Eps 2 Pedang Naga Hitam - Kho Ping Hoo
Baca online Pedang Naga Hitam - Kho Ping Hoo
Cersil Pedang Naga Hitam - Kho Ping Hoo.
"Ahhh, manusia? Dan kau laki-laki ya? Kau tampan loh"
Gadis itu memuji dan mengancungkan jempol. Tanpa disadarinya, muka Han in menjadi merah.
"Nona, aku ingin minta tolong kepadamu. Ketahuilah, semua barangku termasuk pakaianku di curi orang. Aku kini telanjang sama sekali. Karena itu, tolonglah aku, carikan pakaian untukku, sedikitnya sebuah celana"
"Hik-hi-hik, minta tolong boleh akan tetapi katakan dulu siapa namamu"
Wahh gadis ini gila tapi pintar menggoda orang, pikirnya. Mau menolong akan tetapi menjual mahal. Pakai syarat segala macam. Akan tetapi mau tidak mau dia harus menjawab karena dia butuh pakaian.
"Namaku Cian Han Sin"
"Cian Han Sin, namamu aneh, Han Sin. Dan aku bernama Kui Ji"
"Namamu indah, nona"
"Heiii, sudah tahu namaku mengapa menyebut aku nona. Sebut saja adik Kui Ji yang baik"
"Oya, adik Kui Ji yang baik, tolonglah carikan pakaian untuk aku agar aku dapat naik ke darat"
"Kalau mau ke darat, naik saja sekarang"
"Tidak mungkin, adik Kui ji yang baik, aku bertelanjang bulat"
"Oh ya, ibu bilang hanya binatang yang telanjang bulat. Kalau manusia harus berpakaian. Kau memerlukan celanaku"
Dan gadis itu pun lalu melepaskan tali kain ikat pingganganya dan hendak menurunkan celananya. Tentu saja Han Sin terkejut sekali dan dia memejamkan matanya.
"Tidak, jangan lakukan itu. Jangan berikan celanamu kepadaku, nanti kau telanjang"
"Hik-hi-hik, sudah kubilang kau lucu dan juga bodoh. Siapa yang mau telanjang?"
Katanya dan tetap saja gadis itu menurunkan celananya yang berkembang-kembang.
Han Sin nekat membuka matanya dan sudah bersiap-siap untuk menutupnya kembali kalau gadis itu bertelanjang.
Akan tetapi ternyata dia memakai celana rangkap berapa, entah rangkap berapa karena pakaiannya kedodoran seperti itu.
"Nih, pakai celana ini"
Kata gadis itu sambil menggulung celana itu dan melemparkannya kepada Han Sin.
Han Sin menerima celana itu, akan tetapi bagaimana dia dapat memakainya kalau nona itu berada di situ?
Untuk mengenakan celana itu dia harus lebih dulu keluar dari dalam air.
"Nona, pergilah dulu"
"Siapa nona?"
"Oh ya, adik Kui ji yang baik, harap pergi dulu agar aku dapat naik dan mengenakan celana ini"
"Aku tidak akan pergi dan aku mau menonton kau memakai celana. Tentu lucu sekali"
Gadis itu terkekeh-kekeh dan kembali wajah Han Sin menjadi merah.
Gadis ini benar-benar gila tidak ketulungan lagi, sudah lupa akan rasa malu dan sopan santun.
Dia lalu mengerahkan tenaganya dari dalam air itu dia meloncat jauh ke depan, kearah sebuah batu besar.
Tubuhnya melayang seperti burung terbang dan cepat dia berdiri di balik batu besar agar gadis itu tidak melihatnya.
Tergesa-gesa dia mengenakan celana itu.
Celaka, celana itu ujungnya kecil sekali sehingga ketika dia memaksa dan menariknya ke atas, terdengarlah suara kain robek.
Terpaksa dia memotong bagian bawahnya dan kini dia memakai sebauh celana sebatas lutut yang berkembang-kembang.
Biarpun pakaian itu minim sekali, akan tetapi setidaknya membuat dia berani menghadapi orang, tidak bertelanjang bulat.
Sementara itu gadis yang pakaiannya berkembang-kembang itu terbelalak melihat Han Sin meloncat dari dalam air ke atas batu, agak jauh darinya.
Ia masih tertegun memandang Han Sin yang muncul dari balik batu dengan mengenakan celana kembang sebatas lutut, kemudian, sekali ia mengayun tubuhnya, tubuh itu berkelebat dan telah berada di depan Han Sin, membuat pemuda itu terkejut sekali.
Kiranya gadis gila ini pandai ilmu silat dan dapat meloncat dengan gerakan demikian cepatnya.
Kembali timbul kecurigaannya bahwa yang mencuri buntalannya tentulah gadis ini pula.
"Aih, kiranya kau memiliki ilmu kepandaian pula, Han Sin? Bagus, mari kita bermain-main sebentar"
Katanya sambil tertawa terkekeh dan tahu-tahu tangan kanannya telah menyerang Han Sin dengan gerakan melengkung aneh.
Akan tetapi tangan yang semula tidak kelihatan seperti hendak memukulnya itu, tahu-tahu telah membelok dan menampak ke arah mukanya dengan gerakan demikian cepatnya.
Juga amat kuat karena tamparan itu di dahului angin pukulan yang terasa panas oleh pipi Han Sin.
Han Sin cepat mengelak dengan menarik ke belakang tubuh atasnya, akan tetapi Kui Ji menyerang lagi dengan tamparan susulan.
Ia pun menyerang bertubi-tubi dengan tamparan dan totokan dan gerakannya makin lama makin aneh namun lihai bukan main.
Han Sin terus mengelak, setelah mengelak atau menangkis selama belasan jurus, ketika tangan gadis itu mencengkram ke arah lehernya, dia sengaja mengerahkan tenaganya dan menangkis keras "Duukkk"
Kedua lengan bertemu dengan kuatnya dan gadis itu terdorong mundur. Lalu memegangi lengan yang tertangkis itu dan menangis.
"Hu-hu-hu-hu-hu... kau nakal.......... hu-hu-hu... kau menyakiti lenganku"
Akan tetapi sambil menangis ia menyerang terus dan kini ia sudah memungut sebatang tongkat berbentuk ular yang tadi ditinggalkan diatas batu.
Hebat sekali serangan dengan tongkat ini, dan gerakannya tetap aneh sekali, berbeda dengan ilmu-ilmu silat biasa.
Kalau ujung tongkat itu menggetar menyerang dengan tusukan ke arah dada, ternyata penyerangan yang sesungguhnya adalah pukulan ke arah kepala.
Kalau nampaknya pada permulaan menyerang ke kanan, ternyata menyerang ke kiri.
Seperti serangan orang yang kebingungan dan nampaknya ilmu silat gadis itu kacau balau seperti kacau balaunya jalan pikirannya.
Akan tetapi justru kekacauan itu lah yang membuat ilmu silat itu lihai dan berbahaya sekali, tidak dapat diduga perkembangannya.
Han Sin yang hanya bertahan saja, terpaksa beberapa kali menjadi korban tamparan dan totokan, akan tetapi karena dia sudah melindungi tubuhnya dengan sin-kang yang kuat, maka dia tidak sampai robih.
Akhirnya dia tahu bahwa kalau dia tidak membalas, mungkin saja dia dapat terluka oleh tongkat yang gerakannya terkadang seperti seekor ular itu.
Maka, mulailah dia mengerahkan tenaga dan memainkan Bu-tek-cin-keng.
Ketika tongkat meluncur menusuk matanya, Han Sin menangkis sehingga tongkat terpental dan dengan tangan kirinya diapun mendorong dengan telapak tangannya kedepan sambil mengerahkan tenaga yang dia kendalikan agar jangan sampai dia melukai gadis itu.
"Wuuutttt.... aighhh"
Kui ji terdorong kebelakang dan ia menjerit, kemudian jatuh terduduk.
Napasnya agak terengah.
Dorongan itu ternyata mengeluarkan hawa pukulan yang menghimpit dadanya dan menyesakkan napasnya.
Gadis itu memandang bengong sesaat, kemudian dia meloncat dan menundingkan telunjuk kirinya ke arah muka Han Sin.
"Han Sin, kau menggunakan ilmu iblis apakah?"
Ia lalu memutar tongkatnya ke atas kepala dan melanjutkan "
Akan tetapi, aku tidak takut, hayo kita lanjutkan"
Dan diapun sudah menyerang lagi kalang kabut dan agaknya gadis itu merasa penasaran dan mengerahkan seluruh tenaga dan kepandaiannya.
Dan kini ia menyerang sambil mengeluarkan suara melengking tinggi dan panjang.
Han Sin kembali terkejut.
Teriakan melengking itu bukan sembarangan teriakan melainkan teriakan yang mengandung khikang dan bagi lawan yang kurang kuat sin-kangnya tentu akan terguncang hatinya dan mengacaukan pikirannya sehingga mudah dirobohkan dan serangannya itupun hebat bukan main.
Sekali tongkat bergerak, ujung tongkat tergetar dan menotok secara bertubi-tubi ke arah jalan darah di tubuhnya bagian depan.
"Hemmm"
Han Sin mengelak dan ketika ia mendapat kesempatan, tangannya meraih, menangkap tongkat itu dan tangan yang sebelah lagi menotok lengan yang memegang tongkat dekat siku sehingga lengan itu menjadi lumpuh seketika dan dengan mudah dia telah merampas tongkat itu.
Gadis itu terkejut dan melompat kebelakang, matanya yang indah itu memandang kepada Han Sin dengan terbelalak.
Han Sin merasa tidak enak hati.
Gadis itu telah menolongnya memberi celana dan kini dia mengalahkannya.
"Maafkan aku dan terimalah kembali tongkatmu"
Katanya sambil menyerahkan tongkat yang bentuknya seperti ular itu.
Kui Ji menerima tongkatnya dan sungguh aneh sekali.
Kini ia tersenyum dan menunjukkan mukanya yang menjadi kemerahan dan sikapnya menjadi seperti seorang gadis yang malu-malu.
"Kau telah mengalahkan aku... Kau telah mengalahkan aku"
Demikian katanya berulang-ulang seolah tidak percaya bahwa ada orang yang dapat mengalahkannya.
"Maaf, adik Kui Ji yang baik, kepandaian mu hebat sekali dan aku merasa kagum"
Kata Han Sin dengan sungguh hati karena memang dia kagum melihat ilmu silat gadis itu yang aneh dan lihai sehingga dia sendiri beberapa kali terkena tamparan dan totokan gadis itu.
"Hik-hi-hi-hik. Akhirnya kau datang juga, koko. Kaulah pemuda yang mampu mengalahkan aku. Jadi kau yang pantas menjadi suamiku. Dan Aku senang menjadi istrimu, koko Han Sin"
Gadis itu lalu menghampiri Han Sin dan kedua tangannya siap untuk memeluk. Han Sin terkejut sekali dan dia melangkah mundur.
"Ah, tidak, Kui Ji... adik yang baik, jangan begitu. Aku tidak mempunyai pikiran sama sekali untuk berjodoh, aku bukan jodohmu"
Kui Ji seperti terheran dan terkejut mendengar ini dan kedua tangan yang sudah terangkat untuk memeluk itu, jatuh kembali "Apa? Kau......... kau menolak menjadi suamiku............?"
"Aku belum mempunyai niat untuk menjadi suami siapa saja"
Jawab Han Sin singkat.
Dia mau mengalah terhadap seorang yang otaknya tidak waras, akan tetapi kalau harus mengawininya, tentu saja dia tidak mau.
Tiba-tiba gadis itu menangis dan teriakannya melengkingnyaring.
Han Sin menjadi serba salah.
Tadinya dia hendak mencari buntalannya, akan tetapi dalam keadaan seperti itu tentu Kui Ji tidak mau bicara tentang buntalan itu.
Kalu gadis itu di tinggalkan, lalu bagaimana dengan buntalannya yang terisi pakaian dan uang bekal?
Kalau tidak ditinggalkan dan dihadapi terus, bagaimana dia harus bersikap melihat kegilaan ini.
Selagi dia hendak pergi saja meninggalkan gadis itu, tiba-tiba nampak bayangan berkelebat dan terdengar suara yang tinggi melengking.
"Heiiiii.... siapa berani mengganggu anakku sampai ia menangis sedih? Siapa.........?"
Dan tiba-tiba didepan Han Sin berdiri seorang wanita.
Sekali pandang saja tahulah Han Sin bahwa wanita ini pun keadaanya sama dengan Kui Ji.
Usianya sekitar empat puluh delapan tahun.
Wajahnya masih membayangkan bekas kecantikan, tubuhnya juga masih ramping padat.
Rambutnya terurai panjang seperti rambut Kui Ji.
Akan tetapi kalau rambut Kui Ji diikat sutera kuning, rambut wanita ini riap-riapan, sebagian ada yang menutupi wajahnya sehingga kelihatan menyeramkan.
Rambut itu panjang sampai ke pinggul dan masih hitam lebat.
Pakaian wanita ini pun berkembang-kembang dan tangan kanannya memegang sebatang pecut seperti yang biasa dipergunakan para penggembala kerbau dan lembu mereka.
"Ibu....... oh, ibu..."
Kui Ji makin meledak-ledak tangisnya "Dia....dia ini menolak untuk menjadi suamiku, padahal aku telah menjatuhkan pilihan ku kepadanya, ibu....... hajarlah dia agar dia mau menjadi suamiku"
Wajah yang masih cantik itu nampak menyeramkan, sepasang matanya seperti bersinar-sinar penuh kemarahan, mulutnya cemberut "Apa....?
Berani cacing pita ini menolak anakku?
Anakku cukup pantas menjadi isteri seorang pangeran, apalagi hanya cacing macam ini.
Orang muda, siapa kau?"
"Ibu, namanya Cian Han Sin dan ilmu silatnya cukup tinggi, dia telah mengalahkan aku"
Kata Kui Ji dan mendengar ini, wanita itu kelihatan semakin penasaran.
"Cian Han Sin, anakku telah memilih kau menjadi suami. Hayo katakan, apakah kau tetap tidak mau"
Tanya wanita itu dengan suaranya yang galak.
Han Sin merasa serba salah.
Dia tidak marah melihat sikap mereka yang hendak memaksanya menjadi suami Jui Ji karena dia maklum bahwa ibu dan anak ini tidak waras pikirannya.
Dia pun tidak ingin bermusuhan dengan mereka, akan tetapi bagaimana mungkin dia dapat menjadi suami Kui Ji?
selain gadis itu seorang yang miring otaknya, juga dia sama sekali belum berniat untuk menjadi suami orang.
"Maafkan saya, bibi yang baik. Akan tetapi saya belum mempunyai keinginan untuk menikah, karena itu terpaksa saya menolak keinginan adik Kui Ji yang baik"
"Hik-hi-hik, kau sudah menyebut Kui Ji sebagai adik yang baik, tentu kau suka kepadanya. Kau harus menjadi suaminya, harus dan tidak boleh menolak lagi. Kau mantuku yang baik, tidak usah malu-malu kucing, katakanlah kau mau"
"Ibu, koko Han Sin bahkan sudah memberi emas kawin berupa beberapa stel pakaiannya dan sekantung emas"
Kata Kui Ji.
"Nah, apalagi sudah memberi emas kawin. Dan Itu"
Wanita itu menunjuk ke arah celana yang dipakai Han Sin "Bukankah itu celana mu, Kui Ji?"
"Benar, ibu. Celanaku itu sengaja kuberikan kepadanya untuk kenang-kenangan"
"Wah, sudah begitu jauh hubungan kalian ya? Hayo, Han Sin kau ikut kami untuk merayakan pernikahan kalian"
"Tidak bibi aku tidak mau"
Kata Han Sin yang merasa terdesak dan menjadi mendongkol juga. Agaknya biarpun gila, gadis itu cukup licik untuk menyudutkannya.
"Kau harus mau, harus mau"
Wanita itu melengking-lengking, akan tetapi Han Sin tetap menggeleng kepala.
Kini mulai timbul kemarahannya setelah mendengar ucapan Kui Ji bahwa buntalannya benar dicuri oleh gadis itu dan dikatakan sebagai emas kawin.
"Kalau begitu, aku akan memaksamu"
Kata wanita itu dan ketika ia menggerakkan cambuknya di udara, terdengar suara meledak-ledaknyaring.
Akan tetapi Han Sin yang sudah marah tidak merasa takut.
Dia malah ingin menundukkan wanita ini dan puterinya agar dapat dipaksanya mengembalikan buntalannya.
"Wuuuutttt.... tarrrr"
Cambuk itu menyambar ke arah kepala Han Sin dan meledak ketika Han Sin cepat mengelak.
Wah, ilmu kepandaian wanita ini lebih lihai daripada puterinya, pikirnya dan diapun cepat menggunakan ilmu Bu-tek-cin-keng untuk menghadapinya.
Memang hebat ilmu cambuk wanita itu.
Cambuk itu menyambar-nyambar dan meledak-ledak seolah-olah cambuk itu menjadi banyak, menyerang keseluruh pusat jalan darah di tubuh Han Sin.
Pemuda itu mengelak dan kadang menangkis, kulitnya telah dilindungi sinkang sehingga kebal terhadap lecutan cambuk dan diapun balas menyerang untuk merobohkan wanita itu.
Terjadilah pertandingan yang seru sekali.
Gerakan cambuk itu aneh dan sukar di duga, seperti juga gerakan tongkat di tangan Kui Ji tadi sehingga beberapa kali usaha Han Sin untuk menangkap ujung cambuk selalu gagal.
Setiap kali tangannya meraih ujung cambuk itu tiba-tiba melejit dan menghindar.
Suatu ketika, dengan tangan kirinya Han Sin berhasil menangkap ujung cambuk, akan tetapi tiba-tiba saja wanita itu menggerakkan kepalanya dan rambutnya yang hitam panjang itu menyambar dan ujung gumpalan rambut itu menotok pergelangan tangan Han Sin yang menangkap ujung cambuknya.
Han Sin merasa betapa lengannya tergetar hampir lumpuh dan cambuk itu sudah ditarik lepas dari tangannya.
Dia terkejut sekali, tidak menyangka bahwa selain lihai dengan cambuknya wanita itupun lihai memainkan rambut kepalanya sebagai cambuk.
Dia menjadi penasaran dan tidak mau mengalah lagi.
Dengan cepat kaki tangannya membalas serangan wanita itu dengan pukulan dan tendangan yang amat kuat.
Wanita itu mengeluarkan teriakan aneh karena terkejut dan iapun terdesak mundur.
Akan tetapi pada saat itu terdengar teriakan Kui Ji dan gadis ini sudah memasuki pertandingan itu dan mengeroyok Han Sin dengan tongkat ularnya.
Han Sin tersenyum "Bagus.
Majulah kalian berdua, aku memang ingin menundukkan kalian berdua ibu dan anak yang sinting"
Katanya dan dia pun melayani pengeroyokan itu.
Akan tetapi mudah saja berkata demikian, namun pada kenyataannya amatlahsukar mengalahkan ibu dan anak itu setelah mereka maju berdua.
Ternyata ibu dan anak yang sama-sama gilanya ini dapat bekerjasama dengan baik sekali.
Tiga macam senjata yaitu cambuk, rambut dan tongkat yang kacau balau gerakannya dan tak dapat dui duga perkembangannya itu mengeroyok Han Sin.
Pemuda ini mengerahkan tenaga dan kelincahannya untuk berkelebat menhindar, kadang menangkis dan membalas dengan serangan pukulan dan tendangannya.
Biarpun di keroyok dua oleh ibu dan anak yang lihai itu, perlahan-lahan Han Sin dapat mempelajari gereka mereka setelah dia mengetahui cara perkembangan serangan lawan yang serba terbalik itu.
Dia yakin bahwa akhirnya dia akan mampu mengalahkan mereka.
Akan tetapi mendadak terdengar suara parau membentak "Orang gila dari mana berani mengganggu istri dan anakku?"
Dan ada hembusan angin pukulan yang kuat sekali menghantam kepala Han Sin mengelak, sebatang tongkat menyambar dengan dahsyat.
Dia membalik dan melihat seseorang laki-laki berusia limapuluh tahun.
Bertubuh sedang, pakaian berkembang-kembang, rambutnya juga riap-riapan dan mulutnya menyerengai seperti orang tertawa, Tentu saja Han Sin terkejut sekali dari sambaran tongkatnya tadi saja dia dapat menilai bahwa tingkat kepandaian laki-laki ini lebih tinggi dari pada tingkat wanita itu dan Kui Ji, akan tetapi dia tetapi sempat banyak berpikir karena mereka bertiga, ayah, ibu dan anak itu, sudah mengeroyoknya seperti tiga ekor serigala kelaparan.
