Eps 1 Pedang Naga Hitam - Kho Ping Hoo
Baca online Pedang Naga Hitam - Kho Ping Hoo
Cersil Pedang Naga Hitam - Kho Ping Hoo.
Pedang Naga Hitam (Seri ke 02 Serial Sepasang Naga Lembah Iblis) Karya .
Asmaraman S.
Kho Ping hoo Pulau Naga adalah sebuah pulau di Lautan Timur, sebuah pulau kecil yang memanjang sehingga di lihat dari jauh bentuknya seperti seekor Naga, yaitu bentuk bukit-bukit kecil dan lembahnya.
Sejak puluhan tahun yang lalu, pulau itu menjadi semacam pulau keramat yang di takuti orang.
Para Nelayan tidak ada yang berani mendekat ke pulau ini karena pulau itu terkenal sebagai tempat tinggal seorang datuk besar bernama Poa Yok Su yang berjuluk Hek Liong Ong (Raja Naga Hitam).
Hek Liong Ong Poa Yok Su ini mempunyai sebuah rumah besar di pulau itu dan mempunyai sedikitnya tigapuluh orang anak buah yang juga tinggal dipulau itu.
Akan tetapi pada pagi hari itu, pulau itu berkabung.
Sebuah peti mati besar berada di ruangan depan bangunan besar itu dan tiga puluh orang anak buah itu berkabung dan nampak lesu berduka.
Hek Liong Ong Poa Yok Su yang sudah berusia lanjut, kurang lebih sembilan puluh tahun itu telah meninggal dunia.
Di ruangan berkabung itu nampak menyeramkan, seperti biasa terdapat di ruangan dimana terdapat peti mati dan sembahyangan.
Asap dupa dan hio memenuhi ruangan, baunya menyengat hidung.
Para anak buah siap untuk menerima tamu yang datang melayat.
Mereka telah menyebarkan berita di daratan akan kematian majikan mereka.
Akan tertapi sejak pagi tidak ada seorangpun datang melayati.
Siapa yang akan datang melayat seorang datuk yang terkenal sebagai tokoh sesat itu?.
Murid tunggal Hek Liong Ong yang bernama Cia Bi Kiok, yang kini tentu sudah berusia limapuluhan tahun.
Sejak tigapuluh tahun lebih yang lalu, telah meninggalkan gurunya karena Hek Liong Ong hendak memaksa murid yang cantik itu menjadi istrinya, pengganti istrinya yang meninggal dunia.
Sejak itu Cia Bi Kiok itu melarikan diri dari Pulau Naga, kemudian membentuk anak buah sendiri dan tinggal di pulau Hiu sebagai bajak laut.
Sekarang ia tidak lagi tinggal di pulau hiu dan orang tidak tahu lagi kemana perginya.
Setelah ditinggal pergi murid tunggalnya, Hek Liong Ong hidup tanpa sanak keluarga.
Istrinya meninggal tanpa meninggalkan anak dan dia hanya hidup bersama anak buahnya yang hidupnya juga dari hasil pembajakan di laut.
Setelah matahari naik tinggi, mendadak muncul seorang pria tinggi besar yang bermuka hitam dan pria yang usianya lebih lima puluh tahun ini membawa sebatang golok besar yang berkilauan saking tajamnya.
Si tinggi besar muka hitam ini memandang dengan sepasang matanya yang lebar dan membaca tulisan dimeja sembahyang depan peti mati.
"Hek Liong Ong Poa Yok Su, kau telah benar-benar mampus? Hidup atau pun mati, aku harus memenggal batang lehermu. Ini sudah menjadi sumpah Toat Beng Kwi To (Golok Setan Pencabutnyawa) dan aku harus memenuhi sumpahku ini"
Setelah berkata demikian, dengan goloknya dia menghampiri peti mati dan siap mencokel tutup peti mati.
Akan tetapi, sepuluh anak buah Hek Liong Ong segera berlompatan maju dengan pedang ditangan menghalangi orang bermuka hitam itu.
"Siapa-pun tidak boleh mengganggu peti jenazah majikan kami"
Bentak seorang diantara mereka dan sepuluh orang itu sudah siap melawan dengan pedang mereka.
Si Muka hitam itu tertegun, lalu berdongak dan tertawa bergelak "Ha-ha-ha-ha, Hek Liong Ong, agaknya anak buah mu ini setia juga kepadamu dan biarlah merekan mengikutimu ke neraka jahanam"
Setelah berkata demikian goloknya berkelebat.
Cepat dan kuat bukan main golok besar itu menyambar-nyambar.
Sepuluh orang anak buah Hek Liong Ong bukanlah orang-orang lemah.
Mereka adalah para bajak laut yang biasa berkelahi dan menggunakan kekerasan.
Mereka menggerakan perang melawan, akan tetapi sia-sia saja.
Biarpun mereka sudah menangkis, tetap saja mereka itu roboh satu demi satu dengan bermandikan darah sendiri, tewas seketika terbabat golok ditangan simuka hitam yang mengaku berjuluk Toat Beng Kwi To itu.
Dua puluh lebih anak buah Hek Liong Ong yang lain, melihat betapa sepuluh orang rekan mereka roboh dengan leher hampir putus dan tewas seketika, menjadi gentar dan mereka mundur menjauh dari peti mati.
Mereka tidak berani menghalangi lagi ketika Toat Beng Kwi To maju dan hendak mencokel tutup peti mati agar terbuka karena dia ingin memenggal leher jenazah Hek Liong Ong.
Akan tetapi pada saat itu, tiba-tiba saja terdengar suara keras dan tutup peti itu terbuka.
"Braaak"
Dan dari dalam peti mati itu berkelebat sosok bayangan ke atas. Ternyata itu adalah "mayat"
Hek Liong Ong yang setelah tiba diatas, berjungkir balik dan dengan gerengan mengerikan menukik dan kedua tangannya membentuk cakar mencengkram ke arah kepala Toat beng kwi to.
Toat Beng kwi to adalah seorang datuk yang lihai dan berani.
Akan tetapi saat itu mukanya berubah pucat sekali karena dia tidak mengira akan terjadi hal seperti itu.
Benerkah Hek Liong Ong yang sudah mati hidup kembali dan kini mayat hidup itu menyerangnya?.
Dengan hati berguncang dia menggerakkan goloknya memapaki sosok tubuh mengerikan itu.
Dia membacok ke atas sambil memandang dengan mata terbelalak ngeri.
Karena terkejut dan ngeri, maka Toat Beng kwi to kehilangan kewaspadaannya.
Bacokan goloknya ditangkis begitu saja oleh tangan kiri "mayat hidup"
Itu dan tangan kanannya masih terus mencengkram ke arah kepala.
Toat Beng kwi to menangkis dengan tangan kirinya, akan tetapi tangkisannya kalah kuat, tangan kirinya terpental dan tahu-tahu jari-jari tangan itu telah menancap dan mencengkram kepalanya.
Toat Beng kwi to mengeluarkan teriakan mengerikan dan darah keluar dari kepalanya yang ditembusi jari-jari tangah mayat hidup itu.
Dia masih berusaha untuk meronta, akan tetapi kedua kakinya seperti kehilangan tenaga dan terkulai roboh dengan kepala berlubang-lubang dan berdarah.
Hanya sejenak dia berkelonjotan lalu tewas.
Kini "Mayat hidup"
Itu duduk diatas sebuah kursi.
Ternyata dia bukanlah mayat, melainkan Hek Liong Ong Poa Yok su dengan pakaian lengkap.
Dia memandang kepada sepuluh orang anak buahnya yang tewas, lalu memandang kepada mayak Toat Beng kwi to, lalu meludah kearah mayat itu.
"Heran benar, sampai sesudah matipun orang masih mencariku untuk membalas dendam"
Dia lalu menggapai duapuluh lebih anak buahnya yang tadiketakutan dan mundur.
Mereka datang menghadap dan Hek Liong Ong Poa Yok Su berkata kepada mereka "Siasatku berpura-pura mati untuk menghindari balas dendam pada usiaku yang sudah tua ini harus dilanjutkan, Akan tetapi aku tidak lagi bersembunyi didalam peti mati.
Terlalu berbahaya.
Aku akan mengganti tubuhku dalam peti dengan bata.
Kemudian, sediakan sebelas peti mati untuk para anak buahku dan untuk Golok Setan ini, bariskan semua peti mati berjajar dengan peti matiku.
Kalian jaga baik-baik dan setelah semua peti mati dikubur, kalian boleh meninggalkan pulau ini dan membagi semua barang yang berada disini diantara kalian.
Aku mau pergi sekarang juga.
Awas, jangan ada yang melanggar pesanku ini"
Hek Liong Ong Poa Yok Su yang dalam usianya yang sudah lanjut itu masih nampak gagah dan tinggi besar itu lalu pergi dengan langkah lebar.
Dua puluh tiga orang anak buah Hek Liong Ong lalu sibuk melaksanakan pesan majikan mereka.
Mereka lalu mengeluarkan peti-peti mati yang memang banyak tersedia dipulau itu, memasukan semua jenazah lalu mengatur peti-petii mati itu sejajr dengan peti mati majikan mereka yang mereka isi dengan bata dan mereka tutup kembali.
Di Depan setiap peti mati si Golok Setan mereka juga menuliskan nama julukan itu.
Kemudian mereka membakar lagi dupa dan sudah bersiap-siap untuk mengubur semua peti mati.
Mereka cepat menggali dua belas lubang kuburan dan kini beramai-ramai mengangkuti peti-peti mati itu ke kuburan yang berada di tengah-tengah pulau.
Baru saja mereka menurunkan peti-peti mati itu dari pikulan dan meletakkan diatas tanah dekat lubang-lubang yang mereka gali, tiba-tiba terdengar seruan halus"haiiii, berhenti dulu, jangan di kubur"
Semua orang memandang ke sekeliling akan tetapi tidak nampak ada orang di situ.
Dan mereka melihat seseorang datang berlari-lari dari pantai.
Sungguh mengherankan kalau orang itu yang bicara tadi.
Orangnya masih begitu jauh akan tetapi suaranya seperti dia berada di dekat mereka.
Dan larinya demikian cepat seperti terbang saja dan tak lama kemudian, seorang berpakaian tosu telah berdiri di situ.
Tosu ini berusia kurang lebih enampuluh tahun, tinggi kurus dan mukanya demikian kurus sehingga tinggal tulang terbungkus kulit seperti tengkorak hidup.
Matanya yang sipit kecil itu mencorong bagaikan dua titik bunga api.
Tangan kirinya memegang sebuah hud tim, semacam kebutan yang biasa dipegang para pendeta dan tangan kanannya memegang sebatang tongkat putih.
"Peti-peti jenazah siapa saja ini?"
Dia bertanya kepada mereka yang memandang kepadanya penuh kecurigaan.
Seorang yang menjadi pimpinan anak buah Pulau Naga itu lalu menjawab "Yang ini adalah peti jenazah majikan kami Hek Liong Ong Poa Yok Su, yang itu adalah peti jenazah Toat Beng kwi to dang yang sepuluh ini peti jenazah rekan-rekan kami"
"Hek Liong Ong mati? Mana mungkin? Dan Toat Beng kwi to mati pula di sini? Aneh sekali, apa yang telah terjadi?"
Anak buah Pulau Naga yang mewakili teman-temannya itu menceritakan dengan singkat"Toat Beng kwi to datang membikin kacau, sepuluh orang anak buah pulau naga dibunuhnya.
Majikan kami yang sudah tua dan sakit terpaksa maju melawannya.
Dan keduanya tewas oleh perkelahian itu"
Cerita yang masuk di akal, akan tetapi tosu tinggi kurus itu menggunakan gagang kebutannya untuk menggaruk-garuk belakang kepalanya dengan penuh kebimbangan.
"Toat Beng kwi to dapat membuhuh sepuluh orang anak buah pulau naga, hal itu tidak aneh. Akan tetapi dia dapat menandingi Hek Liong Ong sampai mati bareng? Ah, mana mungkin ini? Ingin aku memberi hormat kepada sahabatku Hek Liong Ong"
Dia menghampiri peti jenazah Hek Liong Ong dan para anak buah pulau naga tidak curiga karena tosu itu menyebut majikan mereka sebagai sahabat.
Dan tosu itupun menepuk-nepuk peti jenazah itu dari ujung ke ujung dengan perlahan sambil berkata, suaranya lirih akan tetapi terdengar mengerikan.
"Hek Liong Ong, kenapa kau mati menginggalkan pinto? Ini tidak adil, dan tidak jujur. Hemm, benarkah kau yang berada didalam peti mati ini?"
Dan sekali tangannya bergerak terdengar suara keras dan peti mati itu bergoyang, tutupnya terbuka.
Semua anak buah pulau naga menjadi terkejut sekali, apalagi melihat betapa semua tumpukan bata didalam peti mati telah remuk.
Tentu ketika menepuk-nepuk peti mati itu tosu tadi mengerahkan tenaga saktinya, menyerang ke arah "mayat"
Di dalam peti sehingga bata itu remuk semua.
Kini mereka dengan pedang di tangan sudah mengepung dan menyerang tosu itu karena kebohongan mereka sudah diketahui.
Lebih baik mendahului turun tangan membunuh tosu itu daripada membiarkan mereka diserang.
Akan tetapi, ternyata kepandaian tosu itu jauh lebih tinggi dibandingkan tingkat kepandaian Toat Beng kwi to yang dahsyat tadi.
Tongkat dan kebutan itu menyambar-nyambar dan duapuluh tiga orang itupun roboh satu demi satu dan tewas seketika.
Tidak ada yang sempat melarikan diri sama sekali saking cepatnya gerakan tosu itu yang seperti melayang-layang diantara mereka.
Setelah semua orang roboh dan tewas, tosu itu menghampiri peti jenazah yang terisi bata itu dan menggeleng-geleng kepalanya lalu menghela napas panjang.
"tsk-tsk-tsk... Hek Liong Ong, kau sungguh cerdik dan licik"
Mata yang kecil itu memandang acuh kepada kepada duabelas buah peti mati dan duapuluh tiga buah mayat yang berserakan itu, lalu menghela napas lega, lalu berlari seperti terbang menuju ke rumah besar bekas tempat tinggal Hek Liong Ong.
Setelah memeriksa dan tidak menemukan seorangpun di sana, tosu itu lalu membakar rumah itu.
"Hem, Hek Liong Ong"
Gumannya sambil memandang api yang berkobar melalap bangunan itu "biarpun pinto belum berhasil membunuhmu, setidaknya pinto telah membasmi sarangmu dan semua anak buahmu.
Setelah berkata demikian, diapun cepat lari ke pantai, melepas tali perahunya dan tak lama kemudian diapun sudah melayarkan perahunya menuju daratan.
*** Hek Liong Ong Poa Yok Su telah berhasil meninggalkan pulau naga tanpa ada yang mengetahui kemana dia pergi.
Begitu tiba di daratan dia langsung memotong rambutnya sampai gundul dan dengan pakaian compang camping seperti seorang pengemis dia melanjutkan perjalanan.
Mengapa seseorang yang sedemikian lihainya seperti Hek Liong Ong Poa Yok Su, majikan pulau naga yang mempunyai banyak anak buah menjadi ketakutan dan berpura-pura mati untuk menyembunyikan dirinya?
Siapa yang di takutinya?
Sebetulnya, dia tidak takut kepada siapa pun.
Tidak ada orang didunia ini yang ditakutinya.
Dia adalah datuk besar di timur yang terkenal dan sukar dicari tandingannya.
Akan tetapi setelah usianya semakin tua, setelah dia menyadari benar-benar bahwa kematian pasti akan tiba, dia menjadi ketakutan.
Hek Liong Ong Poa Yok Su takut akan kematian.
Dia merasa tidak berdaya menghadapi maut, tidak kuasa melawan maut.
Oleh karena itu dia membayangkan bahwa musuh-musuhnya tentu akan datang membalas dendam dan akhirnya dia akan mati.
Dia takut, dia ngeri menghadapi kematiannya sendiri, walaupun sudah tidak terhitung banyaknya die menghadapi kematian kematian orang lain melalui tangan atau senjatanya.
Kalau dia menbayangkan apa yang akan terjadi dengan dirinya setelah mati, bagaimana dengan tubuhnya yang akan membusuk dan hancur, apa yang akan dijadapinya.
Lebih-lebih teringat akan cerita bahwa dosa-dosa yang bertumpuk banyaknya tentu akan mengalami hukuman sesudah mati, dia merasa takut bukan main.
Perjalanannya membawa dia ke dekat kota raja.
Tadinya dia bermaksud hendak ke kota raja menghadap Kaisar Yang Chien yang pernah dibantunya ketika kaisar itu masih muda dan masih berjuang menumbangkan kekuasaan Raja Toba sehingga akhirnya berhasil menggulingkan pemerintah asing dan mendirikan Kerajaan Sui (baca kisah Sepasang Naga Lembah Iblis).
Akan tetapi setelah tiba di luar kota raja dia meragu.
Dia tahu bahwa di kota raja terdapat banyak pendekar yang kini menduduki jabatan penting dan die mempunyai permusuhan dengan banyak pendekar.
Di kota raja juga terdapat banyak musuhnya.
Lebih mengerikan lagi karena para pendekar itu tentu tidak akan melupakan dia sebagai musuh dan diantara pendekar itu terdapat banyak orang sakti.
Hal ini membuat dia takut memasuki kota raja dan membalikkan tubuhnya lagi untuk meninggalkannya.
Tiba-tiba dia melihat sebuah bangunan kuil dibukit, tak jauh diluar kota raja.
Kuil.
Hidup dikuil sebagai seorang hwesio itulah jalan terbaik.
Selain dia dapat bersembunyi dari musuuh-musuhnya, diapun dapat menebus dosa-dosanya dengan tekun beribadat.
Untuk dapat mengusir perasaan takutnya.
Dengan langkah lebar dan hati mantap dia menuju ke kuil itu, mendaki bukit.
Kuil itu merupakan sebuah kuil besar di huni oleh duapuluh orang hwesio.
Kepala kuil itu bernama Tiong Gi Hwesio, seorang tokoh dari kuil siauw lim si.
Karena itu, kuil itupun merupakan cabang siauw lim si dan di situ terdapat pula belasan orang pemuda remaja yang belajar ilmu silat dari Tiong Gi Hwesio.
Ketika Hek Liong Ong tiba di kuil itu, dia diterima oleh seorang hwesio yang bertugas jaga.
"Paman tua, apakah keperluanmu datang berkunjung ke kuil ini kalau tidak ingin bersembahyang?"
Tanya hwesio penjaga.
"Tolong, pertemukan saya dengan ketua kuil, saya mempunyai permohonan kepadanya"
Kata Hek Liong Ong merendah.
Kebetulan sekali Tiong Gi Hwesio keluar dari kuil itu dan melihat seorang kakek ingin bertemu dengannya, diapun segera menghampiri "Sobat, pinceng adalah Tiong Gi Hwesio, kepala kuil ini.
Ada keperluan apakah, kau hendak bertemu dengan pinceng?"
Tanyanya dengan nada ramah sekali. Kakek itu memandang kepada Tiong Gi Hwesio dan dia segera menjatuhkan diri berlutut di depan kaki hwesio itu.
"Losuhu, tolonglah saya, saya ingin menebus dosa dengan masuk menjadi hwesio dan mempelajari Kitab-Kitab agama, hidup beribadat. Tolonglah saya, saya mau bekerja sebagai apa saja di dalam kuil ini"
Dalam suara Hek Liong Ong terkandung kesungguhan hatinya dan suaranya seperti orang yang ketakutan dan hampir menangis.
"Omitohud.... Biarpun kau sudah tua, kau masih belum terlambat untuk bertaubat dan mengubah jalan hidup mu. Sang Budha akan memberkati-mu"
Tiong Gi Hwesio merasa iba kepada Hek Liong Ong "Siapakah namau, sobat?"
"Saya bermarga Liong, nama saya Beng"
Kata Hek Liong Ong berbohong.
Karena kalau dia berterus terang siapa dirinya, tentu hwesio itu tidak akan mau menerimanya.
Nama Hek Liong Ong Poa Yok Su sudah terlalu tersohor dan pasti akan membikin takut para hwesio ini.
"Baiklah, pinceng suka menerima-mu menjadi murid di kuil ini dan tentang pekerjaan nanti saja kita lihat apa yang dapat kau bantu untuk kami"
Hek Liong Ong merasa gembira sekali.
