerutunya dan dia kini memandang sekeliling.

Dilihatnya Liu Si dan Kui Ji terlentang diatas pembaringan masih-masing.

Dia terkejut dan sekali bergerak dia sudah mendekati pembaringan mereka.

Dia menotok beberapa jalan darah di tengkuk isterinya dan totokan itu membantu Liu Si memperoleh kesadarannya kembali.

Wanita itupun bangkir duduk, memandang kepada Kui Mo dengan mata terbelalak.

"Kau...?"

Kemudian ia menundingkan telunjuknya ke arah tubuh suaminya "Kenapa engaku memakai pakaian seperti itu?"

Kui Mo menjawab "Lihat pakaianmu sendiri itu"

Ketika Liu Si melihat pakaiannya ,ia pun meloncat turun dari atas pembaringan "Apa yang telah terjadi? Bagaimana ini? Dan dimana anak kita?"

"Ia rebah di sana"

Kata suaminya dan mereka berdua menghampiri gadis yang masih tidur itu.

Mereka lalu menotok jalan darah Kui Ji dan menyadarkannya.

Seperti ayah ibunya, Kui Ji juga terheran-heran melihat pakaian mereka.

"Ayah, Ibu. Apa yang terjadi? Kita ini berada dimana dan rumah siapa ini? Pakaian kita ini.... ahhh....."

"Tenanglah, Kui Ji, sesuatu yang hebat telah terjadi pada kita"

Kata Kui Mo. Kui Ji menghampiri meja dan hendak duduk, akan tetapi ia melihat sehelai surat itu dan bereru "Ayah, Ibu, ini ada sehelai surat"

Mereka bertiga lalu membacanya, dan setelah membaca, ketiganya duduk di kursi menghadapi meja itu dengan bengong.

Kita keracunan jamur darah?

Kehilangan akan dan bersikap tidak wajar?

Apa yang dimaksudkan penulis surat ini?

Apakah kita telah menjadi gila?"

Kui Mo berkata penasaran.

"Hemmm, melihat pakaian kita ini, memang pantas kalau kita di anggap gila. Akan tetapi, apa yang terjadi sesungguhnya? Seingatku, ketika kita melarikan diri dari selatan, setelah Kerajaan Sung di taklukan Kerajaan Sui, kita menyamar sebagai pengungsi dan berpindah-pindah tempat agar jangan di kenal orang. Dan yang terakhir sekali...... rasanya kita tinggal dalam sebuah guha, di sebuah diantara puncak-puncak Hoa-San, bahkan tidak jauh dari perkumpulan Hwa-li-san yang terdiri dari wanita-wanita gagah "

Kata Liu Si mengingat-ingat.

"Ah, samar-samar aku ingat sekarang"

Kata Kui Ji sambil memejamkan matanya, mengingat-ingat"

Disekitar puncak bukit itu pemandangannya amat indah, banyak sekali kembang beraneka warna. Kita semua merasa senang tinggal di situ"

"Benar, akupun ingat sekarang. Kita memilih tempat itu untuk menjadi tempat tinggal dan kita menebangi pohon dan bambu untuk membuat rumah ini. Ya, aku ingat. Dan ketika kita membangun rumah, kita menemukan jamur kemerahan yang sedap baunya. Kita mencoba untuk memasaknya dan ternyata rasanya gurih dan lezat seperti daging ayam. Ya, kita setiap hari memasak jamur merah itu......"

Kata Kui Mo.

"Agaknya itulah jamur merah yang dimaksudkan penulis surat ini"

Sambung isterinya.

"Dan akibatnya kita kehilangan akal, kehilangan kesadaran dan hidup seperti orang-orang yang tidak waras pikirannya. Kita menjadi seperti orang -orang gila"

Kata Kui Mo "Ya, Tuhan. Apa saja yang kita lakukan ketika kita dalam keadaan seperti itu?"

"Aku tidak ingat lagi, sama sekali tidak ingat"

Kata isterinya.

"Aku juga tidak ingat ayah"

Kata Kui Ji. Kui Mo menghela napas panjang dan melihat rambutnya yang riap-riapan.

"Aihhh, sungguh mengerikan. Juga rambutmu itu, dan rambut Kui Ji.... ah, kita hidup seperti binatang buas. Entah, sudah berapa bulan atau berapa tahun kita hidup seperti itu "

"Ayah, seingatku kita menyimpan banyak pakaian ketika kita tiba di guha itu"

"Kau benar. Mari kita cari guha itu, agaknya tidak jauh dari sini"

Mereka bertiga keluar dari rumah itu dan segera mengenal tempat itu yang di tumbuhi banyak pohon dan kembang.

Setelah mereka ingat, mudah saja mereka dapat menemukan guha itu dan ternyata di dalam guha itu mereka dapat menemukan pakaian mereka dalam keadaan masih utuh.

Juga sekantung emas dan perak yang dahulu menjadi bekal mereka ketika mengungsi ke utara.

Kui Mo ini sebetulnya bernama Ouw Yung Mo, seorang bangsawan Kerajaan Sun di selatan yang telah di tundukkan oleh Kaisar Yang Chien.

Dia adalah putera dari Kok-su (Penasehat Negara) Ouw Yang Kok-su dari Kerajaan Sun.

Dia telah mewarisi semua ilmu silat yang tinggi dari ayahnya.

Ketika Kerajaan Sun di serbu pasukan Sui dan dikalahkan, Ouyang Mo mengajak isterinya dan puterinya untuk melarikan diri.

Karena dia khawatir kalau-kalau dia dia di kenal sebagai putera Ouwyang Kok-su, maka dia mengubah nama marganya menjadi Kui.

Setelah meninggalkan daerah Sun, dia berpindah-pindah dan akhirnya tiba di Hwa-san.

Sungguh sial nasib keluarganya, di sini mereka menemukan jamur darah dan memasaknya, memakannya setiap hari sehingga ketiganya menjadi seperti orang gila dan hidup seperti itu selama hampir dua tahun.

Setelah di obati oleh Kim Lan mereka sembuh kembali, akan tetapi mereka tidak ingat lagi apa yang mereka lakukan selama mereka berada dalam keadaan sinting itu.

Hal ini menguntungkan bagi mereka, karena kalau mereka ingat akan semua sepak terjang mereka selama mereka sinting, tentu mereka akan merasa malu.

Terutama Kui Ji yang memaksa Han Sin menjadi suaminya.

Padahal, ia adalah seorang gadis yang terpelajar, seperti gadis-gadis bangsawan pada umumnya.

Setelah bertukar pakaian, dengan pakaian mereka yang biasa, yaitu pakaian rakyat biasa, bukan pakaian bangsawan, mereka membawa semua barang itu ke dalam rumah besar sederhana itu dan mereka bertiga duduk di kursi menghadapi meja untuk membicarakan keadaan mereka.

"Sekarang jelaslah sudah"

Kata Kui Mo atau Ouwyang Mo"

Kita kehilangan akal setelah makan jamur darah, agaknya dalam keadaan sinting itu kita melanjutkan bangunan ini.

Kita sudah lupa akan guha tempat tinggal kita dimana kita meninggalkan barang-barang itu"

"Akan tetapi, bagaimana kita tahu"tahu memakai baju berkembang-kembang yang potongannya aneh itu?"

Tanya Kui Ji. Setelah kini membersihkan diri dan menggelung rambutnya gadis ini nampak cantik sekali.

"Agaknya begini"

Kata ibunya "Diluar terdapat banyak sekali bunga yang indah-indah dan agaknya pemandangan itu amat mempengaruhi batin kita yang kacau.

Dengan ilmu kepandaian kita, tidak sukar bagi kita untuk mendapatkan kain berkembang-kembang yang kita ambil dari toko kain di dusun atau kota kaki pegunungan ini dan dalam keadaan sinting itu tentu saja kita membuat pakaian asal jadi saja"

"Jadi kita telah melakukan pencurian, ibu?"

Tanya Kui Ji sambil memandang kepada ibunya dengan mata terbelalak. Sukar ia membayangkan pergi bersama ayah ibunya untuk mencuri kain bahan pakaian.

"Kalaupun kita melakukannya, hal ini kita lakukan diluar kesadaran kita selagi kita dalam keadaan sinting karena pengaruh jamur darah"

Ayah menghibur "akan tetapi yang membuat hatiku penasaran, siapakah penulis surat ini yang telah mengobati kita sampai sembuh?

Aku ingin sekali dapat bertemu untuk menghaturkan terima kasih.

Liu Si mengambil surat itu dari meja dan mengamati tulisan itu.

Hemmm, tidak salah lagi, penulisnya tentulah seorang wanita, begini lembut dan rapi"

"Ayah, orang yang mampu mengobati kita tentulah seorang yang memiliki ilmu pengobatan yang tinggi. Apakah ayah tidak dapat menduga siapa orang yang memiliki kepandaian seperti itu?"

Kui Mo menghela napas panjang "Memang, yang mampu mengobati kita tentu orang yang bukan saja memiliki ilmu pengobatan tinggi, akan tetapi juga ilmu silat yang tinggi.

Lihat saja, dipembaringan kita masih terdapat tali"tali sutera agaknya ketika di obati, orang itu menangkap kita lebih dulu dengan kepandaian silatnya.

Kalau tidak, mana mungkin kita yang sedang sinitng mau dia obati?

Dan seingatku orang yang memiliki ilmu pengobatan dan ilmu silat tinggi tidaklah banyak.

Pernah di utara dunia kang-ouw mengenal seorang hwe-sio yang aneh dan dia memiliki ilmu pengobatan dan ilmu silat yang tinggi, nama julukannya Siauw-bin Yok-sian (Dewa Obat Muka Tertawa).

"Akan tetapi tidak mungkin surat ini di tulis oleh tangan seorang pria"

Liu si membantah.

"Itulah yang membingungkan. Mungkin yang menolong kita tidak hanya satu orang karena betapapun lihainya Siauw-bin Yok-sian, bagaimana mungkin dia mampu menangkap kita bertiga sekaligus?"

Tiga orang itu termenung dan tiba-tiba Kui Ji berseru "Ah, ayah dan ibu.

Kenapa kita tidak menanyakan kepada Hwa-li-pang?

Yang paling dekat dengan tempat ini dan merupakan pusat perkumpulan orang gagah hanyalah Hwa-li-pang.

Sangat boleh jadi mereka mengetahui siapa penolong kita"

Kui Mo bangkit berdiri dan bertepuk tangan "Ah, benar juga.

Kenapa aku melupakan hal itu?

Andaikata mereka tidak mengetahuipun, mungkin orang yang menolong kita itu singgah di sana.

Mari kita pergi berkunjung ke Hwa-li-pang"

Demikian lah, keluarga itu berlari cepat meninggalkan tempat itu dan menuju ke Hwa-li-pang yang berada di lereng bukit depan.

Kini mereka sama sekali berubah.

Tidak lagi mengenakan pakaian menyolok berkembang-kembang, tidak lagi bersikap liar, bahwa Kui Mo dan Liu Si masih belum dapat meninggalkan sama sekali sikap mereka yang berwibawa sebagai orang bangsawan.

*** Pek Mau To Kouw merasa lega dan girang sekali ketika keluarga gila itu meninggalkan Hwa-li-pang.

Akan tetapi ada sesuatu yang menjadi ganjalan di hatinya, yang membuatnya kecewa, yaitu perginya Kim Lan gadis berpakaian putih itu dari Hwa-li-pang dengan tiba-tiba.

Gadis itulah yang telah menolong Hwa-li-pang terbebas dari kekuasaan keluarga gila yang pergi dengan kemauan mereka sendiri sehingga tidak marah kepada Hwa-li-pang.

Siasat yang dilakukan gadis itu berhasil dengan baik dan Pek Mau To Kouw merasa kagum sekali kepada gadis itu.

Ia ingin mengenalnya lebih dekat, bertanya siapa guru gadis yang lemah lembut dan cerdik itu.

Akan tetapi sayang sekali, setelah keluarga gila itu pergi tanpa pamit, gadis itupun lolos tidak diketahui kemana perginya.

Akan tetapi hal ini bahkan menambah kekagumannya.

Lolosnya gadis itu secara diam-diam setelah usaha pertolongannya terhadap Hwa-li-pang berhasil menunjukkan bahwa gadis itu tidak ingin di puji-puji.

Perbuatannya yang menolong itu sama sekali tanpa pamrih.

Beberpa hari kemudian, selagi Pak Mau To Kouw duduk di ruangan dalam, dua orang anggota Hwa-li-pang tergopoh-gopoh datang menghadapnya.

"Hemmm, tenangkan hati kalian, apa yang terjadi maka kalian bingung dan takut?"

"Celaka pang-cu, mereka datang lagi"

Kata seorang diantara mereka. Pek Mau To Kouw memandang kepada mereka penuh selidik "Mereka siapa?"

Tanyanya, sikapnya masih tenang.

"Mereka.... keluarga gila itu, pang-cu. Mereka datang lagi dan mencari pang-cu"

Wajah Pek Mau To Kouw berubah dan alisnya berkerut "Hemmmm, mereka datang lagi?

Jangan gugup, cepat beritahu semua anggota Hwa-li-pang agar bersiap-siap.

Kita tidak dapat mengalah terus.

Sekali ini aku terpaksa melawan dengan mengerahkan seluruh anggota Hwa-li-pang.

Cepat laksanakan perintahku"

"Baik, pang-cu"

Dua orang anggota itu cepat pergi dan Pek Mau To Kouw sendiri membawa kebutannya yang berbulu merah, segera keluar untuk menyambut keluarga gila itu.

Ia melihat para anggota dalam keadaan panik dan ketakutan.

Ketika tiba di depan rumah induk, ia melihat mereka bertiga sudah berdiri di sana.

Pek Mau To Kouw tertegun, keheranan.

Akan tetapi ia terus menghampiri mereka dan kini ia sudah berhadapan dengan mereka.

Tiga orang itu segera mengangkat kedua tangan ke depan dada memberi hormat dan Kui Mo bertanya dengan suara dan sikap menghormat.

"Apakah toa-nio yang menjadi pang-cu dari Hwa-li-pang?"

Pek Mau To Kouw tentu saja merasa terkejut dan heran bukan main. Cepat-cepat ia membalas penghormatan mereka dan mendengar pertanyaan itu ia berkata"

Siancai.... saya memang pang-cu dari dari Hwa-li-pang. Dan sam-wi (anda bertiga) ini... siapakah?"

Ia sengaja melayani, sikap mereka yang seolah tidak mengenalnya.

Padahal ia tentu saja segera mengenal tiga orang itu sebagai keluarga gila walaupun kini pakaian mereka tidak aneh-aneh dan rambut mereka juga disisir rapi.

Kui Mo menjawab"

Saya bernama Kui Mo, isteri saya ini bernama Liu Si dan ini puteri kami Kui Ji"

Pek Mau To Kouw benar-benar tertegun keheranan. Bagaimana mungkin dalam waktu beberapa hari saja tiga orang keluarga gila ini tiba-tiba menjadi sembuh dan pulih seperti orang-orang biasa?.

"Keperluan apakah yang membawa Kui-sicu bertiga berkunjung ke tempat kami?"

Tanya to-kouw itu.

"Kami sengaja berkunjung untuk minta tolong kepada pang-cu agar dapat memberitahu kepada kami tenatang orang yang telah menolong keluarga kami"

Kini yakinlah hati Pek Mau To Kouw bahwa tiga orang ini memang benar keluarga gila yang agaknya telah sembuh dari kegilaan mereka dan tidak ingat lagi apa yang telah mereka lakukan selama mereka gila.