"Ayah, ayah. Jangan bunuh dia. Dia adalah suamiku"
Sambil memainkan tongkatnya Kui Ji berteriak kepada ayahnya.
"Heh? Suamimu? Kenapa kalian keroyok?"
Tanya si ayah sambil terus mendesak Han Sin dengan tongkatnya.
"Dia menolak menjadi suami anak kita"
Jawab si isterinya.
"Hah? Dia menolak menjadi suami Kui Ji? Ha-ha-ha-ha, tentu dia gila, gila sekali"
Si ayah lalu tertawa bergelak akan tetapi tongkatnya terus mendesak.
Sekali ini Han Sin benar-benar terdesak.
Biarpun dia mendapat kenyataan bahwa tiga orang itu tidak pernah melakukan serangan untuk membunuhnya, akan tetapi mereka itu menggunakan senjata mereka untuk menotok jalan darahnya dan ternyata totokan mereka itu lihai sekali dan tidak mungkin untuk melindungi semua jalan darah ditubuhnya dengan sin-kangnya.
Dia menjadi bingung.
Kalau dia mau menggunakan pukulan-pukulan yang hebat dari Bu-tek-cin-keng, mungkin saja dia akan mampu merobohkan mereka.
Akan tetapi kalau hal itu dia lakukan, boleh jadi dia akan memukul mati kepada mereka dan hal ini sama sekali tidak dia kehendaki.
Tiga orang itu adalah orang-orang sinting, bukan orang jahat.
Dan agaknya biarpun gila, tiga orang itu cerdik sekali.
Mereka membentuk kepungan segitiga yang menutup semua jalan keluar, sehingga diapun tidak dapat meloloskan diri dari kepungan itu.
Biarlah, pikirnya kemudian, biarkan mereka menawanku.
Kalau ada kesempatan, dia masih dapat melarikan diri.
Hanya itu jalan satu-satunya karena dia tidak tega menurunkan tangan maut membunuh mereka.
Khirnya serangan hebat dari tiga orang itu secara berbarengan, membuat dia roboh tertotok dalam keadaan lemas.
Melihat dia roboh, tiga orang itu tertawa-tawa sambil menari-nari mengelilinginya.
Han Sin merasa ngeri.
"Horeee, suamiku tertangkap. Dia akan menjadi suamiku, tidak dapat menolak lagi"
Kui Ji menarik-nari kegirangan.
"Biar dia kubawa pulang"
Gadis itu sudah membungkuk hendak memondong tubuh Han Sin yang tak berdaya itu.
"Kui Ji, jangan bodoh"
Seru ayahnya"
Mantu ini lihai sekali dan kalau dia sudah mampu bergerak, kau bukan tandingannya. Karena itu dia harus diikat dulu agar tidak dapat memberontak kalau sudah mampu bergerak"
"Hik-hi-hi-hik, susah-susah amat sih"
Cela istrinya "Beri saja racunku kepadanya dan dia akan menjadi penurut seperti seekor domba, hi-hi-hik"
Ayah dan anak itu memandang girang "Haiiii, kenapa aku begini pelupa?"
Teriak ayah itu.
"Cepat keluarkan racun itu dan berikan kepadanya, Liu Si"
Wanita yang dipanggil Liu Si itu segera mengeluarkan sebuah bungkusan dari saku bajunya yang berkembang. Ia memang seorang ahli tentang racun dan ia memiliki racun yang disebut "Racun pelemas otot"
Ia mengambil sebatang jarum, mengoleskan racun bubuk hitam itu kepada batang jarum, kemudian ia menusukkan jarum itu pada pangkal lengan Han Sin.
Han Sin tidak mampu bergerak dan terpaksa dia hanya memandang ketika pangkal lengan kirinya ditusuk jarum.
"Jangan bergerak, suamiku. Tahankan saja. Hanya sakit sedikit"
Kui Ji menghibur sambil mengusap-ngusap dagu Han Sin seperti seorang ibu membujuk anaknya.
Begitu jarum di tusukkan, Han Sin merasa sesuatu yang amat dingin memasuki tubuhnya melalui pangkal lengan itu.
Dia menggigil dan rasa dingin itu menyusup tulang.
Kui Ji masih terus membelainya.
Jarum di cabut kembali dan wanita itu terkekeh.
"Hik-hik-hik-hik, ia akan kehilangan tenaganya dan ia akan menjadi penurut, tidak akan dapat memberontak lagi"
"Kau sudah yakin benar, Liu Si?"
Suaminya bertanya. Wanita itu tiba-tiba melotot "Kau, tidak percaya akan kemampuan racunku?"
Apakah kau ingin merasakannya sendiri?"
Ia mengancam dengan jarumnya.
"Ah, tidak, jangan. Aku hanya khawatir pemuda ini memberontak dan sukar bagi kita untuk menundukkannya kembali"
"Hemmm, sekarang juga dapat dibuktikan"
Liu Si menepuk punggung Han Sin dua kali dan pemuda ini merasa betapa darahnya mengalir normal dan dia dapat bergerak kembali.
Akan tetapi ketika dia hendak mengerahkan tenaganya, dia terkejut.
Otot-otot ditubuhnya tidak dapat terisi tenaga sin-kang dan dia hanya dapat bergerak dengan tenaga biasa saja.
Otot-otot itu seperti dalam keadaan lesu dan tidak dapat menerima hawa sin-kang yang disalurkannya.
"Hik-hik-hik, percuma saja. Kau mencoba untuk menyalurkan sin-kangmu, Han Sin"
"Ha-ha-ha-ha, kau sudah berjodoh dengan puteri kami, orang muda"
"Ayah, namanya Cian Han Sin, kelak anak kami akan bermarga Cian"
Kata Kui Ji tanpa malu-malu lagi.
"Ha-ha-ha-ha, tentu saja. Sudah menjadi peraturan nenek moyang kita yang tidak boleh di langgar bahwa seseorang anak menggunakan marga ayahnya.
"Han Sin, Karena kau sudah menjadi mantuku, maka menurut peraturan sejak jaman dahulu, kau harus memberi hormat kepada aku dan istriku dengan berlutut. Hayo lakukan, kau tidak akan menyesal menjadi mantu Kui Mo, ha-ha-ha-ha"
Han Sin merasa tertarik sekali.
Dua kali sudah orang gila ini menekankan soal peraturan nenek moyang yang harus di taati.
Agaknya ini merupakan titik kelemahannya, pikirnya maka hal itu akan di cobanya.
"Benar sekali, paman akan tetapi menurut peraturan nenek moyang kita sejak jaman dahulu yang tidak boleh dilanggar, pemberian hormat itu hanya dilakukan di waktu sepasang pengantin dipertemukan, jadi bukan sekarang. Kalau sekarang dilakukan, ini berarti melanggar peraturan nenek moyang"
Kui Mo tertegun, melongo, lalu tertawa "Ha-ha-ha-ha, kau benar. Aku sampai lupa, ha-ha-ha. Baik, dilakukan nanti setelah kedua pengantin dipertemukan"
Han Sin merasa girang, ternyata akalnya berhasil baik, maka dia lalu berkata lagi "Menurut adat istiadat, sungguh tidak pantas kalau seorang mantu dibiarkan setengah telanjang seperti ini.
Hal itu akan mencemarkan nama baik mertuanya.
Maka saya harap agar buntalan pakaianku yang disimpan calon istriku diberikan kepadaku agar saya dapat memakai pakaian yang pantas "
Kui Mo memandang kepada puterinya "Kui Ji, apakah pakaian suami mu kau simpan?"
"Buntalan itu adalah emas kawinnya, ayah"
"Emas kawinku hanya sekantung emas itu, dan pakaian itu adalah pakaian untukku sendiri, adik Kui Ji yang baik"
Kata Han Sin dengan suara merayu.
Senang hati Kui Ji di sebut adik yang baik, maka ia lalu tertawa dan berloncatan pergi.
Tak lama kemudian ia sudah kembali membawa buntalan itu dan membukanya didepan semua orang.
Ketika mengambil kantung emas, Kui Ji bersorak "Horeeee, ini emas kawinku.
Banyak ya bu?"
"Hemmmm, dahulu emas kawin yang diberikan ayahmu kepadaku, tidak sebanyak itu"
Sementara itu Han Sin mengambil pakaiannya dan mengenakan pakaiannya sendiri. Agar tidak bertelanjang lagi, dia memakai pakaiannya di luar celana berkembang itu.
"Bagus, kau gagah memakai pakaian itu. Pantas menjadi mantuku"
Kata Kui Mo.
"Dan sekarang, mari kita semua pulang. Pesta pernikahan harus dirayakan dengan meriah"
Biarpun hatinya mendongkol dan juga khawatir, Han Sin terpaksa ikut rombongan keluarga gila itu mendaki sebuah bukit yang penuh hutan.
Melihat keadaan dirinya, untuk sementara ini terpaksa dia harus menurut segala kemauan mereka, akan tetapi dia masih memiliki "senjata"
Yang ampuh, yaitu kepatuhan Kui Mo akan adat istiadat nenek moyang.
Dan senjata itu akan dapat dipakainya untuk mengendalikan mereka, setidaknya untuk sementara waktu.
Dia tidak tahu berapa lamanya racun dingin itu akan mempengaruhi tubuhnya.
*** Rumah itu besar akan tetapi sederhana sekali, Terbuat daripada bambu dan kayu.
Ketika Han Sin diajak oleh keluarga gila itu memasuki rumah, dia sudah menyusun rencana siasatnya.
Didalam rumah terdapat pula meja kursi yang kasar, agaknya buatan mereka sendiri.
Akan tetapi pada dinding bambu itu tergantung lukisan-lukisan indah dan sajak-sajak pasangan yang di tulis oleh penyair-penyair terkenal.
Han Sin merasa heran sekali.
Dilihat dari sajak dan lukisan itu, pantasnya keluarga itu adalah keluarga bangsawan yang berdiam disebuah gedung.
Sajak dan lukisan seperti itu memang sepatutnya tergantung di dinding rumah gedung.
"Nah, Inilah rumah kami, juga kini menjadi rumahmu, mantuku"
Kata Kui Mo sambil tertawa-tawa senang"
Kita akan segera melangsungkan pernikahan mu dengan Kui Ji"
Han Sin bangkit berdiri dari duduknya dan memberi hormat, sikapnya seperti seorang sastrawan yang patuh terhadap adat istiadat"
Calon mertuaku, harap diketahui bahwa baru beberapa bulan saya kematian ayah kandung saya, menurut adat istiadat nenek moyang kita, seorang anak yang kematian ayahnya, tidak boleh melangsungkan pernikahan sebelem berkabung sedikitnya satu tahun.
Apakah paman calon mertua berani melanggar pantangan adat istiadat itu?"
Mendengar ini, Kui Mo terbelalak "Ah, tentu saja tidak boleh. Berapa lama lagi perkabungan selesai?"
Tanyanya sambil memandang pakaian Han Sin yang serba putih. Han Sin memang sengaja memilih pakaian putih ketika berpakaian tadi, karena siasat ini sudah mulai disusunnya.
"Kurang tiga bulan lagi. Dan pula menurut adat istiadat nenek moyang kita, sebuah pesta pernikahan merupakan ukuran dari derajat dan martabat orang tua pengantin. Kalau pernikahan di langsungkan ditempat sunyi ini, tanpa ada tamunya, tanpa ada keramaian yang mewah, apakah hal itu tidak akan merendahkan martabat paman calon mertua? Saya kira sambil menunggu tiga bulan lewat, paman dapat mencari tempat yang lebih sesuai untuk mengangkat derajat paman calon mertua"
Kembali Kui Mo terbelalak dan bengong. Akhirnya dia mengangguk-angguk bodoh "Kita akan cari tempat itu, kita akan cari..."
Katanya, agak bingung.
"Kenapa bingung, suamiku? Tak jauh dari sini, lereng hwa-san, bukankah terdapat tempat yang indah dan cukup mewah? Partai Bunga Hwa-ki-san memiliki gedung yang besar dan megah. Kita datangi Hwa-li-san, kita duduki gedungnya untuk perayaan pernikahan dan kita suruh mereka mengundang tokoh-tokoh dunia persilatan untuk hadir merayakan pesta pernikahan. Tentu akan meriah dan mengangkat martabat kita"
"Bagus, bagus, ha-ha-ha-ha"
Kui Mo melompat, merangkul istrinya dan menciuminya"
Mantuku, bukankah ibu mertuamu ini pintar sekali?"
Katanya. Han Sin tersenyum melihat prilaku yang tidak mengenal rasa malu itu "Memang pendapat yang baik sekali"
Katanya.
"Kalau gitu, kita bersiap-siap, besok kita pergi ke Hwa-san dan menguasai Hwa-li-san, ha-ha-ha"
Kui Mo tertawa-tawa seperti anak kecil yang merasa gembira sekali.
Malam itu, Kui Ji hendak menggandeng Han Sin kekamarnya, akan tetapi pemuda itu berkata "Calon isteriku yang baik, jangan kita melanggar pantangan nenek moyang kita"
"Suamiku, kita akan menjadi suami istri, apa salahnya kalau kau tidur di kamarku bersamaku?"
"Aihhh, adik Kui Ji yang baik, apakah kau tidak tahu? Tanyakan saja pada ayahmu ini. Nenek moyang kita mengatakan bahwa sebelum dipertemukan sebagai pengantin, calon pengantin tidak boleh saling berdekatan, apalagi tidur sekamar. Aku tidak berani melanggar pantangan itu, takut kalau kena kutuk"
Mendengar ucapan itu, Kui Mo mengangguk-angguk"
Dia benar, Kui Ji. Biar dia tidur sekamar denganku dan kau tidur sekamar dengan ibumu"
"Akan tetapi, ayah"
"Tidak ada tapi. Kita adalah orang-orang terpelajar dan mantuku adalah orang yang mengenal adat, kita harus menaati adat istiadat kalau tidak mau terkutuk"
"Aku takut kalau-kalau dia melarikan diri, ayah"
Kata Kui Ji.
"Ha-ha-ha, dia tidur bersamaku sekamar, bagaimana dia bisa melarikan diri?"
Kui Mo tertawa bergelak.
"Hik-hik-hik, dia sudah terkena racunku, mana mungkin dapat meloloskan diri?"
Kata pula Liu Si, ibu Kui Ji.
Demikianlah, malam itu Han Sin tidak tidur sedipan dengan Kui Mo, setelah mereka makan malam.
Dan ternyata biarpun gila, Kui Ji dan ibunya pandai memasak.
Makanan yang dihidangkan cukup lezat sehingga Han in merasa heran sendiri.
Dalam banyak hal keluarga ini seperti bukan orang-orang gila, bahkan ada kalanya mereka bersikap wajar dan waras.
Akan tetapi segera sikap itu tertutup oleh kelakuan yang gila-gilaan.
Begitu tubuhnya menyentuh tempat tidur, Kui Mo segera mendengkur.
Han Sin sebaliknya tidak dapat tidur.
Bukan hanya karena di sebelahnya ada orang mendengkur, melainkan karena dia memang sedang berusaha untuk melarikan diri.
Sebetulnya kalau saja tenaga sin-kangnya dapat disalurkan, mudah saja baginya untuk menotok Kui Mo yang rebah miring membelakanginya itu.
Akan tetapi tenaga sin-kangnya dari tan-tian (bawah pusar) itu tidak dapat menggerakkan otot-ototnya.
Menotok dengan tenaga biasa saja amat berbahaya.
Kui Mo biarpun gila memiliki ilmu kepandaian tinggi, mana bisa dilumpuhkan dengan totokan tenaga biasa.
Dengan hati-hati dia bangkit duduk.
Untung dia tidur di tepi dipan sehingga dia dapat turun dari dipan tanpa melangkahi tubuh Kui Mo.
Dia bergerak perlahan sekali sambil memperhatikan dengkur orang gila yang lihai itu.
Dengkurnya masih tetap, bahkan terdengar semakin keras.
Kini dia berindap-indap ke pintu dan keluar dari pintu.
Agar tidak melewati kamar kedua orang wanita yang berada di bagian depan, dia pergi ke belakang, membuka pintu belakang yang menembus ke kebun.
Jantungnya berdebar tegang dan juga girang.
Tidak ada perubahan dalam kamar itu dan dengkur Kui Mo itu bahkan terdengar dari belakang rumah.
Juga tidak ada suara keluar dari kamar Kui Ji yang tidur bersama ibunya.
Dia dapat bebas.
Malam itu terang bulan, menguntungkan bagi Han Sin.
Dia dapat melarikan diri dibawah sinar bulan.
Akan tetapi baru belasan langkah dia memasuki kebun, tiba-tiba nampak tiga bayangan berkelebat dan keluarga itu, lengkap ayah isteri dan anak, telah berada disitu mengepungnya.
Mereka tertawa-tawa dan Kui Mo menegur "Ha-ha-ha, mantuku, kau hendak pergi kemana?"
Han Sin merasa hatinya mendongkol bukan main, namun diam-diam dia juga kaget. Keluarga gila ini memang benar-benar lihai sekali. Dia bersungut-sungut.
"Kalian ini sungguh merupakan orang-orang yang tidak tahu aturan dan kepantasan. Orang ingin kencing, kenapa diikuti?"
Berkata demikian, dia lalu menghampiri sebatang pohon, membuka celananya dan kencing di situ.
"Ha-ha-ha, kami memang salah. Aku juga ingin kencing"
Kata Kui Mo dan diapun kencing di bawah pohon yang sama.
Ibu dan anak itu terkekeh-kekeh dan pergi dari situ, kembali kedalam rumah.
Terpaksa Han Sin juga kembali kedalam rumah bersama Kui Mo dan karena dia maklum bahwa melarikan diri tidak mungkin sama sekali, diapun dapat menerima keadaan dan tidur pulas.
Besok pagi kalau mereka menyerang Hwa-li-pang seperti yang mereka rencanakan, dia dapat mencari kesempatan untuk melarikan diri.
*** Hwa-li-pang adalah sebuah perkumpulan persilatan yang dipimpin oleh seorang pendeta To wanita.
Murid-muridnya atau para anggota Hwa-li-pang semua wanita.
Jumlah para murid Hwa-li-pang ada kurang lebih limapuluh orang, dari gadis-gadis berusia delapan belas sampai duapuluh lima tahun.
Hwa-li-pang baru berdiri duapuluh tiga tahun yang lalu, yaitu sejak Kerajaan Sui berdiri.
Perkumpulan ini merupakan pecahan dari perkumpulan Thian-li-pang yang terkenal didunia persilatan.
Pada duapuluh tiga tahun yang lalu, ketua Thian li pang yang bernama Im-Yang To-Kouw sudah berusia lanjut, sudah kurang lebih sembilan puluh tahun.
Karena merasa sudah terlalu tua untuk memimpin Thian-li-pang, merasa tubuhnya sudah lemah dan ia ingin tekun bersemedhi, menjauhi urusan duniawi, ia lalu mengambil keputusan untuk menyerahkan pimpinan Thian-li-pang kepada muridnya.
Akan tetapi ternyata ia mengalami kesulitan dalam menentukkan siapa yang akan dipilihnya menjadi ketua baru menggantikannya.
Murid utama yang paling di sayangnya adalah Kwee Sun Nio akan tetapi murid ini telah meninggal dunia limabelas tahun yang lalu.
Dan diantara murid-muridnya yang lain terdapat dua orang gadis yang dianggapnya paling pandai dan pantas menjadi ketua Thian-li-pang.
Ia menjadi ragu dan bimbang siapa diantara kedua murid ini yang akan diberi warisan kedudukan ketua.
Dalam peraturan Thian-li-pang, seorang ketua tidak boleh menikah selama ia menjadi ketua, Akan tetapi seorang murid boleh saja menikah karena murid ini masih wanita biasa, belum menjadi to-kouw.
Murid pertama yang dianggapnya cocok menjadi ketua Thian Li Pang bernama Yap Ci Hwa, berusia duapuluh tujuh tahun dan murid kedua bernama Ciang Hwi, berusia duapuluh dua tahun.
Kalau di nilai dari ilmu kepandaian silat, murid kedua itu lebih pandai dan berbakat.
Akan tetapi ia tahu bahwa Ciang Hwi seorang gadis cantik yang mempunyai hubungan akrab dengan seorang pemuda murid Kun Lun Pai bernama Ang Cun Sek.