Dia mencium ujung kaki Tiong Gi Hwesio dan mengeluarkan sepuluh potong emas yang selama ini dia simpan dikantungnya "Banyak terima kasih atas kemurahan hati lo suhu, dan ini seluruh milik yang ada pada saya, saya serahkan untuk keperluan kuil"
Tiong Gi Hwesio terbelalak, sepuluh potong emas itu besar sekali harganya, akan tetapi karena orang tua itu menyerahkannya dengan rela, maka harta itu diterimanya untuk kepentingan kuil.
Mulai hari itu jadilah Hek Liong Ong seorang hwesio dan dia diberi julukan Ho Beng Hwesio.
Setelah beberapa hari berada di kuil itu dan Tiong Gi Hwesio mendapat kenyataan bahwa hwesio itu pandai memasak, maka Ho Beng Hwesio diberi tugas sebagai tukang masak.
Hek Liong Ong yang sudah menjadi Ho Beng Hwesio merasa senang sekali tinggal di kuil itu.
Dia mendapatkan dua keuntungan.
Pertama, setelah menjadi hwesio tidak akan ada lagi musuhnya yang dapat mengenalnya sehingga dia dapat bersembunyi di kuil itu dengan hati tenang dan tentram dan kedua, dia dapat menentramkan hatinya dengan mempelajari agama sehingga dia dapat mengusir rasa takutnya menghadapi kematian.
Diapun dapat menyembunyikan kepandaiannya.
Biarpun disitu terdapat banyak murid yang mempelajari ilmu silat, namun dia tidak pernah memperdulikan dan acuh saja seolah dia seorang tua yang lemah dan sama sekali tidak mengerti tentang ilmu silat.
Setelah lewat beberapa bulan, Hek Liong Ong merasakan kedamian dalam hatinya dan dia sudah merasa benar-benar aman dari ancaman musuh-musuhnya.
**** Cerita ini dimulai pada tahun 594, baru tiga belas tahun kerajaan Sui berdiri.
Setelah perjuangan selama belasan tahun dengan gigih, Pendekar Yang Chien, akhirnya dalam tahun 581 dapat mengalahkan pemerintah penjajah Toba dan mendirikan Kerajaan Sui.
Dalam Kisah Sepasang naga lembah iblis diceritakan tentang perjuangan Yang Chien.
Kaisar Yang Chien berhasil mempersatukan kembali semua daerah sehingga Kerajaan Sui menjadi besar dan Jaya.
Kaisar Yang Chien pandai memerintah dan Kerajaan Sui menjadi terkenal, keamanan dapat dikembalikan dan keadaan dalam negeri diperkuat.
Pemerintah diselenggarakan dengan bijaksana, pajak-pajak diperingan, hukum-hukum negara ditegakkan dan dilaksanakan dengan baik.
Bahkan untuk kepentingan pertanian dan perdagangan, Kaisar Yang Chien memerintahkan penggalian terusan-terusan yang menghubungkan kedua Sungai Huang Ho dan Yang Ce.
Untuk melaksanakan pekerjaan besar ini dibutuhkan tenaga ratusan ribu orang dan Kaisar Yang Chien tidak mau mempergunakan kekerasan system kerja paksa seperti kaisar-kaisar yang terdahulu, akan tetapi dia mengharuskan para petugas untuk memberi upah kepada para pekerja sehingga pekerjaan dapat berjalan lancar tanpa protes dari pihak rakyat jelata.
Sikapnya untuk urusan keluar daerah juga tegas.
Daerah-daerah yang tidak mau tunduk di serbu dan ditaklukan kembali.
Daerah Tong Kin dan Annam ditundukkan dan dimasukkan ke dalam wilayah Kerajaan Sui.
Kaisar yang bijaksana dan adil selalu mendapat dukungan rakyat jelata dan menarik hati para cendikiawan untuk berdatangan dan membantu.
Dan Kaisar Yang Chien menerima para cerdik pandai dengan tangan terbuka, setelah menguji mereka memberi kedudukan yang sepadan dengan kepandaian mereka sehingga roda pemerintahan dapat berputar sedemikian lancar.
Para pejabat tinggi yang dekat dengan kaisar memperlihatkan kesetiaan mereka.
Kalau pohonnya sehat maka cabang-cabang, ranting-ranting dan daun-daunnya pun sehat dan pohon yang sehat ini tentu menghasilkan buah yang baik.
Demikian pula kalau kaisar sebagai orang tertinggi kedudukannya bijaksana dan adil, maka para pembantu atau bawahannya tentu juga bijaksana dan atasan yang adil bijaksana dapat menegur bawahan yang tidak benar sehingga kebijaksanaan ini dapat terus mengalir sampai kepada pejabat yang tingkatnya paling rendah.
Kebijaksanan harus dimulai dari tingkat paling atas sebagai tauladan pertama.
Bagaimana mungkin mencegah anak buah bertindak jahat kalau pemimpin mereka sendiri juga jahat?.
Diantara para pejabat tinggi yang paling dekat dengan kaisar Yang Chien adalah seorang Panglima besar bernama Cian Kauw Cu.
Sejak mudanya Cian Kauw Cu menjadi sahabat, bahkan seperti saudara sendiri dari Kaisar Yang Chien.
Mereka berdua berjuang bersama, bahkan mereka berdualah yang di kenal sebagai Sepasang Naga Lembah Iblis.
Mereka berdua menemukan sepasang pedang yang kemudian menjadi milik mereka berdua, yang putih disebut Pek Liong Kiam (Pedang Naga Putih) menjadi milik Kaisar Yang Chien dan yang hitam di sebut Hek Liong Kiam (Pedang Naga Hitam) menjadi milik Cian Kauw Cu.
Selain mendapatkan sepasang pedang itu, mereka berdua juga menemukan kitab pelajaran ilmu silat Bu Tek Cin Keng di dalam sebuah gua.
Hanya bedanya, kalau Yang Chien mempelajari ilmu dari kitab itu yang kemudian membuat dia menjadi seorang pendekar yang memiliki ilmu kepandaian tinggi, maka Cian Kauw Cu hanya mempelajarinya dari gambar-gambar di dinding sehingga mutu ilmu yang dikuasai Cian Kauw Cu masih kalah dibandingkan yang dikuasai Yang Chien.
Hal ini disebabkan Cian Kauw Cu memiliki latar belakang pendidikan yang rendah sekali.
Sejak kecilnya dia hidup liar seperti binatang dan dipelihara oleh seekor kera betina.
Semua itu diceritakan dengan lengkap dalam kisah sepasang naga lembah iblis.
Sekarang Cian Kauw Cu atau Cian Ciangkun telah berusia lima puluh tahun.Selama belasan tahun dia ikut pula berjuang di samping Yang Chien.
Setelah mereka berhasil, Yang Chien menjadi kaisar dan Cian Kauw Cu di angkat menjadi panglima besar.
Dia menikah dengan seorang wanita pilihannya yang bernama Ji Goat, puteri mendiang perdana menteri Kerajaan Toba.
Ji Goat juga bukan wanita biasa.
Wanita yang sudah berusia empatpuluh tujuh tahun ini adalah seorang pendekar wanita yang memiliki ilmu kepandaian tinggi pula.
Mereka memiliki seorang anak tunggal, seorang putera berusia sepuluh tahun yang diberi nama Cian Han Sin.
Demikianlah sedikit riwayat sepasang pendekar yang dikenal sebagai sepasang naga lembah iblis dan yang kini telah menjadi kaisar dan panglima besarnya.
Pada hari itu, Kaisar Yang Chien sengaja memanggil Panglima Cian untuk menghadap dan kedua orang sahabat yang kini telah menjadi orang-orang besar dengan usia yang mulai tua itu, duduk berhadapan disebuah ruangan dalam istana.
Mereka tidak kelihatan seperti seorang kaisar dengan panglimanya, nampak seperti dua orang sahabat saja.
Demikianlah kalau kaisar sedang bercakap-cakap berdua saja dengan Cian-Ciangkun.
Keakraban yang dahulu masih nampak dalam sikap mereka walau pun Cian"Ciangkun lebih bersikap hormat.
"Cian-Ciangkun"
Kata Kaisar setelah dia mempersilahkan Panglimanya minum arak dari cawan yang disuguhkan "Bagaimana pendapatmu tentang gerakan bangsa-bangsa bar-bar di Utara itu?
Bangsa Toba tiada hentinya berusaha untuk menegakkan kembali kekuasaan mereka dan mereka selalu menggangu daerah perbatasan utara yang demikian luasnya.
Dan agaknya mereka itu hendak mengajak Bangsa Turki dan Mongol untuk bersekutu, Kalau mereka sampai bersekutu, mereka akan merupakan kekuatan yang tidak boleh dipandang ringan"
"Apa yang paduka katakan itu benar sekali, Yang Mulia"
Kata Cian Ciangkun yang walaupun mereka namapak duduk berhadapan dengan akrabnya, tetap saja menunjukkan sikap seorang bawahan kepada atasannya"
Dan satu-satunya jalan untuk menghilangkan ancaman dari Utara itu hanyalah dengan mengirim pasukan dan menundukkan mereka.
Setelah kini kekacauan di selatan sudah dapat ditundukkan dan semua balatentara berada dalam keadaan menganggur, maka sudah tiba saatnya untuk mengerahkan pasukan ke utara"
"Tepat, kamipun berpendapat demikian, Cian Ciangkun, akan tetapi karena usaha pembersihan di utara ini merupakan pekerjaan besar yang penting sekali, sama sekali tidak boleh gagal, maka kami bermaksud untuk memimpin sendiri pasukan besar menyerbu ke utara. Bagaimana pendapatmu, Cian Ciangkun?"
"Yang Mulia, hamba kira hal itu tidak perlu dilakukan. Untuk membunuh anjing tidak perlu mempergunakan pedang pusaka, untuk menundukkan para perusuh di utara itu hamba kira tidak perlu sampai paduka sendiri turun tangan. Keberadaan paduka di istana masih sangat diperlukan untuk memperlancar jalannya pemerintahan yang berwibawa, Kalau paduka pergi sendiri sampai waktu yang lama, hamba khawatir, akan terjadi hal-hal yang tidak menguntungkan di kota raja"
Hemm, habis bagaimana Ciangkun? Pekerjaan ini amat berat dan penting, juga berbahaya. Kami tidak ingin melihat operasi pembersihan ini gagal"
"Yang Mulia, apa gunanya hamba berada disini kalau untuk urusan begitu saja paduka harus turun tangan sendiri? Yang mulia, biarlah hamba yang akan mewakili paduka, memimpin pasukan dan menundukkan bangsa"bangsa yang mengancam di perbatasan utara itu"
Kaisar Yang Chien memandang sahabatnya itu dan mengangguk-angguk senang. Diapun percaya, kalau Cian Kauw Cu yang mewakilinya dan memimpin pasukan, tentu operasi pembersihan itu akan berhasil baik.
"Bagus, kalau kau sendiri yang memimpin pasukan itu, kami yakin pembersihan itu akan berhasil baik. Pergilah umumkan keputusan ku. Cian Ciangkun. Persiapkan pasukan sebanyak yang kau kehendaki dan berangkatlah dalam minggu ini juga"
"Baik, hamba siap melaksanakan perintah Yang Mulia"
Kata Cian Ciangkun yang segera memberi hormat dan mengundurkan diri.
Cian ciangkun lalu mengumumkan kepada semua menteri dan pejabat tinggi tentang perintah kaisar dan dia sendiri lalu menghubungi para panglima mempersiapkan pasukan yang akan dibawanya ke utara untuk menundukkan Bangsa Nomad di uatara itu.
Karena perjalanan ke utara melalui daerah pegunungan dan gurun yang serba keras dan sukar, maka Cian Ciangkun memberi waktu sekitar satu minggu kepada pasukan untuk mempersiapkan perbengkalan.
Dirumah gedungnya, Cian Kauw Cu bercerita kepada istrinya tentang tugasnya mewakili Kaisar untuk melakukan pembersihan ke utara.
Istrinya maklum akan tugas suaminya sebagai panglima besar.
Bukan baru kali ini suaminya pergi meninggalkannya untuk memimpin pasukan berperang, sudah berulang kali.
Karena itu, iapun tidak merasa khawatir.
Ia percaya akan kemampuan suaminya.
Apalagi sekarang yang akan dibersihkan hanyalah pengacau-pengacau perbatasan.
"Berapa lamanya gerakan pembersihan itu, suamiku?"
Tanyanya.
Ciang Ciangkun menggeleng kepalanya "Belum dapat kuperkirakan sekarang.
Biarpun mereka itu hanya pengacau-pengacau yang kukira tidak berapa besar kekuatannya, namun medannya amat sukar.
Dan mereka adalah penunggang kuda yang mahir, mudah melarikan diri di daerah yang liar itu.
Mereka itu berkelompok dan berpindah-pindah.
Itulah sukarnya.
Kalau mereka bersarang, mudah saja membasmi sarang mereka.
Akan tetapi, dengan serbuan-serbuan pasukan kita, ku kira mereka akan cerai berai dan tidak dapat bersatu lagi dan mudah"mudahan saja tidak terlalu lama aku akan dapat pulang"
Pada saat itu, seorang anak laki-laki berusia sepuluh tahun berlari-lari masuk ke ruangan itu.
Dia adalah Cian Han Sin.
Anak ini memiliki tubuh seperti ayahnya, tinggi besar dan tegap.
Akan tetapi kulitnya tidak hitam seperti ayahnya, melainkan putih bersih seperti ibunya.
Juga wajah anak ini seperti ibunya, maka dia kelihatan tampan.
Tampan dan gagah karena tubuhnya tegap.
"Han Sin, kenapa kau berlari-lari?"
Tegur ibunya. Akan tetapi anak itu berlari menghampiri ayahnya.
"Ayah, aku melihat pasukan bersiap-siap dan katanya ayah hendak memimpin pasukan menuju ke utara, ke mongol. Benarkan, ayah?"
Cian Ciangkun tersenyum dan mengelus kepala puteranya "Memang benar, Han Sin. Kaisar memerintahkan ayahmu untuk memimpin pasukan dan mengadakan pembersihan kepada para pengacau diperbatasan"
"Aihh, aku ingin sekali ikut, ayah. Aku ingin melihat daerah utara. Kabarnya banyak pegunungan liar dan daerah gurun pasir. Ingin aku melihatnya"
Ayahnya tertawa, mengangkat anak itu dan dipangkunya. Sebagai anak tunggal, tentu saja Han Sin agak dimanja oleh ayahnya.
"Han Sin, kau kira ayahmu pergi pesiar maka kau hendak ikut? Ayahmu pergi memerangi orang-orang yang mengacau diperbatasan, bangsa bar-bar yang liar dan kejam"
"Jadi aku tidak boleh ikut, ayah?"
Han Sin merajuk dan turun dari pangkuan ayahnya.
"Tentu saja tidak boleh, bagaimana kalau aku bertempur, apakah kau akan bertempur pula?"
"Aku selama ini sudah berlatih silat bertahun-tahun berlatih silat, aku tidak takut bertempur"
Cian Ciangkun tertawa "Ha-ha-ha, sudahlah kau tinggal dirumah saja menemani ibumu"
Di dalam hatinya dia merasa bangga melihat keberanian puteranya.
"Han Sin, jangan ganggu ayahmu. Ayah melaksanakan tugas penting yang berat, bukan main-main. Kau tidak boleh ikut. Rngkau harus tinggal dirumah bersama ibu, melatih silat dan menghafal pelajaran mu membaca dan menulis. Kau harus rajin belajar agar kalau ayahmu pulang kau sudah memperoleh banyak kemajuan"
Kata Ji Goat.
"Benar kata-kata ibumu, Han Sin"
"Kalau begitu, aku minta oleh-oleh. Kalau ayah pulang, agar aku dibawakan pedang mongol yang bentuknya melengkung itu"
Kata Han Sin.
"Baiklah, akan kubawakan untukmu"
Kata ayahnya.
Barulah Han Sin tidak rewel lagi dan dia segera keluar untuk bermain-main.
*** Seminggu kemudian, berangkatlah Cian Kauw Cu, memimpin pasukan yang cukup besar jumlahnya.
Tidak kurang dari selaksa orang prajurit dalam pasukannya, dengan belasan orang perwira tinggi menjadi pembantunya.
Kelak diperbatasan, jumlah ini akan ditambah pula dengan pasukan yang berjaga diperbatasan.
Pagi itu Cian Kauw Cu meninggalkan gedungnya di antar oleh istrinya dan puteranya sampai di pintu pekarangan.
Panglima berusia setengah abad lebih ini masih nampak gagah perkasa dalam pakaian panglima yang mentereng.
Dipinggangnya tergantung pedang pusakanya yaitu Hek Liong Kian (Pedang Naga Hitam) yang dahulu dikenal di dunia kang ouw sebagai pusaka yang ampuh.
Setelah berpamit sekali lagi kepada istri dan puteranya, dia lalu menunggang kudanya yang berbulu hitam menuju ke benteng dimana pasukannya telah siap.
Pasukan besar itu meninggalkan kota raja menuju ke utara.
Berhari-hari pasukan itu menempuh perjalanan yang melelahkan, naik turun gunung sampai akhirnya mereka tiba di perbatasan dan berhenti di benteng pasukan penjaga dalam tembok besar.
Disini Cian Ciangkun berunding dengan para perwira pembantunya dan panglima yang memimpin pasukan perbatasan, membicarakan keadaan didaerah perbatasan itu.
Dia mendapat laporan bahwa memang orang-orang Toba, Turki dan Mongol seringkali menggangu daerah itu bahkan beberapa kali menyerang perbentengan untuk menyerbu ke dalam tembok besar.
Adakalanya penyerangan mereka demikian kuatnya sehingga beberapa kali hampir saja pasukan penjaga itu kebobolan.
Setelah memperoleh petunjuk darimana gerombolah pengacau itu muncul, mulailah Cian Ciangkun memimpin pasukannya untuk melakukan gerakan pembersihan.
Dia memecah pasukannya menjadi beberapa bagian, menyerang dari barat, timur dan selatan untuk menggiring para gerombolan musuh ke tengah untuk dihancurkan.
Terjadilah pertempuran-pertempuran kecil karena gerombolan pengacau yang terdiri dari bermacam suku bangsa telah digempur dan hanya melakukan perlawanan kecil-kecilan saja.
Akan tetapi diwaktu malam, selagi pasukan kerajaan berkemah dan beristirahat, gerombolan pengacau itu melakukan serangan dengan panah api, menunggang kuda mengitari perkemahan pasukan itu dan menyerang sambil melarikan kuda.
Pasukan dibawah pimpinan Cian Ciangkun segera melakukan perlawanan dan gerombolan pengacau itu melarikan diri.
Akan tetapi telah mendatangkan korban yang tidak sedikit pada pasukan Kerajaan Sui.
Dihadapi perang gerilya seperti ini, Cian Ciangkun menjadi marah sekali dan akhirnya dia membawa pasukannya ke daerah Shansi karena pusat gerombolan pengacau itu berada di Shansi utara, dipimpin Bangsa Toba yang bersekutu dengan Bangsa Turki dan Mongol.
Gubernur atau kepala daerah Shansi pada waktu itu adalah sorang bernama Li Goan yang berusia kurang lebih empat puluh tahun.
Li Goan diangkat menjadi kepala daerah Shansi oleh Kaisar Yang Chien karena ketika Yang Chien berjuang membangun Kerajaan Sui, Li Goan juga berjasa dalam perjuangan.
Terutama dalam menundukkan daerah di utara.
Li Goan berjasa besar sekali.
Dalam tugas ini pula Li Goan mempersunting puteri seorang kepala daerah berketurunan Turki menjdai istrinya sampai saat itu.
Ketika mendengar bahwa pasukan kerajaan yang sedang melakukan pembersihan di utara itu datang ke Shansi, Li Goan cepat menyambut dan mempersilahkan Cian Kauw Cu dan para perwira tinggi memasuki gedungnya.
Didalam gedung itu mereka mengadakan perundingan dan Li Goan menceritakan keadaan para suku -suku bangsa yang berada di utara.
"Bangsa Turki hanya terbawa saja oleh Bangsa Toba dan Mongol"
Kata li Goan.