Ia melihat para anggota Hwa-li-pang sudah berkerumun di situ, siap dengan senjata mereka untuk mengeroyok keluarga gila itu.

Ia merasa tidak enak dan memberi isyarat dengan tangan agar mereka itu mengundurkan diri, kemudian ia berkata dengan sikap ramah kepada Kui Mo.

"Kui-sicu bertiga, sebaiknya kalau hendak membicarakan sesuatu, kita bicara di dalam saja. Silahkan, harap sam-wi suka masuk dan bicara di dalam ruangan tamu"

"Terima kasih"

Kata tiga orang tamu itu yang melangkah mengikuti to-kouw itu memasuki sebuah ruangan dan di sana mereka dipersilahkan duduk. Seorang anggota Hwa-li-pang segera datang membawa hidangan minuman teh.

"Nah, sekarang dapat sicu ceritakan, bantuan apa yang kiranya dapat kami berikan"

Kata Pek Mau To Kouw ramah.

"Kami mencari seorang pendekar kang-ouw yang pandai dalam ilmu pengobatan. Barangkali dia singgah ke sini atau pang-cu mengenalnya. Terus terang saja kami sekeluarga tadinya berada dalam keadaan sakit parah sekali. Kami telah di tolong oleh pendekar itu, diobati sampai sembuh kemudian dia pergi dan kami bertiga sudah tidak ingat lagi siapa dia. Maklumlah bahwa tadinya kami sakit yang mebuat kami tidak ingat apa-apa lagi. Pek Mau To Kouw mengangguk-angguk, mengerti dan dapat menduga apa yang telah terjadi "Siancai...... apakah sam-wi sama sekali lupa apa yang terjadi sebelumnya? Lupa apa yang telah sam-wi lakukan selama ini?"

Liu Si yang menjawab "Kalau kami ingat, tentu tidak akan bertanya kepada pang-cu. Kami tidak ingat apa-apa lagi, seolah baru sadar dari tidur"

"Kalau begitu, saya hendak menceritakan apa yang telah terjadi di sini, akan tetapi saya harap sam-wi tidak akan menjadi tersinggung"

Tiga orang itu memandang kepada Pak Mau To Kouw dengan mata bersinar penuh harapan. Justru mereka hendak mengetahui apa yang terjadi sewaktu mereka seperti orang-orang gila itu.

"Ceritakanlah pang-cu. Kami berjanji tidak akan tersinggung, bahkan berterima kasih sekali"

Kata Kui Mo.

Melihat sikap mereka, Pek Mau To Kouw tidak ragu-ragu lagi untuk bercerita.

Beberapa hari yang lalu, sam-wi sudah datang ke tempat kami ini, akan tetapi keadaan sam-wi tidak seperti sekarang, Sam-wi mengenakan pakaian kembang-kembang, rambut sam-wi awut-awutan dan sikap sam-wi menakutkan"

Pekl Mau To kouw berhenti dan mengamati wajah mereka bertiga.

"Penampilan kami menunjukkan bahwa kami bertiga berada dalam keadaan gila, bukan? Hal itu telah kami ketahui, pang-cu. Harap lanjutkan cerita pang-cu karena kami sama sekali tidak ingat lagi bahwa kami pernah datang ke tempat ini"

Kata Kui Mo. Pek Mau To kouw mengangguk "Sam-wi bertiga datang ke sini tidak hanya bertiga, akan tetapi bersama seorang pemuda yang menjadi tawanan sam-wi"

"Eehhh??? kami menawan seorang pemuda?"

Seru Liu Si terheran-heran.

"Dan apa maksud kami datang ke sini?"

Tanya Kui Mo.

"Sebelumnya harap sam-wi maafkan kalau saya berkata terus terang menceritakan keadaan yang sebenarnya terjadi. Sam-wi memaksa kami untuk meminjamkan tempat kami di sini untuk merayakan pernikahan dan mengundang orang-orang kang-ouw untuk menghadiri pesta pernikahan itu"

"Pernikahan? Pernikahan siapa, pang-cu?"

Kini Kui Ji yang sejak tadi hanya mendengarkan, bertanya heran. Pek Mau Tokouw tersenyum memandang gadis cantik itu "ayah ibumu akan menikahkan kau dengan pemuda tawanan itu nona"

"Ahhh"

Tiga orang itu berseru dan muka si gadis menjadi merah sekali "Lalu bagaimana, pang-cu, cepat ceritakan"

Seru Liu Si tidak sabar.

"Permintaan yang aneh itu tentu saja kami tolak, akan tetapi sam-wi memaksa sehingga terjadi perkelahian dan kami tidak mampu menandingi kelihaian sam-wi. Terpaksa kami, menyerah dan sam-wi lalu tinggal di sini, menggunakan tiga buah kamar. Satu untuk Kui-sicu dan isterinya, kedua untuk nona, dan ketiga, yang berada di tengah untuk pemuda tawanan itu. Kami terpaksa menuruti semua permintaan sam-wi"

Ayah ibu dan anak itu saling pandang dengan terkejut dan heran.

Mereka sama sekali tidak ingat lagi akan semua itu "Tapi....

apakah kami dalam keadaan gila itu melakukan pembunuhan atau lain kejahatan lagi, pang-cu?

Tanya Kui Mo dan suaranya mengandung kekhawatiran.

Pek Mau To Kouw menggeleng kepalanya "Sama sekali tidak.

Justeru karena sam-wi merobohkan kami tanpa melukai kami yakin bahwa sam-wi bukan orang-orang jahat, hanya sedang terganggu pikirannya.

Peristiwa perkelahian itu di saksikan oleh para tamu yang sedang berkunjung ke kuil kami dan diantara mereka terdapat seorang gadis berpakaian serba putih.

Gadis inilah yang mengatur siasat untuk membebaskan pemuda itu dari tawanan sam-wi dan ketika melaksanakan usaha itu ia dibantu oleh seorang pengemis muda.

Mereka berdua berhasil membebaskan pemuda itu dari pengawasan sam-wi dan agaknya karena melihat pemuda yang akan dinikahkan itu tidak ada lagi, sam-wi lalu pergi dari sini tanpa pamit lagi.

Nah, demikianlah peristiwa itu dan sekarang, tiga hari kemudian, sam-wi muncul dalam keadaan yang berbeda sama sekali.

Sungguh membuat kami merasa heran bukan main akan tetapi juga bersyukur bahwa sam-wi telah dapat sembuh dari penyakit itu"

"Gadis baju putih?"

Tiga orang itu berseru dan kembali saling pandang.

"Tentu ia yang menulis surat itu"

Kata Kui Mo "Pang-cu, apakah gadis berpakaian putih itu seorang ahli pengobatan?"

"Kami rasa begitu, karena ia mengatakan bahwa pemuda tawanan itu keracunan dan ia hendak mengobatinya"

"Menurut nona itu, pemuda yang sam-wi tawan itu keracunan yang membuat pemuda itu menjadi lemah dan tidak dapat meloloskan diri"

"Dan pengemis muda?"

Tanya Kui Ji "Apakah yang dia lakukan untuk membantu pemuda itu lolos?"

"Dia agaknya pandai ilmu silat. Dialah yang memancing agar sam-wi keluar menandinginya sehingga gadis baju putih itu mendapatkan kesempatan untuk membawa pemuda itu melarikan diri. Tiga orang itu saling pandang dan tentu saja merasa terpukul sekali. Sama sekali tidak mereka ingat lagi betapa dalam keadaan gila itu mereka hendak memaksa seorang pemuda untuk menjadi suami Kui Ji.

"Pang-cu, siapakah nama gadis berpakaian putih itu dan dimana tempat tinggalnya? Kami harus bertemu dengannya dan menghaturkan terima kasih kami"

Kata Kui Mo.

"Ia hanya memberitahu bahwa namanya Kim Lan, akan tetapi kami tidak tahu dimana tempat tinggalnya. Ia bukan orang daerah sini, dan hanya kebetulan lewat. Setelah berhasil meloloskan pemuda itu diapun segera pergi dengan tiba-tiba sehingga saya sendiripun merasa menyesal tidak mengenalnya lebih baik.

"Dan pemuda yang menjadi.... tawanan kami itu......, siapa pula namanya dan dimana tinggalnya?"

Tanya Liu Si. Pek Mau To Kouw menggeleng kepala "Maaf, kami tidak tahu dan tidak sempat bicara dengan dia"

"Siapa pula pengemis muda itu, pang-cu? Siapa namanya dan dimana dia?"

Kui Ji bertanya "Kalau kami dapat menemukan dia, mungkin dia dapat menjelaskan dimana adanya gadis berpakaian putih itu"

Pek Mau To-kouw juga menggeleng kepalanya "Kami tidak pernah dapat berkenalan dengan dia.

Tadinya kami juga mengira bahwa dia seorang pengemis biasa yang masih amat muda.

Baru kami tahu bahwa dia lihai ketika dia membantu usaha membebaskan pemuda tawanan itu"

Tentu saja tiga orang itu menjadi kecewa sekali.

Mereka hanya dapat mengetahui bahwa nama penolong mereka adalah Kim Lan, akan tetapi kemana mereka harus mencarinya?.

Kui Mo menghela napas panjang.

Ketua Hwa-li-pang itu telah memberikan keterangan yang sudah cukup jelas yang membuka tabir yang menyelimuti ingatan mereka.

Dia merasa menyesal sekali bahwa dia sekeluarga telah melakukan hal-hal yang tidak pantas selama mereka keracunan jamur darah.

"Pang-cu, kami sekeluarga mohon maaf sebesarnya bahwa kami telah membikin kacau di Hwa-li-pang"

Katanya sambil bangkit berdiri dan memberi hormat, di ikuti isteri dan anaknya. Ketua Hwa-li-pang itu cepat bangkit dan membalas penghormatan mereka.

"Aih, sam-wi sama sekali tidak bersalah. Semua itu sam-wi lakukan di luar penghormatan mereka. Kui Mo bertiga lalu berpamit. Mereka di antar oleh Pek Mau To Kouw sendiri sampai diluar pagar daerah Hwa-li-pang. Setelah para tamu itu pergi, baru Pek Mau To Kouw memanggil para pembantunya dan menceritakan perihal keluarga Kui yang tadinya gila akan tetapi kini telah sehat kembali itu. Ia memberitahukan bahwa keluarga Kui adalah keluarga yang baik dan agar kalau para anak buahnya bertemu mereka, bersikap hormat. Kini Pek Mau To Kouw merasa lebih menyesal lagi mengapa ia tidak sempat berkenalan lebih lanjut dengan Kim Lan dan menanyakan tempat tinggalnya. *** Han Sin melakukan perjalanan menuju ke utara. Setelah berpisah dari Kim Lan, entah mengapa dia merasa kehilangan semangat dan ketika melanjutkan perjalanan meninggalkan rumah keluarga gila itu dia melangkah perlahan. Tidak menggunakan ilmu berlari cepat. Dia merasa kehilangan dan merasa betapa sepinya hidup ini. Merasa sebatang kara di dunia ini dan timbullah rasa rindu kepada ibunya. Akan tetapi dia menekan perasaan hatinya yang ingin pulang. Tidak, ia belum menunaikan tugasnya. Bagaimana dia dapat pulang tanpa membawa pedang pusaka milik ayahnya dan tanpa berhasil membalas kematian ayahnya. Akan tetapi, pemandangan indah yang nampak ketika dia menuruni pegunungan Hwa-san menghibur hatinya. Nampak pemandangan di bawah gunung amatlah indahnya. Sawah ladang terhampar luas di bawah dan genteng rumah-rumah dusun berkelompok di sana sini kelihatan kemerahan. Wataknya yang memang periang itu segera timbul kembali dan dia sudah melupakan kerisauan hatinya. Dunia terbentang luas di depan kakinya. Langkahnya masih akan melintasi perjalanan jauh, banyak pengalaman hidup yang akan dihadapinya, mengapa dia harus bermurung-murung? Ho Beng Hwesio seringkali memberi nasihat agar dia menghadapi kenyataan hidup ini dengan wajar dan bebas dari kekhawatiran.

"Manusia sejak dilahirkan sudah menghadapi berbagai tantangan. Kita tidak mungkin dapat melarikan diri dari tantangan-tantangan itu. Contohnya diriku ini, makin melarikan diri dari tantangan, semakin banyak rasa khawatir timbul. Tantangan tidak harus di hadapi dengan rasa khawatir, melainkan harus di hadapi dengan berani. Tantangan harus di anggap sebagai suatu kewajaran dalam hidup dan kita harus menghadapinya dengan gembira dan mengatasi setiap tantangan yang datang"

Benar apa yang di ucapkan gurunya itu.

Biarpun dia tidak mengerti mengapa Ho Beng Hwesio yang dahulunya berjuluk Hek Liong Ong itu menyembunyikan diri menjadi Hwesio, namun jelas bahwa gurunya itu tidak berani menghadapi kenyataan.

Dia dapat membayangkan betapa dalam persembunyiannya itu Hek Liong Ong tentu merasa menderita sekali hatinya selalu ketakutan dan akhirnya benar saja, seorang diantara musuh-musuhnya dapat menemukan dirinya dan membunuhnya.

Akan tetapi menurut keterangan ibunya, Ho Beng Hwesio ketika masih berjuluk Hek Liong Ong adalah seorang datuk sesat yang berhati keras dan kejam, yang mudah membunuh manusia tanpa berkedip mata.

Akibatnya dia banyak dimusihi orang-orang yang mendendam kepadanya.

Dan diapun menaati pesan ibunya agar dia tidak mendendam kepada pembunuh ayahnya.

Ngo-heng-thian-cu hanya membalas dendam kepada Hek Liong Ong.

Kalau kini dia memusuhi Ngo Heng Thian Cu, maka dendam mendendam itu tidak akan ada habisnya.

Kematian Hek Liong Ong merupakan akibat daripada perbuatannya yang lalu.

Berbeda dengan kematian ayahnya.

Ayahnya mati secara penasaran, agaknya di khianati seorang karena di bunuh dari belakang selagi bertempur melawan musuh.

Dan terutama pedang itu, Hek-Liong-Kiam, harus dia temukan.

Dengan hati yang kembali gembira Han Sin melanjutkan perjalanannya, kini dia menggunakan ilmu lari cepat dan sebentar saja sudah tiba di bawah gunung.

Ketika Yang Chien berhasil mendirikan Kerajaan Sui dan memerintah dengan bijaksana, keadaan dalam negeri dapat menjadi aman dan tentram.

Kejahatan ditentang keras oleh pemerintah dan pasukan dikerahkan untuk membasmi gerombolan-gerombolan penjahat.

Karen ini, keadaan menjadi tenteram dan penjahat-penjahat tidak berani terlalu menonjolkan diri melakukan kejahatan.

Akan tetapi, ketika Yang Chien meninggal dunia dan kekuasaan di pegang oleh puteranya Kaisar Yang Ti, pengaruh yang tadinya ditimbulkan oleh kebijaksanaan Kaisar Yang Chien itu mulai menipis, gerombolan penjahat mulai berani bermunculan melakukan kekerasan untuk memaksakan kehendak mereka.

Perampokan-perampokan mulai terjadi lagi di tempat-tempat sunyi dimana tidak ada pasukan pemerintah.

Perjalanan Han Sin tidak menemui rintangan.

Pada suatu hari tibalah dia Kota Pei-yang, sebuah kota dekat Sungai Kuning yang mengalir dari utara menuju ke selatan.

Karena letaknya dekat sungai itulah yang membuat Pei-yang menjadi kota yang penting.

Kota ini menjadi pelabuhan perahu-perahu yang memuat barang-barang dari utara.

Para pedagang dari utara membawa barang dagangan mereka dengan perahu.