Murid pertama itu, Yap Ci Hwa, memiliki wajah yang tak dapat disebut cantik.
Melihat kenyataan ini, agaknya Ci Hwa yang dapat menjadi ketua Thian li pang dan tidak menikah selamanya.
Pada suatu pagi, Im-yang To-kouw memanggil kedua orang muridnya ini ke dalam ruangan tertutup dan mengajak mereka berdua untuk bercakap-cakap.
"Aku memanggil kalian berdua untuk memberi tahu bahwa aku sudah mengambil keputusan untuk mengundurkan diri sebagai ketua. Dan sebagai penggantinya, kupandang hanya kalian berdua yang pantas menjadi ketua baru. Kalau diukur dari ilmu kepandaian, Ciang Hwi memang lebih unggul dan lebih pantas menjadi ketua"
"Subo, kalau begitu berikan saja kedudukan ketua kepada Ciang-sumoi"
Kata Ci Hwa dengan suara rela. Sikapnya ini saja sudah mendatangkan rasa suka di hati Im-yang To-kouw. Im-yang To-kouw mengangguk-angguk dan melambaikan sebuah kebutan putih di depannya"
Akan tetapi ada pantangan yang amat keras untuk menjadi ketua, yaitu seorang ketua tidak diperbolehkan menikah selama hidupnya. Aku ragu apakah Ciang hwi dapat mempertahankan pantangan ini "
Ciang Hwi mengerutkan alisnya.
Ia adalah seorang gadis yang berwatak jujur dan keras hati "Subo, maafkan pertanyaan teecu, akan tetapi, semua murid Thian-li-pang diperbolehkan menikah, mengapa ketuanya tidak?
Bukankah itu tidak adil namanya?"
Im-yang To-kouw tersenyum "ini sudah menjadi peraturan Thian-li-pang yang digariskan oleh pendirinya dan kita harus menaatinya.
Menurut pendapatku, pantangan ini diadakan agar para ketua Thian-li-pang tidak terikat oleh keluarga dan dapat mencurahkan perhatian, khusus untuk kepentingan Thian-li-pang dan perkembangan agama To"
"Akan tetapi, peraturan itu diadakan oleh seorang ketua, apakah tidak dapat peraturan itu diubah oleh ketua yang lain? Jaman telah berubah, subo seorang wanita tidak akan menjadi seorang manusia yang lengkap dan sempurna hidupnya kalau ia tidak diperbolehkan menikah dan mempunyai keluarga"
"Ciang Hwi. Tidak boleh kau mengucapkan kata-kata seperti itu. Peraturan adalah untuk ditaati, bukan untuk diperbantahkan. Karena itulah, biar kepandaianmu lebih tinggi daripada Yap Ci Hwa, akan tetapi terpaksa aku tidak dapat memilihmu menjadi ketua baru menggantikan aku. Aku akan mengangkat Ci Hwa untuk menjadi ketua baru"
Ucapan Im-yang To-kouw ini bernada marah.
"Subo, harap subo memaafkan sumoi yang masih muda. Teecu rela mengalah kalau subo memberikan kedudukan ketua kepada Ciang-sumoi"
Kata pula Ci Hwa dengan suara merendah.
"Hemmm, keputusanku tidak dapat di ubah lagi, Ciang Hwi, kau sepatutnya mencontoh sucimu ini yang pandai membawa diri dan taat kepada peraturan"
Ciang Hwi yang di tegur gurunya hanya menundukkan kepalanya, akan tetapi didalam hatinya ia membantah.
Pandai membawa diri?
Ia mengenal benar siapa sucinya itu.
Seorang yang keras hati dan licik.
Pernah dulu sucinya ini berkata kepadanya bahwa kalau sucinya menjadi ketua, sucinya akan mengharuskan agar semua murid tidak menikah.
Hal ini dikatakannya sucinya karena iri hati kepadanya yang menjalin hubungan akrab dengan Gan Seng, murid Kun-lun-pai itu.
Pada keesokan harinya, Im-yang To-kouw mengumpulkan semua muridnya dan memngumumkan pengangkatan Yap Ci Hwa sebagai ketua baru.
Upacara sembahyang untuk mengesahkan pengangkatan ketua itu diadakan dan setelah itu, Im-yang To-Kouw yang sudah tua lalu mengundurkan diri ke dalam sebuah guha di puncak gunung untuk bertapa, tidak lagi berurusan dengan dunia luar.
Selama Im-yang To-kouw masih hidup, Yap Ci Hwa bersikap biasa dan melanjutkan yang telah diambil oleh subonya.
Akan tetapi, setahun kemudian Im-yang To-Kouw meninggal dunia karena usia tua.
Setelah penguburan jenazah To-Kouw itu selesai, Yap Ci Hwa segera mengumumkan perintahnya yang pertama yaitu ia mengubah peraturan Thain-li-pang dan semua murid Thian-li-pang tidak diperbolehkan menikah.
Siapa yang tidak mau menaati peraturan ini dikeluarkan dari perkumpulan.
Ciang Hwi mendahului murid-murid lain, dan ia menyatakan keluar dari Thian-li-pang.
Tindakannya ini mendorong keberanian para murid lain yang segera mengikuti langkahnya, ramai-ramai keluar dari Thian-li-pang.
Tidak kurang dari tigapuluh orang murid menyatakan keluar sehingga yang tinggal hanya kurang lebih tujuhpuluh orang murid lagi.
Yap Ci Hwa marah sekali akan tetapi ia tidak melarang mereka pergi.
Ia lalu mengumumkan nama julukannya sebagai nama yang baru, yaitu Kang Sim To-Kouw (Pendeta Wanita Berhati baja).
Sementara itu, Ciang Hwi yang sudah keluar dari Thian-li-pang, segera melangsungkan pernikahannya dengan Ang Cun Sek, pemuda murid Kun-lun-pai yang tinggal di dusun tidak jauh dari Thian-li-pang dan dengan siapa sudah lama ia menjalin hubungan.
Dalam pesta pernikahan ini ia mengundang semua saudara seperguruan yang telah keluar dari Thian-li-pang sehingga pesta pernikahan itu merupakan pertemuan yang menggembirakan.
Dan dalam pertemuan itu, disepakati oleh semua murid yang keluar dari Yhian-li-pang agar Ciang Hwi suka memimpin mereka dalam sebuah wadah baru, yaitu perkumpulan baru.
Ciang Hwi yang masih merasa penasaran kepada gurunya dan sucinya, menyetujui dan demikianlah, mereka mendirikan Hwa-li-pang yang berpusat di pegunungan Hwa-san, dengan Ciang-hwi menjadi ketuanya.
Setahun setelah para murid Thian-li-pang itu keluar dari perkumpulan itu, mereka kini mendirikan Jwa-li-pang.
Baru setelah empat tahun menikah, Ciang Hwi mengandung.
Berbeda dengan keadaan Thian-li-pang, ketua yang mengandung itu menerima ucapan selamat dari para murid dan pembantunya yang merasa gembira sekali, Ang un Sek, suami Ciang Hwi, tidak mau menganggur saja.
Dia pun enggan membantu istrinya memimpin kurang lebih limapuluh orang anggota Hwa-li-pang karena semua anggota Hwa-li-pang adalah wanita.
Ang Cun Sek bekerja sebagai seorang piauw-su (pengawal barang kiriman) dan karena kegagahannya, dia memperoleh banyak langganan yang mempercayakan barang mereka dikawal oleh Ang Cun Sek.
Untuk perusahaan pengawalan barang ini, Ang Cun Sek mempunyai sepuluh orang pembantu.
Pada suatu hari, ketika Ciang Hwi yang hamil tua itu sedang duduk bercakap-cakap dengan para pembantunya tentang pekerjaan mereka, yaitu menjual sayur, buah dan rempah-rempah hasil ladang mereka, datanglah dua orang pembantu Ang Cun Sek berlari-lari dalam keadaan luka-luka.
Ciang Hwi bangkit dari duduknya, memandang kepada mereka dengan khawatir dan bertanya "Apa yang terjadi?"
"Celaka, pangcu, celaka besar"
"Ada apakah? Hayo lapor yang baik"
Bentak Ciang Hwi.
"Barang kiriman yang kami kawal diserbu gerombolan perampok bertopeng yang lihai sekali. Delapan orang rekan kami tewas semua dan kami beruntung dapat meloloskan diri dengan pura-pura mati....."
"Dan pimpinanmu? Bagaimana dengan Ang-piau-su?"
"Ang-piauw-su.... dia.... dia. juga menjadi korban, roboh dan tewas"
Dengan muka pucat Ciang Hwi melompat bangkit dari kursinya, matanya terbelalak, wajahnya pucat dan bibirnya gemetar, tubuhnya menjadi lemas dan iapun terjatuh kembali diatas kursinya.
Para pembantunya segera menghampirinya "Pangcu, kita harus cepat pergi ke sana, mencari dan membasmi gerombolan perampok itu untuk membalaskan kematian suami pang-cu"
Ucapan ini seperti membakar semangat Ciang Hwi.
Ia bangkit lagi mengepal kedua tangannya dan berkata "Benar, mari bersiap-siap mengikuti aku membalas dendam.
Hei, kalian berdua, cepat obati luka-lukamu dan tunjukkan kepada kami dimana tempat terjadinya perampokan itu"
Tak lama kemudian Ciang Hwi sudah berlari turun dari bukit Hwa-san, bersama dua orang piauw-su yang menjadi penunjuk jalan dan diikuti oleh limapuluh orang anak buahnya.
Ketika mereka tiba di tengah hutan, mereka mendapatkan para korban masih malang melintang disitu.
Termasuk jenazah suami Ciang-hwi.
Yang aneh lagi, kereta berisi barang kiriman masih ada disitu, tidak diganggu perampok, tidak ada yang hilang.
Ciang Hwi berlutut memeriksa suaminya, akan tetapi Ang Cun Sek sudah tewas dan ada luka tusukan pedang yang menembus dadanya.
Ciang Hwi menangis tanpa suara.
Dengan kedua mata basah mengeluarkan air mata yang menetes-netes turun keatas pipinya.
Ia bangkit lagi dan memimpin anak buahnya untuk mencari para perampok itu.
Akan tetapi para penyerbu itu sudah tidak nampak bayangannya dan tidak meninggalkan jejak.
Setelah mengejar ke sana ke sini tanpa hasil dan tidak menemukan jejak gerombolan itu, dengan penuh duka dan penasaran mereka kembali ke tempat tadi dan kini Ciang Hwi tidak dapat lagi menahan tangisnya.
Ditangisinya jenazah suaminya itu, penuh penyesalan karena ia tidak mampu menemukan gerombolan yang telah membunuh suaminya.
Akhirnya setelah di bujuk-bujuk oleh para pembantunya, Ciang Hwi berhenti menangis dan mengatur pengangkutan para jenazah itu ke Hwa-san.
Dua orang piau-su dibantu belasan orang murid Hwa-li-pang melanjutkan pengiriman barang itu.
Demikianlah, dalam usia duapuluh enam tahun, dalam keaadan mengandung, Ciang Hwi telah menjadi janda.
Yang membuat ia penasaran adalah karena ia tidak tahu siapa yang telah membunuh suaminya.
Dua orang piauw-su yang masih hidup itu tidak dapat mengenal belasan orang menyerbu yang semua mengenakan muka dari kain, akan tetapi rata-rata mereka memiliki ilmu kepandaian yang tinggi.
Ciang Hwi yakin bahwa mereka itu bukan gerombolan perampok karena barang berharga di kereta itu tidak mereka usik.
Karena itu, jelas bahwa gerombolan itu memang sengaja muncul untuk membunuh suaminya.
Berarti gerombolan itu adalah musuh yang mendendam kepada suaminya.
Akan tetapi siapakah musuh itu?
Memang tentu saja suaminya mempunyai banyak musuh.
Sebelum menikah dengannya, sebagai seorang pendekar Kun-lun-pai, tentu suaminya dimusuhi banyak orang karena dia selalu menentang kejahatan.
Setelah menjadi piauw-su, lebih lagi.
Ketika mengawal barang dia sering bentrok dengan gerombolan perampok yang mencoba untuk merampok barang kawalannya.
Akan tetapi siapakah mereka dan bagaimana ia dapat mengusut agar menemukan orang-orang yang membunuh suaminya?.
Kandungannya semakin tua dan perutnya semakin membesar sehingga terpaksa Ciang Hwi berdiam di rumah dengan hati ditekan rasa penasaran dan sakit hati.
Setelah genap bulan dan harinya, Ciang Hwi melahirkan seorang anak perempuan yang mungil dan sehat.
Ia memberi nama Ang Swi Lan kepada anak itu.
Agaknya nasib janda muda ini memang sedang gelap.
Kesusahan karena malapetaka menimpanya susul menyusul.
Setelah kehilangan suaminya yang dibunuh orang dan ia belum mengetahui siapa pembunuh suaminya, ia memang terhibur dengan kelahiran Ang Swi Lan.
Akan tetapi baru saja Swi Lan berusia dua tahun, pada suatu hari orang mendapatkan wanita pengasuh anak itu tewas di taman belakang sedangkan Swi Lan telah lenyap tanpa meninggalkan bekas.
Tentu saja Ciang Hwi menjadi terkejut dan sedih sekali.
Ia hendak mencari anaknya, akan tetapi kemana?
Ia tidak tahu siapa yang menculik anaknya, bahkan satu-satunya saksi, yaitu si pangasuh telah tewas tertusuk pedang.
Ia dan semua anak buah Hwa-li-pang mencoba untuk mencari jejak, namun sia-sia belaka, semua usaha mereka tidak berhasil, Swi Lan lenyap dengan penuh rahasia, seperti kematian suaminya yang juga belum diketahui sebab dan siapa pembunuhnya.
Akhirnya Ciang Hwi menerima nasib.
Ia menjadi seorang pemurung dan kelihatan lebih tua dari usia sebenarnya.
Akan tetapi, ia mencurahkan segenap tenaga dan perhatiannya untuk mengatur Hwa-li-pang sehingga memperoleh kemajuan.
Para anak buah Hwa-li-pang tidak hanya bertani dan mencari rempah-rempah, akan tetapi juga ia meneruskan perusahaan suaminya, yaitu membuka perusahaan pengawalan barang kiriman dengan demikian, selain Hwa-li-pang mendapat banyak penghasilan, juga dalam mengawal barang ke segala jurusanini anak buahnya dapat membuka mata dan telinga untuk mencari keterangan tentang hilangnya Swi Lan.
Dengan bekerja tekun, Hwa-li-pang memperoleh penghasilan lumayan dan Ciang Hwi dapat membangun rumah yang besar, bahkan ia juga membangun sebuah kuil di depan untuk menerima rakyat yang datang bersembahyang.
Mulailah ia menekuni agama dan mengikuti jejak gurunya, menjadi seorang To-kouw dengan julukan Pek Mau To-Kouw (Pendeta Wanita Rambut Putih) karena sejak kehilangan puterinya, dalam usianya yang baru duapuluh sembilan, rambutnya sudah mulai memutih.
Selain berusaha keras untuk membangun Hwa-li-pang sehingga perkumpulan itu terkenal didunia Kang-ouw.
Pek Mau To-Kouw ini menghabiskan waktu untuk mempelajari kitab-kitab agama dan bersamadhi dalam kamarnya.
Ia berubah menjadi seorang wanita yang pendiam, bijaksana dalam mengatur anak buahnya, mengajarkan silat dengan penuh kesabaran.
Perkumpulan ini menjadi terkenal dan makin banyak anak-anak perempuan dan gadis-gadis remaja masuk menjadi anggota perkumpulan.
Namun watak dasarnya masih belum meninggalkannya, yaitu keras hati dan berkemauan teguh.
Apakah yang telah terjadi dengan Ang Swi Lan?
Peristiwa itu terjadi cepat sekali sehingga tidak sempat dilihat orang lain.
Ketika pengasuh Swi Lan sedang mengajak anak itu bermain-main di taman bunga, tiba-tiba sesosok bayangan hitam berkelebat dan sekali tangannya mengayuh pedang, pengasuh itu roboh dan tewas tanpa dapat menjerit lagi.
Swi Lan sedang duduk di bawah pohon bermain-main dengan bunga-bunga yang dipetikkan pengasuhnya.
Setelah pengasuh itu roboh, si bayangan hitam itu cepat sekali menyambar anak itu, menotoknya sehingga tidak mampu berteriak dan membawanya melompat pergi dari situ.
Tidak ada seorangpun menyaksikan peristiwa itu.
Bayangan hitam itu berlari cepat menuruni Hwa-san sambil memondong anak kecil itu.
Ia mengambil jalan melalui hutan-hutan sehingga tidak pernah bertemu orang.
Ketika ia tiba didalam sebuah hutan besar di kaki Hwa-san, tiba-tiba ia mendengar suara orang sedang berkata-kata seorang diri.
Suaranya lembut namun lantang.
Bayangan itu cepat menyelinap ke balik semak belukar dan mengintai.
Ia melihat seorang kakek berusia sekitar limapuluh tahun, membawa sebatang tongkat yang dipakai memikul sebuah keranjang berisi daun-daun dan akar-akaran dan kini orang berkepala gundul itu sedang meneliti daun-daun tak jauh dari situ.
Jelas bahwa orang itu adalah seorang hwesio yang pakaiannya longgar.
"Apakah, sahabat-sahabatku, yang dinamakan jahat itu? Membunuh adalah jahat, mencuri adalah jahat, menghambakan diri kepada nafsu birahi adalah jahat, berbohong adalah jahat, fitnah adalah jahat, mencela mencaci adalah jahat, membenci adalah jahat, memeluk pelajaran palsu adalah jahat, namun itulah, sahabat sahabatku, adalah jahat. Dan Apakah sahabat sahabatku, akar dari kejahatan? Nafsu keinginan adalah, akar kejahatan, kebencian adalah akar kejahatan, khayalan adalah akar kejahatan, semua ini adalah akar kejahatan"
Bayangan hitam itu terkejut dan menjadi gelisah, apalagi ketika ia mengintai dari balik semak-semak, ternyata hwesio itu telah lenyap dari tempat dimana tadi dia berdiri.
Karena mengira bahwa hwesio itu telah pergi jauh, ia lalu melemparkan Swi Lan ke atas tanah.
Dan tiba-tiba anak itu menangis, agaknya lemparan itu membuat sebagian tubuhnya menimpa batu dan inilah yang membebaskannya dari totokan, atau memang sudah waktunya pengaruh totokan itu habis.
Si bayangan hitam itu lalu menyingkap penutup mukanya, memandang kepada anak itu penuh kebencian dan berkata lirih, suaranya mendesis "Kutinggalkan kau disini biar dimakan binatang buas"
Setelah berkata demikian, orang itu lalu berkelebat pergi dari tempat itu.
Tanpa diketahuinya, perbuatannya itu ada yang menyaksikannya.
Hwesio yang mengucapkan pelajaran Sang Budha itu ternyata tidak pergi jauh.
Dia dapat menangkap gerakan orang dibalik semak belukar, maka diapun menyelinap ke balik pohon dan mengitarinya sehingga dia dapat melihat si bayangan hitam itu ketika membuang Swi Lan, membuka penutup kepalanya lalu mengucapkan kata-kata yang kejam itu.
Biarpun melihat wajah si bayangan hitam itu hanya sebentar saja, akan tetapi wajah itu takkan pernah dilupakan oleh hwesio itu.
Dia lalu menghampiri Swi Lan yang sudah bangkit duduk sambil menangis itu.
Dipondongnnya anak itu.
Melihat dirinya dipondong oleh seorang yang tidak dikenalnya, tangis Swi Lan semakin menjadi-jadi karena takut.
"Ssssttttt, anak manis, anak baik, jangan menangis. Pin-ceng tidak akan menggangumu, pin-ceng hendak menolongmu, anak manis"
Kata-kata yang bernada ramah penuh kelembutan itu akhirnya membuat Swi Lan diam.
Agaknya anak kecil ini yang belum dapat berpikir dengan baik, namun dapat merasakan bahwa yang memondongnya bukan orang yang hendak menyusahkannya.
Hwe-sio itu bertubuh gendut dan mukanya selalu tersenyum ramah, pandang matanya lembut dan suaranya halus "Anak manis, siapakah namamu?"
Swi Lan yang baru dapat bicara sepatah dua patah kata itu agaknya mengerti pertanyaan itu dan ia menjawab "Lan Lan"
Ketika hwe-sio itu bertanya lagi minta jawaban yang tepat siapa nama lengkap dari anak itu, Swi Lan yang belum mengerti hanya menjawab "Lan Lan"
Hwe-sio itu menanyakan lagi orang tuanya dan tinggal dimana rumahnya, akan tetapi kepandaian bicara Swi Lan belum dapat menjawab pertanyaan-pertanyaan itu.