"Sebetulnya, mudah membujuk bangsa Turki agar jangan mengganggu perbatasan dan menjadi tetangga yang baik. Akan tetapi Bangsa Toba masih penasaran dan ingin membangun kembali kerajaan mereka yang telah hancur. Mereka bersekutu dengan Bangsa Mongol dan kedua suku bangsa itu kalau dapat ditundukkan dengan sendirinya bangsa Turki tentu juga akan mundur.
"Dimana pusat dari orang-orang Toba itu?"
Tanya Cian Ciangkun.
"Menurut penyelidikan para mata-mata kami, mereka itu berpusat disekitar lembah Huang Ho, di sebelah utara perbatasan Shansi. Mereka membuat sebuah benteng yang kokoh kuat di sana dan seluruh kekuatan sisa pasukan Toba yang terusir dari selatan kini berhimpun di sana.
"Hmmm, kalau begitu kami akan menyerang benteng mereka itu"
Kata Cian Ciangkun.
"Harap Ciangkun berhati-hati. Jumlah mereka cukup besar, tidak kurang dari selaksa orang banyaknya dan daerah itu cukup sulit untuk di serang. Selain itu juga banyak orang mongol membantu bangsa toba.
"Harap tai-jin jangan khawatir, aku pasti akan dapat menghancurkan mereka. Harap Tai-jin suka memerintahkan panglima disini untuk berjaga-jaga sajan dengan pasukannnya, tidak perlu ikut menyerbu. Dengan pasukan kami itu rasanya sudah cukup untuk membasmi sisa pasukan Toba"
Demikianlah, setelah beristirahat sehari semalam di situ, pada keesokkaan harinya, pagi-pagi sekali pasukan yang dipimpin Cain Ciangkun berangkat menuju ke Lembah Huang Ho.
Mereka menemukan benteng itu yang dibangun di tepi sungai, sebuah benteng yang besar dan kokoh kuat.
Karena hari sudah senja, Cian Ciangkun memerintahkan pasukannya mendirikan perkemahan dan melakukan penjagaan ketat agar jangan sampai disergap musuh pada malam hari.
Akan tetapi malam hari itu gelap sekali.
Udara penuh dengan awan hitam sehingga pihak musuh juga tidak berani melakukan serangan diwaktu gelap gulita.
Untung bagi pasukan Cian Ciangkun bahwa tidak turun hujan dimalam hari itu.
Pada keesokan harinya Cian Ciangkun sudah mengatur pasukkannya untuk mengepung perbentengan itu dan mulai menyerang dengan anak panah.
Pihak musuh membuka pintu gerbang untuk mengeluarkan sepasukan besar prajurit mereka dan terjadilah perang hebat didepan benteng.
Cian Ciangkun memimpin sendiri pasukannya, dengan Pedang Naga Hitam dia mengamuk dan entah berapa banyaknya prajurit musuh yang roboh oelh pedangnya.
Dari barisan musuh muncul seorang perwira yang tinggi besar seperti raksasa, bersenjatakan tombak, seperti juga Cian Ciangkun, perwira toba dengan tombaknya itu mengamuk dan telah merobohkan banyak prajurit Sui.
Akhirnya perwira itu berhadapan dengan Cian Kauw Cu.
Tanpa banyak cakap lagi, kedua orang panglima itu segera saling serang dengan dahsyatnya.
Para prajurit di sekeliling mereka bertempur sendiri, tidak ada yang berani mencampuri pertandingan antara dua orang perwira tinggi yang dahsyat itu.
Berdentang-denting bunyi pedang dan tombak ketika bertemu dan ternyata tombak perwira Toba itu juga terbuat dari baja yang baik sehingga tidak mudah patah bertemu Pedang Naga Hitam.
Cian Kauw Cu menjadi penasaran bahwa sampai lebih dari tigapuluh jurus dia belum juga mampu merobohkan perwira itu.
Dia lalu mengeluarkan teriakan seperti seekor binatang buas, tubuhnya meloncat tinggi ke atas dan tubuh itu menukik dan dengan dahsyatnya dia menyerang dari udara.
Bukan main hebatnya serangan ini.
Perwira Toba itu terkejut dan berusaha menangkis dengan tombaknya.
"Traaangggg"
Sekali ini tombaknya tidak kuat bertahan terhadap serangan pedang yang berubah menjadi sinar hitam yang ganas itu.
Ujung tombak yang runcing itu patah dan sebelum perwira itu mengelak, Pedang Naga Hitam telah menembus lehernya.
Perwira tinggi besar itu terjengkang ketika kaki Cian Ciangkun menendangnya sambil mencabut pedangnya, lalu meloncat turun.
Akan tetapi ketika tubuhnya masih di udara, sebatang anak panah melesat cepat sekali dari belakang dan tanpa dapat dihindari lagi, anak panah itu menancap dan menembus punggung Cian Kauw Cu sampai tembus di dadanya.
Cian Kauw Cu mengeluarkan gerangan aneh.
Tubuhnya cepat turun ke atas tanah lalu dia memutar tubuh membalik untuk melihat siapa yang menyerangnya dari belakang.
Dia melihat seorang perwira pembantunya membuang busurnya dan perwira itu menghampirinya.
Cian Kauw Cu menundingkan telunjuknya dan tubuhnya terhuyung.
"kau... Kau"
Dan diapun terpelanting roboh.
Perwira itu berlutut dan memeriksa dan ternyata Cian Kauw Cu telah tewas.
Anak panah itu menembus jantungnya.
Perwira itu lalu mengambil Pedang Naga Hitam dari genggaman tangan jenazah Cian Ciangkun lalu menyembunyikan pedang itu dibalik bajunya.
Kemudian dia memondong jenazah itu dibawa ke bagian belakang pasukan yang sedang bertempur.
Walaupun Cian Ciangkun telah gugur, namun para perwira pembantu terus memimpin pasukan sampai musuh dapat dipukul mundur dan benteng itu dapat diduduki.
Baru setelah benteng dapat diduduki dan musuh dapat di usir, semua prajurit mendengar berita mengejutkan bahwa Cian Ciangkun telah gugur dalam pertempuran itu, terkena anak panah yang menembus punggungnya.
Biarpun pulang membawa kemenangan, namun pasukan itu diliputi kedukaan karena kehilangan pemimpin mereka.
Karena untuk membawa jenazah Cian Ciangkun ke kota raja jaraknya terlalu jauh, maka terpaksa jenazah itu dibawa ke Shansi dan dengan upacara kebesaran yang diatur oleh kepala daerah Shansi, Li Goan, jenazah itu di makamkan di tanah kuburan terhormat ditempat itu.
Setelah itu, pasukan bergerak pulang ke kota raja dan para perwira segera memberi laporan kepada Kaisar.
Kaisar Yang Chien merasa terkejut sekali mendengar berita gugurnya Cian Ciangkun.
Dia benar-benar merasa terpukul dan tidak mengira bahwa sahabatnya itu akan tewas dalam pertempuran itu.
Kaisar lalu memanggil Ji Goat dan Han Sin ke Istana.
Istri iang Ciangkun itu cepat menghadap kaisar, disertai putranya dan ketika mendengar akan gugurnya suaminya tercinta, Ji Goat menjadi pucat wajahnya.
Akan tetapi tidak ada setetes pun air mata tumpah.
Wanita itu menyadari benar bahwa suaminya adalah seorang panglima perang yang sewaktu-waktu dapat saja jatuh dan gugur.
Betapa pun juga, suaminya gugur sebagai seorang pahlawan dan ia merasa bangga.
"Suami hamba gugur sebagai seorang pahlawan. Di atas kesedihan karena kehilangan suami dan ayah kami ibu dan anak merasa bangga sekali"
Kata Ji Goat yang berlutut bersama puteranya.
Sian Han Sin juga tidak menangis walaupun matanya agak kemerahan.
Hatinya seperti diperas-peras rasanya kalau dia membayangkan ayahnya ketika hendak berangkat dan berjanji akan membawakan sebatang pedang bengkok untuknya.
Tidak, ia tidak boleh menangis, begitu pesan ibunya tadi.
Di depan Kaisar mereka patut menjadi keluarga seorang Pahlawan Besar.
Kaisar Yang Chien yang mengenal istri Cian Kauw Cu ini semenjak ia masih gadis, lalu berkata lembut, hatinya diliputi keharuan"
Ji Goat, bangkit dan duduklah di kursi itu. Demikian pula anakmu, eh siapa namanya? Kami lupa lagi"
"Hamba Cian Han Sin, Yang Mulia"
Kata anak itu dengan sikap gagah dan hormat.
"Oya, kaupun duduklah, Han Sin. Kami ingin bercakap-cakap dengan kalian. Ada urusan penting yang akan kami sampaikan"
"Terima kasih Yang Mulia"
Kata Ji Goat dan ia pun bangkit berdiri lalu duduk di atas kursi. Han Sin juga duduk di sebelah ibunya. Keduanya menundukkan kepala, menanti ucapan sang kaisar.
"Ketahuilah, Ji Goat, bahwa suami mu telah berjasa besar sekali kepada Kerajaan. Bukan hanya berjasa dengan kedudukannya sebagai seorang panglima, bahkan jauh sebelum itu dia telah membantu perjuangan dan menjadi tokoh penting dalam mendirikan Kerajaan Sui. Lebih lagi dari itu, dia yang menunjukkan kepada kami adanya sebuah rahasia yang kemudian kami miliki berdua. Akan tetapi, kami merasa kecewa sekali mendengar laporan tentang kematiannya. Kematiannya memang wajar sebagai seorang panglima perang, akan tetapi caranya dia gugur sungguh mengandung rahasia yang aneh"
"Bagaimanakah rahasia itu, Yang Mulia?"
Tanya Ji Goat sambil mengangkat muka memandang wajah Kaisar itu.
"Suamimu tewas karena terkena anak panah yang menembus punggungnya. Menembus punggung, masuk dari punggung, bukan dari dada. Ini berarti bahwa anak panah itu datangnya dari belakang. Hal ini sungguh aneh dan mencurigakan. Selain itu, juga Pedang Naga Hitam tidak dapat ditemukan, padahal semua prajurit tahu bahwa dia menggunakan pedang itu untuk bertempur. Kematiannya yang aneh, diserang dari belakang dan leyapnya Pedang Naga Hitam sungguh merupakan rahasia yang merisaukan hati. Akan tertapi bagaimana hal ini dapat diselidiki kalau terjadi dalam sebuah pertempuran besar seperti itu? Setiap orang sibuk dalam pertempuran, tentu setiap perhatian ditujukan untuk bertempur dan menjaga diri, tidak sempat ada yang memperhatikan keadaan suamimu. Perwira yang menemukan jenazah suamimu juga tidak melihat apa-apa, hanya melihat suamimu sudah menggeletak dan tewas, maka lalu diangkatnya jenazah itu"
Ji Goat mengerutkan alisnya "hamba akan memikirkan hal itu, Yang Mulia. Mudah-mudahan hamba akan menemukan jalan untuk menyelidikinya"
"Kamipun akan memerintahkan para panglima melakukan penyelidikan, Ji Goat. Dan masih ada satu hal lagi ingin kusampaikan kepadamu"
Suamimu dan kami ketika muda dahulu telah menemukan sepasang pedang dan sebuah kitab ilmu silat.
Pedang itu kami bagi dua, Pedang Naga Putih menjadi milik kami dan Pedang Naga Hitam menjadi milik suami mu.
Akan tetapi kalau kami mempelajari ilmu itu dari kitab, suamimu tidak sabar dan mempelajarinya dari gambar-gambar didinding.
Kami merasa bahwa diapun berhak menguasai ilmu itu, akan tetapi dia tidak pernah mau belajar seperti petunjuk dalam kitab.
Karena itu, kami telah menuliskan semua ilmu itu dalam sebuah kitab dan sekarang kami hendak menyerahkan kitab itu kepadamu, agar puteramu kelak dapat mempelajari Bu Tek Cin Keng sebagai warisan ayahnya.
Kami sendiri tidak mengajarkan kepada keturunan kami karena dengan kedudukan kami sebagai kaisar, maka tidak perlu mempelajari ilmu silat sampai mendalam.
Berbeda dengan puteramu yang kelak tentu membutuhkannya"
Kaisar Yang Chien mengeluarkan sebuah kitab yang ditulisnya sendiri, terisi pelajaran tigapuluh enam jurus ilmu Bu Tek Cin Keng, lalu menyerahkannya kepada Ji Goat.
Karena Kaisar mengatakan bahwa ilmu dalam kitab itu sebagai warisan suaminya kepada putera mereka, Ji Goat menerimanya dan menghaturkan terima kasih.
Selain itu, Kaisar juga memberikan gedung beserta semua isinya kepada janda itu.
Bahkan Ji Goat masih berhak menerima tunjangan setiap bulan dari kerajaan.
Baru setelah pulang kerumah Ji Goat merasa hidupnya kosong dan sepi, dan ia memasuki kamarnya lalu menangis diatas tempat tidur, memeluk bantal yang biasa dipakai tidur suaminya.
Semua kebanggan dan kekerasan hatinya hancur luluh dilanda duka karena kehilangan orang yang dicintainya.
"Ibu, ibu menangis?"
Ji Goat terkejut.
Bangkit dan melihat Han Sin sudah berada didalam kamarnya dan memandang kepadanya dengan pandang mata dan sikap khawatir dan penuh iba.
Ji Goat tidak dapat menahan kesedihannya.
Dirangkulnya Han Sin dan ia pun menangis tersedu-sedu.
"Han Sin ayahmu"
Janda itu sesenggukan di dada puteranya sehingga baju di bagian dada itu menjadi basah air mata. Han Sin merangkul leher ibunya"
Ibu, bukankan ibu sendiri yang mengatakan bahwa ayah tewas sebagai seorang pahlawan besar dan kematiannya tidak perlu disedihkan akan tetapi malah membanggakan?
Ibu, Ibu tadi begitu tabah didepan Kaisar, kenapa sekarang?"
Ji Goat menyusut air matanya dan sekuat tenaga menahan tangisnya"Benar, Han Sin...
akan tetapi....
aku...
aku merasa kehilangan sekali....
bayangan ayahmu akan selalu nampak....
dan aku merasa kehilangan sekali"
"Ibu, disini masih ada aku yang menemani ibu "
Kata anak itu dan melihat anak itu berdiri tegak didepannya dengan gagahnya.
Ji Goat merasa terhibur dan merangkul lagi, mencium kedua pipi puteranya.
*** Sejak dia berusia lima tahun, Han Sin telah digembleng ilmu silat oleh ayah dan ibunya dan kini dalam usia sepuluh tahun, dia telah menjadi seorang anak yang bertubuh kokoh kuat dan sudah memiliki ilmu silat yang lumayan.
Kalau hanya orang dewasa biasa saja jangan harap akan mampu mengalahkan Han Sin.
Cerita Kaisar tentang kematian suaminya membuat hati Ji Goat merasa penasaran sekali.
Telah berhari-hari ia memikirkan dan membayangkan tentang kematian itu.
Di panah dari belakang.
Tidak mungkin panah itu datangnya dari pihak musuh.
Kalau dari pihak musuh tentu panah itu mengenai dada, bukan punggung.
Dan Pedang Hek Liong Kiam juga di curi dari tangan suaminya.
Agaknya ada suatu rahasia besar dibalik kematian suaminya.
Ada pengkhianat?
Akan tetapi siapa?
Akhirnya ia berpendapat bahwa untuk menemukan pembunuh suaminya, haruslah ditemukan dulu pedang pusaka itu.
Pemilik pedang pusaka itu agaknya pembunuh gelap suaminya atau setidaknya pencuri pedang pusaka itu nebgetahui siapa sebenarnya yang mebunuh suaminya.
Kalau suaminya tewas dalam pertempuran melawan musuh, hal itu adalah wajar dan urusan habis sampai di situ saja.
Akan tetapi kalau pembunuhnya pengkhianat yang membokong dari belakang, hal ini lain lagi dan menimbulkan penasaran, menimbulkan dendam.
Akan tetapi kemana harus mencari pedang itu?
Ia tidak mungkin dapat meninggalkan puteranya untuk mencari pencuri pedang.
Tidak, ia tidak akan mencarinya dan biarlah ini menjadi tugas pertama Han Sin kelak.
Ia harus menggembleng Han Sin menjadi seorang yang pandai dan tangguh sekali agar dia kelak dapat mencari pencuri pedang dan pembunuh ayahnya.
Akan tetapi Han Sin masih terlalu kecil untuk disuruh mempelajari kitab Bu Tek Cin Keng.
Kaisar berpesan kepadanya bahwa ilmu itu baru boleh dipelajari kalau Han Sin sudah remaja.
Biar dia mempelajari ilmu-ilmu silat sebagai dasarnya dan tiba-tiba Ji Goat teringat kepada Tiong Gi Hwesio, Ketua kuil diluar kota raja itu.
Tiong Gi Hwesio adalah seorang tosu Siauw lim pai, ilmu silatnya tinggi.
Biarlah Han Sin belajar di sana, mempelajari ilmu silat dan juga sastra dan agama agar kelak Han Sin menjadi seorang pendekar yang berwatak budiman.
Suaminya pernah menyatakan pendapatnya untuk mengirim Han Sin belajar di kuil itu, dan sekarang ia yang akan melaksanakan pendapat suaminya itu.
Ketika Ji Goat membicarakan niat hatinya itu kepada Han Sin, anak yang patuh kepada ibunya ini tidak membantah "Kau belajarlah dengan tekun di kuil itu, Han Sin.
Setelah kau remaja dan memperoleh dasar ilmu yang mendalam, baru kau akan kuberi kitab ilmu peninggalan ayahmu untuk kau latih.
Kau harus menjadi seorang yang tangguh untuk kelak mencari pembunuh ayahmu"
Han Sin memandang wajah ibunya penuh selidik "Ibu, kalau ibu menghendaki aku belajar di kuil, akan ku lakukan.
Akan tetapi, mengapa ibu menyebut tentang pembunuh ayah?
Bukan kah ayah tewas dalam peperangan dan menurut ayah yang sudah sering berkata kepadaku, tewas dalam perang adalah kematian yang terhormat bagi seseorang perajurit dan kematian dalam pertempuran tidak ada hubungannya dengan permusuhan pribadi"
"Memang benar kalau kematian itu terjadi secara wajar, yaitu tewas karena berperang dengan musuh. Akan tetapi kematian ayahmu penuh rahasia dan mencurigakan. Ayahmu tewas karena terkena anak panah yang datangnya bukan dari musuh, bukan dari depan melainkan dari belakang. Ini hanya berarti bahwa ayahmu tewas karena dibokong oleh seseorang pengkhianat, dan juga Pedang Naga Hitam, pusaka ayahmu lenyap dari tangan ayahmu. Nah, sudah menjadi tugasmu kelak untuk mencari pedang yang lenyap itu, Han Sin. Dan pemilik pedang itu tentu pencuri pedang. Dia mungkin pembunuh gelap itu, atau setidaknya dia tentu mengetahui tentang pembunuhan curang itu. Dan untuk dapat menyelidiki dan mengungkap rahasia itu, kau harus memiliki ilmu kepandaian yang tinggi. maka belajarlah baik-baik dari Tiong Gi Hwesio, anakku"
Han Sin mengerutkan alisnya dan mengepal tinju tangannya "Ah, kalau begitu ayah tewas secara tidak wajar. Baik, Ibu aku akan belajar dengan tekun dan kelak akan aku cari pembunuh ayah"
Han Sin yang biasanya lincah jenaka itu kini nampak bersungguh-sungguh karena dia penasaran dan marah mendengar akan kematian ayahnya.
Demikianlah, beberapa hari kemudian, Han Sin membawa sebuah buntalan pakaian besar, diatar oleh ibunya naik kereta menuju ke kuil Siauw lim si di luar kota yang diketuai oleh Tiong Gi Hwesio itu.
Sebelumnya, janda panglima ini sudah mengirim surat kepada Tiong Gi Hwesio tentang maksudnya mengirim puteranya untuk belajar silat, sastra dan agama.
Karena keluarga Panglima Cian merupakan penyumbang besar dari kuil itu dan dikenal baikoleh Tiong Gi Hwesio, maka permintaan janda itu diterima dengan senang hati.
Kedatangan Ji Goat dan puteranya disambut sendiri oleh Tiong Gi Hwesio di ruangan tamu "Nah, lo-suhu, inilah puteraku Cian Han Sin seperti yang sudah kuberitahukan dalam surat itu"
Kata janda itu dengan sikap ramah.