Dan pulangnya para pedagang itu membawa barang-barang dari selatan ke utara melalui darat.

Maka ramailah Pei-yang dengan adanya banyak pedagang yang lewat di kota itu dan bermalam di situ.

Dengan sendirinya, kebutuhan para pedagang itu mendorong orang untuk membuka rumah makan dan rumah penginapan.

Bahkan banyak rumah penginapan yang merangkap menjadi rumah makan pula.

Selain itu, banyak pula toko-toko di buka orang, menjual bermacam-macam dagangan dari utara dan selatan.

Han Sin berputar-putar di kota itu dan karena hari telah mulai senja, dia mengambil keputusan untuk bermalam di kota Pei-yang.

Dia memilih sebuah rumah makan merangkap rumah penginapan yang kelihatan bersih dan memasukinya.

Seorang pelayan menyambutnya dengan ramah.

"Selamat sore, kong-cu. Kong-cu hendak makan ataukah hendak bermalam?"

Han Sin tersenyum mendengar dirinya di sebut kong-cu. Padahal pakaiannya hanya sederhana saja. Apa yang menyebabkan pelayan ini memanggilnya kong-cu (tuan muda)? Mungkin hanya basa basi saja.

"Selamat sore. Aku membutuhkan keduanya. Ya makan ya bermalam. Masih ada kamar yang bersih?"

"Ada, kong-cu. Kamar kami semua bersih. Mari silahkan kong-cu. Saya antarkan ke kamar kong-cu"

"Nanti saja, aku ingin makan lebih dulu"

Han Sin dan pelayan itu segera mempersilahkan duduk di tempat yang kosong.

Han Sin duduk di atas bangku menghadapi meja kosong dan dia mulai memandang ke sekeliling.

Rumah makan itu cukup besar.

Tidak kurang dari tigapuluh meja berada di situ dan pada waktu, separuh dari jumlah meja di duduki para tamu.

Tiba-tiba perhatian Han Sin tertarik kepada seorang yang baru memasuki rumah makan itu dari luar.

Segera ia mengenal orang ini, pengemis muda yang pernah di lihatnya di kuil Hwa-li-pang.

Ketika Pek Mau To-kouw bertanding melawan Kui Mo dan terdesak, pengemis muda itu seperti bersajak namun isi kata-katanya adalah petunjuk bagi Pek Mau To-kouw untuk memecahkan rahasia ilmu silat Kui Mo yang aneh.

Kemudian Liu Si menyerang pengemis muda itu yang ternyata seorang yang memiliki ilmu kepandaian tinggi Dan kini tiba-tiba pengemis muda itu memasuki rumah makan dengan muka cengar-cengir, jelas sekali terbayang kenakalan pada wajah yang bercoreng hitam itu, wajah itu kelihatan kumal dan buruk.

Akan tetapi sepasang matanya mencorong seperti mata naga.

Diam-diam Han Sin memperhatikan pemuda itu.

Seperti dulu ketika dilihatnya di kuil, pengemis muda itu mengenakan pakaian tambal-tambalan berwarna hitam dan dia membawa sebatang tongkat bambu sebesar ibu jari kaki.

Melihat seorang pengemis muda memasuki rumah makan itu, seorang pelayan segera menghampirinya dan menegur "Hei, bung.

Kalau mengemis di luar saja, jangan memasuki rumah makan"

Pengemis muda itu mengerutkan alisnya "Huh, siapa yang mengemis? Aku datang bukan untuk mengemis, melainkan untuk membeli makanan dan menginap. Beri aku sebuah kamar yang paling baik"

"Jangan main-main kau. Hayo cepat keluar"

Pelayan itu kembali membentak.

"Kau yang main-main. Aku hendak makan, kenapa di suruh keluar?"

"Kau seorang jembel begini bagaimana bisa membayar harga makanan? Masakan di sini mahal harganya"

"Eh, menghina ya? Jangankan membeli makanan di sini, untuk membeli kepalamu aku sanggup membayarnya"

Pengemis itu mengambil sebuah kantung dari saku bajunya dabn membuka kantung itu di depan pelayan.

Isinya penuh potongan emas dan perak.

Pelayan itu terbelalak "Kau tentu seorang pencuri atau perampok.

Pendeknya kau tidak boleh masuk restoran ini, kau akan membikin para langganan kami menjadi jijik melihatmu"

"Kenapa jijik? Karena pakaianku buruk? Ketahuilah, mereka yang berpakaian bersih dan bagus itu banyak sekali yang benar-benar menjijikan karena kelakuan mereka"

"Sudahlah, jangan banyak cerewet. Pergi dari sini atau ku seret kau"

Pelayan yang bertubuh tinggi besar itu mengancam. Akan tetapi pengemis yang masih muda dan tubuhnya kecil itu tidak kelihatan takut mendengar ancaman itu.

"Hemmmm ingin sekali aku melihat bagaimana kau akan menyeret aku"

Tantangnya.

"Keparat, ku lempar kau keluar"

Pelayan itu berseru dan tangannya mencengkram punggung baju pengemis itu dan hendak melemparkannya keluar.

Akan tetapi terjadilah keanehan bagi para tamu yang tertarik mendengar pertengkaran itu.

Ketika pelayan itu hendak menyeret dan melemparkan pengemis itu keluar, tiba-tiba pelayan itu mengeluh di susul dengan tubuhnya yang tinggi besar itu terlempar sampai keluar dari rumah makan.

Pengemis itu tersenyum mengejek "Ingin kulihat siapa yang tidak membolehkan aku makan di sini"

Han Sin tadi dapat melihat betapa pengemis itu menotok tubuh si pelayan lalu mendorongnya sampai terlempar keluar.

Gerakannya tadi sedemikian cepatnya sehingga para tamu yang berada di situ tidak dapat melihatnya.

Han Sin kagum, akan tetapi juga tidak senang melihat sikap pengemis itu ugal-ugalan.

Sikap seperti itu dapat mengundang banyak kesulitan bagi dirinya sendiri.

"Aku yang tidak boleh"

Tiba-tiba terdengar bentakannyaring dari arah kiri.

Semua orang menengok dan memandang.

Ternyata yang membentak ini adalah seorang pemuda yang bertubuh tinggi besar, usianya sekitar duapuluh tiga tahun.

Pakaian pemuda ini mentereng dan lagaknya seperti seorang pemuda bangsawan atau hartawan dengan potongan pakaian seperti seorang ahli silat serba ringkas dan gagah.

Wajahnya memang gagah, rambutnya hitam tebal, alisnya hitam dan sepasang matanya lebar bersinar garang, hidung mancung besar dan mulutnya juga lebar.

Wajahnya jantan dan gagah.

Pengemis muda itu juga menengok dan ketika melihat siapa yang tadi membentaknya, dia bertolak pinggang dan membusungkan dada.

"Hemmm, ada sangkut paut apa kau dengan aku yang hendak makan di rumah makan ini? Apa pedulimu kalau aku makan di sini?"

Katanya dengan suara ketus.

"Kalian para pengemis tidak layak makan di sini. Menghilangkan selera makanku. Hemmm, pengemis adalah orang-orang malas, sudah sepatutnya dibasmi habis dari permukaan bumi"

Kata pemuda tinggi besar itu garang.

"Wah, kau menghina orang ya? Kami para pengemis minta belas kasihan orang dengan suka rela, tidak memaksa. Bahkan kami menggerakkan hati nurani manusia untuk beramal, ingat akan kekurangan orang lain. Tidak seperti kau. Mungkin kau putera hartawan dan hartawan biasanya memeras keringat orang yang tidak mampu atau mungkin kau putera bangsawan dan para bangsawan biasanya melakukan korupsi. Pengemis lebih baik daripada hartawan atau bangsawan"

Ternyata pengemis muda itu pandai sekali bicara, bicaranya cepat dan lancar, nerocos seperti burung kakaktua.

"Kau memang jembel cilik yang perlu dihajar"

Pemuda tinggi besar itu sudah mengepal tinju.

"Kau yang perlu di hajar. Aku seujung rambutpun tidak takut kepadamu. Karena tinggi besar kau berlagak jagoan ya?"

Pengemis itu berteriak marah dan mengamangkan tinju tangan kirinya yang kecil.

Melihat sikap pemuda tinggi besar yang agaknya bukan orang sembarangan itu, Han Sin khawatir akan nasib pengemis muda itu.

Pengemis itu masih muda remaja, biarpun meiliki sedikit kepandaian, kalau bertemu lawan tangguh tentu akan celaka.

Maka dia cepat bengkit dari tempat duduknya dan menghampiri pemuda tinggi besar itu lalu memberi hormat.

"Sobat, harap maafkan dia yang masih amat muda. Biarlah dia makan bersamaku dan aku yang tanggung bahwa dia akan membayar harga makanannya"

Pemilik rumah makan yang di ikuti oleh beberapa orang pelayan juga mohon kepada pemuda tinggi besar itu agar jangan berkelahi di rumah makan mereka.

Sementara itu Han Sin mendekati si pengemis dan berkata "Sobat, bukankah kita sudah pernah saling jumpa?

Aku mengundangmu untuk makan semeja denganku, harap kau tidak menolak dan menghindarkan keributan dalam rumah makan ini"

Pengemis itu memandang kepada Han Sin, memperhatikannya dari kepala sampai kaki seperti orang menilai, lalu mengangguk "Hemmm, baiklah.

Setelah kejadian yang menjengkelkan ini, aku memang perlu seorang teman yang baik"

Dengan langkah dan lagak gagah pengemis itu lalu mengikuti Han Sin menuju ke meja, melempar pandang ke kanan kiri seolah hendak menantang siapa yang akan berani mencegahnya.

Han Sin dan pengemis itu duduk berhadapan dan Han Sin segera meneriaki pelayan agar menambah minuman dan makanan.

Dia menuangkan arak ke dalam cawan pengemis itu.

"Silahkan minum untuk mengucapkan selamat atas perjumpaan ini"

Kata Han Sin.

Pengemis itu tersenyum dan mereka minum secawan arak.

Pengemis itu tanpa malu-malu lagi lalu makan minum dan nampaknya ia lahap sekali.

Akan tetapi Han Sin yang memperhatikan melihat kenyataan bahwa pengemis itu hanya makan sedikit.

Belum menghabiskan nasi semangkok dia sudah berhenti.

"Kenapa makanmu sedikit sekali? Makanlah lagi dan tambah nasinya"

"Ah, tidak. Aku takut menjadi gemuk kalau makan terlalu banyak"

Jawabnya. Tentu saja Han Sin tertegun heran. Mana ada pengemis tidak mau makan banyak karena takut gemuk? "Sekarang aku ingat"

Pengemis itu berseru "Bukankah engaku pengantin pria itu?"

Wajah Han Sin berubah merah, akan tetapi diapun tersenyum dan menjawab "Maksudmu pengantin paksaan? Benar, kita pernah bertemu di kuil Hwa-li-pang"

"Wah, kebetulan sekali aku bertemu denganmu di sini. Aku memang ingin bertanya mengapa pesta pernikahan itu tidak jadi di langsungkan? Aku sudah menanti-nanti untuk mendapatkan bagian arak dan kue pengantin, ternyata tidak jadi ada pesta pernikahan. Apa yang terjadi?"

Pengemis itu berpura-pura, karena di luar pengetahuan Han Sin.

Dirinya memegang peran penting dalam penggagalan pernikahan itu.

Dengan suara bisik-bisik agar tidak terdengar orang lain, Han Sin menjawab "Aku dapat melarikan diri dari mereka"

"Ih, kenapa lari? Bukankah senang akan di nikahkan dengan nona yang cantik itu?"

"Kau maksudkan yang gila itu? Mereka semua itu gila, akan tetapi aku tidak berdaya. Mereka lihai sekali. Akan tetapi untung aku dapat meloloskan diri dari tangan mereka berkat bantuan seorang gadis yang bernama Kim Lan. Hebat bukan main nona Kim Lan itu"

Han Sin memuji dengan penuh kagum.

"Maksudmu nona yang berpakaian serba putih itu? Ya, ia memang cantik sekali"

"Bukan hanya cantik jelita seperti bidadari, akan tetapi ilmunya juga hebat. Ketika aku di tawan keluarga gila, aku di beri racun dalam keadaan keracunan itu aku tidak dapat melarikan diri. Akan tetapi nona Kim itu dapat menyeludup masuk kamarku dan aku di obatinya sampai sembuh. Kemudian ia merencanakan agar aku dapat melarikan diri. Bukankah ia hebat sekali?"

Pengemis itu mengangguk-angguk dan mengacungkan ibu jarinya.

"Namanya Kim Lan? Hemmm, kalau aku bertemu dengannya akan kuceritakan padanya betapa kau memuji-muji setengah mati"

Karena sudah lama mereka selesai makan, seorang pelayan menghampiri untuk membersihkan meja mereka dan membawa pergi perabot makan.

Akan tetapi kedua orang itu masih bercakap-cakap terus.

Mereka merasa akrab sekali dan diam-diam Han Sin merasa heran mengapa dia begitu suka dengan pemuda pengemis ini.

Rasanya seolah-olah mereka sudah bersahabat lama sekali.

"Dan kau sendiri, siapakah namamu?"

Tanya Han Sin Pengemis itu mengangkat muka memandang dan sepasang mata itu mengeluarkan sinar yang amat tajam.

Han Sin dapat menduga bahwa pengemis muda yang memiliki sepasang mata setajam itu pastilah bukan orang biasa.

"Kau belum memperkenalkan namamu sendiri, bagaimana menanyakan nama orang lain?"

Jawabnya.

"Ahh, aku lupa"

Kata Han Sin sambil tersenyum "Baiklah namaku Cian Han Sin, dan kau......?"

"Aku bermarga Cu dan namaku Sian ian"

Pada saat itu, seorang pelayan datang menghampiri meja mereka dan pelayan itu bertanya kepada Han Sin "Kalau kong-cu ingin memilih kamar, silahkan ikut saya"

"Ah, ya baiklah"

Han Sin bangkit berdiri dan membayar harga makanan.

"Aku juga minta sebuah kamar"

Kata pengemis muda bernama Cu Sian itu kepada si pelayan.

"Adik Cu Sian, marilah kau menginap dikamarku saja. Kita pakai kamar itu untuk kita berdua"

"Tidak, terima kasih. Aku ingin menyewa kamar sendiri"

Kemudian berkata mengancam kepada pelayan itu "Jangan menolakku. Aku akan membayar, berapapun sewanya"

Han Sin dapat menduga bahwa watak pengemis ini memang liar dan ugal-ugalan, maka diapun mengangguk kepada pelayan itu dan berkata "Penuhi saja permintaan sahabatku ini"

"Baik, baik, mari silahkan mengikuti saya"

Mereka terus masuk ke bangunan di belakang rumah makan itu.

Ternyata bangunan itu merupakan bangunan susun dan mempunyai banyak kamar.

Mereka mendapatkan dua buah kamar yang berdampingan dan setelah pelayan itu pergi meninggalkan mereka, barulah Han Sin bertanya kepada pengemis itu.

"Sian-te (adik Sian), kau ini aneh sekali"

"Apanya yang aneh, Sin-ko (Kakak Sin)?"

Sepasang mata Cu Sian mengamati wajah Han Sin dengan tajam penuh selidik.

Han Sin menyimpan buntalan pakaiannya ke dalam kamarnya dan Cu Sian juga melakukan hal yang sama.

Kemudian mereka ke luar kembali dan duduk di ruangan depan kamar mereka, dimana disediakan beberapa buah bangku dan meja.

"Kau tadi bilang aku aneh, nah, apanya yang aneh, Sin-ko?"