Hwe-sio itu tertawa "Omitohud....
Agaknya sudah ditakdirkan bahwa pin-ceng harus merawat anak ini"
Dia mengambil sebutir buah jeruk dari keranjang yang dipikulnya, mengupas jeruk itu dan memberikannya kepada Lan Lan. Anak itupun mau menerimanya dan memakannya.
"Lan Lan, anak baik. Karena pin-ceng tidak tahu dimana rumah orang tuamu dan siapa nama mereka, maka mulai hari ini jadilah kau murid pin-ceng. Ha-ha-ha, Thian Ho Hwesio, jalan hidupmu sungguh ganjil. Selamanya belum pernah menerima murid dan sekali menerima murid, terpaksa menerima seorang bocah yang masih kecil Ha-ha-ha"
Dia tertawa-tawa memindahkan semua daun dan akar obat ke sebuah keranjang yang lain lalu memikul dua keranjang itu.
Lan Lan kelihatan girang sekali dan ia mulai tertawa-tawa.
Hwe-sio itupun semakin lebar senyumnya dan dia berjalan keluar dari hutan itu dengan langkah cepat.
*** Demikianlah keadaan Hwa-li-pang yang merupakan pecahan kecil dari Thian li pang.
Sejak kematian suaminya lalu kehilangan puterinya.
Ciang Hwi yang kini berjuluk Pek Mau To-kouw menyibukkan dirinya dengan mengurus Hwa-li-pang menjadi sebuah perkumpulan yang cukup besar di Hwa-san.
Sang waktu berjalan dengan amat cepatnya dan enambelas tahun telah lewat sejak Ang Swi Lan lenyap di culik orang.
Pek Mau To-kouw sudah tidak mengharapkan lagi puterinya akan dapat ia temukan.
Mungkin puterinya telah tewas, dan andaikata masih hidup juga kalau bertemu dengannya pasti tidak saling mengenal.
Memang puterinya itu mempunyai sebuah tanda yang mungkin tidak akan lenyap sampai ia dewasa, yaitu semacam bercak hitam di tengah telapak kaki kanannya.
Akan tetapi bagian tubuh itu selalu tertutup sehingga tidaklah mungkin baginya untuk minta kepada setiap orang gadis yang disangka puterinya untuk membuka sepatu kanannya.
Pek Mau To-kouw sudah melepaskan harapannya untuk bertemu dengan puterinya.
Dan di dalam hatinya sudah terdapat ketenangan kembali.
Ia sudah merasa berbahagia dalam kedudukannya sebagai pimpinan Hwa-li-pang.
Juga mereka melayani orang-orang dusun yang datang hendak bersembahyang ke kuil hwa-li-pang.
Pagi itu merupakan pagi yang amat indah.
Matahari yang baru muncul di ufuk timur begitu cerahnya sehingga seluruh permukaan bukit hwa-san bermandikan cahaya yang putih keemasan itu.
Awan-awan putih tipis bergerakk diangkasa, dapat di tembus cahaya matahari seperti tirai sutera tipis, angkasa jauh di atas nampak biru muda bagaikan samudera yang tenang tanpa gelombang.
Angin pagi bersilir sejuk dan kicau burung dan kokok ayam jantan menambah semaraknya suasana dipagi yang indah itu.
Sebernarnya, setiap saat dan detik terdapat keindahan dari suasana yang wajar ini.
Hanya karena kita terlalu di ombang ambingkan pikiran kita sendiri yang mengadakan banyak persoalan maka keindahan yang ada itu tidak nampak lagi.
Pikiran kita selalu sibuk dengan berbagai macam persoalan kehidupan sehari-hari, dari urusan pekerjaan, mencari uang, persoalan rumah tangga, konflik-konflik dalam keluarga atau antar teman, pengangguran, kejahatan, dan bahkan perang.
Pikiran kita sudah menjadi gudang dari segala macam permasalahan yang memusingkan sehingga kita sudah lupa betapa indahnya alam di sekeliling kita, betapa Maha Murahnya Tuhan terhadap kita semua.
Segala keperluan hidup manusia telah terbentang luas di depan kita, Kita tinggal mengolah dan memetik saja.
Akan tetapi semua keindahan itu tidak akan terasa lagi kalau kita menjadi hamba nafsu yang menyeret kita ke dalam konflikk dan pertentangan, saling membenci, saling bermusuhan dan bahkan saling membunuh.
Alangkah akan bahagianya hidup ini apabila kita manusia tidak saling bermusuhan, melainkan bersatu padu untuk membangun dengan sarana yang tersedia lengkap.
Membangun demi kesejahteraan kita bersama.
Hidup tenteram penuh kedamaian, saling tolong dan salin bantu dalam mengahdapi kesukaran yang bagaimanapun macamnya dan dari manapun datangnya.
Kesukaran yang dibagi akan menjadi ringan dan bukan merupakan kesukaran lagi.
Sedangkan kelebihan dan kesenangan yang dibagi tidak akan menjadi berkurang.
Hdiup dalam suasana seperti itu akan melenyapkan segala macam kesusahan dan yang terdengar dari mulut kita hanyalah Puji Syukur dan terima kasih kepada Tuhan Maha Pencipta, tidak lagi terdengar keluh kesah seperti yang kita dengar setiap saat pada masa kini.
Pagi-pagi sekali sebelum matahari terbit, Pek Mau To-Kouw sudah bangun dari tidurnya, bermeditasi dan berdoa.
Lalu ia membersihkan tubuhnya dengan air sejuk, kemudian berjalan keluar untuk memeriksa pekerjaan para murid atau anggota hwa-li-pang.
Para anggota Hwa-li-pang sudah nampak sibuk sepagi itu.
Ada yang siap bekerja di swah, ladang, ada yang berangkat untuk mencari rempah-rempah di hutan, ada yang mengangkut hasil ladang untuk di jual di dusun-dusun dan kota di kaki bukit, dan ada pula yang bertugas sebagai pengawal barang kiriman, siap dengan keretanya.
Diantara mereka para anggota yang tua-tua, sibuk mengurus kuil dan melayani orang-orang yang datang bersembahyang.
Sudah ada belasan orang tamu kuil itu di pagi hari itu.kesemuanya wanita hendak bersembahyang.
Diantara belasan orang tamu wanita ini, terdapat wanita muda yang berpakaian serba putih, cantik sekali seperti bidadari, dengan gerak gerik yang halus.
Para tamu wanita itu cepat meberi hormat ketika Pak Mau To-Kouw memasuki kuil.
Penampilan Pek Mau To-kouw memang anggun berwibawa.
Rambutnya yang sudah hampir semua putih itu di gelung di ikat di atas dengan sutera putih.
Jubahnya berwarna kuning, jubah panjang sederhana dan tangan kanannya memagang sebatang kebutan dengan bulu berwarna merah.
Pek Mau To-Kouw membalas penghormatan para tamu itu dengan anggukan kepala dan senyum ramah.
Tiba-tiba pandang mata Pek Mau To-Kouw tertarik oleh seorang yang melangkah datang ke kuil itu.
Ia berhenti dan memutar tubuhnya menghadapi orang yang baru datang ini.
Yang baru datang itu adalah seorang remaja berpakaian pengemis dan kepalanya di tutup sebuah topi butut.
Tangan kanannya memegang sebatang tongkat.
Pakaiannya yang serba hitam itupun butut walau bersih, dan sepatunya yang sudah butut sehingga nampak jari kelingking kaki kirinya menonjol keluar.
Mukanya kotor pula bercoreng lumpur namun dapat dilihat bahwa pengemis muda ini memiliki wajah yang tampan dan sepasang matanya bersinar-sinar "Sobat muda, kau datang hendak bersembahyang ataukah hendak mengemis?"
Tanya Pek Mau To-kouw dengan sikap dan suara lembut dan ramah.
Pengemis muda itu mengamati ketua Hwa-li-pang itu penuh perhatian, lalu berbalik mengajukan pertanyaan "To-Kouw, kalau aku hendak bersembahyang mengapa dan kalau hendak mengemis bagaimana?"
Pek Mau To-Kouw tersenyum dan diam-diam ia menganggumi ketegasan pengemis muda, walaupun pakaiannya menunjukkan bahwa dia seorang pengemis, namun sama sekali tidak rendah diri, bahkan nampaknya seperti orang yang dapat menjaga harga diri.
"Kalau hendak bersembahyang harap menunggu lebih dulu karena para tamu yang berada di dalam kuil semuanya adalah wanita sehingga tidak pantaslah kalau kau seorang pria masuk bersama mereka. Dan kalau kau hendak mengemis, sebaiknya kau berdiri di luar kuil menanti pemberian sumbangan dari mereka yang datang dan pergi"
"Dari jauh aku datang ke sini karena mendengar bahwa ketua Hwa-li-pang adalah seorang yang murah hati, aku tidak hendak bersembahyang, tidak pula mengemis, hanya ingin membuktikan sampai dimana kedermawanan hati ketua Hwa-li-pang. Dapatkah aku bertemu dengan ketua Hwa-li-pang?"
"Siancai.... Aku sendirilah ketua itu"
Kata Pek Mau To-kouw sambil tersenyum.
"Bagus. Aku tidak ingin mengemis hanya ingin memancing kebaikan hati pang-cu"
"Orang muda, pertolongan apakah yang dapat kuberikan kepadamu? Apakah kau lapar dan butuh makanan?"
"Aku sudah kenyang, pagi tadi sudah sarapan, hampir menghabiskan seekor ayam panggang "
"Hemmm, kalau begitu, apakah kau membutuhkan pakaian pengganti pakaianmu yang sudah butut itu?"
"Tidak, aku lebih senang dengan pakaian ini, biar butut akan tetapi bersih. Hanya sepatuku"
"Kenapa dengan sepatumu?"
"Yang kiri sudah jebol sehingga jari kakiku kelihatan. Aku membutuhkan sepasang sepatu"
Percakapan itu menarik perhatian para tamu wanita yang hendak bersembahyang dan merekapun tidak melanjutkan langkah mereka dan ikut menonton.
Pek Mau Tok-kouw memandang ke arah kaki pengemis muda itu, lalu memadang kepada kakinya sendiri.
Sekali pandang saja tahulah ia bahwa ukuran kakinya sama dengan ukuran kaki pengemis remaja itu, maka lalu ia melepaskan sepatunya yang terbuat dari kulit dan menyerahkannya kepada pengemis itu.
"Kalau begitu, pakailah sepatu ini"
Katanya.
Pengemis itu memandang tertegun dan menerima sepatu itu dan Pak Mau To-kouw lalu melangkah ke dalam kuil dengan kaki hanya terbungkus kaus kaki saja.
Peristiwa kecil ini menunjukkan betapa baik budi to-kouw itu dan gadis berpakaian putih tadi yang melihat peristiwa itu memandang dengan mata sayu, agaknya ia terharu sekali akan kebaikan hati Pek Mau To-kouw.
Pengemis itupun segera duduk di atas tanah dan mengganti sepatu bututnya dengan sepatu pemberian Pek Mau To-kouw.
Wajahnya berseri dan dia tersenyum-senyum, lalu duduk bersandar pada pohon yang tumbuh di depan kuil.
Agaknya angin semilir membuat dia mengantuk karena dia sudah melenggut tidur ayam dibawah pohon.
Pek Mau To-kouw sendiri sudah memasuki kamar samadhi di kuil itu dan seorang murid datang mengantarkan sepasang sepatu untuk gurunya itu.
Dari bawah lereng itu nampak ada empat orang naik ke lereng dan menuju ke kuil itu.
Dilihat dari pakaian mereka, tiga diantaranya dengan pakaian kembang-kembang dan seorang diantaranya berpakaian serba putih.
Para penjaga kuil menduga bahwa yang datang tentu segerombolan wanita lain.
Akan tetapi setelah mereka itu dekat, tiba di halaman kuil, para pelayan itu memandang heran.
Tiga orang berpakaian kembang-kembang itu adalah seorang laki-laki berusia limapuluh tahun, seorang wanita yang sebaya dan seorang gadis yang cantik.
Adapun yang berpakaian serba putih itu adalah seorang pemuda tampan yang wajahnya dihias senyum tenang.
Pemuda berpakaian serba putih itu adalah Han Sin, sedangkan yang berpakaian kembang-kembang adalah keluarga gila itu, Kui Mo, istrinya Liu Si dan anak mereka Kui Ji.
Seperti telah di ceritakan dibagian depan, keluarga gila itu memaksa Han Sin untuk menikah dengan Kui Ji dan untuk merayakan pesta pernikahan, mereka hendak meminjam tempat dari Hwa-li-pang.
Han Sin dalam keadaan tidak berdaya karena dia telah keracunan tidak mampu mengerahkan lwe-kangnya.
Hawa sakti dari pusarnya tidak mampu menjalar ke kaki tangannya.
Racun pelemas otot telah membuat otot-ototnya tidak mampu menampung hawa sakti atau tenaga dalam itu.
Tentu saja dengan kehilangan hawa sakti, ilmu silatnya tidak berisi lagi dan dia tidak mampu menandingi keluarga gila itu.
Biarpun pemuda itu sudah menjadi seorang yang lemah, namun keluarga itu, terutama Kui Ji, tidak pernah melepaskan penjagaannya terhadap pemuda itu.
Bahkan Kui Ji selalu berjalan di dekat Han Sin untuk menjaga jangan sampai pemuda yang membuatnya tergila-gila itu melarikan diri.
Kui Mo dan Liu Si memasuki kuil itu, diikuti oleh Han Sin yang digandeng oleh Kui Ji.
Melihat tiga orang berpakaian kembang-kembang itu memasuki kuil sambil tertawa-tawa seperti orang mabok, para anggota Hwa-li-pang yang bertugas di kuil segera maju menyambut.
Kepala rombongan penjaga kuil, seorang wanita berusia kurang lebih empatpuluh tahun, sudah menjadi pendeta wanita pula, memberi hormat kepada mereka dan bertanya dengan suara lantang"
Cu-wi, siapakah dan apa keperluan datang ke kuil kami? Apakah cu-wi (anda sekalian) hendak bersembahyang?"
Kui Mo tertawa bergelak "ha-ha-ha, kami bukan hendak sembahyang, melainkan hendak meminjam tempat Hwi-li-pang ini untuk merayakan pesta pernikahan anak kami, ha-ha-ha"
Kepala penjaga kuil itu tentu saja terkejut mendengar ini dan mengerutkan alisnya "Siancai... kami tidak mengerti apa yang kau maksudkan. Tempat kami tidak untuk dipinjamkan kepada siapapun juga"
Liu Si melangkah maju.
Rambutnya yang riap-riapan itu menyeramkan sekali, sebagian wajahnya yang tidak tertutup rambut memperlihatkan kecantikan seorang wanita setengah tua, akan tetapi mulut yang menyerengai dan mata yang mencorong itu benar-benar membuat ia kelihatan seperti siluman.
"Jangan banyak cerewet... panggil ketuamu dan suruh menghadap kami. Pendeknya, boleh atau tidak boleh tempat ini baru kami pinjam untuk keperluan perayaan pesta pernikahan anak kami"
Ucapan galak itu di susul tawa yang terdengar mengerikan, melengking tinggi, pada saat itu Kui Mo tertawa-tawa, demikian pula Kui Ji terkekeh-kekeh.
Sedangkan Han Sin hanya berdiri dan tersenyum bodoh.
Para pengujung kuil mulai merasa takut melihat lagak tiga orang berpakaian kembang-kembang itu dan mereka berkumpul di pinggir dekat dinding dan bersiap-siap untuk melarikan diri kalau tiga orang gila itu mengamuk.
To-kouw kepala jaga itupun mengerutkan alisnya.
Tentu saja ia tidak mau merepotkan ketuanya untuk menghadapi tiga orang gila ini.
Ia sendiri sudah memiliki kepandaian silat yang lebih tinggi dari pada semua penjaga kuil itu.
Maka dengan berani to-kouw itu lalu membentak"
Kalian ini orang-orang gila berani datang membikin kacau Hwa-li-pang? Pergilah atau aku akan menggunakan kekerasan mengusir kalian"
Liu Si terkekeh "He-he-he, kau ini orang gila berani memaki kami?
Kalau kami katakan hendak meminjam tempat ini, siapa yang berhak melarang?
Kamu hendak mengusir kami dengan kekerasan?
Hemmm, apa yang dapat kau lakukan?"
Liu Si melangkah maju sampai dekat sekali dengan to-kouw itu yang tentu saja menjadi ngeri di dekati wanita gila yang rambutnya riap-riapan itu.
Ia lalu mengerahkan tenaganya mendorong Liu Si pada dadanya.
Akan tetapi alangkah terkejutnya ketika ia mendorong rasanya seperti mendorong sebongkah batu besar yang amat berat.
Wanita gila itu sama sekali tidak bergoyang walaupun ia sudah mengerahkan tenaga sepenuhnya.
"Hik-hik-hik"
Liu Si terkekeh dan tangannya di dorongkan ke pundak kepala penjaga kuil itu.
Seperti sehelai daun kering di tiup angin to-kouw itu terlempar ke belakang dan roboh menimpa meja.
Para anggota Hwa-li-pang yang menyaksikan peristiwa ini tentu saja menjadi marah.
Mereka segera menghampiri dan menyerang Liu Si dengan pukulan"pukulan dan tamparan.
Empat orang anggota Hwa-li-pang mengeroyoknya, akan tetapi dengan mudah sekali, begitu Liu Si menggerakkan kaki tangannya, empat orang inipun berpelantingan roboh.
Gegerlah keadaan dalam kuil.
Para murid Hwa-li-pang lari berdatangan dan melihat ini, Kui Mo tertawa.
"Ha-ha-ha, mari kita ke halaman dapan agar lebih leluasa kita menghajar mereka"
Kui Mo dan Liu Si berlompatan ke pekarangan kuil dan Kui Ji lalu menarik tangan Han Sin untuk ikut pula"Jangan takut, suamiku, Aku akan menjagamu, agar tidak ada yang berani mengganggumu"
Kata Kui Ji sambil terkekeh, lalu berdiri di pekarangan itu.
Di bawah pohon sambil menggandeng tangan Han Sin.
Pengemis muda yang tadi menerima sepatu dari Pek Mau To-kouw memandang dengan mata terbelalak heran.
Akan tetapi berbeda dengan para tamu kuil yang kelihatan ketakutan, pemuda pengemis ini tidak nampak ketakutan, melainkan tertarik sekali.
Terutama sekali dia merasa tertarik melihat keadaan Han Sin yang digandeng gadis gila itu.
Dia tahu bahwa tiga orang yang mengenakan baju berkembang itu tentulah orang-orang gila, hal ini mudah diketahui dari sikap mereka yang tertawa-tawa menyeramkam itu.
Dan agaknya dia gembira sekali melihat tontonan ini, yang dianggapnya aneh dan dia menanti para anggota Hwa-li-pang yang sudah mengejar keluar dari kuil.
Bukan hanya para penjaga kuil yang kini berlari menuju ke halaman kuil itu, akan tetapi juga para anggota lain yang belum berangkat untuk bekerja.
Tidak kurang dari empatpuluh orang wanita anggota Hwa-li-pang kini berdatangan ke tempat itu dan banyak diantara mereka yang memegang senjata pedang atau toya.
Kui Mo dan Liu Si sudah berdiri saling membelakangi dan tertawa-tawa melihat para anggota Hwa-li-pang berdatangan dengan sikap mengancam itu.
Mereka Sama sekali tidak merasa gentar, sedangkan Kui Ji tetap berdiri di bawah pohon bersama Han Sin.
Dua orang suami istri gila itu nampaknya gembira sekali melihat mereka dikepung oleh banyak pengeroyok dan begitu para pengeroyok itu menggerakkan senjata menyerang mereka, keduanya bergerak dengan cepatnya.
Terdengar suara meledak-ledak ketika Liu i memainkan cambuknya dan tongkat di tangan Kui Mo juga berubah menjadi segulungan sinar kuning.
Para pengeroyok terkejut sekali.
Mereka menjadi bingung karena kedua orang gila itu seperti berubah mmenjadi bayangan yang banyak dan tahu-tahu enam orang diantara mereka telah roboh.
Akan tetapi, seperti kepala jaga di kuil tadi, yang roboh itu tidak terluka berat, maka mereka terus mnegeroyok dengan marah.