"Seorang anak yang baik, Toa-nio, pinceng merasa terhormat sekali dan dengan adanya Cian-Kongcu menjadi murid disini"
"Losuhu, karena aku akan menjadi muridmu, maka janganlah kalau losuhu menyebutku kong-cu (tuan muda). Namaku Cian Han Sin dan sebut saja namaku tanpa embel-embel tuan muda"
Kata Han Sin sambil tersenyum.
"Omitohud.... masih begini muda sudah pandai bersikap rendah hati. Baguss... bagus"
Puji Hwesio itu sambil mengangguk-angguk.
"Apa yang dikatakan Han Sin benar, losuhu, hubungan antara guru dan murid akan menjadi janggal kalau losuhu menyebutnya kong-cu. Sebut saja namanya dan bersikaplah kepadanya seperti kepada seorang murid biasa"
Kata Ji Goat.
"Omitohud, baiklah Toa-nio"
"Nah, Han Sin, kau harus memberi hormat kepada suhumu"
Kata janda itu. Han Sin yang sudah mempelajari tentang tata cari itu, segera menjatuhkan dirinya berlutut di depan hwesio itu.
"Suhu, terimalah hormat teecu (murid)"
Katanya sambil memberi hormat delapan kali.
"Omitohud.... kau anak dan murid yang baik sekali, Han Sin"
Kata hwesio itu sambil mengangkat bangun Han Sin. Ibunya memandang dengan gembira.
"Nah, Han Sin, mulai hari ini kau tinggal disini dan belajarlah dengan tekun. Kau tidak boleh meninggalkan kuil dan kalau kau rindu kepada ibu, aku yang akan datang menjengukmu ke sini. Tidak perlu kau pulang"
Han Sin sudah maklum bahwa dia harus belajar dengan tekun, maka dia mengangguk.
"Baiklah, ibu harap jangan khawatir. Aku akan belajar dengan tekun sesuai dengan pesanmu"
Setelah akhirnya ibunya naik kembali ke dalam kereta dan meninggalkan kuil, mau tidak mau Han Sin merasa seolah semangatnya ikut pergi bersama ibunya.
Kini, ayahnya telah meninggal dunia dan ketika ibunya meninggalkannya, ia merasa kehilangan dan kesepian sekali.
Akan tetapi dia mengeraskan hatinya, bahkan segera memutar tubuhnya menghadapi Tiong Gi Hwesio.
"Suhu, harap perintahkan apa yang sekarang harus teecu lakukan"
Hwesio itu tersenyum.
Dia kagus melihat sikap anak ini.
Akan tetapi, diapun maklum bahwa anak ini sebagai putera seorang panglima yang kabarnya berilmu tinggi, tentu sudah mendapat gemblengan dari ayah ibunya.
Hwesio ini pun pernah mendengar bahwa ibu anak ini pun seorang yang pandai ilmu silat.
Karena itu, dia sudah mengambil keputusan untuk tidak tergesa-gesa mengajarkan ilmu silat kepada anak ini, melainkan menggemblengnya agar dia memiliki dasar tenaga yang kuat dan terutama sekali melatih kesabaran dan menanamkan pelajaran agama kedalam batinnya sehingga kelak akan menjadi seorang yang budiman, tidak hanya mengandalkan kekerasan ilmu silat.
"Hari ini pinceng antarkan ke kamarmu lebih dulu, setelah itu baru pinceng akan memberitahukan apa tugasmu setiap hari didalam kuil ini"
Han Sin mendapatkan sebuah kamar tersendiri di dalam kuil itu, tidak seperti belasan murid lain yang tinggal didalam kamar bertiga atau berempat.
Bagaimanapun juga, Tiong Gi Hwesio masih merasa sungkan kepada ibu anak itu, seorang penyumbang besar dan janda seorang panglima besar pula.
Setelah mendapatkan kamar, Han Sin lalu di beri tugas oleh Tiong Gi Hwesio.
Tugas pekerjaan yang berat.
Setiap hari dia harus mengisi bak-bak air, mencari kayu bakar, membelah kayu-kayu besar itu menjadi kayu bakar.
Di waktu malamnya, dia diharuskan membaca kitab-kitab agama dan menghafalnya.
Han Sin tidak menyangka sama sekali bahwa dia harus bekerja berat dikuil itu.
Dan pekerjaan itu pun dilakukan dengan cara-cara yang seolah menyiksanya.
Dia diharuskan memikul air dengan kedua kaki mengenakan bakiak (alsa kaki dari kayu) yang amat berat.
Baru memakai bakiak itu saja dia sudah hampir tidak dapat berjalan dengan baik.
Apalagi harus memikul air yang berat dan bergoyang-goyang.
Dan pikulannya pun terbuat dari lidi bambu yang banyak diikat menjadi satu.
Setelah dia mampu berjalan dengan bakiak memikul dua tong air yang penuh dengan baik, dengan langkah ringan dan cepat yang baru dapat dilakukan setelah dia bekerja lebih dari tiga bulan, batang-batang lidi itu dikurangi satu demi satu.
Sudah setahun lamanya Han Sin berada di kuil dan belum juga dia dilatih ilmu silat oleh Tiong Gi Hwesio.
Bahkan pekerjaannya pun semakin berat saja.
Pada pikulannya di ikat dua potong besi yang beratnya tidak kurang dari sepuluh kilo dan dia diharuskan memikul air dengan tong air yang bocor.
Setiap kali dia sampai di bak air, pikulannya sudah kosong karena airnya habis membocor dalam perjalanan dari sumber air ke bak air dibelakang kuil.
Dia tidak boleh mengganti tong air.
Terpaksa dia harus berjalan atau bahkan berlari secepat mungkin agar setibanya di bak air, tong itu belum habis sama sekali.
Dalam waktu setahun, seringkali dia menjadi bahan tertawaan murid-murid yang lain yang tidak diharuskan bekerja berat seperti halnya Han Sin.
Namun, biar mendapat perlakuan seperti itu, Han Sin tidak pernah mengeluh.
Bahkan kepada ibunya yang hampir setiap bulan sekali datang menjenguknya, tidak ada sepatahpun kata keluhan atau aduan kepada ibunya.
Han Sin sudah dapat mengendalikan perasaanya dan belajar untuk bersabar diri.
Di waktu malam, seringkali Tiong Gi Hwesio datang kemarnya dan hwesio ini memberi petuah-petuah mengenai soal-soal kebatinan kepada anak itu.
Ditekankan oleh hwesio itu agar Han Sin dapat menerima kenyataan, menerima keadaan dengan penuh kewaspadaan, menerima keadaan bukan berarti putus asa atau mengalah, melainkan penuh kepasrahan kepada kekuasaan Tuhan.
"Setiap saat kau waspadalah terhadap segala perbuatanmu, gerak gerik semua anggota tubuhmu kalau sedang melakukan sesuatu. Juga jangan lengah untuk mengamati apa yang terjadi dengan hati dan pikiranmu. Kewaspadaan ini akan membuat kau mengenal benar siapa dirimu dan mengikuti semua ulah nafsu yang menguasai dirimu lahir batin. Hanya kewaspadaan yang menyeluruh ini yang akan membawamu ke dalam jalan kehidupan yang benar, Han Sin "
Setiap kali menerima wejangan hwesio itu, tentu saja Han Sin merasa agak pusing.
Ucapan hwesio itu terlalu dalam untuk pikiran seorang anak berusia sepuluh tahun.
Akan tetapi setelah hwesio itu pergi meninggalkan kamarnya, Han Sin suka merenungkan semua itu sampai dia samar-samar dapat menangkap intinya.
Makin dia mengerti, makin sabarlah dia dan kehidupan dikuil itu makin terasa ringan.
Kejenakaannya yang menjadi watak dasarnya timbul kembali sehingga dia dapat bersenda gurau dengan murid-murid yang lain di dalam kuil itu.
Karena pekerjaannya, Han Sin jadi dekat dengan Ho Beng Hwesio, tukang masak dikuil itu.
Dalam pekerjaan membelah kayu bakar, mula-mula dia diberi sebuah kapak.
Akan tetapi dia dilarang keras mengasah kapak itu.
Tentu saja dalam setahun, kapak itu menjadi tumpul, tidak terasa oleh Han Sin dan dia tetap dapat sekali pukul membelah kayu yang besar.
Ternyata ini pun merupakan latihan yang amat besar manfaatnya untuk menghimpun tenaga Ho Beng Hwesio seringkali melihat anak itu bekerja dan diluar tahunya Han Sin, seringkali dia mengangguk dan tersenyum.
Kakek tua renta ini sudah tahu bahwa Han Sin adalah putera mendiang panglima Cian Kauw Cu.
Terbayanglah dia akan masa lalunya, tiga puluh tahun yang lalu, ketika dia masih berjuluk Hek Liong Ong, dia menjadi guru Cian Kauw Cu (baca Sepasang Naga Lembah Iblis).
Dan Cian Kauw Cu merupakan seorang murid yang baik sekali.
Sama sekali tidak terpengaruh oleh wataknya yang ketika itu masih menjadi seorang datuk sesat yang kejam.
Kemudian bahkan muridnya yang membujuknya membantu para pejuang, membantu Yang Chien menaklukkan Kerajaan Toba sehingga membangun Kerajaan Sui yang sekarang.
Diapun mendengar bahwa muridnya itu telah gugur dalam perang, dan kini putera muridnya itu menjadi murid dalam kuil itu.
Sudah dua tahun Han Sin berada di kuil itu.
Pekerjaan berat yang sebetulnya merupakan latihan menghimpun tenaga itu membuat tubuhnya nampak semakin tegap.
Dalam usianya yang dua belas tahun, Han Sin telah memiliki tenaga yang melebihi orang dewasa.
Pada suatu hari ibunya datang menjenguknya.
Seperti biasa, ibunya datang membawakan makanan yang enak-enak untuk puteranya.
Setelah mereka bercakap-cakap melepaskan rindu, ibunya lalu bertanya "Han Sin, sampai dimana pelajaran ilmu silatmu?"
"Ditanya begini, Han Sin menjadi bingng bagaimana untuk menjawab "Ah, biasa-biasa saja ibu"
"Hari ini ibu ingin melihatnya. Berlatihlah dengan ilmu silat yang kaupelajari dari Tiong Gi Hwesio"
Sekarang Han Sin tidak dapat menjawab lagi. Dia tidak tahu mau berbohong kepada ibunya, walaupun dia tidak ingin mengadu dan mengeluh.
"Hayo, Han Sin, kenapa diam saja? Kau tidak malu kepada ibumu sendiri bukan? Ibu ingin melihat hasil latihan mu disini"
Han Sin menghampiri ibunya dan memegang tangan ibunya. Dia amat sayang kepada ibunya dan tidak ingin mengecewakan hati ibunya.
"Ibu, sebetulnya aku belum pernah berlatih silat disini, akan tetapi aku tidak kecewa, banyak mendapat pelajaran memperdalam sastra dan pengetahuan agama, juga banyak mendapat petuah dari suhu. Dan pekerjaan disini juga menyenangkan"
Akan tetapi Ji Goat sudah marah sekali. Ia bangkit berdiri, memanggil seorang hwesio lalu berkata dengan suara dingin.
"Tolong undang Tiong Gi Hwesio agar datang ke sini"
Hwesio itu melihat sikap seorang yang tidak senang makan cepat ia pergi kedalam dan tak lama kemudian Tiong Gi Hwesio masuk ke dalam ruangan tamu itu.
"Ah, Cian-toanio. Selamat pagi, toa-nio"
Kata Tiong Gi Hwesio dengan ramah dan hormat "Losuhu, apa yang terjadi disini?
Aku minta kepada anakku untuk berlatih ilmu silat yang dia pelajari disini dan dia mengatakan bahwa dia belum pernah berlatih silat.
Apa artinya ini, losuhu?"
"Omitohud.... Han Sin tidak pernah mengeluh"
"Suhu, teecu sama sekali bukan bermaksud mengeluh atau mengadu kepada ibu. Akan tetapi karena ibu minta teecu berlatih ilmu silat yang teecu pelajari disini, terpaksa teecu mengatakan terus terang"
"Omitohud.... pinceng tidak menyalahkanmu, Han Sin, juga sama sekali tidak menyalahkan toa-nio"
Dia lalu menghadapi nyonya itu dan mengangkat kedua tangan didepan dadanya.
"Toa-nio, lupakan toanio ketika pertama kali membawa Han Sin ke sini, minta kepada pinceng untuk mengajarkan dasar-dasar ilmu silat yang dalam? Han Sin adalah putera mendiang Cian Ciangkun dan Cian-toanio yang pinceng tahu memiliki ilmu silat yang tinggi. Oleh karena itu, pinceng tekankan kepada latihan gerakan dasar yang membuat kaki tangannya ringan dan membangkitkan tenaga tubuh yang benar-benar kuat. Silahkan Toanio mengajaknya berlatih ilmu silat yang pernah dia pelajari dirumah dan toanio akan mengetahui kemajuannya"
Jo Goat memandang kepada puteranya penuh perhatian. Ia masih belum melihat kemajuan itu, hanya harus mengakui bahwa tubuh puteranya menjadi semakin tegap.
"Han Sin, mari kita berlatih Lo-hai-kun (Silat Pengacau Lautan) yang pernah kuajarkan kepadamu sebentar"
Katanya dengan nada memerintah.
"Baik, ibu"
Kata Han Sin yang melihat bahwa ibunya marah dan dia mentaati untuk menghibur hati ibunya. Ibu dan anak itu memasang kuda-kuda, lalu ibunya berseru "jaga seranganku"
Dan iapun menyerang dengan ilmu silat itu.
Han Sin bergerak dan keduanya, ibu dan anak itu terkejut.
Ji goat melihat gerakan puteranya demikian ringan dan cepat.
Juga Han Sin kaget sendiri melihat gerakannya dan sadarlah dia bahwa ini berkat latihan memikul air dengan tong bocor sehingga dia terpaksa berlari cepat.
Ibunya mulai gembira dan menyerang dengan cepat.
Han Sin menangkis "Dukkk"
Kembali keduanya terkejut.
Tenaga tangkisan itu membuat Ji Goat merasa lengannya terguncang hebat, dan Han Sin juga merasakan betapa tenaganya mampu menolak tenaga ibunya yang biasanya dirasakan amat berat.
Mereka berlatih semakin cepat dan ternyata Han Sin dapat mengimbangi permainan silat ibunya.
Ji Goat lalu melompat ke belakang.
"Cukup, Han Sin"
Katanya dan nyonya itu lalu memberi hormat kepada Tiong Gi Hwesio "Lo-suhu, maafkan saya.
Baru sekarang saya mengerti apa yang lo-suhu maksudkan dan banyak terima kasih atas semua bantuan lo-suhu.
Saya serahkan sepenuhnya kepada lo-suhu"
Ji Goat memang merasa gembira bukan main, anaknya yang baru berusia dua belas tahun itu telah memperoleh kemajuan yang demikian pesatnya sehingga hampir dapat mengimbanginya dalam hal tenaga dan kecepatan.
Nyonya janda itu pulang dengan hati gembira dan puas.
Sebaliknya Han Sin juga menyadari bahwa semua pekerjaan berat yang diberikan Tiong Gi hwesio kepadanya, yang nampaknya seperti menyiksanya, sebenarnya merupakan latihan yang amat bermanfaat.
Dia teringat betapa murid dikuil itu sering kali menertawakannya.
Dan kini dia yang menertawakan mereka.
Mereka itu hanya memperoleh ilmu sebagai kulitnya saja, tanpa mendapatkan inti dan isinya.
Akan tetapi kalau begini terus, kapan dia akan memperoleh latihan ilmu silat?
Malam itu terang bulan, setelah menghafalkan isi kitab agama, Han Sin duduk dalam kamarnya.
Jendela kamarnya dia buka sehingga dia dapat menikmati keindahan malam terang bulan.
Malam itu sunyi.
Di luar nampak hijau kekuningan dan angin malam yang lembut bersilir, menggerakkan daun-daun pohon yang tumbuh diluar kamar jendelanya.
Memandangi keindahan malam itu, Han Sin melamun.
Nampak awan putih berarak diangkasa dan dibalik awan itu sinar bulan menciptakan keindahan di angkasa seolah angkasa menjadi sorga yang diceritakan dalam dongeng, Han Sin teringat kepada ayahnya.
Apakah ayahnya berada dibalik awan-awan itu?
Dia terkenang kepada ayahnya dan makin dalam tenggelam ke dalam lamunannya.
Dia selalu membayangkan ayahnya sebagai orang yang paling gagah didunia.
Dan diapun ingin kelak menjadi seperti ayahnya.
Orang gagah yang menentang kejahatan, dan yang selalu ditakut musuh-musuhnya.
Tiba-tiba dia melihat daun-daun pohon itu bergoyang agak keras, padahal angin tetap lembut seperti tadi.
Dia seperti melihat bayangan dipohon.
Han Sin bangkit berdiri dan menghampiri jendela agar dapat melihat lebih jelas.
Setelah tiba ditepi jendela dia memandang dan benar saja, bayangan dipohon itu adalah seorang manusia yang tahu-tahu telah duduk di atas cabang pohon itu dan dia segera mengenal orang itu.
Ho Beng Hwesio, tukang masak yang tua renta itu duduk di sana sambil tersenyum kepadanya.
Hampir dia tidak dapat percaya.
Bagaimana tahu-tahu hwesio tua itu telah berada di atas pohon?.
"Ho Beng suhu"
"Ssssttttt....... mari kau ikut denganku, nanti kita bicara. Maukah kau?"
Tanya hwesio tua itu dengan suara lirih.
"Keluarlah dari jendela dan tutupkan daun jendela dari luar"
Seperti dalam mimpi, Han Sin memenuhi permintaan hwesio tua itu meloncat keluar dari jendela dan menutupkan daun jendela.
Hwesio tua itu meloncat turun dari atas cabang pohon, gerakannya demikian ringan seperti sehelai daun kering, kemudian memberi isyarat dengan gapaian tangan kepadanya untuk mengikuti.
Han Sin meloncat kedepan, akan tetapi kakek itu juga bergerak cepat ke depan.
Han Sin menjadi penasaran dan dia berlari secepatnya untuk mengejar.
Namun dia tidak pernah dapat menyusul kakek itu.
Jarak antara mereka masih tetap.
Padahal kakek itu nampaknya seperti berjalan seenaknya saja.
Ho Beng Hwesio terus membawanya menuju ke sumber air dilereng bukit di belakang kuil.
Han Sin tetap membanyangi dan akhirnya kakek itu berhenti diatas sumber air dimana ada lapangan rumput.
Tempat itu terang karena agak jauh dari pohon-pohon besar.
Han Sin segera menghampirinya dengan perasaan kagum dan heran.
"Ho Beng suhu, apa maksudmu mengajak aku ke sini?"
Tanya Han Sin. Dia sudah mengenal baik hwesio tukang masak ini karena beberapa hari sekali dia mendapat tugas membelah kayu bakar di dapur.
"Han Sin, maukah kau belajar silat dariku? Aku pernah mempelajari beberapa macam ilmu silat. Kini aku sudah tua dan sebelum mati aku ingin meninggalkan semua ilmuku kepadamu "
"Kenapa kepadaku, Ho Beng suhu?"
"Karena kau seorang anak yang tekun, rajin dan tahan uji. Aku sudah melihat kau bekerja giat dan sabar selama dua tahun ini. Akan tetapi ada satu syaratnya kalau kau hendak belajar silat dariku"
"Apa syaratnya, Ho Beng suhu?"
"Syaratnya kau tidak boleh mengatakan kepada siapapun juga bahwa kau belajar silat dariku sehingga aku akan mengajarmu seperti sekarang ini, secara sembunyi di waktu malam. Sanggupkah kau memenuhi syarat itu?"
"Aku sanggup. Akan tetapi kalau kau akan mengajarkan ilmu silat kepadaku, aku juga mempunyai syarat, yaitu, kau harus lebih dulu membuktikan bahwa kau lihai dan dapat mengalahkan aku. Bagaimana Ho Beng suhu?"
"Bagus, memang kau tidak boleh percaya apapun sebelum membuktikan sendiri. Nah, sekarang seranglah aku dengan segala kepandaian dan kerahkan semua tenagamu"
Dalam hatinya, Han Sin merasa tidak tega menyerang hwesio yang sudah tua renta ini.
Bagaimana kalau pukulannya mengenai tubuh yang sudah nampak rapuh itu.