Tanya Cu Sian. Mereka dapat bercakap-cakap dengan leluasa karena ruangan itu terpisah dari para tamu lainnya.

"Kau berkeras minta sebuah kamar sendiri dan tidak mau menginap dalam kamarku. Bukankah itu terlalu royal dan aneh?"

Cu Sian tertawa dan wajahnya nampak tampan sekali ketika dia tertawa "Heh-heh, apa anehnya itu?

Sejak kecil aku terbiasa tidur sendiri.

Kalau ada temannya, aku pasti tidak akan dapat tidur pulas sepanjang malam"

"Masih ada hal yang lebih aneh lagi yang membuat aku dapat menduga siapa kau sebenarnya, Sian-te"

"Ehh? Benarkah? Apa saja keanehan itu?"

Kini Han Sin yang mengamati wajah Cu Sian penuh selidik dan dia berkata "Aku berani menduga kau tentulah seorang pemuda remaja yang kaya raya dan pandai ilmu silat.

Kau tentu sedang merantau dan menyamar sebagai seorang pengemis untuk mencari pengalaman.

Nah, benarkah dugaanku ini?"

Cu Sian yang tadinya mendengarkan dengan serius itu kini tertawa lagi "Heh-he-he, apa alasannya kau menduga seperti itu, Sin-ko?"

"Mudah saja. Cara bicara menunjukkan bahwa kau seorang yang berpendidikan tinggi. Kau mengenakan pakaian pengemis akan tetapi tidak mengemis, bahkan membawa banyak uang dan sikapmu juga royal sekali, tanda bahwa kau seorang hartawan. Dan ketika di kuil Hwa-li-pang terjadi perkelahian, kau muncul dan berkelahi melawan nenek gila yang sakti, ini membuktikan bahwa kau pandai silat, juga ketika kau melempar pelayan tadi keluar rumah makan. Nah, benarkah dugaanku itu?"

Cu Sian menghela napas panjang "Aihhh, begitu menonjol dan canggungkah penyamaranku ini?"

Han Sin menggeleng kepala "Tidak Sian-te.

Melihat sepintas lalu saja, penyamaranmu memang sudah baik sekali dan tak seorangpun menyangsikan bahwa kau seorang pengemis.

Akan tetapi kalau sudah bergaul denganmu, maka akan nampaklah kejanggalan-kejanggalan itu.

Sikapmu sungguh bukan seperti pengemis, melainkan sebagai seorang pendekar muda yang kaya raya"

"Aduh mak, celaka aku. Bertemu denganmu sama saja dengan kena batunya. Selama beberapa bulan menyamar ini, baru sekarang rahasiaku terbuka. Maka sesungguhnyalah, aku bukan seorang pengemis akan tetapi aku bersahabat dengan seorang pengemis, bahkan aku keturunan pemimpin perkumpulan pengemis"

"Akan tetapi kenapa kau menyamar sebagai pengemis?"

"Sudah tentu agar aku tentu leluasa dan aman melakukan perjalanan. Kalau aku melakukan perjalanan sebagai seorang kong-cu, tentu akan mengalami banyak gangguan dari para perampok dan pencuri. Kau benar, aku memang sedang merantau mencari pengalaman dan penyamaran ini kulakukan agar perjalananku aman"

"Sian-te, kau seorang pemuda yang memiliki kepandaian silat tinggi, kenapa takut akan gangguan orang? Sedangkan aku yang tidak mempunyai kepandaian apa-apa saja berani melakukan perjalanan tanpa penyamaran, apalagi kau"

Cu Sian tersenyum dan menundingkan telunjuknya ke arah muka Han Sin.

"Jangan mengira bahwa kau seorang yang pandai menebak keadaan orang lain, akan tetapi akupun dapat menggambarkan siapa adanya kau"

"Benarkah?"

"Hemmm, aku tahu bahwa kau seorang yang berpendidikan, dapat di duga dari caramu bicara dan pandanganmu yang cerdik dan luas kalau bicara. Kau seorang yang baik budi, akan tetapi agaknya kau tidak pandai ilmu silat, atau andaikata dapat tentu tidak beberapa tinggi. Buktinya kau dapat dikuasai oleh keluarga gila itu. Tentu kecerdikanmu, dapat kulihat bahwa beradanya kau dan keluarga gila itu di Hwa-li-pang. Tentu kau yang membujuk mereka agar pernikahan dilakukan di Hwa-li-pang maka keluarga gila itu mati-matian meminjam tempat di Hwa-li-pang. Tentu kau maksudkan agar orang-orang Hwa-li-pang dapat menolongmu. Benarkah?"

Han Sin mengangguk-angguk dan memang dia kagum sekali. Pemuda remaja ini selain lincah jenaka juga amat cerdik seperti kancil.

"Lalu apa lagi? Dugaanmu yang sudah itu tepat sekali"

"Hemmm, kau pasti bukan seorang pemuda yang kaya. Kau memesan makanan yang murah di rumah makan tadi dan buntalan pakaianmu yang ringan tentu tidak mengandung banyak uang. Dan seorang diri kau melakukan perjalanan ke utara padahal di utara bukan tempat untuk berpesiar. Tentu kau mempunyai tujuan tertentu dalam perjalanan ini"

"Kau hebat, Sian-te"

"Ada satu lagi. Aku berani menduga bahwa kau adalah seorang putera bangsawan walaupun tidak kaya"

"Ehhh?"

Han Sin benar-benar terkejut sekali. Bagaimana kau menduga begitu?"

"Sikapmu ketika mencegah si tinggi besar di rumah makan tadi agar tidak menyerangku. Sikap itu demikian penuh wibawa dan ini biasanya hanya di miliki oleh keluarga bangsawan tinggi. Jangan-jangan kau ini seorang pangeran yang menyamar?"

"Ngacau.... Han Sin tertawa, akan tetapi diam-diam dia harus berhati-hati terhadap seorang yang demikian cerdiknya"

Aku bukan pangeran bukan putera bangsawan, melainkan anak seorang ibu yang telah janda sejak aku berusia sepuluh tahun"

"Heeiii... nanti dulu. Kau bermarga Cian, bukan? Hemmm, kau kematian ayahmu sejak berusia sepuluh tahun dan usiamu sekarang ku taksir duapuluh tahun. Sepuluh tahun yang lalu kau kematian ayahmu dan kau she Cian. Padahal, sepuluh tahun yang lalu, kematian Cian-Tai-Ciangkun, Sin-ko, kau putera mendiang Panglima Besar Cian Kauw, bukan?"

Wajah Han Sin berubah dan dia bangkit dari tempat duduknya.

Tebakan yang tepat itu sama sekali tidak pernah disangkanya dan dia memandang kepada Cu Sian dengan tajam, sepasang matanya mencorong dan sikapnya penuh kewaspadaan.

Cu Sian juga bangkit dan menggerakkan tangan menghibur Han Sin.

"Jangan takut, Sin-ko. Aku tanggung bahwa tidak akan ada orang lain dapat menduga bahwa kau putera Panglima Besar Cian Kauw, Walaupun andaikata ada yang tanya sekalipun tidak apa-apa. Kalau aku dapat menduga siapa kau, hal itu adalah karena kakekku adalah sahabat baik dari Cian-ciangkun. Kakek ku pernah menjadi temen seperjuangan ayahmu, maka aku sudah mendengar akan semua riwayat dan keadaan Cian-ciangkun dari mendiang ayahku. Kalau aku tidak mengetahui keadaannya, tentu aku tidak akan dapat menduga bahwa kau puteranya"

Han Sin sudah dapat menenangkan hatinya dan dia duduk kembali.

Sejenak dia memandang kepada Cu Sian lalu mengangkat telunjuknya ke arah muka Cu Sian "Hemmm anak nakal.

Jangan kau terlalu bangga dan menyombongkan dirimu.

Akupun dapat menduga siapa kau ini"

"Eh? Benarkah? Nah, katakan siapa aku ini?"

Cu Sian menantang.

"Kau tentu cucu dari Ketua Hek-I-Kaipang di Tiang-an"

Kini Cu Sian yang meloncat dari tempat duduknya dan memandang kepada Han Sin dengam mata terbelalak "Lohhh, bagaimana kau bisa menduga begitu?"

"Apa sukarnya? Kau tadi pernah mengatakan bahwa kau keturunan pemimpin pengemis. Dalam penyamaranmu, kau mengenakan pakaian pengemis warna hitam. Mengapa warna hitam dan bukan warna lain? Dan kau bermarga Cu. Maka mudah saja di duga, aku sudah mendengar dari ayah ibuku siapa-siapa tokoh kang-ouw yang menjadi temen seperjuangan ayah. Diantaranya adalah Cu Lo-kai, ketua dari Hek-I-Kaipang (Perkumpulan Pengemis Baju Hitam). Nah, coba menyangkal kalau bisa"

Han Sin tersenyum penuh kemenangan melihat pengemis muda itu nampak gugup.

"Dan.... kau mendengar tentang ayah ibuku?"

Han Sin menggeleng kepalanya "Tidak Ayah dan ibu tidak tahu apa yang terjadi selanjutnya dengan Hek I Kaipang dan para pengurusnya setelah Kerajaan Sui berdiri.

Jadi, tentu saja aku tidak apapun tentang orang tuamu"

Wajah itu berseri kembali "Dugaanmu memang tepat"

Hemmm, alangkah pintarnya kau, sin-ko"

"Tidak lebih pintar darimu, Sian-te"

"Nah, sekarang kita telah mengenal dengan baik keadaan diri masing-masing. Agaknya persahabatan antara ayahmu dan kakek ku menjadi jembatan persahabatan kita"

"Akan tetapi, aku hanya seorang pemuda biasa, tidak sepandai kau dalam ilmu membela diri"

Kata Han Sin, memancing apakah pemuda remaja itupun dapat menduga bahwa dia memiliki ilmu silat tinggi. Ternyata Cu Sian tidak dapat menduganya.

"Jangan khawatir, Sin-ko. Bukankah kita sudah menjadi sahabat baik? Akulah yang akan membela dan melindungimu dan jangan kau takut, aku tidak menyombongkan diriku apabila kukatakan bahwa tongkatku ini cukup kuat untuk melindungi kita berdua"

Kata Cu Sian sambil mengangkat tongkatnya yang tadi diletakkan di atas meja.

Han Sin tersenyum "Wahh, lega hatiku sekarang, mempunyai seorang sahabat seperti kau, Sian-te.

Setelah kita menjadi sahabat, tentu kau tidak berkeberatan untuk memberitahu kepadaku kemana kau hendak pergi dan apa yang kau cari sampai kau tiba di sini, jauh dari Tiang-an, tempat tinggalmu"

Mendadak wajah yang berseri itu menjadi muram.

Beberapa kali Cu Sian menghela napas panjang, kemudian berkata "Sebetulnya kalau bukan kepadamu, aku tidak pernah menceritakan keadaan ku, sin-ko.

Entah mengapa, kepadamu aku seketika percaya sepenuhnya.

Mungkin karena mengetahui bahwa kau putera mendiang Cian-ciangkun.

Akan tetapi setelah kau mendengar cerita tentang diriku, ku harap kaupun akan menceritakan keadaanmu dan kemana kau hendak pergi"

"Baik, aku tidak akan menyimpan rahasia, Sian-te"

Cu Sian memandang ke kanan kiri, ke arah pintu-pintu depan belakang rumah itu yang terbuka. Tidak nampak seorangpun manusia dan dia segera mulai dengan ceritanya.

"Kakekku hanya mempunyai seorang putera, yaitu ayahku. Akan tetapi sejak mudanya, ayahku yang bernama Cu Kak tidak mau mengikuti jejak kakek, tidak mau menjadi pengemis bahkan tidak mau melanjutkan pimpinan Hek I Kaipang. Ayah telah mewarisi seluruh ilmu kepandaian kakek dan kepandaian itu menjadi modal bagi ayah untuk membuka piauw-kok (perusahaan pengiriman barang). Ayah menjadi piauw-su (pengawal kiriman barang) yang disegani dan dapat membuat perusahaannya menjadi terkenal dan besar. Setelah kakek meninggal dunia, Hek I Kaipang diserahkan kepada para murid lain untuk memimpinnya.

"Aku tidak dapat menyalahkan ayahmu. Karena bagaimanapun juga, menjadi pengemis menimbulkan kesan kurang baik bagi seseorang, apalagi kalau dia masih muda dan kuat"

"Akan tetapi kakek sendiri tak pernah mengemis, kakek hanya mengumpulkan para pengemis, dalam satu wadah agar mereka tidak melakukan perbuatan jahat"

"Aku mengerti, Sian-te. Lanjutkanlah"

"Kakekku meninggal dunia ketika aku baru berusia sepuluh tahun, terjadilah malapetaka itu. Mula-mula sebuah kiriman barang berharga yang di lindungi perusahaan ayah menuju jauh ke utara di rampok di tengah perjalanan. Para piauw-su pembantu ayah berusaha melawan, akan tetapi banyak diantara mereka tewas dan sisanya melarikan diri pulang dan melapor kepada ayah. Ayah menjadi marah. Barang kiriman yang hilang itu amat berharga dan tidak mungkin ayah dapat menggantinya. Maka ayah sendiri lalu pergi ke utara dimana terjadi perampokan itu. Perampokan itu terjadi di lembah Huang-ho dan barang kiriman itu seharusnya di bawa ke Po-touw"

"Dengan siapa ayahmu pergi?"

"Ayah pergi bersama para pembantunya, yaitu para piauw-su yang dapat melarikan diri dari para perampok itu. Setelah tiba di tempat itu, ayah dan para pembantunya di serang oleh gerombolan perampok itu dan dalam pertempuran ini ayah tewas. Para piauw-su dapat melarikan jenazah ayah pulang. Ibu terkejut dan sedih sekali sehingga setelah semua barang milik kita di jual untuk mengganti barang yang di rampok, ibu jatuh sakit dan akhirnya setahun setelah ayah tewas, ibu juga meninggal dunia, meninggalkan aku seorang diri di dunia ini"

"Aduh kasihan sekali kau, Sian-te. Masih muda sekali telah di tinggal kedua orang tuamu"

Kata Han Sin terharu.

"Ketika itu aku baru berusia sebelas tahun, aku tetapi aku sudah mengerti keadaan. Aku bertanya kepada para piauw-su siapa yang membunuh ayah. Mereka mengatakan bahwa perampok itu memakai nama Kwi-to-pang (Perkumpulan Golok Setan) dan yang membunuh ayahku adalah ketua perkumpulan itu, seorang laki-laki tinggi besar yang brewok dan memegang sebatang golok besar. Aku lalu belajar silat dari para paman guruku, yaitu para murid kakek di Hek I Kaipang. Setelah semua ilmu dapat ku kuasai, aku lalu pergi merantau untuk menambah pengalamanku dan mencari musuh besar yang membunuh ayah ibuku"

"Ibumu? Bukankah ibumu meninggal dunia karena sakit?"

"Betul, akan tetapi kalau tidak gara-gara orang yang membunuh ayahku, tentu ibu tidak meninggal karena kesedihannya. Dalam perjalananku mencari musuhku itulah aku bertemu dengan kau, Sin-ko"

"Ah, hidupmu seolah bertujuan untuk membalas dendam"

"Apa lagi yang dapat kulakukan? Aku harus membalas dendam kematian orang tuaku, hanya itu yang dapat kulakukan untuk membalas budi mereka kepadaku"

"Kalau kau menjadi seorang pendekar pembasmi kejahatan yang membela kebenaran dan keadilan, berarti kau sudah mengangkat dan mengharumkan nama ayah ibumu"

"Sudahlah, tidak perlu kita perdebatkan hal itu. Sekarang aku menagih janji. Kau berjanji akan menceritakan riwayatmu sampai kesini"

Han Sin menghela napas panjang.