Kui Mo dan Liu Si tertawa-tawa dan makin banyak pula pengeroyok yang berpelantingan, dengan kepala benjol, muka lebam, gigi rontok, atau salah urat.
Pengemis muda yang duduk di bawah pohon dan yang sejak tadi nonton dengan penuh perhatian nampak terkejut melihat kelihaian suami istri gila itu.
Sementara itu, Kui Ji bertepuk tangan dan menari-nari kegirangan melihat ayah dan ibunya menghajar para pengeroyok itu.
Han Sin merasa tidak enak sekali.
Para anggota Hwa-li-pang itu adalah wanita-wanita yang tidak berdosa, kini mereka di hajar dan semua itu adalah gara-gara dia.
Kalau dia tidak diambil mantu keluarga gila ini tentu tidak akan terjadi kekacauan di Hwa-li-pang.
An dia merasa tidak berdaya, tidak mampu mencegah pengamukan kedua orang gila itu.
Hanya ada satu hal yang membuat hatinya lega, yaitu melihat kenyataan bahwa Kui Mo dan Liu Si selalu merobohkan pengeroyoknya tanpa membunuh, atau melukai berat.
Mereka itu hanya dirobohkan dengan luka ringan saja dan hal ini membuktikan bahwa keluarga gila ini ternyata tidaklah jahat dan tidak suka membunuh.
Padahal kalau mereka menghendaki, tenaga pukulan mereka dapat diperkuat dan yang roboh tentu akan tewas.
Tiba-tiba terdengar bentakan halus akan tetapi berwibawa "Hentikan perkelahian ini"
Mendengar suara ini, para anggota Hwa-li-pang berloncatan mundur.
Diantara mereka banyak yang menderita luka-luka ringan.
Pek Mau To-Kouw melangkah keluar dari pintu kuil dengan anggun dan tegap, menghampiri suami istri gila itu yang kini berdiri di samping Kui Ji dan Han Sin.
Pek Mau To-kouw mengamati empat orang itu dengan pandangan mata penuh selidik, akan tetapi ia tidak merasa kenal dengan mereka.
Ia lalu mengangkat kedua tangan depan dada untuk memberi hormat dan sambil memandang kepada Kui Mo dan Liu Si, ia berkata "Siancai......
Siapakah sebetulnya ji-wi (anda berdua) dan mengapa pula berkelahi dengan anak buah kami dari Hwa-li-pang?
Apa kesalahan Hwa-li-pang terhadap ji-wi?"
Suami istri itu saling pandang dan mereka tertawa girang sekali "suamiku"
Kata Liu Si dengan sikap manja "To-kouw ini cukup anggun, bukan? Alangkah baiknya kalau ia yang mengatur upacara sembahyang untuk pernikahan anak kita"
"Ha-ha-ha, memang tepat sekali kata-katamu, istriku. Dengan upacaranya di atur oleh to-kouw ini dan disaksikan oleh semua tokoh kang-ouw, pernikahan itu tentu akan mendapat berkah"
Pek Mau To-kouw yang biasanya sabar sekali itu, kini timbul rasa penasaran di dalam hatinya "Apa yang ji-wi maksudkan? Ji-wi belum menjawab pertanyaanku"
"Ha-ha-ha, kau menanyakan apa tadi? Ah, siapakah kami? Aku bernama Kui Mo dan ini istriku Liu si, yang cantik ini puteri kami bernama Kui Ji danpemuda ini adalah calon mantuku bernama Cian Han Sin. Nah, mengapa kami berkelahi dengan anak buahmu? Kalau saja sejak tadi kau keluar, tentu tidak akan ada perkelahian? Kau ketua Hwa-li-pang, bukan?"
"Kami hendak meminjam tempatmu ini untuk perayaan pernikahan anak kami. Kata Liu Si"
"Tempat ini kami pinjam, kau menjadi pendeta yang mengatur upacara pernikahan dan kau pula yang mengundang tokoh-tokoh kang-ouw agar hadir dan menyaksikan pernikahan itu, anak buahmu menyediakan hidangannya dan menjadi pelayan-pelayan untuk memeriahkan pesta pernikahan itu. Nah, usul kami ini baik sekali, bukan?"
Wanita gila itu tertawa melengking tinggi dan suami serta puterinya juga tertawa-tawa.
Han Sin tidak ikut tertawa hanya tersenyum tak berdaya dan memandang kepada to-kouw itu dengan hati iba.
Sejak dia dibawa ke tempat itu, dia selalu mencari kesempatan untuk meloloskan dan melarikan diri.
Akan tetapi "calon istrinya"
Selalu menjaganya.
Pek Mau To-kow menjadi merah mukanya saking marahnya mendengar ucapan itu.
Tidak heran kalau para muridnya menjadi marah dan mengeroyok dua orang gila ini karena memang permintaan mereka itu sama sekali tidak pantas.
Sampai lama ia tidak mampu mengeluarkan kata-kata saking marah dan bingungnya bagaimana harus bersikap untuk menghadapi orang-orang gila ini.
"Ha-ha-ha, Pek Mau to-kouw, tidak usah ragu"
Kata Kui Mo "Lakukan saja apa yang kami minta dan kami tidak akan mengganggumu.
Pesta itu akan kami langsungkan setelah lewat tiga bulan, dan untuk sementara ini kami berempat akan tinggal disini.
Beri saja kami dua buah kamar.
Itu sudah cukup"
"Tiga buah kamar"
Tiba-tiba Han Sin memotong ucapan Kui Mo "Jangan paman calon mertua lupa, kita adalah orang-orang yang selalu menaati adat istiadat, tidak boleh calon pengantin berkumpul dalam satu kamar sebelum dilangsungkan pernikahannya"
"Ah, ya benar. Tiga buah kamar. Dan makan setiap harinya untuk kami, permintaan kami ringan saja dan tentu kau tidak keberatan, bukan?"
Kui Mo memandang kepada Pek Mau To-kouw. Mendengar ucapan Han Sin tadi, tahulah Pek Mau to-kouw bahwa pemuda "calon pengantin"
Itu bukanlah seorang yang gila seperti suami istri dan puterinya itu. Tentu pemuda itu di paksa oleh suami istri gila yang lihai itu, pikirnya.
"Siancai"
Permintaan kalian itu tentu saja sama sekali tidak mungkin kami penuhi.
Pertama, perkumpulan Hwa-li-pang kami adalah sebuah perkumpulan wanita, maka tentu saja tidak dapat menerima tamu pria untuk bermalam di sini, kedua, semua anggota Hwa-li-pang tidak ada yang merayakan pernikahannya, kalau ada yang menikah di tempat ini.
Oleh karena itu bagaimana mungkin orang luar merayakan pernikahan disini?
Sobat, terpaksa kami tidak dapat memenuhi permintaanmu dan harap segera meninggalkan tempat ini karena kami tidak ingin bermusuhan dengan siapapun juga"
"Ha-ha-ha, kami tidak ingin mendengar alasan. Pendeknya, boleh atau tidak boleh, tempat ini kami pinjam. Kau ini seorang to-kouw, kenapa tidak mengerti aturan?"
Kata Liu Si sambil menudingkan telunjuknya kepada Pek Mau To-kouw. Ketua Hwa-li-pang itu memandang marah"
Hemmmm, apa maksudmu menuduh kami tidak mengerti aturan?"
"Seorang pendeta wanita harus memberi contoh yang baik kepada masyarakat, harus berbuat baik. Sekarang hanya dipinjam tempatnya saja tidak boleh. Aturan mana itu?"
Pek Mau to-kouw menjadi geram. Dasar orang gila, maka pendapatnyapun gila dan seenak perutnya sendiri, pikirnya.
"Sudahlah, tidak perlu banyak cakap lagi, Pendeknya permintaan kalian tidak dapat kami penuhi"
Kui Mo melangkah maju "Pek Mau to-kouw, sekarang begini saja.
Mari kita mengadu kepandaian.
Kalau aku kalah, kami tidak akan banyak cakap lagi dan akan mencari tempat untuk pesta pernikahan anak kami.
Akan tetapi kalau kau yang kalah, kau harus mengijinkan kami tinggal di sini sampai datangnya pesta pernikahan itu yang akan dilangsungkan di sini bagaimana?"
Pek Mau to-kouw menganggap bahwa keputusan itu, biarpun di usulkan seorang gila, cukup baik.
Tentu saja ia menganggap pula bahwa ia pasti akan dapat mengalahkan si gila ini, karena betapa pun lihainya seorang gila tentu tidak dapat bersilat dengan sempurna.
Pula, di situ berkumpul sebagian besar muridnya yang belum berangkat kerja dan terdapat pula orang-orang luar yang datang bersembahyang.
Kalau ia tidak berani melayani tantangan seorang gila, apa kata orang?
Pula, ia harus membalaskan para muridnya yang tadi di hajar oleh suami istri gila ini."
"Baiklah, engkau memang seorang gila yang pantas menerima hajaran !"
Katanya singkat sambil menggerakkan kebutan di tangan kiri sedangkan tangan kanan sudah melolos sebatang pedang dari punggungnya.
Para murid Hwa-li-pang segera mundur dan membentuk lingkaran yang luas agar guru mereka dapat leluasa bertanding menghadapi orang gila yang lihai itu.
Kui Ji dan Han Sin tetap berdiri di bawah pohon dimana duduk si pengemis muda.
Di antara para penonton juga berdiri di lingkaran itu, nampak pula gadis berpakaian serba putih yang tadi datang bersama para wanita yang bersembahyang di kuil.
Melihat Pek Mau To-kouw sudah siap dengan senjata hud-tim (kebutan pendeta) dan pedang, Kui Mo tertawa bergelak "Ha-ha-ha, To-kouw, engkau tidak akan mampu menandingi tongkatku, lihat senjataku !"
Berkata demikian, dia menggerakkan tongkatnya dengan dahsyat sekali, menyerang ke arah kepala to-kouw itu.
Melihat serangan ini, diam-diam Pak Mau To-kouw terkejut sekali.
Sebagai seorang ahli silat tinggi, segera ia dapat mengenal lawan yang tangguh.
Begitu cepat tongkat itu bergerak dan mendatangkan angin pukulan yang kuat sekali.
Ia pun mengelak dan kebutannya yang berbulu merah menyambar ke depan menotok ke arah leher sedangkan pedangnya menyusulkan tusukan ke arah dada.
Serangan balasan dari to-kouw ini pun hebat sekali sehingga Kui Mo mengeluarkan seruan yang di susul tawa terkekeh.
Dia sudah menangkis pedang dan menggunakan tangan kiri mencengkram ke arah kebutan untuk menangkap kebutan itu.
Akan tetapi lawannya tidak membiarkan kebutannya tertangkap, segera menarik kembali kebutannya dan kini pedang yangtertangkis itu membabat ke arah kaki lawannya.
Kui Mo meloncat ke atas dan ketika pedang lewat di bawah kakinya, pedang itu diinjaknya dan tongkatnya sudah menyerang dengan pukulan ke arah pundak kanan to-kouw itu.
Tentu dia bermaksud agar to-kouw itu melepaskan pedangnya.
Akan tetapi tidak semudah itu dia mengalahkan Pek Mau To-kouw itu.
Hud-tim itu sudah menyambar lagi, kini bulu kebutan menjadi lemas dan hendak melibatkan kedua kakinya !
Terpaksa Kui Mo meloncat turun dan serangan tongkatnyapun gagal karena to-kouw itu sudah miringkan pundaknya mengelak.
Perkelahian itu seru bukan main dan dalam pandangan para murid Hwa-li-pang, tubuh orang yang bertanding hanya nampak bayangannya saja berkelebatan di antara gulungan sinar merah kebutan, sinar kuning tongkat dan sinar putih pedang.
Kalau di tonton merupakan pemandangan yang indah dan menarik, akan tetapi semua murid menyadari bahwa yang indah itu mengandung bahaya maut untuk gurumereka !.
Han Sin tentu saja dapat mengikuti gerakan kedua orang itu dan kembali dia merasa kagum dan juga senang.
Dalam pertandingan inipun, menghadapi seorang lawan yang tangguh, kakek gila itu sama sekali tidak pernah menyerang dengan niat membunuh.
Sebaliknya, setiap serangan to-kouw itu mengancam keselamatan nyawa lawan.
Dia merasa girang dan yakin bahwa keluarga itu memang gila, akan tetapi bukanlah jahat.
Dan biarpun kakek gila itu selalu mengalah dan membatasi tenaga serangannya, namun tetap saja Pek Mau To-kouw mulai terdesak.
To-kouw ini dibuat bingung oleh jurus-jurus gila itu yang sulit sekali diikuti perkembangannya yang selalu berlawanan dan tidak di sangka sama sekali.
Tiba-tiba dalam ketegangan yang sunyi itu, yang hanya terisi bunyi nyaring ketika pedang bertemu tongkat di seling suara tawa keluarga gila itu, terdengar orang berkata-kata seperti sedang membaca sajak !
Semua orang menegok karena ternyata yang mengeluarkan suara itu adalah si pengemis muda yang kini berjongkok di bawah pohon dan mengikuti gerak-gerik dua orang yang sedang bertempur itu dengan penuh perhatian.
"Awal dan akhir bertentangan, ujung dan pangkal berlawanan , kanan menjadi kiri, atas menjadi bawah, depan menjadi belakang, itulah gerakan si pemabok atau si gila !". Bagi orang lain kata-kata ini seperti kacau dan tidak ada artinya. Akan tetapi tidak demikian bagi Pek Mau To-kouw. Ucapan itu menyadarkannya dan mulailah dia menghadapi lawannya berlandaskan ucapan itu. Kalau lawan menyerang dari bawah, ia menjaga sebelah atas dan benar saja ! Semua serangan lawannya merupakan serangan yang pangkalnya berlawanan dengan ujungnya sehingga ia dapat menjaga diri lebih baik dan dapat lebih banyak. Dan ia kini terlepas dari desakan lawan, bahkan dapat menyerang balik dengan dahsyat ! Pertandingan menjadi seru dan ramai sekali. Liu Si mengerutkan alisnya, menoleh kepada pengemis muda itu dan tiba-tiba ia sudah meloncat ke depan pengemis itu.
"kau gila, kau ikut membantu lawan !"
Katanya dan sekali menggerakkan kepalanya, rambutnya yang riap-riapan itu telah menyambar ke arah pengemis muda itu.
Akan tetapi pengemis muda itu ternyata memiliki keringanan tubuh yang menakjubkan.
Sekali dia bergerak, tubuh yang berjongkok itu sudah meloncat ke belakang sehingga sambaran rambut itu luput.
Liu Si menjadi penasaran dan marah.
Ia mengejar dengan senjata pecutnya, akan tetapi pengemis muda itu sudah melintangkan tongkatnya mengoyang-goyangkan tongkatnya dengan lagak yang lucu dan menggoda.
"Aku tidak ingin bermusuhan dengan siapapun, apalagi dengan seorang nenek gila. Aku takut ketularan gila, he-he-he !". Liu Si semakin marah.
"Siapa gila ? Engkau yang gila, aku tidak gila !". 'Ha-ha, yang gila menganggap yang waras gila, itu sudah wajar di dunia ini. Entah mana yang benar, yang gila atau yang waras, mungkin saja yang waras itu benar-benar gila, aku tidak tahu ! Nenek yang baik, kalau engkau tidak gila, siapa yang gila ?"
"Kau yang gila, hik-hik-hik, ya engkau memang gila. Masih muda sudah menjadi pengemis, tentu saja kau gila, hik-hik-hik !"
Liu Si tertawa-tawa dan menunda penyerangannya.
"Aku tidak gila, engkaulah yang gila. Engkau berotak miring, engkau sinting !"
Pemuda itu berteriak-teriak dengan lantang dan marah.
Diam-diam Han Sin memperhatikan pemuda gila itu dan ia menjadi kagum.
Dari gerakannya saja ketika tubuh yang berjongkok itu tiba-tiba meloncat ke belakang untuk menghindar serangan maut itu, tahulah dia bahwa pemuda itu ternyata bukanlah pemuda sembarangan, akan tetapi memiliki ilmu kepandaian yang cukup tinggi.
Liu Si nampak tercengang seperti bingung mendengar pemuda itu memaki-makinya gila dengan suara lantang.
"Aku gila ? Ya, benar, aku gila dan sinting dan engkaupun edan.
"Hik-hik-hik, kita sama ! Gila dan sinting, he-he-he-he !"
Han Sin memandang heran.
Sikap pemuda pengemis itu benar-benar seperti sikap keluarga gila itu.
Apakah pemuda itupun gila ?
Akan tetapi, jelas bahwa dia tadi memberi petunjuk kepada Pek Mau To-kouw bagaimana untuk melawan Kui Mo.
Hal ini berarti bahwa pemuda itu selain cerdik, juga berilmu tinggi, dapat mengenal rahasia gerakan silat dari orang gila itu Akan tetapi tiba-tiba Liu Si berhenti tertawa dan menghampiri pengemis muda itu, lalu menudingkan telunjuknya ke arah muka pemuda itu.
"Tidak, engkau tidak sama dengan aku ! Aku tidak sudi disamakan seorang pengemis, engkau malas tak tahu malu, pengemis busuk !". Pemuda itu menjadi marah "Nenek gila, mulutmu kotor. Pergilah kalau engkau tidak mau kuhajar dengan tongkatku !"
Para anak buah Hwa-li-pang yang tadinya menujukkan seluruh perhatian mereka kepada ketua mereka yang sedang bertanding melawan kakek sinting, kini perhatian mereka terpecah menjadi dua.
Sebagian malah mendekati pemuda pengemis itu untuk melihat bagaimana pemuda itu akan menandingi nenek gila.
"Tar-tar-tar.... !"
Cambuk di tangan nenek gila itu sudah meledak-ledak ketika menyambar-nyambar ke atas kepala pemuda pengemis itu.
Akan tetapi pemuda itu tiba-tiba menggerakkan tongkatnya dan kembali Han Sin yang memperhatikan pemuda itu merasa kagum.
Ilmu tongkat pemuda pengemis itu hebat.
Ujung tongkat yang digerakkan itu menggetar seolah menjadi banyak dan ujung cambuk yang menyerang kepala itu dapat dihalaunya dengan mudah.
Bahkan tongkatnya menyodok ke arah perut Liu Si membuat nenek gila ini terkejut dan berloncatan ke belakang menghindarkan serangan berbahaya itu.
Liu Si menjadi penasaran dan semakin marah.
Dengan suara tawa terkekeh menyeramkan ia sudah menerjang lagi dengan cambuknya, akan tetapi tiba-tiba pengemis muda itu mengangkat tangan kirinya dan mengacungkan empat buah jarinya.
"Eh, nenek gila. Kau tahu hitungan tidak ? Berapa ini ?"
Nenek itu kelihatan bingung, akan tetapi ia memandang ke arah tangan kiri yang di acungkan ke atas "Bodoh, sudah jelas itu empat !"
Akan tetapi baru saja ia berkata demikian, tongkat itu sudah menyambar dan menghantam pahanya.
"Bukkk !"
Untung Liu Si sudah melindungi pahanya dengan kekuatan sin-kang sehingga pukulan itu hanya membuat ia terpelanting dan hampir roboh.
Nenek itu meloncat sambil mengeluarkan teriakan melengking saking marahnya, siap menyerang lagi, bahkan sudah menundukkan kepala hendak menyerang pula dengan rambutnya yang panjang.
Akan tetapi kembai pengemis muda itu berseru nyaring "Heiiii, nenek gila !
Kalau ini berapa ?"
Kembali dia mengacungkan tiga buah jari.
"Kalau engkau bisa menebak, aku mengaku kalah !". Nenek itu memandang dengan mata mendelik marah.
"Bocah gila, itu adalah tiga ! Nah, kau kalah dan berlututlah !". Akan tetapi oemuda itu sudah menekuk sebuah jarinya sehingga yang nampak hanya dau buah jarinya dan dia tertawa "ha-ha-ha, nenek sinting bodoh lagi, siapa tidak tahu bahwa jumlah jari ini hanya dua ? Mengapa mengatakan tiga ? Nah, engkau yang kalah, berlututlah !"
"Tidak sudi ! Engkau yang kalah !"
Dan Liu Si sudah menerjang dengan dahsyatnya saking marahnya.
Pemuda itu menjadi sibuk memutar tongkatnya untuk melindungi dirinya.
Terjadi satu pertandingan yang seru di samping pertandingan pertama anatar Kui Mo dan Pek Mau To-kouw.