Membuat tubuh itu terluka.
Maka, tentu saja dia tidak ingin menyerang dengan sepenuh tenaganya.
"Ho Beng suhu, jaga seranganku"
Katanya dan diapun menyerang mempergunakan sebagian saja dari tenaganya namun gerakannya cepat bukan main.
Kakek itu melangkah dan memutar tubuh ke kira sehingga pukulan itu luput dan dari kiri tangannya mendorong tubuh Han Sin, dan dia tidak dapat mempertahankan diri lagi dan roboh terpelanting.
"Omitohud, kenapa kau membatasi tenagamu? Hayo serang lagi, kerahkan semua tenagamu dan pergunakan jurus silatmu yang paling hebat"
Tantang hwesio itu.
Han Sin bangkit dan diam-diam terkejut dan penasaran.
Begitu mudahnya dia dirobohkan.
Kini dia menyerang lagi, menggunakan jurus Lo-hai-kun dan mengerahkan tenaga sepenuhnya.
Hebat serangannya ini, akan tetapi sebelum tangannya yang memukul itu mengenai sasaran, kakek itu mengelebatkan tangannya dan seketika tangan Han Sin, yang memukul menjadi lumpuh.
Dia menyusulkan tamparan dengan tangan kiri, akan tetapi dengan mudahnya kakek itu mengelak dan begitu tangan kiri Han Sin lewat, dia memutar tubuh mendorong pundak anak itu dan untuk kedua kalinya Han Sin terpelanting roboh.
Kini yakinlah Han Sin bahwa kakek itu memang memiliki ilmu silat yang lihai sekali maka tanpa ragu lagi diapun menjatuhkan diri berlutut didepan tukang masak itu.
"Teecu siap menerima petunjuk suhu"
"Husshhh, lupakah kau akan syaratku tadi? Kau sama sekali tidak boleh bersikap begini kepadaku, tentu orang lain akan mengetahui. Bersikaplah biasa saja, jangan seperti seorang murid terhadap gurunya, mengerti?"
"Han Sin bangkit lalu mengangguk"
Aku...... aku mengerti, Ho Beng suhu"
Katanya dengan sikap dan nada suara biasa.
"Bagus, nah, mari kita mulai. Perhatikan baik-baik dan tirulah gerakan jurusku ini"
Mulailah Ho Beng Hwesio atau Hek Liong Ong Poa Yok Su mengajarkan ilmu silat tinggi kepada anak itu.
Dia mengajarkan dengan sungguh-sungguh hati dan Han Sin yang maklum bahwa dia telah menemukan seorang guru yang pandai sekali juga belajar dengan tekun.
Mulai malam itu, boleh dibilang setiap malam karena jarang sekali berhenti, Han Sin dilatih ilmu-ilmu silat oleh kakek itu.
Mereka selalu bertemu dimalam hari, di atas sumber air itu.
Di waktu siangnya, Ho Beng Hwesio bekerja di dapur seperti biasa, dan kadang Han Sin membelah kayu bakar di dapur dan sikap kedua orang itu sama lain nampak biasa saja.
Selain ilmu silat, juga Ho Beng Hwesio mengajarkan cara bersemadi menghimpun tenaga sakti.
Dan pada siang harinya, Tiong Gi Hwesio yang pernah di tegur Ji Goat juga mulai mengajarkan dasar-dasar ilmu silat siuw-lim-pai yang amat tangguh itu.
Han Sin juga mempelajarinya dengan tekun karena dia telah diberitahu ibunya bahwa ilmu silat siauw-lim-pai adalah ilmu silat yang hebat, yang menjadi sumber dari aliran lain, karena ilmu silat siau-lim-pai mengandung pokok-pokok dasar gerakan ilmu silat pada umumnya.
*** Sang waktu terbang dengan cepatnya.
Kalau tidak diperhatikan, tahun-tahun lewat bagaikan berhari-hari saja.
Sebaliknya, kalau kita memperhatikan waktu, sehari rasanya setahun.
Tanpa disadari, sejak Han Sin di latih ilmu silat oleh Ho Beng Hwesio lima tahun telah lewat.
Selama tujuh tahun Han Sin berada di kuil itu dan kini dia telah menjadi seorang pemuda berusia tujuh belas tahun.
Tubuhnya tinggi tegap, wajahnya tampan dan gagah.
Wajahnya selalu cerah dengan senyum tak pernah meninggalkan bibirnya.
Matanya bersinar lembut, akan tetapi seperti mata Naga.
Sikapnya tenang akan tetapi dia lincah jenaka, suka bergurau dan memandang dunia ini dari segi yang indah dan menggembirakan.
Pelajaran agama dan sastra sudah ditekuni selama tujuh tahun dan pemuda ini memiliki pandangan yang luas akan kehidupan.
Dia pun seorang yang patuh memegang janjinya.
Dia merahasiakan tentang keadaan Ho Beng Hwesio, bahkan kepada ibunya sendiri rahasia itu tidak pernah diceritakan.
Juga Tiong Gi hwesio sama sekali tidak pernah menduga bahwa muridnya yang paling pandai itu di samping ilmu-ilmu silat siaw-lim-pai yang di ajarkannya, juga mempelajari ilmu silat lain yang luar biasa dari seorang datuk persilatan yang namanya pernah tersohor di dunia kang"ouw.
Setelah dia menjadi dewasa, barulah dia yakin benar akan manfaat pekerjaan kasar dan berat yang ditugaskan oleh Tiong Gi Hwesio kepadanya ketika dia masih kecil.
Hasilnya terpetik plehnya setelah dia menjadi dewasa dan untuk itu dia merasa bersukur dan berterima kasih kepada ketua kuil itu.
Pada suatu hari, pagi-pagi sekali, kuil siauw-lim-pai itu didatangi seorang tosu tinggi kurus berusia enam puluh tujuh tahun.
Matanya sipit mencorong, tangan kiri memegang sebatang hud-tim dan tangan kanannya memegang sebatang tongkat putih.
Sikapnya tenang sekali dan karena pada hwesio penjaga dia menyatakan ingin bertemu dengan Tiong Gi hwesio, maka hwesio penjaga melapor ke dalam dan tak lama kemudian Tiong Gi Hwesio keluar menjumpai tosu itu.
Mereka saling memberi hormat.
"Siancai. Kalau pinto tidak salah duga, tentu losuhu ini yang bernama Tiong Gi hwesio dan menjadi ketua kuil siauw-lim-pai ini, bukan?"
Kata tosu itu dengan suaranya yang terdengar dingin namun sikapnya lembut.
"Omitohud, dugaan to-yu memang tepat. Pinceng adalah Tiong Gi Hwesio yang bertugas memimpin dikuil ini. Tidak tahu siapakah to-tiang dan apakah keperluan to-tiang memberi kehormatan berkunjung ke kuil kami?"
"Pinto disebut orang Ngo Heng Thian Cu. Kalau tidak salah, di kuil ini terdapat seorang hwesio yang baru menjadi hwesio sekitar tujuh tahun lebih, mukanya hitam seperti arang. Benarkah ada hwesio itu, Tiong Gi hwesio?"
Sepasang mata sipit itu memandang tajam penuh selidik.
"Omitohud, mungkin to-yu maksudkan adalah Ho Beng Hwesio yang menjadi tukang masak kami. Benarkah dia yang to-yu maksudkan?"
"Pinto tidak tahu nama barunya sebagai hwesio, akan tetapi pinto mengenalnya dengan baik sebelum dia menjadi hwesio. Bolehkah pinto bertemu dengan dia untuk melihat apakah dia orang yang pinto cari?"
Kebetulan Han Sin berada pula di depan dan melihat pemuda itu, Tiong Gi hwesio lalu berkata kepadanya "Han Sin, coba panggil Ho Beng Hwesio untuk keluar sebentar.
Katakan bahwa pinceng yang memanggilnya ke sini"
"Baik, suhu"
Han Sin segera masuk kedalam kuil, langsung menuju ke dapur. Di situ dia melihat Ho Beng Hwesio sedang menyalakan api dapur, agaknya hendak mulai dengan tugasnya sehari-hari, yaitu memasak.
"Ho Beng suhu"
"Eh Han Sin, ada keperluan apakah kau sepagi ini masuk ke dapur?"
Tegur Ho Beng Hwesio sambil tersenyum.
Semua ilmu pilihannya telah di ajarkan kepada murid ini dan dia merasa puas karena Han Sin membuktikan bahwa dia seorang murid yang berbakat sekali.
Semua ilmu itu telah dapat dikuasai dengan baik.
"Suhu, ada seorang tamu yang ingin bertemu dengan suhu dan Tiong Gi suhu sekarang memanggil suhu untuk keluar menemuinya"
Tiba-tiba sikap Ho Beng Hwesio berubah. Matanya yang sudah lebar itu terbelalak makin lebar. Mukanya yang hitam menjadi agak pucat dan dia nampak terkejut dan gelisah.
"Tamu itu.......... dia seperti apakah? Bagaimana macamnya dan berapa usianya"
Tanyanya kepada Han Sin yang menjadi heran sekali melihat hwesio tua yang sakti itu nampak seperti orang yang ketakutan.
"Dia seorang tosu, usianya tentu sudah hampir tujuh puluh tahun. Orangnya tinggi kurus, matanya sipit mencorong"
"Apakah dia memegang sebatang hud-tim dan sebatang tongkat putih?"
"Benar sekali, suhu. Dan dia mengaku bernama Ngo Heng Thian Cu"
"Aduh celaka. Aku... aku tidak mau membunuh dan di bunuh. Han Sin tolonglah aku. Katakan pada Tiong Gi hwesio bahwa aku sedang pergi berbelanja. Sudah, aku mau pergi dan jangan katakan kepada siapapun juga"
Kakek tua renta itu bergegas keluar dari dapur.
Han Sin tertegun.
Tidak mau membunuh dan dibunuh?
Ada apakah diantara gurunya ini dan tosu itu?
Dan mengapa orang sesakti Ho Beng Hwesio dapat bersikap ketakutan seperti itu?
Dia mengejar keluar ke dapur, akan tetapi hwesio tua renta itu sudah lenyap dari situ, agaknya sudah melarikan diri entah kemana.
Dengan perasaan heran sekali terpaksa Han Sin kembali ke ruangan depan dimana Tiong Gi hwesio sedang bercakap-cakap dengan tosu yang menjadi tamu.
Mereka berdua memandang ketika Han Sin kembali ke ruangan itu, dan tosu itu mengerutkan alisnya melihat Han Sin datang seorang diri saja.
"Han Sin, mana Ho Beng Hwesio? Kenapa tidak ikut denganmu?"
Tanya Tiong i hwesio.
"Ho Beng suhu sedang pergi berbelanja, suhu, dia tidak berada di dapur"
Han Sin terpaksa berbohong untuk memenuhi permintaan Ho Beng Hwesio.
"Pergi berbelanja? Aneh sekali, biasanya bukan dia yang pergi berbelanja"
Kata Tiong Gi hwesio. Mendengar ini, tosu yang berjuluk Ngo Heng Thian Cu itu nampak marah sekali "Keparat, Hek Liong Ong. Kembali kau dapat meloloskan diri dari tangan pinto"
Setelah berkata demikian, sekali meloncat tosu itu sudah pergi dari situ. Tiong Gi hwesio tertegun dan terbelalak "Hek Liong Ong? apa maksudnya......?"
"Suhu, siapakah Hek Liong Ong itu? Han Sin bertanya, akan tetapi di dalam hatinya dia sudah dapat menduga. Tukang masak yang bernama Ho Beng Hwesio itu memiliki ilmu kepandaian yang tinggi sekali, dan mungkin saja dia seorang tokoh persilatan yang menyamar dan menyembunyikan diri di dalam kuil sebagai tukang masak.
"Hek Liong Ong adalah nama julukan seorang datuk sesat yang terkenal sekali puluhan tahun yang lalu dan yang kemudian lenyap dari dunia kang-ouw. Mungkinkah dia"
"Suhu, kalau begitu biarlah teecu menyusul Ho Beng suhu ke pasar kita, tentu dia berbelanja di sana. Akan teecu kabarkan kepadanya bahwa dia di cari oleh tosu tadi"
"Sebaiknya begitu dan suruh dia cepat pulang, Han Sin"
Kata Tiong Gi hwesio dengan khawatir.
Han Sin segera pergi meninggalkan kuil.
Akan tetapi dia tidak pergi ke kota raja, karena tidak mungkin Ho Beng Hwesio pergi ke sana.
Kalau suhunya itu pergi untuk menyembunyikan diri, kiranya hanya satu tempat yang akan di datangi suhunya itu dan dia dapat menduga mana tempat itu.
Tentu tempat itu tak jauh dari sumber air dimana mereka berdua biasanya berlatih silat di waktu malam.
Maka dia lalu mengambil jalan memutar menuju ke bukit di belakang kuil.
Dugaan Han Sin memang tidak keliru.
Ketika mendengar bahwa ada seorang tosu berusia hampir tujuh puluh tahun, kurus tinggi dan memegang sebuah hud-tim dan sebatang tongkat putih, Ho Beng Hwesio segera pergi dengan segera.
Kambuh pula rasa takutnya akan kematian karena dia maklum betapa lihai musuh yang kini mencarinya itu.
Dia atau tosu itu yang akan mati kalau mereka bertemu dan perkelahian takkan dapat dielakkan lagi.
Karena tidak ada tempat yang baik baginya untuk bersembunyi, maka dia lalu berlari menuju bukit di mana terdapat sumber air dan dimana biasanya dia melatih ilmu silat kepada Han Sin.
Tempat ini cukup sunyi dan tersembunyi.
Untuk sementara dia dapat bersembunyi di situ sampai keadaan aman dan dia dapat pergi mencari tempat lain yang jauh dari situ.
Setelah ada musuh yang tahu bahwa dia bersembunyi di kuil itu sebagai seorang hwesio, tidak ada gunanya lagi menlanjutkan persembunyiannya di situ.
Setelah tiba di lapangan rumput yang dikelilingi hutan kecil itu, dia duduk termenung.
Ngo Heng Thian Cu?
Dia ingat betul orang ini.
Kurang lebih tiga puluh tahun yang lalu, sebagai seorang diantara para datuk besar, dia bermusuhan dengan Thian Te iu Kwi (Setan Arak Langit Bumi) yang terkenal sebagai seorang datuk dari timur.
Dia juga disebut sebagai Dewa Mabok, namun ilmu silatnya lihai sekali dan setingkat dengan kepandaian Hek Liong Ong.
Beberapa kali terjadi bentrokan antara dia dan Thian Te Ciu Kwi, terutama sekali ketika dia membantu perjuangan Yang Chien, sedangkan Ciu kwi membantu Raja Julan Khan, Raja bangsa Toba yang berkuasa di Tiang-an.
Dalam pertempurannya terakhir dengan Thian Te Ciu Kwi mereka berkelahi lagi dan dia berhasil melukai ciu kwi yang menjadi semakin benci dan dendam kepadanya.
Dan Ngo Heng Thian Cu adalah murid yang paling lihai dari thain te ciu kwi.
Bahkan kabarnya tingkat kepandaian Ngo Heng Thian Cu lebih tinggi dari tingkat kepandaian gurunya itu.
Maka, kalau Ngo Heng Thian Cu kini mencarinya, tentu akan membalas kekalahan gurunya dan mengingat akan kelihaian orang itu, dia harus melawan mati-matian.
Padahal kini dia telah tua dantenaganya sudah berkurang banyak sekali.
Sebetulnya dia tidak takut menghadapi siapa pun juga, akan tetapi membayangkan kematian membuat dia kembali merasa ngeri.
Sia-sia saja usahanya selama bertahun-tahun ini untuk menghilangkan rasa takut.
Bukan lenyap, melainkan hanya mengendap saja.
Dan sekarang begitu maut mengancamnya, kembali rasa takut itu timbul dan mencekam hatinya.
"Hek Liong Ong..."
Tiba-tiba terdengar seruan yang mengejutkan hati Hek Liong Ong.
Dia meloncat bangun dan memutar tubuhnya, menghadapi tosu itu dengan muka berubah pucat, akan tetapi segera dia tertawa dan keberaniannya timbul kembali karena dia memang tidak pernah takut menghadapi musuh.
"Ha. ha. ha., Ngo Heng Thian Cu. Mau apa kau mencariku?"
"Hemmmm, Hek Liong Ong, tujuh tahun yang lalu, kau mampu meloloskan diri dari Pulau Naga. Sekarang jangan harap akan dapat meloloskan diri lagi dari tangan pinto. Demi suhu Thian Te Ciu Kwi. Kau harus mati di tangan pinto"
"Thian Te Ciu Kwi pengecut. Suruh dia datang sendiri menghadapi aku. Kenapa menyuruh kau mewakilinya?"
"Suhu sudah meninggal dunia sepuluh tahun yang lalu dan pesannya kepada pinto yang terakhir adalah mencari dan membunuhmu, Hek Liong Ong. Sarangmu di Pulau Naga sudah ku bakar, Semua anak buahmu sudah kubunuh. Sekarang tinggal kau yang harus mati di tangan pinto.
"Haaaiiiiiiiiiiiiiiiiiiitttt"
Tiba-tiba tosu tinggi kurus itu sudah menerjang dengan dahsyatnya.
Tongkatnya berubah menjadi sinar putih yang menyambar-nyambar.
Hek Liong Ong meloncat kebelakang dan tangannya menyusup ke balik jubahnya dan dilain saat dia sudah memegang sebatang pedang terhunus, kiranya kakek ini ketika melarikan diri tadi sudah membawa pedang yang disembunyikan dibalik jubahnya.
"Ngo Heng Thian Cu, akan kuantar kau menyusul arwah gurumu"
Bentaknya dan diapun maju menyambut serangan tosu itu dengan gerakan dahsyat pula.
Terjadi perkelahian yang hebat dan seru.
Biarpun dia sudah tua renta namun Hek Liong Ong masih mampu memainkan pedangnya dengan dahsyat.
Kakek raksasa bermuka hitam ini memang tangguh sekali.
Dan dalam usia mendekati seratus tahun itu tenaganya masih kuat sehingga pedang yang dimainkan ditangannya itu berubah menjadi sinar bergulung-gulung.
Akan tetapi lawannya juga tidak kalah hebatnya, biarpun dia murid Thian Te Ciu Kwi, namun tingkat kepandaiannya sudah melampaui tingkat gurunya sendiri.
Hal ini dapat terjadi karena diapun mempelajari ilmu-ilmu silat dari aliran lain.
Dan menghadapi Hek Liong Ong yang tangguh, Ngo Heng Thian Cu ini mengeluarkan seluruh kepandaiannya dan mengerahkan seluruh tenaganya.
Ketika Han Sin tiba di tempat itu, kedua orang sakti itu telah bertanding.
Han Sin terkejut melihat tosu yang tadi mengunjungi kuil itu menemukan gurunya dan mereka telah berkelahi dengan serunya.
Dia tidak berani mencampuri dan hanya menonton sambil mengintai dari balik batang pohon.
Dia melihat bahwa gurunya tidak kalah tangguh dan kedua orang itu saling serang dengan hebatnya.
Suara berdentingan ketika pedang bertemu tongkat, diseling bentakan-bentakan mereka membuat suasana menjadi menegangkan sekali.
Han Sin mengenal jurus-jurus maut dan sekali saja seorang diantara mereka kurang cepat mengelak dan menangkis, tentu akan roboh dan tewas.
Hud-tim ditangan tosu itu lihai sekali, kadang dapat digunakan sebagai cambuk melecut, kadang menjadi kaku dan dapat dipergunakan untuk menotok jalan darah, dipadu dengan tongkat itu menjadi sepasang senjata yang ampuh sekali.
Akan tetapi, dia melihat gurunya juga menggerakkan pedang dengan cepatnya dan seringkali pedang itu merupakan ancaman maut bagi si tosu.
Bagaimanapun juga, dalam adu kekuatan badan, usia juga ikut memegang peran penting sekali.
Setelah lewat seratus jurus, nampaklah bahwa usianya merupakan kelemahan bagi Hek Liong Ong.
Kekuatannya memang masih ada, akan tetapi daya tahannya yang merosot, napasnya mulai memburu dan keringatnya membasahi seluruh tubuhnya, dengan sendirinya, setelah napasnya terengah-engah, tenaganya pun berkurang banyak dan dia hanya main mundur sambil menangkis saja.