Riwayatku tidak lebih baik daripada riwayatmu, Sian-te.

Kau sudah mendengar bahwa ayah tewas dalam suatu pertempuran yang terjadi di sebelah utrara Sjan-si, ketika memimpin pasukan untuk menumpas pemberontakan di sana.

Kalau ayah meninggal dunia karena bertempur, hal itu adalah wajar saja.

Seorang Panglima gugur dalam pertempuran merupakan hal wajar dan kami tidak akan merasa penasaran.

Akan tetapi, ayah tewas karena pengkhianatan"

"Ehhh? Siapa yang mengkhianatinya?"

"Itulah yang menjadi rahasia. Tidak ada yang tahu siapa yang membunuh ayah ketika terjadi pertempuran itu"

"Kalau begitu, bagaimana kau tahu bahwa dia di khianati dan bukan tewas oleh pihak musuh?"

"Ayah tewas karena terkena anak panah yang datangnya dari belakang. Anak panah itu mengenai punggungnya. Dan lebih daripada itu, Pedang pusaka ayah, Hek liong Kiam juga lenyap. Setelah ayah meninggal, ibu mengajakku pindah ke dusun"

"Dan sekarang kau sampai di sini, hendak kemanakah?"

"Ibu menyuruh aku untuk mencari pedang pusaka milik ayah yang hilang itu"

"Aih, dengan sedikit kepandaian silat yang kau miliki, bagaimana kau akan dapat menemukan atau merampasnya kembali? Mungkin pedang pusaka itu diambil oleh pembunuh ayahmu"

"Kalau begitu, bagaimanapun akan ku hadapi"

"Kau bisa celaka.... akan tetapi jangan takut, Sin-ko. Aku akan membantumu menghadapi pembunuh ayahmu dan pencuri pedang pusaka itu"

"Akan tetapi kau sendiri mempunyai tugas yang penting, dan aku tidak berani mengganggumu dengan urusanku, Sian-te"

"Begitukah sikap seorang sahabat"

Kata Cu Sian dengan alis berkerut.

Han Sin merasa tidak enak sekali.

Dalam mencari pedang dan pembunuh ayahnya, mungkin dia akan menghadapi musuh-musuh yang lihai.

Kalau Cu Sian bersama dengannya, maka pemuda remaja ini dapat terancam bahaya.

Dia tidak menghendaki hal hal itu terjadi.

Pula, tidak pantas kalau pemuda itu sampai membahayakan diri sendiri hanya untuk membantunya dalam urusan pribadi.

"Sungguh, aku menyesal sekali terpaksa harus menolak bantuanmu, Sian-te. Aku tidak ingin mengganggumu. Lebih baik kau selesaikan urusanmu sendiri dan aku akan mencoba untuk mencari pedang pusaka ayahku itu seorang diri pula"

Cu Sian bangkit berdiri, wajahnya berubah merah "Apa?

Kau menolak uluran tanganku?

Sin-ko, kau terlalu memandang rendah padaku.

Apa kaku kira aku tidak akan mampu mendapatkan Hek liong kiam itu untukmu?"

"Bukan begitu, Sian-te, akan tetapi........"

"Akan tetapi apa.........?"

"Aku tidak mau merepotkanmu, pula kalau sampai terjadi apa-apa denganmu karena kau membantuku, aku akan merasa menyesal selama hidupku. Terima kasih banyak atas kebaikanmu dan pembelaanmu, akan tetapi sungguh menyesal sekali, aku harus menolaknya"

"Bagus"

Cu Sian bangkit berdiri dan menggebrak meja "Kau sungguh seorang sahabat yang tidak mengenal arti kesetian"

"Maafkan aku, Sian-te. Akan tetapi aku sungguh tidak ingin melihat kau celaka. Kau masih begini muda"

"Cukup. Kau anggap aku anak kecil, ya? Kalau tidak ada anak kecil ini, belum tentu kau dapat meloloskan diri dari keluarga gila itu, tahukah kau? Akulah orangnya yang memancing agar kau dapat meloloskan diri"

"Ahhh, terima kasih banyak, Sian-te. Kau memang hebat"

"Tidak perlu memuji, pendeknya mau atau tidakkah kau kalau kubantu kau mencari pedang pusaka itu?"

"Terpaksa aku menolaknya, Sian-te. Ini dapat berbahaya sekali untukmu dan......"

"Sudahlah, kau memang keras kepala. Kalau kau kelak menghadapi ancaman musuh yang tangguh, baru kau menyesal mengapa tidak menerima tawaranku. Sudah, aku mau tidur"

Dan pemuda remaja itu membanting-banting kaki lalu memasuki kamarnya, menutupkan daun pintu kamar keras-keras.

Han Sin masih duduk termangu.

Dia suka sekali kepada Cu Sian.

Akan tetapi pemuda itu masih seperti kanak-kanak.

Bagaimana dia boleh mengajak kanak-kanak menghadapi bahaya dalam mencari pedang Hek liong kiam?

Kalau dia sendiri gagal bahkan sampai tewas dalam usahanya ini, dia tidak akan menyesal.

Akan tetapi kalau sampai Cu Sian tewas dalam membantunya, dia tentu akan merasa menyesal bukan main.

Akhirnya dia menghela napas dan memasuki kamarnya sendiri.

Dia merasa kecewa dan menyesal bahwa persahabatannya dengan pemuda remaja itu akan berakhir begini.

Akhirnya Han Sin dapat juga tidur pulas.

*** Pada keesokan harinya, suara ayam jantan berkokoknyaring di luar jendela kamarnya.

Han Sin turun dari pembaringannya dan membuka daun jendela itu.

Pekarangan samping itu di tumbuhi pohon-pohon dan kembang.

Suasana pagi itu indah sekali dan hawanya sejuk segar memasuki kamarnya.

Tiba-tiba dia teringat kepada Cu Sian yang berada di kamar sebelah.

Dia menjulurkan kepala keluar jendela untuk memandang ke arah jendela kamar sebelah.

Daun jendela itu masih tertutup.

Agaknya sahabat barunya itu masih tidur.

Dia berharap mudah-mudahan Cu Sian tidak marah lagi dan mereka akan dapat saling berpisah sebagai dua orang sahabat.

Han Sin termenung sambil memandang keluar dimana burung-burung beterbangan dan berloncatan dari dahan ke dahan.

Dimana kupu-kupu beterbangan di sekitar bunga-bunga.

Pagi yang cerah, hari yang indah.

Alangkah akan gembiranya kalau pada pagi seindah itu dia melakukan perjalanan dengan Cu Sian, sahabatnya yang riang gembira dan lincah jenaka itu.

Akan tetapi dia segera menggeleng kepalanya.

Tidak.

Dia mempunyai tugas yang berat dan berbahaya.

Siapa tahu apa yang akan dihadapinya di utara nanti.

Tidak boleh dia membawa Cu Sian, pemuda remaja itu memasuki bahaya pula.

Han Sin yang sadar dari lamunannya lalu pergi membersihkan diri di kamar mandi yang letaknya di belakang rumah penginapan itu, kemudian setelah bertukar dengan pakaian bersih dia menghampiri kamar Cu Sian.

Diketuknya pintu kamar itu beberapa kali, lalu dia menanti.

Akan tetapi tidak ada jawaban, tidak ada suara dari dalam kamar itu.

Daun pintu kamar itu tetap tertutup, tidak dibuka dari dalam.

Dia mengetuk lagi dan memanggil "Sian-te, bangunlah, hari telah siang"

Akan tetapi tetap saja tidak ada jawaban. Ketika dia mengetuk-ngetuk kembali, muncul seorang pelayan yang kemarin melayaninya.

"Percuma diketuk karena kamar itu kosong kong-cu"

Katanya.

"Eh? Kosong? Bukankah kamar ini yang ditempati sahabatku itu?"

"Kong-cu maksudkan pemuda pengemis itu?"

Han Sin mengangguk "Ya, bukankah dia bermalam di kamar ini?"

"Ya, benar. Akan tetapi tadi pagi-pagi sekali, sebelum ayam berkokok, dia telah pergi meninggalkan kamar ini dan dia telah membayar sewa kedua kamar. Bahkan dia telah membayar harga makan pagi yang akan dihidangkan kepada kong-cu pagi ini. Apakah kong-cu tidak tahu bahwa dia telah pergi?"

Pelayan itu memandang heran dan sadarlah Han Sin bahwa sebagai seorang sahabat baik mestinya dia tahu akan keberangkatan temannya itu.

"Oh ya......... aku lupa"

Katanya dan ketika dia menghadapi hidangan sarapan pagi yang royal.

Dia termenung dan hatinya terharu.

Cu Sian telah membuktikan ucapannya, meninggalkan dia yang tidak mau menerima sahabat itu melakukan perjalanan bersama, menolak bantuan yang di tawarkan Cu Sian.

Dia tahu bahwa pemuda remaja itu marah kepadanya sehingga pagi-pagi telah berangkat lebih dulu.

Akan tetapi bagaimanapun marahnya, Cu Sian telah membelikan sarapan pagi yang royal untuknya.

Setelah makan pagi, Han Sin juga meninggalkan rumah penginapan itu.

Sewa kamarnya juga sudah dibayar oleh Cu Sian.

Ketika melangkah kaki keluar dari pekarangan rumah penginapan itu, hatinya terasa kosong dan sepi.

Dia benar-benar merasa kehilangan sahabatnya yang biasanya menggembirakan suasananya itu.

Hari yang cerah itu serasa mendung.

Ketika tiba di pintu pagar halaman depan, seorang laki-laki setengah tua bangkit berdiri sambil sambil menuntun seekor kuda dan menyapa Han Sin "Apakah kong-cu yang bernama Cian-kongcu?"

Han Sin memandang penuh perhatian dan tidak merasa kenal dengan orang ini "Benar, paman. Ada apakah?"

"Saya adalah seorang penjual kuda, kong-cu. Dan Saya ingin menyerahkan kuda ini kepada kong-cu"

"Apa? Mengapa?"

Han Sin bertanya bingung.

"Inilah kuda yang di beli oleh seorang sahabat kong-cu untuk diserahkan kepada kong-cu pagi ini. Terimalah, kong-cu"

Orang itu menyerahkan kendali kuda yang dipegangnya kepada Han Sin.

Han Sin mengerti bahwa kekmbali ini tentu perbuatan Cu Sian, maka terpaksa dia menerima kuda itu.

Sahabatnya itu memang seorang yang royal sekali.

Kalau dia di tawari kuda, tentu akan di tolaknya.

Akan tetapi karena kuda itu sudah di beli dan sudah di berikan kepadanya dan dia tidak dapat mengembalikannya kepada Cu Sian, terpaksa dia melompat ke atas punggung kuda dan melarikan kuda itu menuju pintu gerbang sebelah utara dari kota Pey-yang.

Begitu keluar dari kota kegembiraan hati Han Sin muncul kembali.

Ia melupakan dua wajah yang selalu membayanginya, yaitu wajah Kim Lan dan wajah Cu Sian.

Pemandangan di depan amat indahnya.

Bukit-bukit yang tak terhitung banyaknya menghadang di depannya.

Orang-orang telah membuat jalan raya menuju utara dan melalui jalan inilah para rombongan pedangan melakukan perjalanan.

Barang yang dikirimkan ke daerah utara juga melalui jalan ini.

Jalan ini berada di lembah sungai Kuning, naik turun bukit dan mengitari jurang dan puncak.

Jalan mulai sepi dan Han Sin membedal kudanya.

Kuda itu ternyata seekor kuda yang kuat dan baik.

Pandai juga Cu Sian memilih kuda, pikirnya.

Perjalanan Han Sin mulai melalui daerah yang berbahaya bagi para pejalan yang lewat.

Keadaan sekeliling sejauh puluhan mil sunyi dan jarang ada perumahan penduduk.

Ketika jalan menanjak ke sebuah bukit, pemandangan amatlah indahnya.

Han Sin memperlambat jalannya kuda, membiarkannya jalan, tidak berlari lagi.

Selain untuk mencegah kudanya terlalu kelelahan, juga dia ingin menikmati pemadangan yang amat indah itu.

Kebesaran alam terbentang luas di depannya dan menghadapi pemandangan alam yang luas dan megah dan indah ini, Han Sin merasa betapa kecil dirinya.

Kecil tidak berarti.

Di depan kakinya, di bawah, nampak Sungai Huang-ho mengalir, lebar dan panjang.

Beberapa buah perahu nampak berada di sungai itu.

Sebagian latar belakangnya, jauh di seberang sungai terdapat jajaran bukti yang tiada putusnya ,lenyap di ujungnya dalam warna biru keabuan.

Tiba-tiba dia mendengar derap kaki kuda mendatangi dari belakang.

Dia lalu minggirkan kudanya agar tidak menghadang mereka yang akan lewat.

Tak lama kemudian, serombongan orang berkuda lewat situ.

Tadinya Han Sin mengira bahwa mereka tentulah para saudagar atau piau-su yang mengawal barang kiriman.

Akan tetapi tidak ada kereta diantara mereka.

Semua orang laki-laki berjumlah tigapuluhan orang menunggang kuda danmelihat sikap danpakaian mereka yang serba ringkas, mudah di duga bahwa mereka itu adalah orang-orang yang kuat dan pandai ilmu silat.

Wajah mereka pun kelihatan bengis.

Terutama yang berada di depan dan agaknya menjadi pemimpin mereka.

Ada tiga orang laki-laki berusia antara empatpuluh sampai enampuluh tahun berada di depan dan mereka bertiga ini kelihatan menyeramkan.

Ketika mereka lewat, Han Sin sudah melompat turun dari atas punggung kudanya dan memegang kendali kuda dekat mulut kuda agar kudanya tidak kaget dan ketakutan melihat rombongan banyak orang itu.

Dan dia mendengar teriakan orang yang berada di depan.

"Mari kawan-kawan, cepatan sedikit. Gerombolan Golok Setan tentu sudah berada di balik bukit ini"

Mereka melarikan kuda lebih cepat lagi memasuki sebuah hutan di depan.

Mendengar di sebutnya Golok Setan, Han Sin tertarik sekali.

Teringatlah dia akan cerita Cu Sian.

Bukannya ayah Cu Sian juga terbunuh oleh gerombolan perampok yang di sebut Kwi-to-pang (Perkumpulan Golok Setan)?

Karena ingin sekali tahu apa yang akan di lakukan orang-orang itu dengan gerombolan Golok Setan, Han Sin segera meloncat ke atas punggung kudanya dan membayangi mereka dari jauh.

Setelah tiba di tengah hutan yang berada di lereng bukit, Han Sin melihat mereka itu sudah berhenti di situ.

Di situ terdapat sebuah lapangan rumput yang luas dan orang-orang itu sudah turun dari kuda dan bergerombol di lapangan rumput.

Han Sin menghentikan kudanya.

Menambatkan kudanya pada sebatang pohon dan berindap-indap dia mendekati tempat itu untuk mengintai.

Dia melihat tiga orang pemimpin yang menyeramkan itu duduk di atas rumput dan anak buahnya duduk menghadap mereka.

Akan tetapi Han Sin melihat bahwa jumlah mereka banyak berkurang.

Sedikitnya tentu berkurang sepuluh orang.

Dia menyusup semakin dekat untuk mendengarkan percakapan mereka.

"Kalian bertiga, A-cun, A-tek, dan A-ban, selidiki mereka dari puncak pohon dan seorang kabarkan kepada kami, yang dua orang tetap berjaga di atas secara bergantian "

Ucapan dengan suara yang parau ini keluar dari seorang pemimpin yang bertubuh tinggi besar dan bermuka hitam.