Dan ternyata pemuda pengemis itu benar-benar lihai, dapat mengimbangi serangan Liu Si yang dahsyat.
Akan tetapi setelah saling serang sebanyak belasan jurus, tiba-tiba pemuda itu tertawa dan berkata lantang, meloncat keluar dari gelanggang pertandingan.
"Ha-ha-ha, aku tidak mau berkelahi lebih lama. Aku takut ketularan menjadi gila kalau terlalu lama !"
Liu Si marah dan hendak menyerang lagi, akan tetapi dengan beberapa lompatan jauh pemuda itu telah pergi.
Sementara itu pertandingan antara Kui Mo dan Pek Mau To-kouw telah berubah lagi.
Kini Pek Mau To-kouw kembali terdesak hebat oleh Kui Mo.
Setelah tadi rahasia gerakan ilmu tongkatnya diketahui oleh pengemis muda dan Pek Mau To-kouw dapat memecahkan rahasia itu sehingga mampu menandinginya.
Kui Mo yang berbalik terdesak kini mengubah ilmu silatnya.
Ilmu tongkatnya itu sama sekali berbeda dengan yang tadi dan Pek Mau To-kouw menjadi terdesak dan terus mundur.
Pada suatu saat ujung tongkat Kui Mo terlibat kebutan merah.
Kui Mo tidak berusaha menarik tongkatnya karena selain hal itu tidak ada gunanya juga dia dapat di serang oleh pedang di tangan kanan to-kouw itu.
Dia malah menggerakkan tongkat, dan dengan ujung tongkat yang lain dia menghantam ke arah lengan kiri To-kouw itu.
Pek Mau To-kouw terkejut bukan main.
Bulu kebutannya masih melibat tongkat dan kini lengannya terancam.
Terpaksa ia melepaskan kebutannya yang masih menempel pada tongkat dan menggerakkan pedang di tangan kanannya untuk mengirimkan tusukan kilat .
"Traangg .... !"
Pedang itu terpental karena kuatnya tongkat itu menangkisnya.
Kini Kui Mo telah berhasil merampas kebutan berbulu merah dan dia melemparkan kebutan itu kepada Kui Ji.
Gadis gila itu menerimanya dan dengan girang ia menari-nari dengan kebutan merah itu di sekeliling Han Sin.
Setelah kehilangan kebutannya Pek Mau To-kouw menjadi semakin sibuk dan terdesak hebat.
Melihat ketua mereka kini terus mundur, para anak buah Hwa-li-pang maklum ketua mereka terdesak.
Mereka menjadi khawatir sekali akan tetapi tidak berani turun tangan mencampuri tanpa perintah ketua itu.
Tiba-tiba terdengar lagi suara nyaring bertemunya kedua senjata dan sekali ini pedang Pek Mau To-kouw terlepas dari tangannya dan terlempar jauh.
Ia telah kehilangan kedua senjatanya dan mau tidak mau to-kouw itu harus mengakui keunggulan lawannya, Biarpun mukanya menjadi merah karena marah dan penasaran , akan tetapi terpaksa ia memberi hormat dengankedua tangan dapan dada.
"Siancai........!"
Ilmu kepandaian Kui-sicu amat hebat, saya mengaku kalah". Kui Mo tertawa bergelak dan berkata dengan girangnya.
"Ha-ha-ha , bagus sekali. Jadi kami boleh tinggal di sini dan merayakan pesta pernikahan anak kami disini ?"
"Kami telah berjanji dan tidak akan mengingkari janji. Mari kalian berempat ikut saya ke dalam dan akan saya berikan tiga buah kamar untuk kalian. Akan tetapi ingat, janji ini hanya untuk kalian berempat tinggal di sini sampai hari pesta pernikahan. Kalau kalian membikin kacau disini, kami akan mengeroyok kalian dengan semua anggota perkumpulan kami".
"Hik-hik-hik-hik, siapa hendak mengacau ? Kami adalah keluarga terhormat, keluarga baik-baik !"
Tiba-tiba Liu I berkata dengan galak.
"Ayah, ibu ! Aku ingin sekamar dengan suamiku !"
Kui Ji merengek.
"Hushhhh, apa kau hendak melanggar adat istiadat ! Mantuku begitu mengenal adat kesopanan. Dia seorang terpelajar tinggi, apa engkau tidak malu kepada suami mu ? Sebelum menikah kalian tidak boleh sekamar, mengerti ?"
Bentak Kui Mo dengan lagak seolah dia seorang bangsawan tinggi.
"Tapi.... hemmm... bagaimana kalau dia lari ? Aku akan kehilangan dia.... ! Kui Ji membantah.
"Siapa mampu melarikan diri kalau ada aku dan ibumu ? Tiga kamar itu harus berjajar, kamar kami dipinggir, juga kamarmu. Bagaimana mungkin dia dapat melarikan diri ?". Kui Ji tidak merengek lagi. Percakapan itu di dengarkan oleh semua orang dan mereka tidak peduli. Gadis berbaju putih yang berada di antara tamu kuil, melihat dan mendengar percakapan ini dan seperti yang lain, tahulah ia bahwa pemuda pakaian putih itu seolah menjadi tawanan keluarga gila itu. Agaknya mereka tawan dan mereka paksa untuk menikah dengan gadis gila itu. Akan tetapi melihat sikap pemuda itu yang tenang, mulutnya yang selalu tersenyum, semua orang mengira bahwa pemuda itu tentu seorang yang bodoh dan mungkin agak sinting juga !.
"Marilah kalian ikut saya", kata Pek Mau T-kouw tidak sabar lagi melihat perbantahan antara keluarga gila itu. Ia melangkah memasuki halaman di samping kuil menuju ke bangunan besar yang menjadi tempat tinggalnya dan menjadi pusat dari Hwa-li-pang. Empat orang itu mengikutinya dan Han Sin di gandeng oleh Kui Ji. Semua mata murid Hwa-li-pang mengikuti mereka dan setelah mereka menghilang di balik pintu besar, ramailah mereka membicarakan peristiwa itu.
"Heran sekali mengapa pang-cu membiarkan mereka tinggal di sini dan kelak merayakan pesta pernikahan orang gila di sini ?"
Seorang di antara mereka mengomel.
"Hemmm, Pang-cu adalah seorang yang berjiwa gagah, sekali berjanji tentu akan dipenuhinya,"
Kata yang lain.
"Akan tetapi keluarga gila itu telah merobohkan banyak di antara kita ! Mestinya pang-cu membiarkan kita maju semua dan mengeroyok keluarga gila itu. Banyak diantara kita sudah dirobohkan dan sekarang mereka malah di biarkan tinggal di sini ! Ini namanya penghinaan bagi Hwa-li-pang !"
Kata yang lain lagi.
Gadis berpakaian putih yang sejak tadi mendengarkan percakapan itu tiba-tiba berkata "Kalian semua tidak mengerti.
Justeru karena keluarga gila itu telah merobohkan banyak di antara kalian maka pang-cu kalian membiarkan mereka tinggal di sini untuk sementara waktu".
Mendengar ucapan itu, semua anak buah Hwa-li-pangmenengok dan memandang kepada gadis itu penuh perhatian.
Ia adalah seorang gadis cantik jelita sekali, jarang mereka bertemu dengan gadis secantik itu.
Usianya sekitar delapan belas tahun.
Gerak geriknya halus penuh kelembutan, pakaiannya yang putih itu sederhana sekali namun bersih.
Wajahnya berbentuk bulat telur dengan dagu runcing dan rambutnya hitam dan lebat sekali, di gelung ke atas dan di tusuk dengan perhiasaan dari perak berbentuk burung merak.
Telinganya sedang besarnya, bentuknya indah dan tidak memakai perhiasan apapun.
Sepasang alis yang kecil hitam melengkung seperti di lukis itu melindungi sepasang mata yang bersinar lembut namun berwibawa.
Mata yang amat indah bentuknya, dengan bulu mata yang lentik panjang, hidungnya mancung, serasi dengan mulutnya yang juga indah sekali, dengan sepasang bibir yang selalu merah membasah, dengan lesung pipit di kanan kiri mulutnya.
Entah mana yang lebih indah, matanya ataukah mulutnya.
Keduanya merupakan daya tarik yang luar biasa dari pribadi gadis ini.
Bentuk tubuhnya sedang, pinggangnya ramping dan jari-jari tangan yang tampak itu panjang dan mungil.
"Hemmmm, apa alasannya engkau berkata begitu, nona ?"
Tanya seorang anak buah Hwa-li-pang, penasaran dan yang lain juga memperhatikan untuk mendengar jawaban gadis itu.
"Banyak di antara kalian telah di robohkan oleh keluarga gila itu, akan tetapi siapakah diantara kalian yang tewas atau terluka berat ? Tidak seorangpun ! Juga, ketua kalian dikalahkan tanpa menderita luka. Apakah kalian tidak tahu akan hal ini ? Ketua kalian mengetahuinya dan ia tentu mengambil kesimpulan bahwa keluarga itu, walaupun gila, bukanlah orang-orang kejam atau jahat. Mereka bukan datang untuk menghina atau mengacau, akan tetapi memang ingin merayakan pesta pernikahan anak mereka. Karena itulah ketua kalian itu dan sebagai seorang gagah yang terhormat, ketua kalian memenuhi janjinya sikapnya itu membuat semua orang merasa kagum kepadanya". Para anggota Hwa-li-pang itu saling pandang dan mereka tidak dapat membantah pendapat gadis itu yang dapat biacara dengan lancar namun lembut.
"Akan tetapi, nona kalau pesta pernikahan itu diadakan di sini dan diketahui oleh dunia kang-ouw, bukankah perkumpulan kami akan menjadi buah tertawaan mereka ?"
Seseorang membantah. Gadis itu mengangguk-angguk.
"kalau kalian membolehkan aku bermalam disini, mungkin aku dapat menemukan suatu jalan untuk menggagalkan pernikahan itu, agar mereka segera meninggalkan tempat ini". Tentu saja semua anggota Hwa-li-pang menyetujui permintaan itu. Gadis berpakaian serba putih ini seorang wanita, maka tidak merupakan pantangan untuk bermalam di kuil. Mereka lalu mengajak gadis itu yang datang ke kuil seorang diri untuk memasuki kuil dan membicarakan urusan itu di dalam. Sementara itu, para tamu segera pergi meninggalkan kuil karena mereka merasa takut dengan adanya keluarga gila di situ. **** Gadis itu di jamu oleh para anggota Hwa-li-pang di belakang kuil sambil bercakap-cakap membicarakan urusan yang sedang terjadi di Hwa-li-pang.
"Nona, kami semua mengharapkan bantuan nona untuk memecahkan persoalan yang mengancam perkumpulan kami ini. Akan tetapi sebelumnya kami ingin mengetahui siapakah nona dan dimana tempat tinggal nona", kata kepala penjaga kuil dengan sikap ramah. Gadis itu meletakkan sepasang sumpitnya di atas meja. Ia telah makan kenyang dan ia memberi isyarat agar perlengkapan makan itu dibersihkan dari atas meja. Setelah meja bersih, ia lalu memandang kepada orang-orang yang merubungnya di ruangan belakang kuil itu.
"Aku bermarga Kim dan namaku Lan. Aku seorang gadis perantau yang tidak mempunyai tempat tinggal tetap dan aku berasal dari barat, daerah pegunungan Kun-Lun".
"Kim-siocia (Nona Kim) nampaknya lemah lembut sekali, akan tetapi kami yakin nona tentu memiliki ilmu kepandaian tinggi !"
Kata seorang anggota Hwa-li-pang. Kim Lan tersenyum manis.
"Semua orang tentu memiliki sesuatu kepandaian tertentu, akan tetapi hanya orang bodoh yang menyombongkan kepandaiannya itu. Aku hanya seorang gadis biasa saja, tiada bedanya dengan para gadis lainnya.
"Nona Kim, bagaimanakah caranya untuk mencegah pernikahan gila gila itu ?"
Tanya kepala penjaga kuil.
"Kita melihat tadi. Pemuda yang hendak dinikahkan dengan gadis gila itu agaknya berada dibawah tekanan mereka. Dia tentu di tangkap dan dipaksa dan mungkin sekali dia di racuni. Aku pernah mempelajari tentang pengobatan dan aku melihat tanda-tanda bahwa dia itu keracunan. Hal ini perlu di selidiki lebih dulu untuk menentukan apa yang selanjutnya akan kita lakukan."
"Akan tetapi bagaimana caranya untuk menyelidiki hal itu ? Kalau kita langsung bertanya kepadanya, tentu keluarga gila itu akan marah dan kita akan di pukul, juga belum tentu pemuda itu berani bicara sebenarnya".
"Jangan khawatir. Serahkan tugas itu kepadaku. Aku akan menyamar sebagai seorang anggota Hwa-li-pang dan biarkan aku membawakan makanan dan minuman untuk mereka, terutama untuk membawakan makanan ke kamar pemuda itu. Aku yang akan menyelidiki". Para anggota Hwa-li-pang bernapas lega. Mereka merasa gentar untuk melayani keluarga gila itu. Baru membayangkan melayani mereka, terutama kakek gila itu saja, mereka sudah merasa ngeri. Apalagi kalau melayani sambil mencari kesempatan bicara dengan pemuda tawanan mereka. Kalau ketahuan, ah, mengerikan !. Baiklah, Kim-Sio-cia itu merupakan gagasan yang baik sekali ! Akan tetapi selanjutnya bagaimana ?"
Tanya kepala penjaga kuil.
"Kalau dugaanku benar bahwa pemuda itu keracunan, aku akan memberinya obat agar dia disembuhkan. Setelah itu aku akan mencari akal untuk membebaskannya dari kurungan keluarga itu. Kalau pemuda itu sudah bebas dan pergi dari sini, maka tanpa kita usir lagi, keluarga gila itu pasti akan pergi sendiri mencari pemuda itu". Semua anggota Hwa-li-pang yang mendengar ini menjadi gembira sekali.
"Nona Kim merupakan seorang penolong besar dari perkumpulan kami !"
Kata mereka."
Sekarang harap kalian melapor kepada pang-cu kalian tentang usahaku, karena sebelum mendapatkan ijin darinya, bagaimana aku berani melaksanakannya ?".
Kepala penjaga kuil bergegas pergi melapor dan mendengar akan usaha gadis berpakaian putih untuk menolong Hwa-li-pang, Pek Mau To-kouw menjadi senang sekali.
Ia pun segera pergi ke kuil untuk menemui Kim Lan.
Kim Lan segera bangkit dari tempat duduknya ketika melihat Pek Mau To-kouw memasuki ruangan itu dan memberi hormat.
Pek Mau To-kouw membalas dengan mengangkat kedua tangan depan dada dan sejenak ia mengagumi kecantikan gadis berpakaian serba putih itu.
"Pang-cu, maafkan kelancanganku,"
Kata Kim Lan.
"Siancai..... apakah nona yang bernama Kim Lan seperti dilaporkan muridku tadi ?".
"Benar, pang-cu"
Kata Kim Lan.
"Silahkan duduk, nona". Mereka duduk kembali dan sejenak mereka saling pandang. Kim Lan merasa kagum dan suka kepada To-kouw itu, seorang pendeta wanita yang rambutnya sudah putih semua seperti benang perak, namun wajahnya masih sehat segar kemerahan. Tentu dahulu To-kouw ini cantik sekali, pikirnya. Gerak geriknya halus, namun ilmu silatnya tinggi.
"Nona Kim Lan, sekarang ceritakan lebih dulu mengapa nona bersusah payah hendak menolong Hwa-li-pang, padahal pertolongan itu mungkin saja membahayakan keselamatan nona sendiri ?"
To-kouw itu memandang penuh perhatian seperti hendak menyelami hati gadis cantik itu.
"Pang-cu, sudah menjadi kewajiban dalam hidupku untuk berusaha sedapat mungkin membantu mereka yang sedang berada dalam kesukaran maka melihat peristiwa tadi tentu saja aku tidak dapat berpangku tangan tanpa mengulurkan bantuan. Ada dua pihak yang terancam dan membutuhkan bantuan , yaitu pemuda itu dan Hwa-li-pang Karena itulah, aku hendak membantu sebisaku, tanpa pamrih dan untuk itu aku berani menghadapi bahaya".
"Siancai.... ! Nona masih begini mudah sudah memiliki jiwa pendekar yang besar. Kami merasa kagum sekali, Nah, sekarang jelaskan bantuan sapa yang dapat kauberikan untuk mengatasi gangguan ini. Kami sudah memberikan janji kepada keluarga gila itu untuk tinggal di sini sampai pesta pernikahan dilangsungkan dan kami tidak akan mengingkari janji".
"Tidak perlu mengingkari janji, pang-cu. Kita harus berusaha agar mereka itu pergi sendiri tanpa kita minta. Dan kuncinya ada pada pemuda yang akan mereka nikahkan dengan puteri mereka itu. Kalau pemuda itu dapat kita loloskan dari sini, aku yakin keluarga gila itupun akan pergi sendiri mencarinya dan meninggalkan Hwa-li-pang ini". Pek Mau To-kouw mengangguk-angguk "memang bisa terjadi. Akan tetapi aku melihat pemuda itu seperti seorang totol. Bagaimana mungkin dia dapat melepaskan diri dari pengejaran mereka. Biarpun andaikata kita dapat meloloskan dia akan tetapi kalau dia tertawan kembali, tentu mereka akan kembali ke sini".
"Pemuda itu tidak tolol, pang-cu. Akan tetapi dia keracunan".
"Keracunan ? Bagaimana engkau bisa tahu bahwa dia keracunan, nona ?".
"Pang-cu, sejak kecil aku sudah mempelajari ilmu pengobatan maka dari gejala-gejala yang dapat kulihat dari wajah dan sikap pemuda itu, aku tahu di di racuni oleh keluarga itu. Untuk menekannya agar dia mau dinikahkan dengan gadis itu. Tanpa paksaan, bagaimana mungkin ada pemuda mau di jodohkan dengan seorang gadis gila ?". Kembali Pek Mau To-kouw mengangguk-angguk "Engkau benar sekali, nona. Akan tetapi yang kukhawatirkan, andaikata engkau dapat menyembuhkannya dia dapat meloloskan diri, tentu keluarga gila itu akan mengejar dan mencarinya. Pemuda itu kelihatan tolol dan mana mampu menolak keinginan mereka ?".
"Itu soal nanti, pang-cu. Yang terpenting, aku akan memeriksa pemuda itu dan mengobatinya sampai sembuh. Kemudian, soal pelariannya dapat kita rundingkan kembali. Bisa saja kita menggunakan akal misalnya kalau pemuda itu melarikan diri ke timur, kita ramai-ramai mengatakan bahwa pemuda itu lari ke lain jurusan. Dan siapa tahu, pemuda itu dapat menyembunyikan dirinya dan dapat mengharapkan bantuan orang lain".
"Baiklah, nona. Agaknya engkau telah mempunyai rencana yang demikian matangnya. Sungguh menganggumkan sekali dan aku menyetujui semua apa yang hendak nona kerjakan". To-kouw itu lalu mengundurkan diri kembali ke rumahnya karena ia tidak ingin keluarga gila yang lihai itu mengetahui tentang pertemuannya dengan Kim Lan. Ketika berjalan perlahan kembali ke rumahnya, to-kouw itu masih mengangumi gadis yang cantik luar biasa dan pandai membawa diri, bicaranya teratur dan sopan, dan kecerdikannya luar biasa. Tiba-tiba teringatlah ia kepada Ang Swi Lan, puterinya sendiri yang di culik orang sejak kecil dan sampai sekarang tidak ada kabarnya itu. Ia melamun , kalau Swi Lan masih berada padanya, tentu kini usianya sebaya dengan gadis berpakaian putih itu. Ia merasa isi kepada orang tua Kim Lan. Betapa bahagianya hati orang tua Kim Lan mempunyai seorang anak sepertinya. Di dalam sebuah kamar di kuil itu, Kim Lan berdandan. Ia mengenakan pakaian yang biasa di pakai anggota Hwa-li-pang, yang biasa menjadi pelayan, mengubah gelung rambutnya dikuncir ke belakang dan diikat pita hijau seperti semua anggota Hwa-li-pang, kemudian ia membawa baki berisi mangkok makanan dan poci minuman, keluar dari kamar itu. Kepala penjaga menjaga kuil menghampirinya dan memeriksa keadaan pakaian dan rambutnya, dan mengangguk-angguk, tanda bahwa penyamaran Kim Lan cukup baik. Kemudian Kim Lan membawa baki itu melalui jalan tembusan menuju ke rumah induk dimana empat orang tamu itu berada. Tentu saja ia sudah mempelajari dengan seksama letak dan keadaan rumah induk itu, dimana kamar-kamar yang di tempati keluarga gila itu, dan dimana pula kamar untuk Han Sin. Tibalah ia di sebuah lorong dimana kamar-kamar itu berjajar. Ia sudah di beritahukan bahwa kamar pertama merupakan kamar suami istri gila itu, kamar ke dua adalah kamar pemuda itu dan kamar ketiga kamar si gadis gila. Ia harus pergi ke kamar nomor dua. Kim Lan memperingan langkahnya, dengan hati-hati ia melewati kamar pertama. Akan tetapi tiba-tiba berkelebat dua bayangan orang dan tahu-tahu di depannya telah berdiri suami istri gila itu. Wajah Kim Lan berubah pucat dan matanya terbelalak ketakutan.