Hek Liong Ong adalah seorang yang keras hati dan tidak pernah mau mengaku kalah.
Melihat keadaannya yang sudah payah, dia menggunakan tenaga terakhir untuk menyerang.
Dia mengayun pedangnya ke atas danmembacok kearah kepala tosu itu.
Ngo Heng Thian Cu yang melihat bahwa lawannya sudah mulai kehabisan napas, menggerakkan kebutannya dan bulu kebutan yang panjang itu menahan datangnya pedang.
Melihat pedang itu sehingga tidak dapat digerakkan lagi.
Hek Liong Ong terkejut dan penasaran.
Dia menggunakan tangan kirinya membantu tangan kanan untuk merengut pedangnya dan membikin putus bulu kebutan yang melibat pedangnya.
Dengan pengerahan tenaga, dia berhasil.
Bulu kebutan itu putus, akan tetapi pada saat itu, tongkat putih di tangan kanan Ngo Heng Thian Cu bergerak meluncur menusuk ke arah dada Hek Liong Ong.
Hek Liong Ong sedang mengerahkan tenaganya kepada kedua tangannya untuk merengut lepas pedangnya, maka dia tidak dapat lagi melindungi dadanya, tetap saja dia tidak akan mampu menahan tusukan cepat dan amat kuat itu.
"Craaapp"
Tongkat putih yang terbuat dari pada baja yang amat kuat itu telah menembus dadanya.
Mata Hek Liong Ong terbelalak dan pada saat itu, Ngo Heng Thian Cu menendang perutnya sehingga dia terjengkang roboh dan darah mengucur keluar dari luka di dadanya.
"Kau.... tosu yang jahat dan kejam"
Terdengar bentakannyaring dan Han Sin sudah menerjang tosu itu dengan serangannya.
Karena pemuda ini tidak membawa senjata, maka dia menyerang dengan tangan kosong.
Tosu itu mengelak dengan loncatan ke samping.
Han Sin menghadapinya dan menundingkan telunjuknya ke arah muka tosu itu.
"Kau tosu jahat. Kau telah membunuh Ho Beng Hwesio yang tidak berdosa"
"Ha-ha-ha"
Ngo Heng Thian Cu tertawa ketika dia melihat bahwa yang menyerangnya adalah pemuda murid Tiong Gi hwesio tadi.
"Dia Ho Beng Hwesio yang tidak berdosa? Ha-ha-ha. Orang muda, agaknya kaupun kena ditipu olehnya. Ketahuilah, dia adalah Hek Liong Ong, seorang datuk sesat yang amat keji dan kejam. Entah sudah berapa ratus orang tewas ditangannya. Sudah bertahun-tahun pinto mencarinya dan dia dapat selalu menghindar. Tidak tahunya dia menyembunyikan diri dikuil dan menjadi hwesio.
"Akan tetapi selama bertahun-tahun dia menjadi seorang hwesio yang tekun dan tak pernah berbuat dosa. Sekarang kau membunuhnya. Kau harus mempertanggung jawabkan perbuatanmu ini"
Kembali Han Sin menerjang dengan pukulan-pukulannya.
Menghadapi rangkaian serangan Han Sin, tosu itu dengan mudahnya mengelak ke sana sini, lalu melompat jauh kebelakang sambil berseru "pinto tidak mau bermusuhan dengan siauw-lim-pai.
Pinto tidak dapat melayanimu lagi"
Dan diapun segera melarikan diri dengan amat cepatnya.
Han Sin maklum bahwa tosu itu memiliki ilmu kepandaian yang tinggi sekali.
Gurunya saja kalah dan tewas oleh tosu itu, apalagi dia.
Kalau tosu itu tidak mau melayani, bukan karena takut kepadanya, melainkan takut menanam bibit permusuhan dengan siauw lim pai karena bagaimanapun dia murid Tiong Gi hwesio seorang tokoh Siauw lim pai.
Dia lalu menghampiri jenazah Ho Beng Hwesio dan berlutut didekat jenazah.
Ho Beng Hwesio memang sudah tewas, dadanya berlubang oleh tusukan tongkat putih.
Kini Ho Beng Hwesio tidak perlu takut lagi menghadapi maut.
Perasaan takut timbul karena permainan pikiran membayangkan hal-hal yang belum diketahuinya.
Kalau hal yang tadinya ditakuti itu sudah tiba, maka rasa takutnya akan hal itupun lenyap, dan rasa takut itu muncul dalam membayangkan hal-hal lain lagi yang belum diketahuinya.
Han Sin memondong jenazah itu, menuruni bukit dan kembali ke kuil.
Tiong Gi hwesio dan para hwesio lain menyambutnya dengan kaget sekali melihat jenazah Ho Beng Hwesio, tukang masak yang sudah tujuh tahun berada di kuil itu dianggap sebagai seorang hwesio yang baik, tidak pernah melakukan hal-hal yang tidak baik, bahkan taat sekali kepada ketua kuil.
Ketika Han Sin menceritakan apa yang dikatakan Ngo Heng Thian Cu kepadanya tentang Ho Beng Hwesio, Tiong Gi hwesio menghela napas panjang dan menggeleng kepala.
"Omitohud.... siapa mengira bahwa dia adalah Hek Liong Ong yang tersohor itu? Bagaimanapun juga, pada masa tuanya, dia sudah berusaha untuk bertaubat. Akan tetapi, biarpun demikian, masih saja dia dicari musuh-musuhnya. Demikianlah kehidupan di dunia kang ouw, adanya hanya dendam mendendam, balas membalas, bunuh membunuh. Setiap orang manusia tidak akan lolos dari jaring karmanya sendiri. Akan tetapi, disini dia telah membuktikan dirinya seorang yang baik dan tidak pernah melanggar, maka sudah sepatutnya kalau jenazahnya mendapat perawatan sebagaimana mestinya. Semua hwesio merasa setuju sekali, karena tidak ada seorangpun diantara mereka yang tidak menganggap Ho Beng Hwesio seorang yang baik hati. Akan tetapi hanya Han Sin seoranglah yang merasa amat berduka karena tanpa diketahui orang. Ho Beng Hwesio adalah gurunya selama lima tahun mengajarkan banyak ilmu silat yang tinggi kepadanya. Diapun tidak mempunyai gairah lagi untuk melanjutkan tinggal dikuil itu dan ketika ibunya datang menjenguknya, dia mengatakan hendak keluar dari kuil itu. Juga sekali ini, setelah Ho Beng Hwesio meninggal, kepada ibunya dengan terus terang dia membuka rahasia tentang dia belajar ilmu kepada Ho Beng Hwesio.
"Ho Beng Hwesio itu siapakah?"
Tanya ibunya yang belum pernah bertemu dengan hwesio tukang masak itu.
"Dia hwesio tukang masak disini, ibu, dan ternyata dia memiliki ilmu silat yang tinggi dan telah mengajarkan ilmu-ilmunya kepadaku dengan diam-diam karena dia tidak ingin diketahui orang lain bahwa dia memiliki kepandaian"
"Aneh sekali orang itu. Aku ingin bertemu dan melihat orang yang telah mengajarkan ilmu silat kepadamu"
"Tidak mungkin, ibu. Dia telah tewas belum lama ini"
"Tewas? Mengapa?"
"Tewas terbunuh oleh musuhnya yang amat lihai"
Nyonya itu terbelalak "Ah, bagaimana terjadinya? Siapa dia sebenarnya dan apa yang telah terjadi di kuil itu, Han Sin?"
"Ibu, selama lima tahun aku di ajar ilmu silat olehnya, akan tetapi selama itu aku tidak tahu sebenarnya siapa hwesio itu. Baru setalah kedatangan musuhnya itulah aku tahu bahwa suhu Ho Beng Hwesio itu sebetulnya dahulu berjuluk Hek Liong Ong"
"Hek Liong Ong...?"
Kini Ji Goat bangkit dari duduknya dan memandang kepada puteranya dengan mata terbelalak.
"Hek Liong Ong Poa Yok Su menjadi Ho Beng Hwesio di kuil Siauw lim si?"
"Ibu mengenalnya?"
"Mengenal Hek Liong Ong? Tentu saja aku mengenalnya karena dia dahulu juga membantu perjuangan dan membantu berdirinya Kerajaan Sui. Bahkan lebih dari itu, dia adalah seorang diantara guru-guru dari mendiang ayahmu"
Kini Han Sin tertegun "Ah, kiranya guru mendiang ayah? Pantas dia mengajarkan ilmu kepadaku, walaupun secara sembunyi-sembunyi dan tidak mengajarkannya kepada orang lain"
"Akan tetapi bagaimana dia sampai tewas ditangan musuhnya? Siapakah musuhnya itu dan bagaimana terjadinya?"
Han Sin lalu menceritakan tentang kedatangan tosu tinggi kurus yang bernama Ngo Heng Thian Cu itu dan betapa Ho Beng Hwesio segera melarikan diri ketika mendengar bahwa dia dicari tosu itu.
"Aku menduga bahwa suhu tentu sembunyi di tempat dimana biasanya dia mengajarkan silat kepadaku dan ternyata dia memang berada di sana, akan tetapi Ngo Heng Thian Cu juga menemukan tempat persembunyiannya itu. Aku melihat mereka berkelahi dengan hebatnya dan akhirnya suhu roboh setelah pertandingan yang amat lama dan seru. Aku mencoba untuk menyerang tosu itu akan tetapi dia menghindar dan mengatakan bahwa dia tidak mau bermusuhan dengan siauw lim pai. Tentu saja dia tidak tahu bahwa aku adalah murid Ho Beng Hwesio dan menganggap aku murid siauw lim pai. Ibu, apakah ibu juga mengenal Ngo Heng Thian Cu?"
Ji Goat menghela napas panjang, mengenang semua kejadian masa lalu, ketika dia bersama mendiang suaminya, Cian Kuaw Cu, membantu Yang Chien berjuang menumbangkan kekuasaan Kerajaan Toba.
"Ngo Heng Thian Cu? Hemmm, kalau aku tidak salah ingat, dia itu adalah murid Thain te ciu kwi. Dahulu Thian Te Ciu Kwi membantu Kerajaan Toba sehingga tentu saja bermusuhan dengan Hek Liong Ong yang membantu perjuangan rakyat yang memberontak terhadap Kerajaan Toba. Akan tetapi aku tidak mengira bahwa Thian Te Ciu Kwi menyuruh muridnya untuk menyerang dan membunuh Hek Liong Ong"
"Ibu, apakah Hek Liong Ong itu dahulunya seorang datuk sesat yang banyak melakukan kejahatan?"
"Semua datuk dan tokoh sesat di dunia kang ouw tidak segan melakukan kejahatan, anakku. Mereka tidak mengenal apa yang dinamakan kejahatan. Bagi mereka itu, mereka hanya melakukan segala kehendak hati mereka kalau perlu melalui kekerasan untuk memaksakan kehendak mereka. Karena itu, tentu saja Hek Liong Ong sudah banyak melakukan perbuatan yang menyimpang dari kebenaran"
Han Sin menghela napas panjang "Hemmmm benar saja dia seorang jahat yang kemudian hendak bertaubat menebus dosa dengan menjadi seorang hwesio"
"Atau boleh jadi dia menjadi hwesio untuk menyembunyikan dirinya agar lolos dari ancaman musuh-musuhnya. Setelah menjadi tua dan merasa lemah, mungkin Hek Liong Ong lalu menjadi ketakutan. Dia dahulu memang seorang yang berhati keras dan kejam, dan karena itulah maka mendiang ayahmu tidak lama menjadi muridnya"
"Ibu, apakah sebagai murid suhu Ho Beng Hwesio aku tidak berkewajiban untuk menuntut balas atas kematiannya?"
"Han Sin, Hek Liong Ong itu tidak mati penasaran. Permusuhannya dengan Ngo Heng Thian Cu adalah permusuhan antara orang-orang kang ouw dan kedua pihak memang terkenal sebagai golongan sesat. Kau tidak perlu melibatkan dirimu. Yang terpenting bagimu adalah membalaskan kematian ayahmu. Ayahmu tewas secara penasaran, bukan gugur dalam perang akan tetapi terbunuh oleh pembunuh gelap secara curang dari belakang"
"Akan tetapi kita tidak tahu siapa yang membunuhnya, bagaimana aku dapat mencarinya, ibu?"
"Memang tidak mungkin mencari pembunuhnya karena pembunuhan itu terjadi dalam pertempuran dan tidak ada yang melihatnya. Akan tetapi ada satu hal yang akan membawamu kepada pembunuh ayahmu. Han Sin, yaitu Pedang Naga Hitam milik ayahmu. Pedang itu telah lenyap ketika ayahmu terbunuh. Maka pencuri pedang itu tentu pembunuh ayahmu. Jadi yang kau cari bukan bukan pembunuhnya melainkan pedangnya. Kalau pedang itu dapat kau temukan, tentu pembunuh ayahmu dapat kau temukan pula. Pedang Naga Hitam tidak ada keduanya di dunia ini, tentu akan dapat kau kenal. Ibu itu lalu menceritakan dengan jelas ciri-ciri pedang pusaka milik mendiang suaminya itu.
"Kalau begitu aku akan segera pergi menyelidikinya dan mencari pedang itu, ibu"
"Tidak, sebelum kau mempelajari ilmu silat yang diwariskan ayahmu kepadamu, Han Sin"
Ji Goat mengeluarkan kitab tulisan Kaisar Yang Chien yang menuliskannya dan menggambarkan ilmu silat Bu Tek Cin Keng.
"Ilmu ini di sebut Bu Tek Cin Keng. Ilmu ini, ditemukan ayahmu dan Kaisar Yang Chien. Karena Kaisar Yang Chien berpendapat bahwa ayahmu yang lebih berhak, maka beliau menuliskan ilmu itu dalam kitab ini agar dapat diwariskan kepadamu. Kaisar tidak mengajarkan ilmu ini kepada orang lain, bahkan kepada para putera puterinya juga tidak. Karena itu, sebelum kau pergi mencari pedang dan pembunuh ayahmu, kau harus mempelajari dulu ilmu ini sampai dapat kau kuasai dengan sempurna. Han Sin adalah seorang anak yang patuh kepada orang tuanya. Apalagi ayahnya telah tiada, hanya tinggal ibunya. Maka dia selalu berusaha untuk membikin senang hati ibunya. Di samping itu, dia memang suka sekali mempelajari ilmu silat, maka ketika menerima kitab Bu Tek Cin Keng itu dia segera mempelajarinya dengan tekun. Ketika dia mendapat kenyataan bahwa kitab itu amat sulit dipelajari, hal ini bahkan menambah semangatnya untuk mempelajarinya. Kesulitan itu merupakan tantangan baginya. Ternyata kemudian bahwa semakin dia mendalami pelajaran ilmu Bu Tek Cin Keng, semakin sukar. Han Sin harus berlatih dengan pencurahan perhatian sepenuhnya. Kaisar Yang Chien memang telah berusaha dengan sungguh-sungguh agar ilmu itu dapat diwariskan kepada putera Cian Kauw Cu, maka dia menggambarkan ilmu itu dengan jelas. Juga cara melatih diri menghimpun tenaga sakti dalam ilmu itu ditulisnya dengan jelas dan teratur. Sedikit demi sedikit Han Sin mulai dapat menguasai ilmu itu. Dia tidak mengenal lelah, siang malam mempelajari ilmu itu dan dipraktekkannya dalam latihan. Ibunya senang sekali melihat ketekunan puteranya dan selalu memberi dorongan. Setelah tiga tahun lamanya Han Sin mempelajari ilmu Bu Tek Cin Keng dengan penuh semangat, barulah dia berhasil menguasai ilmu yang sukar itu. Dengan dikuasai ilmu yang hebat itu, Han Sin memperoleh kemajuan pesat sekali, terutama dalam hal kecepatan gerakan dan tenaga sakti. Dan kini telah menjadi seorang pemuda berusia dua puluh tahunan yang amat lihai. Pada suatu hari, Ji Goat menonton puteranya latihan. Melihat pemuda itu bersilat dengan tangan kosong dengan gerakan yang amat ringan dan tenaga kedua tangannya itu mendatangkan angin yang membuat rambutnya tertiup angin dan pakaiannya berkibar, nyonya ini merasa gembira bukan main. Kini tingkat kepandaian puteranya sudah lebih tinggi dari tingkat kepandaian mendiang ayah pemuda itu. Kemudian ia minta kepada puteranya untuk bersilat dengan menggunakan senjata pedang dan ia semakin kagum. Pedang biasa yang dimainkan Han Sin itu berubah menjadi sinar bergulung-gulung yang menyilaukan mata, mengeluarkan suara berdesing-desing. Selagi ibu itu mengagumi ilmu silat puteranya, tiba-tiba seorang pembantu rumah tangga pria berlari-lari menghampiri mereka"Nyonya... Nyonya....... ada berita buruk"
Katanya dengan gugup. Han Sin menghentikan permainan pedangnya dan bersama ibunya dia memandang kepada pelayan it. Ji Goat juga merasa tidak senang dengan adanya gangguan ini "A-seng"
Tegurnya "Ada apakah kau berlari-lari dan nampak bingung seperti itu?"
"Berita buruk Nyonya. Sri baginada Kaisar.......... telah meninggal dunia.... Mendengar berita ini tentu saja Ji Goat dan Han Sin menjadi terkejut sekali. Mereka memang telah mendengar bahwa Sri ibaginda Kaisar Yang Chien menderita sakit. Akan tetapi tidak mereka sangka akan meninggal secepat itu.
"Ahhhh"
Nyonya itu menjatuhkan diri duduk di atas bangku dalam ruangan berlatih silat itu.
Ia ingat akan semua pengalamannya diwaktu muda, ketika Kaisar Yang Chien belum menjadi Kaisar, melainkan menjadi sahabat baik dari suaminya.
Tak terasa lagi air matanya mengalir ke atas kedua pipinya.
"Aihhhh, Sepasang Naga Lembah Iblis kini telah tiada"
Katanya kemudian.
"Ibu, Sri baginda Kaisar adalah seorang kaisar yang bijaksana dan dicintai rakyat jelata, dan lalu meninggal dunia dengan wajar, karena sakit. Kurasa tidak ada yang perlu di buat duka dan sesal"
"Kau benar, Sri baginda kaisar meninggal dunia dengan wajar walaupun usianya belum tua benar. Berbeda dengan ayahmu yang meninggal dunia dengan penasaran"
Kata Ji Goat.
Ibu dan anak ini segera berganti pakaian berkabung dan siap untuk pergi melayat ke istana, sebagai istri panglima tinggi dan sahabat kaisar, memang selayaknya kalau nyonya ini pergi melayat.
Kaisar Yang Chien, Kaisar yang dahulunya merupakan seorang jagoan, pemimpin rakyat yang berhasil menumbangkan kekuasaan Kerajaan Toba dan pendiri Kerajaan Sui, telah meninggal dunia dalam usia yang belum tua benar, baru sekitar enampuluh dua tahun.
Menurut berita desas desus, Kaisar Yang Chien sakit-sakitan karena merasa kecewa dan berduka melihat bahwa diantara putera-puteranya tidak ada yang menuruni semangat dan kebijaksanaanya.
Pangerang Yang Ti, puteranya yang diangkat menjadi putera mahkota, memang cukup bersemangat, akan tetapi kurang meiliki kebijaksanaan dan bahkan menunjukkan gejala suka menggunakan kekerasan dan suka pula kemewahan.
Sebelum dia meninggal, dia sempat berpesan kepada Pangeran Yang Ti agar memperhatikan nasib rakyat dan berusaha keras mensejahterakan kehidupan rakyat seperti yang telah dilakukannya.
Sambil menangis, pangeran mahkota yang usianya sudah tigapuluh delapan tahun itu menyanggupi untuk melaksanakan pesan ayahnya.
Setelah Kaisar Yang Chien wafat, maka Pangerang Yang Ti diangkat menjadi penggantinya.
Setelah Yang Ti menjadi Kaisar, nampaklah dia bahwa meneruskan usaha yang dirintis ayahnya.
Terusan"terusan yang menghubungkan Huang-ho dan Yang-ce diperluas, sampai ke Hang-couw.
Nampaknya dia bekerja keras untuk melanjutkan cita-cita ayahnya sehingga rakyat jelata merasa senang.