Tiga orang anak buah bangkit dan meninggalkan lapangan rumput itu, kemudian mereka berloncatan ke pohon-pohon terbesar untuk melakukan pengintaian.

Tak lama kemudian seorang diantara mereka melompat turun.

Gerakan tiga orang anak buah ini cukup ringan dan cepat sehingga Han Sin maklum bahwa rombongan orang ini merupakan rombongan yang kuat sekali.

"Lapor, Twa-pang-cu (Ketua Pertama), mereka sudah di depan, kurang lebih dua mil dari sini. Jumlah mereka sekitar duapuluh"

"Hemmm, sekali ini kita akan menghancurkan dan membasmi mereka. Sam-sute, cepat kau pasang dan sebarkan bubuk racun hitam itu seperti seperti yangtelah kita rencanakan semula"

Yang di sebut sam-sute (adik seperguruan ke tiga) itu adalah seorang diantara tiga pemimpin itu.

Orang ini bertubuh tinggi, namun tidak sebesar orang pertama, hanya mukanya menyeramkan karena penuh dengan brewok yang menutupi sebagian besar mukanya.

Dia mengambil sebuah bungkusan dari saku bajunya dan terlihat dia menaburkan bubuk hitam pada garis setengah lingkaran yang menghadap ke arah utara.

Hanya bagian selatan yang tidak disebari racun dan bagian selatan ini agaknya yang menjadi pintu bagi mereka.

Jarak garis yang di sebari racun itu kurang lebih seratus meter dari tempat mereka duduk ,yaitu di tepi lapangan rumput.

Dan yang disebari racun bukanlah tanahnya, melainkan dedaunan dan tumbuh-tumbuhan yang terdapat di ditu.

Setiap orang yang akan masuk kelapangan rumput itu dari semua arah, kecuali dari arah selatan, tentu akan semak dan rumput yang sudah mengandung racun itu dan setiap orang tentu akan menguak semak itu dengan tangannya agar dapat lewat sehingga tangan itu tentu akan terkena racun.

Han Sin yang melihat ini mengerutkan alis.

Cara yang di ambil orang-orang itu memang keji sekali.

Akan tetapi karena diapun ingin sekali mengetahui mengetahui apa yang dilihat oleh pengintai tadi, diam-diam dia mundur, mencari pohon yang tinggi lalu melompat naik ke atas pohon.

Ketika dia mengintai ke arah utara, dia pun dapat melihat serombongan orang berada sekitar dua puluh orang lebih dan kadang-kadang nampak berkilatnya golok yang tertimpa sinar matahari.

Agaknya itulah yang dimaksudkan orang-orang ini sebagai Gerombolan Golok Setan.

Akan tetapi ada sesuatu yang menarik perhatian Han Sin.

Ada dua bayangan orang yang menyusup-nyusup diantara semak belukar dan batang-batang pohon.

Kalau dia tidak melihat dengan penuh perhatian, tentu bayangan itu akan lolos dari penglihatannya.

Demikian cepat gerakan mereka.

Kalau pengintai yang masih di atas pohon itu melihat, tentu akan di kiranya gerakan seekor dua ekor binatang saja.

Akan tetapi Han Sin merasa yakin bahwa itu adalah gerakan dua orang yang datang dari tempat berkumpulnya kelompok Golok Setan itu menuju ke sini.

Han Sin merasa betapa jantungnya berdebar tegang.

Tidak salah lagi, agaknya golok setan mengirim dua orang penyelidik dan dua orang itu pasti akan melanggar garis yang sudah di sebarin racun.

Ingin dia memberitahu mereka, memperingatkan mereka agar jangan sampai melanggar garis beracun itu, akan tetapi bagaimana caranya?

Pula, dia belum tahu benar siapa yang jahat diantara kedua kelompok orang yang agaknya bermusuhan itu, maka tidak adil lah kalau dia memihak salah satu kelompok.

Maka, diapun diam saja dan mengikuti dua bayangan itu dengan perasaan ngeri.

Setelah dekat dengan tempat itu, dua bayangan itu tidak nampak lagi dan gerakannya tidak dapat diikuti lagi.

Agaknya mereka maju dengan hati-hati sekali.

Tak lama kemudian Han Sin yang sudah siap melihat orang keracunan, tetap saja melihat orang keracunan, tetap saja terkejut ketika tiba-tiba terdengar jeritan dua orang yang mengerikan.

Di sebelah lapangan utara lapangan rumput itu.

Orang-orang yang berada dilapangan rumput itupun mendengarnya dan mereka kelihatan girang sekali.

"Ha-ha-ha, tentu dua ekor anjing pengintai mereka yang terkena racun. Seret mereka ke sini"

Dua orang anggota kelompok itu bangkit dan mereka menuju ke utara dari mana suara tadi terdengar.

Dua orang itu mengenakan sarung tangan hitam untuk melindungi tangan mereka dari racun.

Tak lama kemudian mereka sudah menyeret tubuh dua orang yang sudah menjadi mayat.

Sungguh luar biasa sekali racun hitam itu.

Mula-mula yang terkena hanya tangan dua orang penyelidik itu, akan tetapi warna hitam itu lalu menjalar ke seluruh tubuh sampai ke mukanya yang menjadi hitam seperti hangus.

Diam-diam Han Sin bergidik.

Dia sudah mendengar banyak dari gurunya.

Hek Liong Ong, tentang kekejaman yang banyak terjadi di dunia persilatan, terutama diantara golongan sesat dan baru sekarang dia menyaksikan sendiri.

"Ha-ha-ha, Gerombolan Golok Setan akan tahu rasa sekarang. Kalian berempat, bawa dua mayat itu dan lemparkan ke dekat tempat mereka"

Perintah si tinggi besar muka hitam.

"Baik, twa-pangcu"

Empat orang yang di tunjuk bangkit berdiri dan mereka inipun menggunakan sarung tangan hitam.

Mereka lalu menggotong dua mayat itu, dua orang menggotong satu mayat dan membawa mereka keluar dari lapangan rumput, menuju ke utara untuk mengirim dua buah mayat itu kepada pihak musuh.

Han Sin mengikuti perjalanan empat orang yang menggotong dua buah mayat itu, akan tetapi, baru sampai pada pertengahan jalan, mendadak muncul orang bersenjata golok besar dan mereka itu segera menyerang empat orang yang menggotong dua mayat tadi.

Empat orang itu melepaskan mayat dan mencabut pedang mereka, dan terjadilah perkelahian empat lawan lima orang bergolok.

Akan tetapi karena empat orang tadi menggotong dua mayat, mereka kalah cepat dan ketika golok-golok itu berkelebatan membentuk gulungan sinar menyilaukan mata, dalam waktu belasan jurus saja empat orang itu berturut-turut telah terpelanting roboh, kemudian lima orang itu menghujamkan goloknya ke tubuh mereka sampai tubuh empat orang itu terbelah-belah.

Han Sin menyeringai seperti orang menahan sakit.

Dia bergidik.

Kiranya orang-orang Golok Setan itu tidak kalah kejamnya dibandingkan orang-orang yang berada dibawah pohon ini.

Agaknya orang yang mengintai dari atas pohon melihat pula kejadian itu.

Maka dia cepat turun memberi laporan kepada para pimpinan.

"Twa-pangcu, celaka besar. Empat orang kita yang mengantar dua mayat itu di hadang di tengah perjalaan oleh lima orang musuh dan mereka semua terbunuh"

"Ahhhh......"

Ketua yang tinggi besar itu mukanya menjadi semakin hitam dan dia mengepal tinjunya "Keparat. Kita kehilangan empat orang sedangkan mereka hanya kehilangan dua orang. Kita harus membuat pembalasan"

Ketua pertama dari kelompok itu bernama Coa Gu dan berjuluk Hek-mo-ko.

Untuk daerah lembah Huang-ho ini sudah terkenal sebagai seorang datuk diantara para perampok dan bajak sungai.

Gerombolan yang dipimpinnya itu di beri nama Huang-ho-kwi-pang (Perkumpulan Iblis Sungai Kuning).

Orang tinggi besar bermuka hitam ini bersenjatakan sebatang tongkat baja yang hitam pula.

Karena muka dan tongkatnya yang hitam itulah maka dia dijuluki Hek-mo-ko (Iblis Hitam).

Orang kedua, yang tinggi besar bermuka brewok bernama Gu Ma It dan dia menjadi ji-pangcu (Ketua kedua).

Usianya lima puluh tahun, lima tahun lebih muda dari Hek-mo-ko dan Gu Ma It ini terkenal karena tenaganya besar seperti tenaga gajah dan diapun pandai bermain pedang.

Adapun orang ketiga yang menjadi sam-pangcu (ketua ketiga) bernama Su Ciong Kun, berusia empat puluh lima tahun.

Orang ketiga ini tinggi namun kurus dan mukanya menyeramkan sekali karena muka itu seperti tengkorak terbungkus kulit.

Orang ketiga dari Huang-ho Kwi-pang ini ditakuti karena dia seorang ahli menggunakan racun dan senjatanya berupa rantai baja juga lihai sekali.

Pusat Huang ho Kwi-pang berada di lembah Huang-ho, sedangkan anggota mereka berjumlah kurang lebih limapuluh orang.

Akan tetapi yang kini di ajak untuk menyerbu musuh hanya tigapuluh orang.

Mendengar twa-pangcu yang sudah marah itu bermaksud hendak menyerbu musuh, sam-pangcu segera berkata "Twa-suheng, kurasa tidak menguntungkan kalau kita langsung menyerbu mereka.

Mereka lebih menguasai medan karena ini merupakan daerah mereka.

Kalau kita menyerang mereka, kita dapat terjebak.

Biarkan mereka yang menyerang kita sehingga kita yang menjebak mereka dengan racun.

Gu Ma It yang tadi hanya mendengarkan saja kini berkata "Apa yang diucapkan sam-sute memang benar.

Mereka yang menguasai daerah ini tentu lebih paham akan keadaan disini dan kalau tidak berhati-hati kita dapat terjebak.

Tempat kita ini terbuka dan tidak dapat mereka menjebak kita, dan andaikata mereka menyerang kita, kita dapat mempertahankan diri dengan baik dan menghancurkan mereka"

"Hemmm"

Hek-mo-ko menggeram.

"Kita telah kehilangan empat orang. Di bandingkan dengan mereka yang kehilangan dua orang, kita masih rugi besar. Ternyata mereka telah memasang barisan pendam diantara kita dan mereka"

"Karena itulah harus berhati-hati dan menanti gerakan mereka"

Kata Su Ciong Kun si muka tengkorak yang agaknya cerdik.

"Ahhh, akan tetapi hal seperti itu menunjukkan bahwa kita takut kepada mereka"

Hek-mo-ko tetap penasaran.

Han Sin merasa sudah cukup lama mengintai dari atas pohon.

Dia turun dari pohon itu, mengambil keputusan untuk tidak mencampuri urusan mereka.

Gurunya pernah menasehatinya agar dia tidak mencampuri urusan orang-orang kang-auw karena diantara mereka kalau terjadi permusuhan, biasanya saling memperebutkan kekuasaan atau harta benda, juga mungkin karena dendam mendendam.

Akan tetapi baru saja dia turun dari atas pohon, tiba-tiba muncul sepuluh orang yang mengepungnya dan menodongkan senjata-senjata tajam kepadanyya.

Han Sin bersikap tenang saja, walaupun dia agak terkejut karena tidak menyangka bahwa dia telah diketahui.

Karena sejak tadi berada di atas pohon dan perhatiannya di tunjukkan kepada semua kejadian yang jauh dari pohon, dia tidak mendengar atau melihat apa yang terjadi di bawah pohon itu.

Kiranya mereka itu adalah sepuluh orang dari Huang-ho Kwi-pang yang tadi tidak dilihatnya dilapangan rumput dan mereka itu memang disebar untuk menyelidiki keadaan sekitar tempat itu.

Ketika seorang dari mereka melihat Han Sin di atas pohon, dia lalu memberi isyarat kepada kawan-kawannya dan pohon itu pun sudah di kepung.

"Ah, kalian ini mau apa?"

Tanya Han Sin dengan sikap tenang.

"Kau mata-mata Kwi-to-pang"

Bentak seorang diantara para pengepung itu. Han Sin tertawa "Ha-ha-ha, apa yang kalian maksudkan? Aku tidak mengerti segala macam Kwi-to-pang atau Perkumpulan setan manapun"

"Kau hendak melawan?"

Seorang menodongkan pedangnya. Han Sin memang tidak ingin bermusuhan dengan mereka. Dia mengangkat kedua tangan ke atas dan menggeleng kepala "Ah, tidak. Siapa mau melawan?"

"Kalau begitu menyerahlah. Kau harus kubawa menghadap pimpinan kami"

"Boleh. Aku memang tidak mempunyai kesalahan apapun"

Han Sin lalu di todong dan di giring memasuki lapangan.

Tentu saja semua orang memandang penuh perhatian ketika seorang pemuda di giring masuk lapangan rumput oleh sepuluh orang anggota Huang Ho Kwi pang itu.

Han Sin dipaksa duduk di atas rumput menghadap tiga orang ketua itu dan seorang diantara penawannya berkata "Lapor, pangcu.

Kami mendapatkan orang ini melakukan pengintaian di atas pohon"

Hek mo ko memandang kepada Han Sin penuh selidik, dari kepala sampai ke kaki, dan dia membentak "Kau mata-mata Kwi-to-pang yang mengintai kami?"

Han Sin menggeleng kepalanya "Sama sekali bukan"

"Haiii. Dia ini penunggang kuda yang kita susul di perjalanan tadi"

Seru Su Ciong Kun.

"Benar"

Jawab Han Sin "Memang tadi kalian menyusul dan melewati aku"

"Apa maksudnya kau berada di sini dan mengintai dari atas pohon? Jawab yang betul atau kami akan membunuhmu"

Bentak Hek-mo-ko.

"Aku sedang melakukan perjalanan menuju ke Tai-goan. Karena daerah ini amat sepi dan aku merasa kesepian, ketika kalian melewati aku tadi, aku bermaksud untuk menyusul agar dapat melakukan perjalanan ini bersama kalian dan tidak kesepian. Akan tetapi kalian berhenti di hutan ini dan akupun berhenti agak jauh dari sini menanti kalian berangkat lagi. Karena lama kalian tidak berangkat, aku lalu naik ke pohon untuk melihat apa yang terjadi"

"Dan apa yang kau lihat?"

Bentak Hek-mo-ko, mulai percaya kepada keterangan Han Sin karena dia agaknya dapat membedakan antara orang yang menjadi anggota gerombolan penjahat atau rakyat biasa.

"Aku melihat bahwa kalian bersiap"siap untuk bertempur dengan gerombolan yang di sana itu"

Han Sin menuding ke utara "Aku melihat pula dua orang dari mereka mati keracunan dan empat orang dari kalian terbunuh"

Gu Ma It yang berewokan berkata "Twa-suheng, untuk apa banyak bicara dengan orang ini? Mata-mata atau bukan, bunuh saja agar tidak merepotkan"

"Jangan, jangan bunuh aku. Apa untungnya kalian membunuhku? Dan aku bersumpah tidak ada sangkut pautnya dengan gerombolan yang di sana itu. Aku tidak ingin bermusuhan dengan siapapun"

Kata Han Sin sungguh-sungguh, bukan karena takut melainkan karena dia tidak ingin bermusuhan dengan gerombolan ini.

"Hemmm, bocah ini bukan anggota gerombolan biasa"

Berkatka Hek-mo-ko.