"Hik-hik-hik, siapa kau dan mau apa datang ke sini"
Bentak nenek gila itu sambil menyeringai. Saking kaget dan takutnya, Kim Lan hanya terbelalak dan tidak mampu menjawab. Kui Mo memegang pundak gadis itu dan mengguncangnya.
"Hayo jawab ! Siapa engkau dan mau apa berkeliaran di sini !".
"A......ku... pelayan dan di..... di suruh mengantar makanan ini ke kamar nomor dua........."
Jawabnya dengan suara gemetar.
"Eihhhhh ! Kenapa tidak ke kamar nomor satu lebih dulu ? Seharusnya kami yang lebih dulu dikirim makanan !"
Bentak Liu Si.
"Menurut pang-cu, makanan untuk pengantin pria harus didahulukan, barulah pengantin wanita dan orang tuanya, yang akan di antar oleh pelayan lain"
Jawab Kim Lan dengan hati-hati sekali.
"Oh, ha-ha-ha, pang-cu itu benar, isteriku ! Harus menaati adat istiadat ! Nah, biarlah mantuku mendapatkan kiriman lebih dulu, hayo kita masuk ke kamar !"
Dua orang itu berkelebat dan sudah kembali ke kamar mereka.
Setelah mereka pergi, barulah sikap ketakutan yang dibuat-buat tadi hilang dari wajah Kim Lan.
Ia melangkah maju lagi menghampiri pintu kamar nomor dua.
Ia mengetuk perlahan.
Tidak ada jawaban, akan tetapi pendengarannya yang terlatih baik itu dapat mendengar gerakan orang di sebelah dalam kamar itu.
Ia mengetuk lagi, tiga kali.
"Tuk-tuk-tuk !"
"Siapa diluar ?"
Terdengar pertanyaan suara wanita, dekat sekali ! Dengan daun pintu.
"Pelayan, mengantar makanan untuk kong-cu (tuan muda) !"
Kata Kim Lan. Daun pintu terbuka dari dalam dan Kui Ji yang menyambut Kim Lan di depan pintu, dengan tongkat ularnya siap ditangan untuk menyerang. Kim Lam memperlihatkan wajah ketakutan.
"Nona, saya hanya pelayan yang di haruskan mengantar makanan untuk tuan pengantin"
Katanya.
Kim Lan melihat pemuda berpakaian putih itu duduk di depan dan sepasang mata pemuda itu memandang kepadanya penuh selidik, kemudian mata itu terbelalak tanda bahwa pemuda itu telah mengenalnya dan mengetahui bahwa ia bukan seorang pelayan.
"Hik-hik-hik, bagus, bagus ! Bawa makanan masuk untuk suamiku"
Lalu ia membalik dan berkata kepada Han Sin "Suamiku, engkau telah dikirimi makanan dan minuman, nikmatilah hidanganmu !
Hai, kau !
Letakkan saja baki itu di atas meja.
Aku sendiri yang akan melayani suamiku.
Engkau pelayan cantik pergilah saja.
Cepat !".
Akan tetapi Kim Lan menghadapi Kui Ji dengan berani.
Dua pasang mata itu bertemu pandang.
Mata Kim Lan penuh wibawa dan mulutnya berkemak-kemik, lalu tangan kiri gadis itu di angkat keatas, jari-jari tangannya bergerak di depan muka Kui Ji.
Aneh sekali, Kui Ji lalu terhuyung ke tempat tidur, menguap dan mengeluh.
"Ahhhhh, ngantuk sekali........ ingin tidur........."
Dan ia menjatuhkan diri rebah di pembaringan, terus pulas !.
Sejak gadis itu masuk, Han Sin sudah memandangnya dengan heran sekali.
Begitu melihat wajah itu dan bertemu pandang, dia merasa sudah pernah melihatnya dan kemudian dia teringat.
Gadis berpakaian serba putih itu !
Menyamar sebagai pelayan !
Apa maunya ?
Dia mengamati terus dan melihat betapa dua orang gadis itu saling berhadapan, betapa pelayan itu mengangkat tangan menggerak-gerakkan jarinya dan pandang matanya terhadap Kui Ji demikian mencorong penuh wibawa, ketika melihat Kui Ji terhuyung, kemudian menjatuhkan diri dipembaringan terus pulas, dia terkejut bukan main.
Pernah dia mendengar dari gurunya TiongGi Hwesio, tentang adanya semacam ilmu yang di sebut i-hun-to-hoat (hypnotism), yaitu ilmu mempengaruhi pikiran orang lain.
Dengan ilmu itu orang dapat menguasai pikiran orang lain dan menyuruh orang itu berbuat apa saja sekehendak hati orang yang menguasai ilmu itu.
Apakah gadis ini tadi menggunakan i-hun-to-hoat itu?
Gurunya mengatakan bahwa ilmu itu termasuk ilmu sesat karena biasanya di gunakan orang untuk perbuatan jahat, makanya gurunya melarang dia mempelajari ilmu semacam itu.
"Nona...."
Katanya akan tetapi pelayan itu menaruh telunjuk di depan bibirnya yang merah membasah sambil menuding ke arah kamar sebelah yang ditempati suami istri gila.
Dia mengerti bahwa berbicara keras dapat terdengar oleh kedua orang yang lihai itu dan dia mengangguk.
Kim Lan melangkah ringan sekali menghampiri Han Sin yang sudah bangkit berdiri dan gadis itu berbisik lirih "Engkau keracunan".
Han Sin terbelalak memandang gadis itu dengan kagum.
"Benar, bagaimana engkau bisa tahu ?"
Katanya berbisik.
"aku akan mengobatimu akan tetapi aku harus tahu lebih dulu racun apa yang memasukitubuhmu".
"Aku terkena racun pelemas otot"
Kata Han Sin.
"nenek gila itu yang melukaiku". Gadis itu mengangguk-angguk "Duduklah, aku akan memeriksamu sebentar dan buka baju atasmu". Han Sin masih merasa heran sekali dan kagum, akan tetapi dia menurut. Dia duduk di atas bangku dan menanggalkan bajunya. Tanpa ragu lagi ia lalu memeriksa kedua pundak, dada dan pergelangan tangan pemuda itu.
"Aku tahu mereka bukan orang-orang kejam. Racun ini tidak membahayakan nyawamu, hanya membuat otot-ototmu lemas, aku dapat mengobatimu". Gadis itu lalu mengeluarkan beberapa batang jarum emas dan perak yang di bungkus rapi dari balik bajunya. Kemudian ia mulai menusukkan jarum-jarum itu pada jalan-jalan darah di tubuh Han Sin. Kemudian ia mengeluarkan sebungkus obat bubuk merah dan mencampurnya dengan air teh yang tadi dibawanya.
"Minumlah ini". Han Sin menaati permintaannya. Setelah kurang lebih seperempat jam, mereka dikejutkan oleh ketukan pada pintu dua kamar di sebelah.
"Jangan takut, itu tentu pelayan yang mengantar makanan kepada suami istri itu dan kepada kamar gadis ini". Dari kamar itu mereka dapat mendengar suara tawa bergelak dan cekikikan dari suami isteri yang menerima kiriman makanan dan minuman. Kim Lan membuka daun pintu perlahan dan melihat pelayan masih mengetuk pintu kamar Kui Ji, ia lalu menggapai dan pelayan itu menghampirinya dan berkata "Nona, ini makanan dan minuman untuk nona". Kim Lan mengangguk dan mengedipkan matanya, lalu menyuruh pelayan itu pergi setelah ia menerima baki terisi makanan dan minuman itu dan meletakkan nya di atas meja. Pintu kamar di tutup nya kembali dan ia melanjutkan pengobatannya. Setelah jarum-jarum itu di getar-getarkan beberapa kali, ia mencabuti kembali jarum-jarum itu. Lalu diperiksanya badan Han Sin. Han Sin merasa betapa kini dia mampu menggerakkan sin-kangnya. Pada saat di menggerakkan sin-kangnya, Kim Lan sedang memeriksa nadinya dan gadis itu terkejut bukan main, cepat melepaskan lengan Han Sin "Aih, engkau memiliki sin-kang yang kuat sekali"
Katanya lirih sambil memandang dengan heran kepada pemuda itu. Akan tetapi Han Sin seperti tidak mendengar ucapan itu. Dia terlalu girang dan cepat-cepat dia menjura sampai dalam di depan gadis itu.
"Nona, Banyak terima kasih ku haturkan kepadamu. Engkau telah menyembuhkan ku. Aku sudah terbebas dari pengaruh racun itu !".
"Bagus, akan tetapi harap jangan tergesa-gesa mencoba untuk membebaskan diri. Mereka itu terlalu lihai dan kalau engkau melarikan diri sekarang, tentu mereka akan mencurigai pelayan dan orang-orang Hwa-li-pang, Mungkin mereka menjadi marah dan mengamuk di sini. Karena itu, kalau hendak melarikan diri, tunggu sampai malam nanti".
"Aku mengerti, nona. Akan ku taati petunjuk mu. Akan tetapi, siapakah engkau nona ? Aku harus mengetahui nama penolongku..........."
Kim Lan tersenyum dan memandangnya.
Pertemuan dua pasang sinar mata itu membuat Han Sin terpesona.
Dia merasa seolah-olah sepasang mata itu mengeluarkan sinar yang langsung menembus menghujam ulu hatinya !.
"Tidak perlu kau ingat lagi sedikit bantuan ini, hati-hati , bersikaplah biasa seperti tadi, dan katakan bahwa pelayan datang mengirim makanan untuknya. Ajaklah dia makan minum agar ia bergembira dan tidak menaruh curiga". Kim Lan cepat keluar dari kamar itu dan ketika di ambang pintu, ia membalik, memandang ke arah tubuh Kui Ji, lalu ia mengangkat tangan kirinya, jari-jari tangannya bergerak ke arah Kui Ji. Aneh sekali, Kui Ji menguap dan mengeluh , kemudian bergerak. Akan tetapi daun pintu telah tertutup kembali dan Kim Lan sudah pergi dari situ.
"Aihhhhh........ aku mengantuk. Ehhhhhhhh ? Apa aku tertidur ?"
Kui Ji memandang pada Han Sin.
"Hemmm, engkau tertidur pulas sampai tidak tahu ada pelayan mengantar makanan ke kamar mu. Aku suruh ia menaruhnya di atas meja ini. Marilah kita makan, perutku sudah lapar".
"Hik-hik-hik, engkau mengajak aku makan ? He-he, nah begitulah suamiku, bersikaplah manis dan mencintaiku, habis siapa lagi ?"
Dalam ucapan yang janggal ini terkandung penyesalan dan diam-diam Han Sin merasa kasihan kepada gadis yang seolah haus akan kasih sayang ini.
Mereka lalu makan minum dan Han Sin benar-benar bersikap ramah kepada Kui Ji sehingga gadis ini menjadi semakin kegirangan.
Akan tetapi setelah selesai makan, Han Sin minta agar Kui Ji kembali ke kamarnya.
"Sekarang kembalilah ke kamarmu, adik Kui Ji yang baik. Aku ingin beristirahat". Kui Ji dengan manja menggandeng lengan Han Sin.
"Aihhh, suamiku kenapa aku tidak boleh beristirahat bersamamu di kamar ini ?"
"Jangan Kui Ji, kalau saja mertua melihatnya tentu dia akan menjadi marah"
Sekali ini Han Sin bicara dengan keras dengan harapan agar terdengar oleh suami isteri yang berada di sebelah.
"Aaih, suamiku...."
Kui Ji masih membantah dan merengek. Tiba-tiba daun pintu terbuka dan muncullah Kui Mo dan Liu Si.
"Kui Ji , apa yang kau lakukan di sini ? Tidak tahu aturan kau ! Hayo kembali ke kamarmu. Mana ada pengantin wanita berkeliaran ke kamar pengantin pria, padahal mereka belum menikah dengan sah?". Liu Si menghampiri anaknya dan menjewer telinganya, lalu dituntunnya keluar dari kamar itu sambil mengomel. Kui Mo memandang Han Sin sambil tersenyum menyerengai dan mengangguk.
"Bagus, mantuku. Engkau harus mengajar kesopanan kepada anakku itu !". Lalu dia membalikkan diri dan keluar dari kamar itu dengan langkah lebar. Han Sin menutupkan daun pintu kamarnya lagi dan memasang palang pintunya. Dia tidak mau di ganggu lagi. Lalu dia duduk bersila di atas pembaringan dan menggerakkan kedua tangan, menyembah ke atas lalu kedua tangan di tarik ke bawah, melewati dada sampai ke ta-tian. Semua ini dia lakukan sambil mengerahkan tenaga sin-kangnya dan ia merasa betapa seluruh tubuhnya di aliri hawa hangat itu. Tidak ada otot yang buntu. Kesehatannya pulih sama sekali ! Tentu saja dia merasa girang bukan main dan sepasang mata yang indah itu tiba-tiba terbayang olehnya. Pemilik sepasang mata itulah yang telah menyelamatkannya. Tidak mungkin dia dapat melupakan mata itu. Dia lalu memejamkan mata dan duduk bersemedhi untuk menghimpun kekuatannya. ***** Sesosok bayangan hitam dengan gesitnya berjalan di atas kuil Hwa-li-pang. Langkah-langkahnya bagaikan langkah seekor kucing saja, tidak mengeluarkan bunyi. Para anggota Hwa-li-pang yang tinggal di kuil itu sama sekali tidak mendengar apa-apa. Akan tetapi tidak demikian dengan Kim Lan. Gadis cantik yang malam itu tinggal di kuil, dari dalam kamarnya ia dapat mengetahui bahwa di atas genteng kuil ada seorang yang sedang berjalan dengan gerakan ringan. Pendengarannya yang terlatih dapat menangkah langkah-langkah itu, walaupun hampir tidak mengeluarkan bunyi. Ia tersenyum dan meniup lilin di atas mejanya, membuka daun jendela kemudian melompat keluar dari jendela. Ketika ia tiba diluar dan memandang ke atas, dilihatnya sesosok bayangan hitam berkelebat cepat sekali. Ia pun cepat melompat naik ke atas atap kuil, melakukan pengejaran. Bayangan hitam itu kelihatan terkejut ketika tiba-tiba ada bayangan putih berkelebat dan tahu-tahu di depannya berdiri seorang gadis cantik berpakaian erba putih. Akan tetapi bayangan hitam itu tidak sempat lari melarikan diri dan dia menghadapi Kim Lan dengan tongkat ditangan.
"Hemmm, bukankah engkau pengemis yang tadi pagi minta sepatu dari ketua Hwa-li-pang ?"
Tegur Kim Lan sambil memandangtajam.
Cuaca hanya mendapat penerangan dari bintang-bintang sehingga keadaannya hanya remang-remang saja, akan tetapi Kim Lan dapat mengenali pengemis muda yang pagi tadi bertanding melawan nenek gila.
"he-he,dan bukankah engkau gadis berpakaian putih yang pagi tadi bersembahyang di kuil?"
Pengemis muda itu balas menegurnya.
"Mau apa engkau datang ke kuil malam-malam begini dan mengambil jalan seperti seorang penjahat? Apakah engkau hendak mencuri atau merampok sesuatu di kuil ini ?"
Kim Lan menegur pula.
"Dan engkau sendiri, bukan penghuni kuil mengapa tinggal di sini ?"
Pengemis muda itu balas menegurnya.
Kim Lan berpikir sejenak.
Agaknya pengemis muda itu bukan penjahat dan ia sendiri baru saja kembali dari rumah induk setelah berhasil mengobati pemuda yang di tawan keluarga gila itu.
Kalau terlalu lama mereka berdua bicara di atas kuil, mungkin saja akan terlihat oleh keluarga gila itu yang berada di rumah induk.
Ia harus berhati-hati.
"Sobat, marilah kita bicara di bawah !"
Katanya dan Kim Lan mendahului pengemis itu melayang ke bawah.
"Baik ! Aku memang membutuhkan penjelasanmu !"
Kata di pengemis yang juga melayang turun.
Hampir berbareng mereka tiba dibawah dan dan kaki mereka tidak menimbulkan suara ketika mereka hinggap di atas lantai.
Dari gerakan ini saja keduanya mengerti bahwa mereka berhadapan dengan seorang yang memiliki gin-kang (ilmu meringankan tubuh) yang baik sekali.
Kini mereka dapat saling pandang dengan jelas, dibawah sinar lampu gantung.
Pada saat itu, anggota Hwa-li-pang yang menjadi kepala penjaga kuil, terbangun dan mendengar percakapan itu iapun keluar dari kamarnya dan memandang heran kepada pengemis muda itu.
"Heiii ! Laki-laki dilarang memasuki kuil ! Dan bagaimana engkau dapat masuk ke sini ?"
Bentaknya.
"Ssstttt, aku bukan penjahat", pengemis muda itu menaruh jari telunjuknya di depan mulut.
"Mari kita bicara di dalam". Mereka lalu memasuki ruangan belakang dan Kim Lan memandang tajam lalu bertanya "Sobat, engkau harus menjelaskan kepada kami apa maksudmu malam-malam begini memasuki kuil lewat atap ?".
"Aku hendak menyelidiki dimana keluarga gila dan pemuda berpakaian putih itu berada", jawab si pengemis muda.
"Mau apa engkau menyelidiki itu ?"
"Nona baju putih, apakah engkau tidak melihat ? Keluarga gila itu jahat dan meraka telah menawan pemuda pakaian putih itu yang hendak di nikahkan dengan puteri keluarga gila. Aku yakin bahwa pemuda itu ditekan dan terpaksa menuruti kehendak mereka. Karena itu aku ingin membebaskannya dari cengkraman keluarga gila itu !". Mendengar ini dan menatap sepasang mata yang tajam itu, Kim Lan merasa lega.
"bagus sekali kalau begitu karena akupun mempunyai niat yang sama. Kalau begitu kita dapat bekerja sama, sobat !". Pengemis muda itu memandang gembira.
"Ah, begitukah ? Aku pergi tadi melihat nona di antara mereka yang sembahyang, tidak ku sangka sama sekali bahwa nona adalah seorang gadis yang berilmu tinggi dan aku senang sekali bekerjasama dengan nona untuk menolong pemuda tolol yang menjadi tawanan itu !".
"Akupun senang dapat bekerjasama denganmu, adik yang baik. Akan tetapi bolehkah kami mengetahui namamu dan siapa pula gurumu ?". Pemuda pengemis itu tersenyum dan wajahnya yang berlepotan itu nampak tampan sekali ketika ia tersenyum.
"Enci yang baik, namaku Cu Sian dan tentang guruku, dia adalah mendiang ayahku sendiri. Aku berasal dari Tiangan".
"Kuharap aku salah menyangka ketika menanyakan tadi apakah engkau hendak mencuri atau merampok"
Kata Kim Lan.
"Ternyata engkau hendak menolong pemuda itu, maafkanlah aku dan namaku adalah Kim Lan". Pengemis itu mengerutkan alisnya dan cemberut.
"Enci Lan, jangan memandang remeh kepadaku. Biarpun aku seperti kere begini, akan tetapi aku tidak pernah mencuri atau merampok. Bekalku cukup banyak, lihatlah"
Dia mengeluarkan sebuah kantung kain dari sakunya dan membuka kantung itu.
Ternyata isinya penuh dengan potongan-potongan emas.
Kim Lan tersenyum "Aku tadi sudah minta maaf, adik Cu Sian.
Sekarang aku ingin bertanya bagaimana caramu hendak menolong pemuda itu ?".
"Bagaimana lagi ? Tentu dengan mencari kamarnya, kalau sudah kudapatkan, aku memasuki kamarnya, menotoknya dan membawanya lari keluar dari sini !".