Pada permulaan pemerintahannya, tidak ada tanda-tanda bahwa Kaisar Yang Ti kelak akan menjadi seorang yang gila perang dan memboroskan uang negara untuk membangun istana-istana yang megah.
Juga dia mengangkat banyak panglima dan pejabat tinggi, memilh diantara orang-orang yang sudah berhubungan akrab dengannya ketika dia masih menjadi seorang pangeran.
Pejabat-pejabat tua yang setia kepada ayahnya dihentikan dan dipensiun.
Perubahan ini menimpa diri Ji Goat.
Kalau dulu diwaktu kaisar Yang Chien masih hidup, Kaisar itu itu membiarkan janda sahabatnya ini mendiami gedung yang ditempati Panglima besar itu.
Setelah Kaisar Yang Ti yang berkuasa, gedung itu diminta kembali untuk ditempati panglima yang baru diangkat dan terpaksa janda bersama puteranya untuk pindah.
Sejak kecilnya Ji Goat yang dahulunya puteri Perdana Menteri Kerajaan Toba tinggal dalam istana indah.
Kini ia harus meninggalkan gedung yang ditempatinya semenjak suaminya menjadi panglima besar.
Ji Goat sudah tidak betah lagi tinggal di kota raja, dimana terdapat banyak kenangan tentang suaminya, hal yang sering kali membuat ia termenung dan tenggelam dalam kesedihan.
Maka ia lalu mengajak puteranya meninggalkan kota raja.
Semua barang milik mereka pribadi mereka jual, semua pembantu rumah tangga mereka suruh pulang dan akhirnya mereka mencari tempat tinggal di sebuah dusun diluar kota raja, dekat kuil siauw lim si.
Ji Goat kembali membeli sebidang tanah, mendirikan sebuah rumah sederhana dan bekerja di kebun yang ditanami dengan sayur-sayuran dan buah-buahan.
Ia merasa lebih tenang dan tentram tinggal ditempat sunyi ini.
Dan sebulan setelah mereka pindah ke dusun itu, Ji Goat lalu minta kepada puteranya untuk mulai dengan tugasnya, yaitu mencari Pedang Naga Hitam untuk mengetahui siapa pembunuh suaminya.
"Akan tetapi ibu tinggal di sini seorang diri"
Kata Han Sin yang merasa kasihan kepada ibunya "Mengapa ibu tidak memakai tenaga bantuan orang lain sebagai pelayan dan juga teman? Siapa yang akan menjaga ibu kalau aku harus pergi sekarang?"
"Han Sin, jangan bersikap cengeng"
Kata ibunya dengan tegas"Ibumu bukanlah seorang wanita lemah.
Aku dapat menjaga dan melindungi diriku sendiri.
Aku masih kuat.
Dan tentang pembantu, kalau aku memerlukan kelak, tentu bisa kudapatkan tenaga dari penduduk dusin ini.
Berangkatlah dan jangan mengkhawatirkan keadaan ibumu"
"Akan tetapi, karena aku akan mencari pencuri pedang yang tidak ada jejaknya, mungkin tugas ini akan memakan waktu lama sekali sebelum aku menemukannya, ibu"
"Jangan gentar menghadapi kesukaran, anakku. Kau sudah dewasa dan baru saja selesai mempelajari banyak ilmu silat. Bekal untuk menjaga dirimu sudah cukup kuat daripada ibu atau ayahmu sendiri diwaktu muda. Kau perlu meluaskan pengalaman hidupmu. Hanya pesanku, berhati-hatilah menjaga dirimu sendiri, bukan hanya terhadap gangguan dari luar, melainkan terutama sekali menghadapi gangguan dari dalam. Jangan membiarkan dirimu dikuasai nafsu-nafsu sendiri yang akan menyeretmu ke dalam tindakan yang menyimpang dari kebenaran. Ibu yakin semua ini sudah kau pelajari dari Tiong Gi hwesio selama kau berada dikuil siauw-lim-si Han Sin menangguk "Semua pesan ibu akan aku taati. Jangan khawatir, ibu. Aku dapat menjaga diri baik"baik. Paling lama tiga tahun, berhasil ataukah tidak mencari Pedang Naga Hitam, aku pasti akan pulang, ibu"
Demikianlah, setelah menerima banyak nasehat dengan membawa bekal emas secukupnya yang diberikan Ji Goat, Han Sin berangkat meninggalkan dusun itu.
*** Sudah lazim bahwa orang yang ditinggalkan seseorang yang dikasihinya akan merasa kesepian dan kehilangan.
Demikian pula Ji Goat, nyonya janda itu, begitu Han Sin pergi, ia tidak dapat menahan dirinya lagi dan menangis seorang diri di dalam rumahnya.
Ia merasa semangatnya terbang pergi mengikuti puteranya.
Akan tetapi, nyonya yang gagah ini akhirnya dapat menekan kesedihan hatinya dan melawannya dengan harapan bahwa puteranya akan berhasil menemukan pedang suaminya dan berhasil pula membalasa dendam kematian suaminya.
Harapan ini dapat menghibur hatinya.
Duka memang datang atau lahir dari pikiran yang merasa iba kepada diri sendiri, karena di tinggalkan.
Pikiran ini menguyah-nguyah keadaan dirinya itu, seperti meremas"remas perasaan hatinya sendiri penuh iba diri dan timbulah duka.
Kemudian pikiran yang itu juga menciptakan harapan-harapan yang menjadi pegangannya dan harapan ini menjadi penolongnya sehingga ia dapat melupakan kedukaannya.
Ia tidak tahu bahwa justru harapan ini yang kelak akan mendatangkan kekecewaan dan duka baru kalau tidak terlaksana seperti yang diharapkannya.
Manusia selalu diombang"ambingkan dan dipermainkan oleh pikirannya sendiri.
Berbeda dengan orang yang di tinggalkan, orang yang meninggalkan tidak terlalu di cekam rasa kesepian atau kehilangan.
Hal ini adalah karena yang meninggalkan menghadapi hal-hal baru, pengalaman"pengalaman baru sehingga perhatiannya selalu tertuju ke depan.
Han Sin juga tidak mengalami rasa duka seperti ibunya yang di tinggalkannya, bahkan dia merasa gembira, merasa bebas lepas seperti seekor burung di udara.
Dia boleh pergi kemana saja dia suka, boleh berbuat apa saja yang dikehendakinya.
Boleh memutuskan segala hal menurut kehendaknya sendiri.
Dia baru sekali ini merasakan sebagai seorang manusia yang utuh, majikan dari dirinya sendiri, tanpa kekangan.
Ibunya benar, pikirnya.
Dia harus meluaskan pengalaman dalam hidup ini agar tidak menjadi seperti seekor katak dalam tempurung.
Pemuda itu tersenyum seorang diri.
Seorang pemuda berusia duapuluh tahun yang tubuhnya tinggi tegap dan rambutnya yang hitam lebat itu diikatkan dengan kain sutera kuning.
Dahinya lebar, sepasang alis hitam tebal berbentuk golok.
Hidungnya mancung dan mulutnya selalu tersenyum manis.
Sepasang matanya bersinar lembut, selalu berseri karena dia memang pada dasarnya seorang pemuda yang berwatak riang gembira.
Dagunya yang berlekuk itu membayangkan kejantanan walaupun pandang mata yang lembut, mulut yang tersenyum dan sikap yang sederhana itu membayangkan kerendahan dan kelembutan hati.
Memang Han Sin bersikap sederhana, sama sekali tidak ada bekas-bekasnya sebagai putera seorang panglima besar.
Dia lebih mirip seorang pemuda dusun yang terpelajar, seorang pemuda sastrawan misikin dari dusun.
Pakainnya juga sederhana dan ringkas.
Buntalan di punggungnya dari sutera kuning juga tidak terlalu besar karena dia hanya menyimpan beberapa stel pakaian dalam bungkusan itu.
Sama sekali dia tidak membawa senjata.
Bagi Han Sin yang sudah memiliki ilmu silat yang tinggi, kaki tangannya sudah merupakan senjata yang ampuh dan segala macam benda dapat saja dia pergunakan sebagai senjata tambahan, maka dia tidak memerlukan senjata sebagai bekal.
Hal ini pun di nasehatkan oleh ibunya.
Kalau dia tidak membawa senjata, maka tidak ada yang akan tahu bahwa dia seorang ahli silat yang tangguh dan hal ini menjauhkan gangguan.
Sudah lazim di dunia kang ouw bahwa orang yang membawa-bawa senjata akan mudah bertemu lawan yang ingin mengujinya.
Beberapa potong emas yang dia terima dari ibunya, di taruh di dalam buntalan.
Han Sin ingin tertawa kalau teringat akan nasihat ibunya.
Ibunya berpesan kepadanya bahwa kalau sampai dia kehabisan bekal di dalam perjalanan, dia boleh saja mengambil uang itu dari rumah seorang hartawan atau bangsawan.
"Akan tetapi ingat, kau mencuri uang bukan untuk bersenang-senang, melainkan hanya untuk mencukupi kebutuhan sehari-hari. Dan janganlah sekali-kali membikin susah orang yang uangnya kau curi. Seorang hartawan besar tidak akan merasa kehilangan kalau kau ambil uangnya sedikit. Jangan ganggu orang yang hanya memiliki sedikit harta atau kau boleh merampas harta para perampok"
Ibunya mengajarkan dia untuk mencuri.
Dia tidak akan melakukan itu, kalau tidak amat sangat terpaksa.
Dia sendiri sedang mencari seorang pencuri pedang.
Bagaimana sekarang dapat menjadi pencuri uang?
Akan tetapi dia maklum apa yang dipesankan oleh ibunya itu.
Han Sin melakukan perjalanan kejurusan timur dan dia sudah mendengar bahwa kalau dia terus ke timur, sampai di sungai kuning dia akan tiba di kota Lok-yang.
Dia bermaksud pergi ke Lok-yang dan dari sana dia baru akan mebelok ke utara dan barat menyusuri Sungai Kuning.
Tujuannya adalah ke Shansi.
Karena di daerah Shansi itulah ayahnya tewas ketika pasukan yang dipimpin ayahnya bertempur melawan pasukan musuh dari utara.
Ketika malam tiba, Han Sin bermalam di sebuah dusun.
Seorang petani menawarkan rumahnya untuk dia tinggal semalam itu, Pertemuan itu terjadi di ladang pada sore hari itu ketika Han Sin menuruni bukit dan menghampiri dusun yang tadi nampak dari atas bukit.
Dia melihat seorang petani masih mencangkul ladangnya pada senja yang telah mulai gelap itu.
Timbul perasaan iba dihatinya.
Petani itu rajin sekali, pikirnya dan tentu seorang petani miskin yang terpaksa bekerja keras untuk mencukupi penghasilannya.
"Selamat sore, Paman. Wah, paman rajin sekali, hari sudah hampir gelap masih bekerja diladang"
Tegur Han Sin ramah sambil duduk di tepi ladang itu di atas akar-akar pohon yang menonjol.
"Selamat sore, kongcu (tuan muda). Ah, rajin sih tidak, melainkan terpaksa karena saya hanyalah buruh tani. Ladang ini bukan milik saya sendiri, melainkan milik tuan tanah dan kalau saya tidak bekerja keras, upah saya tentu tidak cukup untuk biaya hidup"
Han Sin menghela napas panjang, lagu lama yang di dengarnya ini.
Sayang ladang yang luas dimiliki oleh para tuan tanah dan petani seperti orang ini hanya hidup sebagai buruh tani dengan upah yang sedikit.
Tak sepadan dengan keringat mereka yang menetes"netes ketika bekerja keras.
"Ah, tidak. Saya hidup sebatangkara, tidak berani berkeluarga karena penghasilanku kecil. Untuk diri saya sendiri saja hampir tidak cukup, hanya untuk sekedar makan dan pakaian yang sederhana"
Petani itu sudah merasa lelah dan mendengar ada orang begitu menaruh perhatian kepada dirinya, dia lalu duduk di atas pematang swah di dekat Han Sin.
"Sungguh sayang sekali tuan-tuan tanah itu tidak dapat menghargai jasamu yang besar, paman"
"Ah, kongcu. Saya hanya pekerja tani, mencangkul dan menanam lalu menuai, yang memiliki tanah adalah mereka, mana dapat dikatakan jasaku besar?"
"Paman, kalau tidak ada orang-orang tani seperti paman ini, bagaimana orang-orang seperti saya dan semua orang yang tinggal di kota dapat makan?. Setiap tetes keringat paman yang membasahi tanah dan menjadi pupuk bagi tanaman, amatlah berharga. Pekerjaan paman adalah pekerjaan yang paling mulia, namun sayangnya semua orang melupakannya bahkan memandang rendah kaum petani. Bahkan para tuan tanah memeras tenaga kalian. Sungguh menyedihkan"
"Akan tetapi kami sudah biasa hidup begini, kongcu"
"Bahagiakah hidupmu, paman?"
Petani itu memandang dengan mata penuh mengandung pertanyaan, kemudian dia bertanya.
"Kongcu, kebahagiaan itu apakah yang dinamakan bahagia itu bagaimanakah?"
Di tanya begini, Han Sin tertegun.
Apa sih kebahagiaan itu?
Apakah dia sendiri juga bahagia?
Pernahkah dia merasa bagagia?
Dia sendiri tidak tahu maka diapun menjawab asal saja, keluar dari pendapat pikirannya"
Bahagia itu.... kalau paman merasa senang dan puas dengan keadaan hidup paman, tidak pernah merasa susah"
"Ah, begitukah? Kalau begitu aku tidak butuh bahagia itu. Asalkan aku menerima upah, dapat membeli makanan dan pakaian, sudah senanglah hatiku. Aku tidak menginginkan apa-apa juga tidak membutuhkan kebahagiaan itu"
Han Sin kembali tertegun.
Tidak butuh bahagia?
Dan bagaimana mencari kebahagiaan itu?
Kemana mencarinya dan bagaimana akan dapat mengenalnya kalau dia belum pernah merasakan?
Teringatlah dia akan wejangan Tiong Gi hwesio tentang kebahagiaan.
Han Sin bangkit dan wajahnya berseri "Kalau begitu kau seorang yang berbahagia, paman.
Kau berbahagia"
Petani itu memandang heran kepada pemuda yang bergembira itu dan agaknya dia menyangsikan apakah pemuda didepannya itu waras ataukah tidak.
"Aku? Berbahagia? Entahlah, aku tidak butuh bahagia. Akan tetapi kongcu ini orang dari manakah? Dan apa yang kongcu cari di sini?"
"Aku seorang perantau yang kebetulan lewat disini dan kemalaman, paman. Aku mencari rumah penginapan untuk dapat melewatkan malam ini"
"Wah, di dusun kami tidak ada rumah penginapan, kongcu"
"Kalau begitu aku akan mencari kuil atau rumah kosong untuk melewatkan malam ini"
"Kuil juga tidak ada, apa pula rumah kosong. Akan tetapi kalau kongcu mau, boleh kongcu menginap di rumah saya yang buruk. Saya hanya tinggal seorang diri di rumah itu"
Han Sin tersenyum girang "Ah, kau baik sekali paman. Tentu saja aku suka tinggal dirumah paman"
"Kalau begitu, mari kita pulang"
Petani itu mencuci kaki tangannya dengan air saluran yang terdapat didekat ladangnya, kemudian memanggul cangkulnya dan mengajak Han Sin pulang ke rumahnya yang berada di tepi dusun itu.
Rumah itu memang sederhana sekali, akan tetapi lumayan lah untuk melewatkan malam, dari pada berada di tempat terbuka.
Ada pula sebuah meja dan dua buah kursinya terbuat dari kayu secara kasar.
Tidak mempunyai perabot lain, akan tetapi ada sebuah tempat tidur yang kecil dan isinya hanya sebuah dipan kayu sederhana.
"Silahkan duduk, kongcu. Beginilah tempat tinggalku, akan tetapi bagiku amat menyenangkan"
Petani itu lalu menyalakan penerangan.
Han Sin menghela napas.
Betapa pun misikinnya keadaan seseorang, kalau orang itu tidak mengeluh dan dapat menerima dengan hati jauh dari pada iri, keadaan itu tetap akan mendatangkan perasaan senang.
Jadi jelaslah dia akan satu hal, yaitu bahwa kebahagiaan bukan terdapat di dalam kekayaan harta benda.
Dan diapun mengerti mengapa ibunya sama sekali tidak berduka, bahkan nampak gembira setelah pindah ke rumah sederhana di susun, padahal tadinya mereka tinggal disebuah gedung besar menyerupai sebuah istana kecil di kota raja.
Dia mengerti kini akan makna wejangan gurunya bahwa setiap orang manusia haruslah dapat bebas dari ikatan apapun juga di dunia ini karena ikatan itulah yang mendatangkan duka.
Kalau ibunya terikat oleh keadaan yang megah dan mewah di kota raja, tentu ibunya akan berduka kehilangan semua itu.
Diam-diam dia merasa bangga akan sikap ibunya.
"Paman, perutku terasa lapar dan aku yakin paman juga tentu lapar sekali setelah bekerja berat. Karena itu, harap paman suka membelikan masakan dan nasi di dusun ini. Dan juga arak untuk kita makan dan minum berdua"
Han Sin membuka buntalannya dan mengeluarkan kantung uangnya.
Dia mengambil beberapa keping uang dan menyerahkan kepada petani itu.
Petani itu nampak tertegun melihat banyak potongan emas dalam kantung itu dan dengan tangan gemetar dia menerima uang itu.
"Di sini tidak ada yang menjual makanan, kong cu. Akan tetapi saya dapat menyuruh tetangga sebelah untuk membeli ayam dan bahan makanan untuk dimasak. Harap kong-cu menunggu sebentar"
Tak lama kemudian petani itu sudah kembali membawa dua ekor ayam, beras dan beberapa macam sayuran berikut bumbu-bumbunya dan segera dia sibuk di bagian belakang rumahnya.
Dia memasak ayam dan sayur itu dibantu oleh seorang wanita setengah tua yang pandai memasak dan ramailah mereka bekerja sambil bercakap-cakap.
Han Sin tersenyum.
Mungkin bagi petani itu, peristiwa menyembelih ayam dan memasaknya dengan bermacam sayuran ini merupakan sebuah peristiwa yang istimewa.
Terharu rasa hatinya membayangkan bahwa mungkin petani itu tidak pernah mampu membeli ayam, mungkin belum tentu sebulan atau dua bulan sekali merasakan daging.
Menyembelih bagi mereka tentu merupakan sebuah pesta besar.
Setelah masakan itu selesai dan dihidangkan di atas meja, Han Sin lalu mengajak petani itu makan bersama-sama.
Mula-mula petani itu dengan sungkan menolak, akan tetapi Han Sin memaksanya dan akhirnya petani itu mau juga makan bersama.
Mereka makan dan minum sampai kenyang.
Setelah selesai, makanan itu masih bersisa banyak dan oleh si petani lalu diberikan kepada tetangga yang tadi membantunya masak.
Kemudian dia duduk bercakap-cakap dengan Han Sin "Paman, apakah sejak muda paman bekerja sebagai petani"
Tanya Han Sin.
Dia melihat tadi gerak-gerik petani itu cukup gesit dan mengandung tenaga, bukan seperti orang biasa.
Juga perawakannya tegap dan menyembunyikan kegagahan.
Petani itu mengangguk "sejak muda saya memang petani, kong-cu, tinggal disini sejak bertahun-tahun"
Jawab petani itu dengan pendek. Karena merasa lelah melakukan perjalanan jauh sehari itu. Han Sin lalu mengatakan bahwa dia hendak mengaso.
"Kongcu tidurlah dikamar itu"
Kata sang petani.
"Akan tetapi tempat tidur itu hanya kecil, hanya cukup untuk seorang saja. Dan paman akan tidur dimana?"
"Ah, saya akan dapat mencari tempat tidur, itu urusan mudah, kong-cu. Saya bisa tidur dilantai bertilamkan tikar, atau dapat mengungsi ke rumah tetangga. Tidurlah kongcu"
Han Sin tidak sungkan lagi, lalu memasuki kamar itu dan merebahkan dirinya di atas dipan.
Dia membawa buntalannya dan meletakkan buntalan itu di dekat kepalanya di atas dipan.
Malam itu sunyi sekali.
Dalam kamar itu tidak terdapat penerangan, akan tetapi karena rumah itu terbuat dari pada bilik bambu, maka penerangan dari lampu di luar masuk dan mendatangkan penerangan yang remang-remang.