"Mungkin dia berguna bagi kita. Sebaiknya kita tahan saja dia. Jaga dia baik-baik jangan sampai meloloskan diri. Dan kau, orang muda, awas kau. Sekali kau berusaha melarikan diri kau akan kami bunuh"

Akan tetapi Han Sin sudah tidak begitu memperhatikan lagi soal lain karena saat itu perhatiannya tertarik ke sebelah kiri, ke arah sebatang pohon besar.

Di atas cabang pohon itu dia melihat seorang berjongkok nongkrong di atas cabang sambil cengar-cengir, dan orang ini bukan lain adalah Cu Sian, si pengemis remaja.

Tentu saja Han Sin merasa khawatir bukan main.

Orang-orang ini adalah orang-orang kasar yang biasa melakukan kekerasan dan agaknya mereka ini lihai, terutama sekali tiga orang pimpinan itu.

Dan sekarang Cu Sian muncul.

Dan apa lagi yang akan diperbuat oleh pemuda remaja yang nakal itu kalau tidak membuat ulah dan kekacauan?.

"Ha-ha-ha. Huang-ho Kwi-pang yang memiliki tiga orang pemimpin dan kelihatan kuat ini, ternyata hanya kulitnya saja yang nampak kokoh, padahal disebelah dalam keropos dan rapuh, jerih menghadapi Kwi-to-pang"

Semua orang terkejut dan menengok ke arah suara itu dan baru sekarang mereka melihat pengemis muda itu duduk nongkrong di atas cabang pohon.

Diam-diam tiga orang pimpinan Huang-ho Kwi-pang terkejut.

Bagaimana bocah jembel itu dapat tiba-tiba berada di pohon yang begitu dekat dengan mereka tanpa mereka ketahui sama sekali?

Mereka bertiga adalah orang-orang yang memiliki kepandaian tingkat tinggi, di tambah tiga puluh orang anggota yang bersikap waspada, namun tidak ada seorangpun yang dapat mengetahui adanya pengemis muda itu.

Padahal dia berada di pohon yang paling dekat dengan lapangan rumput itu.

Sedangkan Han Sin yang berada di pohon yang lebih jauh saja dapat diketahui dan di tangkap.

Akan tetapi mendengar ucapan pemuda remaja itu yang mengejek, Kwi-to-pang yang dikatakannya rapuh, tiga orang pimpinan itu menjadi marah dan merasa di hina.

Su Ciong Kun, pemimpin nomor tiga yang tubuhnya tinggi kurus mukanya seperti tengkorak itu membentaknyaring "Heii, bocah gila.

Berani kau menghina kami?"

Dengan kaki yang tadinya berjongkok itu kini di turunkan dan di goyang-goyang, Cu Sian tersenyum dan berkata.

"Eh, muka tengkorak, siapa menghina? Aku tadi bilang apa?"

"Bahwa kami keropos dan rapuh di sebelah dalam"

Kata Su Ciong Kun dengan marah.

"Ha-ha-ha, bukankah sekarang kau sendiri yang mengatakan bahwa kalian keropos dan rapuh? Bukan aku yang berkata, melainkan kau sendiri"

Su Ciong Kun merasa dipermainkan. Dia menjadi semakin marah dan mengamangkan tinju ke arah pengemis muda itu"

Bocah setan, turunlah kau, kalau tidak, akan ku seret kau"

"Wah, tidak usah repot-repot. Tidak perlu kau membantuku turun, aku dapat turun sendiri"

Berkata demikian, Cu Sian lalu melompat turun dari atas cabang pohon ke atas tanah.

"Ke sinilah kau untuk mempertanggung jawabkan ucapanmu tadi atau kami akan menggunakan kekerasan"

Kata pula Su Ciong Kun yang melihat pengemis muda itu masih berada di luar lingkaran yang telah di sebari racun itu.

"Baik, aku akan ke situ. Kau kira aku takut menghadapi kalian semua?"

Dan dengan sikap gagah diapun melangkah maju.

"Sian-te...... Berhenti jangan maju lagi. Tempat itu telah di sebari racun berbahaya"

Han Sin berteriak memperingatkan. Akan tetapi pemuda remaja itu tidak mundur, bahkan terus sambil tersenyum "Orang-orang Kwi-to-pang boleh jadi takut racun yang disebar di sini, akan tetapi aku tidak"

Dan dengan kedua tangannya, dia menguak semak-semak belukar yang menghalangi jalannya.

Han Sin terbelalak penuh kekhawatiran dan orang-orang Huang-jo Kwi-pang sudah tersenyum-senyum karena mereka yakin bahwa pemuda yang kurang ajar itu tentu akan roboh tewas.

Mereka itu kecelik karena ternyata Cu Sian dapat lewat dengan selamat.

Walaupun kedua tangannya tersentuh daun-daun yang di sebari racun, akan tetapi agaknya dia tidak merasakan apa-apa.

Dengan langkah lebar setelah memasuki lapangan rumput, ia menghampiri para pimpinan Huang-ho Kwi-pang.

Tentu saja kini bukan hanya Han Sin yang terheran-heran.

Tiga orang ketua Huang-ho Kwi-pang juga terheran-heran.

Akan tetapi kalau Han Sin merasa heran bercampur girang.

Sebaliknya tiga orang pemimpin Huang-ho Kwi-pang itu merasa heran dan terkejut bukan main.

Bagaimana mungkin ada orang yang menyentuh daun-daun yang disebari racun itu tanpa keracunan?

Pengemis itu masih masih begitu muda, mungkinkah dapat memiliki kesaktian sehingga dapat menolak daya racun itu?

Akan tetapi setelah Cu Sian tiba dihadapan mereka, barulah semua orang tahu mengapa pemuda remaja itu tidak keracunan.

Ternyata kedua tangannya itu memakai sepasang sarung tangan yang tipis dan warnanya sama dengan kulitnya sehingga sepintas lalu dia seperti tidak memakai sarung tangan.

Su Ciong Kun, orang ketiga dari tiga orang ketua Huang-ho Kwi-pang itu semakin heran ketika tiba-tiba Cu Sian membungkuk, mengambil tanah dan menggosok-gosok kedua tangan yang bersarung itu dengan tanah.

Bagaimana bocah itu tahu bahwa penawar racun itu adalah tanah?

Setelah di gosok-gosok dengan tanah, maka racun yang menempel pada sarung tangan itu akan punah kekuatannya.

Dengan gerakan yang tenang seperti orang memandang rendah, Cu Sian berkata "Huh, segala macam racun tikus dipergunakan untuk menjebak orang"

Ia lalu melepaskan sepasang sarung tangan itu dan memasukkannya ke dalam saku baju hitamnya yang longgar.

Juga dia hanya melirik satu kali ke arah Han Sin dan selanjutnya tidak mengacuhkannya.

Hek-mo-ko melangkah maju menghadapi pemuda pengemis itu.

Melihat pemuda itu berani melewati garis yang disebari racun tanpa keracunan, dan pemuda itu bahkan berani menghadapi mereka dengan sikap yang demikian tenang, dia bersikap hati-hati karena dapat menduga bahwa pemuda itu tentu bukan orang sembarang saja.

"Hei, orang muda. Siapakah kau dan apa maksudmu datang ke sini memandang rendah kepada kami"

"Aku she Cu bernama Sian. Aku sama sekali tidak memandang rendah kepada kalian. Akan tetapi aku memiliki kebiasaan untuk mengatakan apa adanya. Kalian merasa jerih kepada orang-orang Kwi-to-pang di sana itu, siapa yang tidak tahu? Kalau kalian hanya bersembunyi di sini berlindung kepada pagar racun, lalu kapan kalian dapat menghancurkan Kwi-to-pang?"

"Hemmm, kalau menurut pendapatmu bagaimana yang seharusnya kami lakukan?"

Hek-mo-ko bertanya.

"Ha-ha-ha, aku siap membantu Huang-ho Kwi-pang, dengan satu syarat, yaitu kalian harus menaati semua perintah dan petunjukku. Bagaimana? Aku tanggung kalian akan dapat membasmi Kwi-to-pang dan menguasai daerah lembah Huang-ho"

Tiga orang pimpinan gerombolan itu saling pandang dan mengerutkan alisnya.

Menaati perintah seorang pengemis muda?

Tentu saja mereka tidak dapat menyetujinya, apalagi mereka belum melihat sampai dimana kelihaian pemuda itu.

"Bocah sombong"

Teriak Cu siong Kun sambil meloloskan rantai bajanya. Rantai dari baja itu sepanjang satu setengah meter, besar dan berat.

"Kau anggap kau ini siapakah berani berlagak sombong untuk memerintah kami? Coba ingin ku lihat apakah kau mampu menandingi rantai bajaku ini"

Setelah berkata demikian Su Ciong Kun mengayun dan emutar-mutar rantai bajanya.

"Wirrr.... wirrrrr"

Rantai baja itu mengeluarkan bunyi mendesir ketika menyambar ke arah kepala Cu Sian.

Han Sin terkejut dan khawatir melihat serangan yang hebat itu dan diam-diam dia sudah siap siaga untuk menolong sekiranya pemuda remaja itu terancam bahaya.

Akan tetapi dengan gerakan ringan saja, Cu Sian telah dapat mengelak dan menghindarkan diri dari sambaran rantai baja itu.

Akan tetapi Su Ciong kun memang lihai.

Rantai baja yang luput menyambar kepala itu sudah membalik dan sekali ini menyambar ke arah pinggang Cu Sian.

Pemuda remaja ini menggerakkan tongkat bambunya menangkis.

Tangkisan dari samping itu hanya membuat sambaran rantai itu menyimpang dan secepat kilat tongkat itu sudah di gerakkan menusuk kearah siku kanan Su Ciong Kun.

"Tuk-tuk"

Dua kali ujung tongkat menotok dan terdengar Su Ciong Kun mengeluh dan rantai di tangannya terlepas.

Dia melompat ke belakang dengan mata terbelalak.

Melihat ini, Gu Ma It menerjang maju dan pedangnya sudah menyambar ke arah leher Cu Sian.

Cepat bukan main sambaran pedang itu dan terdengar bunyi berdesing saking kuatnya tenaga yang menggerakkan pedang.

"Siinggg.... Takkkk"

Pedang itu terpukul dari samping oleh tongkat bambu sehingga menyeleweng dan tidak mengenai sasaran.

Sebaliknya, Cu Sian sudah membalas dengan tusukan tongkatnya ke arah jalan darah di tubuh lawan.

Akan tetapi Gu Ma It dapat mengelak dan menangkis dengan pedangnya.

Sebetulnya, tingkat kepandaian Gu Ma It tidak berselisih jauh dengan tingkat kepandaian Su Ciong Kun.

Kalau tadi dalam beberapa gebrakan saja Su Ciong Kun dapat dikalahkan oleh Cu Sian, hal ini adalah karena Su Ciong Kun memandang rendah kepada pemuda remaja itu.

Berbeda dengan Gu Ma It yang sudah melihat adiknya kalah dan sudah maklum bahwa pemuda pengemis itu lihai sekali maka dia berhati-hati dan tidakmemandang rendah.

Kini Gu Ma It memutar pedangnya.

Dan melakukan serangan bertubi.

Namun gerakan Cu Sian amat lincahnya.

Tubuhnya berkelebat seperti seekor burung walet saja.

Jug apemuda remaja itu memainkan tongkatnya dengan ilmu tongkat yang di warisinya dari kakeknya.

Selagi dua orang ini saling serang dengan hebatnya, tiba-tiba Hek-mo-ko berseru keras"

Tahan senjata. Hentikan perkelahian"

Dan dia sudah melompat ke depan dan tongkat bajanya menghadang diantara kedua orang yang sedang bertanding itu sehingga keduanya melompat ke belakang.

"Twa-suheng, aku belum kalah.."

Gu Ma It membantah suhengnya.

"Ji-sute, biar aku sendiri yang menghadapi sobat muda ini"

Kata Hek-mo-ko yang kemudian menghadapi Cu Sian sambil berkata dengan suara mengandung keherannan "sobat, aku ingin sekali merasakan hebatnya ilmu tongkatmu"

"Majulah"

Tantang Cu Sian "Aku tidak mencari permusuhan dengan kalian. Akan tetapi bukan berarti aku takut. Setiap tantangan akan kulayani"

Para anggota Huang-ho Kwi-pang memandang dengan penuh perhatian.

Tidak mereka sangka sama sekali bahwa pengemis muda itu sedemikian lihainya.

Bukan saja mengalahkan Su Ciong Kun dengan mudah dan dapat menandingi Gu Ma It, bahkan kini berani menyambut tantangan Hek-mo-ko.

Han Sin juga menonton dengan hati tegang.

Akan tetapii kini dia tidak begitu khawatir lagi karena ternyata Cu Sian bukan hanya berlagak, melainkan benar-benar memiliki kelihaian.

Apa lagi dia dapat mengetahui dari sikap dan kata-kata Hek-mo-ko bahwa orang pertama dari pimpinan Huang-ho Kwi-pang ini tidak marah, melainkan heran terhadap Cu Sian.

"Sobat muda, sambut serangan tongkatku"

Dia membentak dan mulai membuka serangannya dengan gerakan tongkat ke depan, ujung tongkat tergetar menjadi banyak dan meluncur ke arah dada pemuda remaja itu.

Akan tetapi Cu Sian dengan sigap menyambut serangan itu dengan lompatan ke kiri dan memutar tongkatnya menangkis, kemudia diapun membalas dengan totokan tongkatnya ke arah lutut lawan.

Hek-mo-ko melompat ke kanan untuk menghindar serangan balasan itu.

Kemudian tongkat bajanya yang berat dan panjang sudah membuat gerakan melingkar untuk menyapu kedua kaki Cu Sian.

"Bagus"

Cu Sian berseru dan meloncat tinggi sehingga sapuan tongkat baja itu tidak mengenai kakinya.

Dari atas dia menggerakkan tongkat bambunya menotok ke arah ubun-ubun kepala Hek-mo-ko.

Serangan ini amat berbahaya bagi lawan dan Hek-mo-ko agaknya mengerti akan hebatnya serangan ini.

Dia berserunyaring dan menggerser kakinya sehingga tubuhnya mengelak ke belakang dan serangan Cu Sian itu luput.

Mereka saling serang dengan serunya dan yang terheran-heran kini adalah Han Sin yang mengikuti setiap gerakan mereka.

Penglihatan Han Sin yang tajam dan terlatih itu dapat menangkap persamaan jurus-jurus kedua orang itu.

Biarpun gerakan jurus-jurus kakek tinggi besar bermuka hitam itu mempunyai perkembangan yang berbeda, namun pada dasarnya kedua orang itu memainkan ilmu tongkat yang sama.

Akan tetapi jelas kelihatan olehnya bahwa kalau Hek-mo-ko memiliki tenaga yang lebih kuat, Cu Sian memiliki ginkang yang lebih sempurna sehingga pemuda pengemis itu selalu dapat menghindarkan diri dengan cekatan, dan serangan-serangan balasannya membuat kakek itu kewalahan.

Agaknya Hek-mo-ko juga maklum akan persamaan ilmu tongkat itu, maka dia menangkis tongkat bambu yang menusuk ke arah matanya lalu melompat ke belakang sambil berserunyaring "Tahan senjata"

Cu Sian menghentikan serangannya dan pemuda inipun memandang lawannya dengan heran dan alis berkerut.

"Sobat muda, darimana kau mempelajari Ta-houw-tung (Tongkat pemukul harimau)?"

Hek-mo-ko bertanya sambil melintangkan tongkatnya ke depan dada.