"Aihhh, engkau terlalu memandang ringan keluarga gila itu. Mereka itu sungguh lihai dan kalau engkau menggunakan cara itu, sebelum memasuki kamar pemuda itupun engkau sudah akan ketahuan dan di keroyok. Pagi tadi engkau sudah merasakan betapa hebatnya kepandaian nenek gila itu. Puterinya juga lihai, apalagi suaminya".
"Aku tidak takut !"
Pengemis muda itu berkata dengan nada menantang.
"Bukan soal takut atau berani,"
Kata Kim Lan yang wataknya sabar dan tenang.
"Akan tetapi kalau terjadi begitu, berarti engkau telah gagal membebaskan pemuda itu. Sebaliknya kalau engkau bekerjasama dengan kami, tentu akan berhasil". Cu Sian segera memperhatikan gadis itu dengan mata mengandung penuh pertanyaan.
"Bagaimana caranya, enci ? Katakanlah , tentu saja aku suka bekerjasama denganmu agar usaha kita berhasil menyelamatkan pemuda tolol itu". Kim Lan tersenyum mendengar pemuda itu di tolol-tololkan oleh pengemis muda itu.
"Kalau dia itu pemuda tolol, lalu kenapa engkau berkeras menolongnya ?".
"Enci Lan, justeru karena dia tolol maka aku ingin menolongnya ! Kalau dia tidak tolol, tidak mungkin akan dapat di tawan keluarga gila itu ! Nah, bagaimana cara kita untuk membebaskannya ?". Begini, malam ini sebaiknya engkau jangan bertindak. Kalau engkau bertindak, bukan saja engkau akan gagal, akan tetapi juga keluarga gila itu akan mencurigai Hwa-li-pang dan tentu akan membalas dendam kepada Hwa-li-pang . Sebaiknya besok malam saja engkau datang lalu kita mengatur siasat agar pemuda itu dapat lolos akan tetapi keluarga gila itu tidak menuduh Hwa-li-pang ikut bersekutu untuk membebaskan tawanan mereka", Kim Lan lalu dengan singkat menceritakan betapa ia telah mengobati pemuda tawanan itu yang ternyata keracunan. Kemudian mereka bercakap-cakap bertiga, membicarakan rencana mereka untuk membebaskan pemuda itu besok malam. Setelah itu, Cu Sian lalu meninggalkan kuil itu karena bagaimanapun juga, Kepala penjaga kuil merasa keberatan kalau seorang pria bermalam di kuil itu. Pada keesokan harinya, keluarga gila itu masih belum menaruh curiga. Han Sin bersikap biasa saja, tetap kelihatan lemas tak berdaya dan hanya senyum-senyum ketololan, Mereka kelihatan senang tinggal di Hwa-li-pang, namun ternyata bahwa keluarga ini tidak membuat ulah yang macam-macam. Malamnya, semua telah direncanakan oleh Kim Lan dan Cu Sian. Bahkan Han Sin telah diberitahu oleh Kim Lan dengan cara menyeludupkan tulisan ketika ia menyamar sebagai pelayan dan mengirim makanan ke kamar Han Sin. Dari surat yang di selundupkan itu Han Sin mengetahui bahwa gadis berpakaian putih bermata bintang itu telah menyusun rencana untuk menyelamatkannya dan meloloskannya tanpa membuat keluarga gila itu mencurigai Hwa-li-pang. Maka, malam itu diapun sudah siap siaga, menanti gerakan pengemis muda yang di ceritakan dalam surat Kim Lan. Pengemis muda itu akan memancing agar suami isteri gila itu meninggalkan kamar mereka di sebelah kamarnya. Pek Mau To-kouw juga sudah tahu akan rencana itu, dan ia bersikap biasa pura-pura tidak tahu saja. Demikian pula, semua anak buah Hwa-li-pang di pesan agar malam itu tidak mencampuri keributan yang terjadi situ, kecuali belasan orang yang berjaga yang diberi tugas untuk mengeroyok Cu Sian kalau pengemis muda itu muncul. Tentu saja pengeroyokan inipun hanya siasat Kim Lan saja. Malam itu sunyi karena hawa udara di luar amat dinginnya. Juga cuaca hanya remang-remang oleh cahaya jutaan bintang. Tiba-tiba keheningan malam itu dipecahkan oleh suara yang lantang, yang datangnya dari halaman rumah induk Hwa-li-pang .
"Haiiii .... ! Nenek gila, keluarlah kalau memang engkau berani dan gagah ! Kita lanjutkan pertandingan kita kemarin dulu ! Hayo keluar ! Apakah engkau pengecut gila yang tidak berani menyambut tantangku !". Mendengar teriakan lantang ini, belasan orang anggota Hwa-li-pang yang pada malam hari itu bertugas jaga, segera berlari-lari mendatangi halaman itu. Di situ telah berdiri seorang pengemis muda berbaju hitam yang memegang tongkat.
"Pengemis kurang ajar ! Hayo minggir dari sini !"
Bentak para penjaga dan mereka segera mengepung dan mengeroyok pengemis muda.
Cu Sian, pengemis itu melayani pengeroyokan mereka dengan tongkatnya dan dalam beberapa gebrakansaja sudah ada empat orang anggota Hwa-li-pang yang terpelanting ke kanan kiri !.
"Heeiii, Nenek gila ! Pengecut kau, berlindung di belakang orang-orang Hwa-li-pang ! Hayo keluar, nenek pengecut gila !"
Cu Sian memaki-maki dengan suara lantang sambil berlompatan ke sana kemari melayani pengeroyokan para penjaga itu.
Kembali dua orang terpelanting roboh oleh sapuan tongkatnya.
Teriakannya yang lantang itu tentu saja terdengar oleh suami istri gila yang berada di kamar mereka .
Liu Si menjadi marah sekali karena dia di tantang dan dimaki pengecut.
"Jahanam busuk , itu tentu pengemis kelaparan itu !"
Bentaknya dan ia pun melompat keluar dari kamarnya .
Kui Mo yang tidak ingin melihat isterinya celaka, segera melompat pula mengejar isterinya menuju ke halaman depan.
Mereka berdua segera melihat betapa pengemis muda yang kemarin dulu berkelahi dengan Liu Si mengamuk dan merobohkan banyak anggota Hwa-li-pang sehingga kepungan itu menjadi kocar kacir.
Liu Si marah sekali.
"Setan cilik, kiranya engkau yang mengantar kematian ! Mundur kalian semua !"
Teriaknya. Mendengar teriakan ini, sisa anggota Hwa-li-pang yang mengepung Cu Sian segera mundur dan membiarkan nenek itu menghadapi Cu Sian. Melihat nenek itu, Cu Sian tertawa bergelak.
"ha-ha-ha, ku kira engkau hanya seorang nenek pengecut yang berlindung pada Hwa-li-pang. Kalau memang berani dan gagah, mari kita berkelahi sampai mati diluar agar orang-orang Hwa-li-pang tidak mengeroyok ku !"
Setelah berkata demikian, dia tidak memberi kesempatan kepada nenek itu untuk menjawab karena tubuhnya sudah melompat jauh dan berlari keluar dari pintu halaman.
"Setan, siapa takut padamu !"
Liu Si membentak dan ia pun lari keluar mengejar.
Suaminya juga mengejar, akan tetapi anak buah Hwa-li-pang tidak ada yang ikut mengejar, seolah tidak mau terlibat urusan keluarga gila itu.
Teriakan Cu Sian yang memecahkan kesunyian malam itu terdengar pula oleh Han Sin dan Kui Ji.
Gadis gila yang tak pernah melepaskan perhatiannya terhadap Han Sin, segera keluar dari kamarnya dan menerjang daun pintu kamar Han Sin sehingga terbuka.
Ia meloncat ke dalam memegang tongkat ularnya.
Ia melihat Han Sin juga sudah bangun dari tidurnya dan pemuda itu duduk bersila di atas pembaringan, Kui Ji tertawa girang.
"Suamiku yang baik, engkau terbangun oleh ribut-ribut itu ? Jangan takut , aku datang melindungimu"
Kui Ki menghampitri pembaringan.
Han Sin tersenyum, kesehatannya telah pulih dan kalau dia menghendaki tentu saja sejak pagi tadi dia dapat melarikan diri atau kalau perlu melawan keluarga gila itu.
Akan tetapi dia menaati pesan dalam surat nona baju putih itu.
Dia harus melarikan diri sehingga tidak melibatkan Hwa-li-pang.
"Kui Ji, sekarang tiba saatnya aku membebaskan diri darimu !"
Berkata demikian, Han Sin melompat turun dari pembaringan.
Melihat gerakan Han Sin yang gesit.
Kui Ji terkejut dan heran, akan tetapi tentu saja ia tidak ingin Han Sin melarikan diri maka ia lalu menyerang dengan tongkat ularnya untuk menotok roboh pemuda itu.
Makin terkejutlah Kui Ji ketika tongkat itu dengan mudah di tangkap oleh Han Sin dan sekali pemuda itu mendorong Kui Ji terjengkang dan terguling-guling di lantai kamar.
Gadis itu melihat Han Sin meloncat keluar jendela.
Ia juga meloncat bangun, dan melakukan pengejaran keluar dari jendela kamar itu.
Setibanya diluar jendela, ia menengok ke kanan-kiri karena tidak melihat bayangan Han Sin, mendadak ada bayangan putih berkelebat di depan kiri dan bayangan putih itu berlari memasuki kebun samping bangunan.
Kui Ji girang dan meloncat mengejar sambil berteriak "suamiku...
tunggu........
jangan tinggalkan aku........".
Bayangan putih itu berlari terus dan setibanya di pagar tembok belakang.
Ia melompat ke atas pagar tembok dan dari situ melayang keluar.
Kui Ji tidak mau kehilangan yang di kejarnya, maka ia pun meloncat naik ke atas pagar tembok.
Dari atas pagar ini dilihatnya bayangan putih itu berlari menuju ke selatan, maka iapun melayang keluar pagar tembok dan terus mengejar ke selatan.
Akan tetapi setelah tiba di luar sebuah hutan , tiba-tiba bayangan putih di depan itu lenyap.
Kui Ji menjadi bingung dan menghentikan larinya, hanya berjalan sambil memandang ke kanan kiri.
Ketika melihat seorang yang berpakaian putih sedang duduk di bawah pohon, iapun cepat menghampiri.
Akan tetapi setelah tiba di depan orang itu, ia merasa kecewa karena orang itu adalah seorang wanita berpakaian putih, bukan Han Sin !.
"Hei, kau .......... !"
Tegurnya.
"Apakah engkau melihat suamiku yang juga berpakaian putih-putih lewat sini tadi ?". Orang itu bukan lain adalah Kim Lan. Seperti yang telah di rencanakan, malam itu ia menanti di dekat jendela kamar Han Sin, siap membantu kalau-kalau pemuda itu mengalami kesulitan melepaskan diri dari pengejaran Kui Ji. Akan tetapi ia melihat Han Sin keluar dari jendela dan berlari menuju ke belakang bangunan seperti direncanakan pemuda itu telah lenyap ketika Kui Ji nampak keluar dari jendela itu. Maka, ia melakukan tugasnya yang kedua, yaitu memancing Kui Ji untuk mengejarnya ke jurusan yang berlawanan dengan larinya Han Sin. Ia berhasil, karena cuaca yang gelap membuat ia hanya kelihatan seperti bayangan putih, seperti juga Han Sin yang berpakaian serba putih. Ia menggunakan gin-kang untuk berlari keluar dari kebun dan menuju ke hutan itu. Padahal, seperti rencana Han Sin berlari ke jurusan yang berlawanan, yaitu ke utara. Setelah yakin bahwa pemuda itu sudah dapat berlari juah dan Kui Ji kehilangan jejaknya. Ia lalu berhenti di bawah pohon sampai di tegur oleh Kui Ji.
"Suamiku? Aku tidak melihat seorangpun di sini?"
"Jangan bohong. Kau menyembunyikan suamiku, ya? Kau, harus di hajar dulu untuk mengaku"
Dan gadis gila itu lalu menyerang Kim Lan dengan tongkatnya.
Serangannya itu berbahaya sekali mengancam jalan darah.
Akan tetapi dengan gerakan yang ringan dan indah.
Kim Lan dapat menghindarkan diri dari serangan tongkat.
Ia berkelebat ke sana sini untuk mengelak dan ketika kedua tangannya bergerak, lengan bajunya yang panjang itupun menyambar dari kanan kiri dan menyerang dengan tak kalah dahsyatnya.
Kui Ji terkejut dan menjadi penasaran.
Dalam cuaca yang remang-remang itu kedua orang gadis bertanding, mengandalkan ketajaman mata yang menembus cuaca remang-remang dan ketajaman telinga untuk mengikuti gerakan lawan.
Setelah menandingi Kui Ji selama belasan jurus, Kim Lan melompat ke belakang.
"Sobat, kalau kau menyerangku, berarti kau membuang waktu dan suamimu itu tentu sudah pergi jauh sekali. Kau akan kehilangan dia"
Mendengar ini, Kui Ji merasa Khawatir sekali dan ia pun cepat meloncat, lari pulang ke Hwa-li-pang sambil menangis.
Setibanya di halaman rumah induk, ia melihat ibunya sedang bertanding melawan pengemis muda.
Pertandingan itu amat seru dan keduanya berimbang, saling serang dan saling desak.
Ayahnya hanya menonton saja dan Kui Ji sudah mengenal watak ayahnya.
Kalau tidak terpaksa sekali ayahnya pantang mengeroyok lawan.
"Ayah ,.... Ibu.... Tolonglah aku......... aku kehilangan suamiku.."
Teriak Kui Ji sambil menangis. Mendengar ini, ibunya yang sedang bertanding itu meloncat ke belakang dan pengemis muda itu berkata sambil tertawa.
"Ha-ha-ha, kau nenek gila lihai juga. Biar lain kali saja kita lanjutkan pertandingan ini"
Setelah berkata demikian diapun melompat jauh ke belakang lalu melarikan diri keluar dari halaman itu.
Pada saat itu muncullah Pek Mau To-kouw dengan kebutan bulu merah di tangannya.
Ia pun muncul sesuai rencana.
Dengan wajah tegang ia menghampiri keluarga gila itu dan bertanya "Sian-cai....
apa yang telah terjadi di sini?
Mengapa ribut-ribut ini?"
"Pengemis setan itu datang mengganggu menantang aku"
Kata Liu Si.
"Suamiku melarikan diri. Ayah...... ibu.... suamiku melarikan diri...... dia meninggalkan aku.......... hu-hu-huuu"
"Sumimu lari? Kemana larinya?"
Pek Mau To-kouw bertanya.
"Biar kutanyakan kepada anak buah ku. Heeiii, murid-murid Hwa-li-pang, apakah ada yang melihat kemana larinya calon pengantin pria itu?"
To-kouw itu bertanya dengan suara lantang.
"Kami melihat dia lari ke arah barat"
Terdengar jawaban.
"Tidak, kami melihat pemuda baju putih itu lari ke timur"
Seru yang lain.
"Celaka, celaka....... aku kehilangan mantu"
Kui Mo mencak-mencak dengan marah "Hayo kita kejar dia"
Tiga orang ayah ibu dan anak itu lalu berlari dengan cepat meninggalkan tempat itu untuk melakukan pengejaran.
Akan tetapi biar semalam mereka mengejar dan mencari-cari, mereka tidak menemukan jejak Han Sin.
Pemuda ini berlari ke utara ,akan tetapi keluarga gila itu mencarinya ke selatan, barat dan timur.
Akhirnya mereka putus asa dan kembali ke tempat tinggal mereka sendiri.
Setelah Kui Mo berpesan kepada Pek Mau To-kouw bahwa kalau mantunya kembali ke kuil itu harus cepat memberi kabar kepada mereka di bukit siluman, tempat tinggal mereka.
Tentu saja Pek Mau To-kouw dan seluruh anggota Hwa-li-pang merasa gembira sekali.
Mereka bersukur dan berterima kasih kepada Kim Lan yang telah mengatur siasat dengan baiknya sehingga keluarga gila itu meninggalkan Hwa-li-pang dengan tenang.
Juga mereka berterima kasih kepada pengemis muda bernama Cu Sian itu yang telah membantu sehingga siasat itu dijalankan dengan hasil baik.
Akan tetapi mereka agak kecewa karena kedua orang penolong itu telah pergi tanpa pamit lagi sehingga mereka tidak sempat menghaturkan terima kasih mereka.
*** Han Sin berlari terus ke utara sampai dia tiba di sebuah hutan bambu.
Tempat inilah yang dimaksudkan oleh gadis baju putih itu dalam suratnya dan agar pelarian dari keluarga gila benar-benar aman, dia diminta untuk bersembunyi di dalam hutan itu.
Han Sin tersenyum sendiri, kenapa dia harus bersembunyi?
Dia tidak takut lagi kepada keluarga gila itu setelah kini tenaganya pulih.
Tadinya dia melarikan diri hanya untuk memenuhi pesan gadis baju putih agar pelariannya dari keluarga gila itu tidak melibatkan Hwa-li-pang.
"Kenapa mesti bersembunyi di sini?"
Bisiknya kepada diri sendiri.
Sebetulnya, ingin dia melanjutkan perjalanan ke utara dimana mendiang ayahnya gugur dalam dalam perang melawan Bangsa Turki dan Mongol.
Akan tetapi biarlah, dia membantah dirinya sendiri.
Gadis baju putih itu telah memesan demikian dan tidak enaklah dia, sebagai orang yang ditolong mengabaikan permintaannya itu.
Pesan dalam surat itu agar dia bersembunyi di hutan bambu itu melewatkan malam.
Han Sin memasuki hutan kecil itu.
Dia memilih sebuah tempat yang bersih dibawah rumpun bambu.
Tanah ditilami daun-daun bambu kering sehingga enak untuk dipakai duduk, bahkan berbaring sekalipun.
Ujung bulan yang kecil melengkung muncul di angkasa timur, emdatangkan sinar yang lumayan, sehingga cuaca tidaklah segelap tadi.
Han Sin tidak berani tidur karena berada di tempat asing.
Dia hanya duduk bersila di atas tilam daun bambu itu dan menghimpun tenaganya.Buntalan pakaiannya dia letakkan di depannya.
Ternyata ketika dia tiba dihutan bambu itu, malam telah larut sekali dan sebentar saja langit di timur mulai terbakar cahaya kemerahan.
Pagi telah mendatang tanpa terasa lagi.
Pendengaran Han Sin demikian tajamnya sehingga dia telah mengetahui bahwa ada orang sedang berjalan di dalam hutan itu menuju ke tempat ia duduk.
Kaki yang menginjak daun-daun bambu itu tetap saja menimbulkan suara walaupun orang itu menggunakan ilmu meringankan tubuhnya.
Ia menanti dengan jantung berdebar, kalau yang muncul itu keluarga gila, ketiganya sekalipun, dia tidak akan merasa tegang dan gentar.
Akan tetapi yang membuat jantungnya berdebar adalah dugaan bahwa yang muncul itu si nona bermata indah.
Setelah langkah kaki itu tiba dekat, barulah dia membuka matanya memandang dan degup jantungnya semakin kuat ketika pandang matanya bertemu lagi dengan sepasang mata indah lembut itu.
Nona baju putih itu telah berada di depannya dan sepagi itu telah kelihatan demikian segar bagaikan setangkai bunga tersiram embun pagi.
Han Sin terpesona dan sampai lama dia hanya memandang saja tanpa dapat mengeluarkan suara.
Kim Lan dapat melihat sikap Han Sin yang bengong seperti orang bingung itu dan ia menduga bahwa sikap Han Sin itu karena rasa takut dan tegangnya, mengira yang datang tentulah keluarga gila yang di takutinya.
Kim Lan memegang tangannya ke atas dan menghampiri pemuda itu.
"Sobat, jangan takut, tenangkan hatimu. Keluarga gila itu telah pergi dan tidak dapat menangkapmu"
Ia tersenyum menghibur sedemikian manisnya sehingga Han Sin makin terpesona.
Akhirnya dia dapat juga membuka mulut dan bersuara "Ah, nona penolong.
Banyak terima kasih atas semua usahamu untuk membebaskan diriku dari cengkraman keluarga gila itu"
Kim Lan tersenyum "sudahlah, tidak perlu berterima kasih.
Semua ini berkat kerjasama yang baik, mendapat bantuan pengemis muda itu dan para anggota Hwa-li-pang.
Baca Juga: Pedang Pusaka Naga Putih 4
Baca Juga: Dewi Sungai Kuning 3