Saking lelahnya, sebentar saja Han Sin sudah tidur pulas.
Menjelang tengah malam, biarpun sedang tidur nyenyak, Han Sin terbangun juga oleh suara berkerietnya daun pintu kamar itu dibuka orang.
Begitu terbangun, seluruh urat syarafnya ditubuhnya telah siap dan dia menjadi waspada.
Memang seluruh tubuhnya telah terlatih sehingga dia dapat siap dalam keadaan bagaimanapun juga.
Dia tidak bergerak dan pura-pura masih pulas, akan tetapi matanya terbuka dan dia melihat bayangan orang di depan pintu kamarnya.
Kemudian pintu itu terbuka dari luar dan nampaklah bayangan petani tuan rumah itu melangkah maju setapak demi setapak dengan kedua tangannya mengangkat cangkul tinggi-tinggi diatas kepalanya.
Bermacam perasaan mengaduk hati Han Sin.
Heran, kecewa, penasaran dan juga geli.
Petani yang siang tadi nampak demikian akrab dan manis budi, jujur dan lugu, bahkan yang dianggapnya seorang yang berbahagia hidupnya kini tiba-tiba saja berubah menjadi iblis yang siap membunuhnya.
Membunuh seorang yang sedang tidur dengan darah dingin.
Dia diam saja dan ketika orang itu sudah dekat dan mengayunkan cangkulnya ke arah kepalanya, secepat kilat Han Sin menggulingkan tubuhnya dari atas dipan.
"Croookkkk"
Dipan yang dihantam cangkul itu patah menjadi dua potong menunjukkan betapa kuatnya ayunan cangkul tadi.
Dan petani itu mengeluarkan seruan kaget melihat cangkulnya mengenai dipan dan orang yang diserangnya sudah tidak berada disitu lagi.
Bahkan buntalannya pun sudah lenyap.
Petani itu cepat meloncat keluar dari dalam kamar dan matanya terbelalak melihat Han Sin sudah duduk diatas kursi menghadapi meja dan buntalannya sudah berada pula di atas meja.
Pemuda itu nampaknya tenang saja.
Seolah tidak pernah terjadi sesuatu.
Sejenak petani itu berdiri seperti patung, pandang matanya bingung dan ragu seolah dia tidak tahu apa yang harus dilakukan.
Akan tetapi melihat pemuda itu duduk membelakanginya, tiba-tiba dia menerjang maju sambil mengayun cangkulnya ke arah kepala Han Sin dengan pengerahan tenaga sekuatnya.
"Wuuuutttt....... Plakkk"
Han Sin menjulurkan tangannya ke belakang dan dapat menangkap gagang cangkul itu sambil memutar tubuhnya.
Dia menarik cangkul itu lalu tangan yang sebelah lagi mendorong dengan telapak tangannya kearah dada petani itu.
"Buuukkkk"
Tubuh petani itu terjengkang dan terlempar sampai menabrak dinding sedangkan cangkulnya terampas oleh Han Sin.
Pemuda itu meletakkan cangkul di atas tanah dan memandang kepada petani dengan mata mencorong.
Petani itu merasakan dadanya sesak dan kini maklumlah dia bahwa dia berhadapan dengan seorang pemuda yang lihai.
Barulah dia teringat akan keadaan dirinya, kesalahan yang dilakukannya dan setelah bangkit berdiri dia menundukkan mukanya, tidak tahan menentang pandangan mata yang siang tadi begitu lembut akan tetapi kini nampak mencorong itu dan berkata lirih.
"Saya... saya.... telah bersalah, boleh kong-cu membunuh saya"
Han Sin tersenyum "Paman, duduklah"
Orang itu menurut dan duduk di depan Han Sin terhalang meja, seperti sore tadi ketika mereka makan minum berdua "Sekarang ceritakan mengapa paman melakukan perbuatan tadi dan siapa sebenarnya paman ini"
Orang itu menghela napas panjang beberapa kali, menelan ludah seperti mengumpulkan keberaniannya, kemudian dia berkata "Kong-cu saya pernah menjadi seorang perampok di waktu muda, mengumpulkan harta benda dengan cara merampok.
Akan tetapi lima belas tahun yang lalu, gerombolan perampok yang saya pimpin dibasmi habis oleh pasukan pemerintah.
Istri dan anak-anak saya ikut tewas dalam pembasmian itu, harta benda saya habis.
Saya menjadi orang buruan pemerintah.
Setelah tertimpa bencana itu, yang merampas habis harta benda saya bahkan membasmi keluarga saya, saya menjadi sadar bahwa saya telah memetik buah daripada pohon tanaman saya sendiri.
Maka saya mencuci tangan, mengubah jalan hidup saya.
Saya menjadi petani, bahkan saya menyembunyikan keadaan saya dengan menyamar sebagai petani lemah yang hidup sebatang kara.
Akan tetapi sore tadi muncul kong-cu.
Sungguh mati, saya menyambut kong-cu dengan hati setulusnya dan saya merasa girang dapat menyambut kong-cu.
Akan tetapi....
ah, mengapa kong-cu membuka buntalan memperlihatkan emas yang demikian banyaknya?
Saya tidak tahan melihatnya.
Nafsu iblis telah mencengkram diri saya dan saya tidak menentangnya, maka saya mengambil keputusan untuk membunuh kong-cu dan merampas emas itu"
Orang itu kembali menghela napas dan kini bahkan kedua matanya basah.
Han Sin mengangguk-angguk kembali dia teringat akan wejangan gurunya "Godaan datang dari dalam hati akal pikiran sendiri melalui panca indera.
Dan diantara semua penggoda, yang paling berbahaya adalah godaan harta benda.
Harta benda dapat menutupi pertimbangan dan kebijaksanaan.
Kita kehilangan kewaspadaan dan mau melakukan perbuatan apa saja demi harta benda"
Demikianlah wejangan dan sekarang dia melihat buktinya.
Seorang yang sudah mengubah jalan hidupnya, begitu melihat emas di depan mata, menjadi lupa segalanya dan siap untuk membunuh dengan cara pengecut untuk menguasai emas itu.
Melihat emas merupakan kesempatan baginya.
Andaikata dia tidak melihat emas itu, tidak mungkin akan timbul keinginan untuk menguasai dan membunuh pemiliknya.
"Sudahlah, paman, aku memaafkanmu. Dahulu, kau sudah mendapat pelajaran bahwa perbuatan merampok itu mendatangkan akibat buruk kepadamu, keluarga mu terbasmi habis, harta bendamu juga musnah. Dan kembali malam ini kau melihat bahwa perbuatan merampok itu sesungguhnya mencelakakan dirimu sendiri. Sudahlah, lupakan urusan tadi. Aku masih mengantuk dan mau tidur lagi"
Han Sin lalu meninggalkan meja, meninggalkan buntalannya dan memasuki kamar, lalu merebahkan dirinya diatas dipan yang kini terpaksa diletakkan diatas lantai tanpa kaki karena sudah patah dua.
Petani itu tertegun.
Sampai lama dia duduk di atas kursi itu, memandang buntalan diatas meja.
Pemuda lihai itu bukan saja memaafkannya, bahkan meninggalkan buntalan diatas meja.
Akan tetapi, kini sudah tidak ada lagi gairah di hatinya untuk merampok emas itu.
Dia sudah yakin benar bahwa akibatnya tentu akan buruk bagi dirinya kalau dia menggunakan kesempatan itu untuk melarikan buntalan itu.
Dia pun merebahkan diri lagi di atas lantai akan tetapi sekali ini dia tidak dapat tidur lagi.
Bukan gelisah karena ada dorongan untuk mencuri emas, melainkan takut kalau-kalau ada orang luar datang dan mencuri buntalan itu.
Maka, dia tidak tidur untuk menjaga buntalan itu agar tidak diambil orang.
Pada keesokan harinya, pagi-pagi sekali Han Sin terbangun dan ketika dia keluar dari kamar itu, dia melihat petani itu sudah duduk di atas kursi menghadapi buntalan yang masih terletak diatas meja.
Dia tersenyum kepada diri sendiri.
"Selamat pagi, paman. Kau sudah bangun?"
Tegurnya ramah. Petani itu cepat bangkit berdiri, merasa malu bukan main melihat pemuda yang hampir dibunuhnya itu masih bersikap ramah dan lembut kepadanya.
"Selamat pagi, kong-cu dan.......... maafkan perbuatanku semalam"
"Ah, aku sudah melupakan hal itu, paman"
Kata Han Sin. Dan dia membuka buntalannya, mengambil sepotong emas dari dalam kantung dan menyerahkannya kepada petani itu.
"Ambillah ini, paman dan terima kasih atas kebaikanmu"
Petani itu terbelalak dan melompat kebelakang seperti hendak diserang. Dia menggeleng-gelengkan kepalanya memandang sepotong emas itu, seperti melihat benda yang menakutkan.
"Tidak.......... tidak kong-cu...... saya tidak menghendaki emas lagi........"
"Terimalah, paman. Ini lain lagi. Ini adalah pemberianku yang rela. Dengan emas ini kiranya kau dapat menggarap ladangmu sendiri. Terimalah, aku akan tersingung kalau kau tidak mau menerimanya"
Karena kalimat terakhir inilah sang petani tidak berani menolak lagi dan diterimanya sepotong emas itu dengan kedua tangannya dan dia hanya berkata lirih "Terima kasih, kong-cu"
Dan kedua matanya menjadi basah.
Han Sin sudah mengikatkan lagi buntalan dibelakang punggungnya dan dia berkata "Nah, selamat tinggal, paman.
Mudah-mudahan kalau aku kebetulan lewat disini lagi, aku dapat singgah di rumahmu"
"Selamat jalan kongcu dan terima kasih"
Dia mengantar tamunya sampai meninggalkan rumah itu dan setelah pemuda itu pergi jauh, masih saja dia berdiri disitu sambil memandangi emas di telapak tangannya.
"Ahhh.........., aku lupa menanyakan namanya"
Katanya sambil berlari mengejar.
Akan tetapi pemuda itu sudah tidak tampak bayangannya lagi.
Petani itu hanya dapat menggeleng-geleng kepalanya saking heran dan kagum, kemudian dia berjalan pulang dengan hati merasa gembira sekali telah bertemu dengan seorang pemuda pendekar, karena dia tentu seorang pendekar perkasa, yang bijaksana dan budiman.
*** Han Sin berjalan menuruni bukit.
Dari atas tadi dia sudah melihat sebuah telaga kecil dan ingin sekali dia dapat mandi di sana.
Sejak pagi dia meninggalkan dusun itu menuju ke timur dan dia belum membersihkan badan sejak pagi-pagi sekali tadi.
Perutnya belum lapar karena semalam dia sudah makan sampai kenyang di rumah petani itu.
Hatinya terasa ringan dan senang.
Dia tidak tahu mengapa hatinya terasa demikian ringan dan senang.
Tidak tahu bahwa hal ini adalah akibat perbuatannya terhadap petani yang bekas perampok itu.
Setiap perbuatan yang baik selalu mendatangkan perasaan ringan dan senang bagi pelakuknya, asalkan perbuatan itu dilakukan tanpa pamrih dan dengan rela hati.
Han Sin menuruni bukit dengan cepat sekali karena dia menggunakan ilmu berlari cepat.
Gin Kang (ilmu meringankan tubuh) pemuda ini memang mencapai tingkat tinggi setelah dia menguasai ilmu Bu-tek-cin-keng dan dia dapat berlari seperti terbang cepatnya.
Tak lama kemudian dia telah tiba di tepi danau dan ternyata di situ terdapat sumber air yang keluar dari pecahan batu besar.
Air itu terjun dan membentuk danau yang kecil terus mengalir menjadi sebuah anak sungai yang mungkin saja mengalir terus memasuki Sungai Kuning di timur.
Danau dari sumber itu dikelilingi sebuah hutan lebat dan keadaan di situ sunyi dan indah bukanmain.
Matahari pagi bermain-main di danau dengan bayangannya yang membentuk garis kemerahan dari bayangnya, dikelilingi warna hijau pantulan pohon-pohon ditepi danau.
Sinar matahari yang menerobos masuk lewat celah-celah daun pohon membentuk berkas-berkas cahaya keputihan yang amat indah, membuat tempat itu seperti surga dalam dongeng.
Seekor kelinci putih berlari keluar dari semak-semak, dikejar kelinci lain yang berbulu kelabu.
Han Sin memandang ambil tersenyum geli melihat tingkah dua ekor kelinci itu yang segera lenyap lagi dibalik semak-semak.
Bunga-bunga liar mekar bebas, digoyang-goyang perlahan oleh hinggapnya kupu-kupu yang mencari madu.
Burung-burung berlompatan dari ranting ke ranting sambil berkicau.
Semua ini menjadi selingan suara air kecil terjun ke danau yang mengeluarkan dendang yang tak kunjung henti.
Titik"titik air embun berjatuhan dikala burung-burung hinggap di sebuah ranting.
Han Sin berdiri bengong di tepi telaga seperti dalam mimpi.
Tak disangkanya bahwa danau yang terlihat dari atas bukit tadi merupakan tempat yang demikian indahnya.
Melihat disitu sunyi tidak ada seorangpun manusia kecuali dirinya, tanpa ragu lagi lalu Han Sin menanggalkan seluruh pakaiannya menumpuk pakaian itu diatas buntalannya yang diletakkan di atas batu.
Kemudian diapun terjun memasuki air danau itu.
Sejuk dan menyegarkan sekali.
Airnya jernih, dasarnya dari batu dan pasir dalam dalamnya sebatas dada.
Sejuknyaman bukan main mandi di pagi hari itu.
Han Sin beberapa kali menyelam dan berenang dengan hati gembira.
Tiba-tiba dia mendengar suara yang mencurigakan, datangnya dari tepi telaga.
Cepat dia menengok dan masih melihat berkelebatnya bayangan orang.
Cepat bukan main gerakan itu, hanya bayangannya saja dapat ditangkap pandang matanya.
Akan tetapi yang lebih mengejutkan hati Han Sin adalah ketika dia melihat keatas batu dimana buntalannya dan pakaiannya tadi dia tinggalkan.
Buntalan berikut pakaiannya tadi telah lenyap.
"Celaka....."
Dia mengeluh.
Andai kata kantung emasnya yang hilang, dia tidak akan segelisah ini, akan tetapi, semuanya telah lenyap dan kini dia dalam keadaan telanjang bulat.
Bagaimana dia dapat keluar dari dalam air menemui orang dalam keadaan seperti itu?.
"Hei......... Kembalikan pakaianku"
Dia berteriak sambil melangkah ke tepi, akan tetapi tubuhnya masih terendam dalam air.
Suaranya dikeluarkan dengannyaring sehingga menimbulkan gema.
Akan tetapi, tidak ada jawaban.
Suasana sunyi dan burung-burung terbang ketakutan, terkejut oleh teriakannya yangnyaring tadi.
Han Sin menjadi gelisah.
Jangan-jangan pencuri itu telah melarikan diri dan tidak akan kembali lagi.
Bagaimana dia dapat melakukan dan melajutkan perjalanan tanpa sehelaipun pakaian untuk menutupi ketelanjangannya?
Apakah petani itu telah kumat kembali dan dia yang mencurinya?
Tidak mungkin, gerakan petani itu tidaklah secepat orang yang tadi dilihat bayangannya.
Han Sin merasa gelisah sekali dan tidak berdaya.
Dia seorang yang memiliki ilmu silat tinggi, yang tidak gentar menghadapi lawan bagaimana pun juga, kini menjadi gelisah menghadapi ketelanjangannya dan dia merasa tidak berdaya sama sekali.
"Haaiiiiii....... saudara yang mengambil buntalanku. Kau boleh memiliki buntalan dan semua isinya, akan tetapi kembalikan pakaianku. Tolong kembalikan pakaianku"
Dalam suaranya terkandung permohonan yang sungguh-sungguh.
Sialan, pikirnya.
Dia yang kecurian malah dia yang memohon dan minta tolong.
Tiba-tiba dia melihat sebuah kepala keluar dari balik semak-semak.
Bukan kepala binatang, melainkan kepala manusia, dan melihat rambutnya yang hitam panjang itu tentulah kepala seorang wanita muda.
Wajah itu cantik pula, dengan hidung yang mancung dan mulut tersenyum menggairahkan.
Kepala itu nongol sebentar, sepasang mata berkedip-kedip memandangnya, lalu menyusup lagi dibelakang semak-semak.
"Haiiii...... nona atau nyonya......... keluarlah dan kembalikan pakaianku"
Katanya, dan pandangan matanya mencoba untuk menembus semak belukar itu. Hening sejenak, kemudian kepala itu nongol lagi. Kini muka yang cantik itu tertawa.
"Hi-hi-hi-hik, lucunya"
Kini muka itu lebih jelas kelihatan dan ternyata wajah seorang gadis yang cantik, akan tetapi suara tawanya aneh, dan matanya yang indah itu berkedip-kedip aneh.
Han Sin menggapai "Nona....
harap mengasihani aku.
Tolong kembalikan pakaianku"
Dia memohon.
Kini nona itu keluar dari balik semak-semak.
Tubuhnya ramping, rambutnya hitam panjang hanya diikat dengan sutera kuning.
Kulitnya putih dan wajah itu cantik dengan mata yang berbinar-binar, hidungnya yang mancung dan mulut yang selalu tersenyum lebar, memperlihatkan kilatan gigi yang putih berderet rapi.
Akan tetapi pakaiannya sungguh aneh.
Berkembang-kembang dan potongannya longgar kedodoran.
Kakinya memakai sepatu hitam dari kulit kayu.
Gadis itu berdiri dan memandang kepada Han Sin seperti orang yang terheran-heran, akan tetapi Han Sin melihat bahwa gadis itu tidak membawa apa-apa.
Dan diapun bersangsi apakah gadis itu yang mencuri buntalannya, karena tidak mungkin gadis itu dapat bergerak secepat bayangan tadi.
"Nona, kesinilah"
Dia menggapai karena biarpun gadis itu bukan pencurinya, dia dapat minta tolong kepadanya untuk mencarikan pakaian sebagai penutup ketelanjangannya.
Gadis itu mendekat, dengan langkah yang aneh, berlari-lari kecil seperti tingkah seorang kanak-kanak.
Kini dia berdiri di tepi telaga memadang Han Sinm dengan terbelalak dan penuh perhatian.
"Hik-hi-hi-hi, lucunya"
Kembali ia berkata dan sikapnya itu membuat Han Sin merasa bulu tengkuknya meremang.
Ada sesuatu yang tidak wajar dalam sikap gadis cantik itu.
Masa seorang gadis dewasa seperti itu bersikap kekanak-kanakkan dan tertawa lucu melihat dia berendam dalam air.
"Nona apa kau melihat orang yang mengambil pakaian dan buntalanku?"
Tanya Han Sin akan tetapi yang ditanya hanya terkekeh seperti orang yang merasa melihat hal yang lucu Han Sin merasa jengkel juga. Pertanyaannya hanya di jawab dengan kekeh yang aneh.
"Nona"
Katanya"
Tolonglah aku, carikan pakaian agar aku tidak telanjang"
Kembali nona itu terkekeh, kemudian terdengar suaranya, suaranya sebetulnya merdu seperti suara seorang gadis, akan tetapi nadanya aneh seperti orang yang asing "Kau.... kau ini binatang apakah?"
Sialan, pikir Han Sin. Akan tetapi karena diapun pada dasarnya berwatak lincah dan gembira. Dia tidak menjadi marah, bahkan tertawa "
Ha-ha-ha-ha, kau lucu sekali, nona"
"Hik-hi-hi-hik, kau juga lucu"
Gadis itu kini tertawa-tawa sambil bertepuk-tepuk tangan dan meloncat-loncat seperti seorang anak kecil kegirangan.
Tentu saja Han Sin memandang dengan mata terbelalak dan mulut ternganga.
Tidak salah lagi, Gadis cantik itu berotak miring.
"Hik-hi-hik, apakah kau ini sebangsa monyet? Monyet putih tidak berbulu?"
Tanya gadis itu sambil mendekat dan tubuhnya mendoyong kedepan sehingga Han Sin khawatir merasa kalau-kalau gadis itu akan terjatuh ke dalam danau.
"Hussshhh"
Katanya gemas "
Aku bukan monyet, aku juga manusia seperti kau"
Baca Juga: Pendekar Super Sakti 12
Baca Juga: Pendekar Mata Keranjang 9