"Hemmm, kau seorang perampok dari mana kau mencuri Ta-houw-tung ilmu tongkat keluarga kami?"

Cu Sian juga menegur dan melintangkan tongkat bambunya di depan dada, gerakannya persis sama dengan gerakan tongkat Hek-mo-ko.

Mendengar pemuda ini menyebut ilmu tongkat Ta-houw-tung sebagai ilmu tongkat keluarganya, Hek-mo-ko makin terherandan mengamati wajah Cu Sian penuh perhatian.

Kemudian dia berkata dengan penuh penasaran "Aku Hek-mo-ko tidak mencuri ilmu tongkat.

Ilmu ini sudah kupelajari sejak aku muda, menjadi murid dan tokoh Hek I Kaipang di cabang utara"

"Aha, aku tahu sekarang siapa kau"

Kata Cu Sian sambil tersenyum "Kau tentulah paman Coa Gu yang dahulu menjadi wakil ketua Hek I Kaipang cabang utara lalu dikeluarkan karena karena melanggar peraturan"

Hek-mo-ko tertegun mendengar ini karena dia memang bernama Coa Gu.

Kurang lebih duapuluh tahun yang lalu dia masih menduduki jabatan wakil ketua dari Hek I Kaipang.

Karena dia melakukan pelanggaran, maka oleh Ketua Hek I Kaipang pusat di Tiang-an dia dikeluarkan dari Perkumpulan pengemis.

Setelah mengingat-ingat, diapun menghela napas dan berkata "Orang muda, aku sekarangpun dapat menduga siapa kau.

Kau bernama Cu Sian.

Nama margamu sama dengan guruku yang dahulu terkenal dengan sebutan Cu Lokai, ketua pusat Hek I Kaipang di Tiang-an.

Aku teringat bahwa guruku itu mempunyai seorang putera bernama Cu Kak yang tidak setuju dengan penghidupan sebagai pengemis.

Cu Kak bahkan keluar, menjauhkan diri dari Hek I Kaipang.

Tentu kau in putera dari Cu Kak, bukan?"

"Tepat sekali, Paman Coa Gu"

Kata Cu Sian.

"Bagus"

Hek-mo-ko Coa Gu menoleh dan berkata kepada dua orang saudaranya "Ternyata orang muda ini adalah keluarga sendiri. Dan dia telah datang, tentu untuk membantu kami membinasakan Kwi-to-pang"

"Tidak, Paman Coa Gu. Aku tidak membantu kalian dalam permusuhan kalian dengan Kwi-to-pang. Aku memang mempunyai permusuhan pribadi dengan Kwi-to-pang. Kwi-to-pang dan ketuanya telah membunuh ayahku dan menyebabkan kematian Ibuku. Aku harus membasmi mereka dan kebetulan kalian juga memusuhi mereka. Kita dapat bekerjasama"

"Bagus, kita dapat bekerjasama kalau begitu"

"Akan tetapi kalau paman dan anak buah paman hanya bersembunyi saja di sini, bagaimana kita dapat menghancurkan Kwi-to-pang?"

"Lalu apa yang harus kita lakukan? Mereka telah mengatur persiapan di sana dan kita tidak tahu perangkap apa yang mereka pasang untuk menghadapi kita"

"Harus ada seseorang yang pergi ke sana, menemui mereka dan mempelajari keadaan dan kedudukan mereka"

Kata Cu Sian.

"Akan tetapi hal itu berbahaya sekali"

Seru Hek-mo-ko"

Mereka telah memasang baris pendam di mana-mana. Bahkan empat orang anggota kami yang mengirim dua mayat anak buah mereka terhadang di dalam perjalanan dan semua tewas"

"Aku tahu dan aku sendiri melihatnya tadi. Akan tetapi kalau aku yang pergi ke sana, jangan harap mereka akan dapat menangkap aku"

Ucapan yang sombong ini membuat Han Sin mengerutkan alisnya. Akan tetapi dia tidak mau mencampuri urusan mereka, maka diapun diam saja dan hanya mendengarkan.

"Hek-mo-ko nampak girang bukan main"

Bagus. Kalau kau sendiri yang mau pergi menyelidiki, kita pasti berhasil dan menang"

"Akan tetapi aku baru mau membantu kalian kalau dua syaratku di penuhi. Pertama kalian baru boleh menyerbu kalau sudah ku beri isyarat. Dan kedua, sebelum aku pergi menyelidik keadaan musuh, pemuda yang kalian tawan itu harus di bebaskan lebih dulu. Dia adalah seorang sahabatku"

Cu Sian menuding ke arah Han Sin yang masih duduk di jaga oleh beberapa orang anak buah itu.

"Ah, tentu saja kami setuju. Pemuda itu kami tangkap karena kami mencurigai dia sebagai mata-mata Kwi-to-pang. Akan tetapi kalau dia itu sahabatmu berarti diapun orang sendiri dan sekarangpun dia boleh bebas"

Mendengar ini, Cu Sian lalu menghampiri Han Sin dan dengan sikap menertawakan dia berkata "Nah, Sin-ko, sekarang kau bebas dan boleh pergi kemana kau suka.

Akan tetapi kenapa kau berada di sini sehingga di curigai dan di tangkap?"

Han Sin tersenyum. Dari sikapnya, tahulah dia bahwa sahabatnya itu hendak mengatakan bahwa tanpa sahabatnya itu, tentu dia akan celaka.

"Terima kasih, Sian-te. Aku hanya kebetulan saja berada di sini, tidak bermaksud apa-apa. Akan tetapi aku di curigai dan di tangkap"

"Hemmm, memang begitulah keadaannya. Dimana-mana terdapat bahaya mengancam. Kalau tidak pandai-pandai menjaga diri, bisa bertemu bahaya dan celaka"

"Aku akan menjaga diri baik-baik, Sian-te. Nah, aku pergi saja sekarang"

Han Sin bangkit berdiri.

"Apakah kau tidak mau menanti saja sampai aku membereskan urusanku ini kemudian kita melakukan perjalanan bersama?"

Cu Sian mendesak lagi.

"Tidak, terima kasih, Sian-te. Aku tidak mau merepotkanmu"

Jawab Han Sin dan segera dia meninggalkan tempat itu.

Cu Sian kelihatan kecewa sekali, akan tetapi diapun tidak memaksa dan hanya memandang sahabatnya itu pergi sampai lenyap di balik pohon-pohon.

Hek-mo-ko dan kawan-kawannya memandang heran.

Bagaimana seorang pemuda yang lihai seperti Cu Sian dapat bersahabat dengan pemuda tolol seperti Cian Han Sin?

Hek-mo-ko yang melihat Cu Sian masih termenung memandang ke arah lenyapnya pemuda tawanan tadi, segera berkata "Cu-sicu, apakah yang akan kita lakukan sekarang?"

Cu Sian seperti baru sadar dari lamunannya "Kita menanti sampai matahari condong ke barat.

Aku akan menjadi pelopor dan jalan di depan.

Kalian menikuti aku sambil bersembunyi, jangan terlalu dekat.

Semua rintangan dalam perjalanan itu akan ku hadapi sendiri.

Baru kalau perlu aku akan memberi isyarat dan kalian boleh maju membantu.

Kalau tidak ada isyarat, kalian diam saja dan biarkan aku sendiri mangatasi rintangan.

Setelah tiba di perkemahan orang-orang Kwi-to-pang, aku akan masuk dan menemui para pimpinannya.

Kalian mengepung sambil bersembunyi dan kalau aku sudah memberi isyarat dengan terbakarnya sesuatu di sana, kalian boleh menyerbu masuk.

Aku akan membikin kacau di sana sehingga orang-orang kwi-to-pang yang sedang panik oleh pengacauanku tidak mempunyai banyak kesempatan untuk membela diri ketika kalian menyerbu.

Tiga orang pimpinan itu mengangguk-angguk.

Suatu rencana yang amat berani dan amat membahayakan keselamatan pemuda itu, akan tetapi karena yang merencanakan Cu Sian, merekapun hanya mengangguk setuju.

*** Kwi-to-pang (Perkumpulan Golok Setan) adalah perkumpulan perampok dan bajak sungai yang merajalela di sepanjang lembah Huang-ho sejak puluhan tahun yang lalu.

Yang menjadi ketuanya adalah seorang laki-laki berusia lima puluh tahun yang bertubuh tinggi besar.

Mukanya penuh brewok dan bernama Ban Koan, seperti juga para ketua dahulu yang menurunkan kedudukan itu dari guru ke murid, Ban Koan juga seorang yang ahli dalam ilmu silat golok besar dan diapun memakain julukan Sin-to-kwi (Setan Golok Sakti).

Dia mewarisi kedudukan ketua dari gurunya yang ketika hidupnya juga merupakan seorang datuk yang lihai ilmu silatnya.

Gurunya itu berjuluk Sin-to-kwi-ong (Raja Setan Golok Sakti).

Munculnya perkumpulan Huang-ho Kwi-pang di lembah Huang-ho bagian utara itu tentu saja di anggap sebagai pihak yang hendak merebut wilayah kekuasaan kwi-to-pang.

Beberapa kali terjadi bentrokan antara anak-anak buah mereka.

Maka para pimpinan masing-masing lalu mengajukan tantangan untuk memperebutkan wilayah yang subur bagi mereka itu.

Banyak rombongan pedagang berlalu lalang, baik melalui darat maupun melalui sungai sehingga keadaan mereka yang berkuasa di daerah itu menjadi makmur dengan adanya pembayaran "pajak"

Yang mereka kenakan pada para saudagar yang lewat.

Demikianlah, pada hari itu Ban Koan muncul sendiri memimpin anak buahnya.

Berbeda dengan dahulu, di waktu gurunya menjadi ketua, anak buah Kwi-to-pang sampai berjumlah duaratus orang, kini anak buahnya hanya sekitar lima puluh orang saja.

Hal ini adalah keadaan pemerintahan yang kuat setelah berdirinya Kerajaan Sui yang di pimpin oleh Kaisar Yang Cien.

Kaisar pertama Kerajaan Sui ini berusaha benar-benar untuk membasmi gerombolan penjahat, dan ketika pasukan pemerintah datang menyerbu, banyak anak buah Kwi-to-pang yang tewas dan banyak pula yang ketakutan dan mengundurkan diri.

Yang masih bertahan hanyalah Ban Koan dan para pengikutnya berjumlah lima puluh orang.

Pada hari yang di tentukan, kedua pihak sudah saling mendekati dan Kwi-to-pang membuat perkemahan di tepi sungai, sedangkan pihak Huang-ho kwi-pang membuat pertahanan di dalam hutan.

Sin-to-kwi Ban Koan menjadi marah sekali ketika dua orang penyelidiknya tewas keracunan.

Biarpun anak buahnya yang dia sembunyikan sebagai barisan pendam telah berhasil membunuh empat orang anak buah musuh, akan tetapi tetap saja dia merasa jerih untuk menyerbu setelah diketahuinya bahwa tempat pertahanan musuh itu disebari racun yang amat berbahaya.

Dalam memimpin Kwi-to-pang, Ban Koan dibantu oleh adiknya sendiri yang bernama Ban Ki dan berjuluk Siang-to-kwi (Sepasang Golok setan).

Ban Ki juga seperguruan dengan kakaknya, hanya bedanya kalau Ban Koan bersenjatakan sebatang golok yang besar dan berat, Ban Ki terkenal dengan senjatanya sepasang golok yang tipis dan ringan.

Pada hari itu, setelah kematian dua orang anggotanya, Ban Koan dan Ban Ki hanya menunggu saja gerakan musuh.

Mereka sudah memasang perangkap berupa anak panah yang menghadang di perjalanan mereka ke perkemahan mereka secara sembunyi.

Setelah matahari naik tinggi dan mulai condong ke barat, muncullah Cu Sian mendekati tempat pertahanan Kwi-to-pang.

Dia berjalan seenaknya dengan lenggang dan langkah panjang seolah dia sedang berjalan-jalan di dalam hutan itu.

Tiba-tiba dari balik semak belukar berlompatan empat orang yang memegang sebatang golok besar.

Empat orang itu bergerak cepat dan sudah mengepung Cu Sian.

"Berhenti"

Bentak seorang diantara mereka "Siapa kau dan mau apa berkeliaran di sini"

Cu Sian bersikap tenang saja "Apakah kalian anggota Kwi-to-pang? Aku ingin bertemu dengan ketua kalian"

"Dia tentu mata-mata Huang-ho Kwi-pang"

Teriak orang kedua"

Tangkap saja dia"

Empat orang itu sudah menodongkan golok mereka "Hayo kau menyerah, atau kami menggunakan kekerasan"

Cu Sian tersenyum mengejek "Aku ingin bertemu dengan ketua Kwi-to-pang.

Aku tidak sudi menyerah kepada kalian dan kalau hendak menggunakan kekerasan, ingin aku melihat apa yang dapat kaulakukan kepadaku"

"Keparat. Serang"

Teriak orang pertama dan empat batang golok sudah menyambar ke arah tubuh Cu Sian dan empat penjuru.

Akan tetapi empat orang itu hanya melihat bayangan berkelebat dan serangan mereka luput.

Cu Sian yang mempergunakan gin-kangnya melompat dan menghindar, kini tertawa dan empat orang itu cepat memutar tubuh mereka.

Ternyata pemuda berpakaian seperti pengemis itu telah berada diluar kepungan dan melintangkan tongkat bambunya di depan dada sambil tertawa-tawa.

Empat orang itu menjadi marah dan penasaran.

Kembali mereka maju menyerang dengan golok besar mereka.

Nampak sinar berkelebat ketika empat batang golok itu menyambar-nyambar.

Akan tetapi dengan tenang Cu Sian menggerakkkan tongkat bambunya, mengelak dan menangkis, kemudian dengan gerakannya yang cepat tongkat bambunya menotok empat kali dan empat orang itupun berseru kaget ketika golok mereka terlepas dari tangan mereka yang mendadak menjadi lumpuh.

Maklum bahwa pemuda itu terlalu lihai bagi mereka berempat, mereka lalu berlompatan dan berlari menuju kelompok mereka.

Cu Sian tertawa dan melanjutkan langkahnya menuju ke perkemahan Kwi-to-pang.

Akan tetapi tiba-tiba saja dari depan kanan kiri menyambar beberapa batang anak panah yang agaknya dilepas secara sembunyi oleh orang-orang yang berada dibalik batang pohon dan semak-semak.

Empat batang anak panah itu dapat di elakkan dengan mudah oleh Cu Sian.

Akan tetapi kembali anak panah menyambar.

Cu Sian menjadi marah dan dengan tongkatnya yang di putar di bagian tubuhnya dia menangkis dan empat batang anak panah itu dapat di runtuhkan.

Kemudian dia melompat cepat ke arah belakang semak-semak dan melihat empat orang melarikan diri.

Kiranya empat orang itu bertugas menyerang pelanggar tempat itu dengan anak panah dan melihat betapa serangan mereka sia-sia, mereka menjadi jerih dan cepat pergi dari tempat persembunyian itu.

Gerombolan yang di pimpin Hek-mo-ko dan kawan-kawannya, yang berindap-indap mengikuti Cu Sian, tentu saja melihat semua peristiwa itu dan mereka merasa gembira sekali menyaksikan betapa dengan amat mudahnya Cu Sian mengatasi itu.

Diam-diam mereka terus mnegikuti Cu Sian dari jauh.

Cu Sian terus melangkah maju menghampiri tempat pertahanan Kwi-to-pang.

Baca Juga: Rajawali Emas 6

Baca Juga: Si Tangan Sakti 8

Cari Blog Ini

Diberdayakan oleh Blogger.

Parnert